Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
831
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
167
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Sumur Tua di Belakang Rumah yang memikat Orang untuk Bunuh Diri
Sumur itu seperti mempunyai magnet. Menarik orang untuk mendekat dan bunuh diri dengan menceburkan diri. Misteri yang tak terpecahkan hingga kini.Dua rumah itu menempel satu sama lain. Sebagai sumber air, keduanya berbagi satu sumur. Airnya bagus, tidak pernah habis atau menjadi dangkal, bahkan di musim kemarau yang keras. Masalahnya, sumur itu seperti mempunyai magnet. Menarik orang yang sedang tidak “lurus” untuk terjun ke dalamnya; bunuh diri.Sebenarnya, dahulu, dua rumah itu adalah satu bangunan. Namun, oleh pemiliknya yang tidak lagi mukim di Jogja, dibagi menjadi dua untuk dikontrakkan. Rumah sisi kiri ditempati oleh sebuah keluarga yang tertutup dan konon mengidap gangguan jiwa. Sementara itu, sisi kanan digunakan sebagai tempat jasa. Saya tidak boleh menyebutkan jenis usahanya karena akan dapat dengan mudah diidentifikasi oleh pembaca yang akrab dengan daerah di sekitar sebuah stadion.Mundur jauh ke belakang, sebelum rumah itu dibagi menjadi dua, ada sebuah keluarga yang menghuninya. Bukan, keluarga ini bukan pemilik sah. Saya dan keluarga tidak begitu tahu asal-usul keluarga tersebut. Satu hal yang pasti, keluarga itu sudah mukim di sana sejak zaman buyut masih ada.Keluarga tersebut dari satu keluarga inti berjumlah lima orang; orang tua dan tiga anak. Selain itu, ada sepupu mereka yang ikut mukim di sana. Mereka mempunyai kebiasaan untuk duduk meriung di sekitar sumur itu untuk mengobrol sampai melakukan kegiatan sehari-hari seperti memasak dan mencuci. Tetangga bisa melihat aktivitas mereka karena tembok belakang rumah pendek saja, tidak seperti sekarang yang sudah ditiunggikan.Kasus percobaan bunuh diri yang pertama terjadi tidak lama setelah si sepupu mulai ikut tinggal di sana. Sebuah kejadian yang menggegerkan satu kampung.Kasus bunuh diri pertamaSi sepupu ini bernama Kelik. Tentu saja bukan nama sebenarnya. Usianya baru awal 30 tahun kalau saya tidak salah mengingat. Sebagai pendatang, Kelik sangat mudah akrab dengan pemuda setempat. Dia selalu punya tabungan tema untuk membuka obrolan dengan orang yang baru ditemui. Dia cukup kuat minum alkohol. Sifat yang membuatnya langsung disukai para pemuda.Namun, kalau sudah mulai mabuk, Kelik suka meracau. Para pemuda zaman itu menganggapnya sebagai hal yang wajar. Orang mabuk memang suka menunjukkan perilaku yang terbilang ajaib. Anehnya, racauan Kelik ya itu-itu saja. Soal penunggu sumur, seorang perempuan yang masih remaja, dengan senyum menggoda. Si penunggu ini, kata Kelik, sering bilang kalau air di dalam sumur itu ajaib dan bisa menyembuhkan banyak penyakit dan kesusahan hidup.Yah, tidak ada yang menyangka kalau racauan itu sebetulnya penanda ketakutan Kelik. Lantaran dibalut dengan kondisi mabuk, tidak ada yang menganggapnya serius. Apalagi, sebelumnya, tidak pernah ada cerita seram dari rumah dan sumur tua di belakangnya. Semuanya baik-baik saja sampai Kelik melompat ke dalam sumur itu untuk bunuh diri.Percobaan bunuh diri Kelik ini sungguh dramatis. Kejadiannya di siang bolong dan banyak saksi.Tetangga samping dan belakang rumah bisa melihat kejadian horor itu. Kelik berlari dengan cepat, naik ke bibir sumur, dan melompat ke dalam. Konon, ada yang melihatnya menangis ketika melakukan percobaan bunuh diri itu. Saya sebut “percobaan” karena Kelik berhasil diselamatkan.Warga langsung menghambur ke sumur tua itu. Para pemuda mengikat dirinya menggunakan tali tampar yang panjang dan kuat. Mereka mengerek Kelik ke atas. Terlambat sedikit, Kelik pasti meninggal mengingat dia tidak bisa berenang dan bisa jadi mati tercekik oleh gas di dalam sumur. Mengerikan.Beberapa jam kemudian, di rumah sakit, Kelik akhirnya sadar. Perwakilan keluarga menunggu di dalam, sementara para pemuda berjaga di luar. Setelah bisa berkomunikasi, Kelik menceritakan detik-detik kejadian percobaan bunuh diri yang dia lakukan. Semua yang hadir mendengarkan dengan tegang.Siang itu, Kelik baru selesai makan lalu berbaring di ruang depan. Ketika berada dalam kondisi setengah sadar sebelum tertidur, kaki Kelik dipegang oleh anak perempuan yang katanya menunggu sumur tua itu.Seketika Kelik merasa sangat sedih dan ingin menemani si anak perempuan itu. Perasaan itu sangat kuat dan dia tidak sadar sudah berdiri di pintu belakang rumah. Dia bisa melihat si anak perempuan itu melompat ke dalam sumur. Niat awal Kelik adalah mencegah anak perempuan itu untuk “bunuh diri”. Namun, yang akhirnya dia sadari adalah dirinya ikut menceburkan diri ke sumur.Setelah sadar dan diizinkan pulang, Kelik lebih banyak di luar rumah. Seakan-akan dia takut untuk pulang. Bahkan pernah dia menginap di pos ronda selama beberapa hari. Di lain kesempatan, dia tidur di balai-balai di depan rumah tetangga. Kami tahu kelik ketakutan, tapi dia tidak bisa menceritakan ketakutan itu. Iya, dia merasa tidak bisa, bukannya tidak ingin.Kejadian bunuh diri keduaDua bulan kemudian, Kelik memutuskan untuk pergi. Kami dengar dia pergi ke Sumatera untuk bekerja di perkebunan sawit yang baru buka. Di satu sisi kami kehilangan sosok yang pintar mencari tema obrolan. Namun, setidaknya, kejadian horor percobaan bunuh diri tidak akan terjadi lagi. Setidaknya itulah prediksi kami. Kalau sudah begini, pembaca pasti tahu kalau prediksi kami salah.
Wanita Menakutkan di Lorong Asrama di Malam Hari
Pada pukul 23.50, aku menerima pesan singkat dari teman sekamarku, "Yetty, bisakah kamu segera datang ke kamar mandi untuk menjemputku? Ada seseorang yang berhenti di luar bilikku."Koridor di asrama sangat tidak aman akhir-akhir ini. Aku sedang berniat untuk mematikan ponsel dan berpura-pura tidur, tetapi tiba-tiba dia melakukan panggilan video ....1Aku teringat pada unggahan yang baru saja aku baca, "Asrama perempuan Gedung B, Lantai 3, setelah pukul 23.30 malam, akan ada seorang perempuan dengan wajah hancur yang membawa tali dan berjalan-jalan di lorong."Beberapa hari yang lalu, ada satu komentar yang mengatakan ingin bertemu dengan perempuan yang mengunggah hal itu. Pemilik lantai tersebut selalu melakukan pembaruan setiap hari. Dua hari yang lalu, dia mengatakan bahwa dia sepertinya melihat orang itu.Waktunya juga pukul 23.50. Sejak saat itu, lantai ini tidak pernah memperbarui informasi lagi.Aku hanya bisa berdoa, semoga unggahan ini hanyalah lelucon dari sekelompok orang yang bosan."Yetty! Tolong jemput aku sekarang juga. Aku sudah terlalu lama menunggu di sini. Orang itu terus berdiri di luar dan tidak bergerak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku sungguh sangat ketakutan."Aku dengan berat hati memutuskan untuk berpura-pura sudah tidur dan menekan tombol matikan. Namun, pada detik berikutnya, Valen pun melakukan panggilan video.Jari-jariku tak sengaja menekannya.Tiba-tiba, hatiku menjadi sangat takut saat panggilan video terhubung.Dengan cahaya yang menyelinap masuk dari luar jendela kamar mandi, aku melihat Valen gemetar. Dia menggunakan jarinya untuk menutup mulutnya, memberi isyarat agar aku tidak bersuara. Kemudian, dia membalikkan lensa kamera ponselnya.Sebuah sepatu bola perempuan yang sangat kotor tampak di luar. Orang itu tidak jelas sedang menunggu apa. Dia hanya berdiri diam di luar.Beberapa helai rambut terjatuh. Segera, wajah tanpa fitur yang jelas pun muncul secara tiba-tiba di dalam lensa.Perempuan itu tengah melihat ke dalam bilik toilet dari arah bawah.Perempuan itu berwajah hancur. Aku yakin dia adalah perempuan berwajah hancurseperti yang disebutkan dalam unggahan itu!Perempuan berwajah hancuritu menampilkan senyuman yang menyeramkan.Aku dapat memahami bahwa dia menggunakan gerakan bibirnya untuk mengatakan kepadaku, "Aku telah datang mencarimu."Panggilan video langsung terputus.2Saat berikutnya, tiba-tiba, suara keras terdengar. Pintu asrama didorong keras oleh seseorang, ternyata orang itu sudah berdiri di luar pintu!Suara ini membuat aku ketakutan. Ketika aku gemetar sambil berusaha menelepon nomor darurat polisi, suara terbuka jendela dari balkon terdengar.Dengan mata membelalak, aku melihat perempuan itu menggunakan kedua tangannya untuk merayap masuk dari luar jendela.Di momen genting, yang aku lihat adalah bola matanya yang jseperti bola kamper yang berputar.3Pukul 23.40.Suara pintu tertutup membangunkanku.Leherku masih sangat sakit. Sensasi menggigit yang baru saja menyerangku masih terasa. Aku terpaku memandangi sosok yang akrab melintas."Valen!"Aku terperanjat, lalu segera mulai bernapas dengan cepat dan berat.Apakah yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk?Pada 23.50, ketika aku sedang asyik menonton video, pesan Whatsapp yang muncul membuatku merasa tenggelam dalam keputusasaan."Yetty! Bisakah kamu segera datang ke kamar mandi untuk menjemputku? Ada seseorang yang berhenti di luar bilikku."Setiap kata itu terpampang di depan mataku dengan sangat jelas. Itu terasa sungguh nyata. Aku segera menelepon polisi untuk melaporkan situasi sekarang dan meminta mereka datang secepat mungkin. Lantaran gugup, aku melompat dari tempat tidur tanpa mengenakan sepatu.Benar, aku harus melarikan diri.Maaf, Valen. Kita sama-sama tidak mampu melawan perempuan itu. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa, sekarang aku hanya ingin menyelamatkan nyawaku sendiri. Aku harap kamu bisa memahaminya.4Napasku terasa berat. Dengan gemetar, aku membuka pintu kamar dan memasuki lorong. Setelah setengah jalan, aku akan dapat melihat tangga. Itu berarti bahwa aku akan selamat.Aku berjalan dengan hati-hati di lantai karena takut mengganggu perempuan itu. Namun, sebelum aku berjalan cukup jauh, layar ponselku menyala.Ini adalah panggilan video dari Valen.Di seberang lorong, seseorang melompat keluar dari kegelapan. Kecepatannya beberapa kali lipat daripadaku. Aku bisa mendengar tawa aneh perempuan itu yang makin mendekat.Pada saat jari-jariku hampir menyentuh pegangan tangga, seseorang meraih rambutku dengan kuat.Dua jari langsung menusuk mataku.5Aku terbangun lagi pada pukul 22.00.Valen belum kembali ke asrama. Aku tidak tahu dia berada di mana.Pada saat ini, aku tiba-tiba menyadari bahwa aku sepertinya telah memasuki siklus yang berulang.Waktu selalu berjalan mundur. Setiap kali setelah Valen meninggal, orang berikutnya yang akan menjadi korban adalah aku. Namun, aku tidak bersalah. Siklus ini adalah kesempatan yang diberikan oleh takdir untuk melarikan diri.Aku langsung menelepon Valen.Sambil mengemas barang, aku menelepon dia. "Jadi, jangan salahkan aku tidak mengingatkanmu. Malam ini, pada pukul 23.50, jangan pergi ke kamar mandi. Aku tidak akan tinggal di asrama lagi, jaga dirimu sendiri."Setelah mengemas barang dengan cepat, aku menaiki taksi menuju jalan paling ramai di pusat kota dan memaksakan diri untuk menginap di hotel yang sangat mahal.Aku sudah memberi tahu resepsionis sebelumnya, bahwa aku berharap mereka bisa tepat waktu mengetuk pintu kamarku pukul 23.50 karena kemungkinan malam ini aku akan mengalami beberapa masalah.Setelah mematikan lampu, aku berbaring di atas tempat tidur dan baru sadar bahwa di dinding sebelah tempat tidur, tergantung sebuah lukisan minyak, yaitu siluet perempuan.Pukul 23.30, Valen bertanya kepadaku di mana aku berada. Aku menjawab jujur dan juga menanyakan apakah dia ingin datang bersama, tetapi dia tidak merespons.Pukul 23.40, aku melakukan panggilan video kepada Valen. "Untuk menghindari waktu yang kamu sebutkan, aku sudah pergi ke kamar mandi lebih awal pada pukul 23.30. Karena kamu membuatku ketakutan, aku lupa membawa ponselku. Ketika kembali, pintu asrama terbuka. Aku pikir ada pencuri masuk. Itu membuatku terkejut."Pukul 23.30 ....Pada waktu itu, Valen tidak membawa ponsel. Lalu, siapa yang mengirim pesan dan menanyakan di mana aku berada?6Di dinding sebelah tempat tidur, ada sebuah jendela.Saat ini, aku sedang menatap pemandangan malam di kota ini dengan ketakutan. Bayangan wanita yang muncul tadi telah menghilang.Hingga ....Terdengar sebuah suara.Di lorong yang gelap, perempuan itu berdiri di depan pintu. Dengan setengah wajahnya yang hancur, dia menampilkan senyuman menakutkan.Dia memegang seutas tali yang tebal dan menutup pintunya.....Pada saat aku menutup mata, aku bisa mendengar suara resepsionis di luar pintu.Sayangnya, semua itu sudah terlambat.
Bayangan di Lembah Kering
Alya berlari menembus semak berduri, napasnya terputus-putus, lututnya perih, dan udara panas gurun menghantam wajahnya seperti pecahan kaca. Suara tembakan terdengar lagi, memantul di antara tebing batu yang menjulang. Ia menoleh sekilas dan menemukan satu-satunya hal yang membuatnya tetap bergerak, Arga, tepat di belakangnya, wajah penuh debu, tapi matanya masih tajam mengawasi keadaan sekitar."Alya, kiri!" teriak Arga.Ia meloncat ke samping, dan peluru menghantam batu di depan tempat ia berdiri. Pecahan serpihan beterbangan. Tubuhnya goyah. Arga menangkap lengannya, menstabilkan langkahnya. Sentuhan itu cepat, hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat jantung Alya berdebar lebih kencang dari ancaman kematian yang mengikuti.Mereka harus terus maju. Sudah tiga hari mereka terjebak di lembah kering ini, berusaha kabur dari kelompok pemburu bayaran yang sebelumnya menculik rombongan ekspedisi tempat mereka bekerja. Dari dua belas orang, hanya mereka berdua yang selamat. Selebihnya entah mati atau diangkut entah ke mana.Tiga orang lain yang kini bersama mereka hanyalah sisa-sisa kekuatan perjuangan, Reno, mantan tentara yang kini pincang setelah terkena ranjau buatan.Sera, mahasiswa magang yang mentalnya mulai retak setelah melihat kematian teman-temannya.Pak Darun, sopir tua yang lebih banyak berdoa daripada berbicara.Mereka bukan kelompok penyelamat yang ideal. Mereka hanyalah manusia-manusia yang belum sempat mati.Alya dan Arga kembali ke tempat persembunyian, celah sempit di antara bebatuan besar. Reno mengintip dari balik batu, wajahnya pucat."Mereka sudah makin dekat," katanya dengan suara pelan. "Aku bisa dengar suara ban mobil dari bawah lembah."Sera menutup telinganya. "Kenapa mereka terus kejar kita? Kita cuma peneliti. Kita bahkan ga ngerti apa yang mereka cari."Pak Darun menjawab lirih, "Karena mereka kira kalian tahu tempat penyimpanan artefak itu. Padahal kita bahkan belum lihat bentuknya."Alya duduk, menahan rasa sakit di kakinya. Debu kering menyatu dengan darah segar. Arga berlutut di depannya, memeriksa luka tanpa meminta izin. Tangan itu cekatan, tapi lembut. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kini mereka tak menyembunyikan perhatian satu sama lain. Situasinya terlalu kacau untuk pura-pura dingin."Kamu harus berhenti nekat lari seperti itu," gumam Arga.Alya memutar bola mata. "Kamu yang lambat."Bibir Arga terangkat tipis. Sekilas, mereka terlihat seperti orang normal yang sedang bercanda ringan, bukan dua manusia yang dikejar kematian. Reno memperhatikan interaksi itu dengan tatapan half-annoyed seperti orang tua yang muak melihat dua remaja saling jatuh cinta di tengah krisis hidup dan mati.Menjelang malam, suhu turun tajam. Udara menggigit tulang. Mereka berlima berlindung dalam gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang jatuh samar ke lembah. Suara serangga malam bercampur dengan langkah-langkah samar musuh yang semakin mendekat.Alya memejamkan mata, mencoba menenangkan napas. Tapi pikiran tentang tiga hari terakhir terus menghantuinya, jeritan, darah, tubuh-tubuh yang tertinggal, dan rasa bersalah yang mencengkram.Arga duduk tak jauh darinya. Ia menyentuh bahunya, pelan, tidak memaksa. "Tidur sebentar. Aku jaga."Alya membuka mata. "Kalau aku tidur, kamu kapan istirahat?""Kalau kamu mati kecapekan, aku harus lari sendiri. Itu lebih melelahkan."Alya menatapnya, mencoba membaca apakah ini candaan atau kebenaran pahit. Arga hanya menatap balik dengan mata yang tak lelah, hanya tekad. "Kita keluar sama-sama," katanya pelan.Untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu dimulai, Alya merasa dirinya masih manusia yang layak diselamatkan.Pagi berikutnya membawa ketegangan baru. Mereka mendengar suara mesin mobil mendekat. Lembah yang sempit memperkuat gema suara itu. Musuh makin dekat."Kita ga bisa diam di sini," kata Reno. "Mereka akan temukan kita.""Lari lagi?" Sera mulai panik. "Aku ga kuat.""Kita turun ke jurang itu," kata Arga sambil menunjuk celah sempit di dasar lembah. "Ada aliran air kecil di bawah. Kalau kita bisa ikuti itu, kita mungkin bisa keluar ke sisi timur.""Turunnya saja sudah bunuh diri," sahut Reno."Aku lebih pilih itu daripada ditembak di sini," timpal Arga.Mereka semua setuju. Pilihan buruk tetap lebih baik daripada tidak punya pilihan sama sekali.Turunan itu curam. Batuan licin. Alya hampir jatuh dua kali, tapi Arga selalu ada satu langkah di belakang, siap menangkapnya. Ketika mereka sampai di dasar, air sungai kecil menyambut, dingin dan jernih.Reno duduk terengah, wajah menahan sakit. Luka kakinya makin parah."Kita ga bisa bawa dia jauh," bisik Sera.Alya menatap Arga. Arga paham tanpa perlu dijelaskan. Ia mendekati Reno."Aku bisa jalan," kata Reno cepat, seolah membacanya. "Tapi kalau mereka sudah dekat, jangan pikirkan aku."Tidak ada yang menjawab.Mereka berjalan menyusuri sungai. Arus air kecil itu mengarah ke celah batu yang membentuk lorong sempit. Cahaya di ujungnya tampak seperti pintu keluar.Lalu terdengar teriakan dari belakang, "Mereka melihat kita!"Peluru memantul di dinding batu. Sera menjerit. Alya dan Arga menarik Reno, memaksanya berjalan lebih cepat. Pak Darun menangkupkan tangan, berdoa sambil berlari. Suara langkah musuh makin nyaring.Saat mereka hampir mencapai celah, Reno melepaskan pegangan."Sudah!" katanya. "Pergi. Sekarang!""Tidak," Alya menolak.Reno mendorong Arga. "Bawa dia. Kalau kalian berhenti, semua mati."Arga menarik Alya paksa. "Alya, jangan keras kepala."Reno berbalik, mengambil posisi bertahan di belakang batu, siap menghadapi musuh seorang diri. Tembakan pertama terdengar. Lalu kedua. Lalu hening.Alya ingin menoleh, tapi Arga menahan wajahnya agar tetap memandang ke depan. "Jangan lihat."Mereka masuk ke celah batu sempit dan merayap hingga akhirnya sinar matahari menyambut mereka di sisi timur lembah. Dari kejauhan terlihat jejak permukiman kecil."Kita selamat," gumam Pak Darun dengan suara gemetar.Alya jatuh terduduk, menangis diam-diam. Arga duduk di sampingnya, tidak menyentuhnya, hanya berada cukup dekat agar ia tahu bahwa ia tidak sendirian."Kita selamat," ulang Arga, kali ini lebih pelan. "Dan kita akan terus hidup."Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Alya percaya itu.
Rumah misterius
Di sebuah kota kecil bernama Rosadale, terdapat sebuah rumah tua yang sudah terbengkalai selama beberapa tahun. Rumah itu di tinggali oleh seorang wanita tua yang pendiam dan jarang berbicara dengan tetangga sekitarnya. Tidak ada yang tahu banyak tentang wanita itu kecuali bahwa dia telah kehilangan suaminya dalam kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu.Banyak yang mengatakan bahwa rumah itu terkutuk dan ada sesuatu yang sangat mengerikan terjadi di dalamnya. Tapi seperti halnya dengan sebagian besar cerita horor, tidak ada yang pernah benar-benar tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.Hingga suatu malam sebuah kelompok remaja yang terdiri dari 4 orang, terdorong untuk mengeksplorasi rumah itu. Mereka ingin melihat sendiri apakah rumor rumor horor tentang rumah itu benar adanya atau tidak. Tanpa sepengetahuan orang tua mereka, mereka mencoba memanjat pagar dan mencoba membuka pintu rumah itu.Setelah beberapa saat merayap di pagar itu mereka akhirnya menemukan pintu belakang yang terbuka. Tidak ada yang berbicara saat mereka memasuki rumah itu, hanya suara langkah kaki mereka yang menciptakan suara seperti gemericik air hujan di lantai tua itu.Ketika mereka masuk ke dalam ruangan utama, mereka merasakan bahwa ada sesuatu yang ganjil di dalam rumah itu. Cukup lama mereka merasa kesepian dan kosong. Namun, semakin mereka melanjutkan pencarian mereka, semakin banyak pula yang mereka temukan. Mereka menemukan foto-foto tua, perabotan lama dan di dalam cupboards gelap, mereka menemukan kulit binatang dan tulangnya sekaligus. Hal itu membuat mereka merasa takut namun mereka tidak patah semangat untuk menggali lebih dalam lagi ke dalam rumah itu.Hingga pada saat mereka tiba di tangga yang menuju ke kamar atas mereka mendengar suara bisikan-bisikan misterius yang datang dari beberapa kamar, ketika tiba di kamar dengan pintu yang terkunci, mereka melihat kalau ada seorang wanita yang tidak di kenal terbaring di kasur itu.Tubuh si wanita itu di tutupi oleh selimut yang tidak meresap, di samping kasur itu juga terdapat sebuah kotak kayu besar yang misterius. Dengan penuh rasa ingin tahu mereka akhirnya mengambil kotak itu dan membukanya.Namun, apa yang mereka temukan mampu membuat nafas mereka sementara berhenti untuk sesaat. Di dalam kotak itu terdapat kepala manusia yang menatap lurus pada mereka dengan leher yang masih tercium darah baru. Pada saat itu juga sekelompok remaja tersebut menyadari bahwa mereka tidak sendirian di dalam rumah. Hingga pada akhirnya mereka lari berhamburan, mereka di kejar sampai ke dalam Lorong gelap dan terperangkap di dalam rumah itu. Yang mereka hadapi bukanlah wanita tua yang kesepian melainkan sesuatu yang kejam dan ganas, itu adalah setan dari dunia lain yang bersembunyi di balik kisah-kisah horor yang memanggil mereka untuk masuk ke dalam rumah ini.Remaja itu tidak pernah terlihat lagi setelah malam itu, ada yang mengatakan bahwa mereka terkutuk dan akan menghantui rumah itu selamanya sementara yang lain berkata bahwa mereka telah menjadi korban kekuatan jahat yang ada di dalam rumah yang terlantar itu. Siapa yang tahu tetapi suatu hal yang pasti rumah itu masih berdiri dan misterius sampai hari ini.
Kepulangan yang Gila
Kelakar tawa menggema di ruangan yang tak lebih dari 4 x 4 meter persegi itu. Salah seorang berseru, “Lekaslah pulang, Kinai,” tegas dan disusul pecah tawa pria-pria dewasa lainnya. Terus begitu hingga lelah memeluk jiwa mereka. Memaksa mereka untuk beristirahat.Pagi kali ini, ruangan yang pengap itu tampak lebih pengap dari biasanya.Dipenuhi sisa-sisa gelagak kebahagiaan,Dipenuhi sisa-sisa rasa kemanusiaan.Bima, satu dari 3 lelaki yang kemarin tertawa hingga rahang mereka tak lagi terasa menatap sudut ruangan yang semalam dibanjiri dengan rembesan merah dari tubuh yang kini tak ber-raga, mulai mengering, menyisakan bau-bau yang menambah sesak ruangan.“Kinai pulang,” Bisiknya. Lalu dengan lamat-lamat melihat sekeliling ruangan. Seakan memindai dan kelebatan memori kembali hadir di depannya. Menunduk gelisah saat matanya kembali menatap sudut ruangan itu. Tiba-tiba tertawa,“Aku memulangkannya,”“Berterimakasihlah kepadaku dan teman-temanku, Kinai”“Kau mendapatkan apa yang kau mau, setelah kami mendapatkan apa yang kami mau. Kita semua menang, bukan?”Dalam hati, Bima merutuk bukan main. Memaki dengan lelah. Bukan beginilah seharusnya hidup Kinai berakhir.“Bima!” Seru seorang teman yang baru saja selesai menenun mimpinya. “Bagaimana ini?!” Tanya nya.Lelaki yang ditanyai memandang sekali lagi tubuh Kinai, “Selesaikan. Pulangkan Kinai dengan cara yang benar!” Tuntasnya.Dengan dibebat rasa takut dan penyesalan yang tipis dan nyaris hampir tak terlihat, Bima menjejak keluar ruangan. Berhenti sepersekian detik, “Selagi kalian memulangkan Kinai, aku akan memulangkan kita,”“Apa maksudmu?!” Seru salah seorang teman Bima yang lain.“Berhenti disana, Bim! Aku tak mau!” Seru yang lain. Tapi Bima tetaplah Bima. Dia tahu semua orang menantikan kepulangan mereka. Akhir dari tujuan hidup mereka hari itu. Kemanapun tempat yang dituju, untuk pulang.
Dibully selama setengah tahun, aku jadi bisa membaca pikiran orang.
Saat aku berpikir untuk mengakhiri hidupku, tiba-tiba ku diberi kemampuan untuk membaca pikiran orang.Aku bisa membaca isi hati orang yang membullyku :Nia hari ini ngomong sama orang lain lagi.Mengapa dia selalu saja tidak ikuti perintahku.Padahal dia hanya perlu melihat diriku saja.1Sepulang sekolah, aku dipaksa berlutut oleh sekelompok orang.Air kotor langsung disirimkan ke kepalaku, di cuaca yang dingin aku kedinginan hingga tidak sadarkan diri.Sebuah tamparan keras menyadarkan pemikiranku yang membeku.Aku dengan takut mengangkat kepalak untuk melihat sosok yang menjulang tinggi.Dia adalah teman sebangku aku dan juga brendalan terkenal di sekolah, dia juga orang yang memulai membullyku ——JoshuaMatanya tertunduk dia berkata dengan tatapan dingin :[Sudah sadar apa yang salah denganmu ?]Aku berlutut di lantai dengan mati rasa mengeluarkan pengakuan maaf :[Maafkan aku, aku seharunya tidak berbicara dengan siapa pun tanpa izin][Lalu apa lagi ?][Dan……?] Aku dengan bingung mengangkat kepalaku.Tapi detik berikutnya kepalaku dibenturkan ke lantai oleh orang yang ada didepankku.[Wenia, lu ini tidak bisa hidup kalau tanpa cowok ya ?][Jijik lu, asal lihat ada cowok langsung di dekatin.]Oh, jadi ini sebabnya.Aku dengan pasrah berucap :[Maafkan akku, aku tidak boleh mendekati dan menggoda cowok.]Tetapi aku tahu jelas diriku hanya ngobrol biasa dengan orang……Tapi aku tahu tidak ada gunanya berdebat dengan mereka.Aku ditendang beberapa kali lagi, diriku berusaha melindungi kepala dan berusaha untuk tidak menangis.Joshua berbicara dengan pelan :[Lain kali masih berani ?][Tidak, aku tidak berani lagi……] Seluruh badanku sakit, hanya mengucapkan beberapa kata ini saja sudah menguras semua tenagaku.[Bagus……] Suara Joshua terdengar senang, dia melihat orang disekitar dan mengangkat dagunya [Bubar.]Sekelompok orang itu pergi dengan tertawa sedangkan diriku masih terbaring kaku dilantai.Seluruh badanku sakit, diriku sudah tidak ada harga diri dan juga harapan.Tatapanku penuh kebingungan : Apa makna untuk terus hidup seperti ini?2Saat pemikiran ini muncul, disaat yang sama aku mendengar suara Joshua :[Nia hari ini ngobrol lagi dengan orang lain.][Mengapa dia selalu saja tidak ikuti perintahku.][Padahal dia hanya perlu melihat diriku saja.]……Nia, adalah namaku.Suara itu terngiang-ngiang di kepalaku.Aku dengan kaget mengangkat kepalaku tapi Joshua sudah pergi.3Keesokan harinya, aku membawa sarapan yang belum sempat dimakan dengan pelan memasuki kelas.Dengan ragu aku jalan hingga tempat dudukku, aku melihat Joshua sudah duduk dengan nyaman di tempatnya.[Pengen minum susu sarapan yang dibawa Nia. Tapi kalau gua minum Nia bisa kelaparan sampai siang, Lupakan saja.]Suara yang familiar muncul lagi dikepalaku.Aku terbengong dan melihat ke arah Joshua, secara refleks memberikan susuku padanya :[K, kamu sudah sarapan ? Ini untuk kamu.]Habis mengucapkan ini, diriku langsung menyesal.Joshua pasti akan mengatakanku menjijikkan dan membuang susu tersebut.Namun…… Joshua juga terkejut dan memandang susu itu, dia seperti kepikiran sesuatu.Beberapa saat kemudian muncul senyuman diwajahnya [Ya, terima kasih.]Dia menerima susu itu ? Bahkan mengucapkan terima kasih ???Aku tidak percaya denga napa yang terjadi.Jangan-jangan suara yang muncul dikepalaku itu bukan halusinasi tetapo adalah suara hati Joshua ?[Pfft—— Konyol sekali. Tiap kali melihat ekpresinya yang bodoh itu jadi pengen menindasnya. Tapi hari ini cukup sampai sini, susu sarapan yang dia berikan cukup manis.]Sekali lagi mengdengar suara hati Joshua, aku segera menarik Kembali tatapanku,ku duduk dikursi dan tidak lagi melihatnya.Aku pura-pura dengan serius membaca buku, sebenarnya pikiranku sudah melayang.Ternyata aku benar-benar bisa mendengar pemikiran orang, aku bisa mendengar suara hati Joshua.…… Kalau aku bisa memanfaatkan kemampuan ini, apakah bisa membuatnya tidak menindasku lagi ?4Kalau mau dibilang, hubunganku dengan Joshua sebenarnya tidak dimulai dengan burukDia adalah murid pindahan, kelas 3 SMA baru pindah ke kelas kami, wali kelas menyuruhnya duduk disampingku dan memintaku bisa mengajarinya.Dia pendiam dan tidak suka ngomong, aku tiap hari membawakan sarapan untuknya, memberinya catatan buku. Sepulang sekolah juga akan ngobrol dengannya, aku lakukan semua ini berharap Joshua bisa jadi lebih ceria.Lalu kenapa situasi bisa jadi seperti ini ?Sepertinya waktu itu aku sedang membahas soal dengan beberapa teman dikelas, Joshua tiba-tiba membanting meja.Setelah itu dia menarik rambutku dan memarahiku tidak tahu malu……Semenjak itu aku sering dimaki dan dipukulnya.Dia memperingati teman kelas lainnya tidak boleh berhubungan denganku dan semenjak itu aku dijauhin teman-teman.…… Jadi, Joshua mengapa tiba-tiba membullyku ?5Aku terus memikirkan masalah ini sehingga tidak focus belajar.Joshua dengan malas mengangkat dagunya dan melihat jendela, aku tiba-tiba mendengar suara hatinya lagi ——[Kelinciku nampaknya hari ini kurang focus.Jangan-jangan kemarin kelewatan ? …… Tapi itulah yang pantas dia dapatkan.Gua sudah memperingatinya beberapa kali untuk jangan bicara dengan yang lain, mengapa dia masih suka menempel orang-orang itu ?Pengen kurungin dia saja, dengan begitu dia tidak bakal bisa berhubungan dengan orang lain lagi.]Diriku jadi takut dan semakin banyak suara hati yang muncul di kepalaku.[Kelinci nampaknya lebih kurus ?Harusnya pagi tadi gua tidak ngambil susu sarapannya.Tapi dia sudah lama tidak bawakan gua sarapan.][Jangan piker gua tidak tahu, kamu begitu giat belajar demi kedepannya bisa masuk universitas yang bagus dan menjauh dari ku. Lu piker lu benar-benar bisa lari dari perangkapku ?][Gimana kalau buat dia tidak bisa ikut ujian nasional ? Misalnya patahin tangan kanannya ?][Hanya menghancurkannya dia baru tidak kepikiran terus untuk menjauh dariku. Jadi orang cacat dan teruslah berada disisiku.]……6Wajahku jadi pucat, sekali bunyi bel istirahar aku segera keluar dari kelas.Sesampai di wc, aku muntah.
3 Mantan, 1 Istri, Hanya Karena Cinta Terlarang dari Mertua
Tanteku memiliki rasa cinta yang berlebihan terhadap anaknya. Dia pernah mengusir ke tiga mantan pacar anaknya dan memaksa mereka untuk bercerai, yang akhirnya menyebabkan depresi pada sepupuku dan membuatnya hampir bunuh diri.Tante dan omku menikah dan memiliki anak ketika mereka sudah berusia 30 tahun. Ketika sepupuku lahir, tenteku memperlakukannya seperti harta karun paling berharga dan merengkuhnya erat di dadanya. Pada usia 8 tahun, sepupuku sama sekali tidak bisa merawat dirinya sendiri, bahkan pada usia 12 tahun, dia tidak tahu bagaimana cara mengupas telur dengan benar - menunjukkan seberapa besar tenteku memanjakannya.Ketika sepupuku berusia 10 tahun, omku meninggal karena kecelakaan. Tenteku tidak menikah lagi membuat dia dan anaknya saling mengandalkan satu sama lain selama lebih dari 20 tahun. Ia memberikan semua energinya untuk anaknya, dan selalu mengatakan bahwa sepupuku adalah dukungan emosionalnya.Banyak anggota keluarga yang menyadari bahwa rasa sayang tenteku untuk sepupuku telah melampaui rasa cinta yang tidak sewajarnya. Bahkan ketika sepupuku berusia 18 tahun dan takut tidur sendirian, tanteku akan ke kamarnya, membelai dia hingga tertidur seperti bayi.Setelah sepupuku lulus dari sekolah teknik, dia mulai bekerja dan sering lembur hingga tengah malam. Tanteku akan membawa makanan ke tempat kerjanya dan menemaninya selama shift malam.Saat mengetahui sepupuku mulai berpacaran, tanteku marah besar, dia mengatakan pada sepupuku bahwa dia terlalu muda untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Sepupuku baru berusia 20 tahun saat itu, dan dia tidak punya pilihan lain selain mendengarkan keinginan ibunya untuk putus dengan pacarnya.Lalu, ketika sepupuku berumur 25 tahun, dia jatuh cinta lagi. Jika dilihat dari usianya, ini seharusnya tidak masalah, bukan? Tapi tanteku lagi-lagi masih tidak setuju. Ada saat di mana sepupuku nekat membawa gadis itu ke rumahnya, tenteku bersikap ramah di depannya. Namun, begitu sepupuku pergi, dia segera mengubah sikapnya dan menatap gadis itu dengan tajam. Gadis itu merasa terintimidasi dan pergi tanpa mencoba makanan yang telah disediakan.Pernah juga, sepupuku mengajak pacarnya ke bioskop. Tanteku langsung merajuk dan mengatakan dia juga ingin pergi. Sepupuku, sebagai anak yang berbakti, akhirnya membelikannya tiket. Selama film, tenteku duduk di antara sepupuku dan pacarnya, menggenggam tangan sepupuku, dan terkadang bersandar pada bahunya, seolah-olah dia adalah pacar yang harus diutamakan. Setelah film ditayang, gadis itu tidak tahan dan akhirnya putus lagi dengan sepupuku.Pada usia 28 tahun, sepupuku mulai menjalin hubungan yang ketiga. Wanita ini cantik dan memiliki pekerjaan yang baik, membuat sepupuku merasa puas. Namun, tenteku masih belum menyetujuinya, berkata bahwa wanita itu terlalu cantik dan takut sepupuku tidak mampu untuk memenuhi kebutuhannya di masa depan. Namun, sepupuku bertekad untuk melanjutkan hubungannya dengan wanita itu.Ketika wanita itu datang untuk makan malam pertama kali, sepupuku yang memasak. Tenteku menangis, aku tidak tahu apakah dia merasa kasihan pada anak laki-lakinya yang memasak, atau dia iri dengan wanita itu.Wanita itu cukup naif, dan meskipun dia merasa perilaku tenteku agak tidak normal, dia hanya menganggapnya sebagai manifestasi dari cinta seorang ibu pada anaknya. Wanita itu juga sangat baik dan bahkan menerima permintaan tenteku untuk berkencan bersama mereka.
Aku kecanduan selingkuh dengan bibi kandungku
Saya ragu tentang masalah ini dan memutuskan mencari seseorang untuk diajak bicara tentang hal ini, jika tidak maka saya akan terbebani karena terus memikirkan hal ini.Saya telah berhubungan dengan bibi saya, hubungan ini berlanjut selama lebih dari satu tahun, dan belum ada seorang pun dari keluarga atau teman saya yang mengetahuinya.Menurut bibi saya: ini akan menjadi rahasia kami seumur hidup kami dan kami tidak boleh memberi tahu siapa pun.Dia adalah saudara kandung ibu saya, 6 tahun lebih muda dari ibu saya, 38 tahun, dan saya baru berusia 20 tahun.Tahun lalu, saat liburan, saya pergi ke rumah bibi saya untuk melihat sepupu kecil saya (berumur 16 tahun) untuk mengajaknya keluar, tetapi sepupu saya telah diajak pergi oleh teman sekelasnya dan suami bibi saya kebetulan sedang dalam perjalanan bisnis, saya mengetuk pintu cukup lama baru dibukakan pintu oleh bibi. Saya mengerti ada sesuatu yang disembunyikan oleh bibi saya, melihat saya yang datang, bibi segera menarikku ke dalam kamar, ku menyadari remote tv masih ada didalam genggaman tangan bibi, mungkin tadi dia sedang menonton sesuatu, mendengar ada yang datang segera menutup tontonannya.Saya berkata, "Bibi, jangan-jangan sedang menonton film dewasa saat suami bibi tidak ada dirumah ya?!Siapa tahu dia tersipu malu, menatap saya dengan bingung, tersenyum dan berkata: Kamu anak yang pintar, bagaimana kamu tahu bahwa bibi menonton itu?Saya tertegun dan menatapnya dengan mata terbelalak: "Oh, kamu benar-benar menontonnya?Dia mengaku kepadaku dengan ramah, "Yah, aku menontonnya karena aku bosan, tetapi ketika kamu datang, aku terkejut dan mematikannya. Lagipula, kamu sudah dewasa, jadi, duduklah dan tontonlah semuanya bersama bibi !Sejujurnya, saya tidak terlalu memikirkannya pada saat itu, saya hanya berpikir bahwa bibi sangat berani dan lucu, dan bahkan meminta saya untuk menonton bersamanya, kupikir, tonton saja, apa yang saya takutkan, saya juga bukan belum pernah nonton sebelumnya.Berikutnya, dia menutup pintu, menarik tirai, menyalakan AC, mengeluarkan sepiring buah, berbagai minuman dan beberapa piring makanan ringan, sangat menyenangkan, jadi kami berdua duduk bersila di sofa dan menonton. Saat mata kami bertemu, seakan-akan memancarkan cahaya hijau, kami langsung memahami satu sama lain.
Perselingkuhan : Gadis Muda Namun Konyol
Aku pernah punya teman kost perempuan, ia seorang perempuan berumur 26 tahun. Ia sangat menarik dan cantik. Demi uang, ia melibatkan dirinya dengan bapak kos yang berusia 53 tahun. Mereka memiliki hubungan yang sangat manis dan sering menunjukkan kemesraan mereka di depan umum.Situasi yang mengerikan ini dimulai ketika Aku mencari seseorang untuk berkost. Aku menyukai rekanku di kantor yang tampan dan ramah, dan aku mendapatkan kabar kalau rekanku sedang mencari teman kost. Aku berpikir, jika Aku tidak mencoba, bagaimana mungkin Aku bisa mendekatinya? Jadi Aku mengambil inisiatif untuk meninggalkan kost lamaku dan berpura-pura mencari yang baru.Akhirnya, kami berhasil menjadi teman kost dimana didalam apartemen tersebut terdiri empat kamar tidur yang dapat menyewa tiga orang lainnya.Teman kost adalah hal yang paling mudah bertumbuh cinta seiring berjalannya waktu. Bahkan pada hari pertama, Aku sudah merencanakan tempat-tempat yang ingin Aku kunjungi bersamanya, seperti tempat makan, belanja, dan menonton film.Namun, ada satu teman sekamar perempuan lagi yang muncul, dan ia sangat cantik. Aku memanggilnya "Si Manis" karena dia sangat manis dalam berbicara. Ia adalah penyewa keempat di apartemen ini, tinggal di seberang Aku, dan bekerja sebagai salesperson di perusahaan perdagangan internasional.Ketika Si Manis pindah masuk, aku yang membuka pintu untuknya. Saat aku melihatnya, aku benar-benar terkesima. Dari mana dia berasal? Dia berpakaian ala Prancis retro dan membawa tas branded di pundaknya. Namun, kostum yang begitu lembut ini, bersama dengan semua barang bawaannya dan perabotannya, tampaknya tak sesuai sama sekali.Siapa yang pindah rumah dengan berpakaian seperti ini?Aku tidak tahu seberapa buruk keadaannya akan menjadi.Setelah Si Manis masuk, staf dari perusahaan jasa pindahan menumpuk semua barangnya di ruang tamu, mengambil uang pembayaran, kemudian meninggalkannya. Aku berpikir Si Manis akan kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mulai membungkus barangnya. Namun, dia hanya berdiri di sana, meletakkan tasnya, kemudian mencoba mengangkat sebuah kotak yang berat. Dia mengambil langkah kecil ke depan sebelum menempatkan kotak dengan berat."Ugh... sangat berat."Kalau tidak salah mataku, kotak itu hanya berisi kosmetik. Bagaimana kosmetik bisa seberat itu? Sementara aku masih penasaran bagaimana Si Manis bisa bertahan di kota besar ini dengan ketidakmampuannya untuk merawat dirinya sendiri, dua teman sekamarku keluar dengan buru-buru."Izinkan kami membantumu!" mereka menawarkan.Pria yang kucintai, Citro, yang tadi sedang bermain game, segera meletakan teleponnya dan berjalan ke arah Si Manis. Teman sekamarku yang lain juga lari kemari, membawa sebuah botol air dengan bijaksana."Tidak perlu merepotkan dua abang yang baik hati, aku bisa memindahkannya sendiri dengan pelan-pelan," Si Manis menolak dengan sopan."Tidak apa-apa, kan kita udah keseluruhan hari main game dan kebetulan lagi bosan. Yuk jadikan ini sekalian olahraga," kata Citro dengan senyum. Pria yang satu lagi juga mengikutinya, "Ya, toh kita lagi senggang juga, masa membiarkan cewek untuk menganggkat beban berat sendiri."Kedua lelaki itu pergi setelah berbicara dan sengaja memamerkan otot-ototnya yang sudah berkembang dengan menggelungkan lengan kaus kering mereka.Kedatangan Si Manis membuat Aku menjadi khawatir.Suatu malam setelah pulang kerja, Aku tiba di rumah. Saat membuka pintu, Aku melihat bahwa tidak ada yang membukai lampu.Aneh, apakah mereka bertiga ada lembur hari ini?Sambil bertanya-tanya, Aku berjalan menuju saklar lampu. Namun setelah Aku menyalakan lampu, Aku mendengar suara teriakan Si Manis dari ruang tamu: "Oh tidak~"Aku meletakkan tas Aku, berjalan cepat ke ruang tamu, kemudian terpaku melihat adegan di depanku.Pada saat itu, Si Manis sedang bercengkerama dengan Citro di sofa. Dia duduk dengan kaki bersilang, dilapisi selendang besar, sedikit miring ke satu sisi. Sementara itu, tangan Citro memegang punggung Si Manis dan ia terlihat puas di wajahnya. Televisi menampilkan sebuah kisah cinta, tentang dua orang asing yang menemukan jalan satu sama lain dan menjadi jodoh…Saat keduanya terlarut dalam suasana menggoda, Aku mengganggu dengan menyalakan lampu.Si Manis mematikan film dengan remote dan menatap Aku, lalu tersenyum manis dan bertanya, "Bisakah kamu mematikan lampunya?"Aku merasa canggung, kecewa, dan merasa kalah.Sepanjang perjalanan itu, wajah Citro terus menatap manis Si Manis tanpa berkutik sedikit pun untuk menoleh ke arahku.Dengan dingin, aku mematikan lampu untuk mereka.Hubungan Si Manis dan Citro berkembang dengan cepat, seperti yang aku prediksi beberapa bulan kemudian, mereka kemungkinan akan menikah dan memiliki anak-anak.Namun, aku tidak pernah bisa membayangkan meskipun Si Manis akhirnya menikah, ia tidak menikahi Citro, lelaki yang dulu selalu menonton film bersamanya.Suatu hari, mesin cuci kita tiba-tiba rusak. Dari pakaian-pakaian yang meneteskan air di balkon, jelas terlihat bahwa Si Manis sedang mencuci pakaian ketika mesin rusak.Aku tahu hal ini karena Si Manis pernah mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mencuci pakaian secara manual.Tiba-tiba, Si Manis keluar dari kamarnya dan aku pun berkata, "Si Manis, mesin cuci telah rusak.""Oh, begitu? Ya sudah, berarti memang rusak," jawabnya."Pakaian di balkon tadi, itu pakaian terakhir yang kau cuci, kan?"Saat aku bertanya begitu, wajah Si Manis langsung berubah cemas dan ia mengibaskan tangannya di depanku."Aku mencuci pakai tanganku sendiri, jangan salahkan aku!" Si Manis berbalik dan masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan keras. Aku tidak mengerti kenapa Si Manis menjadi marah.Aku melihat tumpukan selimut dan seprai yang sudah dibongkar di kamar mandi lalu menghubungi nomor bapak kost apartemen dengan capek.Bapak kost selalu irit uang. Setiap kali kami memintanya untuk memperbaiki sesuatu, ia selalu memberikan ceramah tentang menjaga barangnya sendiri dan menolak untuk menggantikan apapun dengan yang baru. Kali ini tidak berbeda, setelah Aku menjelaskan situasinya kepadanya melalui telepon, ia langsung menolak permintaan Aku."Mesin cuci dirusakan oleh kalian, jika ingin yang baru, kalian harus membelinya sendiri.""Dan Aku pikir kalian hanya perlu mencari mesin cuci bekas, membeli yang baru tidak sepadan.""Jika kalian merasa terlalu mahal, maka carilah seseorang untuk memperbaikinya bareng, kalian juga susah untuk mendapatkan uang."Singkatnya, ia memahami situasiku, merasa kasihan padaku, tetapi tidak mau mengeluarkan uang sedikitpun. Setelah ia selesai berbicara, ia menutup teleponnya.Aku duduk dalam ruang tamu, terdiam dan menatap langit-langit. Cinta tidak ada dalam hidupku, dan sekarang aku harus bertanggung jawab atas mesin cuci yang rusak?!"Mesin cuci rusak, mari kita diskusikan." Aku mengirim pesan ke grup chat.Semua orang duduk di sisi meja yang berlawanan. Si Manis dan Citro duduk di satu sisi, sementara aku duduk dengan teman sekamarku yang laki-laki di sisi lain.Aku menjelaskan situasi tentang telpon dengan bapak kost dan menyarankan, "Jika tidak bisa lagi, mari kita beli yang baru aja."Aku melirik ke arah Citro, dan ia mengangguk."Yang baru? apakah mesin cuci itu mahal atau tidak ya?" Si Manis menyandarkan dagunya dengan tangannya, menolehkan kepalanya untuk bertanya pada Citro dengan gaya mata rusa yang polos.Citro berkata, "Gak apa-apa, kamu kan baru masuk, kita bertiga bisa bagi rata biaya mesin cuci." Pria yang satu lagi juga menambahkan, "Iya nih, Si Manis baru pindah, mari kita bayar bertiga aja."Aku sudah siap-siap untuk menolak, namun tiba-tiba si manis mengatakan argumennya, "Jangan gitu dong, aku coba bahas sama bapak kost dulu, siapa tau akan dibelikan nih."Hari itu adalah hari minggu, Si Manis bangun pagi-pagi dan masuk ke kamar mandi, dan suara berisik keluar dari sana.Ketika aku melihatnya, aku meneumukan dia mencuci baju dengan tangan, dijarinya telah terpasang sebuah berlian besar yang memantulkan cahaya di kukunya.Tiba-tiba, bapak kost datang dan terlihat tidak sabar.Aku melihatnya dan segera hampir menyapa bapak kost, Si Manis juga langsung memanggil dengan penuh ramah, "Ayo, masuk sini dong, kakak~"Simanis melihat aku berdiri bengong, dia menoleh dan memicingkan matanya, berkata, "Mending bikinin kakak segelas kopi dong."Dengan kehangatan dan antusiasnya, ketidak sabaran bapak kost perlahan menghilang.Aku menuangkan kopi seperti biasa untuk bapak kost di dapur, dan ketika aku kembali ke ruang tamu, aku melihat keduanya sedang asyik berbincang-bincang dalam waktu beberapa menit saja.Si Manis menunjukkan tangannya yang sudah memerah ke bapak kost sambil berkata dengan manis, "Lihatlah tanganku, mencuci baju membuatnya kasar. Kakak yang baik hati, rumahmu besar dan makmur, kamu adalah pondasi rumah, dan kami hanya anak muda yang berharap kamu bisa membantu mengurus kami."Kemudian, Aku melihat wajah bapak kost mengekspresikan simpatinya. Dia dengan cepat meraih tangan Si Manis dan berkata, "Benar? dimana bagian kasarnya? Biarkan Aku lihat."Aku tidak tahan lagi, bagaimana kelewatan Si Manis padaku, dia pun tidak boleh dihadapi bapak kost seperti gini.Aku mempercepat langkah dan berjalan mendekat, siap untuk menuangkan kopi panas ke kepala bapak kost jika dia berani menyentuh dia.Tidak disangka, Aku terlalu khawatir, Si Manis pandai untuk melindungi dirinya sendiri.Begitu bapak kost menyentuh Si Manis, dia akan menarik tangan sendiri, dan hal ini dilakukan dalam beberapa kali. Masalahnya bapak kost malah senang, dan tersenyum padanya.Kemudian, Si Manis mengeluarkan botol krim tangan dari sakunya, menggunakannya dengan hati-hati, dan tersenyum pada bapak kost sebelum melanjutkan perilakunya seperti anak manja, "Kakak, tangan Aku itu sebelumnya sangat lembut, tapi sekarang semakin kasar, bisakah kakak belikan sebuah mesin cuci baru?"Bapak Kost tertawa senang karena menikmati kehadiran wanita muda yang cantik di usianya. Dia menepuk lututnya dan berjanji pada Si Manis, "Beli saja, beli saja, Aku akan memesannya online sekarang juga!"Keesokan harinya, mesin cuci baru tiba. Ini adalah Mesin cuci + pengering yang terbaru.Namun, Aku melihat sesuatu yang aneh.Baru-baru ini, setiap kali Si Manis pulang dari kerja, bapak kost akan mengetuk pintu rumahnya. Jika suatu hari Si Manis pulang larut karena kerja, bapak kost tidak akan datang. Seperti sebuah siklus yang sangat teratur.Setelah bapak kost datang, dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya bermain-main dengan mesin cuci baru sambil tersenyum dan bertanya, "Bagaimana mesin cuci baru bekerja?"
Aku Menggoda Cowok Pemalu Di Reality Show
Aku hanyalah orang biasa, tapi terpilih untuk ikut reality show kencan.Hari pertama aku sudah menjebak adik pemalu ini, buat dia jatuh cinta dan nekad menikah dengaku.Lupa ku beritahu, adik pemalu ini punya tampak seperti artis dan memiliki postur tubuh seperti Kapten Amerika......1Hari pertama ikut reality show, aku sudah ditemukan dengan adik ganteng pemalu yang polos.Dia bersembunyi dibelakangku dengan suara jernih bertanya,[Kak, aku sedikit gugup, boleh nanti baru naik tidak ya ?]Aku : [Entahlah, aku juga pertama kali aku ikuti reality show kencan.]Ternyata adik ganteng pemalu ini didaftarkan oleh temannya dan dai tidak tahu ternyata ini acara kencan.Pfft...... Orang polos seperti apa ini ?Aku menoleh, langsung mimisan !Cowok ini hanya mengenakan kaos dan celana pendek, tapi dia memiliki wajah yang tampan, body layak kapten amerika, ya ampun ganteng banget.Aku tidak pernah menyangka bisa secepat ini ketemu dengan cinta sejatiku.Aku menepuk pundak adik ganteng : [Baby... Oh maksudku bro, ini beneran reality show kencan.]Lihat saja dekorasinya kalau tidak percaya.Adik ganteng tercengang dan terengah-engah, dia hendak pergi.Aku segera menariknya.Tapi adik ganteng sudah memutuskan untuk pergi.Aku mengangkat tangan berkata : [Ya sudah, pergi saja, untuk yang melanggar kontrak harus membayar 5 juta dollar loh......]Dia segera terhenti, [Aku bukan mau pergi kok, aku hanya mau lakukan pemanasan saja.]Pemanasan ? Oh itu bagus .Aku menatap ototnya dengan tatapan panas dan bertanya [Namamu siapa ?]Adik ganteng menatapku karena kehabisan kata-kata, dia menggigit bibir, wajahnya yang putih nampak merah.Kami bertatapan, adik ganteng merajuk dan pergi.Kenapa bisa ada cowok seganteng dan seimut ini ya ampun.2Pertemuan kami dalam reality show ini terletak pada taman yang ada ditepi sungai.Lucas adalah pemeran pria keteiga, sebentar lagi giliranya untuk tampil.Pemeran wanita pertama dan kedua sudah tampil, aku sangat takut Lucasku yang polos ini digoda sama yang lain.Oleh karena itu aku sengaja menyuruhnya hati-hati.[Beb, aku kasi tahu ya, jangan pernah bicara dengan wanita manapun !][Mengapa ?][Karena aku takut kamu tergoda......][???]Aku menatapnya dengan serius dan berkata : [Nampak dirimmu tidak tahu hal ini, tim syuting sejak awal sudah menyiapkan kontrak "Perjanjian tidak boleh putus" agar selama acara ini tayang tidak terpengaruhi ! Jika kamu pacaran dengan salah satu tamu disini maka dalam satu tahun ini jika kamu putus harus ganti rugi 10 juta dollar !!!][10 juta dollar?! Mengapa mereka tidak rampok aja sekalian !][Oleh karena itu kamu harus menjauh dari wanita-wanita agar dompetmu terjaga !]Aku berkata dengan tulus dan dengan alami menggenggam tangannya.Telapak tanggany sedikit kasar tapi punggung tangannya halus.Lelaki berotot yang polos .Ini seratus persen lelaki idamanku !!![Kakak, sudah cukup......]Lucas menarik kembali tangannya, menatapku dengan sedikit marah.[Aku sedang meramal masa depanmu lewat telapak tanganmu ini.]Aku tidak tahan mengulurkan kembali tanganku yang berosa, Lucas dengan malu menghindar.[Tidak, aku...... Aku geli !!!]Suaranya lembut, tatapannya polos, sedangkan ujung telinganya sudah memerah.Ya ampun kenapa bisa seimut ini!Sutradara sudah menegurnya : [Pemeran ketiga Lucas, siap-siap tampil !]Dia mengepalkan tanganya, mengerutkan bibirnya dan pergi, seperti mau pergi antar nyawa saja, wuwuwu imut sekali babyku......Lucas sekali tampil sama seja dengan domba yang mengantar diri ke mulut harimau.Aku sangat khawatir, setelah beberapa menit lewat akhirnya giliran aku juga.Pemeran wanita keitga Elina ~~~Perlu aku sebut, reality show ini mengundang 3 orang tamu pria da 3 orang tamu wanita.Sejauh yang ku tahu, dari ketiga tamu ini, Tamu wanita pertama adalah model, tamu wanita kedua seorang professor.Kecantikkan dan kecerdasan sudah mereka miliki.Sedangkan aku ?Tampangku biasa saja, dadaku juga datar, nampaknya aku tidak kompetitif sama sekali.Aku juga bingung mengapa tim acara bisa memilihku.Jangan-jangan mereka membayar FBI untuk mencari tahu bahwa aku sekaligus pdkt dengan 5 pria sekaligus ?Eh——Perlu aku beritahu dulu, 5 pria ini semua doi sahabatku.Dia sibuk kerja sehingga membayarku untuk membantunya menjalin hubungan ini.Aku juga tidak ingin berbuat seperti ini, tapi... Uang yang dia berikan terlalu banyak......Kembali ke topik, aku akan tampilkan kealihan gombalku dalam acara ini.3Alasan mengapa aku ikut acara ini, sebenarnya aku ingin menjadi viral agar olshop aku bisa lebih banyak yang berkunjung pada olshop aku.Aku juga kehabisan akal, diriku benar-benar tidak ingin bekerja dengan orang lagi !Siapa sangka muncul adik ganteng yang mengacaukan recanaku......Anyway, sekarang cita-citaku adalah :Cepat kaya, dapati adik ganteng dan mencapai puncak hidup.Setelah aku selesai perkenalkan diri, kami semua berbicara dengan canggung.Pertemuan pertama acara ini berakhir disini——Mulai besok semua tamu akan pindah ke tempat tinggal yang disiapkan dan memulai syuting selama setengah bulan.Sekarang kami masing-masing disuruh pulangSaat kami mengucapkan selamat tinggal, model dan professor sudah diatur untuk diantarkan oleh tamu pria pertama dan tamu pria kedua.Namun sayangnya, tamu wanita kita semua menyukai yang ganteng......Mereka melihat ke Lucas.Lucas dengan suara tulus berkata [Aku naik bis, apakah kalian sejalan ?]Sangat jelas, kedua tamu wanita kita sangat tertarik dengan Lucas ! Saat mereka mau menganggukkan kepala......[Uhuk! Uhuk!Uhuk!]Jauhi lawan jenis ~~~ 10 juta dollar !!!Aku batuk seperti orang yang sudah terkena penyakit berat !Lucas si bodh ini baru mengerti maksudku[Tidak, tidak, tidak, aku tidak naik bis, aku jalan kaki untuk pulang.]Tamu wanita pertama : [Jalan kaki ? Rumahmu dekat sini ya ?]Lucas : [Iya, sekitar 12 Km]Semua orang : [......]Aku menepuk dahi, beb lain kali kalau mau nolak orang coba putarkan kepala kamu dulu ya.Setelai rekaman aku sama Lucas bersama naik bis.[Kak, kok kamu juga naik bis ?][Karena aku miskin dan tidak ada yang mengantarku......]Bis sudah sampai, aku melangkah tapi Lucas tidak bergerak sama sekali.[Kakak jalan dulu saja.][???]4[Kakak juga tamu wanita, aku tidak boleh terlalu dekat denganmu, kalau tidak...... Aku masih mahasiswa, tidak ada uang sebanyak itu untuk membayar tim syuting......][......]Oke, aku mengerti.Aku menggali lubang untuk diriku sendiri, kan?Didalam bis sangat sempit, kami berdua tepaksa (sebagian besar karena Lucas) kami jadi menempel bersama.[Kamu tidak perlu tergoda olehku Lucas !][Mengapa ?][Pertama aku tidak cantik, kedua aku juga tidak punya body yang bagus !]Ya, "orang biasa" adalah pelindungku.[Kata siapa ! Kakak cantik banget tahu !][???]Sial, mulutnya terlalu manis, dia pandai sekali dalam berbohong !Apa dia benar-benar polos ? Atau dia hanya menyembunyikan identitasnya yang play boy ???[Kakak bodynay pas, warna kulitnya juga seperti gandum yang indah, aku...... Aku merasa sangat cantik......]Tanpa basa-basi lagi, seleramu sangat bagus Lucas! Aku cinta mati sama dia !
Transmigration And President's Cute Wife
Ye Yuxi adalah seorang designer perhiasan internasional yang terkenal pada tahun 21. Tapi dia meninggal karena mengalami kecelakaan setelah memergoki suaminya berkumpul dengan sepupunya.Dia tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dengan tragis. Padahal sepupunya memiliki suami yang sangat menyayangi nya, tapi dia menggantungkan dirinya pada dua pria yang salah satunya suami Ye Yuxi.Sepupunya merupakan saudara yang paling dekat dengannya dari pada adik laki-lakinya sehingga membuat hubungan antara kakak adik mulai merenggang.Dia selalu menceritakan semua hal yang terjadi dalam rumah tangganya pada sepupunya, tapi ternyata sepupunya menikamnya dari belakang.Seharusnya dia mempercayai perkataan adiknya bahwa sepupunya hanya ingin memanfaatkannya ,tetapi dia tak pernah mendengarkan nya dan malah menjauhinya.Dia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri karena terlalu mudah percaya pada suami dan sepupunya yang menipunya.Tapi utungnya dia diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan untuk kedua kalinya, dia sekarang berumur 10 tahun.Dia masih berada di SHS sekolah menengah pertama yang berarti dia belum bertemu dengan Su Wen suami masa lalunya.Dia ingat bahwa setelah ayahnya pulang dari kerjasamanya di Amerika, sepupu perempuannya Lu Suxi mulai mengunjungi mansion keluarga Ye yang beralasan ingin mengunjungi Ye Yuxi yang demam karena mereka teman baik, sekarang dia akan membalaskan dendamnya bukan untuk menjadi teman baiknya.1Karena terlalu lama berpikir setelah bangun, kepalanya mulai terasa sakit sehingga ia memejamkan matanya.Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ye Zen memasuki kamar kakaknya sambil membawa obat yang diberikan oleh Ye Xilian sang ibu."Kakak apa kau baik-baik saja?"Ye Yuxi mendengar suara yang akrab di telinganya dan segera membuka matanya, melihat adiknya muncul didepannya setelah dia kembali ia tak bisa menahan air matanya lagi dan memeluk adiknya sambil mulai terisak-isak dalam tangisnya."Kakak kau kenapa apakah ada yang sakit?"Ye Zen bertanya kepada Ye Yuxi yang memperlihatkankan perasaan khawatir dimatanya."Tidak...ti..dak aku hanya ingin memelukmu saja Zen."Walaupun Ye Zen binggung dengan apa yang terjadi pada kakaknya yang tiba-tiba bisa begitu dekat dengan nya, karena dia tak pernah mau mendekatinya karena kakaknya selalu pergi bersama sepupu perempuannya .Tapi dia tak bisa menahan rasa bahagianya walau masih terdapat beberapa kekhawatiran di matanya, tetapi dia tetap membalas pelukan saudaranya.Setelah tangis Ye Yuxi mereda dia meminum obat di bantu adik laki-lakinya setelah makan dan beristirahat agar demamnya cepat reda.Setelah minum obat dan istirahat semalam, sekarang Ye Yuxi bisa keluar dari kamar dan bertemu ibu dan ayahnya. Ye Guo melihat putrinya keluar dari kamarnya ia ingin memeluk anak perempuannya itu tapi ia selalu pergi jika dirinya muncul didepannya.Bahkan istrinya pun tak bisa dekat dengan putri mereka, semua itu terjadi karena sebagai orangtua mereka sering pergi bekerja tanpa bertemu anak-anak mereka.Dalam hati mereka merasa bersalah telah menelantarkan anak-anak mereka tanpa kasih sayang yang berlimpah, sekarang mereka ingin memperbaiki keadaan."Ayah,Ibu kalian sudah pulang?"Mereka semua terkejut karena ini pertama kali setelah sekian lama putri mereka mau berbicara pada mereka."Ayah ibu aku merindukan kalian, apakah kalian akan menetap selama beberapa hari?"Ye Yuxi berlari dan memeluk kedua orangtuanya, didalam hatinya dia mulai berterimakasih karna dia bisa bertemu kedua orang tuanya kembali dan dia tak akan pernah menyianyiakan hal itu."Ye Yuxi...."Ye Xilian dan Ye Gao terlalu terkejut mendengarkan putri mereka yang memanggil nya sehingga hanya bisa menyebut nama putrinya."Ye Yuxi putriku maafkan kami nak karena tak pernah memperhatikanmu dan adikmu selama ini."Ye Gao mengatakan dengan perasaan bersalah dan mata yang memerah, disampingnya Ye Xilian sudah menangis."Ayah ibu Yuxi juga minta maaf pada kalian karena membuat kalian kesusahan selama ini."Ye Yuxi berucap sambil menangis, tak kuasa akhirnya ia dapat berkumpul kembali dengan keluarganya."Sudah sebaiknya kita lupakan kejadian yang sudah terjadi mari kita awali kembali."Ye Zen mengatakan dengan tenang agar membuat suasana lebih nyaman."Baiklah mari kita makan dan kalian berdua akan belajar setelahnya."Ye Gao mengatakannya untuk menegahi.Kini 5 tahun sudah Lu Suxi tak pernah mengunjungiku lagi karena aku ingat setelah demam reda hari itu, Lu Suxi pindah ke asrama dan aku mulai memperbaiki sikapku dalam keluargaku.Sekarang Ye Yuxi telah menjadi siswa di SIA (Sekolah International Atas) dia memanfaatkan pelajaran yang sudah dipelajari pada masalalunya.Dia sekarang termasuk dalam siswi top di sekolahnya karena kepintarannya.Tapi disinilah dia mulai mengenal Su Wen dia juga termasuk siswa tampan di sekolah.Sebisa mungkin dia selalu menghindar setiap dia akan berpapasan dengan Su Wen, tapi dia tak bisa menahan kebenciannya terhadap Su Wen.Dia akan selalu ingat akan masalalu nya saat suaminya berselingkuh dengan sepupu perempuannya.Karena itu sebisa mungkin selalu menghindarinya, jika di ingat seharusnya sekarang aku sudah berpacaran dengan Su Wen karena dia selalu mengirimiku cokelat setiap harinya.Bodohnya aku yang dulu termakan oleh tipu dayanyayang menganggap Su Wen menyukai ku.Padahal yang sebenarnya terjadi adalah dia memberiku coklat untuk mengajakku bicara sekaligus menjadi penghubung antara dia dan Lu Suxi.Karena waktu itu mereka sudah memiliki hubungan, tetapi karena Su Wen tidak sederajat dengan kelurga Lu dia ingin memanfaatkanku untuk mendapatkan Lu Suxi.Keluarga Lu akan selalu melakukan perjodohan pada anak-anak mereka. Tapi keluarga Ye tidak, karena itu dia memanfaatkan ku agar bisa selalu berdekatan dengan Lu Suxi dan dengan bodohnya aku selalu mempercayainya.Sekarang aku sedang berjalan menuju kafe sekolah karena sangat lapar karena bangun kesiangan."Bruk.."Aiss aku terjatuh dan kulihat makananku yang berserakan di lantai, ingin sekali rasanya aku menangis."Kau ganti rugi!" Aku berteriak pada orang yang menabrakku tampa melihat mukanya karna sedang membersihkan tumpahan makanan yang mengenai seragam sekolahku."Hmm.. baiklah."Ye Yuxi segera menghentikan gerakkan tangan yang membersihkan seragam sekolahnya,Kini aku menyadari suara ini tak asing lagi di dengarnya ia ingin sekali membunuh orang di depan nya ini.Dia segera melihat wajah orang yang ada di depannya."Ka..kamu ganti rugi!"Aku menyuruhnya membelikan ku makanan yang tadi berserakan."Kenapa kamu melihat ku seperti itu apa aku aneh?" Su Wen merasa bahwa gadis cantik didepanya menatapnya dengan pandangan kebencian kepadanya terlihat dari tatapan matanya."Ya kau aneh kenapa kau tinggi?"Ye Yuxi tak bisa menahan kebenciannya tapi dia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dengannya."Baiklah terserah kau saja."Su Wen masih merasakan kebencian dimata gadis yang dia tabrak walaupun dia sudah mengganti makanan yang berceceran tapi gadis itu tetap saja tatapan matanya seperti membencinya.Sejak Ye Yuxi kembali dari sekolah dia tak separti biasanya , dia terllihat murung. Di kamarnya dia kembali mengingat pertemuan nya dengan Su Wen.Setelah melihat nya tadi dia ingin membalas dendam nya karena di kehidupan sebelumnya dia telah menghianatinya."Kak apa kau ada didalam?"Suara Ye Zen memanggil saudara perempuannya."Masuk saja Zen pintu nya tak ku kunci."Ye Yuxi berteriak dari atas kasur.Setelah Ye Zen memasuki kamarnya Ye Yuxi sudah mengganti seragam sekolahnya dengan piama tidur."Kak ada Lu Suxi di bawah apa kau akan menemuinya?"Ye Zen berkata dengan cemberut."Baik lah karna tak baik tamu menunggu lama, ayo kita turun kebawah."Setelah turun kebawah dia melihat wajah ini lagi, wajah orang yang menghianatinya."Yuxi apa kau sudah sembuh?" Terdengar suara yang memanggil namanya di bawah siapa lagi kalau bukan Lu Suxi."Siapa yang memperbolehkan mu memanggilku begitu!"Ye Yuxi sadar dari lamunannya dam segera menjawab."Yuxi kenapa kamu begitu aku ini sepupumu!"Lu Suxi berkata kasar karena dia merasa harga dirinya jatuh."Hanya sepupukan, bukan ibuku jadi kau tak punya hak memanggil ku seperti itu!" Ye Yuxi tau jika sepupunya akan kemari hari ini karena itu dia sudah menyiapkan sebuah rencana untuk mempermalukannya di kediaman keluarga Ye."Yuxi!" Lu Suxi mulai merasa kesal dan mulai mengeluarkan sifat asliya."Cukup aku sudah mengatakan padamu bahwa kau harus berhenti memanggil ku!" Ye Yuxi masih ingat saat sepupunya dengan kejam mencampurkan obat pengugur kandungan pada minuman ibunya yang menyebabkan ayah nya terkena penyakit serangan jantung dan meninggal di ikuti ibunya yang menjadi gila karena mengetahui dirinya kehilangan suami serta anak yang dikandungnya."Apa kau punya telinga, kakak ku sudah mengatakannya dengan jelas atau kau perlu ku antar ke dokter THT!" Ye Zen yang tadi diam akhirnya ikut menengahi karena dia merasa bahwa kakaknya sudah tak nyaman saat melihat Lu Suxi."Baik lah Ye Yuxi aku minta maaf jika aku punya salah pada mu tolong maafkan aku, tapi aku kemari hanya ingin memberikan mu coklat pemberian Su Wen pada mu dia menitipkannya padaku dia sangat menyukaimu Ye Yuxi!." Lu Suxi dengan bahagia mulai mendekati Ye Yuxi, dan memberikan coklat pada nya."Apakah sudah selesai, kau ingin menipuku hanya untuk memanfaatkan ku kan?" Lu Suxi tertegun sejenak setelah mendengar apa yang dikatakan Ye Yuxi."Ti..dak Ye Yuxi kau lupa bukan kah kau pernah mengatakan kau menyukainya?" Lu Suxi merasa bahwa sekarang Ye Yuxi agak susah untuk dihadapi."Sejak kapan aku mengatakan nya, bukan kah kau yang menyukainya sampai-sampai kau selalu pergi bersamanya setiap minggu?" Lu Suxi terdiam karena yang dikatakan Ye Yuxi memang benar."Ye Yu..xi aku tidak seperti itu, aku tak memiliki hubungan apapun dengan Su Wen!" Lu Suxi mulai merasakan keringat nya mulai menetes di dahinya."Oh benarkah lalu apakah kau tau, aku hanya bertemu Su Wen sekali di sekolah bagaimana kau bisa mengatakan aku menyukainya, bukannya kau yang sudah jelas.." Sebelum melanjutkan kata - kata nya Lu Suxi mulai maju dan menghantam kan vas bunga dia dahi Ye Yuxi."Kau pantas mendapatkan nya!" Ye Zen yang melihat hal itu terjadi segera membawa saudara perempuannya ke rumah sakit dan meninggal kan Lu Suxi di kediaman Ye."Apa yang tadi aku lakukan?" Lu Suxi tertegun di tempatnya setelah melihat apa yang telah dilakukannya tadi dan dia segera pergi dari tempat sambil terisak karena masih tak percaya dia bisa melakukan hal itu, dia tak akan bisa bersama Su Wen karena apa yang dia perbuat hari ini pada Ye Yuxi.Setelah Ye Yuxi sampai rumah ,ia disambut dengan kedatangan Lu Suxi dan Su Wen. Yang sedang menunggunya di depan rumah karena tidak diizinkan masuk ke dalam rumah.Lu Suxi yang melihat mobil sepupunya akan memasuki pekarangan pun memanggil."Yuxi...Yuxi ini aku Lu Suxi sepupumu security ini kurang ajar padaku berani-beraninya dia menghentikanku untuk ke rumah mu ,Yuxi tolong aku.."Lu Suxi berteriak dengan sedih di depan gerbang karena setelah security membuka gerbang untuk masuk mobil Ye Yuxi langsung menutup gerbang kembali."Hei Yuxi aku disini bersama Su Wen ,dia ingin menjengukmu setelah mendengar bahwa kamu sakit karna itu tolong biarkan aku masuk Yuxi."Teriak Lu Suxi ."Permisi tolong kerjasamanya ,tuan tidak mengijinkan siapapun untuk mengunjugi nona muda ye."Kata security dengan sabar."Ba..bagaimana bisa dia adalah paman ku tentu saja aku boleh masuk ,oh ya Yuxi juga sepupuku bagaimana aku tak bisa masuk."Gagap Lu Susi.+"Maaf pak saya Su Wen teman sekolah Ye Yuxi dan Lu Suxi sepupu dari nona muda ye ,bisakah tolong sampaikan kepada nona Ye bahya kami ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting? Kami akan menunggu dengan patuh."Kata Su Wen meyakinkan ."Baiklah akan saya sampaikan pada nona muda ye."Final security.Didalam rumah Yuxi sedang berpelukan dengan ibunya.Tok...tok..tok.."Ya masuk lah."Kata Ayah."Permisi tuan di depan ada teman nona dan sepupu nona yang ingin mengunjungi dan mengatakan suatu hal yang pentingAda nona muda ye."Kata security."Usir saja mereka!"Kata ayah kesal karena Lu Suxi sudah menyakiti putrinya."Jangan ayah biarkan mereka masuk aku hanya ingin melihat sandiwara apa lagi yang dilakukan oleh sepupu."Kta Yuxi tenang."Tapi kak aku takut itu akan mempengaruhimu dan juga membuat mu dimanfaatkan lagi olehnya."kata Ye Zen."Sudahlah turuti kemauan kakak mu ,kami akan menainggalkan mu bersama kakakmu ,ayah akan kembali bersama ibumu , dan ayah akan memutuskan hubingan dengan keluarga Lu karena mereka telah menyakiti putri kesayangan ayah.""Baiklah ayah."balas Ye Yuxi ."Kakek akan kembali juga , jaga kesehatanmu cucuku sayang."kata kakek sembari meninggalkan kami.Lu Suxi berjalan memasuki kediaman Ye bersama Su Wen. Melihat Ye Yuxi duduk di kursi depan jendela bersama Ye Zen ,Lu Suxi segera menghampiri bersama Su Wen."Yuxi!"Panggil Lu Suxi."Yuxi bagaimana kabar mu apakah kau baik-baik saja?"tanya Su Wen."Kakak ku baik-baik saja..untungnya."Kata Ye Zen."Apa maksudmu Ye Zen?"Kata Lu Suxi menegang."Oh apa kau lupa kau yang menyakiti kakakku , atau kau sengaja berpura-pura lupa?"Kata Ye Zen kesal."Apa maksudmu Zen?"kata Lu Suxi terbata - bata."Apa aku perlu menampilkan rekaman cctv padamu?"Kata Yuxi."Yu..xi."Ucap Lu Suxi terbata-bata."Apa maksud dari semua ini Suxi , kau berbohong padaku. Kamu berani?"Kata Su Wen kesal."Tidak..aku..a..ku."ucap Lu Suxi."Huh.. kau pikir aku masih mau menerimamu setelah apa yang kau lakukan pada ku ,kau pikir aku bodoh? Kau hanya memanfaatkanku demi keegoisan!Kau pikir aku tak tau."Ye Yuxi berbicara dengan tenang."Ku salah paham Yuxi kemarin aku tak sengaja menyakitimu ,aku datang kesini untuk meminta maaf pada mu atas apa yang telah aku lakukan kemarin dan aku kemari bersama Su Wen hmm." Kata Lu Suxi ."Yuxi ,aku hanya ingin menjengukmu setelah mendengar bahwa kau sakit dan aku tak mengetahui masalah kalian berdua.Baiklah aku harus pulang sekarang Yuxi adikku sedang menungguku ,ini aku bawakan strawberry kesukaan mu."Kata Su Wen lalu segera pergi tanpa bersama Lu Suxi."Su Wen ,bagaimana kau bisa meninggalkan ku?"Kata Lu Suxi yang tak didengar Su Wen."Kau pantas untuk ditinggal kan!"Kata Ye Zen."Apa maksudmu?"kata Lu Suxi kesal."Kau pikir setelah kau menipu Su Wen dia akan tetap percaya padamu? Kau benar - benar sempit!" Kata Ye Yuxi tenang."Kamu...ka..kamu keterlaluan , aku tak berbohong aku tak segaja!" Ucap Lu Suxi menahan tangis."Huh kau pikir aku akan tertipu oleh mu."Balas Ye Yuxi."Kau hanya bermuka dua!"Ucap Ye Zen."Tidak!"Kata Lu Suxi."Untuk apa kau tetap disini pergilah keluarga Ye telah memutuskan hubungan dengan keluarga Lu! Jangan pernah menginjakkan kaki di kediaman Ye lagi karna kami tak akan pernah menerima orang yang menyakiti kakakku!"Kata Ye Zen kesal."Bagaimana bisa, Paman tak akan membiarkan hal seperti ini terjadi, kita adalah sepupu!" Kata Lu Suxi tak terima."Omong kosong! Kau bodoh atau pura - pura bodoh ,Kau menyakiti dan memanfaatkan kakak ku tentu saja ayah tak akan membiarkanmu berhubugan dengan keluarga Ye!"Kata Ye Zen."Pelacur!aku ini sepupu mu bagaimana bisa kau melakukan hal itu pada keluarga Lu!" Kata Lu Suxi sambil menangis."Pergi!"Kata Ye Yuxi."Aku tak akan pergi ,sebelum kalian memaafkan ku."kata Lu Suxi.+"Memaafkanmu?"tanya Ye Yuxi santai."Tentui saja." Kata Lu Suxi setelah menghentikan tangisnya."Mimpi!, kau hanya ber pura - pura menjadi teratai putih ,sampai kapan pun aku tak akan pernah memaafkan mu!" Kata Ye Yuxi setelah menginggat apa yang dilakukan oleh Lu Suxi di kehidupan sebelumnya."Tapi..tapi..."Kata Lu Suxi terbata - bata."Pergi!"Ucap Yuxi."Baiklah aku akan pergi ,tapi tunggu saja aku pasti akan kembali." kata Lu Suxi.
Titik Koma
Selamat Datang, Malam"Dek, kok gak dimakan nasinya? Kamu udah telat loh." Ucap seorang perempuan yang mukanya tidak pernah gue lihat sama sekali dalam hidup gue. Gue duduk di depan meja makan yang tidak pernah gue lihat sebelumnya. Perempuan itu kembali bebicara, "Kamu kok diam? Kamu sakit?" wanita itu menyentuh jidat gue, "yaudah kakak suapin ya! Aaaaa?" ucapnya sambil menyodorkan sesuap nasi goreng.Gue terbangun,"Huuhh!!" helah gue dengan nafas yang dalam, "mimpi." ucap gue.Gue raba-raba meja kecil di pojok kanan tempat tidur gue, berusaha menemukan iphone andalan gue. Sekejap saat gue membuka layar handphone, deretan notifikasi terpampang. Entah mengapa gue gak menghiraukan semua notifikasi yang muncul itu dan langsung membuka kontak di handphone gue. Mencari nama Kak Iwin.Gue menelfon Kak Iwin,"Tuuutt..., Tuutt..., Tuutt..., Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan cari kakak lain dan jangan kembali lagi."Operator yang terdengar berbeda di pikiran gue memiliki point yang bagus. Kak Iwin yang pengangguran tapi dia yang sibuk. Dia masih inget gak sih kalau dia punya adek.Suara ketukan muncul dari pintu di depan tempat tidur gue."Blai! Jablai! Bangun lo! Cepetan buka nih pintu!" teriak si Tompel dari luar pintu kamar yang juga merupakan pintu masuk apartemen gue. Gue tinggal di apartemen bertipe studio, jadi tempat tidur, dapur, ruang tamu, semua jadi satu."Berisik banget sih!" gue bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu.Tompel masuk dan langsung mendaratkan bokongnya di satu-satunya tempat duduk nyaman di apartemen itu – sofa panjang di sebelah kiri tempat tidur gue."Wah, kocak lo, Blai! Jam segini baru bangun! Udah jam makan siang ini. Berapa botol tadi malam? Lo kalau minum hati-hati, Blai. Jangan gossip jelek lagi. Ini kenapa lagi apartemen lo berantakan banget bla bla bla bla bla bla bla.." ucap Tompel - sahabat dan juga manager gue.Suara perempuan muncul dari belakang sofa tempat Tompel duduk, "Berisik weh!""AAAA!!" Tompel terkejut melihat Becca yang tiba-tiba bersuara dari belakangnya. Tompel memulai caciannya, "Becca! Hampir mati gue. Lo kok di sini? Gak balik ke rumah? Anak gadis kok tidur di tempat cowo. Apa coba nanti kata masyarakat?""Sirik aja lo!" ucap BeccaSambil menikmati kopi di dapur-dapuran kecil dalam apartemen gue, gue biarkan dua sahabat gue itu bertengkar seperti hari-hari biasanya.Tompel kembali terfokus pada gue, "Blai! Jangan lama-lama minum kopinya. Cepetan mandi, beres-beres. Kita harus live instagram di kafe yang minta di-endorse sama lo.""Gue ikut boleh gak?" tanya Becca"Gue larangpun pasti lo tetep nempel ikutan." Jawab TompelGue masuk ke kamar mandi bersiap-siap menjalankan rutinitas gue biasanya.***Seperti anak muda umumnya, kami menikmati perjalanan kami di mobil sambil bernyanyi-nyanyi, main gadget masing-masing dan bercengkrama."Namanya Cafe Le France ya?" tanya Becca dari kursi belakang, "France? Kaya ciuman ya?""Cewe kok pikirannya mesum!" ketus Tompel sambil meyetir"Sewot aja lo!" balas BeccaGuepun menjawab "Biarin aja, Bec. Dia gak ngerti tuh apaan French Kiss . Kan yang nyium dia cuma mamanya HAHAHAHAHAHA!!""HAHAHAHA!!" Becca turut berpartisipasi menertawakan TompelTak terasa di tengah-tengah kepadatan Jakarta akhirnya kami tiba juga di kafe itu. Kafenya merupakan bangunan sendiri yang ada di pinggir jalan TB. Simatupang. Sesaat kami memasuki kafe itu, seorang wanita berpakaian kemeja flanel datang menghampiri kami. Tompel langsung menyapa ramah wanita itu dan memperkenalkannya pada gue dan Becca,"Ini mba Aadel pemilik kafe ini. Jadi mba mau gimana konsepnya, Mba Aadel?"Ya biasalah urusan begini yang ngurusin si Tompel. Gue hanya mengikuti ide dan arahan dari si Tompel, dan Becca hadir buat ngekritik setiap ide Tompel sampai akhirnya mereka berdua adu bacot di depan klien.Seperti biasa juga, saat kamera menyala, gue memasang muka dan karakter yang berbeda. Bukan berarti gue bermuka dua, hanya berarti apapun perasaan dan pikiran gue saat itu, gak boleh gue tunjukkan, karena gue harus selalu terlihat sempurna.Live dan potret-potretan semua udah di post di instagram dan channel youtube gue. Karena banyaknya jumlah orang yang gak ada kerjaan di dunia ini maka segala comment langsung bermunculan di post-an gue, segala likes, segala subscribes, dan semua satuan social media lainnya muncul secara cepat.Mba Aadel datang ke meja kami, "Ini complimentary dari kita ya mas Raja. Silahkan dinikmati!" Mba Aadel menyuguhkan beberapa minuman yang sangat instagramable. Gue dan Tompel segera menyantap minuman gratis itu."PLOK!" Becca memukul tangan kami berdua, "Gue foto dulu."Tompelpun langsung memberikan tanggapan tajamnya, " dasar anak kekinian!" sekarang Tompel mengalihkan perhatiannya ke gue, "Eh, Blai! Lagu baru lo mana? Udah pada mintain nih. Liat noh commet-comment fans lo. Si Mas Andre juga ngehubungin gue mulu, mintain lagu baru lo.""Yaelah, Pel! Baru juga gue nyantai minum udah ditodong kerjaan aja." Jawab gue sewotBecca membela gue, "Lo perhatian dikit kek sama Raja, Pel!""Heh! Yang boleh manggil gue Tompel cuma si Raja ya!" ketus Tompel. Tompel kembali terfokus kepada gue, "Ja, gue gini kan buat kebaikan lo juga.""Iya! Iiyaaaaaaa! Gak usah sok bijak omongan lo. Geli gue dengernya. Gue bikin lagu malam ini." Lagi-lagi jawab gue sewot.Becca bertanya, "Di tempat biasa? Butuh gue temenin gak?""Gak! Lo pulang gih ke rumah! Nyokap lo pasti panik nyariin lo. Gue gak mau dianggap temen yang bawa anak orang jadi bandel." Jawab gue"Temen apa temen?" tanya Tompel"TEMBOK!" ketus Becca sambil mengeplak kepala Tompel, "Yaudah gue balik dulu ya!"Dua setan itu akhirnya kembali ke liang kuburnya masing-masing. Lokasi cafe la frence ini tidak begitu jauh dari tempat gue biasa nulis lagu. Sambil menunggu malam gue mampir dulu ke mall Citos yang gak terlalu jauh dari lokasi kafe itu. Hal yang paling aman untuk ngabisin waktu sebagai orang terkenal di tengah keramaian mall adalah nonton film. Gue nonton sampai mall tutup. Saat mall tutup maka tempat ramai lainnya yang terbuka adalah club.Gue tiba di Club Jenja Jakarta,Tiga orang wanita berpakaian kurang bahan datang menghampiri gue yang lagi duduk di bar, "Mas Raja boleh minta foto gak?""Boleh!" jawab Gue berusaha terlihat jadi artis paling ramah sedunia.Ini memang tempat yang aneh buat dapat inspirasi, tapi percaya gak percaya, di keramaian tempat seperti ini lah semua terdengar lebih jelas. Suara yang gue dengar bukanlah hanya suara musik, tawa dan pembicaraan orang-orang, namun suara tersembunyi dibalik setiap orang yang berusaha terlihat bahagia malam itu. Mereka memiliki cerita yang merupakan berat bagi mereka, cerita yang membentuk mereka menjadi diri mereka sekarang, tapi dunia menghakimi mereka tanpa tahu itu semua.Satu.., Dua.., Tiga.., Gak kok malam ini gue gak bakal mabuk. Empat.., Lima.., Enam.., gelas.Lalu gue kehilang kesadaran,***Kok kepala gue sakit ya. Loh ini kan Cafe tadi siang, ngapain gue di sini. Loh kok tangan gue ada kuteknya. Kok dada gue kerasa berat ya."ASTAGAAA!!!" teriak gue melihat dua payudara menggantung di dada gueSeorang wanita datang menghampiri gue, "Mba, kenapa?" Dia adalah wanita dalam mimpi gue kemaren malam.Gue hendak bertanya namun kepala gue terasa sakit sekali, "A!!" keluh gue"Oh, kebanyakan minum ya. Sebentar ya mba. Saya punya Tylenol di tas." Perempuan itu pergi meninggalkan gue."Mba?" tanya gue sendirian, "Dia manggil gue 'Mba'?" Gue tegakkan kepala gue melihat bayangan jendela di hadapan gue, "AAAAAAAA!!! Makjang! Gue cewe haram!"Mendengar teriakkan gue, tiga laki-laki mabuk datang menghampiri gue, "Haram itu kalau gak dihabisin, malam ini kita yang habisin boleh kan, Cantik?" ucap salah satu pria mabok yang sepertinya ketua geng itu.Haram? Mungkin maksud dia mubazir kali ya.Apa gerangan yang terjadi dengan gue. Kenapa gue di Kafe ini? Kapan gue ke kafe ini? Gue harus gimana sekarang? Ngapain juga nih tiga cowo mesum merapat ke gue?Pria mabuk itu merapatkan dirinya ke arah gue, gue yang masih terkejut dengan perubahan wujud gue. Pria itu perlahan melayangkan tangannya memegang paha gue yang sexy .Kesal. Gue hendak mengajak tiga pria itu berantam, "Heh!"Namun perempuan yang tidak asing di mimpi gue, memotong, "Heh! Kalian ngapain pegang-pegang Mba itu? Ini bukan tempat mesum ya! Sana pergi sebelum gue habisin kalian."Pria mabuk yang mesum itu melepaskan tangannya dari paha gue, "Wow! Mau dong dihabisin!" Pria mabuk yang lain mulai mengikut, "Roarr! Yang ini ganas! Gue yang ini aja, Bos! Lebih menggigit."Perempuan itu mendorong pria yang memegang paha gue, "Pergi!""Prang!" jendela di hadapan gue pecah ditonjok pria mesum itu. Dengan tiba-tiba dia mencekik leher si perempuan yang membela gue, "Lo jangan kurang ajar sama gue!"Perempuan itu meludahi si pria mesum itu dan menendangnya pas di bagian kemauannya, eh salah, maksud gue kemaluannya. Si pria mesum itu refleks melepaskan cekekannya"SECURITY! SECURITY! TOLOONNGG!!" teriak perempuan ituDua orang security berbadan besar segera datang menolong kami. Ketiga orang mesum itu segera diamankan."Lo gak apa?" tanya gue pada wanita pemberani itu"Gak apa kok, Mba. Ini Tylenolnya." Perempuan itu membuka genggamannya, menyodorkan sebuah obat pil. Gue ambil obat itu sambil terheran, mengapa perempuan ini bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Perempuan itu kembali bebicara, "Kita udah mau tutup, Mba. Mba parkir jauh dari sini? Perlu saya antar?"Perempuan ini sadar gak sih kalau dia juga perempuan? Dia juga butuh diantarin.Aku pun menjawab "Gue bisa sendiri kok." Gue berusaha berdiri dan baru sadar kalau sepatu gue high heels tinggi pake banget. Gue coba berjalan ke arah pintu keluar. Dan ternyata gue bisa, pake high heels ternyata gak sesusah yang gue pikirkan. Perlahan gue jalan.Selagi gue berjalan, perempuan itu berteriak dengan lembut, "Hati-hati ya, Mba!" Gue menoleh ke belakang, tersenyum padanya mengucapkan makasih, melanjutkan jalan dan terjatuh.Gue terbangun,"hahh!!" helah gue dengan nafas yang dalam, "mimpi?" Gue ada di apartamen gue. Gue bukan di Kafe Le France . Tapi kok mimpi tadi malam kayak nyata banget ya.Badan gue terasa sedikit berat untuk bangun dari tempat tidur. Kepala gue sedikit sakit, gue rasa tadi malam gue mabok berat. Dan lucunya kaki gue juga sakit, serasa habis jalan pake high heels . Masa iya tadi malam gue jalan pake high heels beneran? Itu kan cuma mimpi Iya kan?.Gue goyangkan kepala gue dengan mantra 'Gak usah dipikirin! Gak usah dipikirin!' kembali kepada rutinitas biasanya. Pagi guepun dimulai - minum kopi sambil balas comment fans-fans gue, kumpulin baju kotor buat dilaundry, house keeping berkunjung untuk beresin apartemen gue, dan gue mandi berberes nunggu perintah dari siapa lagi selain...,Suara Tompel yang mengesalkan muncul dari pintu apartemen gue, "Blai, temenin gue ke kafe kemaren yuk! ATM gue ketinggalan di sana."Gue bingung, " Pel, ATM kok bisa ketinggalan? Kok lo cacat sih? Gue jadi mempertanyakan kemampuan lo buat jadi manager gue.""Nih kan! Jeleknya gue doang yang lo inget! Bahas dong masalah movie lo, bahas dong masalah album lo habis terjual, bahas dong masalah...,"Dengan cepat gue hentikan kesombongannya Tompel, "Iya! Iya! Begitu doang lo langsung sombong! Gue lanjut bertanya, "mobil lo apa mobil gue nih?""Mobil lo aja! Nyokap mau pake mobil gue buat arisan!"Gue dan Tompel tinggal di apartemen yang sama. Tadinya gue tinggal dengan orang tua gue di daerah Cibubur, tapi karena lokasi kampus dan tempat-tempat penting lainnya ada di sekitar sini jadi gue memutuskan tinggal di apartemen dan berpisah dari hiruk pikuk para diktator di rumah.***Sama seperti kemaren, setibanya di cafe itu kami langsung masuk dan disapa oleh Mba Aadel, namun kali ini sapaannya berbeda dengan kemaren. Mata gue dan Tompel langsung tertuju pada jendela pecah yang sedang diperhatikan oleh Mba Aadel.Tompel bertanya, "Mba Aadel, jendelanya kenapa? Ada perampok?""Bukan! Katanya sih tadi malam ada orang mesum berantem terus mecahin jendela ini." Jawab Mba AadelTompel kembali bertanya, "Mesum? Terus akhirnya gimana, Mba?""Akhirnya pekerja gue nolongin cewe yang digodain tiga cowo mesum itu. Untung gak ada yang terluka."Cerita Mba Aadel seperti gak asing di telinga gue, ini adalah cerita mimpi gue tadi malam.Melihat gue dan Tompel yang masih berdiri memperhatikan jendela pecah, Mba Aadel akhirnya menawarkan kami untuk duduk, "Oh iya, duduk aja dulu mas Bahdul dan Mas Raja, biar nanti pekerja saya layani."Bahdul alias Tompel menjawab, "Oh gak usah, Mba. Kami ke sini mau ngambil ATM saya yang ketinggalan.""Oh iya. Tunggu sebentar ya." Jawab Mba AaadelMba Aadel pergi meninggalkan Tompel dan gue duduk di meja sebrang jendela pecah itu. Gue rasa mimpi gue tadi malam bukan cuma sekedar mimpi dan gue berniat untuk menceritakannya ke manager sekaligus sahabat gue ini, "Pel! Gue tadi malam ada di sini."Tompel terkejut, "Hah? Seriusan? Lo liat kejadian tadi malam?""Liat? Bukan Cuma liat! Gue yang digodain sama tiga orang mesum yang mabok itu, Pel!" jawab gueTompel bingung, "Lo?" Tompel memperhatikan gue dari atas sampai bawah, "Orang mesumnya homo ya?"Sekarang gue yang bingung, "Homo?" Gue loading, buf fering, buffering , akhirnya connect , "Gak lah! Tadi malam tuh gue sexy banget. Payudara gue segede ini nih!" ucap gue sambil memperagakan besarnya payudara gue tadi malam.Mendengar dan melihat gue memperagakan ukuran payudara gue, Tompel makin bingung, "Gila lo ya? Lo masih mabok?"Dengan gedeg gue menjawab, "Gak Lah tongkol! Gue sadar ini!" gue mencari cara untuk membuktikan ke Tompel, berfikir.., berfikir.., berfikir.., gue mengingat sesuatu, "Si cewe itu." Ucap gue saat mengingat kehadiran perempuan yang tak asing dalam mimpi gue tadi malam.Mba Aadel datang memotong pembicaraan gue dan Tompel, "Ini ATM nya, Mas!"Kehadiran Mba Aadel membuka pikiran gue, guepun bertanya, "Mba Aadel, kemaren malam ada pekerjanya Mba Aadel yang perempuan kan? Dia yang berantem sama orang-orang mesum itu kan?"Dalam posisi yang masih bediri Mba Aadel menjawab, "Di sini sih kalau malam yang jaga cowo, Mas. Dan saya gak tau siapa yang berantem, soalnya saya hanya dapat laporan dari security, saya gak ada di sini tadi malam."Masih heran dengan tingkah laku gue, Tompel akhirnya memotong, "Udah ah, Blai! Ngapain dibahas sih!" .Tompel kembali berbicara kepada Mba Aadel, "Makasih ya, Mba. Kami pamit dulu. Si Raja harus lanjut nulis lagu."Fakta bahwa Tompel menyuruh gue untuk melanjutkan membuat lagu tidak semenyebalkan fakta bahwa gue gak bisa meyakinkan Tompel mengenai nyatanya peristiwa tadi malam. Nyata? Beneran nyata kan peristiwa tadi malam?***Sambil memutarkan setirnya Tompel bertanya, "Jadi udah sampai mana lagu lo? Jangan ngabisin duit buat minum-minum doang. Mana lagu hasil minum-minum lo?"Kalimat pedas dari mulut Tompel adalah alasan kenapa gue bisa sahabatan sama dia. Tompel orangnya gak neka-neko, kalau gak suka bilang gak suka, kalau salah bilang salah dan minta maaf. Dan Tompel juga orang cina yang paling jago mencari peluang untuk ngehasilin duit dengan menjadi manager gue. Tapi gue masih berniat untuk meyakinkan dia soal cerita mimpi gue yang nyata tadi malam, "Gue seriusan deh, Pel! Tadi malam tuh gue ada di cafe itu."Tompel melotot, "Eh, buset! Masih mikirin itu? Heh! Jablai dongo! Apa faedahnya dah lo ada atau gak ada di situ. Yang penting tuh lagu lo."Gue kembali menjawab, "Cewe itu. Gue udah dua kali ketemu cewe itu.""Cewe?Cewe yang mana?" tanya Tompel"Cewe dalam mimpi gue. Atau mungkin dalam kehidupan nyata ini. Gue gak tahu pasti."Tompel mengambil nafas panjang, dia berusaha untuk meluruskan pikiran gue, "Blai! Gue gak ngerti jalan pikiran lo sekarang. Mending lo tuangin deh jadi lagu.""Lagu?" tanya gue. Gue bertanya bukan karena tidak mengerti, namun karena kalimat Tompel terdengar seperti ide bagus untuk gue.Keempat roda mobil jazz hitam gue bertapak di basement apartement gue. Tompel dan gue memasuki lift menuju kamar gue. Seketika pintu lift terbuka, gue langsung berlari menuju kamar. Dengan cepat gue buka pintu lalu mencari sebuah kertas putih di tumpukan buku depan sofa gue. Akhirnya gue menemukan sebuah kertas bersih.Tompel heran, "Kenapa lari, Blai?" tanya tompel yang masuk setelah gue. Tompel memperhatikan gue menulis sambil terduduk di sofa panjang kesayangan gue."Malam di mata? Apa tuh?" tanya TompelJawab gue dengan bangga"Judul lagu"Tompel tersenyum lebar, "Gitu dong! Kalau gitu gue tinggal lo ya, biar idenya ngalir tanpa hambatan dari Tompel si ganteng ini." Tompel berjalan keluar, menutup pintu, meninggalkan gue berbincang dengan kertas berjudulkan 'Malam di Mata'.'Malam di Mata'Bedakah mimpi dan dunia nyataSiapa yang tahu? Matapun tak tahuPerempuan, nama mu siapaKerap muncul membuatku bertanyaDalam mimpi dan dalam mataMalam datang membawamu kemariMata terbuka mengantarmu pergimenaburkan sebuah rasa bingungyang kini hanya bisa kubendungReff : Kau menyapaku saat malamKau berpamitan saat ku terbangunPerempun namamu siapaSebutkan! Sebelum aku terbangunTerbangun dari malam di mataGue terbangun,Tidur gue benar-benar pulas, gue tidak memimpikan apapun. Sepertinya gue terlalu letih, kemaren seharian rekaman untuk teaser lagu di youtube, belum lagi semua arrangement lagu langsung dibuat hari itu juga.Masih terbaring di atas tempat tidur, gue kembali meraba meja di kanan tempat tidur gue, mencari iphone pentolan gue. Lagi-lagi seperti biasanya banyak notification dari comment-comment para fans gue. Gak ada salahnya mengecek sebagian, toh gue males bangung dari tempat tidur, dan gue penasaran apa pendapat orang-orang soal teaser lagu yang gue post di instagram. Scroll, scroll , scroll , ada nama fans yang membuat gue jengkel – 'iwinita88' kakak tersibuk di dunia.Comment iwinita88, "Aduh! Bangganya sama adekku yang ganteng satu ini. Semangat terus ya Jajanya kak Iwin"Dia bisa comment tapi gak bisa angkat telfon gue. Gak ngerti gue sama jalan pikiran perempuan. Perempuan? Gue udah dua malam ini gak mimpiin perempuan itu. Mungkin dia memang hanya karakter dalam mimpi gue, yang hanya datang berkunjung untuk memperindah cerita. Yaudahlah ngapain juga dipikirin."Tik! Tik! Tik! Tik!" suara hujan tedengar dari jendela di kanan gue."Hujan hari ini kayaknya bakal deras," ucap gue, " kira-kira hari ini Tompel nyediain kerjaan apa ya buat gue."Gue kembali membaca comment-comment dari para fans gue. Di tengah dinginnya hujan dan hangatnya selimut yang memeluk gue, perlahan gue kembali tertidur.Gue tertidur,Gue melihat hujan di pinggir jalan yang sepertinya pernah gue lewati. Ada atap kecil berwarna hijau di atas gue, sepertinya gue ada di halte bus. Eh, ada yang berlarian datang menghampiri gue. Perempuan itu lagi – perempuan yang tak asing dalam mimpi gue.Perempuan itu berlari sambil menggandeng tangan seorang anak laki-laki berseragam pakaian SD. Mereka datang berteduh di halte bus bersama dengan gue.Perempuan itu menunduk berbicara kepada bocah SD itu, "kamu gak apa?"Bocah itu menjawab, "Gak apa sih, Kak. Tapi Kara takut buku Kara basah. Kalau basah nanti gimana cara bacanya. Nanti Kara ngerjain PR gimana?"Nama bocah itu adalah Kara? Cowo kok namanya Kara, kaya nama santan.Perempuan itu jongkok, menatap mata Kara dan menjawab, "Bagus dong kalau bukunya basah. Kita jadi bisa baca di air, baca sama ikan-ikan, kamu bisa ajarin ikan baca. Pasti kamu penasaran kan suara ikan kalau baca kaya gimana?"Bocah itu terlihat berfikir, "Gimana ya suaranya, Kak?""Mana kakak tahu. Kakak kan bukan ikan. Hahahaha!" jawab perempuan itu"Terus ngerjain PR nya gimana?" tanya Kara kembaliPerempuan itu berdiri dan berkata, "nanti kita suruh guru kamu ikutan baca PR kamu di air. Hahaha!! Ayo mandi hujan yuk! Kalau gak dinikmatin hujannya nanti mubazir loh. Nanti Tuhan gak kasih hujan lagi!" Perempuan itu berlari meninggalkan halte.Bocah bernama Kara itu berteriak dengan semangat, "TUNGGU KAK KARA! Ih Kak Kara curang!" lalu bocah itu mengejar perempuan yang sepertinya bernama Kara juga.Entah mengapa, gue hendak mau mengejarnya juga, namun gue gak bisa bergerak. Seorang bapak berbadan gemuk datang, dan dia perlahan menggerakkan bokongnya ke muka gue. Sesaat gue tersadar. Gue adalah kursi halte. Oh tidak, bokong besar itu semakin mendekat,Gue berteriak, "TIDAAAAAKKKKK!!!"Gue terbangun,Tompel berteriak, "AAA!" Tompel terkejut mendengar teriakan gue, "Kenapa harus teriak-teriak sih?" tanya Tompel yang terduduk di tempat gue tertidur."Kara!" ucap gue sambil tiba-tiba terduduk di tempat tidur gueTompel dengan muka bingungnya bertanya, "Kara? Santan?"Gue emosi mendengar pertanyaan Tompel, "Santan! Santan! Asal ngomong aja lo! Gue santenin juga nih muka lo!""Buset, galak banget pak!" jawab Tompel. Dalam posisi yang masih duduk di sebelah gue, si Tompel menunjukan handphonenya, "Nih, lo dapet undangan malam ini ngerayain ulang tahunnya DJ Tasmin. Mau ngasih hadiah apa ke dia? Jangan asal pilih loh! Lo kan udah naksir dia lama banget."DJ Tasmin adalah DJ cantik yang gue kagumi, gue selalu terkagum dengan cara dia menciptakan hormanisasi suara yang dapat menggoyangkan gelombang massa, belum lagi ditambah parasnya yang luar biasa menggoda hati. Tapi entah kenapa gue gak bersemangat untuk pergi ke acara itu.Gue kembali berbaring dan menarik selimut menutupi kepala gue, "Lo aja yang pergi, Pel! Gue mau tidur."Tompel menarik selimut gue, "Lo kenapa sih? Lo sakit? Ini DJ Tasmin loh yang kita omongin!""Gue gak sakit! Lagi malas aja! Capek seharian kemaren kerja! Sana lo pergi sama Becca aja!" husir gue"Yakin nih?" tanya TompelGue menjawab lagi-lagi sambil menarik selimut gue, "IYAAA!! Sana pergi! Gue mau tidur."Tompel pergi meninggalkan gue dalam pelukan selimut gue.Rasa penasaran dalam hati gue, membuat gue memaksakan diri untuk kembali lagi tertidur dan memimpikan perempuan yang bernama Kara itu. Entah kenapa gue ngerasa gue harus bicara dengan Kara. Apa yang sebenernya gue cari, apa gue masih mencari pembuktian bahwa dia nyata? Bahwa Kara ada di malam kejadian gue menjadi perempuan.Gue menghipnotis diri gue sendiri dengan berkali-kali menyebut namanya sebagai mantra, "Kara, kara, kara, kara, kara, kara, kara."Gue tertidur,***Beberapa hari berlalu,"jreng!" gue memainkan gitar, nunjukin lagu-lagu baru yang gue buat. "Gimana, Pel? Bagus gak lagunya?" tanya gue pada Tompel yang terduduk di sofa panjang kesayangan gue.Tompel menjawab, "Rada beda dari warna lagu lo sebelumnya sih, tapi yang ini lebih bagus. Gue suka banget sama lagu-lagu lo yang ini. Gue pikir lo tiga hari gak keluar-keluar apartemen karena tidur mulu, ternyata lo bikin lagu toh."Gue tersenyum menjawab dengan bangga, "Ya gue nulis lagu karena tidur tiga hari. Gue dapat inspirasi lagu dari mimpi-mimpi gue."Tompel terlihat bingung dan sedikit curiga, "mimpi? Ini semua lagu soal gadis yang lo sebut-sebut Kara?"Gue mengangguk sambil tersenyumTompel kembali bertanya, "Lagu yang judulnya 'suara dalam air' itu tentang dia? Lagu yang judulnya 'hati perempuan', lagu yang judulnya ' watching you ' dan lagu yang barusan lo nyanyiin, itu semua tentang cewe dalam mimpi lo itu?"Gue tersenyum mengangguk mengiyakan pernyataan Tompel. Guepun dengan semangat menceritakan soal Kara, "Lo harus liat gimana cara dia nanganin adeknya, Pel. Dan gimana cara dia ngehadepin dunia. Dia tuh unik banget, baik banget, polos banget. Pernah satu kali gue mimpi jadi lalat, terus gue liat si Kara lagi milih cabe di pasar. Eh, ada satu ibu di sebelah Kara yang mau beli cabe juga. Dia nawar harga cabe gak kira-kira. Terus setelah itu Kara beli juga cabenya, tapi dia bayar dengan harga awal. Terus tukang cabenya nanya, 'kok gak mau bayar harga yang ditawar ibu tadi aja?' terus si Kara bilang 'harga ini ibu pasang buat nafkahi keluarga kan, saya gak mau ambil rejeki orang, semangat terus ya bu.' Gila! Mana ada cewe yang mikir kaya gitu!"Tompel menunjukan muka khawatir, "Raja. Gue sebagai sahabat lo cuma mau ngingatin, ingat ya, dia cuma karakter dalam mimpi lo! Jangan berfikir lebih!"Kalimat Tompel membuat gue terdiam, berfikir dan merubah mood gue.Tompel berdiri, "Hari ini cerah nih! Kita keluar yuk cari inspirasi di luar. Siapa tau ada moment lucu atau keren yang bisa kita post. Udah lumayan lama lo gak ngepost foto."Gue berdiri berjalan ke arah pintu. Tompel mengikuti gue dari belakang. Gue membukakan pintu dan berkata, "Makasih banyak buat kunjungannya ya, Pel! Nanti gue hubungin lo lagi."Tompel terdiam seribu bahasa.Gue menutup pintu.Di hari yang cerah itu gue kembali berbaring di atas tempat tidur, menutupkan mata gue dengan mantra hipnotis andalan gue, "Kara, kara, kara, kara, kara, kara."Gue tertidur,Gue melihat Kara, dan kali ini dia bersama Kara kecil. Mereka berdua duduk di meja berhadapan dengan seorang ibu berpakaian dinas, sepertinya ibu itu seorang guru. Sekeliling gue menunjukan bahwa gue berada di sekolah – tepatnya di ruang guru, tapi gue belum tahu kali ini gue bermimpi menjadi apa.Ibu guru itu berbicara dengan nada tinggi, "Mba! Adek Mba ini gak bisa saya paksakan ikut ujian. Dia harus bayar uang sekolah dulu. Ini uang sekolah sudah nunggak tiga bulan."Kara dewasa menjawab, "Bu, adek saya masih kelas satu SD, masih belum mengerti hal beginian. Apa boleh dia dipersilahkan menunggu di luar dulu sebentar?"Ibu itu menjawab dengan jutek, "Kenapa, Mba? Mba malu dimarahin depan Kara? Malu jadi kakak yang gak bisa diandalkan? Memang seharusnya Mba malu. Biar Kara tahu ini semua karena kakaknya gak bisa diandalkan!"Tingkah laku ibu itu bikin gue naik pitam. Emosi yang memuncak membuat gue mau memaki-maki ibu itu. Tapi lagi-lagi hal yang sama terjadi, gue gak bisa bergerak, gue gak tau gue mimpi jadi apa kali ini. Gerombolan bocah berpakaian baju olahraga datang menghampiri gue. Saat mereka mengambil gue, gue sadar, gue adalah bola basket. Kepala gue tarasa pusing saat mereka memantul-mantulkan gue ke lapangan. Di tengah pantulan itu gue melihat sebuah petunjuk yang tertulis di gerbang pintu masuk – nama sekolah adiknya Kara.Gue terbangun,Sialnya adalah gue terbangun di pagi subuh yang sunyi dan gelap. Seandainya gue bangun pagi saat matahari bersinar, gue akan langsung pergi menuju sekolah adeknya Kara. Namun gelapnya subuh itu mengurung gue dalam apartemen. Gue memaksakan diri gue kembali untuk tidur dengan harapan dapat kembali bertemu Kara, dan menemukan petunjuk lainnya mengenai keberadaanya.Gue tertidur, lagi,Lagi-lagi gue gak tau gue bermimpi jadi apa, tapi gue melihat rumah-rumah kecil di bawah gue. Apa gue jadi pesawat. Atau jadi burung. Atau jadi superman. Satu rumah bercahaya berbeda, menarik pandangan gue. Perlahan gue berusaha melihat ada apa gerangan dengan rumah itu. Perlahan-lahan dari dalam rumah yang bercahaya itu gue bisa melihat Kara sedang menatap keluar jendela. Dia sedang terduduk di meja belajarnya. Rumah Kara bukanlah rumah yang mewah dan besar, tapi bukan juga rumah yang tidak layak ditempati.Kara melihat ke arah gue. Apa Kara bener-bener ngeliat gue.Lalu Kara berbicara, "Halo teman lama! Kita ketemu lagi ya."Gue bingung. Apa Kara bener-bener bicara dengan gue. Apa Kara selama ini menyadari kehadiran gue. Apa Kara bicara dengan gue – Raja.Kara kembali berbicara, "Hari ini semua orang sepertinya banyak tantangan, gak ada yang senyum ke gue, kecuali lo. Makasih ya udah senyum untuk gue malam ini – bulan sabit. Besok mampir lagi ya."Kalimat Kara memberi tahu peran gue malam itu - gue adalah bulan sabit. Gue bulan sabit yang tersenyum untuk Kara. Mengamati diri gue yang menjadi bulan sabit membuat gue sadar. Jika bulan saja yang hanya diam dan bersinar bisa bikin Kara semangat, apalagi gue yang bisa ngomong, gue yang bisa jalan, gue yang bisa nyanyi dan gue yang satu kota dengan Kara. Gue gak sabar untuk bangun dan membuat lagu untuk bikin Kara semangat.Tunggu dulu! Kenapa gue gak sabar nyemangatin Kara. Memangnya dia siapa?Gue terbangun.Pagi hari itu gue segera menghubungi Tompel untuk meminta bantuannya. Tompel langsung segera datang ke apartemen gue. Guepun membukakan pintu seketika suara dentakan langkah kaki Tompel terdengar.Tompel masuk dengan wajah panik, "Ada apa, Blai? Kenapa?"Gue menjawab sekaligus berberes, "Ayo temenin gue." Gue berjalan keluar apartemen, Tompel mengikuti gue tanpa tahu ke mana arah tujuan kami pergi. Pintu lift terbuka, gue dan tompel memasuki lift. Gue menekan lantai B2 tempat gue biasa memarkir mobil jazz hitam gue.Keheningan dalam lift terpecah saat Tompel bertanya, "Kita mau ke mana sih, Blai? Jangan bikin gue panik gini dong."Gue menjawab sambil tersenyum, "Santai aja! Nanti juga lo tau. Dan lo bakal bilang kalau gue benar"Pintu lift terbuka. Gue dan tompel memasuki mobil jazz hitam milik gue. Kali ini gue yang menyetir. Gue buka aplikasi GPS di iphone gue, dan gue ketik 'SDN 15 CAWANG'.Tompel memperhatikan gue, "Kita ngapain ke SDN Cawang, Blai? Jelasin, weh!"Sambil memutarkan setir gue pun mulai menjelaskan, "Kita mau ke sekolah adeknya Kara. Gue bakal kasih tunjuk yang mana yang namanya Kara sama lo."Muka terkejut dan kesal bercampur di muka Tompel, "Kara!! Lo gila ya! Kara yang ada di mimpi lo? Wah udah gak bener otak lo! Putar balik nih mobil!"Dengan nyolot gue menjawab, "Selama ini gue selalu nurut sama lo! Kali ini, tolong sekali aja nurut sama gue."Gue rasa aura dingin antara gue dan Tompel selama perjalanan tercipta karena penjelasan gue yang ketus kepada Tompel. Keempat roda Jazz gue terus berputar mengikuti arahan yang diberikan oleh Mba Waze. Saat Mba Waze mengatakan bahwa jarak yang ditempuh tinggal dua kilo meter lagi, Tompelpun mulai berbicara, "Terus, kalau ketemu Kara,mau ngapain?"Pertanyaan yang Tompel lontarkan merupakan pertanyaan yang belum gue pikirkan. Gue hanya merasa harus bertemu dengan Kara di kehidupan nyata. Apa ini semua ulah dari rasa penasaran gue. Atau gue melakukan ini karena gue pengen membuktikan kepada Tompel kalau gue benar.Gue menjawab, "Gue gak tau mau ngapain. Tapi gue mau buktiin aja ke lo kalau Kara itu nyata, dan gue gak gila."Tompel merespon kalimat gue dengan dingin, "Oke. Tapi cukup sampai sini aja ya, Blai. Gue gak mau denger nama Kara lagi setelah ini."Gue terdiam,Tompel kembali berbicara, kali ini dia berbicara dengan nadanya yang biasa, "Gue kawatir ngeliat lo akhir-akhir ini mengurung diri. Becca juga kawatir loh, dia nanyain lo mulu. Lo begini bukan karena bokap nyokap lo kan?"Gue menengok sekilas ke arah Tompel, "Thanks ya, Bro. Lo sama Becca perhatian banget sama gue. Gue seriusan gak apa-apa kok, gue begini bukan karena bokap nyokap gue, gue gak tau kenapa gue mimpiin perempuan bernama Kara ini. Tapi yang jelas semenjak dia datang ke mimpi gue, gue gak ngerasa kehilangan."Tompel tersenyum, "Fix! Nanti pas ketemu Kara gue bakal salam dia, gue mau ngucapin makasih udah ngobatin rasa kehilangan sohib gue."Gue tertawa melihat sahabat yang gue panggil Tompel karena tanda lahir di pantatnya itu.Gue berhenti tertawa saat gue melihat gerbang yang bertuliskan SDN 15 Cawang. Gerbang itu benar-benar persis seperti yang ada di mimpi gue. Gue semakin yakin kalau mimpi gue benar terjadi. Gue memasukan mobil gue melewati gerbang itu.Tompel mulai melakukan tugasnya, "Oke, Blai! Pake topi sama kacamata hitam lo."Melihat Tompel menjelajahi kursi belakang gue, membuat gue entah mengapa, teringat akan Kara dan segala tingkahnya di setiap mimpi gue. Apalagi tingkahnya yang berani dan apa adanya.Gue menepuk bahu Tompel, "Pel, gue pengen keluar begini aja." Gue membuka pintu mobil dan keluar. Ternyata saat itu adalah waktu yang sangat salah untuk keluar tanpa penyamaran – bel istirahat berbunyi, semua anak-anak keluar memenuhi lapangan.Tanpa menunggu hitungan menit, anak-anak itu menyadari kehadiran artis terkenal di antara mereka. Semua anak-anak langsung mengerumuni gue dan mulai menginterogasi gue secara bersamaan,"Kakak yang namanya Kak Raja kan ya? Boleh minta foto gak?"Ada pula yang minta tanda tangan, "KAK RAJA MINTA TANDA TANGAN DONG!", ada yang mintanya gak waras, "KAK RAJA TANDA TANGANIN DASI TUT WURI HANDAYANI AKU DONG!"Dan gue hanya bisa tersenyum canggung sambil meladeni mereka satu-satu. Tompel memanfaatkan moment ini sebagai salah satu cara marketing untuk menaikkan pamor gue. Bukannya menolong gue, si Tompel pantat itu malah berdiri ngevideoin gue.Lalu datang seorang ibu guru yang mukanya tidak asing di mata gue – ibu guru yang memaki Kara.Ibu itu datang menghusir anak-anak yang mengerumuni gue, "Heh! Ada apa ini! Ayo Bubar! Bubar!" perlahan murid-murid itu membubarkan diri sambil menggerutu kesal.Sekarang perhatian Ibu itu tertuju kepada gue, "Halo Nak Raja!" sapa Ibu itu dengan nada sok lembut yang bikin gue jijik. Ibu itu melanjutkan, "Ada perlu apa mengunjungi sekolah kami?"Tompel berhenti mengambil video dan menghampiri gue dan Ibu guru itu. Di depan pintu gerbang sekolah itu gue bertanya, "Saya mau bertemu dengan Kara. Kara yang anak laki-laki kelas satu SD. Yang belum bayar uang sekolah tiga bulan. Ibu tahu kan anak yang saya maksud?"Tompel melotot kaget melihat gue tahu informasi yang mendalam semacam itu.Ibu guru itu meletakan jarinya di dagu, "Oh, Bidakara!"Tompel menjawab, "Bidakara? Gedung, Bu?"Ibu itu menjawab dengan genit, "Aduh kamu ganteng-ganteng goblok!" ucap ibu itu, "Ya bukanlah! Bidakara itu nama siswa yang kalian cari. Hari ini dia gak masuk. Kemaren saya ngasih tegoran ringan ke Kara dan kakaknya mengenai uang sekolah."Dalam hati gue nyeletus, "Tegorang ringan gigi lo peang!"Ibu itu kembali bertanya, "Kok Nak Raja tahu mengenai tunggakan uang sekolah Kara? Nak Raja temannya Kara?"Gue melotot ngotot sengotot-ngototnya ke dalam mata Tompel mengisyaratkan 'noh kan gue bener'. Lalu Tompel merespon dengan senyuman canggung yang mengisyaratkan 'iya, iya, lo bener.'Gue melanjutkan bertanya kepada sang Ibu guru munafik itu, "Ibu tahu di mana alamat rumahnya Kara?"Tompel menepuk bahu gue. Tepukan Tompel mengingatkan gue akan pembicaraan kami tadi di mobil. Pembicaraan bahwa semua cuma sampai di sini. No more Kara!Tompel menjawab, "Gak usah repot-repot, Bu. Kami ke sini cuma hanya sekedar menyapa Kara sebagai fans beratnya Raja."Segera setelah itu gue dan Tompel kembali ke dalam mobil, dan kali Ini Tompel yang menyetir. Di tengah perjalan gue melihat seorang perempuan putih, ramping, tinggi dan berambut hitam sebahu sedang berjalan sambil menggenggam tangan seorang anak laki-laki berseragam SD. Gue langsung mengisyaratkan Tompel untuk menepi. Tompel menepi secara tiba-tiba, gue langsung turun dan menghampiri Kara. Gue meneriakkan namanya, "KARA!"Lalu Kara menengok dan berkata, "Kara? Saya bukan Kara, Mas." Mba itu kembali berjalan.Ternyata wanita itu bukan Kara. Gue kembali ke dalam mobil dan Tompel dengan muka seriusnya berkata, "Stop sampai sini, Ja. Sampai sini."Tompel kembali menyetir. Di tengah macetnya jalanan Jakarta, gue berfikir mengenai Kara. Gue udah tahu dia nyata, tapi kenapa gue masih ngerasa belum puas. Ah! Kenapa sih dengan diri gue akhir-akhir ini. Sambil berusaha melupakan Kara, gue kembali tertidur di kursi penumpang yang ada di sebelah kiri Tompel.Gue tertidur,Gue kembali bermimpi dan dalam mimpi gue, gue melihat sosok perempuan berdiri membelakangi gue. Perempuan berbadan tinggi, putih, ramping, dan rambut hitamnya yang lurus menyentuh bahunya. Itu adalah Kara. Gue melihat tangan gue, betapa terkejutnya gue saat melihat bahwa itu benar-benar tangan gue. Gue bisa bergerak, gue bisa berjalan. Perempuan yang ingin gue temui itu berjalan menjauhi gue. Gue mengejarnya, dan akhirnya Kara bisa mendengar gue memanggil namanya, "Kara!"Kara menghentikan langkah kakinya, dia menoleh ke belakang. Perlahan wajah manisnya terlihat, lalu muka Kara berubah jadi muka Tompel Kampret. Gue pun berteriak, "TOMPEL BANGKEEE!!"Gue terbangun,Tompel terkejut, "Kenapa lo?"Gue menyeletus, "Bangke lo, Pel! Di mana ini kita? Udah jam berapa ini?" tanya gue melihat jalanan yang padat.Tompel menjawab bingung, "Kok gue dikatain bangke? Salah gue apa coba. Kita masih di Semanggi, lo taulah semanggi kalau jam pulang kerja kaya gimana."Giliran gue yang bingung, "Semanggi? Ngapain lewat semanggi?"Tompel menjawab, "Si Becca minta dijemput dari kampus. Dia bilang dia kangen sama lo. Dia ngajakin kita live music malam ini.""Huuhhhh!!" helah gue. Live Music itu cuma nama alim untuk dugem di club. Sebenernya sih gue lagi males ngedugem, tapi kayaknya gue butuh pengalihan untuk ngelupain Kara. Bener kata Tompel, semua sampai tadi aja. Kara adalah anugrah Tuhan buat gue. Kara jadi sumber inspirasi lagu gue, dan sebaiknya hal itu tetap selalu begitu dan hanya sebatas itu.Gue kembali tertidur di mobil,Gue kembali ngelihat Kara – bener-bener Kara. Dia ada di hadapan gue, tapi dia gak sendiri. Kara sedang duduk di meja bersama dengan seorang cowo yang lumayan ganteng – gak lebih ganteng dari gue lah. Gue gak bisa denger mereka ngomong apa, tapi cowo itu megang tangan Kara. Setelah gue liat sekeliling, akhirnya gue sadar gue lagi di restaurant . Seorang pelayan datang menyajikan makanan ke meja Kara dan bencong itu – eh maksud gue cowo itu.Panas oh panas kepala ini saat cowo yang memegang tangan Kara, menyuapi Kara. Cowo itu juga sok-sok an membersihkan sisah makanan di bibir Kara. Gue berjalan hendak menghampiri meja Kara. 'PLAK!' suara gue menabrak sesuatu, tapi gue gak ngeliat apa yang gue tabrak. Ternyata gue nabrak kaca. Gue lihat kiri gue – segerombolan mata yang tidak berkedip dan mulut yang buka tutup memandangi gue – mereka adalah gerombolan ikan bawal, dan gue adalah ikan bawal dalam aquarium.Gue berteriak, "AAAAA!!!"Becca membangunkan gue,Tompel menyeletus, "Blai! Stop teriak-teriak pas tidur! Gue bisa nabrak orang tau!"Gue melihat ke kursi belakang. Becca tersenyum menyapa gue, "Gimana kabarnya Raja Jablai? Sehat lo?" lalu Becca mencium pipi gue. "Gue kawatir tau." Lanjut Becca.Tompel ngedumel, "Coba kalau gue yang gak ngabarin lo, Bec. Mana lah lo cium! Yang ada lo remove gue dari friends facebook."Gue terkejut, "Lo masih mainan facebook, Pel? Astaga! Makanya kalau bergaul jangan sama nyokap lo doang. Yang diomongin ya harga beras sama harga telor doang. HAHAHAHAHA"Seperti biasa Becca turut serta menertawakan Tompel.***Setibanya di club, gue hanya duduk sambil minum. Becca dan Tompel berkali-kali mengajak gue untuk ikut tertawa bersama anak-anak lain yang baru mereka temui malam itu. Tapi sosok cowo yang muncul di mimpi gue tadi bener-bener ngerusak malam gue. Kenapa gue kesel sih mikirin cowo itu. Ini malam minggu, gue harusnya seneng-seneng, bukan mikirin cewe yang gue gak kenal.Tompel menghampiri gue, "Lo kenapa sih, Blai? Muka lo kok kayaknya kesel banget. Gue ada salah ya? Apa Becca ada salah?"Gue menjawab dingin, "Lo gak bakal mau tahu kenapa. Udah sana join yang lain!"Tompel duduk di sebelah gue dan berkata, "Blai, gue sahabat lo. Kalau gak sama gue, lo mau cerita sama siapa?""Huuuuhh!" gue menghela nafas panjang dan mulai bercerita, "Gue ngeliat Kara jalan sama cowo di mimpi."Tompel senyum sinis, "Kara lagi nih?"Gue menjawab, "Tadi lo yang minta gue cerita kan. Sekarang gue cerita lo malah protes."Tompel menjawab santai, "Oke-oke. Terus kenapa kalau Kara sama cowo?"Gue diam. Lalu gue menjawab, "Itu juga yang gue bingung. Gue benci aja ngeliat cowo itu. Gue yakin banget cowo itu bukan cowo baik-baik. Gue yakin dibalik tampang gantengnya dia nyembunyiin rahasia busuk."Tompel tersenyum, "Itu namanya cemburu, Bro!" Hati gue tertusuk saat mendengar pernyataan Tompel. Tompel lanjut berbicara, "You fallen for this girl, aren't you?"Lagi-lagi Tompel melontarkan pertanyaan yang tidak pernah gue pikirkan sebelumnya.Karena terlalu banyak minum, gue pamit untuk membaringkan kepala di mobil. Seperti biasa gue kembali tertidur di mobil.Gue tertidur,Gue melihat poster-poster film dan pintu bertuliskan 'Teater 2'. Gue melihat tangan gue – lagi-lagi berkutek. Dan dada gue kembali terasa berat – tidak lain lagi, gue berpayudara, cuma kali ini gak terlalu besar. Gue bermimpi jadi perempuan pe-robek tiket. Mata gue menangkap sosok menyebalkan – cowo yang memegang tangan Kara. Tapi anehnya kali ini cowok itu memegang tangan perempuan lain. Cowo itu memeluk cewe yang jelas bukan Kara, dan dia mencium kening cewe itu, mereka berjalan ke arah gue. Cowo itu menyerahkan dua tiket ke hadapan gue.Gue dengan segera menyumpal mulut si cowo bangke itu dengan tiket haramnya dan menonjoknya beribu-ribu kali sampai darah keluar dari hidungnya – itu adalah hal yang gue harap bisa gue lakukan. Tapi gue inget Kara, gue gak boleh ngambil rejeki mba pe-robek tiket ini.Rasa hangat muncul di bibir gue.Gue terbangun,Mata gue terbuka menemukan bibir Becca mengecup bibir gue. Gue memundurkan kepala gue, Becca mabuk parah.Becca mulai bergumam setengah sadar sambil menangis, "Lo kenapa sih gak bisa suka sama gue, Ja? Gue kurang apa coba? Semua cowo mau sama gue kecuali lo. Apa sih kurangnya gue? Gue kurang perhatian? Gue kurang cantik? Gue kurang dewasa? Kasih tau gue, Ja!"Tompel datang mendapati gue yang masih terkejut dan Becca yang masih mabuk.Tompel memapah Becca, "Sorry, Ja! Gue lupa ngontrol minuman dia."Tiba-tiba Becca kembali bergumam, "Gue nih nyata loh, Ja! Nyata di hidup lo! Ngapain lo cariin cewe yang gak nyata. Siapa namanya. Si Kara Kara santan itu! Kenapa, Ja!" lalu Becca muntah di sepatu TompelTompel melihat sepatunya, "Kenapa gue mulu sih korbannya. Kalu begini ceritanya, mending gue di rumah ngomongin harga beras sama nyokap."Kami masuk ke dalam mobil dan seperti biasa Tompel yang menyetir, karena hanya dia yang paling sadar di antara kami. Biasanya, setelah mabuk, gue akan tidur dengan mudah, tapi kali ini tidak.Tompel menyadari gue yang tidak tertidur, "Kenapa, Blai? Lo mikirin Becca?"Gue menjawab, "Gak, Pel! Ini bukan pertama kalinya Becca begini ke gue.""Terus kenapa?" tanya Tompel"Cowonya Kara." Jawab GueTompel bertanya, "Kenapa cowonya?""BANGSAD!" jawab gue singkat, padat, dan jelas. Tapi gue belum selesai, gue melanjutkan, " Dia meluk cewe lain. Bukan cuma meluk, dia nyium cewe lain. Lo kebayang gak kalau cewe lo selingkuh?"Jawab Tompel meringis, "Gue kan jomblo dari lahir, Blai! Bangke!"Gue menggaruk kepala tanda meyesal salah ngomong.Tompel kembali berbicara, "Rasa cemburu dan peduli yang lo rasain sekarang ke Kara, bisa gak lo lampiasin aja ke Becca? Becca ada benarnya juga loh. Kenapa lo harus cari yang jauh-jauh, yang belum pernah lo kenal, bahkan belum pernah lo temui. Padahal di dekat lo ada yang sayang sama lo."Kali ini gue bisa menjawab pertanyaan yang tidak pernah gue pikirkan sebelumnya, "Sayang ya? Gue gak tau rasa apa yang gue punya untuk Kara – Kara yang bahkan gak tahu kalau gue mimpiin dia setiap malam. Tapi gue sayang kok sama Becca, gue sayang sama dia sebagai adek gue. Kalau lo minta gue untuk memaksakan merasa lebih ke Becca, bukannya hal itu malah bikin gue lebih jahat dari pada sekarang?"Tompel hanya tersenyum dan dia berkata, "Gue sebagai manager ngerasa seneng, ngerasa beruntung, ngeliat lo dapat inspirasi dari Kara dan ngehasilin lagu-lagu yang bagus. Tapi sebagai sahabat, gue ngerasa sedih ngeliat lo galau gara-gara Kara. Jadi kalau ada yang bisa gue bantu, jangan sungkan-sungkan minta tolong ke gue ya, Blai."Gue tepuk bahu sohib gue itu, "Thanks, Man."Seandainya keempat roda jazz hitam gue bisa membawa gue kepada hari esok, apakah 'esok' adalah tempat yang bagus untuk dituju? Atau apakah 'esok' adalah tempat rumit yang gak bisa gue hindari.Setelah kepala panas memikirkan cowo kurang ajar yang menghianati Kara, dan hati merasa bersalah melihat kerapuhan Becca malam ini, gue akhirnya tiba di apartemen gue dengan pikiran-pikiran yang tak tenang. Gue melemparkan diri gue ke atas tempat tidur, namun mata gue tak kunjung-kunjung terpejam, bahkan setelah gue mengucapkan mantra andalan gue.Gue coba menghabiskan malam itu dengan nonton streaming , tapi gak bisa. Pikiran gue terus teralihkan dengan pertanyaan Tompel di club ' you are fallen for this girl, aren't you ?' dan gue hanya bisa diam. Akhirnya gue tuangkan perasaan gue dalam lagu. Kertas, gitar, MacBook dan Kopi menjadi teman gue malam itu. Sampai tak terasa sudah tengah hari. Gue segera menge-chat Tompel menyuruhnya ke apartemen gue.Tompel membuka pintu kamar gue yang gak terkunci. Dia membawa kotak makan, "Kenapa, Ja? Nih nyokap gue ngasih kwetiaw pontianak buat lo." Tompel meletakkan kotak makanan itu di meja kecil tempat biasa gue membuat kopi.Seperti biasa Tompel mendaratkan bokongnya di sofa panjang kesayangan gue. Gue duduk dengan memeluk gitar gue tepat di karpet depan Tompel, "Gue bikin lagu lagi. Tiga lagu. Judulnya; 'GGB – Ganteng-ganteng Bangsad', terus ada lagu rada mellow judulnya; ' fallen? ' dan lagu rada lucu judulnya; 'Girl friend with a space'. Gue mulai dari yang GGB ya?"Tompel menganga, "LO KAPAN BIKIN SEMUA LAGU INI?""Semalam!"jawab gue. Gue mulai bernyanyi, "Gue mulai nih ya, Pel. Ini yang judulnya GGB"Handphone Tompel berdering, "Wah dari Mas Andre nih, Blai. Gue angkat dulu ya."Tompel berdiri, dia pergi berdiri di dekat pintu masuk, mengasingkan dirinya dari gue. Gue gak pernah curiga dengan Tompel, karena gue tahu bener dia siapa, kami temenan dari bangku SMP. Sambil memetik-metik gitar, gue memperhatikan perubahan muka Tompel. Muka Tompel terlihat bahagia sekali seperti ditelfon pacar, gue rasa Mas Andre membawa berita gembira. Atau jangan-jangan Tompel pacaran sama Mas Andre. Lalu Tompel mematikan telfonnya.Tompel kembali duduk di sofa panjang kesayangan gue. Dia duduk tersenyum melihat arah gue tanpa mengatakan apa-apa.Guepun penasaran, "Kok lo senyum-senyum? Mas Andre ngomong apa? Cerita weh bangke!"Tompel menyondongkan badannya ke arah gue dan berbicara secara perlahan, "kita.., mau.., bikin........... KONSER PERTAMA LO!"Gue terkejut mendengarnya, "Hah? Seriusan?"Tompel dengan sombong menjawab, "Ya iyalah seriusan. Rokok Jmild mau ngesponsorin konser pertama lo.""Kok bisa?" tanya gueTompel kembali menjawab, " Iya bisa lah, gue gitu loh. Jmild sebenernya ngesponsorin band Robinhood. Tapi ternyata vocalisnya – si Mas Brandon, melarikan diri ke luar negri karena ketauan pake narkoba. Terus Mas Andre nawarin lo buat gantiin mereka, dan Jmild mau. Konsernya tiga minggu dari sekarang, jadi banyak yang harus kita siapin. Kita harus ke kantor Mas Andre jam tiga buat tanda tangan surat perjanjian."Gue senang mendengar berita baik itu, tapi gue merasa sedikit kawatir saat mendengar jenjang waktu yang gue punya, "Pel, lo yakin tiga minggu cukup?" tanya gue pada TompelTompel menepuk bahu gue, "Bro, gue manager lo yang sekaligus sahabat lo. Itu artinya gue tau kemampuan lo lebih dari pada orang lain. Gue yakin lo bisa. Kita bakal kerja keras dalam tiga minggu ini. Ya lo harus jarang ketemu Kara dulu lah beberapa minggu ini."Tanpa sempat menunjukan lagu gue ke Tompel, kami segera bergegas bersiap-siap pergi ke kantor Mas Andre.Setibanya di kantor, asisten Mas Andre langsung mengarahkan gue dan Tompel ke kantor Mas Andre. Mas Andre menjelaskan semua isi perjanjian kerja sama itu. Gue percayakan semua ke tangan Tompel. Kami menandatangani surat perjanjian kerja sama itu. Tompel segera membicarakan jadwal untuk rekaman, jadwal latihan, dan semua jadwal lainnya bersama dengan Mas Andre.***Satu minggu udah gue lalui dengan rutinitas yang padat sekali. Setiap pagi gue latihan dance, siang gue ketemu designer baju, malam gue harus lanjut rekaman dan ngelatih team backing vocal gue. Setiap ada kesempatan untuk tidur pasti gak gue lewatkan, dan entah mengapa gue merasa sedihnya, karena setiap gue tidur, gue tidak memimpikan Kara. Gue rasa gue terlalu letih hingga akhirnya tidur gue terlalu pulas.Sampai akhirnya gue minta izin dari Tompel untuk pulang lebih awal dan beristirahat. Melihat muka gue yang lusuh, Tompel akhirnya memberikan gue izin untuk melewatkan jadwal fitting baju siang itu. Gue segera pulang ke apartemen dan membaringkan kepala gue di tempat tidur.Gue langsung tertidur,Hmm, wangi sekali rambut wanita ini. Di depan gue ada wanita berdiri, dan jarak kami berdiri begitu dekat. Gue lihat ke kanan kiri – ternyata gue dalam Transjakarta, dan lagi-lagi gue jadi perempuan. Kali ini gue bermimpi jadi perempuan yang lagi berdiri di padatnya Transjakarta. Lalu gue lihat wajah wanita yang berambut wangi itu, itu adalah Kara. Gue gak tau yang gue rasakan ini apa, tapi darah gue semua naik ke kepala. Gue ngerasa tegang berada dekat sekali dengan Kara. Ini adalah pertama kalinya gue bersentuhan dengan Kara. Walaupun gue bersentuhan melalui badan orang lain, tapi gue tetap merasa deg-degan.Handphone berdering - 'Mari kuajari kau membaca, Ikan. Kelak nanti, ketika kau sudah pandai, tolong bacakan perasaanku padanya. Biar seluruh lautan tau.' Lalu deringan itu berhenti saat Kara menjawab telfonnyaLagu yang Kara jadikan ringtone adalah lagu gue yang berjudul 'Suara dalam Air'. Gue begitu senang sampai-sampai gue meragukan mimpi gue kali ini - apakah ini mimpi dalam mimpi.Suara ketukan pintu terdengar, 'Tok! Tok! Tok!'Gue terbangun,Ada orang yang mengetuk pintu apartemen gue. Setau gue Tompel masih sibuk mengurusi semua persiapan konser gue, dan Becca punya kunci apartemen gue. Kira-kira siapa itu.Gue mengintip dari jendela kecil di pintu gue, dan gue terkejut melihat sosok yang berada di balik pintu itu. Gue buka pintu apartemen gue dan berkata, "Kak Iwin?"Kak Iwin menjawab, "Halo adek kecil." Dengan menggenggam sebuah keresek putih, Kak Iwin masuk ke dalam apartemen gue. Sama seperti Tompel, Kak Iwin langsung duduk di sofa panjang kesayangan gue. Gue menutup pintu dan berdiri di hadapan Kak Iwin, "Ada apa ke sini?"Kak Iwin dengan gaya cerianya menjawab, "Jutek banget sih sama kakak sendiri. Sini duduk! Gue bawain fuyunghai kesukaan lo."Fuyunghai buatan Kak Iwin adalah kelemahan gue. Gue langsung duduk di sebelah Kak Iwin dan membuka bungkusan makanan yang dibawanya. Sambil mengunyah gue bertanya, "Ngapain ke sini?"Kak Iwin masih dengan gaya cerianya yang biasa menjawab, "Mau minjem duit dari adek gue yang mau konser. Hehehehe!"Udah gue duga pasti dia datang karena mau minta duit. Gue gak tahu kehidupan kakak adek di keluarga lainnya gimana, tapi saat kakak gue ngomong 'minjem', itu artinya dia minta dan gak akan ngembaliin lagi.Biasanya, mendengar kalimat Kak Iwin yang seperti itu membuat gue mengeluarkan kata-kata kotor yang harus disensor, dan Kak Iwin biasanya gak bisa balas makian gue, karena dia tahu kalau dia butuh gue – lebih tepatnya butuh uang gue. Tapi senyuman Kak Iwin membuat gue teringat akan senyuman Kara sewaktu gue menjadi bulan sabit.Gue pun menjawab, "butuh berapa, Kak?"Senyuman Kak Iwin berubah. Mukanya terlihat bingung, "Tiga setengah juta." Ucap Kak Iwin yang terlihat masih bingung.Gue mengambil iphone andalan gue, membuka rekening bank online gue dan langsung mentransfer uang sebesar tiga setengah juta ke rekening kak Iwin. "Udah ya kak." Ucap gue kepada Kak IwinKak Iwin benar-benar bingung. Dia bertanya, "Gak ada maki-makian yang pengen lo keluarkan, Ja? Gue siap kok dengernya."Gue tersenyum dan menjawab, "kehadiran Kak Iwin lebih berharga daripada tiga setengah juta." Kak Iwin melotot mendengar jawaban gue. "Apalagi kalau lo bawa fuyunghai kaya gini, Kak." Lanjut gue.Mata Kak Iwin perlahan menjadi berkaca-kaca, lalu air mata menetes di pipinya, "UWEEEKKK!!!" Kak Iwin teriak menangis, "Maafin gue ya, Ja. Gue emang gak pernah jadi kakak yang baik buat lo. Lo minum, Lo ngedugem, Lo gak pernah pulang ke rumah, itu semua karena gue jadi kakak yang gak baik buat lo. Maaf ya, Ja!"Gue antara terharu dan mau ngakak ngeliat muka kakak gue yang jelek banget kalau lagi nangis kaya gini. Gue peluk kakak gue yang badannya mungil itu. "Makanya lo berubah ya, Bangke!" bisik gue dengan lembut ke telinga Kak Iwin.Gue pikir gue akan beristirahat dengan tidur seharian, tapi ternyata malah beda. Beda itu tak selamanya berarti hal yang buruk. Karena sejujurnya gue gak pernah istirahat semenyenangkan hari ini. Gue habiskan waktu istirahat gue dengan melepas rindu bersama Kak Iwin. Dan Istirahat gue bener-bener enak karena Kak Iwin bawain Fuyunghai kesukaan gue. Istirahat gue hari itu lengkap saat Kak Iwin hendak pergi meninggalkan gue dan berkata, "Nanti kirim tiket konser lo ke gue ya. See you at the concert "Dengan semangat gue melangkahkan kaki menuju kantor untuk kembali bekerja dan melatih team backing vocal gue. Selagi melatih para penyanyi itu, gue memikirkan sebuah ide – gue akan menyanyikan lagu untuk Kak Iwin sebagai lagu pembuka. Lalu Tompel masuk ke dalam studio,Gue langsung menghampiri Tompel, "Pel, rundown lagunya bisa digeser dikit gak? Gue pengen nyanyi satu lagu di awal acara buat Kak Iwin."Tompel melotot, "Kak Iwin? Iwin yang sering mintain lo duit?"Gue memohon pada Tompel, "Please, Win! Kakak gue udah berubah. Please kali ini aja tolongin gue, Bro."Dengan muka yang gak enak si Tompel menjawab, "Yaudah. Tapi kalau Iwin gak datang, lo harus tetep nyanyiin lagunya."Gue mengangkat tangan gue, mengajak Tompel untuk tos dengan gue, "Tos! Tas! Tos! Lo pikir gue anak SD." Cetus TompelSelagi melihat team Backing Vocal melakukan rekaman suara di ruang rekaman, Tompel membuka handphonyanya dan menujukan sebuah foto kepada gue, "Ini Kara, bukan?"Gue melihat foto yang terpampang di handphone Tompel. Betapa terkejutnya gue saat melihat foto itu, "KARA GIGI LO PEANG! Ini foto nyokap lo" teriak gue.Tompel melihat sekali lagi handphonenya, "Oh iya foto nyokap gue. Hehehehe." Lalu Tompel menggeser foto nyokapnya dan menunjukan foto lain ke gue, "Kalau yang ini?" tanya Tompel.Ketika gue melihat foto itu, lagu 'Beautiful Girl – Christian Bautista' terngiang di telinga gue, "Kok lo punya fotonya?" tanya gue dengan senyum semeringah yang gak bisa gue sembunyikan.Tompel menjawab, "Ini Kara lo? Ini mah mantan gue.""Mantan?" tanya gue kurang percaya, "Lo kan jomblo dari lahir."Tompel tertawa ngakak, "HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! Bangke Kau!" hujat Tompel. Tompel melanjutkan ceritanya, "Tadi siang pas gue liat muka lo lusuh, gue ngerasa sedikit kasian sama lo. Gue cari cara buat nyemangatin lo, dan yang terlintas cuma Kara. Tapi gue gak ada waktu buat nyari Kara. Lalu tiba-tiba otak jenius gue ngasih sebuah ide. Gue buka fanpage lo di Instagram dan gue bikin sayapmembara,"Gue mengoreksi, "Sayembara, Goblok!"Tompel melanjutkan, "Iya maksud gue sayembara. Isinya begini, 'bagi kalian yang punya adek bernama Bidakara, kelas satu SD, dan bersekolah di SDN 15 Cawang, tolong DM gue karena kalian dapet dua tiket VIP beserta backstage access untuk Konser Raja pada tanggal 31 Oktober ini, di Pantai Ancol'."Gue menyipitkan mata, "Kok sayembara lo ribet, mencurigakan dan terdengar kaya pengumuman anak hilang di mall, ya?"Tompel masih melanjutkan ceritanya, "langsung banyak deh yang nge-DM gue, semua ngaku punya adek namanya Bidakara. Ya gue minta bukti kartu pelajar SDN 15 Cawang dong, eh gak ada yang punya. Sampai akhirnya satu cewe berjilbab ngechat gue. Dia bilang dia gak punya adek nama Bidakara, tapi temennya punya. Gue bilang gak masalah selama ada bukti nama adeknya Bidakara dan bersekolah di SDN 15 Cawang. Dan ternyata dia punya kartu pelajar yang gue minta. Terus gue minta foto dia dan temennya untuk Selfie. Dan hasil fotonya adalah yang tadi gue tunjukin ke lo. Kalau memang itu Kara, berarti lo bakal ketemu Kara di konser lo."Gue terdiam"Blai!" Tompel melambai-lambaikan tangannya di depan mata gue yang kosong. "Blai! Lo gak suka ide gue ya? Gue cancel deh tiket mereka."Gue refleks, "Eh jangan! Jangan! Jangan dicancel."Tompel bertanya, "terus kenapa lo diem?"Gue menjawab dengan malu, "Gue gugup."Rasa bahagia yang gue rasakan saat gue mendapat kesempatan untuk membuat konser, tidak sebahagia dan semenegangkan saat gue tahu gue akan bertemu Kara. Gue harus ngomong apa nanti saat ketemu Kara. Kenapa gue gugup ya.***Hari ini adalah tanggal 31 Oktober – hari konser pertama gue di Pantai Ancol. Beberapa malam yang sibuk gue lalui dengan tidur-tidur ayam. Terkadang gue masih bisa betemu dengan Kara dalam mimpi gue. Tapi ada satu mimpi dimana gue hanya melihat Kara menangis semalaman di tempat tidurnya. Gue gak tahu apa penyebab Kara menangis, tapi melihat Kara mengangis membuat gue makin semangat buat latihan. Gue latihan bukan hanya untuk bikin fans gue kagum, tapi gue pengen bikin Kara kagum, sebagaimana dia membuat gue kagum dengan dirinya. Yaampun, gue baru sadar kalau ternyata gue kagum dengan Kara.The show begin ,Di panggung itu gue berdiri. Orang-orang menyorakkan nama gue. Lampu sorot menggelapkan pandangan gue, gue tidak bisa melihat orang-orang di depan gue. Tapi gue dapat merasakan semangat mereka berkobar untuk mendengarkan gue bernyanyi. Sebelum gue naik ke panggung, Kak Iwin datang membawakan Fuyunghainya, dan Tompel berserta Becca juga datang menyemangati gue. Dengan semua semangat dan dukungan yang gue miliki, maka gue pun bernyanyi.Tepuk tangan dan sorakan yang begitu ramai menutup konser gue. Dua setengah jam gue bernyanyi di hadapan para penonton. Tapi gue tidak merasa letih sama sekali. Gue berjalan ke belakang panggung, salah satu asisten panggung datang membawakan gue handuk kecil dan air botol. Lalu sahabat gue muncul memberi gue pelukan besar, "Selamat ya, Bro! Keren banget lo! Ini pujian antara sohib cowo ke cowo ya. Bukan cowo naksir cowo.""Hahahaha!" Gue tertawaLalu Tompel melanjutkan berbicara, "Oh iya, tunggu sebentar!" perintah Tompel. Gue menunggu Tompel sambil berdiri minum air botol di belakang panggung itu. Tiba-tiba Tompel menepuk bahu gue dari belakang.Saat gue menoleh ke belakang, semua aura keren gue mendadak hilang dan berubah menjadi cowo malu yang salah tingkah menjatuhkan air minumnya. Lagu berjudul 'Falling for you – Colbie Calliat' terputar di kepala gue. "Kara." Ucap gue gagap melihat Kara datang bersama teman perempuannya yang berjilbab.Kara - dia persis seperti yang ada dalam mimpi gue, bahkan lebih indah. Rambut hitam menyentuh bahunya, senyum manisnya begitu polos, dan parasnya yang begitu tenang, semua lebih indah daripada mimpi. Apa ini Cuma mimpi.Kara mengulurkan tangannya kepada gue, "Halo, gue Kara. Gue..,"Belum selesai Kara mengucapkan kalimatnya, gue memotong dengan kalimat yang sangat memalukan, namun tulus dari hati, "Gue fans berat lo, Kara!"Kalian pernah gak ngerasa rindu sama seseorang yang udah lama gak kalian temui, dan saat ketemu, rasa rindu itu malah makin parah. Hal yang sama terjadi saat gue melihat Kara. Saat gue berjauhan dengan Kara, gue merasa kagum. Tapi sekarang, saat gue ketemu dengan dia, rasa itu makin parah."Hah?" Kara bingung mendengar ucapan gue. Dengan tangan Kara yang masih dalam genggaman gue, Kara tertawa kecil mendengar perkataan gue.Kira-kira, apa yang Kara tertawakan ya. Tawanya manis sekali.
Pertemuan Pertama
Hai! Namaku Dinda. Karena banyak banget yang request cerita versi lengkap di Wattpad, akhirnya aku tulis juga di sini. Lumayan buat killing time, soalnya HP lagi super sepi—nggak ada notif dari mas 😊Banyak yang tanya:“Gimana sih awalnya kenal sama mas Danang?”Sebenernya aku pernah ceritain di DLVLOG Q&A, tapi di sini akan aku ceritain lebih detail buat kalian semua 💗Awal MulaAku punya kakak kelas SMP dan SMA namanya Mas Fakhri, sekarang dia melanjutkan pendidikan di Akmil. Jujur, dulu aku nggak kenal sama sekali. Waktu aku SMP, dia udah SMA. Waktu aku SMA, dia udah kuliah. Jadi bener-bener nggak pernah bersinggungan.Aku kenal Mas Fakhri lewat sahabatnya, Mas Dheka (sekarang di IPDN). Aku dulu pernah dekat sama Mas Dheka pas SMA hahaha.Suatu hari setelah aku pulang dari Karimunjawa, Mas Dheka minta tolong supaya aku foto bareng Mas Fakhri untuk keperluan tugas Akmil. Waktu itu aku kelas 2 SMA dan Mas Fakhri tingkat 1. Mereka ke rumah, kami foto, tuker kontak, dan ya… berteman seperti biasa.Mulai DekatSingkat cerita, saat aku putus sama seniornya Mas Fakhri (waktu aku awal kuliah), aku sering curhat ke Mas Fakhri. Dia paling ngerti kehidupan Akmil dan segala dramanya.Di kampusku, khususnya International Program, semester 1 ada kegiatan SLT (Self Leadership Training) selama 3 hari. Hari terakhir, aku pulang naik bus bareng teman-teman. Seperti biasa, kalau Mas Fakhri pesiar, kami chat. Lalu tiba-tiba dia ngajak video call.Aku angkat tanpa curiga sama sekali.Ternyata… dia mau ngenalin aku ke Mas Danang yang lagi duduk di sebelahnya. Dan baik aku maupun Mas Danang nggak ada yang tahu kalau mau dikenalin. Kaget dong. Aku langsung matiin videocall dan ngomel panjang lebar di chat hahaha.Setelah penjelasan yang nggak jelas-jelas amat dari Mas Fakhri, aku akhirnya angkat lagi videocall-nya. Dan ya… aku kenalan sama Mas Danang.Asli, malu banget, karena aku baru pulang dari hutan gunung, dingin, lepek, kusut, belum mandi. Aku tutup cepat karena nggak nyaman videocall lama-lama sama orang baru.Habis itu Mas Fakhri minta izin buat kasih kontakku ke Mas Danang. Aku oke aja, soalnya cuma nambah teman. Lagian aku sudah putus sama seniornya.First ImpressionJujur, aku dulu nggak suka sama taruna. Karena pengalaman buruk: ditinggal-tinggal terus, nggak setia, dan lain-lain. Jadi aku negthink parah. Dan aku nggak terlalu tanggapi chat dari Mas Danang.Tapi ternyata… dia beda.Setiap mau masuk ke ksatrian, dia izin dengan sangat sopan, ingetin sholat, dan janji akan kabarin lagi kalau pesiar. MasyaAllah banget. Baru pertama kali ketemu yang kayak gitu.Oh iya, waktu itu mereka lagi di Bandung, habis latihan terjun dari helikopter. Kereeeen banget! Itu tanggal 3 Desember 2016.Chat terus berlanjut, nggak pernah putus. Sampai akhirnya sebelum akhir pendidikan Para, dia minta aku nemenin Pestakor tanggal 24 Desember 2016 di Solo.Aku izin ke mama, dan mama bilang boleh.First MeetingAku berangkat dari kos Disa di Solo. Sebelum ketemu, aku sempat ngomong:“Dis, aku nggak deg-degan sama sekali. Pasti zonk deh. Kayaknya orangnya kaku, jelek, bau.” (Sumpah jahat banget aku waktu itu 😂)Aku nunggu Mas Danang lama banget di parkiran. Setelah ketemu, kami masuk dan ketemu sahabatnya Mas Pijar dan pacarnya Mba Amel.Sepanjang acara Mas Danang muterin aku kenalin satu-satu ke teman-temannya. Aku senang banget karena merasa dibanggakan.Ada game pasangan, dan aku dan Mas Danang ditarik ke depan. Harus pasang ikat pinggang dan dasi. Dan… aku menang tercepat 😂 Malu banget!!Tapi sumpah, dia asik, lucu, wangi, dan nyambung banget. Semuanya terasa natural.Acara selesai, kami pisah. Keesokan harinya aku jalan sama teman-temanku, Mas Danang pulang ke Magelang.Tapi chat kami tetap lanjut. Setiap hari. Tanpa putus.
My NOT Perfect Boss
"Boss tau gak? Kerja sama Bapak itu bukannya makin kaya, saya malah makin mlarat !" —Elliora Arumi Ningtiyas"Enak saja kamu nyalahin, kamu lupa kalau saya ini atasan kamu? Tidak sopan!" —Fahryan Aliano WijayaEllio menjadi sekretaris sekaligus mata-mata suruhan Nyonya Wijaya untuk mengawasi Bos-nya sendiri, karna sudah bertahun-tahun lamanya, Bos-nya itu tak juga membawa kekasih kehadapan Bibi Ellio—Nyonya Wijaya.Sebagai seorang Ibu, tentu saja Nyonya Wijaya khawatir, bahkan wanita paruh baya itu sempat berpikir kalau putera sulungnya itu aseksual.Ellio menerimanya dengan senang hati, dia paling suka dengan yang namanya misteri, apalagi itu menyangkut Bos diktatornya. Kapan lagi dia bisa membully Bos-nya yang sok itu? Hanya saja, setelah sebuah fakta dari Bos-nya terungkap, peran pembully dan korban menjadi terbalik.Fahrian Aliano Wijaya itu seorang pendendam! —Ellio.Siapa suruh kamu menyimpulkan sendiri tanpa bertanya? —Ryan."Boss tau gak? Kerja sama Bapak itu bukannya makin kaya, saya malah makin mlarat !" —Elliora Arumi Ningtiyas"Enak saja kamu nyalahin, kamu lupa kalau saya ini atasan kamu? Tidak sopan!" —Fahryan Aliano WijayaEllio menjadi sekretaris sekaligus mata-mata suruhan Nyonya Wijaya untuk mengawasi Bos-nya sendiri, karna sudah bertahun-tahun lamanya, Bos-nya itu tak juga membawa kekasih kehadapan Bibi Ellio—Nyonya Wijaya.Sebagai seorang Ibu, tentu saja Nyonya Wijaya khawatir, bahkan wanita paruh baya itu sempat berpikir kalau putera sulungnya itu aseksual.Ellio menerimanya dengan senang hati, dia paling suka dengan yang namanya misteri, apalagi itu menyangkut Bos diktatornya. Kapan lagi dia bisa membully Bos-nya yang sok itu? Hanya saja, setelah sebuah fakta dari Bos-nya terungkap, peran pembully dan korban menjadi terbalik.Fahrian Aliano Wijaya itu seorang pendendam! —Ellio.Siapa suruh kamu menyimpulkan sendiri tanpa bertanya? —Ryan.Bagian 01 : Berkibarnya Bendera Perang.Ellio mematut dirinya di depan cermin, berdandan secantik mungkin namun sopan. Dia tak suka mengumbar tubuh. Dia bukan barang lelang yang harus dipernak sana-sini hingga mengkilap dan menarik perhatian orang.Setelah memoles wajahnya, Ellio meninggalkan kamarnya, dan tak lupa menguncinya. Dia berjalan ke arah pintu sebelahnya, lalu menggedor tanpa sopan-santun. Ellio mendengus saat tak ada jawaban dari dalam kamar itu.Penghuninya masih tidur."Han, gue pergi duluan! Kalo gue nungguin lo, images anak rajin dan baik gue langsung hilang!" teriak Ellio."Iya! Astaga, lagian ini masih jam setengah tujuh, lo mau buka gerbang? Udah ah, gue mau lanjut tidur, jangan lupa kunci pintunya, Ell!" sahut Jihan dari balik selimutnya.Ellio menggeleng mendengar sahutan temannya. Tak membuang waktu, Ellio segera meninggalkan kontrakannya, di salah satu perumahan di daerah Ibu Kota. Dengan menaiki bus trans , tak sampai limabelas menit, Ellio sampai di tempatnya bekerja.Dia bisa saja naik sepeda motor, hanya saja Ellio itu buta arah. Di kota sendiri saja dia pernah tersesat gara-gara menghindari kejaran polisi, apalagi kini dia ada di kota orang.Ellio tersenyum sebelum memasuki perusahaan, di hari pertamanya bekerja, dia harus tampil sebaik mungkin. Dia langsung menuju lift, dan menekan tombol lantai paling atas."Permisi, Mbak, saya Elliora Arumi Ningtiyas, sekretaris baru—" Sebelum Ellio menyelesaikan ucapannya, Mbak-mbak di depannya terlebih dahulu memotong."Oh, Mbak Elliora, langsung masuk saja, Mbak, kemarin Pak Fahri bilang kalau Mbak datang, disuruh langsung masuk saja," ucap Mia seraya tersenyum, dia sekretaris satu. "Ah ya, Saya Mia, sekretaris satu, kalau Mbak butuh sesuatu, panggil saya saja."Ellio mengangguk-angguk mengerti lalu tersenyum."Iya, terima kasih, Mbak Mia, saya permisi," ucap Ellio lalu berdiri di depan pintu.Ellio ragu sejenak, apakah dia harus mengetuk pintu atau tidak, ya? Masih jam tujuh kurang, kemungkinan Boss nya belum datang, langsung masuk saja!Perempuan duapuluh satu tahun itu langsung masuk keruangan, Mbak Mia tadi juga menyuruhnya langsung masuk, jadi tidak masalah. Ellio mengangguk-angguk dengan pikirannya. Dia menutup pintu lalu berbalik."Astaghfirullah, Ya Allah, Bapak ngagetin saya!" Ellio mengelus dadanya, lalu menatap pria berparas tampan yang duduk arrogant di balik meja kerja."Saya bukan bapak kamu," balas Fahryan cuek, lalu menatap Ellio. "Lagipula itu salah kamu yang masuk begitu saja di ruangan saya, tidak sopan."Ellio mendekati meja Bossnya. Matanya menyipit mengamati Fahryan."Bapak sendiri yang menyuruh saya langsung masuk," ucap Ellio pelan, namun masih terdengar oleh Ryan.Detik itu juga sebuah ingatan terlintas di kepalanya. Suara merdu Bibi Ana mendengung di telinganya, membuat Ellio tanpa sadar mengerutkan dahi."Bibi senang sekali kamu menyetujui permintaan Bibi untuk bekerja bersama Iyan. Bibi heran sama anak itu, usianya hampir duapuluh lima tahun, tapi belum juga membawa kekasih, hah..." ucap Bibi Ana dengan raut sedih yang tak disembunyikan."Jadi Mas Iyan itu jomblo, Bibi? Pfft—" Ellio menggigit bibirnya untuk menahan tawanya, sungguh lucu orang setampan dan semapan Fahryan Aliano Wijaya seorang jomblo! Pfft!Tapi mengingat sifat buruk Ryan, sih, tidak heran lagi kalau tidak ada perempuan yang mau."Begitulah, Ell. Terakhir kali Iyan bawa kekasihnya itu lima tahun yang lalu. Bibi khawatir kalau gara-gara putus sama kekasihnya, Iyan jadi trauma. Bisa jadi dia... aseksual?" Alis Bibi Ana menukik berpikir keras.Mendengar itu, Ellio hampir menyemburkan tes yang ada di mulutnya.Masa iya Boss aseksual? Batin Ellio seraya mengamati Ryan. Matanya menyipit, irisnya bergerak menelusuri bentuk wajah Ryan.Tidak sengaja mata mereka bertemu, merasa tertangkap basah, Ellio segera berdehem."Kamu suka saya?" tanya Ryan dengan entengnya."Ih, Bapak ke geer an. Bapak itu gak ganteng-ganteng banget, jadi gak usah sok kegantengan, deh," sahut Ellio."Emang saya ganteng," balas Ryan dengan nada pongah.Ellio mencebik, seakan tak terima dengan ucapan Ryan. Gak percaya gue kalo ini orang bener-bener anaknya Bibi Ana! Sifatnya bener-bener minus, pantes masih jomblo.Eh, gue juga masih jomblo, deng."Ah iya, kenapa Bapak sudah datang jam segini? Ngagetin saya tau," ucap Ellio mencoba mengalihkan topik pembicaraan."Terserah saya, ini kan kantor saya, perusahaan saya, dan hak saya. Masalah?"Orang ini ngeselin! Jauh beda sama Bibi Ana! Gerutu Ellio dalam hati."Pantas sampai sekarang Bapak itu jomblo, sikap Bapak kaya gitu sih!" omel Ellio pelan.Rian menatap Ellio datar, lalu kembali fokus ke kertas yang ada di tangannya. "Gak sadar diri."Ellio langsung bungkam mendengar ucapannya dikembalikan oleh Ryan.Melihat Ryan tak mengacuhkannya, Ellio mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk di sofa. Lalu menaruh tasnya di sampingnya. Tidak lama setelah itu, Ryan bangkit dari duduknya, dan menghampiri Ellio. Duduk angkuh di depan Ellio."Jadi?" tanya Rian, membukan suara."Bibi Ana, yang tidak lain tidak bukan adalah Ibu Pak Bos sendiri, yang memiliki hati bagai sutera, ucapannya begitu sopan, bagai teratai putih yang suci—jauh berbeda dengan anak sulungnya yang memiliki sifat berkebalikan dengan Beliau, bahkan memiliki hati hitam bak teratai hitam yang tidak ada tandingannya.Tidak ada satu kata buruk yang bisa menggambarkan dia, saking hitamnya. Yang tidak lain, tidak bukan adalah Pak Bos—Bibi Ana yang sudah berbaik hati meluangkan waktu berharganya, sudah menyiapkan surat kontrak kerja saya! Bentar Pak," ucap Ellio lalu segera mengeluarkan tumpukan kertas yang diklip dari tasnya."Kamu cocok jadi Kang Bait," balas Ryan tak acuh, seakan sindiran Ellio hanyalah angin lalu yang tidak penting."Itu quotes , Pak Bos, bukan bait," elak Ellio.Ryan mengabakan ucapan tidak penting Ellio, lalu menerima tumpukan kertas berisi kontrak kerja."Nah, ini Pak, Bapak baca dulu sajalah! Ingat, jangan dicoret-coret, sayang kertasnya. Semakin banyak kertas yang dibuang-buang, semakin banyak kita kehilangan pohon!" oceh Ellio."Hm.""Pak Bos denger, gak? Ah iya, Pak Bos baca baik-baik yang kalimat yang dicetak tebal. Saya jelasin lagi sajalah, begini, Pak Bos tidak bisa memecat saya sebelum tiga bulan, kalau itu terjadi, maka Pak Bos harus membayar denda ke saya. Begitupun sebaliknya, kalau saya ngundurin diri, saya yang akan membayar denda ke Pak Bos.Pak Bos ngertikan?""IQ saya lebih tinggi dari kamu kalo kamu belum tau," balas Ryan pongah, tanpa melihat Ellio.Pelipis Ellio berkedut jengkel. Dia segera menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, berulang kali. Mencoba meredam rasa jengkelnya. Oke, kita lihat siapa yang akan terlebih dahulu menyerah! Gue atau Lo yang akan bayar denda, liat aja!Ellio tersenyum aneh, kemudian dia berdehem. "Pak Bos, saya mau bertanya, Pak Bos itu aseksual ya?""....."Tidak ada tanggapan dari Ryan. Pria itu lebih memilih membaca teliti isi kontrak kerja daripada menjawab pertanyaan Ellio.Ellio dikacangin. Ellio menggertakkan giginya kesal, dia benar-benar ingin menggigit Ryan untuk menyalurkan rasa kesalnya.Bagian 02 : Rencana Pembalasan."Kamu suka saya?"Ellio merutuk di dalam hati saat ketahuan memelototi bosnya. Enak saja dirinya difitnah menyukai bos, dih! Lagipula, darimana bosnya itu punya kepercayaan diri sebegitu tinggi?"Dih, Bapak itu sok kegantengan. Siapa juga yang suka sama bapak, plis deh pak. Saya itu memelototi bapak, bukan berarti saya suka sama pak bos!""Jadi kamu ngaku kalau kamu memelototi bos kamu sendiri? Tidak sopan! Gaji kamu saya potong," ucap Ryan membuat Ellio kicep.Gadis itu tercengang. Lah, belum juga kerja, masa sudah main potong aja itu gaji?"Kok gitu pak? Ya Allah, pak, saya itu bahkan belum mulai kerja! Terima gaji juga belum, masa udah main potong, kejam ih," protes Ellio tak terima. Mata bulat gadis itu melotot lucu.Ryan tak langsung menjawab protesan Ellio. Dia meletakkan kontrak di atas meja lalu bersedekap, menatap Ellio santai, namun tajam."Kamu ya, protes terus. Saya itu bos kamu, bersikap sopanlah. Lagipula, kamu cuma bilang kalau saya tidak boleh memecat kamu, bukan memotong gaji kamu kan?"Ellio tercengang. Mututnya membulat, terbuka lalu tertutup kembali bak ikan koi. Seakan tak percaya apa yang dikatakan Ryan, Ellio segera menyaut kertas kontrak serta aturan di meja lalu segera membacanya kembali.Dia harus mencari apapun yang berkaitan soal gaji! Enak saja main potong-potong!"Percuma kamu cari. Soal gaji itu hak saya, wewenang saya, jadi tidak masalah kalau gaji kamu saya potong," ucap Ryan dengan wajah puas saat melihat wajah putus asa Ellio."Plis deh pak, jangan main potong-potong dong pak. Saya nabungnya ntar gimana pak? Saya itu dalam mode nona-ratu, pak!"Satu alis Ryan terangkat. "Nona-ratu?""Missqueen," jawab Ellio dengan wajah cemberut. Ryan mendengus mendengarnya.Ellio kembali menatap Ryan dengan pandangan penuh arti. Tanpa sadar dia memainkan bibirnya. Pantes bosnya masih jomblo, orangnya pelit gitu! Dikit-dikit potong gaji! Batin Ellio."Apa?" tanya Ryan saat Ellio masih menatapnya aneh. "Apa sebegitunya kamu suka saya? Saya tau saya itu ganteng."Ekspresi Ellio berubah datar."Pak, entah kenapa saya tiba-tiba merasa mual," denger pak bos kepedean banget! Lanjut Ellio dalam hati.Ryan terdiam, "...... kamu hamil?"Ellio tercengang hebat. "...... Ya Allah, pak! Astaghfirullah, gimana saya bisa hamil pak! Masa liatin pak bos saja udah bikin saya hamil! Kira-kira dong bapak ngomongnya. Amit-amit jabang bayi, kalaupun saya hamil, saya harus nikah dulu, baru saya ikhlas lahir batin untuk hamil."Gadis itu menggerutu tak terima atas tuduhan Ryan. Plis deh, punya pacar juga belum, statusnya juga masih lajang, masa iya dirinya langsung hamil?Gila, liatin wajah Mas Iyan doang masa langsung hamil? Kenapa gak sekalian aja hamil online!"Kamu sendiri tiba-tiba bilang perut kamu mual, siapa tahu? Atau, apa mungkin kamu memang hamil anak saya? Kamukan dari tadi liatin wajah ganteng saya terus, jadi tidak heran kalau kamu tiba-tiba hami," ucap Ryan dengan wajah puas atas penderitaan Ellio.Sejak kapan Mas Iyan jadi konyol begini?! Otak Mas Iyan konslet kayaknya gara-gara kelamaan jomblo! Eh, gue juga jomblo deng.Eh ralat, gue single. Single high quality ea."Ayo, saya antar kamu periksa ke dokter, kita lihat berapa bulan kamu mengandung. Apa kamu ingin makan sesuatu? Mangga muda?" ucap Ryan semakin ngawur, menggoda Ellio benar-benar membuat moodnya baik.Sekalian balas dendam. Ryan menarik sudut bibirnya puas.Ellio merasakan urat pelipisnya berdenyut. Jengkel juga lama-lama. Ingin rasanya dia memberikan Ryan jari tengah, namun Alhamdulillah-nya dia masih sadar, jadi Ellio tidak melakukannya. Bisa habis dia kalau melakukannya." Stop deh, Pak Bos. Ngomongnya ngawur terus! Bapak punya dendam pribadi ya sama saya? Ngajak ribut mulu dari tadi," keluh Ellio, setelah pikiran soal gaji hilang dari kepalanya."Makanya, kamu itu sopan kek ke bos kamu. Atau gaji kamu saya potong lagi?""Lah, Pak Bos malah ngingetin saya soal gaji lagi! Aduh pak, saya baru aja move on soal gaji," ucap Ellio.Ryan menatap malas sekretarisnya. Seakan ingat sesuatu, pria bermata tajam itu berucap, "Kamu bisa mulai kerja setelah jam makan siang. Jadi, sebelum waktu itu, kamu liat-liat dulu tempat kerja kamu sekalian pelajarin tugas-tugas kamu. Kalau masih bingung tanya aja sama Mia."Ellio mengangguk patuh. "Kalau saya masih bingung?""Tanya sama saya, kalau masih gak ngerti, kamu gak ada bedanya sama Dora," ucap datar Ryan, dan dibalas dengusan oleh Ellio."Bapak—""Saya bukan bapak kamu."Ellio menatap Ryan datar. "Lalu panggil apa? Kakek? Paman? Atau bibi?" cerocos Ellio."Udah ah, Bos. Saya masih mau nanya ini, Pak Bos itu aseksual ya?" tanya Ellio dengan polosnya.Ryan, "...... Buatin saya kopi, sekarang.""Lah, kok nyuruh saya pak? Lagian kan waktu kerja saya masih nanti, habis jam makan siang! Lagipula ya pak, kopi itu gak baik, mending teh aja pak!""Yaudah teh aja," balas Ryan singkat. "Buatin sana, atau kamu mau gaji kamu saya potong lagi?""Ya Allah, pak! Pak Bos dari tadi ngancemnya pake gaji mulu, habis dong kalo gitu ntar gaji aku?" Protes seperti apapun, Ellio tahu akan sia-sia hasilnya. Yang ada dirinya makin frustrasi!Diam-diam mata bulat Ellio kembali melotot kepada Ryan yang sedang fokus ke dokumen di tangannya. Namun, kalimat tiba-tiba Ryan membuat Ellio tersedak ludahnya sendiri."Awas, nanti kamu hamil kalau liat saya terus," ucap Ryan tanpa menoleh ke arah Ellio.Ellio menggerutu merutuki kepedean bosnya yang berada dalam taraf over. Dengan perasaan jengkel, gadis itu keluar dari ruangan Ryan. Tepat setelah menutup pintu, Ellio menyumpahi Ryan."Gue sumpahin Pak Bos gak jadi motong gaji gue! Kalo bisa dinaikin, dikit gapapa, Alhamdulillah," ucap Ellio seraya menyelonong pergi. Tak henti-hentinya bibirnya berkomat-kamit mengucapkan doa. Namun, baru beberapa langkah, Ellio langsung berhenti.Berpikir sejenak."Lah, gue kan gak tau dimana dapurnya..."."Kalo Pak Bosnya itu beneran aseksual, gue kerjain ah! Siapa suruh nindas gue mulu!"Ellio kembali ke ruangan Ryan dengan nampan berisi secangkir teh manis. Sekilas tak ada yang berbeda dengan gadis itu, namun jika diperhatikan baik-baik ada sedikit perbedaan.Itu di kemeja Ellio. Dua kancing atasnya terbuka, serta rambutnya disanggul yang menyisakan beberapa helai di depan telinga. Rencana pertama, menggoda Pak Bos."Ini pak tehnya!"Setelah meletakkan cangkir itu di meja, Ellio mendekati Ryan, dan berdiri di sampingnya."Pak, liat penampilan saya. Udah kaya gitar spanyol belum?"Ryan mengangkat wajahnya, menatap Ellio yang ada di sampingnya."Apa? Sapu lidi?""Kalo budeg kira-kira dong pak, dari gitar spanyol ke sapu lidi itu jauh banget loh pak!""Nah, itu kaya kamu. Jauh banget," balas Ryan tajam.Astaghfirullah, untung gue sabar, kalo gak, udah gue tabok itu mulut pake sepatu!Ellio cemberut, belum juga mulai, rencananya sudah gagal. Tak berjalan lancar, Ellio kembali mengancingkan kemejanya seperti semula."Seksi gini dibilang sapu lidi," gerutu Ellio pelan, namun masih bisa di dengar Ryan. "Udah ah pak, badmood saya gegara Pak Bos, saya pergi dulu!"Selepas pintu ruangan tertutup, Ryan mengangkat kepalanya dan menatap pintu itu dengan senyum kecil di sudut bibirnya.Belum genap dua puluh empat jam Ellio bekerja di tempat barunya, dia sudah hampir mengangkat bendera putih—dia menyerah. Tekanan darahnya benar-benar diuji dan dipermainkan. Sebelumnya, tekanan pada darahnya di bawah normal, namun dia yakin sejak dia bekerja di bawah Boss Ryan, tekanan darahnya akan langsung melesat naik.Ellio memejamkan matanya sejenak. Dia menghela nafas panjang. Kelakuan pria kekanakan yang melabeli dirinya (Ryan) sebagai atasan Ellio—membuat Ellio hanya bisa berucap istighfar berulang. Sejak bekerja di bawah komando Ryan, Ellio jadi lebih sering beristighfar.Astagafirullah...Pak bosnya benar-benar menghayati peran sebagai atasan. Lihat saja sekarang. Ellio harus rela merubah jabatan sekretarisnya menjadi seorang asisten.Asisten rumah tangga tepatnya.Singkatnya, seorang pembantu." Astaghfirullah, untung bos. Kalau gak, udah gue jitak itu kepala," gerutu Ellio seraya memunguti beberapa lembar kertas serta bolpoin yang tercecer di lantai—dekat meja kerja Ryan."Di belakangmu. Ambil cepat."Ellio segera menoleh ke belakangnya. Dan benar saja, ada sebuah bolpoin milik Ryan di sana. Ya Allah, bukankah di belakangnya tadi sudah bersih, alias tidak ada bolpoin? Kenapa sekarang muncul benda itu?Fahryan Aliano Wijaya, aku mengutukmu menraktirku makan nanti malam!"Pak bos! Berhenti bermain-main deh! Berhenti menjatuhkan barang-barang dengan sengaja ke lantai! Dasar kurang kerjaan!"Ryan menatap Ellio tak acuh. "Saya tidak menjatuhkannya.""Bohong. Jelas-jelas pak bos melakukannya degan sengaja!""Saya tidak melakukannya. Tidak baik menuduh orang, apalagi yang kamu tuduh itu bos kamu sendiri."Bisa gak jangan bawa-bawa jabatan di sini? Ellio merengut, lalu menatap sengit Ryan yang duduk dengan pongah di kursinya.Ryan membalas tatapan gadis yang sekarang tengah berjongkok seraya memunguti barang-barang yang memang sengaja dia jatuhkan. Rasanya menyenangkan melihat sekretaris cerewetnya itu kesusahan.Pria itu mengulas senyum kecil."Pak bos, jangan ngelak lagi, deh. Dan jangan bawa-bawa jabatan di sini, pak! Sekarang saya ingin menuntut keadilan! Pokoknya, sekarang pak bos telah menjadi tersangka. Kalau pak bos ketahuan menjatuhkan barang-barang lagi dengan sengaja, saya tidak akan tinggal diam.Tapi jikalau pak bos tidak ingin repot-repot dengan tuntutan saya, pak bos cukup mengembalikan gaji saya yang telah pak bos potong, dan saya akan menganggap ini tidak akan terjadi," cerocos Ellio panjang. Dan akhirnya maksud dari ceramah panjang Ellio terungkap di kalimat terakhir.Ryan menaikkan satu alisnya."Saya tidak melakukannya. Dan saya juga bisa menuntut kamu.""Aduh pak bos, tinggal mengatakan sejujurnya apa susahnya sih?" Ellio merengut. Bayangan gajinya yang berkurang benar-benar membuatnya frustrasi."Saya terlalu sibuk untuk hanya sekedar menjatuhkan barang-barang dengan sengaja," balas Ryan cuek."Tapi pak bos benar-benar melakukannya! Jangan mengelak, ah," ucap Ellio dengan kesal. Walaupun begitu dia masih dengan patuh memunguti barang-barang yang entah kenapa tidak ada habisnya."Kamu itu, kamu menuduh bos kamu sendiri? Mau gaji kamu saya potong lagi?"Ellio langsung mengangkat wajahnya lalu menatap Ryan horror. Dia tercengang mendengar penuturan bosnya yang dictator dan suka seenaknya itu. Maaf, apa yang bosnya katakan tadi? Akan memotong gajinya lagi?Astagfirullah, kalau begini terus, bisa-bisa saat gajian dia hanya akan menerima amplop kosong saja.Bosnya itu sungguh keterlaluan!"Pak bos punya dendam pribadi ya sama saya?" gerutu Ellio, lalu memutus pandangannya dari wajah pongah Ryan. Bisa khilaf kalau dia terlalu lama menatap wajah bosnya. Khilaf lalu menggigit kepala Ryan sampai kehabisan darah!Ha. Ha.Ellio jadi gila sendiri memikirkannya. Akhirnya Ellio menyerah beradu argument dengan sang bos. Kalau bos kejam itu sudah membawa-bawa gaji, Ellio bisa apa?"Mungkin," gumam Ryan pelan. Entah Ellio mendengarnya atau tidak. Namun, sepertinya gadis itu tak mendengarnya karna terlalu sibuk menggerutu."Awas saja kalau si menyebalkan itu menjatuhkan barang-barang dengan sengaja—""Ada pen tak jauh dari kamu. Ambilkan. Aku tak sengaja menjatuhkannya."—lagi.Tak sengaja menjatuhkan dia bilang? Ini tidak bisa dibilang 'menjatuhkan' lagi, tapi sudah tahap 'melempar'!Pak bos kejam itu pasti sengaja melemparnya! Benar-benar... aku ingin menggigitnya!Dengan perasaan kesal, Ellio membuang lembaran kertas yang sudah terkumpul di tangannya. Lalu bangkit dan berjalan mendekati kursi Ryan dengan tergesa. Mata bulatnya melotot lucu. Menatap Ryan sengit."Kenapa?" tanya Ryan seraya mengangkat satu alisnya—menatap Ellio."Saya tidak peduli, pokoknya saya akan menggigit pak bos!"Detik selanjutnya, Ellio menerjang Ryan. Dia duduk di pangkuan Ryan lalu membenamkan kepalanya di ceruk leher sang bos. Mulutnya terbuka, menampilkan gigi putih yang tersusun rapi.Ryan tak bereaksi. Dia melingkarkan tangannya ke tubuh Ellio agar sekretarisnya itu tidak terjatuh. Akan sangat merepotkan jikalau gadis itu terjauh. Karna, Ryan yakin jikalau gadis itu jatuh, Ellio pasti akan menarik dirinya ikut serta.Dan berakhir dengan keduanya bertumpang tindih di lantai.Krauk.Gigi-gigi ramping Ellio tertancap di leher Ryan. Tidak terasa sakit memang, karna Ellio sengaja tidak menggigitnya keras. Kalau bosnya itu tidak terima, lalu memotong gajinya lagi, bagaimana coba?"Kamu tahu, kita seperti tengah melakukan hubungan terlarang," ucap Ryan penuh arti. Dia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian kecil di sana.Mendengar ucapan tiba-tiba Ryan, Ellio hampir tersedak ludahnya sendiri. Segera dia melepaskan gigitannya, tak berani menatap sang bos. Malu. Dia yakin wajahnya seperti kepiting rebus, memalukan.Dan lebih memalukan lagi jikalau Ryan tahu dan berakhir dengan olok-olok di mulut berbisa Ryan.Dalam keheningan, tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar. Ellio yang membelakangi pintu terpaksa menoleh ke belakang. Wajah merahnya lenyap seketika—melihat sekretaris satu berdiri membatu di depan pintu.Itu Mia.Ekspresi ketiganya beragam. Mia dengan wajah terkejutnya—melihat Ellio duduk di pangkuan Ryan, Ellio dengan wajah paniknya—takut terjadi kesalahpahaman, dan Ryan yang... datar-datar saja."M—Maaf, Pak Fahri! Saya tidak tahu kalau Pak Fahri dan Mbak Ellio sedang... M-maafkan saya! Saya akan pergi dulu, silahkan dilanjutkan!" Mia langsung berteriak dan menutup pintu dengan keras.Ngomong-ngomong..."Apa yang harus dilanjutkan?! AAAAA! Ini semua gegara pak bos! Semua salah pak bos! Imej saya pasti sudah buruk di mata Mbak Mia! Pokoknya pak bos bersalah! Saya mau kenaikan gaji! Dan lepaskan saya!" Ellio menggeliat brutal, memukuli Ryan dengan asal. Matanya melotot kesal dengan wajah memerah—entah malu atau marah.Karna Ellio bilang untuk melepaskan gadis itu, jadi Ryan melepaskannya. Dan sesuai dugaan Ryan, Ellio jatuh ke lantai dengan tidak elitnya. Siapa suruh keras kepala? Ryan mendengus."Pak bos benar-benar keterlaluan! Huhuhu... sakit~" Ellio meringis, mengusap bagian yang mencium lantai. Lalu dia segera bangkit, menjaga jarak sejauh mungkin dari Ryan."Pokoknya pak bos harus tanggung jawab kalau imej saya jatuh! Pasti Mbak Mia mikir yang nggak-nggak. Huhuhu... ini semua salah pak bos. Saya kesal, ah. Ngambek!"Ryan mengangkat alisnya, kemudian terkekeh kecil. Menertawakan Ellio saat gadis itu sudah keluar dari ruangannya. Ryan mengusap gigitan Ellio di lehernya, lalu bergumam, "Dia menggigitnya di sini. Pasti akan terlihat jelas."Begitu Ellio keluar dari ruangan Ryan, dia segera menghampiri meja Mia. Berusaha menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang jelas-jelas merugikan dirinya!"Mbak Mia! Mbak Mia, ini semua salah paham. Ini semua tidak seperti yang Mbak Mia lihat. Saya tadi hanya sedang—"Mia memotong ucapan Ellio segera. Tangannya menggenggam erat tangan Ellio, lalu menatap Ellio serius."Iya, saya mengerti. Mbak Ellio tenang saja. Saya mengerti bagaimana perasaan Mbak Ellio, pasti berat menjadi kekasih gelap Pak Fahri," ucap Mia dengan wajah prihatin, dan Ellio tercengang mendengarnya.Kekasih gelap? Apa maksudnya itu?!"Gak Mbak Mia, bukan—""Apa? Jadi Pak Fahri punya kekasih gelap? Dan kekasih gelapnya itu Mbak Ellio? Astaga... pantas Pak Fahri gak pernah keliatan sama cewe. Ternyata Pak Fahri udah punya pacar gelap, toh. Ini baru berita yang hebat!" pekik Selwinda yang tak sengaja mendengar percakapan Mia dan Ellio. "Gue harus membagi berita ini ke yang lain!"Sebelum Ellio sempat menghentikannya, Winda sudah kabur terlebih dahulu.Akhirnya, Ellio mendapat kisah yang tragis. Kekasih gelap? Yang benar saja! Meskipun dia menjadi kekasih gelap, jelas bukan Ryan yang akan menjadi kekasihnya. Dia tidak mau!Ellio menangis tanpa air mata. Ini semua gegara pak bos!
The Coffee After Morning
Kalau tidak salah ingat, namanya Aksara—pria yang sedang Mikaela tunggu sejak tiga puluh menit yang lalu, sekaligus calon suaminya. Nama panjangnya Mika lupa. Intinya, maminya bilang, Aksara berusia 34 tahun, seorang dokter spesialis. Entah spesialis apa Mika tidak ingat. Lagi pula, tidak penting juga. Jika menikah nanti, Mika akan tahu dengan sendirinya."Mikaela?"Mika mengangkat kepala saat namanya disebut. Seorang pria berkemeja dongkerlah yang menyapanya. Dengan rambut klimisnya yang beberapa helai jatuh ke dahi."Saya Aksara," tambah pria itu."Oh." Mika menarik napas pendek. Akhirnya datang juga.Tanpa dipersilakan, Aksara sudah mengambil duduk di hadapan Mika. Rahang tegasnya terlihat ketat tanpa guratan senyum sedikit pun. Sepasang alisnya yang tebal dan sorot mata sayu di balik bingkai kacamata langsung menjadi santapan tatap Mika. Tubuhnya terlihat tegap dengan otot lengan yang tercetak di balik kemejanya yang sedikit kusut.Not bad.Setidaknya bukan pria berperut buncit seperti yang ada di bayangannya."Langsung saja." Pria itu bersuara lagi, terdengar berat dan sedikit serak. Lalu, mengeluarkan lembar kertas dari tas kerja yang dibawanya.Sementara Mika, mengamati itu tanpa suara. Bagaimana lembaran kertas yang kemudian disajikan Aksara di hadapannya, selain ada lembaran lainnya di depan pria itu sendiri.Surat Perjanjian PernikahanKira-kira begitulah judul tulisan di lembar kertas itu. Dengan nama lengkap Mika yang sudah tertulis di atasnya.Hm. Oke. Jadi inilah kehidupan pernikahannya nanti."Silakan baca dan pahami."Menghela napas pendek, Mika menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sebelum menarik kertas itu di tangannya. Meski malas sekali, pada akhirnya Mika tetap membaca poin-poin isi yang tertulis rapi di sana.SURAT PERJANJIAN PERNIKAHANKami yang bertanda tangan di bawah ini:Pihak PertamaNama: Aksara Levian WiranataSelanjutnya disebut Pihak Pertama .Pihak KeduaNama: Mikaela Amora RespatiSelanjutnya disebut Pihak Kedua .Kedua belah pihak, dengan kesadaran penuh dan tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun, sepakat untuk mengikatkan diri dalam suatu perjanjian pernikahan dengan ketentuan sebagai berikut:Pasal 1 — Tujuan PerjanjianPerjanjian ini dibuat untuk mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak selama berlangsungnya ikatan pernikahan, guna menjaga kenyamanan, kehormatan, dan batas kehidupan pribadi masing-masing pihak.Pasal 2 — Hak Para Pihak1. Pihak Kedua berhak memperoleh kebutuhan hidup yang layak dari Pihak Pertama, meliputi sandang, pangan, dan papan sesuai standar kehidupan seorang istri.2. Pihak Kedua berhak atas privasi penuh. Pihak Pertama tidak berhak menanyakan, menyelidiki, atau mencampuri urusan pribadi Pihak Kedua, termasuk namun tidak terbatas pada latar belakang, kegiatan pribadi, atau hubungan sosialnya di luar rumah.3. Pihak Pertama juga berhak atas privasi penuh. Pihak Kedua tidak diperkenankan menanyakan, menyelidiki, atau mencampuri urusan pribadi Pihak Pertama dalam bentuk apa pun, baik secara langsung maupun tidak langsung.4. Pihak Kedua berhak menempati kamar pribadi yang layak di rumah tinggal yang juga ditempati oleh Pihak Pertama.5. Pihak Pertama berhak atas ketenangan, kenyamanan, dan ruang pribadi di rumah tersebut. Pihak Kedua dilarang memasuki kamar pribadi Pihak Pertama tanpa izin.6. Pihak Kedua berhak menerima tunjangan bulanan sebesar Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah) yang wajib dibayarkan oleh Pihak Pertama setiap awal bulan.7. Pihak Kedua berhak menjalankan aktivitas pribadi, sosial, atau profesional sepanjang tidak menimbulkan skandal atau mencemarkan nama baik Pihak Pertama, begitu pun sebaliknya.8. Pihak Pertama berhak mempertahankan reputasi dan citra keluarga sesuai kedudukannya di masyarakat.Pasal 3 — Kewajiban Para Pihak1. Kedua pihak wajib saling menghormati, menjaga batas pribadi, dan menciptakan suasana rumah tangga yang damai.2. Kedua pihak wajib menjaga citra dan reputasi mereka di hadapan publik sebagai pasangan suami istri yang normal dan harmonis.3. Pihak Pertama berkewajiban memenuhi seluruh kebutuhan materiil sebagaimana disepakati.4. Pihak Kedua berkewajiban menjaga kerahasiaan isi perjanjian ini dan tidak mengungkapkannya kepada pihak mana pun tanpa izin tertulis dari Pihak Pertama.5. Kedua pihak wajib menahan diri dari segala tindakan, ucapan, atau pertanyaan yang dapat menyinggung, mencampuri, atau mengganggu ranah pribadi pihak lainnya.6. Kedua pihak wajib menghindari segala bentuk perselisihan terbuka yang dapat menimbulkan perhatian publik atau mencoreng nama baik masing-masing.Pasal 4 — Jangka Waktu PerjanjianPerjanjian ini berlaku selama dua (2) tahun terhitung sejak tanggal pernikahan dilangsungkan.Setelah jangka waktu tersebut berakhir, kedua pihak sepakat untuk mengakhiri pernikahan secara baik-baik (cerai) tanpa tuntutan apa pun, kecuali disepakati lain secara tertulis sebelum masa berlaku berakhir.Pasal 5 — PenutupPerjanjian ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua pihak dalam keadaan sadar, tanpa paksaan, dan dengan itikad baik.Dibuat dan ditandatangani pada tanggal 22 Oktober 2024.Mika terdiam beberapa saat usai membaca surat perjanjian tersebut. Jadi, pernikahan yang akan ia jalani adalah pernikahan kontrak dengan masa kontrak selama dua tahun?Tarikan napas si wanita terdengar sebelum kemudian membangun senyumnya dan meletakkan kembali kertas itu di atas meja. Sikunya bertumpu lagi di sana, juga telapaknya tempat ia menopang wajah. Memerhatikan wajah tak berekspresi calon suaminya di depan."Papi nggak kasih tahu aku kalau ini pernikahan kontrak," kata Mika."Seperti yang kamu baca di pasal tiga ayat empat, kamu harus merahasiakan surat perjanjian ini dari siapa pun, tidak terbatas pada keluarga kamu, keluarga saya, teman dekat, termasuk kedua orang tua kamu sendiri."Mika mengangguk-angguk. Jadi Aksara tidak ingin siapa pun tahu termasuk kedua keluarga mereka."Tapi Papi nikahin aku sama kamu supaya Respati Farma dapat suntikan modal dari Raksa Medica," kata Mika lagi."Surat perjanjian ini tidak ada urusannya dengan perjanjian bisnis antara Respati Farma dan Raksa Medica."Mika mengangguk lagi. Apakah dia punya pilihan? Oh, tentu tidak. Papinya tahu pun isi perjanjian ini, Mika pasti akan tetap dipaksa menikah. Demi menyelamatkan bisnis turun temurun keluarga. Perusahaan farmasi yang sudah dibangun sejak zaman kakek buyutnya. Sebagai anak bungsu yang tidak memiliki banyak hak di keluarga, Mika diwajibkan mematuhi seluruh perkataan kedua orang tuanya.Wanita itu menarik lagi lembar kertas perjanjian pernikahan tersebut. Tertulis ada beberapa hak yang Mika miliki. Hak yang lebih banyak ditawarkan ketimbang yang miliki di dalam keluarganya sendiri. Senyum wanita itu pun mulai terulas sedikit."Jadi kalau kita cerai nanti, nggak akan mempengaruhi perjanjian bisnis antara Respati Farma dan Raksa Medica, kan?" Mika harus memastikan. Sebab jika dia bodoh dengan langsung tanda tangan, Papi akan menggantungnya hidup-hidup karena membahayakan bisnis keluarga.Anggukan kaku dari Aksara membuat Mika sedikit lega.Bukankah Mika aman? Dia tidak akan digantung Papinya jika nanti bercerai dari Aksara. Yang terpenting, Respati Farma dapat terselamatkan."Oke." Mika pun merogoh tasnya, mengeluarkan pulpen dari sana sebelum menandatangani surat perjanjian di atas meja.Dilihatnya Aksara melakukan hal yang sama. Kemudian mereka bertukar kertas dan memasukkan surat masing-masing ke dalam tas keduanya.Aksara berdiri, mengulurkan lengannya di hadapan Mika. Maka Mika pun bereaksi yang sama. Berdiri, membalas uluran tangan tersebut."Kita bertemu lagi di hari pernikahan," kata Aksara.Masih mempertahankan senyum tipisnya, Mika mengangguk kecil. "Oke.""Saya nggak perlu antar kamu pulang, kan?"Mika menggeleng. "Nggak perlu. Aku bawa mobil.""Good, then." Aksara berlalu.Begitu pula Mika yang menarik tasnya sebelum melangkah pergi keluar restoran. Mereka berpisah, mengambil arah langkah yang berbeda.Dua tahun menjadi istri orang? Mika rasa tidak masalah. Menempuh pendidikan kedokterannya selama tujuh tahun saja Mika sanggup. Meski, Papinya harus keluar uang miliaran demi gelar dokter yang Mika dapatkan."Ini gimana, sih? Udah satu jam saya nunggu belum dipanggil juga? Nggak dengar itu anak saya batuknya nggak berhenti-berhenti dari tadi?!""Mohon maaf ya, Ibu, dokternya masih dalam perjalanan."Selain roma antiseptik yang masuk ke dalam penciumannya ada sepenggal percakapan yang Mika dengar begitu mendorong sebuah pintu kaca di hadapannya. Senyum tipisnya tersaji di bibir, melewati keramaian dan wajah-wajah pengunjung yang mengetat tak sabaran. Sedang di meja pendaftaran—Mika melirik sekilas bagaimana separuh senyum perawat yang tersaji pada si ibu yang datang marah-marah."Dari tadi masih dalam perjalanan terus? Udah satu jam lebih, loh. Seharusnya kalau dokternya belum datang, jangan buka pendaftaran! Pantes aja orang-orang pada berobat ke luar negeri kalau dokter di sini aja datangnya telat terus!""Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Ibu. Mohon ditunggu sebentar lagi, ya."Percakapan itu menghilang seiring dengan langkah Mika yang meninggalkan ruang depan. Heels tingginya yang mengetuk lantai keramik putih, dengan menenteng sebuah tas maroon juga jas kerjanya, wanita itu masuk ke dalam ruang yang lain.Ruang kerjanya.Bibirnya mulai bersenandung pelan. Irama langkahnya masih terus terdengar. Menuju sebuah meja kerja, menarik doctor coat —seragam kerjanya—sebelum memakai kain itu melapisi blus satin yang dikenakannya. Tak lupa, menggerai rambut hitam panjangnya yang bergelombang, sebelum mendaratkan duduknya pada kursi empuk yang sengaja ia pesan agar membuat duduknya di ruangan ini nyaman.Beberapa detik kemudian, pintu ruangannya terketuk. Seorang wanita dengan masker mulut yang menutupi separuh wajah datang mendekat. Membawa sebuah clipboard dalam tangannya."Selamat siang, Dok.""Siang, Din." Mika balas tersenyum manis. Tangannya terlipat di atas meja, menatap Dina— front nurse yang mendekat ke mejanya."Sudah ada pasien ya, Dok," kata Dina, menyerahkan clipboard tersebut pada Mika."Keluhannya apa?" tanya Mika."Demam dan batuk berdahak, Dok.""Anak-anak?""Betul, Dok.""Nggak ada luka luar, kan?""Tidak ada, Dok.""Beset-beset memar habis jatuh?""Tidak ada, Dok.""Oke, good. Suruh masuk aja.""Baik, Dok."Dina pamit, kembali meninggalkan Mika yang langsung membuka laci, mengeluarkan masker dari dalamnya. Kemudian, membuka map berisi rekam medis pasien, si bocah lima tahun yang tak lama kemudian masuk ke dalam ruangannya bersama sang ibu.Ibu muda yang tadi marah-marah di meja administrasi.Senyum manis Mika di balik masker mulai tercetak lebar. Menyapa dengan begitu ramah pasien dan wali pasiennya yang berwajah masam.Oh, tentu saja Mika tahu alasannya. Pasti karena sudah menunggu terlalu lama. Ya, jangan salahkan Mika. Salahkan saja jalan raya dan rumah suaminya yang sangat jauh itu. Kliniknya ini berada di Alam Sutra, sementara rumah Aksara, berada di Kota Wisata Cibubur. Ujung ke ujung. Jalan raya yang padat membuat Mika stuck di jalan berjam-jam. Hari ini khususnya, jalanan lebih padat dari biasanya. Meski, biasanya juga Mika masih sering terlambat, sih. Tapi ya, paling hanya beberapa menit. Tidak sampai lebih satu jam seperti ini. Jangan dipikir Mika juga senang bermacet-macetan di jalan.Namun, ya sudah. Mau bagaimana lagi dibuat? Mika terpaksa masih harus menanggung kemacetan Cibubur-Tangerang selama satu tahun ke depan.***"Aksara udah pulang, Bi?"Adalah pertanyaan ke sekian yang Mika tanyakan pada ART rumahnya—rumah Aksara.Bi Jum, atau lengkapnya Juminten, yang sedang mengangkut piring kotor bekas camilan Mika menatap sang nyonya."Belum, Bu."Mendengar jawaban itu, Mika mencebik. Kakinya yang sedang berselonjoran sofa meronta-ronta tak senang. Sejak sore, dia sudah tiba di rumah. Bersantai, menikmati camilan sembari menunggu suami pulang, sembari juga ... melihat-lihat tas-tas lucu di layar ponselnya."Kok belum pulang juga, sih?!" keluhnya tak senang."Mana tahu bapak lagi ada operasi, Bu. Ibu coba telepon aja," saran Bi Jum.Menarik napasnya panjang, Mika cemberut. Bukan saran yang bagus untuk menghubungi Aksara. Apalagi, masih jam 7 malam. "Yang ada aku diomelin, Bi. Dia kan kerjanya ngomel-ngomel terus.""Ya udah kalau begitu Ibu tunggu aja. Mungkin sejam dua jam lagi bapak pulang."Mika kembali menendang-nendang. Juga tubuhnya yang meronta-ronta bak cacing kepanasan. "Lama bangeeeet, Bi. Nanti ini tasnya keburu dibeli orang."Bi Jum malah meringis kecil. Menepuk-nepuk kecil lengan Mika. "Yang sabar ya, Bu."Ih, sumpah! Mana bisa Mika sabar? Ini tas cuman tersisa satu. Mika sudah sangat menginginkannya. Sayangnya, uang bulanannya dari Aksara sudah hampir habis dan tidak cukup untuk membeli tas ini. Kartu kreditnya juga sudah mencapai limit. Tidak ada solusi lain selain meminta Aksara untuk membayarkan tasnya ini.Sayangnya, Aksara malah entah di mana!Mika curiga, Aksara bukan di rumah sakit tapi sedang bertemu pacarnya.Huft, sebal sekali!Sepeninggalan Bi Jum, Mika bangkit dari rebahnya. Duduk dengan kaki bersila meraih ponsel. Bibir bawahnya digigit tipis. Mempertimbangkan apakah harus ia telepon Aksara saat ini juga atau tidak. Pasalnya, Aksara suka marah kalau ditelepon saat sedang kerja.Tapi kan, belum tentu juga Aksara masih bekerja? Bisa saja kan, dia sedang bersama pacarnya? Kalau Aksara tidak pulang dan menginap di rumah pacarnya bagaimana? Mika bisa kehilangan tas cantik itu! Sebab, beberapa kali, Aksara tidak pulang. Bilangnya sih, tidur di rumah sakit karena baru selesai operasi dini hari. Tapi, Mika tidak yakin. Yakinnya Mika adalah Aksara menginap di rumah pacarnya.Oke, baiklah. Dari pada kehilangan tas, Mika memilih untuk dimarahi saja. Yang penting, besok, dia sudah harus memeluk tas cantik yang hanya tersisa satu itu.Menguatkan tekad, Mika pun benar-benar menghubungi suaminya. Suami yang sudah lima bulan menikahinya."Halo, Aksara?" Suara wanita itu dibuat selembut mungkin saat Aksara menjawab panggilannya di seberang."Kenapa?" Suara datar Aksara terdengar."Pulangnya masih lama, nggak?""Kenapa?"Mika cengengesan. "Kan begini. Ada tas—""Jatah kamu bulan ini sudah habis. Sudah, saya mau visit pasien." Aksara memotong ucapannya dan memutuskan sambungan tanpa hati.Mika langsung melempar ponselnya. Menjerit kesal—setengah menangis karena Aksara yang begitu kejam. Tubuhnya merebah lagi di atas sofa, meronta-ronta tak karuan berikut kakinya yang menendang-nendang. Kenapa dia punya suami pelit sekali?!Padahal, Mika tidak akan meminta banyak. Harga tas ini cuman lima puluh juta, kok. Tidak sebanding dengan penghasilan Aksara sebagai dokter spesialis orthopedi dan juga wakil direktur Raksa Medica Hospital Cibubur. Belum lagi, Aksara adalah cucu laki-laki si tuan besar komisaris utama Raksa Medica Group. Sahamnya pasti ada di mana-mana.Tapi, kenapa sama istrinya bisa sepelit itu?!Padahal kan, punya istri seorang Mikaela Respati juga tidak akan lama-lama. Satu tahun lagi mereka akan bercerai, kok. Kenapa Aksara jahat sekali tidak mau memberikan apa yang Mika inginkan? Cuman sebuah tas, loh?***Tidurnya semalam amat tidak nyenyak. Mika berkali-kali bermimpi buruk. Tentu saja, bermimpi soal tasnya yang sudah berada di pelukan perempuan lain. Mika sampai menangis dalam mimpi itu, terpaksa harus merelakan tas cantik incarannya.Hingga saat bangun, wajahnya sembab. Rambut panjang bergelombangnya sudah acak-acakan tak karuan. Meski begitu, Mika tak berniat untuk berbenah. Begitu sadar telah pagi, Mika langsung bangkit dari ranjang. Berlari keluar kamar, menyoroti dengan laser mematikannya pada sang suami yang sedang asyik menikmati sajian pagi di meja makan."Ehem." Mika berdeham, sengaja menarik perhatian pria itu.Sialnya, Aksara hanya meliriknya sekilas tanpa minat."Helloooow? Dokter Aksara yang pelit sama istrinya sendiri?"Lagi, Aksara hanya melirik sekilas. Juga, mengibaskan tangan kanannya yang menganggur sebab tangan kirinya sedang memegang ipad." Mandi. Saya hampir nggak bisa bedain kamu sama kuntilanak."Mendengar itu, Mika melotot tajam. Dipukulnya keras lengan Aksara yang tak bergeming."Jangan ngomong sembarangan. Kalau orangnya dengar terus datang ke sini gimana?" geram Mika, bicara dengan bibir menipis. Eh, tapi yang disebut Aksara barusan bukan orang, sih.Aksara malah tak menyahut lagi.Melihat respons pria itu, bibir Mika pun semakin menipis kesal. Ditariknya bangku di samping si pria, lalu mendaratkan duduknya di sana. Tak lupa, sengaja dijauhkannya secangkir kopi hitam yang tampaknya baru sedikit dinikmati sang tuan.Aksara pun meliriknya. Membuat Mika langsung menyipitkan mata, berusaha membuat tatapan tajam yang membuat Aksara takut. Sayangnya, Aksara tidak terlihat takut sama sekali."Mandi, Mikaela. Kamu nggak mau berangkat ke klinik?"Mendengar kata 'klinik' Mika langsung menghela napasnya panjang. Kepalanya jatuh terkulai di atas meja dengan rambut panjangnya yang nyaris menutupi sepenuhnya.Ah, sial. Mika ingat, dia masih harus bekerja. Jadwal praktiknya yang hanya di satu klinik sebenarnya hanya dua kali seminggu, di hari Selasa dan Rabu. Dan hari ini, masih hari Rabu. Artinya, Mika masih harus berperang dengan jalan raya yang padat merayap.Ih, Mika malas sekali! Dia kira, dirinya bisa berhenti bekerja saat menikah dengan Aksara. Sialnya, kakeknya Aksara malah heboh menyuruh Mika melanjutkan pendidikan spesialis yang mana Mika sama sekali tidak mau. Maka selain mencoba menghindari pertemuan dengan kakeknya Aksara, Mika sengaja pura-pura sibuk bekerja.Mika memiringkan kepalanya. Membuat pipi kanannya menempel pada meja. Tak lupa menyingkirkan rambut yang menutupinya, Mika pun memandang sang pria."Aksara," panggil Mika."Apa?"Sekali lagi, Mika menarik napasnya panjang. "Aku nggak boleh minta uang lagi? Uangku habis.""Nggak.""Kenapa?"Aksara menoleh padanya. "Saya kasih kamu seratus juta setiap bulan.""Tapi itu kan aku masih harus bayar kartu kredit.""Yang pakai kartu kreditnya siapa?""Aku.""Itu tahu jawabannya."Mika mencebik. Percuma punya suami kaya tapi medit!"Itu pun kamu masih curi-curi kesempatan kirim virtual account ke saya," sambung Aksara.Mika merengek-rengek. Ya bagaimana lagi? Penghasilan satu-satunya dia cuman dari Aksara. Papinya sudah tidak mau lagi mengirim uang, apalagi membayarkan tagihan kartu kreditnya. Gajinya sebagai dokter? Mana bisa diharapkan! Mika hanya praktik di sebuah klinik kecil di pinggir kota. Cuman dua kali seminggu pula. Terkadang saja, Mika tidak mau menerima gajinya saking sedikitnya.Aksara tiba-tiba bangkit dari kursi, membuat Mika kelabakan dan ikut berdiri. Pria itu tampak bersiap pergi."Mau ke mana?!" tanya Mika."Kerja, lah. Apalagi?"Mika berdecap. "Buru-buru banget, sih? Kopi kamu belum habis." Mika melirik kopi si pria yang masih setengah. Dan juga, Mika harus mengulur waktu! Tujuannya belum tercapai dan Aksara tidak boleh pergi lebih dulu.Sayangnya, Aksara mana pernah mendengarkan istrinya? Pria itu berlalu begitu saja mengabaikan Mika. Membuat si wanita panik dan langsung bergegar menyusul sang suami."Aksara tunggu dulu!" Mika menyeru. Namun, langkah Aksara tak memelan.Sumpah serapah sudah Mika ucapkan dalam hati. Suaminya yang tidak pelit dan tidak berperasaan. Aksara melenggang begitu saja keluar rumah. Mendapati mobil pria itu yang sudah terbuka pintu belakangnya dan sopir yang sudah menyambut di sisi."Aksaraaaa." Mika merengek. Menarik lengan Aksara membuat pria itu akhirnya berhenti melangkah."Apalagi, Mika? Saya ada praktik jam 8." Pria itu melirik jam tangannya.Mika cemberut. Tangannya masih menahan lengan suaminya. "Transfer, ya? Lima puluh juta aja."Tas semalam sudah habis, tapi bukan berarti Mika tidak bisa mencari tas lainnya, kan? Pokoknya, Mika harus dapat tas pengganti tas yang semalam!"Berarti bulan depan saya cuman transfer lima puluh juta?""Mana bisa begitu!" serunya tak terima. "Buat bayar kartu kredit bulan depan aja lima puluh juta nggak cukup!"Aksara menghela napasnya panjang. "Makanya kamu jangan boros-boros, jangan belanja terus.""Ya gimana? Aku kalau nggak belanja nggak bisa tidur."Bibir pria itu menipis."Ya? Transfer, ya? Lima puluh juta aja. Please?" Mika menatap sang suami memohon."Baru mau satu tahun menikah saya sudah habis miliaran cuman buat bayar belanjaan kamu."Mika menyengir. Ya, siapa suruh setuju dinikahkan dengan perempuan boros seperti dirinya?"Jadi ditransfer, kan?" Mika mengerjapkan matanya sok lucu.Dengan wajah datarnya seperti biasa, Aksara pun menjawab. "Enggak." Lalu, pria itu naik begitu saja ke dalam mobilnya, meninggalkan Mika yang misuh-misuh berada di belakangnya.Sungguh, Kenapa bisa Aksara pelit sekali? Padahal Mika tidak minta banyak-banyak?Selama ini, menjadi istri pria itu, Mika sudah sangat baik hati. Dia menaati semua perjanjian yang Aksara ajukan. Mika tidak pernah melewati batas. Lagi pula, meminta uang tambahan kan tidak ada larangannya di dalam pasal!Dan juga, Aksara mau cari ke mana lagi istri seperti Mika? Perempuan yang rela suaminya punya pacar? Meski, Aksara tidak pernah mengakuinya, sih. Tapi, Mika yakin demikian. Gosip Aksara dan pacar rahasianya yang tidak direstui keluarga Wiranata sudah tersebar luas, khususnya di kalangan para dokter. Karena katanya, pacar Aksara itu juga merupakan seorang dokter. Meski lagi, Mika tidak tahu siapa orangnya sampai sekarang.Sebagai dokter abal-abal, Mika itu jarang berinteraksi dengan rekan sejawatnya. Tidak masuk grup mana pun karena dia tidak suka dan memang tidak berminat menjadi seorang dokter. Baru ketika Mika menikah dengan Aksara, beberapa kalangan dokter mulai mengajak Mika masuk ke dalam kelompok mereka. Dari sanalah, Mika sedikit-sedikit tahu soal kehidupan pribadi seorang Aksara.Salah satunya, ya itu, Aksara punya pacar yang tidak direstui keluarga. Mika yakin, dia mengajukan pernikahan kontrak selama dua tahun, agar nanti ketika bercerai bisa kembali dengan pacarnya.Mika, sih, sebenarnya tidak apa-apa. Toh, dia tidak mencintai Aksara dan menikah pun karena disuruh papinya. Tapi, jangan harap Mika tidak mendapatkan apa-apa. Karena Mika berencana mengeruk sebanyak-banyaknya harta Aksara sebelum mereka bercerai nanti.Meski, sayangnya, Aksara itu pelit setengah mati!Ponselnya bergetar sejak tadi. Isinya sudah jelas pesan masuk dari istrinya. Mikaela Amora Respati, perempuan 27 tahun yang boros setengah mati. Wanita itu tak menyerah mengirimkan Aksara berbagai foto tas dan sepatu yang diinginkannya. Merengek-rengek lewat pesan suara, berpura-pura menangis yang sayangnya semua sia-sia. Aksara tak akan luluh.Pekerjaannya hari ini sedikit lenggang. Tidak ada jadwal operasi hingga Aksara bisa pulang sebelum tengah malam. Beres visit pasien pukul tujuh malam, Aksara pun bergegas menuju rumah. Meski dirinya amat tahu, sampai di rumah kepalanya sudah pasti akan nyut-nyutan lagi.Sungguh, Aksara tak menyangka dia menikah dengan perempuan seperti Mikaela.Tentu saja, sangat berbeda dengan ' dia' yang sangat menghargai uang. Tidak mungkin boros dan belanja semaunya seperti Mikaela meski memiliki saldo yang cukup untuk membelinya."Aksara."Aksara memejamkan mata. Baru membuka pintu, Mika sudah menyambutnya dengan tangan bersedekap dan bibir tipisnya yang cemberut. Wanita ini memang pantang menyerah. Menuju satu tahun pernikahan, Aksara selalu kewalahan menolak segala keinginan Mika yang terus-terusan meminta uang."Saya bilang, enggak, Mika." Aksara bicara tegas.Istrinya semakin cemberut. Namun, Aksara memilih mengabaikannya. Melangkah masuk begitu saja ke dalam rumahnya menuju kamar. Suara nyaring Mika yang mengekorinya berlalu lalang. Tak ada yang Aksara perkenankan telinganya untuk menangkap. Kakinya masih melangkah lebar-lebar, hingga tiba di depan kamarnya, masuk ke sana dan menutup pintu.Mika tak akan berani masuk ke dalam. Meski manja dan menyebalkan, syukurnya wanita itu tidak pernah melanggar perjanjian. Mika tidak pernah menginjakkan kakinya masuk ke dalam kamar pribadinya ini.Menarik napasnya lega, Aksara melangkah menuju kursi. Duduk di sana mengambil ponselnya dalam saku. Membuka sebuah roomchat yang tidak kunjung berubah. Pesan terakhirnya yang tidak juga mendapatkan balasan.Jemarinya pun mengetik lagi.Aksara :Tolong balas, Ru. Setidaknya biar aku tahu kabar kamu.Aksara menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi. Matanya memejam sembari tangannya memijat keningnya yang lelah. Pekerjaannya tidak banyak, tapi kepalanya cukup terisi banyak. Bukan lagi Mikaela dan belanjaannya, tetapi dia yang tidak kunjung membalas pesannya.Sudah sebulan. Aksara tak mungkiri dia mulai khawatir."Aksaraaaaa pleaseeeee!""Oh, Tuhan!" Aksara mengeluh. Suara nyaring istrinya terdengar dari luar. Mikaela yang tidak pantang menyerah.Masih tersisa satu tahun lagi. Tahankah Aksara beristrikan perempuan materialistis itu?" Aksara aku mau beli tas." Suara merengek bercampur tangis Mika terdengarnya lagi.Perempuan manja dengan tangisan andalannya. Sungguh, kenapa bisa ada perempuan seperti itu? Hampir setahun menikah dengan Mika, Aksara merasa mendapat zonk besar. Mika hanya perempuan manja yang hanya tahu bagaimana caranya menghabiskan uang. Kenapa kakeknya tega sekali menikahkannya pada perempuan seperti itu?Sebagai dokter pun, Mika tidak cakap. Aksara sudah tahu segelintir berita mengenai Mika. Perempuan itu terkenal selalu pilih-pilih pasien dan tidak bisa apa-apa. Apalagi, saat masa-masa menempuh pendidikan. Gosip beredar bahwa Mika selalu gagal ujian dan ayahnya yang selalu menyogok agar Mika lulus ujian.Aksara tak mengerti. Mengapa orang seperti itu dibiarkan menjadi seorang dokter yang memiliki tanggung jawab besar pada nyawa manusia?"Aksaraaaaaaa."Menarik napasnya panjang, Aksara pun bangkit dari kursinya. Terpaksa membuka pintu dan mendapati Mika yang sudah bersimpuh sembari berlinang air mata di depannya. Hingga wanita itu berdiri saat mendapati kehadirannya."Mau tas," katanya dengan wajah sembab.Aksara memejamkan matanya. Pada akhirnya, dia yang selalu kalah. Demi kenyamanan dan ketenteraman hidupnya. Demi agar Mikaela tidak lagi merengek-rengek padanya. Aksara terpaksa mengeluarkan lagi ponselnya, mengirim sejumlah uang pada istri matrenya itu."Sudah saya transfer. Bulan depan nggak ada kayak begini lagi," kata Aksara, meski tidak yakin hal ini tidak akan terjadi lagi.Jerit kesenangan Mikaela masuk ke telinga. Termasuk bagaimana wanita itu yang langsung melompat memeluknya. Berjingkrak-jingkrak sembari mengecupi pipi Aksara."Terima kasih suami aku yang ganteeeeeeeng!"Aksara mendorong tubuh Mika, berusaha agar perempuan itu melepaskan pelukannya. Mika pun melepaskannya. Dengan wajah si wanita yang masih merekah ruah. Pancaran bahagia karena keinginannya tercapai."Saya mau istirahat. Jangan ganggu."Mika langsung mengacungkan dua ibu jarinya. "Siap! Selamat beristirahat dokter Aksara yang ganteng!"Tak lagi mau meladeni Mika, Aksara pun masuk ke dalam kamarnya.***"Askaraaaaaaaa!"Aksara terjaga dari tidurnya begitu suara jeritan masuk ke dalam telinga. Lalu, pandangannya mendapati kamar tidurnya yang gelap gulita. Pria itu pun terduduk dari rebahnya. Tangannya meraba-raba nakas di samping, mengambil ponselnya.Masih pukul 1 dini hari."Aksaraaaaa!" Jeritan itu lagi. Suara yang amat Aksara kenali, yang setahun ini sudah familier di telinga, yang menyebabkan sakit kepala.Suara istrinya.Menyalakan senter di ponsel, Aksara pun menuruni ranjang. Keluar dari kamarnya menuju sumber suara. Lalu ditemukannya Mikaela sudah berdiri di depan pintu kamarnya sendiri, memegang ponselnya dengan senter menyala sama seperti Aksara."Aksara kenapa lampunya mati!" Mika langsung merapat padanya, mengalungkan tangannya pada lengan Aksara.Tak lama, Aksar melihat Bi Jum yang ikut datang."Lagi mati lampu, Bu. Saya lihat keluar semuanya gelap. Mungkin ada masalah di PLN-nya," kata Bi Jum."Genset belum dinyalain, Bi?" tanya Aksara."Sebentar, saya periksa dulu. Mungkin lagi dinyalain sama si Ujang." Bi Jum pamit pergi, kembali meninggalkan Aksara dan istrinya yang menempel bak koala.Aksara pun berusaha melepaskan tangan Mika dari lengannya. Namun yang ada, wanita itu justru mengganti rangkulannya pada tubuh si pria. Memeluk Aksara erat sekali."Jangan dilepasin, ih. Lagi gelap banget," keluh Mika."Ini kan saya nyalakan senter. Sebentar lagi juga lampunya nyala."Mika menggeleng, semakin mengeratkan pelukan. Malas berdebar malam-malam, Aksara pun hanya bisa tarik napas. Pada akhirnya langkahnya sedikit berat karena harus menyeret Mika yang tak berjarak."Saya mau ke kamar lagi, Mika, saya ngantuk," kata Aksara."Ih, nanti dulu. Tunggu lampunya nyala dulu."Hela napas Aksara menarik berat. Pada akhirnya, langkah kakinya urung menuju kamar melainkan melangkah ke sofa. Duduk bersandar di sana dengan Mika yang bersandar padanya.Mika itu, selain boros, rewel dan menyebalkan, dia juga wanita yang penakut. Mika percaya hantu dan sering berimajinasi diganggu oleh hantu. Awal-awal menikah, perempuan itu meminta pindah kamar karena di luar jendela kamarnya ada pohon besar yang dia bilang adalah tempat tinggal setan perempuan berambut panjang—kuntilanak. Bukan hanya itu, Mika juga meminta pohon besar di dekat kolam renang ditebang. Alasannya, dia merasa diperhatikan saat sedang berenang. Syukurnya, Bi Jum menakuti wanita itu dengan berkata kalau pohonnya ditebang, hantunya kehilangan tempat tinggal dan bisa mengganggu penghuni rumah. Alhasil, Mika pun membatalkan keinginannya. Hanya saja, setiap ingin berenang, wanita itu meminta Bi Jum menemaninya di sana.Apalagi, saat mati lampu seperti ini. Imajinasi Mika pasti sudah bergerak liar ke mana-mana. Aksara benar-benar tak paham. Bagaimana wanita penakut ini bisa menjadi seorang dokter?Masih begitu mengantuk, Aksara pun mulai memejamkan mata. Saat kemudian dirasanya pangkuannya yang memberat. Kedua kaki Mika naik ke sana, dengan tubuh wanita itu yang masih menyandar padanya."Nggak harus kakinya naik juga, kan, Mika?" sindir Aksara."Aku kepingin kakinya kayak begini. Pegal kalau gantung di bawah."Aksara menghela napas berat. Wanita manja ini benar-benar!Sampai akhirnya lampu menyala kembali, membuat Aksara langsung mendorong Mika menjauh dari tubuhnya. Pria itu berdiri, berniat masuk kembali ke dalam kamarnya sebelum digagalkan Mika yang menahan lengannya."Tunggu dulu sampai Bi Jum datang," kata wanita itu. "Aku mau tidur di kamar Bi Jum aja."Kening Aksara mengerut. "Kenapa tidur di kamar Bi Jum?""Ya nanti kalau lampunya mati lagi gimana?" Mika menatap Aksara serius. "Lagian, sebelum mati lampu tadi aku kayak ngerasa ada yang ketuk-ketuk jendela. Jangan-jangan ini mati lampu karena—""Karena imajinasi kamu yang luar biasa. Saya heran, kenapa kamu nggak jadi penulis novel aja alih-alih jadi dokter?" potong Aksara langsung.Mika malah cemberut. Tak mau lama-lama menghabiskan waktu dengan wanita itu, Aksara pun berlalu begitu saja. Bisa-bisa dia tidak tidur sampai pagi jika harus menanggapi segala ocehan tidak masuk akal istrinya.***Sebelum berangkat kerja, Aksara secara tidak sengaja mendengar percakapan Bi Jum dan Kartika—ART-nya yang lain yang tidak ikut tinggal di sini—mengenai punggung wanita tua itu yang terasa pegal. Akibatnya adalah Bi Jum yang semalam tidur hanya dengan beralasan karpet di lantai. Tanpa bertanya, Aksara sudah tahu apa penyebabnya. Pasti karena kasur wanita tua itu yang tidak seberapa besar dikuasai istrinya.Nanti malam, Aksara ada operasi. Sehingga dia akan balik dini hari atau jika terasa begitu lelah dan malas menyetir, Aksara akan bermalam di rumah sakit. Maka dari itu, pria itu harus bicara lebih dulu dengan istrinya. Memastikan nanti malam Mika sudah kembali tidur di dalam kamarnya.Diketuknya beberapa kali pintu kamar si wanita, tapi tak kunjung terbuka. Saat matahari sudah terbit, Aksara melihat Mika kembali ke dalam kamarnya. Wanita itu pasti melanjutkan tidurnya di sana."Mika. Keluar sebentar," panggil Aksara.Tak didengar sahutan dari dalam, Aksara pun mengetuk lagi pintu kamar sang istri."Mika, keluar sebentar. Ada yang mau saya bicarakan."Menunggu beberapa menit, akhirnya pintu kamar itu terbuka. Menampilkan wajah setengah memejam istrinya dengan rambut mekar bak singa. Mikaela yang berantakan."Kenapa, sih? Masih ngatuuuk," keluh wanita itu."Nanti malam saya ada operasi. Belum pasti pulang ke rumah atau enggak. Kamu jangan tidur di kamar Bi Jum lagi," kata Aksara."Kenapa?""Kok tanya kenapa? Kamu kan punya kamar sendiri.""Tapi kan kamar aku seram.""Ini buktinya kamu berani tidur di kamar sendiri.""Ya karena kan udah pagi.""Nggak ada alasan." Aksara menatap istrinya tegas. "Tidur di kamarmu, jangan pernah tidur lagi di kamar Bi Jum.""Lagian kenapa sih tidur sama Bi Jum? Karena Bi Jum pembantu makanya nggak boleh?""Na—""Emangnya kenapa kalau Bi Jum pembantu? Bi Jum juga manusia. Emangnya kamu sebagai dokter, kalau ada pasien yang datang berobat, kamu lihat dulu latar belakangnya?"Aksara mendengkus. "Saya bukan kamu yang pilih-pilih pasien."Mata si wanita melotot tak terima."Sudah, jangan banyak alasan. Nanti malam tidur di kamar sendiri atau kamu yang ajak Bi Jum tidur di kamarmu.""Dibilang di kamarku seram!""Tidur di kamar yang lain.""Kamar yang dulu itu? Itu jauh lebih seram!"Aksara menghela napasnya panjang. Perbincangan dengan Mika tidak pernah bisa selesai dengan mudah. Wanita itu pintar sekali menyahut yang membuat Aksara harus kembali membalas sahutannya."Sebentar." Mika mengangkat tangannya ke udara, seolah menghentikan agar Aksara tidak membuka mulut. Sebelah tangannya yang lain ikut terangkat, menyingkirkan rambutnya yang menutupi sebagian wajah. "Kamu tadi bilang apa? Nanti malam operasi? Terus ke rumah orang tuaku gimanaaaa?!"Kening Aksara mengerut dalam. Ke rumah mertuanya? Dia tidak pernah mendengar wacana itu."Papi suruh kita datang ke rumah," sambung Mika."Kapan bilangnya?""Dua hari yang lalu di telepon.""Terus kenapa kamu baru bilang saya sekarang?"Mika diam. Bibirnya tampak cemberut lagi. "Lupa," sahutnya pendek.Masih pagi begini, Aksara sudah yang ke sekian kalinya menarik napas panjang. "Kamu duluan aja ke sana. Kalau saya sempat pulang saya menyusul, kalau tidak sempat besok pagi saya jemput," putusnya.Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, Aksara pun melangkah begitu saja. Sembari kemudian tangannya merogoh kantung celananya. Sebuah pesan masuk yang akhirnya dapat membuatnya senyumnya timbul sedikit.Aru :Maaf baru balas. Aku lagi sibuk belakang ini.Kabarku baik dan sehat. Semoga kamu juga sama.Tak menunggu waktu lama, Aksara pun segera mengetikkan balasannya.Aksara :Can we meet for a while? I miss you.Aru :We're done, Aksa. Kita sudah sama-sama punya pasangan. Please have some respect.Aksara tidak lagi membalas pesannya meski Mika sudah membombardir pria itu. Sepertinya, Aksara benar-benar telah masuk ke dalam ruang operasi. Artinya, Mika harus menunggu pria itu beberapa jam ke depan. Artinya juga, Mika harus sendirian di kamar tidurnya semasa gadis. Kamar tidur yang sudah lama tidak di tempati sebab terakhir Mika kemari adalah enam bulan yang lalu.Di atas ranjang empuknya, wanita itu menolehkan pandangan ke segala sudut. Memastikan tidak ada bayangan-bayangan aneh, atau hawa-hawa yang membuat bulu kuduknya merinding. Meski pada akhirnya mata wanita itu tidak menemukan apa pun, Mika tetap memutuskan bangkit dari rebahnya.Dia tidak akan bisa tidur memikirkan soal kamar tidurnya sendiri yang tidak cukup aman. Hantu-hantu buruk rupa bisa saja berkeliaran. Maka dari itu, Mika bangkit. Dia akan terjaga sampai Aksara pulang. Di rumah orang tuanya maupun orang tua Aksara, mereka tidak pisah kamar—demi tampil sebagai pasangan harmonis. Maka dari itu, Mika akan aman di kamar mana pun karena dia tidak sendirian.Kaki jenjangnya dengan cat kuku berwarna coklat melangkah keluar kamar. Melewati ruangan yang sudah cukup gelap. Mika nyalakan semua lampu yang ada di sana. Toh, penghuni rumah tidak akan sadar. Sudah pukul 11 lewat, Mika rasa, orang-orang sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing.Tapi ternyata, tidak. Netra Mika bertabrakan dengan tatap maminya yang sedang duduk sendirian di atas sofa. Ada sebuah cangkir di tangannya. Kebiasaan yang rupanya masih sama. Maminya sering keluar di tengah malam, duduk sendirian dalam kondisi gelap-gelapan."Kenapa keluar?" tanya wanita 59 tahun itu.Mika berdeham kecil, lalu membangun senyumnya. Terpaksa dia melangkah menghampiri sang ibu. Maminya tidak tahu kalau Mika takut hantu. Maka Mika pun, harus berhati-hati dengan rahasianya itu."Mika lagi tunggu Mas Aksara, Mami," jawab Mika ikut duduk di sofa.Maminya hanya melirik sedikit, sebelum kembali menyeruput minuman di cangkirnya. Mika sendiri, duduk saja dengan tegap. Menatap ke arah TV yang tak menyala. Bibirnya tertutup, meski tidak begitu rapat karena harus bersiap menjawab. Sebentar lagi, maminya pasti akan kembali bicara."Bagaimana pernikahan kalian?"Tuh, kan, Mika benar.Memiringkan duduknya agar dapat menatap sang ibu lebih layak, Mika membangun senyumnya lagi. "Baik, Mami. Mas Aksara baik sama Mika.""Tanggal 20 November tepat satu tahun kalian menikah, kan?" tanya Yunita—maminya Mika—lagi.Mika mengangguk. "Iya, Mi. Dua minggu lagi."Yunita mengangguk-angguk. Wanita paruh baya dengan selendang di punggungnya itu meletakkan gelas di atas meja. Lalu, wajah dengan rahang yang selalu Mika lihat ketat dan tegas itu menoleh pada putrinya."Sudah setahun dan belum ada tanda-tanda kehamilan?"Senyum Mika sirna sedikit. Meski, kembali dipaksa untuk disajikan pada sang ibu. Gelengan kecil yang Mika berikan. "Belum ada, Mi.""Cari tahu, dong, penyebabnya. Kalian kan dokter. Pasti banyak kenalan OBGYN yang bagus. Masa begitu saja harus mami yang turun tangan?"Tak menyahut, Mika hanya berusaha mempertahankan senyum. Pertanyaan mengenai kehamilan, seharusnya sudah tidak lagi asing di telinga. Pernikahannya dan Aksara sudah berusia satu tahun. Orang tuanya jelas sekali mengharapkan kehadiran cucu. Bukan untuk melengkapi masa tua melainkan—"Kamu harus segera punya anak, Mika. Jangan sampai keduluan dengan Jayendra dan istrinya. Kalau kamu punya anak, Aksara bisa maju menjadi pewaris utama Raksa Medica."Anak untuk menaiki tangga kejayaan.Jayendra adalah kakak sepupu Aksara, lebih tua beberapa bulan. Dalam garis keturunan, Jayendra akan dinobatkan menjadi pewaris utama kejayaan Raksa Medica—perusahaan medis dengan banyak cabang rumah sakit dan klinik laboratorium. Jayendra pun sudah berumah tangga, tapi belum dikaruniai anak. Segelintir informasi, Harsa Wiranata—kakek Aksara dan Jayendra, sekaligus komisaris utama Raksa Medica Group, bisa mengganti posisi pewaris utama kepada siapa pun yang bisa memberikannya cicit lebih dulu."Jangan sampai juga Senapati menikah dan punya anak duluan," tambah Yunita lagi, menyebut nama sepupu Aksara yang paling bungsu.Masih sama, reaksi Mika hanya berupa senyum seadanya. Ekspresi yang sama yang selalu ia hadirkan kepada keluarganya jika sedang dititah. Dijalankan tidaknya, urusan belakangan. Meski jika Mika tidak lakukan, dia akan terkena ganjaran yang cukup membuat sakit kepala."Kamu dengar nggak mami bicara apa?""Dengar, Mi." Mika memutar kepalanya cepat, mencari alasan. "Em, Mi. Mas Aksara telepon. Mika mau jawab teleponnya dulu," alibi wanita itu menaikkan ponselnya sekilas.Usai melihat anggukan kecil ibunya, Mika pun bangkit. Langkahnya anggun menuju kamar. Rupanya, masih sama seperti dulu. Berada di dalam kamar berhantu lebih membuatnya nyaman ketimbang berada di satu ruangan bersama sang ibu.Maminya meminta Mika punya anak? Tentu saja tidak akan bisa terkabul. Perjanjian pernikahannya dengan Aksara akan berakhir satu tahun lagi. Lagi pula, Mika tidak yakin cocok menjadi seorang ibu. Terlebih lagi, jangankan anak, membuatnya pun, Mika rasa Aksara tidak akan mau.***Aksara merasa tubuhnya kaku dan sulit bergerak. Kedua netranya terbuka. Mendapati sinar cahaya yang masuk sedikit melalui celah gorden. Selain itu, sisi ranjang di sampingnya yang kosong turut menjadi pandangan. Penghuninya tidak ada di sana.Melainkan ...."Mika." Aksara menggeram kecil.