Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Mawar dan Capung
Folklore
23 Jan 2026

Mawar dan Capung

Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis cantik yang tak pernah tersenyum sama sekali. Namanya adalah Mawar. Ia hidup di sebuah desa terpencil di tengah hutan belantara yang letaknya sangat jauh dari perkotaan.Pagi itu, Mawar berjalan seorang diri untuk mencari bunga melati sebagai penghias di rumahnya. Dengan berbekal sebotol air minum yang dikalungkan di lehernya, ia berjalan menyusuri hutan yang katanya terbilang cukup angker.Setelah berjalan cukup lama, ia memutuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon beringin. Sambil menyandarkan kepalanya pada batang pohon ia terlelap begitu saja seperti sedang tersihir oleh keadaan di sekitarnya. Tak lama kemudian,terdengar suara yang memanggil namanya."Mawar ... Mawar ... Mawar ...." Terdengar suara itu memanggil namanya sebanyak tiga kali.Mawar pun terbangun dari tidurnya dan mencari sumber suara itu berasal. "Siapa kamu?" teriaknya."Mawar," panggilnya lagi."Keluarlah, aku tidak takut denganmu!" titah Mawar menantangnya."Aku di sini, Mawar. Aku seekor capung," serunya terbang mengelilingi Mawar.Mawar berdiri mendekati si Capung yang hinggap di ranting pohon. "Ada apa kamu memanggil namaku?""Tolong bantulah aku untuk menemukan bunga melati yang dapat menyembuhkan seseorang dari tidur panjangnya," kata si Capung."Mengapa kamu meminta bantuan padaku?" tanya Mawar penasaran."Kamu adalah seorang putri, lebih tepatnya Putri Bunga. Bukankah kamu sekarang juga sedang mencari bunga melati itu?" kata si Capung."Aku bukan seorang putri dan memang benar aku sedang mencari bunga melati itu," kata Mawar perlahan berjalan melangkahkan kakinya.Si Capung terbang mengikuti ke mana arah langkah kaki Mawar pergi membawanya."Nanti kamu bakal tahu sendiri, jika kamu adalah seorang Putri Bunga. Tolong bantulah aku untuk membangunkan Pangeran Langit!"Mawar menghembuskan napasnya kasar."Baiklah, ikutlah denganku!"Mawar dan si Capung tersebut melanjutkan perjalanannnya melewati batu terjal yang berbahaya. Banyak rintangan yang harus ia hadapi agar bisa sampai ke puncak Gunung Matahari. Hari sudah mulai gelap, cahaya matahari perlahan menghilang tergantikan sang awan hitam yang menyelimuti hutan. Tiba-tiba, Mawar dikejutkan sebuah pancaran cahaya dari gelang yang melingkar di tangannya."Itu pasti pertanda kalau sebentar lagi kita akan sampai di Gunung Matahari," kata si Capung."Kamu tahu dari mana?" tanya Mawar menyentuh gelangnya."Karena benda itu hanya dimiliki oleh seorang Putri Bunga dan akan bertemu dengan pangeran yang bisa mengembalikan senyumannya," kata si Capung."Sebenarnya kamu siapa?" tanya Mawar yang mulai curiga."Aku prajurit dari kerajaan awan yang ditugaskan untuk mencari Putri Bunga dan setangkai bunga melati," kata si Capung hinggap di permukaan telapak tangannya."Jangan mengarang cerita!" tegur Mawar."Terserah kamu saja. Suatu saat, pasti kamu tahu kebenarannya," si Capung terlelap tidur.Keesokan harinya, Mawar dan si Capung melanjutkan perjalanannya menuju ke Gunung Matahari. Ia menempuh jarak lima kilometer untuk sampai di sana. Terlihat tenaga Mawar yang mulai habis dan nyaris terpelosok ke dalam jurang. Mau tidak mau ia harus beristirahat lagi, mengumuplkan tenaganya."Jika kamu lelah, maka naiklah ke badanku Mawar!" titah si Capung berubah menjadi besar."K—kamu? Kenapa bisa jadi besar?" kata Mawar kaget melihat si Capung."Cepat naiklah, waktu kita tidak banyak!" titah si Capung dan Mawar pun menuruti perintahnya."Mengapa kamu tidak bilang jika bisa berubah menjadi besar dan terbang membawaku ke Gunung Matahari?" tanya Mawar di sela-sela perjalanannya."Karena aku ingin melihat seberapa gigihnya perjuangan dari Putri Bunga," kata si Capung mengepakkan sayapnya."Aku bukan Putri Bunga!" sanggah Mawar tak percaya.Akhirnya Mawar dan si Capung sampai di Gunung Matahari. Ia memetik beberapa bunga melati dan memasukkannya ke dalam kantong yang dibawanya. Setelah itu, si Capung membawa Mawar ke kerajaan awan yang tak jauh letaknya dari Gunung Matahari.Kehadiran Mawar dan si Calung disambut sangat baik oleh prajurit yang menjaga istana tersebut. Si Capung menyuruh Mawar turun dan mengantarkannya ke kamar Pangeran Langit yang sedang terbaring lemah di atas kasurnya."Campurkan bunga melatinya pada minuman pangeran, teteskan minumannya ke mulutnya!" titah si Capung berubah mengecil seperti semula.Mawar meneteskan minuman tersebut dan ia terkejut saat Pangeran Langit terbangun dari tidur panjangnya berkat minuman air melati yang ia petik dari Gunung Matahari."Syukurlah, pangeran sudah sadar," kata si Capung berbahagia melihat Pangeran Langit yang sudah bangun setelah berbulan-bulan lamanya akibat tersengat lebah."Siapa gadis yang kamu bawa memasuki kamarku ini, Capung?" tanya Pangeran menatap sesosok gadis cantik di hadapannya."Apa pangeran tak mengenalinya sama sekali?""Tidak," kata Pangeran Langit menggelangkan kepalanya."Dia, Putri Bunga yang selama ini kita cari pangeran," kata si Capung."Putri Bunga?" tanyanya sekali lagi."Benar, Pangeran. Dia Putri Bunga yang selama ini kehilangan senyumannya," kata si Capung hinggap di pundak sebelah kanan Mawar."Mawar, masih ingatkah kamu denganku? Aku Pangeran Langit, sahabat masa kecilmu." Pangeran Langit mencoba mengembalikan separuh ingatan Mawar."Aku pernah mengenal namamu, tapi aku lupa siapa dirimu," kata Mawar menerawang masa kecilnya."Langit yang selalu bersamamu dan tak pernah membiarkan kamu bersedih," kata Pangeran Langit.Seketika Mawar teringat memori masa lalunya di mana ia pernah bermain lari-larian dengan sosok anak kecil laki-laki yang tampan mengejarnya di taman bunga."Benerkah kamu Langit yang selama ini kurindukan?" tanya Mawar dengan mata berbinar.Pangeran Langit tersenyum. "Iya, aku Langitmu Mawar. Jangan pernah takut untuk tersenyum Mawar, karena dunia tak membutuhkan tangismu. Tapi membutuhkan sebuah senyumanmu. Jangan jadikan alasan bahwa kepergianku saat itu membuat dirimu tak pernah tersenyum kembali. Sebab aku tak ingin melihatmu terus bersedih. Tetaplah tersenyum dalam keadaan apa pun itu!Karena kamu adalah seorang Mawar yang mendapat gelar Putri Bunga dari Kerajaan Bunga dan telah kehilangan senyumannya selama bertahun-tahun lamanya," pungkas Pangeran Langit."Terima kasih, Langitku," kata Mawar terisak tangis kecil."Tersenyumlah, Bungaku!" kata-kata dari Pangeran Langit sukses membuat cekungan bulan sabit terlukis di bibir Mawar.Pada akhirnya, Mawar atau Putri Bunga yang telah kehilangan senyumannya selama bertahun-tahun lamanya kini dapat tersenyum kembali seperti sedia kala. Dan ia dinobatkan sebagai Putri Bunga di Kerajaan Bunga—tempat di mana ia dilahirkan.

Kancil yang Cerdik dan Buaya
Folklore
23 Jan 2026

Kancil yang Cerdik dan Buaya

Suatu hari, seekor kancil sedang duduk bersantai di bawah pohon. Ia ingin menghabiskan waktu siangnya dengan menikmati suasana hujan yang asri dan sejuk. Beberapa waktu kemudian, perutnya keroncongan. Ia berpikir bagaimana cara mendapatkan mentimun yang letaknya berada di seberang sungai. Tiba-tiba, terdengar suara kecipak keras dari dalam sungai. Ternyata itu adalah buaya.Kancil yang cerdik itu pun punya ide jitu untuk menghilangkan rasa laparnya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke sungai untuk menghampiri buaya.“Selamat siang, Buaya. Apakah kau sudah makan?” tanya Kancil berpura-pura. Namun, buaya itu tetap diam. Tampaknya ia tertidur pulas sehingga tidak menjawab pertanyaan kancil.Si kancil pun mendekat. Kini jaraknya dengan Buaya hanya satu meter saja. “Hai, Buaya. Aku punya banyak daging segar. Apakah kau sudah makan siang?” tanya Kancil dengan suara yang dikeraskan.Buaya itu mengibaskan ekornya di air. Ia bangun dari tidurnya. “Ada apa? Kau mengganggu tidurku saja,” ucap Buaya agak kesal.“Sudah aku bilang, aku punya banyak daging segar, tetapi malas untuk memakannya. Kau tau bukan, kalau aku tidak suka daging? Jadi, aku berniat memberikan daging segar itu untukmu dan teman-temanmu,” ujar Kancil polos.“Benarkah itu? Aku dan beberapa temanku memang belum makan siang.Hari ini, ikan-ikan entah pergi ke mana, sehingga kami tak punya cukup makanan,” jawab Buaya kegirangan.“Kebetulan sekali. Kau tidak perlu khawatir akan kelaparan selama kau punya teman baik sepertiku, Buaya. Benar, kan?” Kancil memperlihatkan deretan gigi runcingnya.“Terima kasih, Kancil. Ternyata hatimu begitu mulia. Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh teman-teman di luar sana. Mereka bilang kau licik dan suka memanfaatkan keluguan temanmu untuk memenuhi segala ambisimu,” ucap Buaya tanpa ragu.Mendengar itu, Kancil sebenarnya agak kesal. Namun, ia harus tetap terlihat baik demi mendapatkan mentimun yang banyak di seberang sungai. “Aku tidak mungkin sejahat itu. Biarlah. Mereka hanya belum mengenalku karena selama ini sikapku terlalu cuek dengan omong kosong. Sekarang, panggillah teman-temanmu.”Buaya tersenyum lega, akhirnya, ada jatah makan siang hari ini. “Teman-teman, keluarlah. Kita punya jatah makan siang daging segar yang sangat menggoda. Kalian sangat lapar, bukan?” pekik Buaya.Tak lama kemudian, 8 ekor buaya yang lain pun keluar secara bersamaan. Melihat kedatangan buaya itu, Kancil berkata, “Ayo, berbaris yang rapi. Aku punya banyak daging segar untuk kalian.” Mendengar itu, 9 ekor buaya pun berbaris rapi di sungai. “Baiklah, aku akan menghitung jumlah kalian, agar daging yang aku bagikan bisa merata dan adil,” ucap Kancil menipu.Kancil pun meloncat girang melewati 9 ekor buaya sembari berkata, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tuju, delapan, dan sembilan.” Hingga akhirnya, ia sampai di seberang sungai.Sembilan buaya itu bertanya, “Mana daging segar untuk makan siang kami?”Kancil terbahak-bahak, lalu berkata, “Betapa bodohnya kalian. Bukankah aku tak membawa sepotong pun daging segar di tangan? Itu artinya aku tak punya daging segar untuk jatah makan siang kalian. Enak saja, mana bisa kalian makan tanpa ada usaha?”Sembilan ekor buaya itu pun merasa tertipu. Salah satu di antara mereka berkata, “Akan ku balas semua perbuatanmu.”Kancil pun pergi sembari berkata, “Terima kasih, Buaya bodoh. Aku pamit pergi untuk mencari mentimun yang banyak. Aku lapar sekali.”Buaya itu pun dendam terhadap Kancil. Mereka akan membalas perbuatan Kancil yang telah menipunya.

Rantai Kebaikan
Folklore
22 Jan 2026

Rantai Kebaikan

Suatu hari hiduplah seorang petani di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Petani itu memiliki lahan pertanian luas dengan hasil yang melimpah ruah. Namanya Pak Karim, warga desa sering membantu merawat lahan pertaniannya dengan upah hasil panen. Pak Karim memang terkenal baik, wibawa dan bijaksana. Beliau tidak pernah meminta imbalan untuk warga yang menggarap panenannya. Beliau percaya, jika kita membantu sesama warga maka kelak kita juga akan dibantu oleh warga lain.Seperti contohnya saat ini, lahan yang digarap sebagian besar gagal karena diserang hama tanaman. Beliau begitu risau karenanya. Namun, tak pernah sedikit pun beliau menampakkan wajah sedih kepada warga yang setiap hari beliau temui.“Selamat pagi, Pak Karim,” ucap salah satu warga yang melintas.“Pagi juga, Pak,” jawab Pak Karim penuh senyum hangat.“Bagaimana, padinya?” Lalu warga tersebut mengajak ngobrol untuk sekadar basa-basi.“Yah begini, Pak. Lagi kurang beruntung. Haha,” jawab Pak Karim dengan tawa.“Butuh bantuan, kah? Sekalian balas budi kepada Bapak,” ujar warga tersebut. Pak Karim memang sangat disegani di desa tersebut. Tak heran, warga sering sekali menawarkan diri untuk membantu dengan alasan sebagai balas budi.“Ah, tidak usah. Cuma masalah kecil kok,” jawab Pak Karim. Sebenarnya posisinya saat ini memang sedang tidak menguntungkan dan membutuhkan pertolongan. Namun, beliau merasa bahwa tidak ingin merepotkan siapa-siapa lagi.“Baiklah, jika membutuhkan bantuan jangan segan-segan ya, Pak. Kami warga desa siap membantu kapan pun,” ucap warga tersebut. Ia lalu berpamitan kepada Pak Karim untuk melanjutkan perjalanan ke ladang dan dipersilakan dengan senyuman khas dari Pak Karim.Beberapa kali warga melintas dan menyapa Pak Karim. Beberapa kali juga mereka berusaha menawarkan bantuan. Namun, tidak ada satu pun tawaran yang beliau terima. Beliau sudah berkomitmen untuk tidak menyusahkan orang lain lagi dan berusaha untuk terus berguna untuk orang lain.Berhari-hari sudah Pak Karim lalui, berbagai cara sudah dilakukan untuk mengusir hama-hama yang menyerang tanaman padinya, tetapi tidak ada yang berhasil. Tanamannya semakin memburuk dan sudah dipastikan bahwa beliau akan gagal panen.Warga sekitar sebenarnya sudah mengetahui tentang masalah Pak Karim. Namun, mereka tidak ada yang berhasil membujuk beliau agar mau dibantu menyelesaikan. Hingga akhirnya salah satu warga berinisiatif untuk berkumpul dan membantu Pak Karim.“Teman-teman, seperti yang sudah kita ketahui, saat ini Pak Karim sedang mengalami kesusahan. Tanaman padinya rusak diserang hama tanaman. Saya mengumpulkan kalian ke sini untuk meminta bantuan agar bisa menyelesaikan masalah Pak Karim tanpa sepengetahuan beliau.” Pak Khairul memulai pembicaraan bersama para warga.“Lalu, apa yang harus kami lakukan?” tanya Pak Junaidi.“Malam nanti, kita akan ke rumahnya secara bersamaan untuk ngobrol dengan beliau. Kita bawa sedikit hasil panen kita dan menawarkan untuk mengganti tanaman padinya dengan tanaman lain,” jawab Pak Khairul.“Kalau beliau menolak? Kita semua tahu bahwa beliau tidak pernah mau untuk dibantu, meski sering sekali kita menawarkan bantuan,” sanggah warga yang lain.“Kita coba dulu bicarakan baik-baik dengan beliau. Jika kita bersama-sama pasti beliau akan menerima.” Pak Khairul pun menegaskan untuk dicoba terlebih dahulu. Mayoritas warga setuju dengan ide Pak Khairul. Bagaimanapun juga hampir semua warga pernah mendapat bantuan Pak Karim di masa-masa sulit mereka. Jadi, sedikit membantu beliau bukanlah sebuah beban bagi mereka.Malam pun tiba, para warga sudah berkumpul membawa hasil panen mereka masing-masing. Pak Khairul membawa ubi ungu, Pak Junaidi membawa jagung dan beberapa warga lain membawa sayur-mayur hasil panenan mereka. Mereka lalu bersama-sama pergi ke rumah Pak Karim.“Assalamualaikum, Pak Karim,” ucap Pak Khairul sambil mengetuk pintu.“Waalaikumsalam.” Pak Karim lalu membukakan pintu sembari mengucap salam. Beliau terkejut melihat banyak warga datang membawa hasil panen mereka.“Ada apa ini? Kok berbondong-bondong kemari? Silakan duduk,” lanjut beliau.Sebagian warga lalu duduk di kursi teras rumah Pak Karim, sebagian lagi berdiri di sebelahnya. Pak Khairul sebagai perwakilan warga langsung mengutarakan maksud dan tujuan mereka. Awalnya, Pak Karim bersikeras menolak bantuan warga. Namun, dengan sedikit desakan dari Pak Khairul dan warga yang hadir, akhirnya beliau menerima bantuan dari para warga.“Terima kasih kepada seluruh warga yang sudah berbaik hati membantu saya. Saya merasa sangat terhormat atas kebaikan kalian semua. Tanpa bantuan ini, entah apa yang akan terjadi pada ladang saya,” ucap Pak Karim kepada warga.“Sama-sama, Pak. Semua ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kebaikan bapak selama ini,” ucap Pak Khairul.“Betul itu, betul.” Warga pun ikut membenarkan ucapan Pak Khairul.“Kalau boleh tahu, kenapa Anda sering sekali membantu kami dan menolak untuk kami bantu?” tanya Pak Efendi yang berada di hadapan Pak Karim.Pak Karim lalu tersenyum dan bercerita mengenai kisahnya di masa lalu. “Suatu hari, saya sedang kesusahan seperti saat ini, bahkan lebih parah. Saya pergi ke desa lain untuk mencari obat pengusir hama. Dengan sisa uang hasil panen sebelumnya, saya pergi berkeliling ke seluruh penjuru negeri, tetapi tidak ada satu pun obat yang mempan. Hingga suatu ketika, saat saya beristirahat di bawah pohon yang rindang, saya bertemu dengan seorang kakek yang sedang kehausan.Lantas saya memberinya minum dan mengobrol. Di sela obrolan tersebut beliau berpesan bahwa jangan sungkan untuk berbagi kepada sesama. Beliau juga berpesan agar tidak mengharapkan balasan tentang apa yang sudah saya perbuat. Sejak saat itu saya berjanji kepada diri sendiri agar terus memberi kepada sesama dan mengabaikan soal balasan yang sudah diberi.Jadi, setiap kali ada warga yang memberi bantuan, saya terus menolak meski mereka bilang itu bentuk balas budi. Alhamdulillah, setelah mendapat pencerahan dari kakek tersebut, tanaman saya kembali subur dan semakin berkembang sampai sekarang.”Warga yang mendengar cerita Pak Khairul pun terkesima mendengarnya. Mereka lalu sadar, bahwa setiap rejeki yang mereka dapatkan terdapat hak orang lain. Sejak saat itu, Pak Karim dan para warga memutuskan untuk saling membantu dalam mengelola pertanian mereka dan menyisihkan sebagian hasil panen mereka kepada warga yang kurang mampu. Mereka percaya, bahwa rantai kebaikan tidak akan putus dan terus berlanjut jika dilakukan secara tulus dan ikhlas.

Seekor Buaya Mencari Mangsa
Folklore
22 Jan 2026

Seekor Buaya Mencari Mangsa

Dahulu kala, di sebuah tepi danau, tinggalah lima buaya jantan. Mereka adalah Ersan, Calvin, Ekky, Rama dan Eko. Lima buaya jantan tersebut menjalani hari-harinya mencari mangsa di danau dengan menyantap ikan-ikan kecil dan besar.Keesokan harinya, Ekky mengajak keempat temannya untuk mencari mangsa dan makan di daratan. Namun, keempat temannya itu tidak menghiraukan perkataan Ekky.“Hai, teman-teman. Bagaimana kalo kita kali ini mencari makan di darat saja?”“Selagi di danau masih ada mangsa, mengapa tidak di danau saja?”ujar Eko.“Baiklah, jika kalian ingin mencari mangsa di danau, aku akan mencoba mencari mangsa di darat.”Pada akhirnya, Ekky pergi ke darat sendiri untuk mencari mangsa. Sampai di tengah-tengah perjalanan, Ekky menemukan seekor ular betina yang bernama Dila. Di mana ular betina itu menjadi salah satu santapan utama Ekky. Namun, tak disangka ular tersebut sangat cerdik, meskipun awalnya ular tersebut merasa tertipu oleh Ekky.“Hai, buaya. Kau ingin pergi ke mana?”“Aku ingin mencari mangsa yang akan aku jadikan makanan hari ini.”Tanpa berpikir panjang, sang buaya mengajak ular ke sebuah tempat di mana tempat yang didatanginya tampak indah. Sang ular tidak memiliki rasa curiga sedikitpun pada sang buaya.“Kau ingin mengajakku ke mana, buaya?”“Sudah, kau diam saja karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang sangat indah. Tentunya kau sangat menyukai itu.”“Ah, apakah benar kau ingin mengajakku ke sebuah tempat indah?”Sang ular pun mau mengikuti buaya.Setelah sampai di tempat tersebut, sang ular terkejut.“Tempatnya sungguh indah, tetapi mengapa banyak sekali buaya-buaya di tepi danau.”“Haha. Dasar ular bodoh! Masih saja kau mau ditipu olehku. Aku mengajakmu ke sini karena aku ingin memangsamu.”“Mengapa kau tega sekali hingga membohongi dan membodohiku. Apakah aku memiliki salah kepadamu, wahai buaya?”“Haha. Kau sama sekali tidak bersalah ular. Mungkin ini memang takdirmu untuk menjadi santapanku.”Pada akhirnya sang ular berpikir keras agar bisa terlepas dari seorang buaya yang sangat kelaparan.“Bagaimana ini? Aku harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin menjadi santapan-santapan buaya-buaya itu.”Tiba-tiba buaya tersebut mencengkeram ular. Ia berkata, “Hei, ular bersiaplah kau untuk menjadi santapanku.”Ular pun langsung menjawab perkataan buaya tersebut dan meminta waktu agar dia bertemu dengan orang tuanya. Ular itu berjanji ia akan kembali lagi ke tempat ini. Namun, buaya tidak percya pada perkataan sang ular.“Tunggu, sebelum kau menyantapku, aku memiliki permintaan pada kalian.”“Permintaan apa yang kau ingikan ular?”“Aku hanya ingin bertemu Ibuku dan Ayahku untuk terakhir kalinya sebelum kau menyantapku buaya.”Para buaya tertawa mendengar permintaan sang ular.“Apakah hanya itu yang kau inginkan ular?”“Iya. Aku hanya menginginkan itu.”Para buaya tersebut masih tidak percaya dengan perkataan sang ular.“Apakah kau akan kembali ke sini lagi untuk memenuhi persyaratan dariku, wahai ular?”“Iya, aku berjanji pada kalian akan secepatnya kembali ke sini.”Para buaya masih sangat ragu dengan ucapan dan janji sang ular kepada mereka. Sang ular memohon kepada para buaya agar mengizinkan ia pergi untuk bertemu dengan sang ibu dan ayah. Pada akhirnya, sang buaya mengizikan ular tersebut untuk pergi menemui keluarganya.“Baiklah, kami akan mengizinkanmu untuk bertemu keluargamu. Tapi kau harus berjanji kepada kami akan segera kembali secepat mungkin.”Ular pun merasa senang dan berterima kasih kepada buaya karena telah mengizinkannya.“Terima kasih, buaya karena telah memberikanku kesempatan untuk menemui keluargaku.”“Baiklah, pergi sana. Cepat sebelum kami berubah pikiran.”“Baiklah, aku akan pergi dan kembali lagi.”Pada saat sampai di tengah-tengah perjalanan, sang ular merasa lega dan menertawai para buaya yang telah ia bodohi itu.“Haha, dasar para buaya rakus! Mau saja aku tipu. Aku juga tidak akan ke sana lagi.”Ular bergegas pergi dari tempat itu secepatnya. Tak lama kemudian, para buaya risau mengapa ular tersebut tak kunjung kembali ke tempat ini.“Bagaimana ini? Mengapa ular itu tak kunjung kembali ke sini”“Iya, benar. Padahal perut kita sudah lapar sekali dan tak sabar ingin memangsanya.”“Kalian merasa tidak, sepertinya kita telah ditipu oleh ular itu,” ujar Calvin.“Itu tidak mungkin. Kita kan seekor buaya yang besar dan cerdik, tidak mungkin ditipu oleh seekor ular yang bodoh,” ucap Ekky.“Kalo memang kita tidak ditipu oleh ular itu, mengapa ia tidak kunjung datang?” tanya Eko.“Benar kata kalian, sepertinya kita sudah ditipu olehnya.”Pada akhirnya, para buaya gagal memangsa sang ular. Dan para buaya tak menyangka bahwa ular yang ia bodohi lebih cerdik darinya. Dengan kesal buaya tersebut pergi dan mencari makan di tempat lain.

Wanita Buruk Rupa
Folklore
21 Jan 2026

Wanita Buruk Rupa

Dahulu kala hiduplah sebuah keluarga yang sangat miskin. Mereka adalah sepasang suami istri. Pak Dino bekerja sebagai seorang petani di daerahnya. Pak Dino dan Bu Ina dikaruniai seorang putri yang memiliki wajah buruk rupa—bernama Azizza. Namun, dengan wajah Azizza yang buruk, Pak dino tidak menerima kenyataan tersebut.Pada akhirnya ketika Azizza berumur seminggu, Pak Dino ingin membuang Azizza tanpa diketahui oleh Bu Ina. Malam hari pun tiba. Ketika Bu Ina tertidur lelap, Pak Dino langsung membawa Azizza pergi dari rumahnya. Saat jam sudah menujukan pukul 22.00, Pak Dino meletakan Azizza di sebuah rumah yang sangat megah dan mewah.Rumah itu ditempati seorang janda bernama Lasmi yang tidak memiliki anak karena setahun silam, suaminya mengalami kecelakaan saat pulang kerja. Setelah Azizza diletakan di rumah mewah dan megah tersebut, Pak Dino mengetuk pintu rumah tersebut. Sebelum pintu terbuka, Pak Dino sudah meninggalkan tempat itu.Seorang asisten rumah tangga yang bernama Nani keluar dari dalam rumah. Dia terkejut melihat ada seseorang meletakan bayi di teras rumahnya. Nani pun teriak ketakutan memanggil majikannya.“Nyonya ... Nyonya .... Lihat, ada seseorang yang meletakan bayi di teras rumah.”“Astagfirullah. Siapa yang tega membuang dan meletakan bayi ini di depan rumah. Tega sekali dia.”“Saya tidak tahu, Nyonya karena pas saya keluar tadi, tidak ada siapa-siapa. Saya hanya menemukan surat dan kalung saja.”Nani pun memberikan surat dan kalung tersebut kepada Lasmi.Dear anakku.Maafkan kami sudah membuangmu dan menelantarkanmu , Nak. Semoga kamu mendapatkan kehidupan yang lebih layak lagi, Nak. Semoga orang tua barumu menyayangimu dengan sepenuh hati. Aku mohon, rawatlah anak ini yang sudah kuberi nama Azizza . Rawatlah dia dengan sepenuh hatimu dan jangan biarkan dia kesusahan. Terima kasih karena sudah ingin merawat dan membesarkan anakku.Salam.“Sudah mari kita bawa masuk. Bereskan tempat tidur untuk anak ini,” ujar Lasmi.“Baik, Nyonya.”👶👶👶Matahari mulai terlihat. Pukul 06.00 Bu Ina pun terbangun. Tanpa ia sadari bahwa anaknya sudah tidak di rumah. Ketika Bu Ina membuat sarapan dan ingin memberi ASI kepada Azizza, dia terkejut. Anaknya hilang dan tidak ada di tempat tidur. Bu Ina berteriak hingga Pak Dino terkejut dengan teriakannya.“Bapak, Pak ... Cepat, sini. Azizza hilang, Pak,” ucap Bu Ina dengan nada khawatir.“Sudah, kamu jangan khawatir dan kamu nggak perlu cari anak itu lagi karena dia sudah bersama orang tua barunya yang menjamin kehidupannya.”“Maksud Bapak apa?” tanya Bu Ina dengam nada kesal.“Iya, dia sudah aku letakkan di sebuah rumah seorang janda kaya yang pasti memiliki kemewahan dan menjamin semua kebutuhan anak kita. Satu hal yang kamu harus tahu, aku malu memiliki anak yang wajahnya sangat buruk.”Setelah Pak Dino menceritakan semua yang terjadi di malam itu, Bu Ina merasa terpukul. Ia langsung bergegas mencari Azizza. Namun, dia tidak menemukannya. Hingga beberapa tahun kemudian, Azizza yang memiliki wajah buruk sudah dewasa. Wajah buruk rupa berubah menjadi cantik karena orang tua angkatnya melakukan operasi plastik agar Azizza tak malu dengan wajah tersebut.Setelah Azizza melakukan operasi, dia tak menyangka dirinya akan memiliki wajah secantik dan seputih ini.“Astaga. Dok, apakah benar ini wajah saya?” tanya Azizza.“Iya, ini benar wajah baru yang kamu miliki.” Dokter itu tersenyum.Betapa bahagianya Azizza melihat wajahnya yang kini tampak cantik dari sebelumnya. Namun, setelah sampai di rumah, Azizza mencari sesuatu yang menurutnya tertinggal di kamar ibunya. Dia terus mencari barang itu sampai akhirnya yang tersisa hanya satu lemari saja yang belum dibuka.Azziza belum mengetahui siapa orang tua kandung yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya, semua itu terbongkar karena Azizza menemukan sebuah surat dan kalung miliknya semasa dia masih bayi. Azizza pun bertanya pada ibunya.“Ibu, apakah benar aku bukan anakmu?”“Mengapa kamu bertanya seperti itu, Nak?”“Jawab jujur, Ibu. Aku menemukan sebuah surat dan kalung di lemarimu.”Lasmi terdiam dengan perkataan Azizza. Dia lalu menceritakan yang sebenarnya kepada Azizza mengenai dirinya.“Iya, Nak. Itu semua benar. Dulu ketika kamu masih bayi, kamu ditemukan di teras depan rumah. Di situ hanya ada sebuah surat dan kalung. Akan tetapi, Ibu tidak tahu siapa yang menelantarkanmu. Namun, sepertinya orang tuamu menelantarkanmu karena kondisi ekonomi mereka yang tidak mampu untuk kebutuhan sehari-hari. Malam itu, Ibu langsung membawamu masuk ke dalam rumah dan merawatmu seperti anak Ibu sendiri.”“Lalu bagaimana dengan orang tua kandungku sekarang, Bu? Di mana mereka tinggal? Aku ingin mencari mereka.”“Sampai saat ini, Ibu juga belum tahu di mana orang tua kandungmu.”Azizza merasa terpuruk mendengar Ibu angkatnya bercerita tentang waktu dia masih kecil dan ditelantarkan.👶👶👶Satu tahun telah dilewati Azizza. Akhirnya Azizza menemukan orang tua kandungnya. Dia menangis melihat kondisi orang tuanya. Kedua orang tua Azizza tak mengenalinya sama sekali karena dia telah melakukan operasi plastik.“Bapak, Ibu. Aku sangat merindukan kalian,” ucap Azizza sedih.“Maaf, Nak. Mungkin kamu salah orang. Kami memang memiliki putri, tetapi tidak secantik kamu, Nak,” ujar Pak Dino.“Ini aku, Pak, Bu. Anak yang kalian telantarkan di sebuah rumah mewah dan megah.”“Apa benar ini anakku? Jika benar, betapa cantiknya sekarang kamu, Nak,” sahut Bu Ina.Pak Dino dan Bu Ina terkejut melihat wajah Azizza yang begitu cantik. Sampai- sampai mereka tak mengenalinya.“Iya, Bu. Ini benar, aku anakmu.”Pak Dino langsung meminta maaf kepada Azizza karena telah ditelantarkan olehnya semasa kecil. Dia merasa bersalah terhadap Azizza. Pada akhirnya, Azizza membawa orang tuanya ke rumah Ibu angkatnya. Azizza mengajak otang tuanya tinggal bersama mereka.“Ibu, apakah orang tuaku boleh tinggal bersama kita?” tanya Azizza.“Iya, Nak. Tentu saja boleh,” jawab Bu Lasmi.“Terima kasih, Bu telah mengizinkan kami tinggal di sini. Kami sangat bersyukur bisa tinggal di tempat yang nyaman dan indah ini,” ucap Pak Dino.“Sama-sama, Pak.”Pada akhirnya, mereka hidup damai dan bahagia. Penuh keharmonisan di dalamnya.

Sang Pengembala Kambing dan Raja yang Sombong
Folklore
21 Jan 2026

Sang Pengembala Kambing dan Raja yang Sombong

Pada zaman dahulu, ada sebuah kerajaan yang cukup makmur dan memiliki hasil ladang yang begitu melimpah karena akan tanah di negeri ini yang begitu subur untuk lahan pertaniaan. Selain itu, karena keberadaan desa ini yang bertepatan di kaki gunung yang masih aktif. Namun, kerajaan ini dipimpin oleh Raja yang memiliki sifat yang sombong dan serakah. Sifat yang begitu tidak baik dicontoh.Sifat sang Raja sangat jauh berbalik dengan sifat sang istri yang begitu ramah, sopan dan murah hati kepada siapa pun. Apalagi kepada semua rakyatnya apabila ketika dekat sang ratu bawaan yang tenang karena sifatnya yang begitu lembut.Di tepi desa ada sebuah gubuk yang tak layak untuk dihuni keadaan yang begitu sudah sangat rapuh dimakan waktu. Gubuk itu yang dihuni oleh seorang wanita tua yang sudah sakit-sakitan dan memiliki seorang anak semata wayang yang memiliki tubuh kekar dan pemberani. Anaknya lah yang selalu membantu dalam segala hal urusan rumah tangga karena sang ibu yang tak bisa lagi untuk berkerja.Ia yang bernama Wawan. Wawan yang bekerja sebagai pengembala kambing milik tetangganya yang tak jauh dari rumah. Ia melakukan pekerjaan ini demi untuk melanjutkan hidupnya untuk sesuap nasi dan biaya obat sang ibu. Ia yang begitu rajin menggembala kambing milik tetangganya ke hutan untuk mencari rumput yang segar—memberi makan para kambing itu.Pemilik kambing itu begitu percaya kepada Wawan yang bertanggung jawab dalam mengurus para kambing. Walau ia tak pernah mengenyam pendidikan seperti teman seusia, tetapi ia diberikan akal yang cerdas dalam melakukan berbagai hal.Pada suatu hari, Raja yang sombong ini berkeliling desa sambil melihat keadaan desa ini. Ia yang menunggangi seekor kuda dan tak lupa dikawal oleh prajurit kerajaan yang begitu ramai untuk menjaga sang Raja. Para penduduk desa yang melihat kedatangan sang Raja, langsung menghormati kedatangan sang Raja. Jika tidak, ia akan marah kepada siapa yang tak menghormati kedatangannya.Di tengah perjalanan, mata sang Raja tertuju pada seorang anak pengembala kambing yang tak lain si Wawan. Ia sedang menggembala kambing milik tetangga yang duduk di bawah pohon rindang sambil memainkan suling kesayangan, pemberian dari sang ayah ketika masih hidup. Hanya itu peninggalan yang tersisa dari sang ayah. Sang Raja menghampiri sang pengembala itu. Ia langsung menyuruh prajurit untuk mengambil suling itu untuk dipatahkan sebagai hukuman atas apa yang dilakukan karena tak hormat atas kehadiran sang Raja.Sang Raja sedang menunggangi kuda yang terbahak-bahak atas apa yang hukuman yang ia berikan kepada sang pengembala itu. Sang Pengembala tak bisa berbuat apa. Walau ia memilik badan sangat kuat dan cukup menghajar prajurit dan sang Raja yang sombong itu, tetapi ia ingat akan pesan sang ibu untuk tidak melakukan hal-hal aneh kepada orang lain karena kita hanya orang kecil yang menumpang di desa ini.Ia sangat marah. Wajahnya langsung memerah atas apa yang dilakukan sang Raja kepada peninggalan sang ayahnya. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak marah. Namun, tiba-tiba mulutnya mengeluarkan sumpah yang langsung dilontarkan."Saya sumpahkan desa ini akan menjadi desa mati yang tak akan bisa dihuni lagi karena keserakahan dan kesombongan sang Rajanya." Sumpah itu, ia lontarkan begitu saja dalam mulutnya.Namun, sang Raja hanya tertawa terbahak-bahak atas apa yang ia dengar. Dia berpikir itu lelucon yang dilontarkan anak muda itu. Ia dan para prajurit langsung meninggalkan si Pengembala dengan wajah memerah. Sang Penggembala langsung sadar atas apa yang ia ucapkan. Ia langsung bergegas pulang untuk menemui sang ibu dan menceritakan hal yang memalukan ia ucapkan tadi.Ia yang tiba-tiba begitu menyesal atas apa yang ia lontarkan kepada sang Raja.Ketika sampai di rumah, ia menceritakan semua yang ia lakukan ketika ia sedang menggembala di tepi desa tadi. Sang ibu mendengar dengan hati yang tenang dan mengajak sang anak semata wayang itu untuk meninggalkan desa. Takutnya apa yang diucapkan anak itu akan menjadi kenyataan. Walau ia juga memimpikan hal yang sama yang diucapkan anaknya itu.Keesokan paginya ia bergegas untuk meninggalkan desa ini. Ia takut akan terjadi seperti dalam mimpinya itu walau sang ibu tak pernah menceritakan atas perihal mimpinya. Dia takut sang anak akan menyesal atas apa yang ia ucapkan. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi buta agar tak ada satu pun warga desa yang tahu atas kepergian mereka. Apalagi sepengetahuan sang Raja.Mereka pergi hanya berjalan kaki dan membawa beberapa perlengkapan pakaian. Tak lupa pula mereka membawa bekal yang mereka siapkan tadi malam untuk jaga-jaga ketika di tengah perjalanan.Beberapa bulan kemudian, setelah kepergian sang Pengembala dari desa—musim kemarau tiba. Entah kenapa musim kemarau kini begitu lama. Tidak sama dengan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Sang Raja yang semakin panik, apalagi hasil persediaan hasil panen di gudang mulai menipis. Persediaan ini tak cukup untuk waktu yang lama. Raja harus mencari akal untuk mengakhiri musim kemarau yang tak kunjung usai.Ia menghimbau beberapa dukun terhebat di negeri ini untuk segera menurunkan hujan. Namun, para dukun hebat itu tetap gagal untuk menurunkan hujan. Sudah hampir setegah tahun kemarau yang tak kunjung usai, membuat persediaan makanan benar-benar sangat tipis. Hanya cukup untuk beberapa hari ke depan.Musim kemarau yang begitu panjang membuat semua tanah ladang begitu kering kerontang dan aliran sungai tak ada aliran air lagi di desa. Sumpah yang dilontarkan sang Pengembala itu benar-benar terjadi. Kini desa ini menjadi desa mati dan tak pernah ada penghuninya setelah kerajaan yang dipimpin oleh sang Raja sombong itu.

Peri Pohon
Folklore
20 Jan 2026

Peri Pohon

Suara nyanyian kecil merambat dari cela sulur pohon dan dedaunan, semakin didekati semakin mengeras. Namun, terdengar lembut. Lantunan lagu itu berasal dari gadis cilik harum berambut pirang dan memiliki bibir seranum buah beri. Dia; Jini. Gadis kecil yang dikenal karena selalu memakai topi baret dengan motif buah stroberi kecil kesayangannya. Ia tampak lugu dan periang di usia yang baru menapaki umur enam tahun.Pagi hari yang cerah sama seperti kemarin di mana cahaya mentari masih menyelimuti bumi, Jini berjalan kecil sembari bersenandung keluar rumah menuju arah dekat hutan di mana biasanya ia memetik beberapa bunga dandelion untuk dibawa pulang. Suasana tampak seperti biasanya, sampai suatu cahaya kecil mengalihkan perhatian Jini."Bagaimana bisa kunang-kunang masih bisa hidup sekarang?" ucap dirinya lalu dengan naluri seorang anak kecil, ia berjalan ke arah celah pohon di mana dilihatnya cahaya kuning keemasan itu berpendar.Jini memekik kecil. "Seorang Peri?"Dengan cepat, ia mengambil cahaya itu yang ternyata saat didekati adalah seorang manusia kecil bersayap bening nan indah. Manusia kecil atau yang disebut Jini—Peri yang sedari awal terjebak di antara celah pohon maple memberontak ingin keluar, tetapi tidak bisa.Beruntung Jini melepaskan Peri itu dari jerat dan akhirnya sang Peri bisa terbang kembali walau agak melambat. Sebelum pergi, Peri kecil itu hinggap kembali di tangan mungil Jini."Terima kasih, Nona manis. Kau telah membebaskanku. Sebagai gantinya, aku akan membantumu," ucap Peri itu dengan suara kecil.Jini membalas dengan senyum riang. "Ah benarkah, Peri? Apa yang bisa kau?""Aku bisa menggandakan barang-barang yang kau mau hanya dengan menanamnya.""Wah benarkah?" Semangat Jini tidak bisa dibendung lagi. Terlihat dari gestur tubuhnya dan senyum lebar khas anak perempuan lugu."Tentu." Peri itu menyahut dan membalas senyum Jini. "Namun, aku hanya bisa melakukannya sekali dalam sehari dan sebagai gantinya kau harus memberikanku madu sejumlah satu tutup botol. Bagaimana?"Tidak perlu jeda untuk berpikir, Jini langsung membalasnya dengan semangat. "Aku mau, Peri!""Baiklah, Nona. Jika kau mau melakukannya, mulai besok panggil saja namaku dengan keras." Setelah itu, Peri melesat dengan cepat, memutar-mutari badan mungil Jini. Sebelum pergi, ia membisikan sesuatu ke telinga kecil sang anak buah beri."Namaku Namu."🍓🍓🍓Pagi berikutnya, Jini berdiri di samping kandang kelincinya—meneriaki nama 'Namu' dengan gembira. Kemudian seperti kilatan cahaya surga, Peri kecil itu kembali datang dengan senyum tulus mengembang."Apa yang ingin kau tanam hari ini, Nona?""Aku ingin stroberi!"Jini menyerahkan satu tutup botol madu untuk Namu bawa. Selanjutnya ia menanam satu buah stroberi itu di dalam tanah dengan cekatan, berkat dari seorang keturunan petani. Lalu Peri itu memutari lingkar tanah yang terbentuk, menjatuhkan berbagai kerlip cahaya perak menimpa tanah itu yang ajaibnya. Satu tanaman tumbuh dengan amat sangat cepat, seperti pohon kecil. Namun, ditumbuhi beberapa buah stroberi.Jini jelas merasa kaget dan heran di saat yang bersamaan. "Apakah ini sungguhan, Namu?""Tentu. Petiklah semua hasil yang telah kau tanam!" jawabnya sambil terduduk di salah satu daun di pohon ajaib itu. Jini dengan segera memetik semua stroberi yang ada tanpa terkecuali, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa topinya terjatuh dan terinjak oleh dirinya sendiri saat memetik.Namu membuka suara. "Saranku segeralah petik semua hasil itu karena tepat saat benda terakhir dari setiap pohon telah kau petik, pohon itu akan kembali ke tanah.""Baiklah, Kapten!" pekik Jini riang sembari memakan stroberi yang telah dipetiknya.Setelah dirasa cukup dan pohon tadi sudah kembali ke tanah, Namu kembali melesat pergi ke angkasa setelah berucap 'selamat tinggal' pada Jini.🍓🍓🍓Hari demi hari berlalu. Rutinitas untuk memanggil Namu dan menanam segala kehendak dari Jini terjadi secara rutin setiap pagi pada pukul sembilan. Jini tidak menanam sesuatu yang membahayakan, hanya sekadar makanan kue kering, permen, gula, atau manik-manik yang ingin dia gandakan untuk hiasan ruang. Itu sudah berlangsung semenjak empat belas hari ke belakang. Peri itu pun masih senang dengan bayaran satu tutup botol madu dan senyum cerah dari Jini.Namun, hari ini nampaknya berbeda. Namu datang dengan pemandangan Jini yang membawa banyak sekali persediaan makanan dan hanya membawa setengah tutup botol madu. Jini bersikeras untuk membuat Namu menumbuhkan semuanya dengan rengekan dan pekikan keras khas anak kecil."Namu bantu aku menumbuhkan ini semua huaaa. Bantu aku Namuuu, cepat!"Tidak. Ini sudah melampaui batas. Seorang Peri dapat kehilangan nyawa mereka jika terlalu banyak mengeluarkan serbuk sari dari dirinya. Namu enggan memberitahu pasal kematian pada gadis cilik ini. Oleh karena itu, ia langsung pergi dari hadapan Jini tanpa berucap sepatah kata pun.Esoknya, Namu mendapat panggilan lagi dari Jini. Namun, karena masih mengira hal yang sama seperti kemarin akan terjadi maka ia mengabaikannya lagi. Tidak hanya hari itu, pada hari-hari berikutnya pun demikian. Lebih tepatnya, tidak ada panggilan lagi dari Jini. Sedangkan Namu juga sibuk mengumpulkan benih dan madu untuk persiapan musim dingin nanti.Namun, disela itu, Namu masih merasa iba dan mengingat bagaimana jasa dari Jini yang telah menyelamatkan hidupnya untuk bisa bernapas hingga kini. Ia berniat untuk menengok Jini barangkali sekali saja sebelum salju pertama turun di awal bulan Desember. Ia bergegas terbang melawan arus angin.Sayangnya saat sampai, hanya kekosongan yang didapatinya."Halo, Nona manis?"Namu memutuskan untuk terbang ke arah kamar Jini saat tidak mendapati jawaban apapun. Dan di sana, Namu mendapatkan semua jawabanya dari beberapa kertas yang berhamburan di lantai.Hari ini orang tuaku tidak pulang. Orang tuaku masih belum datang. Mama aku lapar. Namu marah kepadaku karena aku terlalu banyak meminta. Namu, aku mau memberimu sebotol madu hari ini, mengapa tidak mau datang? Makanan sudah habis. Aku lapar dan takut. Rasanya sakit, aku sudah tidak makan dari waktu itu. Bibi datang menjemputku hari ini. Akhirnya aku dapat makan lagi. Selamat tinggal rumah, semoga tidak banyak lumut menempel di kasurku saat aku kembali nanti.Sedih dan perasaan bersalah menghujani dan menghantam keras hati peri kecil itu. Ia terduduk lemas, juga mendapati bahwa memang benar ada sebotol madu bertuliskan catatan 'untuk Namu' di sana. Namu menangis untuk pertama kalinya setelah terlahir ke dunia.Maka untuk menebus kesalahannya, Namu merawat rumah itu dengan baik, juga menanami berbagai macam bunga dan stroberi sebagai penghias. Tentunya, ia akan menunggu nona manisnya itu untuk pulang.

Alkisah Putri Nara
Folklore
20 Jan 2026

Alkisah Putri Nara

Pada zaman dahulu hiduplah seorang puteri cantik di negeri antah berantah. Putri cantik ini bernama Putri Nara. Sang Putri hidup bahagia bersama keluarganya. Kini, Putri Nara menginjak usia tujuh belas tahun. Sang Ayahanda dan Ibunda sepakat menjodohkan putri bungsunya dengan Pangeran Chandra dari kerajaan tetangga.Semua pihak istana merasa gembira dengan kabar perjodohan sang putri bungsunya. Namun, tidak dengan sang Kakak—Putri Kinan. Putri Kinan merasa bahwa dirinya ini seperti anak tiri, tidak pernah sama selalu diperhatikan oleh kedua orang tuanya. Kecemburuannya semakin memuncak saat melihat kedekatan sang adik dengan Pangeran Chandra. Putri Kinan berusaha menggagalkan rencana perjodohan mereka.Pagi ini Putri menemui seorang nenek yang beraliran sesat untuk bisa mencelakai adik bungsunya. Sang nenek sihir hanya tertawa senang mendengar perkataan putri.“Haha. Aku ini seorang penyihir hebat, masalah hanya kecil bagiku.Tetapi apa imbalan yang aku dapatkan?”Putri Kinan tersenyum sinis dengan ucapan sang Nenek sihir. Ia pun berjanji apa pun yang sang Nenek minta, pasti dia kabulkan. Sang Nenek hanya memberikan sebotol ramuan untuk ditaburkan di makanan. Putri Kinan mulai melancarkan aksi dengan membawakan kue tart kesukaan Putri Nara.Tanpa merasa curiga, Putri Nara menerima pemberian Kakaknya.Setelah memakan kue tersebut, Putri Nara merasakan gatal di sekujur tubuhnya. Seluruh badannya mulai muncul benjolan-benjolan kecil kemerahan yang perlahan-lahan mengeluarkan bahu tidak sedap. Semua pihak istana mulai panik mendengar kabar sang putri bungsu, tak terkecuali sang Kakak. Sang Ayahanda berusaha mencari para Tabib terbaik di kerajaan ini. Namun, tidak satu pun yang mampu menyembuhkan penyakit sang putri.Di saat inilah Putri Kinan memanas-manaskan Ayahanda agar mengasingkan Putri Nara untuk beberapa bulan sampai penyakitnya sembuh. Awalnya sang Ayah tidak mau menerima usulan tersebut. Namun, Putri Kinan mengingatkan bagimana dengan perjanjiannya dengan Pangeran Chandra.Dengan berat hati, sang Ayah mengirimkan putri kesayangannya ke tengah hutan. Ibunda yang menyaksikan putri pergi, hanya mampu menangis. Kesedihan juga dirasakan seluruh pegawai istana. Dulu kerajaan Rania penuh dengan tawa ria sang putri. Kini justru hanya ada kesunyian.Sepanjang perjalanan, sang putri hanya mampu menangisi takdirnya. Kini, sang putri tinggal di hutan dengan kucing kesayangannya. Di sisi lain, Pangeran Chandra mendengar kabar bahwa Putri Nara diasingkan dan Putri Kinan yang akan menggantikan posisinya. Pangeran Chandra datang menghadap Raja Janakya, meminta penjelasan mengenai kabar yang beredar.Mendengar kabar kalau Putri Nara terkena penyakit yang tidak bisa di sembuhkan, Pangeran Chandra menolak untuk dijodohkan dengan Putri Kinan. Pangeran Chandra sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Putri Nara. Sang Pangeran bersikeras akan mencari Putri Nara.Putri Kinan mendengar semua pembicaraan Pangeran Chandra dan semakin membuatnya membenci Adiknya. Ia berjanji tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia. Putri Kinan berusaha membujuk ayahnya agar Pangeran Chandra menikahinya. Putri Kinan berusaha mencari ide lain karena ayahnya tidak mampu menghentikan niat sang pangeran.Di sisi lain, Pangeran Chandra menuju ke hutan dengan para pasukannya untuk mencari keberadaan Putri Nara. Diam-diam Putri Kinan mengikuti sang pangeran dari belakang agar ia bisa mencari celah untuk merusak persedian stok makanan mereka. Namun, usaha tidak membuahkan hasil. Alhasil ia hampir jatuh ke perosok lubang karena lari dan hampir ketahuan.Dalam perjalanan pulang, selendangnya tertiup angin dan terbang jauh. Ia berusaha mengejarnya, tetapi gagal. Ia hampir ketemu dengan prajurit-prajurit yang sedang berpatroli. Hari demi hari demi berlalu sangat cepat. Perlahan-lahan Putri Nara mulai menerima takdirnya dengan ikhlas. Selama pengasingan, ia memilih untuk berkebun untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.Selama tiga hari pencarian, mereka belum menemukan jejak keberadan sang gadis pujaannya. Di tengah pencariannya, ia menemukan seekor kucing yang sangat ia kenal. Itu adalah milik sang putri. Saat sang putri menyadari kucingnya hilang, ia pun mencari ke seluruh sudut gubuknya. Namun, tidak ada.Tanpa basa-basi, ia keluar dari area gubuknya dan mulai menyusuri hutan. Ia menemukan beberapa pasukan prajurit. Sang putri langsung membalikkan badan dan ingin segera bergegas dari sana agar tidak ketahuan. Baru melangkah, ia mendengar suara kucing kesayangannya. Sontak ia membalikkan badan mencari sumber suara itu.Sang Pangeran langsung memeluk sang putri karena berhasil menemukan setelah beberapa hari pencariannya. Putri Nara berusaha melepas pelukan itu, tetapi dicegah oleh Sang Pangeran. Penyakit yang ada di tubuh sang putri berangsur-angsur pudar saat pelukan mereka semakin erat. Sang Pangeran sudah mengetahui jika penyakit ini adalah sebuah sihir yang sengaja ditujukan untuk sang putri.Sang putri menangis di pelukan sang pangeran. Pangeran Chandra mengutarakan niatnya dengan sungguh-sungguh agar Putri Nara mau menjadikannya sebagi pendamping hidupnya. Dengan perasaan iba karena ketulusan sang pangeran, akhirnya putri Nara menerima sebagai pendamping hidupnya.Merasa geram, mendengar apa yang dikatakan oleh mata-matanya—ia mengerahkan prajuritnya untuk menangkap sang penyihir dan menyeretnya ke aula kerajaan.Putri Nara sangat bahagia karena penyakitnya sudah sembuh. Akhirnya kebusukan sang Kakak terbongkar. Namun, Putri Kinan berusaha mengelak dan membantah tuduhan itu. Nenek sihir juga tidak tinggal diam, ia membuka kedok sang putri. Bukti terakhir yang, Putri Kinan tidak bisa bantah sama sekali. Selendangnya jatuh di hutan dan sang prajurit pangeran menemukan dan menjadikan sebagi bukti.

ANA
Folklore
19 Jan 2026

ANA

Suatu awal musim semi, dari kuncup bunga tulip merah muda yang baru saja mekar, terlahir peri kecil tanpa sayap bernama Ana yang menimbulkan kekagetan bagi seluruh peri di Perilaria. Sudah bertahun-tahun lamanya, terakhir kali ada peri di Perilaria yang lahir tanpa sayap. Peri yang terlahir tanpa sayap sangatlah menyedihkan. Seperti terlahir tanpa tujuan hidup, karena tanpa sayap, peri tidak dapat menghasilkan serbuk peri dari kepakkan sayap mereka saat terbang. Dari serbuk peri itulah, para peri di Perilaria memiliki kemampuan untuk memekarkan bunga di musim semi, menurunkan hujan di musim panas, memunculkan pelangi setelah hujan di musim gugur, serta menghangatkan Perilaria di musim dingin.Ana yang baru saja membuka mata langsung kebingungan ketika mendapati dirinya dikelilingi oleh peri-peri yang menghujaninya dengan tatapan khawatir. Apa maksud dari tatapan itu? Apa yang terjadi dengan dirinya hingga mendapat tatapan itu?"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Ada apa?" tanya Ana sambil mendudukkan dirinya di dasar bunga. Ia balas menatap satu per satu peri yang mengelilinginya, meminta jawaban atas pertanyaannya."Kamu ...," peri dengan gaun kuning dari kelopak bunga mataharilah yang pertama buka suara, "tidak bersayap."Ana mengedipkan matanya berulang kali karena bingung. Ia tidak bersayap? Bagaimana bisa? Ana kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, untuk mengamati raut wajah peri lainnya. Mereka semua tampak sama, yang membedakan mereka hanyalah warna pakaian mereka dan jenis bunga yang menjadi dasar pakaian mereka. Juga tentunya, mereka semua memiliki sayap di balik tubuh mereka. Hingga akhir dari pandangannya, Ana mendapati tatapan iba yang sama.Ana perlahan bangkit dari posisi duduknya dibantu oleh peri bergaun kuning bernama Sunny yang tadi menjawab pertanyaannya. Mereka berdua berjalan keluar dari kelopak bunga diikuti oleh peri-peri lainnya menuju genangan air yang ada di atas tanah. Ana berjalan mendekati genangan air itu. Dengan perlahan, Ana membalikkan sedikit badannya agar bisa melihat bayangan punggungnya sendiri. Di punggungnya itu, tidak ada sepasang sayap seperti Sunny ataupun peri lainnya."Apa yang terjadi?" tanya Ana yang langsung jatuh terduduk di atas tanah. Ia menatap bayangan dirinya sendiri dengan raut sedih yang tidak ditutup-tutupinya dari genangan air itu. "Bagaimana aku bisa lahir tanpa sayap?"Tidak ada satu pun jawaban dari peri Perilaria yang masih mengelilinginya. Mereka juga masih menatapnya dengan raut yang sama, yaitu kasihan.Ketika dirinya merasakan tepukan halus pada bahunya, air mata yang sudah ditahan oleh Ana langsung turun. Ia tidak pernah berharap terlahir berbeda dari peri lainnya. Ana ingin lahir sama seperti mereka. Ia ingin memiliki sepasang sayap yang dari setiap kepakkannya muncul serbuk peri keemasan."Apa yang akan terjadi padaku jika tidak memiliki sayap?" tanya Ana di sela-sela isakannya."Kamu tidak akan bisa seperti peri Perilaria lainnya." Kali ini peri bergaun biru bernama Sea yang juga masih menepuk halus bahunya yang menjawab pertanyaan Ana. "Kamu tidak akan bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan jika memiliki sayap. Bagi peri di Perilaria, sayap sangatlah penting. Setiap kepakkannya menghasilkan serbuk peri yang dapat memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, dan menghangatkan Perilaria."Ana mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Pandangan penuh iba masih ditujukan oleh peri Perilaria padanya. "Bolehkah kalian meninggalkanku sendirian? Aku butuh waktu sendiri," kata Ana lemah sambil menyeka air matanya.Para peri Perilaria terbang perlahan meninggalkan Ana dengan sayap yang menukik turun. Mereka turut sedih bersama Ana. Setelah mendapati semua peri pergi, Ana terisak dalam tangis yang tidak lagi ditahannya. Ia memeluk kedua lututnya erat. Kenapa ia bisa lahir tanpa sayap? Kenapa ia tidak terlahir normal seperti peri lainnya? Kenapa harus dirinya yang lahir seperti ini?"Ana."Tidak ada sedikit pun niat dari dalam diri Ana untuk mengangkat wajahnya ketika mendengar seseorang memanggil namanya dengan suara kecil nan merdu. Siapa yang memanggilnya? Bukankah mereka semua sudah pergi? "Pergi, aku sedang butuh waktu sendiri," usir Ana dengan suara lemah dan masih sesenggukan. Ia memeluk kedua lututnya lebih erat lagi. Wajahnya juga dibenamkan lebih dalam ke kedua lutut."Aku tahu kamu sangat sedih karena tidak memiliki sayap seperti peri Perilaria lainnya." Suara itu kembali terdengar, tapi kali ini lebih dekat. Bahkan, tiba-tiba ada sentuhan dari tangan dingin pada bahunya yang langsung membuat Ana berjengit kaget.Ana langsung mengangkat wajahnya dan mendapati seorang peri bergaun hitam berdiri di hadapannya. Namun, ada satu hal yang membuat Ana lebih kaget. Peri di hadapannya ini hanya memiliki satu sayap di sebelah kanan tubuhnya. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa sayapmu hanya satu?" tanya Ana. Perlahan ia berdiri dan menyentuhkan tangannya pada sayap peri di hadapannya ini."Aku terlahir tanpa sayap sepertimu," katanya, "dan perkenalkan, namaku Viola. Maaf baru memperkenalkan diri. Namamu Ana, bukan? Aku sempat melihat namamu dari kelopak bunga tempatmu lahir tadi.""Kamu lahir tanpa sayap? Sepertiku?" tanya Ana bingung. Sekali lagi, Ana menatap sayap di balik tubuh Viola. "Tapi Viola, kamu punya satu sayap."Viola tertawa ringan sambil menyentuh lembut sayapnya. Ia menatap bayangan sayapnya dari genangan air di dekat mereka dengan tatapan penuh kekaguman. "Aku mendapatkan sayap ini dari peri di tengah hutan di sana," kata Viola sambil menunjuk jauh ke arah hutan belantara gelap yang sangat berbeda jauh dengan Perilaria. Hutan itu diliputi awan gelap dan petir terus menyambar tanpa henti. Hutan itu dipenuhi oleh akar-akar pohon tanpa daun hijau dan bunga sama sekali."Ada peri yang tinggal di tempat gelap dan mengerikan seperti itu?" Melihatnya dari jauh saja sudah membuat bulu kuduk Ana berdiri. Ia ketakutan.Viola menganggukkan kepalanya. "Hanya dia satu-satunya peri yang tidak menatap kita, peri Perilaria yang lahir tanpa sayap, dengan tatapan kasihan. Bagi peri Perilaria, lebih baik tidak pernah dilahirkan daripada terlahir tanpa sayap. Semua keindahan di Perilaria ada karena serbuk yang muncul dari sayap peri setiap terbang. Tanpa sayap, kita berdua, tidak ada gunanya."Ana kembali menundukkan kepalanya."Hanya dia yang bisa memberikan kita sayap yang kita perlukan." Viola kembali mengelus sayap kanannya dengan lembut. Raut bahagia kembali tampak dari wajahnya ketika tangannya menyentuh sayapnya itu.Melihat pemandangan di depannya itu membuat Ana membulatkan tekadnya. Ia ingin memiliki sayap! Ia ingin bisa memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, serta menghangatkan Perilaria seperti peri-peri lainnya. "Tolong bawa aku ke sana," kata Ana dengan penuh keyakinan.Viola langsung tersenyum senang. "Baiklah! Kita ke sana sekarang juga. Kita tidak boleh menunda-nunda karena perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama bagi kita, peri yang tidak memiliki sayap. Kita harus mengandalkan kaki kita yang jauh lebih lambat dibandingkan terbang dengan sayap."Viola berjalan di depan Ana dengan penuh semangat. "Aku sudah tidak sabar untuk segera memiliki sepasang sayap dan menjadi sempurna.""Aku juga," kata Ana dengan antusias yang sama setelah berhasil mengejar Viola yang sudah berjalan jauh di depannya.Bagaimana rasanya punya sayap? Ana benar-benar tidak sabar untuk merasakan kepakkan sepasang sayap pada punggungnya. Ia ingin segera bisa terbang mengelilingi Perilaria yang indah.Ana bersenandung senang dan berjalan dengan langkah ringan sambil sesekali melompat tanpa mengetahui apa yang akan dihadapinya sebentar lagi.***Ketika kakinya melangkah masuk ke dalam hutan belantara, tubuh Ana langsung merinding. Hutan ini sangatlah dingin dan gelap, berbeda jauh dibandingkan dengan Perilaria yang warna-warni oleh aneka tanaman bunga yang sedang mekar serta cahaya matahari keemasan yang setia menyinari seluruh Perilaria. Jika suara kicauan burung memenuhi Perilaria, maka hutan belantara ini penuh dengan suara guntur yang menyusul dari kilatan petir di atas mereka.Ana benar-benar takut, sehingga ia berjalan menempel di belakang Viola yang tampak biasa saja, bahkan Viola masih bisa bersenandung senang. Namun, Ana tidak memandang itu sebagai sesuatu yang aneh. Ia malah merasa wajar dengan tindakan Viola karena sebentar lagi Viola akan memiliki sepasang sayap yang utuh seperti peri Perilaria lainnya, begitu juga dengan dirinya.Mereka berdua berhenti di hadapan menara batu tinggi tanpa pintu. Hanya ada satu jendela persegi di puncak menara yang sangat terang sehingga terlihat jelas oleh mereka. Kilatan cahaya petir juga terus menghujani puncak dari menara itu. Ana mengamati semua itu dari balik tubuh Viola. "Viola, kita ada di mana?" tanya Ana."Ini tempat tinggal peri yang akan memberikan kita sayap, Ana," jelas Viola sambil menaiki anak tangga yang terbuat dari akar-akar pohon. Akhir dari tangga itu ada di jendela persegi di puncak menara yang mereka lihat tadi.Rasa gugup yang ia alami saat ini, Ana anggap sebagai rasa antusias karena sebentar lagi ia akan punya sayap seperti peri Perilaria lainnya. Ana menaiki tangga mengikuti Viola hingga masuk ke dalam menara yang setiap sisi dindingnya terdapat lemari yang penuh oleh botol kaca aneka bentuk yang dari kacanya dapat terlihat jelas terisi serbuk emas yang bersinar terang.Ana berjalan mengelilingi ruangan itu sambil mengamati satu per satu botol kaca yang terus memantulkan bayangan wajahnya. Hingga akhirnya, dirinya berhenti di depan satu-satunya botol kaca yang kosong.Dari botol kaca itu, Ana bisa melihat bayangan Viola berdiri di belakangnya dengan senyum lebar. Viola meraih botol kosong itu dan menatapnya dengan raut penuh kebahagiaan. "Aku bisa mendapatkan satu lagi sayapku, jika botol ini terisi penuh dengan serbuk peri Perilaria," jelas Viola tanpa diminta.Ana bingung. Apa maksud dari perkataan Viola? Serbuk peri Perilaria? Viola bisa mendapatkan sayapnya dari serbuk peri Perilaria? "Apa maksudmu?" tanya Ana, tapi tanpa di sadarinya, tubuhnya bergerak mundur dengan sendirinya seiring dengan langkah Viola yang semakin maju."Kamu lihat semua botol ini?" tanya Viola sambil melebarkan kedua tangannya ke udara. "Ini adalah serbuk peri Perilaria yang serakah. Mereka tidak pernah merasa puas, selalu menginginkan lebih. Padahal mereka sudah memiliki sayap dan serbuk peri yang selama ini kuinginkan."Tubuh Ana bergetar ketakutan ketika punggungnya menabrak dinding. Ia tidak bisa mundur lagi, sedangkan Viola terus maju dengan senyum yang tiba-tiba tampak menyeramkan."Keberuntungan sepertinya berpihak padaku, Ana, karena ketika peri-peri Perilaria sudah mulai curiga dengan hilangnya peri-peri mereka ... kamu lahir. Si peri tidak bersayap yang tidak diperlukan oleh Perilaria."Kalimat itu memukul Ana hingga tersadar. Ternyata dirinya ditipu oleh Viola yang menginginkan serbuk peri untuk mengisi kekosongan botol kaca terakhirnya. Namun, dirinya tidak bersayap, jadi bagaimana ia bisa mengisi botol kaca itu dengan serbuk peri yang tidak dimilikinya?"Tapi aku tidak memiliki sayap yang bisa menghasilkan serbuk peri yang kamu inginkan," kata Ana."Itulah kebodohanmu dan peri Perilaria lainnya, Ana." Viola tertawa keras sebelum melanjutkan kalimatnya, "Setiap peri Perilaria lahir dengan serbuk peri, termasuk dirimu, peri tanpa sayap.""Kalau begitu, kamu juga memiliki serbuk peri?"Viola menganggukkan kepalanya. "Tapi tentunya aku tidak bisa mengorbankan diriku sendiri untuk sayap yang sudah selama ini kuinginkan, bukan?"Viola membuka tutup botol itu dengan gerakan pelan, seakan berusaha menikmati ketakutan Ana yang ada di hadapannya saat ini. Namun, tanpa disadarinya, dari balik tubuhnya, Sunny dan Sea sedang memberi tanda kepada Ana untuk tidak berteriak dan tidak melihat ke arah mereka.Begitu Viola mengarahkan botol itu ke arah Ana, Sunny dan Sea mendorong Viola hingga tubuhnya jatuh menabrak lemari dinding penuh botol kaca. Seluruh botol kaca bergetar hebat di posisi mereka masing-masing. Viola menatap botol-botol kaca itu dengan cemas sehingga ia kembali berdiri dengan satu gerakan cepat. Ia meraih botol kaca kosong tadi dan berusaha membuka tutup botol yang sudah hampir terbuka itu sambil kembali mengarahkannya kepada Ana.Sunny dan Sea segera terbang mendekati Viola dan mendorongnya kembali menjauh hingga botol kaca itu lepas dari tangan Viola dengan tutup yang sudah terbuka. "Tidaaaaaaak!" Viola berteriak kencang dengan kelopak mata terbuka lebar.Tangannya di arahkan ke arah botol yang sudah terbuka dan masih berputar di atas lantai. Belum juga menyerah, Viola segera berdiri dan berlari mendekati botol itu. Sayangnya, terlambat. Botol itu berhenti menghadap ke arah Viola dan perlahan menyerap serbuk peri dari tubuh Viola.Sebelum serbuk perinya berhasil tersedot habis, Viola berusaha menarik Sunny dan Sea yang ada di dekatnya untuk menggantikan dirinya, tapi dirinya kembali jatuh dan malah mendorong lemari berisi botol kaca serbuk peri hingga jatuh. Semua botol kaca itu jatuh dan pecah tepat ketika semua serbuk peri sudah tersedot habis dari diri Viola masuk ke dalam botol kaca yang kosong dan tertutup dengan sendirinya.Serbuk peri memenuhi lantai ruangan. Tubuh Ana merosot turun dari dinding menara hingga terduduk di atas lantai diselimuti oleh serbuk peri yang bersinar terang. Ana menatap semua yang ada di hadapannya dengan pandangan kosong. Ini semua terjadi terlalu cepat sehingga belum berhasil dicernanya dengan sempurna."Viola bilang jika ini semua adalah serbuk peri Perilaria," kata Ana dengan pandangan kosong mengarah ke jendela persegi menara ini. Ia menatap jauh ke arah hutan yang gelap. "Apa kalian tahu ini semua?" tanya Ana lagi.Sunny dan Sea menganggukkan kepala mereka. "Kami sudah mulai curiga ketika perlahan, tapi pasti. Satu per satu peri Perilaria menghilang entah ke mana dan anehnya, peri-peri yang hilang memiliki satu hal yang sama. Mereka adalah peri yang hidup penuh dengan ambisi ingin memiliki serbuk peri yang lebih banyak saat mengepakkan sayap," jelas Sunny."Kami memberanikan diri untuk mencarimu di sini ketika tidak berhasil menemukanmu di mana-mana, dan ternyata benar, kamu dibawa oleh Viola." Kali ini Sea yang angkat bicara.Ana menangkup serbuk peri dengan kedua telapak tangannya. "Viola menipuku? Kenapa dia berbuat jahat?""Viola lahir tanpa sayap, sama sepertimu. Dia percaya jika dirinya bisa memiliki sayap seperti peri Perilaria lainnya jika dirinya mandi serbuk peri dari seluruh jenis peri bunga di Perilaria. Sehingga dia mulai mengumpulkan serbuk peri dari setiap kepakkan sayap kami ketika kami berusaha memekarkan bunga, menurunkan hujan, memunculkan pelangi, dan menghangatkan Perilaria. Tindakannya itu membuat sepanjang tahun di Perilaria menjadi kacau, tidak ada satu pun bunga yang berhasil mekar, hujan tidak turun membasahi Perilaria, tidak pernah ada pelangi yang muncul setelah hujan, dan kedinginan panjang melanda sepanjang musim dingin di Perilaria dan Viola dengan bangganya muncul memamerkan sayap yang berhasil didapatkannya dari mengacaukan Perilaria. Tindakan egoisnya itu membuat Viola diusir dari Perilaria. Sejak saat itu, satu per satu peri mulai hilang dan tidak pernah kembali," jelas Sunny, mengingat kembali masa kelam yang sudah dilalui Perilaria karena keegoisan Viola.Sea memeluk dirinya sendiri sambil berkata, "Kami begitu kaget melihatmu lahir tanpa sayap dari bunga yang terakhir mekar. Kami takut kamu akan sama seperti Viola sehingga kami tidak berani langsung menceritakan tentang Viola padamu. Kami takut kamu akan melakukan hal yang sama seperti Viola pada Perilaria."Sunny mengambil botol terakhir yang terisi dengan serbuk peri Viola. "Kami akan menyiramkannya padamu. Kami tidak ingin pengorbanan peri-peri lain yang serbuk perinya diambil oleh Viola berujung sia-sia."Sunny dan Sea membuka botol kaca terakhir itu bersama-sama dan menyiramkan serbuk peri di dalamnya pada Ana dari atas kepala. Ketika serbuk peri terakhir jatuh menyentuh tubuh Ana, mendadak tubuh Ana terangkat dan bersinar terang seperti serbuk peri yang biasa muncul dari kepakkan sayap peri Perilaria. Tubuh Ana berputar dengan sendirinya di tengah-tengah ruangan. Perlahan sepasang sayap muncul dan mengepak dengan indahnya di hadapan mereka.***Sejak saat itu, Ana terus mengingat perkataan Viola mengenai setiap peri Perilaria lahir dengan serbuk peri pada diri mereka, meskipun tidak bersayap. Perkataan Viola itu membuat Ana melatih dirinya untuk menghasilkan serbuk peri dari bagian-bagian tubuh yang diinginkannya sehingga saat ini peri Perilaria bisa menghasilkan serbuk peri bukan hanya dari kepakkan sayap mereka lagi. Mereka bisa menghasilkan serbuk peri dari telapak tangan bahkan telapak kaki mereka.Hal itu membuat peri Perilaria tidak pernah sedih atau pun takut lagi ketika mendapati peri Perilaria lahir tanpa sayap. Mereka malah dengan senang hati mengajarkan peri tanpa sayap untuk menghasilkan serbuk peri dari setiap sentuhan tangan dan kaki mereka. Meskipun peri tanpa sayap tidak dapat terbang tinggi, tapi mereka memiliki peranan yang sama pentingnya dengan peri bersayap lainnya seperti menyuburkan tanah ketika musim semi, mengumpulkan air ke dalam tanah untuk cadangan musim panas, menguningkan daun-daun di musim gugur, dan ikut menghangatkan seluruh Perilaria di musim dingin hingga ke dalam tanah-tanahnya.

ADA DINOSAURUS DI BELAKANG RUMAHKU
Folklore
19 Jan 2026

ADA DINOSAURUS DI BELAKANG RUMAHKU

Sejak aku menonton tayangan dokumenter beberapa bulan yang lalu, aku tidak bisa melihat ayam seperti dulu lagi. Tidak peduli betapa sukanya aku dengan rendang ayam buatan Oma atau ayam goreng cepat saji di mal yang renyah dan berminyak itu. Tetap saja aku sudah pantang memakannya.Ahli paleontologi yang mengenakan baju safari di video itu bilang kalau ayam yang biasa kami makan itu adalah evolusi dari dinosaurus. Yang menakjubkan lagi, ayam ternyata adalah kerabat dekat dari Tyrannosaurus Rex . Walau itu fakta yang membuatku kagum, aku sedikit kasihan pada T-Rex. Katanya kondisi bumi yang ekstrem dan tidak sehat telah memaksa tubuh mereka mengecil melalui proses evolusi jutaan tahun. T-Rex yang gagah perkasa kini menjadi unggas lezat yang dimangsa manusia setiap saat.Sekarang aku kerap menolak kalau ditawari ayam goreng—demi menghormati leluhur mereka yang seram sekaligus menakjubkan.Aku terobsesi pada T-Rex sejak seseorang menghadiahiku boneka karet berbentuk reptil kuno itu di ulang tahunku yang kedua. Padahal warnanya sedikit luntur dan lampu yang menyala—jika aku mengguncangnya—sudah rusak di hari ketiga aku memainkannya. Kebanyakan anak akan berpendapat kalau itu bukan hadiah ulang tahun yang terbaik. Namun, itulah yang mengubah hidupku.Sejak saat itu kamarku mulai berubah. Awalnya Ayah memasang wallpaper bergambar bintang dan planet. Dia berharap aku menjadi seorang astronaut. Kebetulan dia adalah astronom yang bekerja sebagai dosen. Namun sayangnya, itu tidak akan terjadi. Bukannya aku tidak menganggap profesi astronaut itu keren, tapi aku punya cita-cita lain yang sudah bertahan selama tujuh tahun.Aku mau menjadi ahli paleontologi.Kini kamarku bernuansa era Cretaceous akhir. Bukan Jurassic. Walaupun Tyrannosaurus Rex menjadi terkenal sejak menjadi antagonis utama di film Jurassic Park—dia sebenarnya berasal dari era Cretaceous . Itu sekitar 30 juta tahun sebelum tumbukan asteroid yang memusnahkan dinosaurus. Aku kerap memamerkan pengetahuanku ini pada sepupuku atau Oma dan siapa pun yang bersedia mendengarnya. Tidak banyak yang tahu fakta itu. Yah, walaupun tidak banyak yang peduli juga.Meskipun T-Rex tidak lahir pada era Jurassic—aku tetap menempel poster film Jurassic Park karya Stephen Spielberg. Aku juga punya koleksi figur dinosaurus yang lumayan banyak. Aku tidak mau bilang kalau aku pasti akan melengkapinya karena ada lebih dari 700 spesies dinosaurus. Kebanyakan toko hanya menjual jenis yang populer seperti Brachiosaurus, Pteranodon, atau Ankylosaurus .Aku tidak perlu menyebut T-Rex karena semua anak mengenalnya. Siapa yang tidak akan kagum mengetahui reptil raksasa berahang besar dengan gigi menyeramkan itu pernah hidup di bumi? Walau mulai ada yang bilang kalau Spinosaurus lebih menakutkan, T-Rex tetap yang paling keren buatku."Jadi, kamu mau menjadi seperti Indiana Jones atau Lara Croft?" salah seorang pamanku yang masih lajang berkomentar. Pertanyaan itu selalu saja diulangnya setiap tahun ketika berkumpul di hari raya lebaran. Seakan-akan aku tidak punya minat lain selain dinosaurus. Oke, dia tidak sepenuhnya salah, tapi aku juga suka main game konsol, walaupun salah satu judul game -nya 'Jurassic World'.Pertanyaannya salah. Lara Croft yang populer dari game Tomb Raider itu wanita, sementara aku sudah disunat dua tahun lalu. Selain itu Lara Croft dan Indiana Jones itu juga berprofesi sebagai arkeolog."Beda, Om! Mereka itu arkeolog, kerjanya meneliti piramida atau Candi Borobudur. Kalau aku ingin menjadi paleontolog yang kerjanya meneliti hewan-hewan purbakala!" sergahku. Aku tidak tahu kenapa aku harus menjelaskannya. Dia mungkin akan bertanya itu lagi tahun depan."Alah, sama saja. Yang kerjanya gali-gali tulang itu, kan?" katanya sambil menyeringai kemudian dia berlalu pergi tidak peduli sambil membawa sepiring ketupat dan opor ayam.Kenapa dia harus basa-basi kalau hanya ingin membuatku kesal, sih?Aku pun melirik meja makan. Masakan lebaran di rumah Oma cukup umum. Ada ketupat, sambal goreng ati kentang, dan opor ayam. Aku menyiduk sayur labu siam serta beberapa sendok sambal goreng ati kentang lantas memakannya lahap.Aku baru puasa makan ayam sekitar satu bulan dan lama-lama aku merasa itu keputusan konyol. Aku bukan vegetarian. Sayangnya, aku sudah terlanjur pengumuman ke keluargaku. Akan memalukan kalau aku menyerah dan kembali makan ayam secepat itu.Aku, Ibu, dan Ayah tinggal bersama Oma di daerah kampung. Namun, Ayah lebih sering menginap di rumah dinas dekat tempat kerjanya. Aku anak tunggal dan ibuku juga bidan yang sibuk di puskesmas. Jadi, aku lebih sering tinggal berdua dengan Oma."Rafa, tolong lepas si Jalu biar makan di luar, Nak," Oma menyuruhku.Aku mengangguk dan dengan patuh mencuci piringku sebelum memakai sandal dan pergi ke halaman belakang. Rumah Oma luas. Lebih tepatnya, kebunnya. Kalau bangunan rumahnya sih tidak terlalu besar. Dia membangun kandang ayam di dekat pohon bambu.Si Jalu adalah nama ayam betina. Aku tahu nama Jalu seharusnya tidak cocok dengannya, tapi Oma memeliharanya sejak dia menetas dari telur. Ekspresinya tajam dan galak. Dia rajin bertelur karena itu Oma tidak mau menyembelihnya. Lagi pula, rasa ayam petelur tidak terlalu enak.Aku membuka pintu kandang, beberapa ekor ayam berhamburan keluar dan sibuk berkotek sambil mematuki tanah, lalu seperti biasa aku merogoh ke dalam kandang dan melihat si Jalu yang diam saja. Dia tidak mau keluar kandang. Apa dia sakit?Sepertinya tidak. Dia sedang mengerami telurnya. Itu aneh karena dia biasanya tidak peduli pada telurnya. Kucoba menyingkirkan badannya karena ingin melihat lebih jelas. Tampaknya dia bertelur beberapa butir. Aku akan membiarkannya. Mungkin besok bisa kuambil telurnya.Aku pun kembali ke rumah Oma untuk makan ketupat opor untuk kedua kalinya.***Aku selalu berpikir kalau aku sedikit kurang beruntung karena lahir di Indonesia. Bukannya mau mengeluh. Negeri ini jelas kaya akan budaya dan keindahan. Hanya saja tidak pernah ada dinosaurus yang ditemukan di Indonesia.Mungkin tidak akan pernah karena dinosaurus sudah punah enam puluh lima juta tahun yang lalu. Sementara kepulauan Indonesia baru terbentuk setelahnya.Jika aku menjadi ahli paleontologi, mungkin aku akan lebih sering bertemu fosil manusia purba di Sangiran atau fosil mamalia serupa gajah seperti stegodon. Apakah aku harus menyerah? Karena kalau ingin menemukan fosil dinosaurus, aku harus bekerja di benua lain seperti Amerika. Ayah bilang di sana sulit masuk jurusan paleontologi, apalagi untuk warga negara asing.Aku pernah mengeluhkan ini pada ibu guru, dia malah bilang kalau terlalu dini bagi anak umur sembilan tahun sepertiku untuk memikirkan jurusan kuliah. Paman dan bibi lebih tidak suportif lagi. Mereka bilang jangan sampai salah pilih jurusan seperti Ayah yang seorang astronom. Sudah mana kuliahnya sulit, cari kerjanya susah.Apa iya bercita-cita menjadi ahli dinosaurus itu aneh? Kurasa itu cita-cita yang lebih masuk akal daripada celetukan temanku yang ingin jadi astronaut atau presiden. Maksudku, berapa persen orang di dunia yang punya kesempatan itu?"Tidur, Rafa! Sudah malam!" Oma berseru. Dia pasti melihat lampu kamarku menyala. Aku pun sadar sudah terlalu lama melamun. Ibu tiba-tiba harus ke kampung sebelah karena ada yang melahirkan lebih cepat. Ayah sudah mendengkur di kamar sebelah. Aku pun mematikan lampu dan meringkuk ke balik selimutku.Bzzz ... bzzz ... bzzz ....Oma suka keheningan ketika waktu tidur. Dia terbiasa tertib karena buyutku seorang tentara. Karena itu, suara sekecil apa pun terdengar. Entah obrolan remeh para laki-laki di pos ronda atau teriakan tukang sate.Bzzz ... bzzz ... bzzz ....Namun, masa mereka tidak dengar, sih? Seperti ada sekawanan lebah yang bersiap menyerang membawa ribuan bala tentaranya. Oma biasanya mengomel keluar kalau para hansip dan pria yang kebagian jadwal siskamling terlalu berisik.Bzzz ... bzzz ... bzzz ....Serius? Masa mereka tidak ada yang dengar, sih?Aku beringsut malas dari kasur dan membuka jendela. Sesuatu yang luar biasa terang menerpa mataku yang sudah beradaptasi dengan kegelapan. Ibaratnya seperti ketika tengah malam seseorang menelepon dan mata terpaksa harus menyipit karena cahaya ponsel yang terlalu silau.Aku takut dan segera menutup jendela keras, lalu kutarik kembali selimutku dan tidur dalam posisi meringkuk.Itu bukan apa-apa. Aku hanya salah lihat.Aku setengah mati berusaha mengabaikannya sampai terlelap.***Aku pasti kebanyakan main game . Kurasa aku akan mencoba menjadi anak baik dan tidak lagi diam-diam main ponsel di luar aturan rumah Oma. Mereka bilang terlalu sering pegang ponsel bisa membuat otakmu mengecil. Aku tahu orang tuaku mungkin hanya menggertak, tapi itu bisa saja benar.Waktu subuh, tugasku adalah ke kandang ayam untuk mengambil telur dan melepaskan lagi ayam-ayam itu di kebun Oma.Cahaya yang kulihat semalam tadi. Mungkin hanya khayalanku atau kilatan petir. Sayangnya, rasa percaya diriku punah ketika melihat kandang ayam Oma.Ada bau gosong!Apakah kilat kemarin malam membakar kandangnya? Walau ada sedikit noda arang, sepertinya kandang kayu itu tidak terbakar.Aku pun memberanikan diri membuka pintunya.Ayam-ayam itu masih hidup dan melihatku dengan tatapan seperti menuduh. Ya, hari ini aku agak kesiangan. Kaki mereka mungkin sudah pegal dan ingin segera berlarian di tanah.Jalu, sudah tidak mengeram.Tunggu, ada yang aneh.Salah satu telurnya jadi besar. Seperti telur burung unta. Bukan! Lebih besar lagi dan coraknya juga tidak pernah aku lihat. Ukuran telur itu mungkin sudah melebihi Jalu. Pantas saja dia tidak mau mengeram lagi.Masalahnya Itu jelas bukan telur ayam!Aku mengamatinya selama beberapa menit sebelum sebuah retakan muncul di cangkangnya. Aku melihat cakar. Mirip ayam. Lalu beberapa helai bulu. Ya, itu mungkin memang ayam yang terlalu besar. Cangkangnya akhirnya terbuka dan aku melihat jelas matanya yang besar menatapku.Tidak ada paruh.Itu bayi T-Rex. Tanpa sadar aku tersenyum, padahal jelas semua ini aneh dan menakutkan.***Sudah dua minggu berlalu. Bayi T-Rex itu kini serupa dengan buaya kecil. Dengan dua kaki depan yang mungil dan kaki belakang yang sudah bisa melangkah kokoh. Dia kini melahap seekor ikan lele dengan gigi tajamnya sambil menatapku menggunakan matanya yang besar.T-Rex kecil terlihat sama imutnya dengan anak kucing. Aku yakin ini T-Rex, bukan kadal. Ini sangat keren! Aku adalah satu-satunya anak yang punya peliharaan T-Rex di kampung ini. Salah. Maksudku di dunia!Namun, aku harus menjaganya agar tidak ditemukan Oma atau Ayah. Mereka tidak akan tertipu kalau aku bilang Joey adalah kadal, apalagi buaya. Mereka sangat tahu bentuk T-Rex. Lagi pula, kalau Joey benar adalah buaya, mereka juga akan panik. Joey akan dijemput oleh polisi dan mereka mungkin akan membawanya ke kebun binatang untuk diteliti.Oh iya, aku memberi nama dinosaurusku Joey.Tubuhnya membesar dengan cepat. Aku harus memisahkannya di kandang lain karena khawatir dia bisa memangsa ayam milik Oma. Itu terdengar wajar, tapi bagiku itu perbuatan kanibal. Ayam dan T-Rex itu bersaudara."Aku bawa ini untuk Joey." Itu adalah Mika, sepupuku. Libur lebaran berbarengan dengan libur semester. Jadi, dia akan lama di kampung. Dia seumuran denganku dan selalu memakai rok. Aku tidak punya pilihan. Seseorang harus membantuku mengurus Joey.T-Rex adalah pemakan daging. Aku tidak punya cukup uang jajan untuk membeli ikan lele. Jadi, aku mengajak Mika untuk bergabung dalam rahasia kecilku. Dia bukan penggemar berat dinosaurus sepertiku, tapi melihat T-Rex hidup tetap luar biasa baginya. Dia bersedia menghabiskan angpau lebarannya untuk membeli makanan Joey asalkan bisa ikut dalam proyek ini.Aku dan Mika tiap sore berkunjung ke kandang sambil membawa makanan dan buku catatan. Aku dan dia berpura-pura menjadi peneliti dan mengamati perilaku T-Rex. Aku bilang ini proyek pemerintah. Mika senang merasa menjadi orang penting. Dia selalu menjadi ketua kelas dan membantu para guru.Aku melihat dia membawa semangkuk jangkrik dan menyodorkannya pada Joey."Beli di mana?""Ini makanan burung, tadi aku beli di pasar.""Joey bukan burung!" protesku."Katanya dia bersaudara dengan ayam." Mika tidak mau kalah.Aku melihat Joey menggigit salah satu jangkriknya dan tampak mengunyahnya, tapi dia lalu membuang apa pun yang tersisa dari jangkrik itu ke tanah."Dia tidak suka." Aku menggeleng. Tanganku mencatat di jurnal. Aku membeli sebuah buku khusus untuk mencatat keseharian Joey."Dia hanya suka lele dan aneka ikan. Harganya tidak murah. Apa kau bisa mengajarinya makan singkong saja?" Mika memberi usul."Dia itu karnivora.""Suruh dia bersuara lagi." Mika mengeluarkan ponselnya. Ya, kami punya banyak rekaman Joey. Aku merekamnya sejak dia masih baru menetas, tapi kami belum membaginya pada siapa pun. Kami terlalu takut Joey akan diambil orang jahat."Dia tidak menggeram seperti serigala atau mengaum seperti singa. Dia membuka mulutnya hanya kalau dia makan dan perlu menggigit," aku memberi tahu.Ya, satu hal yang kalian mungkin tidak tahu. Suara T-Rex tidak terlalu menakutkan. Dia tidak sering membuka rahangnya dan bersuara kecil seperti anak burung ketika baru menetas. Ketika dewasa dia hanya akan sedikit menggeram dan mendesis. Kalau kalian penasaran kalian bisa membuka ponsel kalian dan mencari tahu suara buaya di internet.Karena dia pendiam, Oma dan keluargaku lainnya tidak pernah bertemu Joey."Kau harus memikirkan rumah baru untuknya. Dia semakin besar," Mika mengingatkan.Besok dia harus pulang ke Jakarta. Dia tidak bisa lagi membantuku memberi makan Joey. Apakah aku harus memberitahu Pak RT soal ini? Oma mungkin akan panik dan meminta hansip membuang Joey ke kebun binatang.Memikirkannya saja aku sudah sedih."Kita cari orang tuanya, biar dia yang merawatnya," kata Mika lagi seakan bisa meraba keresahanku."Orang tuanya?""Yang menempatkan telur Joey di kandang ayam Oma. Kau bilang satu malam sebelumnya ada cahaya terang di kebun Oma. Mungkin dia orang tuanya," kata Mika lagi.***Aku tidak pernah benar-benar berpikir kalau Joey punya orang tua. Kukira Jalu adalah ibunya. Yah, walau setelah kupikirkan itu tidak mungkin. Telur Joey mungkin lebih besar dari tubuhnya. Seseorang pasti menaruh telur itu di kandang, tapi siapa?Karena itulah aku di sini sekarang. Jam sebelas malam. Di kebun Oma dekat kandang ayam. Tubuhku kedinginan dan dikerubuti nyamuk. Oma dan Ibu pasti akan berteriak dan membangunkan tetangga kalau tahu malam-malam aku main ke kebun. Semoga mereka tidak tahu aku menyelinap keluar.Aku berharap bisa melihat lagi cahaya itu. Aku tahu kalau seseorang beberapa kali berkunjung dan memberi makan Joey. Bukan aku atau Mika.Mataku hampir terpejam sempurna karena bosan menunggu. Sebenarnya kebun belakang rumah Oma tidak terlalu sepi. Ada pos ronda di dekat sana dan sekarang ada yang sedang main gitar menyanyikan lagu-lagu yang tidak kukenal.Cahaya itu terlihat lagi. Sangat terang dan menyilaukan. Itu membuatku terjaga sepenuhnya. Aku heran bagaimana mungkin para pemuda yang duduk-duduk di pos ronda tidak menyadarinya?"Halo."Aku sangat terkejut dan melempar tubuhku sendiri mundur.Seseorang menyapaku. Dia hadir dari cahaya terang yang kulihat tadi. Matanya biru dengan rambut perak. Dia tersenyum padaku memperlihatkan giginya. Dia seperti anak SMP yang memakai baju menyelam."Terima kasih sudah menjaga makhluk ini untukku, seharusnya dia tidak lahir di sini," katanya lagi dengan logat yang aneh."Siapa kamu?""Namaku Zorro, seorang astronaut.""Astronaut?""Bukan astronaut bumi, aku dari planet yang jauh dari sini," katanya lagi.Aku memiringkan kepalaku berusaha mengerti."Makhluk ini jatuh dari lab kami ke rumahmu. Kami tidak bisa menjemputnya kembali sampai dia benar-benar siap," katanya lagi."Dia adalah Tyrannosaurus Rex dan namanya Joey. Apa maksudmu kalau dia akan dijemput sampai dia benar-benar siap? Kapan itu terjadi?""Manusia, siapa namamu?""Aku Rafa, kelas tiga SD dan bercita-cita menjadi ahli paleontologi! Joey adalah dinosaurusku," kataku lantang."Rafa, Joey tidak seharusnya ada di bumi. Mereka sudah punah.""Tapi dia ada di sini dan hidup. Lihat, dia bermain dan mengejar ayam milik Oma." Aku menunjuk ke arah Joey yang sudah lepas dari kandangnya dan mengejar ayam yang ketakutan."Dia tidak bermain, dia ingin berburu. Ini bukan habitatnya. Telurnya tanpa sengaja terjatuh di rumahmu dan kami menunggu dia cukup kuat untuk kami bawa ke penangkarannya," kata Zorro memberitahu."Dia akan semakin besar. Ikan lele tidak lagi cukup untuk perutnya. Dia bisa memakan sapi atau kuda bahkan dirimu ketika usianya belum genap dua tahun," katanya lagi.Aku tahu fakta itu. Aku pun sudah menyiapkan diriku untuk berpisah. Ini dua minggu paling luar biasa dalam hidupku. Aku ingin terus bermain bersamanya dan pernah membayangkan suatu hari menunggangi punggungnya. Namun, aku tahu kalau Joey butuh tempat lebih aman."Bisakah aku mengantarnya? Aku sudah membesarkannya selama dua minggu dan kurasa aku berhak memastikannya aman dan baik-baik saja," aku memohon.Zorro terlihat berpikir dan dia tampak berkomunikasi dengan seseorang menggunakan ponsel yang tidak mirip ponsel."Baiklah, tapi apa kamu pernah naik pesawat?" katanya lagi."Pesawat? Pernah waktu tahun kemarin kami berlibur ke Bali," kataku percaya diri.***Rasanya tidak sama dengan naik pesawat komersial. Aku merasa sedang menaiki lift. Zorro bahkan tidak membiarkanku duduk. Dia berdiri di sebelahku dengan pakaiannya yang seperti baju selam berwarna gelap, sementara aku dengan setelan baju bola dan sarung di leherku.Zorro mungkin bisa disebut alien dan aku sedang menaiki pesawat UFO-nya sambil menggendong bayi T-Rex di tanganku.Aku bersemangat sekali. Katanya Zorro akan mengantarku ke labnya. Apakah itu artinya aku bisa bertemu hal lain yang lebih keren dari semua ini?"Jadi, apa pekerjaanmu? Kau bilang kau astronaut?" aku basa-basi bertanya."Ya, aku ke sini untuk belajar tentang bumi termasuk semua makhluk hidup yang pernah tinggal di bumi," kata Zorro."Seperti dinosaurus?""Ya, mereka makhluk yang menakjubkan. Ratusan juta tahun yang lalu, oksigen sangat melimpah di bumi. Itu membuat banyak hewannya berfisik raksasa seperti dinosaurus. Bumi sudah berumur empat milyar tahun lebih dan banyak sekali makhluk yang pernah menghuninya, tapi aku sangat tertarik dengan reptil ini," kata Zorro lagi."Aku paham! Mereka memang sangat keren!" Sepertinya aku dan Zorro punya kemiripan. Kami berdua sama-sama suka dengan dinosaurus.Aku melihat kalau pintu pesawat itu telah membuka. Namun, tidak melihat laboratorium seperti di rumah sakit. Ini seperti sebuah kebun binatang tanpa teralis yang mengurung para hewannya. Mataku berbinar. Rasa kantukku hilang. Tempat ini berada di sebuah lembah dan sangat terang. Lengkap dengan perbukitan yang sejuk dan air terjun yang jernih."Apakah kita berada di planet lain?" aku dengan lugu bertanya."Apa? Tidak. Kami menciptakan tempat rahasia ini di bumi. Tidak ada manusia lain yang tahu selain kamu." Zorro tersenyum.Aku mendengar Joey bersuara. Dia ingin menapak ke tanah. Ketika aku turun dari pesawat Zorro, aku pun disambut oleh lusinan Stegosaurus yang memiliki sirip layar di sepanjang tubuhnya. Ini sangat keren! Mereka sudah berukuran dewasa dan persis seperti yang kubayangkan."Joey adalah dinosaurus karnivora pertama yang kami bangkitkan kembali. Kita membuat telurnya di tempat terpisah. Sambaran petir mengenai lab kami dan memaksa kami untuk segera menurunkannya ke bumi," Zorro menerangkan.Aku tidak hentinya merasa takjub atas pengalaman ini. Dari sekian banyaknya rumah yang bisa disinggahi oleh telur Joey, kenapa rumahku yang terpilih? Bukankah ini terlalu kebetulan? Karena aku juga seorang penggila dinosaurus.Zorro menerangkan padaku kalau lembah ini terputus aksesnya dari manusia. Suatu saat nanti mereka akan membawa hewan-hewan eksotis dari planet bumi untuk dikumpulkan di planet lain yang mereka pilih.Zorro bilang, bangsa mereka sudah menjelajah ribuan tata surya, tapi tidak banyak planet yang seindah dan semenakjubkan bumi. Dia bilang planet seperti bumi sangat langka di alam semesta dan berpesan untuk terus menjaganya karena untuk saat ini bumi adalah rumah kami satu-satunya.Aku pun merasa kagum mendengar itu karena alam semesta memiliki jutaan galaksi dan triliunan bintang. Ada ratusan triliun planet dan banyak dari mereka memiliki oksigen seperti bumi. Zorro bilang suatu hari nanti bangsa manusia juga bisa menjelajah angkasa.Aku jadi memahami kenapa Ayah yang astronom selalu meneropong ke langit dengan mata berbinar. Dia merindukan sesuatu di angkasa dan yakin kalau manusia tidak sendirian. Seandainya Ayah yang mengalami ini semua dia pasti sangat senang.Zorro mengajakku berinteraksi dengan para dinosaurus bahkan mengizinkanku menunggangi Brachiosaurus yang sangat tinggi! Lalu aku merasa lelah dan baru sadar kalau aku belum tidur. Aku sudah terlalu lama berjaga dan mataku memaksa untuk terpejam.Aku menguap dan Zorro memintaku kembali ke pesawatnya.Aku pun terbangun di ranjangku sedikit lebih siang. Aku hampir melewatkan salat subuh dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudu.Setelahnya aku berkunjung ke kandang Joey dan mengetahui kalau dia sudah tidak ada. Entah di mana lembah itu berada, tapi aku mungkin akan mencarinya.Aku melihat Mika datang menghampiriku sambil membawa beberapa ekor ikan. Siang ini dia seharusnya sudah berangkat ke Jakarta."Mana Joey?" tanyanya.Aku tersenyum. Semua yang kualami itu bukan mimpi. Joey benar pernah menjadi dinosaurus peliharaanku."Dia sudah berada di tempat yang aman bersama Zorro," kataku.Aku pun dengan semangat menceritakan semua pengalamanku. Foto-foto dan video Joey akan kami simpan sampai kami perlu menceritakannya. Mungkin nanti, ketika kami bukan anak-anak lagi dan orang dewasa mau mendengarkan kami."Kamu sudah bertemu dinosaurus, apa setelah ini kamu tetap mau menjadi seorang ahli paleontologi?" tanya Mika."Tentu saja!" jawabku tegas."Tapi menjadi astronom juga tidak buruk. Mungkin aku akan menemukan planet di mana Zorro tinggal," kataku lagi.Sungguh alam semesta ini sangat luas dan ilmu pengetahuan tidak bertepi. aku meyakini kalau di salah satu sudut bumi para dinosaurus masih hidup dipelihara alien cerdas dari tata surya lain. Namun, aku tidak akan pernah menemukan mereka lagi kalau aku tidak cukup belajar. Zorro mengajariku kalau manusia bisa melakukan apa pun termasuk membangkitkan kembali dinosaurus dengan terus belajar dan mengembangkan ilmu.

PENYIHIR, SANG PUTRI, DAN SI TANGAN MERAH
Folklore
19 Jan 2026

PENYIHIR, SANG PUTRI, DAN SI TANGAN MERAH

Negeri Whitehaven gempar oleh kabar hilangnya putri kerajaan.Sudah bertahun-tahun lamanya sejak pengumuman ditempel di alun-alun seluruh kota, yang mengungkapkan bahwa Putri Whitehaven telah diculik penyihir di puncak Gunung Merah di hari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Raja menawarkan imbalan sepuluh ribu keping emas kepada siapa saja yang mampu membunuh sang Penyihir. Beberapa rakyat mencoba, mulai dari penjagal bertubuh besar hingga gelandangan kurus yang kelaparan. Namun, tidak ada satu pun yang berhasil mendaki lebih dari setengah jalan menuju puncak.Desas-desus menyebar cepat bagai kobaran api. Penduduk tidak hentinya memperbincangkan ini di bar, pasar, bahkan di acara minum teh para bangsawan. Konon katanya, Gunung Merah memiliki mata yang tersembunyi di tanah sehingga setiap langkahmu diawasi dan selalu ada sulur yang siap mengikat pergelangan kakimu. Pria-pria bertubuh besar tidak mampu menghindari serangan bebatuan longsor dan yang lainnya terjebak dalam kubangan lumpur hisap. Gosip lain mengatakan seorang pemuda berhasil mencapai pondok Penyihir, tapi kemudian terlempar kembali ke depan pintu rumahnya sendiri dalam keadaan tidak waras.Jervin sudah mengumpulkan beberapa aturan penting. Pertama, jangan menatap mata sang Penyihir. Kedua, jangan mendengar bisikan sang Penyihir. Ketiga, miliki sihir untuk mengimbangi kekuatan sang Penyihir."Taruhan lima keping emas kalau kau tidak akan berhasil," cemooh salah satu pengunjung bar."Hanya lima? Aku berani bertaruh sepuluh bahwa Jervin si Penjelajahlah yang akan membawa sang Putri pulang," kata pemilik bar. Dia memandang Jervin untuk memberi dukungan. "Aku percaya padamu, Jervin. Kau legendaris di kampung halamanku."Tentu saja, Jervin bukan anak kemarin sore. Dia pernah mendaki gunung tertinggi, mengarungi samudra terluas, dan menjelajahi hutan terkejam sekalipun. Orang-orang menyebutnya Jervin si Penjelajah, Jervin Penakluk Troll , dan masih banyak lagi.Maka, pagi-pagi sekali Jervin sudah bersiap-siap. Setelah menyimpan kertas pengumuman yang disobek ke sakunya, dia mengencangkan sabuk, menarik sarung tangan tebal, dan memasang sepatu bots. Selama perjalanan itu dia bersenandung, membayangkan sepuluh ribu keping emas yang membanjiri rumah kayunya. Kira-kira apa yang akan dia lakukan dengan harta sebanyak itu? Mungkin membeli rumah baru yang lebih besar dan dia masih akan memiliki sisa setengahnya lagi.Dengan cekatan dia menghindari kubangan lumpur hisap dan hujan batu. Beberapa sulur nakal berlomba untuk menjerat kakinya, tapi dengan mudah ditepis Jervin dengan tongkat perjalanannya. Di lembah, dia berpapasan dengan kakek tua yang menghalangi jalannya."Pulanglah, Anak Muda," kata Kakek itu dengan suara serak. "Aku tahu apa yang ingin kau cari. Percayalah, aku sudah banyak melihat korban jiwa yang berjatuhan. Orang-orang pulang hanya dengan sebelah kaki, kehilangan mata, atau menjadi sinting."Jervin tersenyum percaya diri, sama sekali tidak gentar. "Aku Jervin si Penjelajah, jika aku pulang dengan sebelah kaki, maka itu adalah kaki si Penyihir jahat, Pak Tua."Si Kakek mengikuti Jervin yang terus melangkah. Menyeimbangkan langkah lebar Jervin, orang tua itu harus berlari kecil-kecil hingga napasnya pendek. "Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi, Dasar Pembangkang. Di tengah jalan menuju puncak ada troll yang mengintai!"Ancaman si Kakek menggelitik Jervin. "Pak Tua, tidak ada troll yang belum pernah kutaklukkan selama ini. Tunjukkan sarangnya dan biarkan aku yang menemuinya."Si Kakek menyetujui, biarpun dia heran bagaimana caranya Jervin yang memiliki tubuh kecil mampu mengalahkan troll yang ukurannya lima kali lipat lebih besar. Bersama Jervin, mereka berjalan bersama menuju lokasi kediaman troll . Matahari sudah hampir terbenam saat mereka tiba di depan sebuah goa yang lebar. Si Kakek cepat-cepat bersembunyi di balik semak, sedangkan Jervin berdiri dengan tegap dan mengangkat tongkatnya sambil berseru lantang."Wahai, Makhluk Besar, keluarlah!"Tanah yang mereka pijaki mulai bergetar, diikuti suara gemuruh dan geraman dari dalam goa. Hentakan keras langkah troll membuat si Kakek terlompat-lompat dari persembunyiannya, tapi kedua kaki Jervin masih berdiri kokoh. Di depan Jervin, menjulang sekitar tiga meter tingginya, berdirilah sesosok troll laki-laki. Kulitnya keabuan, dan dia tidak mengenakan apa pun selain kain tebal kasar yang menutupi bawah tubuhnya. Wajah si troll tampak tidak ramah, jelas tidak senang ada yang menginterupsi waktu tidurnya."Katakan apa yang kau inginkan, Kurcaci. Jika alasanmu tidak memuaskan, kau akan kumakan," geram Troll.Jervin meletakkan tongkat ke atas tanah, kemudian melepas kedua sarung tangan. "Aku mendengar bahwa ada troll yang suka mengganggu pendaki di gunung ini dan aku, Jervin si Penjelajah, ingin bertemu dengan makhluk nakal itu."Troll terkekeh dan bau napasnya yang amis tercium sampai ke hidung Kakek. "Ada penyusup masuk ke wilayahku. Tentu saja dia harus bayar, jika ingin lewat!"Setelah mengetuk dagu beberapa saat, Jervin mengangguk-angguk. "Aku setuju dengan pendapatmu, Tuan Troll. Karena itu, aku akan menawarkan kesepakatan denganmu. Jika bayaranku memuaskan, kau akan membiarkanku naik dan menghalau musuhku yang lewat.""Boleh saja," kata Troll senang, "jika tidak kau akan jadi cemilan makan malamku."Jervin mengambil selembaran seukuran telapak tangan dari balik jubahnya, lalu menyerahkannya ke hadapan troll itu."Daun? Kau pikir aku ini kambing?!" teriak Troll marah."Ini bukan daun biasa," ujar Jervin kalem. "Jika kau melempar daun ini, targetmu akan terperangkap dan tidak bisa bergerak lagi. Bukankah ini adalah alat bagus untuk menangkap buruanmu?""Coba buktikan!" tuntut Troll.Dengan gerakan cepat, Jervin melempar daun itu ke udara. Beberapa detik kemudian, sebuah gumpalan besar jatuh di hadapan mereka. Jervin memungut bungkusan daun yang melebar tersebut, lalu mengeluarkan seekor burung di dalamnya.Troll bertepuk tangan dengan senang. "Tentu tidak cukup satu saja. Aku butuh makan yang banyak.""Daun ini bisa digunakan berkali-kali dan tidak akan rusak," jelas Jervin.Setelah menerima hadiah Jervin, Troll membiarkannya pergi. Si Kakek mengikuti Jervin dari belakang dan berbisik tidak percaya, "Aku baru kali ini melihat troll melepas buruannya begitu saja.""Pelajaran pertama, troll mudah diajak negosiasi," kata Jervin. Kedua sarung tangannya digantung di leher. Dia menoleh ke belakang, lalu melanjutkan dengan waswas, "Pelajaran kedua, troll sering kali tidak menepati janji."Si Kakek ikut menoleh, lalu berseru kaget ketika sebuah lembaran daun hijau menerjang mereka dari belakang, semakin lama semakin melebar. Jervin mengarahkan tongkatnya dengan siaga, mengibas ke arah daun itu dengan keras sehingga targetnya meleset ke batu besar di samping mereka. Dari kejauhan, suara gedebum terdengar. Troll itu sedang berlari ke arah mereka."Tidak!" decak Troll jengkel saat melihat Jervin membebaskan batu dari bungkusan daun.Troll memutar arah, sekarang berlari menjauhi Jervin. Jervin mengejar, kemudian melempar daun padanya. Sedetik kemudian makhluk besar itu tumbang dengan daun yang membungkus seluruh tubuhnya."Lepaskan aku!" teriak Troll dengan suara yang kurang jelas. Gumpalan daun raksasa itu meronta-ronta di atas tanah."Aku akan melepaskanmu setelah membawa Tuan Putri dan mendapat uangnya, Troll Licik. Setelah itu kita akan membahas ini," kata Jervin, kemudian meninggalkan Troll yang masih meraung-raung."Tunggu, Anak Muda," panggil si Kakek. "Aku ingin berterima kasih karena telah menyelamatkanku. Biarkan aku membalasnya dengan mengantarmu sampai ke tujuan."Jervin mengamati si Kakek sejenak. Walau berusia tua, tapi si Kakek memiliki tubuh bugar dan kelihatannya kedua kakinya cukup kuat untuk mendaki dan menuruni gunung. Mengikutsertakan si Kakek bukan hal yang buruk."Baiklah," kata Jervin.Langit sudah semakin gelap saat mereka melihat setitik cahaya yang berasal dari puncak. Jalanan yang ditempuh semakin curam, dan Jervin menyadari bahwa si Kakek mulai menyusahkannya karena nyaris tergelincir beberapa kali, tapi mereka sudah hampir tiba di tujuan dan mustahil rasanya menyuruh si Kakek pulang sendiri tanpa bantuan Jervin, sehingga mau tidak mau dia bersabar menuntun orang tua itu, sampai akhirnya berhasil menginjak puncak.Keadaan puncak Gunung Merah sesuai dengan namanya. Tanah dan bebatuan di bawah pijakan Jervin mengkilap merah di bawah sinar bulan. Semakin dekat dia dengan pondok, semakin ringan langkah Jervin. Si Kakek mengikutinya, menyusup lewat sela-sela pagar yang rusak, lalu mengintai pelan-pelan ke sekitar luar pondok.Sekilas, bangunan itu terlihat seperti tempat tinggal nyaman yang biasa dengan perapian hangat dan aroma coklat lezat yang menyelimuti ruangan. Jervin sudah dua kali mengelilingi pondok dan belum menemukan sang Putri yang dikurung atau jejak penyihir sekalipun. Padahal dia sudah bersiaga, menyipitkan mata setiap bunyi kresekan atau gerakan mendadak di sekitarnya. Insting berburunya membuat Jervin merasakan bunyi ayunan di atas kepalanya, dia mengangkat tongkat untuk menahan kayu tumpul yang hampir saja menghantam ubun-ubunnya.Si Kakek menyerang Jervin!"Aku tidak bisa membiarkanmu bertemu Tuan Putri," kata si Kakek.Tidak berniat basa-basi, si Kakek mengayunkan kayu lagi, lebih agresif dan tanpa ampun. Setiap serangannya berhasil ditangkis Jervin.Energi orang tua itu tidak bisa diremehkan. Si Kakek belum juga menyerah, walaupun kekuatan tongkat Jervin membuatnya terjatuh beberapa kali. Dengan sisa-sisa usahanya, si Kakek menerjang Jervin hingga tongkat talinya terlempar jauh.Jervin tidak punya pilihan lain. Digenggamnya batang kayu si Kakek dengan tangan kosong, lalu sedetik kemudian kayu itu berubah menjadi pasir debu. Sambil bangkit, Jervin menepuk kedua telapak tangannya kemudian mengarahkannya ke depan sebagai pertahanan diri."Kau, si Tangan Merah!" seru si Kakek terkejut ketika melihat telapak tangan Jervin."Benar. Aku Jervin si Tangan Merah. Keturunan penyihir," balas Jervin dengan seringaian. Hampir tidak ada yang mengetahui identitas Jervin yang sebenarnya. Jervin selalu menyembunyikannya dengan baik karena jarang ada penduduk yang bersikap ramah pada penyihir.Tiba-tiba, sebuah sentakan keras menghantam sisi tubuh Jervin hingga pemuda itu terbanting ke tanah. Dia berbalik, mencari sumber serangan, tapi tidak menemukan apa pun. Ketika Jervin berputar lagi, dia menemukan sosok baru di samping si Kakek, mengenakan gaun sederhana dan sekepala lebih tinggi dari mereka."Sedang apa kau di pekaranganku?" geram sosok itu. Jervin mengenali jenisnya sebagai Penyihir Kutukan—penyihir yang hobi mengutuk. Kulitnya berwarna merah dan bersisik di beberapa tempat, terutama di area mata sehingga dia terlihat seperti memiliki wajah ular. Si Penyihir memelototi Jervin, tapi Jervin tidak akan terpengaruh sihirnya.Karena Jervin adalah keturunan makhluk yang sama dengannya."Dia si Tangan Merah, Putri Elena," jelas si Kakek pada si Penyihir."Kau orangnya." Si Penyihir tertegun. Dia melangkah mendekat, sehingga Jervin mengangkat kedua tangannya lebih tinggi lagi untuk melindungi wajahnya."Ya, aku adalah orang yang akan membunuhmu dan menyelamatkan Tuan Putri," kata Jervin mantap."Akulah si Tuan Putri! Elena Whitehaven dan ini Gallus, pengawal pribadiku." Dia menunjuk si Kakek.Tanpa mengendurkan pertahanannya, Jervin menelengkan kepala. Dia menatap wajah gadis—jika bisa disebut gadis—di depannya, mengingat-ingat kembali sosok Tuan Putri yang selama ini digambarkan seratus delapan puluh derajat berbeda dengannya."Kau berbohong. Aku tahu kau adalah Penyihir Kutukan," kata Jervin."Aku adalah putri yang dikutuk," jawab si Penyihir, yang katanya adalah Tuan Putri. Dia menunjuk wajahnya sendiri. "Penyihir yang mengutukku berbentuk persis seperti ini. Dia mengatakan kalau si Tangan Merah akan menyelamatkanku."Jervin hampir tidak percaya. Ternyata selama ini penyihir yang didesas-desuskan adalah Tuan Putri itu sendiri!Putri Elena mengangkat kedua tangannya sehingga telapak tangan mereka berhadapan. "Kemarilah, selamatkan diriku."Jervin mundur selangkah. "Dari mana aku bisa tahu bahwa kau adalah Tuan Putri asli atau penyihir yang berpura-pura? Kenapa tidak ada yang tahu bahwa Tuan Putri dikutuk?""Raja Whitehaven punya rahasia gelap yang disimpan baik-baik di dalam dinding istana," kata Gallus. "Demi memperoleh seorang anak, sang Raja meminta bantuan penyihir, dengan perjanjian bahwa ketika Putri Elena menginjak umur tujuh belas, Raja harus mengadakan pesta dan mengundang penyihir.""Sang Raja mengadakan pesta besar, tapi dia mengingkari janjinya karena tidak ingin ada penyihir buruk rupa yang menginjak istananya. Namun, dia tidak sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan Penyihir Kutukan. Si Penyihir pun murka dan mengutuk Putri Elena sehingga memiliki rupa sepertinya. ""Raja pun tidak memiliki pilihan lain. Karena takut putrinya dikucilkan rakyat, dia membangun pondok di puncak gunung terpencil dan membiarkan Putri Elena tinggal sendiri selama bertahun-tahun lamanya. Penyihir yang mengutuk Putri Elena pun merasa kasihan, lalu dia memberi Putri Elena kekuatan penyihir juga dan berpesan kalau Putri Elena akan terbebas dari kutukannya jika mendapat uluran tangan dari si Tangan Merah.""Aku mengajukan diri menjadi pengawal pribadi Putri Elena, menjaganya dari gangguan makhluk buas dan berbagai macam manusia yang ingin menyakitinya. Itulah kenapa aku mengundang troll untuk mendiami gunung ini dan berharap dia menakutimu. Jika aku tahu kau adalah si Tangan Merah, tentu dengan cepat aku langsung membawamu ke sini.""Aneh sekali. Raja mengumumkan sayembara untuk membunuh penyihir di puncak gunung," kata Jervin."Itu adalah aku!" seru Putri Elena. "Tidak mungkin Ayah ingin membunuhku."Mendadak Jervin mulai merasa segalanya masuk akal. Sang Raja memang berniat melenyapkan putrinya yang dikutuk. Karena itulah dalam pengumuman, sang Raja hanya memberi perintah untuk membunuh sang Penyihir. Tidak ada petunjuk untuk membawa Tuan Putri pulang ke istana. Untuk membuktikannya, Jervin mengeluarkan pengumuman dari sakunya dan menyerahkan ke Putri Elena. Jervin memang menginginkan sepuluh ribu keping emas itu, tapi jika itu artinya harus membunuh sang Putri yang tidak bersalah, dia tidak bisa melakukannya.Setelah membaca pengumuman itu bersama Gallus, Putri Elena mundur dengan ketakutan. Kertas di tangannya terbakar oleh api merah."Tuan Putri," panggil Gallus. Dia bergerak untuk menyentuh Putri Elena, lalu segera menarik tangannya lagi saat merasakan energi yang amat panas dari kulitnya."Tidak!" jerit Putri Elena. Kedua matanya berkobar oleh api amarah, setiap tetesan air matanya yang jatuh berubah menjadi jarum besi yang tajam.Raungan panjang yang keluar dari mulut Putri Elena membuat berdiri bulu kuduk Gallus, bahkan juga Jervin. Rerumputan di bawah kakinya bergetar dan Jervin merasa seolah Gunung Merah akan terbelah dua.Sang Putri patah hati. Bersama tangisannya, dia menerobos gulita dan menuruni Gunung Merah. Gallus memanggil, mencoba menahan Putri Elena, tapi kekuatannya tidak cukup. Putri Elena mengutuk Gallus menjadi kelinci gunung.Jervin tahu betapa bahayanya kekuatan penyihir yang sedang marah. Maka dia mengikuti Putri Elena dari belakang, mengamati bagaimana Putri Elena menghanguskan pohon dan tanah yang dilewatinya. Bersama dengan itu, matahari bangkit dari tidurnya, turut memercikkan kobaran semangat ke setiap hentakan langkah Putri Elena.Di tengah perjalanan, Jervin kembali bertemu dengan troll yang masih terbungkus daun sebelumnya. Troll yang merasakan kehadirannya pun mulai meronta-ronta."Oh, Jervin si Penjelajah, tolong lepaskan aku, aku telah bersalah," pintanya."Aku akan melepaskanmu jika kau berjanji satu hal lagi," kata Jervin. "Bantu aku hentikan penyihir yang akan menyerang kerajaan.""Aku berjanji," kata Troll tanpa basa-basi."Jika kau berbuat curang lagi, aku akan mengutukmu." Jervin membebaskan Troll, lalu dengan segera daun ajaib itu kembali ke ukuran semula. Troll yang sudah bisa melihat jelas tangan Jervin langsung sadar kalau dia adalah keturunan penyihir.Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera menuruni gunung, mengikuti jejak hangus dari Putri Elena. Troll mengangkat tubuh Jervin dan meletakkannya di bahu, sehingga dia bisa menyusul dengan langkah yang lebar.Seperti yang dicemaskan Jervin, mulai terjadi kekacauan di Kerajaan Whitehaven. Putri Elena menyerang serampangan, sementara rakyat berteriak ketakutan dan berhamburan keluar dari rumah mereka."Penyihir!" teriak salah satu orang. "Ada penyihir!"Putri Elena mengutuk orang itu menjadi tikus. Tidak hanya itu, dia melontarkan kutukan pada siapa saja yang menghalanginya. Ada yang berubah menjadi kurcaci, pohon, bahkan sofa. Jervin melompat dari bahu Troll, sebisa mungkin menghentikan sihir sang Putri. Sedangkan Troll membantu penduduk untuk mengungsi."Lari! Ada troll !" teriak seorang anak laki-laki yang baru saja dipindahkan Troll ke tempat aman. "Whitehaven diserang!"" Cih , tidak tahu terima kasih," kata Troll kesal.Putri Elena sudah tiba di depan istana. Betapa terkejutnya dia saat mendapati para prajurit menghadang dan ada ratusan tombak dan mulut meriam mengancamnya. Jervin hendak mengejar sang Putri, tapi prajurit lain menahannya."Aku adalah Putri Elena Whitehaven!" teriaknya.Para prajurit saling memandang. Orang-orang di sekitar yang mendengar mulai berbisik-bisik. "Tidak mungkin, Putri Whitehaven tidak seburuk itu.""Itu penyihirnya! Penyihir yang telah menculik putriku!" seru sang Raja. Suaranya membahana saat dia berjalan bersama puluhan pengawal yang berjaga ketat, lalu berhenti sambil menunjuk Putri Elena di depan. Semua rakyat yang menyaksikan memberi jarak, menonton dalam ketegangan."Itu tidak benar!" bantah Putri Elena. "Aku adalah putri yang dikutuk, lalu Ayah sengaja membiarkan orang-orang membunuhku!"Wajah sang Raja menjadi merah padam. "Bohong! Dasar penyihir licik! Kau telah membunuh Putri Elena dan kini mengaku-ngaku sebagai putriku. Aku tidak sudi! Tangkap dia!""Dia benar-benar adalah Tuan Putri," kata Jervin, memandang ke semua orang di sana. "Aku berhasil mencapai puncak gunung dan tidak ada siapa pun selain dia. Tuan Putri kita telah dikutuk menjadi penyihir.""Itu Jervin si Penjelajah!" seru pria pemilik bar yang pernah mendukungnya."Tidak, dia penyihir. Lihat tangannya.""Jervin adalah penyihir!""Tangkap si Penyihir!""Bakar dia!"Pekikan keras terdengar saat prajurit mulai melancarkan serangan. Putri Elena menyihir satu per satu tombak menjadi abu, lalu Troll turut membantu dengan menginjak meriam sampai penyet. Penduduk berlomba-lomba membuat obor dan melemparkannya ke arah Putri Elena, tapi dengan cekatan Jervin menghalaunya dengan tali.Pertarungan berlangsung sengit. Besi bertemu api. Tongkat dan pedang beradu. Sepuluh manusia mengelilingi Troll. Selang beberapa saat kemudian, tidak banyak prajurit yang tersisa lagi untuk bertarung. Mereka semua jatuh dan kalah. Troll kehabisan meriam untuk dihancurkan.Sang Raja mulai ketakutan. Dia menaiki kereta, bersiap kabur ke balik dinding istana, tapi Troll mengangkat kereta itu tinggi-tinggi."Turunkan aku, Dasar Raksasa Jelek!" perintah sang Raja.Troll menggeram, tidak terima dikatai jelek. Maka dia melempar kereta itu ke tanah, dan jeritan keras sang Raja mengakhiri pertempuran hingga terdengar dentuman yang keras."Ayah!" teriak Putri Elena. Dia berlari menghampiri sang Raja, lalu menyingkirkan reruntuhan kereta yang menimpanya tanpa kesulitan. Tetesan air mata merah pun jatuh, mengenai tubuh sang Raja yang tergeletak tidak bergerak di pangkuannya.Seluruh kerajaan menjadi hening. Rakyat menunduk dalam kebisuan, tidak ada yang berteriak atau berprasangka pada sang Penyihir lagi. Tangisan pilu dari sang Penyihir yang menyayat hati cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah Putri Elena yang sebenarnya. Matahari pun bersembunyi di balik awan gelap, tidak tega menyaksikannya.Di tengah-tengah mereka, muncullah seorang penyihir dari pusaran udara kecil. Semua orang memandangnya heran karena penyihir itu memiliki bentuk fisik yang sama persis seperti Putri Elena sekarang. Ketika Putri Elena berdiri untuk menghadapi si Penyihir baru, mereka tampak seperti bercermin."Emosimu yang terlalu kuat telah memanggilku," kata Penyihir itu."Tolong selamatkan ayahku, Edena," pinta Putri Elena.Edena, si kembaran Putri Elena menggeleng prihatin. "Hanya kau yang bisa menyelamatkannya, tapi dengan begitu, kau akan menjadi Penyihir Kutukan selamanya dan tidak ada cara untuk kembali menjadi manusia.""Dengan segala hormat, Tuan Putri. Raja telah membuatmu dikutuk dan berencana membunuhmu. Dia tidak pantas mendapatkan pengorbananmu," kata Jervin."Ah, si Tangan Merah sudah tiba," kata Edena saat melihat Jervin, kemudian kembali menoleh pada sang Putri. "Kau memiliki pilihan lain, Sayang. Si Tangan Merah bisa mengembalikanmu ke manusia, tapi dengan begitu ayahmu tidak akan hidup lagi."Putri Elena termenung. Menjadi manusia lagi adalah keinginannya selama bertahun-tahun. Jervin memang benar, ayahnya membuatnya menjadi seperti ini, bahkan berpikir untuk menghabisi nyawanya. Menolong ayahnya berarti merelakan impian terbesarnya. Membiarkan ayahnya mati membusuk adalah cara balas dendam terbaik."Aku ...." Suara Putri Elena melemah. Semua orang penasaran, kira-kira apa yang akan dia pilih?"Aku bersedia menjadi Penyihir Kutukan," lanjut Putri Elena.Benar. Putri Elena punya sejuta alasan untuk mengabaikan ayahnya, tapi dia punya pilihan. Menjadi manusia yang menjalani hari dengan rasa dendam, atau tetap hidup sebagai penyihir menyeramkan demi menyelamatkan kehidupan lainnya. Sang Raja memang menginginkan dia mati, tapi bukan berarti Putri Elena juga harus berpikiran serupa.Edena tersenyum. Penyihir itu meminta Putri Elena mencabut sisik terbesar di wajahnya sendiri, kemudian menempelkan ke dahi sang Raja. Putri Elena menurutinya. Hal itu ternyata menguras energi Putri Elena, sehingga tubuhnya terjatuh lemas ke atas tanah, di samping sang Raja yang mulai sadar dan terbatuk.Sang Raja yang mengetahui dirinya diselamatkan Putri Elena pun mulai menangis. Dia merasa bersalah dan malu saat memeluk sang Putri yang lemah. "Oh, uhuk ... uhuk ! Elena, putriku, maafkan Ayah."Pemandangan itu membuat Jervin terpana. Dia tidak menyangka kalau Putri Elena akan menyelamatkan ayahnya, orang yang hampir saja membuat Jervin berniat membunuhnya demi kepingan emas. Jervin melangkah mendekati Putri Elena, lalu menatap wajah tulus nan cantik di balik sisik dan kulit merahnya. Kini dia paham jika Putri Elena tidak membutuhkan fisik manusianya.Jauh di dalam sana, Putri Elena tetaplah seorang putri.Jervin mengulurkan tangannya, yang segera disambut Putri Elena dengan sisa tenaganya. Keajaiban pun terjadi. Cahaya merah yang terang bersinar dari kedua telapak tangan mereka yang menyatu, hingga orang-orang harus melindungi mata dari silaunya. Sekarang, sosok besar yang bersalaman dengan Jervin sudah menyusut menjadi gadis muda dengan gaun lusuh kebesaran. Kulitnya berubah layaknya manusia normal, kecuali pada seluruh telapak tangannya yang berwarna merah.Putri Elena mengamati tubuhnya yang kembali seperti semula, tidak percaya apa yang terjadi. "Katanya aku akan menjadi Penyihir Kutukan selamanya?""Ya, persis seperti si Tangan Merah," kata Edena kalem.Begitulah, setelah Edena menghilang, Putri Elena bersama Jervin membereskan sisa kekacauan yang tercipta. Mereka mengembalikan orang-orang yang dikutuk sebelumnya ke bentuk semula, lalu memperbaiki bangunan yang rusak bersama Troll. Negeri Whitehaven sejak saat itu mulai hidup berdampingan dengan penyihir.Sementara Troll? Dia tetap di goa, mendapat mainan daun barunya, dan berjanji tidak akan makan manusia lagi, terutama sejak Putri Elena dan Jervin memerintah kerajaan.

SHATTVA DAN SHANTI
Folklore
19 Jan 2026

SHATTVA DAN SHANTI

Nun jauh di utara, terdapat sebuah kota kecil yang ditinggalkan tepat di kaki gunung. Sebagian besar bangunan kota itu masih kokoh dan beberapa sudah rusak termakan lumut. Ada kisah mistis menyelimuti kota itu, yang membuat orang-orang tidak berani mendekat ke sana. Penduduk sekitar menyebutnya kota hantu. Ada juga yang mengatakan kota itu dikutuk oleh Dewa. Akan tetapi, ketika ada seseorang yang memiliki nyali untuk memasukinya, semua yang sudah dikatakan penduduk sekitar ternyata keliru.Di perbatasan, terdapat gapura tua berdiri di jalan setapak. Hanya saja, itu bukanlah gapura biasa. Ada benteng sihir tidak kasatmata yang mengelilingi seluruh penjuru kota, menyembunyikan keramaian kota yang tidak bisa dilihat manusia luar. Kota itu bernama Magi. Kota Magi seperti kota-kota lain pada umumnya. Ada bangunan, kendaraan yang berhilir mudik di jalanan, lampu-lampu, dan penduduk. Namun, satu hal yang membedakan kota Magi dengan kota di dunia luar. Sihir.Hampir seluruh penduduk kota Magi memiliki sihirnya masing-masing. Seluruh keseharian mereka tidak lepas dari mantra dan pengendalian. Memasak dengan sihir, mencuci pakaian dengan sihir, dan bahkan kendaraan penduduk kota Magi berupa sapu dan karpet terbang. Meskipun penduduk kota Magi juga manusia, mereka berbeda dengan manusia dari dunia luar. Mereka menganggap sihir adalah segalanya. Siapa pun yang tidak bisa menggunakan sihir akan dianggap lemah dan harus pergi dari kota ini." Yajuh! " seru seorang gadis dalam keheningan kamarnya. "Tidak bisa. Kalau begitu, agni! Kenapa tidak muncul api? Hm ... mungkin api bukan sihir khususku. Baiklah, aku akan coba ... nirada! Mungkin bukan air. Darani! Tidak berhasil. Oh, oh, coba kalau ... bayu! Ah, kenapa aku tidak bisa menggunakan sihir?""Apa yang kamu lakukan di larut malam begini, Sara?"Suara lembut penuh keibuan itu menyentakkan gadis bernama Sara. Kedua mata Sara membulat sempurna begitu melihat ibunya berdiri di ambang pintu dan memperhatikannya sejak tadi dengan seulas senyum terpahat halus di wajahnya. "Ibu? Sejak kapan Ibu di sini?"Ibu mengetukkan jari telunjuknya di dagu tanpa melunturkan senyuman. "Sejak anak kesayangan Ibu mengucapkan mantra pertamanya."Wajah Sara berubah takut. Ibunya pasti sudah berada di sana sejak tadi, mengamatinya berlatih mantra. Habislah Sara. Ibu pasti marah setelah ini. "Maafkan aku, Bu. Seharusnya aku sudah tidur sejak tadi. Ibu pasti marah, kan, karena Sara tidak menuruti perkataan Ibu."Alih-alih memarahi anak semata wayangnya, Ibu Sara berjalan ke arah kasur dan duduk di samping Sara. Tangannya mengusap lembut puncak kepala Sara. "Tentu tidak, Sayang. Ibu tidak pernah marah pada Sara karena belum tidur. Ibu hanya bertanya, apa yang sedang Sara lakukan? Kenapa berlatih mantra di larut malam?"Sara bergeming. Dia seperti setengah enggan mengatakan alasannya."Sara, sayangku, kalau ada sesuatu yang ingin Sara ceritakan, ceritakan saja. Cerita apa pun akan Ibu dengarkan."Sara mengambil napas dalam-dalam sebelum bercerita. "Apa Ibu pernah merasa gagal?""Kenapa Sara bertanya begitu?" tanya Ibu kebingungan."Karena Sara satu-satunya orang yang tidak bisa menggunakan sihir," jawab Sara. "Sejak umur tujuh tahun hingga sekarang, sebelas tahun, Sara satu-satunya orang di kelas yang tidak bisa menggunakan sihir. Semua orang, bahkan guru-guru, selalu mengatakan, kalau Sara masih belum bisa menggunakan sihir sampai berumur enam belas, Sara harus pergi ke dunia luar dan tidak boleh kembali lagi. Sara gagal."Air mata sudah tidak bisa lagi terbendung di pelupuk mata Sara, kemudian membanjiri pipinya dalam sekian detik. Isak tangis merebak di antara kesunyian malam itu. Mendengar anak gadisnya menangis, Ibu mendekapnya penuh kasih sayang. "Tidak, Sara. Itulah yang Ibu suka darimu. Kau selalu berusaha semampumu meskipun kau tahu itu sulit. Ibu yakin, suatu saat nanti kau bisa menggunakan sihir. Hanya mungkin, kau butuh waktu lebih lama daripada yang lain. Sara harus tahu. Apa pun yang terjadi nanti, Ibu akan selalu mendukungmu. Jangan sedih lagi, ya?"Mendengar Ibu mengatakan itu, Sara lantas membalas dekapan ibunya. "Terima kasih, Ibu. Sekarang Sara sudah merasa lebih baik.""Ibu senang mendengarnya. Sekarang, Sara harus tidur karena besok Sara harus sekolah," ucap Ibu sembari merapikan tempat tidur buah hati tercintanya."Apa Ibu pernah tidak bisa menggunakan sihir?" tanya Sara penasaran."Tentu saja, Sayang. Semua orang pernah tidak bisa menggunakan sihir," jawab Ibu."Menurut Ibu, apa yang membuat seseorang tidak bisa menggunakan sihir?" Sara bertanya lagi.Dengan senyuman melengkung indah di wajahnya, Ibu menjawab, "Sara, untuk bisa menggunakan sihir, seseorang harus bisa melepaskan ketakutannya. Jangan biarkan ketakutan menguasaimu atau kau akan kehilangan kendali.""Tapi Sara sudah cukup berani. Kenapa Sara tetap tidak bisa menggunakan sihir?""Selain berani, seorang penyihir yang tangguh harus terus berusaha dan berlatih. Seperti yang sedang Sara lakukan sekarang karena tanpa itu, Sara tidak akan bisa menjadi penyihir tangguh.""Seperti Ayah?" Mata Sara berbinar.Ibu mengangguk mantap. "Seperti Ayah."Sara tersenyum lebar. "Kalau begitu, Sara akan terus berlatih supaya bisa seperti Ayah. Jadi, Sara bisa membuat Ayah bangga setelah pulang dari tugas di perbatasan nanti."Mendengar anaknya kembali ceria, Ibu mengelus puncak kepala Sara dengan lembut tanpa melepaskan senyuman paling tulusnya. "Sara memang anak kebanggaan Ayah dan Ibu. Selalu.""Ibu," panggil Sara tiba-tiba."Hm?""Sara mau ditemani Ibu sampai Sara tidur.""Tentu saja, Sayang."***Sekolah Sara benar-benar ramai. Tentu saja karena ini sudah memasuki jam istirahat. Hampir semua orang tidak berada di kelas. Beberapa murid berkejaran dengan sapu terbang di lapangan. Ada yang sedang berlatih sihir dengan guru mereka di pinggir lapangan. Ada juga yang memilih untuk menikmati suasana sambil memakan bekal, seperti yang tengah Sara lakukan sekarang. Sara lebih senang mengamati daripada ikut bermain bersama teman-temannya. Itu karena memang tidak ada yang mau bermain dengannya. Pikiran mereka persis seperti yang dipikirkan sebagian besar penduduk kota Magi, yang menganggap sihir adalah segalanya."Masih berharap bisa menggunakan sihir, Sara?" tanya seseorang dengan nada mengejek.Sara menengok ke asal suara dan mendapati tiga orang gadis seusianya berdiri menantang. Sara tahu siapa yang melemparkan pertanyaan tadi. Siapa lagi kalau bukan Nirbita, anak perempuan paling angkuh yang pernah Sara kenal di kota Magi. Setiap hari Nirbita selalu mengejek Sara karena tidak bisa menggunakan sihir. Bahkan terkadang dia menggunakan sihirnya untuk mengganggu Sara. Keluarga Nirbita terkenal dengan sihir agni. Seluruh anggota keluarga Nirbita sangat menguasai sihir agni. Di kota Magi, sihir agni hanya bisa dikendalikan orang-orang tertentu. Hal itu membuat sihir agni termasuk sihir istimewa."Tidak punya kegiatan lain, Nirbita?" tanya Sara tidak berminat. Menurut Sara, meladeni Nirbita adalah salah satu hal yang paling sia-sia."Oh, tentu saja aku punya kegiatan lain," balas Nirbita dengan nada angkuhnya. "Aku dan teman-temanku akan berlatih sihir di lapangan. Bagaimana dengan latihanmu, Sara? Sudah bisa menggunakan satu mantra atau justru masih gagal seperti biasanya?""Latihanku sangat baik dan terima kasih sudah mengingatkan. Aku harus latihan juga setelah ini," jawab Sara penuh percaya diri."Selamat mempersiapkan kepergianmu ke dunia luar, Sara. Aku dan teman-temanku sangat tidak sabar menantikan saat itu." Nirbita menarik langkah ke arah lapangan diikuti dua temannya.Ketika Nirbita dan dua temannya sudah berada di lapangan, Sara membuka buku yang sedari tadi dipangkunya. Itu buku tentang sihir, buku yang selalu Sara baca di waktu luang. Sara ingat dulu Ibu pernah berkata bahwa Sara harus tahu dasar-dasar pengendalian sihir, selain berlatih memperagakannya. Jadi, Sara pikir tidak ada salahnya kalau dia membaca dulu sebelum bisa menggunakan sihir. Kalau Sara nantinya bisa menggunakan sihir—semoga saja—setidaknya dia sudah bisa mengendalikannya.Jemari Sara membolak-balikkan lembar demi lembar di buku itu. Tidak terasa bahwa selama ini dia sudah membaca hampir sebagian buku setebal kamus itu. Sampailah Sara pada halaman berjudul "Efek Sihir Tanpa Pengendalian". Mata Sara mengikuti kata demi kata di setiap lembar buku itu, menandaskan rasa penasaran yang tidak terbendung dalam otaknya. Di situ tertulis bahwa siapa pun yang menggunakan sihir tanpa pengendalian, maka dia akan membangkitkan Sattva. Dahi Sara tertekuk. Apa dan siapa itu Sattva? begitu pikir Sara bertanya-tanya. Sara membuka lembar baru. Pupilnya membulat sempurna ketika Sara membaca setiap kata dalam lembar itu."Kekacauan?" tanya Sara. "Apa hubungannya dengan pengendalian?"Sara membaca lagi lembar itu.Dalam sihir, kita mengenal beragam mantra, yang juga memiliki beragam fungsi. Namun, sejatinya, terdapat dua sihir di dunia ini: Shanti dan Sattva. Shanti adalah sihir yang membawa kedamaian, sedangkan Sattva membawa kekacauan. Meskipun begitu, kita tidak dapat menghilangkan salah satu dari kedua sihir itu. Di dunia ini, sihir tidak hanya membutuhkan shanti, tetapi juga Sattva. Mereka saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Mereka adalah sihir dari setiap mantra yang diucapkan dan untuk mengucapkan mantra, maka dibutuhkan pengendalian. Siapa pun yang menggunakan sihir tanpa pengendalian dan menghancurkan Tula, maka dia akan membangkitkan Sattva. Sattva akan membawa petaka, mengacaukan keseimbangan dunia sihir, lalu merenggut shanti dari dunia ini. Hanya penyihir yang memiliki pengendalian yang bisa mengembalikan semua."Wow," ucap Sara setelah membaca halaman itu, "ternyata sihir itu tidak sesederhana yang aku tahu. Kupikir sihir hanya sebatas mengucapkan mantra dan tada ! Keajaiban muncul, tapi rupanya sihir juga butuh pengendalian."Sara menatap ke arah menara di seberang sekolah. Itulah Tula. Sebuah menara biasa yang di puncaknya terdapat sepasang layangan berwarna hitam dan putih yang terus berputar bak roda. Ibu pernah mendongengkan Sara tentang Sattva dan Shanti sebelum tidur. Penduduk Magi mengibaratkan kedua layangan itu sebagai Sattva dan Shanti—sihir yang sesungguhnya.Pandangan Sara kembali mengarah ke lapangan. Semua temannya masih melakukan hal yang sama seperti sebelum dia membaca buku. Namun, hanya satu orang yang menarik perhatian Sara. Nirbita. Mulut gadis itu berkomat-kamit mengucapkan mantra sebelum telunjuk Nirbita mengarah ke cakrawala dan menyambarkan petir."Mantra braja," kata Sara lirih."Kenapa Sara?" tanya Nirbita yang ternyata mengetahui Sara memperhatikannya. "Kau terkejut melihatku bisa menggunakan mantra braja?""Bagaimana kau bisa menggunakan sihir tingkat tinggi?" tanya Sara penasaran.Nirbita tertawa meledek. "Aku tidak sepertimu, Sara. Tidak hanya membaca buku kuno, tapi aku juga mempraktikkannya. Omong-omong, aku bisa membantumu belajar menggunakan sihir. Braja! "Petir menyambar dengan ganas setelah Nirbita mengucapkan mantra braja, tetapi untungnya Sara bisa menghindari petir itu. Baru saja Sara bisa mengembuskan napas lega, petir yang kedua datang lagi. Kali ini lebih ganas daripada serangan sebelumnya."Nirbita, hentikan!" teriak Sara sebelum dia menghindar lagi dari serangan petir Nirbita."Kenapa Sara? Latihan kita baru saja dimulai. Braja! " seru Nirbita lantang dan terus menyerang Sara dengan sihir petirnya.Akan tetapi, ketika Nirbita mengucapkan mantra braja yang terakhir, sihir petirnya menyambar menara Tula dan mengenai layangan putih di puncak menara. Langit mendadak berubah gelap. Mendung dan gemuruh guntur menghantui kota Magi. Shanti telah hancur, menandakan pertanda buruk akan segera datang—Sattva."Oh, tidak," ucap Nirbita.Sattva muncul dari bawah tanah seperti monster yang siap memorakporandakan dunia. Jeritannya menakutkan dan tampangnya persis seperti yang ada di menara Tula. Sattva memelesat ke jantung kota dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Sihir-sihir para penjaga berkilat di cakrawala, berusaha mengenai Sattva. Akan tetapi, mantra itu tidak cukup kuat untuk menghentikannya. Alih-alih melemahkan Sattva, justru mantra itu membuatnya makin kuat. Sattva melancarkan serangan balik dengan lebih agresif, menghancurkan gedung-gedung, dan melukai orang-orang di sekitar.Kehadiran Sattva mencuri perhatian kepala sekolah Sara, Profesor Adhigana, yang terkenal akan kehebatannya dalam sihir. Guru-guru berdiskusi, membicarakan langkah yang tepat untuk mengatasi situasi ini."Bawa semua murid ke tempat yang aman. Jangan ada satu pun yang tertinggal," titah Profesor Adhigana. "Profesor Bhadrika dan Profesor Harsa, bantu saya untuk melindungi sekolah dan mengadang Sattva."Guru-guru mulai menggiring semua murid untuk masuk ke gedung sekolah. Tubuh Sara berkali-kali terdorong, tetapi tidak membuat pandangan Sara teralih. Yang dikatakan buku itu sudah terjadi. Siapa pun yang menggunakan sihir tanpa pengendalian dan menghancurkan Tula, maka dia akan membangkitkan Sattva . Sattva sudah di sini dan Shanti sudah direnggutnya. Hanya ada kegelapan di sekeliling kota Magi. Sara berpikir lagi, mengingat-ingat apa yang ditulis dalam buku itu. Hanya penyihir yang memiliki pengendalian yang bisa mengembalikan semua . Profesor Adhigana adalah penyihir terkuat di kota Magi. Dia terkenal sebagai penyihir tangguh dan memiliki pengendalian yang kuat. Bahkan dia salah satu orang yang bisa menggunakan sihir agni. Mungkin saja, Profesor Adhigana yang dimaksud buku itu , begitu pikir Sara.Dari jendela gedung sekolah, Sara melihat Profesor Adhigana, Profesor Bhadrika, dan Profesor Harsa sedang mengucapkan mantra pelindung. Sihir-sihir menyatu dan mulai membentuk kubah pelindung yang membentengi sekolah. Jauh di luar sana, jeritan Sattva terdengar melengking menakutkan. Benar saja, Sattva muncul dari balik gedung tingkat dan meluncur ke arah sekolah. Tubuhnya bersinar seolah menandakan bahwa serangan berikutnya akan segera datang. Namun, sebelum itu terjadi, Profesor Adhigana sudah melontarkan mantra sihirnya. " Parusa! "Serangan itu berhasil mengenai Sattva. Alih-alih mengalahkannya, justru Sattva masih bisa bangkit dan mengempaskan ketiga profesor itu sekaligus sebelum mereka membalas kembali serangan Sattva. Para murid menjerit melihat pertarungan itu, tetapi itu tidak membuat Sara tinggal diam. Dia harus mencari cara untuk mengalahkan Sattva. Sara kembali membuka buku itu dengan tergesa-gesa, berharap dia bisa segera menemukan jawabannya.Perhatian Sara terpaku pada salah satu halaman di buku itu, sebuah tulisan yang bisa menyelamatkan kota Magi.Hanya penyihir yang memiliki pengendalian yang bisa mengembalikan semua dengan mantra brahma ."Mantra itu terlalu tinggi tingkatannya. Tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya, termasuk para profesor. Hanya orang yang memiliki pengendalian sangat kuat yang bisa," kata Sara panik. Dia mencoba untuk tenang dan tetap berpikir meskipun situasi tidak memungkinkan. Namun, dia teringat perkataan ibunya." Sara, untuk bisa menggunakan sihir, seseorang harus bisa melepaskan ketakutannya. Jangan biarkan ketakutan menguasaimu atau kau akan kehilangan kendali ."Mungkinkah? batin Sara.Tanpa perlu pikir panjang lagi, gadis kecil itu berlari keluar kelas menuju lorong hingga membawanya ke lapangan. Sara sudah berada di luar, menghirup udara yang lengang tanpa disesaki banyak orang, dan menyaksikan langsung Sattva yang kini berada di hadapannya. Sara mengedarkan pandang dan menemukan batu yang berada beberapa langkah di depannya. Dengan penuh keberanian, Sara mengambil batu itu, kemudian melemparkannya ke arah Sattva sebelum ia berhasil menyerang kembali para profesor. Sattva menjerit kesakitan ketika batu itu menghantam tubuhnya. Ia menemukan Sara yang sudah siap untuk melawannya detik ini juga." Sattva, kemari dan lawan aku! " seru Sara lantang.Sattva meluncur ke arah Sara begitu gadis itu berseru melawannya. Orang-orang di sekitar menyuruhnya untuk lari, tetapi Sara tetap berada di sana. Gadis itu tetap berdiri dan membiarkan Sattva mendekatinya. Dia menghirup napas dalam-dalam, melepaskan semua ketakutannya. Ketika Sattva sudah siap melancarkan serangan, Sara mengacungkan jari ke arahnya. " Brahma! "Kilat menyambar mengenai Sattva dengan cepat, membuat tubuhnya hancur berkeping-keping. Sattva telah kalah dan kegelapan yang menyelimuti kota Magi perlahan hilang digantikan cahaya mentari. Seluruh penduduk bersorak gembira. Semua orang keluar dari persembunyian mereka, mendatangi Sara, dan mengangkatnya layaknya pemenang.

PUTRI KELANA DAN PANGERAN KEMBARA
Folklore
19 Jan 2026

PUTRI KELANA DAN PANGERAN KEMBARA

Konon ketika Kanjeng Putri Kelana dan Kanjeng Pangeran Kembara lahir, langit bergemuruh kencang, lalu turunlah badai terderas yang pernah ada sepanjang tahun itu. Putri Kelana muncul lima menit setelah Pangeran Kembara keluar, sehingga tabib istana dan bidan yang mendampingi proses persalinan menyatakan bahwa Putri Kelana adalah sang Kakak karena ia membantu adiknya dilahirkan terlebih dahulu.Kata para penasihat raja dari Keraton Mangunkarta, hujan deras bisa diartikan sebagai berkah atas kelahiran putra dan putri kembar sang Raja. Oleh karena itu, pada hari sepasaran mereka berdua, Raja mengadakan kenduri yang sangat meriah dan dihadiri oleh seluruh penduduk sebagai bentuk syukur.Saat usia mereka berdua tujuh tahun, koki keraton memergoki Pangeran Kembara diam-diam menyelinap ke dapur dan mencicipi segala jenis bumbu di dalam cawan. Di pipinya ada bercak kemerahan seperti bubuk cabai, ujung jarinya kekuningan kena kunyit, serta di dahinya menempel serpihan daun kemangi kering.Koki pun menghadap sang Raja di singgasananya dan melaporkan semua yang terjadi hari itu. Alih-alih murka, Raja malah memanggil juru bangunan terbaik di kerajaan, dan memintanya membuatkan sebuah dapur kecil di samping dapur utama untuk arena bermain sang Pangeran. Lengkap dengan tungku, peralatan memasak, dan berbagai macam bumbu dapur. Pangeran Kembara sangat antusias karena memiliki dapur miliknya sendiri dan dia menghabiskan banyak waktu di sana, bereksperimen dengan bahan-bahan yang bisa ditemukannya di taman keraton.Sementara itu, penjahit keraton mengeluhkan bahwa Putri Kelana sering bolos pelajaran menjahitnya dan kabur ke lapangan belakang tempat para prajurit raja berlatih. Putri Kelana meminta seorang prajurit untuk membuatkan busur dan panah seukuran tubuhnya yang mungil agar dia bisa ikut latihan. Dengan sangat mengejutkan, anak panah Putri Kelana selalu tepat mengenai sasaran, bahkan meski jaraknya terlampau jauh. Raja yang mendengar hal tersebut dari panglima perangnya, menyatakan jika mulai hari itu Putri Kelana mendapatkan izin untuk berlatih bersama prajurit yang lain. Seketika, para penasihat raja, menteri, bahkan kepala pasukan terkejut mendengar keputusan Raja."Putri Kelana hanyalah anak perempuan berusia tujuh tahun," kata penasihat raja."Saya takut Kanjeng Putri akan terluka dalam latihan yang keras," tambah panglima dengan nada khawatir.Namun, Raja menepis semua pernyataan tersebut dengan mengatakan, "Putri Kelana akan baik-baik saja. Mungkin di dalam darahnya mengalir jiwa seorang pahlawan seperti mendiang raja terdahulu. Maka latihlah ia seperti kalian melatih prajurit yang lain dan biarkan Putri Kelana melakukan hal yang dia sukai."Maka, Putri Kelana pun diizinkan untuk berlatih bela diri dengan menggunakan segala jenis senjata dengan pasukan raja. Permainan pedangnya sangat cekatan dan gesit. Putri Kelana juga ahli silat dengan tangan kosong dan dia berhasil menjatuhkan lawan meski tubuhnya jauh lebih besar. Namun, Putri Kelana paling suka memanah, terutama ketika dia berada di atas pelana kuda sambil mengincar obyek yang bergerak.Sementara itu, Pangeran Kembara yang menyukai dapur kecil barunya, menyajikan menu hidangan penutup untuk sang Raja. Pangeran Kembara menghancurkan dua buah mangga harum manis yang jatuh dari pohon, mencampur dengan susu perah segar di atas api yang menyala kecil, lalu menambahkan larutan tepung sagu untuk mengentalkan adonan.Raja menyukai makanan buatan Pangeran Kembara. Pangeran juga membuat hidangan dari daging ayam yang dihaluskan dan diberi bumbu, lalu dibentuk bola-bola dalam kuah kaldu hangat. Bahkan juru masak istana mengakui kehebatan Pangeran Kembara dalam mengolah bahan makanan. Beliau pun akhirnya mengizinkan Pangeran Kembara untuk masuk dapur istana dan berjanji untuk mengajarkan resep rahasianya pada sang Pangeran.Saat mereka beranjak remaja, Putri Kelana menempati posisi paling atas dalam segala ujian kelayakan prajurit yang diadakan setiap tahun, dan panglima kerajaan memberinya gelar kehormatan sebagai prajurit terbaik. Sedangkan Pangeran Kembara sudah menciptakan banyak menu kreasi baru yang rasanya sangat lezat dan diakui oleh juru masak di penjuru Kerajaan Mangunkarta. Bahkan Pangeran Kembara memiliki beberapa orang anak didik yang mengikutinya setiap saat untuk mempelajari rahasia masakan Pangeran tersebut.Raja sangat bangga dengan prestasi kedua anaknya tersebut, sehingga beliau hendak mengadakan pesta perayaan hari jadi Putri Kelana dan Pangeran Kembara yang ke-16. Raja bahkan mengundang para raja, ratu dan pangeran dari kerajaan lain untuk menghadiri acara tersebut.Seminggu sebelum perayaan tersebut, para undangan mulai berdatangan ke Kerajaan Mangunkarta dengan membawa banyak buah tangan. Mulai dari kain tenun beraneka corak, makanan dan buah-buahan eksotis khas daerah masing-masing, serta hewan ternak atau kereta kuda sebagai hadiah ulang tahun.Raja juga mengadakan pertandingan persahabatan antar kerajaan, mulai dari permainan bola sepak beregu yang dimenangkan oleh Pangeran dari Kerajaan Suramenggala. Lalu permainan-permainan lain seperti memanah yang tentu saja dimenangkan Putri Kelana, serta pertandingan menciptakan hidangan baru dengan bahan yang sudah ditentukan yang dimenangkan oleh Pangeran Kembara.Barulah pada malam perjamuan, Raja Mahmud dari kerajaan di seberang pulau mempertanyakan cara Raja mendidik kedua pangeran dan putri sambil mencibir."Di Kerajaan saya, anak-anak perempuan berdandan cantik dan mereka pandai memasak di dapur. Sedangkan anak laki-laki berlatih pedang dan berjalan dengan gagah berani."Raja yang mendengar sindiran tersebut hanya bisa mengulum senyum. Putri Kelana dan Pangeran Kembara yang duduk mengapit sang Raja saling bertukar pandangan penuh arti."Tetapi belum pernah saya menemukan seseorang yang sangat berbakat dalam memanah seperti Putri Kelana," sanggah panglima kerajaan sambil bersungut-sungut. "Tuan Putri adalah murid terbaik saya di kerajaan ini.""Benar." Raja menganggukkan kepala. "Di kerajaan ini, anak perempuan dan anak laki-laki berhak menentukan apa yang mereka sukai dan apa yang ingin mereka lakukan ketika besar nanti. Semua profesi sama baiknya, asalkan mereka menjalani dengan sepenuh hati.""Apakah Raja tahu betapa beratnya pekerjaan di dapur istana?" koki istana memberanikan diri untuk angkat bicara. "Setiap pagi kami menanak berkarung-karung beras untuk makan seluruh anggota kerajaan termasuk prajurit dan dayang istana. Kami juga harus bertahan menghadapi panasnya tungku seraya mengaduk-aduk makanan agar matang merata. Pangeran Kembara dengan gagah berani menaklukkan semua itu tanpa mengeluh. Ayam goreng lezat yang sedang Anda cicipi itu dimasak langsung oleh Pangeran sendiri."Dengan wajah merah padam, Raja Mahmud tertunduk malu dan pembicaraan di perjamuan berhenti di sana. Keesokan harinya, utusan Raja Mahmud datang untuk menemui Putri Kelana dan Pangeran Kembara dan menyampaikan permintaan maaf sekaligus hadiah untuk mereka. Busur panah dari logam ringan untuk Putri Kelana, dan satu set pisau dapur untuk Pangeran Kembara. Raja Mahmud menyadari kesalahannya dan beliau berjanji sekembalinya ke kerajaan di seberang pulau, beliau akan membebaskan anak-anak perempuan dan laki-laki untuk menjadi apapun yang mereka inginkan.

5 Eksperimen Ekstrem Yang Hampir Memusnahkan Dunia
Folklore
19 Jan 2026

5 Eksperimen Ekstrem Yang Hampir Memusnahkan Dunia

Secara etimologi, kata 'manusia' berasal dari bahasa sansekerta “ manu” dan “mens” (Latin) yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai khalifah berbekal akal pikiran untuk berkarya di muka bumi. Kepada manusia diberikan-Nya akal dan dipersiapkan untuk menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi (berdaya cipta) dan sanggup menguasai alam dan binatang.Kehidupan manusia sendiri sangatlah komplek, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta.Setiap hubungan harus berjalan selaras dan seimbang. Namun, apa jadinya jika kecerdasan dan rasa keingintahuan manusia yang terlampau tinggi justru digunakan untuk tujuan eksploitasi dan pada akhirnya berpotensi memusnahkan dunia?Berikut adalah 5 eksperimen ekstrem yang pernah dirancang dan dilakukan oleh manusia dengan potensi bahaya sangat tinggi untuk memusnahkan segala peradaban di dunia. Beberapa eksperimen di bawah pernah menjadi kontroversi besar sehingga sebagian proyek ada yang ditunda atau dihentikan.1. Kola Superdeep BoreholeProyek dimulai pada tahun 1970an dan pada tahun 1994, bor mereka sudah mencapai kedalaman 12.000 kilometer. Tempat ini dijuluki sebagai tempat terdalam di permukaan bumi. Peristiwa ini pada akhirnya menjadi sejarah pengeboran paling dalam yang pernah dilakukan oleh manusia. Mereka sempat berambisi untuk mencapai lapisan mantel dalam bumi.Sayangnya, bumi bereaksi dengan menciptakan sebuah gaya tekan ke atas yang kuat. Ketakutan, akhirnya pengeboran ini dihentikan. Para ilmuan khawatir jika sesuatu yang buruk akan menimpa mereka jika proyek ini diteruskan. Mereka mulai menyadari kenyataan bahaya dari penggalian bumi yang bisa saja memicu kehancuran bumi.2. Trinity Test0.06 - 0.127 ms setelah ledakanLedakan yang kasat mataTrinity test adalah uji coba bom nuklir selama proyek Manhattan. Peledakan itu dilakukan di Alamogordo (New Mexico), pada tanggal 16 Juli 1945. Berat bom 19 kiloton , menghasilkan daya ledak setara 80 terajoule (sama dengan peledakan TNT seberat 19.000 ton ), melebihi panas permukaan matahari.Merupakan peledakan bom atom pertama yang bermuatan plutonium dan sama modelnya dengan yang dijatuhkan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Peledakan dilakukan di Alamogordo Bombing Range, sebuah tempat yang berada di antara Carrizozo dan Socorro, New Mexico.Bom tersebut digantung di menara baja berketinggian 20 meter untuk simulasi penjatuhan dari pesawat. Ledakan meninggalkan kawah dengan kedalaman 3 m dan selebar 330 m. Awan jamir setinggi 16.000 m, dan gelombang kejut yang terasa dalam radius 160 kilometer.Kawah tersebut melumerkan gurun pasir dan mengubahnya menjadi lapisan kaca hijau tipis yang disebut trinitit. Kawah tersebut segera terisi kembali, dan sekarang daerah ini dilindungi. Di tempat peledakan itu didirikan tugu setinggi 3,65 m dan kawasan itu masih mengandung unsur radioaktif.Suksesnya percobaan ini menjadi tonggak sejarah dalam terciptanya bom atom dan nuklir yang sangat mematikan. Hingga kini, peristiwa apapun yang terkait dengan nuklir seperti bencana kebocoran reaktor dan uji coba nuklir selalu menjadi kontroversi.3. Hadron Collider Penumbuk raksasa Hadron Collider adalah kompleks pemercepat partikel berenergi tinggi terbesar yang ada di dunia. Berfungsi untuk menabrakkan dua buah pancaran partikel proton dengan energi kinetis yang sangat besar. LHC dibuat oleh Badan Riset Nuklir Eropa (CERN).Proyek ini dimulai sejak tahun 1995 dan merupakan proyek terbesar yang pernah dilakukan oleh Manusia dengan menggunakan peralatan paling rumit di dunia, serta memakan biaya lebih dari USD 10 Miliar dengan waktu penyelesaian lebih dari 14 tahun.Terletak 91 meter dibawah perbatasan Franco-Swiss dekat Geneva, Switzerland, mesin yang berbentuk terowongan sepanjang 27 kilometer ini dibangun oleh 10000 ilmuwan dan insinyur, dari lebih 100 negara, serta didukung oleh ratusan universitas dan laboratorium.Proyek ini murni untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tapi dampaknya dinilai bisa membuat membuat kehidupan di bumi mengalami kematian. Hadron Collider adalah eksperimen raksasa yang salah satu tujuan utamanya mensimulasikan Black Hole mikroskopis dan meneliti fenomenanya.Namun, penelitian yang kontroversi ini dihentikan sementara (delay). Penyebabnya antara lain disebabkan kekhawatiran kalau lubang hitam yang terbenruk dapat tumbuh besar dan mampu mengonsumsi benda di sekitarnya. Jika dibiarkan, maka kehidupan di bumi bisa terancam.4. Starfish PrimeBagi kalian yang pernah browsing aau mempelajari tentang lapisan atmosfer bumi, kita mengenal kalau lapisannya dibagi menjadi lima. Agar lebih mudah, perhatikan gambar dan fungsi masing-masing bagian.Lapisan Magnetosfer terletak diatas lapisan Ionosfer yang terletak antara Termosfer dan Eksosfer. Magnetosfer adalah medan magnet bumi yang menjangkau ribuan kilometer ke antariksa, ibarat perisai yang mampu melindungi bumi dari badai dan radiasi matahari yang ekstrem.Bayangkan saja jika bagian itu rusak, bahkan dirusak! Maka manusia dapat punah. Mirisnya, Amerika pernah melakukan peledakan di lapisan Magnetosfer. Adapun kekuatan ledakan sebesar 1,8 megaton yang diperkirakan hampir 100x kali lebih besar dari Trinity Test!Misi aslinya untuk mengganggu satelit milik Rusia, tapi dampaknya luar biasa. Jalur komunikasi sempat mati di beberapa wilayah secara bersamaan. Terlebih, dampak badai matahari yang mampu menjangkau bumi. Untungnya, Amerika kemudian membuat satelit anti radiasi untuk menambal lubang di Magnetosfer yang pernah mereka rusak itu.5. SetiSeti adalah program yang ditujukan untuk mencari kehidupan lain selain di bumi. Penelitian ini semakin menunjukkan hasil ketika peneliti mendapat semacam gelombang frekuensi dari planet-planet terdekat terutama Mars. Hingga akhirnya, SETI semakin gencar melakukan kontak hingga sekarang denan berbekal peralatan yang semakin canggih.Beberapa peneliti berpendapat kalau rasa penasaran dan keingintahuan manusia akan kehidupan lain selain di bumi tidak perlu dilanjutkan. Tentu saja ketakutan mereka didasari oleh teori invasi alien yang mungkin terjadi. Bumi berpotensi kiamat dan manusia akan punah. Mengingat tingkat teknologi alien dan kita seringkali digambarkan terpaut jauh.

Kamera Digital
Folklore
16 Jan 2026

Kamera Digital

Salah satu kenalanku meninggal secara mendadak. Aku tak pernah bertemu wanita itu. Ia memiliki seorang putri yang berumur empat tahun. Gadis kecil itu bernama Yuki. Ayahnya tidak bisa membesarkan Yuki sendirian, jadi ia meminta bibiku untuk merawatnya.Gadis kecil itu menolak ditinggal sendirian, jadi ia tak pernah pergi dari sisi bibiku. Hal itu mulai menjadi masalah. Bibiku jadi tidak bisa pergi kemana-mana tanpa Yuki. Gadis cilik itu terus-terusan mencari perhatian. Bahkan putri bibiku mulai merasa cemburu.Pada suatu hari, bibiku memberitahuku bahwa ia harus pergi keluar kota selama beberapa hari. Aku diminta untuk mengasuh Yuki. Aku tinggal sendirian sehingga ia bisa menjadi temanku.Beberapa hari kemudian, bibiku mengantar Yuki ke apartemenku. Saat bibiku akan pergi, ia berdiri di samping Yuki dan berkata, "Yuki, jadilah anak yang baik. Beranikan dirimu sendiri."Saat bibiku pergi, aku mencoba berbicara pada Yuki. Aku juga memainkan beberapa permainan dengannya, tapi sikap gadis kecil itu sangat aneh. Ia memiliki boneka beruang yang selalu dipeluknya. Ia tak pernah melepaskan boneka itu. Ia juga tak pernah tersenyum. Ia bahkan tak pernah berbicara. Yang dia lakukan hanya duduk diam di ruang depan sambil menatap dinding. Hal itu membuatku tidak nyaman.Aku sedang mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menghiburnya. Aku baru saja membeli sebuah kamera digital. Jadi, kuputuskan untuk membiarkan Yuki bermain dengan kamera digitalku yang lama. Saat ia melihat kamera tersebut, matanya berbinar-binar. Aku menunjukkan padanya bagaimana cara menggunakan kamera itu. Ia lalu pergi berkeliling apartemen untuk mengambil gambar apa saja. Ada senyum lebar di wajahnya.Malam itu, aku menemukan betapa sulitnya meninggalkan Yuki sendirian. Kapan pun aku mencoba untuk meninggalkan ruangan, ia mulai menangis dan menjerit memanggil namaku. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian karena ia akan memelukku dengan sangat erat. Ia bahkan memaksa ikut masuk ke kamar mandi bersamaku. Hal itu sangat memalukan.Ketika datang waktu untuk tidur, ia menolak tinggal di kamar sendirian. Jadi, ia memaksa untuk tidur di ranjangku. Aku membacakan dongeng sebelum tidur untuknya. Setelah beberapa waktu, aku membiarkannya tidur. Itu adalah saat aku melihat boneka beruang miliknya. Salah satu kakinya berwarna hitam karena hangus, seolah-olah benda itu sebelumnya pernah terbakar. Hal itu membuatku penasaran.Pada tengah malam, aku terbangun oleh suara aneh. Saat aku menoleh, aku melihat jika ada sesuatu yang salah dengan Yuki. Tubuh gadis kecil itu gemetar dan menggigil. Matanya terbuka lebar, giginya bergemeletukan, dan air mata menetes di kedua pipinya. Aku memegang tubuhnya dan bertanya apa yang terjadi."Dia menatapku lagi," ia berkomat-kamit."Siapa?" tanyaku terkejut."Wanita dalam kegelapan," balas Yuki.Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku mencoba memberitahunya bahwa itu hanya imajinasinya saja, tapi ia menggelengkan kepalanya. Aku memerlukan waktu yang lama untuk menidurkannya lagi.Hari berikutnya, Yuki sudah baikan. Ia senang bermain dengan kamera digital. Saat tiba waktunya pulang ke rumah, aku membiarkan Yuki menyimpan kamera digitalku yang lama. Yuki memelukku. Walaupun ia tidak mengatakan apa pun, aku bisa tahu bahwa ia bahagia.Aku mengantar gadis kecil itu ke rumah bibiku. Sebelum pulang, aku menyempatkan untuk meminum secangkir teh. Bibiku berterima kasih padaku karena telah merawat Yuki. Kami menghabiskan beberapa waktu untuk mengobrol di meja dapur."Kasihan dia," kata bibiku. "Ia tidak berbicara sepatah kata pun sejak ibunya meninggal."Aku tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahuku, maka aku bertanya, "Bagaimana ibu Yuki meninggal?"Sebuah tatapan aneh muncul pada wajah bibiku, "Dia tewas terbakar...""Bagaimana kebakaran itu terjadi?" tanyaku."Well..." bibiku ragu-ragu untuk berbicara tentang hal itu. "Itu cerita yang menyedihkan. Ibu Yuki melakukan bunuh diri. Ia merupakan wanita yang sakit jiwa. Ia menuang bensin ke seluruh tubuhnya, lalu menyalakan korek api. Ia membakar dirinya sendiri hidup-hidup.""Ya Tuhan!" seruku. "Betapa mengerikan!""Ya," kata bibiku. "Keluarganya sangat terkejut, mereka menutupinya dan berpura-pura kejadian itu sebagai kecelakaan. Mereka mengadakan upacara pemakaman kecil-kecilan, hanya keluarga dekat saja yang diundang. Yuki tidak ada di sana. Dia bahkan tidak tahu jika ibunya meninggal. Ia mengira ibunya hanya sedang liburan panjang. Kami tidak tega menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.""Kasihan Yuki," bisikku.Bibiku mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sedih. "Kasihan Yuki."Beberapa hari setelahnya, Yuki meninggal.Bibiku mencoba mengubah kebiasaan Yuki. Malam itu, ia memaksa gadis kecil tersebut untuk tidur sendiri di kamarnya. Walaupun Yuki menangis dan meraung, bibiku tetap meninggalkan ia di kamarnya dengan pintu yang terkunci. Pada pagi harinya, bibiku menemukan tubuh Yuki sudah tidak bergerak di atas ranjangnya. Gadis kecil yang malang itu telah meninggal.Tidak adayang tahu apa yang terjadi. Dokter tidak bisa mengidentifikasi penyebab kematiannya. Tidak ada bekas apa pun di tubuhnya. Ia benar-benar sehat. Ia meninggal secara misterius pada malam itu. Tidak ada penjelasan apa pun.Setelah upacara pemakaman, aku kembali ke rumah bibiku. Semua orang merasa sangat sedih. Bibiku mengembalikan kamera digital yang kuberikan pada Yuki. Aku membawanya pulang ke rumah. Benda itu mengingatkanku padanya.Kartu memori kamera digitalku penuh dengan foto yang diambil oleh Yuki. Aku melihat-lihat foto yang ia ambil sambil mengusap air mata yang menetes di pipiku. Ada gambar apartemenku, gambar rumah bibiku, gambar bunga, anjing, mainan, permen... Gambar-gambar lucu yang diambil oleh seorang anak kecil.Kemudian, aku membuka gambar terakhir yang membuat darahku membeku. Tanganku gemetaran. Aku ingin berteriak, tapi tidak ada apa pun yang keluar dari mulutku. Tanggal yang tercetak di foto menunjukkan bahwa itu diambil pada malam saat Yuki meninggal.

Bayangan di Stasiun
Folklore
16 Jan 2026

Bayangan di Stasiun

Aku tinggal di Tokyo. Setiap pagi, aku naik kereta api bawah tanah untuk pergi bekerja. Stasiun lokal yang kugunakan adalah Stasiun Shin-Koiwa di jalur Chuo. Tempat itu terkenal sebagai tempat untuk melakukan bunuh diri.Bahkan, tempat tersebut memiliki julukan "Statiun Bunuh Diri". Sepanjang tahun, orang yang depresi dan salah jalan yang tak terhitung jumlahnya telah melakukan bunuh diri di sana dengan melompat di depan kereta api.Hal itu menjadi masalah, sehingga pihak stasiun memasang cermin di kereta api bawah tanah. Mereka mengatakan jika orang-orang melihat bayangan mereka sendiri saat akan melompat, itu akan mengubah niat mereka. Aku tidak berpikir ide tersebut akan benar-benar bekerja.Baru minggu lalu, ada bunuh diri di stasiun. Aku ada di sana saat hal itu terjadi. Aku melihat segalanya.Saat itu pagi buta. Aku sedang menunggu kereta api. Hanya ada sedikit orang di peron. Aku mendengar suara dari loudspeaker yang mengumumkan bahwa kereta akan datang.Tiba-tiba, aku memperhatikan seorang wanita yang berdiri tepat di depanku. Ia wanita biasa yang berumur kira-kira 26 atau 27 tahun. Tapi sesuatu tentang dia membuatku was-was.Dia bertingkah sangat aneh. Saat kereta api semakin mendekat, ia melangkah ke depan dan mulai melangkah setapak demi zetapak ke pinggir peron. Ada sesuatu yang sangat salah. Ia menoleh ke belakang untuk memandangku. Aku hanya bisa melihat tatapan ketakutan di wajahnya.Tiba-tiba, aku tahu apa yang kira-kira akan ia lakukan. Tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk menghentikannya. Aku membeku di tempat karena ketakutan. Aku hanya bisa melihatnya melempar dirinya sendiri di depan kereta api.Ada decit rem yang berbunyi saat kereta api mencoba untuk berhenti. Penumpang lain di peron menjerit. Diantara gema suara penumpang yang menjerit dan decitan besi, aku bisa mendengar suara tabrakan yang memualkan.Pandangan menjadi sangat mengerikan sekali. Aku tidak bisa melupakannya dari benakku. Ada darah dan potongan daging beterbangan dimana-mana. Aku pikir aku akan muntah. Penumpang lain berlari dari peron. Aku juga ikut berlari bersama mereka.Petugas polisi harus menutup semua jalur. Saat kami menunggu di luar untuk naik bus menuju tempat tujuan, aku masih memikirkan tentang wanita yang malang itu. Adegan tersebut berputar lagi dan lagi dalam benakku, tapi ada sesuatu yang salah. Akhirnya, seuatu itu datang padaku.Bayangan.Itulah yang membuatku khawatir. Aku memperhatikannya sebelum wanita itu melompat. Lampu di stasiun kereta api bawah tanah bersinar terang. Saat lampu-lampu itu menyinari ke bawah, mereka membuat bayangan dari kiri ke kanan. Pilar, kios, semuanya membuat bayangan dari kiri ke kanan.Tapi bayangan wanita itu berbeda. Bayangannya berjalan tepat ke depan, menarik kakinya sampai ke pinggir peron, seolah-olah cahaya bersinar dari belakang.Pasti ada sesuatu yang salah. Aku memiliki perasaan tidak nyaman dalam perutku yang tidak mau hilang. Aku telah sampai pada kesimpulan dari ini semua.Segera setelah sampai di tempat kerja, aku langsung membuka internet untuk mencari berita lama tentang stasiun kereta api bawah tanah. Ada lebih dari 20 kasus bunuh diri yang terjadi pada tahun lalu. Beberapa dari mereka adalah pengusaha, beberapa ada yang tua, ada juga wanita dan pria muda, bahkan ada sedikit anak kecil.Akhirnya, aku menemukan apa yang kucari. Itu adalah sebuah foto yang diambil beberapa detik sebelum seorang laki-laki paruh baya melompat di depan kereta api. Aku menekan tombol zoom untuk memperbesar gambarnya, kemudian aku memeriksanya dengan hati-hati.Satu kakinya di udara, ia sedang mencoba untuk berbalik. Aku mengenali wajah penuh teror di wajahnya. Ada sebuah bayangan hitam seperti lengan yang keluar dari peron. Tangan itu sedang menyambar pergelangan kaki si pria paruh baya. Tiba-tiba, segalanya menjadi jelas.Saat aku melihat gadis muda di stasiun pada pagi itu, ia tidak melompat di depan kereta... Ia ditarik ke depan kereta api.

Tangga Kayu
Folklore
16 Jan 2026

Tangga Kayu

Ada sebuah bangunan apartemen tua di Jepang yang memiliki cerita terkait angka tujuh. Apartemen tersebut sangat kecil dan tua sekali. Bangunan apartemen itu juga tidak memiliki lift. Hanya ada tangga kayu besar yang bobrok. Tangga dari kayu tersebut terdiri dari tujuh anak tangga. Setiap anak tangga memiliki tujuh langkah.Di lantai satu dari bangunan tersebut, ada satu ruang apartemen yang berseberangan langsung dengan anak tangga. Pemilik apartemen sangat kesulitan menemukan penyewa yang mau tinggal di apartemen tersebut. Kapan pun ia menyewakannya, penyewa tiba-tiba akan pergi tanpa memberikan penjelasan apa pun. Setiap penyewa akan pergi kurang dari seminggu setelah menyewa ruangan tersebut.Suatu hari, seorang laki-laki muda datang untuk melihat-lihat apartemen yang kosong. Apartemen itu sangat kecil, tapi pemiliknya meminta harga sewa yang sangat rendah. Kemudian, si laki-laki memutuskan untuk mengambil apartemen tersebut. Ia memindahkan barang-barang miliknya beberapa hari kemudian.Hari pertama laki-laki muda menghabiskan waktunya di apartemen merupakan hari Senin. Sepanjang malam, ia terbangun dari tidur karena suara asing. Itu seperti suara anak kecil, bergema di anak-anak tangga dekat pintu depan."Aku telah sampai di anak tangga pertama," kata suara tersebut."Apa yang dilakukan anak kecil pada jam tidur malam-malam begini?" si laki-laki bertanya pada dirinya sendiri.Namun demikian, ia terlalu lelah karena harus mengangkut barang-barangnya. Ia lalu kembali tidur.Malam berikutnya, ia terbangun lagi oleh suara yang sama dari luar, "Aku telah memanjat anak tangga kedua!"Pada hari Rabu malam, suara itu terdengar menjerit, "Aku telah memanjat anak tangga ketiga!"Si laki-laki melompat keluar dari ranjang dan berlari ke pintu depan. Saat ia membuka pintu dan melongok keluar, ia melihat anak tangga itu kosong. Sebuah pemikiran menakutkan lewat di benaknya. "Apakah mungkin anak tangga itu berhantu?"Hal yang sama terjadi pada hari keempat, kelima, dan keenam. Setiap malam, si laki-laki mendengar suara anak kecil yang memanggilnya dari luar. Setiap waktu, suara itu semakin mendekat.Minggu malam akhirnya datang. Si laki-laki gemetar di tempat tidurnya. Ia berpikir untuk pindah, tapi ia meyakinkan dirinya sendiri jika ia harus berani. Ia menolak untuk membiarkan dirinya ketakutan oleh suara hantu. Pada tengah malam, ia bangun karena mendengar sesuatu mencakar pintunya.Sebuah suara melolong terdengar, "Aku telah sampai di anak tangga ketujuh!"Bulu kuduk si laki-laki berdiri saat ia mendengar pintu kamarnya yang terkunci tiba-tiba mengayun membuka.Pagi berikutnya, pemilik apartemen datang untuk menagih biaya sewa. Saat ia mengetuk pintu apartemen, tidak ada jawaban sama sekali. Penasaran dengan kondisi si laki-laki yang menyewa apartemennya, si pemilik mengambil kunci dan masuk.Pemilik apartemen menemukan tubuh si penyewa telentang di atas ranjang. Wajahnya menunjukkan kengerian yang luar biasa. Polisi datang untuk memeriksa tubuh penyewa, tapi tidak ada penyebab kematian yang jelas. Sepertinya laki-laki itu mati karena ketakutan.Apartemen itu masih kosong sampai hari ini, menunggu penyewa baru. Sepanjang tahun, semua orang yang tinggal di sana sebelumnya, memilih kabur sebelum seminggu. Mereka semua mengatakan bahwa mereka pergi karena takut apa yang akan terjadi saat suara itu sampai di anak tangga ketujuh.Hanya ada dua orang yang tahu jawabannya: Laki-laki yang mati dan suara aneh yang memanjat anak tangga setiap malam.

Badut yang Sedih
Folklore
16 Jan 2026

Badut yang Sedih

Beberapa hari yang lalu, aku bermimpi sesuatu yang sangat aneh. Aku sedang berdiri di jalan sempit yang panjang menuju sekolahku. Hari itu ada kesunyian yang aneh. Tidak ada angin yang bertiup, tidak ada burung ynag menyanyi, dan tidak ada serangga yang mengerik. Jalan tampak sangat lengang karena tidak ada siapa pun di sana. Aku mulai berjalan.Setelah itu, aku merasakan perasaan aneh bahwa seseorang sedang mengawasiku. Aku menoleh ke balik bahuku dan melihat bayangan kecil di kejauhan. Bayangan itu seprtinya berlari dengan kecepatan kencang. Aku tetap berjalan, tetapi setiap kali aku melihat ke belakang, bayangan itu semakin dekat. Segalanya membuatku sangat tidak nyaman. Bayangan itu semakin mendekat padaku.Pada suatu tempat, aku menghentikan langkahku untuk menoleh kr belakang. Bayangan itu ikut berhenti. Ia hanya berdiri di tengah jalan sana sambil menatapku. Saat aku mulai berjalan kembali, bayangan itu mulai berlari di belakangku. Akhirnya, bayangan itu cukuk dekat denganku sehingga aku bisa melihat wajahnya.Ia adalah seorang badut. Riasan sedih bisa kau lihat pada wajah badutnya. Ia memakai mantel tipis dan topi yang lusuh, seperti seorang gelandangan. Caranya memandangku membuatku sangat ketakutan. Untuk beberapa saat aku berpikir, "Jika ia menangkapku, ia akan membunuhku."Aku ingin lari, tapi karena beberapa alasan, aku tidak bisa melakukannya. Kakiku terasa berat sehingga aku tidak bisa mengangkat kakiku. Hal yang bisa kulakukan hanya jalan di tempat. Badut itu semakin mendekat ke arahku. Saat aku melihatnya lagi, aku bisa melihat mata badut tersebut. Ia sedang menangis.Aku melihat sekolahku di kejauhan. Sebuah harapan muncul. Sesuatu berbisik padaku jika aku bisa ke sana sebelum ia menangkapku, maka aku akan selamat.Baru saja aku sampai di gerbang utama sekolah, aku menoleh untuk terakhir kalinya. Badut itu berada tepat di belakangku. Tangannya menyambar bahuku dan memutar tubuhku.Hal yang sangat menakutkan adalah wajahnya. Ia tidak marah sama sekali. Malahan, ia terlihat putus asa dengan tampang mengerikan. Air mata jatuh membasahi riasan di pipinya."Tertangkap kau!" katanya.Kemudian yang mengejutkanku adalah ia hanya melepaskanku dan berjalan pergi.Aku berdiri tercengang di sana. Bagaimana aku bisa menjadi bodoh? Aku ketakutan tanpa alasan. Aku mulai menertawakan diriku sendiri. Badut itu berhenti dan berbalik. Ia mengambil pisau berkarat dari sakunya dan memamerkannya di depan wajah."Kali kedua aku menangkapmu, akj harus memotongmu," katanya. "Ketiga kalinya, aku harus membunuhmu... Sampai jumpa lagi."Dengan pisau karatan itu, si badut mengusap air mata dari wajahnya dan melangkah pergi.Aku terbangun dengan keringat dinginSejak aku bermimpi tentang si badut, aku terlalu takut untuk pergi tidur. Selama berhari-hari, aku minum kopi dan coca cola karena putus asa untuk selalu terjaga. Aku tidak berani menutup mataku walaupun hanya sejenak. Aku takut aku jatuh tertidur... dan jika aku bermimpi, aku tahu badut itu akan berada di sana untuk menungguku.

Taman Bermain
Folklore
14 Jan 2026

Taman Bermain

Ini terjadi saat aku menjadi mahasiswa. Aku sedang berjalan pulang ke rumah saat aku dihentikan oleh seorang gadis kecil. Ia terlihat berumur lima atau enam tahun. Ia menyambar tanganku dan mulai menarikku."Tolong datanglah," ia memohon. "Ibuku membutuhkan bantuan..."Aku tidak tahu mengapa, tapi karena beberapa alasan aku pergi bersamanya.Gadis cilik itu menyeret tanganku sekitar 4 atau 5 blok sampai kami tiba di sebuah taman. Ada pohon-pohon, bangku, ayunan, dan perosotan. Mungkin karena sudah agak petang, taman itu terlihat sepi.Gadis itu tidak mau melepaskan tanganku. Ia menyeretku ke arah perosotan. Di dekatnya, aku melihat seorang wanita duduk di bangku di bawah sebuah pohon. Dari tempatku berdiri, aku tidak bisa melihat wajahnya karena cabang-cabang pohon menutupinya."Aku membawa seseorang, Bu!" gadis cilik itu memanggilnya dengan ceria.Si wanita yang duduk di atas bangku tidak bergerak.Dari belakang cabang-cabang pohon, aku mendengarnya berkata, "Maafkan saya. Itu anak perempuan saya..."Ada sesuatu tentang suara wanita itu yang membuat bulu kudukku merinding. Aku merasakan sesuatu yang sangat-sangat salah. Aku hanya ingin pergi dari sana secepat mungkin.Si gadis kecil berkata, "Ayo, bermain denganku." Ia lalu berlari ke arah perosotan."Maafkan saya, itu anak saya..." kata wanita itu lagi dalam nada datar.Aku masih tidak bisa melihat wajahnya. Sesuatu tentang caranya duduk membuatku gelisah. Aku mulai berkeringat dingin. Si gadis cilik bermain di perosotan di belakangku. Sedangkan matahari terbenam sehingga mulai berubah gelap."Mengapa Anda memberitahu anak Anda untuk membawa saya ke sini?" tanyaku. "Mengapa saya?"Saat itu, wanita tersebut tiba-tiba berteriak, "Jenny!"Ada suara gedebuk. Aku menoleh ke arah perosotan di belakangku. Gadis kecil itu telah terjatuh. Ia berbaring tanpa suara di atas tanah. Wajahnya pucat, sedangkan matanya terbuka lebar. Ia terlihat tidak bernapas. Saat aku melihatnya dengan penuh ketakutan, darah mulai merembes hingga menyebar di sekitar kepalanya.Aku ingin menelepon polisi, ambulan, atau apa pun itu... tapi aku membeku ketakutan. Aku tidak bisa bergerak.Aku menoleh kembali ke arah bangku taman. Wanita itu duduk di sana tanpa bergerak. Aku tidak mengerti mengapa ia tidak menolong anak perempuannya.Aku menggapai dan menarik cabang-cabang pohon yang menutupi wajahnya. Apa yang kulihat membuatku menjerit ketakutan. Itu adalah wajah mayat seorang wanita.Wajahnya berwarna keunguan. Matanya menonjol keluar, sedangkan lidahnya menjuntai diantara bibirnya. Ada sebuah syal yang membungkus lehernya dengan ketat. Ujungnya terikat di cabang pohon di atasnya. Ia menggantung dirinya sendiri.Mulut wanita itu terbuka dan ia menggumam, "Maafkan saya, itu anak saya..."Aku tidak ingat banyak setelah itu. Pikirku, aku pasti pingsan.Saat aku kembali sadar, aku sedang berbaring di atas tanah. Saat itu sangat gelap, sedangkan taman sudah sepi. Aku bangun dan lari pulang ke rumah.Setelahnya, aku mendapati kabar bahwa wanita itu melakukan bunuh diri di taman bertahun-tahun yang lalu. Anak gadisnya tewas dalam sebuah kecelakaan, sehingga ia menyalahkan dirinya sendiri. Wanita yang malang tersebut menjadi putus asa hingga ia akhirnya bunuh diri.Taman bermain lalu ditinggalkan sejak saat itu, tapi aku tidak akan pernah melupakan apa yang aku lihat.

Hotel Murah
Folklore
14 Jan 2026

Hotel Murah

Delapan tahun lalu, aku bekerja di sebuah perusahaan keamanan di Jepang. Itu adalah perusahaan kecil yang sibuk sepanjang tahun. Beberapa dari kami harus menghadiri konferensi bisnis di luar kota. Tugasku adalah memesan beberapa kamar hotel dimana kami bisa menginap.Sebulan lebih sebelum konferensi, aku membuka internet untuk memesan empat kamar di sebuah hotel yang murah. Kelompok yang pergi ke konferensi adalah aku sendiri, rekanku yang bernama Shinichi, manajer kami, dan pemilik perusahaan.Sehari sebelum konferensi dilaksanakan, aku menelepon pihak hotel untuk mengkonfirmasi pemesanan. Tapi aku dikejutkan oleh kabar yang tidak menyenangkan. Saat mereka mengecek pemesanan, staf hotel menyadari mereka membuat kesalahan besar. Mereka hanya menyediakan dua kamar single untuk kami.Aku sangat geram. Aku memprotes dengan marah, tapi staf hotel memberitahuku mereka tidak memiliki kamar lain. Aku menuntut untuk berbicara pada manajer hotel. Akhirnya, ia memberitahuku ada kamar ganda yang bisa ia berikan pada kami dengan harga yang sama dengan kamar single . Aku tidak terlalu senang, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.Hari berikutnya, kami menghadiri konferensi. Saat kami sampai di hotel, saat itu sekitar pukul satu pagi. Kami mengambil kunci kami di meja resepsionis. Karena sangat lelah, jadi kami berempat langsung masuk ke kamar. Tentu saja, pemilik perusahaan dan manajer memperoleh kamar single . Jadi, aku dan Shinichi terpaksa berbagi kamar.Kamar kami terletak di lantai atas pada bagian belakang hotel. Saat aku membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan, aku merasakan perasaan ngeri yang aneh. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi entah kenapa ruangan itu memiliki suasana yang sangat tidak menyenangkan. Kamar itu didekorasi bergaya Jepang, tapi luar biasa kotor.Karena aku sudah lelah, jadi aku masuk ke dalam kamar sambil menaruh koperku di atas lantai. Aku bisa melihat rekanku, Shinichi yang tidak terlalu bahagia. Aku mencoba meyakinkannya bahwa mungkin saja kamar itu tak seburuk kelihatannya.Ada dua buah futon * di atas lantai. Keduanya terlihat sedikit baru, tapi yang lainnya kotor dan tertutupi debu. Tirai terlihat compang-camping dan lembab. Kertas dinding mengelupas dari dinding dengan tambalan-tambalan, bahkan ada jamur dimana-mana. Hal itu sangat menjijikkan. Kamar tersebut seperti tidak pernah dipakai selama bertahun-tahun.Ada dua buah shoji ** untuk berganti pakaian, jadi kami pergi ke belakangnya untuk berganti pakaian. Aku sedang menunduk ke lantai saat aku melihat sebuah noda merah gelap di karpet, seolah-olah seseorang menumpahkan sesuatu di sana tapi tak ada orang yang mau membersihkannya.Aku memutuskan untuk protes ke manajer hotel tentang hal itu keesokan harinya. Pada waktu itu, yang paling kuinginkan adalah cepat-cepat mandi dan pergi tidur. Namun demikian, saat aku masuk ke dalam kamar mandi, ada bau busuk yang membuatku menutup hidung. Kamar mandi itu lembab dan pengap. Bak mandinya dipenuhi noda berwarna cokelat.Kami berdua tidak jadi mandi, jadi kami hanya berbaring di atas futon dan mencoba untuk tidur. Futon yang kugunakan menghadap langsung ke arah kamar mandi, sedangkan futon milik Shinichi menghadap ke arah jendela.Pada tengah malam, aku tiba-tiba terbangun. Aku mengedipkan mata dan melihat sekeliling. Dalam cahaya temaram, aku melihat pintu kamar mandi terbuka. Sebelumnya, pintu itu tertutup untuk mencegah baunya memasuki ruangan. Tapi sekarang pintu tersebut terbuka. Saat pandanganku berpindah ke bawah, aku melihat sesuatu bergerak di lantai.Saat itu sangat gelap, aku tidak bisa memastikan itu apa. Ada dua bentuk gelap mencakari karpet."Apa lagi sekarang?" geramku. "Tikus?"Mataku berangsur-angsur menyesuaikan diri dengan kegelapan. Aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Itu adalah kepala seorang wanita dengan rambut hitam yang panjang. Apa yang kukira tikus ternyata adalah tangan wanita tersebut.Tangannya yang berbonggol menggenggam dan mencakari karpet sebelum tubuhnya secara perlahan-lahan merangkak keluar dari kamar mandi, sedikit demi sedikit. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut.Aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat itu seolah-olah aku lumpuh. Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya berbaring di sana, menatap ketakutan pada wanita yang merangkak pelan-pelan ke arahku... inci demi inci... semakin dekat.Akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku mengeluarkan teriakan yang tadinya tertahan dan berjuang keluar dari tempat tidur. Aku menghidupkan lampu dan wanita itu menghilang. Aku gemetar hingga keringat dingin turun dari dahiku."Shinichi," aku berbisik. "Apakah kau melihatnya...? Wanita itu... ia merangkak menyeberangi lantai..."Aku mendekat untuk mengoyang-goyangkan tubuh Shinichi, tapi ternyata ia sudah bangun. Ia menoleh hingga aku bisa melihat matanya terbuka lebar penuh ketakutan."Aku juga melihatnya," ia berkata dengan suara bergetar. "Setengah jam yang lalu, ia menatap tajam melalui jendela... menatapku..."Kami berdua berjuang untuk berdiri, menyambar tas kami, dan lari keluar dari ruangan. Kami menghabiskan waktu semalaman di ruang manajer untuk memberitahunya apa yang kami lihat.Pagi berikutnya, kami pergi ke meja resepsionis untuk protes. Aku memberitahu manajer hotel bahwa kami tidak akan pernah menginap di hotelnya lagi. Kami juga akan memperingatkan semua orang yang kami kenal untuk tidak menginap di sana.Kapan pun aku memikirkan tentang hantu wanita itu, betapa ia dekat sekali dengan kami, itu membuatku merasa ketakutan.****Futon: Jenis perangkat tidur tradisional Jepang. Futon digelar di atas tatami, di atas tempat tidur, atau kasur. Satu set futon terdiri dari shikibuton sebagai alas tidur dan kakebuton yang lebih lunak sebagai selimut.**Shoji: Panel dari rangka kayu berlapis kertas transparan. Kertas pelapis dapat berupa washi atau kertas bercampur serat sintetis. Dalam arsitektur tradisional Jepang, shōji berfungsi sebagai pintu geser, atau ketika dipasang permanen sebagai jendela atau partisi.

Bak Mandi Baja
Folklore
13 Jan 2026

Bak Mandi Baja

Beberapa tahun yang lalu, aku pindah ke apartemen baru. Biaya sewanya murah dan dekat dengan tempat kerjaku. Apartemen itu terdiri dari satu kamar kecil dengan dapur dan kamar mandi. Hal yang paling bagus tentangnya adalah ada bak mandi baja yang cantik termasuk dengan shower .Suatu malam, aku sedang berada di bak mandi untuk mencuci rambut. Penglihatanku dikaburkan oleh shampo, tapi sudut mataku menangkap sekilas ada sesuatu yang aneh. Di pinggir bak mandi, aku pikir aku melihat dua tangan berwarna putih.Aku cepat-cepat membasuh wajahku dengan air. Tapi saat aku membuka mata dan melihat sekeliling, tangan yang tadi kulihat sudah tidak ada. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanyalah penglihatan yang keliru.Namun demikian, beberapa hari kemudian aku berada di bak mandi lagi. Aku sedang mencari sabun. Tiba-tiba aku melihat ke belakangku. Saat itulah aku melihatnya. Dua tangan putih berpegang teguh pada pinggir bak mandi.Beberapa detik kemudian saat aku melihat lagi, kedua tangan itu telah hilang. Aku yakin bahwa tangan pucat yang aku lihat milik seorang anak kecil.Tidak lama setelah itu, aku lelah bekerja dan memutuskan untuk menata kamar tidurku. Aku membutuhkan tempat untuk menaruh koperku, jadi aku membuka bagian bawah lemari. Saat aku menarik kertas karton yang melekat di bagian bawah lemari, sesuatu terjatuh dan mendarat di lantai.Itu adalah foto dari seorang anak lelaki yang kira-kira seumuran dengan siswa taman kanak-kanak. Aku melihat tangannya yang putih pada foto tersebut. Tangan-tangan itu tampak familiar. Hal itu membuatku takut, jadi aku membuang foto itu ke kaleng sampah bersama sisa-sisa sampah yang lain.Malam itu saat aku berbaring di tempat tidur sambil menonton TV, aku mendengar suara dari kamar mandi. Aku bangun untuk mengeceknya dan menemukan bahwa bak mandi baja telah terisi dengan air dingin sampai meluber. Aku membungkuk untuk mematikan keran, tapi aku melihat sesuatu terpantul dari permukaan air.Itu adalah bayangan seseorang yang berdiri di belakangku. Seorang wanita dengan rambut panjang. Tiba-tiba, sesuatu menyambarku. Kepalaku didorong ke dalam air dingin. Aku mencoba melawan, tapi ia terlalu kuat. Aku bertarung untuk melarikan diri dari cengkeraman licin tersebut, tapi ia tidak mau membiarkanku pergi. Aku tidak bisa bernapas karena paru-paruku rasanya akan meledak. Aku ketakutan jika aku sampai tenggelam.Karena panik, aku menendang-nendang dengan kakiku, tapi tidak ada sesuatu di belakangku untuk kutendang. Aku memutar tubuhku. Tanganku terangkat, mencoba sekeras mungkin untuk mengangkat tubuhku sendiri dari bak mandi. Dengan seluruh kekuatanku, aku berusaha menarik kepalaku keluar dari dalam air. Aku berhasil setelah megap-megap.Tidak ada seorang pun di sana.Pintu kamar mandi tertutup. Aku memutar kenop untuk membukanya, tapi aku merasa sesuatu menyentuh kakiku. Aku melihat ke bawah dan melihat tangan kecil berwarna putih sedang mencengkeram pergelangan kakiku.Aku menjerit ketakutan dan lari keluar dari kamar mandi. Apartemen benar-benar kosong. Aku buru-buru keluar untuk menginap semalaman di rumah temanku.Aku merasa terganggu oleh berbagai pertanyaan. Siapa yang tinggal di sana sebelum aku pindah? Apa yang terjadi di sana? Aku mencoba bertanya pada penyewa, tapi ia tak mau berbicara tentang hal itu.Aku memutuskan untuk pindah dan mencari tempat tinggal lain. Saat aku kembali ke apartemen guna mengumpulkan barang-barangku, aku menemukan koperku tergeletak di lantai kamar tidur. Benda itu sudah penuh dengan baju.***

Tujuh
Folklore
13 Jan 2026

Tujuh

Cerita berikut ini diceritakan oleh temanku dari Jepang. Katanya, ia pernah membacanya pada sebuah surat kabar. Aku belum pernah melihat surat kabar itu, jadi aku tidak tahu cerita ini benar terjadi atau bohong belaka. Cobalah baca dan putuskan sendiri.Ada sekelompok remaja yang terdiri dari empat anak laki-laki dan empat anak perempuan yang bersekolah di sekolah yang sama. Suatu malam, mereka mengadakan sebuah pesta kecil di salah satu rumah anak laki-laki. Saat itu telah larut malam dan obrolan berubah menjadi cerita-cerita menyeramkan. Sekelompok sahabat itu ingin menguji keberanian mereka dengan pergi ke tempat berhantu. Mereka pikir hal itu akan menyenangkan untuk menakut-nakuti diri mereka sendiri dengan berwisata di suatu tempat yang berhantu pada malam hari.Bertahun-tahun yang lalu, mereka pernah mendengar tentang sebuah sekolah tua yang telah ditinggalkan. Tempat itu terletak di pinggiran kota. Semua orang bilang sekolah tersebut berhantu. Tidak ada satu pun dari kelompok sahabat itu yang percaya adanya hantu, tapi mereka ingin menakut-nakuti diri mereka sendiri. Selain itu, sekolah yang telah ditinggalkan tersebut merupakan tempat paling mudah yang bisa didatangi.Salah satu dari gadis-gadis memiliki mobil, jadi mereka mengemudi ke sekolah dan berhenti di halaman luar. Kedelapan anak itu memutuskan untuk masuk sekolah secara berpasangan. Rencananya, setiap pasangan harus berjalan-jalan di sekitar sekolah berlawanan arah dengan jarum jam. Hal itu akan memakan waktu sekitar 10 menit untuk mengelilingi sekolah. Jika pasangan pertama sudah selesai maka saat mereka kembali, mereka harus menceritakan apa yang mereka lihat pada yang lainnya. Kemudian, giliran pasangan kedua yang harus berjalan mengelilingi sekolah.Pasangan pertama yang terdiri dari seorang anak laki-laki dan perempuan masuk ke sekolah, sedangkan enam teman-temannya yang lain menunggu di dalam mobil. Setelah beberapa saat, mereka mulai tidak sabar. Saat itu sudah lebih dari 20 menit, tapi teman-teman mereka masih belum kembali. Setelah 30 menit berlalu sejak pasangan pertama pergi, teman-temannya yang lain mulai bosan menunggu. Anak laki-laki dan perempuan berikutnya memutuskan untuk berjalan mengelilingi sekolah guna mencari kedua teman mereka.Teman-temannya yang lain menunggu dan terus menunggu, tapi pasangan kedua tak juga kembali. Teman-temannya yang tersisa tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka mulai penasaran apakah teman-temannya memainkan kelakar pada mereka.Saat itu hampir satu jam sejak pasangan pertama pergi. Anak laki-laki dan perempuan yang mendapat giliran ketiga dengan cemas pergi ke sekolah untuk mencoba mencari teman-teman mereka yang hilang. Mereka tak pernah kembali.Anak laki-laki dan perempuan yang tersisa paling belakang merasa sangat gelisah. Si anak perempuan mulai menangis, sedangkan si anak laki-laki mencoba untuk menenangkannya.Akhirnya, si anak laki-laki berkata, "Aku akan pergi untuk mencari yang lainnya. Jika aku tidak kembali setelah 30 menit, maka panggillah polisi."Setelah si anak laki-laki pergi, si anak perempuan berdiri sendirian di tengah malam yang gelap dan dingin sambil menangis diam-diam. Ia menunggu selama satu jam, tapi tidak ada seorang pun yang kembali. Ia masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin, dan mengemudi ke kantor polisi terdekat.Empat petugas polisi menemani si anak perempuan kembali ke sekolah. Saat menjelang subuh, mereka mulai mencari tujuh remaja yang hilang. Awalnya, mereka tidak bisa menemukan tanda-tanda dari anak-anak itu di lapangan sekolah, tapi kemudian mereka menemukan pintu samping sekolah tua. Gedung olahraga yang tak terpakai pintunya terbuka.Para polisi masuk ke dalam, tapi ruangan itu kosong. Hanya ada kesunyian di udara. Saat mereka melihat ke dalam toilet gedung olahraga, mereka akhirnya menemukan tujuh remaja yang hilang. Leher mereka semua tergantung di atap.Polisi menginterogasi gadis yang selamat. Ia bersumpah bahwa ia menceritakan cerita yang benar. Tujuh remaja pergi ke sekolah terlantar untuk menguji keberanian mereka. Mereka tidak punya alasan untuk melakukan tindakan bunuh diri.Namun demikian, setelah menghabiskan waktu berminggu-minggu mencoba untuk memecahkan misteri tersebut, polisi akhirnya menutup kasus. Mereka berkata bahwa mereka tidak bisa menemukan bukti jika remaja-remaja itu telah dibunuh. Pada akhirnya, kejadian itu dijelaskan sebagai kasus dari histeria massal. Polisi mengklaim bahwa tujuh remaja pasti terlibat bunuh diri.Sampai hari ini, tidak ada seorang pun di kota itu yang berani pergi ke sekolah tua terlantar setelah larut malam.***

Tangan Putih
Folklore
12 Jan 2026

Tangan Putih

Ada empat remaja laki-laki yang berteman baik. Suatu malam, mereka memutuskan untuk mengunjungi sebuah terowongan berhantu. Penduduk setempat kadangkala mengunjungi terowongan itu untuk menguji keberanian mereka. Anak-anak lelaki itu tidak mempercayai hantu. Mereka ingin mengambil gambar diri mereka sendiri di dalam terowongan sehingga mereka bisa menunjukkannya pada teman-teman mereka yang lain.Malam itu, empat anak laki-laki itu mengemudi ke jalan menuju pegunungan. Akhirnya, mereka sampai di terowongan. Mereka memarkir mobil di luar terowongan angker.Menurut urban legend yang mereka dengar, jika kau berdiri di mulut terowongan dan mengulangi kata-kata ini, sesosok hantu akan muncul. Mereka berdiri di depan terowongan diterangi cahaya mobil. Mereka berkata bersama-sama, lagi dan lagi, "Keluarlah, keluarlah dimana pun kau berada!"Kemudian, mereka menunggu. Tapi tak ada apa pun yang terjadi."Seperti perkiraanku," kata salah satu anak laki-laki. "Tidak ada hantu.""Yeah, ini hanya legenda bodoh," kata anak lelaki yang lain, mencoba tidak menunjukkan ketakutannya. "Ayo, ini membosankan. Ayo segera berfoto lalu pulang."Anak-anak laki-laki itu berkumpul di depan mulut terowongan. Mereka meletakkan kamera di atas mobil. Timer kamera berhitung mundur hingga berhasil memotret mereka. Kemudian, mereka semua kembali masuk ke dalam mobil.Namun demikian, anak lelaki yang duduk di bangku kemudi tidak segera menghidupkan mesin mobil. Teman-temannya yang lain menunggu beberapa menit dalam kesunyian. Kemudian, mereka mulai tidak sabar."Hei, mengapa kita tidak bergerak?" teriak seorang anak dari bangku belakang.Si sopir tidak merespon. Ia hanya duduk di sana."Ayolah, Kawan. Apa yang terjadi padamu?" tanya teman-temannya.Anak lelaki yang duduk di depan kemudi pelan-pelan menoleh untuk menatap teman-temannya. Wajahnya pucat dan keringat kecil-kecil menuruni pipinya."Teman-teman... Kita teman, kan?" katanya. Suaranya terdengar gemetar."Tentu saja kita teman," balas yang lainnya. "Sahabat baik.""Kalian akan selalu bersamaku, kan?" tanyanya."Tentu saja," balas mereka. "Selalu bersama.""Jika aku berada dalam masalah, kalian tak akan meninggalkanku... kan?" katanya."Tidak akan," kata mereka. "Kau bisa mempercayai kami."Laki-laki muda di kursi kemudi tersenyum lemah. Ia mengusap alisnya. Ia berbisik lemah, "Lalu... Lihatlah kakiku..."Anak-anak lelaki lainnya saling bertukar pandangan dengan bingung. Mata mereka pelan-pelan berpindah ke arah kakinya. Dua tangan berwarna putih muncul dari lantai mobil. Jari-jari panjang mencengkeram pergelangan kaki si pengemudi dengan kuat.Untuk beberapa saat, teman-temannya menatapnya dengan terkejut. Kemudian, tiba-tiba mereka mulai berteriak ketakutan. Mereka berebutan membuka pintu mobil dan melarikan diri secepat kaki membawa mereka, meninggalkan teman mereka sendirian di dalam mobil.Anak-anak lelaki itu tidak berhenti berlari sampai mereka sampai di bawah bukit. Mereka berhenti untuk menarik napas sambil melihat satu sama lain dengan wajah ketakutan.Setelah beberapa waktu, mereka berhati-hati kembali ke pintu masuk terowongan. Mobil itu masih terparkir di sana. Cahaya lampunya menyinari terowongan, tapi anak laki-laki di kursi kemudi telah hilang. Ia telah lenyap dan mereka tak pernah menemukannya. Sekarang, keberadaannya tak pernah diketahui.

Tas Sekolah
Folklore
12 Jan 2026

Tas Sekolah

Saat aku berumur delapan tahun, ada seorang gadis cilik di kelasku. Namanya Haako-chan. Ia orang yang ceria dan selalu tersenyum pada siapa pun. Salah satu yang paling kuingat tentang dirinya adalah ia memiliki sebuah tas sekolah berwarna merah.Suatu hari, Haako tidak datang ke sekolah. Semua orang penasaran dimana ia berada. Saat kami bertanya pada guru, mereka berkata bahwa mereka juga tidak tahu. Seminggu kemudian, ia tetap tidak datang ke sekolah sehingga kami mengira keluarganya pasti sudah pindah. Waktu berlalu, kami secara berangsur-angsur lupa padanya.Kemudian pada suatu pagi sebelum bel masuk berbunyi, kami melihat sebuah bayangan kecil berjalan melewati gerbang sekolah. Itu adalah Haako-chan. Ia berjalan sangat lambat. Tasnya yang berwarna merah berada di belakang punggungnya. Kami memanggil namanya, tapi ia hanya mengabaikan kami.Saat ia datang mendekat, aku bisa melihat wajahnya secara jelas. Ada yang berbeda dengannya. Aku tidak tahu apa itu, tapi ada sesuatu yang salah. Ia terlihat pucat dan sakit.Kemudian, bel sekolah berbunyi. Tidak ada yang ingin telat masuk kelas, jadi kami berlari kencang masuk ke dalam kelas. Saat guru datang, meja Haako masih kosong. Ia tidak pernah datang ke kelas. Semua orang menjadi bingung. Kami pikir ia datang lagi ke sekolah.Saat istirahat siang, kami pergi keluar ke taman bermain. Ada sebuah tas merah tergeletak di tanah. Aku tahu itu milik Haako. Kami tidak bisa menemukan ia di mana pun, jadi kami membawanya ke dalam kelas dan menaruhnya di atas mejanya. Ia tak pernah datang untuk mengambilnya.Pagi berikutnya saat aku tiba di sekolah, tas sekolah berwarna merah itu masih tergeletak di meja kosong milik Haako. Temanku, Taro, sangat penasaran. Ia memutuskan untuk mengintip ke dalam tas tersebut. Ia menggeser gespernya dan membuka tutup tas itu. Tiba-tiba, ia menjerit ketakutan sehingga tas jatuh dari tangannya. Sesuatu jatuh ke lantai. Benda itu menggelinding meninggalkan jejak merah di atas lantai kayu. Itu adalah penggalan kepala Haako.Hiruk pikuk pecah di ruang kelas. Semua orang menjerit dan menangis. Beberapa anak laki-laki tangisnya meledak, sedangkan beberapa anak perempuan histeris.Kemudian, guru datang ke kelas untuk menanyakan apa yang terjadi. Semua orang mulai berteriak secara bersamaan. Aku melihat ke bawah. Penggalan kepala itu telah hilang. Jejak darah di lantai juga telah lenyap.Awalnya, guru menolak mempercayai kami. Tapi beberapa anak perempuan bersikeras tentang apa yang telah mereka lihat. Akhirnya, guru memutuskan untuk pergi berbicara pada kepala sekolah.Malam itu, mereka memanggil ibu Haako-chan. Mereka bertanya padanya beberapa pertanyaan. Karena tidak mendapatkan jawaban yang tepat, guru dan kepala sekolah menelepon polisi.Hari berikutnya, dua detektif mengunjungi rumah Haako untuk berbicara pada ibunya. Ia mencoba memberitahu mereka ia tidak tahu dimana anak perempuannya. Akhirnya, karena tertekan oleh berbagai pertanyaan, ia meledak.Ibu dan ayah Haako telah bercerai. Ibunya mulai berkencan lagi, tapi kekasihnya yang baru tidak menyukai anak-anak. Jadi, ia membunuh Haako dan memotong-motong tubuhnya. Mereka mengeruk danau di dekat rumah Haako dan menemukan sisa-sisa potongan tubuhnya.Semua orang di sekolah terkejut. Tidak ada satu pun dari kami yang percaya bahwa sesuatu semengerikan ini dapat dialami oleh salah satu teman sekelas kami. Kami berjanji setiap pagi akan ada bunga segar di bangku kosong milik Haako, bersebelahan dengan tas sekolahnya yang berwarna merah.

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 1 dari 7
Menampilkan 24 cerita