Gambar dalam Cerita
Hari ini adalah hari berkabung bagi keluargaku. Kakak kembarku yang bernama Arzriel meninggalkan kami sekeluarga. Nenek, ibu, ayah dan saudara saudara ku cukup terpukul oleh berita yang sangat mengejutkan ini.
Kemarin ibu mendapat telepon bahwa kak Azriel kecelakaan saat pulang dari rumah temannya. Ibu aku dan ayah segera menuju rumah sakit di mana kak Azriel di rawat.
Kepala kak Azriel terbentur hingga kemungkinan kak Azriel akan amnesia. Kami sangat terpukul oleh berita ini, kami selalu berdoa untuk kesembuhan kak Azriel. Tapi Tuhan berkehendak lain, beberapa hari setelag kecelakaan kak Azriel menghembuskan nafas terkahir malam itu.
Berita ini menyebar cepat, kerabat dan teman teman kak Azriel hadir malam itu, dengan suasana pilu kami membacakan doa agar kak Azriel di terima di sisi-Nya. Namaku Aurel, aku adalah anak kedua dari dua bersaudara, hanya ada aku dan kakak kembar laki laki ku kak Azriel yang kemarin telah pergi.
Setelah kepergian kak Azriel hidupku berubah drastis. Semua hal yang biasanya aku lakukan bersama dengan kakak ku sekarang harus aku lakukan sendiri. Hidup ku seperti hampa.
***
Hari ini adalah hari senin,dua hari setelah kepergian kak Azriel. Aku harus berangkat dengan ayah yang akan pergi ke kantor. Biasanya aku berangkat bersama kak Azriel tapi kali ini aku harus bisa tanpa kak Azriel.
Pelajaran membosankan telah usai dan bel berteriak menunjukan bahwa jam istirahat telah tiba. Aku hanya diam membaca novel tebal tanpa ada niat sedikitpun untuk beranjak dari bangku ku.
Sebuah pesawat kertas mendarat di meja ku,dan derap langkah seseorang terdengar mendekat ke arah meja ku. "Maaf" ucap seseorang. Aku menoleh dan melihat Alex mendekat dan mengambil pesawat kertas nya.
Aku mengangguk saja dengan dengan senyum yang di paksakan. Alex adalah teman satu SMP denganku dia adalah teman dekat kak Azriel hingga akupun bisa kenal dengan Alex. "Rel, nanti pulang lo pulang bareng gue ya?" Tanya nya yang lebih pantas di sebut permintaan.
"Kan jauhan rumah gue," Ucap ku sambil menutup novel dan menyimpan nya di laci meja."Gapapa kok, entar gue anterin sampe rumah." Ucap nya lalu pergi sambil membawa pesawat kertas tadi.
***
Aku menunggu di depan kelas, dimana Alex? Dari arah lain dia datang dengan blazer yang rapi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia tiba tiba menggenggam tangan ku dan menarik menuju tempat parkir.
Aku tak tahu mengapa aku tak melakukan penolakan sedikitpun, tanpa sadar aku tersenyum, merasakan ada ada kupu kupu yang terbang di perutku. Aku dan Alex menjadi pusat perhatian,karena aku tahu cewek cewek yang menyukai Alex itu tidak sedikit. "Rel lo gak papa kan naik motor? " tanya Alex membuyarkan lamunan ku. "Eh gapapa kok." Ucap ku.
***
Hari hari berlalu, aku dan Alex kini benar benar dekat. Setiap hari aku selalu menghabiskan waktu dengan Alex karena kami satu kelas dan tinggal di kompleks yang sama. Bahkan Alex sering main ke rumah ku untuk mengerjakan PR atau sekedar main menghabiskan waktu lenggang.
Pernah suatu malam Alex main ke rumah dengan membawa gitar. Aku lalu meminta nya mengajari bagaimana cara memainkan gitar. Dia dengan senang hati mengajarkan aku yang tidak bisa.
Semua terasa indah, hingga aku mulai menyukai Alex. Aku selalu merasa nyaman bila dekat dengan Alex. Setelah hadirnya Alex aku mulai terbiasa hidup tanpa kak Azriel. Bahkan teman teman sekelas mengira bahwa aku dan Alex pacaran padahal kami hanya teman, sungguh hanya teman.
Hari itu kelas kami sedang berolahraga,entah kenapa kepalaku seperti pusing. Tiba tiba semua gelap. Beberapa saat setelah itu aku tersadar di ruang UKS dan kulihat Syila teman ku yang sedang menungguku, Syila bilang aku di gendong Alex saat pingsan tadi.
***
Semua hal yang aku lalui terasa sangat berkesan. Tapi aku kadang berfikir apakah Alex memiliki perasaan yang sama? Mengapa sampai saat ini tak ada kemajuan dalam hubungan kami? Hingga waktu itu tiba di mana aku mulai menggali info tentang Alex.
Waktu itu ku tanya Rai teman Alex, awal nya dia mengatakan bahwa dia tidak tau kalau Alex sedang menyukai siapa. Hingga berminggu minggu aku mulai merasakan ada yang berbeda dari Alex. Dia mulai berubah bahkan kami jarang pulang dan menghabiskan waktu bersama.
Pernah suatu hari aku berfikir apakah aku langsung saja bertanya pada Alex dia sedang menyukai siapa? Semua hal yang tidak pasti ini membuat aku lelah sendiri, hingga aku mulai tak peduli aku mulai menutup diri dari semua hal yang menyangkut diri Alex.
Hingga semua perilaku ku tanpa sadar membiat Alex semakin jauh. Dia semakin tak peduli denganku, aku pun berfikir bila dia tak peduli mengapa aku harus peduli? Aku tau aku egois ingin di pedulikan sendiri, tapi aku hanya ingin Alex mengerti, namun salah nya aku lupa bahwa aku bukanlah siapa siapa bagi Alex.
Suatu malam aku mendapat sebuah telepon dari Rai, katanya dia melihat Alex tengah tertawa sambil memandangi layar ponsel dia seperti sedang video call dengan seorang wanita. Saat itu juga aku benci Alex, aku tak ingin melihat atau mendengar suaranya lagi.
***
Aku melangkahkan kaki di antara rak buku di perpustakaan. Mencari novel yang mungkin bisa mengisi waktu luang ku dari pada memikirkan Alex. Tanpa sengaja aku mendengar perdebatan seseorang. Di balik lemari buku aku mengintip dan melihat Rai tengah berbicara serius dengan Alex.
Aku samar samar bisa mendengar suara mereka.
"Lo apaan si Rai kepo banget sama hidup gue"
"Heh Alex gue nanya ya, lo itu gak punya perasaan ya? "
"Apaan si ?"
"Gue tanya, kenapa lo selalu perhatian dan peduli sama Aurel?"
Selang beberapa lama Alex tak menjawab, aku gemetar menunggu jawabannya.
"Emang salah?"
"Bukan gitu Lex, tapi lo nyakitin Aurel."
"Oke gue bakal jawab pertanyaan lo, gue kasihan sama dia karena Kematian Azriel gue kasihan liat dia sedih tiap hari, dan Azriel itu sahabat gue, dia pasti sedih kalau tau Aurel sedih."
Tanpa mau mendengar lanjutannya aku langsung berlari menuju kelas di sana aku menangis tanpa suara.
***
Semua hariku kembali suram,aku merasa menjadi orang terbodoh karena menaruh harapan pada orang yang hanya kasihan. Tanpa sengaja aku mendengar suara sorangan teman sekelas ku.
"Alex gue denger lo jadian sama Maya, selamat yaa."
Degg .
Aku tak tau harus bagaimana lagi semua harapanku hancur impianku runtuh semuanya karena Alex.
***
Jika pedulimu hanya sebatas kasihan semata,lebih baiknya kau tak perlu hadir sekali pun. Karena dia yang telah ada sebelumnya adalah hal yang pantas kau pertahankan, seperti sekarang.
Aurella Alshyra.