Fishy Smell
Horror
17 Jan 2026

Fishy Smell

Download Thumbnail Edit

Gambar dalam Cerita

download - 2026-01-17T235636.366.jfif

download - 2026-01-17T235636.366.jfif

17 Jan 2026, 16:57

download - 2026-01-17T235633.389.jfif

download - 2026-01-17T235633.389.jfif

17 Jan 2026, 16:57

Beberapa tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku sekolah, aku pergi piknik dengan temanku. Kami baru saja menyelesaikan ujian, sehingga kami mencari sedikit kesenangan dengan berpetualang. Temanku membawa binatang peliharaannya, yaitu anjing, untuk menemani perjalanan kami. Karena kami tidak punya banyak uang, kami menghindari menginap di hotel. Malahan, kami berhenti di pinggir jalan untuk tidur di dalam mobil.

Pada suatu malam yang mulai larut, kami tiba di sebuah desa di pinggiran pantai. Desa itu terletak di pesisir, di bawah kaki gunung. Kami hampir kehabisan bahan bakar, jadi kami mengemudi berkeliling untuk mencari tempat pengisian bensin. Menyetir menyusuri jalanan berpasir, kami melihat satu-satunya pom bensin di desa itu. Tapi sayangnya sudah tutup.

Itu adalah sebuah rumah kecil dengan pom bensin di luar, jadi aku berjalan dan menekan bel. Ada sebuah keranjang besar menggantung di pintu depan. Keranjang itu berisi daging, sayuran, permen, dan beberapa perhiasan kecil. Benda itu terlihat seperti persembahan atau sejenis benda yang akan kau tinggalkan di tempat keramat.

Aku kembali membunyikan bel. Aku bisa melihat seseorang sedang mengintip keluar melalui kaca yang buram, tapi tak ada seorang pun yang membuka pintu.

"Hei, aku tahu kau ada di rumah! Buka pintunya!" teriakku.

Tidak ada jawaban.

"Mobil kami hampir kehabisan bensin. Kami tidak ingin terdampar di sini," kataku.

Lampu menyala. Aku mendengar suara kunci yang diputar. Pintu membuka sedikit, sedangkan sesosok laki-laki memandang tajam melalui celah pintu.

"Apa yang kau inginkan?" geramnya.

"Aku hanya butuh bensin..." balasku.

"Apa kau tidak bisa baca? Kami tutup hari ini."

"Maaf telah mengganggumu, tapi kami benar-benar terjebak."

"Kau tak tahu kau ada dimana?" katanya. "Keluar dari sini sekarang!"

"Aku juga ingin, tapi kami butuh bensin," balasku.

"Ini, ambil," geramnya.

Si laki-laki membuka pintu lebih lebar dan menyorongkan sekaleng bensin ke tanganku.

"Sekarang, pergi dan tinggalkan kami sendiri!" teriaknya sambil membanting pintu tepat di depan wajahku.

Aku pikir ia sangat kasar. Tapi saat menyadari ia tidak meminta bayaran untuk bensinnya, aku hanya berterima kasih lalu pergi.

Sambil berjalan ke arah mobil, aku melihat sekeliling dan memperhatikan bahwa jalanan sangat sunyi. Segalanya tampak hening. Semua rumah terlihat gelap. Setiap rumah itu memiliki sebuah keranjang yang tergantung di depan pintu.

"Apakah ada semacam festival atau sesuatu yang lain?" tanyaku penasaran.

"Jika ada, aku tidak tahu apa pun tentangnya," balas temanku.

Kami berdua sangat kelelahan karena menyetir sepanjang hari, jadi kami memutuskan untuk menginap di desa itu sepanjang malam. Lalu melanjutkan perjalanan kami pada pagi harinya. Kami memarkir mobil di sisi jalan yang bisa digunakan untuk melihat lautan.

Temanku merayap ke bangku belakang dengan anjingnya, sementara aku menutupi tubuhku dengan selimut di bangku depan. Kami mencoba untuk tidur.

Kemudian, si anjing mulai menggeram. Aku mencium bau amis ikan yang sangat kuat di udara. Si anjing menampakkan gigi-giginya dan melanjutkan menggeram sambil menatap keluar ke arah lautan. Biasanya, anjing itu tenang dan bersikap baik, tapi sesuatu tampak membuatnya ketakutan.

Aku menatap tegang ke dalam kegelapan. Laut tampak tenang, disinari oleh cahaya bulan yang pucat. Aku bisa melihat sesuatu menggeliat di pinggir dermaga.

"Apa itu?" desisku.

"Aku tidak tahu," bisik temanku dengan suara serak.

Awalnya, benda itu terlihat seperti balok kayu yang mengambang di atas air. Tapi semakin kami melihatnya, benda itu tampak merangkak keluar dari lautan. Makhluk itu pelan-pelan mencapai tanah, meliuk-liuk dan merayap seperti seekor ular. Tapi tidak ada suara apa pun. Makhluk itu terlihat seperti kumpulan asap hitam, berputar, lalu berubah bentuk menjadi seorang laki-laki yang sangat besar.

Aku bisa mendengar dengung keras di telingaku. Bau amis ikan semakin menjadi-jadi hingga membuatku merasa mual.

Bayangan hitam itu menyeberangi jalan dan sampai di rumah pertama yang berseberangan dengan lahan parkir. Makhluk itu tingginya hampir sama dengan rumah itu sendiri. Ia berbentuk seperti manusia dengan lengan menggantung yang panjang dan kaki kurus.

Makhluk itu menatap tajam melalui jendela seolah-olah ia memiliki wajah. Kemudian, ia menuju keranjang yang tergantung di depan pintu. Ia mulai melahap semua benda di dalamnya.

Aku menoleh pada temanku. Ia sedang duduk di kursi belakang, gemetar seperti daun. Aku sangat takut sampai tidak bisa menggerakkan satu otot pun. Seluruh tubuhku kaku. Jantungku berdetak sangat cepat. Aku takut jantungku akan melompat keluar dari rongga dadaku.

Bau amis menjijikkan dari ikan mati menggantung di udara seperti asap tebal. Bau itu sangat kuat. Sosok itu menjelajahi rumah ke rumah, menatap tajam ke jendela. Lalu ia menyambar apa pun yang ada dalam keranjang.

"Hidupkan mobil," kata temanku dengan suara bergetar.

Segera setelah aku menghidupkan mobil, sosok hitam itu menoleh perlahan-lahan. Ia menatap langsung pada kami. Kemudian, makhluk itu mulai melangkah ke arah kami. Aku langsung tancap gas dan keluar dari area parkir.

Si anjing mulai menggonggong seperti anjing gila di bangku belakang. Temanku berteriak padaku. Aku tidak berani menoleh ke belakang. Kami menyetir secepat yang kami bisa sampai keluar dari desa itu dan masuk ke kota berikutnya.

Saat kami kehabisan bensin, aku menyambar kaleng bensin lalu cepat-cepat mengisi tangki mobil. Kami langsung melanjutkan perjalanan. Saat sudah pagi, kami kelelahan, tapi harus pergi sejauh mungkin dari desa yang mengerikan itu.

Saat kami sampai di rumah beberapa hari kemudian, aku menceritakan pada orang tuaku tentang pengalaman kami yang mengerikan. Ibuku berkata bahwa ia samar-samar mengingat legenda yang pernah ia dengar saat masih muda. Legenda itu tentang sebuah desa nelayan kecil di pinggir pantai.

Ia berkata bahwa desa itu dikutuk karena diganggu oleh sejenis makhluk supranatural. Pada hari yang sama, setiap tahun sesuatu akan muncul dari lautan untuk menyerang penduduk desa. Ia mengoyak-ngoyak mereka dan menghamburkan tubuh mereka. Untuk melindungi diri mereka sendiri, mereka akan mengunci pintu pada malam hari dan meninggalkan persembahan di luar rumah mereka untuk diserahkan pada makhluk tersebut.

Sejak saat itu, aku selalu menghindari lautan. Ada sesuatu tentang bau amis ikan yang membuatku takut. Hal itu membuatku gemetaran seperti daun.

***

Kembali ke Beranda