Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

831

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

167

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar
Folklore
25 Nov 2025

Legenda Sepasang Batu di Tepi Danau Laut Tawar

Pada jaman dahulu kala di negeri Aceh, hiduplah seorang gadis berwajah cantik. Si gadis amat menyayangi dan mencintai keluarganya. Begirupun dengan keluarganya, sangay menyayangi dan mencintai si gadis.Kecantikan gadis tersebut terdengar sampai ke negeri seberang lautan. Seorang pemuda tampan yang berasal dari keluarga terhormat datang ke desa dimana sigadis tinggal. Si pemuda mengajukan pinangannya untuk memperistri si gadis. Si gadis tidak semerta-merta menerima pinangan itu, ia harus berembuk dahulu dengan keluarganya.“Tampaknya, ia pemuda yang baik dan bertanggung jawab.Sikapnya santun dan bersahaja. Pantas kiranya ia menjadi suamimu.” Kata ayah si Gadis.Si Gadis akhirnya menerima pinangan si pemuda setelah keluarganya memberi restu padanya.Pesta pernikahanpun lantas dilangsungkan. Amat meriah pesta itu. Segenap keluarga, kerabat, dan tetangga datang dengan wajah suka cita untuk menjadi saksi pernikahan si Gadis. Setelah beberapa hari tinggal di desa tempat si Gadis berada, si pemuda pun mengajak si Gadis yang telah menjadi istrinya itu untuk kembali ke kampung halamannya di seberang lautan.Meski telah menjadi istri si pemuda, hati si Gadis sesungguhnya amat berat meninggalkan keluarga dan juga desa tempat tinggaknya itu. Namun dia harus mengikuti ajakan suaminya sebagai tanda kesetiaan dan baktinya pada suaminya.Sebelum berangkat ayah si Gadis berpesan,” Wahai anakku, tinggallah engkau baik-baik di negeri suamimu. Ingatlah pesanku, selama engkau dalam perjalanan, jangan sekali-kali engkau menoleh kebelakang! Jangan sekali-kali! Jika engkau melakukannya, niscaya engkau akan menjadi batu!”“Baiklan ayah,” Ujar si Gadis menyanggupi.Si gadis dan suaminya pun pergi meninggalkan desa itu untuk memulai perjalanan jauh menuju negeri seberang lautan. Dari desa tempat tinggalnya, si Gadis harus menembus kepekatan hutan belantara, mendaki bukit dan menyebrangi danaulaut tawar. Selama dalam perjalanannya si Gadis tetap teguh memegang pesabn ayahhandanya. Sama sekali dia tidak berani menoleh wajahnya kearah belakang. Hingga tibalah keduannya di danau laut tawar. Dengan menaiki sebuah sampan, Si gadis dan suamninya menyebrangi danau di laut tawar.Beberapa saat sampan itu mengarungi danau Laut Tawar, Si Gadis didera penasaran yang sangat. Ia mendengar sayup-sayup suara Ibunda tercintanya. Suara ibunda tercinta yang memanggil-manggil namanya. Batin dan perasaan sigadis terpecah, antara tetap menjaga pesan ayahnya untuk tidak menoleh dan menoleh untuk memenuhi panggilan ibundanya. Beberapa saat kejadian itu terus berlangsung, sehingga akhirnya si Gadis lebih memilih menoleh untuk memenuhi panggilan dari Ibunya.Petakapun terjadi. Sesaat setelah si Gadis menolehkan wajahnya kebelakang, seketika itupula tubuh si gadis berubah menjadi batu.Tidak terkira kesedihan suami si gadis ketika mendapati tubuh istrinya telah berubah menjadi batu. Karena rasa cinta dan sayangnya, suami si gadis berkehendak dapat bersama-sama dengan istrinya. Ia lantas memohon agar dirinya juga dapat berubah menjadi batu. Permohonanpun dikabulkan. Selesai memohon, tubuh si pemuda yang berasal dari negeri seberang itupun berubah pula menjadi batu.Sepasang batu itu tetap berada di pinggir danau air tawar. Keduanya berdekatan sama seperti kuatnya cinta kasih mereka sebagai suami istri.

Cerita Rakyat Melayu : Kisah Si Alamsyah
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Melayu : Kisah Si Alamsyah

Tersebutlah sebuah kerajaan di tanah Alas , pada zaman dahulu. Sang Raja memerintah dengan sifat adil dan bijaksana. Rakyat pun hidup dalam kedamaian , keamanan,serta kesejahteraan. Dang raja mempunyai seorang penasihat. Tande Wakil. Namanya . Apapun juga yang disebutkan Tande Wakil Sang Raja akan menurutinya.Dalam kehidupannya, Sang Raja belum juga dikaruniai seorang anak pun meski telah lama berumah tangga. Kenyataan itu membuatnya kerap bersedih hati. Begitu pula dengan Sang Permaisuri. Keduanya tak putus putus nya berdoa dan memohon agar dikaruniai anak. Hingga suatu hari Sang raja bermimpi. Dalam impiannya itu seorang kakek datang kepadanya dan memberitahunya, hendaklah Sang Permaisuri meminum ramuan yang dibuat oleh seorang tabib yang tinggal di sebuah hutan di ujung wilayah kerajaan.Keesokan paginya Sang Raja lantas memerintahkan para prajurit untuk mencari keberadaan si tabib dan mengajak nya untuk datang ke istana kerajaan. Tak berapa lama kemudian tabib yang dimaksud telah datang ke istana kerajaan. Si tabib segera membuatkan ramuan setelah Sang Raja memintanya. Benar pesan si kakek dalam impian Sang Raja , tak berapa lama setelag meminum ramuan buatan si tabib, Permaisuri pun mengandung. Sembilan bulan kemudian Permaisuri melahirkan seorang bayi laki- laki . Sang Raja member nama Alamsyah untuk anak lelakinya itu.Begitu gembiranya hati Sang Raja dan Permaisuri setelah dikaruniai seorang anak. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama . Belum juga genap sebulan usia Alamsyah , Tande Wakil menghadap Sang Raja dan menjelaskan perihal impiannya. Kata Tande Wakil,’’Hamba bermimpi, bahwa kelahiran putra Paduka itu adalah petaka sekaligus bencana besar bagi segenap rakyat! Putra Paduka itu hendaklah dibuang ke hutan agar bencana itu tidak mewujud dalam kenyataan.’’‘’Apakah tidak ada cara lain selain membuang putraku itu ke hutan agar bencana itu tidak mewujud? ‘’tanya Sang Raja.‘’Ampun yang mulia,’’ kata tande wakil .‘’Menurut impian hamba , satu- satunya cara untuk mencegah datangnya bencana dan petaka yang akan melanda negeri kita ini hanyalah dengan membuang putra paduka ke hutan.’’Sang raja pun menurut. Betapa pun ia sangat mencintai anak lelakinya itu, namun jika kehadirannya akan membawa petaka dan bencana bagi segenap rakyat yang dipimpinnya, ia pun berketetapan hati untuk membuang Alamsyah ke hutanh.Alamsyah yang masih bayi itu lantas dibuang ke hutan . Seekor kera sakti merawat Alamsyah. Dalam asuhan si kera sakti , Alamsyah pun tumbuh besar. Beberapa tahun kemudian Alamsyah telah berubah menjadi seorang pemuda. Wajahnya sangat tampan.Tubuhnya kuat dan kekar. Si kera sakti mengajarinya sopan santun dan tata krama hingga Alamsyah tumbuh menjadi pemuda yang baik hati dan mengenal sopan santun.Pada suatu hari Alamsyah keluar hutan. Di pinggir hutan ia berjumpa dengan seorang kakek. Setelah saling bertegur sapa, sang kakek akhirnya mengetahui siapa sesungguhnya Alamsyah. Si kakek lantas mengajak Alamsyah untuk kembali ke istana kerajaan.‘’Ayahanda Paduka telah wafat,’’kata si kakek dalam perjalanannya menuju kerajaan.’’ Kini yang memerintah kerajaan adalah Paman Paduka. Sangat jauh pemerintahannya dibandingkan Ayahanda Paduka. Paman Paduka itu memerintah dengannn sangat kejam dan sewenang –wenang. Sangat mudah dia menjatuhi hukuman, bahkan terhadap orang yang sesungguhnya tidak bersalah. Beberapa dijatuhi hukuman mati karena berani menentang kehendak Raja. Rakyat hidup dalam kecemasan dan ketakutan. Raja sama sekali tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat dan kejahatanpun tumbuh subur layaknya jamur di musim penghujan.Alamsyah sangat sedih mendengar cerita si kakek.” Lantas bagaimana nasib ibu?” Tanyanya.“Ibu paduka masih hidup dan tinggal di sebuah gubug di luar istana. Setiap hari ibu paduka dipaksa untuk bekerja keras layaknya seorang pembantu. Seringkali ibu paduka tidak diberi makan karena dianggap pekerjaannya tidak bagus. Bahkan, makanan untuknya pun kadang makanan yang sudah basi.”Alamsyah kian merasa sedih. Dia berniat kuat menemui pamannya dan meminta pamannya tidak sewenang-wenang dalam memerintah dan tidak berlaku aniaya terhadapo ibunya.Alamsyahpun tiba di istana kerajaan. Pamannya sangat tidak suka mendapati kedatangannya. Dia khawatir, Alamsyah akan meminta tahta yang menjadi haknya. Raja lantas memperlakukan Alamsyah dengan buruk. Alamsyah dipaksa untuk bekerja keras, melebihi kerja yang dilakukan pembantu. Jika Alamsyah tidak bekerja, dia tidak akan diberi makan. Alamsyah juga dilarang bertemu ibunya. Para perajurit diberi kewenangan oleh raja untuk memukul Alamsyah, jika Alamsyah dianggap tidak baik dalam bekerja. Alamsyah terpaksa menerima perlakuan buruk terhadapnya itu, karena tidak memiliki kemampuan untuk melawan.Sang Raja telah berulangkali berusaha untuk mencelakai Alamsyah. Secara diam-diam dia memerintahkan orang-orang kepercayaanya untuk membunuh Alamsyah. Namun, usahanya selalu mengalami kegagalan.Suatu hari sang Raja memerintahkan seorang kepercayaanya yang bernama Penghulu Mude untuk membunuh Alamsyah. Penghulu Mude lantas mengajak Alamsyah untuk membeli kerbau. Ditengah perjalanan, Alamsyah didorongnya hingga jatuh ke jurang. Penghulu mude kemudian kembali ke istana untuk menghadap sang raja. Dia melaporkan bahwa Alamsyah telah mati jatuh ke Jurang.Alamsyah terjatuh ke jurang yang dalam. Namun, dia selamat karena ditolong oleh jin baik yang bernama Siah Ketambe. Alamsyah sama sekali tidak terluka dan bahkan sedikitpun kulitnya tidak lecet.Siah Ketambe menjelaskan, bahwa jatuhnya Alamsyah ke jurang itu karena siasat pamannya.” Pamanmu menghendaki engkau mati, sehingga dia menyuruh Penghulu Made mendorongmu ke jurang ini.”Alamsyah sependapat dengan penjelasan Siah Ketambe. Berulang-ulang dia telah merasakan berbagai usaha pamannya untuk mencelakakan dirinya.Siah Ketambe mengharapkan agar Alamsyah memiliki ilmu beladiri yang cukup untuk bisa menjaga diri serta menolong orang-orang yang membutuhkan. Akhirnya Alamsyah belajar ilmu beladiri dan kesaktiaan dari Siah Ketambe. Karena Alamsyah orang yang cerdas dan tekun, dalam waktu singkat dia telah menguasai ilmu beladiri dan berbagai kesaktian yang diajarkan oleh Siah Ketembe.Siah Ketambe memberikan pesan kepada Alamsyah.” Gunakan ilmu dan kesaktianmu itu baik-baik. Sebisa mungkin hindarkanlah perkelahian. Namun, jika engkau dalam keadaan terdesak atau mendapati dirimu dalam keadaan bahaya, barulah engkau boleh menggunakan ilmumu itu untuk membela diri.”Setelah merasa ilmu beladiri dan kesaktian Alamsyah sudah cukup, Siah Ketambe mengijinkan Alamsyah untuk kembali ke kerajaan. Kedatangan Alamsyah sangat mengejutkan Raja dan Penghulu Mude. Setibanya di istana Alamsyah langsung diserang oleh Penghulu Mude dibantu oleh para perajurit. Namun karena kesaktian Alamsyah sangat tinggi, dengan mudah Alamsyah dapat mengalahkan mereka semua.Sang Raja begitu terperanjat mendapati kemampuan keponakannya itu begitu luar biasa. Dia pun merasa tidak akan mampu menghadapi Alamsyah, terlebih lagi para perajurit dan pejabat kerajaan yang sebelumnya menjadi kaki tanggany, sekarang berbalik menduku Alamsyah, karena mengetahui bahwa Alamsyahlah yang berhak menjadi Raja.Sang Raja akhirnya menemui Alamsyah.” Alamsyah keponakanku. Maafkan pamanmu yang telah khilaf ini. Ampuni aku. Dengan ini kuserahkan kembali tahta yang memang seharusnya engkau duduki. Sekali lagi, maafkan pamanmu dan jangan engkau sakiti pamanmu yang tleh renta ini.”Alamsyah memaafkan kesalahan pamannya. Dia juga memaafkan kesalahan Penghulu Mude dan seluruh perajurit yang pernah menyakitinya selama mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan mereka.Setelah penyerahan kekuasaan itu, Alamsyah dinobatkan menjadi raja baru. Alamsyah segera menjemput ibunya dan mendudukannya disampinya dengan penuh penghormatan. Seluruh rakyat sangat bergembira dengan penobatan Alamsyah sebagai Raja, apalagi Alamsyah memerintah dengan adil dan bijaksana. Alamsyah menegakan hukum dengan adil sehingga tingkat kejahatan menurun drastis. Rakyat hidup makmur dan sejahtera

Cerita Rakyat Nanggroe Aceh Darussalam : Mentiko Betuah
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Nanggroe Aceh Darussalam : Mentiko Betuah

Pada zaman dahulu di negeri Simeulue, hiduplah seorang raja. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Rohib. Namun, mereka terlalu memanjakannya, sehingga Rohib tumbuh menjadi anak yang manja. Setelah remaja, raja mengirimnya untuk belajar di kota. Tetapi sifat manjanya terbawa ke tempatnya belajar. Suatu hari, Rohib pulang sebelum masa belajar berakhir. Tentu saja, ayahnya sangat marah.“Hai, Rohib! Mana hasilnya kamu belajar di sana? Sungguh anak tak tahu diuntung! Pengawal, gantung anak ini sampai mati!” perintah Sang Raja.“Jangan, Kanda! Bagaimana kalau kita suruh ia keluar dari istana saja? Tetapi dengan memberinya uang sebagai modal untuk berdagang,” usul Sang Permaisuri.“Hmm, baiklah, Dinda.” jawab Sang Raja.“Bagaimana pendapatmu,Anakku?” tanya Permaisuri kepada Rohib.”Baiklah! Terima kasih, Bunda.” jawab Rohib.Rohib pun berpamitan kepada orang tuanya. Ia pergi dari satu kampung ke kampung lainnya. Di perjalanan, ia bertemu anak-anak yang sedang menembak burung dengan ketapel.“Wahai, saudaraku! Kalian jangan menganiaya burung itu!” tegur Si Rohib. “Hei, kamu siapa? Berani-beraninya melarang kami,” hardik seorang anak. “Jika kalian berhenti menembaki burung itu, aku akan memberi kalian uang,” tawar Rohib.Tawaran Rohib pun diterima anak-anak. Rohib melanjutkan perjalanan dan ia selalu memberi uang kepada orang-orang yang menganiaya binatang. Tanpa disadari, uang untuk modalnya sudah habis. Karena perjalanan sangat melelahkan, Rohib lantas beristirahat di bawah pohon. Tiba-tiba seekor ular besar mendekatinya. Rohib sangat ketakutan.“Jangan takut, anak muda! Aku adalah Raja Ular di hutan ini,” kata Ular itu. “Kamu sendiri siapa? Kenapa kamu bersedih?” tanya Ular itu.“Namaku Rohib,” jawab Rohib. Lalu ia menceritakan semua pengalamannya. “Kamu adalah anak yang baik. Kamu pantas mendapatkan hadiah dariku,” tambah ular itu sambil mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.“Benda apa itu?” tanya Si Rohib. “Ini namanya Mentiko Betuah. Apa pun yang kau minta, pasti akan dikabulkan,” jelas Ular itu, lalu pergi meninggalkan Si Rohib.“Wah, benda ini bisa menolongku dari kemurkaan ayah,” gumam Rohib. Rohib pun kembali ke istana. Sebelumnya, ia memohon kepada Mentiko Betuah agar memberinya uang banyak. Tiba di istana, ayahnya senang karena Rohib membawa uang yang banyak.Singkat cerita, Rohib membawa Mentiko Betuah kepada tukang emas untuk dijadikan cincin. Namun, tukang emas itu justru membawa kabur benda tersebut. Rohib pun meminta bantuan kepada sahabatnya, yaitu tikus, kucing, dan anjing. Anjing berhasil menemukan jejak Si Tukang Emas. Ketika Si Tukang Emas tengah tertidur, Si Kucing memasukkan ekornya ke lubang hidungnya. Akibatnya tukang emas bersin, sehingga Mentiko Betuah terlempar dari mulutnya. Tikus segera mengambil benda itu. Namun, tikus menipu kedua temannya bahwa Mentiko Betuah terjatuh ke dalam sungai. Kedua temannya pun panik dan segera mencarinya ke dasar sungai, sedangkan Si Tikus segera memberikan Mentiko Betuah kepada Rohib.Ketika Si Kucing dan Si Anjing menghadap Rohib, mereka sangat terkejut bahwa Mentiko Betuah itu sudah kembali ke tangan Rohib. Rupanya perilaku licik tikus segera tercium oleh kucing dan anjing. Keduanya marah besar terhadap perbuatan curang tikus. Sejak itulah anjing dan kucing membenci tikus sampai saat ini.

Kado Ulang Tahun
Teen
25 Nov 2025

Kado Ulang Tahun

Di suatu hari pada bulan November aku ulang tahun yang ke 17 tahun. Disaat itu yang harusnya membuatku senang tetapi ternyata tidak sama sekali.Di pagi hari aku baru bangun pagi aku kira ada keluargaku yang mengucapkanku selamat ulang tahun ternyata tidak ada sama sekali yang mengucapkan. Saat itu aku merasa sangat sedih dan kecewa. Sebelum aku mau berangkat sekolah aku bersalaman dan berpamitan kepada kedua orangtuaku, kukira bakal ada yang mengucapkan di situ ternyata mereka benar benar lupa dengan hari itu. Aku berangkat sekolah dengan hati yang kesal, tetapi aku di jalan berharap ada yang ingat dengan hari ulang tahunku saat itu waktu di sekolah.Sesampainya di sekolah aku langsung menaruh tas di kursi dan langsung duduk. Tidak lama ada temanku yang menghampiriku, dia mengajakku untuk mengantarkan ke kamar mandi sebentar. Setelah dari kamar mandi aku dan temanku duduk dan bercerita cerita.Jam pelajaran dimulai… Diawal pelajaran aku sudah merasa yang tidak enak, Guru jam pertama pelajaran menghampiriku dan tiba tiba menyuruhku ulangan harian sendirian di luar kelas. Aku berbicara dalam hati: kenapa aku ulangan sendirian di sini kenapa teman temanku tidak ikut ulangan juga. Setelah menyelesaikan ulangan itu aku masuk ke dalam kelas untuk menyerahkan kertas itu ke guru, tetapi saat aku masuk kelas tatapan teman temanku tiba tiba sinis semua. Tetapi ada satu temanku yang biasa saja padaku, aku sampai jam pulang bersama dia terus.Saat jam pulang Aku bertanya kepada temanku “Kenapa tadi bu guru menyuruhku untuk ulangan sendirian di depan kelas, sedangkan teman teman yang lain tidak?,” “Sama kenapa tadi temen temen sinis semua kepadaku,” tanyaku kepada temanku. “Wah aku tidak tahu tentang itu, maaf ya,” jawab temanku. Aku dan temanku pun pulang di rumahnya masing masing. Aku pulang sekolah langsung tidur siang dan bangun agak sorean. Setelah bangun aku langsung mandi. Setelah mandi aku mengerjakan tugas yang sudah diberikan guru. Tiba tiba di rumahku lampu mati, di rumah sangat gelap sampai sampai aku tidak kelihatan apa pun, aku langsung mencari hp ku untuk menyalakan senter. Di saat itu aku pun di rumah sendirian. Setelah mendapatkan hp ku aku langsung menyalakan senter yang ada di hp ku. Aku pun mencari lilin untuk ditaruh di tempat tempat yang gelap, tetapi anehnya kenapa hanya rumahku yang lampunya mati sedangkan lampu rumah tetanggaku menyala semua.Aku sudah tidak mempedulikan itu, aku melanjutkan tugasku dan menunggu lampu di rumahku menyala kembali. Aku sudah melihat KWH Meter dan tidak ada yang aneh atau pun rusak. Aku menelepon keluargaku tetapi tidak ada yang jawab.Setelah aku mengerjakan tugas aku pergi ke kamar untuk bermain hp dan menaruh lilin di kamar. Tapi tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetok pintu rumahku. “Tokkkk tokkkk tokkkkk…,” “Assalamualaikum…,” “Apa ada orangg…,” “Permisiiiiii,” Kata orang yang mengetuk pintu dengan cara sangat keras, dia pun memanggilnya sangat keras sampai sampai tetanggaku keluar rumah semua.Aku yang di rumah sendirian merasa sangat takut untuk membukakan pintu rumah, tetapi dia masih mengetok-ngetok pintu rumahku secara keras. Aku pun membukakan pintunya“Iyaaa sebentarr,” “Siapaa yaaa,” jawab ku dari dalam rumah. Aku membuka kan pintu “Ehhh ternyata paket tohh tak kirain siapa mas,” kataku. “Lama sekali sih mbak, Cuma paket aja loh,”. “Nih paketnya mbak, sama tanda tangan disini buat bukti penerimanya,” Jawab kurir paket itu. “Yaa maaf mas saya kira tadi orang jahat soalnya saya di rumah sendirian sama lampu di rumah saya mati,” jawabku. “Oalah ya mbak, kalau gitu saya duluan ya,” Jawab kurir paket. “Yaa mas makasi ya mas, maaf juga tadi lama bukain pintunya,” jawabku.Aku kembali ke kamar dan membuka isi paket tadi, tetapi tiba tiba ada suara orang di rumahku, aku pun segera melihatnya tetapi tidak ada orang di rumahku. Aku berusaha berfikir yang positif, mungkin tadi kucing. Tetapi tidak lama dari itu ada suara balon meletus di depan rumahku.“Dorrrrrr selamat ulang tahun,” “Maaf ya udah buat kamu kesel dari pagi,” “Happy birthday temankuuu maaf tadi udah cuek di sekolahan,” “Selamat ulang tahun anakku semoga selalu bahagia ya, maaf tadi pagi gak ngucapin kamu,” Tiba tiba ada teman temanku dan kedua orang tua ku masuk kamar. Mereka membawa kado dan kue. Aku langsung menangis terharu karena aku kira tidak ada satu orang pun yang ingat sama hari yang sangat spesial itu.Aku sangat bahagia saat itu karena tidak hanya orangtuaku dan teman temanku saja yang datang tetapi keluarga nya kekasih ku juga ikut datang, ternyata ini semua sudah bagian acara dari kekasihku agar membuatku kesal dari pagi, Pantas saja hp dia mati dari hari sebelum aku ulang tahun.Aku sangat terkejut karena ayahku tiba tiba memberiku kunci mobil. Aku bertanya kepada ayah “Ini apa,” Tanyaku kepada ayah. “Ini kunci mobil buat kamu, di jaga baik baik ya,” jawab ayahku. “HAHHHH, ini serius ayah,” aku yang sangat terkejut. Aku disini sangat bahagia.Tidak hanya itu kekasihku juga tiba tiba mengasih cincin di jariku. “Ini buat kamu, apa mau lebih serius lagi sama aku,” kekasihku yang bertanya kepadaku. “Hah maksud nya apa ini, tunangan gitu,” aku yang masih bingung.Ternyata ini semua adalah bagian dari rencana dia, dia ingin melihatku kesal dari pagi tapi senang saat malam itu, ini adalah hari ulang tahun yang sangat membuatku bahagia. Aku yang malu karena disitu ada kedua orangtuaku dan orangtua dia, serta ada teman temanku.“CIEEEE CIEEEE TUNANGAN NIHHHH,” “Wahhhhh iriiii akuuuuu,” “Wahh congrats yaaa,” “Sekolahnya diselesaiin dulu nanti baru lebih ke jenjang yang serius,” “Semoga baik baik aja yaa nanti hubungannya,” Kata teman temanku dan orang tua ku.END

Legenda Putri Hijau
Folklore
25 Nov 2025

Legenda Putri Hijau

Ketika sedang beristirahat, tiba-tiba Sultan Mughayat Syah melihat cahaya hijau dari arah timur. Sang Sultan segera menanyakan kepada penasihatnya mengenai cahaya itu. Sang penasihat pun tidak mengetahui perihal cahaya itu. Maka, diutuslah seorang prajurit kepercayaannya untuk menyelidiki cahaya itu. Ternyata, cahaya itu berasal dari tubuh Putri Hijau di Deli Tua.Setibanya di perbatasan kerajaan, sang Sultan mengirim utusan untuk meminang sang Putri. Akan tetapi, sang Putri menolak lamaran tersebut. Mengetahui lamarannya ditolak, sang Sultan menjadi marah.Tak lama kemudian, pecah peperangan. Karena wilayah Deli Tua dikelilingi oleh bambu berduri, prajurit Aceh menembakkan banyak uang di sekitar bambu. Melihat banyak uang, rakyat Deli Tua memotongi dan menebangi rumpun bambu berduri itu untuk mengambil uang. Akibatnya, pertahanan Deli Tua hancur.Melihat keadaan, penguasa Deli Tua mengira jika mereka akan kalah. Ia pun berpesan kepada Putri Hijau bila sang Putri kelak ditawan, sebaiknya memohon agar dapat dimasukkan ke dalam keranda kaca. Sebelum tiba di Aceh, tubuhnya tidak boleh disentuh oleh Sultan Aceh. Setibanya, ia harus memohon agar rakyat Aceh membawa persembahan masing-masing sebutir telur ayam dan segenggam beras putih. Semua persembahan itu harus dibuang ke laut. Pada saat itu, Putri Hijau harus keluar dari keranda kacanya lalu memanggil nama Mambang Jazid. Setelah itu, sang Penguasa Deli Tua menghilang.Setelah itu, sang Putri Hijau ditawan. Ia pun meminta syarat seperti yang dipesankan sang Penguasa Deli Tua. Sang Sultan mengabulkan permintaan itu. Di Aceh, kapal sang Sultan berlabuh di Tanjung Jambu Air. Sultan memerintahkan rakyatnya agar mengadakan upacara persembahan kepada Putri Hijau.Seusai upacara, Putri Hijau keluar dari keranda kacanya. Sesuai pesan, Putri Hijau menyebutkan nama Mambang Jazid. Tiba-tiba, turun angin ribut dan hujan lebat. Halilintar dan gulungan ombak besar menyusul.Tiba-tiba, muncul seekor naga raksasa dari dalam ombak dan langsung menuju kapal Sultan Aceh. Dihantamnya kapal itu hingga terbelah dua. Dalam keadaan itu, Putri Hijau kembali ke keranda kacanya sehingga ia dapat terapung di atas laut.Sang Naga segera menghampiri keranda itu lalu dibawa ke Selat Malaka. Gerakan itu amat cepat, sehingga Sultan Aceh tidak dapat berbuat apa-apa. Ia pun menyadari kesalahannya. Ia tidak bisa memaksa orang lain jika orang itu memang tidak mau.Pesan moral dari Dongeng cerita aceh jaman dulu : Legenda Putri Hijau adalah jangan memaksakan kehendak kita kepada orang lain.

Cerita Dongeng Aceh : Kisah Banta Barensyah
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Dongeng Aceh : Kisah Banta Barensyah

Pada jaman dahulu kala, di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggro Aceh Darussalam, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Banta Berensyah. Banta Berensyah seorang anak yang rajin dan mahir bermain suling. Kedua ibu dan anak itu tinggal di sebuah gubuk bambu yang beratapkan ilalang dan beralaskan dedaunan kering dengan kondisi hampir roboh.Kala hujan turun, air dengan leluasa masuk ke dalamnya. Bangunan gubuk itu benar-benar tidak layak huni lagi. Namun apa hendak dibuat, jangankan biaya untuk memperbaiki gubuk itu, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan.Untuk bertahan hidup, ibu dan anak itu menampi sekam di sebuah kincir padi milik saudaranya yang bernama Jakub. Jakub adalah saudagar kaya di dusun itu. Namun, ia terkenal sangat kikir, loba, dan tamak. Segala perbuatannya selalu diperhitungkan untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Terkadang ia hanya mengupahi ibu Banta Berensyah dengan segenggam atau dua genggam beras. Beras itu hanya cukup dimakan sehari oleh janda itu bersama anaknya.Pada suatu hari, janda itu berangkat sendirian ke tempat kincir padi tanpa ditemani Banta Berensyah, karena sedang sakit. Betapa kecewanya ia saat tiba di tempat itu. Tak seorang pun yang menumbuk padi. Dengan begitu, tentu ia tidak dapat menampi sekam dan memperoleh upah beras. Dengan perasaan kecewa dan sedih, perempuan paruh baya itu kembali ke gubuknya. Setibanya di gubuk, ia langsung menghampiri anak semata wayangnya yang sedang terbaring lemas. Wajah anak itu tampak pucat dan tubuhnya menggigil, karena sejak pagi perutnya belum terisi sedikit pun makanan.“Ibu…! Banta lapar,” rengek Banta Berensyah.Janda itu hanya terdiam sambil menatap lembut anaknya. Sebenarnya, hati kecilnya teriris-iris mendengar rengekan putranya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada sama sekali makanan yang tersisa. Hanya ada segelas air putih yang berada di samping anaknya. Dengan perlahan, ia meraih gelas itu dan mengulurkannya ke mulut Banta Berensyah. Seteguk demi seteguk Banta Berensyah meminum air dari gelas itu sebagai pengganti makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Setelah meminum air itu, Banta merasa tubuhnya sedikit mendapat tambahan tenaga. Dengan penuh kasih sayang, ia menatap wajah ibunya. Lalu, perlahan-lahan ia bangkit dari tidurnya seraya mengusap air mata bening yang keluar dari kelopak mata ibunya.“Kenapa ibu menangis?” tanya Banta dengan suara pelan.Mulut perempuan paruh baya itu belum bisa berucap apa-apa. Dengan mata berkaca-kaca, ia hanya menghela nafas panjang. Banta pun menatap lebih dalam ke arah mata ibunya. Sebenarnya, ia mengerti alasan kenapa ibunya menangis.“Bu! Banta tahu mengapa Ibu meneteskan air mata. Ibu menangis karena sedih tidak memperoleh upah hari ini,” ungkap Banta.“Sudahlah, Bu! Banta tahu, Ibu sudah berusaha keras mencari nafkah agar kita bisa makan. Barangkali nasib baik belum berpihak kepada kita,” bujuknya.Mendengar ucapan Banta Berensyah, perempuan paruh baya itu tersentak. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika anak semata wayangnya, yang selama ini dianggapnya masih kecil itu, ternyata pikirannya sudah cukup dewasa. Dengan perasaan bahagia, ia merangkul tubuh putranya sambil meneteskan air mata. Perasaan bahagia itu seolah-olah telah menghapus segala kepedihan dan kelelahan batin yang selama ini membebani hidupnya.“Banta, Anakku! Ibu bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Ibu sangat sayang kepadamu, Anakku,” ucap Ibu Banta dengan perasaan haru.Kasih sayang dan perhatian ibunya itu benar-benar memberi semangat baru kepada Banta Berensyah. Tubuhnya yang lemas, tiba-tiba kembali bertenaga. Ia kemudian menatap wajah ibunya yang tampak pucat. Ia sadar bahwa saat ini ibunya pasti sedang lapar. Oleh karena itu, ia meminta izin kepada ibunya hendak pergi ke rumah pamannya, Jakub, untuk meminta beras. Namun, ibunya mencegahnya, karena ia telah memahami perangai saudaranya yang kikir itu.“Jangan, Anakku! Bukankah kamu tahu sendiri kalau pamanmu itu sangat perhitungan. Ia tentu tidak akan memberimu beras sebelum kamu bekerja,” ujar Ibu Banta.“Banta mengerti, Bu! Tapi, apa salahnya jika kita mencobanya dulu. Barangkali paman akan merasa iba melihat keadaan kita,” kata Banta Berensyah.Berkali-kali ibunya mencegahnya, namun Banta Berensyah tetap bersikeras ingin pergi ke rumah pamannya. Akhirnya, perempuan yang telah melahirkannya itu pun memberi izin. Maka berangkatlah Banta Berensyah ke rumah pamannya. Saat ia masuk ke pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara keras membentaknya. Suara itu tak lain adalah suara pamannya.“Hai, anak orang miskin! Jangan mengemis di sini!” hardik saudagar kaya itu.“Paman, kasihanilah kami! Berikanlah kami segenggam beras, kami lapar!” iba Banta Berensyah.“Ah, persetan dengan keadaanmu itu. Kalian lapar atau mati sekalian pun, aku tidak perduli!” saudagar itu kembali menghardiknya dengan kata-kata yang lebih kasar lagi.Betapa kecewa dan sakitnya hati Banta Berensyah. Bukannya beras yang diperoleh dari pamannya, melainkan cacian dan makian. Ia pun pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.Dalam perjalanan pulang, Banta Berensyah mendengar kabar dari seorang warga bahwa raja di sebuah negeri yang letaknya tidak berapa jauh dari dusunnya akan mengadakan sayembara. Raja negeri itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita nan rupawan. Ia bagaikan bidadari yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Kulitnya sangat halus, putih, dan bersih. Saking putihnya, kulit putri itu seolah-olah tembus pandang. Jika ia menelan makanan, seolah-olah makanan itu tampak lewat ditenggorokannya. Itulah sebabnya ia diberi nama Putri Terus Mata. Setiap pemuda yang melihat kecantikannya pasti akan tergelitik hasratnya untuk mempersuntingnya. Sudah banyak pangeran yang datang meminangnya, namun belum satu pun pinangan yang diterima. Putri Terus Mata akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa.Mendengar kabar itu, Banta Berensyah timbul keinginannya untuk mengandu untung. Ia berharap dengan menikah dengan sang Putri, hidupnya akan menjadi lebih baik. Siapa tahu ia bernasib baik, pikirnya. Ia pun bergegas pulang ke gubuknya untuk menemui ibunya. Setibanya di gubuk, ia langsung duduk di dekat ibunya. Sambil mendekatkan wajahnya yang sedikit pucat karena lapar, Banta Berensyah menyampaikan perihal hasratnya mengikuti sayembara tersebut kepada ibunya. Ia berusaha membujuk ibunya agar keinginannya dikabulkan.“Bu! Banta sangat sayang dan ingin terus hidup di samping ibu. Ibu telah berusaha memberikan yang terbaik untuk Banta. Kini Banta hampir beranjak dewasa. Saatnya Banta harus bekerja keras memberikan yang terbaik untuk Ibu. Jika Ibu merestui niat tulus ini, izinkanlah Banta merantau untuk mengubah nasib hidup kita!” pinta Banta Berensyah.Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembunyikan kekagumannya kepada anak semata wayangnya itu. Ia pun memeluk erat Banta dengan penuh kasih sayang.“Banta, Anakku! Kamu adalah anak yang berbakti kepada orangtua. Jika itu sudah menjadi tekadmu, Ibu mengizinkanmu walaupun dengan berat hati harus berpisah denganmu,” kata perempuan paruh baya itu.“Tapi, bagaimana kamu bisa merantau ke negeri lain, Anakku? Apa bekalmu di perjalanan nanti? Jangankan untuk ongkos kapal dan bekal, untuk makan sehari-hari pun kita tidak punya,” tambahnya.“Ibu tidak perlu memikirkan masalah itu. Cukup doa dan restu Ibu menyertai Banta,” kata Banta Berensyah.Setelah mendapat restu dari ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke sebuah tempat yang sepi untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah semalam suntuk berdoa dengan penuh khusyuk, akhirnya ia pun mendapat petunjuk agar membawa sehelai daun talas dan suling miliknya ke perantauan. Daun talas itu akan ia gunakan untuk mengarungi laut luas menuju ke tempat yang akan ditujunya. Sedangkan suling itu akan ia gunakan untuk menghibur para tukang tenun untuk membayar biaya kain emas dan suasa yang dia perlukan.Keesokan harinya, usai berpamitan kepada ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke rumah pamannya, Jakub. Ia bermaksud meminta tumpangan di kapal pamannya yang akan berlayar ke negeri lain. Setibanya di sana, ia kembali dibentak oleh pamannya.“Ada apa lagi kamu kemari, hai anak malas!” seru sang Paman.“Paman! Bolehkah Ananda ikut berlayar sampai ke tengah laut?” pinta Banta Berensyah.Jakub tersentak mendengar permintaan aneh dari Banta Berensyah. Ia berpikir bahwa kemanakannya itu akan bunuh diri di tengah laut. Dengan senang hati, ia pun mengizinkannya. Ia merasa hidupnya akan aman jika anak itu telah mati, karena tidak akan lagi datang meminta-minta kepadanya. Akhirnya, Banta Berensyah pun ikut berlayar bersama pamannya. Begitu kapal yang mereka tumpangi tiba di tengah-tengah samudra, Banta meminta kepada pamannya agar menurunkannya dari kapal.“Paman! Perjalanan Nanda bersama Paman cukup sampai di sini. Tolong turunkan Nanda dari kapal ini!” pinta Banta Betensyah.Saudagar kaya itu pun segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan Banta ke laut. Namun sebelum diturunkan, Banta mengeluarkan lipatan daun talas yang diselempitkan di balik pakaiannya. Kemudian ia membuka lipatan daun talas itu seraya duduk bersila di atasnya. Melihat kelakuan Banta itu, Jakub menertawainya.“Ha… ha… ha…! Dasar anak bodoh!” hardik saudagar kaya itu.“Pengawal! Turunkan anak ini dari kapal! Biarkan saja dia mati dimakan ikan besar!” serunya.Namun, betapa terkejutnya saudagar kaya itu dan para anak buahnya setelah menurunkan Banta Berensyah ke laut. Ternyata, sehelai daun talas itu mampu menahan tubuh Banta Berensyah di atas air. Dengan bantuan angin, daun talas itu membawa Banta menuju ke arah barat, sedangkan pamannya berlayar menuju ke arah utara.Setelah berhari-hari terombang-ambing di atas daun talas dihempas gelombang samudra, Banta Berensyah tiba di sebuah pulau. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, ia terkagum-kagum menyaksikan pemandangan yang sangat indah dan memesona. Hampir di setiap halaman rumah penduduk terbentang kain tenunan dengan berbagai motif dan warna sedang dijemur. Rupanya, hampir seluruh penduduk di pulau itu adalah tukang tenun.Banta pun mampir ke salah satu rumah penduduk untuk menanyakan kain emas dan suasa yang sedang dicarinya. Namun, penghuni rumah itu tidak memiliki jenis kain tersebut. Ia pun pindah ke rumah tukang tenun di sebelahnya, dan ternyata si pemilik rumah itu juga tidak memilikinya. Berhari-hari ia berkeliling kampung dan memasuki rumah penduduk satu persatu, namun kain yang dicarinya belum juga ia temukan. Tinggal satu rumah lagi yang belum ia masuki, yaitu rumah kepala kampung yang juga tukang tenun.“Tok… Tok… Tok.. ! Permisi, Tuan!” seru Banta Berensyah setelah mengetuk pintu rumah kepala kampung itu.Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya membuka pintu dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.“Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?” tanya kampung itu bertanya.Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan asal-usulnya, Banta pun menyampaikan maksud kedatangannya.“Maaf, Tuan! Kedatangan saya kemari ingin mencari kain tenun yang terbuat dari emas dan suasa. Jika Tuan memilikinya, bolehkah saya membelinya?” pinta Banta Berensyah.Kepala kampung itu tersentak kaget mendengar permintaan Banta, apalagi setelah melihat penampilan Banta yang sangat sederhana itu.“Hai, Banta! Dengan apa kamu bisa membayar kain emas dan suasa itu? Apakah kamu mempunyai uang yang cukup untuk membayarnya?”“Maaf, Tuan! Saya memang tidak mampu membayarnya dengan uang. Tapi, jika Tuan berkenan, bolehkah saya membayarnya dengan lagu?” pinta Banta Berensyah seraya mengeluarkan sulingnya.Melihat keteguhan hati Banta Berensyah hendak memiliki kain tenun tersebut, kepala kampung itu kembali bertanya kepadanya.“Banta! Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu sangat menginginkan kain itu?”Banta pun menceritakan alasannya sehingga ia harus berjuang untuk mendapatkan kain tersebut. Karena iba mendengar cerita Banta, akhirnya kepala kampung itu memenuhi permintaannya. Dengan keahliannya, Banta pun memainkan sulingnya dengan lagu-lagu yang merdu. Kepala kampung itu benar-benar terbuai menikmati senandung lagu yang dibawakan Banta. Setelah puas menikmatinya, ia pun memberikan kain emas dan suasa miliknya kepada Banta.“Kamu sangat mahir bermain suling, Banta! Kamu pantas mendapatkan kain emas dan suasa ini,” ujar kepala kampung itu.“Terima kasih, Tuan! Banta sangat berhutang budi kepada Tuan. Banta akan selalu mengingat semua kebaikan hati Tuan,” kata Banta.Setelah mendapatkan kain emas dan suasa tersebut, Banta pun meninggalkan pulau itu. Ia berlayar mengarungi lautan luas menuju ke kampung halamannya dengan menggunakan daun talas saktinya. Hati anak muda itu sangat gembira. Ia tidak sabar lagi ingin menyampaikan berita gembira itu kepada ibunya dan segera mempersembahkan kain emas dan suasa itu kepada Putri Terus Mata.Namun, nasib malang menimpa Banta. Ketika sampai di tengah laut, ia bertemu dan ikut dengan kapal Jakub yang baru saja pulang berlayar dari negeri lain. Saat ia berada di atas kapal itu, kain emas dan suasa yang diperolehnya dengan susah payah dirampas oleh Jakub. Setelah kainnya dirampas, ia dibuang ke laut. Dengan perasaan bangga, Jakub membawa pulang kain tersebut untuk mempersunting Putri Terus Mata.Sementara itu, Banta yang hanyut terbawa arus gelombang laut terdampar di sebuah pantai dan ditemukan oleh sepasang suami-istri yang sedang mencari kerang. Sepasang suami-istri itu pun membawanya pulang dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah beberapa lama tinggal bersama kedua orang tua angkatnya tersebut, Banta pun memohon diri untuk kembali ke kampung halamannya menemui ibunya dengan menggunakan daun talas saktinya. Setiba di gubuknya, ia pun disambut oleh ibunya dengan perasaan suka-cita. Kemudian, Banta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.“Maafkan Banta, Bu! Sebenarnya Banta telah berhasil mendapatkan kain emas dan suasa itu, tetapi Paman Jakub merampasnya,” Banta bercerita kepada ibunya dengan perasaan kecewa.“Sudahlah, Anakku! Ibu mengerti perasaanmu. Barangkali belum nasibmu mempersunting putri raja,” ujar Ibunya.“Tapi, Bu! Banta harus mendapatkan kembali kain emas dan suasa itu dari Paman. Kain itu milik Banta,” kata Banta dengan tekad keras.“Semuanya sudah terlambat, Anakku!” sahut ibunya.“Apa maksud Ibu berkata begitu?” tanya Banta penasaran.“Ketahuilah, Anakku! Pamanmu memang sungguh beruntung. Saat ini, pesta perkawinannya dengan putri raja sedang dilangsungkan di istana,” ungkap ibunya.Tanpa berpikir panjang, Banta segera berpamitan kepada ibunya lalu bergegas menuju ke tempat pesta itu dilaksanakan. Namun, setibanya di kerumunan pesta yang berlangsung meriah itu, Banta tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai bukti untuk menunjukkan kepada raja dan sang Putri bahwa kain emas dan suasa yang dipersembahkan Jakub itu adalah miliknya. Sejenak, ia menengadahkan kedua tangannya berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Begitu ia selesai berdoa, tiba-tiba datanglah seekor burung elang terbang berputar-putar di atas keramaian pesta sambil berbunyi.“Klik.. klik… klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!! Klik… klik.. klik… kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah…!!!” demikian bunyi elang itu berulang-ulang.Mendengar bunyi elang itu, seisi istana menjadi gempar. Suasana pesta yang meriah itu seketika menjadi hening. Bunyi elang itu pun semakin jelas terdengar. Akhirnya, Raja dan Putri Terus Mata menyadari bahwa Jakub adalah orang serakah yang telah merampas milik orang lain. Sementara itu Jakub yang sedang di pelaminan mulai gelisah dan wajahnya pucat. Karena tidak tahan lagi menahan rasa malu dan takut mendapat hukuman dari Raja, Jakub melarikan diri melalui jendela. Namun, saat akan meloncat, kakinya tersandung di jendela sehingga ia pun jatuh tersungkur ke tanah hingga tewas seketika.Setelah peristiwa itu, Banta Berensyah pun dinikahkan dengan Putri Terus Mata. Pesta pernikahan mereka dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah. Tidak berapa lama setelah mereka menikah, Raja yang merasa dirinya sudah tua menyerahkan jabatannya kepada Banta Berensyah. Banta Berensyah pun mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya di istana. Akhirnya, mereka pun hidup berbahagia bersama seluruh keluarga istana.

Broken Home
Teen
25 Nov 2025

Broken Home

Di sebuah rumah tinggallah seorang gadis yang bernama Hana, ia tinggal bersama ibunya, ayah tiri, serta adik tiri. Ia tertekan tinggal di rumah bersama ayah tiri dan adik tiri karena mereka berbuat jahat terhadap Hana, ayah kandung Hana meninggal karena terbunuh oleh ayah tirinya sehinngga Hana benci ayah tirinya. Adik tirinya perempuan sudah 7 tahun.Pagi hari pun tiba, dimana ini hari Minggu, Hana terbangun karena dia disiram oleh adik tirinya yang bernama Sandrinna dan Hana pun geram diperlakukan seperti ini.“Kenapa kamu siram kakak sih kan kakak tidak apa-apain kamu?” tanyaku. “Kakak sudah bikin adik dimarahin sama ibu, sekarang aku minta uang 100 ribu cepat,” jawab Sandrinna. “Dih, ogah minta ke ayah kamu lah ngapain ke kakak.” “Awas nanti aku aduin ke ayah,” timpal Sandrinna “Silahkan.”Beberapa menit kemudian, Hana pun bergegas mandi dan 5 menit dia keluar kamar mandi serta mengganti baju. Setelah itu, ayah tirinya memanggil dia dengan marah, “Hana, keluar kamarmu sekarang” aku pun mendengus kesal dan keluar kamar.“Anda kenapa menyuruh saya keluar kamar, ada urusan?” tanyaku. “Kamu tidak bisa sopan apa ke ayahmu hah?” “Ayahku? Maaf, ayahku sudah tenang di alam sana dan anda bukan ayahku melainkan ayah tiriku”, jelasku dengan panjang lebar. “Kamu kenapa tidak memberi adikmu uang, uang 100 ribu aja ribet”, timpal ayahku “Tuan Daniel, anda tidak bekerja atau gimana sih, nafkahi anaknya saja ga mau,” ucapku PLAKKK Satu tamparan mendarat ke pipiku, aku pun berlari turuni tangga dan keluar rumah sambil meringgis kesakitan. “Keluarlah dari rumah, aku sudah muak lihat muka kamu,” teriak Daniel.Sesampai di café, Hana memesan teh hangat saja sambal melamun. Tiba-tiba ada gadis menyapanya dan ia menoleh “Hai, Hana tumben ke café, ada masalah ya?” tanyanya dan Hana terus terdiam tak menjawab pertanyaan gadis tersebut.“Menurutmu, aku pantas bahagia atau tidak?” tanya Hana secara tiba-tiba “Kok lo ngomong gitu sih Han, kalo ada masalah cerita ke gue.” “Tadi gue habis ditampar sama ayah tiri gue, gue kesal sama dia dan dia sudah membunuh ayah gue dan juga gue mau buat rencana untuk mengungkap kebusukkannya,” jelasku. Gadis yang di hadapan Hana pun duduk dan ia berniat membantu Hana, “gue mau bantu lo kok.”Kini Hana kembali ke rumah tapi disambut oleh ibunya, “Dari mana saja kamu Han?” Hana tak menjawab pertanyaan ibunya, ya ibunya bernama Vani dan segera pergi ke kamar, sedangkan ibunya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesampai di kamar, Hana pun menutup pintu dengan keras dan mulai menangis ia merindukan seorang ayah.Malam pun tiba, Hana tetap ada di kamarnya dan ia dipanggil ibunya “Nak, ayo turun kita makan bersama.” “Tidak bu, aku mau sendiri dulu,” jawabku “Ibu makan dulu saja, nanti aku menyusul ke ruang makan,” lanjut Hana dan ibunya pun pergi menuruni tanggaSesampai di ruang makan, ayah dan adik tiri berhenti melahap makanan, “Hana tidak makan malam kah?” tanya Daniel dan Vani menggelengkan kepalanya. “Kenapa kakak ga makan, bunda?” tanya Sandrinna tetapi Vani tetap menggelengkan kepalaBeberapa menit kemudian, mereka bertiga selesai makan dan menuju kamarnya masing-masing. Hana keluar kamar dan mengendap-enadap turun dari tangga untuk melihat kondisi sekitar. Merasa kondisi aman, Hana menuju ke ruang makan dan mengambil jajan, tiba-tiba ada orang perempuan yang menghalanginya.Hana pun kaget “Hayo lho, kakak ngapain mengambil jajan?” tanya seorang perempuan ternyata adek tirinya. “Kamu ngapain disini bikin kaget saja?” tanya balik Hana. “Lagi ambil minum, minta jajannya dong kak.” “Enak saja, tidak boleh.” “Awas aja ya aku bilang ke ayah,” ancam Sandrinna. “Silahkan.”Sandrinna pun pergi dan memanggil ayahnya, Daniel menuju ke Hana dan menampar 3 kali sedangkan Hana meringis kesakitan. “Kamu kenapa ga berikan jajan kamu ke adek kamu hah?” “Adek? Saya ga punya adek, saya anak tunggal dan Sandrinna bukan keluarga saya,” tegas Hana yang sedang memegang pipi yang ditampar oleh ayah tirinya dan menuju ke kamarnya sambil membawa jajan.Sampai di kamar Hana, ada yang mengechat Hana ‘halo’ yaitu nomor yang tidak dikenal. Hana: Ini siapa ya? Nomor yang tidak dikenal: Aku Dilla, aku yang tadi di café itu lho. Hana: Ouh, aku Hana. Dilla: Salken ya. Hana mengeread saja dan ia langsung bergegas tidur.Pagi pun tiba disambut dengan matahari yang cerah, Hari Senin yang menyebalkan bagi Hana. Hana pun bangun dari tidurnya dan bergegas untuk berangkat sekolah, Sandrinna minta Hana untuk berangkat sekolah bersama–sama tetapi Hana menolak.“Ayolah kak, sekali aja bareng sekolah sama aku,” ucap Sandrinna dengan memohon “Kalo kakak ga mau ya ga mau dek, udah deh kakak berangkat sekolah, ibu dan ayah aku berangkat dulu,” pamit Hana sambil meninggalkan SandrinnaSampai di sekolah, Hana disambut dengan Dilla “Hai Han, nanti kita ke kantin bareng yok.” “Ayo-ayo aja sih, yaudah aku ke kalas dulu ya,” jawab Hana dan dapat anggukan dari DillaIstirahat tiba, Dilla menjemput Hana dan berniat ke kantin bersama. Sampai ke kantin, Dilla dan Hana mengobrol tentang kebusukan ayah tirinya Hana. “Han, aku tadi dapat info tentang ayah tiri lo dari cctv lampu lalu lintas,” ucap Dilla memulai topiknya “Kirim video buktinya ke gue, cepat.” Dilla mengirim video bukti ke nomor Hana, dan berterima kasih ke Dilla. “Terus lo mau ngungkapin kebusukannya kapan Han?” “Nanti sore,” jawab Hana dengan santai “Buset, cepat banget deh.” “Iya lah, kalo lama-lama ga bisa tenang ayah gue di alam sana,” ucap Hana dan Dilla menganggukkan kepalanyaSore tiba, Hana mengumpulkan semua anggoto keluarganya termasuk ayah tirinya dan adek tirinya. “Kak, kita ngapain dikumpulkan di ruang keluarga ini?” tanya Sandrinna dengan penasaran. “Iya nih, ada apa nak kamu kumpulin kita di sini?” tanya lagi dari sang ibunya“Pertama-tama, aku kumpulin kalian semua di sini buat bahas kematian ayahku. Di balik semua kejadian itu adalah ayah tiriku, Daniel. Anda sudah membunuh ayahku yang tak bersalah, anda bersalah,” jelas Hana Vani pun tak percaya, ia pun menampar ayah tiriku. “Kamu sudah merusak keluarga saya, dan keluar dari rumah ini. Saya tidak sudi menerima kamu dan bawa anak kamu sekalian barang-barang kamu.”Daniel dan Sandrinna pergi dari rumah itu, Hana dan Vani pun lega dan Hana berharap ayahnya tenang di alam sana, semoga amal ibadahnya diterima.

Cerita Rakyat Rawa Pening
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Rawa Pening

Dahulu kala terdapat sebuah desa bernama desa Ngasem. Desa ini terletak di sebuah lembah antara Gunung Merbabu dengan Telomoyo. Di sana bermukim sepasang suami istri bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta.cerita rakyat Rawa PeningPasangan suami istri ini dikenal sebagai pribadi yang suka menolong dan murah hati. Oleh sebab itu mereka sangat dihormati masyarakat sekitar. Hanya saja hidup mereka belum lengkap karena mereka masih tak kunjung dikaruniai anak.Sampai suatu hari, Nyai Selakanta terlihat duduk termenung di depan rumahnya seorang diri. Melihat hal tersebut, Ki Hajar kemudian menghampiri istrinya tersebut dan mengambil tempat duduk di samping sang istri.Saat itu, Nyai Selakanta lantas menyampaikan keinginannya kepada sang suami. Ia sangat ingin memiliki anak. Ia sampai meneteskan air mata ketika menyampaikan keinginannya tersebut kepada sang suami.Ki Hajar yang mendengar keluhan istrinya itu kemudian meminta izin kepada sang istri untuk bertapa. Barangkali dari bertapa, dirinya akan mendapat wangsit. Keesokan harinya, Ki Hajar berangkat ke lereng Gunung Telemoyo untuk mulai pertapaannya.Selama bertapa, Nyai Selakanta menunggu sang suami dengan sabar. Hanya saja, bulan demi bulan sudah terlewati dan sang suami tak kunjung pulang. Hingga suatu hari, Nyai Selakanta merasa mual dan muntah.Ia berpikir bahwa dirinya sedang hamil dan ternyata apa yang dipikirannya tersebut benar. Semakin hari perutnya semakin membesar hingga tiba waktunya ia melahirkan. Hanya saja ketika melahirkan, Nyai Selakanta sangat terkejut karena yang dilahirkan adalah seekor naga.Anak itu kemudian dinamai Baru Klinthing yang diambil dari nama tombak milik suaminya. Nama Baru berasal dari bra yang artinya keturunan Brahmana. Brahmana ini merupakan seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari pendeta. Sementara nama Klinthing berarti lonceng.Meski berwujud seekor naga, namun Baru Klinthing juga dapat berbicara selayaknya manusia. Namun di sisi lain Nyai Selakanta juga merasa malu karena melahirkan seekor naga. Akhirnya ia berniat membawa Baru Klinthing ke Bukit Tugur yang jauh dari pemukiman warga.Namun sebelum rencananya tersebut dilakukan, Nyai Selakanta harus merawat Baru Klinthing sampai agak besar dulu agar perjalanan jauh bisa ditempuh. Tiba suatu hari ketika Baru Klinthing sudah menginjak masa remaja. Ia bertanya tentang sang ayah.Nyai Selakanta kaget namun ia juga berpikir sang anak perlu tahu perihal sang ayah. Ia kemudian menyuruh Baru Klinthing menyusul sang ayah yang sedang bertapa di lereng Gunung Telemoyo. Nyai Selakanta juga meminta agar Baru Klinthing ke sana sembari membawa pusaka tombak bernama Baru Klinthing milik ayahnya.拉哇槟宁民间传说Baru Klinthing pun berangkat ke lereng Gunung Telemoyo membawa pusaka tersebut. Di sana ia melihat seorang laki – laki bersemedi. Baru Klinthing langsung bersujud di hadapan sang ayah. Awalnya Ki Hajar tak percaya dia adalah anaknya namun melihat tombak pusaka yang dibawa Baru Klinthing akhirnya Ki Hajar pun percaya bahwa naga tersebut adalah anaknya.Namun Ki Hajar juga butuh bukti dan memberikan Baru Klinthing tugas. Ki Hajar berkata, “Baik, aku percaya jika kamu anakku. Namun tombak pusaka yang kamu bawa belum cukup sebagai bukti bagiku. Kalau kamu memang benar anakku, coba kamu lingkari Gunung Telemoyo ini!”Baru Klinthing pun melakukan tugas ayahnya dengan menggunakan kesaktian yang dimiliki. Akhirnya Ki Hajar pun percaya dan mengakui sang anak. Ia kemudian memerintahkan sang anak bertapa di Bukit Tugur agar tubuhnya berubah menjadi manusia sepenuhnya.Di sisi lain, ada sebuah desa bernama Pathok. Desa Pathok sangat Makmur hanya saja penduduk desanya sangat angkuh. Suatu hari, penduduk desa yang angkuh itu bermaksud mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen.Pesta tersebut juga menampilkan berbagai pertunjukan seni dan tari. Beragam jamuan lezat pun rencananya akan dihidangkan. Untuk mempersiapkan pesta, warga pun beramai – ramai berburu binatang di Bukit Tugur.Hanya saja tak ada satu binatang pun tertangkap. Namun ketika hendak kembali ke desa, mereka melihat seekor naga bertapa. Nah, Naga yang bertapa tersebut adalah Baru Klinthing. Warga desa pun beramai – ramai menangkap dan memotong daging naga tersebut.Daging naga pun dimasak untuk dijadikan hidangan pesta. Ketika pesta dimulai dengan aneka hidangan yang dibuat termasuk daging naga, ada seorang anak laki – laki dengan tubuh penuh darah dan berbau amis mendekat.Nah, anak laki – laki tersebut merupakan jelmaan Baru Klinthing yang wujud naganya sudah dipotong – potong oleh warga. Baru Klinthing dalam wujud anak laki – laki penuh darah meminta bagian makanan kepada warga namun diusir begitu saja.Dia pun meninggalkan desa. Kemudian di tengah perjalanan, ia bertemu janda tua bernama Nyi Latung. Nyi Latung yang baik hati pun mengajak Baru Klinthing datang ke rumahnya dan memakan makanan di rumahnya saja.Di tengah perbincangan, Baru Klinthing meminta Nyi Latung membantunya memberi pelajaran bagi warga. Nyi Latung diminta jika mendengar suara gemuruh agar menyiapkan alat menumbuk padi dari kayu.Setelah makan di rumah Nyi Latung, Baru Klinthing kembali ke pesta warga membawa sebatang lidi. Tiba di tengah keramaian, ia menancapkan lidi ke tanah. Ia meminta warga mencabut lidi yang ditancapkan itu.Beramai – ramai warga mencabut lidi namun tak ada satu orang pun yang berhasil. Sementara dengan kesaktian yang dimiliki, Baru Klinthing bisa mencabut lidi itu dengan mudah. Begitu lidi tercabut, suara gemuruh terdengar.拉哇槟宁民间传说Dari bekas lidi yang tertancap itu, air pun keluar hingga semakin lama terjadi banjir besar dan penduduk langsung menyelamatkan diri. Hanya saja air dengan cepat memporak porandakan desa hingga membuat semua warga tenggelam dan desa tersebut berubah menjadi sebuah rawa yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening.

Nyi Rengganis dan Taman Banjarsari
Folklore
25 Nov 2025

Nyi Rengganis dan Taman Banjarsari

Cerita ini berkisah tentang kehidupan Putri Rengganis yang hidup di tempat pertapaan bersama dengan ayahnya. Mereka hidup di Tanah Parahyangan.Putri Rengganis merupakan gadis cantik dengan kemampuan terbang. Suatu hari, Putri Rengganis terbang dan memetik bunga di Taman Banjarsari, milik Raden Iman Suwangsa. Raden Iman Suwangsa ini merupakan calon pewaris tahta adipati.Merasa bunganya dicuri oleh Putri Rengganis, ia merasa kesal. Raden Iman Suwangsa pun memantrai taman bunganya agar bunganya tidak mudah diambil oleh orang lain. Setelah mengamati beberapa waktu, Raden Iman Suwangsa memerintahkan prajurit dan patihnya menangkap orang yang mencuri bunganya.Sayembara pun dilakukan. Siapa yang berhasil memberikan informasi tentang pencuri bunganya akan mendapatkan hadiah. Naasnya, Putri Rengganis tidak tahu kalau dirinya sedang diincar. Sahabat Putri Rengganis, Si Belang pun buka mulut hingga akhirnya Putri Rengganis tertangkap basah.Putri Rengganis menangis dan air matanya kemudian berubah menjadi air bah yang tinggi. Air mata tersebut mulai membuat genangan di sekitar tubuhnya sendiri hingga terbentuklah air bah yang tinggi. Raden Iman Suwangsa pun merasa heran dengan kejadian tersebut dan menyesal karena sudah menangkap Putri Rengganis.

Cerita Rakyat Roro Jonggrang
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Roro Jonggrang

Cerita rakyat Roro Jonggrang bermula ketika sang ayah bernama Raja Prambanan gugur dari perang melawan Kerajaan Pengging yang dipimpin Bandung Bondowoso. Karena kekalahan Raja Prambanan tersebut, Bandung Bondowoso secara otomatis menguasai Kerajaan Prambanan.cerita rakyat Roro JonggrangDi saat yang bersamaan, Bandung Bondowoso juga tertarik dengan Roro Jonggrang yang cantik dan ingin menjadikannya sebagai permaisuri. Namun Roro Jonggrang menolak lamaran Bandung Bondowoso terlebih Roro Jonggrang masih sakit hati karena sang ayah tercinta meninggal akibat serangan Bandung BondowosoBandung Bondowoso yang merasa dirinya adalah penguasa sangat marah dengan penolakan Roro Jonggrang hingga membuatnya mengurung Roro Jonggrang bersama dayang – dayang dan Bi Sumi, seseorang yang sangat dipercaya Roro Jonggrang.Atas penolakan yang diterima, Bandung Bondowoso masih tidak menyerah. Ia selalu mendesak Roro Jonggrang untuk segera menerima lamarannya. Suatu hari, Roro Jonggrang yang sudah lelah didesak terus menerus pun mengiyakan permintaan Bandung Bondowoso dengan syarat.cerita rakyat Roro Jonggrang“Aku bersedia menjadi permaisurimu dengan syarat kau harus memenuhi semua permintaanku. Namun jika kau tak bisa memenuhi permintaanku, kau harus membiarkanku pergi dari sini. Bagaimana? Apakah kau setuju?” minta Roro Jonggrang menanggapi lamaran Bandung Bondowoso.Bandung Bondowoso pun sangat senang dengan apa yang dikatakan Roro Jonggrang. Ia pun menjawab, “Apapun yang kau minta aku akan bersedia menurutinya. Lalu kau meminta apa sebagai syarat dariku?”“Buatkan aku seribu candi dalam satu malam, semuanya harus selesai sebelum matahari terbit dan kau bisa menikahiku”, ucap Roro Jonggrang.Bandung Bondowoso sempat heran dengan permintaan Roro Jonggrang, namun kemudian ia menyetujuinya.Ia pun beranjak dan langsung menyusun siasat. Ia meminta bantuan pada pasukan jin untuk bisa membangun seribu candi dalam semalam. Benar saja, dalam waktu singkat, candi pun mulai tampak. Melihat semua itu, Roro Jonggrang sempat gelisah.Roro Jonggrang pun mengatakan kegelisahannya kepada Bi Sumi.cerita rakyat Roro Jonggrang“Bi Sumi, lihatlah candi itu. Kita harus melakukan sesuatu”Bi Sumi pun tampak panik dan segera mencari ide. Tak lama, Bi Sumi mengungkapkan idenya kepada Roro Jonggrang.“Tuan Ratu, hamba punya ide. Ayo ikuti hamba”, ujar Bi Sumi.Roro Jonggrang dan Bi Sumi pun menyelinap keluar kamar dan menuju kamar dayang – dayang yang terletak tak jauh dari kamar mereka. Bi Sumi memerintahkan para dayang dan pengawal istana untuk mengumpulkan Jerami.Roro Jonggrang pun bertanya, “Untuk apa Jerami yang dikumpulkan itu Bi Sumi?”Bi Sumi kemudian memberitahu rencananya kepada Roro Jonggrang dengan berbisik – bisik.“Tuan Ratu, kita akan membakar Jerami ini sehingga langit terkesan merah sebagai pertanda matahari sudah terbit”Setelah jeraminya terkumpul, Bi Sumi membakarnya. Dia juga memerintahkan para dayang menumbuk lesung. Suara lesung yang bertalu – talu ditambah dengan semburan api yang berwarna kemerahan di langit membuat suasananya sangat mirip dengan pagi hari. Ayam jantan pun tertipu dan berkokok keras memecah suasana yang hening di malam itu.Mendengar suara ayam jantan, Bandung Bondowoso dan para jin terkejut, Mereka juga melihat langit cukup terang sebagai pertanda pagi telah tiba.cerita rakyat Candi Prambanan“Kami harus pergi. Ayo kita pergi!” teriak para jin mengajak teman – teman lainnya.Bandung Bondowoso pun tak berkutik dan membiarkan para jin pergi. Lalu ia memandang candi buatan para jin dan yakin jumlahnya sudah seribu sesuai permintaan Roro Jonggrang.Bandung Bondowoso pun menemui Roro Jonggrang dan melaporkan bahwa candinya sudah dibangun dan ia yakin berjumlah seribu. Roro Jonggrang pun menghitungnya.“997, 998, 999, dan… jumlahnya kurang satu!” kata Roro Jonggrang kepada Bandung Bondowoso.Bandung Bondowoso juga kemudian menghitungnya dan memang benar kalau candinya 999. Bandung Bondowoso pun sangat kecewa dan marah. Ia tak menyangka bahwa dirinya gagal memenuhi persyaratan Roro Jonggrang.Tak terima dengan kekalahan, Bandung Bondowoso pun berkata, “Aku tak pernah kalah. Apa pun yang aku inginkan selalu bisa ku dapatkan. Kalau jumlahnya memang kurang satu, kau saja yang melengkapi candi itu agar berjumlah 1000”.Dengan kesaktiannya, Roro Jonggrang pun dikutuk menjadi patung batu oleh Bandung Bondowoso.Nah itulah cerita dibalik Candi Prambanan dan sampai sekarang candi – candi tersebut masih berdiri sangat megah di wilayah Prambanan dan menjadi sebuah tempat wisata yang banyak dikunjungi.

Cerita Malin Kundang
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Malin Kundang

Awal mula cerita Malin Kundang di Wilayah SumateraHiduplah satu keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera, Ibu Rubayah dan anak semata wayang, Malin Kundang.Pada suatu hari, di pesisir pantai wilayah Sumatera, hiduplah mereka berdua di tepi pantai. Suami Ibu Rubayah sudah lama meninggalkan keluarganya dan tak pernah kembali sejak saat itu.Malin Kundang tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pemberani, meski sedikit nakal. Keluarga tersebut hidup serba pas-pasan sehingga sang ibu harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan anaknya.Malin Kundang memutuskan merantau mencari nafkahKetika beranjak dewasa, Malin berpikir untuk pergi merantau ke negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali pulang ke kampung halaman, ia akan menjadi seorang yang kaya raya.Niatannya untuk pergi mencari nafkah terwujud setelah menerima ajakan seorang nakhoda kapal dagang, yang dulunya hidup miskin kini sudah menjadi seorang yang kaya raya.Ibu Malin selalu berdoa agar anaknya sehat, sukses, dan cepat kembaliMulanya sang ibu kurang setuju dengan niatan Malin Kundang. Namun akibat terus didesak, akhirnya beliau menyetujui kepergian anaknya.“Anakku, jika engkau berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan lupa dengan ibumu dan kampung halamanmu ini, Nak,” pesan Ibu Rubayah pada anaknya, Malin Kundang.Beberapa hari kemudian, Malin Kundang pergi meninggalkan sang ibu dan kampung halamannya. Setiap harinya, tak henti-hentinya sang ibu selalu mendoakan kesuksesan dan keselamatan Malin Kundang selama di perantauan. Ia pun selalu berharap agar anaknya cepat kembali.Bertahun-tahun merantau, Malin tidak pernah mengabarkan keadaannya ke IbunyaSelama berada di dalam kapal, Malin Kundang banyak belajar ilmu mengenai pelayaran. Ilmu tersebut lantas ia terapkan sesampainya di negeri seberang. Bertahun-bertahun ia bekerja dengan keras hingga kini menjadi orang kaya yang memiliki banyak kapal dagang.Meski begitu, ternyata tak pernah sekalipun Malin Kundang mengirimkan surat atau bertukar kabar dengan ibunya. Seolah Malin Kundang telah melupakan keberadaan ibunya di kampung.Malin Kundang telah sukses dan menikah dengan putri bangsawanTak lama kemudian, Malin Kundang mempersunting salah seorang putri bangsawan. Berita mengenai Malin Kundang yang telah kaya raya dan menikah, sampai ke telinga sang ibu. Beliau merasa bersyukur dan sangat gembira bahwa anaknya telah berhasil di perantauan dan kini hidup Makmur.Sejak saat itu, ibu Malin Kundang selalu menunggu setiap harinya di dermaga. Ia menantikan anaknya yang mungkin akan pulang ke kampung halamannya.Malin dan istrinya kembali ke kampung halamanHingga pada suatu hari, Malin Kundang dan istrinya melakukan pelayaran menuju kampung halamannya. Penduduk desa kemudian menyambut kedatangan kapal besar tersebut. Sang Ibu yang saat itu memang berada di dermaga melihat ada sepasang suami istri yang tengah berdiri di atas geladak kapal yang besar.Ibu Rubayah yakin bahwa mereka adalah anaknya yang sudah lama pergi merantau beserta sang istri.Tak lama, ketika kapal tersebut berhenti, Malin Kundang pun turun. Ia langsung disambut oleh ibunya yang sudah lama menantinya pulang.Malin Kundang dipeluk Ibunya, tapi Malin mendorongnya hingga terjatuh“Malin Kundang, anakku! Mengapa kau pergi begitu lama tanpa pernah mengirimkan kabar?” tanya sang ibu sambil memeluk Malin Kundang.Namun yang terjadi berikutnya, Malin Kundang malah melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.“Wanita tidak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku,” kata Malin Kundang kepada ibunya. Malin Kundang ternyata pura-pura tidak mengenali ibunya, ia malu karena ibunya sudah tua dengan memakai pakaian yang compang-camping.“Wanita itu ibumu?” tanya istri Malin Kundang.“Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan hartaku,” sahut Malin Kundang kepada istrinya.Ibu Malin Kundang sangat sedih dan berdoa kepada AllahSang ibu yang mendengar perkataan tersebut dan diperlakukan semena-mena oleh anak kandungnya sendiri, lantas merasa sedih sekaligus marah.Ia tidak menduga bahwa anak semata wayang yang sangat ia sayangi kini berubah menjadi anak durhaka yang tidak mengenali ibunya sendiri. Tak lama kapal Malin Kundang kemudian perlahan menjauhi tepi pantai.Karena kesedihan dan kemarahannya yang memuncak, ibu Malin Kundang kemudian menengadahkan kedua tangannya sambil berdoa, “Ya Allah Yang Maha Kuasa, kalau ia bukan anakku, aku akan memaafkan perbuatannya tadi. Tapi jika ia memang benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu.”Kapal milik Malin terkena petir dan karam di lautanSeketika, tak lama setelah sang ibu berdoa kepada Allah, langit pun menjadi gelap. Angin tiba-tiba berhembus kencang dan terjadilah hujan badai. Kapal milik Malin Kundang yang sudah berlabuh langsung terkena petir besar, dan kemudian pecah dihantam gelombang besar. Bangkai kapal kemudian terempas ombak yang bergulung-gulung hingga ke tepi pantai.Tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan berubah menjadi batuBersamaan dengan datangnya badai, tubuh Malin Kundang perlahan-lahan menjadi kaku dan lama kelamaan berubah menjadi sebuah batu.Saat matahari pagi mulai memancarkan sinarnya, hujan badai telah reda. Di kaki bukti, tampaklah kepingan kapal yang telah menjadi batu.Tak jauh dari sana, tampak sebuah batu yang menyerupai sosok manusia. Konon katanya, itulah tubuh Malin Kundang, si anak durhaka yang terkena kutukan akibat tak mau mengenali ibu kandungnya sendiri.Sementara itu, di sela-sela batu berenanglah ikan-ikan teri, blanak, dan tenggiri. Kabarnya ikan-ikan tersebut berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.Malin Kundang is a Padang folktale about retribution on an ungrateful son. Located on Air Manis Beach.Patung Malin Kundang yang sebenarnya/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Rahthino GiovanniRingkasan dongeng Malin Kundang singkatBegitulah dongeng terkenal Malin Kundang yang menceritakan mengenai Ibu Rubayah dan anaknya. Malin Kundang yang semula harus hidup miskin bersama sang ibu, akhirnya memutuskan pergi merantau ke negeri seberang dengan harapan dapat menjadi orang kaya.Bertahun-tahun merantau dan tanpa pernah memberikan kabar kepada sang ibu, Malin Kundang pergi mengunjungi kampung halamannya bersama sang istri yang merupakan anak bangsawan.Namun, Malin Kundang sama sekali tak mau mengenali ibunya karena terlihat tua, lusuh, dan berpakaian compang-camping. Ia sangat malu kepada istrinya untuk mengakui wanita tersebut adalah ibu kandungnya. Maka kemudian, akibat rasa sedih dan marah, ibu Malin Kundang berdoa kepada Allah, tak lama Malin Kundang dikutuk menjadi sebuah batu. Kapalnya pecah diterjang ombak.

Cerita Rakyat Timun Mas
Folklore
25 Nov 2025

Cerita Rakyat Timun Mas

Dongeng kisah tentang seorang gadis bernama Timun Mas ini berasal dari daerah Jawa. Singkatnya, kisah ini menceritakan tentang seorang anak perempuan yang memiliki hati yang sangat baik, wajah cantik, serta pemberani. Timun Mas dan ibunya bersama-sama melawan raksasa jahat yang ingin memakan Timun Mas.Kisah ini sudah diceritakan berulang kali dan merupakan salah satu kisah legenda asal Indonesia yang sangat populer. Yuk, ceritakan kembali kisah ini pada si kecil agar mereka tahu betapa uniknya dongeng-dongeng asal Indonesia!Selamat membaca!Pada suatu hari, di sebuah desa di daerah Jawa Tengah, ada seorang janda paruh baya yang tinggal sendirian. Wanita tua ini bernama Mbok Srini, suaminya sudah meninggal sejak lama dan ia tidak memiliki anak. Mbok Srini menghabiskan hari-harinya seorang diri dan setiap harinya ia merasa bosan serta jenuh karena ia tidak memiliki seseorang untuk menemaninya.Mbok Srini sejak dulu sangat ingin punya anak. Namun, impiannya yang satu ini memang tidak pernah bisa terwujud. Ditambah lagi, sekarang ia tidak memiliki seorang suami, kemungkinan ia memiliki anak pun tentu saja menjadi hilang. Mbok Srini hanya bisa menunggu keajaiban menghampirinya agar ia bisa memiliki anak. Mbok Srini selalu berdoa pada Tuhan tiap pagi, siang, dan malam hari agar Tuhan bisa melihatnya dan mengkaruniakan Mbok Srini seorang anak.Lalu, pada suatu malam, Mbok Srini memimpikan seorang raksasa yang menyuruhnya pergi mengambil sebuah bungkusan di bawah pohon besar di hutan tempat biasanya ia mencari kayu bakar. Saat ia terbangun di pagi hari, tentu saja Mbok Srini merasa kebingungan dengan arti mimpi itu. Dengan berbagai keraguan dan rasa penasaran di benaknya, Mbok Srini tetap berjalan ke hutan dan mengikuti perasaannya. Saat ia tiba di hutan ia mencari bungkusan yang berada di bawah pohon besar—seperti yang ada di mimpinya semalam.Sebenarnya, Mbok Srini berharap bungkusan yang hendak ia temukan ini berisi bayi, tapi yang justru ia temukan hanyalah sebutir biji timun. Hatinya pun kecewa dan merasa sedih. Tiba-tiba, ada seorang raksasa yang menghampirinya sambil tertawa terbahak-bahak. “Apa maksudmu memberikanku sebutir biji timun?” Tanya Mbok Srini seraya berteriak tapi tetap menahan emosinya. Saat Mbok Srini memperhatikan raksasa itu, ternyata raksasa itulah yang semalam menghampirinya.Mbok Srini pun merasa ketakutan, ia merasa raksasa itu akan memakannya. Mbok Srini pun memohon agar raksasa itu merasa iba dan membiarkannya tetap hidup. “Tenang, jangan takut. Aku tidak akan memakanmu, wanita tua!” Ucap raksasa itu. Ternyata, raksasa ini meminta Mbok Srini menanam biji timun yang ia berikan. Katanya, ia akan dihadiahkan seorang anak perempuan jika ia menanamnya. Namun, saat anak itu sudah dewasa, Mbok Srini harus memberikan anak itu kembali pada raksasa karena ia akan memakannya. Karena Mbok Srini sangat menginginkan seorang anak, ia menyetujui perjanjian itu.Saat kembali ke rumah, Mbok Srini menanam biji timun itu ke ladang rumahnya. Mbok Srini merawat biji timun itu dengan sangat baik tiap harinya. Dua bulan kemudian, tanaman itu pun mulai berubah, dan tanaman timun itu hanya berbuah satu. Semakin hari, buah timun spesial ini menjadi semakin besar, lebih besar dari buah timun pada umumnya. Warnanya pun menunjukkan warna kuning keemasan, terlihat cantik.Saat buah timun itu sudah sangat besar, Mbok Srini memetiknya dan saat terbelah, ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Mbok Srini sangat bahagia mendengar suara tangisan bayi itu. Ia pun memberikan nama Timun Mas. Mbok Srini merasa sangat senang sehingga ia lupa bahwa ia pernah membuat janji pada raksasa ia akan memberikan bayi ini padanya suatu hari nanti. Mbok Srini membesarkan Timun Mas dengan kasih sayang dan kesabaran. Timun Mas tumbuh menjadi seorag perempuan yang cantik, baik, serta sangat cerdas.Pada suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi raksasa yang memberikan pesan bahwa dalam waktu seminggu, ia akan menjemput Timun Mas. Sejak saat itu, Mbok Srini sering termenung sedih sendirian. Ia terus memikirkan bahwa ia akan berpisah dengan anaknya yang sangat ia sayangi. Terkadang, air mata jatuh ke pipinya tanpa ia sadari. Ternyata, Timun Mas sering memperhatikan ibunya yang sedih ini, lalu ia pun bertanya pada Mbok Srini, “Ibu, kenapa akhir-akhir ini Ibu sering sekali menangis?” Awalnya, Mbok Srini tidak ingin bercerita pada anaknya, tapi karena Timun Mas mendesaknya dan terus bertanya, Mbok Srini pun menceritakan kisah asli kelahiran Timun Mas. Mbok Srini juga menceritakan bagian bahwa ia harus mengembalikan Timun Mas ke seorang raksasa dan beberapa malam sebelumnya raksasa itu menghampiri ia kembali ke dalam mimpi.Timun Mas pun merasa sedih dan ia tidak ingin Mbok Srini mengembalikannya ke sang raksasa. Akhirnya mereka berdua berpikir dan mencari cara agar Timun Mas bisa bebas dari sang raksasa. Di hari Timun Mas harus dikembalikan, tiba-tiba Mbok Srini terpikir sebuah cara. Mbok Srini meminta Timun Mas berpura-pura sakit agar sang raksasa tidak ingin memakannya. Beruntung, car aini cukup berhasil untuk mengulur waktu, sang raksasa akan datang kembali saat Timun Mas sudah sembuh.Sebelum rakasasa itu datang kembali, Mbok Srini memikirkan bagaimana cara agar anaknya bisa terbebaskan. Paginya, Mbok Srini bertemu seorang pertama di gunung, ia adalah teman suaminya yang sudah meninggal. Sesampainya di sana, Mbok Srini langsung menceritakan soal kondisinya dan ia ingin mengusir raksasa itu. Sang pertapa itu memberikan Mbok Srini empat bungkusan kecil. Katanya, bungkusan-bungkusan ini berisi biji timun, jarum, garam, dan terasi. Sang pertapa menyuruhnya memberikan empat bungkusan ini pada anaknya dan jika sang raksasa mengejarnya, sebarkan isi bungkusan-bungkusan ini.Setelah itu, Mbok Srini pun pulang dengan perasaan sedikit lega, setidaknya ia sekarang sudah memiliki rencana. Beberapa hari kemudian, raksasa ini datang kembali untuk menjemput Timun Mas. Mbok Srini dan Timun Mas pun berdiri berdampingan tanpa rasa takut. Timun Mas tiba-tiba berlari sekencang-kencangnya dan raksasa itu mengejarnya. Setelah berlari cukup jauh Timun Mas menaburkan biji yang diberikan ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.Timun Emas pun segera melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum berubah menjadi banyak pohon bambu yang tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu mampu melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, walau berdarah-darah karena tertusuk bambu tersebut.Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu pula, hutan yang telah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil melaluinya dengan mudah. Timun Emas pun cemas, karena senjatanya hanya tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka raksasa itu akan berhasil menangkap dan memakannya.Dengan harapan untuk selamat yang sangat besar, Timun Mas pun melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi. Seketika tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba berubah menjadi lautan lumpur yang mendidih. Raksasa itu pun terkalahkan karena tercebur ke dalam lautan lumpur dan ia tewas dengan sangat cepat.Melihat itu, Timun Mas langsung berlari menuju ke rumahnya untuk bertemu dengan ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada Tuhan dan sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia.

Cerita rakyat Sangkuriang, Jawa Barat
Folklore
25 Nov 2025

Cerita rakyat Sangkuriang, Jawa Barat

Cerita rakyat ini berasal dari Jawa Barat dan mengisahkan tentang seorang anak yang suka atau cinta terhadap ibu kandungnya sendiri. Seperti apa kisahnya?Legenda SangkuriangHidup seorang wanita cantik jelita bernama Dayang Sumbi. Ia menikah dengan anjing yang sebenarnya merupakan jelmaan raja. Anjing tersebut diberi nama Tumang.Mereka memiliki seorang anak yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang sangat tidak suka dengan Tumang. Namun Dayang Sumbi selalu menyuruh Tumang ikut kemanapun Sangkuriang pergi, termasuk ketika Sangkuriang pergi ke hutan.Karena memang Sangkuriang merasa tidak suka dengan Tumang, ketika ada kesempatan ia malah membunuh Tumang. Sangkuriang yang pulang kerumah dengan berlumuran darah tentu ditanya Dayang Sumbi apa yang terjadi.Ketika Sangkuriang sudah menjelaskan semua yang terjadi, Dayang Sumbi tentu sangat marah. Dayang Sumbi menggetok kepala Sangkuriang dengan entong nasi dan mengusir Sangkuriang. Sangkuriang pun pergi. Namun sebenarnya jauh di lubuk hati Dayang Sumbi, ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi saat ini apalagi sampai membuatnya mengusir sang putra.Waktu pun berlalu. Bertahun – tahun kemudian, Sangkuriang pergi kembali ke desa. Sangkuriang berharap bisa bertemu sang ibu. Namun di desa, ia malah bertemu seorang wanita cantik yang parasnya mirip ibunya namun ia berpikir bahwa itu bukan ibunya karena menurut perkiraan Sangkuriang harusnya sekarang ibunya sudah tua.Terus menerus bertemu, Sangkuriang menyukai Dayang Sumbi. Ia pun melamar Dayang Sumbi. Namun ketika Sangkuriang melamar Dayang Sumbi, saat itu juga ia sadar bahwa pria yang ada di hadapannya itu adalah sang putra. Ia menyadari karena saat itu pria di hadapannya tersebut melepas ikat kepalanya dan di sana tampak jelas ada bekas getokan entong yang dulu pernah ia lakukan.Dayang Sumbi pun berusaha mencari alasan dan cara agar Sangkuriang mengurungkan niat menikahinya. Dayang Sumbi pun mengajukan sebuah syarat.Sangkuriang harus mampu membuat bendungan dan sekaligus perahunya dalam satu malam. Sangkuriang yang sakti dan memang mencintai Dayang Sumbi menyanggupi permintaan tersebut.Hari dimana Sangkuriang harus memenuhi syarat yang diajukan Dayang Sumbi tiba. Ia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Ketika pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota.Hal tersebut membuat Sangkuriang mengira hari sudah pagi. Namun karena hal tersebut, Sangkuriang mengira bahwa ia sudah gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi. Ia pun menendang perahu dengan kekuatannya dan perahu tersebut terbalik hingga kemudian membentuk sebuah gunung besar yang terkenal dengan nama Tangkuban Perahu.Ada sumber yang mengatakan perahu terbalik tersebut menjadi gunung karena kekuatan Sangkuriang dibantu para jin. Namun ada sumber lain yang mengatakan perahu terbalik tersebut menjadi gunung karena peristiwa endapan. Perahu yang terbalik tersebut dibiarkan lama dan akhirnya dipenuhi tanah, pasir, lumpur dan juga lumut hingga membentuk gunung besar beberapa ratus tahun setelahnya.Dari cerita di atas kita belajar bahwa tidak ada seorang ibu yang menginginkan hal buruk terjadi pada anaknya. Seorang ibu pasti berusaha mendidik anaknya dengan baik. Seorang anak juga harus memperlakukan orang tuanya dengan baik.Kisah cinta ibu dan anak merupakan cinta yang di dalamnya ada tali kasih untuk saling menyayangi bukan untuk saling memiliki.

Arganta
Horror
25 Nov 2025

Arganta

laki-laki kesepian yang mencari rumah untuk pulang. Kakinya lemas saat pisau menancap ke tubuh seorang gadis dia sebut Isyana. Gadis itu dia bunuh dengan tangan dinginnya.Malam mencekam kilat menyambar Arga berhasil melancarkan aksinya. Keluar dari apartemen yang dia sewa Arga memakai masker agar tidak ketahuan. “Sebaiknya gue pergi!”Masuk ke dalam mobil, dia senang berhasil melukai gadis itu. Tapi tangisnya semakin kencang. Tertawa sepertu orang gila.Di hari berikutnya dia bertemu Isyana. Dia seorang mahasiswi pintar, cuma punya satu teman Ilona. Dan Isyana benci sekali sama laki-laki makanya dia ilfeel mendekati laki-laki manapun.Sampai Arga meminta nomornya. “Gue mau nomor lo?” “Gak akan gue kasih anjir, lo orang gila.” “Sejak kapan gue gila? Bisa kasih penjelassan?” “Dari sorot mata lo ada sesuatu? Gue ngeliat lo itu seiko.” “Cih stress lo, di baikkin salah.” Arganta tidak peduli pada stetment gadis itu. Ia mendekati Kimberly mangsanya ini cukup empuk, dia badgirl broken-home.“Lo laper gak ke kantin bareng yuk?” Mereka sekarang ada di kantin Nusa Pelita kampus dengan ukuran kantin cukup luas, ada westafel fasilitas makanan bersih, sehat, dan juga bisa dipilih gorengan di sini aja minyaknya olive oil. Tidak ada yang seperti di pedagang gorengan.Duduk di deretan bangku paling depan keduanya belum mengobrol sampai di mana Arganta mengemgam tangannya. “Gue mau lo ngedate sama gue?” Secepat itu. Deru napas Kim kian menggebu.Mereka resmi jadian setelah sering jalan bareng. Bahkan orangtua Kim mengenal Arganta. Malam itu keduanya pergi ke rumah Arga ini permainan pertamanya di rumah. Di dalam tidak siapa-siapa pembantu sudah pulang. “Elo mau ngapain?” “Gue mau bikinin lo surprise!” Arganta mengambil sirup, menyalahkan televisi besar menonton film death note. Tidak lama jari-jari Kim terasa lemas.Airmatanya perlahan jatuh saat Arganta membawa pisau dan juga karung. Ini sudah kelewatan berusaha berlari pintu terkunci. Semuanya biar pintu belakang juga tidak ada akses.Kim merasakan sakit saat sayatan mengenai leher kemudian kulitnya. Jika takdirnya mati sekarang dia siap. Arganta berhasil melakukan memasukkan ke dalam karung. Mengubur di sebelah rumah.Setahun kemudian… Tidak terasa Arganta sudah membunuh 150 gadis. Bukan hal mudah melakukan hanya dengan pedekate semua siap. Hanya ada satu murid kampus susah dilumpuhkan dia Isyana Mirabella.

Pagi ini Rama dikejutkan dengan Hantu
Horror
25 Nov 2025

Pagi ini Rama dikejutkan dengan Hantu

Pagi ini Rama dikejutkan dengan maraknya obrolan penduduk Kampung Hantu di warung makan yang sibuk membicarakan hilangnya anak penduduk Kampung Hantu saat bermain dengan teman-teman yang di sekitaran Sungai Tersesat.Ceritanya anak penduduk yang hilang tersebut bernama Ahmad, seorang anak laki-laki yang baru berusia enam tahun. Saat dia pamitan ke orang tuanya untuk pergi bermain dengan teman-temannya di dekat Sungai Tersesat, dia terlihat gembira dan penuh semangat. Ahmad memakai baju kemeja putih dan celana pendek biru yang terlihat agak kebesaran untuk tubuhnya yang mungil.Orang tuanya memberikan peringatan untuk tidak terlalu jauh dari rumah dan selalu berhati-hati di sekitar sungai yang terkenal berbahaya itu. Ahmad menanggapi peringatan tersebut dengan senang hati dan berkata bahwa dia akan bermain dengan teman-temannya di dekat rumah.Namun sayangnya, Ahmad tidak pernah kembali ke rumah. Seharian kemarin orang tuanya mencari ke sekeliling dan bertanya kepada teman-teman Ahmad, tetapi tidak ada yang tahu ke mana dia pergi. Kemudian mereka melaporkan kejadian tersebut ke polisi dan Rama yang ikut mendengarkan obrolan penduduk Kampung Hantu merasa penasaran dan terpanggil untuk ikut dalam pencarian Ahmad.Sungai Tersesat yang berada di Kampung Hantu konon kabarnya memiliki keadaan fisik yang sangat angker. Sungai ini dikelilingi oleh pepohonan yang lebat dan tumbuhan liar yang menjulang tinggi, sehingga membuatnya menjadi gelap dan menakutkan terutama saat malam hari. Airnya pun konon kabarnya sangat gelap dan keruh, sehingga tidak terlihat dasar sungai. Selain itu, suara gemericik air yang mengalir di Sungai Tersesat terdengar seperti suara tangisan atau rintihan orang yang terjebak di dalamnya.Beberapa penduduk setempat bahkan mengatakan bahwa Sungai Tersesat seringkali menjadi tempat munculnya makhluk halus seperti Wewe Gombel, yang seringkali menakut-nakuti orang-orang yang lewat di sekitarnya. Oleh karena itu, Sungai Tersesat menjadi dihindari dan dianggap sebagai tempat yang sangat angker dan berbahaya.Setelah mendengar bahwa Ahmad telah hilang, orang tua teman-temannya yang sebelumnya sedang bermain di sekitar Sungai Tersesat beserta penduduk Kampung Hantu pun langsung bergabung dalam upaya pencarian. Mereka mencari di sekitar sungai dan hutan di sekitarnya, berharap dapat menemukan tanda-tanda keberadaan Ahmad.Rama dan beberapa relawan dari kelompok SAR (Search and Rescue) juga turut bergabung dalam pencarian. Mereka memperluas wilayah pencarian hingga ke hutan belantara yang ada di sekitar sungai. Namun, meski telah berusaha mencari dengan sungguh-sungguh, Ahmad belum juga ditemukan. Kondisi semakin sulit karena cuaca di sekitar Kampung Hantu menjadi semakin tidak bersahabat, hujan deras mengguyur wilayah itu sehingga mempersulit upaya pencarian.Mereka mencari di sekitar aliran sungai yang dangkal dan dalam, dan melintasi beberapa jembatan yang ada di sepanjang sungai. Selama pencarian, mereka juga memperhatikan kondisi aliran sungai yang cukup deras dan berbahaya.Namun, setelah beberapa jam mencari, mereka belum juga menemukan anak tersebut. Rama dan warga Kampung Hantu lainnya merasa semakin khawatir dan gelisah, namun mereka tidak kehilangan harapan dan terus berupaya mencari anak yang hilang tersebut.Setelah 2 hari melakukan pencarian bersama tim SAR, Rama merasa tidak bisa meninggalkan Sungai Tersesat tanpa menemukan anak yang hilang. Ia memutuskan untuk terus mencari bahkan hingga malam hari.Saat matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap, Rama masih saja berkeliling di sekitar Sungai Tersesat mencari Ahmad yang hilang. Kondisi ini membuat Rama semakin merasa khawatir dan gelisah. Tiba-tiba, ia melihat cahaya yang samar-samar di kejauhan dan memutuskan untuk mengikutinya.Setelah berjalan beberapa saat, Rama akhirnya sampai di sebuah hutan bambu yang lebat. Di tengah-tengah hutan tersebut, ia melihat pohon bambu yang sangat besar dan menjulang tinggi. Rama merasa tertarik dan ingin mendekati pohon bambu tersebut. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara aneh yang muncul dari dalam hutan.Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas dan membuat Rama semakin takut. Ia merasa bahwa ada makhluk halus yang mengintainya dari balik rimbunnya hutan bambu. Namun, Rama mengumpulkan keberanian dan terus melangkah mendekati pohon bambu tersebut.Sampai di dekat pohon bambu, Rama merasa kaget melihat Wewe Gombel yang muncul dari dalam pohon. Namun, Wewe Gombel justru terlihat tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyakiti Rama. Wewe Gombel pun akhirnya membuka suara dan berkata kepada Rama."Jangan takut, anak muda. Aku adalah Wewe Gombel, penunggu pohon bambu di sekitar sini," kata Wewe Gombel.

Teror di Sebuah Gedung Stasiun TV Indonesia
Horror
25 Nov 2025

Teror di Sebuah Gedung Stasiun TV Indonesia

Perempuan berambut panjang itu sering menampakkan diri kepada siapa saja yang sendirian di gedung kantor stasiun TV Indonesia. Senyumnya tak terlupakan.Sudah cukup lama saya tidak menulis untuk rubrik Malam Jumat Mojok. Tetapi saya hampir tak pernah absen mengikuti rubrik ini setiap Kamis malam. Saya menikmati cerita-cerita misteri yang ditulis oleh anak-anak muda, yang rata-rata usianya masih separuh bahkan ada yang masih sepertiga dari usia saya.Tulisan-tulisan mereka membuktikan bahwa negeri ini tidak pernah kekurangan penulis kreatif dan imajinatif. Mereka mampu membawa pembaca ke wilayah yang kebanyakan orang tidak berani menjamahnya. Yang saya maksud adalah wilayah makhluk tak kasat mata, yang dimensinya sering beririsan dengan dimensi manusia. Salah satunya teror di sebuah stasiun TV Indonesia yang akan saya ceritakan.Pengalaman saya ini terjadi di penghujung era Orde Baru menuju awal era reformasi. Saat itu, berbagai stasiun berita TV Indonesia yang ada di Jakarta sedang sibuk-sibuknya meliput dan memberitakan rangkaian unjuk rasa akbar para mahasiswa yang menduduki gedung DPR-RI. Ada juga soal kerusuhan rasial yang sangat masif di berbagai wilayah kota metropolitan. Hingga berakhir dengan lengsernya Bapak Presiden Soeharto. Saat itu saya masih bekerja di divisi pemberitaan salah satu stasiun TV Indonesia yang cukup terkemuka.Bukan. Bukan tentang pengalaman saya memproduksi berita TV Indonesia yang akan saya ungkapkan. Pengalaman saya adalah dipeluk oleh sesosok makhluk menyerupai gadis cantik saat saya rehat di suatu ruangan yang biasa digunakan oleh para pemburu berita melepas lelah.Siang ramai, malam mencekamSaat itu, stasiun TV tempat saya bekerja belum memiliki gedung permanen. Oleh sebab itu, kami sering berpindah-pindah dari satu gedung ke gedung lainnya, dalam hitungan tahun. Dan, sebagai divisi yang relatif baru dibangun, divisi pemberitaan pernah menempati beberapa gedung yang terpisah dari divisi-divisi lainnya. Salah satunya adalah gedung yang akan saya ceritakan.Gedung tersebut terdiri dari beberapa lantai. Divisi kami mengisi dua lantai paling atas yang selalu beroperasi sepanjang hari. Saat siang hari, gedung ini cukup ramai dengan kesibukan kerja. Selain stasiun TV kami, ada beberapa perusahaan lainnya yang menyewa tempat ini.Nah, saat malam hari, hanya divisi kami yang bekerja hingga pagi. Itu saja tidak seluruh karyawan divisi pemberitaan masuk, melainkan hanya sepersepuluh dari seluruh kekuatan divisi. Jika saat itu melewati gedung ini di malam hari, akan Anda melihat hanya dua lantai teratas yang lampunya selalu menyala. Sementara itu, lantai-lantai lain di bawahnya gelap gulita.Jumlah karyawan stasiun TV yang bekerja di malam hari mungkin hanya sekitar 20 orang. Terdiri dari beberapa produser, beberapa editor visual, beberapa penata desain grafis, petugas perpustakaan, beberapa juru kamera studio, sepasukan petugas master control yang jumlahnya sekitar enam orang, serta sekitar dua tim pemburu berita malam (reporter dan juru kamera) yang bergantian datang dan pergi.Jumlah 20 orang mungkin cukup banyak jika menempati gedung yang tidak terlalu besar. Tetapi, 20 orang di dua lantai yang sangat luas, yang di siang hari biasa dipenuhi sekitar 200 karyawan, tentunya akan terasa senyap saat malam hari. Lantai-lantai lainnya yang sepi dan gelap menambah suasana semakin sunyi. Kami, yang sekitar 20 orang itu, juga bekerja di ruangan-ruangan terpisah.Teror yang sudah menjadi buah bibirSaya sering mendengar cerita dari beberapa teman yang katanya pernah bertemu sesosok perempuan berambut panjang. Kesaksian mereka berbeda-beda. Ada yang mengaku melihatnya di lobi utama, ada juga yang melihatnya di tempat parkir rubanah (basement), di dalam studio siaran stasiun TV, ruang perpustakaan, toilet, dan tangga darurat.

Aruna Mengerti
Horror
25 Nov 2025

Aruna Mengerti

“Kamu tahu kan, Bapak ngelakuin ini semua, karena sayang sama kamu.”Aruna menatap tangan bapaknya yang mengulurkan sejumlah uang. Senyum bapaknya melebar, simetris, seakan tulus dari hati. Anak perempuan itu menerima lembaran uang dengan tangan gemetar, kulitnya yang kurus dan dingin bergetar meski malam tadi tubuhnya hangat oleh darah yang kering di sekujur lengannya. Aruna tahu, uang itu bukan hadiah—itu adalah imbalan untuk pekerjaan yang baru saja ia lakukan, mencuri dari pejalan kaki yang tak sengaja lewat, tanpa ampun. Elusan kepala bapaknya menjadi penguat, meski sekaligus mengikat Aruna dalam jaring takut dan cinta yang rumit.“Aruna ngerti,” jawabnya lirih.Sinar mata Aruna perlahan meredup, kehilangan kilau yang tadi sempat menyala. Ia menatap punggung bapaknya yang menjauh, sosok itu menapaki jalan setapak keluar rumah, meninggalkan Aruna sendiri dalam hening yang menelan. Sunyi malam terasa lebih pekat sekarang, seolah dinding-dinding rumah menghisap setiap napas yang ia hembuskan. Aruna menekan bibirnya, menahan rasa ingin menangis, lalu tanpa sadar menggaruk kulitnya yang tak gatal. Tidak ada jawaban atas rasa sepi yang menempel di tulang. Tidak ada suara selain detak jantungnya sendiri yang menjerit dalam dada.Akhirnya, Aruna memilih tidur. Ia merapatkan tubuhnya yang kurus, beralas koran bekas, memeluk diri sendiri seakan ingin menyerap sedikit panas dari tubuhnya sendiri. Udara malam yang dingin menusuk kulit tipisnya, membuatnya menggigil, menekuk lutut ke dada, bersandar ke dinding. Di sana, di sudut kamar yang gelap, Aruna menemukan sepotong kehangatan yang bisa ia genggam—meski itu hanyalah bayangan dari cinta bapaknya, yang dibungkus darah dan rasa takut.Keesokan harinya, siklus itu akan terulang. Pagi tiba dengan aroma daging hangat, dihidangkan di atas piring yang sama, rapi dan menggoda selera. Aruna duduk di meja, menyantap potongan daging itu dengan lahap, rasa bersalah dan ketakutan terbenam di setiap kunyahan. Bapak di dekatnya menatap dengan mata yang lembut, seakan memuji usaha dan ketaatannya.“Aruna tahu kan, Bapak ngelakuin semua ini, karena sayang sama kamu.”“Aruna ngerti,” jawabnya lagi, dengan suara yang lebih tegar kali ini. Namun di dalam hatinya, ada bisikan lain yang tak pernah ia ucapkan—bisikan yang bertanya apakah cinta yang dibalut darah itu benar-benar nyata, ataukah hanya cermin kebohongan yang membungkus kesepian dan ketakutannya.Aruna menatap jendela yang menampakkan langit pagi, namun sinar mentari tidak mampu menembus gelap yang menyelimuti pikirannya. Ia tahu, setelah sarapan selesai, siklus hari itu akan berlanjut: pekerjaan, uang, elusan, dan keheningan yang menekan hingga malam kembali datang, membawa dingin, darah, dan rasa takut yang menempel seperti bayangan abadi.

Boneka ukiran
Horror
25 Nov 2025

Boneka ukiran

Sebetulnya ada beberapa pengalaman horor, tapi menurut saya ini yang paling membekas di ingatan. Hehehe.Jadi, kisah dimulai sekitar tahun 2003 ketika saya masih kelas 5 SD. Suatu hari, ibu saya yang baru saja pulang dari kota J dengan riang gembira mengatakan bahwa beliau membeli sepasang boneka ukiran (ibu dan ayah saya dulu sangat suka mengoleksi patung loro blonyo—boneka atau patung sepasang pengantin, tolong dikoreksi bila terjadi kesalahan penulisan atau definisi)Lain dari boneka yang biasa mereka beli, ibu saya membawa pulang sepasang boneka dari kayu berwujud kakek dan nenek, menggunakan pakaian tenun oranye sambil membawa tas. Kalau diingat-ingat lagi sekarang dari sisi seni, kedua boneka itu sangat cantik. Ukirannya detail dan pakaian kedua boneka itu dijahit rapi dari kain tenun. Pokoknya bukan kualitas abal-abal, lah! Namun, saya yang masih berusia 10–11 tahun saat itu merasa bahwa kedua boneka itu sangat menyeramkan.'Keseraman' itu bertambah ketika ibu meletakkan kedua boneka itu di lemari yang letaknya di lorong, persis menghadap ke pintu kamar saya. Setiap kali saya berjalan melewati lemari tersebut, saya menyadari bahwa kedua boneka tersebut agak miring. Jadi, tidak lagi menghadap ke depan tetapi agak menyerong sekitar 45 derajat. Kalau saya lewat lagi, posisinya berubah jadi 90 derajat. Kalau saya lewat lagi, posisinya balik lagi menghadap ke depan.Saat itu, saya kecil yg selalu diajarkan untuk berpikir logis, menganggap "hmm mungkin kesenggol si bibi yang suka lap-lap disitu." Tapi kalau dipikir-pikir, misalkan memang kesenggol pasti si bibi bakal membetulkan ke posisi semula, bukan? Dan si bibi juga nggak mungkin berani memposisikan barang-barang ibu tidak sesuai dengan 'kaidah' yang empunya rumah.Akhirnya, pada suatu hari, seorang sahabat saya di sekolah, berkunjung ke rumah saya. Saya pun mengutarakan pada dia, bahwa saya takut pada kedua boneka kakek-nenek tersebut. Namun, alih-alih ikut takut, teman saya malah dengan berani memegang kedua boneka itu dan mempermainkan mereka seolah pesawat terbang."Kamu nggak perlu takut!" Dia memainkannya sambil tertawa girang.Saya cuma bisa diam saat itu."Kalau kamu takut, bonekanya dihadepin ke belakang aja." Ucapnya seraya meletakkan boneka itu kembali di tempatnya semula, namun kali ini posisinya membelakangi (jadi saya cuma bisa lihat punggungnya saja). Dalam hati saya sangat lega akhirnya teman saya berhenti mempermainkan boneka yang bahkan saya tidak berani tatap itu.

"Sampai kutemukan jasadku"
Horror
25 Nov 2025

"Sampai kutemukan jasadku"

"Pak, maaf, dokter sudah tidak ada visit, sampai kapan di sini? mending besok aja balik lagi""Sampai kutemukan jasadku"Wajahnya pucat separuh hancur, matanya bolong, dari bagian perutnya merembas darah. Dia mencari jasadnya sendiri."---Desc:Utas ini menggunakan sudut pandang orang pertama (narasumber). Segala bentuk nama dan tempat telah di samarkan.2013, dari meja jaga perawat ruang ICU samar terdengar suara bunker roda berjalan mendekat. Namun ada yang aneh, bunker roda itu diiringi suara serentak bak pengantar jenazah,"LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”Dari kejauhan, suara itu kian dekat dan semakin jelas. Aku yang sedang terlenyap di bawah meja jaga tersentak bangun. Kepalaku pening, pandanganku berbayang, kuraih kacamataku yang tergeletak di atas mejaTubuhku mematung seketika melihat satu bunker kosong didorong oleh empat perawat berwajah pucat pasi, bibir biru dan tanpa bola mata.Mengalir darah dari tiap-tiap kepala perawat, lebih mengerikan lagi, mata putih milik satu perawat yang berdiri di baris paling depan seketika menggelinding ke lantai seperti habis di congkel.Aku terkesiap ketakutan setengah mati, kuperhatikan sekeliling, tak ada tanda-tanda orang lain di sekitar selain aku.Mereka terus berjalan mendekat menelusuri lorong temaram seolah tak memperdulikan rasa sakit dan darah yang merembas di kepala dan badanAku terpaku tak dapat menggerakan sendi-sendi tubuhku sendiri. Ingin berteriak sekeras-kerasnya namun leher seolah tercekat.Aku hilang kendali diri, panik dan takut menguasaiku sepenuhnya—satu-satunya yang dapat kulakukan ialah menatap sosok-sosok mengerikan itu yang berada di garis lurus yang samamereka kian mendekat ke arahku seraya hendak menjemputku untuk naik ke bunker kosong yang mereka bawa.Gilanya, mereka juga terus mengucap kalimat doa yang biasa dilafalkan para pengantar jenazah,"LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”“LAILLAHAILLAH”Bisa kalian bayangkan bagaimana posisi aku saat itu?…satu-satunya yang kuingat hanya wajah ibuku di kampung halaman yang belum sempat kukunjungi.Langkah mereka semakin cepat, menggaung suara tawa memekik dari berbagai arah, aku seperti berada di jalan buntu yang mana hanya bisa nangis.Secepat kilat keempat perawat mengerikan dan bunker roda itu menabrakku keras.Berikutnya, pandanganku gelap.****Aku tersadar membuka mata di ruang IGD. Bu Desi, salah seorang perawat senior menghampiri untuk memeriksa kondisiku.Dia mengatakan semalam aku kejang-kejang di meja jaga dengan mata mendelik ke atas.Untung saja, cepat ditemukan Pak Manto, satpam rumah sakit yang sedang keliling.Aku masih ingat betul apa yang menimpaku tadi malam, rasanya begitu nyata. Sekujur tubuhku remuk, ada luka lebam membiru dibeberapa bagian badan seperti bekas benturan benda tumpul.“Sebenarnya tadi malam kamu kenapa tih?” Tanya Bu Desi.Aku gagap menjawab, tetapi Bu Desi melanjutkan kalimatnya,“Kamu Indigo?Sebelumnya ada perawat juga yang indigo, dia resign karena sakit, gak kuat katanya, tapi sebelumnya persis kayak kamu, kejang begitu pas lagi jaga rawat.”Aku menggeleng pelan, menyangkal. Entah mengapa aku tidak suka dan merasa tidak pantas mendapat predikat sebagai ‘anak indigo’ meskipun aku memang peka dan kerap bersinggungan dengan mereka yang tak kasat mata.Namun kenyataan itu, bagiku seperti hal memalukan yang harus kusembunyikan rapat-rapat. Lagi pula aku bukan seorang praktisi, mengontrol mataku sendiri saja aku tak bisa—ya, kadang ‘mereka’ terlihat jelas, kadang samar, bahkan kadang hanya suara saja yang kudengar.Aku tidak tahu apa yang menyebabkan begitu, namun yang pasti, sejak aku menstruasi pertama sampai saat ini usiaku menginjak 24 tahun, aku masih belum bisa terbiasa dengan keberadaan mereka disekitarku.Rasanya seperti aku bisa saja mati jantungan sewaktu-waktu.Aku memang terhitung baru menjadi perawat di Rumah Sakit ini, sebelumnya aku hanya berani bekerja menjadi perawat di sebuah klinik kecil tak jauh dari rumah.Ya, kepekaanku terhadap ‘mereka’ menjadi alasanku memilih bekerja di klinik. Bagiku, kala itu rumah sakit seperti tempat penyiksaan mental.Bagi kalian yang bekerja di rumah sakit, pasti setuju kalau shift malam selalu jadi tantangan tersendiri, meskipun sudah biasa tapi rasa getir, takut, merinding jadi tamu setia yang hinggap setiap malamnya.Namun satu tahun ke belakang, aku merasa diriku sudah tak lagi sepeka dulu. Aku bahkan sudah jarang bersinggungan apalagi melihat mereka.Paling parah, aku hanya melihat gumpalan asap membentuk sosok, siluet bayang hitam, dan suara-suara aneh yang masih bisa dihiraukan—karena itu lah, aku memberanikan diri melamar untuk bekerja lagi di rumah sakit, selain sudah merasa aman, gaji yang kudapat juga lebih besar bekerja di Rumah Sakit dibanding di klinik.“Kenapa bisa begitu bu, perawat itu kenapa?” tanyaku balik ke Bu Desi, penasaran.“Mending kamu gak usah tau deh, lagi sering jaga malam kan? “ kekeh Bu Desi.Sejak aku membuka mata. Aku merasa ada yang berbeda dari sekitarku—rasanya rumah sakit ini nampak lebih padat sesak dari biasanya, banyak lalu lalang melintas wajah-wajah perawat dan dokter yang tak kukenali.Ada apa di rumah sakit ini?*****Tak terlalu kupikirkan mengenai peristiwa tempo hari—kadang kala, sakit juga bisa merenggut alam sadar dan membuat kita berhalusinasi, jadi kusimpulkan saat itu aku hanya sedang tidak sehat.Sekarang, Aku mendapat gilir jaga IGD, baru saja seluruh pasien IGD ditransfer ke kamar rawat, jadi IGD malam ini tampak sepi, hanya tersisa satu pasien koma yang masih menunggu pihak keluarganya tiba.Suara sirine ambulan berbunyi nyaring memeceh hening malam. Ramai sentakan langkah para perawat sigap menghampiri membawa bunker roda. Tari, rekan perawatku menyiapkan satu tempat tidur di IGD.Aku ikut membantu,“Ada pasien darurat apa tar? Kok tumben gak ada info dulu ke IGD kalau mau ada pasien dari ambulance kita?” ujarku.Tari tak menjawab, namun raut wajahnya tampak begitu serius. Tak lama, suara bunker roda terdengar mendekat. Rombongan para perawat dan satu dokter membuatku tersisih menepi.

-JASADNYA DI COR, NYAWANYA JADI TUMBAL-
Horror
25 Nov 2025

-JASADNYA DI COR, NYAWANYA JADI TUMBAL-

Kalo denger kata ‘corcoran’, ada yg viral bberapa waktu lalu. Satu peristiwa yg pernah aku alami. Peristiwa yg gak akan bisa aku lupakan. Peristiwa yg mungkin kalian atau pemerintah belum tahu.Disclaimer dulu ya. Cerita ini sudah mendapatkan ijin dari pihak yg bersangkutan. Walaupun sebenarnya rada ngeri juga, karena yg akan saya bagikan ini sebenarnya rahasia dan hanya beberapa orang yg tahu. Tp gapaplah, udah lama juga kejadiannya.Kebetulan perusahaan tempat di mana aku kerja magang ini sedang ada semacam projek besar. Jadi dalam beberapa hari dalam seminggu ini aku dan beberapa rekan kerjaku suka pulang malam terus. Oiya, kenalin aku Dini. (samaran)Di kantorku ada perempuan namanya Rina. Dia adalah ketua projek yang di angkat baru-baru ini. Dan anehnya, setelah pengangkatan Rina menjadi ketua, banyak sekali cerita serem yang di alami oleh beberapa karyawan. Jadi kantorku ini mendadak berasa berhantu.Suatu hari ketika lembur, Rina ini harus memfotocopy beberapa lembar surat-surat. Kebetulan mesin fotocopy berada di lantai atas.Ketika Rina sampai di lantai atas, tepatnya posisi dia lagi berdiri gak jauh dari mesin foto copy, ada satu ruangan yang di kunci.Pintunya warna merah, beda dari pintu-pintu yang lain di kantorku. Dan gak ada yang tahu atau pernah masuk ke ruangan itu, karena memang gak dibolehin masuk sekalipun karyawan lama.Tiba-tiba dia teriak histeris. Semacam teriakan orang ketakutan gitu. Dan suaranya keras banget sampai aku yang lagi di ruang bawah pun denger. Otomatis aku dan beberapa rekan kerjaku yang mendengar, langsung berhambur keluar buat lihat keadaan si Rina ini.Sesampainya kami di atas, Rina ini sudah dalam kondisi duduk di sudut ruangan sambil nutup mukanya pakai tangan.“Eh cepet-cepet bantu Rina!” celetuk salah satu rekan kerjaku.Untungnya malam itu tuh ada cowoknya, jadi Rina bisa di bopong untuk turun ke lantai bawah.Setelah di tenangin, Rina cerita sambil nangis gituu. Katanya dia liat sosok manusia keluar dari tembok!Dan seremnya, sosok itu kemudian berjalan ke arah Rina.Makanya dia sampai teriak histeris. Gak lama, Rina nelfon temannya. Kalau gak salah namanya Cipto.Kira-kira, mirip kyk stranger things gini.Sedikit aku kasih tahu latar belakang Rina ini. Dia ini sebatang kara yang hidupnya sangat mandiri. Sampai aku sendiri begitu kagum sama sosok Rina ini. Karena selain mandiri, dia juga pinter banget di kantor.Dan siapa Cipto? Dia itu adalah mantan supervisi Rina sebelum dia naik jabatan dan jadi ketua projek. Tapi anehnya, malam itu orang yang pertama kali dia telfon tuh si Cipto. Padahal suami bukan, pacar apalagi. Yah positif ajalah, mungkin sahabatnya.

Rumah Megah Tak Bertuan
Horror
25 Nov 2025

Rumah Megah Tak Bertuan

“Klik..” ada notice sms masuk ke hpku. Kuambil hpku yang tengah tergeletak di atas meja, dan benar dugaanku gajiku bulan ini telah ditransfer oleh pak Burhan. Pak Burhan adalah majikanku, beliau adalah pemilik rumah mewah di jalan Anyelir no 5. Rumah itu sangat mewah tepatnya 20 tahun yang silam. Aku masih sangat ingat dengan jelas kala itu aku datang ke kota ini untuk melamar menjadi penjaga di rumah pak Burhan.“Pak, ini orangnya yang kemarin saya ceritakan ke bapak” ucap seorang pria bertubuh kekar “Oh iya” jawab seorang pria paruh baya yang tengah duduk di depanku sambil menikmati cerutu. “Kalau begitu saya kembali ke basement ya pak” ucap pria kekar itu “Iya silahkan” jawab pria paruh baya itu. Kemudian pria paruh baya itu menatapku lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki.“Siapa namamu, anak muda?” Tanya pria paruh baya itu “Azali pak” Jawabku singkat “Oh.. kau sudah pernah bekerja di tempat lain?” tanyanya lagi “Belum pak, baru kali ini saya melamar kerja” ucapku “Kau berasal darimana?” tanyanya lebih jauh “Dari kampung SekarAsri pak” ucapku “Di kampung kamu bekerja apa?” Tanya pria paruh baya itu “Setelah lulus SMP, saya bantu-bantu orangtua di sawah pak” jawabku “Berapa usiamu?” tanyanya berlanjut “Masih 17 tahun pak” ucapku “Kamu tidak melanjutkan SMA?” tanyanya lebih jauh “Tidak pak, orangtua saya tidak ada biaya lagipun di kampung saya masih belum ada SMA. Ya, daripada nganggur selama ini saya bantu-bantu bapak di sawah” ucapku “Kok ngelamar ke sini?” Tanya pria itu lagi “Saya ingin merubah nasib pak, siapa tahu kerja di kota penghasilannya lebih baik” jawabku“Begini anak muda, kebetulan saya sedang membutuhkan tukang kebun untuk merawat halaman rumah saya. Kamu bersedia?” Tanya pria itu “Iya pak, saya mau sekali” ucapku “Ya sudah kamu saya terima kerja di sini, sekarang kamu ikut saya kenalan dengan pegawai-pegawai saya dan juga keluarga saya” ucap pria ituPria itu kemudian mengajakku ke sebuah tempat bernama basement tapi kalau kataku tempat itu mirip seperti rumah kecil. Di sana aku berkenalan dengan bu Murti si tukang masak, pak Hans si sopir sekaligus bodyguard dan mbak Is si tukang bersih-bersih rumah. Setelah itu kami menaiki tangga yang ada di dalam basement yang ternyata tembus ke dalam rumah megah itu. Wauuu, benar-benar rumah yang indah. Di dalam rumah itu ada aneka perabot mewah yang aku sendiri tidak tahu namanya tapi yang jelas itu semua perabot mahal. Di samping almari ada seorang wanita memakai daster pink yang tengah mengasuh seorang anak laki-laki tampan. Wanita itu ternyata bernama mbak Ayu dan anak kecil itu adalah cucu pak Burhan, namanya Bram.“Yang tadi itu para pegawaiku dan sekarang kau akan kukenalkan dengan keluargaku” ucap pak Burhan. Pak Burhan kemudian menyuruh mbak Ayu agar memanggil semua anak pak Burhan ke Ruang mewah itu. Beberapa saat kemudian, di depanku sudah ada 3 orang wanita dan 2 orang pria. Pak Burhan kemudian berjalan menuju ke belakang mereka.“Azali, inilah keluargaku. Yang sebelah kanan ini adalah Asmita, istriku. Ini anakku yang pertama yaitu Velita dan ini suaminya Yoga. Kalau yang ini Viona dan ini Rio suaminya Viona. Kalau anak laki-laki yang kau temui tadi itu adalah cucuku, anak dari Yoga dan Velita” ucap Pak Burhan dengan ramahnya “Iya pak” jawabku singkat terkungkung gerogi“Mulai hari ini Azali akan bekerja di sini sebagai tukang kebun. Ingat, kalian harus memperlakukannya seperti pegawai-pegawai yang lain karena tanpa mereka kita tidak bisa mengurus rumah ini” ucap pak Burhan “Iya Papa” jawab mereka kompak. Kemudian mereka kembali melakukan aktivitasnya masing-masing dan pak Burhan mengantarkanku keliling rumahnya.“Inilah rumahku, Azali. Sekarang sudah menjadi tugasmu untuk merawat halaman dan hewan peliharaanku. Oh iya, segala peralatan kebunmu ada di basement” ucap Pak BUrhan “Baik pak” jawabkuPagi-pagi buta setelah sholat subuh aku mulai bekerja memotong rumput di halaman rumah Pak Burhan. Rencanaku, rumput yang telah kupotong akan keberikan pada kelinci dan rusa, tanpa banyak cakap aku segera mengambil peralatan kebunku lengkap dengan karung untuk wadah rumput. Satu per satu rumput telah kupotong dan kumasukkan ke karung yang kubawa. Kemudian karung itu kubawa ke kandang kelinci yang ada di tepi rumah sebelah kanan. Setelah itu, kulanjutkan memotong rumput di lain tempat namun yang jelas tetap di rumah pak Burhan. Rumput-rumput yang telah kupotong, kumasukkan ke karung untuk makanan hewan ternak pak Burhan. Begitulah kerjaku setiap hari, tanpa banyak kata menjalankan tugas dan ternyata cara kerjaku menarik hati pak Burhan.“Bagaimana perasaanmu kerja di sini, Azali?” Tanya pak Burhan di suatu sore “Saya senang pak, rumput di tempat bapak banyak sehingga saya bisa sekalian merawat halaman juga memberi makan ternak” jawabku “Iya, saya juga suka dengan etos kerjamu. Kalau begitu terimalah ini gaji pertamamu” ucap pak Burhan sambil menyodorkan sebuah amplop padaku. “Oh iya, kau harus membuat atm untuk gajimu bulan selanjutnya karena gaji semua pegawaiku langsung kutransfer ke atm mereka masing-masing” ucap pak Burhan “Tapi saya tidak tahu cara membuat atm pak” ucapku “Nanti biar Hans membantumu” ucap pak Burhan “Baik pak” jawabkuKeesokan harinya pak Hans membantuku membuat ATM di bank terdekat dan seperti janji pak Burhan gajiku tiap bulan langsung ditransfer ke ATM. Gaji yang kuterima dari pak Burhan sangat besar bagiku. Bagaimana tidak, bocah kampung yang jauh dari keramaian digaji jutaan rupiah hanya untuk merawat halaman rumah orang kaya dan tak hanya itu setiap hari aku mendapat jatah makan 3 kali, kadang aku juga mendapat cemilan entah itu singkong rebus atau hanya sekedar pisang goreng. Dan di akhir tahun seluruh pegawai pak Burhan mendapat parsel juga baju baru. Jadi, tentu saja aku bisa memberi uang kedua orangtuaku di kampung agak banyak. Dan tak ayal juga setelah 8 tahun aku bekerja di tempat itu, aku bisa membeli rumah di dekat rumah pak Burhan.Rumah yang kubeli dari hasil keringatku, amatlah kecil jika dibandingkan dengan rumah pak Burhan yan luasnya sekitar 1,5 hektar. Rumah kecilku terletak di jalan Matahari no 7, jaraknya sekitar 300 meter dari rumah pak Burhan. Jadi, setiap hari aku cukup berjalan kaki untuk bekerja di rumah pak Burhan. Kenikmatan itu kukira akan berlangsung lama namun ternyata sebaliknya.Pagi itu, seperti biasa aku pergi bekerja setelah sholat subuh untuk memotong rumput dan merawat hewan ternak. Namun, sejak pagi kulihat keluarga pak Burhan tampak murung dan bingung. Bahkan masakan bu Murtipun utuh tak ada seorangpun yang menyentuh.“Kok tumben bu, masakannya masih banyak?” tanyaku “Iya. Aku sendiri juga nggak tahu Al sejak tadi pak Burhan sekeluarga Nampak murung dan bingung” tukas bu Murti. “Memang apa yang dimurungkan bu?” tanyaku “Entahlah Al, urusan orang besar mungkin. Udah buruan makan gih” ucap bu Murti namun bu Murtipun juga Nampak murung. “Ibu lagi sakit?” tanyaku “Enggak kok, ibu cuman capek saja” jawab bu Murti singkat kemudian meninggalkanku entah kemana. Akupun segera menyantap masakan bu Murti yang aduhai enaknya.Seusai makan, aku akan melanjutkan membersihkan kandang ternak dan menguras kolam. Seusai melaksanakan semua tugas, aku mandi dan segera sholat ashar. Tiba-tiba.. “Jadi benar apa kata Hans, kalau kamu sholat?” Tanya pak Burhan yang tiba-tiba berdiri di belakangku. “Iya pak. Sholat kan tanda terimakasih kita pada yang Maha Kuasa” jawabku enteng “Azali, setelah ini kami semua akan pergi. Aku hanya titip pesan agar kau selalu merawat halaman rumahku seperti biasa” ucap pak Burhan “Bapak mau pergi kemana?” tanyaku “Kau tak usah Tanya kami pergi kemana yang jelas kami pergi agak lama dan untuk gajimu akan kutransfer setiap bulannya. Kau mengerti kan?” ucap pak Burhan “Iya pak saya mengerti. Oh iya pak, barang-barangnya biar saya bantu menyiapkan” ucapku “Tidak usah Al, semuanya sudah siap kok” ucap pak Burhan “Oh iya pak kunci gerbangnya kan ada di saya” ucapku “Bawalah kunci itu agar kau mudah merawat halaman rumahku. Sekarang kau boleh pulang” ucap pak Burhan “Baik pak” jawabkuKeesokan harinya aku berangkat kerja seperti biasa namun aku sangat syok melihat rumah pak Burhan. Rumah itu sepi, Semua penghuni rumah pergi berikut dengan hewan peliharaan pak Burhan. Masak iya liburan bawa hewan peliharaan? Kan itu mustahil? Kucari ke seluruh rumah namun hasilnya tetap sama tidak ada dan anehnya mobil pak Burhan masih tetap parkir di garasi. Aku jadi semakin bingung akan kepergian seluruh penghuni rumah pak Burhan. Kemanakah mereka?Kepulangan mereka selalu kunanti setiap hari namun tak satupun dari mereka yang pulang ataupun memberi kabar hingga tak terasa rumah itu telah ditinggalkan selama 20 tahun. Selama 20 tahun, aku hanya membersihkan halaman dan melihat-lihat ke sekeliling rumah masih tetap sama seperti 20 tahun silam. Kerusakan-kerusakan rumah satu-persatu mulai muncul, sebagai pegawai yang baik kutelepon pak Burhan namun tidak bisa dan anehnya setiap kali aku masuk ke halaman rumah pak Burhan tercium bau kemenyan. Waallahu a’lam bi showaf..

Terbunuh Sepi
Horror
25 Nov 2025

Terbunuh Sepi

Dikisahkan ada sekumpulan remaja tampan di salah satu sekolah bernama Galaxy School. Di sana ada cowok bernama Ricky yang pendiam. Ricky sedang mengeluarkan rokok membuang ke tempat sampah. Kemudian ada yang memotret Ricky secara diam-diam tanpa izinnya. Ialah Divya. Divya sangat mengangumi Ricky. Namun Ricky cuek.Suatu hari kematian dari seorang gadis dan banyak menuduh kalau Ricky saiko. Divya tetap saja tidak percaya kabar miring tersebut. “Gue nggak percaya Bang Ricky bisa ngebunuh Nelly.” jawab Divya membentak meja.Di tempat berbeda sosok cowok sedang memotretnya tanpa sepengetahuan Divya. Senyum merekah. “gue harus bisa dapatin lo.”Didalam kesunyian malam geng bernama UN1Ty tengah duduk membahas soal Ricky yang dituduh jadi tersangka. Shandy muka sangat aneh. Berbeda dari biasanya. Wajah berkeringat dingin. “Kenapa bro apa ada sesuatu?” “Gak ada, gue hanya ngerasa yakin kalo sih Ricky itu Seiko cuma dia kan paling pendiam di grup kita.” ucap Shandy menerka-nerka.Di hari berikut Fiki sedang bermain gitar asyik pada dentingan yang ia mainkan. Kemudian Shandy menghampiri memberikan segelas marimas dibeli di warung. “Gak yakin gue tampang Ricky pembunuh!” “Mau gimana lagi udah tercemar geng kita, gue mau Ricky keluar dari UN1Ty.” Semua memandang negatif pada Ricky.Kian hari semakin ada berita kurang sedap. Sehingga Ricky menegaskan sesama kalo geng ini mesti mengeluarkan membernya. Memberikan penjelasan namun tetap saja semua sudah benci pada Ricky.Divya mendekati Ricky, disaat semua menjatuhkan Divya mensupport penuh Ricky memberikan kekuatan. Suara di gedung terdengar lagi tangisan kencang. Pergi ke sana Ricky berlari pisau terbuang di lantai. Memungutinya terkejut Divya hampir mau pingsan.“JADI ELO KAN BIANG KEROK DI UN1TY?” tanya Fenly memojokkan Ricky. “Bukan gue sumpah, gak bohong!” Tidak ada yang percaya padanya.Di hari berikutnya Ricky dimintai keterangan atas kematian Yani. Jawaban hanya gelengan sementara polisi perlu tahu semua dijawab sama. “Penyelidikan kita akan proses kamu tetap di sini.” Belum ada bukti sehingga Ricky ditetapkan sebagai tersangka.Semua membenci Ricky bahkan UN1Ty terpecah belah. Sudah rusak, tidak ada artinya lagi. Merasa kehilangan sosok baik, misterius. Dulu dikenal sebagai pahlawan akibat sering menolong jasa Ricky tentu saja besar.Seseorang berjalan ke toilet menemukan pemandangan aneh. Segera merekam melalui kamera ponsel. Membawa sesuatu di dalam kantung plastik. Tiba di rooftop seluruh urat leher menegang.Mata tertuju pada sesuatu yang di lempar ke atas gedung. Cowok itu melepas Hoodie muka tertutup masker. “Astagafrullah jadi lo?” Divya terkejut. “Kenapa kalo itu gue, mau lapor silakan… gue iri sama Ricky kenapa dia selalu dicintai beda dengan gue yang dianggap sampah.” Tatapan mata terus tertuju pada sosok itu. “Terus kenapa lo bunuh murid Galaxy School? Jangan bilang lo sakit hati sama UN1Ty.” “Bukan cuma itu gue sering dibully sama Shandy, terus di jambak rambutnya sama Fenly.” Bayangan sewaktu smp terbuka lebar. Di mana ada anak cowok berkacamata tebal lewat lalu disiksa sama beberapa orang. Perut ditendang, kaki keinjak sepatu dibeli dari hasil tabungan dibuang ke got.Miris menyesakkan dada sekarang sudah terbongkar pelaku sebenarnya. Divya mengerti permasalahan yang terjadi.Menarik Divya hingga ke bagian titik, dan member UN1Ty datang. “Gue sempat lewat dan ngeliat sesuatu yang gak beres.” Zweitson dia paling suka belajar pintar. Kacamata juga selalu dibersihkan. Pokoknya member idola di sini.Divya kaget lalu berjalan tapi leher dicekek. “Lepasin gue tau lo demdam sama kita…” Zweitson bukan tukang bully. Cuma Fenly, Shandy dan satu lagi Fiki. Fajri juga tingkat level yang paling keras adalah mereka. “Gue akan lepasin asal kalian buat video permohononan maaf buat gue yang selalu kalian tindas.” Wajahnya penuh amarah. Menahan rasa sakit di hati.Alani sahabat dari Divya terkejut. Melongo. Bisa-bisanya cowok dikenal kutu buku membunuh banyak korban. Airmata Divya terjatuh. “Oke gue terima ini semua demi nona cantik itu, lepasin dia sekarang.” “Gak bisa, buat dulu.”Zweitson membuat videonya dengan latar rooftrop dan menyerahkan kamera handycam kepada cowok itu menyuruh memasukan ke channel YouTube UN1Ty. Hingga viral. “Gue Zweitson mewakili member yang lain buat minta maaf.”Fenly tersenyum kecut berjalan ke rooftop demi Divya Zweitson rela melakukan itu semua. Dia setia kawan kepada Ricky yang ternyata menyimpan rasa pada Divya.Setelah Divya selamat Arnold digiring ke kantor polisi bukan cuma dia dituduh masih ada satu lagi. Dulu sewaktu Nelly kebunuh masih ada saksi belum terungkap. Menghilangkan jejak sangat kreatif.Berjalan ke tempat gudang penuh debu. Mencari beberapa informasi. Ada tumpukan mayat dimasukkan ke sini. Sebagian belum ketahuan. Ngeri sekali mereka dibungkus plastik hitam. Ada Gita, Nayla, Jihan, Cinta. Semua cewek cantik di Sma Galaxy School.“Gue gak boleh ketahuan dan gak akan gue biarin UN1Ty kompak seperti dulu.” Malam hari bayangan datang ke kamar dorm member.Di sana ada Shandy yang tengah main PlayStation. Permainan mobile-lagend di sukai oleh Shandy. Suara mendesis menganggu pendengaran dari Shandy. Melangkah keluar melihat taman belakang rumah kosong.“Gak ada siapa-siapa palingan kucing.” Seketika sesuatu mencekik leher Shandy. Shandy dibawa ke alam berbeda. Tampak di mana ada cowok dengan motornya baru saja tiba ketika kelas kosong. Menemui gadis bernama Gita yang belajar malam akibat les. “Gue gak akan tanggung jawab, gue gak cinta sama lo.” “Tapi kalo nyokap tahu gue hamil gimana?” ucap Gita ketakutan setengah mati. “Gugurin aja simple kan, gak usah ada nikah, gue masih pengen bebas.” Shandy tahu siapa dia? Keluar dari dalam alam mimpi matanya perlahan terbuka.Masuk ke kamar lagi. Fiki terbangun ke toilet menemukan play-station menyala. Segera mematikan. “Kenapa dimatiin?” “Dari mana aja boros nih main playstion terus ditinggalin gitu aja.” ujar Fiki mendengus sebal, sembari mengucek kedua kantung mata. Kesal Shandy memilih tidur.Keesokan paginya lekas ditemui cowok itu. Menghajar hingga babak belur. Semua anak memperhatikan perkelahian seru. Mereka digiring masuk BK. Di sana perdebatan kembali terjadi. Guru bertanya heran mengapa keduanya bisa bersitegang. Dan membuat tontonan bagi anak cewek. “Saya begini karena dia yang udah bunuh Gita!” “Mana buktinya?” “Lo malam-malam kesini gue lupa kapan? Terus lo nemuin Gita gak mau tanggung jawab.” ucap Shandy berkata tegas. Pak Fadhil kaget menatap tajam wajah Martino. “Benar itu apa yang di bilang sama Tino?” ujar Pak Fadhil. “Gak benar,” “Mana mau ngaku dia aja pandai berkila? Dasar pembunuh.” Mereka berjalan mengecek cctv mencari letak bukti. Sampai akhirnya Tino berhasil di tangkap. Ricky dibebaskan.Nyanyian kebebasan menggema semua murid cewek termaksuk youn1ty fanbase mereka memberikan sambutan baik. Ricky sudah bersih dari segala masalah.Malam itu dinner di salah restoran. Divya memakai dress berwarna pink. Cantik. Sesuai sama dirinya yang feminin. Ricky mengajaknya berdansa dan juga menyanyikan sebuah lagu. Suara Ricky begitu merdu. “Makasih selalu ada disaat-saat tersulit aku.”Gilang yang jarang muncul kehadiran berkerja part-time sebagai pelayan restoran membawakan menu steak daging kesukaan Divya.“Aku ada karena aku tulus mencintai kamu, tanpa embel-embel apa pun.” ujar Divya memeluk erat.Tapi di sebuah pohon beringin dekat kafe sesosok kuntilanak hadir. Tertawa, rambut panjang lebat, hitam. Bukan tersenyum pada kemesraan keduanya tapi berkata, “kamu akan diganggu oleh makhluk astral persiapkan diri, jika kamu harus melewati ini semua hi… hi… hi…” Mencium aroma tidak sedap para pegawai berniat mengantar makanan orderan berlari merasa merinding.Pulang dari sana ada perasaan gelisah melingkup di wajan Ricky. Badannya jadi aneh. Di kaca spion sosok berwajah pucat berseragam Sma lewat. Kenapa ia bisa melihatnya setelah mengantar Divya pulang? Berpikir positif.Semakin hari semua makhluk bisa Ricky temui. Pacarnya juga aneh pada perubahan sikap emosional member UN1Ty satu itu.“Kita break aja ya, aku mau fokus ujian sekolah.”“Apa karena aku gak romantis lagi?” “Bukan lebih tepatnya aku mau lulus demi mama.” “Oh, ya udah bye.” Divya menitikkan sebongkah cairan basah di pipi.Setiap kali belajar malam Ricky terganggu oleh suara panggilan meminta bantuan. Kadang terpaksa harus menolong. Galaxy School di kenal angker menyisahkan banyak penampakan entah mantan ibu kantin di tahun 90 mati. Berbagai kejadian janggal terus menghantui.Ricky bosan sekali menelepon Kakek. Ternyata benar jika dirinya sudah diwarisi ilmu turun temurun melihat hantu. Bahkan Ricky benci.“GUE HARUS LEPAS DARI INI SEMUA ARG!” Ricky membuang batu mengenai kepala seorang wanita bermuka gosong dan bola mata merah keluar. Belum lagi darah di sekujur baju. “Kamu gak akan bisa lepas, asal kamu putuskan pacarmu aku suka sama kamu.” Tidak Ricky cuma mencintai Divya hati sulit di bagi ke orang lain, apalagi hantu. Mendadak hantu tersebut lenyap dari pandangan.Sebulan kemudian kehidupan semakin tidak terkendali. Banyak hari dilalui penuh warna cerita indah. Namun sisi gelap terus menerus masuk ke hidupnya.Ricky bertemu orang bisa membantunya melepaskan semua ilmu tentang kebatinan. Demi cinta ia ingin hidup normal seperti yang lain tanpa merasa beban, diikuti, diburu, dimintai tolong. Kini Ricky lulus dan berkuliah di kampus Gunadarma.Selesai

Lake of Black Water
Horror
25 Nov 2025

Lake of Black Water

Pandanganku buram, tak sangup bernafas, tubuhku seolah melayang di luar angkasa, perlahan turun ke dasar. Di sana, kulihat seorang gadis yang mirip denganku, wajahnya pucat pasi sedang tersenyum sembari mencoba menggapaiku dengan tangan putihnya untuk menariku ke ke dasar.Seharusnya tak terjadi seperti ini, kenapa selalu ada halangan ketika ingin menepati janji kami untuk selalu bersama? saat dia berhasil menyentuhku seolah ada pewarna dengan kadar yang cukup banyak, merambat seperti akar menghitamkan air hingga semuanya gelap.Beberapa jam yang lalu…Aku terkadang gemetar ketika bersentuhan dengan air, apalagi saat melihat pantulan diriku dari air yang menggenang, bukan karena aku tak sanggup berenang, mungkin karena sesuatu dimasa lalu, kenangan yang samar seolah terhalang kabut tebal.Orangtua angkatku mengatakan aku hampir tenggelam di kolam saat masih kecil dulu, mereka jadi overprotective setiap aku ingin berenang. Entahlah, aku bahkan tidak bisa mengingat masa kecilku dulu, siapa aku sebenarnya dan bagaimana diriku dulu. Anehnya aku akan merasakan kecemasan berlebih ketika kata ‘tenggelam’ itu diucapkan.Sebenarnya apa hubunganku dengan air hitam? Ada seorang gadis selalu berniat mencelakaiku, ketika kulihat pantulan diriku di kolam, wajah bayanganku berubah pucat secara perlahan lalu sebuah tangan putih tiba-tiba muncul dari dalam kolam mearikku untuk menggelamkan diriku, aku bisa saja mati jika Kakakku tak sempat menyelematkanku.Bukan hanya itu saja, ketika aku mandi di bathtub airnya berubah hitam lalu tangan itu muncul lagi menarikku kembali ke dalam membawa diriku seolah berada di lautan luas, sebelum leherku dicengkram dan airnya menghitam semakin pekat. Setelah kejadian itu, aku biasanya akan terbangun dengan keadaan pucat seperti mayat.Seorang gadis dan semua ilusi itu terus menghantuiku sampai aku sendiri tak ingat kapan ini dimulai, sejak aku diadopsi bertahun-tahun yang lalu aku sudah mengalaminya.“Kak Ferry, sebenarnya apa yang pernah terjadi padaku sebelumnya?” tanyaku saat duduk di sampingnya ketika kami berada di halaman belakang rumah.“Andriana, kakak tidak tahu menahu selain kamu berasal dari panti,” jawabnya, masih sibuk dengan tanah yang dia gunakan untuk bercocok tanam.“Aku sungguh bersyukur memiliki keluarga ini, aku tak ingat apa-apa, maaf jika aku sering menyusahkan selama ini,” ujarku berjongkok di sampingnya, menatap kakakku yang masih tersenyum.“Ayolah, kamu sudah aku anggap sebagai adikku yang manis, kita pernah meraih berbagai prestasi bersama, ingat kita menang turmamen sebagai absolute duo? Kita ini saudara yang kompak, bukan?” ujarnya sembari melepas sarung tangan itu lalu menyentuh pucuk kepalaku.“Kenapa, keluarga ini memilihku?” ujarku menurunkan pandangan sampai keningku tiba-tiba disentil Kakak, “Aw! Sakit kakak!” ringisku sembari menggosok kening yang panas karena sentilannya.“Dulu saat kami memberikan bantuan ke panti aku lihat kamu begitu kesepian,” ujarnya menatapku yang masih manyun, “disaat yang lain sibuk bersalaman kamu malah diam termenung di bangku taman, kamu ingat aku menyapamu dan mengajakmu bermain catur, disaat itu aku selalu memperhatikanmu, cara bicaramu, gerak-gerikmu, seyummu, sikapmu sama seperti adik perempuanku yang meninggal dulu, satu lagi kamu itu imut,” lanjutnya lalu menekan hidungku seperti tombol.“Ma-makasih,” bisikku yang mencoba menyembunyikan wajahku yang memerah karenanya.Iya aku ingat dulu saat masih di panti, aku diusia 6 tahun selalu menyendiri, aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagi hidupku, masalah aku kehilangan apa? Kenapa hatiku begitu sedih ketika mencoba untuk mengingatnya? Bahkan aku akan merasa kecewa jika gagal mengingatnya.Saat pertama kali kakak datang menyapa saat itulah dia seolah mengembalikan ‘sesuatu’ yang telah hilang dalam hati ini, ketika kami bermain catur saat itu dia memang sedang memperhatikanku, tapi saat itu aku tak peduli denganya.Kakak senang sekali saat itu, saat aku mengalahkannya, dia langsung meminta ayah dan ibunya untuk mengadopsiku, sejak saat itu aku hidup sebagaimana anak mereka, rasa kehilanganku perlahan memudar dengan kehadiran kakak, namun entah kenapa masih ada sesuatu yang mengganjal di hati hingga saat ini diusiaku yang ke17 tahun.“Jangan sungkan, aku kakakmu sekarang, sebagai kakak laki-laki aku akan menjagamu, kami semua menyayangimu itu yang pasti,” dia kembali tesenyum padaku, aku memeluknya tersentuh oleh kebaikannya.Mereka memang orang baik, aku tak pernah sekalipun menceritakan apa yang terjadi padaku, dengan semua gangguan tak masuk akal ini, aku tidak mau membebani mereka dengan ini. Meski begitu aku tak tenang jika terus menerus seperti ini, aku harus mencari tau penyebab kenapa gadis di air hitam itu terus muncul.kuputuskan untuk mencari tau sendiri, menelusuri tempat dimana awal aku mengingat, untuk itu aku sengaja mengunjungi sebuah panti tempat tinggalku dulu. Aku bertemu dengan orang-orang di sana, sayangnya Ibu panti dan orang-orang di sana pelit infomasi, mereka menutup mulut dan berpura-pura tak tau tentang diriku di masa lalu.Tak mau menyerah, setelah bertanya kesana-kesimi akhirnya aku mendapat infomasi dari temanku dulu, dia pernah mendengar Ibu panti membicarakan alamat rumahku dulu, untungnya dia mengingatnya sehingga aku segera ke alamat yang dituju. Aku tiba di sebuah rumah yang nampak tak asing, tempat ini sudah diisi sebuah keluarga, meski mereka tak menerima tamu hari ini setidaknya aku diizinkan untuk melihat-lihat sekitar untuk sesaat.Kepalaku mendengung ketika berada di tempat tertentu, ketika berada di taman aku ingat ada seorang gadis yang menggengam erat tanganku, kami berlarian kesana-kemari tertawa menikmati hari yang indah bersama.Ketika di gudang kepalaku kembali berdengung, dulunya ini adalah kamar tempat kami mengikrarkan janji untuk selalu bersama.—“Aku sayang Kak Adriana, kita akan selalu bersama kan?” ujar adikku menatap polos sembari memeluk bonekanya.“Tentu saja, meski Ibu dan ayah akan berpisah tak akan ada yang dapat memisahkan kita,” ujarku sembari saling mengaitkan jari kelingking dengannya—Terakhir ketika aku mencapai bagasi kepalaku mendengun lebih sakit dari sebelumnya, terasa sakit sampai ke hati. Dalam pandanganku, sebuah mobil sedan yang bersih di sini berubah menjadi mobil hancur sehabis kecelakaan.Yah aku ingat semua, orangtuaku meninggal karena kecelakaan di dekat sebuah danau dan jasadnya tidak pernah ditemukan, aku menduga mereka kecelakaan karena bertengkar di dalam mobil. Dulu hubungan mereka memang tidak baik tapi aku dan adik perempuanku masih menyayangi mereka, tak jarang kami berusaha membuat mereka akur namun hasilnya percuma.Aku bergegas menuju tempat kejadian untuk mendapat kepingan ingatan yang terakhir, mencari kembali sesuatu yang hilang dan sempat kulupakan. Di sini kecelakaan terjadi, suasananya tak berubah, masih tertutup rapat oleh kesedinghan dari masa laluku yang kelam.Tak jauh dari sini setelah melewati hutan ada Danau hitam, hanya namanya saja yang hitam namun sebenarnya airnya jernih, hitam di sini berarti menyembunyikan, seperti artinya konon katanya banyak rahasia yang tersembunyi di danau ini.Salah satunya terdapat sebuah mitos, jika ada orang yang menghilang di sekitar danau dan hutan, maka danau itu akan menyembunyikan mereka, kita harus memohon di depan danau untuk dapat bertemu dengan orang yang kita sayang, ini tidak hanya berlaku untuk orang hilang tapi juga berlaku untuk orang yang telah meninggal.Sialnya karena kepolosan kami dulu, aku dan saudara kembarku percaya begitu saja, malapetaka pun muncul,—Hari itu langit jingga berawan, angin berembus cukup kencang saat kami menembus hutan demi mencapai Danau hitam.“Ayo adek, kita harus menemukan ayah dan ibu sebelum gelap!” ujarku menarik lengannya tergesa-gesa“Kakak yakin? Ke sini jalannya?” tanya adikku nampak terengah-engah.“Itu dia ayo!” tunjukku girang saat berhasil menemukannya, Danau Hitam.“Tunggu kakak!”Kami berlarian di atas jalan yang cukup licin dan terjal, aku yang tak memperhatikan langkah membuat kakiku sendiri menginjak batu dan terpeleset.“Kakak!”Saudaraku berhasil menggapai lenganku namun dia kehilangan kesemimbangannya malah ikut terbawa jatuh, aku tak ingat lagi selain saudaraku yang melindungiku hingga lukaku tak terlalu parah saat aku mulai tak sadarkan diri.—Air mataku jatuh ketika kulihat kini kembaranku sedang melayang di atas air lenganya mencoba menggapaiku seperti menagih janji kami untuk selalu bersama, dengan terisak aku memasuki danau mencoba menggapai lengan putih pucatnya.“Maafkan aku Indriana, maafkan kesalahan kakak!” tangisku, “dulu aku masih bodoh, polos dan egois, aku tidak tau sebenarnya apa yang aku lakukan dulu, aku menyesal membawamu ke sini, aku harap akulah yang mati saat itu,” lanjutku sembari terus melangkah menebas air untuk meraihnya.Sebelum aku dapat menyentuhnya diriku ditarik sesuatu ke dalam bagian danau yang dalam, dan di sinilah tempat di awal cerita, aku pasrah dengan keadaanku, demi menepati janji kami untuk selalu bersama, aku rela tetap di sini bersamanya.Aku memandang lekat dirinya, wajah pucat pasinya mirip seperti diriku, meski agar buram oleh air tapi aku masih mengenali kecantikannya saat saudaraku tersenyum, aku memeluknya di dalam air yang telah menghitam, menangis, melepas kerinduan dan penyesaalan karena kesalahanku dia meninggal, maafkan aku…“Dengarkan suara hatiku kakak, aku hanya rindu denganmu, jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku bahagia jika kakak baik-baik saja, jaga dirimu baik-baik, ini ucapan selamat tinggal dariku,” batinnya jelas terdengar olehku meski sedang berada di dalam air seperti telepati.Setelah mendengar itu darinya, kerah bajuku tiba-tiba ditarik seseorang membawaku ke darat dengan cepat, dia adalah kak Ferry yang ternyata mengikutiku sendari tadi.“Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu berniat mengakhiri hidupmu,” teriaknya, “i-itu kenapa ada padamu?” tanya kakaku agak gemetar.Dia terkejut saat aku masih memeluk saudara kembarku yang telah menjadi tulang belulang.“Aku mengingat semuanya kak, ini adalah adikku yang selama ini merindukanku, ingatanku memang hilang tapi perasaan kehilanganku tak pernah hilanh,” tangisku, lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.“Sudah ya masih ada kakak yang selalu di sisimu,” dia mendekapku, “kita akan menguburkannya dengan layak, nanti kamu bisa berjiarah untuk ketenangan adikmu,”Aku mengangguk di bahunya“Maaf saudaraku, aku tak bisa memenuhi janji kita untuk selalu bersama, setidaknya aku akan memakamkanmu dengan layak dan menghapus rahasiamu dari air hitam ini”Tamat

Tidak Tenang
Horror
25 Nov 2025

Tidak Tenang

Pukul 02.00 dini hari, tepatnya hari Selasa, suasana di kampung itu masih sangat gelap, dingin sekali, bahkan warga yang ada di luar rumah hanyalah tiga warga yang bertugas jaga pos kamling. Suasana di pos jaga itu tidak seperti biasanya, kalau biasanya pos jaga itu ramai, sekarang hanya ada tiga orang yang jaga.“Malam-malam gini enaknya nonton bola, betul gak,” kata Pakde salah satu warga kepada dua warga lain yang bertugas malam itu. Dua warga itu saling melihat dan Dika berkata, “Memangnya mau nonton bola apa, kan hari ini gak ada jadwal bola, tidur ajalah aku, Romli kamu malam ini keliling sendiri aja ya, aku ngantuk berat!” Romli pun segera mengangkat kaki dari pos jaga itu dan pergi sendiri untuk berkeliling malam terakhir sebelum subuh menyapa. “Siapa juga yang mau maling di sini, kalaupun ada yang mau maling disini pasti maling itu gila, soalnya kampung ini dekat dengan kantor polisi, hahaha,” Romli berbicara sendiri sambil berjalan menjauh dari pos.Sudah sepuluh menit berjalan Romli pun menjauh dari pos jaga dan berada di area kampung yang gelap karena lampu yang menerangi area itu sedang mati dan belum diganti. Romli pun menyalakan senter sambil berkata, “Capek juga jalan-jalan terus, duduk dulu ah disini, tapi tempat ini gelap banget, ahh sambil nyetel lagu dangdut aja biar suasananya gak terlalu serem.” Romli pun duduk di area yang gelap itu sambil menyenter area sekitar. Tiba-tiba saat Romli menyenter area sekitar ada suatu hal yang aneh dan Romli berkata dengan nada pelan sambil merinding, “Kenapa ada warga yang keluar rumah pagi-pagi gini, bukannya warga yang berjualan sayur ada di di kawasan yang masih jauh dari sini?” “Tunggu kok dia bisa melayang di atas tanah, itu bukan karpet kan, eh itu itu ahhhhhh,” Romli pun teriak dan lari meninggalkan area itu dan menuju rumahnya.Pagi tiba dan aktivitas di kampung sudah berjalan seperti pagi-pagi pada umumnya. Pagi ini dimulai dengan Pakde yang menuju ke rumah Romli lalu memanggil Romli dan berkat “Romli kamu sudah gila ya, bisa-bisanya kamu pulang saat keliling malam, di area rumahnya Pak Hardi ada warga yang pingsan tepat jam tiga pagi tadi dan baru ketolong jam lima pagi, kamu kan keliling malam di sekitar area sana kan!” Lalu Romli yang wajahnya masih ketakutan karena melihat sesuatu yang membuatnya kabur pun masih plongo melihat wajah Pakde.Lalu Romli berkata kepada Pakde, “Pakde saya kemarin sudah berjalan di area sana tapi saya memang kabur, soalnya saya melihat hantu Pakde.” Mengatakan itu kepada pakde dengan wajah takut, tapi Pakde terlihat sangat tidak peduli, tapi memang maklum karena Pakde jiwanya berani, bahkan setiap jaga malam Pakde selalu mendampingi karena sifatnya yang berani dan tidak mudah takut. Pakde lalu berkata kepada Romli, “Hantu-hantu harusnya jam segitu sudah dekat dengan subuh, mana ada hantu, udah sekarang kamu ganti baju mandi, lalu kita pergi ke rumah warga yang pingsan itu!”Setelah Romli mandi dan ganti baju, Ia dan Pakde segera menuju ke rumah warga yang pingsan dan warga itu masih syok. Warga itu bernama David, Pakde lalu melihat David sebentar dan bertanya, “David kamu sudah minum?” “Sudah Pakde,” Jawab David. Lalu Pakde melanjutkan lagi pertanyaannya, “Apa yang membuatmu keluar pagi-pagi dan pingsan?” Jawab David, “Kemarin malam saya bekerja shift malam dan harus lembur malam, saya selesai jam dua pagi dan baru pulang dari kantor jan setengah tiga pagi, pas saya sudah tiba didepan rumah Pak Hardi, saya lihat ada putih-putih terbang dan menabrak saya, saya melihat wajahnya Pakde, dan itu yang membuat saya pingsan!” Lalu tanya Pakde, “Bagaimana wajanya David?” Jawab David, “Wajahnya seram, ada luka di wajahnya, tapi saya tidak tau jelas apa luka itu.” Setelah mendengar jawaban dari David Pakde lalu menemui Pak Hardi dan menyuruh Romli untuk menemui warga yang pertama kali menemukan David pingsan.Pakde lalu bertemu Pak Hardi di teras rumah Pak Hardi lalu mengajukan pertanyaan kepada Pak Hardi, “Pak sebelumnya kan di rumah Bapak ada kamera CCTV yang mengarah ke jalan, coba mungkin dilihat Pak penyebabnya apa mengapa sampai David pingsan!” Lalu Pak Hardi menjawab, “Saya juga tadi awalnya mau melihat Pakde, tapi saat saya membuka rekamannya, kamera itu hanya merekam sampai jam tiga pagi kurang lima menit dimana saat itu David masih berjalan dan belum pingsan, tapi setelah itu kameranya mati sampai sekarang dan baru saja dibawa anak saya ke tempat service.” Setelah mengatakan itu Pak Hardi pamit ke Pakde untuk pergi ke kantor karena hari itu posisinya hari selasa yang masih menjadi hari produktif.Romli datang ke Pakde dan mengatakan bahwa, “Warga yang pertama kali menemukan bu Sri dan katanya Bu Sri juga melihat ada orang pakai baju putih tapi jalannya cepet banget Pakde, Bu Sri juga bilang pada saat lihat David pingsan di jalan wajah David itu lebam.” Setelah mendengar itu Pakde lalu pergi menuju ke rumah Pak RT dan menyuruh Romli untuk menyari informasi ke warga sekitar yang tadi shalat subuh dan warga yang keluar rumah sekitar jam setengah empat.Sesampainya di rumah Pak RT, Pakde pun berbincang-bincang singkat dengan Pak RT, “Pak, soal kejaidan David pingsan di jalan jam tiga pagi masih belum menemukan jalan terang, David bilang bahwa Ia ditabrak sosok bewarna putih, lalu Ibu yang melihat David pertama kali juga mengatakan hal serupa bahwa Ibu itu melihat sosok putih.” Lalu Pak RT menjawab, “Saya juga sudah bertanya kepada dua warga yang memasang kamera disekitar kawasan itu, kamera Pak Hardi mati saat terlihat David masih berjalan, sedangkan kamera yang satu ternyata pada saat kejadian juga mati, jadi tidak ada rekaman jelas soal kejadian ini.”Setelah Pak Rt dan Pakde mencoba mencari jalan keluar Romli datang dan berkata, “Pakde semua orang yang keluar disekitar jam setengah empat pagi hanya ada lima warga dan mereka semua melihat sosok bewarna putih berjalan cepat serta bau melati di sekitar area pemakaman.” Area pemakaman kampung memang dekat dengan gang kedua jalan masuk ke area kampung selain itu saat pukul sepuluh malam sampai pukul lima pagi memang jalan untuk mengkases kampung hanyalah gang dua. Setelah mendengar perkataan Romli Pak RT mengumpulkan semua petugas kemanan kampung dan orang muda kampung.Rapat dimulai sekitar jam dua siang dan pada saat rapat dimulai salah satu petugas kemanan kampung berkata, “Soal sosok putih sudah banyak warga melihatnya, bahkan dari kemarin awal bulan, semua warga yang keluar di jam setengah empat pagi selalu melihatnya.”Lalu dipertengahan rapat anak Pak Hardi datang dan berkata, “Pak RT rekaman semalam sudah pulih dan dapat dilihat tapi gambarnya agak buram di kisaran jam setengah tiga pagi sampai setengah empat pagi.” Lalu Pak RT melihat rekaman itu bersama Pakde, sosok yang menabrak David tidak terlihat jelas tapi sosok itu bewarna putih. Pakde lalu melihat Romli dan bertanya kepada Romli, “Apa saja yang kau lihat sesaat sebelum kau kabur karena takut Romli?” Lalu Romli menjawab, “Sosok putih, wajahnya ada luka Pakde.”Pakde lalu seperti ingat sesuatu dan berkata kepada semua petugas kemanan kampung, “Bukankah pernah ada laporan sebanyak sepuluh warga melihat sosok putih?” Petugas keamanan kampung saling melihat sambil mengingat-ingat, untungnya ada salah satu petugas keamanan yang membawa buku yang berisi laporan-laporan warga. “Betul Pakde ada setidaknya sepuluh laporan bulan kemarin dan hari ini terdapat sebanyak dua puluh kali laporan mengatakan bahwa melihat sosok itu disekitar jam setengah empat,” kata salah satu petugas keamanan kampungTiga puluh menit rapat belangsung ada empat warga datang ke rumah Pak RT dan berkata bahwa, “Pak RT petugas penjaga pemakaman kampung ternyata tidak sadarkan diri!” Semuanya kaget dan Pakde bertanya ke empat warga itu, “Sudah kalian bawa ke rumah sakit?” Empat warga itu terdiam sejenak dan menjawab, “Sudah Pakde tapi sepertinya Penjaga pemakaman itu sudah tidak sadarkan diri dari berjam-jam lalu, karena memang tadi pagi area pemakaman tidak ada yang membersihkan dan penjaga itu ditemukan di area belakang pemakaman dengan dahan pohon diatas badannya.”Semua orang yang mendengar itu terkejut lalu Pak RT memerintahkan penjaga kompleks kampung untuk tetap berada disini sedangkan lima pemuda kampung dan Pakde ikut Pak RT ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit Pak RT menemui keluarga dari penjaga pemakaman yang sudah ada di rumah sakit, pemuda kampung itu lalu disuruh Pak RT untuk membantu mengurus data-data yang diperlukan rumah sakit.“Bapak sudah sadar,” Tanya Pak RT kepada keluarga. Lalu anak dari penjaga pemakaman menjawab, “Belum sadar, tapi kata dokter kondisinya baik-baik saja, tapi ditemukan lebam di wajah.” Lalu Pakde berbicara kepada Pak RT, “Bu Sri yang menemukan David pertama kali juga bilang kepada Romli bahwa kepala David terdapat lebam.” Pak RT yang mendengar itu masih kebingungan dan tidak lama kemudian dokter memanggil keluarga dan mengatakan bahwa sudah sadar.Penjaga pemakaman yang masih belum kuat itu lalu mengumpulkan kekuatannya dan berkata, “Sosok putih itu sepertinya adalah sosok yang tidak tenang, tadi pagi itu saat sosok itu menabrak saya dan David, sosok itu ternyata menunjukan detik terakhirnya.”Untungnya penjaga pemakaman itu juga memiliki kemampuan khusus sehingga Ia sudah tau apa yang dilakukan sosok itu. Sosok itu memang masih belum bisa dimengerti oleh Pak RT dan Pakde. Penjaga pemakaman itu lalu berkata, “Tubuh dari sosok itu adalah korban tabrak lari yang disengaja dan sosok itu tidak dimakamkan dengan benar dan baik, sehingga sosok itu selalu mempraktekan bagaimana detik-detik terakhirnya setiap hari Selasa dimana itu juga hari sosok itu meninggal dan jam tiga sampai setengah empat adalah jam dimana sosok itu ditabrak, sosok itu ditabrak di sekitar lahan kosong yang dimana digunakan sebagai ladang pohon pisang.”Pulang dari Rumah sakit Pakde dan Pak RT pun mengintruksikan untuk mencari tubuh dari Sosok itu di sekiar lahan pohon pisang pada keesokan harinya. Keesokan harinya para Pemuda kampung dan petugas yang biasanya membantu penjaga pemakaman juga ikut membantu mencari. Kira-kira satu jam menggali ditemukan Tubuh dari sosok itu, polisi yang ada disekitar kampung itu datang dan mengambilnya lalu dilakukan otopsi, segera setelah itu Tubuh itu dimakamkan dengan baik dan penyelidikan dilakukan. Butuh waktu sekitar tiga bulan barulah polisi menemukan siapa pelaku dibalik semuanya ini, pelaku itu dihukum lima tahun penjara, dan sosok itu tidak pernah menggangu kampung itu lagi.

Menampilkan 24 dari 831 cerita Halaman 29 dari 35
Menampilkan 24 cerita