Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Bagaimanakah Masa Depanku?
Hai, namaku Laura. Aku seorang gadis berumur 16 tahun. Aku mempunyai adik yang berumur 7 tahun, namanya Maura. Sejak orangtuaku meninggal 5 bulan yang lalu, hidupku berubah. Aku harus bisa menafkahi adik kecilku ini.5 bulan yang lalu sebelum orangtuaku meninggal, orangtuaku pergi menjalankan bisnis ke luar kota. Bisnis orangtuaku berjalan lancar, hingga akhirnya musuh ayahku iri dan berniat untuk menyingkirkan ayahku.Suatu malam pada hari Sabtu, kedua orangtuaku akan pulang dari luar kota. Tiba-tiba sebuah truk dari lawan arah melaju sangat kencang dan menabrak mobil orangtuaku. Kedua orangtuaku meninggal di tempat. Tak disangka, supir truk itu adalah suruhan musuh bisnis ayahku. Hingga akhirnya malam minggu adalah waktu terburuk dalam hidupku.5 bulan setelah itu, banyak rentenir mendatangi rumah orangtuaku. Hutang orangtuaku dimana mana. Aku harus bersekolah dan harus mencari nafkah juga. Tetapi aku tidak diterima kerja dimana mana, karna usiaku masih 16 tahun. Pada akhirnya aku memutuskan untuk berjualan kue, karna aku juga suka memasak.Hingga suatu hari, adik kecilku Maura ulang tahun. Ia meminta sebuah kue dan ice cream. Tetapi uang hasil jualan kue tidak begitu cukup, karna aku harus membayar uang kos dan melunasi sisa hutang orangtuaku. Aku memutuskan untuk membuat kue ulang tahun adikku sendiri. Bersyukur sekali, adikku sangat suka dengan kue buatanku.Sebulan usaha kue ku berjalan, HANA, seorang gadis cantik dan populer di sekolahku tidak menyukaiku. Karna Ardhan, lelaki yang ia sukai dekat denganku. Hingga pada akhirnya Hana memfitnahku, bahwa aku menggunakan bahan kadaluarsa di kue buatanku. Karna dia populer, banyak siswa yang mempercayainya. Pada akhirnya, tidak ada yang ingin membeli kueku lagi.Aku berhenti berjualan seminggu. Teringat adikku yang harus kunafkahi, aku berusaha bangkit lagi. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar segera ditemukan jalan keluar. Andra, dia membantuku mempromosikan kembali kueku, ia juga membantuku untuk menjelaskan ke teman temanku bahwa kueku tidak berbahaya. Alhamdulillah, kueku mulai laku kembali. Itu semua berkat doaku dan dukungan Andra.Itu adalah ceritaku 3 tahun yang lalu, sekarang sudah lulus SMA. Aku tidak melanjutkan kuliah. Tetapi di umurku yang 19 tahun ini aku bisa mendirikan sebuah toko kue. Itu adalah balasan dari doa doaku selama ini. Tidak lupa dengan bantuan Andra. Dia sekarang adalah kekasihku.Adikku sekarang berusia 10 tahun. Aku sangat senang karna ia tidak harus putus sekolah.Itulah perjalanan hidupku, aku sangat bersyukur bisa di titik sebahagia ini sekarang. Aku sudah tidak merasakan kelaparan lagi.Pesan dariku, jangan pernah menyerah. Jika ingin mencapai sebuah keberhasilan, Jangan pernah ragu untuk bekerja keras dan berdoa kepada Tuhanmu, karna Tuhan selalu di sisimu.
Fav Human
Di tahun 2020 Aku berkenalan dengan seorang laki laki yang bernama abi maulana. Dia berkulit putih tinggi dan kurus. Badannya sangat idaman tinggi kurus dan rada berisi dadanya lebar sepertinya dia cocok kalau jadi anggota militer. wanita mana yang tidak kagum melihat lelaki seperti dia.Aku berkenalan dengan dia hanya sebatas saling menyimpan nomor Whatsaap saja. Namun dengan berjalannya waktu aku semakin akrab dengan dia. Setiap hari kita selalu chatingan menananyakan kabar atau sekedar bercandaan biasa. Setiap hari kita saling bertukar cerita tentang aktivitas yang kita jalani. Oh iya aku dengan dia selisih 3 tahun dia duduk di bangku kelas 2 SMK sedangkan aku duduk di bangku kelas 3 SMP.Dia pribadi yang baik royal dan sangat dewasa, sikap yang sangat aku sukai didalam dirinya adalah dewasa. Dia selalu sabar menghadapiku tapi dia adalah manusia yang sangat keras kepala dan sangat egois, dia selalu mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain, merasa dirinya paling benar tanpa introspeksi diri. Tapi tidak apa apa sikapnya yang egois tidak membuatku menjauhi dirinya justru aku semakin memahami sikap dia dan berusaha memahami sifatnya. Disaat aku melakukan kesalahan dia selalu mengarahkanku selalu menasihatiku dengan perkataan yang sangat lemah lembut.Tapi terkadang dia dengan tidak sengaja melontarkan kata kata kasar itu yang membuatku agak kesal kepadanya, Tapi dia selalu meminta maaf dan tentunya aku selalu memaafkan kesalahan yang dilakukannya karena aku adalah seorang manusia yang pemaaf wkwk.Dia selalu tidak percaya diri dengan dirinya sendiri selalu menganggapnya tidak pantas untuk siapapun. Namun aku selalu berbicara kepadanya agar tidak selalu insecure. Tapi dia selalu saja begitu seperti tidak mempunyai kelebihan dan selalu merasa kurang. Ya, manusia memang begitu tidak bersyukur dan merasa cukup atas pemberian dari Tuhan yang maha esa.Hewan favorit dia adalah kucing. Dia sangat menyukai kucing sampai sampai dia mengadopsi anak kucing berwarna putih yang sangat mungil dan lucuuu. Kalau chatingan dia selalu bercerita kucingnya yang sangat lucu itu, sepulang dari sekolah dia selalu bermain dengan kucingnya.Suatu saat aku kepikiran kalau memberi nama kucingnya itu. “oh iya aku punya ide, bagaimana kucingmu itu dikasih nama?” ucapku “boleh juga tapi aku bingung harus memberi dia nama siapa” ucap dia “gimana kalau kita kasih nama tobby cocok dengan kucingmu yang sangat menggemaskan itu?” ucapku “emm tobby? Aku kurang suka, gimana kalau namanya dinot gembull” ucap dia “ih kok dinot kaya namakuu, aku ga sukaa” ucapku “baguss loo, kan kucingku kaya dirimu ndutt hahah” ucap dia Dia selalu mengejekku tapi itu hanya bercandaan saja dan aku juga tidak membawa ke hati.Di suatu hari dia bercerita kepadaku. “din aku mau bercerita” ucap dia “boleh saja, kamu mau bercerita apa?” ucapku “kamu nanya? Kamu bertanya tanya aku mau cerita apa” ucap dia “isshh sudahh ayo mau bercerita apa” ucapku sedikit kesal karna dia selalu terus bercanda “haha iya maaf deh, oh iya aku diterima pkl di komnas ham jakpus” ucap dia “wahh baguss dongg” ucapku sangat senang karna dia diterima pkl “tapi kayaknya aku tolak soalnya tidak ada teman, temanku diterima di pangandaran sedangkan aku jauh banget di jakarta, lagian juga biaya hidup disana mahal” ucap dia “aduh sayang banget ga diterima, tapi iya juga sih ga mungkin juga kamu disana sendirian, disana kota besar sedangkan kamu kesana untuk pkl” ucap diaTapi aku merasa aku dan dia terlalu dekat sampai sampai aku menganggap dia lebih dari teman, aku sedikit mempunyai rasa lebih kepadanya. Aku dan dia terjebak hubungan tanpa status atau bisa dibilang frindzone, Aku sempat berniatan untuk menjauhinya tapi disisi lain aku tidak bisa kalau tidak ada dia. karena aku juga kalau butuh apa apa selalu dia yang pertama kudatangi, jadi semisal aku dan dia lost contact aku tidak tahu aku sanggup atau tidak.Tetapi hukum alam menyatakan people come and go setiap ada kata selamat datang pasti ada kata selamat tinggal. Yang artinya orang yang datang kehidupan kita pasti dia juga akan meninggalkan kita. Mungkin itu bukan sekarang tapi itu pasti terjadi didalam kehidupan kita semua.Setiap orang yang datang dalam kehidupan pasti membawa suasana sedih dan senang, jikalau dia datang di kehidupan kita hanya untuk menbuat kita sedih dan menangis mungkin itu sebuah pelajaran untuk kedepannya agar bisa lebih dewasa lagi. jikalau sebaliknya dia datang di kehidupan kita membawa suasana senang mungkin dia adalah orang yang tepat. Tapi pernah ga si kamu dapat orang yang tepat? Tidak pernah ya? Haha sama aku juga begitu. Tetapi kita tidak perlu sedih suatu saat nanti pasti kita akan mendapatkan manusia yang baik. Aku berjanji kepada diriku sendiri jika aku mendapatkan seseorang yang kuinginkan aku akan memperlakukan dia sebaik mungkin.Tapi aku pernah memikirkan semisal aku dengannya berpacaran itu membuat hubungan pertemanan kita rusak. Karena kita juga akan mengalami fase hubungan itu tidak bisa dilanjutkan lagi, Dan kita akan kembali seperti orang yang asing. Aku merasa jika dia tidak hadir di kehidupanku pasti hidupku flat kosong kesepian dan tidak ada teman untuk bercerita. Im very lucky to kow you
Pertemuan Tanpa Sengaja
Di suatu hari minggu aku melihat temanku bermain sepak bola di lapangan Myro. Aku ditemani bersama Ayra saat melihat pertandingan itu. Sesampainya di lapangan aku dan Ayra mencari tempat duduk di sebelah lapangan, tidak lama dari itu pertandingan pun dimulai.Disaat pertandingan pertama dimulai aku dan Ayra melihatnya dan sempat membuat video bersama. Tetapi tidak lama kemudian pertandingan yang pertama pun sudah selesai, aku dan Ayra sempat dihampiri oleh temanku sebentar sebelum pertandingan yang kedua dimulai, temanku menghampiriku untuk mengajakku ke tempat dimana dia dan teman yang lain berkumpul.Tidak lama kemudian temanku dan teman temannya yang lain dipanggil pelatihnya agar kembali kumpul di lapangan, karena sebelum pertandingan dimulai semuanya harus cukup dibriefing dulu.Beberapa menit kemudian temanku melanjutkan pertandingan yang kedua. Aku dan Ayra kembali ke tempat duduk yang awal tetapi kita kurang cepat untuk kembali ke tempat duduk yang tadi jadinya tempat duduknya diduduki oleh orang lain dulu. Aku dan Ayra pergi ke warung yang ada di sebelah lapangan Myro. Aku membeli minuman es di warung itu sambil melihat pertandingan sepak bola yang sudah dimulai.Disaat pertengahan pertandingan aku dihampiri seorang anak laki-laki dari club sepak bola lain. Dia mengajakku untuk berkenalan dan meminta nama sosial mediaku.“Hallo kak boleh kenalan nggak,”. “Nama kamu siapa?” Kata seorang laki laki itu yang tiba tiba berada ada di sampingku. “Eh halo juga boleh, namaku Kyra,” . “Nama kamu siapa, maaf,” jawabku. “Nama ku Firman,”. “Boleh minta nama instragammu,” kata seorang laki laki itu. “Mau buat apa instragamku Firman,” jawabku. “Gak papa, Cuma mau kenal lebih deket aja,” kata Firman. “Boleh nggak Kyra,” kata Firman. Aku pun memberi tahu nama instragamku “Okeh makasih ya Kyra, nanti aku dm habis pulang dari sini,” Firman. “Iya dm aja nanti,” kataku.Aku, Ayra, dan Firman melihat pertandingan itu bersama di warung itu. Aku dan Firman berbicara yang random, waktu itu sama sama masih merasa canggung untuk saling berbicara.Tidak lama kemudian waktu pertandingan temanku pun selesai. Aku dan Ayra berpamitan untuk pulang duluan ke temanku & Firman. Aku mengantarkan Ayra pulang dahulu…Sesudah mengantarkan Ayra pulang aku pun segera pulang ke rumah juga. Sesampainya di rumah aku scrool tik tok, tetapi tidak lama kemudian aku ketiduran dan hpku terus menyala.Saat sore hari sekitar jam setengah 5 aku pun bangun tidur dan mengecek hp. Aku membaca notif instragam ternyata ada chat dm dari Firman. Aku pun merespon chatnya, setiap hari aku chatan di dm bersama Firman.Beberapa bulan kemudian… Firman mengajakku ketemu di suatu tempat. Awalnya aku dan Firman berbicara yang ada dan tidak lama kemudian Firman menyatakan perasaannya. Disitu aku sempat bingung mau jawab apa, tetapi dia meyakinkanku agar bisa menerimanya. Aku sudah cukup lama mengenalnya dan sudah tau sikap-sikap dia seperti dia, dia juga cukup banyak bercerita tentang keluarganya.Di saat itu pikiranku sudah cukup matang, dan menerima perasaan dia. Betapa bahagianya dia saat itu, saking bahagianya sampai-sampai dia tidak sengaja untuk memelukku.Sesudah dari tempat itu aku diajak Firman ke rumahnya untuk bertemu keluarganya lagi, sesampainya di rumahnya Firman aku dikenalkan lagi ke keluarganya tetapi dengan status sebagai pacar Firman bukan lagi teman.“Assalamualaikum bunda,”. “Tebak aku sama siapa ke sini” ucap Firman saat di depan pintu rumah nya. “Waalaikumsalam sebentarr,”. “Sama siapa kamu kak,” jawab bunda sambil membuka kan pintu rumah. “Kenalin bunda ini ada Kyra, ini pacarnya Firman” jawab Firman. “Loh udah pacaran aja kalian berdua, sini sini ayo masuk ke dalam,”.“Sejak kapan kalian mulai hubungan ini,” tanya bunda. “Baru ini tadi bunda, akhirnya dari sekian lama menunggu sekarang dapat juga ya bunda,” jawab Firman sambil tertawa. “Wah ada yang lagi seneng nihh, bismilah ya hubungannya semoga baik baik aja,”. “Semoga juga hubungan kalian langgeng terus sampai nanti kedepannya,”. “Nanti kalau Firman nakal kamu bilang bunda aja ya Kyra,” ucap bunda Firman. “Iyaa bundaa siap, makasi ya bunda udah mendoakan yang baik baik hihi,” jawabku.Dia lelaki yang sangat sederhana, selalu membuatku tertawa dengan cara tersendiri, aku suka dengan sikap dia yang selalu menghargai perasaan perempuan, dia tidak pernah membentak saat marah kepadaku, dia selalu mengatakan secara halus dan menasehatiku secara perlahan, dia suka melarangku ini itu yang katanya ini demi kebaikanmu juga. Keluarganya pun sangat baik dan seru, dari sekian aku merasakan yang tidak baik alhamdulilah sekarang sudah mendapatkan yang sangat baik, keluarganya juga pun mendukung.
Tak Ingin Usai
Saat aku tidak pernah ingin mencintai seseorang lagi hanya sebuah traumaku di masalalu, seorang cowok datang kepadaku. Pada waktu kelas 8 tepat pada bulan Februari cowok itu mengirimkan sebuah pesan kepadaku.“P, save” “Siapa?” jawabku. “Anak spejija” “Save yaa” “Iyaa, namamu siapa?” “Nathan”Pesan singkat itu kemudian dia memberi tahu tentang identitasnya. Aku pun lama-lama mengenalnya. Dia ternyata adalah teman sekelas waktu kelas 7. Dia mulai mencari topik lagi untuk melanjutkan pesannya dengan bertanya-tanya. Disaat dia terus mengirim pesan kepadaku aku mencoba menjawabnya cuek dan slowrespon. Lalu dia bertanya dan mengajakku memainkan game.“Kamu main game apa?” tanya Nathan. “ML, kenapa?” jawabku. “Ayo kita main bareng, mau ngga? “Boleh” jawabku.Setelah itu dia mengatakan kepadaku, sebenarnya dia suruh temannya untuk mengungkapkan perasaannya kepadaku. Tapi temannya tidak berani mengungkapkannya.“Temanku ada yang suka sama kamu” ucapnya. “Biarin” jawabku tidak peduli.Kemudian dia mengirimkankan bukti pesan temannya kalau memang temannya suka sama aku. Aku pun tidak mempedulikan itu semua, dan juga tidak bertanya temannya itu siapa. Lalu kita tidak membicarakan tentang temannya lagi dan Nathan beralih topik. Topiknya hari-hari sangat tidak jelas dengan pertanyaannya itu.Aku dan Natan mulai dekat. Tidak menyangka 1 bulan dekat dengannya, dia mengajakku berpacaran. “Kamu mau nggak jadi pacarku?” tanya Nathan dengan gugup. “Apa pacaran itu?” jawabku sambil bercanda. “Nggak” jawabnya sangat singkat.Sepertinya dia mulai kecewa denganku. Aku sudah mengatakan kalau itu bercanda tapi dia juga tetap tidak mempedulikan lagi dan pesannya tetap singkat. Aku merasa bersalah dengan candaanku itu. Pada saat itu aku memang belum mempunyai perasaan kepadanya dan tidak ada niatan membuka hati lagi. Dan aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena aku takut melukai hatinya. Disitulah pertengkaran mulai muncul, dia memintaku memblokir whatsappnya.“Blokir aja, itu solusinya” ucapnya seperti marah. “Blokir whatsappku aja gapapa” jawabku. “Nggak bisa, makin kepikiran kamu terus” jawabnya. “Kamu nggak bisa diajak bercanda sih, maksudku itu jangan kamu anggap serius” “Aku serius ini tapi kamu justru bercanda” ucap Nathan kesal. “Iyaa deh emang salahku”Pertengkaran itu sudah berakhir. Beberapa menit kemudian kita kembali bertengkar lagi. Dan dia bertanya tentang perasaanku kepadanya. “Aku mau bertanya serius, tapi kamu jawab jujur ya” ucapnya. “Iya tanya apa?” “Kamu sebenarnya punya perasaan nggak sama aku?” tanya Nathan. Pertanyaannya membuatku bingung menjawab apa.“Aku nggak tahu” jawabku seadanya. “Kalau kamu punya ya aku nggak marah justru makin senang aku” “Sudah aku bilang aku nggak tahuu!” jawabku sambil kesal dengan pertanyaannya itu. “Kalau emang justru kebalikannya kamu nggak suka sama aku, biar aku nggak berharap” ucapnya. “Udah jangan tanya terus, nanti kamu tahu sendiri” jawabku mencoba mengalihkan pertanyaannya.Nathan terus mempertanyakan pertanyaannya itu sampai aku jujur kepadanya dan dia memintaku memberikan kepastian. “Aku butuh kepastianmu biar nggak berharap terus” ucapnya. “nggak punya kepastian” “Aku Cuma butuh kepastianmu cukup itu aja, kalau emang iya ya iya kalau nggak ya nggak” “Nggak tahu” Jawabanku itu membuatnya semakin terus-menerus bertanya kepadaku.Dengan percaya dirinya dia mengatakan kalau aku punya perasaan sama dia. “Kamu punya perasaan yaa sama aku” “Dih kamu jangan ke PD an dehh” jawabku. “Yaa begini jadi anak kejujuran, jadi terlalu berharap yang nggak diharapkan” ucapnya kecewa. “Maaf yaa kalau aku sudah suka sama kamu, ternyata sakit berharap juga tidak mungkin lagi” “Ya sudah kalau emang begitu, aku minta maaf juga” jawabku tidak bisa berkata-kata lagi. “Kamu itu bilang dari dulu kalau emang nggak punya perasaan, sekarang aku sudah tau kalau kamu benar-benar nggak punya perasaan” ucapnya. “Kamu juga sih berharap berlebihan, kan gini jadi berantakan semuanya” jawabku.Lalu Natan memintaku memblokir nomor whatsappnya lagi untuk kedua kalinya agar bisa menghilangkan perasaannya kepadaku. Aku pun mencoba untuk memenuhi permintaannya itu. “Aku minta tolong kamu blokir WA ku yaa supaya bisa hilang perasaanku ke kamu, kalau aku yang blokir justru nggak bisa” ucapnya. “Oke kalau itu mau kamu, maaf banget ya” Keinginannya itu membuat terakhir aku dan Nathan berhenti berkomunikasi.Beberapa hari aku mendapat pesan dari seorang cowok. “P” “Siapa?” “Jakky” Aku mulai curiga itu sebenarnya temannya Nathan tapi aku berpura-pura tidak tahu. Kemudian dia sok asik kepadaku.“Kok cuek sih, ada masalah?” tanya Jakky. “Mungkin kalau emang ada masalah sama crushmu atau sama siapa gitu jangan langsung diblokir” “Apaan sih nggak jelas banget” jawabku. “Aku cuma bantu saja, katanya teman-teman kamu asik kalau dichatt” “Kok sekarang tumben cuek” ucapnya.Saat itu aku tidak lagi merespon pesannya itu dan dia mengirimkankan sebuah pesan lagi kepadaku. “Kamu login ML sebentar, penting” ucapnya. “Nggak mau!”Tiba-tiba dia membicarakan tentang Nathan disitulah curigaanku ternyata benar. “Blokiran Nathan nggak kamu buka?” tanya Jakky. “Nggak, emang itu maunya” “Masa nggak ada inisiatif buka blokirannya gitu?” “GK” jawabku cuek dan singkat. “Emangnya kamu nggak ada perasaan lagi?” “Udah kamu nggak usah ikut campur masalahku sama Nathan” jawabku disitu sambil emosi.Lalu dia sedikit-dikit mulai jujur tentang sebenarnya yang terjadi. “Gini-gini, jadi aku bicara semua itu disuruh Nathan aku nggak bermaksud ikut campur kok” ucapnya. “Maaf ya kalau kamu kesal, maaf banget ya” “Iya gapapa aku sudah tahu semua, jangan mau lagi disuruh sama Nathan” Dia juga mengatakan bahwa dia bukan Jakky melainkan Aza. “Oh iya, namaku Aza bukan Jakky itu nama samaran buat alasan aja” ucapnya. Nathan terus menyuruh Aza agar bisa dibuka blokirannya lagi. Aku sudah merasa bosan dengan pertanyaannya Nathan yang dikirim lewat Aza itu.1 minggu aku baru membuka blokiran Nathan. Setelah itu Nathan mengirimkan pesan kepadaku lagi dengan rasa tidak malu dengan permintaannya waktu itu.“Haloo” “Apa?” “Masih marah?” “Nggak” “Yang bener, nggak bagus loh marah terus nanti cantiknya hilang” ucapnya sambil basa-basi. “Terus aku harus gimana ini?”Nathan membujukku agar aku tidak marah dengan mengajakku memainkan game dan aku pun menolaknya. Lalu dia bertanya tentang Aza kepadaku. “Kamu tadi dichat apa aja sama Aza?” ucapnya. “Kepo banget sih kamu” “Iyalah” “Nggak usah kepo deh!”Saat masalahku sama Nathan, aku dan Aza masih berkomunikasi. Terkadang isi pesannya itu selalu menceritakan Nathan. Lalu Aza tiba-tiba menanyakan sesuatu kepadaku tentang Instagramku. “Ini Ig mu?” “Iyaa, kok tahu?” “Ini dapat dari rekomendasi, follback yaa” Disitu terakhir aku dan Aza sudah tidak lagi berkomunikasi.Nathan terus mengirimkan pesan kepadaku dan selalu bertanya tentang Aza. “Aza masih ngechatting kamu?” tanya Nathan. “Nggak” “Beneran?” “Coba tanya Aza sendiri sana” “Ngapain tanya Aza, Aza kalau aku tanya nggak pernah ngaku” “Terus kenapa emang kalau Aza ngechatting aku?” “Nggak boleh aslinya, ya tapi mau gimana lagi” ucapnya ada rasa sok cemburu.Nathan mulai lagi basa-basi dengan omong kosongnya itu. Aku pun tidak mudah bawa perhatian kepadanya. Aku dan Nathan semakin dekat tapi aku hanya menganggap dia teman tidak lebih dan aku juga tidak melibatkan perasaan. Aku mulai cuek dengan Nathan karena dia mulai lagi menanyakan perasaanku kepadanya.“Kamu sebenarnya ngasih harapan sama aku nggak sih?” ucapnya. “Aku bener-bener emang nggak tahu” jawabku “Itu kan dari hatimu sendiri masa kamu nggak kasihan sama aku udah nunggu kepastian dari kamu” ucapnya. “Ngapain sih kamu terus mempertanyakan itu lagi!” jawabku sambil emosi. “Yaudah deh gapapa”Disitu Nathan sudah tidak mempertanyakan perasaanku lagi. Perhatian dan candaanya itu membuatku tiba-tiba muncul sedikit perasaan kepadanya. Aku tidak ingin mengungkapkannya karena aku tahu aku dan dia cukup sebagai teman saja. Aza kemudian menyuruh Nathan mempertanyakan kenapa aku unfollow instagramnya. Padahal itu Aza sendiri yang menghapus followersnya. Lalu Nathan tiba-tiba mengungkapkan perasaan Aza.“Kenapa kamu unfollow Aza?” tanya Nathan. “Nggak, dia sendiri yang hapus aku dari followersnya itu” “Nggak mungkin, dia loh sayang sama kamu” “Mana ada, kamu jangan bohong deh”Lalu Nathan menceritakan semua tentang Aza menyukai diam-diam. “Aza sebenarnya udah suka sama kamu awal kelas 8 tapi dia tidak berani mengatakannya, Aza selalu menceritakan tentang kamu” ucap Nathan. “Nggakk, dia suka sama orang lain mana mau sama aku” “Ini beneran, kamu aslinya juga suka kan?” tanya Nathan.Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Nathan, karena aku tahu cowok seperti Aza tidak mungkin suka sama aku. Pada waktu ada acara di sekolah aku belum mengenalnya hanya saja melihatnya dan cukup mengaguminya. Masalah tentang Aza itu Nathan dan aku bertengkar kemudian lost contact, sebelum itu Nathan meninggalkan pesan terakhirnya. “Semoga langgeng ya sama Aza, makasi waktunya yang dulu sudah mau menemaniku” ucapnya.Pesannya itu membuatku berkaca-kaca, hatinya pasti hancur karena tahu yang menyukaiku adalah temannya sendiri, dia mengalah untuk kebahagiaan temannya.Dan ternyata Nathan sudah mengatakan kalau aku emang suka sama Aza. Lalu Aza mengirimkan sebuah pesan kepadaku. “Emang benar yang dikatakan Nathan?” tanya Aza. “Nathan mengatakan apa ke kamu?” “Kalau kamu suka sama aku” “Aku nggak bisa jawab pertanyaanmu itu sekarang” “Iya gapapa aku bakal kasih kamu waktu kok”Aku benar-benar bingung menjawabnya bagaimana karena aku dan Aza belum dekat dan belum mengenal satu sama lain. Aku juga selalu memikirkan bagaimana perasaan Nathan.Beberapa hari dia mulai mempertanyakan lagi. “Kalau kamu nggak suka gapapa dari pada berharap nanti ujung-ujungnya sakit hati” ucap Aza. “Kalau aku suka kamu mau apa coba?” jawabku. “kamu suka beneran?” “Iyaa deh”Untung saja Aza tidak mengajakku berpacaran karena aku hanya punya sedikit perasaan seperti perasaanku ke Nathan. Aku terus memikirkan Nathan, dia pasti kecewa banget sama aku. Aku jahat banget ke Nathan apalagi Aza temannya sendiri aku nggak bisa membayangkan jadi posisi Nathan gimana, pasti sakit hati banget. Aku mencoba untuk tidak memikirkan Nathan lagi dan fokus ke Aza.Aku dan Aza semakin dekat dan masih ragu dengannya. Tapi perhatiannya membuatku terbawa perasaan kepadanya.“Kamu nggak tidur?” tanya Aza. “Masih sore ini” jawabku bergurau. “Loh ini sudah malam, sana tidur dulu nanti kamu sakit gimana” ucapnya. “Iyaa, ini aja udah sakit” jawabku.Pada malam itu memang posisiku nggak enak badan, tapi dia tetap kasih perhatian sama aku dan semakin yakin dengan perasaanku sendiri ke Aza namun disisi lain masih ada perasaan ke Nathan.“Sakit apa emangnya?” “Demam” “Cepat sembuh ya, jangan tidur malam-malam kesehatanmu itu penting kamu jangan ngeremehin” ucap Aza. “Iya iyaa”Hari-hari aku bingung harus memilih yang mana aku juga tidak ingin menyakiti satu sama lain. Ternyata pesanku dan Aza waktu itu menjadi pesan terakhir berkomunikasi. Aku menunggu terus pesan dari Aza tapi dia tidak lagi mengirimkan pesan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku mulai berpikir dia menjauhiku atau memang dia nggak serius sama aku.Tiba-tiba Nathan kembali kepadaku. Dia mengirimkan pesan tapi tidak aku balas. 2 minggu kemudian Aza memposting cewek lain, hatiku benar-benar sakit banget. Aku tidak menyangka secepat itu dia menemukan orang baru dan aku juga sadar posisiku. Mungkin dia sudah lelah menunggu kepastianku yang tidak jelas oleh karena itu dia memilih yang lain. Kecewa banget apalagi aku sudah rela meninggalkan Nathan dan menyakiti perasaannya tapi Aza memilih cewek lain.Secinta apapun aku kepadamu dan kepadanya, aku tidak akan pernah bisa memilih karena aku tahu itu akan merusak pertemananmu. Lebih baik aku pendam rasa sakit hati ini sendirian dari pada semakin membuat luka untukmu dan untuknya. Takdir sudah menjawabnya, aku akan tetap mencintai dirimu dan dirinya diam-diam meski akhirnya kutemukan luka dalam-dalam. Senang bisa mengenalmu dan mengenalnya dalam satu pertemanan. Berbahagialah dengan pilihanmu masing-masing yang kau anggap lebih dariku.
Boyfriend or Crush?
Pada waktu aku duduk di bangku SMA aku mempunyai seorang pacar yang sepantaran denganku. Hubungan kami berjalan 3 bulan. Pada awalnya kami sangat romantis seperti orang pacaran pada umumnya, namun perlahan lahan hubungan kami memudar. Pada saat itu juga aku mulai menyukai orang lain sehingga aku mulai lupa kalau aku memiliki seorang kekasih. Perasaanku padanya sama seperti saat aku menyukai pacarku. Kami di sekolah selalu bertemu dan bertukar pandang, hatiku selalu berdebar saat bertatapan dengannya. Aku dan dia hanya bertukar pandang saja, tidak pernah dia maupun aku memulai topik pembicaraan.Secara kebetulan aku dan pacarku berbeda sekolah. Jadi memudahkanku untuk dekat crushku. Hari hariku selalu tentang crushku sampai tak terasa sudah 1 minggu lebih aku tak berkomukasi dengan pacarku, aku maupun pacarku juga tidak ada niat untuk berkomikasi lagi.Tetapi pada minggu kedua dibulan Desember, secara tiba tiba dia menghubungiku lagi di whatsapp, kupikir dia sudah melupakanku.“Sudah lama kita tidak berkomukasi ya, Ra” ucapnya padaku. “Masih ingat padaku ya ternyata” ucapku sarkas. “Maaf aku sedang sibuk sampai tidak sempat mengabarimu” ucapnya padaku. “Apakah mengabariku menggunakan waktu selama 2 minggu?” ucapku padanya. “Maafkan aku” dia meminta maaf padaku.Dia meminta maaf padaku berkali kali dan akupun memaafkannya, walau di hatiku terisi dua hati tetapi perasaanku padanya lebih besar daripada crushku. Hubunganku dengannya mulai membaik. Sekarang aku pada fase dilema, haruskah aku memilih pacarku atau crushku.Namun besoknya crushku menghubungiku lewat whatsapp, tentu saja aku terkejut, tidak pernah menyangka bahwa dia akan menghubungiku. Apakah artinya perasaanku mulai terbalas, jika iya bagaimana dengan perasaan pacarku.“Hai save nomorku ya” pesan pertamanya padaku. “Eh? baiklah save kembali nomorku” ucapku padanya. “Ya terima kasih” ucapnya.Hanya itu saja pesan terakhirnya, setelah itu tidak ada lagi topik diantara kami. Aku masih berfikir mengapa dia memintaku menyimpan nomornya, sampai malam hari tiba aku masih memikirnya.Besoknya waktu sekolah masih saja kita tidak berbicara padahal aku sudah berharap dia akan berbicara padaku. Mungkinkah ia penasaran padaku karena aku sering menatapnya di sekolah?.Tiba tiba saja pacarku menelfon. “Nanti kamu sibuk nggak pulang sekolah?” tanyanya padaku “Enggak, aku lagi free” jawabku. “Nanti keluar yuk” tumben sekali pacarku mengajakku jalan, ataukah ini sebagai perminta maafannya padaku?. “Boleh” aku mengiyakan saja karena kebetulan kita memang jarang bertemu.Setelah pulang sekolah ternyata pacarku sudah menungguku disekitaran sekolah, sikapnya hari ini membuatku heran, aku benar benar kesal dengan sikapnya. Sikapnya yang membuatku berpindah hati, setelah aku menemukan hati yang baru ia kembali lagi padaku.“Kau menjemputku?” tanyaku padanya. “Ya, aku sudah izin pada ayahmu” hubungan kami memang sudah diketahui oleh orangtuaku karena aku pernah memperkenalkannya pada keluargaku. “Pakai ini” dia menyerahkan sebuah sweater coklat miliknya padaku, otomatis aku mencium bau tubuhnya yang tertinggal di sweaternya. Akupun memakai sweaternya untuk menutupi seragam sekolahku dan langsung pergi kearah yang tidak aku tahu, aku hanya menurut padanya.Di jalan aku menyenderkan kepalaku di bahunya dan memeluk pinggangnya. Kami menikmati angin di jalan yang terasa sejuk, membuatku semakin erat memeluknya. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya kita pun sampai di tujuan. Ternyata dia mengajakku ke sebuah taman mini, banyak sekali pedagang disana dan juga terdapat beberapa anak muda yang menghabiskan waktu dengan pacarnya sama seperti kami.Kami mengunjungi sebuah pedagang ice cream dan memesan ice cream rasa coklat dan vanilla. Setelah itu kami duduk di salah satu bangku yang ada disana. Kami memakan ice cream sambil membicarakan hal random ataupun kesibukan masing masing.“Aku ingin meminta maaf atas kesibukanku akhir akhir ini” ucapnya padaku. “Memang sesibuk apa dirimu” tanyaku padanya. “Akhir akhir ini program di sekolahku semakin banyak dan aku sedikit kewalahan dengan itu, ditambah tugas sekolahku yang selalu berkelompok” jelasnya padaku. “Aku menjadi tidak ada waktu dan masih ada ekskul yang harus aku ikuti” aku hanya mendengar penjelasannya, setelah aku mengetahui alasannya aku sedikit memakluminya. “Baik alasanmu bisa aku terima, aku memaafkanmu, sempat aku berfikir bahwa kau sudah bosan denganku dan ingin memutuskan hubungan tanpa kata” ucapku padanya. “Aku harap kau selalu memberiku kabar walau sesibuk apapun dirimu”. Dia mengangguk setelah mendengarkan permintaanku. Kami lanjut berjalan jalan mengelilingi taman mini itu.“Ayo pulang?” tanyanya padaku. “Boleh, hari sudah mulai malam”.Kamipun menuju parkiran sepeda untuk pulang karena hari sudah mulai malam. Sembari menunggunya mengambil sepeda aku membuka handphoneku dan aku membuka story crushku, aku sedikit terkejut ketika melihat foto perempuan distorynya, ternyata dia mempunyai pacar. Aku sedikit sedih akan hal itu. Mungkin aku hanya ditakdirkan untuk menyukainya saja, tidak untuk memilikinya. Lagian aku sudah memiliki pacar.“Ayo pulang” aku terkejut saat dia memanggilku karena aku sedang melamun saat itu. “Iya, ayo” dia mengantarku pulang.Di perjalanan aku memasukkan tanganku kedalam saku hodienya karena dingin terkena angin malam. Aku menyenderkan kepalaku di bahunya dan menikmati saat saat terakhir kami sebelum sampai ke rumah.Beberapa menit di perjalanan akhirnya kitapun sampai di rumahku dan aku menyuruhnya untuk masuk kedalam. “Masuklah dulu” ucapku padanya. “Boleh” dia memarkirkan sepedanya didepan rumahku dan mengikutiku untuk masuk ke dalam rumah. Ayahku ternyata berada di ruang tamu, aku dan dia bersalaman dengan ayahku. Aku masuk ke dalam untuk membuatkannya teh sedangkan dia mengobrol dengan ayahku, sesekali aku mendengar dari dapur bahwa mereka sedang tertawa.Aku mengantarkan teh yang sudah aku buat untuk ayah dan pacarku dan aku lanjut pergi ke kamar membiarkan mereka berbicara secara laki laki.Sejenak aku merenung tentang hatiku yang terisi dua hati, aku mulai membandingkan lelaki manakah yang harus aku pertahankan?. Jika aku memutuskan untuk tetap menyukai crushku, maka aku akan patah hati karena dia sudah mempunyai pacar. Jika bertahan dengan pacarku aku takut dia kembali sibuk sampai lupa mengabariku dan membiarkan aku bertahan dengan harapan kosong. Namun sekali lagi aku berfikir, hubungan pasti terdapat sebuah masalah dan karena masalah itulah kita akan diuji, sanggupkah kita bertahan atau tidak.Setelah kejadian hari itu aku memutuskan untuk kembali pada pacarku dan melupakan crushku. Tetapi aku sangat bahagia karena bisa merasakan jatuh hati di sekolah namun aku tidak menyarankan harus melupakan orang lama demi orang baru.Besoknya saat disekolah aku bertemu lagi dengan crushku tetapi aku mencoba untuk tidak menatapnya lagi karena aku sudah memutuskan untuk berhenti menyukainya dan sepertinya dia juga bersikap biasa saja.“Hei, kamu suka dia ya” tiba tiba temanku berbicara. “Tidak!” aku menyangkal. “Dia menyukaimu loh” ucap temanku. Aku terkejut, bagaimana bisa?. Bukankah kemarin dia memposting foto pacarnya?. Aku mencoba tidak peduli dengan itu dan aku tetap bertahan dengan pacarku.
Festival Layangan Sawangan
Pada sore hari tepatnya hari sabtu aku dan teman temanku membuat layangan di rumahku. Sebelum membuat layangan aku dan teman teman mencari bambu di hutan. Setelah menemukan bambu aku dan teman teman bergegas memotong bambu itu lalu dibersihkan dari daun dan ranting ranting yang masih menempel di bambu. Setelah bersih aku dan teman teman membawa bambu itu pulang untuk dibelah manjadi beberapa potong. Setelah sampai rumah dan dipotong aku dan teman teman mambagi tugas, ada yang menghaluskan bambu dan ada yang menimbang berat bambu dan ada juga bagian mengukur panjang pendek bambu.Setelah semua sudah siap untuk dirakit aku dan teman teman menyiapkan alat dan bahan untuk merakit bambu menjadi layangan sawangan. Setelah bahan bahan sudah terkumpul aku dan teman teman mulai membuat kerangka layangan sawangan. Setelah setengah jadi aku dan teman temanku mendapat informasi bahwa ada festival layangan yang berhadiah sepeda gunung untuk juara 1, juara 2 mendapatkan uang setunai Rp 600.000,00 dan untuk juara 3 Rp 300.000,00. Bertepatan di desa sebelah yang diadakan besok pada hari minggu siang jam 2.Lalu aku dan teman teman bergegas mencari panitia festival untuk mendaftarkan. Setelah bertemu si panitia saya bertanya“Berapa harga pendaftaran festival layangan?” “Seharga Rp 50.000” jawab si panitia.”Kemudian saya dan teman teman mengumpulkan uang untuk mendaftar. Setelah deal ikut festival saya dan teman teman kembali pulang untuk melanjutkan membuat layangan sawangan yang sudah setengah jadi karena festival diadakan pada hari minggu. Setelah selesai jadi kerangka malam pun tiba dan teman temanku pulang.Pada waktu malam teman temanku berkumpul ke rumahku.“Ada apa kok rame rame?” tanyaku. “Yaa melanjutkan membuat layangan kan besok udah minggu” jawab teman temanku. “Boleh, bentar aku ambil kerangkanya sama bahan bahannya dulu” jawabku. “Ini layangannya tinggal menyampuli dan dihias” jawabku.Malam itupun mereka mulai menempelkan plastik dari atas sampai bawah dan di beri lem pada pinggir pinggir atau sudut kerangka. 1 jam berlalu akhirnya layangan sawangan sudah tertempel sampul plastik yang berwarna hitam. Mereka menunggu agar lemnya kering merata supaya tidak melupas plastiknya. Setelah kering aku dan teman teman menggunting plastik yang lebih dari luar kerangka layangan sawangan. Setelah semua tidak ada plastik yang keluar dari kerangka aku dan teman teman mulai berdiskusi untuk menentukan warna dan hiasan untuk layangan sawangan. Akhirnya temanku mendapat petunjuk“Bagaimana kalau warnanya putih dan hiasannya bergambar beruang?” tanya temanku “Jangan kalo warna putih kurang cocok sama layangan yang bersampul hitam apa lagi gambar beruang itu juga kurang cocok karena beruang sulit untuk membuat polanya!” jawabku “Benar juga apalagi beruang dengan warna putih keliatan kurang pas!”“Gimana kalau gambar kepala naga dengan warna hijau, putih dan merah?” tanya temanku “Boleh apalagi naga gambar yang bagus, apa kamu bisa membuat pola?” tanyaku “Waduh kalo gambar aku kurang bisa apalagi kalo gambar kepala naga!” jawab temanku “Gambar apa yaa yang mudah tetapi ada unsurnya?” tanyaku“Gimana kalo dihias dengan gambar batik karena ada unsur melestarikan batik?” tanyaku “Boleh juga, batik tumbuhan aja gimana dengan warna coklat, putih dan hijau?” jawab temanku “boleh juga tuh, apalagi tumbuhan agak mudah untuk membuat polanya!” jawabku “boleh, gimana yang lain apakah setuju dengan hiasan batik tumbuhan dan warna coklat, putih dan hijau?” tanya temanku “Setuju setuju setuju setuju!” jawabku dan teman teman.“Oke setuju semua yaa gimana kalo kita cari gambarnya di internet?” tanyaku “boleh juga lagian kalo di internet kan banyak pilihannya!” jawab temankuSetelah beberapa menit mencari gambar akhirnya aku dan teman teman menemukan pola gambar yang bagus. Akhirnya Aku dan teman teman membagi tugas ada yang bagian membuat pola, ada yang bagian memegangi layangan agar pola gambar tidak ada yang miring, dan ada juga yang bagian memegangi hp agar yang membuat pola tidak sulit untuk melihat. Setelah 1 jam berlalu akhirnya pola gambar batik tumbuhan sudah jadi tinggal diberi warna yang sudah di tentukan. Aku dan teman teman menyiapkan wadah untuk cat dan kuas. Setelah semua cat sudah siap aku segera mengganti dari kaleng ke wadah. Setelah semua cat sudah siap digunakan aku dan teman teman membagi tugas lagi ada yang menebali pola dengan cat warna hitam, ada yang memberi warna yang telah ditentukan, ada juga yang bagian menginstrusikan warna apa aja yang diperlukan agar yang bagian memberi warna tidak lagi tanya tanya atau bingung.Akhirnya gambar batik tumbuhan sudah jadi tepat pukul 10 malam, aku dan teman teman segera beres beres karena sudah malam dan pulang ke rumah masing masing. Sebelum pulang aku dan teman teman menaruh layangan dengan cat yang masih basah ke ruang terbuka agar cat bisa mengering tepat pada pagi hari. Setelah ditaruh ke ruang terbuka teman temanku bergegas pulang karena tidak sabar untuk mencoba menerbangkan layangan sawangan pada pagi hari sebelum memasuki festival layangan sawangan. Pagi pun tiba aku segera mandi sebelum teman temanku datang untuk mencoba layangan sawangan. Setelah mandi dan ganti baju pas banget teman temanku mulai datang pukul 7 pagi, aku segera keluar dan mengambil layangan sawangan di ruangan terbuka.Setelah mengambil aku dan teman teman segera memasang tali goci untuk menggabungkan tali. Setelah terpasang aku dan teman teman mencoba layangannya apakah serong atau tidak bisa terbang tinggi. Aku dan teman teman segera menuju ke lapangan untuk menerbangkan layangan sawangan. Aku bagian memegang layangan dan teman teamnku bagian menarik layangan. Setelah terbang cukup tinggi ternyata layangan sawangan tidak serong, aku dan teman teman merasa senang. Terlihat mengkilat di udara warna hijaunya karena terkena pantulan sinar matahari. Setelah menerbangkan layangan cukup lama aku melihat jam hp ternyata sudah jam 11. Aku dan teman teman segera menurunkan layangan untuk datang ke festival layangan. Setelah layangan turun temanku segera menggulung tali dan bergegas pergi ke festival layangan.Sampai di tempat festival pukul 1 yang belum banyak orang datang, aku dan teman teman menunggu peserta lainnya sambil mengecek plastik layangan apakah ada sobek. Setelah jam 2 akhirnya peserta banyak yang mulai datang dan panitia telah memulai festivalnya. Aku dan teman teman segera menerbangkan layangan ke udara. Setelah semua layangan sawangan peserta sudah terbang semua panitia mulai mencari siapa yang pantas mendapat juara 1, 2, dan 3. Setelah semua layangan sudah di cek oleh panitia peserta di harap menunggu keputusan panitia. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya panitia menentukan siapa yang mendapat juara 1, 2, 3 tepat pukul 4 sore semua peserta di harap mengumpul ke tempat panitia.Setelah semua peserta mengumpul panitia mulai mengumumkan siapa pemenangnya dan yang mendapat juara 1 adalah layangan dengan tema batik tumbuhan. Juara 2 dan 3 diraih oleh kampung sebelah. Aku dan teman teman merasa senang dan bangga atas keputusan panitia yang menjuarakan 1 layangan aku dan teman teman yang bertema batik tumbuhan. Akhirnya aku di panggil untuk sesi berfoto atas juara 1, 2, dan 3. Setelah berfoto aku dan teman teman membawa pulang sepeda gunung untuk mencoba bersama sama.
Pembohong
Aku Rachel, kisahku dimulai saat aku mempunyai teman laki-laki bernama Rama, pada saat itu aku dan Rama sangat dekat sampai teman sekelasku mengira bahwa aku dan Rama berpacaran.Pada saat pulang sekolah aku kaget karena mendapatkan notifikasi dari nomor yang tidak aku kenal. “P, aku Rama” “Hai, ada apa Rama? tanyaku” “Sv nomor ku ya” Pada saat itu aku dan Rama semakin dekat dan sering chattingan. Rama adalah orang yang asik diajak bercanda. Suatu hari aku mendapatkan tugas kelompok dan ternyata pada saat guruku membagi kelompok ternyata aku sekelompok sama Rama. Aku sangat senang dan bersemangat.Pada suatu hari aku diberi tahu oleh teman dekatnya Rama bahwa dia menyukaiku. Aku sempat terkejut pada saat temannya mengatakan hal itu. Tapi aku tidak pernah memikirkan hal itu aku hanya berfikir jika itu hanya bercanda.Temanku yang bernama Cinta dia mengatakan sesuatu bahwa dia sedang menyukai seseorang. “Eh Rachel, aku lagi suka sama seseorang.” “Emang lagi suka sama siapa?” “Emmm aku lagi suka sama Rama.”Aku sempat terkejut pada saat dia menyebut nama Rama, Cinta sempat heran kepadaku pada saat aku terkejut. Pada saat aku sedang bercanda dengan Rama, Cinta melihat kedekatanku dengan Rama, raut wajah Cinta menunjukkan wajah yang cemburu dan tidak senang melihat kedekatanku dengan Rama.Saat aku masih asik bercanda dengan Rama, Cinta menarik tanganku dan bertanya kepadaku, dia bertanya tentang hal yang membuatku heran. “Chel, kamu suka ya sama Rama?” “Enggak, aku hanya berteman biasa dengannya” “Kok aku lihat kamu bisa seasik itu, aku melihat kalian seperti ada rasa saling suka satu sama lain.” “Enggak aku ga ada perasaan apapun sama Rama.” Cinta masih bersikeras kalau aku dan Rama mempunyai hubungan. Dia tetap memaksaku untuk jujur.Pada saat tugas kelompok dikumpulkan guruku menyuruh untuk mempresentasikan tugas kelompokku, aku melihat wajah Cinta yang menatapku tidak enak namun aku mengabaikannya dan aku membuka dengan salam tugasku tersebut. “Assalamualaikum Wr.Wb.” “Kami dari kelompok 1 ingin mempresentasikan tentang dampak bullying”.Tidak lama kemudian kelompokku selesai presentasi. Cinta masih menatapku dengan tatapan tidak enak, lalu Cinta memuji Rama dan mengatakan bahwa dia mengaguminya, kata-kata itu membuatku iri dan cemburu. Aku melihat sikap Rama kepada Cinta, dia sedikit risih dan menjauh dari Cinta. Pada saat jam akan pulang guruku memberikan informasi bahwa bulan depan akan diadakan ujian akhir semester, dan lagi-lagi aku melihat Cinta mencari perhatian kepada Rama.Saat ulangan akhir semester dimulai, aku melihat Cinta memberi semangat kepada Rama, tetapi Rama tidak merespon apapun. Cinta sempat kecewa kepada Rama. Setiap hari cinta selalu mendekati Rama.Beberapa bulan kemudian sudah kenaikan kelas. Setiap hari Rama selalu mengirim pesan kepadaku, aku tidak memikirkan apapun bahwa Rama menyukaiku. Tapi pada saat sekolah sikap Rama membuatku baper. Temannya Rama selalu bilang bahwa Rama menyukaiku tetapi aku selalu mengabaikan kata-kata itu. Setiap hari aku dan Rama semakin dekat, pada jam istirahat Rama selalu mengajakku ke kantin dan jika aku tidak membawa minum aku selalu dibelikan minuman oleh Rama.Tiba-tiba Rama menyatakan cintanya kepadaku, aku sempat kaget dan menanyakan itu serius atau tidak, dan Rama mengatakan bahwa dia serius. Akhirnya aku menerima cintanya. Ternyata di sekolah berita itu sudah tersebar luas, Cinta mengetahui itu dan dia menjauhiku.Setiap hari Rama selalu memberikan kabar padaku akan hal itu, aku tidak ada pikiran jelek apapun padanya. Keesokan harinya tiba tiba aku diberitahu teman dekatku bahwa Rama sudah mempunyai pacar sebelum ia menyatakan cintanya padaku, aku sempat kaget dan tidak percaya.Akhir akhir ini sikap Rama berubah, dia menjadi cuek. Tiba tiba Rama mengirim pesan padaku bahwa ingin menyelesaikan hubungan ini. Akhirnya aku tau dia sudah mempunyai pacar sebelum denganku, aku mengetahui itu saat Rama membuat status WA pacarnya. Tiba tiba temanku mengatakan bahwa yang di SW Rama adalah Nia, pacarnya Rama.
Jarak dan Waktu
Ada seorang wanita cantik yang bernama Alena. Alena sekarang duduk di bangku kelas 8 SMP. Dia juga memiliki sahabat yang bernama Dara mereka berdua adalah anak osis. Alena dan Dara selalalu bersama-sama.Suatu hari ada perkumpulan osis untuk membicarakan tentang kegiatan yang akan diadakan di sekolahnya. Dan Alena sedang mengagumi seseorang yang bernama Zaky dia adalah ketua sekbid 5. Dan Zaky sekarang menempati di bangku kelas 9 SMP. Zaky adalah orang yang baik, friendly, dia juga ganteng dan manis. Zaky banyak digemari dengan adik kelas ataupun teman sebayanya termasuk Alena.Pada saat rapat osis kak Zaky menyapa Alena, “hai Alena” dan alena pun menjawab “óh iya kak”, Alena pada saat itu tersipu malu, pipi alena langsung berwarna merah. Pada saat semua sudah bekumpul di ruang osis ketua osis pun memulai rapat dengan membuka salam. “Asalamuallaikum. wr. wb” “Saya mengumpulkan kalian disini untuk merapatkan tentang kegiatan yang akan diadakan di sekolah kita yaitu akan mengadakan lomba menyanyi antar kelas dan perlombaan lainya”. Dan ketua osis membagi untuk mendaftar para siswa yang ingin mengikuti perlombaan tersebut.Dan tiba-tiba Alena dan Zaky mereka berdua dipilih untuk mendaftar para siswa yang ingin mengikuti lomba tersebut. Zaky dengan cepat dan tegas menyetujui dan menyanggupi permintaan dari ketua osis, pada saat dimimta mendaftar siswa Alena dan kak Zaky semakin dekat mereka berdua menjadi sering chatingan membicarakan hal yang sedang dia kerjakan kadang juga ngobrolin hal yang gak penting.Pada hari dimana perlombaan itu dimulai kak zaky ternyata menjadi juri perlombaan tersebut. Alena semakin kagum dengan kak Zaky, ditengah perlombaan Alena melihat kak Zaky sedang kelelahan Alena berinisiatif untuk membelikan kak Zaky minuman. Alena langsung mengasih minuman itu kepada kak Zaky walaupun awalnya Alena ragu untuk memberikan minuman itu pada kak Zaky tapi Dara meyakinkan dan memaksa Alena untuk mengasih minuman itu pada Kak Zaky“Emmm haii kak nih minum dulu”. “EH Alena makasih ya,” jawab kak Zaky. “Iya kak”.Lalu kak zaky menawarkan tempat duduk disebelahnya yang kebetulan kosong untuk Alena. “Alena duduk sini aja kosong kok ini”. Alena lalu duduk dekat dengan kak Zaky, perasaaan Alena saat itu campur aduk antara senang dan malu.Tak terasa perlombaan sudah selesai dilaksanakan beberapa menit lagi waktu pulang sekolah para anak osis berkumpul dan membereskan alat dan bahan yang dikerjakan pada saat perlombaan dan akhirnya jam sudah menunjukkan waktu puolang sekolah. Dara dan Alena berjalan berdua menuju gerbang sekolah untuk pulang dan menunggu jemputan.Tak lama kemudian ternyata Dara sudah dijemput oleh kakaknya. “Eh Alena aku pulang duluan ya,” kata Dara. “Eh iya Dar,” jawab Alena.Alena menunggu jemputan ternyta sudah cukup lama dia menunggu, kak Zaky melihat Alena sedang menunggu jemputan sendirian kak Zaky menawarkan untuk mengantarkan Alena pulang. “Len pulang sama aku aja dari pada kamu sendirian”. “Emm gimana ya kak bentar aku mikir dulu,” jawab Alena. “Udah ga usah kebanyakan mikir, ayo”. Akhirnya Alena menerima tawaran dari kak Zaky untuk pulang bersama.Tak terasa Alena sudah sampai di rumah. “Makasih ya kak udah nganterin aku pulang”. “Iya len santai aja besok mau dijemput sama dianterin pulang sekalian nggak,” Alena dan kak Zaky tertawa bersama. “Nggak usah kak nantik ngerepotin”. “Ih nggak lah masak gitu aja ngerepotin”. “Eh yaudah ya aku pulang dulu “. “Iya kak makasih ya hati-hati”.Pada malam hari kak Zaky tiba tiba ngechat Alena. “Hai len”. “Eh hai kaka, ada apa kok tumben ngechat”. “Gapapa cumak mau ngobrol sama kamu,” akhirnya mereka berdua asik mengobrolkan hal yang gak penting tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.00.“Kak udah jam segini ini kita gak tidur,” Tanya alena. “Eh iya kok cepet banget yah ya udah sana buruan tidur”. “Oke kak”.Beberapa bulan kemudian tak terasa akan diadakan penilaian akhir semester. Alena dan kak Zaky juga masih sering chattingan dan teleponan.Pada saat ulangan dimulai Alena dan kak Zaky saling support satu sama lain. Alena dan kak Zaky juga sering menceritakan tentang kejadian pada hari itu. Dan akhirnya ulanganpun sudah selesai dan beberapa minggu kedepan akan di adakan rapat wali murid, ternyata Alena mendapatkan peringkat tertinngi di kelasnya. Alena memberi tahu kepada kak Zaky kak Zaky ikut senang dan memberikan selamat kepada Alena. “Wah selamat ya Alena”. “Iya kak makasih ya”.Mereka berdua membicarakan tentang sekolah yang ingin dilanjutkan nanti. Kak Zaky memilih di sekolah favorit dan negeri pada saat sudah lulus dari SMP.Tak terasa beberapa bulan lagi sudah kenaikan kelas kak Zaky, kak Zaky sering menceritakan kalau dia sudah diterima di sekolah yang dia impikan. Dan tak terasa besok adalah hari yang membuat alena merasa sedih yaitu dia harus berpisah dengan kak Zaky, Alena menaiki kelas 9 SMP dan kak Zaky sekarang kelas 1 SMA. Pada saat kak Zaky menaiki kelas 1 SMA dia juga sering menceritakan harinya saat pertama kali dia di sekolah barunya. Dan Alena juga menceritakan tentang materi yang semakin pusing dan semakin banyak tugas sekolah. Kak Zaky juga sekarang lagi daftar menjadi anggota osis baru kak Zaky harus menunggu beberapa hari untuk mendapatkan pemberitahuan apakah dia bisa diterima atau tidak, setelah menunggu beberapa hari dia akhirnya mendapatkan informasi kalau kak Zaky diterima sebagai anggota osis baru.Sepulang sekolah kak Zaky menceritkan itu semua kepada Alena dan Alena memberi selamat kepada Kak zaky Alena juga merasa senang, dan Alena bercerita kalau dia menggajukan diri untuk menjadi ketua sekbid kak Zaky merasa senang kalau Alena dapat mengikuti jejeknya dulu.Kak Zaky semakin sibuk mengikuti acara yang diadakan di sekolahnya tapi pada saat itu kak Zaky masih sempat untuk terus mengabari Alena. Setelah sekian lama Alena dam kak Zaky tidak bertemu kak Zaky ternyata besok akan datang di sekolahnya dulu untuk mengambil ijazah dan bertemu Alena kak Zaky mengabari hal ini pada Alena, Alena sangat senang dan sudah tidak sabar untuk bertemu kak Zaky begitupun juga dengan kak Zaky.Tak terasa sudah pagi Alena tak sabar untuk bertemu kak Zaky dia menceritakan kepada Dara dan Alena menunggu ternyata tidak ada kemunculan kak Zaky jam istirahat pun sudah berbunyi Dara dan Alena segera menuju ke kantin betapa terkejutnya Alena melihat kak Zaky sedang duduk di bangku kantin kak Zaky juga melihat Alena lalu memanggil Alena untuk duduk bersamanya.Tak terasa waktu istirahat sudah habis Alena kembali ke kelas dan kak Zaky pulang ke rumah setelah mereka berdua bertemu kak Zaky dan Alena semakin jarang komuniukasi.Pada suatu hari kak Zaky tiba tiba ngechat Alena untuk mengajak ketemuan dan Alena menyetujui ajakan dari kak Zaky tapi pada saat hari dimana dia mengajak untuk ketemu malah kak Zaky membatalkan ajakanya untuk bertemu pada dirinya, Alena sempat kecewa kepada kak Zaky tapi mau gimana lagi dia harus mengalah dan mengerti kondisi dan acara yang diadakan di sekolahnya. Alena berusaha menghibur dirinya dengan mengajak Dara untuk keluar dan bermain bersama.Beberapa bulan ke depan hubungan Alena dengan kak Zaky semakin renggang mereka tidak pernah memberi kabar satu sama lain, ternyata pada saat Alena sedang membuka SG dia terkejut kalau kak Zaky menguploud foto dengan cewek barunya, Alena merasa sedih tapi mau bagaimana lagi dia bukan siapa-siapanya dia hanya bisa sabar dan mengikhlaskan.
Layangan Putus
Pada suatu hari aku dan teman teman bermain layangan di sumber air di desaku. Lalu aku dan teman teman bermain layangan seperti biasa sambil menikmati pemandangan sawah dan pegunungan yang indah. Tiba tiba ada angin besar yang datang menyambar layangan temanku, lalu layangannya patah karena disambar angin yang begitu besar dan temanku kecewa karena layangannya putus.“Kamu gapapa kan layanganmu putus”, tanyaku “Iya kok ndak papa, asal jangan hubungan aku yang putus”, jawab faris “Coba mana liat?, layangannya tadi yang putus”, tanya daviq “Ini”, jawab faris “Wah udah parah nih mas kayaknya udah ga bisa terbang lagi”, jabwabku “Gapapa bisa kok ini diperbaikin lagi”, jawab faris “Ya tapi terbangnya sudah nggak stabil lagi karena udah rusak”, jawab daviq “Beli lagi aja mas”, kataku “Dimana?, aku gapunya uang”, tanya faris “Beli di padangan aja, pesen dulu yang layangan burung hantu”, kataku “Disitu aja ris, banyak juga orang yang beli di tempat itu”, jawab daviq “Aku tau tapi masalahnya uangnya ga ada”, jawab faris “Kita bantuin dehh”, kataku dan daviq “Emangnya sekarang kamu punya uang berapa?”,tanya daviq “Aku sekarang punya uang cumak 75k”, jawab faris “Emangnya kalian berdua punya uang berapa?”, tanya faris “Aku punya uang 40k mas”, kataku “Kalau aku 100k”, jawab daviq “Kalian beneran nih mau bantuin aku beli layangan baru?”, tanya faris “Iyaa beneran mas ris”, kataku dan daviq “Yaudah sekarang ayo berngkat pesen layangan yang baru, semoga cepet jadi layangannya biar bisa main bertiga lagi”, kataku “Yaudah kluarin sepeda kamu, ayo berangkat”, kata daviq Lalu aku dan teman temanku berngkat melewati hutan dan lembah, sambil merasakan angin yang sliwar sliwer di badan dan rasanya sangat sejuk sekli.Singkat cerita aku dan teman teman bingung rumahnya yang mana. “Mas dimana rumah pengerajin layangannya?”, tanyaku “Dimana daviq aku ga tau diamana alamat rumahnyaa?”, tanya faris “Itu ada orang kita tanya aja dulu”, kata daviqTerus kami bertiga bertanya dimana tempat kediaman pengerajin layangn tersebut kepada orang. Dan kebetulan sekali ada orang yang kluar dari rumah “Permisi mbak”, kata daviq “Iya, ada apa mas”, jawab mbaknya “Tau rumah pengerajin layangan di sekitar desa padangan nggak mbak?”, tanya daviq “Oh tau dek, lurus aja terus kamu belok kanan belok kiri lalu mentok”, jawab mbaknya “Iya mbak terimakasih”, jawabkuLalu aku dan teman teman mengikuti omongan mbaknya untuk menuju ke tempat itu. Dan jujur aku dan temn teman sedikit bingung oleh omongan mbaknya. Lalu alhamdulilah aku dan teman teman menemukan rumah pengerajin layangan tersebut.“Masa ini ya rumahnya?” tanyaku. “Gak tau coba diketuk aja pintunya,” jawab david. “Ini paling rumahnya, tuhhh ada layangan”, jawab faris “La iya mas, berati ini rumahnya coba ketuk aja”. JawabkuLalu mas daviq mengetuk pintu rumah pengerajin layangan tersebut. “Tok tok tok, asalamualaikum”, lalu pengerajin layangan itupun keluar “Waalaikumsalam, ada apa mas, mau beli layangan?”, jawab penjual layangan “Iya pakde”, jawab faris “Mau pesen layangan yang model apa kan model layangan itu banyak?”, tanya penjual layangan “Mau yang mana risss”, jawab david “Yang bebean aja”. Jawab ku “Yaudah iya yang itu aja pakde, tapi kapan ya pakde kira kira jadinya?”, tanya faris “Ya secepetnya mas, mumpung lagi sepi pesenan”, jawab pakde “Yaudah pakde itu aja, kabarin ya pakde kalau sudah jadi”, jawab dadiq “Iya mas siap!!!”, jawab pakdeSingkat cerita mas faris pun dichat sama pakdenya katanya layangannya udah jadi, lalu aku dan teman teman bergegas kesana ke tempat pakdenya. Singkat cerita aku dan teman teman udah sampai ke paadangan dan mengambil layangan tersebut“Jadi berapa pakde layangannya”, tanya faris “Totalnya 200k mas kualitas premiun dan bahan impor dari plastik pilihan”, jawab pakde “Ini pakde uangnya, yaudah layangnya tak bawa ya pakde”, jawab faris “Iya mas ati ati di jalan”, jawab pakde “Iya pakde monggo”, jawabku bersama faris dan daviqLalu aku dan teman teman pulang sambil melihat glagat faris yang begitu senang dan pada sore hari langsung diterbangkan, dan kita bisa bermain layangan bersam sama lagiTamat
Insecure? Bersyukur Yuk!
“Sekian materi pada hari ini. Kita lanjut pada pertemuan selanjutnya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Jelas dosenku, menutup perkuliahan hari ini. “Terima kasih, pak. Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Balas kami bersamaan.Begitulah, rutinitasku semenjak pandemi datang. Pendidikan semua virtual. Sejujurnya aku nyaman dengan kegiatan online seperti ini Banyak perubahan yang aku rasakan semenjak kuliah online dan melakukan banyak hiburan lainnya, seperti scroll sosial media tiap hari, nonton drama korea, nonton anime, mencari kegiatan lain di luar rumah agar tidak terlalu berdiam diri di rumah saja. Semua itu untuk membuatku nyaman. Menghindari omongan orang mengenai diriku.Ketika aku sedang asik sendiri di dalam kamar, tiba-tiba Mama memanggilku. “Sheila, tolong belikan pecel lele yang di depan masjid. Mama lagi males masak. Beli 2 porsi. Sekalian untuk makan kamu juga.” Pinta Mama kepadaku. “Oalah, kirain ada apa Ma. Oke.” Jawabku kepada Mama. Setelah itu, aku langsung bersiap-siap mengganti pakaianku untuk keluar rumah, terkadang aku malas menggunakan masker apabila jaraknya dekat. Lagipula, jarak dari rumah ke masjid tidak begitu jauh, jadi kuputuskan untuk tidak menggunakan masker.Sejujurnya aku paling malas untuk ke luar rumah. Banyak hal yang terkadang membuat aku overthinking terutama mengenai hal-hal yang menyangkut kata “perempuan”. Setiap aku menyusuri jalan apalagi bila melewati segerombolan laki-laki seusiaku, pasti mereka selalu mencemoohku dengan ucapan seperti, “woahh.. badak baru keluar woe! Hahahaha…” atau apabila bertemu perempuan lain yang tidak aku kenal, pasti mereka berbisik-bisik dan terdengar seperti “Ih, dia jerawatan banget ya. Pasti gak pernah dirawat tuh wajahnya.” Dan sebagainya. bodyshaming. Ya, kata tersebutlah yang menggambarkan itu semua. Menggambarkan perilaku yang membuat psikologi seseorang terganggu dengan hanya mengucapkan satu kalimat ataupun pandangan tidak mengenakkan.Setelah membeli pecel lele titipan Mama. Aku segera pulang secepat yang kubisa. Aku sudah membiasakan diri untuk tidak menanggapi omongan orang lain ataupun pandangan orang lain terhadapku. Aku benar-benar tidak peduli. Namun, banyak hal yang aku rasakan. lelah. Ingin berteriak. Tapi? Semua beban itu hanya bisa aku pendam sendiri. Begitulah bila tinggal di Ibu kota Jakarta. Semua orang yang selalu update hal-hal yang sedang hits atau trend masa kini. Standar kecantikan dimana-mana, beauty privilege dimana hanya perempuan yang dianggap cantiklah yang bisa hidup dengan nyaman, dimana mereka mudah mendapat pekerjaan dengan wajahnya, banyak orang yang menyukainya, dan sebagainya. Sedangkan aku perempuan yang bertubuh gendut, jerawatan, tidak mengenai fashion kekinian sama sekali. Ah, sudahlah. Aku mulai overthinking. Begitulah perempuan. Selalu jadi objek menyenangkan banyak orang.Sesampai di rumah. Aku berikan titipan Mama. Kemudian, aku langsung kembali ke kamarku. Tempat paling nyaman dalam hidupku. Perlahan-lahan aku lelah dengan semua standar kecantikan. Hingga aku coba pelan-pelan selama pandemi ini merubah diriku. Aku jadi rajin olahraga, merubah pola makanku menjadi pola makan yang sehat, menonton beauty vlogger mengenal per-skincare an.Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan terlewati. Banyak perubahan pada diriku. Aku merasa lebih ringan. Wajahku sudah membaik. Dan yang paling aku tidak sangka adalah perubahan diriku yang entah ini sudah memenuhi standar kecantikan atau tidak. Namun, aku sudah tidak pernah mendengar cemoohan orang lain kepadaku.Perlahan-lahan aku mengubah diriku. Belajar fashion. Belajar make up. Semuanya kupelajari untuk mengisi kegiatan lain selain kuliah online. Aku pelan-pelan membuka instagramku yang sudah lama tidak kubuka selama aku memperbarui diriku. Aku coba meng-upload wajahku yang sudah kuhiasi make up. Tidak lupa dihiasi dengan outfit yang keren. Satu, dua foto yang kuupload ke instagram. Seketika aku tutup handphoneku. Aku tidak ingin melihat komentar dan respon teman-temanku di instagram. Aku masih terlalu takut. Padahal, seharusnya tidak harus takut. Aku sudah jadi orang yang baru. Beratku juga sudah turun dari 60 kg menjadi 50 kg. Semua itu butuh perjuangan. Butuh uang untuk mengubahnya. Untuk uang sendiri pun, aku mengumpulkannya dari pekerjaan paruh waktuku yaitu mengajar privat matematika. Alhamdulillah, ada pemasukan. Apabila tidak, mungkin semua ini tidak berhasil.Aku benar-benar merasa terlahir kembali. Benar-benar merasakan hal-hal baik dalam diriku. Apabila teman Mama datang ke rumah. Mereka terkejut melihat perubahanku. Mereka mengatakan bahwa “Wah, ini beneran Sheila? Cantik sekali ya sekarang.”, “Wah, kamu kurusan ya sekarang. Cantik deh.” atau “Mau jadi menantu tante?” sampai ada yang mengatakan hal itu. Aku saja tidak pernah menyangka akan merasakan semua itu. Tetapi, entah kenapa aku jadi tidak cepat puas dengan apa yang sudah aku dapatkan. Aku menjadi lebih perfeksionis. Aku jadi lebih intens melihat diriku. Tumbuh jerawat satu saja aku panik setengah mati. Langsung searching cara menghilangkan jerawat dengan cepat tanpa menimbulkan bekasnya. Panik. Panik hanya karena ada omongan orang yang mengatakan, “Kok bekas jerawat kamu item gitu sih, Sheil?” atau “Kok jerawatan?” dan sebagainya. Hal-hal yang sebetulnya sepele. Namun, bagiku itu hal yang menyebalkan. Sangat menyebalkan.Tring.. tring.. tring.. bunyi notifikasi handphoneku. banyak like dan komentar pada postinganku. Kebanyakan memberikan komentar, “MasyaAllah, cantik banget Sheila.”, “Gak nyangka ini kamu, cantik banget Sheil. Kukira model Shopee.” Atau ada juga yang bertanya “Kamu diet? Hahahah..” atau “kok bisa?” yang terkadang ada terdengar seperti sebuah ketidaksukaan mereka terhadap perubahanku. Entahlah. Semuanya membuatku tetap merasa kurang. Semua yang telah aku lakukan terasa harus mengikuti semua standar kecantikan yang telah dibuat oleh masyarakat. Begitulah, perempuan memang selalu menjadi objek paling menyenangkan, kan?Apalagi bila dikaitkan dengan pendidikan. Perempuan pernah dianggap tidak perlu meraih pendidikan tinggi-tinggi, katanya nanti ujungnya juga ke dapur. Atau perkataan bahwa “jangan pinter-pinter jadi perempuan. Nanti susah dapat jodoh.” Semua stigma masyarakat yang mendominasi pikiranku lah yang membuat aku belajar memahami bagaimana menanggapi semua itu. Dari mulai perubahanku. Mulai memperbaiki pola pikirku. Mulai open minded lebih membuka pikiranku bahwa aku berubah bukan ingin mengikuti semua standar yang diberikan oleh masyarakat. Tetapi, aku ingin menjadi lebih baik. Aku ingin hidup lebih sehat, lebih teratur dan tidak ingin mendengarkan hal-hal sepele lainnya mengenai diriku.Aku yang masih selalu ambisius mengenai nilaiku. Pendidikanku yang tetap aku jadikan hal nomor satu. Rasanya aku ingin mematahkan semua stigma tersebut. Kalau perempuan boleh sukses. Perempuan boleh meraih apa yang dia inginkan. Perempuan bebas. Perempuan boleh jadi terdepan. Perempuan boleh meraih pendidikan tinggi-tinggi. Semua itu menghiasi pikiranku sekarang.Sheila yang sekarang sudah berubah. Sheila sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Semuanya dimulai dan diakhiri dengan perjuangan, asam, manis, pahit. Semua kurasakan. Melewati semua stigma masyarakat. Aku bisa sukses. Sukses dengan caraku.“Sheila Salsabila Putri, coba jelaskan materi yang telah bapak sampaikan.” Ucap dosenku menyadarkanku bahwa aku melamun. Aku terkejut. Ternyata aku hanya berkhayal. “Ah.. Eh.. Baik, pak. Saya Sheila Salsabila Putri akan menjelaskan mengenai materi hari ini…” jelasku panjang lebar. Untung saja aku sudah mempelajari materi ini sebelumnya. Jadi ketika kelas zoom tadi aku tidak begitu terlihat bingung sekali. Haduh.. karena gak fokus tadi tuh, membuat aku jadi dipanggil dosenku. Benar-benar memalukan.“Sheila.. Sheila…” panggil Mamaku dari luar kamar. Aku segera menghampiri Mamaku. “Iya, Ma?” kataku di depan Mamaku. “Tolong jaga adikmu di rumah, ya. Mama dan Papa mau ada acara di Bogor. Jadi adik kamu ditinggal saja. Masih pandemi gini soalnya. Mending dia di rumah. Jangan berantem ya. Jangan lupa, makanan udah Mama masakin, kalian tinggal makan aja. Oke. Mama sama Papa pergi dulu. Assalamualaikum.” Jelas Mamaku yang diiringi anggukan kepalaku. Tak lupa aku mencium tangan Mamaku dan berkata, “Hati-hati, ya Ma, Pa. Kalau sudah sampai. Kabarin, Sheila. Oke.” “Oke, Sheila.”Mobil yang dinaiki kedua orangtuaku sudah melaju dengan cepat. Adikku yang masih tertidur adalah kesempatanku merapihkan rumahku yang berantakan karena ulah adikku yang masih berusia 3 tahun. Begitulah bila memiliki adik kecil. Ada senangnya. Ada repotnya.Setelah semuanya kurapihkan. Adikku terbangun. Aku masih menunggu adikku sepenuhnya sadar dari bangunnya agar ia bisa langsung dimandikan, kemudian makan. Semuanya selesai. Adikku juga tidak rewel. Kami bermain bersama. Menikmati kebagiaan singkat. Tertawa bersama dengan hal-hal kecil. Senang rasanya melihat anak kecil tertawa. Enak ya, jadi anak kecil. Mereka hidup tanpa adanya beban dalam hidupnya. Bisa tertawa lepas dengan nyaman. Tanpa paham bahwa hidup di dunia ini benar-benar tidak semenyenangkan kelihatannya. Menakutkan. Tapi harus dilalui dengan lapang dada. Aku yang baru masuk fase pendewasaan. Usiaku yang genap 20 tahun. Merasa bahwa hidup ini bisa terlihat menyenangkan apabila rasa cinta kita kepada diri sendiri besar. Self love itu penting. Diri sendiri adalah teman terbaik dalam hidupmu. Dia yang menjadi penyelamat pertama dirimu ketika kamu berada di titik terendah.Benar kata salah satu influencer favoritku yang mengatakan bahwa, “Cintai diri kamu dulu. Baru orang lain.”, “Kamu gak akan paham artinya bahagia apabila kamu gak bisa mencintai diri kamu. Karena kebahagiaan itu sumbernya bukan dari orang lain saja. Sumber utama ya diri kamu. Gimana kamu memperlakukan diri kamu sebaik mungkin. Setelah kamu paham akan diri kamu. Kamu udah cintai diri kamu. Kamu akan benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dimana kebahagiaan kamu ya tidak tergantung orang lain.” semua perkataan itu menjadi motivasi dalam hidupku. Stigma masyarakat mengenai pendidikan, perempuan semuanya seketika hilang. Membuatku perlahan belajar percaya diri. Terima kasih diriku. Terima kasih kamu sudah kuat sampai di sini. Dan untuk semua perempuan di luar sana, kamu kuat lebih dari apa yang kamu kira.
Detektif SMA Keira dan Hantu Aula
Setelah membantu latihan ekskul drama, kami bersenang-senang di Aula. diriku, Keira, Kurua, Asep dan salah satu teman terdekat kami Raden Ajeng Kurniawati. Kami memanggilnya Ajeng. menggunakan aula yang kosong untuk membuat video parody mr. Bean dan juga bohemian rhapsody nya Queen. Setelah mematikan semua lampu kami pergi menuju lorong untuk pergi ke lift.“Ini gue aja apa kelihatannya lebih gelap ya?” Rak bertanya sambil melihat sekitar. “Lo aja kali, ya kali masa tiba-tiba lebih gelap” Kurua mengatakannya sambil melihat HandphonenyaKami menunggu lift untuk kebawah, Aula kami berada di lantai 6 bersamaan dengan tempat olahraga, karena ini gedung baru. Kami berlima memasuki lift dengan santainya. Ketika sedang menuruni lantai tiba-tiba liftnya berhenti dan berguncang. Diriku berteriak dan langsung pergi menuju pelukan Keira. Dia memelukku sambil mengusap kepalaku. “Tenang aja, paling cuman mati lampu”.Ajeng dan Asep membuka senter pada handphone mereka. “Sepertinya kita terjebak di sini?” kata Asep terhadap Kurua dengan wajah yang seperti menakuti. Ajeng melanjutkan “si Aula mungkin yang berbuat ini, hihihihi” “Ih apaan si, itu kan cerita lama” Kurua memutar matanya. “Aula?” diriku bertanya “Oh iya, kalian anak baru sih ya?” Ajeng melirik ke diriku dan KeiraAjeng kemudian menjelaskan padaku bahwa dahulu ketika sebuah pentas ada seorang anak yang menggantung diri di aula lama di gedung lama, tentunya. Kemudian ia menjelaskan seberapa banyak kejadian mistis di lantai dua. Karena gedung baru dana lama terhubung dengan lantai satu dan basement dan lantai dua dengan jembatan yang sekarang menjadi lorong penghubung. Ajeng juga menjelaskan makanya mengapa lift ini yang berhadapan langsung dengan lorong tersebut suka berhenti pas di lorong tersebut. Karena setelah lorongnya berakhir di sebelah kirinya merupakan pintu aula.Setelah penjelasan tersebut kita saling melihat satu sama lain dan tertawa. Kemudian tiba-tiba ada jari-jari yang keluar dari belakang Ajeng membuka pintu lift kami semua berteriak dan saling memeluk “HANTU!!” “Hey.. kalian masih di sini?” ternyata pak satpam Kamto “Eh… mas kamto” kata Asep “Dasar kalian para Gaming club masih belum pulang juga? Ini kan bukan hari Jumat?” ia bertanya “Oh gak tadi kita latihan pentas kok mas” kata Kurua “Ya sudah sana pulang”Kami segera pergi dari lift dan menuju ke lobby. Kami berpisah di situ dengan yang lainnya, Ajeng dijemput oleh supirnya sedangkan Asep dan Kurua mengemudikan motor masing-masing. Diriku yang masih memegang tangan Keira mengatakan “untung saja ada Keira ya haha gue jadi gak.. Takut”. Ku melirik Keira dan merasakan tangannya bergetar. Tiba-tiba memeluk diriku sambil merengek. “Kyl, Takut gua huhuhu” diriku hanya mengusap kepalanya dan berkata “cup cups, Keira Detektif yang pemberani kok. Nanti kita makan Bento Makanlah ya” Keira mengangguk menjawab iya.Setelah makan malam Keira mengantarkanku menuju rumah, setelah mengucapkan perpisahan, diriku disambut oleh Ibuku. “Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” ibuku menjawab sambil duduk di sofa ruang tengahSaat ku berjalan menuju kamar ibuku memanggilku untuk duduk dulu di ruang tengah. “Ada apa bu?” ku bertanya Ia menunjukan foto dari kamera instan yang kupunya. Foto diriku mencium pipi Keira. “Ini siapa?” “Temen doang kok bu..” “Beneran..?” “Iya… ih..” diriku berdiri dan mengambil fotonya “lagian ngapain si ibu sama foto kyln, ibu nguber foto Kyln ya?” “Serah ibu dong, kamu kan anak ibu, kalo kamu masih mau tinggal di rumah ini kamu harus nurut ama peraturan ibu” dia memindahkan tatapannya dari Televisi ke diriku. Aku hanya bisa menggerutu marah pergi menuju kamarku. Ibuku berteriak, “aku belum memperlihatkan ini kepada ayahmu”Diriku hanya melompat dan memeluk gulingku sambil memegang erat foto tersebut. Tetesan air mata tidak bisa terbendung saat itu. Tiba-tiba terdapat bisikan di kepalaku, “Gantung.. Gantung.. Gantung dirimu”. Kemudian tiba-tiba handphoneku berdering,“Oh Keira? Kenapa? Hah?! Masa masih takut si haha” Dan cerita hari itu pun berakhir, sampai jumpa di cerita berikutnya. Tertanda Kyln
Miss Populer
Menjadi siswi terpopuler di sekolah adalah impian wajar setiap gadis, siapa sih yang nggak mau jadi artis di hati setiap penghuni sekolah? Tentunya, popular dalam hal positif ya seperti siswi tercantik di sekolah. Ya.. itulah cita-citaku, untuk meraih cita-citaku aku rela merogoh saku lebih dalam untuk perawatan wajah setiap minggu, selalu membeli majalah supaya tidak ketinggalan model pakaian dan tidak hanya itu aku juga mengikuti ekskul koreografi supaya makin lengkap deh kategori cewek cantik nan modis yang nempel di diriku.“Met pagi Amira cantikku” ucap Brian di suatu pagi. Brian adalah cowokku, si ganteng yang tajir melintir. Coba banyangin, setiap hari dia berangkat ke sekolah mengendarai sepeda motor mewah seharga 1 unit mobil CR-V dan barang-barang yang digunakan Brian itu selalu barang branded. Jadi, wajarlah kalau aku jatuh kepelukannya. “Pagi Sayang, kamu udah lamaan nyampenya?” tanyaku “Enggak kok barusan aja aku nyampenya. Tadi kulihat kamu lagi sendirian di koridor, jadi ya aku samperin. Oh iya, kamu kok datang pagi banget apa dapat giliran piket?” Tanya Brian “Iya nih yang, tuh lihat tanganku sampai kotor begini gara-gara nyapu kelas” ucapku sambil menyodorkan kedua tanganku pada Brian. “Gak apa kok yang, kan bisa dicuci nanti. Oh iya, nyapunya udah selesai belum?” Tanya Brian “Udahan kok” jawabku “Kita duduk di sana yuk” ajak BrianSeperti pagi-pagi sebelumnya, Brian selalu mengajakku mojok dulu sebelum masuk kelas. Ya .. harap maklum sih kami kan beda kelas. Di saat kami tengah menikmati indahnya kebersamaan tiba-tiba ada bola basket yang hampir saja mengenai kepalaku, untungnya aku bisa menghindar jadi kena tembok. Tapi di depan Brian aku harus manja dong.“Aaah.. aduh siapa sih yang pagi-pagi udah gangguin aku?!” ucapku jengkel-jengkel manja “Kamu nggak apa-apa sayang?” Tanya Brian sambil memegang wajahku yang cantik “Enggak apa kok sayang cuman kaget aja, tapi tadi itu bener-bener ngagetin lo” ucapku manja “Udah.. yang penting kamu tidak apa-apa yang” ucap Brian sambil mengelus wajahku.Beberapa saat kemudian datanglah seorang cowok tampan berwajah seperti peranakan Arab mencari bola. “Permisi, bolaku kelempar ke sini nggak? Maaf ya kalau ngenai kalian” ucap cowok tampan itu dengan tenangnya. “Oh.. jadi ini bolamu. Heh, kira-kira donk kalau main basket. Bisa main nggak sih? Kok bisa-bisanya bolanya kelempar sampai sini?!” makiku “Udahlah yang, mas ini jangan dimarahin gitu toh bolanya kelempar di sebelahmu kan. Maaf ya mas, dia cuman kaget aja tadi” ucap Brian “Waww, baru kaget saja sudah memaki-maki begini apalagi kalau kena ya? Caper amat sih!” celetuk cowok tampan itu. Cowok tampan itu kembali ke lapangan sambil membawa bola basketnya dan akupun masih tertegun dibuatnya. Kok bisa-bisanya sih, dia memaki cewek popular sepertiku? Apa dia nggak tahu siapa aku?“Kamu kenapa? Masih dongkol sama cowok itu?” Tanya Brian “Iyalah yang, siapa sih dia itu? Berani-beraninya memarahi cewek popular seperti aku?” ucapku “Udahlah yang, lagian kamu tadi nggak terluka kok marahin dia begitu ya wajarlah kalau dia balik marahin kamu. Udah ah, yuk masuk ke kelas 5 menit lagi bel masuk lo” ajak BrianWaktu istirahatpun tiba, seperti biasa sebagai cewek popular di sekolah sebelum aku pergi ke kantin terlebih dulu kulap dulu wajahku dengan puff bedak. Ya.. namanya juga cewek popular pastilah tak pernah ketinggalan bedak, sisir dan kaca dong. Tujuanku sih, supaya aku tetap jaga penampilan dan yang penting aku tu sejajar sama Brian, si cowok yang tajir melintir.Sesampai di kantin jelaslah semua mata tertuju padaku, tentu itu semua karena kecantikan wajahku dan kemolekan bodyku. “Mir, nanti sepulang sekolah latihan koreo ya” ucap Maria, gadis berambut ikal salah satu anggota koreografi. “Kok mendadak amat Mar? Kan biasanya hari Kamis, ini kok tumben-tumbenan hari selasa?” tanyaku dengan gaya centilku yang khas. “Iya, kan buat acara pensi minggu depan. Hari ini kan hari terakhir Ujian Semester, jadi minggu depan udah ada acara pensi-pensi gitu” tukas Maria “Oke deh Mar, ntar aku hadir kok” jawabku “Oke” jawab Maria meninggalkanku membiarkanku menikmati roti bakar keju yang telah kupesan tadi.Di saat aku tengah menikmati enaknya roti bakar, aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikanku, dengan segera aku mendongak menatap mata yang telah lancing memperhatikanku dan ternyata.. dia adalah cowok tampan yang tadi pagi kumaki-maki. Ganteng sih tapi dia itu nggak modis banget. Dandanannya itu loh membuatku enek litanya, jauh banget dari styleku tapi temannya banyak dan yang lebih anehnya lagi semua temannya itu segan banget ke dia. Emang ada apanya sih dia? Tapi aku udah siapin seluruh gaya dan kata-kataku kalau dia sampai berani nyamperin aku ke sini.“Hai Zul! Udah dari tadi?” ucap seorang cowok yang nggak terlalu keren bagiku “Iya.. lumayan lah. Oh iya, kamu mau pesan apa?” Tanya cowok ganteng itu “Seperti biasa mie ayam. Heheh” ucap teman cowok ganteng itu “Dasar pecinta mie ayam. Heheh” kelakar cowok tampan itu. Kemudian cowok yang nggak terlalu keren itu memesan mie ayam dan tiba-tiba ada beberapa cowok yang nyamperin tu cowok ganteng. Akupun berusaha menenangkan diriku dengan berpura-pura main HP. Kukira beberapa menit lagi dia akan datang padaku tapi ternyata sampai bel istirahat usai dia sama sekali nggak nyamperin aku. Hihh gemes banget kan jadinya. Siapa sih dia itu? Apa nggak ngerasa ada cewek popular di depan mata? Awas kau, aku akan membalas kelakuanmu.Pagi ini giliran teamku ngedance di acara pensi, sebagai cewek popular di sekolah aku sudah mempersiapkan diriku sejak kemarin sore karena aku ingin semua mata tertuju padaku. Giliran timkupun tiba, aku dengan sekuat tenaga mempertunjukkan skillku dalam hal ngedance. Gemulai, kekompakan dan juga keseimbanganku secara totalitas kutunjukkan semua dan hasilnya aku mendapat tepukan tangan yang meriuh. Huhh.. puas banget rasanya.Seusai ngedance, aku ke kantin untuk menghilangkan rasa haus dan lapar tentunya dengan seluruh anggota timku. Setibaku di kantin, aku melihat cowok ganteng itu. otakkupun otomatis berfikir keras untuk mempermalukannya di hadapan seluruh siswa yang ada di kantin. Saat itu kulihat dia sedang memesan sebuah makanan, akupun dengan cepat menyandingnya. “Eh minggir! Cowok rendahan seperti kamu nggak layak ada di sini!” ucapku “Siapa kamu beraninya melarangku? Ini sekolah milik nenek moyangmu?” jawabnya dengan mata berkilat-kilat. “Ya.. bukan sih cuman aku tu mau bilang aja kalau anak orang miskin seperti kamu itu nggak pantes sekolah di sini” ucapku “Aku memang miskin belum bisa beli apapun karena selama ini apa yang aku miliki adalah pemberian dari orangtuaku tapi aku rasa yang rendahan itu bukan aku tapi kamu. Bagaimana bisa kedua orangtuamu membiarkanmu jadi cewek yang sok kaya dan pembohong, sudah gitu nggak punya akhlak lagi. Kamu boleh menghinaku tapi jangan orangtuaku, dengar anak kaya abal-abal!” ucap cowok ganteng itu. “Apa maksudmu bilang aku anak kaya abal-abal? Aku tuh kaya beneran ya” ucapku “Oh iya? Kalau kau memang benar-benar anak orang kaya lalu mengapa kau mengaku rumahku adalah rumahmu?” ucap cowok ganteng itu dengan matanya yang masih berkilat-kilat.“Iya Mir, apa yang dikatakan Izul benar. Aku nggak nyangka Mir, kamu bisa berbuat seperti itu. Padahal, andai kamu jujur aku tetep mau kok jadi pacar kamu” ucap Brian tiba-tiba. “Apa maksud kalian? Aku nggak ngerti sama sekali” ucapku bingungBeberapa hari yang lalu “Daripada nggak ngapa-ngapain mending aku ke rumah Amira ah” gumam Brian. Kemudian Brian pergi ke perumahan Cempaka Putih no. 52B dengan mengendarai motor mewahnya. Jarak perumahan Brian dengan Perumahan Cempaka Putih memang dekat, jadi sebentar saja sudah datang. “Selamat siang, pak apakah saya bisa bertemu dengan Amira?” Tanya Brian pada pak Satpam “Amira? Amira siapa ya Mas. Di sini nggak ada yang namanya Amira” tukas pak Satpam “Loh masa sih pak? Dia itu cewek saya, dia sekolah di SMAN 1 Batu” ucap Brian “Sebentar.. sebentar, SMA 1 Batu? Apa temannya mas Izul? Tunggu sebentar ya” ucap pak Satpam. Akupun setia menunggu di situ dengan penasaran sambil bingung. Sejak dulu jadian sama Amira, aku selalu nganter Amira pulang ke rumah ini.Di tengah-tengah kebingunganku, kulihat cowok tampan pebasket itu berjalan keluar dari rumah mewah itu. “Ini mas, orang yang saya ceritakan tadi” ucap pak satpam “Loh kamu?” ucap Izul kaget “Kok kamu ada di sini?” Tanya Brian semakin bingung “Pak, dia adalah teman saya. Tolong bukakan gerbangnya ya” ucap Izul dengan tenangnya. Kemudian Izul dengan tenang mempersilahkanku masuk. Akupun memarkir sepeda motorku di halaman rumahnya yang megah.“Silahkan duduk dulu, sebentar ya” ucap Izul mempersilahkanku duduk di beranda rumahnya yang sejuk nan mewah. Aku semakin bingung kok ada Izul di rumah megah ini, kalau memang benar Amira adalah saudara Izul maka tidak mungkin Amira memaki Izul seperti itu.Beberapa menit kemudian Izul kembali dengan membawa segelas jeruk hangat dan setoples camilan. “Silahkan dinikmati” ucap Izul “Iya terimakasih, tapi Amiranya mana?” tanyaku “Kamu cowoknya dancer itu?” Tanya Izul “Iya betul aku cowoknya. Oh iya kenalin aku Brian” ucapku sambil mengulurkan tangan “Aku Izul” ucap Izul sambil membalas uluran tanganku.“Kamu bicara dengan siapa Zul?” ucap seorang pria paruh baya dari dalam rumah “Ini Brian Pi, temanku sekolah” ucap Izul “Ooh nak Brian” ucap Pak Hendrik. Brianpun semakin kaget melihat papinya Izul. “Om, apa kabar?” ucap Brian sambil mencium tangan pak Hendrik “Kabar Om baik. Nak Brian rumahnya dimana?” Tanya pak Hendrik “Di PErumahan Mutiara Indah Om” jawab Brian “Dekat ya. ya sudah kalian lanjutin saja ngobrolnya” ucap Pak Hendrik“Loh Zul, kamu itu anaknya advokat ternama ya?” Tanya Brian heran “Iya Bri, papiku memang Advokat ternama mankanya aku tuh selalu menyembunyikan identitasku. Kalau ada masalah di sekolah seperti ambil Rapor, rapat dll itu pasti mamaku yang datang. Kemudian kalau ada blangko data siswa pasti profesi papiku tak tulis wiraswasta bukan advokat dan mamaku PNS. “Mamamu PNS dimana Zul?” Tanya Brian “Beliau guru SD Bri. Oh iya, kok kamu nyari Amira ke sini?” ucap Izul “Jadi gini Zul, aku tuh tadi di rumah nggak ngapa-ngapain jadi aku mau ngapelin Amira gitu dan setiap kali aku nganter dia pulang sekolah ya ke rumah ini” ucap Brian “Masak? Kok nggak ketemu aku? Hahaha berarti dia pembohong dong. Ini rumahku Brian bukan Amira” tukas Izul “Kok Amira gitu sih Zul” tanyaku bingung “Udah nggak usah bingung. Gimana kalau besok kamu tetep nganterin Amira seperti biasa, ntar kita diam-diam ngikutin Amira pulang ke rumah yang sebenarnya” ucap Izul “Oke deh Zul” ucap Brian“Dan kami diam-diam ngikutin kamu pulang ke rumahmu yang sebenarnya ternyata kamu anaknya pak Untung tukang sapu taman kota itu kan?!” ucap Izul Kalimat itu laksana petir di siang bolong bagiku, tanpa permisi air mataku jatuh terurai oleh kalimat 2 cowok itu. Aku benar-benar tak tahan dengan perlakuan mereka, aku ..aku menangis sejadi-jadinya.“Mengangislah Mir, menangislah karena kebohonganmu sendiri dan ingat Mir aku tidak mau mempunyai pacar tukang bohong sepertimu” ucap Brian sebelum berlalu meninggalkanku. Oh tidaaakk! Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah peribahasa yang pantas untukku. Sudah dipermalukan diputusin pula.
Perjalanan Hidup Seorang Gadis
Suatu hari ada seorang anak yang baru lulus dari sekolah dasar, anak itu bernama Michael, kemudian dia disekolahkan di sebuah kota karena ibunya tidak mampu membiayainya kebetulan juga ibunya punya kenalan di sebuah panti asuhan, maka ia menitipkan Michael di tempat itu.Tapi menjelang beberapa tahun Michael mulai tidak betah karena di panti asuhan itu pengasuhnya menjadikan anak-anak panti asuhan sebagai pembantunya termasuk Michael, Michael pun mulai resah tapi dia menunggu sampai bangku SMK agar bisa keluar dari panti asuhan karena sekolahnya juga tidak ditanggung sama pengurus panti asuhan, setelah Michael mulai masuk SMK dia sudah merencanakan sebuah ide untuk keluar dari panti itu.Setelah beberapa minggu kemudian dia minta izin keluar. Tetapi pengurusnya melarangnya dan berkata “kamu jangan keluar, kamu tau kan anak-anak di sini sudah semakin kurang! kenapa mau pindah?” Michael pun berkata “saya mau pindah ke panti asuhan yang lain karena ada yang dekat sama sekolah SMK saya”.Setelah beberapa lama di bujuk akhirnya Michael diizinkan keluar dan pindah ke panti asuhan itu yang dia maksud, tetapi setelah baru beberapa hari Michael tidak betah di panti asuhan itu karena peraturannya sangat banyak makanya dia memutuskan untuk pindah lagi ke kost kakaknya, Michael pun meminta izin keluar lagi dan beralasan bahwa kakaknya memanggilnya untuk membuat sebuah usaha kecil dia pun diizinkan.Setelah Michael pindah ke kost kakaknya dia pun mulai agak tenang tetapi suatu ketika temannya memanggilnya ke pantai, Michael pun ikut tetapi sewaktu di sana teman-temannya main dorong-dorong ehk, hp Michael tercelup air laut dan rusak, Michael mulai kesal akibat keegoisan temannya dia selalu jadi korban dari setiap masalah semenjak saat itu Michael tidak pernah lagi ikut jika dipanggil oleh temannya.
Marauders Era
Dulu aku bukan orang yang seperti ini. Yang mengatakan iya semudah air mengalirkan daun kering.1"Bisakah kau membantu membawakan koperku ke dalam?" tanya Emma Vanity. Ia menyodorkan koper kayu yang kutebak berisi perlengkapan quidditchnya. Koper itu nampak berat. Aku enggan membawa itu.Seolah digerakkan, aku menjawab, "Bisa."Shit!Seharusnya aku menolak, namun nasi telah menjadi bubur.Aku mengangkat koper Emma Vanity yang, demi uban Salazar, amat berat! Aku mengekor pada Emma ke dalam kereta dan membantunya meletakkan koper di atas kursi."Terimakasih," tuturnya padaku.Setidaknya ia berterimakasih.Aku memberikan senyum setengah hati pada Emma. "Sama-sama."Aku keluar dari kompartemen yang ditempati Emma Vanity menuju gerbong paling belakang yang tak mempunyai kompartemen. Hanya jejeran bangku dan meja yang berhadap-hadapan. Aku duduk di salah satu bangku dan menatap ke luar jendela. Murid Hogwarts berlalu-lalang dengan kopernya, bersiap kembali ke Hogwarts, musim panas telah usai.Teman-teman satu asramaku terlihat di luar. Banyak dari mereka menyendiri entah hanya berdiri dengan tas tersampir atau membaca di satu bangku. Yang lain berdiskusi seperti Black satu itu.Sirius Black?Aku menyipitkan mataku. Berusaha melihat dengan jelas apakah itu benar Sirius atau.... oh itu adiknya, Regulus Black. Karena tak mungkin Sirius berkerumun dengan Slytherin. Bodohnya aku!Aku bernapas lega. Menyenderkan tubuh di kursi. Sebenarnya aku tidak begitu lapang. Kepalaku selalu dihantui oleh Sirius Orion Black semenjak tahun lalu. Bukan karena Sirius tampan, namun karena tabiatnya sekarang.Kupejamkan mata. Mengingat hari-hari yang kuhabiskan dengan Sirius. Sebelum ia disortir ke dalam Gryffindor, sebelum ia membenci keseluruhan Slytherin, dan sebelum ia menjauh seperti ia adalah bintang yang berpindah setiap malamnya, dan aku bulan yang duduk menunggu.Aku tak bisa mengingat pertemuan pertamaku dengan Sirius. Orang tua kami berkata, kami sudah dipertemukan meski sejak dalam kandungan. Dan rupanya kami juga bertemu meski kedua kaki kecil kami belum dapat menopang tubuh kami sendiri.Pertemuan pertama yang kuingat kala itu, rambut Sirius masih rapi. Persis seperti Regulus saat ini. Ia juga memakai baju bewarna hijau atau hitam yang dipilihkan Peri Rumahnya.Orang tua kami dekat dan mereka gemar menggoda. Sirius dan aku tidak mengindahkan mereka. Dia dan diriku masih terlampau dini untuk memahami arti dari senyuman mereka kala kami bersentuhan ataupun bertengkar karena hal kecil.Kami teman dekat, mungkin lebih dari itu. Aku tahu semua keluarga Sirius, dan ia tahu semua keluargaku, termasuk boneka yang kupunya.Selayaknya teman pada umumnya, kami berbeda pendapat. Sirius entah mengapa selalu tidak setuju dengan apa yang diucapkan para orang tua. Bahkan apa yang dikatakannya terkadang membuatku versi cilik tidak paham."Jangan memanggil mereka darah lumpur! Itu tidak baik," omel Sirius. Ia masih delapan tahun kala itu.Aku menatapnya bingung. "Harus kupanggil apa?""Muggleborn," jawabnya.Aku hanya mengangguk-angguk, aku sendiri tidak tahu dari mana ia mempelajari kata itu. Aku tidak peduli dan mulai memerkenalkan boneka baruku pada Sirius. Sedangkan lelaki itu hanya mendengarkan. Setelah itu, ia akan mengejek bonekaku jika suasana hatinya baik. Kalau suasana hatinya lebih baik lagi, ia akan merebut boneka itu dan aku harus bermain kejar-kejaran dengannya.Hari-hari lalu yang indah.Sampai semua pertemanan kami menjadi canggung ketika orang tua kami memutuskan untuk menjodohkanku dan Sirius. Saat itu kami hendak menginjak sepuluh tahun, dan surat dari Hogwarts sudah ada di tangan masing-masing."Apa kau masih mau berteman denganku?" tanyaku pada Sirius setelah terlalu lama diam dan saling lirik.Kami duduk di lantai kamar Sirius setelah ikut mendengarkan para orang tua yang berencana menjodohkan kami."Mengapa tidak?" Sirius balas bertanya.2"Kau seperti menjauhiku," kataku dengan intonasi semakin menurun.Aku bersumpah dapat mendengar angin dari jendela yang mengelus rambutku dengan lembut. Begitupula dengan degup jantungku yang teratur."Kuharap kita selalu berteman, Sirius. Kau dan aku akan menjadi keluarga," lanjutku.Sirius tidak membalas perkataanku, bahkan sampai aku mengucapkan pamit untuk kembali pulang.Aku terkejut saat pertamakali memasuki Hogwarts. Sirius tidak menyapa maupun tersenyum padaku. Sepertinya ia terlalu sibuk dengan temam barunya yang ia temui di kereta.Keadaan semakin memburuk terlebih saat Sirius diseleksi di Gryffindor. Terlebih ia sangat cepat berbaur dengan teman-temannya, James Potter, Remus Lupin, dan Peter Pettigrew. Pemikiran dan sifat Sirius cocok dengan mereka, dengan kebanyakan Gryffindor. Bagaimana ia tidak menyetujui supremasi darah murni, sangat berkebalikan dengan apa yang kupelajari di rumah sejak kecil. Dengan apa yang seharusnya Sirius pelajari saat kecil.Yang membuat hatiku hancur, Sirius membenciku karena dasi hijau yang kukenakan.Apa Sirius mau berteman denganku jika ia disortir ke Slytherin?Setidaknya Sirius selalu bertemu denganku kala libur. Entah aku yang datang ke rumah mewahnya, atau ia yang dipaksa berkunjung ke rumahku yang tak kalah megah. Ini semua ide orang tua Sirius.Hari libur adalah masa-masa di mana aku dan Sirius lupa bahwa merah dan hijau bermusuhan. Ia seperti orang yang benar-benar berbeda ketika menghabiskan musim panasnya denganku. Ia tetap usil dan cerdik, namun ia lebih perhatian, manis, dan sedikit protektif. Seperti udara canggung yang dulu memeluk kami telah hilang entah kemana.Suatu saat ia pernah tak sengaja tidur di sampingku. Entah malam apa yang ia lalui di Grimmauld Place sampai ia kelelahan di siang harinya. Pada saat itu aku sadar bahwa Sirius Black amat tampan."Apa aku ketiduran?" tanya Sirius.Aku yang hendak mengelus kepalanya langsung tersadar bahwa tindakanku akan merugikan."Ya, kau Putri Tidur," balasku dengan ejekkan.Sirius terkekeh lalu mendudukkan badannya. Aku masih bersandar nyaman dengan bantal sebagai pengganjal. Aku terkagum-kagum dengan setiap gerak-gerik Sirius yang elegan khas Keluarga Black."Apa kau sudah makan dan minum obat?" tanya Sirius cepat ketika ia tersadar jika tugasnya adalah menemaniku yang tengah sakit ketika orang tuaku sengaja meninggalkan kami.1"Sudah," jawabku. "Kau bisa tidur di kamar tamu. Sepertinya orang tuaku akan pulang besok.""Aku di sini saja. Lagipula aku tidak akan bisa tidur lagi setelah tidur panjangku tadi."Sirius berpindah ke sofa di kamarku. Ia membuka-buka buku musik di meja kecil sebelahnya. Kami mengobrol singkat dan ia malah tertidur di sofa dengan posisi terduduk.1Aku terkekeh. Tidak bisa tidur lagi, katanya. Kuambil selimut di dalam lemari meski kakiku terasa sakit setiap melangkah. Kusampirkan selimut itu pada tubuh Sirius. Kasihan. Ia pasti kelelahan entah dengan apa itu. Mungkin ia terlalu sibuk menunjukkan diri pada semua orang bahwa ia masih pantas disebut Black.Berbeda kala Sirius mengunjungiku, aku tak senang mengunjunginya. Pemandangan yang kudapatkan tak pernah membahagiakan. Sirius selalu adu mulut dengan orang tuanya, terutama dengan Nyonya Walburga. Kedua orang itu sama-sama keras kepala, tak ayal mereka ibu dan anak.Semua pertengkaran mereka akan berakhir dengan Sirius yang mengunci diri di kamar dan Tuan Black akan mengantarkanku pulang. Entah apa yang terjadi di rumah mereka ketika aku sampai rumah. Apa Tuan Black akan memarahi Sirius lebih parah? Apa Nyonya Black akan main tangan?Di setiap akhir liburan, aku mengira Sirius dan aku akan berteman kembali di sekolah, barangkali menyapa, namun Sirius masih berlaku dingin terhadapku di Hogwarts. Tentu ia tak ingin merusak citranya sebagai Gryffindor.Mungkin yang salah ada padaku. Aku juga tak berusaha menyapanya. Karena aku juga tak ingin merusak citraku sebagai Slytherin.1Tahun keempat, Sirius dan kawan-kawannya semakin menggila.Ia terkena banyak detensi. Kurasa ia malah bangga dengan itu. Sirius dan kawan-kawannya terbahak di koridor, berlari saat pergantian jam samai dimarahi oleh Tuan Filch, dan hal-hal menyenangkan lain yang dilakukan sekelompok teman.Jika Sirius dan aku dekat, apakah aku akan menjadi bagian petualangannya?Liburan kenaikan dari tahun empat ke lima, aku dan Sirius kembali berteman. Ia lebih sering mengunjungi rumahku.Aku masih mengagumi usaha Tuan dan Nyonya Black untuk mempertahankan hubungan kami meskipun kedua orang tuaku mulai tidak menyetujui perjodohan ini setelah Sirius masuk ke Gryffindor, apalagi dengan banyaknya protes staf Hogwarts pada pasangan Black perihal ulah putra sulungnya di tahun ini.Ibu berkata aku cocok mendapatkan yang lebih baik. Ibu hanya belum melihat bagaimana sikap Sirius jika tak ada orang lain. Bagaimana sikap Sirius yang hanya ia tujukan untukku.2Jarang bagi Sirius pulang saat libur natal, tapi di tahun kelima ia pulang. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumahnya. Seperti di rumahku atau Potter.Di rumahku, ia bercerita tentang rumah para Potter. Mata abu-abunya berbinar ketika ia bercerita tentang makanan buatan Nyonya Potter, atau kegiatan memancing bersama Tuan Potter dan James.1Sirius selalu menyempatkan mampir ke rumahku dari kediaman Potter di Godric Hollows. Entah mengapa ia tak langsung pulang. Padahal kegiatannya di rumahku tak banyak. Paling-paling menemaniku yang tidak melakukan apa-apa sendirian. Aku tak bisa memberikan Sirius petualangan seperti James.Sirius selalu mengiyakan semua yang ingin kulakukan bahkan sampai yang paling membosankan seperti membaca. Saat aku membaca, ia memintaku mengucapkan tiap katanya keras-keras. Ia akan memposisikan tubuhnya begitu nyaman. Duduk di sofa, berdiri di belakang kursiku dan meletakkan dagunya di kepalaku, atau serta merta merehatkan kepalanya di pangkuanku seolah itu hal biasa. Ia seharusnya tahu bahwa hal itu membuat jantungku berdebar. Ia seharusnya tidak melakukan ini jika ia tidak menyukaiku.2Terkadang aku berpikir betapa beruntung aku sampai Sirius berperilaku seperti ini. Gadis-gadis di Hogwarts rela mati demi mendapat lirikkan Sirius.Aku ingat suatu hari, giliranku berkunjung ke rumah Keluarga Black. Seperti biasa, semuanya berakhir dengan Sirius adu mulut dengan kedua orang tuanya. Namun yang satu ini berbeda....."Lihatlah, Regulus! Kau seharusnya seperti dia!" Paman Orion membentak."Aku lebih baik dari Regulus karena tidak masuk ke dalam sirkus tengkorak itu!" Sirius balas berteriak."Jaga ucapanmu!" sekarang Bibi Walburga yang membentak."Fuck Death Eater! Fuck yo-"Seruan Sirius terpotong oleh suara pukulan yang lebih keras dari teriakan Sirius. Mataku membelalak. Kupingku seolah berdenging di tengah keheningan.Pipi Sirius memerah. Ia menundukkan kepalanya dalam. Rambutnya yang panjang menggantung, menutupi sebagian besar matanya.Nyonya Walburga Black berdiri dengan napas berat. Matanya yang melotot berair entah karena amarah atau penyesalan.Kali ini aku menyaksikannya langsung pertamakali bagaimana Sirius dipukul. Aku tak percaya bahwa Tuan Orion dan Nyonya Walburga benar-benar bermain tangan. Seharusnya aku sadar. Seharusnya aku mengerti.Sirius mulai menatap ibunya berang. Ia tidak berkata apapun. Saat berbalik badan, mata abu-abunya beradu denganku. Terlihat jelas perbedaan warna antara pipi kiri dan kanannya. Aku sudah ingin menangis karena syok, terlebih melihat genangan air di mata Sirius.Sirius lantas berlari menuju kamarnya. Aku mengikutinya. Tak sengaja melewati Regulus yang berdiri rapat di tembok dekat ruangan yang kami tempati tadi.Tuan Black memanggilku. Aku tak mendengarkan. Seumur hidupku, aku tak pernah dipukul oleh orang tuaku sendiri."Sirius!"Aku mengetuk pintu kamarnya yang terkunci. Ia tak membuka pintu maupun menjawabku. Hanya isakkan yang kudengar. Aku merasa ingin ikut menangis dengannya.Pada akhirnya Paman Orion membujukku untuk pulang. Ketika aku keluar Grimmauld Place, kulihat Bibi Walburga terduduk dengan kepala menggantung. Kuharap beliau menyesal.Memori paling indahku dengan Sirius adalah kala aku tengah duduk di tepian air mancur belakang rumahku. Sirius datang dengan apparition seperti biasa."Sehabis dari rumah James?" tanyaku .Sirius tersenyun lebar. Napasnya begitu berat sembari berjalan mendekat. Mungkin lelah karena bermain entah apa itu dengan James."Ya! Tadi sangat hebat!" Sirius duduk di sebelahku dan bercerita mengenai petualangan ajaibnya dengan James.Aku tersenyum mendengarkan Sirius. Sampai akhirnya ia bertanya apakah aku memiliki cerita untuknya.Aku tidak terlalu sering ke luar rumah dan sedang tak membawa buku, namun aku tahu beberapa hal tentang mitologi Yunani. Melihat air dan pantulan wajah Sirius di kolam air mancur, aku mengingat Narcissus. Aku yakin Sirius sudah mengetahui tentang kisah ini. Ia bukanlah lelaki bodoh. Namun ia tetap mendengarkan ocehanku dengan saksama sampai kisahku selesai. Sebenarnya aku lebih seperti bergosip tentang orang-orang di zaman Yunani Kuno daripada bercerita."Apa menurutmu Narcissa seperti Narcissus?" tanya Sirius. Ia memilih untuk berjongkok di atas rumput, melipat tangannya di atas pinggiran air mancur, dan menonton pantulan kami di air.Aku tertawa menunduk ke Sirius. "Memang ia narsis?""Well, her name is Narcissa." Sirius mendongak dengan seringaian.Aku terkekeh sampai Sirius mencelupkan tangannya ke dalam air, menyentuh pantulan wajahku."Jika Narcissus memiliki wajah sepertimu, aku tahu mengapa ia terjun ke dalam air," tutur Sirius.Aku bersumpah dapat merasakan kupu-kupu terbang dari perut sampai paru-paruku.Sirius pasti mengatakan itu tanpa berpikir, karena pemuda itu menceburkan diri ke dalam air mancur. Airnya terciprat kepadaku. Aku sedikit khawatir apakah Sirius terbentur marmer karena air mancurku tidak dalam, namun saat wajahnya muncul di permukaan, ia terbahak. Aku pun turut tertawa.Wajah Sirius yang basah, pipinya yang merah, sinar mentari siang hari yang mengguyurnya, membuat parasnya semakin rupawan."Kau tak ingin ikut? Jarang-jarang Inggris panas, dan kau sudah terciprat air," tuturnya mengulurkan tangan padaku."Tidak," balasku singkat.Sirius terlihat seperti anak-anak. Ia bermain-main dengan air sambil terus membujukku untuk bergabung dengannya.Tak bisa membujukku ia datang mendekat. Ia meletakkan dagunya di atas pinggiran air mancur dan mendongak padaku, menunjukkan tatapan seperti anak anjing. Tetesan air jatuh dari bulu matanya, helaian rambut gondrongnya yang tidak turut disisir ke belakang sedikit menutupi wajah."Apa kau marah padaku?" tanya Sirius.Apa aku terlihat marah? Aku menolak ajakan Sirius karena tak ingin basah kuyup dan demam. Aku mudah sakit.Tangan Sirius terulur untuk menangkup pipi kiriku. "Maafkan aku," katanya."Mengapa kau meminta maaf?""Karena perlakuanku padamu di Hogwarts itu tidak adil. Aku tahu selama ini kau pasti marah karena itu."1Aku terdiam sangat lama. Aku tak pernah mempermasalahkan itu. Lagipula aku juga bersikap dingin padanya di Hogwarts. Namun setelah dipikir lagi, apa yang Sirius lakukan jauh dari kata tak adil, ia benar-benar jahat, tetapi aku terlalu menyukai Sirius untuk membencinya."Aku menyukaimu," tuturnya. Dengan cepat ia menambahi, "Rumahmu. Maksudku rumahmu. Suasana rumahmu lebih nyaman daripada rumahku. Aku tidak tahu jika itu masih pantas disebut rumah."Kali ini aku yang menangkup pipi basah Sirius, mengelus-elusnya pelan. Tangan Sirius berpindah menggenggam tanganku yang menangkup pipinya."Kita akan menjadi keluarga, rumah ini akan menjadi rumahmu," kataku."Rumah ini akan menjadi rumah kakakmu," koreksi Sirius sembari terkekeh."Aku yakin pintunya terbuka lebar untuk kita."Sirius tersenyum lebar. Dengan cepat ia menarik wajahku mendekatinya dan mengecup bibirku cepat.4Aku menegang. Otakku memproses tindakan Sirius. Pemuda ini benar-benar digerakkan oleh impuls.Wajah Sirius masih berada satu senti di depanku. Ia membisikkan maaf di depan bibirku lalu menciumku lagi. Lebih pelan dan lebih lembut. Pada saat itu aku memutuskan untuk ikut memceburkan diri ke dalam air dengan Sirius.Seperti Narcissus meraih cintanya.Tapi seperti kisah Narcissus, kisahku dan Sirius juga berakhir.4Sirius kabur ke kediaman Potter. Potter yang dianggap pengkhianat karena membela muggle.Keluargaku tak mau Sirius menginjakkan kaki di rumahku, jika mereka tahu Sirius ber-apparate di sini, mereka bahkan tak segan menyeretnya keluar. Pada akhirnya Keluarga Black mengabulkan permintaan orang tuaku dan membatalkan perjodohan kami."Berapa harga dirimu jika kau menikah dengan Sirius?" gerutu Ibu setelah Bibi Walburga pulang ke rumahnya. Ibu nampak puas Sirius bukanlah jodohku.1Mengapa aku sakit hati dengan ucapan Ibu? Aku mungkin telah mencintai Sirius semenjak ciuman itu. Aku berharap jika Sirius tak kembali pulang, ia akan tetap menemuiku seperti kisah cinta yang orang ceritakan, namun tidak. Ia tidak pernah datang menemuiku.Sekarang di sini lah aku. Duduk di kursi kereta. Kini aku benar-benar melihat Sirius. Ia bersenda gurau, merangkul Remus dan Peter. James berada di depannya berjalan mundur menceritakan sesuatu dengan gerak tubuh yang dilebih-lebihkan.Kukira aku dan dirinya akan menjadi keluarga, namun mereka bertiga lah keluarga pilihan Sirius.Aku bersumpah telah melupakan perasaanku pada Sirius. Tak ada alasan bagiku untuk berbalik bahkan sekedar menoleh pada Sirius Black. Hanya saja aku membayangkan bagaimana jika......Sirius tidak terlalu pemberani sampai disortir di Grydfindor......Sirius masih menjaga hubungan pertemanannya dengaku......Sirius tidak kabur......dan Sirius menjelaskan hubungan yang kami miliki setelah ciuman itu, karena teman tak asal bertindak.Aku penasaran jika satu hal yang kusebutkan tadi nyata, apakah semuanya akan berakhir seperti ini?Aku tersenyum menatap Sirius yang tertawa melihat James menabrak sekumpulan Slytherin.Kupikir akan sangat menyenangkan jika Sirius Black ada di sini, di sampingku, menganggapku sebagai keluarga atau calonnya, atau jika Sirius menjadi orang itu yang selama ini selalu kubayangkan."Permisi, bisakah kau berpindah tempat? Aku ingin di dekat jendela," tutur Betty. Adik kelas Ravenclaw yang cantik. Tidak ada yang tidak mengenal gadis ini.Tubuhku sangat berat untuk digerakkan dan Sirius masih tertawa dengan manis di ujung mataku. Aku tak ingin pindah dari tempat ini."Oh, ya! Tidak masalah."Shit!"Terimakasih," tutur Betty pada kakak kelas Slytherin yang berkenan untuk bertukar tempat duduk dengannya. Kakak kelas itu gadis yang amat cantik. Ia seperti bayangan Betty pada Helen dari Sparta.Betty menanggalkan kardigan yang ia kenakan dan duduk melihat ke luar jendela. Bisa saja bagi Betty untuk masuk ke salah satu kompartemen dengan mata terpejam dan menemukan teman-temannya, namun Betty tidak yakin jika mereka benar-benar teman. Betty hanya dapat berbagi suka pada mereka. Betty tak dapat menyuarakan uneg-unegnya tentang James pada siapapun.Tidak. Bukan James Potter kakak kelas yang keren itu. Yang berada di seberang jendela saat ini, menertawakan segerombolan Slytherin lalu berlari pergi. James yang itu begitu setia pada Lily Evans. Betty sempat berpikir bahwa Jamesnya juga seperti itu.Betty bertemu James di pesta yang diadakan Gryffindor. Saat itu Halloween dan Betty mengenakan kostum Wendy Darling, sedangkan James menjadi Peter Pan. Tidak lama bagi mereka untuk menyadari kostum satu sama lain, dan tidak lama pula bagi mereka untuk saling mengenal dengan baik.2"Kau cukup sering berada di pesta," tutur James."Cukup banyak yang mengundangku. Aku tidak enak untuk menolak. Lagipula aku masih muda. Carpe diem, they said," timpal Betty.2James terkekeh. "Apa kau tidak bosan?"Betty menatap James yang tersenyum padanya dan Betty balas tersenyum. "Sedikit.""Then..." James meletakkan minumannya serta milik Betty lalu menggenggam tangan pemudi itu. "c'mon!"Betty tergelak, sedikit kebingungan, namun tetap mengikuti kemana James membawanya. "Where do we going?""The Neverland!" seru James setelah ia membawa Betty ke luar ruangan. Para lukisan mengomel pada James karena suaranya yang keras.Betty dan James tidak pergi jauh. Mereka pergi ke menara astronomi. Melihat second star to the right. Melihat Neverland."Menurutmu, mana Neverland?" tanya James mendekatkan dirinya pada Betty. Gadis itu dapat merasakan suara James begitu jelas di telinganya."Tidak ada, James. Peter Pan lelaki yang suka bicara seenaknya." Ucapan Betty membuat James menautkan alisnya dan itu menggelikan bagi Betty. "Mungkin itu." Betty menunjuk bintang paling terang di langit. "Kurasa itu Saturnus. Dan yang sebelah kiri adalah Jupiter. Mereka yang paling terang dan paling dekat dengan cakrawala di bulan ini, jadi mungkin itu adalah Neverland. Tapi itu tidak penting. Seperti yang kukatakan, Peter Pan suka bicara apa saja, mungkin bintang kedua dari kanan bukan Neverland yang sebenarnya.""Perempuan memang banyak bicara," tutur James diikuti kekehan.Betty langsung menutup mulutnya rapat. Menyesali celotehannya."Namun aku suka kau bicara. Aku suka mendengar cerita," kata James.Dan itu cukup untuk membuat Betty tersenyum kembali.'Second star to the right and straight on 'til morning.'Cahaya lembayung mulai muncul di cakrawala sebelum Betty menyadari bahwa dirinya mengantuk. Betty dan James berbagi cerita begitu banyak. Keduanya tak ingin cerita itu usai di situ saja. Dengan kecupan lembut di bibir, James berjanji pada Betty untuk menemuinya usai kelas.+"Nanti, ceritakan padaku tentang Kapten Hook," bisik James di depan bibir Betty sebelum ia menjauhkan diri dan mengantar Betty sampai depan pintu asrama Ravenclaw.Menggelikan bagaimana pertemuan Betty dan James begitu sederhana namun amat bermakna. Seolah mereka memang ditakdirkan bertemu."Dia terdengar seperti lelaki baik padamu," tutur Inez saat sarapan."Dia baik sekali! Dia bahkan mengantarku sampai depan pintu asrama," ujar Betty. Matanya sedikit menyipit karena senyumannya begitu lebar."Aku ikut senang kau membuka dirimu pada laki-laki," kata Inez.Betty terdiam cukup lama. Sekelebatan ingatan yang tak terlupakan muncul dalam angannya. "Aku juga," ucap Betty dengan senyum.Betty dan James tidak terpisahkan. Mereka pergi ke The Three Broomstick bersama, pergi ke pesta bersama, duduk di satu kompartemen yang sama, dan memghabiskan waktu musim panas bersama-sama.Pertengahan bulan Juni di musim panas, James berkunjung ke rumah Betty atas undangan ibunya untuk makan malam. James memutuskan untuk menginap seperti biasa. Betty dan James berbaring di atas ranjang. Kepala Betty beristirahat dengan nyaman di atas dada James. Starman dari David Bowie terdengar dari pemutar musik milik Betty.4"Kau hanya tinggal bersama ibumu?" tanya James.Betty mengangguk. Ia menggambar bintang dan astronot di dada James dengan jari telunjuknya. "Orang tuaku sudah bercerai."James bergumam, tidak bertanya lebih lanjut. Lelaki itu menggenggam tangan Betty dan mengecup pergelangannya. Ia meletakkan tangan Betty di dadanya dan menggenggamnya terus sampai mereka terlelap, terbang di pulau kapuk. Untuk kali pertama, Betty mendapatkan mimpi indah.Betty tahu jika pemuda dan pemudi seumurannya kerap meremehkan hal kecil yang dapat menyeret mereka dalam masalah. Seperti halnya James yang berpikir bahwa Betty tidak terlalu pintar untuk menyadari perubahan di sikapnya. Bahkan Betty tahu penyebab dari hal itu."Aku ingin mengisi ulang minumanku," tutur James di pesta ulang tahun Mary Macdonald. Pesta terakhir yang didatangi Betty dan James bersama-sama.Sesaat James pergi, Sirius dan Mary mendatangi Betty untuk menyapa. Mereka berdua mabuk. Jika bukan karena Peter Pettigrew, mungkin mereka sudah ambruk di depan Betty saat ini."Oh... Si cantik Betty dari Ravenclaw!" seru Mary. "Apa kau menikmati pestaku?"Betty terkekeh san berkata, "Tidak ada yang lebih hebat dalam pesta selain Gryffindor.""Kau memiliki jiwa Gryffindor." Sirius menepuk-nepuk pundak Betty. "Apa kau sendiri?""Aku bersama James," jawab Betty."James?" tanya Sirius."James adik kelas kita, Pads," ucap Peter.Sirius menautkan alis, mencoba mengingat James selain James Potter sahabat karibnya."James pacar Betty, dungu!" seru Mary sambil memukul kepala Sirius cukup keras."Ah! James pacar Betty! Aku tahu dia. Dia yang sering membawa benda muggle itu... Benda... Itu... membawa stik besar beroda," ucap Sirius."Skateboard," ucap Peter dan Betty hampir bersamaan."Ya! Itu-""Astaga! Marlene minum firewhisky! Ayo, Siri-sampai nanti Betty cantik!" Mary Macdonald berbicara. Kalimatnya bercampur menjadi satu. Ia menarik Sirius untuk mendekat dan berseru pada Marlene yang meminum satu botol firewhisky."Maafkan mereka," celetuk Peter."Pasti sedikit menyusahkan," kata Betty bersimpati.Peter menatap teman-temannya yang bergerombol di satu meja. "Yah... Begitulah." Peter memandang Betty kembali sembari tersenyum. "Aku akan menjaga mereka lagi," pamit Peter.Setelah Peter Pettigrew pergi, Betty tersadar bahwa James tidak segera kembali. Matanya mencari ke sana dan ke mari. Dan Betty melihat James dengan gelas yang setengah kosong berdiri dekat dengan seorang gadis Gryffindor lain. Betty tahu gadis itu. Augustine.2Betty tidak menghabiskan waktunya untuk mendekati James. Gadis itu berdiri mengamati sembari meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Betty tahu James akan kembali.Dan James kembali meski Betty harus menunggu dua puluh menit lebih lama. Betty tidak mengatakan apapun mengenai gadis itu saat James datang dengan gelas yang penuh dan kecupan di ujung kepalanya.Semenjak malam itu, semua berubah. Betty tersadar, namun ia diam. Menunggu apakah James cukup pintar untuk menyadari bahwa yang menciptakan asap ini adalah Betty, bukan dirinya. Karena Betty dapat melihat semua, tidak seperti James.Musim panas kemarin, James tidak mengangkat telepon rumahnya, selalu memberikan alasan ketika diundang makan malam, dan tidak memberikan kabar bahkan sekali. Maka ketika James berdiri di selasar rumah Betty di hari Sabtu, kecemasan di hati gadis itu berkurang sedikit.Mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar taman kompleks rumah Betty. Melihat anjing berlarian dengan anak kecil, lansia duduk di bangku, dan tak sedikit orang duduk di atas rumput, fokus pada kegiatan masing-masing."Kau ke mana saja selama ini?" tanya Betty."Aku sedikit sibuk membantu orang tuaku," jawan James tanpa berpikir panjang.Betty tahu itu bohong. Alasan itu tidak masuk akal di otak Betty, namun ia memilih tidak bertanya lebih lanjut.Makan malam berlanjut seperti biasa, namun James tidak menginap. Betty duduk di sofa menatap James yang berdiri dan membungkuk untuk memberikannya kecupan di bibir dan dahi."Aku mencintaimu," katanya.Tubuh James hilang di balik pintu. Ia tidak menunggu balasan dari Betty. Tidak berbalik tersenyum. Peris seperti ingatan Betty tentang Ayahnya di hari itu. Setidaknya Ayah Betty tidak menyiksanya dengan melakukan hal itu berulang kali.Semester baru di Hogwarts datang. James tidak menjemput dan berangkat bersamanya ke King's Cross. Betty berangkat bersama Inez."Tumben sekali kau tidak bersama James," celetuk Inez di dalam taksi."Dia sepertinya sibuk. Aku tidak tahu." Betty mengangkat bahu dan bersender pada kursi taksi.Inez menatap Betty lamat. Dan Betty tidak tahu harus bersyukur atau bersedih atas apa yang Inez ucapkan tentang James. Tentang bagaimana lelaki itu menghancurkan harapan Betty pada lelaki."Kau yakin, Inez?" tanya Betty. Tangan kirinya menggenggam erat tangan kanannya sendiri. Keduanya bergetar."Hanya Gryffindor yang berani melakukan hal seperti itu," tutur Inez.Betty bukanlah orang yang mudah percaya dengan gosip atau bahkan menilai seseorang dari asramanya. Ia lebih pintar dan lebih baik dari itu. Namun kali ini Betty tak dapat membela James. Karena seperti Betty, Inez pun tidak percaya dengan gosip.Betty dapat melihat James di King's Cross. Lelaki itu berlari kecil ke arahnya. Ia memeluk Betty sejenak, tidak sadar akan postur Betty yang kaku.Tahu akan tatapan yang Betty tujukan, Inez pergi meninggalkan keduanya tanpa berbasa-basi pada James."Aku merindukanmu," ucap James setelah melempar senyum yang tak dibalas oleh Inez.Like hell, you do, batin Betty. Ia tidak menatap James atau bahkan mendengarkan celotehannya. Betty terlalu sibuk meladeni suara di kepalanya."Babe, kau sakit?" tanya James membuyarkan pikiran Betty."Apa itu benar?" tanya Betty tak menjawab pertanyaan James."Apanya?""Kau dan Augustine."James membuka mulutnya, namun tak ada aksara yang diproduksinya. Betty menunggu sedikit lama. Memberikan James waktu dan ruang untuk membela diri. Namun James malah menutup mulutnya kembali."Jadi itu benar?" tanya Betty dengan kekehan kecut. "Sekarang sebutkan kesalahanku sampai kau melakukan hal seperti itu?"James terdiam seperti orang bodoh di mata Betty."Tidak? Kau tak bisa menyebutkannya?""Aku mencintaimu," James mencicit."Simpan itu! Kau pasti mengatakan pada gadis itu hal yang sama! Kau tak bisa mengejar dua gadis, James!" Betty berbisik penuh penekanan. Ia tidak ingin orang-orang di sekitarnya mendengar. Itu akan memalukan.James menggantungkan kepalanya, namun Betty tak ingin melihat bahkan sehelai rambut James. Betty meninggalkan James berdiri mematung. Bahkan ia tidak berusaha untuk mengejar Betty kembali.Pertengkaran Betty dan James tak pernah berlangsung lama. Dua remaja itu mungkin akan berbaikan dengan satu ciuman di dalam mobil Betty atau The Three Broomstick. Tetapi Betty sudah muak bagaimana diamnya dianggap ketidaktahuan bagi James. Betty sudah muak kebaikannya dimanfaatkan.Musim panas ini terlampau kejam pada Betty.Dan tindakan James jauh dari kata kejam.1Betty meremas kardigan di tangannya ketika mengingat James. Ia bahkan selalu melirik ke luar jendela, seolah melihat James berdiri di sana dengan wajah seperti anak anjing yang dibuang, menunggu Betty untuk memaafkannya. Itu hanya angan Betty saja.Namun Betty tahu James.1Betty tahu jikalau James tengah berpikir keras untuk memperbaiki keadaan.Betty tahu James akan selalu terbang seperti Peter Pan di pikirannya. Menggodanya untuk tinggal bersamanya di Neverland.1Betty tahu jika James merindukannya di suatu titik ketika petualangannya mulai membosankan.Betty masih enam belas tahun dan ia tahu semuanya.1Dan Betty tahu James akan kembali."Sapu tangan?" kakak kelas secantik Helen dari Sparta itu menyodorkan sapu tangan hitam bersih untuk Betty.Betty tidak sadar bahwa ia tengah menitikkan air mata. Sedari pertengakarannya dengan James berlangsung, ia menahan semua emosinya. Fuck you, James. I hope you have miserable life, batin Betty.1Betty menerima sapu tangan itu dengan terima kasih dan menenggelamkan wajahnya sejenak lalu mengusap air matanya. Ketika ia melipat sapu tangan itu kembali, ia melihat bordiran bertuliskan Black dengan benang perak.
Blythe
Ruangan 4×3 bercat hijau lumut diterangi lampu pijar membuat ruangan tersebut semakin suram. Ruangan itu adalah gudang sekolah khusus untuk meletakkan beberapa perlengkapan sekolah yang tidak terpakai lagi, beberapa dokumen lama pun tersusun sembarang di sana. Gudang ini terkadang dipakai siswa untuk melakukan pelanggaran peraturan sekolah.Tepat di waktu istirahat kedua, gudang ini ternyata sedang dihuni sementara. Ada empat orang siswa laki-laki berdiri di hadapan satu siswa perempuan.Byurrr Air berperisa jeruk mengalir tanpa halangan di kepala gadis itu. Siswa laki-laki berbadan gempal dengan rambut keriting itu yang menyiramnya, ia tertawa tanpa berdosa sembari menyenggol lengan teman-temannya yang ikut tertawa.“Gadis miskin modal kasihan kepala sekolah saja berani melapor ke guru kedisiplinan tentang kami, hebat sekali kau ini.” Pemuda bertubuh gempal itu berkata mengejek. “Ia kira kepala sekolah akan membelanya, kamu itu tidak lebih sekadar benalu baginya. Jelaslah kepala sekolah membela kami, kuasa orangtua kami lebih kuat daripada dia!” seru pemuda berambut lurus bermata sipit di samping pemuda berbadan gempal itu.Gadis itu meringis perih saat luka akibat dorongan mereka disirami perasan air jeruk. Ia tidak mengerti, ia juga tidak merasa bersalah karena laporan itu. Saat ia merasa tidak diperlakukan adil, ia harus bertindak untuk membela dirinya sendiri.“Sudah sering sekali kamu begini, apakah kamu tidak lelah karena laporanmu tidak digubris sama sekali?” tanya pemuda di samping pemuda bermata sipit. Gadis itu menggeleng. Ia memang tidak lelah, ia tidak akan menyerah sampai keadilan itu datang pada dirinya.“A-aku tidak akan menyerah! Kalian pasti akan dihukum karena kelakuan biadab kalian ini! Aku manusia, kalian juga. Namun kelakuan tidak lebih keji daripada binatang sekalipun!” Gadis itu berseru lantang. Setelah semua penghinaan, pelecehan, serta penyiksaan yang dilakukan mereka, ia tidak takut dan tidak akan takut.“Oh, tegar sekali gadis satu ini.” Pemuda berjaket hitam yang sedari tadi diam saja mulai beranjak mendekati gadis itu. Ia menjambak kuat rambut gadis itu dan berbisik tidak pelan. “Hei, daripada tidak mendapat keadilan, lebih baik mati saja? Bukankah itu solusi paling baik? Aku tahu kau pasti tidak kuat menerima siksaan ini, aku tahu jelas. Jadi, mati saja. Ayo, aku dukung.”Gadis itu memicing tajam. Ia ingin sekali mencakar wajah mereka satu per satu. Terutama pemuda yang menjambaknya ini. Setelah kepalanya disentakkan dengan keras ke dinding, ia ditinggalkan sendiri di gudang, gadis itu menangis karena tindakan mereka yang begitu kejam.—Gadis bernama Blythe itu berdiri di pinggir jembatan. Jembatan yang menghubungkan hulu dan hilir yang dipisahkan oleh sungai terpanjang nomor dua di Indonesia. Jembatan merah yang sangat bersejarah bagi masyarakat kota itu.Blythe menghirup napas dalam-dalam. Malam hampir datang, ia belum pulang ke rumah. Rutinitasnya ialah berdiri di Jembatan Ampera dari pulang sekolah sampai menjelang malam. Ia melepas penat sambil menatap langit serta Sungai Musi bergantian. Terik matahari bukan halangan untuknya menikmati itu semua.Ia selalu berpikir mengenai namanya. Blythe. Satu nama itu saja yang diberikan oleh orangtuanya. Blythe berarti kebebasan dan kebahagiaan yang tidak dibatasi. Nama dan arti yang rupawan. Sayangnya hidupnya sangat jauh dari arti namanya.Bebas. Rasanya sudah begitu lama kebebasan menghilang dari dirinya. Menjadi anak yang tinggal bersama paman tirinya bukanlah sesuatu kebebasan. Hidupnya terkekang.Bahagia. Lucu sekali, bahkan saat lahir pun kebahagiaan tidak pernah ada dalam hidupnya. Orangtuanya meninggal tepat di hari ketujuh ia dilahirkan. Blythe dititipkan kepada paman tirinya dan dijadikan budak oleh mereka. Kepala sekolah teladan bagi mereka bukanlah paman yang baik bagi Blythe.Blythe mengusap air mata yang mengalir tanpa aba-aba ke pipinya. Ia menatap lama Sungai Musi di bawah. Air yang tenang itu seakan mengajak Blythe untuk menikmati ketenangan juga. Blythe seperti terhipnotis. Ia sudah bersiap menaiki pagar pembatas Jembatan Ampera. Blythe ingin menikmati ketenangan, kebebasan, dan kebahagiaan itu. Blythe ingin terbebas dari semua penderitaan dunia ini.“Jangan!” Seseorang berlari kencang berupaya menghentikan niat gadis itu. “Apa yang kaulakukan? Ini berbahaya!” Seru orang itu, ia memegang tangan Blythe untuk mencegah gadis itu menaiki pagar pembatas jembatan.“Kau siapa?” tanya Blythe heran. “Aku Efran. Bisakah kauturun dulu? Jangan melakukan sesuatu seperti ini.” Blythe mengurungkan niatnya. Ia menurunkan kakinya dan berdiri dengan baik di hadapan Efran.“Dengarkan aku. Hidupmu memang menderita. Lebih baik mati daripada hidup seperti ini bukan? Adakah yang mengatakan itu padamu?” tanya Efran. Blythe diam. Tidak berniat menjawab. Ia terpikirkan perkataan pemuda berjaket hitam yang menyiksanya di gudang sekolah tadi. Blythe disuruh mati agar tidak menderita. Itu adalah saran yang bagus.“Sungguh. Menderita saja hidup mereka yang mengatakan itu padamu. Kau harus hidup. Tidak peduli semenderita apa hidupmu. Kau harus hidup. Bukan untuk orang lain tetapi untuk dirimu sendiri. Kau harus hidup untuk dirimu sendiri. Ayo, aku mendukungmu.”Ayo, aku mendukungmu.Blythe menangis. Ada yang mendukungnya untuk mati. Ada pula yang mendukungnya untuk hidup. Ia hanya tidak ingin menderita bukan berarti ia harus mati. Namun saat hidup ia selalu menderita.“Siapa namamu?” Blythe menunjuk tanda nama di sakunya. Efran mengangguk mengerti, “Blythe. Kebebasan dan kebahagiaan. Nama yang bagus. Kau harus mewujudkan arti namamu itu sebelum mati.” Blythe mendongak menatap Efran. Ia bingung, “Bagaimana caranya?” “Temukan bahagiamu dan jauhkan penderitaanmu. Kamu tidak harus lari, tetapi jika memang tidak bisa lagi dihadapi tidak apa menghindar dan menjauh. Keinginanmu untuk pergi itu karena kau tidak menjauh saat penderitaan itu sudah tidak bisa lagi dihadapi.”Gadis itu menangis kembali. Efran benar. Bukan lemah jika menjauh. Bukan kuat juga jika terus bertahan. Terkadang hidup juga harus berpikir sebaliknya. Blythe seharusnya menghindari penderitaan itu karena tahu sudah tidak memungkinkan lagi untuk dihadapi.“Pulanglah. Tidak baik anak perempuan sendirian malam-malam, aku akan mengantarmu.” Blythe menggeleng, ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah gelang buatannya sendiri, ia memberikan itu pada Efran. “Terima kasih banyak, Efran. Semoga kita bertemu lagi di manapun itu. Aku tidak akan mati sebelum arti namaku itu terwujud. Semoga kamu bahagia juga. Terima kasih banyak sekali lagi.” Efran mengusap rambut Blythe agar gadis itu tenang. “Ya, Blythe. Semoga kamu bahagia seperti namamu. Kita bisa bertemu di mana pun jika waktu berpihak. Sampai jumpa lagi, Blythe.”Besoknya di sekolah, Blythe kembali diseret keempat pemuda jahat itu ke gudang. Blythe menahan rasa sakit itu. Ia akan melawan dan berlari menjauh.“Jangan ganggu aku lagi!” Keempat pemuda itu tertawa terbahak mendengar seruan Blythe. Gadis itu menatap tajam mereka. “Wah berani sekali Blythe lemah ini. Kenapa tidak jadi mati semalam? Habis bertemu malaikat penyelamat?” Blythe melayangkan tamparan cukup keras di pipi pemuda berjaket hitam. Semuanya terkejut. Mereka tidak menyangka dengan keberanian Blythe. Keempat pemuda itu semakin mendekat dan mencoba menyiksa Blythe lebih kuat.“Jika kepala sekolah ataupun guru kedisiplinan tidak berani bertindak karena orangtua kalian. Biarlah. Aku tidak akan takut, kalian pasti akan merasakan penderitaan sepertiku bahkan lebih parah. Nikmati saja menyiksaku saat ini, sebentar lagi kalian tidak dapat berbuat ini lagi.”Sebelum keempat pemuda itu melayangkan tamparannya untuk Blythe. Beberapa polisi datang menyergap mereka. Blythe menahan napas, ia menatap keluar pintu gudang. Senyumnya terbit tatkala seseorang masuk.“Kita bertemu lagi saat waktu berpihak, Blythe. Terima kasih telah menghubungiku.” “Terima kasih banyak, Efran. Terima kasih telah datang di waktu yang tepat.”Efran mengusap rambut Blythe, seperti yang ia lakukan semalam. “Apa yang akan kaulakukan setelah ini, Blythe? Menemukan kebahagiaanmu?” “Ya, Efran. Aku akan pindah dari sekolah ini, pindah dari rumah itu dan memulai hidup baru dengan kebahagiaan. Aku tidak takut hidup sendiri, aku hanya takut dengan penderitaan ini yang terus menghantui.” “Pilihan yang tepat. Jadilah Blythe untuk hidupmu. Aku harus pergi. Semoga kita bertemu lagi saat waktu berpihak.”Blythe tersenyum. Senyum yang amat tulus. Kebebasan itu mulai datang dalam hidupnya. Ternyata, mati bukan hal tepat untuk mencari kebebasan dan kebahagiaan. Mati adalah solusi paling pengecut untuk hilang dari permasalahan.
Kisah Hikayat Siti Maryam
Alhamdulillah segala puji bagi robb pencipta alam dunia dan akhirat, yang berkuasa atas segala sesuatu yang IA SWT kehendaki seperti kisah teladan Siti Maryam Ibunda Nabi Isa A.s yang lahir atas kehendak allah SWT tanpa ayah. Inilah kisah wanita soleha Siti Maryam (Mary) Ibunda Nabi Isa AS yang wajib kita teladani.Ali Imran merupakan nama seorang laki-laki yang keluarganya telah terpilih menjadi keluarga yang diberkati oleh Allah. Allah memilih keluarga Ali Imran adalah karena dari pasangan suami istri ini lahir salah seorang wanita yang mulia dalam sejarah yaitu Maryam.Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (3:33)Semasa Maryam masih di dalam kandungan, istri Imran yang bernama Hannah bernazar akan "menyerahkan" anaknya itu kepada Allah sebagai Pemelihara agar kelak menjadi hamba yang soleh yang selalu berkhidmat di Baitul Maqdis (Yerussalem). Hal ini tertulis di dalam ayat ke-35 yang terjemahannya berbunyi:(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (3:35)Hari-hari terus berjalan. Takdir Allah tak dapat dielakkan. Ketika masa kelahiran anaknya sudah dekat, 'Imran, suami Hannah, wafat. Hannah kehilangan suami yang mencintainya. Tidak ada yang meringankannya kecuali saudara perempuannya, yaitu Isya', dan suami Isya', Nabi Zakariya, keturunan Nabi Sulaiman bin Daud as. Untuk mencari nafkah, Nabi Zakariya berprofesi sebagai tukang kayu.Ketika tahu anak yang dilahirkan itu adalah perempuan, istri Imran menamai anaknya Maryam, dan istri Imran meminta kepada Allah agar anaknya itu dipelihara oleh Allah dan melindunginya dari syetan.Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (3:36)Hannah kemudian mengambil Maryam, membungkusnya dengan kain, dan pergilah ia bersama anaknya dari Nazariat ke Baitul Maqdis untuk melaksanakan nadzarnya. Dia menemui para pendeta yang ada di sana, yaitu putra-putra Harun, yang jumlahnya tiga puluh orang. Adapun Nabi Zakariya adalah kepala Baitul Maqdis.Hannah berkata kepada mereka, "Ambilah anak yang kunadzarkan ini!"Maka, dengan berebutan, pada pendeta itu menawarkan dirinya untuk memungut anak itu, termasuk Nabi Zakariya. Masing-masing dari mereka ingin mengambil dan memelihara Maryam, sebab bayi itu adalah anak 'Imran, seorang yang terkenal shaleh.Akhirnya semua pendeta itu setuju untuk mengundi siapa di antara mereka yang paling berhak atas anak itu. Pergilah mereka ke Sungai Urdun. Masing-masing mereka melemparkan pena-pena yang biasa mereka gunakan untuk menuliskan ayat-ayat Taurat ke dalam air sungai.Allah SWT berfirman:Ali 'Imran: 4444. Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.Ternyata, air sungai menenggelamkan semua pena pendeta itu, kecuali pena Zakariya yang tetap terapung-apung di permukaan air. Dengan demikan, berarti Zakariyalah yang berhak memelihara Maryam.Allah SWT berfirman:Ali 'Imran: 3737. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.Maryam tumbuh menjadi wanita yang kerjanya setiap hari hanya beribadah dengan berkhidmat kepada Allah di Rumah-Nya di Baitul Maqdis. Zakaria adalah "kuncen" Rumah Allah tersebut. Di sinilah Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada Maryam. Setiap kali Zakaria menemui Maryam di mihrab, dia mendapati berbagai makanan yang lezat berada di samping Maryam. Dari manakah datangnya makanan itu? Setahu dia Maryam tidak pernah membawa makanan ke Rumah-Nya, Zakarilah yang selalu mengantarkan makanan kepada Maryam. Maryam menjawab bahwa makanan itu berasal langsung dari Allah, mungkin diturunkan dari langit atau melalui perantara malaikat-Nya.Lanjutan ayat 37 di atas:Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. (3:37)Allah telah memilih Maryam sebagai wanita solehah yang dilebihkan dari wanita lain di dunia. Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). (3:42)Sebagai bentuk ketaatan, Allah memerintahkan Maryam agar selalu menyembah Allah, selalu sujud dan rukuk kepada Allah bersama orang-orang lainnya lainnya yang menyembah Allah.Hai Maryam, ta'atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'. (3:43)Sampai suatu hari Allah akan memberikan suatu keajaiban yang tidak disangka-sangka bagi Maryam. Allah mengabarkan bahwa Maryam akan mengandung seorang anak lelaki yang namanya sudah ditentukan oleh Allah yaitu Isa Al Masih (atau Al Masih isa putera Maryam).(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: "Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih 'Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), (3:45)Ketika masih bayi Isa kelak memiliki mukjizat yaitu sudah bisa berbicara dengan manusia:dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh." (3:46)Maryam tentu saja merasa kaget, bagaiman mungkin dia akan mengandung, padahal dia belum menikah, dan dia belum pernah disentuh atau berhubungan dengan lelaki manapun. Tentu saja, karena Maryam kerjanya setiap hari hanyalah berkhidmat kepada Allah di Baitul Maqdis. Dia jarang keluar dari Rumah-Nya, apalagi bergaul dengan lelaki. Allah menjawab seperti kasus Nabi Zakaria di atas, bahwa hal itu mudah saja bagi-nya, kun fayakun, maka apapunyang Dia kehendaki pasti akan terjadi. Dialah Allah SWT yang Maha Pencipta.Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia. (3:47)Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. (3:48)Allah mengutus Nabi Isa kepada Bani Israil. Kepada Bani Israil Nabi Isa menjelaskan tanda-tanda kenabiannya yaitu mukjizat menghidupkan burung dari tanah liat, menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan berpenyakit kusta.Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu'jizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman. (3:49)Nabi Isa berkata kepada kaumnya bahwa dia membenarkan kitab-itab terdahulu yang telah diturunkan kepada Nabi Musa (Taurat) dan Nabi Daud (Zabur), lalu menghalalkan apa yang dahulu diharamkan.Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mu'jizat) daripada Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan ta'atlah kepadaku. (3:50)Lalu Nabi Isa meminta kaumnya agar menyembah Allah SWT sebagai jalan yang benar.Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus". (3:51)
Aku Menyukaimu
Jika kutuliskan dengan berlebihan tentang hari ini, maka, akan kutuliskan bahwa hari ini sangat sempurna, sangat luar biasa dan istimewa. Dari mata terbangun hingga mataku kembali terpejam, hanya senyum yang menghiasi wajahku.Pagi ini aku membuka mataku, bersamaan dengan mentari menyambut dengan sinar paginya yang lembut, masih dengan semburat kelembutan diiringi tiupan angin pagi yang menyegarkan. Bahkan baru kali ini aku mendengar burung berkicauan dengan ramah di pagi hari, seakan terus menyuarakan bahwa ini hari terbaik yang pernah ada.Rasanya aku kembali hidup dari kematian, membuatku ingin berteriak bahwa pagi ini sangat indah, dan lebih indah dari pagi pagiku sebelumnya.Setelah membuka jendela dan menatap ke luar kamar asrama sejenak, aku pun pergi ke kamar mandi dengan senandung riang yang tak biasa, bahkan beberapa teman asramaku menatap heran. Entah apa yang telah merasuki pagi ini, itu tentu adalah hal yang baik, bagiku.Apakah tentang sebuah kisah cinta? Emm.. Yah, bisa jadi.Sendari pagi tak henti hentinya aku memuji cuaca, keadaan, bahkan memuji penampilan teman se-asrama yang kutemui. Senyumku tak lagi bisa kutahan bahkan saat mengerjakan piket kebersihan kamar mandi asrama yang biasanya sangat kubenci. Hari ini terlalu indah untuk kujalani dengan amarah dan gerutuan.Mengikuti kelas online tambahan di akhir pekan ini pun tak membuatku kesal atau bermalas malasan, setidaknya hari ini, secara ajaib, aku tiba-tiba bisa melihat bahwa ada sisi baik dari kelas ini, ya, aku bisa melihat wajah asisten dosen yang sangat kukagumi walau hanya lewat platfom online.Hari ini berjalan terlalu sempurna untuk sebuah akhir pekan biasa yang cukup membosankan, walau aku tak merasa bosan untuk hari ini saja. Pesanan online yang tak sesuai pun entah mengapa tak membuatku kesal.“Senyam senyum kayak orang gila aja, Nda!” Tegur Jena, duduk di kursi sebelah sambil memakan es krim vanila di tangannya.Aku tak merespon, tak ada waktu untuk berdebat dengannya. Lagi pula aku sedang fokus dengan laptopku, menonton drama korea yang kutinggalkan selama sebulan terakhir. Tak ada lagi waktu untuk hari ini, matahari sudah hampir melewati titik terpanasnya dan aku harus pergi ke salon yang sudah kureservasi sejak kemarin.“aku mencintaimu~ jeng jeng jeng!” Drama bersambung.Begitupun aku yang langsung menutup laptopku rapat rapat, tak peduli pada Jena yang ternyata ikut terhanyut dan menonton drama korea yang biasanya ia anggap menye-menye dan membuat kami berdebat.Bergegas aku mengganti pakaianku dan memesan ojek online, menunggunya dengan kesabaran penuh dan berangkat.Salon kecantikan, tempat yang tak pernah kukunjungi sebelumnya kecuali hanya untuk memotong rambut, dan khusus hari ini aku datang untuk merawat diri, aku ingin melakukan sedikit perawatan untuk wajah dan rambutku, juga meriasnya sedikit.Jika Jena dan yang lain tahu aku pergi ke salon dan mengenakan dress feminin untuk hari ini, sepertinya aku sudah tahu ekspresi mereka dan bagaimana mereka akan menertawakanku. Menjadi orang baik untuk hari ini pun sudah membuat mereka tak tahan melihatku.“Sempurna!” Begitu aku melihat diriku di cermin full body di dalam salon kecantikan.Rambut panjang yang biasa kukucir kuda kubiarkan tergerai, sebuah penjepit bunga daisy kubiarkan menggantung di sisi kanan atas telinga, menahan poniku agar tak jatuh sembarangan. Sebuah dress se-lutut berwarna biru muda yang dibelikan ibuku beberapa bulan lalu saat aku berulang tahun dan belum pernah kukenakan hingga saat ini, akhirnya tiba saatnya ia menunaikan tugas, membalut tubuhku dengan indah. Sebelumnya aku tak tahu bahwa dress akan cocok untuk kukenakan, sudah banyak dress pemberian ibuku yang kujual ulang di toko online. Flat shoes dan tas selempang, oleh-oleh dari sepupuku sepulangnya ia dari Bali setahun lalu, yang tak pernah kuduga aku akan memakainya pun ikut meneriahkan suasana.Sisi yang berbeda dari seorang Ayunda Azura Wibisana pun akhirnya muncul juga!Untuk apa aku melakukan semua ini? Benar, karena sebuah janji pertemuan yang dua hari lalu kudapat dari ponselku. Orang yang kusuka beberapa bulan terakhir ini akhirnya mengajakku bertemu, hanya kami berdua, di sebuah kafe yang cukup jauh dari area asrama dan kampus.Sepertinya inilah saat terbaik untuk mengatakannya, sejak semalam aku sudah sangat bersemangat dan buru buru mempersiapkan segalanya, termasuk menghabiskan uang bulananku di salon. Hanya untuk dia. Aku tak sabar untuk bertemu dengannya, ini sungguh hari yang menggembirakan dan sangat mendebarkan! Aku, seorang Ayunda, akhirnya gugup dan luluh juga hanya karena seorang pria!Huh, lama lama aku bisa benar benar gila! Momen yang biasa kulihat dalam drama korea pun akan datang padaku, entah bagaimana aku harus bersikap tapi sepertinya aku akan bersikap ceroboh karena terlalu gugup.“Nda!” Dia melambaikan tangannya ke arahku. Jantungku benar benar berhenti, dia terlalu tampan, padahal ia hanya mengenakan kemeja santai biasa, tapi rasanya sudah seperti seorang model papan atas. Tingginya yang pas sebagai seorang model juga tubuhnya yang memang ia seorang atlet dari jurusan olahraga.Aku juga melambaikan tanganku, membalasnya, menghampirinya kemudian.“kau tampak berbeda hari ini.” Begitu yang ia ucapkan, sudah cukup membuat jantungku berlarian tak menentu, dia memperhatikanku dan penampilanku!Aku tak bisa membalas, hanya menggaruk tengkukku dengan canggung hingga kami memutuskan masuk ke dalam kafe bersamaan. Duduk di sudut paling dekat dengan jendela hingga pemandangan lalu lalang kota pelajar ini tampak jelas di mata kami. Adegan klise dalam drama, dia pasti akan mengakui perasaannya, jika bukan itu pun, aku lah yang akan mengakui perasaanku, secepatnya agar jantungku yang hampir meledak ini merasa lega.“Aku sudah mengatakan sebelumnya di telefon bahwa aku akan menanyakan sesuatu padamu, kan?” Tanyanya dengan intonasi teratur yang sangat lembut, entah mengapa itu terdengar merdu dan menggema di dalam telingaku. Aku mengangguk, cukup antusias dengan pertanyaan apa yang ingin ia ajukan. Apa tentang apa aku menyukainya atau maukah aku menjadi kekasihnya, pikiran itu membuatku sedikit tersenyum tanpa kendali.“mmm.. Kau..” Gila! Kata katanya yang agak sedikit ragu membuatku terus memikirkan kalimat apa yang ingin ia bicarakan! Cepatlah katakan, “kau mau jadi kekasihku?” dan aku pasti akan mengangguk dengan tegas!“Kau teman baik Jena kan? Apa dia punya pacar?” Lanjutnya, cukup membuat senyumku yang tak luntur sejak pagi tadi meredup.Ternyata aku bukan tokoh utama dari drama yang kubayangkan selama ini. Sia-sia saja aku bersemangat berlebihan, lalu, bagaimana aku harus menjawabnya? Kalian juga tahu kan pertanyaan pertanyaan selanjutnya yang akan ia tanyakan? Apa aku masih perlu menjawabnya dengan ramah setelah tahu selama ini ia mendekatiku di organisasi hanya untuk berkenalan dengan Jena?Aku menggeleng, Jena tak punya pacar. Dia menghela nafas lega, seakan bidikannya tepat sasaran, dan selanjutnya ia menanyakan kesediaanku untuk membantunya. Beruntung, seorang pelayan datang membawakan pesanan kami, dua waffel dan es krim alpukat yang cukup mahal sengaja kupesan hanya untuk hari ini, memberiku sedikit kesempatan untuk berpikir jernih.Dan akhirnya aku menggeleng, aku tak bersedia dan membiarkannya memohon, tapi aku juga tak punya cukup kesabaran walau aku sangat menyukainya.Sudah kugambarkan dari awal, aku bukan wanita feminin, anggun, penyabar dan bijaksana dari bagaimana caraku bersikap. Maka aku pun hilang kesabaran saat ia menanyakan kenapa, kenapa aku tak mau membantunya.“Aku menyukaimu.” Kataku sesingkat itu, cukup membuatnya tertegun.Yah, kalau dia tak mengatakan bahwa dia menyukaiku, memang sudah kuputuskan untuk mengatakannya apapun yang terjadi pada hari ini.Ini bukan salah siapapun, jika dikatakan bahwa ini adalah salahnya, aku bisa mengatakan “ya, dia bersalah”, karena dia yang mendekatiku lebih dulu dan bersikap baik bahkan terlalu baik kepadaku. Dan jika dikatakan itu salahku pun, aku juga mengatakan “ya, aku bersalah”, karena aku terlalu membuka hatiku untuknya dan bisa-bisanya menerima perlakuan baiknya dengan perasaan yang sedikit berbeda.Ini hanya tentang kesalahpahaman yang konyol dan klise.Seharusnya jika ia menyukai Jena, dia mendekati Jena, bukan aku yang sama sekali tak ada kaitannya dengan kisah cinta mereka. Dan seharusnya aku pun tak sebodoh itu dan dengan mudahnya jatuh cinta hanya karena sikap baik tak jelas dan penampilannya.Hari ini, bukan hari bahagia, tapi hari yang menggelikan. Dan itu berakhir dengan tawaku yang cukup pilu karena perasaan searah itu, yang akhirnya membuat hubungan kami terlalu canggung walau aku juga sudah mengatakan aku tak masalah dengan hal ini.
Pengantin Padi
= Beberapa tahun sebelumnya=Aura marah dan kecewa terasa menguar dari Sang Hyang Prabu Bawanapraba, Penguasa Bawanapraba. Betapa tidak! Saat ini ia terpaksa mengadili putri kesayangannya sendiri di Balairung Istana Cahaya.Nyi Pohaci Sanghyang Sri, bidadari paling cantik di seantero Bawanapraba, telah menyalahi aturan takdir dengan jatuh cinta kepada seorang makhluk fana: manusia biasa. Sanghyang Sri telah jatuh cinta pada Raden Bagus Sadhana, pangeran dari Kerajaan Purwacarita.Cinta mereka tidak boleh berlanjut! Tidak boleh ada yang menentang kehendak takdir yang telah digariskan semenjak semesta diciptakan bahwa dua entitas yang berbeda dunia, tidak akan bisa disatukan.Maka di sinilah Sang Penguasa Bawanapraba menghadapi dilema. Ia harus menegakkan keadilan, sekalipun bagi putri yang paling disayanginya."Kenapa kau berani melanggar perintah Romo dengan jatuh hati pada seorang manusia, N duk ?!" Ia bertanya dengan gusar, sementara putri kesayangannya tidak tampak merasa bersalah sedikit pun!Dewi Sri duduk bersimpuh di lantai seperti seorang pesakitan. Tapi raut mukanya tidak menunjukkan demikian. Alih-alih menunduk, ia malah sedikit mendongakkan wajahnya dan menatap langsung ke arah ayahandanya, seolah menantang!Melihat putrinya tak kunjung menjawab, Penguasa Bawanapraba semakin geram."Kau kan sudah tahu bahwa sejak dunia ini diciptakan, telah digariskan bahwa makhluk abadi semacam kita, tidak akan mungkin bersatu dengan makhluk fana seperti manusia!""Jadi, apa maksud dan tujuanmu telah jatuh cinta dan mengikat janji setia dengan seorang manusia, hah?! Jawab!""Ampun Romo Prabu, memangnya yang namanya jatuh cinta itu bisa pilih-pilih dan direncanakan?""Ananda akui, ananda memang telah melanggar aturan dengan jatuh hati pada seorang manusia. Tapi yah, mau bagaimana lagi? Yang namanya perasaan, memangnya bisa dikendalikan?""Sudah lah, tidak perlu berpanjang kata. Nanda akan terima apa saja hukuman Romo Prabu, asal jangan panjenengan bunuh dia."" Romo Prabu boleh saja mencoba memisahkan kami, namun ikrar setia yang telah terucapkan sungguh tidak akan terbatalkan. Biar Sang Penjaga Waktu menjadi saksi!"Deg! Merasa namanya disebut, Sang Penjaga Waktu yang semula hanya diam menunduk mengikuti perdebatan antara ayah dan anak di sidang istana kali ini, sontak memandang Dewi Sri dengan wajah berkerut.Aduuuh, Dewi... tolong jangan libatkan aku dalam masalahmu!Mentang-mentang kau tahu aku naksir padamu--yah siapa sih, yang tidak? Semua penghuni istana ini yang masih single ya pasti naksir lah ke kamu, secara dirimu kan yang paling cantik di sini--sekarang kau berusaha menarik sekutu untuk menjamin kelangsungan hidup kekasihmu, agar Sang Pencabut Nyawa tidak bisa mendekatinya!Kebayang gak sih, sama kamu gimana perasaanku? Sakitnya tuh, di sini! !Sang Penjaga Waktu mengeja sesaknya tanpa suara.Sedangkan Sang Bawanapraba terpaksa mendesah gundah, inilah akibatnya kalau punya anak terlalu dimanja! Anak perempuan yang seharusnya lemah-lembut pun bisa berani terang-terangan menentang ayahnya!"Baiklah kalau memang itu maumu! Romo tidak akan membunuh pemuda itu, namun Romo tetap tidak akan membiarkan kalian bersatu!""Kau dihukum untuk turun dari Bawanapraba ini ke bumi, tidak... tidak, jangan gembira dahulu!"Sang Penguasa Bawanapraba sontak memotong kata-katanya sendiri saat melihat putrinya yang sedang dijatuhi hukuman justru tersenyum bahagia!"Jangan kau pikir dengan diturunkan ke bumi, kau jadi punya lebih banyak kesempatan untuk bertemu pemuda itu. Tidak akan!"" Romo akan mengubah wujud cantikmu menjadi seekor ular sawah, sehingga bila pun kau tak sengaja bertemu pemuda itu, ia tak kan lagi mengenalimu! Biar kau rasa bagaimana sakitnya diabaikan nanti!""Kau juga Romo bebani tugas untuk mengendalikan panen serta menjadi dewi penjaga kesuburan dan kemakmuran di muka bumi, dengan nyawa kasihmu, sebagai taruhannya!""Bila kau gagal, kasihmu akan langsung menemui ajalnya!"" Sendhiko dawuh, Romo. Siaaap!"Senyum kemenangan tetap terukir di bibir Dewi Sri.Menyebalkan! Putriku ini pasti sedang merencanakan sesuatu!Batin Penguasa Bawanapraba, kesal pada kelakuan putrinya.Bukankah perkataan Romo bermakna ganda? Jika aku berhasil menjalankan tugas dengan baik, itu artinya kekasihku akan berumur panjang, bukan?Dan selama nyawa masih di kandung badan, kesempatan untuk bertemu dengannya tentu saja tetap terbuka lebar. Bukankah kami kini akan menatap langit dan memijak bumi yang sama ?Perkara kata Romo, dia tak kan lagi mengenaliku sih gampang. Aku yakin hal itu tidak akan terjadi! Cinta kami yang kuat, pasti akan sanggup membuat kami tetap sanggup saling mengenali satu sama lain meskipun rupa telah berganti .Dewi Sri menggemakan sorak-sorai kegembiraan atas keputusan hukuman dari Sang Romo dalam hatinya. Dipikir dari segi manapun, menurutnya, ia tidak rugi sama sekali!+++=Beberapa tahun kemudian=Sang Penguasa Bawanapraba kembali menghadirkan putrinya, Sanghyang Sri di balairung istana.Karena posisinya masih sebagai pesakitan yang sedang menjalani masa hukuman, Dewi Sri kembali duduk bersimpuh di lantai.Tapi tetap saja, tidak ada rasa bersalah sedikit pun yang terukir di raut wajah Dewi Sri yang kini kembali ke wujudnya semula sebagai bidadari paling cantik di seantero Bawanapraba. Sihir dan magi tidak berlaku di istana ini. Penampakan ularnya hanya mewujud di bumi.Mana bisa jatuh cinta dianggap sebagai suatu kesalahan?Perinsip itu, ia pegang kuat-kuat dalam hati! Ia tidak salah, maka tidak perlu merasa bersalah.Oleh karena itu, bahkan sebelum Sang Penguasa Bawanapraba mengatakan apa-apa, Dewi Sri justru berani lebih dulu bertanya!"Kali ini ada apa lagi tho, Romo? Ananda telah berusaha menjalankan tugas eh, hukuman dink, dengan baik, tanpa melakukan kesalahan apapun!" ujarnya.Aduuuuh, putrinya ini kok ya semakin menjadi-jadi kelakuannya! Di mana sopan-santunnya?! Belum ditanya orang tua, malah sudah mendahului bertanya!Tapi mau tidak mau, ia harus menjawab pertanyaan putrinya. Ia memang ada perlu memanggil putrinya kembali ke Istana Cahaya."Begini N duk, kau kan tahu, dalam pertempuran terakhir melawan Raja Iblis, tongkat mustika Romo ini pecah kristalnya...," kata Penguasa Bawanapraba sambil menunjukkan ujung tongkatnya yang menganga kepada sang putri."Oh yaaa? Romo Prabu habis bertempur ya? Menang apa kalah? Wah, ananda tidak tahu tuh karena sedang sibuk bekerja, eh dihukum dink, di bumi!"Dewi Sri menunjukkan wajah antusiasnya yang palsu. Tentu saja, ia sedang menyindir ayahnya!"Ya menang, lah! Kalau tidak mana mungkin Romo masih berdiri menemuimu di sini!" sahut Penguasa Bawanapraba kesal. Ia tahu anaknya itu sedang mengolok-oloknya!"Oh, syukur deh kalau gitu. Tapi apa hubungannya denganku? Apa ananda dipanggil pulang hanya untuk dipameri kristal Romo yang pecah?"Nyi Pohaci Sanghyang Sri yang sebelumnya merupakan bidadari tercantik di seantero Bawanapraba telah dinyatakan bersalah, karena jatuh cinta pada seorang manusia.Ia pun dihukum turun ke bumi dalam wujud ular sawah, yang diberi tugas untuk mengendalikan panen dan kemakmuran.Tetapi hari ini, Penguasa Bawanapraba memanggilnya kembali ke Istana Cahaya. Kira-kira ada urusan apa ya?Cuss... silakan dibaca.+++"Oh, syukur deh kalau gitu. Tapi apa hubungannya denganku? Apa ananda dipanggil pulang hanya untuk dipameri kristal Romo yang pecah?"Aduh, anak ini! Lagi-lagi omongannya selalu bikin orang tua naik darah!"Dengarkan dulu, kalau orang tua bicara! Jangan dipotong terus!" Penguasa Bawanapraba mau tidak mau jadi nyinyir, menghadapi kelakuan putrinya."Ya maap, tapi masalahnya Romo Prabu kan suka lama kalau cerita, sementara 'nanda kan sibuk bekerja, eh dihukum dink, untuk mengendalikan panen....Kalau ananda kelamaan di sini dan mengakibatkan masalah perpanenan di bumi tidak ada yang mengurusi, takutnya penduduk bumi tar banyak yang gagal panen trus nanda lagi yang disalahin!Sudah deh, Rom, to the point saja. Maunya Romo, ananda itu harus gimana?"Haaaaah....Penguasa Bawanapraba menghembuskan nafas dengan sebal!Sabar, sabar, kalau punya anak terlalu pintar bikin orang tua kesal!Terkadang hampir-hampir, ia tidak mampu membalas lidah tajam anaknya!"Ya sudah!" Penguasa Bawanapraba terpaksa mengalah dan meringkas ceritanya."Intinya begini, kau kuberi tugas tambahan. Romo mau kau carikan pecahan kristal tongkat mustika yang jatuh di wilayah yang ada dalam penguasaanmu!"Sebagaimana permintaan putri kesayangannya, Sang Hyang Prabu Bawanapraba berusaha menjelaskan sesingkat mungkin. 'Berusaha' sih, tapi...."Dan bukan kau saja! Sebelumnya Romo juga telah memerintahkan delapan penjaga mata angin, enam penunggu alam, tiga pengendali elemen, dan pengendali musim yang lain untuk mulai mencari pecahan kristal tersebut di...."Tuh kaaan, to the point apaan! Alamat bakalan lama ini mah! Batin Dewi Sri.Karena itu, sebelum Penguasa Bawanapraba menyelesaikan penjelasannya, lagi-lagi Dewi Sri telah memotong perkataannya dengan tidak sabar. Ia mencoba merajuk untuk mengelak dari tugas barunya." Whaaaat?! Please, dunk Rom, tugas hukuman ananda tuh sudah banyak dan bikin sibuk. Kok malah ditambah-tambahin lagi, sih? Romo tega amaaat...."" Romo sudah tahu kau akan bilang begitu! Makanya dengarkan dulu cerita Romo !" Jawab Penguasa Bawanapraba sambil memberungut."Jadi pecahan kristal tongkat mustika itu masih punya cukup kekuatan untuk membuat siapa pun penemunya menjadi sakti." lanjutnya."Bayangkan, kalau kristal itu jatuh ke tangan makhluk yang salah, Banaspati misalnya, tentu kekuatannya akan meningkat berkali-kali lipat sehingga mampu membumihanguskan seluruh persawahan yang ada dalam pengawasanmu!Apa kau sanggup bertanggung jawab kalau hal itu sampai terjadi?!" Penguasa Bawanapraba mencoba menggertak putrinya."Ya enggak gitu juga kali, Roooooom ," Dewi Sri berusaha berdiplomasi."Tapi memangnya ananda bisa apa, kalau sampai seperti itu? Segala kesaktian, kekuasaan, dan pesona kecantikan yang semula nanda miliki 'kan sudah Romo lucuti!Yang tersisa cuma tinggal kemampuan untuk main perintah ke pengendali hujan dan pengendali (hewan) hama doank, demi mensukseskan masalah perpanenan. Memangnya bisa tuh, kemampuan gak penting macam itu dipakai untuk menemukan kristal mustika?""Makanya kau dipanggil pulang! Dengarkan dulu tah, kalau orang tua mau menjelaskan. Jangan dipotong melulu!"" Okay, Rom, okay. Cuss, silakan dilanjut ceritanya. Tapi pakai kilat khusus saja, ya.... Ga pake lama!"A mpuuun, ampuuun! Lama tinggal di bumi ternyata juga membuat kemampuan berbahasa anaknya jadi amburadul! Ke mana sisa budi bahasa luhur yang dulu diajarkan para orang tua?Lagi-lagi Sang Hyang Prabu Bawanapraba hanya bisa membatin kesalnya."Jadi begini Nduk, sebenarnya, segala kesaktianmu itu tidak dihilangkan, melainkan disegel dalam Kristal Nagini, yang Romo simpan baik-baik.""Oh, ya? Kalau ada kristal itu, ananda bisa balik sakti lagi, ya Rom?Kalau g itu, sini balikin kristalnya, Rom ! Biar hidup ananda, ga sengsara-sengsara banget!Repot tau jadi ular sawah.... Kalau perutnya mules harus BAB. Kalau lapar, terpaksa harus makan kodok atau tikus--yang gak enak banget rasanya, sumpah! Nha kalau makannya kebanyakan, tar perutnya jadi gendut pulak!"Ssssshht!Penguasa Bawanapraba menggeram pelan, memperingatkan anaknya agar kembali diam, mendengarkan.Dewi Sri pun memberikan isyarat angkat tangan, tanda menyerah dan paham."Nah karena Kristal Nagini itu sejenis tetapi berbeda jenis dengan Kristal Tongkat Mustika....""Bentar, bentar, Rom," lagi-lagi Dewi Sri memotong perkataan ayahandanya."Sejenis tetapi berbeda jenis itu maksudnya gimana, ya? Ananda gagal paham!""Ihh..., baru saja diomongin, jangan motong omongan Romo melulu, eh... terus saja dilanggar! Ini juga baru mau dijelaskan, makanya dengarkan dulu!"Dewi Sri tidak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepala dan memberi isyarat 'hormat grak' dengan tangannya, tanda siap melaksanakan perintah ayahandanya untuk tidak memotong pembiaraan lagi."Kristalmu dan Kristal Tongkat Mustika Romo itu laksana dua magnet yang berbeda. Mereka akan saling tarik-menarik.Dan berhubung Kristal Naginimu itu sekarang ukurannya lebih besar, dia akan menarik keberadaan pecahan kristal tongkat mustika mendekat sehingga memudahkanmu untuk menemukannya.Kalau pemegang pecahan kristal tongkat mustika sudah dekat denganmu, kau akan merasakan auranya. Kristal Naginimu akan bercahaya."Nanti kau tinggal arahkan Kristal Nagini padanya, dia akan menarik pecahan kristal tongkat mustika keluar dari tubuh pembawanya, kemudian menyerap pecahan kristal tersebut.Mudah sekali kan, tugasmu kali ini? Kau tinggal ongkang-ongkang kaki, e... tau-tau sudah beres sendiri!"E h busyet, enak banget Romo ngomongnya!Bukannya tadi Romo sendiri yang bilang, kalau pecahan kristal mustika itu bikin siapapun pemegangnya jadi sakti?Emangnya ada makhluk yang sudah terlanjur sakti rela kesaktiannya dilucuti begitu saja?Ya kali, makhluk itu bakal tinggal diam kalau pecahan kristal mustika yang dikuasainya ditarik paksa sama ular sawah bertampang degil macam wujudku di bumi !Pasti aku bakalan dihajar, diburu, dan diserang mati-matian sama makhluk itu, lah!Lha aku bisa apa, coba?! Mo melawan bagaimana, kalau kaki sama tangan saja gak punya!Dewi sibuk berpikir dan berdebat sendiri dalam pikirannya.Lain halnya dengan Sang Penguasa Bawanapraba. Ia yang semula diserobot terus omongannya lalu sekarang justru diabaikan oleh putrinya, kini jadi kesal. Ia pun bertanya dengan nada memerintah pada putrinya."Jadi bagaimana?! Kau setuju saja kan, dengan tugas tambahan dari Romo ?Kalau setuju, nih Romo kembalikan Kristal Naginimu!"Hari ini aku, Raden Bagus Sadhana, Pangeran Pati Kerajaan Purwacarita, sangat gembira!Akhirnya, setelah selametan hari lahirku yang ke-17, Kanjeng Romo Prabu dan Bunda Ratu Prameswari memberiku izin untuk melangkahkan kedua kakiku keluar gerbang istana.Kebayang gak sih, ada ABG tampan sebesar ini tidak punya pengalaman apa-apa untuk menghadapi dunia luar karena seumur hidupnya terkungkung di istana?Ada tho, anak laki-laki yang dipingit gak boleh keluar rumah?Ada! Itulah diriku, sebelumnya!Yah, sebetulnya aku lumayan paham sih alasannya.Jadi, berhubung Kanjeng Prabu Mahapunggung dan Prameswari Dewi Gemi, ayah-bundaku hanya memiliki anak tunggal, yaitu diriku. Maka mau tidak mau, segala tumpuan harapan penerus takhta satu-satunya pun dibebankan ke pundakku.Sebetulnya, katanya, dulu Bunda Ratu dan Eyang Ibu Suri sempat mengusulkan kepada Kanjeng Romo Prabu untuk mengambil garwo selir -- soalnya kan wajar saja tuh para raja di zaman ini punya beberapa istri-- agar dapat memiliki beberapa putra lagi sebagai cadangan kalau sampai ada apa-apa yang terjadi padaku.Idih, amit-amit! Jangan sampai ada apa-apa juga kali!Tapi ya begitu, katanya karena Kanjeng Romo terlalu cinta sama Bunda Ratu, maka ia bersetia dan tidak sudi untuk melirik perempuan lainnya.Duh so sweet banget ya, kisah cinta ayah-bundaku yang membara? Bisa gak, kira-kira aku nanti ketemu sama belahan jiwaku sendiri yang akan aku cintai sampai nanti, seperti mereka, kalau selama ini aku terus terkurung di istana?!Yup, literally dari bayi sampai sebesar ini aku memang gak dibolehin ke luar istana sama sekali! Ya itu tadi, gara-gara diriku calon penerus takhta tunggal, ayah-bundaku takut kalau aku bakal diculik, disakiti, atau bahkan dibunuh oleh musuh-musuh kerajaan.So begitulah, selama ini aku terpaksa belajar tata negara, strategi perang, ekonomi dan hubungan bilateral antar negara, serta sejarah silsilah leluhur, cukup dari dalam tembok istana.Romo Prabu dan Bunda Ratu telah mengundang guru-guru terbaik dari segenap penjuru negeri untuk memberi pelajaran khusus kepadaku.Mungkin sistem pembelajaran macam inilah yang kelak menjadi cikal-bakal home schooling yang di masa depan nanti akan banyak dipilih oleh para orang tua kaya dari generasi penerusku.Katanya, demi mencegah agar anaknya tidak diculik or salah gaul sehinggga bisa jatuh cinta sama orang kere yang tidak keren.Well , pada salah kaprah tuh! Bukannya yang namanya cinta itu tak memandang kasta?Kanjeng Romo aja waktu mudanya jatuh cinta sama Bunda Ratu yang cuma anak rakyat jelata dan menikahinya!--Ini juga kali ya, yang bakal jadi inspirasi mayoritas cerita romance wattpad di masa depan: kisah cinta CEO dan gadis biasa. CEO, apaan? Katanya dia itu sebangsa raja kerajaan bisnis, saat nanti raja kerajaan beneran udah langka...--Kembali ke soal pelajaran, begitu pun dengan berkuda, memanah, dan berenang--nih tiga pelajaran katanya penting banget loh--juga bermain pedang dan olah kanuragan lainnya, cukup kupelajari di lingkungan dalam istana tanpa praktik luar alias PPL sama sekali.Kebayang dunk, betapa kuper dan gak punya temannya diriku?Untung diriku anaknya manis dan sabar, jadi gak pernah mengeluh *lah yang barusan namanya apa coba(?)* or melakukan pemberontakan semacam berusaha kabur dari istana. Gak pernah sama sekali!Udah gitu diriku juga pintar, jadi semua pelajaran yang disampaikan oleh guru-guruku, dapat aku kusai dengan sangat baik. Minimal secara teori, sih.Oleh karenanya, ketika kemarin aku berulang tahun ke tujuh belas dan Romo Prabu memberiku perkenan untuk meminta apa saja sebagai hadiahnya, aku langsung sontak minta diizinkan jalan-jalan ke luar istana.Aku mau mengamati keadaan rakyatku dari dekat a.k.a blusukan , juga mau mempraktikkan pelajaran berkuda dan memanahku untuk berburu rusa di hutan larangan yang katanya telah over-poppulated sehingga sering menyerang huma dan sawah penduduk.Lalu ya siapa tahu, siapa tahu aja loh ya, bisa jadi aku akan bertemu gadis idamanku sebagaimana Kanjeng Romo yang bertemu Bunda Ratu, saat Kanjeng Romo berburu dan menyelamatkan Bunda Ratu dari harimau yang hendak menerkamnya. Langsung deh mereka jatuh cinta pada pandangan pertama....Mauku sih bisa me- remake kisah cinta mereka, biar ga pusing bikin skenario kisah cinta sendiri. Tapi mau bagaimana lagi..., harimau sekarang sudah langka dan dilarang untuk diburu.Makanya alih-alih berburu harimau, kini aku tepaksa berburu rusa!Dan kenapa harus di hutan larangan? Well, selain karena populasi rusa di sama katanya telah meraja lela, tentu saja ada alasan lainnya!Hutan Larangan itu meskipun kabarnya wingit sarang demit, tapi kemungkinan masih ada harimaunya sebab jarang dijamah manusia.Jadi kalau nanti ada gadis cantik yang mau diterkam harimau aku akan tetap bisa menyelamatkannya!Bukan, bukan dengan cara membunuh si harimau, kan udah dilarang. Lagian aku mana tega, secara harimau kan unyu bingitz macam kucing raksasa.Karena itu aku berburu rusa! Rencanaku nanti kalau ada harimau hendak menerkam gadisku, aku umpan saja harimaunya dengan rusa hasil buruanku!Setelah harimau itu teralihkan perhatiannya, aku tinggal menyelamatkan gadisku, deh. Pasti nanti dia akan berterima kasih, trus jatuh cinta kepadaku, dan mencium lembut pipiku... kyaaa...! Aduh jadi malu aku membayangkannya!Kanjeng Romo dan Bunda Ratu, dulu gitu gak ya? Maksudku, sampai bagian cium-cium pipi juga gak sih? Duh, gak lengkap tuh ceritanya! Kapan-kapan aku korek-korek lagi ah, cerita masa muda mereka....Strategi berlapis ciptaanku oke banget, kan? Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui!Sambil jalan-jalan, aku dapat mempelajari kehidupan rakyat. Sambil mempraktikkan pelajaran berkuda dan memanah, aku bisa berburu gadis idaman!+++Persiapan program blusukan pertamaku yang proposalnya sudah di- acc Kanjeng Romo tampaknya berlangsung terlalu heboh!Ya kali, cuma untuk jalan-jalan dan berburu doank, Kanjeng Romo memerintahkan sekompi pasukan yang dipimpin langsung sama Panglima Jendral Kerajaan?!Apa kata dunia? Tidakkah aku nanti jadi dirasani oleh seluruh penduduk bumi bahwa Pangeran Kerajaan Purwacarita manja kali ya, mo jalan-jalan aja baby sitter- nya segudang!Namun Romo Prabu, Bunda Ratu, maupun Panglima Jayanata bergeming pada pendiriannya bahwa kalau sampai terjadi apa-apa padaku, seluruh kerajaan tak kan sanggup menahan dukanya!Ya sudahlah, daripada berdebat panjang lebar malah gak jadi-jadi berangkat, terpaksa lah aku mengalah.Padahal dalam hati aku menyesalkan keputusan ini, karena tidak mendukung agendaku!Kanjeng Romo dulu bisa berkesempatan jumpa Bunda Ratu karena saat berburu hanya ditemani lima orang pengawal terdekatnya!Lha kalau aku berburunya dikawal ratusan orang begini, bagaimana aku bisa bertemu gadis harimauku?Maksudku, bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengan gadis impian yang akan kuselamatkan dari harimau? Yang ada harimaunya bakal kabur duluan dan gadisku langsung ngumpet!Tipis sudah kemungkinanku untuk bisa mengulang kembali legenda cinta orang tuaku! Ataukah nanti akan ada jalan lain?Malam itu, untuk pertama kalinya, Sadhana tidak dapat tidur nyenyak.Bukan karena biasanya ia tidur di atas kasur kapuk empuk sedangkan malam ini ia terpaksa tidur dalam tenda berlapis tikar tipis di tanah keras. Sama sekali bukan. Ia bukan pangeran manja.Sadhana sulit tidur karena jantungnya belum netral juga selepas bertemu Sang Dewi. Otak, juga matanya jadi agak konslet. Ia merasa melihat Sang Dewi di mana-mana, sedang tersenyum kepadanya.Ih, halu banget gak sih, Si Sadhana? Perasaan tadi Sang Dewi itu bukan tersenyum, melainkan menertawakannya!+++"Duh, siapa ya nama Dewi itu?" Sadhana berguman dalam lamunan."Cantiiiiiiiik, sekali!" Sadhana tersenyum sendiri membayangkan Sang Dewi."Belum pernah aku bertemu gadis secantik dia! Aku ingin ... bertemu lagi dengannya," lanjutnya setengah tak sadar."Aku merasa ... apa ya, namanya? Rindu ataukah jatuh cinta?"Sebersit perasaan asing mulai menyusup di hati Sadhana. Ia sibuk berharap dan menerka-nerka, gadis itukah yang akan menjadi takdirnya?Saat dihantam perasaan asing ini, logika dan segala kepintaran Sadhana yang di atas rata-rata seolah terkunci. Ia sama sekali tidak merasa ada yang aneh dengan gadis yang ditemuinya tadi.Memangnya ada, gadis beneran yang bakal diizinkan keluyuran sore-sore ke tengah hutan sendirian untuk mandi?Otak Sadhana menyangkal. D ulu juga Bunda Ratu berkeliaran sendiri cari kayu bakar di tengah hutan sehingga bertemu Kajeng Romo . Tapi kan ya, gak mo maghrib gitu!?Terus apa tidak Sadhana perhatikan, bahwa gadis tadi sebetulnya terlalu cantik? Kecantikan dan segala tindak-tanduk gadis itu nyaris tidak manusiawi!Lah, memangnya kecantikan yang manusiawi itu yang bagaimana? Mana kutahu, soalnya kan baru pertama kali ini aku bertemu secara pribadi dengan seorang perempuan selain Bunda Ratu dan Eyang Ibu Suri .Dayang-dayang gak masuk hitungan loh! Mereka selalu datang bergerombol dengan wajah yang tampak nyaris sama(?).Otak Sadhana lagi-lagi berusaha mengeluarkan sanggahan yang menurutnya masuk akal.+++Demikianlah, sepanjang malam Raden Sadhana sibuk berpikir sambil menghayal. Tahu-tahu pagi telah hampir menjelang...."Aduh gawat!" ucapnya sambil menepok jidat, "aku belum tidur! Tar kalau mataku kayak panda dan tampangku jadi jelek pas ketemu Dewi, gimana?" lanjutnya gusar."Aduh gawat kuadrat!!" Sadhana menepok jidatnya lagi dua kali."Semalam aku ngapain aja sih, kok malah belum mikir, kalau nanti ketemu Dewi lagi, aku harus ngomong apa?Masa' aku langsung nembak: maukah dikau jadi anu-ku, gitu?""Aduuuh, kan malu!" Pipi Sadhana bersemu merah. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang bebas ketombe dan tidak gatal untuk mengurangi resahnya."Ya sudahlah, dipikir karo mlaku!"" Mending aku berangkat ke telaga sekarang saja daripada telat bertemu Sang Dewi. Biarin deh, aku yang nunggu tanpa batas waktu...."Sadhana pun bergegas pergi menuju telaga. Tak lupa, agar tidak dicari ataupun diikuti prajuritnya, ia berpamitan langsung pada Panglima Jayanata."Panglima, saya mau ke telaga. Panggilan alam, sekaligus mau mandi dan berenang. 2-3 jam-an lah. Jangan diintipin loh ya!Tar aja kalau lewat 3 jam saya belum kembali, tolong dicari, barangkali saya ketiduran di sana. Oke?"+++Sadhana menunggu Sang Dewi sambil terkantuk-kantuk di tepi telaga. Jelas saja, semalam ia belum sempat tidur. Ia akhirnya benar-benar tertidur dan masuk ke alam mimpi.Dalam mimpinya Sadhana merasa Sang Dewi menggenggam tangannya, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Sadhana dan berbisik mesra... " Aku padamu...."Ceesss... Byuuurrr!Tiba-tiba Sadhana merasakan ada yang 'dingin dan basah' mengenainya.Ahh!Rupanya Dewi itu sudah datang dan dengan sengaja melompat ke dalam telaga tepat di depan wajah Sadhana sehingga cipratan air mengenainya."Dewi, kau datang!" serunya kencang."Terima kasih karena tidak mengingkari janji untuk bertemu denganku lagi," ujarnya riang.Dewi itu tidak merespon ucapan Sadhana, malah asyik berenang sendiri. Sama seperti kemarin, ia masih tetap berenang dengan baju lengkapnya! Sadhana mati kutu. Ia bingung hendak bicara apalagi.Lalu tiba-tiba Dewi itu menyelam dan meluncur cepat ke tepi telaga. Ia memunculkan kepalanya dari dalam air persis di hadapan muka Sadhana, dan berkata, "kapan aku berjanji padamu, Bocah?!"Sadhana terkejut dan terjengkang dari posisi duduknya di atas batu. Ia reflek menggenggam lengan Dewi itu sebagai pegangan untuk menghentikan jatuhnya.Halus dan dingin.Sadhana tergoda untuk merengkuh lengan itu di dadanya, untuk menghangatkannya."Eh, anu, maaf," ucap Sadhana dengan wajah memerah. Setelah posisinya seimbang kembali, ia baru sadar telah menggenggam lengan Dewi itu terlalu lama. Ia pun berdiri dan melepas genggaman tangannya.Sadhana merasa menyesal harus melepas lengan Sang Dewi demi tata krama, tapi tak urung dalam hati ia bersorak: tadi Sang Dewi tidak berusaha menepis tangannya meskipun ia menggenggamnya cukup lama! Itu kan artinya...."Dewi, beritahukanlah kepadaku nama indahmu...," Sadhana bertanya malu-malu.Dewi itu keluar dari telaga dan duduk ke batu besar yang tadi diduduki Sadhana, dengan posisi membelakanginya. Ia memeras air dari rambut panjangnya yang tergerai basah, seolah tak peduli akan kehadiran Sadhana yang berdiri di belakangnya dengan resah.Sadhana meneguk ludah, ia ingin sekali turut membantu Sang Dewi meremas rambut basahnya!"Kenapa aku harus?!" Ucap Dewi itu, tiba-tiba.Sadhana yang sedang membayangkan membelai rambut basah Sang Dewi pun tersentak kaget dan berseru, "eh, apa?""Cih! Bocah, ternyata otakmu mesum juga! Hwakakakakakak!" Ia tetawa keras dan melirik Sadhana dengan pandangan mencibir, seolah tahu apa yang baru saja terlintas dalam benak Sadhana."Aku tidak...." Sadhana menangkupkan dua tangan di wajahnya karena malu. Kenapa Dewi itu seolah tahu apa yang dipikirkannya, ya?Setelah tawa Sang Dewi mereda dan harga dirinya kembali, Sadhana mencoba mengulang kembali pertanyaannya yang terbaikan."Anu Dewi, nama....""Kenapa aku harus memberitahumu?!" Dewi itu menoleh cepat sehingga berhadapan langsung dengan wajah Sadhana.Wajah Sadhana langsung memerah lagi, tapi ia menguatkan diri agar tidak berpaling. Tatapan mata Dewi itu pun membiusnya, Sadhana terperangkap dalam manik indahnya."Agar aku dapat senantiasa menyebut namamu dalam do'a," Sadhana menjawab dengan suara parau. Setengah tak sadar, tangan Sadhana terulur hendak menyentuh lentik bulu mata Sang Dewi.Sebelum berhasil niatnya, Dewi itu sigap menangkap tangan Sadhana. Sadhana merasakan sensasi aneh di perutnya. Seperti ... ada ratusan kupu-kupu beraneka warna yang terbang di dalamnya?"Dengar ya Bocah, aku ini bukan jenis makhluk yang perlu kau do'akan! Hwahahahaha." Ia tertawa dan melepaskan tangan Sadhana.Jari-jari Sadhana langsung merasakan kerinduan."Tapi aku mencintaimu dan butuh selalu menyebut namamu dalam do'aku," sembur Sadhana cepat, takut kehilangan momentum."Hwakakakakak!" Dewi itu lagi-lagi terbahak dengan keras hingga bahunya terguncang. Sadhana teringin meredam guncangan bahu itu di dada bidangnya.Lalu tiba-tiba Dewi itu berdiri di atas batu sehingga tampak menjulang tinggi bagi Sadhana. Ia menunjuk Sadhana tepat di muka."Cinta kau bilang? Hahaha, itu lucu sekali!"Kemudian ia menunjuk dirinya sendiri dan berkata, "lihat baik-baik diriku! Dibandingkan dengan diriku, kau ini tidak ada apa-apanya, Bocah!"Sadhana mengangguk patuh. Dewi itu benar, pasti dalam benaknya ia tak lebih dari seorang bocah yang jatuh cinta pada wanita dewasa. Berapa ya usia Dewi itu? 24, mungkin?"Benar Dewi, mungkin bagimu aku memang masih bocah. Tapi perasaanku ini nyata, dan aku bersumpah akan bersetia kepadamu!" Sadhana menangkap jemari tangan kanan Sang Dewi dengan tangannya. Kemudian mengecupnya lembut.Ia lalu menatap langsung ke manik mata Sang Dewi untuk menegaskan sumpahnya.Sebentuk ekspresi takjub di wajah Sang Dewi sempat terekam di mata Sadhana, sebelum ia kembali tertawa."Hahaha, jangan mengumbar janji yang tak kan mampu kau tepati, Bocah!""Mari kita lihat, 2-3 tahun lagi, masihkah perasaanmu sama?!""Baik, tunggu aku 2-3 tahun lagi! Aku pasti akan langsung membawa Romo dan Bundaku ke sini untuk melamarmu!""Sekarang berilah aku nama, agar dapat mengikrarkan sumpah setia dan menyebutkan selalu namamu dalam do'a." Sadhana sungguh mengharapkan jawaban Sang Dewi."Sri." Dewi itu hanya mengucapkan satu kata, lalu memalingkan wajahnya dari Sadhana.Sadhana segara menangkap kelingking Dewi Sri dan mengaitkannya ke kelingkingnya sendiri. Ia kemudian mengikrarkan sumpahnya."Aku Bagus Sadhana bersumpah untuk bersetia kepada Dewi Sri. Aku akan datang dua atau tiga tahun lagi untuk melamarnya di tempat ini, di hari yang sama."Tepat seusai ikrar sumpah Sadhana terucap, langit yang semula cerah tiba-tiba tertutup awan hitam! Guntur dan petir pun bersahutan!Dewi Sri menatap langit dan wajah Sadhana bergantian dengan ekspresi tak terbaca. Tapi ia belum melepas kaitan kelingking mereka."Kita lihat saja nanti," ucapnya pelan."Sekarang pulanglah ke istanamu! Sebentar lagi badai akan memporak-porandakan tempat ini.Rusa dan harimau telah merasakan firasat buruknya sedari kemarin dan bersembunyi. Kau tidak akan mungkin berjumpa dengan mereka sekarang."Dewi Sri kemudian melepaskan kaitan kelingking mereka dan melangkah ke arah yang berlawanan dari perkemahan Sadhana.Sejenak Sadhana termangu. Bagaimana Dewi Sri bisa tahu, kalau dirinya berasal dari istana? Ia kan tidak memberitahunya? Tapi suara Dewi Sri yang beranjak pergi kemudian menyadarkannya."Pulang sekarang Sadhana! Atau kau akan habis dihajar badai!"Eh, apa? Ia tidak salah dengar, kan? Barusan Dewi Sri menyebut namanya dan bukan 'Bocah' lagi, kan? Mungkinkah Dewi Sri mulai menganggapnya sebagai seorang kekasih?Hati Sadhana sontak berseru gembira."Iya Dewi, aku akan selalu mematuhimu," ucap Sadhana dengan senyum secerah mentari.Sadhana segera kembali ke pekemahannya dan disambut dengan wajah-wajah cemas. Ia telah pergi terlalu lama, sementara firasat akan datangnya badai rupanya telah tercium oleh Panglima Jayanata.Panglima Jayanata sudah memerintahkan pasukan membongkar tenda agar dapat segera berangkat begitu pangeran mereka tiba untuk menghindari badai ini, ke pemukiman terdekat.
Waktu yang Hilang
Ada lubang menganga di hatiku begitu kedua sahabat yang begitu kusayangi seperti membuangku. Sesak dan perih bercampur satu, menimbulkan suatu perasaan yang dinamakan dengan rasa kecewa.Awal persahabatan kami sangatlah klise, dimulai dari pertemuan kami saat kelas 7 sekolah menengah ketika mos. Aku yang memang tak memiliki teman akrab memilih berdiam diri dan mengamati tiap siswa-siswi di kelasku. Bayangan itu terasa masih mengikat kuat di pikiran, aku duduk bersisian dengan seorang gadis yang rupanya begitu mirip dengan adik kelasku. Bingung melandaku, tidak mungkin rasanya adik kelasku sudah lulus dan sekelas denganku. Kejadian itu begitu konyol, sangat lucu kalau diingat-ingat. Saat satu persatu nama dipanggil, barulah aku tahu kalau aku sepertinya terlalu mengkhayal karena gugup.Kaila, begitu manis saat mengeja namanya satu persatu. Dia sering menunduk, memandangi sepatunya yang bergambar hello kitty berwarna pink dominan hitam. Detail sekali kan? Entah mengapa aku begitu tertarik dengannya, dalam pikiranku tercetus sebuah perintah agar berteman dengan gadis itu.Tubuhku tersentak saat dia bertanya padaku, meski pertanyaannya terbilang sederhana. ‘Besok kamu pakai baju apa?’ tanyanya waktu itu. Aku yang masih terserang euforia, menjawab dengan kikuk, walaupun mungkin terdengar agak cuek. ‘P-putih biru, kayaknya’ jawabku tergagap, sudah kubilang kan kalau aku masih kaget. Dia mengangguk, aku hanya tersenyum membalasnya. Yah, awal yang cukup baik kan? Setidaknya aku tau dia tidak sombong. Wajahnya memang agak judes, tapi aku tak mempermasalahkannya.Besoknya, kami bertemu lagi. Dan masih duduk bersisian, dia terlihat kesepian. Aku sedikit bersimpati padanya. Mungkin dia persis sepertiku, tidak mudah bergaul, pikirku. Waktu istirahat aku diajak pergi jajan bersama dengan gadis yang duduk di sisi lain kursiku. Aku tau namanya, kami pernah berteman waktu masih kecil, tapi tidak terlalu akrab. Karena tak mempunyai teman lain, aku mengikutinya. Lila, begitu aku memanggilnya. Sejak itu, kami jadi sering berpasangan saat mos berlangsung, tapi aku kurang suka dengan sifatnya. Secara tak langsung aku tau sifatnya, dari pengamatanku dia suka mencubit seseorang dengan keras hingga membiru. Itulah mengapa aku jadi agak segan padanya.Tapi lupakan masalah itu, di suatu pagi aku melihat Kaila berbincang akrab dengan salah satu kakak kelas 3. Situasi yang jarang sekali kutemukan, ternyata Kaila tidak terlalu pendiam. Setelah hari itu, entah mengapa rasa ingin berteman dengan Kaila begitu kuat. Ragu-ragu aku mengajaknya ikut ke perpustakaan dengan Lila. Yang mengejutkan, dia setuju! Hanya Tuhan yang tahu betapa hatiku bersorak girang karenanya.Hari itu aku berhasil membangun pertemanan dengannya. Semuanya terasa mengalir begitu saja, kami pada akhirnya berteman. Kami duduk bersisian, meski itupun karena Lila yang mau bertukar tempat duduk dengan Kaila. Aku sangat berterima kasih dengan Lila karena itu, sebab kami jadi semakin akrab. Aku lupa kapan, tapi di suatu siang saat jam kosong, dengan bosan aku mengambil alat tulis dan mulai menggambar. Kaila memujiku, katanya gambarku bagus. Tapi aku tak terlalu merespon, karena menurutku gambarku masih banyak kekurangan.Dengan bangga Kaila memperlihatkan gambarku pada teman di belakang kami. Seorang gadis yang duduk dibelakang Kaila mengambil gambarku dan mengamatinya. Aku lupa kata-katanya seperti apa. Yang pasti kritikannya agak pedas hingga membuatku sedikit tidak suka padanya. Yang tak aku sangka adalah Kaila terlihat akrab dengannya, entah kapan mereka jadi semakin dekat setiap harinya. Aku yang memang sering bersama Kaila jadi ikut-ikutan berteman dengannya. Yang sering aku lupa adalah namanya. Sifatnya blak-blakan, dan mudah bergaul. Setelah sekitar seminggu mungkin, aku ingat namanya adalah Nirda. Aku berteman dengannya meskipun tak seakrab Kaila.Tak sampai 2 bulan, kami menjadi sahabat dekat begitu saja. Semuanya terjadi begitu alami, ikatan itu secara tak sadar terbentuk hingga terjalin erat tanpa disadari. Begitu banyak lika-liku yang menjadi rintangan tersendiri dalam persahabatan kami. Tapi ikatan kami ternyata sangat kuat hingga dapat menerjang semua badai yang menghadang. Terkadang timbul kecemburuan saat salah satu pihak lebih dekat dengan sahabat satunya. Tapi untunglah semuanya dapat terlewati tanpa hambatan.Perkelahian pun tak dapat dihindari, aku seringkali berada di tengah-tengah saat Kaila dan Nirda bertengkar. Aku lebih memilih netral, untuk tetap menjaga keduanya agar persahabatan ini tidak timpang. Semuanya damai dan akur hingga cobaan lagi-lagi menguji persahabatan kami untuk kesekian kali.Rasanya kenangan itu masih sangat membekas di ingatan, dan menjadi lukaku sampai saat ini. Di tengah kebahagiaan sebuah pukulan telak mengenai hatiku. Piala yang berada di tanganku terasa tak berharga, saat menatap mading yang tertera nama siswa-siwi yang akan sekelas. Aku memang pernah mendengar, jika kelas kami akan kembali dibagi menjadi dua kelas jika sudah berada di kelas tiga. Tapi itu bukan permasalahannya, di kertas itu tertera jika Kaila dan Nirda akan sekelas dan aku sendiri … berada di kelas yang berbeda.Suara sorakan kebahagiaan Kaila terdengar nyaring, dia begitu senang mendengar jika dirinya sekelas dengan Nirda. Yang makin membuatku kecewa adalah ekspresi bahagia keduanya, ternyata berbanding terbalik denganku. Lihatlah, mereka bahkan tak sadar dengan tatapanku yang berubah kosong. Rasa iri menyeruak, menyebar hingga ke sudut hati. Kalimat candaan mereka pun terlontar padaku, yang sungguh bukannya menghibur malah membuatku hatiku makin perih.Melihatku yang diam tak bersuara, mereka pun bertanya, ‘Apa aku baik-baik saja?’ Aku ingin berteriak, jika aku tidak baik-baik saja tapi malah anggukan dan senyuman tipis yang terukir di bibirku. Jahatkah aku, jika merasa tak senang mereka sekelas? Tolong, siapapun jawab pertanyaanku, batinku.Tak ada yang tau kalau air mata sempat menggenang di sudut mataku. Sekali saja berkedip maka air bening itu akan meluncur mulus di pipi.Bayangan terburukku benar-benar terjadi, aku … terlupakan. Rasanya benar-benar seperti dibuang. Untungnya di balik kesendirianku, Tuhan masih berbaik hati memberikanku seorang teman. Oliv, dia dulunya teman sealumniku saat sekolah dasar. Kami sekelas meski tidak akrab. Entah kebetulan atau apa Tuhan membiarkanku duduk semeja dengannya. Sifatnya yang kalem dan dewasa membuatku nyaman. Awalnya memang canggung, tapi kebersamaan kami ternyata membawaku pada sebuah ikatan baru. Aku menemukan sahabat baru, di tengah rasa kecewa yang begitu membekas. Tak butuh waktu lama untuk membuka diriku padanya.Rasanya begitu lega, saat seseorang mengerti perasaan kita. Menjalani bersama tak ada salahnya, meskipun rasa kecewa itu bagai penyakit, yang sangat sulit untuk hilang atau malah tetap mengakar kuat. Aku coba mengikhlaskan, dari Oliv aku belajar untuk bersabar. Saran darinya tak pernah mengandung unsur menghakimi dan mengadili.Rasa rindu kebersamaanku dengan Nirda dan Kaila memang kadang hadir. Apalagi saat melihat mereka berdua asik bercanda, rasa iri dan dilupakan sering hadir. Tapi berkat Oliv, aku menjadi tidak terlalu mengindahkan perasaan itu lagi. Perhatianku entah mengapa menjadi tertuju pada Oliv seorang.Persahabatanku dengan Nirda dan Kaila masih terjalin meskipun jarang berkomunikasi. Ketika berkumpul pun terkadang mereka berdua asik sendiri, tapi aku tak terlalu mempermasalahkan lagi. Aku tak sendirian, masih ada Oliv yang menemaniku.Tak terasa setahun berlalu dan kami kini telah kelas satu SMA. Nirda dan Oliv satu sekolah tapi mengambil jurusan yang berbeda. Sedang aku dan Kaila juga berbeda jurusan tapi satu sekolah. Hubungan kami kembali dekat, walau tak sedekat dulu. Aku merasa kini dia tak pernah lagi menceritakan tentang perasaannya. Aku tak terlalu ambil pusing dan ikut campur jika dia memang tak ingin bercerita. Dan pertemuan kami pun jarang terjadi karena kesibukan masing-masing.Tahun kembali berlalu tanpa terasa, aku yang memang suka membaca novel, sering membaca novel di aplikasi orange. Secara tak sengaja aku menemukan cerita yang dibuat oleh Kaila. Dan mataku terpaku pada ceritanya yang ternyata adalah kisah nyatanya sendiri. Karena penasaran kubaca tulisan itu penuh minat, dan aku langsung kehilangan mood karena ternyata aku tak begitu penting di matanya. Tulisan itu penuh dengan Nirda dan Nirda. Aku kecewa, tak kusangka pendapat Kaila begitu tentangku.Perjuanganku sia-sia, aku hanyalah sebuah tokoh sampingan dalam hidupnya. Aku ternyata berharap terlalu tinggi, usahaku untuk selalu ada nyatanya hanyalah sebuah cerita tanpa makna. Rasa kecewa kembali menguasaiku, jadi ada tidaknya aku tak terlalu berpengaruh. Salahkan hatiku yang terlalu lemah, sebab tetap menyayanginya walau berkali-kali dibuat kecewa.Untuk menganggap tak terjadi apa-apa rasanya sulit. Jadi biarkan aku menepi sejenak untuk menetralkan rasa. Walau kita sedekat dulu, ketahuilah aku sangat menyayangimu … Kaila. Semoga kamu tetap bahagia di luar sana, jangan lupa tetap tersenyum.Untuk Nirda, aku bersyukur kita bisa dekat kembali akhir-akhir ini. Aku merasa bahagia, meski merasa sedikit bersalah, karena tak bisa membantumu untuk berbaikan dengan Kaila. Aku yakin kalian bisa berbaikan kembali tanpa bantuanku. Aku butuh istirahat sejenak untuk menjadi penengah kalian.Dan terakhir untuk Oliv, terima kasih sudah hadir saat rasa terbuang itu ada. Aku merasa menjadi orang yang berharga berkat dirimu. Thanks … Oliv.Dan beberapa hal yang perlu diingat, aku tak akan pernah melupakan Oliv dan tentunya Kaila serta Nirda. Mereka bertiga berperan penting dalam kehidupanku. Aku akan selalu mendukung kalian, sebab rasa sayangku pada mereka sama rata. Tak pernah timpang karena aku tau rasanya saat perhatian itu berbeda.Berbahagialah … sayang-sayangku!The End
Bukan Kembang Tidur
Tere Liye pernah berkata “Percayalah, sepanjang kita punya mimpi, punya rencana, walaupun kecil tapi masuk akal, tidak boleh sekalipun rasa sedih, rasa tak berguna itu datang mengganggu pikiran”. Kalimat yang kuingat setelah selesai membaca buku Kau, Aku Dan Sepucuk Angpau Merah karyanya. Seperti biasa, setiap sabtu sore aku selalu menghabiskan waktu di perpustakaan kota. Jika tidak sedang membaca buku maka aku akan mengerjakan tugas sekolah disina. Penjaganya sangat hapal denganku, bahkan jika aku tidak kesana sekali saja, maka ia akan menanyakan kabarku.Aku adalah gadis penyuka senja, seni, fashion, dan hal-hal yang berbau dengan alam. Aku bukan seorang yang tidak memiliki teman ataupun nerd girl seperti di cerpen dan novel yang sering kubaca. Pasti setiap orang juga punya teman atau sahabat. Kukira akan selalu seperti itu. Namun, hidup tidak selalu berjalan seperti yang aku inginkan.Hari ini adalah hari terakhir aku menjadi siswa SMA salah satu sekolah swasta di kota Bandung. Sedang kutunggu pengumuman kelulusan, harapanku adalah bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan menuntut ilmu ke perguruan tinggi. Tepat pukul delapan pagi, kepala sekolah mengumpulkan kami di lapangan untuk mengumumkan siapa saja yang menjadi lulusan terbaik tahun ini. Namaku tak kunjung dipanggil. Biasanya aku selalu menjadi peringkat tiga terbaik dari satu angkatan.Tiba-tiba kepala sekolah memanggilku. “Tasya, Mia melapor kepada Ibu bahwa kamu mencontek saat mengerjakan ujian sekolah, Ibu tidak sangka kamu berlaku curang. Mia sudah mengumpulkan buktinya kepada Ibu. Jika ini bukan hari kelulusan, maka ibu sudah menskors kamu” tutur ibu Ida dengan nada tinggi. “Tapi Bu saya tidak merasa…” tegasku membela diri. “Maaf Tasya, Ibu lebih percaya dengan bukti rekaman video, jadi Ibu tidak bisa memberikan beasiswa itu kepada kamu, sebagai gantinya Mia yang akan mendapatkannya karena tahun ini ia sebagai lulusan terbaik keempat” ucapnya memotong perkataanku. Ini pasti ulah Mia. Memanfaatkan niat baikku. Seingatku, aku tidak mencontek tetapi aku menegur temnaku yang membawa contekan, lalu aku membuangnya di tempat sampah.Hari ini aku sedih karena mendapat dua masalah sekaligus. Pertama aku tidak lulus SBMPTN, kedua perusahaan ayah pailit. Ayah kini sedang terbaring lemas di rumah sakit.Sebulan berlalu, hidupku masih terasa sukar. Belum bisa kulanjutkan kuliah tahun ini. Aku mengalah kepada dua adik kembarku yang tahun ini menjadi siswa SMA. Kusadari bahwa biaya sekolah mereka cukup mahal. Sehari-hari kubantu ibu berjualan sayur di pasar, karena saat ini hanya ibu yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Orangtuaku ingin aku melanjutkan mimpiku menjadi seorang desainer profesional. Dalam situasi seperti ini untuk bertahan makan saja sudah bersyukur. Perkataan ibu tadi pagi membuatku tersentuh dan kembali bersemangat. “Nak, tidak ada yang tidak mungkin, kamu masih memiliki waktu sebelas bulan untuk mewujudkan mimpimu. Perbaiki hubunganmu dengan Sang Pencipta, juga banyak-banyak belajar dan memohon kepadaNya. Kun Fayakun”. Kuambil air wudhu, lalu berdoa diakhir sholat. Kurenungi ucapan ibu. Selama ini aku memang jauh dari Tuhan. Karena kebatasan ekonomi, aku tidak berani meminta uang untuk mengikuti bimbel.Aku cukup merasa tertekan ketika banyak teman sekolahku mengejekku karena tidak bisa melanjutkan kuliah. Tiba-tiba dijauhi oleh teman rasanya memang menyedihkan. Apalagi aku hanya punya tiga orang sahabat dan sudah begitu asing denganku. Vina sibuk bekerja, Elsa sedang sibuk menjalankan bisnis dan kuliahnya, dan Rere terlalu segan untuk sekadar kuhubungi lagi. Biar saja kupendam sendiri masalahku, toh setiap manusia pasti punya masalah.Bertemu dengan sabtu sore lagi. Aku pergi ke perspus kota, setelah selesai membantu Ibu berjualan hingga siang. Sekadar melepas penat membaca buku. Bu Rima penjaga perpus sedang mengedit beberapa foto untuk diposting di instagram perpus kota. Namun, ia merasa kesulitan untuk merangkai kata-kata dan mendesain pamflet. Seharusnya ini tugas pak Beno, akan tetapi beliau berhalangan hadir. Kuberanikan diri membantu Ibu Ida. Ia sangat menyukai hasil buatanku. Ibu Ida tau aku tengah kesulitan ekonomi. Dengan berbaik hati, ia menawarkanku pekerjaan serupa kepada teman-temannya, jasa copywriting. Aku harus belajar lagi, karena bekerja harus profesional, kuikuti online course copywriting untuk mendapatkan sertifikat dengan bermodalkan tiga ratus ribu. Hasi uang tabunganku membantu Ibu selama sebulan. Tidak mudah, beberapa tetangga dan teman menghinaku. Tidak punya uang dihina, punya cukup uang juga dihina. Aneh.Mia masih terus menggangguku, padahal aku sudah ikhlas tak jadi mendapat beasiswa karena ulahnya. Ia menyebarkan berita hoaks bahwa aku bukan orang yang jujur. Jadi, selama seminggu tidak ada yang mau memakai jasaku. Takut tertipu kata beberapa orang. Ibu Ida yang mengetahui masalah ini membantu membersihkan namaku. Mia marah kepadaku, karena aku selalu mendapatkan apa yang kumau, pikirnya begitu. Mia salah, aku berjuang keras untuk hidupku. Aku berusaha untuk tidak lagi menghiraukannya. Lalu kabar tentangnya sudah tidak lagi kudengar.Enam bulan berlalu, hasilnya lumayan. Bisa kubayar uang rumah sakit ayah yang sudah menunggak dua bulan, kubukakan lapak untuk ibuku berjualan agar tidak lagi berbagi lapak dengan orang lain, dan aku mulai mengikuti berbagai bimbel untuk menunjang persiapan kuliah. Keadaan ayah membaik, juga sudah bisa dibawa pulang, akan tetapi belum boleh bekerja. Tidak lupa kuucapkan terima kasih kepada Tuhan dengan bersedekah kepada orang-orang yang kurang mampu.Aku memutuskan mengikuti program beasiswa di KAIST, setelah semua berkas-berkas yang kusiapkan termasuk nilai IELTS. Congratulations! Tasya Dea Albinia Fully Funded Undergraduate Scholarships, Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), South Korea. Tangis haruku, seketika membuka halaman web resminya. Akhirnya aku bisa kuliah di Korea jurusan desainer dan mendapatkan beasiswa penuh juga bisa segera bertemu dengan oppa-oppa korea dan bermain salju yang sudah kuimpikan sejak lama.Jadi, jangan pernah berhenti bermimpi karena tidak ada yang tidak mungkin selama kita mau berdoa dan berusaha. Wujudkan bunga tidurmu atau selamanya kamu hanya akan tertidur dalam bunga tidurmu. Itulah cerita saya lima tahun yang lalu. Ucapku dalam sebuah acara talk show di salah satu stasiun TV swasta kota Bandung.Kudengar dari teman lamaku bahwa sekarang Mia sedang direhabilitasi karena telah memakai narkoba selama setahun.
Cerita Candi Prambanan
Menurut legenda, sejarah Candi Prambanan dibangun atas permintaan Roro Jonggrang yang menginginkan 1.000 candi dalam waktu semalam. Raden Bandung Bondowoso yang saat itu lagi bucin-bucinnya, menuruti permintaan sang ‘calon’ kekasih.Konon, ia menggerakkan pasukan jin untuk membangun candi tersebut semalaman. Namun, pada akhirnya tetap gak berhasil, karena hanya jadi 999 candi setelah ayam berkokok. Nah, itu cerita legendanya, bagaimana dengan sejarah sebenarnya?Berdiri kokoh di sisi timur Yogyakarta, kamu akan dengan mudah menemukan candi ini di pinggir jalan arah ke Klaten. Kompleks candi yang jadi situs warisan dunia UNESCO pada 1991 ini, memiliki taman luas dengan pagar hijau. Bangunan utamanya sedikit terlihat dari jalan raya.Membicarakan sejarah Candi Prambanan, mengajakmu kembali ke abad ke-8 Masehi, awal mula bangunan megah ini digunakan. Candi Prambanan sendiri diketahui, diresmikan pada pemerintahan Kerajaan Medang Mataram atau Mataram Kuno.Menurut candrasengkala, rumusan penanggalan pada prasasti Siwagrha menunjukkan tahun peresmian candi, tepatnya pada 778 Saka atau 856 Masehi. Dilansir Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta milik Kemdikbud, peresmian dilakukan oleh seorang raja bernama Jatiningrat. Sayangnya, gak ada informasi lebih lanjut terkait siapa sosok ini.Sementara, situs Perpustakaan Nasional Indonesia, menuliskan pembuatan atau peresmian Candi Prambanan diduga berlangsung pada pertengahan abad ke-9. Pada tahun tersebut, kerajaan Medang Mataram dipimpin oleh raja dari Wangsa Sanjaya, Raja Balitung Waya Sambu. Sumber ini merujuk pada prasasti serupa yang saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.
Terlambat
Hari menunjukkan pukul 13.00 wib. Aku menyantap makan siang dengan keluargaku di ruang makan. Dengan sepotong ayam dan sayur yang enak. “Glug, glug, glug…”. Setelah meminum segelas air, aku pun menuju kamar. Menonton sebuah film sambil berbaring di atas kasur. Namaku Rolen. Lama kelamaan akupun tertidur.Waktu terus saja berlalu. Entah pukul berapa aku terbangun. “Bu…, pukul berapa sekarang?” tanyaku. “Sekarang pukul 15.00 wib…” jawab ibu. “Thanks bu, nanti tolong bangunun ya kalau udah pukul 16.30 wib” ucapku. “Oke…” jawab ibu.Karena sudah tahu baru pukul 15.00 wib, aku pun melanjutkan tidurku. Terus aku terbangun lagi. Karena malas bertanya, aku mencari jawabannya di ruang tamu karena jam di kamarku rusak. Aku terkejut, “haaaaaaaaaah, sudah pukul lima…” ucapku dengan nada tinggi.“Ibu…, kenapa ibu tidak membangunkanku?” tanyaku dengan sedikit kesal. “Maaf ya Len, ibu lupa membangunkanmu karena ibu sibuk dengan pekerjaan ibu” ucap ibu berminta maaf. Rolen tidak berkata apa apa dan langsung bergegas menuju kamar dan bersiap siap karena dia sudah telat masuk kelas musik. Setelah itu, aku mengambil kunci motor yang di gantung di dalam kamarku.Sesampainya di parkiran, aku langsung masuk ke kelas. “Sorry my friends, terlambat dikit” ucapku dengan santai. “Iya.., gak papa” jawab Rendy. “Do not repeat it again!” ucap Natasha. “Iya, iya…, maaf..” balasku.“Oh ya Len, tadi bang Nikel nelfon, katanya dia gak bisa hadir pada latihan kali ini. Jadi, kita diperintahkan latihan sendiri seperti yang telah diajarkan bang Nikel sampai mahir” kata Rendy panjang. “Gitu yah, mulai kuy” ajak Rolen. “Kuy…” jawab temannya serentak.Setelah latihan, akupun pulang ke rumah. Aku masuk menuju ruang keluarga. Tak lama kemudian, ponselku berbunyi ”kriiiiing… kriiiiing… kriiiiiing”. Aku mengangkat teleponnya. “Halo Len!” “Iya, ada apa?” “Lo lupa ya..?” “Lupa apa?” “Tu kan…, lo lupa. Itu, acara ulang tahunnya Reni” “Oh, ya. Hari ini ya..?” “iya…, lo buruan datang ke sini!, acaranya udah dimulai dari tadi..” “Oke oke, gue segera datang, tapi gue mandi dulu ya..” “Terserahlah, gue tunggu ya” Teleponannya selesai. Akupun berteriak “TER LAM BAT LA GI…!!!”
Cerita rakyat Danau Toba, Sumatera Utara
Cerita rakyat Danau Toba merupakan salah satu cerita rakyat terpopuler untuk bahan dongeng dengan cerita pesan moral baik yang sangat cocok diceritakan turun temurun kepada keluarga, sanak saudara dan pastinya anak.Cerita ini mengisahkan tentang seorang petani bernama Toba yang memancing di sungai dan kemudian menemukan ikan mas besar sebesar paha manusia yang menggelepar – gelepar. Ikan mas tersebut dibawa pulang oleh Toba dan ketika hendak di masak, ikan mas tersebut meminta tolong agar dilepaskan.“Tolong aku, jangan kau bunuh aku. Aku masih ingin hidup. Jika kau mau melepaskan aku, aku bersedia untuk memenuhi semua keinginanmu”.Toba kaget melihat ikan tersebut bisa bicara dan ikan tersebut membuktikan keseriusannya. Setelah toba tak lagi memeganginya, ikan tersebut menjelma menjadi manusia cantik yang kemudian menghidangkan banyak makanan di rumah Toba.Sejak saat itu, keduanya berkenalan dan lama kelamaan Toba jatuh cinta hingga memberanikan diri melamar sang putri. Kehidupan mereka bahagia hingga dikaruniai seorang anak laki – laki yang diberi nama Samosir.Ketika anak itu lahir, putri ikan mas yang dinikahi Toba meminta Toba untuk berjanji, “Berjanjilah kamu jika suatu hari nanti anak kita membuat kesalahan dan kamu marah kepadanya, jangan sekali – kali kamu menyebutkan bahwa dia adalah anak ikan mas”.Toba berjanji akan menepati janjinya. Namun suatu hari ketika Samosir membuat kesalahan, Toba ynag tersulut amarah luar biasa mengabaikan janjinya. Ia mengatakan kepada Samosir, “Dasar anak ikan mas!”Seketika langit menjadi gelap dan kampung itu pun diterpa banjir bandang. Banjir bandang yang besar membentuk sebuah danau yang kita kenal sebagai Danau Toba dengan pulai di tengahnya yang bernama Samosir.PESAN MORALPesan moral dari cerita rakyat terpopuler untuk bahan dongeng dengan pesan moral di atas adalah :Berusahalah untuk menahan amarah dan mengatasinya karena amarah yang tidak terkendali dapat mengakibatkan akhir yang buruk. Demikian dengan janji.Jangan sekali – kali berbuat janji dan mengingkarinya karena janji yang tidak ditepati bukan hanya mengecewakan manusia, melainkan juga dapat menimbulkan sebab yang buruk. Jadi berjanjilah dan tepatilah janji tersebut.Selain Danau Toba, masih banyak cerita rakyat lain dari Sumatera Utara.
Kado Ulang Tahun
Di suatu hari pada bulan November aku ulang tahun yang ke 17 tahun. Disaat itu yang harusnya membuatku senang tetapi ternyata tidak sama sekali.Di pagi hari aku baru bangun pagi aku kira ada keluargaku yang mengucapkanku selamat ulang tahun ternyata tidak ada sama sekali yang mengucapkan. Saat itu aku merasa sangat sedih dan kecewa. Sebelum aku mau berangkat sekolah aku bersalaman dan berpamitan kepada kedua orangtuaku, kukira bakal ada yang mengucapkan di situ ternyata mereka benar benar lupa dengan hari itu. Aku berangkat sekolah dengan hati yang kesal, tetapi aku di jalan berharap ada yang ingat dengan hari ulang tahunku saat itu waktu di sekolah.Sesampainya di sekolah aku langsung menaruh tas di kursi dan langsung duduk. Tidak lama ada temanku yang menghampiriku, dia mengajakku untuk mengantarkan ke kamar mandi sebentar. Setelah dari kamar mandi aku dan temanku duduk dan bercerita cerita.Jam pelajaran dimulai… Diawal pelajaran aku sudah merasa yang tidak enak, Guru jam pertama pelajaran menghampiriku dan tiba tiba menyuruhku ulangan harian sendirian di luar kelas. Aku berbicara dalam hati: kenapa aku ulangan sendirian di sini kenapa teman temanku tidak ikut ulangan juga. Setelah menyelesaikan ulangan itu aku masuk ke dalam kelas untuk menyerahkan kertas itu ke guru, tetapi saat aku masuk kelas tatapan teman temanku tiba tiba sinis semua. Tetapi ada satu temanku yang biasa saja padaku, aku sampai jam pulang bersama dia terus.Saat jam pulang Aku bertanya kepada temanku “Kenapa tadi bu guru menyuruhku untuk ulangan sendirian di depan kelas, sedangkan teman teman yang lain tidak?,” “Sama kenapa tadi temen temen sinis semua kepadaku,” tanyaku kepada temanku. “Wah aku tidak tahu tentang itu, maaf ya,” jawab temanku. Aku dan temanku pun pulang di rumahnya masing masing. Aku pulang sekolah langsung tidur siang dan bangun agak sorean. Setelah bangun aku langsung mandi. Setelah mandi aku mengerjakan tugas yang sudah diberikan guru. Tiba tiba di rumahku lampu mati, di rumah sangat gelap sampai sampai aku tidak kelihatan apa pun, aku langsung mencari hp ku untuk menyalakan senter. Di saat itu aku pun di rumah sendirian. Setelah mendapatkan hp ku aku langsung menyalakan senter yang ada di hp ku. Aku pun mencari lilin untuk ditaruh di tempat tempat yang gelap, tetapi anehnya kenapa hanya rumahku yang lampunya mati sedangkan lampu rumah tetanggaku menyala semua.Aku sudah tidak mempedulikan itu, aku melanjutkan tugasku dan menunggu lampu di rumahku menyala kembali. Aku sudah melihat KWH Meter dan tidak ada yang aneh atau pun rusak. Aku menelepon keluargaku tetapi tidak ada yang jawab.Setelah aku mengerjakan tugas aku pergi ke kamar untuk bermain hp dan menaruh lilin di kamar. Tapi tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetok pintu rumahku. “Tokkkk tokkkk tokkkkk…,” “Assalamualaikum…,” “Apa ada orangg…,” “Permisiiiiii,” Kata orang yang mengetuk pintu dengan cara sangat keras, dia pun memanggilnya sangat keras sampai sampai tetanggaku keluar rumah semua.Aku yang di rumah sendirian merasa sangat takut untuk membukakan pintu rumah, tetapi dia masih mengetok-ngetok pintu rumahku secara keras. Aku pun membukakan pintunya“Iyaaa sebentarr,” “Siapaa yaaa,” jawab ku dari dalam rumah. Aku membuka kan pintu “Ehhh ternyata paket tohh tak kirain siapa mas,” kataku. “Lama sekali sih mbak, Cuma paket aja loh,”. “Nih paketnya mbak, sama tanda tangan disini buat bukti penerimanya,” Jawab kurir paket itu. “Yaa maaf mas saya kira tadi orang jahat soalnya saya di rumah sendirian sama lampu di rumah saya mati,” jawabku. “Oalah ya mbak, kalau gitu saya duluan ya,” Jawab kurir paket. “Yaa mas makasi ya mas, maaf juga tadi lama bukain pintunya,” jawabku.Aku kembali ke kamar dan membuka isi paket tadi, tetapi tiba tiba ada suara orang di rumahku, aku pun segera melihatnya tetapi tidak ada orang di rumahku. Aku berusaha berfikir yang positif, mungkin tadi kucing. Tetapi tidak lama dari itu ada suara balon meletus di depan rumahku.“Dorrrrrr selamat ulang tahun,” “Maaf ya udah buat kamu kesel dari pagi,” “Happy birthday temankuuu maaf tadi udah cuek di sekolahan,” “Selamat ulang tahun anakku semoga selalu bahagia ya, maaf tadi pagi gak ngucapin kamu,” Tiba tiba ada teman temanku dan kedua orang tua ku masuk kamar. Mereka membawa kado dan kue. Aku langsung menangis terharu karena aku kira tidak ada satu orang pun yang ingat sama hari yang sangat spesial itu.Aku sangat bahagia saat itu karena tidak hanya orangtuaku dan teman temanku saja yang datang tetapi keluarga nya kekasih ku juga ikut datang, ternyata ini semua sudah bagian acara dari kekasihku agar membuatku kesal dari pagi, Pantas saja hp dia mati dari hari sebelum aku ulang tahun.Aku sangat terkejut karena ayahku tiba tiba memberiku kunci mobil. Aku bertanya kepada ayah “Ini apa,” Tanyaku kepada ayah. “Ini kunci mobil buat kamu, di jaga baik baik ya,” jawab ayahku. “HAHHHH, ini serius ayah,” aku yang sangat terkejut. Aku disini sangat bahagia.Tidak hanya itu kekasihku juga tiba tiba mengasih cincin di jariku. “Ini buat kamu, apa mau lebih serius lagi sama aku,” kekasihku yang bertanya kepadaku. “Hah maksud nya apa ini, tunangan gitu,” aku yang masih bingung.Ternyata ini semua adalah bagian dari rencana dia, dia ingin melihatku kesal dari pagi tapi senang saat malam itu, ini adalah hari ulang tahun yang sangat membuatku bahagia. Aku yang malu karena disitu ada kedua orangtuaku dan orangtua dia, serta ada teman temanku.“CIEEEE CIEEEE TUNANGAN NIHHHH,” “Wahhhhh iriiii akuuuuu,” “Wahh congrats yaaa,” “Sekolahnya diselesaiin dulu nanti baru lebih ke jenjang yang serius,” “Semoga baik baik aja yaa nanti hubungannya,” Kata teman temanku dan orang tua ku.END