Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
KISAH: Api & Sungai yang Mengangkat Beban Dunia
Fantasy Noveltoon
26 Nov 2025

KISAH: Api & Sungai yang Mengangkat Beban Dunia

Anak itu adalah orang yang mengangkat beban seluruh dunia ini seorang diri. Memang ia awalnya terlihat mampu, tapi pada akhirnya, semua orang tahu, bahwa dia pasti akan menyerah. Namun, bukan berarti ia akan kehilangan keyakinannya.Di bawah langit malam, gadis kecil berpakaian lecek itu melangkah dengan ragu menyusuri daratan rumput itu. Di sekitarnya, ada banyak pepohonan yang tampak amat indah dan istimewa. Pasalnya, semua pohon yang tumbuh di sana, memiliki daun yang menyala terang, yang memancarkan warna merah muda yang sangat serasi dengan kegelapan malam kala itu. Umat manusia menyebut tempat ini sebagai Daratan Kenangan.“Rasanya... dunia ini... sudah tidak memiliki harapan lagi...”Berbagai pemikiran yang tidak menyenangkan mulai merasuk ke dalam gadis itu. Pandangannya yang kosong menatap lurus ke depan, seakan-akan dia sama sekali tidak peduli lagi dengan nasib dunia ini.Namun, selain si gadis, rerumputan, kegelapan, dan pepohonan bersinar itu, di sana juga ada ribuan manusia lainnya, yang berpakaian kotor dan tidak terurus sama seperti gadis itu, yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya.Semua orang memberikan jalan agar gadis mungil itu bisa lewat.Gadis itu terus berjalan, sementara orang-orang di sekitarnya malah menatap dirinya dengan tatapan sedih, heran, dan takut.Selang beberapa waktu kemudian, gadis itu pun berhenti melangkah. Di depannya kini ada suatu danau yang cukup lebar, yang hanya berjarak satu jengkal saja dari kaki telanjangnya yang penuh luka.“Tuhan... mengapa dunia ini sangat senyap?”Gadis kecil itu mengambil nafas dalam, lalu dengan perlahan dan pasti, dia mulai melangkahkan kakinya ke dalam air yang terasa amat dingin itu, dan berjalan menuju ke tengah-tengah danau. Semakin dalam dan semakin dalam, sampai-sampai setengah dari tubuhnya sudah tenggelam, dan hanya bagian perut ke atas saja yang terlihat darinya.“Tuhan... mungkinkah ini adalah bayaran atas dosa-dosaku di masa lalu?”Air di danau itu sangat tenang dan tidak beriak sama sekali, seakan-akan, danau itu terlihat seperti membeku, sama seperti gadis itu yang kini hanya berdiri diam di tengah danau.Sekarang suasananya menjadi lebih hening—sangat hening.Ada banyak orang yang melihat ke arah gadis itu dengan tatapan yang menyiratkan rasa putus asa yang sangat dalam. Sampai-sampai kau merasa seolah bisa melihat jurang tanpa dasar di dalam pandangan mereka. Sebagian orang di sana juga ada yang mulai menangis terisak, dan sebagian lagi gemetar hebat dan berkeringat dingin.“Tuhan... Tolong dengarlah suaraku…”Namun, tiba-tiba ada satu suara yang memecah keheningan malam.Jauh di kiri gadis itu, ada seorang wanita yang baru turun ke air dan tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu juga menggendong bayinya bersamanya. Meski begitu, wanita itu adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak terlihat takut, sedih, ataupun putus asa. Dia hanya tersenyum kecil sambil memastikan bayinya tetap tertidur dalam dekapannya. Sementara jauh di belakang wanita itu, tampak pula seorang pria yang bertekuk lutut dan menangis layaknya seorang balita. Seolah-olah dia akan kehilangan wanita itu.Dalam perjalanannya, wanita itu berbisik pada bayinya; “Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu.” Suaranya yang pelan sungguh menenangkan.Puluhan langkah telah ditempuh, dan wanita itu akhirnya sampai di hadapan si gadis di tengah-tengah danau. Wanita itu mengulurkan tangannya yang lemah kepada si gadis, tapi, gadis kecil itu malah menggigit bibirnya sendiri dengan sangat keras, dan tubuhnya juga ikut gemetar.“Jangan takut, Nak Riveria...” Kata wanita itu sambil tersenyum simpul.Dia tahu, bahwa wanita yang berdiri di depannya itu sebenarnya sudah sangat siap. Tapi, kenyataannya, satu-satunya orang yang belum siap di sini, kemungkinan adalah dirinya sendiri.“Kau tahu, kan? Semakin cepat manusia pergi, maka dunia ini juga akan menjadi lebih baik.” Wanita itu menatap Riveria lamat-lamat. “Manusia adalah sumber kehancuran, Nak, dan aku adalah salah satu dari mereka.”“Tapi—”“Aku mengandalkanmu, Nak Riveria.”Akhirnya, Riveria dengan berat hati terpaksa menerima uluran tangan wanita itu.“Kalau begitu, selamat tinggal.” Bisik wanita itu pelan, lalu kemudian wanita itu dengan perlahan membungkukkan tubuhnya sampai dia benar-benar tenggelam ke dalam air.Jemari Riveria bergetar hebat, sampai-sampai dia kesulitan untuk melepaskan tangan wanita itu. Tapi, sungguh, hati kecil Riveria terus berteriak dan memberitahunya untuk tidak melepaskan tangannya.Seketika, tubuh Riveria menjadi lemas bukan main entah karena apa.Namun, saat tangan mereka telah bercerai, sesuatu yang gaib kembali terjadi.Ada banyak titik-titik cahaya hijau terang yang mulai timbul dari tempat si wanita tadi tenggelam. Cahaya itu sejatinya terlihat sangat ajaib, tapi sayangnya, apa yang terpancar dari mata Riveria yang kala itu bergetar hebat bukanlah rasa kagum, melainkan rasa takut yang tiada tara.Lambat laun, cahaya itu perlahan-lahan terangkat dari air dan naik ke udara, hingga lenyap begitu saja dari pandangan—dari dunia ini. Semua orang yang ada di sana hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Dan dunia ini sekarang telah menjadi lebih senyap dari sebelumnya.Riveria lalu menatap telapak tangannya dengan pandangan hampa. Suatu memori terlintas di dalam benaknya. Tapi, ingatan itu bukanlah miliknya, kenangan itu adalah milik wanita yang telah pergi sebelumnya.Walau hanya sekilas, Riveria bisa melihat hampir semua kenangan itu dengan amat jelas. Namun, berdasarkan semua ingatan itu, Riveria hanya mampu menangkap dua ingatan saja yang memberikan kebahagiaan pada wanita itu, yaitu saat wanita itu menikah dengan pria yang tengah menangis di sana, dan yang kedua adalah waktu dia melahirkan anaknya. Sementara sisanya, adalah ingatan-ingatan yang pahit dan mengerikan.“Bagaikan ribuan bintang di langit, tapi hanya dua bintang saja yang bersinar....”Detik demi detik berlalu, dan kesenyapan itu tiba-tiba lenyap diiringi derap langkah kaki ratusan orang yang memutuskan untuk turun ke air dan menggapai Riveria di tengah danau.Mereka adalah orang-orang yang telah siap untuk pergi meninggalkan kehidupan, sama seperti wanita tadi. Tapi bukan berarti mereka pergi ke surga atau pula ke neraka, karena saat ini, semua manusia tahu, bahwa gerbang di kedua tempat itu telah tertutup rapat. Saat ini, semua manusia sudah menjadi makhluk yang abadi, dan tak akan bisa mati. Walau begitu, bukan berarti Tuhan benar-benar meninggalkan manusia.Empat ratus tahun lalu, suara Tuhan yang menggelegar di langit menyatakan bahwa Ia akan menurunkan Sepuluh Keajaiban Terakhir untuk umat manusia. Dan salah satu dari keajaiban itu, adalah Riveria, dia diberikan kemampuan untuk mengirim manusia ke dalam kematian yang hampa—dia diberikan hak untuk mengantarkan manusia ke dalam peristirahatan yang terakhir dari yang terakhir.Kedengarannya tidak masuk akal, bukan? Namun sayangnya, sudah jelas kalau empat ratus tahun lalu, Tuhan sendirilah yang memberitahukan kebenaran itu pada manusia. jadi, semua orang hanya bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada.Akan tetapi, jika masih ada orang yang mencoba untuk menyangkal kenyataan itu, mereka bisa bertanya pada Riveria secara langsung, mengingat dia adalah salah satu dari segelintir makhluk yang telah hidup sejak empat ratus tahun lalu—sejak dunia ini masih dikuasai oleh manusia.Suara percikkan air, tangisan, teriakkan, dan keputusasaan terdengar makin membahana memenuhi tempat itu, seolah-olah ada upacara pemakaman massal yang tengah diadakan di Daratan Kenangan ini.Lalu, saat pagi telah datang, Riveria pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat.Riveria berdiri sendirian di atas tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi bak bukit. Rambut pendeknya yang terurai ke leher memancarkan warna merah mengkilap layaknya api membara. Tatapan matanya yang sebiru langit tengah memandang kosong pada cakrawala yang terbentang di depannya. Kenyataannya, di dunia yang sudah hampir mati ini, hanya gadis mungil itu sajalah yang bisa menyelamatkan orang-orang.Hanya dia.Seorang gadis kecil nan rapuh yang dianggap terkutuk oleh manusia lainnya.“Harus seberapa keras aku berteriak agar Engkau bisa mendengar suaraku... Tuhan.”Riveria bertanya pada hati kecilnya. Entah kenapa kala itu Riveria seakan ingin menangis. Dia merasa bahwa dunia ini sudah bertindak terlalu berlebihan. Tapi, air matanya telah lama kering, menyisahkan tatapannya yang tanpa arti.“Kenapa aku nggak memiliki perasaan lagi?” Tangan kiri Riveria bergerak meraba dada kirinya. “Kumohon... Tuhan, dengarlah suaraku untuk kali ini saja.” Suara Riveria terdengar layu dan malas.Matahari sebentar lagi akan menampakkan dirinya, menandakan bahwa dunia ini masih bertahan dan memilih untuk terus melangkah, dan juga memutuskan untuk terus menyiksa umat manusia.Riveria tetap berdiri di puncak bukit batu itu, menunggu datangnya sinar mentari.Suara angin yang berhembus melalui jendela dan pintu gedung-gedung yang telah lama hancur dan tertutupi oleh debu yang amat tebal, seakan membawa suara jeritan ke telinga Riveria. Kendaraan, jalan raya, lampu lalu lintas, serta segala yang telah dibangun manusia di kota ini—semuanya telah lama mati.Dunia ini berhasil bertahan melalui suatu malapetaka—kiamat.Saat ini, hanya alam yang berkuasa atas bumi. Dan manusia? Manusia hidup dengan mengikuti aturan yang telah dibuat oleh alam. Tak ada lagi hukum manusia.“Di manakah sebenarnya engkau, Tuhan?”Akhirnya mata Riveria bisa menangkap sinar keemasan yang bersinar dari ufuk timur. Cahayanya begitu terang dan hangat, menembus pakaian kotor Riveria, dan seolah-olah cahaya itu tengah memeluk dirinya. Tubuh Riveria yang tadinya sangat kaku karena terkena angin malam, sekarang sudah terasa jauh lebih baik.Waktu itu, meski hanya sesaat, Riveria bisa merasakan sesuatu yang disebut dengan kedamaian. Untuk sesaat—hanya sesaat saja—Riveria bisa melihat sesuatu yang disebut sebagai... “Harapan.”Sungguh pemandangan yang amat megah, sekaligus perasaan yang luar biasa. Akan tetapi, terbitnya matahari adalah penanda waktu bagi Riveria untuk tidur.Namun, karena sinar mentari itu juga, Riveria jadi teringat kembali dengan kejadian kemarin malam. Semua kenangan-kenangan yang diterimanya dari orang-orang yang telah pergi, sekarang telah lenyap dari kepalanya. Ia sudah tak merasa pusing lagi. Tapi, bukan berarti ia bisa melupakan kengerian yang dirasakannya saat berdiri di danau itu.“Aku lelah banget... Hoam...” Mulut Riveria membuka lebar, ia menguap karena saking ngantuknya. Kemudian setelah melemaskan tubuhnya sedikit, Riveria pun mulai berbaring, dan dia pun terlelap begitu saja.Hanya di puncak bukit batu itu sajalah, Riveria bisa tertidur pulas untuk melepas penat setelah semalaman menunaikan kewajibannya. Meski tak ada bantal yang empuk, atau alas yang lembut, bagi Riveria, tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi ini, adalah tempat yang bisa disebutnya sebagai rumah.Riveria Agnisia, itulah namanya. Nama yang memiliki dua makna yang berbeda.Dia adalah nyala api—api mungil yang bahkan bisa padam kapan saja hanya karena sepoy angin. Namun, di saat yang sama, dia adalah sungai—sungai yang amat deras yang akan terus mengalir tanpa ragu dan takut.

KEPRIBADIAN GANDA
Horror Wattpad
26 Nov 2025

KEPRIBADIAN GANDA

Malam ini, lagi-lagi kurasakan hal aneh dan bau busuk yang menyeruak di setiap sudut jalan. Hawa dingin dan suara gonggongan anjing bersahutan menambah kesan seram. Bulu kudukk meremang, netra memicing di bawah cahaya yang temaram.Aku tidak takut. Kukatakan sekali lagi aku tidak takut. Kupercepat langkah menyusuri jalan yang gelap dan pekat. Tidak ada sumber cahaya yang membantu, bahkan bulan seakan takut memancarkan sinar."Hei!"Aku berbalik dan mendapati seorang gadis seusiaku. Dia berjalan mengendap-endap menghampiriku. Wajahnya terlihat waspada dan ketakutan. Tangannya tiba-tiba membekap mulutku lalu berbisik."Sstt ...! Kau ke sini lagi Luna? Sudah kuperingatkan jangan ke sini. Ah, sebaiknya aku mengantarmu pulang," bisiknya.Aku tidak bergeming. Bagaimana bisa dia memanggilku Luna? Aku merasa tidak memiliki nama itu sebelumnya."Kenapa kau diam saja? Di sini berbahaya, ayo kita pulang!"Gadis itu menarikku keluar dari jalanan yang gelap. Mulutnya tak henti-hentinya mengoceh. Entah apa yang dia maksud, aku tak mengerti.Aku terbangun mendengar siulan burung di luar sana. Berkali-kali kukejapkan mata memastikan tempat ini adalah kamarku.Lagi, setiap pagi kudapati kedua tangan dan kaki terikat ke sisi ranjang. Aku berteriak, meronta, menangis, dan tiba-tiba terbahak-bahak sendiri. Hingga datang seorang wanita paruh baya membawa nampan dan sekotak obat."Luna, makan dulu ya Sayang ... habis itu minum obat. Ibu masak menu yang enak loh hari ini."Wanita itu membelai rambutku dan menatapku sendu. Ada drama apa ini? Aku kenapa? Aku sakit apa? Wajahnya mirip sekali dengan sosok yang ada di foto. Dia tengah menggendong gadis kecil waktu itu."Lily mengantarmu pulang semalam. Dia melihatmu berjalan sendirian di jalanan gelap. Luna Sayang, kalau kamu ingin keluar, bilang sama Ibu ya ...," tuturnya sambil tersenyum.Aku membisu, tak pernah kulontarkan sepatah kata pun setiap dia berbicara. Bagiku dia sangat asing, tapi mengapa dia begitu peduli terhadapku?***Kutengok dua remaja seusiaku dari balik jendela. Mereka mengenakan seragam yang sama, dan menggendong ransel di punggung. Aku menatap diriku dari pantulan cermin. Lusuh dan ... menjijikkan. Mengapa aku tak seperti mereka? Bukankah seharusnya aku sekolah?Kubuka lemari pakaian yang telah usang. Banyak debu di setiap pakaian yang menggantung. Kamarku berantakan sekali dan tak terurus. Kata ibu, aku yang mengacak-acak kamarku sendiri dan mengamuk.Beberapa seragam sekolah tertata rapi di lemari. Bahkan masih terlihat cantik dan menarik. Hiasan dasi pita di kerah lehernya dan rok pendek lucu bermotif kotak-kotak.Tiba-tiba kepalaku pening seakan ada yang menghantam. Tubuhku terjungkal dan membentur lantai.Aku terbangun di sebuah tempat yang asing. Kakiku terpasung dengan banyak darah yang mengucur. Sadar, aku berada di balik jeruji besi. Datang seorang wanita menangis dan meneriaki namaku dari balik sel."Luna ... Ibu menyayangimu!"Itulah kalimat yang diucapkannya sebelum seorang pria yang kuduga adalah penjaga tahanan menariknya kasar. Nafasku tersengal-sengal. Sekelebat bayangan kejadian melintas di kepalaku."Hei!"Suara gadis itu terdengar lagi. Lily menarikku kasar. Dia menggenggam tanganku dan membawaku pulang. Gadis itu kembali mengadu pada ibuku. Aku mengamuk. Mengacak semua barang yang ada. Lily mengambil gulungan tali. Tangan dan kakiku terikat di ranjang. Mereka pergi, meninggalkanku di ruangan yang gelap ini."Luna," panggil seorang perempuan cantik membawa nampan berisi makanan.Dia membuyarkan lamunanku. Ingatanku kembali kacau. Ah ... aku menjerit merasakan sakit seperti ada yang mengacak-acak isi otakku."Luna, tenanglah!"Perempuan itu menggoyangkan bahuku pelan. Dia tersenyum manis. Manik matanya sangat meneduhkan."Makanlah dulu, kau pasti sangat lapar," ucapnya sambil menyodorkan sesendok nasi."Tidak!"Aku menangkis tangannya membuat sendok terlempar dan nasi berceceran di lantai.Dia memungut sendok yang tergeletak, lalu mengelapnya. Dia sangat penyabar. Meskipun begitu, dia tetap menatapku ramah."Luna, aku tahu kau sangat tertekan," ucapnya seraya mengelus rambutku.Aku membisu, cukup menyimak setiap kalimat yang diucapnya. Sesekali mengangguk atau menggeleng sekedar merespons. Dia bercerita banyak tentang kisah hidupnya. Namanya Naila, bekerja sebagai pelayan rumah sakit jiwa."Kak, bagaimana aku bisa berada di sini?" tanyaku lirih."Ah, kau tidak ingat? Pasti sangat sulit memiliki kepribadian ganda.""Sesuai informasi yang aku dengar, semalam kau membunuh temanmu. Dan beberapa jam yang lalu, ditemukan tumpukan mayat dengan bagian tubuh yang berserakan di pinggiran jalanan gelap. Dari mayat tersebut ditemukan sidik jari yang sama denganmu," jelasnya panjang lebar.Aku menaikkan alis. "Maksudmu Lily? Dan bagaimana bisa aku membunuh banyak orang?" tanyaku lagi.Naila menghela nafas lalu mengangguk. "Kau mencekik Lily dengan tali, lalu merobek mulutnya. Dan mayat di pinggir jalan itu, katanya setiap malam kau selalu ke sana sehingga diduga kau memutilasi setiap orang yang lewat dengan kapak.""Sudah, cepatlah makan, akan kuceritakan lagi nanti," sambungnya.***Aku berjalan di tengah malam yang sunyi di antara jalanan yang gelap dan hawa dingin yang menyeruak. Suara geretan kapak melengking indah, menggesek ke setiap bahu jalan.Cerat!Cipratan cairan anyir menodai pakaianku. Jalanan tampak manis dengan lumuran darah yang merembes dari kepala manusia yang baru saja kutebas. Tak sempat kudengar teriakan nyaring yang menurutku bagaikan alunan melodi.Kepalanya tersangkut pada kawat-kawat pagar. Lidahnya menjulur keluar dengan mata yang hampir terlepas. Sedang tubuhnya telah kucincang dan dikemas ke dalam kantong keresek. Ini adalah hadiah khusus untuk ibuku di rumah.Tak terhitung berapa banyak daging yang kusumbangkan pada anjing-anjing liar. Mereka terus saja menggonggong sebagai ucapan terima kasih padaku.Setiap malam, Lily selalu merusak kesenanganku. Aku belum selesai bermain. Tak tanggung-tanggung kuayunkan kapak ke paha kirinya. Dia meraung, meronta-ronta dan menyeret kakinya. Ini adalah pertama kalinya aku bermain dengan Lily.Aku menyeringai, tersenyum puas dengan keadaannya sekarang. Tubuh cantiknya telah cacat dengan bacokan yang kubuat. Lily memekik, berteriak meminta tolong. Percuma, tak akan ada yang mendengar."Kau berteriak sama saja mengundang anjing-anjing liarku," ucapku menyeringai."Berhenti Luna! Aku temanmu!""Aku bukan Luna!"Kemarahanku tak terkendali. Dia baru saja membangkitkan emosiku. Lily terlihat panik melihat arah kapak yang kuayunkan."Aaaahhh ...," rintihnya keras."Itu tak seberapa Lily, ini baru dimulai!" ucapku lalu tertawa hambar.Kulirik segulung tali menggantung di sisi tas kecilnya. Tali itu ... untuk mengikatku setiap malam. "Kau harus menerima pembalasanku Lily!" pekikku.Lehernya tercekik, kedua tangannya berusaha merenggangkan tali. Lihat, dia seperti seekor anjing yang sekarat. Kedua kakinya meronta-ronta. Tapi apa boleh buat, kematian menjemputnya.Aku pulang. Tubuhku tak lagi terikat. Kudapati kedua kakiku dipasung. Aku berada di balik jeruji besi. Tuhan, apa yang telah kuperbuat?

 Penghuni Rumah Terbengkalai
Horror Noveltoon
26 Nov 2025

Penghuni Rumah Terbengkalai

Cerita ini terjadi sudah sangat lama, saat aku melakukan salah satu hal paling bodoh dalam hidupku: mengunjungi sebuah rumah terbengkalai. Aku pergi ke sana sendirian karena tidak ada satu pun temanku yang berani ikut. Terlalu banyak cerita menyeramkan dan kabar aneh yang katanya pernah terjadi di rumah tua itu.Rumah itu tidak jauh dari rumahku. Jika berjalan kaki butuh sekitar sepuluh menit, namun waktu itu aku mengendarai sepeda, jadi kurang dari lima menit aku sudah sampai di depan rumahnya.Sesampainya di sana, terlihat jelas rumah itu sudah lama terbengkalai. Temboknya berlumut, pagarnya berkarat, dan pekarangannya dipenuhi tanaman liar yang tumbuh tak terurus.Aku datang karena mendapat pesan dari seorang kenalan. Ia meminta tolong untuk mencari sebuah benda yang tertinggal di dalam rumah itu. Saat membaca pesannya, aku sempat bertanya-tanya betapa bodohnya orang itu meninggalkan sesuatu di tempat seperti ini. Namun karena aku penasaran, akhirnya aku tetap berangkat.---Setelah memasuki rumah itu, aku langsung naik ke lantai atas. Ruang pertama yang kudatangi adalah kamar mandi. Begitu membuka pintu, hawa panas menyergapku.“Ya Tuhan, panas sekali di sini… Sudah berapa lama kamar mandi ini ditutup?” gumamku.Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Aku mencoba cuek dan keluar untuk menuju kamar lain yang belum sempat kukunjungi.Kamar pertama di lantai atas tampak seperti kamar tidur milik sepasang suami istri. Ada bingkai foto pernikahan, namun wajahnya sudah buram dimakan usia. Di dalam laci aku menemukan pakaian dan beberapa lembar kertas berisi materi pelajaran. Di lemari hanya ada pakaian rusak entah karena siapa.Aku lalu menuju kamar terakhir. Saat membuka pintu, firasatku benar: ini adalah kamar anak perempuan pasangan itu. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar, ada cermin kecil yang bingkainya sudah kusam.“Syukurlah… semoga di rumah ini tidak ada mayat,” ucapku lirih.Tapi lagi-lagi, suara benda jatuh terdengar dari arah belakangku. Aku terdiam sebentar lalu memilih untuk tetap melanjutkan pencarian benda yang dimaksud kenalanku.---Aku turun ke lantai bawah, masuk ke ruang kerja di sebelah dapur. Rak bukunya penuh dengan buku-buku tua yang menguning. Namun seperti sebelumnya, benda yang kucari tidak kutemukan.Aku menuju kamar mandi kecil di bawah. Cerminnya masih utuh, meski bingkainya penuh noda garis kusam.Keluar dari kamar mandi, aku kembali naik ke lantai atas. Sepanjang tangga, kulihat foto-foto keluarga itu yang sudah memudar. Jika ke tempat seperti ini, seharusnya aku memakai masker dan sarung tangan, pikirku.Saat memasuki salah satu ruangan, tiba-tiba aku melihat sebuah benda tergeletak di lantai.“Apa ini…?”Saat aku memungutnya, suara benda jatuh kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Degup jantungku meningkat. Aku memutuskan sudahi semuanya dan segera keluar. Namun saat berjalan menuju pintu, kudengar langkah kaki seseorang dari arah atas.Masalahnya… rumah ini tidak memiliki loteng.Atau mungkin sebenarnya rumah ini memiliki loteng?Entahlah. Ada hal-hal yang memang lebih baik tidak kucari tahu.---Beberapa minggu setelah kejadian itu, aku bertemu kenalanku di sebuah kafe kecil saat hujan lebat. Ia datang menggunakan gaun merah panjang, terlihat cantik.“Kotak waktu itu… kau menemukannya?” tanyanya.Aku mengangguk lalu menyerahkan benda yang kutemukan di rumah itu. Ia bilang benda itu adalah miliknya sejak kecil. Setelah itu, aku menceritakan pengalamanku memasuki rumah tersebut—tentang sosok di kamar mandi yang ternyata adalah pembantu yang tewas tertembak, noda merah di cermin yang ternyata darahnya, lalu sosok di kamar tidur yang merupakan ayahnya, dan terakhir sosok ibu yang merindukan putrinya.Ternyata semua cerita menyeramkan tentang rumah itu memang benar. Dengan mataku sendiri aku melihat para PENGHUNI RUMAH TERBENGKALAI.Setelah menyerahkan kotak itu, aku pulang. Di tengah hujan, aku berjalan tanpa payung karena aku benci jika ada “sosok” yang menumpang di bawah payungku.---Rumah terbengkalai itu ternyata memiliki masa lalu kelam. Satu keluarga beserta pembantu mereka dibunuh secara kejam, namun putri mereka berhasil selamat dan kini tinggal bersama neneknya di Belanda.Namun ada satu hal yang tidak kuceritakan kepada gadis itu: di loteng rumah itu—yang katanya tidak ada—aku menemukan jasad sang pelaku, tergantung.Yang jadi pertanyaanku… mengapa para penghuni rumah itu belum pergi?Apakah mereka ingin menjemput sang putri?Ketika aku meninggalkan kafe, dari kejauhan aku melihat kenalanku berjalan. Tapi aku juga melihat tiga sosok lain mengikuti di belakangnya—tiga sosok penghuni rumah terbengkalai itu.---END

LUST IN AFFAIR
Fantasy Wattpad
26 Nov 2025

LUST IN AFFAIR

"A-aku bukan Celine," gugup Celena menatap pria yang sudah dia cintai selama satu decade terakhir berdiri tepat di depannya. Entah mabuk atau apa, lelaki yang tak pernah menganggap dirinya tiba-tiba sudah berada dalam kamarnya. Sedangkan, di luar sedang ramai. Acara pertunangan Saxon dan Celine dilaksanakan.Saat pintu tertutup gadis itu semakin berada dalam posisi yang serba salah. Dia sangat mencintai Saxon, tapi kenyataan jika pria itu adalah tunangan kakak kembarnya membuat dia menutup rapat-rapat perasaan itu. Celine bahkan tidak pernah tahu, jika pria yang selalu diceritakan adalah lelaki yang sama."A-aku tahu kamu mabuk, tolong keluar dari kamarku." Gadis itu menggeleng, baru kali ini dia bisa begitu dekat dengan Saxon, selama ini hanya bisa melihat bayangannya dari jauh, Saxon bahagia bersama Celine, mereka adalah pasangan yang selalu diagungkan semua orang, bahkan keduanya berencana untuk menikah dalam waktu dekat."Tidak, Baby. Aku tidak cukup mabuk, aku tahu kamu Nena," jawab Saxon. Celena kian menggigit bibirnya, bahkan belum ada yang pernah memanggil namanya dengan Nena, apakah itu panggilan kesayangan?Celena menggeleng cepat, tidak! Tidak bisa! Saxon adalah milik orang lain, walau dia sudah lama mencintai pria ini.Saxon menyeringai, dia semakin berjalan mendekat. Celena beringsut mundur, dan menabrak headboard."Apa yang kau lakukan di sini?" pekik Celena. Dia beharap ada orang yang bisa mendengar dari luar dan mengusir Saxon sekarang, tapi tidak ada yang pernah bisa menyelamatkan dirinya sekarang karena orang-orang sedang sibuk."Aku menginginkanmu," jawab Saxon santai. Celena menggeleng. Pria ini gila!"Kau gila!""Aku gila karenamu!"Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Celena, otak dan hatinya perang. Sebelum Saxon mengenal namanya dia sudah lama mencintai pria itu, saat Saxon mengatahui namanya dia bahkan membeli cake untuk merayakan sendiri akhirnya crush notice dirinya, tapi juga menjadi hari patah hati terhebat untuknya karena Saxon adalah kekasih kembarannya. Dunia memang tak pernah adil padanya.Gadis itu makin menggeleng, sedangkan Saxon semakin naik ke atas ranjang. Celena menggeleng keras."Jangan, jangan seperti ini. Celine sangat mencintai kamu.""Aku tahu."Saat tangan Saxon terulur untuk memegang tangannya seluruh tubuh Celena bergetar, dia selalu memimpikan hal ini, Saxon tak pernah absen hadir dalam setiap tidur malamnya. Gadis itu menelan ludahnya kasar, dengan perlahan Saxon menarik tangannya lembut dan mengecupnya. Detik ini Celena merasa telah mengkhianati kembarannya, tapi dia juga selalu memimpikan hal ini. apa yang harus dia lakukan?"Kamu sangat cantik malam ini," puji Saxon sambil mengelus-elus wajah mulus Celena yang sudah banjir air mata. Suaranya terdengar rendah."Leave me alone.""Not now, Baby. Bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Saxon, Celena menutupi matanya.Tiba-tiba Saxon sudah menarik tubuhnya. Membuat Celena makin menganga takut, dia berperang antara hati dan kewarasannya. Saat sentuhan lembut kian dia rasakan Celena hanya bisa beteriak dalam hatinya.Dia hanya mampu menutupi matanya merasakan semua sentuhan lembut yang selalu diimpikan, tidak apa jika semunya hanya mimpi karena Saxon tidak akan pernah bisa diraihnya."Kenapa kamu selalu menghindar dariku?" tanya Saxon. Celena langsung membuka matanya, dia gugup luar biasa tapi juga senang di waktu bersamaan bisa melihat Saxon sedekat ini. diam-diam dia menghirup semua aroma tubuh pria yang berjarak sepuluh tahun lebih tua darinya."K-kamu mabuk, dan keluar dari kamarku sekarang," gugup Celena, tapi hatinya beteriak keras jangan lagi melepaskan pria ini, minimal dia belama selama lima menit yang akan dikenang selamanya."A-apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Celena berani bertanya, dadanya berdegup sangat kencang dia tidak menyangka bisa punya jarak sedekat ini dengan Saxon, pria yang selalu dia impikan."Yang aku inginkan?" tanya Saxon sambil mengangkat alisnya, ia tersenyum sebentar. Saxon adalah pria paling tampan yang pernah dia tahu, dan Celena tidak akan pernah bosa memandanginya.Saxon menurunkan wajahnya membuat Celena kian gugup, gadis itu menutupi matanya. Apa dia akan dicium? Tapi, apa dia berdosa? Demi Tuhan, pria ini tunangan orang! Bahkan, tunagan kembarannya sendiri. Hati Celena berperang, perlahan ia membuka matanya dan Saxon masih memandanginya, netra madu itu menusuknya dalam. Celena hanya bisa menelan ludahnya.Dia menggigit bibirnya karena siapa pun bisa melihat mereka dalam posisi yang tak senonoh seperti ini, dan semuanya jadi kacau.Hidung keduanya menempel membuat Celena kian gugup, bahkan menahan napasnya. Ia bisa merasakan napas hangat Saxon di wajahnya."Tidak ada," bisik Saxon rendah. Gadis itu langsung membuka matanya dan melotot. Sial! Apa-apaan tadi?Tanpa aba-aba Saxon sudah menciumnya membuat Celena melotot. Ia membeku, first kiss-nya hilang oleh lelaki tsundere yang selalu hadir dalam setiap tidur panjangnya. Celena masih membeku saat Saxon melepaskan bibir mereka, jari Saxon memainkan bibirnya."Jangan pernah menghindar dariku," ancam Saxon. Celena menelan ludahnya kasar. Masih belum juga mencerna apa yang terjadi.Tanpa dosa Saxon langsung keluar dari kamar tersebut dan membuat Celena kian mencak-mencak. Sialan!------Celena hanya bisa melihat dari kejauhan dengan hati yang berdarah-darah saat Saxon dan Celine saling bertukar cincin. Keduanya tersenyum bahagia."Ya, inilah yang kita tunggu-tunggu. Pertunangan Caryl Saxon dan Celine Angel. Pasangan yang sangat serasi sekali, semoga hubungan terus berjalan sampai pernikahan," ucap MC dengan nada yang bersemangat.Celena hanya berdiri di pojokan sambil melihat pasangan bahagia itu bertukar cincin dan memamerkan, serta pengumuman pernikahan. Enam bulan dari sekarang pernikahan itu dilaksanakan dan Celena pasti ikhlas melepaskan perasaan bertahun-tahun yang bersarang di dadanya.Saat Saxon mencium kening tunangannya lama, Celena menutup matanya. Ya, ini adalah hari paling sial untuknya, tak ada lagi harapan ataupun mimpi, dia akan mengubur semua mimpi yang jadi mimpi buruk untuknya.Saat semua orang bertepuk tangan dan memberi selamat, Celena juga melakukan hal yang sama, turut berbahagia, karena jika kembarannya bahagia maka dia ikut bahagia, walau tidak ada yang pernah tahu perasaan berat apa yang dia hadapi."Selamat, ya. Aku tidak menyangka dulu kita suka makan permen kapas bersama dan sekali kedip mata kamu udah nikah aja," ucap Celena pada kembarannya."Ah, kau cepat cari laki sana! Jangan sampai aku udah punya suami, dan kamu hanya bisa main sama dildo," goda Celine membuat kembarannya memerah apalagi Saxon yang menatapnya tajam. Sial! Gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya.Celena melewati Saxon, tidak memberi selamat, pria itu menarik tangannya yang membuat Celena langsung menoleh."Sayang lihat, dia tidak memberiku selamat," adu Saxon pada tunangannya yang membuat Celena menggepalkan tangan. Gadis itu pura-pura tersenyum, padahal jantungnya sudah jungkir balik berdekatan dengan Saxon, sampai kapan dia akan menghilangkan perasaan sial ini?Belum sempat tersadar, Saxon menarik tubuhnya cepat dan membawa tubuh kecilnya dalam dekapan dada bidang tersebut membuat Celena hampir pingsan."Jangan pernah melawanku, Baby girl. Ngomong-ngomong, bibirmu sangat manis," bisik Saxon membuat Celena langsung menginjak kaki pria itu karena telah melakukan pelecehan padanya.

Untuk Jogja Yang Tak sempat Kusapa
Romance
25 Nov 2025

Untuk Jogja Yang Tak sempat Kusapa

Tepat 7 tahun lalu aku bertemu dengan dia, yang sekarang dia berhasil punya tempat tersendiri dari sudut ruang yang tidak dapat diganti orang lain. Namanya Rafta, sosoknya sederhana, baik, humoris dan asyik. Dia adalah sahabat pena yang entah bagaimana menyelinap menjadi sosok yang paling istimewa.7 tahun dia membersamaiku tumbuh dan jadi aku yang sekarang. Dia yang mengajariku banyak hal, dia yang membuatku tertawa saat aku sedang tidak baik-baik saja, dia juga selalu berusaha ada saat aku butuh cerita. Seberpengaruh itu peran dia dalam ceritaku.Tapi saat waktu telah berlalu, kukira aku dan dia punya yakin yang sama, ternyata dia telah menetapkan kata tidak mungkin dalam perjalanan kita. Entah dia yang sudah menaruh putus asa atau memang dia yang tidak ingin berusaha, atau justru aku yang terlalu percaya bahwa kata temu itu ada. Entahlah, mungkin ini hanya sebuah cerita yang perlu diperjelas saja jalannya agar tidak meraba, atau menerka.Diantara banyak kota aku dan dia memilih Jogja yang katanya sih ”istimewa”. Aku ingin dia menjadi peran utama dalam ceritaku dan aku ingin Jogja yang menjadi saksi dari kisah perjalanan ini. Dia yang akan menjadi ending yang bahagia dari penantian yang tidak sebentar. Tapi setelah dia memilih untuk merangkai cerita dalam hidupnya sendiri dan bukan aku yang dia pilih sebagai pemeran utamanya, sepertinya cerita tentang Jogja hanya tinggal wacana yang akan menguap begitu saja, dan kita lupa bahwa kita masih terikat dalam satu cerita dan belum ada akhirnya.Untuk jogja maaf aku tak sempat menyapa, karena dia yang menjanjikan jumpa tak lagi ada dalam ending cerita. Perannya kuakhiri ditengah cerita karna bila kubiarkan dia yang menjadi peran utama, mungkin ceritaku tak akan ada akhirnya.Untuk terakhir kalinya dia memintaku untuk menghadirkanya dalam cerita sebagai sosok yang sesekali hadir hanya untuk menyapa, tapi maaf, karena cerita soal Jogja sudah tak lagi ada maka semua hal yang menyangkutnya juga sudah tidak kuperkenankan.Selamat tinggal untuk anda yang mungkin akan tetap jadi istimewa, dan teruntuk jogja kututup cerita ini sampai disini, karena tidak perlu ending yang sempurna untuk sebuah epilog cerita biarlah sekedarnya asal jelas untuk disebut tuntas.

Meninggalkan Kebiasaan Itu
Romance
25 Nov 2025

Meninggalkan Kebiasaan Itu

Memelukmu dalam angan rasanya sudah menjadi hobiku, kegiatan menyenangkan yang berkali-kali mampu membuat hati ini menggelora. Maaf, aku yang pengecut ini memelukmu tanpa izin dalam bayangku, tak apa bukan jika aku menyimpan harap lebih padamu? Perasaan bukanlah suatu kesalahan, aku tak akan menyalahi rasa yang dengan begitu lancangnya hinggap begitu saja pada hatiku, aku akan menikmati setiap prosesnya, perlahan, di setiap detiknya, meski seiring berjalannya waktu, aku sakit.Melihatmu berbincang begitu hangat dengan pangeranmu, hatiku meringis, kupaksakan tersenyum, lagi, aku melangkah mundur, tak pantas rasanya bersaing dengan manusia sesempurna dia, dia yang jauh lebih baik dariku, mungkin hanya dengannya kamu merasa bahagia. Sebagai seorang kekasih.Sekali lagi, aku hanya mampu menangkap mata indahmu dalam hening, ketika kamu lagi-lagi dijatuhkan oleh priamu, ketika kamu lagi-lagi dibuat menangis oleh sosok yang kau puja, aku mengutuk pria yang membuat hatimu terluka, aku mencacinya dalam diam.Namun, ketika aku kembali melihat bahagia pada air mukamu saat kau bercerita mengenai dirinya yang selalu membuat pipimu bersemu, dia yang katamu selalu membuat hatimu berdebar kencang ketika bersamamu, dia yang katamu selalu melindungimu di segala kondisi, dia yang tersegalanya dalam kisah asmaramu, aku tak punya lagi alasan untuk mencaci, aku tak punya tekad untuk memaki tanpa sebab, tak sopan rasanya jika aku membenci dirinya hanya karena dia lebih mampu memikat hatimu, aku tidak bisa egois, tentu saja, apalagi ini mengenai hatimu.“Bahagia?” Tanyaku sembari menatap lembut mata indahmu. Air yang mengalir di depan kita, hamparan sawah yang terbentang luas, bukit-bukit yang berdiri kokoh dengan keangkuhannya, pancaran sinar jingga yang tersebar di angkasa, biarlah mereka menjadi saksi bisu tentang tatapan yang lain dariku kali ini, saat kedua atensiku terarah padamu.Kamu mengangguk antusias, sembari memilin jemari gelisah, wajah menggemaskanmu tak bisa kamu tutupi meskipun aku tau, kamu berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya.“Ekhm, ciee, keinget ayang, gelisah gitu.” Entah ini kali keberapa aku menggodamu. “Apaan sih!” Tanggapanmu selalu sama, kamu memukul lenganku. “Aww!” Aku meringis, pukulanmu boleh juga. “Aaaaaaaa Raga, minggu depan dia datang ke rumah,” katamu tersenyum lebar dengan kedua atensi yang berbinar.Aku tertawa kecil menatapmu yang begitu antusias, tanganku mengusap pucuk kepalamu, mungkin ini adalah yang terakhir kalinya. “Udah gede nih, tau-tau mau dipinang aja sama orang.” Ya, aku selalu menganggapmu sebagai gadis remaja polos yang masih sama menggemaskannya seperti beberapa tahun yang lalu.—“Bro, makasih selama ini lu udah jadi sahabat yang baik buat Rindu, makasih udah jaga dia, ikhlas kan kalo gue pinang dia?” Pertanyaan terakhirnya membuatku terpaku, namun tak lama setelah itu aku tertawa terbahak seolah tak terjadi apapun pada hatiku. “Jaga dia, gue tau lu pria baik, lu bisa dampingin dia, jadi cinta sejati buat dia.”Dan kini, aku melihat kedua mempelai duduk anggun berdampingan di atas kursi pelaminan, mereka terlihat begitu bahagia.Cinta bukan tentang siapa yang memiliki, cinta juga bukan tentang dia yang menghalalkan segala cara untuk bisa meraihnya, cinta itu perasaan yang suci, dia tulus.Aku sadar, kebahagiaannya bukan ada padaku, pangeran yang akan mendampingi usianya bukanlah diriku, cinta yang dia punya bukanlah untukku. Tak apa, aku bahagia melepasnya pergi bersama pujaannya.Kebahagiaanku belum aku temukan, siapapun kelak dia yang akan menjadi pendampingku, dia tak akan pernah menggantikan posisimu pada hati dan kehidupanku, karena setiap orang yang hadir di sepanjang usiaku punya tempat tersendiri pada hati, tak terkecuali kamu, first love, tak ada yang menggantikan dan digantikan disini.Ah ya, aku tak akan lagi memelukmu dalam anganku, tak pantas rasanya, mengingat kamu sudah memiliki pendamping. Tenang saja, aku akan meninggalkan kebiasaan itu.Cerpen Karangan: Hapsari Purwanti Rahayu

Surat Cinta Dalam Al-Qur’an
Romance
25 Nov 2025

Surat Cinta Dalam Al-Qur’an

Namaku Aisyah. Sudah sekitar tiga tahun aku tinggal bersama keluarga angkatku. Bukan angkat karena saudara, tapi karena aku harus mencari tempat inap untuk sekolah. Dan aku bukan berasal dari anak orang kaya yang bisa menyewa kos atau perumahan. Karena uang saku saja aku tidak pernah diberikan.Aku tinggal dengan keluarga yang begitu baik. Yang terdiri dari ayah, ibu, dan 2 anak laki-lakinya. Aku biasa menyebut 2 anak itu dengan mas Rian dan mas Toni. Mereka berdua memiliki sifat yang cukup berbeda. Mas Toni adalah laki-laki pecinta rebahan. Sedangkan Mas Rian, anak yang suka bekerja. Ia rajin beribadah. Dan bahkan, kami jarang berbicara.Namun, harus kamu ketahui. Bahwa aku mengagumi Mas Rian. Tapi bukan berarti aku suka mengintip atau memandangnya diam-diam. Tidak!. Kami sama-sama dibatasi iman kami masing-masing. Ia hanya menyapaku ketika pagi hari, atau ketika memintaku membuatkan sesuatu. Dan aku suka dimintai bantuan olehnya. Dengan hati yang sangat iklas dan lapang dada aku bisa menerima pemintaannya.Dan mulai hari ini, aku harus menghitung waktu dengan mundur. Satu pekan lagi, aku akan meninggalkan rumah ini. Juga meninggalkan Mas Rian. Bukan karena ada masalah, tapi karena sekolahku telah usai. Dan aku, akan pergi ke luar kota untuk bekerja. Aku ingin bisa mengungkapkan perasaanku sebelum pergi. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa menjadi khadijah R.A. yang mampu mengungkapkan perasaannya pada baginda rosul. Aku hanya sebatas wanita hamba Allah yang lemah. Aku tidak mampu.Seminggu ini, kuhabiskan waktu untuk sekedar membungkus kado-kado kecil dariku untuk Mas Rian. Karena terlalu hilang cara, akhirnya kuputuskan untuk menulis surat dan kutinggal di dalam bekas kamarku. Ada 3 kotak kado yang kutinggal di sana. 3 kado itu berisi al-qur’an, koko, sarung dan peci. Semua barang aku bungkus terpisah kecuali sarung dan peci. Surat yang kutulis berasa di tengah al-qur’an. Kuselipkan dengan kuat. Kupastikan tidak jatuh jika tidak ditarik.“Buk, pak, saya pamit dulu”. Ucapku pada ayah dan ibu. Kucium tangannya, dan ibu memelukku. “Jangan lupa dengan kami ya”. Suara ibu membisik di telingaku di antara isak tagisnya. “Insyaallah saya tidak akan lupa bu”. Jawabku. “Mas, aku pamit dulu”. Ucapku pada Mas Toni. Yang kemudian ia tersenyum. “Hati-hati di luar sana”. Jawab Mas Toni. “Iya, Mas Toni berubah. Jangan jadi pecinta rebahan terus. Nanti jodohnya dipendem Allah”. Jawabku meledek. Ia tertawa, disusul tawa ayah, ibu, dan Mas Rian. Aku melihat Mas Rian tertawa, dan aku menikmatinya. Aku fikir, hari ini akan jadi hari terakhir aku melihat tawa Mas Rian.“Mas, aku pamit”. Ucapku pada Mas Rian. “Iya. Kamu jaga diri”. Jawab Mas Rian. “Setelah aku pergi, Mas Rian boleh deh pake kamar itu lagi”. Ucapku sambil tersenyum. “Tentu saja, toh memang kamarku”. Mas Rian tertawa. “Mas juga jangan sampai lupa baca al-qur’an yang rajin”. Ucapku yang terakhir. “Enggak diingetin mah juga ingat Syah”. Jawab Mas Rian. Aku tersenyum.Setelah selesai, aku lalu masuk ke mobil yang aku pesan untuk mengantarku pulang. Rencana, aku akan pulang dulu ke kampung halaman satu hari. Dan baru berangkat ke luar kota.Untuk surat itu, aku hanya berharap Mas Rian segera menemukannya. Dan jika hari itu ketika Mas Rian menemukan surat itu dan ternyata sudah ada orang yang mengisi hatinya, maka aku iklas. Dan jika ternyata surat itu ternyata tidak pernah terbaca oleh Mas Rian, maka aku juga iklas. Hanya Allah S.W.T. yang tahu jawaban dari do’a dan usahaku.

Long Time
Romance
25 Nov 2025

Long Time

Seorang gadis yang terjebak cinta pada teman semasa kecilnya, kita sebut saja Elerin namanya. Elerin adalah tipe anak yang sulit mengungkapkan isi hatinya. Mari kita lihat bagaimana kisah percintaannya.Bisa dikatakan Elerin mendapat kisah percintaan yang sedikit buruk. Pada saat SMP ia menyukai lelaki yang bisa dibilang lebih manis daripada anak anak sesekolahnya. Ya itu hanya di mata Elerin saja tentunya, Elerin tidak pernah menceritakan tentang isi hatinya sama sekalipun. Ia hanya diam dan menyimpannya tanpa perlu orang lain ketahui.Elerin memiliki teman, Belsya namanya. Belsya gadis yang periang dan mudah mencurahkan isi hatinya. Saat istirahat sekolah Belsya bercerita kepada Elerin bahwa dia menyukai seorang laki laki yang ada di sekolah. Elerin terkejut saat mendengar Belsya bercerita, ternyata laki laki yang disukai Belsya adalah teman masa kecil Elerin atau lebih tepatnya lelaki yang Elerin sukai. Namun, Elerin tidak menganggap itu sebagai masalah dan merespon Belsya dengan baik.Hari demi hari Belsya terus bercerita kepada Elerin tentang Mizan lelaki yang disukai dua gadis tersebut. Elerin pun terus merespon baik saat Belsya bercerita, walaupun ia merasa sedikit sedih. Bahkan, saat hari valentine pun Mizan dan Belsya terus bertukar coklat selama 3 tahun. Elerin hanya tersenyum bahkan menggoda mereka berdua sesekali.Dalam isi hati Elerin, ia ingin sekali bertukar coklat dengan Mizan hanya saja ia malu dan takut untuk melakukannya. Bisa kita ulangi bahwa Mizan adalah teman masa kecil Elerin dan lelaki yang disukai Elerin. Mizan selalu bercerita bagaimana sikap Belsya terhadapnya kepada Elerin. Lagi lagi Elerin merespon dengan baik. Kisah percintaan Belsya dan Mizan hanya berlangsung hingga lulus SMP. Belsya dan Mizan sudah berbeda sekolah. Elerin tidak bisa menghentikan rasa senang dihatinya saat mengetahui bahwa ia diterima satu sekolah dengan Mizan. Ya, mereka sekolah di SMA yang sama.Ada rasa senang tersendiri dihati Elerin saat mengetahui Belsya dan Mizan sudah berbeda sekolah. Artinya ia bisa dengan bebas bersama Mizan. Ia mencoba untuk lebih dekat lagi dengan Mizan. Usahanya tidak gagal, hubungan pertemanannya dengan Mizan semakin dekat. Ia juga mendengar dari teman SMA bahwa Mizan juga menyukainya. Disaat itulah Elerin tidak bisa jauh dari Mizan walaupun hanya sehari saja. Sedikit berlebihan tetapi itulah faktanya.Disuatu hari Elerin sangat terkejut saat mengetahui Mizan pulang sekolah bersama seorang perempuan. Elerin bertanya kepada temannya. “sejak kapan mereka seperti itu?”, ujar Elerin. “beberapa minggu yang lalu”, jawab teman Elerin. Mengetahui hal itupun Elerin hanya bisa tersenyum kecil. Untuk kedua kalinya ia kalah cepat dengan seseorang.Hubungannya dengan Mizan memang tidak renggang, hanya saja Elerin merasa bahwa ia tidak boleh terlalu dekat dengan Mizan mengetahui jika Mizan sudah dimiliki seseorang. Mizan tidak bercerita apapun kepada Elerin tentang pacarnya. Ya, ternyata Mizan berpacaran dengan perempuan yang diboncengnya saat itu.Sampai hari itu juga, Elerin hanya menyimpan perasaannya dalam hati. Ia menerima dengan hati yang sedikit sedih tetapi juga sedikit senang. Ia tidak menganggap hal tersebut menjadi masalah yang besar, karna baginya jika Mizan berpacaran dengan perempuan lain itu sudah menjadi hak Mizan.Mizan tetap sering bermain dengan Elerin mengingat mereka adalah teman kecil. Pada suatu hari Mizan berkata pada Elerin. “aku mau pindah keluar kota er”, ujar Mizan. “loh? ada apa?”, tanya Elerin dengan wajah bingung “tidak ada apa apa, mamaku dan aku ingin lebih dekat dengan keluarga yang ada disana”, jawab Mizan. Seketika Elerin memasang raut wajah yang sedih. Mizan yang menyadari hal itupun seketika mengusap bahu Elerin dengan tersenyum. Elerin sedih amat sangat sedih karena perasannya belum tersampaikan dan juga harus berpisah dengan teman semasa kecilnya.Sampai dimana hari perpisahan tiba untuk keduanya. Mereka saling bertukar barang sebagai kenang kenangan dan penawar rasa rindu. Mereka tetap dekat meskipun sudah berbeda kota.

Crush
Romance
25 Nov 2025

Crush

Aku menyukainya sejak aku masuk di bangku SMP. Aku menyukainya bukan karena aku satu kelas atau satu sekolah dengannya, hanya saja aku memang mengenalnya. Aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul karena aku juga tidak terlalu sering melihatnya. Bahkan perasaan ini semakin bertambah hanya dengan melihatnya.Kupikir jika aku mengabaikannya perasaan ini akan hilang namun, semakin aku mengabaikannya semakin aku tak bisa menyangkal kalau ternyata aku benar benar menyukainya. Yang bisa kulakukan hanya menatapnya dari jauh tanpa berani berbicara padanya. Aku hanya bisa melihatnya berbicara dan bercanda dengan orang lain, bukan denganku.Kupikir dengan membuka hati pada orang lain aku bisa melupakannya, namun saat aku melihatnya atau bertemu dengannya lagi nyatanya perasaan ini masih ada bahkan gak berkurang sama sekali. Pernah suatu hari saat di malam natal hal yang memalukan terjadi padaku, tiba tiba saja saat aku mulai berjalan hak sepatuku rusak, aku tak mungkin memakainya apalagi kami akan tampil pada saat itu. Kawanku pun berkata padanya (si crush) untuk mengantarku mengganti sepatuku. Kebetulan rumahku dengan gereja tempat kami mengadakan natal memang agak jauh. Aku benar benar malu dan awalnya aku juga menolak untuk tidak perlu menggantinya. Namun mereka bilang padaku “memangnya kamu gak malu memakai itu didepan nanti, semua orang pasti akan melihat!” Akhirnya aku pun setuju walaupun aku sudah sudah malu setengah mati.Itu adalah pertama kalinya aku bisa benar benar dekat dengannya. Selama perjalanan hanya ada keheningan karena memang tidak ada satupun dari kami yang memulai obrolan. Aku hanya berharap semoga kami cepat sampai karena rasanya benar benar canggung.Saat sampai aku langsung turun dan pergi meninggalkannya bahkan sampai lupa untuk mengucapkan terima kasih padanya karena begitu gugupnya.Setelah hari itu pun kami tak pernah saling bicara atau sekedar menyapa. Dan aku juga tak pernah berpikir untuk mendekatinya karena aku memang tak bisa.Bertahun tahun bahkan hingga aku masuk SMA yang kulakukan hanya menatapnya dari jauh dan juga masih mencoba untuk melupakannya. Aku juga tak berani mengatakan padanya bahwa aku menyukainya, karena aku tak mau ia merasa ilfeel denganku.Dan akhirnya disaat aku naik kelas 12 aku bertemu dengan seorang adik kelas, entah bagaimana aku bisa menyukainya yang pasti dengan kehadirannya aku bisa mulai melupakannya (si crush).Kini hanya ada dia yang ada di pikiranku. Aku mulai dekat dengannya bahkan kami sering ngobrol saat jam istirahat sekolah karena memang hanya pada saat itu kami bisa bertemu.Kupikir kali ini jalan cintaku akan berjalan dengan baik. Namun ternyata, aku mendengar rumor jika ia sudah memiliki pacar. Mulai hari itu aku pun mulai menjauhinya, kami tak pernah bertemu lagi seakan saling menghindar. Dia juga bahkan tak menjelaskan apapun padaku. Yah aku memang bukan siapa siapanya jadi kukira dia berhak untuk tak perlu memberitahuku tentang hubungannya.Mulai hari itu aku tak mau mengenal kata suka lagi. Aku mencoba melupakannya dan mulai menutup pintu hatiku untuk siapapun.

Cinta Pungguk Kepada Bulan?
Romance
25 Nov 2025

Cinta Pungguk Kepada Bulan?

Kuperhatikan dari jauh seorang lelaki dengan seragam olahraganya di antara lelaki berseragam olahraga lainnya yang sedang bermain voli. Ia tampak bergerak aktif mengikuti ritme permainan, kadang wajahnya serius, tetapi terlihat lebih banyak tertawa, ia menikmati permainan itu. Melihat pemandangan itu rasanya seperti dinaungi pohon rindang di tengah cuaca terik pagi menjelang siang ini, hmm… adem dan sejuk. Tak bosan-bosan kupandangi senyum dan tawanya itu, ah… andaikan ia kekasihku, mungkin aku jadi orang yang paling bahagia di dunia. Tapi nyatanya bukan, aku hanyalah seorang teman masa SMP nya yang mungkin sudah ia lupa karena kami memang tidak pernah satu kelas, mengobrol pun hanya sekali itu pun karena ada keperluan. Aku merasa seperti pungguk yang merindukan bulan.Permainan voli berakhir, Rayyan namanya, lelaki itu tampak lelah dan berpeluh, ingin sekali kuhapus peluh di wajahnya dengan sapu tanganku, tapi sangat tidak mungkin, aku bukan siapa-siapanya. Kusudahi apa yang sedari tadi kulakukan, Listia, temanku memanggilku mengajakku ke perpustakaan. Kami berdua memang hobi membaca, di perpustakaan banyak bahan bacaan yang bisa kami pinjam dan kami bawa pulang, baik itu referensi pelajaran ataupun buku bacaan hiburan.Selesai meminjam kami kembali ke kelas kami yang berada agak pojok dekat dengan toilet. Tanpa sengaja kami berpapasan dengan Rayyan, rupanya ia dari toilet, ia tampak rapi dan sudah mengganti seragam olahraga yang tadi dipakai dengan seragam putih abu-abunya. Ia tersenyum sambil lalu, entah senyum untukku atau bukan, tapi aku balas saja tersenyum. Aku merasa ia tersenyum padaku, karena matanya mengarah padaku. Aku bahagia. Apa senyummu mengartikan kau masih mengingatku? Atau karena kau memang lelaki yang ramah pada siapapun.Aku ingat sekali dulu kita, bersama belasan teman siswa siswi lain mewakili SMP kita mengikuti kompetisi antar sekolah sekabupaten, aku tergabung di tim bahasa Inggris dan kamu tim Matematika, tapi ah… kalau kupikir-pikir, mana mungkin kamu mengingatku, lagi pula menurutku dari sekian banyak siswi, mungkin siswi-siswi seperti Rena saja yang akan diingat oleh para siswa, gadis cantik, menarik, kulitnya putih bersih dan mulus, tapi… apalah aku, meski ibuku meyakinkanku kalau aku itu cantik dari hatiku.Hari berikutnya, aku harus piket kelas bersama beberapa teman yang lain. Sudah biasa kalau seperti ini, Lis pulang lebih dulu dan aku harus pulang sekolah sendiri. Biasanya kami pulang bersama, naik angkot bersama karena rumah kami memang searah. Jalan raya jaraknya kurang lebih 300 m dari sekolah kami, lumayan terasa memang kalau harus jalan seorang diri karena teman yang lain memilih jasa ojek online.Sekolah mulai sepi, dan seperti biasa pula kupacu jalanku agak laju. “Sis…” sebuah suara memanggil namaku, terdengar dekat, aku menengok ke belakang. Aku terkejut, ia Rayyan. Ia tersenyum padaku. Setelah dua tahun kami menimba ilmu di sekolah ini, baru kali ini ia memanggil namaku. “Hai…” satu kata yang bisa kuucapkan. Kenapa Rayyan baru pulang? dan tumben ia jalan kaki, biasanya kan naik motor, dalam hatiku.“Kamu Sista kan? Boleh bareng ngga?” tanyanya. Aku mengangguk. “Boleh kok” jawabku kikuk. Aku terdiam, bingung mau bicara apa, aku termasuk orang yang pemalu. “Sis, kamu alumni SMP DWI BINTANG SAPTA kan? aku ingat kok dulu kita pernah jadi tim perwakilan sekolah untuk kompetisi antar sekolah, benar kan?” tanyanya. Oh… ternyata dia masih mengingatku, batinku. “Iya benar, kupikir kamu tidak mengenaliku, kalau aku sih masih mengingatmu… Rayyan” “Enggak lah, masak aku lupa, kamu juga kan yang mendapatkan nilai tertinggi saat kelulusan SMP kita waktu itu? Aku dengar kok pengumumannya dari pak kepala sekolah” “Iyakah? Aku malah ngga tau kalau itu diumumkan, saat kelulusan aku memang ngga ke sekolah, waktu itu aku sakit cacar, hanya ibuku yang diberi kabar oleh wali kelas bahwa nilaiku tertinggi”. “Kamu kok baru pulang juga, Ray?” tanyaku setelah itu. “Hari ini giliran aku piket kelas, kamu juga kan? Aku tahu karena sering melihatmu… “.Singkat cerita, sejak saat itu kami mulai akrab, Rayyan beberapa kali mengajakku pulang bareng dengan motornya saat aku tidak pulang bersama Lis. Aku senang sekali bisa jadi teman dan dekat dengan Rayyan meski tidak berharap banyak menjadi kekasihnya. Mulai ada bisik-bisik tentang kedekatan kami dan kurasakan tatapan sinis dari beberapa siswi yang kutemui. Aku tahu banyak yang iri padaku karena banyak siswi yang menyukai Rayyan dan banyak pula yang ingin dekat dengannya. Aku tahu itu karena adiknya yang juga adalah adik kelas kami sering kulihat didekati siswi kakak kelas yaitu angkatan kami hanya untuk menarik perhatian kakaknya, Rayyan.“Ray… Kulihat banyak siswi-siswi di sini yang naksir padamu dan mencari perhatianmu, kenapa sampai sekarang masih jomblo?” tanyaku suatu hari karena penasaran. Rayyan hanya menggeleng dan tersenyum. Setelah itu, aku tak berani lagi menanyakan tentang itu.Bulan berganti tahun, hari perpisahan sekolah telah tiba. Panggung telah siap, kami berkumpul di aula dan hanya mengadakan serupa pentas seni untuk perpisahan kami tanpa dihadiri orangtua, hanya siswa siswi kelas XII dan pihak guru serta pengurus yayasan. Semua berpakaian bebas. Guru-guru dan pengurus yayasan duduk di deretan depan panggung, sedangkan siswa-siswi duduk di belakangnya, bercampur baur tidak tertib perkelas, ramai sekali. Aku senang dan terhibur melihat aksi panggung teman-teman semua, yaitu ketika unjuk kebolehan menyanyi, menari tradisional atau ngedance tari modern, tapi seketika menjadi sedih, haru saat akhir performance teman-teman membaca puisi dan menyanyikan lagu perpisahan. Aku ikut menangis tak dapat menahan kesedihan, mengingat kenangan masa-masa SMA di sekolah ini selama 3 tahun bersama teman-teman dan guru-guru.Kubuka resleting tas selempang biruku mencari sapu tanganku, tiba-tiba sebuah tangan menjulur dari belakangku menyodorkan tisu padaku. Kuikuti arah tangan itu hingga mataku tertuju ke wajahnya. Ada senyum manis tersungging di bibirnya yang merah yang kutahu adalah warna asli bibirnya, bukan karena lipstik seperti artis-artis K-Pop itu. Kuambil tisu yang Rayyan berikan padaku, aku malu terlihat habis menangis, mataku agak sembab. Entah sejak kapan ia duduk di belakangku, setahuku tadi temanku, si Ari yang duduk di situ. Kuucapkan terima kasih pada Rayyan. Ia berbisik padaku, memintaku untuk menunggunya sepulang dari acara. Aku mengiyakan.Acara sudah berakhir, siswa siswi satu persatu membubarkan diri, tinggal guru-guru dan panitia acara yang masih terlihat membereskan kembali aula dan panggung. Rayyan yang menjadi salah satu panitia ikut sibuk, aku menuruti permintaannya untuk menunggu di tempat parkir motor. Kurang lebih 40 menit menunggu sendiri, kulihat Rayyan berjalan ke arahku yang duduk di sisi tempat parkir motor. Rayyan duduk di sampingku. Tampak beberapa siswa teman Rayyan yang juga sebagai panitia menuju ke tempat parkir motor. Mereka melambai pada Rayyan untuk pamit pulang, Rayyan balas melambaikan tangan. “Yo, ati-ati bro…” teriak Rayyan pada teman-temannya.“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan Sis, mau ngga?” tanya Rayyan. “Mau! Tadi aku sudah izin sama ibuku kalau aku pulang telat, terus kita mau kemana?” “Terserah kamu, tapi hmm… kalau ke pantai mau?…” ajak Rayyan. Aku menyetujuinya, kemana pun asal berdua Rayyan, aku pasti mau.Rayyan bangun dari duduknya, memakai helmnya dan memberikan helm lain padaku untuk kupakai. Kami berdua sudah diposisi siap berkendara, Rayyan tampak diam sesaat, lalu tiba-tiba Rayyan menurunkan standar motornya dan turun dari motor. Aku masih duduk di jok motor bagian belakang. Ada apa… tak jadi pergikah? batinku. Lelaki itu membuka helmnya. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu tapi agak ragu. Ia memandangku. “Sis, kamu tahu… sudah sejak lama aku menyukaimu… sejak kita SMP, tapi hanya kusimpan dalam hati, tak ada yang tahu…”. Kubuka helmku agar bisa mendengar lebih jelas. “Aku diam-diam mengagumimu, kamu gadis yang baik dan pandai, dan aku sering melihatmu sedang melaksanakan ibadah. Aku senang sekali pada akhirnya kita bisa satu sekolah lagi di sini. Di sini aku makin mengenalmu dan aku tahu kamu orangnya tulus, dan…” Rayyan terdiam sejenak. Tatapan lelaki itu lurus mengarah ke mataku. Aku tak dapat mengatakan sepatah katapun mendengar perkataan Rayyan, aku masih tidak percaya dengan apa yang kudengar barusan dari mulut Rayyan.Setelah sesaat dalam kebisuan, akhirnya kuberanikan diri bertanya… “Dan apa…?” suaraku terdengar parau. “AKU MENCINTAIMU SISTA, Apa kamu mau menerimaku jadi kekasihmu?” Aku tak mengira akan mendengar ini, aku tak percaya sama sekali. Aku pikir pasti Rayyan sedang bercanda. Aku jadi salah tingkah. Seketika kutundukkan wajahku karena ada rasa malu dan juga rasa ingin menangis menjadi satu.Rayyan memanggil namaku, kuberanikan untuk memandang wajahnya. “Apa katamu barusan Ray? Apa kamu sedang bercanda?” Rayyan menggeleng dan dengan mantap mengulangi pernyataan yang sama seperti yang tadi ia katakan. “Benarkah?” kutanya padanya lagi untuk meyakinkan hatiku. Rayyan mengangguk dan menebar senyum manis untukku. “Aku… aku… menerimamu Ray, aku… aku pun merasakan hal yang sama denganmu,” kujawab dengan terbata dan tersipu. Rayyan tersenyum manis (lagi), ia menyentuh rambutku dan merapikannya. Ia menyeka titik air di mataku yang sudah hampir jatuh. Ia mengambil helm yang kupegang dan memakaikan helm itu padaku. “Ayo kita berangkat, kita rayakan hari jadi kita…”.Kupandangi wajahnya yang dekat di depanku. Tak terkira bahagianya ternyata ia juga mencintaiku. Cinta pungguk tak bertepuk sebelah tangan. “Ternyata harapan itu selalu ada, Tuhan Maha Penyayang, Dia mengabulkan doa-doaku“.

Sempat Sekamar tak Sempat Dilamar
Romance
25 Nov 2025

Sempat Sekamar tak Sempat Dilamar

Perbedaan suku dan keyakinan menjadi penghalang untuk mendapatkan restu. “Aku sudah jelaskan kepada orangtuaku, kalau perbedaan suku saja, mereka akhirnya mau menerimamu sebagai menantu, tetapi perbedaan keyakinan yang tidak dapat mereka terima”, cowokku menjelaskan setelah dia meminta restu kepada orangtuanya yang tak berhasil.Dia seorang bersuku minang, katanya kalau cowok orang minang itu harus menikah dengan orang minang juga agar keturunannya masih meneruskan suku yang melekat di belakang nama. Berbeda dengan cewek orang minang bisa saja menikah dengan suku lain karena anaknya tetap menggunakan nama suku ibunya.Menurutku memang unik, tetapi itulah kekayaan budaya yang harus aku hormati, tetapi kalau masalah hati, kan cinta anugerah dari Tuhan yang tidak dapat ditolak manusia? kenapa harus dihalangi oleh berbagai persoalan yang seharusnya dapat dikomunikasikan.Apalagi di negara ini yang menganut Bhineka Tunggal Ika, perbedaan suku seharusnya tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak memberikan restu. Terkadang aku mengutuk mereka yang masih bersikukuh pada aturan itu, tetapi norma dari leluhur itu juga tidak dapat aku tipe ex dengan seketika.Dia seorang muslim, aku menganut ajaran Yesus. Kami sering berdiskusi tentang ajaran agama kami masing-masing yang dapat aku simpulkan ajaran agama kami tidak ada yang salah, hanya cara beribadah kami yang berbeda. Tetapi perbedaan ini yang susah untuk disatukan. Kami sama-sama taat beribadah.Dia sering mengantarkanku ke gereja pada hari Minggu sebelum kami jalan-jalan. Akupun sering mengantarkannya ke mesjid kalau tiba waktu sholat bahkan kalau bulan ramadhan, aku sering mengiriminya makanan untuk buka puasa. Semua aku lakukan karena cinta.“Jangan kamu gadaikan Roh Kudus yang ada dalam dirimu hanya karena perasaanmu saja”, demikian nasehat orangtuaku yang juga tidak menginginkan aku untuk berpindah agama.Kami sama-sama kebingunan untuk meyakinkan orangtua kami masing-masing tentang cinta.“Chek in, yuk?”, tawarnya pada sore itu setelah kami sama-sama bingung untuk mendapatkan restu orangtua.Entah kenapa aku terbuai dengan rayuannya? Mungkin karena aku seorang wanita yang selalu mengikuti perasaan dan selalu ingin membahagiakan orang lain apalagi orang yang aku cintai.Malam itu menjadi awal dari masa kelamku, kami terbuai dengan bisikan setan sehingga perbuatan yang tidak sah itu terjadi. Semula tidak ada rasa penyesalan dan suatu kebanggaan bagiku telah mempersembahkan yang paling suci kepada orang yang sangat aku cintai.“Aku berharap setelah ini kamu hamil, dan mau tidak mau mereka akan merestui hubungan kita”, kata cowokku. Ternyata dia sudah menyusun siasat untuk mendapatkan restu walau dengan cara yang tidak dapat dibenarkan.Perbuatan illegal itu seperti candu, sejak itu kami sering melakukannya. Sampai suatu saat kami sepakat untuk mengungkapkan kegiatan ini kepada orangtua agar mereka dapat merestui kami.“Keluar kamu dari sini selamanya”, demikianlah murka ayahnya ketika kami sama-sama meminta restu. Bukan solusi yang kami dapati tetapi caci maki dan kamipun diusir. Dia sendiri tidak lagi diakui.Hebatnya cowokku, walau kehilangan keluarga besarnya, dia masih memilihku. Dan kamipun menghadap orangtuaku dengan harapan yang sama. Kalaupun nantinya kami diusir, kami akan kimp*i lari, demikianlah tekad kami berdua.“Keluar kamu, jangan pernah dekati anak saya lagi”, ucapan yang sama tetapi berbeda belakangnya dari ayahku. Dia diusir dari rumahku, sedangkan aku langsung dipingit.Selang beberapa hari setelah itu, akupun dilamar oleh orang pilihan orangtuaku. Dengan terpaksa aku harus menerima. Walau aku tidak mencintainya, setidaknya kalau tidak dapat membahagiakan orang yang aku cintai, biar aku membahagiakan ayahku.18 tahun waktu berlalu. Entah kenapa hatiku ingin mengajak diri ini bertamsya di kota yang dulu pernah menjadi kenangan indah. Sekalian aku memesan kamar di hotel yang dulu menjadi tempat favorit untuk melakukan perbuatan asusila.“Mba, kamar no 305 kosong gak?” tanyaku kepada resepsionist. “Maaf Bu, kamar itu tidak disewakan”, jawabnya. “Kenapa Mba?”, tanyaku penasaran. “Kami tidak tahu Bu, mungkin bisa bertanya ke manajemen”, katanya.Akupun mencoba mencari manajemen hotel itu. “Maaf Pak, apakah saya boleh sewa kamar 305?”, tanyaku. “Maaf Bu, kamar tersebut tidak disewakan”, jawabnya. “Kanapa Pak?” tanyaku lagi. “Seseorang telah reserve kamar itu menjadi private room dan hanya dia yang bisa menginap disana”, katanya. “Boleh tahu, siapa namanya?” tanyaku penasaran. “Mohon maaf, Bu. Itu privasi, kami tidak dapat memberitahukan”, jawabnya.Akhirnya aku memesan kamar yang dekat dengan kamar itu. Sengaja melawati kamar yang menjadi kenangan tersebut. Aku baca di pintu terdapat tulisan “Private Room”.Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak karena kenangan masa lalu selalu terpampang dalam ingatanku. Dulu aku dan cowokku melakukan kegiatan yang tidak pantas di kamar itu hanya untuk mencari solusi agar hubungan kami direstui ternyata pada akhirnya hubungan kamipun kandas. Kami sempat sekamar tapi aku tidak pernah dilamar.Malam itu aku mendengar kamar tersebut ada yang membuka, aku mencoba mengintip tapi tidak ada orang yang aku lihat. Semakin aku tidak bisa tidur dan ditambah pikiranku mengarah kepada yang mistis seperti menjadi horror.Paginya aku sarapan, setelah sarapan mencoba mencari udara segar. Tidak aku sangka kursi yang dulu sering aku duduki masih utuh di taman itu. Aku pun duduk disana dengan membayangkan dia ada disisiku saat ini. Aku mulai berfantasi dengan kenangan-kenangan indah.“Selamat pagi, Bu!”, seorang petugas hotel menyapaku. “Selamat pagi, Pak!”, balasku. “Mohon maaf Bu, apakah berkenan pindah ke kursi yang lain?”, tawarnya. “Emang kenapa saya tidak boleh disini?”, protesku. “Mohon maaf, kursi ini sudah direservasi oleh orang lain”, jawabnya. “Hotel ini kok aneh? semua pengunjung kan memiliki hak yang sama, Pak?”, aku menolak.Aku mendengar seseorang memarahi petugas itu. Dia meminta untuk memasang tulisan reservasi di kursi tersebut agar tidak ada yang duduk disana. Aku tidak tahu siapa yang begitu sombong tersebut.Esok harinya, aku kembali ke kursi itu, ternyata memang benar ada tulisan reservasi. Aku tidak peduli, langsung aku duduki kursi tersebut. Dan kembali aku diusir oleh petugas tersebut dan tetap aku bersikeras untuk duduk.“Selamat pagi, Bu!”, seseorang menyapaku dengan sedikit nada keras dari arah belakang. Karena nadanya tidak bersahabat, aku juga tidak mau menoleh dan enggan untuk membalas sapaannya. “Maaf Bu, kursi ini sudah direservasi, mohon maaf, ibu bisa mencari kursi lainnya”, katanya agak sedikit sopan. Akupun tidak mau menoleh. “Maaf, Pak. Silakan Bapak cari kursi yang lain, saya juga punya hak duduk disini’, jawabku dengan ketus.Tiba-tiba dia melangkah ke depanku dan alagkah kagetnya aku, ternyata dia adalah cowokku yang dulu. Entah kenapa aku begitu lancang langsung memeluknya dan dia menepis pelukanku.“Maaf Bu, Ibu siapa?” dia membentakku. “Maaf Pak, kalau saya lancang, saya sangka Bapak adalah pacar saya yang dulu duduk bersama saya disini”, jawabku sambil mengurai air mata dan karena malu aku langsung berlari ke kamarku. “ireeen,…”, dia memanggil namaku. Tapi aku sudah terlanjur malu dan terus berlari ke kamar.“Tok-Tok,..” pintu kamarku di gedor seseorang. Aku tidak menghiraukannya karena aku sedang sesak dengan tangisku. Aku hanya kecewa dia melupakanku. “Ireen, aku mohon maaf, mohon buka pintu!”, akhirnya aku mendengar suaranya. Orang yang aku tunggu selama ini. Tapi karena aku masih belum mampu mengendalikan emosi, aku tidak mau membukakan pintu. “Baiklah, kalau kamu masih marah, aku maklum. Kalau sudah tidak marah lagi aku tunggu di kamar 305”, katanya.Entah kenapa hatiku luluh mendengar nomor kamar 305. Setelah bisa mengendalikan emosi, aku coba beranikan diri ke kamar 305.“Tok-tok”, aku mengetuk pintu itu. Dia membuka pintu dan langsung memelukku. Aku ingin menepisnya seperti tadi dia menepisku di taman tetapi hatiku tidak kuasa mendengar tangisnya dan akupun berurai air mata. Kami saling melepaskan rindu. Dan entah siapa yang memulai perbuatan hina itu kembali terjadi.Banyak cerita yang ia ungkapkan, hingga saat ini dia mengaku tidak pernah memilih wanita lain untuk mendampinginya. Ia yang membeli kamar ini hanya untuk mengenang masa lalu. Dan dia selalu berharap kejadian ini.Akupun bercerita tentang masalah keluargaku. Ternyata pria yang dijodohkan untukku bukan lelaki yang baik. Dia seorang bandar nark*ba dan sudah meninggal dunia karena overdosis. Entah karena bunuh diri atau apapun alasannya, yang jelas dia mati sebelum dijebloskan ke penjara. Dan terjadi dua tahun yang lalu.Sore harinya, kami duduk di kursi yang sempat menjadi sengketa itu. Dia sengaja mengabadikan dengan tujuan menantiku. “Maafin aku, aku tidak tahu kamu yang duduk disini tadi pagi”, katanya. “Aku juga tidak mengira kamu melakukan ide gila ini sampai membeli kamar dan kursi ini’, kataku sambil menikmati pelukannya. “Gimana aku tahu, sekarang kamu berjilbab”, katanya.Aku bercerita, setelah suamiku meninggal, anakku menjadi mualaf. Ia ingin hidup dengan jalan yang benar karena selama ini ayahnya tidak pernah mengajarinya tentang agama dan aku mengikuti anakku sehingga aku sekarang sudah menjadi muslimah.“Maukah engkau menikah denganku?”, pertanyaan yang mengejutkanku sambil dia menyerahkan seutas cincin pernikahan. Aku tidak menjawabnya dan hanya memeluknya sembari menganggukkan kepala.Kamipun menikah dan hidup dengan bahagia. Aku percaya Tuhan tidak pernah salah memberi cinta.

Cinta Lama Bersemi Kembali
Romance
25 Nov 2025

Cinta Lama Bersemi Kembali

Aku termenung di dalam kamarku. Memandang bintang-bintang yang berkelip dengan pandangan kosong. Ya, sudah satu bulan yang lalu aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Nayla (mantan pacarku), karena aku memergokinya sedang bersama laki-laki lain di bioskop. Akhirnya aku putus dengan Nayla. Meski penyesalan itu datang menghantuiku berkali-kali.Siapa yang tidak menyesal telah putus dengan Nayla? Apalagi, Nayla adalah primadona di sekolah. Dia cantik, putih, cerdas, baik pula. Tentu saja, banyak laki-laki yang suka.Angin malam masuk melalui jendela kamarku yang masih terbuka. Hawa dingin menyergapku. Membuatku menutup jendela rapat-rapat. Aku memperhatikan jam dinding. Sudah pukul 24.30. Lalu aku memutuskan untuk tidur.Krinnggg… Bel istirahat telah berbunyi. Aku segera merapikan bukuku. “Fan, ke kantin yuk!” Ajakku kepada sahabatku, Fandy. “Eits, bentar ya. Gue mau ke cewek pdkt gue,” jawab Fandy sombong. Benar-benar Fandy banget.“Tumben punya pdkt,” ledekku. Ia melotot kepadaku. Aku tertawa. “Siapa pdkt lo?” Tanyaku penasaran. Ia menggeleng. “Nggak ah. Nanti lo ngiler lagi.” Aku mendengus. Kemudian aku mengikuti Fandy ke kelas XI IPA 2. Aku jadi ingat sama Nayla, karena dia juga kelas di sini. “Dia nggak ada, Ndra. Langsung cabut, yuk!” Fandy membuyarkan lamunanku. Lalu kami segera menuju kantin.Pulang sekolah, aku langsung bergegas bersama Fandy. “Ntar, Ndra. Ke kelas XI IPA 2 dulu.” Ajak Fandy. “Fan?” Tanyaku. Saat kami berdua berjalan menuju kelas XI IPA 2. “Iya, Ndra?” “Emang cewek pdkt lo itu kayak apa sih kok mau sama lo?” Candaku. “Huh.. dasar! Gue, kan, keren,” dengusnya. “Dia itu, ya, primadona gitu di sekolah kita.” Kata Fandy bangga. Aku termenung. Kenapa hampir sama dengan Nayla? Dan tak terasa kami sudah berada di depan kelas XI IPA 2. Dan sesuai dugaanku, ternyata cewek yang dimaksud Fandy adalah Nayla. Aku terkejut melihat keberadaan Nayla di hadapanku. Sepertinya, Nayla juga tak kalah terkejut denganku.Kami terdiam dengan pikiran masing-masing. Fandy menatapku dan Nayla bergantian. Rupanya Fandy belum tahu bahwa Nayla adalah mantan pacarku, karena aku belum pernah bercerita dengannya. “Hey, Nay!” Sapaku gugup. “Eh.. em, hey, Andra!” Jawab Nayla terbata-bata. “Kalian kenal?” Tanya Fandy heran. “Nggak!” Ucap Nayla tegas. “Gue tahu dari bedge namanya, Fan,” kataku berbohong. “Iya kan, Nay?” “Iya Fandy.” Kata Nayla meyakinkan. Fandy manggut-manggut tanda ia percaya. Aku bernafas lega. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja daripada aku merasakan cemburu. Mungkin, rasa cintaku kepada Nayla masih sama seperti dulu. “Fan, gue pulang dulu ya?” Pamitku. “Eh, jangan, Ndra. Di sini aja, bareng-bareng kita jalan-jalan,” cegah Nayla. Aku menggeleng. “Maaf, Nay. Nggak bisa.” “Ya udah. Hati-hati ya!” “Iya.” Aku berjalan meninggalkan mereka berdua. Pikiranku benar-benar kacau. Aku ingin secepatnya sampai di rumah.“Andra, malam Minggu kok nggak keluar? Dari tadi nonton tv mulu.” Mamaku bertanya. “Ntar nggak boleh lagi.” Jawabku. Ya, seperti malam minggu yang lalu, aku nggak boleh keluar gara-gara nilai matematikaku jeblok. Itu sangat menyebalkan. “Boleh kok sama Papa. Kamu diizinin.” Aku sangat bahagia dengan perkataan mamaku. Aku mencium pipi mamaku. Lalu segera menyambar jaket dan menaiki sepeda motorku. Aku bergegas menuju ke rumah Fandy.Sesampainya di rumah Fandy, ternyata dia keluar. Aku segera menuju ke cafe yang tadi ditunjukkan oleh mamanya Fandy.‘Sampai juga’, batinku. Aku memarkirkan sepedaku dan masuk ke dalam cafe. Aku menemukan Fandy. Tapi aku tetap terpaku di pintu cafe. Aku sangat jelas mendengar suara Fandy, karena ia duduk di tempat duduk yang jaraknya hanya tiga meter dari pintu. Ia tidak sendirian. Melainkan duduk berhadapan dengan Nayla. “Nay, mau nggak jadi pacarku?” Tanya Fandy. Sepertinya Nayla gugup. Dan aku mulai merasakan cemburu. Aku sadar bahwa aku masih cinta dengan Nayla. Bahkan rasa cintaku tidak berubah dari sebulan yang lalu.Aku hanya termenung menatap pemandangan yang menyayat hatiku. Hingga seseorang menegurku, “mas, jangan di pintu donk!” Tegurnya lumayan keras. Sehingga Nayla dan Fandy ikut menoleh. “Andra!” Teriak Nayla.Aku segera berlari dan menaiki sepeda motorku. Aku tak kuasa menahan tangis yang telah kubendung sedari tadi. Aku cengeng. Aku memang sangat cengeng. Aku hanya melamun dan pandanganku kosong. Hingga tak kusadari aku menerobos lampu merah dan ada truk melintas. “BRUUKK!!” Aku menghantam truk tersebut. Pandanganku menggelap dan aku tidak sadar.Aku terbangun dan mengerjapkan mata. Pertama yang kulihat hanyalah ruangan yang putih. Tercium bau obat-obatan yang sangat kubenci. Kepalaku pusing. Aku bisa menebak bahwa aku ada di rumah sakit. “Andra, kamu sudah bangun.” Kata suara yang tak asing di telingaku. Ternyata mamaku. “Ma, kenapa aku ada di sini?” Tanyaku. “Sudahlah, nak. Kamu istirahat saja,” kata papaku. Aku menghela nafas. Rasanya udara di sini semakin berkurang. Susah sekali untuk bernafas. Seperti ada yang menutup hidungku.“Andra maafin aku!” Kata seseorang yang baru saja datang. Pandanganku samar-samar. Ternyata Nayla dan Fandy. “Iya, Ndra. Gue juga nggak tahu kalau Nayla itu mantan lo. Dan gue juga tahu kalau lo lagi CLBK ke Nayla.”Aku mengangguk, rasanya berat sekali. “Fan, gue titip Nayla ya? Jagain dia. Jangan sakiti dia. Kamu juga, Nay. Jangan sakiti Fandy.” Kataku lirih. Aku semakin kesulitan bernafas. “Andra.. jangan pergi..” Nayla terisak. Aku menoleh ke arah mama dan papaku yang menangis. “Ma, Pa, maafin Andra. Andra belum bisa bahagiain Mama sama Papa. Aku..aku sa..ya..ng kaa..liannn.” Aku memghembuskan nafas terakhirku.

Ghosting
Romance
25 Nov 2025

Ghosting

Aku mengenal Ani sudah lama. Hanya sekedar teman lama yang hanya sekedar kenal tanpa saling bertegur sapa. Cuman, baru baru ini aku mulai mengenalnya lebih jauh. Dan tidak kusangka, tiba-tiba aku menyukainya. Semua itu berawal dari…“Halo joo, aku Ani, simpan nomorku yaa.” Pesannya pertama nya kepadaku. “Eh iya iya”. Balasku sambil kaget. Dia mulai menanyakan kabar, seperti layaknya teman lama. . . . Lama kita tidak saling berhubungan lagi, sampai pada akhirnya kita bertemu lagi saat kita berdua mengikuti organisasi OSIS. “Loh, Lajo? Ikut OSIS juga ya?”. Tanya dia padaku dengan senyuman. “Iya cuy, lumayan sambil cari pengalaman baru”. “Wihh, keren kerennn”.Sejak saat itu aku mulai akrab dengan dia. Saat ada kegiatan OSIS, aku dan Ani selalu berdua. Aku mulai menyukainya saat kami diutus mengambil uang sumbangan. “Wih Lajo, ayo sama aku aja ambilnya.” Ajaknya dengan penuh semangat. Aku menjawab ajakannya dengan semangat pula “Hayyyyyyuuukkkk.” Ucapku sambil sedikit berteriak.Kami berangkat berdua menuju kelas yang ditugaskan. Dalam perjalanan, Aku dan Ani sedikit berbincang dan bercanda. Kulihat matanya, kulihat senyumnya, begitu manis dan indah. Sesampainya di kelas, kita bersuit dulu untuk menentukan siapa yang masuk dan berbicara didepan kelas, “Gunting… Batu… Kertas…” Aku menang, tetapi dia menolak untuk masuk dan berbicara didepan kelas. Aku pun dengan sok langsung menyaut “Ya sudahhhhhhh, aku aja yang masuk duluann, tapi kamu nanti bantu aku ya waktu ambil uang”. Kataku dengan nada halus “Nahh gitu dongg”. Ucapannya dengan muka sedikit mengejek. Setelah mengambil uang, kita kembali ke ruang OSIS untuk menyerahkan uangnya. Setelah itu, kita kembali ke kelas masing masing.Saat di kelas, aku mulai memikirkannya. Di kelas, aku tidak bisa fokus, memikirkan tentang indahnya senyuman dan matanya yang membuatku menyukainya. Sejak saat itu, Aku dan Ani hampir setiap hari selalu chattingan. Menanyakan tentang tugas, pelajaran, dan bahkan membicarakan hal hal yang tidak berguna. Semakin lama, aku semakin jatuh dengan Ani. Cara dia memperlakukanku, sifatnya, matanya, senyumnya, tawanya, bahkan baunya, semakin membuatku tak bisa melupakannya.Beberapa bulan berlalu, kita semakin dekat. Tiba-tiba, Ani mengirimkan foto pertamanya kepadaku “*Fotonya bersama teman-temannya sedang membeli makanan untuk berbuka puasa*” “Wih, enak tuhhh” balasku sambil tersenyum dan hati yang berbunga-bunga. “Beli dimana?” Tanyaku lagi dengan maksud untuk tetap chattingan dengan Ani. “Di Badung” jawabannya “Ohh, di Badung, adzan Maghrib nih, bisa makan yey” pesanku lagi. Tanpa kuduga, Ani mengirim pesan suara. Pesan yang sampai saat ini masih kusimpan. “Allahumma lakasumtu wabikaa amantu, waalarizqika aftortu, birohmatika yaa arhamarrohimiin.” Suaranya yang indah membuatku semakin bahagia pada saat itu. Membuat buka puasaku semakin berkesan. “Aminnnnn” jawabku dengan pesan suara juga. Setelah berbuka, aku bersiap siap untuk sholat tarawih. Kebetulan rumah kita saling berdekatan. Sembari menunggu adzan, aku juga menunggu Ani berangkat ke masjid. Aku duduk di tempat duduk dekat jalan masuk perumahanku.“Eh, itu dia.” Ujarku. “Ni Aniii.” Sapaku kepadanya agar dia menoleh “Eh Lajo”. Sahutnya Kuhampiri dia dengan berlari, dengan maksud menemaninya berjalan ke masjid.“Sendiri aja Jo? Mana temenmu?” tanya Ani padaku. “Iya nih, aku berangkat awal, nanti temen-temenku nyusul.” “Ohh iya”. Ujarnya “Kamu juga, kok tumben sendiri, mana mamamu?” tanyaku “Mamaku lagi libur, jadi ga bisa sholat bareng deh”. “Oh, oke deh”.“Eh ngomong-ngomong, gimana puasanya? Lancar apa nggak nih? Atau mungkin udah ada yang bolong?” ucapku sambil ekspresi bercanda. “Ehhh, enak aja, masih penuh ya. Kamu kali yang udah bolong, bolong bolong kaya sarang tawon.” “Heh, sama ya aku juga belum bolong sama sekali”. UcapkuSaat menuju ke masjid, kita bercanda dan berbincang-bincang cukup lama. Kita juga sempat membeli sedikit camilan dan minuman kesukaannya. Kebetulan di depan perumahanku, banyak pedagang kaki lima yang berjualan aneka camilan dan minuman. Tiba tiba adzan terdengar dari masjid. Kita bergegas menghabiskan camilan dan minuman yang kita beli dan segera menuju masjid.“Uhuk uhuk uhuk”. Tiba-tiba Ani tersedak makanannya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung memberikan minumanku yang rasa vanilla itu. “Minum punyaku.” Kataku “glek glek glek.”“Bweh, rasa apa ini?” tanya Ani dengan ekspresi lucu “Vanilla” jawabku dengan nyengir. Aku baru ingat kalau Ani tidak suka rasa vanilla. “Pantesan nggak enak”. “Udah gapapa, yang penting kamu udah mendingan”. “Iya deh, makasih ya joo”. Ucapnya kepada dengan muka sedikit mengkerut. “Udah, ayo ke masjid, keburu telat”. Sambil kubuang gelas plastik bekas minuman rasa vanilla yang tidak enak itu. “Iya, sabar dong.”Kita berdua menuju masjid. Aku dan Ani tertawa mengingat kejadian tersedak dan mengingat ekspresi wajah Ani saat merasakan minuman itu. Berjalan dengan penuh tawa dan kebahagiaan pada malam itu. Diiringi dengan suara adzan dan musik pedagang kaki lima di pinggiran jalan.Sejak saat itu. Aku lebih jatuh cinta lagi kepada Ani. Entah kenapa setiap hari aku selalu memikirkannya. Padahal setiap hari pula kita saling mengirim pesan. Setiap hari pula kita bertemu saat pergi menuju masjid. Kita semakin dekat sampai teman-teman mengira aku berpacaran dengan Ani. Ani mungkin tahu aku menyukainya, tetapi aku tidak pernah mengatakan itu kepada siapapun. Dan aku juga merasa dia menyukaiku juga. Tetapi aku selalu berpikir bahwa aku hanya GR saja. Mungkin dia menganggap aku hanya teman dekat laki-lakinya saja.Libur puasa telah selesai. Kita semua naik ke kelas IX. Sialnya, aku menjadi teman sekelasnya. Semakin tidak mungkin buatku untuk tidak memikirkannya. Hari demi hari, perbincangan kita semakin dalam. Dia mulai sering berkeluh kesah tentang harinya kepadaku, aku memberinya semangat dan beberapa dorongan buatnya. Karena aku sadar sekali, dia adalah seorang gadis yang membutuhkan dorongan dan semangat, dan aku harus memberikan apa yang dia butuhkan.Setiap hari kita semakin dekat, bahkan mungkin sangat dekat. Aku mulai menaruh harapan besar kepadanya. Semakin banyak rahasia dan sesuatu yang kuketahui tentangnya. Bahkan hal buruk pun kuketahui, tetapi aku berusaha menutup mata dari keburukan yang dia miliki. Mungkin ini adalah arti dari Cinta itu buta.Tiba-tiba, beberapa hari dia menghilang. Tak memberi kabar, tak bertukar pesan, tak berkeluh kesah kepadaku. “Kemana dia? Kenapa tiba-tiba menghilang?” tanyaku kepada diri sendiri. “Mungkin dia sibuk, atau mungkin tidak punya paket internet.” Ucapku untuk menenangkan hatiku.Hubungan kita semakin merenggang, berminggu-minggu tak pernah bertukar kabar lagi, jarang berbincang dan bercanda seperti dulu lagi. Hingga pada suatu sore, Ani mengirim pesan singkat “Halo Jo.” Aku yang sudah terlanjur asyik dengan diriku sendiri, berusaha tidak menghiraukannya.Sakit memang, saat mengingat kejadian dan kenangan di masa lalu. Aku sempat larut dalam kesedihan saat mengingat kenangan-kenangan manis itu. Membaca kembali pesan pesan yang dikirimkan Ani kepadaku. Mendengarkan kembali pesan suara yang dia kirimkan kepadaku. Melihat kembali foto-foto lucunya. Tapi aku sadar, mengapa masa mudaku yang indah ini harus diisi dengan air mata dan patah hati yang tidak berguna? Sedangkan masih banyak sekali kebahagiaan dan cita-cita yang harus kucapai untuk masa depanku.

Garis Takdir
Romance
25 Nov 2025

Garis Takdir

Hari ini, Luna memiliki sebuah janji yang dibuat bersama oleh kekasih—Atlas kerap Luna menyapanya. Niatnya, Atlas hendak menemui perempuan itu. Sekarang adalah waktunya.Luna menjalani rutinitasnya seperti biasa. Dengan bersiap diri dan memantapkan hati bahwa hari itu akan menjadi hari yang baik untuk Luna, karena Atlas meminta Luna untuk menemuinya. Entahlah, Luna berpikir seakan-akan hari ini adalah hari terakhir bertemu dengan Atlas. Angan Luna sangat gundah. Seperti halnya, hati ini ada yang mengganjal.Atlas ialah kekasih Luna yang sudah menjalani hubungannya selama 1 tahun. Atlas sosok lelaki yang Luna sukai di bangku SMA. Lelaki yang Luna kagumi dalam cara menulis dan keseriusannya saat membaca buku. Atlas Bhagawanta Egbert, jelas tercetak khas namanya seperti ada campuran turunan bangsa Eropa. Dengan rambutnya hitam sedikit pirang, dan matanya memiliki warna cokelat. Luna tertarik pada saat bertemu di perpustakaan, tetapi waktu itu Atlas dan Luna tak saling mengenal.Luna masih ingat pertama kali menemui Atlas waktu itu, Atlas mendekati bangku Luna dan menanyakan buku apa yang sedang dibaca. Katanya, buku itu adalah buku yang dicari-cari oleh Atlas. Spontan Luna langsung meminjamkan kepada Atlas, untungnya Luna sudah membaca buku itu sampai habis. Sejak itu mereka menjadi saling dekat dan membicarakan tentang buku bahkan musik selera mereka berdua. Atlas menjadi teman membaca Luna saat di perpustakaan.Hari-hari pun berlalu, Luna semakin sering menemui dan menghabiskan waktu dengan Atlas. Entah itu membaca buku di perpustakaan, atau bermain ke alun-alun untuk melihat bianglala, juga membeli arumanis. Tak lama pun Luna dan Atlas saling menyukai. Atlas mengungkapkan perasaannya jika menyukai gadis itu, dan Atlas meminta Luna untuk menjadi kekasihnya.Memang sesederhana itu pertemuan Luna dan Atlas untuk pertama kalinya, ia pula tak menyangka bahwa hubungannya dengan Atlas sudah sejauh ini. Jarak dan kesibukan menjadi alasan Luna tidak bisa menghabiskan waktu dengannya akhir-akhir ini, sehingga hanya bisa bertukar kabar lewat ponselnya.Atlas menemui Luna hari ini, Atlas berpesan agar ia bisa datang ke tempat mereka berdua bertemu. Bukan perpustakaan, tetapi pantai. Aneh, saat Luna membaca pesan dari Atlas. Kenapa harus bertemu di pantai?Langit cerah terlihat serasi berpasangan dengan Mentarinya, kawanan burung tampak menari di langit. Suara ombak yang memecah kala bertabrakan dengan batu karang memberikan suara dan wangi yang khas.Hati Luna berdegup tak karuan saat ia berjalan menemui Atlas, lelaki itu sedang berdiri di tepi pantai sembari melihat deburan ombak. Nyaring sekali, seperti sedang bunuh diri menabrakkan badan pada tebing-tebing. Pasrah berlalu-lalang dibawa alam semesta.Luna teringat bahwa Atlas pernah mengatakan, jika Atlas sangat menyukai laut. Ia merasakan arus bawah laut berdentuman. Ke sana kemari mendekap begitu erat, begitu hangat, seolah memang sudah tertitah membuat Atlas tenang. Ujarnya waktu itu. Mungkin, inilah alasan mengapa Atlas memintanya untuk bertemu di pantai.Atlas tersenyum lebar kearah Luna, lantas Luna tersenyum kepadanya.“Atlas, maaf aku terlambat hadir.” Luna membuka percakapan. “Enggak apa-apa, kamu apa kabar? Lama nggak menanyakan kabar. Sudah lama sejak pertemuan kita kala itu di bangku SMA, kita saling menyibukkan diri untuk belajar, kan? Hingga lulus pun, kita juga jarang bertemu.” Jawab Atlas santai.Suara Atlas, suara yang Luna rindukan. Sosok lelaki yang menarik hatinya saat pertama kali melihatnya berada di perpustakaan. Parasnya tetap menawan walau dilihat dari jauh sekalipun.“Oh ya, ada hal yang saya akan bicarakan.” Ucap Atlas memecah keheningan. “Apa itu?” tanya Luna.“Sebelumnya, selamat atas kelulusan serta kelancaran kamu sebagai seniman. Turut bangga akhirnya hobi dan pendidikan kamu tempa membuahkan hasil setimpal. Na, baik-baik, saja kan? Lama tak melihatmu tersenyum.” Gumam Atlas sembari menggenggam kedua tangan perempuan itu.“Sebenarnya, banyak hal terjadi dengan bentang perjalanan waktu akhir-akhir ini. Jakarta terus terik, hawanya panas. Tetapi selalu kemudian adem ketika saya masih mengingat bagaimana kamu mengulas senyum tipis di perpustakaan sekolah kita dahulu,” ungkap Atlas seperti berat untuk menjelaskan.“Atlas kamu ngomong apa? Jangan seperti ini. Aku seakan-akan merasa.. semuanya akan berakhir. Bukankah kita harus bahagia saat bertemu? Kita lama tak berjumpa. Harusnya kita melepas rindu dan menikmati pemandangan pantai hari ini …” lirih Luna, seketika dadanya mendadak menjadi sangat sesak dan tanpa disadari.“Saya nggak tahu, kapan dan dimana kita akan bertemu lagi. Entah itu di kehidupan selanjutnya, atau nanti. Saya minta maaf, saya nggak punya banyak kuasa untuk memaksa takdir mempertemukan kita. Hingga akhirnya pekan depan, saya benar-benar harus mengatakan bahwa kita sudah tak dapat lagi mencipta kisah. Sejujurnya saat ini saya ingin memberitahu kamu kalau mungkin saja hari ini adalah hari-hari terakhir saya akan ada di sampingmu.” Lanjut Atlas.Rasa senang bertemu dengan Atlas kini hilang. Sekarang hening. Begitu sunyi. Begitu sendu.“Saya harus ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan saya yakni Jurusan Sastra. Syukur, saya berhasil meraih mimpi saya untuk berada di Universite d’Orleans yang terletak di kota Orleans, Prancis. Pekan depan saya harus pergi meninggalkan Indonesia. Jujur, saya tidak bisa menerka takdir nantinya. Apa saya harus meminta takdir agar mengantarku untuk bertemu denganmu? Pasti tidak. Tetapi satu hal saya tahu. Ketika kita bertemu lagi, kita berdua sudah sama-sama meraih mimpi kita, dan.. kita akan bertemu dengan jiwa kita yang baru yaitu diri kita yang versi lebih baik.” Ucap laki-laki dengan rambut hitam yang sedikit pirang dan tinggi itu. Mata cokelatnya menyala saat menatap perempuan yang kini sedang berdiri dihadapannya.Keduanya diam-diam tersenyum dibalik air mata. Atlas menarik napas, lantas melanjutkan kalimatnya.Atlas berkata, “Kita berpisah untuk alasan yang baik, oleh karena itu saya pun ingin kamu baik-baik saja kedepannya. Seperti namamu, Luna. Kamu cantik seperti bulan, semua orang menatapmu dan mencintaimu seperti yang saya lakukan. Dengan segala diri kamu yang luar biasa banyaknya, kalau kamu baik-baik saja, saya juga akan begitu. Bahagia, bahagia, bahagia selalu ya Nona.”Ia membawa perempuan itu kedalam dekapannya. Hangat. Dekapan menjadi jawaban mereka berdua saat itu. Menjadi sebuah pilihan berat ketika harus meninggalkan.Usai sudah kisahnya, Luna ingat betul bahwa Atlas menitipkan sebagaian hatinya dan sebagaian hatinya lalu pergi begitu saja.Bukankah semua yang hadir akan selalu pergi? Begitu juga dengan pagi, malam, dan siang hari bukan? Itu hukum alam. Yang perlu manusia lakukan hanyalah menyambut dan melepas. Manusia pasti mempunyai sebuah pilihan, dan sekarang takdir menyuruh manusia untuk memilih antara meninggalkan dan ditinggalkan. Atlas dan Luna harus memilih salah satu dari dua pilihan itu, namun rupanya Atlas sudah memilih untuk meninggalkan. Kata yang dipilih takdir untuk Luna memang menyakitkan, tetapi mau tak mau, itulah yang akan terjadi dan pasti terjadi. Karena hidup akan terus berjalan semestinya.Nasib takdir tentukan mereka ‘tuk bersama, namun hanya sementara. Itu semua telah menjadi hukum alam. Apapun yang menyangkut kepergian, sisanya adalah rahasia dan tidak diketahui banyak manusia. Luna tidak bisa menebak bahwa Atlas akan pasti kembali. Luna tidak bisa mengharuskan Atlas kembali. Tidak bisa. Tapi, Luna akan bahagia sesuai dengan permintaan terakhirnya. Luna akan baik-baik saja, begitu pula dengan Atlas.

Digantung Perasaan
Teen
25 Nov 2025

Digantung Perasaan

Awal mula aku dekat dengan dia karena ada tugas IPS yang membuat TTS. Dia mengerjakan TTS ku bersama temannya. Pada malam harinya dia mengechatku“Eh kalau kamu mengoreksi kerjaanku nanti kalau ada yang salah benarkan ya, salah kan 8 atau 7,” ucap dia kepadaku. “Loh tidak boleh seperti itu, harus sportif,” ucapku. “Tidak apa apa sesekali,” ucap dia kepadaku. Setelah itu saat dia mengechatku lagi aku hiraukan tidak kurespon. Karena hal tersebut tidak baik untuk dilakukan.Keesokan harinya ada mapel olahraga, pada hari juma’t kelas 9f berolahraga bersama kelas 9b. Pada saat itu ada penilaian perkelas untuk lari bersama, saat di jalan dia menyapaku dengan nama orangtuaku, di pertemanan kelas 9f memanggil nama kita dengan nama orangtua itu sudah biasa. Saat sudah sampai di kelas ternyata dia sudah tiba di kelas terlebih dahulu, saat aku berada di kelas hanya ada anak laki-laki, anak perempuannya hanya ada 4 anak. Masih sama dia memanggil namaku dengan nama orangtuaku tapi dia hanya tau nama ayahku saja tidak dengan nama ibuku, tetapi aku sudah tahu nama kedua orangtuannya dari teman sekelasku.Saat dia ada di kantin dia sedang bertanya kepada teman sedesaku, dia bertanya siapa nama ibuku, untung saja temanku tersebut mendadak lupa akan nama ibuku. “Eh nama ibunya Laras siapa?” tanyanya pada temanku. “Siapa ya, aku mendadak lupa, nanti saja kalau aku sudah ingat nanti aku beritahu,” ucap temanku kepada dia.Selesai itu kembali ke kelas masing masing, dan bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa pun bergegas pulang menuju ke gerbang sekolah. Pada pukul 19.00 sedang membicarakan tentang PR di group sekolah yang tidak ada gurunya, karena teman-teman membuat group tersebut untuk bertanya-tanya jika ada info yang kurang jelas dan lain-lain. Pada saat itu dia membalas chat saya di group tersebut menggunakan nama orangtua saya, saya langsung membalas chat tersebut secara pribadi.“Eh maksud kamu apa?, manggil nama orangtuaku,” ucapku. “Loh kenapa?” ucap dia kepadaku. “Kenapa, kenapa itu di group maksudnya apa manggil-manggil nama orangtuaku,” ucapku pada dia. “Bercanda,” ucapnya pada ku. Setelah itu aku tidak membahas hal tersebut melainkan membahas hal random dengan dia.Keesokan harinya seperti biasa berangkat sekolah untuk belajar dan bertemu teman-teman. Sesampai di sekolah aku bertemu dia, dia duduk didepan kelas 9f bersama teman-temannya dari kelas lain. Aku langsung menundukkan kepala ke bawah, karena aku malu ada dia dan teman-temannya. Saat aku lewat didepannya dia memanggilku dengan nama orangtuaku, aku tidak menghiraukan perkataannya. Aku langsung bergegas menuju kelas 9f.Saat pelajaran dimulai ternyata dia memandangi aku, aku tidak tahu jika dia memandangiku, aku diberitahu oleh teman sekelompokku, waktu itu dalam satu kelompok perempuan dan laki-laki terpisah. Waktu itu saat temanku memberitahu tentang hal tersebut. “Eh kamu sadar apa tidak, dari tadi kamu dilihat terus menerus dengan dia,” ucap temanku. “Yang benar saja kamu,” ucapku Pada saat itu juga aku membalikkan badanku dan melihat dia, karena tempat duduknya tepat di belakang tempat kelompokku, ternyata dia juga sedang melihatku. Dia mengalihkan pandangannya dengan cara dia mengajak berbicara teman sebelahnya.Bel istirahat berbunyi, saat aku ingin keluar kelas untuk menuju ke kantin dia memanggilku dengan nama orangtuaku. Aku juga membalasnya dengan memanggil dia dengan nama orangtuanya, tetapi aku bingung dari mana dia bisa tau nama orangtuaku karena awal kelas 9 aku tidak pernah sakit, dan masuk sekolah setiap hari, jadi tidak pernah membuat surat yang bertuliskan nama orangtuaku.Saat bel masuk berbunyi pada jam kedua ada mapel MATEMATIKA, saat guru tersebut memasuki kelas, guru tersebut langsung berbicara “Anak-anak mulai saat ini satu kelompok harus terdiri atas anggota laki-laki dan perempuan, ini saya acak apa pindah sendiri,” ucap guru tersebut. “Pindah sendiri aja bu,” ucap teman satu kelasku. “Baik, saya tunggu saat ini juga” ucap guru tersebut.Teman-teman langsung bergegas untuk mencari kelompok masing-masing. Aku hanya terdiam karena bingung, pada saat itu aku tertuju kepada dia, dan dia juga melihatku. Guru tersebut melihat aku dan dia belum ada kelompok. “Kalian berdua, satu kelompok saja,” ucap guru tersebut. “Baik bu,” ucap dia.Dia langsung menghampiriku bersama satu temannya. Dia duduk di depanku. Saat itu juga guru tersebut berbicara “Eh jangan lupa duduknya laki-laki sama perempuan bersebelahan.” Ucap guru tersebut. “Baik bu,” ucap teman sekelas.Selang bel pelajaran berbunyi, semua siswa mengeluarkan buku dan belajar seperti biasa. Pada waktu itu pelajaran MATEMATIKA hanya 2 jam, pada jam terakhir satu persatu siswa kelas 9f bergiliran maju untuk mengerjakan soal di papan kelas. Pada saat itu hanya sampai absen 14 saja yang maju, karena waktunya tidak cukup, dan diselesaikan minggu depan.Saat jam ketiga, ada mapel B.JAWA. Ada tugas kelompok tentang membuat makalah dari cerita KETHOPRAK. Pada jam ketiga, disuruh berkelompok untuk tugas tersebut, kelompoknya diacak, teman-teman menemukan ide dengan cara membuat sobekan kertas yang berisikan angka 1-7. Satu anak mengambil satu kertas dengan secara acak, selesai mengambil kertas tersebut berkumpul ke kelompoknya masing-masing.Dia bertanya kepadaku “Aku berharap kita satu kelompok,” ucapnya kepadaku. “Semoga saja kita satu kelompok,” ucapku.Semua siswa membuka kertas tersebut secara bersamaan, ternyata aku dan dia mendapatkan angka yang sama, yaitu angka 3 yang berarti kita berdua satu kelompok. Pada jam keempat masih ada jam pelajaran Bahasa JAWA, pada waktu itu hanya di beri penjelasan dan disuruh mencari materi dan membuat makalah menurut kelompok yang diberikan oleh guru tersebut, karena setiap kelompok tugasnya berbeda-beda, ada yang kebagian tentang drama moderen, wayang wong, ludruk, dan kethoprak.Pada jam terakhir ada mapel Bahasa INDONESIA, seperti biasa di suruh ke Lab komputer untuk membuat cerita. Membuat cerita sendiri-sendiri yang terdiri atas satu cerita harus ada 1000 kata atau lebih dari 1000 kata. Semua berjalan lancer seperti biasa dan tinggal menunggu bel pulang berbunyi.Pada hari sabtu tanggal 29 Oktober kemarin Cuma ada 2 mapel, yaitu mapel Bahasa INDONESIA dan IPA. Pada mapel Bahasa INDONESIA seperti biasa pergi ke lab komputer dan saat di lab komputer di larang menghidupkan wifi, dan hanya melanjutkan cerpen yang belum selesai. Karena larangan tersebut satu persatu siswa kelas 9f keluar dari lab komputer, alasan keluar dari lab komputer tersebut karena bosan tidak ada hiburan, ada juga yang sudah menyelesaikan cerpennya. Karena hal tersebut satu persatu keluar dan ada yang masuk kelas dan ada yang ke kantin, tetapi siswa kelas 9f keluar dari ruangan lab komputer pada jam kedua.Pada saat jam istirahat walikelas 9f memasukki kelas 9f, teman-teman kaget akan hal itu karena saat itu tidak ada mapel Bahasa INGGRIS. Guru tersebut memasuki kelas dan menyampaikan akan hal yang keluar lab komputer pada saat jam pelajaran belum selesai, hanya ada beberapa saja yang masih di ruang lab komputer. Sebagai hukuman atas berbuatan tersebut semua siswa yang keluar pada saat jam pelajaran disuruh membuat surat perjanjian tidak akan mengulangi hal tersebut yang disertai tanda tangan orang tua dan pada hari selasa disuruh mengumpulkan surat tersebut ke walikelas 9f“Saya dapat laporan dari guru Bahasa Indonesia bahwa kalian tidak mengikuti pelajaran tersebut sampai jam pelajaran selesai, hukumannya kalian harus membuat surat perjanjian tidak akan mengulangi hal tersebut dan harus ada tanda tangan orangtua, saat pengambilan rapot nanti akan saya tanyakan apa benar ini tanda tangan orangtua kalian apa kalian sendiri yang menandatangani surat tersebut, dan akan saya share di group walimurid,” ucap guru walikelas 9f.Saat selesai berbicara guru tersebut langsung pergi. Semua siswa langsung kaget akan hal itu, selama ini yang teman-teman tahu guru Bahasa Indonesia hanyalah guru yang paling enak saat mengajar, tetapi tidak seperti itu. Bahwa malah sebaliknya diam-diam mematikan.Keesokan harinya semua siswa mengumpulkan surat pernyataan yang ditanda tangani orangtua, banyak yang lupa menandatangani surat tersebut. Hanya beberapa saja yang terkumpul, yang lainnya menyusul, ada juga yang ditanda tangani sendiri, Karena takut akan kena marah.Dia juga sama, membuat surat pernyataan tetapi tanpa tanda tangan orangtua melainkan tanda tangan temannya. Karena ia lupa untuk memberitahu akan hal itu.Setiap hari hubungan kami semakin baik terkadang ada sedihnya dan juga ada senangnya. “Mencintai teman sekelas sama dengan mennyakiti diri sendiri”

Strict Parents
Teen
25 Nov 2025

Strict Parents

Ika memiliki orangtua dengan gaya pengasuhan yang ketat. Orangtua Ika adalah tipe orangtua yang mengatur anaknya sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa menghargai perasaan dan mempertanyakan pendapat Ika.Ika saat ini menginjak kelas 3 SMP dan sekarang saatnya Ika menentukan mau melanjutkan SMA maupun SMK di sekolah pilihan Ika. Waktu ada mata pelajaran BK, guru yang mengajar memberi pertanyaan tentang “Setelah lulus smp, saya melanjutkan sekolah di?” dan tugas tersebut harus disertai dengan tanda tangan orangtua.Ketika Ika sudah sampai di rumah dan saat Ika meminta tanda tangan orangtuanya, Wanto ayah Ika berbicara “Ngapain kamu sekolah jauh jauh” Ucap ayah Ika “Ika ingin menambah wawasan yang lebih banyak yah” Sahut Ika “Di sini lho ada sekolah yang lebih dekat, sekolahnya juga nggak kalah baik dari sekolah pilihan kamu” Ucap ayah Ika “Tapi lho yah, sekali ini saja izinin Ika ya?” Ucap Ika sambil matanya mulai berkaca-kaca “Udah sekolah di sini saja jangan jauh-jauh, jadi anak nggak pernah nurut” Ucap ayah Ika dengan nada kerasnya“Nggak nurut gimana yah? Ika selama ini udah sabar ngelakuin semua hal, semua perintah dari ayah sama bunda, sekarang gantian dong turutin satu kali ini aja Ika mau sekolah di sekolah yang Ika mau” Ucap Ika sambil meneteskan air mata Ayah Ika langsung pergi meninggalkan Ika dan kertas putih itu.Keesokan harinya Ika tidak mengumpulkan kertas tersebut dan Ika mendapatkan konsekuensi dari guru BK untuk mengumpulkan besok pagi.Di rumah Ika pun berdebat lagi dengan ayahnya dan pada akhirnya Ika yang harus menuruti keinginan orangtuanya. “Ya udah, Ika mau sekolah di sekolah pilihan ayah sama bunda” Ucap Ika “Ayah kemarin kan udah bilang nurut aja” Ucap ayah Ika sambil melontarkan senyuman tipis “Tapi ayah sama bunda ngerti nggak sih perasaan Ika, Ika ini ca…. ” “Ssstttt nggak usah membantah lagi” Ucap Anggun bunda Ika yang memotong omongan Ika Dan akhirnya Ika belajar menerima apa yang telah menjadi keputusan kedua orangtuanya.*Bebaskan anak-anak kalian selagi mereka melakukan hal-hal positif, berilah mereka kepercayaan untuk menjadi diri mereka sendiri. Ketika udah diberi kepercayaan oleh orangtua kalian, pliss jangan hancurkan kepercayaan itu, karena kesempatan tidak datang dia kali jika ada itu berbeda*

Daerah Terlarang
Teen
25 Nov 2025

Daerah Terlarang

Di sebuah tempat terdapat daerah terlarang (Gunung) yang terkenal sejak dulu, daerah tersebut dikenal dengan kemistisannya. Kalau ada yang memasuki kawasan tersebut pasti tidak akan pernah kembali lagi.Daerah tersebut pun masuk berita, Toni yang sedang menonton berita tersebut lalu bertanya-tanya kenapa daerah tersebut disebut kawasan yang dilarang untuk dikunjungi. Lalu Toni ingin memasuki daerah terlarang tersebut dengan kawan kawannya Joni, Totok dan Andre. Mereka berencana akan berangkat bersama sama pada Jumat malam.Sebelum berangkat mereka teleponan dulu akan bertemu dimana “Ketemuan dimana ini?” tanya Toni. “Kalian sudah siap semua?” kata Totok. “Sudah nih, tinggal beli persediaan makan buat kita menuju ke sana!” jawab Joni. “Beli di toko seberang jalan aja,“ saran Andre.Mereka pun berangkat dan bertemu di toko seberang jalan tersebut. Setelah mereka belanja persediaan untuk menuju gunung itu. Mereka Toni, Joni, Totok dan Andre akhirnya berangkat menuju gunung yang disebut daerah terlarang tersebut.Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai juga di kaki gunung tersebut. Mereka bersiap-siap akan mendaki gurung yang terlarang tesebut. Gunung tersebut terlihat sangat angker. Aslinya mereka takut untuk mendaki gunung tersebut tapi karena mereka penasaran akhirnya dengan semangat yang membara mereka berani mendaki gunung tersebut.Baru saja beberapa menit mendaki kejanggalan mulai dirasakan mereka, Joni tiba tiba terjatuh lalu kesurupan. Toni, Andre dan Totok langsung berusaha menyadarkan Joni tiba tiba Joni berbicara saat kesurupan“Siapa kalian yang berani memasuki kawasanku!” ucap Joni yang sedang kesurupan. Totok berusaha menyadarkan Joni yang sedang kesurupan menggunakan air, dan akhirnya Joni sadar kembali. Mereka sangat kaget dengan kejadian tersebut. “Baru aja mendaki beberapa menit ada aja kejadian aneh mendatangi kita,” kata Toni.Hari pun mulai gelap, mereka memutuskan bermalam dahulu, mereka membagi tugas agar lebih cepat mempersiapkan tenda dan bara api untuk mereka menghangatkan badan.Dan akhirnya mereka selesai juga mempersiapkan tenda dan bara api, setelah itu mereka memasak makanan untuk mereka makan. Masakan matang juga, mereka menyantapnya dengan lahap, saat mereka sedang makan Joni bertanya. “Kok bisa ya aku tadi kesurupan?” tanya Joni. “Mungkin kamu lagi melamun jadinya kamu gampang kemasukan roh ghaib,” ucap Totok. “Hari semakin malam nih sebaiknya kita istirahat dahulu agar besok pagi kita bisa melanjutkan perjalanan,” kata Andre. “Sebaiknya kita bergantian menjaga agar tidak ada hal yang tidak kita inginkan datang!” kata Toni. “Baiklah kalau begitu aku saja yang pertama jaga,” kata Andre. “Kamu berani jaga sendirian ndre?” tanya Totok. “Berani dong masa gak berani,” balas Andre. “Yaudah kalau gitu,” kata Toni.Mereka semua akhirnya tidur kecuali Andre sendirian yang menjaga tenda, hari mulai gelap banyak hewan hewan malam yang mulai keluar mencari mangsa suara sekitar yang sangat hening dan gelap membuat bulu kuduk Andre berdiri.Kelelawar berkeliaran, berterbangan di setiap arah burung hantu sedang mengintai di atas pohon. Setelah beberapa jam berjaga sendirian Andre akhirnya Toni bangun dan menggantikan Andre yang sudah berjaga dari tadi.“Ndre ganti aku yang jaga kamu istirahat aja,” ucap Toni. “Baiklah kalau begitu, aku juga sudah sangat mengantuk,” balas Andre. Andre pun tidur di dalam tenda, hari semakin malam. Sejauh ini Toni berjaga aman aman saja tidak ada hal aneh yang terjadi.Tiba-tiba ada babi hutan yang melewati tenda mereka. Toni yang melihat babi itu langsung terkejut dan membangunkan teman-temannya yang sedang tidur. “Bangun bangun ada babi hutan barusan lewat” kata Toni. “Dimana babinya?” tanya Totok. “Langsung hilang waktu aku melihatnya” balas Toni. “Gimana kalau kita buru babi itu?” ajak Joni. “Kamu mau mencari masalah ni? Itu babi hutan bukan babi biasa!!” balas Toni. “Kan lumayan kalo kita buru lalu kita masak,” kata Joni. “Ide bagus juga, kan kita juga lagi di alam liar jadi harus mencoba hal baru,” balas Totok. “Tapi bukannya berbahaya kita memburu babi hutan?” tanya Toni. “Ya kita harus hati hati,” kata Totok. “Baiklah kalau begitu siapkan senjata kalian teman teman kita akan memburu babi hutan itu,” kata Toni.Mereka pun bersiap siap akan memburu babi itu, mereka berangkat mencari babi itu, mereka melihat babi itu sedang sembunyi di semak semak, dengan hati hati mereka mendekati babi itu tanpa terdengar. Dengan mudah mereka menangkap babi hutan itu setelah tertangkap babi itu dibawa ke kemah mereka yang tidak jauh dari lokasi babi itu ditangkap. Mereka menyimpan babi yang sudah diburu itu untuk dimasak keesokan harinya.“Baiklah sekarang aku yang berjaga,” kata Totok. Toni, Andre, dan Joni mereka melanjutkan tidurnya setelah berburu babi hutan itu.Matahari telah terbit dari arah timur mereka berempat telah bangun dan bersiap siap akan memasak babi yang mereka buru tadi malam.Setelah memasak dan memakan babi hasil buruan. Mereka lalu bersiap siap akan melanjutkan perjalanan mendaki gunung itu. Setelah mereka mendaki selama 5 jam lamanya akhirnya mereka sampai di puncak gunung yang disebut angker itu.“Padahal gunungnya biasa aja tapi kok di bilang angker,” Kata Toni. “Nah itu mungkin agar gunung ini tetap terjaga keasriannya,” balas Joni. “Yaa mungkin saja,” balas Andre.“Pemandangannya bagus juga ya,” kata Totok. “Memang indah pemandangan alam sekitar yang belum terkena tangan manusia,” balas Toni.Mereka pun menikmati menikmati pemandangan di puncak gunung tersebut. Memang di gunung tersebut tidak ada hal yang angker tapi gunung itu dikenal dengan gunung yang sangat angker oleh orang orang sekitar yang tinggal di kaki gunung itu.Itu merupakan salah satu pengalaman mereka pertama kali saat mendaki gunung. Setelah itu mereka pun kembali ke rumah mereka masing masing dengan selamat dan tidak akan melupakan pengalaman itu.

Sahara Bella
Teen
25 Nov 2025

Sahara Bella

Sahara Bella namanya, dia mempunyai seorang kakak bernama Laura Bella. Mereka mempunyai nama belakang yang sama, terkadang orang-orang menganggap mereka anak konglomerat karena menggunakan marga ‘Bella’. Padahal itu hanya pelengkap nama yang Ibu beri agar nama mereka tidak terlalu pendek.Sahara dan Laura beda satu tahun. Laura sang kakak sudah memasuki semester awal perkuliahan sedangkan Sahara masih duduk di bangku SMA kelas 3.Menurut Sahara, kakaknya itu sangat pintar. Terbukti dari dia yang masuk kuliah lewat jalur beasiswa. Sejak SMA Kakaknya menjadi siswa kebanggaan sekolah. Sebab, dia sering dipilih untuk mewakili sekolahannya untuk mengikuti lomba cerdas cermat, MIPA, dan perlombaan yang hanya mampu diikuti oleh orang berotak cerdas seperti Laura. Dia selalu membawa piagam atau piala setelah lomba. Jika tidak juara 1 pasti 2.Tapi karena itu pula hidup Sahara penuh aturan seperti sekarang. Bundanya yang terobsesi dengan nilai memaksa dia untuk mengikuti semua les yang ia siapkan. Bundanya juga selalu menuntut dia untuk belajar, belajar dan belajar. Bunda ingin Sahara seperti Laura. Sahara selalu menolak, akademik bukan kemampuannya. Dia lebih memilih mendekam diri di kamar dan menulis naskah-naskah di blog pribadinya lewat laptop.Seperti sekarang, Sahara sedang berkutat dengan laptop pemberian sang Kakak saat ulang tahunnya yang ke-14 tahun. Laura tau jika kemampuan Sahara ada di Sastra. Dia tau adiknya suka membuat atau mengarang cerita. Dia mendukung adiknya, berbeda dengan sang Bunda.“Hey buka pintunya! Bunda sudah menyiapkan uang untuk membayar les matematikamu! Cepat keluar dan pergi ke tempat les yang sudah Bunda kasih tau!” Dari depan pintu kamar, Bunda berteriak. Tangannya itu memukul keras pintu jati itu.Sahara bergeming, dia menulikan pendengarannya. Otaknya hanya fokus menulis karangan cerita yang akan dia publish di aplikasi pembuat cerita.“Berhenti membuat tulisan-tulisan tak berguna itu Sahara! Cepat keluar dan pergi les!” Bundanya itu kenapa sih? Kenapa tidak mendukung Sahara untuk menjadi dirinya sendiri?! Dia hanya ingin tumbuh dewasa menjadi dirinya sendiri. Mengejar mimpinya dengan caranya sendiri. Tanpa harus kekangan atau aturan dari orang lain, termasuk Bundanya sendiri!Dengan kesal dia melepas earphonenya. Menatap datar pintu yang bergetar karena pukulan dari luar. Dengan malas dia berjalan kearah pintu. Mendekatkan wajahnya kemudian berkata, “Dari pada menyakiti tangan sendiri mending Bunda fokus ke diri sendiri. Sampai kapan pun Sahara gak akan mau ikutin omongan Bunda. Ini hidup Sahara, Sahara mau ikutin kemauan sendiri.”Bilang saja Sahara anak durhaka. Dia juga tidak mengelak itu. Tapi, bisakah kalian mengerti betapa frustasinya dia sekarang? Bundanya tidak tau perasaan Sahara. Mati-matian dia menahan emosi ketika mimpinya dihina oleh orang yang melahirkannya itu. Apa salahnya ingin mengikuti keinginan sendiri?Besoknya, seperti biasa. Wanita berusia 40 tahunan itu mendiamkan Sahara. Dia bahkan tidak meliriknya sama sekali saat sedang makan bersama. Laura tau, ada masalah sebelum dia pulang.Laura lebih memilih tinggal di kost-an yang dekat dengan Universitasnya. Selain agar jarak tempuh yang dekat, dia juga ingin menyatukan adik dan Bundanya itu.“Kakak sudah kirim uang ke rekening kamu. Cukup-cukupin, ya.” Suara Laura memecahkan keheningan ruang makan ini. Pandangan Bunda teralih ke anak sulungnya itu, dia memandang tak suka Laura.“Ngapain kamu ngasih uang ke anak itu? Lebih baik uangnya kamu tabung untuk keperluan kuliah kamu.” ucap Bunda dengan nada suara yang tak suka. Jelas, dia kesal dengan anak bontotnya yang tidak mau mengikuti ucapannya.Laura tersenyum, gadis itu menatap Sahara yang lebih memilih diam. “Itu aku kasih bukan cuma-cuma, Bun. Aku membayar utang aku kepada Sahara bulan lalu. Dia meminjamkan aku uang untuk membeli stetoskop baru.” jawab Laura.“Dapet uang dari mana kamu? Kerjaannya aja nyumpel di kamar. Kamu ngepet? atau jangan-jangan ambil uang simpenan Bunda? Iya?” tuduh Bunda menunjuk wajah Sahara.Diam-diam Sahara mengepalkan tangannya dibawah meja makan. Dia menatap nyalang Bundanya yang dengan seenak hati menuduh dirinya sebagai pencuri.“Jaga omongan Bunda!” Emosi, Sahara tak sadar jika nada bicaranya meninggi. Nafasnya memburu, dadanya naik turun karena emosi. Sungguh, dia tidak tahan dengan semua ini.Tersulut emosi, Bunda menggebrak meja hingga lauk yang berada di piring tumpah. “Beraninya kamu membentak Bunda?! Saya ini orang yang telah melahirkan kamu! Sopan sedikit bisa tidak?! Dimana kesopanan kamu?! Saya tidak pernah mengajarkan kamu untuk seperti ini!”Sahara tergelak. Ketawanya itu mengundang kemarahan Laura, “Sopan sedikit Sahara. Dia bundamu, tidak sepatutnya kamu membentak dia seperti tadi.”Sahara terkekeh, “Udah?”Keduanya terdiam. Sahara tertawa lagi, satu detik setelahnya tatapan dia menjadi dingin dan datar. Matanya menatap Laura dan Bundanya tajam.“Selama ini aku sabar sama sikap Bunda. Bunda bilang apa? Sopan? Haha! Bunda bahkan gak pernah ngajarin aku buat sopan. Yang ada dipikiran Bunda cuma les, les, dan les. Bunda terlalu terobsesi dengan apa yang udah Kak Laura dapat sampai Bunda pengin aku jadi kaya dia!”Menjeda sejenak hanya untuk mengatur emosinya. Dia tidak ingin berkata kasar yang nantinya akan menyakiti hati orang didepannya itu. Dia masih menyayangi Bundanya.“Inget, Bun! Kami beda orang! Kak Laura ya Kak Laura, aku ya aku. Gak bisa disamain! Kita punya kemampuan sendiri-sendiri. Kak Laura pinter di akademik, nilainya yang bagus Sampai bisa masuk Fakultas Kedokteran di UI itu sebuah kebanggaan buat Bunda kan? Terus Bunda pengin aku jadi seperti kakak? Gak akan bisa! Kemampuan aku ada di Sastra! dan selamanya akan seperti itu. Mau sampai ratusan materi yang masuk kalo takdir aku udah di Sastra, ya gak akan bisa! Jadi stop kekang aku buat jadi kak Laura. Karena sekali lagi, kita beda! Kita memang sedarah, tapi bukan berarti takdir kita sama! Tuhan memberi kemampuan kepada hambanya berbeda-beda! Aku capek Bun!” Panjang kali lebar, Sahara harap Bundanya sadar. Sahara harap Bundanya introspeksi diri.“Dan Bunda nuduh aku pencuri? Sakit, Nda.. Sakit.. anak mana yang tega nyuri uang Bundanya sendiri? Dan Bunda mana yang tega nuduh anaknya pencuri?” Tersenyum kecut, Sahara menghapus paksa air mata yang keluar membasahi pipinya.“Ra..” Laura sama dengannya, gadis itu bahkan sudah terisak.“Diem, Kak. Aku iri sama kakak. Kakak dibangga-banggakan sama Bunda karena kakak bisa masuk fakultas yang dimimpikan banyak orang di Universitas ternama di Indonesia. Gak pernah sedikitpun Bunda hina mimpi kakak yang pengin jadi dokter, tapi kenapa sama aku beda kak? Bunda hina mimpi aku yang pengin jadi penulis.”Laura terdiam, begitupun Bunda. Dia menunduk, mencerna semua ucapan anaknya yang malang itu.“Aku berdiam diri di kamar bukan untuk rebahan dan leha-leha doang, Bun. Aku nulis naskah atau cerita di blog, kalo sekiranya bagus dan aku butuh uang, aku jual karya tulis aku ke website online. Pas pertama nyoba gagal, cerita aku ditolak karena ga sesuai kriteria admin. Aku jadi gak punya tekad buat kirim cerita aku lagi, ditambah kekangan Bunda yang nyuruh aku buat ikutin kemampuan Bunda dan hina mimpi aku. Itu bikin aku overthinking. Tapi, aku gak nyerah, aku coba terus dan sampai salah satu admin nerima karya tulis aku. Aku dapet uang dari situ, Bun. aku jual karya tulis aku dan honornya lumayan. Aku kumpulin buat persiapan masuk Universitas.” lanjut Sahara menyadarkan sang Bunda.“Kalo lewat tulis menulis aku bahagia dan bisa menjadi pribadi yang dewasa, kenapa Bunda ngelarang aku? Sekarang aku udah pasrah. Terserah Bunda mau masukin aku ke les mana, aku gak akan bantah lagi. Toh Bunda akan selamanya begitu kan?” Sahara menyeka air matanya. Ucapannya bukan semata-mata, dia benar-benar sudah lelah dengan semua itu. Lebih baik dia mengikuti kemauan Bunda kan? Karena, mau sebisa apa kamu, kalo tidak ada restu dari orangtua, maka akan sia-sia.Bunda mendongak, menatap sendu anaknya yang ternyata rapuh. Dia perlahan mendekati Sahara, memeluk tubuh anaknya itu. Menyandarkan kepala Sahara di dadanya.“Maafin Bunda, Nak.. Bunda gak tau mimpi kamu sepenting ini. Maafin Bunda yang selama ini nuntut kamu buat seperti Kakak.. Bunda minta maaf. Mulai sekarang Bunda akan dukung kamu buat raih mimpi kamu. Terserah kamu mau jadi apa, asalkan tetap jadi anak Bunda ya? Bunda bakal berhenti ngatur kamu, Bunda bakal bebasin kamu buat gapai cita-citamu sendiri..” bisik Bunda tepat di telinga kiri Sahara.Sahara tertegun, dia kemudian membalas pelukan sanga Bunda. “Bener, Bun?” Bunda mengangguk, mengecup puncak kepala Sahara, “Bener sayang.. Maafin Bunda ya ..”Sahara mengangguk. Dia sangat senang, Bundanya sudah merestui dirinya untuk menjadi dirinya sendiri. Sekarang, tidak ada lagi teriakan Bunda yang memaksanya untuk berangkat les. Sekarang tidak ada yang memukul-mukul pintu kamarnya. Sekarang Bundanya sudah berubah.Laura ikut bergabung. Dia memeluk dua perempuan yang sangat dia sayangi. Laura terharu, perjuangan Sahara untuk mendapat restu dari Bunda tidak mudah. Berkali-kali wanita tua itu mematahkan semangatnya, namun tidak membuat keputusan Sahara goyah. Dia bangga mempunyai adik seperti Sahara, gadis yang kuat dan mandiri. Dia sangat menyayangi keluarganya yang sederhana ini.

Inilah Aku
Teen
25 Nov 2025

Inilah Aku

Perempuan adalah manusia yang hatinya midah terluka, hanya dengan perkataan saja dapat mempoyak-poyakkan perasaannya. Gadis cantik dengan rambut sepanjang bahu lalu pesona senyumannya yang manis membuat orang-orang tertarik pada dirinya. Gadis nan cantik itu bernama Sefina, dia adalah seorang pelajar yang duduk di bangku kelas 3 SMP.Suatu ketika, ditengah semester satu Sefina terpaksa untuk berpindah ke sekolah yang biayanya lebih ringan karena kondisi ekonomi keluarganya yang menurun. SMP Nusa Bangsa yang menjadi pilihan Sefina untuk melanjutkan pendidikannya. Walaupun Sefina merupakan murid terpintar di sekolahnya dulu, bukan berarti dia mudah bergaul di sekolah barunya.Hari pertama Sefina masuk sekolah, dia sama sekali belum mengenali banyak orang. Sefina yang hanya berpakaian seragam biasa tanpa menggunakan aksesoris seperti murid-murid lainnya, membuat Sefina merasa terkucilkan untuk bersekolah disitu.Di jam istirahat, seorang siswa menemui Sefina dan membuat Sefina terpukau akan ketampanannya. “Haii aku Bayu, salam kenal. kamu pasti Sefina-kan? Yang murid baru dikelas 9 ini” ucap bayu sambil mengulurkan tangannya. “Ohh, ha-hallo. I-iya aku Sefina, hehe salam kenal juga” ucap Sefina yang gagap, sambil berjabat tangan dengan Bayu. “Yasudah, aku mau main dulu yaa. Sampai ketemu nanti di kelas” kata bayu sambil melambaikan tangan.Sefina mulai tertarik dengan siswa itu, walau baru berkenalan rasanya Bayu akan menjadi teman baik Sefina. Bell masukpun mulai berbunyi “kringg-ngg-nggg kringg-nggg”. Lalu Sefina bergegas merapihkan bekalnya dan masuk ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.Mata pelajaran selanjutnya adalah Seni Budaya yaitu membuat kelompok dengan anggota tiga orang perkelompok dan akan ditunjuk oleh guru. Sefina yang mendengar perintah guru merasa takut, apakah dia dapat berinteraksi baik dengan teman sekelompoknya? Hal itu terus membuat Sefina kurang percaya diri.Penunjukan anggota kelompokpun dimulai. Bu Andin berbicara dengan lantang “Kelompok yang ke dua adalah Sefina, Cinta, dan Neyra. Bagi namanya yang ibu sebut silahkan membuat kelompok di bagian belakang!” Setelah mendapatkan kelompok, Sefina mulai berkumpul dengan teman sekelompoknya. Namun, Sefina merasakan minder dengan Neyra dan Cinta yang berpenampilan seperti orang kaya bahkan menggunakan aksesoris seperti gelang, kalung, dan sepatu yang mahal. Sefina merasa terkucilkan di dalam kelompoknya. Tingkah laku teman sekelompoknya yang julid ke Sefina, membuat Sefina takut untuk bersekolah lagi.Saat mengerjakan tugas, Cinta dan Neyra berperilaku sombong pada Sefina seolah-olah Cinta dan Neyra lah yang berkuasa di dalam kelompok itu. “Hei, pasti kamu anak baru yahh ahaha, hallo kenalin gue Cinta trus ini Neyra” dengan logat Cinta yang meremehkan Sefina, membuat Sefina semakin minder. “Hehe, I-iyaa aku S-se-sefina” Ketakutan Sefina membuat perkataannya gagap lagi.Dengan penampilan Sefina yang biasa, menjadi bahan ejekan teman sekelompoknya. “Sepatu kamu model apasih, kok ga level banget sama punyaku” ucap Neyra “Iya yah, kamu beli dimana baru tau aku ada yang model kaya gitu” cakap Cinta yang mengucilkan Sefina. Sefina hanya dapat berdiam dan mengerjakan tugas yang disuruh. Pada akhirnya walau Neyra dan Cinta meledeki Sefina, mereka tetap harus mebuat tugas yang diminta Bu Andin, yaitu membuat denah rumah beserta isi rumahnya.“Kringg-ngg kringg-ngg” Para murid terkejut, mengapa bel sudah berbunyi? Padahal jam pulang sekolah masih 2jam lagi. Bu Andin berdiri dan lupa menginformasikan kalau hari ini pulang cepat karena guru-guru akan rapat. “anak-anak maaf ibu lupa menginformasikan kalau hari ini pulang lebih awal karena guru-guru akan rapat dan sekarang kalian dapat menghubungi orangtua kalian untuk menjemput kalian.”Murid-murid bergegas membereskan barang-barang mereka dan keluar kelas. Sefina-pun juga langsung membereskan tasnya, walau perasaannya sedih. Ketika Sefina sampai di gerbang sekolah, Bayu datang menghampiri Sefina dan mengajak Sefina untuk pulang bersama Bayu. “Hai Sefina, aku anterin yuk kamu juga pasti nunggu angkot-kan? Bareng aku aja yuk” ucap Bayu sambil memberikan helm ke Sefina. “Hemm, I-iya udah deh aku bareng kamu, maaf ya kalau ngerepotin kamu Bay” Sefina tidak dapat menolak karena ibunya pun tidak dapat menjemput bahkan Sefina tidak membawa uang.Sesampainya di rumah Sefina, Bayu berpamitan dan langsung pulang ke rumahnya. Sefina masuk ke rumah dengan mukanya yang sedih dan sedikit kesal. “Hallo nak, gimana tadi di sekolah? Seru nga?” ucap ibunya dengan lembut “Apa-apaan sih buk, aku diejek sama temen-temen aku, kata mereka sepatu aku jelek, aku ga punya barang mewah kaya temen-temen aku yang lain! Sekarang aku mau minta uang ke ibuk buat beli aksesoris kaya temen-temen!” tiba-tiba Sefina yang biasanya bersikap sopan dan baik pada ibunya, seketika langsung berubah karena gengsinya terhadap teman-temannya.“Nakk, ibuk cuman punya uang segini yah, memang kamu mau beli apa?” ibu Sefina yang memberikan uang dan sedih dengan bentakan Sefina. “Dug dug dug, derrr” suara hentakan Sefina yang langsung berlari ke kamar dan membanting pintu setelah dapat uang dari ibunya.Saat Malam hari, ibunya merenung sambil berkata “Ya Tuhan, mengapa anakku bertingkah seperti itu? Apa yang salah dari aku dalam mendidiknya? Mengapa engkau memisahkan aku dengan suamiku? Bahkan sekarang suamiku sudah pergi dan mempunyai istri barunya. Semenjak kejadian itu keuanganku mulai menurun, terlebih lagi dengan Sefina yang mulai bergengsi dengan temannya. Aku harus apa ya Tuhan.” Ucap ibunya Sefina sambil meneteskan air mata.Pagi hari yang sedikit mendung “Pagi nak, ini sarapan hari ini ya. Maaf ya ibuk cuman masak sayur kangkung” ucap ibuknya pada Sefina sambil menutupi kesedihannya. “Hm” Sefina yang hanya berguram dan kesal mengapa hanya sarapan biasa “Ya sudah, mana uang jajan Sefina. Sefina mau berangkat” ucap sefina dengan nada kasar. Ibu Sefina hanya terdiam karena perubahan tingkah laku Sefina. Ibu Sefina mulai mencari pekerjaan sampingan untuk penambahan kebutuhan Sefina. Dulunya Ibuk Sefina adalah pekerja kantor, namun setelah ditinggal oleh suaminya sekarang hanyalah berjualan catering.Sesampainya Sefina di sekolah, Sefina mulai bergaul dengan teman-temannya. Karena kejadian kemarin, Sefina berbohong kalau dia merupakan anak pengusaha kaya raya supaya dia mendapatkan teman banyak. “Widih Sef, keren juga nih penampilan lu” kata Neyra saat bertemu dengan Sefina. “Yoi dong, gue mah anak pengusaha jadi ya biasalah” balasan Sefina pada Neyra.Kringgg-ngg kringg-ngg, bel masuk berbunyi. Lalu para murid-pun langsung masuk ke kelas untuk memulai pembelajaran. Ternyata jam pertama adalah Seni Budaya dan melanjutkan pembelajaran kemarin. “Sef, ini tugasnya udah selesai kan? Mending langsung kumpulin aja. Eh ngomong-ngomong nanti ke cafe yu biasa nongkrong bentar” ucap Cinta saat tugas kelompok. “Boleh nih, gimana Sefina mau ngak? Sekali-kali ikut lah” kata Neyra “Ya ikutlah, masa ga ikut ke cafe. Tapi gue ijin nyokap dulu yak” balasan Sefina sambil merenung, pakai uang dari mana aku untuk ke cafe? Untuk pulang saja pas-pasan.Setelah Pulang Sekolah, mereka langsung menuju cafe dekat sekolah mereka. Sambil berbincang-bincang tidak disangka ternyata ada Bayu juga di cafe yang sedang mengerjakan tugas. Pada akhirnya Bayu gabung dengan Sefina, Neyra, dan Cinta. Hari semakin sore, bahkan Sefina saja belum membantu ibunya untuk menyiapkan cathering. Kata Cinta “eh ini bayar masing-masing ya” tetapi Sefina menyolot “apa-apaan bayar masing-masing, traktir dong sekali-kali!” balasannya pada Cinta. “Dih katanya orang kaya masa ga mau traktir in kita sef” ucap Neyra. “Suttt udah-udah kaya anak SD aja sih berantem mulu, biarin gue aja yang bayar!” kata Bayu saat memotong pembicaraan Neyra dengan Sefina. Setelah membayar, Bayu memberikan tumpangan lagi ke Sefina.Neyra dan Cinta-pun masih berada di cafe sambil terheran-heran dengan logat Sefina saat ingin membayar tadi. Dengan ide liciknya, Cinta mengajak Neyra untuk membuntuti Bayu dan Sefina. Cinta akhir-akhir ini mulai heran dengan sikap Bayu yang sangat baik ke Sefina dan seakan-akan melupakan Cinta. Ketika Bayu dan Sefina sampai di rumah, Neyra dan Cinta terkejut ternyata selama ini perkataan Sefina hanya omong kosong kalau dia bukan anak dari orang kaya bahkan rumahnya saja sederhana dan kata orang-orang ibunya hanya penjual catering. Kata Cinta “wah parah! Ini satu angkatan harus tau!.” sambil merasa kesal dengan Sefina yang sikapnya belagu, pinter-pinter tapi ternyata pembohong. Lalu semua kembali ke ruamh masing-masing.Keesokan harinya di sekolah Di pagi hari, saat Sefina masuk ke kelasnya tiba-tiba dia dikucilkan oleh teman-teman sekelasnya karena dia sudah berbohong dan mengaku-ngaku kalau dia adalah anak pengusaha. Mental Sefina pun terjatuh lagi dan merasa murung, bahkan dia sempat ingin bolos dari pembelajaran.Ketika istirahat, Sefina hanya diam menyendiri dengan keadaan hatinya yang berdebat “apakah yang aku lakukan salah? Aku hanya ingin menjadi seperti mereka. Atau mulai sekarang aku hanya harus menjadi diriku sendiri yang asli? Tanpa mengikuti gaya orang lain dan bergengsi dengan teman-temanku sendiri.” hal itu terus dipikirkan dan direnungkan oleh Sefina. Saat pulang sekolahpun Sefina terus memikirkan hal itu “AHH SUDAH LAH SEKARANG AKU HANYA INGIN JADI DIRIKU SENDIRI SAJA” ucap Sefina dalam hatinya.Hari sudah semakin sore, Sefina menunggu angkot yang tak kunjung datang pada akhirnya Sefina memilih untuk berjalan kaki ke rumahnya. Di tengah perjalanan menuju rumah, Sefina melihat Neyra sedang duduk di tepi jalan dan nampak cemas. Sefina langsung menghampiri Neyra. “Kamu kenapa Neyra?” Tanya Sefina “Nggak” balas neyra sambil merasa malu dengan Sefina. “Kaki kamu kenapa? Kok dipegang pegang terus? Kamu keseleo?” Tanya Sefina sambil mengelus kaki Neyra. “Hm, gue tadi jatoh trus ga bisa pulang” ucap neyra pada Sefina. Pada akhirnya Sefina membantu Neyra untuk pulang. “Yuk aku bantu kamu pulang sampai rumah.” Kata Sefina. Dengan rasa malu Neyra, dia tidak dapat menolak bantuannya karena hari sudah mulai sore.Sesampainya di rumah Neyra, Sefina langsung berpamitan dengan Neyra. “Okee udah sampai, aku langsung pulang ya takut ibuk aku cariin. Semoga kaki kamu cepet sembuh.” Kata Sefina di depan rumah Neyra. Neyra hanya dapat berkata terima kasih sambil merenung “atas perbuatanku kepada Sefina, dia tetap mau menolong aku. Dia ternyata baik banget.” Setelah dari rumah Neyra, Sefina kembali pulang.Sesampainya Sefina di rumah, ia langsung memeluk ibunya sambil terharu berkata “maafkan aku yah ibuk, aku sudah membentak ibuk kemarin. Itu semua karna gengsi aku dengan teman-teman, maafin Sefina ya buk.” “Iya nak, gapapa. Ibuk tau kok kamu ingin seperti teman-teman kamu, Ibuk maafin kamu kok nak.” Ibuk Sefina merasa terharu dan bangga dengan anaknya karena anaknya sudah mau meminta maaf dan menyadari akan kesalahannya.Hari Selanjutnya Di Sekolah, Di pagi hari Neyra berduaan bersama Sefina layaknya seperti sahabat yang sudah sangat akrab. Tiba-tiba Cinta melihat mereka sedang asik mengobrol, Cinta-pun langsung menghampirinya sambil berseru “apaan nih? Temen baru? Ceilah berhianat banget ya ternyata!.” Sefina hanya tersenyum dan berkata “sudahlah, kita semua ini temen tau. Yuk Cinta muterin sekolah bareng-bareng”. Cinta hanya membuang muka lalu meninggalkan mereka.Jam istirahat ketika Sefina sedang berada di koridor kelas sendiri, sambil menunggu Neyra dari toilet. Tiba-tiba Bayu datang dengan membawa sekuntum mawar putih, lalu mendekati Sefina yang sedang asik melihat adik kelas bermain bola. “Hai Sefinaa ehehe” sapaan Bayu pada Sefina. “Ehh Bayu? Ehehe hai jugaa, Kenapa?” Ucap Sefina yang terkejut ternyata Bayu ada dibelakangnya. “Emm Sefina, sebenarnya walau kita baru saja kenal aku merasa kalau aku tertarik sama kamu. Kamu orangnya ramah ya ternyata, peduli, adil, pinter, bahkan baru kali ini aku nemuin gadis sesempurna ini dimata aku. Aku punya bunga mawar putih buat kamu ehehe. Kamu terima yahh, anggep aja ini hadiah buat perkenalan kita kemarin” Rayuan Bayu untuk Sefina dengan lemah lembut. “HAH? Ini serius? Emm iyaah terimakasih ya atas bunganya”. Balasan Sefina sambil menerima bunga dari Bayu.Semua yang berada di koridor terkaget-kaget, karena selama ini Bayu adalah lelaki yang sangat sayang dengan Cinta bahkan susah move on, tetapi bisa- bisanya sekarang dia langsung tertarik dengan murid baru yang baru dia kenal.Tidak lama kemudian, Cinta datang dan melabrak mereka “APA-APAAN LAGI NIH BAYU, BISA-BISANYA KAMU SUKA SAMA PEREMPUAN BARU YANG KAMU KENAL AJA BARU SEBENTAR!!!. Terus selama ini effort yang kita lakuin bersama itu apa?! kurang apa aku dihidupmuu. Kamu yang dulunya susah banget move on dari aku, sekarang seenaknya suka sama perempuan lain!.” Suasana semakin ricuh, lalu Bayu hanya berkata “kamu itu perempuan yang sombong ya Cinta!, perempuan seperti kamu tidak pantas mendapatkan lelaki yang penyayang.” Cinta terus mengelak “TA-TA TAPI-I?!”

Not Twelve Anymore
Teen
25 Nov 2025

Not Twelve Anymore

Travis menatap gedung di depannya dengan sendu. Mengenang kembali keseruan dan kekonyolan di masa SMA dengan sebelas sahabatnya. Persehabatan yang membuat orang lain iri melihatnya, sampai terjadinya peristiwa saat kelas sebelas yang membuat mereka berdua belas terpecah.FLASHBACK ON “Jae! Kantin kuy, laper nih” ajak Kaviro kepada Jaenal saat bel istirahat telah berbunyi. “Ayo!” mereka pun ke kantin bersama. Ternyata di sana sudah ada Jian dan Theo.“Dih, makan ngga ajak-ajak” protes Kaviro saat sudah duduk bersama Jaenal. “Tadi mau gue ajak, tapi Jian bilang ngga usah” ucap Theo membuat Kaviro melirik Jian sinis. “Apa lihat-lihat?!”. Kaviro menggeleng pelan.“WOYY! MICIO SAMA KYLE BERANTEM!” semua murid di kantin otomatis menoleh kearah Jendra yang tadi berteriak. Mereka berempat saling pandang sebelum berlari mengikuti Jendra ke lapangan sekolah. Di sana, sudah ada banyak murid yang menonton perkelahian Micio dan Kyle, juga ada Yoga dan Juvian yang melerai Micio dan Kyle. Theo juga ikut membantu melerai, sedangkan yang lain malah bersorak menyemangati Kyle dan Micio bersama Travis dan Aksa yang dari tadi menonton -Teman yang baik bukan?- .Tak lama setelahnya Dizio datang bersama pak Agus hingga mereka baru bisa dilerai. “Bubar kalian! Tidak dengar bel masuk sudah berbunyi, HAH ?!” siswa yang ada di sana langsung berhamburan pergi ke kelas masing masing.“Kalian! Ikut saya ke ruang BK sekarang!!” titah pak Agus membuat mereka berdua menghela nafas pasrah mengikuti pak Agus. Sedangkan kesepuluh bestienya menunggu di basecamp.Setelah keluar dari ruang BK, Micio dan Kyle mendapat skorsing selama tiga hari. Ternyata alasan mereka berkelahi karena Kyle cemburu setelah melihat foto Micio dan pacarnya, Winara yang sedang berpelukan.“Sepi banget sih, biasanya juga ramai kayak Zoo” celetuk Jendra mencoba mencairkan suasana. “Tau tuh, lagian bisa-bisanya kalian berantem karena cewek. Gak elit banget, ewhh” timpal Jian dengan muka julidnya. Kyle dan Micio memasang wajah malas mereka. “Ck, dia duluan yang ngirim foto pelukan sama Wina. Gimana gue ga cemburu coba?!”.“Dibilang itu bukan gue, kemarin gue pergi sama Travis. Tanya aja sama dia kalau ga percaya” bantah Micio. “Beneran Vis?” Tanya Yoga. Travis mengangguk.Kyle masih tak percaya. “Terus kalo bukan lo, siapa!?”. “Lihat! dari postur tubuhnya aja kayak lo, ini juga dikirim dari nomer lo kan?” lanjut Kyle sedikit emosi. “Terserah lo mau bilang apa, bodo amat” Micio pergi dari Rooftop. Bel pulang sekolah berbunyi.“Gua duluan, redain dulu emosi lo baru bicarain baik-baik” ucap Theo sambil berdiri dan menepuk pelan bahu Kyle. Yang lain juga mulai beranjak pergi hingga menyisakan Kyle dan Travis. “Kita itu temen, kalau ada masalah diselesaikan baik-baik, bukan malah baku hantam. Chilldish!” Kyle tertohok, Travis memang savage.Tiga hari berlalu, masa scoresing Kyle dan Micio telah selesai. Tetapi Kyle dan Micio masih perang dingin, bahkan mereka bersikap seolah tak saling mengenal. Yang lain sudah mencoba banyak cara untuk membuat mereka berbaikan, tapi hasinya nihil.Bugh… bugh… brukk… “Brengs*k! Bisa-bisanya lo nuduh gue sama Wina selingkuh, padahal lo sendiri yang selingkuh!” bentak Micio. “Gue gak selingkuh anj*ng! Lo salah paham” balas Kyle ikut tersulut emosi. Micio tak peduli, ia sudah dikuasai amarah sejak melihat Kyle sedang berduaan dengan Niken –sahabatnya- di taman kota.“STOP! Lo berdua gila ya?!” Juvian mendorong mereka menjauh, Yoga dan Kaviro segera menahan Micio. “Lepas!” Micio memberontak, ia ingin menghajar Kyle. “Cih, berantem terus. Kayak bocah aja” cibir Aksa.Kyle emosi, dia ingin meninju Aksa, tapi segera ditahan Jian. “Stop! Aksa, jaga omongan lo! Kita lurusin masalah ini” titah Theo. “Nggak, semua sudah jelas” balas Micio dingin dan berjalan pergi menghiraukan panggilan teman-temannya kecuali Kyle yang juga ikut pergi dari sana.Besoknya, Micio dikabarkan pindah ke luar negeri, begitupun Kyle yang pindah ke Bandung tiga hari setelahnya. FLASHBACK OFF“Mwakwasih ya Sa! Lo yang twerbaik deh” ucap Jendra tidak jelas karena sambil mengunyah makanan. Jian yang disebelahnya pun menjitak Jendra. “Iihh.. jahatt” rengek Jendra sok imut. “Jijik anjirr! Najiss” Travis memasang wajah julid dan berekting muntah, tapi tetap terlihat tampan. Yang lain hanya tertawa melihat wajah Jendra yang cemberut.Mereka sekarang berada di warung depan SMA HARTA KARUN. Sebenarnya ini ide Yoga untuk mengadakan reuni kecil – kecilan sekaligus merayakan ulang tahun Aksa.“Walau Cuma bersepuluh, gue harap kita masih bisa terus bahagia bersama” batin Travis tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca.END

Golongan Darah Tak Cocok
Teen
25 Nov 2025

Golongan Darah Tak Cocok

Kelas 11 akan sepi tanpa si biang tawa canda. Itulah sebutan untuk Aliyah, Ilham, Husein dan Sisca. Mereka bersahabat dari kelas 10. Aliyah dan Sisca teman sejak SMP.Aliyah berasal dari Mojoagung. Tetapi sejak kecil ia pindah ke Mojokerto karena kedua orangtuanya bekerja di Mojokerto. Sisca adalah keturunan Tionghoa Muslim. Mata sipit dan berkulit putih. Beda dengan si Husein, si hitam manis yang selalu bicara dengan volume tinggi. Dia pindahan dari Bangkalan Madura. Yang terakhir adalah Ilham, asli Mojokerto.Keempat sahabat itu selalu ceria. Ada saja hal hal sederhana yang dapat dijadikan bahan candaan. Walau demikian saat jam pelajaran mereka sangat serius.Suatu hari Aliyah tidak masuk sekolah, ayahnya masuk ruang ICU karena DB dan butuh transfusi darah. “Persediaan darah di RS habis”, kata suster. “Darah saya saja suster, golongan darah saya O “, kata bunda. Aliyah sambil berkaca kaca sedih. “Tetapi kondisi ibu sedang demam. Sebaiknya ibu istirahat dulu”, jawab suster. Bunda Aliyah memang kecapekan bahkan kini batuk batuk. “Kalau begitu coba saya saja bu suster”, jawab Aliyah. “Boleh, ayo… sini saya periksa”.Sekian menit kemudian suster itu keluar dari ruang kerjanya sambil membawa catatan. “Nona Aliyah”. “Ya, saya bu..”, jawab Aliyah seraya berjalan mendekat. “Maaf, golongan darah nona Aliyah tidak cocok”. “Ha… Golongan darah saya apa?”. “Golongan darah A”. Mendengar jawaban itu sontak Aliyah lemas dan terdiam. Tampak raut mukanya pucat bibirnya bergetar. “Golongan ayah bunda O mengapa aku A”, guman Aliyah sembari duduk lemas dan menangis.Lamunannya segera pecah saat ia dengar suara bundanya memanggil. “Aliyah… Aliyah, Alhamdulillah ayah sudah dapat donor darah dari om Ahmad”. Om Ahmad adalah adik ayah yang baru tiba dari Banjarmasin.Aliyah melihat ayah dari kaca ruang ICU tersenyum padanya. Seakan akan ingin sampaikan kepada keluarganya bahwa ia baik baik saja dan akan segera pulih. Bunda Aliyah meminta Aliyah pulang ke rumah bersama om dan tante Ahmad.Sepanjang perjalanan Aliyah diam seribu bahasa. Om Ahmad terus mengawasi Aliyah dari kaca spion mobil. “Aliyah, boleh ya tante bermalam di rumahmu?”, tanya tante Ahmad “Ya, tentu te. Terima kasih telah menjenguk Ayah. Dan terima kasih Om telah donor darah untuk Ayah”. “Ya, sama sama Aliyah”, sahut Om Ahmad. “Oh yaa. Kalau adik Alifa tidak ada kegiatan pasti akan ikut kesini”. Alifa adalah satu satunya putri om Ahmad.“Aliyah… ada apa? Kita sudah sampai. Ayo turun. Bukankah Aliyah yang bawa kunci rumah?” “Iya te…”, jawabnya terburu buru. “Ya Allah… kenapa air mataku terus menetes”, guman Aliyah dalam hati.Om dan Tante Ahmad diam saling pandang dan mengikuti langkah kaki Aliyah masuk rumah. Mereka berusaha mengerti kesedian Aliyah. Om Ahmad segera bersih bersih rumah, sedangkan Te Ahmad memasak untuk makan malam dengan bahan seadanya di lemari es.Aliyah masuk kamar menyalakan musik, agar tangisannya tidak terdengar ke luar kamar. Dibenamkan mukanya ke tumpukan bantal dan menangis. Pikirannya bercampur dengan beribu ribu pertanyaan. Apakah ia anak pungut? Lalu siapa orangtuanya? Ataukah ia bayi tertukar di Rumah Sakit? Atau bagaimana?Terdengar ketukan pintu kamar dan suara te Ahmad. “Aliyah… Sudah shalat magribkah? Kalau sudah ayo kita makan malam”. “Ya te.. ”Aliyah segera mengikuti kata kata tantenya. Dan duduk di meja makan bersama Om Tantenya. “Nak, matamu sembab. Ayah Aliyah insyaallah akan segera sembuh”, kata Om Ahmad. Aliyah hanya mangangguk. “Ini ada sup ayam plus perkedel kentang, makanan favorit Aliyah kan?”, kata Te Ahmad. Sekali lagi Aliyah hanya mengangguk.Sampai Om dan Te Ahmad selesai makan, tak sesendokpun makanan favorit itu masuk mulut Aliyah. Ini membuat Om dan Tantenya keheranan. “Adakah yang mengganggu atau mengganjal hati Aliyah?” Sekian menit berlalu, tak ada kata yang dikeluarkan dari bibirnya. Hanya air mata yang terus mengalir dari matanya yang telah memerah dan sembab.“Ada yang ingin dikatakan atau ditanyakan Aliyah?”, Om Ahmad bertanya. “Om.. Te, Aliyah anak siapa?” “Hai… ada apa denganmu?”, sahut Te Ahmad. Sambil menangis Aliyah terus bertanya. “Om dan Tante pasti tahu, Aliyah anak siapa? Tante adalah bidan, pasti tahu. Ayah Bunda punya golongan darah O, sedangkan Aliyah… golongan darah A”“Aliyah…” Te Ahmad segera mendekat memeluk Aliyah dan menenangkan Aliyah. Setelah ia mulai tenang Te Ahmad bertanya “Boleh Tante tanya?” Aliyah mengangguk. “Kapan Aliyah melakukan tes darah?” “Tadi siang waktu ayah butuh donor darah. Golongan darah bunda cocok tetapi suster tidak mengijinkan karena bunda sedang agak demam, lalu Bunda kembali ke ruang ICU. Aliyah menemui suster untuk mendonorkan darah. Kata suster, golongan darah Aliyah A. Bukankah itu tidak mungkin? Te.. apakah Aliyah anak angkat atau bayi yang tertukar?Tangis Aliyah kembali menjadi jadi. Kali ini tantenya tampak mengusap air mata. Om Ahmad terdiam dengan mata berkaca kaca. “Aliyah.. Om dan Tante akan mencari tahu. Tolong jangan menangis lagi. Tetaplah jadi Aliyah kami yang dulu”.Tiba tiba terdengar ketukan pintu rumah. “Assalamualaikum” “Waalaikumsalam”, sahut Om Ahmad. “Sore pak, kami teman teman Aliyah. Aliyah ada?”, tanya Sisca “Oh ya, ya, ada, ayo masuk”.Sementara keempat sahabat itu berada di ruang tamu, Om dan Tante Ahmad berunding sangat serius. Tampak mereka berbeda pendapat. Lalu mereka putuskan untuk ke Rumah Sakit.Ketiga teman Aliyah saling bertatap mata. Mereka sadar harus menjaga sikap dan berusaha mengerti kesedian Aliyah karena Ayahnya dirawat di Rumah Sakit. “Aliyah.. gimana kondisi Ayah?”, tanya Sisca. “Ayah masih di ruang ICU, tadi butuh transfusi darah. Aku pulang karena menurut dokter Ayah akan segera sembuh”. “Ayo kita doakan Ayah segera sembuh. Dan Bunda, Aliyah selalu diberi kesehatan dan ketabahan”, kata Husein Husein memimpin doa. “Aamiin… Aamiin Ya Rabbal Alamin”, terdengar suara mereka berempat dan juga suara Om dan Tante Ahmad. “Terima kasih doanya”. “Aliyah, teman teman, Om dan Tante keluar dulu ya… tolong temani Aliyah dulu”, kata Te Ahmad. “Iya te”, jawab Aliyah.Percakapan diantara mereka terus berlanjut. Mulai dari tugas tugas sekolah hari itu sampai dengan kejadian kejadian di kelas. Ada yang beda. Aliyah hanya sebagai pendengar. Tanpa komentar apapun hanya tersenyum hampa. Teman temannya mulai merasa ada yang beda dengan Aliyah. “Al, di RS ada beautiful nurse?”, tanya Ilham. “Hus, Ilham ada ada saja”, sahut Sisca dengan jengkel. “Ayo lah… kita hibur si Aliyah”, jawab Ilham. “Kamu sedang tidak enak badan?”, tanya Husein. “Aku baik, hanya…”, Aliyah tidak meneruskan kalimatnya. Ia mulai menangis. Diceritakannya semua kisah sedihnya di RS.Dua jam berlalu. “Assalamualaikum”, kata te Ahmad dan bunda Aliyah. “Waalaikumsalam”, sahut keempat sahabat itu. “Bunda…”, kata Aliyah dengan lemas. “Ayah ditunggu Om. Kata dokter besok Ayah akan dipindahkan ke ruang perawatan, jadi masa keritis ayah sudah berlalu”, jelas bunda Aliyah sambil berjalan mendekati Aliyah dan duduk disampingnya. “Alhamdulillah”, sahut mereka berempat. “Terima kasih ya teman teman”, kata bunda Aliyah. “Ya, sama sama bunda. Sekarang kami pulang dulu”, kata Sisca. Mereka berempat pun pulang.“Aliyah… bunda dan tante ingin bicara sebentar. Tapi tolong dengarkan cerita kami dengan hati lapang”, kata bunda Aliyah. “17 tahun yang lalu ada sepasang suami istri yang tinggal di Banjarmasin. Mereka dikaruniai 2 putri kembar yang sangat cantik dan lucu. Sementata itu di Mojoagung ada sepasang suami istri yang sudah menikah 6 tahun tetapi belum dikaruniai anak. Karena rasa persaudaraan kedua pasang suami istri itu, maka mereka putuskan untuk berbagi kebahagiaan. Satu putri kembar mereka diasuh saudaranya. Putri itu diberi nama Aliyah. Sedangkan yang tinggal di Banjarmasin dinamai Alifa”.“Maafkan kami sayangku”.Jeritan tangis dan harupun pecah diantara mereka bertiga. Mereka saling berpelukan.

Si Wibu Intovert
Teen
25 Nov 2025

Si Wibu Intovert

Alkisah, ada remaja yang bernama Ahmad. Dia sangat suka dengan anime. Setiap hari dia selalu menonton streaming anime di website tertentu dan setiap harinya dia juga selalu menonton vituber di youtube. Di sekolah dia adalah anak yang intovert.Saat di sekolah Ahmad selalu bersikap aneh. Dia selalu mencari perhatian pada teman temannya, tetapi tidak ada yang peduli dengan Ahmad. Biarpun begitu, Ahmad tetap berusaha mencari teman dekat yang mau dengannya.Pada akhirnya, Ahmad mendapatkan teman dekat yang bernama Gani. Gani merupakan salah satu teman yang bisa diajak berbincang dengan Ahmad.Di setiap sekolah, Ahmad selalu mengalamun dan berhalusinasi dengan anime yang disukainya. Sampai-sampai, ia selalu dibully karena sikapnya yang teralu aneh. Meskipun begitu, ia selalu tertawa ketika dibully.Pada suatu hari, Ahmad bercerita kepada Gani bahwa dia tidak suka perempuan. Dia ingin menikah dengan hologram yang bertampilan seperti vituber kesukaanya yaitu kanata amane.“Kamu sangat aneh sekali kawan” Kata Gani. Teman dekatnya pun sampai terheran-heran dengan sikap anehnya itu. Ahmad juga bercerita ingin menjadi raja iblis di isekai. Dia ingin mati karena dia ingin segera ke isekai. Gani pun tergeleng geleng dengan cerita Ahmad.Pada saat jam istirahat, Ahmad tiba tiba menyendiri di kelas. Dia membawa gunting yang akan digunakan untuk menusuk dadanya agar cepat mati dan bisa masuk ke isekai. Tapi untungnya, ada Gani masuk ke kelas. Gani pun teriak meminta tolong pada teman teman lainnya agar bisa mencegah Ahmad untuk bunuh diri. Akhirnya, Ahmad pun berhasil dicegah oleh teman temannya.Pada akhirnya, Ahmad pun dibawa ke guru BK agar mendapat solusi darinya.Pada saat itupun Ahmad akhirnya sadar bahwa teralu berhalusinasi itu tidaklah baik bagi dirinya maupun bagi semua orang. Ahmad juga sadar bahwa sikapnya sangatlah tidak normal. Ahmad pun akhirnya bertaubat dan berjanji tidak akan bersikap aneh lagi. Ahmad juga membatasi menonton anime dan vituber secara berlebihan.

Perpisahan
Teen
25 Nov 2025

Perpisahan

Sunyi, suasana kelas saat ini sangatlah sunyi. Semua murid fokus mendengarkan nasihat-nasihat yang wali kelas mereka sampaikan untuk mereka. 1 tahun sudah mereka lewati, sudah banyak sekali kenangan yang mereka buat di sekolah itu. Dimana ada pertemuan, pasti ada perpisahan bukan? Sama hal dengan angkatan 9 saat ini, lusa mereka akan mengadakan acara perpisahan di sekolah mereka. Mungkin sebagian besar anak-anak kelas 9 tidak mau berpisah dengan teman-temannya, tapi mau tidak mau harus kita terima kan?“Lusa, kalian akan menghadiri acara perpisahan kan?” Mendengar sang guru membahas tentang perpisahan, semua murid yang sebelumnya merasa ngantuk dan bosan langsung menatap kearah gurunya. “Iya bu, saya ga rela pisah sama temen-temen saya” Salah satu murid dari kelas itu menjawab pertanyaan sang guru dengan wajah lesu. Tidak rela katanya. Guru itu tertawa lalu menggeleng-geleng kan kepalanya. “Semua pasti tidak rela berpisah dengan teman-temannya maka dari itu, kalian buatlah kenangan-kenangan indah sebelum lusa kalian akan berpisah”Tanpa disadari, suasana kelas menjadi sedih. 3 sampai 4 murid sedang menahan air matanya. Mereka sudah terlalu nyaman dengan lingkaran pertemanan mereka saat ini, sampai-sampai mereka susah untuk menerima jika pada akhirnya mereka akan berpisah.“kringggggg” Tiba-tiba bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa sekarang waktunya untuk murid-murid beristirahat. Murid-murid kelas langsung berhamhuran keluar kelas, berbeda dengan Zey dan teman-temannya, mereka lebih memilih untuk tetap berada di dalam kelas. Mereka duduk dilantai belakang kelas membentuk huruf o.“Kita kan bentar lagi pisah nih… mau ga kita sleepover bareng guys?” Zey memulai pembicaraan dengan mengajak teman-temannya untuk sleepover. “Ih ayo-ayo, pasti seru banget!” Ide Zey disetujui oleh Reyna, temannya. “Ayo deh ayo, mau dimana emangnya Zey??” Zey berpikir, “dimana ya? Kalian pengennya dimana? Mau ngajak siapa juga nih?”Teman-teman Zey berpikir, mereka harus memilih tempat yang benar-benar bisa membuat kenangan yang begitu indah. Sisa 2 hari lagi sebelum mereka akan sibuk dengan urusannya masing-masing. “Tempatnya belakangan deh, kita pikirin siapa yang mau kita ajak dulu. Mau ga??”Masukan Zey disetujui oleh teman-temannya, “Kita ajak pacar kita aja” ucap Ryn sembari tertawa malu. “Terus nanti gue jadi nyamuk? ih males banget!” Tolak Anya karena dari semua teman-temannya, hanya dia yang belum mempunyai pacar. Gila saja, disaat dirinya ingin membuat kenangan dengan teman-temannya, mereka justru lebih asik dengan pacarnya dan tidak mengacuhkan Anya. Menyebalkan!“Kalo gitu lo ga usah ikut! Kita kan juga mau bikin kenangan sama pacar kita” Judesnya jawaban Reyna membuat Anya memutarkan bola matanya kesal. “Udah-udah jangan ribut, yang mau ajak pacarnya ajak aja. Anya ga bakal kita cuekin kok” Zey menengahi pertengkaran tersebut sembari merangkul Anya. Anya tersenyum mendengar perkataan Zey, dirinya juga membalas rangkulan temannya itu. “Bener ya? Jangan cuekin gue! Awas kalian” semua teman-teman nya mengangguk sembari tertawa setelah melihat kelakukan Anya.“Kringgggg” Bel sekolah sudah berbunyi, waktu istirahat sudah habis. Semua murid-murid masuk kembali kedalam kelasnya dan melakukan kegiatan sekolah pada umumnya.—“Psttt, Zey! Ini gue udah bikin list siapa aja yang mau kita ajak. Lo tulis disitu ya..” Zey menoleh kearah bisikan itu, ia mengambil kertas yang Reyna berikan kepadanya. “Oke na, siap” Zey menjawab juga sambil berbisik dan mengacungkan jempol untuk Reyna.Zey menyimpan kertas tersebut. Dia ingin menulis nama Ryota tetapi dia takut jika Ryota tidak ingin ikut dalam acara kecil-kecilian mereka ini. “Kira-kira Ryota mau ikut gak ya?” Ucap Zey dalam hati.“Zey, perhatikan kedepan. Jangan melamun!” Zey terkejut mendengar bentakan tersebut, dirinya segera mengangguk lalu memperhatikan guru yang sedang menjelaskan.—Dan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu Zey telah datang yaitu bunyi bel pulang, Zey yang sangat tidak sabar akan bertemu dan berbincang-bincang bersama Ryota. Mereka berdua memutuskan untuk bertemu di ruang tunggu sekolah.“Hallo taa! kamu mau ga ikut sleepover bareng aku sama temen-temen aku?” Zey menghampiri dan menyapa ryota dengan girang, dirinya juga menanyakan perihal acara kecil-kecilan dia dan teman-temannya. “Iyaa haii zey, ohh kalian mau sleepover memangnya kapan Zey?” “Besok setelah pulang sekolah ta.” “Memang kira-kira bakal sleepover dimana Zey?” Ryota tertarik dengan ajakan Zey, baginya berdua bersama Zey adalah hal terindah dimasa-masa seperti ini. “Umm, kayaknya kita mau di villa deh ta, jadi gimana kira-kira kamu mau ikut ga taa?” Zey berharap Ryota bisa ikut diacara itu. Dia ingin mempunyai sedikit kenangan sebelum mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing. “Boleh deh Zey! Nanti pulang aku minta izin sama mama yaa..” Ryota menjawab sembari mengacak-cak rambut Zey. Zey tersenyum manis mendengar jawaban Ryota. “YAAAAYY!” girang Zey didalam hati.—Malam hari zey pun telfonan dengan Ryota, mereka ngobrol sekaligus membahas tentang sleepover besok. Zey dengan senang sedang membereskan tas yang mau dibawa untuk besok. Zey terlalu asik mengobrol dengan Ryota dan akhirnya pun Zey tertidur sangat pulang.“Tet tet tet tet” Alarm pagi ini sudah berbunyi, sudah waktunya Zey bangun dan menyiapkan dirinya untuk berangkat sekolah.Pagi ini, Zey memiliki mood yang sangat amat baik. Ia tidak sabar untuk acara nanti siang, rasanya ia ingin meninggalkan sekolah dan langsung pergi ke tempat tersebut.Sesampainya Zey di sekolah, ia menyapa semua murid dan semua guru dan karyawan sekolah tersebut. Aneh bagi mereka, biasanya Zey hanya tersenyum jika berpas-pas dengan mereka tetapi kali ini, Zey menyapa sambil tersenyum manis. “Selamat pagi guys! Semangat belajarnya hari ini” Zey menyapa anak-anak yang sedang berada di kelasnya, Zey menghampiri Anya lalu tersenyum dan merangkul dia. “Ih, lo kenapa Zey? Tumben banget!” Anya terkejut melihat tingkah Zey yang sangat berbeda hari ini. Seperti bukan Zey, pikir Anya.—“Kringggg” Ini dia bel yang Zey sangat tunggu-tunggu, bel pulang sekolah. Sekarang sudah waktunya untuk pulang, Zey bersama teman-temannya berkumpul diruang tunggu untuk menunggu supir Zey datang. Ada 6 orang yang akan menghadiri acara kecil-kecilan itu antara lain Zey, Anya, Reyna, Ryota, dan Nendra (pacar Reyna). Pasti akan sangat menyenangkan bukan??Setelah satu setengah jam di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di villa tersebut, villanya terlihat sangat besar dan mewah dan mereka pun langsung tak sabar untuk berenang…—Selesai berenang, mereka pun mandi satu persatu lalu berkumpul di ruang makan, mereka yang terlihat sangat kelaparan dan mereka pada akhirnya bersama-sama menyantap makanan yang sudah disediakan oleh pemilik villa tersebut. Hari pun sudah semakin malam, selesai makan mereka lanjut berkumpul di ruang tv, karena mereka merasa bosan, mereka memutuskan untuk bermain truth or dare.“Nah sekarang gantian Zey” Botol yang diputar berhenti tepat didepan Zey, Zey tersenyum kikuk lalu menghela napasnya. “Truth or dare Zey?” “Umm, aku truth deh!” “Nah Zey, kita kan sudah lama bersahabat nih, tapi aku masih penasaran cerita awal kamu bisa pacaran sama Ryota” Pertanyaan dari Awra membuat Ryota yang berada disamping kanan Zey tersenyum tipis. “Iya-iya, yaudah aku ceritain yaa.” “Jadii awalnya salah satu teman kita ada yang buat grup di whatsapp, di grup itu kita berdua dimasukin, tapi aku sama Ryota cuman sekedar sadar kalo kita saling ada disitu dan saat itu kita ga pernah ngobrol ataupun yang lainnya, disitu kita juga masih ikut pembelajaran jarak jauh jadi kita ga terlalu kenal. Suatu hari sekolah menyuruh kita untuk datang ke sekolah karena ada pemotretan untuk membuat kartu pelajar, setelah kita foto, disitu aku pengen banget ngobrol sama Ryota, tapi aku malu dan takut untuk memulainya dan akhirnya aku beraniin diri untuk ajak Ryota foto berdua, dan disitu setiap hari aku mulai chatan dengan Ryota. Setiap hari aku selalu nyari cara untuk mulai chat Ryota dan di satu hari ini, aku coba untuk ajak Ryota zoom sama temen-temen yang lain, akhirnya seiring berjalannya waktu aku udah mulai ada rasa sama Ryota, dan kayaknya Ryota pun juga. Akhirnya kita mulai ikut pembelajaran tatap muka dan aku sama Ryota jadi lebih dekat dan sering ngobrol. Setiap malam sabtu kita juga sering zoom bareng, setiap malam jadi sering telfonan, dan akhirnya suatu hari Ryota bilang mau ngomong sesuatu berdua, akhirnya aku sama Ryota masuk ke kelas berdua, dan duduk di lantai, Ryota tiba-tiba ngomong “kita kan udah deket Zey, kamu mau ga jadi pacar aku” disitu hati aku berdebar sangat kencang, aku takut banget untuk menjawabnya, tapi akhirnya aku bilang “ya, boleh.. jadi kita pacaran nih?” Ryota pun langsung jawab “iya” setelah itu kita jadi lebih mengenal satu sama lain, dibulan ketiga atau keempat kita sudah saling kenal keluarga masing-masing, Ryota yang dulunya ga bisa telfonan sampai malam, sekarang Ryota selalu tidur sambil telfonan..”“Yaa, kirakira gitu deh Awra, cerita aku sama Ryota bisa bareng.” Zey tersenyum malu setelah menceritakan pertemuan pertama dirinya dengan Ryota. “Lo berdua gemes banget dah ta” Nendra memukul pelan lengan Ryota dan dibalas anggukan kecil oleh Ryota.“Kalian udah berapa bulan bareng si?” Pertanyaan Anya membuat Ryota menoleh kearahnya. “Aku sama Zey bulan ini sudah 7 bulan..” Ryota menjawab sembari merangkul Zey. Gemasnya hubungan mereka. “Wah lama juga ya kalian.. keren deh.” Reyna kagum dengan kedua teman nya ini.“Oh iya udah jam berapa ini, daritadi kita keasikan main aja nih sampe udah lupa jam..” Ucap Reyna setelah mengecek jam tangannya. “Eh iya yaaa, udah jam 12 guys, tidur yukk..” Ujar Zey. “Night semua!”—Suara burung bernyanyi pada pagi hari membuat Zey terbangun. Sekarang sudah jam enam pagi, sudah saatnya mereka bangun untuk menikmati suasana sejuk pagi hari ini. Mereka juga harus membereskan pakaian-pakaian mereka karena hari ini mereka akan pulang.“Guys, ayo bangun!” Zey keluar lalu membangunkan teman-temannya sembsri mengetok satu persatu pintu kamar mereka. “Iya Zey iya, 5 menit lagi” “Dasar bocah” Zey tertawa melihat tingkah teman-temannya itu, seperti anak kecil saja.“Zey?” Zey menoleh kesuara tersebut, ternyata suara tersebut adalah suara Ryota, pacarnya. “Pagi taa! Ada apa?” Zey menghampiri Ryota yang berada didepan pintu rumah. “Kita keliling yuk, sebelum kita pulang. Ada yang mau aku bicarain juga” Ujar Ryota sembari tersenyum tipis. Zey mengangguk lalu menggandeng Ryota. “Ayo”

Hujan dan Cinta
Teen
25 Nov 2025

Hujan dan Cinta

Malam ini hujan turun sangat deras. Karena hujan aku memutuskan untuk melihat drama kesukaanku. Disaat tengah menonton aku merasa sangat lapar. “Duh lapar banget?”.Karena lapar aku memutuskan untuk ke dapur membuat mie. Saat sampai di dapur ternyata persediaan mie dan camilan lainnya sudah habis. Dan aku memutuskan untuk membeli mie dan makanan lainnya di supermarket dekat rumah. Karena berhubung tidak ada orang di rumah aku mengunci rumah. Aku memutuskan berjalan kaki karena supermarket itu berada didekat rumah.Saat melewati gang dekat rumahku aku merasa ada yang mengikutiku tetapi saat aku menoleh tidak ada orang dibelakangku. Aku mempercepat langkah kakiku dan suara langkah kaki itu juga kian semakin cepat. Dan saat aku berada di ujung gang. Aku dicegat oleh beberapa pereman“Mau kemana gadis manis,” Ucap salah satu preman. “Mari biar saya antar,” ucap salah satu preman lainnya. “Tidak perlu,” ucapku.Para preman itu menarik tanganku. Aku berusaha memberontak tetapi tenagaku kalah kuat dengan para preman itu. Payung yang kupegang juga sudah hilang entah kemana. Saat para preman itu menarik tanganku tiba tiba suara seseorang mengalihkan pandangan mereka.“Lepaskan gadis itu,” ucap pria. “Apa urusanmu nak,” ucap preman. “Lepaskan gadis itu,” ucap peria itu lagi.Salah satu preman itu tiba tiba menyerang pria tesebut. Tapi dengan gesit pria itu mengalahkan preman tersebut. Preman lainnya juga mulai menyerang pria tersebut. Tapi dengan gesit ia mengalahkan mereka semua. Ditengah hujan pria itu melawan semua preman itu walaupun ia mendapat beberapa pukulan. Saat ini aku tengah bersembunyi dibalik pohon besar. Saat pertarungan selesai ia menghampiriku“Lo tidak apa apa??” ucap pria itu. “Gue tidak apa apa, tapi lo terluka,” jawabku. “Tidakpapa gue udah biasa,” jawab pria itu.Saat sedang berbincang tiba tiba aku melihat ada 2 orang dibelakangnya. Lalu aku berkata “Awas dibelakangmu,” ucapku. Dengan cepat dia menoleh kebelakang dan Bugh “Aduh,” rintih seseorang“Lo gakpapa kan Fa,” ucap salah satu orang itu. “Duh bos ngapain pukul si Rafa,” ucap orang itu lagi. “Sorry, gue kira lo tadi preman,” ucap pria itu. “Lo gakpapa kan Fa??” ucap pria itu sambil membantu orang yang dipukulnya tadi “Gakpapa,” ucap orang yang terjatuh itu.“Lo siapa??” ucap salah satu orang itu. “Dia temen gue,” ucap pria tadi sambil menceritakan kejadian tadi. “Ooo” ucap salah seorang tadi.“Kenalin gue Rafael Dirgantara bisa dipanggil Rafa,” ucap orang yang terjatuh tadi sambil menjabat tanganku. “Iya kak, salam kenal Atasya Putri biasa dipanggil tasya,” ucapku. “Kenalin gue Samuel Alexsandra biasa dipanggil Alex” ucap salah seorang lainnya. “Iya salam kenal” ucapku. “Kenalin gue Marvel Alexsa Dirgantara serah lo mau panggil gue apa,” ucap pria yang tadi menolongku. “Iya, aku panggil kak marvin aja boleh,” ucapku. “Hm,” ucap Marvel. “Pakai kata kamu aku aja jangan gue lo biar lebih akrab,” ucap Marvel. “Iya,” ucap Marvel. “Sepertinya Tasya bakalan jadi buketu deh,” ucap Rafael.“Kamu mau kemana??” ucap Marvel. “Mau ke supermarket,” ucapku. “Mau beli apa emangnya?” ucap Marvel. “Beli mie dan stok makanan lainnya,” ucapku. “Biar kuantar,” ucap Marvel. “Gak perlu kak,” ucapku. “Kuantar tidak ada penolakan,” ucap Marvel. “Baiklah,” ucapku.Kemudian aku pergi ke supermarket dengan diantar oleh kak Marvel. Setelah sampai di supermarket aku pergi membeli mie dan stok makanan lainnya. Setelah sampai di kasir aku beru ingat dompetku ketinggalan di rumah. Aku berinisiatif meminjam uang dari kak Marvel.Aku pun berkata “Kak boleh pinjam uang?” ucapku. “Soalnya uangku ketinggalan di rumah,” ucapku lagi. “Boleh,” ucap Marvel. Kemudian Marvel mengeluarkan kartu hitam atau lebih dikenal dengan blackcard dari dompetnya. “Kak kakak punya kartu itu kak, apa namanya?” ucapku. “Blackcard, kamu mau ambil aja aku masih pinya 2 kok di rumah,” ucap Marvel. “BENERAN KAK,” ucapku semangat. “Iya,” ucap Marvel.Setelah kejadian itu hubunganku dan Kak Marvel semakin dekat dan aku baru tahu kalau dia adalah ketua diamond geng. Kak Marvel pun juga sudah kenal dekat dengan bunda dan ayahku. Aku dan kak marvel pun sudah jadi seorang kekasih.Hari ini kak Marvel menjemputku untuk pergi jalan jalan. “Pagi bunda, ayah,” ucap marvel kepada ayah dan bunda. “Pagi nak Marvel, mau jemput Tasya ya??” ucap bunda. “Iya Bun,” ucap Marvel. “Oh ya bun aku mau membuat kejutan buat Tasya dengan pura pura punya selingkuhan sebelum melamarnya boleh kan bun,” ucap Marvel. “Bunda sih terserah nak Marvel aja,” ucap bunda.Aku pun akhirnya turun dengan menggunakan gaun pendek bergambar bunga bunga. “Pagi kak, pagi bunda pagi ayah,” ucapku. “Bunda, Ayah Tasya pergi dengan kak Marveol dulu ya,” ucapku. “IYA,” ucap bunda sedikit teriak karena berada di dapur.Aku pun pergi dengan kak marvel ke mall. Saat di mall aku dan kak marvel pergi makan ke pizza hot. Dan saat makan kak marvel ijin ke kemar mandi. Aku pun mengizinkannya. Tetapi saat sedang enak enaknya makan aku melihat kak Marvel dengan wanita lain diluar, kalau hanya mengobrol aku sih gakpapa aja tapi mereka berpelukan dan itu membuatku marah.Aku pun menghampiri mereka dan berkata. “KAK APA MAKSUD KAKAK BERPELUKAN DENGAN WANITA INI DI HADAPANKU,” ucapku dengan marah dan sedikit berteriak. “Aku bisa jelaskan semuanya,” ucap Marvel sambil menahan tanganku. “Apa yang mau dijelaskan semuanya sudah jelas,” ucapku. “ini semua gak seperti yang kamu pikirkan,” ucap Marvel. Aku pun tidak menghiraukan kata katanya dan pergi begitu saja. Dan pergi pulang ke rumahDi Rumah Saat sampai di rumah aku menangis sejadi jadinya di dalam kamar. Tidak mau makan atau pun minum. Karena khawatir bunda memenggil Marvel untuk membantu membujukku. Karena berisik aku pun membukakan pintu kamar dan saat aku membuka pintu ternyata kak Marvel di depan pintu dengan membawa bunga dan sebuah cincin. Saat melihat itu aku berkata “Apa mau kakak?” ucapku. “Aku melamar kamu,” ucap Marvel. “Kamu terima kan, yang tadi siang itu kakakku dari jerman,” ucap Marvin. “Iya,” ucapku.Pada akhirnya aku menerima lamaran dari kak Marvel dan kami melaksanakan pernikahan beberapa minggu kemudian. Setelah itu kami pindah ke jerman dan dikaruniai 2 anak kembar.Terkadang cinta bisa datang kapan dan dimana saja.

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 25 dari 35
Menampilkan 24 cerita