Gambar dalam Cerita
Senja baru saja menyentuh cakrawala saat Salsa berdiri di balkon apartemennya. Angin musim panas membelai rambut panjangnya yang tergerai, dan pikirannya melayang pada hari itu—hari yang seharusnya biasa, sampai dia bertemu lelaki asing itu di studio tari.
Arlian.
Nama itu masih terngiang di telinganya. Mata pria itu begitu tajam, seakan bisa menembus dinding pertahanan yang telah ia bangun bertahun-tahun. Ia bukan hanya pelatih tamu dari luar kota—Arlian membawa sesuatu yang sulit dijelaskan. Aura. Dominasi. Dan tatapan yang membuat jantung Salsa berdetak tidak karuan.
"Langkahmu bagus, tapi kamu menahan diri," suara Arlian siang tadi masih terngiang, pelan namun penuh tekanan.
"Aku... aku hanya mengikuti irama," jawab Salsa, mencoba tenang.
"Tubuhmu bicara, Salsa. Tapi jiwamu masih ragu," katanya sambil mendekat.
Saat Arlian berdiri hanya beberapa inci darinya, Salsa bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar tapi memabukkan. Ada ketegangan di antara mereka. Bukan karena amarah, bukan juga karena persaingan. Itu... gairah. Sebuah tarikan yang tak bisa mereka hindari.
Dan malam itu, saat Arlian muncul di pintu apartemennya tanpa aba-aba, membawa sebotol anggur dan sepasang mata yang masih menyimpan tanya, Salsa tahu ini bukan sekadar latihan tari.
---
Anggur merah di gelas kristal bergetar pelan saat Arlian menaruh botolnya di meja.
"Maaf kalau tiba-tiba," ucapnya dengan suara rendah.
"Tapi aku merasa... kita belum selesai."
Salsa menatap pria itu dari balik rambutnya. Jantungnya berdetak cepat, tapi tubuhnya tak bergerak. Dia tidak mengusirnya. Itu saja sudah cukup sebagai jawaban.
"Apa yang belum selesai, Arlian?" tanyanya, setengah berbisik.
"Rasa ingin tahuku tentang kamu..." Arlian mendekat, menelusuri ruang sempit antara mereka. "Dan mungkin... rasa ingin tahumu tentang aku."
Salsa tertawa kecil, gugup tapi tak menolak.
"Dan kamu pikir kamu bisa temukan jawabannya malam ini?"
Arlian hanya tersenyum. Ia mengangkat tangan, perlahan menyentuh rambut Salsa dan menyelipkan helaian yang menutupi pipinya.
"Aku tidak datang untuk jawaban," bisiknya.
"Aku datang untuk merasakan... apa yang kita tahan sejak tadi siang."
Salsa tidak berkata apa-apa. Tapi ketika bibir mereka akhirnya bersatu, semuanya menjadi jelas. Tak ada lagi latihan. Tak ada lagi jarak. Yang tersisa hanya dua tubuh yang menari dalam diam, di ruang yang mereka ciptakan sendiri.
Arlian mencium Salsa perlahan, penuh rasa, namun dengan api yang tersimpan di dalamnya. Tangannya menyusuri punggung Salsa, lembut tapi pasti. Salsa membalas dengan sentuhan yang gemetar, tapi penuh keyakinan.
Malam itu, mereka tak hanya menyatu secara fisik—mereka membongkar lapisan emosi yang lama tersembunyi. Setiap sentuhan adalah ungkapan dari sesuatu yang selama ini tidak terucap. Luka. Rindu. Hasrat. Dan kerinduan akan kehangatan yang lebih dari sekadar gairah.
---
Pagi menyelinap masuk lewat tirai putih yang setengah terbuka. Matahari belum tinggi, tapi sinarnya cukup untuk membangunkan Salsa dari tidurnya yang tak biasa—tidur dalam pelukan seorang pria yang belum sepenuhnya ia kenal, tapi entah kenapa, terasa seperti rumah.
Salsa menoleh. Arlian masih terlelap, wajahnya tenang, napasnya teratur. Ada garis keras di rahangnya, tanda bahwa dia bukan pria yang mudah terbuka. Tapi tadi malam, garis itu sempat lunak. Ia membiarkan Salsa melihat bagian dirinya yang tidak banyak orang tahu—rapuh, penuh luka, tapi hangat ketika disentuh dengan benar.
Salsa turun dari ranjang perlahan. Mengenakan kemeja Arlian yang tadi malam tergeletak di lantai, ia berjalan menuju balkon. Di sana, angin pagi menyapa, membelai wajahnya yang masih menyimpan sisa-sisa gairah dan keraguan.
Apa yang sedang aku lakukan?
Pertanyaan itu menghantam keras di dalam kepalanya.
Salsa bukan gadis polos. Ia tahu bagaimana rasanya disentuh, dicintai untuk semalam, lalu ditinggalkan seolah tidak pernah berarti. Tapi dengan Arlian... semuanya terasa berbeda. Terlalu dalam. Terlalu cepat.
Suara langkah kaki terdengar di belakangnya.
"Sudah bangun?" suara Arlian pelan, berat.
Salsa tidak menoleh. "Aku nggak nyangka kamu masih di sini."
"Aku juga nggak nyangka kamu membiarkanku tetap di sini," jawab Arlian jujur.
Diam.
"Aku punya masa lalu yang berantakan, Salsa. Mungkin lebih gelap dari yang kamu pikir," katanya tiba-tiba.
Salsa menatapnya, pelan. "Kamu pikir aku nggak?"
Tatapan mereka saling menembus. Ada semacam pengakuan di dalamnya.
"Aku nggak akan janji apa pun. Aku nggak yakin aku tahu cara mencintai seseorang dengan benar," ujar Arlian, nyaris seperti permohonan.
Salsa tersenyum tipis. "Aku nggak butuh janji. Aku cuma butuh kamu jujur. Bahkan kalau itu berarti kamu akan pergi."
Arlian mendekat, menyentuh wajahnya dengan lembut.
"Kalau aku bilang... aku takut pergi?"
Salsa menggenggam tangannya.
"Maka tetaplah."
---
Sudah seminggu sejak malam itu. Salsa dan Arlian tak lagi saling berpura-pura bahwa semua hanya kebetulan. Mereka bertemu hampir setiap hari—kadang di studio, kadang hanya untuk makan malam singkat yang berakhir dengan ciuman panjang di ambang pintu.
Tapi malam ini berbeda.
Arlian datang terlambat ke studio. Raut wajahnya lebih dingin dari biasanya. Salsa melihatnya dari cermin besar saat mereka berlatih—langkah-langkah tari yang biasanya lembut kini berubah kaku, terburu-buru, seolah tubuhnya ingin lari dari sesuatu.
"Arlian, ada apa?" tanya Salsa, menghentikan musik.
Pria itu menatapnya sesaat, lalu menarik napas panjang. "Kamu nggak perlu tahu."
Salsa maju selangkah. "Kita sudah terlalu jauh untuk mulai pakai tembok, kan?"
Arlian akhirnya bicara, tapi nadanya rendah dan berat.
"Dulu aku pernah bertunangan," katanya pelan.
"Namanya Maira. Kami merencanakan semuanya—rumah, anak, masa depan. Tapi aku hancurkan semua itu dalam satu malam."
Salsa terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena cemburu, tapi karena rasa takut: takut bahwa Arlian akan kembali terperangkap dalam masa lalunya.
"Kenapa?" tanyanya akhirnya.
Arlian tersenyum pahit. "Karena aku nggak bisa miliki satu orang... tanpa merasa kehilangan semuanya. Aku takut pada keterikatan. Takut bahwa kalau aku mencintai, aku akan hancur lagi."
Salsa mendekat, menatap mata pria itu dalam-dalam.
"Aku nggak minta kamu cintai aku sekarang. Tapi jangan hukum dirimu karena masa lalu. Aku bukan Maira... dan kamu bukan dirimu yang dulu."
Arlian menunduk. Tangannya meraih tangan Salsa, menggenggam erat, seperti memohon agar waktu berhenti. "Kalau kamu pergi suatu hari nanti... aku nggak tahu apakah aku bisa pulih."
Salsa menggenggam balik. "Maka pastikan aku punya alasan untuk tetap tinggal."
---
Sudah tiga hari sejak Arlian datang ke studio tanpa menyapa. Tiga hari sejak sentuhan terakhir mereka menghilang tanpa kejelasan. Salsa mencoba menepis perasaannya—berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi kenyataannya, setiap ruang di dalam hatinya mulai terasa kosong.
Ia berdiri di tengah studio, menyalakan musik yang dulu mereka latih bersama. Tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama, tapi langkah-langkahnya terasa kehilangan makna. Salsa menari bukan untuk tampil—ia menari untuk bertahan.
Di sudut lain kota, Arlian duduk sendiri di atas motor sport hitamnya, menatap laut yang luas. Di tangannya, masih tergenggam foto kecil—gambar dirinya dan Maira lima tahun lalu, di malam pertunangan mereka. Matanya memerah, bukan karena rindu, tapi karena kebingungan.
*Kenapa aku begitu takut bahagia?* pikirnya.
Dia tahu perasaannya untuk Salsa nyata. Tapi justru karena itu, dia takut. Salsa membuatnya merasa utuh, dan itu menakutkan—karena jika ia kehilangannya, ia akan hancur lagi. Seperti dulu, ketika Maira pergi karena ia terlalu dingin, terlalu tertutup, terlalu... terluka.
---
Salsa duduk sendiri di kafe langganannya. Di depannya, ada dua cangkir kopi—satu untuknya, satu lagi yang sengaja ia pesan untuk Arlian, walau ia tahu lelaki itu takkan datang.
"Kamu bisa kuat, Sal," gumamnya pelan.
Saat itulah notifikasi di ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.
*Kamu luar biasa malam itu. Aku lihat video kompetisimu. Kamu bersinar bahkan tanpa aku di sana. A*
Hanya itu. Tapi cukup untuk mengguncang seluruh perasaan yang berusaha ia pendam.
*Dia melihatku... tapi tidak datang?*
*Dia peduli... tapi memilih menjauh?*
Salsa menahan air mata yang menggantung di pelupuk. Ia tahu ini bukan tentang cinta yang tidak saling, tapi tentang cinta yang belum siap.
---
Malam itu, Salsa pulang dan menemukan sesuatu di depan pintu apartemennya: seikat bunga lili putih—bunga favorit ibunya, dan juga yang pernah Arlian sebut ketika mereka pertama kali berbicara soal masa kecil.
Di bawah bunga itu, ada sepucuk surat.
> *Aku butuh waktu. Bukan untuk memilih antara kamu atau dia, tapi untuk memastikan bahwa ketika aku bersamamu... aku benar-benar utuh. Aku ingin datang bukan sebagai pria yang setengah hancur, tapi sebagai seseorang yang bisa menopangmu, bukan malah menuntutmu untuk menambal lukaku. – A*
Salsa memeluk surat itu. Tidak ada marah. Tidak ada kecewa. Hanya air mata yang jatuh dalam diam—karena ia tahu, cinta sejati tidak selalu datang dalam bentuk hadir yang pasti, tapi juga dalam bentuk keberanian untuk mengakui ketidaksiapan.
---
Langit mendung saat Arlian turun dari mobil di depan sebuah rumah di pinggir kota, jauh dari keramaian. Rumah itu sederhana, namun rapi. Di teras, seorang wanita duduk sambil membaca buku. Matanya langsung menatap ke arahnya, dan tanpa banyak kata, ia berdiri.
"Maira," sapa Arlian pelan.
Wanita itu tersenyum, tipis namun tulus. "Akhirnya datang juga."
Mereka masuk ke dalam, duduk di ruang tamu yang masih menyimpan aroma lavender, aroma yang dulu selalu menenangkannya.
"Aku datang bukan untuk membuka luka," kata Arlian. "Aku datang untuk benar-benar menutupnya."
Maira menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku sudah lama menutupnya, Lian. Tapi mungkin kamu belum."
Arlian menghela napas. "Aku kira aku sudah. Tapi ketika aku mulai mencintai seseorang lagi... semuanya muncul. Ketakutan. Rasa bersalah. Luka-luka yang kupikir sudah hilang."
"Kamu mencintai dia?" tanya Maira.
"Iya," jawab Arlian tanpa ragu.
"Bagus. Karena kamu pantas bahagia, Lian. Kita memang tidak berhasil, tapi itu bukan akhir. Itu cuma jalan memutar."
Hening meliputi ruangan beberapa saat sebelum Maira berdiri dan berjalan ke lemari. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
"Ini foto-foto kita. Kenangan yang dulu berarti, tapi kini bukan milikku lagi. Simpan, atau buang. Terserah kamu. Yang jelas, aku tidak menyimpannya karena masih berharap. Tapi karena aku ingin kamu tahu bahwa aku telah memaafkan. Kamu juga harus memaafkan dirimu sendiri."
Arlian menunduk. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Kali ini bukan karena luka, tapi karena beban yang perlahan terangkat dari dadanya.
---
Di sisi lain kota, Salsa kembali ke studio untuk berlatih. Tubuhnya bergerak dengan presisi, tapi ada kekosongan dalam gerakannya. Ia tidak tahu apakah Arlian akan kembali. Ia tidak tahu apakah surat itu adalah salam perpisahan atau janji diam-diam untuk kembali.
Namun ia tetap menari. Karena menari adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup ketika cinta terasa menggantung.
Ketika sesi latihannya selesai, ia duduk bersandar di lantai kayu yang dingin. Lalu tiba-tiba, pintu studio terbuka.
Seseorang berdiri di ambang pintu, membawa dua cangkir kopi.
"Aku salah satu murid yang lari dari latihan," suara itu terdengar akrab—dan penuh penyesalan.
Salsa menoleh. Matanya langsung membasah.
"Arlian..."
"Aku kembali. Bukan sebagai pecundang yang takut luka. Tapi sebagai laki-laki yang tahu siapa yang ingin ia perjuangkan."
Ia mendekat, menyerahkan kopi yang masih hangat. "Kamu masih suka kopi pahit, kan?"
Salsa mengangguk. Lalu tersenyum. "Aku suka apapun... selama kamu yang bawakan."
---
Studio itu gelap ketika Salsa datang malam itu. Ia tak mengundang siapa pun. Hanya dirinya, sepatu dansa, dan lagu kenangan yang ia simpan di playlist pribadinya.
Ia menyalakan lampu di tengah ruangan. Suasana lengang. Tapi di sinilah semuanya dimulai. Di tempat inilah tubuh dan hatinya mulai belajar bicara lewat tarian. Dan di sini pula, Arlian datang kembali ke hidupnya.
Musik mulai mengalun. Perlahan, tapi dalam. Salsa mulai melangkah. Setiap gerakan seperti menciptakan ruang untuk semua rasa yang pernah mengganggu: rindu, marah, kecewa, takut.
Dan di tengah putarannya, ia berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena tarian—tapi karena pintu studio terbuka.
Langkah kaki itu ia hafal. Nada napasnya ia kenali. Dan saat Salsa menoleh, ia melihat Arlian berdiri di sana, dengan wajah lelah namun matanya penuh api.
"Aku mau menari denganmu... bukan untuk pertunjukan. Tapi untuk hidupku," ucap Arlian sambil melangkah mendekat.
Tanpa aba-aba, tubuh mereka langsung menyatu dalam irama. Tangan Arlian di pinggang Salsa, mata mereka saling terkunci. Tidak ada kata-kata, hanya gerak yang menggantikan suara.
Dalam setiap putaran, ada pengakuan.
Dalam setiap sentuhan, ada permohonan maaf.
Dan dalam pelukan terakhir di akhir tarian itu, ada satu hal yang tak perlu diucap lagi: *Kita pulang.*
Mereka terdiam. Musik berhenti. Dunia di luar menghilang. Yang ada hanya mereka berdua—duduk di lantai studio, berkeringat, bernapas cepat, dan saling menatap.
"Sekarang aku tahu, Sal," ujar Arlian pelan. "Aku tak bisa menjadi utuh tanpamu. Tapi bukan karena aku butuh kamu untuk menyembuhkan. Melainkan karena kamu... adalah bagian dari diriku."
Salsa mengangguk. "Dan kamu adalah rumah yang tak pernah berani aku minta."
Mereka saling mendekat, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka berciuman tanpa beban. Tanpa ragu. Tanpa bayang-bayang masa lalu. Hanya dua jiwa yang akhirnya berhenti melawan takdirnya sendiri.
---
Setahun telah berlalu sejak malam itu—malam di mana tarian menjadi bahasa pengampunan, dan pelukan menjadi titik awal kebersamaan. Banyak yang berubah, namun yang paling terasa adalah cara Salsa dan Arlian kini melihat dunia: dengan lebih tenang, lebih jujur, dan lebih saling menerima.
Studio yang dulu hanya digunakan untuk latihan kini berganti nama: *Studio Senja*. Tempat itu bukan hanya ruang berkeringat, tapi rumah bagi puluhan pasangan muda yang belajar menari dan mencintai—pelan-pelan, tanpa terburu-buru.
Salsa berdiri di balik kaca besar studio, memperhatikan murid-murid barunya. Di tangannya, selembar undangan pernikahan. Nama mereka terukir rapi di atasnya. Bukan pesta mewah, bukan acara besar. Hanya pernikahan kecil di tepi pantai, di waktu senja, tempat di mana langit dan laut bersentuhan diam-diam.
Sementara itu, Arlian sibuk di bagian belakang, memeriksa pengeras suara yang akan mereka gunakan untuk pertunjukan murid malam ini. Setiap beberapa detik, ia melirik ke arah Salsa, seolah belum percaya wanita itu benar-benar memilih tetap bersamanya.
"Lian," panggil Salsa dari seberang ruangan.
Ia menoleh.
"Kita sudah sampai, ya?"
Arlian berjalan mendekat. Ia menyentuh pipinya pelan. "Belum. Tapi sekarang aku tahu, kita berjalan ke arah yang sama."
Salsa tersenyum. "Lalu bagaimana jika suatu hari kita tersesat lagi?"
Arlian menggenggam tangannya erat. "Kita berhenti, duduk... dan menari."
Sebuah tepuk tangan terdengar dari para murid. Pertunjukan mereka baru saja selesai. Tapi bagi Salsa dan Arlian, pertunjukan sejati baru saja dimulai—bukan di atas panggung, tapi di kehidupan nyata.
Mereka melangkah keluar studio. Langit mulai berwarna jingga. Senja kembali menyapa. Namun kali ini, senja tak lagi jadi tanda perpisahan.
Kini, senja adalah rumah.
Tempat di mana semua rahasia yang dulu mengaburkan cinta... akhirnya menemukan cahaya.
---
~End~