Gambar dalam Cerita
Hashihime merupakan dewi yang sangat cemburu, ia hidup di jembatan-jembatan. Khususnya, jembatan yang sangat panjang dan tua. Sebagai dewi, Hashihime memiliki berbagai bentuk yang berbeda, tergantung pada situasi yang ada. Namun demikian, mereka biasanya digambarkan memakai jubah putih, wajah seputih cat, memiliki sebuah tatakan besi, dan membawa lima buah lilin. Ini merupakan peralatan yang digunakan untuk mengadakan kutukan.
Hashihime menjaga jembatan dimana mereka tinggal dengan buas. Apabila banyak dewa dihubung-hubungkan dengan lokasinya, ia akan menjadi sangat cemburu. Jika salah satu orang berbicara baik tentang jembatan lain sementara ia ada di atas jembatan milik Hashihime, atau jika seseorang menyanyikan sebaris Noh yang menyajikan kemarahan wanita sebagai tema utamanya, sesuatu yang menakutkan akan terjadi pada orang tersebut.
Terlepas dari sikap mereka yang menakutkan, mereka dihormati oleh orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Tempat di sekitarnya tinggal juga akan dianggap keramat sebagai wujud penghormatan mereka. Selama masa perang, penduduk akan memohon pada Hashihime untjk melindungi jembatan dari serangan musuh. Setelah masa perang selesai, Hashihime merupakan dewi pemutus dan pemisah. Ia diminta untuk membantu orang-orang dalam hal putus cinta, cerai, dan nasib buruk.
Kekuatannya untuk memisahkan sangat kuat sehingga pasangan dilarang melintas di depan tempat keramat milik Hashihime atau melangsungkan pernikahan di depan tempat keramat Hashihime bersama-sama. Jika pengantin baru harus menyeberangi jembatan yang ditinggali oleh Hashihime, mereka harus melintas di bawahnya dengan kapal daripada menanggung risiko mengalami kutukan dalam pernikahan mereka.
Cerita Hashihime yang paling terkenal berasal dari Tsurugi no Maki dalam Dongeng Heike yang diceritakan kembali pada sandiwara Noh Kanawa.
Seorang wanita mengunjungi Kifune-jinja di Kyoto pada jam dua pagi. Ia penuh kemarahan dan kecemburuan pada mantan suaminya yang membuangnya untuk bersama dengan wanita lain. Malam demi malam, ia mengunjungi tempat keramat untuk berdo'a pada dewa di sana agar mengubahnya menjadi iblis yang kuat. Wanita itu tidak menginginkan yang lain kecuali melihat mantan suaminya hancur, bahkan jika hal itu harus dibayar dengan nyawanya. Setelah malam ketujuh berziarah, do'anya dijawab. Dewa memberitahunya jika ia membenamkan dirinya sendiri ke dalam sungai Uji selama dua puluh satu malam, ia akan berubah menjadi iblis.
Wanita itu melakukan apa yang diperintahkan. Ia mengenakan jubah putih dan mengikat rambutnya menjadi lima tanduk. Ia menggambari wajahnya dan mengecat tubuhnya dengan warna merah tua. Ia menaruh tatakan kaki tiga di atas kepalanya dan menaruh obor pada tiap kakinya. Ia menghidupkan ujung-ujung obornya dan menaruhnya di mulut. Ia membenamkan dirinya di sungai Uji selama dua puluh satu hari dengan rasa benci yang berkobar di dalam hatinya. Kemudian, seperti yang dewa katakan padanya, setelah dua puluh satu hari, ia berubah menjadi kijo (setan) mengerikan yang memiliki kekuatan hebat. Ia telah berubah menjadi Hashihime dari Uji.
Malam itu, suaminya bangun dari mimpi buruk sebagai pertanda bahaya. Ia cepat-cepat mencari onmyouji (master yin yang) terkenal, Abe-no-Seimei. Seimei mengenali mimpi itu sebagai tanda bahwa istri si laki-laki telah datang untuk menghancurkan pasangan tersebut. Malam itu, ia berjanji untuk menyelamatkan mereka. Ia datang ke rumah mereka, mengadakan upacara pengusiran setan. Ia membuat dua katashiro , yaitu boneka kertas yang merepresentasikan si lelaki dan istrinya, dimaksudkan sebagai target pengganti untuk sang kijo yang dendam.
Malam itu, seperti yang Seimei prediksi, iblis tersebut muncul. Ia menyerang dua katashiro , bukan pasangan yang sesungguhnya. Pekerjaan Seimei berhasil, kekuatan iblis itu berbalik padanya. Wanita iblis tersebut menyadari bahwa ia tidak bisa menandingi kekuatan Abe-no-Seimei. Ia lalu menghilang, mengancam akan kembali pada waktu yang lain.