Gambar dalam Cerita
" sorry sorry, aku nggak sengaja ".
Itulah kata yang ku ucapkan saat pertama kali bertemu dengan Kaffa di mall. Aku nggak sengaja bertabrakan dengan dia waktu itu .
" lain kali hati-hati kalo jalan ". Hanya itu yang diucapkannya kemudian berlalu meninggalkan aku. Mungkin ini yang dinamakan cinta pandangan pertama. Aku sudah menyukai Kaffa sejak pertama kali aku melihatnya. Awalnya aku merasa ini hanya perasaan sementara. Tapi setelah aku bertemu lagi dengannya, aku yakin kalo ini bener-bener cinta.
Aku bertemu Kaffa saat dia menjadi mahasiswa pindahan di kampusku. Kebetulan aku satu jurusan sama dia, tapi nggak satu kelas. Saat aku mengajaknya bicara, dia hanya cuek. Hanya bicara seperlunya. Sepertinya aku hanya dianggap teman kampus biasa. Walaupun aku selalu mendekatinya dan selalu mencari perhatian, tetap saja dia mengacuhkanku. Aku rasa Kaffa memang sengaja menghindariku. Padahal sesama teman yang lain tidak juga. Dia juga tidak dekat dengan teman cewek. Aku mengambil kesimpulan kalo Kaffa mempunyai sifat tertutup.
"kamu udah mau pulang yah ?", tanyaku pada Kaffa saat diparkiran.
"iya", jawabnya cuek tanpa memandang aku.
"aku boleh nebeng nggak ?". Sebenarnya sih bisa aja aku naik kendaraan lain. Cuman aku mau basa-basi aja sama dia. Barangkali aja kalo aku terus deketin dia, dia jadi mulai ramah sama aku.
"jalur kita kan berbeda. Aku juga ada urusan penting, jadi nggak bisa numpangin siapa-siapa. Sorry", katanya dengan suara dingin.
"ya..ya udah deh. Tapi lain kali aku boleh nebeng kan ?".
"aku nggak janji". Dia lalu masuk ke mobilnya kemudian pergi. Walaupun aku agak kecewa, tapi nggak apa-apa deh. Lagian ini kan bukan pertama kalinya aku ditolak sama dia. Entah kenapa, aku nggak mau nyerah untuk deketin Kaffa.
***
"eh Kin, kok Kaffa orangnya cuek banget yah jadi orang. Nggak pernah senyum sedikit pun sama kita. Semenjak dia jadi mahasiswa pindahan. Aku sama sekali nggak pernah dia senyum sedikitpun sama kita semua", kata Windy temen deket aku saat kami berada di kelas.
"apa karena dia pintar kali, makanya jadi sombong gitu".
"husy, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu win. Aku yakin kok, Kaffa itu nggak sombong. Mungkin aja itu emang sifatnya yang pendiam dan tertutup".
"iya, tapi bisa kan dia bersikap ramah sedikit aja sama kita. Kalo aja dia ramah dan seneng bergaul sama kita, pasti banyak cewek yang ngejar-ngejar dia, orang dia ganteng gitu".
"mungkin aja Kaffa punya alasan kenapa dia kayak gitu".
"kamu tuh yah Kin, emang selalu aja belain Kaffa. Kamu bener-bener suka yah sama dia ?".
Aku kaget. "kapan aku bilang kalo aku suka sama Kaffa ?".
"nggak usah mungkir deh Kin. Emangnya aku nggak pernah lihat apa kamu sering merhatiin Kaffa, dan juga sering ngehampirin dia. Kentara banget tau kalo kamu suka sama dia ".
"masa sih ?".
"tapi kayaknya Kaffa nggak ngerespon kamu sama sekali deh kin. Mendingan kamu berhenti aja deh ngejar-ngejar Kaffa". Aku hanya tersenyum samar mendengar omongan Windy. Memang mudah mengatakan, tapi aku sudah terlanjur cinta sama Kaffa. Tidak mudah untuk melupakannya dalam sekejap. Aku tau cinta aku memang bertepuk sebelah tangan. Tapi selama aku masih mampu untuk bertahan, aku nggak akan berhenti mencintai Kaffa. Meskipun aku tau, mungkin selamanya dia nggak akan pernah melirik aku.
***
Waktu itu aku sengaja menghampiri Kaffa yang sedang duduk membaca di perpustakaan. "hai Kaffa, bisa duduk disini nggak ?". Kaffa melirik aku sebentar kemudian kembali fokus ke buku.
"ini kan tempat umum, jadi siapapun boleh duduk", katanya tanpa melihat aku lagi. Aku kemudian duduk berhadapan dengannya. Dia kelihatan fokus banget belajar.
"oh yah Kaffa, kamu tau nama aku kan ?".
"apa ?", katanya dengan sedikit terkejut.
"yah, selama ini kan kita nggak akrab. Kamu juga tertutup banget pada semua orang. Yah barangkali aja kamu nggak tau nama aku, kita kan emang nggak sekelas".
"emangnya penting yah tau nama kamu ?", katanya cuek.
Buarrrr.....! Aku bagaikan disambar petir saat mendengar perkataan Kaffa. Ternyata benar, aku sama sekali nggak ada arti apa-apa dimata Kaffa selama ini.
"aku tau, aku memang bukan orang yang penting. Tapi nggak apa-apa kan, setidaknya kita bisa jadi seorang temen. Kenalin, nama aku Kinar", kataku mengulurkan tangan. Dia tetap saja mengacuhkanku. Tetap fokus pada bukunya tanpa melirik aku sedikit pun. Aku sedikit kecewa dengan sikap acuh Kaffa. "kamu nggak mau temenan sama aku yah ?. Emangnya tipe orang yang mau kamu ajak berteman kayak gimana sih".
Kaffa langsung menghempaskan bukunya di meja. Kelihatannya dia mulai marah. "bisa nggak kalo masuk di perpus itu diam. Udah baca aturannya kan ?". Dia langsung berdiri untuk mengembalikan buku itu pada rak. Kemudian berjalan keluar dari perpus meninggalkan aku. Padahal aku hanya ingin mencoba temenan sama dia. Tapi kenapa dia seperti itu ? Apa benar kata Windy kalo Kaffa itu emang sombong..?
Tapi aku selalu merasa kalo dia punya alasan kenapa melakukan itu. Dia tidak terlihat seperti orang sombong.
***
Aku kira setelah kami lulus kuliah, aku bisa melupakan Kaffa karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Tapi ternyata takdir mempertemukan kami kembali. Aku sekantor dengan dia. Dia adalah seorang direktur di kantorku, sedangkan aku hanya karyawan biasa.
Saat pak Randy ayah Kaffa memperkenalkan dia sebagai direktur di kantor, aku sangat kaget karena tidak menyangka bisa melihatnya lagi. Dan setelah itu aku baru tau kalo kantor tempat aku bekerja adalah milik keluarga Kaffa. Aku nggak tau ini kebetulan atau apa. Yang jelas, aku bener-bener bingung. Apalagi saat aku bertemu dengan Kaffa, sikapnya terhadap aku seakan-akan kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Dan terpaksa aku juga harus pura-pura bahwa aku nggak pernah bertemu sebelumnya dengan dia.
Sikapnya masih sama 2 tahun yang lalu saat dia pindah sebagai mahasiswa baru. Dia tetap cuek, sampai-sampai saat aku sedang bekerja, aku sering mendengar para karyawan lain membicarakan Kaffa tentang sikap dingin dia pada semua orang.
Waktu itu, tanpa sengaja kami masuk dalam lift berdua. Seperti biasa, sikapnya kaku dan cuek. Aku juga cukup lama diam, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya.
"permisi pak".Yah, semenjak dia menjadi direktur, aku selalu memanggilnya dengan sebutan bapak, karena biar bagaimana pun, dia adalah bos ku, dan sudah sepantasnya aku menghormatinya.
Kaffa hanya menoleh , memandangku datar. "bapak masih kenal kan sama saya ?", pertanyaan yang sama saat aku menyapanya di perpustakaan dulu. Lagi-lagi dia hanya diam. "saya...".
"kamu Kinar karyawan di kantor ini", katanya memotong ucapanku. "bukannya dulu sudah perkenalan kan. Ingatan saya masih cukup kuat untuk mengingat nama karyawan di sini", katanya dengan masih nada dingin.
"maksud saya..., dulu kita kan..". Aku ingin bilang kalo dulu kita satu kampus. Tapi lift sudah keburu terbuka. Aku mengikuti Kaffa di belakang. "pak Kaffa...".
Aku langsung berhenti saat Kaffa balik melihatku. "sepertinya nggak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan sama saya. Jadi kenapa terus ngikutin saya ?".
"maaf pak, saya hanya....".Belum selesai ngomong Kaffa langsung pergi. Astaga, sampai kapan dia akan terus bersikap seperti ini...
***
Malam itu aku baru saja selesai bekerja. Aku memang sengaja lembur karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaiin. Aku terpaksa menunggu di lobi karena hujan turun dengan deras. Aku juga tidak punya payung, makanya aku lebih memilih menunggu hujannya reda.
Tiba-tiba Kaffa juga keluar. Dia memegang sebuah payung. Dan sepertinya sudah siap untuk melintasi hujan. "maaf pak ", aku mendekati Kaffa. "saya boleh minjam payungnya nggak kalo bapak sudah selesai ?".
"saya kan mau pulang, jadi saya harus bawa payung ini".
"saya tau. Begini saja pak, saya antar bapak pake payung itu sampai di mobil bapak, setelah bapak masuk, saya ambil payungnya. Saya janji akan kembalikan besok". Sepertinya Kaffa berpikir sejenak.
"ya sudah". Aku tersenyum. Baru kali ini dia mau menolongku. Aku dan Kaffa lalu menuju ke mobilnya sambil membawa payung. Yah, kalo dibilang aku memang dekat sekali dengannya saat berjalan ditengah hujan.
Sesekali aku memandangnya. Tapi seperti biasa, pandangan dia hanya ke depan terus tanpa sedikit pun melirik aku. Setelah kami sampai di mobil Kaffa. "sini biar saya pegang pak. Bapak masuk aja ke mobil". Kaffa langsung masuk ke mobilnya.
Tiba-tiba aja dia membuka kaca pintu mobilnya. "saya janji akan mengembalikannya besok. Makasih sebelumnya pak". Saat aku ingin pergi..
"Kinar tunggu..". Aku lalu balik. "lebih baik kamu naik ke mobil saya. Saya antar kamu sampai rumah". Aku bener-bener terkejut mendengarnya, tidak menyangka Kaffa menawari aku untuk diantar.
"tidak usah pak. Nanti saya naik kendaraan lain saja. Jalur kita kan berbeda".
"nggak apa-apa. Lagian ini kan sudah hampir larut malam. Hujan lagi. Sepertinya sudah tidak ada kendaraan yang lewat".
Dalam hati, aku seneng sekali, tapi aku juga bingung dengan sikap Kaffa. Akhirnya aku naik saja ke mobilnya.
"rumah kamu apa masih yang dulu".
"iya pak". Kaffa lalu menyetir mobilnya.
Tapi tunggu..., kenapa dia bisa tau rumah aku. Dia kan nggak pernah pergi sebelumnya.
"kok bapak bisa tau rumah saya ? Saya kan nggak pernah ngasih tau. Bapak juga nggak pernah datang sebelumnya". Aku bisa melihat raut wajah Kaffa berubah seketika.
"sa..saya ngeliat data kamu di kantor", katanya agak sedikit terbata.
Sebenarnya aku masih bingung dengan jawaban Kaffa. Yah, akhirnya aku memutuskan untuk diam saja. Mobil jadi sunyi, hanya suara gemuruh hujan yang terdengar. Aku dan Kaffa sama-sama memandang ke depan tanpa melirik satu sama lain. Pikiranku bener-bener berkecamuk.
Setelah sampai, hujan juga sudah mulai reda. "makasih pak udah nganter. Saya turun dulu. Hati-hati di jalan". Aku lalu turun dari mobil. Setelah itu Kaffa pulang tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya aku harus benar-benar melupakan Kaffa. Aku yakin, tadi dia mengantarku hanya karena kasihan. Yah, setidaknya Kaffa masih punya belas kasihan terhadapku.
Yah, aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkan Kaffa lagi. Aku terus fokus pada pekerjaanku. Bahkan aku sengaja membawa makanan siang di ruanganku. Aku berencana untuk tidak keluar-keluar ruangan saat istirahat. Karena bisa saja aku tidak sengaja berpapasan dengan Kaffa . Makanya aku hanya dimeja kerjaku sampai pulang. Teman-teman kerjaku merasa heran dengan sikapku. Bahkan kalo ada berkas yang tidak terlalu penting ingin aku kumpul, aku hanya menitipkannya.
"Kinar, kok kamu aneh banget sih akhir-akhir ini ? Jarang banget keluar", tanya teman kerjaku.
"nggak apa-apa". Hanya itu yang kujawabkan ketika ada yang bertanya......
***
Waktu itu aku disuruh masuk ke ruangan Kaffa untuk memberikannya berkas penting. Terpaksa aku masuk karena tidak bisa juga menolak.
Aku mengetuk pintu ruangan Kaffa berulang kali, tapi tak ada yang menyahut. Akhirnya kuberanikan diri membukanya.
Setelah aku membuka pintu.....
Astaga, aku melihat Kaffa di lantai memegang perutnya seperti sedang kesakitan. Dia berkeringat dingin. Sepertinya dia berusaha ingin mengambil sesuatu di meja kerjanya. Aku bener-bener kaget.
"pak Kaffa...".
Aku langsung lari mendekati Kaffa. Wajahnya bener-bener pucat.
"pak Kaffa kenapa ? Pak Kaffa sakit ? Saya bawa ke dokter yah pak. Sebentar saya panggil...", saat aku ingin berdiri, Kaffa tiba-tiba memegang tanganku. Dia menggeleng, memberikan isyarat agar aku tidak memanggil siapa-siapa. "am..ambilkan", katanya terbata-bata. "apa pak ?". Dia menunjuk ke meja kerjanya. "apa yang harus saya ambilkan ?", aku juga sangat cemas melihat keadaan Kaffa. "di.. di laci". Aku langsung ke meja kerja Kaffa membuka lacinya ."o..bat", katanya lagi. Iya, aku menemukan banyak obat. Akhirnya aku membawa semuanya pada Kaffa. Dengan segera, dia memakan semua obat itu. Aku langsung mengambil air diatas meja, kemudian memberikannya pada kaffa untuk diminum.
Setelah itu, tiba-tiba saja Kaffa langsung membaik. Kelihatannya perutnya sudah tidak sakit lagi. Meskipun keringatnya masih bercucuran.
"pak Kaffa baik-baik saja ? Apa perlu saya bantu pak Kaffa pergi ke dokter".
"nggak usah. Lebih baik kamu keluar aja sekarang. Simpan berkas itu diatas meja".
"tapi tadi pak Kaffa kenapa ? Saya bisa lihat pak Kaffa begitu kesakitan. Apa pak Kaffa sakit ?".
"kamu nggak usah banyak nanya, lebih baik kamu keluar sekarang !", ucapnya tegas.
"tapi pak..., saya..".
"keluarrr...!!", bentaknya dengan suara tinggi. Aku langsung kaget dan ingin menangis saat dibentak. Tentu saja, aku yang tadi begitu khawatir melihat keadaannya, tiba-tiba saja dibentak disuruh keluar. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku takut campur bingung melihat Kaffa. Aku langsung berlari keluar. Aku nggak tau keadaan Kaffa setelah itu. Hati aku bener-bener sakit saat dibentaknya. Apa karena aku masih punya perasaan untuknya..?
***
Saat itu aku baru saja menjenguk teman kerja aku yang baru saja melahirkan di rumah sakit.
Saat aku ingin pulang, tiba-tiba saja aku berpapasan dengan pak Randy yang kelihatan panik menemani seseorang yang berbaring di kasur rumah sakit yang didorong oleh para suster dan bersama seorang dokter.
Ketika semakin dekat....
Astaga itu kan Kaffa yang sedang diimpus. Aku sangat kaget. Tiba-tiba saja mata kami bertemu. Kaffa seperti kaget melihat aku. Kami saling memandang cukup lama sampai akhirnya aku tidak bisa melihatnya karena dibawa masuk ke ruangan UGD.
Aku masih terpaku di tempat, berharap itu hanya mimpi. Tapi itu emang kenyataan. Aku langsung mengingat kejadian tadi pagi. Apa ini ada hubungannya dengan rasa sakit yang dialami Kaffa tadi pagi di ruangannya. Aku semakin cemas, pikiranku berkecamuk. Akhirnya aku menghampiri pak Randy yang sedari mondar-mandir di depan kamar rawat Kaffa. Sepertinya beliau juga sangat cemas.
"maaf pak..". Aku masih bisa melihat Kaffa dari jendela terbaring di dalam. Kaffa sempat melirik ke arahku. Tapi aku langsung memalingkan wajahku melihat pak Randy, berharap penjelasan darinya tentang kondisi Kaffa.
"Kinar ? Apa yang kamu lakukan disini ?". Sepertinya pak Randy terkejut melihatku.
"saya kebetulan jengukin teman pak. Dan saya lihat bapak di sini beserta pak Kaffa yang dirawat. Kalo boleh saya tahu, pak Kaffa sakit apa yah pak ? Yang pastinya ini mungkin bukan kecelakaan. Karena saya tidak melihat luka dibagian tubuh pak Kaffa ?".
"Kaffa memang tidak kecelakaan. Dia...".
"dia kenapa pak ?". Sepertinya pak Randy berat untuk mengatakannya.
"pak Kaffa kenapa pak ? Apa dia sakit ? Sakit apa ?", tanyaku cemas campur penasaran.
"dia mengidap kanker.., kanker lambung..".
Bagaikan petir disiang bolong yang langsung menyambarku saat mendengar perkataan pak Randy. Tiba-tiba saja semua tubuhku langsung lemas.Untungnya aku segera bersandar di dinding.
"pak Randy pasti bercanda ?".
"tidak. Kaffa sudah divonis mengidap penyakit ini 4 tahun yang lalu. Saat dia masih kuliah di jogja. Karena bapak ingin terus memantau keadaan dia, makanya bapak menyuruh Kaffa pindah kuliah ke Jakarta. Jadi bapak bisa menemaninya. Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini keadaannya mulai drop lagi", kata pak Randy dengan nada sedih. Sebenarnya aku ingin menangis, tapi aku berusaha menahannya. Aku lalu berpikir, apa karena penyakit Kaffa makanya dia selalu cuek dan bersikap dingin selama ini.....?
Setelah dokter keluar dari ruangan. Aku minta izin pada pak Randy untuk masuk ke dalam. Akhirnya pak Randy mengizinkanku...
Kaffa masih terbaring. Aku berjalan pelan mendekati Kaffa. Tanpa kusadari air mataku menetes.
Saat Kaffa melihatku, aku langsung mengusap air mataku. Aku nggak mau Kaffa curiga melihatku menangis. Mana mungkin karyawan biasa sepertiku menangis melihat direkturnya yang sedang terbaring sakit. Pasti Kaffa akan berpikiran seperti itu..
"kamu ngapain disini ?", katanya dengan masih nada dingin.
"saya..., saya hanya ingin lihat keadaan pak Kaffa".
"sekarang kamu udah liat aku kan. Apa sekarang kamu mau menertawai aku. Orang yang selama ini kamu lihat selau cuek, dingin dan sombong kayak aku ternyata hanya seorang yang berpenyakitan, dan nggak akan hidup lama lagi".
"kenapa pak Kaffa ngomong kayak gitu ? Apa bapak pikir saya seneng dengan keadaan bapak seperti sekarang ? Apa pak Kaffa selalu menilai negatif tentang saya ? Apa pak Kaffa begitu membenci saya ?". Tanpa kusadari air mataku jatuh lagi. Dengan segera aku mengusapnya.
"saya tahu pak Kaffa bukan orang yang sombong. Alasan bapak bersikap cuek dan dingin selama ini hanya karena penyakit bapak kan ? Tapi mengapa bapak selalu menghindari dan menjauhi saya. Kenapa bapak berpura-pura tidak mengenal saya di kantor. Padahal kita satu kampus dulu. Kasih tau saya alasannya, apa yang membuat pak Kaffa membenci saya ?".
Kaffa menatapku lembut. Tatapan dinginnya telah hilang. "aku nggak pernah membenci kamu Kinar. Aku sama sekali nggak pernah bermaksud untuk menjauhi kamu".
"terus kenapa selama ini......".
"aku selalu menghindar dan menjauhi kamu karena penyakit aku", potong Kaffa.
"itu nggak masuk akal. Mana mungkin hanya karena penyakit yang pak Kaffa derita, pak Kaffa menjauhi saya. Padahal pak Kaffa jelas-jelas tau, kalo dulu saya selalu berusaha mendekati bapak".
"justru karena itu, aku nggak mau kalo kita dekat. Karena itu hanya akan membuat aku menderita".
"maksud bapak ?".
"aku.......Sebenarnya sudah sejak lama aku menyukai kamu Kinar. Aku selalu menjauhi kamu agar aku bisa melupakan kamu. Aku nggak mau jatuh cinta sama kamu. Karena biar bagaimanapun, aku nggak akan bisa membahagiakan kamu. Hidup aku nggak akan lama lagi. Aku.........".
Aku langsung memeluk Kaffa sebelum dia ngomong lagi.
"Kinar kamu...".
"aku nggak peduli. Aku nggak peduli kalo kamu sakit atau apa. Yang penting jangan menjauhi aku, jangan hindarin aku. Bukan dokter yang menentukan kapan kamu mati tapi tuhan.".
"tapi kamu pasti tau kalo penyakit aku ini mematikan. Sewaktu-waktu keadaan aku bisa saja langsung drop kayak tadi".
"aku nggak peduli. Asal kamu tau, aku bener-bener tulus mencintai kamu. Aku nggak peduli kamu sakit atau apa ".
"apa kamu bilang ? Kamu cinta sama aku ?".
Aku mengangguk."aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak lama, saat kita masih kuliah dulu. Saat aku ingin dekat sama kamu, kamu selalu aja menghindar dan menjauhi aku. Aku kira kamu membenci aku".
"ini yang aku nggak inginkan kinar. Kamu seharusnya nggak mencintai aku. Aku bukan orang yang pantas kamu cintai, aku nggak mungkin selamanya menemani kamu".
"Kaffa, aku nggak peduli itu semua. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah cinta tulus dari kamu. Aku menerima keadaan kamu apa adanya. Aku akan selalu menemani kamu untuk melawan penyakit kamu. Aku yakin pasti kamu bisa. Kamu harus mengalahkan penyakit ini. Janji sama aku ?".
Kaffa langsung memelukku. "aku janji, demi kamu aku akan bertahan. Demi kamu aku akan mengalahkan penyakit ini. Aku ingin segera sembuh agar aku bisa menjaga dan membahagiakan kamu. Aku sayang sama kamu Kinar".
"aku juga Kaffa".
"maafin sikap aku selama ini yah sama kamu. Apa yang aku lakuin semata-mata hanya tidak ingin membuat kamu menderita".
"tapi sekarang aku mau kamu harus terus jujur sama aku. Ceritain semuanya tanpa ada dirahasiain".
"iya aku janji", jawab Kaffa tersenyum, kemudian mencium keningku.
The End