Gambar dalam Cerita
Saat sikembar tiga masih berusia 8 tahun, si sulung dan si bungsu selalu berhasil membuat rumah menjadi ribut setiap saat.
Hali yang pemarah dan Gempa yang tidak suka berbagi—khususnya makanan. Perdebatan mereka akan selalu dimulai saat salah satu adik mereka meminta makanan yang Gempa miliki, dan berakhir dengan Gempa yang hampir menangis karena dimarahi oleh Halilintar karena tidak mau berbagi.
Ayah dan Bunda selalu menjadi saksi dari keributan kecil yang diciptakan anak-anak mereka, namun mereka tidak akan turun tangan secara langsung. Karena ini bukan hanya tentang masalah makanan, tapi tentang bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah dan bagaimana cara mereka untuk memahami satu sama lain.
Kadang Bunda merasa tidak tega membiarkan bungsu dari kembar tiga-nya menangis karena di marahi oleh Kakaknya. Tapi saat Bunda berniat memberi pengertian, Ayah selalu menahannya dan menatapnya dengan tatapan teduh. "Biarkan mereka dulu, mereka harus belajar cara menyelesaikan masalah sendiri," jawab Ayah, dan Bunda hanya bisa menghela napas lalu kembali mengawasi perdebatan kecil kedua anaknya.
Saat situasi kian memanas—suara Hali yang mulai meninggi, dan Gempa yang sudah menangis—biasanya Taufan akan selalu muncul sebagai penengah. Tubuh kecilnya akan berdiri ditengah-tengah kedua kembarannya, dengan sebelah tangannya yang dipeluk Gempa, dan manik biru safirnya yang menatap Hali dengan tatapan teduh.
"Alin, tolong kecilin sedikit suara kamu, ya? Kasihan Gemmy jadi nangis dengernya," kata Taufan kala itu sembari tangannya mengelus pucuk kepala Gempa yang kini menyembunyikan wajahnya di lengan Taufan.
Halilintar mengernyit, lalu mendengus mendengar ucapan adik pertamanya itu. "Tapi dia gak mau berbagi sama Duri, Fan! Kamu gak kasihan juga liat Duri nangis sesegukan gitu?" balas Hali, manik merah delimanya menatap tajam Taufan yang masih berusaha menenangkan Gempa.
Taufan diam, maniknya bergerak melirik Duri yang masih menangis di pelukan Bunda mereka, sementara sang Bunda yang berusaha menenangkan tangisan Duri kini menatapnya dengan senyum lembut. Ia bimbang, siapa yang harus dibelanya sekarang? Jika membela Gempa, maka Duri akan semakin menangis. Tapi jika dia membela Duri, Gempa akan merasa sedih karena tidak ada yang mendukungnya.
Jemari kecilnya memilin ujung bajunya gugup, lalu melirik Ayahnya yang duduk di sebelah sang Bunda—meminta bantuan. Ayahnya memberi pengertian melalui tatapan mata, lalu berujar, "ingat seperti yang Ayah ajari, ikuti kata hatimu," tanpa suara.
Taufan memejamkan matanya sejenak, lalu menarik napas dalam. "Ufan ngerti Alin cuma mau ngajarin Gemmy berbagi, tapi Alin harus tanyain pendapat Gemmy dulu, ya? Kalo Gemmy gak mau, gak boleh dipaksa. Alin mau, emangnya kalo dipaksa berbagi? Ufan sih enggak," ujar Taufan lembut, manik biru safirnya menatap manik merah delima Halilintar polos, sementara Hali terlihat memikirkan ucapan dari adiknya itu dengan seksama.
Halilintar tertegun, kemudian terdiam memikirkan ucapan Taufan tadi. Sepertinya mulai merasa bersalah telah membuat Gempa menangis. Di sisi lain, Taufan kini mengalihkan tatapannya pada Gempa. Tangan kecilnya mengelus surai Gempa dengan lembut, sementara manik birunya menatap Gempa dengan tatapan teduh.
"Gemmy mau bikin kesepakatan sama Ufan nggak?" tanya Taufan, matanya masih senantiasa menatap Gempa yang perlahan mengangkat wajah sembabnya untuk menatap Taufan. Terlihat jelas rasa ketertarikan di kedua manik berwarna emas miliknya kala mendengar ucapan Kakaknya.
Taufan tersenyum, "Ufan bakal ngasih semua permen Ufan buat Gemmy, tapi Gemmy harus berbagi sedikit makanan Gemmy buat Duri. Kalo Gemmy gak mau juga gapapa, tapi Ufan gak jadi juga ngasih Gemmy permennya, gimana?"
Mata sembab Gempa terlihat begitu tertarik dengan penawaran Taufan, tapi di sisi lain dia juga masih merasa berat untuk berbagi makanan yang ia miliki. Manik emasnya menatap bergantian antara Taufan dan sebungkus snack jelly coklat dipelukannya, tampak begitu berat mengambil keputusan.
Ayah dan Bunda yang duduk di sofa bersama Duri terlihat gemas melihat interaksi ketiganya—Halilintar yang diam memperhatikan kedua adiknya dengan mata berkedip polos, dan Taufan yang berdiri ditengah-tengah keduanya dengan lengannya yang masih dipeluk Gempa.
Taufan dengan sabar menunggu jawaban Gempa, bibirnya tak pernah berhenti menyunggingkan senyum lembut pada Gempa yang masih berpikir.
"Gemmy mau. Tapi Kak Ufan kasihan kalo kasih semua permennya ke Gemmy, jadi kita berbagi aja, ya? Sama Kak Alin juga," jawaban polos Gempa sontak membuat Ayah dan Bunda yang sedari tadi mengawasi, memekik tertahan karena merasa gemas mendengar kalimatnya.
Taufan mengulas senyumnya semakin lebar, lalu mengelus pucuk kepala Gempa dengan gemas, "Mm! Kita makan cemilannya sama-sama, oke? Gemmy hebat karna udah mau berbagi, Ufan bangga sama Gemmy!" seru Taufan antusias, kemudian memeluk Gempa dengan erat, yang dibalas dengan Gempa yang memeluknya tak kalah erat.
Halilintar yang sedari tadi mengamati, kini berjalan mendekat dengan perlahan. Kedua tangannya memilin baju dengan gugup, juga kedua manik merah delimanya menatap Gempa bersalah, "Gemmy, maaf, kakak terlalu kasar ya tadi? Maafin Kakak, ya? Ufan juga, Kakak minta maaf."
Taufan dan Gempa melepaskan pelukan sejenak, lalu saling menatap dan langsung menarik Halilintar ke dalam pelukan—mereka berpelukan bertiga sembari melompat-lompat kecil khas lompatan anak-anak.
Dan, ya.. Begitulah akhir dari pertengkaran kecil mereka di hari itu. Gempa dan Hali terkadang masih sering bertengkar karena hal yang sama, namun, selama ada Taufan, semuanya akan baik-baik saja.