Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
831
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
167
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Malam Minggu Yang Menyakitkan
Tepat pada malam minggu dengan gemerciknya suara hujan Ulo dan Mabi seperti biasa selalu sms-an. Ditengah kedamaian tersebut, Ulo ingin membicarakan sesuatu dan disitu pun perasaan mabi sudah tidak enak.“Mabi aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, tetapi aku ingin berbicara secara langsung.” ajak Ulo. “Ingin membicarakan apa? Bicarakan saja sekarang.” jawab Mabi. Tetapi Ulo hanya ingin berbicara secara langsung dan permasalahannya Mabi besok akan ada acara bersama teman-temannya. Dan akhirnya Mabi pun menolak secara perlahan. “Mau membicarakan apa?” dengan perasaan sedikit kesal. Ucap Mabi. “Tapi aku ingin membicarakannya secara langsung.” dengan keras kepalanya dia membalas seperti itu. Jawab Ulo. Dan Mabi pun setelah melihat pesan tersebut, dia berfikir hingga lama membalasnya.Ulo pun beberapa menit kemudian mengirim pesan dan membuat Mabi terkejut dengan pesan tersebut. Isi pesannya yaitu “Sudah ya Mabi, kau lupakan aku saja mulai sekarang dan aku pun akan melupakanmu. Karena percuma saja kita mempunyai perasaan spesial tetapi tidak dapat bersatu. Mulai sekarang lupakan aku ya, walaupun itu sakit dan susah tetapi kita harus melupakannya.” Itulah pesan yang dikirim Ulo. Mereka berdua pun mulai saling adu mulut karena keputusan tersebut. Dan Mabi pun mulai berfikir “Mengapa di saat malam yang sedamai ini hal seperti ini bisa terjadi.” dengan banyak pertanyaan yang bermunculan. Dan Mabi pun mulai berfikir bahwa Ulo mempunyai teman dekat cewek namanya Ica. Mereka selalu sms-an seperti kami. Kelihatannya sih Ica dan Ulo di pesannya terlihat romantis, saling perhatian antara keduanya, dan disitu pun Mabi mulai merasakan kembali rasanya sakit hati.Akhinya pun Mabi mengirim pesan kepada Ica, walaupun perasaannya sedang tidak enak, dia tetap mengirim pesan dengan cara baik-baik kepada Ica.“Assalamualaikum.” ucap Mabi. “Waalaikum salam, iya apa?” balas Ica. “Tidak, tidak apa-apa.” jawab Mabi.Beberapa menit kemudian hp Mabi pun berdering terdapat pesan masuk. “Iya Ulo kamu mau nonton?” pesan Ica.Melihat pesan baru itu Mabi semakin sakit dan mungkin Ica salah kirim seharusnya dikirim ke Ulo ini malah ke Mabi. Disitu pun Mabi tidak membalasnya dan Ulo pun tidak mengirim pesan lagi kepada Mabi. Mungkin dia sedang bersama Ica, Mabi pun dengan perasaan yang sakit dan lelah dengan semuanya dia pun tertidur dengan selalu memikirkan Ulo.Keesokan harinya Mabi dan Ulo untuk sementara tidak tidak saling mengabari dan Mabi merasakan kembali rasanya kesepian.
Malaikat di Tengah Hutan
Lima hari perjuangan mengahadapi soal ujian yang mengerikan sudah berlalu. Aku tidak perlu takut kepalaku menguap lagi karena terlalu fokus memikirkan soal. Aku duduk di atas kursi plastik warna putih. Kursi sejuta umat yang dapat kau kenali dengan mudah hanya dengan melihatnya. Akun permainan berlevel tinggi terpampang di layar komputer kesayangan. Sejumlah cemilan ringan tergeletak di samping keyboard warna-warni edisi terbaru. Event spesial akhir pekan yang kutunggu-tunggu telah dimulai. Aku dapat menyelesaikannya dengan mudah jika aku bermain beberapa jam. Seharusnya itulah rencana hari ini.Tapi, kenapa aku berada di tempat entah berantah ini? Pemandangan penuh dengan warna hijau terasa asing di depan mata. Pohon-pohon besar menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan. Rindangnya pepohonan menyembunyikan langit dari pandangan. Sinar matahari yang seharusnya sedang terik-teriknya tidak mampu menembus kanopi hutan. Aku yang terbiasa berdiam diri di dalam ruangan kini berada di tengah hutan.Lama aku berjalan menyusuri jalan setapak ini. Jalur yang hanya terbuat dari tanah, becek karena air, sisa hujan semalam. Beberapa kubangan air berwarna coklat terlihat sepanjang jalan. Aku melangkah, berhati-hati, menjaga langkah agar tidak terjatuh. Aku tidak mau kamera yang kubawa di dalam tas selempang rusak. “Kenapa tadi malam harus hujan, sih?”Seorang gadis yang dari tadi ikut berjalan di belakangku mengungkapkan kekesalannya. Gaun pendek ala gadis perkotaan yang dipakainya terlihat mencolok di tengah lebatnya hutan. Kulit kaki serta tangannya terbuka, tak terlindungi dari ancaman serangga yang bisa saja menyerang. Salah satu tangannya menenteng dua buah sepatu hak tinggi kotor. Tangannya yang lain sibuk memegangi bajuku, takut terjatuh. Nama gadis itu adalah Melisa. Kami bersekolah di tempat yang sama. Aku tidak bisa mengatakan kalau kami berdua dekat. Hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik kelas.Lalu, kenapa kami berduaan di dalam hutan? Jawabannya simpel: aku terpaksa. Semenjak kemarin pagi, Melisa terus memohon padaku menemaninya berfoto untuk perlombaan, katanya. Melisa yang aku kenal memang seperti ini. Dia selalu memintaku melakukan hal yang ia katakan, bahkan semenjak pertama kali kami mengenal. Mulai dari menemaninya belajar soal ujian di perpustakaan, sampai harus mendengarkan curhatannya semalaman. Aku yang tak terbiasa berargumen tidak dapat menolak permintaannya. Begitulah hari ini, sekali lagi, aku menjadi budak pesuruh yang menuruti semua kemauan Melisa.“Sudah kubilang, jalannya akan seperti ini kalau habis hujan.” ucapku mencoba menenangkannya. “Mau pulang saja?” aku berhenti sejenak dan mengalihkan pandanganku kepada Melisa. “Enggak mau. Kita harus melakukannya hari ini” jawabnya menolak.Melisa mendorong tubuhku sedikit ke depan, memaksaku terus berjalan. Deras aliran air terdengar lemah dari kejauhan. Mungkin Melisa tidak mau kembali karena kita sudah dekat? Tempat yang kami tuju, menurut informasi Melisa, adalah sungai kecil yang berada di tengah hutan. Air sungai itu bening. Bebatuan besar menghiasi di sepanjang tepiannya. Belum banyak orang yang mengetahui keberadaan sungai itu karena letaknya yang tersembunyi dan sedikit jauh dari pemukiman.Kami kembali melanjutkan perjalanan. Suara aliran sungai semakin terdengar keras di telinga. Tidak lama kemudian terlihat tempat yang kami tuju. Sungai kecil dengan bebatuan berwarna abu-abu kehitaman di pinggiran, sesuai perkataan Melisa. Air sungai itu berkilauan, memantulkan cahaya surya. Langit biru dengan sedikit awan di atas sungai tak tertutupi kanopi hutan. Latar rindang hijaunya hutan menambah keeksotisan tempat ini. Kicauan burung hutan bercampur gemercik air yang terus terdengar dari aliran sungai, menciptakan kesunyian yang menenangkan.Kami terdiam di tepi sungai. Kupejamkan mataku menikmati suasana yang jarang kurasakan ini. Mengikuti permintaan Melisa untuk datang kesini sepertinya bukanlah hal yang buruk. Suasana asri alam yang belum terjamah manusia memberikan ketenangan. Kedamaian seolah merasuk ke dalam jiwa.“Kak, cepetan foto” Saat aku kembali membuka mata, Melisa sudah berada di atas salah satu batu besar, menyuruhku untuk memotretnya. Melisa duduk di atas batuan besar itu dan mulai berpose menyilangkan kaki. Aku ambil kamera dari dalam tas, bersiap memfoto. Senyum manis terlihat dari balik kamera.Klik Figur gadis kota duduk di atas batu pinggir sungai tersimpan dalam kameraku. Melisa kembali berdiri, membersihkan bagian belakang pakaiannya dan menuju ke arahku. Kuperlihatkan hasil tangkapan gambar kepadanya.. “Jelek. Ulang lagi.” Aku menghela napas. Jika Melisa ingin aku memfotonya, aku tahu bahwa aku harus melakukannya berulang kali.Kami mengulangi hal yang sama, tentunya dengan sedikit variasi. Mulai dari berdiri di atas bebatuan sungai sampai berpindah tempat ke tengah sungai yang ternyata tidak terlalu dalam. Semua untuk mendapat hasil foto yang bagus.“Mel, berhenti sebentar. Istirahat” ucapku Aku duduk di salah satu batu besar. Aku memilih tempat yang teduh tertutupi pohon agar tidak kepanansan. Kutaruh kamera di sampingku dan mengajak Melisa ikut beristirahat. Meskipun Melisa awalnya menolak, setelah melihat aku yang kelelahan, ia memilih untuk ikut beristirahat. Dia duduk di sampingku, di atas batu yang sama denganku.“Jadi gimana? Tempatnya bagus, kan?” tanya Melisa antusias. “Iya. Bagus” jawabku singkat. Wajah Melisa terlihat cemberut mendengar jawabanku. Aku berpura-pura tidak tahu. Aku mengalihkan pandanganku ke sungai. Arus sungai mengalir tenang, tidak terlalu deras walau semalam hujan. Ikan-ikan kecil sesekali terlihat bersembunyi di sela-sela bebatuan. Terkadang daun yang jatuh dari pohon, hanyut terbawa arus sungai. Melihat hal biasa seperti itu entah kenapa memberikan ketenangan tersendiri.Kembali aku memikirkan hubunganku dengan Melisa. Kenapa dia selalu datang padaku dengan dengan berbagai keinginnnya? Kenapa ia tidak meminta teman sekelas atau orang lain? Kebanyakan permintaannya mengharuskan bersama dengannya sendirian. Bagimana ia terus meladeni sikapku yang kata orang dingin dengan selalu memasang senyum hangat. Seolah Melisa mencoba menarik perhatianku untuk terus tertuju padanya.“Kak” Suara kecil Melisa memanggil, memecah aku yang terfokus dalam pikiran. Kepalaku spontan menengok ke arah suara itu berasal. Klik Suara jebretan kamera terdengar. Kamera yang tadinya keletakkan di sampingku kini berada di tangan Melisa. Kamera itu menutupi sebagian wajah Melisa, kulihat sebelah matanya menutup dan yang lain berada dibalik kamera. Melisa memfotoku diam-diam.“Ah, kok eggak senyum sih, kak? Enggak jadi bagus hasilnya, deh.” gerutu Melisa. Merasa tidak puas dengan hasil foto yang baru ia ambil, Melisa mengalihkan perhatiannya ke kamera. Ia melihat satu-persatu gambar dirinya yang telah kuambil sebelumnya. Sesekali ia mengomel jika melihat gambar yang tidak bagus. Kemudian, ia langsung tersenyum saat melihat foto dirinya yang bagus, memujinya berlebihan.Aku melihat semua itu dari samping. Sebuah perasaan memaksaku untuk terus memandangi hal yang ia lakukan. Mengamati bagaimana dengan mudah wajah itu berganti-ganti ekspresi. Caranya menyikapi sesuatu secara berlebihan, penuh dengan jiwa, tidak pernah membuatku jenuh.“Kenapa, kak?” Alis Melisa naik seraya pertanyaan itu keluar dari bibirnya. Terlalu lama aku memandangnya mungkin membuatnya merasa aneh. Tetapi, pandanganku menolak untuk beralih. “Enggak apa-apa” jawabku.Tanpa kusadari kedua ujung bibirku naik ke atas, menciptakan lengkungan senyum sederhana. Entah Melisa memang suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri, atau ia memang menginginkanku untuk memperhatikannya. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Melisa. Hal yang kutahu dengan pasti adalah keseharianku yang membosankan terasa menjadi lebih berwarna setiap kali aku bersamanya. Ocehan gundah, gerutu yang menyebalkan, senyuman manis, hal yang menurutku asing untuk kurasakan ada pada dirinya. Dia seolah membuatku tidak sabar dengan hal asing apa yang ia perlihatkan lagi padaku. Semua itu membuatku tertarik.“Kamu cuma kelihatan cantik”Di dalam kedamaian hutan, di pinggir aliran sungai yang menghanyutkan, di atas batu besar nan kokoh, sosok malaikat yang tanpa sadar membuatku terpikat memiringkan kepalanya kebingungan.
Cinta Dalam Diam
Hai, namaku Azhar. Aku adalah mahasiswa ngetop di Fakultas Ekonomi, alasan ngetopku bukan karena wajahku yang tampan tapi karena IP ku yang selalu 4,0 di setiap semesternya. Bagaimana tidak 4,0 semua mata kuliah yang disampaikan dosenku bisa kuserap dengan mudahnya. Semua mata kuliah Ekonomi kukuasai dengan baik, bahkan tak jarang banyak temanku yang bertanya padaku. Tapi, dari sekian banyak yang kutahu hanya satu yang tidak kumengerti yaitu Riana.Riana adalah temanku kuliah sekelas. Jika kau mendengar namanya pasti kau akan mengira kalau dia adalah cewek yang ekstra feminin tapi kenyataannya jauh dari kata feminin alias tomboy abis. Setiap hari ia selalu membuat mataku malas dengan penampilan tomboynya. Semua teman perempuanku berpakaian selayaknya gadis pada umumnya namun tidak dengan Riana. Setiap hari ia memakai jilbab pendek instan, kaos oblong, celana jeans dan sepatu cats. Daann tidak pernah memakai make up sedikitpun di wajahnya. Rasa benciku padanya semakin memuncak saat papa membicarakan pernikahanku dengan Riana.“Tidak Pa. aku belum siap berumah tangga. Aku masih ingin kuliah pa, lagian sekarang aku masih semester 6” protesku “Iya, papa tahu tapi kalau kau menikah, kau kan bisa menunda punya anak dulu jadi no problem, kan” ucap Papa bersikeras “Aku belum bekerja Pa, mau aku hidupi dengan apa nanti dia? Lagian papa ini kenapa sih kok tiba-tiba mau menikahkanku dengan gadis yang tidak kukenal” “Zhar, papa ini sudah terikat janji dengan om Gito untuk menjodohkan anak kami jika lahir berlawanan jenis. Papa harap kau mengerti” “Siapa dia? Papa punya fotonya?” “Sebentar, fotonya ada di HP papa” ucap Papa sambil mengusap HPnya“Ini dia Zhar. Kau suka kan?” ucap papa sambil menyodorkan HPnya padaku “Riana?!” ucapku “Kau mengenalnya?” Tanya Papa dengan muka berbinar “Cewek ekstra tomboy yang membuat mataku malas melihatnya setiap saat. Nggak ada yang lain yang lebih jelek lagi pa?” “Hush! Ngomong apa kamu ini?” “Nggak Pa, sampai kapanpun Azhar nggak mau menikahinya” ucapku sambil berlalu meninggalkan papa dan tiba-tiba … bruk “Papa! Tolong-tolong papaku pingsan!”Cepat-cepat pak Darso, pak Ucin dan mbok Darmi membantuku menggotong papa ke kamar. Kemudian aku segera menghubungi dokter pribadi kami. Beberapa menit kemudian dokterpun datang. “Pak Handi hanya kelelahan saja Mas. Jangan khawatir. Saya bikinkan resep dulu ya nanti ditebus di apotek biasanya” “Baik dok”“Zhar.. Azhar” “Papa.. papa sudah sadar?” “Sudah, tapi masih sedikit pusing” ucap Papa dengan wajah pucatnya “Syukurlah pak kalau bapak sudah siuman. Bapak hanya kelelahan saja, tidak apa-apa kok pak” “Terimakasih dok” “Kalau begitu saya pamit dulu ya. Mari..” “Mari Dok”Setelah mengantar Dokter sampai ke pintu depan, aku kembali ke kamar Papa. Kulihat papaku sedang memikirkan sesuatu. Apakah sikapku tadi terlalu berlebihan padanya? “Pa, Azhar minta maaf kalau tadi Azhar sudah berlebihan ke Papa” “Tidak Zhar, papalah yang harusnya memikirkan perasaanmu. Kau sangat jijik pada Riana mana mungkin kau mau menikah dengannya” ucap Papa “Tapi pa, Azhar mau melihat papa sehat sudahlah pa biarlah Azhar menikah dengan Riana” “Kau yakin anakku?” “Yang penting papa sehat” ucapkuHari pernikahanku dengan Riana telah tiba tapi aku masih tetap saja illfeel melihat si gadis tomboy itu. Entahlah apa yang akan terjadi pada rumah tanggaku selanjutnya, karena aku berpikir pernikahanku bukanlah sebuah rumah tangga tapi sebuah kompromi kesehatan Papa. Rencanaku nanti malam aku akan tidur di sofa saja. Maafkan Azhar Pa..“Mas, aku perhatikan dari tadi pagi kau cemberut terus? Kenapa mas?” “Nggak papa” jawabku cetus “Ya udah kalau gitu aku tidur dulu mas. Selamat malam” “Malam”Keesokan paginya aku bangun tidur, kulihat tak ada Riana di kamar tapi ada selimut yang menyelimutiku, entah siapa yang melakukannya. Akupun bangun dan melipat selimut itu kemudian ke kamar mandi. Setelah bersih-bersih badan kulihat Riana di dapur sedang memasak. “Mas, sarapan dulu. Aku sudah buatin sarapan buat kamu Mas” ucap Riana ramah “Iya” jawabku singkat dan aku langsung sarapan“Oh iya Ri, setelah ini aku mau ke kampus” “Loh Mas bukannya sekarang nggak ada kuliah kan?” “Bukan urusan kuliah tapi yang lainnya” “Iya Mas”Jujur, setelah aku menikah dengan Riana aku merasa menjadi manusia pembohong besar. Bagaimana tidak aku telah membohongi Papa, diriku sendiri dan Nabila. Nabila adalah wanita terindahku. Di mataku, hanya Nabilalah yang pantas menjadi pendampingku bukan Riana si gadis tomboy.Sudah 3 bulan aku menikah dengan Riana dan tinggal satu atap bersamanya. Papaku menghadiahkan sebuah rumah kecil padaku sebagai hadiah pernikahanku. Bagiku, 3 bulan adalah waktu yang sangat panjang dan menyiksa. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diriku tapi aku tak bisa, hatiku tetap tidak bisa menerima Riana, hingga suatu ketika..Malam itu aku sedang duduk di ruang tamu sambil memandangi foto Nabila, tak terasa air mataku jatuh terurai dan entah sejak kapan Riana ada di belakangku.“Foto siapa itu Mas?” “Ri, ini foto Nabila” “Siapa dia Mas? Mengapa kau memandanginya sampai berlinang air mata?” Tanya Riana penasaran “Dia kekasihku. Ri, maafkan aku. Aku tidak pernah bisa mencintaimu karena hatiku telah dimilikinya” “Aku tahu mas. Sejak hari pertama kita menikah kau selalu cemberut bahkan aku juga tahu kalau kau sangat illfeel padaku. Kenapa kau tidak bilang sejak awal mas?” “Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan Papa Ri tapi setelah 3 bulan aku tidak bisa” “Aku tahu kenapa kau tak bisa, pasti karena mbak Nabila sangat cantik dan kalau aku perhatikan dia gadis yang cerdas” “Kau benar Ri. Dia pernah membuat sebuah essay yang ternyata essaynya itu sekelas mahasiswa S2 padahal waktu itu ia masih kelas 2 SMA” “Wau pintarnya! Sekarang dia dimana mas?” “Dia menjadi mahasiswi fakultas kedokteran di Bandung”Riana terdiam, ia menatapku sambil berusaha tersenyum tenang kemudian ia duduk di sampingku. “Mas, sekarang apa rencanamu?” “Aku ingin kita bercerai Ri” “Apakah kau sudah memikirkannya masak-masak?” “Sudah Ri. Bagaimana menurutmu?” “Aku terserah padamu mas. Apapun keputusanmu aku ikut” “Aku sudah mantap Ri, aku ingin kita bercerai” “Baik mas aku akan beres-beres barangku dulu”—“Kau akan menceraikan Riana?” “Iya Pa aku sudah tidak bisa membohongi diriku lagi. Maafkan aku” “Lalu bagaimana dengan Riana? Apakah ia setuju?” “Dia menyerahkan semuanya padaku Pa. Apapun keputusanku dia ikut” “Baiklah nak, jika beberapa bulan yang lalu kau telah berkorban untuk Papa sekarang giliran Papa yang harus berkorban untukmu”Sertifikat duda sudah ada di tanganku, kini aku sudah terbebas dari belenggu menjadi suami Riana dan sudah tiba saatnya bagiku meyakinkan Nabila. Sore itu, masih libur semester aku mengajak Nabila bertemu di sebuah Café favorit kita.“Sayang, aku sudah bercerai dari Riana” “Mana buktinya?” “Lihatlah. Ini sertifikatnya” “Kau sangat membenci Riana?” “Iya sangat. Dia tak seperti yang aku inginkan, hanya kaulah yang aku inginkan sayang. I Love You” “Sayang, I love you to” ucap Nabila sambil menggenggam tangankuHari itu kurasakan kembali kebahagiaan yang telah lama hilang dalam hidupku, Nabilaku nafasku. Sebentar lagi aku sudah semester 7 lalu semester 8 dan wisuda kemudian aku akan berkerja supaya bisa dengan segera melamar Nabila. Semangatku kuliah sangat menggebu-nggebu bahkan akupun mulai mencari lowongan kerja khusus S1 Ekonomi.Semangatku membuahkan hasil juga, tepat semester 7 lebih 3 bulan skripsiku sudah selesai dan akupun juga sudah mendapat panggilan kerja di sebuah perusahaan ternama. Oh iya, seusai bercerai denganku Riana tetaplah Riana gadis tomboy dengan sejuta tawa. Ia masih saja bercanda dengan kawan-kawannya seputar film komedi. Riana.. Riana kau tetap saja tak bisa berubah.Hari itu kudapati Riana tengah bercanda seputar film komedi dengan kawannya di koridor kampus. Aku perhatikan ada yang lain dengan pakaiannya, sepertinya pakaian itu adalah seragam karyawan love café.“Apa kabar Ri?” “Oh.. Mas. Kabarku baik? Mas gimana kabarnya?” “Baik. Kau sekarang sudah kerja Ri?” “Iya Mas di Love Café, lumayan mas bisa buat bayar kuliah dikit-dikit” “Sejak kapan Ri” “Sejak bercerai denganmu. Daripada diem nggak ada kesibukan mending aku kerja” “Ooo” “Kamu gimana Mas? Nglamar kerja dimana?” “Aku udah dapat panggilan kerja di perusahaan ternama di Bandung Ri” “Wahh jauh banget mas tapi Mas jadi dekat dengan mbak Nabila dong” “Iya rencananya aku mau menikahinya 2-3 bulan lagi. Do’ain ya Ri” “Iya Mas semoga lancar” ucap Riana sambil tersenyum manisHari ini adalah hari wisudaku, hari dimana aku mendapat gelar Sarjana dan bukan hanya itu, di hari itu juga aku mendapatkan sebuah pelajaran besar yang telah meruntuhkan keangkuhanku. Pagi itu wisudaku dilaksanakan di sebuah gedung kebanggaan kampus. Aku duduk di salah satu kursi yang telah disiapkan dan tanpa kusadari wisudawati sebelahku adalah Riana.“Riana” “Hei Mas. Kamu datang ke sini sama siapa?” “Sama Papa dan Istriku, Ri” “Istri? Mbak Nabila sudah menjadi istrimu mas?” “Iya. Kami menikah sudah sebulan yang lalu” “Alhamdulillah. Selamat ya Mas. Semoga awet sampai surga” “Amin. Makasih do’anya” “Sama-sama Mas”Para perwakilan kampus satu persatu memberikan sambutannya pada wisudawan dan wisudawati, ya kurang lebih mereka menghabiskan waktu 2 jam. Kulihat Riana sudah tidak betah ingin ke kamar mandi. “Mas, aku ke kamar mandi sebentar ya” ucap Riana berlalu begitu saja meninggalkanku. Lama sekali ia belum kembali ke kursi wisudawati, aku takut dia tertinggal prosesi pemberian ucapan selamat dari Rektor, tanpa pikir panjang kutelfon dia ternyata HPnya tertinggal di kursi. Kuambil HP itu dan… “Ri, tadi HPmu tertinggal” ucapku sambil menyodorkan HP Riana. “Makasih ya mas” ucap Riana gugup“Kenapa kau sembunyikan perasaanmu dariku Ri? Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau sayang padaku?” “Mas, kau bicara apa? Aku tak mengerti” “Ri, kalau kau tidak menyayangiku kenapa kau menyimpan kontakku dengan nama yank? Dan kau juga memakai fotoku sebagai foto desktop hp” ucapku menatap Riana lekat-lekat tapi Riana masih gugup dan bingung.“Mas, sejak dulu aku memang sayang sama kamu. Cita-citaku adalah hidup bersamamu tapi setelah menjadi istrimu aku mengerti kalau di hatimu hanya ada mbak Nabila. Jadi, aku harus melepasmu” “Apakah hatimu tak sakit melihatku dengan Nabila?” “Kalau sakit, iya memang sakit mas tapi rasa sakit itu hanya di awal saja, seiring berjalannya waktu rasa sakit itu akan berubah menjadi bahagia karena aku telah melihatmu bahagia dengan pilihanmu”“Bagaimana bisa kau melakukan itu untukku?” tanyaku berlinang air mata “Mas, jika kita mencintai seseorang kita tidak boleh egois karena keegoisan kita akan menyakiti hati orang yang kita cintai dan aku tidak ingin menyakitimu terlalu lama” “Kenapa ini harus terjadi sekarang, Ri? Kenapa ini harus terjadi saat aku sudah menikah dengan Nabila? Seandainya kuketahui sebelum kumenikahi Nabila pasti aku akan memilihmu, Ri” ucapku menahan sesaknya isak “Sudahlah mas, anggap saja yang tadi itu adalah angin lalu yang penting sekarang adalah rumah tanggamu dengan mbak Nabila. Tugasmu adalah menjaganya supaya tetap kuat, cukuplah denganku yang retak jangan dengan mbak Nabila” ucap Riana sambil tersenyum menahan tangis “Iya Ri akan kujaga rumah tanggaku. Maafkan aku, Ri” “Iya Mas, aku sudah memaafkanmu sejak dulu”Kupandangi wajah tenang Riana, sosok wanita yang pernah hadir di hidupku walau hanya sekejap tapi ia telah mengajarkan satu hal yang berarti padaku. Jika ingin bahagia dalam bercinta, maka buanglah keegoisan. Maafkan aku Riana..
Gadis Tribute Hall
Semakin ku membuka mata, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Kakiku seperti akan meledak. Ku merasa berjam-jam lamanya aku tidak sadarkan diri dalam posisi berdiri dengan tali tambang yang melilitku dan tiang besi yang tegak berdiri menyangga tubuhku. Tali itu membuat kemeja kotak-kotak dan jeans panjang yang kukenakan hampir tak terlihat. Aku seperti mumi yang menyedihkan. Dadaku mulai sesak. Anggota tubuhku sama sekali tak bisa digerakkan. Hanya kepala yang dapat kugerakkan dengan sempurna ke atas, ke bawah, ke samping kanan atau ke samping kiri. Beruntung, seluruh alat indraku masih bisa berfungsi dengan cukup baik. Tak jarang ku mendengar suara samar-samar jangkrik dan burung hantu dari luar.“Baiklah, sekarang bau badanku seperti bau badanmu, tiang bodoh!”, gumamku. Aku seperti membodoh-bodohkan diriku sendiri. Aku sedikit melirik lampu corong redup yang digantungkan tepat sejengkal di atasku. Sangat dekat. Aku sama sekali tidak merasakan panasnya lampu yang memancar. Entahlah, mungkin saja panasnya lampu dan dinginnya malam itu membuat suhu di sekitarku menjadi netral. Ruangan itu sangat gelap. Sinar lampu itu hanya mampu menyinari tubuh dan tiang di belakangku. Hal itu membuat siapapun atau apapun dapat melihatku dari kejauhan. Aku hanya dapat melihat dengan jarak pandang sekitar 5 meter saja. Selebihnya, gelap.“Hei apa-apaan ini! Sam, Nick? Ayolah, aku tak sedang ulang tahun,” suaraku menggema ke seluruh penjuru ruangan. Kurasa ruangan ini semacam aula atau sejenisnya. Yang pasti ruangan ini cukup luas. Tak biasanya teman-temanku mengerjaiku sekejam ini. Yah, memang mereka kadang melampaui batas. “Istirahatku sudah selesai, kawan. Keluarlah dan lepaskan aku. Aku susah bernapas,” kataku sambil menggerak-gerakkan tubuhku dengan percuma. Selang hitungan detik setelah itu, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahku. Semakin lama, suara itu semakin jelas, lalu berhenti. Kurasa seseorang sedang mengawasiku. “Hei, siapa saja yang datang tolong aku. Keluarlah! Aku tak bisa – Arrrgggghhhh,” Tiba-tiba ada seseorang berlari dan menyundul perutku dari depan. Ku menutup mata menahan rasa sakit di perutku. Belum sampat ku melihat pelakunya, dia menamparku bertubi-tubi. Disela-sela tamparannya ia mengayunkan kepalan tangannya tepat ke wajahku. Akibatnya, kepalaku menghantam keras tiang yang sedari tadi masih setia di belakangku. Ku merasakan darah segar mengalir lewat kedua lubang hidungku. Tak hanya kaki, sekarang kepalaku pun ikut meledak sebentar lagi. Ku berusaha membuka mataku untuk kesekian kalinya. Seorang gadis sedang berdiri tepat di depanku. Gadis itu mengenakan jaket berwarna merah dan celana training berwarna hitam. Dia menyeringai ke arahku.“Kau… bukan temanku,” kataku sambil berharap dapat menunjuk wanita itu dengan jari tengah yang kupunya. “Joey, Apa kau ingat sesuatu, Joey?” kali ini namaku disebutnya lebih dari sekali. Gadis itu berputar-putar mengelilingiku dan tiang bodoh yang masih menemaniku. Melihatnya berputar-putar membuatku aku teringat kejadian yang menimpaku sebelumnya.Lewat tengah malam, aku memperoleh pesan singkat dari nomor Rossy. Dia meminta tolong padaku untuk menjemputnya di Jalan Wrightstone karena ia baru saja mengalami kecelakaan. Tanpa berpikir panjang, aku menyalakan mesin mobil dan pergi untuk menjemputnya. Namun, tak ada seorangpun di Wrightstone. Saat ku keluar dari mobil, ada sesuatu yang menancap di bahuku. Hanya itu yang kuingat sebelum aku bertemu gadis sialan di tempat ini.“Mana temanku, Nona?” seketika kuteringat Rossy. “Teman? Bukankah aku temanmu?” gadis itu tertawa terbahak-bahak. “Gampang juga membuatmu menyalakan mesin mobil dan menemuiku,” kata gadis itu sambil memainkan rambut hitamnya. Untuk kesekian kalinya aku ditipu oleh seorang gadis. Entahlah, yang ini sedikit berbeda. “Apa Rossy pacarmu?” wajahnya mendadak serius. “Apa yang kau lakukan padanya?” “Tenang Bung. Kau ingin tau apa yang sedang dilakukan Rossy-mu itu? Mungkin dia sedang memimpikan dirimu sekarang,” kalimatnya membuatku sedikit lega. “Nomor itu…” aku mulai teringat sesuatu. Handphone Rossy hilang beberapa hari yang lalu. “Aku yang mencurinya. Kenapa? Kau ingin memukulku sekarang?” katanya. “Aku tak akan berani memukul seorang gadis. Walaupun gadis itu sesialan dirimu,” kataku.Seketika raut wajah gadis itu berubah. Aku mendengar kalimat yang lirih keluar dari mulutnya “Joey, aku cemburu,” “Apa maksudmu?” “Apa kau tak ingat padaku? Ingatanmu payah. Selain tampan, kau juga bodoh, Joey,” tanyanya yang kemudian memujiku lalu menghinaku. Aku hanya menggeleng pelan. Benar saya, pukulannya tadi membuat otak kiriku berantakan. Sebuah nama tempat disebutkannya, “Tribute Hall,” “Emma,” sontak aku menyebut sebuah nama saat ku mendengar Tribute Hall. Namanya Emma, gadis sialan ini bernama Emma. Dia hanya tersenyum.Aku dan Rossy bertemu Emma seminggu yang lalu di Tribute Hall, aula beladiri yang ada di kota Redburn. Rossy memperkenalkanku pada Emma. Kesan pertama aku tak merasakan keanehan. Dan sekarang, apa yang dia lakukan? Cemburu? Padaku?“Apa kau ingin bernostalgia denganku malam ini, Joey?” “Aku sedang tak ingin. Bicara saja. Apa urusanmu?” “Apa kau menjalin kasih dengan Rossy?” untuk kedua kalinya dia menanyakan hal yang sama dengan susunan kalimat yang sedikit berbeda. “Ya. Dia kekasihku. Ada masalah?” “Kau membuat diriku membenci dirinya. Terlebih dengan dirimu,” suaranya sedikit bergetar. “Aku tak mengerti,” kataku sambi mengernyitkan dahi. “Tempo hari, aku mengajak Rossy makan malam. Aku menungguinya di restoran hampir semalaman. Disaat yang bersamaan, aku melihatmu menggandeng tangan seorang gadis. Gadis itu adalah Rossy. Sejak dia mengenalmu, dia menjauhiku,” gadis itu menangis. Ruangan itu seketika hening. “Aku masih tak mengerti,” kataku. Emma mendekatiku. Sangat dekat. Suara nafasnya terdengar jelas di telingaku. Lalu dia membisikkan sesuatu padaku, “Kau merebutnya dariku, Joey. Aku mencintainya” kalimat terakhirnya membuat mataku terbelalak. Seluruh tubuhku bergetar. “Emma, kau…,“ “Rossy milikku!,” Tiba-tiba Emma menancapkan sebuah jarum suntik di bahuku.
Bintang, Bulan dan Langit Malam
“Biarkan aku jadi yang terhebat, jadilah kamu kekasih yang kuat …” Pandanganku terpaku ke arah panggung. Tepat pada seorang cowok yang sedang bernyanyi. Suaranya begitu merdu, raut wajah yang menghayati setiap lirik pada lagu, dan petikan gitarnya, membuatku terhipnotis pada pesonanya. Entah sudah berapa menit yang kuhabiskan tanpa berkedip saat menatapnya.Dia serupa bulan, bersinar di antara ribuan bintang. Dan aku bersyukur, berada di tempat yang dekat dengannya. Kembali, kuingat kerasnya perjuangan untuk membuatnya menyadari kehadiranku.“Ini,” ucapku seraya meletakkan buku paket pada mejanya. Dia lalu mengambil buku itu tanpa bertanya, membuatku menghembuskan napas, kesal. “Kamu kerjain nomor 1 sampai 10 dan aku akan melanjutkan nomor 11 sampai 20, praktekan dulu setiap petunjuknya dan jawab sesuai dengan hasilnya. Aku nggak mau terima jawaban yang hanya sekadar ditebak saja,” jelasku panjang dan lebar. Dia mengangguk tanpa menoleh padaku. Yaa, sepertinya handphone yang berada dalam genggamannya begitu penting daripada kerja kelompok. Aku beranjak menjauh dari bangkunya, sambil mendengus keras sebab tingkahnya yang cuek.“Ini,” ucapku sambil memberikan sebatang pensil padanya. Saat itu sedang berlangsung pelajaran biologi, dan tugas kami menggambar organ-organ pencernaan tubuh pada manusia. Tugas yang begitu rumit karena aku tak terlalu pandai menggambar. Namun disaat rumit seperti itu, aku masih sempat memperhatikan sekilas raut gelisah pada wajahnya. Sungguh miris, sebab setelah aku melakukan hal yang menurutku tepat, yang dibalas hanya anggukan dan menerima pensil yang kuberikan. Tanpa kata-kata lebay yang biasa diucapkan oleh teman-temanku saat aku memberikan sedikit bantuan. Bukan bermaksud mengharapkan ucapan lebay atau kata terima kasih, tapi respon mengangguk, menerima pemberianku, lalu segera terjun pada kesibukan yang ditugaskan guru sungguh membuat kesan seakan aku adalah tempat pensil. Sudah semestinya dia mendapatkan pensil dariku.“Aku manusia yang membutuhkanmu, membutuhkanmu. Hatiku memainkan pandang hanya padamu, pada hatimu …”Sungguh, tak masalah jika aku hanya menjadi sebuah sandaran di saat kau butuh beristirahat sejenak dari kepenatan hidupmu. Sungguh, aku tak apa-apa. Asal kau tetap di sisiku.“Terima kasih Mrs. Ini,” ucapnya sambil terkekeh. Saat itu adalah kali pertama dia menyapaku, dari sekian banyak cara yang telah kucoba, untuk membuat dia memandangku. Mrs. Ini. Aku tersenyum mendengar julukannya padaku. Kuharap langkahku untuk menepati satu bagian dari hatinya, akan mulai berjalan lancar.“Jangan lelah, menghadapiku. Biarkan aku jadi yang terhebat, jadilah kamu kekasih yang kuat. Genggam tanganku, bernyanyi bersama. Karena kamu kekasih terhebat …”Bulan hanya bersinar untuk langit malam. Dan bintang ada hanya untuk memperindah langit malam dan menemani bulan di sepanjang ia bersinar.Ia tersenyum setelah menyanyikan lirik terakhir. Dan aku hanya mampu terpaku pada senyumnya. Yaa, hanya itu yang dapat kulakukan, karena senyumannya dan setiap lirik yang ia nyanyikan bukan untukku. “Love you …” Kulirik gadis yang membalas senyumannya seraya mengguman sebuah kalimat pamungkas. Kalimat pamungkas yang membuatku tak berdaya, hingga melipat harapan yang telah kurajut hari demi hari. Harapan yang belum sempat kutunjukan padanya.“Mita! Yuk kita ke belakang panggung,” ajak cewek tersebut, menggenggam tanganku, lalu menariknya agar aku mengikuti langkahnya. “Jadilah sahabat yang kuat, Mit,” gumanku dalam hati.Bintang ada hanya untuk menjadi teman bagi bulan. Seharusnya kusadari makna di balik pengandaiannya, ketika dia menggambarkan aku serupa bintang. Karena bulan hanya bersinar untuk langit malam, sahabatku. Yaa, seharusnya aku menyadari alasan ia memandangku, karena langit malam, Vinny, adalah sahabatku. Dan sudah sepantasnya aku berada di antara mereka. Bulan dan langit malam.“Mita. Brian memintaku mengirimkan foto. Dan aku mengirimkan foto kita berdua. Tidak apa-apa kan? Yaa, supaya ia juga mengetahui wajah sahabatku yang cantik ini.” Ucapan Vinny berulang kali berputar-putar dalam benakku. Kalimat yang ia ucapkan sehari sebelum rembulanku pertama kali memandangku. Menyadari kehadiranku.
Tidak Ada Lagi Ruang Hati
Pada senja yang sedang rintik-rintik dengan begitu cantik, gadis pemilik senyum manis itu berjalan sendirian dengan berlindung pada payungnya, sebagai tameng dirinya agar terhindar dari setetes air hujan yang sedang berkunjung pada tanah kota kembang.Ia berjalan dengan hati-hati dan sepasang netra yang fokus pada jalanan becek yang sedang ia lewati. Namun, ternyata semakin ia jauh melangkah, tetesan air yang awalnya sedikit berubah menjadi guyuran deras, dan gemuruh pun ikut mengiringi hujan kala itu. Lantas, dengan alasan ia tak ingin bajunya basah dan juga sekotak pizza untuk pelanggannya tidak kebasahan, gadis itu pun berhenti untuk berteduh pada sebuah ruko yang sedang tutup. Beruntung di tempat itu ada kursi untuk duduk, sehingga ia tidak lelah untuk terus berdiri sambil menunggu guyuran hujan ini mereda.Atmosfer dingin pun mulai terasa, ia menangkup kedua tangannya dan meniup dengan nafas yang keluar dari mulut untuk menghangatkan tangannya yang hampir membeku. Mungkin saja sekotak pizza itu sudah dingin jika dibiarkan saja terlalu lama dan itu akan merusak cita rasanya.“semoga saja hujannya tidak lama. Aku akan merasa bersalah jika pizza ini sudah tidak enak ketika diberikan pada pelanggan,” gerutu gadis itu. Ia tidak ingin menyalahkan hujan, ia hanya menyalahkan dirinya sendiri. Jika saja ia tidak nekat karena antusias menghantarkan makanan, tidak mungkin ia akan merasa bersalah seperti ini.Sepuluh menit sudah hujan tak kunjung berhenti. Mungkin ia fikir akan kembali untuk menukarkan pizzanya dengan yang lebih baik setelah hujan reda. Namun, suara langkah kaki yang cepat terdengar di telinganya, pun dengan bayangan yang ia lihat di balik derasnya hujan. Sampai akhirnya, sosok itu menampakan wujud sepenuhnya dengan keadaan seluruh badannya basah kuyup.Pria itu berhenti untuk berteduh di ruko itu. Kekesalan jelas terpatri di wajah lelaki yang tiba-tiba saja muncul itu. Namun, gadis itu merasa tidak asing dengan wajah lelaki yang baru pertama ia temui, sekarang. “sial! Kalau saja hujan ini tidak turun, mungkin badan saya tidak basah kuyup seperti sekarang,” ucap laki-laki itu dengan raut wajah kesalnya.Gadis itu pun memandang dengan lekat, lelaki itu juga tak sengaja melirik ke arah gadis yang sedang berteduh bersama dengannya, dan di situ pada akhirnya pandangan mereka bertemu.Hening, hanya terdengar suara hujan dan juga angin yang berhembus. Mereka kalut dalam perasaan mereka masing-masing, dan seseorang yang asing itu, ternyata dulunya pernah berjalan seiring.“sudah lama tidak berjumpa,” setelah keheningan berlalu, akhirnya salah satu dari mereka membuka bicara. Gadis itu tersenyum, meski senyumnya terlihat pilu. Lelaki itu melangkah, dan berjalan mendekat. Bagaimana pertemuan antara dua insan yang sudah berpisah sejak lama ini terjadi? Tidak ada yang tau, dan inilah yang disebut takdir.Debar jantung mulai terasa saat usapan tangan itu dengan lembut membelai pipinya. Namun, ini semua salah, dan gadis itu dengan perlahan menepis tangan lelaki itu. Ia tidak mau mengingat, bagaimana setiap belaian tangan itu begitu menyakitkan. Apa lagi disaat perpisahan.“maaf, maafkan saya.” lirih pria itu begitu tulus. Begitu pula dengan tatapannya. Gadis itu menggeleng pelan, “aku sudah memaafkan semuanya sejak dulu. Tapi bagiku, itu semua masih bukan salahmu,” balas gadis itu dengan mengukir senyumannya. “kamu tidak salah. Saya hanya belum dewasa saat itu, memutuskan hubungan tanpa tau bagaimana kedepannya,” ucapan dan penyesalan menyatu jadi satu dalam diri lelaki itu. “aku ataupun kamu yang bersalah di masa lalu, tetap saja takdir yang menginginkan kita untuk berpisah,” jelas gadis itu, dengan alasan tidak mau lagi untuk saling menganggap keduanya menjadi pusat permasalahan dari perpisahan di masa lalu itu.“tapi kali ini takdir mempertemukan kita, apa takdir juga menginginkan kita untuk kembali bersama?” pertanyaan yang terucapkan berharap ada keajaiban. “sepertinya, tidak. Di pertemukan belum tentu untuk kembali disatukan. Bisa jadi ini hanyalah jalan untuk mengobati rindu yang selalu terabaikan,” jelas gadis itu, ia merasa bodoh dengan dirinya sendiri yang terkadang, mengeluh, dan ingin bertemu.Lelaki itu terdiam, merasakan afeksi yang menjalar pada hati. Apakah dikarenakan sebuah tumpukan rindu yang sudah menggunung, sehingga tidak bisa ditampung dan berakhirlah dengan pertemuan yang akhirnya berujung.“begitu ya? Benar-benar tidak ada kesempatan sekali lagi?” tanya pria itu, yang sudah tidak kuat lagi merasakan kekosongan di hati. Debaran jantung lebih terasa, takut, takut rasanya jika tidak bisa kembali bersama. “tidak tau, dan itu belum pasti. Tapi, aku rasa kamu masih belum sepenuhnya suka dengan hujan,” kata gadis itu di iringin dengan kekehan. “na, saya minta maaf. Tapi apakah saya harus suka hujan dahulu, lalu menyukai kamu?” Gadis itu menggeleng, “tidak, bukan itu maksudku. Lupakan saja,”“jadi, kita tidak bisa kembali?” kata lelaki itu. Gadis itu pun mengukir senyum, “aku bahagia lihat kamu seperti ini. Tapi kalau aku ingat masa lalu, kadang sedih aja ingat tentang masa lalu kita yang membodohkan dan terlalu saling menyalahkan,” “na..” “udah, Havis. Ga ada yang perlu diperbaiki lagi. Aku bahagia bisa ketemu sama kamu di sini dan… Aku juga bahagia kamu sudah bisa sukses seperti ini,”Lelaki bernama Havis itu nampak tertegun dengan ucapan gadis itu. Senja perlahan mulai tergantikan dengan pergantian malam. Pertemuan ini, apakah mengobati kerinduan atau justru menambah rasa kesakitan?“tidak apa-apa jika kamu tidak mau kembali. Tapi saya harap kamu tidak akan melupakan saya,” harap lelaki itu, yang terdengar membodohkan. Gadis itu memegang pundak havis, seraya berucap, “tidak, havis. Terus terang saja, jika aku terus-terusan menyimpan barang di tempat yang aman, maka ia akan utuh dan tidak bisa hilang. Begitu pula kamu, jika kamu masih terus di dalam pikiran atau bahkan masih tersimpan rapi pada ruang hati, mana bisa rasa cinta itu akan menghilang tanpa membekas?” jelas gadis itu. Lagi-lagi, lelaki bernama Havis merasakan sebuah sayatan dalam hatinya.Hubungan mereka berdua itu kandas karena beberapa alasan. Pertama masalah mereka, gadis itu tidak bisa mencintai Havis sepenuhnya, sedangkan Havis, tidak bisa mengontrol rasa cemburunya. Mereka itu tak searah, tidak ada gunanya lagi untuk mempertahankan suatu hubungan. Jadi mereka rasa, tidak ada salahnya untuk mengambil jalan perpisahan.“maaf, havis. Sepertinya aku harus pergi,” tutur gadis itu, saat ia menengok hujan sudah mereda. “na..” “lebih baik kamu pulang saja. Baju kamu sudah basah kuyup, nanti sakit. Minum obat ya? Habis itu..” “istirahat,” lanjut havis menyambung ucapan dari gadis itu. “bahkan saya masih ingat kata-kata kamu dulu waktu saya sakit saat kehujanan.” ungkap havis, sedangkan gadis itu hanya diam membeku. “Nadisa, saya masih ingat semua tentang kamu. Dan saya masih cinta sama kamu,”Dia, seharusnya tidak mengungkapkan perihal cinta itu lagi. Gadis itu, Nadisa, dia merasakan tetesan air mata jatuh di pipinya. Lantas, ia membalikan badan, dan melangkah pergi meninggalakan havis di sana sendirian.Havis terdiam membisu di sana. Ia merasakan penyesalan yang luar biasa, seseorang yang sudah lama ia nanti pertemuannya, ternyata tidak bisa lagi mencintainya. Pupus, dan tidak lagi ada harapan. Semuanya menghilang, bersama senja kala itu.Perpisahan yang tidak bisa dipaksakan untuk kembali, sebaiknya ikhlaskan saja. Lebih baik melupakan masa lalu itu, dan berkelana jauh, lalu mencari manusia-manusia baru.
Hidden Love
Hari yang membuatku sangat senang, seperti seseorang yang baru bertemu dengan kekasihnya karena telah lama dipisahkan oleh jarak. Berbeda dengan diriku, aku yang sudah berumur 21 tahun tapi sama sekali belum punya kekasih. Namaku Nuveena, sudah begitu lama aku tidak pernah merasa tertarik dengan orang lain, yang mungkin lebih dikenal dengan mati rasa. Namun, kini aku bertemu dengan seseorang yang tidak terlalu kukenal yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang, dan sepertinya meronta-ronta kegirangan. Akan kuceritakan siapa seseorang itu dan mengapa dia bisa membuatku seperti orang yang sedang jatuh cinta.Sebenarnya, aku tidak tahu siapa namanya, berapa umurnya, dan dimana dia tinggal, yang pasti aku yakin bahwa dia seseorang yang umurnya tidak jauh beda denganku dan aku yakin dia masih seorang lajang. Yang hanya kutahu tentangnya adalah dia seseorang yang satu gereja denganku. Dan dia adalah seorang pelayan musik di gereja.Suatu hari di hari minggu, aku pergi ke gereja untuk beribadah, aku duduk si sebuah kursi yang tepatnya di baris ke tiga dari depan. Namun, tiba-tiba mataku tertuju pada seseorang yang tubuhnya dibaluti dengan kemeja warna biru, dia berada di depan dan sedang memainkan musik yang mengiringi lagu-lagu yang dibawakan pada saat ibadah. Entah apa yang kurasakan aku begitu memperhatikannya dan sepertinya aku merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dari caraku memperhatikannya. Aku begitu fokus memperhatikannya sehingga wajahnya begitu cepat tersimpan dalam ingatanku bahkan itu adalah kali pertama aku melihatnya.Warna favoritku adalah biru, dan seseorang yang wajahnya pelan-pelan mulai tersimpan di dalam memori ingatanku itu juga memakai kemeja warna biru. Apa jangan-jangan aku dan dia adalah sesama pencinta warna biru atau apa jangan-jangan aku adalah jodohnya hehehe… Selain aku suka warna biru, aku juga suka dirinya yang membaluti tubuhnya dengan warna kesukaanku itu dan sepertinya aku menyukai semua dari dirinya. Apakah ini yang dikatakan cinta pandangan pertama?. padahal sebelumnya aku tidak pernah yakin dengan kata cinta pandangan pertama, selama ini aku menganggap bahwa orang yang jatuh cinta pandangan pertama itu adalah orang yang jatuh cinta karena fisiknya yaitu kecantikan atau ketampanan seseorang. Namun, semenjak ini terjadi padaku, aku merasa bahwa aku tidak hanya tertarik karena ketampanannya tapi ada sesuatu yang membuat diriku tidak pernah berhenti untuk terus memperhatikannya. Entah itu rasa suka, atau kagum aku juga bingung dengan diriku sendiri.Aku yang mengira bahwa aku akan melihat dirinya hanya di gereja saja, namun, tiba-tiba aku dikejutkan oleh dirinya yang tanpa sengaja aku berpapasan di jalan dengannya. Aku berpapasan dengannya saling berlawanan arah. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang seperti baru saja melihat sebuah tragedi yang terjadi di depan mata. Aku tidak menyangka aku akan bertemu dan berpapasan dengannya di waktu yang tidak pernah aku duga. Kejadian ini tepat di hari sabtu, dan seperti biasanya ternyata setiap hari sabtu ada pertemuan antara pelayan-pelayan di gereja untuk mempersiapkan acara ibadah di hari minggunya. Kulihat dia begitu terburu-buru berjalan, sepertinya dia sedang mengejar waktu agar tidak terlambat tiba di gereja.Kejadian itu membuatku terkejut, namun aku juga senang karena ternyata aku bisa melihat dan bertemu dirinya lagi. Sebelum dia berpapasan denganku yang pasti dia akan lewat dari arah depan ke belakangku, kupastikan lagi dari jauh bahwa dia adalah orang yang kulihat sebelumnya di gereja, dan ternyata benar bahwa dialah orangnya. Aku sudah begitu ingat dengan wajahnya dan sepertinya dirinya pun tidak asing lagi bagiku.Di suatu hari minggu berikutnya setelah begitu lama aku tidak pernah lagi melihatnya, bahkan di gereja pun yang dimana aku sangat yakin bahwa akan melihatnya lagi namun ternyata tidak. Sepertinya dia sedang bertukar posisi dengan orang lain untuk memainkan musik yang mengiringi lagu-lagu yang dibawakan pada saat ibadah. Sehingga saat itu aku tidak melihat dirinya yang selalu aku rindukan setiap hari dan sangat ingin aku melihat dirinya lagi. Namun, hal yang terjadi malah sebaliknya, aku tidak menemukan dirinya sama sekali.Hari demi hari kujalani keseharianku seperti biasanya, yang disibukkan oleh tugas-tugas kuliah yang harus diselesaikan sebelum deadline. Dan jika tidak ada lagi yang harus kukerjakan maka aku akan menikmati waktu luangku yaitu melanjutkan menulis cerita-ceritaku, dan selain itu aku juga akan menikmati waktu luangku yaitu merebahkan diri di tempat tidur yang merupakan salah satu hobby yang kumiliki.Sudah cukup lama aku tidak pernah lagi melihat lelaki si kemeja biru itu, dikarenakan aku sedang menjalankan salah satu kewajiban dari kampus yaitu seluruh mahasiswa seangkatanku sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan yang disebut sebagai PKL. Sehingga selama kegiatan ini, aku harus pindah ke lokasi yang dekat dari lokasi PKL yang juga cukup jauh dari tempat tinggalku yaitu gang teratai. Gang teratai adalah lokasi tempat tinggalku dimana di lokasi inilah aku bertemu dengan si lelaki kemeja biru itu.Namun, suatu hari di hari sabtu aku kembali ke tempat tinggalku di gang teratai, tempat dimana aku pertama kali bertemu dengan si lelaki kemeja biru itu. Aku kembali bukan karena supaya aku bertemu dengannya, aku bahkan tidak berpikir agar aku bisa melihat dirinya lagi. Tapi aku kembali karena ada sesuatu hal penting yang membuatku harus kembali ke gang teratai, sekalian aku ingin ke gereja untuk beribadah karena sudah cukup lama aku tidak pernah lagi beribadah ke gereja. Karena sebagai makhluk kita memiliki kewajiban kepada sang pencipta kita, maka dari itu kita harus meluangkan waktu kepada sang pencipta, agar hubungan kita denganNya selalu baik.Hari minggu pun tiba, dan aku bersiap-siap untuk pergi ke gereja sebelum pukul 10.00 pagi. Jarak gereja dari rumahku hanya sekitar 500 m, sehingga dengan jalan kaki saja aku bisa cepat sampai tanpa harus memerlukan waktu yang lama untuk tiba di gereja. Aku berjalan ke gereja dengan seorang temanku namanya Indira, dan kami pun hampir tiba di gereja. Aku dan temanku berjalan sambil melangkahkan kaki pelan-pelan dengan tidak terburu-buru karena sebelum berangkat kami sudah mengira waktu yang dibutuhkan selama di perjalanan apalagi jarak gereja dari rumahku tidak begitu jauh.Tiba-tiba di jalan sebelum sampai di gereja namun sudah mendekati lokasi gereja aku bertemu lagi dengan seseorang yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang, yaitu lelaki si kemeja biru. aku sebut aja dia lelaki si kemeja biru karena aku tidak tau siapa namanya walaupun bukan berarti dia selalu memakai baju warna biru, tetapi karena aku melihatnya pertama kali memakai kemeja warna biru. Lagi-lagi kami berpapasan, ini kali kedua aku berpapasan dengannya. Aku terus berjalan, namun aku tidak bisa melayangkan pandanganku darinya, anehnya mataku lagi-lagi fokus memperhatikannya. Entah kenapa sepertinya mataku selalu terarah kepadanya begitu juga saat kami berpapasan. Namun, ada yang lebih aneh lagi yaitu dia tersenyum dan arah matanya tertuju kepadaku. Sepertinya dia tersenyum kepadaku, tapi aku ragu jika senyumannya itu bukan untukku.Aku melirik temanku Indira yang berjalan disampingku itu, namun tiba-tiba ia bertanya kepadaku. “Veen dia siapa?, kenapa dia senyum samamu?” “oh dia itu, pelayan musik di gereja ini.” Aku menjawab pertanyaan temanku itu, walaupun sebenarnya aku masih bertanya-tanya dalam hati kenapa si lelaki itu tersenyum kepadaku, padahal aku yakin bahwa dia tidak mengenalku, tapi mengapa dia tersenyum kepadaku, apa karena aku selalu memandangnya selama kami berpapasan. Sungguh isi kepalaku semuanya tentang dia, perasaanku begitu campur aduk antara perasaan senang, terkejut, dan bingung. Senyumannya juga sepertinya langsung tersimpan di dalam memori ingatanku, dia tersenyum lebar dan manis, senyumannya juga terlihat begitu tulus dan ramah, dan matanya juga ikut tersenyum, matanya bersinar cerah dan dia memiliki mata yang indah. Sepertinya aku suka semuanya tentang dirinya, tak ada satu hal pun yang kurang darinya dari cara pandangku, aku begitu tertarik dari semua tentang dirinya.Hanya dengan memandangnya saja aku begitu tertarik dengannya, dia melemparkan senyuman yang tanpa dia ketahui siapa orang yang dia senyumi itu, tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut namun hati mampu mencurahkan rasa walaupun rasa itu hanya mampu untuk dipendam. Padahal belum ada perkenalan, namun sudah muncul rasa, bagaimana jika sudah saling kenal apakah rasa itu masih tetap ada atau malah akan hilang pelan-pelan. Tapi untuk saat ini aku lebih memilih untuk tidak begitu mengenalinya. Saat ini aku hanya lebih memilih menyimpan rasa itu sendirian asalkan aku bisa melihat dan memandang dirinya lagi, walau hanya memandangnya dari jauh.
Windi Doyan Ciarvi
Malam minggu yang sangat membagongkan. Diam di rumah sambil berhayal kapan jadi miliarder. Hidup kalau sedih ditangisi, kalau bahagia dinikmati. Rasa syukur yang membuat hidup ini masih tetap berjalan. Bayangkan kalau gue milih buat gantung diri? Mungkin gue gak bakal cerita hari ini ke lo.Ahhh… Malam minggu kemana nih enaknya? PING!!! Eh, tumben si Rendi chat gue. “Dimana lu woy jones?!” “Apa lu?”Rendi anak yang memang agak belagu tapi dia jenis temen yang cukup setia yang pernah gue temui di muka bumi ini. Nggak tahu kenapa manusia yang satu ini gak pernah pergi dari hidup gue. Padahal udah eneg banget liat mukanya.Kita berteman lama sejak gue dan dia ketemu dibangku SMP. Awalnya gue kira nih anak jaim, aslinya bocor halus! Tapi gue langsung ngerasa klop dengan dia saat itu. Sampai akhirnya kebablasan deh sampai sekarang berteman baik.“Ngapain lu di rumah? Betah banget! Keluar yuk…” ajak Rendi. Aku padamu Rendi… Nggak tahu kenapa Rendi itu selalu hadir disaat yang tepat. Contohnya disaat gue gabut begini. “Yauda ayuk, mau kemane nih kita bosquee?” “Cafe biasalah mau kemana lagi coba?”Kebiasaan kami adalah nongkrong berdua di cafe sambil nyebat. Malam minggu ditemani segelas americano tanpa gula. Karna manisnya udah pindah ke muka gue. Hehehe…“Bree… Teringatnya Windi gimana? Perasaan lu punya pacar kok berasa kaya jones gitu?” Tanya Rendi. Pertanyaan tersulit yang berhasil mengalahkan ujian fisika dulu. Maklum gue dulu sering remedial kalau fisika apalagi kimia. Ampun dah…“Pertanyaannya sederhana sih memang bree tapi sulit buat dijawab..” “Yah, gua heran aja gitu Windi pacar lu tapi kalian jarang banget jalan kencan gitu berdua. Kalian udah putus emangnya?” “Belum kok breee… Masih jalan, semalam masih telponan tapi ya gitu deh cuma sekedar doang.” Kalau kalian nggak tahu “Bree” itu apaan, itu sejenis panggilan yang sama kaya kita bilang “Bro” atau “Sob” gitu.Aslinya gue punya pacar, namanya Windi. Cewek yang gak bisa dibilang sederhana karna memang gayanya spektakuler mengalahkan bentukan lucinta luna. Tapi pacar gue ini cewek tulen lho ya. Hahahaha…Gue kenal Windi dari teman gue yang lain. Baru pacaran udah jalan 6 bulan. Tapi ya gitu deh, chatingan seadanya aja. Terus telponan juga harus dia duluan yang mulai. Awalnya sih gue gak merasa risih dengan itu. Tapi semenjak Rendi nanya kenapa sih harus dia duluan yang call, emang salah kalau gue yang call dia duluan? Alasannya takut mengganggu pas dia kerja. Gue jadi curiga kenapa cewek ini rada aneh beda sama cewek yang pernah gue temui.Kalau inget yang dulu, Windi duluan lah yang coba deketin gue saat itu. Berawal dari dia yang terpuruk saat itu dan kebetulan gue hadir dalam hidup dia. Saat dia sakit gue yang mengurus dirinya. Bayangin gue menempuh jarak 40 km pulang-pergi setiap kali dia call gue nyuruh main ke kos nya.Usaha, waktu, dan bensin gue pertaruhkan. Apalagi harga BBM udah naik lagi. Terkesan jadi cowok pelit tapi jelas ini uang bukan daun, berharga banget mending buat isi perut. Beserta abang penjual martabak langganan gue yang juga udah tanda banget setiap gue pesan martabak coklat keju pasti mau dikasih ke cewek gue. Hampir semua cowok pernah diposisi berjuang kaya gini. Bedanya, ada yang usahanya dihargai dan ada yang malah disia-siakan cewek.Cup.. cup.. Jangan sedih.Hingga akhirnya perjuangan gue berbuah manis. Pandangan dia terhadap cowok yang dulunya negatif merasa semua cowok itu bajingan seperti bokapnya yang dulunya tukang selingkuh kini perlahan berubah semenjak Windi kenal gue. Ciee elahhh… Slebeww ~Masa sulit yang nggak pernah gue lupakan disaat dia waktu itu butuh duit buat bayar kos tapi duitnya jatuh di jalan, gue bela-belain minjam ke nyokap gue dengan alasan mau beli buku. Sejak kapan gue suka baca buku? Begonya kita itu disitu. Bucin ke cewek tapi giliran nyokap ngomel satu album chrisye, kita gak pernah mau dengar. Heran ya liat diri sendiri kadang hehe…Nemenin dia berproses mulai dari nganterin lamaran, nemenin dia panggilan interview kerja sampai akhirnya diterima kerja. Seneng banget gue saat itu karna dulu gue nemenin dia bersama motor butut gue ini, astuti. Kalau dia kecapekan biasanya dia suka gak sadar meluk terus ketiduran di bahu gue. Mengalahkan keromantisan dilan milea pokoknya.Namun bulan-bulan berikutnya, perlahan semuanya berubah. Hingga satu kali Rendi datang ke gue saat itu. Tiba-tiba aja Rendi pengen ngomong serius sama gue saat itu. Biasanya anak ini suka bercanda tapi kali itu rasanya seperti disambar petir di siang bolong.“Bree… Dimana? Ada yang pengen gua omongin nih sama lo!”Gue parkir astuti kesayangan gue. “Mbak, americano satu ya. Nggak pakai gula soalnya saya udah manis,” canda gue ke mbak pelayan cafe.Hingga akhirnya obrolan serius itu pun dimulai… “Lu mau ngomong apaan? Penting banget emangnya?” tanya gue sambil kebingungan. “Terakhir kali kapan lu jalan sama Windi?” tanya Rendi dengan raut wajah serius. “Sebulan lalu…” “What?! Parah berarti bener…” “Napa sih lo? Ada apaan sih?” tanya gue penasaran. Dan Rendi mulai menjelaskan panjang kali lebar kaya rumus balok.“Mbak… Minta gulanya dong ya. Boleh?” Permintaan gue kepada mbak pelayan café. Americano ini harus manis. Harus manis! Mabok gula nggak peduli gue malam itu. Gue lemes banget malam itu. Selama di perjalanan di atas motor astuti gue, pikiran liar mulai menjalar kemana-mana. Untuk kesekian kalinya, cinta tidak pernah berpihak atau mungkin tidak akan pernah berpihak ke gue. Cinta berpihak pada mereka yang memiliki segudang harta.Location unknown lagu dari honne mengiringi air mata gue yang mulai menetes tanpa gue sadari. Cowok juga boleh nangis kan? Memang tidak senyaman kursi empuk mobil miliknya. Namun bisa membawamu kemana saja dengan hati yang tulus.Wanita yang memang bukan tipe sederhana mungkin lebih pantas duduk disamping bukan dibelakang. Setir bulatnya mengalahkan stang motor astuti gue. Rendi bilang dia melihat wanita yang selama ini gue perjuangkan ternyata sering diantar jemput bahkan udah pacaran dengan pria lain. Berduaan di restauran bintang lima membuatnya tersenyum daripada angkringan yang hanya membuat dirinya mengeluarkan kata-kata kutukan.Menghela nafas… Dan malam itu juga satu pesan singkat dari Windi. “Kita putus aja ya. Aku udah nggak ada rasa lagi. Percuma kalau kita terusin.”Tertegun… Gue lemah seketika. Malam itu asam lambung gue kambuh. Buyar… Datang memberi luka, pergi meninggalkan trauma.Rendi sulit menghubungi gue. Hingga akhirnya dia datang ke rumah gue. Merasa penasaran dengan keadaan gue, dia mendobrak pintu kamar gue. Sialnya, baut pintu itu pada lepas semua. Udah jatuh tertimpa tangga pula. Diputus cinta, malah harus ngeluarin duit buat perbaiki pintu kamar yang rusak ulah Rendi.Tapi Rendi memang manusia yang selalu hadir disaat yang tepat. Manusia yang sengaja dikirim Tuhan untuk gue. Bayangin kalau gue nggak punya sahabat kaya Rendi, mungkin malam itu gue bakal berakhir bersama baygon yang ada disamping tempat tidur gue.Hingga pada akhirnya, Tuhan tidak akan membiarkanmu sendirian. God always has a way to help you.Hal indah butuh waktu untuk datang…
Pembunuh Berantai
Sudah tiga hari terakhir ini, media cetak dan online mewartakan kasus pembunuhan berantai. Bermula tiga hari yang lalu, ditemukan dua sosok tidak bernyawa di dua lokasi yang berjauhan. Namun, yang menarik, ciri kedua mayat itu mirip; laki-laki, usia sekitar 30 tahun, dibunuh dengan dengan cara diracun, dan dibunuh bukan di lokasi tempat mayat itu ditemukan.Semula, polisi dan masyarakat mengira kemiripan ciri dari kedua mayat itu hanya kebetulan belaka. Ternyata, esoknya ditemukan kembali mayat dengan ciri yang sama. Kemudian kemarin, dua hari setelah ditemukan mayat pertama, ditemukan kembali dua mayat lagi, masih sama, dengan ciri-ciri yang mirip mayat sebelumnya.Sejak itulah, polisi dan masyarakat menyimpulkan, kelima mayat itu dibunuh oleh orang yang sama. Hebohlah kemudian masyarakat di kotaku, bahwa sekarang sedang berkeliaran pembunuh berantai. Seorang psikopat.Siang itu aku hendak kembali ke kantor setelah istirahat makan siang, ketika tiba-tiba di seberang jalan terlihat Toni. Aku tidak mungkin salah, dia pasti Toni teman SMA, walaupun sudah berpisah sejak lulus SMA. Sepuluh tahun yang lalu.Aku kemudian mengejarnya. “Toni! Hey Toni,” panggilku seraya menghampirinya. “Kamu Toni, kan? SMA 4 Bandung!” Dia sedikit kaget. “Andi? Kau kah Andi?” tanyanya gugup. “Iya! Masa kau lupa sama teman sekelas.” “Bukan begitu, ga ngira ketemu kamu di sini.” “Aku memang kerja di sini. Sudah tiga tahun aku tinggal di sini. Aku juga kaget melihatmu di sini. Kamu kok ada di sini?” tanyaku tak kalah kaget. “Aku sedang ada riset. Aku baru lima hari di sini,” jelas Toni. “Riset? Riset apa, emang kamu kerja di mana?” tanyaku penasaran. “Bagaimana kalau kita ketemu lagi nanti? Sekarang aku lagi buru-buru.” “Oke, aku juga harus sudah masuk kantor. Bagaimana kalau jam enam nanti?” pintaku. “Oke, di mana?” “Di rumahku saja.” Jawabku seraya menyerahkan kartu nama. “Oke. Sampai nanti.”Pukul enam lewat, Toni memenuhi janjinya. “Kamu tinggal sendiri?” tanyanya setelah kupersilahkan duduk. “Ya. Istri dan anakku masih di Bandung. Nantilah, kalau sudah punya rumah, aku boyong ke sini.” “Jadi di sini kamu nge-kost?” “Ya … begitulah. Kamu sendiri, riset apa yang mengharuskanmu datang ke kota kecil ini?” Toni tidak segera menjawab. Dia sedikit gugup. Terlihat saat mengambil gelas dan minum. Seolah itu untuk menutup kegugupannya.“Aku kerja di media online,” jawabnya setelah meletakkan gelas. Toni kemudian menyebutkan nama sebuah media online. “Hobimu nulis di majalah dinding rupanya kau teruskan, ya?” “Ya, aku bertugas di bagian investigasi. Rubrik kriminal. Sudah hampir empat tahun aku jadi reporter kasus-kasus kriminal.” “Wow, menarik kayaknya.” “Awalnya iya. Setahun dua tahun aku menikmatinya. Beberapa kasus aku terlibat menyelidikinya bersama polisi. Tapi lama kelamaan bosan juga.” “Lalu?” tanyaku penasaran dengan ceritanya. “Aku tadinya mau mengundurkan diri. Tapi bosku menantangku untuk menjadi penulis,” lanjutnya. “Penulis? Apa bedanya?” tanyaku lagi. “Maksudnya menulis fiksi. Bosku menantangku untuk menulis cerita bersambung di mediaku. Kalau ceritaku nanti banyak yang ‘read’, ratingnya tinggi, aku akan mendapat bonus tambahan yang lebih besar dari sekedar meliput kasus.” “Oh ya? Lalu, kau sudah mulai nulis ceritanya?” “Sudah! Sudah jalan 12 chapter. Sampai saat ini yang ‘read’ lumayan. Tapi aku belum puas. Aku harus menulis cerita yang betul-betul mirip dengan kenyataan.” “Ooh … jadi itu alasan kamu sedang riset?” tanyaku. “Ngomong-ngomong kamu nulis cerita tentang apa?” Aku makin tertarik dan penasaran.“Pembunuhan!” jawabnya singkat. “Pembunuhan?” “Ya. Tapi tidak seperti pembunuhan yang aku temui dalam kasus-kasus selama ini. Pembunuhan dalam ceritaku ini penuh misteri. Sampai-sampai polisi tidak bisa mengungkap kasusnya, walaupun korban sudah jatuh sembilan orang.” “Sembilan?” tanyaku kaget, “Berarti itu pembunuhan berantai?” “Ya. Pembunuhan berantai sangat jarang terjadi. Bahkan selama aku meliput kasus pembunuhan, perasaan belum pernah terjadi.” Toni terlihat bersemangat menjelaskannya. “Pembaca harus menikmati cerita yang berbeda. Yang lain daripada yang lain.”“Lalu, riset apa yang kamu kerjakan, sampai harus jauh ke sini?” tanyaku memotong penjelasannya. Toni terbatuk-batuk, terlihat gugup lagi. Tak menyangka kupotong dengan pertanyaan itu. Aku pun merasa aneh dengan perubahan sikapnya yang mendadak itu. Tapi keanehanku terganggu saat telepon berdering. Aku pun bangkit, setelah memberi kode pada Toni untuk minta izin untuk menerima telepon. Aku hampiri gagang telepon di atas kulkas. Rupanya dari kantor, mengkonfirmasi beberapa pekerjaan tadi siang.Aku kembali menghampiri Toni. Dia sedang menutup tas tangannya saat aku duduk kembali. Dia pun sudah tidak terlihat gugup lagi. “Pertanyaanku belum dijawab ya? Jadi, riset apa?” tanyaku Kembali. “Yaa … riset yang bisa mendukung jalan ceritaku,” Toni mengambil gelas dan meminumnya. Aku pun turut mengambil gelasku dan minum. Lalu lanjutnya, setelah meletakkan gelasnya, “Supaya aku sebagai penulis bisa lebih menjiwai.” “Maksudmu?” Aku belum mengerti maksud dari riset yang dia jelaskan.Toni tidak menjawab, dia malah minum lagi. Aku pun jadi terbawa, kuminum lagi minumanku. Namun, setelah tegukan ketiga kepalaku pusing. Pandanganku kabur. Toni terlihat senyum, lebih tepat menyeringai, saat semakin kabur bayangan wajahnya di mataku. Sampai kemudian semua gelap.
Tukang Kebun
Pagi ini, Ian memandang halaman rumahnya, tepatnya menatap tukang kebun asing yang sibuk merapikan tanaman hias disana.“Bukankah seharusnya Tuan Maden yang membersihkan kebun ini? Kenapa nenek memanggil tukang kebun lain?” tanyanya. “Yah, tidak biasanya. Maden tak kunjung datang. Aku tidak tahan melihat halaman ini penuh dengan tanaman yang tak beraturan, jadi kupanggil saja orang lain.” jelas sang nenek yang tengah sibuk membelai kucing putih di pangkuannya. Ian hanya mengangguk-angguk.Tak lama terdengar suara langkah sepatu di belakang mereka berdua. Nampak seorang perempuan muda menenteng tas kecil, “Aku akan pergi ke perpustakaan untuk beberapa menit, kau ikut, Ian?” tawarnya. Sekali lagi, Ian hanya mengangguk menanggapi perempuan itu, kakaknya. “Pastikan kau membawa makanan kucing saat pulang nanti, Elisa!” pinta neneknya. “Tentu!” balas mereka berdua bersamaan.Cuaca cukup sejuk pagi ini, menjelang siang, namun tak begitu banyak orang memenuhi jalanan. Ian berjalan sembari menenteng karton pembungkus berisi makanan kucing, sementara Elisa mendekap beberapa buku yang ia idamkan dari perpustakaan tadi. “Akhirnya aku bisa meminjam buku ini setelah berminggu-minggu!” ujar Elisa sembari tertawa kecil. “Ya, ya. Kau sudah mengatakannya, nona kutu buku.” goda Ian pada kakaknya.Mereka terus berjalan, hingga mata Ian menangkap sesosok gemuk yang ia kenal tengah duduk sendirian di kursi sebuah taman, “Tuan Maden!” Tuan Maden, si tukang kebun andalan mereka. Orang yang Ian panggil menoleh dan tersenyum sambil melambaikan tangannya, mengisyaratkan mereka berdua agar mendekat. “Hei, kalian,” sapa pria gemuk itu.“Kenapa anda tidak datang pagi ini? Nenek menunggumu tadi,” tanya Elisa. Si tukang kebun itu tersenyum dan menjawab, “Maaf, aku sungguh minta maaf karena tidak bisa membersihkan halaman kalian. Aku benar-benar sedang tidak bisa pergi.” “Tidak bisa pergi? Tapi anda pergi menuju taman ini.” tanggap Ian sembari menatap pria berkaos putih dan berompi coklat usang itu. “Ya, karena aku harus mengurus beberapa urusan sebelum terlambat, agar aku bisa merasa tenang.” jelas Maden santai, sambil menyisir rambut berubannya. Elisa menatap pria itu dengan sedikit simpati. “Anda memerlukan bantuan untuk urusan ini?” tanya Elisa. Maden nampak berpikir sejenak, dan dengan tenang mengatakan, “Aku tak bisa mengabaikan bantuan kalian,”“Bisakah kalian pergi ke rumahku? Aku ingin kalian mengambil rompi coklatku dan sebuah botol berisi pil.” tanyanya. Ian sedikit memiringkan kepalanya, “Ada rompi lain? Kukira anda hanya memiliki satu rompi,” ujarnya sambil menunjuk rompi coklat yang dikenakan pria itu, yang mereka tahu, Tuan Maden hanya memiliki sebuah rompi coklat kesayangan. Yeah, sudah lama, mereka saling mengenal dengan cukup baik, hingga mereka hampir bisa mengerti kebiasaan satu sama lain. “Dan botol pil? Seperti apa bentuknya, warnanya?” tanya Elisa. Wajah Maden nampak lega. “Botol putih. Hanya ada satu botol pil di rumahku, aku meletakannya diatas televisi.” jelas Tuan Maden. “Baiklah. Tapi untuk apa?” Ian penasaran. “Sekedar untuk berjaga-jaga. Aku sedang menunggu teman lamaku disini, akan aneh jika ia tiba dan aku malah tidak ada disini. Karena itu aku minta tolong pada kalian. Oh ya, masuk saja ke kamarku untuk mengambil rompi miliku.” terang pria itu.Tak lama Maden menepuk dahinya, mengusap wajahnya seperti orang bingung, “Astaga, kenapa aku tidak mengunci pintu rumahku tadi?!” sesalnya. “Hah? Anda lupa untuk mengunci pintu? Baiklah, baik. Kami akan segera kesana.” tegas Elisa. Si tukang kebun itu mengangguk lega, “Baiklah, aku menunggu.”Elisa dan Ian berjalan beriringan dengan sedikit cepat, melakukan apa yang diminta Tuan Maden. “Pil? Aku tidak tahu jika Tuan Maden sakit.” ucap Ian memecah keheningan. “Tidak ada yang tahu diantara kita.” jawab Elisa, ia tampak berpikir.Mereka mendekat ke arah sebuah rumah yang usianya nampak cukup tua, sebuah papan kayu kecil bertuliskan ‘Maden’ menggantung di pintunya. Sudah lebih dari lima kali mereka mampir ke rumah ini. Cahaya matahari sedikit menyinari teras.Hanya ada sebuah rumah yang menjadi tetangga Maden, jaraknya tidak begitu dekat. Tidak ada siapapun, tidak ada aktivitas apapun di sekitarnya. Elisa kemudian mendahului Ian. Dengan perlahan, perempuan itu membuka pintunya. Elise terkekeh, “Hei, benar-benar tidak dikunci.” Kakak beradik itu memasuki rumah Maden.Beberapa furnitur sederhana tertata rapi di dalamnya, terdapat jam menunjukkan 10.05 AM. Ian meletakkan makanan kucing yang ia bawa tadi diatas meja kecil.Tak lama Ian melirik sebuah televisi yang ada di depan sebuah sofa dan meja tua, matanya menangkap sesuatu yang ia cari. “Ah, ini pilnya!” ujarnya. Ian menggenggam botol putih berisi pil itu. “Aspirin” gumam Ian membaca tulisan yang tertera di botol itu.“Kita ambil rompinya,” ucap Elisa sedikit tergesa. Ia masih mendekap buku-bukunya, seolah buku itu hanya akan aman jika berada di tangannya. Mereka berjalan lebih ke dalam, mendekati sebuah pintu kamar. Elise memegang knop pintunya, sambil menoleh kearah Ian. “Hanya ada satu kamar yang digunakan, kan? Akan lebih mudah untuk kita menemukan rompi–” “AAAHH!” Elisa dan Ian berteriak. Buku-buku di tangan Elisa berjatuhan.Teriakan keluar begitu saja setelah Elisa membuka pintu kamar. Nafas mereka memburu, kaki mereka bergetar. “Astaga!” jerit Elisa sambil menyembunyikan wajahnya di pundak adik laki-lakinya. Mata Ian melebar, tak percaya apa yang mereka lihat.Di dalam kamar itu, di depan mereka, tergeletak seorang pria gemuk beruban, tergeletak dengan kaos putih dan rompi coklat usang terpasang di tubuhnya pria itu, pria yang mereka kenal, Maden. “Bagaimana bisa?!” bingung Ian. Ia baru saja berjumpa dengan pria itu, dan sekarang apa?! Ia malah ditemukan tergeletak di rumahnya?“T- Tuan Maden? Tuan?” Ian berjongkok di samping tubuh yang tergeletak, ia menekan nadi Maden, tak ada detak nadi. Ia lalu meletakkan jari tangannya di bawah hidung pria itu, tak ada hembusan napas, terakhir, Ian tak merasakan detak jantung Maden. Kulit pria itu dingin.“Di-dia… bagaimana?” tanya Elisa dengan suara bergetar. Ian hanya menggeleng, “Aku tak bisa merasakan napas dan detak jantungnya, tubuhnya mendingin.”Elisa memberanikan diri untuk mendekat, sebuah benda menarik perhatiannya. Sebuah pisau. Pisau itu tergeletak tepat di samping tangan dingin Maden. “Apa-apaan pisau ini? Ti- tidak ada luka apapun di tubuh Tuan Maden!” panik perempuan itu. “Ini bukan pembunuhan, kan?” gumam Ian.Tak lama, terdengar suara langkah kaki masuk, disusul teriakan seseorang memanggil, “Maden! Kenapa kau mengabaikan ketukkanku? Aku kembali! Aku akan mengambil barangku—” ucap seorang pria terputus, matanya melebar, mulutnya menganga saat melihat dua anak muda menatapnya dengan kaget sambil berjongkok di dekat sebuah tubuh yang tergeletak.“Apa yang kalian lakukan?!”—Beberapa orang berseragam menggotong tubuh Maden dan membaringkannya diatas stretcher. Mereka memasukannya ke dalam mobil putih bertuliskan ‘ambulance’.Tampak dua orang polisi bercakap-cakap, berdiskusi rumah itu. Semua dimulai dari hal sederhana, dimulai ketika Maden meminta tolong pada mereka.“Apakah polisi itu akan menganggap kami gila? Maksudku, kami baru saja bertemu dengan Tuan Maden, atau tepatnya hantu Tuan Maden? Dan tidak lama kami menemukannya dalam keadaan tak bernyawa, dengan pakaian yang sama!” lenguh Ian pada pria yang ‘memergoki’ mereka berdua tadi.Kejadian yang sulit diterima akal baru saja terjadi. Elisa yang berdiri di samping Ian masih menunjukkan ekspresi kosongnya. “Tadi… anda bilang akhir-akhir ini Tuan Maden kerap mengeluh karena melihat sesuatu, Tuan Jackson?” tanya Elisa perlahan pada pria tadi, Jackson, tetangga Maden.Pria itu menghela napas sejenak dan menjawab, “Ya, begitulah. Maden bercerita padaku, ia kerap melihat orang lain di dalam rumahnya. Aku kesini hampir setiap hari, dan akhir-akhir ini ia kerap berbicara aneh! Dia berteriak, ‘hei, ada orang di sampingmu! Orang jahat!’. Kau tahu? Maden mengatakan itu sambil melemparkan sebuah vas ke arah sampingku, entah apa yang menjadi sasarannya. Hah, itu membuatku takut,” jelas Jackson pelan. “Mungkinkah dia mengalami halusinasi? Sebab dia semakin khawatir dengan kesehatannya, hingga ia kesulitan untuk tidur karena memikirkan kondisinya.” sambungnya.Elisa dan Ian terdiam, memikirkan ucapan pria itu. “Tentang kesehatan Tuan Maden… anda bilang dia memiliki penyakit serangan jantung?” tanya Ian, hampir berbisik. “Karena kami menemukan sebotol pil aspirin di dalam, dan seingatku aspirin digunakan untuk menghambat penggumpalan darah yang bisa mencegah serangan jantung.” sambung Elisa.Jackson menghela napas panjang, tak habis pikir dengan kejadian yang terjadi, “Belum lama ini Maden memang dinyatakan memiliki serangan jantung.” ungkapnya. “Omong-omong, aku minta maaf karena berteriak pada kalian tadi. Aku terlalu kaget, aku baru saja kembali dari dua hari urusan bisnis dan malah disambut dengan Maden yang tak bernyawa.” sesal Jackson pada dua anak muda di depannya. Ian dan Elisa mengangguk, “Tidak masalah, siapa juga yang tidak akan terkejut?”Mereka kembali hening, tak lama, kakak beradik itu saling bertukar tatapan. Teringat akan pisau dan aspirin, obat serangan jantung. “Mungkinkah Tuan Maden mengalami halusinasi karena kesulitan tidur?” tanggap Ian. “Dan pisau itu, bisa saja ia gunakan untuk menyerang seseorang yang menjadi halusinasinya,” kini Elisa yang mulai tenang pun ikut bersuara. “Dan saat akan melemparkan pisau ke arah sosok halusinasinya, Tuan Maden mengalami serangan jantung. Karena itulah tak ada luka apapun di tubuhnya!” tegasnya.“Bisakah begitu?”Pambajeng L. Klaten, Jawa Tengah.
Di Bawah Pohon
Dewi Kematian Lilith adalah sesosok dewi yang ditakuti bahkan oleh para dewa lain sekalipun. Tidak ada yang berani mendekatinya, apalagi berbicara dengannya. Rumor yang beredar mengatakan bahwa ia selalu mengurung diri di alamnya, berkutat dengan hal-hal gila. Penghuni alam dewa pun sering memperbincangkan Dewi Lilith, lebih tepatnya menggosipkan dewi tersebut.Namun semuanya berubah ketika mereka mengetahui fakta bahwa Dewi Lilith mulai mengunjungi Pohon Yggdrasil, pohon suci di mana Dewa Kehidupan Aleister berada. Mereka mulai beranggapan jika Dewi Lilith ingin membunuh Dewa Aleister, mengingat keduanya adalah sifat yang bertolak belakang.Tak ada yang tahu, kalau kenyataannya Lilith ingin menemui Aleister hanya karena rasa cintanya. Entah sudah berapa lama ia menyimpan rasa untuk Sang Dewa Kehidupan, tetapi Aleister mencintai seluruh makhluk hidup tanpa terkecuali. Lilith ingin perhatian Aleister tertuju hanya padanya.“Aleister,” Lilith menghampiri Aleister yang tengah bersandar di Pohon Yggdrasil. Suara Aleister terdengar samar di kepala Lilith, “Oh, Lilith. Kamu mengunjungiku lagi, terima kasih.” Lilith duduk di samping dewa itu, lalu mendekatkan wajahnya, “Aleister, ceritakan lagi tentang kisah manusia!” “Baiklah,” jawab Aleister menyanggupi.Selama bercerita, raga Aleister yang terbalut busana putih dan cahaya memilaukan tak pernah satu kali pun berubah dari posisi awalnya. Matanya tetap terpejam seperti tidur. Ia hanya bisa berkomunikasi antar pikiran, karena untuk membuka mulut saja ia tak bisa.“Dan keduanya berakhir bahagia… selesai,” Aleister menyudahi ceritanya.Lilith tersenyum, “Hei, apakah kita berdua bisa menjadi seperti kekasih yang ada di kisah itu?” Sang Dewa Kehidupan menjawab, “Tidak bisa, Lilith. Jika kau dan aku tak ada, maka siapa yang akan mengurus siklus kehidupan?” “Tentu akan ada pengganti kita, para dewa baru,” ujar Lilith dengan santai. “Lagipula, memangnya kamu tak bosan hanya berdiam diri berdekade-dekade lamanya di pohon demi menjaga keseimbangan kehidupan di dunia, melindungi mereka?” “Ini merupakan tugasku. Aku tak akan bergerak dari tempat ini sebelum waktunya.” “Kamu butuh kebebasan, Aleister.” “Aku telah merelakan kebebasanku, Lilith.” Lilith mendengar kesedihan di suara Aleister, namun dewa tersebut menutupinya dengan nada yang tegar.“Kau tahu, Aleister? Jiwa-jiwa makhluk yang telah kau besarkan, kehidupan mereka semuanya berakhir di dalamku. Kamu harusnya membenciku karena aku memakan hasil jerih payahmu.” “Aku tak bisa membencimu. Kau hanya melakukan apa yang menjadi tugasmu,” jawab Aleister. Lilith membelai surai putih sang dewa dengan hati-hati, kemudian berbisik di dekat telinganya, “Aku akan memberikanmu kebebasan. Tunggu saja, Aleister.”Tepat setelah pertemuan itu, Lilith tak pernah mengunjunginya lagi. Sekian abad Aleister menunggu, ia tak pernah melihat sosoknya. Ingin mencari, ia tak bisa. Ingin bertanya kepada dewa-dewi lain, tetapi tak ada yang menghampiri pohonnya. Di saat itulah ia menyadari bahwa kehidupan di dunia telah mengalami perubahan. Manusia mulai mempelajari sihir tabu yang membuat makhluk hidup abadi; tak bisa mati. Siklus kehidupan berhenti, tak ada yang lahir, tak ada yang mati. Bukannya seimbang, malah menjadi stagnan.Aleister tak tahu apa yang telah terjadi. Tiba-tiba saja ia bisa menggerakkan tubuhnya. Pohonnya pun menggugurkan daunnya, lalu tumbang perlahan. Sang dewa bangkit berdiri, menghampiri para dewa lain untuk mencari informasi. Ah, tidak. Ia harus mencari Lilith terlebih dahulu.“Lilith, kau di mana, Lilith?!” Aleister melihat kabut gelap yang tebal dan diterjangnya kabut itu. Jika benar kabut itu adalah jalan masuk ke alam milik Lilith, maka–“Lilith!” Betapa terkejutnya Aleister kala mendapati dewi tersebut mulai mengabur sosoknya, kakinya bahkan sudah menghilang. “Oh, Aleister…” lirih dewi berparas jelita itu. “Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba–?” Aleister berniat membanjirinya dengan pertanyaan, namun Lilith meraih wajahnya dengan kedua tangan, mengamati dengan seksama wajah sang dewa yang biasanya tertidur. “Aku sudah janji, ‘kan?” “Janji apa–” “Aah, lihatlah. Kamu bahkan lebih tampan dari biasanya, Aleister. Kamu juga sudah bisa bergerak bebas…” Aleister menggenggam pergelangan tangan Lilith, “Bukan ini yang kuinginkan, Lilith,” ucapnya parau. Lilith menggeleng, “Kamu membutuhkannya.”Genggaman Aleister terlepas karena tangan dewi tersebut telah menghilang sampai ke siku. Ia pun buru-buru mendekap raganya, dan mendeklarasikan, “Aku akan ikut denganmu, hilang menjadi ketiadaan, kekosongan. Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Sebab yang kuinginkan hanyalah bersamamu, Lilith.” “Aleister, jangan! Kalau kamu hilang, semua kehidupan di dunia akan terulang kembali dari awal! Semua usahaku, jerih payahku untuk memberimu kebeba–” Aleister mengeratkan dekapannya dan membelai helaian hitam milik sang dewi, lalu berkata, “Selama ini kamu memakan hasil jerih payahku, tak bolehkah sekali saja aku yang berada di posisimu?” Tanyanya sambil terkekeh. Tubuhnya sendiri juga sudah mulai menghilang. Lilith mau tak mau tertawa mendengar balasannya. Di saat yang bersamaan, ia meneteskan air mata kebahagiaan.Mungkin inikah akhir yang terbaik?Lilith sempat berpikir apakah mereka bisa bereinkarnasi suatu saat, bertemu kembali dan menjalin hubungan satu sama lain. Seperti kisah-kisah manusia yang sering diceritakan Aleister.Keduanya pun menghilang bersama-sama, yang tertinggal hanyalah setetes air mata Lilith yang jatuh.—“Hei, lihat! Pohon ini besar sekali, seperti mengeluarkan aura-aura pohon mistik saja,” ucap seorang gadis kepada temannya. “Iya, sepertinya perjalanan kita ke sini untuk melihat pohon besar ini tidak sia-sia,” balas gadis yang lain.“Oh, ya, kenapa waktu itu kamu tiba-tiba bilang ingin pergi ke sini, sih? Padahal bisa tunggu liburan panjang.” “Hmm, entah kenapa aku tertarik saja untuk mengunjunginya. Rasanya seperti nostalgia.” “Alasanmu terdengar agak menyeramkan.” “Ya, ya! Lupakan saja apa yang kukatakan tadi, ayo kita foto-foto!”Kedua gadis tersebut pun menyiapkan peralatan kameranya. Ketika si gadis berambut hitam beranjak berdiri setelah mengatur kamera, tak sengaja ia menubruk seseorang yang tengah berjalan di belakangnya. “Aduh, maaf! Kau tidak apa-apa?” “Ah, aku juga salah karena tidak lihat-lihat saat berjalan, maaf.”Gadis itu kemudian diam terpaku di hadapan lelaki yang terasa familier baginya. Sang lelaki pun juga merasakan hal yang sama.“La, ayo sini foto!” Panggil teman gadis tersebut. “Iya, sebentar!” Ia pun bergegas menghampiri temannya, sebelum lelaki itu menggenggam tangannya. “Maaf kalau aku tidak sopan, tapi boleh aku tahu namamu? Namaku Allistor.” “Eh, um, namaku Lyla. Salam kenal. Aku harus pergi dulu, temanku memanggil!” Allistor tersenyum sembari melepaskan genggamannya, “Maaf sudah mengganggumu,” kemudian ia berbalik dan menatap pohon besar itu dengan tatapan sendu.
Virginia McQueen
Pada era 80-an, kasus kriminal dan penindasan serta politik memang sedang berapi-api. Gadis 16 tahun bernama Virginia ini hidup dalam bayang-bayang besar kakak laki-lakinya. Louis McQueen memang terkenal karena ia banyak sekali berpartisipasi dan memecahkan banyak kasus dengan caranya yang unik, selain itu fisik dan karakternya benar-benar membantu dalam ketenarannya ini. Namun, sejak kecil Virginia sudah jarang sekali bertemu dengan Louis. Louis sudah ditempatkan di sekolah yang khusus untuk orang-orang yang nantinya akan bertatap langsung dengan kasus-kasus kriminal.Ibu dari Louis dan Virginia, Meghan McQueen juga mengajari Louis banyak hal seperti Floriography (bahasa bunga), teka-teki huruf, sains, bela diri, seni berpedang dan lain sebagainya yang memang berkaitan dengan hal yang berbau “permainan/teka-teki detektif”. Tidak hanya Louis, Virginia juga diajarkan hal seperti itu oleh ibunya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Virginia mulai jarang melihat ibunya. Meghan terkadang suka sekali menghilang tanpa meninggalkan surat sehingga Virginia harus menunggu bahkan mencari ibunya, namun dengan kerumunan kota yang sedikit beresiko, maka Virginia tidak bisa berbuat apa-apa.Suatu pagi Virginia bangun dari tidurnya yang lelap, berlarian kesana kemari dengan senyum yang terlukis di bibirnya. Dengan antusias, ia berteriak memanggil ibunya untuk ikut berkumpul bersamanya di ruang keluarga. Namun, hasilnya nihil. Rumah terasa sangat kosong, Virginia sudah menduga hal ini akan terjadi. Adakah seorang ibu yang tega meninggalkan seorang anak sendirian tepat pada hari ulang tahun anaknya? Meghan meninggalkan rumah tanpa kabar lagi.Virginia kali ini benar-benar bertekad kuat untuk mencari ibunya, karena dia pikir tidak mungkin dia merayakan ulang tahunnya sendirian. Akhirnya dia mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke tengah kota. Virginia membawa buku floriografi, uang, dan barang yang menurutnya penting untuk dibawa selama perjalanan. Tidak lupa dengan dua helai roti sebagai bekal dalam perjalanan. Dan disinilah pertualangan Virginia dimulai.Virginia pergi dari rumah untuk mencari ibunya. Terlebih, diam-diam ia mendapat beberapa petunjuk penting dari Meghan. Kali ini Virginia tahu persis ibunya berada di tengah perkotaan, untuk sampai kesana Virginia harus melewati perjalanan yang panjang. Mau tidak mau ia harus naik kereta. Untuk masuk ke dalam kereta, Virginia wajib membeli tiket. Namun untuk membeli tiket ia harus mengeluarkan uang sebesar $55,43 yang tentu saja ia tidak akan mengeluarkan uang hanya untuk hal sepele seperti ini maka Virginia menemukan cara lain untuk masuk ke dalam kereta yaitu dengan cara menyamar sebagai seorang kakek tua dari seorang wanita muda. Padahal kakek dari wanita muda ini sebenarnya sedang membeli makanan untuk bekal dalam perjalanan, dengan segala akal pintarnya Virginia menyamar dan tanpa disadari mencuri tiket dari seorang kakek tua tadi dan memanipulasi seorang wanita muda.Ketika ia berhasil untuk masuk ke dalam kereta, Virginia berkenalan dengan Gomez, pemuda bangsawan yang kabur dari rumah dengan bersembunyi di tas. Awalnya Virginia hanya melihat sebuah tas besar yang diletakkan tepat di hadapannya tanpa sang pemilik. Virginia adalah orang yang selalu penasaran, namun ia tau membuka sesuatu yang memang bukan miliknya adalah perlakuan yang tidak baik. Dengan segala pergerakan yang ada di dalam tas itu membuat Virginia semakin penasaran dan juga sedikit waspada, maka ia membuka tas itu dan disanalah Gomez meringkuk didalam tas. Tak disangka, pertemuan itu menuntun Virginia pada kasus besar yang berkaitan dengan parlemen Inggris hingga membuat nyawa keduanya terancam.
Lana
Purnama bergelayut di petala langit menghias malam. Bersama jutaan gemintang seperti lentera dalam gua yang dikelilingi kunang-kunang. Semilir angin mendepak dedaun rindang. Satu-dua daun berjatuhan ke jalan tanah tak terurus. Mungkin, sudah lama tidak ada kaki yang menapak di sini. Jalan tersebut tertutup banyak daun.Pelan, langkah kaki terus berjalan. Hati-hati, dia yang sedari tadi berjalan kaki tak jua lelah mencari. Dia menghitung, sudah hampir tiga jam perjalanan, belum juga menemukan satu tanda. Pikirnya, mungkin purnama hari ini akan berakhir gagal seperti purnama sebelumnya.Daun kering jatuh kehadapannya. Perasaannya mengatakan, ada yang aneh di daun itu. Segera ia melangkah cepat ke arah daun.—Trek! Satu ranting terkena pijakan. Sosok dibalik jubah terbangun. Dia yang di atas pohon segera turun. Matanya menerawang sekitar. Aroma manusia menusuk indra penciumnya. “Ada yang datang,” gumamnya pelan. Cepat ia menyuruh anak buahnya untuk memeriksa.—Ada satu kisah masyhur di kalangan penyihir, tentang bagaimana seorang penyihir mencintai manusia. Kisah itu selalu berakhir tragis merengut nyawa.Di semenanjung Roma, terdapat aliansi rahasia yang tidak diketahui manusia. Di hutan belantara, bangunan megah berdiri dengan arsitektur kuno bangsa Romawi. Masih berdinding dan lantai kayu. Mereka menamakannya Akademi sihir yang dihuni puluhan pelajar.Zazlina manusia yang tertarik akan ilmu sihir. Perjalanan panjangnya membawa dia ke akademi sihir. Hampir sepuluh tahun dia belajar di sana.Bukan hanya itu, perjalanan Zazlina membawa dia bertemu dengan Tarmiel Muktah, keturunan penyihir dari negeri antah-berantah. Mereka saling mengenal, bercerita, hingga buih-buih cinta mendekap keduanya. Ini sebuah masalah besar, sudah banyak peringatan untuk mereka. Tapi, cinta adalah cinta. Selalu sempurna dengan ketidak sempurnaannya. Cinta membuat ragu jadi keyakinan yang kuat. Rela menepis badai salju, bersedia berperang dengan semua yang ada. Mereka tetap menikah. Dan ketika dikaruniai satu putra, mereka berdua menghilang.—Senja sudah dirajut mega pertanda malam hari telah tiba. Lampu-lampu bar milik Hugraid menyala terang. Di sebelah kanan pintu bar itu, dua obor yang bersilang mati. Tandanya tidak ada minuman yang bisa dibeli. Semuanya telah habis.Khiim berjalan menuju pintu. Pikirnya, Hugraid lupa menyalakan lampu obor itu. Secara, malam baru saja tiba tidak mungkin minuman habis tidak tersedia.“Hai, Hugraid,” sapa Khiim setelah membuka pintu, “Apa kabar?” “Baik. Selalu baik, Khiim,” jawab Hugraid sembari merapikan gelas-gelas bambu. “Habis?” “Kau tidak lihat? Obornya sudah mati?” “Kenapa?” “Perempuan itu memborongnya,” tunjuk Hugraid kepada seorang wanita yang duduk di meja paling pojok. Khiim mengikuti arah telunjuk Hugraid. “Astaga. Aku sangat ingin minum vodka. Mungkin aku akan memintanya satu botol.” “Jangan,” bisik Hugraid. “Kenapa?” “Kubilang jangan.” “Jangan khawatir, Hugraid.” Khiim berjalan menuju tempat wanita itu. Beberapa botol sudah berserakan di lantai.“Hmm. Maaf, Nona. Aku sangat ingin minum. Bolehkah minta botol vodka. Atau membelinya,” kata Khiim sesampainya di hadapan wanita itu. “Ambil saja.” Wanita itu merapikan posisi duduknya tanpa melihat ke arah Khiim. Khiim sedikit heran. Bagaimana wanita ini tidak mabuk setelah meminum banyak bir. Khiim mengambil satu botol di meja. “Terima kasih.” “Ya.”“Boleh duduk?” “Ya.” Khiim duduk berhadapan terhijab meja. Di tempatnya, Hugraid bersiap dengan segala kemungkinan. Mengumpulkan tenaga, siap merapalkan mantra. Jaga-jaga jika perempuan itu menyerang Khiim. Sorot matanya teliti memerhatikan dengan tangan saling mengepal.“Baik. Namaku Khiim Muktah.” Khiim menyodorkan tangan. “Aku tidak punya nama,” acuh perempuan itu. “Em ….” Khiim berpikir sejenak. “Aku memanggilmu Lana.” “Kenapa harus Lana?” “Lana artinya abadi.” “Ya.” Perempuan itu meraih tangan Adam.Hari kian berganti, keakraban mulai membalut hangat kasih hati mereka. Ada tawa bahagia berlabuh di persimpang cerita. Asa untuk hidup bersama bagai rona-rona rambut Rapunzel. Menjelma menjadi detik-detik penuh makna pindai cinta. Selalu ada puisi dalam hening malam. Suara-suara dua insan syahdu sedang meraung harapan bersama. Tanpa dimakan waktu. Tanpa memajuh usia. Tanpa disibak pisah.Khiim telah menemukan pengisi ruang kosong dalam hati sunyinya. Terkadang, Lana bagai lantunan irama merdu lilin lebah. Nada dan irama memberi titik terang pada lilin batiknya hatinya. Lana berbeda dari perempuan lain yang pernah ia temui. Tubuh tinggi dan ramping dengan rambut dan mata cokelatnya semakin membuat berhasil menyihir kedua matanya.Begitu pula dengan Lana. Ia serasa menemukan jiwa yang telah lama direngut semesta. Rembulan yang sempat tenggelam di wajahnya terbit kembali. Senyum itu, bisikan syair-syair semilir angin menutupi titik-titik kecil hatinya. Ditambah, Khiim tidak merasa terganggu jika dirinya seorang penyihir. Ada perasaan yang tidak biasa ketika ia di dekat Khiim.“Kau pernah berpacaran, Lana?” Tanya Khiim pada suatu sore di tetabun sawah. “Pernah.” “Apa yang terjadi pada mantan pacarmu?” “Aku membunuhnya, Khiim.” Khiim tertawa. Hal menyeramkan akan menjelma lelucon tatkala diucapkan Lana.Lana tidak pernah menetap selama lebih dari tiga hari di satu tempat. Berpindah. Selalu gagal dalam setiap hubungannya dengan manusia. Kecuali saat ini. Saat Khiim memasuki rongga kosong dalam hidupnya.“Sudah lima purnama kita bersama, Lana. Kuharap akan bertahan selama purnama masih ada,” kata Khiim di suatu sore.Hubungan Lana dengan pria lain selalu berakhir tragis. Gagal dengan kematian dari pasangannya. Tercatat, sudah lebih dari delapan pria. Lana sadar, bahaya mengancam kisah mereka. Khiim akan mati dan Lana kembali memeluk sepi.Dunia sihir punya aturan. Jika penyihir menikah dengan manusia, itu berarti mengundang kematian untuk salah satunya. Seperti yang terjadi pada orangtua Khiim, di mana Zazlina harus rela dijemput maut. Dan Tarmiel, meninggal atas rasa sedih kepergian Zazlina.Purnama ke-7 setelah pertemuan mereka, tepat pada pertengahan Desember, Lana secara tiba-tiba menghilang. Ia pergi tanpa pamit, dan memaksa Adam untuk melupakan enam purnama bersamanya. Dalam suratnya, Lana mengatakan jika ini adalah pilihan yang terbaik untuk mereka berdua. Sebelum petaka menimpa, lebih baik sebuah kisah berakhir lebih awal. Kasih yang singkat hanya membekaskan luka ringan. Waktu yang sebentar gampang dilupa ketimbang waktu lama. Dan Khiim, bertekad membatalkan aturan tersebut.“Aku sudah memperingatkanmu, Khiim. Lana seorang penyihir. Jika kamu terus bersamanya, kamu akan mati,” bentak Hugraid di dalam barnya. “Bagaimana jika aku seorang yang mewarisi sihir?” tanya Khiim dengan kepala menunduk. “Tetap saja. Kamu punya darah manusia,” ujar Hugraid. “Tarmiel Muktah dan Zazlina adalah saksi dari perjanjian itu. Cinta mereka berujung maut.” Khiim menjawab pelan. “Mereka orangtuaku.” Sontak Hugraid sedikit kaget. “Jadi, kamu benar-benar mewarisi ilmu sihir?” “Ya. Aku berada di Akademi Sihir.” “Sejak kapan?” “Sebelum aku bisa mengingat.” “Baik. Aku bisa menolongmu.” “Benarkah?”Hugraid berdiri. “Tidak ada cara untuk menghentikan kutukan tersebut. Tapi ada satu mantra terlarang yang bisa membuatmu terus berinkarnasi. Itu artinya, jika kamu mati, rohmu akan mencari wadah baru dan hidup kembali.” “Bagaimana dengan Lana?” “Itu bukan masalah. Aku tidak tahu dia berasal dari mana, tapi dia punya kutukan panjang umur.” “Ajari aku.” Khiim berdiri menghadap Hugraid. Pancaran matanya sedikit berubah. Hugraid menggeleng. “Kau harus mengambil jantung lima penyihir.” Mata Khiim memincing.“Penyihir muara yang bisa mengendalikan ikan, cara mengalahkannya adalah memancing dia untuk naik ke darat. Omong kosong melawan dia di air. Kekuatannya bertambah dua kali.” “kemudian penyihir padang pasir. Dia punya mantra untuk membuat segel. Satu-satunya cara mengalahkan dia adalah memanggil hujan. Dan kamu diuntungkan oleh sihir ibumu.” “Kau tidak bisa menang dengan penyihir jepang. Dia melantunkan mantra berupa haiku. Kau harus membalasnya dengan syair juga. Pelajari mantra-mantra sonetta bapakmu.” “Lalu penyair topi jerami. Dia ada di sebuah tanah yang dikelilingi sawah. Hati-hati, dia bisa mengendalikan sepuluh ribu orang-orangan sawah.” “Dan yang terakhir, pengendali kelalawar. Penyihir yang buruk dan kejam. Saat akhir purnama, dia akan berada di hutan. Aku tak bisa menyebut hutan mana, tapi pasti dia di sana. Tanda-tandanya ketika banyak kelalawar berkumpul.”Dari penjelasan Hugraid, hanya penyihir kelima yang membuat Khiim sedikit terkejut. “Apa harus penyihir kelalawar?” komentarnya. “Ya. Harus.”—“Sudah dekat,” gumam Khiim. Daun yang berlubang itu ternyata bekas pijakan kaki kelalawar. Khiim mulai berjalan kembali.Satu kelalawar terbang di samping kirinya. Dia menoleh cepat. Satu lagi menyusul di arah kanan. Matanya memerhatikan. “Tidak salah lagi. Ini tempatnya.”Puluhan kelalawar dengan bising menuju ke arahnya. Dia yang sadar akan bahaya segera menutup mata. Mengumpulkan tenaga, dan merapalkan mantra. “Grimore.” Mantra pengahalang membuat perisai sebening kaca berwarna merah menutupi tubuhnya. Segara mungkin ia mengeluarkan buku mantra dan bersiap untuk serangan berikutnya.“Percuma saja. Tidak ada yang bisa menembus perisai ini.”Kelalawar membuat gelombang lebih besar. Mengelilingi perisai Khiim. Mereka berkumpul di hadapan Khiim membentuk lingkaran. Kelalawar berpencar, dan, Lana muncul di sana.“Semua mantra punya kelemahan,” kata Lana. Khiim terperanjat. “Lana?” “Kau ingin mengambil jantungku?” Lana menatapnya tajam. “Tidak.” “Reinkarnasi butuh lima jantung.” “Hugraid memberikan miliknya. Dia takut kejadian orangtuaku terulang lagi.”Lana mulai menangis. Ternyata lelaki di hadapannya memberikan cinta yang tulus. “Lepaskan mantra penghalang itu.” “Untuk apa?” Khiim khawatir Lana memberi serangan lanjutan. “Lepaskan.” Tangis Lana menggema. Khiim mengangguk. Lana berlari ke arahnya. Memeluk erat orang yang ia cinta.“Aku diberkahi umur panjang. Usiaku bertambah ketika memakan manusia, Sayang.” Lana menyandarkan pipinya di dada Khiim, membuatnya basah dengan air matanya.Khiim mencium kening Lana dan mengusap rambutnya yang terurai. “Ini sudah berakhir. Ini sudah berakhir.” Bebeberapa air menetes dari matanya.“Reinkarnasi menyakitkan, Khiim. Kau akan mati, dan aku kesepian. Kemudian kau hidup, kita bertemu dan bersama lagi. Dan terus seperti itu.” “Tentu. Tapi yang terpenting adalah kita bisa terus bersama. Jika aku mati, anggap saja kita sedang menjalani LDR.”“Aku sangat mencintaimu, Khiim.” “Aku juga, Lana.”
Kemampuan Baru
Aku sering mengalami pengalaman mistis. Bermula saat aku berumur sekitar 8 tahun atau 9 tahun. Dan sejak kejadian itu, aku mulai bisa merasakan, mendengar, melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat kebanyakan orang..Hari itu adalah hari yang paling gembira untukku. Kenapa begitu? Di kantorku, tanpa sepengetahuan atasan dan pimpinanku, untuk menghemat kuota internetku, aku mendownload lagu Kulihat Ibu Pertiwi. Sudah berapa hari ini aku disibukkan dengan pekerjaanku di kantor dan sampai di rumah yang tersisa hanya kelelahan dan tertidur lelap sehingga belum sempat mendownload lagu kesukaanku sejak beberapa hari belakangan ini.Setelah berhasil didownload, sepanjang hari di kantor, telingaku tidak pernah lepas dari headset untuk mendengar lagu itu. Ketika malam tiba, sebelum tidur, lagu itu kudengarkan lagi dan kuhayati. Seketika terlintas di benakku kejadian aneh dari lirik-liriknya. Kejadian itu seperti flashback ke masa lalu.“Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati Air matanya berlinang bak intannya terkenang..”Mendengar lirik ini terlintas begitu saja di pikiranku sesosok wanita usia 40 tahunan, sedang menangis tersedu-sedu di bawah dipan, meratapi kepergian seseorang yang amat dicintainya. Awalnya aku tidak mengetahui siapa orang yang dicintainya. Tetapi setelah aku mendengarnya berkali-kali, aku baru menyadari bahwasanya suaminyalah yang dicintainya telah meninggal dan sedang terbaring di dipan.“Hutan, gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan.Mendengar lirik ini terlintas di pikiranku sesosok tentara atau prajurit atau mungkin polisi sedang bersedih hati memandangi keindahan alam indonesia. Dia merasa sebentar lagi akan meninggalkan tanah air tercintanya yang selama ini dia bela. Semakin mendengarkan lirik ini, muncul dipikiranku kalau dia meninggal karena jantungnya ditembak musuh saat sedang tempur atau mungkin sedang berperang. Ia terjatuh ke tanah sambil memegangi jantungnya yang berlumuran darah. Pikiran terakhirnya sebelum meninggal teringat akan Indonesia, akan tanah air yang dicintainya.“Kini ibu sedang lara, merintih dan berdoa..”Lirik ini beralih pada seorang ibu yang menangis tadi. Ia masih belum bisa melepas suaminya.Pukul 06.40 tiba saatnya aku berangkat kerja. Kulangkahkan kakiku dengan penuh damai menyambut pagi yang terlihat tenang namun sedikit sendu. Kusimpan handphone dan headsetku di dalam tas karena aku tidak mau pagi ini diganggu suara-suara handphone apalagi musik. Tidak jauh dari tempatku berjalan, di pinggir jalan di sebuah rumah terlihat banner dukacita atau bunga papan dukacita dari kepolisian. Aku terkejut, kenapa dari kepolisian? Apakah ada yang terkena salah tembak polisi hingga meninggal sehingga polisi harus bertanggungjawab lalu sebagai ungkapan dukacita dibawakannya banner tersrbut? Semakin dekat jarakku dengan rumah itu, kuperhatikan satu per satu orang yang datang melayat. Rasa ingin tahuku semakin menjadi, kuperhatikan pintu masuk rumah berharap bisa melihat kejadian yang sebenarnya walau dari kejauhan namun tidak melihat apapun selain beras dan minyak di dekat pintu masuk.Tiba di kantor, aku bertanya pada temanku yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumah tadi.“Memangnya siapa yang meninggal, San?” tanyaku. “Oh itu Pak Anwar, kak. Tadi pukul 5 pagi beliau meninggal,” jelas Sandy. “Meninggal kenapa?” tanyaku lagi. “Kena serangan jantung, kak. Beliau memang ada riwayat penyakit jantung juga. Kambuh seminggu yang lalu sampai tidak bisa jalan cuma bisa berbaring di tempat tidur akhirnya meninggal pagi tadi,” jawab Sandy.Mendengar ini, aku terkejut bukan kepalang. Terkena serangan jantung? Bukankah sejak kemarin pikiranku terlintas pada sepasang suami istri yang mana suaminya meninggal karena jantungnya ditembak? Rasa penasaranku bertambah dan kutanyakan lagi pada Sandy.“Dia polisi? Tentara?” “Polisi, kak. Sudah lama beliau jadi polisi. Suaminya asli orang Bali. Pindah ke daerah sini,” jelas Sandy. “Kok kakak tahu beliau polisi?”Aku termangu mendengar jawaban Sandy. Polisi? Sakit jantung? Aku mulai menerka-nerka, dalam kepercayaan agama Buddha terdapat reinkarnasi atau kelahiran kembali, mungkinkah di kehidupan yang lampau dia seorang tentara atau mungkin polisi juga sama seperti sekarang yang mana jantungnya ditembak dan berakibat di kehidupan ini harus terkena serangan jantung? Ataukah dulunya dia seorang tentara atau mungkin polisi juga yang mana orang yang menembak dirinya adalah dirinya sendiri sehingga dia harus menanggung karma buruknya di kehidupan ini dan berakibat terkena serangan jantung? Oh astaga, aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Terlalu banyak pertanyaan yang menyelimuti pikiranku dan aku sedikit pusing pagi itu.Kejadian itu adalah awal dari kemampuan baruku. Dan setelahnya, aku mulai melihat kejadian yang akan datang baik dari sebuah lagu atau hanya sekedar melihat sesuatu saja. Kejadian itu seperti potongan-potongan film yang muncul dipikiran. Terkadang aku tidak tahu maksud dari potongan-potongan tersebut sehingga aku harus mencari tahu sendiri arti yang terkandung di dalamnya. Tetapi sering kali aku telat memahaminya dan baru menyadarinya setelah kejadian itu telah terjadi. Aku bukanlah Tuhan yang tahu segalanya. Tapi aku senang dengan kemampuanku ini. Dan aku bangga karena aku berbeda dari kebanyakan orang lain.
Guna Guna Harta Warisan
Untuk saat ini hatiku masih terbalut kesedihan akan kehilangan seorang bapak. Pria yang selalu ada untuk mendidikku telah pergi dari dunia. Aku tahu memang kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana dan yang abadi adalah kehidupan di alam arwah bersama yang Maha Kuasa. Bagiku, bapakku adalah orang yang baik meskipun manusia tak luput dari kesalahan namun beliau selalu mengajariku untuk menjadi orang yang bijak, setidaknya itu yang selalu kuingat.Enam bulan sudah bapakku meninggal dunia, keadaan ibuku tentu berubah total. Dulu, beliau semangat menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga walau lelah namun sekarang semangat itu berkurang banyak.“Aku belum memasak, lha mau memasak untuk siapa?” kalimat itu terlontar dari bibir tipis ibuku. Jujur, hatiku tersayat dengan kalimat itu. Aku teringat akan pria tua yang melemah akibat kadar gula yang berlebih di dalam darahnya. Kenyataan itu memang harus aku terima karena Tuhan pasti telah menitipkan hikmah yang besar untuk kita.“Kemarin kakakmu ke sini, ia bilang katanya bapakmu itu meninggal akibat diguna-guna orang” ucap ibuku saat aku datang berkunjung ke rumahnya. “Ibu, siapa yang membuat bapak sedemikian?” tanyaku “Entahlah nak, kakakmu hanya berbicara seperti itu. Saat ini kakakmu akan berpuasa setiap hari untuk mencari tahu siapa pembunuh bapakmu” ucap ibuku dengan raut muramnya. “Ibu.. bapak itu meninggal bukan karena guna-guna melainkan karena kadar gula dalam darahnya yang telah merusak seluruh organ tubuhnya. Ibu masih ingat saat kita membawa bapak ke rumah sakit sebelum bapak menghembuskan nafas terakhirnya?” tanyaku “Iya ibu ingat. Waktu itu nafas bapakmu tersenggal, beliau tak mampu berjalan. Ibu juga masih ingat bapakmu ke rumah sakit digotong oleh orang 3” ucap ibuku“Berapa kadar gula dan tensi bapak bu?” tanyaku “Waktu itu tensinya 170/100 dan gulanya 527” jawab ibuku “Tuh… ibu ingat semuanya. Aku juga masih ingat waktu itu bapak tak lagi mengenaliku lalu mau guna-guna dari mana bu? Ibu jangan berfikir yang macam-macam, nanti ibu bisa sakit” ucapku “Iya tapi ekspresi kakakmu kemarin sangat serius aku takut kalau itu memang benar” jawab ibu “Sudahlah bu, zaman sudah millennial guna-guna sudah kalah sama whatsapp. Hehehe” ucapku menghibur. “Hahaha. Kau ini bisa saja menghiburku” ucap ibu“Ibu, ibu sekarang tinggal di rumah hanya bersama kak Reno dan kak Reno pun baru pulang kerja pukul 17.00 sedangkan aku juga jarang kemari. Jadi, ibu harus bisa menjaga kesehatan ya, jangan berfikir yang macam-macam” ucapku “Iya, kau benar” jawab ibuHari hari telah berganti, tak terasa sudah 8 bulan kepergian bapakku. Aku masih sering teringat bapak, baik ketika aku mengajar anakku ataupun membetulkan mainan anakku. Terkadang, dalam kesendirianku, aku merindukan bapak. Rinduku padanya akan kusampaikan lewat do’a karena hanya itu saja yang bisa kulakukan sambil berharap semoga dengan do’aku bisa meringankan siksa kuburnya. Seusai kupanjatkan do’a untuk bapak, tiba-tiba ponselku berdering.“Ibu. Ada apa dengannya?” gumamku, tanpa banyak kata kuangkat telfon darinya. “Apakah kau bisa mengunjungi ibu sekarang?” Tanya ibuku “Oh iya bu, sekarang aku masih kerja nanti seusai kerja aku akan mengunjungi ibu” ucapku “Iya. Usahakan hari ini bisa yak arena ibu mau bicara penting denganmu” ucap ibu “Baik bu” ucapku sambil menutup telfon ibu karena aku tak enak dengan bosku kalau menerima telfon saat jam kerja.Seperti perintah ibu, kukunjungi beliau setelah jam kerja berakhir namun sebelum ke rumah ibu terlebih dahulu aku mengunjungi pusara bapakku. Pusara seorang pria yang selalu mendo’akanku menjadi pewaris barisan perempuan yang terpuji, itulah arti dari namaku. Salah satu kenangan yang diberikan bapakku. Setelah membaca do’a di atas pusaranya, aku pergi mengunjungi ibuku. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang janggal yang terjadi pada ibuku. Kejanggalan itu yang membuatku bergegas ke rumah ibu.10 menit kemudian aku telah sampai ke rumah ibuku, kuparkir dulu sepeda motorku dengan benar kemudian aku masuk ke rumah ibuku. Sejak awal aku masuk rasanya rumah itu semakin suram, seperti ada penghuni baru maksudku penghuni halus alias jin.Kedatanganku disambut hangat oleh ibu dan kak Reno. “Duduklah Sil, sekarang saatnya kita berunding” ucap kak Reno “Iya Kak, mau berunding apa ya?” tanyaku “Gini nak, bapakmu sudah 1 tahun meninggal dan sekarang saatnya kita membagi warisan” ucap ibuku tiba-tiba. “Ibu, kenapa tiba-tiba membaginya? Bukankah kemarin ibu tidak ingin membicarakan warisan dulu?” tanyaku bingung merasa ada yang ganjil. “Begini Nak, kemarin kak Eliya kemari dengan bijaknya ia membagi harta warisan bapakmu. Kak Eliya dapat rumah di pinggir jalan dan mobil sedangkan kak Reno dan ibu mendapat rumah ini” ucap ibu “Lha terus aku bu?” tanyaku “Kata kak Eliya kau tidak dapat apa-apa jadi ya sudah diamlah” ucap kak Reno “Loh kak, ya nggak bisa gitu. Aku kan juga anaknya bapak, kalau kalian dapat mengapa aku tidak dapat? Apa aku ini bukan anak bapak bu?” tanyaku “Kau memang anak bapakmu namun keputusan kak Eliya sudah bulat jadi kau harus menurutinya, lagipula dia adalah saudara tertua jadi kau harus menurut” ucap ibu “Ibu, saudara tua akan dituruti jika ia benar namun jika ia salah maka ia harus kita ingatkan. Aku tidak setuju bu” ucapku “Setuju atau tidak setuju sertifikat rumah dan mobil sudah ada di tangan kak Eliya” ucap kak Reno“Kalian ini kenapa sih? Kok jadi aneh begini?” tanyaku bingung merasa ada keganjilan yang mencolok. “Ini sudah keputusan kak Eliya nak, kau harus ikut” ucap ibu “Baiklah bu, aku terima keputusan kak Eliya. Aku hanya ingin ibu mendo’akanku agar aku bisa menjadi anak, istri dan ibu yang baik. Dan aku ingin ibu mendo’akanku agar aku menjadi PNS” ucapku “Iya Amin, ibu sangat senang kalau kau jadi PNS” ucap ibuAku sangat kecewa dengan keputusan berat sebelah ini namun apalah dayaku sebagai anak, yang jelas sertifikat rumah yang ada di tepi jalan itu atas nama ibuku. Jadi, jika ingin dijual atau diubah nama harus ada tanda tanganku. Biarlah ia merebut dengan segala cara yang ia bisa namun Tuhan tak akan tinggal diam pikirku.“Ibu, ini sudah sangat sore. Jadi, aku pulang dulu ya” ucapku menahan kecewa “Oh ya, sebelum pulang bawalah makanan ini” ucap ibuku sambil menyodorkan 3 kaleng cornet dan 3 bungkus nasi. Deg, ada apa ini? Kecurigaanku semakin bertambah dengan adanya makanan ini. “Berikan ini pada anak dan suamimu. Cornetnya enak lo kemarin aku makan dengan itu, rasanya sangat enak. Aku jadi lahap makan” ucap kak Reno “Cornet darimana ini bu?” tanyaku “Ini cornet dari kakakmu, kak Eliya. Kakakmu sekarang jualan frozen food juga kok. Alhamdulillah dagangannya semakin beragam, ibu sangat senang mendengarnya” ucap ibuku Ya Allah, apa mungkin kak Eliya membubuhi makanan ini dengan do’a-do’a jahat? Bukankah hal itu bisa membuat hidup kita semakin sengsara? Pikirku. “Iya bu, anakku pasti suka makan dengan cornet goreng” ucapku. Akupun segera pulang sambil dag dig dug membawa makanan itu.Saat aku sampai di lampu merah, kulihat ada seorang pengamen yang tengah bernyanyi dengan suara sumbangnya. Aku jadi punya ide gila memberikan cornet itu ke pengamen. “Mas, ini ada cornet. Terimalah” ucapku sambil memberikan cornet itu padanya. Sang pengamen kaget dengan pemberianku karena cornet termasuk makanan mahal. “Terimakasih banyak mbak. Semoga mbaknya diberikan kelapangan Rejeki dan apapun cita-cita mbaknya semoga terlaksana. Amin” ucap pengamen itu sebelum lampu hijau menyala. akupun meng amini do’a si pengamen sebelum berlalu pergi meninggalkannya.30 menit kemudian aku sampai rumah dengan selamat. Aku masih terngiang-ngiang kalimat kak Reno, kau tak dapat apa-apa, sertifikat rumah dan mobil sudah ada di tangan kak Eliya ditambah lagi kalimat ibuku kak Eliya adalah kakak tertuamu jadi apapun keputusannya kau harus ikut. Apakah kebijaksanaan ibuku telah dilunturkan makanan itu? Ah.. sudahlah yang penting aku tidak boleh dendam pada keluargaku dan jika mendapat makanan dari mereka harus segera kuberikan pada orang lain.Benar saja, semenjak saat itu ibuku jadi sering mendapat kiriman makanan dari kakakku. Ya, namanya saja ibu ketika ia mendapat makanan pasti ia aka teringat anak-anaknya dan itu juga terjadi pada ibuku. Setiap kali kakakku memberi makanan, aku selalu diberi sedikit oleh ibu bahkan terkadang kakakku juga memberikan khusus untukku namun dititipkan ke ibu. Aku semakin curiga dengan tabiat kakakku. Bagaiman tidak? Ia meminta bagian rumah dan mobil namun rumah itu tak kunjung ditempatinya sedangkan ia terus saja memberi makanan pada ibuku dan anehnya setiap kali ibuku memakan makanan kiriman kakakku, beliau semakin menurut dengan apa yang dikatakan kakakku.“Berikan ini pada suamimu ya, yang ini harus kau berikan pada suamimu” ucap ibuku sambil memberikan sebungkus kue kering padaku. Kue itu kuterima saja namun tak akan dimakan oleh keluarga kecilku karena pasti akan kuberikan ke pengamen di lampu merah ataupun pengemis jalanan. “Ibu, maafkan anakmu ini. Aku hanya tidak ingin keluargaku diganggu oleh hal-hal gaib” pikirkuRumah di tepi jalan itu, tak kunjung ditempati kakakku namun kiriman makanan itu terus saja diberikan kakakku lewat ibuku dan akupun juga terus memberikan makanan itu ke orang lain. Puncak keserakahan kakakku terjadi di sepertiga malam.Malam itu adalah malam jum’at, seperti biasa aku bangun pukul 02.15 dini hari untuk makan sahur dan lanjut sholat tahajud. Seusai sholat tahajud, aku membaca Al-Qur’an sebisaku dan tentu saja aku juga sudah berdo’a untuk bapakku. Aku tahu di waktu sepertiga malam, adalah salah satu waktu yang mujarab untuk berdo’a karena malaikat tengah turun untuk meng aminkan do’a manusia. Saat itu, aku merasa ada orang di luar rumahku namun orang itu tiba-tiba lari, menghilang pergi. Aku sangat takut melihat kejadian itu, dengan segera kulanjutkan membaca Al-Qur’an supaya keluargaku selalu aman.Matahari telah memunculkan diri, seperti biasa aku melakukan tugas sebagai ibu rumah tangga sebelum aku bekerja freeline. Saat aku tengah ayik mencuci piring, ponselku berbunyi. “Mama, nenek telpon” ucap anakku sambil memberikan ponsel padaku “Oh iya, mana ponselnya” ucapku sambil mengulurkan tangan “Iya bu, ibu masak apa hari ini?” tanyaku “Gawat nak.. gawat” ucap ibuku tergopoh “Apa yang gawat bu?!” tanyaku sontak kaget “Sertifikat rumah yang di tepi jalan itu hilang” ucap ibuku dengan tergopohnya “Ibu, ibu pasti lupa menaruhnya” ucapku “Enggak. Ibu nggak lupa kok. Sertifikat itu, ibu taruh di dalam almari” ucap ibu “Ya sudah, kalau begitu nanti saya ke situ. Kita cari sama-sama ya bu” ucapkuAkupun pergi ke rumah ibu, kulihat ibuku tengah bingung akibat sertifikat itu. Dicari-carinya sertifikat itu kemana-mana namun tetap saja tidak ada. Ibu juga sudah mengeluarkan seisi lemari namun juga hasilnya tetap sama.“Ibu, coba ibu ingat-ingat lagi dimana ibu menaruhnya” ucapku. Kemudian ibuku berpikir keras mengingat kejadian-kejadian sebelum sertifikat itu hilang. “Waktu itu ibu habis makan lobster goreng dari kak Eliya kemudian ibu memberikan sertifikat itu ke kak Eliya” ucap ibuku “Berarti ya ada di kak Elya bu. Lagipula ibu kan sudah memberikan rumah beserta mobil ke kak Elya” ucapku “Kapan ibu memberikannya? Ibu tidak pernah membagi warisan” ucap ibu “Loh, yang ibu telpon saya pagi-pagi. Waktu itu ibu nyuruh saya ke sini untuk membicarakan pembagian warisan. Ibu bilang kalau kak Elya dapat rumah di tepi jalan dan mobil sedangkan kak Reno dapat rumah ini” jelasku “Lha terus kamu dpaat apa?” Tanya ibuku “Nggak dapat apa-apa” ucapku “Hei! Kau ini kan juga anak bapakmu, mana mungkin aku membagi berat sebelah begitu” ucap ibuku. Dalam hati aku sangat senang karena ibuku telah terbebas dari guna-guna.“Sekarang ibu tenang dulu, kita ambil sertifikat itu ke rumah kak Elya ya” ucapku namun belum sempat ibu mengiyakan ajakanku terdengar orang berteriak. “Bu! Bu..! bu..! Aku mengembalikan sertifikat rumah dan mobil!” teriaknya. Akupun dan ibu berlari menemui suara itu dan benar dugaanku ternyata itu adalah suara kak Elya dan suaminya. Ia datang ke rumah membawa sertifikat dan mengembalikan mobil.“Hei Sisil! Kau ada di sini? Kau ini kemarin mau kusintingin tapi nggak bisa akhirnya jinnya kembali pada kita. Horee!” ucap kak Elya.Aku tersentak kaget dengan pengakuaannya. Mau kusintingin? Jinnya kembali padaku? Berarti yang kemarin datang ke halaman rumahku adalah jin yang bertugas menyintingkanku? Ya Allah kak, jahat nian tabiatmu. Bukankah kita ini saudara sekandung yang seharusnya saling menguatkan bukan menghancurkan? Setan apa yang telah merasuki otakmu? Pikirku“Ya sudah dik, ayo kita berkelana! Kita mau ada pertemuan besar bu” ucap kakak iparku sambil meyodorkan sertifikat beserta kunci mobilnya. “Ya Allah, jadi kalian selama ini bersekutu dengan jin? Maafkan ibu nak, ibu tidak mau bertemu dengan kalian” ucap ibuku menahan tangis “Ya itu terserah ibu. Habis ibu sih, nggak mau memberikan semua hartanya padaku padahal aku kan anak pertama jadi aku lebih berhak daripada yang lainnya. Hahaha” ucap kakakku sambil berlalu meninggalkan kami.Kejadian itu selalu mengingatkanku untuk tetap sholat 5 waktu dan juga sholat tahajud. Sudah 1 bulan kejadian itu berlalu, dan betapa bahagianya aku, aku diterima menjadi PNS di sebuah instansi. Dan yang paling membuatku bahagia adalah meskipun aku sudah menjadi PNS namun aku masih bisa merawat anakku dan terlebih lagi aku masih bisa memberikan secuil gajiku untuk ibuku. Terimakasih ya Rab, karena kau telah mengabulkan do’aku. Semoga aku selalu bisa menjadi orang yang istiqomah. Amin
Naskah Maut
Pada suatu pagi menjelang siang, Eko sedang sibuk bersih-bersih rumahnya. Tidak seperti biasanya, pagi itu ia terlihat rajin, karena biasanya jam segitu ia masih tidur. Televisi di ruang tengah dibiarkan menyala sambil ia mengepel lantai. Sesaat ia berhenti sejenak dan menolehkan kepalanya di sebuah pintu kamarnya yang tertutup, lalu ia lanjutkan lagi. Pandangannya yang terus tertuju pada pintu itu seakan menimbulkan tanda tanya besar, ada apa dibalik pintu kamar itu. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba fokus agar tidak terlalu memikirkan kamarnya lagi.Setelah mengepel lantai, ia mengambil sebuah gelas yang berisi teh di meja. Eko membuang teh yang masih tersisa setengah gelas, lalu ia mencuci gelas itu ke bak cucian. Saat mencuci gelas, pikirannya kembali tidak fokus, masih terbayang apa yang terjadi semalam di rumah ini. Semalam ia dan istrinya bertengkar hebat. Pertengkaran ini dipicu oleh kemarahan sang istri yang melihat keadaan Eko yang terlalu lama menganggur dan memiliki banyak hutang. Kata-kata kasar yang dilontarkan semalam masih terngiang dalam kepalanya. Dan malam itu Eko tidak tidur satu ranjang dengan istrinya, sebab istrinya menyuruh dia agar tidur di ruang tamu saja.Sarung tangan kain yang ia kenakan basah kuyup terkena air saat mencuci. Setelah selesai mencuci gelas itu, Eko langsung keluar rumah sambil melepas sarung tangan dan kaus kakinya yang ia kenakan dari tadi, ia hendak pergi ke warung kopi tempat ia biasanya nangkring. Di warung itu Eko benar-benar tidak dapat menikmati sebatang rokok dan kopi hitamnya. Tatapannya kosong, wajahnya sedikit gelisah, dan ia hanya diam lama sendirian di warung kopi itu hingga sore. Adapun dia hanya mengobrol sekenanya saja dengan pemilik warung.Sore pun tiba, ia segera pulang ke rumahnya. Di jalan ia kebetulan bertemu tetangga-tetangganya dan saling bertegur sapa. Sesampainya di depan rumahnya, Eko tidak langsung masuk ke dalam, melainkan menuju samping rumahnya. Ia mengintip lewat jendela kamarnya. Saat mengintip di dalam kamar itu, ia kaget bukan main melihat istrinya gantung diri dengan tali tampar yang diikat di lobang ventilasi diatas pintu kamarnya. Eko yang panik dan histeris berteriak minta tolong warga.“Tolooong!” teriak Eko.Teriakan Eko sontak membuat warga berdatangan. Warga yang datang langsung mendobrak pintu kamarnya dan tak lama setelah itu, datanglah polisi. Malam itu, polisi melakukan olah TKP dan tentu Eko sebagai saksi mata pertama sekaligus suami dari korban dimintai keterangan oleh polisi. Mertua Eko yang datang malam itu langsung naik pitam memaki-maki Eko hampir memukulnya, namun polisi disana berhasil menenangkannya.Keesokan harinya, investigasi masih berlanjut. Polisi menemukan satu buah silet cutter yang tergeletak tepat di bawah tempat korban gantung diri dengan bercak darah di sisinya, diduga cutter itu digunakan korban untuk menyileti tangannya dulu sebelum ia menggantung dirinya, terdapat 5 sayatan di tangan kiri korban. Ditemukan juga racun tikus cair dan berbagai obat-obatan di dekatnya yang diduga digunakan korban untuk mengakhiri hidupnya. Dan yang terakhir ditemukan secarik kertas bertuliskan “Lebih baik aku mati saja!”Perihal kronologinya, Eko menjelaskan sangat rinci kepada polisi terkait apa permasalahan rumah tangga yang sedang dihadapi selama ini. Ia menyodorkan surat-surat hutang yang ia miliki dan ia juga menyodorkan surat pemberhentian kerja dari kantornya sebagai barang bukti. Ia menjelaskan kepada polisi bahwasanya ia saat ini menganggur dan istrinya stress berat dengan itu semua. Eko juga bercerita, sebelum korban melakukan bunuh diri, dia sempat bertengkar hebat dengan korban. Tetangga Eko dan pemilik warung kopi langganan Eko juga dimintai keterangan oleh polisi. Mereka mengaku tidak tahu menahu perihal kehidupan rumah tangga Eko. Mereka hanya bisa memberi saksi dan keterangan bahwa sehari-harinya Eko sering terlihat berada di warung kopi langganannya. Tidak banyak penjelasan tentang karakter korban, korban hanya dikenal sebagai orang yang ramah dan baik.3 hari kemudian, Case closed! Kesimpulan akhir dari polisi yaitu, kasus ini adalah murni kasus bunuh diri. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban. Dengan adanya barang bukti berupa silet cutter, obat-obatan dan racun tikus cair, polisi membeberkan bahwasanya korban sudah kalap ingin mengakhiri hidupnya dengan tergesa-gesa. Berdasarkan reka ulang yang dilakukan tim kepolisian, korban memulainya dari menenggak racun tikus dan 7 butir kapsul secara bersamaan. Lalu korban menyayat tangannya sendiri dengan cutter. Dan tanpa panjang lebar, korban langsung naik kursi dan menggantung dirinya. Kurang lebih seperti itu.Setelah kasus ini ditutup, pihak keluarga korban masih menyangkal dan mengatakan bahwa korban dibunuh oleh suaminya sendiri. Karena tidak ada bukti yang kuat dari pihak keluarga korban, hanya sebatas tuduhan lisan saja, maka pihak polisi tidak menggubrisnya. Polisi meminta keluarga korban agar bersabar menghadapi kenyataan yang dialaminya. Sorot mata tajam Aji, kakak kandung korban, tertuju pada Eko yang duduk di ruang tamu. Aji nampak kehabisan kata-kata untuk meyakinkan polisi disana. Memaki Eko sepertinya juga percuma.“Awas aja kamu! Bentar lagi kamu yang mati. Dan hey, utangmu di aku belum kelar. Udah tau miskin gak ada kerjaan makanya gausah utang!” bentak Aji sambil menunjuk Eko yang sedang duduk.Eko hanya memandang datar Aji yang marah-marah padanya. Tak lama, polisi pun langsung menyuruh orang-orang yang ada disana untuk meninggalkan rumah Eko.Keesokan harinya, suasana kampung terasa rada sepi. Angin sepoi-sepoi ikut menyapu insiden kelam yang terjadi beberapa hari lalu. Eko di dalam rumah seperti terlihat linglung, mondar-mandir tidak jelas. Matanya terbelalak ketika melihat sebuah buku tulis sekolah dengan cover gambar Hello Kitty yang terletak diatas meja marmer kecil ruang tamunya. Ia segera cepat mengambil buku itu dan membukanya. Halaman pertama berjudul “Yuli”, nama istrinya. Ia membuka cepat halaman demi halaman dan pikirannya langsung kalang kabut flashback beberapa hari lalu.Teringat saat ia memberi serbuk obat di minuman teh istrinya, karena dosis dan efeknya tinggi, sang istri yang minum teh sambil menonton tv langsung mengeluh pusing lalu tidak sadarkan diri. Seketika itu, Eko memasang sarung tangan dan kaos kaki untuk menghilangkan jejaknya, lalu membopong tubuh istrinya ke kamar. Ternyata skenario yang ia tulis dalam buku itu adalah rencana konspirasi besar agar sang istri terlihat bunuh diri. Dan ia juga menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang dimungkinkan akan ditanyakan oleh polisi kepadanya walau sebenarnya banyak pertanyaan yang meleset tidak sesuai. Pada kenyataannya, ia tetap saja mampu menjawab semua pertanyaan polisi dengan sama sekali tidak terlihat mencurigakan. What a gimmick.“bodohnya aku! Untung tidak ketahuan nih buku” gumamnya dalam hati.Ia merobek naskah itu, meremas-remas dan membuangnya. Memorinya kembali teringat pada Aji yang mengata-ngatainya kemarin. Tangan Eko meraba-raba cepat mencari pulpen. Lalu di halaman barunya itu, ia tuliskan judul baru, “Aji”.
Buruk Nampaknya?
MIMPI adalah bunga tidur, tetapi ada juga yang menganggapnya cermin kehidupan. Terlebih bila mimpi yang sama terulang hingga lebih dari tiga kali. Pertanda baik atau burukkah bila terlalu sering mendapatkan mimpi yang sama pada waktu yang berbeda dan terus berulang?Meila terbangun dari mimpi yang menakutkan itu, sambil mengehela napas, dan mencari tombol lampu kamarnya. “Mengapa mimpi itu selalu berulang?” Bisik Meila dalam hati. “Apa ini…? Apa mungkin, Ayah dan Bunda sedang tidak baik-baik saja!?” Khawatir Meila dalam dirinya yang terus berkecamuk.Ia segera mengecek kamar Ayah Bundanya. Ia dekati, pelan-pelan. Terdengar dengkuran tidur Ayah yang begitu nyaring. “Huft… Ternyata tenang-tenang saja, mereka terlalu lelap, mungkin hanya terlalu banyak nonton ‘drakor gila’. Semoga baik-baik saja kehidupanku, Bunda, Ayah, dan kita semua.”Meila pun kembali tidur lagi, tapi bayangan ‘Asap menggumpal, membubung melalui atap rumahnya’ terus muncul begitu saja. Ia teringat Nasehat Ayah dan Bundanya: “kalau kamu sedang gelisah, bahkan sangat gelisah, jangan coba ingat lagi segala hal yang membuatmu gelisah, tapi ingatlah Sang Maha Pencipta Langit dan Bumi, beserta isinya.” Tersentak Meila, seakan Ibu dan Ayahnya sedang menasehatinya saat itu.Ia pun ke kamar mandi, mengambil air wudhu, lalu memohon pertolongan kepada pemilik segala sesuatu. Larut dalam sembahyangnya. Ia yakin semua akan baik-baik saja.Terlalu cepat, sebelum pagi datang, “KRIIIIINGGG” suara jam waker memecah lelapnya tidur Meila. “Huft… Akhirnya tidak lagi masuk ke dalam mimpi ‘asap menggumpal, membubung melalui atap rumah’. Kadang tetap muncul begitu saja, padahal sudah berusaha kubuang jauh-jauh. Tapi aku yakin setelah subuh ini, semua akan membaik.”Tidak seperti kebanyakan anak seusianya, Meila tidak berangkat sekolah, ia hanya sekolah di rumah saja, Bunda dan Ayahnya lah sebagai guru tetapnya. Kurikulum pembelajaran telah disusun rapih sebelum Meila lahir oleh Ayah Bundanya. Mulai dari standard jenjang pendidikan TK, SD, SMP, bahkan SMA, telah disiapkan semua dengan metode buatan Orangtua Meila.Ayah Meila bekerja sebagai tukang Nasi goreng dan Es goreng di pasar dekat rumah, serta jualan makanan pendukung lainnya. Walaupun Nasi Goreng identik dengan suasana malam, tapi tetap saja jualan Ayah Meila tetap laku keras. Mulai dari situlah hal yang menjadi momok menakutkan Dari mimpi Meila menemui alurnya.Semakin hari, semakin laris trus, jualan Ayah Meila, sampai-sampai ia menambah karyawan berkali-kali. Tidak cukup sampai disitu, Ayah Meila pun menambah lahan jualannya, membeli lahan setempat, yang semakin meluas, pelan tapi pasti. Lahan tempat jualan yang tadinya sewa sekarang sudah terbeli.Walau sudah sedemikan kemudahan menerpa keluarga Meila. Ayahnya tidak pernah congkak dan berpikir untuk hidup bermegah-megahan. Ia tetap ber style-an ‘low profil’ walau sudah high level. Ayah Meila pun selalu mengajarkan ‘kesederhanaan kepada keluarganya’ bahkan sekolah pun ia percayakan ke tangan Istrinya, dan memang Istrinya juga telah menempuh pendidikan yang mumpuni sebelum menikah, bukan hanya pelajaran umum saja, tapi tak akan pernah lupa pelajaran Agama, karena itu yang paling utama, terlebih Bundanya Meila pun pernah menyetorkan hafalan 30Juz Al-Qur’an kepada Bu Gurunya di masa sekolah dulu.Setelah keberlimpahan itu menyelimuti keluarga Meila. Ia pun teringat mimpinya tentang, ‘Asap menggumpal, membubung melalui atap rumahnya’ membuatnya ngeri, tapi setelah semua ini ia akhirnya mengerti.“Oh rupanya arti ‘Asap menggumpal, membubung melalui atap rumahnya. Bahkan, mimpi-mimpi itu seperti sebuah tayangan sinetron bersambung. Saling berkaitan satu sama lain dan tampak begitu runtut’. Itu tanda usaha Ayah akan berkembang pesat. Luar biasa, aku kira akan terjadi berbagai petaka. ‘Alhamdulillah Ya Alloh’ semua terjadi atas izin kehendakmu.” Gumam Meila dalam dada.
Terlanjur Mencintai Kekasihmu
Tok… Tok… Tok… Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Aku bertanya-tanya dalam hati. Siapa yang bertamu pagi-pagi buta seperti ini? Dengan mata sembab karena masih mengantuk, kugerakan kaki ini menuju sumber suara yang mengganggu pagiku hari ini.Oh iya… Sebelumnya perkenalkan, namaku Tania. Aku adalah mahasiswi semester satu di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Keluargaku tinggal di kota hujan, Bogor. Karena aku mendapat beasiswa di kampus ini, aku harus tinggal sendiri di Jakarta. Menyewa satu kamar kos untuk tempat berlindungku. Ayah dan Ibu tidak bisa ikut pindah kesini, karena Ayah masih harus bertugas di Bogor sebagai anggota TNI.Dengan lesu aku membuka pintu. Mencari tahu siapa yang datang. Membuyarkan mimpi indahku dalam tidur tadi. Kotak warna putih terlihat jelas, dibawa oleh seorang laki-laki yang tak kukenal. Aku sengaja diam karena masih mengantuk. Menunggu laki-laki tersebut berbicara.“Maaf mengganggu pagi-pagi. Ini ada paket nyasar ke tempat kos pria. Kata ibu kos, ini tertera namamu,” laki-laki tersebut memulai percakapan.Aku mengambil paket tersebut. Kubaca setiap tulisan di paket tersebut satu persatu. Benar saja, lagi-lagi Ayah salah menulis nomor kamarnya. Dasar Ayah, gerutuku dalam hati. Langsung saja aku tersenyum kepada laki-laki tersebut, seraya mengucapkan terima kasih.“Aku Indra,” tiba-tiba Ia mengulurkan tangan. “Tania. Terima kasih ya. Ayahku memang suka salah menulis nomor kamar hehe,” jawabku sambil menjabat tangannya. “Enggak apa-apa. Lain kali bisa ketemu lagi kan?” tanya Indra. Aku hanya membalas pertanyaannya dengan senyuman. Sambil menutup pintu ketika si pengantar paket sudah tidak terlihat lagi. Hari-hari pun berlalu, aku menjalani aktifitas seperti biasanya. Hanya kini, ada yang menemani.Ya. Sudah satu minggu Ia menemaniku kemana pun aku pergi. Si Pengantar Paket, Indra. Sejak pertemuan itu, Ia jadi lebih sering menemuiku. Dari alasan minta ditemani kesana kemari, makan bersama. Dan, tak terasa aku menikmatinya, mulai merasa nyaman dengannya.Aku jatuh hati padanya. Ia begitu baik, perhatian denganku, dan mewarnai hari-hariku. Entah dengannya, aku tidak tahu apakah Ia mempunyai perasaan yang sama denganku atau tidak. Yang kutahu, setiap sorot matanya, memandangku dengan kasih sayang.Hari ini adalah hari ulang tahunku, aku mengajak Indra untuk makan siang di restoran favoritku. Aku sudah berdandan dengan sangat cantik. Aku ingin tampil sempurna di matanya. Walaupun entah kapan, keinginanku untuk menjadi kekasihnya akan terwujud. Karena aku malu untuk mengutarakan perasaanku duluan kepadanya. Namun biarlah seperti ini dahulu, aku sudah cukup bahagia ada dia di sisiku.Waktu tepat menunjukkan pukul dua belas siang. Yang ditunggu-tunggu pun datang. Indraku, yang bertubuh tinggi, berwajah tampan, bibirnya yang mungil, dan tubuh yang wangi, sempurna. Semakin hari, di mataku Ia semakin tampan.“Selamat ulang tahun Tania,” Ia memberiku setangkai mawar putih. “Terima kasih Indra,” mataku berbinar-binar.Kami pun makan siang bersama. Diselingi candaan seperti biasa, yang menghiasi hari-hari kami berdua. Dan yang tak disangka pun terjadi, Indra menyuapi makanan ke mulutku. Aku membuka mulutku dengan malu-malu. Entah mengapa rasanya makanan tersebut seratus kali lebih nikmat hehe.Makan siang berjalan dengan lancar. Kami pun pulang bersama ke kos. Di sepanjang perjalanan kami banyak bercerita tentang apapun. Sesekali Indra memuji penampilanku yang katanya cantik hehe. Aku tersipu malu. Sambil berdoa dalam hati, agar Tuhan menyatukan kami berdua. Pria yang sudah mengambil hatiku dan tak mau mengembalikannya.Setelah makan siang kami berdua, semakin hari hatiku dipenuhi oleh dirinya. Dadaku sesak dan bergemuruh setiap kali ingat senyum-senyumnya. Hingga suatu hari, terpikir olehku untuk memberinya sebuah hadiah untuk dikenang selama kami bersama.Aku mencetak sebuah foto kami berdua yang ada dalam kameraku. Kubingkai dengan rapi dan kubungkus dalam kotak hadiah yang terlihat manis. Aku berjalan dengan riang menuju kos Indra. Sengaja tak kuberi tahu jika aku akan datang berkunjung. Biar menjadi kejutan pikirku dalam hati, sambil sesekali bibirku tersenyum riang.Sesampainya di kos Indra, aku langsung mengetuk pintu. Sambil merapikan rambut, aku mengumpulkan kepercayaan diri yang saat itu tengah goyah karena bercampur malu. Namun apa yang kulihat saat ini, seketika menyurutkan seluruh gairah yang membuncah dalam diri.Seorang wanita yang tak asing bagiku, muncul dari dalam kos Indra. Dia adalah Acha, teman satu kelasku di kampus. Aku dan dia bertatapan cukup lama. Seolah kami bingung harus melakukan apa. Secepatnya aku tersadar, aku tersenyum tipis padanya dan berlalu pergi tanpa mengucapkan satu kata pun.“Tadi ada yang cari kamu,” kata Acha pada Indra. “Siapa?” jawab Indra sambil menikmati makanan yang ada di depannya. “Tania,” balas Acha singkat. “Kamu kenal?” Indra mulai antusias. “Ya. Dia teman satu kelasku di kampus. Kamu sama dia ada apa? Kok dia bisa tau kos-an kamu?” Acha mulai interogasi. “Oh. Enggak ada apa-apa kok. Aku sama dia cuma satu wilayah kos saja,” Indra menanggapi dengan santai.Setelah Acha dan Indra meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, Acha pun pamit untuk pulang. Namun ternyata, Ia menghampiri Tania yang sedang melamun di kamar kos-nya. Acha mengetuk pintu dengan sopan. Memanggil-manggil nama Tania agar segera keluar.Tania pun terlonjak kaget. Mengenal suara yang datang, segera Ia berlari membuka pintu. Ia sangat terkejut melihat Acha yang berdiri di pintu kos-nya. Walaupun Acha tersenyum padanya, tapi firasatnya kurang baik saat ini. Benar saja, Acha langsung bicara maksud tujuannya datang menemui Tania.“Dia kekasihku,” ucap Acha dengan nada serius. “Maaf aku enggak tau. Aku dan Indra cuma teman biasa kok,” kata Tania terkejut.Setelah mengatakan jika Indra adalah kekasihnya, Acha berlalu pergi. Hubungan kami sebelumnya baik-baik saja. Selalu bertegur sapa saat bertemu di kampus. Tapi kini berbeda, Acha seolah membangun tembok yang tinggi untukku. Mungkin saja Ia sadar jika aku mencintai kekasihnya. Walaupun saat bertemu dengannya terakhir kali, aku berbohong karena mengaku tidak mencintai Indra. Maaf Acha, sejujurnya aku terlanjur mencintai kekasihmu.Aku berjalan seorang diri di sekitar halaman kos. Di sini cukup luas dan asri. Banyak pohon-pohon yang rindang, dan bangku taman untuk sekedar duduk melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Pikiran Tania berkecamuk karena kejadian kemarin terus mengganggu.Kini, Ia harus menerima kenyataan jika Ia dan Indra tidak bisa bersatu. Indra yang sudah dimiliki Acha. Namun biarlah begini, pikirnya dalam hati. Mencintai seseorang tidak harus memilikinya. Cukup melihatnya bahagia. Bisa terus berhubungan baik dengannya.Walaupun kini harus ada jarak yang sedikit memisahkan kita. Tak bisa seperti dulu lagi. Disaat aku tau kau masih sendiri. Aku sudah terlanjur mencintaimu. Hingga rasanya terlalu sulit jika harus tak mengenalmu lagi. Biarlah seperti ini. Dirimu yang tak akan tahu dalamnya perasaanku untukmu.
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan
“Wah, sungguh cantik orang itu” ucap brian saat melihat gadis itu.Hari ini Brian bertemu dengan gadis yang sangat cantik, gadis bernama Livia yang membuat brian terpana. Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, semua murid bergegas masuk kelas termasuk Brian dan Livia. Itu hari pertama mereka masuk ke sekolah barunya.“HAH!!!, kok ada dia disini” Kaget Brian ucap dalam hati Ternyata mereka sekelas.Saat pulang sekolah Brian memberanikan diri untuk berkenalan dengan Livia. “Halo, boleh kenalan?” Ucap Brian “Boleh, namaku Livia” Saut dia “Namaku Brian, salam kenal ya” “Iya, salam kenal” Setelah itu mereka basa-basi sedikit sebelum mereka pulang ke rumah.Hari pun berganti, saat itu sedang ada pemilihan ketua kelas, Brian mencalonkan diri, dan dengan mendapatkan suara hampir dari setengah kelas Brian pun menjadi ketua kelas. Jam sudah menunjukkan pukul 13.40, sudah saatnya pulang sekolah. Brian bertemu dengan Livia “Halo Liv, boleh minta nomor HandPhonemu?” Tanya Brian “Boleh, ini ya 08**********” “Terimakasih Liv”Sebulan pun berlalu, mereka semakin dekat. Saat istirahat, Brian bertemu Livia dan bergegas menghampiri ia. “Liv, pulang sekolah nanti pulang bareng yuk?” Ajak Brian “ayoo aja, tapi nanti aku pulang sekolah ada latihan untuk upacara, jadi nanti kamu nungguin dulu yaaa” Jawab Livia “siappp” Jawab BrianAkhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi, Brian langsung meletakan tasnya di ruang tunggu dan ia bermain bola bersama teman temennya sembari menunggu Livia selesai latihan. Kemudian Livia selesai latihan, ia pun menghampiri Brian. “Heyy, jadi ga nih? aku udah selesai latihan” Ucap Livia “Jadi dongg” Jawab BrianMereka pun berjalan ke arah parkiran sekolah, dan pergi ke arah rumah Livia. Saat di jalan tiba-tiba Brian menyatakan perasaannya saat itu. “Liv, aku suka sama kamu” Ucap Brian saat angin sepoy memainkan anak rambutnya “Hah, kenapa aku ga kedengeran” Jawab Livia “Lupakan aja deh” Jawab Brian dengan rasa malu. Brian sudah lega, karena perasaan yang dipendam selama ini sudah diungkapkan.Brian sudah selesai mengantar Livia ke rumahnya, Brian juga sudah di rumah. Namun Brian masih kepikiran saat ia menyatakan perasaannya kepada Livia siang hari tadi. “Kok tadi aku ngomong kayak gitu ya” Ucap Brian sambil tersipu malu.Hari pun berganti, mereka bertemu lagi di sekolah. Brian masih merasa malu karena kejadian kemaren, jadi ia tidak mengajak Livia mengobrol hari ini.Jam menununjukkan waktu istirahat. KRINGGGGGG Suara bel berbunyi. Semua murid keluar untuk makan, bermain, dan melakukan aktivitas lain. Tiba-tiba Livia menghampiri Brian. “BRIANNNN!!!” Seru Livia “kenapa?” Tanya Brian kebingungan “Aku mau ngomong sebentar boleh?” “Boleh”Mereka pun mencari tempat yang tidak ramai, dan Livia mulai berkata “Sebenernya kemaren aku dengar perkataanmu, aku juga suka sama kamu Brian” Ucap LiviaBrian terdiam sesaat, selama ini gadis yang disukainya ternyata juga menyukainya. “Hah, serius?” “Iya, aku serius” Jawab LiviaBrian dan Livia mulai berpacaran. Pada hari esok Brian memberi tahu teman-temannya, dia sudah berpacaran dengan gadis yang dia incar selama ini “Guys, kemaren aku udah jadian sama Livia”Ucap Brian “Wedehhh selamat ya”Jawab teman-temannya Brian.Beberapa hari kemudian, Brian mengajak Livia nonton film bareng. “Liv, mau nonton ga?” Tanya Brian “Bolehh” Jawab Livia. Lalu mereka pergi nonton.Saat mereka sampai di bioskop, Livia melihat sosok cowok yang tampan, sosok ini memikat hati Livia. Saat itu Livia bilang ke Brian bahwa ia ingin pergi ke toilet, tetapi Livia malah menghampiri cowok itu dan mengajaknya berkenalan.Tiga bulan sudah berlalu, Brian dan Livia masih berpacaran tetapi Livia juga menjalin hubungan dengan cowok yang ia temui di bioskop. Pada hari itu, saat pulang sekolah Livia menghampiri Brian “Brian, hari ini aku ga pulang bareng kamu dulu ya, gapapa kan?” Ucap Livia “Iya gapapa, emang kamu pulang bareng siapa?” Jawab Brian “Oh…, aku pulang sama temenku” Jawab Livia dengan cemas “Ohh, okayy”.Brian mulai curiga, sudah beberapa hari Livia selalu menolak ajakannya. Brian mulai overthinking karena sikap Livia yang seperti tidak peduli padanya. Brian bertanya kepada teman dekat Livia “Eh, Livia kenapa ya? kok belakangan ini dia seperti menjauh gitu dari aku.” Tanya Brian “Brian, Livia lagi deket sama cowo lain, dia katanya bosen sama kamu” Jawab temannya Livia. Brian sedih dengan perkataan dari teman Livia yang menyatakan bahwa Livia dekat dengan cowok lain.Beberapa hari telah berlalu, hubungan mereka berdua semakin renggang. Saat bel pulang sekolah Brian pergi mencari Livia “Ketemu juga akhirnya, OIII LIVIAAAA” Teriak Brian dari ujung lapangan. Brian menghampiri Livia, tetapi Livia menghiraukan kedatangan Brian. Brian bertanya kepada Livia. “Liv, kamu lagi deket sama cowo lain?” Tanya Brian. “Engga” Jawab Livia . “Jujur Livvv” Tanya Brian dengan raut muka bersedih. “IYA AKU DEKET SAMA COWO LAIN, KENAPA? AKU UDAH BOSEN SAMA KAMU, AKU MAU KITA PUTUS AJA!” Jawab Livia dengan tidak santai. Livia pun langsung pergi dari tempat itu, dan Brian perlahan meneteskan air mata dan mukanya memerah. Brian bersedia, gadis yang selama ini dia inginkan meninggalkannya begitu saja.Empat bulan berlalu, Livia sudah berpisah dengan cowok itu, dan ia memiliki keinginan untuk menjalin hubungan dengan Brian lagi. Brian sedang bersantai di rumahnya, dia melamun dan ia tertidur. Brian mimpi saat ia pertama kali ia bertemu Livia dan melakukan segala cara untuk berkenalan dengan dia. Tiba-tiba Brian terbangun dan terdengar suara ketukan pintutuk.. tuk… tuk… Brian bergegas membuka pintu. “Haiii” Suara lemah lembut seperti suara Livia dengan muka tersenyum. “Livia??” Jawab Brian dengan rasa terkejut dan terheran-heran.Tamat.
Cinta Dalam Diam
Perkenalkan nama gue Nurjanah, gue adalah anak kedua dari tiga bersaudara. gue ingin menceritakan kisah cinta gue yang mungkin selama ini gue tak bisa mengungkapkan langsung dengan seseorang laki laki yang gue cinta. Dan seseorang itu adalah teman gue waktu gue sekolah SMP, gue sih gak tau kenapa gue bisa tiba-tiba suka sama dia tetapi perasaan ini terus menerus ada di dalam hati gue dan pikiran gue hanya dia dan di dalam mimpi gue selalu ada wajahnya.Waktu gue kelas 3 SMP gue bertemu dengan dia. Waktu pertama kali sih gue gak suka tapi mulai hari demi hari tiba-tiba muncul entah ada rasa yang aneh, setiap kali gue selalu ingin bersamanya dan kadang gue selalu mencari perhatian dan rasanya gue tuh ingin sekali berbicara dengannya saja. entah mengapa baru kali ini gue merasakan perasaan seperti ini.Hari demi hari aku selalu memandanginya dari kejauhan, karena gue dan dia sekelas jadi gue selalu bisa bertemu dengannya. Di suatu waktu ada mata pelajaran IPS tiba-tiba guruku memberikan pelajaran yang dimana harus berkelompok dan menyuruh untuk menghitung dari tempat duduk yang pertama paling pojok barisan laki-laki angka 1 sampai 10 dan dan mengulanginya sampai terakhir, dan kebetulan gue dan dia satu kelompok, di saat itu perasaaan gue bahagia sekali dan tak menyangka gue dan dia satu kelompok. dan akhirnya gue dan teman-teman yang lain duduk bersama yang telah ditentukan oleh guru tadi dan gue duduk saling berhadapan dengan dia. jujur gue sangat grogi dan rasanya tidak bisa gue ungkapin.Hari demi hari, bulan demi bulan, Pun telah kita lewati sampai pada waktunya perpisahan pun tiba. Dan waktu itu aku berpikir mungkin kita gak akan bisa bertemu lagi, tetapi takdir yang bisa mempertemukan kita kembali. gue melanjutkan sekolah SMK, dan ternyata dia pun melanjutkan ke sekolahan yang sama dengan gue yaitu sekolah SMK, tak kusangka aku bisa bersama satu sekolahan dengannya lagi.Waktu itu aku bertemu dengannya sedang menghadiri tes masuk ke smk. dan dia mengambil jurusan otomotif atau TKR. Sedangkan aku administrasi perkantoran atau AP. karena kita beda jurusan terpaksa gue sama dia gak sekelas karena kita beda jurusan, tetapi gue seneng walaupun kita beda jurusan. Gue masih bisa memandangnya dan bertemu dengannya.Waktu itu gue belum punya FB atau pun Wa dan di kelas satu SMK gue pertama kali dibikinin sama teman sebangku gue FB dan di waktu itu gue melihat ada FB nya dia yang bernama Wahyudin, dan gue sih malu untuk meminta pertemanan padanya. tetapi gue akhirnya pun minta pertemanan dengan dia. tetapi gue karena malu gue akhirnya batal untuk minta pertemanan ke dia, tetapi tak disangka dia pun meminta pertemanan ke gue dan gue bahagia akihrnya gue konfirmasi deh FB nya.Hari demi hari ketika aku sedang solat dan selesai membaca Alquran gue liat FB. dan di beranda gue liat status dia, ternyata dia udah punya seorang kekasih, dan disaat itulah gue blokir FB dia dan sungguh waktu itu gue ngerasain sakitnya bila cinta tapi tak bisa memiliki.Akhirnya gue coba ikhlasin dan mencoba untuk melupakannya dan semakin gue berusaha melupakannya semakin gue selalu keinget tentangnya. Dan sejak saat itu gue simpan perasaan gue ke dia karena gue tak ingin merusak hubungan orang. karena gue tau bagaimana sakit cewek yang direbut kekasihnya oleh cewek lain.Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun aku naik kelas dua dan gue saat itu hanya bisa memandanginya saja dan saat itu gue mencari cari FB dia tapi dia mempunyai FB yang baru dan akhirnya aku hanya bisa melihat fotonya dan selalu melihatnya dari kejauhan dan sampai aku naik ke kelas 3 SMK dimana waktu yang lama gue habiskan menimba ilmu dan bercanda tawa serta dimana aku akan berpisah dengannya dan teman temanku, di waktu itu ulangan UAS kelas gue kebetulan duduknya disatukan dengan kelas dia TKR 1 dan Ap 1. gue sih pengen sekali duduk bersama dengan dia tapi ternyata kenyataan berkata lain, aku duduk dengan teman yang sejak madrasah aku bersamanya, untung saja aku duduk dengan sahabatku namanya Dimas dan gue dengan Wahyudin beda kelasnya karena kita absennya jauh. tetapi gue seneng bisa melihat dia dari Deket walau gak sebangku.Setiap kali gue mau masuk ke kelas gue bertemu dengan dia sedang duduk di depan kelas dengan temannya. dan setelah selesai UAS dan ujian pun sudah dilakukan semua dan akhirnya tiba Dimana waktu yang sangat membuat aku sedih dan tak mungkin lagi aku bisa melihatnya lagi pun telah usai. dan setalah semuanya berpisah gue masih menyimpan perasaan ini sampai gue kerja dan sampai sekarang, walau gue dengan dia tak saling bertemu namun cinta gue ini tulus dan takkan ada seseorang yang sepertimu. Bagiku dia adalah seseorang yang sangat sederhana dia tidak putih tetapi hitam manis, dia baik dan berbeda dengan yang lain. Dia adalah seseorang yang pendiam, seseorang yang menurut gue spesial di hati gue.Mungkin perasaan ini hanya bisa kusimpan, aku iklaskan engkau dengan yang lain asalkan engkau bahagia. mungkin kalau kita dipertemukan kembali oleh Allah mungkin kita akan bertemu, bagiku engkau cinta pertamaku, mungkin aku hanya bisa mencintaimu dalam diamku. mungkin engkau tak tahu perasaan yang aku selama ini rasakan.
Sebuah Kenangan
6 tahun lalu, aku mengenal sosok tak berkesudahan yang memberi rasa nyaman dalam balutan kasih. Senyumnya menawan, juga kehadirannya memberikan secercah asa di relung hatiku. Tatapan sayu bola matanya turut menggetarkan denyut jantungku.Sembari menyeruput kopi panas, mari kuceritakan memori abu-abu bersamanya yang tiba-tiba mengusik ingatan.Kota Garam, Maret 2015 “Selamat pagi, Paramita Yoo. Selamat datang di keindahan dunia fatamorgana dengan ilusi lensa berdiafragma 16.” Dia menyapaku riang di lorong sekolah pagi ini, memamerkan deretan gigi putihnya yang berbaris rapi juga eyes smile menggemaskan di paras rupawan idaman ribuan kaum hawa. Aku memalingkan wajah ke kiri, “Selamat pagi kembali,” balasku singkat namun tetap mengalun ramah di sepasang telinga miliknya.Tolong maafkan egoku yang tak ingin mengalah untuk berargumen.Sosok lelaki tampan ini kembali mengulas senyuman menawan, membuat cekungan kecil pada kedua pipi tirusnya tak sengaja terlihat. Manis. Aku memuja pahatan sempurna wajahnya dengan jujur dari dalam hati. Tak ingin menciptakan sedikit pun kebohongan karena lelaki ini sungguh menakjubkan sepasang mata yang memandang.“Mita sudah sarapan?” Aku mengangguk pelan, “Sudah, sarapan nasi goreng dengan segelas susu coklat hangat pada pukul 6 lebih 15 menit lalu, bersama ayah dan bunda di meja makan keluarga.” Nahas sekali ketika menyadari polusi suaraku membuat bibir tipisnya mengerucut kesal. “Ah sayang sekali, padahal Diwan mau ngajak Mita sarapan bareng, ditemani beningnya embun pagi yang masih menempel di rerumputan lapangan sekolah,” rajuknya manja membuat rona pipiku tak mampu menyembunyikan semu merah yang terus meminta untuk dipamerkan.“Mau aku temenin?” “Mita mau?” Diwan menjawab cepat sejalan dengan matanya yang berpijar indah kala mendengar tawaranku, membuat tawa geliku dipaksa untuk keluar.Ya Tuhan, mengapa remaja 17 tahun ini begitu menggemaskan di pantulan retina mataku? Mengapa aku sangat terlambat menyadari kepolosan sikap yang ia perlihatkan?“Tentu,” sambutku sembari tersenyum. “Beneran?” Aku kembali menganggukkan kepala, “Apa aku pernah bohong?”Kedua matanya terlihat menimbang-nimbang jawaban sebelum diungkakan, juga pergerakan jari telunjuknya yang mengetuk pelan dagu simetris kepunyaannya.“Nggak, sih. Tapi siapa tau kan kalau tiba-tiba Mita menciptakan karakter baru, seperti cerita khayalan di negeri dongeng? Jadi bukan kesalahan dong kalau Diwan curiga. Lagian ya, curiga itu termasuk naluri yang pasti dialamin semua orang, loh.” Aku mencebikkan bibir membuat decakan kesal lolos dengan mudahnya dari mulut mungilku. “Suka sekali sih bikin karangan bebas pelajaran Bahasa Indonesia.” Dia tertawa begitu renyah, sebelum kembali mengulang pertanyaan serupa. “Kamu beneran mau nemenin aku sarapan?” “Iya,” singkatku.Aku teramat malas untuk mengulang pernyataan serupa, terlebih megenai perkara yang sangat tidak penting seperti ini. Cukup tau saja, aku bukan termasuk golongan remaja yang suka menyia-nyiakan kumpulan detik dalam putaran jarum 24 per tujuh.Waktu adalah uang, dan setiap detik adalah tajamnya pedang. Disanggah oleh jutaan orang pun, analogi tersebut selamanya akan tetap seperti itu.“Serius, kan? Seperti bentuk nyata dari paham empirisme, kan?” Aku menghela napas, “Iya, Diwan Dirgantara, anak semata wayang dari pasangan tuan dan nyonya Dirgantara. Pewaris tunggal Dirgantara Maskapai yang harta kekayaannya tidak habis tujuh turunan, meskipun anak cucunya hanya menghabiskan hari dengan sebatang rokok dan secangkir kopi hitam tanpa gula.” Diwan terbahak dengan mengimbangi intonasinya setinggi frekuensi ultrasonik yang hanya dapat didengar oleh lumba-lumba. Akan tetapi, gelakan tawa Pangeran justru mampu membuat pipiku kembali bersemu merah merona.Aku selalu suka dan sangat terbiasa untuk tersipu malu saat menjadi alasan dibalik senyum dan tawa memikatnya. Ah, memalukan sekali setiap menyadarinya.“Kamu beneran udah sarapan? Nggak lagi bohong, kan?” Diwan kembali bersuara saat derap langkah kaki kami telah memasuki ruangan kantin berukuran 8×24 meter persegi. Entahlah, aku tidak tahu pasti mengenai Pangeran yang terus menerus mengulang pertanyaan serupa. Apakah Pangeran sedang berada di fase kehabisan topik pembicaraan, ataukah hanya sekadar berusaha mencairkan bongkahan kecil es batu? Lupakan saja, aku malas menduga-duga hal abstrak ini. Tidak berguna sama sekali.“Kan tadi sudah tanya, ngapain diulang? Buang-buang kalori tau.”Dia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba tepat sebelum mengambil duduk di salah satu bangku. Tindakannya sontak saja membuat pergelangan tanganku sedikit tersentak karena tautan tangan kami yang masih membentuk simpul.“Sunahnya harus dilakukan tiga kali dalam bertindak. Apa perlu aku tanya lagi biar sekalian nabung pahala? Kalau dipikir-pikir, puncak gunung dosaku semakin meninggi setiap harinya jadi perlu dikikis sedikit demi sedikit dengan tabungan pahala.” Dia terdiam sejenak kemudian bersiap untuk kembali membuka mulutnya lebar-lebar. Mulut harimaunya bahkan telah membentuk huruf kapital O secara sempurna.“Kamu ngomong sekali lagi, kita putus.” Aku menudingkan jari telunjuk tepat di depan mata beningnya. Membuat keterkejutan terukir jelas di pahatan paras elok milik Pangeran. Juga, mata sipitnya yang seketika membelalak sungguh membuat hasrat gelakan tawaku ingin keluar.Satu detik. Dua detik. Tiga detik telah berlalu.Lelaki berpostur tegap ini membatu dengan ekspresi tercengang yang menjadi ciri khas kerupawanannya. Tak lupa, ia membiarkan begitu saja kepulan asap nasi goreng yang menguar bebas di antara kami. Menjadikan harum kencur dan bumbu-bumbu dapur lainnya menerobos secara semena-mena pada sepasang lubang hidungku.“Tapi Ta, kita kan nggak pernah pacaran. Kamu lupa, ya?”Sekakmat. Dia bertanya dengan kalimat retorik super bodoh yang membuat indra pendengaranku terasa panas. Tampilan mimik wajahnya kala mengeluarkan polusi udara juga memperlihatkan keluguan yang teramat menjengkelkan. Sungguh, hatiku seperti tercabik-cabik kuku tajam nan kotor binatang buas saat kalimat tak berdosa keluar dengan mudahnya dari bibir ranum Pangeran.“Aku ingat kok dan tahu betul kalau hubungan kita cuma sekadar temen, nggak lebih dari itu.” Tak dapat berbohong, jantungku berdenyut pilu ketika ungkapan itu keluar dari rongga tenggorokanku.“Terus ngapain kamu ngancam aku kayak tadi?” Diwan benar-benar berekspresi datar saat menanyakan perihal pahit itu padaku. Memunculkan hasratku untuk mengumpati wajah rupawannya dengan mengabsen sekumpulan nama-nama hewan di kebun binatang nasional milik negara.“Aku nggak sengaja tanya, ya. Kamu tau kan kalau aku tipikal orang yang mudah refleks?” Sejenak, aku menghela napas dalam-dalam. Menyadari betapa bodohnya diriku yang masih saja bertahan pada kubangan lumpur hubungan abu-abu poros pertama kehidupan remaja.Benar, aku dan Diwan memang bukan sepasang kekasih yang tengah dimabuk gelora api cinta. Aku dan Pangeran juga tidak terikat dalam status pacaran ala anak remaja pada umumnya. Hubungan aku dengannya sekadar teman biasa, tidak lebih dan tidak kurang. Pas sesuai takaran timbangan asam manis kehidupan.“Refleksmu membuatku berpikir tentang hal-hal aneh, Ta.”Aku terdiam mendengar pernyataan Diwan, takut salah dalam menafsirkan maksud dari ucapannya. Dan aku tidak ingin jatuh terlalu dalam pada lubang ilusi maha karyaku sendiri.“Bercanda, Ta. Kamu marah sama aku?” Seolah tak berdosa, Pangeran tersenyum kecil kala selesai mengucapkan kumpulan kata dari mulut berbisanya.Biarlah, terserah dia saja. Diwan Dirgantara selalu menjadi pihak yang benar saat menghadapi situasi apapun. Tetapi tunggu, perlukah pertanyaan semacam tadi untuk ditanyakan padaku? Apa dia tidak merasa keliru dalam memilih objek sasaran bertanya? Ralat. Mungkin akan terdengar lebih masuk akal jika keretorikan tersebut diubah redaksinya menjadi, pantaskah aku marah untuk ketidakjelasan hubungan yang membelenggu ini? Jauh lebih sederhana dan tentunya begitu menyakitkan.Dan kau tahu? Aku merasa jawaban yang paling tepat hanya berupa, “Aku tidak marah, sama sekali tidak. Aku kan nggak bisa marah sama kamu.”Dasar penipu ulung, penipu tingkat dewa tertinggi dalam jajaran alam semesta. Mudah sekali diriku untuk melakukan satu kebohongan layaknya kejadian beberapa detik lalu. Atau mungkin aku telah terbiasa melupakan sayatan hati setiap kali menutup kebohongan yang sama?Diwan kembali mengeluarkan desahan yang terdengar lelah. Berat napasnya seakan mewakili suara hati yang tengah mengutarakan kesetaraan hak untuk direalisasikan oleh si empunya raga.“Kamu tahu kalau aku–” “Iya, aku tahu kok. Kamu nggak perlu risau.” Bak besaran angka kecepatan cahaya yang aku temui beberapa hari lalu dalam pelajaran ilmu alam, aku memotong kalimatnya secepat kilat seraya tersenyum kecil pada lelaki bertubuh tegap ini.“Ta,” panggilnya pelan.Jujur saja, aku dibuat bingung untuk mengklasifikasikan suara beratnya ke dalam kalimat sapaan ataukah kalimat pertanyaan. Terlalu membingungkan untuk aku yang masih awam terhadap dunia komunikasi.Alisku terangkat sebelah, “Kenapa?” “Maaf.” Nada suaranya terdengar pasrah. Sinar cerah matanya juga turut meredup, seperti ikut serta menyelaraskan perasaan terdalam dari jeritan hati kecil bagian organ tubuhnya.“Untuk?” “Perlukah aku memperjelasnya?” Suaranya terdengar melemah selaras dengan denyut nyeri di hati ketika melihat penampakan mengenaskan yang tertangkap oleh bola mataku.“Kamu nggak salah. Nggak ada yang perlu dimaafin ataupun meminta maaf.” Remaja tampan ini menggelengkan kepalanya, “Nggak, Ta. Aku tetap aja perlu minta maaf sama kamu.” Dia selalu keukeuh di setiap mengatakan sesuatu, menolak dengan sangat keras untuk membiarkanku menyanggah kalimat-kalimatnya. Mungkin jika dia menjabat sebagai kepala negara, ia akan memimpin dengan gaya kepemimpinan otoriter yang mengerikan.“Diwan, kamu nggak salah. Jadi orang jangan bandel, deh.” Tingkatan oktaf suaraku menurun beberapa angka dari semula. Terdengar lemah dan putus asa untuk kembali menyadarkan nalar positifnya. “Itu hukum alam dan kamu harus rela menerimanya.” Aku tetap berusaha untuk menyanggah pemikiran-pemikiran negatif yang terus mengerumuni otaknya. “Jangan menganalogikan semuanya dengan hukum alam, Ta, seakan-akan aku tidak cukup berusaha dalam merubah kuasa Sang Pencipta.”Aku tertohok dengan penuturan yang diungkapkannya. Pola pikir Diwan sungguh tidak mampu untuk kutebak. Dia mampu bertingkah dewasa dan kekanakan dalam satu waktu yang sama.“Diwan!” Nada suaraku meninggi, kesal dengan kilah yang terus ia gunakan untuk menutup alibi kenyataannya.“Tapi, Ta.” “Apa? Jangan mempersulit keadaan, aku nggak suka.” Kedua alisnya menukik tajam, namun tidak terlihat ada kesinambungan dengan tatapan mata beningnya. Pijarnya semakin meredup, juga helaan napasnya semakin membuatku merasa kasihan.“Masalahnya, hatiku selalu bilang kalau aku suka kamu. Jadi, aku harus apa?”
Pura Pura
“Aku tahu kamu hanya pura-pura mencintaiku,” ucap Lana penuh dengan nada sedih, ia menatap pria di hadapannya, sedu. “Dan bodohnya aku baru sadar.”Alvan Aliandi, temannya sekaligus kekasih pertamanya mematung. Geraknya beku, lidahnya kelu. Rahasia yang ditutupi, telah diketahui. Kebohongan sudah terkalahkan oleh kejujuran. Alvan mencekal lengan Lana, tapi langsung ditepis oleh sang empu.“Beri waktu aku menjelaskan,” ucap Alvan memandang Lana lekat, meminta pendapat persetujuan.Lana memalingkan muka. “Semuanya sudah cukup jelas.” Ia berbalik badan, mengayunkan kaki menjauh, meninggalkan Alvan sendirian.Kata siapa, berteman dengan laki-laki itu tak akan mungkin bisa membuat cinta. Kata siapa berteman dengan laki-laki tak bakal bikin baper. Kata siapa?Lana memeluk kucingnya erat, seraya berkata curhat tentang lika-liku persahabatan dan percintaannya harus rusak karena cintanya. Ia tahu Simeng tak bakal merespon memberi nasehat, ia tahu Simeng hanya binatang berbulu. Namun, yang terpenting ia hanya butuh sesuatu menjadi pendengar yang baik, tanpa memotong ucapannya.“Kenapa lukanya segurih ini kalau memperdalam, Meng. Enak banget emang, ya Meng kalau sakit hati.”Ponsel berdering sedari tadi, mati lalu berbunyi kembali. Namun, tak ada niat si pemiliknya untuk mengangkat panggilan.Lana meletakkan Simeng yang sudah tertidur di atas kasur. Mungkin menurut hewan berekor itu curhatan sakit hatinya seperti dongeng pengantar tidur. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka.Berteman selama sepuluh tahun lamanya, ternyata keakraban bisa menumbuhkan benih-benih rasa di hatinya. Kehangatan bisa menghasilkan rasa nyaman. Tanpa rasa malu, ia sebagai wanita mengatakan perasaannya duluan. Ia tidak takut dengan penolakan, itu bisa menjadikannya sadar. Ia hanya takut ketika ia memendam rasa lebih lama, cinta itu semakin memperbesar.Namun, siapa sangka Alvan juga berkata memiliki rasa yang sama. Hingga akhirnya pacaran adalah pilihan mereka.“Aku sudah tahu semuanya. Kamu menerima cintaku hanya kamu tak mau aku menangis mendengar penolakan, kamu tak mau aku tersakiti karena cinta bertepuk sebelah tangan.” “Padahal aku lebih memilih merasakan itu, kalau kamu jujur. Kebohonganmu justru membuatku terluka lebih parah dari yang kuduga, pura-pura cinta nyatanya hanya menganggap teman saja. Itu lebih sakit, Van!”
Pelarungan Abu Sore Itu
Membersamaiku, engkau termenung. Seolah engkaulah abu itu. Sorot mata itu sudah melayu. Kerlap yang biasa terpancar dari matamu pun sudah sirna. Sampai aku tidak sanggup berucap apapun, kelu, sungguh. Andai saja engkau tahu, akulah abu itu.—Di tepi pantai malam itu, aku melihatmu memandangi perapian dengan tatapan kosong. Kupikir, engkau sedang membakar ikan yang kau tangkap sore tadi, tepat ketika kita juga berpapasan dan melempar senyum di antara nyiur yang melambai lembut. Kerlap di matamu yang diukir oleh berkas cahaya matahari yang mulai lingsir, ah aku sungguh jatuh cinta pada itu. Entahlah, meskipun kita pernah saling bertemu di pagi hari, siang bolong, kerlap matamu di sore hari jauh lebih menawan dan membuat hatiku terperangah sepanjang perjalanan menuju desa sebelah. Kita ini disatukan oleh lautan ini. Satu lautan untuk ikan yang berbeda-beda. Jikapun kita berlayar di waktu yang sama, kita tak akan pernah menangkap ikan yang sama. Akan berbeda jika kita berlayar pada satu perahu yang sama, jemari kita pada jaring yang sama, ikan yang kita tangkap pun niscaya sama. Tapi, tak pernah itu terjadi.“Sedang membakar apa?” Dia hanya menggelengkan kepala. Aku duduk, mengalasi diriku dengan sandal jepitku yang kumal dan diselimuti pasir-pasir pantai yang baru saja bermandikan ombak kecil di perjalanan aku mendekatimu. Aku melihat ke matamu, kerlap itu tidak ada. Kita berdiam selama dua puluh menit. Aku membisu melihatmu yang begitu membatu. Hanya melukiskan coretan antah berantah di atas pasir yang di atasnya, beberapa cangkang bertebaran, ada juga bebatuan putih, dari mana ini? Lupakan.“Tadi ikan yang kutangkap, lumayan, laku terjual.” Ujarku berniat menyambung percakapan yang terkapar lesu seusai terhuyung oleh sunyi di sorot matamu. “Baguslah.” “Ikanmu?” “Aku tidak menangkap sedikitpun.” Aku mengernyitkan kening. Jadi untuk itukah engkau bergeming? “Aku mulai berpikir untuk tidak melaut lagi.” Aku tercengang. Seketika sebatang kayu kecil ini berhenti menari. Padahal, aku tengah menuliskan namamu, di sini. “Loh, kenapa?!” Engkau tersenyum kecil. “Aku harus pergi mengembara ke daratan.” “Daratan? Daratan mana?” “Boulevard.” “Jauh sekali. Mau apa di sana?” “Aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Bisa-bisa aku mati terhunus. Mengandalkan ikan-ikan bau.”Sejak kapan kau menjadi begini? Aku masih tidak mengerti. Padahal, tahun ke tahun engkau hidup pun berkat ikan-ikan yang datang ke jaringmu, yang kau layarkan dengan sukacita dan pengharapan. Mungkin, itulah sebab ikan-ikan di sore tadi menjauhinya. Bahkan ikan-ikan pun punya firasat ia tidak lagi berarti bagi dia yang terkatung-katung dan menunggu di atas tarian laut.“Cukup tadi, itu terakhir.” Imbuhmu. Engkau berdiri dan berjalan pergi, langkahmu itu seperti ditahan sesuatu, mungkin rindu yang engkau sembunyikan dariku?Hari masih pukul 2, aku sudah memasang badan menuju ke lautan dengan peralatan layaknya pahlawan lautan tenteng sepanjang jalan, oh bukan, sepanjang lautan. Bukan pahlawan lautan juga, melainkan hanya nelayan jadi-jadian sebagai penopang atap kehidupan yang mulai rapuh dilahap rayap. Ah, aku rindu pada atap-atap milik rumah-rumah berpilar. Apalagi jika aku melalui rumah Derana, keluarga yang dikenal sebagai keluarga saudagar di desa sebelah. Rumahnya berpilar, atapnya kinclong bahkan dari radius jauh sekalipun sudah menyilaukan mataku. Tapi, itu dulu. Sekarang rumah itu hampir seperti rumah hantu. Ditinggalkan tak bertuan selama bertahun-tahun. Konon, perselingkuhan menjadi penyebab pecahnya rumah tangga di bawah atap kinclong rumah berpilar itu. Sehingga, terpecah-pecahlah mereka antah berantah. Gelimang harta hanya terpaku menatap deraian deras airmata pilu anggota keluarga itu. Tidak ada yang meninggal, hanya saja, katanya, rumah itu seperti neraka dalam ingatan, yang membuatnya kemudian harus ditinggalkan. Jika sepedaku mengayuh melalui rumah itu, selalu terbesit rindu bilakah rumah itu dihibahkan untukku? Niscaya kuubah ia menjadi surga. Oh, iya, apa kabar Derana ya? Lupakan.Di perjalanan menuju lautan, aku mencium aroma yang tak seharusnya ada di dekat lautan. Aroma-aroma minyak wangi saudagar, mungkin? Seperti iklan di televisi, mungkin? Aku mencoba berjalan mendekati asal aroma itu. Ternyata, itu kau! Aku nyaris tidak dapat mengenalimu karena postur tubuhmu yang tegap, baju yang rapih, bersih, wangi. Rambutmu bahkan klimis, malam tak sanggup melalukan kilau rambutmu. Tetapi, sorot matamu?“Hai pejuang lautan jantan!” Sapanya sambil tertawa lepas. Sungguh berbeda raut wajahmu itu. Seringaimu begitu lebar, tidak seperti hari kemarin aku berjumpa denganmu. “Mau ke mana?” “Persiapan ke Boulevard lah.” “Loh, hari ini?” “Iya.” “Kenapa kau tidak bilang padaku supaya aku masakkan makanan untukmu sebagai perpisahan?” “Jangan bilang menunya ikan.” Aku terdiam, sekaligus tercengang, mengapa engkau berbeda? “Aku mulai bosan, sungguh, aku bosan. Ikannya kamu makan sendiri saja. Kamu belum sarapan, ‘kan?” Terus aku kejar sorot matamu. Mengapa engkau berbeda? Di mana kerlap itu kau sembunyikan?“Oh iya, nanti sore, temani aku ya.” “Ke mana?” Engkau merangkulku mendekati bibir pantai. “Telah lama kita saling mengenal. Eh, kamu lagi buru-buru kah?” Aku menggelengkan kepala. Tunggu, aku sungguh hampir dibuat jatuh ke pundakmu, karena aroma itu demikian menyengat merasuk ke dalam kalbu. Inikah aroma Boulevard? Aroma saudagar? Aroma Derana? “Kalau begitu nanti sore kita adakan perpisahan ya? Ya, anggap saja sebagai tugu peringatan kita pernah bersama mengarungi lautan. Tapi, kita belum pernah ya di atas perahu yang sama?” Aku ingin menangis, sungguh pedih setiap ujar yang keluar dari mulutnya. Ayolah mentari! Lekaslah terbit! Jangan bersembunyi terus! Aku rasanya ingin mati! Mengapa engkau harus pergi?“Kalau begitu mengapa tidak kita kali ini di atas perahu yang sama?” Sahutku memberanikan diri. Kau menatapku mataku dengan lembut, lalu tersenyum. “Bagaimana ya? Sebentar lagi aku harus pergi, dan memang harus pagi-pagi. Sebab, banyak hal yang harus kuurus sebelum malam ini aku sungguh-sungguh meninggalkan ini, dan dirimu.” “Sebentar saja, ayo! Sampai pukul 03:00 lah.” “Ah, nanti aku harus ganti baju lagi.” “Tidak, aku pastikan tubuhmu tidak terjamah air ini. Aku janji.” Lalu, engkau mengangguk setelah beberapa detik berlalu dalam ragumu, tepat ketika engkau memegang dagu sambil memandangi laut. “Ya sudah deh, sebentar saja ya.” Aku mengangguk.Akhirnya, kita berada di atas perahu yang sama. Tidak banyak bicara, terdiam dan terdiam. Engkau menepi menjauh dari aku yang terus sibuk dengan jaringku. Aku menunggu engkau berucap sesuatu, seperti… “Aku mencintaimu” mungkin? Lupakan. Sesekali aku melirik ke arahmu, engkau tidak membalas tatapku, hanya terpaku pada langit, sesekali laut, begitu terus.“Kenapa tidak kau ceritakan padaku tentang Boulevard itu?” Ujarku. “Kalau aku ceritakan, nanti kau menjadi sedih. Sebab, kau tak lagi punya teman melaut.” “Setidaknya dengan menceritakan padaku, aku bisa mencari penggantimu.” Kelakarku. Padahal, aku tidak punya seorang pun yang kupandang mampu menggantikanmu. Tak terbayang, hanya engkau, dan engkau.“Kubiarkan hatimu terkatung-katung mencariku.” “Tidakkah hatimu merasa bersalah meninggalkanku?” “Hmm… Bersalah untuk apa? Pernahkah aku berhutang sesuatu padamu?” “Halah… Kalau aku ingatkan lagi, nanti kamu meringis!” “Apa sih? Hutang apa?” “Sesuap nasi yang kusuapkan ke mulutmu. Bibirmu pucat kala itu. Hanya aku yang di sampingmu. Hayo!” Engkau tertawa. “Jadi? Aku harus membalas serupa?” Aku terdiam, hanya tersipu malu. Kusembunyikan sipu maluku di permukaan laut, biarkan ia terkatung-katung menjauh seperti dirimu.“Jawab dong!” Tandasmu. “Jawab apa?” “Yang tadi. Harus ngga?” “Ya, terserah.” “Kau ini! Perhitungan sekali ya.” “Bukan perhitungan, hanya tertancap dalam ingatan.” Tandasku balik.Aku berhasil menepikanmu dalam keadaan tidak amis sedikitpun, air tidak mencolek sedikitpun dirimu, sesuai janjiku. “Makasih ya untuk waktunya.” Ujarku menepuk pundakmu. Engkau mengangguk. Lalu, pergi menjauh, menjauh, dan mulai meluruh bayangmu. Bilakah hatimu berkata sesuatu?Sore itu, kita bertemu, sesuai janji kita dini hari itu. Tapi, kulihat engkau membawa botol berisi apa itu? “Maaf membuatmu menunggu.” “Tak masalah, tunggu, itu apa?” “Botol abu.” “Abu apa?” “Abu semalam.” “Kamu bakar apa?” “Hmm… Sebut saja kenangan lah ya.” Lagi-lagi kau gurat kebingungan di dahiku.“Peganglah. Aku mau engkau yang melarungkan.” Aku semakin tak mengerti arti semua ini, bahkan arti dirimu menjelang kepergianmu. Dan abu ini? Abu apa? Abu siapa? Kenangan tentang apa?“Satu hal lagi yang aku mau kau genggam.” “Apa? Abu lagi?” “Bukan. Melainkan… Aku.” “Maksudnya?” Ia tersenyum. “Renungkan saja saat aku pergi ya. Nah, cepat matahari sudah mau terbenam. Larungkan!”Membersamaiku, engkau termenung. Seolah engkaulah abu itu. Sorot mata itu sudah melayu. Kerlap yang biasa terpancar dari matamu pun sudah sirna. Sampai aku tidak sanggup berucap apapun, kelu, sungguh. Andai saja engkau tahu, akulah abu itu.Abu itu kularungkan, kau sambut itu dengan senyuman tipis. Ada yang turut terbenam, turut melarung di dalam matamu? Apakah itu aku?“Sudah ya perpisahannya.” “Tunggu, apa maksudmu tadi?” “Maksud apa?” “Kau minta aku menggenggammu?” “Iya, genggam aku dan larungkan bersama abu tadi. Tadi kamu larungkan juga, ‘kan?” Aku mengunci mulutku. Aku menyembunyikan kamu di dalam saku celanaku.
Pupus
Hujan kembali mengguyur kota Bandung di akhir bulan Juni ini, Seorang gadis tengah duduk di dekat jendela rumahnya, ditemani oleh secangkir teh hangat yang tidak terlalu manis. Tatapannya tidak bisa teralih dari hujan. Hujan di bulan ini mengingatkan gadis itu akan seseorang di bulan Juni satu tahun yang berakhir. Seseorang yang sangat dirindukan kehadirannya oleh gadis ini. Sang gadis bernama Anshika Nadya Suara, atauu Anshika.Anshika menghela napas, Setiap kali hujan turun Anshika merasa setengah dirinya menghilang. Anshika memutar lagu favoritnya di tengah gemuruhnya hujan. “You’re Gonna Live Forever in Me” karya John Mayer. Selaras dengan yang dirasakan Anshika kali ini, bahwa Hayfa Sastra Nareshta, tidak lain seseorang yang sangat dirindukan kehadirannya oleh Anshika akan hidup selamanya dalam diri Anshika.SATU TAHUN YANG LALU “Anshika, aku mau bicara penting” “Iya apaaa Naresh?” “Gajadi lah, takut kamu sedih” “Kenapa? punya pacar ya?” Gurau Anshika “Bisa dibilang begitu, tapi ga gitu” “Ohh.. terus gimana? Bicara aja gapapa” “Ga bisa gitu lah, aku ga enak sama kamu” “Gapapa santai aja, cerita dong Resh.”“Eumm ada yang confess sama aku, dia adalah orang yang pernah deket juga sih sama aku. Tapi waktu itu dia lupain aku karena udah ada pasangan, eh gatau sekarang kenapa datang lagi” “Ohh.. gitu, ya gapapa dong. Kamu juga suka sama dia?” “Kamu pasti suka, pasti keinget ya kalau pernah deket” Sambung Anshika dengan tertunduk dan suara yang lirih. “Heyy, belum jadi kok, maaf yaa” Nareshta menggerakkan tangannya untuk membelai rambut Anshika. “Eh gapapa santai, jangan minta maaf ke aku, kenapa ga menjalin hubungan aja sama dia?” Anshika mulai menegakkan kepalanya, dan tersenyum. “Gatau kelakuannya dia sekarang gimana. Takutnya nanti hasilnya sia sia” “Yaa gapapa kan bisa pdkt duluu” “Gamau, gaenak sama kamu. Kamu yang udah lama nemenin aku” “Jangan gaenak sama aku, lagian kalau kamu udah menjalin hubungan dengan seseorang, aku tetep disini kok. Masa mau pergii”“Kalau kamu memang suka sama dia dan ada niat untuk merangkap kisah dan kasih sama dia, gapapa banget. Kan aku ga pernah ngelarang kamu suka sama orang, itu hak kamu. Kalau cuma karena aku udah lama nemenin kamu, lupain itu, nanti kamu ga bahagia. Satu hal yang harus kamu ingat I’m beside you sampai kapan pun, selamanya. Okey?” Anshika melanjutkan kalimatnya dengan penuh keyakinan. Sebenarnya hatinya sedikit resah, takut kalau Nareshta benar benar menjalin hubungan dengan seseorang dan melupakannya.“Anshika, bahagia aku sama kamu.” Batin Nareshta“Eumm, okey. Maaf, makasih Anshika.” Ucap Nareshta dengan senyum yang sedikit miris. “Iyaa gapapa, jangan minta maaf” FLASHBACK ENDNetra Anshika mulai menitikkan air mata, bersamaan dengan derasnya hujan. Anshika teringat akan manisnya kisah mereka. Ya, benar. Anshika dan Nareshta hanya seorang teman, tidak lebih dari itu. Pasti kalian mengira mereka sepasang kekasih bukan? Bukan! Mereka hanya teman. Tetapi, bohong juga kalau Anshika tidak memiliki rasa untuk Nareshta, setiap kalimat yang dikeluarkan oleh Nareshta selalu mempunyai kesan tersendiri bagi Anshika. Nareshta memperlakukan Anshika dengan sangat baik, Nareshta tidak pernah marah ataupun kasar kepada Anshika. Nareshta benar benar membuat Anshika merasa bahwa dirinya aman bersama Nareshta.Tetapi Anshika tidak pernah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan. Anshika bahkan tidak pernah berani memikirkan untuk kehilangan Nareshta. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya Anshika saat Anshika tidak mendengar kabar Nareshta sejak pengumuman ujian. Topik terakhir mereka sudah berakhir satu tahun yang lalu. Sebenarnya Anshika ikhlas akan perginya Naresh, tetapi semesta seakan akan selalu punya cara untuk mengingatkan Anshika kepada Nareshta.Hujan tidak kunjung henti, Anshika mengambil buku catatan yang ada diatas meja belajarnya. Membawanya bertempat bersama Anshika di ambang jendela, menorehkan segala sesuatu yang ingin disampaikan Anshika kepada Nareshta.“Hai Nareshta, sepenggal kalimat ini tidak mungkin kamu baca, its okey. Aku hanya ingin mengeluarkan semua kata yang tak pernah berani aku ucapkan kala itu. Perihal siapa yang menyakiti diantara kita, itu tidak penting. Karena kita hanya dulu yang sempat menjadi kita. Kehadiranmu begitu tepat waktu, terimakasih sudah menjadi matahari dikala gelap yang aku sendiri tidak tau kapan akan berakhir. Jangan menyuruhku untuk melupakan semuanya, karena sebagaimana rasa yang tumbuh tiba-tiba dan tidak bisa dicegah, seperti itu juga rasa akan menghilang. Mungkin kata “cinta” terlalu jauh untuk kita, karena sesingkat itu semesta memberi waktu untuk kita. Sehingga kita sendiri tidak bisa mendefinisikan kita ini seperti apa. Jika kusebut kau sebagai luka, aku keterlaluan. Karena kamu baik dan selamanya akan tetap begitu. Maka dari itu, kusebut kita sebagai kisah yang hampir. Karena kamu adalah analogi paling tepat dari sebuah kata hampir, hampir bahagia, hampir bersama, hampir dimiliki dan hampir berhasil. Tetapi meski sekarang semesta mu tidak bisa menjadi semesta ku, aku mendoakan mu selalu dengan sungguh. Waktu cepat sekali berlalu tanpa kehadiranmu, hingga aku sadar bahwa kita memang tidak akan selamanya bersama, walau aku menginginkan itu. Tapi tidak apa, tetap jaga segalanya yang sudah kamu punya ya, Resh. Terimakasih sudah pernah memberi rasa senang yang di orang lain masih belum kutemukan. Terimakasih sudah menjadi teman dalam sekian halaman, semoga banyak hal baik yang menunggumu di setiap halaman yang tersisa. Selamat melanjutkan perjalananmu, Nareshta. Karena aku juga begitu, selamat tinggal untuk kisah kita. Baik baik sama hidupmu disana ya, dan jangan lupa bahagia. Dan jika memang kehidupan selanjutnya benar benar ada, semoga semesta mempertemukan kita kembali sebagai dua orang yang saling menyayangi dan mengasihi ya, Resh. Tentang ada atau tidaknya biarkan itu menjadi rahasia semesta.”Hujan berhenti bertepatan dengan goresan pena Anshika yang sudah selesai. Anshika menutup buku catatannya, menyeka air matanya, dan kembali menghela napas yang sedikit berat, memandang ke arah jendela dan dia menyadari akan kehadiran bianglala. Maksud Anshika adalah, pelangi. Anshika tersenyum tipis, dia percaya adanya pelangi setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik baik saja.Hari ini adalah hari terakhir di bulan Juni. Anshika berpikir, dia tidak pernah menghitung hari. Tetapi siapa sangka sudah sejauh ini Anshika tanpa Nareshta.Sekarang, ikhlas ya Anshika? Semoga cepat pulih untuk hatimu yang terluka, bukan, bukan karena Nareshta yang melukainya. Anshika terluka akan fakta bahwa penantiannya selama ini sia sia, sejuta asa yang Anshika titipkan kepada Nareshta pun mulai menarik langkahnya. Dan untuk Narestha, Sampai bertemu di titik terbaik menurut takdir.