Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Kinanthi
Fantasy
01 Jan 2026

Kinanthi

Nak, Ibu mesti berbagi sesuatu padamu: betapa Tuhan telah mengirimkan rahmat mahabesar di Desember yang menggigil. Seorang perempuan tidak akan tahu apa itu kasih sayang hingga malaikat kecil hinggap di rahim realis yang lebih kompleks. Kamu salah satunya; dan lewat Lir Ilir yang acap ditembangkan di lapangan ujung desa, Ibu akhirnya menerima dan bertekad menuntunmu sebagai anak ."Ibu, bolehkah aku bersandar di pundakmu?"Ibu menyayangimu melebihi gugus bintang dan kedatangan kemukus; karenanya Ibu akan mendidikmu, membantumu menjadi seorang Kartini masa kini, mandiri yang dapat menentukan keputusan sendiri. Bukan agama yang wajib Ibu tanamkan padamu, tetapi bagaimana menjadi makhluk ber agama sehingga kamu bisa lebih bijaksana, terbuka menghadapi semua.Ibu tidak cerdas, tetapi berpengalaman... dan sepotong harta itulah yang akan Ibu kidungkan selama duapuluh tahun masa hidupmu; untuk melindungimu."Ibu, mengapa Ibu bungkam? Apa aku mengganggu Ibu?"Nak, ada banyak hal yang mesti diceritakan: tentang kamu yang dianggap sebagai noktah hitam oleh masyarakat; tentang Ibu yang mesti menutup telingamu rapat-rapat dan menjauhkanmu dari ingat-bingar kehidupan kelam. Ibu tidak sanggup berterus terang, tidak bisa melihat wajah kecewamu tatkala tahu cahaya terkadang berasal dari lembah kegelapan. Namun, meski sendiri, Ibu berjanji untuk memberikanmu lanskap infinitas kirana di mana setelah kamu menempatinya, kamu boleh tahu dan membuang semua: Ibu serta masa lalu itu."Ibu... mengapa Ibu tidak bangun? Apa Ibu marah padaku yang selalu manja? Apa Ibu marah karena aku rela membuang apa saja demi berada dalam pelukanmu?"Tuhan akan memberikan kebebasan saat hamba-Nya melakukan penebusan—dan Dia selalu menepati janji, Nak. Azan subuh terdengar amat merdu ketika Izrail menjalankan tugas dengan lembut, tanpa aba-aba, tanpa peringatan sebagaimana dilakukan pada mereka yang ingkar. Ibu tidak kuasa menolak, Nak, pembebasan itu adalah jalan spiritual yang dirindukan semua manusia."Bangunlah, Bu... Aku berjanji akan mandiri mulai saat ini."Pergi bukan berarti benci. Mendiamkan bukan berarti melupakan. Jika dirunut, barangkali dibutuhkan berlembar kertas untuk menuliskan ketakutan ini... tetapi, doa Ibu tampaknya didengar oleh kawanan tonggeret dan perdu di sekitar rumah: kamu tidak akan menjadi seperti Ibu."Ibu, aku ketakutan...."Nak, kendati kamu telah beranjak dewasa, kamu tetaplah bayi mungil Ibu yang selalu merengek ketika malam hair, yang senantiasa Ibu cium tatkala dunia terlampau keras memperlakukanmu. Akan tetapi, ada saatnya kamu mesti menginjak kedewasaan... dan inilah momen yang tepat—ada banyak kata belum terucap, tetapi Ibu yakin kamu baik-baik saja.Amarga urip terus mlaku, cah ayu/ Nadyan nggegirisi ati/ Lila kareben pinuju/ Tumimbal bali nyang Gusti/ Tan isa diselak wong-wong[2]Malaikat berbisik pelan... tanpa kamu tahu. (*)[1] tembang Jawa yang punya karakteristik tresna asih; cocok digunakan sebagai pituduh (nasihat)[2] Karena hidup terus berjalan, Anak Cantik/ Meskipun membuat hati teriris/ Ikhlas untuk menuju/ Kembali ke Tuhan/ Yang tidak bisa ditolak orang-orang

Dialog dari Daun yang Gugur
Fantasy
01 Jan 2026

Dialog dari Daun yang Gugur

Raka pikir, ayahnya serupa dedaunan: terus bekerja demi kelangsungan hidup sebuah pohon tanpa berpikir ia bakal menua dan gugur juga.Ayah adalah pemikir revolusioner. Ia memiliki kegelisahan agung akan hidup dan memutuskan untuk mengabdi pada dunia ilmu pengetahuan guna mengatasi hal itu. Ia berani dan kontroversial, karenanya banyak orang menganggap Ayah sebagai robot hidup. Namun, ketika melihat mata tulus yang siang-malam bekerja merealisasikan segudang ide, Raka tahu Ayah melakukannya karena fanatisme terhadap hidup—“pohon" mereka—secara universal.Meski seorang diri, Raka percaya ayahnya adalah seorang yang baik hati.Ketika Ayah memulai penelitian gila tentang solusi overpopulasi, publik kian geram dan akhirnya melontarkan cacian. Pemerintah lamat-lamat turun tangan. Instansi serta donatur kabur untuk menyelamatkan saham serta reputasi mereka. Walau Ayah kukuh melanjutkan penelitian, desakan berlanjut menuju diskriminasi, sampai-sampai Ibu memilih untuk pergi."Raka, Ibu akan pergi... tidak tahan dengan semua ini."Raka tersenyum kecut. "Bukankah Ibu pergi karena tidak tahan dengan cacian orang-orang?"Kendati masyarakat selalu mengkritik dan kepolisian kerap keluar-masuk rumah mereka, Raka tetap percaya ayahnya adalah seorang yang baik hati. Ia tidak pernah goyah akan hal tersebut; yang ia ragukan justru dunia ini, masyarakat ini, bahkan dirinya sendiri.Raka selalu bertanya dalam diam, mengapa masyarakat selalu menghakimi tanpa mengulik lebih dalam? Apakah mereka tidak bisa menerima rasionalitas yang dipadu kemanusiaan? Tidakkah mereka mengerti, daun itu hanya ingin berbuat sesuatu untuk pohon kita?Apakah... ia harus menjadi seperti mereka agar mereka mau mendengarkan?"Ayah, bolehkah kita menjadi orang jahat?""Memang orang jahat itu seperti apa, sih? Apakah Robin Hood termasuk orang jahat?" Ayah masih bisa tertawa meskipun sirene polisi mendenging di depan rumah. "Semesta lebih luas dari kaca mata kita. Tuhan tidak melarangmu menjadi orang jahat, tetapi ia menginginkanmu menjadi seorang manusia ."Terkadang, Raka berpikir ayahnya adalah seorang altruis naif. Ia berharap Ayah melepaskan semua penelitian itu dan menjadi manusia normal yang melakukan kebaikan standar (yang pastinya dibantah oleh sang tokoh utama).Lucunya, kenaifan itu justru membuat Raka tidak bisa berkutik dan menuruti semua perkataan Ayah. Meskipun, itu berarti ia menulikan diri atas batinnya sendiri yang ibarat tidak lagi memijak kenyataan.*Di satu waktu, ketika Raka benar-benar pasrah dan hilang tempat berpijak, ia genggam kedua tangan keriput itu, lantas mengucapkan pertanyaan agung yang bercokol sedari kanak—dengan suara parau yang berusaha ia sembunyikan, "Aku tahu Ayah tidak akan pergi pun kembali, tetapi haruskah begini caranya? Dengan dianggap sebagai penjahat?""Jostein Gaarder menulis, butuh miliaran tahun untuk menciptakan manusia dan hanya butuh sedetik untuk mati. Lalu, apa arti hidup kita selama ini? Apakah perbuatan kita salah atau benar bagi kehidupan? Kadang kala kita tidak menemukan jawaban itu saat mati, Nak, melainkan beratus-ratus tahun kemudian," Mata Ayah meneduh laksana embun di dedaunan pinus, "sama halnya dengan daun: ia tidak akan tahu sumbangsihnya pada sebuah pohon besar hingga pohon itu tumbuh lebat dan membawa kebahagiaan bagi makhluk hidup lain."Raka bergetar. "Ayah, aku pasti merindukanmu.""Teruslah merindu, Nak, karena ciri penghuni surga adalah mereka yang selalu merindukan kebajikan... dan terus mencari apa itu kebajikan."Rembulan tepat di tengah angkasa ketika pertanyaan, kehidupan, serta daun itu luruh-membusuk di tanah.

Jinmenken
Fantasy
28 Dec 2025

Jinmenken

Di Jepang telah lama terdengar kisah urban legend mengenai seekor anjing yang mengerikan. Mereka serig terlihat saat hari mulai malam di sudut-sudut perkotaan di Negeri Sakura tersebut.Orang-orang yang pernah bertemu dengan anjing itu akan mengira itu adalah anjing-anjing biasa, namun saat berbalik dan melihatnya dengan saksama, mereka melihat dengan jelas anjing itu berwajah manusia. Itulah Jinmenken, anjing berwajah manusia dan bisa bicara.Banyak sekali laporan yang datang dari orang-orang yang ketakutan setelah melihat Jinmenken. Ada yang pernah melihatnya ketika berada di luar rumah, ada yang bertemu saat anjing itu sedang mengais-ngais sampah di jalanan kota.Laporan juga pernah diberikan oleh seseorang pengendara mobil yang ketakutan saat berada pada Expressway.Lewat spion, ia dapat melihat ada seekor hewan yang berlari mengejar mobilnya. Padahal saat itu sang pengendara sedang melaju kencang sekitar 100 mil per jam. Makhluk itu berlari begitu cepat hingga pada saat tertentu ia berdampingan dengan mobil orang tersebut. Saat sang sopir berusaha mengamati makhluk apakah itu, ia melihat jelas anjing berwarna gelap kecoklatan dengan kepala manusia.Anjing itu berkata, “Jangan lihat aku!”Kejadian itu membuat si sopir tidak fokus sehingga menyimpang dari lajur jalan dan mengalami kecelakaan mengerikan.Dalam kisah lain, ada suatu restoran yang buka hingga tengah malam dan sampah-sampahnya di buang di pintu belakang.Suatu malam, sang koki mendapati seekor anjing yang mengobrak-abrik sampah untuk mencari makan. Koki pun berusaha mengusir anjing itu.Saat anjing itu sedikit berlari menjauh, ia berbalik lagi dan berkata, “Tinggalkan aku sendiri!” Koki tersebut juga melihat dengan jelas wajah manusia pada hewan itu.Di Jepang, Jinmenken dianggap sebagai suatu pertanda buruk mengenai datangnya bencana atau kecelakaan.Pada tahun-tahun 1989 dan 1990, orang-orang di Jepang sangat heboh dengan penampakan Jinmenken. Orang-orang yang khawatir dan ketakutan seringkali memanggil polisi agar menyingkirkan Jinmenken dari lingkungan mereka. Berbagai kecelakaan mobil yang terjadi disebut-sebut akibat adanya penampakan Jinmenken. Pihak kepolisian pun kesulitan untuk mengatasi tuduhan itu, karena harus dibuktikan bahwa makhluk aneh itu benar-benar ada.Ada berbagai macam spekulasi atas hebohnya penampakan Jinmenken di Jepang.Pertama, orang-orang beranggapan bahwa Jinmenken adalah roh-roh dari korban kecelakaan lalu lintas yang bereinkarnasi sebagai anjing.Kedua, ada yang beranggapan anjing berwajah manusia itu adalah peliharaan roh-roh jahat.Sementara yang terakhir lebih berkaitan dengan teori konspirasi mengenai percobaan biologi rahasia untuk menghasilkan hibrida manusia-anjing namun mereka berhasil melarikan diri dari laboratorium eksp

Black Eyed Children
Fantasy
28 Dec 2025

Black Eyed Children

Ada sebuah kisah menyeramkan mengenai kemunculan sosok anak-anak misterius dengan bola mata berwarna hitam.Kisah ini terdengar seperti mitos/urban legend biasa karena memang kisahnya mulai ramai dan marak di internet. Meski demikian banyak laporan diterima dari berbagai tempat mengenai penampakan sosok misterius ini..Black Eyed Children (Anak-Anak Bermata Hitam) adalah legenda urban yang merujuk pada makhluk paranormal (beberapa percaya bahwa mereka alien) yang berbentuk anak-anak berusia 6 hingga 16 tahun, memiliki kulit pucat, dan memiliki bola mata yang seluruhnya berwarna hitam sehingga akan terlihat seperti mata berongga atau berlubang. Singkatnya sosok ini digambarkan begitu menyeramkan.Anak-anak bermata hitam ini seringkali diceritakan muncul secara tiba-tiba di tempat sepi misalnya saja di jalanan yang jarang dilalui kendaraan. Mereka biasanya berdiri di sisi jalan dan mengangkat tangan ketika ada kendaraan yang melintas. Mereka lalu meminta tumpangan pada sang pengendara.Beberapa kisah juga menceritakan bahwa anak-anak ini kadang muncul seorang diri, terkadang juga berdua atau berkelompok. Mereka juga biasanya mendatangi rumah-rumah penduduk yang kebetulan berada di wilayah sepi. Mengetuk pintu rumah seakan bertamu. Lalu ketika pemilik rumah membukakan pintu, mereka akan memaksa masuk ke dalam.Awal mula kisah anak-anak bermata hitam ini dimulai dari sebuah tulisan "ghost related mailing list" yang ditulis oleh seorang jurnalis dan reporter bernama Brian Bethel pada tahun 1996. Pada tulisannya itu, Bethel menceritakan pengalamannya bertemu dengan dua orang anak laki-laki misterius di Abilene, Texas dan di Portland Oregon.Diceritakan saat itu Bethel sedang mengendarai mobilnya seorang diri saat tiba-tiba di belokan jalan yang sepi, dua orang anak laki-laki menghentikan kendaraannya meminta tumpangan. Saat itu Bethel tidak memperhatikan bola mata anak-anak itu. Ia pun mempersilahkan mereka masuk ke dalam mobil.Menurut ceritanya, anak-anak ini minta diantarkan ke teater. Namun begitu melihat bola mata yang mengerikan dari anak-anak ini, Bethel langsung mengeluarkan mereka dari mobil dan langsung tancap gas pergi.Setelah cerita Brian Bethel menyebar, mulai banyak laporan mengenai munculnya anak-anak bermata hitam ini. Awalnya kisah-kisah itu dianggap cerita karangan dan hanya sebuah histeria massa mengingat kisah mengenai perjumpaan dengan anak-anak misterius ini dilaporkan terjadi di banyak wilayah.Meskipun beberapa meyakini cerita ini hanyalah legenda urban (urban legend) yang mulai ramai pada akhir tahun 1990an. Namun ternyata ada beberapa kisah yang diyakini memang benar-benar terjadi dan terkonfirmasi.Berikut adalah beberapa kisah mengenai kemunculan anak-anak bermata hitam ini bahkan beberapa di antaranya terjadi sebelum tahun 1996.Pada tahun 1974, dua orang pria bernama Alan G dan Patrick V sedang mengendarai mobil berkeliling kota Asne, Prancis. Mereka lalu berhenti sejenak di sebuah tikungan dan memarkirkan kendaraan mereka di depan halaman sebuah rumah. Ketika itulah mereka dikejutkan dengan kemunculan sosok 5 anak yang memiliki tinggi sekitar 1,3 meter memakai baju terusan dengan bola mata hitam.Seorang wanita bernama Kerrie Kisner baru saja kembali dari kampusnya di Raleigh, California Utara. Ia lalu mampir di sebuah supermarket tak jauh dari sana. Saat akan pulang dan menuju parkiran dirinya melihat abak perempuan berusia sekitar 12 tahun bersama dengan seorang nenek. Anak perempuan ini mengejutkan Kisner karena kedua matanya berwarna hitam.Pada November tahun 2009, seorang perwira Angkatan Laut di Carolina Utara sedang bersantai menonton TV di dalam rumahnya ketika tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seseorang. Karena berpikir itu adalah temannya yang baru pulang, ia lantas langsung membukakan pintu. Namun yang ia dapati adalah dua anak bermata hitam yang kemudian memaksa masuk ke dalam rumahnya. Perwira ini yang terkejut langsung menyambar pintu dan menutupnya.Pada September 2014 di Cannock Chase, Staffordshire seorang wanita melaporkan telah bertemu dengan seorang anak perempuan bermata hitam. Ia sedang bersama putrinya tiba-tiba mendengar teriakan anak kecil. Wanita ini langsung mencari sumber suara. Saat ia bertemu dengan anak tersebut, awalnya ia tidak mengetahui anak tersebut bermata hitam. Anak ini terus saja menutup kedua matanya. Saat ia meminta mata anak itu agar dibuka, ia kaget setengah mati mendapati anak itu memiliki mata hitam yang mengerikan.Laporan terbaru datang dari sebuah pom bensin di Louisiana. Dua orang anak mendatangi pom bensin pada pukul 3 dini hari. Saat itu cuaca sedang buruk dan listrik padam. Penjaga pom bensin awalnya tidak menaruh curiga karena anak-anak ini bertutur sopan dan hendak meminjam ponsel. Namun ternyata ia segera menydari anak-anak tersebut bukanlah anak-anak biasa.

Anneliese Michel
Fantasy
27 Dec 2025

Anneliese Michel

Kisah tragis seorang gadis remaja asal Jerman, Anneliese Michel. Gadis berusia 23 tahun yang kerap mengalami kesurupan (kerasukan setan) selama sepuluh tahun hingga dia akhirnya meregang nyawa.Anneliese Michel yang lahir pada 12 September 1952 di Leiblfing, Bavaria, Jerman Barat ini berasal dari keluarga yang taat. Namun semenjak usia enam belas tahun, dia kerap mengalami kejang parah dan sering mengalami halusinasi yang biasanya terjadi saat memanjatkan doa.Puncak penderitaan Anneliese Michel terjadi pada tahun 1973, setelah dia mengalami depresi karena sering berhalusinasi saat berdoa. Dia juga mulai mendengar bisikan-bisikan gaib yang mengatakan dia adalah manusia yang terkutuk dan akan membusuk di dasar neraka.Diagnosa medis, dia dinyatakan menderita epilepsi. Selain itu dia juga dianggap mengalami gangguan jiwa dan harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa yang tidak disebutkan namanya untuk memulihkan kesehatan Anneliese Michel.Namun penanganan medis ini justru semakin memperdalam tingkat depresi Anneliese Michel dan memperparah kondisi kesehatannya. Perawatan medis jangka panjang menggunakan berbagai obat anti-psikotik terbukti tidak berhasil. Bahkan Anneliese Michel mengaku sering melihat wajah menyeramkan.Seorang ahli agama percaya Anneliese Michel tengah kerasukan setan. Apalagi saat sedang kerasukan, Anneliese Michel biasanya menjadi tidak bersahabat setiap mendatangani tempat peribadatan dan objek suci keagamaan. Fakta ini membuat keluarga Anneliese Michel berupaya menyembuhkan Anneliese Michel dengan ritual pengusiran setan.Seorang ahli agama yang tinggal di dekat kediaman Anneliese Michel, Ernst pun bersedia melakukan ritual pengusiran. Setelah menyaksikan kondisi Anneliese Michel, Ernst menganggap gejala kejang gadis tersebut bukan karena epilepsi tapi karena gangguan makhluk halus.Ritual pengusiran setan mulai dilakukan pada 24 September 1975. Sedikitnya telah dilakukan puluhan kali ritual pengusiran selama sepuluh bulan dalam rentang tahun 1975 hingga 1976. Setiap sesi pengusiran berlangsung selama 4 jam dan dilakukan satu atau dua kali setiap pekan.Dalam proses ini, Anneliese Michel kerap meracau tentang kematiannya yang sudah dekat. Tidak hanya itu, gadis berambut hitam itu juga mulai menolak untuk makan. Dalam proses ini, pihak keluarga dan Ernst tidak berkonsultasi dengan pihak medis.Anneliese Michel akhirnya meninggal pada 1 Juli 1976 di kediamannya. Hasil otopsi menyatakan penyebab kematian karena kekurangan gizi (malnutrisi) dan dehidrasi. Saat meninggal, berat badan Anneliese Michel diketahui telah menyusut menjadi hanya 31 Kg.Pihak medis menilai nyawa Anneliese Michel bisa saja diselamatkan jika dilakukan langkah pencegahan seminggu sebelum saat dia menghembuskan nafas terakhir. Tuduhan pun mengarah kepada keluarga Anneliese Michel dan Ernst Alt yang dianggap lalai dan mengakibatkan nyawa seseorang melayang.Sidang perdana kasus tewasnya Anneliese Michel dimulai pada tanggal 30 Maret 1978. Persidangan berlangsung sengit karena terjadi dua silang pendapat. Antara yang mempercayai fenomena kerasukan dan pihak yang tidak mempercayai fenomena tersebut.Namun pada akhirnya, majlis hakim memutuskan para terdakwa dinyatakan bersalah atas kelalaian yang membuat seseorang tewas. Mereka dijatuhi hukuman enam bulan penjara (yang kemudian ditangguhkan) dan tiga tahun masa percobaan.Kisah Anneliese Michel ini sendiri menjadi inspirasi bagi sejumlah sineas. Sedikitnya ada tiga film yang memiliki alur cerita berdasarkan kisah tragis Anneliese Michel. Yaitu "The Exorcism of Emily Rose (2005), Requiem (2006) dan The Asylum, Anneliese: The Exorcist Tapes (2011).Anneliese Michel Versi Cerita PanjangKisah nyata di balik "The Exorcism of Emily Rose," melibatkan seorang gadis muda Jerman bernama Anneliese Michel.Orang yang pertama kali mengetahui bahwa Anneliese Michel telah dirasuki oleh roh jahat adalah seorang wanita tua yang mendampingi Anneliese Michel ketika ia berziarah. Wanita itu menyadari keanehan pada diri Anneliese Michel ketika Anneliese Michel berulangkali menghindar ketika melewati lukisan Yesus. Anneliese Michel juga menolak ketika diberi air suci dari sumber mata air.Wanita itu juga mengatakan bahwa ia merasakan aura yang berbeda ketika berada didekat Anneliese Michel. Seorang dukun dari kota terdekat memeriksa Anneliese Michel. Ia menyimpulkan bahwa Anneliese Michel memang telah dirasuki oleh roh jahat. Orang tua Anneliese Michel meminta ritual pengusiran roh jahat kepada dukun itu, namun dukun itu menolak. Akhirnya, mereka meminta bantuan kepada Uskup setempat.Orang tua Anneliese Michel yang putus asa kemudian meminta bantuan seorang Uskup untuk menyembuhkan Anneliese Michel. Uskup yang bernama Joseph Stangl ini kemudian menugaskan dua orang pendeta, yaitu Pastor Arnold Renz dan Pendeta Ernst Alt. Keduanya ditugaskan oleh sang Uskup untuk melakukan ritual pengusiran besar terhadap Anneliese Michel.Ritual Exorcist yang dilakukan kedua pendeta ini berdasar pada "Rituale Romanum" sesuai dengan (Gereja Katolik) yang berlaku pada abad ke-17. Pastor Arnold Renz adalah mantan misionaris di China, sedangkan Pendeta Ernst adalah seorang Pendeta biasa di tempat asalnya.Mereka berdua melakukan ritual pengusiran roh jahat terhadap Anneliese Michel selama 10 bulan, yang terdiri dari 67 sesi. Setiap minggu, kadang dilakukan satu atau dua sesi ritual. Beberapa sesi bahkan berlangsung hingga 4 jamMenurut The Washington Post, Anneliese Michel mulai melihat sesosok setan pada setiap orang yang dilihatnya saat ia mulai mengalami gejala aneh diatas. Ini mungkin menjelaskan mengapa Anneliese Michel sering histeris secara tiba-tiba. Bahkan kedua pendeta itu yakin bahwa sejak mereka melakukan ritual pengusiran, roh yang merasuki Anneliese Michel malah semakin memperparah keadaan Anneliese Michel.Anneliese Michel sendiri mengatakan kepada dua pendeta itu, bahwa ada beberapa roh yang kini merasuki dirinya. Dia menyebutkan ada roh Judas Iscariot, Adolf Hitler, Nero, Cain, Fleischmann, dan yang paling kuat, yaitu Lucifer. Dia juga menyebutkan bahwa sisi gelap dari dirinya juga turut merasukinya.Kedua pendeta ini bahkan kerap berhadapan dengan roh Lucifer yang menolak untuk keluar dari tubuh Anneliese Michel. Mereka mengatakan bahwa roh ini adalah roh yang paling sulit untuk dihadapi.Anneliese Michel telah menjalani 67 sesi ritual pengusiran roh jahat selama 10 bulan. Selama itu pula, Anneliese Michel mengalami sejumlah kerusakan pada bagian tubuhnya. Ligamen di lututnya telah pecah, kakinya juga mengalami kelumpuhan.Belum ada keterangan pasti mengenai penyebab Anneliese Michel dirasuki oleh roh-roh itu. Dia adalah seorang yang religius, begitu juga dengan keluarganya. Hanya saja, 4 tahun sebelum Anneliese Michel lahir, ibunya melahirkan seorang anak hasil hubungan gelapnya yang bernama Martha.Ketika Anneliese Michel masih kecil, ibu Anneliese Michel mendorongnya untuk melakukan penebusan dosa atas dosa yang dilakukan oleh ibunya dahulu. Pendeta yakin, ini adalah sebab utama Anneliese Michel dirasuki oleh roh-roh itu. " Ini seharusnya tidak terjadi. Ini adalah pengorbanan seorang anak kepada ibunya ", kata Pendeta Ernst.Pada tanggal 1 Juli 1976, Anneliese Michel ditemukan telah meninggal. Menurut otopsi, Anneliese Michel meninggal akibat dehidrasi parah dan kekurangan gizi. Sebelum kematiannya, Anneliese Michel selalu menolak untuk makan. Dia percaya bahwa tindakannya itu akan mempercepat kematiannya, dan itu satu - satunya cara untuk mengusir roh-roh jahat yang tengah merasukinya.Tentunya, hal ini membuat kedua orang tuanya sangat sedih. Sebelum kematiannya, Anneliese Michel sempat mengutarakan kata-kata terakhirnya "Beg for Absolution", ini ditujukan kepada kedua pendeta yang telah berusaha menolongnya, dan untuk ibunya ia berkata " Mother, I'm Afraid."Dalam pengadilan setempat menjatuhkan hukuman 6 bulan masa percobaan hukuman terhadap kedua pendeta tadi dan keluarga Anneliese Michel. Tuduhannya adalah mereka dianggap menghalangi upaya medis untuk melakukan pertolongan terhadap Anneliese Michel. Namun, seorang pengacara membela mereka karena merasa apa yang dilakukan pihak keluarga dan pendeta tadi adalah upaya untuk menyembuhkan Anneliese Michel.Sekitar 32 tahun setelah kematian Anneliese Michel, dengan baik dan ayahnya juga tewas, Anneliese Michel masih dihormati oleh kelompok-kelompok kecil umat Katolik.

Castelul Iuliei Hasdeu
Fantasy
27 Dec 2025

Castelul Iuliei Hasdeu

Castelul Iuliei Hasdeu atau Istana Iulia Hasdeu merupakan salah satu istana tertua di Romania. Berdiri di kota Campina, Romania, istana itu pertama kali dibangun di tahun 1893 hingga selesai pada tahun 1896. Konon istana ini merupakan tempat di mana hantu Iulia Hasdeu selalu bergentayangan.Catelul Iuliei Hasdeu yang menjadi tempat di mana urban legend tentang Iulia Hasdeu beredar, sebenarnya berawal dari cerita sedih yang melatarbelakangi pembangunan istana ini.Iulia Hasdeu merupakan seorang anak dari penulis, psikolog, sejarahwan, dan juga politisi yang bernama Bogdan Petriceicu Hasdeu. Lahir di tanggai 14 November 1869, Iulia merupakan seorang anak perempuan yang cerdas. Sejak kecil dia sudah pintar menulis, bahkan di usia yang ke 8 tahun dia sudah menulis tentang Mihai Viteazu – salah satu pahlawan nasional Romania – dan menguasai bahasa Perancis, Inggris, dan Jerman.Di usia yang ke-11, dia lulus sekolah tingkat menengahnya untuk pertama kali. Iulia Hasdeu juga merupakan satu-satunya perempuan Romania yang belajar di Universitas La Sorbonne di Perancis. Iulia Hasdeu dikenal dengan karya-karya seninya yang berupa tulisan, puisi, dan beberapa prosa.Dia juga sangat senang dengan bahasa asing, memainkan piano dan canto – itu semua dia pelajari sendiri. Namun menginjak usianya yang ke-18, Iulia menderita penyakit TBC (tuberculosis) dan membuatnya harus meninggal karena penyakitnya itu, di usia yang sangat muda.Bogdan Petriceicu Hasdeu, ayahnya yang sangat mencintai anak perempuannya ini, merasa sangat kehilangan dengan kematian anaknya. Dirundung duka yang mendalam, kehidupan B. P. Hasdeu kemudian perlahan berubah dari seorang politisi dan sejarahwan menjadi seorang praktisi spiritual.Itu dilakukannya sendiri agar bisa tetap berhubungan dengan Iulia, putri kesayangannya. Wujud rasa cinta seorang ayah kepada anaknya itu, kemudian mendorong B. P. Hasdeu membangun sebuah istana untuk putrinya itu, dan menamakannya Castelul Iuliei Hasdeu – Istana Iulia Hasdeu.Kendati membutuhkan beberapa kali perbaikan, Istana Iulia Hasdeu akhirnya didaftarkan menjadi salah satu monumen bersejarah rakyat Romania di tahun 1955, setelah bangunan itu melewati perang dunia pertama dan kedua. Tahun 1994, istana ini kemudian dijadikan museum kenang-kenangan B. P. Hasdeu, di mana di beberapa ruangannya menampilkan beberapa perabotan, barang-barang pribadi keluarga Hasdeu, foto-foto, dokumen, tulisan, dan lainnya.Di salah satu sisi di dalam bangunan tersebut, juga bisa ditemukan sebuah kamar di mana seluruh dindingnya berwarna hitam. Kabarnya di kamar inilah, Bogdan Hasdeu melakukan praktik spiritualnya untuk berkomunikasi dengan Iulia.Setelah kematian, B. P. Hasdeu, Istana Iulia Hasdeu itu kemudian berubah menjadi bangunan berhantu yang penuh dengan legenda keluarga Hasdeu. Beberapa orang mengatakan melihat penampakan hantu perempuan muda yang dipercaya sebagai wujud arwah Iulia Hasdeu di sekitar pekarangan istana itu.Dia sering muncul dengan mengenakan gaun putihnya dan serangkai bunga Daisy di tangannya. Konon, jika kamu melewati istana itu di malam hari – bahkan di tiap malamnya – kamu akan mendengar hantu Iulia memainkan pianonya, di dalam istana yang tak berpenghuni itu. Sebagian lagi mengatakan bahwa arwah B. P. Hasdeu, ayah Iulia juga sering terlihat di beberapa sudut bangunannya dan bercakap-cakap dengan putrinya. Bersatunya arwah B. P. Hasdeu dan putri kesayangannya, Iulia, menunjukkan rasa cinta yang dalam dari orangtua kepada anaknya yang tidak memiliki batas apa pun.Istana Iulia Hasdeu juga menjadi gambaran bagaimana kehilangan seseorang yang sangat dicintai bisa menghancurkan atau mengubah nasib seseorang yang masih hidup atau ditinggalkan.

El Dorado
Fantasy
26 Dec 2025

El Dorado

El Dorado merupakan salah satu kota hilang yang paling dicari, karena konon katanya banyak sekali emas yang terdapat di kota ini. Maka dari itulah, El darado dikenal sebagai kota emas dari sebuah kerajaan mistis yang ditemukan di hutan Amerika Selatan.Rakit emas El Dorado ditemukan pada tahun 1969 di gua dekat Bogota, Kolombia. Adanya harta karun yang tersimpan di kawasan El Dorado di Amerika Selatan, hingga kini masih menjadi sebuah legenda bagi rakyat Amerika dan dunia.Sejumlah penelitian sejarah atau penelitian pribadi dilakukan untuk mengungkap misteri yang meliputinya. Bayangan tentang emas dan permata berharga yang terkubur di suatu tempat di pedalaman Amerika Selatan itu, masih tetap hangat dibicarakan.Satu-satunya pijakan untuk mengungkap rahasia besar itu adalah legenda yang tersiar sejak lima ratus tahun lalu. Tentang suku Chibcha, sub suku Indian Amerika Selatan yang sangat memuja Dewa Matahari.Mitologi kuno mereka yang dilansir orang-orang Spanyol menyebutkan, bahwa pemujaan ini berkaitan dengan sejumlah persembahan harta berharga seperti emas dan batu permata. Orang-orang Chibcha menganggap emas adalah anugerah dari Dewa Matahari dan selayaknya dipersembahkan kembali kepada sang Dewa.Lalu kisah yang menyeruak dari mulut ke mulut menyebutkan, pemujaan tersebut membuat suku-suku Chibcha melebur emas sebagai perisai bagi bangunannya. Sehingga, kuil-kuil pemujaan mereka disebut dilapisi oleh lempeng emas. Namun, tak ada bukti yang tersisa dari perkiraan ini.Kisah ini mirip dengan legenda dalam bahasa Omagua yang diketahui sebagai Indian Tupi-Guyana di teritori antara Brasil dan Guyana. Mereka percaya pada legenda El Dorado berkaitan dengan emas. Namun, penjelajah sering menafsir El Dorado mengacu pada sebuah kota emas. Dan dalam peta kuno mereka, terdapat sebuah nama El Dorado yang lokasi persisnya tidak jelas.Sebuah mitologi dalam kepercayaan kuno Chibcha ada disebutkan soal Dewi penunggu danau suci. Selain pemujaan terhadap Dewa Matahari, pemujaan dewi air suci ini juga sangat populer di kalangan Indian itu di masa lalu.Kisah tentang Dewi ini bermula dari mitologi tentang seorang istri kepala suku Chibcha di masa awal. Karena dituduh melakukan suatu pelanggaran "hukum", perempuan yang merasa benar itu kemudian bunuh diri dengan melompat ke dalam sebuah danau.Kemurnian hatinya ternyata terbukti dan ia pun bertransfromasi menjadi seorang dewi. Maka sang Dewi ini akhirnya menjadi penunggu danau suci yang dalam perkamen tua dikenal sebagai Danau Guatavita.Pemujaan terhadap Dewi Guatavita ini kemudian menjadi ceremoni satu tahun sekali. Di puncak upacara tersebut, seluruh tubuh kepala suku Chibcha akan dilabur dengan getah, kemudian dilapisi dengan serbuk emas, dari kepala hingga ujung jari kaki. Lewat ritual tertentu, kepala suku kemudian diarak menuju danau. Dari sana ia akan dinaikkan ke rakit hingga ke tengah danau.Tiba di tengah danau kepala suku akan terjun ke air dan membasuh tubuhnya, hingga bersih. Saat ritual ini dilakukan, barisan upacara yang mengiringinya akan melemparkan sejumlah persembahan emas dan permata ke dalam danau.Inilah yang disebut sebagai upacara orang emas yang dalam bahasa Muisca (Chibcha) disebut sebagai El Dorado.Apakah benar legenda ini?Sebuah laporan bertahun 1962 menyebutkan, tentang penemuan spektakuler dua petani. Di suatu desa dekat Bogota (ibukota Colombia sekarang), mereka menemukan sebuah liang gua yang sangat kecil.Penasaran, kedua petani ini kemudian masuk ke dalamnya dan mereka menemukan emas. Emas temuan mereka ini berupa artefak berbentuk rakit miniatur dengan delapan pendayung dan seorang kepala suku yang terbuat dari emas.Kedelapan pendayung ini duduk membelakangi sang kepala suku. Inilah salah satu bukti kuat tentang legenda El Dorado yang berhasil ditemukan. Namun, impian tentang emas yang melimpah di El Dorado, tak pernah ditemukan hingga kini. Walau Danau Guatavita tercantum di peta, deskripsinya itu tidak sesuai dengan perkamen kuno tentang danau suci Guatavita yang sesungguhnya.Konon, danau suci itu terdapat di antara pegunungan Andes, di dalam sebuah gua yang kini sudah tertutup di dekat Bogota. Seluruh upaya pencarian tidak membuahkan hasil. Terkadang misteri memang bukan untuk diungkap.Memburu Emas El Dorado, semua berawal dari legenda. Dikisahkan dari mulut ke mulut oleh penjelajah Spanyol, tentang sebuah kota yang berlapis emas bernama El Dorado. Legenda ini menarik minat beratus-ratus pemburu harta karun. Namun, sebagian besar akhirnya menemui ajal, tewas di pedalaman belantara Amerika Selatan di gugus pegunungan Andes.Sejak penjelajah Spanyol, Juan Ponce de Leon pada 1513 menemukan Puerto Rico di Karibia, Ia mendengar kisah tentang emas di sana namun tak menemukannya. Sampai akhirnya, orang-orang Indian menyebut bahwa di Pulau Bimini (sekarang Bahama) ada sumber air awet muda. Ia kemudian lebih tertarik mencari air awet muda. Dalam pencarian tersebut, ia berlayar sampai ke semenanjung Florida.Dalam sebuah ekspedisi militer tahun 1521, Ponce de León mendarat di Charlotte Harbor (Florida) bersama 200 tentara yang menumpang 2 kapal. Saat itu pasukan ekspedisi militer Spanyol ini dihadang pejuang Indian Seminole. Pertempuran pun pecah. Ponce de Leon terkena panah dan segera dievakuasi. Namun, ia akhirnya menemui ajal setibanya di Kuba.Pasca de Leon, kisah tentang emas suku-suku Indian ternyata menarik bagi penjelajah Spanyol lain bernama Gonzalo Jiménez de Quesada. Dengan menggunakan kekuatan senjata pada 1530-an, Quesada bersama pasukan ekpedisi merangsek ke pedalaman Amerika Selatan.Ia kemudian mendarat di wilayah kerajaan Bogota (sekarang columbia) dan untuk pertama kali bertemu dengan suku Indian Chibcha (Sering disebut Muisca) di tahun 1537. Indian yang menghuni dataran tinggi yang erat dengan kisah emas tersembunyi.Lalu ekspedisi lain yang dipimpin Sebastian de Belalcazar mendengar legenda El Dorado. Dalam bayangannya El Dorado adalah sebuah kota atau wilayah dengan emas yang melimpah ruah. Namun, pencarian itu tak pernah membuahkan hasil.Kegilaan pada emas terus menghantui para penjelajah. Orellana and Gonzalo Pizarro pada 1541 menyusul memasuki teritori Indian melalui perairan Amazon dengan melakukan pembantaian Indian dan pencarian emas yang paling brutal.Para penjelajah tak pernah mengetahui pasti apakah El Dorado yang sesungguhnya. Kecuali, cerita rakyat dan legenda yang membaur bahwa El Dorado berhubungan dengan emas dan harta karun paling berharga milik suku-suku Indian Amerika Selatan.Padahal sesungguhnya, arti kata El Dorado lebih mendekati pengertian "Orang Emas" (Golden Man) ketimbang sebuah tempat emas (Golden Place). Yang dalam penyebutan suku Indian lokal sebagai El Rey Dorado yang artinya raja emas. Karena katanya, kota ini dipimpin oleh seorang raja yang kuat dan dengan kekayaan emas yang tak terhingga.Penyalahartian El Dorado sebagai suatu tempat dengan emas dan permata yang melimpah, ternyata telah membutakan para penjajah dan penjelajah Eropa. Konsepsi El Dorado yang tak pernah jelas asal-muasal aslinya, ditangkap orang-orang Eropa sebagai misteri tentang harta karun terpendam.Maka sejak isu tentang kota emas itu merebak, para pencari harta dan penjelajah berupaya mati-matian mencari lokasinya. Ternyata setiap ekspedisi yang dikirim selalu mengalamai kebuntuan. Total korban tewas dalam upaya pencarian emas ini mencapai ribuan.Mereka tewas dalam pertempuran dengan suku-suku Indian, terjebak keganasan alam hutan hujan tropis, tewas dalam kecelakaan di medan jelajah pegunungan dan lembah, namun tidak menemukan titik terang tentang harta karun, emas atau pun permata.Lalu, apakah sesunguhnya El Dorado itu?Chibcha adalah satu suku yang mendiami dataran tinggi di wilayah gugus pegunungan Andes teritori Columbia. Dalam sebuah catatan tentang mitologi suku ini, kemungkinan El Dorado merupakan lambang dari sebuah energi besar yang mengandung kekuatan trinitas dari Chiminigagua. Sebuah kekuatan penciptaan semesta.Namun, kemudian El Dorado digunakan secara metaforis untuk merujuk pada tempat benda berharga yang bisa ditemukan. Karena itulah, nama El Dorado bisa ditemukan di dalam peta Amerika, terutama sebuah tempat di California dan beberapa tempat lain.El Dorado juga digunakan untuk merujuk pada pengertian cinta, surgawi, kebahagiaan, atau kesuksesan. Bisa juga dipakai untuk menyatakan sesuatu harapan yang tidak terwujud atau ilusi yang tak nyata. Pemaknaan ini berkaitan dengan banyak upaya menguak misteri emas di balik El Dorado.Dan Sir Walter Raleight pernah menduga, El Dorado sebagai sebuah kota di tepian Danau Parima tak jauh dari Orinoco, Guyana (sekarang Venezuela). Dan beberapa penjelajah yang putus asa pernah berencana mengeringkan Danau Guatavita yang diduga menjadi kuburan harta karun suku Chibcha.Karena di tepian danau di wilayah Sesquile, Provinsi Almeidas itu pernah ditemukan sejumput hiasan emas dan batu zamrud. Namun, upaya itu tak pernah diwujudkan.

Ted Bundy
Fantasy
26 Dec 2025

Ted Bundy

Berapa waktu silam, US sedang banyak membicarakan salah satu pembunuh berantai paling berbahaya di Amerika bernama "Ted Bundy", yang dikategorikan sebagai seorang psikopat yang berbahaya. Netflix sendiri sampai membuat dokumenter khusus dirinya berjudul "Conversations with a Killer: The Ted Bundy Tapes" dan film yang di bintangi Zac Efron berjudul "Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile" .Ted Bundy adalah salah satu pembunuh berantai paling terkenal di Amerika Serikat. Hanya dalam waktu 4 tahun saja (1974-1978) dia berhasil membunuh 30 perempuan, bahkan polisi memperkirakan dirinya membunuh lebih banyak dari itu. Dia akan mengambil bagian tubuh dari korban sebagai trophi, bahkan polisi menemukan beberapa kepala korban di apartemennya. Selain mengambil bagian tubuh, dia juga menyetubuhi mayat yang sudah dia bunuh. Parahnya Bundy mampu lolos selama 2 kali ketika sudah di tahan.Pertama Bundy pernah ditahan di tahun 1975 karena menangkap seorang wanita bernama, Carol DaRonch, dan divonis 15 tahun penjara. Di tahun 1977 memloloskan diri dari penjara dengan melompat dari jendela perpustakaan penjara. Untungnya dia ditangkap lagi delapan hari setelah lolos, namun dia berhasil lolos lagi hingga ditangkap tahun 1978. Setelah penangkapan kedua kalinya Bundy mendapatkan penjagaan yang ketat hingga tahun 1989 ketika dirinya di eksekusi mati.Hal yang membuat Ted Bundy berbeda adalah kemampuannya untuk membuat para korbannya percaya dengan dirinya. Kadang kala dia beralasan mobilnya sedang mengalami masalah namun dia tidak bisa menyelesaikan masalah itu karena sedang cedera. Banyak orang juga merasa bahwa Ted mampu untuk mencari korban dengan cepat karena wajahnya yang ganteng dan memesona.Latar belakang kehidupan Ted BundyTed Bundy terlahir dengan nama Theodore Robert Cowel dari seorang single parent . Namun sang ibu yang masih muda tak mengakuinya sebagai anak, melainkan berperan sebagai kakak perempuannya dalam keluarga mereka saat itu.Mengetahui wanita yang diyakini sebagai kakak perempuan ternyata ibu kandungnya, Bundy mulai mengalami mental breakdown. Bundy mulai berubah menjadi pendiam dan mengisolasi diri. Upaya ayah tirinya untuk mendekatkan Bundy dengan keluarganya dimentahkan.Ted Bundy terlihat menonjol karena kecerdasan otaknya. Karenanya mudah saja bagi Bundy meraih sarjana psikologi di Universitas Washington pada 1972.Di universitas, Bundy jatuh cinta pada gadis populer dan kaya bernama Stephanie. Namun, Bundy dibuat kecewa lantaran perempuan itu mengakhiri hubungannya secara tiba-tiba dan menghilang begitu saja.Setelah putus cinta, Bundy lebih giat kuliah dalam rangka mengambil hati keluarga cinta pertamanya. Setelahnya, ia terjun ke dunia politik dan menjadi juru kampanye kharismatik untuk Partai Republik.Ketika kekayaan sudah dicapai, Bundy untuk kedua kalinya berkesempatan bertemu dengan Brooks dan menjalin cinta. Brooks pun yakin untuk menikah dengan Bundy. Namun di saat seperti itu, Bundy dengan sengaja meninggalkan Brooks seperti yang dilakukan wanita itu kepadanya.Dendamnya kepada kisah cinta pertamanya membuat dirinya diliputi amarah. Ia pun melampiaskan amarahnya kepada perempuan-perempuan yang memiliki ciri-ciri fisik yang sama dengan Brooks.Sebanyak 30 pembunuhan yang diakui oleh Bundy. Sebelum dibunuh semua korbannya dilecehkan dan diperkosa terlebih dulu. Beberapa di antaranya sengaja dipenggal untuk diambil kepalanya. Penggalan kepala itu disimpan Bundy sebagai kenang-kenangan.Kasus perkosaan dan pembunuhan berantai yang dilakuan Bundy susah diungkapkan. Kebanyakan polisi terkecoh oleh pesona ramah dan ketampanan Bundy.Polisi menganggap tidak mungkin sosok berlatarbelakang pendidikan psikologi menjadi tersangka pembunuhan berantai yang mengerikan. Kharismati dan ketampanan Bundy jugalah yang membuatnya mudah saja memperdaya korban.Identitas Bundy terungkap setelah ada seorang korban yang berhasil lolos dari tikamannya. Dan pada akhirnya, Bundy meninggal di atas kursi listrik di Penjara Raiford Florida.Kisah hidupnya berulangkali dibuatkan film, termasuk serial terbaru yang ditayangangkan di Netflix beberapa waktu lalu berjudul 'Extremely Wicked, Shockingly Evil and Vile.' Zac efron memerankan karakter psikopat kharismatik tersebut.Sekilas tentang psikopatDengan kepribadiannya yang dingin dan aksinya yang sangat brutal membuar profesor kriminologi, Scott A. Bonn Ph.D. mengelompokkan dirinya sebagai seorang psikopat.Hal yang paling mendasar dari seorang psikopat aadalah kurangnya empati karena tidak memahami emosi sama seperti orang lain rasakan. Mereka sangat sulit mengerti apa yang banyak orang rasakan, sehingga tidak terlalu memedulikan orang lain. Menjelaskan emosi pada psikopat seperti menjelaskan warna pada orang buta warna, mereka akan sangat susah memahaminya. Oleh karena itu semua hal yang mereka lakukan seringkali tidak mempertimbangkan nasib dan perasaan orang lain, mereka hanya peduli dengan diri sendiri dan kebutuhan apa yang harus dipenuhi.Psikopat juga sangat terkenal sebagai seorang pembohong, meski kondisi tidak memaksa mereka untuk berbohong. Disamping itu mereka kadang mampu memikat perhatian dari perkataan dan perilakunya, hal ini karena mereka bisa fokus untuk mendalami "apa yang orang lain mau" untuk kepentingan mereka sendiri. Beberapa ciri-ciri di atas juga terlihat pada Ted Bundy dalam menjalankan aksinya.Dia sendiri pernah mengatakan ketika dirinya di interogasi bahwa "aku adalah orang berdarah dingin yang paling berengsek yang pernah kalian temui".Setelah mendengar Ted Bundy dan beberapa ciri psikopat, pastinya banyak dari kita menilai bahwa seorang psikopat akan jadi pembunuh dan kriminal. Namun sebenarnya masih ada beberapa hal keliru, dan ternyata banyak sekali kondisi orang psikopat bisa menguntungkan dirinya.Paul Babiak, penulis buku berjudul “Snakes in suits: When Psychopaths go to work” , meneliti 203 pegawai perusahaan dan menemukan 4% dari mereka ditemukan skor yang tinggi sebagai orang yang condong memiliki kepribadian seorang psikopat.Namun mereka suka juga tidak memiliki catatan kriminal dan menjadi seorang kriminal. Mereka bekerja seperti orang kebanyakan, malah ada beberapa yang jauh lebih sukses dari yang lain. Hal itu dikarenakan kebanyakan psikopat mampu bekerja dengan angat cepat dan memiliki IQ yang jauh lebih tinggi dari yang lain, karena dia tidak banyak terpengaruh oleh pertimbangan moral dalam dirinya.Mereka juga hidup seperti yang lain, menikah, punya keturunan dan bisa berkarier dengan sangat baik. Jadi, masih menganggap psikopat pasti seorang pelaku kriminal?.

Vampir di Pemakaman Highgate
Fantasy
25 Dec 2025

Vampir di Pemakaman Highgate

Sosok urban legend ini ramai dikabarkan bergentayangan disekitaran London Highgate Cemetery di akhir era 70’an. Kawasan tersebut merupakan pemakaman yang sudah lama tidak dipakai dan diabaikan. Ditempat tersebut juga beberapa orang termasuk Sean Mancester dan David Farrant, melihat sosok bayangan asing.Pada bulan Desember 1969, David Farrant mengatakan bahwa dirinya telah menyaksikan sesok bayangan mahluk berwarna abu-abu di pemakaman tersebut. Pernyataan David tersebut pun dibenarkan oleh penduduk sekitar Pemakaman London Highgate.Sosok bayangan tersebut semakin menguat eksistensinya ketika Sean Manchester mengatakan kepada Hampstead dan Highgate Express, bahwa sesosok vampire abadi bersemayam di pemakaman tersebut, sejak abad ke 18. Semenjak itulah sosok vampir tersebut menjadi urban legend seperti terlahir.Sean bahkan mengatakan vampir tersebut diagung-agungkan oleh para pemuja setan, sehingga atas dasar itu tubuhnya harus ditusuk, dipenggal dan dibakar. Sean dan David pun seperti saling membenarkan cerita versi masing-masing, hingga puncaknya yaitu pada 13 Maret tahun 1970, seorang pemburu vampir melihat sekumpulan orang berjalan memasuki kawasan pemakaman London Highgate, bahkan polisi pun berusaha menghadang mereka.Bahkan fenomena menjadi semakin aneh, David dalam websitenya selalu memiliki pemahaman yang berlawanan mengenai vampir sebagai fenomena supranatural yang terjadi di Highgate. David ditangkap oleh polisi pada Agustus 1970 atas kepemilikan salib dan kayu pancang.Sementara Sean bertindak lebih antisipatif dan tradisional, ia menaruh bawang putih dan air suci di dalam sebuah katakom yang ia klaim hasil penelusuran seorang gadis yang berjalan dalam tidurnya. Ia pun merencanakan untuk melakukan penusukan dengan kayu pancang terhadap salah satu jasad, namun dihalang-halangi oleh temannya.Aktifitas aneh yang dilakukan oleh Sean dan David ini telah menjadikan sosok vampir itu hidup dalam sebuah budaya tutur, dan menjadi legenda masyarakat setempat.

Robert The Doll
Fantasy
25 Dec 2025

Robert The Doll

Robert the doll. Begitulah panggilan untuk sebuah boneka yang berukuran seperti seorang bocah. Boneka ini sangat terkenal, bukan karena kelucuannya. Tetapi, boneka ini terkenal karena cerita horornya.Kisah ini berawal, pada tahun 1904, ketika seorang bocah bernama Robert Eugene Otto, menerima sebuah boneka dari seseorang, yang menurut legendanya, telah terampil dalam ilmu hitam atau voodoo. Orang tersebut memang senang akan keluarga Otto. Itu lah kenapa orang tersebut memberikan sebuah boneka berukuran seperti bocah ini kepada robert. Segera sesuatu berubah saat boneka tersebut, sudah berada ditangan robert. Robert mulai menamai boneka tersebut dengan namanya sendiri (Robert) sedangankan dia sendiri mengubah namanya menjadi Gene.Orang tua Gene mengatakan bahwa mereka sering mendengar Gene berbicara kepada bonekanya, dan boneka tersebut juga tampak berbicara kepadanya. Meskipun pada awalnya mereka mengira kalau Gene hanya menjawab dirinya sendiri dengan suara yang berbeda, tetapi kemudian mereka percaya bahwa sebenarnya boneka itu berbicara.Banyak tetangga yang mengaku bahwa mereka telah melihat boneka bergerak keluar dari jendela saat keluarga Otto sedang tidak dirumah. Keluarga Otto juga bersumpah, bahwa mereka sering mendengar suara tawa yang menakutkan, dan sering melihat dengan sekilas seseorang berjalan dari kamar ke kamar. Di malam hari, Geneakan menjerit ketakutan, dan ketika kedua orang tua nya berlari ke kamar gene. Mereka menemukan furnitur di kamar Gene berantakan, dan Gene berada di kasur sambil menjerit ketakutan, dan berteriak "Robert Melakukannya!!"Ketika Gene meninggal pada tahun 1974, boneka itu tertinggal di loteng rumah bekas keluarga Otto,sampai rumah tersebut di beli lagi. Keluarga baru termasuk seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun, yang menjadi pemilik baru Robert. Tidak lama kemudian, Setiap malam, gadis tersebut terus menjerit ketakutan, dan mengatakan bahwa Robert bergerak di sekitar kamar, dan bahkan berusaha untuk menyerangnya di beberapa kesempatan.Lebih dari tiga puluh tahun kemudian, Gadis tersebut (yang sudah dewasa) masih mengatakan kepada pewawancara bahwa boneka itu hidup dan ingin membunuhnya.Sekarang ini, Boneka tersebut sudah berada di musem East Martello, florida. Menurut cerita, jika ada yang ingin mengambil gambar Robert, orang tersebut harus bertanya kepadanya secara sopan.Jika kepala Robert bergerak menggelengkan kepala, itu berarti tidak diijikan untuk menggambil gambarnya. Apabila hal tersebut di langgar. Robert akan segera mengutuk orang dan keluarga orang tersebut.Note : Cerita Robert inilah yang sudah menginspirasi pembuatan film Child's Play, yang dibintangi oleh Chucky (boneka hidup yang berusaha untuk membunuh orang - orang).

Boneka dan Gadis Kecil
Fantasy
24 Dec 2025

Boneka dan Gadis Kecil

Dia sudah pergi. Aku tiada lagi rasa. Jatuh pada tanah di tengah hutan tanpa cahaya bukan sesuatu yang suatu boneka pernah rasakan. Dia yang dulu mendekapku dalam hangatnya pelukan, kini menyatu pada tanah. Aku pandang setiap daun dan hewan-hewan kecil menginjak-injak. Tidak merasakan sakit pada fisik. Meski kapas sudah terlepas dari kain, jahitan telah terlepas sebagian pada tangan, sebelah mata telah lama copot entah di jalanan mana, pandangan kini tersisa kabur dengan tumpukan bekas tanah basah menutupi wajah. Semua itu, aku tetap bisa duduk sejenak memandang. Dalam diri ini dirasa kosong selain angin. Inikah yang terjadi setelah bertahun-tahun dilalui bersama? Aku tidak tahu.Beberapa waktu saja berlalu sejak terakhir dia masih memeluk, masih bermain, tapi semua dirasa pada dunia berbeda. Hangatnya kamar kontras pada hutan tempatku berada. Sementara bunyi deru mesin yang perlahan memelan jadi pengisi suara selain keheningan. bunyi petak pelan terdengar saat sebuah bungkus jatuh di sisiku. Benda yang sama menemaniku beberapa saat itu.Apa ini? Aku tidak yakin. Bahkan jika untuk bergerak melihat sekeliling saja sulit jika tidak ada yang menggenggamku. Dia yang dulu membawaku setiap saat kini entah di mana.“Anika! Kamu di mana?” Suara cempreng kecil yang kurindukan terdengar. Saat itu aku terlempar pada bawah ranjangnya, hanya diam menunggu dia menjemput. Saat kakinya terlihat dari bawah sana, dia membungkuk, bertemunya pandangan kami. “Oh, di sini rupanya!” Dia tarik aku dan bawa diriku berputar-putar pada kamar penuh warna cerah.Dia pandang aku dengan mata coklat yang berbinar, menepuk-nepuk diriku saat debu menempel pada kain dan kapas. Sudah biasa jika dia sering bermain sampai lupa waktu, sampai lupa mainan mana saja yang terlempar dalam kegirangan. Setelah selesai bermain dan pergi sesaat, sudah pasti akan dicarinya lagi kami.“Kamu kotor, nih. Mandi, yuk!” Dia terkikik sembaeri berlari menuju kamar mandi dalam kamarnya. Aku sadar kainku juga selain berdebu, juga ada beberapa semut merayap. Bawah kasur sana memang penuh binatang kecil itu sejak awal dia belajar untuk pesta minum teh bersama. Begitu tiba di kamar mandi, kulihat beberapa semut berhasil merayap pada tangannya. Kudengar suara jerit pelan dari gadis itu sebelum menepuk aku lebih kencang, hingga lega saat mereka telah menyingkir.Dia lalu bawa aku ke baskom warna hijau, membiarkan air menenggelamkan aku. Dia gesek pelan kain menyelimuti diri, mencuci dengan sabun cuci wangi. Cepat-cepat dia kuras saat beberapa semut berhasil mengambang di air. Dia bunga sisa air yang penuh semut tadi ke dalam lubang pembuangan. Begitu saja terus hingga dia yakin makhluk kecil itu sudah minggat. Sudah sering dia bersihkan aku setiap permainan panjang. Entah dia mencoba mainan baru atau hampir melempar dan mengajak makan bersama, meski tahu betul aku tidak butuh itu. Setelah tubuhku penuh air, gadis itu mengangkat dan memeras diriku. Sebelum dia kemudian jemur aku di bawah terik matahari hingga sore tiba. Hingga kami bisa bermain bersama.Aku hanya boneka berbentuk beruang dengan warna toska. Dulu dipajang pada sebuah toko, berdempetan dengan boneka lain. Saat hari itu dia melihatku, senyumnya hari itu terpatri pada hati. Sejak hari itu, kami bersama selalu. Aku selalu jadi mainan kesayangannya, entah untuk dilempar, dipeluk, diajak meminum teh bersama, maupun hanya mengobrol kecil tentang kejadian hari itu. Walau tidak mampu menyahut suara, ucapannya selalu menerangi kekosongan di antara kapas menyelimuti kain padaku. Setelah kering tadi, aku didudukan pada meja kami, berisi juga beberapa boneka di sisi, sementara dia di seberang sana, memegang teko berisi teh.“Nanti pas aku ulang tahun, Anika bakal punya teman baru.” Dia ambil teh dengan cangkir kecil dan menyeruput sedikit. “Kalau warnamu hijau biru begitu, bagusnya temannya warna apa ya?”Aku tidak bisa menjawab. Walau mulut ingin menyahut, meski hanya berupa garis hitam melengkung ke atas. Senyum selalu, apa pun kejadian menimpa. Gadis itu hanya tersenyum, dia tuangkan teh lagi pada cangkirku, meski nyatanya aku bahkan tidak butuh makan apalagi minum. Dia kadang biarkan makanan dan minuman bercecer dekatku, tapi begitu kotor pun segera dia mandikan aku. Selama ibunya tidak datang mengomel, kami anggap semua itu aman.Akulah yang dia punya. Padanya hanya tempatku merasa gembira. Akan tetapi, sembari mengenang semua tadi, suara deru mesin yang kini semakin pelan kembali terdengar, embusan angin dan bunyi kotak dan plastik bertepuk-tepuk mengisi kesunyian.Aku ingat kembali, saat mereka bawa aku ke mobil sang ibu, entah mau pergi ke mana. Dia pasti angkut aku di antara barang lain. Sembari menunggu di antara tumpukan kardus dan bungkusan, aku biarkan bunyi mesin mengisi suasana sore itu.Lalu, suara kecil itu kembali terdengar. “Ma, kalau aku ulang tahun nanti, hadiahnya mainan baru, ya!” Aku senang mendengarnya masih ingin menambah teman untukku. Ibunya hanya mengiakan tanpa banyak kata. Kukira ini jadi hal biasa. Dia beli mainan baru bukan suatu yang aku cemaskan. Asalkan tidak ditinggalkan.Begitu pandanganku berbalik pada gelapnya malam, aku sadar diri ini ditinggalkan. Dengan badan rusak, meski tidak merasa, tapi kehampaan dirasa pada hati yang sebelumnya ada untuknya. Terakhir dilihat hanya pandanganku kabur, diangkat seperti biasa oleh gadis kecil itu, sebelum aku dilempar ke kotak penuh bungkusan lain. Kukira kami akan pindah. Kukira kami akan pergi bersama dan jalani kembali hidup layaknya teman selamanya.Dia tinggalkan aku pada tempat asing. Tidak ada bantal, kasur, apalagi mainan. Hanya dedaunan kering dan tanah basah memenuhi kain. Aku tidak bisa bergerak, apalagi mencoba bangkit dan lari. Jika benar dia telah pergi, aku harus mencari. Tidak boleh meninggalkanku.Dia pernah bilang. “Kamu hadiah terindah, sahabat terbaik.” Nyatanya saat dia bungkus aku dalam kotak penuh bungkusan itu, aku dilempar begitu saja. Aku yang dulu dibersihkan begitu tampak sedikit noda, kini penuh dengannya. Tanpa suara kecil menyebutku kotor dan membersihkan, kini hanya sunyi.Namun, hewan-hewan kecil seperti semut dan lalat beterbangan masih di udara. Sejak tadi menunggu entah apa. Aku memandang, bertanya-tanya apa yang mereka cari pada suatu boneka. Makhluk kecil sama yang sering dikeluhkan sang ibu, juga gadis yang sering mengibas tangan menyingkirkan para binatang itu.“Mereka hanya datang kalau ada yang enak,” ujar sang ibu saat gadis itu menjerit melihat seekor semut merayap pada gelas teh punyaku. “Namanya juga minuman manis, pasti semut suka. Kamu harusnya habiskan sebelum mereka datang.”Aku di pelukan gadis itu, suara masih gemetar saat ceritakan kembali bagaimana hewan kecil itu tiba-tiba saja berada dalam pesta minuman kami. “Padahal tehnya untuk Anika. Kenapa mereka ambil, sih?”Ibunya saat itu tidak menyahut banyak selain menyuruhnya kembali bersihkan sisa pesta minuman kami. “Kalau bawa makanan ke kamar, ya harus dibersihkan. Nanti mereka datang terus. Anika juga tidak butuh minum, adanya nanti semut kira buat mereka.”Hanya dengus pelan dari gadis itu yang kudengar. Sebelum dia gendong aku kembali ke kamar. Saat menutup pintu, hela napasnya kembali didengar. Dia kembali bilang padaku. “Aku tidak mau nanti semut malah gigit aku, atau Anika.” Dia peluk erat aku.Terpaan angin menyapu wajahku, kain yang kini basah penuh lumpur. Tidak sanggup bergerak, mengenang semua yang telah kami lalui. Memperhatikan semut berbaris melewati, aku tahu mereka tidak akan gigit aku seperti yang dia khawatirkan. Sementara lalat berkerumun pada satu tempat.Aku arahkan pandangan, pastikan mata dari plastik tidak memudarkan pandangan. Tumpukan kardus, bungkusan plastik, makan dan minuman berceceran pada sudut lain hutan. Aku terheran-heran, bagaimana bisa mereka tinggalkan juga barang-barang ini? Aku hanya boneka, mereka bisa buang aku jika benar telah bosan, tapi semua yang di mobil... Dibuang juga?Barisan semut tadi melangkah menuntun arah pandangku kian dekat. Barulah jelas apa yang aku lihat. Mereka berkumpul di bawah pohon yang penuh retak kayu dan kaca. Tetesan merah terlihat di antara dahan yang bengkok. Pada bawahnya, aku barulah melihat. Oh, sahabatku...Dia hanya terbaring di sebelah ibunya. Mata terpejam, dengan tubuh sama retaknya sepertiku. Berpelukan mereka di bawah pohon dekat mobil yang kini terpecah depannya. Aku hanya bisa memandang. Jika aku bisa, kupanggil dia seperti dia biasa memanggilku saat hilang. Tidak ada suara keluar dari mulut yang hanya menutup, hanya garis melengkung ke atas. Senyum saja. Apa pun yang terjadi.Saat barisan semut telah merayap di tubuhnya, dia tidak menjerit, ibunya tidak mengeluh. Hanya diam terus memejamkan mata. Aku ingin menepuk-nepuk, menjauhkan hewan yang mereka takuti. Jangan... Dia tidak suka semut menggigitnya.... Sementara mereka terus berkerumun di atas mereka. Suara kecilnya kini berganti sunyi, tatapan mata berbinar telah pudar. Sementara tubuhnya penuh warna merah. Dulu, dia selalu mencuci diriku saat kotor. Bagaimana caraku membersihkannya?Terbaring berseberangan, dengan bunyi degung lalat menyelubungi mereka, mata kian kabur penuh warna cokelat dari tanah. Perlahan diriku pun menyatu pada tanah. Apa aku akan dibersihkan lagi setelahnya? Dia juga? Apa hanya berakhir pada tanah yang akan menutupi kami selamanya?Semut-semut yang tertinggal di barisan belakang mulai mendekatiku. Satu demi satu menggeser boneka ini. Entah karena demi mendorong jauh penghalang jalan mereka atau barangkali sadar boneka itu bukan makanan. Tetaplah aku dikerubungi, terseret kian dekat padanya. Begitu tubuh dia tertempel padaku, tanganku dari sisa kain yang nyaris copot, jahitan kian longgar, melingkari tangan kecil yang kini begitu kaku, dingin .Terbaring bersama kini, aku bersandar pada pipinya, tidak ada lagi pelukan, permainan, apalagi obrolan. Hanya bunyi desir angin terasa. Gelapnya malam selalu jadi rasa takut baginya. Jika aku bisa lakukan sebagai boneka, biarlah aku temani dia. Memeluknya, menjaga dari setiap monster seram dalam kegelapan.Jangan takut. Aku akan menjagamu.Tamat

Fantasy
24 Dec 2025

SURAT DI DALAM BOTOL

Melanjutkan cerita yang dikirimkan penerbit.Sani tersandung sesuatu saat ia berjalan tanpa sandal di atas pasir pantai, itu sebuah botol dengan penutup kayu yang kemudian ia perhatikan ada sesuatu di dalamnya. Sebuah surat. Selembar kertas putih kecokelatan, ia pun mengubur kembali botol itu di tempat semula. Namun, entah mengapa ia merasakan sesuatu, dorongan untuk membuka botol itu dan membaca isi suratnya.Janji tetaplah janji. Begitulah isi surat yang dia baca. Bukan aneh lagi bagi Sani, selama ini dia tumbuh besar di sekitar lautan. Barangkali setelah tiba waktunya dia akan berpulang di dekatnya pula. Berpikir ini hanya cendera mata yang jatuh dan dianggap kini jadi "milik bersama," Sani memungutnya dan mendekapnya ke dada."Kayaknya cantik kalau dijadikan hiasan meja belajar. Enaknya yang santai saja dulu." Dia bicara pada dirinya. Dengan senyum di wajah, dia kembali melangkah dalam rumahnya yang hanya berjarak tidak jauh dari lautan itu.Kayu berderit saat dia buka pintu, mata Sani terbalak melihat rumah yang sejak lama dia tempati. Bunyi gesek. Bukan gesekan pasir seperti setiap langkahnya di pantai. Seperti bunyi decit kulit yang mengesek pada kayu. Dia sendirian sejak lama. Tangannya menggenggam erat botol yang berisi surat itu. Berpikir untuk menghajar siapa saja yang berani menerobos dalam rumahnya."Kamu tidak seharusnya tetap di sini." Bisikan menggelitik leher Sani. "Kamu lupa dari mana asalmu? Dari mana surat itu?"Tubuh Sani bergetar pelan merasakan dingin pada leher. Dia kenal suara itu. Sudah lama tidak terdengar sejak terakhir nyawanya di ujung tanduk.Sani memberanikan diri membalas. "Aku tidak mau lagi kembali."Hening sesaat, tapi entah mengapa Sani dapat dengar bisikan itu lagi. "Kamu telah lama terlena sampai lupa janji. Aku hanya menagih.""Kupikir semua sudah selesai sejak aku menyerahkan nyawa ayam." Sani mencoba untuk tenang meski ucapannya sedikit terbata-bata. "Untuk apa kamu kembali?""Janji tetap janji. Aku menuntut apa yang pantas aku terima." Suara itu membalas. "Kamu sudah terlalu enak hidup jauh, jauh dari segala beban." Masih dengan nada tenang, meski Sani dapat merasakan desis pelan padanya.Sani tidak melihat wujudnya sekarang. Dia masih ingat. Semua hanya terjadi tidak sampai satu dekade. Meski ingatan itu sedikit samar sekarang. Terumbu karang. Air laut memenuhi wajahnya. Sosok kabut mendekat, suara wanita lembut bicara. Dia hanya ingat sampai situ. Walau Sani juga tahu jika dia pasti pernah bicara dengan sosok yang menolongnya. "Aku meminta sesuatu padanya. Tapi, apa ya?" Dia berpikir."Sudah kuduga kamu lupa." Suara itu kini mengambil wujud berupa kabut kelabu. Mengelilingi wajah Sani yang gusar. Sedikit embusan dari kabut pekat, dia sentuh wajah gadis itu. "Kamu sudah melakukannya berkali-kali. Kalah terus begini, kamu akan selamanya terjebak."Sani tepis kabut itu, membuatnya sedikit kabur setelah kena tebas tangannya. "Padahal dulu permintaanku... Aku lupa.""Kamu menukar jiwa agar selamat." Suara itu mengingatkan. "Aku hanya meminta menukar raga agar masih bisa tetap di sini. Begitu juga kamu. Kita sepakat untuk mengambil umpan. Kamu malah keasyikan bermain. Padahal sudah lama sekali.""Sabar sedikit, lah." Sani mundur selangkah, menghindari kabut yang terus dekati wajahnya. Tangannya gemetar, terlepas botol berisi surat itu... Kini jelas siapa penulisnya. "Kamu kira gampang cari orang di tengah pantai begini?""Kamu hidup di tempat wisata. Banyak sekali orang di sana." Suara itu terus menyahut. Tahu betul Sani sengaja tidak membawakan satu jiwa tambahan. "Kalau kamu terus begini, nanti-"Tanpa menunggu lagi, Sani mengibas tangannya. Menyapu habis kabut itu dari pandangan. Tanpa menoleh, dia pacu langkahnya keluar dari rumah kayu kecil yang hatinya sudah terpaut padanya.Langkahnya tergesa-gesa saat menyentuh pasir dengan sendalnya. Napas terburu, berusaha menghirup udara terus selagi kakinya terus bergerak. Tidak boleh tertangkap.Sani melompat pada ombak di sampingnya. Dia tahan napas. Lelah benar. Tidak tahu berapa jauh dia berlari. Riak air kembali berbunyi, ombak mengempas di depannya jauh sana. Sani menatap dalam hening, menatap pada lautan yang perlahan menggelap."Aku aman sekarang." Sani menutup mata. Setidaknya, itu yang dia harap.Dorongan keras terasa pada balik punggungnya. Suara pelan Sani tercekik terdengar. Warna merah memenuhi air sekitarnya, beriringan dengan tubuhnya yang mendadak kaku. Pandangannya kabur. Kepalanya terasa berat. Perut terasa amat pedih. Sani membungkuk. Pedih terasa di perutnya yang terbuka.Tidak. Seharusnya dia selamat sekarang.Suara gerakan terdengar mendekat. Air bergerak beriringan dengan langkahnya. Kabut itu perlahan mengambil wujud. Sosok wanita. Dia dekatkan kakinya pada wajah Sani. Tidak ada lagi senyum seperti sebelumnya.Sani gemetar. Tubuhnya menggigil. Darah memenuhi pandangannya dari bawah perutnya yang kini tidak lagi berisi. Meski tangannya dengan gentar terus memeluk perutnya, berharap sedikit saja bisa menjaga nyawanya agar tidak lari dari raga. Suaranya terputus-putus tapi masih jelas bagi sosok yang sudah mengenalnya. "To... Tolong. Jangan... Aku tidak mau." Belum sempat Sani melanjutkan, bibirnya penuh dengan cairan merah dan air. Terasa sesak di dada, pedih pada lehernya.Wanita itu diam sesaat. Kabut secara samar mengelilingi dirinya. Suaranya tidak lagi samar. Hanya terdengar lebih santai alih-alih marah. "Kamu seharusnya belajar dari kejadian lalu. Ikuti saja syaratnya, kamu tidak akan mengulang kehidupan itu lagi dan lagi."Sani bersuara. Begitu pelan. Begitu halus. Namun, jelas sekali dia berkata dari lubuk hatinya. "Ya."Pandangannya kini dari samar jadi kegelapan. Air laut beriak. Ombak menghempas raganya. Sani terguling di antara air laut. Perlahan, Sani rasakan kembali elusan dari desir pasir dan angin lagi. Matanya terbalak. Dia menarik napas. Memastikan tubuhnya masih utuh. Tidak lagi sakit. Dia selamat, kali ini.Belum sempat Sani menatap ombak yang terempas, dia rasakan sesuatu menggelinding di kakinya. Sebuah botol dengan surat.

Buah Cinta
Fantasy
23 Dec 2025

Buah Cinta

“Untuk kau yang lahir dari sehelai bulu.”Hidup dalam hutan terselubung dari dunia, pohon itu tumbuh penuh dengan beragam bulu dari sayap entah siapa pemiliknya. Layaknya buah-buahan, tumbuh subur di bawah sinar yang terbenam dari ufuk barat, cahaya jingga lembut, hangatkan helaian bulu yang menghiasi pohon. Mereka tidak biasa warnanya, jingga, merah, hijau, dan beragam warna bersinar dengan cahaya dari dalam, sekadar pemanis pandangan dan barangkali... kelezatan. Setiap helai menyimpan bisikan dari jiwa terkubur dalam tanah hutan. Beristirahat dalam damai, menjelma menjadi helaian bulu pada pohon itu, katanya sebagai bagian siklus kehidupan di hutan ini.Helaian bulu penghias pohon hanya satu dari bagian hutan. Ada pula bunga-bunga berwarna terang bersinar dalam kegelapan malam dan seperti helaian bulu pada pohon, tumbuhannya juga tampak lezat. Seekor elang menukik, warna tubuhnya keperakan memantul pada sinar jingga sore itu. Dia hinggap pada sebuah batang pohon, ingat betul bagaimana rasa buah itu. Saat induknya menyuapi sekali, wajahnya berkerut. Rasanya aneh, manis dan pahit sekaligus. Meski saat itu dia mencuit kencang, berharap makanan aneh itu segera disingkirkan, sang elang betina tetap saja menyuapinya.“Ini sehat.” Dia berdalih. Waktu telah berlalu, dan elang itu masih ingat suara ibunya. Elang yang merawatnya saat dia bahkan belum bisa mengoyak daging sendiri.Dia mengingat kisah yang telah lampau, waktu dia bahkan belum bisa melihat dunia. Menetas dalam pohon kosong lagi dingin, dunia masih begitu gelap. Tidak tahu apa yang terjadi di sekitar. Tubuh begitu lemah sementara paruhnya berjuang mengeluarkan cuitan menyeru induk yang tidak juga menghampiri. Kakinya perlahan berdiri, mencari sumber makanan sekiranya dapat menganjal perut. Akan tetapi, dalam sarang yang tidak jelas rupanya ini, dia hanya bisa mencuit tanpa menyadari kenyataan. Tanpa bulu dan penglihatan, dia tidak akan bertahan hingga beberapa saat lagi. Harus pergi. Harus mencari.Ciutan menggema, berharap cemas ada induknya. Tubuhnya belum berbulu, gemetar merangkak sekeliling sarang. Tanpa sengaja kakinya melangkah keluar dari lubang pada sarang dalam pohon, tubuh oleng dan jatuh. Dia menjerit, jantung berdebar menakuti hal yang tidak dia tahu. Tepat tubuhnya nyaris terempas tanah, sesuatu mencengkeram. Tumpukkan bulu yang agak keras, mengingatkan dia akan sarang kosong itu. Ciutan terhenti, tubuh menggigil dalam balutan sayap kelabu yang mendekapnya, tubuhnya yang lemah kini berada pada sayap seekor elang. Aroma dedaunan tercium di antara sayapnya. Hanya sekali entak, mereka melesat kembali ke udara. Tidak sempat bergerak apalagi bersuara, burung kecil itu menggigil dalam punggung elang yang membawanya. Perlahan embusan udara makin lembut, dia diturunkan hingga menggelinding.Burung kecil langsung menciut meminta makan. Rasa takut dan bingung kini dikuasai lapar. Kebingungan dia rasakan. Tekstur keras pada sarang asing dan bau bulu yang tidak dikenal membuatnya gemetar. Tidak tahu harus berharap diberi makan atau meratapi diri.Tidak lama setelahnya, dia dengar suara-suara dari elang lain. “Ayo, siapa di sini yang bisa menyuapinya?” Suara berat dari seekor elang terdengar sangat dekat dengannya, sayapnya yang kelabu bergerak pelan mendorong tubuh burung itu. Burung kecil itu mengenali bau pepohonan padanya, yakin dia yang membawanya tadi.Keheningan tidak berlangsung lama karena seekor elang betina menyahut. “Sini, biar aku suapi dia.” Dia dengar langkah itu semakin dekat. Sayap yang kelabu itu mengelus pelan tubuh burung kecil itu.Pada saat yang sama, burung kecil merasakan sesuatu masuk ke dalam mulut. Makanan pertama. Begitu lahap. Keheningan kembali menyambut, hanya suara tegukan dari burung kelaparan yang samar terdengar. Ketika usai makan, dia langsung tidur, kepala terbaring pada sarang yang keras. Begitu burung kecil hendak menyambut mimpi, sayap besar mendekapnya, membuat dia hangat sepanjang malam.Beberapa hari berlalu dalam keheningan, hanya elusan sayap hangat dan makanan masuk sebelum kembali tidur. Perlahan, dia dapat melihat dunia. Mata menyambut sinar matahari dari sarang yang membesarkannya. Begitu sadar telah melihat dunia, dia bergegas mengeluarkan kepala dari sarang untuk sekadar melihat matahari lebih dekat.“Horia, hati-hati!” seru elang betina yang kini ibu baginya. “Jangan sampai satu helai bulu milikmu terlepas!”Ah, masa lalu itu. Kini dia paham, dia diasuh sepasang elang yang kebetulan menginginkan seekor anak. Dia tidak tahu apa pun waktu itu, hanya mengira jika dia selama ini anak mereka.Kini, sebelum kegelapan menguasai pandangannya, dia tahu di balik kisah sederhana lagi hangat itu ada segelintir kejadian pula. Dia tahu itu sejak dia kepakkan sayap pertamanya.+++Pada tengah hutan, bulu berkilauan terbaring di antara tanah saat musim gugur, para burung kecil penuh warna terang juga terbang, sesekali membaringkan diri di tengah helaian bulu yang terlepas dari dahan. Ciutan dan tawa menggema darinya. Antara pohon-pohon yang menjulang tinggi dan dedaunan yang melambai lembut, dia sebut dirinya seekor elang juga. Perak itu warna sayapnya, seperti elang lain. Dia makan dan bertingkah seperti elang di sekitarnya pula. Horia, elang yang kini hidup dalam keluarga itu, memandangi mereka dalam diam. Dia tidak pernah menanyakan pada induknya apa gerangan. Sesuatu yang menempel pada setiap raga elang, tumbuh pada pohon, helai yang lepas juga dimainkan. Dari mana asalnya? Kini dia mulai resah. Horia menoleh, memandang pada dekat bawah pohon, pada gerbang tua dari kayu hitam, dihiasi ukiran-ukiran memanjang, mulai terbuka.“Jangan ke sana, belum waktunya.” Begitulah yang pernah ibunya katakan. Lagi-lagi... “Jangan sampai helai bulu milikmu terlepas.”Horia tahu, sebagai pemilik raga maka mesti dia jaga. Tidak pernah keluar dari sarang hingga sayapnya mulai tumbuh, hanya berani mengepakkan sayap bila ibunya melemparnya dari pohon. Perlahan belajar, perlahan tahu. Dunia belum sepenuhnya dia jelajahi, dia pula tidak tahu pasti mana saja yang aman selain dari ibunya.Horia kembali merenung di sudut hutan di antara helai bulu pohon. Dia tahu dirinya tidak beda jauh, termasuk ibunya, dari helai sayap di pohon tadi. Mereka barangkali seperti mereka, hidup dan terbang bebas. Hingga tiba saatnya hanya menyisakan sehelai bulu. Horia angkat sayapnya, mengelus bulu kemerahan yang halus. Sama lembutnya. Aromanya juga. “Ibu tidak pernah cerita.” Dia hanya tahu, ibunya meminta untuk menjaga setiap helai bulu dalam raganya. Apa bakal jadi bulu-bulu itu, beristirahat sebagai bagian dari tanah ini?Kepakan sayap terdengar. Seekor elang betina keperakan bertengger di sisi Horia. Dia sedikit lebih besar, sayapnya terlipat saat dia mendekat. Mui, sang induk. Dia dengar suara anaknya. Ah, tentang menjaga setiap helai hingga tiba saatnya. Belum pernah dia bercerita panjang, tentang bulu, pohon, apalagi masa lalu elang yang tumbuh di bawah asuhannya.“Horia.” Suaranya halus di antara angin, membiarkan Horia tetap pada pikirannya selagi dia lanjut bicara. “Kita sama-sama elang. Terbang, makan, dan asal kita sama. Begitu juga dengan akhir.” Dia menunggu, berharap anaknya bakal bertanya lebih.Horia menoleh sesaat. Mereka sama, akhir bisa sama. Namun, dia tidak tahu apa selain tanda pada helai demi helai yang berkilau di antara dahan pohon. Matanya yang perak bergerak tertuju pada sinar jingga matahari yang terpantul dari bulu itu. “Bulu-bulu ini membingungkan. Aku tidak yakin itu berasal dari elang.”Mui mengepakkan sayapnya dengan pelan, helai demi helai bulu pada pohon perlahan bergoyang. “Kamu ingat ini siapa saja?” Perak dan kelabu. Dua warna yang pasti mereka ingat.Horia menatap, kakinya bergerak mundur. Dia kenal bau dedaunan dari sisa helai itu. Aroma yang membawanya ke sarang. Dia tidak pernah bicara langsung pada elang itu. Namun, sedikit sisa dari hatinya berbisik gemetar.Mui tersenyum tipis, dia gerakkan sedikit paruhnya pada sehelai bulu keperakan yang menggantung. “Kita berasal dari hutan ini, dari jiwa-jiwa yang beristirahat. Kamu ... juga dari cintaku sebagai ibu. Suatu saat, kamu akan kembali padanya.”Horia terdiam, mencerna kata-kata ibunya. Dia menatap lagi beberapa helai bulu beragam warna di sekelilingnya. Berayun pelan diterpa angin. Dia masih mengenali beberapa aroma khas. Para elang yang pernah hinggap pada pohon yang sama tempat dia tumbuh besar. “Kenapa... Harus di pohon ini?”“Karena dari situ juga, kamu sebenarnya lahir. Ibu kandungmu hadir sebagai wadah untukmu menetas, sebelum dia kembali ke pohon ini.” Mui mengangkat sayap, mengarahkan pada sehelai bulu keperakan itu. Tanpa perlu dia sebutkan, dia yakin Horia tahu betul siapa itu.Horia menggeleng. “Aku tidak siap. Terlalu cepat. Aku masih ingin terbang bebas.”Mui menatapnya. “Kau bisa, tapi jika meninggalkan hutan ini, kau kehilangan apa yang membuatmu istimewa. Luar sana, kau akan jadi elang biasa, tanpa ikatan antara kita. Hati-hati dengan pilihanmu, Horia.” Dia menatap ke bawah, memandang pada helai bulu yang telah dijatuhkan angin. “Setiap elang akan memberi sehelai jiwanya, untuk kehidupan hutan. Dia yang membawamu ke dunia, juga dia yang layak menjemputmu.”Sudah lama Horia tidak menanggapi ucapan Mui sejak saat itu. Sang induk elang hanya membiarkan, tahu jika dia butuh beberapa saat mencerna. Angin terus berembus pelan, membiarkan beberapa helai bulu yang sebelumnya menempel pada dahan, perlahan jatuh dan kembali ke tanah. Mui mengamati, jantungnya berdegup kencang menunggu saatnya. Saat helai itu menyentuh dirinya, Mui merasakan dirinya lebih berat. Sesuatu menunggu, seperti saat elang kecil itu tiba. Dia menarik napas, mempersiapkan diri. Jika induk dari Horia sempat melihat anaknya sebelum waktunya, dia akan jadikan ini sekaligus perpisahan.Sehelai bulu kelabu. Melayang perlahan mendekati mereka. Mui menatap ke arah Horia, paruhnya bergerak mendekati kepala elang yang dulu dia suapi dalam pelukannya. Mengelus, merasakan Horia sedikit gemetar. “Selama ini, aku yang menyuapi, merindukan cuitan lamu yang rewel menghiasi sunyinya sarang.” Matanya terbuka lebih lebar, bersama paruhnya. “Horia, Ibu minta temani sebentar.”Dia sudah merasakannya. Dia terduduk pada tengah pohon, satu-satunya tempat paling bisa mereka jadikan untuk beristirahat sejenak saat tiba saatnya. Menyisakan sehelai bulu perak di bawah kakinya. Sebelumnya utuh. Sebelumnya bernyawa.“Jaga dirimu.”Angin bertiup lebih menusuk, awan-awan perlahan menutupi langit yang kian gelap. Horia merasa jantungnya berdetak lebih kencang, meskipun tidak sepenuhnya yakin jika itu jantung miliknya atau sekadar gema kehidupan yang diberikan ibunya. Kejadian dalam sekejap. Hanya sempat melihat senyum ibunya. Mui hanya menyisakan sehelai bulu.Dalam dirimu dia tetap ada. Helai itu terbang menjauh diterpa angin, menyapu sejenak wajsh Horia. Belum sempat paruhnya mencoba mengambil sisa dari raga induk yang membesarkannya, kini tersisa sehelai bulu perak pada pohon.Setetes. Horia segera menggelengkan kepala, menyapu sisa cairan yang menetes dari paruhnya. Merah. Lidahnya masih merasa aneh. Sisa dari ibunya masih melekat di paruh. Dia yang dulunya menyuapi.“Apa yang harus kulakukan?” Horia bertanya, hampir bergetar. Lebih pada ibunya yang sebelumnya ada. “Bagaimana aku bisa... Pergi.” Dia meragukan ucapannya. Horia tahu Mui ingin dia terus terbang, melanjutkan kisahnya.Horia menoleh pada dedaunan... Lebih tepatnya helai demi helai bulu menghias pohon itu, bergoyang diterpa angin. Bersamaan dengan jiwa-jiwa penghuni hutan. Hanya keheningan. Entah mengapa Horia merasa seakan ada yang bersuara untuknya.“Suatu saat, kamu akan tumbuh dan terbang bebas.”Sekilas senyum muncul pada Horia. Sapuan angin yang halus membuatnya membentangkan sayap. Setetes. Masih merah. Masih basah. Suatu saat dia akan menyusulnya.Suara halus, persis suara Mui kembali terdengar. “Ikuti jejak kami, Horia. Itulah satu-satunya arah yang kau andalkan. Ingat, suatu saat kau akan kembali pada pohon itu.”Horia mengepakkan sayapnya. Dia memberiku makan. Dia arahkan pandangan pada sinar bulan. Satu-satunya arah...Sehelai bulu perak jatuh pada kepalanya. Horia tahu tandanya. Jantungnya berdegup kencang. Belum. Belum. Dia berharap cemas. Sapuan angin semakin menusuk di antara helai bulu keperakan pada tubuhnya. Harus pergi. Harus mencari. Dia dengar seekor burung kecil yang mencuit kelaparan, melengking suaranya dalam kesunyian malam. Horia mendengarnya. Semua terasa kembali.Sayapnya berkepak. Tubuhnya perlahan terangkat. Tidak seperti biasanya, detak jantungnya bergema. Horia merasakan begitu tubuhnya melayang di antara awan, tubuhnya yang terbuat dari bagian hutan terasa amat ringan. Horia merasa kosong, napasnya perlahan terisap. Dia kepakkan sayap sekali lagi, melanjutkan kisahnya, tapi tubuh Horia semakin ringan. Tidak bisa lagi mengangkatnya. Horia jatuh menghantam tanah, merasakan jiwanya terkikis.Saat pandangannya menyatu dalam kegelapan, Horia sadar tubuhnya menyusut. Dia tidak bisa hidup tanpa hutan itu. Dia bagian darinya dan akan kembali padanya. Begitu kesadaran menyelimuti dirinya, Horia tersenyum saat helai demi helai bulu pada pohon perlahan berguguran menjemputnya.“Waktunya kembali.”“Aku ... pulang,” bisiknya dalam napas terakhir.Seekor elang betina mengepakkan sayap, merasakan kematian di dekatnya. Dia menukik, melihat sehelai bulu keperakan tergeletak di tanah. Bersiap untuk menyatu kembali dengan dahan. Elang betina itu tersenyum. Dengan paruhnya, dia ambil sehelai bulu itu. Berbisik sembari berharap empunya sisa raga itu mendengar. “Kamu kembali.”Dengan sehelai bulu keperakan di paruhnya, dia bawa ke sarangnya. Bulu yang menyimpan jiwa Horia, kini berada dalam pohon itu. Elang betina itu kembali mengingat kejadian sebelumnya. Peristiwa yang terulang dalam ribuan malam. Suatu saat dia akan kembali. Suatu saat, aku akan merasakannya lagi.Sayapnya berkepak menepuk bulu keperakan di sentuhannya. Sinar perak berpendar. Elang betina itu tersenyum. Menyaksikan cahaya itu perlahan jadi kemerahan. Helai demi helai bulu kecil beterbangan keluar darinya.Cuitan terdengar.Elang betina itu mendekatkan paruhnya. “Selamat datang kembali, Horia.”Dia akan kembali dengan nama indah itu. Mui. Dia perkenalkan nama itu padanya. Akan dia kenalkan dunia singkat itu pada burung kecil di sayapnya. Untuk dia beri makan. Untuk dimakan kembali. Untuk dia kembali.“Untuk dia yang lahir dari sehelai bulu.”Tamat

Catatan Harian sang Kucing dari Kampung Asri
Fantasy
23 Dec 2025

Catatan Harian sang Kucing dari Kampung Asri

Sekian purnama berlalu, akhirnya aku menyelesaikan misi yang diberikan sang Penyihir kepadaku. Di tengah perjalanan, harusnya aku menemukan sesuatu yang menarik untuk dimakan. Akhirnya, aku menemukan sekelompok peri hutan yang sedang mengelilingi api unggun, membisikan kisah demi kisah yang diturunkan leluhur mereka.Salah satu dari mereka melihatku. "Ah, Kucing dari Negeri Jingga, bukan?"Aku mengiakan. Memang benar aku meninggali negeri itu walau kini lebih sering berkelana."Duduk sini, mari kita berbincang!" ajaknya.Rupanya, peri hutan yang mengajakku tadi merupakan Kapten Peri yang kebetulan sedang beristirahat bersama anak buahnya. Mereka semua menyambutku dan kami pun saling memamerkan kekuatan sihir masing-masing. Aku berikan tanggapan, juga sebaliknya. Kami pun menikmati waktu kebersamaan ini hingga aku mulai betah dan memutuskan mengikat tali pertemanan bersama mereka.Namun, yang kutemukan justru sosok aneh yang mengaku sebagai Penyihir Agung. Penampilannya aneh, tingkahnya pun tidak menunjukkan wibawa layaknya Penyihir Agung lainnya. Dia tiba-tiba masuk dan merusak acara pertemanan kami.Sosok itu menyeringai dan meminta Kapten Peri untuk menampilkan kekuatan sihirnya. Sang Kapten membiarkan.Sosok itu mulai mengeluarkan mantra-mantra mengerikan yang entah dari iblis mana dia dapatnya. Aku yang ketakutan pun tidak berani berkata sepatah kata pun."Lihatlah, Kaum Dungu!" seru sosok itu. "Jangan gunakan sihir bilamana terasa perlu, karena sihir tiada pantas digunakan dalam kehidupan sama sekali. Hanya Penyihir yang pantas menggunakannya."Aku tersinggung. Lantaran aku pun terlahir karena sihir dan itu sudah menjadi bagian dari hidupku. Meski aku memang pada dasarnya hanya seekor kucing ajaib. Kutunggu sampai ada yang protes padanya.Namun, tidak ada yang membalasnya. Sang Kapten hanya menatap sosok itu tanpa reaksi, seakan menunggu aksi lain darinya.Sosok itu kian keras melafalkan mantranya, dia bahkan menari di atas api unggun dan menghasilkan api raksasa yang nyaris membakar kami."Cukup! Pergi dari sini!" seru Kapten Peri sambil mengeluarkan bola api dari tangannya. Sukses membuat makhluk meresahkan itu memental hingga tak terlihat lagi.Begitu dia pergi, kami berusaha menenangkan diri dengan membahas kata-katanya."Ah, masa hanya Penyihir yang pantas memakai sihir? Bukankah dunia ini terbuat dari sihir dan untuknya pula kita gunakan untuk melengkapi hidup," ujar salah satu peri.Aku melirik sang Kapten, dia lalu tersenyum menahan tawa. "Sudah, biarkan saja. Dia pasti hanya Penyihir gila yang tersesat di hutan."Kami pun melupakan kedatangan makhluk itu dengan melanjutkan obrolan kami hingga bulan berganti menjadi matahari.Melihat hari sudah berganti, aku pamit dan meninggalkan mereka sekaligus berjanji untuk tetap saling sapa bila bertemu kembali.***Aku akhirnya bisa kembali ke kampung halamanku, Kampung Asri. Namun, ada kejanggalan yang kutemukan.Kulihat sosok misterius sedang bicara di tengah kampung, tampak serius seperti biasa. Ah, dia si Penyihir Hitam dari Negeri Kegelapan. Sudah sejak lama dia tidak muncul dan menciptakan percikan api di antara keharmonisan kampung ini. Mantra apa lagi yang akan dia lafalkan?"Kepada seluruh penghuni Kampung Asri, aku ingin telah menemukan sosok yang ingin menyesatkan kalian!" serunya di antara kerumunan yang penasaran.Aku pun mendekat untuk mendengarkan.Penyihir Hitam melanjutkan. "Dia mengaku sebagai Penyihir Agung. Dia pernah menyampaikan bahwa tidak pantas bagi kita-makhluk sihir biasa-menggunakan sihir dalam dunia yang penuh dengan sihir ini, kecuali jika dia Penyihir Agung seperti dirinya. Itu tidak pantas! Menentang arti sihir yang bumi berikan kepada kita, penghuninya!"Sorak-sorai mulai menyambut. Baru kali ini warga Asri termasuk aku, tidak merasa terancam akan keberadaannya. Dia memang sering berbuat onar, tapi dia tidak pernah memberatkan warga lain.Tawa menggelegar membuat suasana seketika hening. Jauh di ujung sana, terlihat bayangan putih, sangat kontras dengan penampilan Penyihir Hitam. Kami semua mengenalnya dan kami segan padanya. Dialah Raja Penyihir, penguasa absolut Kampung Asri. Dia terkenal akan kekuatan sihirnya yang di luar nalar dan tentunya, satu dari sedikit warga yang berhasil membuat Penyihir Hitam tunduk padanya."Baru kali ini kulihat kau di jalan yang benar," ujar Raja Penyihir sambil tersenyum mengejek.Sesuai dugaan, Penyihir Hitam menyambut ucapan itu dengan wajah masam. "Kali ini, aku akan memihakmu bila makhluk itu datang ke kampung kita.""Oh, luar biasa!" seru salah satu warga. "Penyihir Hitam dan Raja Penyihir bersatu? Kisah ini layak diabadikan dalam tinta emas!"Warga pun bersorak.Namun, keceriaan kami terhenti ketika sosok yang kulihat di hutan kemarin kembali. Itulah sosok yang mengaku sebagai Penyihir Agung.Penyihir Hitam menyiapkan senjatanya berupa bayangan hitam yang mampu menarik lawannya ke neraka.Sementara Raja Penyihir hanya tinggal menarik Pedang Surgawi andalannya yang mampu menghilangkan jejak lawannya bahkan sampai ke dimensi lain sekali pun. Raja Penyihir jelas juga waspada, tapi dia tetap memasang wajah ramah pada sosok itu.Penyihir Agung menyadari bahwa kedatangannya tidak disambut dengan baik. "Kalian kaum sesat! Jangan pakai sihir jika kalian bukan Penyihir Agung sepertiku!""Bumi ini ada bersama dengan sihir, dengan sihir juga kami gunakan untuk melengkapi hidup," sahut Penyihir Hitam."Kau dari Negeri Kegelapan dan kau bawa serta pula kegelapan itu ke negeri orang," sinis Penyihir Agung."Setidaknya aku tidak membuat aturan seenaknya sepertimu," ujar Penyihir Hitam."Kaum sesat akan selamanya sesat!" Penyihir Agung mengeluarkan aura putih dari tubuhnya, membuatnya hampir tak terlihat akibat tertelan cahaya itu."Jangan kau sebarkan kesesatanmu pada penghuni bumi!" tegur Raja Penyihir. "Jika semesta memberi kita sihir, berarti kita pantas memakainya asalkan atas dasar kebaikan.""Oh, kau kira mereka akan melakukannya sesuai kehendakmu yang mustahil itu?" sahut Penyihir Agung."Memang apa dasar dari hukum sesat yang kausampaikan tadi? Kata siapa sihir dilarang jika kita saja hidup dipenuhi dengannya pula?" balas Penyihir Hitam."Tidak ada yang lebih pantas menggunakan sihir kecuali Penyihir Agung, karena hanya dia yang cukup bijak menggunakannya," kata Penyihir Agung."Apa tingkahmu sudah mencerminkan kebijakan itu sendiri?" sahut Raja Penyihir.Blash!Kilat nyaris saja menyambar Raja Penyihir. Dia berhasil menahannya dengan Perisai Sihir, nyaris saja lenyap kalau saja terlambat.Warga terkesiap, mereka mulai bergerak mendekati Penyihir Agung untuk menyerang. Aku tidak tinggal diam, aku ambil sebuah buku mantra yang setebal satu pulau untuk meratakan kepalanya. Namun, belum sempat kuangkat buku itu, terdengar seruan dari Raja Penyihir."Orang sepertimu akan selamanya merasa bijak kalau tidak melihat sisi lain dari dunia ini," katanya dengan tenang.Penyihir Agung tidak terima. Dia melesat ke arah Raja Penyihir.Tubuhnya terpental akibat tendangan sepatu besi milik Penyihir Hitam. Dia nyaris mengirim sosok aneh itu ke neraka, tapi serangannya berhasil ditangkis oleh Penyihir Agung.Penyihir Agung berlari menjauh hingga tercipta jarak antara mereka. Dia menatap kami semua dengan tajam, seakan siap menghabisi kami. Namun, kami tidak akan takut dengan sosok seperti dia. Lihatlah, bisanya hanya berkoar-koar tapi sihirnya saja bahkan tidak sanggup melawan satu orang saja."Pengecut sepertimu tidak pantas menjadi Penyihir Agung!" seru Penyihir Hitam. "Melihatmu seenaknya memberi perintah sudah memberiku gambaran akan negeri yang kau pimpin kelak, kehancuran.""Kau yang sesat akan selamanya menganggap kebenaran itu batil," ujar Penyihir Agung. Dia bergerak mundur, tampak hendak pergi."Mau ke mana kau?!" Penyihir Hitam bergerak mengejarnya.Keduanya pun menghilang dari pandangan kami, sepertinya, ini akhir dari pertempuran aneh kali ini. Raja Penyihir tampak berdiri sambil mengamati kepergian kedua sosok itu. Dia hanya tersenyum lalu berjalan meninggalkan kami.Raja Penyihir tahu, kami semua tahu. Apa pun yang terjadi, Penyihir Hitam pasti akan kembali ke Kampung Asri dan tentunya akan membawakan mantra baru untuk kami kelak.Entah apa yang akan terjadi setelahnya, aku hanya bisa menunggu dan mempersiapkan diri.TAMAT

Berdiri Kokoh
Fantasy
22 Dec 2025

Berdiri Kokoh

Malam berselimut embun, siang bertudung awan. Begitu kisah hidupku dalam satu kalimat. Setiap hari menyaksikan penghuni bumi ini lalu lalang di sekitarku, membiarkan keadaanku kian menyedihkan. Padahal, jika diberi sedikit kasih sayang, maka aku sudah dikatakan layak.Bumi memberi belas kasih dengan menyediakan tempat berteduh bagi penghuninya. Namun, ada kalanya bumi mulai marah dan mengusir sebagian penghuninya, termasuk orang tuaku. Mereka marah karena perbuatan penghuninya yang belum juga membalas belas kasih darinya. Hingga saat ini pun, semua masih berlalu seperti sebelumnya.Aku kini hanya bisa mengandalkan bumi untuk merawatku, meski tentu saja ada banyak sekali penghuni lain yang harus dijaga. Namun, saat ini untuk bisa melihat esok hari pun sudah membuatku mensyukuri keadaan. Bumi memang memberiku tempat berteduh, meski tidak seperti penghuni lain. Setidaknya, aku masih bisa makan dari berian bumi meski tidak sebanyak yang lain. Selama ini, aku hanya mengandalkan belas kasih."Tolong, beri belas kasih," ujarku lirih.Namun, tidak ada yang memberi bahkan melirik. Kupandangi langit, cuaca hari ini memang cerah, tapi tidak pernah menggambarkan keadaan penduduk di perumahan ini.Aku berada di sebuah perumahan sunyi, bisa dibilang hampir mati karena jumlah warganya yang bisa dihitung dengan jari. Mereka melewati perumahan ini tanpa senyuman apalagi sapaan. Seperti boneka yang berjalan tanpa jiwa. Itulah mengapa aku hanya menyaksikan mereka melewatiku tanpa sekalipun menunjukkan belas kasih.Bumi memang memberikan belas kasihnya dengan sedikit makanan dan tempat berteduh bagi penghuninya. Namun, aku tidak mendapat belas kasih seperti itu. Hanya bisa duduk diam sambil menunggu keajaiban tiba.Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara benda keras saling menumbuk, diselingi suara orang-orang saling menyahut. Kulihat, kebanyakan arah jalan warga yang melewatiku itu melanjutkan langkahnya menuju arah suara tadi. Bisa jadi ada kejadian luar biasa di perunahan ini sampai bisa menarik banyak perhatian warga.Rasa penasaran mendorongku menuju arah keramaian. Rupanya ada tanah lapang yang sedang diberi beberapa kayu dan semen, entah rumah siapa yang akan dibangun kali ini.Di antara keramaian, kulihat dua pria sedang berbincang. Dari pakaiannya yang megah, kuduga salah satu pria itu pasti seorang hartawan."Untuk anakku nanti, tidak mungkin kuberikan rumah yang biasa," ujarnya kepada pria lain. "Kamu selaku pengawas harus memastikan kalau rumah ini akan jadi tempat yang bagus baginya."Pria satunya, yang aku yakini sebagai mandor, membalas ucapannya. "Kalau begitu, Tuan cukup tambahkan upah bagi kuli bangunan agar mereka dapat menciptakan rumah yang indah.""Tidak, tidak, itu tidak akan cukup," balas sang hartawan. Dia menatap fondasi bangunan yang belum rampung itu. "Aku menginginkan rumah yang kokoh. Bangunan yang kuat butuh fondasi yang kuat pula.""Kalau fondasi, kami bisa memberikan saran," ujar si mandor. "Apa Tuan tertarik?""Apa itu?" tanya sang hartawan."Jika ditambahkan satu saja, sudah cukup membuat rumah ini tetap kokoh meski sudah diterpa seribu badai," ujar si mandor. "Bahkan akan tetap terlihat baru dibangun meski sudah lewat seribu tahun."Aku yang waktu itu penasaran, langsung mendekat sambil mengharapkan belas kasih dari mereka. Mereka pasti akan bergerak hatinya. Toh, demi anak saja rela membangun rumah yang bagus, apalagi anak kecil malang sepertiku yang hanya bisa menetap diselimuti tanah."Tolonglah aku," lirihku. "Aku sudah lama tidak diberi makan." Aku ulangi ucapan itu, kukira mereka tidak mendengar karena masih sibuk berbincang. Namun, pada akhirnya seluruh tatapan tertuju padaku.Aku pun meninggikan nada suaraku. "Tuan, mohon berbelas kasihlah!"Perutku yang kosong menuntut banyak makanan, sementara aku saat ini bahkan belum diberi sedikit belas kasih dari bumi. Entah karena bumi mulai bosan merawatku atau aku mungkin sudah dianggap tidak layak untuk dikasihi.Sang hartawan menatapku. Tidak seperti dugaanku, dia justru memandangiku dengan wajah risi. "Hei, di mana orang tuamu? Beraninya masuk ke sini!"Suara kerasnya membuatku gemetar, tapi aku berhasil memberanikan diri untuk membalas. "Keduanya telah mati karena bencana."Sang hartawan terdiam, begitu juga dengan si mandor. Keduanya diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan pembahasan perihal rumah itu."Jadi, apa satu hal yang kamu maksud itu?" tanya si hartawan."Cukup satu hal saja." Si mandor mulai menatapku."Satu?" Si hartawan mengulang, matanya pun ikut mengarah kepadaku.Si mandor mengiakan, tanpa mengalihkan tatapannya dariku. "Tentu saja, tanpa jiwa yang menyangga, bangunan ini tidak akan berdiri lama."TAMAT

Mengapa Aku Ada?
Fantasy
22 Dec 2025

Mengapa Aku Ada?

Setiap yang diciptakan, pasti ada tujuan.Namun, mengapa aku ada?Semua makhluk yang berjalan di atas bumi memiliki tugasnya masing-masing.Lantas bagaimana denganku?Mereka menjalani hidup sesuai dengan garis takdir yang ditentukan.Namun, apa garis takdirku?Tercipta dari makhluk ciptaan, aku tidak dapat menerka. Jika aku ada hanya sekadar untuk mengisi dunia, maka tiada gunanya aku di sini. Penciptaku hanya bisa membuatku ada, tapi tidak mampu memberi tujuan untukku ada.Pada malam itu, aku diciptakan. Kali pertama aku melihat dunia dan penciptaku. Dia memberiku raga dari gumpalan daging dan tulang, setelahnya dia jejal dengan tumpukan organ dan menyatukannya dalam rangkaian benang jahitan. Dapat kulihat wajah penciptaku dipenuhi gairah, tanpa lelah menyatukan satu demi satu bagian tubuh itu.Aku berada di ruang yang remang, sehingga sulit menerka waktu. Aroma harum yang berasal dari kobaran api kecil di pojokkan membuatku merasa aman. Sementara dia merakitku dari sisi kiri dan kanan, perlahan tapi pasti, dengan dua tangannya menyatukan ragaku menjadi satu.Bagian tubuh pertama yang dia ciptakan adalah kepala, tempatku bisa melihat dan mendengar. Ketika dia memasang telinga di kedua sisi wajahku, aku bisa mendengar. Dia lanjutkan menyatukan bagian tubuh lain. Sepanjang mengerjakannya, kulihat dia sesekali tertawa menatapku, sesekali pula menangis ketika tangannya tidak sengaja tergores jarum. Namun, itu tidak membuatnya berhenti. Terus menerus hingga akhirnya dia berhenti dan menarik napas."Nah, sedikit lagi." Kudengar ucapan penciptaku untuk kali pertama. Sebelumnya hanya kikikan dan tangisan sejenak.Dia mengambil sebuah gumpalan daging yang tampak lebih pucat dan meletakkannya dalam kepalaku. Dia tutup bagian atas kepalaku dengan tempurung. Ukuran benda itu sama persis dengan kepalaku. Lalu dia satukan dalam satu jahitan.Sesekali dalam proses menjahit, kudengar dia bicara sambil menatapku seakan tahu jika aku dapat memahami bahasanya."Kamu ciptaanku, dan kamu mahakarya terbaik yang bisa manusia ciptakan. Oh, mana mungkin orang lain bisa? Aku pasti diberkati!" Dia kemudian terkikik.Dari bentuknya, penciptaku sepertinya jauh lebih kecil dan pendek. Rambutnya cokelat dan panjang terurai, dia sepertinya tidak keberatan jika rambut itu sesekali menghalangi pandangannya."Nah, sudah jadi!" Penciptaku berdiri sambil berkacak pinggang, dia bernapas dengan berat. "Perjuanganku! Akhirnya terbayar sudah!"Hening sesaat. Asap yang berasal dari kobaran api kecil itu perlahan memamerkan diri. Seakan membiarkan aroma harum itu tampil untuk kami sesaat.Sungguh wangi, hanya bau itu yang tercium dalam ruangan ini."Ah, kamu suka bau itu?" Penciptaku bicara lagi, seakan membaca pikiranku. "Ini untuk menutupi bau busuk, sekaligus memicu api agar tidak pernah padam kecuali jika tersentuh air."Dia mengambil sebuah lilin dan menyodorkannya pada kobaran api harum itu. Dia dekatkan padaku. "Ini aroma dari dupa ciptaanku. Begitu menyengat hingga kamu tidak dapat mencium bau busuk sama sekali."Tidak heran aku tidak dapat mencium aroma tanah atau aroma badanku sendiri selama di sini. Untuk apa dia melakukannya? Barangkali karena aku terbuat dari gumpalan daging yang bau.Aku berdehem tanda mendengar."Kamu mengerti?" Matanya melotot dihiasi senyuman di wajahnya.Aku tidak tahu harus balas apa selain dengan menutup mataku dan membukanya secara perlahan."Kamu mengerti!" serunya diselingi jeritan tertahan. "Aku berhasil! Aku menciptakan manusia!"Mengapa aku memahami bahasa yang dia ucapkan? Barangkali karena sesuatu yang dia letakkan dalam kepalaku. Apakah itu benda yang digunakan manusia juga? Aku mencoba menggerakkan bibir, tapi terasa berat dan keras."Oh!" Dia menutup mulutnya, tapi aku tahu dia sepertinya gembira. "Ayo, ayo! Ucapkan sesuatu!"Bibirku begitu berat, terasa kaku dan kering. Berbeda dengan dia yang bisa buka-tutup mulut sesuka hati. Beberapa saat berjuang, akhirnya keluar suara dari bibirku. "A ..."Kukira dia akan kecewa, tapi kulihat dia berjingkat-jingkat di tanah sambil menjerit pelan. Dia berseru kembali. "Aku berhasil! Aku telah menciptakan manusia!"Aku diam saja menyaksikan dia menari-nari selama beberapa saat hingga dia berhenti dan menghampiriku."Luar biasa! Kamu pintar! Tidak rugi aku menciptakanmu! Kamu mahakaryaku! Ciptaan terbaik umat manusia! Tidak tertandingi!" Dia serbu aku dengan puluhan pujian lainnya dengan cepat hingga ludahnya menciprat ke arahku.Setelah puas memuji, dia pun berhenti untuk mengatur napas. Aku mencoba duduk hingga posisi kami sejajar. Meski dia masih terlihat mungil."Karena kamu perempuan sepertiku, akan kuberi nama yang cantik," ujarnya. "Kamu tidak bisa hidup tanpa jantung, jadi aku ambil dari nama lain dari 'jantung' itu sendiri. Ya, namamu Cordia!""Cor ..." Aku mencoba menyebut namaku." ... dia." Dia menyambungkan. "Cor-dia, namamu Cordia."Aku ulangi sekali lagi. Dia bertepuk tangan dan kembali menari lagi mengelilingi ruang beralaskan tanah ini. Tak lama, dia roboh di tanah dan tidak bergerak. Aku mendekat dan memeriksa keadaannya. Rupanya dia tertidur. Entah berapa lama bekerja untuk menciptakanku, yang pasti telah menguras tenaganya.Sekarang apa?Apa aku harus menunggunya? Berapa lama dia akan tidur?Kulihat secercah cahaya memantul dari belakang kami. Ketika menoleh, kulihat itu berasal dari lubang di atas sana, seakan memberiku isyarat untuk mendekat.Barangkali, di sana ada yang menarik.Aku lewati penciptaku dan menaiki tangga yang terbuat dari besi. Menuju pintu menuju keadaan luar.Dia tinggal di rumah yang cukup luas, entah kenapa malah memilih menciptakanku dalam rubanah yang kotor, pengap, lagi gelap. Barangkali agar terkesan tersembunyi, tapi aku lebih yakin dia hanya tidak ingin mengotori rumahnya selama menciptakanku. Melihat beberapa bercak noda dan tumpukkan benda tajam tergeletak di tanah.Aku menyusuri rumah yang terdiri dari satu tingkat ini, hanya rubanah menjadi daya tariknya karena di situ keadaan tampak kebalikan dengan di atas. Bawah sana sungguh tidak nyaman untuk dilihat, sebaliknya atas sana malah terkesan nyaman untuk dihuni.Sepertinya, penciptaku hidup nyaman di sini. Lantas, untuk apa dia menciptakanku?Aku duduk di sebuah sofa. Kali pertama merasa nyaman berbaring setelah merasa kaku akibat berbaring di atas tanah yang keras selama ini. Terasa tidak adil dia bisa berbaring dengan nyaman selama aku kedinginan dan merasa nista di bawah sana.Pada akhirnya, aku habiskan malam dengan menyusuri rumah penciptaku dan menikmati segala yang ada di sana.***Kudengar bunyi ketukan pintu dari luar. Di saat itu juga terdengar langkah kaki dari balik rubanah."Sebentar!" seru penciptaku. Dia keluar dari rubahan dengan rupa persis seperti sebelumnya. Tatapan kami kembali bertemu. "Waduh, Cordia, aku kira kamu hilang!"Terdengar lagi ketukan pintu."Iya, sebentar!" sahut penciptaku. Dia berlari ke arah pintu dan membukakannya.Terlihat sosok gadis yang tampak sebaya dengannya. "Waduh, Mallory, kamu kok terlihat lusuh begitu?"Penciptaku tertawa canggung. "Malam itu aku selesai menciptakan manusia."Gadis itu melotot mendengarnya. "Ma ... nusia?"Mallory–penciptaku berbalik dan menunjukku. "Perkenalkan, Cordia! Manusia pertama yang diciptakan oleh sesama manusia!"Aku yang tadinya berbaring pun berdiri. Mereka tampak hanya setinggi perutku yang mana membuat mereka harus mendongak untuk melihat wajahku.Gadis itu begitu pucat, bibirnya gemetar, bahkan dapat kulihat matanya sedikit berkaca. Dia terbata-bata. Bibirnya berjuang mengeluarkan sepatah kata. "Mo ... monster!"Gadis itu berpaling dan lari tunggang langgang."Hei!" tegur Mallory, dia berusaha meraih gadis itu tapi gagal. Dia berdecak. "Orang yang tidak paham mana mau mendengarkan."Dari ilmu yang diberikan padaku, aku mengerti maksud dari kalimat gadis itu. Monster. Apa maksudnya? Dia melihat sesuatu yang menakutkan? Tapi ... hanya ada aku di pantulan matanya."Pencipta, apa aku monster?" tanyaku. Bukankah dia bilang aku ciptaan terbaik umat manusia? Harusnya tidak seburuk itu, bukan?"Bukan, bukan." Mallory mengibas tangan sebagai isyarat betapa konyolnya kalimat tadi. "Kamu ciptaan terbaik umat manusia. Tidak ada yang bisa menandingi. Jangan dengarkan mereka, mereka iri karena tidak sepertimu.""Benarkah?" sahutku, sedikit terhibur.Mallory tersenyum. "Ya, tentu. Yuk, sarapan. Kamu dari kemarin belum makan, tuh."Aku ikut dia ke dapur dan menikmati sarapan bersama. Karena kursi yang disediakan terlalu kecil, aku duduk di lantai sementara Mallory membuatnya sarapan berupa roti selai kacang dan memberiku dua potong. Meski dua potong tampak terlalu banyak baginya, aku bisa langsung melahapnya dalam sekali gigit. Begitu mungilnya dia dan temannya di mataku. Entah kenapa Mallory menciptakanku begitu tinggi."Nah, habis ini, aku mau belanja dulu. Kamu di rumah saja dan tunggu aku, ya," pesan Mallory. "Nanti malam kita akan jalan-jalan. Kebetulan ada pasar malam, jadi kamu pasti suka."Aku mengangguk patuh. Selagi menunggunya mandi dan berdandan untuk pergi, aku berpikir lebih baik berbaring sambil memandangi langit-langit rumahnya yang berhias warna krem. Di sisi lain aku membayangkan bagaimana kehidupan di luar rumah ini. Mendengar ucapan dari Mallory membuatku kian penasaran dan antusias.Sepertinya, ini akan seru.***Seusai kepergian Mallory, aku kembali merana sendirian di rumah. Dalam keadaan tidak tahu harus berbuat apa, aku mencari segala cara agar tidak bosan menunggu. Ada beberapa hal yang kulakukan guna mengulur waktu, mulai dari mengamati lukisan-lukisan yang dipajang, hingga hiasan rumah.Dari lukisan, hanya ada satu gambar yaitu Mallory seorang. Wajahnya sama persis dengan yang kulihat di masa sekarang tanda ini lukisan yang masih baru. Namun, aku tidak menemukan lukisan lain seakan hanya dia yang menghuni rumah ini sejak awal. Berarti, Mallory bisa jadi sendirian sejak awal. Apa karena ini dia menciptakanku?***Aroma dupa dari rubanah kian menyengat bahkan sampai menguasai rumah ini. Aku bukannya terganggu, hanya saja cemas jikalau api yang menyalakan dupa itu perlahan akan menghabisi rumah ini.Pintu terbuka dan kulihat Mallory telah datang membawa beberapa bungkus, entah apa isinya."Aku membawa beberapa makanan," ujarnya.Aku bukannya membalas kalimat itu, justru menanyai perihal bau itu. "Bau dupanya ...""Ah, itu," potong Mallory. "Sengaja kubiarkan. Tidak masalah jika rumah kita sedikit harum, 'kan?"Aku mengiakan.Mallory mengeluarkan beberapa buah dan daging ayam dari bungkusan. "Nah, kamu mau makan apa?"Aku mengamati makanan yang ditata. Meski aku tahu namanya, tidak dapat kutebak rasa yang dihasilkan. "Apa saja."Dia mulai mengambil sepotong daging ayam mentah. "Cobalah."Maka kukunyah. Rasanya sedikit aneh tapi entah kenapa lidahku memaksa untuk mencicipinya lebih banyak. Hingga aku habiskan ayam mentah dengan utuh."Enak, 'kan?" tanya Mallory.Aku mengiakan.Kudengar suara ricuh dari luar. Pintu dan jendela digedor hingga dapat kudengar bunyi kaca pecah. Aku tersentak dan bahkan tidak bersiap untuk menghadap apa pun di luar sana."Monster! Monster! Monster!"Suara itu menggema bersama dengan derap kaki yang sukses mengguncang bumi. Aku menelan ludah, antara berniat kabur atau merasa harus menghadap mereka.Mallory mendekati pintu. "Tetap di belakangku."Aku mendengar dan patuh.Pintu hancur akibat pukulan dari senjata mereka. Membuatku merasa kian terpojok. Mereka semakin dekat.Kini, mereka di hadapanku. Mengangkat setiap benda yang bisa dijadikan senjata, bahkan batu sekali pun, menghadap padaku."Monster! Monster! Monster!"Kenapa mereka begitu marah?Kenapa mereka ingin mengusirku?"Mallory sudah gila! Apa dia kira dengan begini bisa menghidupkan orang tuanya kembali?" Salah seorang dari mereka berucap."Lihat! Itu wajah orang tuanya yang digabung jadi satu! Menjijikkan!" Seorang wanita berseru sambil menunjuk wajahku."Lihat badannya yang tinggi! Semua berasal dari dua jasad, ini kejahatan!" seru salah satu dari mereka.Kulihat seorang gadis di antara mereka, orang asing pertama yang melihatku. "Musnahkan dia!""Hentikan!" seruku.Mereka terkesiap, masih siaga senjata.Mallory berdiri di depanku. "Dia bukan monster, dia manusia seperti kalian, lihat?"Aku coba untuk tersenyum, sekiranya bisa meredakan amarah.Mereka melangkah mundur, tidak sedikit juga menutup mata begitu melihat senyumanku."Wajahnya tidak tampak manusiawi," sahut salah satu dari mereka. "Bahkan iblis pun akan berpaling begitu melihatnya.""Aku tetap manusia!" sahutku."Sepertinya dia belum pernah berkaca," balas seorang dari mereka.Makin ricuhlah mereka. Masing-masing melempar senjata ke arahku dan tidak sedikit pula melempariku dengan kata-kata menyayat hati."Monster." Kata yang terus mereka ulangi hingga nyaris membuatku gila.Aku dan Mallory menghindari lemparan batu bahkan benda tajam yang mereka arahkan padaku. Belum lagi harus menahan batin agar tidak tersayat mendengar ucapan buruk dari mereka. Ini sungguh menyakitkan.Sebuah batu mendarat di wajahku, aku menggerang.Mallory bergerak mendekat. Wajahnya tampak kontras dengan wajah-wajah di sekeliling kami, penuh belas kasih."Dia belum tahu sampai melihat sendiri." Gadis itu berkata. "Berikan dia cermin!"Aku mengelus pipi, tepat pada luka bekas lemparan batu.Tangan gadis itu mengarahkan cermin itu padaku dengan gemetar. "Lihat dirimu!"Cermin itu hampir saja memantulkan wajahku tapi dia menepis tanganku yang mencoba meraih cermin tadi."Ew, jelek!" seru gadis itu ketika aku menatapnya. Dia melempar cermin itu.Aku langsung mengambilnya dan mencoba memandangi bayanganku.Terdengar bunyi batu yang menghantam dinding rumah."Hei!" tegur Mallory. "Hentikan!"Duk!Sebuah batu mendarat di wajahku. Aku menggerang dan terduduk membelakangi mereka. Bertepatan dengan itu, dapat kulihat dari pantulan kaca ...Mengapa ... wajahku ...Dipenuhi jahitan, susunan kulit pucat dengan berantakan, mata tajam membekas ke dalam jiwa, bila aku tersenyum, benang-benang itu melebar dan menciptakan lubang yang lebih dalam di wajah. Sementara mereka memiliki kulit mulus dan tampak elok dipandang, berbeda denganku yang tampak seperti kutukan.Aku seperti dua jasad yang menyatu, seperti apa yang mereka ucapkan.Betapa buruk rupanya ...Mengapa aku diciptakan dengan seburuk-buruknya rupa?Dia bilang aku manis, tapi aku sendiri bahkan tidak sanggup melihat wajahku.Pencipta, mengapa kau membuatku ada?"Hei! Hentikan itu!" Kudengar seruan Mallory. "Lepaskan Cordia! Kalian yang monster, rupa bagus tapi tidak punya rasa kemanusiaan!"Terdengar suara erangan dari belakang. Ketika aku menoleh, terlihat Mallory tengah berjuang melawan kumpulan orang yang telah menggerombolnya."Lepaskan Cordia, dasar monster berkedok manusia!" seru Mallory pada sekitarnya. "Kalian bahkan belum melihat sifatnya, malah sok menilai dari luar!""Kami tidak ingin kehancuran umat manusia!" seru seorang dari mereka. "Kau kira mayat hidup itu mau mendengarmu? Dengan badan sebesar itu dia pasti akan memberontak dan menghabisi kita semua!""Memangnya kau pernah dengar dia bilang begitu?" sahut Mallory."Kami khawatir jika dia berbahaya bagi dunia.""Lepaskan kalau begitu. Kalian manusia, 'kan? Kenapa tidak berempati sedikit dan memberi Cordia kesempatan? Aku heran dengan kalian yang merasa paling sempurna di sini, padahal perusak dunia yang sebenarnya adalah kalian sendiri.""Jadi, kau kira mayat hidup dapat menyelamatkan dunia?" tanya gadis yang tadinya menjadi temannya. "Mallory, aku mengerti kamu sedang berduka, tapi sadarlah jika orang tuamu tidak akan kembali.""Ini tidak ada sangkut pautnya dengan mereka," sahut Mallory. "Lepaskan saja Cordia! Dia anak baik!""Kau mau mayat berkeliaran di rumahmu?"Pertanyaan itu membuat hatiku tersayat. Hanya karena rupa, mereka telah menilai seakan telah melihat segala tindakan dan membaca lubuk hatiku. Mereka kira aku akan membinasakan umatnya.Ah, sungguh lucu.Mereka menakuti sesuatu padahal mereka sendiri yang melakukannya.Mereka tidak akan sadar.Manusia tidak akan sadar.Sementara Mallory paham, tapi tidak ada yang ingin mendengarnya. Mengira dia akan menyakiti mereka.Aku mengerti, aku tidak mampu membaca isi hatinya, tapi pantaskah jika aku langsung bertindak berdasarkan asumsi belaka tanpa melihat sedikit kenyataan dari itu?Aku baru ada sejak kemarin dan belum memahami dunia, tapi sepertinya mereka tidak ingin aku maupun Mallory di sini.Oh.Mereka tidak ingin kami di sini. Maka mereka tidak pantas berada di dekat kami sejak awal. Jika itu yang mereka pikir aku tidak pantas hidup di dunia maka mereka juga tidak pantas berlama-lama di sini.Aku berpaling selagi mereka sibuk berdebat dengan Mallory. Di rubanah, kulihat sebuah obor dan sebuah bubuk yang kuyakini telah menghiasi aroma rumah ini, begitu harum hingga dapat menutupi segala bau. Ini akan menjadi jawaban atas keinginan manusia-manusia itu.Aku keluar sambil membawanya. Kulihat Mallory telah dipenuhi luka wajahnya, bahkan sebelah mata tidak mampu melihat terhalang oleh lebam. Malangnya dia.Aku secara perlahan membiarkan angin membawa bubuk itu, biar angin membawanya pergi entah ke mana asalkan di desa ini sudah mulai tertutup bubuk itu. Mereka tidak sadar bahwa ada butiran berjatuhan ke wajah bahkan tidak sedikit telah masuk ke dalam dirinya.Mereka terlalu sibuk merasa sempurna."Kalian hanya akan merusak bumi!"Aku taburi bubuk lagi hingga habis. Udara dipenuhi bubuk yang telah menyatu dengan angin. Menciptakan gambaran layaknya terkurung dalam kabut.Seseorang mulai menyadari tanganku yang sedari tadi terangkat. "Hei! Apa yang dipegangnya?!"Terlambat sudah. Ini keputusan dariku. Aku sangat menyayangkan tindakan mereka. Jika dibiarkan terus, maka binasa sudah dunia seperti yang mereka takutkan.Aku angkat obor tinggi-tinggi. Menciptakan kobaran api yang kian meluas."Kalian yang seharusnya binasa."Pandanganku dipenuhi warna merah diiringi jeritan dan tangisan di balik asap yang mengepul. Mereka yang telah menghirup udara kematian itu tumbang menjadi abu sementara lainnya telah tersapu angin dengan kobaran api menyertai.Di antara manusia-manusia yang berjuang menyelamatkan diri meski sudah di ambang kematian, kulihat seorang gadis terkapar di tanah. Setiap bagian dari wajahnya dipenuhi tanah habis diinjak secara bertubi-tubi.Aku mendekat dan menatapnya. "Pencipta."Kudengar bisikan darinya, layaknya desiran angin bersama jeritan dan tangisan. Tidak dapat kudengar, namun daat kusentuh maknanya. Dia menutup mata dan membiarkan api mendekapnya.Aku terdiam. Meski semua orang memandangku dengan jijik, dia satu-satunya yang tetap membelaku.Untuk apa aku masih di sini? Pencipta, satu-satunya yang menunjukkan kebaikan padaku kini telah tiada.Sementara mereka yang telah menyakiti kami telah binasa.Mereka membuatku menderita. Mereka alasanku tidak dapat menikmati hidup layaknya manusia lain.Mereka harus merasakan deritaku.Mereka harus diberi pelajaran.Mereka harus tahu jika aku telah terzalimi.Mereka telah merasakan akibatnya.Jika tidak ada lagi yang tersisa bagiku, untuk apa aku masih di sini? Apa aku akan bertahan di luar sana seorang diri?Apa aku harus menjalani hidup seperti yang dia harapkan padaku? Dia menciptakanku dengan alasan pastinya agar aku bertahan di dunia ini. Di luar sana, masih ada yang belum kujangkau dan barangkali ini yang Mallory inginkan padaku.Dia ingin aku bertahan. Dia ingin aku terus melangkah.Maka, kukabulkan keinginannya.Aku melangkah pergi dari desa itu. Menyisakan abu dan asap menghias udara. Jeritan mereka berangsur hilang menyatu dengan angin, bersamaan dengan aroma dupa mengubur bau jasad yang menyengat.Tibalah aku di luar batas desa, satu-satunya area yang belum tersentuh api. Sebelum melangkah, aku menatap desa itu untuk terakhir kali. Menyaksikan api membawa mereka menuju dunia yang pantas mereka tinggali.Tamat

Pendamping
Fantasy
21 Dec 2025

Pendamping

Aku adalah pendamping dan tugasku hanya mendampingi. Sejak awal penciptaan, dia sudah ada bersamaku dan kami dibesarkan di tempat yang sama. Namun, dia tidak tahu tentangku sementara dia terus kuawasi. Sejak kecil hingga detik ini, perkembangan dan seluruh kisah hidupnya kutahu. Hanya itu yang kulakukan, mengamati dalam diam tanpa campur tangan selagi dia melukis takdirnya. Sejak matahari terbit hingga bulan terlelap, aku selalu ada. Ketika dia bersuka cita maupun berduka, setiap kisah tidak lepas dari pandanganku.Aku menjadi pendamping bagi seorang anak lelaki yang diberi nama Dale. Meski nama itu terkesan monoton, tapi dia sepertinya suka nama itu mengingat dia sering mengucapkannya dengan bangga. Dia jalani hidup layaknya anak lelaki lain. Mulai dari belajar berjalan, bicara, hingga akhirnya memasuki bangku sekolah menengah akhir yaitu masa sebelum kuliah dimulai. Kujalani semua tugas ini dalam diam selagi mengamati.Aku adalah pendamping dan aku pula cerminan darinya. Karena darinya saja yang kutahu. Selama dia masih hidup, aku harus selalu ada di sisinya. Semua kusaksikan dalam diam meski sesekali kubisiki ke dalam hatinya pendapat dan ajakan dariku. Ketika sedang menyendiri, aku bisikkan kata-kata di hati. Dia dengarkan dan renungkan, entah setelahnya. Dalam beberapa kisah Dale bergerak melakukan semua bisikanku dan bilang jika itu ungkapan dari hati, dalam beberapa kisah lainnya diabaikan atau hanya dia simpan dalam hati. Mengira jika semua pemikiran tadi murni berasal darinya karena yang didengarnya sama persis dengan suaranya sendiri. Selama itu Dale masih saja mengira bahwa pemikiran yang dianggapnya “aneh” atau “tidak biasa” ini berasal darinya, lagi dan lagi. Setiap ungkapan dariku merupakan cerminan dari hati dan sikapnya selama ini. Salah satunya ketika dia memutuskan untuk mengenal lebih jauh dengan seorang teman sekelas.Anak itu pendiam dan tidak memiliki teman. Semua orang mengabaikannya selama di luar maupun dalam lingkungan sekolah. Orang yang kudampingi tentu muncul rasa iba darinya. Padahal sebentar lagi masa sekolah akan berakhir dan sayang sekali jika tidak meninggalkan kenangan berkesan bersama teman sekelas. Sebagai makhluk sosial, Dale merasa perlu bicara pada anak itu meski aku sendiri ragu.Melihat tingkah anehnya, aku bisikkan kembali pendapatku dan kali ini kuharap dia memilih mengikuti ucapanku. “Sebaiknya abaikan saja. Toh, dia mungkin anak yang tidak ingin berteman seperti yang lain. Sudah, jangan diganggu.”Tidak sesuai harapan, Dale mulai mendekat dan bicara pada anak itu. Mulai bahas sana dan sini hingga beberapa penggalan pengalaman kisah yang dilalui masing-masing. Aku dengarkan dengan saksama dan kutarik sebuah kesimpulan sederhana mengenai anak itu.Anak lelaki itu tidak ingin banyak bicara karena dia tidak tahu cara memulai pertemanan. Nama dia Hail. Sejak kecil selalu di rumah dan tidak dibiarkan bermain di luar layaknya anak lain. Sementara Dale telah melewati rangkaian pengalaman bermain di luar rumah bahkan sampai nyaris disangka menghilang oleh orang tuanya. Namun, anak itu tidak pernah merasakan dan dia mengaku ingin mengalaminya. Aura yang dipancarkan anak itu memang janggal, tidak tampak tertarik dengan obrolan tapi langsung banyak berkisah pada orang yang kudampingi. Mungkin memang pemalu, tapi firasatku berkata lain.Kudengar lagi Dale bicara padanya. “Bagaimana kalau hari ini kamu main ke rumahku?”Aku rasa itu tawaran yang buruk. Aku pun berbisik padanya. “Apa yang kamu lakukan? Jangan secepat itu! Kalian baru saja mengenal!” Bukannya kenapa tapi aku merasa semakin janggal jadinya. Aku masih bisa hidup setelah Dale, tapi aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.Dale membatin yang selama ini dia anggap secara konflik internal. “Sudahlah, kasihan kalau dia habiskan waktu sekolah seorang diri. Setidaknya dalam sebulan ini ada pengalaman bersama seorang teman.”Aku masih ragu tapi tidak bisa membalas.Dale dan Hail sepakat untuk bertemu di rumah Hail yang jaraknya hanya beberapa perumahan dari rumah Dale. Aku kian ragu dan terus membisikan keraguan di hati orang yang kudampingi ini.Sayangnya, Dale terus membalasku dengan penolakan tegas. “Aku tidak mau mendengar lagi! Pokoknya aku akan memastikan Hail punya teman!”Atas izin orang tuanya, Dale pergi menggunakan sepeda dan mengayuh hingga tiba di alamat rumah yang Hail sebutkan. Rumah anak itu ternyata tidak seseram yang kukira. Terbuat dari beton dan masih tampak baru dan kokoh.Ketika Dale mengetuk pintu, terlihat seorang pria paruh baya menyambut kedatangannya. “Oh, kamu pasti Dale.”“Benar, Pak. Apa Hail di sini?” tanya Dale berusaha formal.Aku yang kian ragu mencoba berbisik untuk menyuruhnya pulang, tapi dia abaikan setiap pendapatku. Kenapa dia begitu keras kepala? Apa yang merasukinya?Pria itu menyuruh Dale duduk dan meminum teh hangat di meja. Aku dengan cepat berseru ke hatinya. “Jangan minum itu! Tolak dengan sopan!”Namun, Dale sudah meneguk teh itu hingga habis akibat lelah selama mengayuh sepeda. Dia pun bicara sejenak dengan pria itu selagi menunggu Hail muncul. Tidak berselang lama, dapat kulihat mata Dale kian berat dan perlahan seakan menahan kantuk yang amat berat.Aku berseru ke hatinya. “Ada apa?”Dale membatin. “Aku merasa pusing dan mengantuk. Sepertinya aku akan tidur.”“Hei! Jangan sekarang! Pergi dari sini!”Dale membalas dengan membatin. “Aku ... sangat mengantuk.” Dia pun memejamkan mata, meninggalkan wajah yang teduh.Dapat kurasakan tubuhku terdorong mundur bahkan sukses membuatku terjengkang seakan ada yang memukulku. Rupanya, aku tidak terikat lagi dengan jiwa Dale dan tugasku selesai. Di saat itu juga, tubuhku mulai terasa lebih ringan, aku merasa lebih leluasa bergerak bahkan tidak sebatas sekitar Dale saja. Tanda kontrak kami telah putus. Namun, di saat itu juga muncul perasaan cemas akan nasib Dale yang kini tewas. Apa yang harus kulakukan?Kudengar suara Hail dari balik ruangan. Keparat itu muncul pada akhirnya. “Sudahkah?”Pria itu menjawabnya. “Sudah. Lama sekali!”“Maaf, hanya dia yang mau mendekatiku, kamu sendiri yang menyuruhku diam saja layaknya sebuah benda yang dijaja,” sahut Hail.Pria itu mengangkat jasad Dale layaknya sebuah karung. “Sudahlah. Setidaknya sekarang kita sudah bisa berjualan lagi di pasar gelap dengan tubuh muda ini.”Aku menatap mereka pergi membawa tubuh orang yang pernah kudampingi dulu. Sementara aku pergi meninggalkan mereka, tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menyaksikan. Kini, aku telah bebas meski telah gagal menjaga seseorang. Kubiarkan angin membawaku, menanti suatu tempat yang bisa ditinggali tanpa jejak darinya. Semua kenangan dari orang yang kudampingi akan aku kubur dalam hati layaknya kenangan tersembunyi.TAMAT

Penguasa Absolut
Fantasy
21 Dec 2025

Penguasa Absolut

Setiap makhluk memiliki kuasa atas dirinya. Namun, di antara mereka harus ada penguasa dan yang pantas berkuasa hanyalah aku.***Ketika ajal menjemput, tidak dikira akan seperti ini. Semua terjadi begitu cepat layaknya badai di tengah damainya siang hari. Cat hitam mulai memenuhi pintu rumahku. Tidak hentinya aku mengagumi warna itu. Rumah yang baru saja dibangun ini terletak di pinggir jalan, tapi suasana masih saja sunyi entah mengapa.Di saat berlena, sebuah mobil sedan hitam kehilangan kendali laju dan menghantam rumah beserta diriku.Sebelum menghembuskan napas terakhir, kudengar suara asing seakan berbisik padaku."Engkau akan dilahirkan kembali sebagai sosok yang akan menaklukkan dunia!"Langsung saja ajal menjemput.***Tidak disangka kematian akan tiba secepat itu. Bahkan beberapa utang belum juga dilunasi, tapi beginilah nasib.Suara tadi membuatku merenung. Apa maksudnya? Akan jadi apa aku nanti? Kenapa harus menjadi penakluk dunia? Bagaimana caranya? Dia kira aku bisa melakukan itu semua dengan mudah dengan segala keterbatasan ini. Tidak mungkin aku bisa dan tidak mungkin pula akan semudah itu dilakukan. Kalau begini, seharusnya aku tetap di dunia dan mengecat rumahku.Saat meratapi nasib, pandanganku yang tadinya gelap berganti jadi ruang megah terbuat dari beton lengkap dengan warna cat krem. Ditambah adanya gadis manis yang sedang berbaring di sisiku sambil terkikik. Rupanya dia baru saja menyentuh hidungku."Ih! Imutnya!"Baru hendak memberontak, aku menyadari bentuk tangan yang aneh.Apa?Kenapa dipenuhi bulu putih? Kenapa pula telapaknya hitam? Kenapa aku begitu mungil dibandingkan gadis ini?Kenapa? Kenapa? Kenapa?Isi kepalaku dipenuhi dengan rasa heran serta ketakutan, sedikit. Terlebih tidak adanya kejelasan atas semua ini.Aku bereinkarnasi menjadi kucing!Gadis ini jelas majikanku–tunggu, babu lebih tepatnya. Karena dia pasti akan tunduk kepadaku.Ha! Aku sadar, inilah kekuatanku!"Nyaw (Peluk aku)!" Aku mengeong.Benar saja, gadis itu tersenyum dan mendekapku ke dadanya. Merasa nyaman, aku mendengkur."Imutnya!" jerit gadis itu sambil mempererat pelukan. Alhasil, aku tercekik."Meow (Lepaskan)!" Aku menjerit.Dia serta merta melepaskanku.Aku turun kemudian menatapnya. "Meow, ngeong ... Raw! Ngeow ... Ngaw ... (Sadarlah, engkau bukan majikanku. Sekali-kali tidak! Kau hanyalah alat bagiku dan aku tidak akan membiarkanmu menjadikanku sebagai budak!)"Gadis itu diam. Dia kembali mengelus kepalaku.Ah, segarnya.Tanpa sadar, aku terbuai dalam belaiannya.***Payah! Aku dikalahkan oleh gadis itu!Seharusnya aku tidak tunduk kepadanya!Ah, sudahlah. Akan kucoba lain waktu. Semua ini tidak bisa dipaksakan meski aku ingin ini segera terlaksana. Tidak semua makhluk dapat berkuasa tapi aku ingin melakukannya sekarang!Dia telah pergi. Tanda aku bisa dengan leluasa menjelajah.Aku langkahkan keempat kaki menuju jendela yang terbuka dan melompat. Di depanku terpampang kerumunan orang. Sebagian berdagang, mengobrol, bahkan sekadar melintas. Banyak sekali manusia, peluangku untuk mengendalikan mereka akan semakin besar.Ha! Dunia sebentar lagi akan tunduk kepadaku!"Eh, kucing!""Ih! Comel!"Kerumunan gadis mendekat. Mereka langsung mengangkatku.Menjijikkan! Beraninya mereka tersenyum selagi menghancurkan harga diriku!"Eh, eh! Minta kucingnya!"Seorang pemuda mendekat. Langsung saja aku diberikan kepadanya.Bagus, dia akan jadi korban pertama yang ...Apa yang dia lakukan?Dia melipat kepalaku! Membentuk diriku layaknya bola!"Dor!"Dia berucap sambil menggulingkanku di jalan. Kepala menjadi pusing ditambah rasa malu tiada tara. Terlebih mereka justru menertawakanku.Memalukan! Lihat saja pembalasanku nanti!***Menahan malu di tengah kerumunan sungguh tidak nyaman, terlebih ketika badanmu kini dipenuhi pasir kotor dari jalanan. Kucing manis yang tercoreng harga dirinya tidak mungkin menerima semua itu begitu saja.Aku harus menemukan cara.Harus ..."Hei, kenapa dia?"Kudengar suara anak perempuan dari seberang. Bukan, lebih tepatnya beberapa langkah saja. Kami berdiri di antara tanah sempit yang mengalirkan air layaknya sungai kecil."Eh, anak kucing!" balas perempuan di sebelahnya dengan antusias.Kenapa aku dipenuhi gadis-gadis sekarang?Tangan gadis itu mengarah padaku sementara temannya masih menatapku."Meow (Hei)!" seruku.Jangan ... Jangan terulang lagi!Dia meletakkanku di sisi mereka, tepatnya di seberang sungai kecil ini. Rupanya dia berniat menyeberangkan aku entah untuk apa, barangkali agar terkesan baik hati dan ringan tangan.Kedua gadis itu berjalan menjauh, membiarkanku begitu saja.Tunggu, sepertinya ini target yang cocok untuk membalaskan dendamku. Agar aku dihormati dan disegani. Harga diriku akan pulih dan aku akan menguasai dunia!Aku melangkah mengikuti mereka. Kedua gadis itu akan jatuh dalam pesonaku. Aku akan menjadi penguasa absolut–Hingga tubuhku tenggelam kembali dalam dasar sungai kecil itu.***"Dia sepertinya di ambang kematian.""Sudah kubilang, kucing ini seharusnya tidak perlu diselamatkan, nanti susah sendiri.""Sudahlah, kita telanjur mengangkatnya. Lagi pula, dia tampak lucu."Begitu mataku terbuka, kulihat tiga orang wanita tengah mencuci badanku. Mereka mengusap bulu putihku hingga menyebabkan air yang merendam badanku menjadi cokelat. Entah kenapa aku tidak mampu bergerak untuk melawan apalagi menyerang mereka bertiga.Ketiga wanita ini mengenakan pakaian layaknya pelayan istana. Tanda aku bisa jadi telah menarik begitu banyak perhatian. Apa ini pertanda baik? Tentu saja."Nah, sudah cantik kembali."Tubuhku digosok menggunakan kain halus yang hangat. Belum lagi mereka memuji sambil mengeringkan badanku. Ketika badanku kering, mereka tersenyum memandangiku."Kucing ini terlalu lucu untuk ukuran kucing jalanan," komentar salah satu wanita."Bahkan kucing hias pun kalah akan pesonanya," sahut wanita lain.Aku membusungkan dada, mereka entah memuji atau membeberkan fakta. Bagaimanapun, ini langkah bagus menuju tujuan utamaku."Sepertinya Tuan Putri akan menyukainya," komentar wanita itu lagi. "Lumayan untuk dijadikan hiasan kerajaan."Wah, sepertinya harapanku melambung tinggi menyentuh nirwana."Mari kita coba." Temannya serta merta mengangkat dan mendekapku ke dadanya.Aku dibawa mereka menuju tempat yang menyerupai lorong dipenuhi benda megah di antaranya lukisan maupun ukiran indah menghias dinding marmer, menciptakan kesan luar biasa dari depan. Berarti benar aku berada di tempat kaum ningrat, tidak bisa dipercaya memang, tapi aku layak menyaksikan semua kemegahan ini secara langsung."Oh, Tuan Putri!" sapa wanita yang membawaku. "Lihat apa yang kami bawa!"Dari jauh terlihat wanita yang mengenakan gaun berwarna hijau laut mendekat. Meski terlihat tergesa, dia sanggup berlari dalam keadaan anggun. Aku mengakui, dia tampak manis."Oh, kucing kecil!"Tanpa aba-aba, aku ditarik olehnya dan dibawa lari dalam keadaan kaki menjuntai. Membuat kedua kaki bagian depan terasa sakit terlebih karena berat perut yang menekan ke bawah.Parah! Dia hancurkan harga diriku!"Kucing! Kucing!" jerit sang Putri selagi berlari membawaku. Dia jelas telah kehilangan kendali.Pandangan berputar. Dia membawaku layaknya saputangan yang dibiarkan berkibar di tengah serbuan angin. Jika seperti ini terus, aku akan gagal!"Putriku!" Seruan dari seorang wanita terdengar."Ibu?" Gadis itu berhenti berlari.Akhirnya siksaan ini berakhir. Aku langsung turun dari cengkeramannya dan duduk, mencoba menyeimbangkan diri agar tidak tumbang."Di sini rupanya." Wanita itu mengenakan gaun yang lebar dan panjang hingga menutupi seluruh kakinya. Sama seperti sang Putri, warna gaunnya serba hijau laut. Kemungkinan ini ciri baju anggota kerajaan. "Kucing dari mana ini? Kotor!"Beraninya dia menyebutku kotor! Aku melotot tanda tidak terima. Dia membalas tatapanku. Menciptakan suasana hening sejenak."Ibu?" Sang Putri jelas merasa canggung dengan keheningan ini. Dia menatapku juga.Aku tatap mereka berdua secara bergantian. Lucu sekali, mereka langsung saja diam ketika pandangan kami bertemu. Tanpa sadar bibirku melengkung hingga menampakkan taringku."Meow ... Meow ... Ngaung ... Ngeow! (Jangan pernah merendahkanku, hai Manusia. Sungguh kalian akan tunduk padaku dan selamanya aku akan berkuasa di atas kalian!)"Keduanya menatapku. Pandangan tampak kosong. Detik itu juga, wanita tua yang kuduga sebagai ratu negeri ini mengangkatku."Daulat, Yang Mulia," bisiknya sambil membawaku menuju lorong istana lagi.Semakin dekat menuju ruang singgasana, tempat berkuasa.Baguslah, kalau sampai berani menjatuhkan harga diriku lagi, tidak akan kumaafkan.Inilah saatnya bagiku menjadi penguasa absolut negeri ini!***"Hei, apa-apaan ini?!"Aku dikejutkan oleh suara seorang pemuda ketika sedang bersantai di takhta berlapis paha Tuan Putri. Rupanya suara itu berasal dari seorang Pangeran yang bisa jadi saudara kandung sang Putri.Aku menyeringai, memamerkan geligi tajam yang menghias bibirku. Namun, beberapa saat berlalu tidak ada reaksi darinya."Adik, kau biarkan kucing jalanan mengotori takhta Ayah?" tanya pemuda itu lagi.Aku menatap sang Putri. Dia akan bicara untukku, karena jelas Pangeran tidak akan mengerti bahasa kucing."Ayolah, kucing ini sudah dimandikan dan jelas tidak akan mengotori istana."Abangnya membalas lagi. "Kamu kira seekor kucing layak duduk di singgsana? Kita bahkan belum layak, apalagi makhluk itu.""Dia layak." Adiknya membalas dengan datar. "Dia yang berhak berkuasa."Pangeran berkacak pinggang sambil menggeleng pelan, dipikirnya sang adik sudah hilang akalnya."Di mana Ibu?" tanya Pangeran."Dia sedang mempersiapkan upacara pemahkotaan." Adiknya menjawab."Pemahkotaan siapa?"Sang Putri menunjukku. "Dia."Dapat kulihat wajah Pangeran merah padam, rahangnya mengatup, ditambah tangan yang dikepal, tanda amarah tidak dapat dia bendung."Cukup sudah!" Pangeran menarik pedang yang tersarung di pinggangnya. "Pemberontak itu tidak layak mewarisi takhta!""Meow!" Aku mengeong dengan keras hingga menggetarkan istana.Menyertai itu, langkah kaki berirama terdengar semakin keras tanda mereka semakin dekat. Itulah pasukan yang kudapatkan secara sukarela karena kelucuanku.Pangeran menatap sekelilingnya dengan tajam. Aku yakin dia tidak menyangka akan kebesaran kekuatanku. Terlalu merendahkan seekor kucing.Begitu pasukan kerajaan berkerumun, mereka mengarahkan pedang pada Pangeran. Meski jumlah mereka tidak sebanyak jumlah keseluruhan pasukan kerajaan, setidaknya cukup untuk menjatuhkan Pangeran."Apa ini?" Pangeran menatap pasukan kerajaan yang mengepungnya. "Ada apa dengan kalian?""Tidak ada yang layak berkuasa," ucap salah seorang dari mereka. "Melainkan dia."Semua jari telunjuk–kecuali jari sang Pangeran–mengarah padaku. Membuktikan kekuasaanku di atas mereka.Aneh, kenapa sang Pangeran tidak tersentuh dengan kelucuanku padahal sebagian besar penghuni kerajaan telah tunduk kepadaku? Dia pasti pembenci kucing. Parah!"Kami beri kesempatan untuk menyerah atau memihak kami," ucap sang Putri kepada kakaknya. "Kami akan menjamin keselamatanmu."Pangeran menatapku dengan sinis. "Setelah apa yang Ayah perbuat, ini balasannya?"Tiada yang membalas.Aku mengeong, menyebabkan semua yang ada di ruangan kecuali si Pangeran, turut mengucapkan kalimat yang manusia itu pahami."Dia yang layak berkuasa. Dia penguasa sesungguhnya. Tidak ada yang berhak dihormati selain dia."Pangeran berdecak. "Dia? Hei, kucing ini bahkan tidak punya nama dan gelar. Dia malah seenaknya mengambil hak orang lain.""Meow ..." Aku mengeong dengan nada pelan."Kau sebaiknya menyerah." Putri menerjemahkan.Aku kembali mengeong."Karena bagaimanapun kau pasti akan kalah. Kami akan menyelamatkanmu jika memihak kami.""Aku? Tunduk pada kucing?" Pangeran tertawa. "Bahkan jika kerajaan ini runtuh pun tidak akan kulakukan!""Terlalu percaya diri," komentarku yang diterjemahkan oleh sang Putri."Kau berani mengendalikan pikiran saudari, kemudian ibuku, lalu pasukan kerajaan. Kau pasti tidak bisa mengalahkan Ayah karena di luar sana banyak yang tidak suka dengan kucing, termasuk aku, selaku pewaris takhta yang sesungguhnya.""Kau terlalu banyak bicara," balasku. "Kenapa tidak coba tunjukkan kekuatanmu sekarang?"Pangeran menyeringai. "Kau takut melawanku sendiri? Tunjukkan bahwa kamu layak berkuasa!"Sang Putri berdiri, hendak melawan kakaknya demi aku. Tapi, karena aku merasa harga diri akan tercoreng karenanya, maka aku cegah gadis itu dan maju menghadap Pangeran dengan kepercayaan diri penuh.Aku memang hanya seekor kucing, tapi aku tidak mungkin selemah yang dia bayangkan. Lihat saja, akulah yang layak berkuasa!Pangeran menarik pedangnya dan menebasnya ke arahku.Aku tidak akan kalah! Aku akan berkuasa–Slash!***Pandanganku menghitam seketika itu juga. Semua mendadak hening bahkan tidak terlihat apa pun melainkan kegelapan.Hei, apa aku mati? Atau sekadar dikurung? Di mana lagi aku?"Kukira kamu belajar dari pengalaman," ucap suara yang pertama kali menyambutku di alam kematian. "Nyatanya kamu mati akibat injakan kaki sang Pangeran."Aku tidak percaya ini! "Apa? Bukannya dia memegang pedang?""Dia berlari lalu tidak sadar jika badanmu lebih kecil dari bayi, akhirnya terinjak." Sosok yang tidak jelas rupanya itu menarik napas, tampak lelah dengan semua ini. "Memalukan. Seharusnya aku tidak memberimu kekuatan.""Hei! Ini salahmu yang tidak membuat tubuhku sedikit lebih besar!" Aku membantah. "Kaukira bisa menaklukkan dunia dengan kekuatan sekecil ini?""Cukup!" bentaknya. "Kamu akan terlahir kembali sebagai kucing kecil biasa dan jangan bertingkah lagi!"Semburat cahaya merasuki mata.***Aku dikejutkan oleh cubitan dari tangan seorang gadis."Ih, lucunya!" Dia mendekapku begitu erat hingga nyaris mencekik.Argh! Hargaku diriku hancur!"Eh, itu bayi kucing yang kemarin." Seseorang mendekat lalu menarikku kepadanya. Dia berputar pelan dan sukses membuatku mual. "Lucunya!"Aku mendengkus. Apa seperti ini akhirnya? Sungguh memalukan! Penakluk kerajaan dan sekarang menjadi seekor kucing biasa tanpa kekuatan spesial.Aku melompat dari pegangan manusia itu dan berlari. Tunggu saja pembalasan dariku!TAMAT

Chain Reaction
Fantasy
20 Dec 2025

Chain Reaction

"Lari! Lari!"Jeritan memenuhi udara ketika aku masih sibuk menyapu ruang kerja raja. Bukannya turut mencari tempat berlindung, aku justru diam dan kembali bekerja. Inilah waktu yang selama ini kutunggu."Lari, Blair! Gajimu tetap akan dibayar!"Seruan dari rekan sesama pelayan ini tidak pula aku dengarkan. Bukan perkara gaji, melainkan rasa penasaran akan kejadian selanjutnya. Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi ada satu hal yang harus aku lihat setelah sekian lama."Lari! Selamatkan diri kalian!"Seruan itu tidak juga aku gubris. Kembali menyapu ruang kerja baginda raja, aku dengan tenang melanjutkan pekerjaan selagi pelayan lain kalang kabut dalam istana. Mereka mungkin akan tewas juga terinjak kerumunan akibat panik. Sebagian lagi ada yang memilih menunggu sejenak membiarkan yang lain berlalu daripada menyatu dengan karpet nantinya.Keadaan semakin parah ketika terdengar kabar tidak kalah mengerikannya."Drystan dari Utara telah memasuki gerbang!"Drystan dari Utara, itukah namanya sekarang? Terdengar menarik.Dia bocah dari negeri di utara yang desanya dihancurkan dua dekade lalu. Drystan bisa dibilang satu-satunya yang selamat dari tragedi tersebut. Kini, dia menjelma menjadi sosok pria yang dipenuhi amarah dan dendam kepada raja kami, Raja Brone."Keluarlah, Brone! Hadapi aku dan jangan jadi pengecut!"Wah, cepat sekali dia sampai ke depan gerbang.Tentu saja momen ini yang aku tunggu. Ketika sang pahlawan berasal dari kaum yang paling tersakiti kini berdiri tegak mengarahkan pedang pada leher sang tiran.Ah, ungkapan tiran terkesan terlalu kejam. Tapi, biarlah. Toh, begitulah Raja Brone di mata Drystan, bukan?"Berakhir sudah eramu!" ucap Dyrstan dengan sorot mata layaknya api membara.Tanpa aba-aba, kulihat Drystan sudah mendekatkan pedangnya ke leher Raja Brone. Bahkan dari jendela istana saja aku merasakan hawa dingin menusuk hingga membuatku gemetar, antara takut sekaligus penasaran."Engkau merenggut semua yang aku miliki!" Drystan menatapnya tajam. "Kini, aku ingin membalas ribuan nyawa yang engkau renggut!"Raja Brone tentu mengetahui, dia juga yang terlebih dahulu merencanakan misi kabur bagi para penghuni istana ini, kecuali para jenderal dan pasukannya, setelah mendengar kabar Drystan dalam perjalanan menuju istana.Tragedi dua dekade yang lalu sebenarnya cukup sederhana. Ada tiga ekor naga penghancur massal dari istana yang menyerang tiga negeri sekaligus, termasuk daerah Drystan berasal. Akibatnya, kami kehilangan banyak sekali rakyat dan harta.Raja Brone tidak bertindak banyak atas tragedi tadi, dia justru sibuk menyembuhkan jiwanya dengan bertamasya di sebuah gunung bersama para jenderal. Dan aku harus tetap membersihkan ruang kerjanya selama seminggu meski tidak ada yang mengotori selain debu yang tidak jelas asal-usulnya."Engkau harusnya menahan diri, Drystan dari Utara," balas Raja Brone dengan nada tenang."Menahan diri?" beo Drystan dengan nada mengejek. "Kaukira ribuan nyawa itu tiada harganya, begitu? Oh, rakyat kecil mana pernah berharga di matamu.""Engkau terlalu cepat menilai."Nah, di situasi seperti ini Raja Brone yang usianya setengah abad tetap bersikap tenang. Bahkan tidak tampak gentar. Dia berani menatap langsung ke mata hitam Drystan yang memancarkan api kebencian."Lantas, siapa yang membebaskan Tiga Naga Penghancur dua dekade lalu?" balas Drystan. "Asalnya dari istanamu! Dari mana lagi?"Raja Brone masih tidak mengubah nada suaranya. "Percayalah, waktu itu aku masih di gunung bersama para jenderal. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada mereka!"Dia tunjuk para jenderal yang berbaris di depan pasukan. Semua secara serempak menyatakan bahwa memang betul apa yang raja mereka katakan. Memang benar, bersantai di gunung merupakan kegiatan bulanan Raja Brone bersama beberapa jenderal yang dia pilih. Tidak jarang juga dia ajak beberapa pelayan dan staff istana lain untuk turut serta.Drystan berdecak. "Yang benar saja! Para jenderal bisa kamu ancam agar mau berbohong, bukan?"Tidak ada yang membalas.Drystan mengangkat pedangnya, bersiap membelah Raja Brone. "Siapa lagi yang membebaskan para naga itu selain engkau, he?"Pada akhirnya, Raja Brone mengepalkan tinju hingga keluar aura keunguan di balik tangannya. Bertepatan dengan itu, sihirnya berhasil menahan tebasan pedang Drystan.Di situlah pertempuran pecah.Aku menjauh dari jendela, takut jika ada sesuatu yang menabrak hingga membuat jantungku meledak. Sebagai satu-satunya pelayan lelaki yang bertahan di dalam istana, aku kembali membersihkan ruang kerja baginda raja. Menghindari segala jenis keributan seperti yang terjadi di luar."Aku tidak memberi apa pun. Tapi, engkau seenaknya mengambil segala yang aku miliki!"Seruan Drystan dari luar disertai dentingan pedang dan perisai membuat bulu kudukku meremang. Menyadari tekadnya yang kuat serta aura membunuh darinya membuatku ingin segera melayang ke langit dan duduk di antara para malaikat. Namun, nyawaku tidak juga dicabut dan terpaksa aku terima saja takdir ini."Brone! Enyahlah di neraka!" Seruan Drystan menciptakan kericuhan yang lebih parah.Untungnya, Raja Brone masih utuh di dalam tameng ungu ciptaannya dan membiarkan Drystan mengamuk di luar sambil menebas pedangnya.Drystan tidak lelah menyeru kalimat yang sama."Pembunuh! Perampas! Tiran!"Tentu aku tidak bisa membiarkan Drystan terus tenggelam dalam bayangan palsu akan kejadian di balik semua ini. Dia mungkin tidak siap mengetahui fakta di balik tragedi yang merenggut nyawa keluarga serta temannya.Semua ini terjadi karena satu hal. Aku benci mengakuinya, tapi inilah saat yang tepat untuk menyampaikan kebenaran.Banyak orang yang tahu bahwa dalam istana ini, lebih tepatnya di ruang ini, ada ruang rahasia yang hanya bisa dimasuki oleh raja dan aku–sebagai tukang kebersihan. Ruangan itu harus selalu dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang salah apalagi sampai menciptakan keributan seperti di luar.Tunggu, memang seperti itu kejadiannya.***Dua dekade yang lalu, waktu aku masih baru saja dilantik sebagai tukang kebersihan ruang kerja raja, aku diutus untuk menjaga ruang ini selagi raja bersama para jenderal berlibur eh, maksudnya bertugas mengasah kemampuan berburu mereka di gunung.Aku bersihkan setiap jengkal yang ada, termasuk lukisan keluarga sang raja yang ukurannya luar biasa besar. Belum lagi aku perlu menyusun rak buku, memungut dan merapikan berkas berhamburan, hingga memeriksa tinta jikalau kosong."Bersihkan setiap jengkal ruangan ini atau kupenggal gajimu!"Tentu, ancaman dari Raja Brone tadi membuatku takut seribu satu kali. Hingga ketika membersihkan ruangan, tiada lagi bekas noda yang tersisa.Ketika hendak beristirahat, aku menyadari ada satu ruang yang belum disentuh. Maka terpaksa aku bangkit dari tempat duduk kemudian berjalan mengarah ke ruangan rahasia tadi. Kunci yang Raja Brone berikan memang ajaib, karena ruang mana saja bisa dimasuki termasuk ruang rahasia sekalipun.Raja Brone memiliki tiga ekor naga yang dia rampas dari sebuah kerajaan beberapa dekade sebelumnya. Kini naga-naga itu sudah pasti tumbuh besar dan semakin kuat. Tentu akan sangat berguna nanti. Tidak heran mengapa dia sangat menjaga binatang buas ini, meski nyawa taruhannya.Jika Raja ingin naga itu tetap terawat selama dia pergi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa dia juga ingin aku setidaknya membersihkan ruangan ketiga peliharaannya.Maka tanpa ragu aku buka pintu besar itu dengan harapan dapat membersihkannya. Namun ketika pintu terbuka, aku menyadari kesalahan kecil ini."ROOOAAARRR ....!"Aku menjerit dan jatuh. Dunia bergetar kala raungan dari ruangan tadi menggelegar menggetarkan istana."Naga! Naga!" Aku menjerit.Para pelayan yang masih di istana juga turut menjerit. Apalagi ketika dentuman bersahutan mulai meruntuhkan bagian dalam maupun luar istana. Tidak ada yang lolos dari semburan api, gigitan naga, bahkan yang lolos dari keduanya pun tetap akan mati terinjak kaki naga. Tanda makhluk itu benar-benar ingin memusnahkan setiap apa yang mereka lihat.Anehnya, para naga yang berfungsi sebagai pemusnah massal ini tidak menggubrisku ketika lepas. Mereka membiarkanku terbaring sambil melongo menyaksikan kepergian mereka. Barangkali tidak melihatku akibat terlalu bersemangat ingin memusnahkan umat. Bagaimanapun juga, aku tetap menyesal dan membawa perasaan ini hingga sekarang.***Saat itulah aku menyadari, aku telah membebaskan senjata pemusnah massal yang berakibatkan perang ini. Akulah penyebab kematian ribuan nyawa tidak bersalah. Dan kini raja di negeriku menjadi taruhannya pula. Sekarang, seorang pria pemarah yang tampaknya akan menjelma menjadi naga pemusnah massal tadi, mungkin akan membunuh setiap pelayan di istana yang tersisa, hingga sampai padaku.Lalu di sinilah aku, di ruangan yang memulai tragedi ini, sedang menanti takdir.TAMAT

Pahlawan
Fantasy
20 Dec 2025

Pahlawan

Seorang gadis kecil menjerit ketika rambutnya yang jingga dijambak oleh seorang pria yang diduga mendagangkan buah. Di tengah suasana pasar yang ramai, gadis malang itu tampak sengaja dipermalukan. Terdapat banyak tumpukan buah yang keluar dari tas yang gadis itu bawa, tanda banyaknya buah yang dia curi. Tidak heran menyulut amarah pedagang itu“Lihat! Ini pencurinya!” Si penjambak menarik kepala gadis itu dengan kasar. “Dia pantas untuk dihukum!”Aku yang waktu itu berusia dua belas tahun tidak sanggup menyaksikan anak seusiaku diperlakukan begitu. Namun, di sisi lain aku memang tidak bisa membenarkan tindakannya. Belum pernah kulihat gadis ini di kota tempatku berasal, barangkali dia pendatang yang kelaparan.“Apa yang sebaiknya kulakukan?” ucap si pedagang dengan nada mengejek. “Akan kupukuli saja!”“Tunggu!” seruku. “Biar aku yang ganti rugi, asal bebaskan dia!”Pedagang itu menatapku. “Kamu mau membayar sebanyak ini?” Dia tunjuk tumpukan buah yang berjatuhan.Entah kenapa aku dengan penuh percaya diri berucap. “Ya, akan kubayar semua kerugian ini. Dengan syarat, bebaskan gadis itu!”***Kejadian empat tahun silam kembali membuatku sedikit malu meski di sisi lain bangga telah menyelamatkan seseorang. Namun, hingga kini aku belum juga menemui gadis itu lantaran dia langsung pergi begitu dibebaskan. Menduga dia sebagai pendatang membuatku berprasangka bahwa bisa jadi dia sekarang telah kembali ke kampung halamannya. Andai kami dapat berjumpa kembali suatu saat nanti.Kini, aku berada di pasar dan hendak membeli makan malam. Hingga jeritan memecah suasana pasar yang meriah. Bersamaan dengan itu, beberapa barang yang akan dijual di pasar berjatuhan akibat sesuatu yang mengejar. Berlarian para warga berusaha menyelamatkan diri. Sebagian bahkan berani saling mendorong dan menjatuhkan agar selamat.Seekor iblis telah memangsa seseorang, tapi masih menginginkan mangsa baru. Di antara yang terjatuh dan terinjak kerumunan menjadi santapan.Di antara yang berlarian, aku berjuang menyeimbangkan kaki agar tidak mudah terjatuh apalagi terinjak. Namun, tubuhku terdorong oleh sosok di belakang hingga jatuh.Bruk! Aku jatuh di antara kerumunan yang berlari. Mereka hanya terus berlari, tidak peduli dengan apa pun selain keselamatan diri.Tepat ketika aku membuka mata. Wajahku berhadapan langsung dengan sosok iblis yang kelaparan.Aku menutup mata, tidak sanggup jika harus menyaksikan iblis itu menyantapku.Kudengar suara sesuatu yang terpotong. Bertepatan dengan benda jatuh di depan. Perlahan ketika mata terbuka, dapat kulihat sosok wanita berdiri di depanku, di tangannya terdapat sebilah pedang yang berdarah serta kepala iblis yang terpenggal di tanah.Dialah Dima, yang melindungi kota ini dari para iblis. Selain gerakannya yang tangkas, juga penglihatannya yang tajam membuat dia selalu menjadi pengawas terbaik. Meski kali ini dia datang terlambat karena sudah memakan korban.Ketika iblis tadi tumbang, kerumunan perlahan menghentikan langkah untuk menyaksikan tubuh iblis yang telah terpenggal itu.“Terima kasih!” Ucapan yang menggema dan selalu terdengar setelah kedatangannya. Hampir semua orang di area terdekat berseru bahkan menganggungkan Dima. Meski begitu, tidak pernah kulihat dia menanggapi. Barangkali karena itu hanya sekadar ucapan, bukan sambutan lain seperti upah atau hadiah.Dima menjauh membiarkan mereka terus mengucapkan terima kasih padanya. Bahkan ketika sebagian mendekat untuk mengucapinya pun dia abaikan layaknya angin lalu. Namun, sikap itu tidak membuat reputasinya menjadi buruk karena dia tetaplah pelindung kota ini. Sebagai sosok yang terkenal, tidak sedikit yang mendekat dan ingin menjadi temannya. Namun, sejauh ini belum ada yang menarik perhatiannya.Ketika Dima menjauh, aku memberanikan diri mendekat dan menatap wajahnya. Rambutnya jingga agak bergelombang yang diikat di bagian belakang, kulitnya kuning langsat sementara matanya kuning. Penampilannya memang seperti kebanyakan penduduk sekitar sini sehingga asal-usulnya bisa ditebak hanya dengan anggapan bahwa dia memang benar terlahir dari bangsa kami.“Terima kasih.” Ucapan itu keluar dari bibirku.Tidak disangka, matanya tertuju padaku. “Aku yang seharusnya berterima kasih.”Meski terlihat biasa saja, balasan darinya sukses membuatku terkesiap. Jantungku berdebar ketika ucapan dibalas oleh sosok yang aku kagumi juga. Namun, kenapa dia berterima kasih padaku?Namun, belum sempat berbuat banyak, dia telah raib.***“Keren, lho, dia bicara padamu langsung,” puji tetanggaku keesokan paginya.“Barangkali itu hanya ucapan untuk kita semua, bukan hanya untukku,” ujarku berkilah. Meski aku tahu dia mengucapkannya sambil menatap langsung ke arahku. Tapi, kenapa bilang terima kasih alih-alih bilang “sama-sama” yang lebih masuk akal?“Siapa tahu kamu bakal menjadi temannya,” ujarnya lagi.Ucapan itu hanya kubalas dengan gelak tawa.Setelah obrolan kecil itu, aku memutuskan untuk pergi ke hutan untuk mencari beberapa kayu bakar atau barangkali berburu. Setelah berkemas, aku bawa dalam satu tas kulit dan melangkah menuju hutan di tengah teriknya mentari. Memasuki hutan, aku berhenti sejenak untuk mengamati sekitar. Memastikan tidak ada bahaya mengintai. Bahkan di suasana hening pun tidak selamanya aman. Dengan waspada, kembali kulangkahkan kaki dan mencari kayu bakar. Bila beruntung, akan ada seekor kelinci yang bisa disantap untuk malam ini.Srek! Bunyi daun kering terinjak membuatku terperanjat. Langsung saja aku berpaling dan memegang erat pisau yang kugunakan sebagai alat berburu. Suasana hutan kembali hening, namun tentu setelah mendengar bunyi itu membuatku skeptis.“Maaf sudah membuatmu takut.”Suara yang kukenal.“Dima?” Aku nyaris tidak percaya. Kebetulan macam apa ini?!Baru kali ini kulihat dia tersenyum. “Maaf kalau malam tadi terlalu membingungkan.”“Tidak apa.” Ah, mungkin saja dia salah berucap.Dima kemudian merogoh saku dan menunjukkan beberapa keping uang. “Terima kasih sudah membayar ganti rugi waktu itu. Kini, aku kembalikan uangmu.”Aku ternganga melihat kepingan uang yang ada di tangannya. Hendak berucap tidak tapi aku juga merasa pantas menerimanya. Kuakui waktu itu dia mencuri buah dalam jumlah yang tidak sedikit. Maka, aku terima uang itu. “Terima kasih.”Dima mengangguk. “Sama-sama, pahlawanku.”Aku tersipu mendengarnya. Melihat sosok yang waktu itu hanya gadis kurus kering yang tampak menyedihkan kini menjelma menjadi wanita penuh wibawa.Baru saja hendak berucap lagi, Dima telah pergi. Meninggalkanku yang hanya bisa menyaksikan kepergiannya dengan melongo.Tamat

Nomagi Academy
Fantasy
19 Dec 2025

Nomagi Academy

Aku menarik napas selagi mencoba membaca kembali apa yang tertulis di depanku. Sudah beberapa menit berlalu dan bukannya berkembang, pikiranku malah semakin kalut ditambah suhu memanas. Berusaha fokus menjadi hal tersulit sekarang ditambah suasana kelas semakin ricuh setelah kepergian guru beberapa detik yang lalu.Ayo, fokus!Aku membaca kembali paragraf yang bertuliskan tentang sejarah sekolah yang kutempati saat ini. Ketika aku di ambang kesusahan di bawah gelapnya malam tanpa rembulan ditemani onggokan sampah jalanan, di situlah muncul selembar surat mendarat tepat di depanku. Cukup dengan membaca sebaris kata saja sudah membuat duniaku terasa terang benderang seketika.Kamu diterima di Nomagi Academy, tempat sihir dan keajaiban berada!Nomagi Academy terkenal di tempatku sebagai sekolah asrama yang mengajar sihir serta makhluk ajaib dari berbagai belahan dunia. Kamu cukup lahir dari keluarga keturunan penyihir, barulah akan diseleksi oleh salah seorang pengurus sekolah yang biasa menyamar di tengah manusia. Mereka tahu tanpa diberi tahu. Kini, aku diterima sebagai siswi di sana."Kudengar sebentar lagi kita akan belajar tentang unicorn !" ujar salah seorang siswa yang berkacamata. Dia berdiri di tengah kerumunan siswa yang penasaran akan kabar terbaru sekolah ini.Jujur saja, aku juga tertarik mendengar bahasan mereka. Tetapi, tidak satu pun dari anak-anak itu kukenal sehingga aku mengurungkan niat untuk berkumpul. Barangkali setelah cukup berani memperkenalkan diri di depan kelas, barulah aku bisa ikut mengobrol."Aku paling suka dengan unicorn ," komentar salah satu siswi dengan nada antusias. "Ah, kita belum mengobrol dengan anak lain, nih. Ayo, kita kumpulkan mereka!"Mataku terbalak. Semoga mereka tidak ..."Para penghuni kelas, mendekatlah!"Hanya dengan mendengar suara siswa berkacamata itu, sebagian murid yang sibuk sendiri, termasuk aku, tertarik ke arahnya."Tolong!"Jeritan kami menggema sepanjang ruang kelas selagi kami ditarik oleh sihir si bocah berkacamata itu.Meski diizinkan masuk ke sekolah sihir, bukan berarti bisa sebebasnya bermain dengan sihir!Aku terjatuh membelakangi salah satu siswi yang merupakan teman dari si Kacamata tadi. Sungguh memalukan!Beberapa erangan terdengar dari para murid yang diseret mendekat, padahal bocah itu cukup bicara pelan saja sudah bisa didengar satu kelas."Anak baru, ya?" sapa si Kacamata kepadaku."Kita semua anak baru," balas si gadis kepadanya. "Ayo, semua! Kita mengobrol soal sihir atau diri kalian!"Aku lantas duduk dan mengelus pantat.Mentang-mentang ini sekolah penyihir dia bisa pakai seenaknya. Tetapi, sekarang aku tidak bisa protes karena kedua orang ini langsung mengatur posisi kami semua hingga duduk berjajar layaknya anak kecil yang siap mendengarkan dongeng."Nah, perkenalkan diri kalian masing-masing," ujar si Kacamata. "Sebelum guru datang, ada baiknya latihan dulu, 'kan?"Tidak ada yang menanggapi."Nomagi Academy adalah sekolah sihir yang didirikan, tentu saja, untuk anak penyihir seperti kita," kata si gadis. "Aku dan saudara kembarku ini akan membimbing kalian bersekolah di sini, lho. Kalian kalau ada pertanyaan seputar sekolah bisa langsung datang ke kami."Ah, ternyata begitu.Ketika aku hendak melontarkan pertanyaan soal sekolah sihir ini, terdengar bunyi langkah kaki dari luar. Beberapa murid langsung bebas dari sihir si Kacamata dan berlari menuju kursi masing-masing. Aku pun begitu, memacu langkah sebelum pintu kelas dibuka dan mengatur napas ketika seorang wanita mengenakan topi panjang hitam muncul dari balik pintu."Selamat datang di Nomagi Academy!" sambut wanita itu. "Kalian siap belajar tentang sihir?""Siap!" Tentu saja kami semua membalas dengan serentak. Apalagi sekarang atmosfer ruangan berubah menjadi lebih ceria dari sebelumnya.Wanita itu tersenyum. "Baguslah. Sekarang, kita akan saling memperkenalkan diri. Aku guru wali kelas kalian dan hari ini kita akan belajar tentang unicorn ."Tamat

Cermin
Fantasy
19 Dec 2025

Cermin

“Cermin ini istimewa, aku membelinya dengan harga mahal.” Maia baru saja pamer kepada adiknya. Dia bangga dengan hasil tabungannya selama ini. Sudah lama dia menginginkan cermin ini.Cermin itu memiliki warna biru tua dengan rangkaian ukiran menghiasnya. Bentuknya memang cukup kecil, hanya segenggam tangan Maia. Tetapi, warna dan hiasan yang tampak seperti tiruan berlian itu yang menarik minatnya. Tentu Maia tidak mau cermin itu direbut.Meski harganya lumayan mahal dan nyaris menghabiskan tabungannya, Maia tidak begitu peduli. Selama masih bisa memiliki cermin ini, tidak masalah.Dia membeli cermin itu dari sebuah stan yang baru muncul dekat sekolahnya, lebih tepatnya di bagian belakang sekolah di mana beberapa pedagang menjaja dagangan mereka. Ada yang menarik perhatiannya waktu itu, yaitu pantulan dari cermin yang dipajang di sebuah stan itu.Seorang gadis yang sedang menjaga stan itu tersenyum pada Maia. Dia membiarkan Maia terus menatap cermin itu hingga beberapa detik.“Cermin ini kudapatkan dari seseorang beberapa tahun silam,” ucap gadis itu. “Ini benda antik, harus terus dijaga dan dirawat.”Maia yang tidak terlalu memusingkan, langsung menanyakan harganya dan dari situ saja sejarah di mana dia mendapatkan cermin itu. Tanpa bertanya banyak melainkan ingin segera mendapatkan cerminnya.“Kakak tidak bertanya dari mana asalnya?” tanya adiknya. “Kakak tidak mungkin membeli tanpa berpikir terlebih dahulu, ‘kan?”Maia terdiam. Dia kembali menatap cermin yang digenggamnya, hasil tabungan yang seharusnya akan dipakai untuk kebutuhan lain justru berkurang demi sebuah cermin yang cantik.“Aku yakin ini cermin yang datang dari pabrik seperti kebanyakan cermin lainnya,” jawab Maia.Adiknya hanya mengiakan sebelum akhirnya meninggalkan Maia sendirian di kamarnya.Maia senang memandangi dirinya di cermin, terutama jika dia suka warnanya. Apalagi kalau bentuknya yang sedang cukup mudah dibawa ke mana saja.Saat memandangi pantulan wajahnya, Maia tersenyum. Melihat kulit kuning langsatnya yang mulus tanpa jerawat, manis cokelat tua seolah menambah kepercayaan diri bagi Maia. Dia memang merasa lebih cantik dibandingkan teman sebayanya, tapi itu tidak membuatnya terlalu berbangga diri.“Aku jadi penasaran, bagaimana rasanya jika bayanganku melihat aku di seberang sini.” Maia membatin selagi memandangi pantulan dirinya di cermin itu.Maia pun meletakkan cermin itu di kasur lalu keluar untuk makan siang. Setelah pulang dari sekolah dan langsung memandangi barang beliannya tentu menunda jam makan yang seharusnya sudah berlangsung selama tiga puluh menit.Maia berniat akan menata cermin itu lagi setelah makan. Mungkin di meja belajar bagus untuk dipajang.***Makan siang hari ini sukses membuat Maia kenyang. Niatnya hendak kembali meletakkan cermin baru itu ke meja belajar, supaya dia lancar mempelajari materi di sekolah, kalaupun dia fokus.Kembalinya ke kamar, Maia ambil cerminnya dan meletakkan ke meja belajar.Tunggu, ada yang aneh.“Eh, mana bayanganku?” Maia membatin sambil menatap cermin yang hanya memantulkan dinding putih di belakangnya, dinding kamarnya. Tapi, di mana wajahnya yang seharusnya menatap balik dia?Maia memutar cermin itu lalu kembali mengarahkannya tepat di wajahnya.Sama saja. Hanya terlihat lantai berlapis marmer. Bukannya wajah serta badannya.“Kok bisa?” Dengan bingung, Maia terus mengarahkan cermin ke mana saja.Memang, cermin itu sudah memantulkan bayangan, tapi di mana bayangan Maia?Maia yang kebingungan lantas pergi keluar kamar mencari anggota keluarganya. Tidak mungkin semua ini terjadi pada dirinya seorang, bukan?Begitu dia keluar, dia melihat kucing ras peliharaannya yang berbelang kelabu. Ia menatap babunya dengan bingung seakan berkata, “Ada apa dengannya?”Maia langsung mengarahkan cerminnya ke kucing itu. Tentu saja hewan itu terkejut melihat wajah kucing aneh menatap tajam dirinya.Kucing Maia kabur ketika melihat bayangannya sendiri.Maia menatap kepergian kucingnya dengan bingung. “Aneh, ke mana bayanganku?”Maia tidak mau menyerah. Dia keluar dan mencari anggota keluarganya. Satu-satunya yang masih di rumah saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah adik Maia.“Adik!” seru Maia panik. Dia mengetuk pintu kamar adiknya.Sang adik keluar dengan melotot, beraninya seseorang mengganggu tidur cantiknya. “Kenapa, Kak?”Maia langsung mengarahkan cermin itu ke adiknya. “Adik lihat bayangannya?”“Ya, ada wajah,” komentar sang Adik. “Kenapa?”Maia berdiri di sisi adiknya dan mengarahkan cermin kepada mereka. Hanya bayangan adiknya yang terpantul.“Lho, Kakak di mana?” heran adiknya.“Makanya,” balas Maia. “Aneh, ‘kan?”Adiknya tentu tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Dia kembali menatap bayangannya dan pantulan karpet kamar dia, tanpa ada bayangan kakaknya meski dia berdiri tepat di samping.“Kakak mending buang saja cerminnya,” saran adiknya. “Tidak berguna lagi cerminnya kalau begini.”“Hei, enggak bisa!” tolak Maia. “Kakak beli ini mahal, lho.”“Tapi, apa gunanya cermin tanpa bayangan?” balas adiknya.“Sudahlah.” Maia pun melangkah keluar dari kamar adiknya. “Nanti dipikirkan.”Adiknya hanya bisa menatap kakaknya dalam kebingungan.***“Bagaimana ini? Masa aku buang begitu saja? Tapi, cermin tanpa bayangan juga percuma, walau hanya berlaku untukku.”Maia duduk diam di kasur sambil menatap cerminnya dalam dilema. Kalau tujuan utama dia beli selain bentuknya juga karena dia memang suka bercermin. Cermin ini hanya menemaninya selama beberapa jam saja, sangat disayangkan jika dia singkirkan. Tidak mungkin, harus ada jalan.Sangat aneh jika sebuah cermin enggan memantulkan bayangan, apalagi jika itu hanya berlaku untuk dirinya seorang.“Apa aku harus mencari bayanganku?” batin Maia. Dia tatap cerminnya yang tergeletak dekat kakinya. “Bagaimana caranya?”Sejak awal beli, Maia memang tahu cermin ini istimewa. Tapi, dia tidak mengira bakal seaneh ini. Dia kira, ini hanya benda antik warisan seseorang. Seingatnya, gadis yang menjual cermin ini dari seseorang. Tapi, siapa?“Aku harus kembali ke sana!” Maia bertekad.Maia memberanikan diri menatap lekat cermin itu. “Aku harus tahu asal-usulmu.”Dia pun bergegas kembali ke tempat itu. Jaraknya memang sedikit jauh, hampir dua kilometer. Maia menaiki sepedanya dan menyimpan cermin dalam tas, kemudian mengayuh. Tidak butuh waktu lama baginya kembali ke sana.“Aku harus menanyakannya langsung,” batin Maia di tengah perjalananan.Setibanya di sana, dia tercengang. Tempatnya sudah kosong tanpa siapa pun menjaja dagangannya. Ya, mungkin karena hari sudah sore dan sekolah jelas telah tutup. Dengan gontai, Maia pulang dan mencoba memikirkannya sendiri.Dia berhenti di dekat minimarket dan membeli minuman akibat haus sepanjang jalan. Di saat meminum, Maia kembali memandangi cermin tanpa bayangannya.“Ya, sudahlah, akan aku simpan di kamar dan tidak bakal menyentuhnya lagi,” batin Maia. Dia yakin cermin ini pasti ada niat tersembunyi untuknya, tapi dia tidak tahu apa.“Jika kamu mau sesuatu dariku, katakan saja!” seru Maia kepada cerminnya. Dia benar-benar bingung dengan semua keanehan ini. “Aku akan melakukan apa pun asalkan kamu kembalikan bayanganku!”Tidak disangka, cermin itu memantulnya cahaya biru, bersinar di bawah senja dan nyaris membuat Maia menjerit ketakutan. Dia mencoba menggoyangkan cermin itu yang malah membuat sinarnya semakin terang.Maia yang ngeri langsung mengempaskan cermin itu ke aspal.Cermin itu retak. Sinarnya memudar.“Aneh,” batin Maia. “Sebaiknya aku lari.”Tanpa berpikir panjang, Maia mengayuh sepedanya.Tetapi ...“Hah? Kenapa ini?” Maia memandangi dirinya yang mulai memantulkan sinar kebiruan dari kulitnya.Maia langsung berhenti di tepi jalan, menengok ke sana ke mari, memastikan tidak ada yang melihat. Dia coba menggosok tangannya agar sinar itu menghilang. Akan tetapi, tubuhnya perlahan menjadi terang hingga tidak jelas rupanya.“Tolong!” jerit Maia. Namun, di sore ini, jalanan begitu sepi hingga teriakannya pun hampir tidak terdengar. “Tolong!”Tubuh Maia bersinar terang, bahkan berhasil memerangi langit senja yang menggelap.Dalam sekejap, tubuhnya lenyap. Menyisakan sepeda dan tas kecilnya yang tidak berisi.***Di lain waktu, seorang gadis menatap kejadian tadi dari kejauhan. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi apa pun, hanya diam memandang salah satu pembelinya yang lenyap tak berbekas.Dengan pelan, dia mendekati cermin yang tergeletak di aspal. Memungutnya, lalu memandangi wajahnya yang terpantul jelas.“Cermin ajaib, kamu sudah kenyang?” tanya gadis itu.Si cermin membalas dengan memantulkan sinar redup kebiruan, tidak membuat gadis itu gentar sama sekali.“Baguslah,” ucap gadis itu. “Lumayan untuk sebulan.”Gadis itu membawa pergi cermin tadi. “Enak, ya. Sudah dapat duit, ada tumbal untuk kecantikan abadiku.”Tamat

Burung dalam Sangkar
Fantasy
18 Dec 2025

Burung dalam Sangkar

Dengan gagah ia bentangkan sayap, membelah langit dengan bangga, selagi menatap ke bawah binatang tak bersayap yang menatapnya kagum. Dengan bulu cokelat yang bersih menghias badannya, membuat ia semakin dikagumi bagi siapa saja yang melihatnya terbang.“Lihatlah dia, terbang bebas di angkasa!”Begitulah pujian yang kerap ia dengar, yang mana membuatnya kian melambung. Semakin tinggi terbangnya, semakin ia merasa bangga. Kadang ia merasa telah menjumpai awan dan menyentuh mentari. Belum lagi ia telah berencana akan mengelilingi dunia dengan sepasang sayap kecilnya yang kokoh. Maka, ia terbang. Semakin tinggi hingga merasa telah melampaui awan dan badai.Itu beberapa tahun silam selama ia berbangga diri melintasi awan dan badai. Hingga pada suatu siang yang terik, tubuhnya terasa letih dan rapuh.Burung yang berbangga akan kekuatannya kini mulai goyah, angin yang biasa menerpanya terasa menyiksa, ditambah napasnya terasa berat kian detik ia hirup.Semua telah berubah, tidak seperti sedia kala. Terbang bebas di langit, hanya itu yang didambakan. Tapi, takdir berkehendak lain ketika sayapnya tidak mampu menopang badannya lagi.Hari ini, dia mulai letih. Di usianya yang entah sudah berapa musim ini, mulai melemah. Bulu yang menghias badannya dengan indah mulai mengikis, sayap yang kokoh mulai rapuh, dan kini ia tidak lain hanya seekor burung yang tidak bisa terbang kembali, seperti hari di mana ia menetas.Ia terjatuh ke tanah, tak berdaya. Begitu membalikkan badan, pemandangan langit biru menyambut seolah merindukan kehadirannya. Di tengah menyapa awan-awan, matanya terasa berat begitu juga napasnya.Hingga tubuhnya menyerah.Badannya terasa dielus angin sementara tanah tampak semakin mendekat ke wajahnya. Ia tidak mampu mengepakkan sayap lagi, dia sudah cukup letih terbang selama beberapa musim yang dilalui. Ketika badannya terasa ringan dan semakin dekat ke tanah, ia hanya bisa membayangkan rasanya tidur setelah sekian lama menjelajahi langit.Ketika raga bertemu tanah, burung kecil itu tidak tahu ke mana ia mendarat, hanya bisa merasakan dari tubuhnya di mana ia berada. Yang diingat hanya tanah hijau yang perlahan berganti warna. Tanah ini terasa aneh. Tidak biasa dia mendarat apalagi jatuh ke tanah yang terasa keras lagi dingin ini.Bukan, ini bukan tanah, melainkan seperti batu. Tapi, ia tidak tahu apa batu bisa semulus ini teksturnya apalagi dengan bentuknya yang rata.Begitu kakinya berhasil menopang badan, ia berdiri dan mengamati sekitar. Sambil membersihkan bulu cokelatnya yang mulai memudar dan kotor, diselidikinya tempat baru ini. Belum pernah ia melihat bentuk taman seaneh ini.Di depan matanya, ternyata ada garis-garis putih yang membatas antara dia dan taman luar sana. Tapi, taman itu terlihat aneh di matanya, seperti ada sesuatu yang menghalangi pula, tapi tidak jelas bentuknya. Ia tatap lagi sekeliling untuk memastikan, barulah dia sadar kalau dirinya berada di tempat yang jauh berbeda.Ia dikelilingi garis pembatas putih laksana disegel. Ketika ia mencoba keluar, hanya sayap dan kaki saja yang bisa menyentuh area luar.Sering kali ia mendengar kabar dari kawanannya tentang makhluk besar yang senang menangkap burung sejenisnya lalu mengurung di tempat ini. Mereka menyebut benda itu sebagai “sangkar.”Burung yang telah berusia beberapa musim ini mulai mengamati sekitar. Hanya ada dirinya, sangkar ini, dan sebuah tempat berisikan benda-benda asing. Tapi, ia tahu betul ini sarang makhluk besar yang kerap menangkap sejenisnya.Menjerit pun percuma, karena yang ada hanya makhluk raksasa itu akan datang dan justru menikmati jeritan penderitaan mereka. Ia hanya burung yang sudah letih, kini telah dipaksa tinggal bersama makhluk yang tidak sudi ia tatap.Ia bukan lagi burung yang bebas terbang di angkasa. Ia bukan lagi burung muda yang bertekad menjelajahi dunia.Ia kini hanya seekor burung tua yang terperangkap. Tanpa teman maupun siapa saja yang menemani seperti sedia kala. Tidak ada lagi awan maupun angin yang senantiasa menyapa. Tiada yang bisa ia lakukan selain merenung, menunggu ajal menjemput.Tamat

Lonte Bulan
Fantasy
18 Dec 2025

Lonte Bulan

Malam terang menemani kesunyianku. Ini sangat syahdu. Aku tengah berbaring dengan cantik di kasur dengan permadani beledu marun dilengkapi dengan parfum khas Kerajaan Sentosa.Aku memalingkan tubuh indahku menghadap jendela yang terbuka lebar agar semua makhluk di semesta bisa menyaksikan keindahanku.Huhuhu ...Huhuhu ...Aku terbangun karena mendengar suara merdu dari balik jendela.Aku kira, itu pertanda musim kawin. Ternyata, itu suara panggilan turun menurun yang terus didoktrin kepada anak-anak.Ibuku pernah bercerita tentang legenda, tapi aku abaikan karena aku spesial.Namaku Astra, tapi aku bukan makhluk astral. Bukan pula anak pajangan yang tinggal di rumah manusia seperti anak-anak lain.Seperti makhluk lain–agak kontradiktif memang–diriku ini menjalani hidup dengan biasa saja. Tidak dibenci, tidak pula disayang. Makan, tidur, ke luar rumah untuk ngelon–berjalan-jalan, sampai akhirnya kembali tidur baru kemudian bangun dan makan lagi.Huhuhu ...Suara itu kembali terdengar. Begitu lembut layaknya rocker . Aku yang penasaran pun lantas menengok ke luar jendela. Maunya sih, menebas tengkuknya pakai sendal sultan impor langsung dari Saturnus. Tapi, lagi-lagi, mana ada orang gila bernyanyi di tengah malam begini.Kukira, itu perbuatan salah satu musangku, tetapi semua peliharaanku berjenis kelamin lelaki dan tidak satu pun bersuara di saat santuy begini.Huhuhu–Suara itu berhenti tepat ketika aku menengok. Begitu menunduk, oh sunguh mengejutkan!Tanah istana kini dipenuhi kopi gemoi!Aku lantas berlari memanggil dayang-dayangku. Mereka biasanya menghibah dari pagi hingga jam penyihir alias jam tiga dini. Dari merekalah aku tahu ternyata aku bukan anak haram tukang sayur seperti yang selir katakan."Oh, dayang-dayangku, kemarilah?" seruku dengan tanda tanya. "Majikanmu membutuhkanmu."Kulihat dayang-dayangku masih bersenda gemoi di harem. Meski tempat itu diperuntukan bagiku dan kedua ayahku. Karena ibuku tidak mungkin bersantai di harem."Wahai, dayang-dayang! Mari bersiap!" seruku lagi. Tapi, tidak digubris.Ternyata, mereka tidak takut akan terjadinya banjir. Karena mereka jelmaan ikan mujair.Sebelum menjelma jadi ikan salmon, aku biasanya memberi mereka makanan. Namun, kali ini tidak ada persiapan sehingga dayang-dayangku pun pergi tanpa makan dan berenang dengan syahdu.Ya, sudahlah, setidaknya mereka bisa cari sendiri dengan melont–meminta dengan kerajaan sebelah.Huft , menyebalkan!Karena istana sudah sepi dan para pengawal pada main kartu Remi di kerajaan sebelah, aku mau tidak mau mencari tahu sendiri penyebabnya.Ternyata, oh, ternyata.Rahasia itu! Doktrin keluarga yang aku abaikan selama seribu purnama!Aku bergegas ke perpustakaan istana sebelum digenangi banjir. Di antara tumpukan buku yang sudah basi, aku berhasil menemukan buku yang dimaksud. Tidak hanya dengan mengetahui umurnya yang tua, aku juga harus mencemoi-cemoi badannya untuk memastikan tekstur yang benar.Unch , lembut!Ternyata, penyebab kopi menggenang di istanaku rupanya air dari bulan. Satu-satunya yang bisa mengendalikan bulan tidak lain adalah si Lonte Bulan.Lonte diambil dari nama serangga Kuwawung atau Lonthe. Serangga gemoi ini memiliki warna cokelat manis, biasa keluar saat senja, memiliki bau harum polos, dan suka gemerlapnya dunia malam.Si Lonte Bulan yang dimaksud bukanlah sosok kumbang atau pria malam. Melainkan ...Huhuhu ...Seorang biduan liar.Aku tidak yakin makhluk macam apa yang berani dengan sosok gemoi seperti aku. Tega benar mereka menganggu tidur manisku.Aku pun mencari barang-barang yang ada. Tapi, pertama-tama, aku harus meraup harta orangtuaku. Tidak jadi karena hanya berupa batu mulia. Di kerajaan ini, hanya aku yang paling missqueen .Sudahlah, kalau memang Lonte ini sedang memikatku, akan kujawab panggilannya.Perjalanan menuju Lonte ini tidaklah sulit. Aku cukup berjalan kaki menuju bulan dengan kekuatan mistisku.Tapi ...Tapi, perjalananku nyaris terhalang akibat para permaisuri ganas yang sedang mencoba memikat Kaisar Rembulan.Huhuhu ...Kaisar Rembulan yang tengah duduk di singgasananya, sedang rock 'n roll selagi para permaisuri ganas itu memainkan kecapi.Kaisar Rembulan tidak ada hubungannya dengan Lonte Bulan karena ia tidak tertarik pada biduan. Untungnya, para permaisuri ganas ini tahu betul selera suami mereka.Aku berhasil menyelipkan tubuh indahku di antara mereka dan berhasil melampaui sang Kaisar menuju bulan. Ah, betapa lelahnya!Tibalah aku di sebuah istana di atas awan lalu menyapa seorang bidadari yang sedang rebahan. Aku kira, dia sedang ngopi, tapi ternyata terkena efek sihir Lonte Bulan tadi.Beberapa langkah aku lalui dengan syahdu, akhirnya tiba di bulan tepat waktu.Kulihat seorang wanita berambut ungu kotor yang duduk tak beradab di singgasana berupa kardus. Dia memiliki kulit putih bagai kapur barus dan suara merdu seperti bidadari kejepit."Mau apa kau ke sini?" tanya biang kerok ini.Duhai, dia benar-benar cantik sampai aku mual.Penampilannya begitu nge-JRENG hingga aku keselek seketika. Kekuatannya jauh melampaui Kaisar Rembulan yang bahkan masih asyik menari bersama para permasuri ganasnya.Lihatlah matanya yang ikemen ini![masukin foto mata Gojo]"Kecantikan tak terbatas!"Dengan sekali jentikan, awan yang kupijak berubah jadi rangkaian bintang. Kini kami berdiri di tengah bulan, agak jauh sedikit dari Kerajaan Sentosa."Hai, Lonte Bulan, jangan banjiri rumahku!" pintaku dengan tulus.Alasan dia disebut demikian mungkin merujuk pada serangga-serangga peliharaannya yang disebut lonthe tadi.Ada yang bilang, makhluk berambut ungu-apalah-itu berasal dari negeri antah berantah dan diciptakan untuk memuaskan nafsu penciptanya yang dikabarkan sebagai anak nolep.Nama Lonte Bulan ini adalah ..."Aku Astra Maraelsa Miz Coraline Keira Rapunzel Star Sirena d'Gemoi!" Dia menjawab tanpa ditanya. "Mau apa kamu ke sini tadi, kamu kenapa copy namaku?"Dia memang cebol, sekitar 120 sentimeter dengan tubuh ramping bagai lidi. Rambutnya dari tadi ungu kotor tapi kemudian dicat putih biar mirip bule. Netra merah muda dengan tatapan penuh keganasan ala anak dakjal.Belum sempat aku menjelaskan, dia langsung menceritakan masa lalunya yang unik itu."Aku dilahirkan dari rahim seorang iblis yandere tapi kemudian keluar dari perut ibuku yang seorang ratu siren di Kerajaan Laut Tsunamiwave." Dia jeda untuk memamerkan belahannya yang terbuat dari pensil Ibisp4in."Tidak ada yang menyayangiku sejak kecil kecuali ibu tiriku, di sekolah aku disayangi semua orang termasuk dua budak kekasihku." Astra meneteskan air mata entah kenapa. "Suatu ketika, aku bingung harus menikahi siapa antara dua budak nafsuku.""Ya, pilih salah satu," sahutku. "Mana ada pasangan bertiga?"Dia mengabaikan pertanyaan itu. "Aku jadi prestasi hingga kampung halamanku, Kerajaan Tsunamiwave, hancur karena Kristal Kehidupan kesenggol adik pajangan kekasihku hingga kerajaan itu runtuh seketika."Astra roboh ke lantai dan menangis sambil mengusap mata dengan permadani."Hidupku benar-benar berat, aku mati bersama salah satu kekasihku yang lututnya tertusuk tusuk gigi hingga jantungnya resign . Anak pajangan kami pun jadi yatim piatu, dia kini hanya mau menggenakan pakaian berwarna hitam menyimbolkan hatinya yang gelap seperti dakinya.""Dengar, aku hanya ingin banjir itu pergi dari rumahku–""Kamu tidak tahu rasanya tidak pernah keluar kamar tapi dikeroyok masyarakat!" bentak Astra. "Satu anak pajanganku kini memakai gelang guci merah dan mondar-mandir mencari laki sebagai pelampiasan!""Kalau kamu tahu, kenapa tidak bimbing anakmu?" sahutku."Aku 'kan mayat!" sahut Astra. "Sekarang, anak pajanganku tinggal bersama suamiku dan adiknya yang juga anak dari suamiku.""Punya berapa suami kamu?" tanyaku."Cuma dua ... Um , satu pacar dan ... Tiga belas?" Dia menghitung-hitung.Tidak habis pikir. "Siapa?""Akan kuceritakan kisah cinta kami yang epik dan bikin kamu ketagihan langsung!" Astra lalu berdiri memamerkan gaunnya yang gemerlap.Kisahnya pun dimulai.Astra memiliki suami dari Kerajaan Waffle karena perutnya yang waffle hingga mengundang syahwat. Selain itu, ia secangkir werewolf yang edgy . Namanya Kazutae Hosee Le Jun-Seo Marcopollo Xalamender.Kazutae ternyata yang membunuh ibu Astra karena sedang badmood dan dia diutus ayah kandungnya untuk membunuh Astra. Namun, kebodohan membuat mereka bersatu dan sekarang jadi pasangan. Tidak ada yang bisa hentikan keduanya, sekarang.Astra dan Kazutae kini mempunyai anak bernama Mikasa Le Jun-Seo Miz Coraline Sirena d'Gemoi. Dia memang rada edgy dan berpotensi menggoyangkan dunia karena seseorang merebut susunya saat masih bayi.Nah, Mikasa yang mengurus anak dari Astra. Anak itu hasil hubungan gelapnya dengan seekor iblis bernama Pedotom Kasuari Edgee Lucidor.Pedotom ini yang mati bersama Astra karena ia hanya kuat saat di ranjang saja. Mereka menghasilkan anak, diberi nama Lusiyana Edgee Lucidor Sirena d'Gemoi. Dialah anak yang selalu memakai pakaian hitam setelah ditelantarkan orangtua.Kedua anak itu memang tidak berguna bagi alur ceritanya, tapi ditambahkan saja biar pembaca peduli."Sekarang, kamu tahu deritaku," ucap Astra lirih."Kamu tetap mengotori rumahku, dasar Mary Sue!" Aku mengumpat sambil melempar sendal mahalku yang diimpor dari Saturnus.CROT!Aku ditembak dengan kekuatan es berair dari Astra hingga terpental dua kilometer. Menghantam dinding lalu terguling."Tidak ada yang menderita di dunia ini selain aku!" seru Astra. "Terima ini, Playing-Victim Blass!"Hisrot!Aku terkurung dalam gelembung gelap dipenuhi foto penuh kesedihan edgy dari keluarga vertebrata ini."Rasakan amukan edgy -ku! Hiyaaat!"Seruan Astra disertai dengan amarah dan lonthe-lonthe yang beterbangan. Hm, wangi.Untungnya, aku tidak terluka akibat gelembung Playing-Victim ini, sehingga kecantikanku masih terawat.Tidak disangka, aku menemukan sebuah kristal yang kuduga sebagai Kristal Kehidupan tadi. Bentuknya memang seperti batang, tapi ujungnya agak bengkok.Saat itulah, jeritan syahdu Astra menganggu kuping. Aku menutup telinga dan berjuang meraih kristal yang bentuknya seperti ... Seperti pedang."Jangan serang Ibu!"Siapa itu? Lusiyana?!Wujudnya memang seperti anak edgy . Serba hitam dilengkapi dengan eyeliners tebal. Muncul petir dan halilintar dari tangannya.Crot! Aku terlempar lagi.Krak! Tidak sengaja, menyebabkan Kristal Kehidupan patah batangnya.Astra terkesiap. "Tidaaak ...!"Dia meninggal."Oh, tidak." Lusiyana berlari ke arah ibunya. Namun, terhalang oleh Mikasa."Ibu kita terbebas sekarang," ujar Mikasa, terkesan bijak. "Ikhlaskan saja.""Argh!" Lusiyana mengeluarkan petir dari segala penjuru badannya. "Aku kecewa!""Auuu ...!"Lolongan serigala menginterupsi drama keluarga ini. Muncul sosok kekar dengan penutup mata layaknya seorang Chūnibyō. Rambutnya berbeda dari punya Mikasa, ia turquoise sementara Mikasa berambut ungu pucat dengan hijau daun. Jangan-jangan ..."Ayah!" panggil Mikasa."Siapa yang membunuh rembulanku?!" bentak pria yang kuduga sebagai Kazutae. Netra kelabunya menatapku tajam.Aku serta merta menjawab, "Kaisar Rembulan!"Kazutae melolong liar. Ia melepas baju dan menampilkan waffle di perutnya. Lantas menjelma jadi anjing puddle dan menyerang ke arah antara awan dan bulan, menuju Kaisar Rembulan.Sebenarnya, Kaisar Rembulan secara de facto yang menguasai bulan. Tapi kekuatan lon–cinta Astra berhasil mengusirnya. Meski Kaisar Rembulan-lah yang duluan mengalah karena ia lebih waras.Aku dan dua anak pajangan Astra berlari menyusul Kazutae yang bahkan tidak berpikir panjang untuk menghabisi sosok penguasa bulan sesungguhnya.Aku dan Mikasa berhasil masuk duluan ke Kekasairan Rembulan, mendahului Lusiyana yang tiba-tiba berhenti untuk menangis karena serangan masa edgy -nya."Kaisar Rembulan!" seruku.Kulihat Kaisar Rembulan sedang breakdance di hadapan para permaisurinya. Ia disoraki lalu kembali menggoyangkan tubuh indahnya depan para wanita itu."Kaisar Rembulan!"Seruanku lantas menghentikan acara seketika.Berbeda dengan Astra yang mengaku-ngaku sebagai penguasa bulan, ia mendekat dengan tatapan seakan aku tidak diundang ke acara ini. "Ya?"Mikasa menyenggolku. "Ratu Rembulan Astra meninggal!"Kaisar Rembulan kembali memakai kacamata lopenya yang merah muda. "Lanjot!"Ia kembali breakdance bersama para permaisurinya."Auuu ...!"Kazutae masuk dari jendela dan menendang salah satu permaisuri ganas Kaisar Rembulan."Kamu membunuh biniku!" Kazutae menarik kerah baju kekaisaran sang Kaisar. Menatapnya tajam."Eh?" Hanya itu balasan sang Kaisar. "Kau punya bini?""Dia sosok terindah yang pernah kutemukan!" Kazutae membentak sang Kaisar.Sang Kaisar berhasil meloloskan diri. " Ew, ih! Dasar mesum!"Tindakan Kazutae ini mengundang amarah dari Kaisar Rembulan.Seketika terjadi guncangan di bulan dan muncul petir entah dari mana.Ternyata, Lusiyana mencoba membunuh Kaisar Rembulan karena dia edgy dan badmoo d , tapi tidak disangka sosok yang diburu masih berdiri dengan tatapan kesal tertuju pada Kazutae.Kaisar Rembulan melepas kacamata lopenya. "Cukup! Kalian merusak suasana!"DUAR!Kaisar Rembulan menggerahkan tenaganya menyerang Kazutae. Semburat cahaya putih yang berhasil memukul mundur anjing jadi-jadian itu."Uhuk!" Kazutae memuntahkan kecap merah."Ayaaah!" seru Lusiyana dan Mikasa, menghampiri gary stu itu.Wujud Kaisar Rembulan kini menjelma jadi sosok kesatria berzirah putih sekarang. Ia menghantamkan palunya ke arah Kazutae."Jangan sakiti Ayah!" seru Mikasa frustrasi. "Ia memiliki masa lalu yang kelam dan sedih, belum lagi sekarang dia memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan!"Mikasa pun menangis selagi mendekap ayahnya yang terbatuk-batuk manja."Bacot!" Kaisar Rembulan menghantam mereka bertiga dengan palunya dan ...BUUUM!Kami semua terlempar.Para tokoh pemuas nafsu itu telah mati gepeng di tangan Kaisar Rembulan.Sementara aku tercebur di kopi gemoi yang pelahan menjelma jadi kasur.Akhirnya aku jadi penguasa bulan setelah Kaisar Rembulan karena itu yang diinginkan author .TAMAT

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 3 dari 7
Menampilkan 24 cerita