Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

831

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

167

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Namamu Adalah Kematianmu
Horror
25 Nov 2025

Namamu Adalah Kematianmu

Banyak orang bilang masa SMA adalah masa paling menyenangkan, tapi bagiku masa SMA adalah masa paling menyakitkan, menyedihkan, menyeramkan hanya itu yang terbayang di pikirku tentang masa SMA. Bahkan aku tidak ingin mengingat kembali masa masa itu.Panggil saja aku Rian, aku murid kelas 2 SMA, aku bersekolah di SMAN 123 Bandung. Ketika itu Pak Farhan masuk bersama dengan seseorang yang tampak asing.“Selamat pagi anak-anak” Sapa pak Farhan kepada semua murid “Pagi Pak” Teriakan seisi kelas menjawab salam dari pak Farhan “Hari ini kalian dapat teman baru, dia adalah pendatang di kota kita.. Namanya Rafli, hari ini adalah hari yang penting karena Rafli pertama kali masuk sekolah umum, sebelumnya dia Homeschooling dan hanya ikut ujian penyertaan saja.. Saya harap kalian akur dengannya ya, jadilah teman yang baik dan ajak Rafli berbaur, paham?” Ujar pak Farhan sambil memperkenalkan murid baru tersebut “Paham pak~!” Jawab murid paham atas penjelasan pak Farhan “Ayo jangan malu dan sapa teman teman barumu Rafli” Ucap pak Farhan kepada Rafli “Salam, namaku Rafli.. ” Setelah itu sekolah berjalan seperti biasanya sampai bel pulang berbunyiSepulang sekolah rencananya aku akan menyatakan cintaku kepada Lala teman masa kecilku, namun ternyata aku terlambat menyadari… Bencana yang akan mendatangi kami…“Lala, pulang sekolah nanti kau ada acara nggak?” Ucapku sambil berjalan menuju Lala “Hmm.. Pulang sekolah aku mau ke karaoke sama Indah, memangnya kenapa Rian?” Jawab Lala “Ada yang mau aku bicarakan denganmu sepulang sekolah nanti, di belakang gedung sekolah” Ujarku “Hmm.. Oke nanti aku akan kesana” Ujar LalaAku menunggu Lala di belakang gedung sekolah sesuai janji, tak lama Lala pun datang “Jadi apa yang mau Rian bicarain?” Tanya Lala “Um.. La, sebenernya aku..- ” Aku pun mulai mengungkapkan perasaanku kepada Lala namun “Eh tunggu-tunggu, suasana kayak gini… Jangan jangan kamu mau nembak aku ya Rian..?” Lala tiba tiba memotong ucapanku dan menebak maksud aku mengajaknya ke sini “…” Aku terdiam karena Lala menebak dengan tepat“Ahaha… Kamu gak beneran mau nembak aku kan? Kok diem aja.. Eh.. Jangan-jangan kamu beneran mau nembak aku? Aduuh~ maaf ya Rian aku gak maksud…” Ujar Lala ketika mulai menyadari situasi yang menjadi canggung“TOLOOONG!!” Terdengar suara teriakan dari atas gedung sekolah Seketika aku dan Lala menoleh ke atas, disana terlihat sosok Indah yang mati tergantung di atap gedung sekolah. Seketika Lala pingsan karena syok, saat itu juga aku melihat satu sosok lagi yang agak asing bagiku, dia memasang wajah tersenyum dan seketika itu aku pun pingsan karena syok.Aku terbangun di sebuah kamar, dikelilingi oleh Agung, pak Farhan, polisi, dan beberapa suster. Setelah aku merasa lebih baik, polisipun mulai menanyakan kronologi atas kematian temanku yang bernama Indah, lalu aku menjelaskan semua yang kutahu. Polisipun menanyakan hal yang sama kepada Lala yang sudah siuman sejak tadi, namun kesaksianku dan Lala masih kurang untuk polisi bisa menindaklanjuti peristiwa ini.Keesokan harinya Polisi mulai melihat CCTV yang terpasang di atap gedung sekolah, sesuai dengan kesaksianku disitu terlihat ada satu sosok lagi yang menghampiri Indah untuk membantu Indah.Pada hari itu Lala tidak masuk sekolah karena masih syok, sepulang sekolah aku, pak Farhan, Agung, dan Rafli, mampir ke rumah Lala sekalian menanyakan keadaannyaKetika kami sampai di rumah Lala, Lala keluar dan mempersilakan kami masuk ke rumahnya, Lala tampak ceria seperti biasanya. Tiba tiba Rafli minta izin untuk menggunakan toilet di rumah Lala, Lala ikut pergi ke dapur untuk menyajikan makanan untuk kami, tapi tiba tiba

Pesanan
Horror
25 Nov 2025

Pesanan

Sekarang pukul 1 malam. Aku terbangun dan tidak bisa tidur kembali. Suara ketukan dari arah jendela sedari tadi terdengar seram. Disusul desiran angin malam yang berhembus, membuat bulu kudukku berdiri. Ini sudah yang ke sekian kalinya kami dihantui begini. Tak henti-hentinya mulutku melantunkan ayat kursi. Aku harap, Mama cepat pulang.Perkenalkan, namaku Ulfah. Aku tinggal di perumahan Melati bagian Timur. Perumahan yang aku tinggali terbilang sudah lama sekali. Banyak kejadian janggal yang menimpa keluargaku. Mulai dari suara-suara aneh, hawa tidak enak, sampai penampakannya sendiri, kami sudah melihatnya berulang kali. Berjalan bolak-balik di dalam rumah sendiri saja rasanya terkadang masih takut.. Konon katanya, rumahku itu dulu banyak mengalami kasus mengerikan.Hingga suatu hari, aku meminta Mama untuk segera pindah rumah karena sudah tidak tahan lagi dengan berbagai gangguan mereka. Mama pun setuju. Kami pindah keesokan harinya sekitar 2 km lebih jauh dari rumah lama.“Rumah lama itu kita kontrakan saja ya, ” Ujar Mama. Aku hanya menjawab ‘hem’, tidak peduli. Kini urusan rumah lama itu biar Mama saja, yang penting kami sudah pindah dari rumah berhantu itu.Sebulan kemudian, rumah itu ada orang yang mengontrak disana. Belum sampai 3 bulan, Orang itu buru-buru ingin pindah kontrakan. Katanya sih, ia ingin mencari kontrakan yang lebih dekat dengan kantor kerjanya. Tapi gaya bicaranya tergagap-gagap seolah ketakutan karena sesuatu. Apa itu karena ia juga diganggu? Kami tidak bertanya lebih lanjut kepadanya.Rumah lama kamipun akhirnya hanya menjadi sebuah rumah kosong terbengkalai. Kukira dengan kami pindah rumah adalah cara yang aman, namun ternyata hal aneh masih menimpa kami.Pada suatu malam, sekitar pukul setengah 11, Aku bersiap untuk tidur karena badanku sudah sangat pegal setelah seharian mengikuti acara sekolah. Tiba-tiba ada yang meneleponku. Seorang bapak-bapak driver makanan.“Halo, selamat malam. Ini atas nama Ulfah?” “Iya pak benar. Ini siapa ya?” “Lho kok siapa, Mbak Ulfah memesan makanan kan? Rumahnya kok kosong gini mbak. Mbaknya mau ngerjain saya?” Driver itu kebingungan, begitupun aku yang matanya sudah tinggal 5 watt. “Saya gak mesen apa apa kok pak!” Jawabku. Bapak driver itu malah marah-marah, lalu memberikan lokasi rumah yang dimaksud. Mataku yang awalnya sayu mendadak terbelalak menatap layar handphone. Lokasi yang dituju adalah rumah lamaku. Kenapa bisa menyambung kesini?Akhirnya, demi membantu si bapak driver, akupun memberikan lokasi rumahku yang sekarang. Saat datang, ternyata itu sudah dibayar dan isinya sebungkus nasi padang. Mama yang melihat kejadian itu, tertawa. “Makanya kalau ngantuk berat jangan main hp. Kepencet kan tuh jadinya,” Ledek Mama. Aku mengerutkan alis. Betul juga. Mungkin karena tidak sengaja terpencet.Aku tidak tahu harus senang, bingung atau takut. Namun itu terjadi berulang-ulang kali dan selalu bertujuan pada rumah lamaku itu. Berbagai tukang antar meneleponku. Aku kaget, tidak memesan apapun, tukang antar marah-marah, lantas aku memberikan lokasi sekarang. Begitu terus kejadiannya selama 3 bulan pindah rumah. Aku semakin yakin itu bukan karena terpencet. Melainkan memang ada seseorang yang iseng atau malah ‘hantu’? Aku tidak tahu sampai kini. Hingga pada suatu hari, datang sebuah paket dari aplikasi yang bahkan aku tidak memilikinya. Isi paket itu kecil sekali. Ketika kami membukanya, hanyalah sepasang tali sepatu berwarna pink cerah.Kami sekeluarga tertawa. Kejadian ini sudah sering sekali, jadi kami tidak lagi merasa takut. Akhirnya kami pindah ke Malaysia karena Mama ada urusan pekerjaan. Pesanan-pesanan misterius itu pun kini sudah tidak mengikuti kami lagi.

Pocong Jembatan Kedung Kulon
Horror
25 Nov 2025

Pocong Jembatan Kedung Kulon

Langit tampak cerah, sang Dewi Malam mulai menampakan sinarnya dengan malu-malu dari ufuk barat. Sore itu Tony dan Romy berencana untuk pergi menonton sebuah grub band terkenal yang konser di daerahnya.“Yakin kita mau berduaan nih?” tanya Tony, tampak keraguan di wajahnya. “Iya, Bejo sama Warno nggak jadi ikut,” jawab Romy, suaranya jelas menunjukan kekesalan. “Udah lah, kita nonton aja, peduli apa dengan hantu Nina yang menghuni jembatan gedung kulon itu?” lanjutnya setengah memaksa. Tony berfikir sejenak, terlihat ia sangat bingung untuk menerima ajakan Romy. Bayangan hantu Nina, terus mengganggu fikirannya.Nina, merupakan seorang gadis yang meninggal belum lama ini. Ia meninggal dengan cara yang tidak wajar, jenazahnya ditemukan tanpa busana di pinggir sungai Gedung Kulon, sebuah sungai besar yang airnya mengalir deras di sebelah barat desa Gedung Kulon. Dari jenazahnya, jelas Nina meninggal karena diperkosa secara brutal. Jenazahnya ditemukan sudah membusuk dan diperkirakan sudah meninggal selama tiga atau lima hari.Setelah ditemukannya jenazah Nina, warga desa sangat gempar, karena kabarnya Nina gentayangan, arwahnya sering mengetuk-mengetuk rumah warga saat tengah malam. Selain itu, kabarnya setiap warga yang melintas di jembatan Gedung Kulon tengah malam, juga akan bertemu hantu Nina. Hantu itu menyetop setiap pengendara motor yang melintas tengah malam di jembatan itu. Sudah banyak warga yang bertemu dengan hantu Nina, bahkan ayah Tony sendiri.Hal itulah yang membuat Tony merasa ketakutan untuk pergi nonton konser dengan Romy. Ia tahu, nonton konser pasti sampai tengah malam dan Ia takut pulangnya akan bertemu hantu Nina di jembatan Gedung Kulon.“Udahlah, ayo kita berangkat, mumpung nggak hujan juga, lagian kapan lagi kita melihat artis ibukota secara langsung?” ujar Romy terus mengajak Tony.Karena Romy terus-terusan memaksa, akhirnya Tony menerima ajakannya juga. Motor melaju dengan kecepatan sedang, jalanan yang berbatu membuat Romy tak bisa melaju motornya dengan kecepatan tinggi, meskipun hatinya tak sabar untuk segera sampai di lokasi konser.Motor terus melaju ke arah barat, keluar desa dan semakin mendekati jembatan Gedung Kulon. Suasana semakin sepi, bokhlam 5 watt penerangan jalan yang sesekali mereka lewati justru membuat suasana semakin temaram, dan menambah keseraman menurut Tony.Akhirnya mereka tiba di jembatan Gedung Kulon. Tony bersukur karena tak ada apapun di sana. “Nggak ada apa-apa kan? Mana hantu Nina? Dia mah nggak berani menampakan diri di hadapan gue! Kalo berani biar gue cium!” ujar Romy tiba-tiba, disusul suara tawanya. Sontak ucapan itu membuat Tony kesal, karena Romy ngomongnya tepat di atas jembatan.Setelah hampir satu jam mengendara, akhirnya mereka tiba di lokasi konser. Romy sedikit kesal karena ternyata konser sudah dimulai. Ia dan Tony berdesakan dengan orang-orang yang memenuhi lapangan. Tiba-tiba, Wajah Tony memucat seketika ketika melihat seorang wanita di hadapannya, diantara kerumunan ratusan orang, jelas Tony melihat Nina disana. Ia berjarak tak kurang dari 2 meter di hadapan Tony, tersenyum kepada Tony, dengan wajahnya yang sangat pucat.Tony mencoba untuk menghilangkan perasaan takutnya, Ia berbaur dengan orang-orang yang berjoget menikmati musik reggae yang dibawakan artis ibu kota.Konser telah selesai, Tony dan Romy bersiap untuk pulang. Kembali rasa takut mengganggu perasaan Tony, bayangan wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Nina kembali terbayang, seolah melekat di pelupuk matanya.Dengan kecepatan tinggi Romy melaju motornya, akan tetapi saat memasuki daerah pedesaan motor sudah tidak dapat melaju cepat, karena jalanan aspalnya yang sudah rusak dan berbatu. Motor terus melaju, semakin mendekati jembatan Gedung Kulon. Refleks Tony mengusap pergelangan tangannya, saat merasakan ada tetesan air yang jatuh ke tangannya. Ia menengadahkan wajahnya ke atas, untuk melihat apakah langit mendung?. Saat Ia melihat ke atas, sekelebat Ia melihat ada benda berwarna putih yang terbang, hanya sesaat Ia melihatnya, hanya dalam hitungan detik.Pulangnya memang Tony tak banyak terlibat pembicaraan dengan Romy, selain lelah dan mengantuk, Tony juga merasakan, suasana sangat mencekam. “Hyhyhyhyhy.” Sedari tadi Tony mendengar suara itu, tapi awalnya tak terlalu jelas, sehingga Tony masih berfikir itu suara binatang malam. Tapi diantara suara deru mesin motor, Tony mencoba fokus mendengarkan, itu suara apa, dan Tony mulai yakin bahwa suara itu suara orang merintih.Tony masih belum berani menyampaikan apa yang didengarnya kepada Romy, dan Ia benar-benar tersentak kaget bahkan hampir jatuh dari motor saat tiba-tiba Romy mengerem motornya sangat mendadak.“Allah huakbar! Ada apa, Ro?” tanya Tony. Rony hanya diam, saat itu mereka hanya sekitar jarak 10 meter dari jembatan Gedung Kulon. Romy diam, tak menjawab pertanyaan Tony, akan tetapi tangannya menunjuk kedepan. Ternyata di sana, diatas jembatan, berdiri sosok pocong yang meskipun didalam kegelapan, jelas Mereka dapat melihat wajah pocong itu yang merupakan wajah Nina.“Yaa Allah Pocong, Rom!” seru Tony dengan suara gemetar. “Iya gue juga tau itu pocong, siapa bilang itu bencong?” jawab Romy dengan suara yang juga gemetar. “Kita puter balik, Rom, kita ke rumah Dewi aja, kita nginep di sana!” Romy setengah dongkol mendengar saran Tony, dalam suasana kaya gini, dia masih berfikir buat nginep di rumah cewek.Meskipun demikian, Romy memutar motornya ke arah barat, dan melajunya dengan kencang meskipun jalanan berbatu. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Dimas, kawan mereka di desa sebelah. Beruntung Dimas belum tidur karena dia juga baru pulang nonton konser.TAMAT

Mitos Jam Lima Sore
Horror
25 Nov 2025

Mitos Jam Lima Sore

Siang menjelang sore itu udara sangat panas. Aku mengipaskan buku tulisku karena kegerahan. Teman temanku yang lain malas malas tiduran di kelas. Guru sejarah tidak masuk kelas siang ini karena ada kepentingan. Kami disuruh mengerjakan soal di buku paket. Tentu saja hanya siswa rajin dengan otak encer yang mengerjakan soal itu dengan senang hati. Aku malas malasan, masih ada hari esok dan masih ada teman teman yang bisa kumintai contekan‍. Jangan kalian tiru kebiasaanku ini. Aku hanya malas, tapi otakku jika kugunakan sepenuhnya aku bisa menjadi juara satu di sekolah. Aku membenamkan wajahku di meja. Aku tertidur.Sepi.. hening… Aku membuka mataku, mengerjapkan mataku. Melihat sekeliling. Sudah sepi. Hanya aku sendirian di kelas. Aku ditinggal pulang. Sialan!. Aku melihat ke jendela, matahari segera terbenam. Jam menunjukkan pukul 5 sore lebih satu menit saja. Aku segera memberesi buku sambil merutuki teman temanku yang dengan tega tidak membangunkanku saat bel pulang. Akan aku balas perbuatan mereka besok!. Dengan keadaan yang sepi dan sunyi seperti ini, kelasku terlihat sedikit menyeramkan. Aku segera bangkit untuk langsung pergi.Tiba tiba… “Brakkk!!!” Aku dikagetkan dengan pintu kelas yang tadinya terbuka lebar, tiba tiba menutup sendiri. Aku mengatur degub jantungku. Tiba tiba udara disekitarku menjadi dingin, bulu kudukku berdiri semua. Aku berlari ke arah pintu. Mencoba membukanya.“Tolong!!!!! Buka pintu ini!!! Tolong!!!” Ucapku sambil berteriak histeris. Aku takut. Berkali kali mencoba membukanya. Namun pintu tidak terbuka sedikitpun, seperti dikunci. Aku sangat ketakutan. Suasana menjadi menyeramkan. “Sreettt… sreetttt…” aku berhenti berteriak dan mendobrak pintu saat suara itu terdengar. Itu suara kursi guru yang bergerak sendiri seperti ada yang menyeretnya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kursi itu seperti ada yang menyeretnya. Dan sialnya arahnya menuju aku. Aku kembali berteriak histeris dan memukul mukul pintu berusaha keluar. Kursi itu semakin dekat padaku. Aku menangis ketakutan. Untuk ukuran cowok SMA menangis adalah sebuah hal memalukan. Tapi itu refleks karena aku sangat ketakutan dengan apa yang aku hadapi sekarang.“Sreet.. sreett…” suara itu membuatku berteriak histeris. Aku membaca doa doa yang aku hafal, entah doa itu benar atau tidak. Kursi itu terangkat perlahan, semakin tinggi dan semakin tinggi. Tidak terlihat sosok yang mengangkat kursi itu. Namun hal itu adalah hal mengerikan yang pernah aku lihat. Saat kursi itu semakin tinggi. Tiba tiba saja gagang pintu bisa berfungsi kembali. Aku dengan kecepatan kilat segera keluar dan menutup pintu itu segera. Aku berlari sekuat tenaga.“Braakkkkkk!!!!!” Terdengar bunyi yang amat keras dari kelasku. Sepertinya kursi itu dilemparkan menuju pintu. Aku segera berlari menuju parkiran. Tanpa melihat kanan kiri. Untungnya di parkiran masih ada beberapa anak pramuka yang telah selesai ekskul. Aku sedikit tenang. Anak anak itu menatapku keheranan yang berlari dengan wajah ketakutan serta rambut berantakan.“Kenapa bang?” Tanya salah satu anak pramuka itu menghampiriku. Sepertinya dia anak kelas 10. Aku dengan nafas yang masih naik turun segera menggelengkan kepala. Lalu memasukkan kunci motor dan segera pergi. Anak itu keheranan melihat tingkahku. Aku sempat melihat ruang kelasku yang berada di lantai dua. Ada sosok disana. Melihatku memacu motor. Sosok itu tersenyum amat menyeramkan, tanpa sedetikpun memalingkan pandangannya padaku. Aku segera pulang. Aku sangat ketakutan.Sesampainya di rumah, aku segera menelepon Yeremia, teman sebangkuku. Aku mencaci maki dirinya. Aku memarahinya yang tidak membangunkanku. Aku menyumpahi dirinya. Mengatakan semua kata caci maki. Dan dia hanya tertawa menanggapinya. “Memangnya ada apa?” Ucapnya menanggapi semua cacian dariku dengan santai. Aku berteriak, menceritakan semua yang aku alami tadi padanya. Tanpa sedikitpun yang aku lewatkan. Saat di ujung ceritaku, dia terdiam. Dan mengatakan hal yang sama sekali aku tidak tahu apa maksudnya.“Ternyata benar mitos jam lima sore di kelas itu..” ucap Yeremia. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi yang pasti aku akan mengamuk padanya jika besok aku bertemu dengannya!.Tamat

Rumah Baru
Horror
25 Nov 2025

Rumah Baru

Izinkan aku bercerita mengenai pengalamanku saat pindah ke rumahku yang baru. Namaku Alfian. Umur 16 tahun. Akan masuk Sekolah Menengah Atas tahun ini.Selepas kepergian Papa bulan lalu, Mama mengajak kami pindah ke rumah baru yang ada di luar kota. Kebetulan mama ditugaskan mengajar di luar kota, jadi mau tidak mau kami sekalian pindah rumah. Mama memanfaatkan uang peninggalan dari kantor lama Papa untuk membeli rumah baru kami ini. Singkat kata, hari itu kami memindahkan semua barang barang yang ada di rumah lama ke rumah yang baru.Rumah baru kami memiliki dua lantai. Lebih sederhana dan minimalis daripada rumah yang lama. Aku yang pada dasarnya memiliki indera yang lebih sensitif daripada orang pada umumnya, merasakan ada energi yang aneh di rumah itu. Mamaku dan adikku terlihat biasa saja, malah mereka terlihat senang melihat lihat fasilitas yang ada. Apalagi mama terlihat puas karena harga rumah ini lebih miring untuk ukuran rumah sebesar dan sebagus ini dan dengan fasilitas yang bagus. Aku saat pertama kali memasuki rumah itu, bulu kudukku berdiri semua. Padahal hari itu masih siang. Aku langsung merasakan kehadiran ‘mereka’, meskipun aku tidak bisa melihat ‘mereka’. Aku segera membaca doa doa, saat suasana normal kembali aku segera membereskan barang barangku ke kamarku yang baru.Aku yakin sosok yang tidak terlihat di rumah ini sangat banyak sekali. Aku mengusulkan pada mama supaya menggelar pengajian dalam rangka pindah rumah. Mama mengetujuinya dan besoknya kami mengundang para tetangga untuk mendoakan kami. Setelah pengajian itu selesai, suasana rumah menurutku menjadi hangat dan menjadi agak berbeda dari sebelumnya. Aku bersyukur akan itu.Hari hari berikutnya, aku mengalami berbagai gangguan dari ‘mereka’. Seperti saat aku akan tidur tiba tiba jendela kamar seperti ada yang mengetuknya. Berkali kali dan semakin lama semakin keras. Hal itu terjadi berhari hari lamanya. Namun aku sudah kebal dengan hal hal semacam itu. Mungkin mereka ingin mengajakku main atau sekedar iseng menjahiliku. Entah. Saat aku menonton televisi di ruang tengah yang berbatasan dengan kamar mandi, terdengar suara kran air yang menyala sendiri padahal sebelumnya tertutup dan saat itu hanya ada aku di rumah itu. Kejadian itu memang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri. Namun, aku tak terlalu menghiraukannya selagi mereka tidak berniat jahat padaku. Tapi kejadian yang membuatku penasaran adalah saat mereka mengetuk jendela kamarku. Kejadian itu terus berlangsung tanpa seharipun reda. Karena penasaran, aku mencoba membuka jendela itu. Tidak ada apapun, aku kembali menutup jendela itu. Tiba tiba terdengar bunyi wanita menangis. Aku terkejut. Tubuhku merinding tak terkira. Jelas sekali itu bukan suara mama. Aku jatuh terduduk di ranjang. Suara itu terdengar kecil namun mampu membuat tubuh bergetar.“Mau apa kamu?!” Teriakku. Hening dan hanya ada suara gesekan dahan pohon di luar rumah. Sosok itu muncul, menampakkan diri di sebelah jendela. Menatap kosong diriku yang memeluk lutut karena ketakutan. Berkali kali aku melihat sosok yang menyeramkannya lebih dari ini. Namun melihat sosoknya tetap saja membuatku takut.“Apa yang kamu mau?!” Ucapku. Wajah pucatnya menatapku dalam dalam. Pakaiannya penuh bercak darah. Anggota tubuhnya normal, dan ada sedikit aliran darah yang mengering dari sudut kiri bibirnya.“Tolong aku..” suara itu bergema. Sangat mengerikan mendengarnya. “To.. tolong apa? Kamu mau apa??!” Ucapku takut takut melihat sosok dia. “Pindahkan makamku. Makamkan aku secara layak.” Ucapnya lalu merintih lalu tubuhnya perlahan jatuh. Sosok itu sepertinya sangat sedih.“Memangnya kamu siapa? Makam kamu dimana?” Tanya ku yang sedikit iba padanya. “Aku Sulastri. Pemilik rumah ini. Aku dibunuh suamiku. Dimakamkan di samping kamarmu ini. Tolong pindahkan makamku..” ucap sosok itu. Aku mencoba mencerna ucapannya. “Aku akan mencari cara untuk membantumu.. tapi aku mohon berhentilah mengetuk jendela kamarku. Aku ingin beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan dari makhluk seperti kamu..” ucapku. Sosok itu perlahan mengangguk lalu menghilang secara tiba tiba. Aku pun segera tidur. Amat lelah.Besoknya, hari sabtu aku gunakan untuk mencari tahu mengenai suami yang sosok itu katakan. Dia tidak mengatakan nama suaminya, hanya mengatakan Sulastri pemilik rumah ini. Aku bertanya pada mama. Mama mana tahu perihal privasi pemilik rumah ini sebelumnya. Aku pun menghubungi Pak Aryo, orang yang menjual rumah ini. Aku menemuinya di rumah dia yang baru. Pak Aryo mengatakan memang istrinya telah meninggal. Saat aku menanyakan apakah nama istrinya adalah Sulastri, ekspresi wajah Pak Aryo mendadak berubah.“Tahu darimana kamu?!” Ucapnya sedikit membentakku. Aku terkejut akan nada bicaranya yang mendadak berubah. Aku menelan ludah. “Maaf Pak, bukannya saya ingin menggurui bapak, tapi sebaiknya makam Bu Sulastri dipindahkan dan dimakamkan secara layak. Dia berpesan pada saya tadi malam.” Ucapku berterus terang. Wajah Pak Aryo mendadak merah padam. “Sulastri sialan! Sudah mati saja masih merepotkan!” Gerutu Pak Aryo, terlihat seperti marah sekali.“Ka.. kalau boleh tahu, dia meninggal karena apa Pak? Kenapa dimakamkan disamping kamar saya?” Tanyaku dengan sedikit gemetar melihatnya marah. “Kamu jangan macam macam! Ini urusan saya, ini urusan pribadi keluarga saya!. Kamu jangan ikut campur. Biarkan saja arwah dia menderita. Saya sudah muak dengan wanita sialan itu!” Ucap Pak Aryo menunjukku. “Tapi pak, kasihan dia. Apa tidak sebaiknya pindahkan saja makamnya?” Ucapku sehalus mungkin. “Sudah saya bilang! Kamu jangan ikut campur!. Biar saya yang menangani!!” Ucap Pak Aryo. Aku pun pamit pulang karena tak ada gunanya lagi berdebat dengannya.Malam harinya, hantu Sulastri masih menerorku dengan mengetuk jendela kamarku. Aku menutup kuping rapat rapat dengan bantal. Aku lelah mendengarkannya.Berhari hari kemudian, aku rasa tidak ada tindakan dari Pak Aryo. Dibuktikan dengan hantu Sulastri yang terus saja menerorku tiap malam. Aku pun meminta mama melapor ke polisi mengenai kejadian ini dan meminta polisi mengusut kasus ini jika benar ada jasad yang dimakamkan disamping kamarku.Saat polisi menyelidikinya, benar saja ada kerangka tubuh seseorang. Polisi dan ahli forensik segera menelitinya. Hasil mengejutkan segera terungkap. Ternyata kerangka ini adalah Sulastri. DNA nya sama. Setelah diautopsi, segera terungkap penyebab dia meninggal. Dia dipukul berkali kali di bagian punggung. Serta wajah. Satu satunya orang yang patut dicurigai adalah suaminya, yaitu Pak Aryo.Sesuai dengan cerita dari hantu Sulastri. Polisi segera menangkap Pak Aryo yang akan mencoba melarikan diri ke luar kota. Dan dia mendapatkan balasan atas apa yang telah dia lakukan. Kemudian, kerangka tubuh Sulastri dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat. Aku lega, akhirnya kasus ini selesai. Dan hantu Sulastri tidak lagi menerorku dengan mengetuk jendela kamarku. Sekarang aku bisa istirahat dengan tenang.Tamat

Teh Mawar
Horror
25 Nov 2025

Teh Mawar

Aroma bunga mawar yang khas seketika menenangkan diriku. Sudah lama aku tidak pergi ke kebun mawar. Apalagi kebun mawar milik Nenek. Aku memang belum meminta izin kepada Nenek untuk memasuki kebun bunga mawarnya, tetapi aku tahu jika beliau akan mengizinkanku karena aku adalah cucu kesayangannya! Hehehe.Oh ya, aku lupa untuk memperkenalkan diri kepada kalian. Perkenalkan! Namaku Florin. Aku berumur 12 tahun, dan saat ini aku sedang menduduki bangku Sd kelas 6. Aku telah menjalani ujian kenaikan kelas, dan di hari ini aku akan berlibur sepuasnya selama 2 minggu. Itulah mengapa keluargaku mengajakku untuk pergi ke rumah Nenek.Sudah lama aku tidak pergi ke rumah Nenek. Seingatku, sudah 4 tahun yang lalu sejak terakhir kali aku pergi ke rumah Nenekku. Sesekali, mamaku memulai panggilan dengan ibunya. Namun, karena beliau tidak terlalu paham dengan teknologi, alhasil Nenek sering dibantu oleh adik mama untuk menelepon kami. Sayangnya, akhir-akhir ini tanteku jarang menemani Nenek, alhasil kami pun jarang berjumpa dengan beliau.Tetapi, hal itu tidak perlu dikhawatirkan, karena saat ini aku sudah berada di desa Airadem, desa dimana Nenek tinggal. Papa memperbolehkanku untuk bermain sebentar di kebun mawar milik Nenek. Biasanya, ketika aku bersama nenek di kebunnya, aku diperbolehkan untuk memetik beberapa mawar yang aku suka. Tapi, karena nenek tidak ada di sini, aku mengurung niatku untuk mengambilnya. Aku hanya melihat-lihat saja, karena hari pun sudah sangat sore.“Florinn, ayo ke dapur sebentar, bantuin mama masak ayam goreng yuk!” Waduh, mama memanggilku. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, dan membantu mama untuk memasak ayam goreng. Kemungkinan besar, ayam goreng tersebut akan disajikan untukku. Siapa lagi kalau bukan Florin yang merupakan seorang gadis yang paling menyukai ayam goreng di desa ini? Hahaha.Selesai meniriskan ayam gorengku, aku pun berpikir untuk membuat sambal sebagai pelengkap makan malamku nanti. Kebetulan, tanteku baru saja pulang berbelanja dari pasar. Dan aku yakin jika ia membeli beberapa cabai dan bawang putih, karena sebelumnya, mamaku menitipkan uangnya untuk membeli cabai dan bawang.Karena saat itu tante sedang berada di ruang keluarga, aku perlu beranjak dari dapur untuk menemui tante. Tidak lupa untuk menutup ayam goreng yang baru saja kuangkat dengan tutup panci, agar tidak ada satupun lalat atau serangga yang akan mengotori ayamku. Hehehe, maafkan aku tetapi aku hanya khawatir, karena di rumah Nenek banyak serangga yang sedikit menyeramkan bagiku!Aku pun berjalan dari dapur menuju ke arah ruang keluarga. Aku hanya berjalan pelan-pelan saja, karena aku tahu daerah rumah Nenek hawanya sangatlah segar. Tidak heran, karena desa Airadem merupakan desa yang berada di kaki gunung.Saking terlalu menikmati udara sekitar, aku tidak sadar jika aku berada tepat di depan pintu belakang. Pintu tersebut mengarah tepat di mana kebun mawar milik Nenek berada. Tetapi, aku merasakan suatu keanehan. Biasanya, setiap hari aku dapat mencium aroma bunga mawar ketika aku berada di dekat kebun nenek. Namun, sekarang aku tidak dapat mencium aroma apapun. Aku hanya dapat merasakan hawa dingin yang membuatku merinding.“Florin… Kamu mau kemana ndhuk?” Eh, suara Nenek? Aku pun menoleh ke belakang dan menemukan nenek tengah duduk di tikar yang biasanya aku tempati. “Wah, Nenek di sini pasti lagi ngelihatin kebun mawar punyanya Nenek!” Ucapku sembari menuju ke tikar untuk ikut duduk bersamanya.Nenek terlihat sedang mengaduk-aduk minuman panas yang ada di dalam sebuah cangkir kecil. Di situlah aku mulai mencium harum bunga mawar yang khas. Namun, harumnya sudah tercampur dengan aroma lain, tetapi aku tidak dapat mengenali harum yang asing tersebut. Karena penasaran, aku pun menanyakan hal tersebut kepada Nenek. “Nenek lagi bikin apa? Kok baunya mirip mawar tapi bukan mawar banget?” Tanyaku dengan penuh keheranan. Nenek hanya tersenyum. Ia pun lanjut mengaduk-aduk, kemudian ia meniupnya sedikit demi sedikit. “Nenek lagi bikin teh mawar, Nenek sering bikin ini sejak nenek masih muda dulu…” Jawabnya dengan suara yang lemah. Aku tidak pernah melihat Nenek meminum teh yang terbuat dari mawar. Apa Nenek memang jarang meminum teh itu, atau hanya aku saja yang 4 tahun terakhir tidak pernah menemui Nenek? Udah deh, pertanyaan tersebut tidak terlalu penting sekarang, karena saat ini aku sudah bersama dengan Nenekku yang tersayang.“Nenek di sini sendirian? Nggak ikut mama sama tante di ruang keluarga kah? Apalagi di luar kan dingin Nek.” Tanyaku. Lagi-lagi, Nenek hanya tersenyum kecil. Beliau tidak menjawab pertanyaanku, dan malah menyodorkanku cangkir yang berisi teh mawar yang Nenek aduk tadi. “Coba aja dulu, teh mawarnya nenek enak lho.” Tawarnya.Karena aku adalah anak yang baik, aku pun menerimanya dengan senang hati. Aku tidak pernah menncoba teh yang memiliki rasa bunga di dalamnya, apalagi terdapat aroma bunga mawar yang Nenekku sukai. Karena teh tersebut baru saja diseduh, pasti akan terasa lebih nikmat, apalagi diminum di saat malam hari yang memiliki hawa dingin. Yah, meskipun teh lebih sering diminum di pagi hari untuk menemani sarapan, tetapi aku tidak tahu menahu jika teh mawar buatan Nenek memiliki manfaat dan kegunaan yang berbeda.Kuseruput teh tersebut, dan rasa yang kudapatkan sangatlah tidak terduga. Rasa pahit dan manis bercampur menjadi satu. Dan anehnya lagi, rasa manis tersebut tidak berasal dari gula, namun dari madu murni yang harganya saat ini menjulang tinggi. Teh ini dapat dinikmati kapanpun dan dimana pun. Tidak kusangka teh mawar buatan Nenek ini seketika menjadi yang paling kusuka!Eh, tapi aku merasakan hal yang ganjil. Sebelumnya, aku mendapati teh ini memiliki uap panas. Dan hal tersebut mengartikan jika teh ini memiliki suhu yang panas. Namun, mengapa ‘panas’ yang kumaksud tidak berada di dalam teh ini? Bagaimana mungkin teh yang tadinya hangat langsung berubah menjadi dingin?“Gimana ndhuk? Enak kan tehnya?” Di tengah-tengah aku sedang berpikir keras, Nenek mendadak menanyakan rasa teh buatannya. Memang enak sih, tapi perubahan suhu yang drastis tadi membuatku merasa ada seseuatu yang ganjil “Tehnya Nenek memang enak! Tapi kok rasanya dingin yah, padahal kan teh lebih enak diminum pas panas.” Heranku. Dan lagi-lagi, Nenek tidak menjawab. Ia malah lanjut membuat teh mawar yang lain untuk dirinya sendiri. Nenek juga menambahkan taburan beberapa kelopak mawar yang telah dikeringkan. Sepertinya hal itu dilakukan olehnya untuk menambahkan cita rasa yang khas ke teh tersebut.“Biasanya mamamu dan tantemu sering membantu nenek membuat teh mawar ini. Bahkan hampir beberapa bunga mawar di kebun habis dipetik sama mereka.” Jelasnya panjang. “Kamu tahu kan bekas luka di pahanya mamamu? Dia dulu pernah bikin teh mawar sama nenek, dan tiba-tiba mamamu ketumpahan air panas. Saking semangatnya anak itu lupa cara berhati-hati.” “Cara bikin teh mawar emang mudah, tapi nggak semua orang tahu ndhuk.” Lanjut Nenek.Aku terheran-heran kepada Nenek yang tiba-tiba saja menceritakan hal tersebut. Apalagi pertanyaanku yang sebelumnya belum Nenek jawab. Apa ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan?Tiba-tiba, Nenek mengambil tanganku dan memberiku sebuah kertas kecil. Tangannya dingin, sangat dingin. Entah mengapa aku membayangkan tangan Nenek sebagai sebuah besi yang terkena suhu dingin di malam hari. “Nenek pingin kamu nyimpen resep teh mawarnya ya… Nenek sudah percaya sama kamu daripada yang lain…” Pesannya sambil tersenyum Aku melihatnya. Senyum terhangat yang pernah aku lihat. Senyuman yang akan aku rindukan selamanya. Kini, berada tepat di depanku. Senyuman itu terpasang di wajah Nenek yang sudah bekeriput. Namun, keindahannya tetap berada di senyuman itu hingga aku tidak bisa berpaling darinya.“Florinnn!” Eh, tante memanggilku. Aku harus beranjak dari sini, tapi Nenek tetap saja memegang tanganku. Sepertinya beliau ingin mengatakan sesuatu kepadaku. “Tolong ya ndhuk, jangan sampai resep teh mawarnya hilang…” Aku pun mengangguk, dan pergi ke arah pintu belakang. Tetapi, aku mengkhawatirkan kondisi Nenek. Kan di luar rumah udaranya sangat dingin di malam hari. Apalagi letak rumah Nenek berada di kaki gunung. Aku pun kembali ke Nenek untuk mengajaknya masuk ke dalam.“Nek, ayo ikut ke dalam, di luar dingin lho.” Ajakku kepada Nenek. Sayangnya, Nenek hanya menggelengkan kepalanya sebagai respon dari ajakanku. Ia menoleh ke kebun mawarnya, dan seketika aku pun paham apa maksudnya. Nenek ingin memandangi kebun mawarnya disertai teh mawar buatannya itu. Aku pun berpamitan kepadanya, lalu pergi ke dalam rumah untuk menemui tanteku yang sebelumnya memanggilku.Aku mencari dimana tanteku berada, tetapi aku tidak dapat menemukannya. “Kamu habis darimana sih ndhuk, tante sudah bawain cabe sama bawangnya lho.” Aku terkejut, seketika aku menghadap ke belakang, dan menemukan tante tengah membawa sebuah plastik hitam. Sepertinya, plastik tersebut berisi cabai dan bawang yang sudah mama pesan sebelumnya. “Hehe, maaf te, tadi sempet ngobrol sama Nenek. Yaudah yuk te, bikin sambelnya aja sekarang.” Ajakku menuju ke dapur. Aku melangkahkan kakiku menuju arah dapur. Tetapi, aku tidak dapat mendengar suara langkah kaki yang ada di belakangku. Apa tante hanya diam saja dan tidak mengikutiku? Wah, perasaanku benar ternyata. Tante terdiam mematung setelah aku mengucapkan hal yang wajar. Yaitu bertemu Nenek. Tetapi, mengapa Tante memasang wajah yang penuh akan keterkejutan?“Kamu ngobrol sama Nenek? Di deket kebun mawar?” Tanyanya heran. “Bukannya mama papamu mengajak kamu ke rumah Nenek untuk—” Kalimatnya terputus. Aku bertanya-tanya mengapa Tante mengucapkan hal seperti itu. Tetapi, “Uhh… Nenek kan sudah meninggal sayang?”—Banyak pelanggan baru maupun lama berdatangan ke toko kecilku. Setelah aku memposting sebuah produk baru di viralgram, entah mengapa aku selalu mendengar orang-orang membahas teh mawar instan yang biasa aku buat.‘Tadi lho, barusan nyobain teh mawar dari FlorinTea jadi lebih percaya diri aku!’ ‘Aduh, pingin beli teh mawarnya tapi selalu kehabisan, jadi kepingin dapet yang gratis langsung dari kak Florin!’ ‘Eh kamu minumnya teh yang biasa aja, kayak aku dong minumnya yang teh mawar, produk baru dari FlorinTea lho!’Sebagian besar orang yang mencintai teh mawar tersebut senang karena dapat mencobanya sambil memamerkannya di storiesnya. Tetapi, tidak sedikit juga orang yang sedih dan kesal karena tidak kebagian teh mawar yang nikmat rasanya ini.“FLORINNNN!” Di saat aku sibuk mendata hasil penjualanku hari ini, temanku mendadak mendobrak pintu ruang kerjaku dan berlari ke arah meja kerja. “Kamu tahu nggak??!” Ucapnya dengan lantang. “Aku nggak tahu.” Balasku dengan santai. Seketika Jefa menghembuskan nafas. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi kesal. Sepertinya ia tidak suka dengan balasanku barusan. “Teh mawar buatanmu buanyak yang suka lho! Kamu nggak nyoba buat pasarin lebih banyak gitu?? Aku juga tadi lihat ada postingan baru dari Jestin Bubar nyukain teh mawar kamu lho! Kamu nggak nyadar gitu kalo tehmu dibelik ama orang?? Astaghfirullahhaladzim kamu ini ya bla bla bla…”Aku memang benci terhadap orang yang terlalu banyak cerita, namun Jefa yang merupakan sahabatku tidak pantas untuk diberikan respon amarah dariku. Aku hanya dapat mendengarnya, dan sesekali aku memalingkan pandangan menuju ke arah sebuah bingkai foto di dekatku. Bingkai foto tersebut merupakan penyemangatku hari ini. Penyemangat disaat aku sedang bersedih. Penyemangat disaat aku sedang merasakan putus asa. Dan juga penyemangat di berbagai hal. Foto yang saat ini kondisinya sudah hampir rusak parah, namun untung saja beberapa perekat seperti isolasi dan lem berhasil membuatnya tidak hancur. Foto yang berisikan seorang Nenek tua dan diriku di masa lalu. Dan juga selembar kertas kecil yang pernah aku dapatkan di dekat kebun mawar Nenek.“Hei kamu dengerin aku nggak sih Flor?” Jefa tiba-tiba saja mengagetkanku. Aku tidak terlalu peduli dengan apa yang ia katakan dan ucapkan, asalkan aku sedang tidak mengamuk saat itu, hahaha. “Tenang saja, teh mawarnya nggak bakalan kujadiin produk yang terbatas kok, hanya saja kan bahan-bahannya yang bikin susah didapet Jef.” Ucapku sambil menenangkan dirinya. “Kamu dari dulu aku udah nawarin kamu kebun mawar 2 hektar, tapi masih aja nggak mau!” Marah Jefa. “Haduh, kan kamu tahu kan kalau aku nggak suka nyusahin orang lain, apalagi sahabat dekatku kayak kamu Jef.” “Eh, sahabat dekat yah hehe.” Jefa tersipu malu.“Tapi aku selalu penasaran Flor, kamu dapat resep tehnya itu dari mana sih? Kok bisa uenak banget!” Heran Jefa. Aku hanya tersenyum. Bisa-bisanya Jefa tidak menyadari hal itu. Padahal kan, resepnya selalu berada di meja kerjaku. Aku pun menjawabnya dengan, “Dari kebun mawar Jef.”

Kamar Mayat
Horror
25 Nov 2025

Kamar Mayat

Di gerbang depan sebuah Rumah Sakit di tengah kota yang sedang diguyur hujan, masuk sebuah motor bebek yang dikendarai oleh seorang pria paruh baya. Motornya melaju pelan ke arah parkiran motor di samping bangunan.Setelah memakirkan motor dan melepaskan helmnya, pria itu segera berlari menuju pintu samping. Dengan masih mengenakan jas hujannya pria itu berjalan menuju ke arah belakang bangunan Rumah Sakit.Sesampainya di sebuah ruangan yang cukup besar, segera dia melepaskan jas hujan yang dikenakannya dan menggantungnya.“Si Rudi sudah pulang rupanya. Tak biasanya dia pulang terlebih dahulu sebelum aku datang. Mungkin karena dia tidak mau terjebak hujan, makannya dia segera pulang”, gumam Andi pelan. Andi adalah seorang penjaga Ruangan Mayat. Seperti biasa dia bertukar shif dengan temannya yang bernama Rudi.Diperhatikannya sekeliling ruangan, terlihat berderet kereta mayat yang berjumlah 8 buah. “Sepertinya ada penghuni baru nih”, katanya pelan. Andi menyadari itu karena sehari sebelumnya hanya ada 4 kereta mayat yang terisi.Dilangkahkan kakinya ke arah kereta mayat bernomor 5 dan 6. Dibacanya keterangan yang menempel pada kereta mayat itu.Saat dia sedang membaca, tiba-tiba terdengar sebuah benda jatuh di belakangnya. Seketika Andi menoleh ke belakang. Andi sudah terbiasa dengan kejadian-kejadian ganjil di ruangan ini. Suara-suara manusia tanpa wujud, benda yang bergerak sendiri dan sebagainya.Dilangkahkan kakinya menuju sumber suara itu. “Iya saya tau, kamu penghuni baru kan?, Saya tau kamu mau kenalan. Saya kerja di sini, kamu juga baru di sini, jadi kita jangan saling mengganggu ya”, kata andi sambil memungut jas hujan yang baru saja digantungnya yang kemudian entah kenapa tiba-tiba terjatuh ke lantai.“Dingin-dingin begini enaknya minum kopi manis nih”, gumamnya. Dilangkahkan kakinya ke sebelah ruangan kamar mayat yang merupakan dapur kecil untuk berbagai keperluan. Dihidupkannya kompor dan diletakkannya panci untuk memanaskan air. Sambil menunggu airnya panas, Andi bersenandung pelan menyanyikan lagu band kesukaannya.Terdengar sayup-sayup siulan yang mengiringi senandungnya. Didengarnya siulan itu cukup nyaring, seperti berasal dari ruangan kamar mayat.Beberapa saat kemudian bunyi panci air mengagetkan Andi. Segera dituangkannya air panas itu ke dalam cangkir yang telah berisi kopi dan gula. Segera dia kembali lagi ke ruangan mayat.Diletakkannya cangkir kopi itu di atas meja, tapi baru saja Andi ingin duduk, matannya menangkap sesuatu yang ganjil. Dia terdiam terpaku, wajahnya pucat pasi. Tak terasa keringat dingin menetes dari keningnya. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya dia berkata, “kemana mayat di kereta nomor 6??”.Dengan keberanian yang masih dimilikinya, perlahan dia berjalan mendekati kereta mayat itu. Dilihatnya kereta itu seperti telah bergeser dari tempatnya semula dan kain penutup mayatnya pun telah jatuh di atas lantai.Dengan keadaan panik diarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ditundukkannya tubuhnya hingga dia berjongkok untuk melihat di sekitar kolong kereta-kereta mayat. “Tidak ada, astaga! Kemana mayat itu?”Seketika pandangannya terhenti pada kolong kereta mayat nomor 1. Kereta mayat nomor 1 terletak di dekat pintu keluar kamar mayat. Betapa terkejutnya Andi, tampak sepasang kaki manusia berdiri tepat di samping kereta mayat nomor 1. Karena dalam posisi sedang berjongkok dan pandangannya terhalang, Andi hanya dapat melihat bagian kakinya saja. Kakinya seperti kaki manusia akan tetapi kulitnya berwarna hitam legam dan tanpa alas kaki. Secepat kilat Andi berdiri, dan melihat ke arah kereta nomor 1.Heran, itu lah yang ada dipikirannya sekarang. Tak tampak satu pun manusia yang berdiri di sana. Padahal dengan pasti tadi dia telah melihat sepasang kaki yang sedang berdiri. “Apakah itu hantu?”, batin Andi dalam hati.Selama 10 tahun dia bekerja di ruangan mayat ini, tapi kalau dibilang baru kali ini dia melihat wujud hantu walaupun cuma sebatas kaki. Seakan tak percaya dan ingin memastikannya kembali cepat-cepat dia berlari ke arah pintu keluar kamar mayat, siapa tau memang ada orang yang berdiri tadi di sana. Hanya tampak lorong-lorong kosong dan rintik hujan yang membasahi taman kecil di depannya.Seketika hawa dingin menyelimutinya, tubuhnya menggigil kedinginan, disilangkannya kedua tangannya di depan dadanya. Cepat-cepat dia berbalik masuk dan menutup pintu kamar mayat.Seketika Andi terpaku, didengarnya suara seperti benda yang diseret di lantai. Kemudian dia berbalik dan mencari asal suara itu, suaranya pelan tapi jelas sekali. Arahnya dari kereta yang paling ujung yaitu nomor 8. Karena pandangannya terhalang oleh kereta-kereta yang lain, sehingga dia tidak dapat melihat ke arah lantai dimana suara itu berasal.Untuk memastikan benda apa yang membuat suara itu, perlahan dia berjalan ke arah tengah ruangan agar pandangannya lebih jelas. “AaakKkkhhh….!!!”, tiba-tiba Andi menjerit sejadi-jadinya. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, tubuh Andi melemah, seakan kakinya tak kuasa menahan berat tubuhnya, dia pun jatuh terduduk di lantai.Dihadapannya tampak sesosok makhluk dengan kulit hitam legam dalam posisi merangkak pelan ke arah Andi. Matanya seakan memandang tajam ke arah Andi dengan giginya yang menyeringai marah.Makhluk hitam itu merangkak maju sambil mengeluarkan suara geraman yang membuat Andi tambah ketakutan.Tak kuasa Andi melihatnya, ditutupnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Pergi!!, jangan sakiti aku!”, pekik andi gemetar.Semakin lama suara geraman itu semakin jelas, yang sepertinya sudah mulai mendekat ke arah Andi.Tiba-tiba sebuah cengkraman kuat memegang kedua belah tangan Andi dan menyingkirkannya dari wajahnya. Betapa terkejutnya Andi, sekarang dihadapannya terpampang sosok makhluk hitam dengan wajah setengah hancur di bagian atas kepalanya. Walaupun wajahnya hitam, andi dapat melihat tetesan darah segar yang mengucur dari atas kepalanya yang hancur.“Kenapa kau membunuhku?”, terdengar sebuah pertanyaan dari sosok makhluk hitam itu. “Membunuhmu? Apa yang kau bicarakan? Aku tak mengerti”, jawab andi gemetar. “Kau tak ingat apa yang telah terjadi? Aku begini karena ulahmu. Lihatlah aku sekarang, apakah kau tak mengenaliku?”, wujud makhluk hitam itu semakin mendekatkan wajahnya ke hadapan Andi.“Rudi… itukah kau?”, kata Andi seakan tak percaya. Andi baru menyadari kalau yang dihadapannya sekarang adalah teman kerjanya. “Ya, ini aku Rudi. Akibat ulahmu aku jadi celaka, aku kehilangan kendali hingga aku terjatuh dan menabrak sebuah mobil Truk dan terbakar”, kata makhluk itu dengan nada marah. “Apa yang kau bicarakan? Tak pernah aku..”, Andi terdiam, sebelum dia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba dia teringat kejadian saat di jalan menuju Rumah Sakit.Saat itu jalanan sedang sepi karena hujan, hanya beberapa kendaraan roda empat yang melaju di jalanan.Karena terburu-buru, Andi menambah kecepatan motornya dan mencoba menyalip sebuah mobil di depannya. saat Andi menyalip, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul sebuah motor. Karena terkejut cepat-cepat Andi menghindar ke arah kiri.Karena teringat akan hal itu tak terasa air matanya menetes dan Andi mulai menangis. “Apakah orang yang mengendarai motor itu adalah kau, Rudi? Oh.. tuhan, maafkan aku”, Andi menangis sejadi-jadinya. “Ya, Andi. Itu aku. Sekarang aku ada di sini, menjadi penghuni Ruangan ini selamanya sama sepertimu”, kata makhluk itu sambil tersenyum hingga menampakkan giginya yang mengeluarkan darah.“Penghuni di sini selamanya bersamamu? Apa maksudmu?”, Andi terkejut dengan perkataan makhluk itu.“Kau sama sepertiku, Andi. Kau juga sudah mati. Kau terjatuh dan menabrak sebuah pohon saat mencoba menghindariku”, kata makhluk itu sambil tersenyum sinis dan kemudian dia mulai tertawa hingga menggema di dalam kamar mayat.

Jeratan Kutuk
Horror
25 Nov 2025

Jeratan Kutuk

Suara tangisan yang tak berhenti membuat aku semakin merinding. Tepat hari ini, ibu dari ibuku, yah biasa dipanggil nenek, meninggal dunia. Nenek meninggal di usia 97 tahun. Semasa hidupnya, ia banyak menolong orang, bahkan menyembuhkan orang, tetapi kata mamaku tidak dengan cara yang baik.Keesokan hari setelah kepergian nenek, rumah nenek belum kunjung sepi kedatangan orang-orang desa setempat. Beberapa dari mereka membawa hasil panen dan ternak mereka ke rumah nenek sebagai ucapan terimakasih karena pernah menolong mereka. Aku tidak paham, tetapi aku harus menghargai.“Ma, untuk siapa nanti semua pemberian itu?” Tanyaku ke pada mama yang sedang merapikan barang-barang yang mereka beri. “Ya tentu untuk keluarga yang ditinggalkan, ga mungkin untuk nenek kan?” Jawab mama sambil menggodaku.Tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku. Hmm, ternyata tanteku, kuperjelas, adek dari mamaku. “Halo, sedang repot yah disini”. ujarnya sambil memegang pundakku. “Kak, ke belakang bentar, ada yang mau aku bilang. Biar Blessia yang lanjutin rapiin barang-barangnya”. Lanjutnya sambil menarik tangan mama. Oh iyaa, namaku Blessia Theophani. Tahun ini umurku genap 18 tahun, aku seorang mahasiswa baru, jurusan sosiologi di universitas swasta terdekat di daerah tempat tinggalku.Setelah berbincang dengan tanteku, mama terlihat sangat aneh. Terlihat murung dan kebingungan sambil mencari papa yang sedang ngobrol dengan para tamu. Beberapa saat kemudian mama menemuiku sambil membawa beberapa barang-barang kami. “Blessia, beresein barang-barangmu, kita pulang sore ini karena si papa ada kerjaan mendadak, jangan sampai buru-buru nanti bahaya di jalan loh.” Kata mama sambil mengambil koper di atas lemari. Sebagai anak tunggal yang baik, aku nurut dan segera mengemas barang.Satu persatu barang di masukan papa ke mobil, sementara mama dan aku sibuk salam-salaman dengan saudara-saudara yang lain. “Pamit yaa om baik.” Ujarku sambil bersalaman dengan kakak paling tua dari keluarga mamaku, om yang tidak pernah memarahiku sejak kecil, bahkan ia menganggapku seperti anaknya sendiri, oleh sebab itu aku memanggilnya “Om baik”. Beliau belum menikah padahal umur sudah hampir 50 tahun, kalau aku tanya sih katanya ia sudah berjanji tidak menikah seumur hidupnya untuk sebuah ilmu yang akan membuat ia kuat seumur hidup. Tidak perlu heran, keluarga mama emang masih kuat percaya dengan hal-hal itu.Sore itu, kami pulang dari kampung dan menuju rumah yang jauhnya sekitar 7 jam dari kampung nenek. Ditengah perjalanan, tiba-tiba aku melihat seorang perempuan yang seperti mau bunuh diri. Ia berdiri di tengah jalan ketika mobil kami hendak melaju. Seketika aku berteriak kencang. “Aaaarggggghhhh!!!” sambil menutup mataku dengan kedua tangan. Mama langsung memegangku, “Blessia! Kenapa sayang? Kenapa kamu teriak?”. Tanyanya dengan khawatir. Ini benar-benar aneh, sangat aneh. Aku melihat jelas ada wanita yang mau bunuh diri di tengah jalan, tetapi Papa dan Mama tidak melihatnya. “Mam, pap, tadi disitu tuh ada cewe berdiri di tengah jalan. Kayak mau kita tabrak.” Jawabku sambil menunjuk kearah belakang. “Hei, hei.. Sayang, kamu ngantuk kah? Tidak ada siapa-siapa di jalan, gak mungkin kan Papa tabrak orang ga kerasa.” Sahut Papa meyakinkan bahwa aku salah lihat. Aku cuma bisa terdiam, aku tidak ngantuk dan aku tidak mungkin salah lihat. Tadi itu benar-benar sangat jelas. Aku sangat berharap kalian melihatnya.Beberapa saat kemudian kami tiba di rumah, aku memutuskan untuk langsung tidur karena sangat lelah.“Blessia! Blessia bangun! Bangun nak!” Mama menarik-narik badanku untuk membangunkanku. Ternyata sudah pagi, aku terbangun dan melihat mama dan papa yang tampak gelisah di sisiku. “Apa sih mam, pap, aku masih ngantuk, ntar lagi deh.” Kataku sambil berusaha duduk. “Kamu gak apa-apa kan sayang? ada yang sakit?” Tanya papa. Aku bingung, mengapa papa bertanya seperti itu padahal sejak kemarin kami bersama dan tidak terjadi apa-apa denganku. Lalu mama langsung menceritakan apa yang terjadi padaku barusan. Ternyata aku ngigau. Kata mama aku teriak-teriak dan memukuli badanku sendiri. Astaga aku benar-benar tidak sadar, bahkan tidak merasa kesakitan padahal tubuhku sudah merah-merah. Anehnya keadaan ini terus-terusan terjadi padaku setiap malam saat tertidur. Apa sebenarnya yang terjadi? Bahkan mama dan papa rela tidur di kamarku untuk menjagaku, agar tidak melukai tubuhku.Karena hal ini benar-benar aneh, Mama menceritakan hal ini kepada keluarganya lewat telepon. “… Tapi dek, bukankah sudah dilepas? Mengapa Blessia masih kena?” Kata Mama yang sedang menelepon Tanteku. Spontan aku langsung bertanya ke mama, “Apa yang dilepas ma? Kena Apa?” Mama kaget melihat ku ada dibelakangnya dan langsung mematikan telepon. Akhirnya, Mama menceritakan apa sebenarnya yang terjadi.Saat aku lahir, Nenek sedang jatuh-jatuhnya dari pekerjaannya sebagai bidan desa. Karena tidak ingin usahanya hancur, Nenek menyerahkanku kepada sosok yang ia sembah selama hidupnya. Bukan kepada Tuhan, tetapi kepada roh jahat. Ia berjanji bahwa ia akan menjadikanku sama sepertinya kelak, bila ia sudah tiada. Mama marah, ketika ia tau hal itu, ia langsung membawaku ke rumah ibadah dan meminta agar Pendeta melepaskan perjanjian Nenek dengan roh kegelapan itu. Mama adalah anak yang paling dekat dengan Kakekku, sehingga mama ikut jalan Kakek. Beliau adalah seseorang yang taat agama, namun sayangnya beliau sudah lama meninggal bahkan sebelum aku lahir. Oleh sebab itu, mama berbeda dengan tante dan omku, mereka ikut dengan jalan Nenek.Aku sangat kaget mendengar cerita Mama, aku sangat ketakutan. Mama berusaha meyakinkanku semuanya akan baik-baik saja. Namun, seketika saat itu tubuhku menjadi dingin, kepalaku sangat sakit. “Aaaaarghhhhhh!! Jangan lepaskan aku dari tubuh ini! Jangan coba-coba atau gadis ini akan menderita! Hahahah.. Bodohhh kalian!” Roh jahat itu masuk lagi kedalam tubuhku. Mama terkejut dan berteriak memanggil Papa, sementara roh jahat itu terus tertawa dan berteriak.Papa datang dan langsung memeluk tubuhku dengan kuat, lalu mama mulai berdoa sambil memegang kepalaku. Roh jahat itu berteriak kesakitan lalu pergi, aku langsung lemas dan tak berdaya. Hal itu benar-benar membuatku takut, aku benci Nenekku, mengapa ia melakukan itu kepadaku. Aku sangat ketakutan sambil melihat seisi kamarku, berharap roh jahat itu tidak datang lagi.Setelah kejadian itu, kami mendapat kabar buruk dari kampung. Ternyata Omku mengalami kecelakaan, ia harus kehilangan salah satu kakinya karena kecelakaan itu. Om baik sangat tidak berdaya, katanya ia mengalami kecelakaan karena jalan licin. Mama sangat tertekan, ia cuma bisa menangis melihat apa yang terjadi dengan keluarganya.“Gimana keadaan om baik sekarang?” Tanyaku lewat telepon. Seketika Omku menangis mendengar suaraku, ia sangat ingin aku ada disana bersamanya, tetapi menurut ibu kediaman Nenek di kampung berbahaya untukku yang sedang seperti ini. “Om sudah baik sekarang, kamu juga baik kan nak?” Jawab Om dengan suara sedikit gemetar menahan nangis. Aku berusaha menguatkan dan menghibur Om baik, sekarang ia tidak bisa apa-apa. Ia kehilangan salah satu kakinya, dan ia menyesal. Impiannya untuk mendapatkan ilmu kuat justru membuat dia semakin lemah. Ia sadar bahwa semua kepercayaan buruknya adalah sia-sia, ia kehilangan banyak harta dan bahkan kesempatan untuk memiliki keluarga. Tanteku yang melihat langsung keadaan Om baik juga ikut tersadar, dan memilih untuk melepas semua kepercayaan buruknya dan memulai hidup dengan percaya kepada Tuhan. Mama dan Papa memutuskan untuk membawa Om baik tinggal bersama kami karena tidak akan ada yang merawatnya, sementara tanteku punya keluarga yang harus ia rawat juga. Mama berharap bisa membawa Om ku kepada hidup yang baru, yang jauh lebih baik. Aku senang sekali, akhirnya impian Mama melihat keluarganya bertobat terwujud, aku berharap setelah ini keluarga kami akan baik-baik saja.Tetapi harapanku tidak semudah itu aku dapatkan, saat Mama dan Papa di perjalanan pulang dari kampung menjemput Omku menuju rumah, aku kembali di ganggu roh jahat itu. Bahkan ia sangat menguasaiku, membuatku menghancurkan seisi rumah bahkan lagi dan lagi melukai tubuhku. Tetangga yang sudah lama tau keadaanku segera mengabari Mama dan Papa, mereka langsung bergegas pulang ke rumah.Roh jahat itu membawaku keliling halaman rumah sambil berteriak, “Kalian semua bodoh!Harusnya kalian percaya padaku!Ayo percaya padaku! Hahahahha.. Percayalah padaku!!” Semua tetangga keluar dan berusaha menangkapku yang sudah seperti orang gila. Sampai pada akhirnya salah satu tetangga memanggil Pendeta untuk mendoakanku. Aku berhasil ditangkap, lalu Pendeta merangkulku dengan lembut dan berbisik, “Nak, kamu bisa melawannya sendiri, jangan anggap dia kuat, karena kamu jauh lebih kuat sebab Tuhan besertamu, lawanlah! Sebut Nama Tuhan yang berkuasa dan akan melenyapkan roh jahat itu!” Aku mendengar jelas suara Pendeta itu, aku menangis. Lalu aku melakukan sesuai saran Pendeta, seketika roh jahat itu menjerit kesakitan dan langsung pergi dari tubuhku. Tepat saat itu juga Mama dan Papa sudah sampai dan langsung memelukku.Pendeta menasehati kami sekeluarga agar terus mendekatkan diri kepada Tuhan. Lalu Mama menceritakan kepada Pendeta bahwa saat kecil aku sudah didoakan untuk dilepaskan dari ikatan kutuk itu, tetapi mengapa masih belum lepas.Tiba-tiba Omku yang duduk di atas kursi rodanya menyahut pembicaraan Mama dan Pendeta. Om mengatakan bahwa ia memberitahu Nenek tentang hal itu, sehingga Nenek kembali menyerahkanku kepada roh jahat tanpa sepengetahuan Mama. Saat mendengar itu, Mama langsung menangis dan sangat kesal, ia sangat sedih dengan kelakuan keluarganya.Pendeta menjelaskan bahwa semua ini disebut kutuk, dimana kutuk ini akan menjerat garis keturunan bila tidak dilepaskan. Tidak hanya anak yang diserahkan yang akan kena, bahkan anak yang tidak diserahkan juga bisa kena, tergantung siapa yang dipilih. Tetapi Pendeta juga meyakinkan kami bahwa ini benar-benar sudah lepas karena aku sudah tau kunci melepaskannya. Ya, caranya adalah menguasai diri sendiri untuk percaya bahwa kekuatan Tuhan jauh lebih dahsyat dan berkuasa dari pada roh jahat itu dan mendekatkan diri kepada Tuhan untuk menguatkan iman percaya kita. Tuhan sekuat dengan apa yang kita percaya sendiri, kalau kita percaya Tuhan luar biasa, maka kekuatan Nya pun akan luar biasa.

Desa Mati
Horror
25 Nov 2025

Desa Mati

Hai nama aku Santun, ini adalah cerita horor, tepatnya tentang “Desa Mati”Rumah itu ditempati 1 nenek, dia tinggal sendirian tidak punya keluarga, dan keluargaku sering ke rumah itu, karena keluarga aku peduli sama nenek itu, keluarga aku sering membantu kepadanya,Dan pada suatu hari nenek itu jatuh sakit terkena kanker paru paru, tidak ada orang yang menolong, hanya keluargaku yang sering menjenguknya dan membantu merawatnya,Namun si nenek itu sudah tidak bisa dirawat lagi kondisinya sudah sangat lemah, dan setelah 12 hari nenek itu sudah meninggal,Tidak ada orang yang berani menjenguknya karena tetangga tidak tau jika nenek itu sudah meninggal sejak 12 hari yang lalu, tetangga bilang kalau rumah itu sudah membusuk,Setelah itu keluarga aku tidak tau kalau nenek itu sudah meninggal 12 hari yang lalu, keluarga aku tidak mampu menjenguknya karena keluarga aku takut karena rumah itu sudah mulai membusuk, semua orang membiarkannya,Tak lama juga pada beberapa hari selang rumah itu sudah roboh, sehingga mayat nenek itu terlihat dari kejauhan, tepatnya rumah nenek itu di pinggir jalan, jarak jauh rumah itu sekitar 13 meter di jalan, sehingga orang pertama yang melihat mayat itu jatuh pingsan di jalan,Setelah dia bangun dari jalan dia langsung lari terbirit birit, sambil berteriak dan dia menceritakan kepada seluruh warga, dan para tetangga mulai takut dan tidak akan melewati di depan rumahnya,Pada malam hari jam 12 malam aku terbangun dari tidur di kamar, dan diluar hujan deras, aku ketakutan mengingat nenek itu aku tidak bisa melupakannya,Dan aku melihat keluar ada yang terbang, di depan jendela ada wajah nenek itu, aku berteriak sekencang kencangnya dan pingsan, setelah aku bangun dari pingsan, Ayah dan ibuku bilang “Kamu kenapa bertieriak nak?” ucap ayah, “aku ketakutan tadi aku melihat sosok wajah nenek itu” ucap aku, “dimana kamu melihatnya, nak” ucap ibu “aku melihat di jendela itu buk, dan ada yang terbang diluar”Terus ayah dan ibuku menyuruh untuk tidur bersama, dan pada siang hari tetangga menceritakan bahwa sosok nenek itu mengganggu seluruh warga, para tetangga Memutuskan untuk pergi dari desa ini, dan pindah tempat,Karena semua tetangga pergi, keluarga aku juga memutuskan untuk pergi dari desa ini, tetapi kepala RT dan Kyai Memutuskan untuk tidak pergi, Kyai Bilang kalau almarhum nenek itu hanya mau untuk dikuburkan dan disholatkan, dan pak RT telah menyuruh Tim Medis untuk menguburkan dan setelah itu almarhum nenek sudah dikuburkan dan disholatkan oleh warga setempat, dan warga merasa kalau almarhum nenek itu tidak mengganggunya lagi, dan semua warga semua tenang,“Seburuk buruknya perbuatan manusia semasa hidupnya, namun dia beragama islam, maka kita diwajibkan untuk Men sholatkannya”

Kita, yang Pulang
Horror
25 Nov 2025

Kita, yang Pulang

Dalam gelap malam, tiba-tiba petir seperti menyambar tepat di sebelahku, Duaarrrr!!!. Aku kaget setengah mati, tiba-tiba kurasakan hawa merinding di tubuhku. kuhentikan sepeda motorku, mengingat rute yang biasa kulalui dan sekarang ini berbeda aku memutuskan untuk berhenti.Lalu tiba-tiba seseorang menghampiriku, Seorang pria tua bertubuh kekar tanpa mengenakan baju, hanya bercelana panjang tanpa alas kaki mengenakan blangkon dengan wajah yang selalu meringis seperti menahan sakit.Dalam bahasa yang bisa kuhpahami dia berkata, suaranya agak berbisik dan mendesis namun jelas perkataan yang dia katakan kepadaku, “Ini sudah malam, kamu mau kemana? Disini bukan tempat untuk orang sepertimu” kata beliau, dalam bahasa jawa halus Aku berusaha menjawab dengan bahasa jawa halus “Mohon maaf pak, saya mau pulang, namun saya tersasar” Dia memandangku tajam, aku bergidik.Dalam kengerianku, aku menyadari ada bau khas menyan, dan sedikit sentuhan melati, kantil atau sejenisnya Aku makin merinding, lenganku di pegang oleh orang itu,“Pulanglah, tempat ini bukan tempatmu ” Aku tak menjawab, aku berusaha tenang walau sangat ketakutan, tubuhku bergetar. “Kalau kamu tersesat, ingatlah bahwa kamu hanya punya keyakinan, pilihlah dengan bijak ” Kata pria tua itu melanjutkan.Pria tua itu melepas tangannya lalu pergi meninggalkanku begitu saja, setengah sadar tidak sadar ketika pria tua itu melangkahkan kaki, yang kudengar adalah langkah tapak kaki kuda, ya! Ketika ia melangkah aku mendengar seperti suara kaki empat berjalan dengan ketukan yang sama ketika kuda sedang berjalan.Aku mendongak ke atas, agak aneh memang, walaupun gelap ini terasa seperti terang bulan, namun tidak ada bulan yang bersinar, bintang juga tak kutemukan satupun. Dalam gelap gerimis mengguyur, mengguyurku dalam gelap terang bulan.Sepeda motor kunyalakan, sayang motorku yang sebelumnya memang kurang sehat sekarang bisa dibilang sekarat. Motor tua, macet, dan agak brengsek ini tak bisa diajak kerjasama.Lalu, sekonyong konyong pundakku ditepuk seseorang, aku sangat kaget dan tersentak. Aku membalikkan tubuhku, kulihat seseorang di belakangku. Seorang wanita, tersenyum, namun senyumannya ganjil, di dahi kanannya mengalir darah yang masih mengalir hingga menyentuh bibirnya, wanita itu berbau anyir, pakaian nya bukan seperti pakaian jaman sekarang, itu pakaian adat jawa lengkap dengan sanggul di kepala dan kebaya hijau dan matanya, matanya selalu melotot namun tak pernah memandangkuTubuhku kaku, kelu dan tak bisa berbuat apapun. Wanita melotot sambil mengeram, Lalu dalam bahasa jawa kasar yang dapat kupahami dia bersuara dengan agak berteriak “Kamu, kamu tahu jalan pulang kemana?” Kulihat wajahnya, matanya selalu melotot tapi tak pernah memandangku, seolah dia memandang ke arah lain, tersenyum namun ganjil Aku merinding, menahan nafas, tak bisa kujawab pertanyaan itu“Kamu, kamu antar aku pulang sekarang” kata katanya sangat keras, Aku masih tak menjawab, ketakutanku terlalu mengekang tubuhku “Kamu, kamu tahu bisa kesini sekarang antar aku pulang” wanita itu masih berteriak dan masih tak memandangiku. Lalu tangan wanita itu memegang pundakku, aku yang di depannya hampir saja jatuh pingsan tak sadarkan diri.“Kamu, kamu tidak pantas…” Dia tak melanjutkan perkataannya, hanya meremas pundakku dengan sangat kuat lalu melepasnya dengan kasar seperti menarik pundakku. Hampir jatuh aku dibuatnya. Aku tak berkata apa apa, membisu dan takut.Kini dengan wajah yang tiba-tiba agak ketakutan dan mata masih melotot wanita itu mundur dengan masih melihat satu objek yang sama entah aku juga tak paham, dia berjalan mundur, dalam gelap dan gerimis, wanita itu berjalan mundur lurus, hingga jauh dan tak lihat lagi wanita itu berada.Aku menyeka keringat, tubuhku masih bergetar, mataku memerah, mungkin aku menangis namun air hujan membuat tangisanku tak terlihat. Sadar akan hal buruk yang terjadi, aku mengucap nama tuhan dan berdoa semampuku, banyak doa yang kuucap. Aku menengadah, kurasakan atmosfir bumi terasa bergerak sangat cepat, lalu kudengar ayam berkokok menandakan pagi telah tiba, lalu sayup kudengar seseorang melantunkan adzan, suara yang sayup lalu bersahut-sahutan, seperti disiram air dalam panas nya api, dalam sejenak aku merasakan kebebasan, rasa syukur dan kebahagiaan.Motor tua yang ku sumpah dan kumusuhi tanpa kupegang tiba-tiba hidup begitu saja, Tak kuambil waktu lama, kuputuskan untuk pulang,Aku memang sudah selangkah untuk pulang, namun kurasakan pundak yang diremas wanita tadi kini sangat berat, seperti menahan sesuatu yang aku juga tak paham, aku masih tak peduli, yang kupikirkan hanya pulang Ketika hendak memasuki rumah, tiba-tibaBrukkk…Saking beratnya beban di pundakku, aku jatuh, tak sadarkan diri.

Pesan Lewat Mimpi
Horror
25 Nov 2025

Pesan Lewat Mimpi

Terlihat kerumunan orang-orang berdiri di depan lift rumah sakit, Sarah duduk di bangku ruang tunggu rumah sakit. Tidak lama ia melihat Wika keluar dari dalam lift dan langsung dipeluk oleh sebagian orang-orang yang berdiri tadi. Ternyata mereka adalah teman-teman sekolah Wika. Tampak raut muka yang simpati dan sedih sekaligus, bahkan Sarah melihat Wika masih meneteskan air matanya.Ya, Mamanya Wika baru saja meninggal dunia karena penyakitnya yang sudah lama komplikasi. Kami sekeluarga langsung datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar duka ini. Padahal baru dua hari lalu Sarah dan Ibunya menjenguk Mamanya Wika, keadaannya waktu itu memang sudah tidak tertolong lagi hanya menunggu waktu saja, tetapi kami sekeluarga berharap ada keajaiban datang, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.Bergantian orang-orang pada datang melayat ke rumah Wika, kami para sepupu Wika berada di rumah samping, di kamar Mbah. Sebagian berada di rumah Wika, jenazah Mama Wika disemayamkan di ruang keluarga mereka. Ya rumah ini adalah dua rumah menjadi satu, rumah disamping ini adalah rumah Mbah mereka.Kesedihan tampak di wajah Papanya Wika, Wika dan Ferry abangnya Wika. Sarah berusaha menenangkan Wika, ia tahu Wika sangat sangat dekat dengan Mamanya. Walaupun Sarah tidak dekat dengan Mamanya Wika, atau kata lain Tantenya itu, karena Sarah sempat dengar kalau Wika tidak diperbolehkan dekat dengan dirinya, entah karena apa alasannya. Tetapi malah selama ini Wika selalu dekat dengan dirinya, karena selama ini Sarah tinggal dengan Mbahnya, karena kedua orangtua Sarah bekerja di luar kota.“Itu di bagian kain yang menutup wajahnya, ada bercak merah ya..” ucap salah satu tantenya “Mungkin itu adalah salah satu balasan dari Tuhan,” jawab tantenya yang lain Bercak darah?? Gumam Sarah dalam hati, kalau dengar dari pembicaraan kedua tantenya itu, Sarah sedikit bisa menebak kenapa hal itu bisa terjadi, tapi ia tidak mau berspekulasi dengan pendapatnya itu, takut salah. Walaupun sudah menjadi rahasia umum kalau Mamanya Wika dengan mertuanya, yang tidak lain adalah Mbahnya sendiri, tidak pernah akur.Singkat cerita, setelah menguburkan jenazah Mamanya Wika, sebagian dari kami pulang terlebih dahulu, sebagian masih ada di rumah Wika untuk mempersiapkan tahlilan. Hari menjelang sore, Wika terlihat sudah agak lebih baik, terlihat dia sudah bisa tersenyum. Sarah mendekati Wika yang sedang duduk di bangku tamu diteras rumah. Sarah memeluknya dengan erat, Wika pun memeluk Sarah dengan sama eratnya. “Sabar, ya” ucap Sarah, “Masih ada gue kok disini..”Beberapa hari setelah meninggalnya Mama Wika, keadaan di rumah itu menjadi normal kembali. Wika masih suka datang ke kamar Sarah untuk sekedar rebahan dan bercerita. Apapun dia ceritakan kepadanya. Sarah sedikit tenang melihat kondisi Wika sekarang ini.Hingga pada suatu malam Sarah bermimpi, mimpi yang cukup seram menurutnya. Tiba-tiba saja dirinya sudah berada di daerah pemakaman dan keadaan saat itu terlihat gelap atau seperti saat malam hari. Sarah terkejut melihat liang kubur disampingnya terbuka, liang kubur siapakah ini, ucapnya dalam hati. Dan ternyata di samping liang kubur yang terbuka itu, tergeletak jenazah yang sudah dikain kafani tetapi tali yang mengikat di atas kepala, di badannya dan di kaki itu terbuka semua. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Sarah berusaha mengikat kembali tali-tali itu, dan di saat ia mau mengikat tali di bagian badan tiba-tiba jenazah itu bangun!!! Dengan wajah dan badan yang berdarah-darah seperti disayat dan dicambuk.Sarah tidak dapat bergerak sama sekali, kini wajah jenazah itu melotot kepadanya, “Kamu harus jaga bayi saya” ucap jenazah itu dengan wajah yang sedih dan berharap kepadanya Sarah kaget jenazah itu berbicara kepadanya, ia pun langsung cepat berdiri dan berusaha memasukkan jenazah itu ke dalam liang kubur dengan cara mendorongnya, tetapi jenazah itu bertahan dengan kuatnya karena tidak mau kembali ke dalam liang kubur itu. “Kamu harus masuk ke dalam lagi, itu tempat kamu berada!” ucap Sarah “Saya tidak mau kembali ke bawah, ada api berkobar-kobar di bawah sana..” ucapnyaSarah pun melihat ke arah liang kubur itu dan ternyata benar ada kobaran api besar menjulur dari bawah, sangat besar sampai ia hampir merasakan panasnya api itu. Tanahnya pun berwarna hitam pekat “Berjanjilah kepada saya, kamu harus menjaga bayi saya” ucapnya lagi “Bayi siapa? Saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan” tanya Sarah “Pokoknya kamu harus menjaga bayi saya.. tolong jaga bayi saya..” ucapnya lagiTidak lama kemudian Sarah mendengar suara langkah kaki seperti kerumunan orang-orang, duk duk duk duk.. banyak suara langkah kaki mendekati ke arahnya. Sarah melihat ke arah datangnya suara itu, tapi dirinya tidak bisa melihat siapa mereka. Yang bisa ia lihat hanyalah, banyak bayangan hitam pekat mendekati jenazah itu, berbaris rapi di hadapannya dan kemudian kaki jenazah itu ditarik oleh bayangan hitam pekat itu dengan kasarnya. Ditarik kembali ke dalam liang kubur yang terdapat api yang berkobar-kobar. “Tidaaaaakkkkkkkkkk!!!” teriak jenazah itu saat ditarik ke bawah liang kubur, api pun semakin tambah membesar saat jenazah itu masuk ke dalam.Sarah terbangun dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ia melihat jam, pukul 03.05 pagi. Ia masih merasakan ketakutan dengan mimpinya itu. Ya, dirinya memimpikkan tantenya yang baru meninggal dunia kemarin. Mamanya Wika.“Jadi begitu ceritanya tante..” jelas Sarah kepada tantenya Saat ini ia berada di rumah tantenya dan menceritakan semua mimpinya itu, masih jelas ia rasakan panasnya api di liang kubur itu. Wajah Mamanya Wika yang ketakutan dan berdarah-darah dan badannya pun seperti tercabik-cabik. Dengan kata lain, itulah siksa kubur, di mana manusia akan mendapatkan balasannya akibat perbuatannya selama di dunia.“Ya tante sih nggak bisa bicara banyak ya. Tapi mungkin maksud dari mimpi itu adalah, kamu diminta jagain Wika. Siapa lagi coba bayinya yang dimaksud itu, kalau mengenai wajah dan badannya berdarah-darah, mungkin itu adalah hukuman buat almarhumah selama hidup. Tapi lebih baik kita doakan saja almarhumah semoga diampuni semua dosa-dosanya..” “Ammiinn…” ucap Sarah “Semoga Sarah juga bisa menjaga Wika seperti yang almarhumah minta” tambahnya

Penunggu Rumah Nenek
Horror
25 Nov 2025

Penunggu Rumah Nenek

Sudah beberapa hari ini Lucy menempati kamar barunya di rumah neneknya. Ia pindah karena tempat kerjaannya lebih dekat dengan rumah neneknya di tengah pusat Jakarta. Kamarnya berada di lantai dua.Di rumah neneknya, sudah dua kali Lucy mengalami kejadian seram, tepatnya di kamarnya sendiri. Pertama, pada saat malam hari dimana Lucy sudah tertidur pulas tiba-tiba terdengar suara ngorok yang keras dari kamar sebelah. Memang kamarnya bersebelahan dengan kamar om nya kala itu dan hanya disekat olah papan triplek yang tebal dan di pojok atas terdapat potongan papan triplek sehingga terdapat bolongan antara kamarnya dengan kamar om nya itu. Sesaat Lucy pikir itu suara om nya yang sedang tidur, maka ia pun tidur kembali, tapi setengah jam kemudian ia terbangun karena ingin ke kamar mandi. Saat ia turun ke bawah, Lucy melihat om nya baru pulang kerja, karena shift siang.“Loh om baru pulang kerja??” tanya Lucy “Iya, kenapa emang??” jawab om nya “Terus tadi yang ngorok di dalem kamar om siapa dong?!” tanya Lucy lagi dengan kaget “Ohh itu, paling yang tunggu kamar di pojokkan” jawab om nya dengan santai “????”Kedua, Lucy merasa lelah sekali seharian kerja dan kuliah. Maka setelah sampai rumah dan mandi, ia segera rebahan di kasurnya dan merasakan nikmat yang luar biasa karena bisa meluruskan tubuhnya. Tidak terasa kemudian ia terlelap tidur, bahkan sampai ibunya masuk ke dalam kamarnya pun ia tidak tahu.Sampai di saat ia terbangun karena ada dua suara anak kecil seperti sedang main di dalam kamarnya dan terdengar ceria suara anak anak itu. Saat Lucy berusaha untuk membalikkan tubuhnya, saat itu ia tertidur menghadap ke tembok, Lucy tidak bisa membalikkan tubuhnya. Terasa berat sekali dan sesak di dadanya. Ia pun berusaha melihat ke arah langit langit kamarnya, ia melihat ada dua bayangan anak kecil sedang berada di atas tubuhnya, berloncat-loncatan tertawa riang. Jelas terdengar suara tertawa cekikian mereka. Lucy semakin merasakan sesak di dada, disaat itu pun ia sadar kalau dirinya ditindih oleh makhluk astral. Berbagai doa pun ia ucapkan dalam hati, bahkan ia sampai berpikir kalau ia tidak bisa selamat karena sesak yang dirasakan di dadanya. Tapi tetap ia berdoa sebanyak banyaknya sampai ia kembali tertidur pulas.Keesokannya, Lucy menceritakan kejadian itu kepada ayah dan ibunya, “Mas, itu coba kamarnya Lucy kamu sholatin, supaya jangan gangguin Lucy lagi” ucap ibunya, “Iya, nanti aku sholat di kamarnya Lucy” jawab ayahnyaSorenya sampai malam, ayahnya Lucy sholat di kamarnya dan setelah itu, Lucy tidak pernah diganggu lagi oleh mereka. Walaupun kesan seram masih ia rasakan, karena memang di rumah neneknya itu banyak sekali penunggunya. Bahkan ayahnya bilang, di rumah neneknya itu ada nenek nenek yang berdiam di daerah kamar mandi, tante kunti di kamar ayah dan ibunya, ada penunggu hitam di depan pintu rumah dan di kamar om nya itu dan ada juga yang sekeluarga (ayah, ibu dan anaknya) katanya sih itu bawaan dari kakak iparnya.“Sekarang udah aman, paling mereka mau kenalan sama kamu aja itu” kata ayahnya sedikit ketawa, “Eh ..” ucapku,

Di Bawah Cahaya Bulan
Horror
25 Nov 2025

Di Bawah Cahaya Bulan

Sore ini, langit terlihat indah, burung burung terbang kesana kemari, daun daun beterbangan ditimpa angin senja. Aku baru saja pulang dari kampus tempatku kuliah. Tapi hari ini aku akan mampir ke taman terlebih dahulu. Karena hari ini adalah hari yang cukup melelahkan menurutku. Aku memutuskan duduk di bangku dekat air mancur. Tiba tiba ponsel di sakuku bergetar, tanda panggilan masuk. Ternyata dari Mada, teman sekamar kostku“Hei kenapa kau belum pulang?” Mada bertanya lewat telepon. “Bentar aku masih capek, ini lagi di taman balai kota” jawabku. “Jangan sampai telat, acaranya mau mulai, nanti Bu Gendut marah gimana?” Mada mengingatkan. “Iya bentar lagi” Aku menutup telepon.Sebenarnya, hari ini putri Ibu Gendut-eh Ibu Kost berulang tahun. Ya, Bu Kost kalau marah memang menyeramkan sekali. Sesekali kami dihukum menyikat toilet selama satu minggu. Tapi jika moodnya sedang bagus, dia bisa mendadak perhatian kepada kami. Hhh aku masih ingin disini sambil menikmati senja yang indah. Lagipula aku masih lelah. Menunggu sebentar lagi mungkin tidak masalah. Tiba tiba sepasang mataku menangkap seorang gadis yang duduk di bangku di bawah pohon besar. Meskipun agak jauh, tapi masih terlihat jelas rupa gadis itu. Rambutnya panjang tergerai sepinggang, mengenakan gaun putih selutut, kulitnya putih pucat, wajahnya cantik sekali. Dengan bunga mawar merah di telinganya. Gadis itu juga melihat kemari. Mata kami pun bertemu. Entah kenapa dia berjalan ke tempatku duduk. Lalu duduk di sebelahku. Aku pun terheran heran dan mencoba berbicara.“Hei, s-siapa namamu?” Aku gugup bertanya. Gadis itu hanya diam, tidak menjawab. Sementara hari mulai gelap, matahari mulai bersembunyi, lampu lampu taman mulai dinyalakan. Lupakan ulang tahun putri Ibu Gendut. Aku masih menunggu gadis ini berbicara, setidaknya menjawab pertanyaanku tadi.Lima menit berlalu akhirnya gadis itu menjawab pertanyaanku. “Bulan” Gadis itu menjawab. Aku refleks menoleh ke samping. “Namaku Bulan” dia mengulanginya. “Kenapa kamu sendirian?” tanyaku. “Karena aku sudah tidak punya siapa siapa lagi” Suaranya terdengar sedih. “Apa maksudmu?” “Aku sudah kehilangan keluargaku, teman temanku, semuanya. Tidak ada lagi yang mau berteman denganku. Aku menjadi kesepian, tanpa siapapun” Gadis itu lalu menunduk, air mata mulai menetes dari matanya yang indah itu. Membasahi gaun putih yang dikenakannya. “Hei jangan menangis, aku bersedia menjadi temanmu” Ucapku sambil menghapus air matanya. “Benarkah?” “Iya, temanmu. Selamanya…” Aku merasa sedikit tidak yakin dengan perkataanku. “Apa kau bersedia mendengarkan ceritaku?” Tanyanya. “Baiklah”—Hai, namaku Bulan. Sesuai nama, aku juga menyukai bulan. Aku juga menyukai bunga mawar. Papaku walikota ini. Dan mamaku mempunyai butik. Aku anak tunggal. Sebenarnya aku sama seperti teman temanku yang lain. Papa dan mamaku tidak memanjakanku. Di sekolah juga teman dan guruku memperlakukanku dengan adil meskipun aku adalah anak dari walikota. Tapi akhir akhir ini, terdengar isu isu tidak baik menimpa keluarga kami. Papaku dituduh selingkuh dengan wanita lain, korupsi dan sebagainya. Mamaku juga mengalami masalah dalam bisnisnya. Teman temanku juga mulai menjauhiku gara gara itu.Malam ini, adalah perayaan hari ulang tahunku. Dilaksanakan di taman balai kota. Bulan purnama bersinar terang, lampu lampu taman menyala terang dihiasi oleh berbagai macam dekorasi. Wangi bunga tercium sepanjang jalan taman. Kue ulang tahunku tinggi sekali. Aku sudah siap sejak tadi, mengenakan gaun putih selutut favoritku.“Nak” Panggil mamaku dengan nada lembut. “Kau cantik sekali hari ini” Imbuhnya. “Mama juga” Aku tersenyum. Lalu mamaku menyelipkan sebuah mawar merah ditelingaku. “Terima kasih, Ma”Papaku masih mengobrol dengan sahabatnya. Tiba tiba entah dari mana datanglah sekelompok pemuda yang membawa berbagai senjata. Mereka semua menyerbu taman balai kota. Aku tau siapa mereka. Mereka orang orang yang membenci papaku, gara gara isu itu. Mereka membunuh satu persatu tamu undangan. Darah berceceran dimana mana. Mereka benar benar telah menghancurkan pesta ulang tahunku.“DOR!” Salah satu dari mereka menembak papaku.tewas. “DOR!” Lagi kepada mamaku, meleset. Tapi dari belakang, mamaku ditusuk oleh seseorang yang membawa pisau.Aku segera berlari secepat mungkin dan bersembunyi di bawah pohon besar.Aku mendongak keatas. Cahaya bulan bersinar terang. Tuhan, tolonglah aku.“Ternyata kau disini” Oh, tidak aku ketahuan. JLEB! Sebuah pisau menusuk dadaku. Tubuhku dimutilasi dan dikubur di bawah pohon besar itu. Aku telah pergi, selama lamanya.—“Terima kasih telah menjadi temanku, selamanya…” Tiba tiba udara malam terasa sangat menusuk sekali. Aroma bunga yang wangi tergantikan oleh bau anyir yang menyengat. Gadis ini sudah tiada. Dia adalah hantu.Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatapku. Tidak ada lagi wajah cantik itu. Rambutnya penuh dengan serangga. Darah mengalir dari kepalanya. Dan ke 2 mata yang sudah hilang entah kemana. Tiba tiba bagian tubunya mulai terpisah pisah. Kepala, tangan, kaki, tidak menyatu lagi.“Terima kasih kau sudah bersedia menjadi temanku. Sekarang kau harus ikut denganku, khihihihi” Tawa itu menyeramkan sekali.Tiba tiba sepasang tangan bergerak mendekatiku. Tangan yang berlumuran darah itu kemudian mencekikku. Aku kehabisan napas. Lengang, gelap. Aku telah pergi menyusulnya. Di bawah cahaya bulan yang bersinar terang.

Book of Nina Diary
Horror
25 Nov 2025

Book of Nina Diary

Hari kamis telah tiba, seperti biasa malam ini kita akan menelusuri suatu rumah kosong yang terkenal cukup angker di pinggir kota. “Bella, Tiara, seperti biasa nanti malam kita menelusuri rumah angker di pinggir kota. kata Vanya. “Siap.” sahut bella dan tiara. Malam pun tiba, mereka sampai di rumah tersebut. Satu per satu mereka telusuri kamar yang berada di rumah tersebut. Pada akhirnya, mereka sampai di kamar Nina, Nina adalah salah satu anak dari pemilik rumah ini. rumah ini tidak ditempati karena ada kasus pembunuhan Nina, yang pada saat itu dibunuh di kamarnya. Namun sayangnya, belum diketahui pelaku atas pembunuhan Nina.Saat memasuki kamar Nina, Mata Vanya tertuju pada sebuah buku yang bertuliskan “Nina Diary”. Lalu Vanya mengambil buku itu dan berkata “Nina Diary, kisah tentang Nina mungkin semuanya ada disini.” Satu per satu halaman tersebut dibuka, namun belum dibaca, sampai pada akhirnya ia melihat tulisan di akhir halaman buku itu. Tulisan tersebut adalah “Jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya”. Vanya, bella dan Tiara membaca tulisan di akhir halaman itu.Vanya berkata “Sudah, ayo kita pergi dari tempat ini dan ambil buku ini”. Bella menjawab “bukankah kita tidak diperbolehkan untuk mengambil buku ini? Mengapa kau ambil buku ini?”. Tiara berkata “Kembalikan bukunya, Vanya! Jika terjadi sesuatu pada kita atau salah satu dari kita, bagaimana?”. “Ck, gitu aja dipercaya. Dah lah pulang yu”, Bella dan Tiara hanya bisa saling tatap tatapan dengan wajah yang ketakutan dan cemas tentang hal ini. Mereka pun kembali ke rumah masing masing.Saat sampai di rumah, Vanya membaca sebagian buku Diary Nina. Lalu Vanya sampai pada halaman tepat 1 hari sebelum Nina Dibunuh. Vanya membaca halaman tersebut, yang bertuliskan “Hari ini kucingku Miaw mati, Miaw kucing yang lucu, dan pintar. Miaw memiliki bulu bewarna hitam, mempunyai warna mata merah, dan telinga yang besar.” Sampai pada akhirnya, Vanya membaca tepat saat hari pembunuhan Nina, dibuku Diary itu Nina menulis “Hari ini aku mimpi, bahwa kucingku Miaw mati, pada saat itu aku melihat jam menunjukkan pukul 23:47. Lalu aku merasa seperti ada seseorang di depan pintu, saat itu hatiku sangat penasaran untuk melihat siapa yang disitu, maka ku buka pintu itu dan tiba tiba aku melihat teman papaku. Dan dengan cepat menusukkan sesuatu yang sangat tajam di tubuhku. Aku terbangun sangat kaget, pada saat itu. Aku melihat sekarang adalah jam 21:29, aku takut jika terjadi apa apa maka aku putuskan untuk tidak tidur untuk semalaman, lagian besok juga libur.”Vanya membalikkan halaman Diary, selanjutnya. Vanya pun melanjutkan membaca cerita yang dituliskan Nina, “Jam pun menunjukkan 23:47, aku benar benar merasa bahwa ada seseorang di depan pintu, aku takut membuka pintu itu, dan aku lupa mengunci pintu itu. Aku takut bahwa ada orang jahat, maka sekarang aku sedang sembunyi di selimut. Orang itu pun membuka pintuku, dia berkata “Keluar nina” berkali kali. Aku melihat dia membawa senjata tajam, tolongg dia sudah menemukanku.”Vanya yang membaca cerita itu langsung merinding ketakutan, ia langsung membuang buku itu ke arah meja belajarnya. 3 hari pun berlalu, Vanya ingin bersantai di depan rumah sekaligus mencari udara segar. Tiba tiba ada 1 ekor kucing lucu, bewarna hitam, memiliki mata warna merah, dan teliga yang besar. Vanya pun ingin memelihara kucing tesebut, “Sekarang namamu Nia yaa, ayo masuk ke dalam rumahku. Nia”. Kucing tersebut diberi nama Nia, dia sangat begitu sayang dengan Nia. Saat malam, Nia tertidur di samping Vanya. Vanya tidak mengetahui bahwa kucing itu adalah Nina. Iya, kucing bewarna hitam, memiliki warna mata merah, dan telinga yang besar adalah ciri ciri dari Miaw, kucing Nina.Saat Vanya tertidur, kucing tersebut berubah menjadi Nina, dan menaruh buku Diary Nina di bawah kolong kasur. Vanya terbangun karena terdapat suara dibawah kolong kasur, Vanya segera melihat apa yang ada dibawah kolong kasur. Saat melihat apa yang dibawah kolong kasur dia melihat Nina yang sembari memegang buku Diarynya. Vanya melihat itu lari ketakutan memojok di sudut kamarnya, Nina mulai berjalan kearah Vanya, lalu berkata “Sudah kubilang jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya”. Vanya tidak bisa berkata dan bergerak, sampai pada akhirnya Vanya melihat Nina membawa senjata tajam, dan.. Tolongg…

Perempuan di Bangunan Kampus
Horror
25 Nov 2025

Perempuan di Bangunan Kampus

Siang itu setelah dosen keluar dari kelas rasanya lega banget. Seakan semua beban hilang begitu saja. Ya entah itu beban pikiran, beban perasaan, beban laper karena dari pagi gak sarapan, yah pokoknya semua beban seakan sirna.Berhubung sudah waktunya istirahat, aku pun memutuskan untuk cabut aja dari kelas buat beli makan di kantin. Kupungut buku-buku dan beberapa alat tulis yang berserakan diatas mejaku, memasukkannya kedalam tas kemudian beranjak keluar dari sana. Oh ya, kelasku ini terletak di lantai tiga, sementara kantinnya ada di lantai satu, jadi butuh sebuah effort untuk menuju kesana haha. Mana lift yang biasa dipake sama anak-anak lagi dalam masa perbaikan pula. Kesel sih sebenernya harus naik turun tangga, tapi ya mau gimana lagi? Demi mengganjal perut yang kosong, daripada entar pingsan di kelas kan malah berabe.Melewati teras-teras kelas, tak jarang aku berpapasan dengan beberapa mahasiswa senior. Iya, kating istilahnya. Ya sebagaimana mestinya kalo kita gak sengaja papasan sama orang, aku pun menyapa dengan menundukkan kepalaku, begitupun sebaliknya mereka membalasnya dengan hal yang sama.Kayaknya bentar lagi udah mau nyampe tangga, gak sabar pengen cepat-cepat turun. Aku bergegas untuk mempercepat irama langkahku. Selain karena gak sabar, aku juga pengen mempersingkat waktu supaya nanti bisa agak lamaan di kantinnya. Satu tangga berhasil kulewati, tinggal satu tangga lagi dan aku akan segera sampai. Entah apa yang membuatku begitu exited hingga beberapa kali aku hampir terpeleset oleh lantai teras yang licin ini.“Eh, Ta! Mau kemana? Sini gabung!” suara itu mendadak membuatku berhenti. Sial, gak tau apa kalo aku lagi buru-buru?Aku yang sudah hampir menuruni anak tangga kedua itu pun lantas menoleh. Kulihat Karisma, Edo, dan Ardian yang tengah duduk santai di sebuah bangku panjang dekat pintu kelas. Mereka adalah teman seperjuangan dari jurusan yang berbeda. Udah lumayan akrab sih, karena kami udah kenal dari zaman masih SMA. Melihat bahwa yang memanggilku ternyata adalah Karisma, aku pun mengurungkan niatku untuk pergi ke kantin dan memilih untuk kembali menghampiri mereka.“Ada apa nih? Tumben banget kumpul-kumpul kaya gini?” tanyaku basa-basi. “Ya ngga ada apa-apa sih, tadi gak sengaja aja ketemu disini. Kamu sendiri mau kemana sih, buru-buru amat?” tanya balik Karisma. “Biasalah, mau ke kantin, hehe.” jawabku. “Eh lanjutin yang tadi dong! Mumpung ada Tata juga nih” kata Edo. “Oh iya, jadi katanya dia tuh suka muncul tiap jam 10 malam, di gedung ini.” Karisma melanjutkan ceritanya. “Tunggu! Tunggu! Kalian lagi nyeritain apa sih?” tanyaku dengan polosnya. Ya mana aku tau mereka cerita apa, orang aku aja baru dateng.“Jadi kamu belum tau soal penunggu gedung ini Ta?” tanya Ardi yang kubalas dengan sebuah gelengan. Mengingat belum cukup lama juga aku kuliah disini, jadi ya gak begitu banyak cerita ataupun sejarah yang aku tau. Mungkin hanya beberapa, dan itupun hanya ‘katanya’ saja. “Wah, kasih paham Ris” kata Ardi pada Karisma.“Jadi gini Ta, semalem itu kan ada mahasiswa yang dateng ke kampus. Katanya buat ngambil tugas di kelas gitu, soalnya besok udah deadline. Nah, awalnya kan pak satpam gak ngizinin, tapi karena ini penting banget jadi dia pun dibolehin buat masuk kampus dengan syarat gak boleh lama-lama, soalnya dia datangnya juga udah malem kan. Nah ya itu, katanya sehabis dia ngambil tugas itu dia ngeliat ada cewe lagi duduk di tangga lantai tiga sana tuh” jelasnya sembari menunjuk keatas.“Awalnya sih dia mikirnya mungkin ada mahasiswa lain yang juga ada kepentingan di kampus gitu. Nah pas dia ngelewatin cewe itu kan, ya sebagai seorang mahasiswa yang beretika dia nyapa dong, dan pas disapa itu si cewe pun noleh, dan kalian tau apa yang terjadi? Mahasiswa itu ngelihat sesosok wanita menyeramkan dengan wajah hancur, mulut yang sobek, dan lidah panjangnya menjulur keluar. Hih, gak kebayang aku kalo jadi mahasiswa itu” lanjut Karisma yang berhasil membuat bulu kudukku meremang.“DOORR!!” “EH SETAN!!” teriakku yang otomatis langsung nabok lengan orang yang udah bikin jumpscare tadi. Hal itu pun sukses mengundang gelak tawa dari ketiga temanku. “Ihh, Ardi, ngagetin aja sih” rajukku. “Ya lagian serius amat nyimaknya” ujar Ardi meledek. “Tau ah, ngambek aku”Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Rencananya malam ini aku mau COD sama kurir buat ngambil barang yang udah aku beli dari onlineshop. Emang agak nyebelin sih abangnya, kenapa coba harus COD nya malem-malem gini? Kan aku tuh mau istirahat, huh. Tapi ya aku paham sih, kerja jadi kurir itu gak gampang emang, kebetulan juga katanya hari ini lagi banyak barang yang harus dikirim dan nahasnya aku kebagian pas malem.Karena udah malem aku pun berniat untuk mengajak Karisma, maksud hati biar ada temennya ngobrol nanti pas di jalan, ya biar gak sepi-sepi amat. Baru aja aku chat dia, baru manggil nama, dia udah klarifikasi duluan kalo dia lagi gak bisa diganggu. Ya akhirnya mau gak mau aku pun chat Ardian, dan syukurnya dia mau nganterin aku.Gak lama Ardian pun tiba di rumahku, aku pun buru-buru pamitan ke orangtuaku buat pergi COD di daerah dekat kampus.Sesampainya di tempat yang udah aku setujui sama si abang kurir, aku pun ngajak Ardian buat mampir di sebuah cafe yang gak jauh dari tempat itu, ya pantesnya aja sih, daripada harus berdiri di pinggir jalan? Bisa habis digigiti nyamuk kita nanti.Ngga terasa waktu berjalan begitu cepat, sampai minuman yang kami pesan sudah hampir habis. Udah sekitar satu jam kami menunggu di cafe ini, tapi tak ada tanda-tanda si kurir datang.“Mau berapa lama nih kita nungguin disini?” Ardian menengok arloji hitam dipergelangan tangan kirinya. “Bentar lagi udah mau jam sepuluh loh, emang kamu gak takut dicariin sama mamahmu?” lanjutnya. Mendengar penuturan sahabatku itu aku pun turut panik, “Ya takut sih Ar. Cuma ya mau gimana lagi? Si abang kurirnya juga nih ngeselin banget sih” kataku disela-sela kepanikanku.Karena udah gak sabar lagi akupun mencoba untuk menghubungi si kurir. Tapi, tiba-tiba ada pesan masuk yang mengatakan bahwa kuotaku sudah habis masa aktif. Sial, kenapa aku harus kehabisan kuota disaat-saat seperti ini?Melihat ekspresi wajahku yang mendadak berubah, Ardi pun bertanya, “Kenapa Ta?” “Kuotaku abis masa aktif Ar, bisa gak tathering sama kamu sebentar?” tanyaku canggung. Kalo gak kepaksa ya mana mau aku ngemis ke Ardi kaya sekarang ini? “Hah, kamu nih” setelah berucap demikian, kulihat Ardian tengah meraba-raba kantung celananya. Lama sekali, jangan bilang kalau kau lupa bawa handphone ya Ar!Oke, dan benar saja. Ternyata Ardian lupa membawa handphonenya. Ck, lagian gimana bisa di cafe yang se-elite ini gak ada satu pun wifi yang terhubung? Oke lah, sepertinya terpaksa aku harus bobol gerbang kampus buat nyari wifi, karena sinyalnya gak mungkin sampai keluar gerbang, hah.Sampai juga didalam kampus. Ngomong-ngomong sepi juga ya, walaupun penerangan ada dimana-mana bahkan bisa dibilang boros banget, tapi tetep aja kalo udah malem mah suasananya bakalan beda. Gak mau lama-lama ditempat ini, aku segera menyambungkan handphoneku pada wifi gratis yang udah disediain oleh pihak kampus.GUBRAKK!! Terdengar suara sebuah benda berbenturan dengan lantai, begitu keras. Membuatku sedikit terperanjat.“Gak papa kok Ta, palingan cuma kucing. Udah nyambung belum wifinya?” ujar Ardi menenangkan, mungkin dia peka kalo aku lagi ketakutan. “Udah Ar. Tapi kurirnya gak bales juga” kataku mulai panik.TRIINGG… TRIIINGG… Sebuah panggilan masuk dari kurir yang akan mengantarkan barangku. Buru-buru kuangkat panggilan itu. “Halo” sapaku. Beberapa detik aku menunggu, tak kunjung ada jawaban. Hingga tiba-tiba semilir angin berhembus menerpa wajahku. Membuat beberapa helai rambutku turut terbawa angin. Bersamaan dengan meremangnya bulu kuduk ini, tiba-tiba sambungan terputus.Aku buru-buru menghampiri Ardian yang berdiri tak jauh dari tempatku, “Ar, aku takut” ujarku sembari memegang erat tangan cowok tinggi disebelahku.HIHIHIHIHI… Oh tuhan suara apa ini? Katakan padaku kalau ini hanya halusinasiku saja.“Lari Ta!” tanpa aba-aba Ardian menarik lenganku, menggenggam pergelangan tanganku dengan erat. “Hihihihihi… Kalian tak akan bisa lari…” Suara itu? Kumohon, hilangkan suara itu dari pendengaranku.Saat kami tengah berlari, tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh sesosok wanita berambut panjang dengan wajah yang sudah tak berbentuk, berdiri mencegat kami di depan gerbang. Apa yang harus kulakukan?“Ta! Lari! Ayo ikut aku!” teriak Ardian begitu jelas, menginstruksiku agar tidak salah jalan.Wanita mengerikan itu terus mengejar kami. Ia melayang namun dengan kecepatan yang sangat pesat. Tak sampai beberapa detik dia sudah ada didepan kami. Kini, wujudnya tak lagi sama. Ia menyeringai lebar kearah kami, dengan bola mata yang hampir keluar dari tengkoraknya. Wajah putih pucat itu, darah tak henti merembes dari kedua matanya.DAKK!! “Argghh!!” pekik Ardian ketika sebuah kayu berhasil mengenai tengkuknya, membuatnya terkapar tak berdaya, tak lama ia mulai tak sadarkan diri.“Ardi!!” teriakku sembari mencoba untuk menyadarkannya.“Hahaha, bersiaplah untuk menyusulnya ke neraka! TATA!!” Tunggu! Siapa yang baru saja menyebut namaku itu? Aku mendongak. Kulihat seorang berjubah hitam berdiri tepat dibelakangku. Membawa sebuah kayu besar yang sempat ia gunakan untuk memukul Ardian, detik saat yang lalu. Siapa dia?SRETT!! Perlahan sosok itu membuka jubah yang hampir menutup seluruh wajahnya.“KARISMA!”SELESAI

Itu Bukan Gue
Horror
25 Nov 2025

Itu Bukan Gue

Sore hari menjelang magrib suasana di kampus serasa sangat dingin karena siang hari hujan sangat lebat dan mengguyur seantero universitas. Di pojok paling jauh terlihat sebuah gedung tua yang merupakan sebuah fakultas di kampus ini, tembok-tembok yang mulai berlumut, semak belukar yang menjalar dari atas gedung sampai ke setengah bangunan hingga gedung itu terlihat begitu suram. Di depan pintu gedung itu terlihat dua orang mahasiswi yang sedang bercakap cakap.“Kemarin gue lihat lo di perpus sendirian, meg, ngapain lu, yang lain kan sudah pada selesai bimbingan?” Tanya tresya usai dari kantin dan hendak kembali ke ruang kelas. “Emang iya? Bukannya lo tegur” Mega tidak mengingatnya, ‘apakah memang iya aku sendirian di perpus? Ah, mungkin saat aku mengerjakan proposal skripsi’. Katanya dalam hati. “Lo sibuk gitu”Percakapan mereka berdua berakhir sampai di situ, karena Mega hendak ke kelas menemui teman-temannyaSetelah sampai di ruang kelas, Mega menemui teman-temannya yang lain. Ada Silvi, Diki dan Teguh. Mereka sedang menyusun proposal penelitian untuk mengampu tugas seminar proposal 2 minggu mendatang. Mendadak percakapan mereka berganti topik.“meg, dua hari yang lalu lo dandanan gak seperti biasanya deh. Pake gamis serba putih gitu, terus gue panggil gak nyaut.” Ujar Diki. “Bener, meg. Padahal biasanya lo kalo ke kampus kan stylish banget. Kita yang tadinya mau ke kantin, gak pergi-pergi gara-gara manggil lo doang” teguh menyambar pembicaraan Diki “Hah?” Mega terkejut “Gue gak ke kampus dua hari yang lalu.” “Lah terus itu siapa dong? Sumpah muka, badan, mirip lo banget” Diki bertanya keheranan “Ih jadi takut gue. Lo gak bercanda, kan?” Silvi menimpali percakapan. “Ya enggaklah, Sil. Ngapain juga.”Mereka semua saling pandang memandang dan keheranan. Terlebih lagi Mega yang berusaha mencerna terhadap apa yang telah terjadi. Sementara itu, tanpa mereka ketahui, sosok yang mirip Mega mendatangi mereka dari luar jendela. Menyeringai dan tertawa pelan, tak ada yang mengetahuinya, kecuali Mega yang menengok ke arah jendela.

Jam Berdentang
Horror
25 Nov 2025

Jam Berdentang

Kira-kira satu bulan yang lalu Ayahku membawa sebuah jam bandul seukuran lemari ke ruang tamu lalu dia menceritakan kepada kami bahwa jam tersebut dibelinya dari seorang kakek-kakek yang hidup sebatang kara, kakek-kakek itu menjual jam bandul tersebut karena sangat membutuhkan uang kemudian Ayahku membeli jam bekas tersebut seharga 600 ribu.Disaat kami sedang makan malam bersama tiba-tiba jam tersebut berdentang namun anehnya jam tersebut berdentang tidak sesuai dengan waktu yang ditunjukan karena pada saat itu waktu menunjukan Pukul 08:00 namun jam tersebut hanya berdentang sebanyak dua kali, lalu aku pun merasa bahwa jam tersebut telah rusak, karena yang aku ingat ketika sore jam tersebut masih berdentang dengan jumlah normal.Kemudian aku menyarankan kepada Ayahku untuk menjual jam tersebut atau membuangnya, akan tetapi Ayahku tidak setuju dengan saranku kemudian dia berpesan kepada kami bahwa jangan pernah menjual ataupun membuang jam tersebut bahkan ketika dia sudah tidak ada di dunia ini lagi, pada saat itu juga aku mempunyai firasat yang buruk karena tidak biasanya Ayahku berbicara tentang kematian dan benar saja delapan hari kemudian aku menerima kabar buruk bahwa Ayahku telah meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.Semenjak Ayahku meninggal dunia sekitar satu bulan yang lalu Jam tersebut masih berada di ruang tamu dan jam tersebut tidak pernah kami gunakan lagi semenjak baterainya kosong. Ketika kami sedang makan malam bersama, Ibuku meminta kepada Kakak cowokku untuk membelikan baterai jam sepulang dari dia berkerja, lalu Kakakku setuju dengan permintaan Ibu dan pada keesokkan harinya di sore hari yang cerah Aku bersama Kakakku membersihkan jam tersebut dari debu dan mengganti baterainya dengan yang baru.Kemudian semenjak jam itu dihidupkan kembali bunyi dari dentangan jam tersebut bejumlah normal sesuai dengan waktu yang ditunjukan, namun keesokkan harinya ketika kami sedang sarapan tiba-tiba jam tersebut berdentang sebanyak tiga kali padahal waktu menunjukkan Pukul 07:00 Tiba-tiba firasatku menjadi buruk dan Aku hanya bisa berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja. Akan tetapi doaku tidak terkabulkan karena beberapa hari kemudian Ibuku jatuh sakit dan dia dilarikan ke rumah sakit, hingga akhrinya dia meninggal dunia di bulan Maret.Kematian Ibu dan Ayahku adalah hal yang begitu menyakitkan yang pernah Aku rasakan didalam hidupku. Berhari-hari di dalam kamar Aku hanya bisa menangis dan juga berdoa. Menangis karena merindukan mereka dan berdoa karena ingin mereka tetap bahagia di alam sana.Ketika Aku sedang sendirian di dalam rumah tiba-tiba bel rumah berbunyi. Awalnya Aku pikir kakakku yang datang tapi ternyata tanteku yang sedang bertamu bersama suami dan juga anaknya. Tanteku memberikan kami sebuah bungkusan plastik besar berisakan bahan pokok makanan dan juga uang lima ratus ribu rupiah. kemudian dia memberikan nasihat kepadaku agar tetap harus tabah dalam menjalani kehidupan walaupun tanpa kedua orangtua. Aku pun sangat berterimakasih kepadanya lalu dia pun pulang bersama suami dan anaknya. Sore harinya Aku membagi secara adil uang tersebut kepada kakakku.Saat kami makan malam bersama tiba-tiba jam tersebut kembali berdentang sebanyak tiga kali padahal jam menunjukkan pukul 09:00 Tiba-tiba Aku pun menyadari adanya suatu keanehan dengan jam tersebut, kemudian Aku mencoba menjelaskan kepada kakaku sepertinya jam tersebut memiliki kutukan. Karena sebelum Ayah meninggal jam tersebut berdentang sebanyak dua kali pada pukul 08:00 malam dan dia meninggal di bulan februari delapan hari setelah dentangan tersebut, lalu kakakku mengatakan bahwa itu cuma kebetulan saja, Aku pun menjawab bahwa bisa saja itu bukan suatu kebetulan karena jika diingat kembali jam tersebut pernah berdentang sebanyak tiga kali pada pukul 07:00 pagi dan Ibu meninggal di bulan Maret dan tujuh hari setelah dentangan jam tersebut, lagi-lagi kakakku mengatakan bahwa itu hanya kebetulan saja karena yang namanya kematian adalah takdir Tuhan dan aku pun hanya bisa terdiam seribu kata.Keesokkan harinya kakakku menerima panggilan telepon dari suami tanteku, lalu setelah dia menutup panggilan, dia memberitaukanku bahwa sepupu kami yang bernama Sella yang masih berumur sepuluh tahun tiba-tiba saja meninggal dunia tanpa sebab apapun dan di siang itu juga kami berhadir ke pemakaman putri tugalnya, lalu setelah upacara pemakamannya selesai tanteku hanya diam dengan wajahnya yang terlihat seperti orang yang tegar dalam menghadapi kenyataan, namun aku dapat merasakan kerapuhan di dalam hatinya. Aku memahaminya karena aku pernah didalam kodisi seperti itu dan tidak lama kemudian kakakku mengajakku pulang ke rumah.Ketika malam hari tiba kami duduk bersantai di ruang tamu, lalu kakakku mengatakan kepadaku bahwa kematian Sella adalah bukti bahwa kutukan jam tersebut hanyalah kebetulan saja. Karena jika kutukan itu benar seharusnya Sella meninggal dunia sembilan hari setelah dentangan jam tersebut dan untuk sekarang apa yang dikatakan oleh dia memanglah terasa benar, akan tetapi tujuh hari kemudian tanpa diduga suami tanteku meneleponku dengan suaranya yang amat bersedih. dia menceritakan bahwa tanteku telah bunuh diri dan diduga bunuh diri karena dia stress menghadapi kenyataan bahwa putrinya telah meninggal dunia dan Aku pun tidak bisa berkata-kata lagi.Sepulang dari pemakaman tanteku Aku mengambil palu di dapur, lalu Aku berdiri di depan jam tersebut dengan niat hati untuk menghancurkannya namun niat hati ini seketika pudar ketika dia sedang berdiri di belakangku dan mengatakan bahwa jika aku menghancurkan jam tersebut berarti aku tidak mengharagai pesan Ayah. Kemudian dengan kesalnya aku menjelaskan kepada kakakku, bahwa jam tersebut sudah mengambil satu persatu anggota keluarga, lalu dengan tenangnya dia mengatakan bahwa sekali lagi kutukan itu hanya kebetulan saja.Kemudian pada malam hari ketika aku berada didalam kamar tiba-tiba jam tersebut berdentang sebanyak tiga kali pada pukul 10:00. Aku tidak tau apa yang akan terjadi sepuluh hari kemudian namun aku hanya bisa berharap semoga Tuhan tidak mengambil nyawa anggota keluargaku lagi. Karena sudah begitu banyak anggota keluargaku yang meninggal dunia, namun harapan itu telah sirna karena sepuluh hari kemudian kami mendapatkan berita lokal, bahwa polisi menemukan jasad suami tanteku mengambang di sungai dekat komplek tempat dia tinggal. Kematian dia diduga karena bunuh diri dan kini aku tambah yakin bahwa firasat kutukan jam tersebut memang benar adanya.Ketika kakakku tertidur lelap di kamarnya. Diam-diam aku memotret jam tersebut dengan kamera Hp dan mempromosikannya lewat toko online lalu aku menaruh harga sangat murah yaitu dengan harga 200 ribu. Setelah aku mempromosikan jam tersebut tiba-tiba benda terkutuk ini berdentang sebanyak tiga kali pada pukul 01:00 Kemudian Aku memiliki firasat yang membuat tubuhku merinding karena sepertinya besok kami akan mendapatkan kabar kematian lagi.Lalu pagi harinya aku mendapatkan sebuah pesan dari orang yang mau membeli jam tersebut dan dia menulisakan pesan bahwa dia hari ini akan datang ke rumah untuk melakukan transaksi jual beli namun dia tidak tau pasti jam berapa datangnya, Aku pun memutuskan untuk menunggu pembeli itu. Beberapa lama kemudian di sore hari dengan berselimut awan mendung akhirnya pembeli itu datang ke rumahku, lalu dia melihat-lihat detail di jamnya. Tidak lama kemudian kakakku pulang ke rumah lalu dia menanyakan tentang siapa remaja itu, Aku pun menjelaskan bahwa dia adalah orang yang akan membeli jam tersebut. Sontak kakakku pun marah dan dia langsung mengusir pembeli itu dari dalam rumah, lalu setelah itu dia pun memarahiku dengan mengatakan bahwa diriku sudah tidak menghargai pesan Ayah ketika Ayah masih hidup dan sampai kapanpun dia bersumpah berpegang teguh dengan pesan itu, dengan kesalnya Aku menjawab bahwa Jam tersebut pembawa sial dan terkutuk, Tiba-tiba dia memukul wajahku dengan sangat keras.Setelah dia memukul wajahku kemudian dengan tenangnya dia mengejekku dengan mengatakan bahwa diriku bodoh, karena diriku yang telah memiliki pemikiran bahwa jam tersebut terkutuk, mendengarkan ejekkan tersebut hatiku semakin panas dan jengkel dan tanpa kusadari Aku berjalan ke dapur, lalu mengambil palu di atas meja makan dan dengan sekuat tenaga aku melemparkan palu itu ke arah wajahnya dan dia langsung tersungkur ke lantai. Lalu karena Aku panik Aku pun mengambil palu itu lagi dan memukulkannya ke kepala dia berulang kali hingga dia tewas berlumuran darah dan sekarang Aku mengerti bahwa Akulah orang yang membuat kutukan dentangan pada pukul 01:00 malam itu menjadi kenyataan.Lalu tiba-tiba saja jam tersebut mengeluarkan bunyi tertawa bahagia seorang perempuan yang sangat mengerikan dan membuat seluruh tubuhku merinding. Kemudian aku pun mencoba menghancurkan jam tersebut dengan palu bekas darah kakakku, namun jam tersebut tidak bisa dihancurkan dan pada keesokkan harinya aku mengubungi polisi dan mengakui semua perbuatanku.Beberapa tahun setelah kejadian itu Aku dibebaskan dari dalam sel tahanan dan sekarang diriku sudah terlihat seperti orang dewasa berumur 30an, kemudian ketika Aku berada di rumah semua kaca jendela nampak berdebu dan jam tersebut terlihat sudah tidak berfungsi lagi. Lalu pada hari itu juga Aku mempromosikan jam tersebut ke toko online dan aku bersyukur ada orang yang mau membeli jam tersebut seharga 600 ribu rupiah namun aku tidak menceritakan masalah jam tersebut kepadanya, Karena jika aku menceritakan masalah jam tersebut kemungkinan besar dia tidak akan mau membelinya dan sekarang benda sial itu sudah tidak berada di rumahku lagi, hanya saja aku merasa kesepian.

Mencurah Rindu Di Hangtuah
Horror
25 Nov 2025

Mencurah Rindu Di Hangtuah

Nuke adalah alasan mengapa aku selalu melewati jalan ini. Jalan yang dimana Nuke sering mencubit perut buncitku ketika berboncengan di atas motor. Gemas katanya. aku pun melihat ekspresi wajahnya dari spion kiri yang menghadap ke arahnya. Dengan rambut yang tergerai, pipi gembil dan matanya yang melotot. Nuke, wangi parfumnya yang masih terpaku di pikiran.Sore yang sedang berawan, aku berhenti di taman. Menyapu tatapan sekeliling tanaman, lalu berhenti di huruf G yang mengingatkan aku kepada pose saat Nuke berfoto. Saat aku tanya mengapa huruf G, ia menjawab G adalah Gift. Dengan sumringah ia menjawab itu, aku dengan bingungnya bertanya kembali. Gift sabun maksud kamu? Ia diam. Entah jokes yang tidak lucu atau ia merasa kesal atas ucapanku. Tapi aku setuju dengan alasan dia yang mengartikan huruf G untuk Gift. Iya. Nuke adalah hadiah. Hadiah dari Tuhan untukku. Semoga ia mengartikan hal yang sama.Aku menghampiri huruf G tersebut, kemudian memfotonya. Bermaksud untuk mengunggahnya ke sosial media Instagram, dengan bertuliskan Gone. Karena itu yang sekarang terjadi. Sebuah hadiah yang sudah hilang dari dekapan. Nuke, apa kabar dan di mana kamu sekarang?Langit hampir gelap. Aku melipir ke pedagang sate taichan. Tempat di mana terakhir kali aku bersama Nuke. Aku memesan sambil melihat ke arah tempat duduk kami yang dulu diduduki. Aku menghela nafas. Kenangan oh kenangan. Membekas enggan lepas.—Saat itu memang berpisah seperti pilihan yang tepat, pikirku. Gejolak pikiran negatif yang selalu bernaung di otak, terus menerus mencari pembenaran dari ketidakpastian insting terhadap Nuke. Kecurigaan akan perasaannya yang membuat aku selalu berpikir ada dan tidaknya rasa cinta untukku. Walaupun setiap kegelisahan pasti ia tenangkan, tetapi aku selalu hanyut pada terpaan ombak pikiran negatif. Ketakutan akan gerak gerik Nuke di belakangku, kecemasan pada sikap dia yang supel kepada laki-laki lain, posesif, overprotektif. Iya itulah aku. Kemudian matinya akal sehatku yang menghasilkan puluhan kata-kata umpatan terlontar, sampai menembus hati Nuke yang berujung perpisahan.—Pukul 23.05. aku merebah sambil mendengarkan lagu yang kuputar berkali-kali. Naif, senang bersamamu. Tetiba musik berhenti, panggilan telepon masuk. Nuke. Tertegun aku melihat layar handphone. Selama ini ia membatasi aku untuk menghubunginya, bahkan sampai memblokir semua akses yang menuju ke dirinya.“Halo!” Ucapku perlahan, bibirku gemetaran. “Halo!” Jawabnya.101 hari yang tidak pernah aku dengar kembali, malam itu suara Nuke memecah hening.Ritme yang dikeluarkan Nuke di telepon membingungkan. Aku menebak ia mabuk. Betul saja saat ia mengaku sedang minum alkohol seorang diri di kamar hotel. Seketika kecurigaanku mencuat. Aku mengenalnya, ia tidak mungkin melakukan itu. Apa yang sedang ia lakukan, dengan siapa ia di situ, apa tujuannya ia mabuk. Semua pertanyaan yang aku lontarkan itu membuat ia kesal dan menolak untuk menjawabnya.“Kamu lagi di mana? Cepet kamu ke sini, aku tungguin” ucapnya. “Tunggu. Aku ke sana!” Jawab ku kemudian menutup telepon.Aku bergegas pergi sambil melihat peta yang ia berikan. Tepat di depan taman Hang Tuah, sebuah mobil menabrakku dari samping. Hanya itu yang aku ingat sampai sekarang.—Hampir 1 bulan aku tidak sadarkan diri, semua kejadian diceritakan oleh kakekku. Aku dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang menolongku. Tetapi semua yang aku punya, lenyap dibawa orang yang tidak bertanggung jawab. Handphone, motor dan dompet. Masih untung ada yang menghubungi keluargaku dan memberitahu kejadian tersebut.Malam itu aku memikirkan Nuke yang pasti menungguku datang. 1 bulan berlalu aku mendapati kabar bahagia, ia mendatangi rumahku seorang diri, lalu bertanya perihal malam itu mengapa aku tidak datang. Ia pun susah menghubungiku saat itu.“Waktu itu kamu kemana?” Tanya Nuke. “Maaf Nuke, waktu itu aku bohong, aku ngga berangkat, aku tidur”. “Terus kenapa nomor kamu ngga aktif, sampai sebulan lebih?” Tanyanya kembali. “Aku ganti nomor, maaf ya” “Bohong!” Ucapnya “Bener, Nuke. Aku ganti nomor” ucapku meyakinkan.“Andrea. Maksud aku ke sini, aku mau ngasih ini ke kamu” sambil memberikan kertas berwarna bersampul plastik. “Undangan? Nuke, kamu mau nikah?” Tanyaku terkejut. “Iya, Andrea. Aku harap sih kamu bisa dateng ya”Aku diam, menatap dalam bola matanya. Tatapan kami membuatku hanyut dalam kegetiran. Ia memegang pipiku sambil tersenyum. Aku meleleh, seketika aku menunduk. Aku membaca undangannya, nampak tertulis Nuke dan Wijaya, 22 Oktober 2019.“Selamat ya, Nuke” ucapku tegar. “Iya makasih, Andrea. Aku do’ain kamu juga cepet nyusul aku, ya”. “Aamiin” jawabku sambil tersenyum memandang wajahnya kembali. “Yaudah aku pamit pulang, ya” ucapnya. Kemudian ia melenggang pergi dengan mengendarai motor Vespa matic putihnya.—Pukul 17.30 tanggal 21 Oktober 2019. Dalam kamar kosong. Aku sudah mengikat seseorang laki-laki di atas meja. Mulutnya tersumpal kain, tanpa busana. Ia menjerit dalam tenggorokannya. Aku membelai rambutnya dan tersenyum padanya. Ia menangis, aku ikut meratapi.“Wijaya Putra, beruntung banget ya kamu bisa menikah dengan Nuke” ucapku.Ia mencoba kembali berteriak, tubuhnya meronta. Makin keras teriakannya, tetapi untungnya diredam dengan bungkaman kain dari kemejanya.Aku meraih pisau kecil yang tergeletak di ujung meja tersebut. Lihai jariku menyayat kulit dari ujung kaki sebelah kirinya dan berhenti di paha. Ia berteriak.“Diam!” Ucapku lantang.Dibalas dengan teriakannya kembali.Aku berdiam diri menatapnya. Lalu aku mengambil kain yang berada di dalam mulutnya.“Aaaarggghh bangsaaatttt. Lepasin gua anjiiiing” ucapnya sambil meronta melihat ke arah ku. “Ssstt. Jangan berisik” jawabku. “Andrea bangsaaatttt. Mati lu bajingan” ucapnya. “Ooohh kamu kenal sama aku?” Tanyaku Lalu ia tertawa.“Hahaha gua sih kalo jadi lu sedih. Nuke itu benci sama lu, Dia sebenernya ngga mau sama lu, lu posesif, lu selalu curiga sama dia hahah kasian banget sih lu Andrea. Nuke selingkuh sama gua. Ngga tau kan lu? Hampir setahun gua jalanin sama dia. Haha dasar tolol” ucapnya.Aku berteriak. Hampir 10 kali tikaman pisau ke perutnya yang membuat ia terdiam.Nuke, aku tunggu di taman Hang Tuah ya sekarang.Tulisku di pesan menggunakan handphone Wijaya.—Aku sudah bersiap pergi dengan ojek online. Dengan membawa plastik hitam besar. Aku menuju taman Hang Tuah. Sesampainya di sana, aku menggantungkan plastik tersebut di huruh G. Kemudian aku kembali ke kamar kosong tersebut untuk menyelesaikan tulisan ini di laptopku.—Nuke. Maafkan aku.Terakhir kali kamu ke rumahku untuk memberikan surat undangan pernikahanmu, aku mengikutimu sampai kamu berhenti di sebuah rumah yang bukan rumahmu. Sampai akhirnya aku mengetahui itu adalah rumah Wijaya, Calon suamimu.Hampir setiap hari aku mendatangi rumah tersebut. Memantau aktifitas Wijaya dari ia keluar rumah sampai masuk rumah kembali. Aku mengikutinya kemanapun. Kemanapun, Nuke.Sampai di hari ini. 1 hari sebelum pernikahan kalian. Aku menunggu di dekat rumahnya dengan mobil yang aku sewa. Aku memukul belakang kepalanya sampai ia tidak sadarkan diri.Nuke, semoga saat kamu datang ke taman Hang Tuah dan membuka plastik itu di huruf G, kamu tidak terkejut melihat wajah Wijaya di dalamnya. Itu adalah wajah laki-laki yang kamu cintai. Dan ketika kamu menemukan kami di kamar ini, percayalah. Aku yang tergantung lunglai ini membawa rasa cinta untukmu, Nuke.Selesai

Secret Ballerina
Horror
25 Nov 2025

Secret Ballerina

Aku sangat suka menari dan bagiku melakukan gerakan ballet adalah suatu hal yang mudah karena aku memiliki bakat itu. Aku merentangkan tangan mengangkat kedua kaki sampai suatu malam… Aku mendengar suara aku berjalan mengikuti sumber suaranya. Segera aku dekati malah aku terjatuh kakiku sakit susah digerakkan.Merasa seluruh badan lemas aku duduk memeriksa lututku. Aku pun pergi ke Dokter dan memeriksakan rasa sakit ini kata Dokter aku mengalami kelumpuhan kaki. “Kelumpuhan atau paralisis adalah kondisi ketika satu atau beberapa bagian tubuh tidak dapat digerakkan. Kondisi ini dapat disebabkan oleh gangguan pada otot atau saraf, akibat cedera atau penyakit tertentu.” ucap Dokter Alim memberitahu aku.Rasanya kakiku seluruhnya lemas aku tidak pernah menyangka penyakit ini terjadi. Sehingga aku tidak bisa menari. Suatu hari aku mendengar kabar jika Frans pelatihku mencari ballerina baru.“Kira-kira apakah Clara kamu mau jadi ballerina utama untuk penampil nanti di show besar?” “Tentu saja.”Aku kesal kenapa aku diganti? Sejak hari itu aku merenung sampai sebuah bayangan itu muncul lagi. Aku berusaha mendekati ada seorang gadis berwajah pucat.“Kamu tau aku adalah korban Frans si psikopat dia membuatku mati” “Benarkah?” “Ya tentu saja Frans Kagawa pria keturunan Jepang itu adalah pelatihku aku jatuh cinta padanya kami berpacaran lalu ia membunuhku dan membuang mayatku di sungai.” “Kenapa ia melakukan itu?” tanyaku heran. “Karena aku tidak menuruti perintahnya.” ucap gadis tersebut bercerita. “Perintah apa?” Otakku berasa dejavu aku seakan sulit percaya selama ini dikenal baik, santun walaupun pribadinya agak sedikit tegas, memang sih Frans tertutup tapi aku yakin dia menyimpan banyak kebaikan dari cara dia memotivasi supaya kita bisa tampil dengan sempurna. “Kau akan tau nanti.” Seketika gadis itu menghilang. Aku bertanya kenapa hantu itu bisa ada di sini? Sungai yang mana? Aku teringat sungai dekat sini tidak jauh dari lokasi tempat aku berangkat ke tempat les menari.Mendatangi lokasi aku mengucapkan doa. Rasanya aku benar-benar ketakutan tentang cerita mengenai gadis itu. Penasaranku kian membuncah. Pernah terpikir olehku untuk berusaha mencari tahu? Tapi aku takut sekali kalau aku akan dikeluarkan dari sana. Terlebih kondisi aku yang buruk.Riska salah satu temanku di tempat les berkata padaku, “kamu kenapa akhir-akhir ini melamun? Apakah kamu sakit? Aku lihat kau sering melamun.” “Kakiku mengalami kelumpuhan sepertinya aku akan sulit menari.” ujarku mengatakan kejujuran.Riska mendengar cerita aku langsung menganga pantas saja Clara Devina berdiri di sana bukannya aku. Itulah yang akhirnya diketahui oleh Riska. Percuma mengubah kenyataan dan mengelak ternyata semuanya benar.Akhirnya Riska langsung pergi ke pantry mengambil air menjatuhkan gelas kala melihat bayangan muncul seperti sosok gadis berambut panjang dengan poni warnanya hitam. “Hihihi…” Suara khas kuntilanak terdengar Riska berlari.Ia bertemu denganku dan memelukku aku heran sama sikapnya mukanya pucat. Sebelum show dimulai tersiar kabar jika Frans meninggal saat menuju perjalanan kesini dia mengalami kecelakaan. Aku tercengang semua ulah hantu itu. Seharusnya tidak bertindak sejauh ini.Penampilan dari Clara kurang memukau padahal sudah latihan. Kemudian panitia memberikan nilai tinggi pada pemampil lain yang lumayan memukau.Di show berikutnya… Clara berlatih cukup keras sekarang Frans diganti oleh Andrew. Andrew menunjukkan performa yang bagus dalam melatih semoga saja dia orang baik. Ternyata diam-diam hantu itu memperhatikan Clara ketika menari keluar darah di lututnya sehingga gadis itu berlari..Lalu Clara diganti olehku. Mana bisa aku mengikuti ritme musik dan bergerak lincah. Tapi semenjak itu aku bisa melakukan gerakan ini mukjizat dari Allah SWT. Aku bersyukur. Kugerakan kaki ke atas lalu melakukan split wah aku tampak lincah mengikuti musik klasik. Selesai itu Andrew bertepuk tangan.Kabarnya jenazah dari Rani gadis tersebut berhasil diautopsi. Aku lega mendengarnya.Di saat show tiba aku menemukan secarik kertas. “Akan ada bahaya? Untukmu.” Tulisan itu ada bercak darah. Aku takut siapa pengirimnya teror apalagi ini? Aku menatap diri di cermin sosok lelaki dengan muka menyeramkan pucat pasi ada di sebelahku. Aku tidak boleh takut.Penampilan kedua itu aku. Aku menari mengikuti alur. Setelah selesai semua berdecak kagum pada gerakanku. Kemudian aku menelepon Riska. “Tolong akh… akh…” Teriak mendesis saat aku menerima telepon rasanya seluruh tubuh aku terguncang.Aku menarik napas sampai sebuah darah tertulis di cermin. “You will die too waiting for the date to play.” (Kamu akan mati juga tunggu tanggal mainnya)Napasku sesak aku segera mengambil air berharap apa yang tertulis hanyalah ilusi belaka. Aku keluar dari ruanganku ambil tas belum pengunguman aku sudah kabur dari sini. Tanpa disangka aku bertemu Andrew dia mengajakku kembali ke dalam, namun aku menolak.“Hei ada apa? Ceritakan padaku.” “Ada… ada yang berniat…” Tiba-tiba aku merasa ada seorang lelaki membawa tombak dengan pakaian serba hitam. Aku terus berlari keluar kuambil kunci mobil. Pergi entah ke mana? Sampai aku bertemu ustadz Juki ia membantuku mengusir hantu itu dan tubuh dari hantu itu terbakar.“Kamu bisa baca Ayat Kursi dan An Nas, sini bantu saya…” “Baik,” Jawabku pelan mengikuti instruksi dari Ustadz Juki.Syukurlah aku selamat ini berkat bantuan dari Ustadz Juki. Berhutang budi padanya, begitu baik padaku padahal aku baru mengenalnya di dekat masjid ini.Andrew mengatakan jika aku dinyatakan pemenang sejak saat itu aku lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, dan memperbanyak beribadah. Siapa pun makhluk gaib di sana bisa ditaklukkan dengan seringnya kita mejalankan perintah dari yang maha kuasa tanpa meninggalkannya. Aku juga mengetahui rahasia dari Frans jika ternyata dia ingin memerintah menjadikan budak para penari di tempat lesnya supaya bisa menghasilkan banyak uang menforsir hingga kelelahan, melarang makan sembarang memaksa diet ketat. Semata demi mendapatkan apa yang diinginkan.Aku tercengang ketika tahu dari diary milik Rani tersembunyi di lemari. Selama ini disimpan rapi di bawah handuk terselip. Aku kaget menemukan buku berwarna pink kusam.Selesai

Patung Manekin
Horror
25 Nov 2025

Patung Manekin

Hari itu, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Rasanya seperti mimpi! Aku tidak ingin melihat ini! Aku ingin bangun!. Siapapun tolong keluarkan aku dari sini!.—“Risya, bangun waktunya sekolah”.Aku mengerjapkan mataku sebentar, melirik jendela dengan tirai terbuka. Mengernyit sebagai refleks dari sinar matahari, aku melirik wanita paruh baya di sebelahku. Aku mengusap mata lalu menyapa ibuku. “Pagi ma..” Ibu membalas sapaanku lalu menyuruhku untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.“Untung aja PR sudah selesai.” Aku bergumam seraya memasukan beberapa buku pelajaran sesuai dengan jadwal sekolah, lalu berlari menuju meja makan untuk sarapan. Sesampainya disana aku bertemu dengan adik laki-lakiku yang super jahil sedunia. “Wah, kakak kenapa bangunnya cepat? Biasanya bangunnya siang banget.” Ia meledekku dengan senyuman miring, benar-benar mengesalkan. Aku menggembungkan pipiku, “Kau pikir cuma kau yang bisa bangun pagi?”. Adikku Ali tertawa remeh, segera mungkin ia menyantap roti panggangnya yang sudah tersedia di atas meja. “Sudah Ali, jangan mengganggu kakakmu, makan yang benar!” Ali yang mendengar itu menunduk sambil mengunyah roti panggang di tangannya. “Iya ma, maaf..” itu ucapnya, walaupun sedikit menggerutu. Aku tertawa dalam hati, rasakan itu, siapa suruh meledek pagi-pagi?.Setelah berpamitan, aku mulai berangkat ke sekolah sedangkan ibuku pergi ke butik untuk bekerja. Pekerjaan ibuku sebagai seorang designer memang tidak mudah, ia selalu merancang desain pakaian di rumah. Maka dari itu, dibuatlah sebuah ruangan yang berfungsi untuk ruang kerja ibuku. Tadinya ruangan itu bekas gudang lama, barang-barang dan kardus menumpuk secara asal-asalan. Aku tidak tahu pasti itu bekas gudang atau apa karena memang setelah pindah rumah kesini seminggu yang lalu keluarga kami tidak pernah menggubris ruangan itu, langsung saja dijadikan ruang kerja. Dan anehnya di antara banyak tumpukan kardus yang menggunung, ada 3 buah patung manekin yang telah usang. Warnanya yang semula putih mulai berdebu menambah kesan yang suram. Ibuku tidak menyia-nyiakan patung itu, ia mensejajarkan mereka dengan patung-patung yang ia miliki dan menggunakan mereka untuk uji coba pakaian yang telah dibuat.Entah mengapa, aku merasa tidak enak hati ketika melewati ruangan itu. Sebenarnya sudah bersih, tetapi karena hawanya yang masih lembab makin menambah kesan yang sedikit seram. Setiap ingin berangkat sekolah ataupun keluar rumah aku selalu melewatinya, karena letaknya memang di ruang tamu dekat pintu luar. Dan hari ini sialnya aku harus melewatinya lagi.Ibuku ada jadwal kerja setiap harinya, beliau hanya membuat desain setiap hari kamis atau sabtu, sisanya ruang kerja ini ditinggalkan, kosong sepanjang waktu. Aku melirik ke dalam, melihat lampu ruangan yang berwarna kuning temaram masih menyala disana. Ibuku bilang jangan membuang listrik, kami harus menghematnya apalagi kalau sudah tinggal di rumah sebesar ini. Dengan sedikit keberanian, aku masuk kedalam, melangkahkan kakiku yang masih terbalut kaus kaki pada lantai ruangan yang terasa dingin. Sedikit berlari, aku menuju saklar lampu yang terletak di pojok, setelahnya aku menekan tombol yang ada disana.Setelah lampu mati, aku merasakan hawa tidak enak menyelimuti. Kulirik manekin tua di sebelahku, itu adalah manekin yang tinggal di rumah ini sebelum aku pindah. Ia tidak memiliki mata, wajahnya rata. Tapi mengapa aku merasa seperti ditatap dari samping?. Ah, sudahlah! Lebih baik aku pergi saja dari sini, untuk apa mengkhayal tidak jelas dipagi buta?. Sesegera mungkin aku mengambil tasku, memakai sepatu, dan pergi ke sekolah.Jam menunjukan pukul 15.23, aku mengayuhkan sepedaku agar cepat sampai ke rumah. Tubuhku penuh keringat, aku lelah karena ekskul basket tadi siang.Beberapa menit kemudian aku sampai di depan rumahku, kuparkirkan sepedaku dan masuk ke dalam rumah besar yang telah aku tempati bersama keluargaku seminggu lalu. “Aku pulang~”. Tidak ada yang menjawab, sampai akhirnya aku mengernyitkan alis. “Kemana anak itu?”. Ya, kemana Ali? Biasanya ketika aku baru pulang ia selalu meledekku bahkan menyambutku dari kamarnya. Tapi hari ini tidak, rumah serasa sepi melompong. Aku mengendikkan pundak, mungkin ia sedang bermain nintendonya di kamar, sehingga tidak mendengarku.Aku melangkah untuk memasuki rumah dan lagi-lagi… Ruangan itu. Lampunya yang gelap semakin membuatku merinding. Dan yang aku lihat adalah pintu kayu yang sudah reot itu sedikit tertutup, bukankah pintu ini rusak sehingga tidak bisa tertutup?. Aku semakin takut, dengan cepat aku berlari kecil menuju dapur untuk mengambil minum.Saat sampai di dapur, aku melihat piring bekas di atas meja. Dengan malas aku menaruhnya di tempat cuci piring, “pasti anak itu.” Aku mengira Ali habis makan, biasanya setelah pulang dari TK ia langsung mengambil piring dan makan. Setelah minum, aku langsung pergi mandi.Sore-sore seperti ini, cocok untukku untuk membaca novel di kamar. Tapi rasanya membaca terlalu sepi kalau tidak ada cemilan. Dengan ide cemerlang, aku membuka pintu kulkas, melongok kedalam untuk menemukan cemilan yang aku beli tadi malam. Niatnya untuk kumakan besok. Dan yang aku lihat, puding coklat itu tidak ada di tempatnya. Dimana puding itu? Apakah Ali yang mengambilnya?. Iissh, aku berjanji akan menjewernya.Belum selesai keherananku, aku menginjak sesuatu yang lengket. Eh.. apa ini?. Berwarna coklat dan… Ini puding?. Aku mengedarkan pandangan, remahan puding itu membentuk jalur menuju ke suatu tempat. Tanpa sadar aku mengikuti arah puding itu, sampai pada suatu ruangan. Ruangan kerja ibuku. Dan yang aku lihat, potong besar puding terakhir jatuh di antara pintu.Aku tertegun, dengan rasa penasaran yang bergejolak, aku membuka pintu itu sedikit. Gelap, sampai aku melihat deretan patung manekin yang menyeramkan itu. Langkahku tidak berhenti sampai disitu, tubuhku bergerak dengan sendirinya berjalan kedalam dan yang aku lihat adalah….“A-ali?..” Ali disana dengan mulut ternganga, tubuhnya tergeletak di lantai. Air liur keluar dengan jelas dari sela-sela mulutnya. Matanya yang melotot menatapku lalu tangannya yang bergetar mengibas kearahku seakan memberi kode aku harus pergi. “P-pergi.. kakak–pergi!-” Aku berteriak kencang, dengan cepat aku memeluk Ali. “Ali apa yang terjadi?!” Ali tidak menjawab, hanya terdengar nafas tersengal dari mulutnya.Blam! Pintu tertutup dengan sendirinya, aku terpaku. “Ali.. tunggu disini”. Dengan cepat aku berlari ke arah pintu, berusaha membukanya tapi mustahil. Apakah ini terkunci?!. “Keluarkan kami! Tolong! Mama!!” Aku menjerit sambil menggedor-gedor pintu. Percuma, pintu sudah tertutup dan tidak ada siapa-siapa di rumah selain kami.“Kakak!” Aku terkejud, menoleh ke belakang menatap Ali yang sudah tercekik oleh salah satu patung manekin. Jatungku berdegup tidak teratur, aku langsung berteriak memanggil adikku. “Ali! Ali!” Kami saling bersahut-sahutan dalam ruangan sempit. Dan yang aku lihat, beberapa manekin lain bergerak ke arahku. Wajah mereka yang datar, tiba-tiba berbentuk seringai dengan gigi bertaring di mulut mereka. Aku menjerit lagi, menggedor pintu sambil menangis. “Mama! Mama! Tolong!!! Huaaaaaa–!”.Dan yang aku rasakan adalah tangan dingin menyentuh pundakku, lalu tangan lainnya mencengkram leherku, dan yang lainnya menarikku ke belakang. “Mamaaaa!” “Kakak! Kakak!!!”.Dan hari itu menjadi hari yang paling mencekam untukku.—Pintu rumah terbuka, menampakan seorang wanita masuk ke dalamnya. “Risya? Ali?” Ia memanggil anaknya dari bawah.Hening, tidak ada yang menjawabnya.“Mungkin mereka sudah tidur.” Ia melangkah, tepat di depan ruang kerjanya, membuka sedikit pintunya, menyalakan lampunya. Dan yang ia lihat adalah… “Bersih sekali, apakah Risya yang membersihkannya?”.Karena terlalu lelah, ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan menyapa anak-anak. Tetapi ada sedikit keanehan. Ia melirik ke bawah ketika menginjak sesuatu di tengah ruangan. “Mobil mainan Ali?”. Mobil mainan merah itu tergeletak di tengah ruangan, jelas-jelas itu milik anak laki-lakinya. Kepalanya menoleh menatap keanehan sekali lagi yang ada di belakangnya.“Patung ini… kenapa posisinya terlihat aneh?”.

Dimethyl Sulfone
Horror
25 Nov 2025

Dimethyl Sulfone

Decitan engsel jendela kamar mengejutkan lamunku, jendela itu terdorong angin perlahan hingga sedikit menutup dan berdecit nyaring. Aku yang saat itu terduduk di depan meja belajar tersontak dan spontan melirik ke arah jendela. Terlihat bayangan sesosok anak laki laki seumuran adikku seperti berdiri dibalik jendela.Aku masih memandangi jendela itu, mengumpulkan keberanian tuk mendekati bayangan itu, tubuhku seakan terangkat tuk bangkit dan mendekati jendela. Aku pun bergerak mendekati jendela tersebut, bayangan yang semula samar kian jelas. Dan benar saja, ada seorang anak kecil tertunduk di balik jendelaku.“Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini?” bibirku spontan mengucapkan pertanyaan ganda, namun ia tak langsung menjawabnya. Anak kecil itu menyodorkan secarik kertas berwarna hitam dengan tinta putih mengisi permukaannya. Tanganku langsung meraup kertas itu dari tangannya yang kaku. Namun, setelah kertas itu berada di genggamanku, pandangan anak itu berubah. Semula yang matanya sayu dan tertunduk lesu, kini berubah menjadi sinis dan menatap dengan tajam.“Jangan dibaca sebelum kamu diperintahkan untuk membacanya!” ucapnya tegas dan dengan nada yang dinaikkan satu oktaf. Aku terheran “T-Tapi, siapa yang akan memerintahkan aku tuk membacanya? Apa maksudmu?” Tanyaku terbata-bata. “Ia akan datang saat kamu memintanya datang.” Belum sempat kedua bibirku mengkatup menanyakan siapa yang akan kupinta tuk datang, sekelebat bayangan hitam menyelubungi sekujur tubuh anak itu. Seketika, anak itu menghilang serentak dengan hilangnya bayangan hitam tersebut. Rintik hujan gerimis menitik di tanganku yang memegang kertas hitam itu. Perasaan hatiku saat itu bercampur aduk antara takut, penasaran, dan keheranan. Apa yang terjadi jika aku membaca secercah tulisan ini sebelum aku diperintahkan tuk membacanya?Aku tak mau ambil resiko, seketika kuselipkan kertas itu dibalik buku novel Harry Potterku yang berjudul Orde of Phoenix. Aku mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi, dan beranjak keluar kamar berniat mengambil soda dingin di kulkas. Tapi saat aku keluar dari kamar, angin sejuk nan kaku seakan menerpa tubuhku. Suasana rumah ini tak seperti biasanya, cahaya lampu remang-remang menerangi sudut ruangan di rumah ini. Keadaan di rumah ini juga sunyi, tak seperti biasanya, kemana semua orang? Kemana Kak Astri? Kemana perginya Buk Jum? Biasanya mereka selalu bercerita dan tertawa bersama di kesenggangan waktu kerja mereka. Ayah dan Ibu sudah pasti tidak ada di rumah ini, mereka bekerja di kantornya dan baru akan kembali nanti sore.Aku tak terlalu memikirkan keanehan yang terjadi, dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil soda dingin, aku sangat haus, padahal waktu itu cuaca sedang mendung, dan beberapa tetes gerimis tampaknya sudah menitik di pekarangan rumah, dan sebagian mungkin juga terhempas diantara dedaunan.Aku telah berdiri di depan kulkas dan langsung membuka pintu kulkas tersebut. Namun, isi kulkas itu kosong, biasanya banyak sayur-sayuran yang didinginkan di kulkas itu, banyak juga terpampang minum-minuman dingin, tapi saat itu isinya kosong layaknya kulkas baru. Aku terheran, dan pandangan mataku terfokus pada secarik kertas yang ada di lantai bawah kulkas 1 pintu itu, kertas itu berwarna hitam, pembayanganku langsung mengingat kejadian saat aku di kamar, aku tersontak, bukankah tadi kertas itu sudah kuselipkan di buku novel Harry Potter, lalu kenapa kertas itu bisa berada di sini? Aku langsung mengambil kertas itu dengan tanganku yang berkeringat dingin, spontan kubuka lipatan kertas itu, dan samar-samar tulisan di kertas itu mulai dideteksi kornea mataku, disitu tertulis “Bukankah sudah kukatakan untuk tidak membacanya sebelum ada yang memerintahkanmu untuk membacanya?”Seketika, tangan dingin bercakar yang panjang keluar dari kulkas itu, mengarah ke tubuhku. Dan menyeretku paksa ke dalam kulkas, mulutku seakan terkunci tak mampu berteriak, seluruh tubuhku lunglai tertarik, aku tak bisa melawan! Pandanganku mulai gelap, dan saat aku tersadar, aku berada di kamarku, dan orang ramai berkumpul di sekelilingku. “Apa yang terjadi?” Tanyaku sambil memegangi kepalaku yang terasa sakit. “Kamu pingsan sejak tadi siang, dan baru tersadar sekarang” jawab ayahku spontan. “kenapa aku bisa pingsan, ayah?”, “kamu semulanya duduk di meja belajarmu, dan tak sadarkan diri karena menghirup kertas hitam yang kata dokter mengandung dimhetyl sulfone, zat kimia langka yang berbahaya, dan berasal dari tubuh mayat yang telah membusuk.”.

Gadis Taman
Horror
25 Nov 2025

Gadis Taman

Pagi ini, kau terjaga dengan kepala berat dan tulang seakan lungkah. Jarum jam menunjuk angka sepuluh—angka yang terlalu tinggi untuk bisa disebut pagi. Rombongan orang yang berlalu lalang terpukau dengan gadis yang sedang duduk murung di taman itu, walau terpukau, mereka tetap tidak berani mengusik diamnya.Salah seorang diantara dari sekian banyaknya orang yang hanya berlalu lalang itu, maka datanglah seorang Ibu yang memberanikan diri mengahampiri gadis itu, untuk menanyakan perihal apa ia seperti itu di hari ini, karena ia sudah mengulangi murungnya sejak tiga hari yang lalu.“Hai… Nak mengapa kau nampak merenung seperti ini, sikapmu begitu mencolok sekali, kemari nak.” Ibu itu mengajak bicara ke tempat terdekat dari taman itu agar tidak terlalu menarik perhatian banyak orang. “Nak… Kenapa sayang? Apa yang terjadi padamu? Apa yang membuatmu seperti ini? Saya sering melihatmu duduk termenung di taman ini, kenapa nak?” Dengan segenap perhatian, Ibu itu tetap didiamkan.Gadis itu tetap termenung, belum membuka mulutnya sedikit pun sejak memenuhi ajakan Ibu itu. Ibu tetap menunggu sampai gadis itu bicara, dengan keyakinan kuat bahwa gadis itu pasti akan mengajaknya bicara, ia tetap duduk di samping gadis itu sambil membaca Al-Qur’an di hp dengan suara lirih. Gadis itu mulai mengangkat tengkuknya, dan menatap Ibu yang sedang membaca. Ia menyentuh tangan Ibu itu dengan pandangan penuh harapan.“Bu… Bisakah Ibu bantu aku?” Tanyanya. Bacaan Ibu terhenti, ia sengaja menghentikan di akhir ayat. “Bila bisa Ibu akan bantu dan bila sulit, Ibu akan tetap akan mengusahakannya, In Syaa Alloh.” Jawab Ibu dengan harapan dapat membantunya.“Aku risau bu, Papah dan Mamahku berantem trus, terakhir tadi… Mamahku minta pisah dari Papah dan… Papah menyetujuinya, akhirnya Mamahku sekarang sedang mengurus gugatan cerainya. Aku pusing Bu… Memang Mamah tetap di rumah dan Papah pergi tidak lagi kembali. Tapi hari-hari yang kurasakan gelap Bu… Mamah malah terlihat seperti sosok yang tidak seperti biasanya, seperti kehilangan sebagian akalnya. Aku takuuut Bu… Sudah tiga hari aku tak berangkat sekolah. Aku takuut… Menghadapi hari-hari ini, semua tampak begitu gelap walau matahari tetap bersinar terang.”“Nak… Kamu muslimah?” “Bukan Bu… Tapi aku Satiyem” “Oh baik… Kalau kamu mau, bisakah mengizinkan saya tinggal di rumahmu dalam beberapa hari?” “… E’… Bu… Aku pulang dulu ya, Mamahku sekarang pasti risau karena ketiadaanku dalam waktu lama.” Gadis itu lari dengan sangat kencang! Ibu yang sejak tadi di hadapannya tercengang. “Heeeiii naak!” Teriak Ibu itu. Tapi sia-sia ia telah lari begitu cepat, sangat cepat.Angin bertiup dengan kencang, mengembuskan debu-debu taman yang tadi nampak ramai, hingar bingar, menjadi sepi seketika, mendung awan pun hadir. Ibu itu mengira “gadis” itu bukan seorang manusia, melainkan makhluk lain yang sengaja sedang menaruh jebakan yang sangat mencolok. Dengan rasa syukur, sangat bersyukur tadi menyempatkan membaca Al-Qur’an di sampingnya. Ibu itu pun mengingat kembali gelagat gadis itu yang tiba-tiba saja menghentikan bacaan Qur’annya, lalu memegang tangannya.“Aneh! Anak zaman sekarang sungguh aneh! Tapi mengapa tangannya ‘dingin’ sekali, mukanya pucat, tatapan matanya kosong, rasanya dia seperti bukan manusia.‘Allah-lah yang mencukupi (segala kebutuhanku) tidak ada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, kepada-Nya aku bersandar. Dia-lah Rabb (yang menguasai) ‘Arsy yang agung.’Ibu itu berpaling sambil mengucapkan sebuah dzikir, dan segera pergi dari taman itu. Taman yang tadinya sering dilihatnya ramai, bahkan terdapat seorang gadis yang termenung dan mengundang orang tuk datang. Kini taman itu berubah sepi, bahkan gadis itu pun tak nampak lagi. Kondisi taman yang tadinya nampak cerah dan memukau, sekarang menjadi suram dan kelam.

Jangan Biarkan Orang Mati Menyadari Bahwa Mereka Sudah Mati
Horror
25 Nov 2025

Jangan Biarkan Orang Mati Menyadari Bahwa Mereka Sudah Mati

Saat kuliah, aku mengenal seorang janda kaya melalui internet. Dia sangat baik padaku dan sering memberiku uang, ia memanggilku adik yang baik.Dia bilang, kami berdua berasal dari desa dan dia sangat menyukaiku. Di masa depan setelah aku lulus, dia akan membawa aku meraih kekayaan.Aku memanggilnya Tante Lusi. Untuk mendukungku, dia membuka sebuah warung kecil di desa dan memberiku pekerjaan di sana. Dia bahkan berjanji akan memberiku sepuluh juta setiap bulannya.Aku menyarankan untuk menjual rokok murah karena di kota kami tidak banyak orang kaya, tetapi dia tidak setuju, dia hanya ingin menjual rokok merek Gudang Garam.Dia adalah bos, jadi tentu saja aku tidak bisa berkata banyak.Tante Lusi juga mengatakan bahwa dia tidak akan memberiku gaji secara langsung. Jika aku butuh uang, aku bisa langsung menggunakan uang dari pelanggan dan mencatat sendiri. Itu karena dia sibuk berbisnis di luar, tapi dia percaya padaku.Ada seseorang yang begitu baik padaku, tentu saja aku tidak akan mengecewakannya. Aku bersumpah dalam hati untuk melakukan pekerjaan ini dengan baik.1Pada malam pembukaan warung kecil, aku langsung datang untuk bekerja. Pegawai yang membantu mengawasi warung saat siang hari adalah nenek tua. Pintu depan warung terdiri dari dua pintu kayu tua, satu dibuka dan satunya ditutup setengah. Tante Lusi memberitahuku untuk tidak membuka semua pintu, katanya itu membawa keberuntungan.Tak lama kemudian, pelanggan pertama datang.Seorang pemuda datang dan meminta sebatang rokok Gudang Garam. Ketika aku memberikan rokok kepadanya, aku merasa agak tidak nyaman.Karena tangannya sangat kotor, kuku-kukunya penuh dengan tanah hitam.Dalam hatiku, aku menggerutu bahwa dia tidak suka kebersihan. Namun, beberapa pelanggan berikutnya yang datang, ternyata juga sama seperti dia.Tengah malam, datang seorang teman lama.Dia adalah teman sekelas SMA-ku, namanya Levi. Aku tidak pernah membayangkan dia akan datang ke tokoku untuk membeli barang, tapi ternyata celah kuku tangannya juga sangat kotor.Ini membuatku sedikit aneh, karena dalam ingatanku dia adalah gadis yang sangat suka bersih.Levi membuka bungkusan rokok dan memberikanku satu batang, lalu dia mengatakan bahwa dia masih sibuk dan harus pergi terlebih dahulu.Aku bersandar di belakang kursi, menyalakan rokok itu, tetapi baru menghirup sedikit, aku tercekik.Ini adalah rokok?Rasa rokok ini juga sangat aneh, sudah basi, rasanya seperti sudah kadaluarsa.2Ketika aku datang untuk bekerja lagi malam itu, Levi datang lagi."Apakah kamu tidak merasa aneh dengan rokok ini?" kataku."Tidak sih, baunya enak," jawabnya.Aku mulai mengerti.Mungkin dia sebenarnya tidak merokok, hanya membeli dan menggigitnya saja.Dia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia berkata, "Dulu aku melihat kamu punya nilai bagus, aku pikir kamu akan sukses. Bekerja di warung kecil adalah pekerjaan terendah dalam masyarakat, itu adalah pekerjaan orang miskin yang paling hina. Kalau kamu terus seperti ini, lebih baik kamu berhenti sekarang juga, cepat resign saja."Setelah Levi pergi, aku tetap berusaha menjalankan bisnis seperti biasa, hingga hampir pagi, seorang kakak cantik datang, wanita ini sangat bersih dari atas hingga bawah.Aku merasa seolah-olah telah melihatnya sebelumnya, tapi tidak bisa mengingat siapa dia.Dia juga meminta sebatang rokok dariku, aku tidak menyangka bahwa gadis cantik yang begitu bersih ini juga merokok, rasanya ada hal menarik di dalamnya.Ketika wanita cantik itu baru saja pergi, ponselku berdering.Itu adalah panggilan dari Tante Lusi.Tante Lusi memberitahuku, bahwa stok minuman di toko tidak cukup, setelah matahari terbit, aku harus menggunakan uang di kasir untuk membeli minuman sebanyak dua juta, jika uang tidak cukup, aku yang akan menanggung terlebih dulu, dan setelah itu akan dikembalikan langsung dari kasir.Setelah aku menutup telepon, Levi kembali.Aku kira dia datang untuk meminta maaf, tetapi begitu dia masuk, dia malah berkata, "Daniel, bisakah kamu mentraktirku? Kembalikan uang yang kuberikan padamu tadi."Dalam keadaan marah, aku mengembalikan uang 130 ribu, uang pembelian rokok gudang garam tadi. Namun, dia berkata, "Nanti jika aku yang membeli, biarkan kamu yang membayar untukku, bagaimana?" Setelah itu, dia pergi lagi, meninggalkanku yang sedang marah.3Tante Lusi memberikanku alamat tempat pemasokan barang, suatu gang kecil yang terpencil di kota itu, di mana makanan ringan dijual grosir, dan tempat ini hampir tidak ada pelanggan.Dia memberitahuku bahwa tempat itu adalah milik temannya, dan di sini kami bisa mendapatkan barang dengan lebih murah.Aku masuk ke toko grosir itu, di dalamnya ada seorang pria muda. Aku mengatakannya bahwa aku datang untuk mengambil barang dari Tante Lusi, dan dia tersenyum dan berbicara denganku sebentar, memintaku memanggilnya "Kak Michael".Pada saat senja, saat aku pergi untuk makan malam, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk bahuku. Aku berbalik dan ternyata orang itu adalah teman sekelas SMA-ku, Tony.Dia berkata dengan penuh perasaan, "Waktu berlalu begitu cepat, sekejap saja sudah lulus beberapa tahun, tapi tidak ada reuni teman sekelas."Sambil mengelus perutku yang terasa kembung dan sakit, aku menggerutu, "Aku memang tidak ingin menghadiri reuni, beberapa teman sekelas membuatku kesal.""Siapa yang membuatmu kesal?""Si Levi itu, aku selalu merasa dia tidak tahu malu."Tony menggelengkan kepala. "Caramu bicara terlalu berlebihan, setidaknya hormati mereka yang sudah meninggal."Aku berkata dengan tidak sabar. "Kapan dia meninggal, mengapa aku tidak tahu?""Itu terjadi saat kami di semester dua, mungkin kamu tidak tahu karena kamu kuliah di luar kota. Levi keluar dari SMA dan bekerja di pabrik garmen, sayangnya pabrik itu terbakar dan dia mati di dalamnya."Aku menghela napas. "Itu hanya omong kosong, beberapa hari yang lalu aku baru bertemu dengannya."Tony sangat terkejut. "Jadi dia tidak mati ya? Sialan! Aku sudah bilang, jangan percaya rumor. Sebelumnya aku benar-benar berpikir dia sudah meninggal."Perutku terasa sakit dan ingin muntah.Aku berdiri dan berkata ingin pergi ke toilet, begitu masuk toilet, aku tidak tahan dan muntah.Warna air di kloset berubah menjadi warna merah..Ini ... darah?Bagaimana mungkin aku yang sehat tiba-tiba muntah darah?Setelah sampai di rumah sakit, aku menjalani pemeriksaan. Setelah dokter memeriksa, dia mengatakan aku mengalami pendarahan lambung, dan disarankan untuk mengurangi minum alkohol dan menjaga pola makan yang sehat.Aku heran karena aku tidak minum alkohol.4Aku membawa obat dan kembali ke warung, tetapi tidak lama kemudian Levi datang lagi.Kali ini dia membawa beberapa teman, dan semuanya adalah pelanggan yang pernah kutemui sebelumnya."Daniel, berikan aku satu bungkus rokok gudang garam untuk kami masing-masing, kamu yang traktir."Aku marah. "Apakah kamu tidak tahu malu? Jika aku yang traktir untuk enam orang ini, berapa banyak uang yang harus kukeluarkan? Kamu hanyalah temanku, kamu bukan wanitaku, mengapa aku harus memberimu uang?""Aku bisa sementara menjadi wanitamu, asalkan kamu tidak menciumku."Aku hendak mengumpat, tetapi tiba-tiba dia meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya!Sekejap, seluruh tubuhku hampir terpaku.Aku kembali ke toko dengan perasaan malu, memberikan mereka enam bungkus gudang garam.Aku bukan tipe orang yang membuang-buang uang hanya untuk menyentuh wanita.Jadi aku berencana untuk mengatakannya dengan jelas pada Levi saat hanya dia sendiri di lain waktu, agar dia tidak melakukannya lagi.Marah, aku duduk di kursi dan merenung, hanya saat itu, aku sedikit lebih ramah saat si kakak cantik datang.Kakak cantik itu melihat wajahku yang pucat, dia bertanya, "Apa yang terjadi denganmu?"

Tetap Hidup
Horror
25 Nov 2025

Tetap Hidup

Aku terbangun dari mimpiku. Masih terdiam di tempat tidur sembari menatap langit-langit plafon. Aku mimpi apa yah? Itulah yang tersirat dalam pikiranku ketika bangun. Tak ingin berlama-lama, aku mulai bangun dan melakukan aktivitasku seperti biasa.“Ana, makan dulu baru berangkat,” sebuah suara menggagalkan niatku yang ingin berangkat sekolah. “hehe, males makan bunda,” balasku disertai senyuman. Bunda. Bunda adalah sosok yang paling kukagumi di dunia ini. Sosoknya yang terlihat kuat padahal rapuh, membuatku tidak bisa berhenti mengaguminya. “kalau gak makan nanti sakit perut loh, makan aja sedikit,”Aku melepas sepatuku lalu berjalan menuju meja makan. Kuliat masakan bunda yang tertata rapi di meja makan. Dengan cepat aku mulai mengambil nasi dan lauk lalu memakannya dengan terburu-buru. “uhuk… Uhuk!” “duh makannya pelan-pelan aja dong,” Ucap bunda sembari memberikanku segelas air.Lebih pelan dibandingkan sebelumnya, aku sarapan dengan cepat. Setelah selesai, aku buru-buru memakai sepatu dan mengambil tasku lalu berjalan keluar rumah. “Bunda aku berangkat dulu ya! Assalamualaikum,” “Waalaikumsalam, hati-hati ya!”Aku sudah merasakan keanehan semenjak masuk di kelas. Rasanya seperti deja vu. Entah mengapa, sekolah hari itu cepat sekali selesai. Karena bosan di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman lalu pulang ke rumah.Taman itu terlihat ramai dari biasanya. Banyak anak kecil yang sedang bermain disana. Tetapi setelah kulihat lagi, sepertinya kata bermain itu tidak terlihat cocok. Kata yang lebih cocok adalah… Beberapa anak sedang mengganggu seorang anak perempuan. Mereka mendorong anak itu, menarik rambutnya, bahkan tak sesekali mereka melemparkan benda yang mereka bawa pada anak perempuan itu.“hei! Kok kalian gituin teman kalian sih? Pergi sana, kakak laporin nih ke orangtua kalian, ” Mendengar ancamanku, beberapa anak itu lantas pergi meninggalkan si gadis kecil yang masih terduduk di tanah.“masih kecil udah ganggu orang, gimana kalau besar coba?” aku membantu gadis kecil itu lalu menepuk pakaiannya yang kotor terkena tanah. “kamu gak papa?” tanyaku pada gadis itu. Ia mengangguk lalu tersenyum.“Cecil,” Aku menatap gadis kecil itu dengan bingung. Melihat kebingunganku, ia tersenyum lalu menunjuk dirinya. “nama cecil,” ucapnya. “oh, nama kamu cecil?” Ia mengangguk membenarkan pertanyaanku. Aku tersenyum lalu merapikan rambutnya.“rumahnya dimana? Mau kakak antar?” Cecil menggelengkan kepalanya lalu memberikanku sebuah kotak tua. Aku memegang kotak itu lalu menatap Cecil. “ini buat kakak, makasih ya,” setelah mengatakan itu Cecil pergi meninggalkanku yang masih terdiam menatap kotak tua itu. Tanpa kusadari, hari mulai sore dan dengan membawa kotak tua itu aku berjalan pulang ke rumah. Tetapi tiba-tiba saja sebuah mobil menghampiriku dengan cepat tanpa sempat aku menghindar.BRUK Aku membuka mataku. Kurasakan benda empuk di bawahku. Kasur? Dengan tergesa-gesa aku bangkit dan berjalan menuju cermin. “loh? Kok aku baik-baik saja? Bukannya tadi aku ketabrak ya?” kutepuk pipiku berkali-kali. “sakit kok, ah berarti tadi aku sedang mimpi iya gitu!”Kubalikkan badanku dan terpaku melihat sebuah kotak di samping tempat tidurku. Aku meraih kotak itu dan membukanya. Terdapat beberapa jam pasir dengan waktu yang berbeda-beda. Tapi yang lebih anehnya kotak itu terbagi dua. Di bagian atas seluruh jam pasir berwarna merah. Sedangkan yang bawah jam pasirnya berwarna biru. Kuraih jam pasir berwarna biru. “ini berapa menit ya?” kubalikkan jam pasir itu dan…BRUK… “Aw…” aku mengelus kepalaku yang terbentur di meja. Aku mengernyitkan dahi bingung. Sekolah? Batinku.Terlihat seorang gadis dan beberapa anak lainnya mendekati gadis berambut kepang. “heh, katanya kamu cuman tinggal sama ibu kamu ya? Kasihan deh gak punya ayah!”Ah… Aku ingat, ini adalah saat aku diejek karena hanya tinggal bersama bunda. Aku menatap gadis berkepang dua yang sedang dikelilingi gadis lainnya. Ia menangis, gadis kepang dua itu menangis. Senyum getir terlukis di wajahku. Ah… Begitu rupanya aku di masa lalu. Padahal aku bisa melawan mereka, padahal aku bisa menyuruh mereka pergi… Kenapa aku hanya diam?Suara bunyi jam pasir mengalihkan pandanganku. Eh? Jam pasirnya hanya lima menit? Di depanku adalah aku lima tahun yang lalu. Apakah aku… Kembali ke lima tahun yang lalu?Belum sempat pertanyaanku terjawab aku sudah terduduk di atas kasur. Kulirik jam pasir yang kupegang. Kini warna pasir itu berubah menjadi abu-abu. Aku turun dari kasur dan berjalan menuju cermin.“apa aku… Benar-benar kembali ke masa lalu? Lalu setelah itu aku kembali lagi?” kucubit diriku berusaha memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi. “okay… Tenang, kita harus coba sekali lagi,” ku raih jam pasir berwarna biru dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya. “3… 2… 1…”“pemenangnya adalah Ariana Leteshia!!! ” Sorakan dan teriakan memenuhi ruangan tempatku berada. Semuanya bersorak untuk seseorang bernama Ariana Leteshia itu. Aku tersenyum melihat diriku berdiri di atas panggung di hadapan banyak orang. “padahal saat itu adalah hari yang paling sulit bagiku, tetapi setelah kulihat lagi… Ternyata… Rasanya bangga ya… ”Aku menengok kanan kiri mencari seseorang yang dulu sangat kunantikan datang. Badanku terpaku melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri menatap panggung. Setelah menatap panggung, laki-laki itu mengalihkan pandangannya dan tanpa sengaja kami bertatapan. “Ry…”BRUK… Aku kembali lagi di kamarku masih dengan posisi yang sama. Dengan cepat aku mengambil kotak yang berisi 1 jam pasir berwarna merah. Kubalikkan jam pasir itu.CRIIING… Suara bel membuatku memfokuskan pandanganku. Hm… Tempat yang bagus, batinku sembari berjalan menyelusuri tempat itu. Tatapanku tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di hadapan kanvas besar. Gadis itu melukis dengan sangat fokus. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan yang memekakkan telinga. Entah kenapa orang-orang yang tadi tidak terlihat, kini terlihat dan berlari melewati gadis yang sedang melukis itu.Gadis itu terjatuh dan terdorong oleh orang-orang. Gedung di tempat itu hancur, kebakaran terjadi di gedung lainnya. Semua orang menjadi panik. Sedangkan gadis pelukis itu pingsan di lantai. Aku berusaha membangunkan gadis itu tapi tak bisa.“Ariana!” terdengar teriakan laki-laki dari kejauhan. Aku segera berlari mencari sumber suara itu. Aku berdiri di hadapan laki-laki yang sedang meneriakkan nama ‘Ariana’ itu. Kupejamkan mataku.“kumohon… Tolong! Tolong aku Ryan!” teriakku. “Ariana?” Ryan menatapku. “kamu… Kenapa kamu jadi kayak dulu?” Aku terpaku. “tolong, disana ada aku. Tolong aku!”Ryan mengikuti instruksiku dan membawa gadis ah, tidak. Ryan mengikuti instruksiku dan membawa ‘aku’ di masa depan keluar dari sana.Mereka selamat. Ryan dan ‘aku’ berhasil keluar dari tempat itu dengan selamat. Aku tersenyum lega sebelum akhirnya aku kembali terduduk di kasur.Kini di tanganku bukanlah jam pasir melainkan sebuah kertas.Kamu mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kamu bisa mengubah masa depan. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Dibanding kamu hanya terlarut pada masa kelammu, mulailah untuk membuat masa bahagiamu di masa depan…

Menampilkan 24 dari 831 cerita Halaman 30 dari 35
Menampilkan 24 cerita