Gambar dalam Cerita
"Nona, tuan Muda ada di sini."
Aku mengangguk ragu. Tuan yang mereka bicarakan, akankah dia seorang ceo kejam?
Seorang lelaki duduk di kursi yang terbatas tirai tembus pandang. Bisa kulihat, lelaki itu begitu angkuh dan sombong.
"Nama?" tanyanya singkat.
"Zevanya Clarissa."
"Tanda tangani surat kontraknya!"
Lihat, sudah jelas bukan dia adalah seorang yang arogan dan sombong!
Tanganku gemetaran saat memegang pulpen untuk menandatangani surat kontrak di depanku. Aku masih tidak menyangka apa yang menimpaku kali ini.
"Jika aku menandatangani surat kontrak ini. Hutang keluargaku akan lunas, bukan?" tanyaku padanya. Ini bukan hanya pertanyaan, tapi sebuah permintaan.
"Cih." Lelaki itu mendecih meremehkan.
"Setelah kamu tanda tangani, kamu harus setuju dalam tiga tahun lahirkan aku satu putra!"
Aku melebarkan mata tak percaya. Enak saja. Itu bahkan tidak ada dalam perjanjian kita.
"Kamu--"
"Tidak tahu malu!"
Lelaki itu berdiri setelah mendengar umpatanku tentangnya. Rupanya dia marah padaku.
"Zevanya Clarissa. Kamu tidak memiliki jalan keluar. Jika kamu menolak, keluargamu yang akan menanggungnya!"
Sial. Rupanya lelaki itu memiliki kartu As ku. Argh … ingin sekali rasanya aku mencabik wajah monsternya itu.
Lelaki itu bersmirk penuh kemenangan, "Kenapa? Apa tidak setuju?"
Aku bingung. Bagaimana jika aku menolak permintaannya, apakah seperti apa yang dia katakan? Akankah keluarga yang terkena imbasnya?
"Baiklah."
Lelaki itu kembali bersmirk, "Bagus sekali!"Srak!
Bruk!
Tubuh Zevanya dilempar dengan kasar di kasur over size berwarna putih itu. Pelaku utamanya ada lelaki berwajah dingin yang sialnya hari ini telah resmi menjadi suaminya.
Andrian menghampiri tubuh Zevanya yang ketakutan. Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri dengan menangis dalam diam.
Srak!
Dalam sekali tarikan, tubuh Zeva kini berada di pangkuannya. Tentu mudah bagi Andrian karena Zevanya memiliki tubuh yang mungil.
Andrian membelai wajah ketakutan Zevanya, "Cantik juga," gumamnya dengan menampilkan smirk andalannya.
Jangan tanyakan bagaimana detak jantung gadis itu. Rasanya seperti akan melompat dari tempatnya. Darahnya pun berdesir mendengar pujian melayang dari bibir suaminya.
"Tetapi sayangnya kau hanyalah wanita yang kubayar!"
Bak disambar petir, hati Zevanya seperti teriris belati. Suaminya tega menyebutnya sebagai wanita murahan.
"Ouh, bagus. Karena saat ini aku ingin dipuaskan!"
Tubuh Zevanya dalam sekali hentakan telah kembali ke ranjang. Sedangkan Andrian mulai melepas kancing bajunya dan membuat gadis itu ketakutan.
"Kumohon, jangan," ucapnya lirih. Zevanya ingin melawan, tetapi dia terikat sumpah pada sang ayah. Dia tidak ingin ayahnya kecewa dan mengalami serangan jantung akibatnya.
"Wah-wah, apakah aku tidak salah dengar? Kau memohon? Padaku?" Pertanyaan itu terdengar sangat meremehkan Zevanya. Pertanyaan yang seharusnya dilontarkan kepada gadis murahan di luaran sana.
"Kali ini, lahirkan seorang putra untukku!" ucapnya penekan kalimat terakhir.
Zevanya panas dingin. Ingin sekali dirinya berteriak namun ia tak kuasa.
Gadis itu semakin beringsut takut saat tangan Andrian mulai nakal dan menjamah tubuhnya.
"Sekarang, ini adalah awal dari kisahmu. Selamat datang, Nona Zevanya!"
Malam ini, Andrian berhasil merampas kesucian gadis yang tidak memiliki kekuatan untuk melawannya. Lelaki itu bahkan melakukannya secara kasar dan egois.
"Aku harap, calon putraku tumbuh dalam rahimmu."
***
Pukul 23.15 seorang gadis meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Kekacauan yang terjadi padanya benar-benar membuatnya ingin bunuh diri.
Pernikahan macam apa ini? Kehidupan apa yang ia jalani? Kenapa semesta tidak membiarkannya bahagia walau hanya sesingkat senja.
"Kamu kejam. Lelaki berhati batu. Egois!"
Sepanjang malam Zevanya mengumpati lelaki berhati dingin itu. Setelah mendapat apa yang ia mau, Andrian pergi meninggalkannya begitu saja bak wanita murahan yang ia sewa.
"A--ayah, kenapa harus lelaki itu?!"
"Dia itu iblis, Ayah!"
"Tuhan, kenapa kau tidak adil denganku!"
Hanya suara tangisan yang dominan di kamar berlampu temaram ini. Tangisan pilu yang membuat siapapun ikut merasakan kesedihannya.
Tangis Zevanya berhenti saat gadis itu menatap sebuah pisau buah yang tergeletak di nangkas. Ide gila memenuhi pikirannya.
"Pisau?" lirihnya masih menatap pisau itu tanpa berkedip.
Keberanian telah membawa tangannya memegang pisau tersebut. Zevanya menatap kosong pergelangan tangannya.
'Haruskah?' pikirnya.
Saat pisau itu akan menggores lengannya, Zevanya tersentak melihat pisau itu tiba-tiba melayang dari genggamannya.
"Tidak semudah itu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah itu, sebelum kau menepati janjimu!"Dengan telaten, Andrian mengobati luka di lengan Zevanya. Gadis yang tadi berencana bunuh diri dengan menggores lengannya. Jika saja Andiran tidak datang lebih cepat, mungkin gadis itu tidak akan selamat.
"Kenapa?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari bibir mungil Zevanya.
Andrian sedikit terkejut, namun lelaki itu pandai mengatur air wajahnya sehingga kembali tenang seperti semula.
"Kenapa kamu menyelamatkanku?"
Kini, Zevanya menatap wajah lelaki yang tengah sibuk melilitkan perban di tangannya.
"Apa itu penting?" Andrian menatap manik mata gadis di depannya dengan sangat tajam. Sedikit marah.
"Hahaha." Zevanya tertawa seperti orang gila.
"Aku tau, kamu hanya ingin seorang putra dariku, bukan?" tanya Zevanya. Matanya memandang kosong ke depan.
Sekarang Andrian tau, gadis itu rupanya tengah berada di dalam alam sadarnya. Gadis itu terpengaruh alkohol, terbukti di meja Pantas saja, dia berani bertindak bodoh seperti tadi.
"Tidurlah," ucap Adrian dingin. Itu bukan sekedar ucapan, itu perintah.
"Pergilah!" bentak Zevanya mendorong tubuh besar Andrian.
"Cih, kau pikir aku perduli padamu?" decihnya. Lelaki itu berdiri dari sisi ranjang, kemudian berjalan pergi meninggalkan Zevanya yang mematung di tempatnya.
Miris. Zevanya meratapi hidupnya sendiri. Betapa kejamnya dan kelamnya dunia ini untuknya. Pertama, dipaksa menikah untuk menggantikan posisi sang kakak dan berakhir menjadi istri Ceo kejam seperti Andrian.
"Kamu kuat, kamu pasti bisa. Semangat, Zevanya," lirih gadis itu berusaha membangkitkan semangat dalam dirinya.
***
Pagi hari, seorang gadis berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya. Kebetulan, jendela kamarnya tidak dikunci. Itu memberinya akses untuk melarikan diri.
Zevanya celingak-celinguk untuk memastikan kondisinya aman. Senyum di bibirnya terbit saat melihat hanya dua orang yang menjaga kamar. Tidak seketat sebelumnya.
"Bagus, aman," ucapnya tersenyum bangga.
Zevanya mengambil langkah seribu untuk berlari. Aksinya lolos dari kedua penjaga itu. Kini, dirinya sampai di pintu belakang yang hanya terlihat dari kamarnya saja. Pintu ini ia temukan saat tak sengaja menatap luar jendelanya.
Ceklek!
"S*al. Pake bunyi lagi!" umpat gadis itu saat mendengar bunyi nyaring yang ia buka.
"Aman nggak, nih?" Zevanya kembali celingak-celinguk melihat situasi kembali. Aman, dirinya bertepuk tangan riang.
"Berhenti di situ!"
Tubuh Zevanya mematung. Suara itu sempat membuatnya terkejut. Namun, sedetik kemudian dia mengambil langkah seribu dan berlari sekencang mungkin.
"Nona! Berhenti atau tuan akan marah!"
Sosok berbadan besar itu mengejar seorang gadis dengan rambut berkuncir kudanya. Gadis itu takut sekaligus panik sampai masuk ke dalam mobil orang asing.
"Tolong, biarkan aku bersembunyi di sini," ucap gadis itu gemetaran dengan menundukkan wajahnya takut.
"Turun. Ini bukan taksi!" ujar lelaki yang memiliki mobil tersebut.
Para pria berbadan besar itu berhenti di depan mobil, menatap lurus ke arah jendela.
"Kumohon," rengek Zevanya tanpa melihat siapa yang berada di samping.
"Rupanya kau ingin melarikan diri?"
Suara itu. Tunggu, Zevanya sangat kenal dengan suara itu. Itu suara ... lelaki berwajah kejam dan merupakan suaminya!
'D*mn it! Aku dalam bencana!' batin Zevanya.
"Bagus, apa ini caramu membayar janjimu?""Rupanya kau ingin melarikan diri?"
Suara itu. Tunggu, Zevanya sangat kenal dengan suara itu. Itu suara ... lelaki berwajah kejam dan merupakan suaminya!
'D*mn it! Aku dalam bencana!' batin Zevanya.
"Bagus, apa ini caramu membayar hutangmu?"
Tangan Zevanya ditarik secara kasar oleh Andrian. Lelaki itu membawa istrinya masuk ke dalam mansion mewahnya.
Bruk!
Andrian mendorong tubuh kuat Zevanya sampai membuatnya limbung dan jatuh di atas ranjang kamarnya. Dengan gerakan cepat, lelaki itu kini berada di atas tubuh Zevanya dan menindihnya.
"Ini hukumanmu karena berusaha kabur!"
Tangannya bergerak melepas dasi di bajunya kemudian ia gunakan untuk mengikat kedua tangan Zevanya. Agar gadis itu tidak melakukan banyak gerakan saat ini Andrian menghukumnya nanti.
"A--apa yang akan kau lakukan?" gugup gadis itu saat tangan Andrian bergerak melepas kancing bajunya.
"Tentu saja menghukummu, apalagi?" jawab Andrian enteng.
Keringat bercucuran dari kening Zevanya. Gadis itu bahkan susah payah menelan ludahnya.
Andrian mulai bergerak menjamah tubuh istrinya. Setetes butiran liquid mengalir dari pipi Zevanya. Hatinya merasa dikoyak habis saat mendapat perlakuan egois suaminya.
"Hiks hiks ...." rintih gadis itu mulai terdengar di telinga Andrian.
Apakah lelaki itu merasa bersalah? Tentu! Jauh dalam lubuk hatinya, Andrian merasa sangat bersalah telah memperlakukan kasar Zevanya. Wanita itu tidak seharusnya ia kasari. Terlebih, dia akan melahirkan penerusnya kelak.
Tanpa secercah kata, Andrian melepas ikatan di tangan Zevanya. Lelaki itu berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya. Pikirannya kacau. Hati dan batinnya saat ini tengah berperang.
'Bodoh!' umpat Andrian dalam hatinya.
Sedangkan Zevanya semakin terisak. Dirinya bahkan terlihat seperti jal*ng daripada seorang istri. Zevanya muak dengan tubuhnya, dia benci dirinya sendiri.
"Andai saja, kalian tidak memiliki hutang kepada lelaki kejam itu."
***
Jam menunjukan 23.00. Tetapi, Zevanya malah meringkuk di atas lantai, tanpa memperhatikan keadaan tubuhnya. Gadis itu memandang kosong ke depan. Pikirannya membawa dirinya menjelajah ke masa dulu.
"Yah, aku tidak ingin menikah!" ucap Zevanya lantang.
Lelaki berumur paruh baya itu menggelengkan kepala tidak setuju.
"Zevanya, ini demi kebaikan keluarga kita. Jika kamu tidak menjadi istrinya, keluarga kita akan menjadi musuhnya."
"Lagian, hutang keluarga kita sangat banyak dan bukankah bagus menjadi menantu Ramatha? Statusmu akan naik dan terkenal sebagai menantu mereka."
"Tapi, Yah. Bukan Zevanya yang harusnya menikah, tetapi kak Venilla!" tolak gadis itu mentah-mentah.
Nyatanya memang bukan dirinya yang menikah. Kakaknya lebih dahulu setuju untuk dijodohkan. Tetapi saat dekat dengan hari H, kakaknya itu tiba-tiba tidak setuju untuk menikah.
Tangan Zevanya di genggam oleh sang ayah. Sosok yang menjadi penguat satu-satunya setelah sang bunda tiada dan meninggalkan.
"Ayah mohon, cuman kamu satu-satunya harapan Ayah."
"Oke, Zeva setuju."
Brak!
Suara pintu yang didobrak keras membuat Bella tersadar dari lamunannya. Zevanya melihat ke sumber suara. Ternyata itu ulah dari suaminya.
"Zeva."
Zevanya mengerutkan keningnya saat melihat lelaki berwajah dingin itu berjalan sempoyongan untuk menghampiri dirinya.
"Apa kau baik-baik saja?" khawatir Zevanya menghampiri Andrian
"Antarkan aku ke kamar!" titah lelaki itu dengan nada tak terbantahkan.
Zevanya langsung menutup hidungnya tatkala mencium bau alkohol keluar dari mulut suaminya.
Setelah menghukumnya habis-habisan ternyata Andrian keluar untuk meminum alkohol dan membuatnya mabuk seperti sekarang.
Plak!
"Apa kau tuli?!"
Perih, sakit, panas menjalar dari pipinya. Bekas tamparan tadi saja masih belum hilang dan sekarang dirinya mendapat tamparan kembali.
"B--baik, maaf," ucap Zevanya menyesal karena telah mengabaikan tugasnya.
"Tapi di mana kamarnya? Aku saja tidak mengetahui letak rumah ini."
Zevanya dengan telaten memapah Andrian dari kamarnya hingga ke kamar sang pemilik istana. Kamar yang begitu besar juga luas dengan dipenuhi berbagai macam benda untuk berolahraga itu pasti kamar suaminya. Zevanya memapah dan masih tidak menyangka sekaligus terpesona, kamar suaminya ternyata serapih dan senyaman ini.
'Mengagumkan,' batin Zevanya menatap sekitar.
Dengan hati-hati, gadis itu membaringkan tubuh suaminya di ranjang berukuran size berwarna putih polos.
Wajah yang terlelap itu terlihat damai bak malaikat. Hidung macung, mata sipit, alis tebal, rahang kokoh, bulu mata lentik. Semua itu bisa dilihat ketika Andrian terlalap dalam tidurnya.
'Tidak. Bagaimanapun dia adalah iblis!' ucap Zevanya dalam hatinya.
Pergerakan lelaki itu yang tiba-tiba membuat Zevanya terjatuh di atas dada bidang suaminya.
"Jika tidur begini, dia terlihat seperti malaikat," gumam Zevanya mengagumi wajah di depannya.
"Berhenti menatapku, jika kau sayang nyawamu!"
"Berhenti menatapku, jika kau sayang nyawamu!"
Zevanya langsung berdiri dari posisinya setelah mendengar ancaman dari suaminya.
"Kau mau ke mana?" Suara berat Andrian berhasil membuat Zevanya terpaku ditempatnya.
Wajahnya berubah pucat pasi saat Andrian terbangun dari ranjangnya dan berjalan menghampiri dengan sempoyongan.
"A--apa yang akan kau lakukan?" gugup Zevanya saat lelaki berwajah dingin itu semakin mendekati dirinya.
Grep!
Tanpa diduga Andrian ternyata malah memeluk erat tubuh istrinya. Sedangkan gadis itu, ia merasa posisinya dalam bahaya. Bagaimana tidak, jangankan dipeluk, ditatap oleh Andrian saja dia ingin pingsan.
'Mati aku!' umpat Zevanya dalam hatinya.
"Jangan bergerak. Ini perintah!" tegas Andrian saat menyadari pergerakan gusar dari istri mungilnya.
"Ta--tapi--"
Cup!
Bibir Andrian mengecup bibir Zevanya dan membuatnya diam di tempat.
"Apa kau ingin mati?!"
Glek!
Lepas dari cengkraman Andrian memang sangat sulit. Bahkan sangat mustahil. Andrian adalah sosok lelaki yang begitu egois. Dia tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Lelaki tidak punya hati, sombong dan angkuh.
setengah jam berdiri, membuat Zevanya merasa bosan sekaligus pegal. Akhirnya gadis itu memilih memapah tubuh besar Andrian dan membawanya ke ranjang milik lelaki itu.
"Astaga, aku merasa seperti habis memapah 10 lelaki. Dia itu sangat berat!" gerutu Zevanya setelah membenarkan posisi Andrian di ranjang.
Zevanya tak henti-hentinya menatap kagum wajah tampan suaminya yang damai dalam tidurnya. Wajah lelaki itu bak malaikat saat tertidur. Begitu menawan. Sayangnya, semua itu berubah saat ia terbangun.
"Pria tidak punya hati!"
Sudah cukup. Zevanya tidak sanggup lagi jika terus-terusan menatap wajah itu. Lelaki yang terkadang membawanya terbang ke awan-awan dan kadang pula menjatuhkan sejatuh-jatuhnya.
"Sadar Zeva!"
Zevanya memilih melangkah keluar dari kamar Andrian. Tetapi, belum sempat dirinya menutup pintu kamar, gadis itu mendengar rintihan dari arah Andrian. Karena penasaran, akhirnya ia menghampiri lelaki yang gelisah dalam tidurnya.
"Emm … Andrian? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Zevanya khawatir dan menggengam tangan suaminya tanpa sadar.
Tiba-tiba Andrian menjadi tenang saat Zevanya menggengam tangannya. Tetapi, saat gadis itu ingin melepas genggamannya, Andrian kembali gelisah dalam tidurnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Jika dia tau aku berada di kamarnya, habislah aku di tangannya!" gumam Zevanya menatap cemas Andrian yang tertidur pulas.
"Apa aku harus di sini sampai dia tidur dengan nyenyak?" pikirnya.
"Iya, aku harus menunggu sampai Andrian benar-benar tenang dalam tidurnya."
Akhirnya Zevanya mengalah. Dia memilih menunggu Andrian agar lebih dulu nyaman dalam tidurnya. Walaupun suaminya itu kejam, tetapi sebagai istri mana tega dia meninggalkan Andrian dalam keadaan seperti ini?
Tidak terasa rasa kantuk juga menyelimuti dirinya, Zevanya akhirnya ikut terlelap di samping Andrian tanpa melepas genggaman tangan mereka.
Ke esokan harinya ....
"Eugh," lenguh Zevanya saat sorot matahari berusaha menerobos penglihatannya.
Zevanya memandang sekitar seraya mengucek-ngucek matanya khas bangun tidur. Matanya membola saat mengetahui dirinya berada.
"Mampus! Matilah aku! Bagaimana jika dia tau aku berada di kamarnya dari semalam?"Ke esokan harinya ....
"Eugh," lenguh Zevanya saat sorot matahari berusaha menerobos penglihatannya.
Zevanya memandang sekitar seraya mengucek-ngucek matanya khas bangun tidur. Matanya membola saat mengetahui dirinya berada.
"Mampus! Matilah aku! Bagaimana jika Andrian tau aku berada di kamarnya?"
Tanpa Zevanya sadari, sebenarnya Andrian sudah terbangun sedari tadi dan mengetahui bahwa gadis itu semalam tidur bersamanya. Tetapi lelaki itu enggan membangunkan istrinya karena sepertinya dia terlihat sangat lelah.
Andrian tersenyum tipis saat melirik Zevanya yang tengah berfikir sembari mengigit kuku jarinya. Dari gadis itu berjalan mondar-mandir ketakutan sampai saat Zevanya berbicara sendiri, semua itu tak luput dari pandangan lelaki berwajah dingin itu.
'Manis,' ucapnya dalam hati.
"Mau kemana, hm?" Andrian menahan lengan Zevanya saat mengetahui gadis itu ingin pergi dari kamarnya.
'Aduh, mampus kamu Zeva!' batin Zevanya merasa ketakutan dirinya baru saja tertangkap basah oleh suami kejamnya.
"A--aku emm …." ucap gugup Bella.
Andrian berdiri dari baringnya dan berdiri di depan sang istri yang saat ini berdiri mematung di tempatnya. Smirk Andrian muncul saat melihat wajah istrinya berubah pucat pasi. Gadis itu berjalan mundur saat Andrian semakin mendekatinya. Sampai akhirnya, tubuh Zevanya membentur tembok di belakangnya.
Hap!
Andrian berhasil menggengam tangan Zevanya, dan saat lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya, dengan si*alnya tiba-tiba pintu dibuka secara kasar dari luar dan membuat aksinya gagal.
Brak!
Melihat ada celah dirinya lolos, Zevanya langsung berlari keluar saat mendapatkan kesempatannya dan melepas cengkraman Andrian pada pergelangan tangannya. Di pintu dia berpas-pasan dengan ajudan yang menjadi kepercayaan Andrian
'Si*lan!' umpat Andrian dalam hatinya. Siapa orang yang berani merusak momennya pagi ini? Kurang ajar sekali dia!
"Kenapa?" tanya Andrian dingin dan menusuk.
"Ma--maaf mengganggu, Tuan. Di bawah ada ayah nona Zeva."