Gambar dalam Cerita
Derap langkah kaki terdengar jelas melewati lorong sepi sekolah. Ini pukul 7 pagi, lebih tepatnya setengah 8 lewat, yang menandakan jika kegiatan belajar-mengajar telah dimulai.
Beberapa kelas terlihat hening dengan penampakan jika penghuninya sedang mencatat atau mengerjakan tugas. Sementara itu, di sisi lain tampak sebagian kelas yang riuh dengan suara murid dan guru yang bersahutan saat kuis sedang berlangsung.
Lain di kelas, lain lagi di lorong. Lorong sekolah saat ini sangat lenggang dikarenakan semua murid sudah memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran. Semuanya—kecuali murid dengan tubuh gempal dan jaket hijau—yang kini sedang berlari tunggang-langgang melewati satu per satu kelas di lorong panjang.
Semakin cepat kakinya dipacu, semakin terlihat jelas pula sebuah pintu yang terbuka setengah dengan suara teriakan yang bersahutan dari dalamnya. Gopal memacu langkahnya lebih cepat, lalu menggebrak pintu dengan sangat kuat, Ia berdiri dengan napas terengah di tengah pintu.
Teman sekelas yang awalnya riuh secara bersamaan langsung menatapnya dengan pandangan bertanya—beberapa bahkan menatap dengan pandangan kesal.
"Ngapain sih? Abis dikejar bison, lo?" Tanya seorang gadis yang duduk di pojok ruangan bersama beberapa temannya.
Gopal melirik sekilas, lalu mengatur napasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari gadis itu. "Ada dokter, anjir. Bawa tas gede. Curiga kita bakal divaksin sekelas buat ngurangin penularan virus rabies," jelas Gopal, mendapatkan delikan tajam dari gadis yang bertanya tadi.
Beberapa anak laki-laki dikelas itu meneguk ludah kasar, lalu menatap Gopal takut-takut. "Jangan boong lo. Lo boong, lobang idung lo makin gede ntar."
Gopal mengangkat sebelah tangannya, mengacungkan dua jari membentuk peace sign disertai dengan raut wajah seriusnya yang jarang terlihat. "Serius, anjir. Sumpah, ga boong gue. Lo kalo gak percaya, liat aja noh ke ruang TU," jawabnya sungguh-sungguh, membuat murid laki-laki yang berdiri di pojok ruangan semakin pucat.
Belum sempat murid lain mengeluarkan suara, tiba-tiba saja terdengar suara guru dan langkah kaki yang berjalan mendekati ruang kelas, membuat mereka semua secara bersamaan menoleh langsung ke arah pintu, menanti siapa yang akan segera muncul dari balik pintu.
"Lho, kalian kenapa posisinya acak-awur begini? Lagi main drama?" Itu Bu Risa, wali kelas mereka, yang bertanya dengan wajah cantiknya yang senantiasa menampilkan senyum manis.
Kelas hening. Tidak ada satupun yang merespons pertanyaan Bu Risa—mereka semua terlalu fokus, hingga ada beberapa siswa yang melongo melihat tiga orang dewasa dengan jas putih dan seseorang yang membawa kotak besar ditangannya.
'Anjir, terakhir kali gue suntik pas SD aja sampe kudu diregang Ayah, bangsat.'
Bu Risa tertawa kecil melihat reaksi anak muridnya yang tercengang melihat 3 orang dokter yang berdiri sambil mengulas senyum kecil di sampingnya.
"Pasti udah tau dong ya siapa yang ada di sebelah Ibu ini? Yap, benar! Ini Bu Dokter sama Kakak-Kakak Perawat yang tugasnya meriksa kesehatan kalian-"
Click! WHOOSH !
Suara jendela, yang kuncinya baru saja dibuka, terdengar dari arah pojok; di susul dengan suara angin yang tiba-tiba berembus kencang memasuki ruang kelas, membuat atensi mereka semua beralih pada jendela yang kini tirai biru mudanya terayun mengikuti tiupan angin.
Kelas kembali hening. Mereka menatap jendela yang tiba-tiba terbuka itu dengan pandangan bingung sebelum tiba-tiba seorang murid laki-laki, yang merupakan ketua kelas, tiba-tiba berseru, "Lah, Taufan mana?"
▵▾▵▾▵▾▵
Suasana kelas Halilintar cukup hening saat ini, hanya suara diskusi dari beberapa murid yang sesekali terdengar dari arah belakang.
Kelas mereka sedang tidak ada guru saat ini. Guru mereka hanya datang dan memberikan sedikit catatan, lalu kemudian menutupnya dengan beberapa tugas kelompok dikarenakan beliau sedang ada kesibukan.
Halilintar membaca soal di bukunya dengan tenang, sesekali menoleh pada teman satu kelompoknya saat Ia menanyakan pendapat mereka tentang jawaban yang didapatnya.
Ting!
Atensi Halilintar yang semula fokus pada buku kini teralihkan pada layar HP-nya yang menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan. Ia meraih HP-nya dari atas meja, lalu membaca sekilas nama si pengirim pesan.
Taufan
Lin😭😭😭
07.43
Halilintar membaca pesan itu dengan alis sedikit berkedut, lalu menggerakkan jarinya untuk mengirimkan balasan pada si pengirim.
Kenapa?
07.45
Pesan yang baru saja dikirimnya itu langsung dilihat oleh Taufan. Tak lama kemudian, muncul gelembung yang menandakan jika seseorang di seberang sana sedang mengetikan balasan.
Lin, gua ketemu monster, anjir
07.46
Bibir Halilintar mengulas senyum tipis, terlampau hapal dengan pikiran aneh adik pertamanya ini. 'Bocah gajelas.'
Lin, balas kek, elahh
07.46
Iya, apa?
07.47
Gua tadi ketemu monster. Bajunya putih, pake kacamata
07.47
D-dia bawa rombongan 20 orang di belakangnya. Masing-masing pake baju zirah putih
07.47
Lin, tolongin gua pliss
07.48
Halilintar kembali mengernyit, memikirkan sejenak maksud dari perkataan adiknya. Lalu Ia teringat dengan beberapa tenaga medis yang berada di ruang TU saat Ia mengantarkan absen kecil tadi. Tanpa sadar, Ia terkekeh kecil mengingat jika adiknya ini sangat takut pada para tenaga medis.
Oh, Bu Dokternya udah sampai sana? Kenapa lo masih bisa main hp?
07.48
Hah? Udah sampai sini?!
07.48
Anjir, sia-sia doang gua loncat dari jendela tadi
07.48
Loncat dari jendela? Tunggu, jadi maksudnya lo lagi gak ada dikelas sekarang?
07.49
Oh.. itu..
07.49
Hehehe, gua loncat dari jendela waktu liat rombongannya masuk kelas tadi..
07.49
Hehehe
07.50
Hehehehehehe, Lin?
07.50
Helaan napas berat keluar dari bibir Halilintar, membuat teman-temannya yang sedari tadi mengawasinya saling berpandangan dengan raut bertanya-tanya.
Tangannya kembali mengetikan balasan pada Taufan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi selagi menunggu balasan.
Di mana?
07.51
Belakang kelas lo..
07.52
Halilintar melongo, membaca ulang pesan yang baru saja dikirimkan Taufan.
Taufan berada di belakang kelasnya? Benar-benar di belakang kelasnya? Tunggu, bukankah belakang kelasnya itu penuh semak-semak dan sampah dari beberapa murid yang suka membuang sampah sembarangan? Dan Taufan? Sembunyi di sana? Astaga..
"Kenapa lo?" Tanya seorang murid laki-laki, membuat Halilintar menoleh ke arahnya dengan raut wajah yang sudah kembali netral.
Halilintar memijit pelipisnya sejenak, lalu bangkit dari kursi dan menatap teman satu kelompoknya sejenak. "Adek gue ngulah. Gue izin keluar bentar, ya?"jawab Halilintar, yang langsung diangguki oleh teman-temannya yang sudah dapat menebak siapa adik yang dimaksud Halilintar itu.
Halilintar mengulas senyum tipis, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat keluar kelas, berjalan dengan langkah lebar menuju belakang kelasnya.
▵▾▵▾▵▾▵
Taufan menatap sekelilingnya dengan waspada, sesekali mengusap lengannya yang dirayapi oleh semut karena Ia yang sedang duduk berjongkok dibalik semak-semak.
"Ah elahh, ini kapan kelarnya, anjir. Kaki gue pegel,"gerutunya kesal.
Manik biru safir miliknya yang sedari tadi berpendar ke kiri dan kanan kini memicing kala mendapat sosok berjaket hitam yang berjalan tegap ke arahnya. Lebih tepatnya, mungkin ke arah semak yang ditempatinya saat ini.
"Fan? Lo di mana?" Panggil suara itu, membuat Taufan diam sesaat, memikirkan harus keluar dari persembunyian atau tidak.
'Kalo gue keluar, pasti di seret ke kelas. Tapi kalo ga keluar, kaki gue pegel.'
Terlalu lama berdebat dengan pikirannya sendiri, Taufan sampai tidak menyadari jika Halilintar sudah berhasil menyingkirkan semak-semak yang berhasil menyembunyikan tubuhnya tadi.
"Fan." Panggil Halilintar dengan manik merah delimanya yang menatap datar ke arah Taufan.
Taufan menoleh patah-patah ke arahnya, lalu dengan cepat berdiri dan membersihkan seragamnya yang terkena tanah.
Manik biru safirnya menatap Halilintar dengan tatapan takut, lalu mengulas cengiran lebar yang terkesan canggung sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Hai.. Alin.. Apa kabar?"tanya Taufan, sebelah tangannya melambai dengan kaku ke arah Halilintar.
Halilintar mendengus, lalu dengan cepat meraih tangan Taufan dan menariknya menjauh dari semak-semak.
Taufan yang tangannya ditarik tiba-tiba sontak memberontak, berusaha melepaskan genggaman Halilintar dari tangannya meskipun percuma.
"Lin! Jangan seret gue ke ruangan monster itu, anjir! Lo mau gue is det di tusuk mereka pake tombak?" protes Taufan, masih setia menggerakkan tangannya secara brutal di genggaman Halilintar.
Halilintar tetap diam, tak peduli dengan pemberontakan sia-sia yang dilakukan adiknya. Ia hanya terus berjalan, mengacuhkan teriakan Taufan.
"Hali! Jangan seret gue, anjir! Gue bukan kambing!" teriak Taufan lagi. Kali ini matanya memandang Halilintar dengan tatapan memelas.
Helaan napas berat lagi-lagi keluar dari bibir Halilintar. Halilintar menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Taufan yang tidak siap pun langsung menabrak punggungnya.
"Anjing."
Halilintar menatap Taufan malas, lalu tanpa aba-aba menggendongnya ala karung beras dan kembali berjalan.
"Bukan kambing, tapi karung beras." ujarnya santai sembari berjalan keluar dari area belakang kelas.
Taufan yang masih kaget pun terdiam, lalu kembali menggelepar di gendongan karung beras Halilintar, minta untuk di turunkan— yang hanya dibalas deheman singkat dari Halilintar.
Halilintar terus berjalan menuju kelas Taufan, mengacuhkan teriakan Taufan dan pandangan jenaka dari beberapa murid yang dilewatinya di lorong.
"Gem, itu kembaran lo gak, sih?" Tanya salah satu murid yang sedang berjalan di tepi lorong pada murid dengan manik emas di sebelahnya. Ia sedikit menahan tawanya kala melihat dua orang yang tidak asing berjalan melewati mereka berdua.
Gempa, yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh, melirik ke kiri dan kanan sebelum akhirnya tercengang melihat kelakuan kedua kakaknya yang memang kadang sulit diprediksi.
Ia segera menutup wajahnya, merasa malu setelah melihat kedua saudaranya yang telah menghilang di telan pintu kelas paling ujung—kelas kakak keduanya yang menjadi asal muasal kejadian aneh pagi hari ini.
▵▾▵▾▵▾▵
"Permisi, Bu. Saya bawa pasien yang kabur tadi," ujar Halilintar seraya mengetuk pintu kelas Taufan pelan. Ia membungkukkan tubuhnya sekilas sebelum masuk dan meletakkan Taufan di depan kelas.
Taufan yang semula masih terus menggelepar kini terdiam dengan tatapan tajamnya yang ditujukan pada Halilintar— yang saat ini berbalik berbicara dengan wali kelasnya.
"Terima kasih,ya, Hali. Udah susah-susah bawain pasien Ibu yang kabur aja." Canda Bu Risa.
Wali kelas Taufan ini memang masih tergolong cukup muda, jadi selera humornya masih lumayan nyambung dengan murid-muridnya.
Halilintar hanya terkekeh kecil, lalu berpamitan untuk keluar kelas sebelum suara salah satu murid menginterupsi pergerakannya.
"Gue kalo jadi lo sih gak bakal keluar sebelum si Taufan selesai di periksa, Li," celetuk Gopal, membuat Taufan menatapnya dengan tajam.
Halilintar kembali terkekeh kecil mendengar ucapan Gopal, "oh iya.. Saya izin jagain pasien Ibu sebentar ya, Bu." Katanya pada Bu Risa.
Seketika, suara gelak tawa memenuhi ruangan kelas disertai wajah Taufan yang semakin masam kala Bu Dokter mulai melakukan pemeriksaan padanya setelah puas tertawa.