Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
831
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
167
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Rumah Hantu Darmo
Khusus membahas kisah misteri, warga Surabaya pasti sudah akrab dengan kisah horor Rumah Hantu Darmo. Kisah rumah hantu ini dikenal di kalangan Ghost Haunters, bahkan sampai dibuatkan film pada tahun 2014 berjudul “Malam Suro di Rumah Darmo.”Menurut info yang berhasil dihimpun, Rumah Hantu Darmo sudah tidak berpenghuni sejak tahun 1988. Rumah yang beralamat di Jalan Puncak Permai II Nomor 26, Kelurahan Tanjungsari, Sukomanunggal, Surabaya ini memiliki beragam versi cerita horor yang berkembang di masyarakat sekitar.Versi pertama, sebagian besar sumber mengatakan, rumah kosong ini menjadi angker akibat pesugihan yang dilakukan oleh keluarga pemilik rumah tersebut. Diceritakan, keluarga itu dulunya sangat kaya raya dan bergelimang harta. Keluarga ini sering memberi tumbal pesugihan berupa nyawa manusia.Lambat laun, keluarga tersebut berniat mengingkari perjanjian mereka dengan mengganti nyawa manusia dengan hewan. Sikap curang itulah yang menjadi awal malapetaka pemilik rumah.Mereka sempat mencoba pergi meninggalkan rumah naik kapal laut agar kutukannya terpatahkan, namun nahas mereka berakhir tenggelam dan tidak pernah ditemukan.Sedangkan versi kedua menceritakan bahwa pemilik Rumah Hantu Darmo disebut meninggal di Selat Bali ketika ingin berlibur. Kapal yang ditumpangi karam dan mereka sekeluarga mati tenggelam.Dalam suatu kesempatan, Andreas Sabar, selaku komandan Security kompleks perumahan Darmo memberikan keterangan terkait rumah tersebut.“Penghuninya itu meninggal di Selat Bali yaitu karam tenggelam dengan kapal-kapal pelayarnya ya dia punya dia punya kapal untuk layar bertamasya ke Bali. Itu di selat Bali sana dia tenggelam semuanya habis,” ujarnya.Ada juga kejanggalan pohon besar yang tidak bisa ditebang saat pembangunan rumah itu dulu hingga harus dibantu oleh seorang kiai.“Dulu itu ada pohon pada waktu pembangunan rumah sini, ada pohon yang enggak bisa di tebang lalu untuk bisa ditebang itu mendatangkan kyai dari Banyuwangi,” kata Andreas.Kabar sisa keluarga yang masih selamatDalam versi lain cerita, ada dua orang anggota keluarga tersebut yang tidak ikut pergi, yaitu bayi bungsu dan sang pembantu. Hanya saja, keberadaan mereka tidak ada yang mengetahui.Ada yang mengatakan mereka dibunuh dengan dan ada pula yang mengatakan bahwa bayi itu tetap tumbuh dewasa hingga kini.Kemudian, ada saksi yang mengatakan bahwa ada seorang perempuan muda yang menaburkan bunga di sana setiap Jumat Kliwon. Menurut masyarakat perempuan itu adalah sang bayi yang selamat itu. Perempuan itu hanya duduk di mobil dan supirnya atau pembantunya lah yang turun untuk menaburkan bunga ke rumah tersebut.Sejarahnya, rumah tersebut juga sempat disewakan kepada sebuah keluarga lain, tetapi kemudian keluarga tersebut juga tewas dengan tidak wajar.Dari cerita yang beredar inilah timbul persepsi bahwa siapa saja yang menempati rumah itu, maka akan mendapatkan kutukan yang sama. Bahkan pada tahun 1997, rumah sempat terjadi terbakar yang diketahui penyebabnya.Kisah misteri inilah yang mengilhami film berjudul “Malam Suro di Rumah Darmo”. Dipercaya bahwa setiap tragedi yang menimpa keluarga tersebut terjadi pada Malam Suro. Bagi kamu yang penasaran, cuplikan filmnya dapat ditemukan di YouTube.Itulah kisah misteri Rumah Hantu Darmo yang pastinya bikin bulu kuduk berdiri. Untuk kamu pecinta kisah misteri atau Ghost Haunters yang ingin mengunjungi rumah ini, pastikan untuk bersikap sopan dan menghargai masyarakat sekitar.
Past & Future
Aku terbangun dari mimpiku. Masih terdiam di tempat tidur sembari menatap langit-langit plafon. Aku mimpi apa yah? Itulah yang tersirat dalam pikiranku ketika bangun. Tak ingin berlama-lama, aku mulai bangun dan melakukan aktivitasku seperti biasa.“Ana, makan dulu baru berangkat,” sebuah suara menggagalkan niatku yang ingin berangkat sekolah. “hehe, males makan bunda,” balasku disertai senyuman. Bunda. Bunda adalah sosok yang paling kukagumi di dunia ini. Sosoknya yang terlihat kuat padahal rapuh, membuatku tidak bisa berhenti mengaguminya. “kalau gak makan nanti sakit perut loh, makan aja sedikit,”Aku melepas sepatuku lalu berjalan menuju meja makan. Kuliat masakan bunda yang tertata rapi di meja makan. Dengan cepat aku mulai mengambil nasi dan lauk lalu memakannya dengan terburu-buru. “uhuk… Uhuk!” “duh makannya pelan-pelan aja dong,” Ucap bunda sembari memberikanku segelas air.Lebih pelan dibandingkan sebelumnya, aku sarapan dengan cepat. Setelah selesai, aku buru-buru memakai sepatu dan mengambil tasku lalu berjalan keluar rumah. “Bunda aku berangkat dulu ya! Assalamualaikum,” “Waalaikumsalam, hati-hati ya!”Aku sudah merasakan keanehan semenjak masuk di kelas. Rasanya seperti deja vu. Entah mengapa, sekolah hari itu cepat sekali selesai. Karena bosan di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman lalu pulang ke rumah.Taman itu terlihat ramai dari biasanya. Banyak anak kecil yang sedang bermain disana. Tetapi setelah kulihat lagi, sepertinya kata bermain itu tidak terlihat cocok. Kata yang lebih cocok adalah… Beberapa anak sedang mengganggu seorang anak perempuan. Mereka mendorong anak itu, menarik rambutnya, bahkan tak sesekali mereka melemparkan benda yang mereka bawa pada anak perempuan itu.“hei! Kok kalian gituin teman kalian sih? Pergi sana, kakak laporin nih ke orangtua kalian, ” Mendengar ancamanku, beberapa anak itu lantas pergi meninggalkan si gadis kecil yang masih terduduk di tanah.“masih kecil udah ganggu orang, gimana kalau besar coba?” aku membantu gadis kecil itu lalu menepuk pakaiannya yang kotor terkena tanah. “kamu gak papa?” tanyaku pada gadis itu. Ia mengangguk lalu tersenyum.“Cecil,” Aku menatap gadis kecil itu dengan bingung. Melihat kebingunganku, ia tersenyum lalu menunjuk dirinya. “nama cecil,” ucapnya. “oh, nama kamu cecil?” Ia mengangguk membenarkan pertanyaanku. Aku tersenyum lalu merapikan rambutnya.“rumahnya dimana? Mau kakak antar?” Cecil menggelengkan kepalanya lalu memberikanku sebuah kotak tua. Aku memegang kotak itu lalu menatap Cecil. “ini buat kakak, makasih ya,” setelah mengatakan itu Cecil pergi meninggalkanku yang masih terdiam menatap kotak tua itu. Tanpa kusadari, hari mulai sore dan dengan membawa kotak tua itu aku berjalan pulang ke rumah. Tetapi tiba-tiba saja sebuah mobil menghampiriku dengan cepat tanpa sempat aku menghindar.BRUK Aku membuka mataku. Kurasakan benda empuk di bawahku. Kasur? Dengan tergesa-gesa aku bangkit dan berjalan menuju cermin. “loh? Kok aku baik-baik saja? Bukannya tadi aku ketabrak ya?” kutepuk pipiku berkali-kali. “sakit kok, ah berarti tadi aku sedang mimpi iya gitu!”Kubalikkan badanku dan terpaku melihat sebuah kotak di samping tempat tidurku. Aku meraih kotak itu dan membukanya. Terdapat beberapa jam pasir dengan waktu yang berbeda-beda. Tapi yang lebih anehnya kotak itu terbagi dua. Di bagian atas seluruh jam pasir berwarna merah. Sedangkan yang bawah jam pasirnya berwarna biru. Kuraih jam pasir berwarna biru. “ini berapa menit ya?” kubalikkan jam pasir itu dan…BRUK… “Aw…” aku mengelus kepalaku yang terbentur di meja. Aku mengernyitkan dahi bingung. Sekolah? Batinku.Terlihat seorang gadis dan beberapa anak lainnya mendekati gadis berambut kepang. “heh, katanya kamu cuman tinggal sama ibu kamu ya? Kasihan deh gak punya ayah!”Ah… Aku ingat, ini adalah saat aku diejek karena hanya tinggal bersama bunda. Aku menatap gadis berkepang dua yang sedang dikelilingi gadis lainnya. Ia menangis, gadis kepang dua itu menangis. Senyum getir terlukis di wajahku. Ah… Begitu rupanya aku di masa lalu. Padahal aku bisa melawan mereka, padahal aku bisa menyuruh mereka pergi… Kenapa aku hanya diam?Suara bunyi jam pasir mengalihkan pandanganku. Eh? Jam pasirnya hanya lima menit? Di depanku adalah aku lima tahun yang lalu. Apakah aku… Kembali ke lima tahun yang lalu?Belum sempat pertanyaanku terjawab aku sudah terduduk di atas kasur. Kulirik jam pasir yang kupegang. Kini warna pasir itu berubah menjadi abu-abu. Aku turun dari kasur dan berjalan menuju cermin.“apa aku… Benar-benar kembali ke masa lalu? Lalu setelah itu aku kembali lagi?” kucubit diriku berusaha memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi. “okay… Tenang, kita harus coba sekali lagi,” ku raih jam pasir berwarna biru dengan ukuran yang lebih kecil dari sebelumnya. “3… 2… 1…”“pemenangnya adalah Ariana Leteshia!!! ” Sorakan dan teriakan memenuhi ruangan tempatku berada. Semuanya bersorak untuk seseorang bernama Ariana Leteshia itu. Aku tersenyum melihat diriku berdiri di atas panggung di hadapan banyak orang. “padahal saat itu adalah hari yang paling sulit bagiku, tetapi setelah kulihat lagi… Ternyata… Rasanya bangga ya… ”Aku menengok kanan kiri mencari seseorang yang dulu sangat kunantikan datang. Badanku terpaku melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri menatap panggung. Setelah menatap panggung, laki-laki itu mengalihkan pandangannya dan tanpa sengaja kami bertatapan. “Ry…”BRUK… Aku kembali lagi di kamarku masih dengan posisi yang sama. Dengan cepat aku mengambil kotak yang berisi 1 jam pasir berwarna merah. Kubalikkan jam pasir itu.CRIIING… Suara bel membuatku memfokuskan pandanganku. Hm… Tempat yang bagus, batinku sembari berjalan menyelusuri tempat itu. Tatapanku tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di hadapan kanvas besar. Gadis itu melukis dengan sangat fokus. Tiba-tiba saja terdengar bunyi ledakan yang memekakkan telinga. Entah kenapa orang-orang yang tadi tidak terlihat, kini terlihat dan berlari melewati gadis yang sedang melukis itu.Gadis itu terjatuh dan terdorong oleh orang-orang. Gedung di tempat itu hancur, kebakaran terjadi di gedung lainnya. Semua orang menjadi panik. Sedangkan gadis pelukis itu pingsan di lantai. Aku berusaha membangunkan gadis itu tapi tak bisa.“Ariana!” terdengar teriakan laki-laki dari kejauhan. Aku segera berlari mencari sumber suara itu. Aku berdiri di hadapan laki-laki yang sedang meneriakkan nama ‘Ariana’ itu. Kupejamkan mataku.“kumohon… Tolong! Tolong aku Ryan!” teriakku. “Ariana?” Ryan menatapku. “kamu… Kenapa kamu jadi kayak dulu?” Aku terpaku. “tolong, disana ada aku. Tolong aku!”Ryan mengikuti instruksiku dan membawa gadis ah, tidak. Ryan mengikuti instruksiku dan membawa ‘aku’ di masa depan keluar dari sana.Mereka selamat. Ryan dan ‘aku’ berhasil keluar dari tempat itu dengan selamat. Aku tersenyum lega sebelum akhirnya aku kembali terduduk di kasur.Kini di tanganku bukanlah jam pasir melainkan sebuah kertas.Kamu mungkin tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kamu bisa mengubah masa depan. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan. Dibanding kamu hanya terlarut pada masa kelammu, mulailah untuk membuat masa bahagiamu di masa depan…
Hadiah Penolong
Suatu hari yang cerah setelah pulang dari sekolah nampak dari kejauhan anak laki anak lagi bersekolah SMP tengah lari karena ingin cepat pulang ke rumahnya. Sampai rumah ia langsung berganti baju pergi ke sungai, dengan membawa pancingan.Sesampainya ia memancing tetapi, sudah berjam jam tak ada ikan yang ia dapatkan. Ia lalu hendak pulang, tetapi ia mencoba sekali lagi jika tidak berhasil ia akan pulang. Tak disangka sangka, ia mendapatkan ikan, bersyukurlah sang anak itu. Akhirnya dibawalah ikan tersebut ke rumahnya.“Bu.. Ibu… Toto bawa ikan bu yuhuuuu.” Ucapnya sangat girang. “Ikan? Oalah.. Habis mancing rupanya yooo.” Ucap ibunya. “Iya bu heheh nih dapet ikan nanti aku goreng atau ibu mau yang mau goreng pasti lezaat yummy..” “halaahh sana mandi nanti kamu aja yang goreng nanti ibu tak ajarin. Nak, ibu mau pesen jangan sering sering ke sungai.. bahaya nanti kalo kamu tenggelam gimana” “Iya bu, Toto janji akan berhati hati okeh.” Ucap Toto sambil memperlihatkan jempolnya dan tersenyum. “Yawess sana mandi..” ucap ibunya.Setelah mandi Toto kembali melihat kearah ember yang yang diisi air dan ikan tersebut. “Gak sabar untuk aku goreng hehehe. Emmm aku ambil pisau dulu laah.” Ucapnya lalu bergegas mengambil pisau. “Jangan… jangan.. bunuh aku..” “loh loh siapa yang ngomong ya? Ah jangan jangan sinetron kesukaan ibu itu.. biasaa. pisaunya dimana ya?”. “Jangan.. jangan bunuh aku Toto ini aku disini.. aku ikan yang kamu pancing tadi Toto.. tolong jangan bunuh dan goreng aku…” “Hah? Kamu kamu.. kamu ikan yang ngomong? Hah masa sih ini yang ngomong siapa?” “ini aku ikan yang kamu pancing.. jangan bunuh aku.. tolong…” “Beneran kamu bisa bicara?” Ucap Toto tidak menyangka. “Iyaa saya sebenarnya manusia tapi saya dikutuk menjadi ikan.. Tolong saya..” “baik-baik saya gak akan goreng kamu tenang yah.” Ucap Toto. “Syukurlah.. saya bisa menjadi manusia kembali jika ada orang yang menaruh saya dan menaburinya dengan pasir. Apakah kamu bisa?” “Ooh begitu, saya bisa kok ayo saya bawa kamu sekarang juga ya.” Ucapnya langsung membawa ember itu ke lahan yang ada di belakang rumah. Disitu juga sepi, dan Toto meletakkan ikan tersebut ke tanah ia lalu menaburinya dengan pasir.Akhirnya tak disangka ikan itu berubah menjadi manusia ia berwajah tampan. “Waahh ini bukan mimpi kan?” Ucapnya sambil mencubit pipinya tak disangkan ikan yang dia pancing menjadi manusia yang tampan. “Kakak ini sebenarnya manusia yah? Lalu kenapa kakak jadi ikan dikutuk karena apa kak?” Tanya Toto. “Sekarang kita duduk dulu disitu kakak akan bercerita kepadamu Toto” akhirnya mereka duduk.“Sebelumnya kakak mau memperkenalkan nama kakak adalah Saputra biasa dipanggil putra.” Ucapannya lalu bersalaman dengan Toto.” “Ohh begitu saya Toto, tapi kakak sudah kenal hehe”. “Iya, terimakasih banyak kamu sudah menolong kakak Toto.” “Iya kak sama sama.” “Dulu kakak pernah hampir tenggelam di laut, mungkin kakak pas itu sudah gak bisa bertahan karena kakak sudah sangat dalam masuk ke air laut itu, gak juga sadar bagaimana keadaan maksa saat itu tapi setelah sadar kakak sudah ada di sebuah istana, istana itu adalah milik kerajaan di bawah laut raja dan ratunya sangat baik, mereka menyembuhkan kakak, tapi dalam proses pengobatan kakak berjalan jalan mengelilingi istana itu, karena kakak bosan berbaring atau duduk di tempat Kakak itu. Saat kakak jalan jalan kakak penasaran dengan sebuah tempat dimana disitu ada pedang lalu kakak ambil pedang itu entah kenapa sangat berat sekali kakak mengambilnya. Karena kakak sangking penasarannya dengan pedang itu. Entah kenapa semua bergoyang kakak merasa gelisah dengan perbuatan kakak akhirnya langsung kakak kembalikan pedang tersebut. Dan tiba tiba istana itu berhenti bergoyang. Raja dan ratu serta seluruh penghuni istana itu menghampiri kakak dan marah kepada kakak. Kakak sudah menjelaskannya dan mereka percaya tapi hukuman tetap hukuman kakak dikutuk menjadi seorang ikan selama 5 tahun. Dan sudah berbulan-bulan kakak menanti ada orang yang bisa membantu kakak dan akhirnya kakak bertemu kamu.” “Ooh begitu yah, tapi keluarga kakak gimana?” “Mereka mungkin mengira saya sudah tiada. Karena sudah 5 tahun tak pulang ke rumah dan keadaannya saya tenggelam dan tak bisa pulang saya juga berharap bisa pulang ke rumah.” “Yasudah kakak menginap dulu di rumah saya nanti masalah kakak bisa dibicarakan ke orangtua saya kak, ayo” ucap Toto.Sampai di rumah mereka menceritakan kepada ibunya Toto. Ibu Toto awalnya tak percaya, tapi akhirnya ia percaya. Tak lama kemudian ayah Toto yang baru saja pulang dari sawah melihat kak putra habis ada di dapur. “Oalah siapa ini?” Ucap ayah toto. “Ya udah sekarang bapak duduk dulu di meja makan, nanti ibu dan ceritakan”. Akhirnya mereka menceritakanya kepada bapak. Mereka juga akan membantu kak putra pulang.Beberapa hari kemudian sampailah di rumah kak putra. “Terimakasih banyak Toto, bapak dan ibu yang sudah menolong saya.” “Iyaa sudah seharusnya sebagai seorang manusia saling tolong menolong.” Ucap bapak. Tak lama kemudian mereka pun menghampiri rumah tersebut. Diketuknya pintu tersebut, dan seorang membukanya. “Ayah..” ucap kak putra. “Pu put putraaa ini putra anak ayah?” Tak menyangka anaknya kini datang ke hadapannya. “Mah… mah… Ada putraaa” ibunya pun datang dan langsung memeluk putra. “Tapi ini benar putra kan? Atau jangan kamu hanya mirip dengan anakku. Jangan pernah berani menipu kami kamu!” “Ayah.. mamah.. saya putra. Anak kalian saya Saputra. Mah.. yah.. saya belum meninggal saya akan menjelaskannya pada kalian.” Ucapnya lalu kak putra menjelaskannya kepada mereka, dan akhirnya mereka percaya. Dan bahagialah keluarga tersebut. Bukan hanya keluarga kak putra tetapi keluarga Toto juga ikut merasakan kebahagiaannya setelah 5 tahun terpisah dari anaknya, anak satu satunya.Beberapa hari kemudian. Kak putra datang, Toto dan kedua orangtuanya senang ia datang apalagi bersama kedua orangtuanya. Tiba tiba datang mobil membawa motor dan juga sepeda yang sangat bagus, ternyata kak putra dan keluarganya memberikan hadiah itu kepada Toto dan keluarganya. Ia juga akan menyekolahkan Toto sampai lulus SMA.
Dunia dengan Takdir Terikat
Perkenalkan, namaku Keep dan aku adalah salah satu anak yang tinggal di atas tanah penuh abu yang kelabu di mana segala sesuatu telah ditentukan untuk setiap orang. Ada ‘Hukum’ yang mengatur setiap orang untuk tidak menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan untuk dirinya sendiri, kami menyebut itu ‘takdir’ dan hukum itu sangat terasa dalam kehidupan kami.Kemarin tetanggaku berhenti bekerja menjadi penjahit yang ditentukan ‘takdir’-nya. Dia sudah tua, sih.. Tapi seketika itu juga ia kehilangan nyawanya. Mengejutkan memang, tapi tidak bisa ditolak.Akan kuceritakan mengenai hidup disini. Saat kau lahir, hidupmu sudah mulai ditentukan, siapa yang akan menjadi ayah dan ibumu, di mana kau akan dilahirkan, siapa yang akan merawatmu, dengan siapa kau akan berteman, bagaimana kau harus bersikap, dimana kau akan bekerja dan bagaimana pencapaianmu, apa pekerjaanmu dan bagaimana kau akan mati. Semua ini terjadi karena takdir yang mengikat. Semuanya sudah ada dalam pikiranmu. Banyak orang yang mengikutinya dengan santai dan tenang, namun ada juga yang menentangnya dan kalah menggenaskan, belum pernah terdengar berita mengenai orang yang dapat melawan takdir tersebut dan terbebas darinya.Kesanku pribadi adalah mengenai perasaanku sendiri, bukan berarti aku mau menolak semuanya, sih.. Tapi ada beberapa hal yang membuat perasaanku gelisah dan tidak enak. Ketika kau bertemu dengan orang yang membutuhkan pertolongan namun dia tidak ditakdirkan untuk ditolong atau aku tidak ditakdirkan untuk menolongnya, ketika aku melihat orang yang menyenangkan dan aku tidak ditakdirkan untuk berteman dengannya tapi berteman dengan para penindas yang membullyku setiap hari, aku ingin memberontak, tapi aku tidak punya keberanian untuk itu.Aku menemukan sebuah buku tua terlarang di ruang bawah tanah kakekku mengenai dunia dimana orang-orang dapat menggapai apa yang mereka impikan, berteman dengan siapapun yang mereka senangi dan pergi ke tempat-tempat menakjubkan yang belum pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri, rasanya sangat menyenangkan. Sejak saat itu aku mulai mempunyai apa yang disebut dalam buku tersebut, sebuah ‘mimpi’.Aku gelisah setiap kali aku mengingat cerita dari buku itu, aku ingin bebas, lepas dari takdir yang mengikat ini. Aku ingin punya takdir yang tidak mengikat, tidak membatasiku. Namun disinilah aku sekarang, di dunia ini. Bagaimana dengan duniamu sobat? Adakah yang berbeda?
Ailana
Lana sedang berada di dasar lautan. Perlahan menatap pemandangan sekililing. Ingin rasanya beranjak menjadi manusia. Menikmati makan ice-cream bertemu cogan yang sering ia lihat di ponsel. Seandainya kejadian itu nyata maka Lana akan bahagia seketika.Sampai sebuah badai besar menghantam kerajaan Sea Word. Dan kemudian Lana harus pergi meninggalkan laut. Badannya lusuh berantakan, kotor akibat tidak mengenakan pakaian. “Cuy kita bakalan ambil foto di mana makalah kita harus bagus.” “Iya bego otak lo ditaruh di mana gue juga lagi nyari?” Suara berisik dari sana membuat Lana panik. Tidak ada yang dapat memberikan rasa terkejut selain suara di bumi. Mendengar itu Lana buru-buru bersembunyi di balik pohon. “Panas cuy gue mau nyari es kelapa muda dulu?” Akhirnya setelah kepergian Megan Rey segera duduk menikmati keindahan sunset.Tugas bahasa Indonesia mengenai liburan belum juga usai. Sementara cowok itu mendengar suara aneh di balik pohon lekas mendekat. Astagafirullah ada manusia tanpa busana. Dia tutup mata lalu melepas jaket memberikan kepada gadis itu.Senyuman terbit di wajah Lana. Lana kemudian berbicara. “Makasih.” Belajar sedikit bahasa manusia walaupun tidak banyak namun Lana mengucapkan sangat tulus. “Lo… lo… siapa?” Bergetar mengucapakan. “Ailana.” Cuma itu keluar dari bibir mungilnya. “Ailana, bagus juga nama lo tinggal di daerah sini ya?” tanya cowok itu berjongkok.” “Eh???” Bingung menjawab apa hanya kalimat eh. Tampan sekali wajahnya putih. Matanya bagus indah Lana menyentuh pipi dari cowok itu. Dibalas ketus. “Udah gila ya sih Megan mana lagi? Panas nih.”“Rumah lo di mana?” tanya Rey mulai bosan pada sikap gadis yang tidak jelas asal-usulnya. “Rumah apa itu?” Teringat sesuatu Lana pun paham.” “Tidak punya, aku sendiri.” Jawab Lana singkat memahami sedikit bahasa manusia. “Oke, gue ajak lo apartemen gue bentar lagi kita pulang.” Berbaik hati. Sementara Megan terkejut menemukan sahabatnya berbicara pada orang asing. Sama-sama terpelongo melihat gadis cantik. “Gue mau ajak ke apartemen gue.” “Dih, lo mau gitu-gituan sama nih cewek kagak gue nggak setuju.” “Bukan cuma sementara dia gak punya rumah keknya dia amesia atau apa? Gue kasian sama dia.” Papar Rey merasa iba. Mengajak ke mobil meminjamkan baju Megan ditaruh di jok mobil. Menyuruh mengganti.Penampilan gadis itu berubah jadi rapi. Sebelum pulang ke hotel. Mereka singgah makan di salah satu restoran di Bali. Sepanjang makan gadis itu terlihat lahap makan Ayam tapi tidak sama ikan. Mereka sudah tiba di hotel bersih tertata.Keesokan paginya… Terkejut Rey menemukan gadis itu tanpa busana di kasur. Segera mengambil selimut. “Dingin.” Bisiknya. AC di ruangan di matikan. Setelah itu keluar menemui Megan.“Gimana semalam asyik gak?” “Asyik apanya cih biasa aja tuh alay lo.” Ledek Rey tidak mau berbasa-basi. Mencari makanan dan kembali ke kamar hotel. Gadis itu terbangun namun masuk ke dalam kamar mandi jadi banjir. Menyuruh berpakaian menyerahkan dengan tangan tanpa melihat ke dalam. “Pakai ya cepat makan, kita mau balik ke Jakarta.” Suara dari gadis itu riang. Tidak sabar bertemu Arya Saloka idolanya. Kata para dayang Jakarta surga para artis tinggal di sana termaksud pemain yang naik daun itu.Selesai berpakaian Lana lekas makan. Lahap sekali sampai habis. “Jakarta Arya Saloka!” “Lo fangirl pemain ikatan cinta gue sih ogah, emak gue suka banget tuh.” ucap Rey teringat akan Dinda sang Mama di rumah. Pasti cocok kalau ketemu Lana. Telinga gadis itu berdegung hebat seperti ada yang memanggilnya. Namun tetap ia hiraukan sampai suara itu memaksanya keluar. Berjalan keluar ternyata ada seorang memegang tombak. “Takut.” ujar Lana ingin kabur. Memilih bersembunyi. Menutup mulut Rey tanpa suara.Orang tersebut sudah menghilang mereka menuju bandara Ngurah Rai. Tampak sekali jika Lana belum pernah menaiki pesawat. Tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan cukup lama. Ia terus bersorak gembira menatap ibu kota. Namun ketika poster Arya Salok dan Amanda Manopo muncul gadis itu berteriak histeris.“Eh… Arya Saloka.” Cuma itu keluar dari bibirnya. “Dia fans berat Megan, udah kek emak gue?” “Micin dong hahaha…” Mereka tertawa di dalam taksi.Tiba di apartemen Rey turun membawa koper. Perasaan berbeda hadir. Tidak terasa sudah satu Minggu gadis itu tinggal di apartemen miliknya. Belum mengetahui asal-usul. Perlahan saat menonton tv berita bencana alam terjadi di Dewata Bali, tempat di mana gadis itu ditemukan. Mata Lana basah melihat lautnya hancur.“Aku mau pulang.” ujar Lana tercetus begitu saja. Netra Lana semakin basah dan mengeluarkan banyak mutiara.Segera menyembunyikan di nakas laci sebelum ketahuan oleh Rey. Ia tidak ingin Rey curiga padanya lalu mengusir ketika tahu bahwa ia duyung. “Lo tinggal di mana? Apa lo ingat saudara ada di mana?” Bersemangat berharap menemukan jawaban Rey terus menunggu. “Tidak, tapi Dewata rumahku.” “Jadi yang lo ingat lo ada di rumah di Dewata nanti gue cari tahu sabar ya, lo pasti pulang.” Rey mengusap rambut panjang gadis itu. Memberikan senyum manis.Belum ada tanda orang mencari seorang gadis. Sudah lebih tiga Minggu. Rey sedang hangout di restoran fast-food. “Kemarin cewek gue berburu Bts Meal di sini, heboh banget cakepan juga gue daripada Bts.” Luki terus bertingkah percaya diri. Sementara Rey masih terus melamun.Nasib Lana begitu berharga? Bagaimana jika keluarganya mencari? Semua perasaan ditumpahkan lewat lamunan. Di dalam apartemen bosan mengacak-acak kulkas mencari makanan bisa dimakan. Semua buah dilahap habis. Hingga suara bel datang Rey membawa ayam kesukaan Lana.Berantakan. Menatap ke arah kulkas dan benar saja Lana melakukan lagi. Segera membereskan lalu mengajak gadis itu makan. “Nih makan, habisin lain kali jangan buka kulkas bikin repot aja lo.” Ketus Rey pada Lana cuma nyengir kuda, menyantap ayam fried chicken kesukaan.Mutiara disimpan Lana belum juga dipakai. Diam-diam setalah Rey berangkat sekolah ia pergi ke sebuah butik belanja baju. Walaupun berasal dari laut tapi Lana punya ponsel memudahkan mencari tahu tentang bumi.Lagu aku merindu terputar Lana bernyanyi cuma satu lagu saja Lana hafal saking sukanya pada Arya Saloka. Membuat keriuhan pengunjung butik saat Lana berjoget. Sudah sejam me-time shopping berhenti makan di tempat Rey membelikan ayam.Penampilan sudah rapi Lana ke salon. Ia tidak tampak lagi seperti orang utan. Sebuah tangan menariknya. Memaksa pulang ke laut gadis itu menolak. Ia sudah nyaman di bumi.“Pulang atau Ayah kamu bisa murka!” “Tidak, aku mau di bumi.” “Di bumi bukan tempat kamu,” Berteriak kencang semua warga datang. Dan Lana berhasil kabur mengatakan jika ada orang jahat tadi di sini. Semua melirik ke sana kemari kosong.Lelaki tadi bersembunyi di balik pohon. Segera warga mengejar. Ia tersesat lupa pulang. Berdiri di jalan raya. Sebuah motor sport berwarna merah muncul jaket hoodie tampan mendongak ke arah Lana. “Gue Luki, lo siapa?” “Ailana, Lana.” “Mau ke mana?” “Mau ke apartemen Rey, aku tidak tahu di mana apartenen Rey?” “Sini biar gue antar, Rey Kelana Subakti kan gue kenal dia sohib gue.” Luki memasangkan helm.Tiba di apartemen mobil terparkir. Lekas masuk ke dalam lift di lantai tiga. Luki terkejut kenapa selama ini Rey tidak pernah cerita jika sudah punya kekasih kalau tahu begitu harusnya jujur jangan ada ditutupi. Membuka bel Rey kaget mendapati Luki bersama Lana. “Dari mana aja lo? Nyusahin?” “Gue nemuin dia di jalan mau ketemu lo mungkin dia pacar lo, kok gak cerita punya pacar secantik ini?” ucap Luki penasaran. “Dia bukan pacar gue, gue cuma nemu di Dewata dalam keadaan dia amesia, udah itu doang.” Memperhatikan penampilan dari gadis tersebut ada yang berubah, rambut terurai rapi. Baju juga bagus dari mana mendapatkan uang merombak penampilan, pasti harganya mahal pikir Rey bertanya dalam-hati.“Rey, lapar!” “Ambil sana di dapur gue gak bisa ambillin gue capek habis kerjain pr!” Luki pergi ke dapur mengambil ayam goreng dan nasi kemudian memberikan kepada Lana. Senyumannya sangat manis. Membuat hati terasa bergetar hebat.Saat malam tiba gadis itu bermimpi jika Ayah sedang sekarat. Dan seseorang memintanya pulang. Terbangun dari mimpi Lana lekas beranjak keluar. Mencari dasar danau. Di sini sama sekali tidak ada. Sampai di tengah perjalanan naik taksi menyuruh mencari laut terdekat. Tiba di salah satu pantai segera gadis itu berenang. Kerinduan pada Ayah sudah semakin tinggi.Terbangun dari tidur di pagi hari kosong Lana tidak ada di sudut manapun. Mengucek kedua mata lelah Rey memilih minum air-mineral. Kehilangan sosok di cari kemudian di hari Minggu mobil melaju mencari ke sudut jalanan. Belum menemukan jawaban. “Di mana sih lo bikin repot aja?”Di dalam kerajaan muka Lana begitu lesu. Merindukan sosok Rey disisinya. Semenjak kembali ke istana bawah laut kerinduan memupuk di hati Lana. Satu-satunya cara mengirim pesan tapi nomor saja tidak punya. Berjalan dari dasar danau, lelaki yang biasa mengejarnya ikut memburu.“Mau ke mana? Kau tidak lihat ayahmu sedang sakit.” “Aku… aku… cuma sebentar saja lebih baik kau pergi Jeno.” “Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian.” Jeno memang penguntit sejati menyebalkan. “Kenapa tuhan menciptakan sosok duyung posesif bukan pacar tapi nempelnya minta ampun pengen ditabok pakai sesuatu biar kapok”.Tidak terasa sudah sebulan lebih di dasar laut tanpa ke mana-mana. Sang ibu menghampiri putrinya yang menekuk diri. “Kamu mencintainya pergilah jadi manusia biasa ini kalung, supaya kamu dapat bertahan.” Meninggalkan laut Ibu pengertian sekali soal cinta.Ternyata Rey bersama gadis lain tertawa di sebuah gerai pizza. Airmata jatuh penantian terasa sia-sia. Sebaiknya kembali ke laut. Tapi tangannya disentuh oleh Luki. “Kamu ke mana aja?” Luki sudah rapi setelan kaus di tambah cardigan biru. Bicara juga lebih formal dari biasanya. “Luki?” “Kamu cemburu ya liat Rey sama cewek lain itu sahabat kecilnya Rey namanya Nadhira dia udah punya pacar kali gue orangnya.” Menatap wajah Luki penuh binar bahagia. Mereka masuk ke dalam Rey memeluknya erat tanpa ada pergerakan untuk melepas.Berjalan di dermaga dekat danau obrolan keluar cerita tentang rasa rindu Rey pada Lana. Airmata jatuh tak tertahan lagi. Menceritakan indetitas bahwa ia duyung, awalnya cowok itu syok setengah mati namun dia percaya kekuatan cinta bisa mengubah Lana menjadi manusia seutuhnya.“I love you…” “I love you too…” Berpelukan lagi. Sunset di pantai muncul memberikan warna cerah bagi seorang Rey. Cinta sangat membahagiakan dan berdoa bisa menikmati seterusnya dan hari esok.Selesai
Mencoba Mentradisikan Tradisi Lama
Awan putih dan hitam masih terus bergantian mencampakkan. Langit yang biru kadang pula berubah menjadi langit yang hitam pekat. Matahari yang terang benderang menyinari bumi, kadang juga pula berubah tidak tampak, disebabkan ditutupi berbagai varian awan hitam. Begitupun dengan dunia masih terus berputar menyusuri arus alurnya semesta alam. Mungkin alam sekarang sudah tak lagi sama dengan alam terdahulu, ditambah dengan semakin canggihnya teknologi yang semakin hari bertambah dan terus dikelabuhi para penikmatnya.Sama seperti yang dilakukan anak kecil di dalam sebuah kamar berukuran 4 kali 6 meter. Dengan berbagai varian yang ditampilkan kamar anak kecil tersebut, mulai tempat kasur tercanggih, predator thronosa atau kita bisa menyebutnya kursi gaming termahal.. Pintu dua dimensi dan berbagai alat canggih lainnya terdapat dalam kamar anak kecil tersebut. Zaman sekarang sudah tak main lagi dengan namanya rasa letih, segala aktivitas bisa dengan efesien dikerjakan. Intinya dengan ucapan semua bisa dilakukan.“Ah boring.. di rumah terus.” Anak kecil tadi mendesah beranjak pindah dari kursi gamingnya. Sebut saja namanya Gatan Ganesa. Gatan pindah dari tempat semulanya itu, tidak dengan berjalan. Dia menggunakkan sandal terbangnya. Dan langsung terbaring tempat di kasurnya.Sejenak mata Gatan meenerawang keatas seolah dia menemukan ide. “Aha.. gue ngajak temen ngumpul ah.” Begitulah ide yang Gatan temukan. Kemudian tangan kanan Gatan ditaruh ke arah depan dua matanya, dan mengusap-ngusap. Muncullah sebuah layar tembus pandang dihadapannya, dan menggulirkan jari jemarinya mencari sosok kontak bernama farel. Layar yang semula menancapkan beberapa aplikasi, kini muncul sosok anak sebaya dengan Gatan, bernama Farel tersebut.“Woi gabut cuy… ngumpul ke kafe yok?” Ajak gatan dibalik layarnya. Sosok farel lengkap dengan poster tubuh yang sangat jelas dihadapan layarnya itu tersenyum. “Gas kuen Tan.” Balas farel yang lagi asyik duduk di sofa emmpuk rumahnya. Sama dengan yang keadaan farel, terlihat sosok Gatan jelas dibalik layar miliknya. “Woke, jangan lupa, yang lain ajak yo.” tambahnya Gatan. Farel pun membalas dengan acungan jempol tangan kanan serta disusul dengan lambaian tangannya. Dan kemudian Gatan pun memencet tombol merah, menandakan berakhirnya obrolan mereka berdua. Masing-masing dari mereka pun, bersiap-siap untuk pergi ngumpul ke kafe.Lalu lalang penghuni bumi terus berputar, dengan berbagai alat kecanggihan yang sudah terobsesi oleh mereka semua. Tak milih anak kecil, anak dewasa, orang tua semua sudah terhipnotis dan bisa mengaplikasikannya. Jika zaman Dulu para penghuni bumi ingin mengambil foto dengan kamera flim, atau kamera digital ataupun smartphone, sekarang tidak lagi. Jika dulu mereka ingin melangkahkan kakinya atau sekedar beranjak dengan perantara kaki atau kendaraan, sekarang tidak lagi. Jika anak sekolah dulu belajar menyimak penjelas guru kemudian menulis di atas kertas, sekarang tidak lagi. Dan intinya semua tidak lagi sama seperti zaman dulu, cukup dengan sebuah ucapan dan sebuah alat bantu canggih (mesin) semua bisa dilakukan. Entah saking canggihnya dan cepatnya perbuhan alat di dunia ini, membuat segala aktivitas tampak lebih senang dan gampang dikerjakan.Sudah tibalah zaman sekarang dengan sebutan zaman fase keempat atau bisa menyebutnya dengan revolusi industri 4.0. Dimana sudah tergambar oleh kehidupan anak bernama Gatan dan teman-temannya saat ini. Mereka semua berkumpul di sebuah kafe. Tampak robot-robot berseragam sama sedang melakukan aktivitasnya. Ya mereka adalah pekerja kafe, tidak lagi dengan namanya pekerja seorang manusia, semua telah tergantikan oleh robot.Gatan, Farel dan tiga temanya saat ini, sedang duduk santai melingkar disalah satu tempat yang disajikan oleh kafe. Sistem pemesanan tidak lagi dengan menghampiri pelanggan. Dengan layar virtualy di meja makan, Gatan dan temannya memasan makanan dan minuman yang mereka sukai. Kemudian masing-masing dari mereka saling becanda ria, mengobrol sesukanya.Lantas Gatan dan temannya itu tidak sekolah kah? Sekolah, ya mereka sekolah tapi tidak dengan tatap muka dengan seorang guru, mereka sekolah masih tetap dengan layar virtualy.Empat menit berlalu datanglah tiga robot mebawa makanan serta minumana yang dipesan oleh Gatan dan yang lain. Sebuah mangkok dan gelas terisi dan kehormatan diberikan kepadanya. Kemudian mereka berlima langsung menerimanya, dan menyantapnya.Sempat terlintas dalam pikiran anak kecil beranama Gatan itu tentang anak-anak seusianya zaman dulu. Apakah sama dengan yang telah dunia alami saat ini atau tidak? Dan mengira-ngira permainan apa yang dimainkan.“Oh iya kawan, mungkin kalian tahu permainan anak-anak dulu seperti apa?” Gatan mencoba bertanya tentang pikiran yang sempat terlintas tadi. Farel dan tiga temannya saling bertatap muka dan menggelengkan kepala. “Kenapa gak tanyakan ke mbah gogle aja Tan.” Saran satu teman Gatan anak bernama Yogi. “Iya tuh.” Tambahnya Reza dan Kamil bersamaan.Tanpa pikir panjang Gatanpun langsung memencet layar virtualy miliknya dan mencarinya di aplikasi gogle. Perlahan Gatan mengetik dengan bacaan permainan anak zaman dulu. Pertama mucul sebuah deskripsi plus dengan gambar permainan anak zaman dulu. Empat teman lainnya yang awalnya fokus sama makannan dan minuman, kini mereka juga terbelalak melihat dan membaca deskrisinya.Diantaranya deskripsi dan gambar yang disajikan dari layar virtualy gatan; Petak umpet: satu anak menjadi penjaga dengan menutup mata sesuai waktu ditentukan. Dan yang lain mencari tempat bersembunyi … Gundu atau kelereng: bentuk bola kecil, warna kaca bening. Caranya dengan menyentil gundu dengan mengarahkan gundu milik musuh. Dan jika mengenai maka ia mendapatkan. Egrang: dua tongkat panjang yang bagian tengahnya diberi pembatas. Caranya dengan naikkan kaki pada pijakan enggrang, kemudian berjalan, jika jatuh diberi hukuman … Gobak sodor: permaianan dibagi dua kelompok dengan masing-masing kelompok menjaga benteng … Engklek : permaianan yang dialkuakan perorongan. Menggambar kotak-kotak terlebih dahulu kemudian setap orang memainkannya dengan cara melompati kotak-kotak tersebut secara bergiliran dengan satu kaki … Layang-layang: sebuah maianan yang dibuat dari irisan bambu serta dengan kertas yang dibentuk apa saja. Caranya dengan menerbangkan ke udara …Seusai Gatan, dan empat tema lainnya membaca dan melihat ilustrasi gambar tersebut, mereka semua menggangguk. Dilihat dari sektor mimik wajah mereka kegirangan ingin mecoba. Tapi apalah zaman sekarang sudah tidak lagi seperti zaman dulu. Mungkin cara mentradisikan tradisi lama itu susah.“Coba nonton videonya Tan, kayaknya seru deh” usul Farel kepada Gatan. Gatan pun langsung menggulirkan layarnya dan memencet tombol bacaan video kemudian muncul berbagai video pemainan zaman dulu. Seperti deksripsi di atas. Dengan berurutan Gatan menyetel video paling atas yakni tentang permaiana petak umpet.Sorotan mata anak kecil kelima ini teralih dengan penuh kefokusan pada video di hadapannya tersebut. Video yang menampilkan lima anak zaman dulu sedang memainkan petak umpet. Tak disangka Gatan dan temannya itu terbayang seakan mereka authornya (lima anak pemain petak umpet). Tampak masing-masing dari wajah mereka tersenyum dan bahagia yang tak terduga.Seketika itu Gatan menyadari kalau pemainan anak zaman dulu adalah permainan yang sangat mengasyikkan, terbaik dan tidak bisa tergantikkan dari permaianan zaman sekarang. Begitupun dengan teman-teman Gatan ikut sadar tentang hal sebenarnanya.“Woi … gimana kita mainkan yang aslinya atau kita berlima ini mari mengaktifkan kembali permaiana anak zaman dulu” gatan berusul dengan kesemangatan yang terpancar dalam dirinya. “Setuju” jawab bersamaan mereka berempat dengan kompak dan wajah yang penuh seri-seri. Dari persetujuan kelima anak kecil ini, telah menjadikann sebuah tanda menuju bukti untuk mengenallkan permainan zaman dulu yang telah terkuburkan.
Aku Kamu dan Bangsat!
Aku tidak tau, benar aku tidak tau. kalian selalu diam membisu ketika aku bertanya, bibir kalian seakan terkunci rapat oleh berbagai macam password yang aneh, sehingga susah sekali untuk dibuka. Aku hanya bertanya, tapi mengapa, mengapa kalian seakan tidak mendengar pertanyaanku, kalian seakan mengunci rapat-rapat daun telinga kalian supaya angin yang membimbing suaraku tidak masuk ke dalam telinga kalian. kalian menganggapku seperti seekor serangga yang tidak pantas untuk didengar dan dijawab pertanyaannya.Apakah salah aku bertanya? salahkah bila aku penasaran? Bukankah kesalahan ini disebabkan oleh perilaku kalian terhadapku. salah kalian yang membuat aku selalu penasaran, setiap aku ingin bertanya kalian tidak mau menjawab. Rasa penasaran bukan merupakan dosa melainkan fitrah makhluk hidup, lalu mengapa?Bukankah anak kecil selalu penasaran bahkan orang dewasa juga penasaran. Mereka selalu penasaran, tapi rasa penasaran tersebut selalu terjawab. Berbeda denganku yang rasa penasarannya tidak dijawab. Sehingga membuatku menjadi makhluk yang selalu penasaran.Benar, aku adalah makhluk yang selalu penasaran, penasaran untuk mengetahui makna dunia. Penasaran untuk mengetahui siapa orangtuaku, penasaran mengapa aku diciptakan dan dilahirkan, mengapa aku harus hidup di dunia? dan mengapa kamu tega mengkhianati dan membantai bangsamu sendiri? Semua pertanyaan itu selalu berputar-putar dan terngiang di kepalaku. Semua pertanyaan itu terus terngiang dan berlari di kepalaku dan tidak pernah bisa lepas dari kepalaku. Saking kuatnya tempelan mereka di kepalaku, hal itu sering menyebabkan kepalaku diserang oleh rasa sakit.Waktu terus berlalu, pertanyaan itu terus bertambah dan tak kunjung terjawab. Tidak ada yang bisa menjawabnya atau bisa dibilang tidak ada yang mau menjawabnya. Kalian menganggap pertanyaanku itu tidak perlu dijawab. Benar pertanyaan dari seekor serangga yang menjijikan tidak perlu dijawab atau sebenarnya kalian takut menjawab pertanyaanku karena tidak menemukan jawabannya.Padahal aku hanya bertanya, tapi setidaknya kalian harus menjawab satu pertanyaan ini. Pertanyaan yang paling utama daripada yang lain. Pertanyaan yang merupakan induk dari segala pertanyaan yang terngiang di kepalaku. “Mengapa kita harus membunuh para bangsat tersebut, bukankah mereka tidak melakukan kesalahan? Mereka menghisap darah hanya untuk makan, tidak lebih dan tidak kurang”.—Apakah kamu penasaran denganku atau kamu sama sekali tidak penasaran tentangku? Ya, benar, buat apa kamu ingin mengenalku. Bukankah kamu sama saja dengan mereka yang di sana pada umumnya. Hal itu dibuktikan dari tatapan mata yang kau tujukan kepadaku di mana aku melihat tatapan jijik yang ternyata kamu tujukan kepadaku. Aku tau itu, aku tidak bisa pura-pura tidak tahu. Pandanganmu sama saja dengan mereka, di matamu aku hanya terlihat seperti serangga, aku melihat rasa jijikmu kepadaku.Tapi, setidaknya aku ingin memperkenalkan diriku kepada orang-orang yang mungkin saja mau menerima aku apa adanya dan tidak merasa jijik kepadaku. Dan juga bukankah perkenalan itu perlu supaya pembaca bisa mengenal diriku. Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini, tapi setidaknya aku harus menunjukan sopan santunku sebagai makhluk hidup kepada kalian para pembaca.Perkenalkan aku adalah makhluk ciptaan Tuhan, tubuhku kecil, aku suka tinggal di sela sofa, makanan utamaku adalah darah termasuk darah kalian para pembaca, aku adalah seekor bangsat yaitu sejenis serangga yang sangat dibenci oleh hampir seluruh makhluk hidup, kalian tentu sudah tau alasannya.Aku tidak tahu siapa indukku dan alasan aku dilahirkan. Setiap hari aku selalu melihat saudara, teman, dan spesiesku mati secara mengenaskan dibunuh oleh bangsamu. Padahal kami tidak melakukan kesalahan apa-apa, tapi bangsamu selalu membunuh dan menyiksa spesiesku. Kalian bahkan menganggap kami lebih jijik daripada seekor kecoa.Kami hanya menumpang tinggal di rumah-rumah bangsamu. Kami tinggal di sela-sela sofa, kasur bahkan di kepala kalian. Kami hanya menghisap darah kalian untuk mengisi perut kami. Apakah ini yang menyebabkan perlakuan buruk kalian terhadap kami? Bukankah bangsa nyamuk juga menghisap darah kalian. Bahkan menyebarkan bibit penyakit yang berbahaya, tapi kalian tidak menganggap jijik mereka. Apakah nyamuk lebih baik dari kami?Perbuatan bangsamu menyulut api kemarahan kaumku. Mereka melakukan pertemuan pada malam hari di salah satu kamar yang tidak terpakai di rumahmu. Aku juga turut diundang bahkan aku ditunjuk sebagai ketua panitia. Hasil keputusannya adalah kami akan memberontak minggu depan pada waktu malam hari tepat ketika bulan purnama. Aku ditunjuk sebagai pemimpin pasukan alias jendral perang yang akan menyerang dan menyakiti dirimu. Apa yang harus aku perbuat?Akhirnya pada malam itu, sehari sebelum malam yang dijanjikan untuk melaksanakan pemberontakan. Aku melakukan sebuah dosa besar yaitu pengkhianatan yang aku lakukan terhadap bangsaku sendiri. Aku membantai mereka semua sekaligus pada malam itu. Karena aku menyadari bahwa pemberontakan ini pasti akan gagal dan kami pasti akan kalah.Tapi, bukan itu alasan yang sebenarnya, aku akan jujur kepadamu bahwa pengkhianatan yang aku lakukan terhadap kaumku sendiri didasari oleh rasa sayang dan cintaku kepadamu dan juga di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku tidak ingin menyakiti dan memberikan luka yang menyakitkan kepada dirimu. Oleh karena itu lebih baik aku aku melakukan pembantaian terhadap kaumku sendiri. Tua, muda, pria, wanita, anak-anak, balita dan bahkan calon bayi yang masih di dalam telur aku bunuh semuanya. Aku memastikan bahwa yang tersisa hanya diriku sendiri karena aku yang akan menanggung semua beban dosa atas perbuatanku, juga dosa karena mencintaimu.Setidaknya dengan aku melakukan pembantaian tersebut, aku bisa menghindarkan mereka dari kejamnya penderitaan ketika perang. Karena pada waktu perang semua hal akan dihalalkan oleh semua pihak baik itu pembunuhan, perampokan, pemerk*saan dan lain-lain. Setidaknya mereka hanya merasakan sakit hanya pada malam itu.Setelah peristiwa pembantaian yang terjadi di malam itu. Aku pergi. Pergi menjauhi kehidupanmu dan meninggalkan habitatku yang berada di kediamanmu. Aku berencana untuk pergi mengembara walaupun tanpa tahu arah dan tujuan yang pasti. Setidaknya dengan aku meninggalkanmu, kamu akan merasakan kebahagiaan tanpa kehadiran diriku dan kaumku di rumahmu.Ternyata cinta yang aku perjuangkan hanya berakhir sia-sia. Aku mendengar kabar bahwa engkau telah pergi dan lebih memilih Bersanding dengan orang lain. Apakah kau sudah melupakan pengorbananku? Dalam diam hatiku menangis, setidaknya izinkanlah aku untuk mengucapkan sesuatu. Apakah sekarang kamu sudah bahagia cintaku? Bahagia dengan orang lain dan meninggalkan diriku. Ternyata kamu lebih bangsat daripada aku. Dasar Bangsat!
Give Me Your Hand
Aku bahkan tidak dalam keinginan untuk membayangkan ataupun mengharapkan kedatangan makhluk sepertimu. Bersama yang lain, aku sedang menikmati penderitaanku dan mencoba menemukan kata terbaik untuk mengeluh. Sudah terbiasa jika diriku akan menjadi yang terakhir untuk keluar dari permasalahan ini. Lagi pula, itu hanya kandang ayam bekas yang entah mengapa begitu luas hingga teman-temanku dan aku muat di sana. Tidak masalah juga, toh aku masih bisa bernafas dengan baik. Satu hal yang mengusikku adalah pemandangan luar dengan orang-orang yang bebas berlalu-lalang. Satu hal, yaitu kebebasan. Dan ya, satu hal itu adalah rasa iri terhadap kebebasan yang dimiliki orang lain. Hal lain yang bisa menjadi masalah adalah baba pemilik kandang ayam ini. Selain karena kehadirannya yang tidak memberi kebaikan, celotehannya dalam bahasa Mandarin juga membuatku pusing. Wajar saja itu terjadi, aku hanya menghadiri 4 kali pertemuan bahasa Mandarin dalam satu semester. Membaca pinyin saja aku sudah kewalahan, apalagi jika disuguhi hanzi. Aku sungguh makhluk yang payah.Kemudian ini menjadi lebih menjengkelkan ketika anak-anak kelas lain mulai keluar dan berdatangan untuk melihat kami. Jujur saja, aku tidak ingat mengapa aku dan beberapa temanku berakhir di kandang ayam ini. Apakah ini sejenis hukuman? Untuk apa? Aku tidak ingin mempermalukan diriku dengan permintaan tolong kepada mereka. Kalau bisa, biarkan saja aku membusuk di sini. Dan apa? Dan mengubur semua impianku seperti ketika baba itu mengubur kotoran ayam dengan tanah. Kenapa hal menjijikkan bisa muncul di suasana genting seperti ini?“Hey” Entah suara siapa itu, begitu dekat namun mataku terlalu malu untuk terbuka. Parahnya, ini bisa jadi hal serius karena kini aku merasakan guncangan di seluruh tubuhku. Gempa bumi? Sepertinya bukan. Ya, seseorang dengan tega mengguncangkan tubuh lemahku ini.“Hey” Apakah dia sang pemilik suara? Kubuka perlahan mataku. Terasa sangat pusing karena aku tertidur dalam posisi duduk. “Give me your hand” Seorang laki-laki berada tepat di hadapanku. Dia berada di luar kandang. Terlihat seumuran denganku dan bukan wajah yang asing. Jika dia salah satu murid di sekolahku, apa yang dia lakukan dengan kostum pangeran itu? Aku mencoba mengingat tidak ada pentas seni yang sedang atau akan digelar.“Give me your hand” Dari wajahnya, dia seperti bukan orang Cina. Namun aksen Cinanya sangat kental.“Believe on me” Dan aku benar-benar mengulurkan tanganku padanya. Tidak ada waktu berpikir lagi. Entah mengapa aku merasa seperti itu.“Believe on me, believe on me…” Mataku terpejam begitu dalam, yang kulihat hanya hitam. Hitam pekat yang anehnya bisa kurasakan. Dan entah bagaimana awalnya hatiku bergumam “aku percaya”Mataku kembali terbuka dan dialah yang pertama aku lihat. Aku merasakan sebuah perbedaan dari kandang ayam terkutuk ini. Tidak! Tidak ada kandang ayam lagi! Semua pagarnya lenyap, dan aku bebas!Dia tersenyum lagi, “give me your hand” “Ada apa lagi?”, kujawab begitu, lupa menggunakan bahasa ibuku, dan berpikir bahwa dia takkan memahaminya. “Give me your hand”, aku tidak bertanya lagi dan hanya menghampirinya dengan mengulurkan tanganku. Biarkan aku jujur di sini, berjaga-jaga jika dia justru membawaku pada kematian. Hmm.. Aku menyukainya, dia penyelamatku. Sudah kubilang aku orang yang payah.Apakah memang benar jika dia justru akan mengakhiri kehidupanku? Kegelapan yang kini ada kurasakan semakin dalam dan menusuk kepalaku. Beginikah rasanya sekarat? Atau aku sedang menuju surga? Atau.. Neraka? Aku semakin takut dan menggenggam tangannya lebih erat. Sebelum benar-benar mati (jika iya) aku akan mengatakan satu hal lagi. Kupikir aku sangat merasakan kenyamanan bersamanya. Hatiku lebih hangat saat menggenggam tangannya. Adakah sebuah kejanggalan di sini? Di mana otak, kepala serta badanku kesakitan, sedangkan hatiku berada dalam kedamaian. Namun, kenapa ini lebih lama dari sebelumnya?Sayup-sayup kudengar dentuman lonceng gereja yang semakin lama semakin nyaring. Dan itu berarti aku semakin dekat dengan ajal bukan? Apakah yang kuceritakan baru saja adalah ceritaku menghadapi kematian? Jika benar, terima kasih kepada penyelamatku yang juga malaikat mautku. Selamat tinggal dunia!Tidak ada kegelapan lagi, aku sungguh merasa sedang berada di depan pintu surga. Tapi, tangan yang kugenggam masih ada. Kini justru mengguncangkan tanganku. Apa ini?! Spontan aku membuka mata dengan paksa dan mendapati wajah laki-laki tadi sedang terkejut menatapku. Aku mengerjapkan kedua mataku berulang, sekitar 3 kali. Lalu aku mengedarkan pandanganku ke tubuhku sendiri karena bajuku terasa berat dan.. Baju pengantin? Kulepaskan tanganku darinya. Dentuman lonceng gereja sangat nyaring kali ini. Benar saja aku sedang berada di gereja.“Let’s go”, bisiknya, lalu menggandengku masuk ke gereja. “What!” teriakkuSatu dentuman gereja lagi, tapi bagaimana bisa suaranya berpadu dengan deru mesin kereta api? Kubuka mataku perlahan. Aku berada di stasiun kereta api. Semua tulisan yang ada tak bisa kubaca. Di manakah aku kini? Apakah ini ulah dia lagi?
12.00 PM
“Maaf, Pak, tapi Bapak mengikuti saya dari tadi,” ujarku. Si tua itu malah memandangiku lebih intens di bagian dadaku. Aku benar-benar sangat terusik, rasanya aku ingin menggunakan jurus menghilangkan diri, tapi sayangnya aku tak memilikinya. Aku mencoba mengabaikan tua bangkotan itu dengan terus berjalan ke simpang jalan. Ada sedikit rasa menyesal karena aku mencoba jalan pintas baru dari rumahku untuk bisa sampai ke gerobak angkringan Kang Mamat. Aku berjalan terus sambil sesekali melirik tua bangkotan itu. Terlihat sekali si tua itu minum terlalu banyak, bahkan berjalan saja sepertinya harus dituntun.Mataku terbelalak kala melihat tangannya yang hampir menyentuh tubuhku, untung saja aku cepat menghindar. Aku menggunakan tanganku untuk menghempas tangannya yang liar itu. “Hush.. saya tidak segan untuk menghabisi Anda!” “Anak manis, mari kita bersenang-senang malam ini,” ucapnya dengan kesadaran yang hampir tidak ada. “Mimpi apa saya kemarin sampai saya ketemu orang seperti Anda. Pasti Anda punya anak, kan? Apa Anda tidak memikirkan perasaan anak Anda ketika melihat Ayahnya seperti ini?” ucapku menasehati. Entah atas dasar apa aku menasehati orang mabuk yang sudah jelas-jelas setengah sadar seperti ini. Tapi sepertinya itu cukup untuk menetralkan rasa takutku sekarang, aku takut kalau tua bangkotan itu melihatku takut seperti ini lalu ia akan semakin berani mempermainkanku.Baru saja tua bangkotan itu akan memelukku, tubuhku merasakan angin yang kuat dan singkat, sekejap saja tua bangkotan itu hilang. Aku jadi merasa sangat takut sekarang. “Oh Tuhan, apa lagi ini?” Tapi tiba-tiba… Aku sudah berada di tempat yang berbeda, tepatnya aku berada di bangunan kosong yang sudah dipenuhi ilalang. Pikiranku hanya tertuju pada satu, Poland.“Sudah kuduga itu kau,” ujarku. “Hahaha! Wajah takutmu membuatmu semakin jelek,” ujar Poland.Poland adalah vampir jelek yang sudah bersamaku sejak dua bulan lalu. Kedatangannya di sini bukan tanpa alasan. Ia ditugaskan Kastil untuk mengawal Putri Kastil melakukan beberapa pertemuan dengan kerabat di Jepang. Benar, Poland mengabaikan tugasnya dan malah nyasar sampai ke Indonesia. Katanya, di Alaska ia tak bisa menemukan tempat-tempat seperti yang ada di Indonesia. Kota paling basah itu membosankan, belum lagi ia harus bertugas di Jepang yang sedang musim dingin. Ia sangat ingin memiliki kulit eksotis seperti Rihanna, namun keinginan itu segera dipatahkan dengan kenyataan bahwa ia adalah seorang vampir. Oh iya, soal vampir jelek itu adalah bohong, ia sangat tampan dengan kulit dinginnya yang hampir membiru.“Sudah kukatakan, kalau kau memerlukan bantuanku, kau harus menekan tombol di gelangmu itu. Mengapa kau diam saja tadi? Ah.. apakah sebenarnya kau menikmati momen dengan pria itu? Sshh.. sia-sia saja aku menghisap darahnya sampai habis,” ujarnya dengan nada menjengkelkan. ”Jangan sampai ada kasus manusia menggigit vampir karena kesal dituduh sebagai seorang jalang,” ujarku. Ia langsung tertawa, sangat puas kelihatannya. “Hahahahaha!”Aku memutar bola mataku malas, aku memutuskan untuk berjalan keluar bangunan. Namun dalam 3 detik aku sudah berada di luar bangunan. Benar saja, vampir itu melesat sambil menarikku. “Selanjutnya apa?” tanyanya. “Aku lapar bodoh!” Pasalnya, alasan aku sehingga berada di luar rumah adalah ingin mengunjungi Kang Mamat, si penjual sate padang. Ia mengangguk dan berancang-ancang akan melesat, lagi. Tapi dengan segera aku menarik tanganku dan menggeleng pada Poland yang tampak kebingungan sekarang. “Aku mau memanfaatkan pemberian dua kaki dari Tuhanku,” ujarku sambil menatap kedua kakiku. Poland mengernyit tak paham, membuat napasku lolos begitu saja. “Aku tidak mau melesat, aku ingin berjalan dengan kakiku”. Poland mengangguk paham. “Ya sudah, ayo! Setelahnya kau harus menemaniku seperti biasa, oke?” “Ya ya ya, seperti biasa pukul 12.00”. Vampir itu tersenyum menanggapi jawabanku. Lihat wajahnya, sudah kubilang kalau ia tampan. Kalau saja ia manusia sepertiku, mungkin aku akan melamarnya menjadi suamiku.Tak sampai 10 menit berjalan, akhirnya kami tiba di gerobak Kang Mamat. “Kang! Rindu saya gak?” tanyaku sambil duduk di bangku plastik yang hampir patah. “Rindu lah, neng. Sudah satu hari tidak bertemu,” ujar Kang Mamat. “Jelek seperti ini apa yang harus dirindukan”. Tiba-tiba vampir ini mencela. “Kau diam saja bodoh! Pendapatmu tidak perhitungkan disini!” balasku. “Kau yang diam! Kau terlalu over percaya diri, banyak yang akan tidak suka denganmu!” ujarnya. “Sudah kuberitahu, pendapatmu tidak diperhitungkan!” balasku sambil berdekap dada.“Berhenti!!!” Suara Kang Mamat berhasil meninterupsiku, aku beralih menatap Kang Mamat yang pasti sangat jenuh melihat aku dan Poland berdebat sejak dua bulan lalu. Pasalnya ini bukan malam pertama kami berdebat, sudah seperti rutinitas bagi kami. Aku menyengir pada Kang mamat. “Satu porsi seperti biasa, Kang. Tidak pakai kecap, bawang goreng yang banyak, sambal yang banyak,” ucapku. Kang Mamat langsung sigap untuk menyiapkan pesananku.“Kau, bukannya ini hari terakhir pengawalanmu?” tanyaku pada Poland setelah diam beberapa saat. Ia mengangguk, “Besok malam aku kembali ke Alaska. Oh tidak, itu artinya aku akan meninggalkan bocah ini sendirian, pasti sangat berat bagimu jauh dariku,” ujarnya sambil mengelus rambutku. Layaknya seorang ibu yang berpamitan dengan anaknya ketika ingin pergi arisan. “Jauhkan tanganmu yang kotor itu dari kepalaku! Seandainya saja kau pulang sekarang juga, pasti akan sangat menyenangkan bagiku,” balasku.Tak lama, Kang Mamat membawa satu piring sate padang yang sangat lezat. Tanpa menunggu perintah siapapun, aku langsung melahap makananku tanpa memikirkan Poland yang terus melihatku. Mungkin di pikirannya sekarang adalah ingin melahap dan menghabisi darahku.Setelah aku menghabiskan sate padangku, tak lupa aku membayar dengan dua lembar uang sepuluh ribuan. Aku dan Poland berdiri dari bangku, untungnya selama duduk tidak ada adegan tersungkur. Aku melihat jam di ponselku, sudah pukul 23.00 malam. Tak lama Poland langsung menarik tanganku sambil berjalan ke balik pohon, setelahnya ia melesat sambil terus memegang tanganku.Akhirnya kami tiba di hutan ini lagi, rutinitas si vampir ini untuk menyembah bulan. Ia biasa melakukan ini pukul 24.00 tepat, sambil membasuh wajah dengan satu cangkir wine. Sejujurnya aku tak tahu apa maksud dan tujuan dari ritualnya ini, tapi biasanya setelah melakukan ritual Poland akan kehilangan kendali. Poland pernah mengatakan ia tak akan mengapa-apakanku, katanya aku memiliki darah keturunan Impaler yang sebenarnya aku tidak tau seperti apa. Ia juga menambahkan kalau aku beruntung lahir tepat di saat pergantian tahun, aku diperbolehkan memilih untuk lahir sebagai manusia atau vampir. Sampai sekarang pun aku masih tidak percaya bahwa vampir itu benar adanya. Memiliki teman seorang vampir cukup mencampur adukkan hidupku selama dua bulan.12.00 PM “Argh!” Wajah Poland menghitam, taringnya muncul, kuku-kuku jari tangannya memanjang, tak lupa aku melakukan sesuatu seperti biasa. Aku memeluknya tenang, menangkup wajahnya dan menciumnya sekilas di bibir. CupTubuh Poland terjatuh ke rumput, aku tak sanggup menahan tubuhnya yang mendadak berat. Akhirnya aku ikut duduk memangku kepalanya dengan tanganku. Perlahan Poland sadar, ia menatapku lekat tepat di bola mataku. “Seandainya kau vampir, aku akan menikahimu”. “Mari antarkan aku pulang, aku sudah kabur terlalu lama, ibu kost akan memarahiku kalau tau aku tidak disana,” ujarku. Poland mengangguk dan menarik tanganku untuk segera melesat dengannya.Pukul 01.17 aku tiba di rumah, aku masuk ke kamarku dan bersiap untuk tidur. Aku membasuh wajah dan kaki dengan air. Sangat melelahkan sekali perjalanan kali ini, rasanya ada yang mengganjal. Ah iya, ini artinya akan menjadi 12.00 PM terakhirku dengan vampir bodoh dan jelek itu. Memikirkannya membuatku ketiduran.Tok tok Tok tok Aku sedikit terkejut ada yang mengetuk jendelaku di jam segini, aku melihat jam, pukul 03.00 pagi. Aku berpura-pura tidak mendengar dan mengurung diriku dalam selimut. Jendelaku masih terus diketuk dari luar. Benar-benar aku kehilangan keberanianku sekarang, rasanya aku ingin memotong telingaku sebentar saja.“Buka bodoh!” Tunggu sebentar.. sepertinya aku mengenali suara ini. Aku meyibakkan selimut dan berjalan pelan menuju jendela. “S-siapa?” tanyaku dengan hati-hati. Bisa saja ini hanya tipuan. “Ini Kang Mamat bawain sate padang”. Baik, aku tau ini Poland, tapi untuk apa dia datang sekarang.Aku membuka jendela perlahan sehingga memperlihatkan wajah tampan dingin itu. Ternyata yang diucapkannya benar, ia membawa 12 porsi sate padang. Aku tertegun dengan bawaan Poland, sangat berlebihan. “Gila, kau menyuruhku menjadi reseller Kang Mamat?!” geramku. “Aku harus kembali ke Alaska sekarang, aku tidak mau terlalu terang saat aku kembali nanti,” ujarnya membuatku diam. “Hei..” panggilnya. “Pulang sana! Jangan membuatku susah lebih lama, cepat!” ujarku. Aku berusaha untuk tidak menangis sekarang.Deg Poland mengelus rambutku, lagi. “Ya sudah, sesuai keinginanmu sayang, aku pamit”.Seketika Poland benar-benar hilang dari pandanganku, ia melesat begitu cepat. Padahal belum sempat aku memeluknya. Ya sudah tak apa, aku akan kembali menjadi diriku sebelum dua bulan lalu. Terimakasih vampir tampan, Poland.
Kata
CERITA ini bermula ketika aku melihat seorang lelaki bagaimana ia menjalani hidupnya. Aku bertanya-tanya, kok bisa dia menjalani hidup seperti itu? Mungkin kalian semua akan bingung-apalagi aku, temannya sendiri. Dia mengatakan keesokan harinya hidupku akan menjadi lebih baik, besinergi, punya semangat untuk menjalani hari Esok. Tapi kenyataan yang terlihat, semua yang dikatakannya hanya sekedar kata. Lagi lagi hidupnya seperti itu-itu saja tidak ada perkembangngan yang berarti. Walau sekedar hal kecil. Sehingga terlintas di benakku, sebenarnya apa yang salah dengan lelaki ini. Untuk seusianya seharusnya dia sudah bekerja, punya keluarga, pokoknya hidup layaknya seperti manusia lain pada umumnya.Namun ketika dilihat dan diamati lebih dalam lagi. Sorot matanya seperti sulit diartikan. Terpancar dari sorot mata itu, seperti tidak memiliki tujuan hidup, tidak berambisi seperti orang kebanyakan. Sebagai teman, aku merasa kasihan lebih tepatnya khawatir dengan keadaanya sekarang ini.Jujur, aku yang tidak paham tentang jalan pikirannya pun bertanya. “Sebenarnya kamu itu kenapa?” “Memangnya aku kenapa?” Bukannya malah menjawab atau menanggapi, dia malah balik bertanya. Seharusnya dia tahu arah pembicaraanku kemana. Seperti percakapan bodoh yang terjadi detik ini antara aku dengannya.“Aku perhatikan keseharisnmu selepas kita menamatkan kuliah,” “Memangnya ada apa dengan keseharianku?” “Tidak ada perkembangan sama sekali. Entah itu mencari pekerjaan atau bekerja, lalu menikah, layaknya seperti orang lain keluarlah dari rumah (bersosialisasi). Kalau hanya berdiam diri di rumah saja, rezeki itu tidak akan datang dengan sendirinya,” ucapku. “Memang betul yang kamu katakan. Aku sudah mencari kerja namun tidak dapat. Kalau urusan menikah, bagaimana seorang wanita mau denganku kalau aku sendiri saja tidak bekerja. Aku sudah keluar rumah, hanya saja pergi ke pasar membantu bapakku berjualan sebentar setelah itu balik ke rumah lagi. Dan memang aku tidak keluar, pergi ke wirit bulanan sekitar rumah atau kegiatan sosial lainnya. Hanya diam di rumah” jelasnya panjang kali lebar kali tinggi yang tidak kupahami itu. “Terus kenapa?” tanyanya lagi kepadaku dengan mimik wajah yang terlihat biasa saja.Kalau orang lain pasti terlihat gelisah, cemas dan pastinya meminta solusi atau nasehat kepada orangtua, saudara, teman ataupun sahabat. Dan dia memepertanyakan padaku pertanyaan yang menurutku Konyol. Sungguh konyol. Dan kurasa percakapanku dengannya tidak memiliki arti hanya akan membuat orang lain pusing bagi yang mendengarnya.“Disitulah letak kesalahanmu. Kamu sebenarnya tahu jawaban tentang hidupmu tapi tidak mau berusaha lebih keras dan hanya pasrah sekedar menjalani saja.” “Lalu?” “Hidup tak seharusnya seperti itu bung” kataku geram dengan kawan sepermainanku dulu saat menempuh pendidikan itu. Dia benar-benar berbeda dengan yang kukenal.Dia juga seharusnya sadar, apa yang dilakukannya selama ini membuang-buang waktu. Dan ingat sang waktu itu tidak berbaik hati. Ia tidak akan menunggumu dan berbalik ke masa dimana kamu ingin merubah segalanya. ‘Tidak akan berubah nasib seseorang, kalau bukan orang itu sendiri yang merubahnya’Lagi-lagi dia hanya menghela nafas. Dan mengatakan.. “Bagaimana bisa aku merubahnya? meskipun sekarang aku ingin, aku sendiri saja sudah meninggal dunia. Semuanya sudah terlambat” Katanya sambil diiringi dengan tangisan, melihat jasadnya sendiri di dalam mobil bersama teman yang melakukan percakapan dengannya itu. Keadaan mereka mengenaskan akibat kecelakaan.
Para Penguasa Alam dan Manusia
Dahulu kala, ada suatu kelompok yang dapat menggunakan elemen alam secara khusus dan menempati alam bebas, mereka beratapkan langit dan beralaskan bumi. Mereka bersahabat dengan alam dengan kekuatan luar biasanya. Mereka pernah hidup berdampingan dengan manusia. Manusia seringkali bekerja sama dengan mereka.Banyak sekali suku seperti ini dengan kemampuan yang berbeda. Ada suku penguasa angin, suku penguasa laut, suku penguasa sungai, suku penguasa hutan, dan banyak lainnya. Mereka sangat nyaman tinggal di bumi. Sampai suatu hari, mereka tidak lagi nyaman tinggal di bumi ini.Karena banyaknya sampah yang berserakan di alam, polusi udara, limbah-limbah, penebangan besar-besaran tanpa reboisasi yang menggangggu mereka. Mereka awalnya memaklumi namun lama-lama mereka sangat kesal dengan sifat manusia ini. Mereka lalu mengadukannya pada sang Dewa Angkasa, yang menguasai semua elemen alam.Dewa Angkasa yang bijaksana itupun turun ke bumi, dan menyampaikan nasihat-nasihat kepada para manusia.Berikut adalah nasihat Dewa Angkasa: 1. Jangan membuang sampah-sampahmu sembarangan 2. Jangan buang limbah-limbahmu ke sungai 3. Gunakan listrik secukupnya 4. Jangan buru hewan-hewan liar, sebaliknya buatkan cagar untuk mereka 5. Kurangi menggunakan kendaraan pribadi, gunakan kendaraan umum, gunakan sepeda atau berjalan kaki 6. Tanamlah pohon dan lakukan reboisasi 7. Dan kurangilah menggunakan plastik, sedotan, dan sebagainyaNamun, manusia tak mau mendengarkan. Dewa Angkasa pun marah dan mengutuk mereka. “Jika kalian tak mengikuti nasihatku, maka bumi akan segera hancur.” Kutuk Dewa Angkasa sembari menyambarkan kilat dan hujan pun segera turun, membuat banjir di berbagai daerah juga longsor. Dewa Angkasa lalu memanaskan matahari dan terjadilah pemanasan global. Dewa Angkasa lalu memindahkan para suku penguasa alam ke suatu planet lain, memerintahkan mereka menciptakan bumi yang baru. Dewa Angkasa pun pergi dari bumi, meninggalkan para manusia yang menyesal itu. Tetapi, meskipun menyesal di hari itu, di keesokan hari, manusia-manusia itu mengulangi perbuatannya, dan semua itu terjadi lagi dan lagi.Dan, sekarang, mari kita bersama menjaga lingkungan kita. Mari kita jaga bumi dengan mematuhi nasihat dewa Angkasa demi mencegah kutukan dewa Angkasa. Mari bersama menjaga bumi kita.
Penunggu Pohon Kudu
Di depan rumahku ada sebatang pohon kudu yang sengaja aku tanam untuk obat. Usianya hampir 5 tahun sehingga pohonnya cukup besar dan rindang. Daunnya hijau segar dan buahnya selalu lebat tak kenal musim. Ia termasuk tanaman yang berbuah sepanjang waktu. Karena khasiat obatnya yang sudah diketahui banyak orang, maka banyak orang yang meminta buahnya untuk obat herbal.“Pak boleh minta mengkudunya?” kata Pur di suatu sore. “Silahkan Pak. monggo diunduh sendiri, itu galanya,” jawabku sambil menunjukkan sebatang bambu apus sebagai galanya. “Waduh, sudah tinggi dan besar pohonnya,” kata Pak Pur lagi. “Memang ditanam ya Pak?” tanya Pur. “Iya, saya konsumsi setiap hari,” jawabku. “Untuk penyakit apa Pak?” “Katanya sih, segala penyakit. Baca saja di internet. Banyak kok bahasan manfaat buah mengkudu ini,” jawabku. “Baiklah, saya ambil ini ya,” katanya sambil membawa beberapa buah mengkudu yang sudah diunduhnya. “Ya. Semoga bermanfaat,” kataku. “Terima kasih,” ucapnya. “Sama-sama,” jawabku.Sejak minum air rebusan buah mengkudu dan dicampur madu, Pur merasakan badannya ringan dan tak sering pusing-pusing. Tidurnya pun jadi nyenyak. Namun, kini ia sering bermimpi dalam tidurnya bertemu dengan wanita cantik berbaju putih. Dalam mimpi wanita itu mengaku sebagai penunggu pohon kudu yang ada di depan rumah Pak Son yang ia mintai buah mengkudunya beberapa hari yang lalu.“Mas, datang dong ke rumahku?” kata wanita itu. “Di mana rumahmu?” tanya Pur. “Ya, di pohon kudu itu,” jawab wanita itu. “Baiklah, besok saya akan ke rumahmu,” jawab Pur. “Kenapa nunggu besok? Sekarang saja Mas. Aku tunggu ya?” rayu wanita itu. Dan Pur terhipnotis rayuannya sehingga tak bisa menolaknya. Lantas ia berjalan menuju pohon Kudu yang berada di depan rumah Pak Son yang tak jauh dari rumahnya. Hanya beda gang saja.Pur merasa berdiri sebuah gerbang istana yang megah. Sebentar kemudian pintu terbuka dan seorang wanita cantik berpakaian seorang ratu menyambutnya. “Selamat datang Mas,” sambutnya sambil tersenyum. Pur tergagap, tak mampu bicara karena terpesona kecantikan wanita itu. Ia melangkahkan kaki masuk istana itu. Dua langkah masuk, ia dicegat dua pengawal yang memintanya berhenti lalu dua orang abdi istana memakaikan mahkota dan jubah kebesaran raja. Ia sangat tampan dan gagah dengan baju kebesaran istana itu, baju seorang raja.“Silahkan masuk Baginda,” ucap pengawal sambil membungkuk penuh hormat. Kemudian Sang Ratu mengandeng tangannya berjalan beriringan memasuki istana yang megah berhias emas dan intan berlian. “Acara apa ini?” tanya Pur. “Penobatan raja dan ratu,” jawab Wanita itu. “Apa? Aku bukan raja,” kata Pur. “Kanda raja sekarang dan aku ratumu,” jawab wanita itu sambil tersenyum menggoda.Waktu terus melaju. Saatnya mereka menuju peraduan. Pak Pur rasakan belaian sang ratu membangkitkan gairah lelakinya. “Mari kita tuntaskan malam ini,” bisik sang ratu di telinga Pur.Sejak itu Pur beroleh kepintaran menyembuhkan berbagai penyakit melalui media buah mengkudu itu. Pak tekanan darah saya kok tinggi terus ya, sudah berobat ke dokter tak sembuh juga,” kata Pak San pada suatu pagi. “Coba minta Kudu di depan rumah Pak Son, terus bawa ke sini,” jawab Pur. “Baiklah, terima kasih.”Sebentar kemudian Pak San sudah bergegas meminta kudu kepada Pak Son dan membawanya kembali ke Pur. “Ini Pak kudunya,” kata Pak San. “Waduh, banyak amat?” ujar Pur. Kemudian buah kudu itu didoai oleh oleh Pur. Doa yang diajarkan oleh penunggu pohon kudu itu.“Ini direbus dengan air sampai mendidih, terus sisakan sampai satu gelas dan diminum sebelum tidur,” kata Pur. “Terima kasih Pak,” ucap Pak San. “Sama-sama,” jawab Pur. “Ketika Pak San pulang ia ternyata menaruh selembar uang biru di bawah cangkir kopi yang disuguhkan istri Pur. Pur tersenyum dan menganggap itu rejeki, toh ia tidak memintanya.Mulut memang lebih panjang dari jalan. Dari bisik-bisik, ngomong pelan-pelan, akhirnya sampai pada bicara terang-terangan bahwa Pak Pur sekarang punya keahlian mengobati orang sakit. Sejak itu Pak Pur terkenal sebagai “dukun tiban”. Orang-orang semakin banyak yang minta “tolong” mengobati berbagai keluhan sakit bahkan yang tak kasat mata.Suatu malam Pur dan Son bertemu di gardu ronda untuk jaga desa. “Hati-hati lo Pur, niatmu menolong orang ya?” “Maksudmu?” “Jangan komersial, jangan mematok tarif.” “Sumpah, demi Allah aku tak pasang tarif!” “Syukurlah.”Buah kudu di depan rumah Pak Son setiap hari ada saja yang meminta. Ketika keluarga Pak Son pergi keluar kota, secara tak sengaja ada seorang peternak lele yang mencari buah kudu. Dulu, bertahun yang lalu, ia pernah membeli kudu itu. Dan tanpa memberitahu, semua buah kudu di pohon itu diunduhnya sampai habis, tinggal yang masih muda dan kecil. Dan seperti biasa ia lemparkan saja uang pembelian kudu itu ke teras rumah Pak Son karena kelihatan tak ada orang.“Lho, kok dihabisin kudunya Pak?” tanya Bang Tom, tetangga Pak Son. “Saya beli Pak,” jawab orang itu. “Pak Son kan gak ada di rumah. Sampean beli ke siapa?” bantah Bang Tom. “Dulu orangnya pernah bilang kalo mau beli kudu ini, ambil saja, uangnya lempar ke teras kalau tak ada orang,” jawab lelaki itu. “Masa?” tanya Bang Tom tak percaya. “Iya Pak. Tuh, uangnya udah saya lempar ke teras,” jawab lelaki itu. Bang tom melihat bungkusan uang biru dalam plastik yang tergeletak di teras rumah Pak Son yang pagarnya terkunci.Esoknya banyak orang yang akan meminta kudu itu kaget dan kecewa karena tak ada satu pun kudu yang bisa dibawa ke Pur. Namun orang-orang itu mengakalinya dengan membawa buah kudu dari tempat lain. “Yang penting bawa kudu,” kata mereka. “Iya, masak tahu kalo kudu yang kita bawa bukan kudu dari pohon itu,” timpal yang lain.Dan sejak itu banyak orang kecewa dengan Pak Pur. Ia tak tahu bahwa kudu di rumah tetangganya itu telah habis. Ia terlalu asyik dengan profesi barunya sehingga jarang keluar rumah untuk sekedar melihat pohon kudu itu.Hari ini hari Kamis malam Jumat Legi. Ia datangi pohon kudu itu. Ia terkejut ketika ternyata tak ada satu pun buah kudu tersisa. “Oh, mungkin ini sebabnya,” katanya dalam hati.Ketika berangkat tidur, ia berharap bertemu dengan penunggu pohon kudu itu dalam mimpi. Dan benarlah harapannya. Ia bermimpi memasuki istananya tapi tak ada seorang pun di sana. Ia mencari-cari ratunya. Ketika masuk kamar ratu ia dapati ratu tergolek lemas tak berdaya.“Kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Pur sambil memeluk wanita itu. “Aku lupa memberitahumu bahwa kudu itu tak boleh habis,” kata wanita itu dengan sisa-sisa tenaganya. “Maafkan aku, aku tak tahu ada orang yang menghabiskannya.” “Karena kamu sibuk dengan tamu-tamu, bahkan aku jarang kamu datangi.” “Maafkan aku.” “Mulai besok kamu akan kembali seperti dulu lagi. Kamu tak bisa lagi menolong orang-orang,” kata ratu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.“Tebang saja pohon kudu itu,” kata Pur di suatu malam ketika berjaga kamling bersama dengan Pak Son. “Lho kenapa?” “Tak ada khasiatnya sekarang,” jawab Pur. “Biarlah Pur. Aku kuatir jika pohon kudu itu aku tebang, kau pun ikut mati,” kata Pak Son jengkel. “Apa?” “Kau kira aku tak tahu dengan persekutuanmu dengan wanita di pohon kudu itu?” Pur terdiam. Ia malu sekali. Ternyata tetangganya itu tahu apa yang dilakukannya.
Fireflies Over The Sea
Kutatap pemandangan indah nan unik yang tersaji di depan mataku. Entah apa lagi kombinasi yang lebih sempurna ketimbang matahari terbenam, suara debur ombak, semilir angin sejuk, dan kawanan kunang-kunang yang mengitari sekelilingku. Ombak membawa sebuah cangkang keong laut berukuran besar ke tepian pantai, menarik perhatianku detik itu juga.“Cangkang itu berisi suara dari dasar samudera. Dengarlah baik-baik. Siapa tahu, seseorang sedang menceritakan sebuah cerita yang menarik dari suatu tempat. Tempat yang mungkin tidak pernah diraih oleh manusia manapun”, demikian ibuku pernah berkata. Saat itu, aku masih kecil sekali. Mama membawaku ke sini sebagai hadiah ulang tahunku yang kelima.Tergoda, kudekatkan cangkang itu pada telingaku. Tapi tentu saja, suara yang terdengar hanyalah gaung ruang kosong bercampur debur ombak.“Dengarlah baik-baik, Merrick.” Suara ibuku bergema dalam kepalaku.Kutahan benda itu di samping telingaku. Lucu. Aku seperti sedang menelepon seseorang.Samar-samar, terdengar desah suara tangis yang langsung berganti menjadi suara tawa. Secara mendadak, terdengar gumaman melodi yang entah di mana pernah kudengar. Suara aneh itu benar-benar mengganggu dan memikat dalam waktu yang sama.“Kalau beruntung, mungkin kamu bisa mendengar seseorang memanggil namamu”.Suara debur ombak yang cukup keras membuyarkan lamunanku. Tanganku tetap tergantung di udara, menekan cangkang itu ke telingaku. Cepat-cepat kukembalikan benda itu ke dalam air. Perlahan, karena Mama selalu mengajariku untuk berperilaku sopan kepada alam.Aku duduk di atas pasir, tak memedulikan pakaianku yang langsung terasa berat dan basah. Aku tidak asing dengan lautan. Mama sering sekali membawaku kemari, dan tak sekalipun aku menyesalinya. Laut menjadi tempatku mencurahkan segala perasaanku, beban pikiranku, dan cerita-ceritaku. Sekarang, contohnya.“Hei,” bisikku pelan. “Apakah kau tahu di mana Papa berada?”Desau angin mulai terdengar, mmebentuk sebuah kata, “Rin…du…?”“Sedikit,” aku meringgis. Kumainkan air di sekelilingku.Orang-orang tua bilang, senja adalah saatnya keajaiban benar-benar terjadi, dan itulah yang terjadi. Keajaiban senja membuatku dapat bercakap-cakap dengan desah angin lautan. Keajaiban yang kutemukan di hari pertama aku menginjakkan kaki di tempat ini, ketika laut memanggil namaku lewat cangkang itu.“Bohong…”Aku tertawa gugup. “Oke, baiklah, banyak.” Kugaruk tungkukku yang tidak gatal sama sekali.“Pergi… senja… berakhir…”Aku mendongak, menatap langit yang menjadi keunguan dengan sedikit sekali semburat oranye. Bintang-bintang mulai terlihat di balik awan, dan kawanan kunang-kunang itu mulai terlihat lebih ramai. Mereka berterbangan dengan lincah mengitariku hingga terlihat seperti percikan api yang menari-nari di udara.Sayup-sayup terdengar suara ibuku dari arah sebuah vila besar tak jauh dari sana, mengajakku masuk ke dalam sebelum suhu yang sejuk ini mulai menggigiti tulang. Kutepuk celanaku untuk membersihkan sebanyak mungkin pasir yang menempel di sana. Aku menyerah ketika ibuku memanggil untuk kedua kalinya dan mulai beranjak meninggalkan pantai, laut, dan kawanan kunang-kunang itu. Aku menoleh sekali lagi, tepat sebelum matahari tenggelam sepenuhnya. Kunang-kunang itu terlihat jauh lebih terang dari sebelumnya.Aku tak pernah menceritakan kepada siapapun tentang hubungan pertemananku dengan laut, bahkan kepada ibuku. Aku tidak merasa malu, tetapi siapalah yang akan memercayai perkataan anak berusia 12 tahun? Usia memang hanyalah angka, dan aku tahu aku tidak seperti anak-anak seusiaku. Tapi yah, orang dewasa ‘kan selalu sok tahu. Mereka akan berpikir kalau aku hanya membual.Keesokan harinya, di waktu yang sama, aku mengunjungi laut. Kali ini, bersama ibuku. Entah mengapa ia tiba-tiba ingin ikut denganku. Selama ini, Mama hanya mengagumi laut dari kejauhan. Aku kebingungan ketika Mama melangkah ke dalam air tanpa keraguan sedikitpun. Aku semakin tidak mengerti ketika Mama terisak ketika kakinya terendam air asin yang hangat.“Ada apa, Ma?” tanyaku pelan, nyaris berbisik. Ibuku terdiam, terisak tanpa jeda. Isakannya semakin lama semakin memilukan.“Mama, ada apa? Kenapa Mama menangis? Apa Mama tidak suka dengan laut?” Kupeluk wanita yang amat kusayangi itu. Wanita yang seorang diri membesarkanku selama ini. “Maaf, Merrick,” ujarnya dengan suara serak. “Mama hanya tidak tahan lagi…” Tubuh Mama yang ramping merosot ke bawah, jatuh berlutut di atas pasir yang direndam air setinggi mata kaki. Bahunya tergungang begitu keras, dan air mata mulai menetes ke dalam air laut.Matahari yang sudah berada di penghujung hari membuat angin yang bertiup menjadi sedikit lebih dingin dari sebelumnya. Cepat-cepat kusampirkan jaketku ke bahu Mama sebelum kupeluk erat-erat. “Mama, tolong ceritalah padaku. Apa yang membuat Mama tidak tahan lagi?” Aku memohon. “Mama rindu pada papamu, Sayang… rindu sekali… dan hati Mama sangat sakit ketika melihat laut ini…” tutur Mama di sela-sela isakannya. “Memangnya apa yang salah dengan laut ini, Ma? Apa hubungan antara Papa dengannya?”Mama mendorong tubuhku pelan, memaksakan seulas senyum yang terlihat begitu menyakitkan. “Mama tidak mau membuatmu membencinya, Sayang,” katanya pelan dan bergetar. Sebelah tangannya yang basah meraih wajahku, mengelusku dengan lembut. “Mama tahu kamu sangat menyukai laut… Mama juga tahu kamu adalah anak yang istimewa bagi laut ini.” Aku terkesiap, namun kupikir, lebih baik aku tidak memikirkannya. “Tolong ceritakan saja padaku, Ma. Apa yang terjadi pada Papa?” Aku memelas.Mama mengusap air matanya. Ia menarik tanganku, mengajakku untuk duduk di sebelahnya. Aku terkejut ketika air yang seharusnya mulai mendingin setelah matahari terbenam malah terasa lebih hangat dari biasanya. Kunang-kunang mulai hadir, mengisi kegelapan yang mulai tercipta di sekitar kami. Seolah tak ingin mengganggu Mama, suara debur ombak pun kian memelan.“Dua belas tahun yang lalu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup Mama,” tutur Mama dengan suara yang masih sedikit bergetar. Ia menatapku dengan seulas senyum sendu. “Saat itu adalah dua bulan setelah Mama menikahi papamu. Ia adalah seorang pria yang sangat, sangat luar biasa. Ia sangat baik, sopan, pandai, berkarisma, dan tentunya, sangat tampan. Kamu sangat mirip dengannya, Sayang.” Mama merangkulku dan menarikku untuk bersandar padanya.“Papamu mengajak Mama kemari untuk berbulan madu. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama di sini, dan setiap harinya sangatlah indah. Hanya ada kami berdua di dalam vila itu. Kami melakukan segalanya bersama. Itulah saat-saat di mana Mama merasa sangat bahagia dan bersyukur dapat terlahir di dunia ini. Tetapi sepertinya, tidak adil bagi manusia untuk terus-menerus merasakan kebahagiaan.” Suara Mama mulai terdengar semakin rendah dan pahit.“Mama ingat sekali, hari itu, saat matahari terbenam, kami duduk di pantai dan mengobrol dengan santai. Papamu berkata, jika Mama melahirkan anak laki-laki, ia akan menamainya ‘Merrick’, karena itu berarti ‘Penguasa Lautan’. Saat itu, papamu tidak tahu bahwa Mama sedang mengandung kamu, dan Mama berniat memberi papamu kejutan. Tetapi sebelum Mama bisa memberitahunya, ombak tiba-tiba menjadi ganas. Kunang-kunang mendadak bermunculan dari hutan di belakang vila. Langit menjadi gelap dan angin ribut mengelilingi kami. Papamu berusaha membawa Mama untuk berlindung ke vila, tetapi laut kelihatannya tidak ingin papamu pergi.“Papamu menyuruh Mama pergi, sendirian. Ia berkata ia harus membayar dosanya. Entah apa maksudnya. Tetapi yang pasti, Mama tahu bahwa dulu, papamu persis seperti dirimu. Ia memiliki hubungan yang kuat dengan laut, bahkan dicintai oleh samudera. Itulah saat terakhir Mama bertemu dengan papamu, sekaligus hari terkelam dalam hidup Mama,” kenang Mama dengan pandangan kosong ke arah lautan.Aku terlompat berdiri. Perasaan terkejut dan amarah bercampur dalam benakku. Jadi selama ini, aku berteman dengan pembunuh ayahku?Tanpa pikir panjang, aku melangkah ke dalam air. Kujejakkan kedua kakiku keras-keras, berharap itu akan menyakitinya. Aku merasa dikhianati. Kuhujamkan tanganku ke segala arah kuat-kuat. Kepuasan menguasaiku ketika kurasakan suhu air yang mulai mendingin dan gelombang ombak yang mulai membesar.“Merrick! Jangan marah padanya! Kembalilah kemari!” seru Mama khawatir. Ia terlihat ingin mendekat padaku, namun laut melarangnya. Ombak berkali-kali mendorongnya pelan ke belakang, menghalaunya mendekatiku.“Kamu menipuku,” suaraku tercekat dalam keterkejutan. “Kenapa? Apa salahnya? Kenapa kamu merenggut ayahku? Kenapa kamu malah bertindak seolah-olah aku adalah temanmu?”Seekor kunang-kunang terbang melintas di depanku, membuatku kaget dan terjungkal ke belakang. Aku jatuh ke dalam air. Aku tenggelam, namun anehnya, aku tidak merasa sesak. Rasanya, aku seperti melayang di udara.Mataku membelalak ketika kulihat ribuan kunang-kunang muncul di hadapanku, di dalam air. “Ini Papa, Sayang,” suara berat khas pria dewasa menggema di sekitarku. “Kenapa kamu begitu marah pada Papa?” “Pa-papa…?”Perlahan namun pasti, kunang-kunang itu membentuk sesosok pria. Pria berwajah tampan yang mirip sekali denganku, yang sedang tersenyum.“Papa senang sekali kamu tumbuh sehat. Maaf ya, Papa tidak bisa mendampingimu dan Mama. Tolong jaga Mama untuk Papa ya?” bisiknya dengan suara yang penuh sendu.Gelombang air membawaku ke permukaan, mendorongku lembut ke tepian. Mama langsung memelukku dengan cemas, menanyakan apakah aku baik-baik saja.“Aku bertemu Papa,” kataku begitu pulih dari keterkejutanku. Wajah Mama langsung menunjukkan ekspresi kaget bercampur senang. “Apa?” “Aku bertemu Papa, Ma,” ulangku. Kutunjuk laut dengan ujung jariku. “Papa ada di dalam sana.”Air mata Mama mengalir, diikuti dengan seulas senyuman yang terlihat bergetar. Matanya tertuju pada laut yang tenang dan kunang-kunang yang berterbangan di atasnya.“Kamu terlihat cantik, Sayang.” Aku mendengar suara Papa yang dibawa oleh angin.Tepat sebelum matahari tenggelam sepenuhnya, aku melihat bayangan Papa. Bukan dari kunang-kunang, namun benar-benar bayangannya. Rambutnya cokelat tua, matanya sebiru laut, kulitnya sewarna pasir, dan senyumnya begitu menenangkan. Kunang-kunang terbang mengitarinya, membuatnya terlihat semakin bersinar.Kurasa, Mama juga melihat apa yang kulihat, karena Mama langsung menutup mulutnya. Air matanya mengalir semakin deras.“Aku akan tetap di sini, Sayang, hingga dunia berakhir. Hiduplah dengan bahagia, dan ceritakanlah padaku segalanya, kapanpun kamu mau,” suara Papa terdengar begitu lembut. “Aku senang kamu benar-benar menamai anak kita Merrick.”Begitu semburat oranye itu benar-benar digantikan oleh warna biru keunguan, bayangan Papa menghilang, meninggalkan kumpulan kunang-kunang yang masih berterbangan dengan riang di atas air.Sampai hari ini, aku tidak pernah menyadarinya. Kenapa kunang-kunang bisa muncul di pantai? Kenapa mereka selalu muncul di saat senja menuju malam, ketika aku sedang mengunjungi Papa? Kutemukan jawabannya ketika tak sengaja membaca sebuah artikel di internet, berhari-hari kemudian.Rupanya, sejak awal, Papa selalu menyertaiku.
2035
Ryan terbangun dari tidurnya. Entah sudah berapa lama ia tertidur. Suara ketukan pintu terus terdengar tanpa henti. Namun dia tidak menghiraukannya. Ia lalu bangkit dari kasurnya yang empuk dan mengambil obat yang tergeletak di mejanya yang kumuh.Suara ketukan itupun semakin keras bahkan beberapa kali terdengar suara beberapa orang yang memanggil namanya. Namun ia tak mempedulikannya. Ryan pun memakan obat itu dan dilanjutkan dengan meminum air putih. Dengan wajah lesu ia mengambil buku diarynya yang dia beri judul 2035. Tangannya yang sudah sangat kurus itu mengambil sebuah bolpoin yang nampak sudah sangat berdebu. Ia mulai pun mulai menuangkan rasa frustasinya ke buku diary miliknya.Tiba tiba pintu yang mengurung Ryan selama bertahun-tahun akhirnya hancur. Mengetahui dirinya sudah tak bisa menghindar lagi, dia pun melempar obat obatan tersebut ke arah massa yang mengincarnya selama ini. Baru sepersekian detik obat itu dilempar, massa langsung berebut untuk mendapatkan obat yang super langka itu.Dari pintu yang sudah rusak, seorang pria misterius berjalan masuk ke dalam rumah Ryan. Ia kemudian melihat tubuh Ryan yang sudah tidak bernyawa di samping buku diarynya. Dia lalu mengambil buku tersebut dan kemudian membacanya lembar demi lembar.Di halaman pertama ditulis bahwa di tahun 2029 Indonesia telah menjadi negara miskin dan mengandalkan bantuan berupa pangan dari negara negara lain. Akan tetapi kondisi Indonesia malah makin memburuk dan membuat negara negara lain tidak mau lagi untuk membantunya.Rakyat Indonesia pun dilanda kelaparan dan juga kemiskinan. Semua nampak suram tak ada cahaya sedikitpun. Hingga pada suatu hari datanglah seorang ilmuwan jenius yang ternyata dia adalah Ryan sendiri. Kecerdasan yang dimilikinya telah membantu banyak orang. Salah satu jasanya yang paling besar adalah membuat sebuah obat khusus agar seorang manusia mampu hidup tanpa makan dan minum dalam waktu beberapa hari. Tidak hanya itu, ia juga membagikan obat itu secara gratis ke seluruh rakyat yang ada di pelosok negeri. Namun kebaikannya itulah yang malah menjadi bumerang bagi dirinya.Rakyat semakin serakah dan menginginkan obat tersebut secara terus menerus. Hal itu membuat Ryan semakin depresi karena stok obat yang makin hari makin menipis. Belum lagi istri dan anaknya yang semakin kurus dan akhirnya meninggal.Sejak kematian istri dan anaknya, Ryan tidak ingin lagi membagikan obat itu dan akhirnya menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Dia terus berpindah rumah agar tidak ada orang yang mengetahui keberadaannya. Selama berada di dalam rumah, ia terus menulis kesehariannya dalam bentuk buku diary. Selama 6 tahun dia terus menulis bahkan sampai akhir hidupnya yang menyedihkan.Merasa bosan dengan buku tersebut, lelaki itupun membuangnya ke luar jendela dan ditemukan oleh seorang wanita muda yang pada akhirnya membukukan diary tersebut.
Tetaplah Terjaga
Kepedihan kembali datang, merenggut setitik kebahagiaan yang tersisa. Butiran bening yang baru saja mengkristal kini mulai mengurai kembali, membasahi tanah yang diinjak, menguap bergabung bersama udara yang terasa pengap. Dadanya sesak. Tangis tak membuat hatinya merasa lega. Dunia seakan mati seiring dengan kepergian orang-orang terdekatnya.“Ya, saatnya kita pulang nak.” seorang lelaki paruh baya menyentuh pundaknya, Yara bergeming. “Relakan dia, buatlah langkahnya ringan. Seperti kamu merelakan kepergian Mama dan Ren.” Yara mengembuskan nafasnya berat lalu beranjak. “Om akan selalu ada buat kamu. Kamu tahu kan dimana dapat menemukan Om?” Yara mengangguk lemah.—Untuk ketiga kalinya Yara merasa tersesat dalam kegelapan. Ia melalui hari-harinya dengan berat. Kedukaan yang dulu pernah menyelimutinya kini kembali menghamparkan helaian kelamnya yang tak kuasa ia sibakkan.Genap tiga bulan ia menemukan lelaki yang telah menariknya dari kubangan kesedihan karena rasa kehilangan. Namun ternyata ia kembali terjerembab dalam kesedihan, karena Jared, lelaki yang ia kasihi itu pergi menghadap yang Maha Kuasa dalam sebuah kecelakaan tragis. Lexus milik Yara yang tengah ia kendarai tiba-tiba tak bisa dikendalikan. Kesimpulan sementara dari penyebab kecelakaan mobil yang rencananya akan dibawa ke bengkel untuk perawatan bulanan itu adalah rem blong. Yara tak habis pikir mengapa hal itu dapat terjadi padahal setiap bulan ia melakukan perawatan rutin untuk kendaraan peninggalan Mamanya itu.“Seharusnya aku yang disana, bukan Red,” Yara berkata pelan. “Seharusnya aku tak meminta bantuannya untuk pergi ke bengkel. Seharusnya aku mempercayai perasaanku yang mendadak tak enak sesaat setelah ia melambaikan tangannya padaku.” Suara Yara mulai bergelombang. “Semua bukan salah kamu, tak ada yang dapat menghindari takdir Ya.” Lelaki bermata kelabu itu menumpukan tangannya diatas tangan Yara. “Ini semua salahku Jev, orang-orang yang dekat denganku semuanya pergi meninggalkanku. Mama, adikku Ren, dan kini…” Yara tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Jev menggeleng. “Itu semua kehendak yang kuasa, Ya. Kita tak bisa mengelak dari hal seperti itu.” “Mereka pergi begitu cepat, apakah ini kutukan untukku? Harga yang harus kubayar untuk perbuatan-perbuatan burukku?” Jev menggeleng. “Jangan berkata begitu, Ya.” “Aku tidak tahu mengapa Mama bisa dengan tiba-tiba terkena serangan jantung, Ren tak selamat dari kebakaran yang menimpa rumah kami dan Red … Aku tak punya siapa-siapa lagi. Hidupku sudah tak ada artinya lagi.” Yara menatap keluar jendela, titik-titik hujan mulai membasahi jalanan seiring dengan jatuhnya butiran bening dari kedua matanya. “Shh, selalu ada arti dalam setiap kehidupan, lagi pula kamu masih memiliki aku Ya, temanmu, sahabatmu. Walaupun aku terlambat menemukanmu namun percayalah aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri.” Jev berkata lembut di telinga Yara.—Yara memandangi kotak makanan yang berisi roti lapis, apel granny smith dan satu kotak susu low fat di meja kerjanya. Beberapa hari ini, Jev sering menyambanginya, membawakan sarapan atau mengajaknya makan siang bersama. Perusahaan periklanan milik Jev ada di seberang jalan, sehingga dengan mudah ia dapat mengunjungi Yara kapanpun ia mau. Dan yang menjadi sangat kebetulan adalah atasan Yara merupakan teman satu angkatan Jev saat ia menempuh pendidikan pasca sarjana. Itulah mengapa selalu ada izin bagi Jev untuk mengetuk pintu ruangan Yara yang baru saja genap satu bulan bekerja di tempat itu. Sebelumnya Yara memang memutuskan untuk meninggalkan semua kehidupan lamanya, rumah dan pekerjaannya, berharap semua hal buruk tak datang menghampirinya lagi. Dan ternyata di tempat barunya ini ia kembali dipertemukan dengan teman lamanya, Jev.Jam di tangan Yara telah berada diangka 12.15, ia beranjak. Sudah saatnya ia berkunjung balik ke kantor Jev untuk sekedar mengajaknya makan siang bersama. Tak adil rasanya bila Jev yang selalu mengajaknya. Yara membuka pintu yang sepenuhnya berbahan kaca itu, pewangi ruangan beraroma green tea langsung menyapa hidungnya lembut.“Maaf, Bapak sedang rapat internal, tidak bisa diganggu.” Seorang wanita muda yang berada di frontdesk berkata ketus. Yara menatap wajah itu, wajah yang rasa-rasanya pernah ia lihat tapi entah dimana. Baru saja Yara membalikan tubuhnya, sebuah suara menghentikan langkahnya tiba-tiba. “Ya? Sedang apa kamu disini? Ada perlu denganku? Kok sudah mau pergi lagi?” Jev menghampirinya dengan berondongan pertanyaan. Yara terkejut, tak menyangka Jev akan muncul tiba-tiba. “Sudah selesai rapatnya?” Jev mengerutkan keningnya. “Tak ada jadwal rapat hari ini, siapa yang bi…” Jev melemparkan pandangannya ke arah meja yang kini tak berpenghuni. “Aah, maafkan Leyda, dia baru beberapa minggu disini.” Jev tersenyum sambil menunjuk meja kosong tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Jadi?” tanyanya penasaran. “Emm, makan siang kali ini aku yang traktir.” Yara tersenyum. “Ya ampun Ya, kamu kesini hanya mau mengatakan itu? Kamu kan bisa meneleponku, gak usah repot-repot menyebrang jalan. Nanti aku yang menjemputmu.” “Tak apa, aku kan juga ingin menyambangi tempat ini.” Yara memandangi sudut demi sudut ruangan yang dipenuhi pernak-pernik di dindingnya. “Kalau begitu, yuk, tunggu apa lagi?” Jev membuka pintu kantornya untuk Yara.—Yara membereskan meja kerjanya lalu berkemas. Jam dinding menunjuk di angka 7.30 malam. Karena dikejar deadline, Yara memilih untuk melembur. “Mbak Yara, maaf tadi ada seseorang yang menitipkan ini.” Adi, satpam perusahaan menyerahkan secarik kertas sesaat sebelum Yara menjatuhkan langkahnya di tangga terakhir. Dahi Yara mengernyit. “Apa ini? Dari siapa?” “Saya gak tahu, yang kasih perempuan Mbak, cantik.” Adi menyeringai. “Tapi gak bolong kan punggungnya? ” Goda Yara disambut dengan kicauan panjang pendek dari mulut Adi.Dengan hati-hati Yara membuka lipatan kertas daur ulang berwarna krem itu, rangkaian huruf yang diketik berbaris rapi disana.Dear Yara, Bersediakah kamu mampir sebentar ke kantorku setelah pekerjaanmu selesai nanti? Aku tertarik dengan ide yang kamu sampaikan saat makan siang tadi tentang konsep iklan yang sedang aku kerjakan. Tapi itu pun bila kamu tak keberatan. Aku sengaja menulis pesan ini, karena aku tak ingin menganggumu yang tengah dikejar deadline dengan dering telepon. Aku tahu kamu melembur dari Teddy. Sekali lagi bila kamu tak keberatan ya. Sampai nanti, Rami JeveeYara tersenyum kecil, “Rami Jevee”, sejak kapan Jev menjadi begitu resmi. Yara melipat kembali kertas itu. “Tadi Jev, eh Pak Rami kesini Di?” Tanya Yara penasaran. “Hmm, iya, agak sore terus ke atas, memangnya gak ketemu Mbak Yara?” Yara menggeleng. “Gak lama turun bareng Pak Teddy sih.” lanjut Adi. Yara mengangguk, lalu berpamitan pulang.Sebenarnya Yara merasa lelah, namun ia tetap melangkahkan kakinya menuju gedung yang ada di seberang kantornya itu. Ia mematung sejenak, ragu-ragu membuka pintu. Lalu ia pun mengeluarkan ponselnya, mencari nama Jev disana. Sebuah suara dari mesin operator memberitahukan bahwa nomor yang dituju sedang tak aktif. Ia mencari nomor kantor Jev, namun sebelum jarinya menekan tombol dial, sebentuk wajah pucat muncul dari balik pintu mengejutkannya.“Lembur juga?” Yara bertanya basa-basi. “Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan. Mari mbak, saya antar ke atas sekalian saya mau pamitan pulang.” Leyda mempersilakan Yara berjalan mendahuluinya. Yara menjelau ke arah perempuan bernama Leyda itu dengan berjuta tanda tanya di kepala, ia kembali merasa familiar dengan wajahnya.Pintu ruangan Jev terbuka sedikit, Yara mengetuk pelan, tak ada sahutan, lalu ia mendorong pintu tersebut. Belum sempat pintu terbuka lebar, tiba-tiba Yara dikagetkan dengan sebuah bekapan di hidungnya dan sejenak kemudian ia merasa sangat mengantuk.Yara mengerjapkan matanya berulang kali, kepalanya pusing. Tubuhnya terasa berat untuk digerakkan. Mulutnya seakan terkunci rapat. Ruangan temaram menyambutnya, lampu pijar diatas kepalanya menyala redup. Udara disekitarnya terasa pengap dan berdebu. Kini ia mulai tersadar sepenuhnya, tubuhnya terasa berat karena ia terikat diatas kursi, mulutnya rapat karena selembar lakban menempel erat disana. Yara panik, ia mencoba melepaskan diri, namun usahanya sia-sia. Sebuah tawa nyaring menghentikan usahanya.“Dengan berat hati aku terpaksa melakukan ini kepadamu, Yara sayang.” “Sebenarnya aku tak ingin semuanya berakhir seperti ini, karena aku tahu bahwa kehilangan orang-orang yang kamu cintai akan lebih menyakitkan daripada ini.” Sosok yang bersuara dalam kegelapan mulai menampakan dirinya lalu menampar Yara dengan keras. Yara terkejut setengah mati.. “Serangan jantung, kebakaran, rem blong, bukankah itu sebuah tragedi yang menarik?” Sosok itu kembali tertawa nyaring. “Kali ini aku tak bisa menyakiti orang yang dekat denganmu karena dia berbeda, dia berarti bagiku tidak seperti keluargamu dan kasih tak sampaimu itu, siapa namanya? Red?” Yara memberontak, berusaha membuka mulutnya namun itu sia-sia. “Mamamu telah merenggut semua kebahagiaan Mamaku, dan kebahagiaanku tentu saja.” Kini sosok itu berbisik di telinga Yara. Yara menggeleng tak mengerti, siapakah dia yang terlihat menakutkan di balik masker yang ia kenakan itu?“Maafkan aku Yara sayang, aku harus melakukan semua ini.” Sebuah pisau army berkilat dibawah sinar lampu nan temaram, Yara merasakan ketakutan yang sangat. “Wajahmu adalah ancaman.” Yara menahan nafasnya, kini pipinya terasa perih. Air mata mulai menetes satu persatu. “Hmm, aku kira air matamu telah lama mengering, tapi ternyata …” Tawa nyaring kembali terdengar. Sosok itu kini kembali berlindung dalam kegelapan.“Kamu tahu, mamaku pergi untuk selamanya dengan membawa luka hati.” “Papa mengkhianatinya demi Mamamu. Dan tidak sampai disitu, Papaku lebih menyayangi kamu daripada aku, anak kandungnya sendiri. Aku benci kalian semua.” Ia berteriak sambil melempar-lemparkan barang-barang yang ada disekitarnya.Kini Yara mulai paham dengan semuanya, diantara rasa perih di pipinya, Yara berusaha melepaskan ikatan tangannya. Ia sadar, ia harus tetap tenang menghadapi semuanya. Kepanikan hanya akan membuat usahanya sia-sia, begitulah pengalaman hidup telah mengajarinya selama ini.“Kamu telah merenggut semua yang aku punya, dan kini kamu pun akan merenggut seseorang yang mulai aku cintai. Aku tak akan membiarkan itu terjadi, kamu dengar?” Kini ia muncul dari kegelapan menghampiri Yara lalu mulai menyerangnya dengan membabi-buta. Tamparan, jambakan, pukulan, sampai tendangan menghujani tubuh Yara bertubi-tubi, Yara tak bisa melakukan apapun. Tubuhnya mulai terasa sakit dan ngilu. Sebuah tendangan keras membuat Yara tersungkur bersama kursinya. Sosok mengerikan itu bagai kerasukan setan, menendangi kursi yang telah tergeletak bersama tubuh Yara. Dalam rasa sakitnya, Yara merasakan tali di pergelangan tangannya mengendur, dengan hati-hati ia mulai berusaha melepaskan tangannya dari ikatan. Sementara sosok kerasukan itu menangis tersedu dalam kegelapan lalu berteriak. “Aku benci kamu, Yara.”Yara tak mengindahkan rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia berusaha terus untuk melepaskan diri dari ikatan. Lambat laun usahanya berhasil, dengan sekuat tenaga ia berdiri, melepas lakban di mulutnya, lalu melangkah tertatih menuju pintu. “Hei, mau kemana kamu? Usaha yang mengagumkan.” Sosok itu berlari cepat lalu menghalangi pintu. Yara kini dapat melihat jelas wajah orang yang berada di hadapannya, masker yang tadi dikenakannya talinya terlihat putus. “Ley…da?” “Ya, ini aku. Terkejut? Ah pasti tidak, ya kan? Kamu pasti pernah melihatku di apotik langganan Mama kamu kan? Cleaning service online? Pengantar Pizza? Atau mungkin kasir di bengkel?” Leyda menyeringai lalu menjambak rambut Yara dan menyeretnya kembali ke tengah ruangan. Yara mulai mengingat-ingat semuanya diantara usahanya mengumpulkan tenaga yang tersisa. Ya, wajah itu, pantas saja ia merasa pernah melihatnya.Diantara rasa sakit yang menderanya, munculah wajah-wajah orang yang dikasihinya. Mama, Ren, dan Jared, mereka tersenyum padanya. Yara merasakan ada kekuatan yang mendorongnya untuk melawan. Lalu dengan tenaga yang sebagian telah tergerus oleh rasa sakit, ia mendorong Leyda sekuat tenaga, lalu berlari keluar ruangan. Namun tak lama Leyda sudah ada di belakangnya, mendadak Yara merasakan sakit yang menyengat di punggungnya, Yara tahu bahwa ada sesuatu yang menghujam punggungnya. Tapi Yara terus berlari tak memperdulikan rasa sakitnya. Yara mulai melemparkan semua barang yang ia temui ke arah Leyda yang mengejar di belakangnya. Sebuah vas bunga rupanya berhasil mengenai Leyda dan membuatnya tertahan.Yara melihat sinar terang menyeruak tak jauh darinya. Ia terus berlari ke arah sinar itu datang, rasa sakit yang terus menyerang tubuhnya tak dihiraukannya. Darah segar menetes, meninggalkan banyak bercak-bercak merah di lantai. “Yara!” Sebentuk wajah yang ia kenal menyembul dihadapannya disambut dengan robohnya tubuh Yara ke lantai. “Ley…da.” Yara mencengkram lengan Jev. Belum sempat Jev mengangkat tubuh Yara, Leyda datang lalu berusaha menyerang Yara yang tergeletak di lantai. Jev terkejut, ia pun berteriak. “Adi, dia yang tadi mendatangi kamu?” Konsentrasi Leyda pecah ketika melihat Adi muncul tiba-tiba. “Iya, Pak. Perempuan ini yang menitipkan surat itu untuk Mbak Yara.”Merasa kondisinya tak menguntungkan, Leyda pun memutuskan untuk melarikan diri. Namun sebelum itu terjadi, Adi dapat meringkusnya terlebih dahulu. Leyda menjerit histeris sambil berusaha melepaskan diri dari telikungan Adi. “Rami, Kamu tega memperlakukan wanita yang mencintaimu seperti ini hah?” “Kamu sakit Ley! Aku menyesal telah memberimu pekerjaan di sini.” Jev membawa tubuh Yara dalam pelukannya dan berjalan cepat ke arah pintu. “Yara yang membuatku begini, dia yang mengawalinya. Dia yang terlebih dahulu menyakitiku. Dan sekarang dia iri karena aku dekat dengan kamu.” Leyda berteriak. “Asal kamu tahu, semua ruangan di kantor ini dipasangi CCTV.” Jev ganti berteriak.“Kenapa kamu kembali ke kantor?” Yara bertanya lirih diantara suara jantung Jev yang berdegub kencang. “Ponselku dan kado ulang tahun untuk seseorang tertinggal di kantor. Aku baru menyadarinya ketika akan berangkat tidur. Selanjutnya aku bertemu Adi, ia heran akan kedatanganku lalu ia pun menceritakan semuanya.” Jev mendudukkan tubuh Yara di kursi depan, menyumbat luka di punggung Yara dengan jaketnya lalu mengatur posisi kursinya senyaman mungkin.Sebelum memutar kunci kontak, Jev melihat jam tangannya lalu menyentuh pipi Yara lembut. “Duabelas tepat, selamat ulang tahun, Ya.” Yara berkata lemah. “Kamu ingat hari ulang …” Matanya mulai terasa berat untuk tetap terbuka. “Aku selalu mengingatnya, dari tahun ke tahun, walaupun kamu berada entah dimana.” Yara tersenyum, nafasnya tersengal. “Tetaplah terjaga Ya!. Tetaplah bersamaku, karena hanya kamu yang dapat membuat hidupku berarti… aku mencintaimu.”
Andai Dia Tahu
Angin berhembus, burung berkicau, daun melambai-lambai, matahari bersinar menyapa.Shut up! Aku sudah telat. Kali ini aku menyayangkan kata-kata puitis datang di saat yang tidak tepat. Angin memang berhembus, atau lebih tepatnya berhembus dengan keras dari truk yang barusan menyalipku. Burung juga berkicau, tapi dengan segera mereka diusir pemilik rumah yang disantroni burung-burung itu, takut mereka buang hajat sepertinya. Daun melambai-lambai, persis seperti satpam sekolah yang melambai-lambai padaku, menyuruh cepat menyeberang. Oh iya aku sedang menyebrang.“Tiiinn!!!!” “Telolet telolet telolet telolet toleoltoelotloeleotleoet” “Woi jalan pake mata!” “Jalan pake kaki dong bos” aku membalas sambil cengengesan.Ternyata upacara belum dimulai. Layaknya di video klip jadul, aku melintasi lapangan sekolah sementara para cleaning service mengepel lapangan di samping-sampingku.Kisah-kasih di sekolah Dengan pak cs Masa-masa paling indah Kisah-kasih di sekolahCuih, dengan segera kumatikan lagu yang mengalun di benakku, untung aku tidak menyanyikannya, bisa habis aku diledek teman-temanku yang katanya kids jaman now. Ah dasar generasi millennial.Beberapa murid sudah keluar dari kelasnya untuk melaksanakan upacara rutin, termasuk sebagian kecil dari murid kelasku, selebihnya? Tentu masih ribut di kelas. Seorang temanku menghampiriku, menyerahkan sabuk dan dasi, aku memang cuma modal baju dan otak aja dari rumah.“Anjir dasi cowok nih, lo kira gue transgen?” aku melambai-lambai dasi di depan wajah sobatku yang lempeng-lempeng aja. “Mana juga topinya?” “Pake aja seadanya, lo kira gampang nyari pinjeman atribut, topinya kan lo kemaren yang bawa” dia malah menolak peduli dan meninggalkanku.Aku memaksa otak bersarang laba-labaku untuk berpikir, hmm, topi, topi, topi, oh iya abis ta buat ngelap muka terus ditaruh ember, nah pasti sekarang lagi dicuci nih sama emak.“Woi ada bawa dasi dua kagaa?” kali ini adam lainnya berteriak untuk seisi kelas, aku berpikir dari hitungan satu sampai ketiga, cukup sebentar untuk memutuskan.Aku melempar dasi padanya, berikut sabuk yang mengenai kepalanya. “Noh ambil aja deh, gue gak butuh”Sudah kuputuskan untuk bolos upacara lagi, entah yang keberapa kali. Kuambil headset dan hape nyaris jadul dari tas lalu beranjak ke kamar mandi. Kenapa kamar mandi? Karena cuma tempat itu yang nggak diperiksa pak BP resek, sebenarnya toilet ini juga punya banyak kisah mistis, mungkin itu juga yang membuatnya tidak terjamah pak BP, dasar cemen.Agak sulit untuk menerjang arus murid yang berlomba-lomba untuk ke lapangan, padahal ayolah, apasih enaknya upacara, pengecualian untuk upacara hari pahlawan yang ada part “menyanyikan lagu nasional”. Aku akan dengan lantangnya (tentunya juga ga pake malu-malu) ikut bernyanyi Bangun Pemudi-pemuda, atau dari Sabang sampai Merauke, Maju Tak Gentar juga hayo kujabanin, semuanya untukmu Indonesia. Masalah suara? Jangan ditanya, gini-gini aku juga pernah ikut audisi paduan suara, dan tentunya ditolak.Sempat aku mampir ke kantin, mengambil 2 buah gorengan, lumayan buat perbekalan selama di toilet. Eh jangan pikir aku akan buang hajat sambil makan ya, euuh banget. Tentunya nanti di toilet aku hanya duduk-duduk di lorong antar bilik. Mungkin kalau keadaan memaksa (contoh, tiba-tiba Pak BP -dengan tampang sok-sok berani padahal astaga pingin ngacir aja- masuk ke toilet).Dari narasi sebelumnya kalian pasti sudah bisa menilai bagaimana perwujudanku. Tampang tengil, baju keluar-keluar, rambut dikuncir acak-acakan, bawa panah kayak Katnis Everdeen, oh yang terakhir itu tentu enggak walaupun aku berharapnya iya. “Iya kamu memang memukau kalau bawa panah”Seperti gasing aku memutar tubuhku, menghadap makhluk yang ya ampun ganteng banget. Tapi, beberapa detik kemudian aku berfikir. “Woooiii ini toilet cewek sialaaan!”Aku segera mengangkat ember dari toilet terdekat dan menyiramkannya. Byurr, mantap jiwaaBelum puas, aku segera masuk ke bilik berikutnya, tapi tanganku dicekal. Seketika merambat perasaan aneh, nggak, bukan perasaan seperti kupu-kupu terbang di perutmu, tapi ini perasaan takut yang berdesir aneh, aku baru sadar kami hanya berdua saja di sini, kalua dia berniat macam-macam habislah aku. Baru kali ini aku merasa menyesal telah bolos upacara.Kenyataan kedua yang kusadari adalah, selama 5 detik aku lupa menutup mulut, kontan dia tertawa dengan keras. Ternyata telmi juga dia, masa baru sadar sih.“Sori gue udah nyiram” lah kok jadi aku yang minta maaf. “Gue aja yang pergi kalo lo mau pake ini toilet” dengan cepat aku mengambil gerakan seribu langkah. “Brraakk” pintu tertutup keras, aku semakin merinding. “Sumpah gue nggak nyentuh” gobloknya aku malah mengangkat angkat tangan untuk membuktikan. “Memang aku yang menutupnya” santai dia mengatakan ini, seketika aku menyadari semua hal yang nggak beres, mulai dari kedatangannya, kemampuannya membaca pikiranku, juga oh, lihatlah, kenapa dia make celana abu-abu pendek?Kami berpandang-pandangan, rasanya kalau ada laler lewat pasti suaranya memekakkan telinga banget.Mungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang ku rasa Mungkinkah dia jatuh cinta Seperti apa yang ku dambaTuhan yakinkan dia Tuk jatuh cinta Hanya untukkuAndai dia tahu?Sayup-sayup aku mendengar dirinya menyayikan lagu yang sering disetel oomku, sedangkan aku masih mengawasinya dengan mata nyalang. Satu saja gerakan mencurigakan, aku akan memastikannya menyesal pernah bertemu deganku, tapi jujur aku sangat gugup.Untuk menutupi kegugupanku yang setengah mati, aku mengatakan, “Angkatan tahun berapa bang?” ledekku dengan mengerling pada celana seragamnya. “Masih saja ya bisa bercanda?” dia nggak tau, aku harus bekerja keras untuk menenangkan detakan jantungku, juga otakku yang terus-terusan membuat spekulasi yang tak wajar. “Justru aku yang harusnya bertanya, kenapa memakai rok panjang padahal tidak berkerudung?”Satu lagi keanehannya, kalimatnya terlalu baku, ayolah kita kan nggak lagi suting film Dilan 1990. Kira-kira apa aku perlu juga untuk memanggilnya Dilan? Lalu dia dengan romantisnya mengatakan “Sekarang aku belum mencintaimu, tidak tahu lagi kalau nanti sore” lalu tiba-tiba dia menghadiahi aku TTS yang sudah diisi, aduh kok kalau aku yang ngomong jadi nggak banget ya.“Namanya juga k-13”Dia tertawa keras-keras, aku nyaris lompat saking kagetnya.“Ada turis lintas jaman lagi rupanya” Turis? Lintas jaman?“Kenalkan, aku Haryanto” dia mengulurkan tangannya padaku, sejujurnya darahku kembali berdesir ketika mendengar namanya yang ya ampun jadul banget, tapi aku memaksakan diri untuk membalas jabat tangannya.“Kinan” kalian boleh tertawa, nama feminim ini emang nggak matching banget sama penampilanku yang nggak kalah dengan preman sekolah.“Welcome to ninty” “Hah? Apaan?” “Dasar oon, maksudku selamat datang di tahun 90-an”“Ooh” aku mengangguk-angguk sambil melihat sekeliling, ternyata begini ya suasana tahun 90-an, toiletnya sih nggak jauh beda, malah lebih creepy waktu jamanku, mungkin karena ini baru dibangun kali ya?1 detik2 detik3 detik“Whaatt thee hellll”
Hantu Penunggu Kos
Sebenarnya aku tidak mau menceritakan kisah ini, tapi mungkin kalian jadi kepo ya udah aku akan menceritakannya.Pagi itu adalah pagi yang cerah, aku bangun pukul 5 pagi lalu segera mandi dan turun untuk sarapan. Saat sarapan, ayah dan ibuku mengobrol tentang kos kosan yang angker yang terletak di depan gang rumahku. “Bu bu katanya kos kosan yang di depan gang angker” kata ayah “Angker maksudnya?” tanya ibu “Kemarin ayah kan abis pulang kantor lalu ayah mendengar suara tangisan perempuan dari kos kosan itu, lalu saat ayah mencari asal suaranya ternyata tidak ada siapa siapa, karena takut ayah langsung pergi deh” Jelas ayah “Duh jadi serem kalau lewat situ malam malam” kata ibu “Yah memangnya ayah yakin kalau itu benar hantu?” Tanyaku “yakinlah” “Udah udah mendingan kamu pergi sekarang nanti telat lagi” “Ya deh” katakuSaat sampai di sekolah aku menceritakan hal tersebut ke tiga sahabatku yakni Nisa, Lia, sinta. “Eh kalian tau kan kos kosan yang ada di depan rumahku itu?” tanyaku “Ya tau kenapa memangnya?” tanya lia “Kata orang orang kos kosan itu angker tau, gimana kalau kita nanti malam menyelidikinya?” “Ok aku setuju” kata nisa “Ya kami setuju, yah aku juga ikut penasaran” kata lia “Ok gimana kita ke sana jam 7 malam” usulku “Boleh nanti kita janjian di depan gang rumahmu ya bawa senter dan alat alat lainnya” kata sintaMalam harinya kita berempat pun berada di depan kos kosan itu. Lalu tidak lama kemudian kita mendengar suara wanita menangis dan saat kita menoleh ke belakang, betapa terkejutnya kami karena tepat di depan kami ada wanita dengan luka di wajahnya dan luka di tangannya.Lalu wanita itu berkata “Kalian harus membantuku, kalau tidak nyawa kalian akan menghilang di tanganku” katanya “Apa yang harus kami bantu coba kau ceritakan dari awal” kataku “Sekitar 20 tahun yang lalu aku dibunuh temanku saat aku tidur, tanganku ditusuk pakai pisau, wajahku juga, lalu mayatku dia kuburkan di tanah tepat di samping tempat ini, tolong kuburkan aku dengan layak” “Bbbb…aaaa..iiikk…llaaa…hhhh. kami akan membantumu tapi berjanjilah setelah kami mengubirkanmu kau harus pergi dan jangan ganggu masyarakat lagi” ucapku “Baiklah” kata diaKeesokan harinya aku dan 3 sahabatku langsung memberi tahu hal ini ke pak RT dan warga sekitar, lalu kita menguburkannya dengan layak. Semenjak itu kos kosan itu sudah tidak angker lagi.
Tangisan Sang Gadis
Aku mendengar suara isak tangis. Seketika itu juga seakan tubuhku ditimpa sesuatu yang besar hingga napasku sesak, jantungku berdesir tak karuan, seakan aku mau menghilang saja. Suara itu tak henti-hentinya menemaniku, mataku menjadi enggan tuk mengatup. Aku mengeratkan genggamanku pada selimut yang kugunakan untuk melindungi diri bak kura-kura dalam tempurungnya.Lagi, suara itu semakin menjadi, kontan tubuhku tergerak sendiri untuk bangkit dan berteriak sekencangnya. Sepersekian detik terdengar suara gagang pintu yang digerakkan sebelum ambang pintu itu terbuka secara paksa. Kedua orang menyembul dari baliknya. “Sayang, Marini. Ada apa?” tanya seorang perempuan paruh baya, sementara di belakang perempuan itu berdiri seorang laki-laki dengan kacamata membingkai indra penglihatnya. Ia beberapa kali menengok ke kanan dan ke kiri: seakan mencari maling yang menelusup masuk ke dalam rumah. Kemudian, kembali ia memandangku. Aku tersentak, kelimpungan, otakku berputar cepat tak tahu apa yang akan aku jelaskan kepada mereka. Hingga aku kontan menjawab, “Marini hanya mimpi buruk Ma, Pa.” Sambil menyengir untuk memberi kesan bahwa aku memang benar-benar terbangun dari mimpi buruk. Untungnya mama dan papa tak mencurigaiku. Aku menyengir kembali dan menyembunyikan tubuhku ke dalam selimut seraya memberi isyarat pada kedua orangtuaku bahwa mereka tak perlu khawatir dan segera meninggalkanku.Kedua orangtuaku mungkin kebingungan dengan tingkahku. Beberapa menit kemudian, terdengar pintu ditutup. Kamarku kembali hening. Aku yang terkungkung dalam selimut mengerjapkan mata, mencoba melihat dari sela-sela selimut, akan tetapi nihil karena seratnya yang terlalu tebal.Bebarapa lama hening, aku mencoba menutup mataku. Hatiku selalu berbicara untuk tetap tenang, ketika hatiku sudah ingin berjalan melintasi batas kenyamanan, aku membelalakkan mata. Suara itu terdengar kembali, bulu kudukku makin menjadi dibuatnya.Pagi hari, mataku seakan berat. Aku seperti menaruh beberapa batu di kantung mataku, tubuhku pun terasa lemas sekali, mungkin ada beberapa kilogram beras yang masing-masing diletakkan di pundakku. Aku berangkat sekolah meski enggan, rasanya ingin tidur, tetapi bukan di rumahku. Aku ingin tidur di tempat lain. Selang setelah aku berada di sekolah dan jam istirahat tiba, aku bersama temanku pergi ke kantin untuk sekadar membeli roti dan gorengan, serta air mineral kemasan. Rin yang sedari awal penasaran dengaku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Mar, lo kenapa? Pucet amat kayak mayat hidup,” sindirnya padaku. “Gue lagi bad mood, gue nggak bisa tidur tadi malam,” ungkapku dengan intonasi yang datar. “Hah, tumbenan, biasanya lo nggak kayak gini, lo abis ditolak Reno, ya,” tanya Cindy spontan. “What? Idih, enggak, ya. Lo pada tahu sendiri gue sama Reno tuh kayak apa. Nasib buruk gue tadi malam.”Ketiga temanku mencondongkan badannya—mendekatiku—membuatku risi, ketika aku mengerti maksud mereka aku langsung menjelaskannya. “Gue denger suara aneh tadi malam.” Mendengar itu teman-temanku kontan memperlihatkan ekspresi yang beragam. Ada yang seperti tak acuh, ada yang melongo dan ada yang penasaran dengan kelanjutan ceritaku. “Ya, lo semua harus percaya sama gue, gue beneran denger, ya, walaupun gue nggak bisa ngeliat yang semacam itu, tapi sepanjang malam tuh gue denger, suaranya nggak hilang-hilang.” “Terus, gimana lo bisa tidur?” tanya Cindy sambil bertopang dagu. “Gue bener-bener nggak bisa tidur sepanjang malem itu. Gila nggak,” ulangku pada teman-temanku. “Wah, wah, rumah lo kayaknya kurang didoain tuh, kurang syukuran.” Mendengar perkataan Rin yang tadi melongo kala pertama aku membuka cerita ini membuatku tertegun—ia mencoba menasihatiku, tetapi aku malah menafsirkan itu sebagai sindiran. “Tiap hari juga gue baca doa sebelum tidur,” ucapku, walau sebenarnya tak tiap hari aku melakukannya. Aku lebih sering ketiduran tanpa sadar. “Iye, semoga aja nggak lagi.” Semuanya mengamini.Lagi, malam yang sama di jam yang sama tatkala aku ingin terlelap barang sejenak, aku sudah telalu lelah, mataku terasa berat dan tubuhku terasa ingin rontok saja. Namun, suara yang seperti rintihan anak kecil itu malah seakan menjadi lagu nina boboku. Aku menangis, aku tak kuat.Pada malam ketiga aku mencoba untuk tidur lebih awal—di bawah pukul sepuluh malam, aku yang sempat tertidur hampir di sepanjang mata pelajaran di sekolah telah habis-habisan dibuat malu; Ada guru yang biasa saja dan hanya memintaku untuk membasuh mukaku dengan air; Ada guru yang amat galak dan malah menyuruhku untuk keluar kelas; Ada lagi guru yang membuatku illfeel—salah satu guru termuda di sekolahku. Beliau mengatakan sindiran kepadaku, “Abis begadang nonton bola, ya?” Sial, sejak kapan aku suka bola? Tapi kalau Messi sih, kenal.Aku mencoba memejamkan mataku kembali untuk yang kesekian kalinya, aku mencoba karena takut. Ketika mataku terpejam dan senyap menemaniku, beberapa menit tak ada suara apa pun kecuali embusan napasku. Hatiku memulai menetralisir dan damai.Ketika gambaranku telah berganti, yang kusadari aku tengah di garis start. Tiba-tiba suara itu menyeretku keluar dunia yang akan kuarungi. Aku tersentak, ini benar-benar gila, aku dibuat gila dengan sosok yang entah tahu apa? Perasaanku semakin menjadi ketika aku merasakan hal aneh yang bergesekkan dengan tubuhku, aku ingin melontarkan doa-doa, akan tetapi seakan dibekap: aku tidak bisa mengatakan apa-apa.Anehnya, tanpa sadar seperti ada yang mengembuskan angin ke lubang telingku, aku jatuh terlelap. Di kesunyian alam lain yang biasa disebut sebagai bunga tidur ini aku hanya berjalan sendiri. Kabut tiba-tiba muncul entah dari mana, merubah sekitarku menjadi seperti diriku berada di suatu ruangan yang lembab, kotor, dan berbau anyir. Entah ini tempat apa, akan tetapi aku pastikan ini adalah tempat terburuk yang pernah aku kunjungi walau hanya di dalam mimpi.Tempat ini remang, di sekitarku seperti tong-tong kosong berukuran setinggi manusia yang terbaring di sembarang tempat dengan posisi yang tak karuan. Ada potongan-potongan kain yang telah tertutupi debu yang menghitam dan sesuatu yang lengket seperti oli? Bensin?Tiba-tiba terdengar sebuah suara—meski samar—tetapi masih terdengar di telingaku, aku mencoba mendekat dengan langkah ragu, memijaki setiap lantai yang hampir keseluruhannya menghitam. Terdapat genangan di beberapa tempat, aku kembali menebas jarak, terdengar bunyi retakan dari bawah alas kakiku. Ternyata, setelah aku mengangkat kakiku, aku menyadari ada pecahan kaca yang tak sengaja terinjak olehku.Aku menjadi semakin takut dengan adanya diriku di tempat ini, aku menyilangkan kedua tanganku ke lengan, mengusapnya, menampik hawa dingin yang membuat kejut bulu kuduk, menepiskan rasa gemetar yang menjalar.Setelah beberapa langkah aku tebas, aku menemukan seorang gadis yang terikat di sebuah kursi kecil (mirip kursi sekolahku) dengan sebuah bola pejal yang terpasang di kaki sebelah kirinya. Aku melihat ke bagian wajahnya dan amat terkejutnya diriku, ketika melihat dua lubang itu, kontan ku membekap mulutku dengan tangan, melangkah ke belakang beberapa senti. Siapa dia? Apa yang terjadi dengannya?Isak tangisnya semakin kencang, ketika ia menyadari seseorang mendekatinya, awalnya aku berpikir itu aku. Namun, aku kontan melihat orang dengan tubuh bak binaraga masuk ke ruangan ini. Pria itu membawa sebuah belati, ia mengacungkan belati itu ke udara sebelum akhirnya mendarat ke anak itu. Aku tergugu melihat serangkaian gambaran yang terjadi kala itu. Kemudian, sebuah suara seperti benda bertubrukan dengan lantai. Aku kontan mengerling, memandang benda yang jatuh itu mengabaikan suara desir air seperti semburan yang mengenai wajah, dan baju pria bertubuh kekar itu. jantungku seakan mencelos, sedang air mataku tak kuasa lagi kutampung. Aku menjerit sejadinya. “TIDAK!”Beberapa minggu setelahnya … Setelah kejadian malam itu, aku tidak lagi mendengar tangisannya. Namun, aku tetap mencari di mana tempat itu berada. Saat aku menceritakan kepada teman-temanku, respons yang paling sering kudapati adalah: itu cuman mimpi, aku hanya berhalusianasi, aku pendongeng hebat, dan lainnya.Untungnya, ada Reno yang bersedia membantuku. Hampir satu minggu aku dan Reno mencari hal yang mustahil ini, aku menemukan di hari keenam, hampir mendekati hari ketujuh. Keesokan harinya, mumpung hari libur aku mengajaknya untuk melihat tempat itu. Tanpa basa-basi, tanpa syarat dia langsung memenuhi permintaanku.Ketika sampai di tempat yang kita cari. Tempat itu ternyata adalah bekas gudang penyimpanan, entah apa, tapi sepertinya penyulingan minyak. Dari luar terlihat masih kokoh. Aku dan Reno masuk ke dalamnya. Benar saja, tempat ini persis seperti yang ada dalam mimpiku. Aku mengarahkan Reno pada tempat yang kumaksud. Sesekali Reno bertanya padaku karena penasaran, sesekali juga Reno menyapu pandangan untuk memberi rasa aman padaku. Melindungiku.Aku dan Reno sampai pada ruangan tempat anak tanpa bola mata itu terpenggal. Bangku itu ternyata sudah lapuk. “Apa selanjutnya?” tanya Reno padaku. Aku pun tak tahu harus berbuat apa, hingga aku secara tak sadar terduduk di kursi itu. Kemudian sesuatu keanehan terjadi, gambaran mimpiku kembali berputar seperti rekaman yang aku terjebak di dalamnya. Lebih cepat. Aku menjerit, meronta sebelum akhirnya sebuah tangan menggamit lenganku. Seorang gadis dengan gaun putih, rambutnya yang hitam bak jelaga, sedikit bergelombang, panjang tergerai. Ia tersenyum kepadaku. Ia memberiku sebuah kalung miliknya. Ia membisikiku. Kemudian, secara perlahan ia menjadi asap yang mengudara sebelum akhirnya hilang.Lagi, getaran yang sama kala aku masuk terulang kembali hingga akhirnya sebuah tangan yang mencengkeram kedua pundakku, menyadarkanku. “Marini.” “Reno.” Kontan aku melingkarkan lenganku ke punggung Reno. Bibirku gemetar, Reno tak mengelak, ia tahu kondisiku dan mengelus bahuku, menepuknya lembut untuk menenangkanku.Setelah kejadian itu aku dan Reno menghabiskan waktu beberapa bulan untuk mencari alamat orangtua si anak itu. Sesampainya di kediaman orangtua gadis itu, aku mengembalikan kalung dengan liontin itu dan menceritakan pesan dari si gadis.Tubuh wanita paruh baya yang berdiri di depanku itu luruh, ia berlulut sambil menggenggam kalung dan melekatkannya di dadanya, wajahnya mengerut, sejadinya ia terisak dan menangis. Reno mendekat padaku dan menepuk, mengelus lenganku.
Buku Misterius
Hari ini aku pergi ke perpustakaan sekolah. Suasana yang sepi dan tenang membuat aku nyaman. Saat memilih buku, aku menemukan sebuah buku bersampul merah. Karena tertarik aku mengambilnya dan menunjukkan kepada petugas perpustakaan lalu pulang.Setelah sampai di kamar, aku langsung mandi, sholat dan makan. Lalu kuambil buku merah tersebut dan membuka lembar demi lembar. Saat melihat ke sudut buku bagian kiri bawah, mataku menangkap sebuah tulisan. “Siapa pun yang menemukan buku ini, hidupmu tidak akan tenang!!”Apa ini? Tulisannya bersifat peringatan dan ancaman! Aku bergidik ngeri. Dengan segera kulempar keluar lewat jendela dan tidur.Esoknya di sekolah…“KYAAA…” “Kamu kenapa Fan?” Tanya Dilla, teman sebangkuku. Dengan sedikit takut aku menceritakan semuanya mulai dari awal sampai akhir.“Jadi kamu udah membuangnya tapi bukunya balik lagi ke kamu?” Tanyanya setelah aku bercerita. Aku hanya mengangguk sembari memperhatikan buku merah itu yang kini kujuluki sebagai ‘Buku Misterius’. Karena kutemukan tanpa sengaja dan kembali padaku tanpaku tanpa tau bagaimana caranya.
A Letter From The Future
Suatu hari aku sangat terkejut dengan keberadaan amplop misterius di meja kamarku. Sebuah amplop putih bersih dengan prangko aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Surat itu selalu datang di posisi yang sama dengan penampilan yang sama namun aku tidak pernah berhasil memprediksi kapan surat itu datang, darimana asalnya dan siapa penulisnya.Menjelang hari ulang tahunku yang ke lima belas aku menemukan surat itu persis di atas meja. Ini adalah surat kelima yang aku terima sejak surat misterius itu muncul. Isi suratnya hanya potongan-potongan kalimat yang tidak aku mengerti. Misalnya sekarang kalimat yang tertulis di surat hanya terdiri dari empat kata.LARI SEBELUM TERLAMBAT, PERGI!Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Sama halnya dengan empat surat yang sebelumnya aku terima.IBU adalah cahayaku. Tapi mereka semua TELAH berbohong. Orang asing MENCELAKAI keluargaku AYAH baik-baik saja. Dia selalu bekerja DENGAN keras. BATU itu keras sekali tapi tidak sekeras berlian.Aku menyimpan surat-surat itu di laci. Tidak tahu apa maksudnya. Hanya sekumpulan kalimat-kalimat tidak berarti, tapi aku enggan membuangnya begitu saja.Beberapa kali aku mencoba menyingkirkan surat-surat itu selalu terpikirkan jika mungkin saja surat itu ditulis dengan tujuan tertentu. Semacam kode atau entahlah. Segera aku menyusun surat-surat itu diatas kasur sesuai dengan tanggal aku menerimanya.IBU adalah cahayaku. Tapi mereka semua TELAH berbohong. Orang asing MENCELAKAI keluargaku AYAH baik-baik saja. Dia selalu bekerja DENGAN keras. BATU itu keras sekali tapi tidak sekeras berlian. LARI SEBELUM TERLAMBAT, PERGI!Aku memperhatikan surat-surat itu lagi beberapa kata ditulis dengan huruf capital sementara yang lain tidak.IBU TELAH MENCELAKAI AYAH DENGAN BATU. LARI SEBELUM TERLAMBAT, PERGI!Aku membekap mulutku tidak percaya. Apakah benar hal itu terjadi? Tidak mungkin, pasti ada kesalahan surat ini pasti berbohong.Aku segera menyimpan surat-surat itu di dalam laci kamarku bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Aku turun membantu ibuku seperti hari biasanya. Saat malam menjelang tidur dan aku kembali masuk ke kamar sebuah surat telah muncul dimejaku seperti hari sebelumnya.AKU ADALAH KAU DARI MASA DEPAN. LARILAH SEBELUM HARI ULANG TAHUNMU TIBA!Aku tersentak. Bagaimana mungkin aku dari masa depan menulis surat untukku? Mustahil bukan. Aku lantas memasukkan surat itu ke dalam laci bersama surat yang lain dan beranjak tidur tidak memedulikan surat itu lagi.“Surat dari masa depan? Yang benar saja.”
Anyelir Hitam
Anak laki-laki itu terdiam di tempat. Kakinya membatu, dadanya menyesak begitu angin malam membawa dengan sempurna anyir darah dari jasad di depannya. Beberapa polisi mendorongnya mundur, tidak begitu keras, namun dengan mudah merubuhkan langkah yang memang telah layu itu.“Adek, jangan di sini. Mayatnya mau segera dievakuasi. Kamu menghalangi jalan.” Seorang polisi menegurnya. Namun, pikiran anak laki-laki berusia 8 tahun itu terlanjur melalangbuana. Tatapannya terus mengarah pada satu titik. Sebuah wajah penuh darah yang kini mengintip dari kantung mayat. Sebuah wajah dari jasad yang setengahnya tercerai berai akibat lindasan kereta.“Adek! Kamu dengar saya, kan?!” Emosi, polisi mengguncang bahu anak laki-laki itu kencang. “Dek!!”—“Keenan!!” Laki-laki itu terkesiap dari tidurnya. Wajahnya pias, sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Keenan menyentuh dadanya, napasnya sesak, ia seperti baru saja ditarik paksa keluar dari lembaran paling kelam dalam hidupnya.“Keenan!” Sebuah tangan lagi-lagi mengguncangnya keras. “Berhenti, Na. Gue udah bangun.” Gadis itu menarik tangannya, kemudian lantas terduduk di pinggir ranjang. “Lo mimpi buruk?” Keenan menghela napas. “Gak, gue mimpi bahagia.” “Mimpi basah pasti, ya?” Keenan memincing, “Iya, mending sekarang lo keluar, daripada gue serang.” “Weits, si bapak, baru bangun juga udah emosi aja.” Sahna beranjak, “Cepet mandi, abis itu langsung ke ruang tengah.” “Ngapain?” “Hmm…” Gadis berambut pirang itu memasang raut ragu. “..Cuma ada sesuatu yang perlu lo lihat.”—“Kasus anyelir hitam lagi?” Rumi. Gadis pendek itu membeo. Tubuhnya membungkuk, menatap deretan foto korban pembunuhan tanpa sensor yang diletakkan acak di atas sebuah meja kaca.Ruangan itu layaknya ruang tamu pada umumnya. Ada buffet, meja kaca, vas bunga, lukisan, hingga sofa beludru yang cukup berdebu. Semuanya tertata dengan apik, tampak cantik dengan nuansa vintage yang sangat kental. Sebuah tempat yang akan terasa hangat jika dipenuhi keceriaan. Namun, 5 orang dengan emosi mendung -yang kini duduk memutari meja kaca- itu malah menciptakan suasana sebaliknya.“Kali ini siapa?” tanya Rumi. “Anak pertama kepala sekolah, Pak Haryadi. Waktu kejadian sekitar jam setengah 9 malam. Lokasinya di halaman selatan sekolah. Lagi-lagi di titik buta CCTV.” Jawab Diandra, gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu kemudian mengundurkan diri. Alasannya ia harus segera mandi karena rambutnya sudah lepek. “Kondisi jasadnya?” “Sama kayak 5 korban sebelumnya.” Natta, lelaki berkacamata bulat itu menjawab pertanyaan Keenana tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. “Pelaku seperti berusaha keras menghancurkan bagian tubuh bawah korban. Alat vitalnya dipotong kemudian dibakar. Sisa-sisanya ditemukan tepat di samping tubuh korban.”Keenan mengambil satu foto dengan tangan kirinya, sementara tangan lain mengambil kaca pembesar. Foto itu adalah sebuah foto yang menunjukkan salah satu bukti tempat kejadian perkara, setangkai bunga anyelir hitam. Foto itu redup, tampaknya diambil tanpa pencahayaan yang cukup.“Dan.. di tangkai bunga itu sama sekali gak ada darah.” Natta berucap, lagi-lagi dengan mata yang tidak kunjung lepas dari layar, namun entah bagaimana ia tau apa yang Keenan lakukan. “Sedikit beda dari kasus pembunuhan sebelumnya, kali ini pelaku gak menancapkan tangkai bunga ke jantung korban. Cuma ditaruh gitu aja.”“Kenapa begitu?” Rumi bertanya. Tampaknya pertanyaan itu kelewat abstrak hingga mengundang decakan julid Natta. “Pertanyaan ‘Kenapa’, cuma bisa dijawab kalau kita udah bertemu pelakunya.” “Lo bisa menjawabnya dengan dugaan sementara, kan?” Balas Rumi.Suara ketukan seketika mengalihkan atensi mereka. Dilihatnya Sahna sudah berdiri di ambang pintu ruang makan dengan apron merah kotak-kotak melekat di tubuhnya, sementara tangannnya memegang centong sayur yang masih basah oleh kuah entah-apa-itu.“Waktu liat-liatnya udah abis. Sekarang cepet ke ruang makan. Kalian punya banyak laporan yang harus diselesaikan malam ini.” “Na, lo masak?” tanya Natta. “Iya, emang kenapa?” Seperti telepati, Rumi dan Natta saling melirik, ekspresi mereka berubah pahit. Sementara Keenan berlalu menuju dapur.“Kayaknya mending nge-gofood aja, gak, sih?” “Maksud lo?!”‘THE SERVANT’ Jarum pendek di jam dinding berbentuk burung hantu itu tepat menyentuh angka tiga begitu Keenan menyelesaikan laporan sepanjang 20 halaman itu. Ia menggeliat, selama beberapa detik mencoba melemaskan tulang-tulangnya yang terasa kaku. Matanya sekali lagi menatap satu kata yang kini terletak di bagian subjek email.The Servant. Sebuah identitas yang melindungi mereka selama 2 tahun terakhir. Mereka; Sahna Nastusha, Natta Faresta, Kaluna Diandra, Aurumitha, Owen dan dirinya, Akalanka Keenan, 6 siswa jenius yang dikumpulkan sendiri oleh Badan Intelligen untuk menjalankan sebuah misi rahasia; menyusup ke dalam sekolah paling elit di Indonesia, NIS. Tugas utama mereka adalah membongkar dan membuktikan dugaan eksploitasi anak skala besar yang terjadi di sekolah tersebut, namun entah bagaimana, selama 6 bulan terakhir, mereka malah teralihkan pada kasus pembunuhan berantai yang mengorbankan beberapa staff pendidik di sana.Brak Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka, membuat fokus Keenan seketika kembali menyatu.“Na, bisa gak, sih, kalau masuk ketuk dulu?” “Hehe, désolée.” Sahna mendekat dengan 2 cangkir cokelat panas di tangannya. “Lo belum tidur?”Keenan menatap gadis yang kini berdiri disampingnya. Sahna adalah yang paling cerdas di antara mereka, tapi entah kenapa dia punya kebiasaan mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya.“Apa, sih, lo ngeliatin gue begitu?” Merasa diperhatikan, Sahna menyodorkan segelas cokelat panas itu dengan gugup. Alih-alih duduk di samping Keenan, dia berakhir terduduk di pinggir ranjang di belakang laki-laki itu.“Na.” “Apa?” “Gue pernah bilang kan, kalau lo mirip kakak perempuan gue.” “Gue udah denger itu untuk yang ke-20 kalinya.” Balas Sahna.“Omong-omong, lo suka bunga Anyelir?” Tanya Keenan. “Biasa aja. Kenapa?” “Kakak gue suka banget sama bunga Anyelir.” Balas Keenan.Sahna seketika menegakkan tubuhnya. Ini adalah momen yang jarang terjadi. Keenan adalah orang tertutup yang selalu bisa menyembunyikan sejarah hidupnya dengan baik. Jangankan tentang keluarganya, bahkan untuk identitas pribadi, semacam tanggal lahir saja, sangat susah diulik. Ini adalah kali pertama bagi Sahna mendengarkan penggalan kenangan dari seorang Akalanka Keenan sendiri.“Kakak lo.. orangnya gimana?” “Dia random, bawel, gak bisa masak, kalau lagi nangis jelek banget.” “Dia mirip gue?” “Ya, lo kan begitu.” Jawab Keenan enteng, lantas membuat Sahna gemas, ingin memukul. “Tapi dia tetep kakak terbaik yang gue punya.”Sahna menurunkan tangannya, “Terus dimana dia sekarang?” “Dia udah meninggal,” Jawaban tak terduga itu lantas membuat gadis itu menahan napas. “..bunuh diri, kelindes kereta.” “Oh iya, dia punya cita-cita random banget. Dia mau nanem Anyelir hitam. Lo tau, Anyelir hitam itu genetically gak pernah ada.” Lanjut Keenan, seakan apa yang diucapkan sebelumnya bukan apa-apa.Sahna, yang masih terkejut, menelan ludah. “Apa alasan kakak lo..” “Dia diperk*sa berulang kali di tempat kerjanya.. sampai hamil.” “Tempat kerjanya.. dimana?” “Dia seorang pengajar honorer” Keenan terdiam, lantas menatap Sahna. Sesuai dugaannya, wajah gadis itu sudah memucat. “Di Naresh International School.” “Ini daftar pelakunya.”Laki-laki itu menarik laci meja kerjanya. Mengeluarkan sesuatu yang membuat Sahna lantas kehilangan napas. Sebuah lembar berisi 7 potret, 6 diantaranya dicoret dengan spidol merah. Mereka adalah korban pembunuhan berantai Anyelir hitam.Bruk Sahna menarik kerah Keenan keras hingga buku-buku yang berada di pangkuan laki-laki itu terjatuh semua.“Keenan, jelaskan semuanya ke gue.” Keenan menarik satu ujung bibirnya. “Gak perlu. Lo sudah bisa menarik benang merahnya dengan cukup baik, Sahna Nastusha.” “Lo.. pelaku pembunuhan itu?” Praduga itu menamparnya keras. Suara gadis itu gemetar, wajahnya memerah, entah karena marah, kecewa atau mungkin keduanya. Keenan tidak menjawab langsung, menatap ekspresi gadis di depannya lebih lama.“Jawab gue!” Sahna membentak keras. Keributan yang dibuat keduanya lantas membangunkan Natta, Rumi dan Diandra yang memang tertidur di ruang tamu.“Apa, sih?” “Sahna, ada apa?” “Ini..” Natta mengambil lembaran berisi 7 potret di atas meja Keenan. “Ini foto korban Anyelir hitam dan.. Pak Kevin?”“Keenan, jawab!!” Bentakan Sahna lantas membuat ketiganya kembali terkesiap. Mata gadis itu mulai berair, Keenan meraih sebelah pipi gadis itu, mengelusnya lembut, kemudian tersenyum tipis, seakan reaksi gadis itu sudah diprediksinya.“Bukan. Gue bukan pelakunya. Walau gue punya motivasi kuat untuk itu.” Melepas cengkraman Sahna, Keenan lantas berbalik menghadap ketiga temannya yang masih bingung.“Gue udah tau siapa pelaku Anyelir hitam. Hubungi pusat dan kepolisian setempat, besok jam 7 malam, kita tangkap basah dia.”Pukul 8.00. Halaman depan sekolah paling elit seantero negeri itu kini dipenuhi manusia penuh rasa ingin tahu. Penjagaan yang biasanya terlalu ketat untuk dilalui itupun kini tampak kewalahan, terutama saat menghadapi segerombolan jurnalis gigih yang mengincar potret kejadian hot topic yang sedang terjadi di balik gerbang.“Ini jurnalis kenapa ngumpul di sini semua, dah.” Owen, salah satu anggota The Servant, menonton kejadian itu dari jauh. “Kan bisa aja, mereka pergi lewat gerbang belakang.” “Hah! Gerbang belakang kita langsung ke hutan, bege. Siapa juga yang mau nunggu di sana.” Natta menyahut. “Ini kita beneran nonton doang, nih?” Tanya Rumi. “Ya, beneran. Emang kita bisa apa? Kita, kan, cuma murid teladan yang bisanya cuma belajar.” Ucap Owen nyinyir, lantas membuat ketiga temannya mendelik. Diandra menghela napas. “Gak nyangka, ternyata Pak Leo. Padahal dia kelihatan baik banget, lho. Ngajarnya enak, ganteng lagi.. Sayang kriminal.” Natta menggeleng-gelengkan kepala. Kelakuan temannya memang tidak ada yang benar.—“Kamu yang menemukan saya? Kamu pikir apa alasan saya melakukan ini semua?!” Lelaki blasteran itu berteriak histeris saat sebuah borgol mengunci tangannya. “Akalanka Keenan! Saya melakukan ini semua untuk kakak kamu! Asal kamu tau itu!” “Kiran gak pernah mengenal anda. Anda gak pantas berkata seperti itu.” Keenan menatap pelaku pembunuhan berantai itu dengan dingin. Sekelebat memori menyadarkannya, tentang bagaimana versi lama dari sosok keji itu mengikuti diam-diam dirinya dan Kiran, kakak sulungnya, di masa lalu.“Kamu tau apa yang terjadi pada Kiran selama mengajar di sekolah setan ini?! Kamu akan melakukan hal yang sama kalau kamu tau! Mereka memang pantas mendapatkan akhir seperti itu!!”Ekspresi Keenan sontak mengeras. Dia melangkah mendekati Leo, Sahna berusaha menahannya namun laki-laki itu mengabaikannya.Satu tangan Keenan mencengkram bahu Leo dengan kuat. Mulutnya mendekat ke arah telinga laki-laki itu. “Saya tahu semuanya. Semua yang mereka lakukan pada kakak saya.” Bisik Keenan. “Tapi saya gak akan melakukan apa yang anda lakukan.” “Hah! Bisa-bisanya kamu percaya diri seperti itu! Saya tau kamu psikopat, Keenan!” “Wow..” Keenan berdecak kagum. “Anda juga mengorek informasi pribadi saya sejauh itu?”Dengan isyarat, Keenan memerintahkan para petugas membawa Leo secepatnya. Setelahnya, Keenan kembali mendekati Sahna, namun baru beberapa langkah, kakinya langsung rubuh.“Keenan!”Rasanya seperti energinya tersedot habis. Bayangan senyuman dan ekspresi terakhir mayat Kiran tumpang tindih dalam ingatannya.“Keenan, saya Kevin. Kamu ingat saya?” Seorang laki-laki berjongkok di hadapan Keenan. Wajahnya terluka dan lehernya lebam, tampak bekas percobaan pembunuhan di bagian tubuhnya yang lain. “Saya minta maaf tidak bisa melindungi Kiran saat itu.” Laki-laki itu mulai menangis.Keenan melihat wajah lelaki di depannya. Ia ingat wajah itu. Seorang laki-laki baik yang membawa sejenak kebahagiaan dalam hidup kakak perempuan. Sangat baik, tapi terlalu lemah.“Apa yang bisa saya lakukan sekarang, Keenan?” “Tidak ada.” Keenan bangkit, Sahna memapah satu bahunya. “Keenan.” Kevin kembali memanggil. “Terima kasih.”Keenan hanya diam. Melanjutkan kembali langkahnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan, tapi ia tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu. Apapun, selama jalan yang ia tempuh masih kelabu.
RM Kurma
Ruwetnya suasana lalu lintas jalan tol Bekasi pada pukul 19-an tak perlu dijelaskan. Bram terjebak di dalamnya. Kesal dan berupaya sabar saling bertindihan. Lembutnya suara penyiar di radio tidak mampu menguraikan kusut emosinya. Sejauh pandangan matanya, hanya tampak punggung kendaraan berbagai jenis, mengular panjang. Jari-jarinya menderap setir, gelembung gas di dalam lambungnya mulai menekan uluhatinya. Ia menggapai handphone.“Bu, Bram masih lama. Kalau sampai jam sembilan belum sampai, ibu tidur saja dulu.” “Tidak, ibu masih tonton teve sambil tunggu kamu. Kamu sudah di jalan pulang?” “Ya, tapi ini jalanan macet sekali. Mana Bram lagi kesal, biasa urusan kantor.” “Nanti maag akutmu kumat. Sudah makan, kan?” Bram melirik ke kantong biskuitnya yang terbuka, isinya masih banyak. “Sudah.” “Jangan cuma biskuit nggak becus ya! Nanti kamu roboh lagi seperti yang lalu.” Ibunya terlalu tahu untuk dikecohkan. “Ya, bu. Sudah dulu ya. Ini lagi nyetir, nggak boleh telpon lama-lama. Bye, mom.” “Hati-hati ya, Bram.” Klik.Setengah jam berlalu ternyata mobil Bram belum juga beranjak jauh. Habis sudah kesabarannya, Bram membawa mobilnya ke luar dari jalan tol untuk mencoba peruntungan di jalan lain. Aplikasi GPS di gawainya memberikan opsi jalur melambung yang lalu memandunya melewati jalan berkelok-kelok nan sempit menembus kampung dan berakhir di jalanan berkerikil di antara alang-alang tinggi yang gelap.Bram menghentikan laju mobilnya karena ragu, hanya kendaraannya yang ada di jalan itu. Ia memeriksa aplikasi GPS dan kali ini hanya memberi tanda kehilangan sinyal. Bram menggerutu sambil mengotak-atik aplikasi itu, tetapi sia-sia. Ia berniat untuk memutar balik mobilnya namun jalan itu terlalu sempit, untuk mundurpun berbahaya karena sorot lampu mundur mobilnya ditelan oleh gelap. Ia seakan dipaksa untuk terus maju.Bram mematikan radio dan mengunyah sekeping biskuit. Setelah keping berikutnya habis, ia memutuskan untuk terus maju, mengikuti jalan kerikil itu sambil mencari tempat untuk bisa memutar balik. Beberapa menit kemudian, meskipun mobilnya sudah melaju jauh tetapi tempat berputar yang ia harapkan belum juga ada. Alang-alang yang semakin tinggi di kanan-kiri mobilnya seolah menghisab Bram menjauh dari peradaban. Bram menyalakan lampu jauh dalam upaya melawan risaunya yang bertambah dalam hitungan meter. Tanpa disadari, Bram mengijak pedal gas semakin dalam hingga mobilnya melaju terlalu kencang pada suatu kelokan yang mendadak. Mobilnya terperosok dan terjebak di luar badan jalan. Bram berteriak sumpah serapah karena frustasi. Sesudah kesalnya reda, ia mangunyah sekeping biskuit lagi sambil menimbang opsi: tetap tinggal di mobil atau ke luar mencari pertolongan? Ia memutuskan opsi ke dua.Dengan susah payah, Bram ke luar melalui jendela mobilnya, menerobos alang-alang dan sekarang ia berdiri di tengah jalan dengan hanya diterangi cahaya dari layar gawainya. Ke mana ia harus melangkah: kembali ke jalan kampung atau terus menyusuri jalan gelap ini? Ia mencoba lagi aplikasi GPS-nya dan bersorak lega karena aplikasi itu memperlihatkan ada sebuah bangunan tak jauh dari tempatnya berdiri.Plang nama “Rumah Makan Kurma” terpampang di teras sebuah rumah sederhana yang hanya diterangi oleh cahaya lampu petromak. Tampaknya karena lokasi bangunan itu jauh dari kampung, aliran listrik dari PLN tidak mencapainya. Pintu rumah itu terbuka lebar meskipun pintu pagarnya tertutup. Bram memutuskan untuk masuk.Pintu pagar besi rumah itu sudah penuh karat, berderit keras pada saat dibuka. Mungkin itu memang sebagai penanda datangnya tamu bagi pemilik rumah karena tak lama kemudian seorang wanita ke luar. Ia mengenakan daster warna putih yang panjang sampai menutupi kakinya. Rambutnya panjang dibiarkan tergerai, kulitnya putih pucat, wajahnya lancip, cantik tetapi di ruang mata kirinya kosong. Setelah mendekat, Bram bisa melihat sampai ke dalam rongga mata kirinya itu yang menghitam. Namun mata kanannya sangat indah memancarkan cahaya persahabatan yang misterius.“Selamat malam, apakah masih buka?” tanya Bram yang entah mengapa tidak terganggu atau merasa ngeri dengan penampakan sang wanita. “Masih, Tuan. Silahkan masuk” jawab wanita itu sambil tersenyum. Suaranya halus dengan sedikit warna tajam sembilu. Pada saat ia berbicara, tak terlihat giginya; rongga mulutnya terlihat kosong.Rumah makan itu lebih tepat disebut rumah tinggal karena tidak ada sebuah meja makan pun. Bram memiringkan kepalanya heran tetapi menurut saja saat diminta duduk. Ruangan itu hanya berisi sebuah sofa, dua kursi kecil pasangannya dan meja pendek. Dindingnya putih polos tak berhias, kecuali sebuah kalender dinding di samping sebuah pintu bercat hijau yang tertutup. Sebuah lampu petromak yang mendesis, menggantung dari langit-langit yang tidak terlalu tinggi. Cahayanya yang putih menerangi seluruh ruangan. Ruangan itu memiliki dua buah jendela yang tertutup tirai, daun jendelanya terbuka sehingga udara malam bisa mengalir sedikit-sedikit.“Mohon tunggu sebentar,” kata wanita itu seraya tersenyum kemudian berjalan ke pintu bercat hijau dan membukanya. Perlahan ia melangkah ke ruangan di balik pintu dan sebelum menutup pintunya ia berbalik untuk melihat tamunya lagi sembari pelan-pelan menutup pintu.Tak lama setelah itu terdengar suara gemeretak, dinding tembok dan pintu sampai bergetar. Lalu sunyi. Sedetik kemudian pelan-pelan pintu terbuka, sang wanita muncul dengan senyum manisnya sambil membawa nampan. Sepiring nasi rames dan segelas teh manis ia letakkan di hadapan tamunya. Nasi putihnya mengepulkan uap panas, lauk-pauknya tersusun rapi dan terlihat menggiurkan.“Silahkan, Tuan.” “Terlihat sangat enak!” jawab Bram dengan semangat, selera makannya tergugah. Wanita itu tersenyum senang dan duduk di salah satu kursi kecil lantas memperhatikan tamunya makan dengan lahap. Dalam tempo beberapa menit saja, nasi dan lauk-pauk, habis tuntas. Bram terlihat sangat puas.“Betul, nikmat sekali masakannya.” “Saya lega Tuan senang. Mau tambah lagi? Atau mau minum kopi?” “Tidak, sudah cukup. Terima kasih. Berapa semua ini? saya mau bayar.” Wanita itu terlihat terkejut, seolah belum terpikirkan tentang harga sajiannya. “Ah, berapa saja menurut Tuan.” Bram mengerutkan alisnya, heran. Melihat itu, si wanita akhirnya mengajukan sebuah harga. “Mungkin dua puluh ribu, Tuan?” Bram menjawab dengan merogoh dompetnya dan memberikan uang lima puluh ribu. “Terima kasih, Tuan terlalu baik!” kata wanita itu dengan senyum ekstra manis, rongga mulutnya yang gelap terlihat tipis. Ia melipat uang itu dan menyimpannya ke balik kutang. Bram hanya melongo, tak tega meminta uang kembaliannya, lalu ia menghela nafas.“Mobil saya terjebak ke luar badan jalan di kelokan sebelah sana” kata Bram sambil menunjuk ke arah lokasi mobilnya. “Apakah di sini ada yang bisa membantu saya menarik mobil?” “Di sini hanya ada saya. Kakak saya sedang pergi.” “Begitu, ya? Mungkin ada tetangga di sekitar sini?” “Tidak ada. Tetangga paling dekat di kampung sana.” Bram menggaruk-garuk kepalanya, ia kehabisan akal. Prospek bahwa ia harus kembali ke kampung dengan berjalan kaki di malam begini membuat rasa lelahnya tiba-tiba mendera.“Tuan mau saya buatkan kopi?” “Boleh. Sepertinya bakal menjadi malam yang panjang buat saya.” “Jangan khawatir, Tuan. Bila berkenan, boleh menunggu di sini selama yang Tuan perlukan.” “Wah, terima kasih! Mbak tutup jam berapa?” “Tidak perlu dipikirkan, Tuan. Permisi, saya buatkan kopi Tuan,” jawab wanita itu yang kemudian bergegas membereskan bekas makan Bram dan membawanya ke pintu bercat hijau. Seperti yang ia lakukan sebelumnya, ia melihat dulu ke Bram sebelum menutup pintunya pelan-pelan. Sementara itu, Bram berupaya menelepon ibunya. Karena sinyal jaringannya lemah, ia beranjak hendak ke luar, ke halaman rumah.“Tuan, mau ke mana?!” Sekonyong-konyong wanita itu sudah kembali dengan segelas mug kopi hitam yang aromanya bersemerbak memenuhi ruangan. “Eh!” Bram terkejut, ia tidak mengira wanita itu sudah kembali secepat itu. “Saya perlu menelepon ibu saya agar beliau tidak khawatir. Di dalam sini sinyalnya lemah, mungkin di luar lebih kuat.” “Oh, maaf. Silahkan, Tuan,” kata wanita itu dengan tersenyum.Bram memperhatikan wanita itu sejenak lalu membalas senyumnya dan melangkah ke luar. Selama Bram di luar, wanita itu memperhatikan mug kopi yang masih di tangannya seolah ada sesuatu yang menarik di situ. Ekspresi wajahnya penuh kekhawatiran.Beberapa saat kemudian, Bram kembali dan duduk di sofa. Wanita itu mengikutinya sambil meletakkan mug kopi ke meja dan kembali duduk di salah satu kursi kecil. Bram meraih mug kopi dan mehirup aromanya. “Harum sekali…” ia berguman dan kemudian menyeruputnya. “Ah, nikmatnya,” kata Bram sambil menyandarkan kepalanya pada punggung sofa dan menutup mata.—“Kenapa kau ada di sini? Ini kan masih waktuku!” Wanita itu melotot, mata satu-satunya itu memancarkan kemarahan. “Aku hanya lewat saja! Khawatir sekali,” jawab wanita si daster merah. Wajahnya sangat mirip dengan si daster putih kecuali matanya lengkap. Selain perbedaan itu, penampakan mereka bagaikan hasil dari cetak biru yang sama, mereka adalah dua wanita kembar. “Aku tidak pernah mengusik waktumu. Cepat sana pergi!” “Siapa dia?” “Yang pasti dia bukan milikmu!”—Bram terbangun dan terkejut melihat cahaya matahari sudah menerobos masuk. Ia tidur begitu nyenyak sampai bajunya kusut. Setelah melihat tanda waktu di jam tangannya, ia cepat-cepat bangkit dan mendapati ruangan itu kosong. “Permisi!” Dalam sekejap si wanita muncul dari balik pintu bercat hijau, tersenyum membawa nampan saji. Seolah-olah ia sudah bersiap di balik pintu sejak tadi. “Selamat pagi, Tuan. Ini sarapannya, nasi uduk.” “Aduh, saya tampaknya sudah tidur begitu lama. Mohon maaf telah merepotkan!” “Jangan dipikirkan, Tuan. Tidak repot sama sekali.” “Terima kasih telah disiapkan sarapan, tetapi saya sudah harus segera pergi.” Tampak jelas wanita itu kecewa. “Kapan-kapan saya ke sini lagi,” sambung Bram cepat-cepat. “Kami hanya buka pada hari senin, rabu dan jum’at malam. Jangan ke sini selain waktu itu!” kata wanita itu yang tiba-tiba menjadi ketus. “Oh, di luar waktu itu tutup?” Wanita itu diam saja maka Bram melanjutkan, “baik, akan saya ingat-ingat itu.” Sebelum Bram pergi, wanita itu membungkuskan sarapan untuknya dan menolak dibayar.Seminggu kemudian Bram berkunjung lagi dan lagi sehingga hampir setiap malam pada hari senin, rabu dan jum’at, Bram datang untuk makan malam. Percakapannya dengan wanita berdaster putih yang ternyata bernama Sativa, kian lama menjadi intim.Pada suatu malam, karena sudah rindu, Bram berkunjung bukan pada hari yang ditentukan. Betapa senangnya Bram ia menemui wanita dambaannya datang menyambutnya di muka pintu dengan penuh kemesraan yang lebih daripada biasanya.“Oh, Bram. Ini kejutan!” kata wanita itu sambil merangkul Bram tanpa malu-malu. “Aku sudah rindu kamu, jadi datang saja meskipun aku tahu hari ini rumah makan kamu tidak buka…” kata-kata Bram terputus saat menyadari bahwa dugaannya keliru. Rumah makan itu terlihat buka seperti malam-malam kunjungannya yang lalu.Sebelum Bram bisa berkomentar lebih lanjut, wanita itu mencium bibirnya dengan hangat. Seketika ciuman itu menarik Bram hanyut ke dalam pusaran glora berahi yang membutakan sehingga ia tak menyadari bahwa selama pergulatan mereka di atas sofa, ia menatap lekat pada kedua mata wanita itu. Baju daster berwarna merah terkulai di lantai.—Tidak seperti biasanya, sudah tiga minggu lebih Bram tidak mengunjungi Sativa di hari senin, rabu dan jum’at. Hal itu membuat Sativa sangat gusar dan menunggu di pintu gerbang sampai larut malam pada hari-hari itu. Ia tak mengerti apa yang telah terjadi sehingga Bram tidak kunjung datang. Ia tidak menemui sesuatu yang janggal pada kunjungan Bram yang terakhir. Malah, ia merasa sangat yakin mantranya sudah semakin merajut erat.Dari hari ke hari, hatinya semakin gundah karena batas waktunya sudah dekat. Ranum rahimnya hampir habis. Ia yang mulanya sangat iri dengan kakaknya, karena melihatnya begitu ceria yang ia duga telah menemukan laki-laki untuk rahimnya, sekarang menjadi heran. Belakangan ini sang kakak juga sama gundahnya dengan dirinya.“Mengapa kamu menjadi begitu kusut? Bukankah kau sudah mendapatkan lelaki?” tanya Sativa yang kemudian dijawab dengan tatapan kesal oleh kakaknya. “Kenapa? Mantramu mandul?” tanya Sativa lagi dengan nada mengejek. “Yang mandul itu laki-lakimu yang bodoh!” jawab kakaknya dengan sengit. “Laki-lakiku?” “Ya! Si Bram laki-laki tak berguna!” Mata Sativa mencorong yang dibalas dengan sama ganasnya oleh sang kakak.—“Bram, ibu sudah semakin tua. Kapan kau memberiku cucu?” tanya ibunya pada saat jeda iklan di teve. Bram menurunkan koran yang sedang ia baca, berita utamanya: “Ribuan ASN Bakal Menganggur Akibat AI”. “Bu, Bram mana tega punya anak di dunia yang semakin runyam. Bram sudah lama vasektomi!” “Hah!”
Po.. Po… Poocoongg!!!
Warga kampung Asap dihebohkan dengan sosok pocong putih yang berkeliaran malam-malam di daerah kampung mereka, sosok pocong putih ini terekam oleh kamera CCTV warga setempat. Pocong putih inipun menjadi pembicaraan seluruh kampung hingga didengar oleh 3 remaja yang sangat terkenal di kampung itu, mereka adalah Sugeng, Hamdani, dan Jaka.Seteleh mendengar tentang sosok pocong putih ini mereka bertiga berniat membongkar siapa sosok pocong putih ini, “Tentang pocong itu, gimana kalo kita tangkep itu pocong dan kasih tau ke warga kalo sebenernya itu bukan pocong beneran. Biar nama kita semakin harum juga yaa kan..?” ujar Jaka dengan sedikit bersemangat, lalu Sugeng membalas “Kau ini cuman mau terkenal doang, Jak. Kalo ternyata itu pocong betulan gimana bah??” “Betul tuh kata si Sugeng” tambah Hamdani, lalu Jaka menambahkan “Klean tenang aja, kan ada Jaka yang pemberani di sini yaa kan..”, “Terserah kau lah, Jak” balas Hamdani. “Okeh!!, Kalau begitu kita kumpul sini jam 9-an pas malam yaa, klean jangan sampe telat!!” ujar jaka dengan penuh semangat, “Bahh, semangat kali rupanya kau, Jak” jawab Sugeng dengan nada menyindir.Saat sudah berkumpul, mereka pun menunggu hingga pocong itu muncul. “Mana sii tu pocong, belum muncul juga. Nanti kalo muncul langsung aku sleding dia!” ujar jaka, lalu Hamdani membalas dengan sedikit menyindir Jaka “kau banyak gaya kali lah, Jak. Nanti pas tu pocong muncul, kau duluan yang lari ketakutan”, mendengar itu Sugeng tertawa terbahak-bahak dan berkata “Lucu kali kau ini, Jak!!, paling sebentar lagi juga kau tertidur pulas.” “Ngga mungkin jam segini aku belum ngantuk, sebelum berangkat ke sini, aku sudah minum kopi 2 gelas biar anti-anti ngantuk” ujar Jaka menyindir Sugeng. Setelah 10 menit berlalu Jaka tiba-tiba tertidur sambal mengorok, “Bah!!, tidur juga dia akhir-akhirnya, GYAHAHA!!. 2 gelas tak cukup, Jak. 10 gelas baru kau anti-anti ngantuk.” Ujar Sugeng sambil melihat Jaka tertidur pulas.Beberapa saat kemudian Hamdani melihat sesuatu berwarna putih berjalan melompat, Hamdani pun memberi tahu sugeng “Geng!!, Kau lihat itu, pocong itu, ayolah kita kejar!”, “Bah!!, iya pocong betulan lah tu. Jak!… Jak!.. bangun, Jak!, pocongnya dan Nampak lah tu!!” balas Sugeng sambil membangunkan Jaka yang tertidur. Mereka pun pergi mengejar pocong itu tanpa Jaka karena dia tidak terbangun. “Cepat kali pocong itu melompat.” Ujar Sugeng sambil berlari, “Bukan pocong itu sepertinya, kemana pula itu pocong pergi nya…?” tambah Hamdani sambil melihat sekitar.Jaka pun terbangun sambil kebingungan kemana perginya Sugeng dan Hamdani. “Dan!!… Geng!!…, mereka kemana sii??, mana aku sendiri pula. Mending aku cari mereka sekarang.” Ujar Jaka sambil kebingungan. Setelah mencari kesana kemari, Jaka pun menemukan Sugeng dan Hamdani sedang berda di semak-semak “Di situ rupanya klean!! Klean lagi ngapain sii??” “Sstttt!!!” ucap Sugeng dan Hamdani dengan nada pelan secara bersamaan. “Nunduk, Jak!!” ucap Hamdani kepada Jaka, Jaka langsung menunduk dan bertanya kepada Sugeng dan Hamdani “ini ada apaan sih..?” “Itulan pocong yang ramai dibicarakan di kampung kita, Jak. Ternyata memang betulan ada pocong putih” ujar Sugeng dengan raut muka ketakutan, “Kenapa kau ketakutan gitu, Geng…?, kita kan belum tau itu pocong betulan atau bukan..” ujar Hamdani. “Kau ini lemah kali, Geng..! Biar aku tangkap tu pocong sekarang juga” ujar Jaka dengan semangatnya, lalu Sugeng membalas Jaka “Jangan dulu, Jak!!, kita tak boleh bikin keributan malam-malam begini, nanti warga malah pada bangun sambil marah marah ke kita!”, “Betul juga tuhh, gimana kalau kita sergap aja pas dia lewat kebon depan rumah pak RT biar gak kedengeran warga” ujar Hamdani sambil mengangkat kacamatanya. Jaka pun terpukau dengan kepintaran Hamdani “Pintar juga kau, Dan!! Gak heran kau juara kelas terus”.Setelah menerima usul Hamdani, mereka langsung pergi ke kebun depan rumah pak RT dan bersiap menyergap pocong itu, setelah pocong itu lewat mereka bersiap menangkap pocong itu, tapi… “Geng… Dan… Biar aku tangkap pocong itu sendiri”, “Jangan Jak!! Nanti kau kenapa-napa malah repot” ujar Hamdani, “Bahh!! Kenapa pocong itu malah ke arah rumah pak RT..?” ujar Sugeng. “Ahh.. sudahlah langsung kita bertiga tangkap saja sebelum terjadi apa-apa”.Mereka pun langsung menangkap pocong itu. Saat tertangkap, pocong itu mengeluarkan suara “Eh… eh.. ada apa inii, toloongg!! Penculikannn…”, Jaka dan teman-temannya pun terkaget, Sugeng pun langsung berbicara ke pocong itu “Bahh!! Manusia rupa nya kau… Untuk apa kau jadi pocong nakut-nakutin warga sini..?”, Tiba-tiba ada pak RT menghampiri mereka “Ini teh ada apa yaa…? Kenapa keponakan saya dipegangin begini”, “Keponakan…?” ujar Jaka dengan kebingungan, “Iyaa, ini teh keponakan saya, Namanya Denny dia teh emang jago acting, makannya saya suruh jadi pocong buat nakut-nakutin warga biar gak keluyuran malam-malam begini…” balas pak RT. “ohhh, jadi selama ini pocong putih itu diaaa…” ujar Jaka dengan sedikit kecewa.Keesokannya warga membincarakan Jaka, Sugeng, dan Hamdani karena kehebatan mereka dalam menangkap pocong putih yang sering berkeliaran, setelah kejadian itu mereka semakin terkenal bahkan sampai ke kampung sebelah. Jaka terheran kenapa warga bisa tahu akan hal itu, diapun menanyakan kepada adiknya “Dek, kenapa warga bisa pada tau kalo abang yang nagkep pocong itu..?”, adiiknya pun menjawab “kan ada rekaman CCTV nya, tadi pagi pas ibu belanja sayur di rumah mamanya bang Dani (Hamdani), mamanya dia ngasih tau rekamannya ke orang yang beli.”, “owwhhh…” balas Jaka, Jaka pun langsung pergi ke rumah Hamdani.Saat sudah sampai di rumah Hamdani, Hamdani langsung menyuruh Jaka masuk dan melihat rekaman CCTV nya, saat itu juga ada Sugeng. “Mana rekaman nya, Dan..?” ujar Jaka dengan terengah-engah, “yoo sabar toh, Jak..” jawab Hamdani. Mereka pun langsung memutar rekamannya, “Wuihh hebat juga yaa aku bisa ngungkap tentang pocong putih itu” ujar Jaka dengan sedikit sombong, “Jangan sombong, Jak, tanpa aku dan Sugeng, kamu mungkin gak akan bisa ngangkep tu pocong”. Setelah sampai di ujung rekaman CCTV mereka melihat sesuatu yang aneh “Tungguu dehh, tadi klean liat gak?? Putih putih pas kita pergi dari kebon itu” ujar Jaka dengan sedikit merinding, “Betul juga kau, Jak.” Balas Sugeng. Lalu Hamdani membalas Sugeng “Jangan jangan itu betulan Po.. Po…” “Poocooongg!!!” teriak mereka bertiga.
The Clock’s Game
“Salah satu alasan kita tidak tahu apa yang akan terjadi adalah karena kita tidak akan pernah siap saat menghadapi kejadian buruk yang akan datang. Kita akan menjadi sangat merasa buruk sebelum hal buruk itu tiba.”“Apa kalian tidak lapar?” Rena memandang jendela yang berembun. Di luar, hujan sangat deras sekali, belum lagi kabut yang menutupi pemandangan luar sehingga keadaan lebih gelap dari waktu yang seharusnya. Udara dingin serta keadaan sekolah yang sudah sepi membuat Rena ingin sekalian uji nyali saja. “Ha, apakah kita sedang simulasi kehidupan di hutan tanpa makanan dan ancaman hantu?” Sarkasnya lagi sambil menghentakkan kaki. Sedangkan yang diajak bicara menghiraukannya, malah, asik sendiri.Intan, Mia, Nisa dan Aura—yang setengah mengantuk—diam di bangku berhadap-hadapan. Ini adalah ritual hari ke tujuh setelah pulang sekolah, mereka berlima akan berdiam diri di kelas sampai pukul lima sore. Jika kalian bertanya untuk apa, maka yang kalian dapatkan hanyalah seperti Rena. Diabaikan. Tapi jika kalian antusias, kalian akan bergabung dalam tim dengan dukungan penuh.Jadi, ada sebuah ‘dongeng’ turun temurun mengenai sekolah ini. Jam yang dimiliki kelas dimana tempat mereka diam adalah jam kuno yang bisa berbunyi untuk memberikan sinyal dan kode jika ditanyai mengenai hal yang belum diketahui. Syaratnya adalah diam di kelas dari pukul tiga sampai lima sore selama enam hari berturut-turut (meski hari libur) tanpa makan dan minum. Juga, hanya diizinkan membicarakan hal yang baik-baik. Singkatnya, jam ajaib tersebut bisa berkomunikasi dengan cara tertentu tepat di hari ke tujuh.Maka dari itulah mengapa mereka—kecuali Rena sangat antusias untuk coba melakukan dongeng ini dengan alibi pembuktian. Padahal, mereka memang kurang kerjaan saja. Dari awal, Rena tidak setuju karena pantatnya sangat pegal jika hanya duduk dan berbicara yang manis-manis, jadi kemungkinan jika dongeng itu nyata, perempuan itu tidak akan mendapatkan jawaban yang menyenangkan dari jam kuno tersebut.Dalam kategori mematahkan mitos, Rena memang tergolong sompral, tapi masih saja dipaksa untuk ikut karena syarat lainnya adalah anggota harus ganjil. Jadi, jika perempuan itu berkata aneh-aneh maka tidak akan dijawab. Bahkan, terkesan dimusuhi sesaat.“Kalian itu hanya manusia-manusia gabut yang banyak tanya. Memangnya, apa yang mau ditanya? Pekerjaan? Jodoh? Anak? Kita kan baru kelas dua belas. Lagipula, kenapa percaya dengan benda mati seperti itu.” Rena menghampiri keempat temannya dan berbicara seolah sedang demo di kantor balai desa. Rusuh. “Diamlah, aku yakin kau juga penasaran.” Nisa menjawab dengan nada dingin. “Wow, aku jadi merinding, sob. Kalian biasanya cerewet seperti kaleng rom—”Suara gedebuk dan gemuruh petir secara bersamaan membuat semuanya terkejut. Tepat pukul 16.30, di hari ke tujuh, inilah hal yang ditunggu-tunggu. Aura yang tadinya setengah mengantuk pun langsung merasa segar sambil mencoba bersembunyi di balik punggung Nisa.“Apa dongeng ini nyata?” Aura mendadak gemetar. Pandangan Intan berpendar saat lampu kelas tiba-tiba saja menyala. Ia langsung tersenyum dan memegang jam kuno tersebut. Rena yang memandang Intan hanya merutuk kata sinting karena di saat yang lain merasa takut dan gemetar, hanya Intan yang antusias sambil tersenyum.“Baiklah, kita mulai dengan pertanyaan pertama. Jam kuno, apakah aku akan mendapatkan nilai bagus setelah lulus?”Jam tersebut berbunyi. Ada kepuasaan dalam hatinya karena dapat memenuhi syarat serta keuntungan melakukan hal menantang seperti ini. Mia yang terkejut langsung meraih jam tersebut, mengecek apakah ini hasil kejahilan temannya atau memang betulan ajaib.“Secara logika, kau memang selalu mendapatkan nilai bagus, kenapa harus memberi pertanyaan basic seperti itu? Kita saja bisa menjawab kalau soal itu.” Tutur Nisa yang membuat Mia merasa mendapatkan ide brilian.“Begini saja. Jam kuno, aku tahu kamu ajaib, bisakah kamu memperlihatkan jodoh masa depan Intan. Tolong buat seolah-olah ia sedang lewat di depan kelas.”Keempatnya tentu terkejut dengan pertanyaan Mia. Ah, perempuan yang suka berpikir absurd itu melakukan aksinya ditengah situasi seperti ini. Namun, bagaimanapun, ini pertanyaan yang menguntungkan bagi Intan.Sepoi angin perlahan menerbangkan gorden jendela, walaupun keadaan luar yang sedikit gelap karena kabut, tapi kemunculan sosok laki-laki bertubuh tinggi melintasi kelas masih dapat terlihat. Laki-laki tersebut sangat tampan dengan buku di tangannya. Mungkin usianya tiga tahun lebih tua. Intan yang mengetahui hal itu langsung berteriak kegirangan.Aura yang melihatnya langsung mengambil jam tersebut. “Jam kuno, apakah aku akan berkesempatan untuk memiliki Jimin BTS?”Sesaat hening, tidak ada tanda-tanda apapun. Bahkan jarum jam ajaib itu berhenti sepenuhnya.“Apakah itu tandanya ya?” Tanyanya tetap optimis. “Sepertinya tidak. Bangunlah, buat pertanyaan yang lebih memungkinkan,” jawab Nisa seraya mengambil jam tersebut. “Jam kuno, aku sudah lama mencintai laki-laki, tapi laki-laki itu punya pacar. Apakah bisa saja mungkin dia menyukaiku kembali?”Papan tulis di depan berbunyi sebentar, spidol yang ada di sampingnya perlahan bergerak untuk menuliskan sesuatu. Ini adalah pemandangan luar biasa, rasanya seperti sebuah sihir melihat benda bergerak sendiri. Jam kuno tersebut juga tampak hidup lagi.“Selalu ada kemungkinan. Namun, kemungkinan itu tidak selalu jadi pembenaran.”“Dunia juga menyuruhmu untuk bahagia, Nis.” Aura menepuk pundak Nisa. Meski tulisan itu tidak menyangkal maupun membenarkan, sepertinya itu cukup sebagai jawaban.“Kalau begitu, jam kuno, apakah aku akan bahagia?” Tanya Nisa lagi. Jam tersebut berbunyi. Tentu saja, kenapa harus terus merasa buruk jika ada kesempatan hari esok yang lebih baik?“Apa kau mau bertanya juga, Rena? Sebelum aku memberikan pertanyaan lebih aneh lagi. Aku tidak mau bertanya soal cinta, berhubung aku sudah memiliki pasangan.” Mia mengangkat jam tersebut seperti sedang promo diskon. Yang ditanya hanya menggeleng malas, “Aku tahu jawaban yang aku dapatkan tidak akan baik.” “Hei, aku juga dapat jawaban yang tidak menyenangkan. Tapi dengan sensasi seperti ini rasanya sangat menyenangkan,” ucap Aura dengan percaya diri. Mia langsung menyahut, “Bukan tidak menyenangkan. Tapi sebetulnya kau bertanya sesuatu yang sudah kau ketahui apa jawabannya. Bertanyalah seperti pertanyaanku, pasti ada jawabannya. Nis, mau bertanya juga seperti Intan tadi?” Nisa menggeleng, “Soal itu, biar waktu saja yang menjawab, aku suka kejutan daripada spoiler detail seperti ini.”Intan mengambil jam tersebut dengan semangat. “Sudahlah, kita hanya bersenang-senang. Tidak ada resiko atau efek samping, kok. Justru dengan ritual yang sudah kita penuhi, kita dapat bertanya pada jam ini kapan saja asal sedang berlima dan sore hari.” Ia sedikit mengangkat jam itu, “Bolehkah kami melihat jodoh Rena seperti apa? Dia tidak pernah bercerita. Juga, dia yang paling tua, kami tidak mau melihatnya terus sendirian.”Aura, Nisa dan Mia sedikit tertawa ketika mendengar itu. Baiklah, pada akhirnya sifat iseng mereka keluar juga setelah menjadi seperti patung selama dua jam. Tidak lama, ada sosok yang kembali lewat di depan kelas, tapi herannya, sosok tersebut adalah seseorang yang sama saat tadi Mia memberikan pertanyaan untuk Intan.“Lho, kok, laki-laki itu lagi? Maksudnya, dia akan selingkuh? Poligami? Atau kesalahan teknis?” Heran Mia.Lampu kelas tiba-tiba padam, diiringi decitan pintu terbuka lebar. Laki-laki itu mendadak menghilang. Sebuah angin yang lebih dingin masuk. Spidol tersebut kembali bergerak untuk menuliskan sesuatu.“Tidak, dia akan bersama temanmu yang paling tua untuk beberapa tahun sebelum beralih pada temanmu yang bertanya tadi, alasannya karena ia akan mati.”Suasana menjadi hening. Tidak ada percakapan apapun. Begitupun dengan Intan yang memandang terkejut ke arah temannya yang kini hanya diam memandangi tulisan itu. Jadi, mungkin, sebenarnya ada efek buruk dalam dongeng ini. Jam kuno tidak akan memanipulasi atau menyembunyikan hal buruk yang seharusnya terjadi. Tentu, selalu ada kemungkinan hal buruk bersama hal baik, itu akan selalu beriringan. Tidak bisa disingkirkan salah satunya.“Jika kita mau membuka hal baik, hal buruk juga tidak akan menutup. Itulah konsekuensinya.” Perkataan Aura membuat Intan semakin merasa bersalah, apakah ini dampak sifat sompral Rena selama enam hari atau kenyataan pahitnya memang seperti itu? Semoga ini hanyalah sebuah hukuman.“Salah satu alasan kita tidak tahu apa yang akan terjadi adalah karena kita tidak akan pernah siap saat menghadapi kejadian buruk yang akan datang. Kita akan menjadi sangat merasa buruk sebelum hal buruk itu tiba,” tambah Nisa. Intan gelagapan sembari mencoba semangat, “Ah tidak, ini hanya permainan ‘kan? Anggap saja itu sebagai hukuman karena kau bicara sembarangan selama enam hari ini. Lebih baik kita tanya ulang saja, bukan begitu?”Rena yang masih menatap papan tulis mengembuskan napasnya. “Tidak usah. Ini memang konsekuensi mendahului takdir. Seharusnya kau merasa senang karena memiliki masa depan yang cerah.” Intan mencoba menghampiri Rena dan merangkul bahunya, “Tidak, tidak. Jam kuno itu berbohong. Bagaimana kau begitu yakin, bukankah kau juga tidak percaya? Aku juga berjanji tidak akan percaya.” Rena menoleh, ekspresinya sangat datar. “Sejak pertanyaan Mia yang aneh itu, aku percaya.” “Tapi, bagaimana? Itu semua belum terbukti.” “Tidak. Laki-laki yang tadi melintas lewat kelas kita adalah kekasihku satu tahun terakhir.”