Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
DANAU RANJAU
Mita dan Boy adalah pasangan yang baru menikah, mereka berdua sama - sama memutuskan setelah menikah, mereka harus mulai untuk memiliki rumah sendiri, jadi beberapa hari belakangan ini, mereka sibuk untuk mensurvei beberapa area perumahan yang dekat dengan lokasi kerja mereka berdua, banyak penawaran menarik yang mereka dapatkan, tidak terkecuali model - model rumah mungil minimalis menjadi salah satu favorit mereka, karena mereka memang memiliki sifat yang simple dan tidak ingin terlalu ribet.Akhirnya mereka sampai ke perumahan Diamond Sky Residence, dari tampak depan gerbang perumahan ini memiliki desain yang unik dan menarik, sehingga mereka berdua tampak kagum dengan kesan pertama memasuki area perumahan tersebut. Dan mereka pun mulai memarkirkan kendaraan mereka ke area parkir kantor pemasaran di perumahan tersebut."Selamat pagi Bapak dan Ibu ada yang bisa saya bantu?" sahut resepsionis di bagian depan ramah"Iya mbak, saya mau tanya - tanya rumah" jawab Mita"Baik ibu silahkan duduk terlebih dahulu, nanti marketing kami akan datang membantu ibu" jawab resepsionis tersebuttidak berapa lama, keluarlah bapak - bapak berkepala botak dengan kulit putih menuju ke meja Mita dan Boy"Selamat Pagi Bapak dan Ibu perkenalkan nama saya Eko, saya marketing perumahan Diamond Residence, saya siap untuk membantu Bapak dan Ibu disini"Lalu Pak Eko pun duduk dan menjelaskan semua produk yang ada di Diamond Sky Residence, ada satu cluster istimewa dimana memiliki keunggulan view danau... pak Eko menjelaskan, view danau tersebut amat bagus dan menarik dengan taman - taman di area pinggir danau dan arena permainan anak, type rumah minimalis, dan Mita merasa inilah rumah idaman yang dia inginkan, tanpa ragu dia pun langsung menyetujui proses pembelian rumah tersebut, dan Boy pun tidak kuasa untuk menolaknya.Satu tahun sudah Mia dan Boy sudah mendiami rumah baru mereka di Perumahan Diamond Sky, saat ini Mita bahkan sudah hamil dengan usia kandungan 3 bulan, Boy dan Mita sangat berbahagia dengan keadaan tersebut.Satu Malam, Mita sedang duduk memandangi bulan di teras rumahnya, Boy sedang menonton siaran bola di Televisi, Anehnya Mita seperti melihat banyak bayangan didanau seperti banyak keramaian dan tiba - tiba suara gaduh timbul...."Dooorrrrrrrrrrr.............." seperti ada sesuatu yang meledak, Mita kaget dan masuk ke dalam rumah"Boy apakah kamu mendengar suara itu?" tanya Mita"Suara apa sayang?" jawab Boy "Aku sedang menonton siaran bola, tidak mendengar suara apapun"Mita berfikir, mungkin perasaan aku saja, lalu Mita pun kembali ke teras... sepi bayangan tersebut telah hilangMita tidak bisa tidur, Dia bermimpi aneh, seperti masa peperangan, suara bom dimana - mana, penuh suara bising senapan dan juga bom silih berganti, Mita melihat darah... banyak manusia terkapar,,,, dan Mita melihat sendiri gambaran tersebut, dia menangis..... dan terisak."Sayang bangun" ucap Boy.... "Kamu mengigau Mita"Mata Mita pun mulai terbuka, dia melihat wajah Boy, dan dia merasa sangat ketakutan"Aku melihat banyak darah, seperti peperangan, sangat menakutkan" ucap Mita"Sabar sayang, itu hanya bunga tidur kamu saja itu hanya mimpi""Tapi seperti bayangan yang kulihat di danau semalam Boy"Pagi ini, Mita berolahraga sambil berlari mengitari komplek perumahannya, dia melihat seorang nenek - nenek tukang sapu tua yang sedang menyapu di jalan,"Selamat pagi bu" sapa Mita"Pagi neng" jawab nenek tua tadi"Maaf bu, ibu orang asli daerah ini?""Iya neng, saya teh dari kampung ranjau di sebelah komplek ini" jawab si Nenek"Kampung Ranjau?" kalau komplek ini dulunya apa ya nek?""Oh disini juga sebenarnya bagian kampung ranjau teh, sebelum dibeli oleh perumahan ini, dulu rumah nenek gak jauh dari danau ranjau disana" sambil menunjuk danau tempat rumah Mita"Danau Ranjau? namanya aneh ya nek?" kata Mita"Iya teh, dulu di daerah ini adalah tempat lokasi perang teh, disini lapangan bebas dan hutan, lalu di zaman tersebut banyak mayat yang meninggal karena korban peperangan, tepatnya di danau ranjau tersebut, itulah asal muasal nama desa kami dan nama danau tersebut, pada saat itu masih banyak sisa ranjau dari hasil peperangan, lalu untuk membuat kuburan masal tersebut, maka beberapa ketua desa memiliki inisiatif untuk meledakkan ranjau hingga kedalaman yang cukup dalam, lalu melempar semua mayat - mayat tersebut disana, anehnya setelah kejadian tersebut langsung turun hujan dan tidak berhenti, tiba - tiba dalam beberapa minggu saja hasil lobang ranjau sudah tertutupi dengan air dipermukaannya, dan sejak saat itulah Danau tersebut disebut danau ranjau, dan kampung ini disebut kampung ranjau" jawab si nenek tua tadi menjelaskan dengan terperinci"Mita langsung berfikir tentang bayangan dan mimpinya" Mita merasa banyak hal yang bisa dilihat dan juga difikirkan banyak kesamaan dengan apa yang dijelaskan nenek tua ini"Terimakasih ya nek" sapa Mita"Sama sama teh" ucap si Nenek lalu kembali menyapuMita masih memikirkan perkataan nenek tadi, sambil melihat air danau di area taman danau tersebut, tiba - tiba Mita seperti melihat bayangan mayat orang - orang yang meminta pertolongan dan hampir saja Mita merasa tangan itu mencoba menariknya, tiba - tiba dia merasa ada yang menahnnya"Sayang hati - hati, jangan terlalu dekat dengan air, nanti kamu bisa jatuh" ucap Boydan itu menyadarkan Mita, bahwa dia hampir saja masuk ke dalam air danau tersebutDi rumah Mita membicarakan pertemuannya dengan nenek tua tadi pagi"sudahlah sayang kamu jangan terlalu berlebihan, itu kan seperti cerita dongeng untuk masyarakat dikampung ini saja" jawab Boy santai"Tapi, tadi aku merasa mayat - mayat itu hampir menarikku ke air" ucap Mita"Sabar ya sayang, kamu jangan terlalu banyak fikiran, kasian anak aku nanti didalam perut" jawab Boy sambil memegang perut Mita yang mulai besarMalam jum'at ini Mita hanya dirumah seorang diri, Boy kebetulan ada Meeting Bisnis diluar kota, dan akhirnya Mita memutuskan untuk tidur lebih awal, dia merasa lelah, tiba - tiba terdengar suara tersebut, suara tembakan, suara bom, dan suara keramaian orang yang seperti sedang berperang, Mita sangat ketakutan suara itu sekarang terdengar jelas, Mita seperti mengalami kembali masa peperangan tersebut.Akhirnya setelah Boy pulang, maka Mita memutuskan untuk datang kembali ke management perumahan Diamond Sky, di sana Mita meminta pihak Managemen untuk mencoba mencari tahu ada apakah di dalam danau ranjau yang membuat Mita tidak dapat hidup nyaman dan merasa khawatir.Karena Managemen Perumahan Diamond Sky cukup profesional dan peka, maka mereka menjanjikan akan coba mengeruk danau ranjau tersebut dan melihat apa yang ada didalam danau tersbut.Hari itu mobil pengeruk pun tiba, semua sudah disiapkan banyak warga kampung dan warga perumahan yang ikut menonton, karena banyak yang ingin menyaksikan apa benar cerita yang selama ini mereka dengar.Dan ternyata benar, mobil pengeruk itu mulai mengeruk, mayat - mayat yang berada di dalam danau, dan yang aneh, mayat tersebut tidak ada yang rusak, semua bagian tubuh nya dapat dilihat secara utuh, ini membuat kaget banyak orang yang melihatHampir Seratus mayat ditemukan dari danau ranjau tersebut, dan saat ini Managemen memberikan lahan untuk pemakaman mereka semua untuk dikuburkan secara layak, dan saat pemakaman tiba, Mita melihat banyak bayangan yang tersenyum padanya, dan Mita yakin mereka sekarang sudah lebih tenang.
INTERVIEW DENGAN HANTU
Hari ini Ani merasa pusing, supir kantornya yang baru masuk dua minggu, sudah berhenti secara mendadak, entah karena alasan apa, Ani merasa sedikit lelah, karena bukan hal yang mudah mendapatkan supir yang baru, sehingga Ani sebgai HRD Manager harus mulai menyebarkan kembali lowongan pekerjaan dan melakukan penyeleksian kembali dengan memuat lowongan di internet dan surat kabar, tetapi dengan kondisi operasional perusahaan yang mengharuskan banyak perjalanan bisnis setiap harinya, membuat Ani kewalahan.Surat Kabar Newbie sudah mulai menerbitakan lowongan kerja supir yang Ani pesan, dan juga situs job terbesar www. jobme.com juga sudah menerbitkan lowongan tersebut, Ani mulai menerima berbagai macam CV yang berkaitan dengan supir tersebut, gaji yang perusahaan Ani sudah distandarkan dengan UMR, sehingga banyak juga supir yang tertarik, tetapi saat mereka mulai masuk kerja dan merasakan aktivitas yang sangat padat dan bisa sampai larut malam, biasanya akan membuat supir tersebut berhenti dan mengundurkan diri.Ada salah satu foto yang menarik Ani, wajahnya tampan seperti bintang film dan model, dari CV yang diterima, dia lulusan SMU dan belum pernah bekerja, sepertinya calon ini bagus untuk dia interview, karena dia pasti membutuhkan pekerjaan ini untuk pengalam kerjanya, Ani langsung menelepon ke nomor HP nya."Halo bisa bicara dengan Andre? saya Ani dari PT. Subur Kelana" ucap Ani"Iya betul bu, dengan saya sendiri" jawab pria di telepon tersebut"Anda kemarin mengirim lamaran CV ke Kantor kami untuk lowongan sebagai supir ya pak?""Betul bu" jawabnya"Mohon datang ke kantor kami besok ya pak, di alamat Jl. Maritim 2 No 18 Jakarta Utara, nanti bertemu dengan saya Ani ya pak""Baik bu, jam berapa ya bu?""Jam 2 siang pak""Baik terimakasih bu" dan telepon pun terputusKeesokan hari, selain Andre ada beberapa calon lain yang dijadwalkan untuk di tes juga oleh Ani, Ani datang agak pagi dan menjadwalkan hari ini dengan jadwal interview tadi.Mulai dari jam 9 sudah ada beberapa calon yang sudah di panggil Ani untuk Interview, dan akhirnya tibalah Andre, saat Andre memasuki ruang interview, Ani agak terpesona dengan wajah Andre yang bahkan terlihat lebih tampan dari foto yang Ani lihat, bahkan Andre memiliki postur badan yang tegap, membuatnya semakin terlihat keren, lebih cocok sebagai model ketimbang menjadi supir, fikir Ani."Siang bu, boleh saya duduk" sapa Andre"Silahkan" jawab Ani " Nama anda Andre kan ya? coba jelaskan tentang diri anda" ucap AniAndre pun menjelaskan latar belakangnya seperti di CV kmrn"Mengapa anda mau menjadi supir?" tanya Ani kembali"Menurut saya itu pekerjaan yang halal bu, saya tamatan SMA belum punya pengalaman, yang saya inginkan adalah membantu ibu saya untuk meringankan bebannya dengan gaji bulanan saya" jawab Andre pasti"Wah sudah ganteng patuh pada orangtua lagi" fikir Ani"Apa anda tidak malu, anda masih muda dan mungkin teman - teman yang lain akan mengejek anda dengan pekerjaan baru anda""Tidak bu, bagi saya jika saya mencuri atau saya korupsi baru itu akan membuat saya malu, jika pekerjaan ini halal saya akan bangga bu" jawab AndreSetelah mengajukan beberapa pertanyaan lainnya, akhirnya Ani pun menyelesaikan interviewnya, ada yang berbeda disini Andre terlihat sangat bersemangat dan membutuhkan pekerjaan ini, dibandingkan dengan calon - calon lainnya.Setelah menimbang dan melihat kriteria calon lainnya, maka Ani memutuskan untuk mengundang kembali Andre untuk interview, kali ini lebih untuk menegosiasikan gaji yang akan diterimanya"Halo, dengan bapak Andre?""Iya saya sendiri?""Selamat ya pak Andre anda terpilih untuk menjadi supir di perusahaan kami, tetapi bapak masih harus datang ke kantor besok, untuk membahas perjanjian, kewajiban dan tata tertib pak?" jawab Ani dengan bahasa formal"Baik bu pasti saya datang"Sudah beberapa jam bahkan mendekati jam 4 sore, Andre belum datang, Ani merasa Andre tidak serius dengan pekerjaan ini, bahkan jika dia tidak datang 10 menit lagi, maka Ani akan mencoret nama Andre dari calon supir tersebut, dan saat Ani mulai merapihkan berkas dimejanya, tiba - tiba Andre muncul dihadapannya."Selamat sore bu Ani"Ani melihat ke wajah Andre, ada yang aneh, wajah Andre terlihat muram dan juga sedikit pucat, sepertinya dia habis berjalan jauh atau dia seperti kelelahan"Silahkan masuk Andre, saya fikir kamu tidak datang" jawab Ani"Maaf bu, tadi motor saya jatuh dijalan, saya terpaksa berjalan kaki, saya pasti datang karena saya membutuhkan pekerjaan ini" jawab AndreSetelah menjelaskan tata tertib dan juga menandatangani perjanjian, dan menjelaskan hak dan kewajiban karyawan, Ani merasa penjelasannya sudah sangat lengkap, dan menyuruh untuk Andre menandatangani perjanjian diatas kertas"Baiklah Andre sekarang sudah selesai, dan kamu resmi menjadi karyawan di perusahaan kami" jawab Ani jujur"Apakah saya juga akan mendapat asuransi jiwa bu?" tanya Andre"Sudah mulai hari ini kamu sudah dicover asuransi jiwa oleh perusahaan" jawab Ani tegas"Terima kasih bu" jawab Andre dan segera meninggalkan ruanganMalam hari ini, Ani tidak dapat tidur, entah mengapa wajah Andre selalu membayangi dirinya, dan juga tangisan, banyak suara tangisan dan teriakan, Ani tidak mengerti, mengapa dia menjadi seperti ini, mungkin karena dia terlalu banyak memikirkanpekerjaan dan lelah, fikir Ani.Keesokan harinya, dikantor, Ani merasa sangat kesal, Andre tidak masuk kekantor, baru hari pertama dia sudah seperti ini benar - benar tidak profesional, fikir Ani kesal, Ani berusaha menghubungi HP nya Andre, tetapi tidak ada jawaban juga, dan Ani merasa benar - benar dipermainkan, lalu dia mencari kembali berkas Andre dan melihat KTPnya, Pak Muin security kantor, diminta Ani untuk mengantarkannya ke alamat Andre sesuai dengan KTP.Tibalah Ani, dialamat tersebut Jl. Gagak No 2 Jakarta timur, dengan suasana jalanan yang macet, membuat Ani sampai agak lama ke tempat tersebut, dan Ani merasa ada yang aneh bahkan bulu kuduk Ani juga merinding, didepan jalan Ani melihat ada bendera kuning, Ani pun terus berjalan dan bertanya pada orang sekitar dimana alamat rumah Andre, tiba di alamat yang dituju ada tenda di depan rumah tersebut, dengan banyak orang yang sedang berkumpul."Maaf apakah ini rumah Andre?" tanya Ani"Betul bu" jawab salah seorang pria berkacamata dengan peci hitam"Andrenya ada pak?" tanya Ani sekali lagiTiba - tiba pria itu melihat Ani "Anda siapanya Andre?" tanya pria itu"Saya Ani pak, HRD di kantor barunya" jawab AniMaaf bu, Andre hari ini kecelakaan dan dia sudah wafat, rencananya sehabis ashar ini akan dikuburkan bu" jawab pria ituAni sangat kaget mendengar berita tersebut, hampir saja Ani teringat mimpinya dan pingsan, tetapi Ani merasa dia harus bertemu keluarga AndreMasuk kerumah kontrakan sempit dengan dua kamar, Ani melihat Ibunya Andre sedang mengaji, dan disana ada dua anak kecil yang mendampingi satu seperti anak SD dan satu lagi anak balita"Maaf bu, say Ani HRD tempat Andre bekerja" ucap Ani membuka pembicaraanIbu Andre melihat ke wajah Ani, "Iya bu, Andre senang sekali diterima bekerja oleh ibu, maka itu dia membawa motornya sangat kencang karena takut terlambat, dan terjadilah kecelakaan itu bu" jawab ibu Andre terisak -isak"Iya bu, sabar ya bu" jawab AniTiba - tiba Ani mengingat pertanyaan Andre, tentang Asuransi jiwa yang akan diperolehnya, sepertinya dia sudah memberikan pesan kepada Ani"maaf ya bu saya pulang dulu" lalu Ani pun memberikan sejumlah uang sebagai tanda belasungkawa kepada Ibu AndreTiba dikantor, Ani mengecek kembali berkasnya, untung saja semua berkas sudah dikirim langsung olehnya, dia menelepon Asuransi nya, dan menjelaskan kronologisnya, dan setelah Ani tanya secara mendetail, maka Andre berhak untuk mendapatkan uang asuransi jiwa yang harus dia peroleh, Ani pun segera melengkapi berkasnya, dan juga memprosesnya kepada pimpinan dikantor menjelaskan tentang kronologisnya, dan akhirnya keluarlah sejumlah uang asuransi Jiwa yang Andre peroleh.Ani pun dengan managemen langsung menyerahkan ke rumah ibu Andre, ibunya sma sekali tidak menyangka dengan jumlah yang diperolehnya, dia merasa Andre adalah anak yang baik bahkan saat dia meninggalpun dia masih memerikan rezeki pada keluarganya.Dan Ani melihat ada bayangan Andre yang tersenyum di depan pintu kamar, mungkin itulah arti mimpi Ani, Andre memintanya untuk meneruskan pesan ini dan meninggalkan keluarganya dengan tenang.
HOROR GADIS TETANGGA SEBELAH RUMAH
Hari ini aku dan ayah sedang siap - siap membereskan perabotan di rumah baruku, mobil pick up juga sudah membawa perabotan - perabotan kami, ibu sedang menyiapkan makan siang untuk kami semua dengan membelinya di rumah makan yang tak jauh dari rumah, hari ini adalah hari pertama aku pindahan ke desa Meninjo di wilayah Yogyakarta , sebelumnya kami tinggal di Jakarta, ayahku bernama Baskoro dan ibuku bernama Mila, dan aku sendiri bernama Damayanti, semua temanku memanggil aku Yanti, mungkin bagiku ini adalah perasaan yang aneh karena aku baru pertama kali datang ke Yogyakarta, kami harus pindah ke sini karena ayah mendapatkan tugas dari kantornya untuk membuka cabang baru di daerah Yogyakarta.Ayahku sudah mempersiapkan semuanya, bahkan ayah sudah jauh hari meminta rekan kantornya untuk mencarikan rumah yang tidak jauh dari kantor cabang yang akan dibuka, bahkan ayah sudah mempersiapkan tempat aku bersekolah saat kita tinggal disini. Setelah selesai membereskan perabotan yang ada, aku merasa sangat lelah, sehingga aku memutuskan untuk keluar sebentar, hari sudah mulai senja, agak asing didesa ini sepertinya suasana sangat senyap, berbeda dengan saat aku di Jakarta bahkan tengah malam pun akan terasa ramai. Tiba - tiba aku merasa ada yang memperhatikanku tepatnya dari rumah sebelah, saat aku tengok lalu bayangan itu akan hilang, tapi begitu aku menatap ke atas langit sepertinya orang yang memperhatikanku akan melihat ke arahku lagi, dan benar saja ketika aku menoleh pasti bayangan itu hilang lagi, karena penasaran aku pun mendekatinya, rumah sebelahku rumah mungil yang terbuat dari bambu, disini banyak ditanami rumput dan bunga yang indah, walaupun rumah itu kecil tapi yang memiliki rumah tersebut sangat apik, pelan - pelan aku menuju jendela yang kuihat ada bayangan disana, saat kudekati kulihat itu adalah sebuah kamar tetapi kosong tidak ada siapapun disana, lalu aku memutuskan untuk kembali ke rumah.Ibu sedang menyiapkan hidangan makan malam di meja, suasana pedesaan yang khas dengan suara jangkrik menambah kesan yang menambah kesunyian pada malam hari ini, ayah sepertinya sangat lelah dan ayah segera menuju ke kamar, sedangkan ibu masih mengelap perabotan yang ada di ruang tamu. Bagiku ini terasa sangat membosankan, kalau aku boleh jujur aku berharap ayah bisa kembali ke Jakarta tanpa harus pindah ke daerah seperti ini.Akhirnya pagi hari pun datang, aku mendengar suara ibu memanggil namaku..."Yanti bangun nak, sudah siang" teriak ibuAku masih mengucek mataku, merasa masih sangat lelah dan mengantuk, aku pun berdiri mendekati ibu"Jam berapa bu?""Jam enam, sayang" jawab ibu"kenapa tadi ibu bilang sudah siang, ini kan baru jam enam" lirihku kepada ibu"Iya, udaranya sangat segar, ibu ingin kamu melihat pemandangan desa yang sangat cantik di pagi hari ini" ucap ibu bersemangat.Akupun pergi ke depan rumah, aku lihat suasana pepohonan dan pemandangan yang cantik, dan udara yang sangat bersih, benar saja ini benar - benar luar biasa. Aku melihat ada pohon Jati disana, aku pun mendekatinya dan aku duduk disana sampai aku merasa, ada yang menyolek pundakku."Hai..." sapanyaagak sedikit kaget aku menoleh ke samping dan aku melihat gadis seusiaku berumur sepuluh tahun berambut pendek dengan poni depan menyolek pundakku"Hai..." jawabku "Kamu siapa?""Aku Amel, kamu siapa?" tanyanya"Aku Yanti" jawabku "Kamu tinggal dimana Amel?" tanyaku kembali"Aku tinggal disamping rumahmu, itu rumahku" sambil menunjuk ke rumah mungil kemarin"Oh... jangan - jangan kamu yang memperhatikanku kemarin ya Mel?" tanyaku"Iya, aku senang kamu pindah kesini, sebelumnya aku sangat kesepian" jawab Amel"Lho memangnya disini kamu tidak punya teman?" tanyaku"Tidak ada, anak yang seumuran dengan ku, aku tidak punya teman main" jawabnya menunduk"Kamu sekolah dimana?" tanyaku bersemangat"Aku tidak bersekolah yan, aku harus membantu orang tuaku di sawah" ucapnya"Lho kok, kamu harus sekolah, sebentar lagi aku mau masuk sekolah disini, mungkin kamu bisa ikut sekolah bersamaku" jawabku penuh semangat."Sudah dulu yan, nanti bapak mencari aku, sekarang aku harus ke sawah" jawab Amel terburu - buru sambil meninggalkan aku sendirian.Aku masuk kembali ke dalam rumah, dan aku lihat sudah ada nasi goreng lezat dimeja makan."Ayu makan Yan, ibu sudah masak untuk kamu" ucap ibu"Ayah kemana bu?" tanyaku"Ayah sudah berangkat ke kantornya, untuk mengawasi renovasi kantor barunya" jawab ibuAda sekitar tujuh hari aku menikmati masa liburanku sebelum mulai bersekolah, dan aku sering bertemu Amel, saat pagi hari ataupun sore hari di tempat yang sama Pohon Jati didepan rumah, aku banyak diajarkan permainan khas tradisional disana, aku menikmati kepindahanku disini berkat Amel.Hari pertama sekolah, ayah menungguku di mobil, aku belum sempat bertemu dengan Amel, karena aku harus datang pagi ke sekolah baruku, jarak rumah dan sekolah cukup jauh menempuh setengah jam perjalanan dengan mobil, dan aku diperkenalkan oleh ibu guru dikelas, semua anak - anak disekolah menyambutku dengan baik, mungkin memang budaya di sini semua orang sangat ramah dan baik hati.Semenjak aku sekolah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan Amel, saat aku duduk di pohon jati itu Amel tidak datang - datang, mungkin dia juga sedang sibuk, fikirku. Aku merasa kesepian saat dirumah jika tidak ada Amel menajdi teman bermainku."Ibu, lihat Amel tidak?" tanyaku"Amel siapa nak?" tanya ibu"Tetangga sebelah, anak yang biasa main denganku""Tidak, ibu seharian hanya dirumah saja sayang" jawab ibukuSetelah beberapa bulan sekolah, ayah menyuruh aku untuk belajar mandiri, aku harus naik angkot dijalan depan desa untuk sampai ke sekolahku, karena proyek ayah juga sudah sangat menghabiskan waktunya sehingga, ayah tidak ada waktu untuk menjemputku.Hari ini hujan turun lebat disekolah, aku terpaksa menunggu sampai agak sore untuk pulang ke rumah, ayah sudah coba aku telepon, tetapi tidak diangkat, akhirnya setelah hujan agak reda aku mulai berani menaiki angkot ke rumah, sudah hampir jam tujuh malam sekarang, angkot yang kunaiki sedikit ada masalah ban bocor, aku mendengar saat ada anak sekolah lain diangkotku mereka bercerita tentang pembunuhan anak sekolah yang tidak ditemukan pembunuhnya sampai saat ini, ceritanya anak - anak tersebut hantunya masih sering menampakkan diri saat kita berjalan melewati jalan tersebut, saat aku menghentikan angkotku, anak - anak itu melihat ku dengan aneh"kamu turun disini?" tanya salah satu anak perempuan tadi"Iya, rumahku disini" jawabku"Hati - hati ya kamu sendirian kan?""iya" jawabku"Banyak orang jahat" ucap anak tadiKarena ucapan anak itu aku merasa agak sedikit takut dengan kondisi jalan yang kulewati, ternyata jalan didesa ini sangat gelap kalau sudah lewat maghrib, dan hampir kita tidak bisa melihat kedepan jalan, dan aku merasa seperti ada yang menarik tasku dari belakang.Saat aku lihat ke belakang, ada dua sosok pemuda menarik tasku, wajah mereka sangat menyeramkan"wuidih, ayu tenan kanu dik, mau kemana ayu mas anter ke rumahmu" ucap salah satu pemuda tadi sedangkan pemuda lainnya hanya tertawaAku merasa takut tetapi disini sangat sepi, aku tidak tahu harus bagaimana, aku pun langsung menendang sekeras m- kerasnya kaki orang yang menarik tasku, dan diapun merintih kesakitan, distulah aku mulai berlari dan menjauhi mereka.Aku hampir tidak bisa melihat kemana aku berlari, dan mereka mengejarku dengan tenaga dua kali lipat dari kecepatan ku, dan aku tersandung batu, lalu akupun terjatuh.Mereka tertawa menyeringai, merasa mereka telah menang, aku takut sungguh aku sangat ketakutan aku berharap ada ayahku saat ini, saat mereka bersiap untuk menarikku menaiki motornya, tiba - tiba ada cahaya, cahaya aneh... aku melihat Amel....Amel hanya menyeringai dan memelototi mereka..."Amel tolong aku..." ucapku merintih"Kamu... kamu sudah mati...." ucap dua pemuda tadi,,,,, kamu tidak mungkinDan pemuda itu melemparkanku ke jalan, dan melarikan motornya dengan kecepatan tinggi.Amel melihatku sambil tersenyum, aku samar - samar melihatnya sebelum aku kehilangan kesadarankuAku membuka mataku"Ibu...." aku melihat bayangan ibu"Yanti... kamu sudah sadar nak, Alhamdulillah" jawab ibuku"Aku dimana bu?""dirumah nak""Ada orang jahat bu, dia ingin menculikku" ucapku lirih"Iya nak, ibu tahu, ibu sangat khawatir kamu belum pulang sampai malam, ibu meminta pak Mardi tetangga sebelah untuk mencarimu, karena Ayah belum pulang kerumah, untungnya pa Mardi menemukanmu saat di depan jalan tadi nak" ucap ibu menangis."Amel, bagaimana bu?" tanyaku"Amel?" tiba - tiba ada lelaki berada dihadapanku"Kamu kenal Amel dimana nak?" tanya bapak tadi"Dia tetanggaku pak, aku sering bermain bersamanya, dan dia yang menyelamatkanku dari dua orang jahat tadi"Amel itu anakku nak" ucap bapak tua itu sedih "Dan Amel sudah meninggal enam bulan yang lalu sebelum kamu pindah ke rumah ini" jawab Bapak tadi"Maksud bapak? yang main bersamaku selama ini siapa pak?" tanyaku bingung"enam bulan yang lalu amel juga pulang sekolah sama sepertimu, menunggu hujan dan amel pulang sendiri, bapak waktu itu sakit tidak bisa menjemputnya, lalu ada kejadian seperti yang kamu alami, Amel di jahati dan dibunuh, mayatnya dibuang begitu saja, menurut polisi orang yang hampir menculikmu adalah orang yang membunuh Amel, saat malam tadi motornya ditemukan sudah hamir masuk ke dalam jurang, dan mereka sudah meninggal nak" cerita Pak Mardi bapak Amel.Lalu aku melihat di pojok rumah wajah Amel samar - samar tersenyum melihatku, sepertinya dia sudah tenang"Terimakasih Amel..." ucapku dia telah menyelamatkan nyawakudan aku mengingat Amel sebagai teman dan sahabat yang baik, semnejak hari itu ayah meminta untuk kembali ke Jakarta karena menurut ayah, kejadian tersebut membuatnya sangat trauma dan takut, dai tiak ingin itu terjadi lagi, dan kami semua berpamitan dengan Pak MArdi untuk kembali Jakarta.
HOROR DIWAHANA RUMAH HANTU
Fina datang terlambat hari ini ke sekolah, akibatnya pintu gerbang telah ditutup, sehingga otomatis Fina harus lapor ke guru piket dan diberikan hukuman, tetapi Fina memutuskan untuk tidak masuk sekolah, dia justru ingin menuju mall yang tak jauh dari sekolah.Mall Pain Village, berdiri baru setengah bulan, Mall nya tidak terlalu besar dan masih banyak kios yang masih kosong, tetapi karena ini masih terlalu pagi jam 08.30 Jam Operasional masih belum buka.Vina pun memutuskan untuk ke arah toko pakaian yang berada di depan Mall tersebut, karena dia menggunakan seragam, otomatis dia tidak akan diperbolehkan untuk masuk ke dalam Mall nanti.Dia membeli sepasang rok dan kaus, yang sedang diobral di toko tersebut, maka dia langsung menuju ke ruang fitting room, dan mengganti baju sekolahnya dengan pakaian tersebut.Setelah Fina memakai baju baru tersebut, dia memutuskan untuk makan dan minum di kedai sederhana disamping toko pakaian sambil menunggu Mall buka.Akhirnya jam menunjukkan pukul sepuluh, Fina pun menjadi pengunjung pertama yang masuk kesana, tiba - tiba Fina dikagetkan suara laki - laki paruh baya yang memakai pakaian security."Selamat datang di Mall kami" sapa bapak itu ramah"Iya pak" jawab Fina santai"Maaf mba, ini ada brosur buat mba, kita ada pembukaan wahana permainan rumah hantu baru, tepatnya ada di lantai atas gedung ini" ucap Bapak tadi sambil memberikan brosur kepada Fina."Terima Kasih pak" jawab FinaFina pun berkeliling - keliling Mall, melihat - lihat semua area yang berada di sana, Fina agak kecewa. Kondisi Mall yang masih sepi membuat Mall tersebut kelihatan tidak menarik.Hampir saja memutuskan untuk keluar Mall, Fina melihat brosur yang ada di tangannya."HOROR WAHANA RUMAH HANTU" dengan gambar Hantu Indonesia seperti suster ngesot dan pocong, berada di background gambarnya."Menarik" fikir FinaLalu Fina pun memutuskan untuk menaiki lift untuk meuju ke area Wahana permainan tersebut.Ternyata benar, area Wahana tersebut sangat besar, Lantai ini benar - benar dipergunakan untuk area tersebut, belum lagi dekorasi yang menyeramkan, membuat bulu kudu langsung menggigil ketika berada disana."Selamat datang kak" sapa gadis berambut pendek sebahu degan seragam gadis desa berpakaian kebaya dengan rok batik"Pagi mbak, mau tanya harga tiket nontonnya berapa ya?" tanya Fina"Karena kakak pengunjung pertama kami ada promosi gratis untuk kakak, ini tiketnya" jawab gadis itu"Asyik" dalam hati Fina kegirangan karena mendapat tiket gratis hari itu.Fina pun mulai memasuki area Wahana, area pertama mulai masuk seperti ke pintu gua, saat berada di pintu lainnya, suasana sangat gelap, dan bau yang berada di ruangan juga sangat menyengat."Keren banget, dramatis" fikir FinaFina terus melangkah, tiba - tiba dikejauhan dia melihat ada kursi goyang yang bergerak sendiri."Krek... krek,,,," bunyi kursi taditapi tidak ada siapapun dikursi tersebut"Keren" fikir Fina sekali lagi, dan dia terus berjalanSampai dia memasuki zona yang berbeda seperti hutan rimba, dan ada sosok laki-laki setengah badan bertelanjang dada dan setengah lagi seperti ekor buaya"Waw" fikir Fina kagumdia terus berjalan ke Zona yang berbeda lagi, tampak seperti kuburan massal, suara teriakan dan lengkingan terdengar jelas, bahkan ada jari - jari yang bergerak dari bawah tanah, dan ada manusia seperti tengkorak yang berjalan menuju ke arah Fina.Fina pun agak sedikit berlari, menghindari mausia tengkorak tersebut.Dan Fina memasuki Zona rumah tua, ada ruang keluarga dengan kursi sofa, dan ada Bapak, ibu anak laki - laki dan anak perempuan sedang duduk, tetapi yang mengherankan mereka duduk dengan tubuh tanpa kepala.Adrenalin Fina sangat diuji di wahana ini, tetapi Fina menilai atraksi semua pengisi acara di wahana ini sangat total, bahkan terlihat seperti sungguhan, Fina terus mencari, dimana pintu keluar wahana ini, sampai Fina melihat cahaya terang, ada bayangan seorang gadis berambut panjang dengan pakaian putih mendekatinya."keluar... keluar" ucap gadis berbaju putih tersebut, sambil menunjukkan arah pintu keluar"keluar... keluar" kata gadis tersebut sekali lagi, tiba - tiba Fina merasa ada yang berusaha mencekik lehernya, tangan besar dan kuat, saat Fina melihat ke belakang, Wajah laki - laki botak penuh darah memelototinya...Fina berusaha melepas cekikan tersebut, dan keluar ke arah pintu dan cahaya.Saat keluar Fina jatuh, dan membuat dia tidak sadarkan diri.beberapa menit kemudian Fina sadar, dan dia melihat bapak security muda sudah berada disampingnya."Neng sudah sadar?" tanya bapak tadi"iya pak, kepalaku pusing" jawab Fina"Eneng kenapa main sendirian ke atas?" tanya bapak itu"Saya kan mau lihat wahana permainan rumah hantu pak" jawab Fina"Rumah Hantu? Rumah Hantu apa? ini Mall baru neng, kita belum punya wahana" jawab security tadi"Maksudnya? bapak tua security tadi yang kasih brosurnya ke saya" jawab Fina sambil melihat brosur yang ada di tangannya sudah tidak ada"Bapak tua? security? disini yang jadi security tidak boleh orangtua ada batasan umurnya hanya sampai usia 40 saja" kata bapak tersebut"Maksudnya? jadi bapak tua dan wahana rumah hantu itu tidak ada?" lalu Fina pun menoleh ke belakang, memang yang terlihat hanya ruangan kosong saja.Fina langsung merinding, dia berharap itu semua tidak terjadi dan hanya imajinasinya saja.Tetapi tiba - tiba di pojok ruangan dia melihat gadis berbaju putih sedang tersenyum kepadanya.Fina pun berjanji setelah hari ini, dia tidak akan pernah bolos sekolah lagi.
HOROR KOTA MATI
Isabel hari ini sedang menyiapkan semua pakaiannya untuk pergi ke rumah neneknya di Malang, Akomodasi tiket sudah disiapkan untuk perjalanannya kali ini, karena dia hanya berdua saja dengan Rai teman sekosnya, mereka merencanakan liburan kali ini harus berpetualang ke tempat kelahirannya di Malang.Satu Jam Isabel menunggu tetapi Rai masih belum datang, akhirnya Isabel memutuskan untuk naik bus berikutnya kali ini, kalau tidak dia bisa ketinggalan kereta api, hampir saja Isabel mengangkat kakinya, tiba-tiba terdengar suara Rai"Isabel tunggu... tunggu..." ucap Rai ternegah engah"Aduh Rai, untung saja hampir saja terlambat sedetik lagi" ucap Isabel geram dengan kebiasaan Rai yang jam karet"Maaf Bel aku kesiangan" ucap Rai"Terus kalau kamu ga jadi ikut, aku sendirian kenapa coba ga pasang alarm saja" ucap Isabel kesal"Iya maaf... maaf..." ucap Rai"Sudah sekarang kita fokus ke perjalanan kita saja, kamu gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Isabel"Sepertinya gak kok, aku sudah siapin sejak malam" jawab Rai bersemangatAkhirnya mereka berdua sampai di stasiun, tidak berapa lama kereta yang mereka naiki sudah tiba"Wah pas sekali, coba kalau aku masih nungguin kamu, bisa gak jadi pergi kita kali ini" ucap Isabel menyindir Rai"Kenapa sih masih bahas itu aja, yang penting kan kita sudah naik kereta tepat waktunya" ucap Rai bernada cuek"Rumah nenek ku itu masih Asri banget Rai, rumahnya ada di tengah hutan Pinus, yang pemandangannya sangat indah saat siang, tetapi cukup mengerikan kalau kamu berjalan sendirian malam hari" cerita Isabel"Serius Rai, terus kita kesananya naik apa?" tanya Rai"Naik angkot sampai depan taman kota, terus kita lanjutkan naik ojeg sampai di pintu pegunungannya" ucap Isabel"Langsung sampai dirumah nenekmu?" tanya Rai"Ya belum lah masih jauh lagi jadi kita nanti jalan kaki masuk ke hutan pibus, kira-kira sampai sorelah kita di rumah nenek ku Rai" ucap Isabel"wah benar-benar berpetualang banget ya Rai, tapi kamu gak mungkin nyasar kan?" tanya Rai"Ya gak mungkinlah itukan kampung halaman nenekku" ucap Isabel sombongLalu mereka kan mulai menaiki angkot menuju ke tempat yang dituju, tidak terasa hari sudah mulai sore saat mereka tiba, jalanan sangat macet kondisinya, dan mereka sudah mulai keringatan saat sampai di angkot tersebut, lalu tibalah mereka dipangkalan ojek, Isabel dan Rai harus naik ojeg yang berbeda, menuju pintu gunung pinus yang dituju."Isabel jangan buru-buru bilangin tukang ojeknya, aku takut nyasar" ujar Rai"Iya bawel, aku kan sudah bilang ke tukang ojek kamu berhenti di pintu gunung pinusnya" ucap IsabelSekitar 30 menit lewat jalan rusak dan berkelok-kelok, akhirnya samapi juga mereka berdua di pintu gunung pinus tersebut"nenek kamu gak takut tinggal di Gunung bel?" tanya Rai penasaran setelah melihat lokasi yang sangat jauh dari perkotaan"Gak lah Rai, kalau kamu sampai juga kamu pasti akan sangat senang dengan pemandangannya sangat damai sekali" ucap Isabel bersemangat mengingat rumah neneknya yang sangat dirindukannya"Terus besok kita kemana?" tanya Rai"Besok kita baru jalan jalan ke Bromo, ke kota Malangnya sekalian kita wisata kuliner" ucap Isabel"Baik lah siap, sekarang kita istirahat dulu di rumah nenekmu kan?" tanya Rai"Iya dong, aku kan kangen sama nenekku" ucap Isabelmereka melanjutkan perjalanannya, tidak terasa hari mulai malam, dan sepertinya suasana mulai terasa mencekam, bahkan Isabel mulai merasa ragu dengan jalan yang ditapakinya, beberapa kali Isabel menelepon nenek, tidak ada sinyal yang didapatnya."Bel, kok belum sampai aku sudah capek, dan sepertinya kita sudah berjalan jauh sekali" ucap Rai"Iya tapi aku yakin ini jalannya Rai, sabar ya" ucap Isabel menenangkanHampir jam tujuh malam jam ISabel menunjukkan mereka sudah berjalan selama tiga jam lebih, dan biasanya untuk mencapai rumah nenek hanya sekitar satu setengah jam saja."Maaf ya Rai sepertinya aku benar-benar kehilangan jejak, kita tersasar" ucap Isabel jujur ditengah-tengah hutan pinus"Isabel kok bisa? terus suasananya seram banget lagi, terus kita bagaimana?" ucap Rai panik"Kita menginap disini dulu ya sampai besok pagi, aku tidak berani jalan lebih jauh lagi" ucap Isabel sambil memandangi sekeliling tetapi tiba-tiba secercah harapan datang, didepan mereka terlihat ada pemukiman yang terang dengan banyak cahaya lampu"Rai lihat" ucap Isabel"Apa bel?" jawab Rai lelah"itu ada pemukiman, mungkin malam ini kita kan menginap disana dulu" ucap Isabel"Baiklah terserah kamu saja" ucap Rai pasrahMereka berjalan masuk ke gerbang kota sekelilingnya masih terlihat ramai orang berlalu lalang"Maaf pak, boleh kami numpang menginap disini?" tanya ISabel kepada seorang bapak tua yang berjalan didepannyaBapak tadi hanya melihat saja tanpa menjawab pertanyaan Isabel, tetapi tangannya meminta mereka berdua untuk mengikutinyaBerjalan sebentar, akhirnya Isabel dan Rai sampai ke rumah gaya klasik jawa, mereka masuk kedalam ruangan yang gelap hanya ditemani lampu lilin saja."Terimakasih ya pak, kami sudah boleh menginap disini" ucap Isabel melihat kebaikan bapak tua tadi kepada merekatapi seperti biasa bapak tua itu hanya tersenyum saja dan tidak berbicara sama sekali"Tidak menyangka ya di tengah hutan begini ada kota juga ya Bel" ucap Rai"Iya Rai, tapi anehnya setiap aku kesini aku belum pernah melihat kota ini" ucap ISabel bingung"Tapi tidak apa-apa deh ini saja sudah lumayan, daripada kita menginap di hutan sendirian" ucap RaiSetelah masuk kekamar kecil yang ditunjukan oleh si Bapak tua tadi Isabel dan Rai menaruh tas yang dibawa mereka, mereka sudah bersiap-siap untuk tidur karena rasa lelah yang dijalani hari ini.Baru saja Rai dan ISabel mau rebahan, tiba-tiba terdengar suara ramai banyak sekali orang didepan rumah, mereka mengintip dari jendela kamarAda Api Unggun besar, dikelilingi hampir semua warga, sepertinya ada upacara yang berlangsung dan mereka terlihat sangat gembira, si Bapak TUa tadi juga terlihat seperti memimpin upacara.Isabel dan Rai hanya melihat satu sama lain"Rai aku sudah ngantuk tidur saja yuk, biarin saja mereka sedang upacara" ucap Isabel"Iya Bel, aku juga tidak mau melihat acara itu, mending aku tidur saja"Dan akhirnya mereka terlelapIsabel tersentak terbangun merasa ada yang aneh dia membuka matanya, ternyata Dia dan Rai sudah diikat di papan kayu dekat api unggun."Loh kok kami dibawa kesini?" tanya Isabel "Rai.. bangun.. Rai bangun" teriak ISabel kepada RaiTetapi itulah Rai dia adalah anak yang pelor, tidak mudah untuk dibangunkan, sangat tidak mungkin untuk Rai bangun mendengar suara yang ramai seperti ini.Bapak tua tadi hanya melihat ISabel sambil tersenyum dan melanjutkan upacara nya kali ini.Isabel merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia merasa semua warga disini memiliki wajah yang pucat dan sangat kaku, bahkan banyak beberapa wajah yang memiliki wajah yang cacat seperti luka bakar, dan penuh darah."Tolong....tolong..... " teriak Isabel tetapi sepertinya saat ini tidak akan ada seorangpun yang akan menolongnya.Tiba-tiba warga membawa papan kayu Isabel dan Rai ke tengah-tengah api unggun"Tidaaakkkkkk.... tolong.... tolong kasihani kami" teriak Isabeldan mereka masuk kedalam api unggun Isabel berteriak sekencang mungkin"Tolongggggggggggggggggggggggg nenekkkkkk" teriak ISabelTIba-tiba Isabel melihat semua warga dan bapak tua tadi menghilang yang ada hanya hutan pinus kosong dengan banyak reruntuhan rumah dan kuburan yang ada didalam hutan pinus tadi"Rai... bangun... Rai" teriak Isabelmatahari sudah mulai terbit, dan Suasana menjadi lebih terang"Kenapa sih Bel? kamu teriak teriak gitu, pusing tau aku mendengarnya" ucap Rai sambil membuka matanya"Syukurlah kamu akhirnya bangun juga Rai" sapa Isabel lega"Kok kita ada di sini? rumah bapak tua tadi mana? dan kenapa kita tidur ditanah seperti ini?" banyak pertanyaan yang diajukan Rai"Nanti aku ceritakan, sekarang kita harus ke rumah nenek dulu" jawab Isabel"iya" ucap RaiSetelah 30 menit mereka berjalan akhirnya mereka berdua menemukan rumah nenek Isabel, dan sampai disana akhirnya Isabel menceritakan semua yang terjadi kepada nenek, dan Rai sangat ketakutan ketika mendengarnya."Iya dulu ada perkotaan di gunung ini yang dijadikan perumahan seperti vila, dan banyak yang sudah menghuni dan tinggal disana, tetapi pada suatu malam terjadi kebakaran yang sangat hebat semua vila disana terbakar habis dan semua penduduk disana meninggal semua" cerita nenek"Ya ampun, hampir saja kita jadi korban dari warga dikota mati tersebut" ucap Rai dengan nada ketakutandan saat melewati hutan pinus tersebut, tiba-tiba dikejauhan Isabel melihat bapak tua tadi melihatnya dari pohon pinus diatas bukit._____________________________
HOROR HANTU TANPA MUKA
James saat ini mulai memasuki koridor loby yang panjang, dia akan memulai hari barunya sebagai staf Akuntan di Bondan Law and Firm, kantornya sangat bonafid terletak di area strategis di wilayah Sudirman, gedung tinggi menjulang sampai 78 lantai, dan James melihat banyak profesional dengan pakaian yang sangat elegan hilir mudik di perkantoran tersebut.Dan James memasuki Lift menuju Lantai 13 kantor barunya berlokasi disana, saat pintu lift terbuka, James melihat koridor sepi lagi yang ada disana, dan James pun berjalan melewati koridor hingga sampai di ruangan dengan pintu bening dan disana sudah ada resepsionis yang menyambut James dengan ramah, dan saat James menunjukkan surat penugasannya, Resepsionis itu mengantarkan James ke ruangan HRD."Silahkan Pak James, ini ruangan Pak Andrew Manager Akuntan disini" ucap Lisa sang Resepsionis"Baik Terimakasih mbak" ucap James sopanPak Andrew menyambut kedatangan James dengan ramah"Silahkan duduk James, selamat saya ucapkan lebih dahulu atas keberhasilan bapak sudah bergabung diperusahaan kami" ucap Pak Andrew"Terima kasih pak, saya harap saya dapat memberi kontribusi yang baik pada perusahaan ini" jawab james"Pasti, saya sangat menyambut kamu dengan baik, karena memang saya kehilangan staf saya beberapa bulan ke belakang dan banyak pekerjaan yang menumpuk dan butuh diselesaikan" ucap Pak Andrew menaruh harapan kepada James untuk membantunya."Baik Pak" ucap james bersemangatDan Pak Andrew mengantrakan James ke ruangannya yang terletak di pojok sudut gedung, sambil memperkenalkan rekan-rekan lainnya.Dan hari itu dilewati James dengan cukup baik, rekan-rekan sekantornya cukup ramah dan banyak membantunya dalam mempelajari ruang kerja barunya. Dan betul kata Pak Andrew James harus sudah siap dengan banyaknya laporan yang belum terselesaikan.Tidak terasa jam sudah menunjukkan jam 5 sore, semua karyawan bersiap-siap untuk pulang, dan James masih melihat banyaknya kertas yang menumpuk di mejanya sehingga dia urungkan untuk pulang tepat waktu seperti mereka."james ayu pulang" sapa Mira rekan kerjanya yang duduk di seberang James"Nanti saja Mir, sebentar lagi aku selesaikan pekerjaan hari ini dulu" ucap James sambil tersenyum"Santai sajalah hari ini hari pertama kamu, jangan terlalu keras" ucap Mira menghampiri James"Iya mir tidak apa-apa kok" jawab James sambil tersenyum lagi"James, kamu masih baru, kamu belum tahu ada apa saja dikantor ini, sebaiknya kamu pulang jangan terlalu malam nanti" ucap Mira dengan nada khawatir"Baik Mir, aku usahakan sebelum gelap aku sudah pulang" ucap James bersemangatEntah mengapa hampir semua rekan-rekan James menatap James aneh dan mendekati Mira dan mereka sepertinya membicarakan James kepada rekan lainnya."Apakah aku terlalu bekerja keras, mungkin aku terlalu terlihat aneh saat ini" fikir James"Hai James" sapa Pak Andrew"Iya pak" jawan James"Aku lihat kamu sangat bersemangat, aku senang sekali dengan energi baru seperti kamu" ucap Pak Andrew"Iya pak, emang benar kata Bapak banyak sekali pekerjaan yang tertumpuk" ucap James"Semangat kamu James aku sangat menyukainya, lanjutkan ya, tapi hari ini aku sangat tidak fit jadi aku harus pulang sekarang" ucap Pak Andrew"Baik pak hati-hati" ucap James"Justru kamu yang harus hati-hati" ucap Pak Andew dengan nada misterius"Baik pak" entah mengapa sepertinya kata-kata hati-hati itu menjadi nada yang ditekankan oleh Pak AndrewWaktu sudah menunujukkan jam 9 malam, sebentar lagi laporan tersebut akan selesai.Tiba-tiba mesin fotokopi menyala sendiridan ruangan Pak Andrew nyala tiba-tiba, James merasa ada yang tidak beres disini, dia mulai berjalan ke arah koridor dan melewati ruangan ke arah mesin foto kopi.Dan tiba-tiba dia melihat di tempat mesin foto kopi ada seorang gadis sedang mengahadap mesin foto kopi, James lega berrarti dia tidak sendiri di ruangan ini, dan masih memiliki teman, dan James menghampirinya."Mbak, maaf kamu lembur juga ya?" tanya JamesTiba-tiba gadis itu menghadap ke arah James dan yang membuat James kaget adalah gadis itu tidak memiliki muka smeua polos.James langsung lari ke arah ruangannya, badannya sangat gemetar dan keringat dingin pun mengucur, dan James mengambil tasnya dan lari ke arah pintu, dan menuju liftnya.Tiba-tiba gadis tanpa muka itu sudah ada didalam lift saat pintu lift terbuka"Kamu... mau apa?" tanya JamesGadis itu hanya diam menatap James dan tiba-tiba tubuh James tertarik untuk masuk kedalam Lift"Tolong jangan ganggu aku" ucap James ketakutanDan gadis itu membuat lift terasa sangat ringan dan membawa James kembali ke ruangannya dengan gadis itu, James melihat ada gadis yang berpakaian sama sedang memfoto kopi tapi gadis ini memiliki wajah yang cantik, dia hanya seorang diri sepertinya teman yang lain sudah pulang.Tiba-tiba ada empat orang mendekati dia diantaranya Mira"Bela, kamu itu selalu cari muka sama atasan dengan lembur seperti ini, kamu tahu gara-gara kamu sekarang kami tidak bisa pulang tepat waktu" ucap Mira"Tapi aku hanya ingin menyelesaikan tugasku" ucap Bela dengan wajah ketakutan"Tidak apa-apa kalau itu tidak merugikan kita, tapi kelakuan kamu itu membuat kita semua sekarang harus ikut lembur seperti kamu" ucap Roy laki-laki dengan tubuh gempal"Lalu kenapa kalian menyalahkan aku?" tanya Bela"memang ini semua salahmu" ucap mereka beramai-ramai, dan tanpa sadar Mira membenturkan wajah Bela ke mesin foto kopi sampai Bela tidak sadarkan diri"Bagaimana ini" tanya Mira"Kalau dia lapor Pak Andrew kita pasti dikeluarkan" ucap Roykita bersihkan darahnya, dan kita harus membawa dia ke tempat lain, dan mereka segera ergi membawa Bela ke taman belakang gedung, dan dengan teganya mereka memukul wajah Bela sampai wajah Bela hancur dan Bela tidak bernafas lagi.mereka menguburkan Bela di taman belakang itu, dan sampai saat ini tidak ada yang tahu apa yang diperbuat oleh mereka."Hai James, kamu pulang jam berapa tadi malam?" tanya Mira ke James pagi iniJames melihat Mira ketakutan "Aku... aku hanya sampai sore saja kok mbak Mira" ucap James gugup"Oh baiklah bagus, awas saja" ucap Mira tidak menyelesaikan kalimatnya seperti ada nada ancamanSeharian ini James tidak tenang mengetahui dia bekerja dengan rekan-rekan yang telah membunuh Bela karena kesalah pahaman.Ada niat James untuk memberitahu Pak Andrew tentang masalah ini, saat James berjalan ke ruangan Pak Andrew tiba-tiba dia melihat Mira ada disana"Dia berbohong sayang, pasti dia juga karyawan yang cari muka, masa dia bilang dia pulang sore padahal di CCTV dia pulang hampir jam sembilan malam" ucap Mira"Jangan sampai bos besar tahu tentang hal ini" ucap Pak Andrew"Lalu bagaimana jika kita berbuat hal yang sama seperti kepada Bella kalau dia macam-macam" ucap Pak Andrew"Coba kita lihat malam ini" ucap MiraTiba-tiba James shock mendengar apa saja yang baru saja dibicarakanDia berjalan kembali ke mejanya, dan disitu dia melihat kertas sudah bertumpuk kembali di mejanya dengan note : besok di kumpulkanJames kehilangan akalnya bagaimana bisa Pak Andrew terlibat hal seperti iniWaktu sudah menunjukkan jam 5 sore, semua rekan - rekan pamit dan James mulai ditinggalkan sendirian, keringat bulir James mengucur deras, tapi dia mengalihkan semua ketakutan kepada pekerjaannya.Dan kejadian itu terulang, mesin foto kopi yang menyala sendiri, dan juga lampu ruangan pak Andrew yang berkedap -kedip, James mulai membayangkan Bela ada di mesin foto kopitetapi tiba-tiba lampu gelap gulita, semua mati total tidak ada yang menyalaAda seberkas cahaya terlihat, seperti sinar dari handphone"Siapa... siapa kamu?" tanya JamesAda dua orang bertopeng mendatanginya, "James kami sangat benci dengan orang yang cari muka" ucap suara wanita yang dikenalnya seperti suara Mira"Aku tidak cari muka, tapi aku hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan ku" ucap James"Dasar orang-orang seperti kamulah yang membuat karir saya tidak bisa naik, hanya diam ditempat saja" ucap suara laki-laki yang James kenal suara Pak ANdrewTapi tiba-tiba listrik menyala, pak Andrew dan Mira sangat kaget, ternyata mereka membawa senjata tajam ditangannyaDan tiba-tiba Mira terpental jauh ke sudutPak Andrew sangat kaget dibuatnya"Kamu... kamu bagaimana kamu ada disini" ucap Pak AndrewDan disitulah James melihat Bela di Hantu tanpa muka ada disana"Kalian memang orang jahat" ucap Bela dengan wajah amarah yang membabi butaPak Andrew pun terlempar jauh ke sudut ruangan"Ampun Bela" ucap Mira"Kami tidak bermaksud seperti itu" ucap MiraTetapi Bela semakin menjadi murka "Kalian harus bertanggung jawab, muka kalian harus sebagai ganti untuk mukaku""Jangan Bela, Jangan tolong jangan kamu balas dendam kepada kami" ucap Mira bersuara ketakutanDan tiba- tiba mereka berdua terlempar ke jendela dan jatuh ke lobi bawah gedung.James sangat kaget dan ketakutan melihat kejadian tersebut, dia benar - benar tidak bia menggerakkan tubuhnya, sehingga datang security kantor yang menghampirinya, dan setelah itu James menjadi saksi kepada polisi atas apa yang terjadi hari itu.Saat semua polisi sudah menginterogasi JAmes, James pun keluar dan menuju koridor kantornya dan menuju lift, dan ternyata di dalam lift, ada HAntu bela tapi kali ini dia sudah memiliki wajah Mira.___________________________________________
Book Of Nina Diary
Hari kamis telah tiba, seperti biasa malam ini kita akan menelusuri suatu rumah kosong yang terkenal cukup angker di pinggir kota. “Bella, Tiara, seperti biasa nanti malam kita menelusuri rumah angker di pinggir kota." kata Vanya. “Siap.” sahut Bella dan Tiara.Malam pun tiba, mereka sampai di rumah tersebut. Satu per satu mereka telusuri kamar yang berada di rumah tersebut. Pada akhirnya, mereka sampai di kamar Nina. Nina adalah salah satu anak dari pemilik rumah ini. Rumah ini tidak ditempati karena ada kasus pembunuhan Nina, yang pada saat itu dibunuh di kamarnya. Namun sayangnya, belum diketahui pelaku atas pembunuhan Nina.Saat memasuki kamar Nina, mata Vanya tertuju pada sebuah buku yang bertuliskan “Nina Diary”. Lalu Vanya mengambil buku itu dan berkata, “Nina Diary, kisah tentang Nina mungkin semuanya ada di sini.”Satu per satu halaman tersebut dibuka, namun belum dibaca, sampai pada akhirnya ia melihat tulisan di akhir halaman buku itu. Tulisan tersebut adalah: “Jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya.”Vanya, Bella, dan Tiara membaca tulisan di akhir halaman itu.Vanya berkata, “Sudah, ayo kita pergi dari tempat ini dan ambil buku ini.” Bella menjawab, “Bukankah kita tidak diperbolehkan untuk mengambil buku ini? Mengapa kau ambil buku ini?” Tiara berkata, “Kembalikan bukunya, Vanya! Jika terjadi sesuatu pada kita atau salah satu dari kita, bagaimana?” “Ck, gitu aja dipercayai. Dah lah pulang yu,”Bella dan Tiara hanya bisa saling tatap-tatapan dengan wajah ketakutan dan cemas tentang hal ini. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing.Saat sampai di rumah, Vanya membaca sebagian buku Diary Nina. Lalu Vanya sampai pada halaman tepat 1 hari sebelum Nina dibunuh. Vanya membaca halaman tersebut, yang bertuliskan:“Hari ini kucingku Miaw mati. Miaw kucing yang lucu dan pintar. Miaw memiliki bulu berwarna hitam, mempunyai mata merah, dan telinga yang besar.”Sampai pada akhirnya, Vanya membaca tepat saat hari pembunuhan Nina. Di buku Diary itu Nina menulis:“Hari ini aku mimpi, bahwa kucingku Miaw mati. Pada saat itu aku melihat jam menunjukkan pukul 23:47. Lalu aku merasa seperti ada seseorang di depan pintu. Saat itu hatiku sangat penasaran untuk melihat siapa yang di situ. Maka kubuka pintu itu dan tiba-tiba aku melihat teman papaku. Dan dengan cepat menusukkan sesuatu yang sangat tajam di tubuhku."Aku terbangun sangat kaget pada saat itu. Aku melihat sekarang adalah jam 21:29, aku takut jika terjadi apa-apa maka aku putuskan untuk tidak tidur untuk semalaman, lagian besok juga libur.”Vanya membalikkan halaman Diary selanjutnya. Vanya pun melanjutkan membaca cerita yang dituliskan Nina:“Jam pun menunjukkan 23:47, aku benar-benar merasa bahwa ada seseorang di depan pintu. Aku takut membuka pintu itu, dan aku lupa mengunci pintu itu. Aku takut bahwa ada orang jahat, maka sekarang aku sedang sembunyi di selimut. Orang itu pun membuka pintuku, dia berkata ‘Keluar Nina’ berkali-kali. Aku melihat dia membawa senjata tajam, tolong dia sudah menemukanku.”Vanya yang membaca cerita itu langsung merinding ketakutan. Ia langsung membuang buku itu ke arah meja belajarnya.Tiga hari pun berlalu, Vanya ingin bersantai di depan rumah sekaligus mencari udara segar. Tiba-tiba ada 1 ekor kucing lucu, berwarna hitam, memiliki mata warna merah, dan telinga yang besar.Vanya pun ingin memelihara kucing tersebut, “Sekarang namamu Nia yaa, ayo masuk ke dalam rumahku, Nia.”Kucing tersebut diberi nama Nia, dia sangat begitu sayang dengan Nia. Saat malam, Nia tertidur di samping Vanya. Vanya tidak mengetahui bahwa kucing itu adalah Nina. Iya, kucing berwarna hitam, memiliki mata merah, dan telinga yang besar adalah ciri dari Miaw, kucing Nina.Saat Vanya tertidur, kucing tersebut berubah menjadi Nina, dan menaruh buku Diary Nina di bawah kolong kasur.Vanya terbangun karena terdapat suara di bawah kolong kasur. Vanya segera melihat apa yang ada di bawah kolong kasur. Saat melihat apa yang di bawah kasur, dia melihat Nina yang sembari memegang buku Diary-nya.Vanya melihat itu lari ketakutan memojok di sudut kamarnya. Nina mulai berjalan ke arah Vanya, lalu berkata:“Sudah kubilang jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya.”Vanya tidak bisa berkata dan bergerak, sampai pada akhirnya Vanya melihat Nina membawa senjata tajam, dan…“… Tolongg…”
HOROR SUMUR TUA DI SEKOLAH
Karin, hari itu sangat sedih, dia bercerita pada Nita teman sebangkunya bahwa Marcell memutuskan hubungan mereka hari ini."Sudahlah Rin, lupakan aja cowok kaya gitu gak akan pantas buat kamu, dasar playboy" ucap Nita membela temannya"Tapi Nit dia itu pacar pertamaku. aku sudah terlanjur cinta sama dia. Kenapa sih dia tega banget sama aku" ucap Karin"Terus kamu mau ngemis - ngemis sama dia buat minta balikan?" tanya Nita dengan suara agak kencang"Tidak Nit, aku gak mau berbuat itu, aku berharap dia yang minta balik duluan sama aku""Kamu bodoh rin, kalau masih mau nerima cowok brengsek kaya begitu, dia itu jelas - jelas playboy bajingan, banyak cewek yang sudah diperdaya sama dia, termasuk Andrea yang katanya kabur dari rumah dan gak pernah pulang, gara - gara sakit hati sama dia" ucap Nita"Tapi kamu gak tahu Nit rasanya, Marcel itu sangat romatis dan dia benar-benar baik dan tahu cara memperlakukanku dengan baik" tangisan Karin membuat NIta menjadi diam"percuma berbicara dengan orang yang sedang sakit hati" fikir NitaKeesokan harinya, Karin datang ke sekolah dengan mata bengkak dan sembab, karena sepanjang malam dia menangisi Marcel saat dikamar, bahkan Karin hampir tidak bisa makan dan minum, tetapi dia tetap memaksakan ke sekolah supaya dia dapat kesemptan bertemu dengan Marcell lagi."Marcel" panggil Karin"Hai Rin, kamu gak apa - apa, sepertinya kamu kurang sehat?" tanya Marcell sambil tangannya memegang jidat Karin"Gak apa - apa Cell, aku cuma sedih, aku gak bisa menerima kalau kita sudah putus, aku.... aku masih sayang sama kamu Cell" Ucap Karin"Karin, kemarin kita sudah membahas ini. kamu itu terlalu baik kepadaku, dan aku tidak bisa memberikan perhatian kepadamu lebih dari saat ini" jawab Marcell"Tidak Cell, aku mau mencoba, aku mau mencoba" jawab KarinTiba - tiba Angela adik kelas mendatangi Marcell, dan langsung memeluk Marcell."Bagaimana Cell, kita jadi nonton siang ini kan?" ucapnya manja"Jadi... jadi kok sayang" jawab Marcell agak kikuk..... di depan Karin ternyata Angela mendekatinya"Jadi ini.... jadi ini kan yang membuatmu memutuskan aku" ucap Karin dengan suara yang kencang"Karin... pelan - pelan gak usah teriak - teriak" jawab Marcell"Kamu brengsek Cell, betul yang Nita bilang semua ini terjadi karena ada perempuan lain kan" suara Karin tambah kencang"Iya aku memang brengsek" lalu Marcell pun meninggalkan Karin sendirian.Kejadian tersebut membuat Karin shock, dia pun segera menuju ke halaman belakang sekolah untuk menenagkan fikirannya, dia melihat ada sumur kecil disana, Karin berfikir untuk bersembunyi disana sambil menangis sejadi - jadinya.Tiba - tiba Karin melihat sesosok wanita berambut panjang mendekatinya dan Karin tidak mampu untuk bergerak, disana Karin juga melihat wanita tersebut kebasahan, tubuhnya dipenuhi air serta matanya kosong dan sekarang wanita itu berada di depan hadapannya persis.Dan sedetik itu Karin tidak tersadarkan.Pak Halim, penjaga sekolah menemukan Karin disana, dan dia segera membawanya ke ruang UKS, dan menidurkan Karin disana, tapi tiba - tiba....Karin berteriak kencang dan bangun dari tempat tidur dan berlari sekencangnya dari UKS ke lapangan"Brengsekkkk..... laki - laki brengsek" teriak Karin sambil berlari - lari mengelilingi lapangansemua murid dan guru yang sedang belajar dikelas keluar seketika, karena teriakan tersebut, dan mereka melihat Karin seperti orang gila, berlari sambil berteriak sekencang - kencangnya seolah - olah ada yang aneh disana.Pak Halim, Pak Mul guru olahraga segera mengejar Karin dan berusaha memegangnya, tetapi kekuatan Karin sangat besar, seperti tenaga yang besar dan melempar kedua orang tersebut.Tapi Karin terus berteriak sekencang - kencangnya, bahkan sekarang dia mulai menarik roknya ke atas, sehingga membuat celana dalamnya terlihat, ini jelas sudah diluar kewajaran, dan Karinpun menjadi tontonan semua orang disekolah.Pa Mul akhirnya memanggil ustad terdekat untuk datang, dan Pak Ustadpun mendekati Karin dengan bacaan - bacaan Al Qur'an, tiba - tiba Karin jatuh lunglai, seketika itu juga Pak Mul dan Pak Halim menggotong Karin ke UKS.Ada setengah jam Karin tidak sadarkan diri, dan pak Ustad persis disebelah Karin sambil terus membaca ayat kursi, tiba - tiba mata Karin melotot dan mulai merintih kesakitan."Panas....panas.... Hentikan" ucap KarinTangan Karin menggenggam kasur dengan keras dan hampir membuat selimut yang berada disana robek."Apa mau kamu?" kata pak Ustad " keluarlah dari tubuh gadis ini" ucap Pak Ustad"Tidak........" Teriak Karin "Aku harus membalas dendam" teriaknya kembali"Jangan dendammu kau gunakan gadis ini untuk membalasnya" jawab Pak Ustad"Marcell.............. aku mau dia...." ucap Karin"Apa ada yang bernama Marcel disekolah ini?" tanya pak Ustad ke pak Mul"Ada pak, dia murid disini, dan dia pacarnya Karin" jawab Pak Mul"Tolong bawa dia kesini, kemungkinan dia bisa membuat Karin sadar kembali" kata pak Ustad"Baik Pak" jawab pak MulLima belas menit kemudian Pak Mul sudah datang bersama Marcelldan tiba - tiba Karin bangkit dari tempat tidur dan hampir mencakar Marcell, sebelum dihentikan pak Ustad"Kurang ajar.... lelaki bajingan....." ucap Karin berulang ulangwajah Marcell sangat ketakutan, dia hampir meninggalkan ruangan UKS, tetapi ditahan oleh pak Ustad"Tolong tunggu sebentar... gadis ini menyebut namamu, pasti kamu ada hubungannya dengan peristiwa ini" ucap pak Ustad"maaf pak, mungkin dia stress karena saya putusin kemarin" jawab Marcelldan tiba - tiba Karin mencekik Marcell"Kamu membunuh saya" ucap Karin kencang sekali."membunuh..... apa maksudnya ini.... kamu pasti sudah gila" jawab Marcel terbata - batapak Mul dan pak Ustad berusaha menarik tangan Karin dari leher Marcell, dan tiba - tiba Karin kembali pingsan.Dia melihat gambaran Marcel berada di halaman belakang dengan seorang gadis, ya gadis itu Andrea. Andrea menangis memohon untuk MArcel tidak meninggalkannya, bahkan Andrea menahan Marcell untuk jangan menjauhinya."Aku hamil Cell" ucap Andrea"Apa, kamu pasti sudah gila, itu pasti alasan kamu supaya aku tidak meninggalkanmu kan?" jawab Marcell"Tolong Cell, aku takut" jawab Andrea sambil memeluk tubuh Marcel sambil menangiskondisi hari itu sudah malam, sekolah sudah sepi dan tidak ada orangtapi tiba - tiba Marcell, mendorong Andrea dengan keras sehingga menyebabkan Andrea masuk kedalam sumur dibelakang sekolah."Andrea...." teriak Marcell tapi tidak ada suara yang menjawab sama sekaliMarcell ketakutan, dia langsung mengambil mobilnya dan pulang kerumah, disaat itulah dia merasa sangat bersalah dan panik, dia menuliskan surat palsu untuk orang tua Andrea bahwa Andrea sudah tidak tahan dengan kondisi rumah dan memutuskan untuk pergi dari rumah.Itu kejadian sudah setahun yang lalu, dan perbuatan Marcell sama sekali tidak diketahui oleh siapapun, tiba - tiba mata Karin pun terbuka lagi"Kamu membunuh andrea Cell?" ucap KArin ketakutan"Apa maksudmu?" jawab Marcell"Aku melihatnya Cell, Andrea memberitahuku, dia berada didalam sumur dan meninggal dengan bayi yang dikandungnya dan itu semua akibat perbuatanmu" ucap Karin gemetarMendengar kata - kata Karin, Marcell bermaksud melarikan diri, tetapi Pak Mul dan Pak Halim berhasil menahannya."Coba kita periksa didalam sumur" kata pak UstadSetelah setengah jam lebih, Pak Halim ke bawah sumur yang cukup dalam dia menemukan jasad Andrea terbaring disana.Marcell pun ditangkap karena perbuatannya, Karin pun merasa Marcell orang paling brengsek dan tidak bertanggung jawab yang pernah ditemuinya, dan dia bersyukur dengan kejadian tersebut, Tuhan memberi jalan baginya untuk bisa melanjutkan hidupnya dengan lebih baik._____________________^^^^^^^^______________________THE END
HOROR DI MEJA POJOK
PUKUL 22.00 WIBAngel sedang duduk menatap komputer, fikirannya masih terfokus untuk membuat presentasi untuk rapat penting besok pagi.PUKUL 18.00 WIBPa Anwar sudah menelepon berkali - kali saat Angel sedang dalam perjalanan pulang, karena ada jadwal dadakan untuk rapat besok dengan calon investor penting.Angel akhirnya mengangkat telpon itu"Halo""Angel, kamu sudah sampai rumah?" tanya pak Anwar"Belum pak, masih terkena macet didaerah cawang" jawab AngelKebetulan kantor Angel berada dipusat kota di JL. Jenderal Sudirman dan itu memang rute office hour yang paling macet"Maaf Angel kamu harus kembali ke kantor sekarang"ucap pak Anwar"Ada apa ya Pak?""Besok ada Investor penting mau datang, dan dia mau melihat laporan keuangan perusahaan sampai hari ini, Saya sekarang masih di Semarang, tidak mungkin bisa membuat laporan tersebut, jadi saya minta sama kamu untuk mempersiapkan semuanya" ucap pak AnwarPak Anwar memang sosok atasan yang menyebalkan,maunya hanya terima beres saja, dan suka menunda - nunda pekerjaan, dan jika ada keperluan mendadak seperti ini pasti dia akan selalu mengorbankan Angel"Tapi pak..." sebelum Angel menjawabnya"Pokoknya tidak ada tapi, kamu kembali kekantor sekarang"lalu telepon pun terputusAngel sebenarnya sudah muak dengan situasi ini, tapi bagaimanapun Pak Anwar tetap atasannya dan dia harus menuruti perintahnya.PUKUL 19.00 WIBAngel tiba di Kantornya di Gedung Jasmine, dia memberi informasi ke security di pos depan bahwa dia akan lembur hari ini.Dan ia pun langsung mnuju ke lift untuk menuju ruangannya di lantai 17 .Angel masih melihat beberapa orang hilir mudik, suasana di kantornya masih cukup ramai,karena banyak restaurant yang buka disekeliling kantor tersebut.Dan akhirnya ia pun tiba, diruangannya, Angel langsung mengambil posisi duduk didepan komputernya, dan dia mulai mengerjakan tugas yang diberikan pak Anwar.Tidak terasa Angel sudah hampir dua jam Angel bekerja, ia mulai merasa lapar, jadi ia memutuskan untuk pergi ke lobby bawah dan mencari makanan.Saat berjalan di koridor ruangannya, terasa sangat sepi, dan ia baru menyadari bahwa hanya ia yang bekerja lembur disini, dan ia memencet tombol turun di liftnya, saat pintu lift terbuka di lobby, suasana sudah sangat berbeda dengan yang dilihat sebelumya, sepi sekali, hanya terlihat dipojok meja security seorang security yang tertidur sambil menaruh kepalanya di meja.Angelpun terus bejalan ke area Eight Corner yang buka dua puluh empat jam, Angel memesan burger dan coca cola ditambah kentang, dia makan sebentar di tempat tersebut sampai makanannya habis.Setelah itu Angel kembali ke ruangannya tadi untuk kembali mengerjakan laporan terakhirnya, hanya tinggal beberapa halaman saja.PUKUL 22.00 WIBAngel sedang duduk menatap komputer, fikirannya masih terfokus untuk membuat presentasi untuk rapat penting besok pagi. Saat sedang mengerjakan bagian laporan terakhir, Angel mendengar dari meja pojok mas Bimo ada suara ketikan yang terdengar jelas sedang mengerjakan laporan nya, sama seperti Angel, Angel merasa lega karena berarti Mas Bimo juga harus lembur seperti dia.Sudah hampir selesai, Angel pun mulai istirahat sejenak dan menuju pantry, sekedar iseng Agel menuju meja pojok yang mas Bimo tempati, tetapi kondisi mejanya kosong tidak ada mas Bimo disitu."mungkin Mas Bimo cari makanan" fikir Angel, lalu Angel pun kembali ke mejanya dan menyelesaikan pekerjaannya, dan suara ketikan itu pun terdengar lagi."Mas Bimo sudah kembali lagi" fikir Angeldan akhirnya tugas Angelpun selesai, dia agak lega karena dia bisa pulang ke rumah, tetapi tidak lupa Angel menuju meja pojok mas Bimo untuk pamitan."Mas, aku......"belum sempat Angel menyelesaikan ucapannya, dia sangat kaget, karena tidak ada siapapun yang duduk di meja pojok tersebut, tetapi suara ketikan di meja tetap terdengar dan makin jelas.Angelpun sempat tertegun sesaat sebelum dia menyadari keanehan ini, suara ketikan itu tidak biasa, pasti dari dunia yang berbeda, tanpa pikir panjang Angel langsung mengambil tasnya kebawah dan pergi secepat mungkin dari ruangannya.Keesokan paginya, Angel datang agak terlambat, mungkin karena dia kurang tidur dari semalam, saat tiba dikantor, semua manager sudah berkumpul diruang konfrensi kantor, dan Angel pun masih merasa agak trauma dengan kejadian semalam.Setelah menaruh tasnya di meja, Angel pun menuju ke meja pojok , dan melihat mas Bimo ada disana."Mas Bimo, kamu suka merasa aneh gak sih duduk disitu?" tanya Angel"Kenapa memang?" tanya Mas Bimo"Kemarin aku disuruh pak Anwar lembur mas, sampai jam sebelas malam" ucap Angel"Lalu?" tanya Bimo"Aku mendengar ada suara orang yang sedang mengetik dimeja mas Bimo, aku fikir mas Bimo, tapi terakhir saat aku mau pamitan pulang mejanya kosong mas dan suaranya tetap terdengar" ucap Angel bersemangat"Oh... suara ketikan"kata mas Bimo "itu sudah sering Angel, banyak karyawan yang kerja malam mendengar suara ketikan itu, tidak apa - apa, mungkin itu adalah jam kantor dari dunia yang berbeda" jawab mas Bimo sangat sederhana."Kamu jangan takut mereka hanya ingin memberi informasi bahwa mereka ada, tetapi mereka tidak akan mengganggu kita, karena kita dari alam yang berbeda" ucap mas Bimo kembali dengan bijaksana.Dan Angel pun menyadari secara positif suara itu membuat Angel lebih tenang karena merasa ada yang menemaninya.TAMAT________________________________***********___________________________
Bangku Terlarang
Hari ini adalah hari awal aku masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Namaku Tania. Aku duduk di kelas 1 SMA PERWIRA HUSADA. Aku berjalan melewati koridor kelas yang cukup panjang dengan langkah santai. Dari kejauhan ku lihat anak-anak berkerumun di depan kelasku. Aku berlari dan mencari tau apa yang terjadi.“Ada apa sih Nit?” tanyaku pada Nita.“Ada yang kesurupan, Lira.” Balasnya.“Kok bisa sih? Atau jangan-jangan dia duduk di bangku kosong depan bangkuku?” tanyaku detail.“Sepertinya sih gitu Tania.” Jawab Nita singkat.Tiba-tiba anak yang mengerumuni Lira itu serentak terpental.“Kekuatan Lira hebat banget.” Teriak Anton yang tersungkur pada sebuah pot bunga. Lira pun tiba-tiba pingsan. Anak-anak membawanya ke ruang UKS karena guru belum ada yang berangkat.Berbagai hal aneh selalu terjadi, jikalau bangku di depanku ini ada yang menduduki. Sudah 10 kali kasus seperti ini terjadi. Aku tak habis pikir, kenapa bangku itu selalu membuat masalah. Di saat aku melamunkan perihal bangku ini, tiba-tiba Rere sahabat baikku datang.“Kenapa kamu?” Tanyanya sambil menepuk pundakku. Seketika itu aku terperanjat. Aku menatap Nita tajam.“Mm, kamu tahu sesuatu tentang bangku ini gak?” tanyaku serius sambil menunjuk bangku di depanku itu.Rere menatap mataku seakan menyelidiki apa yang ada di otakku, lalu melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mukaku.“Ih, apaan sih kamu Re? Gak jelas banget deh,” ocehku kesal karena Rere seakan meledekku.“Aku gak tahu persis sih. Tapi aku pernah denger cerita orang, kalau bangku ini itu bangku terlarang. Disebut terlarang karena dulu, kira-kira 5 tahun yang lalu ada seorang murid perempuan, dia sangat cantik dan pintar. Lalu di antara teman-temannya ada yang tidak menyukainya. Dan dia akhirnya dibunuh oleh temannya itu. Semua kejadian itu terjadi di bangku ini.” Ucap Rere panjang lebar.“Terus, terus, terus?” tanyaku semakin penasaran.“Ya, terus karena murid cantik itu merasa ini bangkunya, jadi gak ada seorang pun yang boleh duduk di bangku ini.” Jelasnya lagi semakin serius.Sesa’at aku menoleh ke seluruh penjuru kelas. Ku lihat anak-anak yang lain masih berkerumun menceritakan perihal Lira yang kesurupan pagi tadi.“Tan ada darah.” Bisik Rere pada telingaku.“Mana Re? Gak ada apa-apa kok.” Balasku selagi membetulkan kerudung putihku.“Lihat deh darah itu, masih segar!!!” Tegas Rere ketakutan. Mendadak wajahnya pucat pasi seperti mau pingsan. Aku melihat sekitar bangku terlarang itu. Ternyata setelah aku teliti memang ada bercak darah segar di bangku itu.“Perasaan tadi bangku itu bersih, kok tiba-tiba ada darah ya?” batinku.Semenjak kejadian itu, kami sering dihantui oleh hantu bangku terlarang itu. Situasi ini memancing kami untuk menjadi detektif dadakan. Semua hal yang berkaitan dengan bangku terlarang itu kami selidiki satu per satu dengan detail.Hingga pada suatu hari ketika aku sedang belajar di kelas badanku terasa dingin dan lelah. Seketika itu pula aku melihat kejadian tragis yang menimpa seorang gadis. Mungkin dia adalah pemilik bangku terlarang itu. Aku melihat jelas ketika gadis itu sedang duduk membereskan alat tulisnya, dan tiba-tiba muncul seorang yang ingin membunuhnya. Awalnya dia berusaha berlari dan mencari pertolongan. Namun apa daya, karena sekolah sudah sepi. Akhirnya ia terbunuh.Kepalanya dipenggal. Tubuhnya terkulai lemah di bangku itu. Dan kepalanya disimpan di koper yang berada di gudang. Orang yang membunuhnya tak lain adalah teman sebangkunya yang syirik terhadap dia. Aku tak tega melihat semua ini. Aku menangis seketika melihat peristiwa ngeri ini. Tiba-tiba gadis tanpa kepala mendekatiku. Aku hampir pingsan dibuatnya. Aku takut setengah mati, tapi aku juga merasa kasihan. Dan aku tahu tujuan gadis itu mendekatiku adalah untuk meminta bantuanku menemukan kepalanya dan menguburkannya dengan sewajarnya.Aku menceritakan apa yang ku alami siang itu pada Rere. Kami berusaha mencari kepalanya. Seluruh penjuru gudang kami obrak-abrik.“Ta, koper itu bukan?” Rere menarikku menuju koper di pojok jendela.Setelah kami buka, ternyata benar. Di dalamnya ada kepala manusia yang usang dan sudah berubah menjadi tengkorak kepala. Kami pun membawanya ke halaman sekolah dan menguburkannya dengan layak. Dan kami pun mendoakannya. Sesaat setelah itu, muncullah gadis yang cantik di depan kami. Dia mengulurkan tangannya pada kami. Dan dia mengucapkan terima kasih, karena telah menguburkan kepalanya. Kami pun menjabat tangannya dan tersenyum. Tidak lama kemudian gadis itu menghilang.Setelah kejadian itu kami tidak dihantui hantu bangku terlarang lagi. Kini bangku itu aman diduduki oleh siapa saja karena arwah gadis itu telah tenang setelah kami menguburkan kepalanya sore kemarin di halaman sekolah.TAMAT
Gelang Setan
Semburat rembulan kian memucat, mencumbu pucuk-pucuk mendira yang kian membuku dibalut embun kelabu. Suara derit mesin kendaraan yang lalu lalang di depan kantorku berangsur-angsur mulai sirna seiring berjalannya waktu. Yang terdengar hanya nyanyian jangkrik dan hembusan angin malam yang membelai ranting-ranting pohon beringin dan jambu *** yang ada di halaman depan kantor. Itu berlangsung hingga fajar menjemput di balik hari.Aku duduk dalam ruangan kantor perpustakaan tempat aku bekerja sebagai penjaga malam. Aku sudah menjalani pekerjaan ini selama delapan tahun, setiap malam tanpa ada libur. Aku memang bekerja seorang diri, jika aku libur tentu tidak ada yang menggantikan tugasku. Pernah aku mengusulkan kepada atasanku agar menambah lagi petugas jaga malam, agar pekerjaan bisa dilakukan secara bergilir. Namun menurut atasanku anggaran untuk penjaga malam dari PEMKOT hanya satu orang. Mungkin kantor perpustakaan dianggap tidak terlalu rawan dari pencurian, maka untuk penjaga malam cukuplah satu orang. Sehingga dengan demikian hingga sekarang aku tetap bertugas seorang diri.Sebagai seorang penjaga malam honorer tentu tidaklah memiliki gaji yang besar. Tapi aku tetaplah mensyukurinya, karena menurutku kebahagiaan tidaklah diukur dari gaji yang besar. Kebahagian akan kita rasakan jika kita selalu merasa syukur dengan apa-apa yang diberikan Sang Pencipta kepada kita. Dan aku pun terus bersyukur karena anak dan istriku tidak pernah minta yang berlebihan. Mereka selalu menampakkan wajah gembira dan penuh keceriaan, jika kami sedang berkumpul menikmati makanan di atas meja apa adanya.Istriku pun tidak tinggal diam, sehari-hari dia membantu juga untuk menambah penghasilan kami dengan membuat cemilan untuk dititipkan di warung-warung. Hasilnya lumayanlah untuk membuat dapur tetap ngebul dan anak tetap bersekolah. Dan istriku dengan senang hati mengerjakan semua itu. Hingga sampai sekarang dia tetap setia menemaniku walau kami sudah berusia 50-an tahun.Selama delapan tahun aku bertugas sebagai penjaga malam tak pernah ada gangguan apapun, baik dari alam nyata maupun alam yang kasat mata. Oh... ya aku hampir lupa, pernah satu kali ada anak muda makai motor dalam keadaan mabok. Motornya menabrak pintu pagar, sehingga slot pintu pagar lepas. Hanya satu kali itu saja. Untuk gangguan dari alam ghaib tidak pernah sama sekali.Pernah seorang pegawai kantor yang sudah lama dariku bekerja di situ menceritakan hal-hal ganjil dan aneh yang dia alami selama bekerja di situ, kejadiannya di siang hari. Tapi aku tak pernah menggubris cerita-cerita semacam itu. Dia juga mengatakan bahwa kantor itu dulunya dibangun di atas kuburan tua milik Belanda. Aku anggap ceritanya itu hanya untuk menakuti ku, jangan-jangan dia menginginkan aku agar tidak betah atau takut bekerja di situ. Aku yakin aku lebih tahu dari pegawai itu soal kantor itu, sebab aku dilahirkan di kota itu. Sedari kecil aku juga pernah bermain-main di sekitar kantor itu, yang dulu belum menjadi kantor perpustakaan seperti sekarang ini. Terus terang dalam kehidupan sehari-hari aku tidak terlalu suka dengan hal-hal mistis, walaupun aku sering menonton film horor.Demikianlah hingga hari ini tidak ada kejadian yang berarti selama aku menjalankan tugasku sebagai penjaga malam.Aku menikmati pekerjaanku seorang diri di tengah kesunyian malam yang penuh ketenangan dan kedamaian.. Ditemani sebuah laptop dan secangkir kopi untuk menghibur diri dan mengusir rasa ngantuk, sehingga aku bisa tidur dan istirahat jika malam sudah hampir berakhir. Keamanan pun terus terkendali hingga sampai pada suatu malam....Aku menonton film horor di video YouTube. Itu aku lakukan hampir setiap malam. Sudah ratusan atau mungkin ribuan film horor sudah aku tonton di video YouTube, baik yang dari barat maupun dari negeri sendiri. Tapi aku lebih suka yang dari Barat, sebab menurutku yang dari Barat lebih masuk akal daripada yang lokal. Terkadang aku juga nonton film action dan video-video lain yang tersebar di YouTube. Itu semua aku lakukan untuk mengusir kejenuhan dan mengulur waktu hingga sampai saatnya aku menghempaskan tubuhku di atas sofa yang ada di ruangan kantorku untuk beristirahat.Sejenak aku menoleh ke arah jam tanganku yang terletak di atas meja dekat laptop. Waktu sudah menunjukkan pukul 03:00. Kulihat juga jam yang ada di pojok bawah layar monitor untuk meyakinkan kalau-kalau arlojiku tidak akur, jam di monitor juga menunjukkan waktu yang sama. Mataku terasa sudah berat untuk melotot kearah monitor, sebentar melek sebentar merem. Aku sudah tidak jelas lagi awal dan akhirnya adegan di film yang ku tonton. Aku menguap lebar tanda kantuk sudah benar-benar menyerang.Ku matikan laptopku yang sudah termasuk usang, karena sudah sepuluh tahun yang lalu aku beli, yang selalu setia menemaniku setiap malam. Aku masukkan kedalam tas yang setiap aku berangkat kerja selalu aku bawa yang isinya selain laptop ada juga benda-benda lain yang aku perlukan.Usai itu aku menuju toilet yang rutin aku lakukan setiap malam sebelum aku menghempaskan tubuhku di atas sofa.Hal itu sudah diajarkan oleh ibuku sedari kecil, agar sebelum tidur buang air kecil dulu. Mungkin itu diajarkan juga oleh ibu-ibu yang lain kepada anak-anaknya.Perlahan-lahan aku merebahkan tubuhku di atas sofa yang setiap malam menjadi ranjang bagiku. Kutarik kain sarung untuk membungkus tubuhku dari ujung kaki hingga sebatas leher. Tubuhku terasa nyaman. Hembusan AC yang sudah ku kurangi volumenya, yang menempel di dinding kantor, membuat tubuhku tidak merasa gerah pada saat musim kemarau seperti ini.Ada hal yang tak pernah aku tinggalkan saat menjelang tidur.Aku selalu mengucapkan doa dan zikir yang telah diajarkan oleh Ayahku sejak dari kecil. Karena saat tertidur hanya Allah yang menjaga diri kita dari segala gangguan baik yang datang dari bumi maupun dari langit, begitulah yang dikatakan Ayahku dulu. Dan itu tetap kuingat dan ku yakini betul hingga aku sudah menjadi seorang ayah juga.Tapi entah mengapa malam itu aku benar-benar lupa mengucapkan doa dan zikir, mungkin karena kantuk sudah terlalu berat, sehingga begitu merebahkan tubuhku di atas Saat aku terpana memandang ke arah sekeliling goa, aku merasakan ada tangan dingin dan kaku menyentuh pundak ku. Secara refleks aku membalikkan tubuh dengan maksud untuk menghindar karena didera rasa yang teramat sangat.Bersamaan dengan itu, di dalam gua menyeruak bau kemenyan yang entah dari mana datangnya, membuat bulu kuduk tambah merinding. Di hadapanku berdiri sesosok makhluk yang belum pernah aku lihat sepanjang hidupku.Dadaku terasa berdebar, bulu kudukku merinding, lutut ku terasa bergetar sehingga lantai goa yang aku pijak tidak terasa lagi. Perasaan takut dan cemas menyerang jiwa dan ragaku. Belum pernah aku merasakan takut seperti itu di dunia nyata.Makhluk di hadapanku benar-benar makhluk aneh dan menyeramkan, lebih seram daripada makhluk-makhluk yang pernah ku tonton di film horor. Tubuhnya berbentuk besar tinggi, ditumbuhi bulu-bulu lebat dan hitam seperti gorila ataupun orang hutan. Daun telinganya lebar dan agak meruncing mengarah ke belakang. Di kepalanya terdapat dua buah tanduk yang runcing, bola matanya besar melotot berwarna merah seperti bara api yang masih menyala.Benar-benar pemandangan yang menyeramkan bagi mereka yang tidak pernah berkubang dengan dunia mistik dan alam supranatural.Dengan dada berdebar dan wajah agak memucat aku merasa ngeri untuk menatap makhluk yang sangat menyeramkan itu.Yang membantu menguatkan jiwaku hanyalah sepotong iman kepada yang menciptakan makhluk itu. Aku yakin tidak ada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan nya, baik yang ada di langit maupun di bumi. Dengan didorong oleh pikiran seperti itu, perlahan-lahan aku beranikan diri untuk menatap makhluk itu, mulai dari ujung kukunya sebesar mata linggis hingga bola matanya seperti bola api yang pernah dijadikan oleh sebagian anak pesantren untuk bermain sepak bola.Tapi anehnya makhluk itu tidak mengucap sepatah kata pun. Dia hanya menatapku dengan tajam mengerikan. Kemudian dia menyentuh tangan kananku dengan tangannya membuat dadaku makin bergemuruh. Tangannya sangat dingin dan kaku membuat bulu kudukku kembali merinding. Kakiku terasa makin lemas menginjak lantai goa itu. Aku merasakan tangannya mulai meremas tanganku. Remasan nya semakin lama semakin keras yang aku rasakan. Saat itu keluarlah dari mulutku firman Allah yang ada di Al-Quran yang sudah aku hafal dan sering aku ucapkan selama ini.Aku tersentak kaget. Aku terjaga dari tidurku yang baru setengah jam. Semua mimpi-mimpi itu buyar seketika. Tak ada lagi batu-batu dan air mengalir yang ada di dalam goa saat aku bermimpi. Yang ada di sekelilingku sekarang hanya kursi; rak-rak buku, serta lampu yang cahayanya menerangi ruangan, yang tentu saja menjadi pemandangan yang aku lihat setiap malam di ruang kantor perpustakaan.Saat itu juga aku merasakan ada sebuah benda yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Benda itu benar-benar aku rasakan keberadaannya di tanganku. Aku perhatikan pergelangan tanganku. Di tanganku melingkar sebuah gelang yang terbuat dari biji-biji tasbih berwarna hitam pekat. Aku tidak jelas terbuat dari bahan apa biji-biji itu. Hanya keesokan harinya ku perhatikan biji-biji tasbih itu mirip biji kacang kecipir yang sudah dikeringkan, yang di daerahku orang tua jaman dulu sering membuatnya menjadi gelang untuk anak-anak bayi, agar bayi tidak suka menangis di malam hari.Aku sangat tidak menyukai gelang yang ku peroleh dari alam mimpi itu. Aku memang tidak suka berhubungan dengan hal-hal mistik. Karena menurutku hal semacam itu akan menjerumuskan kita ke jurang kemusyrikan, yang menurut ceramah para ustadz itu adalah dosa yang tidak bisa diampuni. Aku tidak punya niat sama sekali untuk menyimpan gelang itu apalagi memakai dan membawanya kemana-mana. Bagiku gelang itu miliknya para setan, jika aku pakai berarti aku menjadi temannya para setan. Aku Pun tak pernah menceritakan perihal gelang itu kepada isteri dan anakku, karena menurutku mereka tidak perlu tahu dan memang tidak ada gunanya buat mereka.Timbullah pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari otakku. Kemana aku harus membuang gelang itu? Aku Pun tidak berani sembarangan membuangnya. Aku khawatir jika aku buang sembarangan akan ada akibat buruk bagiku dan keluargaku. Perasaan bingung menyeruak ke benakku. Sebab makhluk dalam mimpiku tidak memberitahu apa-apa perihal gelang itu. Di samping itu aku juga khawatir perbuatan syirik bakal mendekatiku jika gelang itu tetap berada padaku. Dan akhirnya tentu saja akan menjadikanku umat yang ingkar kepda Allah dan mengikuti jejak-jejak setan.Lama aku termenung memikirkan hal itu, hingga akhirnya aku ingat kepada seorang temanku yang suka mengoleksi benda-benda mistik. Temanku itu bernama Jarot. Aku tidak faham mengapa Jarot menyukai benda-benda seperti itu. Aku Pun tak pernah usil untuk menanyakan perihal itu kepadanya. Biar bagaimanapun dia adalah teman, aku tidak suka membicarakan hal-hal yang menyinggung perasaan teman. Biarlah itu akan menjadi urusannya dengan Sang Pencipta di hari kemudian, karena hanya Dia yang berhak memberi hukuman kepada umatnya pada hari itu.Keesokan harinya kutemui Jarot di rumahnya. Dia sehari-harinya berprofesi sebagai tukang gunting rambut. Terkadang jasanya sering dipakai juga oleh orang-orang yang suka mengobati penyakit dengan cara-cara ghaib, walaupun sebenarnya penyakitnya bukan berasal dari alam ghaib.Kedatanganku diterima Jarot dengan ramah, sebagaimana layaknya seorang teman. Selang beberapa menit kemudian istri Jarot keluar dari dapur dan menghidangkan dua cangkir kopi hangat dan sepiring pisang rebus di atas meja. Dia mempersilakan ku mencicipi hidangannya, kemudian masuk lagi ke arah dapur.Di dinding rumah Jarot terpampang keris dan beberapa benda kuno yang tak aku fahami."Ada apa, Bok? Adakah sesuatu yang akan kamu ceritakan hari ini kepadaku?" tanya Jarot kepadaku. Di kalangan teman-teman, aku memang biasa dipanggil "Abok". Aku tidak tahu mengapa mereka memanggilku seperti itu, padahal namaku bukan seperti itu. Yang kutahu panggilan "Abok" berarti "Kakek" dalam bahasa Indonesia-nya. Mungkin mereka memanggilku seperti itu karena rambutku sudah ditumbuhi uban, bahkan kumis ku sudah tidak ada lagi rambut hitamnya. Teman-temanku yang sebaya sebenarnya juga sudah banyak yang memiliki uban, cuma yang paling banyak itu aku.Menjawab pertanyaan Jarot, aku ceritakan semua kejadian di mimpi yang ku alami. Dan tentu saja masalah gelang itu. Setelah mendengar ceritaku, tanpa basa-basi lagi dengan cepat Jarot mengambil gelang itu dari tanganku. Diperhatikannya gelang itu dengan teliti, kemudian dia tersenyum sambil menyeringai, sebagi tanda dia sangat menyukai benda itu.Menurut Jarot gelang itu milik raja iblis bernama Datuk Antu Kuwek. Gelang itu berkhasiat untuk menundukkan segala makhluk dari golongan setan. Tapi aku tak peduli dengan segala khasiat dari benda itu. Yang aku tahu gelang itu milik setan, jika memakainya berarti akan dekat dengan setan.Setelah puas melihat-lihat benda itu dengan seksama, Jarot berkata kepadaku, "Berapa, Bro?" sambil tangannya merogoh kantong celananya bagian belakang. Mungkin dia mau mengambil uang dari kantong itu."Gak usahlah, Bro. Ambillah.. gratis, ku kasih Cuma-cuma." Sahutku.Setelah pulang dari rumah Jarot, aku tidak mau lagi memikirkan mimpi dan masalah gelang itu. Aku Pun tidak pernah bertanya kepada Jarot, apa yang akan dia perbuat terhadap gelang itu. Aku merasa lega karena gelang itu tidak berada di tanganku lagi. Dalam hati aku yakin Jarot tahu apa yang akan dia perbuat dengan gelang itu, karena dia sudah biasa berurusan dengan hal semacam itu.Hingga sekarang aku pun tidak pernah mengalami hal-hal buruk dan aneh yang berasal dari gelang setan itu. Setiap malam hari aku masih tetap menjalankan tugasku seperti biasa sebagai penjaga malam di kantor perpustakaan dan arsip. Dan setiap menjelang tidur aku tidak lupa lagi mengucapkan doa dan zikir.Kabar yang terakhir kudengar dari Jarot, anaknya yang bungsu bernama Lengos yang masih berumur lima tahun, raib entah kemana perginya. Sudah dicari dengan cara nyata maupun dengan pertolongan orang pintar, tapi hasilnya nihil. Menurut teman-temannya, mereka melihat Lengos terakhir saat bermain hujan-hujanan di pinggir selokan. Karena memang saat ini baru memasuki musim hujan yang memang disukai anak-anak. Sudah hampir enam bulan di tempatku dilanda kemarau panjang.Menurut teman-teman Lengos, mereka melihat Lengos waktu itu memakai gelang tasbih warna hitam menyeramkan. Saat itu kelakuan Lengos agak kasar, suka menendang teman-temannya, sehingga teman-temannya menjauh dari LengosTAMAT
Diary Terkutuk
Hai guys, perkenalkan namaku amalia fellicie camille. Aku berusia 10 tahun. Hari ini aku akan menceritakan kejadian saat ulang tahunku yang ke 9.Jadi seperti biasa aku bangun jam 06.30, sebelum aku ke kamar mandi aku baru ingat bahwa hari ini aku sedang ulang tahun, setelah aku mandi ibuku memanggilku untuk sarapan pagi. Setiap hari aku sarapan dengan sereal rasa coklat dan susu.Ibu dan ayahku berkata "Lia ayah dan ibu akan kerja dan pulang sekitar jam 2 siang"."Ok ibu dan ayah" aku menjawab.Setelah aku sarapan aku masuk kembali ke kamar dan membaca buku ku yang berjudul "Bel rumah yang terkutuk", sekitar jam 12.00 aku mendengar suara bel rumah ku berbunyi, ting tong, ting tong. Dengan perasaan takut karena sedang membaca buku yang seram, aku semakin takut dengan suara bel itu yang berulang ulang berbunyi, "Semoga itu ayah dan ibu yang datang" ucapku dalam hati, dengan perasaan takut aku membuka pintunya dan memegang erat buku yang ku baca, "Krekk, loh kok gak ada orang", akhirnya aku menutup pintu dan lari ke kamar dengan ketakutan.Karena ku takut aku berbaring dan lama lama tertidur lelap, di dalam mimpiku aku berada di depan toko buku yang pernah kulihat di pinggiran pasar dekat danau, akhirnya aku masuk dan melihat buku buku yang sudah tidak bagus, kecuali buku diary yang berwarna ungu dan memiliki motif tetesan air bewarna merah. Karena aku tertarik aku membelinya.Tiba tiba aku terbangun dari mimpi aneh itu, dan orangtuaku sudah pulang. "Lia, ayo kita pergi ke mall untuk membeli kado untuk ulang tahunmu sayang" kata ibuku. Karena ibuku sudah mengingati aku langsung bersiap siap untuk pergi, aku biarkan rambutku yang sepinggang ku gerai dan kuberi pita di poniku. Sebelum berangkat aku berkata kepada orangtuaku "Ibu, ayah ada tidak sih toko buku di pasar yang dekat danau?" kataku kepada ibu dan ayahku. Mereka pun menjawab "Oh, maksudmu toko buku pak siman" jawab ayah, karena ini kesempatanku mendapatkan diary itu aku meminta orangtuaku ke sana, tapi sebenarnya orangtuaku merasa aneh karena aku meminta buku diary yang ada di situ, padahal aku tidak suka menulis, tetapi akhirnya jadi ke toko tersebut karena aku memaksa.Setelah membeli aku pergi ke mall, pada saat ku di mall aku melihat ada perempuan yang memakai topi, baju dan sepatu sama dengan diary yang aku punya, saat aku melihat wajahnya, aku kaget karena wajahnya hancur dan bola matanya putih tidak memiliki pupil mata, sejak saat itu aku merasa semakin takut, aku langsung meminta orangtuaku untuk pulang.Saat sampai di rumah aku mengisi diary ku:Buku harian sayangHari ini aku mengalami hari teraneh dan terburuk yang pernah aku alamiSeperti ada yang datang ke rumahkuAda perempuan di mall yang tidak punya pupil mataSemoga esok hari aku tidak mengalami hari seperti iniKeesokan harinya, saat aku di sekolah aku memberi tahu tentang kejadian kemarin kepada sahabatku yang bernama Maria Natallia Astan, yang biasa dipanggil Ria.Sesaat ku memberi tahu ria, "Oh Lia aku tahu cara menghentikan ini, dengan cara kamu harus mencari di lembaran itu sebuah tanda tangan dan kamu membakar bukunya di bawah sinar matahari dengan mengarahkan tanda tangan itu ke sinar matahari dan membakar tanda tangan tersebut ke terakhir" kata Ria.Saat pulang sekolah aku mencari tanda tangan tersebut, ternyata kata ria benar, ada tanda tangan di suatu lembaran. Aku langsung melakukan yang diajarkan ria padaku. Akhirnya beberapa hari kemudian tidak ada kejadian aneh lagi, aku merasa sangat lega karena sudah tidak ada yang menggangguku.Sejak saat kejadian tersebut aku sangat menyesali perbuatanku di hari ulang tahunku, jika aku tidak melakukan itu aku tidak akan dihantui oleh diary terkutuk tersebut.Tamat
HOROR DI RUMAH KOST NO. 13
Waktu menunjukkan jam 09.30 WIB saat Sasha melihat jam tangannya, dia pun menaiki tangga menuju ke kantornya di lantai 2, saat masuk ke ruang kantornya bu Alena melihat dengan pandangan sinis dari arah kaca bening ruangannya, Sasha berusaha diam - diam tidak mau mengeluarkan suara berisik menuju meja dan kursinya yang berada di pojok ruangan."Sasha, lo dari mana saja?" tanya Gaby sahabat Sasha dikantor yang berpostur mungil dengan raut wajah polosnya"Sssh.... Gab, jangan berisik, jalan tol macet parah, padahal gw sudah berangkat dari pagi ke kantor, dari habis subuh kali, setiap jalanan sudah macet mana busnya ngetem lama lagi di terminal" ucap Sasha kesal dengan kondisinya setiap pagi harus mengalami hal yang sama.Bulan ini Sasha sudah terlambat lebih dari 20 hari kerja,kondisi rumah Sasha yang jauh dari kantornya Depok - Tanjung Priok harus dihadapinya setiap hari, dengan kondisi lalu lintas yang padat belum lagi pembangunan jalan hampir di semua tempat, dan kondisi bus yang sering lama menunggu penumpang, membuat Sasha harus berkejaran dengan waktu setiap harinya. Sedangkan perusahaan tempat Sasha bekerja adalah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang otomotif yang terkenal dengan kedisiplinan dan peraturan yang ketat."Sha lo dipanggil sama bu Alena" ucap Dito teman sekantor Sasha yang berambut keriting dengan memakai kacamata tebalnya."Sekarang?""iya, cepetan, bu Alena tampangnya sudah marah tuh kayanya"sedikit gemetar Sasha menuju ruangan bu Alena"Tok..tok..tok""masuk Sasha, silahkan duduk" suara tegas bu Alena membuat Sasha menjadi sedikit gugup"Ini surat buat kamu""Surat apa ya bu?""Surat peringatan untuk kamu, karena kamu banyak sekali terlambat bulan ini Sha""Maaf bu, saya sudah berusaha sepagi mungkin dari rumah, bahkan saya berangkat hampir jam lima pagi bu untuk menghindari macet dijalanan, tetapi tetap saja saya terlambat seperti hari ini" jawab Sasha jujur"Sasha, management perusahaan tidak akan perduli jam berapa kamu berangkat dari rumah, tetapi yang mereka lihat jam berapa kamu datang kekantor, kamu mengerti?""iya bu" jawab Sasha dengan kepala menunduk merasa bersalah atas jawabannya tadi"Ibu tahu, rumah kamu jauh, dan terkenal dengan rute yang sangat macet, mungkin kamu harus mencari solusi lain Sha, kamu masih mau bekerja disini kan?" tanya bu Alena"Mau bu""Maka menurut ibu kamu harus kost Sha..""Kost bu..." Sasha berfikir sebentar, seumur hidupnya Sasha tidak pernah jauh dari rumah bahkan menginap di rumah temannya pun Sasha tidak pernah"Baik bu akan saya pertimbangkan dulu""Baiklah, ibu mau melihat perubahan kamu ke depannya, kamu karyawan yang baik dan dapat ibu andalkan, ibu harap kamu segera mencari solusi permasalahan kamu Sha" ucap bu AlenaSaat tiba di rumah, Sasha sedang melihat ibu merapihkan baju di ruang belakang"Bu, Sasha dapat surat peringatan" ucapnya"Kenapa Sha, kok bisa?" jawab ibu kaget"Sasha terlambat lagi bu, bulan ini saja sudah lebih dari dua puluh hari keterlambatan bu, padahal Sasha bangunnya kan sudah pagi banget bu" ucap Sasha manja"lalu bagaimana Sha? kamu mau keluar dari pekerjaanmu?" tanya ibu"tidak bu, sayang kalau Sasha keluar, perusahaan besar, gajinya juga sudah lumayan, Sasha mau kost saja bu" ucapnya"Apa?? Kost??"tiba - tiba ayah masuk ke ruangan, "Iya Sha kamu harus bersikap profesional, kalau menurut kamu itu menjadi masalah ayah tidak keberatan kalau kamu mencari tempat kost, setiap akhir pekan kamu kan bisa pulang kerumah" jawab ayah menenangkan"Tapi.... nanti makan mu bagaimana?" pertanyaan seorang ibu memang tidak jauh - jauh, takut melihat anaknya kelaparan dan menderita."Tenang aja bu kan warung makan banyak, nanti Sasha akan mencari kost - kostan yang tidak terlalu mahal bu, sama seperti ongkos Sasha sekarang" ujar Sasha"Baiklah, kamu cari tempat kost yang baik..." ucap ibu Sasha merelakan keputusan anak perempuan semata wayangnya.----------{}-----------Siang itu Sasha ditemani Gaby, mencari kost - kostan di daerah cempaka putih, Gaby tinggal di kost dekat situ, tetapi menururt Sasha kost - kostan Gaby terlalu kecil.Hampir sore mereka berdua masih belum mendapatkan tempat kost yang sesuai, akhirnya mereka sepakat untuk beristirahat dan makan di Warung makan yang berada di area itu, saat mereka selesai makan dan mau meninggalkan warung makan tersebut, Sasha melihat brosur di bawah lantai rumah makan tersebut"Menyewakan kost - kostan besar dan Murah, di Jalan Tramboli 4 No. 13 silahkan hubungi ke Nomor : 08345216796 dengan Agung" didalam brosur tersebut juga terlihat gambar rumah besar dengan ruangan kamar yang besar"Gab, ini kayanya rumah Kost yang gw cari" ujar Sasha"Iya Sha, tapi kok gw belum pernah denger kost - kostan ini sama nama jalannya" fikir Gaby aneh"Yuk... cepetan kita tanya sama tukang bajaj, alamatnya sekalian minta dianterin" ucap Sasha bersemangat"Ini Jalan tramboli 4 neng" kata tukang bajaj itu menyuruh Sasha dan Gaby untuk turun"ini bang uangnya, makasih ya"Di jalan Tramboli 4 itu hanya tanah kosong yang berdiri satu rumah paling ujung, Rumah tersebut terdiri dari 2 lantai dengan bangunan cukup besar, tiba - tiba keluar lah seorang wanita tua berambut putih dari pintu pagar"Ada yang bisa saya bantu?" ucap wanita itu dengan tatapan tajam"Saya mau kost bu" jawab Sasha"Oh baiklah, silahkan duduk dulu" jawab wanita tua tadi lalu masuk kedalam rumahlima belas menit kemudian, ada lelaki berpostur tinggi besar dengan rambut botak keluar bersamanya,"Hai saya Agung, anda mau kost disini?" tanyanya"Iya Pak, berapa harga sewa nya ya?""tidak usah memikirkan harga sewa dulu, biar saya tunjukkan kamar kostnya dulu" lalu Agung mengajak Sasha dan Gaby ke seluruh ruangan kamar kost di rumahnya, di lantai dua ada sekitar dua puluh kamar kost dengan ruang tamu diatas jika ada penyewa yang mau menerima tamunya tetapi dilantai atas ini semua kamar sudah terisi.Lalu dilanjutkan kembali ke kamar kost yang dibawah ini lebih sedikit hanya ada lima kamar kost dengan ukuran ruangan yang lebih besar dan empat dari kamar tersebut juga sudah terisi, sedangkan ada satu kamar yang masih kosong, berada di pojok rumah belakang, disana ada pagar kecil untuk masuk langsung kekamar belakang jadi jika Sasha mau keluar bisa melalui pintu tersebut tanpa harus melewati pintu rumah utama.Kamarnya luas, dua kali kamar kost Gaby, dengan ranjang yang nyaman dan lemari pakaian yang cukup besar"kalau kamar ini sewanya berapa mas?" tanya Sasha"Dua Ratus Ribu""Dua ratus ribu perbulan?" tanya Sasha tidak percaya itu murah sekali bahkan kost - kostan gaby saja sudah membayar tiga ratus ribu perbulan."Kalau kita ngekost berdua harganya sama mas?" tanya Sasha berfikiran Gaby bisa pindah bersamanya"Maaf di kost ini kami tidak ada ranjang untuk berdua" jawab Agung sinis"Baiklah saya langsung bayar untuk satu bulan" ucap Sasha bersemangatlalu Agung pun membuatkan kwitansi untuk SashaKeesokan harinya ayah mengantar Sasha pindahan ke kostan barunya, sebagian pakaian dan kebutuhan sehari - hari Sasha ikut dibawa ke tempat barunya.Setelah ayah bersiap - siap pulang, Sasha merasa ada perasaan aneh, seperti takut,,, ketakutan dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan ayahnya,,, tapi Sasha berfikiran positif ini mungkin karena dia tidak pernah jauh dari rumah.-----------{}---------Saat malam di rumah kost ini tiba - tiba Sasha merasa semua berubah, tidak ada ibu, tidak ada ayah bahkan tidak ada Gaby, dia hanya sendiri di depan kamar kostnya dia mencari sinyal telepon supaya dapat menghubungi rumah dan menghilangkan kesepiannya, tiba - tiba lewat dari pintu belakang dua perempuan bertubuh pendek dan berambut panjang."Eh mba penyewa kost baru ya?""Iya" jawab Sasha ramah"Saya Nita dan ini teman saya Hani" jawab salah satu perempuan tersebut"Iya saya sasha, kamar kamu dimana?" tanya sasha"kami tinggal berdua di kamar depan sana" ucap hani"Berdua? tapi kata mas Agung dia tidak menyewakan kamar berdua?" tanya Sasha bingungtiba - tiba mas agung lewat dengan membawa pakaian kotor ke kamar mandi, dan melihat kepada mereka, seketika itu juga Hani dan Nita tampak ketakutan dan pamit kepada Sasha."maaf ya mba, kami ke kamar dulu, mba hati - hati ya?" ucap Nitaentah perasaan Sasha saja atau Nita lebih menekankan kata hati - hati, seperti akan ada sesuatu yang bisa membahayakannya, tiba - tiba bulu kudu Sasha merinding, dia langsung menutup pintu kamar kostnya.Sudah hampir jam dua belas malam Sasha masih belum dapat memejamkan matanya, sudah dalam posisi di kasur, miring kanan dan miring kiri ada suasana panas yang membuat Sasha tidak dapat tidur, akhirnya Sasha pun menyerah dia segera membuka pintu kamar kostnya.Tiba - tiba ada seorang gadis berdiri didepan pintu, cantik wajahnya, berkulit putih dan tinggi semampai dengan rambut lurus sebahu"Maaf mengagetkanmu" ucap gadis itu"tidak apa - apa, aku hanya gerah, namaku Sasha" jawab Sasha ramah"Aku Angel, kamu penyewa baru disini ya?""Iya baru hari ini, kamu penyewa disini juga?""iya, tapi sudah lama" jawab AngelTidak terasa kami ngobrol panjang lebar tentang asal kami, pekerjaan, hobi, dan obrolan lainnya, selain cantik Angel sosok wanita karir yang sukses dari ceritanya sebagai salah satu marketing komunikasi di perusahaannya, dan dia berasal dari Manado, dia merantau seorang diri di Jakarta.Waktu pun menunjukkan pukul tiga dini hari dan Sasha segera memutuskan untuk mengakhiri obrolan tadi dan pergi tidur sebelum beraktivitas kembali esok hari.Sudah lebih dari tiga hari kejadian serupa selalu terulang, Sasha pasti tidak bisa tidur dan Angel akan menemaninya begadang sampai dini hari dengan obrolan yang berbeda lagi, dan Sasha senang karena dia sudah memiliki teman baru di kostan ini.Hari ini Gaby main ke kostan Sasha dan berencana akan menginap, Sasha pun tidak berencana untuk memberitahu mas Agung pemilik kostan tersebut, dan saat mulai menjelang malam, Sasha dan Gaby sudah siap berada di atas kasur sambil curhat satu sama lain, tentang kondisi kantor, cowok yang jadi incerannya, tiba - tiba handphone Gaby jatuh ke bawah ranjang"Brak..."Saat Gaby hendak mengambil handphone yang jatuh ke kolong, tiba - tiba ada bingkai foto kecil disana, Gaby pun mengambilnya, dia fikir ini milik Sasha."Sha, ini saudaramu?""Siapa Gab?""Wanita di foto ini?"lalu Sasha pun mengambil foto tersebut"Angel....""Nama saudaramu Angel?" tanya Gaby sekali lagi"Bukan Gab, ini salah satu anak kost di rumah ini""Lho kok bisa ada fotonya dikamar kamu"Sasha juga agak sedikit bingung sebenarnya, tapi dia berusaha untuk berfikir positif"Mungkin jatuh dari tasnya saat main kekamarku kemarin" jawab Sasha entengtabi pandangan Gaby jatuh ke pinggir lemari baju, Sha menurutmu ini warna merah seperti darah bukan?""Bisa jadi Gab, mungkin darah nyamuk atau tikus" jawab Sasha tanpa berfikir panjangTiba - tiba Gaby merasa ada hal yang aneh pada kost - kostan tersebut dan seketika itu juga bulu kudunya mulai merinding.---------------{}-------------Sudah beberapa malam ini Sasha tidak bertemu dengan Angel, ada sedikit pertanyaan dalam diri Sasha, apakah Angel sakit atau dia mungkin sedang sibuk di kantor.Tetapi dia tidak bisa bertanya kepada anak kost yang lain dimana kamar Angel, setiap dia bertanya bahkan kepada Nita atau Hani, mereka diam seribu bahasa malah langsung meninggalkan Sasha sendirian.Akhirnya Sasha memututskan untuk masuk ke dalam kamarnya lagi, dan akhirnya Sasha pun dapat tertidur dengan pulas.Tiba - tiba, Sasha seperti mendengar ada suara pintu yang bergerak dari kamarnya"Kreet.... kreeeetttt"Tiba - tiba Sasha melihat mas Agung berada dikamarnya"Ngapain kamu kesini mas Agung?" tanya Sasha marah"Sudah lah kamu tidak usah malu - malu" ucap mas Agung dengan nada suara pelan dan mata menyeringai seperti singa yang ingin menelan korbannya."Bagaimana kamu bisa masuk, pintunya kan sudah aku kunci" Ucap Sasha sambil duduk dikasurnya dengan nada emosi"Kamu lupa, aku yang memiliki rumah kost disini, aku pasti punya kunci serep setiap kamar disini, dasar wanita bodoh" lalu agung semakin mendekati Sasha dengan membawa pisau di tangannyaSasha ketakutan dia berusaha melarikan diri, tetapi badan mas Agung lebih kuat dari tenaga Sasha, dan mas Agung pun menempelkan pisau itu di leher Sasha"Jika kamu berteriak, dan tidak menuruti perintahku, kamu akan tahu rasanya pisau ini menggorok lehermu" ucap lelaki berbadan tegap tersebutSasha ingin teriak sekencang - kencangnya berharap penghuni kost lain dapat menyelamatkannya tetapi sepertinya bibirnya kaku tidak dapat bergerak, dan Agung pun mulai menggerayangi badan Sasha perlahan - lahan, dengan desahan nafsu bejatnya yang semakin tidak dapat terkendali, Tiba - tiba pintu kamar terbuka lebar."Braaakkkk"Sasha melihat sosok Angel berdiri disitu sambil melotot dengan tatapan kebencian kepada Agung, seketika itu juga pisau yang digenggam Agung langsung terjatuh"Kamu.... kamu..... sudah mati" ucap Agung"Dasar bajingan.... kamu selalu saja mencari korban untuk pelampiasan nafsumu" Ucap Angel, diapun semakin mendekati Agung dan ternyata Angel dapat menembus Agung, Sasha seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Angel itu hantu....."Saat Agung ingin melarikan diri dari situasi ini, tiba - tiba kakinya tersenggol pecahan kaca dari bingkai kecil menusuk kekakinya dan membuatnya terjatuh membentur dinding lemari dengan keras, dan seketika itu juga Agung langsung tidak sadarkan diri.Sasha seperti tidak percaya saat Angel mendekatinya, saat ruh Angel menembus dirinya, seketika itu dia seperti berada di dimensi lainDia melihat dikamar yang sama dengan kamarnya ada Angel yang sedang tertidur terbangun dengan suara Agung yang masuk ke dalam kamarnya, dengan membawa pisau seperti yang dilakukannya, dia berusaha memperkosa Angel, tetapi Angel berusaha melarikan diri tetapi Agung malah membenturkannya ke lemari selama beberapa kali sampai akhirnya Angel tidak bernyawa lagi.Agung pun membawa jasad Angel keluar dan dia menguburkannya di taman samping belakang rumahnya, hampir semua penghuni mengetahui kejadian tersebut tetapi mereka hanya bisa menontonnya.Ternyata rumah kost itu hanyalah kedok belaka sebenarnya itu adalah tempat penampungan manusia yang akan membawa korbannya untuk dijual belikan ke luar negeri, dan hampir semua penghuni kost mengalami nasib serupa yang dilakukan oleh nafsu bejat Agung, tetapi mereka tidak bisa berbuat apapun karena kondisi mereka yang jauh dari rumah atau perantauan, belum lagi ditambah ancaman Agung yang membuat mereka semua tidak dapat berkutik, tetapi Agung tidak puas dengan wanita yang ada di kostan tersebut, oleh karena itu dia membuat brosur rumah kost No. 13 untuk mencari korban selanjutnya........Sasha pun langsung pergi dari rumah tersebut begitu dia sadarkan diri, dia melihat Agung masih dalam kondisi pingsan, dia menelepon ayahnya untuk minta dijemput di warung dekat jalan utama, dan menceritakan semua kejadian yang baru dialamainya.Satu jam kemudian ayah Sasha datang bersama petugas kepolisian setempat, dan Agung pun langsung ditangkap akibat perbuatan yang dilakukannya, serta usaha gelapnya memperjual belikan manusia di dalam rumah kostnya tersebut.Dengan kejadian tersebut Sasha pulang ke rumah, dan keesokan paginya saat dia dikantor dia pun memberi Bu Alena surat"Surat apa ini Sasha?""Surat pengunduran diri saya bu, saya tidak bisa jadi anak kost, terpaksa saya harus mencari tempat kerja yang lebih dekat" ucap Sasha.
HOROR SHIFT TIGA
Diego duduk di lobby sambil membaca majalah yang disediakan, hari ini adalah hari pertama Diego diterima bekerja di PT. Asterio, dan saat ini dia menunggu manager HRD untuk memanggilnya ke ruangan."Bapak Diego febrianto, silahkan masuk ke ruangan HRD Manager, di ruangan paling ujung sebelah kanan" ucap wanita berkulit putih yang rambutnya disanggul kecil dengan tubuh semampai dan menggunakan kemeja merah marun dan rok span hitam, dia sepertinya sekretaris di kantor tersebut."tok... tok..." Diego mengetuk pintu ruangan tersebut"baik silahkan masuk" jawab Bapak - bapak stengah baya berusia empat puluh tahunan yang duduk di meja ruangan tersebut, di atas meja tertulis Bapak Wibowo HRD Manager."Anda yang bernama Diego""betul pak""selamat, anda sudah bergabung pada perusahaan kami, dan anda mulai bekerja pada hari ini, silahkan membaca dan menandatangani kontrak dari perusahaan kami" ucap Pak WibowoDiego pun membaca isi dari perjanjian kontrak tersebut, dimana dia akan mengalami masa percobaan selama tiga bulan terlebih dahulu, dan jika sudah selesai kontrak tersebut maka akan di evaluasi apakah akan diperpanjang kontrak kembali.Hampir semua call center dibeberapa perusahaan memang hanya memberlakukan sistem kontrak atau outsourcing, tetapi memang pekerjaan ini bisa memberikan kemudahan untuk orang lulusan baru seperti Diego memulai karirnya.setelah Diego menandatangani kontrak tersebut, Pak Wibowo pun segera menyuruh sekretarisnya tadi untuk masuk dan membawa Diego ke ruangannya dan ke user yang akan bekerjasama dengannya."Selamat pagi pak Hermawan, saya ingin mengenalkan orang yang akan bergabung di tim call centre" ucap wanita tersebut"Diego pak""Baik Diego, selamat datang" ucap pak Hermawan "terimakasih siska" mempersilahkan sekretaris tersebut untuk meninggalkan Diego disana."Untuk hari ini sampai satu minggu ke depan kamu akan kami beri pelatihan mengenai produk dan pelayanan yang ada pada perusahaan, tetapi setelah satu minggu tersebut kami akan menempatkanmu di shift tiga untuk departemen ini""shift tiga?" tanya Diego"iya untuk bagian call centre kami membutuhkan orang di shift tiga yang bekerja dari jam sebelas malam sampai jam tujuh pagi, kami membutuhkan laki - laki seperti kamu, sedangkan shift satu dan shift dua kami prioritaskan untuk yang perempuan dan yang rumahnya jauh dari kantor" ucap pak Hermawan"oh.. baik pak" jawab Diego sedikit ragu, karena itu berati jam kerja dia akan terbalik, saat orang - orang istirahat maka dia akan bekerja, dan kebalikannya saat orang - orang bekerja dia akan beristirahat.Seminggu masa training pun selesai, hari ini hari pertama Diego masuk shift tiga, jam sembilan malam dia baru berangkat dari rumah, dan sampai kekantor sekitar jam setengah sepuluh, Saat Diego masuk ke ruangan call centre dia sempat bertemu dengan Prita call center yang bekerja di shift dua"Hai, kamu Diego ya?" sapa prita ramah "aku prita""iya mbak, saya Diego""jangan panggil mbak, prita saja, oh iya kenalin ini sulastri anak shift dua juga, kita pulang duluan ya Diego, hati - hati ya..." lalu mereka berdua pun berlalu dari hadapan DiegoDiego pun mengambil tempat duduk di ujung ruangan, satu set telepon dihadapannya, microphone telinga sudah siap dia pakai, dan dia pun mulai log in semua sistem dengan namanya, semua data telepon masuk akan segera terekam dalam mesin tersebut.Setelah menunggu setengah jam belum ada satu pun telepon masuk, tiba - tiba ada bayangan yang mendekatinya,,"Hai.... anak baru ya? kenalin gw pieter, temen lo di shift tiga" jawab cowok bertubuh sedikit pendek dengan postur gemuk dan putih"Diego mas, senang kenal dengan anda" jawab Diego menghormati seniornya"santai aja Diego, kalau shift tiga seperti kita, telepon malah jarang masuk" sambil mengambil posisi duduk di sebelah Diego dan menyalakan komputer serta semua systemnya."Baik mas""mau kopi gak? gw mau ke pantry biar gak ngantuk" ucap Pieter"Gak usah repot - repot mas""gak apa apa kok, terus jangan panggil gw mas panggil pieter aja" sambil berjalan meninggalkan Diego di ruanganSuasana hening kembali, tiba - tiba ada ada suara telepon berbunyi dan lampu di telepon berkedap kedip menandakan ada telepon masuk"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""..........................." suasana hening tidak ada yang menjawab"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu" diulangi kembali greeting Diego memastikan ada suara diseberang teleponnya.Dan tiba - tiba telepon ditutup, dan saat Diego membalikkan badannya ke belakang dia kaget sekali....Tiba - tiba Pieter sudah berada dibelakangya membawa dua cangkir kopi"nih buat kamu" ucap Pieter"Te.. terimakasih" jawab Diego "hmmm tadi ada telepon masuk pieter, tapi saat aku jawab tidak ada suaranya""Biasa itu, paling telepon iseng" jawab Pieter"kamu juga sering mengalaminya Pieter?"Pieter menengok ke arah Diego sambil meminum kopi yang berada di tangannya, tanpa menjawab pertanyaan Diego.-------{}----------Sudah beberapa jam Diego hanya ngobrol - ngobrol dengan Pieter tanpa ada suara telepon masuk, sekitar pukul dua pagi, tiba - tiba ada lampu yang menyala di telepon,"Angkatlah Diego, aku masih mau santai dulu" ucap Pieter"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""Halo.... halooo.... tolong saya" suara perempuan di seberang telepon dengan nada lirih"iya bu, ada yang bisa saya bantu?""Saya.... saya dibunuh..... ""maaf ibu tolong jangan bercanda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Diego sekali lagi"saya dibunuh Didit.... dia pacar saya"Diego pun menutup teleponnya, merasa dia dipermainkan"kenapa Diego?" tanya Pieter sambil menelisik ke mata Diego yang mulai ketakutan"Tadi ada telepon iseng lagi, dia telepon untuk bilang dia dibunuh" jawab Diego getir"Lalu kamu tutup teleponnya?" tanya Pieter"iya...""kamu disini tidak boleh melakukan itu, data kita semua direkam saat telepon masuk, kamu tidak bisa menutup telepon sampai si penelepon puas dengan pelayanan kita, ingat kita itu Call Centre" ucap Pieter menasehati semua definisi dan tujuan dari call centreDan telepon berbunyi lagi"Angkatlah Diego kamu harus sering - sering latihan supaya cepat mahir" jawab Pieter enteng"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""Aku dibunuh Didit.... Tolong" suara perempuan yang sama yang menelepon tadi"apa yang bisa saya bantu ibu?""tolong beritahu mamah saya,dia pasti khawatir, anda bisa menolong saya tolong catat alamat rumah saya" ucap perempuan tersebutada keraguan dari diri Diego untuk menuruti perempuan itu, tetapi dia ingat kata - kata Pieter tadi, kebutuhan konsumen paling penting"alamat ibu dimana?""jalan cendrawasih blok A1 jakarta" lalu dia menjawab lagi "tolong lihat saya di siliwangi, saya akan menunggu"dan setelah itu tiba - tiba telepon terputus"Kenapa? masih telepon misterius lagi?" tanya Pieter"iya, perempuan yang tadi dia bilang dia dibunuh Didit pacarnya dan ingin aku menyampaikannya ke mamahnya" sambil melihat alamat yang dia tulis di buku"sudahlah tidak ada salahnya kan hanya sekedar mencatat" seperti biasa Pieter menjawab dengan entengnyaLalu sejam kemudian ada telepon lagi yang masuk"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""Tolong..... saya Bram, kamu harus bantu saya" suara bass dari laki - laki di seberang telepon sangat terdengar marah"Baik pak, apa yang bisa saya bantu?""Saya dibunuh oleh Tio rekan bisnis saya dikantor""maksudnya?" Diego betul - betul merasa aneh kali ini, sepertinya itu bukan suatu kebetulan kalau ada dua orang yang menelepon dan bercerita mereka dibunuh"kamu harus bantu saya melaporkan ini kepada pihak kantor"" anda ingin saya menyampaikan kepada pihak kantor anda? tapi maaf saya tidak bisa membantu" jawab Diego agak sedikit kesal, karena merasa dia dipermainkan"Gedung Triad jl. keladi no 26 jakarta nama perusahaan saya PT Andalas, kamu harus membantu saya, saya menunggu di Jalan Panglima digudang kosong tempat saya dibunuh oleh Tio"dan telepon terputus lagi"Pieter sepertinya ini pelonco dari kantor ini ya? hahahaha ini lucu"Pieter hanya diam dan melihat Diego tanpa menjawab apapun"Pieter, aku rasa leluconnya jangan diteruskan lagi""aku tidak mengerjaimu Diego, aku kan selalu berada didekatmu dari tadi, dan tidak ada seorangpun diruangan ini selain kita berdua" Jawab Pieter mulai menegaskandan telepon pun mulai nyala kembali"Pieter kamu yang jawab ya?" aku mau belajar dari kamu"baiklah" jawab Pieter"Halo PT Asterio, dengan Pieter ada yang bisa saya bantu"dan Pieterpun menutup teleponnya "tidak ada yang menjawab" mungkin mereka hanya ingin diangkat oleh kamu" jawab Pieter sambil senyum menyeringaidan betul saja telepon pun berbunyi lagi, kali Diego mengangkat kembali"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""hiks....hiks...." suara anak kecil menangis diseberang telepon"Ada yang bisa saya bantu?""Aku dibunuh oleh mamah tiriku, tolong beritahu papah, dia wanita yang kejam""maaf ini dengan siapa?""Aku agnes,, usiaku enam tahun""Apa yang bisa saya bantu?""tolong sampaikan kepada papah, di jalan anggrek lima No 11 bogor, bahwa aku dikubur di taman belakang dirumah"mendengar suara anak kecil yang polos tadi Diego pun mencatat alamat tersebut, dan telepon pun terputus."ini benar - benar aneh....." sambil mengelap keringat dikeningnya"Lagi?" tanya pieter "anggap saja ini hari perdana mu" sambil tersenyum menyindir DiegoAkhirnya tidak ada telepon yang masuk lagi, dan waktu pun mulai menunjukkan jam lima subuh"Diego, aku ada keperluan aku pergi dulu ya?""kamu gak absen Piet?""Tidak apa - apa" jawab Pieter enteng seperti biasanya---------{}-----------Jam pun akhirnya menunjukkan jam 7 pagi, dan Diego siap - siap untuk absen pulang dan keluar dari ruangan.Saat berdiri di depan mesin absen, Diego di tepuk pundaknya oleh seseorang"Eh Pak Hermawan""Bagaimana Diego, hari pertama mu di shift tiga?"Diego agak terdiam, dia berfikir haruskah dia menceritakan kejadian aneh tentang telepon - telepon tadi malam."hmmm... baik kok pak, terutama ada mas pieter yang membantu saya mengajari banyak hal di shift tiga kemarin" jawab Diego"Pieter?" ucap Pak Hermawan kaget "tolong kamu masuk ke ruangan saya sebentar Diego, sambil melangkahkan kaki ke ruangan, Diego pun mengikutinya dari belakang"silahkan duduk, coba kamu ceritakan apa yang terjadi semalam?" bujuk pak Hermawan kepada Diego"iya pak, awalnya saya takut, saya fikir saya akan bekerja sendirian, tetapi untung ada mas Pieter yang masuk di shift tiga juga, dan kemarin saya banyak mengalami telepon - telepon aneh yang masuk, banyak dari mereka bercerita tentang pembunuhan"Tiba - tiba pak Hermawan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Oh Pieter.... maafkan aku" ucap pak Hermawan membuat Diego tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan."Diego aku akan menceritakan kepadamu sesuatu, tapi kamu harus janji kamu tidak boleh menceritakan kepada yang lain" ucap pak Hermawan"Baik pak""Jadi pada waktu lima tahun yang lalu, saya baru masuk di call centre ini, sama seperti kamu saya juga ditempatkan di shift tiga, tetapi saya tidak sendiri, ada satu orang lagi bernama Pieter, dan pada saat itu rekan - rekan senior sangatlah jahil, karena mereka melihat kami sangat muda dan tidak berpengalaman, suatu malam mereka bermaksud menjahili kami saat sedang bekerja di shift tiga. suasana sedang sepi aku berjaga diruangan ini, dan Pieter sedang ke pantry untuk membuat kopi supaya kita tidak mengantuk" lalu pak Hermawan terdiam sebentar"lalu tiba - tiba lampu mulai hidup dan mati tiba - tiba, dan aku melihat ada banyak bayangan yang berdiri di ruangan kaca tempat kita berisitirahat, tapi tiba - tiba ada telepon masuk aku harus mengangkatnya, dan akhirnya peristiwa itu terjadi" pak Hermawan menahan nafas dan mulai bercerita lagi"senior - senior itu masuk ke ruangan pantry dan mereka menakut - nakuti Pieter,sampai pieter lari ketakutan dan dia terjatuh membentur meja di sisi pantry sampai akhirnya dia meregangkan nyawanya" aku benar - benar menyesal, kenapa pada saat itu aku tidak menemaninya ke pantry, dan senior - senior itu ketakutan dan mereka takut untuk di penjara, sehingga mereka mengubur mayat Pieter di belakang tanah lapang yang sekarang berdiri gudang, dan dia mengancam aku jika sampai rahasia ini terbongkar maka dia akan membunuhku juga.""Setelah kejadian itu semua senior yang terlibat mulai mengundurkan diri satu persatu, dan entah mengapa tidak pernah ada yang mau untuk mengisi shift tiga selain saya..... dan....." tiba - tiba pak Hermawan berhenti bercerita"sudah dua tahun tidak pernah ada shift tiga, baru saat kamu masuk itu diberlakukan kembali"Tiba - tiba Diego merasa ada yang menusuk di dalam dadanya, dia tidak prcaya bahwa kemarin dia ditemani oleh hantu Pieter selama bekerja, dan semua kejadian aneh mungkin berhubungan dengan hal tersebut, dengan dimensi yang berbeda."saya mengerti kalau kamu tidak mau bekerja lagi, setelah mengalami kejadian ini, saya tidak akan memaksa kamu" ucap pak Hermawan"jujur saya kaget sekali pak, tapi pieter itu benar - benar sosok yang baik" dan Diego pun menengok ke arah mejanya dimana masih ada dua cangkir yang berada di sana."dia membuatkan saya kopi pak" matanya menerawang jauhAkhirnya Diego keluar dari kantor dengan perasaan campur aduk, saat masuk ke parkiran motor, dia ingat dia membawa kertas catatan di tangannya, dan ini adalah data semua penelepon yang masuk malam itu, akhirnya Diego pun memutuskan untuk mndatanginya satu persatu"Tok... tok..." pintu rumah kayu beraroma pinus diketok oleh Diegodan dilihatnya seorang perempuan tengah baya berusia lima puluh tahun berada di depannya, kulitnya terlihat pucat seperti orang yang kurang tidur"Anda mempunyai anak perempuan yang tidak pulang ke rumah?" tanya Diego"anda siapa? polisi? kalian sudah menemukan Nanda?" teriak ibu itu histeris"maaf bu, sepertinya roh anak ibu berusaha berkomunikasi dengan saya, dia menceritakan bahwa dia telah dibunuh bu"tiba - tiba badan ibu itu terhuyung, Diego pun membantunya untuk duduk di kursi didalam rumah, dan setelah ibu itu sadar, Diego menceritakan kembali kejadian yang dia alami"Aku sudah menduganya... pacarnya itu memang brengsek" jawab ibu itu sambil menangis histeris"tenang bu, sebaiknya kita lapor ke polisi lebih dahulu" jawab Diego menenangkanLalu Diego mengantar ibu Nanda ke kantor polisi, dan menerangkan kronologis kejadian yang dia alamisemula polisi tidak langsung mempecayainya dan ibu Nanda bersikeras untuk polisi mengecek dulu ke alamat yang diinformasikan oleh Diego.dan akhinya misteri terkuak, mayat Nanda ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan, dia ditelanjangi dan disiksa sekujur tubuhnya, dan polisipun banyak menemukan bukti sidik jari didit disana, siang itu juga Didit ditangkap di depan kampusnya"lalu polisi mengecek lagi ke alamat anak kecil Agnes, dan menginformasikan akan menggeladah area rumah tersebut, papah Agnes sampai pingsan saat menemukan mayat anaknya yang hilang di taman belakang rumahnya, lalu polisi dengan sigap menangkap ibu tirinya di belakang rumah.Dan terakhir kasus Bram, polisi pun, mengorek keterangan dari Tio selama 24 Jam, dan akhirnya Tio pun mengakui perbuatannyaDiego agak sedikit mendesah lega, sepertinya semua tugas yang di minta oleh hantu - hantu gentayangan itu telah terselesaikan, lalu Diego mengingat sosok Pieter sepertinya dia kesepian dan Diego memutuskan untuk terus menjalani shift tiga bersama Pieter.
MISTERI KADO SEBUAH BONEKA
Kado ulang tahun menumpuk rapi di atas meja. Di sampingnya sudah siap kue tart dilingkari dua puluh satu lilin. Hari ini ulang tahunku. Dari jumlah lilin yang disematkan pada kue tart, pasti sudah dapat mengira umurku kini dua puluh satu tahun. Bukan umur yang muda lagi, namun juga bukanlah umur yang sudah tua. Karena aku masih bisa berkarya dan melakukan sesuatu untuk keluarga, nusa, dan bangsa.Pukul tujuh malam pesta ulang tahunku dimulai. Kawan-kawan dengan membawa kado masing-masing sudah datang sejak tadi. Di sinilah kami berada, di ruang tamu yang berukuran tujuh kali enam meter ini. Ruang yang cukup luas untuk menampung kurang lebih dua puluh orang yang meramaikan pesta ulang tahunku.Suasananya cukup meriah, dentuman lagu pop membahana ke seluruh sudut ruangan. Ayah, ibu, dan kedua adik perempuanku ikut meramaikan pesta ini. Lampu-lampu hias berwarna-warni menambah gemerlapnya malam. Pesta ulang tahun yang meriah. Kami bersenda gurau. Dan… tibalah saat aku harus meniup lingkaran lilin di atas kue tart.“Selamat ulang tahun kami ucapkan…” Iringan lagu membuat hasratku terus membuncah ingin segera meniup lingkaran lilin kecil itu.“… Selamat panjang umur dan bahagia! Tiup lilinnya… tiup lilinnya, tiup lilinnya… sekarang juga…”Aku berdo’a di dalam hati sebelum ku tiup lilin. Dan inilah saatnya!“Sekarang juga… sekarang… juga… !”Pet…Seketika lampu mati serentak setelah lilin ku tiup. Sontak semua berteriak, tak terkecuali aku. Bagaimana tidak kaget, jika tiba-tiba saja ruangan sebelumnya begitu terang dengan gemerlapnya lampu pesta seketika padam, begitu pula dengan lilin yang ku tiup.“Ayah cek sekring di luar dulu…” ujar ayahku sedikit cemas.“Wah gelap banget nih…” ujar Ayana, salah satu temanku.“Iya, nih… nakutin!”Tak ingin kawan-kawanku kecewa, aku menyusul ayah yang sibuk mengecek sekring di depan. “Aku susul ayah dulu, ya! Siapa tahu butuh bantuanku.”Adik perempuanku menarik tanganku. “Jangan, Mbak. Biar aku saja. Kan, mbak sedang ulang tahun. Jadi, mbak diam saja di sini.”Aku menyetujuinya. Dan, aku kini menemani kawan-kawanku yang mulai ribut sendiri. Lima menit berlalu, ayah dan adikku belum juga kembali. Kami terpaksa menyalakan kembali lilin-lilin di kue tart ku, agar ada sedikit cahaya yang melegakan pupil mata kami.Puk! Ada yang menepuk pundak kiriku. Sontak aku menoleh. Heran, tidak ada siapa-siapa. Aku agak merinding karena suasana gelap gulita. Aku merapat pada Inna yang duduk di samping kananku. Tak lama kemudian, ayah dan ibuku datang membawa nyala api dari korek api.“Sekringnya terbakar, enggak bisa dibetulkan. Biar ayah panggil tukang listrik saja.”“Aduh, kalau panggil tukang listrik, masih lama dong?” Aku agak sedih. Mengapa ulang tahunku jadi begini?Salah satu kawanku, Hendra, mengusulkan, “Bagaimana kalau kita rayakan ulang tahunmu dengan suasana lilin saja?”“Benar kata Hendra, Mila!” Serentak lainnya menyetujui.Aku mengangguk. “Ya sudah, kalau begitu, kita potong kuenya!”Ibu berdiri. “Oke, ibu carikan lilin yang lebih banyak lagi di dapur.”Pukul 00.30 WIB. Listrik sudah menyala dan kawan-kawan pulang semua. Saatnya aku membuka kado dari mereka. Dua puluh orang dengan lima belas kado. Ada yang berpatungan. Tak apa, penting sudah hadir.Satu per satu aku membuka kado. Ada jam tangan, tas, bantal lucu, hingga boneka yang memiliki tatapan dingin dan menyeramkan!Rambutnya pirang kusut dan kumal. Bajunya kumal. Warna kainnya memudar kekuningan. Kedua tangannya dari plastik dan rapuh. Tangan dan kakinya bisa ditekuk. Wajahnya… pucat kekuningan dengan bibir merah mencolok. Senyumnya tegas dan mengerikan. Matanya bulat biru, seperti menatapku… ingin mencengkeramku.Aku bergidik. Tengah malam di kamar, aku membuka kado terakhir. Bungkusnya merah legam dengan pita hitam. Ada kartu ucapan:“Selamat ulang tahun Mila. Hari ini adalah harimu! Kau akan mendapatkan keinginanmu.”Tanpa nama.Aku cocokkan semua kartu ucapan dari undangan yang hadir, tak ada yang terlewat. Semua yang hadir sudah tercatat. Lalu, dari siapa kado tadi?Lelah memikirkan, aku meletakkan boneka itu ke kotaknya, memasukkannya ke kolong tempat tidur. Lainnya ku letakkan di meja.Aku mengantuk. Menutup mata.Kakiku bergerak-gerak. “Nanti dululah… capek nih…”Namun, guncangan semakin keras. Dingin. Seperti tangan seseorang menyentuh kakiku. Aku bangun—jempolku TIBA-TIBA DITARIK sangat kuat! Sampai persendiannya bunyi.“Aduh! Siapa sih!”Aku membuka mata. Gelap. Jam menunjukkan pukul satu kurang lima menit.Tak ada siapa-siapa. Tapi jempol kakiku masih ngilu…Aku mencoba tidur lagi. Tapi insomnia menyerang. Baru saja selimut ketarik!Ya Tuhan!Aku tak berani membuka selimut. Kupikir hanya mimpi… tapi ngilu jempolku nyata…Pagi. Aku bangun karena rasa perih di lenganku. Darah mengering. Ada goresan panjang membiru.“Astagaaa, Mila!” Ibuku menangis.Adikku memberikan cermin. Wajahku… BERUBAH. Aku menjadi… seperti boneka yang ku dapat tadi malam! Lipstik merah menyala, kulit pucat kekuningan.Aku mencari boneka itu. Kotaknya terbuka. Kosong.Aku menangis. Aku tampak muda! Sangat muda! Bahkan nyaris seperti gadis kecil berwujud boneka. Apa ini jawaban doaku semalam? Bahwa kuingin tetap muda seperti gadis kecil. Dan kini…?TAMAT
MIDNIGHT SALE HOROR
Bianca seorang artis ternama berusia 25 tahun, dengan kulit putih, tinggi dan memiliki tubuh yang proporsional untuk dilihat, saat ini Bianca sedang berada di puncak karirnya, semua fans myengaguminya, stasiun Televisi pun hampir semua mengundang Bianca untuk datang ke dalam program acara mereka, bisa di bilang Bianca adalah Super Star dan Bianca sangat senang berbelanja, terutama Midnight Sale, karena menurut Bianca berbelanja di malam hari memiliki sensasi yang luar biasa, dibandingkan jika Bianca ke tempat hiburan malam atau tempat makan.Hari ini Bianca selesai melakukan syuting video klipnya sampai jam sepuluh malam, dan Bianca pun bersiap - siap untuk pulang ke apartemennya yang berada di bilangan Jakarta Selatan, Bianca menyetir sendiri kendaraan SUV miliknya, tetapi kondisi jalanan hari itu sangat melelahkan, Macet dan tidak bergerak sama sekali.Saat Bianca merasa putus asa, Bianca melihat ada gang sempit yang tidak terlihat oleh kendaraan lainnya, tetapi gang tersebut cukup untuk jalan dengan kondisi kendaraan yang dimilikinya, merasa frustasi dengan kondisi jalan saat itu, Bianca pun langsung membelokkan setir masuk ke dalam gang tersebut, setidaknya mobil tetap bergerak tidak statis seperti kondisi jalanan tadi, fikir Bianca.Tidak berapa lama Bianca menemukan jalan keluar dari gang dengan jalan yang lebih besar, "Akhirnya" fikir Bianca, kondisi jalan ini sangat sepi berbeda dengan jalan utama tadi, tetapi Bianca belum pernah melewati jalan ini, fikir Bianca tapi Bianca terus menginjak gas kendaraannya, ini Jakarta tidak mungkin a.ku tersasar, fikir Bianca.Tiba - Tiba Bianca melihat sebuah tempat besar dengan lampu yang bersinar terang, setelah Bianca dekati ternyata itu adalah Mall, besar dan mewah terlihat lebih seperti istana di bandingkan dengan Mall biasa, nama Mall tersebut adalah MALL DARKLAND dan anehnya Bianca belum pernah ke Mall ini sebelumnya.HAmpir Bianca menginjak gas mobilnya kembali, tiba - tiba Bianca melihat media promosi yang besar untuk Mall tersebut, "MIDNIGHT SALE if your lucky you get all Item Free".Bianca langsung menyetir mobilnya untuk masuk ke dalam parkiran Mall tersebut.Parkir mobil di Mall tersebut cukup ramai, hanya saja yang membuat Bianca bingung kenapa semua mobil yang terparkir adalah mobil - mobil klasik seperti di era lima puluhan, tapi ya sudahlah fikir Bianca, kalangan yang ada di Mall ini pasti kalangan yang mewah dan menyukai hal - hal yang antik, fikir Bianca sambil mencari tempat untuk memarkir mobilnya.Setelah turun dari mobil, Bianca disambut oleh petugas di Mall tersebut, dengan seragam tempo dulu seperti prajurit kerajaan, "Oke" fikir Bianca mungkin ada tema untuk midnight sale kali ini, yaitu dengan memakai kostum Zaman dulu.Memasuki Lobby Mall tersebut sangat mewah, bahkan seperti istana yang mewah, semua lampu kristal, bangunan yang besar, dan semua dihias dengan dekorasi istana, tidak ada tangga jalan atau lift, yang terlihat tangga - tangga tinggi seperti di kastil - kastil kerajaan.Setiap Toko memajang sepatu dan baju yang mewah dan menarik,banyak pengunjung wanita yang datang di acara tersebut tetapi barang yang dijual dan baju yang mereka pakai seperti Zaman di era lima puluhan."Baik untuk pengunjung di Mall DARK LAND, segera bersiap - siap untuk berbelanja sepuasnya" ucap MC yang ada didalam Mall tersebut, dengan kostum baju satria yang dipakainya"semakin banyak berbelanja, semakin banyak kesempatan untuk mendapatkan hadiah yang menarik" seru MC tersebutBianca senang sekali membeli sepatu, dan dia melihat ada sepatu berwarna emas, yang pasti akan cocok dengan kostum baru yang dibelinya saat di New York kemarin, Waktu berjalan cepat dan Bianca tanpa sadar sudah membeli banyak sekali barang malam itu, Sepatu, baju, Tas, dan Aksesoris, karena menurut Bianca semua barang - barang tersebut terlihat menarik dan vintage, pasti akan sangat keren kalau aku pakai fikir Bianca.Tetapi anehnya setiap pengunjung yang datang, berbelanja dengan kesunyian, tetapi mereka juga sama seperti Bianca membeli banyak barang.Akhirnya waktu Midnight Sale telah berakhir, dan MC tadi pun sudah menutup acara hari itu, Bianca segera pergi ke parkiran, dan menuju mobil untuk kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah, saat Bianca sudah keluar dari area Mall tersebut, sekitar seratus meter, ada Bapak - bapak tua mengahadang mobil Bianca.Bianca ketakutan, tetapi Bapak tua tadi menghadang mobilnya dan meminta Bianca membuka jendela mobilnya, akhirnya Bianca pun membuka jendela mobil."Maaf pak ada yang bisa saya bantu?" ucap Bianca sopan"Justru saya yang ingin bertanya kepada ibu, ada yang bisa saya bantu? karena sepertinya ibu tersesat""Tersesat? tidak pak saya ingin pulang ke rumah" jawab Bianca"apa yang ibu lakukan disini?" tanya bapak tua tadi"saya hanya habis berbelanja sebentar pak, sekarang saya sudah mau pulang" jawab Bianca bingung"Belanja? dimana ibu belanja?" tanya bapak tua itu lagi"di Mall......" sambil Bianca menunjukkan arah Mall tadiBianca sangat kaget dengan apa yang dilihatnya,,,, ternyata tidak ada Mall yang tadi dia masuki, yang ada hanya lahan kuburan belanda dengan ornamen khas eropa yang luas dan sepi...Tiba - tiba Bianca merasa merinding, dia melihat hasil belanjaannya di belakang kursi mobilnya, dan semua masih ada, utuh, tidak ada yang hilang....."Hati - hati mba" ucap bapak tua tadi"Ini Malam Jum'at Kliwon........"
Hikiko
Tercatat dalam sejarah, Hikiko adalah gadis kecil yang selalu menyeret bonekanya. Namun, setelah didekati, ternyata yang diseret bukanlah boneka, melainkan mayat manusia.Menurut catatan yang beredar di Jepang, Hikiko tewas mengenaskan karena sebuah penyiksaan. Ia kerap kali dirisak, ditindas, dan disiksa oleh orang tua maupun teman-teman di sekolah. Tidak ada alasan lain mengapa mereka berbuat hal sekejam itu. Hanya karena Hikiko berperangai aneh, juga rambut panjang yang menjuntai sampai lutut.Betapa ia membenci angka 2020. Konon katanya, angka tersebut adalah angka kematian. Di mana, gadis kecil itu tewas pada jam 20:20 malam. Terdengar tidak masuk akal, namun setelah membaca kabar ini, kamu akan menyesal tidak mempercayainya.Tanggal 11 Januari 1987, seorang gadis cantik bernama Haruka ditemukan tertidur tanpa kepala. Ia tinggal sendirian di kamar dengan nomor 2020. Pada tanggal 20 Oktober 1996, Arata Nakagawa tewas dengan anggota tubuh terpisah saat menulis angka 2020. Dan masih banyak lagi daftar kematian yang tercatat. Terhitung sudah 2019 jiwa yang tewas dengan sebab yang belum diketahui. Mereka menduga, angka tersebut dapat memanggil si hantu kecil Hikiko.Aku bergidik ngeri, seseram itukah angka 2020? Mengingat banyak mitos-mitos yang beredar, sepertinya hantu Hikiko juga hanya sekadar mitos. Biasanya, para orang tua jaman dulu sering bercerita seram untuk menakut-nakuti anaknya yang susah tertidur. Jika memang Hikiko itu nyata, di tahun ini pasti akan memakan banyak korban.Di malam yang hampir larut ini, perutku malah susah diajak kompromi. Mulas, seperti diremas-remas. Padahal, hanya makan sedikit cabai. Dasar lemah, pedas sedikit saja minta dikeluarkan. Untung saja, lampu kamar tidur hingga jalan menuju kamar mandi lumayan terang. Kelihatan sekali kalau aku penakut, terutama fobia kegelapan. Mati lampu sekejap saja rasanya ingin berteriak.“Mama, temani aku ke kamar mandi!” teriakku.Beberapa menit kemudian, aku menepuk jidat. Ah, lupa kalau Papa dan Mama pergi ke luar kota. Untuk malam ini, harus berani ke kamar mandi sendiri.Akhirnya, selepas bergelut dengan perut, rasanya lega. Lebih lega lagi tidak ada hal yang menakutkan terjadi. Mungkin aku yang terlalu berpikir negatif. Sampai kembali ke kamar, kunyalakan lampu tidur. Bulu kuduk tiba-tiba meremang.**“Selamat pagi, Ayumi!” sapa Naomi saat aku duduk di bangku kelas.“Pagi!”Ah, anak ini, sangat antusias sekali menyapaku. Naomi dikenal sebagai siswi paling cantik dan juga pandai. Dengan sedikit kepolosan dan keluguannya, membuat ia tampak lucu seperti anak kecil. Umurku tak jauh beda dengannya. Naomi berusia 15 tahun, hanya terpaut satu tahun lebih muda dariku.Bel sekolah sudah berdering. Sensei Kitaro masuk dan memulai pelajaran.Entah mengapa rasanya membosankan di kelas ini. Sensei Kitaro adalah tipe guru dengan sistem mengajar yang santai. Berkali-kali aku menguap, dan berusaha menahan kantuk.“Ayumi!”Panggilan itu mengagetkanku. Rasa kantuk hilang ketika sensei melotot tajam. Kena, lagi.“Basuh wajahmu. Jangan tertidur di jam pelajaran saya!” sentaknya.Meskipun orangnya santai, tetap saja, ia risi dengan murid yang berleha-leha di kelasnya. Terpaksa, aku bangkit dan beranjak keluar kelas. Sekolah tampak sepi saat jam pelajaran dimulai. Biasanya, hanya ada satu atau dua orang saja yang keluar, untuk sekadar pergi ke toilet.Ketika mencuci tangan di wastafel, seketika terlonjak melihat air berubah menjadi cairan merah kental. Kaki mundur selangkah demi selangkah. Kemudian, menatap ekspresiku sendiri di pantulan cermin. Sekelebat bayangan kecil tiba-tiba melesat dari belakang. Kaki gemetar hebat sesaat sebelum siswi lain masuk. Cairan merah yang membanjiri wastafel, kembali menjadi bening seperti semula.Apa tadi hanya halusinasi? Tidak mungkin!Aku kembali ke kelas sambil lari terbirit-birit. Orang-orang menatap heran. Tapi, aku tak pedulikan itu. Hal mengerikan tadi lebih mengganggu di pikiran.**Sial sekali, tugas sekolah menumpuk mengharuskanku berkutik dengan buku-buku. Kalau saja besok tidak dikumpulkan, malas sekali untuk menyelesaikannya malam ini. Kutulis tanggal di bagian atas catatan tugas. Sempat termenung beberapa detik untuk mengingat tanggal hari ini.“Ah, iya. Sekarang ... tanggal 20 Januari 2020,” ucapku bermonolog.Baru sampai jam 20.00, mataku terserang rasa kantuk. Bahkan, hampir terjungkal dari kursi. Meski begitu, kupaksakan tetap terbuka sambil memakan camilan.Gelap.Tiba-tiba, lampu kamar mati tanpa sebab yang jelas. Padahal, tidak ada hujan ataupun angin. Apa lampunya rusak? Sesaat kemudian, kamar terang kembali. Aku dapat bernapas lega. Namun, terasa ada sesuatu yang janggal. Ke mana tanggal yang kutulis tadi?Aku tercekat. Angin yang besar masuk ke dalam kamar, sampai gorden ikut berseliweran. Kertas-kertas tugas terbang berhamburan. Bukannya cepat-cepat menutup jendela, aku justru terduduk dengan kepala menelungkup. Tubuh gemetar hebat, jantung berdegup tak beraturan. Ditambah, angin yang menggelabur membuatku semakin menggigil. Tuhan, tolong aku!Sampai akhirnya, embusan angin berhenti perlahan. Sebelum kututup jendela rapat-rapat, sebuah kertas kecil mendarat di meja. Aku bergidik ngeri. Namun, bermodalkan rasa penasaran yang kuat, kudekati meja selangkah demi selangkah. Betapa membuatku terbungkam, angka 2020 tercetak jelas dengan noda darah.Seorang gadis kecil melotot ke arahku dari jendela. Ia tertawa dengan deretan gigi yang hitam. Rambut panjang menjuntai sampai lutut. Wajahnya sulit digambarkan karena hancur tak berbentuk.Panas dingin menjalar ke seluruh tubuh. Rasa takut menyerang hebat sampai membuatku terkulai lemas. Lidah seakan kelu, semua terwakili oleh air mata yang membanjiri. Sekadar bernapas pun, begitu sesak dan pengap. Bahkan, detak jantungku sendiri dapat terdengar.Gadis itu mendekat sambil tertawa. Menyeret-nyeret boneka penuh noda darah. Kupaksakan kaki ini berdiri, menggapai pintu yang tak jauh dariku.Terkunci!Kugebrak-gebrak berkali-kali. Namun nihil, pintu seolah terkunci rapat dari luar. Aku menangis tersedu-sedu. Ternyata benar, Hikiko bukanlah mitos hantu belaka. Dia benar-benar ada. Mendatangi kamar, dan siap mengantarku pada malaikat maut.“Kumohon ... jangan sakiti aku,” lirihku sambil terisak.Tetapi, gadis itu malah menarik bibir, tersenyum menyeringai. Aku menelan saliva dengan susah payah. Tiba-tiba, leher tercekik hingga kaki tak menyentuh lantai. Tuhan, tolong ....Bruk!Tangan yang mencekik leher, terlepas. Tubuh jatuh tersungkur membentur lantai. Rambut panjang itu, menyapu wajahku. Terlihat rupa wajahnya yang menyeramkan. Aku sulit bernapas, ketakutan yang menyerang begitu menyesakkan.“Dua ribu dua puluh,” ucapnya samar-samar.Apa maksud yang dia katakan?Aku baru tersadar, kulirik jam dinding yang berdenting. Sekarang adalah tanggal 20, tahun 2020, dan tepat jam 20:20. Atau mungkin ... ah, jangan sampai terjadi!Matanya yang hampir terlepas, melotot tajam ke arahku. Jarak kami hanya sekitar lima senti. Sangat dekat, nyaris menempel. Aku tak dapat melakukan apa-apa. Seakan tubuh ini, ada yang mengendalikan. Darah segar keluar dari mulutnya. Tepat mengucur ke wajahku. Bau anyir dan busuk menyatu padu hingga membuatku mual.Hanya sedetik, sesuatu tampak masuk ke dalam perut. Tangan mungil itu mengoyak organ-organ di dalamnya. Inikah isyarat yang dia katakan? Aku adalah korban yang ke-2020. Menyesal tidak mempercayainya. Harusnya aku sudah tertidur di jam ini. Menggeluti dunia mimpi, tanpa mengundang hantu si kecil Hikiko. Tubuhku terseret meninggalkan jejak darah di lantai. Sebelum nyawa terlenggut, kupesankan agar cepat tertidur sebelum jam 20:20 malam. Jangan menulis angka tersebut, memilih, atau apa pun yang berhubungan dengan 2020.Hikiko itu nyata. Tolong percayalah, atau kau akan menjadi korban yang ke-2021. Gadis kecil itu akan datang ke kamarmu, dan siap menggorok leher hingga terputus.
Jam Berdentang
Kira-kira satu bulan yang lalu, Ayahku membawa sebuah jam bandul besar—seukuran lemari—ke ruang tamu. Ia bercerita bahwa jam itu dibelinya dari seorang kakek tua yang hidup sebatang kara. Kakek itu menjual jam tersebut karena sangat membutuhkan uang. Ayahku membeli jam bekas itu seharga enam ratus ribu rupiah.Suatu malam, saat kami sedang makan malam bersama, tiba-tiba jam itu berdentang. Anehya, dentangannya tidak sesuai dengan waktu yang ditunjukkan. Ketika jam menunjukkan pukul 08.00, jam itu justru hanya berdentang dua kali. Aku berpikir jam itu rusak, karena setahuku jam bandul seharusnya berdentang sesuai jumlah jam.Aku menyarankan agar Ayah menjual atau membuang jam itu. Namun Ayah menolak. Ia justru berpesan agar kami jangan pernah menjual atau membuang jam itu, bahkan setelah ia tidak ada di dunia ini. Saat itu aku heran, karena Ayah jarang sekali berbicara soal kematian.Delapan hari setelah kejadian itu, kabar buruk datang. Ayah meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.---Setelah Ayah meninggal, jam itu tetap berada di ruang tamu, namun tidak kami gunakan lagi karena baterainya habis. Suatu malam, saat makan malam, Ibu meminta kakakku untuk membeli baterai baru. Keesokan harinya, sore yang cerah, aku dan kakakku membersihkan jam itu dari debu, lalu mengganti baterainya.Ketika jam itu kembali menyala, dentangannya terdengar normal sesuai waktu. Namun keesokan paginya, saat kami sarapan, jam itu berdentang tiga kali ketika waktu menunjukkan pukul 07.00. Firasatku langsung buruk. Aku hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja.Tapi doa itu tidak terkabul.Beberapa hari kemudian, Ibu jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit. Ia meninggal dunia pada bulan Maret.---Kematian Ayah dan Ibu adalah pukulan terberat dalam hidupku. Berhari-hari aku hanya bisa menangis di kamar, merindukan mereka, dan berdoa agar mereka bahagia di alam sana.Suatu hari, saat aku sendirian, bel rumah berbunyi. Ternyata tanteku datang bersama suami dan anaknya. Ia membawa bahan-bahan pokok serta uang lima ratus ribu rupiah untuk membantu kami. Ia juga memberi nasihat agar aku tetap tabah.Sore harinya, aku membagi uang itu dengan kakakku. Namun malamnya, ketika kami makan bersama, jam itu kembali berdentang tiga kali, padahal jam menunjukkan pukul 09.00. Aku langsung sadar bahwa jam itu tidak normal.Aku berkata pada kakakku bahwa jam itu mungkin terkutuk.Kakakku menolak percaya. Ia bilang semuanya hanya kebetulan. Tapi aku mengingat sesuatu:Sebelum Ayah meninggal, jam itu berdentang dua kali pada pukul 08.00 malam. Ayah meninggal delapan hari setelah dentangan itu.Saat Ibu meninggal, jam itu berdentang tiga kali pada pukul 07.00, dan Ibu meninggal tujuh hari setelahnya.Kakakku masih menyebutnya kebetulan. Aku hanya diam.---Keesokan harinya, kakakku mendapat telepon dari suami tanteku. Suaranya sangat sedih. Ia memberi tahu bahwa sepupu kami, Sella, yang berusia sepuluh tahun, meninggal dunia tanpa sebab. Kami pun menghadiri pemakaman kecil itu. Tanteku tampak tegar, tapi aku bisa merasakan hatinya rapuh.Sepulang pemakaman, aku mengambil palu di dapur. Aku berdiri di depan jam itu, berniat menghancurkannya. Namun kakakku tiba-tiba muncul di belakangku. Ia berkata bahwa jika aku menghancurkan jam itu, berarti aku tidak menghargai pesan Ayah.Dengan kesal aku menjawab bahwa jam itu membawa sial dan terkutuk.Tanpa peringatan, kakakku menamparku sangat keras.Ia lalu mengejekku, menyebutku bodoh karena percaya jam itu terkutuk. Mendengar ejekannya, amarahku memuncak tanpa kusadari. Aku berjalan ke dapur, mengambil palu yang tadi, lalu melemparkannya ke wajah kakakku.Ia tersungkur ke lantai.Dalam keadaan panik, aku memungut palu itu lagi dan memukulkannya berulang kali ke kepalanya sampai ia tewas berlumuran darah.Saat itulah aku sadar… akulah yang membuat kutukan itu menjadi kenyataan.---Tiba-tiba jam itu berdentang tiga kali pada pukul 01.00 malam. Lalu terdengar suara tawa seorang perempuan—tawa yang mengerikan, bahagia, namun membuat seluruh tubuhku merinding.Ketika kakakku akhirnya terdiam untuk selamanya, aku memutuskan menjual jam itu. Aku memotretnya diam-diam dan memasang harga murah, dua ratus ribu rupiah, di toko online.Namun setelah kupasang, jam itu kembali berdentang tiga kali—tepat pukul 01.00.Firasatku langsung buruk.---Keesokan harinya, ada pesan dari calon pembeli. Ia bilang akan datang hari itu, tanpa menyebut jam berapa. Aku menunggunya. Sore hari, pembeli itu datang dan melihat-lihat jamnya.Tak lama kemudian, kakakku (yang masih hidup pada bagian ini dalam ceritamu—jadi ini flashback sebelum ia tewas) pulang dan bertanya siapa pemuda itu. Aku menjelaskan bahwa ia pembeli jam tersebut.Kakakku marah besar dan mengusir pembeli itu.Setelah itu ia memarahiku habis-habisan.Kemudian… terjadilah kejadian yang membuatku masuk penjara: pertengkaran, palu, darah, dan kematian kakakku.Besoknya aku menyerahkan diri ke polisi. Aku mengaku semua perbuatanku.---Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku dibebaskan dari sel tahanan. Kini aku sudah dewasa, berusia sekitar tiga puluh tahun. Ketika kembali ke rumah, semua jendela berdebu dan jam itu tampak tidak lagi berfungsi.Hari itu juga aku memotret jam itu lagi dan menjualnya di toko online. Ada orang yang ingin membelinya seharga enam ratus ribu rupiah.Aku bersyukur jam itu akhirnya pergi dari rumah ini. Aku tidak menceritakan kutukan jam tersebut kepadanya—kalau kuceritakan, tentu ia tak akan membelinya.Dan kini… jam sial itu sudah tidak ada di rumahku.Hanya saja…Aku merasa rumah ini jauh lebih sepi daripada sebelumnya.Sangat sepi.---END
KEPRIBADIAN GANDA
Malam ini, lagi-lagi kurasakan hal aneh dan bau busuk yang menyeruak di setiap sudut jalan. Hawa dingin dan suara gonggongan anjing bersahutan menambah kesan seram. Bulu kudukk meremang, netra memicing di bawah cahaya yang temaram.Aku tidak takut. Kukatakan sekali lagi aku tidak takut. Kupercepat langkah menyusuri jalan yang gelap dan pekat. Tidak ada sumber cahaya yang membantu, bahkan bulan seakan takut memancarkan sinar."Hei!"Aku berbalik dan mendapati seorang gadis seusiaku. Dia berjalan mengendap-endap menghampiriku. Wajahnya terlihat waspada dan ketakutan. Tangannya tiba-tiba membekap mulutku lalu berbisik."Sstt ...! Kau ke sini lagi Luna? Sudah kuperingatkan jangan ke sini. Ah, sebaiknya aku mengantarmu pulang," bisiknya.Aku tidak bergeming. Bagaimana bisa dia memanggilku Luna? Aku merasa tidak memiliki nama itu sebelumnya."Kenapa kau diam saja? Di sini berbahaya, ayo kita pulang!"Gadis itu menarikku keluar dari jalanan yang gelap. Mulutnya tak henti-hentinya mengoceh. Entah apa yang dia maksud, aku tak mengerti.Aku terbangun mendengar siulan burung di luar sana. Berkali-kali kukejapkan mata memastikan tempat ini adalah kamarku.Lagi, setiap pagi kudapati kedua tangan dan kaki terikat ke sisi ranjang. Aku berteriak, meronta, menangis, dan tiba-tiba terbahak-bahak sendiri. Hingga datang seorang wanita paruh baya membawa nampan dan sekotak obat."Luna, makan dulu ya Sayang ... habis itu minum obat. Ibu masak menu yang enak loh hari ini."Wanita itu membelai rambutku dan menatapku sendu. Ada drama apa ini? Aku kenapa? Aku sakit apa? Wajahnya mirip sekali dengan sosok yang ada di foto. Dia tengah menggendong gadis kecil waktu itu."Lily mengantarmu pulang semalam. Dia melihatmu berjalan sendirian di jalanan gelap. Luna Sayang, kalau kamu ingin keluar, bilang sama Ibu ya ...," tuturnya sambil tersenyum.Aku membisu, tak pernah kulontarkan sepatah kata pun setiap dia berbicara. Bagiku dia sangat asing, tapi mengapa dia begitu peduli terhadapku?***Kutengok dua remaja seusiaku dari balik jendela. Mereka mengenakan seragam yang sama, dan menggendong ransel di punggung. Aku menatap diriku dari pantulan cermin. Lusuh dan ... menjijikkan. Mengapa aku tak seperti mereka? Bukankah seharusnya aku sekolah?Kubuka lemari pakaian yang telah usang. Banyak debu di setiap pakaian yang menggantung. Kamarku berantakan sekali dan tak terurus. Kata ibu, aku yang mengacak-acak kamarku sendiri dan mengamuk.Beberapa seragam sekolah tertata rapi di lemari. Bahkan masih terlihat cantik dan menarik. Hiasan dasi pita di kerah lehernya dan rok pendek lucu bermotif kotak-kotak.Tiba-tiba kepalaku pening seakan ada yang menghantam. Tubuhku terjungkal dan membentur lantai.Aku terbangun di sebuah tempat yang asing. Kakiku terpasung dengan banyak darah yang mengucur. Sadar, aku berada di balik jeruji besi. Datang seorang wanita menangis dan meneriaki namaku dari balik sel."Luna ... Ibu menyayangimu!"Itulah kalimat yang diucapkannya sebelum seorang pria yang kuduga adalah penjaga tahanan menariknya kasar. Nafasku tersengal-sengal. Sekelebat bayangan kejadian melintas di kepalaku."Hei!"Suara gadis itu terdengar lagi. Lily menarikku kasar. Dia menggenggam tanganku dan membawaku pulang. Gadis itu kembali mengadu pada ibuku. Aku mengamuk. Mengacak semua barang yang ada. Lily mengambil gulungan tali. Tangan dan kakiku terikat di ranjang. Mereka pergi, meninggalkanku di ruangan yang gelap ini."Luna," panggil seorang perempuan cantik membawa nampan berisi makanan.Dia membuyarkan lamunanku. Ingatanku kembali kacau. Ah ... aku menjerit merasakan sakit seperti ada yang mengacak-acak isi otakku."Luna, tenanglah!"Perempuan itu menggoyangkan bahuku pelan. Dia tersenyum manis. Manik matanya sangat meneduhkan."Makanlah dulu, kau pasti sangat lapar," ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi."Tidak!"Aku menangkis tangannya membuat sendok terlempar dan nasi berceceran di lantai.Dia memungut sendok yang tergeletak, lalu mengelapnya. Dia sangat penyabar. Meskipun begitu, dia tetap menatapku ramah."Luna, aku tahu kau sangat tertekan," ucapnya seraya mengelus rambutku.Aku membisu, cukup menyimak setiap kalimat yang diucapnya. Sesekali mengangguk atau menggeleng sekedar merespons. Dia bercerita banyak tentang kisah hidupnya. Namanya Naila, bekerja sebagai pelayan rumah sakit jiwa."Kak, bagaimana aku bisa berada di sini?" tanyaku lirih."Ah, kau tidak ingat? Pasti sangat sulit memiliki kepribadian ganda.""Sesuai informasi yang aku dengar, semalam kau membunuh temanmu. Dan beberapa jam yang lalu, ditemukan tumpukan mayat dengan bagian tubuh yang berserakan di pinggiran jalanan gelap. Dari mayat tersebut ditemukan sidik jari yang sama denganmu," jelasnya panjang lebar.Aku menaikkan alis. "Maksudmu Lily? Dan bagaimana bisa aku membunuh banyak orang?" tanyaku lagi.Naila menghela nafas lalu mengangguk. "Kau mencekik Lily dengan tali, lalu merobek mulutnya. Dan mayat di pinggir jalan itu, katanya setiap malam kau selalu ke sana sehingga diduga kau memutilasi setiap orang yang lewat dengan kapak.""Sudah, cepatlah makan, akan kuceritakan lagi nanti," sambungnya.***Aku berjalan di tengah malam yang sunyi di antara jalanan yang gelap dan hawa dingin yang menyeruak. Suara geretan kapak melengking indah, menggesek ke setiap bahu jalan.Cerat!Cipratan cairan anyir menodai pakaianku. Jalanan tampak manis dengan lumuran darah yang merembes dari kepala manusia yang baru saja kutebas. Tak sempat kudengar teriakan nyaring yang menurutku bagaikan alunan melodi.Kepalanya tersangkut pada kawat-kawat pagar. Lidahnya menjulur keluar dengan mata yang hampir terlepas. Sedang tubuhnya telah kucincang dan dikemas ke dalam kantong keresek. Ini adalah hadiah khusus untuk ibuku di rumah.Tak terhitung berapa banyak daging yang kusumbangkan pada anjing-anjing liar. Mereka terus saja menggonggong sebagai ucapan terima kasih padaku.Setiap malam, Lily selalu merusak kesenanganku. Aku belum selesai bermain. Tak tanggung-tanggung kuayunkan kapak ke paha kirinya. Dia meraung, meronta-ronta dan menyeret kakinya. Ini adalah pertama kalinya aku bermain dengan Lily.Aku menyeringai, tersenyum puas dengan keadaannya sekarang. Tubuh cantiknya telah cacat dengan bacokan yang kubuat. Lily memekik, berteriak meminta tolong. Percuma, tak akan ada yang mendengar."Kau berteriak sama saja mengundang anjing-anjing liarku," ucapku menyeringai."Berhenti Luna! Aku temanmu!""Aku bukan Luna!"Kemarahanku tak terkendali. Dia baru saja membangkitkan emosiku. Lily terlihat panik melihat arah kapak yang kuayunkan."Aaaahhh ...," rintihnya keras."Itu tak seberapa Lily, ini baru dimulai!" ucapku lalu tertawa hambar.Kulirik segulung tali menggantung di sisi tas kecilnya. Tali itu ... untuk mengikatku setiap malam. "Kau harus menerima pembalasanku Lily!" pekikku.Lehernya tercekik, kedua tangannya berusaha merenggangkan tali. Lihat, dia seperti seekor anjing yang sekarat. Kedua kakinya meronta-ronta. Tapi apa boleh buat, kematian menjemputnya.Aku pulang. Tubuhku tak lagi terikat. Kudapati kedua kakiku dipasung. Aku berada di balik jeruji besi. Tuhan, apa yang telah kuperbuat?
Penghuni Rumah Terbengkalai
Cerita ini terjadi sudah sangat lama, saat aku melakukan salah satu hal paling bodoh dalam hidupku: mengunjungi sebuah rumah terbengkalai. Aku pergi ke sana sendirian karena tidak ada satu pun temanku yang berani ikut. Terlalu banyak cerita menyeramkan dan kabar aneh yang katanya pernah terjadi di rumah tua itu.Rumah itu tidak jauh dari rumahku. Jika berjalan kaki butuh sekitar sepuluh menit, namun waktu itu aku mengendarai sepeda, jadi kurang dari lima menit aku sudah sampai di depan rumahnya.Sesampainya di sana, terlihat jelas rumah itu sudah lama terbengkalai. Temboknya berlumut, pagarnya berkarat, dan pekarangannya dipenuhi tanaman liar yang tumbuh tak terurus.Aku datang karena mendapat pesan dari seorang kenalan. Ia meminta tolong untuk mencari sebuah benda yang tertinggal di dalam rumah itu. Saat membaca pesannya, aku sempat bertanya-tanya betapa bodohnya orang itu meninggalkan sesuatu di tempat seperti ini. Namun karena aku penasaran, akhirnya aku tetap berangkat.---Setelah memasuki rumah itu, aku langsung naik ke lantai atas. Ruang pertama yang kudatangi adalah kamar mandi. Begitu membuka pintu, hawa panas menyergapku.“Ya Tuhan, panas sekali di sini… Sudah berapa lama kamar mandi ini ditutup?” gumamku.Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Aku mencoba cuek dan keluar untuk menuju kamar lain yang belum sempat kukunjungi.Kamar pertama di lantai atas tampak seperti kamar tidur milik sepasang suami istri. Ada bingkai foto pernikahan, namun wajahnya sudah buram dimakan usia. Di dalam laci aku menemukan pakaian dan beberapa lembar kertas berisi materi pelajaran. Di lemari hanya ada pakaian rusak entah karena siapa.Aku lalu menuju kamar terakhir. Saat membuka pintu, firasatku benar: ini adalah kamar anak perempuan pasangan itu. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar, ada cermin kecil yang bingkainya sudah kusam.“Syukurlah… semoga di rumah ini tidak ada mayat,” ucapku lirih.Tapi lagi-lagi, suara benda jatuh terdengar dari arah belakangku. Aku terdiam sebentar lalu memilih untuk tetap melanjutkan pencarian benda yang dimaksud kenalanku.---Aku turun ke lantai bawah, masuk ke ruang kerja di sebelah dapur. Rak bukunya penuh dengan buku-buku tua yang menguning. Namun seperti sebelumnya, benda yang kucari tidak kutemukan.Aku menuju kamar mandi kecil di bawah. Cerminnya masih utuh, meski bingkainya penuh noda garis kusam.Keluar dari kamar mandi, aku kembali naik ke lantai atas. Sepanjang tangga, kulihat foto-foto keluarga itu yang sudah memudar. Jika ke tempat seperti ini, seharusnya aku memakai masker dan sarung tangan, pikirku.Saat memasuki salah satu ruangan, tiba-tiba aku melihat sebuah benda tergeletak di lantai.“Apa ini…?”Saat aku memungutnya, suara benda jatuh kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Degup jantungku meningkat. Aku memutuskan sudahi semuanya dan segera keluar. Namun saat berjalan menuju pintu, kudengar langkah kaki seseorang dari arah atas.Masalahnya… rumah ini tidak memiliki loteng.Atau mungkin sebenarnya rumah ini memiliki loteng?Entahlah. Ada hal-hal yang memang lebih baik tidak kucari tahu.---Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku bertemu kenalanku di sebuah kafe kecil saat hujan lebat. Ia datang menggunakan gaun merah panjang, terlihat cantik.“Kotak waktu itu… kau menemukannya?” tanyanya.Aku mengangguk lalu menyerahkan benda yang kutemukan di rumah itu. Ia bilang benda itu adalah miliknya sejak kecil. Setelah itu, aku menceritakan pengalamanku memasuki rumah tersebut—tentang sosok di kamar mandi yang ternyata adalah pembantu yang tewas tertembak, noda merah di cermin yang ternyata darahnya, lalu sosok di kamar tidur yang merupakan ayahnya, dan terakhir sosok ibu yang merindukan putrinya.Ternyata semua cerita menyeramkan tentang rumah itu memang benar. Dengan mataku sendiri aku melihat para PENGHUNI RUMAH TERBENGKALAI.Setelah menyerahkan kotak itu, aku pulang. Di tengah hujan, aku berjalan tanpa payung karena aku benci jika ada “sosok” yang menumpang di bawah payungku.---Rumah terbengkalai itu ternyata memiliki masa lalu kelam. Satu keluarga beserta pembantu mereka dibunuh secara kejam, namun putri mereka berhasil selamat dan kini tinggal bersama neneknya di Belanda.Namun ada satu hal yang tidak kuceritakan kepada gadis itu: di loteng rumah itu—yang katanya tidak ada—aku menemukan jasad sang pelaku, tergantung.Yang jadi pertanyaanku… mengapa para penghuni rumah itu belum pergi?Apakah mereka ingin menjemput sang putri?Ketika aku meninggalkan kafe, dari kejauhan aku melihat kenalanku berjalan. Tapi aku juga melihat tiga sosok lain mengikuti di belakangnya—tiga sosok penghuni rumah terbengkalai itu.---END
Arganta
laki-laki kesepian yang mencari rumah untuk pulang. Kakinya lemas saat pisau menancap ke tubuh seorang gadis dia sebut Isyana. Gadis itu dia bunuh dengan tangan dinginnya.Malam mencekam kilat menyambar Arga berhasil melancarkan aksinya. Keluar dari apartemen yang dia sewa Arga memakai masker agar tidak ketahuan. “Sebaiknya gue pergi!”Masuk ke dalam mobil, dia senang berhasil melukai gadis itu. Tapi tangisnya semakin kencang. Tertawa sepertu orang gila.Di hari berikutnya dia bertemu Isyana. Dia seorang mahasiswi pintar, cuma punya satu teman Ilona. Dan Isyana benci sekali sama laki-laki makanya dia ilfeel mendekati laki-laki manapun.Sampai Arga meminta nomornya. “Gue mau nomor lo?” “Gak akan gue kasih anjir, lo orang gila.” “Sejak kapan gue gila? Bisa kasih penjelassan?” “Dari sorot mata lo ada sesuatu? Gue ngeliat lo itu seiko.” “Cih stress lo, di baikkin salah.” Arganta tidak peduli pada stetment gadis itu. Ia mendekati Kimberly mangsanya ini cukup empuk, dia badgirl broken-home.“Lo laper gak ke kantin bareng yuk?” Mereka sekarang ada di kantin Nusa Pelita kampus dengan ukuran kantin cukup luas, ada westafel fasilitas makanan bersih, sehat, dan juga bisa dipilih gorengan di sini aja minyaknya olive oil. Tidak ada yang seperti di pedagang gorengan.Duduk di deretan bangku paling depan keduanya belum mengobrol sampai di mana Arganta mengemgam tangannya. “Gue mau lo ngedate sama gue?” Secepat itu. Deru napas Kim kian menggebu.Mereka resmi jadian setelah sering jalan bareng. Bahkan orangtua Kim mengenal Arganta. Malam itu keduanya pergi ke rumah Arga ini permainan pertamanya di rumah. Di dalam tidak siapa-siapa pembantu sudah pulang. “Elo mau ngapain?” “Gue mau bikinin lo surprise!” Arganta mengambil sirup, menyalahkan televisi besar menonton film death note. Tidak lama jari-jari Kim terasa lemas.Airmatanya perlahan jatuh saat Arganta membawa pisau dan juga karung. Ini sudah kelewatan berusaha berlari pintu terkunci. Semuanya biar pintu belakang juga tidak ada akses.Kim merasakan sakit saat sayatan mengenai leher kemudian kulitnya. Jika takdirnya mati sekarang dia siap. Arganta berhasil melakukan memasukkan ke dalam karung. Mengubur di sebelah rumah.Setahun kemudian… Tidak terasa Arganta sudah membunuh 150 gadis. Bukan hal mudah melakukan hanya dengan pedekate semua siap. Hanya ada satu murid kampus susah dilumpuhkan dia Isyana Mirabella.
Pagi ini Rama dikejutkan dengan Hantu
Pagi ini Rama dikejutkan dengan maraknya obrolan penduduk Kampung Hantu di warung makan yang sibuk membicarakan hilangnya anak penduduk Kampung Hantu saat bermain dengan teman-teman yang di sekitaran Sungai Tersesat.Ceritanya anak penduduk yang hilang tersebut bernama Ahmad, seorang anak laki-laki yang baru berusia enam tahun. Saat dia pamitan ke orang tuanya untuk pergi bermain dengan teman-temannya di dekat Sungai Tersesat, dia terlihat gembira dan penuh semangat. Ahmad memakai baju kemeja putih dan celana pendek biru yang terlihat agak kebesaran untuk tubuhnya yang mungil.Orang tuanya memberikan peringatan untuk tidak terlalu jauh dari rumah dan selalu berhati-hati di sekitar sungai yang terkenal berbahaya itu. Ahmad menanggapi peringatan tersebut dengan senang hati dan berkata bahwa dia akan bermain dengan teman-temannya di dekat rumah.Namun sayangnya, Ahmad tidak pernah kembali ke rumah. Seharian kemarin orang tuanya mencari ke sekeliling dan bertanya kepada teman-teman Ahmad, tetapi tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut ke polisi dan Rama yang ikut mendengarkan obrolan penduduk Kampung Hantu merasa penasaran dan terpanggil untuk ikut dalam pencarian Ahmad.Sungai Tersesat yang berada di Kampung Hantu konon kabarnya memiliki keadaan fisik yang sangat angker. Sungai ini dikelilingi oleh pepohonan yang lebat dan tumbuhan liar yang menjulang tinggi, sehingga membuatnya menjadi gelap dan menakutkan terutama saat malam hari. Airnya pun konon kabarnya sangat gelap dan keruh, sehingga tidak terlihat dasar sungai. Selain itu, suara gemericik air yang mengalir di Sungai Tersesat terdengar seperti suara tangisan atau rintihan orang yang terjebak di dalamnya.Beberapa penduduk setempat bahkan mengatakan bahwa Sungai Tersesat seringkali menjadi tempat munculnya makhluk halus seperti Wewe Gombel, yang seringkali menakut-nakuti orang-orang yang lewat di sekitarnya. Oleh karena itu, Sungai Tersesat menjadi dihindari dan dianggap sebagai tempat yang sangat angker dan berbahaya.Setelah mendengar bahwa Ahmad telah hilang, orang tua teman-temannya yang sebelumnya sedang bermain di sekitar Sungai Tersesat beserta penduduk Kampung Hantu pun langsung bergabung dalam upaya pencarian. Mereka mencari di sekitar sungai dan hutan di sekitarnya, berharap dapat menemukan tanda-tanda keberadaan Ahmad.Rama dan beberapa relawan dari kelompok SAR (Search and Rescue) juga turut bergabung dalam pencarian. Mereka memperluas wilayah pencarian hingga ke hutan belantara yang ada di sekitar sungai. Namun, meski telah berusaha mencari dengan sungguh-sungguh, Ahmad belum juga ditemukan. Kondisi semakin sulit karena cuaca di sekitar Kampung Hantu menjadi semakin tidak bersahabat, hujan deras mengguyur wilayah itu sehingga mempersulit upaya pencarian.Mereka mencari di sekitar aliran sungai yang dangkal dan dalam, dan melintasi beberapa jembatan yang ada di sepanjang sungai. Selama pencarian, mereka juga memperhatikan kondisi aliran sungai yang cukup deras dan berbahaya.Namun, setelah beberapa jam mencari, mereka belum juga menemukan anak tersebut. Rama dan warga Kampung Hantu lainnya merasa semakin khawatir dan gelisah, namun mereka tidak kehilangan harapan dan terus berupaya mencari anak yang hilang tersebut.Setelah 2 hari melakukan pencarian bersama tim SAR, Rama merasa tidak bisa meninggalkan Sungai Tersesat tanpa menemukan anak yang hilang. Ia memutuskan untuk terus mencari bahkan hingga malam hari.Saat matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap, Rama masih saja berkeliling di sekitar Sungai Tersesat mencari Ahmad yang hilang. Kondisi ini membuat Rama semakin merasa khawatir dan gelisah. Tiba-tiba, ia melihat cahaya yang samar-samar di kejauhan dan memutuskan untuk mengikutinya.Setelah berjalan beberapa saat, Rama akhirnya sampai di sebuah hutan bambu yang lebat. Di tengah-tengah hutan tersebut, ia melihat pohon bambu yang sangat besar dan menjulang tinggi. Rama merasa tertarik dan ingin mendekati pohon bambu tersebut. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara aneh yang muncul dari dalam hutan.Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas dan membuat Rama semakin takut. Ia merasa bahwa ada makhluk halus yang mengintainya dari balik rimbunnya hutan bambu. Namun, Rama mengumpulkan keberanian dan terus melangkah mendekati pohon bambu tersebut.Sampai di dekat pohon bambu, Rama merasa kaget melihat Wewe Gombel yang muncul dari dalam pohon. Namun, Wewe Gombel justru terlihat tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti Rama. Wewe Gombel pun akhirnya membuka suara dan berkata kepada Rama."Jangan takut, anak muda. Aku adalah Wewe Gombel, penunggu pohon bambu di sekitar sini," kata Wewe Gombel.
Teror di Sebuah Gedung Stasiun TV Indonesia
Perempuan berambut panjang itu sering menampakkan diri kepada siapa saja yang sendirian di gedung kantor stasiun TV Indonesia. Senyumnya tak terlupakan.Sudah cukup lama saya tidak menulis untuk rubrik Malam Jumat Mojok. Tetapi saya hampir tak pernah absen mengikuti rubrik ini setiap Kamis malam. Saya menikmati cerita-cerita misteri yang ditulis oleh anak-anak muda, yang rata-rata usianya masih separuh bahkan ada yang masih sepertiga dari usia saya.Tulisan-tulisan mereka membuktikan bahwa negeri ini tidak pernah kekurangan penulis kreatif dan imajinatif. Mereka mampu membawa pembaca ke wilayah yang kebanyakan orang tidak berani menjamahnya. Yang saya maksud adalah wilayah makhluk tak kasat mata, yang dimensinya sering beririsan dengan dimensi manusia. Salah satunya teror di sebuah stasiun TV Indonesia yang akan saya ceritakan.Pengalaman saya ini terjadi di penghujung era Orde Baru menuju awal era reformasi. Saat itu, berbagai stasiun berita TV Indonesia yang ada di Jakarta sedang sibuk-sibuknya meliput dan memberitakan rangkaian unjuk rasa akbar para mahasiswa yang menduduki gedung DPR-RI. Ada juga soal kerusuhan rasial yang sangat masif di berbagai wilayah kota metropolitan. Hingga berakhir dengan lengsernya Bapak Presiden Soeharto. Saat itu saya masih bekerja di divisi pemberitaan salah satu stasiun TV Indonesia yang cukup terkemuka.Bukan. Bukan tentang pengalaman saya memproduksi berita TV Indonesia yang akan saya ungkapkan. Pengalaman saya adalah dipeluk oleh sesosok makhluk menyerupai gadis cantik saat saya rehat di suatu ruangan yang biasa digunakan oleh para pemburu berita melepas lelah.Siang ramai, malam mencekamSaat itu, stasiun TV tempat saya bekerja belum memiliki gedung permanen. Oleh sebab itu, kami sering berpindah-pindah dari satu gedung ke gedung lainnya, dalam hitungan tahun. Dan, sebagai divisi yang relatif baru dibangun, divisi pemberitaan pernah menempati beberapa gedung yang terpisah dari divisi-divisi lainnya. Salah satunya adalah gedung yang akan saya ceritakan.Gedung tersebut terdiri dari beberapa lantai. Divisi kami mengisi dua lantai paling atas yang selalu beroperasi sepanjang hari. Saat siang hari, gedung ini cukup ramai dengan kesibukan kerja. Selain stasiun TV kami, ada beberapa perusahaan lainnya yang menyewa tempat ini.Nah, saat malam hari, hanya divisi kami yang bekerja hingga pagi. Itu saja tidak seluruh karyawan divisi pemberitaan masuk, melainkan hanya sepersepuluh dari seluruh kekuatan divisi. Jika saat itu melewati gedung ini di malam hari, akan Anda melihat hanya dua lantai teratas yang lampunya selalu menyala. Sementara itu, lantai-lantai lain di bawahnya gelap gulita.Jumlah karyawan stasiun TV yang bekerja di malam hari mungkin hanya sekitar 20 orang. Terdiri dari beberapa produser, beberapa editor visual, beberapa penata desain grafis, petugas perpustakaan, beberapa juru kamera studio, sepasukan petugas master control yang jumlahnya sekitar enam orang, serta sekitar dua tim pemburu berita malam (reporter dan juru kamera) yang bergantian datang dan pergi.Jumlah 20 orang mungkin cukup banyak jika menempati gedung yang tidak terlalu besar. Tetapi, 20 orang di dua lantai yang sangat luas, yang di siang hari biasa dipenuhi sekitar 200 karyawan, tentunya akan terasa senyap saat malam hari. Lantai-lantai lainnya yang sepi dan gelap menambah suasana semakin sunyi. Kami, yang sekitar 20 orang itu, juga bekerja di ruangan-ruangan terpisah.Teror yang sudah menjadi buah bibirSaya sering mendengar cerita dari beberapa teman yang katanya pernah bertemu sesosok perempuan berambut panjang. Kesaksian mereka berbeda-beda. Ada yang mengaku melihatnya di lobi utama, ada juga yang melihatnya di tempat parkir rubanah (basement), di dalam studio siaran stasiun TV, ruang perpustakaan, toilet, dan tangga darurat.
Aruna Mengerti
“Kamu tahu kan, Bapak ngelakuin ini semua, karena sayang sama kamu.”Aruna menatap tangan bapaknya yang mengulurkan sejumlah uang. Senyum bapaknya melebar, simetris, seakan tulus dari hati. Anak perempuan itu menerima lembaran uang dengan tangan gemetar, kulitnya yang kurus dan dingin bergetar meski malam tadi tubuhnya hangat oleh darah yang kering di sekujur lengannya. Aruna tahu, uang itu bukan hadiah—itu adalah imbalan untuk pekerjaan yang baru saja ia lakukan, mencuri dari pejalan kaki yang tak sengaja lewat, tanpa ampun. Elusan kepala bapaknya menjadi penguat, meski sekaligus mengikat Aruna dalam jaring takut dan cinta yang rumit.“Aruna ngerti,” jawabnya lirih.Sinar mata Aruna perlahan meredup, kehilangan kilau yang tadi sempat menyala. Ia menatap punggung bapaknya yang menjauh, sosok itu menapaki jalan setapak keluar rumah, meninggalkan Aruna sendiri dalam hening yang menelan. Sunyi malam terasa lebih pekat sekarang, seolah dinding-dinding rumah menghisap setiap napas yang ia hembuskan. Aruna menekan bibirnya, menahan rasa ingin menangis, lalu tanpa sadar menggaruk kulitnya yang tak gatal. Tidak ada jawaban atas rasa sepi yang menempel di tulang. Tidak ada suara selain detak jantungnya sendiri yang menjerit dalam dada.Akhirnya, Aruna memilih tidur. Ia merapatkan tubuhnya yang kurus, beralas koran bekas, memeluk diri sendiri seakan ingin menyerap sedikit panas dari tubuhnya sendiri. Udara malam yang dingin menusuk kulit tipisnya, membuatnya menggigil, menekuk lutut ke dada, bersandar ke dinding. Di sana, di sudut kamar yang gelap, Aruna menemukan sepotong kehangatan yang bisa ia genggam—meski itu hanyalah bayangan dari cinta bapaknya, yang dibungkus darah dan rasa takut.Keesokan harinya, siklus itu akan terulang. Pagi tiba dengan aroma daging hangat, dihidangkan di atas piring yang sama, rapi dan menggoda selera. Aruna duduk di meja, menyantap potongan daging itu dengan lahap, rasa bersalah dan ketakutan terbenam di setiap kunyahan. Bapak di dekatnya menatap dengan mata yang lembut, seakan memuji usaha dan ketaatannya.“Aruna tahu kan, Bapak ngelakuin semua ini, karena sayang sama kamu.”“Aruna ngerti,” jawabnya lagi, dengan suara yang lebih tegar kali ini. Namun di dalam hatinya, ada bisikan lain yang tak pernah ia ucapkan—bisikan yang bertanya apakah cinta yang dibalut darah itu benar-benar nyata, ataukah hanya cermin kebohongan yang membungkus kesepian dan ketakutannya.Aruna menatap jendela yang menampakkan langit pagi, namun sinar mentari tidak mampu menembus gelap yang menyelimuti pikirannya. Ia tahu, setelah sarapan selesai, siklus hari itu akan berlanjut: pekerjaan, uang, elusan, dan keheningan yang menekan hingga malam kembali datang, membawa dingin, darah, dan rasa takut yang menempel seperti bayangan abadi.