Gambar dalam Cerita
Halilintar sadar, meskipun ia memiliki enam orang adik, yang selalu memanggilnya dengan embel-embel "Kak" tanpa berubah-ubah itu hanya lima orang: Gempa, Blaze, Ice, Duri, dan Solar.
Lalu, bagaimana dengan Taufan? Ah, Halilintar bingung bagaimana cara menjawabnya.
Taufan itu, selalu punya variasi panggilan yang berbeda untuk Halilintar. Terkadang Taufan akan memanggilnya dengan nama kecil yang Ia miliki: Alin. Namun di beberapa waktu lainnya, Taufan akan memanggilnya dengan panggilan "Kak". Tapi, pada saat-saat yang berbeda, Ia akan memanggil Halilintar dengan panggilan "Bang".
Pada awalnya, kebiasaan baru Taufan ini memang membingungkan. Namun, setelah beberapa lama, Halilintar akan menoleh dengan sendirinya kala suara ceria Taufan menyapa indera pendengarannya.
Tidak sekali dua kali Halilintar mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana cara Taufan memanggil dirinya. Namun, Halilintar hanya mengedikkan bahunya tak tau, lalu melirik Taufan yang selalu memiliki kesibukan sendiri di sela-sela kegiatan mereka.
Bahkan sekarang, saat matahari sedang bersinar terik di langit dan riuhnya suara murid-murid yang sedang mengantri di meja kantin, Halilintar kembali mendapatkan pertanyaan serupa dari sosok gadis berjilbab di depannya, Yaya.
"Taufan manggil lo itu sebenernya gimana, sih, Li?" tanya Yaya pada Hali sembari mengaduk-aduk es tehnya di atas meja.
Hali menghela napas lelah, bosan dengan pertanyaan yang selalu didapatkannya dari orang-orang berbeda setiap hari. Manik merah delimanya melirik Taufan yang saat ini sedang sibuk menyusun puzzle dengan kedua temannya—Fang dan Gopal.
"Entahlah. Panggilannya berubah tergantung mood," jawab Hali acuh, lalu menghabiskan es cappuccino di hadapannya dengan sekali teguk.
Yaya menganggukkan kepalanya paham, lalu merengsek mendekati Ying yang duduk berhadapan dengan Gempa; keduanya sama-sama menghadap buku pelajaran.
Hali, yang tidak memiliki kegiatan, kini mengaduk-aduk gelas kosongnya dengan sedotan. Kedua alisnya bertaut, sementara kedua manik delimanya menerawang, mengingat saat Taufan pertama kali memanggilnya dengan panggilan yang berbeda-beda setiap saat.
"Lin. Alin, woy! Halilintar!"
Hali tersentak. Kepalanya menoleh kaku pada Taufan yang kini menatapnya sembari mengelus lembut bahu Halilintar yang baru saja dipukulnya.
"Kenapa?" Tanya Hali. Kali ini, ekspresi wajahnya sudah kembali seperti semula.
Taufan membenarkan posisi duduknya—bersila di atas kursi dengan tubuh menghadap Halilintar. Manik biru safirnya kini berbinar cerah menatap Halilintar.
"Tadi gue denger Gentar dipanggil Mas sama adeknya."
Halilintar menaikkan sebelah alis, menatap Taufan yang kini grasak-grusuk di depannya dengan tatapan bertanya. Sementara Taufan mengulas senyumnya kian lebar menatap Hali.
"Dia keliatan keren banget waktu dipanggil Mas sama adeknya. Gue juga mau keliatan keren."
Alis Halilintar kini bertaut. Apakah adiknya ini meminta Hali untuk memanggilnya Mas ?
Sebuah pertanyaan terbesit di benak Hali. Ia lalu menatap Taufan dengan tatapan serius. "Bentar, lo denger Gentar dipanggil Mas sama adiknya di mana?"
"Waktu adeknya nelpon Gentar."
Mata Halilintar kini memicing, menatap Taufan dengan penuh peringatan. "Ayah pernah bilang soal ini, 'kan? Nguping pembicaraan orang di telpon itu gak sopan."
Aura menyeramkan kini menguar dari Halilintar, membuat orang-orang di meja itu sontak menoleh ke arah kakak beradik yang sedang duduk berhadapan.
"Kenapa, Kak?" tanya Gempa. Tubuhnya dibawa mendekati Halilintar yang masih mengeluarkan aura mencekam, lalu menepuk-nepuk bahu Kakaknya pelan.
Taufan yang berada di seberangnya terlihat panik. "Enggak, Lin. Gue gak nguping. Gentar sendiri yang nyuruh gue ngangkat telponnya, terus nyalain speaker. Dia lagi ngangkatin kursi pas itu," jelas Taufan, kentara sekali raut panik di wajahnya kala melihat ekspresi tidak bersahabat dari Hali.
Halilintar yang mendengar itu menghela, lalu menganggukkan kepalanya. "Jadi, alasan lo mau dipanggil Mas karna apa?"
"Ya, karna keren. Gentar kayak Mas-Mas Jawa yang sering muncul di TV waktu dipanggil Mas sama adeknya," jelas Taufan. Manik safirnya kembali berbinar menatap Halilintar, lalu beralih menatap Gempa memelas. Gempa yang melihat itu langsung bergidik ngeri melihat tatapan Kakak pertamanya.
"Gentar kan emang orang Jawa," suara Gopal mengalun, membuat Taufan menoleh ke belakang, menatap Gopal yang ada di belakangnya.
"Orang Jawa biasanya keren-keren. Lah dia, keren enggak, jamet iya."
Mata Gopal melotot dramatis menatap Taufan, lalu menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Gue aduin Gentar, lo ngatain dia jamet."
Taufan mengernyitkan dahi kesal, lalu berniat menjawab ucapan Gopal sebelum suara Fang yang berasal dari sebelah Gopal terdengar.
"Berisik lo pada," ujar Fang tanpa mengalihkan pandangannya dari puzzle di hadapannya. Kali ini, dia menyusun puzzle tersebut dengan bantuan Yaya dan Ying yang entah sejak kapan sudah berpindah posisi.
Taufan mendecak kesal, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Halilintar dan Gempa yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kata Bunda, kalo mau adik-adik nurutin apa yang kita mau, kita harus ngasih contohnya dulu ke mereka, biar mereka ngikutin."
Manik Taufan menatap Gempa yang masih mendengarkannya dalam diam, lalu beralih kembali pada Halilintar yang kini menatapnya datar.
"Jadi, gue manggil lo Mas ya, Lin? Biar Gempa nurut manggil gue Mas, " kata Taufan memohon, menatap Hali dengan tatapan memelas, membuat Gempa yang duduk di belakang Hali menutup mulut menahan tawa.
"Gue gak ikutan, ya, Kak," Gempa mengangkat kedua tangannya, lalu bangkit dari posisinya yang duduk di belakang Hali, dan beralih mengambil tempat di kursi depan Fang.
Taufan menatap Gempa yang melarikan diri dengan mata memicing, lalu menoleh ke arah Hali yang masih menatapnya datar.
"Lo telat kalo mau ngajarinnya sekarang. Kita udah 16 tahun, dan itu gak bakal ngaruh."
Taufan mendesah lelah, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi usai mendengar ucapan Hali. Di sisi lain, Gempa diam-diam melirik kedua kakaknya sembari terkekeh kecil.
Kedua manik Taufan mengedar ke sekeliling kantin dengan alis berkedut, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak lama setelahnya, ia kembali menegakkan tubuhnya cepat menghadap Halilintar, membuat Hali yang tadi sedang memainkan ponselnya seketika menoleh.
"Gue pastiin rencana gue berhasil, liat aja. Hahaha!"
Halilintar menggelengkan kepalanya, pasrah dengan apa pun yang akan dilakukan oleh adik pertamanya itu.
▵▾▵▾▵▾▵
Gempa mengucapkan terima kasih sembari mengulas senyum pada teman-teman OSIS-nya yang satu per satu mulai berjalan keluar dari ruang rapat, kala kegiatan yang dilangsungkan sejak pulang sekolah tadi akhirnya selesai.
Biasanya, mereka akan pulang saat bel berbunyi pada pukul 14.50. Namun, di hari-hari tertentu, akan ada beberapa murid yang tinggal di sekolah untuk mengikuti ekskul sekolah, contohnya ekskul OSIS. Dan hari ini, Gempa harus menjadi salah satu murid tersebut.
Gempa menghidupkan ponsel di genggamannya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16.45. Helaan napas berat terdengar dari sela bibirnya kala menyadari sudah hampir dua jam ia berada di sekolah di luar jam pelajaran.
Ditangkinnya tas yang tadi ia sampirkan di sandaran kursi, lalu berjalan menuju pintu keluar—menuju ke parkiran—seraya bersenandung kecil.
Manik emasnya sedikit menyipit kala mendapati sosok familiar sedang bersandar pada mobil hitam di parkiran: Halilintar.
"Kak Hali!" seru Gempa, lalu memacu langkahnya lebih cepat mendekati Hali, yang kini mengantongi ponselnya kala melihat sang adik datang.
"Udah lama, Kak?"
"Kurang lebih tujuh menit."
Gempa mengangguk, lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Hali menyalakan mesin mobil, kemudian mulai mengendarai kendaraan roda empat itu menuju rumah.
▵▾▵▾▵▾▵
Halilintar membuka pintu rumah perlahan, matanya mengedar menatap ke dalam rumah yang tumben-tumbenan masih sepi. Biasanya, adik-adiknya—terutama Taufan, Blaze, dan Duri—akan berlarian ke sana kemari entah memperebutkan sesuatu, atau menjahili Solar yang sedang belajar. Tapi sore ini, keadaan rumah cukup lenggang.
"Huh? Kemana orang-orang?" Gempa bertanya, melangkah masuk sembari menoleh ke kiri dan kanan, lalu mulai menjelajahi seisi rumah.
Halilintar mengikuti langkah Gempa dari belakang, lalu menoleh ke arah dapur saat mendengar suara cekikikan seseorang.
"Gem, di dapur." Halilintar meraih tangan Gempa, lalu menariknya ke arah dapur.
Keduanya berjalan pelan mendekati dapur yang hanya dibatasi dinding sebagai sekat dengan ruang tamu. Semakin mereka mendekat, semakin jelas pula suara cekikikan seseorang di baliknya.
"Selamat datang, Mas Hali! Mas Gempa!"
Gempa dan Halilintar memasang wajah cengo bersamaan, bingung harus memberi respon seperti apa pada orang-orang di depan mereka saat ini.
Taufan, Blaze, Ice, Duri, Solar, Ayah, dan juga Bunda, berdiri sejajar menyambut mereka. Di kedua tangan mereka terdapat masing-masing piring yang berisi makanan berbeda.
"Ini... kenapa?" Gempa bertanya, menatap satu per satu anggota keluarganya yang masih menatap mereka berdua dengan senyum lebar.
Ayah mereka tertawa sejenak, lalu meletakkan piring berisi ikan goreng yang dipegangnya ke atas meja. "Gabut," jawabnya singkat, sebelum duduk di kursi dan mencomot satu ikan goreng dari piring.
"Hah?"
"Kata Mas Taufan, ini hari orang Jawa. Jadi, kita semua harus manggil saudara yang lebih tua dengan panggilan Mas, " jelas Duri, matanya berbinar menatap Halilintar dan Gempa sembari bergelayut manja pada lengan Taufan, yang wajahnya sudah merah menahan tawa.
Halilintar menatap Taufan, lalu mengusak rambutnya frustasi. "Hari orang Jawa, Kau bilang? Dan Kalian percaya?"
Adik-adiknya mengangguk kompak, sementara Hali hanya bisa tersenyum pasrah melihat kepolosan adik-adiknya.
"Ayah sama Bunda juga percaya?" Gempa menatap kedua orang tuanya bergantian, menanti jawaban.
Bunda mereka tertawa kecil. "Jelas enggak. Tapi Taufan ngerengek ke Bunda sama Ayah. Mukanya melas banget tadi, kayak mau nangis," terang Bunda, lalu melirik ke arah Taufan yang kini sibuk menggoda Halilintar.
Gempa tersenyum pasrah, lalu menggelengkan kepalanya pelan sembari menarik kursi dan mendudukkan diri di sana.
"Ayo main," Taufan tiba-tiba berseru.
"Yang kedapatan ga nyebut saudara yang lebih tua pake sebutan Mas , harus nyuci piring selama seminggu," usul Taufan, membuat Blaze dan Duri berseru semangat.
"Ah, memang sebaiknya Aku tidur saja."
"Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi situasi ini."
Ice dan Solar mengeluh bersamaan, sementara Gempa dan Halilintar hanya bisa tersenyum pasrah mendengar usulan aneh lainnya dari kembaran mereka.
Dan, ya. Keempat adik mereka benar-benar berusaha memanggil mereka dengan sebutan Mas semalaman, bukan Kak seperti biasanya.
▵▾▵▾▵▾▵