Aku Ingin Seperti Wulan
Romance
16 Jan 2026

Aku Ingin Seperti Wulan

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-16T235721.550.jfif

download - 2026-01-16T235721.550.jfif

16 Jan 2026, 16:57

download - 2026-01-16T235706.213.jfif

download - 2026-01-16T235706.213.jfif

16 Jan 2026, 16:57

“Wulan kesayangan mama" Ucap mama sambil mengecup lembut kening Wulan yang berdiri tepat di sampingku, aku ikut terseyum. Kenapa? ya aku bahagia, manusia mana yang tak merasa bahagia saat melihat adik kita dan mama kita yang tampak saling menyayangi.

Aku Maira anak sulung dari ibuku yang bernama Regina, papa ku bernama Jordan dan adik perempuan ku bernama Wulan. Aku sangat merasa beruntung memiliki keluarga dan aku sangat menyayangi mereka, sangat menyayangi meski ada luka yang timbul dan rasa sakit.

Usia ku dan Wulan beda satu tahun, aku 6 tahun dan wulan 5 tahun sangat tipis. Hingga aku harus bisa lebih dewasa meski umur kita hampir sama.

***

Aku sedang mengerjakan PR di kamar tidur memang aku satu kamar dengan adikku hanya saja di batasi oleh gorden di antara tempat tidurku dan Wulan, aku tak tahu karena apa.

Tiba tiba terdengar ketukan di pintu aku dan Wulan segera berlari menuju pintu kamar kami memang di batasi gorden tapi berada di ruangan dan pintu yang sama.

Karena tubuh Wulan tak bisa menggapai gagang pintu maka aku yang membuka kan, pintu terbuka terlihat mama membawa dua gelas susu untukku dan Wulan.

Aku menerima gelas yang pertama dan Wulan yang berada di sampingku di beri gelas satu nya lagi. Mama menggandeng Wulan menuju tempat tidurnya, aku hanya diam melihat dari arah pintu dengan gelas susu di tanganku.

Mama mengecup kening Wulan lalu memeluk nya, seingat ku mama tak pernah memperlakukan aku seperti itu. Mama ku tak pernah mengecup kening ku saat menjelang tidur ku. Sedangkan Wulan selalu.

Mama tak pernah menggandeng tangan ku, sedangkan Wulan selalu. Mama tak pernah memelukku, sedangkan Wulan selalu. Mama tak pernah menatapku dengan kasih sayang, apa aku jijjk? Mama tak pernah tersenyum padaku, apa aku nakal? Mama tak pernah menggendong ku sedangkan Wulan selalu.

Mataku memanas, aku tahu aku sudah terbiasa dengan perlakuan mamaku, aku sudah terbiasa melihat mama yang selalu mendahulukan Wulan di banding aku, aku sudah terbiasa. Mama pernah bilang “Maira kamu harus bersikap dewasa, kamu ini kakak maka jaga adik mu baik baik." Saat Wulan menangis karena berebut boneka panda.

Padahal itu boneka ku, aku ingat boneka pemberian mama saat ulangtahun ku aku tahu mama tahu bahwa itu boneka ku, aku tahu mama selalu mendahulukan Wulan, aku tahu.

Waktu itu aku hanya menunduk lesu, ucapan mamaku yang setajam pedang telah berhasil menusuk batinku hingga membuat air mataku menetes membasahi pipi ku, aku tak bisa melawan mungkin memang begini.

Aku tak bisa apa apa, bahkan papa tak pernah melerai bila mama sedang memarahiku, aku ingin seperti Wulan aku ingin di diistimewakan, aku butuh nasihat bukan kemarahan mama setiap hari, aku hanya anak kecil yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tua. Bukan menjadi sasaran kemarahan, aku ingin seperti anak anak di luar sana yang tertawa di pelukan mama papa, aku ingin di kasihi, apakah salah? aku adalah seorang anak dan mereka adalah keluargaku, aku memiliki hak untuk di cintai dan di sayangi bukan hanya Wulan. Aku butuh keadilan aku ingin seperti Wulan dan anak anak di luar sana, mama papa.

***

“Dorrrr" Teriakan seseorang membangungkan aku yang Tadi nya masih pulas dengan untaian mimpi tidurku. Dengan berat sangat berat ku lihat Wulan dengan kostun panda membawa kue dan terlihat lilin dengan angka 17.

Aku tersenyum ternyata sekarang hari ulangtahun ku.“Happy birthday to you happy birthday to you happy birthday happy birthday happy birthday to...youuu." suara Wulan yang agak cempreng ini membuat aku tersenyum lalu memeluknya dengan penuh haru. Aku bahagia sekarang umurku telah 17 tahun sekarang mungkin aku akan lebih dewasa lagi.

“Happy birthday kakak." Ucap Wulan lagi, aku hanya mengeratkan pelukan ku. Mataku melihat ke sekeliling kamar tak ada mama maupun papa, mungkin mereka masih tidur kerena jam memujukan pukul 00.02 pagi.

Wulan mendekatkan kue ulangtahun ku, lalu aku memejamkan mata untuk berdoa. “Tuhan, aku hanya ingin mama papa selalu ada untukku, selalau menyertai jalan ku, aku ingin selalu berada di samping Wulan mama dan papa, aku ingin memeluk papa dan mama seperti apa yang mereka lakukan terhadap Wulan, Tuhan aku ingin di hari ulangtahun ku ini mama dan papa selalu ada." Tanpa ku sadari air mata menetes.

Ada rasa perih dan kecewa, padahal waktu ulangtahun Wulan mama dan papa selalu ada membawa kue dan kado, sedangkan ulang tahun ku?hanya ada Wulan, tapi aku bahagia apapun jalan dan keadaan nya semua adalah yang terbaik, aku harap.

***

Suara sendok terdengar di ruang makan, aku hanya diam menikmati sarapan rasanya hambar. “Mama papa," ucap Wulan tiba tiba. Mama dan papa seketika menoleh,“Iya sayang."

"Hari ini kak Maira ulangtahun ke 17 aku ingin kita makan atau jalan jalan ke luar merayakan nya" ucap Wulan membuat aku sedikit tersedak. Beberapa saat hening, tak ada respon dari mama maupun papa,“Ouh kau sudah besar ya." Ucap papa dengan seyuman, aku tahu senyuman yang di paksakan.

Aku tersenyum padahal rasanya ingin sekali aku menangis,“Menurut mama tak usah," ucap mama tiba tiba, rasanya sekarang mata ku semakin memanas. “Ulangtahun itu kan mengurangi umur, tak usah merayakan harus nya sedih karena umur Maira berkurang apakah ini harus di rayakan?" Ucap mama tanpa menoleh ke arah ku.

Aku berlari ke luar,“Maira !" Teriak papa membuat langkah ku terhenti. “Mau kemana kamu? tak sopan meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapan mu" Air mataku mengalir deras, sakit rasanya di perlakuan seperti ini oleh papa ku sendiri.

Aku menangis “Anak yang tak punya sopan santun." Lanjut mama, aku berlari kini benar benar berlari ke luar, aku ingin pergi.

Mama papa apakah menurut kalian aku tak punya sopan santun? memang aku anak yang tak memiliki sopan santun, aku tahu aku nakal aku tak tahu mengapa kalian bertingkah seolah merasa jijik padaku, aku memang tak pernah di ajari sopan santun, aku hanya diam dan memperhatikan saat kalian mengajari Wulan hanya wulan sedangkan aku tak pernah.

Aku berjalan menuju toko es krim mungkin mood ku akan kembali membaik aku berharap begitu. Tiba tiba ponselku bergetar menandakan ada panggilan yang masuk, ternyata Wulan.

“Wulan?" Tak terdengar apa apa, hanya ada isak tangis di balik telepon aku khawatir. “Wulan? kamu menangis? kenapa?" Ku tanya kembali tapi tangisan itu semakin menjadi jadi.

“Wulan di marahi mama dan papa karena Wulan tak terima bila mama dan papa terus saja memarahi kak Maira,Wulan kabur dari rumah Wulan ingin mencari kak Maira, kak maira di mana?" Ucap Wulan membuat aku kaget.

“Tak usah Wulan, tak usah kembalilah ke rumah temani mama dan papa, biar aku saja yang pergi." Ucap ku dengan nada bergetar.

“Wulan tak mau kak, Wulan ingin bersama kakak, kakak jangan pergi jangan tinggalkan Wulan, Wulan tak mau sendiri." Ucap Wulan sambil terisak.

“Wulan, kakak mohon, kembali mama dan papa akan sangat sedih, kamu masih kecil Wulan, kakak sudah dewasa tak perlu mengkhawatirkan kakak, kakak baik baik saja, kembali lah tinggal bersama mama dan papa mereka lebih menyayangi mu, mereka lebih membutuhkan mu, mereka lebih mengharapkan kepulangan mu Wulan, kakak mohon kembali demi kak Maira." Ucap ku menahan tangis, air mata ku pecah aku tak kuat lagi menahan perih.

“Wulan sudah besar kak, kita hanya beda satu tahun kita bersaudara, kak Wulan sedang di jalan cepatlah katakan kakak ada di mana? biar Wulan dapat menemui kakak," ucap Wulan.

Aku bungkam, tak ingin katakan apa pun, aku tak ingin Wulan pergi menemui ku aku tahu pasti mama dan papa akan sedih bila Wulan pergi meninggalkan mereka, aku tak ingin itu terjadi.

“Ayoo kak cepat" desak Wulan. Aku masih diam, karena bingung. “Kakk cepat.." desak Wulan kembali,“Wulan mohon" “Aaaaaaaahhhhhh" terdengar jeritan Wulan di balik telepon bersamaan dengan suara benda terbentur keras di ujung perempatan tepat di depan mataku, mobil itu...mobil itu..

“Wulan!!!!!!"


Aku berlari menuju jalan yang mulai ramai dengan orang orang, baru saja terjadi kecelakaan. Aku berlari hatiku gusar, aku takut. Tuhan lidungi Wuan, saat aku sampai ku lihat, mobil yang ringsek karena bertabrakan dengan mobil bak dari arah berlawanan. Aku kenal mobil ini, ini mobil papa, aku ingat plat nomor papa, aku menerobos orang orang yang menjerit karena ketakutan.

Lari ku semakin cepat dan aku melihat Wulan dengan kepala berlumuran darah "Wulan!!!" Jeritku. Aku segera memeluk Wulan, menjerit jerit sejadi nya, ini salah ku, andai saja aku tak kabur dari rumah mungkin Wulan takkan ikut menyusulku, mungkin saja Wulan takkan kecelakaan, andai saja tepat di hari ulang tahunku aku sudah mati mungkin semua nya takkan seperti ini, mama papa, Wulan maafkan aku.

***

Aku berjalan mondar mandir menunggu papa dan mama, aku tak henti menangis dan berdoa agar wulan baik baik saja. Keringat dingin bercucuran, aku takut sesuatu akan terjadi, andai saja aku bisa bertukar peran dengan Wulan, andai saja aku bisa menggantikan posisi Wulan saat ini, aku rela.

Derap langkah perlahan mendekat ke arah ku, ku lihat mama dan papa, mama tak henti menangis dan papa terlihat sangat tegang. Aku berlari ke arah mama ingin menceritakan apa yang terjadi, namun.

Plak

Untuk kesekian kali nya, mama menamparku aku memegangi pipi kanan ku, rasanya perih bercampur pilu, aku semakin menangis. "Mama maaf." Ucap ku sambil tertunduk.

"Bila maaf mu bisa membuat Wulan kembali membaik, mungkin terdengar sedikit berguna." Ucap mama, aku tertunduk. "Kau ini tak tahu diri Maira." Ucap papa dengan nada berapi api.

Aku diam sebenarnya aku tak mengerti apa pun"Kamu ini bukan anak kandungku." Jerit mama, aku terbelalak kaget. "Kamu ini hanya anak pembawa sial, pergi kamu, kamu telah membuat Wulan terluka." Jerit mama lalu mama pingsan.

Aku menangis menutup wajah ku dengan kedua tangan ku, rasanya semua sangatlah menyakitkan, dunia ini tak adil, di mana keadilan?baku ingin lenyap sekarang juga dari dunia ini.

Aku merasa bahwa aku adalah mahluk terkecil dan termalang. Kaki ku tak kuat menahan berat badan ku, aku duduk di lantai sendirian, bahkan saat seperti ini tak ada satupun manusia yang peduli dengan ku, apa kah benar aku anak pembawa sial?

Aku tetunduk lesu, pantas saja mama dan papa selalu membedakan aku dan Wulan ternyata aku bukan anak kandung mama, harus nya aku bersyukur masih ada orang lain yang mau merawatku meski awal nya aku mengira bahwa orang itu adalah orang tuaku, harusnya aku tak berfikir ingin seperti Wulan karena aku berbeda, mama kamu bukan mamaku.

***

Aku sekarang telah tahu semua nya, tentang ibu dan papa, tentang semua hal yang selalu aku tanyakan pada diriku semenjak aku kecil. Papa merangkul ku mengucapkan beribu maaf, aku hanya bisa diam, papa menceritakan semuanya aku tak henti nya menangis.

Ibu kandungku bernama Amira, seorang gadis cantik yang menjadi kembang kampung, bpapa dulu sangat menyukai ibuku, sudah berulang kali papa mengucapkan semua nya pada ibuku.

Namun Ibu ku terus saja menolak, membuat papa bingung padahal papa juga tahu bahwa ibuku juga menyukai papa, lama lama ibuku mulai menjauhi papa, mulai saat itu papa sangat gusar.

Papa pun menanyakan semuanya pada kedua orang tuanya, tepat nya nenek dan kakek ku. Mereka ternyata telah menjodohkan papa dengan seorang gadis, papa awal nya berontak tak ingin menikahi gadis yang sama sekali tak ia kenali.

Namun semuanya terlambat, kedua orang tuanya ternyata telah menjodohkan papa dan gadis itu semenjak bayi. Papa hanya pasrah, Amira ibuku juga telah meinggalkan nya, mungkin ibuku tak menyukai papa, fikir papa saat itu.

Hingga pernikahan megah pun di gelar, papa akan menikahi seorang gadis yang bernama Regina, saat pernikahan akan di langsungkan papa kaget saat melihat ibuku, ibuku sedang duduk di samping orang tua Regina.

Setelah di tanyai ternyata papa akan menikahi kakak dari ibuku, Regina. Awalnya papa ingin membatalkan pernikahan ini, namun Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya malu hingga berlangsung lah pernikahan ini.

Saat malam pertama pernikahan, papa kabur dari rumah, papa pergi menuju diskotik dan bermabuk mabukan di sana. Waktu telah menujukan tengah malam, papa pulang dengan keadaan mabuk hingga tanpa sadar telah melakukan hal yang buruk kepada ibuku.

Regina kakak ibuku marah pada ibuku, hingga Regina membenci ibuku. Ibuku hamil, mengandung aku, saat itu ibu sering melamun dan berfikir untuk menggugurkan kandungan nya,namun nenek ku yang sabar selalu menguatkan ibuku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja.

Saat ibu menjerit menangis papa hanya bisa melihat dari jauh, dengan rasa bersalah. Aku pun dilahirkan, ibuku mengecupku dengan lembut, saat itu ada Regina dan papa ku, namun Regina tak suka bila papa mengakui bahwa bayi itu adalah anak nya.

Setelah aku berusia satu bulan, ibuku stres, sering melamun dan kadang menyakiti ku, orang orang mengatakan bahwa ibuku gila.

Ibu sering tertawa sendiri dan menangis, hingga membuat nenek khawatir, suatu hari Regina berniat membawa ibuku ke rumah sakit jiwa. Namun nenek menolak, ibuku juga tak mau,nia mengatakan bahwa ia tidak gila, ia tidak gila.

Suatu hari, tanpa sepengetahuan ibuku mengembuskan nafas terakhir, karena penyakit jantung nya telah menyerangnya. Itu menimbulkan luka terdalam bagi keluarga terutama nenek dan papaku.

Karena merasa aku adalah tanggung jawabnya papa bersedia merawatku , namun tidak bagi Regina. Nenek ku membujuk agar Regina mau merawatku , dan mengaggap nya sebagai anak nya, namun Regina terus menolak dengan alasan bahwa Ia sedang hamil saat ini. Namun papa juga membujuk Regina, hingga akhirnya Regina menyetujui semua nya.

Akhirnya aku tinggal bersama papa kandungku dan kaka dari ibukub ,dan adikku adalah anak dari Regina dan papa. Wulan adalah anak dari mama dan papa. Sudah jelas, sekarang aku tahu, papa ku tetaplah papaku .

***

"Maafkan papa sayang, ini semua karena papa." Ucap papa sambil memelukku. Aku terisak, batinku menjerit tak ada siapapun yang bisa mendengar selain Sang Pencipta.

Hari itu ayah mengajakku untuk mengunjungi kuburan Ibu dan nenek. Aku sangat bersemangat aku ingin bertemu dengan mereka, namun aku tak bisa, hanya bisa membaca nama mereka di batu nisan. Hari itu terasa sangat pilu, aku memeluk batu nisan ibuku, yang berdampingan dengan kuburan nenek.

Ibu, andai ibu masih ada di sini, Maira ingin memeluk ibu, Maira ingin menceritakan betapa Maira berat menjalani hidup tanpa seorang ibu kandung, Maira ingin tertawa bersama ibu seperti Wulan dan mamanya, belasan tahun lamanya Maira hudup di dalam rasa sakit dan penasaran, rasa tidak adil, Ibu.. Maira ingin merasakan kasih sayang seorang ibu dalam hidup Maira. Namun Maira tak bisa, ini semua adalah ketetapan Sang Pencipta Maira dan Ibu mungkin memang harus begini, harus terpisahkan oleh takdir, Maira harus kuat, Maira akan tetap kuat menjalani hidup, tanpa Ibu. Maira rindu bu.

Aku menjerit dalam diam ku, rasanya aku rapuh, namun perjalanan hidupku masih panjang, aku hanya perlu berdoa dan berusaha agar Sang Pencipta memberikan aku kemudahan.

***

"Regina tunggu, tolong dengar penjelasanku." Ucap papa sambil menahan mama yang akan pergi dari rumah. Aku hanya mematung melihat pemandangan yang sangat memilukan,bagaimana mungkin keluarga Wulan bisa hancur karena kehadiran ku di antara mereka?aku tau aku bukanlah bagian dari mereka.

"Mama, maafkan aku." Ucapku sambil memohon memegangi kakinya, papa membangunkanku agar aku berdiri. "Maira sudah." Ucap papa lirih,aku menangis sesenggukan, aku ingin pergi saja. "Pa, Maira lebih baik pergi maafkan Maira yang telah membuat keluarga papa berantakan."Aku mencium tangan papa.

"Pergi saja, tak ada siapapun yang menginginkan kehadiranmu di keluarga ku." Ucap mama dengan mata pedang yang berhasil meluluhkan air mata yang dari tadi aku tahan. Papa memelukku,"Jangan Maira, keluarga ini adalah keluargamu juga kau tak usah pergi." Mama dengan kasar menarik tangan papa.

"Kau sudah mulai membela anak tak tau diri itu." Ucap mama, dengan kasar. "Berhenti Regina, inilah hal yang tak ku sukai darimu, kau kasar."Ucap Papa dengan suara lirih.

Mama terdiam,"Padahal aku berharap kamu akan berubah menjadi lembut, tapi tak ada." Ucap papa denga mata menatap mama. "Katakan saja kau merindukan Amira, kamu masih mencintainya, aku mohon jangan membandingkan aku dengannya aku dan dia berbeda, dia sama tak tahu diri seperti Maira." Jerit mama lalu berjalan menuju pintu.

Entah apa yang membuat aku berlari memeluknya dari belakang, aku tak ingin mama pergi, aku dapat merasakan mama yang mulai tenang, aku dapat merasakan kehangatan. "Pergi kamu!" Jerit mama lalu mendorong tubuh ku dengan kasar, aku kaget ku kira mama telah luluh.

"Jangan pernah menyentuhku!" Hardik mama, aku hanya menangis papa datang lalu membantuku untuk berdiri. Mama lalu pergi dengan membawa koper besar, aku menjerit menangis sejadi jadinya, aku tak ingin mama pergi.

Papa memeluk erat seakan tahu sakit yang aku rasakan,"Mama hanya butuh waktu Maira." Ucap papa dengan lirih.air mataku semakin deras, aku harap.

***

"Satu dua tiga." Ucap papa sambil memegang kamera,yap hari ini adalah ulangtahun Wulan ke 17, aku sangat bahagia. Kami tidak penyelenggara pesta karena permintaan Wulan, semenjak Wulan kecelakaan mama menjadi lebih baik.

Mama mulai dapat menerima keberadaanku di keluarganya, aku sangat bahagia, aku dan Wulan sekarang sudah memiliki kamar masing masing. Bukan karena ada sesuatu, tapi karena kami sudah dewasa, rumah yang kami tempati juga sudah di renovasi. Itu juga permintaan Wulan, alasan nya karena Wulan selalu merasa sedih saat mengingat di mana aku di perlakuan tidak adil.

Aku bersyukur atas semua nya, terimakasih Sang Pencipta, atas segala kehendak dan takdirmu, aku mungkin takkan bisa sebahagia ini, terima kasih atas nikmat mu. Ku ucapkan kembali aku sangat bahagia memiliki keluarga seperti mereka, Mama papa dan Wulan.

***

end


Kembali ke Beranda