Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Jenika & Reyna
memukuli ku ketika Reyna bersekolah. Berusaha mengingat ucapan Reyna dan terus bersabar. Selama kesabaran ku masih ada aku bertahan. Namun ketika aku memutuskan berjalan lurus ke sisi Tuhan.. ibu tiri ku tak terima dan kembali memukuli ku bahkan ia menarik-narik kerudung ku.Cukup! Aku memandang nya dengan tatapan melotot dengan ketidaksukaan."Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Kamu mau melawan saya, hah!! Kamu mau marah karena saya telah melepas kerudung mu itu?" Ucapnya dengan sinis."Ya!!" Bentak ku dengan air mata."Kau!""Kenapa? Sudah cukup kau terus menghajar ku, Bu!. Bahkan dengan bibir ku saja keluh memanggil mu ibu. Ayah memang membiarkan mu bebas di rumah ini tapi tidak dengan kekuasaan mu. Walaupun aku mati, harta tak akan berpindah ke tangan mu." Ucap ku dengan dada berdebar."Sudahi pukulan mu sekarang giliran ku."Ini lah diri ku sekarang, air mata yang kering. Hati yang sudah rapuh, ditambah terbelah menjadi dua. Dengan langkah pelan dengan menggenggam pisau perlahan berjalan ke arah nya. Ia mundur dan ia berteriak kepada ku. Dann..Jlebb!Aku menusuk diri ku sendiri di depannya. Tepat ketika Reyna datang."Jenika!!!" Teriak Reyna melotot ke arah ku…Bruk! Aku terjatuh dengan tatapan keluh, menunggu ajal ku tiba. Reyna melepaskan tas nya dan berlari ke arah ku. "Jen.. bangun!!" Reyna memukul pipi ku pelan. "Tak ada harapan lagi untuk mu, Rey." Reyna menangis dengan histeris menatapku. "Maafkan aku yang tidak bisa bersabar.."Reyna menggeleng. "Ini semua salah mama." "Bukan salah mama! Dia menusuk dirinya sendiri! Kau melihatnya kan?" "Ia! Aku melihatnya, dia bunuh diri karena mama!"Deg!"Jika ada apa-apa dengan Jenika, mama tidak akan tenang aku buat." Reyna memapah Jenika keluar.3 hari kemudian Reyna berhenti sekolah dan memilih belajar kedokteran. Ia ingin menjadi psikolog agar bisa membantu anak kecil yang tersiksa seperti Jenika. Orang tua Jenika dihukum seumur hidup karena terbukti menyiksa. Reyna dan ayah Jenika hidup bersama sampai tua. Sesekali, ibu Jenika menyusul Reyna untuk sekadar menanyakan kabar.
Batu Menangis
Dahulu kala, di sebuah bukit yang jauh dari pedesaan, hiduplah seorang janda miskin bersama anak perempuannya. Anaknya dari janda tersebut sangat cantik jelita, ia selalu membanggakan kecantikan yang ia miliki. Namun, kecantikannya tidak sama dengan sifat yang ia miliki. Ia sangat pemalas dan tidak pernah membantu ibunya.Selain pemalas, ia juga sangat manja. Segala sesuatu yang ia inginkan harus dituruti. Tanpa berpikir keadaan mereka yang miskin, dan ibu yang harus banting tulang meskipun sering sakit-sakitan. Setiap ibunya mengajaknya ke sawah, ia selalu menolak.Suatu hari, ibunya mengajak anaknya berbelanja ke pasar. Jarak pasar dari rumah mereka sangat jauh, untuk sampai ke pasar mereka harus berjalan kaki dan membuat putrinya kelelahan. Namun, anaknya berjalan di depan ibunya dan memakai baju yang sangat bagus. Semua orang yang melihatnya langsung terpesona dan mengagumi kecantikannya, sedangkan ibunya berjalan di belakang membawa keranjang belanjaan, berpakaian sangat dekil layaknya pembantu.Karena letak rumah mereka yang jauh dari masyarakat, kehidupan mereka tidak ada satu orang pun yang tahu.Akhirnya, mereka memasuki ke dalam desa, semua mata tertuju kepada kecantikan putri dari janda tersebut. Banyak pemuda yang menghampirinya dan memandang wajahnya. Namun, penduduk desa pun sangat penasaran, siapa perempuan tua di belakangnya tersebut.“Hai, gadis cantik! Siapakah perempuan tua yang berada di belakangmu? Apakah dia ibumu?” tanya seorang pemuda.“Tentu saja bukan, ia hanya seorang pembantu!” jawabnya dengan sinis.Sepanjang perjalanan setiap bertemu dengan penduduk desa, mereka selalu bertanya hal yang sama. Namun, ia terus menjawab bahwa ibunya adalah pembantunya. Ibunya sendiri diperlakukan sebagai seorang pembantu.Pada awalnya, sang ibu masih bisa menahan diri setiap kali mendengar jawaban dari putri kandungnya sendiri. Namun, mendengar berulang kali dan jawabannya itu sangat menyakitkan hatinya, tiba-tiba sang ibu berhenti dan duduk pinggir jalan sambil meneteskan air mata.“Bu, kenapa berhenti di tengah jalan? Ayo lanjutkan perjalanan,” tanya putrinya heran.Beberapa kali ia bertanya. Namun, ibunya sama sekali tidak menjawab. Sang ibu malah menengadahkan kedua tangannya ke atas dan berdoa. Melihat hal aneh yang dilakukan ibunya, sang anak merasa kebingungan.“Ibu sedang apa sekarang!” bentak putrinya.Sang ibu tetap tidak menjawab dan meneruskan doanya untuk menghukum putrinya sendiri.“Ya Tuhan, ampunilah hamba yang lemah ini, maafkan hamba yang tidak bisa mendidik putri hamba sendiri sehingga ia menjadi anak yang durhaka. Hukumlah anak durhaka ini.” Doa sang ibu.Tiba-tiba, langit menjadi mendung dan gelap, petir mulai menyambar dan hujan pun turun. Perlahan-lahan, tubuhnya berubah menjadi batu. Kakinya mulai berubah menjadi batu dan sudah mencapai setengah badan. Gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya. Ia merasa ketakutan.“Ibu, tolong aku. Apa yang terjadi dengan kakiku? Ibu maafkan aku. Aku janji akan menjadi anak yang baik, Bu!” teriak putrinya ketakutan.Gadis tersebut terus menangis dan memohon. Namun, semuanya sudah terlambat. Hukuman itu tidak dapat dihindari. Seluruh tubuhnya perlahan berubah menjadi batu. Gadis durhaka itu hanya menangis dan menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepalanya menjadi batu, sang ibu masih melihat air matanya yang keluar. Semua orang yang berada di sana menyaksikan peristiwa tersebut. Seluruh tubuh gadis itu berubah menjadi batu.Sekalipun sudah menjadi batu, namun melihat kedua matanya masih menitikkan air mata seperti sedang menangis. Oleh karena itu, masyarakat tersebut menyebutnya dengan Batu Menangis. Batu Menangis tersebut masih ada sampai sekarang.“Pesan moral dari Cerita Rakyat Batu Menangis adalah selalu hormati dan sayangi kedua orang tuamu, karena kesuksesan dan kebahagiaanmu akan sangat tergantung dari doa kedua orang tuamu.”
FRIEND BECAME GIRLFRIEND
Siang ini matahari tertutup awan, tetapi tidak hujan. Abigail melenguh bosan. Dipandanginya barisan ikan mas yang hilir mudik tanpa kenal lelah di dalam kolam belakang kampus.Sesekali ia melirik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya."Hallo Abi cantik," sapa seseorang sembari menepuk ringan bahunya.Abi menoleh tersenyum. Adelio Reynand teman seangkatannya berdiri sambil tersenyum manis ke arahnya."Kenapa sendirian aja?" tanya Adelio masih memasang senyum manisnya."Eh, Adelio. Biasa, nungguin Marcel," sahut Abi malas."Marcel? Marcello Evarado?" tanya Adelio memastikan."Iya, siapa lagi?"tanya Abi mengerutkan dahinya."Nama Marcel di kampus kita kan ada tiga," ujar Adelio membela diri.Tiba-tiba smartphone ku berbunyi."Hallo?" aku membalas sapaan yang memanggil namaku di ujung sana."......""Kenapa lo gak ngabarin gue? Setidaknya gue gak perlu nungguin lo sampe karatan gini!""......"" Iya iya! Udah ah, gue mau pulang! Capek tau!" Abi dengan ketus menyudahi pembicaraannya.Kemudian ia tersadar bahwa sedari tadi Adelio memandanginya yang sedang marah-marah dengan ekspresi geli." Kamu kalo marah-marah begitu, lucu ya? Tambah cantik!" gumamnya yang didengar jelas oleh Abi."Ish apaan sih lo?" Abi mengelak jengah."Jangan suka marah-marah, nanti tambah cantik lho!" Abi tersedak mendengar ucapan Adelio.Perempuan mana yang tidak tersanjung dengan pujian dan perhatian Adelio, seseorang yang menjadi idola di kampus ini? Banyak gadis-gadis yang berharap bisa dekat dengan laki-laki itu. Dan sekarang, Adelio menyapanya, memanggil namanya dan memujinya cantik."Abi? Abigail? Abigail Claretta?" Adelio menggoyangkan tangannya di muka Abi, membuat gadis itu tersentak dan tersipu."Uhm, sorry," Abi salah tingkah."Kenapa dengan Marcel?" dahi Adelio bertaut."Marcel sedang ada perlu. Penting katanya. Gak bisa antar gue pulang," sahut Abi malas."Ya udah, kamu pulang sama aku aja. Gimana? Gak apa-apa kan?" mata Abi melebar. Seorang Adelio Reynand menawarinya pulang bersamanya?"Tapi tidak apa-apa lo nganter gue pulang?" tanya Abi gugup."Ya gak apa-apa, Abi cantik. Yuk, aku antar kamu pulang," ujar Adelio yang masih ngotot ber aku kamu.Abi tertegun melihat senyum Adelio yang mengembang dengan manisnya. Terlebih saat Adelio meraih jemarinya dan menggandengnya menuju ke mobil sport Adelio.Berani taruhan, Abi yakin banyak gadis yang saat ini tengah melihatnya digandeng Adelio dengan tatapan iri.=====£=====Malam belum larut benar. Abi membenarkan duduknya berselonjor di atas gazebo halaman samping rumahnya.Abi tengah larut dengan novel yang dibacanya ketika tepukan seseorang membuatnya berjingkat kaget dan refleks menoleh."Marcel? Lo ngapain kemari?" Abi menatap galak pada laki-laki yang berdiri didepan nya dengan cengiran kudanya. Ia masih kesal dengan polah Marcel yang sudah membuatnya menunggu di kampus siang tadi."Gue mau minta maaf sama lo. Sorry banget ya Bi.""Ya udah. Gak apa-apa," Abigail masih menjawab dengan ketus meskipun Marcel sudah meminta maaf padanya. Ya, Abi masih kesal."Gak apa-apa kok masih cemberut sih?" goda Marcel menowel pipi Abi."Ish apaan sih lo? Memang ada apa sih?" tanya Abi mengerutkan keningnya."Aku harus ke perpustakaan Bi. Buku itu cuma satu. Kata penjaga perpus nya kemarin buku itu balik. Jadi gue nungguin buku itu di balikin sama yang minjem," jawab Marcel dengan raut kesal mengingat ia harus menunggu lama gara-gara cewek yang meminjam buku itu ngaret datangnya."Penting banget ya?" tanya Abi."Iya Bi. Kalo gak penting banget, gue pilih nganterin lo pulang,"sahut Marcel tersenyum melihat Abi sudah tidak jutek lagi."Ya udah. Gak apa-apa. Lagian gue kemarin dianterin pulang sama Adelio kok, "ujar Abigail tersenyum - senyum jengah."Adelio?"Abi mengangguk. Senyumnya masih terkembang manis, membuat jantung Marcel serasa berhenti berdetak."Iya, Adelio. Dia baik banget ya Cel. Seandainya...""Seandainya apa, Bi?" potong Marcel cepat. Perasaannya mengatakan ini adalah hal buruk yang akan ia dengar."Seandainya saja Adelio suka sama gue...""Lo suka sama Adelio, Bi?" potong Marcel lagi. Perasaannya benar-benar tidak nyaman melihat Abigail menyunggingkan senyum seperti seorang yang sedang jatuh cinta.Abi menoleh tersenyum, lalu mengangguk perlahan.Jantung Marcel serasa berhenti berdetak. Ia merasa seolah ada batu besar menghantam dadanya." Eh, sorry Bi, gue lupa ada tugas dari Miss Farah yang belum gue kerjakan. Gue cabut dulu ya Bi, " ujar Marcel dengan hati patah.Ia berbalik dan bergegas berlalu dari hadapan Abi.Abi menatap kepergian Marcel dengan bingung. Tapi sesaat kemudian ia mengedikkan bahunya, lalu kembali menekuri novel di tangannya.=====£=====MARCELLO EVARADO POVSudah hampir sebulan aku fokus pada skripsi ku. Profesor Hino sudah menyetujui skripsi yang kuajukan. Aku tinggal fokus pada ujian skripsi ku saja. Sebenarnya semua yang kulakukan ini karena aku tidak tau lagi harus melakukan apa agar aku bisa melupakan kenyataan bahwa Abigail sahabatku, gadis yang dekat denganku dan bahkan diam-diam kucintai amat sangat itu ternyata menyukai Adelio.Yah, siapa sih yang tidak menyukai seorang Adelio Reynand? Teman seangkatan Abigail itu sangat populer. Aku tidak mungkin bisa menyaingi Adelio. Aku bukan apa-apa dibandingkan dengan Adelio.Adelio yang tampan, Adelio yang ramah, Adelio yang baik dan sopan, kaya raya, pintar, tidak sombong, dan masih banyak lagi alasan kenapa para gadis di kampusku bahkan mungkin semua gadis yang mengenalnya akan menyukainya.Aku menghela nafas panjang, mencoba mengurangi rasa sesak yang muncul setiap kali melihat kedekatan Abi dengan Adelio yang makin hari makin lengket.Aku harus menjauh dari Abi dan memfokuskan diriku pada skripsiku. Aku tidak bisa melihat kebersamaan Abi dengan orang lain. Hatiku sakit. Tapi bisa apa aku? Statusku hanyalah sahabat buat Abi. Dan buatku, yang terpenting adalah Abi senang dan bahagia. Itu sudah cukup buatku meskipun aku tidak akan tahan melihatnya bersama laki-laki lain. Karena itu aku memutuskan untuk mengambil S2 ku di Jerman. Papa dan Mama sempat curiga dengan keputusan yang kuambil karena mereka tau pasti bahwa aku tidak bisa jauh-jauh dari Abigail. Tapi menurutku, keputusan ini sudah tepat."Melamun lagi?" aku menoleh melihat ke arah orang yang menepuk bahuku. Devian mengambil duduk di sebelahku. Aku menunduk lagi, mencoba untuk kembali fokus pada bacaanku."Gue mau ke Jerman. Munster tepatnya," gumamku membuat Devian menoleh cepat kearahku." Jauh amat? Lo mau nerusin S2 atau mau melarikan diri? " Devian menatapku tajam."Ya nerusin S2 lah Sob," aku tersenyum pahit membalas tatapan tajamnya."Kenapa perasaan gue bilang sebaliknya ya? Lo sudah bilang ke Abi soal rencana lo ini?" tanya Devian membuatku menghela nafas lagi."Gak. Belum.""Kenapa lo gak bilang aja terus terang sama Abi kalo lo suka sama dia?""Gue belum ketemu Abi lagi setelah kita ketemu dia di cafe dua minggu lalu," Marcel menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas nya."Menurut gue, sebaiknya lo ungkapin perasaan lo ke Abi. Paling nggak lo tau gimana perasaan Abi ke elo. Paling nggak lo sudah nyata in perasaan lo. Paling nggak lo jujur sama diri lo sendiri. Paling nggak...""Stop! Stop! Cukup Dev. Gue tambah pusing dengerin lo," potong Marcel cepat."Terserah lo lah Sob. Hidup hidup lo. Lo yang jalanin. Lo yang ngerasain. Gue cuma bisa berharap, lo gak nyesel dengan keputusan yang lo ambil," Devian menepuk pundakku pelan dan beranjak meninggalkanku."Lo mau kemana?" tanyaku setengah berteriak bertanya pada Devian yang mulai berjalan menjauh. Ia tidak menjawab, hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh padaku.Aku menggeleng pelan sambil tersenyum getir. Hanya Devian lah yang tau semua rahasia perasaanku terhadap Abi."Marcello," sebuah suara bariton terdengar ditelingaku membuatku menoleh. Kudapati Profesor Hino berdiri menjulang dibelakangku."Ya Prof?" bergegas aku bangkit berdiri."Kamu ikut saya. Ada yang harus di bicarakan mengenai keberangkatanmu ke Munster," Profesor Hino berbalik setelah memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.=====£=====ABIGAIL CLARETTA POVAku menatap Adelio dari kejauhan. Tanpa sadar aku tersenyum. Sudah dua bulan kedekatanku dengan Adelio. Ia tetap baik dan perhatian. Senyumnya tetap mengembang dengan manisnya. Tapi aku tau, itu dilakukan dandiberikannya untuk semua orang. Seperti saat ini. Apa yang kulihat di hadapanku adalah Adelio tengah tersenyum manis pada Cilla, membantunya membawa setumpuk buku ke perpustakaan. Sebelumnya, aku melihatnya mengantar Kania ke toko buku. Lalu kemarinnya lagi aku melihatnya tergesa-gesa menuju ruang kesehatan ketika mendengar Una terluka saat basket. Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin bisa kusebut satu persatu.Adelio memang sangat baik.Aku tidak sakit hati. Bahkan aku tidak patah hati. Dulu kupikir aku punya perasaan khusus dengannya. Tapi setelah mengetahui semua ini, aku sadar bahwa aku hanya kagum pada kharisma Adelio. Dan aku kini yakin, itu bukanlah perasaan cinta!"Abigail!" suara seseorang memanggilku membuatku memutar leherku."Jen? Kenapa ngos-ngosan gitu?" kulihat Jeny terengah-engah menghampiriku dan duduk di sampingku."Sudah dengar kabar gembira?" Jeny melempar senyum padaku."Kabar gembira? Kabar gembira apa?" tanyaku mengerutkan kening."Akhirnya Marcel lolos beasiswa ke Jerman," Jen memekik antusias."Marcel? Ke Jerman?" aku tercenung."Lo belum dengar kalau Marcel lolos beasiswa ke Jerman?" tanya Jen yang bingung dengan reaksiku.Aku menggeleng pelan."Lo tau dari siapa?" aku menjerit tertahan. Aku sama sekali tidak tau menau dengan rencana Marcel.Sedetik kemudian aku terhenyak. Dua bulan terakhir ini aku sudah mengabaikan Marcel. Aku terlalu sibuk dengan perhatian Adelio yang salah kuartikan. Marcel sahabatku, yang selalu ada setiap aku membutuhkan. Yang selalu mendengarkan semua keluh kesahku. Yang menemaniku saat aku jenuh dengan rutinitas. Sahabat macam apa aku yang tidak tau apa-apa tentang kepergian Marcel ke Jerman?"Jen, gue pergi dulu," aku buru-buru berdiri dan setengah berlari menuju ke parkiran."Woi Bi! Lo gak ikut kuliah Pak Tara?" teriak Jeny melihatku berlari seperti dikejar setan."Gue nitip absen aja sama lo!" teriakku hampir menjerit. Aku harus menemui Marcel. Aku harus menanyakan kebenaran berita ini pada Marcel. Juga menanyakan kenapa Marcel tidak menberitahukanku tentang rencana kepergiannya.=====£=====Marcel masih menelusuri rangkaian huruf di hadapannya ketika Devian datang dan duduk di sebelahnya."Urusan administrasi lo udah beres?" tanya Devian melirik buku yang sedang dibaca Marcel."Udah. Begitu lulus ujian skripsi, gue tinggal prepare buat ke Munster. Katanya sih ada pelatihan bahasa dulu," Marcel menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas nya."Lo tetep gak mau ngomong ke Abi soal kepergian lo ini?" gerakan Marcel terhenti.Ia tercenung, melihat ke arah Devian, lalu menggeleng pelan."Gue gak ngerti sama lo Sob. Kalo lo memang cinta sama Abi, ngapain lo takut nyatain? Lo takut dengan pikiran lo sendiri," cibir Devian geram dengan kekeras kepalaanku.Wajah geram Devian berganti senyum lebar ketika pandangannya terarah pada sesosok gadis dengan rambut panjangnya yang di ikat ekor kuda."Hai Yang, udah selesai kuliahnya?" sambut Devian memeluk dan mencium puncak kepala gadisnya yang menghambur kepadanya.Gadis itu mengangguk sambil tersenyum manja."Ckckck... pantas aja anak-anak kampus menjuluki kalian pasangan ter-romantis sepanjang masa," Marcel mencibir sambil menggelengkan kepalanya."Sirik aja lo!" cetus Jeny balas mencibir."Maklum, Yang. Dia kan jomblo," Devian terkekeh menggoda Marcel yang langsung meringis mendengarnya."Kampret lo!" sembur Marcel."Makanya kalo suka bilang suka. Sana cepetan ngomong! Keburu di sambar orang lain, lo gigit jari deh," omel Devian sambil cengengesan."Huh! Dosa apa gue punya temen kaya lo gini?" keluh Marcel memasang raut muka menyesal yang langsung di sambut tawa geli Devian, sementara Jeny menatap keduanya bergantian dengan bingung."Kalian ngomongin apa sih? Marcel suka sama siapa? Gue kenal sama orangnya gak? Apa perlu bantuan dicomblangin? Siapa sih target lo?" Devian tertawa keras mendengar kata-kata kekasihnya yang membuat Marcel melotot kesal padanya."Lo berdua memang cocok! Gue cabut dulu. Jangan berduaan mulu! Awas setan lewat," ejek Marcel."LO SETAN NYA!" teriak Devian dan Jeny barengan.Marcel tertawa meninggalkan keduanya.=====£=====Marcel menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus pada gadis mungil yang menghadangnya."Abi?""Lo hutang penjelasan ke gue, Cel!" gadis itu berkacak pinggang di hadapan Marcel."Ada apa, Bi?" Marcel memandang wajah cantik Abi lurus-lurus. Hatinya berdebar."Lo tega ninggalin gue? Kenapa lo gak ngabarin gue? Kenapa lo gak bilang kalo lo mau nerusin kuliah di Jerman? Apa lo udah gak nganggep gue sahabat lo lagi? Apa salah gue? Lo jahat, Cel! Kalo gue ada salah sama lo, lo ngomong ke gue. Bukan gini caranya. Gue salah apa? Sampai-sampai lo gak mau cerita ke gue soal kepergian lo ambil S2 ke Jerman?" Abi meluapkan emosinya, kemarahannya menyadari bahwa ia mengetahui kepergian Marcel dari orang lain."Maaf, Bi," bisik Marcel."Kenapa lo gak bilang kalo lo mau nerusin S2 ke Jerman?" Abi terisak. Bulir-bulir air mata menetes di pipi Abi. Hati Marcel serasa tersayat. Abi menangis. Biasanya ia yang akan menenangkan Abi. Tapi kali ini dia penyebabnya."Bukan seperti itu maksud gue, Bi.Lo sangat penting buat gue," Marcel mengusap wajahnya frustrasi."Nggak! Gue nggak penting buat lo! Persahabatan kita selama ini ternyata gak penting buat lo! Gue bukan apa-apa buat lo! Selama ini lo selalu menjadi orang pertama yang tau setiap masalah atau apapun tentang gue. Tapi gak dengan lo!" sembur Abi sambil mengusap air matanya kasar.Perlahan Marcel mendekati Abi, merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya."Bi, lo penting banget buat gue. Lo sahabat terbaik gue. Maaf, gue gak bisa jadi sahabat lo lagi. Gue harus pergi. Selamat tinggal Abigail, " Marcel melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipi Abi dengan sayang, lalu mengecup pucuk kepala Abi dengan lembut sebelum ia melangkah meninggalkan Abi yang masih terpaku dengan debaran jantungnya yang semakin keras menerima pelukan dan kecupan Abi di puncak kepalanya.=====£=====University of Munster, Jerman.Marcel memandang kampus tempatnya menimba pengetahuan selama dua tahun ini. Gedung yang berdiri kokoh, menjulang dengan arsitektur yang melambangkan kemegahan dan nama besar universitas itu.Universitas yang terletak di kota Munster, Rhine-Westphalia Utara, Jerman. Universitas yang berbasis riset dan menjadi salah satu universitas terbesar di Jerman.Sudah dua tahun Marcel menjadi salah satu mahasiswa di sini. Hari-harinya disibukkan dengan belajar, belajar dan belajar."Wie viele Kurse heute? (Berapa mata kuliah hari ini?) " Marcel menoleh saat merasa bahunya ditepuk seseorang.Dilihatnya Audric, teman seangkatannya berdiri di sampingnya dengan cengiran khas nya."Drei (tiga) ," jawab Marcel tersenyum.Audric mengangguk, menepuk ringan bahu Marcel dan berjalan mendahuluinya.Marcel mengedarkan pandangannya menyapu halaman kampus.Sesekali dibalasnya sapaan teman-teman nya dengan senyum lebar."Leider konnten administrative Raum zu zeigen? (Maaf, bisa tunjukkan ruang administrasi?) " Marcel menghentikan langkahnya. Di hadapannya berdiri seorang gadis sedang menunduk sambil membawa berkas-berkas administrasi."Natürlich. Sie neu hier? (Tentu saja. Kamu baru di sini?) " tanya Marcel agak membungkuk, mencoba melihat wajah gadis di hadapannya.Gadis itu mendongak dan tersenyum padanya."ABI?" mata Marcel membeliak takjub antara percaya dan tidak.Bagaimana tidak jika gadis yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Abigail Claretta, sahabatnya yang sangat dicintainya?"Hai," sapa Abi dengan senyum manisnya."Bagaimana lo bisa ada di sini?" tanya Marcel pelan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya."Melanjutkan kuliah tentu saja," sahut Abi tanpa melepaskan senyumnya."Tapi bagaimana bisa? Ini beneran lo kan, Bi? Ini bukan halusinasi gue kan?" Marcel mengerjapkan matanya berkali-kali."Memang siapa lagi? Gue kan gak punya sodara kembar," jawab Abigail meringis.Marcel menelan ludah. Dicubitnya lengannya sendiri. Sakit! Ia tidak bermimpi. Ini nyata. Ada Abigail di hadapannya sekarang. Gadis yang tidak pernah bisa beranjak dari hati dan pikirannya barang sedetikpun.=====£=====Marcel menyandarkan sepedanya pada batang sebuah pohon yang cukup rindang di sebuah taman dekat apartemen tempat ia tinggal.Penduduk di Munster memang lebih suka naik sepeda."Ceritakan sama gue, bagaimana lo bisa berada di sini dan tinggal di apartemen yang satu gedung sama gue!" tuntut Marcel setelah ia dan Abi duduk bersebelahan di bangku taman."Devian," ucap Abi. Satu nama yang mewakili ratusan kata atas jawaban dari pertanyaan yang akan dilontarkan Marcel."Huh! Dasar kaleng rombeng!" dengus Marcel kesal. Memang selama ini hanya Devian satu-satunya teman yang tau dengan pasti dimana dia berada."Kenapa lo gak mau bilang ke gue?" tanya Abi setelah sesaat mereka terdiam."Bilang apa? Oh... soal kepergian gue? Gue cuma gak mau liat lo sedih dan membuat gue membatalkan beasiswa yang sudah susah payah gue dapet," sahut Marcel membuang muka."Itu bukan alasan utama lo kan?" tanya Abi lagi menohok perasaan Marcel."Lo mau alasan yang mana? Itu memang alasan gue," jawab Marcel pelan."Kenapa lo gak mau jujur sama gue? Tentang isi hati lo, perasaan lo, alasan lo pergi, juga alasan kenapa lo gak bisa jadi sahabat gue lagi," kejar Abi menatap Marcel dalam-dalam.Marcel memandang wajah cantik di depannya dengan pias. Apa yang sudah Devian ceritakan pada Abi? Apakah Abi marah? Apakah ia akan kehilangan Abi selamanya?"Apa yang sudah Devian bilang ke lo?" Marcel menekan suaranya."Semuanya," sahut Abi masih tidak melepaskan tatapannya dari wajah pucat sahabatnya."Lalu? Apalagi yang mau lo dengar dari gue? Bukannya Devian sudah mengatakan semuanya?" Marcel menunduk, mengais rumput dengan ujung sepatunya."Kenapa gue selalu dengar dari orang lain? Gue mau memastikan kebenarannya dari mulut lo sendiri," ujar Abi mantap.Marcel menelan ludahnya susah payah.Baiklah kalau ini mau-mu, Bi, bisiknya dalam hati, menyerah dan pasrah apa yang akan terjadi."Gue gak bisa jadi sahabat lo lagi karena... karena gue...gue bukan sahabat yang baik buat lo. Seorang sahabat akan selalu mendukung dan men-support sahabatnya. Tapi itu tidak terjadi sama gue. Gue gak suka lo dekat dengan orang lain, pria lain. Gue bukan sahabat yang baik karena gue punya perasaan lain sama lo. Gue suka sama lo. Gue cinta sama lo. Dan gue gak mau perasaan gue menghalangi kebahagiaan lo. Itu sebabnya gue berusaha keras memperoleh beasiswa ini," Marcel melepaskan seluruh beban yang selama ini menghimpitnya. Ada perasaan lega dalam rongga dadanya, namun sebagian hatinya merasa takut dan was was dengan reaksi Abi.Ragu-ragu ia melirik pada Abi. Dilihatnya gadis itu menunduk diam."Bi, maafin gue. Gue salah. Gak seharusnya gue punya perasaan seperti itu. Tapi Bi, gue gak bisa ngilangin perasaan itu. Maka dari itu gue pergi," Marcel menunduk." Ich liebe dich, Marcello Evarado," Marcel menoleh cepat menatap Abi yang juga tengah menatapnya dengan pipi merona merah."Können Sie das wiederholen? (Bisakah kamu ulangi?)" Marcel menggumam lirih."Marcello Evarado, Ich liebe dich, so wie du mich liebst," Marcel mengedip sekali, tatapannya lekat pada bibir gadis mungil yang baru saja mengatakan cinta padanya."Jangan mengejek, Abi! Gue tau lo cuma bercanda kan?""Gue gak pernah seserius ini,Cel."Marcel mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mencari kesungguhan Abi. Dan ia menemukannya di mata bening Abigail."Katakan kalo gue gak sedang bermimpi, Bi," bisik Marcel masih dengan ketakjubannya."Lo gak mimpi, Marcel," Abi tertawa lirih.Mendadak Marcel berdiri, lalu berteriak sambil melompat-lompat, lalu berlari mengitari bangku tempat Abi duduk."Akhirnya! Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi!" Abi tertawa melihat kegilaan yang dilakukan Marcel.Ia terus tertawa hingga Marcel kembali duduk di sisinya."Jadi kita gak sahabatan lagi dong," goda Abi melihat Marcel yang mengusap-usap tengkuknya salah tingkah."Iya, sekarang kita pacaran," jawab Marcel tertawa bahagia."Kita? Pacaran?" Abi masih menggoda Marcel."Iya! Gue sama lo pacaran," cengir Marcel."Kalo pacar masa panggilnya lo gue?"Marcel tertegun menatap lekat wajah Abi. Sedetik kemudian ia tertawa. Di rengkuhnya tubuh mungil di hadapannya."Aku cinta mati sama kamu, Bi," ujarnya pelan di telinga Abi.Abi tersenyum, memejamkan matanya sesaat menikmati dekapan hangat Marcel."Aku juga cinta mati sama kamu, Cel."Marcel melepaskan pelukannya, menarik tangan Abi agar berdiri. Lalu di gendongnya gadis itu dan mereka berputar-putar sambil tertawa sarat dengan kebahagiaan.SELESAI.
Gereja Yang Terbakar & Akhir Bunga Perasaan
Aktivitas favorit Arin pada sore hari adalah duduk di bangku taman sambil memandangi indahnya bunga-bunga dan teduhnya pepohonan. Hatinya menjadi damai, ketimbang saat ia dikelilingi oleh manusia. Biasanya ia berada di sana cukup lama, hingga matahari nyaris terbenam.Namun, sore itu aktivitasnya terganggu. Sekelompok anak bermain kejar-kejaran, lalu menerjang sebaris bunga dengan seenaknya saja. Sontak Arin berdiri ingin memarahi mereka. Tapi kata-katanya tak keluar. Dan anak-anak itu terlanjur berlalu meninggalkan taman.Arin pun mendesah."Dasar bocah-bocah kampret..."Pemuda itu mendekati bunga-bunga yang dirusak, lalu berjongkok di sana. Ia meletakkan telapak tangan kanannya di tanah dan di batang tanaman yang patah. Ajaib, batang itu perlahan pulih seperti sedia kala. Bunga yang terinjak pun mekar lagi. Itulah bakat spesial yang dimiliki Arin, yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun."Waw... itu keren banget!"Pemuda itu sontak menoleh. Ia kaget setengah mati, tak mengira ada orang yang memperhatikannya. Seorang gadis muda berpakaian suster berdiri di dekatnya. Gadis itu sedang menenteng plastik belanjaan."A—anu—aku bisa jelaskan!" seru Arin tergagap.Sang gadis menggeleng, "Aku lihat semuanya. Tadinya kan aku mau mengejar anak-anak itu karena merusak tanaman.""Mati aku..." Arin tertunduk, tak tahu harus berbuat apa. Ia tak mau dianggap aneh. Orang-orang dengan kemampuan khusus sepertinya biasanya akan diviralkan, menjadi pusat pembicaraan, didatangi wartawan, memiliki haters—"Aku tidak akan bilang siapa-siapa," ucap gadis itu, menghentikan kegundahan Arin. "Namaku Silvia." Ia mengulurkan tangannya."Arin," jawab sang pemuda sembari menjawab uluran tangan tersebut."Kau memiliki bakat yang luar biasa," ulang Silvia."Eh... Terima kasih," jawab Arin tersipu malu."Jadi... apa kau mau membantuku menanam bunga di kebun gereja?""Eh?""Suster kepala memerintahkanku, tapi kurasa aku tidak punya bakat berkebun.""Tapi—"Silvia memegang kedua tangan Arin, kedua matanya berbinar, "Tolonglah..."Pemuda itu pun tak sanggup menolak. Meski ia tahu sedang dimanfaatkan, tapi nalurinya sebagai lelaki sangat menggebu."Kalau begitu besok pagi aku akan ke gereja!" seru Arin lalu berlari meninggalkan Silvia.Awalnya Silvia ragu apakah pemuda itu akan benar-benar datang. Tapi keesokan paginya ia benar-benar datang. Jadi mereka pun mulai bekerja. Silvia yang mengatur desain dan jenis bunga apa yang perlu ditanam, sedangkan Arin yang mengeksekusi rencana tersebut.Setelah selesai, Silvia menyuguhkan teh dan kue untuk Arin. Pemuda itu langsung menyantap hidangannya dengan lahap."Kamu lapar atau doyan?" tanya Silvia yang memperhatikan pemuda tersebut."Dua-duanya," jawab Arin. Tapi kemudian ia berhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Setelah ini apa aku masih boleh main-main ke sini?"Silvia mengerutkan dahinya, "Memangnya kenapa tidak boleh?""Tugasku kan sudah selesai..."Arin merasa tahu diri. Silvia adalah gadis yang manis. Apalagi ia seorang suster. Kalau bukan karena butuh bantuan, mustahil ia bisa terus bersama Silvia."Tentu saja, datang saja sesukamu! Nanti aku akan membuatkan teh dan kue!" jawab Silvia."Serius?"Silvia mengangguk."Baiklah," Arin pun tersenyum bahagia.Sejak saat itu mereka sering bertemu. Kadang Arin datang ke gereja sambil berpura-pura menjadi jemaat, kadang Silvia mampir saat melihat Arin di taman, dan kadang mereka mengatur pertemuan di tempat rahasia. Di hutan pinggir kota yang lebat, tapi Arin mendekorasinya senyaman mungkin menggunakan kekuatannya. Tanpa diketahui siapapun, mereka memadu kasih. Sebuah cinta terlarang antara orang biasa dan pelayan Tuhan.Di suatu sore yang damai, setelah selesai berpetualang menyusuri hutan, Arin dan Silvia pun memutuskan untuk beristirahat di bagian terdalam hutan, dan berbaring diatas rerumputan yang lembut."Sil," ucap Arin sembari memegang tangan Silvia."Kenapa?" Jawab Silvia yang masih menikmati pemandangan langit nan cerah."Apa ini benar?" Rasa takut terdengar jelas dalam suara Arin."Hah? Gimana?""Yang kita lakukan... terkadang aku khawatir... tidak seharusnya kita memiliki hubungan seperti ini.""Eh? Kenapa? Karena aku seorang suster?""Ya, tentu saja lah." Arin menatap gadis itu. Ia bisa melihat bola mata Silvia yang begitu jernih.Silvia ragu sejenak sebelum menjawab, "Yah... Aku sendiri sebenarnya tidak pernah mau menjadi suster kok. Orang tuaku yang mengirimku ke sana. Jadi... Aku bisa apa? Terkadang hidup kita seperti boneka marionette yang dikendalikan orang lain... dan Tuhan, pastinya."Arin merinding mendengarnya. Selama ini ia tak pernah terlalu memikirkan soal Tuhan. Tapi ide untuk membangkang sang pencipta agak membuatnya takut. Namun, Arin juga sebenarnya masih ingin mengungkapkan sesuatu yang lain, tapi dia mengurungkan niatnya."Sesekali, aku hanya ingin melakukan apa yang kumau. Aku mau kamu, Arin.""Tapi ini beresiko banget loh...""Biar aku yang tanggung resikonya." Gadis itu mendekatkan kepalanya ke samping Arin, dan memandang wajah pemuda itu. "Daripada hidup seribu tahun sebagai domba, aku ingin menjadi serigala satu hari saja. Meski akhirnya dibunuh gembala."Kemudian gadis itu mendekatkan wajahnya ke arah Arin. Bibir mereka pun bertemu, berpagutan. Rasanya ingin agar sore itu berlangsung selamanya, agar mereka tak perlu pulang ke tempat masing-masing dan berusaha menyembunyikan bahwa kisah ini pernah terjadi.Keesokan harinya, Arin datang ke gereja membawakan buah-buahan untuk suster kepala. Ia takut wanita tua itu mulai mencurigainya. Mungkin ia perlu lebih rajin beribadah agar tak dikira macam-macam.Namun, dari kejauhan ia melihat asap hitam yang membumbung tinggi. Perasaannya segera berubah tidak enak. Ia mempercepat langkahnya menuju gereja. Tampak orang-orang sedang berkumpul, sementara lidah api berkobar melalap bangunan gereja. Sontak Arin menjatuhkan barang bawaannya lalu berlari."Silvia!"Orang-orang segera menghentikan pemuda itu."Jangan! Bahaya!""Tidak! Lepaskan!"Tapi akhirnya Arin tak kuasa. Ia berlutut lemas. Katanya api tiba-tiba menyambar di tengah kebaktian, memberangus semua orang yang terjebak di dalamnya—termasuk Silvia."Inikah hukuman? Inikah hukuman dari-Mu?" isak Arin tak tertahan. Air matanya berurai. Ia akhirnya menempelkan kedua telapak tangannya di tanah, lalu mengerahkan seluruh kekuatannya. Tiba-tiba sulur-sulur raksasa mencuat dari dalam tanah lalu melilit bangunan gereja, mematikan api yang berkobar.Semua orang terkejut, dan tak ada yang menyadari bahwa itu adalah perbuatan Arin. Atau mungkin, ada beberapa yang menyadarinya. Makanya Arin merasakan ada tatapan aneh yang terarah ke arahnya. Tapi dia tidak peduli. Tidak untuk saat ini.Namun, warga dibuat semakin terkejut saat melihat ada banyak bunga-bunga berwarna-warni dari berbagai jenis yang tiba-tiba tumbuh menutupi seluruh gereja itu.Kemudian hujan yang deras turun, seakan menyudahi hukuman bagi sang pemuda. Walau akhirnya tetap tak bisa mengembalikan Silvia."Tidak... ini tidak mungkin..." Kini air mata Arin telah bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.
MIDNIGHT SALE HOROR
Bianca seorang artis ternama berusia 25 tahun, dengan kulit putih, tinggi dan memiliki tubuh yang proporsional untuk dilihat, saat ini Bianca sedang berada di puncak karirnya, semua fans myengaguminya, stasiun Televisi pun hampir semua mengundang Bianca untuk datang ke dalam program acara mereka, bisa di bilang Bianca adalah Super Star dan Bianca sangat senang berbelanja, terutama Midnight Sale, karena menurut Bianca berbelanja di malam hari memiliki sensasi yang luar biasa, dibandingkan jika Bianca ke tempat hiburan malam atau tempat makan.Hari ini Bianca selesai melakukan syuting video klipnya sampai jam sepuluh malam, dan Bianca pun bersiap - siap untuk pulang ke apartemennya yang berada di bilangan Jakarta Selatan, Bianca menyetir sendiri kendaraan SUV miliknya, tetapi kondisi jalanan hari itu sangat melelahkan, Macet dan tidak bergerak sama sekali.Saat Bianca merasa putus asa, Bianca melihat ada gang sempit yang tidak terlihat oleh kendaraan lainnya, tetapi gang tersebut cukup untuk jalan dengan kondisi kendaraan yang dimilikinya, merasa frustasi dengan kondisi jalan saat itu, Bianca pun langsung membelokkan setir masuk ke dalam gang tersebut, setidaknya mobil tetap bergerak tidak statis seperti kondisi jalanan tadi, fikir Bianca.Tidak berapa lama Bianca menemukan jalan keluar dari gang dengan jalan yang lebih besar, "Akhirnya" fikir Bianca, kondisi jalan ini sangat sepi berbeda dengan jalan utama tadi, tetapi Bianca belum pernah melewati jalan ini, fikir Bianca tapi Bianca terus menginjak gas kendaraannya, ini Jakarta tidak mungkin a.ku tersasar, fikir Bianca.Tiba - Tiba Bianca melihat sebuah tempat besar dengan lampu yang bersinar terang, setelah Bianca dekati ternyata itu adalah Mall, besar dan mewah terlihat lebih seperti istana di bandingkan dengan Mall biasa, nama Mall tersebut adalah MALL DARKLAND dan anehnya Bianca belum pernah ke Mall ini sebelumnya.HAmpir Bianca menginjak gas mobilnya kembali, tiba - tiba Bianca melihat media promosi yang besar untuk Mall tersebut, "MIDNIGHT SALE if your lucky you get all Item Free".Bianca langsung menyetir mobilnya untuk masuk ke dalam parkiran Mall tersebut.Parkir mobil di Mall tersebut cukup ramai, hanya saja yang membuat Bianca bingung kenapa semua mobil yang terparkir adalah mobil - mobil klasik seperti di era lima puluhan, tapi ya sudahlah fikir Bianca, kalangan yang ada di Mall ini pasti kalangan yang mewah dan menyukai hal - hal yang antik, fikir Bianca sambil mencari tempat untuk memarkir mobilnya.Setelah turun dari mobil, Bianca disambut oleh petugas di Mall tersebut, dengan seragam tempo dulu seperti prajurit kerajaan, "Oke" fikir Bianca mungkin ada tema untuk midnight sale kali ini, yaitu dengan memakai kostum Zaman dulu.Memasuki Lobby Mall tersebut sangat mewah, bahkan seperti istana yang mewah, semua lampu kristal, bangunan yang besar, dan semua dihias dengan dekorasi istana, tidak ada tangga jalan atau lift, yang terlihat tangga - tangga tinggi seperti di kastil - kastil kerajaan.Setiap Toko memajang sepatu dan baju yang mewah dan menarik,banyak pengunjung wanita yang datang di acara tersebut tetapi barang yang dijual dan baju yang mereka pakai seperti Zaman di era lima puluhan."Baik untuk pengunjung di Mall DARK LAND, segera bersiap - siap untuk berbelanja sepuasnya" ucap MC yang ada didalam Mall tersebut, dengan kostum baju satria yang dipakainya"semakin banyak berbelanja, semakin banyak kesempatan untuk mendapatkan hadiah yang menarik" seru MC tersebutBianca senang sekali membeli sepatu, dan dia melihat ada sepatu berwarna emas, yang pasti akan cocok dengan kostum baru yang dibelinya saat di New York kemarin, Waktu berjalan cepat dan Bianca tanpa sadar sudah membeli banyak sekali barang malam itu, Sepatu, baju, Tas, dan Aksesoris, karena menurut Bianca semua barang - barang tersebut terlihat menarik dan vintage, pasti akan sangat keren kalau aku pakai fikir Bianca.Tetapi anehnya setiap pengunjung yang datang, berbelanja dengan kesunyian, tetapi mereka juga sama seperti Bianca membeli banyak barang.Akhirnya waktu Midnight Sale telah berakhir, dan MC tadi pun sudah menutup acara hari itu, Bianca segera pergi ke parkiran, dan menuju mobil untuk kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah, saat Bianca sudah keluar dari area Mall tersebut, sekitar seratus meter, ada Bapak - bapak tua mengahadang mobil Bianca.Bianca ketakutan, tetapi Bapak tua tadi menghadang mobilnya dan meminta Bianca membuka jendela mobilnya, akhirnya Bianca pun membuka jendela mobil."Maaf pak ada yang bisa saya bantu?" ucap Bianca sopan"Justru saya yang ingin bertanya kepada ibu, ada yang bisa saya bantu? karena sepertinya ibu tersesat""Tersesat? tidak pak saya ingin pulang ke rumah" jawab Bianca"apa yang ibu lakukan disini?" tanya bapak tua tadi"saya hanya habis berbelanja sebentar pak, sekarang saya sudah mau pulang" jawab Bianca bingung"Belanja? dimana ibu belanja?" tanya bapak tua itu lagi"di Mall......" sambil Bianca menunjukkan arah Mall tadiBianca sangat kaget dengan apa yang dilihatnya,,,, ternyata tidak ada Mall yang tadi dia masuki, yang ada hanya lahan kuburan belanda dengan ornamen khas eropa yang luas dan sepi...Tiba - tiba Bianca merasa merinding, dia melihat hasil belanjaannya di belakang kursi mobilnya, dan semua masih ada, utuh, tidak ada yang hilang....."Hati - hati mba" ucap bapak tua tadi"Ini Malam Jum'at Kliwon........"
CINTA UNTUK KIARA
Matahari bersinar sangat terik. Udara panas membuat membuat orang berkeringat meskipun tidak beraktifitas.Seorang gadis sedang menikmati taro milkshake-nya sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya yang melorot. Dihadapannya tampak terbuka sebuah buku tebal. Ia terlihat larut dengan apa yang dibacanya, seolah tenggelam dalam dunianya sendiri.Mendadak cafe yang hening itu berubah menjadi riuh. Seorang lelaki tampan berbusana formal berwarna abu-abu gelap melangkah masuk ke dalam cafe sambil melepas kacamata hitamnya, mengedarkan pandangannya.Para gadis yang ada di situ berbisik-bisik bahkan ada yang menjerit histeris.Siapa yang tidak mengenal Alvarico Candra? Pengusaha muda yang sukses, tampan dan kaya raya, pria super most wanted yang selalu menjadi perbincangan hangat kaum hawa.Para gadis bahkan ibu-ibu pun menjerit histeris saat lelaki tampan itu berjalan melewati mereka.Pria itu berhenti. Tatapannya terpaku pada sosok gadis yang menunduk diam tanpa terganggu riuh disekitarnya. Ia membenamkan diri dalam buku tebal yang ditekurinya.Tiba-tiba seorang gadis dengan dandanan modis memekik menghambur kearah pria gagah itu."Alva! Alva! Kamu masih ingat aku kan? Aku Hanna. Kita pernah bertemu di acara pembukaan anak cabang Black Gold di Surabaya," serunya berisik.Alvarico menoleh menatap tajam dengan sorot tidak suka pada gadis bernama Hanna itu.Terdengar decakan seseorang.Alvarico memutar lehernya, mendapati tatapan terganggu gadis yang tadi bergumul dengan buku tebalnya sendiri.Gadis itu membereskan bukunya, meraih tas, menyampirkannya ke bahu mungilnya dan bergegas berlalu dari hadapan Alvarico.Alvarico mengernyit heran. Gadis itu sama sekali tidak histeris seperti yang lain. Apa gadis itu begitu kuper sehingga tidak tau siapa dia sebenarnya?Alvarico menggelengkan kepalanya, menyingkirkan kepeduliannya terhadap kecuekan gadis aneh itu.=====♡~♡=====Langit sedang cerah. Tidak mendung, tetapi juga tidak terik. Alvarico mengendarai BMW 18 nya dengan santai. Seharusnya hari ini ia ada pertemuan dengan salah seorang rekan bisnisnya. Berhubung rekan bisnisnya itu membatalkan mendadak, jadilah ia mengitari kota untuk menghilangkan kejenuhan.Ya, Alvarico memang seorang workaholic. Bahkan di hari minggu seperti ini ia lebih suka bertemu klien nya daripada beristirahat di rumah. Apalagi mama-nya yang selalu menuntutnya untuk segera menikah diusianya yang hampir kepala tiga ini membuatnya enggan berlama-lama di rumah.Jalanan lengang ini memudahkan Alvarico menikmati kesendiriannya. Bukannya ia tidak mau mengerti keinginan mama-nya, juga bukan karena ia pernah patah hati, karena tidak ada seorang wanita pun yang mampu menolak pesonanya.Hanya wanita bodoh dan gila yang tidak menginginkan dan menolak Alvarico.Tiba-tiba mata Alvarico tertumbuk pada pemandangan yang menarik perhatiannya.Di sebuah taman yang tengah dilewatinya, terlihat seorang gadis berambut ikal melewati bahu. Gadis itu tengah duduk atas selembar kain yang dihamparkan di atas rerumputan. Kepala gadis itu mengangguk-angguk kecil seperti mengikuti irama lagu, sementara mata gadis itu terpaku pada buku tebal yang terbuka di pangkuannya.Telinga gadis itu tertutup headset.Alvarico mengernyit merasa pernah melihat dan bertemu gadis itu. Tapi dimana? Ia mencoba mengingat-ingat.Ia menepikan BMW 18 nya. Perlahan ia mendekati gadis yang masih tampak asyik dengan bacaannya.Aaaah, Alvarico ingat sekarang. Gadis itu adalah gadis yang sama yang mengabaikannya saat di Swan Lake Cafe beberapa hari yang lalu. Gadis yang membuatnya merasa bukan siapa-siapa.Gadis itu bahkan tidak meliriknya sama sekali di saat semua wanita heboh melihatnya.Dilihatnya gadis itu lagi. Seperti sebelumnya, gadis itu masih tenggelam dalam dunianya sendiri.Rasa penasaran memenuhi benak Alvarico. Ia berjalan makin dekat hingga sekarang ia berdiri tepat di depan gadis itu.Merasa ada yang memperhatikan, gadis itu mendongak melihat ke arah Alvarico. Ia melepas headset dari telinganya."Ada apa?" gadis itu memandang Alvarico dengan mata beningnya.Alvarico tergeragap mendengar pertanyaan gadis itu. Ia tidak bermaksud mengusik gadis itu. Tapi rasa penasarannya membuatnya mendekati gadis itu."Kamu sendirian di sini?" Alvarico tau pertanyaannya aneh ditelinga gadis itu."Seperti yang kamu lihat. Kenapa?" tanya gadis itu mengernyit."Sepagi ini dan kamu sendirian di sini. Apa kamu tidak punya teman?" Alvarico tertawa dalam hati. Sungguh, ia tidak pernah membuang-buang waktunya untuk hal yang tidak penting seperti yang saat ini ia lakukan."Memangnya kenapa? Apa ada larangan?" gadis itu balik bertanya, membuat Alvarico mati kutu."Ehm tidak. Tapi aku tidak terbiasa melihat seorang gadis sendirian di taman sepagi ini," gadis itu memutar matanya mendengar pernyataan aneh dari laki-laki perlente di depannya."Oh. Tapi aku terbiasa begini," ujar gadis itu mencibir membuat Alvarico tiba-tiba merasa gemas pada gadis itu."Siapa namamu? Perkenalkan, namaku...""Alvarico Chandra kan?" potong gadis itu cepat."Kamu mengenalku?" tanya Alvarico takjub. Gadis itu mengenalnya tetapi ia sama sekali tidak histeris bertemu dengannya?"Tentu. Siapa yang tidak mengenalmu? Berita tentangmu ada di mana-mana," sahut gadis itu sambil membereskan barang-barangnya."Tapi aku belum tau namamu. Siapa namamu?" mendadak Alvarico ingin mengenal gadis itu lebih dalam."Aku bukan siapa-siapa," jawab gadis itu sambil melipat alas yang tadi digunakannya untuk duduk."Tapi aku ingin tau namamu," Alvarico makin heran dengan dirinya sendiri, kenapa begitu penasaran ingin tau siapa gadis itu."Untuk apa? Paling sebentar juga kamu sudah lupa. Lebih baik tidak usah," sahutnya berdiri dan menenteng tas-nya, hendak berlalu dari hadapan Alvarico.Tanpa sadar tangan Alvarico menahan gadis itu."Katakan siapa namamu?" desak Alvarico menekan nada suaranya membuat si gadis mendengus kesal."Namaku Kiara. Puas?" gadis bernama Kiara itu menarik lengannya yang digenggam Alvarico."Belum! Kamu masih kuliah? Atau sudah bekerja?" tanya Alvarico lagi masih belum melepaskan Kiara."Untuk apa aku harus mengatakannya padamu? Apa untungnya bagiku?" Kiara memberengut kesal."Aku menyukaimu," Alvarico terkejut dengan perkataannya sendiri. Apa yang baru saja diucapkan spontan keluar tanpa ia sadari. Tapi ia tidak berniat meralatnya sama sekali."Hahaha lucu sekali Tuan Alvarico yang terhormat. Sekarang lepaskan aku. Aku harus pulang," Kiara menatap tajam."Katakan dimana rumahmu, akan aku antar," Kiara membulatkan matanya."Aku bisa pulang sendiri. Maaf, bisa lepaskan tanganku?" Alvarico melepaskan cekalannya perlahan dengan tidak rela.Kiara segera berlari menjauh. Sementara Alvarico seperti baru tersadar sesuatu, ia segera mengikuti dari jauh, kemana gadis itu pergi.=====♡~♡=====Kiara tersenyum memperhatikan anak-anak yang sedang mewarnai di lembaran kertas yang baru saja dibagikannya."Bu Kiara, warna bunga itu apa?" suara lucu Lolly membuat Kiara tertawa kecil."Macam-macam Lolly sayang. Kamu bisa mewarnainya dengan warna merah, kuning, ungu, putih...""Apa Lolly boleh mewarnainya pink?""Boleh. Lolly suka warna pink?" gadis kecil itu mengangguk membuat kedua kepangnya bergerak-gerak lucu."Bu Kiara, aku suka warna oranye. Apa ada warna bunga oranye?" seorang gadis cilik memakai pita merah mendekat."Tentu ada Fika sayang," Kiara mengusap lembut kepala Fika."Apakah aku boleh mewarnai hatimu dengan warna merah jambu?" sebuah suara bariton di ambang pintu membuat Kiara menoleh cepat dengan mata membelalak."Kamu? Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Kiara lebih terdengar ketus daripada nada bertanya."Memang apa larangan aku berada di sini? Lagipula apa salahnya aku berada di sekolah milikku sendiri?" Kiara membulatkan matanya."Jangan bercanda Tuan Alvarico. Setau saya, sekolah ini milik Ibu Gea," Kiara memelankan suaranya menekan kekesalannya."Dan Ibu Geananda itu ibuku, Kiara," ujar Alvarico tersenyum mengedipkan sebelah matanya sambil bersedekap bersandar di pintu.Kiara menatap tidak percaya."Mamaku, maksudku Ibu Gea memanggilmu agar menghadapnya sekarang, Kia," kata Alvarico menyadarkan ketertegunan Kiara."Tapi aku... aku tidak melakukan kesalahan apapun," ujar Kiara pias. Apakah ia akan dikeluarkan dari sekolah ini karena bersikap tidak sopan pada putra Ibu Gea, pemilik sekolah tempatnya bekerja."Tentu saja kamu melakukan kesalahan, Kia. Sebaiknya kamu ikut aku sekarang," kata Alvarico tidak sabar."Tapi aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja," Kiara melirik ke arah anak-anak yang sedang mewarnai dengan antusias."Aku yang akan menggantikanmu, Kia. Aku akan menjaga mereka. Kamu pergilah. Jangan membuat Ibu Gea menunggumu terlalu lama," Lea muncul dari belakang Alvarico."Baiklah. Aku titip mereka, Lea," Kiara meninggalkan kelasnya dengan berat hati, diiringi Alvarico yang tersenyum senang disebelahnya.Kiara sudah di depan ruang pemilik yayasan. Ia hanya pernah sekali memasuki ruangan ini, yaitu saat ia melamar pekerjaan yang sangat dicintainya ini."Masuklah, Kia," Alvarico mengulurkan tangannya hendak membuka pintu."Tunggu! Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah aku akan dikeluarkan? Aku bekerja dengan sungguh-sungguh selama ini. Atau aku akan dikeluarkan karena aku sudah melakukan kesalahan padamu?" Kiara bertanya - tanya seolah pada dirinya sendiri."Dikeluarkan atau tidak itu tergantung jawabanmu nanti, Kia," sahut Alvarico gemas dengan kegelisahan Kiara.Kiara mendesah pelan. Lalu dengan hati berdebar ia melangkah masuk.Dilihatnya Bu Gea sedang membaca sebuah majalah bisnis dengan cover depan Alvarico yang berpose dengan gagahnya."Ma, Kiara sudah datang," Alvarico memberitahukan kehadiran mereka pada Nyonya Geananda Chandra.Sementara Kiara dengan gugup meremas-remas ujung blouse nya.Bu Gea mengalihkan fokusnya pada Kiara. Senyumnya mengembang."Silakan duduk Kiara," Bu Gea mempersilakan Kiara dengan menunjuk sofa berwarna krem di dekatnya.Kiara mengangguk patuh. Sementara Bu Gea duduk di sofa tunggal, dengan sigap Alvarico mengambil duduk di samping Kiara."Kiara, apakah kamu senang bekerja di sini?" tanya Bu Gea lembut."Iya Bu. Saya sangat senang bisa mengajar di sini. Saya mohon, jangan pecat saya, Bu. Saya minta maaf jika saya sudah bersikap tidak sopan. Tapi saya benar-benar tidak tau kalau Bapak Alvarico ini adalah anak Bu Gea. Maafkan saya, Bu," Kiara hampir tidak bisa menahan tangisnya. Ia sangat mencintai pekerjaannya juga anak-anak itu.Bu Gea memandang bingung ke arah Kiara, lalu melirik pada putra semata wayangnya yang sedang tersenyum menahan tawa. Segera Bu Gea sadar apa yang terjadi. Ya, ulah siapa lagi kalau bukan ulah putranya yang akhir-akhir ini tengah kasmaran dengan gadis yang katanya special limited edition. Alvarico tiba-tiba saja sering meninggalkan pekerjaan dan menghilang tanpa ada yang tau apa yang tengah dikerjakannya.Alvarico tiba-tiba saja sering tersenyum sendiri. Dan ketika ditanya, ia hanya menjawab bahwa ia baik-baik saja dan hanya sedang teringat seseorang.Dan ternyata inilah jawabannya. Putra tunggalnya sedang menyelidiki gadis aneh yang sangat cantik, yang sudah membuatnya tidak bisa tidur nyenyak karena wajah ayu-nya selalu membayangi kemanapun Alvarico pergi."Kiara, aku tidak akan memecatmu jika kamu mengabulkan satu permintaan ibu," Bu Gea tersenyum mengedipkan matanya pada Alvarico yang mengangguk kecil pada Mamanya.Kiara mengangkat wajahnya. Mata itu berbinar sesaat.'Apa yang harus saya lakukan, Bu?" tanya Kiara penuh harapan."Menikahlah dengan putraku!" seperti mendengar gelegar petir di pagi buta, Kiara terlonjak kaget. Bagaimana bisa Bu Gea memintanya untuk menikah dengan putranya? Mereka tidak saling kenal dekat. Dunia mereka jauh berbeda. Ia hanyalah seorang yatim piatu yang menghabiskan hidupnya di panti asuhan, sementara Alvarico merupakan pengusaha sukses dan kaya raya dengan kadar ketampanan yang luar biasa, dan digandrungi banyak sekali wanita.Bagaimana bisa Bu Gea memintanya untuk hal yang mustahil seperti ini? Bahkan dalam mimpi pun Kiara tidak berani berharap."Maaf Bu Gea, saya tidak mengerti maksud Ibu," Kiara menenangkan dirinya. Ia yakin ia salah dengar."Begini Kiara, Ibu sudah bicara pada bunda Maya di panti sebelum kami datang kemari. Dan bunda Maya juga sudah setuju. Sekarang tinggal kamu. Kamu mau kan menikah dengan Alvarico? Menjadi istri yang baik untuknya, menyayangi dan mencintainya sepenuh hati?" tidak, ia tidak salah dengar. Bahkan Bu Gea jelas-jelas menyebut bunda Maya.Kiara menepuk keras pipinya sendiri, membuat Alvarico tersentak kaget, lalu tertawa kecil memaklumi apa yang dirasakan oleh Kiara."Kiara?" suara Bu Gea membuat Kiara menatap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu dengan tatapan bingung."Tapi Bu, apakah saya pantas? Maksud saya, saya ini cuma seorang yatim piatu. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya punya Bunda Maya. Saya bukan orang yang pantas buat anak Bu Gea," Kiara menunduk takut. Ia merasa dirinya sangat kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding Alvarico. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan seorang yang punya nama dan pengaruh besar seperti Alvarico."Kamu menolakku, Kiara?" tanya Alvarico dengan nada tak percaya.Kiara memandang laki-laki disebelahnya dengan gugup. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Alvarico? Ia hanya berusaha untuk sadar diri."Kiara? Ikut aku sekarang!" Alvarico menarik tangan Kiara agar ikut bersamanya.Kiara hanya pasrah. Ia mengikuti Alvarico menuju kolam ikan yang berada di halaman belakang sekolah yang luas.Kiara masih terdiam. Ia tidak berani bersuara. Ia menunggu Alvarico angkat bicara."Kiara, aku tau kamu masih bingung dengan semua ini. Aku akan jelaskan semuanya. Sejak pertemuan kita yang kedua di taman beberapa minggu yang lalu, aku berusaha mencari tau siapa dirimu yang sebenarnya. Aku bisa saja memerintahkan anak buahku atau menyewa detektif swasta untuk menyelidikimu dan mencari tau siapa dan dimana kamu bekerja dan tinggal. Tapi tidak. Aku ingin mencarinya sendiri. Aku mengikuti kemana kamu pulang. Dari situ aku mencari tau siapa dirimu dan mengorek keterangan tentangmu dari bunda Maya juga penghuni panti yang lain. Dari situ aku tau apa hobby kamu, makanan kesukaan kamu, dimana kamu bekerja, semuanya. Lalu aku menceritakan semua tentangmu pada Mama. Dan sepertinya Mama menyukai pilihanku," Alvarico menarik nafas, mengatur detak jantungnya yang semakin cepat."Aku menyukaimu, Kia," Alvarico berkata cepat. Ia tidak ingin menunda lebih lama lagi.Kiara mengedip sekali. Dua kali. Tiga kali. Ia berusaha mencerna apa yang dikatakan Alvarico barusan.Ia tau Alvarico menunggunya bicara. Dihelanya nafasnya dalam-dalam."Jangan gegabah Pak Alva, mungkin itu hanya rasa penasaran Bapak saja. Saya takut ini cuma perasaan semu karena Bapak penasaran dengan saya," ucap Kiara pelan. Hatinya terasa sedih. Ia sangat sadar perbedaan itu. Mana mungkin seorang Alvarico Chandra menyukainya?"Aku yakin dengan perasaanku, Kia. Bahkan aku sangat yakin bahwa aku mencintaimu. Aku jatuh hati padamu. Kamu berbeda. Kamu bukan seperti gadis - gadis di luar sana. Maukah kamu menerima perasaanku, Kiara?" Kiara membiarkan Alvarico mengambil dan menggenggam jemarinya. Ia hanya menunduk.Alvarico tau, ia harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan kepercayaan dan hati Kiara.=====♡~♡=====Kiara mendengus pelan. Dilihatnya Alvarico tengah berdiri bersandar di depan mobil mewahnya sambil mengutak atik smartphone canggihnya.Sudah sebulan ini laki-laki itu memaksa untuk mengantar jemputnya. Padahal Kiara tau betapa sibuknya Alvarico dengan pekerjaannya.Kiara sudah semakin dekat, dan Alva menyadarinya.Alva tersenyum manis melihat Kiara berjalan kearahnya."Mau langsung pulang? Atau mau makan siang dulu, Kia?" tanya Alvarico masih fokus dengan lalu lintas dihadapannya."Langsung pulang saja, Alva. Bunda Maya sudah menungguku. Hari ini Kenaan akan pulang. Aku harus membantu Bunda memasak makanan kesukaan Kenaan," sahut Kiara membuat alis Alva bertaut."Kenaan? Siapa Kenaan?""Kenaan sama-sama anak panti. Dia tiga tahun di atasku. Dia bekerja sebagai dokter di Yogyakarta. Hari ini dia cuti hingga seminggu ke depan," jelas Kiara tanpa melihat perubahan raut muka Alva."Boleh aku ikut?" tanya Alva."Ikut? Ikut kemana?""Acara penyambutan teman sepantimu," sahut Alva datar."Kami tidak mengadakan acara apapun, Alv. Cuma makan bersama nanti malam," Kiara tertawa kecil mendengar permintaan Alva."Boleh aku ikut makan malam?" tanya nya setengah memaksa."Boleh saja.""Baik. Aku akan datang jam lima sore nanti."Kiara hanya mengangkat bahu.Dan benar saja, tepat jam lima sore, Alvarico dan kedua orang tuanya sudah berada di panti asuhan tempat Kiara tinggal.Tentu saja kedatangan mereka di sambut hangat oleh Bunda Maya.Tak lama, terdengar suara taksi berhenti di depan panti. Kiara berdiri dengan cepat dan setengah berlari menuju ke pintu."Kenaan!" pekiknya senang.Seorang pemuda berkacamata minus tersenyum lebar sambil merentangkan kedua lengannya lebar-lebar.Kiara segera menghambur memeluk Kenaan.Alvarico berdehem keras, membuat bunda Maya tersenyum maklum."Jangan khawatir nak Alva, mereka memang seperti itu kalau bertemu. Maklum, sejak kecil Kiara selalu manja dengan kakaknya," bunda Maya menenangkan Alvarico yang tampak tidak suka."Iya Bun," angguk Alva yang ditertawakan oleh kedua orang tuanya."Dulu aja disuruh cepet nikah gak mau. Sekarang ngebet banget. Sampai cemburu gak liat-liat," sindir Bu Gea."Kan belum ketemu Kiara, Ma," sahut Alva kalem."Wah, ini pasti Alvarico yang most wanted itu ya?" Kenaan tertawa menjabat erat Alvarico dan kedua orang tuanya."Ah, biasa saja," jawab Alva merendah."Biasa bagaimana? Di tempat aku bertugas, setiap hari ada saja yang membicarakan seorang Alvarico Chandra," ujar Kenaan tertawa renyah disambut senyum kedua orang tuanya."Tidak juga. Buktinya Kiara sampai sekarang belum juga mau menjawab lamaranku," sahut Alvarico, membuat kedua pipi Kiara merona merah."Kenapa Kiara? Aku mau dengar jawabanmu sekarang. Tidak baik menggantung perasaan orang lain," kata Kenaan menatap Kiara yang masih menunduk."Keeeeen..." desis Kiara malu."Benar Kiara. Kami juga sudah tidak sabar melihat kalian menikah," sahut Papa Alvarico."Nah tuh, Kiara. Bukan Ibu saja kan yang ingin melihat kalian menikah?" Mama Alva menambahi, membuat Kiara makin gugup."Buuun," Kiara berharap Bunda Maya membantunya yang sedang terpojok."Sebaiknya kamu segera kasih jawaban, Kiara. Bunda juga ingin segera melihat kamu menikah," bunda Maya tertawa melihat Kiara malu-malu."Aaaalv..." akhirnya Kiara meminta bantuan Alva yang tersenyum geli menatapnya."Iya Kiara?""Kamu jangan ikut-ikutan mereka ya. Aku...aku...aku malu," Kiara makin menunduk.Perlahan Alva mendekat, dan berdiri tepat di depan Kiara."Jadi, apa jawabanmu Kia?" tanya Alva lirih di dekat telinga Kiara.Wajah Kiara makin merona. Rasa panas menjalar hingga ke lehernya. Dengan masih menunduk, Kiara mengangguk kecil."Jadi?" bisik Alva memastikan meskipun ia melihat anggukan Kiara."Ya, aku mau," jawab Kiara teramat pelan. Namun Alva mendengarnya dengan jelas. Tanpa bisa ditahan lagi, Alva meraih Kiara ke dalam pelukannya. Kiara menyembunyikan wajahnya di dada Alva. Perasaan Alva melambung tinggi. Tidak percuma usahanya selama ini mendekati Kiara. Bersabar menunggu cinta yang benar-benar diinginkannya.Semua yang ada di situ tersenyum lega.Mama dan Papa Alva bergantian memeluk Kiara dengan sayang. Gadis yang mampu menyelinap dan mencuri hati Alvarico tanpa ia menyadarinya.Dan Alvarico benar-benar puas dan bahagia dengan jawaban yang diberikan Kiara. Dan ia akan memberikan cintanya hanya untuk Kiara.SELESAI .
Dewi Padi
Di tengah kehidupan masyarakat Purwagaluh yang hanya menggantungkan sumber makanan dari hasil buruan, kehidupan berubah menjadi neraka ketika hutan tak lagi menyediakan binatang untuk diburu.Tanah kering kerontang dan sungai tidak lagi menyisakan air yang memberi kehidupan pada hewan dan tumbuhan. Purwagaluh adalah satu wilayah yang tengah mengalami bencana kekeringan terparah.Sadana, Adikara, dan Dewi Sri, tiga orang yang ditugaskan mencari jalan keluar untuk membebaskan warga dari kesulitan dan memperbaiki kehidupan Purwagaluh secara keseluruhan. Namun dalam perjalanan tugas yang pertama pun mereka sudah menemukan kesulitan yang datang dari musuh bebuyutan mereka sejak kecil.Demi mendapatkan Adikara yang dicintainya sejak kecil, Nuridami tak pernah berhenti mengejar dan menghalalkan segala cara dengan memanfaatkan kesaktian sang nenek, Nyi Ulo juga kakaknya Sapigumarang dan Singasatru.Dalam satu pertarungan, Dewi Sri yang menyamar menjadi Camar Seta berhasil membunuh Singasatru yang saat itu memimpin kelompok Bajak Lautnya menyerang Pelabuhan Atasangin, pulau yang paling maju dan makmur kala itu dan menjadi tempat Dewi Sri, Sadana dan Adikara mempelajari sebab kemajuan Atasangin untuk diterapkan di Purwagaluh.Sapigumarang sangat murka mengetahui kabar kematian adiknya, Singasatru di Atasangin oleh Camar Seta. Segera ia mendatangi Sadana untuk membalas dendam pada Camar Seta. Namun Nyi Ulo menahannya dengan alasan Singasatru yang jauh lebih saktipun berhasil dikalahkan Camar Seta.Akhirnya Sapigumarang mau berlatih secara khusus bersama Nyi Ulo untuk menyempurnakan ilmu Lebursaketinya. Dari situlah Sapigumarang kemudian menyadari sumber kekuatannya yang besar, yaitu amarah yang bisa melipat gandakan kekuatannya hingga mampu menguasai Lebursaketi dengan sempurna.Segera setelah itu Sapigumarang mendatangi Sadana untuk membunuh Camar Seta, Sadana beralih tidak mengenal Camar Seta. Sapigumarang tak mau percaya dan menyangka Camar Seta adalah Adikara yang memakai nama palsu.Sadana yang berniat membantu dihajarnya hingga pingsan dan Adikara dibawa pergi setelah tidak berdaya karena Nuridami merayu Sapigumarang untuk tidak membunuhnya.Dewi Sri sangat sedih mengetahui kekasihnya, Adikara ditawan oleh Sapigumarang. Namun berkat kesaktian Malihwarni yang diajarkan oleh kakeknya, Aki Tirem, Dewi Sri bisa merubah dirinya menjadi seekor harimau jadi sangat frustasi dan akhirnya bunuh diri.Sapigumarang jadi murka dan gelap mata setelah Budugbasu dan Kalabuat menghasutnya dan menuduh Dewi Sri yang telah membunuh Nuridami karena cemburu. Sapigumarang langsung menyusun kekuatan untuk membunuh Dewi Sri sekaligus menguasai Purwagaluh yang saat itu sudah berubah menjadi wilayah yang sangat makmur berkat Dewi Sri, Sadana dan Adikara yang berhasil menciptakan sawah padi di sana.Dan ketika Dewi Sri dan Adikara merayakan panen padi pertama bersama warga di Desa Cidamar, pasukan Sapigumarang yang dipimpin Budugbasu datang untuk merebut semua hasil panen dan menangkap Dewi Sri. Namun Dewi Sri yang sudah sangat sakti berhasil mengalahkan Budugbasu dan semua pasukannya.Sapigumarang tidak menyerah, ia menunjuk Kalabuat untuk menggantikan Budugbasu dan memimpin pasukan yang lebih banyak. Kalabuat yang licik bersiasat untuk menyerang malam hari dengan kekuatan penuh. Saat itu Dewi Sri dan Adikara hanya berjaga - jaga dengan pemuda dan warga yang jumlahnya sangat sedikit karena banyak diantara warga Cidamar yang terbunuh pada peperangan melawan Budugbasu.Kalabuat dan pasukannya yang besar datang dengan penuh percaya diri. Ketika mengepung sawah, tempat Dewi Sri memfokuskan penjagaan. Dewi Sri dan Adikara tak mau menyerah begitu saja, mereka melawan semua pasukan Kalabuat dengan sepenuh tenaga. Saat itu Budugbasu yang sangat dendam keluar dengan pasukannya karena ingin Dewi Sri dan Adikara hanya mati di tangannya.Kalabuat sempat marah karena Bubugbasu hanya memimpin pasukan bantuan dan seharusnya belum boleh keluar. Tapi Budugbasu tak peduli dan segera menyerang Dewi Sri untuk membunuhnya.Dewi Sri dan Adikara sangat terdesak menghadapi jumlah pasukan yang semakin banyak. Saat itulah Dewi Sri mengeluarkan ajian Malihwarninya dan merubah dirinya menjadi ratusan kelelawar besar yang sangat buas.Pasukan Kalabuat dan Budugbasu kalang kabut menghadapi serangan ratusan kelelawar, mereka semua terbunuh dan hanya sedikit yang berhasil melarikan diri. Sementara Kalabuat dan Budugbasu pun tak luput dari serangan kelelawar. Mereka pun kemudian melarikan diri dengan wajah dan bukan yang penuh luka gigitan.Sapigumarang sangat murka mengetahui Kalabuat dan Budugbasu kembali kalah oleh Dewi Sri, terlebih lagi semua pasukannya yang habis terbunuh. Ia dengan murka menghajar Kalabuat dan Budugbasu. Kalabuat membela diri dan menyalahkan Budugbasu yang membawa keluar pasukan bantuannya hingga akhirnya semua pasukan habis terbunuh.Budugbasu tak mau kalah, ia menyalahkan Kalabuat yang bersiasat menyerang malam hari hingga mereka diserang kelelawar ganas ciptaan sihir Dewi Sri.Mengetahui Dewi Sri yang menguasai sihir Sapigumarang segera meminta bantuan Nyi Ulo untuk menghadapi Dewi Sri. Namun Dewi Sri dengan cerdik mengalahkan semua sihir dari Nyi Ulo yang menyerangnya, bahkan Nyio Ulo pun tewas oleh serangan balik dari Dewi Sri.Sapigumarang murka dan menantang Dewi Sri untuk adu tanding dengannya. Dewi Sri melayani tantangan Sapigumarang dan bertarung dengan tangan kosong. Sapigumarang yakin mampu membunuh Dewi Sri dengan kekuatan penuh Lebursaketinya. Namun Dewi Sri yang sudah bersiap dengan ajian Sungsangbuana berhasil mengembalikan pukulan dahsyat Lebursaketi.Sapigumarang pun tewas oleh ajian Lebursaketinya sendiri. Mengetahui kenyataan itu Kalabuat dan Budugbasu tak bisa berbuat apa-apa. Merekapun menyerah ketika pasukan Sadana tiba-tiba datang meringkusnya.Semua warga dan pasukan bergembira menyambut kemenangan Dewi Sri. Mereka semua mengelu-elukan nama Dewi Sri dan menjulukinya sebagai Dewi Padi karena jasa terbesarnya yang telah menciptakan tanaman padi diseluruh wilayah Purwagaluh.
SUAMIKU BOCAH SMA MESUM
"Pendek!""Oi, pendek!"Aku berbalik dan mendelik sebal ke arah suamiku yang super ngeselin itu. Dia baru saja kunikahi tiga hari yang lalu, ya, aku yang memaksanya agar mau bertanggung jawab dan menikah denganku, karena aku rela membohongi semua orang jika aku hamil, membuat Bunda murka dan menuntut agar Gerald segera menikahiku.Wajah Gerald tidak ramah sama sekali, dia merajuk sodara-sodara karena tidak mendapat jahat, karena aku masih begitu takut untuk unboxing, walau aku tahu punya suami yang super mesum.Aku mendekat dan mencoba memberi senyum manis padanya, tapi dia malah mendorongku. Perlu kalian ingat, Gerald itu mesum, tidak peka, tidak romantic sama sekali, tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam padanya, dia adalah muridku. Usiaku 23 tahun saat ini, usia Gerald 18 tahun, dia sudah tingkat akhir masa SMA."Muka kamu cemberut terus, kayak kurang jatah aja," celutukku dan mendekat ke arahnya, sedikit berjinjit dan menyentuh ujung hidungnya yang mancung. Gerald itu tingginya 183 centi, sedangkan aku kaum kurcaci yang tinggi hanya 150 centi, itu juga yang membuat dia suka memanggilku pendek."Emang kurang jahat," jawab Gerald dengan nada tidak ramah, dia perlu dikasih bintang satu karena tidak ramah."Peluk dulu. Kalau Rara sudah siap Rara kasih, okay.""Yang banyak dan lama," tambahnya."Yang banyak dan lama." Aku menambahkan lagi sambil memeluknya. Gerald itu bule nyasar yang kukira dibuang orang tuanya dari luar negri karena dia sangat mesum, dia adalah lelaki paling tampan yang pernah kutemui, harus kuakui jika pertemuan pertama kami sangat tidak berkesan sama sekali, tapi aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dari dulu aku bercita-cita punya suami bule, memilih jurusan bahasa Inggris dengan begitu bisa mudah berkomunikasi dengan suami nanti, dan sekarang menjadi guru bahasa Inggris di SMA Mercusuar.Aku memeluknya lama, sambil melihat keadaan sekitar karena sekarang kami sedang berada di parkiran sekolah, tidak ada yang pernah tahu hubungan ini karena aku tak mau mendapat masalah, baik aku atau Gerald. Aku tahu bagi orang hubungan ini aneh dan tabu, tapi bagi orang yang sedang jatuh cinta terkadang suka berbuat di luar nalar.Tangan Gerald melingkar di pinggangku dan mendorong ke arah mobil, keadaan sekolah masih sepi karena kami sengaja berangkat awal agar tidak membuat penghuni sekolah yang lain curiga, aku juga sudah pindah ke rumah Gerald, rumahnya super besar yang tidak ada orang di dalamnya."I love you, pendek," ucap Gerald sambil menepuk-nepuk belakangku. Perbedaan yang sangat kontras sekali, dia masih memakai seragam sekolah dan aku memakai seragam kebanggan para guru, jika penghuni sekolah lain melihat pemandangan ini mereka bisa kejang-kejang, tapi aku Bahagia dengan hidupku sekarang walau memulai semuanya dengan kebohongon.Hubungan yang dilandasi kebohongan apa bisa bertahan lama?-----(Flashback)"Rara hamil, Bunda," ujarku dengan nada penuh penyesalan dan air mata penuh sambil menunduk, mulai melancarkan aksi, jika aku tidak nekat maka Gerald tidak akan menjadi bagian dari cerita hidupku. Setelah lulus sekolah dia akan kuliah di negara asalnya Jerman."RARA!" Bunda berteriak heboh, aku belum masuk ke dalam rumah. Gerald juga masih berada di sini karena dia mengantarku, Bunda juga mati-matian menentang hubungan ini karena dia tidak suka dengan Gerald. Aku sudah punya tunangan sebelumnya, Mas Rangga, tapi aku berkhianat pada Mas Rangga dan menjalin hubungan di belakang Bersama Gerald."CEPAT GERALD! KAMU NIKAHI!" Bunda masih berteriak heboh, dia berdiri di depan pintu. Aku menunduk dengan rasa bersalah karena tega membohongi Bunda, sedangkan Mas Rangga juga masih berada di rumah. Bunda sudah menganggap Mas Rangga sebagai anaknya, bahkan aku dianggap anak pungut dan Mas Rangga anak kandung Bunda."Apa?" tanya Gerald kebingungan, dia mendekat ke arahku."KAMU HARUS NIKAHI RARA. GILA KALIAN YA, MASIH ANAK-ANAK, TAPI NEKAT SEPERTI ITU. DI MANA OTAK KALIAN! DI MANA OTAKMU, RARA?"Aku berbalik menatap Gerald memohon agar dia mengikuti saja permainan ini."Apa?" tanya Gerald lagi. Dia semakin kebingungan.Mas Rangga keluar dari dalam sambil melihat drama apa yang terjadi."Rara hamil, jadi kamu harus menikahi dia," tuntut Bunda."What? Pendek, apa ini?"Aku mundur dan menggengam tangan Gerald, sedikit meremasnya agar dia mengikuti saja permainan gila ini. sudah terlanjur, aku juga muak karena Bunda terus memaksa agar aku segera menikah dengan Mas Rangga, lelaki paling sabar, baik hati, lelaki impian para mertua, tapi aku mati rasa saat aku menemukan Gerald dan berani main gila di belakang Mas Rangga Bersama Gerald muridku sendiri."Rara hamil! Jadi, panggil orang tua kamu Gerald, nikah sekarang!"Gerald menatap bingung ke arahku, mata hijaunya ikut menyala."Please!" Aku menggerakan bibirku berharap agar Gerald peka dan menyelamatkan aku dari situasi sekarang."Whoaa! Burung anak kecil sekarang tidak bisa tahan, luar biasa. Paling juga itu kencingnya belum lurus," ejek Mas Rangga. Sekarang berdiri di samping Bunda, sekarang aku dan Gerald makin terpojokan."What the fuck!" Gerald masih shock, dia menarik tanganku kasar. Aku mulai melancarkan aksi drama yang lainnya, menangis."Rara hamil, Gerald. Kamu harus tanggung jawab, aku nggak mau punya anak tanpa ayah." Aku tersedu-sedu."The fuck!" Gerald masih kebingungan dan terima apa yang terjadi, aku berjinjit dan mengecup bibirnya agar dia diam, dan mengikuti permainan ini."GILA KALIAN! UDAH TAK PUNYA OTAK LAGI!" Bunda makin histeris."Cepat panggil orang tua kamu. Sekarang!"Bunda maju dan mendorong Gerald agar dia segera memanggil orang tuanya, Gerald masih kebingungan, sedangkan aku hanya mengangguk. Berharap jika Gerald bisa bekerja sama karena dia satu-satunya yang bisa menyelamatkan dari kekacauan ini.Gerald langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, aku hanya menggigit bibirku dan berharap jika Gerald bisa pulang dan membawa orang tuanya, jika tidak akan akan jadi gembel di jalanan karena diusir Bunda."Nggak punya otak kamu, ya," maki Bunda. Dengan geram, Bunda menarik rambutku karena begitu kesal dan merasa kecewa. Bunda selalu menganggap Mas Rangga sebagai menantu potensial dan aku hanya ingin Bersama Gerald."Ampun, Bunda." Aku meingis menahan rambutku yang rasanya rontok semua karena Bunda nariknya tidak kira-kira."Ingat kamu Rara, Bunda tidak akan pernah sudi kamu Bersama anak itu. Sampai mati!"Tubuhku bergetar. Belum apa-apa, aku sudah mendapatkan sumpah sial."Jika hari ini anak itu tidak datang Bersama orang tuanya, maka kamu Bunda usir."Sekarang aku menangis beneran karena merasa takut jika semua kebohongan ini tidak berjalan mulus. Karena yang aku inginkan hanya Gerald."Tidak perlu, Bunda. Rara bisa nikah sama Mas," timpal Mas Rangga sambil tersenyum manis."Dia memang tak punya otak! Udah dikasih laki-laki baik-baik, malah milih anak kecil yang tak bisa apa-apa. Hidupmu akan berada di neraka, Rara." Bunda masih begitu geram dan menarik-narik rambuktu, sebenarnya karena terlalu geram Bunda ingin mengoyakkan bajuku."AHHH... Bunda. Ampun!""Jangan masuk ke dalam rumah sebelum anak kecil itu datang membawa orang tuanya," ancam Bunda dan masuk ke dalam rumah membanting pintu sekuat mungkin."Jika anak kecil itu tak mau. Mas selalu ada untuk kamu," tambah Mas Rangga dan berlalu pergi. Aku hanya berdiri kaku dan melirik dengan ekor mataku melihat mobil Mas Rangga perlahan menjauh.Ya Tuhan, nasibku bergantung pada Gerald sekarang!
Nyai Anteh sang penunggu bulan
Pada jaman dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang sangat subur dan memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai di bawah pimpinan raja yang bijaksana. Di dalam istana ada dua gadis remaja yang sama-sama jelita dan selalu kelihatan sangat rukun. Yang satu bernama Endahwarni dan yang satu lagi bernama Anteh. Raja dan Ratu sangat menyayangi keduanya, meski sebenarnya kedua gadis itu memiliki status sosial yang berbeda. Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sedangkan Nyai Anteh adalah hanya anak seorang dayang kesayangan sang ratu. Karena Nyai Dadap, ibu Nyai Anteh sudah meninggal saat melahirkan Anteh, maka sejak saat itu Nyai Anteh dibesarkan bersama putri Endahwarni yang kebetulan juga baru lahir. Kini setelah Nyai Anteh menginjak remaja, dia pun diangkat menjadi dayang pribadi putri Endahwarni."Kau jangan memanggilku Gusti putri kalau sedang berdua denganku," kata putri. "Bagiku kau tetap adik tercintaku. Tidak perduli satatusmu yang hanya seorang dayang. Ingat sejak bayi kita dibesarkan bersama, maka sampai kapan pun kita akan tetap bersaudara. Awas ya! Kalau lupa lagi kamu akan aku hukum!""Baik Gust.....eh kakak!" jawab Nyai Anteh."Anteh, sebenarnya aku iri padamu," kata putri."Ah, iri kenapa kak. Saya tidak punya sesuatu yang bisa membuat orang lain iri," kata Anteh heran."Apa kau tidak tahu bahwa kamu lebih cantik dariku. Jika kamu seorang putri, pasti sudah banyak pangeran yang meminangmu," ujar putri sambil tersenyum."Ha ha ha.. kakak bisa saja. Mana bisa wajah jelek seperti ini dibilang cantik. Yang cantik tuh kak Endah, kemarin saja waktu pangeran dari kerajaan sebrang datang, dia sampai terpesona melihat kakak. Iya kan kak???" jawab Anteh dengan semangat."Ah kamu bisa saja. Itu karena waktu itu kau memilihkan baju yang cocok untukku. O ya kau buat di penjahit mana baju itu?" tanya putri."Eeee...itu...itu...saya yang jahit sendiri kak." jawab Anteh."Benarkah? Wah aku tidak menyangka kau pandai menjahit. Kalau begitu lain kali kau harus membuatkan baju untukku lagi ya. Hmmmm...mungkin baju pengantinku?" seru putri."Aduh mana berani saya membuat baju untuk pernikahan kakak. Kalau jelek, saya pasti akan dimarahi rakyat," kata Anteh ketakutan."Tidak akan gagal! Kemarin baju pesta saja bisa...jadi baju pengantin pun pasti bisa," kata putri tegas.Suatu malam ratu memanggil putri Endahwarni dan Nyai Anteh ke kamarnya."Endah putriku, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan," kata ratu."Ya ibu," jawab putri."Endah, kau adalah anakku satu-satunya. Kelak kau akan menjadi ratu menggantikan ayahmu memimpin rakyat Pakuan," ujar ratu. "Sesuai ketentuan keraton kau harus memiliki pendamping hidup sebelum bisa diangkat menjadi ratu.""Maksud ibu, Endah harus segera menikah?" tanya putri."ya nak, dan ibu juga ayahmu sudah berunding dan sepakat bahwa calon pendamping yang cocok untukmu adalah Anantakusuma, anak adipati dari kadipaten wetan. Dia pemuda yang baik dan terlebih lagi dia gagah dan tampan. Kau pasti akan bahagia bersamanya," kata ratu. "Dan kau Anteh, tugasmu adalah menjaga dan menyediakan keperluan kakakmu supaya tidak terjadi apa-apa padanya.""Baik gusti ratu," jawab Anteh.Malam itu putri Endahwarni meminta Nyai Anteh untuk menemaninya."Aku takut sekali Anteh," kata putri dengan sedih. "Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?""Kakak jangan berpikiran buruk dulu," hibur Anteh. "Saya yakin gusti Raja dan Ratu tidak akan sembarangan memilih jodoh buat kakak. Dan pemuda mana yang tidak akan jatuh hati melihat kecantikan kakak. Ah sudahlah, kakak tenang dan berdoa saja. Semoga semuanya berjalan lancar."Suatu pagi yang cerah, Anteh sedang mengumpulkan bunga melati untuk menghias sanggul putri Endahwarni. Anteh senang menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu saling berebut bunga. Dia mulai bersenandung dengan gembira. Suara Anteh yang merdu terbang tertiup angin melewati tembok istana. Saat itu seorang pemuda tampan sedang melintas di balik tembok taman istana. Dia tepesona mendengar suara yang begitu merdu. Ternyata pemuda itu adalah Anantakusuma. Dia sangat sakti, maka tembok istana yang begitu tinggi dengan mudah dilompatinya. Dia bersembunyi di balik gerumbulan bunga, dan tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik. Anantakusuma merasakan dadanya bergetar, "alangkah cantiknya dia, apakah dia putri Endahwarni calon istriku?" batinnya. Anantakusuma keluar dari persembunyiannya. Anteh terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya muncul pemuda yang tidak dikenalnya."Siapa tuan?" tanya Anteh."Aku Anantakusuma. Apakah kau....."Belum sempat Anantakusuma bertanya seseorang memanggil Anteh. "Anteh!!! Cepat!!! Putri memanggilmu!" kata seorang dayang."Ya. Saya segera datang. Maaf tuan saya harus pergi," kata Anteh yang langsung lari meninggalkan Anantakusuma. "Dia ternyata bukan Endahwarni," pikir Anantakusuma. "Dan aku jatuh cinta padanya. Aku ingin dialah yang jadi istriku."Beberapa hari kemudian, di istana terlihat kesibukan yang lain daripada biasanya. Hari ini Adipati wetan akan datang bersama anaknya, Anantakusuma, untuk melamar putri Endahwarni secara resmi. Raja dan Ratu menjamu tamunya dengan sukacita. Putri Endahwarni juga tampak senang melihat calon suaminya yang sangat gagah dan tampan. Lain halnya dengan Anantakusuma yang terlihat tidak semangat. Dia kecewa karena ternyata bukan gadis impiannya yang akan dinikahinya.Tibalah saat perjamuan. Anteh dan beberapa dayang istana lainnya masuk ke ruangan dengan membawa nampan-nampan berisi makanan."Silahkan mencicipi makanan istimewa istana ini," kata Anteh dengan hormat."Terima kasih Anteh, silahkan langsung dicicipi," kata Raja kepada para tamunya.Anantakusuma tertegun melihat gadis impiannya kini ada di hadapannya. Kerongkongannya terasa kering dan matanya tak mau lepas dari Nyai Anteh yang saat itu sibuk mengatur hidangan. Kejadian itu tidak luput dari perhatian putri Endahwarni. Pahamlah ia bahwa calon suaminya telah menaruh hati pada gasis lain, dan gadis itu adalah Anteh. Putri Endahwarni merasa cemburu, kecewa dan sakit hati. Timbul dendam di hatinya pada Anteh. Dia merasa Antehlah yang bersalah sehinggga Anantakusuma tidak mencintainya.Setelah perjamuan selesai dan putri kembali ke kamarnya, Anteh menemui sang putri."Bagaimana kak? Kakak senang kan sudah melihat calon suami kakak? Wah ternyata dia sangat tampan ya?" kata Anteh.Hati putri Endahwarni terasa terbakar mendengar kata-kata Anteh. Dia teringat kembali bagaimana Anantakusuma memandang Anteh dengan penuh cinta."Anteh, mulai saat ini kau tidak usah melayaniku. Aku juga tidak mau kau ada di dekatku. Aku tidak mau melihat wajahmu," kata putri Endahwarni."A..apa kesalahanku kak? Kenapa kakak tiba-tiba marah begitu?" tanya Anteh kaget."Pokoknya aku sebal melihat mukamu!" bentak putri. "Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku lagi...Tidak! Aku tidak mau kau ada di istana ini. Kau harus pergi dari sini hari ini juga!""Tapi kenapa kak? Setidaknya katakanlah apa kesalahanku?" tangis Anteh."Ah jangan banyak tanya. Kau sudah mengkianatiku. Karena kau Anantakusuma tidak mencintaiku. Dia mencintaimu. Aku tahu itu. Dan itu karena dia melihat kau yang lebih cantik dariku. Kau harus pergi dari sini Anteh, biar Anantakusuma bisa melupakanmu!" kata putri."Baiklah kak, aku akan pergi dari sini. Tapi kak, sungguh saya tidak pernah sedikitpun ingin mengkhianati kakak. Tolong sampaikan permohonan maaf dan terima kasih saya pada Gusti Raja dan Ratu."Anteh beranjak pergi dari kamar putri Endahwarni menuju kamarnya lalu mulai mengemasi barang-barangnya. Kepada dayang lainnya dia berpesan untuk menjaga putri Endahwarni dengan baik.Nyai Anteh berjalan keluar dari gerbang istana tanpa tahu apa yang harus dilakukannya di luar istana. Tapi dia memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ibunya. Anteh belum pernah pergi kesana, tapi waktu itu beberapa dayang senior pernah menceritakannya. Ketika hari sudah hampir malam, Anteh tiba di kampung tempat ibunya dilahirkan. Ketika dia sedang termenung memikirkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah berumur menegurnya."Maaf nak, apakah anak bukan orang sini?" tanyanya."Iya paman, saya baru datang!" kata Anteh ketakutan."Oh maaf bukan maksudku menakutimu, tapi wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Wajahmu mirip sekali dengan kakakku Dadap,""Dadap? Nama ibuku juga Dadap. Apakah kakak paman bekerja di istana sebagai dayang?" tanya Anteh."Ya....! Apakah....kau anaknya Dadap?" tanya paman itu."Betul paman!" jawab Anteh."Oh, kalau begitu kau adalah keponakanku. Aku adalah pamanmu Waru, adik ibumu," kata paman Waru dengan mata berkaca-kaca."Benarkah? Oh paman akhirnya aku menemukan keluarga ibuku!" kata Anteh dengan gembira."Sedang apakah kau disini? Bukankah kau juga seorang dayang?" tanya paman Waru."Ceritanya panjang paman. Tapi bolehkah saya minta ijin untuk tinggal di rumah paman. Saya tidak tahu harus kemana," pinta Anteh."Tentu saja nak, kau adalah anakku juga. Tentu kau boleh tinggal di rumahku. Ayo kita pergi!" kata paman Waru.Sejak saat itu Anteh tinggal di rumah pamannya di desa. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Mula-mula Anteh menjahitkan baju-baju tetangga, lama-lama karena jahitannya yang bagus, orang-orang dari desa yang jauh pun ikut menjahitkan baju mereka kepada Anteh. Sehingga ia dan keluarga pamannya bisa hidup cukup dari hasilnya menjahit.Bertahun-tahun telah berlalu. Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Suatu hari di depan rumahnya berhenti sebuah kereta kencana dan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik kereta kencana itu melongokkan kepalanya, Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Putri Endahwarni turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Anteh."Oh Anteh, sudah lama aku mecarimu! Kemana saja kau selama ni? Kenapa tidak sekalipun kau menghubungiku? Apakah aku benar-benar menyakiti hatimu? Maafkan aku Anteh. Waktu itu aku kalap, sehingga aku mengusirmu padahal kau tidak bersalah. Maafkan aku..." tangis putri."Gusti...jangan begitu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu gusar," kata Anteh."Tidak. Akulah yang bersalah. Untuk itu Anteh, kau harus ikut denganku kembali ke istana!" pinta putri."Tapi putri aku sekarang punya suami dan anak. Saya juga bekerja sebagai penjahit. Jika saya pergi, mereka akan kehilangan," jawab Anteh."Suami dan anak-anakmu tentu saja harus kau bawa juga ke istana," kata putri sambil tertawa. "Mengenai pekerjaanmu, kau akan kuangkat sebagai penjahit istana. Bagaimana? Kau tidak boleh menolak, ini perintah!"Akhirnya Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal. Namun Anteh selalu merasa tidak enak setiap bertemu dengan pangeran Anantakusuma, suami putri Endahwarni. Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Anteh telah membuat cintanya yang terkubur bangkit kembali. Mulanya pangeran Anantakusuma mencoba bertahan dengan tidak memperdulikan kehadiran Anteh. Namun semakin lama cintanya semakin menggelora.Hingga suatu malam pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, siapa tahu dia bisa bertemu dengan Anteh. Benar saja. Dilihatnya Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawat, kucing kesayangannya sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Meski kini sudah berumur, namun bagi pangeran Anantakusuma, Anteh masih secantik dulu saat pertama mereka bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Anteh."Anteh!" tegurnya.Anteh terkejut. Dilihatnya pangeran Antakusuma berdiri di hadapannya."Pa..pangeran? kenapa pangeran kemari? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?" tanya Anteh ketakutan."Aku tidak perduli. Yang penting aku bisa bersamamu. Anteh tahukah kau? Bahwa aku sangat mencintaimu. Sejak kita bertemu di taman hingga hari ini, aku tetap mencintaimu," kata pangeran."Pangeran, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau adalah suami putri Endahwarni. Dia adalah kakak yang sangat kucintai. Jika kau menyakitinya, itu sama saja kau menyakitiku," kata Anteh sambil memeluk Candramawat."Aku tidak bisa... Aku tidak bisa melupakanmu! Kau harus menjadi milikku Anteh! Kemarilah biarkan aku memelukmu!" kata pangeran sambil berusaha memegang tangan Anteh.Anteh mundur dengan ketakutan. "Sadarlah pangeran! Kau tidak boleh mengkhianati Gusti putri."Namun pangeran Ananta kusuma tetap mendekati Anteh.Anteh yang ketakutan berusaha melarikan diri. Namun pangeran Anantakusuma tetap mengejarnya."Oh Tuhan, tolonglah hambaMu ini!" doa Anteh, "Berilah hamba kekuatan untuk bisa lepas dari pangeran Anantakusuma. Hamba tahu dia sangat sakti. Karena itu tolonglah Hamba. Jangan biarkan dia menyakiti hamba dan kakak hamba!"Tiba-tiba Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia mendongak dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya. Pangeran Anantakusuma hanya bisa terpana menyaksikan kepergian Anteh yang semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan.Sejak saat itu Nyai Anteh tinggal di bulan, sendirian dan hanya ditemani kucing kesayangannya. Dia tidak bisa kembali ke bumi karena takut pangeran Anantakusuma akan mengejarnya. Jika rindunya pada keluarganya sudah tak dapat ditahan, dia akan menenun kain untuk dijadikan tangga. Tapi sayang tenunannya tidak pernah selesai karena si kucing selalu merusaknya. Kini jika bulan purnama kita bisa melihat bayangan Nyai Anteh duduk menenun ditemani Candramawat.
Telaga Bidadari
Dahulu kala, ada seorang pemuda tampan bernama Awang Sukma. Ia mengembara ke tengah-tengah hutan dan kagum melihat beragam kehidupan di dalamnya. Ia membangun rumah pohon di dahan pohon yang sangat besar. Dia tinggal di hutan dalam keharmonisan dan kedamaian.Setelah lama tinggal di hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan mendapat gelar “Datu”. Sebulan sekali, ia berkeliling wilayahnya, dan suatu hari ia tiba di sebuah danau yang jernih. Danau itu berada di bawah pohon rindang dengan banyak buah. Burung dan serangga hidup bahagia di sana.“Hmm, betapa indahnya danau ini! Hutan ini memiliki keindahan luar biasa,” ucapnya.Keesokan harinya, saat ia meniup serulingnya, ia mendengar suara ramai di danau. Dari sela-sela tumpukan batu yang pecah, Awang Sukma mengintip. Ia sangat terkejut melihat tujuh gadis cantik sedang bermain air.“Mungkinkah mereka bidadari?” pikirnya.Tujuh gadis cantik itu tidak sadar bahwa mereka sedang diawasi. Selendang mereka—yang digunakan sebagai alat untuk terbang—berserakan di sekitar danau. Salah satu selendang terletak paling dekat dengan Awang Sukma.“Wah, ini kesempatan bagus!” gumamnya.Ia mengambil selendang itu lalu berlari untuk bersembunyi. Namun tanpa sengaja ia menginjak ranting kering.Krak!Para gadis terkejut, segera mengambil selendang masing-masing, lalu terbang meninggalkan danau. Namun ada satu gadis yang tidak dapat menemukan selendangnya. Ia ditinggalkan oleh semua saudara perempuannya. Ia sangat ketakutan dan sedih.Saat itulah Awang Sukma keluar dari persembunyian. Ia berpura-pura tidak sengaja lewat dan bertanya apa yang terjadi. Putri bungsu bidadari tersebut akhirnya bercerita dan mengakui bahwa ia kehilangan selendang terbang miliknya.“Jangan khawatir, tuan putri. Aku akan membantumu, asal tuan putri tidak menolak untuk tinggal bersamaku,” pinta Awang Sukma.Putri bungsu semula ragu, tapi karena tidak ada orang lain dan ia sangat ketakutan, ia menerima bantuan Awang Sukma. Datu Awang Sukma pun mengagumi kecantikan putri bungsu. Begitu pula putri bungsu yang mulai senang berada di dekat pemuda tampan itu.Akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan menjadi suami istri. Setahun kemudian, lahirlah seorang bayi perempuan cantik bernama Kumalasari. Kehidupan mereka sangat bahagia.Namun pada suatu hari, seekor ayam hitam naik ke gudang lalu menggaruk lumbung padi. Saat putri bungsu mengusir ayam itu, matanya tertuju pada tabung bambu di dalam lumbung. Ketika tabung itu dibuka, putri bungsu terkejut.“Ini selendang saya!” serunya sambil menangis.Selendang ajaib itu memeluknya seolah merindukannya. Putri bungsu merasa kecewa karena suaminya menyembunyikan selendang itu selama ini. Namun di sisi lain ia mencintai suami dan anaknya.Setelah lama berpikir, putri bungsu memutuskan kembali ke Kahyangan.“Sekarang saatnya aku harus kembali,” katanya lirih sambil menatap bayinya.Ia mengenakan selendangnya sambil menggendong bayi kecilnya. Datu Awang Sukma terkejut melihat apa yang terjadi dan segera meminta maaf atas perbuatannya.Namun putri bungsu tahu, perpisahan tidak bisa dihindari.“Kanda, tolong jaga dinda Kumalasari dengan baik,” katanya pada suaminya.“Jika anak kita merindukanku, ambil tujuh biji kemiri dan masukkan ke keranjang yang digoyang-goyang. Aku pasti akan datang menemuinya,” lanjutnya.Setelah itu putri bungsu terbang kembali ke Kahyangan.Datu Awang Sukma sedih, dan ia bersumpah bahwa keturunannya tidak boleh memelihara ayam hitam, karena dianggap membawa bencana.Tempat mandi putri bungsu dan keenam saudara bidadarinya kemudian dikenal sebagai Telaga Bidadari.
HIS FIRST LOVE
Aku mempercepat langkah kakiku. Hari ini cukup melelahkan untukku. Untung saja Profesor Harold berbaik hati menerima skripsiku setelah berpuluh-puluh kali aku harus melakukan revisi dan pengkajian ulang.Setelah ini aku tinggal mempersiapkan ujian skripsiku dan wisuda di depan mata.Rencanaku untuk mengambil S2 sebentar lagi terwujud.Dengan langkah ringan, aku melompati beberapa genangan air.Mungkin karena terlalu bersemangat dan fomus pada langkahku menghindari genangan - genangan air itu, aku tidak waspada dengan jalan di depanku.BRUKK!Benar saja, aku menubruk seseorang. Seketika tubuhku oleng dan nyaris terbanting ke tanah jika seseorang tidak menahan tubuhku dan menarikku berdiri."Eh maaf...maaf..." aku mendongak melihat orang itu."Kalo jalan hati-hati. Lihat depan!" ujarnya setengah menggerutu."Ah iya, sekali lagi maaf. Dan terimakasih udah nolongin," duh, kalo aja aku bisa menyembunyikan wajahku, pasti sudah akan kusembunyikan dari tatapan tajam laki-laki yang kini, berdiri dihadapanku ini."It's okay," ujarnya menatapku dengan mata menyipit."Eh kalau begitu, aku permisi duluan," kataku sambil membetulkan tasku yang melorot dari pundakku."Tunggu!" laki-laki itu mencekal lenganku. Duh, apalagi ini.Aku menghentikan kakiku yang baru saja selangkah. Kupandang laki-laki itu dengan pandangan bertanya."Siapa namamu?" tanyanya menatap tajam ke arahku.Aduh! Mau apa sih nanya-nanya namaku segala?Apa dia gak tau kalau aku bisa meleleh kalau dia memegang tanganku terus seperti ini?Gimana gak meleleh kalo tanganku digenggam oleh cowok yang wajahnya tampan luar biasa dengan tubuh tegap dan bidang begini? Duh mama, Pia gak sanggup!"Heh! Ditanya malah bengong!" sekarang laki-laki itu menjentikkan jarinya didepan wajahku. Aku gelagapan."Oh... eh... tadi bapak nanya apa ya?" tanyaku dengan oon nya."Nama kamu siapa?" ulangnya sambil menarik nafas panjang. Apa dia kesal padaku ya? Duh, maaf deh. Soalnya kalo aku ngadepin orang cakep memang suka begini bawaannya."Eh namaku? Aku Steviana, Pak," jawabku tanpa menjabat tangannya. Ya bagaimana mau jabat tangan kalo dari tadi lenganku masih dicekalnya."Steviana," ulangnya manggut-manggut."Eh, maaf Pak, bisa tolong lepasin tangan saya?" tanyaku hati-hati. Pasalnya tidak ada tanda-tanda ia mau melepas pegangan tangan nya."Oh ya, bisa tidak kamu tidak panggil saya bapak? Saya kan bukan bapak kamu?" kudengar ia mendengus kesal."Baiklah Oom," kulihat ia mendelik melihatku. Duh, salah lagi kayaknya."Saya bukan Oom kamu!" ujarnya galak."Lalu saya harus panggil apa Paman?" tanyaku lagi menatap mata abu-abunya yang sekarang kembali melotot melihatku. Haisss... susah ngomong sama orang satu nih. Mana tanganku belum juga di lepas."Namaku Dion. Dan jangan panggil paman karena aku bukan pamanmu!" ujarnya sewot."Iya deh, terserah. Aku udah boleh pergi kan?" tanyaku melihat tanganku yang masih belum dilepasnya."Eh iya, sorry," dilepaskannya lenganku."Ya sudah, aku duluan. Bye," aku segera berlari kecil menuju parkiran, mengambil si mungil Brio milikku, hadiah dari papa dan mama saat aku berulang tahun kemarin.======♡======"Piaaaa," suara mama terdengar melengking tinggi."Iya Ma, sebentar. Sudah hampir selesai kok," sahutku tak kalah melengking.Malam ini Papa dan Mama kedatangan sahabat lamanya. Sahabat sejak mereka masih SD dulu. Mereka pisah waktu Papa memperoleh beasiswa dan harus meneruskan sekolah di Melbourne.Aku meneruskan mematut diri di depan cermin. Oke, sudah cantik. Ooops... kenapa aku merasa ada yang kurang ya? Kuteliti lagi penampilanku.Astaga! Duh, mama.... anakmu hampir saja nempermalukanmu!Aku masih mengenakan celana pendek baby doll ku yang warnanya sudah absurd banget.Cepat-cepat kuganti dengan rok model A di atas lutut dan bergegas turun. Mamaku sudah memanggilku kembali dan memberitahu bahwa tamu mereka sudah datang."Naaah... Ini lho anakku. Namanya Steviana. Ayo Pia, kasih salam sama Om David dan Tante Vela. Dan ini anak Om David. Namanya Albert Alvadion Wijaya," aku menyalami mereka satu persatu, dan OMG, bukannya ini cowok yang tadi siang ketemu di kampus?"Lho Om? Eh, Pak? Eh?" aku tidak menyangka ternyata dia anak Om David dan Tante Vela?"Lho kalian sudah kenal?" tanya Tante Vela takjub."Wah, kalo gini urusan jadi gampang kan Vid?" kata papa tertawa yang langsung disambut kekehan tawa Om David, Tante Vela dan Mama.Aku tidak mengerti dengan mereka. Ada apa sih sebenarnya?Aku menoleh pada anak Om David. Eh, dia malah cengar cengir gak jelas. Ada apa sih?"Sini Pia sayang," panggil Papa menepuk-nepuk sofa disebelahnya. Aku menurut."Begini Pia, Om David ini kan sahabat lama Papa, dan kami sudah sepakat untuk menjadikan persahabatan kami menjadi persaudaraan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Dion. Lagipula Dion juga sudah setuju," sahut Papa diangguki seluruh yang hadir kecuali aku dan Si Om yang hanya menatapku penuh intimidasi.Aku menelan ludah dengan susah payah. Mana mungkin? Oke, aku memang belum punya pacar. Tapi aku kan lagi pedekate dengan kakak seniorku yang sekarang sedang mempersiapkan skripsi sama denganku.Ya meskipun umurku dibawahnya dua tahun karena otakku yang lumayan cespleng sehingga aku bisa menyelesaikan kuliahku lebih cepat. Sehingga di usiaku yang ke 20 ini aku sudah bisa mengajukan skripsi."Jadi besok kita bisa mulai mempersiapkan pernikahannya. Dan Pia, besok kamu ikut mama untuk memilih model gaun pengantinnya," bahkan mereka tidak menanyakan kesediaanku sama sekali."Ma," aku ingin protes."Tenang saja, Pia. Mama sama Tante Vela yang akan mengurus semuanya. Mama tau kamu lagi fokus dengan ujian skripsi kamu. Semua biar kami yang atur," kata Mama antusias.Aku menatap Mama dan Papa bergantian dengan sebal."Maaf Tante, Om, Pa, Ma. Bisa aku ngobrol berdua dengan Pia?" idih si Om kenapa sok akrab memanggilku Pia? Kecuali Papa dan Mama tidak ada yang memanggilku Pia."Wah udah pengen berduaan aja si Dion?" goda Tante Vela tertawa sumringah membuat wajah si Om sedikit memerah."Tuh Pia, temenin Dion nya," mama menarik-narik tanganku agar berdiri, sementara papa mendorong-dorong punggungku. Kedua orang tuaku benar-benar kompak kalau begini.Dengan memasang muka malas aku mengikuti Dion ke taman disamping rumah, menuju gazebo yang biasa kugunakan saat teman-temanku main ke rumahku.Ia duduk di gazebo itu sementara aku duduk di ayunan di depannya."Kenapa disitu? Jauh amat? Sini dong," si Om melambai menyuruhku duduk di dekatnya."Mau ngobrol apaan sih Om? Kenapa gak ngomong di dalam aja?" tanyaku sebal. Tanpa kupedulikan tatapan tajamnya, aku mulai mengayun ayunan yang kududuki pelan."Aku sudah bilang jangan panggil aku Om! Memang aku setua itu apa?" gerutunya galak."Aku harus panggil apa? Bapak? Paman?" ujarku tak peduli pelototannya."Panggil namaku aja bisa kan?" pintanya."Gak mau ah! Gak sopan panggil nama aja ke orang yang lebih tua," tolakku tanpa melihat kearahnya."Kalau begitu, panggil aku Kakak! Atau Mas juga boleh," tawarnya mengedipkan sebelah matanya.Aku tertawa geli."Enak juga panggil Om. Lebih pas dan enak dilidah," sahutku enteng.Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di hadapanku menghentikan ayunan yang kududuki.Tubuhnya membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan wajahku.Aku panik. Bagaimana tidak. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku sehingga aku dapat merasakan hangat nafasnya di wajahku."Baiklah, kita buktikan. Apa benar panggilanmu terhadapku enak dilidah?" tanpa aba-aba, ia sudah mencium bibirku dengan tangannya yang satu menekan tengkukku agar wajahku tetap menghadapnya, dan tangannya yang sebelah lagi memegang tanganku yang masih berpegangan pada besi ayunan.Tubuhku kaku tidak bisa bergerak. Keterkejutanku membuatku seperti manekin yang diam saja saat ia makin memperdalam ciumannya dengan menggigit kecil bibir bawahku.Huaaaaaaaa mamaaaa...... ia mengambil first kiss ku!Cukup lama ia mengulum bibirku hingga aku tak bisa bernafas. Perlahan ia melepaskan ciumannya dan sedikit menjauhkan wajahnya. Catat ya, hanya sedikit! Bibirnya hanya berjarak sesenti dari bibirku. Sedikit saja aku bergerak, sudah pasti langsung nempel ke bibirnya lagi."Bagaimana? Enak dilidah?" tanyanya pelan dengan suara serak.Aku melotot menatapnya. Ih, kenapa ia mesum sekali? Tapi, kenapa jantungku dag dig dug begini?"Mau lagi?" tanyanya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.Aku menggeleng pelan dengan wajah yang bisa kupastikan merah padam.Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu menegakkan tubuhnya, menarikku agar ikut berdiri bersamanya."Jadi Pia, jangan sekali-kali berani menolak perjodohan ini, mengerti?" suara si Om terdengar penuh ancaman. Aku bergidik mendengarnya."Tapi Om, eh..."Belum selesai aku bicara, si Om sudah mendekat padaku lagi. Dan aku kesal dengan keadaanku. Bagaimana tidak, aku tidak bisa mundur karena dibelakangku ada ayunan. Kedua lengannya mengunci tubuhku. Nafasnya menyapu wajahku."Kenapa? Mau menolak?" desisnya kembali mengancamku.Aku menggeleng takut-takut. Kenapa Mama dan Papa tidak ada satupun yang keluar menolongku? Kenapa mereka menjodohkanku dengan laki-laki ini? Cakep sih, tapi aku kan belum mengenalnya. Aku sama sekali asing dengannya, tapi kenapa dia sudah berani menciumku? Parahnya lagi, ia mengambil first kiss ku!Ia terkekeh senang, lalu menarikku menuju ke tempat di mana papa, mama dan kedua orang tuanya berada."Nah, ini mereka. Bagaimana Dion? Kalian sudah tentukan harinya?" tanya Om David tersenyum melihat kami berdua. Tepatnya melihatku tidak berdaya dengan cekalan tangan si Om mesum di lenganku."Sudah Pa. Pernikahan kami bulan depan. Dan minggu depan Pia maunya kita tunangan dulu," ujarnya santai.Heh? Apa-apaan ini? Kenapa jadi aku? Dan apa yang dia bilang? Tunangan? Nikah? Kenapa dia seenaknya memutuskan semuanya tanpa persetujuanku terlebih dulu?"Wah, jadi kamu sudah setuju Pia?" kali ini Mama dengan senyum bahagianya memandangku.Tidak! Aku tidak mau! Ini hidupku! Mereka tidak berhak menentukan hidupku! Ya, aku harus menolak!"Tentu saja Pia setuju, Tante. Ya kan sayang?" si Om menarikku ke dalam pelukannya dan menatapku dengan pandangan mengancam. Sementara tangannya masih mengunci erat tubuhku."Baiklah. Karena Pia sudah setuju, kita bisa segera mempersiapkan semuanya," kudengar Tante Vela tertawa lega.Kenapa jadi seperti ini?Bahkan ketika pertemuan itu selesai, Mama dan Papa malah ikut keluar bersama keluarga si Om mesum dan meninggalkanku sendiri di rumah. Bahkan aku tidak tau jam berapa mereka pulang.======♡======Setelah kejadian itu, keesokan harinya, si Om mesum Dion itu pagi-pagi sudah standby di rumahku sebelum aku bangun. Bayangkan! Bagaimana bisa dia dengan tidak sopannya berkeliaran di rumahku seolah-olah rumahnya sendiri.Dan sepertinya Papa dan Mama senang senang saja melihatnya.Aku sama sekali tidak berkesempatan untuk menyuarakan protesku pada mereka.Seperti sekarang ini, dengan seenaknya si Om mesum Dion itu membawaku ke kantornya, hanya untuk menjadi pajangan ruangannya.Bagaimana tidak, setelah acara fitting baju pengantin, ia menyeretku untuk ikut dengannya. Dan disinilah aku sekarang. Hampir mati kebosanan menunggunya memeriksa laporan yang bertumpuk di meja besarnya."Om, kenapa Om ngajak aku kesini? Bosen Om. Mendingan Om kerja yang bener, aku mau pulang," ujarku kesal. Emang enak dijadikan pajangan gini?Si Om mengangkat wajahnya dari lembaran-lembaran berkas yang bertebaran di mejanya dan menoleh kearahku."Kamu bosan? Sini, kamu gak akan bosan kalau di sini," ia menepuk-nepuk pahanya sambil senyum - senyum aneh.Apalagi ini? Dia nyuruh aku duduk di pangkuannya? Emangnya aku cewek apaan? Atau dia sudah terbiasa ya kayak gitu dengan cewek-cewek?Aduh Maaaaa.... gimana nasibku nanti?"Pia? Katanya bosan? Sini, aku jamin kamu bakal keenakan deh," katanya langsung kuhadiahi pelototan garang."Aku mau pulang!" cetusku lalu berjalan keluar tanpa mempedulikannya.Tidak kugubris teriakannya yang memanggilku. Setengah berlari aku masuk lift dan menuju ke lobby, lalu bergegas keluar dari kantor si Om Dion.Baru saja aku hendak memanggil taksi yang lewat, kurasakan lenganku ditarik dan diseret masuk ke sebuah mobil yang berhenti di dekatku entah sejak kapan."Jalan Pak!" perintah suara berat yang akhir-akhir ini akrab ditelingaku. Aku menatapnya sewot.Ya, siapa lagi kalau bukan Dion si Om mesum itu."Apa sih mau Om sebenarnya? Kenapa Om mau aja dijodohkan? Bukannya kita gak saling kenal sebelumnya?" cecarku dengan emosi yang meluap-luap. Bagaimana tidak kalau dia selalu semena-mena."Terus saja kamu panggil Om," desisnya galak. Ia bergeser hingga kami duduk berhimpitan."Ish, sempit nih," aku mendorong-dorong tubuhnya yang sama sekali tidak bergeser sesenti pun."Jangan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu, Pia! Atau memang kamu sengaja ingin kucium?" suaranya terdengar ditelingaku disertai hembusan nafasnya.Aku menggeleng kuat-kuat. Tubuhku bergidik, memejamkan mataku takut. Jantungku berulah.Kurasakan tanganku ditarik dan diseret lagi. Duh, sebenarnya aku mau dibawa kemana sih?Astaga! Astaga! Astaga! Bukannya ini Apartemen? Tapi apartemen siapa?Dion membuka pintu dan mendorongku masuk."Om mau ngapain? Jangan macam-macam Om!" aku benar-benar panik. Apalagi melihatnya Perlahan-lahan maju mendekatiku yang terus mundur hingga membentur pinggiran sofa dan kehilangan keseimbanganku.Tak ayal lagi aku jatuh telentang di atas sofa hitam milik Dion.Dion tersenyum miring. Perlahan ia terus mendekat hingga tubuhnya sekarang berada di atasku."Bagaimana? Mau diteruskan?" tanyanya dengan mata berkilat."Jangan Om eh Pak eh Di...Dion.." aku berusaha mendorong tubuhnya."Panggil aku dengan mesra dulu! Baru kamu kulepaskan, Pia," ujarnya masih dengan senyum miringnya."Eh...mesra? Seperti apa?""Ya mesra. Sayang? Honey? Sweetheart? Terserah kamu manggilnya apa?"Duh, apa ya? Otakku benar-benar buntu!"Ayo cepat!" wajahnya makin dekat, membuatku makin panik."Eh i...iya... Kak Dion," sahutku cepat.Gerakannya terhenti sejenak. Lalu ia menyeringai."Kak Dion? Hmm...aku suka!" huuuufftt leganya...."Tapi gak! Kurang mesra!" Nah lo! Aduh pusing 'pala Barbie niiihhh."I...iya... Hon... Honey," kataku terbata-bata.Tiba-tiba ia terkekeh, mengacak poniku dan mengecup singkat pipiku, lalu menarikku hingga aku duduk di pangkuannya. Ia mengusap-usap punggungku dengan sebelah tangannya, dan tangannya yang lain menggenggam tanganku yang diletakkannya di atas pahaku."Bagus! Ingat ya Pia, kalau kamu memanggilku dengan sebutan Pak atau Om lagi, kamu akan kucium habis-habisan !" ancamnya membuatku mengangguk pasrah. Dadaku berdebar dan wajahku terasa panas menyadari betapa intimnya posisi kami sekarang.======♡======Aku memandang ke tengah ruangan. Mama, Papa, Om David dan Tante Vela tampak tertawa bahagia. Mereka asyik bercengkerama dengan para tamu undangan.Wajah mereka tampak gembira dan lega. Hari ini aku menikah. Pernikahan tanpa cinta. Hmm... cinta? Aku tidak tau bagaimana perasaanku. Hanya saja setiap Dion mendekat, jantungku selalu berdetak kencang. Atau ada yang salah dengan jantungku?Para undangan masih saja mengular mengantri memberi selamat padaku dan Dion."Waaah pinter juga lo nyembunyiin cewek secantik ini. Pantas aja lo nolak Alika," suara berat seseorang membuatku menoleh.Kulihat seorang laki-laki gagah tengah memeluk Dion."Kenalin dong," laki-laki itu menyikut lengan Dion sambil menaik-naikkan sebelah alis tebalnya."Hahaha...kenalin ini istri gue, Steviana. Sayang, kenalin ini sahabat aku, Mario," aku tersenyum menyambut uluran tangan Mario yang tersenyum manis padaku. Apa dia bilang? Sayang?"Ish! Jangan lama-lama pegangannya!" Dion menepis tangan Mario sambil melotot galak."Ya ampun Dion, santai aja Bro! Gue gak mungkin nikung sahabat sendiri," Mario terkekeh melihat wajah garang Dion."By the way, selamat buat kalian ya. Dan Stev, hati-hati sama Dion! Fans nya banyak! Hahaha..." Mario mengerling padaku, lalu menepuk bahuku sekilas sebelum melenggang turun bergabung dengan tamu yang lain."Diooon, Ih.... kamu kok nikah duluan sih? Kamu kan tau aku nungguin kamu,"nada cempreng itu membuatku refleks mencari sumber suara.Cewek ganjen itu melekat erat di tubuh Dion. Lengannya dilingkarkan ke lengan Dion.Kulirik Dion yang terlihat risih dan tidak nyaman.Aku mencibir kesal. Apa-apaan ini? Sudah tau ada aku disini, beraninya cewek itu nempel-nempel Dion.Dan hei? Kenapa aku jadi sewot dan merasa tidak suka melihat cewek itu gelendotan di lengan Dion?"Pelukannya bisa ditunda nanti aja gak? Tuh yang dibelakang udah pada ngantri," kataku ketus sambil menunjuk antrian di belakang cewek ganjen itu dengan daguku."Eh, iya tuh San. Lo mending gabung sama yang lain deh,"ujar Dion melepaskan pelukan cewek ganjen itu."Ya udah deh, Sani kesana dulu ya Dion, nanti kita ketemu lagi," cewek bernama Sani itu tersenyum pada Dion dan melengos saat melewatiku.Huh! Emang lo penting apa? Aku menggerutu dalam hati."Dioooooonn, kok kamu tega sih ninggalin Sasya," nah, mahluk apa lagi nih?"Eh, Sasya? Kamu dateng juga?" kudengar Dion bertanya heran.Heh? Apa maksudnya tuh?"Sasya pasti dateng dong, Dion. Sasya pengen liat seperti apa sih istri Dion? Cantik mana sama Sasya? Eh, ternyata cuma anak kecil gini! Kok lo mau sih sama anak kecil gitu, Baby?" Hadeeeeh... kayaknya bakalan makan ati nih kalo gini. Tadi Sani, sekarang Sasya. Setelah ini siapa lagi?"Bebeb Diooon, gak pa pa deh lo nikah, yang penting gue tetep cinta sama Bebeb," nih satu lagi fans si Om. Lama-lama kesel juga! Hatiku sudah mendidih. Tinggal dicampur kopi deh. Lho? Maksudnya tinggal disiramin ke muka si Om mesum aja!======♡======Sengaja aku berlama-lama di kamar mandi. Aku masih kesal dengan Dion dan antrian fans ganjennya. Kenapa barisan ceweknya diundang semua sih? Apa dia mau nunjukin kalo dia laku? Apa dia mau pamer kalo aku gak ada apa-apa nya sama deretan cewek-cewek nya itu?Kalo memang dia punya segudang cewek, kenapa dia menyetujui perjodohan ini? Dia kan bisa menolak! Tapi kenapa malah dia melarangku untuk menolak?Suara ketukan pada pintu kamar mandi berubah menjadi gedoran saat kuabaikan.Dengan kesal aku membuka pintu."Kenapa sih? Aku nggak tuli, Om!" semburku galak."Kamu panggil aku apa?" tanya nya menatapku tajam.Ups! Aku lupa kalau dia gak mau kupanggil Om. Tapi masa bodoh lah. Dia sudah membuat mood ku hancur."Kalo iya kenapa? Bukannya Om memang sudah tua ya?" jawabku ketus."Umurku baru dua puluh tujuh, Pia. Aku belum tua. Sepertinya kamu ingin merasakan ciumanku ya?" Dion mulai mengancamku lagi. Kali ini aku tidak takut. Aku benar-benar kesal dan marah padanya."Jangan coba-coba, Om! Aku gak mau punya suami yang pacarnya banyak! Jadi jauh-jauh dari aku!" hardikku marah."Siapa yang pacarnya banyak? Maksudmu aku?" ia menunjuk hidungnya sendiri."Helloooooowh.... disini siapa yang punya pacar banyak?" seruku gusar. Apa gak ngerasa dia?"Kenapa kamu jadi nuduh aku begitu?" si Om Dion tercengang. Ia seperti berpikir keras. Lalu tiba-tiba ia tersenyum miring."Kamu cemburu ya, Sayang?" tanya nya menjengkelkan."Ish, siapa yang cemburu? Enak aja!" sergahku kesal. Eh, tapi apa benar aku cemburu?"Kamu marah sama aku karena cewek-cewek tadi?" tanya Dion tertawa geli."Gak ada yang lucu ya, Om! Kenapa Om mau dijodohin kalo Om punya banyak cewek yang lebih segala-galanya dari aku?" aku sudah tidak bisa mengontrol kata-kataku. Mataku terasa panas."Astaga Pia, Sayang. Mereka bukan siapa-siapaku. Memang sih banyak yang ngejar-ngejar aku. Ya maklumlah, suami kamu ini kan ganteng banget," katanya membuatku makin kesal. Ih, pede banget dia!"Om bohong! Om jahat! Aku benci sama Om! Huuhuhuuuu," tangisku meledak sudah. Kemarahanku tidak bisa kutahan. Rasanya sesak.Tiba-tiba Dion meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Rasanya hangat dan nyaman. Tapi airmataku tidak mau berhenti."Pia sayang, udah dong nangisnya. Mereka bukan siapa-siapaku. Aku nggak cinta sama mereka. Kalo gak percaya tanya deh sama Mario, Papa atau Mama. Aku tuh cintanya sama kamu," Om Dion sibuk mengusap punggungku dan mengecupi pucuk kepalaku."Kalau bukan siapa-siapa kenapa mereka bersikap kayak gitu sama Om? Eh, apa Om bilang? Om cinta sama aku?" tangisku berhenti mendadak mendengar ucapannya."Iya Pia sayang. Awalnya aku menolak saat Papa bilang aku akan dijodohkan. Tapi Papa bukan orang yang mudah dibantah. Karenanya aku bertanya dengan siapa aku dijodohkan. Papa memberitahuku siapa namamu dan kamu kuliah dimana. Waktu kita ketemu di kampusmu dulu, itu aku sedang mencarimu. Aku ingin kamu juga menolak perjodohan itu. Tapi ternyata aku malah jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada pandangan pertama," si Om eh Kak Dion menjelaskan padaku sambil tak henti-hentinya mengusap bahu dan punggungku.Aku mengerjapkan mataku takjub dengan penjelasannya."Kakak gak bohong? Lalu cewek-cewek itu?" tanpa sadar aku sudah mengganti panggilanku terhadapnya dan Dion menyadarinya. Ia tersenyum lembut padaku."Aku kan sudah bilang, mereka bukan siapa-siapaku. Mungkin mereka memang suka padaku, tapi sepanjang hidupku, aku hanya jatuh cinta sekali, dan itu denganmu, Pia," katanya lalu mengecup dahiku lembut. Duh mama.... kenapa jantungku kambuh paradenya?"Jadi? Kamu percaya padaku kan sayang?" aku mengangguk kecil, dan kudengar helaan nafas lega Dion."Berarti kita jadi malam pertama kan?" duh, kenapa pertanyaannya seperti ini?"Aku...aku..." aku benar-benar gugup sekarang."Pia sayang, gimana? Kamu mau kan?" tanya Dion lalu mulai menciumku dengan sangat lembut, membuatku serasa melayang.Tanpa kusadari, ia sudah berada di atasku dan aku tidak mampu menghentikannya.Dan malam ini menjadi malam pertama yang indah buat kami berdua.Aku menyadari satu hal. Ya, tanpa sadar aku juga sudah jatuh cinta padanya.SELESAI
Saudara Tiri
Plak! Bruk! Bugh, bugh, bugh!Namaku Jenika Santosa. Hidup dalam keluarga kaya bukan berarti aku harus menghadapi kehidupan yang bahagia, bukan? Aku terlahir dari ibu yang berbeda dari saudara tiriku. Bisa dibilang ini adalah kehidupan antara dua ibu yang bersaing mendapatkan cinta ayah. Ayah merantau jauh dari negara yang kutempati ini. Ibu tiri memukuliku ketika ibu sedang rapat. Ia tak menyukaiku yang selalu mendapatkan perhatian dari ayah. Di balik sibuknya ibu di perusahaan ayah, ia tidak peduli dengan kondisi Rasya—anak ibu tiri. Hal ini membuatku hanya bisa pasrah dengan kedua orang tuaku yang tidak mempedulikanku.“Pergilah ke kamarmu! Jangan sampai kau keluar dengan darah di mana-mana.”Ia melemparkan tongkat baseball ketika Reyna pulang. Aku menghindar dan keluar lewat pintu belakang dapur. Sedikit berlari kecil karena aku dilarang memberi tahu Reyna. Aku lega ketika Reyna tak melihatku dan langsung mengunci pintu. Bergegas aku melepas pakaianku dan membasuh darah dengan air hangat.“Sshhh… sakit…” ucapku meringis.Tok tok tok! Reyna memanggil namaku dari luar. Aku pun menyimpan pakaianku dan memakai baju baru lalu merapikan wajahku. Aku membuka pintu, ia tersenyum dan memelukku. Tanpa sadar ia melihat ke sekeliling, lalu melepaskan pelukannya.Ia mengajakku masuk ke kamar. Setelah aku duduk, ia berjalan dan mengambil baju yang kusembunyikan di bawah meja. Ia berdiri di sebelah baskom dan menatapku dengan mata menyipit.“Kau salah karena berbohong mengenai kondisi mu, Jen. Aku tidak bisa dibohongi, ini ulah mama kan?” ucap Reyna.Aku menunduk tanpa berkata. Reyna memegang tanganku, “Aku akan menjagamu. Bertahanlah. Kelak ketika aku besar, tak akan ada yang berani mengganggumu.”Aku mengangguk dan kami saling berpelukan. Sudah hampir sepuluh tahun aku terus berdamai diri ketika ibu tiri terus memukuliku. Aku berusaha mengingat kata-kata Reyna dan terus bersabar. Selama sabar itu masih ada, aku bertahan. Namun ketika aku memutuskan berjalan lurus ke sisi Tuhan, ibu tiriku tak terima dan kembali memukuliku, bahkan menarik-narik kerudungku.Cukup! Aku memandangnya dengan tatapan melotot tidak suka.“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu mau melawan saya? Hah! Kamu marah karena saya telah melepas kerudungmu itu?” katanya sinis.“Ya!!” bentakku sambil menangis.“Kau!”“Kenapa? Sudah cukup kau terus menghajarku, Bu! Bahkan dengan bibirmu saja kau keluhkan bahwa aku memanggilmu ibu. Ayah memang membiarkanku bebas di rumah ini tapi tidak dengan kekuasaanmu. Walaupun aku mati, harta takkan berpindah ke tanganmu!” ucapku dengan dada berdebar.“Sudahi pukulanmu, sekarang giliran ku.”Ini diriku sekarang—air mata kering, hati rapuh yang terbelah menjadi dua. Dengan langkah pelan sambil menggenggam pisau, aku berjalan ke arahnya. Ia mundur sambil berteriak. Lalu…Jlebbb!Aku menusuk diriku sendiri tepat ketika Reyna datang.“Jenika!!!” Reyna menjerit dan berlari ke arahku.Bruk! Aku terjatuh dengan napas tersengal, menunggu ajal. Reyna meletakkan tasnya dan memelukku.“Jen… bangun!!” Reyna memukul pipiku pelan.“Tak ada harapan lagi untukku, Rey…” jawabku lirih.Reyna menangis histeris.“Maafkan aku yang tidak sabar…” Aku merosot dan menutup mata perlahan.Reyna mengguncang tubuhku. “Ini semua salah mama!” Ia menoleh pada ibu tiriku yang berdiri kaku.“Bukan salah mama! Dia menusuk dirinya sendiri, kau lihat kan?” ujar ibu tiri.“Ia! Aku lihat, dia bunuh diri karena mama! Mama tahu? Ia kena kanker ginjal karena tongkat baseball mama!” Reyna berteriak.Deg!“Jika ada apa-apa dengan Jenika, mama takkan tenang. Mama akan hidup dalam rasa bersalah selamanya,” ucap Reyna sambil memapahku keluar.“I-ini semua bukan salahku…” ibu tiri mundur.Reyna terus memanggil-manggilku. Nafasku semakin pendek di perjalanannya.Aku merosot dengan kepala di pangkuan Reyna. Bibirku memutih.Deg… deg… deg…“Ini tak mungkin! Jenika!! Bangun hey! Aku sudah besar! Aku akan melindungi mu! Aku bersalah! Jenika bangun… aku akan menuruti semua permintaanmu!” Reyna histeris.Harapanku hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari seseorang di sekelilingku. Sejak kecil aku tidak punya teman selain Reyna. Aku tidak membencinya, aku menyayanginya. Ia selalu menolongku ketika ibunya jahat. Reyna adalah wanita pertama dan terakhir yang menyayangiku.Tiga hari kemudian Reyna memutuskan berhenti sekolah. Ia fokus belajar kedokteran. Ia ingin menjadi dokter psikiater anak. Baginya semua berawal dari kondisi psikologi anak kecil—ketika anak bahagia, dunia akan lebih damai.Sedangkan orang tuaku… Istri pertama ayah (ibu Reyna) dan ibu tiriku dipenjara karena terbukti melakukan penyiksaan terhadap anak kecil. Hukuman seumur hidup. Tertinggallah ibu tiri Reyna dengan ayah Jenika. Reyna memilih bekerja keras daripada tinggal bersama mereka yang membuatnya sakit setiap hari. Namun ia selalu menyempatkan datang menemuiku. Ketika aku sembuh, ibu Jenika sering mengunjungi Reyna sekedar menanyakan kabar.
15 Tahun Lagi
Karena masih rempong, saya bagikan cerpen-cerpen dulu, ya. Vote jangan lupa. Tengkyu. 😘***“Bisakah Mas Adi bertahan untuk anak-anak?”Aku masih mengingat malam itu. Malam ketika di luar sana hujan turun dengan lebatnya. Suara air yang jatuh mengenai genteng seakan menikam hatiku berkali-kali. Tikamannya terasa begitu kuat dan keras. Andai luka itu berwujud, mungkin darah segar itu sudah membanjiri lantai, lalu sebagiannya membercak ke dinding.“Aku nggak mengapa kalau Mas Adi menikahinya. Aku mohon, tolong pikirkan sekali lagi. Demi anak-anak kita.”Bak seorang pengemis, aku meminta sedikit belas kasihan kepadanya. Demi kedua anakku yang masih kecil, aku rela seperti ini. Mengemis pada seorang pria yang sudah menyakiti hatiku begitu dalam. Luka perihnya bahkan tak kuhiraukan bagaimana rasanya.“Sudah kubilang, kita sudah nggak ada kecocokan lagi. Soal anak-anak, kamu nggak perlu khawatir karena aku tetap memberikan nafkah untuk mereka,” kata pria itu sembari memasukkan baju-baju ke dalam koper.Aku tahu siapa yang membuat suamiku berubah seperti ini. Wanita itu. Ya, wanita muda berambut lurus sepunggung yang menjadi sekretarisnya selama setahun ini. Aku mulai mencium hubungan mereka sejak enam bulan yang lalu. Hubungan mereka terlalu berlebihan jika masih dikatakan sebagai bos dan sekretaris. Sekretaris macam apa yang tiap malam selalu menelepon bosnya selama satu jam? Seolah itu seperti nyanyian sebagai pengantar tidur. Wajah Mas Adi mendadak bersinar cerah dengan senyum yang tercetak jelas saat dia berjalan menuju ranjang, lalu berbaring memunggungiku. Selalu saja begitu. Dia tak sedikit pun ada keinginan untuk menyentuhku, bahkan sekadar bertegur sapa pun enggan.Tiga bulan berlalu, Mas Adi malah tak pernah lagi tidur di rumah. Entah dia bermalam di mana. Hatiku serasa tercabik-cabik membayangkan jika dia tidur di rumah wanita itu.Selama tiga bulan itu, dia masih berperan sebagai sosok ayah bagi kedua putraku. Menjelang Maghrib, dia akan pulang ke rumah. Setelah anak-anak tertidur, dia bergegas melajukan mobil, entah mau ke mana. Lalu, pagi hari, pria itu kembali ke rumah untuk mengantar Farel, sulung kami yang sudah duduk di kelas satu.“Aku sudah mendaftarkan gugatan cerai ke pengadilan. Kuharap kamu bisa kooperatif biar proses perceraiannya lebih cepat.”Kalimat itu terdengar seperti bom yang mengenai kepala. Dia bahkan sudah mengurus gugatan perceraian ke pengadilan tanpa sepengetahuanku. Rasanya—hampir-hampir—aku tak memercayai jika yang mengatakan itu adalah pria yang sama yang tak berhenti mengejarku ketika kami masih kuliah dulu. Pria itu bahkan butuh waktu tiga tahun untuk meluluhkan hatiku karena dia terkenal play boy di kampus.Tubuhku meluruh di lantai kala itu. Betapa pun aku menahannya, dia tetap nekat memacu mobilnya, menerabas derasnya air hujan yang mengguyur Ibu Kota.Sejak malam itu, dia tak sekalipun menengok anak-anak. Devan, bungsuku yang baru berumur tiga tahun selalu menangis menanyakan di mana ayahnya. Saat ponselnya kuhubungi, selalu operator yang menjawab. Aku makin tidak tega tiap kali melihat Devan yang menunggu penuh rindu di teras rumah saat sore hari tiba.“Adek nunggu Ayah pulang, Bun. Ayah nanti pulang, kan?” tanyanya dengan raut memelas.Air mataku berkabut. Ibu mana yang merasa baik-baik saja ketika menatap sorot redup itu begitu mendamba ayahnya pulang? Dia bahkan tak mau beranjak dari kursi itu sampai suara azan berkumandang.Aku terkadang sulit memercayai jika Mas Adi sudah berubah banyak seperti itu—bahkan tidak bisa kukenali lagi. Dia boleh membenciku hingga tidak mau bertemu lagi denganku. Tapi, dengan darah dagingnya sendiri? Tegakah dia pada mereka?Karena si bungsu terus menanyakan ayahnya, aku beranikan mendatangi kantor Mas Adi. Sesampainya di sana, ternyata dia tidak berada di kantor. Sialnya, aku malah bertemu dengan wanita itu. Wanita yang mengenakan blazer hitam dengan rok sepan di atas lutut itu berdiri seraya bersedekap. Dia memiringkan bibir berwarna merah itu ke arahku.“Aku yang meminta Mas Adi nggak menemui anak-anakmu.” Wanita itu bersuara setelah dia mengajakku ke kafe tak jauh dari kantor. Suaranya terdengar enteng sekali. Seolah dia tengah bersiul merayakan kemenangan besar.Aku mengetatkan rahang kuat-kuat. Gigi geligi bergemeletuk. Sementara, tangan ini mengepal erat-erat untuk meluapkan amarah.Wanita tersenyum mengejek. “Mas Adi sudah pasti akan menuruti permintaanku karena dia mencintaiku.” Wanita itu memajukan tubuh semampainya. “Dia-hanya-mencintaiku,” katanya dengan nada penuh penekanan.Kupikir, tokoh antagonis di sinetron itu hanya mengada-ada. Aku baru meyakini jika dia bukan sosok fiktif belaka setelah berhadapan dengan wanita turunan medusa ini.“Mas Adi sudah menikahku sejak tiga bulan yang lalu.”Penasaranku terjawab sudah. Pantas saja sejak saat itu, Mas Adi tidak pernah lagi tidur di rumah. Rupanya ada “santapan” yang jauh lebih menggiurkan di rumahnya yang lain.Emosiku menggelegak ketika mengetahui kenyataan itu. Mungkin sudah sampai di tenggorokan. Namun, aku masih berusaha menahannya.“Setelah kalian resmi bercerai nanti, Mas Adi akan menikahiku secara resmi. Aku yang akan menjadi istri sahnya.” Dia lagi-lagi mencondongkan tubuhnya. “Istri-sahnya. Tolong dicatat baik-baik dalam otakmu, karena kamu bukan siapa-siapa lagi baginya.”Aku mengeratkan kepalan tangan. Inginnya aku menjambak rambut yang hitam bercahaya itu seperti dalam sebuah adegan di sinetron. Namun, aku—lagi-lagi—memilih menahannya.Aku memundurkan kursi. Tanpa sepatah kata pun, aku berdiri lalu berlalu darinya. Baru lima langkah berjalan, aku berhenti. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik menuju meja wanita itu. Secepat kilat kusambar cangkir kopi hitam yang sudah dingin, lalu kusiram hingga mengenai kepala wanita itu.“Kau?!” Wanita itu memelotot. Air mukanya seakan hendak menerkamku. Wajahnya yang jelita itu hampir dipenuhi ampas kopi Arabika.“Aku pernah baca kalau bubuk kopi itu bisa menghilangkan bau nggak sedap, bahkan bau busuk sekalipun. Hidungku mencium bau nggak sedap di tubuhmu. Sepertinya kamu butuh kopi dalam jumlah banyak untuk menghilangkannya,” kataku datar.“Apa katamu?!” geramnya dengan mata masih memelotot.Tanpa menghiraukannya lagi, aku lekas berbalik. Kedua tanganku mendadak gemetar. Entah kekuatan dari mana yang membuatku berani melakukan itu. Mungkin karena kedua putraku yang ditinggalkan ayahnya demi seorang wanita seperti dia.“Aku nggak akan tinggal diam. Tunggu pembalasanku nanti. Kamu akan menyesal karena telah melakukan ini padaku,” ancam wanita itu sebelum aku keluar dari kafe.Aku mulai diliputi rasa cemas. Bagaimana jika Mas Adi tidak memberikan nafkah pada anak-anak? Sejak menikah dengan Mas Adi, aku sudah tidak bekerja lagi. Hanya sebagai ibu rumah tangga yang fokus mengurus keluarga. Jika Mas Adi mau saja menuruti permintaan wanita itu untuk tidak menemui anak-anak, besar kemungkinan dia akan mengingkari janjinya karena wanita itu, bukan?Benar saja. Sejak palu perceraian diketuk, nafkah yang dijanjikan itu tak pernah ada. Lima hari kemudian, kami bahkan diusir dari rumah oleh orang-orang yang tidak kami kenal. Katanya, rumah sudah dijual oleh pemiliknya.Mas Adi memang tidak terang-terangan menyerahkan rumah itu kepada kami. Rumah masih atas nama Mas Adi sebagai pemiliknya. Dengan dia yang memilih pergi dari rumah, itu sudah cukup menggambarkan jika dia tidak akan mengusir kami dari rumah. Namun, mendapati rumah itu sudah dijual, sepertinya aku terlalu percaya diri. Aku benar-benar kecewa dengan Mas Adi. Demi wanita itu, kenapa dia bisa setega itu pada darah dagingnya sendiri?Sore itu, dengan berbekal baju seadanya, kami terpaksa keluar dari rumah besar itu. Aku berencana ke rumah Nita, adikku yang tinggal di Depok. Orang tuaku sudah lama meninggal. Dan Nita adalah satu-satunya saudaraku.Saat tahu kondisiku, Nita tidak ada hentinya merutuki Mas Adi. Dia bahkan ingin menemui Mas Adi, meminta pertanggungjawaban darinya. Namun, aku melarangnya.“Untuk apa? Semuanya sudah berakhir, kan? Toh, dia sudah memutus semuanya.” Rasanya nyeri sekali ketika aku mengatakan itu. Sulit memercayai jika Mas Adi bisa setega itu kepada kami.Aku tersenyum kecil ketika mengingat itu. Kejadian lima belas tahun yang lalu itu mungkin menorehkan luka yang begitu dalam di hatiku. Namun, luka itu kini sudah sembuh. Bahkan, bekasnya pun sudah tak ada lagi.Farel dan Devan-lah yang menjadi penguatku. Aku bersyukur karena Allah menganugerahi putra seperti mereka.Aku selalu berkaca-kaca tiap kali mengingat ketika Farel memberiku hadiah satu set gamis beserta khimarnya, dua tahun lalu.“Ini untuk Bunda. Aku pengin Bunda menutup aurat seperti yang dituntunkan dalam Alquran.”Air mataku jatuh saat itu juga. Ibu mana yang tidak menangis saat menerima hadiah istimewa seperti itu? Di balik hadiah itu tersimpan harapan yang tulus dari sulungku. Bagaimana aku tidak tersentuh? Saat itu juga, aku—yang sebelumnya selalu ragu—mantap mengenakan jilbab seperti yang diperintahkan Allah dalam Alquran.Kini, usia Farel sudah 22 tahun. Sedang Devan, seminggu yang lalu genap berumur 18 tahun. Aku masih mengingat dengan jelas ketika bungsuku itu selalu memanggil-manggil ayahnya saat terlelap di malam hari. Kebiasaan itu baru hilang setelah empat bulan kepindahan kami ke Depok.Jika mengingat masa-masa itu, rasanya berat sekali. Aku yang semula hanya menjadi ibu rumah tangga biasa harus mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan kami. Selama bekerja, aku bahkan terpaksa meninggalkan Devan bersama Nita di rumahnya.Dua tahun menjalani profesi sebagai wanita karier, pada akhirnya aku menyerah. Pekerjaanku sebagai staf marketing di bidang properti itu benar-benar menyita waktu. Dengan tekad yang kuat, aku memulai usaha kecil-kecilan dengan membuat kue-kue tradisional yang resepnya kudapat dari almarhum Ibu.Di awal-awal berjuang memang masih mengalami jatuh bangun. Namun, seiring berjalannya waktu, usahaku perlahan mengalami kemajuan. Pelanggan semakin bertambah. Kini, aku bahkan sudah memiliki tiga karyawan yang membantu di dapur dan dua karyawan yang berjaga di toko. Sejak enam tahun yang lalu, kami akhirnya bisa pindah ke rumah tipe 36 setelah bertahun-tahun tinggal di rumah kontrakan.Dulu, aku tak bisa membayangkan jika aku bisa bangkit, hingga bisa berdiri tegak seperti ini. Sesuai janji Allah, selalu ada kemudahan di balik kesulitan. Janji Allah itu nyata karena Dia tidak pernah mengingkarinya. Dan terbukti, hidupku bersama kedua putraku kini sudah bahagia karena limpahan rahmat-Nya.“Bundaaa!” Panggilan seseorang yang suaranya begitu familier menyadarkan lamunan panjangku. Farel sudah berdiri sejarak tiga meter di depanku. Toga yang dikenakan sulungku itu membuatnya terlihat elegan. Mataku hanya terpaku ke arahnya. Para wisudawan-wisudawati yang keluar dari pintu auditorium bahkan tak mengalihkan perhatianku pada putra sulungku itu.Senyum Farel terkembang sempurna. Membuat lesung pipit di pipi kanannya tercetak jelas. Kakinya yang panjang melangkah cepat mendekatiku.“Ini medali wisuda buat Bunda.” Mataku memanas saat Farel mengalungkan medali itu ke leherku yang terbalut jilbab. Meski IPK Farel tidak termasuk Cum Laude , tapi aku sudah sangat bangga dengannya.Ah, bagaimana aku tidak bangga jika kini dia sudah menjadi sarjana teknik sipil di sebuah universitas terbaik di Indonesia?“Dan aku dari tadi ditinggalin sendirian?” Devan tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku. Dia memang tidak ikut masuk ke auditorium karena undangan hanya untuk dua orang. Satu untuk wisudawan dan satu lagi untuk orangtua wisudawan.“Tunggu lima tahun lagi, Van. Nanti kamu juga akan dapat undangan sendiri,” celetuk Farel yang disusul tawa mereka.Aku hanya tersenyum melihat kedua putraku yang kini sudah tumbuh besar. Senyum itu perlahan melenyap ketika mataku tertumbuk pada sesosok pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari kami.Aku jelas masih mengingat wajah itu, meski kini pipinya sedikit tirus. Cekungan di bawah matanya mungkin menunjukkan dia kurang tidur. Rambut pria itu setengah beruban. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari yang dulu. Dia tampak lebih tua dari usia sebenarnya.Sejak perpisahan itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Terakhir yang kudengar, perusahaan di bidang jasa periklanan yang dirintisnya itu bangkrut. Aku juga tidak tahu apakah wanita itu masih bersamanya. Mengingat sifat licik wanita itu, aku sangsi jika dia masih setia mendampingi suaminya.Aku masih bergeming. Sorot mata pria itu menatapku sayu. Dia memang pernah menyakitiku begitu dalam. Namun, aku tak pernah menyimpan dendam dengannya. Semua sudah kurelakan. Nyatanya, dengan mengikhlaskan apa yang sudah terlepas itu justru mampu membuatku bangkit lagi. Kini, perasaanku padanya sudah hilang. Bahkan, setitik pun tak ada.Lama terpaku, pria itu perlahan membalikkan tubuh tingginya tanpa menegur kami. Bahu pria itu tidak setegap dulu. Pundaknya sedikit turun seakan menggambarkan beban hidupnya yang berat. Entahlah. Aku tidak mau menduga-duga bagaimana kehidupannya sekarang. Kepalaku hanya dipenuhi oleh rasa penasaran akan satu hal. Satu hal yang membuatku ingin bertanya kepadanya, “Apa ... kamu pernah menyesal karena telah meninggalkan kami?”---Selesai---
Cinta Untuk Gadis Buta
“Aruna! Ayo sekolah!” ucap Mamanya.“Enggak! Aruna nggak mau sekolah, Ma!” bantahnya.“Kenapa, Sayang? Tuh, Satya sudah menunggu kamu di depan pintu,” ujar Mamanya.“Aruna malu, Ma! Orang-orang meledek aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan bergurau dan lainnya yang bikin hati Aru menjadi sakit!” bantahnya.Mama Aruna terdiam. Netranya kini berkaca-kaca, mungkin merasa sedih mendengar ungkapan putri semata wayangnya yang dia besarkan penuh kasih sayang.Aru mendekati Anjani, wanita paruh baya yang tak lain orang yang turut membesarkan Aruna. Aku memegang bahunya dan aku menunjukkan senyum terbaik di sana.“Sabar ya, Tan?” ucapku sambil bersicep kecil padanya.Anjani lantas mengangguk, sembari mengusap pipinya dan kemudian mencubit pipiku. Sudah biasa hal seperti itu. Kami amat akrab, mungkin mengingatkan aku ke sekolah khusus.Aku melihat Aruna.“Aru mau sekolah?” tanyaku.Aku mengangguk.Aruna makin menunduk mengenaliku, setelah ia melihat aku tersenyum semangat, sangat lelah bersama dirinya dan perlahan aku mengusap pipinya.“Satya, tunggu! Aku mau sekolah,” ujarnya sambil menahan tangis.Aku berjalan menjauh darinya. Percuma juga kalau dipaksa.“Sekolah yuk, Ar?” ajakku padanya.Ia menggeleng, dengan bola mata yang bergerak ke sana kemari tanda bisa fokus ke suatu titik.“Karena ledekan orang?” ujarku padanya.Aruna mengangguk.“Tidak usah mendengarkan kata orang, katanya kamu mau menjadi guru?”Aru mengingatkan.“Iya, tapi aku sakit hati mendengar ledekan dari mereka. Bukan cuma sekali, Satya! Mereka seperti tidak hargai aku,” lirihnya marah.“Ar, sekolahmu mau sekolah gak?”“ENGGAK!” serunya dengan lantang.“Ya sudah, lain waktu, pasti akan ada banyak orang seperti itu.”“Maksudnya?”“Orang itu memang tidak mudah baca! Kau marah bukan hal itu membuatmu tadi? Kamu ‘kan sudah biasa baca? Ah, biarlah! Itu bukan hal yang perlu, Aru ke sekolah.”Hening.“Satya, tunggu! Aku mau sekolah,” ujarnya sambil mengejar langkahku.“Gitu, dong!”Aku mencubit hidung mancungnya.“Aduh… Sakit, Satya!”Aruna mengusap pelan hidung mancung itu.Kami pun berangkat ke sekolah menaiki sepeda motor.Aruna merupakan seorang tuna netra. Papanya pun telah meninggal dunia ketika Aruna masih ada dalam kandungan.Tapi warisan Aruna cukup banyak dari sang Papa. Semasa hidup, Papa Aruna adalah pengusaha bidang pertambangan.“Satya? Mau-maunya diboncengin orang buta?” ujar tetanggaku.“Mending boncengin orang matanya buta, dari pada yang hatinya buta!”Aku memacu motorku dengan kecepatan sedang agar tak terlalu terguncang, terlebih kecelakaan adalah sesuatu yang Aruna sangat kubenci.Tanganku memeluk dirinya dari belakang, mungkin agar tak hal yang membuat sesuatu tersandung di trop. Aruna pun memegang bahuku dari belakang. Aku mengurangi kecepatan dan ia makin membenarkan jarak kami.“Sorry, Ar!”“Iya, gak papa. Jangan ngebut lagi, ya. Aku takut!” pintanya.Aku hanya diam tidak menjawab. Karena aku merasa jengkel dengan sikap-sikap orang seperti itu. Pantas saja, Aruna marah. Aku saja yang tidak disinggungnya merasa marah dengan ledekan seperti itu.Hal itu terjadi lima tahun silam. Kini, baik aku dan Aruna sudah selesai sekolah dan kami sudah bekerja.Aku bekerja sebagai staf di kantor dan Aruna menjadi guru tunanetra sesuai cita-citanya. Impian yang kini telah menjadi nyata.Kebetulan minggu ini merupakan malam minggu, aku memutuskan ingin mengajak Aruna dari kejenuhan bekerja.“Ar, jalan, yuk?” ajakku.“Enggak bisa, Sat. Nanti malam, Mama akan mengenalkan seseorang padaku. Katanya besok pria itu akan datang untuk bertemu. Papa saja aku suka.”Aku bingung, “Orangnya yang ganteng dan cantik, ya?”Bibir Aruna tampak meruncing.“Siapa laki-laki itu? Untuk apa pertemuan itu? Ah… Tapi itu bukan hal betul, Sat! Kamu ‘kan dekat dengan keluargamu! Sudah biasa aku pertemuan seperti itu.”Aku hanya bisa mengangguk dalam diam dan sangat merasa ada yang tak beres. Terlebih Aruna memeluk tubuhku dan mengusap ekspresi kekhawatiranku.Aku merasa bingung.Aku tampak sedang duduk di kursi rias. Tapi, bukan berhias yang ia lakukan. Ia malah terus menerus menyeka netra itu.“Aruna menangis?”Aku ke luar dari kamar lewat jendela dan mendekat ke jendela kamarnya.Aku telbak waktu menunjuk pukul sepuluh malam ketika Aruna masih terlihat menangis di depan meja riasnya.Tok… Tok… Tok…Aku mengetuk jendela kaca kamar. Sepertinya Aruna mendengar, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati jendela.“Siapa?” terdengar sayup suara Aruna bertanya.“Aku, Satya!” ujarku setengah berbisik takut mengganggu orang lain.Ceklek!Jendela kamar Aruna terbuka.“Ngapain malam-malam ke sini?” tanya Aruna dengan mata yang masih merah.“Kamu nangis lagi? Ada apa? Mama jodohin kamu? Kamu nangis? Kenapa?”“Iya, Sat. Mau apa? Pulanglah, tidak enak sama tetangga kalau lihat kita seperti ini,” ujar Aruna.“Biar saja. Palingan kita dinikahin!” jawabku spontan.Aruna tersenyum kecil mendengar ucapanku yang mungkin baginya seperti bualan semata.“Gak mungkin ada yang mau sama perempuan buta seperti, Sat!”Aruna mendongakkan wajahnya ke langit.Aku terdiam. Sepertinya Aruna sedang sedih.“Lelaki tadi pun bicara seperti itu,” sambungnya.“Lelaki? Siapa?”“Yang tadi dikenalin sama Mama padaku. Ia berbiskik, apa Sat! Seetah itu, aku minta Mama membawaku ke dalam kamar. Kant telah apa yang Sat seperti itu! Aku malu, melihat perakuan lelaki itu, tapi apa? Mama bilang kalau itu pria baik arahnya ke aku,” ujar Aruna.Aku menghembuskan napas berat dan memegang tangannya.“Kamu nggak marah sama aku?”“Kenapa aku marah? Itu bukan salahmu.”Aruna tersendu. “Ada apa yang tadi perempuanmu buta?” Dia mengacak rambutku dan menahan gelak tawa. Hari ini pun kami diam saja mendengar ledekan semacam itu. Aru! Aku akan selalu mendampingimu, merangkul dirimu, meraih Aru dari keadaan apa saja, aku akan selalu untukmu, Aruna!”Aruna tersenyum.Aku mengusap ringan tangannya, dan menatap netra yang menyedihkan dirindukan.Wajah yang sedang mendongak ke langit seketika menunduk, melengkungkan senyuman.“Kamu gak usah menghibur aku, Sat!”“Aku serius! Entah dari kapan aku mulai menyayangimu, aku sangat mencintaimu, Ar!”“Sudahlah, Sat. Lebih baik kamu pulang, besok kamu kerja ‘kan? Selamat malam!” Aruna memindahkan tanganku sebelum ia menutup pelan jendela kamarnya.Pagi ini aku sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Rumah Aruna masih tampak sepi, aku tidak telah mengendarai motor.Tiba-tiba jantungku berdebar, aku mendengar kabar dari yang barusan melihatnya. Aku mendapat pesan dari wanita cantik, buntang yang aku idamkan hati aku.“Ada apa, Aruna?” aku menerima pangilan telepon Aruna.“Ari? Aruna! panggilanku?”Aku menutup telepon itu.“Sial! Nomornya tidak aktif!”Mau tidak mau, aku harus menunggu jam pulang kerja untuk mendatangi rumah Aruna.Setelah jam kantor usai, aku melesat menggunakan sepeda motor ke rumah Aruna. Kuburan memang dekat. Tetapi tampakkan aku baru saja lumasir pertemuan keluarga.“Kamu gak usah menghibur aku, Sat!”“Aku serius! Entah dari kapan aku mulai menyayangimu, aku sangat mencintaimu, Ar!”“Sudahlah, Sat. Lebih baik kamu pulang, besok kamu kerja ‘kan? Selamat malam!” Aruna memindahkan tanganku sebelum ia menutup pelan jendela kamarnya.Pagi ini aku sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Rumah Aruna masih tampak sepi, aku tidak telah mengendarai motor.Tiba-tiba jantungku berdebar, aku mendengar kabar dari yang barusan melihatnya. Aku mendapat pesan dari wanita cantik, buntang yang aku idamkan hati aku.“Ada apa, Aruna?” aku menerima pangilan telepon Aruna.“Ari? Aruna! panggilanku?”Aku menutup telepon itu.“Sial! Nomornya tidak aktif!”Mau tidak mau, aku harus menunggu jam pulang kerja untuk mendatangi rumah Aruna.Setelah jam kantor usai, aku melesat menggunakan sepeda motor ke rumah Aruna. Kuburan memang dekat. Tetapi tampakkan aku baru saja lumasir pertemuan keluarga.Aruna menyentuh wajahku, “Satya?”“Iya, ini aku, Ar. Tadi kamu dijodohkan lagi?”Aruna mengangguk. Lagi, air mata itu kembali menetes.“Malam ini pun, Mama mau mengenalkanku pada lelaki lain, Sat!” ujarnya dengan air mata yang masih berlinang.“Dengan siapa?”“Entah. Apa mereka akan menerimaku, Sat?” ujar Aruna dengan netra sendu.Aku terdiam.“Makamemu ke mana, Ar?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.“Ke pasar. Mama mau memasak banyak untuk nanti malam sepertinya.”“Ya sudah aku pamit, Ar, urus buy!”Aku bergegas meleset ke sepam jalingan untuk menghadang Mama Aruna.Akhirnya, mobil Tante Anjani terlihat. Akhirnya dari mobil itu keluar mobil dari dalam mobil.“Satya? Ada apa ini?” tanya Tante Anjani.“Tan, Satya mau menjadi pendamping hidup untuk Aruna.” “Dari mana ucapanmu tadi?” sepontan terdengar kekaguman.“Tapi, Sat! Malam ini Tante akan mengenalkan calon untuk suami Aruna.”Seketikanya, langit terasa runtuh menimpaku. Dada terasa sakit, aku seolah mati saat itu.“Permisi, Sat! Tante buru-buru.”Tante Anjani pun melesat pergi meninggalkanku yang sedang mematung tanpa arti.Malam pun tiba. Aku hanya dapat berdiri di dalam jendela kamar. Mengamati keadaan di rumah Aruna yang baru cukup ramai. Hingga aku melihat, tamu-tamu mereka telah pulang.Aku menunggu Aruna masuk dalam kamar. Setengah jam aku menunggu namun aku masih tidak melihat Aruna. Setelah satu jam berlalu, kamar itu pun masih gelap setelah Aruna berpaling di depan kamar menuju ke ruang keluarga. Dua jam berlalu, tampak kamar Aruna jendelanya.Aku mulai memegangi jendela dan mengetuk perlahan untuk segera turun ke kamar Aruna.“Ar! Aruna!” ucapanku nampak sambil mengedarkan pandangan.Aruna sepertinya mendengar, ia langsung bangkit dan membuka gorden kaca jendelanya.“Kamu siapa?”Sengaja aku diam. Aku hanya menggenggam tangannya.Dari netranya yang kosong kutemukan seluruh cuapanan dari engan dari jarinya, hidung, bibir dan rambutku.“Satya?”Aruna menyentuh wajahku, “Satya?”“Iya, ini aku, Ar. Tadi kamu dijodohkan lagi?”Aruna mengangguk. Lagi, air mata itu kembali menetes.“Malam ini pun, Mama mau mengenalkanku pada lelaki lain, Sat!” ujarnya dengan air mata yang masih berlinang.“Dengan siapa?”“Entah. Apa mereka akan menerimaku, Sat?” ujar Aruna dengan netra sendu.Aku terdiam.“Makamemu ke mana, Ar?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.“Ke pasar. Mama mau memasak banyak untuk nanti malam sepertinya.”“Ya sudah aku pamit, Ar, urus buy!”Aku bergegas meleset ke sepam jalingan untuk menghadang Mama Aruna.Akhirnya, mobil Tante Anjani terlihat. Akhirnya dari mobil itu keluar mobil dari dalam mobil.“Satya? Ada apa ini?” tanya Tante Anjani.“Tan, Satya mau menjadi pendamping hidup untuk Aruna.” “Dari mana ucapanmu tadi?” sepontan terdengar kekaguman.“Tapi, Sat! Malam ini Tante akan mengenalkan calon untuk suami Aruna.”Seketikanya, langit terasa runtuh menimpaku. Dada terasa sakit, aku seolah mati saat itu.“Permisi, Sat! Tante buru-buru.”Tante Anjani pun melesat pergi meninggalkanku yang sedang mematung tanpa arti.Malam pun tiba. Aku hanya dapat berdiri di dalam jendela kamar. Mengamati keadaan di rumah Aruna yang baru cukup ramai. Hingga aku melihat, tamu-tamu mereka telah pulang.Aku menunggu Aruna masuk dalam kamar. Setengah jam aku menunggu namun aku masih tidak melihat Aruna. Setelah satu jam berlalu, kamar itu pun masih gelap setelah Aruna berpaling di depan kamar menuju ke ruang keluarga. Dua jam berlalu, tampak kamar Aruna jendelanya.Aku mulai memegangi jendela dan mengetuk perlahan untuk segera turun ke kamar Aruna.“Ar! Aruna!” ucapanku nampak sambil mengedarkan pandangan.Aruna sepertinya mendengar, ia langsung bangkit dan membuka gorden kaca jendelanya.“Kamu siapa?”Sengaja aku diam. Aku hanya menggenggam tangannya.Dari netranya yang kosong kutemukan seluruh cuapanan dari engan dari jarinya, hidung, bibir dan rambutku.“Satya?”Aku mengangguk.“Kamu kenal aku, Ar?”Aruna menggeleng, “Batal.” Ia tersenyum.Aku tahu, itu merupakan senyum kesedihan untuknya.“Tunggu saatnya tiba, ya, Ar?”“Kapan?”“Secepatnya! Kamu tidurlah. Tunggu, akan ada yang melamarmu!”“Siapa?”“Kamu akan mengenalnya, Ar.”Aku menyuruhnya untuk tidur, menutup jendela kamarnya dan segera kembali ke kamarku.Aku berunding pada orang tuaku. Meminta izin untuk memberikan lamaran pada Aruna. Aku berusaha mencurahkan keberanian ayahku hingga akhirya menerima restu.Aku pun menemuinya. Sesudah aku meminta izin pada Tante Anjani untuk melamar Aruna. Ia tampak antusias. Walau awalnya ragu, akhirnya Beliau memberi restu untuk padaku.Aku dan keluarga sudah ada di rumah Aruna. Sengaja kami berkumpul, berharap jadi surprise untuk Aruna.“Ar, Mama mau mengenalkan kamu pada seorang pria yang ingin mengenalkan kamu.” ujar Tante Anjani.“Ah… Lupakan saja, Mal!” elak Aruna.“Tapi, kamu mengenalnya!” ujar Tante Anjani.“Mengenalnya?”Aku meraih tangannya dan kembali mengarahkan ke wajahku agar ia bisa merabanya.“Satya?”Aku mengangguk.Seketika air bening itu menetes di pipinya.“Aku sudah janji, akan selalu ada untukmu. Inilah janjiku, Ar! Aku akan menghabiskan sisa umurku bersamamu.”Aruna tersenyum walau matanya masih saja menitikkan air mata.“Ar, will you marry me?”Aruna tersenyum dan mengangguk sebagai jawabannya..End.
Kapal yang Berlayar di Langit Lama
Suasana sekolah memang tidak pernah berubah, membosankan dan sangat tidak menyenangkan. Namun, Fatih memiliki satu cara ampuh untuk mengusir rasa bosan itu. Saat Fatih merasa dunia terasa sunyi dan hening, yang perlu Fatih lakukan hanyalah memandang ke angkasa, di mana di atas sana, di balik awan-awan, dia bisa melihat dengan kedua matanya sendiri, kapal-kapal yang berlayar di langit.Ya, itulah yang dilakukan Fatih sekarang. Remaja kurus berseragam putih abu-abu dan berambut hitam gondrong yang duduk di bangku pojok belakang, tepat di samping jendela, sejak awal pelajaran hingga sekarang, yang dilakukannya hanya memandang angkasa dan mengamati kapal yang berlalu-lalang di atas sana."Kenapa, ya, Tuhan memberikanku mata ini?" Tanya Fatih pada dirinya.Akan tetapi, Fatih sadar kalau dia sudah cukup lama melihat pemandangan gaib itu, jadi dia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya sejenak, menarik nafas dalam, dan mengamati keadaan kelas saat itu.Seperti biasa, jam pelajaran selalu begini-begini saja. Dari hari senin sampai sabtu, beginilah suasana kelas ini, tidak ada yang berbeda. Namun, Fatih juga sedikit suka dengan pemandangan seperti ini, saat-saat di mana ia bisa dengan leluasa menilik pribadi teman-temannya tanpa harus bertanya langsung pada mereka, dan yang perlu dilakukannya hanyalah melihat ekspresi wajah mereka.Fatih bisa melihat mana temannya yang belajar dengan giat, juga anak yang tidak tertarik untuk belajar. Ada anak yang tampak semangat, dan ada juga yang terlihat malas dan mengantuk. Pada dasarnya, mereka semua memanglah berbeda, dan menurut Fatih, ini adalah hal yang menarik untuk diamati."Orang-orang itu... aneh banget, ya?" Gumam Fatih sambil menyeringai.Namun, di antara semua teman-temannya, ada satu wajah yang membuat Fatih merasa sedikit kesal tiap kali memandangnya. Namanya adalah Jojo. Anak itu duduk di bangku paling belakang di barisan tengah, dan dari senyumannya, siapapun bisa tahu kalau dia bukanlah anak yang baik.Dia sama benar-benar tidak layak... Pikir Fatih.Jojo adalah putra dari pemimpin perkumpulan preman terkenal di kota ini, dan dia jugalah orang yang suka melakukan tindakan bullying pada murid-murid lainnya. Dia berlagak seperti bos besar. Bahkan, setelah dua tahun mengenal Jojo, Fatih hampir tidak pernah melihat anak itu menulis di bukunya sendiri, mengingat dia memiliki setidaknya tiga budak di kelas ini, yang akan mengikuti segala perintahnya.Saat bel pulang berbunyi semua murid langsung buru-buru berkemas secepat yang mereka bisa, dan juga menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan, lalu saat semuanya sudah siap, mereka pun melesat keluar melalui pintu itu dan pulang ke rumah.Tapi, berbeda dengan Fatih. Dia selalu memiliki tiga alasan atas penantiannya. Alasan yang pertama, ya, tentu saja dia ingin pergi dari tempat ini, dan alasan yang kedua berhubungan dengan keajaiban itu. Tapi alasan yang ketiga merupakan hal yang sangat berbeda."Hey, anak aneh!" Teriak Jojo. Dia terlihat marah."Hmm?" Fatih yang saat itu masih duduk di bangkunya dan tengah menikmati pemandangan langit, tiba-tiba dihampiri oleh Jojo serta kedua temannya yang bertubuh besar yang sejak dulu bertindak selayaknya bodyguard-nya.Mungkin, banyak yang bertanya-tanya, kenapa wajah Fatih setiap hari terlihat bonyok dan penuh memar di mana-mana, jawabannya adalah, Jojo. Hampir setiap hari sepulang sekolah, anak itu terus menyiksa Fatih karena satu alasan sederhana, dan kelas inilah yang menjadi saksi bisu atas kejahatan itu.Sementara kedua anak bertubuh subur itu mengekang Fatih, Jojo meninju dan menendang Fatih seakan-akan dia adalah samsak tinju. Dalam kurun waktu yang terhitung cukup lama, Fatih harus berhadapan dengan rasa sakit itu. Namun, Fatih menganggap ini sebagai suatu kesenangan."Kenapa kau tetap tersenyum, hah!?" Teriak Jojo yang tampak semakin kesal.Fatih tetap tersenyum meski sudah disiksa berkali-kali. Sampai-sampai Jojo mungkin sangat membenci senyum Fatih yang satu itu."Bukannya sudah kubilang, kalau kau itu... tidaklah istimewa—ugh-ugh!" Kata Fatih yang sudah terlihat sekarat. Akan tetapi, karena kalimat itu pula, Jojo kembali melayangkan beberapa tinju menuju wajah dan perut Fatih.Bagi Fatih, sebenarnya ini adalah pertukaran yang sepadan. Malahan, Fatih masih menang banyak. Fatih tahu apa yang membuat Jojo emosi, sementara Jojo sendiri tidak tahu alasan kenapa dirinya naik pitam setiap kali mendengar kalimat yang diucapkan Fatih.Padahal, sudah satu tahun berlalu sejak Fatih mengucapkan kalimat itu untuk yang pertama kalinya, dan sudah satu tahun pula sejak Jojo mendengar pernyataan itu untuk kali pertamanya. Jojo semakin berubah hari demi hari. Dia menjadi semakin jahat, pemarah, dan wajahnya juga selalu terlihat sedih.Fatih tahu bahwa dirinyalah pemenang dalam "pertarungan" ini. Dia selalu menang. Itulah sebabnya, Jojo terus melakukan kekejaman ini.Fatih bisa melihat keajaiban itu, sementara Jojo hanya melihatnya sekilas saat itu."Hah... tadi itu menyenangkan juga." Fatih bergumam. Dia kini berdiri di depan pohon beringin raksasa yang tumbuh di samping halaman sekolahnya. Pohon itu sudah sangat tua, dan akarnya timbul di mana-mana. Mungkin tak lama lagi pohon ini akan tumbang, tapi, Fatih tak yakin akan hal itu.Lima belas menit sudah berlalu sejak Jojo dan kedua bawahannya meninggalkan Fatih terbaring di kelas seolah-olah dia sekarat dan hampir mati. Sekarang sudah pukul empat sore, dan ini adalah waktu bagi Fatih untuk menikmati keistimewaan yang telah diberikan padanya.Fatih tersenyum kecil sambil meraba-raba wajahnya yang terasa sakit."Aduh... sialan, sakit banget. Aku nggak menyangka rasanya bisa bertambah parah seperti ini." Ujar Fatih. "Tapi, aku tetap menang, sih—Aw!" Fatih tak sengaja menyentuh luka yang paling parah di wajahnya, dan rasa perihnya melonjak seketika."Kalau begitu, bukannya kamu malah terlihat seperti orang jahat, ya?" Tanya seorang gadis kecil yang tiba-tiba muncul di samping Fatih. Matanya terpaku memandang pohon beringin di depan mereka."Hmm? Aku, kan, memang orang jahat." Ungkap Fatih sambil menoleh memandang gadis kecil yang mengenakan gaun putih bersih polos dan berwajah datar itu. "Berdasarkan kehidupanku di masa lalu, oh, jelas aku ini orang jahat.""Ya, ya, sakarepmu, lah." Ujar gadis itu tak acuh."Oh, iya, kok, kamu baru muncul lagi sekarang? Sudah dua bulan lebih, lho, aku nggak lihat kamu di sini." Jelas Fatih. "Kamu kemana saja, sih?""Kau serius memberikan pertanyaan seperti itu pada Roh Langit sepertiku?" Gadis itu kini memasang wajah heran."Eh... lupakan sajalah." Fatih menghela nafas dalam. Senyuman kecil terbentuk di bibirnya. "Tapi, senang bisa melihatmu lagi, Ravril." Kata Fatih tulus."Ya... senang bisa melihatmu juga, Fatih." Ujar gadis itu yang juga tersenyum.Guk! Guk!Tanpa Fatih dan Ravril sadari, ternyata sekarang sudah ada seekor anjing kecil berbulu putih yang duduk di depan mereka. Anjing itu terus mengibas-ngibaskan ekornya, tanda bahwa dia sedang senang."Oh? Helly juga ada rupanya." Kata Fatih.Senja telah datang. Langit yang tadinya berwarna biru dan cerah, kini mulai memancarkan cahaya oranye yang membawa serta kehangatan. Sementara itu, Fatih, Ravril dan Helly si anjing masih berada di depan pohon beringin itu dan menunggu datangnya sesuatu yang entah apa.Namun, setelah menunggu cukup lama, akhirnya sesuatu yang aneh pun terjadi. Bersamaan dengan datangnya hembusan angin yang lembut, sebuah pintu tiba-tiba muncul di permukaan batang pohon beringin itu. Pintu itu terlihat mahal, dan permukaannya dipoles mengkilap seperti baru.Fatih yang pertama melangkah maju. Tangannya tanpa ragu menggapai gagang pintu itu, lalu menariknya sampai terbuka lebar, dan pada saat itu juga mata Fatih membelalak. Di balik pintu itu, Fatih bisa melihat pemandangan yang sungguh luar biasa menakjubkan. Suatu pemandangan yang sangat ajaib dan tak bisa diterima oleh akal manusia.Fatih melirik Ravril dan Helly, kemudian, setelah meyakinkan diri, mereka bertiga pun melangkah melewati pintu itu dan tiba di tempat yang benar-benar berbeda. Kini mereka bertiga berjalan menyusuri jembatan yang terbuat dari kayu, dan meninggalkan kenyataan jauh di belakang mereka.Sejatinya, pintu itu secara ajaib mengantarkan mereka bertiga ke atas suatu jembatan kayu yang berada di atas langit. Jauh tinggi di angkasa, di antara awan-awan putih, di bawah pancaran sinar mentari senja yang nyaman, disitulah Fatih, Ravril dan Helly berada sekarang.Dengan keempat kaki mungilnya, Helly berlari menuju ke ujung jembatan, sementara Fatih dan Ravril berjalan dengan santai di belakang sambil menikmati pemandangan bernuansa magis di sekitar mereka."Sejak awal masuk sekolah, aku masih nggak tahu apa alasan Tuhan membiarkanku melihat semua ini." Ungkap Fatih sembari menggapai gumpalan awan yang tak jauh di sampingnya. "Padahal aku ini penjahat... " Fatih menambahkan. Air mukanya berubah aneh, dan senyumnya sedikit melengkung."Kenapa, sih, kau membahas itu lagi?" Tanya Ravril sedikit kesal."Ya, tentu saja, lah." Celetuk Fatih. "Aku nggak jauh beda dengan Jojo, kok. Malahan aku lebih parah. Aku sudah pernah membunuh, lho, sedangkan dia mungkin nggak pernah."Entah kenapa kepala Fatih terasa berdenyut setelah mengatakan kenyataan itu. Sungguh sangat tidak menyenangkan jika harus mengungkit kejadian tragis yang pernah menimpanya di masa lalu.Ravril menghela nafas dalam."Hey, Nak, mending jangan bertanya padaku, deh. Aku ini bukan Tuhan, soalnya yang memberimu izin untuk melihat semua ini, itu Tuhan, bukan aku." Jelas Ravril. "Tapi... ya, memang, sih, kamu itu jahat. Cuma, yang bisa menentukan itu, ya, hanya yang di atas sana. Nggak ada makhluk hidup di bawah langit ini yang berhak menilai kamu baik atau jahat."Kini mereka bertiga telah sampai di ujung jembatan itu, dan di hadapan mereka terbentang luas langit yang begitu megah. Namun, meski mereka berada di atas langit sekalipun, tapi udaranya sama sekali tidak terasa terlalu dingin, melainkan hangat."Mungkin... Tuhan tidak melihat dirimu yang ada di masa lalu, tapi dia melihat dirimu yang ada di masa depan." Ungkap Ravril."Hah? Maksudnya?" Tanya Fatih yang keheranan setengah mati."Maksudku... Ya, memang betul kalau kau jahat di masa lalu, tapi Tuhan pasti tahu kalau kau sudah berubah di masa depan. Maka dari itu Tuhan memilihmu untuk memiliki apa yang tak orang lain miliki. Tuhan memberimu berkat untuk melihat. Semacam hadiah, mungkin. Hadiah karena kau kelak akan berhasil berubah menjadi pribadi yang lebih baik.""Eh... " Fatih terdiam. Dia dibuat bingung oleh perkataan Ravril."Lagian, kau juga tidak bersalah, kok. Toh, orang tuamu juga mau membunuhmu."Suasana seketika menjadi hening. Baik Fatih maupun Ravril, keduanya terdiam seribu bahasa, sementara Helly masih menggonggong ria di situ dan tak berhenti berlarian di antara kaki mereka.Namun, apa yang dikatakan Ravril memang benar.Fatih akhirnya mengerti kenapa Ravril selalu emosi setiap kali dia membahas tentang ini. Fatih seharusnya tidak menanyakan pertanyaan itu pada Ravril, karena sejak awal, Ravil tahu bahwa bukan dia yang harus menjawab pertanyaan itu.Memang, Fatih pernah membunuh kedua orang tuanya waktu masih kecil. Tapi, jelas saja itu tak disengaja. Semuanya terjadi begitu saja tanpa Fatih niatkan.Tuhanlah yang menciptakan masa lalu dan masa depan Fatih, dan Dia jugalah yang memberikan dan mengakhiri ujian-ujian itu. Tinta itu sudah tertuang dan telah mengering, jadi, yang perlu dilakukan Fatih sekarang adalah tinggal mengikuti alurnya saja."Syukurlah selama ini kamu cuma mengajukan pertanyaan itu padaku saja. Coba kalau orang lain yang kau ajukan pertanyaan itu. Bisa kacau, lho, urusannya." Ungkap Ravril. "Aku hidup sudah lama banget, lho, Fat. Aku tahu sifat manusia. Meski mereka tahu kalau mereka tidak seharusnya menghakimi orang lain, tapi mereka tetap melakukannya dan mengambil keuntungan dari situ. Manusia itu... jahat—""Hmm... Ya... kau memang benar, Ril." Potong Fatih tiba-tiba. "Entah kenapa aku baru sadar sekarang.""Eh? Apanya?"Fatih masih terdiam dengan senyum yang melekat di bibir. Dia baru sadar akan satu hal yang terlewatkan selama ini. Setelah dua tahun, dia akhirnya sadar. Dia benar-benar sudah paham."Berarti, selama ini, Tuhan memilihku karena aku ini layak, kan?"Tak lama kemudian, terdengar suatu suara dari arah belakang mereka. Suara yang perlahan mendekat itu terdengar sedikit berat dan berdengung. Sementara itu, Fatih bersama Ravril tetap berdiri di tempatnya dan memandang ke depan, sedangkan si Helly berlari mengejar sumber suara itu yang entah dari mana asalnya.Bersamaan dengan datangnya hembusan angin kencang, tiba-tiba saja ada banyak kapal raksasa yang keluar dari gumpalan awan tebal di kiri dan kanan mereka. Jumlahnya ada sepuluh.Dari ujung jembatan itu, Fatih juga bisa melihat beberapa sosok di atas kapal itu. Ada yang berwujud seperti manusia, dan ada pula yang wujudnya menyerupai sosok makhluk lain yang tidak pernah dilihat Fatih.Kapal-kapal ajaib yang berlayar di udara itu, sebenarnya terlihat seperti kapal biasa pada umumnya. Terbuat dari kayu dan papan, serta memiliki layar dari kain putih yang agak kusam. Akan tetapi, tetap saja semua itu tidak menjelaskan bagaimana caranya kapal-kapal itu bisa mengambang di angkasa ini.Fatih dan Ravril yang ada di sana berusaha agar tidak terhempas karena angin kencang yang datang bersama kapal-kapal itu. Senyuman yang melukiskan berbagai arti terbentuk di bibir mereka berdua, dan Helly terlihat semakin senang akan kemunculan kapal-kapal itu.Dari kejauhan, terlihat seseorang yang melambaikan tangan di salah satu kapal itu. Fatih yang melihatnya tanpa ragu langsung membalas lambaian tangan orang itu dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi."Hati-hati, ya! Jangan sampai jatuh!" Teriak Fatih selantang mungkin.Orang itu tertawa. Dari suaranya, dia pastilah seorang lelaki. "Tenang saja! Aku nggak akan jatuh, kok!"Kapal-kapal itu berlayar semakin jauh, hingga akhirnya tak terlihat lagi oleh mata."Kenapa kamu jadi senang begitu, Fat?" Tanya Ravril sedikit heran."Ya, rasanya aneh saja. Soalnya sudah dua tahun aku mencari jawaban atas pertanyaan itu, tapi, aku sama sekali nggak menyangka jawabannya akan sesimpel ini.""Hmm..." Sambil tersenyum manis, Ravril menatap malas pada langit yang terbentang di hadapannya. "Tuhan menciptakan orang-orang karena mereka layak. Siapapun itu. Bahkan termasuk Jojo temanmu. Hanya saja... Tuhan bekerja dengan cara yang sangat misterius.""Ya... semua orang memang layak." Bisik Fatih.
Hikiko
Tercatat dalam sejarah, Hikiko adalah gadis kecil yang selalu menyeret bonekanya. Namun, setelah didekati, ternyata yang diseret bukanlah boneka, melainkan mayat manusia.Menurut catatan yang beredar di Jepang, Hikiko tewas mengenaskan karena sebuah penyiksaan. Ia kerap kali dirisak, ditindas, dan disiksa oleh orang tua maupun teman-teman di sekolah. Tidak ada alasan lain mengapa mereka berbuat hal sekejam itu. Hanya karena Hikiko berperangai aneh, juga rambut panjang yang menjuntai sampai lutut.Betapa ia membenci angka 2020. Konon katanya, angka tersebut adalah angka kematian. Di mana, gadis kecil itu tewas pada jam 20:20 malam. Terdengar tidak masuk akal, namun setelah membaca kabar ini, kamu akan menyesal tidak mempercayainya.Tanggal 11 Januari 1987, seorang gadis cantik bernama Haruka ditemukan tertidur tanpa kepala. Ia tinggal sendirian di kamar dengan nomor 2020. Pada tanggal 20 Oktober 1996, Arata Nakagawa tewas dengan anggota tubuh terpisah saat menulis angka 2020. Dan masih banyak lagi daftar kematian yang tercatat. Terhitung sudah 2019 jiwa yang tewas dengan sebab yang belum diketahui. Mereka menduga, angka tersebut dapat memanggil si hantu kecil Hikiko.Aku bergidik ngeri, seseram itukah angka 2020? Mengingat banyak mitos-mitos yang beredar, sepertinya hantu Hikiko juga hanya sekadar mitos. Biasanya, para orang tua jaman dulu sering bercerita seram untuk menakut-nakuti anaknya yang susah tertidur. Jika memang Hikiko itu nyata, di tahun ini pasti akan memakan banyak korban.Di malam yang hampir larut ini, perutku malah susah diajak kompromi. Mulas, seperti diremas-remas. Padahal, hanya makan sedikit cabai. Dasar lemah, pedas sedikit saja minta dikeluarkan. Untung saja, lampu kamar tidur hingga jalan menuju kamar mandi lumayan terang. Kelihatan sekali kalau aku penakut, terutama fobia kegelapan. Mati lampu sekejap saja rasanya ingin berteriak.“Mama, temani aku ke kamar mandi!” teriakku.Beberapa menit kemudian, aku menepuk jidat. Ah, lupa kalau Papa dan Mama pergi ke luar kota. Untuk malam ini, harus berani ke kamar mandi sendiri.Akhirnya, selepas bergelut dengan perut, rasanya lega. Lebih lega lagi tidak ada hal yang menakutkan terjadi. Mungkin aku yang terlalu berpikir negatif. Sampai kembali ke kamar, kunyalakan lampu tidur. Bulu kuduk tiba-tiba meremang.**“Selamat pagi, Ayumi!” sapa Naomi saat aku duduk di bangku kelas.“Pagi!”Ah, anak ini, sangat antusias sekali menyapaku. Naomi dikenal sebagai siswi paling cantik dan juga pandai. Dengan sedikit kepolosan dan keluguannya, membuat ia tampak lucu seperti anak kecil. Umurku tak jauh beda dengannya. Naomi berusia 15 tahun, hanya terpaut satu tahun lebih muda dariku.Bel sekolah sudah berdering. Sensei Kitaro masuk dan memulai pelajaran.Entah mengapa rasanya membosankan di kelas ini. Sensei Kitaro adalah tipe guru dengan sistem mengajar yang santai. Berkali-kali aku menguap, dan berusaha menahan kantuk.“Ayumi!”Panggilan itu mengagetkanku. Rasa kantuk hilang ketika sensei melotot tajam. Kena, lagi.“Basuh wajahmu. Jangan tertidur di jam pelajaran saya!” sentaknya.Meskipun orangnya santai, tetap saja, ia risi dengan murid yang berleha-leha di kelasnya. Terpaksa, aku bangkit dan beranjak keluar kelas. Sekolah tampak sepi saat jam pelajaran dimulai. Biasanya, hanya ada satu atau dua orang saja yang keluar, untuk sekadar pergi ke toilet.Ketika mencuci tangan di wastafel, seketika terlonjak melihat air berubah menjadi cairan merah kental. Kaki mundur selangkah demi selangkah. Kemudian, menatap ekspresiku sendiri di pantulan cermin. Sekelebat bayangan kecil tiba-tiba melesat dari belakang. Kaki gemetar hebat sesaat sebelum siswi lain masuk. Cairan merah yang membanjiri wastafel, kembali menjadi bening seperti semula.Apa tadi hanya halusinasi? Tidak mungkin!Aku kembali ke kelas sambil lari terbirit-birit. Orang-orang menatap heran. Tapi, aku tak pedulikan itu. Hal mengerikan tadi lebih mengganggu di pikiran.**Sial sekali, tugas sekolah menumpuk mengharuskanku berkutik dengan buku-buku. Kalau saja besok tidak dikumpulkan, malas sekali untuk menyelesaikannya malam ini. Kutulis tanggal di bagian atas catatan tugas. Sempat termenung beberapa detik untuk mengingat tanggal hari ini.“Ah, iya. Sekarang ... tanggal 20 Januari 2020,” ucapku bermonolog.Baru sampai jam 20.00, mataku terserang rasa kantuk. Bahkan, hampir terjungkal dari kursi. Meski begitu, kupaksakan tetap terbuka sambil memakan camilan.Gelap.Tiba-tiba, lampu kamar mati tanpa sebab yang jelas. Padahal, tidak ada hujan ataupun angin. Apa lampunya rusak? Sesaat kemudian, kamar terang kembali. Aku dapat bernapas lega. Namun, terasa ada sesuatu yang janggal. Ke mana tanggal yang kutulis tadi?Aku tercekat. Angin yang besar masuk ke dalam kamar, sampai gorden ikut berseliweran. Kertas-kertas tugas terbang berhamburan. Bukannya cepat-cepat menutup jendela, aku justru terduduk dengan kepala menelungkup. Tubuh gemetar hebat, jantung berdegup tak beraturan. Ditambah, angin yang menggelabur membuatku semakin menggigil. Tuhan, tolong aku!Sampai akhirnya, embusan angin berhenti perlahan. Sebelum kututup jendela rapat-rapat, sebuah kertas kecil mendarat di meja. Aku bergidik ngeri. Namun, bermodalkan rasa penasaran yang kuat, kudekati meja selangkah demi selangkah. Betapa membuatku terbungkam, angka 2020 tercetak jelas dengan noda darah.Seorang gadis kecil melotot ke arahku dari jendela. Ia tertawa dengan deretan gigi yang hitam. Rambut panjang menjuntai sampai lutut. Wajahnya sulit digambarkan karena hancur tak berbentuk.Panas dingin menjalar ke seluruh tubuh. Rasa takut menyerang hebat sampai membuatku terkulai lemas. Lidah seakan kelu, semua terwakili oleh air mata yang membanjiri. Sekadar bernapas pun, begitu sesak dan pengap. Bahkan, detak jantungku sendiri dapat terdengar.Gadis itu mendekat sambil tertawa. Menyeret-nyeret boneka penuh noda darah. Kupaksakan kaki ini berdiri, menggapai pintu yang tak jauh dariku.Terkunci!Kugebrak-gebrak berkali-kali. Namun nihil, pintu seolah terkunci rapat dari luar. Aku menangis tersedu-sedu. Ternyata benar, Hikiko bukanlah mitos hantu belaka. Dia benar-benar ada. Mendatangi kamar, dan siap mengantarku pada malaikat maut.“Kumohon ... jangan sakiti aku,” lirihku sambil terisak.Tetapi, gadis itu malah menarik bibir, tersenyum menyeringai. Aku menelan saliva dengan susah payah. Tiba-tiba, leher tercekik hingga kaki tak menyentuh lantai. Tuhan, tolong ....Bruk!Tangan yang mencekik leher, terlepas. Tubuh jatuh tersungkur membentur lantai. Rambut panjang itu, menyapu wajahku. Terlihat rupa wajahnya yang menyeramkan. Aku sulit bernapas, ketakutan yang menyerang begitu menyesakkan.“Dua ribu dua puluh,” ucapnya samar-samar.Apa maksud yang dia katakan?Aku baru tersadar, kulirik jam dinding yang berdenting. Sekarang adalah tanggal 20, tahun 2020, dan tepat jam 20:20. Atau mungkin ... ah, jangan sampai terjadi!Matanya yang hampir terlepas, melotot tajam ke arahku. Jarak kami hanya sekitar lima senti. Sangat dekat, nyaris menempel. Aku tak dapat melakukan apa-apa. Seakan tubuh ini, ada yang mengendalikan. Darah segar keluar dari mulutnya. Tepat mengucur ke wajahku. Bau anyir dan busuk menyatu padu hingga membuatku mual.Hanya sedetik, sesuatu tampak masuk ke dalam perut. Tangan mungil itu mengoyak organ-organ di dalamnya. Inikah isyarat yang dia katakan? Aku adalah korban yang ke-2020. Menyesal tidak mempercayainya. Harusnya aku sudah tertidur di jam ini. Menggeluti dunia mimpi, tanpa mengundang hantu si kecil Hikiko. Tubuhku terseret meninggalkan jejak darah di lantai. Sebelum nyawa terlenggut, kupesankan agar cepat tertidur sebelum jam 20:20 malam. Jangan menulis angka tersebut, memilih, atau apa pun yang berhubungan dengan 2020.Hikiko itu nyata. Tolong percayalah, atau kau akan menjadi korban yang ke-2021. Gadis kecil itu akan datang ke kamarmu, dan siap menggorok leher hingga terputus.
Jam Berdentang
Kira-kira satu bulan yang lalu, Ayahku membawa sebuah jam bandul besar—seukuran lemari—ke ruang tamu. Ia bercerita bahwa jam itu dibelinya dari seorang kakek tua yang hidup sebatang kara. Kakek itu menjual jam tersebut karena sangat membutuhkan uang. Ayahku membeli jam bekas itu seharga enam ratus ribu rupiah.Suatu malam, saat kami sedang makan malam bersama, tiba-tiba jam itu berdentang. Anehya, dentangannya tidak sesuai dengan waktu yang ditunjukkan. Ketika jam menunjukkan pukul 08.00, jam itu justru hanya berdentang dua kali. Aku berpikir jam itu rusak, karena setahuku jam bandul seharusnya berdentang sesuai jumlah jam.Aku menyarankan agar Ayah menjual atau membuang jam itu. Namun Ayah menolak. Ia justru berpesan agar kami jangan pernah menjual atau membuang jam itu, bahkan setelah ia tidak ada di dunia ini. Saat itu aku heran, karena Ayah jarang sekali berbicara soal kematian.Delapan hari setelah kejadian itu, kabar buruk datang. Ayah meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.---Setelah Ayah meninggal, jam itu tetap berada di ruang tamu, namun tidak kami gunakan lagi karena baterainya habis. Suatu malam, saat makan malam, Ibu meminta kakakku untuk membeli baterai baru. Keesokan harinya, sore yang cerah, aku dan kakakku membersihkan jam itu dari debu, lalu mengganti baterainya.Ketika jam itu kembali menyala, dentangannya terdengar normal sesuai waktu. Namun keesokan paginya, saat kami sarapan, jam itu berdentang tiga kali ketika waktu menunjukkan pukul 07.00. Firasatku langsung buruk. Aku hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja.Tapi doa itu tidak terkabul.Beberapa hari kemudian, Ibu jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit. Ia meninggal dunia pada bulan Maret.---Kematian Ayah dan Ibu adalah pukulan terberat dalam hidupku. Berhari-hari aku hanya bisa menangis di kamar, merindukan mereka, dan berdoa agar mereka bahagia di alam sana.Suatu hari, saat aku sendirian, bel rumah berbunyi. Ternyata tanteku datang bersama suami dan anaknya. Ia membawa bahan-bahan pokok serta uang lima ratus ribu rupiah untuk membantu kami. Ia juga memberi nasihat agar aku tetap tabah.Sore harinya, aku membagi uang itu dengan kakakku. Namun malamnya, ketika kami makan bersama, jam itu kembali berdentang tiga kali, padahal jam menunjukkan pukul 09.00. Aku langsung sadar bahwa jam itu tidak normal.Aku berkata pada kakakku bahwa jam itu mungkin terkutuk.Kakakku menolak percaya. Ia bilang semuanya hanya kebetulan. Tapi aku mengingat sesuatu:Sebelum Ayah meninggal, jam itu berdentang dua kali pada pukul 08.00 malam. Ayah meninggal delapan hari setelah dentangan itu.Saat Ibu meninggal, jam itu berdentang tiga kali pada pukul 07.00, dan Ibu meninggal tujuh hari setelahnya.Kakakku masih menyebutnya kebetulan. Aku hanya diam.---Keesokan harinya, kakakku mendapat telepon dari suami tanteku. Suaranya sangat sedih. Ia memberi tahu bahwa sepupu kami, Sella, yang berusia sepuluh tahun, meninggal dunia tanpa sebab. Kami pun menghadiri pemakaman kecil itu. Tanteku tampak tegar, tapi aku bisa merasakan hatinya rapuh.Sepulang pemakaman, aku mengambil palu di dapur. Aku berdiri di depan jam itu, berniat menghancurkannya. Namun kakakku tiba-tiba muncul di belakangku. Ia berkata bahwa jika aku menghancurkan jam itu, berarti aku tidak menghargai pesan Ayah.Dengan kesal aku menjawab bahwa jam itu membawa sial dan terkutuk.Tanpa peringatan, kakakku menamparku sangat keras.Ia lalu mengejekku, menyebutku bodoh karena percaya jam itu terkutuk. Mendengar ejekannya, amarahku memuncak tanpa kusadari. Aku berjalan ke dapur, mengambil palu yang tadi, lalu melemparkannya ke wajah kakakku.Ia tersungkur ke lantai.Dalam keadaan panik, aku memungut palu itu lagi dan memukulkannya berulang kali ke kepalanya sampai ia tewas berlumuran darah.Saat itulah aku sadar… akulah yang membuat kutukan itu menjadi kenyataan.---Tiba-tiba jam itu berdentang tiga kali pada pukul 01.00 malam. Lalu terdengar suara tawa seorang perempuan—tawa yang mengerikan, bahagia, namun membuat seluruh tubuhku merinding.Ketika kakakku akhirnya terdiam untuk selamanya, aku memutuskan menjual jam itu. Aku memotretnya diam-diam dan memasang harga murah, dua ratus ribu rupiah, di toko online.Namun setelah kupasang, jam itu kembali berdentang tiga kali—tepat pukul 01.00.Firasatku langsung buruk.---Keesokan harinya, ada pesan dari calon pembeli. Ia bilang akan datang hari itu, tanpa menyebut jam berapa. Aku menunggunya. Sore hari, pembeli itu datang dan melihat-lihat jamnya.Tak lama kemudian, kakakku (yang masih hidup pada bagian ini dalam ceritamu—jadi ini flashback sebelum ia tewas) pulang dan bertanya siapa pemuda itu. Aku menjelaskan bahwa ia pembeli jam tersebut.Kakakku marah besar dan mengusir pembeli itu.Setelah itu ia memarahiku habis-habisan.Kemudian… terjadilah kejadian yang membuatku masuk penjara: pertengkaran, palu, darah, dan kematian kakakku.Besoknya aku menyerahkan diri ke polisi. Aku mengaku semua perbuatanku.---Beberapa tahun setelah kejadian itu, aku dibebaskan dari sel tahanan. Kini aku sudah dewasa, berusia sekitar tiga puluh tahun. Ketika kembali ke rumah, semua jendela berdebu dan jam itu tampak tidak lagi berfungsi.Hari itu juga aku memotret jam itu lagi dan menjualnya di toko online. Ada orang yang ingin membelinya seharga enam ratus ribu rupiah.Aku bersyukur jam itu akhirnya pergi dari rumah ini. Aku tidak menceritakan kutukan jam tersebut kepadanya—kalau kuceritakan, tentu ia tak akan membelinya.Dan kini… jam sial itu sudah tidak ada di rumahku.Hanya saja…Aku merasa rumah ini jauh lebih sepi daripada sebelumnya.Sangat sepi.---END
Tunangan Antagonis
Sinar matahari menerobos masuk memasuki celah jendela sebuah kamar dengan nuansa abu-abu.Perlahan mata lentik itu mengerjab memindai sekeliling."Gue masih hidup?"Bagaimana tidak heran? Dirinya baru saja mengalami kecelakaan pesawat. Kenapa bisa ia masih hidup? Terlebih dengan badan yang sehat bugar."Shhhh" gadis itu bangun dari tidurnya, matanya berkeliling memindai setiap sudutnya.Sebuah kamar yang cukup besar dengan nuansa abu-abu. Di dindingnya terdapat beberapa bingkai yang berisi lukisan abstrak dan pemandangan alam."Ini dimana?" Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.CklekkSuara pintu terbuka, lalu tampaklah seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster dengan rambut yang di cepol asal."Udah bangun ternyata, cepetan mandi di bawah ada Hades." Lalu wanita itu pergi disusul Dengan pintu yang tertutup rapat.Melihatnya membuat Rena mengernyit bingung.Banyak pertanyaan di benak RenaTadi itu siapa? Dan siapa Hades?Ini dimana?Apa dirinya telah diculik?Tapi kan seharusnya dirinya sudah matiSiapapun tolong beri Rena jawaban..!!"CK ini dimana sihh?!" Rena menyibak selimut yang membungkus dirinya lalu bangkit dari ranjangnya. Kakinya mendekat ke arah jendela. Ahhhh ternyata kamar ini berada di lantai dua.Di bawah sana tampak taman dengan berbagai jenis bunga yang bermekaranSangat indah pikirnyaLama dirinya termenung dalam pikirnya, gadis itu terkejut takkala sebuah tangan melilit di perutnya."Aaaaaa" teriak Rena takutSontak Rena berbalik lalu mendorong sosok itu agar menjauh.Nafas Rena tercekat, kenapa Rena tidak menyadari jika ada orang yang masuk ke kamar ini?"Si-siapa lo?!" Remaja laki-laki itu mengerutkan dahi. Lalu tanpa dipinta dia duduk pada sebuah meja belajar. Memandang Rena intes."Mandi" ucapnya dengan gerakan dagu mengarah pada sebuah pintu yang Rena tebak adalah kamar mandi.Alih-alih menuruti perintah remaja laki-laki itu Rena beringsut menjauh dengan berjalan mundur, lalu berlari kencang keluar kamar, meninggalkan remaja laki-laki yang kini menatap jendela bekas Rena berdiri dengan tatapan rumit.🍁🍁🍁🍁🍁Rena berlari hingga keluar rumah, nafasnya ngos-ngosan dengan degub jantung yang bertalu-talu.Ini aneh, kenapa Rena bisa tidak nyasar saat ingin keluar rumah?Apa kepanikan memberi kekuatan tak terduga?Berpikir jika ini adalah sebuah kebetulan, Rena mendekat pada seorang wanita paruh baya yang sedang menyirami tanaman. Dia bukan wanita yang tadi, tapi dilihat pakaiannya sepertinya dia adalah pembantu di rumah ini."Per-permisi?" Wanita itu menoleh."Nona? Anda butuh sesuatu?" Jawabnya."Saya mau tanya, ini di mana ya?" Sekejab wanita itu menatap Rena bingung di susul tawa kecil yang membuat Rena menatap wanita itu aneh."Nona mau ngeprank saya lagi ya? Maaf ya kali ini gak akan kena?"Ngeprank gundulmu , kenal aja kagakRena merasa dongkol. Sudah bangun di tempat asing, ketemu orang-orang aneh pula. Sial sekali hidupnya.Ehh dirinya ini masih hidup atau sudah mati sihh..?!"Maaf ya mbak tapi saya serius, atau jangan-jangan mbak yang lagi ngeprank saya ya?" Tuduh Rena menahan kekesalanya."Sudahlah nona Rana, menyerahlah kali ini saya gak akan kena."Apa tadi, Rana? Hey namanya Rena"Maaf ya mbak kita kenal saja enggak,buat apa saya ngeprank anda. Dan lagi nama saya Rena bukan Rana."Rena menunjuk mulutnya lalu menyebut namanya dengan nada menekan"Rrreeeeennnaaaaa.... R-e-n-a..!!""Sejak kapan nona Rana ganti nama? Perasaan tuan dan nyonya gak pernah nyuruh saya bikin bubur." Santai wanita yang Rena duga adalah pembantu rumah ini dan kembali fokus menyirami tanaman sang majikan.Lagi-lagi Rena dibuat bingung dengan jawaban wanita aneh ini. Aisshhh kenapa kepalanya kini malah nyut-nyutan."Orang aneh" gumam Rena dongkol"Ya Nona?"Rena menatap wanita itu malas."Disuruh siapa sih mbak?" Dengus Rena kesal"Hah?"Rena menggeleng lirih. Dirinya lalu duduk dengan kedua lutut yang ditekuk.Tiba-tiba kepalanya merasakan sakit. Dirinya memegang kepala yang terasa nyut-nyutan serta perut yang terasa mualSemakin lama sakit kepalanya semakin menjadi. Rasanya seperti di tusuk oleh sesuatu yang tajam."Shhhhh" desis Rena kesakitanWanita tadi kelabakan. Dengan sembarang dia membuang selang di genggamannya."Ehhh nona kenapa?" Paniknya"Sa-sakittt...""Nona...nona Rana kenapa..!?"Perut Arana semakin mual. Rasanya ada sesuatu di perutnya yang terdorong ke kerongkongan.Laluuu"Huwekkkk...huwekkkk""Nonaa..!!"Setelah itu semuanya gelap.Ini gilaBagaimana bisa?Perpindahan jiwa? Sangat tidak masuk akal.Dirinya yang amat tak percaya tentang transmigrasi jiwa, kini malah mengalaminya.Transmigrasi yang nyata itu adalah perpindahan penduduk. Bukan hanya jiwanya saja tapi raganya juga ikut.Apasih namanya?Lupakan ituKarena nyatanya Rena mengalaminyaMengalami perpindahan jiwaCatat..!! Hanya jiwanya sajaRaganya? Entahlahh...mungkin sudah habis dimakan megalodon.Tadi, dalam pingsannya Rena bermimpi jika sekarang dia berada di dalam tubuh seorang figuran novel yang bernama Arana Wilson.Rasanya Rena ingin tertawa dengan kekonyolan ini.Maksudnya, siapa yang bakal percaya jika orang bisa berteleportasi ke dunia lain?Waktumu sudah habis RenaIni adalah tubuhmuMulai sekarang hiduplah sebagai Arana WilsonSuara sialan yang tak bertuan itu, bolehkah Rena mencekiknya?Ohh atau jangan-jangan, selama ini hidupnya dikendalikan oleh mahkluk empat dimensi. Jika manusia yang merupakan mahkluk tiga dimensi bisa menciptakan mahkluk dua dimensi, berarti bisa jadi para mahkluk tiga dimensi juga dikendalikan oleh mahkluk empat dimensi bukan?Ohhh Tuhan sepertinya Rena sudah tidak mempunyai kewarasan lagi"Masih sakit?" Lamunan Rena buyar. Gadis itu menoleh ke sumber suara. Di sana, tepatnya di depan pintu, remaja laki-laki yang tadi seenak jidat memeluk Rena berdiri dengan membawa nampan yang Rena yakini berisi makanan.Dengan langkah tegasnya dia menghampiri Rena, duduk di tepi ranjang dan menatap Rena intes."Makan" Astaga... suaranya mengingatkan Rena pada JisungAlih-alih mengikuti perintah pemuda itu Rena menatapnya penuh tanya."Lo.... Hades?"Enggan menjawab pemuda itu mengambil piring, menyodorkan sendok pada Rena.Anehnya Rena menurut. Enggan memberontak sampai makanan itu habis.Ya...Karena dirinya juga lapar siihh...Lalu pemuda itu juga menyodorkan gelas dan Rena menerimanya kembaliMelihat sesuatu yang aneh pemuda itu menarik tangan Rena membuat gelas di genggaman Rena hampir tumpah."Mana?" Rena menatap pemuda itu bingung"Apa?""Cincin" Rena juga menatap tangannya. Bingungnya bertambah."Cincin" gumamnya"Cincin pertunangan kita Arana."Ohhh God dia beneran Hades.*****Novel My Cruel Mate. Novel yang sedang booming di kalangan pecinta novel. Novel dengan genre dark romance.Bercerita seorang remaja sma yaitu Malvin Wijaya jatuh cinta dengan Mira de Louis. Tentu tidak akan seru jika kisah asmara mereka berjalan lancar, lalu terciptalah antagonis.Salah satunya adalah Hades Giovandrick, dia dikenal sebagai antagonis paling ganas diantara antagonis lainnya. Tidak diceritakan secara detail bagaimana kehidupan dari seorang Hades. Hanya saja dituliskan jika Hades sudah memiliki tunanganTidak diceritakan secara detail bagaimana kisah hubungan asmara Hades dengan tunangannya. Mungkin karena Hades hanyalah peran pembantu atau Hades hanya bumbu pedas untuk membuat cerita lebih menantang.Dan sekarang Rena harus terperangkap dalam tubuh dari Arana. Ini tidak masuk akal tapi ini benar-benar terjadi.Tuhan, apa yang harus Rena lakukan ketika Rena saja tidak tau bagaimana hubungannya dengan HadesBaik?Tidak baik?Biasa saja?Dingin?Atau bahkan pasangan bucin?Tolong, bolehkah dia menjedotkan kepala pada dinding?"Rana?"Rana tersentak dari lamunannya, lalu menatap seorang pria paruh baya dengan pakaian kantornya. Dia adalah Dika Wilson, ayah dari Arana Wilson."Ehh i-iya?" Rana menjawab linglung"Kenapa makan nya gak selera gitu? Makanannya gak enak?"Rana kelabakan, jujur saja dirinya masih merasa asing dengan dunia ini begitupun dengan para tokohnya. Sebelumnya mereka tidak saling mengenal bukan? Lalu sekarang secara tiba-tiba disatukan menjadi keluarga. Ahh walaupun disini hanya jiwa Rena yang tidak mengenali mereka."Enggak kok p-pa, makanannya enak" Arana tersenyum kikuk"Kamu sakit?" Kini pandangan Rana beralih pada seorang wanita kini menatapnya khawatir. Dia wanita berdaster kemarin. Namanya Dela Wilson, ibu dari Arana.Rana menggelengkan kepala sebagai jawaban. Lalu mulai fokus pada makanannya."Aku baik-baik aja"ujar Arana pelan lalu mulai memaksakan makan."Oh ya, kata mama, kemarin Hades kesini?" Dika kembali membuka obrolan.Rana berhenti mengunyah lalu mengangguk singkat."Bagaimana hubungan kalian sekarang?""Maksud papa?""Kalian jadi lebih dekat mungkin?" Tebak Dika yang membuat Arana berspekulasi yang tidak-tidakRana termenung, jadi selama ini hubungannya dengan Hades tidak rukun apa bagaimana?"Kayaknya ada kemajuan deh pa, kemarin aja mereka seharian di kamar. Berdua doang lagi." Ujar Dela tanpa beban yang diakhiri tawa cekikikan.TakkkDika berhenti memotong roti panggangnya lalu menatap Rana dengan alis bertaut."Ak-aku gak ngapa-ngapain!" Rana panik. "Suerr!!" Lanjutnya dengan menunjukan tanda peace."Emangnya papa tanya kamu ngapain aja sama Hades?"DamnRana menatap Dika memelas. "Paaa" rengeknya."Hahaha, ya ampun Rana. Kenapa panik gitu? Emang kemarin ngapain aja sama Hades?" Goda Dela yang tambah membuat Rena frustasi."Gak ngapa-ngapain ma" lirihnya.Dela mengulum senyum jenaka "Ngapa-ngapain juga gak papa kok, asal setelah itu mau dinikahin."Pantatmu"Gak boleh ya ma, nunggu sah dulu." Dika bersuara."Papa gak mau putri papa hamil di luar nikah. Apalagi jika mental Rana belum siap. Jangan sampai Rana nanti menikah dalam keadaan terpaksa." Dika berujar tegas, namun Rana tahu ada nada kekhawatiran di sana. Untuk sekejab perasaan Rana menghangat.Dela menghela nafas lalu dengan gemasnya mencubit pipi anaknya"Iya-iyaa yang kesayanganya papa""Sakit maa""Utututu tayangnya mama sakit...? Mana yang sakit hm?" Lalu dengan lancangnya Dela mengecup pipi Rana yang tadi dia cubit."Ishh mama...." rengeknya."Sudah-sudah, Rana cepat habiskan makananmu. Sebentar lagi Hades bakalan jemput."🍁🍁🍁🍁🍁Pagi ini SMA Cendana dihebohkan dengan kedatangan salah satu most wanted mereka dengan anak eksul Sastra.Hades Giovandrick yang terkenal akan sifat dinginnya sukses membuat gempar satu sekolah. Bukan hanya murid tapi guru dan kariawan lainya turut melongo melihat pemandangan yang satu ini.Selama ini Hades tidak pernah terlibat kasus asmara dengan siapapun. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang.Hades juga jarang berinteraksi dengan siswa lain."Lo ada hubungan apa sama Hades Ran?" Rana menatap gadis kucir kuda ini gugup.Arana sudah berada di kelasnya dan duduk di kursi nomor dua dari depan dengan deretan kursi paling jauh dari pintu."Hub-hubungan apa emangnya?""Yeuhh lo, ditanya malah tanya balik" Sasti menggeplak pelan kepala Rana membuat sang empu meringis pelan."Aduhh, sakit woy.""Sasti nakal banget, kasian tau Rana nya." Kata Lia."Diem lo" semprot Sasti membuat Lia langsung menutup mulutnya rapat-rapat dengan mata yang menatap memelas."Berisik!" Ketiga gadis itu berjengit. Menatap aneh pada Puput yang tengah bermain dengan angka di bukunya."Si Paling ambis" Rana mengangguk setuju mendengar bisikan dari Sasti.Rana menghela nafas panjang. Mereka adalah teman-teman Arana Wilson.Lalu dengan langkah gontainya dia duduk di bangku sebelah Puput si anak ambis.Jujur saja Rana masih berharap ini adalah mimpi.🍁🍁🍁🍁🍁Rasa lega melingkupi Arana ketika hajatnya telah terselesaikan. Gadis itu lalu mencuci tanganya pada wastafel.CklekkkkArana tahu, ada seseorang yang masuk, namun dirinya cuek-cuek saja. Palingan juga orang mau pipis."Ohhh....haii...Arana..."Merasa nama raga ini dipanggil, Arana menoleh. Di sampingnya berdiri seorang gadis yang sedikit lebih tinggi darinya tengah tersenyum lembut.Cantik banget gilaaaa....."O-ohhh..haiii.." Arana membalas tersenyum kikuk setelah itu mematikan kran yang baru dipakainya."Duluan yaaa..." Pamit AranaLalu ia, mengambil beberapa lembar tisu yang tersedia dan hendak meninggalkan toilet, namun gadis asing tadi menghentikan langkahnya."Arana..."Arana menoleh ke belakang menatap penuh tanya."Seberapa indah masalalu kalian...tetap saja, sekarang dia udah jadi milikku""Hahh...?"Gadis tadi kembali tersenyum lembut lalu berjalan menuju Arana, sempat menepuk pundak Arana dua kali, gadis itu berbisik pelan."Jadi.... siapa di sini pemenangnya?"Fakta baru yang Arana dapatkan. Tidak ada yang tahu tentang pertunanganya dengan Hades dan itu cukup membuat Arana bernafas lega.Ehh tapiGara-gara dirinya berangkat bareng Hades tadi pagi, dirinya berhasil jadi bahan gosib murid SMA Cendana.Tapi lupakanlah...harusnya dirinya siap, jika hidupnya tak akan sama. Hidup tenangnya telah hilang...Ohhh....menyedihkan sekali...Dengan pelan Aranaa memakan batagor yang dia pesan di kantin sekolah.Entahlah, sejak hidup di dunia semu ini Rana tidak memiliki nafsu makan yang bagus.Bagaimana punya nafsu makan jika sedang dilanda musibah? Yaa..ini adalah sebuah musibah bagi Arana."Kenapa Ran? lesuh gitu." Arana menoleh pada Sasti lalu menggeleng pelan."Kenyang." Lalu dia meletakan sendok dan membersihkan mulutnya menggunakan tisu yang memang tersedia di meja kantin."Masih banyak batagor nya Ran.""Kalo mau buat lo aja""Aisshhh makasih Rana cantik" dengan semangat Lia menggeser piring Arana untuk mendekat dan memakannya tanpa beban."Enak!" Serunya membuat Arana tersenyum tipis. Sangat tipis.Lalu dia menelungkupkan kepalanya pada meja. Memandang Puput yang memakan mie ayamnya disambi membaca buku sejarah kedatangan bangsa barat di Indonesia .Benar-benar anak ambis.Lama-lama matanya memberat. Kebisingan kantin samar-samar menghilang. Tidak setelah mendengar sesuatu yang terbanting.PyarrrrrArana terkejut dari kantuknya. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara itu. Kantin yang tadinya riuh semakin riuh."Ada apa" Tanya Arana serak."Itu Malvin mecahin piringnya Mira."DegKantuk yang tadi hinggap terbang entah kemana digantikan dengan degub jantung yang bertalu-talu."Siapa? Malvin? Mira?""CK iyaa, makanya jangan molor aja.""Huhh" gadis itu mendengus."Emangnya kenapa? Emm maksudnya masalahnya apa?" Arana kembali bertanya.Apakah alur tetap berjalan semestinya?Sasti meletakan ponsel yang sejak tadi ia mainkan lalu menghadap Arana."Biasa, sifat keposesifanya Malvin kambuh. Lo tau sendiri kan gimana dramanya pasangan yang satu ini."Arana termenung"Coba pikir deh, gara-gara Mira bicara sama Bobi aja dia marah. Toxic banget tau gak.""Mira juga, udah tau Malvin gak waras, masih mau aja."Arana paham, karena di dalam novel memang di ceritakan jika Malvin adalah sosok yang sangat posesif dan penuh dengan obsesi terhadap Mira.Tidak seharusnya Sasti mencibir Mira, karena sebenarnya Mira juga terpaksa.Dan satu rahasia yang para tokoh tidak ketahuiMalvin dan MiraMereka sudah menikahJadi alur novel tetap berjalan semestinya?Adegan ini adalah ketika Mira bertanya pada Bobi tentang acara gelar karya dan bazar yang akan dilangsungkan di SMA Cendana. Pada saat itu Malvin marah besar dan langsung menyeret Mira pulang tak peduli jika masih dalam jam pembelajaran.Tapi bukan itu point pentingnya, Karena ketika mereka sampai di apartment Malvin. Protagonis pria itu menyiksa Mira. Menyayat bahu Mira membentuk sebuah tulisan 'Malvins'Yaaaa dia psikopatMemang harus seperti iniArana berharap alur tidak akan melenceng hanya karena kehadiranya."Tapi Malvin tuh ganteng Sas, gak salah lah kalo Mira tetep mau."Suara itu membuat Arana kembali sadar dari pikiranya."Buat apa ganteng kalo gila." Lia mendengus mendengarnya."Puput mana?""Kabur duluan, dia kan paling anti sama keributan."Arana paham, sahabat Arana yang satu ini. Entah sudah berapa kali Arana harus merasa insecure dengan keambisan Puput."Sekarang, Malvin sama Mira nya kemana?" Arana celingak celinguk."Udah pergi, mana perginya pakai seret-seretan. Le to the bay lebay.""Terus-"Banyak tanya lo!"Sebenarnya Arana penasaran bagaimana rupa rupa mereka berdua.Apa... yang tadi di toilet itu.... Mira?🍁🍁🍁🍁🍁Arana mengemasi buku-bukunya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi tapi karena Arana harus menyelesaikan catatan biologi jadinya dia pulang sedikit terlambat.Menghela nafas panjang Arana keluar dari kelas dan betapa terkejutnya dia melihat pemuda berhody hitam sedang bersadar pada pintu."Pulang?""Hah??" Mengendikan bahu acuh pemuda tampan itu merangkul Arana lalu membawa mereka menjauh dari kelas."Gue pikir, lo udah pulang." Tidak ada jawaban. Hades mendorong Arana agar gadis itu masuk ke dalam mobil lalu disusul dirinya.Di perjalanan tidak ada suara. Hades yang irit bicara dan Arana yang malas berbicara. Sungguh pasangan yang klopLagi-lagi Arana melamun. Memikirkan nasib aneh yang menimpa dirinya. Bagaimana dirinya bisa masuk dalam cerita khayalan orang?"Mau makan?" Arana terkejut. Dengan cengo dia menoleh pada Hades."Gimana?"Pemuda itu menghela nafas panjang"Makan. Mau?"Sejenak Arana termenung, entah apa yang dia pikirkan. Sampai dirinya tersentak saat merasakan elusan di kepalanya."Jangan melamun.""Maaf""Hm, kita mampir ke BlueResto ya?"Malam ini langit terlihat sangat cantik, berhias ribuan bintang yang berkilau menemani bulan.Arana duduk di gazebo yang berada di taman belakang rumahnya. Mengenakan piyama bermotif bulan dan bintang. Walau malam ini cerah nyatanya sapuan angin malam berhasil membuat Arana berkali-kali menggosokan kedua tangannya.Arana kembali memikirkan tentang kelanjutan nasibnya. Jika di tanya apakah dia ingin menuruti alur novel, Arana akan menjawab dengan lantang 'tidak'Ohhh ayolah dirinya tidak ingin mati konyol hanya karena sebuah perasaan yang dinamakan cinta. Sangat bukan dirinya.Dirinya harus bisa menyelamatkan nyawanyaArana memandang jejeran bintang yang mempertontonkan keindahanya. Sangat cantik dengan kemilaunya.Lalu, dirinya tersentak kala sebuah selimut kecil bersandar di bahunya. Reflek dia menoleh ke belakang."Dingin" ucap orang ituArana diam tidak berniat merespon dan berposisi seperti semula. Lalu orang itu menyusulnya."Belum ngantuk?" Tanya nya, mengikuti Arana menatap hamparan langit malam.Arana menggeleng. Tanpa diduga dia bersandar pada bahu Hades. Pemuda itu sempet tersentak kemudian membiarkanya."Hades""Hm?"Arana membasahi bibirnya."Menurut lo, hubungan kita ini apa?"Pemuda itu menaikan salah satu alisnya. Kenapa gadis ini tiba-tiba bertanya seperti itu?"Maksudnya?" Tanya nya dengan mata yang senantiasa menatap langit.Arana berdebar, gadis itu menegakkan badannya."Selama kita menjalani hubungan ini, lo nyaman gak sih?"Pemuda itu terdiam hingga Hades tersenyum miring setelahnya"Menurut lo gimana?"Arana menghela nafas panjang. Dia turut memandang langit malam menerawang jauh akan gambaran nasibnya di waktu yang akan datang"Makanya gue tanya, karena yaaa gue gak tahu. Semisal lo terganggu dengan ikatan ini, gue gak papa kalo hubungan ini berakhir." Ucapnya tanpa melihat perubahan ekspresi Hades.Rahang itu mengeras, walaupun wajahnya terlihat tenang tapi satu yang pasti dia sedang menyimpan amarah."Kalo lo gak enak buat ngomong sama para orangtua, gue yang bakal ngomong. Lo gak usah pusing soal itu."Mendengarnya, membuat Hades terkekeh. Tangannya terulur merangkul Arana erat. Menyalurkan rasa hangat kepada gadis itu. Dan Arana menerima tanpa menolaknya. Entahlah, tapi Arana merasa nyaman."Sangat pengertian" bisik Hades.Lalu dengan lancang dia mengecup kening Arana cukup lama yang membuat empunya terkejut.Dia ingin marah tapi entah kenapa bibirnya kelu."Tidur ya? Lo kebanyakan ngelantur."Tanpa aba-aba Hades membopong Arana."Hades-"Sttttt"CupLagi-lagi kening Arana sebagai sasaran"Malam, Ara"🍁🍁🍁🍁🍁Di lain tempat, seorang gadis tengah meringkuk pada sebuah kamar.Matanya sembab rambutnya berantakan badannya bergemetar.CklekkMendengar pintu berdecit membuat ketakutan gadis itu semakin bertambah. Dirinya beringsut mundur sampai menabrak penyangga.Sampai di depan gadis itu orang itu tersenyum lebar. Dirinya berjongkok menatap sang gadis dari bawah.Sangat cantik pikirnyaPerlahan tangannya mengelus pipi sembab gadisnya."Makan, lalu tidur. Oke?""Hukumanya sudah selesai."
Lutung Kasarung
Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. "Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta," kata Prabu Tapa.Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. "Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya," gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. "Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !" ujar Purbararang.Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, "Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri". "Terima kasih paman", ujar Purbasari.Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga -bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. "Apa manfaatnya bagiku ?", pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. "Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !", kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang."Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku", kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, "Jadi monyet itu tunanganmu ?".Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.
Asal Mula Selat Bali
Suatu hari di Bali, hiduplah seorang brahmana yang kuat bernama Sidi Mantra. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahkan brahmana tersebut harta dan seorang istri yang cantik. Setelah beberapa tahun menikah, brahmana dan istrinya memiliki anak laki-laki bernama Manik Angkeran.Manik Angkeran tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan pandai. Namun, ia memiliki kebiasaan buruk: suka berjudi. Ia sering kalah dan memaksa orang tuanya menggadaikan barang-barang berharga sebagai taruhan. Ia bahkan tidak malu mengambil pinjaman. Karena tidak mampu membayar hutang akibat kebiasaan berjudi, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya.Sidi Mantra berpuasa dan berdoa memohon bantuan para dewa. Tiba-tiba ia mendengar suara gaib yang berkata, “Sidi Mantra, ada harta yang dijaga oleh naga bernama Naga Besukih di kawah Gunung Agung. Pergilah ke sana dan mintalah sebagian hartanya.”Sidi Mantra pun pergi ke Gunung Agung. Ia mengatasi segala rintangan selama perjalanan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, ia duduk bersila. Saat membunyikan bel, ia membaca mantra dan memanggil Naga Besukih. Tidak lama kemudian naga itu muncul. Setelah mendengar tujuan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat, dan dari sisik-sisiknya keluarlah emas dan berlian. Sidi Mantra berterima kasih dan pamit pulang.Sesampainya di rumah, Sidi Mantra memberikan semua harta itu kepada Manik Angkeran, berharap ia berhenti berjudi. Namun, Manik Angkeran menghabiskan semua harta itu. Tidak lama setelahnya, ia kembali meminta bantuan. Kali ini Sidi Mantra menolak. Ia kecewa dengan putranya.Manik Angkeran tak tinggal diam. Ia mencari tahu dari mana ayahnya memperoleh harta tersebut. Ia akhirnya tahu bahwa harta itu berasal dari Gunung Agung. Ia juga tahu bahwa untuk mendapatkan harta itu, ayahnya menggunakan bel dan mantra tertentu. Karena ia tidak pernah belajar mantra, ia mencuri bel ayahnya ketika Sidi Mantra sedang tidur.Manik Angkeran pergi ke kawah Gunung Agung dan membunyikan bel. Ia ketakutan saat Naga Besukih muncul. Namun, setelah mendengar keinginannya, naga itu berkata, “Aku bisa memberimu harta seperti ayahmu, tetapi kamu harus berjanji berhenti berjudi. Ingatlah hukum karma.”Manik Angkeran terpesona melihat emas dan berlian. Keserakahannya muncul. Ketika Naga Besukih berbalik untuk kembali ke sarang, Manik Angkeran menebas ekor naga itu. Ia segera melarikan diri. Namun Manik Angkeran tidak tahu bahwa Naga Besukih adalah makhluk yang sangat kuat. Ketika sang naga mengibaskan ekornya ke tanah, api besar muncul dan membakar Manik Angkeran hingga menjadi abu.Melihat putranya mati, Sidi Mantra sangat sedih. Ia mencari Naga Besukih dan memohon agar putranya dihidupkan kembali. Naga Besukih mengabulkan permintaan itu, tetapi meminta Sidi Mantra menyembuhkan ekornya. Dengan kekuatan spiritualnya, Sidi Mantra mengembalikan ekor naga ke bentuk semula.Setelah dihidupkan kembali, Manik Angkeran meminta maaf dan berjanji tidak mengulang kesalahannya lagi. Sidi Mantra mengetahui putranya sudah bertobat, tetapi ia juga sadar bahwa mereka tidak bisa hidup bersama lagi.“Kamu harus memulai hidup baru,” kata Sidi Mantra. Dalam sekejap, ia menghilang. Di tempat ia berdiri, muncul sumber air besar yang terus membesar hingga membentuk lautan. Dengan kekuatan gaib, Sidi Mantra membuat garis air yang memisahkan dirinya dari putranya.Garis air itu kemudian menjadi Selat Bali, yang memisahkan Pulau Bali dari Pulau Jawa.
JEALOUSY
Aku menatapnya dari kejauhan. Dia cantik. Sangat cantik! Dan aku mencintainya dengan teramat sangat.Aku ingat saat awal aku mendekatinya. Namanya Veanna Angelica Sanjaya. Dia sangat populer. Ada perasaan takut diabaikan.Nekat aku minta pin bb nya dari teman dekatnya yang ku tau sering bersamanya. Lalu dengan hati berdebar, ku invite dia.Demi Poseidon sang penguasa lautan, aku berjingkrak kegirangan saat dia menerima undangan pertemananku. Tapi aku bingung akan memulai dari mana.Kucoba mengetik sesuatu, namun segera kuhapus. Kuketikkan lagi sebuah kalimat pembuka, kuhapus lagi. Terus begitu berulang-ulang.Hingga sahabatku hilang kesabaran melihat tingkahku. Diambilnya ponselku, dan ia mengetikkan sesuatu di sana. Lalu diserahkannya kembali ponselku.Kubaca dalam hati dan tegang menunggu balasan darinya.Aku : Hai .Vea : Hai jugaAku membelalak dengan jantung berdegub kencang. Dia membalas chat ku!Tapi sedetik kemudian aku kembali bingung. Aku harus membalasnya apa lagi?Kupandangi layar ponselku hampir tak berkedip.Rupanya sahabatku mengetahui kegugupanku. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kembali ponselku dan mengetikkan sesuatu kembali di sana.Aku : Boleh kenalan? Namaku Andi.Ponselku sudah kugenggam kembali. Mataku melotot menunggu balasan ya kembali.Vea : Aku tau. Kamu Andi yang kapten basket itu kan? Yang juga pengurus osis sie bidang olahraga?HAH? Dia tau aku? Hatiku mengembang. DIA MENGENALKU!Aku : Betul. Kok kamu tau?Vea : Siapa yang tidak tau Kapten Basket SMA Bintang Timur?Aku : masa sih aku sepopuler itu? Masih populer kamu kali.Vea : Kata siapa? Aku kan cuma siswi biasa.Aku : Siswi biasa yang cantik dan populer.Vea : Nggak ah. Biasa aja kok.Aku tersenyum senang. Kulanjutkan chat ku yang selalu ditanggapinya.Selama berhari-hari, aku dan dia terus chatting melalui bbm. Bahkan pembicaraan kami sudah meningkat menjadi semakin akrab.Aku bahkan berani terang terangan menunjukkan rasa sukaku terhadapnya. Perlahan aku mendekatinya di sekolah.Aku semakin akrab dan dekat hingga tanpa terasa tiga bulan sudah aku dekat dengannya.Aku bahkan sudah mengatakan kalau aku menyukainya, bahkan mencintainya.Ya, meskipun ia tidak pernah mengiyakan pernyataan sukaku padanya, tapi dari tingkah laku dan kata-katanya saat chatting denganku, aku bisa menyimpulkan bahwa ia juga menyukaiku.Semakin lama, aku semakin menyayanginya, mencintainya.Aku teringat saat pertama kali menemuinya di kantin sekolah. Ia tampak tersipu malu-malu. Sangat menggemaskan, membuatku semakin ingin memilikinya, menjadikannya satu-satunya ratu dihatiku.Aku tidak mengerti dengan diriku yang begitu ingin menjadikannya milikku. Aku begitu cemburu melihatnya dekat dengan teman laki-laki dikelasnya. Bahkan aku cemburu dengan setiap lelaki yang berada di dekatnya.Jujur, aku benar-benar tersiksa dengan perasaanku yang begitu posesif terhadapnya.Aku berusaha menekan kecemburuanku setiap kali ia dekat dengan teman-teman lelakinya. Aku takut kehilangannya.Melihatnya bercanda dan tertawa bersama Andreas teman seangkatannya, sudah membuatku kalang kabut dan merajuk melalui chat ku di bbm dengannya.Belum lagi saat ia bertaruh dalam game online dengan Pandu dan Ernest, membuatku seperti kebakaran jenggot.Entah kenapa, banyak sekali teman dekatnya yang berjenis kelamin cowok.Hmm, aku ingin membuatnya melihat kepadaku saja. Aku yakin ia juga mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Toh selama ini dia terus membalas chat ku dan mengimbangi ungkapan sayangku padanya, meskipun ia selalu mengelak saat aku mengatakan bahwa aku mencintainya dengan mengatakan bahwa ia masih ingin bebas berteman. Tapi ia tidak keberatan dengan semua perhatianku, bahkan ia tampak begitu malu-malu dan menggemaskan saat aku menggodanya.Lima hari lagi ia berulang tahun yang ke 17. Aku ingin memberinya sesuatu yang berkesan untuknya.Teman-teman nya mengatakan bahwa gadis cantikku akan mengadakan pesta di sebuah hotel berbintang. Undangan sudah berada ditanganku. Ya, ia mengundangku.Dengan panik aku mulai mencari hadiah yang pantas dan berkesan untuknya. Seperti orang gila, aku mencari kado special untuknya. Setiap toko kumasuki hanya untuk mencari sesuatu yang pantas untuk kuberikan pada gadis cantikku."Sebenarnya lo mau ngasih kado apa sih?" kudengar pertanyaan bernada jengkel dari sahabatku, Steven."Gue masih belum menemukan yang pas untuk Vea, Stev. Lo ada ide gak?" aku balik bertanya."Boneka? Tas? Cincin? Kalung? Bunga? Baju? Sepatu? Jam tangan?" dengan malas Steven menyebut semua barang yang ada di otaknya."Aaaarrgh...aku bingung!" kuacak rambutku dengan kesal.Steven menoleh ke arahku lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaibku.======(*)======Aku mengacak-acak isi lemari bajuku. Mencari yang terbaik yang aku punya. Buru-buru kukenakan dan kesemprotkan parfum hadiah ulang tahunku tahun kemarin dari Mama.Bergegas aku berlari menuju ruang tamu di mana Steven dan Bryan menunggu."Wangi amat Sob? Udah kayak peri aja lo!" kuabaikan ledekan Bryan.Kami bertiga segera meluncur ke tempat acara.Kurang dari setengah jam, aku tiba di hotel yang sudah tertulis pada undangan.Bertiga aku, Steven dan Bryan setengah berlari menuju ballroom tempat acara diadakan.Ruangan sudah penuh. Acara baru saja di mulai. Syukurlah, aku tidak begitu terlambat.Kuletakkan kado yang kubawa di tempat yang sudah disediakan,lalu aku bergabung dengan undangan yang lain.Terdengar MC mengumumkan bahwa Veanna Angelica Sanjaya akan segera masuk ke dalam ruang pesta.Semua undangan bersiap merapat membentuk barisan sepanjang karpet merah yang digelar mulai depan pintu hingga tempat yang sudah disediakan.Vea memasuki ballroom didampingi kedua orang tua nya dan dua orang laki-laki tampan yang kuduga sebagai saudaranya.Ia tampak sangat cantik dengan balutan dress warna putih dipadu dengan konbinasi warna baby pink. Ia seperti bidadari yang turun ke bumi menebar cinta untukku.Mataku tak pernah lepas darinya. Ia membiusku begitu dalam hingga membuatku mabuk kepayang.Sekarang ia sedang memotong kue taart nya. Dengan hati berdebar, aku menunggu. Ia akan memberikan potongan kue pertamanya. Untuk siapa?Aah...Untuk kedua orang tuanya. Potongan berikutnya? Haaaa.... untuk kakaknya yang tadi mengawalnya. Dan potongan berikutnya... berikutnya... berikutnya... hingga semua mendapatkan potongan roti.Saat aku menikmati potongan roti, kudengar riuh tepuk tangan di depan. Ada apa? Apa yang terjadi di depan sana?Kulihat seorang teman lelaki sekelasnya sedang menyanyikan sebuah lagu untuknya. Tapi, ada yang janggal dengan penampilannya. Kenapa ia nampak serasi dengan Vea-ku? Dan lagunya?It's undeniable that we should be togetherIt's unbelievable how I used to say that I'd fall neverThe basis is need to know, if you don't know just how I feelThen let me show you now that I'm for realIf all things in time, time will reveal, yeahOne, you're like a dream come trueTwo, just wanna be with youThree, girl, it's plain to seeThat you're the only one for meAnd four, repeat steps one through threeFive, make you fall in love with meIf ever I believe my work is doneThen I'll start back at one, yeah yeahMataku membelalak melihat pemandangan di depan sana. Joshua nampak berlutut sambil sebelah tangannya menggenggam jemari Vea.It's so incredible, the way things work themselves outAnd all emotional once you know what it's all about, heyAnd undesirable for us to be apartI never would've made it very far'Cause you know you got the keys to my heart'CauseOne, you're like a dream come trueTwo, just wanna be with youThree, girl, it's plain to seeThat you're the only one for meAnd four, repeat steps one through threeFive, make you fall in love with meIf ever I believe my work is doneThen I'll start back at one, yeah yeahKini Joshua berdiri. Sebelah tangannya masih menggenggam erat jemari Vea. Dan Vea masih dengan senyum manisnya membalas tatapan mesra Joshua.Say farewell to the dark of nightI see the coming of the sunI feel like a little childWhose life has just begunYou came and breathed new lifeInto this lonely heart of mineYou threw out the lifeline just in the nick of timeOne, you're like a dream come trueTwo, just wanna be with youThree, girl, it's plain to seeThat you're the only one for meAnd four, repeat steps one through threeFive, make you fall in love with meIf ever I believe my work is doneThen I'll start back at one, yeah yeahSuara tepuk tangan riuh mengiringi akhir dari lagu yang membuatku sakit kepala.Apa yang kulihat begitu menyakitkan mata dan hatiku. Bagaimana mesranya mereka berdua, begitu dekat, pegangan tangan itu tak juga lepas. Senyum diwajah Vea tampak sangat menggambarkan perasaannya. Ya, ia pasti sangat bahagia. Apalagi teman-teman nya yang selalu bersorak meneriakkan betapa serasinya mereka berdua.Aku sakit. Kutahan perasaanku yang ingin segera pergi dari tempat itu.Kuketikkan sesuatu melalui bbm pada Vea. Ini benar-benar tak dapat kutahan.Apalagi kulihat teman laki-lakinya yang ku tau bernama Joshua Anggara itu benar-benar terus menempel pada Vea.Malam itu aku pulang dengan perasaan yang amat sangat sakit. Baru kali ini aku merasakan hatiku seperti diremas-remas.Dengan segera kulihat layar smartphone ku saat kudengar notifikasi bbm.Itu dari Vea! Apa yang akan dikatakannya? Bagaimana sebenarnya perasaannya padaku?Kulihat jawaban Vea atas bbm ku sebelumnya.Aku : kamu sangat cantik malam ini. Tapi aku gak nyangka kalau aku harus melihat adegan yang bikin aku sakit hati.Vea : Maaf, itu cuma nyanyi aja kok. Jangan marah ya.Bagaimana aku tidak marah melihat semua itu didepan mataku? Kubalas bbm Vea.Aku : Tidak apa. Aku sadar aku tidak bisa membuatmu sebahagia tadi.Vea : Bukan seperti itu.Aku : Aku sadar kok siapa aku. Aku gak akan pernah bisa membuat kamu tersenyum seperti tadi.Vea : Kamu juga sudah bikin aku senyum kok.Aku : Kamu gak perlu bohong buat bikin aku senang.Vea : Aku gak bohong.Aku : Joshua pasti bikin kamu senang banget ya malam ini.Vea : Biasa aja kok.Aku : Kalian berdua cocok kok.Vea : Masa?Aku : Bener kok. Serasi banget.Aku mengetik semua itu dengan hati yang benar-benar hancur. Apalagi setelah itu Vea tidak lagi membalas chat ku.Aku benar-benar kelimpungan karena perasaan cemburu yang menguasaiku. Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan Vea yang sedang digenggam tangannya oleh Joshua yang berlutut di hadapannya terus menerus menggangguku.======(*)======Ini sudah dua minggu sejak kejadian itu. Berkali-kali aku mencoba kembali chat dengan Vea, namun ia tidak lagi seperti dulu. Ia sudah tidak lagi menganggap chat ku.Perlahan-lahan ia makin mengabaikanku.Aku pasrah sudah. Sejak awal Vea memang tidak pernah mengiyakan pernyataan sukaku terhadapnya.Di sekolah pun ia tidak lagi menatap malu-malu sambil tersenyum padaku.Ia lebih suka menghindariku.Ia juga makin dekat dengan Joshua.Laki-laki itu mampu mengambil hati Vea-ku dengan sejuta pesona yang dipunyainya.Sekarang aku hanya bisa menatap wajah cantik Vea dari jauh. Menatap senyumnya yang selalu mengembang manis untuk siapapun yang dekat dengannya.Aku sudah kehilangan Vea. Ia sudah bukan lagi Vea-ku.Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan dalam kesendirian dan keterpurukanku.SELESAI .
Ilmu Pengetahuan
Seperti yang diketahui bahwasannya ilmu adalah syariat yang bisa kita bawa sampai ke langit nanti. Banyak orang yang menganggap ilmu hanyalah sebuah dongeng dan membosankan. Tapi bagi orang bijak, ilmu pengetahuan adalah segala sesuatu yang membawa kebaikan. Dengan ilmu pengetahuan derajat kota tinggi di antara orang-orang. Rajinlah mengangkat ilmu dan mencari ilmu di mana saja. Ilmu mudah dicari, lebih singkatnya ilmu bisa digapai jika kita mempelajari sebuah hal baru. Mudah, bukan? Yuk mencari ilmu.Suatu ketika di sebuah desa A, terdapat kejadian yang mengharukan beberapa tetangga. Karena anak dari Bu Titin hendak merantau jauh dari ibunya karena ingin mendapatkan ilmu di negeri seberang. Mereka saling berpelukan, melepas rindu yang cukup lama bagi mereka berdua. Ayah dari Teo, anak Bu Titin ini sudah tiada semenjak kecelakaan dua tahun yang lalu. Gagal ginjal membuat pria tua itu meninggal pada hari kedua setelah dioperasi, meninggalkan keluarga kecilnya lebih dahulu. Setelah kejadian itu, Bu Titin menjadikan dirinya sebagai kepala keluarga dan menjadi ibu bagi Teo yang saat itu baru berusia 12 tahun.Hari ini, di awal tahun, anak yang masih muda harus merantau jauh dari ibunya mengikuti pamannya untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Walaupun sangat sedih, Teo dan Bu Titin harus bersabar demi masa depan mereka masing-masing. Teo melambaikan tangannya kepada ibu ketika ia sudah menaiki mobil milik sang paman. Dengan menangis terisak-isak, Bu Titin melambaikan tangannya kepada Teo hingga mobil itu tak lagi terlihat.Tangis wanita itu pecah menatap kepergian anak semata wayangnya. Berhari-hari kemudian, dengan masih murung karena ditinggal anaknya, datanglah seorang tetangga baru di samping rumahnya. Ia menyapa para tetangga dengan membuatkan makanan sederhana sebagai bentuk perkenalan. Ia cukup ramah, selalu mengantarkan makanan itu sampai ujung gangnya. Namun setelah itu ia kembali ke rumah untuk beristirahat karena memakan waktu banyak untuk berjalan ke ujung gang.Bu Titin masih penasaran dengan tetangga barunya itu. Ketika ia menyapa, wanita itu terlihat tidak suka kepadanya. Ia mulai mencari informasi mengapa tetangganya itu tak pernah keluar rumah walau pernah terlihat sekilas. Hingga tanpa terasa, satu bulan berlalu dan Bu Warni mulai terkenal di gang itu. Perubahan sifat wanita itu membuat para tetangga bertanya-tanya. Ternyata Bu Warni itu sikapnya memang kurang sopan; hanya baik di awal. Ia sekarang sering berkata sombong, bahkan menjadi ibu-ibu penggosip nomor satu di sana.Yang paling ia gosipkan adalah Bu Titin yang terkenal baik walau kurang mampu. Suka menolong dan bahkan tanpa sungkan memberikan sesuatu yang ia punya. Walau jarang terlihat, sesekali ia mengobrol singkat dengan tetangga hanya untuk menanyakan kabar. Tetangga tahu Bu Warni itu tukang gosip dan tak suka kepadanya. Mereka pun menghindar, bahkan jika bertemu hanya basa-basi sebentar sebelum mencari alasan untuk menjauh.Kejadian itu bertahun-tahun masih saja Bu Warni lakukan, bahkan Bu Titin tahu bahwa Bu Warni tidak suka kepadanya karena kurang berbaju wangi dan kurang dalam penampilan. Namun Bu Titin tidak pernah membalas, ia hanya berdoa agar suatu hari kebaikan menjadi miliknya.Delapan tahun berlalu. Selama itu Bu Titin selalu berkomunikasi dengan anaknya melalui ponsel yang diberikan pamannya. Tapi sudah dua hari ini Teo tidak memberi kabar, membuat Bu Titin khawatir. Karena selama ini Teo tak pernah lupa memberi kabar. Tiba-tiba adzan berkumandang, Bu Titin melaksanakan salat dan lupa sejenak pada kekhawatirannya. Walau terdengar kegaduhan di depan rumah, ia tetap melanjutkan salat sampai selesai.Hingga ia mendengar pintu diketuk. Setelah membersihkan mukanya, ia berjalan ke pintu. Ia membuka pintu dan terkejut melihat seorang pria dengan setelan tuxedo. Dengan gugup ia meraih wajah pria itu, mengelusnya perlahan sambil berlinang air mata.“Teo…” ucap Bu Titin pertama kali ketika melihat wajah tampan itu. Ia memeluknya, dan Teo pun memeluk ibunya dengan sangat erat melepaskan rindu yang hanya terlampiaskan lewat suara selama bertahun-tahun. Bu Titin tahu dari firasat seorang ibu bahwa pria itu adalah Teo. Terlebih lagi ketika ia melihat suaminya tersenyum dari arah belakang, seolah berhasil mengantar keluarganya kembali bersatu.Teo masuk dan bercerita banyak mengenai kehidupannya selama tinggal dengan pamannya. Bu Titin hanya mampu menangis haru mendengarnya. Teo sudah bekerja keras, dan kejutan besarnya adalah ia membawa ibunya menuju rumahnya yang baru sekarang. Rumah itu besar—enam kali lipat dari rumah Bu Titin. Ia membawanya masuk, memperkenalkan setiap ruangan, dan berkata, “Ibu tidak perlu bekerja keras lagi. Mulai hari ini ibu tinggal bersamaku.”Sementara itu, hidup Bu Warni yang sepanjang hidupnya digunakan untuk bergosip akhirnya berubah. Semua aset berharganya dijual karena terlilit utang. Saudara-saudaranya tidak mau membantu karena sikapnya dulu. Setiap hari ia menerima gunjingan karena sering berjalan sendirian seperti orang hilang arah. Namun begitu, Bu Warni tetap bertahan hingga ajal menjemputnya.Kebaikan seperti berpindah ke kehidupan Bu Titin—ibu yang sabar, ikhlas, dan selalu berbuat baik. Semua kebaikan seolah terbalas oleh Tuhan dengan kehidupan yang lebih baik bersama anaknya.
Cinta Tak Harus Memiliki
HujanKinan namanya, seorang mahasiswi bandung sangat menyukai dunia seni tetapi dia kuliah di fakultas ekonomi.Sore hari dia telah selesai melakukan interview pada sebuah PT di daerah kabupaten bandung utara, hari sedang hujan dia pun mulai order ojek online tak ada satupun ojek yang nyangkut sampe pukul 18.00 dia mencoba order lagi, lalu janjian di tempat yang mudah di ketahui gojek nya.Dan DAMN hp kinan mati yang mengharuskan dia mecari warung untuk bisa ikut numpang mengcharger hp.ojek : "mbak dmna jadi oder nya?"ojek : "mbak?"ojek : "saya sudah dilokasi"15 menit kemudian...Kinan : "Duh maaf pak, tadi hp saya mati, ini saya lagi ikut charger di warung depan PT A."Ojek : "Oke mbak saya kesana" membalas chat kinan.Berapa menit ...Kinan : "Pak apa sudah sampai"?ojek : " Tunggu sebentar ya mbak."Melamun sambil melihat hujan turun deras sekali, tiba-tiba muncul pria yang mengendarai motor matic hitam,membuka helm dan sesekali membuka kacamatanya dan di gosoknya kacamata yang kena air hujan dengan sapu tangannya, kinan memastikan itu Ojek nya apa bukan,dan ternyata benar itu gojek yang dia order, pria berkacamata itu membuka bagasi motornya dan mengeluarkan jas hujan untuk dipakaikan oleh kinan."Maaf ya mbak lama," ujarnya sambil memberikan jas hujan"Oh iya gak apa-apa mas"jawabnya sambil memandangi dalam hati gila ini cowok idaman banget yang cuman bisa liat di film cerita negeri dongeng tinggi,berkacamata,muka cute,mata yang indah,senyum bagai bulan sabit yang sedang membinarkan cahaya..Membangunkan lamunan kinan"Mbak tunggu dulu ya masih hujan deras hehe" ucapnya sambil tersenyum." iya gak apa-apa mas," balasnya sambil Mencari tempat duduk dan kemudian melihat hujan deras, sesekali curi pandang ke Driver nya dia lihat pria itu sedang sibuk dengan hp nya.Waktu menunjukan pukul 19.00, hujan masih deras mengalir kejalanan, karena rumah kinan jauh,dia mencoba membujuk pria ojek tersebut."Mas bisa jalan sekarang gak,soalnya saya bukan orang sini, dan jauh ke bandung timur" ucapnya sambil memohon"Wah jauh juga ya mbak,tadi kesini pake apa?" ujarnya sambil nyalain motor"Pake kendaraan umum mas" sambil memakai helm dan menaiki motor gojek.Sepanjang jalanan hujan membasahi mereka , beberapa menit kemudian..."Udah disini aja mas yang ada angkot ini" ujar kinan"Oh iya mbak" sambil meminggirkan motornya ke pinggir jalan."Duh maaf ya mbak jadi kehujanan karena saya" ucapnya sambil merunduk."Santai aja mas gak apa - apa ko" sambil memberikan jas dan helm ke gojeknya.Keduanya saling pandang, sesekali tersenyum.."Pak ini titip yaa mau ke bandung" ujarnya ke pak angkot."Iya mas" ujar pak angkot."Makasih" ucap kinan sambil tersenyum..****Sampai dirumah jam 22.00 witaCek hp ada pesan masuk"Mbak sudah sampai rumah? Saya tadi yang ojek online""Oh oya makasih ya mas, duh kalo tadi ga ketemu mas mungkin saya belum pulang, soalnya pada gabisa nemu posisi saya""Iya mbak gak apa apa, ngomong ngomong namanya risa?""Oh bukan itu nama temen saya mas,saya kinan kalo mas?""Oh salam kenal mbak, saya fajar"***Sekian lama chat an mereka berlanjut lalu bertemu dan setelah sekian lama bertemu lagi untuk ke 10 kalinya di salah satu coffee shop daerah bragaDari kejauhan sudah nampak fajar sedang menunggu kedatangan kinan."Duh maaf ya kelamaan ya hehe," ucap kinan."Iya gak apa apa ko, oh iya gimanaTadi kuliahnya?" tanya fajar mencairkan suasana .."Seperti biasa hehe, kamu gimana lancar juga skripsi nya?" tanya balik"Haha jangan bahas skripsi deh, oh iya aku mau ngomong sesuatu boleh?"" bukannya dari tadi kamu ngomong ya? Kok sekarang mau ngomong minta izin dulu?," ucap kinan sambil bercanda." aku pengen kita lebih dari temen bisa? " Ucap fajar dengan memandang kearah kinan yang sedang menenguk segelas kopi."Haha becanda mulu nih" Ucapnya dengan kaget sehingga kopi yang berada di genggamannya jatuh dan tumpah ke meja 'Duh tuhan aku melayang,aku jatuh sejatuh-jatuhnya' dalam hati kinan."Aku serius, aku nyaman selama ini sama kamu" memegang tangan kinan untuk menyakinkan .."Aku....." []Into You 18+tok..tok...tok ...Suara ketukan pintu Kosan membangunkan lamunan seorang gadis yang sedang memikirkan caranya untuk mendapatkan pacar segera..tok..tok..tok..! !!"Yaelahh,,iyaa tunggu kali gw lagi jalan," teriaknya dengan menghentakan kaki sambil mengembungkan pipinya karena sebal'klik' pintu terbuka menampilkan sosok yang sudah selama 12 tahun selalu bersamanya,sahabat SMP yang satu-satunya masih menjalin persahabatan hingga selama ini. sebut saja Ryan.Clara sudah tau yang datang ke kosannya adalah ryan,karena tidak ada lagi orang yang berani mengetuk sekeras itu selain dia."Lama banget sih Ra,ngapain aja sih lo didalem," ucapnyasambil masuk kekosan tanpa permisi,lalu mengambil gelas dan membuka kulkas menuangkan air dalam gelas lalu meneguknya'glek glek glek'" Arghhh.." teriak sambil frustasi.sambik meremas rambutnyaClara hanya menggeleng-gelengkan kepala akan perilaku sahabat nya itu,dia tahu jika Ryan seperti ini pasti sedang ada masalah dengan pacarnya."Pasti masalah cewe lagi,,kenapa sih lo ? bisa gak sih hidup lo gak harus tentang cewe, gw bosan tiap lo ke kosan gw dengan penampilan lo yang selalu seperti ini," omel clara .dilihatnya penampilan Ryan" ( Kemeja kusut dilipat diatas lengan,dasi miring,rambut berantakan ,seperti orang frustasi)" gumamnya.."Lo gak pernah pacaran jadi gak pernah tahu apa yang gw rasain,"Teriaknya sambil berjalan ke kamar Clara sambil membaringkan badan di kasur milik clara .Clara membuntutinya dari belakang" Kayanya memang gk ada yang mau sama lo,secara lo jutek banget,berisik,galak sama cwo," Lanjutnya sambil memejamkan mata. dan kedua tangan disilangkan kebelakang sebagai bantalClara menggembungkan pipinya sebal akan ucapan Ryan lalu berjalan kearah kasur"hehhh,,bangun gk lo,gw baru beresin enak banget lo langsung tiduran" ,teriaknya sambil merangkak mendekati wajah ryan dan mengguncangkan tubuh ryan dengan kasar"bangun cepett ihh" ,omelnya lagi.Ryan membukakan matanya dengan cepat,"lo bawel kaya nenek lampir tau gak,pantes gk ada cwo yang mau sama lo", teriaknya sambil memandangi wajah cantik clara diatasnya yang sedang memayunkan bibirnya karena kesal dengan ucapan ryan dengan kedua tangan clara ada di atas dada ryan." makin dewasa makin cantik juga ni nenek lampir kenapa gw baru sadar sekarang meskipun tanpa makeup" gumamnya sambil terkikiksambil terus menatap wajah cantik clara dan salah fokus pada bibirnya yang begitu mungil dan ranum berwarna merah muda.mereka saling diam sambil mata terus menatap lawandeg..deg..deg ..!' duhh jantung gw kenapa sih,arghh gila dia sahabat gw,dan dia gk mungkin naksir sama orang yang dia anggap adik ,' gumamnyaTanpa permisi ryan menekan kepala clara untuk mendekatkan lagi dan mencium bibir clara dengan gemas,mengulum dan mengecap bibir sahabatnya itu 'manis rasa coklat' ungkapnya dalam hati dan ciuman sepihak itu berangsur lama untuk melampiaskan kekecewaan ryan.Clara terbelakak kaget akan tindakan Ryan ( ciuman pertamanya diambil ryan sahabatnya sendiri) dan langsung melepaskan ciuman itu dan bangkit terduduk di kasur."emmhhh,, Sorii ra,gw ga kontrol," , ucap Ryan memohon atas kesalahannya dan duduk di atas kasur."Ya," singkat clara, menyapu bibirnya dengan punggung tangan lalu bangkit dari atas kasur dan duduk di sofa,mengatur nafas hingga mulai tenang."Lo kenapa ma desi pacar baru lo itu,"?Lanjutnya sambil meyandarkan punggungnya ke penopang sofa dan menghadap ryan. Ryan terkejut rupanya clara sudah menebaknya." Hmm,Desi selingkuh dibelakang gw ra,gw kira dia gak sama kaya cewe lain,ternyata gw salah,semua cwe sama!" jawabnya penuh putus asa dan amarah"hmm,,yaudah yang sabar,lo harusnya seneng tahu ini dari awal jadi lo ga terlalu kecewa , semangattt" ucap clara sambil mengangkat tangan nya keatas memberi tanda semangat.Ryan terkekeh kecil melihat ekspresi sahabatnya itu yang menggemaskan"eemm,,gimana lo sekarang udah dapet pacar?" memecahkan keheningan diantara mereka."Huft Gw belum mau pacaran yan,lo tau itu kan,tapi ortu gw maksa buat gw dapet suami sebelum gw 25 tahun" ungkapnya , dibalas dengan anggukan kepala ryan.Ryan tahu betul clara tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki melebihi teman dan sahabat,clara selalu menolak jika ryan menjodohkannya dengan teman-temanya ryan sampai kehabisan stock cowo yang dia kenal buat clara."Ra..?""hmmm".." Maafin gw masalah tadi, yang nyium lo gw minta maaf gak sengaja"menundukan kepalanya,dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Emmmm ehhh ituu.."ucap clara yang terbata dan tertahan karena salah tingkah meskipun ryan memang pernah menciumnya tapi bukan di bibir dan ini pertama kalinya ryan mencuri ciuman pertamanya."Yaaa gw maafin anggap aja hadiah persahabatan kita selama 12 tahun," ucap clara dengan datar."emmhh lo laper gk?" Lanjutnya mengalihkan topik sambil bangkit untuk menuju dapurRyan ikut bangkit dan berjalan dibelakang clara"iya nih kekecewaan gw bikin gw laper"balasnya cengengesan sambil melihat clara mempersiapkan barang dan bahan masakan."mau masak apa ra"? lanjutnya menghampiri clara dan memeluknya dari belakang, menyimpan dagunya di pundak clara.clara sudah terbiasa dengan kebiasaan sahabatnya itu bahkan dengan kedekatannya yang seperti lebih dari sahabat clara dikira pacar ryan."gw mau masak makanan yang kita suka waktu dulu "balasnya sambil menerawang.Flashback!!!Clara kecil sedang bermain ditaman dekat komplek dengan teman-temannya,kemudian datang seorang anak laki-laki tampan mendekatinya"hai, aku boleh ikut main sama kalian gk,aku baru pindahan dari jakarta,namaku Adryan Antoni" ucapnya sambil mengulurkan tangan pada teman-teman clara dan terakhir mengulurkan tangan pada clara."Clara Carissa,rumah kamu yang mana?"ucap clara sambil melihat-lihat seluruh komplek sepanjang blok rumahnya."Mmm rumahku yang warna hitam abu samping rumah yang warna hijau itu,kami baru saja pindah"ucap ryan sambil menunjuk rumah barunya."Wahh deket dong sama rumah kamu ya clar,rumah clara yang warna biru di depan rumah hijau itu" ucap disa sambil menyikut lengan clara."wahh ternyata kita tetanggaan"balas ryan sambil cengengesan yang dibalas anggukan clara.Merekapun bermain, hingga petangpun tiba clara memutuskan untuk pulang bersama ryan karena mereka berdekatan sedangkan rumah teman-temannya yang lain berbeda komplek"seneng bisa main sama temen baru hehe dihari pertama pindah" ucap ryan memecahkan keheningan"clara".. seseorang meneriaki clara"mamah," clara bergegas lari kecil dan diikuti ryan"siapa ini ra?" ucap mamah melihat ryan"ohh ini mah kenalin ryan dia pindahan baru di kompleks kita mah tuh rumahnya yang warna hitam abu sebrang rumah kita"balas clara sambil menunjukan rumah ryan"sore tante " balas ryan sambil mengecup punggung tangan mamah clara"ohh hai ryan panggil mamah aja ya,,yuk masuk mamah udah bikin nasi goreng bumbu kari sama ayam goreng kesukaan clara" menggandeng tangan clara dan ryan.mereka pun makan bersama, dan setelah 1 jam kemudian ryan pamit dan diantar clara menuju pintu pagar"makasih ya clar atas makan malamnya enak banget aku suka masakan mamah kamu"ucap ryan."iya sama-sama hehe,, semoga kita bisa menjadi teman baik ya""pastinya, yaudah aku pulang dulu yah,dahh"ucapnya sambil mengerlingkan mata ke arah clara yang dibalas anggukan dan wajah yang tersipu malu.Hari,bulan,tahun dijalani oleh Ryan dan Clara hingga memasuki SMA dan kampus yang sama dan ryan selalu datang kerumah clara untuk makan masakan mamah clara yaitu nasi goreng bumbu kari dan ayam balado."raa,,pulang bareng gw yuk" ucap ryan memasuki kelas clara"yukk" balasnya sambil mengemasi barang lalu bangkit untuk menuju keparkiran motor dengan rangkulan tangan ryan dipundaknya.Sampai di Parkiran.."Sayang,," Teriak seorang gadis"Hai sayang," melepas rangkulan dari pundak clara dan mengecup pipi gadis yang bernama stella."kamu langsung pulang,kenapa sama clara?" mengerucutkan bibirnya"Kamu jangan cemburu dong, Kan dia sahabat aku,nanti malam dinner jadi kan , aku jemput kamu okey." balasnya sambil mengapit hidung sella pacarnya dengan jempol dan telunjuknya. dan mereka berpisah" Yuk ra,sori ya lama," ucapnya sambil mendekati clara dan dibalas anggukan pelan clara yang sedikit merunduk karena kaget ternyata ryan sudah punya pacar lagi setelah putus dari lisa.Sesampai di gerbang rumah clara melepaskan helm dan memberikannya pada ryan"raa...""mmm" gumam clara sambil merapikan bajunyaCup , sesuatu yang basah menempel di kening clara"Gw sayang sama lo, gw udah anggap lo sebagai adik gw sendiri"ucap ryanClara mendongkak, mematung dan merasakan sakit dihatinya'Ternyata dia hanya nganggap gw adik,' yaa mereka beda 1 tahun tapi clara tidak pernah memanggil ryan dengan sebutan kakak. Dan mungkin emang pantes disebut adik orang ryan udah punya pacar."mm iya yaudah gw masuk dulu ya,bye." Balas clara dan langsung meninggalkan ryan dan memasuki kamar lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur"hikss...hiks..hiks ternyata kedekatan gw sama lo cuman sebatas adik kaka yan,gw janji bakalan lupain perasaan gw sama lo, gw gamau merasakan sakit hati lagi"ucap kekecewaannyaSampai sekarang setelah usia clara yang 24 tahun 5 bulan lagi menuju 25 tahun clara belum merasakan pacaran karena takut sakit hati meskipun sudah banyak lelaki yang menyatakan cintanya pada clara,tapi clara enggan untuk berpacaran dengan merekaSuara ketukan sendok kepiring membangunkan lamunan clara."Nih ra,,gw udah siapin piringnya cepet dong gw laper" ucap ryanSetelah selesai mereka makan dalam diam,setelah itu ryan berpamitan untuk pulang"Makasih raa lo selalu ada buat gw kalo gw lagi galau"ucapnya sambil memandang clara dan memegang tangan clara.'mungkin sekarang gw sayang sama lo lebih dari adik raa,tapi gue gamau kedekatan kita lebih dari perasaan sahabat bisa merusak persahabatan kita'gumam ryan dalam hati"Iya santai aja kita udah kenal hampir 12 tahun gw tau banget dan udah biasa kalo lo gitu" balasnya clara sambil melihat ryanRyan mendekati clara dan Cup. lagi-lagi ryan mencium kening clara, dan clara hanya diam saja"Yaudah gw pulang dulu ya,dahh"pamit ryan sambil mengacak rambut clara dengan diangguki clara dan clara bergegas masuk ke kamar setelah ryan sudah benar-benar pergi."Kenapa sih gw , apa gw salah sayang sama sahabat sendiri dan mengharapkan lebih dari sahabat sedangkan ryan hanya menganggapnya ga lebih dari sekedar adik. Gw harus berubah .. gw harus bisa buka hati gw buat cowo lain.yaa gw harus berubah.gw gamau sakit hati lagi dan ini waktu yang tepat sebelum gw usia 25 tahun". Gumam clara dalam hati"Semangat clara" teriaknya menyemangati sendiri****Sedangkan ditempat yang berbeda Ryan sedang senyam-senyum sendiri mengingat ciuman tadi sore dengan clara setelah 12 tahun dia baru merasakan ciuman di bibir manis clara.TBCInto You 21+Suara pintu kamar terbuka menampilkan sosok pria tampan yang sudah rapi dibalut kemeja lengan panjang biru ,beserta dasi yang senada dan jas,sepatu,clana bahan hitam.berjalan mendekati clara yang sedang berkaca di meja rias,dan memeluk tubuh sahabatnya itu dari belakang menghirup aroma parfum clara rasa coklat yang memabukkan,clara dengan cepat berdiri dan memisahkan diri dari ryan . ryan menyerngitkan dahi dengan sikap clara karena tidak seperti biasanya clara menjauh dan tidak mengucapkan satu patah kata."Raa,berangkat kerja bareng gw yuk," berjalan mendekati clara yang sedang memasangkan sepatu"gk,gw udah di jemput seseorang. lo mending cepetan ke kantor kalo gamau telat," balasnya dengan sedikit sensi"lo kenapa sih ra," ucap ryan tapi tidak dibalas clara"yaudah gw berangkat ya,lo hati-hati" mendekati clara berniat untuk mencium kening clara, tapi clara mendorong tubuh ryan"bisa gk lo ga cium-cium gw lagi,gw bukan anak kecil lagi yan" sanggahnya meninggalkan ryan yang masih mematung karena mobil Ando sudah di depan kossan nyaClara dan Ando wakil direktur perusahaan sedang dalam tahap pendekatan setelah 2 minggu yang lalu clara bertekad untuk membuka hatinya dia mencoba menerima ando yang sudah lama menyukai clara.***Clara pulang kekosan dengan hati senang karena sudah menerima ando menjadi pacarnya dengan wajah sumringah dia buka pintu wajah sumringah berubah menjadi kesal ada ryan yang sedang menonton tv membelakangi pintu masuk." Raaa.. lo kemana aja ? kenapa pulang jam segini? biasanya lo jam 6 udh pulang. nih gw bawain martabak kita nonton film nih gw baru beli cd nya" cerocos ryan yang dihiraukan clara yang langsung masuk ke kamar nyaRyan bingung dengan sikap clara minggu-minggu ini yang selalu menghindar. ryan berjalan ke arah kamar clara dan membuka pintu kamar clara'ceklek'"Bisa gk sih lo gk setiap saat ke kosan gw"? sanggah clara sebelum ryan berbicara dengan menatap tajam ke arah ryan." Kenapa sih lo ra. gw punya salah sama lo? coba jelasin ke gw knp lo ngehindar dari gw minggu-minggu ini"? keluh Adryan"Gw udah punya pacar yan. gw punya privasi. jd lo ga bisa seenaknya dateng ke kosan gw. ganggu gw" jawabnya keras"Ohhh lo udah punya pacar. Siapa?" balas ryan dengan suara pelan"Ando" jawab cepat clara dengan memasang wajah datar"Ohh oke selamat . sori gw ganggu lo. gw ga akan ke kosan lo lagi kalo lo udah nyuruh begitu . semoga lo langgeng sama Ando. dia beruntung dapetin lo" ucapnya sambil tersenyum walaupun clara tak melihatnya. ryan berjalan mendekati clara ingin memeluknya seketika tangan clara menangkis tangan ryan. ryan tau apa maksudnya. perlahan dia mundur dan menutup pintu kamar .setelah beberapa menit sudah tidak ada suara. clara membuka pintu kamar dan duduk di ruang tamu tv. ada secarik kertas di atas meja yang membuat clara penasaran dan mengambilnya lalu dibuka kertas tersebut.'Maaf raa aku sudah mengganggu kamu, semoga kamu bahagia ra. dan ini martabak terakhir untukmu. Aku janji ga akan ganggu kamu lagi ra. Aku sayang kamu ra'.clara meremas kertas itu dengan kesal'Sayang sebagai adik tentunya' dan membuang kertas itu beserta martabaknya.****Tiga bulan kemudian..clara sedang berada di pusat pembelanjaan untuk membeli keperluan bulanannya..menyusuri rak-rak aneka snack karena dia gemar ngemil dan pandangannya tertuju pada snack ringan chips potato kesukaan dia dan ryan jika sedang menghabiskan waktu mengobrol sambil ngemil. ketika ingin meraih ada sebuah tangan yang lebih dulu mengambil snack itu . clara mendongkak dan melihat seorang wanita cantik sedang tersenyum manis. clara pun membalasnya"Sayang ketemu gak snack yang aku..." ucapan seseorang terpotong setelah melihat pacarnya sedang bebicara dengan orang yang sangat dia rindukanclara melihat adrian.'Ternyata dia udah punya pacar lagi'"Hai raa.. udah lama gak ketemu" ucap ryan menghilangkan keheningan"yang kenalin ini clara teman aku" ucap nya sambil melihat pada pacarnya"Ohh hai aku putri. senang berkenalan denganmu" jawab pacar adryan"Hai aku clara. senang bekenalan denganmu juga. kalo begitu aku duluan ya. bye" jawabnya sambil tersenyum tanpa menoleh ke arah adryan'Putri perempuan yang baik,aku harus bisa melupakan ryan dan mulai menerima Ando'****"Ra,, gue boleh gak cium lo di sini (menunjuk bibir clara)" jawab dengan terbata,karena takut clara mengira ando lelaki brengsekClara mulanya terdiam,beberapa menit kemudian dia teringat ryan yang sudah bahagia dengan pacar barunya,dia pun mengangguk kecil dan mulai menutup matanyaAndo yang sudah mendapatkan lampu hijau pun bersemangat dan mulai mendekat, awalnya ciuman itu hanya kecupan,tetapi karena terlalu menikmati nando mulai mencium dan melumat bibir clara,clara mulai menyukai ciuman itu,nando menyeringai senyum ,tangannya mulai meraba kepunggung clara dan berakhir di dada clara,nando mulai meremes dada clara membuat clara sedikit mendesah'Bruuggghhh'Suara pukulan seseorang membangunkan fantasi clara,sontak mata clara membulat"Ryan stopp,,ryan udah yan,,ini gue yang mau"ucap clara pada ryan yang tengah memukuli andoSeketika ryan berhenti dengan ucapan clara,ada rasa kecewa dan tidak terima dengan satu pukulan ryan memukul ando hingga tersungkur ke luar dan segera ryan mengunci pintu kosan dan berjalan perlahan ke arah clara sahabatnya yang sudah bertahun tahun bersamanya"Gue gak suka cowok berengsek ituAmbil kesempatan buat ngapain2 lo" tegas nya adrian"Lo tuh bego apa pura2 polos sihh" lanjutnya geram"Iya gue bego dan polos,gue gak seharusnya masih bayangin lo saat melakukan itu yang udah bahagia sama pacarnya"balas clara kerasAdryan terdiam lalu tersenyum menyeringai"Lo bisa lakuin langsung sama gue ra, ga harus bayangin gue dengan ngelakuin sama orang lain"ucap nya sebelum mendorong dan mencium,melumat,menggit ganas bibir clara, clara merasakan nafas sesak tapi adryan tidak melepas. Refleks tangan clara terulur ke leher adryan dan tak lupa adryan meremas dada clara. Mereka berciuman cukup lama sampai clara merasakan melayang dan jatuh terlentang ke ranjang tidur clara,dengan cepat adryan menindihnya lalu menciumi leher clara dan meremas dada clara dari luar baju"Emmhh... adryann pelann pelann dan stop ini salah,kita sahabat yan" ucap clara terengah"Gue sayang lo raa,, gue pengen lo jadi milik gue" ucap adryan dengan membuka baju clara dan melepas branya lalu melumat dada clara dan menggit gemaas dadanya"Ahhh yann,, emmm enak banget yann,lagi yan" tanpa sadar clara mengucapkan itu . Sementara adryan bersemangat karena clara mulai terangsang . Tanpa disadari clara sudah tidak memakai apa apa . Dan adryan segera melepas pakaian nya lalu menindih dan menciumi clara . Tangannya mulai terulur ke area sensitif clara dan mulai memutarnya dsngan telapak tangan .."Ahh ahhh ahh ryannn gelii yann,, ahh ouhhhh mmmhhh yann aku mau keluar yan" ucap clara terengah karena nikmat"Ko berhenti sih yan , jahat banget kamu" ucap clara sambil mengerucutkan bibir dan mengulurkan tangannya untuk melanjutkan yang tadi, tetapi adryan menepis tangan clara dan mulai mendekatkan area sensitif clara dengan p*nis nya"Ahhh sakitt yann" ucap clara merasakan perih di area sensitifnya"Tenang liat muka gue,,ini cuman sebentar sakitnya" ucap adryan"Ouuhhh raaa,,semphitt raaa" ucap adryan secara terus menyodok hingga masuk"Arghhhhh" teriak clara mengeluarkan air matanya"Sori ra,,gue nyakitin lo, gue gak suka orang lain yang dapetin lo" balas adryan seraya memulai untuk mengeluar masukkan kedalam inti clara"Ouhhh ahhh ahh yannn"desah clara"Ouhhh raaa,,,nikmatt raa" jawab adryan"Ohhh ahhh ahh ahh aku mau keluar yann"racau clara bersamaan dengan keluarnya cairan dalam inti claraAdryan terus memompa inti clara dan menghentakkan hingga clara lemaas tak berdaya dan beberapa menit kemudian adryan merasakan cairannya masuk ke inti clara,dan adryan ambruk di atas dada clara"Makasih raa,,gue jadi yang pertama buat lo" ucap terengah adryan yang dibalas dengan engahan dan anggukan clara****Sinar matahari menyelinap masuk ke gorden kamar clara, merasa silau clara membuka matanya dan kaget dengan keadaan tidak memakai apapun dan disebelah ada sahabat terbaiknya yang dengan kondisi samaClara mulai meratapi nasibnya,kini yang sudah dia jaga bertahun-tahun hilang hanya dengan 1 malam"Hikss..hikss...hikss... lo jahat yann hikss..." suara tangisan clara membangunkan adryan yang sedang bermimpi"Raaa,,,lo kenapa?"bangkit duduk dan mengelus punggung clara yang tanpa pakaian"JANGAN SENTUH GUE ADRYAN" ucap tegas clara seraya menepis tangan adryan"Kenapa lo lakuin ini sama gue yan, kenapa? Gue sahabat lo yan" ucap clara sambil terus menangis"Gue udah kotor yan, ga akan ada yang mau sama gue" lanjutnya"Sttttss...Ini semua salah gue ra, harusnya gue yang jaga lo,gue malah hancurin masa depan lo, soalnya gue cemburu,gu.. gueee sayang dan gamau kehilangan lo raa" balas adryan menempelkan telunjuk di jarinya lalu langsung memeluk clara"Aku bakalan nikahin Kamu" ucap tiba-tiba adryanClara mendongkak langsung berhadapan dengan muka adryan" kamu serius adryan" ucap clara dengan tatapan yang membuat adryan gemas,adryan hanya mengangguk sebagai jawaban dan menangkup wajah clara lalu melumat dan mengulum lagi bibir clara selama beberapa menit"Kitaa 1 Ronde lagi ya" ucap seringai adryan dengan langsung memaksakan masuk P*nis nya ke inti clara"Arghhh Adryannnnnn" pekik sekaligus desah clara. []Benci untuk Mencinta 18+Aku berlari menyusuri koridor kampus, sebelumnya kenalkan namaku Salsabilla Adriyanti, aku sekarang mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di bandung jurusan Ekonomi.BrukkAku mendongkak menatap lelaki yang berada di hadapanku dengan wajah yang sangat bisa kuartikan dia marah"Maaf kak saya buru-buru,maaf maaf" ujarku sambil menempelkan kedua telapak tangan didepan dada dengan menundukkan kepala"Sekarang gimana ini, minuman gue jatoh dan kena baju gue," jawab cepat lelaki itu"Maaf kak, nanti saya ganti uang laundry nya, " balasku masih dengan menundukan kepala"Argghhh" Teriak lelaki itu lalu meninggalkan dengan langkah terburu-buruAku mendongkak dan masih bisa melihat punggung lelaki itu'Kenapa baru hari pertama kuliah udah bikin masalah sih' gerutu dalam hati***Hari ini aku senang, karena hari ini perkenalan mahasiswa baru dengan UKM (unit kegiatan mahasiswa) yang ada di kampusku, dan dari sekian banyak UKM aku memilih mengambil teater, bukan asal memilih karena aku dari dulu memang sangat menggemari dunia seni khususnya teater, aku mengambil jurusan ekonomi karena tuntutan dari orangtuaku mereka menginginkanku bekerja dikantoran.Kami berkumpul di ruangan ukm teater dengan membentuk lingkaran besar, dan mataku tertuju pada sosok laki-laki yang baru muncul di ujung pintu"Sekarang kita perkenalan mulai dari kamu lalu giliran," ujar pelatih teaterSetelah bergiliran kini aku yang berdiri dan memperkenalkanku pada semua orang, mataku terus tertuju pada sosok laki-laki yang tempo hari membuatnya marah yang kini menatapku. Setelah selesai perkenalan akupun kembali duduk lalu memperhatikan kembali pelatihnya."Oke untuk permulaan gue ada permainan , 1 cewe 1 cowo maju ke tengah lingkaran," ucap pelatihSemua teman-temanku tidak ada yang mau masuk ke tengah lingkaran dan mereka menumbalkanku untuk maju, dengan terpaksa aku maju, dan tidak ku sangka lelaki itu ikut melangkah masuk lingkaran, Aku tergugup takut"Oke jadi salsa ma loe aldi, disini berperan seolaholah pasangan yang sedang jatuh cinta, kalian berdua saling tatap dan berpegangan tangan" ucap pelatihTanganku gemetar, karena malu dan takut dengan laki-laki dihadapanku, aku melihat lelaki itu dia tengah menatapku, akupun memberanikan diri untuk menatapnya, butuh waktu 10 menit kami saling menatap, suara dehaman membuyarkanku aku menoleh"Oke cukup sekarang kalian pelukan,"Mataku membulat kaget, aku sebelumnya belum pernah mengalami masa pacaran,aku belum merasakan pelukan seorang laki-laki kecuali ayahku, aku menatap lagi pada lelaki itu, dia menatap mengintimidasi seolah berkata 'Ayolah lakukan saja hanya acting'Aku menutup mata,menghela nafas dan kubuka mataku melihat lelaki yang bernama aldi itu sudah merentangkan tangannya menyuruhku untuk masuk dalam pelukannya, akupun melangkah mendekat dan dalam 2 detik masuk kedalam pelukan lelaki itu ' ohh begini rasanya dipeluk lelaki' hahaha bodoh.Pelukan kami hening dalam diam, meresapi peran yang kita mainkan, menit demi menit berlalu"Oke cut" ucap pelatih mengagetkan kita berdua, setelah itu suara riuh tepuk tangan terdengar dan kami melepaskan pelukan, sebelum saling melepaskan dia berbisik"Jantung lo detak cepat, jangan baper!" Ucap tegas aldiAku hanya menunduk dengan muka memerah karena maluSetelah perkenalan itu aku sering melihat aldi dan kita selalu bertemu pandang secara tidak sengaja jika sedang mengumpul di sekretariat ukmItu membuatku malu karena begitu juga dia laki-laki pertama yang memelukku, tapi dia selalu memandangku dengan tatapan tidak suka, sampai suatu hari aku melakukan kesalaha, aku tidak sengaja membuat handphone nya terjatuh dan rusak, aku teesentak kaget saat dia mendorongku ke sudut tembok"Sejak pertama gue liat loe, loe emang udah membawa kesialan buat gue" teriaknya tegas, membuatku semakin menunduk karena takut, dia memegang daguku dan mengangkat wajahku untuk menghadapnya,kami saling bertatapan ,akupun masih tersedu-sedu karena kaget ,kami terlalu lama cukup diam, temankupun tidak berani untuk menentang kakak kelas yang terkenal cukup galak itu. Aku pun dengan sisa keberanian yang tersisa"Kenapa sih kaka selalu marah sama aku, untuk masalah handphone aku akan ganti, tapi untuk yang sebelumnya kenapa kaka selalu memandangku tidak suka, kenapa?" ucapku bergetar sambil menahan tangis sambil memejamkan mata, sialnya tangisanpun keluar tanpa permisiAku merasakan sesuatu yang kenyal menempel pada bibirku, aku membuka mata dan sontak kaget ketika aldi mencium bibirku,Plakkaku sontak menamparnya keras tepat di pipi kanan setelah itu aku pergi meninggalkan dia dan teman2ku, aku malu! Ya aku sangat malu.Semenjak kejadian itu aku memutuskan untuk keluar dari ukm tersebut setelah mengganti rugi handphone aldi lewat temanku, aku tidak berani bertemu dengannya setelah apa yang dia lakukan.Aku benci dia.Hari-hari kulalui dengan tenang, hingga suatu hari aku sedang makan siang di kantin kampus seseorang menghapiri mejaku, aku mengalihkan makananku dimeja dan menatap seseorang yang duduk, segera aku berdiri tapi pergelanganku di cekal mau tak mau aku kembali duduk karena tidak mau mengganggu orang sekitar"Maaf,, Aku menyesal," ucapnya sambil menatapkuAku tersenyum sinis menganggapnyaLalu bangkit dan berbalik, suara mengintrupsikanku untuk berhenti melangkah"Aku sayang kamu , aku gatau perasaan ini muncul darimana, semakin sering aku membuatmu marah, semakin aku menyayangimu" ucapnya dan akupun tidak berniat untuk menoleh, aku terlalu membenci orang itu"Tapi aku membencimu" ucapku tanpa menoleh dan langsung melangkah pergi meninggalkannya, tanpa terasa airmataku keluar, hatiku terasa sesak mendengar dia menyayangiku dengan sikapnya yang selalu membuatku menangis***"Sal, kamu tau gak kakak tingkat yang galak itu yang dari ukm teater?" Ucap temanku berbisik saat kita sedang menulis materi-materi penting yang disampaikan dosen"Tau" jawabku singkat tanpa menoleh"Dia sakit parah udah 1 bulan lebih dirawat dirumah sakit" ucap temanku seketika hatiku remuk mendapat kabar dia sakit, tanpa menjawab aku melanjutkan memperhatikan dosen.Waktupun menunjukan pukul 3 sudah habis jadwal perkuliahan hari ini, aku melangkah kaki sampai di gerbang kampus seseorang memanggilku"Salsa" teriak seseorang"Iya, ada apa kak?" Jawabku datar dan menatap lelaki didepanku yang sedang gugup"Mmmhh ,, kamu sekarang lagi buru-buru gak? Kalo gak kka mau ajak kamu kerumah sakit , aldi selalu manggil-manggil nama kamu kata orangtuanya" ucapnya sedih"Maaf kak aku sibuk" ucapku cepat" Ayolah sal, pleaseee sekali aja" balasnya dengan iba, aku menimang sebentar lalu mengagguk .(Dirumahsakit)Pintu kamar rawat terbuka menampilkan sosok wanita tua, akupun menyalami nya sebagai tanda kesopanan"Jadi ini yang namanya salsa,Masuk kedalam nak" ucap ibu aldi akupun hanya menganggukkan kepala dan masuk keruangan disana terlihat sosok yang paling aku benci tapi aku rindukan, pucat dengan mata tertutup.Aku duduk di bangku yang telah disediakan pihak rumah sakit, karena sedikit berisik saat menggeserkan bangku, aldi membuka matanya,dan menatapku dengan penuh perasaan"Salsaaa" ucap lemas aldi yang kubalas dengan dehaman, aldi terus memandangiku dan kamipun tidak memulai obrolan itu membuatku sedikit salah tingkah, aku mencoba membuka obrolan"Ada apa kak, saya udah disini, jika untuk meminta maaf, saya sudah memaafkan,dan lupakan saja yang dulu" ucapku tanpa melihat wajah aldi"Aku rindu kamu sal" balas aldi dengan senyum terharu,Aku hanya tersenyum sinis lagi-lagi dalam keadaan sakit pun dia masih saja seperti ini, aku menjadi teringat ciumanku dengannya, memalukan"Maaf kak, saya sibuk saya pamit pulang dulu ya kak" ucapku bersiap untuk berdiri"Kamu mau sal jadi istri aku, aku sayang kamu sal, aku selalu memikirkan kamu, aku ingin kamu jadi milikku seutuhnya" ucap aldi dengan airmata keluar dari matanya"Maaf saya tidak bisa" balasku cepat"Beri aku kesempatan sal, sekali aja,untuk dekat denganmu, kamu boleh menolakku nanti" ucapnya iba"Kenapa aku harus memilihmu setelah apa yang kamu lakukan, aku benci kamu" ucapku sambil menangkup wajahku, aku menangis bingung dengan perasaanku, disatu sisi aku merasa kehilangan dia, disisi lain aku membenci sikapnya, dia meraih kedua tanganku dan mencium buku-buku jariku"Karena aku sudah berubah semenjak kehilanganmu, aku mampu mengontrol emosi ku dan jantungku pun sekarang kembali normal, itu semua berkat kamu,aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya, setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya, izinkan aku menjadi orang yang bisa memiliki hatimu salsa," jelas aldi menatapku dengan penuh harapSetelah kejadian itu aku dan aldi semakin dekat,,kita berpacaran dan aldi berubah menjadi orang yang lebih baik lagi, aku sangat bersyukur( Dirumah aldi)"Salsa adriyanti,, i love you" ucap aldi berbisik tepat ditelingaku"Love you to" balasku malu-maluCuupppAldi kembali mencium bibirku bukan hanya mencium tetapi melumatnya, aku mencoba membalasnya mengalungkan tanganku ke lehernya"Heii minggu depan kalian harus segera menikah!!" Teriak ibu aldi dari arah dapurAku mulai mengendurkan pelukanku mendengar teriakan mamah aldi,tapi aldi menekan tengkukku mau takmau akupun menikmati ciuman itu,Kurasakan aldi tersenyum dalam ciuman kami,Tanpa menghentikan ciuman,aldi terus melumatnya dan memelukku erat, aku merasakan kehangatan dan ketulusannya menyangiku,Jangan terlalu membenci seseorang karena kita tidak tahu orang itu yang akan menjadi jodoh kita kelak.[]My Bastard 18+Drttt...drtt..dddrtttFrom : My Bastard' Sayang pulang kerja aku ke apartement mu yaa,, aku butuh 'Asupan' 😚Lagi lagi aku hanya menggeleng mengingat pacarku yang sudah 2 tahun ini bersamaku,ganteng,mapan tetapi setiap orang pasti punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing, kelemahan dia yaitu otak mesum.Ting... tong...Aku berjalan gontai,perlahan aku membuka pintu dan seketika tubuhku berbalik dan menubruk pintu,kurasakan benda kenyal mengenai bibirku, kupejamkan mata mencoba menikmati kebiasaan ini lagi.Rio mulai mencium ganas bibirku tak lupa menggigitnya dan memagut, aku terlena menyimpan kedua lenganku pada lehernya, hingga aku merasakan melayang dan terjatuh di ranjangku, rio mulai menindihku dan kembali melanjutkan ciuman panas kami, perlahan rio mulai memainkan kedua payudaraku dan sedikit meremasnya"Arhghhh" desahku keluar saat rio mulai meremasnya dengan cepat, aku merasakan tangan satunya menuju titik sensitifku,aku mencoba menggit bibir bawahku untuk menahan desahku saat rio menciumi leherku dan tangan nya berada di payudara dan area intiku."Aku suka suara desahmu key, keluarkan" ucapnya yang langsung mencium bibirku, aku mengerang dalam ciuman itu, aku merasakan keluar cairan dalam intiku ini nikmat tapi tidak boleh berlanjut lebih dalam, ya meskipun aku sering diperlakukan seperti ini, aku masih tetap menjaga keperawanku"Stopp ioo,, udahh, ahh" ucapku saat rio mulai menjalankan aksi tangan dalam intiku lebih cepat, dengan cepat aku dorong dadanya dan dia tersungkur ke lantai memandangku dengan mata tajam"Sampai kapan kamu mau seperti ini, kita udah 2 tahun pacaran key, dan aku akan menikahimu tahun depan, apa tidak cukup untuk meyakinkanmu aku orang yang pantas untuk mendapatkammu seutuhnya hah"ucapnya dengan amarahDia selama ini memang menahan keinginannya untuk memilikiku seutuhnya, dia merasa kalah dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu memiliki seutuhnya masing-masing pasangannya."Jika ini semua karena kamu merasa gengsi dengan teman-temanmu yang udah lebih dulu ngambil keperawanan pacarnya, kita sudahi saja hubungan ini rio, aku ingin menjaganya untuk suamiku kelak"ucapku santaiKulihat rahang rio mengeras aku tau dia marah, tapi dia tidak akan berani melakukan kekerasan padaku yang kutau meski dia seperti ini dia masih sedikit menghargai wanita yang tidak boleh disakiti"Oke jika itu maumu, kita akhiri hubungan ini" rio bangkit dan keluar dari apartementku, sesak didadaku terasa lebih sakit dibanding sebelum-sebelumnya, aku tau ini salah kita tidak boleh melakukan itu sebelum menikah , aku masih teringat mendiang ayahku, aku merasa berdosa jika menjadi anak yang lebih dalam lagi melakukan hal diluar batas, aku menangis dalam diam mencoba melupakan semua ini . Ini sulit tapi aku harus mencoba semua demi menjaga diriku, 'aku masih mencintaimu rio'***Aku berencana untuk meetup bersama teman lamaku di salahsatu cafe miliknya,,Sesampai di cafe milik temanku aku mengadahkan pandanganku hanya beberapa pasangan yang sedang berbincang asyik sesekali tertawa, aku teringat dulu saat 6 bulan aku berpacaran dengan rio , rio dulu manusia yang paling sempurna yang pernah kutemui,romantis,baikhati,penyabar,pengertian, semenjak dia bekerja dia bertemu dengan teman-teman yang bisa dibilang 'nakal' hingga semenjak saat itu rio memperlakukanku seperti aku pemuas nafsunya.Aku mengedarkan pandanganku dan tertuju pada sepasang kekasih sedang berciuman dipojokan cafe yang kulihat lelaki nya sedang meraba rok bagian bawah perempuan, dan perempuan itu kulihat dia menikmati sentuhan itu, ku pertajam pandanganku dan sesak dalam dadaku terasa sakit saat kulihat lelaki itu rio bersama seorang perempuan yang kuyakini itu adalah temanku pemilik cafe yang kudatangi.Dengan tekad kuat ku aku menghampiri mereka"Ekhemm" dehamku untuk menyadarkan mereka berdua"Ehh key kau sudah datang kenapa tidak telponku dulu" ucap jessica dengan santai. Jessica bukan perempuan polos,dia penikmat dunia malam sama seperti rio, mereka kenal saat rio mulai memasuki dunia malam.Aku memandang rio menatapku dengan santai tanpa rasa bersalah, aku cemburu tapi itu tidak berhak, dan ku tahu jess tidak menyukai rio, dia hanya menyukai apa yang rio lakukan padanya.Aku mengalihkan pandanganku keluar cafe,"Yaudah bye sayang, kita lnjutkan nanti malam di club biasa" ucap rio sambil mengerlingkan matanya"Yaa bye rioo, siap" jawab jessiKulihat rio meninggalkan cafe"Ada apa jess kau ingin bertemu denganku?" Ucapku"Gue butuh bantuan loe key, nemenin gue ke pesta pernikahan kakak gue,loe mau kan? Pleasee" mohon jessi padaku"Hmmm,, aku sibuk je-" ucapku terpotong"Nooo,, loe harus temani gue okey, tidak ada penolakan, sekarang loe makan dulu apa aja yang loe suka tenang geratiss buat loe" ucapnyaAku menganggukan kepalaku dengan cepat, ya aku memang hobi makan dan mulai memesan beberapa makanan, dan beberapa di bungkus untuk di apartement***Malam ini sesuai janjiku, harus menemani jessi ke pesta pernikahan kakaknya, aku memakai dress selutut tanpa lengan berwarna baby blue,selempang kecil hitam dan flat shoes hitam tidak lupa rambut cepol memperlihatkan leher jenjangku menyempurnakan penampilankuTettt...tett...'Ishhh sudah datang lagi kau jess'Sesampai di pesta , aku mengikuti langkah jess yang berada di depanku"Key ni minum buat loe,, gue kesana dulu ya, mau nyapa tamu-tamu""Oke jess,"balasku singkat dan mulai meminum minuman pemberian key dan mengambil beberapa cake , sambil menikmati alunan lagu jazzBeberapa menit kemudian, aku merasakan ada yang tidak beres terhadap tubuhku, panas dan gatal aku merasaakan hal yang aneh,Pandanganku sedikit mengabur, kurasakan tangan kekar melingkar di pinggangku, aku mendongkak dan melihat mantan yang masih kucintai tersenyum manis"Rioohhh,, kamuhh ngapain disini" ucapku sedikit mendesah ketika merasakan sesuatu yang aneh itu semakin menjadi"Nemenin kamu, yuk ikut aku" ucap rioAku merasakan melayang rio menggendongku, aku melingkarkan tanganku pada lehernya."Aoouhh sakitt,, rio ini dimana?Aku nanti dicari jess rioohh" ucapku ketika terjatuh di atas ranjang" ahh rioohh panas sekali disini riohh, ac nya nyalain rioo" ucapku mendesah"Buka saja bajumu sayang,aku akan membantumu" seringai rio yang ku tidak pedulikan aku hanya diam menutup mataku ketika kurasakan rio mulai membuka pakaianku,"Ahhhh ,Ahhh riooohh" desahku ketika kurasakan rio memutar telapak tangannya pada area inti ku yang masih tertutup celana dalam"Kenapa, tersiksa sayang?aku akan membantumu" suara parau rio dan mulai meneruskan aksinya"Rioo jangan berhenti ini nikmat, ahhh,ahhh rioo aku mau pipis rio, awas duluu" ucapku racau"Bukan sayang itu bukan pipis, itu kenikmatan, nikmatilah," ucap rio yang kulihat dia mulai menanggalkan pakaiannya dan menindihku lalu menciumku dan sedikit menggit bibirku, aku mengerang kenikmatan"Ahhhh sakk-iitt riooh" ucapku saat merasakan sesuatu yang keras memasuki area intiku, aku mencoba membuka mataku kulihat rio sedang kesusahan memasukiku"Rioo jangann,, ahhh ini tidak benar rioo jangann ,, ahh ahh ahh"ucapku ketika kurasakan rio memaksaku untuk masuk"Ahhh sakittt,,hikss,,hikss rioo hikss" ucapku menahan sakit di area intiku, dan mengeluarkan tangisankuKurasakan rio mencium keningku,dan melumat bibirku untuk menghilangkan sedikit rasa sakitku beberapa menit kemudian rio mulai menggerakan pinggulnya ke kiri kanan atas bawah. Kesakitan yang tadi ku rasakan kini menjadi kenikmatan yang kudapatkan"Ahhh ahhh ahhh rioohh ahh" desahku"Ohh sayangg ini nikmatt,, ahh ouhhh keyy ahhh aku sayang kamu keyy ahh ahh,,aku mencintaimu key" ucap rio dengan mendesahAku melihat wajah tampan yang sedang menikmati dan mencari kepuasannya itu, dengan memejamkan matanya,"Ahhh rioo yang cepatt rioo aku ingin keluarr rioo ouhh ahh ouhh" racauku"Ouhh yess baby ohhh ahhh ahhh ahh keyy ahhhrghhhh keyyy" pelepasan akhir rio pun keluar dan kurasakan cairan menembus ke intikuKami sama-sama terengah, dan aku merasakan rio memelukku dengan tangan berada di dadaku kamipun tertidur.**"Hikkss...hikss..." aku menangis sejadi-jadinyaMenutupi tubuh telanjangku dengan selimut tebal dan kurasakan ranjang bergerak kulihat rio terbangun dengan cepat menindihku dan mencium bibirku lembut"Maafkan aku sayang, ini rencanaku dengan jessi" ucap rio dengan sedikit bersalah"Jadii-" ucapku terpotong"Ya,, aku sengaja berciuman dengan jessi untuk memanasimu, dan memasukan obat perangsang kedalam minumanmu, maafkan aku key, aku mencintaimu, aku ingin kau jadi milikku seutuhnya, kita akan menikah minggu depan sayang, maukah?" ucapnya sambil menghapus air mataku yang terjatuh karena terharu"Ya aku mau" aku mencium bibir nya dengan cepat dan pipiku memanas"Hey sudah mulai nakal yaa" seringai diwajah rio muncul lagi dan kurasakan ada yang akan terjadi dan"ARrgghhhhh riooohhh" desahku ketika rio memasuki intiku yg masih sedikit linu . Rio terus menghujamku dengan cepat akupun mendesah lagi dan lagi"I love you Keyy" bisik rio tepat ditelingaku yang kubalas dengan dehaman karena terlalu lelahEND
ISTRIKU MANTAN MURIDKU
HujanKinan namanya, seorang mahasiswi bandung sangat menyukai dunia seni tetapi dia kuliah di fakultas ekonomi.Sore hari dia telah selesai melakukan interview pada sebuah PT di daerah kabupaten bandung utara, hari sedang hujan dia pun mulai order ojek online tak ada satupun ojek yang nyangkut sampe pukul 18.00 dia mencoba order lagi, lalu janjian di tempat yang mudah di ketahui gojek nya.Dan DAMN hp kinan mati yang mengharuskan dia mecari warung untuk bisa ikut numpang mengcharger hp.ojek : "mbak dmna jadi oder nya?"ojek : "mbak?"ojek : "saya sudah dilokasi"15 menit kemudian...Kinan : "Duh maaf pak, tadi hp saya mati, ini saya lagi ikut charger di warung depan PT A."Ojek : "Oke mbak saya kesana" membalas chat kinan.Berapa menit ...Kinan : "Pak apa sudah sampai"?ojek : " Tunggu sebentar ya mbak."Melamun sambil melihat hujan turun deras sekali, tiba-tiba muncul pria yang mengendarai motor matic hitam,membuka helm dan sesekali membuka kacamatanya dan di gosoknya kacamata yang kena air hujan dengan sapu tangannya, kinan memastikan itu Ojek nya apa bukan,dan ternyata benar itu gojek yang dia order, pria berkacamata itu membuka bagasi motornya dan mengeluarkan jas hujan untuk dipakaikan oleh kinan."Maaf ya mbak lama," ujarnya sambil memberikan jas hujan"Oh iya gak apa-apa mas"jawabnya sambil memandangi dalam hati gila ini cowok idaman banget yang cuman bisa liat di film cerita negeri dongeng tinggi,berkacamata,muka cute,mata yang indah,senyum bagai bulan sabit yang sedang membinarkan cahaya..Membangunkan lamunan kinan"Mbak tunggu dulu ya masih hujan deras hehe" ucapnya sambil tersenyum." iya gak apa-apa mas," balasnya sambil Mencari tempat duduk dan kemudian melihat hujan deras, sesekali curi pandang ke Driver nya dia lihat pria itu sedang sibuk dengan hp nya.Waktu menunjukan pukul 19.00, hujan masih deras mengalir kejalanan, karena rumah kinan jauh,dia mencoba membujuk pria ojek tersebut."Mas bisa jalan sekarang gak,soalnya saya bukan orang sini, dan jauh ke bandung timur" ucapnya sambil memohon"Wah jauh juga ya mbak,tadi kesini pake apa?" ujarnya sambil nyalain motor"Pake kendaraan umum mas" sambil memakai helm dan menaiki motor gojek.Sepanjang jalanan hujan membasahi mereka , beberapa menit kemudian..."Udah disini aja mas yang ada angkot ini" ujar kinan"Oh iya mbak" sambil meminggirkan motornya ke pinggir jalan."Duh maaf ya mbak jadi kehujanan karena saya" ucapnya sambil merunduk."Santai aja mas gak apa - apa ko" sambil memberikan jas dan helm ke gojeknya.Keduanya saling pandang, sesekali tersenyum.."Pak ini titip yaa mau ke bandung" ujarnya ke pak angkot."Iya mas" ujar pak angkot."Makasih" ucap kinan sambil tersenyum..****Sampai dirumah jam 22.00 witaCek hp ada pesan masuk"Mbak sudah sampai rumah? Saya tadi yang ojek online""Oh oya makasih ya mas, duh kalo tadi ga ketemu mas mungkin saya belum pulang, soalnya pada gabisa nemu posisi saya""Iya mbak gak apa apa, ngomong ngomong namanya risa?""Oh bukan itu nama temen saya mas,saya kinan kalo mas?""Oh salam kenal mbak, saya fajar"***Sekian lama chat an mereka berlanjut lalu bertemu dan setelah sekian lama bertemu lagi untuk ke 10 kalinya di salah satu coffee shop daerah bragaDari kejauhan sudah nampak fajar sedang menunggu kedatangan kinan."Duh maaf ya kelamaan ya hehe," ucap kinan."Iya gak apa apa ko, oh iya gimanaTadi kuliahnya?" tanya fajar mencairkan suasana .."Seperti biasa hehe, kamu gimana lancar juga skripsi nya?" tanya balik"Haha jangan bahas skripsi deh, oh iya aku mau ngomong sesuatu boleh?"" bukannya dari tadi kamu ngomong ya? Kok sekarang mau ngomong minta izin dulu?," ucap kinan sambil bercanda." aku pengen kita lebih dari temen bisa? " Ucap fajar dengan memandang kearah kinan yang sedang menenguk segelas kopi."Haha becanda mulu nih" Ucapnya dengan kaget sehingga kopi yang berada di genggamannya jatuh dan tumpah ke meja 'Duh tuhan aku melayang,aku jatuh sejatuh-jatuhnya' dalam hati kinan."Aku serius, aku nyaman selama ini sama kamu" memegang tangan kinan untuk menyakinkan .."Aku....." []Into You 18+tok..tok...tok ...Suara ketukan pintu Kosan membangunkan lamunan seorang gadis yang sedang memikirkan caranya untuk mendapatkan pacar segera..tok..tok..tok..! !!"Yaelahh,,iyaa tunggu kali gw lagi jalan," teriaknya dengan menghentakan kaki sambil mengembungkan pipinya karena sebal'klik' pintu terbuka menampilkan sosok yang sudah selama 12 tahun selalu bersamanya,sahabat SMP yang satu-satunya masih menjalin persahabatan hingga selama ini. sebut saja Ryan.Clara sudah tau yang datang ke kosannya adalah ryan,karena tidak ada lagi orang yang berani mengetuk sekeras itu selain dia."Lama banget sih Ra,ngapain aja sih lo didalem," ucapnyasambil masuk kekosan tanpa permisi,lalu mengambil gelas dan membuka kulkas menuangkan air dalam gelas lalu meneguknya'glek glek glek'" Arghhh.." teriak sambil frustasi.sambik meremas rambutnyaClara hanya menggeleng-gelengkan kepala akan perilaku sahabat nya itu,dia tahu jika Ryan seperti ini pasti sedang ada masalah dengan pacarnya."Pasti masalah cewe lagi,,kenapa sih lo ? bisa gak sih hidup lo gak harus tentang cewe, gw bosan tiap lo ke kosan gw dengan penampilan lo yang selalu seperti ini," omel clara .dilihatnya penampilan Ryan" ( Kemeja kusut dilipat diatas lengan,dasi miring,rambut berantakan ,seperti orang frustasi)" gumamnya.."Lo gak pernah pacaran jadi gak pernah tahu apa yang gw rasain,"Teriaknya sambil berjalan ke kamar Clara sambil membaringkan badan di kasur milik clara .Clara membuntutinya dari belakang" Kayanya memang gk ada yang mau sama lo,secara lo jutek banget,berisik,galak sama cwo," Lanjutnya sambil memejamkan mata. dan kedua tangan disilangkan kebelakang sebagai bantalClara menggembungkan pipinya sebal akan ucapan Ryan lalu berjalan kearah kasur"hehhh,,bangun gk lo,gw baru beresin enak banget lo langsung tiduran" ,teriaknya sambil merangkak mendekati wajah ryan dan mengguncangkan tubuh ryan dengan kasar"bangun cepett ihh" ,omelnya lagi.Ryan membukakan matanya dengan cepat,"lo bawel kaya nenek lampir tau gak,pantes gk ada cwo yang mau sama lo", teriaknya sambil memandangi wajah cantik clara diatasnya yang sedang memayunkan bibirnya karena kesal dengan ucapan ryan dengan kedua tangan clara ada di atas dada ryan." makin dewasa makin cantik juga ni nenek lampir kenapa gw baru sadar sekarang meskipun tanpa makeup" gumamnya sambil terkikiksambil terus menatap wajah cantik clara dan salah fokus pada bibirnya yang begitu mungil dan ranum berwarna merah muda.mereka saling diam sambil mata terus menatap lawandeg..deg..deg ..!' duhh jantung gw kenapa sih,arghh gila dia sahabat gw,dan dia gk mungkin naksir sama orang yang dia anggap adik ,' gumamnyaTanpa permisi ryan menekan kepala clara untuk mendekatkan lagi dan mencium bibir clara dengan gemas,mengulum dan mengecap bibir sahabatnya itu 'manis rasa coklat' ungkapnya dalam hati dan ciuman sepihak itu berangsur lama untuk melampiaskan kekecewaan ryan.Clara terbelakak kaget akan tindakan Ryan ( ciuman pertamanya diambil ryan sahabatnya sendiri) dan langsung melepaskan ciuman itu dan bangkit terduduk di kasur."emmhhh,, Sorii ra,gw ga kontrol," , ucap Ryan memohon atas kesalahannya dan duduk di atas kasur."Ya," singkat clara, menyapu bibirnya dengan punggung tangan lalu bangkit dari atas kasur dan duduk di sofa,mengatur nafas hingga mulai tenang."Lo kenapa ma desi pacar baru lo itu,"?Lanjutnya sambil meyandarkan punggungnya ke penopang sofa dan menghadap ryan. Ryan terkejut rupanya clara sudah menebaknya." Hmm,Desi selingkuh dibelakang gw ra,gw kira dia gak sama kaya cewe lain,ternyata gw salah,semua cwe sama!" jawabnya penuh putus asa dan amarah"hmm,,yaudah yang sabar,lo harusnya seneng tahu ini dari awal jadi lo ga terlalu kecewa , semangattt" ucap clara sambil mengangkat tangan nya keatas memberi tanda semangat.Ryan terkekeh kecil melihat ekspresi sahabatnya itu yang menggemaskan"eemm,,gimana lo sekarang udah dapet pacar?" memecahkan keheningan diantara mereka."Huft Gw belum mau pacaran yan,lo tau itu kan,tapi ortu gw maksa buat gw dapet suami sebelum gw 25 tahun" ungkapnya , dibalas dengan anggukan kepala ryan.Ryan tahu betul clara tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki melebihi teman dan sahabat,clara selalu menolak jika ryan menjodohkannya dengan teman-temanya ryan sampai kehabisan stock cowo yang dia kenal buat clara."Ra..?""hmmm".." Maafin gw masalah tadi, yang nyium lo gw minta maaf gak sengaja"menundukan kepalanya,dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Emmmm ehhh ituu.."ucap clara yang terbata dan tertahan karena salah tingkah meskipun ryan memang pernah menciumnya tapi bukan di bibir dan ini pertama kalinya ryan mencuri ciuman pertamanya."Yaaa gw maafin anggap aja hadiah persahabatan kita selama 12 tahun," ucap clara dengan datar."emmhh lo laper gk?" Lanjutnya mengalihkan topik sambil bangkit untuk menuju dapurRyan ikut bangkit dan berjalan dibelakang clara"iya nih kekecewaan gw bikin gw laper"balasnya cengengesan sambil melihat clara mempersiapkan barang dan bahan masakan."mau masak apa ra"? lanjutnya menghampiri clara dan memeluknya dari belakang, menyimpan dagunya di pundak clara.clara sudah terbiasa dengan kebiasaan sahabatnya itu bahkan dengan kedekatannya yang seperti lebih dari sahabat clara dikira pacar ryan."gw mau masak makanan yang kita suka waktu dulu "balasnya sambil menerawang.Flashback!!!Clara kecil sedang bermain ditaman dekat komplek dengan teman-temannya,kemudian datang seorang anak laki-laki tampan mendekatinya"hai, aku boleh ikut main sama kalian gk,aku baru pindahan dari jakarta,namaku Adryan Antoni" ucapnya sambil mengulurkan tangan pada teman-teman clara dan terakhir mengulurkan tangan pada clara."Clara Carissa,rumah kamu yang mana?"ucap clara sambil melihat-lihat seluruh komplek sepanjang blok rumahnya."Mmm rumahku yang warna hitam abu samping rumah yang warna hijau itu,kami baru saja pindah"ucap ryan sambil menunjuk rumah barunya."Wahh deket dong sama rumah kamu ya clar,rumah clara yang warna biru di depan rumah hijau itu" ucap disa sambil menyikut lengan clara."wahh ternyata kita tetanggaan"balas ryan sambil cengengesan yang dibalas anggukan clara.Merekapun bermain, hingga petangpun tiba clara memutuskan untuk pulang bersama ryan karena mereka berdekatan sedangkan rumah teman-temannya yang lain berbeda komplek"seneng bisa main sama temen baru hehe dihari pertama pindah" ucap ryan memecahkan keheningan"clara".. seseorang meneriaki clara"mamah," clara bergegas lari kecil dan diikuti ryan"siapa ini ra?" ucap mamah melihat ryan"ohh ini mah kenalin ryan dia pindahan baru di kompleks kita mah tuh rumahnya yang warna hitam abu sebrang rumah kita"balas clara sambil menunjukan rumah ryan"sore tante " balas ryan sambil mengecup punggung tangan mamah clara"ohh hai ryan panggil mamah aja ya,,yuk masuk mamah udah bikin nasi goreng bumbu kari sama ayam goreng kesukaan clara" menggandeng tangan clara dan ryan.mereka pun makan bersama, dan setelah 1 jam kemudian ryan pamit dan diantar clara menuju pintu pagar"makasih ya clar atas makan malamnya enak banget aku suka masakan mamah kamu"ucap ryan."iya sama-sama hehe,, semoga kita bisa menjadi teman baik ya""pastinya, yaudah aku pulang dulu yah,dahh"ucapnya sambil mengerlingkan mata ke arah clara yang dibalas anggukan dan wajah yang tersipu malu.Hari,bulan,tahun dijalani oleh Ryan dan Clara hingga memasuki SMA dan kampus yang sama dan ryan selalu datang kerumah clara untuk makan masakan mamah clara yaitu nasi goreng bumbu kari dan ayam balado."raa,,pulang bareng gw yuk" ucap ryan memasuki kelas clara"yukk" balasnya sambil mengemasi barang lalu bangkit untuk menuju keparkiran motor dengan rangkulan tangan ryan dipundaknya.Sampai di Parkiran.."Sayang,," Teriak seorang gadis"Hai sayang," melepas rangkulan dari pundak clara dan mengecup pipi gadis yang bernama stella."kamu langsung pulang,kenapa sama clara?" mengerucutkan bibirnya"Kamu jangan cemburu dong, Kan dia sahabat aku,nanti malam dinner jadi kan , aku jemput kamu okey." balasnya sambil mengapit hidung sella pacarnya dengan jempol dan telunjuknya. dan mereka berpisah" Yuk ra,sori ya lama," ucapnya sambil mendekati clara dan dibalas anggukan pelan clara yang sedikit merunduk karena kaget ternyata ryan sudah punya pacar lagi setelah putus dari lisa.Sesampai di gerbang rumah clara melepaskan helm dan memberikannya pada ryan"raa...""mmm" gumam clara sambil merapikan bajunyaCup , sesuatu yang basah menempel di kening clara"Gw sayang sama lo, gw udah anggap lo sebagai adik gw sendiri"ucap ryanClara mendongkak, mematung dan merasakan sakit dihatinya'Ternyata dia hanya nganggap gw adik,' yaa mereka beda 1 tahun tapi clara tidak pernah memanggil ryan dengan sebutan kakak. Dan mungkin emang pantes disebut adik orang ryan udah punya pacar."mm iya yaudah gw masuk dulu ya,bye." Balas clara dan langsung meninggalkan ryan dan memasuki kamar lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur"hikss...hiks..hiks ternyata kedekatan gw sama lo cuman sebatas adik kaka yan,gw janji bakalan lupain perasaan gw sama lo, gw gamau merasakan sakit hati lagi"ucap kekecewaannyaSampai sekarang setelah usia clara yang 24 tahun 5 bulan lagi menuju 25 tahun clara belum merasakan pacaran karena takut sakit hati meskipun sudah banyak lelaki yang menyatakan cintanya pada clara,tapi clara enggan untuk berpacaran dengan merekaSuara ketukan sendok kepiring membangunkan lamunan clara."Nih ra,,gw udah siapin piringnya cepet dong gw laper" ucap ryanSetelah selesai mereka makan dalam diam,setelah itu ryan berpamitan untuk pulang"Makasih raa lo selalu ada buat gw kalo gw lagi galau"ucapnya sambil memandang clara dan memegang tangan clara.'mungkin sekarang gw sayang sama lo lebih dari adik raa,tapi gue gamau kedekatan kita lebih dari perasaan sahabat bisa merusak persahabatan kita'gumam ryan dalam hati"Iya santai aja kita udah kenal hampir 12 tahun gw tau banget dan udah biasa kalo lo gitu" balasnya clara sambil melihat ryanRyan mendekati clara dan Cup. lagi-lagi ryan mencium kening clara, dan clara hanya diam saja"Yaudah gw pulang dulu ya,dahh"pamit ryan sambil mengacak rambut clara dengan diangguki clara dan clara bergegas masuk ke kamar setelah ryan sudah benar-benar pergi."Kenapa sih gw , apa gw salah sayang sama sahabat sendiri dan mengharapkan lebih dari sahabat sedangkan ryan hanya menganggapnya ga lebih dari sekedar adik. Gw harus berubah .. gw harus bisa buka hati gw buat cowo lain.yaa gw harus berubah.gw gamau sakit hati lagi dan ini waktu yang tepat sebelum gw usia 25 tahun". Gumam clara dalam hati"Semangat clara" teriaknya menyemangati sendiri****Sedangkan ditempat yang berbeda Ryan sedang senyam-senyum sendiri mengingat ciuman tadi sore dengan clara setelah 12 tahun dia baru merasakan ciuman di bibir manis clara.TBCInto You 21+Suara pintu kamar terbuka menampilkan sosok pria tampan yang sudah rapi dibalut kemeja lengan panjang biru ,beserta dasi yang senada dan jas,sepatu,clana bahan hitam.berjalan mendekati clara yang sedang berkaca di meja rias,dan memeluk tubuh sahabatnya itu dari belakang menghirup aroma parfum clara rasa coklat yang memabukkan,clara dengan cepat berdiri dan memisahkan diri dari ryan . ryan menyerngitkan dahi dengan sikap clara karena tidak seperti biasanya clara menjauh dan tidak mengucapkan satu patah kata."Raa,berangkat kerja bareng gw yuk," berjalan mendekati clara yang sedang memasangkan sepatu"gk,gw udah di jemput seseorang. lo mending cepetan ke kantor kalo gamau telat," balasnya dengan sedikit sensi"lo kenapa sih ra," ucap ryan tapi tidak dibalas clara"yaudah gw berangkat ya,lo hati-hati" mendekati clara berniat untuk mencium kening clara, tapi clara mendorong tubuh ryan"bisa gk lo ga cium-cium gw lagi,gw bukan anak kecil lagi yan" sanggahnya meninggalkan ryan yang masih mematung karena mobil Ando sudah di depan kossan nyaClara dan Ando wakil direktur perusahaan sedang dalam tahap pendekatan setelah 2 minggu yang lalu clara bertekad untuk membuka hatinya dia mencoba menerima ando yang sudah lama menyukai clara.***Clara pulang kekosan dengan hati senang karena sudah menerima ando menjadi pacarnya dengan wajah sumringah dia buka pintu wajah sumringah berubah menjadi kesal ada ryan yang sedang menonton tv membelakangi pintu masuk." Raaa.. lo kemana aja ? kenapa pulang jam segini? biasanya lo jam 6 udh pulang. nih gw bawain martabak kita nonton film nih gw baru beli cd nya" cerocos ryan yang dihiraukan clara yang langsung masuk ke kamar nyaRyan bingung dengan sikap clara minggu-minggu ini yang selalu menghindar. ryan berjalan ke arah kamar clara dan membuka pintu kamar clara'ceklek'"Bisa gk sih lo gk setiap saat ke kosan gw"? sanggah clara sebelum ryan berbicara dengan menatap tajam ke arah ryan." Kenapa sih lo ra. gw punya salah sama lo? coba jelasin ke gw knp lo ngehindar dari gw minggu-minggu ini"? keluh Adryan"Gw udah punya pacar yan. gw punya privasi. jd lo ga bisa seenaknya dateng ke kosan gw. ganggu gw" jawabnya keras"Ohhh lo udah punya pacar. Siapa?" balas ryan dengan suara pelan"Ando" jawab cepat clara dengan memasang wajah datar"Ohh oke selamat . sori gw ganggu lo. gw ga akan ke kosan lo lagi kalo lo udah nyuruh begitu . semoga lo langgeng sama Ando. dia beruntung dapetin lo" ucapnya sambil tersenyum walaupun clara tak melihatnya. ryan berjalan mendekati clara ingin memeluknya seketika tangan clara menangkis tangan ryan. ryan tau apa maksudnya. perlahan dia mundur dan menutup pintu kamar .setelah beberapa menit sudah tidak ada suara. clara membuka pintu kamar dan duduk di ruang tamu tv. ada secarik kertas di atas meja yang membuat clara penasaran dan mengambilnya lalu dibuka kertas tersebut.'Maaf raa aku sudah mengganggu kamu, semoga kamu bahagia ra. dan ini martabak terakhir untukmu. Aku janji ga akan ganggu kamu lagi ra. Aku sayang kamu ra'.clara meremas kertas itu dengan kesal'Sayang sebagai adik tentunya' dan membuang kertas itu beserta martabaknya.****Tiga bulan kemudian..clara sedang berada di pusat pembelanjaan untuk membeli keperluan bulanannya..menyusuri rak-rak aneka snack karena dia gemar ngemil dan pandangannya tertuju pada snack ringan chips potato kesukaan dia dan ryan jika sedang menghabiskan waktu mengobrol sambil ngemil. ketika ingin meraih ada sebuah tangan yang lebih dulu mengambil snack itu . clara mendongkak dan melihat seorang wanita cantik sedang tersenyum manis. clara pun membalasnya"Sayang ketemu gak snack yang aku..." ucapan seseorang terpotong setelah melihat pacarnya sedang bebicara dengan orang yang sangat dia rindukanclara melihat adrian.'Ternyata dia udah punya pacar lagi'"Hai raa.. udah lama gak ketemu" ucap ryan menghilangkan keheningan"yang kenalin ini clara teman aku" ucap nya sambil melihat pada pacarnya"Ohh hai aku putri. senang berkenalan denganmu" jawab pacar adryan"Hai aku clara. senang bekenalan denganmu juga. kalo begitu aku duluan ya. bye" jawabnya sambil tersenyum tanpa menoleh ke arah adryan'Putri perempuan yang baik,aku harus bisa melupakan ryan dan mulai menerima Ando'****"Ra,, gue boleh gak cium lo di sini (menunjuk bibir clara)" jawab dengan terbata,karena takut clara mengira ando lelaki brengsekClara mulanya terdiam,beberapa menit kemudian dia teringat ryan yang sudah bahagia dengan pacar barunya,dia pun mengangguk kecil dan mulai menutup matanyaAndo yang sudah mendapatkan lampu hijau pun bersemangat dan mulai mendekat, awalnya ciuman itu hanya kecupan,tetapi karena terlalu menikmati nando mulai mencium dan melumat bibir clara,clara mulai menyukai ciuman itu,nando menyeringai senyum ,tangannya mulai meraba kepunggung clara dan berakhir di dada clara,nando mulai meremes dada clara membuat clara sedikit mendesah'Bruuggghhh'Suara pukulan seseorang membangunkan fantasi clara,sontak mata clara membulat"Ryan stopp,,ryan udah yan,,ini gue yang mau"ucap clara pada ryan yang tengah memukuli andoSeketika ryan berhenti dengan ucapan clara,ada rasa kecewa dan tidak terima dengan satu pukulan ryan memukul ando hingga tersungkur ke luar dan segera ryan mengunci pintu kosan dan berjalan perlahan ke arah clara sahabatnya yang sudah bertahun tahun bersamanya"Gue gak suka cowok berengsek ituAmbil kesempatan buat ngapain2 lo" tegas nya adrian"Lo tuh bego apa pura2 polos sihh" lanjutnya geram"Iya gue bego dan polos,gue gak seharusnya masih bayangin lo saat melakukan itu yang udah bahagia sama pacarnya"balas clara kerasAdryan terdiam lalu tersenyum menyeringai"Lo bisa lakuin langsung sama gue ra, ga harus bayangin gue dengan ngelakuin sama orang lain"ucap nya sebelum mendorong dan mencium,melumat,menggit ganas bibir clara, clara merasakan nafas sesak tapi adryan tidak melepas. Refleks tangan clara terulur ke leher adryan dan tak lupa adryan meremas dada clara. Mereka berciuman cukup lama sampai clara merasakan melayang dan jatuh terlentang ke ranjang tidur clara,dengan cepat adryan menindihnya lalu menciumi leher clara dan meremas dada clara dari luar baju"Emmhh... adryann pelann pelann dan stop ini salah,kita sahabat yan" ucap clara terengah"Gue sayang lo raa,, gue pengen lo jadi milik gue" ucap adryan dengan membuka baju clara dan melepas branya lalu melumat dada clara dan menggit gemaas dadanya"Ahhh yann,, emmm enak banget yann,lagi yan" tanpa sadar clara mengucapkan itu . Sementara adryan bersemangat karena clara mulai terangsang . Tanpa disadari clara sudah tidak memakai apa apa . Dan adryan segera melepas pakaian nya lalu menindih dan menciumi clara . Tangannya mulai terulur ke area sensitif clara dan mulai memutarnya dsngan telapak tangan .."Ahh ahhh ahh ryannn gelii yann,, ahh ouhhhh mmmhhh yann aku mau keluar yan" ucap clara terengah karena nikmat"Ko berhenti sih yan , jahat banget kamu" ucap clara sambil mengerucutkan bibir dan mengulurkan tangannya untuk melanjutkan yang tadi, tetapi adryan menepis tangan clara dan mulai mendekatkan area sensitif clara dengan p*nis nya"Ahhh sakitt yann" ucap clara merasakan perih di area sensitifnya"Tenang liat muka gue,,ini cuman sebentar sakitnya" ucap adryan"Ouuhhh raaa,,semphitt raaa" ucap adryan secara terus menyodok hingga masuk"Arghhhhh" teriak clara mengeluarkan air matanya"Sori ra,,gue nyakitin lo, gue gak suka orang lain yang dapetin lo" balas adryan seraya memulai untuk mengeluar masukkan kedalam inti clara"Ouhhh ahhh ahh yannn"desah clara"Ouhhh raaa,,,nikmatt raa" jawab adryan"Ohhh ahhh ahh ahh aku mau keluar yann"racau clara bersamaan dengan keluarnya cairan dalam inti claraAdryan terus memompa inti clara dan menghentakkan hingga clara lemaas tak berdaya dan beberapa menit kemudian adryan merasakan cairannya masuk ke inti clara,dan adryan ambruk di atas dada clara"Makasih raa,,gue jadi yang pertama buat lo" ucap terengah adryan yang dibalas dengan engahan dan anggukan clara****Sinar matahari menyelinap masuk ke gorden kamar clara, merasa silau clara membuka matanya dan kaget dengan keadaan tidak memakai apapun dan disebelah ada sahabat terbaiknya yang dengan kondisi samaClara mulai meratapi nasibnya,kini yang sudah dia jaga bertahun-tahun hilang hanya dengan 1 malam"Hikss..hikss...hikss... lo jahat yann hikss..." suara tangisan clara membangunkan adryan yang sedang bermimpi"Raaa,,,lo kenapa?"bangkit duduk dan mengelus punggung clara yang tanpa pakaian"JANGAN SENTUH GUE ADRYAN" ucap tegas clara seraya menepis tangan adryan"Kenapa lo lakuin ini sama gue yan, kenapa? Gue sahabat lo yan" ucap clara sambil terus menangis"Gue udah kotor yan, ga akan ada yang mau sama gue" lanjutnya"Sttttss...Ini semua salah gue ra, harusnya gue yang jaga lo,gue malah hancurin masa depan lo, soalnya gue cemburu,gu.. gueee sayang dan gamau kehilangan lo raa" balas adryan menempelkan telunjuk di jarinya lalu langsung memeluk clara"Aku bakalan nikahin Kamu" ucap tiba-tiba adryanClara mendongkak langsung berhadapan dengan muka adryan" kamu serius adryan" ucap clara dengan tatapan yang membuat adryan gemas,adryan hanya mengangguk sebagai jawaban dan menangkup wajah clara lalu melumat dan mengulum lagi bibir clara selama beberapa menit"Kitaa 1 Ronde lagi ya" ucap seringai adryan dengan langsung memaksakan masuk P*nis nya ke inti clara"Arghhh Adryannnnnn" pekik sekaligus desah clara. []Benci untuk Mencinta 18+Aku berlari menyusuri koridor kampus, sebelumnya kenalkan namaku Salsabilla Adriyanti, aku sekarang mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di bandung jurusan Ekonomi.BrukkAku mendongkak menatap lelaki yang berada di hadapanku dengan wajah yang sangat bisa kuartikan dia marah"Maaf kak saya buru-buru,maaf maaf" ujarku sambil menempelkan kedua telapak tangan didepan dada dengan menundukkan kepala"Sekarang gimana ini, minuman gue jatoh dan kena baju gue," jawab cepat lelaki itu"Maaf kak, nanti saya ganti uang laundry nya, " balasku masih dengan menundukan kepala"Argghhh" Teriak lelaki itu lalu meninggalkan dengan langkah terburu-buruAku mendongkak dan masih bisa melihat punggung lelaki itu'Kenapa baru hari pertama kuliah udah bikin masalah sih' gerutu dalam hati***Hari ini aku senang, karena hari ini perkenalan mahasiswa baru dengan UKM (unit kegiatan mahasiswa) yang ada di kampusku, dan dari sekian banyak UKM aku memilih mengambil teater, bukan asal memilih karena aku dari dulu memang sangat menggemari dunia seni khususnya teater, aku mengambil jurusan ekonomi karena tuntutan dari orangtuaku mereka menginginkanku bekerja dikantoran.Kami berkumpul di ruangan ukm teater dengan membentuk lingkaran besar, dan mataku tertuju pada sosok laki-laki yang baru muncul di ujung pintu"Sekarang kita perkenalan mulai dari kamu lalu giliran," ujar pelatih teaterSetelah bergiliran kini aku yang berdiri dan memperkenalkanku pada semua orang, mataku terus tertuju pada sosok laki-laki yang tempo hari membuatnya marah yang kini menatapku. Setelah selesai perkenalan akupun kembali duduk lalu memperhatikan kembali pelatihnya."Oke untuk permulaan gue ada permainan , 1 cewe 1 cowo maju ke tengah lingkaran," ucap pelatihSemua teman-temanku tidak ada yang mau masuk ke tengah lingkaran dan mereka menumbalkanku untuk maju, dengan terpaksa aku maju, dan tidak ku sangka lelaki itu ikut melangkah masuk lingkaran, Aku tergugup takut"Oke jadi salsa ma loe aldi, disini berperan seolaholah pasangan yang sedang jatuh cinta, kalian berdua saling tatap dan berpegangan tangan" ucap pelatihTanganku gemetar, karena malu dan takut dengan laki-laki dihadapanku, aku melihat lelaki itu dia tengah menatapku, akupun memberanikan diri untuk menatapnya, butuh waktu 10 menit kami saling menatap, suara dehaman membuyarkanku aku menoleh"Oke cukup sekarang kalian pelukan,"Mataku membulat kaget, aku sebelumnya belum pernah mengalami masa pacaran,aku belum merasakan pelukan seorang laki-laki kecuali ayahku, aku menatap lagi pada lelaki itu, dia menatap mengintimidasi seolah berkata 'Ayolah lakukan saja hanya acting'Aku menutup mata,menghela nafas dan kubuka mataku melihat lelaki yang bernama aldi itu sudah merentangkan tangannya menyuruhku untuk masuk dalam pelukannya, akupun melangkah mendekat dan dalam 2 detik masuk kedalam pelukan lelaki itu ' ohh begini rasanya dipeluk lelaki' hahaha bodoh.Pelukan kami hening dalam diam, meresapi peran yang kita mainkan, menit demi menit berlalu"Oke cut" ucap pelatih mengagetkan kita berdua, setelah itu suara riuh tepuk tangan terdengar dan kami melepaskan pelukan, sebelum saling melepaskan dia berbisik"Jantung lo detak cepat, jangan baper!" Ucap tegas aldiAku hanya menunduk dengan muka memerah karena maluSetelah perkenalan itu aku sering melihat aldi dan kita selalu bertemu pandang secara tidak sengaja jika sedang mengumpul di sekretariat ukmItu membuatku malu karena begitu juga dia laki-laki pertama yang memelukku, tapi dia selalu memandangku dengan tatapan tidak suka, sampai suatu hari aku melakukan kesalaha, aku tidak sengaja membuat handphone nya terjatuh dan rusak, aku teesentak kaget saat dia mendorongku ke sudut tembok"Sejak pertama gue liat loe, loe emang udah membawa kesialan buat gue" teriaknya tegas, membuatku semakin menunduk karena takut, dia memegang daguku dan mengangkat wajahku untuk menghadapnya,kami saling bertatapan ,akupun masih tersedu-sedu karena kaget ,kami terlalu lama cukup diam, temankupun tidak berani untuk menentang kakak kelas yang terkenal cukup galak itu. Aku pun dengan sisa keberanian yang tersisa"Kenapa sih kaka selalu marah sama aku, untuk masalah handphone aku akan ganti, tapi untuk yang sebelumnya kenapa kaka selalu memandangku tidak suka, kenapa?" ucapku bergetar sambil menahan tangis sambil memejamkan mata, sialnya tangisanpun keluar tanpa permisiAku merasakan sesuatu yang kenyal menempel pada bibirku, aku membuka mata dan sontak kaget ketika aldi mencium bibirku,Plakkaku sontak menamparnya keras tepat di pipi kanan setelah itu aku pergi meninggalkan dia dan teman2ku, aku malu! Ya aku sangat malu.Semenjak kejadian itu aku memutuskan untuk keluar dari ukm tersebut setelah mengganti rugi handphone aldi lewat temanku, aku tidak berani bertemu dengannya setelah apa yang dia lakukan.Aku benci dia.Hari-hari kulalui dengan tenang, hingga suatu hari aku sedang makan siang di kantin kampus seseorang menghapiri mejaku, aku mengalihkan makananku dimeja dan menatap seseorang yang duduk, segera aku berdiri tapi pergelanganku di cekal mau tak mau aku kembali duduk karena tidak mau mengganggu orang sekitar"Maaf,, Aku menyesal," ucapnya sambil menatapkuAku tersenyum sinis menganggapnyaLalu bangkit dan berbalik, suara mengintrupsikanku untuk berhenti melangkah"Aku sayang kamu , aku gatau perasaan ini muncul darimana, semakin sering aku membuatmu marah, semakin aku menyayangimu" ucapnya dan akupun tidak berniat untuk menoleh, aku terlalu membenci orang itu"Tapi aku membencimu" ucapku tanpa menoleh dan langsung melangkah pergi meninggalkannya, tanpa terasa airmataku keluar, hatiku terasa sesak mendengar dia menyayangiku dengan sikapnya yang selalu membuatku menangis***"Sal, kamu tau gak kakak tingkat yang galak itu yang dari ukm teater?" Ucap temanku berbisik saat kita sedang menulis materi-materi penting yang disampaikan dosen"Tau" jawabku singkat tanpa menoleh"Dia sakit parah udah 1 bulan lebih dirawat dirumah sakit" ucap temanku seketika hatiku remuk mendapat kabar dia sakit, tanpa menjawab aku melanjutkan memperhatikan dosen.Waktupun menunjukan pukul 3 sudah habis jadwal perkuliahan hari ini, aku melangkah kaki sampai di gerbang kampus seseorang memanggilku"Salsa" teriak seseorang"Iya, ada apa kak?" Jawabku datar dan menatap lelaki didepanku yang sedang gugup"Mmmhh ,, kamu sekarang lagi buru-buru gak? Kalo gak kka mau ajak kamu kerumah sakit , aldi selalu manggil-manggil nama kamu kata orangtuanya" ucapnya sedih"Maaf kak aku sibuk" ucapku cepat" Ayolah sal, pleaseee sekali aja" balasnya dengan iba, aku menimang sebentar lalu mengagguk .(Dirumahsakit)Pintu kamar rawat terbuka menampilkan sosok wanita tua, akupun menyalami nya sebagai tanda kesopanan"Jadi ini yang namanya salsa,Masuk kedalam nak" ucap ibu aldi akupun hanya menganggukkan kepala dan masuk keruangan disana terlihat sosok yang paling aku benci tapi aku rindukan, pucat dengan mata tertutup.Aku duduk di bangku yang telah disediakan pihak rumah sakit, karena sedikit berisik saat menggeserkan bangku, aldi membuka matanya,dan menatapku dengan penuh perasaan"Salsaaa" ucap lemas aldi yang kubalas dengan dehaman, aldi terus memandangiku dan kamipun tidak memulai obrolan itu membuatku sedikit salah tingkah, aku mencoba membuka obrolan"Ada apa kak, saya udah disini, jika untuk meminta maaf, saya sudah memaafkan,dan lupakan saja yang dulu" ucapku tanpa melihat wajah aldi"Aku rindu kamu sal" balas aldi dengan senyum terharu,Aku hanya tersenyum sinis lagi-lagi dalam keadaan sakit pun dia masih saja seperti ini, aku menjadi teringat ciumanku dengannya, memalukan"Maaf kak, saya sibuk saya pamit pulang dulu ya kak" ucapku bersiap untuk berdiri"Kamu mau sal jadi istri aku, aku sayang kamu sal, aku selalu memikirkan kamu, aku ingin kamu jadi milikku seutuhnya" ucap aldi dengan airmata keluar dari matanya"Maaf saya tidak bisa" balasku cepat"Beri aku kesempatan sal, sekali aja,untuk dekat denganmu, kamu boleh menolakku nanti" ucapnya iba"Kenapa aku harus memilihmu setelah apa yang kamu lakukan, aku benci kamu" ucapku sambil menangkup wajahku, aku menangis bingung dengan perasaanku, disatu sisi aku merasa kehilangan dia, disisi lain aku membenci sikapnya, dia meraih kedua tanganku dan mencium buku-buku jariku"Karena aku sudah berubah semenjak kehilanganmu, aku mampu mengontrol emosi ku dan jantungku pun sekarang kembali normal, itu semua berkat kamu,aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya, setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya, izinkan aku menjadi orang yang bisa memiliki hatimu salsa," jelas aldi menatapku dengan penuh harapSetelah kejadian itu aku dan aldi semakin dekat,,kita berpacaran dan aldi berubah menjadi orang yang lebih baik lagi, aku sangat bersyukur( Dirumah aldi)"Salsa adriyanti,, i love you" ucap aldi berbisik tepat ditelingaku"Love you to" balasku malu-maluCuupppAldi kembali mencium bibirku bukan hanya mencium tetapi melumatnya, aku mencoba membalasnya mengalungkan tanganku ke lehernya"Heii minggu depan kalian harus segera menikah!!" Teriak ibu aldi dari arah dapurAku mulai mengendurkan pelukanku mendengar teriakan mamah aldi,tapi aldi menekan tengkukku mau takmau akupun menikmati ciuman itu,Kurasakan aldi tersenyum dalam ciuman kami,Tanpa menghentikan ciuman,aldi terus melumatnya dan memelukku erat, aku merasakan kehangatan dan ketulusannya menyangiku,Jangan terlalu membenci seseorang karena kita tidak tahu orang itu yang akan menjadi jodoh kita kelak.[]Cinta Tak Harus Memiliki (18+)'Huhhh dasarr bawel,selalu saja marahin gw', ungkapku dalam hati sambil mencebikan bibirku"Mana tugas bagian lo, yang lain udah ngirim ke gw via email", seru bagas"Iya nanti gw kirim, tapi malem ya, gw janji" balas gw sambil nyengir mencairkan suasanaNama gw melisa,gw baru 2minggu bekerja di tempat baru dan si bagas itu selalu marah-marah, wajar sih dia koordinator di tim kita,jadi dia yang bertanggung jawab sama semuanya, dan gw orangnya emang pelupa jadi wajar dia sering marahin gw ketimbang anak-anak yang lain."Kerja yang bener, kalo gak pulang sana tidur" ejek bagas' Ihh gw gak pernah dibaikin ma dia padahal baru kenal,harusnya berbuat baik kek ma orang yang baru kenal, kadang kata-kata dia bikin gw nyesek,gak nyadar apa, kesalahan kecil tapi marahnya gak bisa di kontrol' ketus gw dalem hati sambil berjalan meninggalkan temen-temen gw yang lain*** perjalanan pulang' Apa gw coba chat dia ya, biar dia tau kesalahan dia apa' pikirkuMembuka handphone lalu mengarahkan ke aplikasi chatting WhatsappTo : *bagas*'Gas, kenapa sih lo suka marah-marah ma gw, kalo gw punya salah maafin yaa 😄'' Hmm kirim jangan ya, duhh kirim jangan' pikirkuSetelah melewati pertimbangan akhirnya gw klik send di aplikasi tersebut, beberapa menit kemudianFrom : *bagas*Mata gw membulat liat balesan dia'😭 mell maafin gw cuman bercanda,itu gak serius''Ya tuhannn,, bercanda aja bikin gw kesel ginii ' batin gwTo : *bagas*'Iya gw tau lo bercanda 😀, tenang gw juga suka candaan lo ko, yaudah lupain aja'*** Keesokan harinya' Gw curi-curi pandang liat dia emang berubah jadi pendiam gak pecicilan lagi,dan gak marah-marah lagi tentunya. lahh gw yang salah nih kayanya' umpat gw dalam hati"Tumben sepi nih biasanya ada yang berantem" sindir temen gw yang gw tanggapi dengan senyum canggungGw kembali fokus mengerjakan tugas gw, sesekali gw ma dia gak sengaja berpapasan pandangan, buru-buru gw alihin muka gw*1 minggu kemudianDia pun kembali bersikap seperti biasa, dan bagusnya dia gak marah-marah ga jelas lagi ma gw,Awalnya gw say hi ma dia biar dikira gw bukan anak kecil yang marah nya kelamaan"Mel" ucap dia yang gw balas dengan dehaman"Mel" ucap dia lagi"Apa" dengan nada tinggi"Kok marah" ucap dia 'mulai lagi usilnya'pikir gw"Engga ko, iya ada apa manggil gw" balas gw seramah mungkin"Emm engga hehe" balas dia dengan cengiran' Jangan sampe gw suka ma dia, duhh dia udah punya pacar bertahun-tahun ga ada tandingannya ma gw yang baru kenal 1 bulan' rutuk gw dalam hatiGw lagi berkaca di toilet lalu keluar dan bersandar ke tembok.dari sudut ujung mata gw gw nangkep ada yang merhatiin gw jaraknya semakin dekat, gw menoleh dan liat dia berjalan ke arah gw dan terus memandang gw, gw salah tingkah mencoba bersikap biasa .' Duhh ini jantung untung di dalem jadi ga kedengeran,coba kalo diluar udah kedengeran detak jantung gw'"Ekhemm ngapain liatin gw" ucap gw yang dia balas masih liatin gw,dan jaraknya semakin dekat berjarak 10cm dari muka gw, gw nunduk karena takut"Ng..ngapain lo" ucap gw sambil menunduk , gw merasakan dia ngusap rambut gw, memegang dagu gw mengangkatnya sampai gw bisa liat muka dia kami cukup lama saling pandangCupMata gw membulat dia mencium bibir gw, terpatung gw gabisa ngapa"in karena kaget"Maafin gw suka marah-marah ma lo, karena gw punya rasa ma lo,mungkin cara itu yang bikin gw inget lo terus" ucap bagas lalu mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir gw, bagas melumat bibir gw , gw hanya diam mengatup bibir gw mencoba sadar tapi gw menikmati, gw menggelengkan kepala dan mendorong dada bagas"Gak hahaha,,, gak mungkin,,, ini salah,lo bercandanya gak lucu" sanggah gw"Gw serius" balas dia menatap gw sambil memegang kedua bahu gw"Cukup gw gak mau denger,lo pergi gas" ucap gw sambil menutup mata dan kedua telinga gw"Per..hmmmmffttp" dia mencium bibir gw dan melumatnya, gw merasakan ciuman ini lembut ada rasa sayang didalamnya gw pun menikmati ciuman itu dan masih menutup mata gw, tangan gw terulur memegang dadanya ,dia memeluk gw erat.'Ini salah' pikir gw. gw menagis dalam ciuman ituBagas melepas pautannya karena merasakan setetes air ke pipinya"Jangan nangis maafin aku" ucap dia sambil memelukku"Kamu ambil first kiss aku gas :"( dan kamu udah punya pacar ini gabisa dibiarin, aku juga salah aku punya rasa sama kamu" ucapku sambil terisak"Benar kata orang cinta itu gak memandang kapan kita lama kenal, cinta itu bisa datang tiba-tiba, aku bisa putusin pacar aku mel" ucap dia sambil mengelus puncak kepalaku aku mendongkak dan melepaskan pelukannyaPlakkSatu tamparan mendarat di pipi bagas, dia meringis dan memegang pipi kirinya"Semudah itu kamu putusin pacar kamu yang udah bertahun-tahun demi keinginan kamu miliki aku gas, aku ga nyangka" aku berbalik dan berlari dan terus menangis' Jika kebahagiaanku bisa membuat orang lain terluka, mending aku saja yang terluka, aku harus pergi dari hidupnya' tekad ku dalam hati** keesokanharinya"Mel pulang bareng aku ya" ucap bagas tiba-tiba dan menarik pergelangan tanganku dengan terpaksa aku mengikutinya selama perjalanan aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan bagas sampai dihalaman rumahku, aku melepaskan seat beltku dan"Aku udah mengajukan surat pengunduran diri dari 2 hari yang lalu, dan aku disetujui, mulai besok aku gak bekerja lagi disana dan aku akan pergi keluarkota melanjutkan perusahaan ayahku disana" ucapku memandang lurus ke depan tanpa menoleh ke bagas"Kenapa kamu gak bilang sama aku mel,aku sayang sama kamu,kenapa mendadak,kenapa kamu mau tinggalin aku mel" ucap dia histeris sambil mengemgam tanganku dan mencium seluruh mukaku sambil menangis."Maaf" balasku dan melepas genggaman tangannya ketika ingin membuka pintu mobil aku tertarik lagi dan bagas langsung memelukku erat, dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, aku memejamkan mata mengisyaratkan agar dia melakukannya dan kamipun berciuman cukup intim sambil berpelukan untuk yang terakhir kalinya sekadar untuk melepas rindu cinta terlarang ini." Terkadang apa yang kita inginkan tidak harus terwujudkan , kita harus mampu menerima kenyataan walau pahit"My Bastard 18+Drttt...drtt..dddrtttFrom : My Bastard' Sayang pulang kerja aku ke apartement mu yaa,, aku butuh 'Asupan' 😚Lagi lagi aku hanya menggeleng mengingat pacarku yang sudah 2 tahun ini bersamaku,ganteng,mapan tetapi setiap orang pasti punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing, kelemahan dia yaitu otak mesum.Ting... tong...Aku berjalan gontai,perlahan aku membuka pintu dan seketika tubuhku berbalik dan menubruk pintu,kurasakan benda kenyal mengenai bibirku, kupejamkan mata mencoba menikmati kebiasaan ini lagi.Rio mulai mencium ganas bibirku tak lupa menggigitnya dan memagut, aku terlena menyimpan kedua lenganku pada lehernya, hingga aku merasakan melayang dan terjatuh di ranjangku, rio mulai menindihku dan kembali melanjutkan ciuman panas kami, perlahan rio mulai memainkan kedua payudaraku dan sedikit meremasnya"Arhghhh" desahku keluar saat rio mulai meremasnya dengan cepat, aku merasakan tangan satunya menuju titik sensitifku,aku mencoba menggit bibir bawahku untuk menahan desahku saat rio menciumi leherku dan tangan nya berada di payudara dan area intiku."Aku suka suara desahmu key, keluarkan" ucapnya yang langsung mencium bibirku, aku mengerang dalam ciuman itu, aku merasakan keluar cairan dalam intiku ini nikmat tapi tidak boleh berlanjut lebih dalam, ya meskipun aku sering diperlakukan seperti ini, aku masih tetap menjaga keperawanku"Stopp ioo,, udahh, ahh" ucapku saat rio mulai menjalankan aksi tangan dalam intiku lebih cepat, dengan cepat aku dorong dadanya dan dia tersungkur ke lantai memandangku dengan mata tajam"Sampai kapan kamu mau seperti ini, kita udah 2 tahun pacaran key, dan aku akan menikahimu tahun depan, apa tidak cukup untuk meyakinkanmu aku orang yang pantas untuk mendapatkammu seutuhnya hah"ucapnya dengan amarahDia selama ini memang menahan keinginannya untuk memilikiku seutuhnya, dia merasa kalah dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu memiliki seutuhnya masing-masing pasangannya."Jika ini semua karena kamu merasa gengsi dengan teman-temanmu yang udah lebih dulu ngambil keperawanan pacarnya, kita sudahi saja hubungan ini rio, aku ingin menjaganya untuk suamiku kelak"ucapku santaiKulihat rahang rio mengeras aku tau dia marah, tapi dia tidak akan berani melakukan kekerasan padaku yang kutau meski dia seperti ini dia masih sedikit menghargai wanita yang tidak boleh disakiti"Oke jika itu maumu, kita akhiri hubungan ini" rio bangkit dan keluar dari apartementku, sesak didadaku terasa lebih sakit dibanding sebelum-sebelumnya, aku tau ini salah kita tidak boleh melakukan itu sebelum menikah , aku masih teringat mendiang ayahku, aku merasa berdosa jika menjadi anak yang lebih dalam lagi melakukan hal diluar batas, aku menangis dalam diam mencoba melupakan semua ini . Ini sulit tapi aku harus mencoba semua demi menjaga diriku, 'aku masih mencintaimu rio'***Aku berencana untuk meetup bersama teman lamaku di salahsatu cafe miliknya,,Sesampai di cafe milik temanku aku mengadahkan pandanganku hanya beberapa pasangan yang sedang berbincang asyik sesekali tertawa, aku teringat dulu saat 6 bulan aku berpacaran dengan rio , rio dulu manusia yang paling sempurna yang pernah kutemui,romantis,baikhati,penyabar,pengertian, semenjak dia bekerja dia bertemu dengan teman-teman yang bisa dibilang 'nakal' hingga semenjak saat itu rio memperlakukanku seperti aku pemuas nafsunya.Aku mengedarkan pandanganku dan tertuju pada sepasang kekasih sedang berciuman dipojokan cafe yang kulihat lelaki nya sedang meraba rok bagian bawah perempuan, dan perempuan itu kulihat dia menikmati sentuhan itu, ku pertajam pandanganku dan sesak dalam dadaku terasa sakit saat kulihat lelaki itu rio bersama seorang perempuan yang kuyakini itu adalah temanku pemilik cafe yang kudatangi.Dengan tekad kuat ku aku menghampiri mereka"Ekhemm" dehamku untuk menyadarkan mereka berdua"Ehh key kau sudah datang kenapa tidak telponku dulu" ucap jessica dengan santai. Jessica bukan perempuan polos,dia penikmat dunia malam sama seperti rio, mereka kenal saat rio mulai memasuki dunia malam.Aku memandang rio menatapku dengan santai tanpa rasa bersalah, aku cemburu tapi itu tidak berhak, dan ku tahu jess tidak menyukai rio, dia hanya menyukai apa yang rio lakukan padanya.Aku mengalihkan pandanganku keluar cafe,"Yaudah bye sayang, kita lnjutkan nanti malam di club biasa" ucap rio sambil mengerlingkan matanya"Yaa bye rioo, siap" jawab jessiKulihat rio meninggalkan cafe"Ada apa jess kau ingin bertemu denganku?" Ucapku"Gue butuh bantuan loe key, nemenin gue ke pesta pernikahan kakak gue,loe mau kan? Pleasee" mohon jessi padaku"Hmmm,, aku sibuk je-" ucapku terpotong"Nooo,, loe harus temani gue okey, tidak ada penolakan, sekarang loe makan dulu apa aja yang loe suka tenang geratiss buat loe" ucapnyaAku menganggukan kepalaku dengan cepat, ya aku memang hobi makan dan mulai memesan beberapa makanan, dan beberapa di bungkus untuk di apartement***Malam ini sesuai janjiku, harus menemani jessi ke pesta pernikahan kakaknya, aku memakai dress selutut tanpa lengan berwarna baby blue,selempang kecil hitam dan flat shoes hitam tidak lupa rambut cepol memperlihatkan leher jenjangku menyempurnakan penampilankuTettt...tett...'Ishhh sudah datang lagi kau jess'Sesampai di pesta , aku mengikuti langkah jess yang berada di depanku"Key ni minum buat loe,, gue kesana dulu ya, mau nyapa tamu-tamu""Oke jess,"balasku singkat dan mulai meminum minuman pemberian key dan mengambil beberapa cake , sambil menikmati alunan lagu jazzBeberapa menit kemudian, aku merasakan ada yang tidak beres terhadap tubuhku, panas dan gatal aku merasaakan hal yang aneh,Pandanganku sedikit mengabur, kurasakan tangan kekar melingkar di pinggangku, aku mendongkak dan melihat mantan yang masih kucintai tersenyum manis"Rioohhh,, kamuhh ngapain disini" ucapku sedikit mendesah ketika merasakan sesuatu yang aneh itu semakin menjadi"Nemenin kamu, yuk ikut aku" ucap rioAku merasakan melayang rio menggendongku, aku melingkarkan tanganku pada lehernya."Aoouhh sakitt,, rio ini dimana?Aku nanti dicari jess rioohh" ucapku ketika terjatuh di atas ranjang" ahh rioohh panas sekali disini riohh, ac nya nyalain rioo" ucapku mendesah"Buka saja bajumu sayang,aku akan membantumu" seringai rio yang ku tidak pedulikan aku hanya diam menutup mataku ketika kurasakan rio mulai membuka pakaianku,"Ahhhh ,Ahhh riooohh" desahku ketika kurasakan rio memutar telapak tangannya pada area inti ku yang masih tertutup celana dalam"Kenapa, tersiksa sayang?aku akan membantumu" suara parau rio dan mulai meneruskan aksinya"Rioo jangan berhenti ini nikmat, ahhh,ahhh rioo aku mau pipis rio, awas duluu" ucapku racau"Bukan sayang itu bukan pipis, itu kenikmatan, nikmatilah," ucap rio yang kulihat dia mulai menanggalkan pakaiannya dan menindihku lalu menciumku dan sedikit menggit bibirku, aku mengerang kenikmatan"Ahhhh sakk-iitt riooh" ucapku saat merasakan sesuatu yang keras memasuki area intiku, aku mencoba membuka mataku kulihat rio sedang kesusahan memasukiku"Rioo jangann,, ahhh ini tidak benar rioo jangann ,, ahh ahh ahh"ucapku ketika kurasakan rio memaksaku untuk masuk"Ahhh sakittt,,hikss,,hikss rioo hikss" ucapku menahan sakit di area intiku, dan mengeluarkan tangisankuKurasakan rio mencium keningku,dan melumat bibirku untuk menghilangkan sedikit rasa sakitku beberapa menit kemudian rio mulai menggerakan pinggulnya ke kiri kanan atas bawah. Kesakitan yang tadi ku rasakan kini menjadi kenikmatan yang kudapatkan"Ahhh ahhh ahhh rioohh ahh" desahku"Ohh sayangg ini nikmatt,, ahh ouhhh keyy ahhh aku sayang kamu keyy ahh ahh,,aku mencintaimu key" ucap rio dengan mendesahAku melihat wajah tampan yang sedang menikmati dan mencari kepuasannya itu, dengan memejamkan matanya,"Ahhh rioo yang cepatt rioo aku ingin keluarr rioo ouhh ahh ouhh" racauku"Ouhh yess baby ohhh ahhh ahhh ahh keyy ahhhrghhhh keyyy" pelepasan akhir rio pun keluar dan kurasakan cairan menembus ke intikuKami sama-sama terengah, dan aku merasakan rio memelukku dengan tangan berada di dadaku kamipun tertidur.**"Hikkss...hikss..." aku menangis sejadi-jadinyaMenutupi tubuh telanjangku dengan selimut tebal dan kurasakan ranjang bergerak kulihat rio terbangun dengan cepat menindihku dan mencium bibirku lembut"Maafkan aku sayang, ini rencanaku dengan jessi" ucap rio dengan sedikit bersalah"Jadii-" ucapku terpotong"Ya,, aku sengaja berciuman dengan jessi untuk memanasimu, dan memasukan obat perangsang kedalam minumanmu, maafkan aku key, aku mencintaimu, aku ingin kau jadi milikku seutuhnya, kita akan menikah minggu depan sayang, maukah?" ucapnya sambil menghapus air mataku yang terjatuh karena terharu"Ya aku mau" aku mencium bibir nya dengan cepat dan pipiku memanas"Hey sudah mulai nakal yaa" seringai diwajah rio muncul lagi dan kurasakan ada yang akan terjadi dan"ARrgghhhhh riooohhh" desahku ketika rio memasuki intiku yg masih sedikit linu . Rio terus menghujamku dengan cepat akupun mendesah lagi dan lagi"I love you Keyy" bisik rio tepat ditelingaku yang kubalas dengan dehaman karena terlalu lelahENDMaking Love 21+Hari ini adalah hari dimana aku mulai belajar di sekolah baru, aku berasal dari bandung, karena ayahku ditugaskan di jakarta terpaksa kita sekeluarga pindah ke jakarta . Sekarang aku sekolah di SMA bintang kelas 3 .Aku sudah memasuki gerbang sekolah dan kupandangi semua lingkungan asing ini, sampai akhirnyaBruughhhh" Aouuu sakitt" , aku mendongkak terdapat seorang laki-laki tinggi dan cukup tampan"Mata loe taro dimana hah?" Ucap laki-laki itu"Maaf aku gak sengaja,maaf" ujarku sambil bangkit" Loe pindahan ya? Baru liat gue" balas lelaki itu"I..iya aku ciara,pindahan dari bandung, nama kamu siapa?" Ucapku ramah"Jonathan, loe kelas berapa?" Jawab joe"Aku kelas 3 IPA 1, kelasnya dimana ya?" Balasku sambil memalihkan pandangan"Yok ikut gue" ujar joe sambil menarik lenganku"Ehh emm iya" jawabku gugup***Sesampai dikelas"Wahh joo korban baru nih" ucap teman joe"Diem loe bgst" tegur joe"Loe duduk di samping gue ya" ucap joe yang dibelas dengan anggukanSelama pembelajaran jonathan selalu memperhatikan cia, dan pandangannya terfokus pada bibir merah muda cia dan dada yang sedikit besar***Bel berbunyi"Cia, loe pulang gue anterin ya" ucap joe tiba-tiba"Eh gausah aku gamau ngerepotin joe, aku bisa naik kendaraan umum" balasku"Ssstt.. gpp gue ga ngerasa direpotin kok" balas jo sambil menyimpan telunjuk tangannya ke bibir ranum ciaYang di angguki pasrah oleh cia***Selama perjalanan di mobil joe keheningan menemani perjalanan mereka hingga"Ada yang marah gak gue pulang bareng loe"? Ucap joe"Hmmm?" Balasku karena tidak mengerti"Hufftt , maksud gue loe punya pacar gak?" Balas joe"Mmm.. aku ga pernah punya pacar joe, aku gatau pacaran harus ngapain aja, jadi mending sendiri aja" balasku dengan senyum manis yang di angguki oleh joe****Beberapa hari kemudianJoe memberikan kertas kecil pada cia, cia membuka dan membacanya'Gue suka sama loe dari awal kita ketemu, gue pengen loe jadi pacar gue, loe mau gak jadi pacar gue'Cia memandang joe , joe menatap dengan penuh harap, cia menghela nafas akhirnya cia menganggukinya"Yeesss!!" Ucap joe tiba-tiba yang membuat cia tersenyum geli***To cia, from joe'Cia hari ini gue jemput loe ya,gue pengen ajak makan siang di rumah gue'To joe, from cia'Oke joe'Ting... tong... ting...Pintu terbuka menampilkan seseorang gadis cantik,Joe terpesona dengan gaya cia, memakai rok pendek jeans selutut dan blouse sabrina baby pink dengan rambut di cepol" Joo,, haii,, joo, kenapa?" Ucapku membangunkan lamunan joe"Ah iya kamu terlihat cantik hari ini sayang" balas joe membuatku merona***Sesampai dirumah joe"Joe dimana orang-orang? Kok sepi" ucapku"Iya ortu gue lagi dinas keluarkota, sodara gue udah pisah rumah, gpp ko sepi jadi kita bisa bebas" seringai joe yang tidak dipahami cia"Aku masak dulu ya jo, dapur nya dimana"? Ucapku yang dibalas dengan tarikan tangan jo ke cia sambil mengarahkan dapur**Aku merasakan tangan seseorang melingkar di pinggang ku,dan mencium tengkuk telanjangku"Eughh jo geli, kamu lagi ngapain sih" ucapku mendesah geli"Kita kan udah pacaran, ini salah satu hal yang dilakuin sama orang yang berpacaran sayang" ucap joe yang di balas ber o ria ,aku terpekik kaget saat joe membalikan tubuhku dan kita saling berhadapan dia memandangku yang tidak dapat kuartikan"Aku cinta kamu cia, yang kedua hal yang dilakuin orang pacaran, ciuman, kamu bisa kan ciuman?" Ucap joe yang dibalas dengan gelengan cia yang membuat gemas dan gairah tak tertahan"Oke kita mulai ya, kamu ikuti aku" balas jo cepatJo mulai mendekatkan diri pada cia dan mencium bibir cia, lama kelamaan melumat dan menggigit bibir bawah cia joe merasakan cia mengerang dalam ciumannya, ciuman yang lama dan panas tidak akan disiasiakan joe, joe mulai meraba punggung cia dan beralih ke depan meraih buah dada cia dengan sedikit meremasnya"Euhhh jo, udah" ucap cia di sela ciumannyaJoe melepas ciumannya dan dilihat bibir cia sedikit membengkak, joe mengelap bibir cia dengan jari tangannya kemudian mencium pipi ciaDan melanjutkan masak yang tertunda***Setelah selesai makan, joe mengajak cia ke kamarnya dan menonton film dewasa" joe ini film apa, ko jijik gitu"? Ucap cia melihat adegan yang menurut nya menjijikan"Ini film dewasa cia, orang yang pacarn melakukan itu, itu wajar""Ohhh , itu kenapa ada tanda merah di tubuh cewe itu,dia digigit semut jo"? Tanya cia membuat jo gemass"Itu namanya kissmark, kamu mau aku contohin"? Seringai joe"Emm sakit gak"? Jawab polos cia"Engga ko," balas jo dengan semakin mendekatkan kepalanya ke curuk leher cia dan mengendus leher cia yang membuat cia kegelian, lalu mencium dan menggit sedikit leher cia"Auuuoo jo, sakit" ucapku langsung memegang leher yang di gigit joe, joe mengambil hp dan memfoto leher cia,cia melihat hp tersebut dan ada tanda merah yang sama dengan di film barusan dia tonton"Gak terlalu sakit kan cia, mau aku ajarin yang lebih enak gak"? Kamu pasti keenakan nanti, geli-geli gimana gitu, mau ya"?"Mm boleh, aku harus ngapain" ucap semangat cia"Kamu buka baju kamu aja" balas joe sambil mendudukan cia di atas pangkuannya"Malu joo," ucap cia sambil menunduk"Gpp sayang yang liat kan aku aja" ucap jo sambil mengarahkan tangannya ke baju cia, dan baju gersebut terlepas dari tubuh cia. Jo tidak bisa menahan gairahnya langsung melahap bibir cia dan meremas payudara cia yang masih tertutup bra hitam, sambil mencoba membuka pengait bra cia, dan akhirnya terbuka menampilkan cia setengah telanjang, joe menatap cia yang menunduk malu membuat dia gemas dan langsung merebahkan cia di ranjang joe, joe langsung melahap payudara cia dan swdikit menggit membuat tanda kemerahan, membuat cia mendesah dan meremas rambut jo"Ahhh joo,, eummhhh,, pelanpelan jo ngilu"desah cia, disaat jo meremas dan menggit payudaranya kasar" ahhh joo,kamu ngapain" ucap cia sambil mendongkak melihat jo yang masuk kedalam rok cia, dan menarik celana dalam cia dalam sekejap"Ini akan nikmat cia" jo mulai memasukan telapak tangannya kedalam rok dan memutar inti cia secara pelan hingga cepat membuat cia mendesah hebat karena geli, dan akhirnya orgasme pertama kalinya"Ahhh joo ini apa namanya ko enak, aku jadi mau pipis nih?" Ucap polos cia"Bukan cia, itu namanya pelepasan orgasme memang enak, kamu mau lebih enak"? Tanya jo yang di angguki ciaJo membuka semua pakaiannnya dan mengarahkan kejantanannya ke muka cia, cia kaget melihat kejantanan jo dan menutup mukanya"Heyy jangan ditutup mukanya, sekarang kamu masukin ini ke mulut kamu, kaya ngulum lolipop tau?" Ucap jo yang di angguki cia dengan sedikit ragu , perlahann memasukan penis jo ke mulut cia"Ouhhh ciaa,, dengan mulut loe aja, gue keenakan gini, ciaa lo hebat ahhh ahhh" erang jo, cia mulai mempercepat kulumannya maju mundur membuat jo lepas kendali dan membuka rok cia dan mengarahkan jarinya ke lubang cia membuat cia memekik kaget"Jo sakit " ucap cia merasakan perih saat jari jo memasukinya" tenang gak akan lama ko" balas jo dengan sedikit menyentil clit cia" ahhh joo gelii jo ahh ahh" desah cia saat jo memainkan clit dan memutar cepat tangannya di inti cia"Joo aku mau keluar lagi jo" ucap cia"Tunggu sayang pake yang ini ya jangan jari," jawab jo yang langsung memasukan penisnya ke dalam inti ciaJlebbb"Arghhhh sakkkittt joo " ucap cia merasakan sakit dan menangis karena perih"Joo sakitt .. hikss..hikss.." tangis cia"Maaf ya sayang, bentar lagi enak ko" balas jo dan melumat bibir cia dan menggigit nya agar tidak terasa sakit yang dialami cia"Ahhh.. ahhh.. joo... geli joo ahh ahh lebih cepat joo ahh" racau cia"Ouhh ciaa,, kamu nikmat sekali cia, ouhh ahhh ahhh" desah jo"Arhhjhhhhhh" desah keduanya, saat jo menyemburkan spermanya kedalam inti cia"Makasih sayang" ucap jo sambil mengecup kening cia"Joo aku takut, gimana kalo mamah papah aku tau" balas cia sambil menangis"Aku akan tanggung jawab sayang, aku sayang kamu" ucap jo sambil memeluk cia yang sudah tidak bertenaga***Ditoilet sekolah"Eungghh, joo udah jo ntr ketauan ma yang lain" desah perempuan yang sedang mengangkang di closet wanita,seorang laki-laki sedang memompa liang perempuan itu dengan cepat, perempuan itu terus mendesahCeklekk"Joooo,,," ucap cia tiba-tiba dengan mulut menganga tidak percayaJoe berbalik melihat sumber suara yang dia kenal"Ciaaa" balas jo dengan ekspresi kaget dan langsung merapihkan seragam dan celananya, langsung menghampiri ciaPlakkCia menampar pipi jo dengan keras"Kamu jahat jo, kita gabisa pacaran lagi maaf permisi" ucap cia langsung meninggalkan jo dan perempuan itu"Ciaaa,, ciaa" teriak jo, cia menulikan telinganya dia membenci jo, jo hanya menginginkan tubuhnya bukan hatinyaSudah seminggu cia tidak masuk sekolah, membuat jo merasa bersalah,dia selalu mengunjungi rumah cia , tapi cia tidak pernah mau keluar menemuinya, jo frustasi,dia bingung dengan cara apa cia mau memaafkannya , sampai hari kelulusanpun tiba, jo mengalihkan pandangannya ke penjuru sekolah dan dilihat cia dengan anggun menggunakan kebaya pink yang sangat cocok dengan kulit putihnya, jo mulai berjalan mendekat ke arah cia dan seketika jantung jo berdegup , sesak melihat seorang laki-laki datang membawa bucket bunga dan mencium kening cia yang dibalas dengan senyum manis cia dan mengecup pipi laki-laki itu,jo yakin itu adalah pacar cia.Jo marahh ,,iya memutuskan untuk membalas sakit hatinya***Malam tiba di kediaman ciaSrekk jendela kamar cia terbuka menampilkan sosok berbaju hitam-hitam, cia langsung kaget dan mundur ke kepala ranjang, telapak kaki cia di cekal dan cia terlentang yang langsung di tindih seseorang itu dengan cepat lelaki itu mencium bibir cia dan mulai membuka baju tidur ciaCia menangis dia di perkosa oleh sessorang yang tidak dia kenal,"Hikss..hikss...sakitt.. udahh.. c..ii..aa.. takutt.. hiks..hiks..."tangis cia saat seseorang itu terus memompa liang sempit cia"Ahhhhh" suara laki-laki itu, cia mengenal dan langsung mengambil hp dan menyalakan apl penerang, dan kaget saat dilihat lelaki itu adalah jo"Joooooo,,,hikss.. kenapa kamu lakukan ini sama aku joo, kenapaaa, apa kamu belum puas ambil semua yang aku punya, kamu jahat bajingan"teriak cia sambil menendang tubuh jo yang berada di atasnya , jo mengeram kesakitan, dia menampar pipi cia"Lo juga jahat, dasar perempuan murahan, lo udah jadi jalang hah berapa laki-laki yang udah memasuki loe hah?" Ucap joPlakkk"Cukup jo,,aku bukan perempuan yang kamu bilang, kamu bebas melakukan ini sama aku, karena mulai besok aku akan pindah dan melanjutkan belajar di luar negeri" ucap cia miris"Ohh sama laki-laki yang kemarin dtg di kelulusan loe, dijual berapa loe sampe mau tinggal sama dia hah?" Teriak jo"Aku benci kamu jo, dia kakakku,puas, sekarang kamu pergi joe, kamu udah buat aku jadi perempuan kotor,kamu.. kamuu hiksss...hiksss.. kamu jahatt" tangis cia membuat joe melamun dan menyalahkan kebodohannya"Sssttt cia, maafin aku cia, kamu jangan pergi, aku bakalan nikahin kamu cia,please maafin aku" ucap lirih joCia tidak merespon permintaan maaf jo, dia terlalu takut dengan kejadian tadi hingga akhirnya mereka tetidur.***Pernikahan telah berlangsung 2 jam yang lalu, sekarang cia dan jo berada di kamarnya, jo sekarang berubah menjadi laki-laki yang baik, romantis, dan penurut , mungkin dia merasa bersalah telah melukai hati cia"Joo,,, emmm tolong bukain gaun ini,aku tidak sampai" ucap cia pelan dengan gugup dan berbalik, jo mulai membuka gaun pengantin cia dan mencium punggung telanjang cia hingga gaun tersebut terjatuh kelantai menyisakan bra dan cd cia,"Apa kita akan melakukan malam pertama cia?" Jawab jo pelan karena takut menyakiti cia"Tentu saja jo, aku sekarang istrimu, kamu berhak memiliki aku" ucap cia dengan tersenyum merona, jo langsung mengangkat cia dan membaringkannya ke kasur pengantin mulai mencium bibir cia dan meremas payudara cia"Ahhh joo,, akuu ingin lebih" desah cia"Oke sayang" jawab jo dengan langsung mengarahkan penisnya pada inti cia"No joo, sekarang aku yang di atas ya" ucap cia malu-malu yang di angguki joCia mulai