Gambar dalam Cerita
Ponsel Aidan berbunyi pukul lima tepat. Setiap pagi rutinitasnya selalu sama, menguras keringat di gym pribadi, mandi, sarapan bersama istri tercinta, lalu berangkat ke kantor untuk menjalankan tugas sebagai CEO.
Istri tercinta. Aidan yang masih setengah sadar menyadari sosok wanita di sampingnya. Bergelung nyaman dalam selimut, melindungi diri dari dinginnya penyejuk udara. Wajah tanpa riasan sang istri tampak muda dan mirip malaikat. Kejantanan Aidan teracung tegak sekeras tongkat kayu. Normal, dalam istilah medis disebut nocturnal penile tumescence (NPT). Sebelum tidur semalam, dia menonton film horor baru yang diunduhnya. Sang sutradara tampaknya menyasar kaum pria. Bukan hanya adegan tegang penuh darah, tetapi bertebaran adegan penuh birahi.
Aidan mengecup hidung istrinya dan membelai pipi sehalus sutra. Wanita itu belum merespons. Aidan menyingkap selimut. Sial, lingerie hitam transparan membungkus tubuh seksi mulus ditambah bongkahan padat dadanya sungguh menyiksa. Aidan mengecup leher jenjang istrinya, mengisapnya lembut.
"Aidan, ini masih pagi." Wanita itu akhirnya terbangun.
Aidan mendongak. Sepasang mata cokelat karamelnya menatap penuh gairah. Senyum iblis penggoda terukir. "Semalam kamu pulang kemalaman. Aku hampir mati nunggu kamu, Wulan." Lidahnya menyapu kulit Wulan, bermain di puncak dadanya.
Wulan mengerang ketika merasakan tangan suaminya menyentuh titik sensitif. Aidan seringkali panas pada pagi hari, waktu yang dibenci Wulan untuk bercinta sehingga dia menolak. Namun kali ini Wulan menyerah, membiarkan gairah membakarnya, manyambut lumatan bibir kenyal Aidan yang dengan sigap meloloskan lingerie itu lalu melemparnya sembarangan. Wulan menarik ujung kaus suaminya, melepaskannya juga.
Dada bidang dan otot perut maskulin milik Aidan terasa mengintimidasi tubuh ramping Wulan. Ciumannya semakin panas bernafsu.
"You are fucking beautiful," ceracau Aidan sembari melebarkan sepasang kaki jenjang Wulan, menyuguhkan permainan lidah yang tak pernah gagal memuaskannya. Wulan melenguh memejamkan mata. Gelenyar terkumpul pada pusat tubuhnya, menunggu untuk meledak.
Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi.
Sara Fajira menyanyikan nada mistis. Aidan mengangkat wajah, meraih ponsel di atas nakas. Wulan mengerang kecewa. Sedikit lagi tubuhnya akan meraih sensasi memabukkan itu, tetapi ponsel Aidan meraung-raung kurang ajar. Seketika mood bercinta Wulan hancur berantakan.
"Sini aku lempar," sergah Wulan.
"Papa kamu," bisik Aidan, terlalu masa bodoh untuk mengenakan pakaian kembali. Dia berjalan menjauh, berbicara serius dengan si penelepon yang mengganggunya sepagi ini.
"Papa kenapa?" tanya Wulan tanpa menutupi kekesalan ketika Aidan mengakhiri percakapan.
"Memastikan aku datang ke TwentyFour untuk memasok brokoli dan paprika."
"Hah," Wulan mendengus, "Masa harus kamu sendiri yang ke sana? Pegawai Organext nggak makan gaji buta, 'kan?"
Aidan memungut kausnya, menutupi tubuh yang membuat tatapan kaum hawa tak sanggup beralih. "Nggak masalah. Aku juga sekalian mau mengantarkan pesanan teman-temanmu."
Fakultas Kebanyakan Gadis, julukan yang pas untuk FKG. Jumlah makhluk berkromosom XX melimpah, miskin laki-laki. Akibatnya, Aidan dijadikan sasaran fantasi sesama dosen. Wulan tahu bahwa teman-temannya memesan sayur organik dari Aidan hanya akal-akalan agar suaminya sering ke sana. Namun, otak bisnis Aidan memanfaatkannya dengan baik.
"Udahlah, aku aja yang bawa pesanan Batari dan Alicia," ujar Wulan menyebutkan nama koleganya dari departemen Orthodonsia dan Pedodonsia.
"Aku mesti mengambil di gudang. Seingatku ada dua belas orang yang memesan hari ini, makanya nggak bisa kubawa pulang."
"Dua belas?" Mata Wulan membelalak seperti melihat setan. Tahtanya sebagai Nyonya Fitzgerald kian terancam. Memiliki suami tampan berparas setengah bule baik untuk kebanggaan, tetapi buruk untuk kesehatan.
Aidan mendekat, hendak mengecup Wulan. Namun Wulan menghindar.
"Kenapa kamu bagikan nomer telepon kamu ke mereka?"
"Memangnya kenapa?" Aidan terkekeh. "Mereka calon pembeli potensial."
"Kamu pura-pura nggak tahu niat mereka ya?"
"Tahu," jawab Aidan tegas, "dan memang aku manfaatkan untuk memajukan bisnis."
"Tapi aku nggak suka cara mereka natap kamu. Kayak...." Napas Wulan memburu. Aidan menunggunya melanjutkan. "Kayak mau nerkam kamu."
Tawa Aidan meledak. Apa istrinya berpikir dia akan melemparkan diri ke pelukan salah satu pengagumnya?
Wulan melempar bantal ke muka Aidan. "Nggak lucu, tahu!"
"Kamu tambah cantik kalau marah gitu. Jadi pengen...." Aidan berusaha menyergap istrinya yang langsung kabur, memungut lingerie lalu mengunci diri di kamar mandi.
Satu jam kemudian Wulan masuk ke ruang makan yang menyambung dengan pantry. Blus merah pas badan dipadu bandage skirt hitam sedikit di atas lutut memeluk pinggulnya. Wulan tampak profesional dan menarik.
Mbak Marni, asisten rumah tangga mereka yang sedang menyedot debu tergopoh menghampiri. "Mau sarapan apa, Bu?"
"Nggak usah, Mbak. Lanjut bebersih aja," sahut Wulan seraya mengambil empat lembar roti gandum dan memanggangnya.
"Baik, Bu." Mbak Marni kembali melanjutkan pekerjaan.
Wulan mengolesi roti panggang dengan selai nanas organik produksi Organext. Aidan menyusul ke ruang makan, sibuk membalas chat customer garis miring pengagum. Wulan berkacak pinggang. Dalam balutan kemeja slim fit biru gelap yang memamerkan perut datarnya saja, Aidan sanggup mengacaukan ritme jantungnya. Padahal mereka telah menikah empat tahun, tetapi sel-sel femininnya belum beradaptasi. Bagaimana kaum wanita di luar sana mengatasi pesona suaminya?
"No cellphone for breakfast." Wulan merampas ponsel Aidan, membaca sekilas chat yang dikirimkan teman-temannya. Batari sudah memesan empat kilo nanas dan tiga kilo wortel minggu ini. Seingatnya, Batari tidak memelihara kelinci.
"Kamu bikin customer-ku kabur. Jangan cemburuan gitu lah." Aidan berhasil mengambil ponselnya kembali.
"Mereka nggak beneran mau beli produk Organext, cuma mau ngeliat kamu!" Wulan melotot.
"Nggak masalah. Aku nggak pernah menanyakan motif Pak Surya ke klinik kamu beneran mengantar anaknya yang kontrol behel atau cuma mau melototin paha kamu," balas Aidan seraya mengisi cangkirnya dengan kopi dari mesin.
"Jadi kamu nggak cemburu kalau istri kamu main sama laki-laki lain?"
"Kita hanya bisa mempertahankan pernikahan yang langgeng dengan orang yang kita percaya. Kecurigaan berlebih akan mengancam keutuhan rumah tangga. I trust you." Aidan duduk di stool, menggigit roti gandum panggang.
"Jangan-jangan kamu memang suka dikagumi perempuan ya?" tuduh Wulan sinis.
Aidan tertawa. Wulan yang dulu manis dan membuatnya jatuh cinta berubah menjadi posesif dan pencuriga. Dia menenggak kopi hitamnya hingga tandas, malas berdebat. "Aku berangkat," ujarnya singkat seraya mengecup pipi istrinya.
Wulan menghabiskan sarapan sendirian. Mercedes Aidan terdengar meninggalkan rumah besar mereka. Sepi, hampa. Dia berangkat ke kantor membawa perasaan kacau. Belakangan Wulan terpikir untuk mundur sebagai dosen Orthodonsia agar teman-temannya berhenti menggoda Aidan.
***
Selain julukan Fakultas Kebanyakan Gadis, orang iseng bilang FKG kependekan dari Fakultas Kebanyakan Gosip. Wulan membenarkan. Buktinya ketampanan Aidan menyebar sampai seantero kampus. Kabar keretakan rumah tangga karena belum adanya momongan berembus entah dari mana sehingga fans Aidan semakin gencar mengejar.
Wulan melangkah cepat ke mejanya ketika tiba di ruangan dosen Orthodonsia.
"Pagi Wulan," sapa Batari, "aku pesan nanas dan wortel loh sama Mas Aidan."
Mas Aidan? Kenapa suara Batari melembut ketika menyebut nama suaminya?
"Nggak usah panggil 'Mas' segala," sahut Wulan ketus.
"Lho, terus panggil apa? Kan Mas Aidan lebih tua dariku."
"Panggil Pak aja. Sopan sedikit. Dia bukan kakakmu."
"Ya ampun, Wulan. Gitu aja sewot." Batari menggeleng. "Dasar ML," bisiknya.
"Eh, bilang apa?" Wulan memicingkan mata, menusuk Batari yang langsung kabur. Wulan menyibukkan diri dengan menilai tugas paper mahasiswa sampai jadwal kelas skills lab agar tak perlu mengobrol dengan koleganya.
Ketika waktunya tiba, Wulan menuju kelas. Pintu kayu berderit. Mahasiswa yang tadi bergosip kembali ke meja masing-masing, mengunci mulut. Semua mata menatap high heels merah runcing yang kalau dipakai menggetok kepala akan langsung bolong. Naik ke betis putih mulus. Naik lagi ke rok hitam ketat. Terakhir jas putih. Inilah sosok Dokter ML yang membuat umur mahasiswa berkurang satu menit setiap kali mendapat kelasnya.
"Selamat pagi." Wulan menatap tajam para mahasiswa.
Terdengar gumaman, "Selamat pagi, Dok."
"Hari ini kalian belajar membuat finger spring. Guna kawat gigi ini untuk menormalkan gigi yang miring, misalnya pada anak-anak. Dekatkan bangku ke sini."
Para mahasiswa menggeser kursi mengelilingi Dokter Wulan yang mengambil kawat 0.6 dan tang. Tanpa basa-basi langsung mendemonstrasikan cara membentuk kawat. Setiap lekukannya mereka perhatikan baik-baik.
"Coba kalian buat."
Aruna, salah satu mahasiswi yang baru saja kembali dari upacara pemakaman ayahnya sulit berkonsentrasi. Siapa yang bisa fokus dalam keadaan dukacita?
"Aduh!" pekik Aruna ketika ujung kawat menusuk jarinya.
"Pelan-pelan aja," bisik Ilham, mahasiswa laki-laki di sebelahnya.
"Aduh." Kawat itu sepertinya sedang alergi dipegang Aruna. Memberontak terus.
Ilham mencuri pandang kepada Wulan yang sibuk dengan ponsel. Aman. "Sini gue bantu. Punya gue dikit lagi beres," bisiknya.
"Jangan, nanti dimarahin."
"Nggak pa-pa. Eh, tangan lo berdarah."
"Dikit doang."
Gemeletuk high heels terdengar mendekat. "Kalau mau pacaran, di luar."
Saking kagetnya, Ilham menjatuhkan kawat Aruna yang masih tak berbentuk. Wulan memungutnya.
"Punya kamu, Ilham?"
Ilham diam saja.
"Itu yang di meja punya siapa? Punya Aruna?" tanya Wulan lagi.
"Itu punya Aruna, Dok." jawab Ilham takut-takut.
"Kenapa ada dua? Punya kamu mana, Aruna?"
"Itu," ruangan berpendingin udara terasa panas, "yang dipegang Dokter,"
"Kenapa punya kamu dipegang Ilham?"
"Tangannya Aruna berdarah, Dok." Perlu perjuangan ekstra keras bagi Ilham untuk mengucapkan kalimat singkat itu.
"Jangan cengeng lah. Aruna, kamu mau jadi dokter gigi nggak? Gini aja udah manja."
"Saya yang...."
Ucapan Ilham sontak berhenti ketika ditatap tajam Wulan.
"Jangan, Dok!"
Terlambat, kawat Aruna sudah meluncur turun ke ubin, lalu diinjak high heels Wulan. Tidak, kawat itu tidak hancur, hanya sedikit penyok. Masih ada kawat baru dalam kotak perlengkapan. Hati Aruna yang hancur. Dia sedang berusaha bangkit dari keterpurukan, tetapi cobaan datang bertubi-tubi. Air matanya lolos.
"Keluar sana, saya nggak suka lihat calon dokter gigi cengeng." Dagu Wulan menunjuk pintu.
Aruna mengemasi peralatannya. Kesal, marah, sedih, terhina. Campur aduk tak karuan. Dia menuju toilet, membasuh muka. Aruna menatap cermin besar di atas wastafel. Manik mata cokelat tuanya balik menatap, membuncahkan kerinduan pada sosok yang telah pergi. Bibir pink tipisnya, serta wajah berbentuk hati, semua warisan almarhumah Ibu. Dilepaskannya ikatan rambut sehingga jatuh lembut melewati bahu. Perutnya lapar. Aruna menuju kantin untuk mengisi perut.
"Mang, jus sirsak ada?" Aruna bertanya pada Mang Dadang.
"Ada, Neng. Pake es?"
"Pake deh. Susunya dikit aja. Jangan pake gula."
"Siap, mau diantar ke mana?"
Mahasiswa teknik yang sebagian besar cowok, bergerombol memadati sebagian besar meja, merokok pula. Beginilah akibat fakultas teknik yang miskin kaum hawa. Mahasiswanya hijrah ke FKG.
Aruna benci asap rokok. Selain baunya busuk, juga menimbulkan karang gigi. Uh, dia teringat baksos semester dua harus membersihkan karang gigi seorang perokok berat.
Di depan kios bakso, seorang laki-laki duduk menghadap laptop. Kemeja slim fit biru tua, celana panjang khaki, dan sepatu pantofel, tidak merokok. Serius dan tampak baik.
"Antar ke sana aja, Mang." Aruna menunjuk meja yang ditempati laki-laki itu.
"Siap."
Aruna menjauhi kerumunan anak teknik, mendekati bangku pria slim fit.
"Maaf, boleh duduk di sini?"
Pria slim fit berhenti mengetik. Ketika dia mendongak dan tatapannya bersirobok dengan Aruna, jantung gadis itu tiba-tiba berdetak lebih cepat. Adrenalinnya melonjak.
Rambut ikal hitam, alis tegas, dan rahang yang kokoh. Jelas laki-laki tadi berdarah separuh bule. Manik mata cokelat karamel itu menatap intens. Kulitnya putih tetapi tidak selicin artis Korea. Ganteng yang macho. Arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya tampak berkelas. Dari dekat, laki-laki ini menarik dan dewasa. Bukan mahasiswa ingusan lagi. Apakah dosen baru?
"Silakan."
"Makasih."
Laki-laki itu menatap logo hijau putih di dada kanan jas praktikum Aruna.
"Anak FKG?"
"Iya, Om."
Laki-laki itu tertawa.
"Kenapa?" tanya Aruna heran.
"Om," ulangnya.
Aruna nyengir. Memangnya minta dipanggil apa? Sayang? Eh! Kenapa dia jadi kurang ajar?
"Silakan, Neng." Mang Dadang meletakkan gelas plastik berembun yang terlihat menyegarkan. Aruna menggumamkan terima kasih.
"Om calon dosen kah?" Aruna kembali fokus pada laki-laki itu.
"Ada lowongan?" Laki-laki slim fit kembali mengetik.
"Langsung daftar aja sepertinya bisa." Aruna menyedot jusnya.
Si laki-laki slim fit mengulum senyum geli. "Kira-kira cocoknya saya mengajar apa?"
"Om spesialis apa?"
"Hmm.... Ortho?"
Aruna mulai curiga. Kenapa si Om bisa tidak yakin dengan gelar sendiri? Dia tepis pikiran buruk. Tidak baik buat kesehatan jiwa.
"Oh, ngajar Ortodonsia, Om."
"Bukannya di sini sudah ada? Kalau nggak salah ada drg. Wulan, drg. Minerva, drg. Aldion, dan drg. Batari."
Aruna manggut-manggut. Rupanya si Om ganteng sudah riset siapa saja calon temannya. "Iya, Dokter Aldion baik. Sayang saya nggak diajar beliau, malah dapat Dokter Wulan."
"Memangnya Dokter Wulan kenapa?"
Aruna mencondongkan tubuh, lantas berbisik, "Galak. Finger spring saya diinjek sampai peyot, pokoknya Om jangan sampai berurusan sama beliau. Bakal menyesal dunia akhirat," keluhnya yang ditanggapi Laki-laki slim fit dengan mengulum senyum. Lesung pipinya mengalihkan dunia Aruna. Dia menyedot jus lagi demi meredakan debar jantung kampungannya.
"Suka jus ya?"
"Suka, Om." Sebetulnya Aruna lapar, tetapi dalam rangka penghematan, dia puasa makan.
"Suka jus buah atau sayur?"
"Jus buah."
Laki-laki itu mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. "Pernah dengar Organext? Kami menjual buah dan sayur organik. Bisa pesan lewat Website, Instagram, Shopee, Tokopedia, atau Blibli. Kalau mau memilih langsung, tersedia di supermarket TwentyFour."
Aruna membaca nama yang tertera. "Aidan Fitzgerald, CEO."
"Betul. Panggil Aidan saja, nggak usah pakai Om."
Pipi Aruna terasa panas. Namanya saja sudah ganteng. Kalau tidak melihat sendiri, dia akan menyangka Aidan mengedit foto wajahnya.
"Aidan lagi nunggu orang?"
"Iya. Dokter gigi di sini pesan sayur dan buah. Sekalian mau ketemu istri saya. Hari ini ulang tahun perkawinan ke-empat kami."
Aruna menghela napas sedikit kecewa. "Siapa istrinya?"
"drg. Wulan Elsari, Sp.Ort."
Jus sirsak Aruna pun tersesat ke jalur napas. Terbatuk-batuk sampai matanya berair dan sedikit sesak napas.
***Ada orang-orang yang meskipun sudah kita kenal lama, tidak meninggalkan kesan. Sebaliknya, ada seseorang yang baru bertemu sebentar mampu menjungkir balikkan dunia. Terlalu cepat mengatakan Aidan Fitzgerald menjungkir balikkan dunia Aruna. Namun, senyum berlesung pipinya bagai mantra sehingga menyihir Aruna berselancar di Google dan YouTube, melupakan segunung tugas.
Segerombolan kakak tingkat kerap membahas keberuntungan drg. Wulan mendapatkan suami bak model internasional. Pujian setinggi langit disahuti ungkapan kasihan karena beristrikan ML alias Mak Lampir. Aruna tak acuh. Jangankan membicarakan suami orang, pria lajang saja tak menarik. Dia hanya berharap lulus tepat waktu. Pacaran menempati daftar terbawah prioritas hidup. Seharusnya Aidan tak perlu ke kampus. Jemari Aruna bandel, ingin mencari sebanyak mungkin berita tentangnya.
Aruna merasa hidup dalam gua bersama text book. Belajar terus sampai tidak tahu banyak kanal YouTube mewawancarai Aidan. Perhatiannya teralih pada ponselnya yang bergetar. Ilham mengirimkan chat.
Ilham:
Jari lo gimana?
Aruna memplester jarinya. Sedikit keluar darah karena tertusuk kawat tadi.
Aruna:
Udah baikan. Makasih ya.
Ilham tidak lagi membalas. Cowok berkaca mata itu biasanya pendiam. Sulit baginya beradaptasi di lingkungan penuh mahasiswi. Kalau ada waktu luang, Ilham sering mojok main game. Aruna mengira Ilham tidak peduli. Namun dia salah.
"Cie, mau jadi petani, Bu?" Nabila mengibaskan rambut bercat pirang di samping Aruna yang melanjutkan menonton vlog Aidan menjelaskan cara menanam selada organik. "Oh, Aidan Fitzgerald, CEO Organext," celetuknya.
"Kenal?" Aruna merutuk dalam hati karena gagal menutupi antusiasme. Dia mengklik tanda pause di layar laptop. Terakhir kali darahnya berdesir karena lelaki adalah saat Song Joong-ki menikahi Song Hye-kyo. Hari patah hati sedunia dialami olehnya. Kini Aidan mengambil alih posisi Joong-ki menciptakan desir aneh.
"Lagi naik daun kan setahun belakangan. Dulu tuh, CEO identik sama om-om buncit macam Om Ihsan." Pipi Nabila bersemu ketika menyebut nama Ihsan Malik, direktur utama sebuah perusahaan eksportir buah dan sayur yang banyak membantunya. Bukan jenis bantuan gratis tentu saja mengingat dia bukan pegawai dinas sosial.
"Om Ihsan?" beo Aruna.
"Iya. Om Ihsan bilang, sekarang banyak CEO muda macam Yasa Singgih, Belva Devara, dan Aidan Fitzgerald pastinya."
"Om Ihsan siapa?" Dua tahun berkawan dengan Nabila, baru sekarang Aruna mendengar nama tersebut. Dia pernah memergoki ibu kost mendamprat Nabila karena pulang melebihi jam malam diantar mobil mewah. Tetapi setiap ditanya, Nabila selalu mengalihkan pembicaraan.
"Dia yang bantu biaya kuliah gue," bisik Nabila. Pertama kali menerima kemurahan hati pria beristri dengan empat orang putra putri, dia melawan hati nurani. Namun, manusia paling suci bisa berubah menjadi iblis paling durjana karena uang. Nabila berusaha menyangkal statusnya sebagai simpanan. Netizen maha benar halal menghakimi pelakor tanpa memahami problem yang dihadapi.
Apakah para penghujat peduli napas kembang kempis orang tuanya yang hanya pegawai biasa? Apakah para pencibir tahu biaya kuliah mahasiswa FKG? Manusia memang lebih cepat membuka mulut untuk mencaci ketimbang membuka tangan untuk membantu.
Aruna menggigit bibir. Dua hari yang lalu ayahnya meninggal akibat penyakit jantung. Usaha bakery keluarga terancam gulung tikar karena pandemi. Tante Amelia, ibu tirinya, memecat beberapa karyawan. Sebetulnya Tante Amelia sudah meminta Aruna untuk berhenti kuliah dan membantu mengurus usaha bakery yang morat-marit. Aruna sungguh dilema. Pesan almarhumah ibunya terngiang di kepala. Dia harus menjadi dokter gigi, meneruskan profesi sang Ibu, mewarisi klinik gigi yang sementara dikelola Tante Siska, sahabat beliau semasa kuliah.
Tante Amelia hanya memberikan bekal sedikit uang untuk membayar indekos dan makan sekali saja sehari. Keuangan keluarganya memburuk setelah Ayah operasi jantung.
"Sebenernya.... Gue juga butuh," lirih Aruna.
"Pasti berat banget ya ditinggal orang tua. Lo harus kuat, Na." Nabila merangkul bahu Aruna.
Air mata Aruna menitik. Dia benci dikasihani, dianggap gadis rapuh meskipun kenyataannya demikian. Aruna kalut. Bagaimana cara mencari uang tambahan? Ibunya dulu hanya menekankan pentingnya kepintaran akademik. Nilai rapor harus baik. Ayahnya mendukung anjuran Ibu. Akibatnya fatal, Aruna tidak punya skill yang bisa dijual. Michelle, salah satu teman kuliahnya bisa menggambar. Dia menjual ilustrasi di Fiverr dan mendapatkan sampai tujuh ratus dollar sebulan. Maya, adik tingkatnya, jago memasak nasi kebuli dan punya bisnis kecil dengan kakaknya. Dulu Aruna merasa tidak perlu bekerja selagi kuliah karena orang tuanya mampu membiayai pendidikannya. Tak disangka, Tuhan mengambil Ayah dan Ibu secepat ini.
"Zaman sekarang skill lebih penting daripada school, koneksi lebih berguna daripada prestasi," ucap Aruna sembari mengusap air mata.
"IP semester lo kan bagus, nggak coba daftar beasiswa?"
"Kan baru buka awal semester."
Nabila mengeratkan pelukan. "Gue kenalin sama Om Ihsan mau? Kali dia bisa bantu."
Terlalu buntu berpikir, Aruna mengangguk samar. Biarlah Om Ihsan membantunya dengan risiko yang dia pikirkan nanti. Nabila mengambil ponsel.
"Halo, Om Ihsan, Bila kangen deh," ujar Nabila cekikikan menanggapi godaan Om Ihsan. "Ih, nakal. Om kapan balik dari Belanda?"
Aruna mengamati gaya bicara manja merayu Nabila. Apakah dia harus bersikap begitu?
"Oh besok malam, Om. Bisa dong. Bila mau kenalin Om Ihsan sama teman Bila. Namanya Aruna. Dia juga lagi kesusahan, Om. Tolongin ya, please," rajuk Nabila. "Oke, Om."
Aruna memberikan tatapan, "gimana?" pada Nabila.
"Beres." Nabila membentuk simbol oke dengan telunjuk dan ibu jari. "Besok Om Ihsan minta ketemu."
***Besok yang ditunggu berjalan cepat. Sepulang kampus, Nabila menyuruh Aruna masuk ke kamarnya.
"Ini punya lo?" tanya Aruna agak terkejut saat melihat koleksi sepatu bertabur kristal yang terlihat mewah berlabel Jimmy Choo.
"Dari Om Ihsan," sahut Nabila singkat.
Mungkinkah pengusaha sekelas Om Ihsan membeli barang palsu seharga dua ratus ribu?
"Duduk sini." Nabila menepuk-nepuk kursi rias. Bermacam botol, tube, lipstik, maskara, dan kuas tertata di atas meja. Aruna terkadang menonton channel beauty vlogger di YouTube. Sedikit banyak dia tahu harganya.
Nabila cekatan merias wajah Aruna. Primer, foundation, loose powder, eye shadow berwarna tanah yang membuat area matanya seperti habis ditonjok Chris John, eye liner yang menyebabkan matanya seperti punya sayap, masih ditambah maskara pula. Nabila membubuhkan perona pipi lalu terakhir, lip cream.
"Ah, cantik kebingitan," Nabila memuji hasil kerjanya.
"Lo mendingan bikin channel YouTube," saran Aruna yang takjub.
"Terus saingan sama Tasya Farasya? Eh, sesama dokter gigi jadi beauty vlogger gitu ya," ucap Nabila sambil membuka lebar pintu lemarinya. "Nah ini bagus." Dia melepas dress penuh mote mengkilap dari penggantung pakaian.
'"Kita mau ketemu Om Ihsan di mana kok mesti heboh gini?" Aruna menurut saja memakai dress.
"Baltimore Club. Tempatnya eksekutif muda dan ekspatriat." Nabila sekarang mendandani dirinya dengan riasan persis Aruna. Mereka jadi pinang dibelah dua, saudara kembar hanya karena make up.
Nabila melapisi dress-nya dengan kardigan hitam, meminjamkan kardigannya pula untuk Aruna. Pagar indekos akan dikunci pukul sepuluh malam. Maka mereka harus bergegas keluar sekarang. Aruna memesan Grab car dari depan Alfamart.
Arus kendaraan menuju pusat kota masih padat. Mobil mengarah ke kawasan hutan pencakar langit, Jalan MH. Thamrin. Aruna sekali mengunjungi Plaza Indonesia. Selebihnya dia lebih nyaman belanja di Kelapa Gading atau ITC.
"Itu Kaiser Tower, Mas." Nabila menunjuk gedung bernuansa moderen.
Pengemudi Grab car menurunkan Nabila dan Aruna di lobi. Petugas berseragam hitam tersenyum ramah memeriksa clutch dua perempuan muda itu, lantas mengarahkan ke lift khusus yang mengantar sampai lantai 25.
Penjaga pintu Baltimore Club telah mengenal Nabila. Om Ihsan sering mengajaknya bersenang-senang melepas penat. Biasanya setelah menyogok istrinya dengan Hermes. Nyonya Ihsan tak pernah curiga suaminya main serong dengan gadis awal dua puluhan. Kehidupan seks mereka membara. Malah belakangan Om Ihsan tak pernah lupa membelikan bunga setiap akhir pekan. Romantis bagai pemuda kasmaran.
Musik lembut mengalun dan penerangan temaram menunjukkan kelas Baltimore Club. Tiga orang ekspatriat berwajah Kaukasia ditemani perempuan berperawakan mungil duduk di sofa dekat bar membahas bisnis sembari bersenang-senang.
"Tunggu di situ yuk." Nabila menunjuk sofa. "Om Ihsan barusan WA, udah otw kok."
Aruna menurut. Mereka memesan minuman tanpa alkohol serta sepiring churros. DJ memainkan musik nge-beat. Nabila melepas kardigan sehingga bahu telanjangnya terpampang. Berjoget mengikuti irama.
"Om Ihsan." Nabila melambai pada laki-laki gempal yang baru datang ditemani sesosok pria tinggi menjulang.
"Halo sayang." Om Ihsan mencium pipi Nabila, membelai bahu telanjangnya penuh minat. "Aruna ya?" sapanya ramah. Pipi berlemaknya mengkilap tertimpa cahaya redup.
Aruna mengangguk rikuh, terkejut memandang laki-laki yang menemani Om Ihsan. "Aidan," gumamnya.
"Wah, Mas Aidan memang terkenal. Di grup kolektor Panerai pun ada. Semakin mantap saya kerjasama dengan Organext."
"Aruna." Aidan menyalaminya.
Dua jam kemudian, Aruna dan Nabila bertingkah layaknya pajangan, mendengarkan negosiasi Om Ihsan dan Aidan. Organext memiliki perkebunan edamame di Temanggung. Berkat promosi Om Ihsan, Belanda yang sedang menyukai kedelai jepang setuju menjajaki kerjasama dengan Organext.
"Oke, Mas Aidan. Tinggal urus dokumen aja ya." Om Ihsan mengangkat gelas berisi bir. "Cheers."
"Cheers." Aidan menyentuhkan gelasnya ke gelas Om Ihsan, demikian pula Aruna dan Nabila.
"Nggak suka ya?" Om Ihsan memperhatikan mimik Aruna. Sangat tersiksa saat bir membakar kerongkongan.
"Maklum Om, teman Bila nih gadis pingitan," sahut Nabila.
Aruna tersenyum canggung. Ingin ke toilet memuntahkan isi perutnya, tetapi khawatir dikatai kampungan. Pengunjung semakin padat. Musik lembut bertransformasi menjadi EDM. Penuh semangat, mengundang orang melantai. Asap vape diembuskan banyak tamu bergulung mengaburkan pandangan.
"Kita turun." Om Ihsan menggandeng Nabila.
Aidan melirik Aruna lalu mengulurkan tangan. Aruna sedikit gemetar saat menerimanya. Clubbers bersorak menikmati dunia. Nabila menyapa teman-temannya, sesama daun muda seksi.
"Kamu belum pernah clubbing?" tanya Aidan pada Aruna yang mematung di tengah keramaian.
"Hah?" Aruna berteriak mengalahkan kebisingan.
Aidan menggenggam telapak tangan sedingin es Aruna.
"Kamu nggak suka di sini?" tebak Aidan to the point.
"Nggak biasa."
Aidan membimbing Aruna kembali ke sofa lantas meminum sisa bir dalam gelas. Apa enaknya minuman berbusa itu? Kepala Aruna pening padahal hanya minum seteguk.
"Belum pernah clubbing ya?" ulang Aidan tersenyum geli. Perempuan kebanyakan mempertontonkan kemulusan. Perawatan mahal memang bertujuan untuk dipamerkan. Hanya Aruna yang mengancingkan kardigan rapat-rapat.
Orang buta pun tahu betapa salah tingkahnya Aruna. Percuma berbohong. Jam ponsel menunjukkan pukul sebelas. Pagar indekosnya sudah ditutup. Ke mana dia pulang setelah ini?
"Saya juga nggak suka. Pak Ihsan memaksa ke sini. Sebenarnya kami janji mau ketemu siang. Tapi beliau meeting mendadak dengan orang dari Badan Karantina Pertanian."
"Aidan mau ekspor edamame?" Aruna berbasa-basi.
"Iya. Wulan ada lahan di Temanggung. Sejak setahun lalu Organext mulai menggarap edamame. Baru tahu kalau Belanda impor dari Indonesia."
"Asik banget pacarannya." Om Ihsan kembali bergabung. Napasnya terengah. Staminanya digerogoti usia. "Udah malam nih," ucapnya sembari merengkuh pinggang Nabila yang bersandar manja.
"Iya, kita pulang," sahut Aidan.
"Pulang?" Om Ihsan terbahak, "Saya sudah reservasi kamar. Kayaknya bakal sibuk ditemani dua gadis manis." Tangannya bergerilya meremas bokong Aruna.
Kamar yang dimaksud apa lagi kalau bukan kamar hotel. Nabila masih betah bergelayut, sebaliknya Aruna mengkerut tidak siap melayani Om Ihsan. Perlahan dia mendongak, mencari manik mata cokelat karamel Aidan, meminta tolong.
“Mas Aidan mau main bareng juga boleh. Makin ramai makin asyik kan?” Seringai Om Ihsan melebar tidak sabar mencoba mainan baru. Sebelum ke sini dia telah meminum obat kuat agar tahan minimal dua ronde.
“Sepertinya lain kali saja. Istri saya menunggu di rumah,” tolak Aidan halus.
“Ah, istrinya kurang sesajen makanya rewel. Ya kan, Sayang?” Om Ihsan mengerling pada Nabila. "Oke Mas Aidan. Nanti kita contact-contact lagi.”
Aruna ingin berteriak. Dia menautkan alis menatap Aidan agar tak meninggalkannya bersama Om Ihsan.
"Pak Ihsan, keberatan kalau Aruna saya bawa?" Aidan berkata sopan.
Om Ihsan terbahak. "Tentu tidak. Silakan, silakan. Mau saya reservasikan kamar?"
Aruna menghela napas lega. Aidan memang juga pria seperti Om Ihsan, tetapi ada sebuah magnet dalam dirinya yang menarik kepercayaan Aruna. Kalau harus menghabiskan malam, setidaknya bersama pria yang dia suka.
Aidan mendekap mahasiswi istrinya. "Saya punya hotel langganan. Terima kasih, Pak. Sampai ketemu."
***