Gambar dalam Cerita
Ini adalah sebuah cerita tentang mimpi. Kau tahu jenis mimpi dimana kau tiba-tiba menjadi sadar bahwa kau hanya bermimpi? Ini adalah mimpi yang sejenis.
Aku sedang sendirian, berdiri di peron yang sunyi di stasiun kereta api berpenerangan redup.
"Wow, mimpi yang membosankan," pikirku.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar sebuah pengumuman yang berasal dari loudspeaker. Sebuah suara monoton yang membosankan berkata, "Kereta api akan segera datang. Jika kau naik ke gerbong, kau akan mengalami sesuatu yang sangat mengerikan."
Segera setelah pengumuman samar-samar tersebut, kereta api muncul di stasiun. Namun demikian, itu bukan benar-benar kereta api. Benda itu lebih terlihat seperti sejenis kereta api yang bisa kau lihat di pasar malam, bentuknya seperti rollercoaster atau kereta monyet yang dimiliki kebun binatang. Ada beberapa laki-laki dan perempuan yang duduk dalam kendaraan tersebut. Wajah mereka sangat pucat.
"Benar-benar mimpi yang aneh," pikirku.
Tapi aku penasaran tentang pengumuman yang kudengar. Akankah aku benar-benar melihat sesuatu yang mengerikan? Apa itu? Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kereta api untuk mencari jawabannya. Setelah ini, bagaimana seramnya mimpi ini kalau aku menyadari semuanya hanya mimpi?
Aku duduk di bangku ketiga dari belakang. Udara di sekitarku terasa panas yang tidak nyaman. Semuanya terlihat sangat alami sehingga aku mulai ragu-ragu jika aku sebenarnya hanya bermimpi.
Suara pengumuman terdengar, "Kereta api akan berangkat."
Sementara kereta api mulai bergerak, hatiku menunggu dengan gelisah. Aku penasaran apa yang akan terjadi. Segera setelah kereta api meninggalkan peron, kami memasuki terowongan yang tertutupi oleh cahaya ungu menyeramkan.
"Aku pernah melihat terowongan ini sebelumnya!" kataku pada diriku sendiri.
Itu adalah terowongan yang berasal dari kereta hantu yang kunaiki di sebuah pasar malam saat aku masih kecil. Itulah mengapa aku memimpikan tentang kereta monyet aneh ini. Aku hanya ingat semua rumah hantu yang kukunjungi saat aku masih kecil.
"Ini bukan sesuatu yang harus ditakuti," aku memberitahu diriku sendiri.
Kemudian, ada pengumuman lain yang berbunyi, "Pemberhentian berikutnya, Ike-zukuri! Berikutnya, Ike-zukuri!"
"Ike-zukuri?" pikirku. "Itu bukan stasiun, itu adalah santapan Jepang yang langka!"
Seorang juru masak Jepang yang profesional bisa memotong seekor ikan dan memasaknya mentah-mentah. Itulah mengapa ikan tersebut masih hidup saat dihidangkan padamu. Ikan malang itu akan tergeletak di piringmu, meronta-ronta sementara kau memakannya. Hal itu sangat mengerikan, tapi di Jepang termasuk makanan yang lezat.
Aku masih berpikir tentangnya saat aku mendengar suara jeritan yang sangat keras dari belakangku. Aku menoleh dan melihat empat orang kerdil bungkuk yang berpakaian compang-camping. Mereka sedang mengelilingi laki-laki di kursi paling belakang. Saat aku menatap lebih dekat, aku melihat orang-orang kerdil itu memakai topeng monyet. Mereka mengacungkan pisau yang tajam. Mereka mulai memotong-motong laki-laki itu tepat di depan mataku. Mereka menyiapkannya seperti seorang juru masak sedang menyiapkan Ike-zukuri!
Bau amis yang luar biasa menguar di udara. Laki-laki itu tetap menjerit dan meraung saat mereka menarik keluar organ tubuhnya. Orang-orang kerdil itu menghambur-hamburkannya ke sekeliling kereta api.
Aku memperhatikan seorang wanita berwajah pucat dengan rambut panjang sedang duduk tepat di belakangku. Saat suara jeritan itu mulai terdengar, ia mulai panik tapi hanya sebentar. Kemudian, ia terdiam sambil menatap ke depan seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Aku sangat ketakutan karena hal mengerikan yang baru saja terjadi di belakangku. Aku mulai penasaran apakah ini benar-benar mimpi atau bukan. Saat aku menoleh ke sekitarku lagi, laki-laki di kursi belakang sudah hilang. Yang tersisa hanyalah noda darah dan gumpalan daging berwarna merah. Wanita di belakangku masih menatap lurus ke depan, wajahnya tanpa ekspresi.
"Pemberhentian berikutnya, sendok!" terdengar suara dari pengumuman. "Sendok adalah pemberhentian berikutnya!"
Saat ini, dua orang kerdil bermuka monyet muncul sambil membawa sendok yang pinggirnya bergerigi tajam. Mereka mulai menyendok keluar bola mata milik wanita di belakangku. Sampai saat ini, ia masih memasang wajah tanpa ekspresi, tapi wajahnya terlihat penuh kesakitan. Ia mulai menjerit dengan keras hingga aku berpikir gendang telingaku akan robek. Bola mata melompat keluar dari rongganya. Bau amis darah dan keringat membuatku tak tahan.
Aku membungkuk ketakutan. Saat ini adalah kesempatanku untuk kabur. Aku tidak bisa menahannya lagi.
"Bangun!" aku berkata pada diriku sendiri. "Aku harus keluar dari sini! Kumohon, bangun!"
Kemudian, pikiran mengerikan menyambar benakku. Melihat bagaimana semuanya terjadi, akulah urutan berikutnya...
"Pemberhentian berikutnya, daging cincang!" terdengar suara pengumuman. "Daging cincang adalah pemberhentian berikutnya!"
Aku merasa sakit. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berkonsentrasi sekeras yang kubisa untuk mencoba memaksa diriku sendiri bangun dari mimpi.
"Ayolah! Bangun!" kataku pada diriku sendiri. "Ini hanya mimpi! Bangun! Bangun!"
Tiba-tiba aku mendengar suara desingan besi yang berisik. Suaranya seperti berasal dari sebuah mesin penggiling. Saat ini, dua orang kerdil sedang duduk di pergelangan kakiku. Mereka memegang mesin aneh yang kuduga sebagai mesin pemotong daging. Aku sangat ketakutan.
"Ini semua hanya mimpi yang mengerikan! Bangun! Bangun!" aku menutup mataku dan berdo'a sekeras yang kubisa. "Demi Tuhan, kumohon bangun!"
Whiiiiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrr!
Suara itu semakin mendekat. Aku bisa merasakan angin yang berhembus dari mesin itu di wajahku. Aku yakin jika aku sudah tidak lagi memiliki harapan. Semuanya sudah berakhir. Aku yakin aku akan mati. Kemudian, mendadak semuanya menjadi sunyi.
Aku bangun di atas tempat tidurku, tubuhku mandi keringat. Air mata menetes membasahi pipiku. Entah bagaimana, aku berhasil melarikan diri dari mimpi buruk itu. Aku berjuang turun dari ranjang dan pergi ke dapur. Di sana, aku minum segelas air dan mencoba menenangkan diriku sendiri.
"Mimpi itu seperti nyata," pikirku. "Terima kasih Tuhan, itu hanya mimpi..."
Hari berikutnya di sekolah, aku menceritakan pada semua temanku tentang mimpi mengerikan yang kualami. Aku berharap mereka akan ketakutan, tapi mereka semua menganggap hal itu sebagai sesuatu yang lucu. Aku juga berharap demikian sebenarnya. Itu hanya sebuah mimpi.
Empat tahun berlalu. Aku baru saja lulus dari perkuliahan. Aku benar-benar lupa tentang mimpi itu.
Suatu malam, aku bekerja lembur di kantor. Hari itu adalah hari yang sibuk hingga membuatku sangat kelelahan. Aku membaringkan punggungku pada kursi dan menutup mataku selama beberapa waktu.
Saat itu, mimpi itu datang lagi.
"Pemberhentian berikutnya, sendok! Sendok adalah pemberhentian berikutnya!"
Mimpi itu sama. Semuanya kembali. Dua orang kerdil bertopeng monyet yang sama sedang mencungkil keluar bola mata milik gadis tanpa ekspresi.
"Ini hanya mimpi! Bangun! Bangun!"
Aku mulai berdo'a, tapi aku tetap tidak bisa bangun.
"Ini hanya mimpi! Bangun! Kumohon bangun!"
"Pemberhentian berikutnya, daging cincang! Daging cincang adalah pemberhentian berikutnya!"
"Tidak! Ini sudah keterlaluan!"
Whiiiiiirrrrrrrr!
Suara itu semakin mendekat.
"Ini hanya mimpi! Bangun! Bangun! Kumohon, bangun!"
Tiba-tiba, semuanya hening.
Aku melarikan diri lagi, atau pikirku begitu.
Baru saja aku akan membuka mata, aku mendengar sebuah suara berkata, "Apakah kau akan melarikan diri lagi? Berikutnya, kami akan datang padamu untuk terakhir kalinya!"
Aku membuka mataku. Saat ini, aku benar-benar bangun di ruanganku. Tapi, pengumuman yang baru saja kudengar tidak berasal dari mimpi. Aku mendengarnya di sini, di dunia nyata. Aku tahu. Tidak ada yang salah dengan itu.
Mengapa aku? Apa yang telah kulakukan hingga aku harus menerima ini?
Aku tidak lagi bermimpi sejak saat itu, tapi aku tahu jika selanjutnya aku memimpikannya lagi, aku akan mati. Hal itu mungkin akan membuatku terkena serangan jantung atau sesuatu yang lain. Di dunia ini, mungkin seperti serangan jantung, tapi di dunia lain aku akan menjadi daging cincang.
***