Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
831
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
167
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Hujan Turun Perlahan
Namaku Renata, aku adalah seorang ratu mimpi yang ingin tetap singgah pada dunia khayalku dan tak ingin kembali pada dunia nyata. Kehidupan nyata tak seperti kehidupan dalam mimpi. Yang dirasakan terkadang manis, pahit, bahkan hambar. Setiap manusia mengharapkan bahwa dunia nyatanya sama seperti mimpi yang indah semalam. Kita terjaga oleh beberapa malaikat pelindung dan dicintai oleh banyak orang, seakan kita adalah putri raja. Namun, hidupku hanya memiliki satu malaikat pelindung yaitu Ibuku.Memiliki seorang ibu tunggal dan menjadi anak semata wayang membuatku iri dengan keluarga teman-temanku yang hidup bahagia, yang selalu ada ayah yang bisa menutupi kebutuhan keluarga, dan juga selalu ada canda serta tawa. Sedang aku, aku seperti tak memiliki ayah. Hanya ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Semenjak 17 tahun perceraian, ibu tak menikah lagi. Karena setiap kali ingin membangun rumah tangga dengan laki-laki, pasti dia bukan orang yang tepat. Dan ibu memilih untuk tetap sendiri.Dua sahabatku yang menjadi kebahagiaan tersendiri ketika aku merasa bosan. Setidaknya aku punyai teman bermain, meski aku adalah seseorang yang tak mudah bergaul dengan yang lain. Selain bermain bersama kedua sahabatku, mendengarkan lagu bernuansa klasik menjadi penenang hati ketika aku berada pada kegalauan.Hari-hari lalu sangat indah dengan birunya langit pagi, namun kini cuaca mengalami pergantian musim penghujan. Alunan lagu selalu menemani kesendirianku ketika titik-titik air itu berjatuhan dengan cepat. Gemuruhnya air membuat volume suara lagu kukencangkan seperti sedang beradu suara dengan hujan. Ternyata cara seperti itu tak akan mampu mengalahkannya, kupasang earphone di telingaku agar tak lagi bisa mendengar gemuruhnya hujan saat ini. Kunikmati setiap alunan lagu hingga aku terhipnotis.Suatu ketika aku kehilangan Catty, kucing peliharaanku. Kucari Catty di sekeliling rumah dari pagi hingga petang, namun Catty tak kembali. Ku mendengar alunan lagu terus saja mengikutiku sedari tadi, suara itu seperti di belakang rumah. Kudekati alunan lagu itu, lebih dekat dan lebih dekat. Seseorang memakai baju dan topi hitam sedang bersandar di pintu belakang dengan menyanyikan lagu tersebut. Kulihat si Catty sedang bersamanya, namun tak biasanya Catty seperti itu. Jika melihat diriku ia langsung mendekat dan bersuara, sekarang ia diam dan tak mendekat padaku. Aku semakin curiga dengan orang itu, ingin ku mendekat namun aku takut. Saat akan berbalik, orang itu memegang tanganku. Wajahku menjadi pucat dengan keringat dingin. Tiba-tiba terdengar suara Catty. kubuka mataku, ternyata itu hanya mimpi dan langsung memeluk Catty.Hujan belum reda juga, lagu masih terus berlanjut hingga ponselku hampir lowbat. Kumatikan alunan lagu yang masih berputar dan sepertinya perutku mulai keroncongan ingin diisi makanan, aku menghampiri Ibu yang sedang sibuk memasak di dapur.“Bu, ada makanan apa, aku lapar” tanyaku “Belum ada makanan, ini saja Ibu baru mau masak” ujar Ibu “Aigoo” katakuKudapati roti tawar dan selai coklat kacang di meja, kuhabiskan semua roti itu hingga perutku tak lagi muat untuk diisi makanan lagi. Sepertinya hujan mulai reda, aku bosan di rumah dan memutuskan untuk main ke rumah Panji, sahabatku sewaktu SMP. Catty ingin ikut juga bersamaku, sepertinya ia merindukan sosok Panji.Setelah sampai di rumahnya, aku lupa bahwa hari ini aku harus membuat naskah drama untuk acara pelepasan kelas 12 minggu depan. Namun Catty masuk ke dalam, akhirnya aku harus mengulur waktu membuat naskah dramanya.“Hai Catty” sapa Panji pada Catty dan menepuk kepala anak kucing itu “Kayaknya Catty kangen sama kamu tuh” kataku “Wahh, ada yang kangen sama aku nih, walaupun cuma anak kucing” katanya sembari menggendong Catty “Ish, lebay” kataku “Biarin” katanya“Ehh bentar, baju ini kayak aku kenal” menarik baju Panji sambil memperhatikan baik-baik pada baju hitam yang dikenakannya “Masa sih, ini baju baru aku pakai” ujarnya “Bajunya persis kayak di mimpiku tadi pagi” ujarku “Dasar tukang mimpi. Biarpun jomblo ternyata ada yang mimpiin aku juga” Panji ke PD-an “Aish, ya gak tahu itu kamu atau bukan, wajahnya saja gak kelihatan. Cuma bajunya sama” kataku “Jagain Catty bentar ya ji. aku mau pulang, aku harus buat naskah drama buat acara minggu depan” perintahku “OK” jawabnyaDisetiap perjalanan pulang aku mendapati pelangi yang sangat cantik, itu membuatku tersenyum. Kuperhatikan pelangi itu, namun sedikit demi sedikit pelangi itu pudar dan tak nampak lagi. Kulihat Radit yang berdiri di halte busway, sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Aku memperhatikannya seiring aku berjalan mendekatinya, namun langkahku terhenti. Seorang perempuan cantik berhijab menghampirinya ketika busway datang, mungkin ia adalah kekasihnya. Kulihat sebuah Taxi dan memberhentikannya.Setelah sampai di rumah, semangatku untuk membuat naskah drama semakin berkurang. Ibu membawakan makanan ke kamarku, Ibu mengira bahwa aku belum makan. Terdengar suara Panji dari depan rumah, aku menghampirinya. “Cepat pulang banget si Catty” kataku “Mungkin dia kelaparan kali ren” ujar PanjiAku membawakan makanan kucing kesukaan Catty, ternyata benar apa kata Panji bahwa Catty ingin makan hingga ia lahap memakan satu mangkuk sereal. Kami seperti keluarga yang sedang memberi makanan pada hewan peliharaan.Hari yang selalu ingin aku lewati adalah hari senin, entah kenapa. Sorot matahari dari jendela kamarku telah membangunkanku, dengan wajah males bangun pagi dan membuatku enggan tak ingin berangkat sekolah. “Ren bangun, sekolah!” teriak ibu dari luar kamar “Iya…”Karena di kamarku tak ada jam dinding ataupun jam beker, aku tak tahu ini sudah jam berapa. Ketika keluar kamar dan melihat jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 7:30. “Sial” gumamku sembari berlari ke kamar mandiSelesai cuci muka dan berganti seragam, aku langsung berangkat sekolah dan melewatkan sarapan. Jarak sekolah dari rumah menurutku lumayan jauh, sekitar 15 menit pakai motor dan 30 menit jalan kaki. Biasa aku jalan kaki bersama teman sekampung, karena terlambat jadi hari ini berangkat sekolah pakai motor.Halaman sekolah sudah sepi, portal pun sudah ditutup. Sepertinya aku benar-benar akan dihukum. Parkiran sudah penuh, akhirnya aku memarkirkan motorku di luar portal. Berlari menuju kelas dan beruntung pelajaran belum dimulai. Pelajaran jam pertama adalah matematika, pelajaran yang membuatku selalu ingin melewatkannya. karena matematika adalah salah satu pelajaran yang paling aku benci.Jarum jam masih diangka 7:55, kurang 5 menit lagi jam pelajaran akan dimulai. Pak Galih, guru olahraga masuk ke kelas dan memberitahukan bahwa hari ini bu Tuti, guru matematika sekaligus KEPSEK tak bisa mengajar karena ada kepentingan di luar sekolah. Hari ini aku benar-benar beruntung.Senangnya, minggu kembali lagi. Persediaan makanan si Catty sudah habis, jadi aku pergi membeli makanan serta susu untuk Catty. Selesai membeli makanan, plastik yang berisi makanan dan susu milik Catty ternyata sobek hingga semua terjatuh berceceran di jalan. Saat akan kuambil, seseorang membantuku mengambil barang belanjaanku dan itu adalah Radit. Dia adalah seseorang yang pernah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama semasa aku masih dibangku SMP, namun sial cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Ia kemudian pergi membeli plastik.Hujan pun turun dengan perlahan yang kemudian semakin deras. Terpaksa aku membeli payung agar makanan Catty terlindung dari hujan. Dengan rasa canggung, satu payung itu kami pakai. Karena aku lebih pendek darinya, jadi Radit yang memegang payungnya dan aku membawa barang belanjaanku.“Ternyata kamu suka kucing juga” tanyanya “Iya, kamu juga?” tanya balik “Bisa dibilang gitu, aku punya anak kucing cowok. Kamu?” jelasnya “Oh, aku punya anak kucing tapi dia cewek, namanya Catty” ujarku “Memelihara kucing itu sangat menyenangkan, apalagi kalau masih kecil, masih imut-imut gitu” sambungku “Aku juga sependapat sama kamu” ujarnya “Emang anak kucing yang kamu pelihara itu namanya siapa?” tanyaku “Namanya Tomy, lucu bukan?” ujarnya Aku hanya tersenyum, ternyata Radit adalah seseorang yang asik diajak ngobrol.“Taxi. Aku duluan ya ren” Radit memberhentikan Taxi dan kemudian pergi. Aku tak menyangka bahwa Radit juga menyukai anak kucing, sama sepertiku. obrolan yang terlihat pendek itupun membuatku bahagia. Waktu terasa sangat cepat sekali hingga malam pun tiba. Aku yang masih mengingat obrolan tadi membuat naskah drama tak kunjung selesai. Setidaknya aku bahagia meskipun itu hanya satu detik, setidaknya aku bahagia meskipun dia telah berdua, setidaknya aku bahagia meskipun hanya beberapa langkah jalan berdua dengannya.
Sepasang Luka
“Kamu yakin jadiin aku pacar?” tanya seorang gadis remaja. “Aku yakin, ayo jadi pacar aku” sang lelaki meyakinkan. “Okey, aku mau” sang gadis masih bingung mengapa lelaki itu ingin menjadikan ia pacarnya, bahkan lelaki itu tau bahwa ia masih terpaut dengan masalalunya.“Terima kasih, udah jadi pacar aku” setelah mengatakan itu, sang lelaki pergi. Sang gadis bertambah bingung, pacaran model apa ini?. Tidak ada adegan romantis sedikit pun tetapi ia tidak terlalu berharap karena tidak mempunyai perasaan pada lelaki itu. Sang gadis menerima ajakan lelaki itu hanya karena kasihan.Tidak mau memikirkan hal yang tidak penting, ia memilih bergabung dengan teman temannya. “Kamu abis ngapain sama Marvel?” tanya salah satu temannya. “Dia ngajak aku pacaran, Lan,”. “What?!, yang bener aja, kapan kalian pendekatan?” Lana terus saja melemparkan pertanyaan. “Enggak ada pendekatan, dia tiba tiba nembak aku, yaudah aku terima aja, itung itung buat ngelupain Ragas,”. “Tapi Far, Marvel itu masih belum bisa move on sama mantannya!” ucap Sera, sepertinya Sera takut jika Kafara dijadikan pelampiasan oleh Marvel. “Enggak apa apa, anggap aja kita simbiosis mutualisme. Dia jadiin aku pelampiasannya dan aku jadiin dia pelampiasanku,” ucap Kafara santai. “Terserah kamu aja deh, Far,” ucap Sera.Kafara tidak ambil pusing apa yang ia lakukan. Jika nantinya ia akan jatuh hati kepada Marvel, akan ia tahan sebisa mungkin hatinya agar tidak jatuh lagi.Tingg Tinggg Waktunya Pulang…. Tingg Tingg Waktunya Pulang…. Bel pulang sekolah berbunyi, para murid bersorak gembira.“Ayo pulang bareng aku,” ajak Marvel, tidak menyangka jika Marvel seseorang yang perhatian. “Boleh,” Kafara menyetujui. “Tau rumah aku?” tanya Kafara. “Aku tau, tenang aja,” ucap Marvel.Kafara pun menaiki motor Marvel. Banyak murid yang terkejut mengapa Kafara berboncengan dengan Marvel karena mereka yang kabarnya masih terpaut oleh masalalu tetapi para murid lebih memilih untuk diam.Akhirnya Kafara dan Marvel pun sudah sampai di rumah Kafara. “Terima kasih udah nganterin aku pulang, mau mampir gak?” tanya Kafara. “Enggak usah, aku pulang,” ucap Marvel. “Oh okey, hati hati,” ucap Kafara.Setelah kejadian itu tidak ada rasa lebih untuk Marvel dan Kafara pun tidak merasa baper. Sebenarnya sudah berulang kali Kafara menerima beberapa lelaki untuk melupakan Ragas sang masalalu.Kafara pun masih tidak mengerti apa alasan Marvel menjadikannya pacar dan Kafara tidak pernah melihat wujud dari mantan Marvel. Tetapi masa bodo, yang terpenting ia bisa melupakan Ragas.Drrtt Drttt Sebuah notif masuk dari handphonenya. Ada sebuah nomor tak dikenal yang mengirimi sebuah foto.Kafara melihat bahwa Marvel sedang memeluk seorang perempuan yang mirip dengan dirinya. Di foto itu Marvel terlihat bahagia tanpa beban. Sekarang Kafara mengerti mengapa Marvel menjadikannya kekasih.Kafara harus berhati hati bahwa dirinya tak boleh jatuh hati pada Marvel. Jika ia jatuh hati maka ia harus siap menjadi duplikat mantan dari Marvel.Drrtt Drrtt Sekali lagi notif masuk ke handphone Kafara. Marvel; “Besok aku jemput kamu” Me; “Okey”.Setelah menjawab pesan dari Marvel, Kafara mematikan handphonenya dan memilih untuk tidur setelah lelahnya menuntut ilmu.Tak terasa hampir 5 bulan Kafara menjalin hubungan dengan Marvel. Menurut Kafara, Marvel adalah pasangan yang cukup romantis. Namun terkadang Kafara melihatnya secara diam diam bahwa Marvel masih merindukan kekasihnya. Kafara tidak mencari tahu identitas kekasihnya yang mirip dengannya karena Kafara tidak begitu peduli.Hubunganku dengan Marvel adalah yang terlama setelah aku putus dengan Ragas. Sejujurnya Kafara mulai merasa nyaman dengan Marvel, tetapi ia masih menjaga batasan untuk tidak terlalu dalam jatuh kepada Marvel.“Kafara, kamu tau enggak? mengapa Bulan dan Bintang selalu muncul dimalam hari?” secara tiba tiba Marvel bertanya kepada Kafara. “Emm karena udah takdirnya mungkin, menerangi kegelapan malam?” jawab Kafara. “Kamu benar tapi kurang lengkap, Bulan sama Bintang emang ditakdirin bersatu di suasana malam namun terdapat satu makhluk yang mencintai Bulan, yaitu Matahari” ucap Marvel sambil memandangi indahnya bulan Purnama. “Matahari mencintai Bulan tetapi mereka enggak ditakdirin untuk bersatu, Matahari ditakdirkan ketika siang hari, Matahari pun merasa sedih ketika sadar bahwa ia tidak bisa bersama Bulan,”. “Akhirnya Matahari pun menutupi dirinya dengan awan, membuat langit tampak mendung. Pertanda bahwa Matahari sedang berduka sehingga Hujan pun turun membasahi bumi,” Kafara mendengarkan dengan seksama penjelasan Marvel. “Mengetahui bahwa Matahari sedang berduka, Pelangi pun membujuk Matahari agar kembali muncul untuk memberi kehangatan kepada bumi,” “Pelangi berkata “Matahari, munculah kembali membawa keindahan dan kehangatan sinarmu untuk Bumi” ucap Pelangi kepada Matahari,”. “Matahari pun menjawab “Aku sedang berduka, Pelangi” ucap Matahari begitu lesu,” masih saja Kafara mendengarkan cerita Marvel tanpa rasa bosan. “Pelangi masih saja tak menyerah untuk membujuk Matahari, hingga akhirnya Matahari mulai memunculkan dirinya dengan ditemani oleh indahnya Pelangi,”. “Matahari pun mulai jatuh hati pada keindahan Pelangi dan Pelangi pun mulai jatuh hati pada kehangatan sinar Matahari, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan,” ucap Marvel.“Oh jadi kesimpulannya Matahari menyukai Bulan namun tak bisa bersama, kemudian Pelangi membujuk Matahari dan perlahan lahan Matahari dan Pelangi mempunyai perasaan satu sama lain hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bersama?” tanya Kafara. “Kamu benar, Kafara,” Marvel tersenyum.“Apakah kamu seorang Matahari?” tanya Kafara pada Marvel. “Ya, aku seorang Matahari,” jawab Marvel.“Jika begitu, aku juga adalah seorang Matahari namun aku akan menjadi Pelangi untuk Matahari,” ucap Kafara. “Mengapa begitu?” tanya Marvel. “Karena kita adalah sepasang luka, maka dari itu aku mengerti bagaimana rasanya menjadi Matahari yang terpaksa merelakan Bulan yang hidup bersama Bintang” jawab Kafara. Marvel terkekeh mendengar ucapan Kafara.“Luka menyembuhkan luka?” Marvel mengangkat salah satu alisnya. “Mengapa tidak? ketika luka bertemu dengan luka, mereka akan lebih mengerti untuk tidak menyakiti satu sama lain” ucap Kafara.“Kamu serius ingin menjadi Pelangi, ketika kamu sendiri masih menjadi Matahari?” tanya Marvel. Kafara mengangguk mantap. “Maka izinkan aku untuk menjadi Pelangi ketika sisi Mataharimu mulai muncul, Kafara,” ucap Marvel. “Aku izinkan,” Kafara tersenyum.“I love you, my Rainbow” ucap Marvel dengan tulus. “I love you more, my Sun” jawab Kafara.Akhirnya sepasang luka itu memilih menjadi Pelangi ketika sisi Matahari satu sama lain telah muncul.
Hujan dan Semestanya
Udara membawa aroma tanah basah yang pekat, mengendap di setiap sudut halaman kampus. Aku baru saja selesai dari jam praktikum di laboratorium analisis. Dikampus ku jarak antara gedung satu dengan gedung lainnya berjauhan. Saat itu aku mau ke masjid, yang jaraknya sekitar 400 kaki dari laboratorium. Aku berjalan kaki karena belum bisa membawa motor sendiri. Langit gelap diiringi suara gemuruh, padahal baru saja hujan.Harapan ku hujan tidak turun sebelum aku sampai ke masjid. Tetapi baru saja aku berjalan sejauh dua puluh langkah hujan kembali turun dengan sangat deras dan aku berlari ke sebuah gazebo yang tidak jauh dari tempat ku. Ditengah berteduh aku mengamati sekitar ku, sepih, tidak ada kendaraan yang lewat. Aku sendirian di gazebo itu, hingga ada satu motor yang menepi di depan gazebo. Seorang mahasiswa turun dari motor nya dan masuk ke gazebo. Sebagian bajunya basah karena hujan. Dia menatap ku sebelum akhirnya menyapaku.“Prodi apa? “ Tanya nya sambil tersenyum kepada ku. Senyumannya terlihat manis dan tatapan matanya teduh. “PMIP kak, “ Jawab ku sopan sambil menatap ke arah sepatu ku yang basah karena ciptakan air hujan.“Dari mana mau kemana? “ Tanya nya lagi.“Dari lab tadi mau ke masjid, eh malah hujan jadi neduh dulu, “ Jelas ku.Dia mengangguk singkat, lalu hening. Gemuruh langit makin rapat, butiran dingin menghantam atap dan tanah yang mulai tergenang. Langit seolah enggan berhenti menumpahkan kelabunya. “ Kalo kaka prodi apa? “ Tanya ku memecahkan keheningan.“Oo saya teknik, “ Jawabnya. Aku ber oh ria saja tanpa mau melanjutkan obrolan. Aku bukan tipe orang yang pintar mencari topik dan memulai duluan. Hingga hujan sudah reda. Aku berpikir untuk melanjutkan perjalanan sebelum hujan turun lagi.“Saya deluan ya kak, “ kata ku sebelum lanjut berjalan.“Eh jalan kaki? “ Tanya nya seperti heran.“Iya, “ Jawab ku singkat.“ Bareng aja, saya juga mau jalan nih, “ Kata dia.Aku terdiam, tidak enak juga kalau menolak. Dia menyalakan mesin motor nya diikuti oleh aku yang duduk dijok belakang. “Kenapa kamu gak bareng temen? “ Tanya nya di tengah perjalanan. “Gak ada kak, “ Jawab ku.“Gak punya temen? “ Tanya nya lagi.“Bukan, maksudnya gak ada yang bisa nebengin soalnya di kelas saya yang punya motor cuma sebagian dan sebagian lagi dibonceng, saya gak enak aja kalo bonceng tiga terus sama mereka, “ Jelas ku.Tidak butuh waktu lama, motor yang kami kendarai tiba di depan masjid.“ Makasih ya kak, “ Kata ku saat turun dari motor nya.“Iya sama-sama, kita boleh tukeran WA gak? “ Tanya nya.“Boleh kak, “ Jawab ku memberikan handphone ku kepada nya.Dia pun mencatatkan nomor hp nya di hp ku dan menyimpan nya. Aku melihat kontak bertuliskan nama Purnama di sana. “ Kak Purnama ya, saya Alexa, “ Kata ku sambil tersenyum kepadanya.“Oh Alexa, saya pulang ya. Lain kali kalo kamu ada kelas jauh, terus gak ada temannya telpon saya aja, kalo saya lagi free atau memang lagi sejalan ya bareng aja, “ Katanya sebelum pergi.“Oh iya kak makasih ya, “ Jawab ku canggung. Entah keajaiban apa tiba-tiba ketemu orang baik plus ganteng lagi._______________Beberapa hari setelah pertemuan itu, Di suatu sore,aku bertemu lagi dengan nya tanpa sengaja. Bukan di area kampus, tapi di kasir minimarket. Aku dari membeli air mineral sedangkan dia mau top up saldo dana. “Eh Alex, “ Sapanya.“Hai kak Purna, “ Sapa ku juga.“Sama siapa kamu? “ Tanya nya.“Sendiri kak, “ Jawab ku.“Mau langsung pulang kamu? “ Tanya nya setelah diluar minimarket.“Engga, aku ini lagi joging, “ Jelas ku.“Oh yaudah bareng, “ Katanya mengikuti langkah ku.“Emangnya kakak mau kemana? “ Tanya ku.“Mau pulang sih sebenernya, tapi karena ketemu kamu ya jadi pengen ikut kamu aja. Boleh kan? “ Tanya nya dengan senyuman khas nya.“Oo ya boleh, “ Jawab ku membalas senyum nya.“Rumah kakak di sekitar sini tauk, “ Katanya bercerita.“Oh disini aku kira kaka ngekos di dekat kampus, “ Kata ku menanggapi nya.“ Engga saya tinggal di rumah tapi pisah sama rumah orang tua, rumah yang ini ya rumah khusus saya sendiri, “ Jelasnya.Aku mendengarkan dia bercerita. Dia bercerita mulai hal-hal kecil yang lucu sampai ke hal hal yang serius. Aku setia mendengarkan nya. Aku jadi tahu kehidupan nya. Dia bukan anak broken home seperti aku, keluarga nya lengkap, dan dia anak satu-satunya. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, orang tuanya selalu menuntut nya untuk menjadi seperti yang mereka inginkan. Hal itu membuat dia merasa tertekan. Tapi dia tidak pernah membantah orang tuanya.“ Pernah sih kakak berantem sama Ayah, ya gimana ya kita kan kadang juga punya pilihan sendiri, keputusan sendiri, gak mau kalo di paksa terus, “ Ceritanya.“Iya sih, tapi se engga nya kakak masih punya orang yang bener-bener peduli dan mengurus kakak, meskipun mereka keras kan bisa diomongin baik-baik, pasti mereka ngertilah, “ Kataku.“ Setiap orang punya kehidupan masing-masing kak, yang gak sama. Ada kebahagiaan yang berbeda dan ujian yang berbeda. Jadi jangan pernah merasa kakak sendirian yang ngalamin hal kayak gitu. Banyak orang diluar sana yang mungkin lebih tertekan dari kakak, “ Tambah ku. Entah kenapa malah jadi deeptalk.“iya makasih ya, “ Kata kak Purna.“Kalo kakak butuh cerita, cerita aja kalo aku gak sibuk, aku siap dengerin nya, “ Kata ku.“ Iya kamu juga, kalo ada masalah bagi-bagi ke kakak ya jangan disimpan sendiri, berbagi itu kan indah, “ Kata nya dengan senyum hangat yang selalu membuat ku candu melihatnya.Tak terasa langit semakin sore, Cahaya perlahan memudar, menyisakan warna tembaga di ujung cakrawala. Aku dan dia sampai di pekarangan rumah nya. Kami memandang ke atas, menyaksikan langit memudar dalam diam yang tak membutuhkan kata-kata. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah yang baru saja disiram waktu, menenangkan segala resah yang tak sempat diucap. Langit tak lagi biru, tapi kami masih berdiri di sana, seolah menunggu hari benar-benar selesai sebelum kembali pada kenyataan yang lain.Aku selalu percaya, setiap orang punya satu bintang yang menjadi petunjuk jalan, setiap orang punya satu bulan yang menjadi sebuah impian, dan setiap orang juga punya satu rumah yang menjadi tempat pulang.
Potret Keluarga Bahagia
Lamia merapatkan jaket tebal di tubuh kurusnya karena angin yang berembus malam ini tidak main-main dinginnya. Ia mempercepat langkah kaki menuju rumah. Masuk ke rumah adalah satu-satunya hal yang diinginkannya sekarang.Tangannya mengambang di udara ketika ia melihat pintu rumahnya sedikit terbuka. Bau amis menguar kuat dari pintu yang sedikit terbuka itu sampai-sampai membuatnya mual. Bau amis itu semakin kentara saat angin musim dingin membawanya, memaksa masuk ke hidung Lamia. Bau amis yang Lamia yakin adalah bau darah itu semakin menguat seiring dengan pintu yang dibuka lebih lebar.Lamia tidak mendapati siapa-siapa di ruang tamu. Juga tidak ada hal mencurigakan di sana. Namun, saat hendak menuju dapur pandangannya terkunci pada dua sosok yang terbujur kaku di lantai di dekat pintu kamar. Ibu dan adiknya. Lamia berlari menghampiri. Sesaat kemudian berteriak histeris.Dua perempuan itu sudah meregang nyawa dengan leher tersayat yang mengeluarkan banyak darah. Menggenang di lantai marmer putih. Mata mereka ditutup dengan kain hitam, mulut mereka disumpal dengan kain berwarna hitam juga, sedangkan tangan dan kaki terikat kuat dengan tali jemuran. Lamia menangis sejadi-jadinya. Meraung. Memanggil-manggil ibu dan adiknya.Ratapannya didengar oleh para tetangga, semenit kemudian mereka sudah memenuhi rumah Lamia yang kecil itu. Tentu saja para tetangga sangat terkejut. Mereka saling berbisik, entah apa yang mereka bisikkan. Sesaat mereka mengangguk lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi begitu beberapa kali sampai polisi datang.“Aku pergi ke acara reuni SMA sore tadi. Baru pulang lima belas menit yang lalu, tepatnya jam sepuluh lewat lima belas menit.” Lamia menjelaskan panjang lebar kepada dua polisi itu. “Mungkinkah ada seseoarang yang menaruh dendam dengan ibu dan adikmu?” Lamia menggeleng. “Mereka berdua orang baik. Saya yakin tidak ada orang yang dendam.”Kemudian ia teringat ayahnya. Ayahnya adalah seorang pengangguran dan pecandu alkohol kelas berat. Laki-laki itu sering keluar pada malam hari. Mabuk-mabukan sampai pagi. Siang harinya ia gunakan untuk tidur, mengumpulkan tenaga agar malam bisa mabuk seperti biasa. Jika sudah mabuk, laki-laki itu mulai meracau. Saat sampai di rumah ia mengamuk. Meminta uang kepada mereka bertiga, lalu, selalu saja laki-laki itu memaki ibunya yang berakhir dengan beberapa tamparan yang mendarat di pipi sang ibu. Semua itu diceritakannya pada kedua polisi- yang salah satu polisi- sedang sibuk mengamati mayat.“Apakah ayah saya yang membunuh mereka?” tanya Lamia geram. Kedua polisi itu menggeleng kecil. Polisi yang mengamati mayat menggelang lalu menjawab, “Kami belum menemukan petunjuk-” perkataannya terpotong ketika melihat secarik kertas tersembul dari kantong baju ibu Lamia. Laki-laki besar itu mengambilnya. Kertas berukuran kecil itu cukup lusuh, hampir robek menjadi dua. Kedua polisi tadi mengamati dengan cermat, sesaat kemudian menyodorkan kepada Lamia. “Anda tahu tulisan siapa ini?” Wajah Lamia berubah pucat ketika kertas lusuh itu berpindah ke tangannya. Jelas sekali tulisan yang berbunyi: Mati saja! Kalian tak pantas hidup! adalah tulisan tangan ayahnya. Lamia memberitahukan dua polisi itu. “Apakah ayah saya yang membunuh mereka? Benar ayah saya? Iya, kan? Pasti. Pasti. Ini tulisan ayah saya. Siapa lagi yang tega menghabisi nyawa keluarganya sendiri selain laki-laki gila itu.” Lamia berjalan mondar mandir. Tangannya meremas kertas itu sampai menjadi bulatan kecil. “Ayah saya adalah pembunuhnya! Kalian harus segera menangkapnya dan balaskan kematian ibu dan adik saya!” Dua polisi itu pamit setelah mereka menenangkan Lamia dan mengatakan akan mencari ayahnya sampai dapat. Lamia mengangguk pasrah lalu mengucapkan terimakasih pada keduanya.Setelah polisi pergi bersama kedua mayat itu, Lamia hanya terduduk lesu di lantai berhadapan dengan noda darah yang masih bertengger di sana. Lamia kembali terisak. Ia mengutuk ayahnya dalam hati. Empat orang tetangga yang masih setia di sana berusaha menenangkan Lamia. “Ikhlaskanlah.” “Ini adalah kehendak Tuhan.” “Berdoalah semoga pembunuhnya cepat tertangkap.” Lamia memejamkan mata. Mendengar kata-kata sampah itu membuatnya sakit kepala. Ia akan merasa lebih baik jika para tetangga itu diam saja. Tidak usah terlalu menampilkan rasa simpati padanya. Rasa simpati yang Lamia yakin seratus persen dibuat-buat.“Kasihan sekali. Ibu dan adiknya dibunuh. Ayahnya pasti sedang mabuk entah dimana.” “Siapa pelakunya?” “Tentu saja ayahnya” “Kupikir bukan.” “Mengapa tidak? Ayahnya punya tabiat sangat buruk. Mabuk-mabukan tiap hari dan suka main tangan. Aku tidak heran kalau dia yang membunuh istri dan anaknya.” “Tidak mungkin laki-laki itu bisa membuhuh istri dan anaknya. Ia takkan mampu menyayat leher serapi itu. Berjalan saja ia sempoyongan. Hahaha.” “Benar sekali.” Tawa para tetangga lepas begitu saja membentur lantai dan memenuhi rumah yang dingin karena pintunya dibiarkan terbuka. Lamia menggeram tertahan, seharusnya yang mati adalah para tetangganya ini. Mulut mereka bahkan lebih kotor dari pada tempat sampah di seberang jalan.Belum selesai Lamia mengutuk tetangga dalam hati, ponselnya berdering. Temannya yang tadi bertemu dengannya di acara reuni menelepon. Dengan ragu Lamia menjawab. “Mia, seorang warga menemukan mayat mengapung di pinggir sungai. Aku mencoba merapat ke sana dan aku mendapati wajah mayat itu adalah wajah yang kukenal,” kata temannya yang sontak membuat Lamia gugup. Gadis itu menggigit bibirnya. Lalu suara temannya terdengar lagi. “Sepertinya mayat itu ayahmu. A-aku tidak begitu yakin, sih. Bisa saja bukan, kan? Jadi maukah kau kemari dan memastikannya?” “Ayahku?” ulang Lamia. “Wajahnya mirip dengan wajah ayahmu. Namun sumpah, aku tidak yakin dengan ingatanku.”Lamia langsung bangkit dan bergegas memanggil taksi kemudian pergi menuju sungai yang dimaksud oleh temannya. Sungai itu terletak cukup jauh dari tempat tinggalnya. Perlu waktu tiga puluh menit perjalanan dengan mobil jika jalanan lengang seperti sekarang.Lamia sampai tepat tiga puluh menit kemudian, polisi sudah tiba jauh sebelum dirinya. Setelah membayar tip taksi Lamia hanya berdiri di pinggir jalan. Matanya menatap kerumunan manusia berdiri di depan bentangan garis berwarna kuning, garis polisi. Para polisi sibuk mengamankan warga yang mencoba menerobos, masuk melewati garis kuning itu.“Apa yang terjadi padanya?” “Entahlah! Sepertinya bunuh diri.” “Mungkin jatuh dari jembatan karena mabuk berat.” “Sepertinya meninggalnya sudah lama.” “Mungkin kemarin malam.” “Ya, ya. Mayatnya baru ditemukan mengapung oleh seorang pemancingkan?” “Ya benar.” Para warga yang berdiri agak jauh dari mayat saling menimpali satu sama lain. Lamia yang mendengar itu hanya mendengus kecil, terukir senyum tipis yang tidak terlalu kentara pada wajahnya. Entah ia tersenyum karena apa.Lamia hanya menatap mayat yang telah ditutupi kain dari kejauhan. Matanya yang sedari tadi menyiratkan kesedihan kini telah berganti. Ada rasa puas yang terpancar di sana. Ia lalu pergi menjauh. Baru beberapa langkah, para warga di belakangnya berteriak saat kain penutup itu tertiup angin dan menampilkan setengah badan si mayat.“Lihat! Lihat lehernya!” “Lehernya menganga!” Tanpa menoleh, lagi-lagi Lamia tersenyum. Kali ini lebih lebar menampilkan barisan giginya. Seseorang menatap Lamia. Lamia menyadari itu lalu berjalan menghampirinya. “Terimakasih.” kata Lamia sambil menepuk pundak orang yang berbaju hitam itu. Orang itu mengangguk, ia menyerahkan sesuatu kepada Lamia. Sebuah foto keluarga seukuran telapak tangan dengan sedikit bercak darah di pinggirnya. Di foto itu tampak tiga orang yaitu ibu, ayah dan adiknya yang tengah tersenyum bahagia.
Detektif SMA Keira dan Kasus Bar M
Keira salah satu teman terbaikku. Kecantikan yang tidak ada duanya dan kepintaran yang dapat membuat semua hati lelaki dan perempuan berdebar. Ia blasteran Australia dan chinese Indonesia. Sepulang sekolah setelah Ekskul kami selalu minum-minum di bar dekat Blok M Jakarta Selatan. Walau kami belum 18 dan ber-ktp muslim, Keira mengenal pemilik bar sehingga kami diperbolehkan minum di Barnya terkadang itu juga gratis.Anak seumuran kami datang ke bar dan club terkadang sangat mencolok. Mereka yang dewasa dan berpengalaman dapat mencium bau seorang bocah seperti diriku. Keira dengan kedewasaannya dapat dengan mudah membaur dirinya. Menurutku rambutnya yang pendek dan diwarnai membuatnya tampak cantik.Dari semua kasus yang temanku tangani mungkin kasus pertama merupakan kasus dimana cerita ini harus dimulai setelah pertemuan kami di New York. singkatnya pada sore hari itu kami datang terdapat empat tamu yang mendahului kami, sebenarnya tiga tapi akan kujelaskan. Bisanya Keira dan dirikulah yang hanya berada di sini ketika Boss membuka Barnya. Boss menyuguhkan kami minuman yang biasa kami minum, Martini. Kami duduk di meja bar selagi empat tamu lain duduk di tempat yang berbeda.Yang pertama seorang berambut pirang di ujung Bar menggunakan Polo berlogo dan celana pendek. Ia sepertinya meminum Bintang tetapi bisa terlihat bahwa dia telah menghabiskan beberapa botol bintang di mejanya. Seorang lain bersandar ke jendela di ujung, beretnis Tionghoa dengan kumis tipis. Bajunya kemeja rapi dengan celana panjang serta sepatu sandal. Bukanlah tipe yang biasanya terlihat di bar tetapi itu bukanlah hakku untuk menghakimi seseorang. Ia terlihatnya meminum Smirnoff dengan gelas sejernih itu pun terlihat seperti meminum air.Yang ketiga terlihat anak Punk dengan rambut panjang dan tangan bertato. Menggunakan tanktop polos hitam, kalung militer serta celana jeans yang ketat. Tindikan di telinga dan jidatnya membuatku sedikit takut. Ia bermain billiard di belakang panggung Pole Dancing. Kemudian orang ke empat datang dengan baju seksi dan pakaian minim, celana pendek jeans dan baju yang menunjukan udelnya. Ia merupakan penari di sini akan tetapi diriku tak pernah dekat dengannya. Ia dengan cepatnya memeluk Keira dan memegang pinggulnya. Diriku berusaha menahan amarah yang kupendam melihat Keira dengan senang hati melayani dirinya. Kemudian ia mengatakan, “terimakasih yah Kei buat main-main kemarin, mungkin kau bisa mengajak temanmu yang imut” mereka memandangku dan diriku hanya melihat ke arah yang berlawanan dengan rasa kesal. Kemudian dengan pelan ia meninggalkan kami dan pergi ke ruang belakang.Keira seperti memandang perempuan tersebut dengan senyum dan pandangan yang tidak bisa kujelaskan. Dia dengan mudahnya menyatakan bahwa diriku iri pada perempuan itu. Diriku tahu bahwa itu salah tetapi ku masih merasa kesal dan kuminum Martini Nya hingga habis untuk pembalasan. Diriku sendiri teler dan sudah merasa mabuk ingin muntah. Diriku pergi berjalan ke belakang dan menuju toilet selagi Boss dan Keira berbincang.Setelah memuntahkan isi perutku di toilet, ku akhirnya dapat berpikir lebih jelas dan ku melihat berbagai kamar berdempetan. Tentu saja kamar itu untuk menarik orang VIP dan melayani jasa yang cukup intim. Tetapi kamar yang berada paling ujung terlihat menyala, membuatku berpikir mengenai penari yang datang lebih awal. Walau begitu bukanlah itu yang mengejutkanku, karena melihat pintunya terbuka dan membuatku berteriak melihat sang penari tergeletak dengan kepala berlumuran darah. Keira dan Boss datang menghampiri segera menelpon 118.Keira mengecek detak jantungnya dan untungnya ia masih terselamatkan. Kami berhasil membawanya menuju ambulans, segera Boss menutup Bar dan Keira meminta ketiga orang tersebut untuk tetap di tempat. Ia menyatakan untuk menyelesaikannya di sini dengan Boss dari pada dengan polisi. Kami juga tidak mau membawa kasus ini menuju polisi karena korban terselamatkan serta membawanya akan membawa nama buruk bagi barnya Boss.Keira meminta Boss untuk membolehkannya melihat kamar kejadian lebih lama. Keira menunjuk bekas darah di tempat tidur dimana kepalanya bersandar, genangan Air di ambang pintu serta darah di atas lubang mata pengait pintu. Setelah itu kami mewawancarai ketiga tersangka. Semuanya menjelaskan cerita yang sama, bahwa mereka pergi ke toilet dan melihat pintunya tertutup.Yang pertama memperkenalkan diri sebagai seorang dosen yang datang dari luar dan hanya minum setelah bepergian dengan teman-temannya. Yang kedua seorang penjaga toko kelontongan dan ketiga merupakan biker yang sedang singgah. Diriku tak melihat bahwa diantara mereka bersalah. Terutama sang dosen yang bila kulihat Handphone Nya memiliki photo anaknya sebagai wallpaper.Keira membisikan ke diriku bahwa dia sudah memecahkan misterinya. Setelah kami mendapat privasi, ia mulai menjelaskan terhadap diriku dan Boss setelah kami memberikan pendapatnya terhadap Keira. Menurutku sendiri orang biker itu merupakan yang salah karena ia yang paling terlihat bisa melakukan hal ini.Keira menjitak diriku dan berkata, “kamu jangan meloncat ke konklusi begitu saja. Walau begitu kau memang benar, bahwa si bule tidak bersalah. Selain wallpaper di handphonenya, ia memiliki cincin, jadi dia bukanlah klien. Sedangkan dia juga terlalu mabuk untuk melakukan itu. Maka tinggal dua tersangka kita. Terus begini menentukannya, senjatanya yang ia gunakan masih ada di ruang Kejadian.” Boss dan diriku saling menatap dan mengatakan “ooooh”Sepulangnya dari bar diriku bertanya pada Keira bagaimana ia mengetahuinya? Kemudian ia menjawab bahwa dia sudah mengetahuinya setelah melihat genangan air dan tempat gelas smirnoff itu kehabisan es. Diriku juga tidak menyangka bahwa ternyata orang punk itu adalah pacar penari tersebut dan yang menyebabkan kecelakaan ini adalah bapaknya si penari yang memiliki toko kelontong tersebut.Kemudian diriku mulai bertanya pada Keira, “jadi apakah kau benar-benar melakukannya dengan penari tadi…” sambil ragu-ragu ku mengatakannya. “Kyln Ismail, kau tidak iri kan?” ia mengatakannya sambil berusaha melihat wajahku yang memerah “Tentu Tidak, aku tidak iri” sambil berusaha melihat ke arah lain menyembunyikan wajahku. Ia kemudian membisikan bahwa ia hanya bermain kartu bersama si penari. Itu membuatku makin malu dan menjongkok menutup wajah diriku bahwa diriku telah berpikiran kotor mengenai temanku sendiri.“Sudahlah, kuantar kau pulang ok” ia melempar helmnya padaku dan diriku hanya bisa menjawab iya dengan kesal. Hari itu rasanya pelukanku lebih erat pada Keira, “lo bangsat tau” Dia hanya menjawab “tau kok” sambil tertawa kecil.
Detektif SMA Keira, Drama di Club Drama
Ekskul Drama Club, ekskul yang menguasai panggung dan aula sekolah. Setiap pulang sekolah pasti aula dikuasai mereka. Sedangkan diriku Kyln memiliki peran penting di club tersebut sebagai pengatur lampu, “Akulah Kyln Lampu” sambil melakukan gaya di ujung platform dimana ada spotlight. “Hey ketua, pesanan datang” diriku berbalik melihat Keira yang membawakan Ayam penyetku. “Ih Kei kita kan di Drama club bukan Gaming club, aku kan bukan ketua di ekskul ini” “Yah kau ketua lampu” dia mengusap kepalaku dengan sedikit mengacak rambutku.Diriku menjelaskan pada Keira bahwa tidak ada orang yang ingin mengambil tugasku ini, semua berfokus pada panggung. Terus dia melanjutkan dengan mengatakan, kalau diriku mengambil tugas ini karena diriku bisa lari bermain hp ketika ada acara atau ceramah di aula. Dengan alasan bahwa diriku bekerja mengatur lampu. Walaupun itu benar… ketika ceramah tamu dari pemerintah mengenai penggunaan narkoba, atau pas pendidikan digital, atau pas semua dicermahi ketika ada yang salah. Mengingatnya lagi membuatku sedikit tersenyum tetapi senyum itu sedikit terhapuskan melihat ayam penyetku ada sambelnya.“KEI!! Kan gue udah bilang gak bisa makan pedes” “Oh iya! Sorry gue lupa bilang, sini gue bersihin”Kemudian di tengah cakap-cakap kami, keributan terjadi di depan panggung. Keira mempertanyakan hal tersebut, yang membuat diriku harus menjelaskan bahwa hari ini adalah pemutusan pemain. Setelah beberapa menit kami turun dari platform yang seperti lantai dua ruangan aula tersebut. Kami menanyakan mengenai kejadian yang terjadi terhadap dua teman kami. Asep, teman yang sangat unik dan memiliki kepercayaan yang tinggi. Walau wajahnya tidak mendukung tetapi berkat keahliannya dan kelucuannya membuatnya dapat peran. Kemudian ada Kurua lelaki dengan wajah dewasa karena kumis tipis serta jenggotnya ini menjadi direktur dan sutradara untuk tim kedua pentas semester ini.Mereka menjelaskan bahwa terjadi perdebatan antar siapa yang menjadi pemain utama pada tim satu. Karena biasanya tim dua memainkan drama sampingan saja. Tetapi diriku tidak bisa menahan diri harus memuji teman-temanku Kurua dan Asep yang dapat memainkan adegan di drama pentas semester ini. Mereka hanya menyampingkan pencapaian mereka, itupun belum tentu mereka sukses.Dalam beberapa minggu terakhir kami berlatih dan tentunya diriku harus berada di sana untuk mengatur lampu. Kemudian dalam beberapa kali latihan terjadi beberapa gangguan di panggung, dari panggung lantai yang roboh, hingga peralatan yang hampir mencelakai pemain. Untung saja tidak menjadi masalah apapun karena diriku selalu memeriksa lampu sebelum dan sesudah hingga dua kali. Tentunya diriku bangga dengan hal tersebut, karena integritasku lah yang membuat diriku dipercaya akan posisi ini.Pada gladi bersih, sehari sebelum pentas. Ketika semua orang telah selesai latihan, hanya diriku dan Keira yang tersisa. Kemudian kami pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan. Keira bersikar untuk diriku menggunakan sarung tangan ketika memeriksa lampu karena debu serta lampu yang penuh oli. Diriku menolaknya karena diriku tidak bisa menyetel lampunya menggunakan sarung tangan yang kebesaran untukku.Sepulang itu kami juga berpapasan dengan si pemeran utama di tim satu. Falerisia, seorang yang sudah memainkan sinetron dan juga sangat cantik. Keira dan diriku juga tidak dapat menyangkal fakta tersebut. Ia masih menunggu taxi online, setelah bercakap Keira dan diriku berjalan menuju parkir motornya. Keira melamun sebentar di samping motornya ketika ingin mengenakan helmnya. Ketika ku bertanya mengapa ia hanya bergumam tangan kiri. Kemudian ketika dia kembali tersadar dia meminta maaf kepadaku. Terkadang hal seperti ini membuatku kesal tetapi dia sedikit imut ketika melakukannya.Esok harinya ketika pentas, tim kedua berhasil melakukannya dengan sukses. kemudian ketika tim pertama, dan pemain utamanya bermonolog di tengah panggung bersama pasangan lelakinya yang menjemputnya. Gorden ditutup salah satu lampu sorot di langit-langit panggung copot dan menggantung, berayun mengenai pemain utama Falerisia pingsan serta pasangan lelakinya mendapat luka lebam pada wajahnya. Tentu saja diriku dimarahi saat itu juga ketika istirahat, oleh ketua ekskul kami. Diriku sudah ingin menangis ketika itu, tetapi kemudian Keira memotong kata-kata ketua. Keira menunjukan sarung tangan kostum putri Falerisia yang sedikit menghitam di ujungnya. Juga menunjukan bahwa sarung tangan khusus membenarkan lampu juga digunakan. Ia menunjukan kebiasaan diriku yang sering tidak menggunakan sarung tangan. Bekas oli hitam pada sarung tangan Falerisia menunjukan ini perbuatannya sendiri apapun tujuan awalnya.Ketua club Drama kami, Clodia kemudian berkata “bahwa kak Ren yang sekelas bersamanya merekomendasikan diriku untuk membantu club drama di bagian lampu karena kinerjaku pada acara MUN”. Kemudian pada saat itu juga ia menghukum diriku dan Keira untuk memainkan perannya Falerisia dan pasangannya untuk apapun yang terjadi, karena the show must goes on katanya. Aku beralasan bahwa aku harus mengurus lampu tetapi ketua menugaskan Asep dan Kurua menggantikanku di bagian lampu, membuatku sedikit menyesal mengajarkan mereka mengenai lampu.Melihat Keira menggunakan baju pangeran membuat wajahku memerah. Kemudian diriku bertanya, “bagaimana dengan diriku?” ia mengatakan bahwa diriku sangat cantik yang membuatku makin berdebar. Setelah memainkan beberapa adegan, Falerisia yang baru sadar meminta maaf padaku dan diriku bukanlah target yang ia ingin lukai. Diriku memaafkannya tetapi apapun alasanya, dia seharusnya tidak harus sampai sejauh itu hingga harus melukai seseorang.Keira kemudian datang dan berbisik pada Falerisia. Diriku hanya mendengar kata opsional. Ternyata diriku baru sadar apa yang mereka bisikan. Pada adegan terakhir, karakterku ditikam oleh pasangannya sendiri dan sang pasangan meminta maaf pada pasangannya ketika karakterku mati. Ketika Keira sudah menikam diriku di atas panggung, kuucapkan dialog terakhirku dan mengatakan “aku selalu mencintaimu, pangeranku” tanpa sepengetahuanku Keira menciumku di bibir di atas panggung dan membuat semua orang terdiam hingga tirai ditutup. Wajahku yang memerah terus memerah bahkan ketika semuanya selesai dan bertepuk tangan.Banyak yang memuji Keira dan aktingnya setelah itu, mereka bahkan mengajaknya untuk bergabung dalam ekskul. Setelah bersih-bersih, diriku bertanya mengenai kasus hari ini. Ia menjelaskan bahwa Falerisia menargetkan pemain antagonisnya yang merupakan seorang influencer di sosial media. Ini terbukti dari lampu yang tepat selalu berada di atas pemain sang antagonis. Ketika ku menanyakan mengapa alasan ia melakukan hal tersebut, Keira menjawab bahwa alasannya tersebut menjadi bukti kedua. Setelah Keira menjelaskan alasannya, diriku hanya berkata, “Demi apa!? Hanya karena gitu doang?!”. Membuat diriku berpikir dua kali untuk menjadi artis.
Anak Rajin
Pada suatu waktu, hiduplah seorang anak yang rajin belajar. Haikal namanya usianya 13 tahun Sehari hari ia berladang. Juga mencari kayu bakar di hutan. Hidupnya sebatang kara. Haikal amat rajin membaca, semua buku habis dilahapnya. Ia rindu akan pengetahuan.Suatu hari ia tersesat di hutan. Hari sudah gelap. Akhirnya, haikal memutuskan untuk bermalam di hutan. Ia bersandar di pohon dan jatuh tertidur.Dalam tidurnya, samar samar haikal mendengar suara memanggilnya. Mula mula ia berpikir itu hanya mimpi. Namun, disaat dia ia terbangun, suara itu masih memanggilnya. “Anak muda, bangunlah!” “Siapakah engkau? Mengapa aku ada di sini?” haikal amat bingung. Dari mana suara itu berasal? Ia mencoba melihat ke sekeliling. “Aku di sini. Aku pohon yang kau sandari!” ujar suara itu lagi. Seketika haikal menengok. Alangkah terkejutnya ia! Pohon disandarinya dan haikal menanya si pohon tersebut “Siapa kamu?” “Namaku pohon pintar aku bisa membuat kamu menjadi anak pintar” dan haikal pun tidak percaya perkataan pohon tersebut “Kalau gitu kita buktin. Nanti sewaktu kamu pulang dari hutan ini kamu makin sangat rajin belajar dan pintar”Pada suatu hari haikal berangkat ke sekolah dia mendapatkan ulangan harian dari gurunya dan ia memgerjakannya sendiri biasa haikal selalu mencontek ulangan pada temannya dan dia sudah mengerjakan sampai selesai setelah itu gurunya mengoreksi ulangan haikal mendapatkan nilai diatas kkm. Dan besoknya gurunya membagikan hasil ulangannya haikal pun terkejut mendapatkan nilai yang sangat bagus. “Apa benar perkataan pohon pintar itu?”Keesok harinya haikal mendatangi pohon pintar itu lagi. “Perkataan kamu kemarin sangat terbukti nyata sekali dengan perkatanmu kemarin dan aku mendapatkan nilai ulangan yang bagus tanpa menyontek biasanya tidak bisa mendapatkan nilai sebagus itu apa lagi mengerjakan sendiri”. “Sekarang terbukti kan perkataanku kemarin?” “Iya sangat terbukti sekali perkataanmu” Dan haikal berpamitan ke pohon pintar untuk berpulang ke rumah karena hari sudah mulai malam.Sesampai di rumah dia pun bersih-bersih rumah dan dia membersihkan badannya, setelah itu haikal membantu ibunya memasak untuk makan malam dan setelah makan haikal pun mengerjakan tugas-tugas dari gurunya setelah mengerjakan tugas dari gurunya dia pun tertidur.Dan keesokan hari dia bangun pagi-pagi untuk berolahraga dengan teman-teman karena hari ini hari minggu setelah berolahraga dia pulang dan membersihkan bandanya agar tidak berbau badan setelah membersihkan badan haikal diajak kedua orangtuanya keluar untuk mencari makan dan sesampai di rumah makan dia pesan makanan dan minuman setalah makan haikal diajak kedua orangtuanya ke mall untuk membelikannya baju karena mendapatkan nilai yang bagus, haikal senang karena dibelikan baju kedua orangtuanya.2 minggu kemudian haikal mendapatkan informasi dari gurunya akan melaksanakan ulangan akhir semester dan dia belajar dengan tekun agar mendapatkan peringkat, esok harinya haikal mengerjakan ulanganya dengan tenang selama 4 hari ulangan pun berakhir guru-guru mencocokkan hasil semua ulanganya dan ternyataa haikal mendapatkan nilai yang sangat bagus dan mendapatkan peringkat 1 haikal pun terkejut melihatnya.Sesampai di rumah haikal pun memberi tahu kedua orangtuanya karena di mendapatkan nilai bagus dan peringkat 1 orangtuanya bangga dan sangat senang karena haikal mendapatkan peringkat 1 di sekolah, sore hari haikal mendapatkan kejutaan dari kedua orangtuanya yaitu berupa sepeda yang dia inginkan dia pun sangat senang sekali karena dia berhasil mendapatkan sepeda yang dia inginkan sekali.Haikal pun memakai sepeda motornya tersebut untuk berjalan jalan sore dengan teman temannya. Haikal sangat senang menggunakan sepeda barunya tersebut dan keesokkan harinya haikal memakai sepeda untuk berangkat ke sekolah bersama teman temannyaSesampai di sekolah teman teman haikal yang ada di sekolah bertanya kepada haikal “Dibelikan siapa sepeda baru itu kal?” “Dibelikan oleh kedua orangtuaku karna aku mendapatkan peringkat 1.” “Wahh beruntung banget kamu” “Dan juga berkat pohon pintar aku menjadi rajin belajar dan menjadi pintar” “Wahh kamu banyak banyak bersyukur karna berkat pohon pintar kamu menjadi sangat pintar”.
Alena dan Peri Cream Kue
Pada salah satu desa pelangi yang segar dan sejuk. Tinggalah seorang anak yang bernama alena yang sangat menyukai cream kue. Dia suka membuat cream kue.Pada suatu hari, alena menginginkan cream kue itu hidup dan bisa berbicara agar alena bisa bermain dengan cream kue itu. Alena pun berkata “ahhh namun tidak mungkin cream kue itu bisa hidup dan berbicara”. “tapi aku ingin bermain bersama cream kue”Pada suatu saat di malam hari ketika alena mau tidur datanglah seorang peri cream kue. Peri itu tau kalau alena suka membuat cream kue tapi mengapa sekarang alena jarang membuat cream kue. Peri itu pun bertanya kepada alena. “mengapa kamu sudah jarang membuat cream kue bukannya kamu suka dan senang membuat cream kue”. Alena terkejut mengapa peri itu bisa ada di kamarnya dan mengetahui semua tentangnya. Alena pun menjawab. “aku ingin bermain bersama cream kue dan ingin cream kue itu hidup”. Peri itu pun berkata “aku bisa mewujudkan apa yang kmu inginkan.”Keesokan harinya, pagi hari alena bangun dan ketika ia melihat keluar ia sangat terkejut di halaman rumahnya terlihat banyak cream kue yang sedang bermain.Alena pun keluar rumah dan salah satu cream kue pun mengajak ia bermain. “Hai alena, aku coky,” kata coky patung cream kue sambil menyapa alena “Haii juga coky,senang bertemu denganku,” jawab alena “Alena kamu mau enggak bermain sama aku,” kata coky “Ayoo, aku mau kok,” jawab alena “Banyak ya teman-temanmu disini?” Tanya alena “Iya banyak teman-temanku disini, ini berkat kamu buat banyak cream kue,” jawab coky “Hahahah iyaa juga yaa,” saut alena sambil tertawaAlena pun sangat senang ia bisa bermain bersama cream-cream kue itu dan alena tidak menyangka bahwa desanya dipenuhi oleh cream kue. Tak terasa hari demi hari ia lewati dengan bermain bersama cream kue itu.Saat musim dingin tiba, dimana di hari itu cuaca yang sangat amat dingin sekali membuat cream-cream kue itu mulai membeku dan mengeras, sampai-sampai semua patung pun tidak bisa bergerak.Alena berusaha untuk menghangatkan cream-cream kue itu namun cream kue yang banyak dan cuacanya yang sangat dingin membuat semua cream kue-nya membeku dan mengkeras. Alena bingung apa yang harus dia lakukan agar cream-cream kue itu tidak mengkeras dan membeku.Ketika ia duduk dan ia mengingat peri yang waktu itu mendatanginya ke kamar. Alena terus mencari peri itu dia mencari kesana kemari dan mencari kemana-kemana dia masih belum menemukan peri itu alena lelah dan putus asa ia sedih karena tidak bisa menemukan peri itu.Tak lama kemudian peri itu tiba-tiba datang dan menghampiri alena, alena sangat senang peri itu menemuinya. Alena menceritakan semua yang terjadi dan dia menginginkan cream-cream kue itu agar bisa hidup dan bergerak saat di musim dingin. Peri itu bisa menghidupkan kembali cream-cream kue itu dengan syarat, cream kue itu tidak bisa hidup dan bermain lagi dengan alena lagi. Alena bingung jika ia ingin cream kue itu kembali dan tidak mengaras dan membeku, ia tidak bisa bermain lagi dengan cream kue itu.Alena pun mengambil keputusan bahwa cream kue itu kembali seperti sebelumnya dan dia tidak bisa bermain lagi dengan cream kue. “Kebalikan semua cream kuenya seperti sebelumnya peri” kata alena sedihSemuanya sudah kembali seperti semula dan alena pun sangat sedih karena tidak bisa bermain lagi dengan cream-cream kue tersebut dan alena sekarang pun jadi jarang buat cream kue lagi.
Arloji Dari Kakek
Pagi saat mau berangakat sekolah, Ega bersiap siap untuk berangakat ke sekolah memakai seragam serta tidak lupa juga ia memakai arloji kesayangan pemberian kakeknya, namun saat ia memakai arloji tersebut ternyata arlojinya mati. Ega pun bertanya kepada ayahnya.“Yah ini arlojinya kok mati ya?” tanya Ega “Waduuh ayah juga gak ngerti, arloji ini udah sangat tua” jawab ayah dengan kebingungan “Terus gimana dong yah, ini kan arloji kesayanganku yang dikasih dari kakek” ucap Ega dengan mata berkaca kaca “Gimana kalo nanti sore kita pergi ke rumah kakek, coba kamu tanyakan ke kakekmu” ujar Ayah “Oke yah nanti sore ya,” jawab Ega dengan penuh semangatEga pun berangakat sekolah bersama adiknya Jio, Ega agak sedih karna berangakat sekolah tanpa memakai arlojinya, Jio mencoba menyemangati Ega namun Ega Cuma tersenyum dan berterimakasih karena telah menyemangatinya.Sesampainya di sekolah Ega dan Jio berpisah untuk pergi ke kelas masing masing, sesampainya di kelas Ega langsung pergi ke bangakunya. Bahkan teman teman Ega pun menanyakan kemana arloji yang biasa dipakai Ega. “Kemana perginya arloji yang biasa kamu pakek Ga” tanya Zidan “Di rumah Dann arlojiku mati jadi gak kupakai dulu” jawab Ega “ohh gitu ya Ga” ucap ZidanEga pun bersekolah dengan sedikit kesedihan, setelah sekolah selesai Jio langsung menemui Ega untuk pulang bersama. Setelah sampai di rumah Ega dan Jio bebersih dan mandi untuk bersiap siap pergi ke rumah kakek, namun ternyata ayah belum di rumah.Ega pun menanyakan ke ibu “Buu ayah kemana, kok gak di rumah” tanya Ega ke ibu “Ayah masih keluar untuk mengecek perkebunan pisang dulu sebentar” jawab Ibu “Yahhh.. pasti lamaa” ucap EgaEga menunggu dengan sangat berharap ayah cepat pulang, setelah lama menunggu ayah pun pulang, Ega pun langsung menghampiri ayah dan menanyakan kapan ke rumah kakek untuk membetulkan arlojinya “Ayah kapan kita berangakat ke rumah kakek?, katanya tadi saat sore, ini kan udah sore, ayok berangakat yah” tanya Ega “Iya iya bentar lagi ya ayah bersiap siap dulu” jawab Ayah “oke Yah” ucap Ega Ayahpun bersiap siap untuk pergi ke rumah kakek.5 menit kemudian ayah memnggil Ega untuk mengajaknya pergi “Egaa hayuk berangakat, jadi tidak?” tanya Ayah “Iyaa Ayaah sebentar lagi, Jio masih ganti baju dulu” jawab Ega “okee, jangan lama lama ya” ucap AyahMereka beriga berangakat ke rumah kakek, rumah kakek tidak terlalu jauh dari rumah Ega, sesampainya di rumah kakek Ega langsung turun dari motor dan langsung mencari kakeknya, nenek pun menghampiri Ega dan lansung memeluknya “Oohhh cucuku tersayaang, gimana kabarmu? mana ayahmu dan adikmu? sudah makan belum?” tanya nenek sambil memeluk Ega “Aku baik nekk.., mereka berdua masih di motor aku juga sudah makan, gimana kabar nenek juga? kemana kakek nek?” jawab dan tanya Ega “Nenek sehat sehat kok apalagi ketemu Ega dan Jio yang tadinya capek jadi sehat lagi deh, Kakekmu kan seperti biasanya pasti di ruangan koleksi antiknya, dimana lagi kalo bukan disana” jawab nenek “Oke nek makasih aku mau kesana dulu yaa” ucap Ega sambil lari ke ruangan koleksi milik kakek “Jangan larii Egaa nanti jatoh loh!” sentak nenek Jio pun mengikuti Ega ke ruangan koleksi kakeknya sambil berlari memegang boneka kesayangannya “Awasss jatoh Jio, jangan larii!!” sentak Nenek ke JioSetelah sampai di ruangan koleksinya si kakek, kakek sedang membersihkan salah satu koleksinya, Ega pun langsung menghampiri kakek, kakekpun langsung meletakan barangnya dan langsung memeluk Ega dengan erat, Jio pun datang dan ikut merasakan pellukan erat dari kakek.Ega pun langsung menanyakan kek kakek kenapa arlojinya mati. “Kakek kenapa arloji ini mati yah?” tanya Ega ke ke kakek “Coba kakek cek dulu ya Ga” jawab kakekSetelah dicek oleh kakek, kakek pun langsung mengerti apa yang terjadi di arloji tersebut, kakek pun langsung menjelaskan kenapa arloji tersebut mati kepada Ega. “Sepetinya kakek tau kenapa arloji ini mati” ucap kakek “Kenapa memangnya kek?” saut Ega “Jadi arloji ini bukan arloji biasa, arloji ini bisa membawa kita yang memakai bisa kembali ke masa lalu dan dapat kembali lagi ke masa dimana kita memakainya, jadi arloji ini tidak rusak tapi karna dia lagi menyesuaikan dengan semua ingatanmu” jelas kakek ke Ega “Beneran kek? Kakek tidak bercanda kan?” tanya Ega dengan kebingungan “Beneran lah, masak kakek boong sih, Ega gak liat muka kakek yang seserius ini” jawab kakek ke Ega dengan muka yang seriusTiba tiba arloji tersebut bercahaya dan berfungsi kembali dengan putaran yang agak lebih cepat dari biasanya, cahayannyapun tidak lama dan langsung kembali sepeti biasanya, Ega dan Jio pun terheran heran melihat arloji tersebut.“Apa yang terjadi tadi kek?” tanya Ega dan Jio kepada kakek “Sepertinya arloji tersebut sudah selesai melihat semua ingatanmu di masa lalu, sekarang kamu bisa kembali ke masa lalumu” jawab kakek “Bagaimana caranya kek?” tanya Ega “Kakek akan mengajarimu namun ingat jangan menyalahgunakan arloji ini untuka kejahatan ya Ga!” jawab dan sentak kakek ke Ega “Baik kek Ega janji tidak akan menyalah gunakannya” ucap EgaAkhirnya Ega pun diajari kakek bagaimana cara menggunakan arloji tersebut, mereka juga berhasil kembali ke masa lalu dimana Ega mau dilahirkan, disitu Ega pun bisa melihat saat saat dia dilahirkan oleh ibunya. Ega pun menangis melihat perjuangan ibunya melahirkanya dan Ega pun ingin segara kembali karna tidak kuat melihat perjuangan ibunya, kakek pun langsung mengembalikan kemasa dimana mereka memulai ke masa lalu, tidak lupa juga kakek memberi tahu cara kembali ke masa awal.Mulai saat itu Ega terus menggunakan arlojinya tersebut untuk berbuat kebaikan dan ingin menjadi pahlawan yang dapat kembali kemasa lalu agar masa depan menjadi lebih baik.
Sebuah Buku
Saat hari libur kuliah, Er sedang menginap di rumah saudaranya yaitu Adit. Pada hari Minggu pagi, Cuaca di sana sedang gerimis, saat itu Adit sedang membersihkan gudang lama yang ada di rumahnya, dan Ia tampak sedikit kesusahan untuk membersihkan gudang itu sendiri, lalu Er berinisiatif untuk membantunya.“Hei Dit, kau sepertinya sedang perlu bantuan. Mau kubantu?” “Iya jelas dong, sini bantuin angkatin barang-barang lamaku.”Setelah itu, Er pun membantu saudaranya membersihkan gudang. Lalu pada saat mengangkat kardus terakhir, mereka menemukan sebuah buku-buku lama yang berada di dalam kardus tersebut.“Beuh… banyak bet bukumu Dit, dari kapan tu bukumu disimpen disini?” “Dari jaman SMA dulu sih, tapi kecampur sama buku punya Ibu.”Er pun melihat buku-buku itu dan membuat Ia tertarik untuk membaca buku-buku tersebut. Ia pun meminta izin saudaranya untuk membaca buku-buku yang ada di kardus tersebut. Dan dia memutuskan untuk mengambil buku yang paling besar, dan saat itu mereka menyudahinya karena sudah lumayan bersih dan mereka juga sudah lelah.“Em… ni buku kok gada judulnya ya? pake aksara Jawa lagi ni buku,” gumam Er dalam hatinya.Walau Er tidak mengerti judul buku tersebut, Ia pun tetap ingin mencoba membaca buku itu. Di-buku tersebut terdapat gambar bunga yang pernah dia lihat sebelumnya pada saat ziarah.Pada malam harinya dia mencoba mencari semua bunga dan perlengkapan yang lain persis seperti yang ada di-buku tadi. Saat Adit pergi kerja shift malam di pabrik, Er mengundang teman yang dia kenal ke rumah saudaranya.“Eh kalian ada waktu kosong ga? kalo kosong, kalian kesini dong kerumahnya Adit.” ucap Er ketika Ia bertelepon dengan teman-temannya. “Oke… kita langsung utiwi ya.” ucap “Siap… ku tunggu.”Saat teman-temannya sudah sampai, Er pun menyuruh mereka untuk masuk kedalam rumahnya. Lalu Er pun menunjukkan apa yang Ia lihat di-buku yang tadi Ia baca.“Apaan tuh? kok agak aneh gitu.” tanya Rizki yang kebingungan melihat buku itu. “Iya loh, buku ini lumayan aneh kalo dilihat-lihat.” saut Reza. “Mungkin aja ni buku ritual mendapatkan uang” ucap Artanto sembari bercanda. “Hahaha, bisa jadi.” ucapku. “Yaudah ayo dicoba aja.”Disaat hendak mencoba ritual, datanglah Adit yang tiba-tiba sudah kembali dari tempat kerjanya, dikarenakan ada beberapa masalah di pabriknya sehingga membuat Ia pulang lebih cepat.“Assalamualaikum…” “Eh, kok gak ada yang jawab ya…,” pikir Adit yang merasa sedikit aneh. Karena merasa aneh tanpa pikir panjang Adit langsung berlari ke sekeliling rumah, meskipun pada saat itu masih malam tetapi dia merasakan ada sesuatu keanehan yang menyelimuti rumahnya.“Hei! Siapa disitu!,” teriak Adit. “Loh ngapain kalian di belakang rumah? bawa beginian segala,” tanya Adit dengan keheranan. “Ini loh Dit gua nemu buku yang mungkin aja kita bisa dapet uang…, lumayankan kalo beneran dapet uang hehe,” jawab Er dengan semangat.Adit yang penasaran pun dengan cepat menyambar buku tersebut dan membaca isinya. Dan setelah buku itu dibaca mereka berlima akhirnya mereka menyadari ternyata isi buku tersebut adalah“Hahahaha, akhirnya aku bebas! Sekarang untuk apa kalian memanggilku?” Mereka berlima pun takut, saking kaget dan takutnya hingga mereka tidak bisa menjawab pertanyaan mahkluk yang keluar dari buku tersebut.“Kenapa kalian memanggilku!” “Maaf, kami bukannya berniat memanggilmu kami hanya penasaran tentang buku itu.” “Jadi kalian memanggilku tanpa tujuan!” “Iya…,” “Karena kalian sudah membebaskanku, aku akan mengabulkan permintaan kalian semua tapi dengan satu syarat,” “Wah… kalo boleh tau, apa saja syaratnya?” tanya Artanto karena ia tergiur oleh penawaran makhluk tersebut. “Aku akan memakan salah satu dari kalian berlima,” “Boleh,” jawab Artanto karena sudah tergiur oleh tawaran makhluk itu.“Lho… apa maksudmu? kau ingin mengorbankan teman-temanmu hanya untuk permintaanmu itu?” jawab Rizki dengan emosi. “Baiklah… jika kalian belum memutuskan aku tunggu kalian sampai 3 hari, jika 3 hari kalian belum memutuskan apa permintaan kalian, aku akan memakan kalian semua satu per satu sampai kalian lenyap dari dunia.” jawab makhluk itu dengan tawaran juga mengancam. Lalu makhluk itu menghilang tak tampak lagi.Pada keesokan harinya mereka berlima memutuskan membuka buku itu lagi untuk mendapatkan petunjuk. “Loh ini kok ada halaman yang disobek tapi ditulisi alamat?” ucap Rizki dengan heran. Tak berselang lama mereka langsung menyusun rencana, mereka berlima yakin bahwa lembaran itulah yang bisa membunuh makhluk itu. “Kalian berempat pergi ke tempat yang sudah ada, aku bakal disini supaya kalian selamat di jalan,” ucap Adit yang sudah bertekad untuk menyelesaikan semua ini. Mereka berempat pun berangkat dan mereka tak pernah kembali lagi.
Sang Pemenang
Di sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Awasyam yang berada di perbatasan antara kerajaan Visaka, yang dibatasi dengan laut yang sangat dalam. Kedua kerajaan ini memiliki konflik yang disebabkan sang putri dari kerajaan Visaka, putri tersebut merupakan anak dari raja Visaka Raxen II yang bernama Shao-Ling. Shao-Ling dibunuh oleh pangeran Jicha dari kerajaan Awasyam, dikarenakan sang putri melakukan hubungan badan dengan sang pangeran yang membuat sang putri mengandung anak dari sang pangeran Jicha.Suatu hari ahli cuaca dari kerajaan Awasyam bernama Xio yang memprediksikan akan terjadi musim dingin yang sangat lama, prediksi ini membuat raja Amambo (raja dari kerajaan Awasyam) mengerahkan 100ribu pasukannya untuk mengumpulkan sayur-sayuran, dan bahan makanan yang ada di gunung Alanda. Gunung ini memiliki lahan yang cocok untuk bertani yang dikuasai oleh kerajaan Awasyam, yang membuat banyak kerajaan mengincar gunung Alanda yang memiliki luas sepertiga bumi.Ramalan tersebut diketahui oleh kerajaan Visaka, dengan ramalan ini raja Tia-Hao (raja dari kejaraan visaka) memerintahkan mata-matanya untuk mengintai lumbung makanan milik kerajaan Awasyam. Saat raja Tia-Hao sedang makan malam bersama petinggi kerajaan, tiba-tiba pendamping setia raja Tia-Hao yang bernama Raxal datang dan memberi tahu bahwa diujung kerajaan bagian utara ada seorang penambang batu yang menemukan pintu raksasa yang terhalang oleh batu yang besar. Karena raja Tia-Hao penasaran, ia langsung meninggalkan meja makan dan bergegas menuju utara kerajaan dengan didampingi 100 pengawal dan 3 petinggi kerajaan.Sesampainnya disana raja dan rombongannya terkaget karena pintu tersebut 2x lebih besar dari kastil kerajaan, yang membuat raja Tia-Hao berambisi untuk menghancurkan batu yang mengahalanginnya, lalu sang raja meminta untuk Tixam memanggil Zhaolin untuk membawa peledak. Tixam merupakan salah satu petinggi kerajaan Visaka sebagai jendral yang memimpin pasukan kuda diformasi sayap kanan dan kiri barisan.Zhaolin pun tiba dengan membawa kereta kuda berisi peledak, tanpa pikir lama Zhaolin langsung menaruh peledak ke batu tersebut. Tak lama setelah peledak dinyalakan, batu tersebut pun hancur lebur. Dan membuat sang raja terdiam, sebab pintu tersebut merupakan kastil pertama kerajaan Visaka yang berkisar 600 tahun.Penemuan kastil pertama kerajaan Visaka membuat kerajaan Visaka mendadak sangat kaya raya, karena terdapat 1 ruangan yang berisi emas, permata, tumpukan uang, patung, dan barang kuno yang bernilai tinggi. Salah satu petinggi kerajaan yang bersamannya saat itu yang bernama Zhiang-Chi mengusulkan kepada raja Tia-Hao untuk mengeluarkan dana dengan tujuan untuk melawan kerajaan Amambo guna memperingati kematian sang putri Shao-Ling yang ke 36 tahun tepat minggu depan.Rencana peperangan tersebut yang direncanakan diketahui oleh raja Amambo, yang dikirim dengan surat melalui seekor burung yang dikirim oleh mata-mata yang sudah lama di kerajaan Visaka, ia bernama Cha-Ling. Kabar ini membuat petinggi kerajaan yang saat itu sedang berkumpul sontak terdiam, dan raja Amambo pun memanggil jendral perang divisi utama yang ditakuti oleh kerajaan lain, jendral ini bernama Ghang-Shao. Ghang-Shao merupakan anak dari ahli perang kerajaan Awasyam. Raja Amambo meminta Ghang-Shao untuk melatih prajurit kerajaan Awasyam secara maksimal dan tegas.Lalu raja Amambo menghampiri ahli kapal sekaligus petinggi kerajaan bagian jendral perang laut, yang bernama Nanha-Thailang-Chi, biasa dipanggi Nanha. Nanha diminta untuk memodifikasi kapal perang andalan kerajaan Awasyam yang dijuluki kapal kura-kura, karena dinding kapal yang keras dengan di lengkapi meriam, serta dibagian depan kapal terdapat sebuah kepala kura-kura terbuat tadi emas, kepala kura-kura tersebut bertujuan untuk menghantam kapal musuh yang dapat hancur dengan mudah. Akan tetapi kepala kura-kura sempat tersangkut saat perang melawan kerajaan Visaka yang saat itu ingin menghantam kapal tempur milik raja Visaka pertama, yang langsung dengan mudah kapal kura-kura dengan mudah dihancurkan.Terdapat beberapa kekurangan kapal kura-kura seperti dibagian belakang kapal kura-kura dapat mudah dihancurkan yang memudahkan lawan untuk menyerang serta kecepatannya yang begitu lambat. Hal ini yang membuat raja Amambo menghampiri Nanha dengan tujuan untuk Nanha memodifikasi kapal kura-kura dengan rancangan terbaru yang masih dirahasiakan. Setelah itu Amambo meminta pendampingnya Malmava untuk memanggil sekutunya untuk membantu dalam peperangan. Sememntara dikerajaan Visakaraja Tia-Hao memetintahkan 5 ribu pasukannya untuk pergi ke gunung Alanda dengan tujuan merampas, dan membunuh orang yang ada disana tanpa belas kasihan. Dengan dipimpin seorang mantan pemain gladiator ternama yang bernama Lie-Kai.Pada malam hari saat raja Amambo sedang melakukan rapat rahasia dengan para petinggi kerajaan dan 5 orang aliansi, yang membuat Lie-Kai sampai di gunung Alanda tanpa sepengetahuan rakyat maupun petinggi Awasyam. Dengan mudah Lie-Kai dan prajuritnya merampas hasil panen yang ada di lubung makanan di deket gunung Alanda, serta membunuh semua penduduk dan pengawas di sana. Setelah itu Lie-Kai dan prajuritnya pergi kembali ke kerajaan Visaka.Selesai rapat raja Amambo mendapat kabar penyerangan di gunung Alanda yang disampaikan oleh seorang petani yang berhasil kabur. Raja Amambo pun geram dan langsung berangkat menuju gunung Alanda dengan 50 ribu prajurit, serta sang raja memerintahkan 25 ribu pasukan elite kerajaan untuk menuju perbatasan kerajaan Amambo-Visaka dengan di pimpin 5 petinggi kerajaan.Sesampainnya raja Amambo di gunung Alanda ia merasa sedih dan kesal saat meihat jasad dimana-mana, dan raja Amambo memerintahkan untuk prajuritnya membawa jasad-jasadnya. Sementara pasukan elite dan 5 petinggi kerajaan melihat rombongan pasukan musuh, Salah satu petinggi kerajaan bernama Swa-Khong ahli panah langsung menghujani pasukan musuh dengan busur panah dibantu oleh 10 ribu pasukan panah yang selalu mendampinginnya. Panah yang menghujani musuh, membuat musuh kewalahan, yang memulainnya sebuah peperangan. Lalu Righnold petinggi kerajaan Awasyam ahli kapak menghampiri Lie-Kai untuk ber duel. Sementara 3 petinggi lainnya menyerang serta membunuh pasukan lawan tanpa ada yang kabur, dengan mata yang tajam Swa-Khong dari kejauhan melepaskan busur terakhirnya kearah Lie-Kai yang mengenai kepala Lie-kai.Setelah perang selesai dengan kemenangan kerajaan Amambo, Ching-Lie seorang petinggi kerajaan sekaligus ahli tombak langsung mengumpulkan peralatan perang yang masih berguna dibantu oleh beberapa pasukan. Kabar kekalahan rombongan Lie-Kai sampai kepada raja Tia-Hao, ia pun langsung membuat peraturan untuk setiap penduduknya wajib mengikuti pelatihan pasukan, guna membantu saat peperangan nanti, yang membuat penduduknya mulai merasa sengsara.6 hari kemudian, musim dingin tiba dan hari peperangan dimulai, yang membuat Raja Tia-Hao mempersiapkan pasukannya dan 500 kapal perang terbuat dari besi, serta membawa kapal perang Phau-Shing (kapal yang besar dengan dilengkapinnya meriam), serta membawa pasukan elitenya, pasukan kuda, pemanah, pasukan pedang yang berjumlah 900 ribu pasukan secara keseluruhan.Persiapan perang kerajaan Visaka diketahui Raja Amambo. Raja Ambo pun langsung membunyikan alarm darurat bertanda untuk segera keruang rapat. Setelah semua berkumpul diruang rapat Raja Amambo meminta John untuk membuat formasi perang. Setelah banyak formasi yang ditolak, akhirnya semua sepakat untuk menggunakan formasi kepala ikan untuk area laut, dan tenaga kuda untuk area darat. Formasi kepala ikan adalah formasi untuk semua pasukan tidak ada yang mundur dan formasi tenaga kuda adalah formasi dimana setiap individu untuk melawan tanpa kenal kasihan dan tanpa kenal lelah.Rappat pun selesai, dan langsung mempersiapkan pasukannya masing-masing dibagian masing-masing. Ghang-Shao mengumpulkan Nanha, Rignold, Swa-Khong, dan para aliansi diantaranya Tha-Shang (psukan ahli panah), Shukhang-Ghi (pasukan gajah), Rifa (pasukan kapal), Bastor (pasukan pengecoh darat),dan Athaman (pasukan kapal). Ghang-Shao meminta untuk menyiapkan sesuai divisi masing-masing.Tak lama pasukan musuh sampai di area perang, dengan persiapan yang sudah matang pasukan darat dan laut langsung menghampiri lawan Sekitar 200 kapal diberangkatkan. Sesampainya disana pasukan lawan langsung menyerang, saat peperangan berlangsung terdapat 10 kapal pengangkut pasukan menuju gunung Alanda. Nanha pun langsung memerintahkan 8 kapal untuk mengejar 10 kapal musuh. Saat sedang mengejar dari balik bebatuan banyak kapal musuh yang menyerang 8 kapal kerajaan Awasyam. Ternyata itu sebuah jebakan yang dipimpin oleh raja Tia-Hao dengan didampingi 1000 kapal serta pasukan elitenya, kedatangan rombongan kapal raja Tia-Hao membuat 8 kapal kerajaam Awasyam berputar balik, yang langsung dikejar oleh raja Tia-Hao dan rombongannya. Dari arah belakang terdapat 10 kapal kura-kura berkecepatan tinggi hasil modifikasi yang langsung menghantam kapal musuh dan masuk ke formasi tengah musuh, dibarengi dengan 300 kapal kerajaan Awasyam yang mengikutinnya dari belakang sambil melontarkan bom api, yang membuat banyak kapal musuh yang terbakar serta membuat tim lawan kewalahan hingga tidak ada penyerangan.Rignold yang saat itu sedang menaiki sebuah kapal yang berada tepat di belakang kapal raja Tia-Hao, dan langsung menghampiri serta masuk untuk menghabisi pasukan elite yang didalam dan penjaga disana. Perang pun berhenti saat bendera putih berkibar di kapal yang dinaiki Tia-Hao, bertanda kerajaan Visaka kalah. Kemenangan kerajaan Amambo di raih lagi, Raja Amambo memerintahkan untuk para rombogannya membawa pasukan lawan yang terjun kelaut dari kapal guna untuk menyelamatkan diri, dan membawa peralatan perang yang masih layak serta membawa raja Tia-Hao.Sore hari tiba semua rakyat keajaan Amambo beserta petinggi kerajaan dan raja Amambo menerbangkan ribuan lampion, dengan tujuan sebagai upacara kematian sekaligus kemenangan. Selesai upacara kematian, raja Amambo, petinggi kerajaan, dan 500 ribu pasukan menuju kerajaan Visaka, bersama pasukan kerajaan Visaka dan Raja Tia-Hao.Sesampainya di kerajaan Visaka, membuat rakyat kerajaan visaka dan para petinggi yang ada disana terdiam karena kedatangan raja Amambo dan rombongannya, ditambah raja Tia-Hao yang diikat sebuah rantai. Raja amambo meminta semua rakyat kerajaan Visaka dan rakyatnya untuk berkumpul di kastil kerajaan Visaka untuk upacara pergantian pemimpin.Saat upacara berlangsung tanpa adanya pertentangan dari kedua belah pihak, akhirnya raja Amambo menjadi raja dari kerajaan Amambo dan Visaka, hal ini menjadi perhatian bagi kerajaan lain. Raja Tia-Hao pun langsung pergi karena sudah diizinkan oleh raja Amambo.1 tahun kemudian kerajaan Amambo dan Visaka menjadi kerajaan yang maju karena peraturan yang bijaksana dan pertahanan yang ketat, yang membuat rakyatnya menjadi tertib. Dan kerajaan Amambo serta kerajaan Visaka menjadi kerajaan yang maju dan sejahtera.
Abu Abu
Suatu hari, di bumi muncullah seorang alien perempuan dan robotnya. Mereka tiba-tiba berteleportasi ke bumi secara tidak sengaja. Alien itu bernama Ruby dan robotnya Lora. Berbagai cara sudah mereka coba dan akhirnya Lora menemukan sesuatu hal, ketika secara tidak sengaja bertemu dengan seorang presdir yang bisa membuat mereka kembali. Dia adalah Presdir Ace Dexter seorang pemuda pemilik sebuah perusahaan terkenal di Italia.“Ruby sepertinya kau harus menjadi sekertaris dari Presdir Ace agar kita bisa pulang”, ucap Lora. “Tapi bagaimana caranya?”, tanya Ruby. “Hei tenanglah aku akan membantumu”.Akhirnya setelah sekian lama Ruby menjadi sekertaris Presdir. Hubungan Ruby dan Ace menjadi sangat baik, sekarang mereka menjadi kekasih, dan berjalan hampir satu tahun. Sebenarnya Ruby sudah menemukan cara agar bisa kembali ke dunianya tapi dia tidak rela meninggalkan Ace, karena jika sudah pulang ke planet asal maka ia tidak bisa kembali ke bumi. Ace memperlakukan Ruby dengan sangat baik, dia memberikan apapun itu yang bisa membuat sang kekasih senang.Saat ini ada sebuah rapat proyek terbaru yang dihadiri oleh orang-orang penting dalam bisnis, Ruby tentunya hadir. Mereka merencanakan akan membuat robot di masa depan. Robot itu diberi nama Zoe’s.Setelah selesai rapat, Ruby pergi ke toilet, lalu disusul beberapa pegawai yang masuk, sepertinya mereka sedang membicarakan proyek baru itu, dan secara tak sengaja Ruby mendengar suatu fakta.“Zoe’s project? Bukankah itu nama mantan kekasih Presdir?”, ucap salah satu dari mereka. “Ya kau benar, mantan kekasih Presdir bernama Zoe. Yang kudengar Nona Zoe adalah cinta pertama Presdir. Sungguh nona Zoe sangat cantik dan anggun. Tapi sayang hubungan mereka hanya berjalan beberapa bulan”. “Dan sekarang muncul rumor bahwa Presdir dan nona Ruby sedang memiliki hubungan spesial, tentunya bukan hanya sekedar boss dan sekertaris”. “Wahhh… benarkah. Aku tidak percaya ini, menurutku dibandingkan nona Ruby aku lebih memilih nona Zoe. Tapi aku akui wajah mereka lumayan mirip”. “Apakah Presdir belum bisa melupakan nona Zoe, sehingga membuat project dengan namanya. Kalau benar begitu akan sangat menyedihkan jika nona Ruby tahu”. “Yaa, itu sangat menyedihkan”. “Sudahlah ayo kita kembali dan melihat apa yang terjadi selanjutnya”. Mereka pun pergi.Ruby yang sedari tadi mendengar tentunya terkejut mengenai fakta itu. Dia tidak menyangka bahwa Ace pernah berpacaran sebelumnya, padahal dulu Ruby sempat bertanya pada Ace, namun Ace mengatakan bahwa tidak pernah memiliki kekasih. Ruby kira dia orang pertama namun nyatanya tidak seperti itu. Dia juga lupa tentang fakta bahwa ia bukan manusia, ia adalah alien dari planet lain. Dan sekarang Ruby bingung apa yang akan ia lakukan untuk kedepannya.
Mencoba Mentradisikan Tradisi Lama
Awan putih dan hitam masih terus bergantian mencampakkan. Langit yang biru kadang pula berubah menjadi langit yang hitam pekat. Matahari yang terang benderang menyinari bumi, kadang juga pula berubah tidak tampak, disebabkan ditutupi berbagai varian awan hitam. Begitupun dengan dunia masih terus berputar menyusuri arus alurnya semesta alam. Mungkin alam sekarang sudah tak lagi sama dengan alam terdahulu, ditambah dengan semakin canggihnya teknologi yang semakin hari bertambah dan terus dikelabuhi para penikmatnya.Sama seperti yang dilakukan anak kecil di dalam sebuah kamar berukuran 4 kali 6 meter. Dengan berbagai varian yang ditampilkan kamar anak kecil tersebut, mulai tempat kasur tercanggih, predator thronosa atau kita bisa menyebutnya kursi gaming termahal.. Pintu dua dimensi dan berbagai alat canggih lainnya terdapat dalam kamar anak kecil tersebut. Zaman sekarang sudah tak main lagi dengan namanya rasa letih, segala aktivitas bisa dengan efesien dikerjakan. Intinya dengan ucapan semua bisa dilakukan.“Ah boring.. di rumah terus.” Anak kecil tadi mendesah beranjak pindah dari kursi gamingnya. Sebut saja namanya Gatan Ganesa. Gatan pindah dari tempat semulanya itu, tidak dengan berjalan. Dia menggunakkan sandal terbangnya. Dan langsung terbaring tempat di kasurnya.Sejenak mata Gatan meenerawang keatas seolah dia menemukan ide. “Aha.. gue ngajak temen ngumpul ah.” Begitulah ide yang Gatan temukan. Kemudian tangan kanan Gatan ditaruh ke arah depan dua matanya, dan mengusap-ngusap. Muncullah sebuah layar tembus pandang dihadapannya, dan menggulirkan jari jemarinya mencari sosok kontak bernama farel. Layar yang semula menancapkan beberapa aplikasi, kini muncul sosok anak sebaya dengan Gatan, bernama Farel tersebut.“Woi gabut cuy… ngumpul ke kafe yok?” Ajak gatan dibalik layarnya. Sosok farel lengkap dengan poster tubuh yang sangat jelas dihadapan layarnya itu tersenyum. “Gas kuen Tan.” Balas farel yang lagi asyik duduk di sofa emmpuk rumahnya. Sama dengan yang keadaan farel, terlihat sosok Gatan jelas dibalik layar miliknya. “Woke, jangan lupa, yang lain ajak yo.” tambahnya Gatan. Farel pun membalas dengan acungan jempol tangan kanan serta disusul dengan lambaian tangannya. Dan kemudian Gatan pun memencet tombol merah, menandakan berakhirnya obrolan mereka berdua. Masing-masing dari mereka pun, bersiap-siap untuk pergi ngumpul ke kafe.Lalu lalang penghuni bumi terus berputar, dengan berbagai alat kecanggihan yang sudah terobsesi oleh mereka semua. Tak milih anak kecil, anak dewasa, orang tua semua sudah terhipnotis dan bisa mengaplikasikannya. Jika zaman Dulu para penghuni bumi ingin mengambil foto dengan kamera flim, atau kamera digital ataupun smartphone, sekarang tidak lagi. Jika dulu mereka ingin melangkahkan kakinya atau sekedar beranjak dengan perantara kaki atau kendaraan, sekarang tidak lagi. Jika anak sekolah dulu belajar menyimak penjelas guru kemudian menulis di atas kertas, sekarang tidak lagi. Dan intinya semua tidak lagi sama seperti zaman dulu, cukup dengan sebuah ucapan dan sebuah alat bantu canggih (mesin) semua bisa dilakukan. Entah saking canggihnya dan cepatnya perbuhan alat di dunia ini, membuat segala aktivitas tampak lebih senang dan gampang dikerjakan.Sudah tibalah zaman sekarang dengan sebutan zaman fase keempat atau bisa menyebutnya dengan revolusi industri 4.0. Dimana sudah tergambar oleh kehidupan anak bernama Gatan dan teman-temannya saat ini. Mereka semua berkumpul di sebuah kafe. Tampak robot-robot berseragam sama sedang melakukan aktivitasnya. Ya mereka adalah pekerja kafe, tidak lagi dengan namanya pekerja seorang manusia, semua telah tergantikan oleh robot.Gatan, Farel dan tiga temanya saat ini, sedang duduk santai melingkar disalah satu tempat yang disajikan oleh kafe. Sistem pemesanan tidak lagi dengan menghampiri pelanggan. Dengan layar virtualy di meja makan, Gatan dan temannya memasan makanan dan minuman yang mereka sukai. Kemudian masing-masing dari mereka saling becanda ria, mengobrol sesukanya.Lantas Gatan dan temannya itu tidak sekolah kah? Sekolah, ya mereka sekolah tapi tidak dengan tatap muka dengan seorang guru, mereka sekolah masih tetap dengan layar virtualy.Empat menit berlalu datanglah tiga robot mebawa makanan serta minumana yang dipesan oleh Gatan dan yang lain. Sebuah mangkok dan gelas terisi dan kehormatan diberikan kepadanya. Kemudian mereka berlima langsung menerimanya, dan menyantapnya.Sempat terlintas dalam pikiran anak kecil beranama Gatan itu tentang anak-anak seusianya zaman dulu. Apakah sama dengan yang telah dunia alami saat ini atau tidak? Dan mengira-ngira permainan apa yang dimainkan.“Oh iya kawan, mungkin kalian tahu permainan anak-anak dulu seperti apa?” Gatan mencoba bertanya tentang pikiran yang sempat terlintas tadi. Farel dan tiga temannya saling bertatap muka dan menggelengkan kepala. “Kenapa gak tanyakan ke mbah gogle aja Tan.” Saran satu teman Gatan anak bernama Yogi. “Iya tuh.” Tambahnya Reza dan Kamil bersamaan.Tanpa pikir panjang Gatanpun langsung memencet layar virtualy miliknya dan mencarinya di aplikasi gogle. Perlahan Gatan mengetik dengan bacaan permainan anak zaman dulu. Pertama mucul sebuah deskripsi plus dengan gambar permainan anak zaman dulu. Empat teman lainnya yang awalnya fokus sama makannan dan minuman, kini mereka juga terbelalak melihat dan membaca deskrisinya.Diantaranya deskripsi dan gambar yang disajikan dari layar virtualy gatan; Petak umpet: satu anak menjadi penjaga dengan menutup mata sesuai waktu ditentukan. Dan yang lain mencari tempat bersembunyi … Gundu atau kelereng: bentuk bola kecil, warna kaca bening. Caranya dengan menyentil gundu dengan mengarahkan gundu milik musuh. Dan jika mengenai maka ia mendapatkan. Egrang: dua tongkat panjang yang bagian tengahnya diberi pembatas. Caranya dengan naikkan kaki pada pijakan enggrang, kemudian berjalan, jika jatuh diberi hukuman … Gobak sodor: permaianan dibagi dua kelompok dengan masing-masing kelompok menjaga benteng … Engklek : permaianan yang dialkuakan perorongan. Menggambar kotak-kotak terlebih dahulu kemudian setap orang memainkannya dengan cara melompati kotak-kotak tersebut secara bergiliran dengan satu kaki … Layang-layang: sebuah maianan yang dibuat dari irisan bambu serta dengan kertas yang dibentuk apa saja. Caranya dengan menerbangkan ke udara …Seusai Gatan, dan empat tema lainnya membaca dan melihat ilustrasi gambar tersebut, mereka semua menggangguk. Dilihat dari sektor mimik wajah mereka kegirangan ingin mecoba. Tapi apalah zaman sekarang sudah tidak lagi seperti zaman dulu. Mungkin cara mentradisikan tradisi lama itu susah.“Coba nonton videonya Tan, kayaknya seru deh” usul Farel kepada Gatan. Gatan pun langsung menggulirkan layarnya dan memencet tombol bacaan video kemudian muncul berbagai video pemainan zaman dulu. Seperti deksripsi di atas. Dengan berurutan Gatan menyetel video paling atas yakni tentang permaiana petak umpet.Sorotan mata anak kecil kelima ini teralih dengan penuh kefokusan pada video di hadapannya tersebut. Video yang menampilkan lima anak zaman dulu sedang memainkan petak umpet. Tak disangka Gatan dan temannya itu terbayang seakan mereka authornya (lima anak pemain petak umpet). Tampak masing-masing dari wajah mereka tersenyum dan bahagia yang tak terduga.Seketika itu Gatan menyadari kalau pemainan anak zaman dulu adalah permainan yang sangat mengasyikkan, terbaik dan tidak bisa tergantikkan dari permaianan zaman sekarang. Begitupun dengan teman-teman Gatan ikut sadar tentang hal sebenarnanya.“Woi … gimana kita mainkan yang aslinya atau kita berlima ini mari mengaktifkan kembali permaiana anak zaman dulu” gatan berusul dengan kesemangatan yang terpancar dalam dirinya. “Setuju” jawab bersamaan mereka berempat dengan kompak dan wajah yang penuh seri-seri. Dari persetujuan kelima anak kecil ini, telah menjadikann sebuah tanda menuju bukti untuk mengenallkan permainan zaman dulu yang telah terkuburkan.
Dongeng Nusantara Pendek : Legenda Putri Pinang Gading
Alkisah pada masa silam di daerah Membalong, Bangka Belitung, hiduplah sepasang suami istri yang sudah cukup berumur. Walaupun telah lama menikah, pasangan suami istri itu belum dikaruniai keturunan.Sehari hari mereka bekerja bersama mencari ikan sambil menanam padi di sawah mereka yang tak seberapa besar.Meski kehidupan mereka tergolong miskin, suami istri itu hidup bahagia.Pada suatu ketika, sang suami pamit hendak melihat sero ikannya yang dipasang di pinggir laut.Alat penangkap ikan berupa bilik bilik dengan lubang kecil sebagai pintu masuk itu biasa dipanen ketika air laut tengah surut.Dengan membawa keranjang, sang suami berangkat pagi itu.Ketika hendak mendekati seronya, sang suami merasa kakinya menyentuh sesuatu.“Apa ini?”, kata sang suami sambil menunduk memperhatikan sebuah benda yang berada dekat kakinya.“Ah, ternyata sebilah bambu..”, gumamnya sambil mengambil bambu yang tak seberapa besar itu. Sang suami mengamati bambu itu sebentar sebelum melemparkannya ke laut.Sang suami sungguh gembira melihat seronya yang dipenuhi ikan. Ia segera memindahkan ikan ikan itu ke dalam keranjang yang dibawanya. Ketika tengah asyik bekerja, sang suami kembali merasa kakinya menyentuh sesuatu. Ia menunduk untuk melihat benda apakah gerangan itu.“sebilah bambu lagi ?’, gumamnya pelan. “Banyak sekali bambu di sekitar sini..”, pikirnya heran.Sang suami mengambil bambu itu, mengamatinya sebentar dan melemparkannya ke tengah laut.Usai sudah pekerjaan sang suami. Semua ikan dari seronya telah dipindahkan ke dalam keranjang. Ketika hendak beranjak pulang, lagi lagi sang suami merasa kakinya menyentuh sesuatu. Sungguh heran, dilihatnya sebilah bambu berada dekat kakinya. Sang suami segera mengangkat bambu itu dan mengamatinya.“Aneh sekali…”, gumamnya heran. “Ini kan bambu yang tadi kulempar kelaut..”, pikirnya sambil membolak balik bambu itu. “Bagaimana ia kembali kesini sementara laut sedang surut ?”, sang suami tak habis pikir akan bambu yang beberapa kali menyentuh kakinya itu.Ia memutuskan untuk kembali melempar bambu itu ke tengah laut.Namun demikian bambu itu seakan mengikuti sang suami. Entah darimana datangnya, tiba tiba kaki sang suami kembali menyentuh bambu itu.“Sungguh aneh..”, pikirnya sambil meraih bambu itu. “Mengapa bambu ini seakan mengikutiku ?”, sang suami merasa sangat heran.“Jangan jangan ini bambu ajaib. Sebaiknya kubawa pulang saja”, ujarnya pelan sambil mengikat bambu itu diatas keranjang ikannya.Saat tiba di rumah, sang suami lupa menceritakan perihal bambu itu kepada istrinya. Iapun tak melepaskan bambu itu dari keranjang ikannya. Sang suami bahkan tak tahu kalau istrinya menggunakan bambu itu sebagai penahan padi yang tengah dijemur agar tak diterbangkan angin.Beberapa hari kemudian, ketika tengah duduk bersantai menikmati matahari pagi, pasangan suami istri itu dikejutkan oleh sebuah suara ledakan. Mereka segera bangkit berdiri dan mencari asal suara. Ketika sampai di samping rumah, pasangan suami istri itu terkejut melihat seorang bayi perempuan diatas tumpukan padi.Didekatnya terlihat sebilah bambu yang dibawa pulang sang suami tempo hari terbelah dua.“Lihat Pak….”, teriak sang istri sambil berlari menghampiri bayi perempuan itu. “Bambu itu memberi kita seorang bayi rupanya..”, katanya lagi sambil meraih bayi itu.Sang suami teringat akan bambu ajaib yang ditemukannya dipinggir laut. “Rupanya benar bambu itu adalah bambu ajaib..”, pikir sang suami senang.Ia sangat gembira Tuhan mengaruniakan mereka seorang anak dengan perantaraan bambu itu.Sang istri menimang nimang bayi perempuan yang berparas cantik itu dalam gendongannya. Mereka membawa bayi itu ke dalam rumah. Hari terus berlalu. Sepasang suami istri itu merawat bayi mereka dengan baik dan memberinya nama Putri Pinang Gading. Keduanya sangat mencintai bayi itu.Tak terasa Putri Pinang Gading telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita. Ia memiliki kesukaan yang jarang dimiliki anak perempuan. Kesukaannya memanah sedari kecil membuat Putri Pinang Gading menjadi seorang pemanah ulung. Keahliannya itu digunakannya untuk berburu. Ayahnya dengan setia selalu menemaninya ketika putri semata wayangnya itu hendak pergi berburu ke hutan.Pada suatu hari terdengar berita bahwa kampung tetangga mereka mendapat serangan seekor burung buas yang bertubuh besar. Bukan hanya hewan ternak yang dimangsanya, burung itu bahkan telah memangsa seorang penduduk. Akibatnya tak ada warga yang berani keluar rumah. Putri Pinang Gading sangat prihatin mendengar berita itu. Ia berniat menggunakan keahliannya memanah untuk menolong.“Ayah, aku ingin sekali menolong kampung tetangga kita..”, ujar Putri Pinang Gading ketika tengah menyantap makan malamnya. Sang ayah terkejut. Begitu pula dengan ibunya. Bukan mereka tak menghargai niat baik putri mereka, namun bahaya yang mengancam membuat pasangan suami istri itu takut kehilangan Putri Pinang Gading.“Sebaiknya kau berpikir lagi putriku…”, ujar sang ayah berusaha membujuk. “Ayah dengar burung itu besar dan ganas. Ayah takut kau dimangsanya nak..”, tambahnya lagi.“Iya putriku, benar apa yang dikatakan ayahmu..”, kata sang ibu dengan suara menahan tangis. “Kami takut terjadi sesuatu padamu nak..”.Putri Pinang Gading tetap pada pendiriannya. Ia yakin mampu menolong kampung tetangganya itu. Orang tuanyapun akhirnya menyerah. Meski dengan berat hati, sepasang suami istri itu mengijinkan Putri Pinang Gading berangkat ke kampung tetangga esok pagi.Malam itu juga Putri Pinang Gading menyiapkan busur dan anak anak panah yang telah dilumuri racun. Sang ayah ikut membantu putrinya. Mereka menyiapkan semuanya dengan hati hati. Setelah persiapannya dirasa cukup, Putri Pinang Gading segera tidur agar dapat berangkat pagi pagi sekali.Setelah menempuh perjalanan setengah hari, Putri Pinang Gading tiba di kampung tetangga. Suasana kampung itu sungguh sepi karena tak ada seorangpun yang berani keluar rumah.“Jika begini terus, lama lama penduduk kampung ini akan kelaparan”, pikirnya sambil mengamati keadaan sekeliling. “Darimana mereka mendapat bahan makanan jika keluar rumah saja tak berani ??”, gumamnya sedih.Putri Pinang Gading berjalan perlahan lahan menyusuri kampung dengan waspada. Ia memilih berjalan di bawah pepohonan agar kehadirannya tak diketahui Gerude, nama burung besar itu. Setelah berjalan beberapa lama, Putri Pinang Gading memilih menunggu Gerude di bawah pohon besar dipinggir danau. Dugaannya tepat. Tak berapa lama kemudian ia melihat burung ganas itu terbang menukik dan mendaratkan tubuhnya di pinggir danau.Gerude yang tengah asyik minum air danau tak menyadari kalau dirinya sedang diamati. Putri Pinang Gading melihat burung itu dengan seksama dari balik pohon besar di dekatnya. Dengan sangat perlahan, Putri Pinang Gading menurunkan busurnya dan menyiapkan sebuah anak panah beracun. Ketika dirasa saatnya telah tiba, ia segera melepas anak panah yang melesat kencang dan kemudian menancap di dada Gerude. Burung itu terkejut sekali. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang dengan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.Racun yang dioleskan Putri Pinang Gading pada anak panahnya bereaksi dengan cepat. Burung ganas itu berteriak kesakitan sambil terbang berputar putar di udara. Tak memakan waktu lama, Putri Pinang Gading melihat Gerude jatuh terhempas di tanah lapang di pinggir danau. Ia mati seketika. Warga yang terkejut mendengar suara Gerude yang keras berhamburan keluar rumah. Mereka ingin tahu apa yang tengah terjadi pada burung itu.Alangkah senangnya warga yang menyaksikan burung ganas yang meresahkan kampung itu telah mati. Kabar matinya Gerude segera tersiar ke seluruh kampung. Penduduk ramai berdatangan mengerumuni mayatnya. Mereka sangat berterimakasih pada Putri Pinang Gading yang telah menolong mereka. Putri Pinang Gadingpun tak kalah gembira. Ia bahagia bisa membunuh burung ganas itu. Dengan demikian penduduk bisa hidup kembali dengan tenang.Alkisah tanah lapang tempat jatuhnya Gerude kemudian berubah manjadi tujuh buah anak sungai. Adapun anak panah yang mengenai dada burung itu berubah menjadi rumpun bambu yang beracun. Oleh masyarakat setempat, pohon bambu itu diberi nama bulo berantu yang berarti bambu beracun. Bambu itu dapat meracuni siapa saja yang bagian tubuhnya tersayat olehnya.
Cerita Rakyat Putri Niwerigading dari Aceh
Cerita rakyat Putri Niwerigading yang sangat terkenal di Aceh merupakan suatu cerita turun temurun yang mengisahkan tentang kehidupan seorang anak bernama Amat Mude yang lahir ketika sang ayah meninggal.Ia kemudian diperlakukan buruk oleh pakciknya sebagai raja yang berkuasa saat itu. Amat Mude pun tumbuh dengan perlakuan buruk tersebut namun ia menjadi orang yang tetap berbuat baik dan sabar dengan kehidupannya .Lalu apa yang terjadi dengan Amat Mude dan siapa Putri Niwerigading? Yuk simak kisah selengkapnya berikut ini!Di negeri Alas yang termasuk wilayah Nangroe Aceh Darussalam, dahulu hidup seorang raja bijaksana yang sangat dicintai rakyatnya. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana.Namun sayangnya, kehidupan raja tidak berjalan mulus karena ia tidak kunjung dikaruniai seorang putera. Meski begitu, raja tidak putus asa. Ia masih tetap berdoa sambil berpuasa hingga suatu hari, permaisuri mengandung.Setelah sembilan bulan kemudian, permaisuri pun melahirkan seorang putera yang diberi nama Amat Mude. Hanya saja belum genap umur setahun, sang raja meninggal dunia. Karena Amat Mude yang bakal meneruskan tahta sang ayah masih bayi, adik raja yang akhirnya meneruskan tahta sang raja untuk sementara.Adik raja tersebut bernama Raja Muda. Hanya saja setelah diangkat menjadi raja, Raja Muda bertindak semena – mena bahkan terhadap Amat Mude dan ibunya. Mereka diasingkan. Hal tersebut dilakukan Raja Muda lantaran ia berambisi menjadi raja selamanya tanpa digeser oleh Amat Mude kelak ketika Amat Mude dewasa.Meski mendapat perlakuan seperti itu, ibu Amat Mude berusaha tegar dan sabar. Ia membesarkan Amat Mude dengan penuh kasih sayang dan perhatian hingga Amat Mude pun tumbuh menjadi pria yang cerdas dan tampan.Amat Mude suka memancing ikan di sungai. Suatu hari, Amat Mude dan ibunya pergi ke sebuah desa di pinggir hutan untuk menjual ikan hasil tangkapannya. Tak disangka, ia bertemu saudagar kaya. Saudagar tersebut ternyata masih mengenali ibu Amat Mude.Ia pun bertanya, “Mengapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?”Akhirnya ibu Amat Mude yang dulunya merupakan seorang permaisuri raja ini menceritakan semua kisahnya. Mendengar hal tersebut, sang saudagar kaya mengajak mereka ke rumahnya dan saudagar tersebut pun membeli semua ikan yang dijual oleh Amat Mude dan ibunya.Sesampainya di rumah saudagar, saudagar tersebut menyuruh istrinya memasak ikan. Namun ketika ikan sedang dimasak, ia kaget karena ketika ikan dipotong di bagian perut dari sana muncul telur ikan berupa emas dalam jumlah banyak.Istri saudagar pun menjual emas tersebut ke pasar dan mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang kemudian uangnya digunakan membangun rumah untuk Amat Mude dan ibunya. Akhirnya Amat Mude dan ibunya pun memiliki rumah yang layak dan hidup berkecukupan.Cerita tentang Amat Mude dan ibunya yang sekarang sudah mapan dan kaya sampai juga di telinga Raja Muda. Suatu hari, Raja Muda memanggil Amat Mude ke istana. Ia memerintahkan Amat Mude untuk memetik kelapa gading dimana kelapa gading tersebut akan digunakan mengobati penyakit istri Raja Muda.Hanya saja kelapa gading tersebut harus diambil di sebuah pulau yang dihuni banyak binatang buas. Jika tidak berhasil, Amat Mude akan mati. Itulah yang juga diucapkan oleh Raja Muda kepada Amat Mude. Namun karena niat hatinya untuk membantu, Amat Mude pun tak gentar.Setibanya di pantai, Amat Mude duduk termenung. Tiba – tiba muncul seekor ikan besar dihadapannya yang mengaku bernama Si Lenggang Raye. Ikan tersebut didampingi raja buaya dan seekor naga besar.Ternyata ikan tersebut berniat membantu. Berkat bantuan mereka, Amat Mude pun menemukan pohon kelapa gading yang akan dipakai mengobati istri Raja Muda. Ia pun memanjat pohon tersebut. Namun tiba – tiba terdengar seorang perempuan berkata “Siapa pun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, dia akan menjadi suamiku”.Amat Mude terkaget. Ia pun bertanya, “Siapakah Engkau?”“Aku Puteri Niwerigading” ungkapnya.Amat Mude pun cepat – cepat memetik kelapa gading. Setelah turun dari atas, ia pun bertatap muka dengan Puteri Niwerigading dan sangat takjub dengan kecantikannya. Amat Mude pun pulang dan mengajak sang puteri pulang untuk mempersuntingnya.Setelah menikah, Amat Mude beserta sang istri dan ibunya berangkat ke istana untuk memberikan buah kelapa gading kepada sang paman, Raja Muda. Raja Muda sangat heran dengan kedatangan Amat Mude dengan selamat. Akhirnya Raja Muda pun meminta maaf dan sekaligus berterima kasih karena Amat Mude masih mau membantunya.Raja Muda yang sadar dengan kesalahannya pun, berusaha menebus kesalahan dan dosanya dengan menobatkan Amat Mude sebagai Raja Negeri Alas, pengganti dirinya.
Dongeng Sunda : Kisah Pangeran Pande Gelang
Pada zaman dahulu, di sebuah Kerajaan hiduplah seorang Putri Raja yang bernama Arum. Ia memilki paras yang sangat cantik jelita. Banyak Pangeran yang datang untuk menjadikannya Permaisuri. Dari sekian banyak Pangeran, tersebutlah dua orang Pangeran teman perseguruan menginginkan Putri Arum sebagai istrinya. Kedua Pangeran tersebut bernama, Pangeran Sae Bagus Lana dan Pangeran Cunihin. Keduanya memiliki kesaktian yang sama-sama tinggi. Namun, sifat mereka sangat berbeda. Pangeran Sae Bagus Lana memiliki sifat yang sangat baik hati. Sedangkan Pangeran Cunihin sifatnya sangat tercela. Mengetahui perwatakan kedua Pangeran tersebut. Putri Arum memilih Pangeran Sae Bagus Lana.Menerima kenyataan bahwa bukan dirinya yang di pilih Putri Arum, Pangeran Cunihin sangat marah. Karena rasa marah dan malu, ia pun menyusun rencana untuk mengambil kesaktian Pangeran Sae Bagus Lana dan untuk merebut Putri Arum. Suatu hari, ia pun berhasil melaksanakan niat jahatnya. Dengan kesaktian, ia merubah Pangeran Pande Gelang menjadi seorang Kakek Tua yang sangat hitam dan jelek.Pangeran Sae Bagus Lana pun terkejut karena ia berubah menjadi seorang Kakek Tua. Ia pun akhirnya pergi menemui Gurunya untuk meminta petunjuk. Gurunya pun memberikan saran Pangeran Sae Bagus membuat sebuah gelang besar yang bisa di lewati oleh manusia. Jika Pangeran Cunihin dapat melewati Gelang tersebut. Maka, kesaktiannya akan hilang. Dan kesaktian Pangeran Sae Bagus Lana akan kembali dan berubah menjadi Pangeran tampan.Setelah mendengar nasihat dari Sang Guru. Ia pun segera pergi ke sebuah kampung untuk menjadi pembuat gelang. Sejak saat itu lah Pangeran Sae Bagus Lana di sebut dengan Ki Pande Gelang.Pada suatu hari di Bukit Manggis terlihat seorang putri yang sangat cantik duduk terpaku. Tatapan matanya kosong, ia terlihat sedih. Melihat gadis cantik tersebut tidak asing baginya. Ia adalah Putri Arum yang sedang bersedih karena tidak mau menikah dengan Pangeran Cunihin yang terkenal kejam dan jahat. Ki Pande sangat senang melihat kekasihnya. Namun, ia tidak dapat mengatakan yang sebenarnya siapa dirinya.‘’ Tuan Putri?’’ sapa Ki PandeSang Putri tidak menjawab. Dia sangat larut dalam kesedihannya, sehingga tak menyadari kehadiran Kakek itu. Ki Pande pun mengulang apaannya.‘’ Tuan Putri?’’Contoh Dongeng Sunda Kisah Pangeran Pande GelangContoh Dongeng Sunda Kisah Pangeran Pande GelangSang Putri tidak segera menjawab. Ia hanya menoleh memperhatikan dengan penuh seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Kulitnya yang hitam legam. Namun Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik.‘’ Saya perhatikan dari tadi. Tuan Putri terlihat sangat sedih. Ada apa ?’’ Tanya Ki Pande‘’ Saya memang sedang bersedih. Namun, tidak ada gunanya saya menceritakan masalah ini kepada orang lain.’’ Jawab Putri Arum.‘’ Baiklah Tuan Putri maafkan saya. Saya telah mengganggu dan ikut campur dalam masalahmu!’’ ujar Lelaki tersebut, ia pun bersiap untuk pergi. Namun, tiba-tia Putri Arum mencegahnya.‘’ Tunggu Tuan. Siapa nama mu Tuan?’’ Tanya Lelaki itu.‘’ Aku adalah orang yang membuat gelang. Banyak orang memanggil saya dengan nama Ki Pande. Lalu, Tuan Putri siapa namanu?’’ Tanya Ki Pande.“Namaku Putri Arum,” jawab sang Putri.Kemudian Ia menceritakan keadaan dirinya yang saat ini sedang mengalami masalah.‘’ Saat ini aku sedang bersedih. Sebentar lagi, aku akan di nikahkan dengan seorang Pangeran yang tidak aku cintai. Ia adalah seorang pangeran tampan yang bernama Pangeran Cunihin. Walaupun parasnya tampan rupawan, Pangeran Cunihin sangat bengis dan kejam. Semua orang takut kepada pangeran Cunihin karena memilki kesaktian yang sangat tinggi. Semua keinginan Pangeran Cunihin harus dipenuhi, jika tidak dipenuhi dia tidak segan-segan memberikan hukuman yang sangat berat.’’ Ujar Putri Arum menangis.‘’ Lalu apa yang sedang Tuan Putri lakukan dibukit ini?’’ Tanya Ki Pande.“Saat aku sedang meminta petunjuk dari yang maha kuasa, aku diberi petunjuk agar menenangkan diri di Bukit Manggis. Kelak akan datang seorang pangeran sakti yang dapat menolongku. Tapi, hingga kini pangeran itu tidak kunjung datang. Sebentar lagi, Pangeran Cunihin pasti akan datang ke istana untuk menikahiku.” Jawab Putri Arum mengusap air matanya.Ki Pande mendengarkan cerita Putri Arum dengan seksama, dia mengangguk-angguk tanda paham dengan keadaan yang melanda sang putri.‘’ Sebelumnya maafkan hamba jika terlalu lancang. Namun, bolehkah hamba memberikan saran untuk masalah yang sedang Tuan Putri hadapi?’’ ujar Ki Pande‘’ Silahkan Ki Pande.’’ Jawab Putri Arum penuh harap.‘’ Terima kasih Putri. Menurut hamba. Sebaiknya terima lamaran tersebut.’’ Ujar Ki Pande.‘’ Apa kau sudah gila Ki Pande? Aku harus menerima lamaran dari Pangeran Cunihin? Lelaki yang sangat aku benci! Tidak Ki Pande! Aku tidak mau dipersunting olehnya. Aku tidak mau menjadi istri seorang Pangeran yang jahat.’’ Ujar Putri Arum marah.Ki Pande sangat terkejut melihat kekasihnya marah, tapi dia berusaha tetap tenang‘’ Tenanglah Putri. Saran saya, Tuan Putri terima lamaran itu. Namun, ajukan sebuah persyaratan. Syaratnya adalah Pangeran Cunihin harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Katakan saja kepadanya kalau batu keramat itu akan kalian gunakan untuk berbulan madu. Batu itu harus diselesaikan dalam waktu tiga hari dan diletakkan di pesisir pantai.” ujar Ki Pande menjelaskan.“Bukankah syarat itu sangat mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?” tanya sang Putri.“Tapi tidak semua orang mau melakukannya. Sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari kemampuan orang tersebut akan hilang. Setelah kesaktian Pangeran Cunihin hilang, hamba yang akan melanjutkan rencana ini ” Ki Pande menjawab ke khawatiran Sang PutriMendengar penjelasan dari Ki Pande. Putrid Arum pun akhirnya menyetujui saran yang diberikan tersebut. Ki Pande mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya. Tempat tinggal Ki Pande sangat jauh. Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana. Putri Arum yang tidak biasa berjalan jauh, tampak sangat kelelahan, sudah hampir setengah hari. Mereka belum juga sampai. Tepat ketika sampai di desa tempat tinggal Ki Pande, Putri Arum jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas.Para penduduk membantu Ki Pande menolong Putri Arum. Ki Pande Membawa Putri Arum ke rumah salah seorang penduduk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang sesepuh kampung mengatakan bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui batu cadas.Beberapa penduduk langsung mencari sumber air itu. Sesaat, Keajaiban pun terjadi. Setelah meminum air yang berasal dari batu cadas, Putri Arum langsung sadarkan diri. Setelah kejadian itu, ia dikenal sebagai Putri Cadasari.Ki Pande pun mulai sibuk membuat sebuah gelang yang sangat besar digunakan untuk menghancurkan kesaktian Pangeran Cunihin. Gelang tersebut akan di buat sebesar batu keramat. Jika Pangeran Cunihin sampai melewatina. Maka, seluruh kesaktianya akan hilang dalam sekejap.Karena kesaktian Pangeran Cunihin, ia dapat mengetahui bahwa Putri Arum berada di rumah Ki Pande. Pangeran Cunihin pun segera menemui Putri Arum untuk di jadikan sebagai istrinya.Akhirnya, yang di tunggu-tunggu telah tiba. Putri Cadasari atau Putri Arum mengajukan persyaratannya kepada Pangeran Cunihin. Dengan kesombongannya Pengeran menyanggupi persyaratan tersebut. Dengan kesaktiannya, belum tiga hari. Pangeran Cunihin dapat menyelesaikan batu keramat tersebut. Putrid Cadasari pun mulai gelisah. Pengeran Cunihin dengan sangat mudah menyelesaikannya. Akhirnya, Ki Pande menyuruh Putri Cadasari untuk mengajukan persyaratan kedua. Yaitu Pangeran Cunihin harus melewati lubang batu keramat tersebut. Sementara Ki Pande sudah meletakkan gelang sakti buatannya pada lubang batu tersebut.Dengan sangat angkuh, ia pun melakukan syarat ke dua yang diajukan Putri Cadasari. Dalam sekejap, setelah melewati lubang batu tersebut. Pangeran Cunihin kehilangan kesaktiannya dan berubah menjadi seorang lelaki tua. Dan ki Pande pun berubah menjadi wujud aslinya. Melihat kejadian tersebut membuat Putri Cadasari sangat kebingungan.Akhirnya, Ki Pande pun menjelaskan kejahatan Pangeran Cunihin dan ia berubah menjadi lelaki tua yang berkulit legam. Putri Cadasari sangat berterima kasih karena telah menyelamatkannya dari Pangeran Cunihin. Mereka pun akhirnya menikah dan hidup sangat bahagia.Tempat Pangeran Cunihin menemukan batu keramat itu kini bernama Kramatwatu. Dan batu keramat yang telah berlubang itu dinamakan Karang Bolong.Tempat mengambil batu keramat tersebut kemudian dikenal dengan Kampung Kramatwu, dan batu besar berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan Tempat sang Putri melaksanakan wangsit di Bukit Manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Sementara tempat Putri disembuhkan dari sakitnya sampai kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang, tempat Pangeran Pande Gelang membuat gelang.’
Dongeng Cerita Rakyat dari Bangka Belitung
Diceritakan, hiduplah seorang perempuan tua. Ia tinggal bersama anak tunggalnya, Dempu Awang, di sebuah dusun terpencil, di Mentok. Kehidupan mereka serba kekurangan. Hal inilah yang mendorong Dempu Awang untuk mencari pekerjaan di negeri orang.Dengan berbekal doa restu dari ibunya, Dempu Awang pun berangkat menuju kota pelabuhan. Sepuluh tahun telah berlalu, kini Dempu Awang telah menjadi orang kaya dan beristri cantik. Pada suatu hari, ia berniat menjenguk ibunya dengan membawa serta istrinya. Berangkatlah mereka berlayar dengan sebuah kapal besar yang megah dan indah, menuju Mentok.Singkat cerita, Dempu Awang dapat bertemu dengan ibunya. Namun, ketika melihat ibunya dengan pakaian compang-camping, tiba-tiba ia berubah pikiran dan bertanya dalam hatinya, benarkah itu ibunya. Dempu Awang tak juga menegurnya, maka berkatalah perempuan tua itu, “Dempu Awang, lupakah kau akan ibumu? Mendekatlah, ibu ingin lihat tanda di keningmu, goresan akibat kau terjatuh waktu kecil.”Sambil berkata demikian, ibunya berusaha menyentuh Dempu Awang yang tak bergerak sedikitpun. Dempu Awang dengan cepat menepis tangan gemetar ibunya. Lalu, Dempu Awang mendorong perempuan itu hingga terjatuh.Melihat hal itu, istrinya segera, bersujud di kaki suaminya dan memohon untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya.Istrinya berkata, “Suamiku, janganlah kau turutkan nafsumu. Bukankah jauh jauh kita ke mari untuk menjenguknya? Aku mohon!” ratap istri Dempu Awang.“Ia bukan ibu kandungku. Ia telah mengaku-ngaku sebagai ibu kandungku, karena harta yang dia inginkan,” jawab Dempu Awang. Mendengar semua itu, hati ibu Dempu Awang sangat terluka. Ia pun berdiri dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa dengan suara yang terbata-bata, “Ya Tuhan, Engkau Maha Kuasa atas segalanya, ampuni hamba yang hina ini. Hukumlah anak yang telah melupakan ibunya sendiri.” Dalam jerit tangisnya, terucaplah kata-kata kutukan terhadap anaknya yang durhaka.Ketika ibunya masih berdoa, Dempu Awang segera bertolak dari pelabuhan. Tidak lama kemudian, tiba-tiba terjadi hujan badai, sehingga menghancurkan kapal mewah milik Dempu Awang. Keesokan harinya, penduduk setempat menemukan bongkahan batu yang sosoknya mirip manusia dan sebuah kapal. Itulah tubuh dan kapal Dempu Awang yang telah berubah wujud menjadi batu. Sementara itu, istrinya dipercaya telah berubah menjadi seekor kera putih.Pesan moral dari Dongeng Cerita Rakyat dari Bangka Belitung adalah Hendaknya kita selalu menghormati ibu dan menerimanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sikap sombong, lupa diri dan malu mengakui ibu kandung sendiri akan membawa bencana.
Dongeng Dari Jawa Barat : Kisah Ki Rangga Gading
Pada Zaman dahulu, disaat kota Tasik masih berupa “dayeuh” (kota) Sukapura, hidpulah seorang bernama Ki Rangga Gading. Dia dikenal sebagai orang yang sangat sakti. Namun sayang kesaktiannya itu dipergunakan untuk merampok dan mencuri. Ki Rangga Gading tidak pernah tertangkap, karena ia bisa merubah tubuhnya menjadi binatang, pohon, batu, atau air.Pada suatu hari, Ki Rangga Gading mencuri kerbau sebanyak lima ekor. Pencurian itu sengaja dilakukannya pada siang hari untuk pamer kesaktian. Warga sekampung pun beramai-ramai memburunya. Karena ketinggian ilmu Ki Rangga Gading, ia mengubah kaki-kaki kerbau menjadi terbalik, sehingga jejak telapak kaki kerbau berlawanan arah. Warga yang mengikuti jejak itu tertipu. Mereka semakin menjauh dari kerbau-kerbau itu.Warga memutuskan mengejar ke pasar. Sebab Ki Rangga Gading pasti akan menjual kerbau itu ke pasar. Tetapi dasar Ki Rangga Gading, ia mengubah tanduk kerbau yang tadinya melengkung ke atas menjadi ke bawah. Kulit kerbaunya yang tadinya hitam diubah menjadi putih. Maka, selamatlah ia dari kejaran massa dan polisi negara yang akan menangkapnya.Tersiar kabar, di Karangmunggal terdapat tanah keramat. Tanah itu mengandung emas. Lahan itu dijaga oleh polisi negara dan para tua-tua kampung agar tidak diganggu. Mendengar kabar itu, Ki Rangga Gading jadi tergiur ingin memilikinya. Ia segera naik ke atas pohon kelapa. Setelah sampai di atas, dibacoknya pelepah kelapa yang diinjaknya. Dengan ilmunya, pelepah itu terbang melayang menuju Karangmunggal.Sampai di Karangmunggal, Ki Rangga Gading mengubah dirinya menjadi seekor kucing agar tidak diketahui oleh polisi negara dan tua-tua kampung. Tentu saja para penjaga tertipu. Kucing jelmaan Ki Rangga Gading itu tenang-tenang saja mengeruki tanah yang mengandung emas itu. Kemudian dimasukkan ke dalam karung yang dibawanya. Setelah karungnya terisi penuh, Ki Rangga Gading segera terbang menggunakan pelepah yang tadi ditungganginya menuju ke kampung tempat persembunyiannya.Sebelum tiba di kampungnya, ia turun ingin berjalan kaki. Di tempat yang sepi, ia istirahat sambil membuka hasil curiannya. Lalu ia mengambil segenggam dan ditaburkan supaya tempat itu menjadi keramat. Sampai saat ini tempat itu dikenal dengan nama Salawu, berasal dari kata sarawu (segenggam).Kemudian Ki Rangga Gading melanjutkan perjalanan. Saat merasa lelah, ia beristirahat. Karung yang berisi tanah emas digantungkan pada dahan pohon. Sampai sekarang tempat itu terkenal dengan nama Kampung Karanggantungan terletak di Kecamatan Salawu. Nama itu berasal dari kata tanah Karangmunggal digantungkan.Ki Rangga Gading melanjutkan perjalanan lagi. Setelah lama berjalan, ia mulai banyak berkeringat. Ia berhenti untuk mandi dulu di suatu mata air. Karung yang dibawanya digantungkan lagi. Tapi karung itu berayun-ayun terus (guntal-gantel) tak mau diam. Sampai sekarang kampung itu dikenal dengan nama Kampung Guntal Gantel.Ketika Ki Rangga Gading sedang asyik mandi, tiba-tiba di hadapannya telah berdiri seorang tua. Wajahnya bercahaya dan menggunakan sorban serta jubah putih, ia seorang ulama yang tinggi ilmunya. Sambil tersenyum orang tua itu berkata, “Sedang apa Rangga Gading, tiduran di atas tanah sambil telanjang, seperti anak kecil saja?”Dongeng Dari Jawa Barat Legenda Ki Rangga GadingKi Rangga Gading terkejut, Ia sangat malu dan mendadak badannya merasa lemas tak berdaya. Ia memelas, “Duh Eyang ampun, tolonglah saya Eyang, saya lemas, tidak tahan Eyang, saya tobat, saya ingin jadi murid Eyang.” Sejak saat itu Ki Rangga Gading menjadi santri di Pesantren Guntal Gantel.Pada suatu ketika, Pesantren Guntal-Gantel tertimbun tanah longsor akibat gempa bumi. Waktu itu, ulama dan santri-santrinya sedang tilem (tidur). Konon, mereka menjadi kodok. Sebab itu tempat tersebut sangat angker, dan dinamakan “Bangkongrarang” berasal dari kata tanah yang dibawa dari karang dan loba bangkong (banyak katak).Sampai saat ini “Bangkongrarang” dan “Guntal Gantel” masih ada, tetapi hanya berupa tumpukan pasir di tengah sawah yang luas. Barang siapa berani masuk dan menginjak lahan itu akan merasakan akibatnya. Bila ada burung terbang melintasi lahan itu, ia akan jatuh dan mati seketika. Bila bulan puasa tiba, di tengah malam saatnya sahur, sering terdengar sayup-sayup dari tempat itu bunyi beduk. Jangan heran sebab itu adalah suara beduk santri-santri dari Pesantren Guntal-Gantel yang tilem dan dipimpin oleh Ki Rangga Gading.Pesan moral dari Dongeng Dari Jawa Barat : Legenda Ki Rangga Gading adalah gunakan ilmu mu untuk hal yang bermanfaat, maka akan banyak orang yang menghargaimu dan membuatmu menjadi orang yang bahagia.
Bayangan di Lembah Kering
Alya berlari menembus semak berduri, napasnya terputus-putus, lututnya perih, dan udara panas gurun menghantam wajahnya seperti pecahan kaca. Suara tembakan terdengar lagi, memantul di antara tebing batu yang menjulang. Ia menoleh sekilas dan menemukan satu-satunya hal yang membuatnya tetap bergerak, Arga, tepat di belakangnya, wajah penuh debu, tapi matanya masih tajam mengawasi keadaan sekitar."Alya, kiri!" teriak Arga.Ia meloncat ke samping, dan peluru menghantam batu di depan tempat ia berdiri. Pecahan serpihan beterbangan. Tubuhnya goyah. Arga menangkap lengannya, menstabilkan langkahnya. Sentuhan itu cepat, hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat jantung Alya berdebar lebih kencang dari ancaman kematian yang mengikuti.Mereka harus terus maju. Sudah tiga hari mereka terjebak di lembah kering ini, berusaha kabur dari kelompok pemburu bayaran yang sebelumnya menculik rombongan ekspedisi tempat mereka bekerja. Dari dua belas orang, hanya mereka berdua yang selamat. Selebihnya entah mati atau diangkut entah ke mana.Tiga orang lain yang kini bersama mereka hanyalah sisa-sisa kekuatan perjuangan, Reno, mantan tentara yang kini pincang setelah terkena ranjau buatan.Sera, mahasiswa magang yang mentalnya mulai retak setelah melihat kematian teman-temannya.Pak Darun, sopir tua yang lebih banyak berdoa daripada berbicara.Mereka bukan kelompok penyelamat yang ideal. Mereka hanyalah manusia-manusia yang belum sempat mati.Alya dan Arga kembali ke tempat persembunyian, celah sempit di antara bebatuan besar. Reno mengintip dari balik batu, wajahnya pucat."Mereka sudah makin dekat," katanya dengan suara pelan. "Aku bisa dengar suara ban mobil dari bawah lembah."Sera menutup telinganya. "Kenapa mereka terus kejar kita? Kita cuma peneliti. Kita bahkan ga ngerti apa yang mereka cari."Pak Darun menjawab lirih, "Karena mereka kira kalian tahu tempat penyimpanan artefak itu. Padahal kita bahkan belum lihat bentuknya."Alya duduk, menahan rasa sakit di kakinya. Debu kering menyatu dengan darah segar. Arga berlutut di depannya, memeriksa luka tanpa meminta izin. Tangan itu cekatan, tapi lembut. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kini mereka tak menyembunyikan perhatian satu sama lain. Situasinya terlalu kacau untuk pura-pura dingin."Kamu harus berhenti nekat lari seperti itu," gumam Arga.Alya memutar bola mata. "Kamu yang lambat."Bibir Arga terangkat tipis. Sekilas, mereka terlihat seperti orang normal yang sedang bercanda ringan, bukan dua manusia yang dikejar kematian. Reno memperhatikan interaksi itu dengan tatapan half-annoyed seperti orang tua yang muak melihat dua remaja saling jatuh cinta di tengah krisis hidup dan mati.Menjelang malam, suhu turun tajam. Udara menggigit tulang. Mereka berlima berlindung dalam gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang jatuh samar ke lembah. Suara serangga malam bercampur dengan langkah-langkah samar musuh yang semakin mendekat.Alya memejamkan mata, mencoba menenangkan napas. Tapi pikiran tentang tiga hari terakhir terus menghantuinya, jeritan, darah, tubuh-tubuh yang tertinggal, dan rasa bersalah yang mencengkram.Arga duduk tak jauh darinya. Ia menyentuh bahunya, pelan, tidak memaksa. "Tidur sebentar. Aku jaga."Alya membuka mata. "Kalau aku tidur, kamu kapan istirahat?""Kalau kamu mati kecapekan, aku harus lari sendiri. Itu lebih melelahkan."Alya menatapnya, mencoba membaca apakah ini candaan atau kebenaran pahit. Arga hanya menatap balik dengan mata yang tak lelah, hanya tekad. "Kita keluar sama-sama," katanya pelan.Untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu dimulai, Alya merasa dirinya masih manusia yang layak diselamatkan.Pagi berikutnya membawa ketegangan baru. Mereka mendengar suara mesin mobil mendekat. Lembah yang sempit memperkuat gema suara itu. Musuh makin dekat."Kita ga bisa diam di sini," kata Reno. "Mereka akan temukan kita.""Lari lagi?" Sera mulai panik. "Aku ga kuat.""Kita turun ke jurang itu," kata Arga sambil menunjuk celah sempit di dasar lembah. "Ada aliran air kecil di bawah. Kalau kita bisa ikuti itu, kita mungkin bisa keluar ke sisi timur.""Turunnya saja sudah bunuh diri," sahut Reno."Aku lebih pilih itu daripada ditembak di sini," timpal Arga.Mereka semua setuju. Pilihan buruk tetap lebih baik daripada tidak punya pilihan sama sekali.Turunan itu curam. Batuan licin. Alya hampir jatuh dua kali, tapi Arga selalu ada satu langkah di belakang, siap menangkapnya. Ketika mereka sampai di dasar, air sungai kecil menyambut, dingin dan jernih.Reno duduk terengah, wajah menahan sakit. Luka kakinya makin parah."Kita ga bisa bawa dia jauh," bisik Sera.Alya menatap Arga. Arga paham tanpa perlu dijelaskan. Ia mendekati Reno."Aku bisa jalan," kata Reno cepat, seolah membacanya. "Tapi kalau mereka sudah dekat, jangan pikirkan aku."Tidak ada yang menjawab.Mereka berjalan menyusuri sungai. Arus air kecil itu mengarah ke celah batu yang membentuk lorong sempit. Cahaya di ujungnya tampak seperti pintu keluar.Lalu terdengar teriakan dari belakang, "Mereka melihat kita!"Peluru memantul di dinding batu. Sera menjerit. Alya dan Arga menarik Reno, memaksanya berjalan lebih cepat. Pak Darun menangkupkan tangan, berdoa sambil berlari. Suara langkah musuh makin nyaring.Saat mereka hampir mencapai celah, Reno melepaskan pegangan."Sudah!" katanya. "Pergi. Sekarang!""Tidak," Alya menolak.Reno mendorong Arga. "Bawa dia. Kalau kalian berhenti, semua mati."Arga menarik Alya paksa. "Alya, jangan keras kepala."Reno berbalik, mengambil posisi bertahan di belakang batu, siap menghadapi musuh seorang diri. Tembakan pertama terdengar. Lalu kedua. Lalu hening.Alya ingin menoleh, tapi Arga menahan wajahnya agar tetap memandang ke depan. "Jangan lihat."Mereka masuk ke celah batu sempit dan merayap hingga akhirnya sinar matahari menyambut mereka di sisi timur lembah. Dari kejauhan terlihat jejak permukiman kecil."Kita selamat," gumam Pak Darun dengan suara gemetar.Alya jatuh terduduk, menangis diam-diam. Arga duduk di sampingnya, tidak menyentuhnya, hanya berada cukup dekat agar ia tahu bahwa ia tidak sendirian."Kita selamat," ulang Arga, kali ini lebih pelan. "Dan kita akan terus hidup."Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Alya percaya itu.
Mimpi Si Mayit
Ting.. ting… ting.. Kubuka mataku perlahan, kulihat jam tepat menunjukkan pukul 01.00, seperti biasa aku menggeliat dulu sebelum bangun dari ranjangku. Dari luar, sayup-sayup kudengar suara pak To menjemputku ke pasar.“Bu Mur.. bu Mur.. nggak ke pasar nih?” “Iya pak To, ini saya sedang bersiap tunggu sebentar ya” “Bu Mur.. Bu Mur.. sudah jam 01.15, nanti kesiangan lo bu katanya hari ini mau belanja agak banyak” “Iya ini saya datang pak To” “Bu Mur..” Kretek… “Pak To? Sebentar ya pak, saya bangunkan emak dulu” “Iya mas, tak tunggu di sini saja ya” ucap Pak To.Kemudian Sarpin berjalan ke kamarku, ia berusaha membangunkanku agar tidak kesiangan ke pasar. “Mak.. mak.. mak.. ayo bangun mak. Itu lo pak To sudah jemput” “Iya Pin.. Emak sudah bangun” “Mak.. mak.. mak… Ya Allah mak!! Innalillahi wa inna ilaihi rojiun” “Ada apa mas?” ucap pak To tergopoh-gopoh masuk ke kamar emakku “Pak To.. emak pak To” “Kenapa mas?” “Emak sudah tiada pak To” ucap Sarpin sambil berlinang air mata “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mas, kalau gitu saya tak ngasih kabar ke tetangga dan kawan-kawan pedagang sayur dulu ya supaya ada yang membantu kita menyemayamkan bu Mur” “Iya pak To, tolong saya”“Bocah gemblung! Emak e masih hidup kok dibilang mati. Hei, sarpin! Emak di sini. Sarpin! Hei.. Sarpin. Apakah kau tak melihat emakmu ini? Emak ada di sampingmu Sarpin” ucapku namun Sarpin tetap tak bergeming. Kupanggil lagi anakku namun tetap sama ia hanya terdiam. Aku semakin bingung ada apa dengan diriku. Tetanggaku berduyun-duyun datang ke rumahku padahal masih pukul 02.00.“Hei buk, toko saya belum buka. Saya mau belanja dulu ke pasar” ucapku sambil menyentuh bahu tetanggaku namun aneh, entah apa yang terjadi pada diriku. Tanganku tak mampu menyentuh bahu tetanggaku bahkan tubuhku dengan mudahnya mereka terobos seolah tak ada apa-apa.“Hu.. hu.. hu.. hu.. Emak.. jangan pergi.. hu.. hu.. hu..” “Sarpin, emak nggak pernah pergi kemana-mana, emak di sini duduk di sampingmu” ucapku sambil menyentuh bahu Sarpin namun tembus “Mas.. Emak sudah tiada, lalu siapa yang akan menemani kita mas? Hu.. hu.. hu..” tangis anak bungsuku Gito.Aku hanya terdiam, bingung melihat suami, anak, saudara dan tetanggaku menangis tersedu. Apa yang sedang terjadi pada kalian? Kenapa kalian menangisi aku? Aku ada di sini. Lalu, mereka bergotong royong mengganti bajuku bahkan mereka tak tanggung-tanggung menggunting bajuku.“Hei.. jangan! Apa yang kalian lakukan?” namun mereka tetap saja menggunting setiap serat kain bajuku. Kemudian mereka menggantinya dengan jarik dan dari dagu hingga kepalaku mereka ikat dengan kerudung. Setelah itu, mereka bergotong royong mengangkat tubuhku. Diletakkannya tubuh gendutku di atas sebuah ranjang khusus jenazah yang telah disiapkan sejak tadi. Akupun mengelilingi rumahku, kulihat semua tetanggaku sibuk memasang tenda, bendera duka cita, dan mereka juga mengeluarkan kursi-kursi di rumahku.“Pak, tikarnya saya gelar sekarang ya biar enak nanti kalau kita mengkafani bu Mur” “Iya silahkan” ucap pak SabilSeusai persiapan di dalam rumah, tampak jelas di depan mataku suami, anak dan menantuku menggotong tubuhku ke ranjang tempat jenazah dimandikan. “Hati-hati pak. Kalau nyawa habis tercabut itu badannya masih sakit” “Iya pak Sabil” ucap suamiku. Kemudian pak Sabil memandu keluargaku memandikan jenazah, saat itu semua anakku memandikanku namun Siti memandikanku sambil menangis tersedu-sedu.“Mak.. mak.. jangan tinggalin Siti mak..” ucap Siti sambil mengusap tubuhku dengan kapas, air matanya terus saja berurai. “Augh sakit! Siti, kenapa kau membakar tanganku?” Kulihat Siti dan badanku sekali lagi, ini benar-benar mimpi yang sangat aneh. Siti memandikanku dengan air dan yang jatuh tertetes ke tanganku adalah air matanya tapi kenapa rasanya seperti api? Mimpi apa aku ini?Seusai memandikanku, mereka menggotongku ke keranda. Di sana, sudah ada kain kafan berlapis-lapis dan mereka juga menaruh kapas yang dibubuhi aneka wewangian khusus untukku. Tak banyak bicara mereka mengkafaniku namun lagi-lagi mereka menetesiku dengan api. “Hei sakit! Aduh.. panas sekali. Sudah.. sudah kalian pergi sana!” ucapku pada mereka namun tetap saja mereka terus mengkafaniku hingga semua tubuhku terbungkus kain kafan.“Pak.. Mas.. Mbak.. sudah ikhlas ditinggal bu Mur?” “Ya.. ikhlas nggak ikhlas harus ikhlas pak, mau bagaimana lagi istri saya sudah meninggal dunia” “Apa? Aku meninggal dunia? Bapak.. ibu di sini, kok dibilang meninggal?” “Ayo kalau begitu kita semuanya mendo’akan almarhumah agar khusnul qotimah”Kebingunganku semakin bertambah ketika di pagi hari suami, anak, menantu, sanak saudara dan tetangga mengantarku ke kuburan dengan isak tangis tak tertahan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kudekati Sarpin namun ia tak menghiraukan, kudekati suamiku namun ia tetap terdiam, Siti dan Gitopun hanya menjawabku dengan isakan. Kemudian mereka berduyun-duyun membawa tubuhku ke kuburan. Di sana, kulihat sebuah lobang yang siap yang telah sengaja digali untukku. “Ya Allah! Liang lahaat”Lukman, Handak, kang So dan Marwan menurunkan keranda. Mereka telah bersiap membuka keranda itu dan mengangkat tubuhku kemudian memasukkannya ke dalam lubang itu. “Maann jangan! Jangan.. jangan!” teriakku namun tetap saja mereka tak menggubris teriakanku seolah mereka tak menganggap keberadaanku. Dimasukkannya tubuhku ke lubang itu, dan di lubang itu suami, anak dan menantuku bersiap menerima tubuhku.“Kamu, baik-baik di sana ya” ucap suamiku dengan lelehan air matanya “Augh.. sakit pak! Kenapa bapak memberiku tetesan api?” tuturku namun ia tetap tak menjawab Kemudian mereka membuka tali kepalaku, dihadapkannya pipiku ke gumpalan-gumpalan tanah lalu menutupi tubuhku dengan papan-papan kayu yang ditata seperti papan seluncur. Tak hanya itu mereka juga dengan sengaja menutupi tubuhku dengan tanah galian lubang tadi.“Apa? Aku dikubur? Aku habis menonton apa ya kok mimpi dikubur?” gumamku Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Aku hanya bisa duduk terdiam di atas pusara yang bertuliskan namaku. Aku bingung, semuanya bergotong-royong menyemayamkan aku dengan tangisan padahal aku masih hidup dan anehnya mereka tak menggubris setiap kata ataupun teriakanku.“Bapak.. adik-adik.. marilah kita bersama-sama mendo’akan almarhumah bu Mur supaya tenang di sisi Allah ta’ala. Al-fatihah” ucap pak Sabil Aku semakin bingung dengan tingkah mereka semuanya almarhumah? Benarkah aku sudah meninggal? Aku tak percaya, ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Setelah membaca do’a, pak Sabil mengajak semua pelayat meninggalkan pusara yang bertulis namaku.Tiba-tiba aku terjaga dari tidur panjangku. “Ah.. ternyata ini hanyalah sebuah mimpi belaka. Bangun ah.. aku mau ke pasar” gumamku Namun kusadari aku mencium bau tanah, semua gelap. Kupanggil-panggil semua keluargaku, sanak saudaraku namun tak ada seorangpun yang menjawab. Benarkah aku telah wafat?Tiba-tiba kudengar langkah kaki yang menghampiriku. Kutatap wajah tampannya yang murah senyum. “Pak, saya dimana?” “Bu.. ibu ada di liang lahat, sebentar lagi ibu akan saya antar ke alam barzah” ucap pria tampan itu dengan ramahnya “Jadi, saya sudah meninggal?” “Iya bu. Ibu sudah meninggal saat ibu sedang tidur kemarin malam” “Ha? Orang tidur bisa meninggal?” “Bisa bu karena nyawa adalah milik Allah, kapanpun Allah menginginkannya maka nyawa itu akan kembali padaNya” “Kenapa kau tak memberi tahuku tanda-tanda aku akan berpulang? Setidaknya jika kau memberitahuku maka aku bisa berpamitan pada keluargaku” “Bu aku sudah memberi tahumu 3 kali. Pertama saat pusarmu berkedut, itu artinya daun namamu di Arsy sudah gugur. Kedua, saat kau enggan menatap saat kau diajak bicara ataupun berjumpa dengan manusia, itu berarti umurmu hanya tinggal 3 hari. Dan yang ketiga di saat kepalamu berdenyut sampai ubun-ubun, itu tandanya kau sudah tak bisa menikmati hari esok” ucap pria tampan itu padakuKemudian pria itu mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku dan kujawab sebisaku. Namun, sedikitpun pria itu tak marah kepadaku bahkan diakhir pertanyaanya ia memberikan sebuah senyuman manis padaku. “Bu, semua pertanyaanku telah ibu jawab setulus hati sekarang tugasku adalah memberimu hadiah. Kau akan aku ajak ke sebuah tempat yang nyaman, senyaman saat kau beribadah” “Iya” jawabkuKuulurkan tanganku dan dia mengajakku ke sebuah tempat yang nyaman, tempat itu seperti taman namun tak dingin dan bernyamuk. Indah, ada banyak bunga dan juga buah-buahan, aku tak pernah menjumpai tempat seindah ini di dunia.“Bu, tempat ini ibu bangun sendiri lewat amal ibadah ibu. Nikmatilah tempat ini sampai nanti ibu mendengar sangkakala dari malaikat Isrofil” “Terimakasih pak” jawabku singkatBapak, Sarpin, Siti dan Gito. Emak sudah bahagia di sini. Di sini, emak sudah mendapat sebuah tempat yang indah. Emak ingin kita bisa berkumpul di sini namun emak yakin pertemuan kita akan membutuhkan waktu yang panjang. Emak hanya berpesan jagalah diri kalian baik-baik, tingkatkan ibadah kalian agar kalian memiliki tempat yang lebih indah daripada emak. Bapak dan anak-anakku, meskipun kita sudah berjauhan namun emak tetap sayang kalian..
The Secret Beneath
Samudera adalah seorang pemegang saham dari sebuah perusahaan besar. Suatu hari, dia pulang lebih awal, dia hampir tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya: istrinya yang muda dan cantik, Vania, terlibat hubungan dengan mitra bisnisnya-Surya-di atas tempat tidur.Samudera berdiri seperti patung, diam, lalu perlahan menutup pintu dan pergi tanpa suara. Pasangan tersebut terkejut, Vania tahu suaminya adalah orang yang egois dan licik, dan dia takut Samudera akan melakukan sesuatu yang buruk.Namun, untuk kejutan mereka, Samudera seperti melupakan insiden itu. Dia jadi jarang berbicara dengan Vania setelah itu. Setelah itu, pertemuan pemegang saham tahunan mendekati, dan Samudera harus menghadirinya, yang dimana artinya dia akan pergi selama tiga minggu. Vania dengan cepat mengetahui hal ini dan merasa senang dan khawatir pada saat yang bersamaan.Senang akhirnya bisa memiliki waktu luang, Vania memikirkan berbagai ide. Namun, dia tidak menyadari bahwa Samudera belakangan ini mulai terasa dingin.Samudera akan berangkat ke RUPS. Malam ini dia menghampiri Vania dan secara mengejutkan memberikan senyuman yang sudah berhari-hari tidak pernah dilihat, Vania menatapnya dengan heran. Sebelum dia bisa bereaksi, Samudera tiba-tiba meninjunya dan Vania merasakan ada sesuatu yang berdengung di kepalanya dan kemudian dia tidak sadarkan diri. Ketika dia terbangun, dia merasa ngeri mendapati dirinya terkunci di sebuah gua di ruang bawah tanah. Gua tersebut berada di ruang bawah tanah rumah, di mana para pekerja telah memindahkan batu-batu dari dinding, menambahkan jeruji besi ke pintu, dan memasukkan tiang pancang yang tebal ke dalamnya. Dia diikat ke tiang pancang dengan rantai besi tebal!Samudera dengan dingin memandang wajah Vania yang ketakutan dan mengolok-olok, "Ada roti kering dan air yang cukup untukmu selama tiga minggu di pojokan sana. Aku tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak punya pilihan. Kamu suka mengendap-ngendap di belakangku, jadi aku harus melakukan ini. Jujurlah dan aku akan kembali dalam tiga minggu untuk membebaskanmu!" Dengan itu, dia mengambil sebuah papan dan menutup rapat pintu basement, hanya meninggalkan lubang ventilasi yang kecil.Samudera memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan ini untuk menikmati hidupnya dengan membawa sekretarisnya yang cantik, Miss Lidya, bersamanya ke rapat pemegang saham. Kisah ini terjadi di malam hari ketika Samudera minum beberapa gelas lagi karena dia bahagia dan ketika dia keluar, dia harus mengemudi sendiri. Dia melihat Lidya yang cantik di sebelahnya dan entah bagaimana teringat pada Vania di ruang bawah tanah, berpikir bahwa ia memiliki teman di sini sementara wanita yang telah mengkhianatinya terjebak di ruang bawah tanah bersama tikus dan serangga. Pikiran ini membuatnya bersemangat.
The Abyssal Maelstrom
Di sebuah pulau tak bernama di Kepulauan Riau, Pulau Sumatera, tinggal sekitar sepuluh keluarga yang tersebar. Ini adalah malam musim panas yang gelap, dengan udara yang tidak biasa panas dan lembap. Jasmine duduk tegak di tempat tidur dan melihat ke arah pria yang terbaring di sebelahnya. Ia bangkit dengan hati-hati dan meraba-raba melewati ruang tamu, lalu berjalan ke kamar tidur kecil di sebelahnya. Ia menutup pintu dengan lembut dan menyalakan lilin kecil. Dalam cahaya redup dan berkedip, kamar kecil itu tampak semakin berantakan dan kotor. Jasmine mengambil bungkusan kain hitam dari lemari dan perlahan-lahan membukanya, mengungkapkan sebuah foto seorang pria. Ia meletakkannya di depan patung Yesus dan berbisik doa sambil air mata mengalir di pipinya.Jasmine menikah di sebuah desa asing dengan Jordan, yang tinggal bersama dengan saudara laki-lakinya dan tiga saudara laki-lakinya dan mencari nafkah dengan menangkap ikan. Setelah menikah, Jasmine menyadari bahwa kakak laki-lakinya, Michael, mengolok-olok dan melecehkannya, sehingga membuatnya merasa sakit. Dia akhirnya mau tidak mau menceritakan hal ini kepada suaminya, namun Jordan tidak mempercayainya. Suatu hari, Jasmine sedang membantu suaminya memperbaiki jaring mereka, dan hari itu sangat panas sehingga dia hanya mengenakan kaus pendek yang longgar di bagian atas, dengan tangan terangkat tinggi di atas tali untuk memperbaiki jaring. Jordan melupakan kejadian itu setelah beberapa hari, tetapi Michael menyimpan dendam dan memutuskan untuk membunuh saudaranya dan menculik istrinya.Jasmine teringat pada suatu hari dari tahun sebelumnya di mana ketiga kakak laki-lakinya bergegas berangkat ke laut di pagi buta, tepat saat jam menunjukkan pukul empat. Langit sangat gelap pada hari itu, dan udaranya sangat lembab. Di bawah perlindungan malam, kabut tebal dan berat bergulung masuk. Ketika ia melihat kakak-kakaknya pergi, Jasmine membaringkan dirinya di sofa untuk tidur siang. Tiba-tiba, ia mendengar suara berderit dan ketika ia membuka matanya, ia melihat seseorang sedang mengacak-acak sesuatu pada jam kakek yang tinggi. "Siapa di sana?" tanyanya dengan tajam. "Ini aku," suara kasar dan serak Michael terdengar."Kenapa kamu kembali?" Jasmine merasa tidak enak badan. "Aku sakit perut sekali karena suatu alasan. Aduh!" Jasmine tidak berpikir dia akan melihat suaminya lagi. Orang-orang mengatakan bahwa mereka pasti telah tersapu ke dalam pusaran gua ajaib, karena potongan-potongan perahunya telah ditemukan beberapa bagian. Suatu malam, tidak lama kemudian, Jasmine diperkosa oleh Michael yang penuh nafsu dan telah dirusak sejak saat itu. Jalan apa lagi yang bisa dipilih oleh seorang wanita yang kesepian dan lemah selain tunduk?Besok adalah ulang tahun ke-1 kematian suaminya. Ketika Jasmine sedang berdoa untuk suaminya yang telah meninggal, bayangan tiba-tiba muncul di belakangnya. "Kamu masih sangat sentimental, ya?" Jasmine terkejut, tapi segera memohon, "Michael, besok adalah ulang tahun kematian Jordan dan Kevin, aku ingin..." Michael tidak menunggu dia selesai berbicara dan dengan marah menghardiknya, "Kamu wanita yang menyedihkan. Kamu bisa berbaring di pelukan laki-laki lain tanpa peduli sama sekali, dan sekarang kamu memaksa diri untuk berpartisipasi dalam tradisi berduka kita yang penting ini. Cukup memberikan "mm" setengah hati dan kembali ke kamar tidurmu saja."Sebuah malam dengan angin yang kencang serta hujan yang mengguyur membuat jalur-jalur kasar di pulau itu semakin sulit untuk dilalui. Michael, Jasmine, dan seorang orang asing berangkat pada pagi hari untuk mendaki ke tebing tertinggi di pulau, tiba di sana sekitar tengah hari. Di puncak tebing, terdapat altar sederhana yang terbuat dari lempengan batu, dikelilingi oleh sebuah ruang terbuka seluas sepuluh meter persegi, dengan pulau di tiga sisinya dan laut di satu sisinya. Sisi yang menghadap laut adalah tebing yang curam, dan dua pohon pinus tua menjulur dari tepi tebing menuju laut, seolah-olah menarik jiwa para korban.Si orang asing dengan santai menempatkan anggur, makanan, dan camilan yang mereka bawa di atas altar. Michael, yang gemar minuman beralkohol, duduk di sana dengan tak segan-segan meminum minuman. Jasmine dan si orang asing duduk diam, menatap laut.Di bawah tebing, sekitar 500 kaki di bawah, terletak samudra luas, dengan ombaknya yang bergulung. Sekitar lima kilometer di sana ada sebuah pulau besar bernama Pulau Bintan, sedangkan pulau kecil lainnya diberi nama Pulau Gua Ajaib. Laut antara dua pulau itu terlihat agak tidak biasa, dengan ribuan gelombang kecil yang bergerak cepat dan menciptakan rasa takut yang tidak menentu.Jasmine menatap laut dan semakin takut. Suara ombak semakin keras, seakan puluhan ribu kuda berlari mendekatinya. Ombak-ombak menjadi semakin ganas dan tiba-tiba ombak kecil yang sebelumnya di sebar rata berkumpul membentuk arus besar yang mengalir ke arah timur. Dalam beberapa menit saja, laut mendidih seperti air yang dipanaskan di dalam panci dan menjadi ganas serta tidak terkendali. Tempat paling berbahaya ada di antara Pulau Gua Ajaib dan pesisir laut, tempat dimana ombak besar muncul, mengalir ke arah timur dan barat, dan kemudian menjadi jutaan pusaran yang ganas. Tak lama kemudian, laut menjadi semakin ganas dan pusaran-pusaran yang berputar itu terus menyebarkan diri membentuk lingkaran besar. Yang muncul jelas di depan matanya adalah pusaran yang sangat besar dengan lebar sekitar dua kilometer yang memiliki arus yang sangat kuat. Pinggiran pusaran besar itu dikelilingi oleh sabuk putih, yang sebenarnya adalah busa putih yang diciptakan oleh tabrakan antara ombak-ombak kecil. Dinding dalam pusaran itu cenderung miring hingga ke dasar laut yang dalam dan air laut yang hitam itu mengeluarkan suara yang menakutkan.Pada saat itu, Jasmine merasakan goyangan batu gunung di bawah kakinya. "Apakah ini 'Pusaran Gua'?" Jasmine menggenggam erat lengan orang asing yang berada di sampingnya.Apakah Jordan yang malang menghilang di pusaran mengerikan ini? Cemas tentang Jordan, si orang asing berbisik kepada Jasmine tentang asal usul pusaran air itu. Sementara itu, Michael telah mabuk dengan dirinya sendiri.Pembentukan pusaran dipengaruhi terutama oleh pasang surut, tetapi ada jendela waktu khusus yang berlangsung sekitar 15 menit, terletak di antara pasang dan surut. Pola ini sangat stabil. Individu yang berani dapat memanfaatkan periode 15 menit ini untuk menavigasi area pusaran, dan berani menjelajahi area laut lain di mana orang lain tidak berani pergi memancing untuk lebih banyak ikan. Namun, kelalaian kecil dalam faktor seperti arah angin, kecepatan arus, atau waktu, dapat mengakibatkan terhisap oleh pusaran dengan konsekuensi yang sangat fatal.Mendengar hal ini, Jasmine tak kuasa menahan tangis, seolah terbangun dari mimpi buruk, ia dengan sedih berkata, "Sekarang saya mengerti sepenuhnya, pusaran air yang keji inilah yang merenggut Jordan-ku. Mengapa Tuhan tidak menghukumnya?"Orang asing itu menepuk pundaknya dengan lembut, lalu berbalik untuk melihat Michael, yang mabuk seperti lumpur, dan tiba-tiba melepaskan seutas benang panjang dari pinggangnya dan mengikat Michael. Michael terbangun oleh angin laut dan melihat sekelilingnya dengan ngeri pada pemandangan itu.Orang asing itu berpaling pada Jasmine lalu berkata, "Sekarang aku akan bercerita". Kemudian dia berkata pada Michael, yang sedang berteriak dengan tidak terkendali, "Tuan Michael, Anda harus sabar dan menunggu sampai aku selesai bercerita. Kemudian Anda akan dilepaskan." Jasmine memandang orang asing itu dengan aneh dan mendengarkan ceritanya. Di pulau ini, ada tiga bersaudara yang sering melintasi pusaran berbahaya untuk memancing di laut yang belum terjamah. Mereka sangat memperhatikan perubahan pasang surut dan selalu menyetel jam mereka sebelum meninggalkan rumah. Keluarga mereka memiliki jam buatan pembuat jam terkenal dari Swiss yang dirawat oleh seorang ahli jam setiap tahunnya. Jam tersebut adalah jam ternama di daerah itu yang tidak pernah bermasalah. Mereka juga ahli dalam pengamatan angin. Karena sudah melakukan ini selama tujuh tahun, namun menyebrangi perairan yang berbahaya dalam waktu lima belas menit tidaklah cukup, dan terkadang penundaan satu atau dua menit dalam mencapai tujuan bisa membuat mereka merinding.
Es Teh Gratis
Delila berjalan pulang dengan lesu. Tubuhnya membungkuk seperti bunga yang layu. Hari ini sungguh berat baginya. Prnya tertinggal di rumah. Nilai ulangannya terjun ke dalam jurang remedial. Tangannya tertusuk pensil. Dan entah bagaimana, penghapusnya terbakar.Delila menghela napas. Teriknya matahari berhasil membuat tubuhnya bercucuran keringat. Diusapnya keringat yang menetes dari keningnya. “Ah, hari gini, enak kalau minum yang seger–seger,” pikirnya.Rupanya, ia tidak sepenuhnya tidak mujur hari ini. Mungkin sudah takdir, seorang lelaki—sepertinya pedagang kaki lima—menghampiri Delila dan menawarinya minuman. “Eh, dek, kamu mau tah, es teh?” tanya lelaki itu. “Gratis, lho, dek.” “Wah, mau dong, bang!” seru Delila tanpa berpikir panjang.Tak diingat perkataan ibunya untuk selalu waspada terhadap pemberian makanan ataupun minuman dari orang asing. Yang hanya di pikirannya, “Asyik! Panas–panas gini, dapet minuman seger, gratis lagi!”Diambilnya es teh berwadah kantong plastik itu dari tangan si lelaki. Setelah mengucapkan terimakasih, ia melanjutkan perjalanannya.Rumah Delila memang cukup jauh dari sekolah. Biasanya, perjalanan pulang membutuhkan waktu empat puluh lima menit berjalan kaki. Tetapi, hari ini, Delila memutuskan untuk melewati jalan pintas melalui hutan jati yang hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit karena—entah mengapa—kepalanya terasa sangat berat. Mungkin karena ia terlalu lama terpapar sinar matahari. Entahlah. Yang jelas, ia ingin segera pulang.Sebenarnya, ia enggan melewati hutan jati. Hutan tersebut terkenal akan pohon–pohon yang lebat dan menjulang tinggi, sehingga tidak banyak cahaya yang dapat memasuki tempat itu. Namun, hari ini, matahari bersinar sangat terang, sehingga hutan jati itu tidak terlalu gelap. Delila pun memberanikan diri untuk memasuki hutan itu.Delila berjalan dengan cepat. Ia ingin segera keluar dari tempat itu. Tidak lupa sesekali ia menyeruput minuman es tehnya yang ia dapatkan secara gratis.Ia menyadari ada yang aneh dari es teh tersebut. Seharusnya, es teh itu membuat dirinya merasa segar. Tetapi, setiap meminumnya, rasanya lidahnya semakin kering. Sepertinya ada yang salah dari minuman itu, tetapi Delila tidak dapat menemukan kesalahan apapun.Es teh itu terlihat seperti es teh biasa. Warnanya seperti teh pada umumnya, cokelat transparan. Rasanya juga biasa saja, manis, seperti—eh? Delila menyeruput lagi minumannya itu. Ia cicipi dengan baik. Kali ini, Delila merasakan sesuatu yang tidak biasa. Seperti ada rasa asin yang samar di dalam tehnya.Barulah Delila mengingat perkataan ibunya. “Jangan sembarangan makan atau minum pemberian orang yang nggak kamu kenal, lho ya!” begitu kata Ibu.Matanya melebar ketika ia menyadari apa yang telah ia lakukan. Ia lengah. Tetapi, apa boleh buat. Nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah meminum setengah bungkus es teh tersebut. Hatinya berdegub kencang. Pikirannya kacau.
Spirit Doll di Rumah Hantu Kami Menyerap Arwah dari Rumah Sakit
Ibu tak pernah mengira boneka bayi yang dia beli akan menjadi spirit doll, menyerap banyak arwah dari rumah hantu dan rumah sakit.Lima tahun lalu, bungkusan paket besar sampai ke rumah keluarga saya. Sebuah rumah yang sudah dikenal angker oleh tetangga. Semacam rumah hantu di tengah perumahan.Paket yang datang berisi sebuah boneka bayi yang mirip sekali dengan bayi manusia. Wajahnya yang bulat dan tembam terbuat dari plastik keras, begitu pula tangan dan kakinya yang mungil. Sedangkan badannya yang seukuran bayi asli terbuat dari kapas empuk dan nyaman untuk dipeluk.Dia diberi nama Bodhi. Kelak, boneka biasa ini berubah jadi spirit doll.Ya, saat itu, kami mengira Bodhi hanya boneka biasa. Sama seperti banyak boneka lain yang dibeli ibu untuk dikoleksi. Namun siapa sangka, kehadiran Bodhi akan membawa perubahan besar di keluarga saya.Kalau dipikir-pikir, itu karena kesalahan kami juga. Keluarga saya sangat menyukai Bodhi. Kami memperlakukannya dengan hangat, bahkan terlalu hangat… seolah-olah dia adalah bayi betulan. Apalagi kami melakukannya di dalam rumah yang dikenal sebagai rumah hantu ini. Perubahannya menjadi spirit doll tak pernah kami ketahui.Mula-mula kami hanya bercanda. Secara bergantian, kami mendudukkan Bodhi di kursi dan menidurkannya di kasur. Lalu kami mengganti-ganti bajunya, berlagak menyuapkan makanan ke mulutnya yang tertawa lebar, dan mengajaknya ngobrol. Semua berlangsung lebih dari setahun sampai rasanya Bodhi sudah menjadi bagian dari keluarga.Yang tak kami ketahui, harusnya kami tak melakukan itu. Sebab, benda mati yang terus-menerus diperlakukan sebagai makhluk hidup… bisa mengundang atau menyerap berbagai roh halus untuk bersemayam di dalamnya. Itulah awal perubahan Bodhi menjadi spirit doll. Perlahan, “isian” Bodhi jadi semakin banyak.Hal itu mulai terasa pada 2018. Saat bapak saya sakit parah dan harus dirawat inap di rumah sakit. Selama berminggu-minggu, kami bergantian menjaga beliau dan tak lupa mengajak Bodhi.Padahal, rumah sakit tempat bapak rawat inap itu cukup angker. Dibangun lebih dari 30 tahun lalu, rumah sakit ini menjadi saksi meninggalnya begitu banyak orang. Konon, di rumah sakit ini, terlalu banyak arwah yang belum bisa menerima kematiannya. Kadang terlihat hantu anak-anak yang suka berlarian, hantu perempuan yang menjerit-jerit saat malam, sosok hitam besar di koridor, dan masih banyak lagi.Dulu saya tak menyadari kalau arwah-arwah penasaran itu bisa menyusup ke dalam tubuh Bodhi dan mengubahnya menjadi spirit doll. Namun, sepertinya bapak sadar karena beliau lebih peka pada hal gaib. Saya, yang lama hidup di rumah hantu malah biasa saja. Ya bisa merasakan, tapi saya memilih untuk tidak memikirkannya.Suatu malam di rumah sakit, dengan tangannya yang lemah dan gemetaran, tiba-tiba bapak memeluk Bodhi dengan erat dan lama. Padahal beliau hampir tak pernah melakukan itu. Rasanya, bapak sedang berusaha melindungi Bodhi dari sesuatu yang tak kasatmata. Mungkin bapak sedang berusaha mencegah Bodhi menjadi “rumah” bagi banyak makhluk halus, mengubahnya menjadi spirit doll.Beberapa minggu setelah kejadian itu, bapak tak kuasa menahan penyakit di tubuhnya dan mengembuskan napas terakhir. Keluarga kami sangat sedih dan kaget. Di antara sedu sedan dan air mata, lagi-lagi Bodhi hadir di tengah kami. Bahkan dia diajak ke pemakaman bapak, meskipun hanya disimpan dalam tas.Selama bertahun-tahun, hidup di rumah hantu dan lama menginap di rumah sakit angker, membantu Bodhi menyerap kesedihan, kegembiraan, dan emosi-emosi lain dari keluarga kami sehingga membuatnya lebih “berisi”. Mulutnya memang masih tertawa lebar seperti biasa, tetapi sorot mata dan raut wajahnya mulai membuat kami tak nyaman. Seolah ada yang berubah.Setelah meninggalnya bapak, kami sudah yakin kalau Bodhi bukan boneka biasa lagi. Perasaan dia menjadi spirit doll sudah mulai sering kami obrolkan.“Sekarang kok aneh ya kalau megang Bodhi, kayak bukan dari plastik sama kapas. Nggak tahu ya… rasanya kayak bukan boneka,” kata ibu mulai curiga.Seperti almarhum bapak, ibu juga peka pada hal gaib. Setelah Bodhi ikut menginap selama berminggu-minggu di rumah sakit dan diajak ke pemakaman, ibu menjaga jarak dengan boneka bayi itu. Seiring waktu, ibu semakin yakin yang sering dia perlakukan dengan sayang berubah menjadi spirit doll.“Rasanya ada sesuatu di dalam Bodhi,” kata ibu dengan gelisah, “Nggak cuma satu, tapi ada banyak.”Saya merinding mendengarnya. Dengan hati-hati, saya meminta ibu untuk menjelaskan. Beliau sempat ragu untuk jujur bercerita, apalagi Bodhi adalah boneka kesayangan anak-anaknya. Namun, akhirnya beliau mau bercerita.Ibu cukup yakin kalau saat berada di luar rumah, khususnya di rumah sakit, Bodhi telah menarik arwah-arwah penasaran yang tak lagi memiliki raga dan membuatnya menjadi spirit doll. Kini mereka bersemayam di dalam tubuh boneka bayi ini. Yang lebih menyeramkan, ternyata Bodhi juga menyerap hantu-hantu yang menjadi penghuni rumah keluarga kami!Jadi, selama 18 tahun, keluarga kami menempati rumah yang cukup besar dan angker. Bagian luarnya tampak tua dan tak terawat. Seperti ada keheningan aneh yang menyelimutinya. Tak heran anak-anak tetangga yang lewat kadang menjerit, “Rumah hantu! Rumah hantu!”Kesan seram itu semakin bertambah saat memasuki rumah kami. Karena ibu dan almarhum bapak adalah seniman, mereka mengoleksi begitu banyak benda kesenian. Mulai dari lukisan tua, patung-patung berbagai ukuran, dan berbagai barang kerajinan lain yang tak jelas asal-usulnya. Semua itu disimpan di kamar-kamar yang jarang ditengok dan dirawat.Menurut beberapa kerabat kami yang bisa berkomunikasi dengan makhluk halus, kamar-kamar yang jarang dirawat itu bisa dan sudah menjadi “sarang” mereka. Buktinya, saat berkunjung ke “rumah hantu kami”, mereka pernah melihat hantu perempuan berambut panjang mengintip dari jendela kamar yang sudah lama terlantar. Sungguh bikin jantungan.Penampakan lainnya muncul di salah satu kamar mandi yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai. Ibu pernah mendengar suara gemericik air dari sana. Saat diintip, ternyata ada seorang anak kecil yang sedang cuci tangan di kamar mandi.Sosoknya hanya terlihat dari belakang, tetapi jelas sekali kalau dia bukan manusia. Kaos dan celana pendek yang dipakainya tampak terkoyak dan kotor oleh darah. Sedangkan tubuhnya abu-abu kusam, agak transparan, dan mengeluarkan bau yang aneh.Sontak ibu langsung berlari masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. Beliau gemetaran bukan main.Pada hari-hari berikutnya, beliau kembali melihat penampakan anak kecil di kamar mandi itu. Mereka muncul bergantian, ada yang bertubuh tinggi dan pendek, tetapi sama-sama menyeramkan.Ibu menduga kalau hantu anak-anak kecil itulah yang masuk ke dalam tubuh Bodhi, boneka bayi kesayangan kami. Entah yang mana yang berasal dari rumah sakit atau dari rumah kami yang dikenal tetangga sebagai rumah hantu.Di berbagai negara, biasanya spirit doll memang berisi arwah bayi atau anak kecil yang sudah meninggal. Barangkali mereka senang menjadi boneka karena bisa dirawat oleh “orang tua” masing-masing dengan penuh kasih sayang.Setelah menyadari kalau Bodhi menampung banyak arwah, ibu mulai sering mengalami kejadian aneh. Beliau pernah terbangun tengah malam di kamar dan melihat ada bayangan hitam di hadapannya.Dalam kondisi kaget dan ketakutan, tiba-tiba kedua kakinya ditarik ke bawah. Ibu berusaha meronta-ronta agar lepas, tetapi tarikan itu semakin kuat, dan akhirnya beliau pingsan.Saat terbangun di pagi hari, ibu melihat Bodhi duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidurnya. Padahal, sebelumnya, kursi itu kosong tidak ada yang duduk di atasnya.Dengan ngeri, beliau menyambar Bodhi dan langsung memasukkannya ke dalam lemari. Lantas beliau berdoa agar apa pun yang berada di dalam Bodhi tidak mengganggu keluarga kami lagi. keyakinan ibu sudah bulat kalau Bodhi sudah menjadi spirit doll tanpa kami kehendaki.Hal itu terjadi sekitar dua tahun lalu. Sampai sekarang, Bodhi masih disimpan di dalam lemari dan kami tak pernah bermain-main lagi dengannya, bahkan hampir tak pernah melihatnya.Sementara itu, kadang-kadang ibu masih berdoa untuk Bodhi. Suatu saat nanti, beliau juga ingin merukiah Bodhi supaya boneka bayi ini kembali “bersih”. Sampai saat itu terjadi, Bodhi tetap disimpan di dalam lemari.Namun sungguh aneh, beberapa kali pintu lemari itu pernah terbuka sendiri, dan Bodhi menggelinding ke luar….