Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Bangku Terlarang
Hari ini adalah hari awal aku masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas. Namaku Tania. Aku duduk di kelas 1 SMA PERWIRA HUSADA. Aku berjalan melewati koridor kelas yang cukup panjang dengan langkah santai. Dari kejauhan ku lihat anak-anak berkerumun di depan kelasku. Aku berlari dan mencari tau apa yang terjadi.“Ada apa sih Nit?” tanyaku pada Nita.“Ada yang kesurupan, Lira.” Balasnya.“Kok bisa sih? Atau jangan-jangan dia duduk di bangku kosong depan bangkuku?” tanyaku detail.“Sepertinya sih gitu Tania.” Jawab Nita singkat.Tiba-tiba anak yang mengerumuni Lira itu serentak terpental.“Kekuatan Lira hebat banget.” Teriak Anton yang tersungkur pada sebuah pot bunga. Lira pun tiba-tiba pingsan. Anak-anak membawanya ke ruang UKS karena guru belum ada yang berangkat.Berbagai hal aneh selalu terjadi, jikalau bangku di depanku ini ada yang menduduki. Sudah 10 kali kasus seperti ini terjadi. Aku tak habis pikir, kenapa bangku itu selalu membuat masalah. Di saat aku melamunkan perihal bangku ini, tiba-tiba Rere sahabat baikku datang.“Kenapa kamu?” Tanyanya sambil menepuk pundakku. Seketika itu aku terperanjat. Aku menatap Nita tajam.“Mm, kamu tahu sesuatu tentang bangku ini gak?” tanyaku serius sambil menunjuk bangku di depanku itu.Rere menatap mataku seakan menyelidiki apa yang ada di otakku, lalu melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mukaku.“Ih, apaan sih kamu Re? Gak jelas banget deh,” ocehku kesal karena Rere seakan meledekku.“Aku gak tahu persis sih. Tapi aku pernah denger cerita orang, kalau bangku ini itu bangku terlarang. Disebut terlarang karena dulu, kira-kira 5 tahun yang lalu ada seorang murid perempuan, dia sangat cantik dan pintar. Lalu di antara teman-temannya ada yang tidak menyukainya. Dan dia akhirnya dibunuh oleh temannya itu. Semua kejadian itu terjadi di bangku ini.” Ucap Rere panjang lebar.“Terus, terus, terus?” tanyaku semakin penasaran.“Ya, terus karena murid cantik itu merasa ini bangkunya, jadi gak ada seorang pun yang boleh duduk di bangku ini.” Jelasnya lagi semakin serius.Sesa’at aku menoleh ke seluruh penjuru kelas. Ku lihat anak-anak yang lain masih berkerumun menceritakan perihal Lira yang kesurupan pagi tadi.“Tan ada darah.” Bisik Rere pada telingaku.“Mana Re? Gak ada apa-apa kok.” Balasku selagi membetulkan kerudung putihku.“Lihat deh darah itu, masih segar!!!” Tegas Rere ketakutan. Mendadak wajahnya pucat pasi seperti mau pingsan. Aku melihat sekitar bangku terlarang itu. Ternyata setelah aku teliti memang ada bercak darah segar di bangku itu.“Perasaan tadi bangku itu bersih, kok tiba-tiba ada darah ya?” batinku.Semenjak kejadian itu, kami sering dihantui oleh hantu bangku terlarang itu. Situasi ini memancing kami untuk menjadi detektif dadakan. Semua hal yang berkaitan dengan bangku terlarang itu kami selidiki satu per satu dengan detail.Hingga pada suatu hari ketika aku sedang belajar di kelas badanku terasa dingin dan lelah. Seketika itu pula aku melihat kejadian tragis yang menimpa seorang gadis. Mungkin dia adalah pemilik bangku terlarang itu. Aku melihat jelas ketika gadis itu sedang duduk membereskan alat tulisnya, dan tiba-tiba muncul seorang yang ingin membunuhnya. Awalnya dia berusaha berlari dan mencari pertolongan. Namun apa daya, karena sekolah sudah sepi. Akhirnya ia terbunuh.Kepalanya dipenggal. Tubuhnya terkulai lemah di bangku itu. Dan kepalanya disimpan di koper yang berada di gudang. Orang yang membunuhnya tak lain adalah teman sebangkunya yang syirik terhadap dia. Aku tak tega melihat semua ini. Aku menangis seketika melihat peristiwa ngeri ini. Tiba-tiba gadis tanpa kepala mendekatiku. Aku hampir pingsan dibuatnya. Aku takut setengah mati, tapi aku juga merasa kasihan. Dan aku tahu tujuan gadis itu mendekatiku adalah untuk meminta bantuanku menemukan kepalanya dan menguburkannya dengan sewajarnya.Aku menceritakan apa yang ku alami siang itu pada Rere. Kami berusaha mencari kepalanya. Seluruh penjuru gudang kami obrak-abrik.“Ta, koper itu bukan?” Rere menarikku menuju koper di pojok jendela.Setelah kami buka, ternyata benar. Di dalamnya ada kepala manusia yang usang dan sudah berubah menjadi tengkorak kepala. Kami pun membawanya ke halaman sekolah dan menguburkannya dengan layak. Dan kami pun mendoakannya. Sesaat setelah itu, muncullah gadis yang cantik di depan kami. Dia mengulurkan tangannya pada kami. Dan dia mengucapkan terima kasih, karena telah menguburkan kepalanya. Kami pun menjabat tangannya dan tersenyum. Tidak lama kemudian gadis itu menghilang.Setelah kejadian itu kami tidak dihantui hantu bangku terlarang lagi. Kini bangku itu aman diduduki oleh siapa saja karena arwah gadis itu telah tenang setelah kami menguburkan kepalanya sore kemarin di halaman sekolah.TAMAT
Sweet Grim
Jiwa manusia ibaratkan setitik cahaya yang jika ditepuk sedikit saja, akan sirnah selama-lamanya.Namaku Jeon Jung Kook dan aku terlahir sebagai manusia biasa.Lebih tepatnya dulu aku seorang manusia biasa.Saat aku lahir, ibuku membunuhku dan dialam baka semua jiwa mengasihaniku dan memohon kepada dewa agar memberiku anugrah, bukan sebuah renkarnasi.Akhirnya aku dibawa kembali kedunia oleh seorang dewa. Dewa yang dikutuk menjadi seorang pencabut nyawa.***Kau ditempatkan ditempatmu sekarang, bukanlah sebuah kebetulan."Selamat ulang tahun yang ke 20 Jeon Jung Kook kita!" Sorak semuanya, mereka semua berkumpul disini sebuah dimensi yang tak kasat mata, yang ku sebut rumah."Lama-lama rumahmu makin sempit saja, kau mau ikut dengan ku tidak? Sekarangkan sudah besar." Kata Dong Wook hyung."Ais jangan ganggu dia, biarkan Jung Kook memilih jalannya." Kata Pak Kwon sambil menyentil dahi Dong Wook hyung.Pak Kwon adalah dewa yang aku bicarakan sebelumnya, ia yang membawaku kembali kedunia fana ini dan merawatku seperti seorang ayah. Mengajariku berbagai hal mengajakku tinggal dirumahnya yang hanya seorang pencabut nyawa dapat melihatnya.Letak rumahnya tepat disamping gereja, hamparan rumput yang luas orang akan mengira itu bagian dari pemakaman. Tapi sebenarnya ada mantra yang bisa membuka pintunya.Diumur 20 ini aku resmi menjadi seorang pencabut nyawa, jujur semalam aku sampai tak bisa tidur dan tepat tengah malam ini semuanya berkumpul dirumah pak Kwon untuk merayakan ulang tahunku sekaligus jabatanku.Menjadi seorang pencabut nyawa tidak lah mudah pak Kwon selalu menahesatiku dan memberikan tips-tips saat menghadapi jiwa-jiwa yang tak rela meninggalkan dunia ini."Apa ini pacarmu?" Tanya Dong Wook hyung saat setelah melihat lockscreen ponselku."Ya engga lah! Itu sahabatku Jimin, dan dia seorang pria!" Bisa-bisanya dengan otot sebesar itu Dong Wook hyung mengira Jimin seorang perempuan."Tenang-tenang. Abisnya dia cantik sih, prettyboy!" Serunya.Dong Wook hyung akan ditugaskan sebagai pelatihku, awalnya pak Kwon tidak setuju karena ia tau bagaimana dekatnya aku dengan Dong Wook hyung. Bisa-bisa bukannya menyelesaikan tugas kami malah bersenang-senang.Tapi kami sudah berjanji pada pak Kwon untuk bersungguh-sungguh. "kita langsung coba saja, sebelumnya kau pakai ini dulu." Dong Wook hyung menyodoriku tas karton yang entah apa isinya.Aku hanya menurut saja dan mengenakan pakaian yang ada didalamnya. Sebuah pakaian anak SMA biasa dan sangat pas dengan ukuran tubuhku. "wah cocok sekali denganmu, sekarang kau siap." Dong Wook hyung mengacungkan jempolnya kearahku."Untuk apa ini? Apa aku akan kembali kesekolah?" tanyaku heran.didepan gerbang sebuah sekolah"Apa kau bercanda?" Yang benar saja, aku sudah berusaha mati-matian keluar dari tempat ini. Dong Wook hyung dengan mudahnya menyuruhku kembali lagi ke tempat yang sengsaranya macam neraka.walaupun aku belum pernah merasakan neraka"Tenang saja untuk satu hari saja, jalanilah tugasmu dengan sungguh-sungguh."Aku baru mengerti, "aaa! Jadi aku menjalankan tugas pertamaku disini. Baiklah aku tidak akan mengecewakan Pak Kwon.""Tunggu ada satu lagi yang harus kau camkan." Dong Wook hyung tampak serius. sepertinya ada sesuatu yang penting.Aku mendekatkan tubuhk dan ia merangkul lalu membisikkan sesuatu, "Jangan menggoda siswinya." Dengan gerak refleks aku menyiku perutnya dan ia kesakitan."Tenang saja aku akan melakukannya dengan baik!" Kataku percaya diri, aku juga mengedipkan mataku kearah Dong Wook hyung yang kesakitan.Percayalah padaku!***BTSBack To SchoolAku hanya perlu menemukan target lalu mengajaknya bersamaku. Ya sangat mudah, semuanya akan baik-baik saja.Aku melangkah dengan percaya diri, semua siswa terus saja menatapku. Ini membuatku sedikit gugup."Min Soo!! Cepat turun apa yang kau lakukan?!" Teriak siswa perempuan dibelakangku.Wah aku menemukan target ku, seorang siswi akan terjun dari jendela lantai 3. Aku hanya harus menunggu ia bunuh diri lalu mengajak arwahnya pergi. Sangat mudah!"Min Soo jangan bodoh! Aku menyayangimu!" Teriak seorang siswa dari jendela sebelahnya yang tamoak ragu mendekati Min Soo.Min Soo hanya menangis, siswa laki-laki itu berusaha meraih tangan Min Soo dan ia berhasil meraihnya, "Min Soo kita lewati masalah ini bersama-sama!" Kata-kata itu sanggup membuat Min Soo terhuyun kebelakang dan mengurungkan niatnya bunuh diri.Wah seperti adegan di drama saja, sangat menyentuh. Tapi tunggu dulu!Kalau bukan Min Soo lalu siapa yang akan mati?"Aaaaaaaaaaakkkkkkkkk!!!"Terdengar suara teriakan dari jendela tempat Min Soo. Beberapa siswa termasuk aku, berlari menghampiri.Betapa terkejutnya kami, siswa yang menyelamatkan Min Soo sudah tergeletak dipangkuan Min Soo."Apa yang terjadi? Kenapa aku disana?!" Arwah si siswa masih tak percaya kalau ia sudah lepas dengan badan kasarnya."Kau sudah tiada, sekarang ikutlah denganku." Kataku menghampiri arwah siswa itu yang bediri disamping Min Soo yang masing menangisi kepergiannya."Tapi bagaimana bisa? Min Soo.." lalu ia terdiam dan menitikkan air mata. "Apa aku akan pergi keneraka sekarang?" Tanyanya."Kau sudah menyelamatkan gadis itu, aku harap dewa akan mengampuni dosa mu. Percayalah tuhan maha pengampun."Sejujurnya aku sedikit tidak percaya."Selamat kau berhasil dipercobaan pertama! Apa bisa kau rasakan?" Sapa Dong Wook hyung.Rasa apa nya, merasa bahagia saat orang-orang sedih kehilangan dan pencabut nyawa menemukan targetnya.Dong Wook membawa siswa itu entah kemana, aku sudah bisa bersantai sekarang.Kematian memang hal yang sangat mengerikan, kita tidak tau kapan dan bagaimana kita mati. Rasanya benar-benar seperti meniup api pada lilin saja.Beberapa bulan kemudian"Aku sedang malas bagaimana kalau kau saja yang gantikan?" Kata Dong Wook hyung diujung telfon. Semakin lama ia semakin semena-mena padaku."Berarti bonusmu aku yang dapat ya!""Ambil saja aku tidak perlu, mau ga? Kalo engga aku suruh oranglain nih."Jika seperti ini ceritanya beda lagi jalannya. "Baiklah, katakan dimana tempatnya."Sesaat setelah aku sampai dilokasi, Dong Wook hyung mengirimi aku foto nya. Dasar ia malah malas-malasan!Sebuah rumah yang amat megah, dengan gerbang besar. Aku hanya perlu masuk dan menemukan target.Tidak ada yang mustahil bagi seorang pencabutnyawa. Aku membuka gerbang itu dan terkagum-kagum dengan taman rumah itu.Kaya sekali orang ini"Aku kan sudah bilang saham itu harus dipertahankan! Dasar brengsek!" Seorang wanita yang masih muda berteriak-teriak saat menelfon dibalik semak aku mengintip.Ia menutup telfon itu lalu membanting ponselnya.Wah benar-benar orang kaya!"Nyonya gosip itu kembali mencul." Ajudannya yang kekar menghampiri, dan wanita itu tampak tidak senang. Ia menampar pria kekar itu dengan tangan kosong."Aku tidak mau dengar lagi berita itu! Cepat bereskan!" Pria kekar itu lalu pergi dengan tergesa-gesa."Hey nak apa yang kau lakukan disini!" Suara berat pria dari arah punggungku. Membuatku terkejut, segera pria itu menyeretku kehadapan wanita yang marah-marah tadi."Nyonya aku menemukan anak ini dibalik semak-semak.""Seperti kucing liar saja. Ini aku beri kau ikan asin!" Wanita merogoh tasnya dan memberikanku segepok uang.Ia meraih tanganku lalu entah penglihatan apa yang aku lihat saat wanita ini menyentuh tanganku.Ia masih muda dan terdengar suara tangisan bayi, wanita itu menodongkan pisau lalu menusuk-nusukannya bertubi-tubi. Rasa sakitnya sampai bisa kurasakan, tepat dihati, jantung, perutku, juga leherku."Aarggghhhhhhhh sakitttt!!" Teriakku, wanita itu melepas tangannya larena terkejut."Ada apa dengan anak ini, bawa ia pergi!" Kata wanita itu.Aku kembali diseret keluar rumah megah itu, tersungkur kesakitan aku bisa merasakan kesakitan bayi itu.Atau jangan-jangan akulah bayi itu! Dan aku harap wanita kaya itu yang mati!!Destroy what destroy you"Hey kenapa cepat sekali? Aku dengar rumahnya besar sekali ya. Pembantu itu beruntung bisa mati di istana, hahah." Dong Wook masih bisa bergurau saat aku datang dengan wajah muram."Kau sengaja kan!""Hey tenang ada apa? Kenapa teriak-teriak.""Wanita pemilik rumah itu! Dia ibuku! Dia pembunuh!" Aku sangat emosi sampai-sampai melempar meja kearah Dong Wook hyung.Iya menangkisnya lalu memelukku dan berkata, "Jung Kook tenang lah, dunia belum berakhir.""Itu sama saja seperti akhir dunia bagiku! Kau tak pernah mengerti rasanya menjadi aku!""Dengarkan aku! Kau pikir bagaimana cara kami bisa menjadi seorang pencabut nyawa? Aku pernah ada diposisi mu, aku mengerti perasaanmu."Aku hanya diam dan mulai menangis, rasa sakit ini tak bisa aku tahan lagi. Aku hanya ingin ibuku menerima balasannya."Aku ingin dia mati sekarang!" Aku melepas pekukan Dong Wook hyung lalu pergi kerumah itu lagi.Ding Wook mengikutiku namun ia tak mencegahku. Wanita itu tampak sedang duduk tenang didalam kamar gelap.Aku sudah siap dengan belati ditanganku, aku akan membuat wanita ini merasakan apa yang aku rasakan dulu.Kemudia terdengar isakan wanita itu, semakin keras, semakin gila. Aku berhenti sejenak lalu melihat kedepan wanita itu. Sebuah altar tanpa foto, tertulis "buah hatiku."Seketika badanku terasa lemas, aku terhuyun Dong Wook hyung menangkapku, "Jung Kook ibumu sangat menyesali itu semua. Tuhan maha adil, ibumu sudah cukup menderita selama ini."Dong Wook hyung membawaku pulang, pak Kwon tampak kawatir. Aku hanya diam dan menyesali semuanya. Bagaimana bisa aku berharap ibuku mati, walaupun dulu ia membunuhku. Tetap saja ia ibuku, yang melahirkanku.Lihat saja tadi ia sangat menderita, dan betapa menyesalnya ia sudah membunuhku.Nasi sudah menjadi bubur"JungKook!!""Jimin!"Kami berpelukan, "bagaimana kuliahmu?" Tanyaku."Ahh sangat membosankan! Tapi sekarang akan seru karena aku akan pergi karaoke bersama si pencabut nyawa!"End.
Senja: Indah atau Luka?
Waktu sudah menunjukkan pukul 16:42 WIB. Namun, aku juga belum beranjak dari tempat ini. Tempat di mana terakhir kali aku melihatmu. Tempat di mana kamu memintaku untuk terus menunggumu di sini. Aku selalu berharap Tuhan mempertemukan kita bukan hanya untuk sekedar bertemu, tetapi saling melengkapi dan bersama di dalam hubungan ikatan suci pernikahan.Beberapa orang mulai meninggalkan tempat ini, hari semakin sore dan cuaca hari ini juga sedang tidak bagus. Langit semakin gelap, dan aku masih enggan untuk beranjak dari tempat ini. Setiap aku kembali ke tempat ini, aku selalu berharap aku akan bertemu denganmu lagi. Perlahan, aku kembali mengingat hari-hari di mana kita sebelum berpisah.FLASHBACK, Juni 2010“Reinaaa! Reii!” suara itu sampai terdengar ke kamarku.“Reii, itu ada tamu. Buka pintunya gih nak, masakan mama gak bisa ditinggal nih.” seru mama dari dapur.“Iya mah,” jawabku malas.“Siapa sih yang datang siang-siang begini?” gerutuku pelan sambil berjalan ke arah pintu. Sebelum aku membuka pintu, aku melihat dari jendela siapa yang datang. Dan ternyata…“APAH? AZIZ?” aku terkejut mendapati fakta bahwa orang yang bertamu adalah Aziz. Aku pusing tujuh keliling.Aku tidak tahu harus apa, “Kenapa dia gak SMS atau nelepon dulu kalau mau ke sini, biar aku bisa siap-siap,” gerutuku pelan.Setelah beberapa lama kemudian, dengan hati yang harus siap aku membuka pintunya. Perlahan terlihat wajah tampan dan senyum manis yang dibalik pintu itu.“Hai Rei,” sapanya.“A.. aa..hh, hai. Ada a..apa ziz?” tanyaku terbata-bata.“Kamu sibuk? Mama kamu di rumah Rei?” tanyanya.“Eeeh? Mama?” aku tidak percaya apa yang ia katakan. Sejenak aku terdiam.Dia tertawa kecil melihat ekspresi kaget dariku. “Cute,” ucapnya pelan.“Siapa yang datang, Rei? Kok gak disuruh masuk tamunya?” tanya mama sambil berjalan ke arah pintu.“Aaahh ini mah teman Rei datang,” jawabku.“Assalamualaikum bu, saya Aziz teman sekelas Reina, saya mau ngajak Reina ke pesta ulang tahun teman kita Yola bu. Boleh?” tanpa basa-basi Aziz langsung mengatakan tujuannya pada mama.Aku tertegun mendengar ia bicara dengan mama, padahal yang aku tahu selama ini, ia jarang sekali bicara dan datang ke rumah wanita. Bahkan menurut penuturan temannya sejak kecil, ia bahkan tidak pernah naik motor berdua dengan wanita selain ibunya. Ia juga bertanya pada mama apakah aku boleh ikut atau tidak.Mama awalnya ragu memberi izin, namun mama ingat ia adalah salah satu siswa populer dan berprestasi di sekolah. Jadi mama mempercayakan aku padanya. Lalu, mama menyuruhku untuk siap-siap sedangkan Aziz dan mama bicara berdua di ruang tamu.15 menit kemudian…“Reii, kenapa belum siap juga? Nanti kalian telat ke acaranya. Kasihan tuh Aziz nunggu lama,” tanya mama.“Iya mah, ini udah selesai,” jawabku.Aku melihat Aziz yang menatap ke arahku, dia seolah terheran melihatku. Dan aku pun mulai merasa salah kostum. Sebelum pergi, aku sempat bertanya pada mama bagaimana penampilanku. Mama bilang bagus dan cantik. Setelah berpamitan dengan mama, kami langsung pergi ke tempat tujuan kami.Sepanjang jalan, tidak satu pun dari kami yang membuka pembicaraan, sampai pada akhirnya aku merasa ada sesuatu yang aneh…“Ziz, ini kan bukan jalan ke rumah Yola?” tanyaku.“Memang bukan,” jawabnya santai.“Lalu ini mau ke mana? Apa rumah Yola sudah pindah?” tanyaku lagi.“Enggak juga,” jawabnya tetap santai.Aku memilih berhenti bertanya, meskipun hatiku terus bertanya—akan ke mana Aziz membawaku.Tak lama kemudian, aku melihat papan bertuliskan SELAMAT DATANG DI PANTAI BUNGA, BATU BARA.“Acara Yola di pantai ya, Ziz?” tanyaku penasaran.“Eengh? Enggak,” jawabnya.“Lalu kita ke sini ngapain?” tanyaku lagi.“………….”Ia tidak menjawab pertanyaanku. Kami masuk ke area pantai. Setelah memarkirkan motornya, kami menuju tempat berteduh dekat pantai, di mana dari tempat itu kami bisa menikmati angin sepoi-sepoi dan melihat laut terbentang luas tanpa penghalang.Ketika aku menikmati pemandangan pantai, dia mengambil fotoku tanpa izin. Terdengar suara klik, aku langsung menoleh.“Ya! Apa yang kamu lakukan?” kataku sambil merebut smartphonenya.“Kamu cantik hari ini. Aku suka,” jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku.“Aku rasa semua wanita cantik. Kamu juga menyukai mereka?” tanyaku lagi.“Aku gak bilang mereka. Aku bilang kamu. R E I N A,” jawabnya sambil mengeja namaku.“Udah ah.” Jawabku sambil tersenyum kecil.Lalu ia mengajakku berjalan ke arah barat, untuk melihat senja. Ya, dia penyuka senja.“Setidaknya sebelum hari itu tiba, aku sudah melihat senja bersamamu,” ucapnya pelan sekali, sambil melihat ke arahku.“Haa? Kamu bilang apa?” tanyaku.“Aku bilang, selain indah, senja itu juga baik. Kenapa? Karena senja tahu cara berpamitan ketika ia akan pergi. Ia seakan-akan tersenyum ke arah kita dan mengucapkan selamat tinggal.”“Meskipun indah, ia tetap tenggelam dan hilang,” jawabku.“Kamu benar!” katanya.Ia terus menatap senja dengan penuh perasaan. Saat itu aku menyadari, ada sebagian dari dirinya yang ikut tenggelam bersama senja. Ia seperti memikirkan sesuatu.Kemudian…“Kamu akan menungguku, kan?” tanyanya tiba-tiba sambil menatapku dalam-dalam.“Haaa?” aku terpaku.“Jika kamu mau menungguku, kembalilah ke tempat ini 7 tahun lagi. Pergilah ke tempat di mana kita berteduh,” jawabnya sambil menunjuk tempat teduh tadi.“Tetapi jika tidak, tetaplah datang ke tempat ini dan perkenalkan aku dengan lelaki yang membuat luluh hatimu. Aku ingin mengenalnya,” lanjutnya sambil tersenyum.Aku terdiam. Hatinya seperti akan pergi jauh. Aku melihat matanya berkaca-kaca.FLASHBACK ENDSejak hari itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Kami tidak pernah berkomunikasi, bukan karena aku tidak memulainya, tetapi karena aku sudah kehilangan kontak dengannya. Saat itu ia mengganti nomor ponsel dan segala kontak yang sebelumnya kami miliki.Aku tidak tahu apa itu disengaja atau tidak. Aku tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Jika aku tahu lebih awal, aku tidak akan membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia.Kini sudah 7 tahun sejak hari itu. Aku menyesal tidak menjawab bahwa aku akan menunggunya.Sejak ia pergi, aku masih ke tempat ini. Menunggu. Melihat senja. Merasakan hadirmu, dan terus berharap.Kini pukul 18:12. Hari semakin gelap, orang-orang mulai pulang. Aku bangkit dengan putus asa. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku mengambil foto senja untuk terakhir kalinya hari ini.Aku berjalan dengan penuh rasa putus asa. Aku masih berharap dia akan datang. Aku masih menunggunya. Aku masih ingin menemui senjaku yang hilang.Namun kenyataannya: SENJAKU TIDAK KEMBALI.Selesai.
Negeri Cinta
Pernahkah kau merasakan hasrat yang begitu besar untuk memiliki suatu hal yang sangat kau inginkan? Menginginkan sesuatu yang begitu sulit diraih padahal terletak tepat di depan mata? Seperti ingin meraih matahari dan bulan lalu membawanya ke dalam genggaman?Aku pun merasakan hal itu. Hasrat ini terlalu kuat sampai-sampai terkadang aku tak bisa menahan diri untuk memilikinya. Bahkan dia sangat lancang karena dengan beraninya dia selalu datang dan mendiamiku di dalam pikiranku tanpa permisi.Berulang kali aku mencoba mengusirnya dari pikiranku yang telah terkontaminasi oleh virus cintanya. Namun mengapa tatapan matanya—yang bak hamparan samudra itu—selalu berhasil membiusku? Begitu dalam dan begitu luas. Bahkan ikan-ikan pun akan sangat nyaman bermuara di sana.Hidungnya yang tajam bahkan menyaingi runcingnya bambu yang digunakan untuk melawan penjajah. Semua itu sangat memikatku.Dan bibirnya… Ya Tuhan. Lekukan indah itu tergambar begitu jelas di bibir menawannya. Bibir merahnya seperti strawberry matang yang siap dilahap.Terkadang aku curiga. Apakah ini yang disebut malaikat? Jika benar, bawalah aku terbang menuju tempat bernama Negeri Cinta.Negeri yang hanya ada kita berdua di dalamnya. Langit yang menampakkan senja merah, hamparan laut luas, gunung-gunung menjulang tinggi, bulan dan matahari yang berganti tanpa jeda. Biarkan semuanya menjadi saksi bisu cinta kita berdua.Namun semua itu hanya khayalan. Seperti layang-layang putus yang terbang begitu jauh hingga tak mungkin kembali.Aku harus belajar untuk tidak memaksakan kehendak. Aku berusaha melawan semua amukan iblis di dalam diriku yang terus mempengaruhiku untuk memilikinya secara paksa.Tapi cinta bukan soal memaksa. Cinta adalah perasaan yang tumbuh tanpa paksaan. Namun sampai kapan aku harus menahan semua ini? Aku lelah. Aku bukan air yang selalu mengalir tenang. Aku bukan api yang selalu membara. Aku hanyalah manusia biasa.Namun bahkan aku yang biasa ini tetap ingin melantunkan isi hatiku…Kau begitu sempurna. Di mataku, kau begitu indah. Kau membuatku selalu ingin memujamu.Dalam setiap langkahku, ku selalu memikirkan dirimu. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpamu. Jangan tinggalkan aku. Aku takkan mampu menghadapi dunia ini tanpa dirimu. Hanya bersamamu aku bisa.Kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku… melengkapi diriku.Sayangku, kau begitu sempurna.Ya, dia memang sempurna—untuk ukuran manusia. Karena kesempurnaan yang sesungguhnya hanya milik Tuhan.Oh Tuhan… apakah ini ciptaan-Mu yang paling menakjubkan? Suara, tawanya, kedipan mata indahnya—semua itu terlalu memanjakan mata dan telingaku.Dan kau tahu apa yang paling kusukai darinya? Cara dia minum. Gerakan jakunnya, tetes peluh yang mengalir di pelipisnya… semuanya membuatku tak mampu berkedip.Meski hanya bisa melihat dari kejauhan, itu sudah cukup bagiku.Lalu suatu malam, ia datang menghampiriku dengan setangkai mawar merah. Aroma bunga itu sangat memabukkan.Oh Tuhan… beginikah rasa cinta yang terbalas? Ini jauh lebih indah daripada memenangkan sebuah lotre rumah mewah.Dan yang lebih mengejutkan… dia berlutut di hadapanku. Di tangannya, sebuah cincin putih berpermata yang memantulkan cahaya bulan.Aku tak mampu berkata apa-apa. Airmata mengalir begitu deras. Lalu ia berkata:“Aku bukanlah sosok yang sempurna. Tapi izinkan aku mengisi dan memiliki hatimu sepenuhnya. Aku ingin menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini bersamamu. Maukah kau menjadi pendampingku, ibu dari anak-anakku, dan masa depanku? Sudikah kau menerima aku sebagai imam dan pemimpin keluargamu kelak?”Ya Tuhan… suara itu. Aku tak sanggup lagi. Aku hanya mengangguk sambil menangis bahagia.Dia menarikku ke dalam pelukannya. Hangat. Aroma tubuhnya memabukkan dan menenangkan seluruh indraku.“Tidak akan pergi, meski kau meminta,” katanya sambil memelukku lebih erat.Kebahagiaan ini terlalu sempurna. Teramat sempurna.Tuhan… terima kasih.Aku merasa seperti terbang menembus langit menuju Negeri Cinta. Negeri di mana hanya ada kita berdua. Negeri yang kutahu tidak akan pernah abadi—karena keabadian hanya milik Tuhan—tetapi aku berjanji menjaga semua pemberian-Nya ini.Aku ingin hati itu, senyuman itu, tatapan penuh cinta itu… menjadi milikku selamanya. Ya, selamanya.
Pangeran 15 Menit
“Tidak ku sangka 15 menit yang cukup singkat menjadi detik-detik terakhir orang itu. Orang yang ku tempatkan di tempat khusus di hatiku. Dialah pangeran 15 menit…”Namaku Lista Anggraini.Aku seorang gadis 17 tahun yang bekerja di sebuah warnet dengan gaji yang cukup untuk membayar sedikit uang kuliah dan membantu orang tuaku. Aku memiliki keluarga sederhana tapi rumit, ayahku memiliki dua istri. Setelah istri pertamanya meninggal, ayahku menikahi ibuku dan melahirkan aku dan adik perempuanku.Ibuku adalah sosok wonder woman yang bekerja keras membiayai sekolah kami karena ayah tidak bekerja. Aku bersyukur bisa membantu dengan bekerja sebagai penjaga warnet. Setiap pagi hingga sore aku menjaga, malamnya aku kuliah jurusan Sistem Informatika—karena hobiku memang dunia komputer.Seperti biasanya, siang itu warnet sepi. Tiba-tiba seorang pria berdiri di luar kaca, menatap ke dalam. Mata pria itu selalu terarah padaku, tetapi aku tidak berpikir macam-macam tentangnya.Dia masuk dan menyapaku tiba-tiba.“Hai, aku Johan. Aku yakin kamu itu princess sejati sampai matiku. Aku ingin kita tunangan…” ucapnya dengan mimik serius. Aku tertegun. “Maaf ya, kamu yang sopan…” balasku bingung.“Aku adalah kamu dan kamu adalah aku,” jawab pria yang memperkenalkan namanya sebagai Johan itu.Tanpa banyak bicara, Johan menarik tanganku keluar. Aku diam saja, ikut langkahnya karena entah kenapa aku percaya padanya. Langit mendadak gelap. Hujan turun deras. Johan mengeluarkan payung kecil dari jaketnya, lalu jas hujan—semuanya disiapkan olehnya.Dia membantuku memakai jas hujan besar itu. Sementara dirinya hanya memakai payung kecil. Orang-orang berlarian menghindari hujan. Mata Johan tertuju pada seorang nenek yang kesulitan menyeberang.“Princess, kamu tunggu di sini ya… kasihan nenek itu,” ucapnya lalu mengecup keningku. Aku kaget. Baru kenal tapi seketika hatiku meleleh melihat ketulusannya.Johan membantu nenek itu menyeberang dan memberikan payung kecil miliknya. Nenek itu menangis terharu lalu memeluk Johan. Setelah itu, nenek menunjuk ke arahku sambil berkata sesuatu yang tidak kudengar.Aku tersenyum saat melihat Johan kembali. Tapi beberapa detik kemudian…Sebuah mobil tanpa plat melaju sangat kencang dan menabraknya. Tubuh Johan terpental cukup jauh dan terbaring tak berdaya di tengah hujan deras.Aku berlari menghampirinya sambil menangis. Wajahnya berlumuran darah.Dia tersenyum kecil, menghapus air mataku.“Benar… ternyata kamu memang princess sejati sampai matiku…” bisiknya lemah.Johan menyerahkan dompet kulit hitamnya padaku. Perlahan matanya terpejam. Hujan semakin deras, tapi tak ada seorang pun yang menolong. Aku berteriak memohon bantuan.Nenek yang tadi ditolong Johan datang kembali, memayungi tubuh Johan dengan payung kecil yang ia terima. Sambil menangis, nenek itu berkata lirih:“Anak muda ini sungguh mulia. Dia bilang, kamu adalah gadis yang dicintainya seumur hidupnya…”Aku terdiam. Pria yang baru kukenal bisa mengucapkan kata cinta. Sementara aku bahkan belum mengerti apa itu cinta.Dompet yang diberikannya adalah kenangan. Kenangan dari orang yang sangat menyayangiku… hanya dalam waktu 15 menit.Namun 15 menit itu mengubah seluruh hidupku.Bertahun-tahun berlalu, tetapi kejadian itu tak pernah kulupakan. Saat itulah aku paham apa itu mencintai seseorang. Dan dia… akan selalu menjadi kenangan di hatiku.
Tak Sempat Ku Ungkapkan
Aku selalu merasa kesal setiap kali melihat senyum itu. Senyum yang selalu diarahkan padaku, padahal aku bahkan tidak mengenalnya. Anehnya, ia terus saja tersenyum setiap kali bertemu, memandangku tanpa lelah, dan tingkahnya selalu membuatku kebingungan.Dia adalah Beny, anak kelas IPA 3, sedangkan aku dari IPA 1. Pertama kali aku mengenalnya ketika kami terkunci di luar gerbang sekolah. Aku nekat memanjat gerbang itu, dan ia sempat menertawaiku saat rokku tersangkut. Sejak saat itu, entah mengapa, senyumnya tidak pernah berhenti muncul setiap kali kami berpapasan.Empat bulan berlalu sejak pertemuan pertama kami. Aku tidak pernah memperkenalkan diri, tetapi entah bagaimana Beny selalu tahu namaku. Suatu ketika seseorang memanggilku dari jendela kelas—dan kebetulan kelas kami memang bersebelahan. Sejak itu aku sadar dari mana ia mengetahui namaku.Waktu berlalu begitu cepat. Kini kami sudah duduk di kelas 2 SMA, dan perasaanku mulai berubah. Aku mulai salah tingkah setiap kali Beny memperhatikanku. Sepertinya, aku mulai menyukainya. Tapi aku tidak pernah berani menceritakan perasaan ini kepada siapa pun. Aku berharap ia tidak menyadarinya, jadi aku bersikap seperti biasanya, seolah aku tidak pernah menaruh hati padanya.Tujuh bulan berlalu. Aku mulai terbiasa memperhatikannya secara diam-diam—hingga suatu hari, bangkunya tampak kosong. Aku bertanya pada Oyem, sahabatnya, dan ia mengatakan bahwa Beny sedang berada di UKS. Aku pun pergi ke sana dengan alasan pura-pura sakit kepala. Saat aku hampir terlelap, aku mendengar seseorang menyingkap tirai pembatas. Ternyata itu Beny. Ia berkata agar aku minum obat di loker nomor empat. Aku langsung terkejut dan jantungku berdebar, namun aku mencoba bersikap biasa.Tanpa kusadari, kini kami sudah kelas 3 SMA. Beny tetap menjadi sosok yang kukagumi, meski aku tak pernah mengungkapkan apa pun. Perasaanku hanya kutuliskan di selembar kertas dan kusimpan dalam sebuah kotak kecil.Menjelang kelulusan, suatu hari aku berjalan ke kelas Beny. Aku duduk di bangkunya dan tak sengaja menyentuh tumpukan kertas di sana. Salah satu kertas itu terlipat rapi dan terselip di lacinya. Saat kubuka perlahan, hatiku langsung tersentuh. Di sana tertulis curhat Beny—kata-kata yang selama ini diam-diam ia simpan.Salah satu kalimat yang paling kuingat adalah, “Pasir merindukan ombak, tanah merindukan air, angin merindukan hujan, dan aku merindukanmu.”Hari kelulusan tiba. Ini hari terakhir aku melihat Beny sebagai siswa SMA. Aku melihat wajahnya yang penuh kebahagiaan saat acara pelepasan, dan tanpa sadar aku ikut tersenyum. Aku merasa itu adalah senyum perpisahan kami.Setelah semua siswa pulang, aku berjalan seorang diri menyusuri sekolah. Aku kembali ke kelas Beny dan duduk di bangkunya untuk terakhir kali. Di sana kutemukan selembar surat lain yang tertinggal di laci bangkunya. Aku membukanya dengan tangan bergetar.Dalam surat itu, Beny menulis bahwa ia mengagumiku tanpa kata. Ia selalu membisu setiap kali ingin mengungkapkan perasaannya. Ia menuliskan bagaimana napasnya berhenti, jantungnya berdebar, dan pikirannya membeku setiap kali aku berada di dekatnya. Ia berterima kasih karena aku pernah memberinya perhatian kecil, dan ia tahu bahwa aku sering memandanginya diam-diam dari jendela.Di akhir surat, ia menuliskan, “Aku menunggumu, bidadari IPA 1 — Tias A.”Setelah membaca itu, air mataku menetes. Aku berbisik pelan pada diri sendiri bahwa aku mencintainya juga, meskipun aku tidak sempat mengatakannya padanya.Aku berlari menuju gerbang sekolah. Rasanya sangat sepi. Aku berharap suatu saat kami dipertemukan kembali. Meski aku tak sempat mengungkapkan rasa ini, aku tetap bahagia karena pernah mengenalnya.
Kado Untuk Indah
"Bang!! bang bangun udah siang." Mutia adik perempuanku membangunkanku.Aku terbangun dan melihat jam yang tergantung di dinding."Telat...." teriakku sambil berlari menuju kamar mandi.Hari ini merupakan hari pertamaku sekolah setelah naik kelas XI. Aku merasa sangat cemas dan gugup apalagi aku memilih jurusan IPA yang menurutku adalah jurusan yang sulit.Kenalkan namaku Kelvin. Aku merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Aku sudahi perkenalan tentang diriku.Kini aku akan perkenalkan kalian pada gadis yang berhasil menggetarkan hatiku sejak setahun yang lalu tiap kali aku melihatnya. Parasnya yang ayu disertai senyuman yang sangat menawan dengan balutan jilbab yang menutupi kepalanya.Dia memiliki suara yang sangat-sangat indah dalam melantunkan ayat-ayat Allah. Dia diciptakan seakan tanpa kekurangan dimataku. Namanya sangat tepat dengan kepribadianya, Indah.Sesampai di sekolah aku langsung menuju mading disana telah ditempelkan kertas daftar nama siswa di kelas yang baru. Aku sangat senang mengetahui bahwa Indah akan ditempatkan sekelas denganku." Tidak sia-sia aku mengambil jurusan IPA." Lirihku tersenyum bahagia, memang aku mengambil jurusan IPA dengan harapan dapat sekelas dengan Indah. Akhirnya impianku tercapai juga.Karena ini merupakan hari pertama di kelas XI kami sepakat membersihkan ruangan kelas hari ini. Aku hanya duduk di pojokan memandangi sesosok wanita yang belakangan ini tak pernah bisa pergi dari pikiranku."Ndah kaca itu gak akan bersih jika hanya dibersihkan dengan air." kata Suci yang tengah membersihkan kaca bersama Indah. Percakapan mereka itupun tak luput dari penglihatanku."Terus bagaimana?" tanya Indah meminta pendapat."Sebaiknya kita menggunakan pembersih kaca." jawab Suci."Baiklah tapi siapa yang akan pergi beli? Minimarketkan lumayan jauh dari sini." tanya Indah lagi."Tentu saja kamu Ndah, kan rumah kamu di daerah sini jadi kamu yang paling tau.""Aku? Tapi bagaimana tempatnya lumayan jauh dari sini.""Kalau begitu tunggu sebentar." Kata Suci.Kulihat Suci setengah berlari menghampiriku lalu dia memintaku untuk mengantarkan Indah dengan motorku.Tentu saja aku terkejut mendengar permintaan Suci tapi jujur aku merasa sangat senang. Aku tertegun beberapa saat mendengar permintaan Suci."Gimana bisa atau tidak? Kalau gak bisa aku minta tolong sama yang lain nih.""Iya bisa kok." jawabku singkatTanpa pikir panjang Suci menarik tanganku menuju Indah yang tampak heran melihat kehadiranku.Dia menarik tangan Suci dan menjauh dariku, dia mengatakan sesuatu pada Suci tapi aku tak dapat mendengarnya karena mereka bicara sambil berbisik.Aku rasa dia kaberatan diantar olehku. Aku sendiri paham atas keberatannya itu, bagaimana pun Indah adalah seorang wanita yang sangat religius tentu saja dia merasa keberatan dibonceng oleh seorang pria apalagi dia belum mengenal orang tersebut dengan baik. Namun Suci terus saja mendesak sampai akhirnya Indah pun bersedia untuk diantar olehku.Sepanjang perjalanan aku tak dapat mengucapkan sepatah kata pun karena terlalu gugup. Begitupun sebaliknya tapi aku tak tau apa alasan ia tak berbicara.Aku sempat melihat wajahnya begitu murung dan tertunduk serta entah apa yang dibacanya yang membuat mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra."Apa yang sedang kamu ucapkan?" tanyaku memecah keheningan sambil menatap wajahnya dari spion."Aku sedang membaca doa semoga Tuhan mengampuniku hari ini." jawabnya terus menundukkan kepala lalu meneruskan bacaan yang sempat terhenti karena menjawab pertanyaanku barusan.Aku merasa bersalah pada Indah karena telah menuruti perintah Suci yang membuatnya begitu berdosa hari ini, tapi dibalik rasa bersalahku aku harus berterima kasih pada Suci karena berkat dirinya aku dan Indah bisa bersama hari ini.Hari ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku dan aku takkan pernah melupakan hari ini.Seiring berjalannya waktu aku dan Indah pun semakin dekat, ya meskipun kedekatan kami tak lebih dari seorang teman tapi aku merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian hidup seseorang yang aku sayangi.Kini Indah tak komat-kamit lagi saat aku boncengi meskipun wajah anggunnya tetap tertunduk, bahkan aku sering mengantarnya pulang sekolah karena aku tak tega melihatnya harus menunggu angkot dan kadang pulang jalan kaki."Ndah nanti malam aku boleh kerumahmu?" tanyaku pada Indah saat pulang sekolah."Mau ngapain kamu kerumahku?" tanya Indah nampak ragu, ia masih menundukkan kepalanya tak mau menatap langsung wajahku.Hal itu membuatku makin menyukai wanita di hadapanku ini ia senantiasa menjaga pandangannya. Sungguh calon istri idaman bukan. Hehe aku ngayal ketinggian yah."Aku mau diajarin tugas kimia yang kemarin soalnya aku gak ngerti, sekalian nanti aku ajak Suci sama Koko. Bolehkan?" tanyaku meminta persetujuan.Indah hanya mengangguk tanda setuju dengan rencanaku. Aku tersenyum bahagia. Bahagia banget malah.Sebenarnya selain untuk mengerjakan tugas aku ingin mengenal keluarga Indah. Seperti kata pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Hehe modus...Malam hari aku, Suci dan Koko datang ke rumah Indah. Ayah Indah menyambut kami dengan ramah sementara Indah dan ibunya membuatkan minuman untuk kami bertiga.Ayah Indah adalah seorang yang sangat baik dia juga sangat lucu. Setelah beberapa jam mengerjakan tugas kimia yang meskipun sudah dijelaskan Indah berulang kali aku belum benar-benar memahami.Akhirnya aku, Suci dan Koko berpamitan pulang karena tugas kami sudah selesai ditambah malam semakin larut.***"Sebentar lagi kita akan ujian kenaikan kelas bagaimana kalau kita belajar kelompok?" tanyaku pada Suci dan Koko dua bulan sebelum ujian kenaikan kelas."Itu ide yang bagus". jawab Suci menyetujui ideku."Bagus apanya? Kemampuan kita bertiga itu hampir sama siapa yang bisa kita harapkan dalam kelompok ini?" sambung Koko.Aku dan Suci saling berpandangan mendengar ucapan Koko yang sangat tepat. Hehe memeng kita bertiga gak ada yang masuk sepuluh besar. Memalukan!"Bagaimana kalau kita belajar kelompok di rumah Indah? Pasti Indah gak akan keberatan." Usul Suci.Aku dan Koko hanya mengangguk setuju akan usul Suci. Karena indah adalah siswa yang pintar bahkan ia selalu menjadi juara satu setiap tahun. Berbeda jauh denganku yang nilai pas-pasan. Akhirnya aku, Suci dan Koko memutuskan untuk belajar kelompok bersama Indah.Ujian pun tiba. Aku akan seperti biasa kasak kusuk gak karuan karena tidak paham dan tidak mengerti, bukannya aku tidak belajar namun meskipun aku belajar aku tetap tidak mengerti saat ujian berlangsung.Berbeda dengan Indah. Ia akan mengerjakan ujian dengan tenang karena dia sudah memahami dan dia seperti biasa akan selesai paling awal. Memang bertolak belakang denganku.Beberapa minggu kemudian hasil ujian pun kaluar, waktunya penerimaan rafor dan pengumuman juara.Untuk kesekian kalinya Indah menjadi juara pertama sekaligus juara umum dengan nilai paling tinggi di sekolah. Kami semua dinyatakan naik ke kelas XII.Di kelas XII ini tak ada perombakan, itu artinya aku akan tetap sekelas dengan Indah hingga lulus nanti. Dan itu membuatku merasa bahagia dan lega. Minggu depan merupakan hari yang istimewa bagi Indah yaitu hari ulang tahunnya yang ke-17.Aku bingung memberi hadiah apa untuknya, aku juga tidak tau apa benda kesukaannya. Aku harus memberinya sesuatu yang istimewa yang tak kan pernah ia lupakan. Ya kali aku mau dilupakan oleh Indah.Hari yang ditunggu pun tiba. Hari ini adalah hari ulang tahun Indah. Aku sudah menyiapkan sebuah kado istimewa untuk orang yang istimewa yang aku persiapkan dari seminggu yang lalu.Hari ini kelas XII IPA sangaja memberinya kejutan, Indah terlihat sangat bahagia itu terlihat jelas di wajahnya. Indah sangat terkejut saat kami membawa sebuah kue ulang tahun dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.Satu hal yang membuatku sangat sangat bahagia hari ini adalah dia memberikan potongan pertama kue ulang tahunnya kepadaku dan menyuapiku dengan tangannya sendiri ya meskipun dia harus dipaksa oleh teman-teman sekelasku yang mengetahui bahwa aku menyukai Indah. Tapi tetap saja aku merasa menjadi orang paling bahagia dimuka bumi hari ini. Lebay...Sepulang sekolah setelah sekolah sepi aku menghampiri Indah. Tujuanku sudah pasti ingin mengucapkan selamat secara pribadi tak lupa memberikan hadiah ulang tahun untuknya."Ndah selamat ulang tahun ya. Semoga sehat selalu dan panjang umur." kataku sambil mengulurkan tanganku ke arah Indah."Ya, terima kasih Vin."jawabnya menjabat uluran tanganku."Ini kado untukmu, hanya kado sederhana ini yang dapat aku berikan padamu Ndah, ku harap kamu menyukainya." Kataku sambil memberikan sebuah kado yang dibungkus rapi."Terima kasih Vin." Dia menerima kado itu dengan senyuman yang berhasil membuat jantungku memompa lebih cepat dari biasanya."Ya sama-sama. Karena hari ini adalah ulang tahunmu maka aku akan mengantarmu pulang.""Baiklah kalau begitu." jawabnya dan naik ke motorku.Aku merasa bahagia walaupun aku hanya menjadi teman bagi Indah. Aku harap dia menyukai kado yang aku berikan padanya sebagai tanda bahwa aku benar-benar menyayanginya.Aku menghadiahi Indah sebuah jam tangan berwarna cokelat dan sebuah Al-Qur'an serta sebuah surat yang ku tulis khusus untuknya. Dalam surat itu aku mengungkapkan segala isi hatiku.Hadiah itu bermakna bahwa aku menyukainya setiap waktu dan karena Allah. Isi surat itu sendiri biarlah akan menjadi rahasia antara aku dan dia.Meskipun pada akhirnya aku tak mengetahui bagaimana perasaan Indah kepadaku yang sesungguhnya, aku sudah sangat bahagia pernah hadir dalam hidup Indah dan sempat mengungkapkan isi hatiku meskipun hanya lewat sebuah surat.Aku senang dia bisa mengetaui isi hatiku meskipun bukan untuk dibalas tapi biarkanlah aku terus memujanya hingga nanti. Hingga Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya dengan membukakan pintu hati Indah untukku atau membukakan pintu hatiku untuk orang lain.TAMAT
Ramalan Cinta Untuk Langit
Alarm jam di kamar ku sudah berulang kali berbunyi, tapi rasa hangatnya selimut yang membalut tubuh ku dari tadi malam sungguh sulit untuk ku gantikan dengan seragam sekolah, apalagi jika ku ingat pelajaran pada jam pertama adalah pelajaran dengan guru terganas di sekolah ku.Kenalkan namaku Bulan Purnama, ibuku memberikan nama yang sangat indah untukku. Ibuku mengatakan aku dilahirkan pada malam bulan purnama, jadi dia memberiku nama Bulan.Aku adalah sosok yang sangat pendiam. Bahkan di sekolah aku tidak memiliki seorang teman pun. Aku lebih senang menyendiri di taman saat jam istirahat berlangsung.Satu lagi keanehan yang aku miliki yaitu aku dapat meramal. Entah dari mana kemampuan aneh ini aku dapati, tapi aku benar-benar bisa meramal seseorang, namun aku selalu ingin menyembunyikan keanehanku ini.Karena itu pulalah tak seorang pun yang mau berteman denganku di sekolah. Mereka semua menjauhiku semenjak mereka tau aku memiliki keanehan. Ada pula yang takut dengan diriku, ketika aku mendekat mereka semua akan pergi menjauh.Aku benar-benar merasa kesepian meskipun aku sekolah di sekolah favorit yang memiliki banyak siswa. Banyak juga dari mereka yang memanggilku dukun. Ah entahlah!!Aku merasa kesepian dan ingin hidup normal seperti mereka semua, tanpa ada yang takut padaku. Hari ini aku memiliki firasat yang aneh tapi aku tak dapat memahaminya. Aku tak mengerti dengan perasaanku hari ini.“Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari Bandung.” Jelas Pak Agus pagi ini. Aku hanya tertunduk di kursiku dan bahkan tak melihat ke arah pak Agus yang tengah bicara di depan kelas.“Silahkan perkenalkan dirimu.” Kata pak Agus lagi, pasti pada anak baru yang barusan disebutkannya.“Namaku Langit Shaputra.” Aku mengangkat wajahku dan pandanganku beradu dengan seorang pemuda tampan yang tengah berdiri di depan kelas.“Kalian dapat memanggilku Langit.” Sambungnya.Aku tetap saja tak mengalihkan pandanganku darinya. Entah ada apa pada diriku, aku sungguh terhipnotis oleh anak baru ini. Seperti ada daya magnet yang sangat kuat pada sosoknya yang membuatku tak dapat memalingkan wajahku darinya. Ada hal aneh yang menyelubungi hatiku, aku tak tahu apakah itu tapi rasanya sungguh aneh.Anak baru itu berjalan kearahku. Aku seketika menjadi gugup. Apa yang terjadi pada diriku? Setelah sampai di depanku pemuda itu tersenyum sangat manis membuatku jadi salah tingkah memandangi senyuman itu.“Aku boleh duduk disini?” tanyanya ramah menunjuk kursi kosong di sebelahku. Hatiku bergetar mendengar suara itu.“Boleh aku duduk disini?” ulang pemuda yang mengenalkan dirinya Langit itu.“Oh eh bo boleh. silahkan.” Jawabku gugup.Dia kembali tersenyum sangat indah kearahku, aku hanya menunduk tak berani beradu pandang dengan mata indah pemuda ini, matanya berwarna coklat bening dan tatapannya tajam.“Langit.” Kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan.Aku masih menunduk tak berani menatap mata pemuda yang ada di sampingku sekarang ini.“Bulan.” Jawabku pelan tapi cukup bisa didengar olehnya.“Namamu cantik seperti orangnya.” Lagi lagi dia tersenyum manis. Aku makin menundukkan kepalaku mendengar pujian itu.Bel istirahat pun akhirnya berbunyi. Semua anak berlarian menuju kantin kecuali aku. Dan Langit? Dia juga gak pergi ke kantin, dia masih setia duduk di sebelahku. Namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja.“Lang.” Panggil seseorang dan orang itu adalah Andi.“Lo ngapain disini sama dukun ini?” Andi memang selalu memanggilku dengan julukan itu hingga anak-anak lain akhirnya juga memanggil demikian.“Dukun? Maksud lo dia?” tanya Langit menunjukku dengan telunjuknya.“Iya Lang. Dia yang sebelumnya gue ceritain, Lo harus hati-hati sama dia.” Kata Andi. Perkataan itu sungguh menyayat hatiku, aku segera beranjak meninggalkan tempat itu dengan genangan air mata yang tertahan di pelupuk matakAku merasa sedih, aku tak mengerti mengapa Tuhan memberiku kemampuan ini yang hanya membuatku terlihat aneh dimata teman-temanku. Aku menangis dibawah sebuah pohon, aku tak sanggup kalau harus begini terus.“Udah jangan nangis. Nanti gak cantik lagi.” sebuah suara mengagetkan ku an menyerahkan selembar tisyu, aku menoleh ke arah suara itu dan mendapati Langit tengah berjongkok di hadapanku.“Kamu ngapain disini?” tanyaku, dan kini aku beranikan diri untuk menatap matanya.“Aku minta maaf atas sikap Andi tadi, dia orangnya memang begitu.” Aku tak mengerti dengan pria ini, kenapa dia begitu peduli padahal dia tak mengenalku.“Udah kamu jangan sedih lagi nanti aku juga ikut sedih.” Katanya lagi sambil tersenyum.Dia menceritakan bahwa ia pernah berjanji kepada mendiang ibunya, ia tak akan membuat air mata seorang perempuan terjatuh di hadapannya.Ceritanya membuat aku bersimpati padanya. Pantas saja tampak sekali raut kesedihan di wajah tampannya.Sejak hari itu Langit terus bersikap baik padaku. Dia tak pernah menjauhiku seperti teman-teman yang lain meskipun Andi berulangkali mempengaruhinya untuk menjauh dariku namun tampaknya Langit tak pernah menghiraukan kata-kata Andi.“Heh dukun! Lo mantrain Langit ya? Sampai-sampai dia gak mau dengerin gue sama sekali.” Andi menghadangku ketika aku hendak ke kelas pagi ini.“Maksud kamu apa sih Ndi? Aku gak ngerti.” Jawabku bingung.“Udahlah Lo gak usah pura-pura gak bersalah gitu, sekarang balikin Langit kayak dulu lagi.” Kini nada Andi makin keras saja.“Tapi aku benar-benar gak ngerti apa maksud kamu.” Aku terus membela diri karena aku gak ngerti apa yang tengah dimaksud Andi.“Lo pasti udah guna-guna Langitkan?” aku terkejut mendengar tuduhan itu. Guna-guna? Itu tuduhan yang menyakitkan. Sungguh! Memangnya dia pikir aku penyihir apa yang menggunakan mantra yang tak jelas.Jujur aku tak pernah percaya dengan mantra-mantra itu dan sekarang aku malah di tuduh mantrain seseorang? Kemampuanku tak setinggi itu, aku hanya bisa melihat gambaran-gambaran masa depan seseorang saat aku menyentuhnya, itu pun hanya bayangan hitam yang tak jelas.Aku tak pernah mengasah kemampuanku karena aku sangat membenci kemampuan ini, kalau bisa aku ingin sekali menghilangkannya. Aku merasa kemampuan ini bagaikan kutukan yang membuat semua orang membenci dan menjauhiku. Kini aku dituduh guna-guna seseorang? Ya Tuhan, sabarkan lah hati hambamu ini.“Sumpah Ndi, aku gak mungkin guna-guna Langit. Aku bukan dukun.” Andi makin marah mendengar jawabanku.“Gue gak percaya sama Lo, gue yakin Lo pasti udah mantrain Langit karena Lo suka sama dia iyakan?”“Sumpah Ndi tolong percaya sama aku.” Andi terus saja menuduhku dia membentak bahkan dia hampir menamparku namun teriakan seseorang berhasil menghentikan gerakan tangan Andi.“ANDI!!” teriak seseorang dari arah belakang saat aku menoleh ternyata orang itu adalah Langit.“Dia gak pernah guna-guna apalagi mantrain gue. Gue yang mau berteman sama dia.” Langit berusaha menjelaskan.“Lo itu udah di guna-guna jadi Lo gak mungkin sadar Lang.” ujar Andi, Langit menatapku sejenak seakan dia mempercayai ucapan Andi barusan. Aku yang menerima tatapan itu merasa sangat sedih, hatiku bagai tengah di hujami oleh jarum tak kasat mata.Aku segera pergi meninggalkan tempat itu, aku gak sanggup hidup lagi kalau harus di perlakukan gak adik seperti ini. Ternyata Langit mengikuti langkahku dari belakang.“Lan maafin Andi ya? Kamu jangan dengerin kata-kata Andi.” Aku diam tak menjawab malah ku percepat langkahku meninggalkan Langit.“Lan tolong maafin ucapan Andi yang keterlaluan.” Langit terus mengikutiku.“Kamu bisa gak berhenti ngikutin aku? Aku gak apa-apa kok.” Kataku menahan lelehan air mataku.“Tapi Lan...” belum selesai kalimat itu aku sudah menyatukan kedua tanganku memohon padanya.“Aku mohon jangan ganggu aku, aku gak apa-apa. Tolong tinggalin aku sendiri.”“Gue gak bakalan ninggalin lo sendirian, terserah kalau lo mau marah sama gue, lo nampar gue juga silahkan tapi jangan minta gue buat pergi.”“Sebenarnya mau kamu itu apa sih?” kini air mata sudah bercucuran tak dapat ku tahan lagi.“gue hanya ingin berteman sama lo.” Kini dia malah tersenyum. Senyuman manis yang membuat jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan.“Tapi aku gak butuh teman, aku bahagia kok meskipun selama ini aku gak punya teman.” Jawabku lirih.“Gue yang butuh teman kayak lo. Lo itu unik.” Lagi-lagi dia tersenyum. Gak jelas banget nih anak, yang lain pada sibuk jauhin aku dia malah pengen jadi teman aku.“Kenapa? kamu gak takut sama aku?” tanyaku penasaran kini tangisku sudah hilang.“Gak papa pengen aja punya teman yang bisa ngeramal. Jadi kalau mau diramal gak perlu jauh-jauh pergi ke dukun. Lagian kenapa harus takut sih? Lo kan gak makan orang juga.” Jawabannya membuatku tersenyum.“Gitu donk! Kalau senyum lo itu tambah manis loh.” Sungguh orang yang aneh.“Aneh.” Kataku“Aneh kenapa?” matanya kini mengerling nakal ke arahku, aku kembali hanya tersenyum melihat tingkah anehnya.“Kalau gitu kita berteman mulai sekarang. Ok?” aku hanya mengangguk, Langit begitu senang aku juga tak tau apa sebabnya padahal aku hanya menerima dia sebagai teman bukan pacar tapi dia senang bukan kepalang. Sungguh orang yang aneh bathinku.Kini aku mempunyai seorang teman kalau di sekolah, dimana ada aku dia pasti juga ada disitu. Tapi ada perasaan aneh yang kini tumbuh dihatiku saat bersama dengan Langit.Entah perasaan macam apa itu tapi aku merasa nyaman saat aku bersama dengan Langit. Mungkinkah ini cinta? Tapi aku berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh.Aku meyakinkan diriku kalau Langit hanyalah teman saja tidak boleh ada perasaan lebih. Sungguh sulit untuk menghilangkan perasaan ini, tapi aku akan terus berusaha.“Lan tolong ramal gue dong.” Langit tiba-tiba meminta diramal olehku, membuatku menoleh memerhatikan wajah tampannya. Aku hanya ingin memastikan dia sedang bercanda seperti biasa atau tidak.“Kenapa? Kok minta di ramal segala?” tanyaku heran dengan permintaanya setelah aku melihat raut wajahnya yang begitu serius.“Gue lagi suka sama seseorang Lan, gue mau tau apa dia juga suka sama gue atau gak.” Balas Langit.Mendengar itu hatiku terasa begitu nyeri. Oh apakah ini rasanya patah hati. Kenapa hatiku sangat sakit karena kenyataan ini. Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum.“Oh ya? Siapa tuh cewek yang beruntung bisa bikin kamu jatuh hati?” tanyaku mencoba bersikap wajar meski sulit.“Nanti lo juga bakal tau sendiri.” Jawabnya tersenyum manis. Aku membalas senyuman itu meskipun dalam hati terasa perih.“Ya udah siniian tangan kamu biar aku lihat.” Kataku.Dia memberikan tangan kanannya padaku. Aku memperhatikan telapak tangannya dan aku bertambah sedih mengetahui kenyataan bahwa cewek itu juga menyukainya.Haruskah aku berbohong dan mengatakan cewek itu tak menyukainya? Tapi Langit adalah satu-satunya orang yang mau menjadi temanku, aku tak mungkin membuatnya sedih dengan berbohong dan mengatakan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.Aku jadi semakin galau sekarang. Kalau aku berkata jujur aku akan menyakiti diriku sendiri dan kalau aku berbohong aku akan menyakiti orang yang aku sayang. Aku harus bagaimana?“Gimana Lan?” Langit tak sabar mendengar jawabanku.“Maaf Lang.” Wajah Langit berubah murung mendengar jawabanku.“Maaf Lang dia juga suka sama kamu.” Lanjutku.Wajahnya yang tadi murung kini jadi berseri-seri sebuah senyuman mengembang di bibirnya.“Benarkah Lan?” tanya Langit memastikan. Aku hanya mengangguk, sebenarnya sakit mengetahui semua ini tapi mau bagaimana lagi aku gak mungkin bohong sama Langit.Langit memelukku erat, ada rasa bahagia saat dia memelukku tapi aku menyadari hati ini telah terluka dan aku harus siap menanggungnya.“Lan gue senang banget Lan. Trus kapan waktu yang tepat buat gue nembak dia Lan?” tanya Langit setelah melepas pelukannya. Wajahnya tampak berseri-seri karena saking bahagia.“Tanganmu.” Ujarku.Dia memberikan tangan kanannya lagi, aku memperhatikan telapak tangan Langit. Sebenarnya Langit bisa membak dia kapan saja karena mereka memang sudah saling menyukai satu sama lain tapi aku masih belum rela melihat Langit bersatu dengan wanita pujaannya secepat itu jadi aku berbohong pada Langit.“Sebaiknya jangan minggu ini, karena kurang baik untuk memulai suatu hubungan. Sebaiknya kamu nembak dia hari minggu minggu depan.” Jelasku pada Langit."Gue sangat senang Lan. Gue udah suka sama dia sejak pandangan pertama Lan. Makasih ya Lan.” Ujar Langit bahagia, saking bahagianya secara tak sadar dia memeluk tubuhku. Aku membeku dalam pelukannya, saat dia tersadar kembali ia hanya mengucapkan kata maaf tapi entah mengapa hal itu membuat aku sedih.Aku tersenyum ‘aku juga menyukaimu sejak pertama melihatmu Lang’ kataku dalam hati.“Kalian adalah pasangan yang cocok. Aku yakin kamu dan dia akan langgeng.”“Gue juga harap juga gitu Lan.” Langit tampak sangat sangat bahagia hari ini. Tapi aku malah ngerasa sedih, andaikan kamu tau Lang kalau aku menyayangimu lebih dari seorang teman.Saat pulang sekolah aku melihat Langit memboncengi seorang cewek, namanya Bela. Dia adalah siswa kelas X, setahun di bawahku. Aku yakin Bela adalah wanita yang disukai oleh Langit.Bela memang cantik dia juga terkenal di sekolah karena Bela cukup aktif dalam organisasi sekolah. Kamu memang lebih cocok sama Bela Lang, bukan sama aku. Harusnya aku sadar dari awal, tak seharusnya aku menyimpan perasaan lebih padamu. Maafkan aku Lang aku gak bisa jadi teman yang baik, aku gak bisa ikut bahagia atas kebahagiaan kamu. Aku minta maaf.Semangatku benar benar hilang sejak aku melihat Langit bersama Bela. Hingga kini semangatku belum juga kembali, aku merasa berantakan hari ini. Rasanya aku tak ingin pergi ke sekolah karena tak sanggup kalau harus bertemu sama Langit.Aku menyeret kakiku yang terasa enggan melangkah menuju kelasku. Aku berusaha bersikap wajar pada Langit agar dia tak tau kalau aku rapuh saat ini. Aku tak ingin dia tau kalau aku sedang sedih karena kebahagiaannya.Waktu berjalan dengan cepat. Hari ini adalah hari minggu dimana hari yang aku sarankan pada Langit untuk menyatakan cintanya pada Bela. Aku hanya uring-uringan sejak pagi, mungkin sekarang Langit udah jadian sama Bela. Mungkin memang takdirku hanya menjadi pengagum semata yang harus memendam perasaanku.Drrr...Drrrr...Drrrr...telponku bergetar, dari nomornya tak aku kenali.“Halo!” kata seseorang di seberang sana.“Iya halo, ini siapa?” tanyaku.“Gue Andi.” Aku kaget setelah tau siapa yang nelpon.“Andi? Ada apa ya Ndi?” tanyaku penasaran. Setahuku Andi sangat tidak menyukaiku kenapa tiba-tiba dia menelponku?“Gue pengen ketemu sama Lo Lan.” Kata Andi.“Temui gue di taman dekat sekolah. Penting! ” Dan tanpa mendengarkan jawabanku terlebih dahulu dia langsung menutup telponnya. Aku bingung kenapa tiba tiba Andi pengen ketemu sama aku.Karena penasaran akhirnya aku datang juga ke taman dekat sekolah seperti yang dikatakan Andi lewat telpon. Sampai di taman aku tak menemukan Andi disana yang ada hanya Langit yang tengah duduk di sebuah kursi di bawah pohon yang cukup rindang.Sepertinya dia tengah menunggu seseorang. Jangan-jangan dia lagi nunggu Bela. Aku hendak beranjak meninggalkan tempat itu namun sebuah tangan menarik tanganku. Aku menoleh dan ternyata yang narik tanganku adalah Langit.“Lo ngapain disini Lan?” tanya Langit padaku.“Aku lagi nunggu Andi. Kamu sendiri?” pertanyaan bodoh bathinku.“Gue juga lagi nunggu dia Lan.” Langit tersenyum, aku membalas senyuman itu dengan hati tersayat.Kenapa aku harus datang ke taman ini dan kenapa Andi pengen ketemunya di taman ini? Trus orangnya mana lagi? Aku merasa sangat kesal atau Andi hanya ingin mengerjaiku supaya aku melihat Langit nyatain perasaannya sama Bela? Sial banget sih aku hari ini.“Kalau gitu aku pergi aja deh Lang. Kayaknya Andi ngerjain aku deh.” Kataku.“Lo disini aja Lan, Lo maukan jadi saksi saat nanti gue nyatain perasaan sama dia.” Kata Langit.“Apa?” aku kaget. Jadi saksi? yang benar saja bagaimana mungkin bisa aku menyaksikan orang yang aku sayangi menyatakan perasaannya pada wanita lain itu sama saja kau ingin membunuhku Lang.“Tapi aku harus pulang Lang.” Jawabku.“Ayolah Lan demi gue.”“Tapi Lang...”“Plisss...” langit terus saja memaksaku, tapi bagaimana mungkin Lang kau tak mengerti perasaanku Lang.“Lan gue gugup banget, menurut lo dia bakal terima cinta gue?” Tanya Langit. Pertanyaan bodoh.“Pasti Lang. Dia juga suka sama kamu, itu yang aku lihat.” Kataku mencoba menegarkan hatiku sendiri.“Ok. Nanti pas jam 10 gue akan nembak dia.” Kata Langit.Aku melirik jam biru yang melingkar di pergelangan tanganku 10 menit lagi batinku. Tapi aku belum melihat kehadiran Bela apa mungkin dia terlambat? Sampai 7 menit berlalu Bela belum datang juga. Apa mungkin terjadi sesuatu padanya? aku jadi semakin bingung.Ku lirik Langit dia tampak begitu tenang, kenapa dia tidak merasa panik sampai tiga menit lagi dia akan menyatakan perasaannya Bela belum datang juga. Hanya ada aku dan dia di taman ini.Tepat jam sepuluh. Aku ngelirak lirik ke sekeliling taman manun aku tak melihat Bela bahkan bayangannya saja tak tampak. Langit masih duduk di sebelahku, dia tampak sangat tenang sedangkan aku mulai panik. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bela?“Lan.” Aku terkejut saat tangan Langit menggenggam tanganku. Aku hanya diam tak menyahut. Apa yang terjadi sebenarnya.“Lang kenapa Bela belum datang?” tanyaku sambil menarik tanganku dari genggaman Langit.“Bela? Kenapa lo nyariin Bela?” tanya Langit heran. Aneh! Bukannya dia yang sedang nunggu Bela.“Bukannya kamu lagi nunggu Bela?” tanyaku.“Kok Bela sih?” aku semakin keheranan.“Bukannya kamu mau nembak Bela?” kini wajah Langit makin heran, aku jauh lebih heran dari dia.“Bukan Lan.”“Trus siapa dong kalau bukan Bela?” tanyaku keheranan.“Elo.” Jawab Langit singkat, padat dan jelas.“Hah? A.. aku?” kini aku benar-benar keheranan.“Iya lo. Gue suka sama lo Lan. Gue jatuh cinta sama lo sejak pertama kali gue ketemu sama lo. Dan berkat lo juga gue jadi tau kalau sebenarnya lo juga suka sama gue.” Jelas Langit.“J.. jadi yang waktu itu aku ramal itu aku sendiri?” tanyaku keheranan.“Yap. masak lo gak sadar sih?” Langit tertawa lepas melihat ekspresi heranku yang kini sudah memuncak.“Jadi selama ini kamu ngerjain aku?” tawa langit makin menjadi-jadi saja.“Terus telpon dari Andi itu juga rencana kamu?” tanyaku memandang lekat wajah tampan milik Langit dia hanya mengangguk masih dalam tawanya.“Kamu jahat ya Lang.” Kataku akhirnya.“Jahat?” tawa langit langsung berhenti mendengar ucapanku barusan.“Iya kamu jahat. Kamu tau gak gimana sakitnya aku saat tau kamu suka sama seseorang? Kamu tau gak penderitaan yang harus aku jalani setiap hari? Kamu tau gak betapa sakitnya hatiku?” aku menangis mengingat perihnya hatiku saat itu.“Maaf Lan.” Langit mendekapku dalam pelukannya.“Maafin gue Lan. Gue emang gak tau, tapi gue sungguh-sungguh sayang sama lo.” Wajahnya terlihat begitu bersalah.Aku melepaskan diriku dari pelukannya dan berdiri dari kursi yang kami duduki. Ku lihat wajah Langit tampak sangat bersalah.“Gue minta maaf Lan.” Kata Langit lagi.Aku tertawa tak kuasa melihat wajah bersalahnya. Langit jadi keheranan memandang ke arahku.“Jadi lo ngerjain gue?” Katanya hendak menangkapku namun aku berlari menghindar dari tangkapannya.“Kamu pikir Cuma kamu yang bisa ngerjain orang.” Kataku dan berlari karena dia sudah sangat kesal dan siap menangkapku.“Aku cinta sama kamu Lan. Kamu mau kan jadi pacarku?” tanya Langit menggenggam tanganku erat.Aku tak menjawab dengan kata-kata aku hanya menganggukkan kepalaku dan langsung memeluk Langit seakan tak ingin melepaskannya lagi.Akhirnya aku mengerti dan kini aku tak pernah menyalahkan kemampuanku lagi. Karena kemampuan anehku inilah aku bertemu dengan Langit, orang yang sangat aku cintai dan mencintaiku. Kini aku sudah memiliki Langit, dan takkan pernah kesepian lagi. Bulan kini telah menemukan Langitnya.THE END
Gelang Setan
Semburat rembulan kian memucat, mencumbu pucuk-pucuk mendira yang kian membuku dibalut embun kelabu. Suara derit mesin kendaraan yang lalu lalang di depan kantorku berangsur-angsur mulai sirna seiring berjalannya waktu. Yang terdengar hanya nyanyian jangkrik dan hembusan angin malam yang membelai ranting-ranting pohon beringin dan jambu *** yang ada di halaman depan kantor. Itu berlangsung hingga fajar menjemput di balik hari.Aku duduk dalam ruangan kantor perpustakaan tempat aku bekerja sebagai penjaga malam. Aku sudah menjalani pekerjaan ini selama delapan tahun, setiap malam tanpa ada libur. Aku memang bekerja seorang diri, jika aku libur tentu tidak ada yang menggantikan tugasku. Pernah aku mengusulkan kepada atasanku agar menambah lagi petugas jaga malam, agar pekerjaan bisa dilakukan secara bergilir. Namun menurut atasanku anggaran untuk penjaga malam dari PEMKOT hanya satu orang. Mungkin kantor perpustakaan dianggap tidak terlalu rawan dari pencurian, maka untuk penjaga malam cukuplah satu orang. Sehingga dengan demikian hingga sekarang aku tetap bertugas seorang diri.Sebagai seorang penjaga malam honorer tentu tidaklah memiliki gaji yang besar. Tapi aku tetaplah mensyukurinya, karena menurutku kebahagiaan tidaklah diukur dari gaji yang besar. Kebahagian akan kita rasakan jika kita selalu merasa syukur dengan apa-apa yang diberikan Sang Pencipta kepada kita. Dan aku pun terus bersyukur karena anak dan istriku tidak pernah minta yang berlebihan. Mereka selalu menampakkan wajah gembira dan penuh keceriaan, jika kami sedang berkumpul menikmati makanan di atas meja apa adanya.Istriku pun tidak tinggal diam, sehari-hari dia membantu juga untuk menambah penghasilan kami dengan membuat cemilan untuk dititipkan di warung-warung. Hasilnya lumayanlah untuk membuat dapur tetap ngebul dan anak tetap bersekolah. Dan istriku dengan senang hati mengerjakan semua itu. Hingga sampai sekarang dia tetap setia menemaniku walau kami sudah berusia 50-an tahun.Selama delapan tahun aku bertugas sebagai penjaga malam tak pernah ada gangguan apapun, baik dari alam nyata maupun alam yang kasat mata. Oh... ya aku hampir lupa, pernah satu kali ada anak muda makai motor dalam keadaan mabok. Motornya menabrak pintu pagar, sehingga slot pintu pagar lepas. Hanya satu kali itu saja. Untuk gangguan dari alam ghaib tidak pernah sama sekali.Pernah seorang pegawai kantor yang sudah lama dariku bekerja di situ menceritakan hal-hal ganjil dan aneh yang dia alami selama bekerja di situ, kejadiannya di siang hari. Tapi aku tak pernah menggubris cerita-cerita semacam itu. Dia juga mengatakan bahwa kantor itu dulunya dibangun di atas kuburan tua milik Belanda. Aku anggap ceritanya itu hanya untuk menakuti ku, jangan-jangan dia menginginkan aku agar tidak betah atau takut bekerja di situ. Aku yakin aku lebih tahu dari pegawai itu soal kantor itu, sebab aku dilahirkan di kota itu. Sedari kecil aku juga pernah bermain-main di sekitar kantor itu, yang dulu belum menjadi kantor perpustakaan seperti sekarang ini. Terus terang dalam kehidupan sehari-hari aku tidak terlalu suka dengan hal-hal mistis, walaupun aku sering menonton film horor.Demikianlah hingga hari ini tidak ada kejadian yang berarti selama aku menjalankan tugasku sebagai penjaga malam.Aku menikmati pekerjaanku seorang diri di tengah kesunyian malam yang penuh ketenangan dan kedamaian.. Ditemani sebuah laptop dan secangkir kopi untuk menghibur diri dan mengusir rasa ngantuk, sehingga aku bisa tidur dan istirahat jika malam sudah hampir berakhir. Keamanan pun terus terkendali hingga sampai pada suatu malam....Aku menonton film horor di video YouTube. Itu aku lakukan hampir setiap malam. Sudah ratusan atau mungkin ribuan film horor sudah aku tonton di video YouTube, baik yang dari barat maupun dari negeri sendiri. Tapi aku lebih suka yang dari Barat, sebab menurutku yang dari Barat lebih masuk akal daripada yang lokal. Terkadang aku juga nonton film action dan video-video lain yang tersebar di YouTube. Itu semua aku lakukan untuk mengusir kejenuhan dan mengulur waktu hingga sampai saatnya aku menghempaskan tubuhku di atas sofa yang ada di ruangan kantorku untuk beristirahat.Sejenak aku menoleh ke arah jam tanganku yang terletak di atas meja dekat laptop. Waktu sudah menunjukkan pukul 03:00. Kulihat juga jam yang ada di pojok bawah layar monitor untuk meyakinkan kalau-kalau arlojiku tidak akur, jam di monitor juga menunjukkan waktu yang sama. Mataku terasa sudah berat untuk melotot kearah monitor, sebentar melek sebentar merem. Aku sudah tidak jelas lagi awal dan akhirnya adegan di film yang ku tonton. Aku menguap lebar tanda kantuk sudah benar-benar menyerang.Ku matikan laptopku yang sudah termasuk usang, karena sudah sepuluh tahun yang lalu aku beli, yang selalu setia menemaniku setiap malam. Aku masukkan kedalam tas yang setiap aku berangkat kerja selalu aku bawa yang isinya selain laptop ada juga benda-benda lain yang aku perlukan.Usai itu aku menuju toilet yang rutin aku lakukan setiap malam sebelum aku menghempaskan tubuhku di atas sofa.Hal itu sudah diajarkan oleh ibuku sedari kecil, agar sebelum tidur buang air kecil dulu. Mungkin itu diajarkan juga oleh ibu-ibu yang lain kepada anak-anaknya.Perlahan-lahan aku merebahkan tubuhku di atas sofa yang setiap malam menjadi ranjang bagiku. Kutarik kain sarung untuk membungkus tubuhku dari ujung kaki hingga sebatas leher. Tubuhku terasa nyaman. Hembusan AC yang sudah ku kurangi volumenya, yang menempel di dinding kantor, membuat tubuhku tidak merasa gerah pada saat musim kemarau seperti ini.Ada hal yang tak pernah aku tinggalkan saat menjelang tidur.Aku selalu mengucapkan doa dan zikir yang telah diajarkan oleh Ayahku sejak dari kecil. Karena saat tertidur hanya Allah yang menjaga diri kita dari segala gangguan baik yang datang dari bumi maupun dari langit, begitulah yang dikatakan Ayahku dulu. Dan itu tetap kuingat dan ku yakini betul hingga aku sudah menjadi seorang ayah juga.Tapi entah mengapa malam itu aku benar-benar lupa mengucapkan doa dan zikir, mungkin karena kantuk sudah terlalu berat, sehingga begitu merebahkan tubuhku di atas Saat aku terpana memandang ke arah sekeliling goa, aku merasakan ada tangan dingin dan kaku menyentuh pundak ku. Secara refleks aku membalikkan tubuh dengan maksud untuk menghindar karena didera rasa yang teramat sangat.Bersamaan dengan itu, di dalam gua menyeruak bau kemenyan yang entah dari mana datangnya, membuat bulu kuduk tambah merinding. Di hadapanku berdiri sesosok makhluk yang belum pernah aku lihat sepanjang hidupku.Dadaku terasa berdebar, bulu kudukku merinding, lutut ku terasa bergetar sehingga lantai goa yang aku pijak tidak terasa lagi. Perasaan takut dan cemas menyerang jiwa dan ragaku. Belum pernah aku merasakan takut seperti itu di dunia nyata.Makhluk di hadapanku benar-benar makhluk aneh dan menyeramkan, lebih seram daripada makhluk-makhluk yang pernah ku tonton di film horor. Tubuhnya berbentuk besar tinggi, ditumbuhi bulu-bulu lebat dan hitam seperti gorila ataupun orang hutan. Daun telinganya lebar dan agak meruncing mengarah ke belakang. Di kepalanya terdapat dua buah tanduk yang runcing, bola matanya besar melotot berwarna merah seperti bara api yang masih menyala.Benar-benar pemandangan yang menyeramkan bagi mereka yang tidak pernah berkubang dengan dunia mistik dan alam supranatural.Dengan dada berdebar dan wajah agak memucat aku merasa ngeri untuk menatap makhluk yang sangat menyeramkan itu.Yang membantu menguatkan jiwaku hanyalah sepotong iman kepada yang menciptakan makhluk itu. Aku yakin tidak ada kekuatan yang bisa menandingi kekuatan nya, baik yang ada di langit maupun di bumi. Dengan didorong oleh pikiran seperti itu, perlahan-lahan aku beranikan diri untuk menatap makhluk itu, mulai dari ujung kukunya sebesar mata linggis hingga bola matanya seperti bola api yang pernah dijadikan oleh sebagian anak pesantren untuk bermain sepak bola.Tapi anehnya makhluk itu tidak mengucap sepatah kata pun. Dia hanya menatapku dengan tajam mengerikan. Kemudian dia menyentuh tangan kananku dengan tangannya membuat dadaku makin bergemuruh. Tangannya sangat dingin dan kaku membuat bulu kudukku kembali merinding. Kakiku terasa makin lemas menginjak lantai goa itu. Aku merasakan tangannya mulai meremas tanganku. Remasan nya semakin lama semakin keras yang aku rasakan. Saat itu keluarlah dari mulutku firman Allah yang ada di Al-Quran yang sudah aku hafal dan sering aku ucapkan selama ini.Aku tersentak kaget. Aku terjaga dari tidurku yang baru setengah jam. Semua mimpi-mimpi itu buyar seketika. Tak ada lagi batu-batu dan air mengalir yang ada di dalam goa saat aku bermimpi. Yang ada di sekelilingku sekarang hanya kursi; rak-rak buku, serta lampu yang cahayanya menerangi ruangan, yang tentu saja menjadi pemandangan yang aku lihat setiap malam di ruang kantor perpustakaan.Saat itu juga aku merasakan ada sebuah benda yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Benda itu benar-benar aku rasakan keberadaannya di tanganku. Aku perhatikan pergelangan tanganku. Di tanganku melingkar sebuah gelang yang terbuat dari biji-biji tasbih berwarna hitam pekat. Aku tidak jelas terbuat dari bahan apa biji-biji itu. Hanya keesokan harinya ku perhatikan biji-biji tasbih itu mirip biji kacang kecipir yang sudah dikeringkan, yang di daerahku orang tua jaman dulu sering membuatnya menjadi gelang untuk anak-anak bayi, agar bayi tidak suka menangis di malam hari.Aku sangat tidak menyukai gelang yang ku peroleh dari alam mimpi itu. Aku memang tidak suka berhubungan dengan hal-hal mistik. Karena menurutku hal semacam itu akan menjerumuskan kita ke jurang kemusyrikan, yang menurut ceramah para ustadz itu adalah dosa yang tidak bisa diampuni. Aku tidak punya niat sama sekali untuk menyimpan gelang itu apalagi memakai dan membawanya kemana-mana. Bagiku gelang itu miliknya para setan, jika aku pakai berarti aku menjadi temannya para setan. Aku Pun tak pernah menceritakan perihal gelang itu kepada isteri dan anakku, karena menurutku mereka tidak perlu tahu dan memang tidak ada gunanya buat mereka.Timbullah pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari otakku. Kemana aku harus membuang gelang itu? Aku Pun tidak berani sembarangan membuangnya. Aku khawatir jika aku buang sembarangan akan ada akibat buruk bagiku dan keluargaku. Perasaan bingung menyeruak ke benakku. Sebab makhluk dalam mimpiku tidak memberitahu apa-apa perihal gelang itu. Di samping itu aku juga khawatir perbuatan syirik bakal mendekatiku jika gelang itu tetap berada padaku. Dan akhirnya tentu saja akan menjadikanku umat yang ingkar kepda Allah dan mengikuti jejak-jejak setan.Lama aku termenung memikirkan hal itu, hingga akhirnya aku ingat kepada seorang temanku yang suka mengoleksi benda-benda mistik. Temanku itu bernama Jarot. Aku tidak faham mengapa Jarot menyukai benda-benda seperti itu. Aku Pun tak pernah usil untuk menanyakan perihal itu kepadanya. Biar bagaimanapun dia adalah teman, aku tidak suka membicarakan hal-hal yang menyinggung perasaan teman. Biarlah itu akan menjadi urusannya dengan Sang Pencipta di hari kemudian, karena hanya Dia yang berhak memberi hukuman kepada umatnya pada hari itu.Keesokan harinya kutemui Jarot di rumahnya. Dia sehari-harinya berprofesi sebagai tukang gunting rambut. Terkadang jasanya sering dipakai juga oleh orang-orang yang suka mengobati penyakit dengan cara-cara ghaib, walaupun sebenarnya penyakitnya bukan berasal dari alam ghaib.Kedatanganku diterima Jarot dengan ramah, sebagaimana layaknya seorang teman. Selang beberapa menit kemudian istri Jarot keluar dari dapur dan menghidangkan dua cangkir kopi hangat dan sepiring pisang rebus di atas meja. Dia mempersilakan ku mencicipi hidangannya, kemudian masuk lagi ke arah dapur.Di dinding rumah Jarot terpampang keris dan beberapa benda kuno yang tak aku fahami."Ada apa, Bok? Adakah sesuatu yang akan kamu ceritakan hari ini kepadaku?" tanya Jarot kepadaku. Di kalangan teman-teman, aku memang biasa dipanggil "Abok". Aku tidak tahu mengapa mereka memanggilku seperti itu, padahal namaku bukan seperti itu. Yang kutahu panggilan "Abok" berarti "Kakek" dalam bahasa Indonesia-nya. Mungkin mereka memanggilku seperti itu karena rambutku sudah ditumbuhi uban, bahkan kumis ku sudah tidak ada lagi rambut hitamnya. Teman-temanku yang sebaya sebenarnya juga sudah banyak yang memiliki uban, cuma yang paling banyak itu aku.Menjawab pertanyaan Jarot, aku ceritakan semua kejadian di mimpi yang ku alami. Dan tentu saja masalah gelang itu. Setelah mendengar ceritaku, tanpa basa-basi lagi dengan cepat Jarot mengambil gelang itu dari tanganku. Diperhatikannya gelang itu dengan teliti, kemudian dia tersenyum sambil menyeringai, sebagi tanda dia sangat menyukai benda itu.Menurut Jarot gelang itu milik raja iblis bernama Datuk Antu Kuwek. Gelang itu berkhasiat untuk menundukkan segala makhluk dari golongan setan. Tapi aku tak peduli dengan segala khasiat dari benda itu. Yang aku tahu gelang itu milik setan, jika memakainya berarti akan dekat dengan setan.Setelah puas melihat-lihat benda itu dengan seksama, Jarot berkata kepadaku, "Berapa, Bro?" sambil tangannya merogoh kantong celananya bagian belakang. Mungkin dia mau mengambil uang dari kantong itu."Gak usahlah, Bro. Ambillah.. gratis, ku kasih Cuma-cuma." Sahutku.Setelah pulang dari rumah Jarot, aku tidak mau lagi memikirkan mimpi dan masalah gelang itu. Aku Pun tidak pernah bertanya kepada Jarot, apa yang akan dia perbuat terhadap gelang itu. Aku merasa lega karena gelang itu tidak berada di tanganku lagi. Dalam hati aku yakin Jarot tahu apa yang akan dia perbuat dengan gelang itu, karena dia sudah biasa berurusan dengan hal semacam itu.Hingga sekarang aku pun tidak pernah mengalami hal-hal buruk dan aneh yang berasal dari gelang setan itu. Setiap malam hari aku masih tetap menjalankan tugasku seperti biasa sebagai penjaga malam di kantor perpustakaan dan arsip. Dan setiap menjelang tidur aku tidak lupa lagi mengucapkan doa dan zikir.Kabar yang terakhir kudengar dari Jarot, anaknya yang bungsu bernama Lengos yang masih berumur lima tahun, raib entah kemana perginya. Sudah dicari dengan cara nyata maupun dengan pertolongan orang pintar, tapi hasilnya nihil. Menurut teman-temannya, mereka melihat Lengos terakhir saat bermain hujan-hujanan di pinggir selokan. Karena memang saat ini baru memasuki musim hujan yang memang disukai anak-anak. Sudah hampir enam bulan di tempatku dilanda kemarau panjang.Menurut teman-teman Lengos, mereka melihat Lengos waktu itu memakai gelang tasbih warna hitam menyeramkan. Saat itu kelakuan Lengos agak kasar, suka menendang teman-temannya, sehingga teman-temannya menjauh dari LengosTAMAT
Diary Terkutuk
Hai guys, perkenalkan namaku amalia fellicie camille. Aku berusia 10 tahun. Hari ini aku akan menceritakan kejadian saat ulang tahunku yang ke 9.Jadi seperti biasa aku bangun jam 06.30, sebelum aku ke kamar mandi aku baru ingat bahwa hari ini aku sedang ulang tahun, setelah aku mandi ibuku memanggilku untuk sarapan pagi. Setiap hari aku sarapan dengan sereal rasa coklat dan susu.Ibu dan ayahku berkata "Lia ayah dan ibu akan kerja dan pulang sekitar jam 2 siang"."Ok ibu dan ayah" aku menjawab.Setelah aku sarapan aku masuk kembali ke kamar dan membaca buku ku yang berjudul "Bel rumah yang terkutuk", sekitar jam 12.00 aku mendengar suara bel rumah ku berbunyi, ting tong, ting tong. Dengan perasaan takut karena sedang membaca buku yang seram, aku semakin takut dengan suara bel itu yang berulang ulang berbunyi, "Semoga itu ayah dan ibu yang datang" ucapku dalam hati, dengan perasaan takut aku membuka pintunya dan memegang erat buku yang ku baca, "Krekk, loh kok gak ada orang", akhirnya aku menutup pintu dan lari ke kamar dengan ketakutan.Karena ku takut aku berbaring dan lama lama tertidur lelap, di dalam mimpiku aku berada di depan toko buku yang pernah kulihat di pinggiran pasar dekat danau, akhirnya aku masuk dan melihat buku buku yang sudah tidak bagus, kecuali buku diary yang berwarna ungu dan memiliki motif tetesan air bewarna merah. Karena aku tertarik aku membelinya.Tiba tiba aku terbangun dari mimpi aneh itu, dan orangtuaku sudah pulang. "Lia, ayo kita pergi ke mall untuk membeli kado untuk ulang tahunmu sayang" kata ibuku. Karena ibuku sudah mengingati aku langsung bersiap siap untuk pergi, aku biarkan rambutku yang sepinggang ku gerai dan kuberi pita di poniku. Sebelum berangkat aku berkata kepada orangtuaku "Ibu, ayah ada tidak sih toko buku di pasar yang dekat danau?" kataku kepada ibu dan ayahku. Mereka pun menjawab "Oh, maksudmu toko buku pak siman" jawab ayah, karena ini kesempatanku mendapatkan diary itu aku meminta orangtuaku ke sana, tapi sebenarnya orangtuaku merasa aneh karena aku meminta buku diary yang ada di situ, padahal aku tidak suka menulis, tetapi akhirnya jadi ke toko tersebut karena aku memaksa.Setelah membeli aku pergi ke mall, pada saat ku di mall aku melihat ada perempuan yang memakai topi, baju dan sepatu sama dengan diary yang aku punya, saat aku melihat wajahnya, aku kaget karena wajahnya hancur dan bola matanya putih tidak memiliki pupil mata, sejak saat itu aku merasa semakin takut, aku langsung meminta orangtuaku untuk pulang.Saat sampai di rumah aku mengisi diary ku:Buku harian sayangHari ini aku mengalami hari teraneh dan terburuk yang pernah aku alamiSeperti ada yang datang ke rumahkuAda perempuan di mall yang tidak punya pupil mataSemoga esok hari aku tidak mengalami hari seperti iniKeesokan harinya, saat aku di sekolah aku memberi tahu tentang kejadian kemarin kepada sahabatku yang bernama Maria Natallia Astan, yang biasa dipanggil Ria.Sesaat ku memberi tahu ria, "Oh Lia aku tahu cara menghentikan ini, dengan cara kamu harus mencari di lembaran itu sebuah tanda tangan dan kamu membakar bukunya di bawah sinar matahari dengan mengarahkan tanda tangan itu ke sinar matahari dan membakar tanda tangan tersebut ke terakhir" kata Ria.Saat pulang sekolah aku mencari tanda tangan tersebut, ternyata kata ria benar, ada tanda tangan di suatu lembaran. Aku langsung melakukan yang diajarkan ria padaku. Akhirnya beberapa hari kemudian tidak ada kejadian aneh lagi, aku merasa sangat lega karena sudah tidak ada yang menggangguku.Sejak saat kejadian tersebut aku sangat menyesali perbuatanku di hari ulang tahunku, jika aku tidak melakukan itu aku tidak akan dihantui oleh diary terkutuk tersebut.Tamat
Puteri Junjung Buih
Alkisah di Kalimantan Selatan, berdirilah Kerajaan Amuntai. Rakyatnya hidup damai sejahtera di bawah pemerintahan dua pemimpin, Raja Patmaraga dan adiknya, Raja Sukmaraga. Kedua raja itu memerintah dengan adil, saling menghargai, serta hidup rukun. Namun ada satu hal yang mengurangi kebahagiaan mereka, yaitu mereka belum dikaruniai anak.Sang adik, Raja Sukmaraga dan istrinya, sangat mendambakan putra kembar. Dan mereka terus-menerus memintanya dalam doa. Akhirnya, Tuhan mengabulkan doa mereka. Raja Sukmaraga sangat bahagia, setiap malam ia mengelus perut istrinya sambil berkata, “Semoga anak di kandunganmu ini putra kembar yang cakap.” Istrinya hanya tersenyum tapi dalam hati mengiyakan harapan itu. Setelah mengandung sembilan bulan, lahirlah putra kembar yang tampan. Raja Sukmaraga mengumumkan berita bahagia itu pada kakaknya dan seluruh rakyat.Raja Patmaraga juga turut berbahagia atas kelahiran kemenakannya itu. Namun dalam hati, ia sangat sedih. Ia juga ingin dikaruniai anak. Tak harus sepasang anak laki-laki, anak perempuan pun akan ia terima dengan suka cita. Raja Patmaraga berdoa, memohon petunjuk Tuhan. Ia mendapat jawaban lewat mimpi. Dalam mimpinya, Raja Patmaraga diminta untuk bertapa di Candi Agung yang berlokasi di luar Kerajaan Amuntai. Esok harinya, tanpa menunda-nunda lagi, Raja Patmaraga berangkat bersama beberapa pengawal dan tetua istana, Datuk Pujung.Di sana, Raja Patmaraga segera bertapa selama beberapa hari. Meski pun belum mendapat petunjuk, ia yakin Tuhan akan mengabulkan doanya. Benar saja! Dalam perjalanan pulang, Raja Patmaraga melewati sungai. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang bayi perempuan yang sangat cantik terapung-apung di sungai itu.“Apa itu? Apakah aku tak salah lihat? Bagaimana bisa ada bayi di sini?” tanyanya dalam hati.Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat bayi itu. “Datuk Pujung, bantulah aku menggendong bayi ini.” Dengan sigap Datuk Pujung mengambil bayi itu dari pelukan Raja Patmaraga. Betapa herannya mereka, bayi itu tidak menangis melainkan berbicara!Mereka ternganga mendengar kata-kata yang tercucap dari mulut bayi itu, “Jangan bawa aku seperti ini. Mintalah 40 wanita cantik untuk menjemputku. Satu lagi, aku tak bisa ikut dalam keadaan telanjang seperti ini. Kalian harus menyediakan selimut; selimut yang ditenun dalam waktu setengah hari saja.”Raja Patmaraga segera memerintahkan Datuk Pujung untuk kembali ke istana dan mengadakan sayembara untuk mendapatkan selimut yang diminta bayi itu. Selain itu, ia juga harus mengumpulkan 40 wanita cantik.“Pengumuman, Raja Patmaraga sedang menunggu kita. Barang siapa mampu menenun selembar selimut untuk bayi dalam waktu setengah hari, akan diangkat menjadi pengasuh bayi,” kata Datuk Pujung.Mendengar pengumuman itu, rakyat gaduh dengan bisikan-bisikan yang menanyakan siapa kira-kira yang mampu menenun selembar selimut dalam waktu setengah hari. Para wanita mulai bekerja. Mereka menggunakan benang terbaik. Namun sampai waktu yang ditentukan, tak seorang pun yang selesai. Datuk Pujung nyaris putus asa, ketika tiba-tiba seorang wanita menghampirinya.“Tuanku, ini selimut hasil tenunanku. Periksalah dengan cermat apakah selimut ini cukup untuk menyelimuti bayi Raja Patmaraga,” katanya sambil menyerahkan selimut yang dilipat rapi.Datuk Pujung membuka lipatan selimut tersebut dan “Waaahhh… indah sekali selimut itu,” gumam para wanita yang berkerumun di sekitar Datuk Pujung. “Siapakah namamu? Aku rasa kau pantas menjadi pengasuh bayi Raja Patmaraga,” kata Datuk Pujung.“Nama saya Ratu Kuripan. Saya akan sangat senang jika Raja Patmaraga berkenan menjadikan saya pengasuh untuk putrinya,” jawab wanita itu.Datuk Pujung, Ratu Kuripan, dan 40 wanita cantik berangkat menjemput Raja Patmaraga. Bayi itu dibungkus dengan selimut buatan Ratu Kuripan. “Cantik sekali. Karena kau kutemukan terapung di atas buih-buih, maka kau kunamakan Putri Junjung Buih,” kata Raja Patmaraga.Bayi itu tersenyum, seolah setuju dengan Raja Patmaraga. Kebahagiaan rakyat Amuntai telah lengkap bersama dua raja dan putra-putri mereka. Negeri itu hidup damai dan bahagia.Pesan moral dari cerita ini adalah: merawat milik kita dengan baik adalah salah satu cara bersyukur. Jika menginginkan sesuatu, berusahalah hingga itu terwujud.
Lelaki dalam Mimpi
Apa memimpikan lelaki lain ketika sudah menikah itu termasuk selingkuh?Sejak terbangun Subuh tadi aku terus merutuki kekonyolanku. Ya, dengan sekonyong-konyong bunga tidurku dimasuki oleh sosok pria yang jelas bukan suamiku. Tidak tanggung-tanggung, seseorang yang wajahnya begitu familier itu terus menghantui sejak tiga malam terakhir.Jangan dipikir aku menyukai lelaki jangkung berkulit sawo matang itu. Tidak. Aku tipikal istri setia. Pun dengan hatiku. Aku justru heran mengapa lelaki itu selalu hadir dalam mimpiku. Aku akui, parasnya memang lumayan dengan hidung sedang--tidak mancung juga tidak pesek--alis yang tebal, rahang yang tegas dan badan proporsional. Tapi, sekali lagi kutegaskan, aku benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun dengannya.Sebelum dipersunting suamiku dua bulan lalu, aku bahkan belum sekali pun menyukai seseorang hingga mengakar ke dalam relung hati. Saat kuliah dulu, aku adalah aktivis dakwah kampus. Soal menjaga hati, sudah pasti tidak perlu diragukan lagi. Aku memang keukeuh hanya akan mencintai satu lelaki dalam hidupku. Dialah suamiku. Maman Surahman.Bunyi alarm mobil membuyarkan lamunanku. Sedari tadi aku hanya mematung di ambang pintu gerbang yang terbuka sebagian. Tubuh mungilku mendadak membeku saat menyadari aku hendak ke rumah lelaki itu."Mau ke kantor ya, Den?" Itu suara Mas Maman. Manik mataku justru terkunci ke arah lelaki yang kini sudah membuka pintu mobil SUV berwarna putih. Aku seolah hilang ingatan jika pandangan kedua itu akan dihitung dosa. Seharusnya aku segera menundukkan pandangan. Bukan malah terus menerus terpaku kepadanya.Lelaki itu menoleh. "Iya, Mas. Nanti keburu ada meeting , jadi berangkat agak pagi," jawabnya dengan senyum yang lebar. Lelaki itu memang selalu memanggil Mas Maman dengan sapaan "Mas" karena usianya hanya terpaut 3 tahun.Sudah dua tahun ini Mas Maman bekerja sebagai tukang kebun paruh waktu di tempat lelaki itu. Sebetulnya, suamiku di sini merangkap kerja apa saja. Saat sang majikan pergi ke kantor, Mas Maman yang akan menjaga rumah besar berlantai dua itu. Aku sendiri sebagai istri ikut membantu pekerjaan suamiku. Mbok Tiyem, asisten rumah tangga yang sudah bekerja lama terpaksa harus pulang kampung karena anaknya meminta untuk beristirahat di rumah lantaran usia yang sudah memasuki senja. Jadi, akulah yang sekarang menggantikan segala macam tugas domestik."Saya pergi dulu, Mas. Assalamu'alaikum," pamit lelaki itu tanpa sedikit pun menggubris keberadaanku.Setelah menjawab salam, Mas Maman segera berlari kecil menuju pintu gerbang, membukanya lebar-lebar agar mobil bisa lewat dengan sempurna. Aku menghela napas panjang begitu lelaki itu sudah menghilang saat mobilnya berbelok ke arah kanan. Kutatap punggung sedikit terkulai dari pria yang tengah menutup kembali pintu gerbang itu sayu. Ada segepok perasaan bersalah yang menimpuk hati saat memandang tubuh tinggi kurus itu."Apa aku kurang bersyukur sama keadaan Mas Maman sampai-sampai aku malah memimpikan majikan suamiku sendiri?" batinku gusar. Ya, mungkin saja aku terganggu dengan omongan para tetangga atas lelaki pilihanku. Bagaimana tidak? Aku adalah seorang sarjana lulusan Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran. Memilih menikah dengan lelaki yang hanya lulusan SMA dan bekerja sebagai tukang kebun, tentu akan dianggap aneh oleh sebagian besar orang.Aku tidak malu dengan kondisi suamiku. Aku memilihnya karena Allah. Dia lelaki sholeh yang rajin ke masjid. Aku terkesima dengannya ketika dia dengan telaten merawat ibunya yang hanya terbaring tak berdaya di atas kasur bertahun-tahun lamanya-sebelum akhirnya dipanggil Allah setahun yang lalu. Ah, apa mungkin hatiku belum sepenuhnya ikhlas memilih Mas Maman?***Aku memimpikan lelaki itu lagi. Erfan Syahreza, majikan suamiku. Ini benar-benar konyol. Padahal aku berusaha keras selalu membayangkan suamiku seharian kemarin. Nyatanya itu tak cukup mampu melenyapkan Erfan dari mimpiku. Mungkin ada yang salah dengan alam bawah sadarku. Aku sampai merasa malu bila harus berhadapan dengan lelaki itu.Tanganku sontak gemetar saat hendak meraih kemeja berwarna biru navy yang teronggok di dalam keranjang bagian atas. Ini baju yang dikenakan Erfan hari kemarin. Baju yang sama yang dipakainya ketika kumimpikan tadi malam. Aku menelan ludah begitu mengingat mimpi konyol itu."Mbak Sofi, baju kotornya belum dimasukin ke mesin cuci, kan?"Aku berjengit saat suara bariton milik lelaki itu muncul tergesa dari balik pintu."Alhamdulillah ... ternyata belum dimasukin ke mesin cuci."Lututku mendadak lemas ketika Erfan berjalan mendekat. Aku hanya berdiri menegang. Mataku mengerling penasaran saat lelaki itu merogoh saku celana bahan yang juga ikut tertumpuk di keranjang baju. Aku tak mengacuhkan apa isi lipatan kertas yang baru saja diambilnya. Pupilku justru tertumbuk pada punggung tangan kukuh yang kemarin malam terus menggenggam jemariku erat.Aku cepat-cepat membuang pandangan ketika pikiranku mulai berkelebat mengingat bayangan romantis yang ada dalam mimpi tadi malam. Bibir tipisku kontan komat-kamit menggumamkan kalimat istighfar berkali-kali.Hatiku sontak mencelus saat aku menangkap bayangan lelaki tinggi kurus dengan punggung sedikit terkulai tengah membersihkan kolam ikan di belakang rumah. Mataku memanas. Seharusnya aku tidak membandingkan keadaan suamiku dengan lelaki lain yang kondisinya jauh lebih mapan. Suamiku adalah suamiku. Betapa pun saat ini dia hanya mampu mencukupi kebutuhan pokok keluarga, tapi dia lelaki terhebat yang dipilihkan Allah untukku. Aku harus mensyukurinya bagaimana pun keadaannya."Maafkan aku, suamiku....," gumamku seraya mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi putihku.***" Honey , bangun. Kita udah sampai di rumah nih." Tepukan pelan di pipiku membuat mataku mengerjap-ngerjap.Kudengar seseorang yang membangunkanku itu berdecak. "Kamu tidurnya nyenyak banget, sih? Apa mau aku gendong? Tapi, jangan nuntut aku kalau besok pipimu kayak kepiting rebus," katanya disusul dengan kekehan lirih.Aku mulai memicingkan mata. Seraut wajah yang begitu familier tertangkap oleh mataku. Aku spontan menegakkan punggung. Manik coklatku menatap tajam ke arah lelaki yang merunduk menyejajariku-yang masih duduk di jok mobil. Meski wajahnya tersapu sinar temaram lampu taman, aku bisa yakin jika sosok di depanku ini adalah majikan suamiku. Erfan Syahreza."Aku memimpikan dia lagi?" gumamku pelan.Alis tebal lelaki itu terangkat sebelah. "Memimpikan dia? Memangnya kamu lagi mimpiin siapa, sih? Jangan bilang lelaki lain selain aku.""Kenapa Den Erfan selalu ada dalam mimpiku?"Kening lelaki itu semakin berkerut heran. "Den ...?"Tangan lelaki itu malah mengacak kepalaku yang terbungkus khimar, gemas. "Sepertinya kesadaranmu belum pulih. Aku yakin kamu tadi lagi mimpiin sinetron hidayah yang jadi favorit Mama."Lelaki itu mendengus sedikit kesal. Tubuhnya mendekat. Aku sontak menahan napas karena jarak kami begitu dekat. Parfum beraroma lavender menguar memasuki indera penciuman. Bau parfum yang begitu kukenal sejak dua bulan yang lalu."Udah aku bilang jangan ikut perhatiin waktu Mama ngajakin nonton Tivi. Kalau nggak enak nolak, kan, kamu bisa baca e-book di HP," ujarnya sembari membuka seat belt.Aku tersentak saat lelaki itu tiba-tiba menggendongku ala bridal style . Tanganku spontan memegang punggung kukuhnya. Entahlah, pikiranku masih belum meyakini jika ini bukan mimpi."Apa kamu mimpiin aku jadi majikanmu? Judulnya Suamiku adalah Majikanku. Atau ... Aku Jadi Pembantu di Rumah Suamiku." Tawa lelaki itu bertambah lebar. Mendengar tawanya yang khas, kesadaranku perlahan mulai pulih.Jadi, semua hanyalah mimpi? Aku sontak merutuki kekonyolanku begitu menyadari sesuatu. Kenapa aku malah memimpikan Kang Maman, tukang kebun di rumah Mama-ibu mertuaku-yang jadi suamiku? Ah, mungkin karena aku terlalu terbawa emosi saat Mama menceritakan kisah hidup Kang Maman yang rela merawat istrinya yang lumpuh selama 5 tahun ini.Dua hari di rumah Mama, aku memang dicekoki dengan tontonan FTV hidayah yang biasa menjamur di jam siang. Betapa konyolnya jika alur cerita semacam itu justru menular hingga memasuki alam mimpiku. Aku seperti tengah bermain menjadi tokoh utama dalam sinetelevisi berjudul "Suami yang Tertukar". Sudut bibirku berkedut begitu mengingat suamiku, Erfan Syahreza, tertukar dengan Kang Maman Surahman. Oh my ... . Entah mukaku harus ditaruh di mana jika suamiku sampai tahu mimpi aneh itu.---selesai---
Mahkota Raja Ramah
Rara selalu bertanya-tanya pada hati kecilnya, mengapa orang-orang kerap memandang keanehan dunia ini sebagai sesuatu yang mengerikan? Padahal, semua keanehan-keanehan itu, bagaikan batu permata yang amat mengkilap di mata Rara.Bagi Rara, keganjilan adalah hal yang paling megah di dunia ini, sama seperti mahkota emas yang pernah muncul di masa lalunya. Sebuah mahkota emas yang ukurannya menyerupai gelang, dan memancarkan cahaya yang terang benderang dan hangat layaknya sinar mentari, hingga mampu mengusir angkasa yang gelap gulita."Ya... orang-orang memang aneh... " Ujar Angga yang duduk di samping Rara. Mata pemuda itu terbuka lebar karena kagum dengan keberadaan sebuah ponsel yang melayang-layang tepat di depan matanya. "Tapi... kita juga orang kan?"Siang ini adalah siang terpanas yang pernah dirasakan Rara seumur hidupnya. Bahkan, karena saking panasnya, tak ada satupun pelanggan yang belanja di grosirnya sejak pukul sebelas tadi—saat dimana matahari mulai memancarkan sinar yang begitu menyengat.Waktu itu, Rara dan Angga sedang duduk di meja kasir yang berada di dekat pintu masuk. Di tokonya, rak-rak tersusun rapi dengan berbagai macam dagangan yang tertata di atasnya, sedangkan di bagian paling dalam juga ada begitu banyak susunan kotak kardus dengan berbagai ukuran dan isinya.Yah, meskipun toko Rara terbilang besar, tapi sayangnya dia hanya memasang satu buah AC saja, dan sekarang Rara menyesal karena tidak memasang dua pendingin ruangan."Hah... kau benar-benar beruntung Angga. Padahal ini baru hari pertamamu bekerja di sini, tapi sekarang grosirku malah sepi begini... " Ujar Rara. Wajahnya yang biasanya terlihat cantik dan penuh semangat, kini terlihat murung dan hampa. "Seandainya saja nggak panas kayak begini, pasti kau nggak akan bisa bernafas karena saking banyaknya pembeli... ""Eh... tapi kan, tugasku cuma di meja kasir doang... " Gumam Angga."Heh... iya juga, ya?" Rara lalu menatap Angga dengan heran. Entah kenapa rasanya sulit sekali bagi Rara untuk percaya dengan semua yang baru terjadi akhir-akhir ini. Angga yang merupakan anak dari keluarga kaya, dan juga teman Rara sedari kecil, yang beberapa tahun silam pergi keluar kota untuk melanjutkan pendidikannya, minggu lalu tiba-tiba datang ke hadapan Rara dan menawarkan diri untuk menjadi karyawannya.Benar-benar tak bisa dipercaya."Jujur lho, sejak aku balik ke kota ini, aku selalu penasaran dengan tokomu, karena tiap kali aku lewat, tokomu pasti ramai banget... Bahkan orang luar kota pun pasti datang ke sini untuk belanja, sampai-sampai tokomu ini malah terlihat lebih ramai daripada mall di kota." Angga bergumam, tapi matanya masih tertuju pada ponsel yang mengambang-ngambang di depannya itu. "Dan... sekarang aku tahu penyebabnya... ""Yah... aku perhatikan, kamu kayaknya memang sering lewat jalan sini deh, tapi kamu sama sekali nggak pernah singgah belanja di sini... " Rara menatap curiga pada Angga, tapi pemuda itu masih terpaku pada ponsel yang melayang. "Memangnya kamu biasanya ngapain ke sini? Setidaknya, kalau kamu lewat sini, kamu belanja minum gitu kek. Kita sudah berteman dari kecil loh—""Eh, Ra, kamu kok bisa punya kekuatan kayak begini sih? Bagaimana ceritanya coba? Dan sejak kapan?" Ujar Angga yang akhirnya berhasil memalingkan pandangannya dari ponsel itu. Dari mukanya, siapapun bisa tahu akan betapa penasarannya dia sekarang.Rara hanya mampu memasang wajah datar setelah mendengar perkataan Angga. Dia bahkan tidak memedulikan semua yang telah dikatakan Rara beberapa detik lalu. Namun, pada akhirnya Rara hanya bisa menghela nafas dalam, lalu ia pun mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Angga."Yah, pada dasarnya sih, ada banyak hal yang telah terjadi sejak kau memutuskan untuk SMA di Makassar... Dan... soal kekuatan ini, aku mendapatkannya sehari setelah kau berangkat." Rara menjelaskan sambil tersenyum kecil. Namun, entah kenapa kini dia bisa merasakan rasa pahit yang amat pekat di lidahnya. Perasaannya tiba-tiba bergejolak."Hah? Yang benar? Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana caranya?"Tubuh Rara tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Hatinya terasa semakin terombang-ambing tanpa sebab yang pasti."Ah... kayaknya nggak perlu aku ceritain deh... " Rara mengangkat tangan kanannya agak tinggi, dan ponsel itu pun juga bergerak naik ke atas mengikuti gerakkan tangan Rara, atau mungkin juga hatinya. Sungguh kekuatan yang sangat aneh. Sudah tiga tahun Rara memiliki keganjilan ini di dalam dirinya, tapi dia tetap saja kebingungan dengannya.Kekuatannya itu adalah satu-satunya keganjilan yang bisa membuat hati Rara menjadi bimbang.Apakah dia harus memandang keganjilan—kekuatan—ini sebagai sesuatu yang mengerikan, atau sebagai sesuatu yang indah bak permata?"Kok?" Pekik Anga. "Hey, Ra, kita ini sudah berteman dari kecil loh, masa iya kamu nggak mau menceritakan aku hal sepenting itu.""Yah, kita memang sudah kenal dari kecil, dan kau bahkan mengetahui semua rahasiaku. Tapi, apa kau tahu? Aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentangmu loh... selain namamu, hobimu, dan keluargamu... sisanya, aku sama sekali nggak tahu.""Hey, hey... aku bahas apa, kamu bahas apa...""Tapi—""Ayolah! Ceritakan semuanya padaku, Ra!"Rara kembali menghela nafas. "Sebenarnya... Aku... " Rara berhenti sejenak. Matanya sedikit bergetar. Dia merasa dicekik. Walau ingatan itu masih terlalu jelas dalam benaknya, tapi Rara sudah memutuskan untuk tidak mengungkit lagi tragedi mengerikan yang terjadi pada hari itu. "Maaf... kayaknya aku memang nggak bisa deh... ""Eh...? Apaan sih?" Angga terlihat kecewa. "Hmm... tadi katamu, kau mendapatkan kekuatan ini sehari setelah aku pindah ke Makassar... Dan kalau nggak salah... hari itu adalah hari di mana panti asuhan terbakar kan?"Dunia di sekitar mereka tiba-tiba berguncang, sampai-sampai ada beberapa barang di sekitar mereka yang jatuh dari rak. Mata Rara terbuka sangat lebar. Keringat dinginnya bercucuran. Dia merasa seolah baru saja jatuh dari langit. Tapi, Rara buru-buru mengontrol napasnya dan berusaha menenangkan dirinya."Barusan... apaan?" Angga bergumam heran."Eh, demi apa... Kok kamu berpikir sampai kesitu?" Senyuman Rara ikut bergetar."Lagian kamu nggak mau ceritain juga," Kata Angga cemberut."Hah... ""Yah, kalau kamu tetap nggak cerita, aku bisa cari sendiri kok." Kata Angga sok seraya mendongak menatap ponsel yang mengambang tinggi itu. "Hari ini, aku akan mengetahui kebenarannya... ""Eh? Maksudmu?""Ah, nggak ada apa-apa kok," Jawab Angga sambil tersenyum manis. "Oh iya, kau ingat nggak dengan ucapan yang sering dikatakan Kakek Johan tiap kali kita berkunjung ke panti?""Ah, aku masih ingat.""Ada satu kekuatan lahiriah yang amat menjengkelkan yang melekat pada manusia, dan itu adalah kemampuan mereka untuk mengecewakan orang lain." Angga mengulangi kembali kata-kata bijak yang selalu dikatakan oleh almarhum Kakek Johan. Meski wajahnya tampak sedih, tapi senyumannya tidak raib dari bibirnya.Keheningan menelan setiap sudut ruangan setelah suara Angga hilang dibawa oleh waktu. Rara hanya diam waktu itu. Kata-kata Angga terasa seperti bilah pisau yang menusuk dada Rara."Selamat siang, Rara!"Namun, keheningan itu lenyap begitu saja saat rombongan ibu-ibu tiba-tiba masuk ke dalam toko tanpa disadari. Ada beberapa yang langsung mengantri di depan meja kasir, sedangkan yang lainnya memilih untuk masuk lebih dalam dan melihat-lihat isi toko untuk menambahkan barang-barang lain dalam daftar belanja mereka."Nih, Ra, tolong ya." Salah seorang ibu memberikan secarik kertas pada Rara, dan di kertas itu sudah tertulis daftar barang yang ingin dibeli oleh ibu itu."Siap, Bu!" Kata Rara penuh semangat seraya membaca daftar belanja itu. "Yah, kebetulan semuanya ada, dan kalau nggak ada tambahan, jadi langsung saja ya?"Setelah membaca semuanya, mata Rara tiba-tiba mulai bersinar memancarkan cahaya keemasan, lalu Rara mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula, ada beberapa barang dari rak, dan juga barang-barang di ruang belakang, serta kardus kosong di pojok yang tiba-tiba mulai bergerak sendiri, kemudian melayang dan berkumpul di udara di atas meja Rara."Hey... Ra... kok matamu jadi kayak senter loh..." Bisik Angga keheranan.Sungguh suatu pemandangan yang benar-benar berhasil merusak kenyataan dunia.Akan tetapi, anehnya para pelanggan setia Rara, maupun orang-orang yang baru pertama kali datang ke toko ini, pasti akan langsung tahu dengan satu peraturan yang harus dipatuhi selama mereka belanja di sini.Hanya satu peraturan, dan itu adalah; para pelanggan tidak boleh membeberkan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi di sini pada orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali.Rara juga tidak tahu persis bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi sepertinya itu hanyalah salah satu dampak dari kekuatannya.Semua barang-barang itu meluncur masuk ke dalam kardus kosong, dan kemudian tali yang ada di meja Rara juga ikut terulur dengan sendirinya, lalu mengikat kardus itu dengan erat. Dan saat semuanya selesai, kardus yang berisi barang-barang pesanan si Ibu pun mendarat dengan mulus di atas meja."Hah... " Rara menghela nafas dalam seraya menengok ke arah Angga yang takjub dengan apa yang baru saja dilakukan Rara. "Nih, buruan kamu hitung semuanya." Ujar Rara sambil menyodorkan kertas itu pada Angga."Eh?" Angga menoleh ke arah Rara dengan ekspresi tolol yang terpampang di wajahnya. "Oh! Iya! Cepat siniin." Namun Angga berhasil sadar, dan dia dengan cekatan mulai menjumlahkan harga keseluruhan dari semua barang belanja ibu itu.Ya, suasana siang yang sibuk itu begitu menyenangkan bagi Rara. Dia dan Angga bekerja dengan penuh semangat, walau cuacanya sangat panas. Namun, bagi Rara, momen ini sangatlah mahal, apalagi Angga juga merupakan salah satu orang paling berarti dalam hidupnya.Namun, dosa adalah dosa. Dan seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga, jadi, kejahatan Rara, mau tak mau kelak tentu saja akan terbongkar, dan dia harus menerima kenyataan itu. Begitulah hukum dunia.Dan beberapa jam kemudian, saat langit memancarkan cahaya oranye yang hangat dan membuat dunia terasa damai, akhirnya saat itu pun tiba."BERHENTI WOY! ANGGA!"Tampak ada ratusan garis cahaya yang melesat dari langit, dan bergerak dengan kecepatan kilat menuju ke arah Rara. Meski begitu, anehnya Rara sama sekali tidak merasa terancam dengan cahaya-cahaya kemerahan itu, dan dia tetap berdiri tegak di langit.Rara memantapkan pikirannya, hingga membuat cahaya keemasan meledak dari dalam dirinya, dan menciptakan semacam pelindung untuk Rara untuk menahan cahaya-cahaya kemerahan itu.Ledakan bertubi-tubi terjadi tepat di depan mata Rara. Ledakan yang seharusnya menghancurkan sebuah kota hingga rata dengan tanah, bahkan tidak bisa membuat Rara tergores.Itu semua berkat mahkota emas kecil yang melayang rendah di atas kepalanya."Kenapa kau tidak menyelamatkan mereka!" Teriak suara Angga yang terdengar dari langit. Awalnya tidak terlihat apa-apa di atas sana, tapi tak lama kemudian, dari balik awan-awan akhirnya Angga muncul dengan menunggangi seekor naga raksasa bersisik ungu bercahaya."A-aku bahkan hampir tidak bisa berbuat apa-apa saat itu! Semuanya terjadi begitu saja! Dan apa yang kau harapkan!" Balas Rara. Emosinya bercampur aduk. Alisnya berkerut sedih."Dasar bodoh! Orang-orang di panti itu sudah seperti keluarga kita! Dan kau bertanya apa yang aku harapkan!? Apa-apaan kau, Rara!" Angga berteriak murka dengan Air mata yang mengalir di wajah. "Dengan kekuatanmu! Kau seharusnya bisa menyelamatkan mereka! Tapi kenapa kau hanya menyelamatkan Sari!?""Tapi... semuanya sudah terjadi... " Rara berbisik pelan sambil menoleh ke belakang, dan memandang seorang gadis kecil yang berdiri jauh dibawah sana. "Semuanya sudah terjadi! Dan itu nggak bisa dirubah lagi!""Memang sudah terjadi... tapi aku juga sudah terlanjur kecewa, Ra." Kata Angga. "Bagiku, kematian mereka adalah sebuah kesalahan, dan Sari yang bertahan hidup, juga merupakan suatu kesalahan... " Sayap naga itu tiba-tiba terbentang lebar dan membuat angin berguncang, tanda bahwa mereka siap untuk bertempur. "Berkatmu, semua ingatan itu sekarang sudah tak ada artinya lagi."Rara menggigit bibir. "Nggak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"Rara masih tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sahabatnya tetap tak mau sadar. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caranya mengakhiri ini? Rara kehabisan kata-kata. Satu-satunya yang mampu dilakukannya saat ini, adalah membuat langit dipenuhi oleh cahaya keemasan yang berasal dari dalam dirinya.+"Bunuh tukang bacot itu... Barbatheos.""Hah? Yang benar? Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana caranya?"Tubuh Rara tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Hatinya terasa semakin terombang-ambing tanpa sebab yang pasti."Ah... kayaknya nggak perlu aku ceritain deh... " Rara mengangkat tangan kanannya agak tinggi, dan ponsel itu pun juga bergerak naik ke atas mengikuti gerakkan tangan Rara, atau mungkin juga hatinya. Sungguh kekuatan yang sangat aneh. Sudah tiga tahun Rara memiliki keganjilan ini di dalam dirinya, tapi dia tetap saja kebingungan dengannya.Kekuatannya itu adalah satu-satunya keganjilan yang bisa membuat hati Rara menjadi bimbang.Apakah dia harus memandang keganjilan—kekuatan—ini sebagai sesuatu yang mengerikan, atau sebagai sesuatu yang indah bak permata?"Kok?" Pekik Anga. "Hey, Ra, kita ini sudah berteman dari kecil loh, masa iya kamu nggak mau menceritakan aku hal sepenting itu.""Yah, kita memang sudah kenal dari kecil, dan kau bahkan mengetahui semua rahasiaku. Tapi, apa kau tahu? Aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentangmu loh... selain namamu, hobimu, dan keluargamu... sisanya, aku sama sekali nggak tahu.""Hey, hey... aku bahas apa, kamu bahas apa...""Tapi—""Ayolah! Ceritakan semuanya padaku, Ra!"Rara kembali menghela nafas. "Sebenarnya... Aku... " Rara berhenti sejenak. Matanya sedikit bergetar. Dia merasa dicekik. Walau ingatan itu masih terlalu jelas dalam benaknya, tapi Rara sudah memutuskan untuk tidak mengungkit lagi tragedi mengerikan yang terjadi pada hari itu. "Maaf... kayaknya aku memang nggak bisa deh... ""Eh...? Apaan sih?" Angga terlihat kecewa. "Hmm... tadi katamu, kau mendapatkan kekuatan ini sehari setelah aku pindah ke Makassar... Dan kalau nggak salah... hari itu adalah hari di mana panti asuhan terbakar kan?"Dunia di sekitar mereka tiba-tiba berguncang, sampai-sampai ada beberapa barang di sekitar mereka yang jatuh dari rak. Mata Rara terbuka sangat lebar. Keringat dinginnya bercucuran. Dia merasa seolah baru saja jatuh dari langit. Tapi, Rara buru-buru mengontrol napasnya dan berusaha menenangkan dirinya."Barusan... apaan?" Angga bergumam heran."Eh, demi apa... Kok kamu berpikir sampai kesitu?" Senyuman Rara ikut bergetar."Lagian kamu nggak mau ceritain juga," Kata Angga cemberut."Hah... ""Yah, kalau kamu tetap nggak cerita, aku bisa cari sendiri kok." Kata Angga sok seraya mendongak menatap ponsel yang mengambang tinggi itu. "Hari ini, aku akan mengetahui kebenarannya... ""Eh? Maksudmu?""Ah, nggak ada apa-apa kok," Jawab Angga sambil tersenyum manis. "Oh iya, kau ingat nggak dengan ucapan yang sering dikatakan Kakek Johan tiap kali kita berkunjung ke panti?""Ah, aku masih ingat.""Ada satu kekuatan lahiriah yang amat menjengkelkan yang melekat pada manusia, dan itu adalah kemampuan mereka untuk mengecewakan orang lain." Angga mengulangi kembali kata-kata bijak yang selalu dikatakan oleh almarhum Kakek Johan. Meski wajahnya tampak sedih, tapi senyumannya tidak raib dari bibirnya.Keheningan menelan setiap sudut ruangan setelah suara Angga hilang dibawa oleh waktu. Rara hanya diam waktu itu. Kata-kata Angga terasa seperti bilah pisau yang menusuk dada Rara."Selamat siang, Rara!"Namun, keheningan itu lenyap begitu saja saat rombongan ibu-ibu tiba-tiba masuk ke dalam toko tanpa disadari. Ada beberapa yang langsung mengantri di depan meja kasir, sedangkan yang lainnya memilih untuk masuk lebih dalam dan melihat-lihat isi toko untuk menambahkan barang-barang lain dalam daftar belanja mereka."Nih, Ra, tolong ya." Salah seorang ibu memberikan secarik kertas pada Rara, dan di kertas itu sudah tertulis daftar barang yang ingin dibeli oleh ibu itu."Siap, Bu!" Kata Rara penuh semangat seraya membaca daftar belanja itu. "Yah, kebetulan semuanya ada, dan kalau nggak ada tambahan, jadi langsung saja ya?"Setelah membaca semuanya, mata Rara tiba-tiba mulai bersinar memancarkan cahaya keemasan, lalu Rara mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula, ada beberapa barang dari rak, dan juga barang-barang di ruang belakang, serta kardus kosong di pojok yang tiba-tiba mulai bergerak sendiri, kemudian melayang dan berkumpul di udara di atas meja Rara."Hey... Ra... kok matamu jadi kayak senter loh..." Bisik Angga keheranan.Sungguh suatu pemandangan yang benar-benar berhasil merusak kenyataan dunia.Akan tetapi, anehnya para pelanggan setia Rara, maupun orang-orang yang baru pertama kali datang ke toko ini, pasti akan langsung tahu dengan satu peraturan yang harus dipatuhi selama mereka belanja di sini.Hanya satu peraturan, dan itu adalah; para pelanggan tidak boleh membeberkan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi di sini pada orang-orang yang tidak berkepentingan sama sekali.Rara juga tidak tahu persis bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi sepertinya itu hanyalah salah satu dampak dari kekuatannya.Semua barang-barang itu meluncur masuk ke dalam kardus kosong, dan kemudian tali yang ada di meja Rara juga ikut terulur dengan sendirinya, lalu mengikat kardus itu dengan erat. Dan saat semuanya selesai, kardus yang berisi barang-barang pesanan si Ibu pun mendarat dengan mulus di atas meja."Hah... " Rara menghela nafas dalam seraya menengok ke arah Angga yang takjub dengan apa yang baru saja dilakukan Rara. "Nih, buruan kamu hitung semuanya." Ujar Rara sambil menyodorkan kertas itu pada Angga."Eh?" Angga menoleh ke arah Rara dengan ekspresi tolol yang terpampang di wajahnya. "Oh! Iya! Cepat siniin." Namun Angga berhasil sadar, dan dia dengan cekatan mulai menjumlahkan harga keseluruhan dari semua barang belanja ibu itu.Ya, suasana siang yang sibuk itu begitu menyenangkan bagi Rara. Dia dan Angga bekerja dengan penuh semangat, walau cuacanya sangat panas. Namun, bagi Rara, momen ini sangatlah mahal, apalagi Angga juga merupakan salah satu orang paling berarti dalam hidupnya.Namun, dosa adalah dosa. Dan seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga, jadi, kejahatan Rara, mau tak mau kelak tentu saja akan terbongkar, dan dia harus menerima kenyataan itu. Begitulah hukum dunia.Dan beberapa jam kemudian, saat langit memancarkan cahaya oranye yang hangat dan membuat dunia terasa damai, akhirnya saat itu pun tiba."BERHENTI WOY! ANGGA!"Tampak ada ratusan garis cahaya yang melesat dari langit, dan bergerak dengan kecepatan kilat menuju ke arah Rara. Meski begitu, anehnya Rara sama sekali tidak merasa terancam dengan cahaya-cahaya kemerahan itu, dan dia tetap berdiri tegak di langit.Rara memantapkan pikirannya, hingga membuat cahaya keemasan meledak dari dalam dirinya, dan menciptakan semacam pelindung untuk Rara untuk menahan cahaya-cahaya kemerahan itu.Ledakan bertubi-tubi terjadi tepat di depan mata Rara. Ledakan yang seharusnya menghancurkan sebuah kota hingga rata dengan tanah, bahkan tidak bisa membuat Rara tergores.Itu semua berkat mahkota emas kecil yang melayang rendah di atas kepalanya."Kenapa kau tidak menyelamatkan mereka!" Teriak suara Angga yang terdengar dari langit. Awalnya tidak terlihat apa-apa di atas sana, tapi tak lama kemudian, dari balik awan-awan akhirnya Angga muncul dengan menunggangi seekor naga raksasa bersisik ungu bercahaya."A-aku bahkan hampir tidak bisa berbuat apa-apa saat itu! Semuanya terjadi begitu saja! Dan apa yang kau harapkan!" Balas Rara. Emosinya bercampur aduk. Alisnya berkerut sedih."Dasar bodoh! Orang-orang di panti itu sudah seperti keluarga kita! Dan kau bertanya apa yang aku harapkan!? Apa-apaan kau, Rara!" Angga berteriak murka dengan Air mata yang mengalir di wajah. "Dengan kekuatanmu! Kau seharusnya bisa menyelamatkan mereka! Tapi kenapa kau hanya menyelamatkan Sari!?""Tapi... semuanya sudah terjadi... " Rara berbisik pelan sambil menoleh ke belakang, dan memandang seorang gadis kecil yang berdiri jauh dibawah sana. "Semuanya sudah terjadi! Dan itu nggak bisa dirubah lagi!""Memang sudah terjadi... tapi aku juga sudah terlanjur kecewa, Ra." Kata Angga. "Bagiku, kematian mereka adalah sebuah kesalahan, dan Sari yang bertahan hidup, juga merupakan suatu kesalahan... " Sayap naga itu tiba-tiba terbentang lebar dan membuat angin berguncang, tanda bahwa mereka siap untuk bertempur. "Berkatmu, semua ingatan itu sekarang sudah tak ada artinya lagi."Rara menggigit bibir. "Nggak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"Rara masih tak tahu harus berbuat apa sekarang. Sahabatnya tetap tak mau sadar. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana caranya mengakhiri ini? Rara kehabisan kata-kata. Satu-satunya yang mampu dilakukannya saat ini, adalah membuat langit dipenuhi oleh cahaya keemasan yang berasal dari dalam dirinya.+"Bunuh tukang bacot itu... Barbatheos."
LOVE TWINS
Lorong rumah sakit itu terasa sangat panjang. Daniar masih menyusurinya dengan setengah berlari. Nafasnya terengah-engah.Di ujung koridor, tampak Denara, saudara kembarnya tengah mondar-mandir dengan gelisah."Bagaimana Dena? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Daniar begitu ia tiba di dekat Denara.Denara menatapnya tajam."Kemana saja sih?" semburnya kesal."Maaf. Aku masih ada rapat dengan dirut tempatku bekerja. Bagaimana keadaan Leon?" Daniar mengabaikan kekesalan Denara."Leon butuh darah segera.""Lalu?" Daniar menyela tidak sabar."Darahnya sama dengan darahmu.""Bukankah itu berarti darahmu juga sama?" Daniar mengernyit heran."Aku...aku tidak berani mendonorkan darahku. Aku takut," ujar Denara memalingkan muka.Daniar menghela nafas."Baiklah. Aku akan menemui dokter," tanpa menunggu lagi, Daniar segera mencari dokter yang menangani Leon, kekasih Denara.Tidak butuh waktu lama bagi Daniar mendonorkan darahnya.Daniar merasakan kepalanya pusing. Dengan sedikit terhuyung, ia berjalan keluar dari ruang tempat ia diambil darahnya.Perlahan Daniar berjalan ke tempat Denara."Bagaimana?" tanya Denara begitu Daniar mendekat."Sudah. Kita tunggu saja kabar selanjutnya dari dokter," ujar Daniar memegang kepalanya yang terasa berdenyut."Sebaiknya kamu kembali ke kantormu, biar aku yang menunggu Leon di sini," kata Denara meninggalkan Daniar masuk ke ruang tempat Leon di rawat.Daniar tersenyum pahit. Ia berbalik hendak kembali ke kantornya karena ia memang hanya ijin untuk keluar sebentar.Mendadak matanya berkunang-kunang. Tubuhnya terasa lemas. Kakinya tidak mampu menahan tubuhnya. Ia nyaris ambruk jika tidak ada sepasang lengan kokoh yang menahannya.Kepala Daniar berdenyut, pandangannya berputar cepat sebelum berubah menjadi gelap.==£==Daniar membuka matanya perlahan. Mengerjap beberapa kali untuk menajamkan penglihatannya."Kamu sudah sadar?" suara berat itu membuat Daniar menoleh."Pak Samuel?" desis Daniar lemah. Ia heran melihat direktur utama perusahaan tempat ia bekerja berada di situ."Kamu pingsan. Kata dokter, kamu habis mendonorkan darah? Seharusnya kamu istirahat dulu karena darahmu cukup banyak yang di ambil," ujar Samuel menjelaskan.'Kenapa bapak bisa ada di sini?""Kebetulan saya baru saja menjenguk teman saya. Ia di rawat di sini," Samuel tersenyum menenangkan Daniar yang terlihat bingung."Maaf. Saya jadi merepotkan Bapak," ujar Daniar tidak enak hati."Ini di luar kantor, Daniar. Kamu bisa panggil saya Samuel, tidak perlu seformal itu," Samuel tersenyum tipis."Tapi...""Tidak apa, Daniar," potong Samuel melihat Daniar ragu-ragu dan merasa tidak nyaman."Saya rasa, saya sudah tidak apa-apa sekarang. Saya akan kembali ke kantor segera," Daniar berusaha bangkit, tapi tangan Samuel menahannya."Kamu beristirahat saja. Saya akan menghubungi kantor untuk mengabarkan bahwa kamu tidak akan kembali hari ini," kata Samuel langsung menghubungi sekretarisnya sebelum Daniar bisa mencegah.Daniar hanya terdiam. Ia benar-benar merasa tidak enak. Samuel yang terkenal disiplin dan tegas, memberinya kelonggaran sebesar itu padanyaTiba-tiba pintu terbuka, Denara muncul dengan wajah panik."Daniar, Leon masih membutuhkan darah. Tolonglah Daniar," teriak Denara tertahan."Tapi Dena, aku...""Ayolah Daniar, cuma kamu yang bisa menolong Leon," desak Denara memasang wajah memelas."Nona, apakah anda tidak melihat Daniar masih lemas?" suara dingin Samuel menginterupsi rengekan Denara.Denara menoleh tajam. Ia baru menyadari ada orang lain dalam ruangan itu."Siapa anda? Kenapa anda berada di sini?" tanya Denara menyipitkan matanya melihat seorang laki-laki gagah dengan ketampanan di atas rata-rata sedang menunggui saudaranya yang terbaring lemas."Saya atasan Daniar. Maaf kalau saya ikut campur. Tapi kondisi Daniar masih lemah," sahut Samuel menatap tajam Denara yang wajahnya sekarang berubah merah padam. Gadis yang wajahnya mirip dengan Daniar itu tampak gugup sesaat sebelum ia kembali ke mode memelasnya."Sudah. Tidak apa-apa Pak eh Samuel, aku bisa. Baiklah Dena, katakan pada dokter untuk mengambil darahku lagi," ujar Daniar membuat Samuel membelalak. Bagaimana bisa gadis itu membahayakan dirinya sendiri?"Tidak Daniar! Itu berbahaya!" Samuel hampir berteriak.Denara memandang sekilas pada Samuel lalu bergegas keluar, tak lama kemudian ia kembali bersama seorang dokter.Dokter itu memeriksa tekanan darah Daniar."Maaf, Nona Daniar masih lemah. Akan sangat beresiko untuk di ambil darahnya lagi," dokter itu menggelengkan kepalanya.Daniar melihat ke arah saudaranya yang panik. Ia benar-benar tidak tega."Saya tidak apa-apa, Dok. Ambil darah saya lagi," pinta Daniar memohon."Tidak! Biar saya saja. Anda bisa memeriksa apakah golongan darah saya cocok atau tidak," Samuel tiba-tiba maju, menarik lengan dokter itu keluar dari ruang tempat Daniar beristirahat.Denara menatap Daniar penuh selidik."Apakah kamu menjual dirimu pada atasanmu, Daniar? Sebegitu frustrasinya karena tidak mendapatkan cinta Leon? Apakah kamu bermaksud untuk menunjukkan pada Leon bahwa kamu bisa mendapatkan yang jauh lebih baik darinya?" dengan tajam kata-kata Denara menusuk hati Daniar."Apa yang kamu katakan, Dena? Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?" Daniar tidak percaya saudara kembarnya bisa mengeluarkan kata-kata menyakitkan setelah apa yang sudah ia lakukan untuk Denara.Ia memang pernah mencintai Leon. Tapi itu dulu! Perasaan itu sudah dikuburnya dalam-dalam setelah ia tau bahwa Denara juga mempunyai perasaan yang sama pada Leon. Ia merelakan Denara bersama Leon.Daniar memandang wajah cantik saudaranya."Tentu saja bisa! Apa kamu menggunakan cara yang sama seperti ketika menjerat Leon dulu?" tanya Denara membuat gadis yang tengah berbaring lemah itu terduduk."Tolonglah, Dena. Aku tidak pernah menjerat Leon. Aku menjauhinya saat aku tau kamu juga mencintainya," ujar Daniar hampir menangis. Ia memang selalu berbicara lembut.Meskipun mereka berdua saudara kembar, tapi sifat mereka berdua sangatlah bertolak belakang."Dan sampai sekarang kamu belum bisa mengikhlaskannya untukku, bukan?" cibir Denara."Cukup Dena! Aku benar-benar sudah merelakan semuanya. Jangan menuduhku yang bukan-bukan," Daniar benar-benar menangis sekarang."Kenapa? Kamu takut atasan kamu mendengar keburukanmu? Apa kamu sedang merencanakan akan menjeratnya?" kata Denara sinis."Tidak ada yang menjerat dan di jerat!" sebuah suara bariton menginterupsi perdebatan mereka.Denara bungkam dengan wajah memerah, sedangkan Daniar menunduk pasrah."Daniar tidak pernah menjerat siapapun!" Samuel mendekat.Denara menunduk sekarang. Ia bisa merasakan aura ketidak suka an laki-laki itu terhadapnya karena ia memojokkan Daniar."Saya mengenal Daniar. Saya tau pasti gadis seperti apa Daniar. Jadi jangan menyudutkannya dengan tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal seperti tadi!" suara Samuel terdengar seperti pecahan es batu yang dituangkan ke dalam hati Denara. Dingin dan beku!"Apakah kamu sudah kuat, Daniar?" suara Samuel berubah lembut pada Daniar.Daniar mengangkat wajahnya dan mengangguk samar. Ia masih bingung dan sibuk mencerna kata-kata pembelaan yang diucapkan Samuel barusan.Samuel bergerak mendekati Daniar, dengan cekatan nanun penuh kehati-hatian, ia membantu Daniar turun dan membimbingnya keluar dari rumah sakit.==£==Daniar duduk diam. Matanya menatap jalanan lengang dihadapannya.Pikirannya masih sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang silih berganti muncul tanpa bisa ia cegah."Kenapa? Masih pusing?" Samuel memecah keheningan."Tidak apa-apa," Daniar menoleh pada Samuel yang masih fokus memperhatikan arah laju mobil yang dikemudikannya."Seharusnya kamu lebih tegas pada saudaramu, Daniar. Dia terlalu arogan dan menang sendiri. Aku tidak mau kamu mengorbankan dirimu lagi," Daniar mengerutkan dahinya mendengar kata-kata boss besarnya. Tadi menggunakan saya-kamu, sekarang ber aku-kamu. Ia semakin penasaran."Siapa Bapak sebenarnya? Apakah kita sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Daniar langsung. Rasa ingin tau nya tidak bisa di bendung lagi.Samuel tersenyum tipis. Tentu saja Daniar tidak mengenalinya."Kenapa? Jangan bilang setelah kamu mendonorkan banyak darah lalu kamu amnesia. Kamu masih ingat kan kalau aku atasan kamu?" Samuel mengulum senyum."Tentu saya ingat. Tapi kata-kata Bapak membuat saya penasaran. Seolah-olah Bapak sudah mengenal saya lama. Padahal saya baru mengenal Bapak beberapa bulan lalu saat Pak Aditya menyerahkan jabatan dan posisinya pada Bapak," Daniar dengan takut-takut mengatakan penasarannya.Samuel tersenyum misterius. Ia melirik gadis yang duduk di sebelahnya sesaat sebelum kembali memusatkan konsentrasinya pada laju mobilnya."Nanti kamu juga akan tau, Daniar," ujarnya lebih menyerupai gumaman.Daniar mengernyit bingung. Ia tidak mengerti maksud Samuel. Tapi untuk mendesak atasannya, tidak mungkin dilakukannya.Yang bisa Daniar lakukan hanya menelan semua rasa penasarannya.==£==Samuel menyipitkan matanya memandang ke arah kantin. Dilihatnya Daniar sedang menyendiri di sudut kantin. Gadis itu terlihat melamun. Lemon tea dihadapannya sedari tadi hanya diaduk-aduk tanpa berniat diminumnya. Entah, apa yang dipikirkannya, Samuel menghela nafas.Gadis itu, Daniar, gadis kecil tetangga sekompleknya dulu. Mereka tidak dekat bahkan tidak saling mengenal, tapi Samuel tidak bisa melupakan bagaimana gadis itu menolongnya, membantunya dan menyelamatkan hidupnya.Flashback on...Samuel kecil bukanlah seorang anak pendiam. Kenakalannya yang super membuat kedua orang tuanya kewalahan. Maklum, dia anak tunggal, sehingga kedua orang tuanya sangat memanjakannya. Semua permintaannya hampir selalu dikabulkan oleh kedua orang tuanya yang memang merupakan seorang konglomerat yang sudah tidak perlu diragukan lagi kekayaannya.Samuel masih berusia dua belas tahun ketika ia sudah punya dan bisa mengendarai sebuah mobil sport keluaran terbaru saat itu. Apalagi ditunjang tubuhnya yang bongsor, orang-orang pasti tidak menduga kalau ia masih berusia dua belas tahun.Sore itu ia mengendarai mobilnya mengelilingi komplek dengan kecepatan di atas rata-rata. Komplek tempat rumahnya berada sangat besar dan luas karena memang rumah - rumah di komplek itu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya meskipun untuk tipe rumah terkecil sekalipun. Komplek itu lebih menyerupai sebuah kota kecil.Samuel sedang sial sore itu. Ia lari dari para bodyguard yang ditugaskan papa untuk menjaganya. Jiwanya yang masih labil membuatnya membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, menunjukkan kehebatannya berkendara.Namun naas, ia tidak bisa menguasai mobilnya saat di depannya berkerumun orang - orang yang sedang menikmati sore hari mereka di taman komplek di dekat blok Blue Safir, empat blok dari blok Amethyst tempat rumahnya berada.Orang-orang berlarian dengan panik ketika mobilnya menabrak gerobak bakso dipinggir jalan, lalu menghancurkan gerobak penjual rujak, gerobak es krim, dan beberapa gerobak yang lain sebelum berhenti karena menabrak sebatang pohon. Beberapa orang terluka karenanya. Untung tidak ada korban meninggal. Ia ketakutan melihat orang-orang di sana mendatanginya dengan marah.Ia segera keluar dari mobilnya dan lari sekencang-kencang ia bisa. Teriakan marah dibelakangnya membuat Samuel terus berlari tanpa menoleh ke belakang dan menengok kiri kanan. Ia hanya menatap ke depan dan berlari sekuat tenaganya, meskipun ia sempat terjatuh beberapa kali.Hingga sebuah mobil menyerempetnya ketika ia tanpa melihat kiri kanan berlari menyeberang jalan.Ia terjatuh bergulingan dengan luka di lutut dan sikunya. Belum lagi bahunya yang sakit saat ia terjatuh dan membentur trotoar.Samuel tidak bisa lagi berlari. Ia sudah menyerah ketika seorang anak kecil dengan rambut panjang legamnya yang di ikat satu membantunya berdiri, membawanya bersembunyi di balik semak-semak, lalu jari mungilnya yang menggemaskan menempel di bibirnya."Ssssttt.... jangan berisik! Tunggu disini, jangan keluar," bisik gadis kecil itu. Samuel mengira-ngira, usianya sekitar tujuh tahunan.Lalu gadis itu berlari meninggalkan Samuel yang masih bersembunyi.Kira-kira sepuluh menit kemudian, gadis cilik itu kembali dengan membawa P3K dan mulai mengobati luka-luka nya.Samuel memandangi gadis cilik yang masih meniup-niup lukanya dengan bibir mengerucut menggemaskan."Siapa namamu?" tanya Samuel tidak melepas matanya dari wajah gadis cilik itu."Namaku Daniar. Nah, sudah tidak sakit kan?" mata bulat bening itu mengerjap lucu.Samuel mengangguk."Aku pulang dulu ya Kak. Nanti kalau sudah agak gelap, Kakak bisa keluar dan pulang," Daniar kecil berdiri, membersihkan rok merahnya lalu melambaikan tangannya sebelum berlari meninggalkan Samuel sendiri.Para bodyguard menemukannya dan membawanya pulang.Semua urusan kejadian sore itu diselesaikan segera oleh Papanya, dan ia dikirim ke Sidney seminggu kemudian.Flashback off.Mata Samuel masih memandang lurus pada Daniar. Gadis itu masih tetap pada posisinya semula.Dahi Samuel mengerut. Apa yang sedang dipikirkan gadis itu?Samuel baru saja hendak melangkah menghampiri gadis itu ketika dilihatnya Daniar melihat jam tangannya dan berdiri dan buru-buru keluar dari kantin tanpa menghiraukan lemon tea nya yang masih utuh.Samuel menghela nafas lalu berbalik menuju ke ruangannya.==£==Samuel mengerutkan dahinya. Dilihatnya Daniar berlari kecil ke toilet. Samuel tau ada yang tidak beres dengan Daniar. Gadis itu menangis. Ada apa sebenarnya?Samuel berjalan pelan kearah toilet wanita dan menyandarkan punggungnya di tembok, tangannya dilipat di depan dada, menunggu Daniar di depan toilet.Cukup lama Samuel menunggu. Untung saja ini sudah jam pulang. Kantor sudah nampak sepi.Pintu toilet terbuka. Daniar membelalak saat dilihatnya Samuel sedang bersandar dan bersedekap di dekat pintu. Matanya memejam, kepalanya sedikit menengadah.Saat mendengar pintu terbuka dan suara ketukan sepatu Daniar, Samuel membuka matanya dan menoleh memandang Daniar."Pak Samuel?" Daniar tercekat. Ia tidak menyangka Boss nya berada disitu.Samuel menegakkan tubuhnya menghadap Daniar. Mata tajamnya seolah meneliti Daniar dari ujung kaki hingga ujung rambut, membuat Daniar gugup."Kamu kenapa, Daniar?" tanya Samuel pelan. Matanya tetap fokus pada Daniar."Saya? Saya tidak apa-apa, Pak," elak Daniar mencoba menutupi kegugupannya."Jangan bohong, Daniar. Aku tau kamu tadi menangis. Kenapa? Siapa yang menyakitimu?" Daniar membalas menatap Samuel ragu. Kenapa ia merasa bahwa atasannya ini memberikan perhatian yang lebih padanya dibandingkan karyawan lain? Atau ini cuma perasaannya saja?"Saya...saya..." Daniar tidak meneruskan kata-kata nya karena Samuel sudah menariknya dan membawanya ke ruangannya.Samuel mendudukkan Daniar di sofa, lalu mengunci pintu sebelum ia menyusul duduk di sebelah Daniar."Ceritakan dengan jujur padaku, Daniar. Atau kita akan di sini sampai kamu mau cerita!" ujar Samuel tajam melihat Daniar menunduk.Daniar terdiam. Ia bingung, apa ia harus menceritakan apa yang terjadi padanya? Kenapa Pak Samuel ingin tau? Apa pantas ia menceritakan hal pribadi pada atasannya?"Jangan takut. Aku hanya ingin kamu terbuka dan jujur. Katakan padaku apa yang terjadi sampai membuatmu menangis," Samuel mengulurkan tangannya menyentuh pipi Daniar dan mengusap air mata yang mulai mengalir lagi.Daniar terisak. Ia sudah tidak tahan lagi. Ia menumpahkan tangisnya seolah hendak membuang rasa sakit di hatinya saat Samuel menariknya ke dalam pelukan hangatnya."Menangislah Daniar, tumpahkan semuanya. Setelah hari ini, aku akan pastikan kamu hanya akan menangis karena bahagia," ucap Samuel lembut, mengecup kepala gadis yang dipeluknya dengan sayang.Cukup lama Daniar menangis. Hingga akhirnya ia melepaskan pelukan Samuel sambil tersipu malu."Maafkan saya," ucapnya dengan wajah bersemu."Tidak apa. Sekarang ceritakan semuanya padaku," tuntut Samuel dengan suara lembut.Daniar memandang mata hazel Samuel dan menemukan ketulusan di sana.Ia menghela nafas dan dari bibirnya mengalir sebuah cerita."Tiga tahun yang lalu, saya bertemu Leon. Saat itu dia sedang syuting sebuah film pendek dan saya kebetulan diminta menemani Denara, saudara kembar saya yang saat itu mendapat peran pertamanya meskipun bukan sebagai pemeran utama. Leon mulai mendekati saya. Dan jujur, saya juga menyukai Leon karena dia baik dan perhatian pada saya," Daniar berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Butuh perjuangan untuk menggali masa lalu yang sudah menorehkan luka.Samuel masih terus mendengarkan tanpa menyela meskipun hatinya dibakar rasa tidak suka dengan kenyataan bahwa Daniar menyukai artis yang tengah di puncak ketenaran itu."Kami semakin dekat sampai suatu saat Denara mengatakan bahwa ia menyukai Leon dan akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Aku menyayangi Denara. Dia saudara satu-satunya yang aku punya. Dan Mama sangat membanggakan Denara karena dia cantik dan karirnya bagus. Banyak orang-orang menyukainya. Dia membuat kami bangga. Karenanya aku mulai menjauhi Leon demi Denara. Dan nampaknya Leon pun tidak keberatan dan tidak peduli saat aku menjauh," Daniar mengusap airmata yang masih setia membasahi pipi putihnya.Samuel beringsut mendekat dan mengusap bahu Daniar pelan."Kemarin Leon datang padaku. Dia tau aku yang mendonorkan darahku untuknya. Dia bertengkar dengan Denara karena Denara tidak mau mendonorkan darahnya dan menyembunyikan kenyataan bahwa aku yang mendonorkan darah untuknya dengan mengakui bahwa Dena lah yang telah mendonorkan darahnya untuk Leon. Dan Leon bilang akan meninggalkan Dena agar ia bisa bersamaku," isakan Daniar makin keras membuat hati Samuel seperti teriris-iris."Tadi, baru saja, Dena menelponku. Dia melabrakku. Dia marah dan menuduhku membocorkan tentang pendonor yang sebenarnya agar Leon kembali padaku. Sungguh, aku tidak melakukannya. Aku sudah mengikhlaskan Leon untuk Dena tiga tahun yang lalu. Perasaanku untuk Leon sudah tidak ada lagi. Aku hanya menganggap Leon temanku, saudaraku, seperti sayangku pada Dena. Aku tidak ingin Dena membenciku," tangis Daniar kembali pecah. Bahunya berguncang hebat.Samuel memeluknya erat. Berusaha menenangkan gadis yang sudah ditunggunya dengan sabar selama empat belas tahun ini. Gadis yang membuatnya bertahan dari godaan wanita manapun yang berusaha meraih hatinya.==£==Matahari sudah nyaris tenggelam. Hanya menyisakan semburat merah tipis di permukaan laut."Terimakasih," ucap Daniar lirih mengurai pelukan Samuel."Untuk apa?" tanya Samuel pelan."Sudah bersedia mendengar keluh kesah saya. Bapak baik sekali," ucap Daniar tulus."Tidak masalah, Daniar. Anytime you need, I'll be here for you," Samuel tersenyum mengusap rambut Daniar lembut.Tubuh Daniar menegang. Sentuhan lembut Samuel membuat dadanya berdesir. Ia baru menyadari betapa dekatnya mereka saat ini. Ia baru menyadari bahwa Dirut tempatnya bekerja ini sangat perhatian padanya."Euhm maaf saya sudah merepotkan Bapak selama ini," Daniar mengangkat wajahnya tepat saat Samuel menunduk hingga hidung mereka bersentuhan.Daniar terpaku merasakan hangatnya hembusan nafas Samuel di wajahnya. Begitupun Samuel. Tanpa sadar ia menarik pinggang Daniar semakin rapat. Tatapannya terkunci pada mata kelam Daniar yang membiusnya begitu kuat.Perlahan tapi pasti, Samuel memejamkan matanya, mengecup mata cantik itu, lalu turun ke pipi dan menyentuh bibir ranum itu dengan bibirnya. Mengecap rasa manisnya dan menikmatinya sepenuh hati.Tubuh Daniar menegang dengan cepat, namun secepat itu pula Samuel mengusap punggung gadis itu hingga Daniar merasa rileks dan perlahan mulai memejamkan matanya sambil merasakan detak jantungnya yang kian menggila.Samuel menyusurkan telapak tangannya ke lengan Daniar lalu meraih pergelangan tangan gadis itu serta melingkarkannya ke lehernya.Ini ciuman pertama bagi Daniar, dan Samuel tau itu.Samuel ingin terus memeluk dan mencium gadis itu jika saja suara smartphone Daniar tidak berisik mengusik mereka.Dengan wajah merona, gugup dan malu, Daniar meraih smartphone nya.Samuel dapat melihat wajah pias Daniar saat mendengar suara dari lawan bicaranya.Gadis itu sesekali meliriknya, lalu menjawab singkat-singkat dan sesekali mengangguk."Siapa?" tanya Samuel."Mama. Denara mengamuk di rumah. Leon meninggalkannya," Daniar terlihat panik, buru-buru memasukkan smartphone nya ke dalam tas."Maaf, saya harus pulang Pak," baru selangkah, Samuel menahan gadis itu."Aku antar, Daniar. Dan panggil aku Samuel," Samuel meraih jemari Daniar dan menggandengnya menuju mobilnya.==£==Setengah berlari, Daniar masuk ke rumahnya. Dilihatnya ruang tamu yang tampak kacau, pecahan vas bunga berserakan, beberapa pajangan hancur berantakan."Daniar, tolong tenangkan Dena," mama-nya menyambut Daniar dengan tangisnya."Dena dimana, Ma? Ada apa? Bagaimana bisa Dena seperti ini?" Daniar menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dibelakangnya, Samuel tampak terdiam mengamati keadaan."SEMUA GARA-GARA KAMU, DANIAR!" suara penuh kemarahan terdengar menyentakkan ketiga orang di ruang tamu itu.Tampak Denara dengan wajah penuh airmata dan make up berantakan, rambutnya acak-acakan, matanya menyorotkan kebencian pada Daniar."DENA!" teriak Mama kalut."Mama tenang ya Ma. Biar Daniar yang bicara pada Dena," Daniar mendudukkan mama-nya di sofa, lalu menegakkan tubuhnya mendekat pada saudara kembarnya."Dena, kamu kenapa?" Daniar makin dekat pada Denara. Sementara Samuel melihatnya dengan was-was."AKU MEMBENCIMU, DANIAR! KAMU MEMBUAT LEON MENINGGALKANKU!" Denara berteriak penuh kemurkaan."Dena, aku tidak mengerti, kenapa Leon meninggalkanmu?" Daniar berusaha tenang."JANGAN MENDEKAT! AKU MEMBENCIMU, AKU MENYESAL MEMPUNYAI SAUDARA SEPERTIMU!" jerit Denara.Daniar terpaku. Hatinya sakit mendengar kata-kata Denara."Kamu sudah merencanakan semua ini kan? Kamu rebut Leon saat aku sudah sangat mencintainya!" tuding Denara tanpa ampun.Mata Daniar merebak. Ia tidak bisa lagi membendung air matanya. Tuduhan Denara sangat menyakitinya.Daniar menggelengkan kepalanya berulang kali, menyangkal apa yang dituduhkan Dena kepadanya."Kenapa kamu tega menuduhku seperti itu, Dena? Aku tidak pernah punya pikiran sedikitpun untuk merebut Leon darimu," katanya terbata.Samuel yang sejak awal hanya diam memperhatikan, merasakan hatinya berontak tidak terima Daniar terpojokkan oleh Denara. Tapi ia masih menahan diri untuk tidak ikut campur dalam urusan kedua bersaudara itu karena ia menghargai Daniar."Kamu pikir aku akan mempercayai airmata buayamu? Kamu pikir kamu bisa menipuku dengan wajah tidak berdosamu itu? Tidak akan Daniar!" seru Denara sinis. Matanya tajam seolah hendak melahap tubuh Daniar bulat-bulat."Apa yang harus aku lakukan agar kamu mempercayaiku, Dena? Aku tidak seperti apa yang kamu tuduhkan. Aku sangat menyayangimu, Dena," suara Daniar mencicit seperti tercekik. Tubuhnya bergetar menahan perasaannya. Ia sudah di ambang batas kekuatannya bertahan sebelum luruh lemas.Samuel mendekat dan merengkuh Daniar, seolah hendak memberikan suntikan kekuatan.Mata Denara nyalang menatap apa yang dilihatnya.Ia tersenyum sinis."Kamu ingin tau apa yang bisa kamu lakukan untuk membuktikan bahwa kamu menyayangiku dan kamu bukan seperti yang aku tuduhkan? Apa kamu bersedia melakukan apapun untukku? Memberikan semua yang aku inginkan sekarang?" tanya Denara tersenyum licik.Daniar memandang wajah cantik saudara kembarnya yang menatapnya dengan sorot tajam menghunjam jauh ke dalam hatinya. Perlahan ia mengangguk.Denara tersenyum menang. Ia menghapus kasar airmata yang tadi meleleh di pipinya."Berikan Samuel padaku! Suruh Samuel menikahiku, maka aku akan mempercayaimu, Daniar," ucap Denara tajam.Daniar membelalakkan matanya. Bagaimana bisa ia menyuruh atasannya menikah dengan Dena?Samuel melotot. Bagaimana gadis gila itu meminta suatu hal yang mustahil? Bagaimana bisa seorang artis cantik yang beritanya sudah tersebar luas sebagai calon istri dari seorang Leonard Collaza mendadak ingin dinikahinya?Lagipula siapa dia berani menuntut untuk menikahinya?"Apa maksudmu, Dena? Mengapa tiba-tiba kamu menginginkan Samuel menikahimu?" suara Daniar seperti orang berbisik karena tidak mempercayai apa yang di dengarnya dari mulut saudara kembarnya."Aku hamil. Dan Leon meninggalkanku. Jadi, aku mau Samuel yang menikahiku menggantikan Leon," kata Denara dengan santai dan tanpa beban."Kamu pikir siapa kamu beraninya memintaku menikahimu?" ujar Samuel dingin. Tatapannya meremehkan Denara, membuat gadis itu geram."Jangan kamu kira aku tidak tau, Bapak Samuel yang terhormat," Denara membalas tatapan tajam Samuel."Kamu mencintai saudaraku bukan? Jujur saja, aku sempat terkejut mendapati kenyataan bahwa kamu jatuh cinta pada saudaraku yang bukan siapa-siapa ini. Seharusnya kamu mencintaiku. Aku artis terkenal. Siapa yang tidak mengenalku? Seharusnya kamu memujaku, bukan Daniar! Dia bukanlah siapa-siapa, bahkan menjadi bayanganku saja dia tidak pantas," Denara mencibir dengan kepongahannya, menantang Samuel.Samuel membimbing Daniar dan mendudukkannya di sofa dekat mama nya yang masih terdiam melihat Denara, putri yang dibanggakannya berubah menjadi seperti monster cantik yang siap menghancurkan saudaranya sendiri.Samuel berbalik menghadap pada Denara. Wajahnya mengeras menahan amarah yang sudah menggumpal siap meledak kapan saja."Meskipun aku baru pulang dari Aussie enam bulan lalu, jangan kamu pikir aku tidak tau apa-apa tentang artis cantik Denara Safeea yang berada di puncak ketenaran karena gosip murahan mendompleng aktor tenar Leonard Collaza? Mengorbankan harga diri dan tubuhnya demi bisa terus bersama sang aktor, meski dengan cara kotor sekalipun," cerca Samuel tajam.Wajah Denara merah padam. Kata-kata Samuel menghantam telak ke ulu hatinya."Beraninya kamu berkata seperti itu," desis Denara murka. Kemarahan dan kedengkiannya terhadap Daniar menutup rasa malunya."Kenapa? Memang itu kenyataannya bukan? Dan sampai sekarang pun masih tetap Denara Safeea yang. Dan perlu kamu ketahui, aku sama sekali tidak tertarik pada artis murah sepertimu!" wajah Denara berubah-ubah merah padam menjadi pucat pasi, berubah lagi merah padam."Kamu harus menikahiku, Pak Samuel, atau kamu tidak akan bisa melihat Daniar lagi!" ancam Denara geram."Aku hanya akan menikahi Daniar, bukan benalu sepertimu!" desis Samuel memandang bengis Denara.Daniar terbeliak mendengar ucapan Samuel. Begitupun dengan mama nya.Denara menoleh memandang Daniar. Sorot matanya seolah menyudutkan Daniar dengan paksa.Dengan gugup Daniar menatap Samuel mengiba.Samuel menggeram. Wajahnya mengeras. Dialihkannya pandangannya pada Mama Daniar yang masih termangu mencoba memahami apa yang terjadi."Nyonya Renata, saya harap anda mengerti, bahwa saya mencintai Daniar. Bukan Denara! Bagaimanapun caranya, saya akan menikahi Daniar. Saya tidak ingin Daniar merasakan neraka yang dibuat oleh saudara kembarnya sendiri lebih lama lagi. Ijinkan saya menikah dengan Daniar. Untuk bayi yang di kandung Denara, saya akan berusaha bicara dengan Leon. Jika Leon menolak bertanggung jawab, saya akan suruh orang saya untuk menikahi putri anda yang satu itu," mama Daniar seolah melihat seorang penguasa yang bertitah. Aura dari dalam diri Samuel membuatnya hanya bisa mengangguk-angguk setuju."Apa maksudmu dengan bayi yang dikandung Denara?" sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka.Semua yang berada di situ menoleh pada satu orang yang sama yang tengah berdiri di pintu yang terbuka lebar."Leon?" Daniar dan Denara memekik berbarengan.Leon menyapu seluruh yang ada di ruang tamu itu dengan tatapan bertanya."Kebetulan sekali, Leonard Collaza. Sebaiknya anda mempertanggung jawabkan perbuatan anda terhadap Denara, atau besok pagi nama anda terpampang di halaman utama di seluruh tabloid dan surat kabar," ujar Samuel tenang."Apa benar kamu hamil, Dena?" Leon menelan ludah saat melihat Denara mengangguk."Kamu meninggalkanku, Leon! Kamu jahat!" Denara mulai terisak lagi."Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku, Dena?" Leon menatap sedih pada Denara."Kamu tidak memberiku kesempatan mengatakannya, Leon. Pikiranmu sudah dipenuhi oleh Daniar. Kamu menginginkannya sejak dulu, bukan?" suara Denara terdengar nelangsa. Daniar miris mendengarnya.Renata terisak. Ia tidak menyangka jalan hidup putri kembarnya begitu rumit. Daniar yang selalu terpojok dengan intimidasi dari Denara yang iri karena Leon masih saja menginginkan Daniar meskipun gadis itu tidak lagi menanggapi perhatian Leon demi Denara.Denara yang karena cintanya yang begitu besar pada Leon serta ambisinya menjadi artis kenamaan membuatnya tega memperlakukan Daniar begitu buruk."Semua ini salah mama," suara tangis tertahan itu membuat Daniar segera memeluk mama nya."Tidak, Ma. Mama tidak salah. Ini semua hanya kesalahpahaman saja. Mama sudah memberikan yang terbaik buat kami," hibur Daniar meskipun airmatanya sendiri tidak bisa dibendung."Daniar, maafkan aku karena tidak memperjuangkanmu dulu. Aku terlena oleh perhatian dan cinta Denara, sementara kamu mengacuhkanku. Aku sakit hati. Aku ingin membalas sakit hatiku padamu dengan berhubungan dengan saudara kembarmu yang aku tau sangat kamu sayangi," Leon jatuh berlutut. Kepalanya menunduk tidak berani menatap Daniar."Lupakan, Leon. Aku sudah merelakan semuanya. Aku hanya ingin Dena tidak membenciku," Daniar menunduk menatap mata biru milik Leon."Aku mencintaimu, Daniar," bisiknya pelan.Daniar mengerjapkan matanya, kalimat yang dulu sangat ingin didengarnya dari Leon, sekarang tidak mampu membangkitkan getaran dalam hatinya sedikitpun. Daniar menggeleng pelan."Menikahlah dengan Denara, Leon. Dia mencintaimu teramat sangat. Aku menyayangimu seperti aku menyayangi Dena," Daniar mengucapkan kalimatnya tanpa ragu."TIDAK!" Denara menjerit. Ia menatap nyalang pada Leon dan Daniar bergantian."Aku tidak mau! Aku tidak mau Leon menikahiku karena permintaanmu, Daniar! Dia mencintaimu! Kamu pikir aku tidak punya hati? Apa kamu pikir kamu bisa seenaknya mengatur hidupku?" Denara terisak lagi. Rasa bersalah muncul begitu saja di permukaan. Ia menyadari betapa selama ini dia begitu egois dan tidak peduli dengan perasaan saudara kembarnya. Tapi gengsi mengalahkan hati nuraninya."Dena, aku tau kamu sangat mencintai Leon. Percayalah, aku tidak pernah menginginkan kalian berdua berpisah. Aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang. Aku hanya ingin saudara kembarku juga bahagia bersama orang yang dicintainya," Daniar berjalan lambat mendekati Denara dan berhenti tepat dihadapan gadis itu."Kenapa kamu masih begitu baik padaku? Padahal aku sudah berlaku jahat padamu?" Denara menangis. Menyesal dengan apa yang diperbuatnya selama pada saudaranya.Daniar memeluk Denara. Keduanya menangis.Samuel menatap keduanya sambil menghembuskan nafas lega.Kini mereka semua duduk di kursi di ruang tamu yang sudah seperti kapal pecah."Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Denara tidak bisa menunggu terlalu lama karena kehamilannya," tanya mama memandang Leon penuh harap."Tidak, Ma! Aku tidak ingin Leon menikahiku karena terpaksa. Aku akan melahirkan dan merawat anak ini sendiri. Aku tidak mau menyusahkan kalian lagi," potong Denara cepat, membuat semua yang berada disitu menatapnya kaget."Tapi Dena," Leon beringsut mendekat mencoba berbicara pada Denara."Aku tau kamu tidak mencintaiku, Leon. Tidak apa-apa. Aku akan merawat anak kita sendiri. Kamu kejar saja cita-cita dan cinta kamu," ucap Denara tersenyum. Ia ikhlas dan pasrah sekarang.Leon menoleh memandang Daniar dan mama nya bergantian."Jangan coba-coba merebut Daniar-ku, Leon!" suara dingin Samuel membuat ia menjadi pusat perhatian sekarang."Pak Sam?""Daniar, aku tidak akan melepasmu. Aku mencintaimu. Aku sudah kembali, dan aku akan terus bersamamu. Tidak! Aku tidak akan melepasmu lagi," Daniar mengernyit bingung. Kata-kata Samuel sama sekali tidak bisa dicernanya."Mungkin kamu sudah melupakan kejadian empat belas tahun lalu. Tapi tidak bagiku. Kamu menyelamatkan dan menolongku. Dan saat itu pula aku bersumpah akan menjadikanmu belahan jiwaku selamanya," Samuel menatap lekat mata Daniar. Ia tau, Daniar masih bingung dengan kata-kata nya. Tapi ia sudah bertekad, dan ia tidak akan mundur sejengkalpun.==£==Hari masih pagi. Udara masih terasa segar setelah semalam diguyur hujan.Samuel masih berjalan mengikuti langkah Daniar.Ia tau, ia masih berhutang penjelasan pada gadis itu sejak kejadian penuh drama tiga hari yang lalu di rumah Daniar.Untung saja akhirnya Leon berhasil meyakinkan Denara untuk menikah dengannya. Meskipun dengan syarat yang membuat Daniar protes karena syarat itu sangat menguntungkan Samuel.Tiba-tiba Daniar berhenti dan berbalik. Hampir saja Samuel menabrak tubuh mungil Daniar jika saja ia tidak fokus pada langkahnya."Pak Sam!" Daniar memekik kecil menyadari Samuel masih terus mengikutinya."Panggil aku Samuel, Daniar. Kita akan menikah sebentar lagi. Dan aku bukan atasanmu lagi," ucap Samuel mengulum senyum."Samuel," ulang Daniar kesal. Bibirnya mengerucut."Ya sayang?" sahut Samuel senang."Kenapa kamu menyetujui permintaan Denara?" gadis di hadapan Samuel itu menaikkan alisnya. Tangannya terlipat di depan dada."Karena aku serius ingin menikahimu, Daniar," ujar Samuel tenang."Tapi aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku bukan siapa-siapa. Aku cuma bawahanmu, pegawai biasa di kantormu," Daniar merasa tidak enak dengan permintaan Denara yang menurutnya sangat tidak masuk akal."Aku tidak melihat semua itu, Daniar. Aku mencintaimu sejak lama. Aku tidak mau kamu menolakku. Aku yakin bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Jadi, diamlah dan menurut saja apa kemauan Denara. Bukankah kamu menginginkan Denara menikah dengan Leon?" tanya Samuel terkekeh pelan."Aku hanya tidak mau kamu menyesal dengan persetujuanmu sendiri, Sam. Aku sudah mengingatkanmu, dan kamu tidak mau mendengarku," gerutu Daniar.Samuel tertawa pelan, mengacak rambut Daniar lembut. Sentuhan yang membuat hati Daniar menghangat."Aku tidak akan pernah menyesal, Daniar sayang. Aku sudah menunggumu begitu lama. Dan aku akan membawamu bersamaku. Aku akan berusaha membahagiakanmu," kata Samuel sungguh-sungguh.Daniar mengedikkan bahunya, lalu mulai berjalan kembali.Samuel tersenyum, lalu menyusul Daniar dan mengaitkan jemarinya ke jemari Daniar, menggandengnya erat seolah tak ingin kehilangan.==£==Pesta pernikahan yang digelar begitu mewah dan semarak. Banyak wartawan yang dengan mengabadikan moment ini.Denara tampak cantik gaun putihnya, sementara di sampingnya Leon berdiri gagah dengan ketampanan yang luar biasa.Di sebelah mereka, nampak Daniar dengan gaun putih panjang penuh taburan swarovski terlihat sangat cantik berdiri anggun di samping Samuel yang nampak memukau dalam balutan tuxedo putihnya.Ya, mereka menikah bersama. Syarat yang diajukan Denara dua minggu yang lalu saat ia menyetujui menikah dengan Leon.Ucapan selamat datang bertubi-tubi dari para kerabat, rekan, teman, baik dari kalangan selebritis maupun dari kalangan bisnis.Samuel melirik istrinya yang berdiri di sisinya berkali-kali. Istrinya begitu mempesona. Gaun pengantin yang dikenakannya tidak dapat menyembunyikan lekuk ramping dan sexy miliknya.Samuel tersenyum - senyum, tidak sabar merasakan tubuh mungil dan indah itu berada dalam pelukannya.Ia tidak sabar menunggu pesta berakhir. Ia ingin hanya berdua dengan Daniar, istrinya. Ia ingin memiliki istrinya untuk dirinya sendiri. Ia tidak akan pernah puas memandangi istrinya. Kalau bisa ia tidak ingin orang lain ikut menikmati wajah cantik istrinya meskipun hanya memandangnya kagum.Daniar menoleh merasakan pandangan Samuel padanya.Pipinya semburat memerah saat menyadari Samuel menatapnya lekat dan penuh gairah.Detak jantung Daniar makin menjadi ketika Samuel berbisik di telinganya."I love you, Daniar. Dan aku tidak sabar menunggu malam pertama kita nanti, sayang," Samuel terkekeh melihat pipi Daniar bersemu dan menunduk malu. Sangat menggemaskan.THE END.
KESETIAAN SEEKOR HARIMAU
Pada jaman dahulu, ada sepasang suami istri di Tasikmalaya. Kehidupan mereka cukup tentram dan bahagia. Pada suatu hari mereka menemukan seekor harimau kecil yang ditinggal mati oleh induknya. Harimau itu dipelihara oleh oleh mereka, dididik dan diperlakukan seperti anggota keluarga sendiri. Ternyata hewan itu tahu diri, ia menjadi penurut kepada sepasang suami istri itu. Harimau pun tumbuh menjadi besar, ia cerdas dan tangkas.Kemudian sepasang suami istri itu menamainya Si Loreng.Demikian erat hubungan Si Loreng dengan suami istri itu sehingga ia dapat mengerti kata-kata yang diucapkan suami istri itu. Kalau ia disuruh pasti menurut dan mengerjakan perintah suami istri itu dengan baik.Suami istri yang bekerja sebagai petani itu semakin berbahagia ketika lahir anak mereka seorang bayi laki-laki yang sehat dan menyenangkan. Inilah saat bahagia yang mereka tunggu-tunggu sejak lama. Apabila mereka pergi bekerja ke sawah, bayinya ditinggal di rumah. Si Loreng ditugaskan untuk menjaga keselamatan bayi itu. Hal ini berlangung selama beberapa bulan.Sepasang suami istri itu semakin sayang kepada Si Loreng kerna hewan itu ternyata dapat dipercaya menjaga keselamatan anak mereka.Pada suatu siang yang terik, istri petani pergi ke sawah untuk mengirim makanan kepada suaminya. Melihat kedatangan istrinya si suami segera menghentikan pekerjaannya. Disana si suami melahap makanan yang dihidangkan istrinya.Baru saja setelah makan dan minum, tiba-tiba mereka mendengar suara gerengan si Loreng. Si Loreng nampak lari pontang-pantin melewati pematang sawah terus menuju dangau. Si Loreng mengibaskan ekorna berkali-kali dengan lembut sembari menggosok-gosokkan badannya kepada suami istri itu."Kakang, mengapa tingkah Si Loreng tidak seperti biasanya?", tanya si istri."Iya Istriku... Aneh sekali. Ada apa gerangan?" sahut sang suami."Kakang lihat!!! Mulut Si Loreng penuh dengan darah!!!!", teriak sang istriSang suami tersentak kaget, mulut Si Loreng memang berlumuran darah."Loreng...? Jangan-jangan kau telah menerkam anakku. Kau telah membunuh anakku!!" kata sang suami.Si Loreng menggeleng-gelengkan kepalanya, sehingga darah dibagian mulutnya berhamburan. Si suami seketika meluap amarahnya. Ia segera mencabut goloknya dan memenggal kepala Si Loreng. Si Loreng tak menduga disreang secara tiba-tiba sehinnga ia pun tak sempat mengelak. Harimau itu mengeram kesakitan, ia tidak melawan, hanya sepasang matanya memandang kearah sepasang suami istri itu dengan penuh rasa penasaran. Karena hewan itu belum mati, si suami segera mengayunkan goloknyadengan penuh kemarahan hingga tiga kali. Putuslah leher Si Loreng dari badannya. Hewan itu tewas dengan cara mengenaskan."Kakang! Cepat kita Pulang!"Mereka segera berlari ke rumahnya.Sampai di rumah, mereka mendapati anaknya masih berada dalam ayunannya. Bayi itu nampak tertidur nyenyak. Dirabanya tubuh anak itu, diguncang-guncang tubuhnya. Si bayi pun terbangun dan tersenyum melihat kedatangan orang tuanya.Kedua suami istri itu bersyukur karena bayinya selamat dan masih hidup. Setelah puas memandangi anaknya, mereka merasa lega atas keselamatan anaknya. Kini mereka celingukan, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Perhatian mereka terpusat pada tempat sekitar ayunan anaknya bagian bawah. Mereka mendapatkan bangkai seekor ular yang sangat besar berlumuran darah tergeletak di bawah ayunan. Sadarlah kedua suami istri itu bahwa Si Loreng telah berjasa menyelamatkan jiwa anaknya dari bahaya, yaitu dari serangan ular besar.Mereka sangat menyesal, terlebih sang suami karena telah tergesa-gesa membunuh harimau kesayangannya.
HOROR DI RUMAH KOST NO. 13
Waktu menunjukkan jam 09.30 WIB saat Sasha melihat jam tangannya, dia pun menaiki tangga menuju ke kantornya di lantai 2, saat masuk ke ruang kantornya bu Alena melihat dengan pandangan sinis dari arah kaca bening ruangannya, Sasha berusaha diam - diam tidak mau mengeluarkan suara berisik menuju meja dan kursinya yang berada di pojok ruangan."Sasha, lo dari mana saja?" tanya Gaby sahabat Sasha dikantor yang berpostur mungil dengan raut wajah polosnya"Sssh.... Gab, jangan berisik, jalan tol macet parah, padahal gw sudah berangkat dari pagi ke kantor, dari habis subuh kali, setiap jalanan sudah macet mana busnya ngetem lama lagi di terminal" ucap Sasha kesal dengan kondisinya setiap pagi harus mengalami hal yang sama.Bulan ini Sasha sudah terlambat lebih dari 20 hari kerja,kondisi rumah Sasha yang jauh dari kantornya Depok - Tanjung Priok harus dihadapinya setiap hari, dengan kondisi lalu lintas yang padat belum lagi pembangunan jalan hampir di semua tempat, dan kondisi bus yang sering lama menunggu penumpang, membuat Sasha harus berkejaran dengan waktu setiap harinya. Sedangkan perusahaan tempat Sasha bekerja adalah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang otomotif yang terkenal dengan kedisiplinan dan peraturan yang ketat."Sha lo dipanggil sama bu Alena" ucap Dito teman sekantor Sasha yang berambut keriting dengan memakai kacamata tebalnya."Sekarang?""iya, cepetan, bu Alena tampangnya sudah marah tuh kayanya"sedikit gemetar Sasha menuju ruangan bu Alena"Tok..tok..tok""masuk Sasha, silahkan duduk" suara tegas bu Alena membuat Sasha menjadi sedikit gugup"Ini surat buat kamu""Surat apa ya bu?""Surat peringatan untuk kamu, karena kamu banyak sekali terlambat bulan ini Sha""Maaf bu, saya sudah berusaha sepagi mungkin dari rumah, bahkan saya berangkat hampir jam lima pagi bu untuk menghindari macet dijalanan, tetapi tetap saja saya terlambat seperti hari ini" jawab Sasha jujur"Sasha, management perusahaan tidak akan perduli jam berapa kamu berangkat dari rumah, tetapi yang mereka lihat jam berapa kamu datang kekantor, kamu mengerti?""iya bu" jawab Sasha dengan kepala menunduk merasa bersalah atas jawabannya tadi"Ibu tahu, rumah kamu jauh, dan terkenal dengan rute yang sangat macet, mungkin kamu harus mencari solusi lain Sha, kamu masih mau bekerja disini kan?" tanya bu Alena"Mau bu""Maka menurut ibu kamu harus kost Sha..""Kost bu..." Sasha berfikir sebentar, seumur hidupnya Sasha tidak pernah jauh dari rumah bahkan menginap di rumah temannya pun Sasha tidak pernah"Baik bu akan saya pertimbangkan dulu""Baiklah, ibu mau melihat perubahan kamu ke depannya, kamu karyawan yang baik dan dapat ibu andalkan, ibu harap kamu segera mencari solusi permasalahan kamu Sha" ucap bu AlenaSaat tiba di rumah, Sasha sedang melihat ibu merapihkan baju di ruang belakang"Bu, Sasha dapat surat peringatan" ucapnya"Kenapa Sha, kok bisa?" jawab ibu kaget"Sasha terlambat lagi bu, bulan ini saja sudah lebih dari dua puluh hari keterlambatan bu, padahal Sasha bangunnya kan sudah pagi banget bu" ucap Sasha manja"lalu bagaimana Sha? kamu mau keluar dari pekerjaanmu?" tanya ibu"tidak bu, sayang kalau Sasha keluar, perusahaan besar, gajinya juga sudah lumayan, Sasha mau kost saja bu" ucapnya"Apa?? Kost??"tiba - tiba ayah masuk ke ruangan, "Iya Sha kamu harus bersikap profesional, kalau menurut kamu itu menjadi masalah ayah tidak keberatan kalau kamu mencari tempat kost, setiap akhir pekan kamu kan bisa pulang kerumah" jawab ayah menenangkan"Tapi.... nanti makan mu bagaimana?" pertanyaan seorang ibu memang tidak jauh - jauh, takut melihat anaknya kelaparan dan menderita."Tenang aja bu kan warung makan banyak, nanti Sasha akan mencari kost - kostan yang tidak terlalu mahal bu, sama seperti ongkos Sasha sekarang" ujar Sasha"Baiklah, kamu cari tempat kost yang baik..." ucap ibu Sasha merelakan keputusan anak perempuan semata wayangnya.----------{}-----------Siang itu Sasha ditemani Gaby, mencari kost - kostan di daerah cempaka putih, Gaby tinggal di kost dekat situ, tetapi menururt Sasha kost - kostan Gaby terlalu kecil.Hampir sore mereka berdua masih belum mendapatkan tempat kost yang sesuai, akhirnya mereka sepakat untuk beristirahat dan makan di Warung makan yang berada di area itu, saat mereka selesai makan dan mau meninggalkan warung makan tersebut, Sasha melihat brosur di bawah lantai rumah makan tersebut"Menyewakan kost - kostan besar dan Murah, di Jalan Tramboli 4 No. 13 silahkan hubungi ke Nomor : 08345216796 dengan Agung" didalam brosur tersebut juga terlihat gambar rumah besar dengan ruangan kamar yang besar"Gab, ini kayanya rumah Kost yang gw cari" ujar Sasha"Iya Sha, tapi kok gw belum pernah denger kost - kostan ini sama nama jalannya" fikir Gaby aneh"Yuk... cepetan kita tanya sama tukang bajaj, alamatnya sekalian minta dianterin" ucap Sasha bersemangat"Ini Jalan tramboli 4 neng" kata tukang bajaj itu menyuruh Sasha dan Gaby untuk turun"ini bang uangnya, makasih ya"Di jalan Tramboli 4 itu hanya tanah kosong yang berdiri satu rumah paling ujung, Rumah tersebut terdiri dari 2 lantai dengan bangunan cukup besar, tiba - tiba keluar lah seorang wanita tua berambut putih dari pintu pagar"Ada yang bisa saya bantu?" ucap wanita itu dengan tatapan tajam"Saya mau kost bu" jawab Sasha"Oh baiklah, silahkan duduk dulu" jawab wanita tua tadi lalu masuk kedalam rumahlima belas menit kemudian, ada lelaki berpostur tinggi besar dengan rambut botak keluar bersamanya,"Hai saya Agung, anda mau kost disini?" tanyanya"Iya Pak, berapa harga sewa nya ya?""tidak usah memikirkan harga sewa dulu, biar saya tunjukkan kamar kostnya dulu" lalu Agung mengajak Sasha dan Gaby ke seluruh ruangan kamar kost di rumahnya, di lantai dua ada sekitar dua puluh kamar kost dengan ruang tamu diatas jika ada penyewa yang mau menerima tamunya tetapi dilantai atas ini semua kamar sudah terisi.Lalu dilanjutkan kembali ke kamar kost yang dibawah ini lebih sedikit hanya ada lima kamar kost dengan ukuran ruangan yang lebih besar dan empat dari kamar tersebut juga sudah terisi, sedangkan ada satu kamar yang masih kosong, berada di pojok rumah belakang, disana ada pagar kecil untuk masuk langsung kekamar belakang jadi jika Sasha mau keluar bisa melalui pintu tersebut tanpa harus melewati pintu rumah utama.Kamarnya luas, dua kali kamar kost Gaby, dengan ranjang yang nyaman dan lemari pakaian yang cukup besar"kalau kamar ini sewanya berapa mas?" tanya Sasha"Dua Ratus Ribu""Dua ratus ribu perbulan?" tanya Sasha tidak percaya itu murah sekali bahkan kost - kostan gaby saja sudah membayar tiga ratus ribu perbulan."Kalau kita ngekost berdua harganya sama mas?" tanya Sasha berfikiran Gaby bisa pindah bersamanya"Maaf di kost ini kami tidak ada ranjang untuk berdua" jawab Agung sinis"Baiklah saya langsung bayar untuk satu bulan" ucap Sasha bersemangatlalu Agung pun membuatkan kwitansi untuk SashaKeesokan harinya ayah mengantar Sasha pindahan ke kostan barunya, sebagian pakaian dan kebutuhan sehari - hari Sasha ikut dibawa ke tempat barunya.Setelah ayah bersiap - siap pulang, Sasha merasa ada perasaan aneh, seperti takut,,, ketakutan dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan ayahnya,,, tapi Sasha berfikiran positif ini mungkin karena dia tidak pernah jauh dari rumah.-----------{}---------Saat malam di rumah kost ini tiba - tiba Sasha merasa semua berubah, tidak ada ibu, tidak ada ayah bahkan tidak ada Gaby, dia hanya sendiri di depan kamar kostnya dia mencari sinyal telepon supaya dapat menghubungi rumah dan menghilangkan kesepiannya, tiba - tiba lewat dari pintu belakang dua perempuan bertubuh pendek dan berambut panjang."Eh mba penyewa kost baru ya?""Iya" jawab Sasha ramah"Saya Nita dan ini teman saya Hani" jawab salah satu perempuan tersebut"Iya saya sasha, kamar kamu dimana?" tanya sasha"kami tinggal berdua di kamar depan sana" ucap hani"Berdua? tapi kata mas Agung dia tidak menyewakan kamar berdua?" tanya Sasha bingungtiba - tiba mas agung lewat dengan membawa pakaian kotor ke kamar mandi, dan melihat kepada mereka, seketika itu juga Hani dan Nita tampak ketakutan dan pamit kepada Sasha."maaf ya mba, kami ke kamar dulu, mba hati - hati ya?" ucap Nitaentah perasaan Sasha saja atau Nita lebih menekankan kata hati - hati, seperti akan ada sesuatu yang bisa membahayakannya, tiba - tiba bulu kudu Sasha merinding, dia langsung menutup pintu kamar kostnya.Sudah hampir jam dua belas malam Sasha masih belum dapat memejamkan matanya, sudah dalam posisi di kasur, miring kanan dan miring kiri ada suasana panas yang membuat Sasha tidak dapat tidur, akhirnya Sasha pun menyerah dia segera membuka pintu kamar kostnya.Tiba - tiba ada seorang gadis berdiri didepan pintu, cantik wajahnya, berkulit putih dan tinggi semampai dengan rambut lurus sebahu"Maaf mengagetkanmu" ucap gadis itu"tidak apa - apa, aku hanya gerah, namaku Sasha" jawab Sasha ramah"Aku Angel, kamu penyewa baru disini ya?""Iya baru hari ini, kamu penyewa disini juga?""iya, tapi sudah lama" jawab AngelTidak terasa kami ngobrol panjang lebar tentang asal kami, pekerjaan, hobi, dan obrolan lainnya, selain cantik Angel sosok wanita karir yang sukses dari ceritanya sebagai salah satu marketing komunikasi di perusahaannya, dan dia berasal dari Manado, dia merantau seorang diri di Jakarta.Waktu pun menunjukkan pukul tiga dini hari dan Sasha segera memutuskan untuk mengakhiri obrolan tadi dan pergi tidur sebelum beraktivitas kembali esok hari.Sudah lebih dari tiga hari kejadian serupa selalu terulang, Sasha pasti tidak bisa tidur dan Angel akan menemaninya begadang sampai dini hari dengan obrolan yang berbeda lagi, dan Sasha senang karena dia sudah memiliki teman baru di kostan ini.Hari ini Gaby main ke kostan Sasha dan berencana akan menginap, Sasha pun tidak berencana untuk memberitahu mas Agung pemilik kostan tersebut, dan saat mulai menjelang malam, Sasha dan Gaby sudah siap berada di atas kasur sambil curhat satu sama lain, tentang kondisi kantor, cowok yang jadi incerannya, tiba - tiba handphone Gaby jatuh ke bawah ranjang"Brak..."Saat Gaby hendak mengambil handphone yang jatuh ke kolong, tiba - tiba ada bingkai foto kecil disana, Gaby pun mengambilnya, dia fikir ini milik Sasha."Sha, ini saudaramu?""Siapa Gab?""Wanita di foto ini?"lalu Sasha pun mengambil foto tersebut"Angel....""Nama saudaramu Angel?" tanya Gaby sekali lagi"Bukan Gab, ini salah satu anak kost di rumah ini""Lho kok bisa ada fotonya dikamar kamu"Sasha juga agak sedikit bingung sebenarnya, tapi dia berusaha untuk berfikir positif"Mungkin jatuh dari tasnya saat main kekamarku kemarin" jawab Sasha entengtabi pandangan Gaby jatuh ke pinggir lemari baju, Sha menurutmu ini warna merah seperti darah bukan?""Bisa jadi Gab, mungkin darah nyamuk atau tikus" jawab Sasha tanpa berfikir panjangTiba - tiba Gaby merasa ada hal yang aneh pada kost - kostan tersebut dan seketika itu juga bulu kudunya mulai merinding.---------------{}-------------Sudah beberapa malam ini Sasha tidak bertemu dengan Angel, ada sedikit pertanyaan dalam diri Sasha, apakah Angel sakit atau dia mungkin sedang sibuk di kantor.Tetapi dia tidak bisa bertanya kepada anak kost yang lain dimana kamar Angel, setiap dia bertanya bahkan kepada Nita atau Hani, mereka diam seribu bahasa malah langsung meninggalkan Sasha sendirian.Akhirnya Sasha memututskan untuk masuk ke dalam kamarnya lagi, dan akhirnya Sasha pun dapat tertidur dengan pulas.Tiba - tiba, Sasha seperti mendengar ada suara pintu yang bergerak dari kamarnya"Kreet.... kreeeetttt"Tiba - tiba Sasha melihat mas Agung berada dikamarnya"Ngapain kamu kesini mas Agung?" tanya Sasha marah"Sudah lah kamu tidak usah malu - malu" ucap mas Agung dengan nada suara pelan dan mata menyeringai seperti singa yang ingin menelan korbannya."Bagaimana kamu bisa masuk, pintunya kan sudah aku kunci" Ucap Sasha sambil duduk dikasurnya dengan nada emosi"Kamu lupa, aku yang memiliki rumah kost disini, aku pasti punya kunci serep setiap kamar disini, dasar wanita bodoh" lalu agung semakin mendekati Sasha dengan membawa pisau di tangannyaSasha ketakutan dia berusaha melarikan diri, tetapi badan mas Agung lebih kuat dari tenaga Sasha, dan mas Agung pun menempelkan pisau itu di leher Sasha"Jika kamu berteriak, dan tidak menuruti perintahku, kamu akan tahu rasanya pisau ini menggorok lehermu" ucap lelaki berbadan tegap tersebutSasha ingin teriak sekencang - kencangnya berharap penghuni kost lain dapat menyelamatkannya tetapi sepertinya bibirnya kaku tidak dapat bergerak, dan Agung pun mulai menggerayangi badan Sasha perlahan - lahan, dengan desahan nafsu bejatnya yang semakin tidak dapat terkendali, Tiba - tiba pintu kamar terbuka lebar."Braaakkkk"Sasha melihat sosok Angel berdiri disitu sambil melotot dengan tatapan kebencian kepada Agung, seketika itu juga pisau yang digenggam Agung langsung terjatuh"Kamu.... kamu..... sudah mati" ucap Agung"Dasar bajingan.... kamu selalu saja mencari korban untuk pelampiasan nafsumu" Ucap Angel, diapun semakin mendekati Agung dan ternyata Angel dapat menembus Agung, Sasha seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Angel itu hantu....."Saat Agung ingin melarikan diri dari situasi ini, tiba - tiba kakinya tersenggol pecahan kaca dari bingkai kecil menusuk kekakinya dan membuatnya terjatuh membentur dinding lemari dengan keras, dan seketika itu juga Agung langsung tidak sadarkan diri.Sasha seperti tidak percaya saat Angel mendekatinya, saat ruh Angel menembus dirinya, seketika itu dia seperti berada di dimensi lainDia melihat dikamar yang sama dengan kamarnya ada Angel yang sedang tertidur terbangun dengan suara Agung yang masuk ke dalam kamarnya, dengan membawa pisau seperti yang dilakukannya, dia berusaha memperkosa Angel, tetapi Angel berusaha melarikan diri tetapi Agung malah membenturkannya ke lemari selama beberapa kali sampai akhirnya Angel tidak bernyawa lagi.Agung pun membawa jasad Angel keluar dan dia menguburkannya di taman samping belakang rumahnya, hampir semua penghuni mengetahui kejadian tersebut tetapi mereka hanya bisa menontonnya.Ternyata rumah kost itu hanyalah kedok belaka sebenarnya itu adalah tempat penampungan manusia yang akan membawa korbannya untuk dijual belikan ke luar negeri, dan hampir semua penghuni kost mengalami nasib serupa yang dilakukan oleh nafsu bejat Agung, tetapi mereka tidak bisa berbuat apapun karena kondisi mereka yang jauh dari rumah atau perantauan, belum lagi ditambah ancaman Agung yang membuat mereka semua tidak dapat berkutik, tetapi Agung tidak puas dengan wanita yang ada di kostan tersebut, oleh karena itu dia membuat brosur rumah kost No. 13 untuk mencari korban selanjutnya........Sasha pun langsung pergi dari rumah tersebut begitu dia sadarkan diri, dia melihat Agung masih dalam kondisi pingsan, dia menelepon ayahnya untuk minta dijemput di warung dekat jalan utama, dan menceritakan semua kejadian yang baru dialamainya.Satu jam kemudian ayah Sasha datang bersama petugas kepolisian setempat, dan Agung pun langsung ditangkap akibat perbuatan yang dilakukannya, serta usaha gelapnya memperjual belikan manusia di dalam rumah kostnya tersebut.Dengan kejadian tersebut Sasha pulang ke rumah, dan keesokan paginya saat dia dikantor dia pun memberi Bu Alena surat"Surat apa ini Sasha?""Surat pengunduran diri saya bu, saya tidak bisa jadi anak kost, terpaksa saya harus mencari tempat kerja yang lebih dekat" ucap Sasha.
AIR SUSU PERAWAN
"Zyan, kenapa dia mengompol?" teriakan itu membuat sang gadis yang dituju jadi serba salah, dan mengambil apa saja yang ada di depannya."Kenapa kamu pegang pembalut?" tanya sang pria dengan nada galak. Mata bundar itu melotot setelah mengetahui kebodohan apa yang dia lakukan dengan wajah memerah seperti tomat rebus dia menyembunyikan di belakang."M-maksudnya, mau ambil popok." Sang gadis nyegir."Nih, urus bayi ini. Jangan biarkan dia menangis, beri dia air susu 24 jam, jangan ada bau kotoran bayi, saya benci anak kecil!" desisnya.Azyan hanya mengangguk kaku, dan hanya bisa menelan ludahnya. Baru seminggu dia bertugas menjadi babysitter demi menjaga seorang bayi menggemaskan yang diadopsi dari panti asuhan, berbekal pengelaman nol dia akan mengurus bayi sepenuh hati walau ia belum punya anak."Kenapa kamu masih berdiri di situ? Ambil bayi ini.""I-iya," jawab Azyan dengan gugup.Bayi merah yang diberi nama Danish berpindah tangan dan dengan telaten Azyan memaikan popok pada bayi tersebut.Azyan melirik pada laki-laki dewasa yang masih mengawasi dirinya, gadis itu menjadi semakin gugup oleh tatapan tersebut. Dennis adalah manusia kaku yang tidak pernah tahu bercanda dan juga sangat irit bicara, seolah keyboard dalam otaknya hanya terdiri dari beberapa huruf.Berkali-kali ia mengembuskan napas lelah sambil memijit kepala otaknya yang hampir pecah karena punya keluarga yang kelewat bar-bar. Keluarga paling berisik sedunia yang ia sebut sebagai keluarga: Raja Hutan.Dennis masih berdiri di sana sambil memperhatikan gadis yang begitu telaten mengurus bayi. Demi menuruti bundanya ia mengalah menerima orang baru dalam rumahnya karena tuntutan yang tidak masuk akal baginya.Saat bayi Danish menangis Azyan jadi kelabakan sendiri. Dennis masih berdiri di depan pintu membuat sang gadis kian gugup."Coba beri air susu. Saya benci suara anak kecil menangis.""I-iya."Dengan malu-malu Azyan mencoba memberi air susu tapi bayi itu masih rewel, Dennis kian berang. Semua karena bundanya, hidup damainya yang penuh ketenangan terusik dengan kehadiran bayi yang menyusahkan."Apakah kamu tidak bisa membuat dia diam? Beri apa saja agar dia diam." Azyan hanya mengangguk dengan gugup.Karena kesusahan menenangkan bayi merah yang terus menangis kain untuk menutupi buah dadanya sekarang terbuka lebar yang membuat buah dada Azyan sudah terpampang nyata di depan Dennis.Matanya melotot dengan perasaan gugup yang luar biasa saat Dennis berjalan ke arahnya, apa pria itu semakin melihat buah dadanya dekat? Azyan adalah seorang gadis perawan yang tidak pernah disentuh lelaki manapun.Dennis menunduk membuat seluruh tubuhnya ikut bergetar, apa laki-laki ini akan menyusu juga? Apa air susunya akan habis dalam sekali sedot, begitu malu dan takut sekuat tenaga Azyan menutupi matanya. Ia hanya mengandalkan indra pendengaran untuk mengetahui semua gerakan Dennis."Kamu berharap sekali saya rasa susu kamu sepuluh detik?" Pertanyaan itu membuat mulutnya terbuka lebar. Kurang ajar!Tapi, dengan sopan Dennis mengambil kain yang jatuh di lantai dan menutup kedua payudara Azyan."Saya tidak tertarik dengan buah dada kecil," pungkas Dennis tanpa rasa bersalah membuat rahang Azyan jatuh hingga ke lantai. Sialan! Bedebah! Laki-laki sial! Ia hanya bisa memaki dalam hati, karena Azyan masih training mengurus bayi jadi dia hanya bisa menahan dalam hati.+Saat Dennis keluar dari kamar tangisan bayi kian kuat, hingga seluruh wajahnya memerah."Kenapa tidak beri dia susu?" Dennis kembali berkacak pinggang di pembatas pintu membuat Azyan kian menjadi serba salah...."S-sudah.""Oh Tuhan!" Dennis semakin menggerang frustrasi karena pekikan bayi itu semakin membuat kepala otaknya mau pecah.Dennis mendekat membuat Azyan semakin gugup, sedangkan tangisan bayi merah yang tak tahu apa-apa semakin kuat."Sini." Dengan perasaan gugup Azyan menyerahkan bayi merah pada Dennis, ajaibnya bayi itu mau diam yang membuat dia merasa lega, jika sudah begini rasanya Azyan ingin mengadu pada Ilona dan resign segera.Walau benci anak-anak saat melihat bayi merah yang terdiam di tangannya membuat Dennis tak percaya dengan penglihatannya. Apa bayi merah suka berbuat di luar nalar?Keduanya sama-sama menarik napas panjang, tak pernah mengurus bayi sebelumnya tentu saja akan kesusahan bagi Dennis maupun Azyan dengan kehadiran bayi merah di dalam hidup keduanya.Azyan masih kuliah semester lima, jika kuliah, bayi merah akan dititipkan pada pengasuh yang lain."Jadi sekarang apa? Saya harus mengendongnya setiap saat?" tanya Dennis yang membuat Azyan hanya berdiri serba salah."Bisa ditidurkan." Azyan menunujuk ke arah sisi ranjang.Dennis mencoba untuk meletakkan bayi merah di atas ranjang, tak lagi mencium bau Dennis ia kembali terpekik. Azyan menjadi tak enak pada Dennis. Laki-laki itu terlihat frustrasi dengan tangisan bayi.Akhirnya Dennis mengalah dan mencoba untuk ikut berbaring karena sejujurnya tangannya terasa keram.Azyan hanya berdiri serba salah. Sekarang apa? Dia harus ikut berbaring juga? Atau berdiri melihat dua laki-laki ini tertidur. Gadis itu menunduk dan memainkan jari-jari kakinya, ini adalah keadaan paling awkward yang pernah dia rasakan."Kenapa berdiri di situ? Tidur sini," ajak Dennis.Dengan susah payah ia menelan salivanya, tenggorokannya terasa kering, bibirnya terasa sakit karena digigit begitu kuat.Saat tubuhnya perlahan mendekat, Azyan langsung tersentak karena Dennis sudah menarik tubuhnya dan ia terjatuh di atas tubuh pria itu. Degupan jantungnya terasa bertalu-talu, Azyan juga ikut merasakan degupan jantung milik Dennis.Ini bahaya! Alarm dalam otaknya sudah berbunyi keras, tapi seluruh tubuhnya terasa kaku karena baru kali ini dia bersentuhan langsung dengan laki-laki."Kenapa? Merasa nyaman?"Azyan menutupi matanya sambil menggepalkan tangan, kenapa laki-laki ini bicaranya sembarangan? Dia tahu seluruh keluarga Dennis adalah manusia yang bicara tanpa peduli perasaan orang lain, ia kira Dennis akan berbeda tapi sama saja, memang darah lebih kental daripada air.Saat tatapan keduanya bertemu seluruh kegiatan di seluruh dunia seolah terhenti, dan Azyan kembali menelan ludah karena merasa gugup luar biasa.Harus ia akui jika dia adalah laki-laki matang paling tampan yang pernah ia temui, seluruh keluarga gen Raja Hutan adalah keluarga yang good looking, dengan banyak bibit unggul.Alis tebal, jambang tipis, rahang tegas, bibir merah alami, tatapan tajam tapi juga teduh di saat bersamaan. Dia punya bahu lebar dan juga tangan berotot yang menunjukkan seorang laki-laki jantan, aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya membuat tenggorokan Azyan terasa kering.Ini adalah pose paling intim yang terjadi dalam hidupnya, oleh laki-laki dewasa abang sahabatnya sendiri. Hidung mancung yang membuat Azyan ingin sekali menyentuhnya."Dia sangat tampan!" Gadis itu menjerit dalam hatinya walau ia tak bisa mengeluarkan itu."Handsome as hell.""Bayinya menangis." Tangisan bayi kembali mengintrupsi keduanya, tanpa sadar Dennis mendorong tubuh Azyan ke lantai, padahal baru saja beberapa detik lalu ia memujinya. Jika sudah begini, Azyan kembali menarik kata-katanya.Gadis itu memegang bokongnya yang baru saja mencium lantai, gini amat kerja. Segala sumpah serapah ia keluarkan akhirnya kembali berdiri, tentu saja dia harus sabar. Azyan hanya seorang gadis yatim piatu yang tidak punya keluarga, selama ini ia tinggal di panti asuhan setelah Ilona memintanya untuk mengurus bayi ia menyetujui untuk mendapatkan uang, tempat tinggal, dan juga ia punya penyakit langka bisa mengeluarkan air susu walau tak pernah hamil sebelumnya.Saat tangan Dennis menyentuh bayi merah seolah mengerti bayi itu kembali terdiam. Azyan kembali terdiam memikirkan nasibnya dan bagaimana dia berakhir di sini.Sedangkan Dennis terpaksa menerima Azyan dan bayi Danish karena tuntutan sang bunda sebagai pancingan agar dia memikirkan pasangan. Usianya nyaris menyentuh kepala tiga tapi ia seolah lelaki abnormal yang tidak mengenal cinta selama hidupnya."Sekarang sudah jam berapa?" tanya Dennis merasa jengkel karena harus terjebak bersama bayi yang tidak ia inginkan sama sekali."J-jam lima."Dennis menghela napas tak ikhlas, andai bisa menyumpahi ibunya sendiri dan juga saudarinya ia akan melakukannya sekarang, tapi yang bisa ia lakukan adalah terbiasa dengan kehadiran bayi, tangisan bayi dan juga mencium kotoran bayi."A-bang bisa bisa pergi, aku akan mengurusnya.""Nanti dia menangis lagi."Azyan menggigit bibirnya lagi, tentu saja dia tidak bisa mencegah tangisan bayi ini."Saya lapar.""A-abang bisa makan, aku bisa mengurusnya," ucap Azyan tertunduk dalam. Ia tak berani menatap Dennis, laki-laki itu masih berbaring menempelkan tangannya pada kulit bayi merah tersebut karena ia seolah punya radar jika Dennis tak lagi menyentuhnya."Bisakah kamu suapin? Saya sungguh lapar," pinta Dennis."O-oke."Azyan dengan cepat berlari ke dapur, dia merasa serba salah dengan keadaan super canggung di antara mereka. Gadis itu berkali-kali menggigit bibirnya.Usianya masih 20 tahun, Dennis berusia 29 tahun.Azyan menyiapkan makanan yang tersisa di meja. Biasanya saat bayi merah Danish menangis ia yang akan masak, tugasnya memang banyak selain mengurus bayi, seolah jadi istri seorang Dennis Nortman walau tanpa status.Dennis membawa bayi merah menyusul ke dalam meja makan, Azyan hanya melirik lewat bulu mata lentiknya. Entah kenapa, dia suka melihat interaksi alami yang terjadi antara Dennis dan bayi merah. Seolah ayah dan anak beneran.Dengan susah payah dan keadaan yang begitu canggung, Azyan menyuapi Dennis. Laki-laki itu bisa bekerjasama dengan membuka mulutnya lebar."Kamu tidak makan?" Azyan hanya menggeleng dengan pertanyaan tersebut dan kembali menyuapi Dennis."Mau saya suapi juga?""Tidak perlu!" jawab Azyan cepat. Padahal seluruh wajahnya sudah memanas.Dennis berusaha untuk menggendong bayi merah dengan satu tangan dan menyuapi Azyan balik, gadis itu menolaknya tapi pria itu masih keras kepala untuk menyuapi gadis di depannya.Dengan mulut setengah terbuka ia menerima suapan besar tersebut yang membuat separuh nasi tumpah."Apakah setiap hari akan seperti ini?" tanya Dennis sambil menunduk mengisyaratkan pada bayi merah yang ia gendong."T-tidak."Akhirnya gantian Azyan yang menyuapi Dennis. Tanpa sadar keduanya saling menyuapi alih-alih makan sendiri.Setelah makan Dennis kembali ke kamar Azyan dan mencoba untuk meniduri bayi merah yang manja.Azyan dan Danish berada di kamar bawah, kamar yang dulunya Dennis jadikan sebagai kamar tamu, sedangkan laki-laki itu tinggal di kamar lantai atas, kamar utama miliknya.Azyan membereskan peralatan makan keduanya, sebenarnya dia suka mengurus bayi bahkan sudah ada rasa sayang pada bayi merah tersebut."Oh Tuhan!" Azyan berseru dengan kaget saat tubuh tinggi Dennis tiba-tiba sudah berdiri di pintu, laki-laki itu suka sekali berdiri di pintu tiba-tiba."Bayinya sudah tidur. Oh Tuhan, jika setiap hari seperti ini saya bisa mati berdiri," keluh Dennis sambil menyugar rambutnya. Setelah ini dia akan protes pada bundanya pada beban yang dipikulkan untuknya.+"Karena bayi sudah tidur, sekarang untuk mengasuh bayi yang lain." Azyan berbalik tak mengerti dengan ucapan pria tersebut."Tidur sama saya malam ini," putus Dennis dan berlalu.
Ande-Ande Lumut
Pada zaman dahulu, ada sebuah Kerajaan besar yang bernama Kerajaan Kahuripan. Namun, untuk mencegah perang persaudaraan, Kerajaan Kahuripan dibagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala. Suatu hari sebelum Raja Erlangga meninggal, ia berpesan untuk menyatukan kembali kedua kerajaan tersebut.Akhirnya, kedua kerajaan tersebut bersepakat untuk menyatukan kedua kerajaan dengan cara menikahkan Pangeran dari Kerajaan Jenggala, yaitu Raden Panji Asmara Bangun, dengan putri cantik Dewi Sekartaji dari Kerajaan Kediri.Namun, keputusan untuk menikahkan Pangeran Raden Panji Asmara Bangun dengan Putri Sekartaji ditentang oleh ibu tiri Putri Sekartaji. Karena istri kedua dari Kerajaan Kediri iri hati pada Putri Sekartaji, ia berniat menyingkirkannya. Putri Sekartaji pun melarikan diri dan menyamar sebagai gadis desa biasa.Suatu hari, ketika Putri Sekar tiba di rumah seorang janda yang mempunyai tiga anak gadis cantik. Nama ketiga anak janda tersebut adalah Klenting Merah, Klenting Biru, dan Klenting Ijo. Akhirnya, Putri Sekar pun mengganti namanya menjadi Klenting Kuning.Mendengar berita yang bersumber dari desa Dadapan, kabar itu menyebutkan bahwa Mbok Randa mempunyai anak angkat seorang pemuda tampan. Anak angkat itu bernama Ande-Ande Lumut. Ketampanan Ande-Ande Lumut sangat terkenal sehingga banyak gadis yang datang ke desa Dadapan untuk melamarnya.Kabar tentang Ande-Ande Lumut sedang mencari istri terdengar oleh keempat gadis cantik tersebut. Akhirnya, sang janda menyuruh anak-anaknya pergi menemui Ande-Ande Lumut.Suatu hari, mereka segera berangkat. Namun mereka hanya bertiga karena Klenting Kuning mempunyai pekerjaan rumah yang belum selesai. Dalam perjalanan, ketiga kakak Klenting Kuning kebingungan karena harus menyeberang sungai. Tiba-tiba muncul pemuda bernama Yuyu Kangkang. Ia menawarkan bantuan menyeberangkan mereka, tetapi dengan syarat ia boleh mencium mereka. Awalnya mereka menolak, namun karena tidak ada jalan lain, mereka terpaksa menyetujuinya.Sesampainya di rumah Mbok Randa, gadis-gadis itu langsung memperkenalkan diri. Namun, Ande-Ande Lumut menolak semuanya.Sementara itu, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Klenting Kuning pergi menyusul ketiga kakaknya. Saat di sungai, ia juga ditawari bantuan oleh Yuyu Kangkang. Namun Klenting Kuning menolak dengan tegas. Ia bahkan mengolesi pipinya dengan kotoran ayam sehingga Yuyu Kangkang jijik dan pergi.Setelah berhasil menyeberang, Klenting Kuning tiba di rumah Mbok Randa. Melihat tingkah dan penampilannya yang sangat sederhana dan kumal, Ande-Ande Lumut justru menyambutnya dengan senyum bahagia. Mbok Randa pun kaget melihat anak angkatnya itu bersikap berbeda.Akhirnya, Ande-Ande Lumut mengakui identitasnya. Ia sebenarnya adalah Pangeran Raden Panji Asmara Bangun. Klenting Kuning juga mengungkapkan bahwa dirinya adalah Putri Sekartaji.Ketiga kakaknya sangat terkejut mengetahui bahwa gadis yang selama ini mereka perlakukan dengan tidak baik rupanya adalah putri raja yang sangat cantik.Tak lama kemudian, mereka semua dikejutkan oleh Ande-Ande Lumut yang membuka kedok aslinya sebagai pangeran. Klenting Kuning dan Raden Panji kembali dipersatukan. Akhirnya Raden Panji membawa Putri Sekartaji dan ibu angkatnya, Mbok Randa, kembali ke Kerajaan Jenggala. Mereka pun segera melangsungkan pernikahan.Akhirnya, Kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala dapat bersatu kembali.
Ular Laut Yang Diamuk Si Pendiam
Aldo duduk di kursi berjemur sambil memandangi aktivitas di atas geladak utama kapal pesiar. Orang-orang berenang santai atau bersenda gurau, sementara pelayan sibuk membawakan pesanan makanan dan minuman. Saat ini mereka tengah berlayar melintasi Laut Natuna.Tiba-tiba sebuah bola plastik terlempar ke arah Aldo. Remaja itu menangkapnya dengan sigap. Seorang gadis berbikini buru-buru berlari ke arahnya."Maaf ya Dek, nggak sengaja," ucap gadis tersebut."Nggak apa-apa kok. Nih." Aldo menyerahkan bolanya."Anu..." sang gadis agak ragu. "Mau ikut main?"Aldo segera menyadari teman-teman gadis itu tertawa-tawa di kolam. Mungkin mereka memang sengaja melempar bola ke arahnya agar bisa berkenalan."Maaf, aku sedang kurang enak badan." Remaja itu tersenyum kecil. "Lagian aku sebenarnya masih enam belas tahun."Oh, yaudah deh..." jawab sang gadis terlihat kecewa.Aldo mengangguk. Namun, ia memang tidak naik ke atas kapal pesiar ini untuk berlibur. Ia memiliki tujuan lain.Ya, tujuan lain. Alasan yang datang lima tahun lalu, saat dimana pedang Orochi tiba-tiba menancap di depan rumah Aldo, tepat saat anak itu hendak berangkat sekolah. Sebagai penerus kepala keluarga Orochi berikutnya, Aldo segera memahami bahwa itu adalah pertanda buruk. Satu-satunya saat di mana pedang diwariskan adalah saat pemilik sebelumnya terbunuh.Anak itu pun jatuh berlutut, lalu menangis.Padahal seharusnya kedua orang tuanya cuma pergi berlibur, kenapa tragedi ini sampai terjadi?Beberapa hari kemudian, ramai pemberitaan di televisi mengenai sebuah kapal yang diserang sesosok ular laut raksasa. Di antara daftar korban terdapat nama ayah dan ibu Aldo.Berita itu membawa kehebohan di penjuru negeri, bahkan mengundang peneliti dari negara lain untuk datang ke Indonesia. Mereka semua ingin menangkap makhluk ajaib tersebut. Ada yang bilang itu adalah dinosaurus yang selamat dari era prasejarah, ada juga yang bilang itu adalah makhluk mitologi. Akan tetapi, cuma Aldo yang tahu makhluk apa itu, dan bagaimana cara menghentikannya."Lewiatan," gumamnya.Sejak saat itu ia memiliki obsesi untuk mengejar makhluk tersebut, seberat apapun pengorbanannya.Aldo sudah mengarungi lautan di seluruh Indonesia, menyisakan Laut Natuna ini sebagai titik terakhir pencarian. Apabila ia masih tidak menemukan Lewiatan, mungkin monster itu sudah pergi ke belahan bumi yang lain.Remaja itu pun menyerah. Tubuhnya juga sudah kedinginan karena hawa dingin dari awan mendung mulai terbentuk di langit. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar. Ia benar-benar lelah entah karena apa.Baru saja melangkah, hujan gerimis datang. Orang-orang langsung berkemas untuk kembali ke kamar masing-masing. Termasuk gadis-gadis cantik yang tadi.Tapi semenit kemudian, gerimis berubah menjadi hujan deras. Gelombang-gelombang tinggi tinggi terbentuk, menggoyang seisi kapal. Petir menggelegar di angkasa. Entah bagaimana cuaca yang awalnya cerah bisa berubah sedemikian drastis."Hati-hati, jangan berlari!" seru awak kapal yang membimbing para penumpang masuk ke dalam.Namun, Aldo merasakannya. Ada aura buas yang hendak melahap semua. Remaja itu pun berhenti bergerak. Sebaliknya, ia berjalan ke ujung haluan."Mas, jangan ke sana! Berbahaya!" seru seorang awak kapal sembari berpegangan karena guncangan kapal semakin tidak beresAkhirnya sang awak lepas tangan. Ia masih memiliki tugas lain untuk dikerjakan.Air hujan menyerbu hingga Aldo basah kuyup, tapi tak dipedulikan. Ia bahkan tidak peduli puting beliung yang mulai memerangkap kapal pesiar dalam pusaran raksasa.Dan saat remaja itu berdiri di haluan, tiba-tiba terbentuk gelombang besar di hadapannya. Dari gelombang tersebut muncul kepala ular raksasa. Kedua matanya kuning dengan garis hitam vertikal. Ia memiliki sisik-sisik hijau yang bersinar licin. Eksistensi yang begitu purba dan perkasa. Makhluk itu mulai mengangkat kepalanya hingga tinggi ke langit, kira-kira setinggi gedung lima tingkat."Akhirnya!" seru Aldo. Ia memasang kuda-kuda, mengacungkan tangannya ke langit. "Jawab panggilanku, Orochi!"Langit pun membelah, lalu senjata magis itu melesat turun. Sebuah pedang berkilauan dengan permata ungu di bilahnya. Aldo menggenggamnya mantap."Ini saat yang sudah kutunggu-tunggu," Aldo mengayunkan pedang itu sekuat tenaga, "Orochi, bangkitlah!"Keajaiban terjadi. Bilah pedang itu tiba-tiba bertransformasi menjadi ular hitam besar berkepala tujuh, yang masing-masing memiliki permata di dahi."Serang bajingan ini..."Aldo mengayunkan pedangnya lagi. Ketujuh kepala Orochi memanjang, lalu menggigit leher sang Lewiatan. Monster raksasa itu mengamuk. Ia menyeruduk badan kapal pesiar, hingga pijakan Aldo terguncang. Dinding kapal yang terbuat dari logam sampai penyok dibuatnya.Sang nahkoda, para awak, dan penumpang yang melihat peristiwa itu hanya bisa berdoa ketakutan. Mereka tak pernah menyangka laut dihuni oleh monster sebesar itu, yang bisa melumat mereka dengan sangat mudah.Aldo menyerang lagi agar Lewiatan menjauh dari kapal. Tapi pergerakan monster itu amat lihai. Saat ini memang ia tidak memiliki keunggulan. Medan air adalah elemen Lewiatan. Namun, gigitan Orochi bukanlah gigitan biasa. Setiap taringnya menyimpan racun yang sangat mematikan. Tak peduli sebesar apapun Lewiatan, apabila terus diserang dengan racun, lama-kelamaan tubuhnya pasti akan melemah.Aldo melompat di udara, menggunakan kepala-kepala Orochi sebagai pijakannya.Monster raksasa pun itu pun menenggelamkan tubuhnya ke dalam air."Selesai, kah?" tanya Aldo pada dirinya sendiri. Tetapi ia yakin pertarungan seharusnya tak berakhir semudah ini. Karena kalau iya, mustahil ayahnya yang memiliki kemampuan luar biasa bisa kalah.Tiba-tiba kapal menjadi tidak stabil. Bagian geladaknya terangkat, sementara buritannya turun. Aldo segera menyadari apa yang terjadi. Lewiatan memilih untuk menyerang kapal ini. Monster itu sedang berusaha menarik kapal ke dalam air."Celaka!"Aldo kembali melesat."Orochi!"Ia lompat ke atas kepala salah satu ular Orochi, lalu senjata itu mengular di udara. Ia bergerak cepat menuju buritan yang sudah nyaris tenggelam. Remaja itu menarik napas dalam-dalam, lalu terjun ke dalam air.Kini ia bisa melihat wujud utuh Lewiatan yang sangat besar dengan dua pasang sayap. Makhluk itu menggigit propeller kapal pesiar sambil terus menariknya ke dalam air. Seketika Aldo merinding. Ia tak bisa membayangkan bagaimana cara mengalahkan makhluk semasif itu. Keinginan untuk menyerah pun timbul."Yakinlah!"Tiba-tiba ada yang berbisik. Aldo dapat mengenali suara tersebut, "Ayah!""Kami tahu kau pasti bisa!""I—ibu?" Aldo mengeratkan gerahamnya. "Jadi selama ini kalian terus memperhatikan. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini!"Semangat Aldo berkobar kembali. Ia melesat menuju Lewiatan. Pedang Orochi siap di tangannya."Orochi!"Ketujuh kepala ular Orochi menyambar Lewiatan. Di leher, sayap, dada, dan perut. Tapi Lewiatan masih tak melepas gigitannya pada kapal pesiar. Air sudah mulai masuk ke bagian dalam kapal, membuat para penumpang panik."Aku tidak akan membiarkannya!"Aldo mengeraskan tekad. Meski oksigen di paru-parunya hampir habis, tapi ia belum boleh menyerah. Ia terus menancapkan racun ke tubuh Lewiatan melalui taring-taring Orochi."Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini. Setiap kali aku naik kapal, aku selalu berpikir untuk berhenti. Tapi setelah melihatmu terluka... Ya, aku akan membunuhmu!"Aldo mengerahkan seluruh energinya. Ia tak peduli meski ia harus mati sekalipun. Jika ia mati, Lewiatan akan ikut mati bersamanya!Lalu rahang Lewiatan lepas dari propeller kapal pesiar. Rahangnya tetap membuka, seiring tubuhnya tenggelam. Garis hitam di matanya menghilang, menyisakan warna kuning kosong. Sementara kapal pesiar yang sudah bebas kembali terangkat ke permukaan.Aldo juga sudah kehabisan napas. Yang penting ia sudah merasa lega. Ia membiarkan tubuhnya ikut menuju dasar lautan bersama Lewiatan.Namun, kepala-kepala Orochi terus bergerak. Mereka menciut dan melilit tubuh Aldo, kemudian mengangkatnya ke permukaan. Hingga remaja itu bisa menghirup udara dan terbatuk-batuk. Ia benar-benar kebingungan, sebab selama ini ia mengira Orochi tak memiliki jiwa. Mustahil mereka bisa mengambil inisiatif di saat energi Aldo itu sudah terkuras.Tetapi, mungkin ayah dan ibunya memang masih di sana, memperhatikan sambil melindunginya.Remaja itu memejamkan mata. Badai sudah berakhir. Fajar menjelang. Dendamnya usai. Tapi bukan berarti tugasnya sudah selesai, karena dia masih belum mengetahui kenyataan dunia ini. Masih terlalu banyak.Para awak kapal pun keluar, lalu berusaha mengangkat Aldo dari air.
Majalengka
Alkisah pada zaman dahulu kala, terdapat suatu negeri yang aman dan makmur, yang dikenal dengan nama Negeri Panyidagan. Ratu yang memerintah negeri itu sangat cantik, ia bernama Ratu Ayu Panyidagan, ada juga yang menyebut Ratu Ayu Rambut Kasih, dan ada juga yang menyebut Nyi Rambut Kasih saja.Kecantikan Ratu Ayu Panyidagan ini tiada tandingannya, sehingga jika dilukiskan dengan kata-kata oleh penyair seperti, Badannya ramping bagai pohon pinang, rambutnya hitam dan panjang bagai mayang terurai, wajahnya berseri bagai bulan empat belas hari, alisnya bagai bentuk taji,hidungnya mancung bagai bunga melur, matanya bagai bintang timur, telinganya bagai kerang,bibirnya bagai delima merekah, giginya bagai dua barisan mutiara, dagunya bagai lebah bergantung, jarinya bagai duri landak, pepat kukunya bagai paha belalang, betisnya bagai perut padi, tumitnya bagai telur burung.Menurut cerita dari mulut ke mulut Ratu mendapat pujian Ratu Ramping Kasih karena semua orang (rakyat negeri ini) tidak berani menatap wajah Ratu yang cantik dan berwibawa itu, mereka hanya berani menatap bila Ratu telah pergi membelakangi mereka. Mereka hanya dapat melihat badannya yang ramping dan rambutnya yang hitam bergelombang menutupi badannya.Rambut Ratu yang indah itu menimbulkan rasa kasih setiap orang yang melihatnya sehingga semua orang memuji kecantikannya yang sesuai dengan tingkah lakunya yang ramah tamah dan baik budi bahasanya. Oleh sebab itu memberi julukan Ratu Ayu Rambut Kasih.Selain itu, beliau mempunyai ilmu lahir dan ilmu batin, lagi pula beliau dapat meramalkan kejadian yang akan dialaminya.Dalam pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan yang adil dan bijaksana itu,kesejahteraan rakyat terjamin, baik petani maupun pedagang merasa aman dan tenteram menggarap pekerjaannya karena tak pernah ada pencuri dan perampok yang mengganggu kekayaannya. Pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan dibantu oleh para Patih yang terkenal dalam bidang kesejahteraan dan keamanan negara, yaitu Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur.Pada suatu hari, Ratu Ayu Panyidagan mengadakan pertemuan di pendopo yang dihadiri oleh para menteri dan para punggawa negara, bahkan rakyat pun boleh mendengarkan asal tidak mengganggu suasana perundingan itu. Setelah semua undangan hadir, barulah Ratu Ayu Panyidagan keluar dari Kaputren menuju ruang pendopo kemudian duduk di hadapan para menteri dan punggawa negara. Semua yang hadir tak ada yang berbicara, semuanya diam, semuanya menundukkan kepalanya tanda hormat dan takut menghadapi Ratu Ayu Panyidagan yang berwibawa itu.Setelah suasana di pendopo itu tertib, kemudian sang ratu bersabda;"Para menteri dan para punggawa Negara Panyidagan yang hadir, sekarang sudah waktunya atas kehendak Sang Hyang, negara kita akan menghadapi cobaan. Menurut wangsit yang kami terima, kelak kerajaan ini akan berubah. Oleh sebab itu, hadirin harus waspada dan siap-siaga menghadapi malapetaka yang akan datang. Bila ada huru-hara di luar kerajaan, kalian harus cepat memusnahkannya, jangan sampai musuh dapat masuk dan mengganggu ketertiban negara. Lindungilah rakyat dari segala bencana yang mengancam negara kita. Tentramkanlah hati rakyat supaya mereka tenteram mengerjakan tugas masing-masing dengan baik. Para petani tentram bertani supaya hasilnya akan lebih baik, dan para pedagang tentram berdagang, jangan sampai dikejar-kejar hutang dan diganggu oleh pencuri atau perampok. Tapi, kalau ada utusan dari negara lain yang akan bersahabat dan berbuat demi kesejahteraan kita semua, terimalah dengan baik dan ramah tamah, Mengerti?""Yakseni, yakseni ..., hadirin serempak menjawab.Sang Ratu bersabda lagi;"Sebentar lagi kami akan menerima tamu. Menurut ramalanku, orang yang datang tegap dan cakap, tetapi orang itu akan menimbulkan bencana bagi diri kami, hanya saja kami belum tahu bencana apa yang akan terjadi. Akan tetapi, semua rakyat Panyidangan tidak akan mendapat bencana, hanya berubah keyakinan dan kepercayaan, sesudah kerajaan ini lepas dari tangan kami. Nah sekian nasehat kami. Sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan aman dan tentram."Terhadap semua nasehat Ratu, tak ada yang berani menentangnya, sebab mereka yakin bahwa semua ucapan Ratu pasti terjadi. Demikian juga, Ki Gedeng Cigobang, Ki Dedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur menerima tugas menjaga negara. Setelah siap dan mengumpulkan segara perkakas mereka pergi ke sebelah utara untuk menjaga perbatasan negara. Setibanya di sana, ketiga Senapati itu segera membuat pondok penjaga. Dari tempat ini mereka dapat melihat ke seluruh penjuru dengan jelas. Baik siang maupun malam mereka dapat melihat siapa yang lewat melalui jalan masuk ke negeri Panyidangan. Setiap orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai terlebih dahulu, karena tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Tempat penjagaan Ki Gedeng Cigobang itu, sekarang terkenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata penjagaan).Pada suatu waktu, ketika Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang asyik berbincang-bincang, tidak diketahui dari mana datangnya, tahu-tahu kelihatan seorang pemuda sedang menyeberangi suangai, akan masuk ke Negeri Panyidagan. Alangkah terkejutnya mereka melihat kejadian itu. Mereka sudah meramalkan akan terjadi apa-apa kalau pemuda itu tidak segera ditangkap.Ketiga Senapati itu memanggil orang yang sedang menyeberangi sungai,"Hai orang yang sedang menyeberangi sungai, siapa namamu dan mengapa kamu berani menyeberangi sungai tanpa ijin kami?"Orang yang sedang menyeberang itu tidak menghiraukan teriakan ketiga senapati itu, ia terus menyeberangi sampai ke tepi sungai itu dan pergi menjauhi ketiga Senapai itu. Ketiga Senapati itu sangat marah melihat kelakuan pemuda tersebut, kemudian mereka lari mengejar orang itu dengan maksud akan mengeroyok, karena orang itu sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka.Orang yang menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon, dengan maksud akan minta minta pertolongan Ratu Ayu Panyidangan. Ia akan minta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidangan untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon, karena waktu itu di daerah Cirebon sedang terjangkit wabah penyakit yang harus diobati oleh Godongan buah maja yang banyak terdapat di daerah Panyidagan. Utusan itu bernama Pangeran Muhamad. Selain mendapat tugas mencari buah maja, dia juga mendapat tugas meng-Islamkan orang-orang yang masih menyembah berhala.Kita kembali menceritakan Pangeran Muhammad yang sedang dikejar oleh ketiga Senapati itu. Ia lari tunggang-langgang menuju ke arah barat. Ketiga Senapati itu berusaha menangkapnya dan akan menyerahkan kepada Ratunya. Tetapi Senapati itu kalah cepat, buronannya makin jauh. Akhirnya mereka menggunakan siasat baru dengan jalan mengepung Pangeran Muhamad dari beberapa penjuru. Seorang mengepung dari sebelah utara, yang seorang lagi dari sebelah barat, dan seorang lagi dari sebelah selatan. Akhirnya Pangeran Muhamad terkepung juga. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, akhirnya Pangeran Muhamad bersembunyi dalam suatu rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia terpekur minta perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan mengucapkan syahadat tiga kali dan merentakkan kakinya. Tanah yang diinjak itu pun terbelah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad masuk ke dalam lubang itu. Setelah Pangeran Muhamad. Setelah Pangeran Muhamad berada di dalam itu, tanah yang retak itu tertutup kembali seperti sedia kala.Ketiga Senapati itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolak-balik kian-kemari mencarinya, setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang tak ada satu rumput pun yang disisakannya, tetapi orang itu belum dijumpai, menghilang tanpa bekas. Ketiga Senapati sudah putus asa, semua daya upaya sudah dilaksanakan, tetapi masih juga belum berhasil. Akhirnya mereka duduk bertekuk lutut memikirkan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada Sang Ratu. Setelah berunding, mereka pergi bersama-sama menuju ke dalam Panyidangan.Setelah itu, Pangeran Muhamad yang ada di dalam tanah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. mohon diberi kekuatan agar dapat keluar dari dalam tanah. Ia mencoba keluar dari dalam tanah dengan jalan mengorek dan melubanginya, lama-kelamaan ia dapat keluar melalui lubang di dalam tanah itu dan muncul kembali di suatu tempat, yang sekarang terkenal dengan nama Kampung Munjul (muncul).Penglihatan Pangeran Muhamad masih tetap gelap, segelap di dalam tanah walaupun ia sudah berada di atas tanah. Pangeran Muhamad melanjutkan perjalanan menuju ketempat datangnya cahaya, makin lama makin mendekati cahaya yang menyinari jalan itu dan akhirnya cahaya itu menghilang. Setelah diselidiki, ternyata cahaya yang memancar itu keluar dari "supa lumat" yang ada pada pohon-pohon jati yang berjejer di sepanjang jalan itu. Kemudian Pangeran Muhamad memberi nama tempat ini jadi pamor yaitu kebun jati yang berpamor atau bercahaya.Sementara itu, ketiga Senapati yang sedang mencari Pangeran Muhamad. Mereka sudah ada di kadaleman dan akan melaporkan kejadian yang baru saja mereka alami kepada Ratu Ayu Panyidagan. Mereka duduk pada bangku sambil membicarakan buronan yang hilang.Ketika sedang asyik bercakap-cakap, Ratu Ayu Panyidagan datang ke pendopo menuju ke arah ketiga Senapati yang menundukkan kepala karena malu dan bingung mencari kata-kata yang tepat untuk melaporkan.Kemudian Ratu Ayu Panyidagan bersabda," Hai para Senapati! Mengapa kalian tidak melaksanakan tugas menjaga negara, kalau-kalau ada orang yang masuk ke kerajaan tanpa ijin.""Ya Tuanku, hamba datang dari perbatasan negara akan melaporkan bahwa kemarin ketika hamba bertiga sedang menjaga perbatasan, tiba-tiba ada orang yang sedang menyeberangi sungai di dekat perbatasan. Hamba bertiga menegurnya, tetapi orang itu tidak mau menjawab, bahkan ia lari tunggang-langgang. Hamba bertiga mengepungnya, kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. Semua rumpun telah hamba tebas sampai tak ada satupun rumpun pun yang tertinggal.""Aku tak percaya terhadap berita itu. Sekarang kalian harus mencari orang itu sampai dapat, dan bawa kemari. Sebelum tertangkap, kalian tidak boleh kembali. Pergilah sekarang juga dan tangkap hidup-hidup."Ketiga orang itu pergi meninggalkan pendopo untuk mencari buronan yang belum tertangkap itu. Mereka pergi lagi ketempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengobrak-abrik tempat itu, tetapi mereka masih belum juga menjumpainya. Sebenarnya Pangeran Muhamad sudah tidak ada di tempat itu, ia sudah sampai ke daerah Panyidagan.Sementara, ketiga senapati tersebut terus mencari, hutan dijelajahi, gua-gua dimasuki, akhirnya sampailah ia ketempat Pangeran Muhamad sedang sedang beristirahat: yaitu di kebun jati yang penuh dengan jamur yang menempel pada kayu jati dan mengeluarkan sinar di waktu malam. Mereka gembira karena dari jauh terlihat seseorang sedang berjalan menuju kearah Panyidagan. Ketiga senapati itu sudah siap siaga akan menangkapnya. Mereka berjalan sambil membungkukkan badannya supaya buronan itu tidak melarikan diri atau menghilang lagi. Setelah dekat, mereka serentak menangkapnya dan dibawa kebawa ke kaputren.Baru saja sampai di halaman kaputren, Ratu Ayu Panyidagan sudah keluar dan bersabda," Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu. Perlakukan orang itu seperti menerima tamu."Ketiga Senapati itu tidak bisa membantah, mereka melepaskan Pangeran Muhammad dan disuruhnya ia beristirahat dan mandi dulu sebelum menghadap ratu. Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. Setelah itu Pangeran Muhammad disuruh menghadap ke kaputren. Ketika Pangeran Muhammad sedang berjalan menuju kaputren, Ratu Ayu Panyidagan memperhatikan dari jendela. Beliau terpesona melihat pemuda yang gagah dan cakap itu sehingga timbul rasa ingin dipersunting oleh pemuda itu.Setelah Pangeran Muhammad berada di hadapannya, kemudian Ratu Ayu Panyidagan bertanya, "Hai pemuda, kamu berasal dari daerah mana? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini, dan apa maksudmu datang kemari?""Hamba ini berasal dari Cirebon. Hamba datang kesini diutus oleh Sunuhun Jati, mencari buah maja yang ada di daerah kerajaan Panyidagan untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit demam. Oleh sebab itu, mudah-mudahan Tuan hamba bersedia menolong rakyat kerajaan yang sedang menderita sakit demam itu, dan mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah tuan hamba.""Hanya itu permintaanmu?""Ya Tuanku, hanya itulah permohonan hamba ini!""Baiklah akan kami penuhi permintaanmu ini, bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu, asal kamu memenuhi syarat ini.""Ya Tuanku, apa yang menjadi syaratnya?""Syaratnya sangat mudah, coba dengarkan! Saya adalah seorang Ratu yang termasyur dan dihormati oleh semua rakyat Panyidagan, para Menteri, Patih, serta para penggawa kami semuanya sangat setia. Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diri saya. Saya ingin mempunyai keturunan untuk melanjutkan kerajaan Panyidagan ini. Pilihan yang paling sesuai untuk menjadi suamiku, hanyalah engkau seorang diri. Nah, itulah sebabnya syaratnya! Bagaimana, apakah dapat kamu laksanakan?""Ampun Tuan hamba, syarat ini terlalu berat. Bukan tidak mengagumi kecantikan Tuan Putri dan menurut perasaan hamba tidak ada yang tidak tertarik oleh kecantikan Tuanku. Bukan hamba menolak anugerah Tuan Putri ini, hanya ada rintangan yang sangat berat yaitu hamba ini sudah mempunyai istri. Dan lagi menurut agama hamba tidak baik mencintai orang yang sudah punya istri."Sesudah Ratu Ayu Panyidagan mendengar jawaban Pangeran Muhammad, beliau sangat murka ditolak oleh pemuda itu. Beliau berteriak memanggil Patih. "Patih, tangkap orang ini, masukkan ke dalam penjara, jangan sampai dapat kembali ke Cirebon. Obat yang berupa buah maja tidak dapat dimilikinya dan dibawanya ke Cirebon, bahkan kebunnya pun kuhancurkan sampai akar-akarnya.Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren. Tidak berapa lama langit mendung, makin lama makin gelap, dan turunlah hujan yang sangat derasnya, sehingga orang-orang masuk ke rumah masing-masing karena merasa sangat takut oleh hujan yang sangat deras itu. Keesokan harinya langit cerah dan matahari bersinar menyinari alam semesta. Rakyat Panyidagan akan pergi mencari nafkah untuk keperluan sehari-hari. Semua orang terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang berubah, kaputren menghilang beserta Ratu Panyidagan. Kebun Maja yang lebat itu hilang tanpa bekas. Semua rakyat ribut sambil berteriak, "Gusti Ratu menghilang, maja................... langka, maja .................. langka, majalangka ......!" sejak itu timbul sebutan majalangka, yang sekarang terkenal dengan nama Majalengka.Kemudian Pangeran Muhammad yang diutus Sinuhun Jati mencari buah maja lagi, akan tetapi tidak berhasil karena buah maja sudah tidak ada, kemudian ia bertapa di gunung Haur sampai meninggal. Jenazahnya dikebumikan di sana. Sejak itu Gunung Haur terkenal dengan nama Margatapa. Demikianlah asal muasal daerah Majalengka di Propinsi Jawa Barat.
HOROR SHIFT TIGA
Diego duduk di lobby sambil membaca majalah yang disediakan, hari ini adalah hari pertama Diego diterima bekerja di PT. Asterio, dan saat ini dia menunggu manager HRD untuk memanggilnya ke ruangan."Bapak Diego febrianto, silahkan masuk ke ruangan HRD Manager, di ruangan paling ujung sebelah kanan" ucap wanita berkulit putih yang rambutnya disanggul kecil dengan tubuh semampai dan menggunakan kemeja merah marun dan rok span hitam, dia sepertinya sekretaris di kantor tersebut."tok... tok..." Diego mengetuk pintu ruangan tersebut"baik silahkan masuk" jawab Bapak - bapak stengah baya berusia empat puluh tahunan yang duduk di meja ruangan tersebut, di atas meja tertulis Bapak Wibowo HRD Manager."Anda yang bernama Diego""betul pak""selamat, anda sudah bergabung pada perusahaan kami, dan anda mulai bekerja pada hari ini, silahkan membaca dan menandatangani kontrak dari perusahaan kami" ucap Pak WibowoDiego pun membaca isi dari perjanjian kontrak tersebut, dimana dia akan mengalami masa percobaan selama tiga bulan terlebih dahulu, dan jika sudah selesai kontrak tersebut maka akan di evaluasi apakah akan diperpanjang kontrak kembali.Hampir semua call center dibeberapa perusahaan memang hanya memberlakukan sistem kontrak atau outsourcing, tetapi memang pekerjaan ini bisa memberikan kemudahan untuk orang lulusan baru seperti Diego memulai karirnya.setelah Diego menandatangani kontrak tersebut, Pak Wibowo pun segera menyuruh sekretarisnya tadi untuk masuk dan membawa Diego ke ruangannya dan ke user yang akan bekerjasama dengannya."Selamat pagi pak Hermawan, saya ingin mengenalkan orang yang akan bergabung di tim call centre" ucap wanita tersebut"Diego pak""Baik Diego, selamat datang" ucap pak Hermawan "terimakasih siska" mempersilahkan sekretaris tersebut untuk meninggalkan Diego disana."Untuk hari ini sampai satu minggu ke depan kamu akan kami beri pelatihan mengenai produk dan pelayanan yang ada pada perusahaan, tetapi setelah satu minggu tersebut kami akan menempatkanmu di shift tiga untuk departemen ini""shift tiga?" tanya Diego"iya untuk bagian call centre kami membutuhkan orang di shift tiga yang bekerja dari jam sebelas malam sampai jam tujuh pagi, kami membutuhkan laki - laki seperti kamu, sedangkan shift satu dan shift dua kami prioritaskan untuk yang perempuan dan yang rumahnya jauh dari kantor" ucap pak Hermawan"oh.. baik pak" jawab Diego sedikit ragu, karena itu berati jam kerja dia akan terbalik, saat orang - orang istirahat maka dia akan bekerja, dan kebalikannya saat orang - orang bekerja dia akan beristirahat.Seminggu masa training pun selesai, hari ini hari pertama Diego masuk shift tiga, jam sembilan malam dia baru berangkat dari rumah, dan sampai kekantor sekitar jam setengah sepuluh, Saat Diego masuk ke ruangan call centre dia sempat bertemu dengan Prita call center yang bekerja di shift dua"Hai, kamu Diego ya?" sapa prita ramah "aku prita""iya mbak, saya Diego""jangan panggil mbak, prita saja, oh iya kenalin ini sulastri anak shift dua juga, kita pulang duluan ya Diego, hati - hati ya..." lalu mereka berdua pun berlalu dari hadapan DiegoDiego pun mengambil tempat duduk di ujung ruangan, satu set telepon dihadapannya, microphone telinga sudah siap dia pakai, dan dia pun mulai log in semua sistem dengan namanya, semua data telepon masuk akan segera terekam dalam mesin tersebut.Setelah menunggu setengah jam belum ada satu pun telepon masuk, tiba - tiba ada bayangan yang mendekatinya,,"Hai.... anak baru ya? kenalin gw pieter, temen lo di shift tiga" jawab cowok bertubuh sedikit pendek dengan postur gemuk dan putih"Diego mas, senang kenal dengan anda" jawab Diego menghormati seniornya"santai aja Diego, kalau shift tiga seperti kita, telepon malah jarang masuk" sambil mengambil posisi duduk di sebelah Diego dan menyalakan komputer serta semua systemnya."Baik mas""mau kopi gak? gw mau ke pantry biar gak ngantuk" ucap Pieter"Gak usah repot - repot mas""gak apa apa kok, terus jangan panggil gw mas panggil pieter aja" sambil berjalan meninggalkan Diego di ruanganSuasana hening kembali, tiba - tiba ada ada suara telepon berbunyi dan lampu di telepon berkedap kedip menandakan ada telepon masuk"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""..........................." suasana hening tidak ada yang menjawab"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu" diulangi kembali greeting Diego memastikan ada suara diseberang teleponnya.Dan tiba - tiba telepon ditutup, dan saat Diego membalikkan badannya ke belakang dia kaget sekali....Tiba - tiba Pieter sudah berada dibelakangya membawa dua cangkir kopi"nih buat kamu" ucap Pieter"Te.. terimakasih" jawab Diego "hmmm tadi ada telepon masuk pieter, tapi saat aku jawab tidak ada suaranya""Biasa itu, paling telepon iseng" jawab Pieter"kamu juga sering mengalaminya Pieter?"Pieter menengok ke arah Diego sambil meminum kopi yang berada di tangannya, tanpa menjawab pertanyaan Diego.-------{}----------Sudah beberapa jam Diego hanya ngobrol - ngobrol dengan Pieter tanpa ada suara telepon masuk, sekitar pukul dua pagi, tiba - tiba ada lampu yang menyala di telepon,"Angkatlah Diego, aku masih mau santai dulu" ucap Pieter"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""Halo.... halooo.... tolong saya" suara perempuan di seberang telepon dengan nada lirih"iya bu, ada yang bisa saya bantu?""Saya.... saya dibunuh..... ""maaf ibu tolong jangan bercanda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Diego sekali lagi"saya dibunuh Didit.... dia pacar saya"Diego pun menutup teleponnya, merasa dia dipermainkan"kenapa Diego?" tanya Pieter sambil menelisik ke mata Diego yang mulai ketakutan"Tadi ada telepon iseng lagi, dia telepon untuk bilang dia dibunuh" jawab Diego getir"Lalu kamu tutup teleponnya?" tanya Pieter"iya...""kamu disini tidak boleh melakukan itu, data kita semua direkam saat telepon masuk, kamu tidak bisa menutup telepon sampai si penelepon puas dengan pelayanan kita, ingat kita itu Call Centre" ucap Pieter menasehati semua definisi dan tujuan dari call centreDan telepon berbunyi lagi"Angkatlah Diego kamu harus sering - sering latihan supaya cepat mahir" jawab Pieter enteng"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""Aku dibunuh Didit.... Tolong" suara perempuan yang sama yang menelepon tadi"apa yang bisa saya bantu ibu?""tolong beritahu mamah saya,dia pasti khawatir, anda bisa menolong saya tolong catat alamat rumah saya" ucap perempuan tersebutada keraguan dari diri Diego untuk menuruti perempuan itu, tetapi dia ingat kata - kata Pieter tadi, kebutuhan konsumen paling penting"alamat ibu dimana?""jalan cendrawasih blok A1 jakarta" lalu dia menjawab lagi "tolong lihat saya di siliwangi, saya akan menunggu"dan setelah itu tiba - tiba telepon terputus"Kenapa? masih telepon misterius lagi?" tanya Pieter"iya, perempuan yang tadi dia bilang dia dibunuh Didit pacarnya dan ingin aku menyampaikannya ke mamahnya" sambil melihat alamat yang dia tulis di buku"sudahlah tidak ada salahnya kan hanya sekedar mencatat" seperti biasa Pieter menjawab dengan entengnyaLalu sejam kemudian ada telepon lagi yang masuk"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""Tolong..... saya Bram, kamu harus bantu saya" suara bass dari laki - laki di seberang telepon sangat terdengar marah"Baik pak, apa yang bisa saya bantu?""Saya dibunuh oleh Tio rekan bisnis saya dikantor""maksudnya?" Diego betul - betul merasa aneh kali ini, sepertinya itu bukan suatu kebetulan kalau ada dua orang yang menelepon dan bercerita mereka dibunuh"kamu harus bantu saya melaporkan ini kepada pihak kantor"" anda ingin saya menyampaikan kepada pihak kantor anda? tapi maaf saya tidak bisa membantu" jawab Diego agak sedikit kesal, karena merasa dia dipermainkan"Gedung Triad jl. keladi no 26 jakarta nama perusahaan saya PT Andalas, kamu harus membantu saya, saya menunggu di Jalan Panglima digudang kosong tempat saya dibunuh oleh Tio"dan telepon terputus lagi"Pieter sepertinya ini pelonco dari kantor ini ya? hahahaha ini lucu"Pieter hanya diam dan melihat Diego tanpa menjawab apapun"Pieter, aku rasa leluconnya jangan diteruskan lagi""aku tidak mengerjaimu Diego, aku kan selalu berada didekatmu dari tadi, dan tidak ada seorangpun diruangan ini selain kita berdua" Jawab Pieter mulai menegaskandan telepon pun mulai nyala kembali"Pieter kamu yang jawab ya?" aku mau belajar dari kamu"baiklah" jawab Pieter"Halo PT Asterio, dengan Pieter ada yang bisa saya bantu"dan Pieterpun menutup teleponnya "tidak ada yang menjawab" mungkin mereka hanya ingin diangkat oleh kamu" jawab Pieter sambil senyum menyeringaidan betul saja telepon pun berbunyi lagi, kali Diego mengangkat kembali"Halo PT Asterio dengan Diego bisa dibantu""hiks....hiks...." suara anak kecil menangis diseberang telepon"Ada yang bisa saya bantu?""Aku dibunuh oleh mamah tiriku, tolong beritahu papah, dia wanita yang kejam""maaf ini dengan siapa?""Aku agnes,, usiaku enam tahun""Apa yang bisa saya bantu?""tolong sampaikan kepada papah, di jalan anggrek lima No 11 bogor, bahwa aku dikubur di taman belakang dirumah"mendengar suara anak kecil yang polos tadi Diego pun mencatat alamat tersebut, dan telepon pun terputus."ini benar - benar aneh....." sambil mengelap keringat dikeningnya"Lagi?" tanya pieter "anggap saja ini hari perdana mu" sambil tersenyum menyindir DiegoAkhirnya tidak ada telepon yang masuk lagi, dan waktu pun mulai menunjukkan jam lima subuh"Diego, aku ada keperluan aku pergi dulu ya?""kamu gak absen Piet?""Tidak apa - apa" jawab Pieter enteng seperti biasanya---------{}-----------Jam pun akhirnya menunjukkan jam 7 pagi, dan Diego siap - siap untuk absen pulang dan keluar dari ruangan.Saat berdiri di depan mesin absen, Diego di tepuk pundaknya oleh seseorang"Eh Pak Hermawan""Bagaimana Diego, hari pertama mu di shift tiga?"Diego agak terdiam, dia berfikir haruskah dia menceritakan kejadian aneh tentang telepon - telepon tadi malam."hmmm... baik kok pak, terutama ada mas pieter yang membantu saya mengajari banyak hal di shift tiga kemarin" jawab Diego"Pieter?" ucap Pak Hermawan kaget "tolong kamu masuk ke ruangan saya sebentar Diego, sambil melangkahkan kaki ke ruangan, Diego pun mengikutinya dari belakang"silahkan duduk, coba kamu ceritakan apa yang terjadi semalam?" bujuk pak Hermawan kepada Diego"iya pak, awalnya saya takut, saya fikir saya akan bekerja sendirian, tetapi untung ada mas Pieter yang masuk di shift tiga juga, dan kemarin saya banyak mengalami telepon - telepon aneh yang masuk, banyak dari mereka bercerita tentang pembunuhan"Tiba - tiba pak Hermawan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Oh Pieter.... maafkan aku" ucap pak Hermawan membuat Diego tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan."Diego aku akan menceritakan kepadamu sesuatu, tapi kamu harus janji kamu tidak boleh menceritakan kepada yang lain" ucap pak Hermawan"Baik pak""Jadi pada waktu lima tahun yang lalu, saya baru masuk di call centre ini, sama seperti kamu saya juga ditempatkan di shift tiga, tetapi saya tidak sendiri, ada satu orang lagi bernama Pieter, dan pada saat itu rekan - rekan senior sangatlah jahil, karena mereka melihat kami sangat muda dan tidak berpengalaman, suatu malam mereka bermaksud menjahili kami saat sedang bekerja di shift tiga. suasana sedang sepi aku berjaga diruangan ini, dan Pieter sedang ke pantry untuk membuat kopi supaya kita tidak mengantuk" lalu pak Hermawan terdiam sebentar"lalu tiba - tiba lampu mulai hidup dan mati tiba - tiba, dan aku melihat ada banyak bayangan yang berdiri di ruangan kaca tempat kita berisitirahat, tapi tiba - tiba ada telepon masuk aku harus mengangkatnya, dan akhirnya peristiwa itu terjadi" pak Hermawan menahan nafas dan mulai bercerita lagi"senior - senior itu masuk ke ruangan pantry dan mereka menakut - nakuti Pieter,sampai pieter lari ketakutan dan dia terjatuh membentur meja di sisi pantry sampai akhirnya dia meregangkan nyawanya" aku benar - benar menyesal, kenapa pada saat itu aku tidak menemaninya ke pantry, dan senior - senior itu ketakutan dan mereka takut untuk di penjara, sehingga mereka mengubur mayat Pieter di belakang tanah lapang yang sekarang berdiri gudang, dan dia mengancam aku jika sampai rahasia ini terbongkar maka dia akan membunuhku juga.""Setelah kejadian itu semua senior yang terlibat mulai mengundurkan diri satu persatu, dan entah mengapa tidak pernah ada yang mau untuk mengisi shift tiga selain saya..... dan....." tiba - tiba pak Hermawan berhenti bercerita"sudah dua tahun tidak pernah ada shift tiga, baru saat kamu masuk itu diberlakukan kembali"Tiba - tiba Diego merasa ada yang menusuk di dalam dadanya, dia tidak prcaya bahwa kemarin dia ditemani oleh hantu Pieter selama bekerja, dan semua kejadian aneh mungkin berhubungan dengan hal tersebut, dengan dimensi yang berbeda."saya mengerti kalau kamu tidak mau bekerja lagi, setelah mengalami kejadian ini, saya tidak akan memaksa kamu" ucap pak Hermawan"jujur saya kaget sekali pak, tapi pieter itu benar - benar sosok yang baik" dan Diego pun menengok ke arah mejanya dimana masih ada dua cangkir yang berada di sana."dia membuatkan saya kopi pak" matanya menerawang jauhAkhirnya Diego keluar dari kantor dengan perasaan campur aduk, saat masuk ke parkiran motor, dia ingat dia membawa kertas catatan di tangannya, dan ini adalah data semua penelepon yang masuk malam itu, akhirnya Diego pun memutuskan untuk mndatanginya satu persatu"Tok... tok..." pintu rumah kayu beraroma pinus diketok oleh Diegodan dilihatnya seorang perempuan tengah baya berusia lima puluh tahun berada di depannya, kulitnya terlihat pucat seperti orang yang kurang tidur"Anda mempunyai anak perempuan yang tidak pulang ke rumah?" tanya Diego"anda siapa? polisi? kalian sudah menemukan Nanda?" teriak ibu itu histeris"maaf bu, sepertinya roh anak ibu berusaha berkomunikasi dengan saya, dia menceritakan bahwa dia telah dibunuh bu"tiba - tiba badan ibu itu terhuyung, Diego pun membantunya untuk duduk di kursi didalam rumah, dan setelah ibu itu sadar, Diego menceritakan kembali kejadian yang dia alami"Aku sudah menduganya... pacarnya itu memang brengsek" jawab ibu itu sambil menangis histeris"tenang bu, sebaiknya kita lapor ke polisi lebih dahulu" jawab Diego menenangkanLalu Diego mengantar ibu Nanda ke kantor polisi, dan menerangkan kronologis kejadian yang dia alamisemula polisi tidak langsung mempecayainya dan ibu Nanda bersikeras untuk polisi mengecek dulu ke alamat yang diinformasikan oleh Diego.dan akhinya misteri terkuak, mayat Nanda ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan, dia ditelanjangi dan disiksa sekujur tubuhnya, dan polisipun banyak menemukan bukti sidik jari didit disana, siang itu juga Didit ditangkap di depan kampusnya"lalu polisi mengecek lagi ke alamat anak kecil Agnes, dan menginformasikan akan menggeladah area rumah tersebut, papah Agnes sampai pingsan saat menemukan mayat anaknya yang hilang di taman belakang rumahnya, lalu polisi dengan sigap menangkap ibu tirinya di belakang rumah.Dan terakhir kasus Bram, polisi pun, mengorek keterangan dari Tio selama 24 Jam, dan akhirnya Tio pun mengakui perbuatannyaDiego agak sedikit mendesah lega, sepertinya semua tugas yang di minta oleh hantu - hantu gentayangan itu telah terselesaikan, lalu Diego mengingat sosok Pieter sepertinya dia kesepian dan Diego memutuskan untuk terus menjalani shift tiga bersama Pieter.
Keajaiban Tiga Buku
Perkenalkan namaku Aeri. Aku mempunyai hobi yaitu membaca dan mengoleksi buku.Suatu hari aku ingin sekali untuk membeli buku, karena koleksi buku-buku dirumahku sudah dibaca semua. Biasanya aku membeli buku di toko buku terkenal di kotaku yang tidak jauh dari rumah. Jadi aku pergi kesana dengan berjalan kaki agar sehat hehehe.Saat dijalan, aku melihat ada kakek-kakek yang meringis kesakitan dan memegangi perutnya dan aku mendekati kakek itu dan bertanya, "Kakek kenapa ya?""Kakek lapar nak. Kakek sudah tidak makan dari kemarin dan kakek tidak punya uang untuk membeli makanan." Kata kakek itu.Aku merasa kasihan dengan kakek itu, lalu aku memberinya uang. Uang yang aku beri adalah uang yang aku pakai untuk membeli buku. Ya, aku hanya membawa uang pas-pasan saja untuk membeli buku."Hmm... ini uang untuk kakek." Kataku sambil memberinya uang."Terima kasih banyak ya nak. Kamu sangat baik, sebagai ucapan terima kasih terimalah ketiga buku ini!" katanya sambil memberiku 3 buah buku.Aku menerima buku itu tanpa rasa curiga, karena kakek itu memberikanku buku ini. Mungkin untuk membalas budi. Lalu aku mengucapkan terima kasih kepadanya dan aku memutuskan untuk kembali ke rumah, karena uangku tidak cukup untuk membeli buku.Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamarku. Entah kenapa aku ingin sekali untuk membuka buku-buku itu dan aku memutuskan untuk membukanya. Saat dibuka, buku pertama yang aku temukan adalah buku berwarna kuning, lalu merah dan yang terakhir biru."Hmm..... coba aku buka buku yang kuning deh."Aku membuka buku yang kuning dan pada halaman pertamanya tertulis,'Buku ini bukan buku biasa. Jika kalian menuliskan suatu kalimat, maka itu akan menjadi kenyataan dalam waktu 10 menit setelah kalian menulisnya dan itu bisa tidak terjadi jika kalian merobeknya'."Wow buku apa ini? Hmm...aku harus hati-hati dalam menggunakannya." Kataku dan menutup buku itu dan aku membuka buku yang berwarna merah. Saat dibuka ternyata buku itu berisi gambar-gambar suatu tempat yang indah dan ada yang menyeramkan."Buku apa lagi ini? Aku harus berhati-hati dan menjaganya dengan baik." Kataku lagi.Setelah itu aku membuka buku yang berwarna biru dan saat dibuka, ternyata buku itu berisi gambar-gambar aneh, seperti alat-alat yang biasanya dikeluarkan oleh Doraemon."Wow apa lagi ini? Kenapa alat-alat ini mirip seperti alat-alatnya Doraemon ya?" kataku dan pada setiap gambar terdapat gambar kotak berwarna merah pada pojok kanan bawah.Karena aku penasaran, jadi aku tekan saja kotak itu dan pada saat itu aku membuka halaman yang berisi gambar alat berbentuk seperti monyet yang membuka mulutnya. Dan saat aku menekannya, BOOM...
AKU, KAU, DAN HUJAN
Orang bilang, hujan itu membawa lagu yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sedang rindu. Ada juga yang beranggapan kalau hujan adalah waktu yang pas untuk mengenang masa lalu.Hingga sekarang, aku tidak tahu siapa yang pertama kali menyimpulkan hal tersebut. Sebagian besar memang benar sih. Mungkin karena situasi mendukung—udara yang sedikit lembab, harum petrichor yang menyeruak, ditambah tetesan air hujan yang jatuh bagai keping kenangan yang berhamburan dan menghipnotis pikiran.Apa pun alasannya, aku tetap suka hujan. Aku suka aromanya, mataku tak bisa lepas menatap butiran air yang menyentak dedaunan, menimbulkan suara gemericik yang indah saat beradu dengan tanah dan atap rumah.Hujan mengajarkanku banyak hal— Tentang kenangan. Harapan. Dan tentang? Seseorang.—Ketika itu, aku sedang duduk di dekat jendela kelas, memperhatikan teman-teman yang asik main hujan. Saat itulah kau datang menghampiri.“Hei, Gunung Es.” Sapamu santai.Aku yang tak ingin diganggu langsung menatapmu jengkel.“Just leave me alone!” Usirku dalam hati.Tapi kau malah terkikik geli. Tanganmu sigap menarik kursi lalu duduk di hadapanku.“Enggak terasa masa SMA kita akan berakhir.” Raut wajahmu mendadak berubah sendu, manik cokelat muda yang biasa bersinar itu meredup seakan kehilangan energi.“Ya,” jawabku singkat, melempar pandangan ke arahmu.Nih orang kenapa sih?Kau membalas lewat senyum yang dipaksakan, “itu artinya kamu akan bebas karena aku nggak akan mengusik lagi.”Kedua sudut bibirku tertarik ke samping, “baguslah kalau gitu.”Hari-hari akan kulalui dengan nyaman. Tidak ada panggilan “Gunung Es” lagi, Tidak ada ocehan menyebalkan, Tidak ada yang akan menggeser posisiku di peringkat kelas.Tidak ada lagi? Dirimu.Harusnya aku lega, tapi entah mengapa justru setitik kesedihan merambat di hati. Semakin banyak seiring lebatnya hujan di luar sana.Kau tertawa hambar lalu diam beberapa detik untuk mempertemukan pandangan dengananku.Mulutmu mulai berceloteh lagi, “tau nggak kenapa aku selalu gangguin kamu?”Aneh, nada bicaramu terdengar sangat serius dan tatapanmu seperti tak sabar menunggu jawaban.“Karena aku aneh.” Jawabku asal.Kepalamu menggeleng mantap, jari telunjuk dan tengah menaikkan frame kacamata yang menghiasi wajah tampanmu.“Karena aku ingin melihat ekspresimu. Tiap hari, kamu selalu memasang wajah datar. Jujur saja, aku lebih suka kamu marah atau tersenyum dan tertawa lepas karena ulahku. Itu membuatmu terlihat jauh lebih ‘hidup’... Asik bukan menjalani hidup tanpa topeng? Jadilah diri sendiri, karena ada seseorang yang selalu menganggapmu berharga,” ucapmu panjang lebar dengan gaya khasmu.Aku tak tahu harus senang atau marah. Tapi ada sesuatu di dadaku yang hangat, mengalir perlahan ke pipi yang mendadak memanas.“Mungkin ini terdengar konyol, tapi… boleh aku minta satu hal?” tanyamu kikuk.“Apa itu?” Tanyaku sambil menahan perasaan yang tak bisa dijelaskan.“Jangan lupakan aku. Dan… bisakah kamu menunggu sampai waktunya tiba?” Katamu tanpa ragu.Aku tersedak napas sendiri. Oke, ini membingungkan. Sangat.Tapi… kenapa aku mengangguk?Shit. Apa yang kulakukan?!Aku menunduk dalam, berusaha menenangkan jantungku yang memburu cepat.Aira, sadar! Dia itu musuhmu!Ya, musuh yang tak pernah bisa kubenci.Kau tersenyum samar lalu manikmu melirik keluar, “udah reda. Ayo pulang!” Katamu sambil mengambil tas dan berjalan pergi.“Bagas! T-terima kasih banyak,” akhirnya aku bersuara setelah mengumpulkan keberanian—mengabaikan debar luar biasa di dadaku.Langkahmu terhenti tepat di pintu. Bayang tubuh jangkung itu begitu kontras saat diterpa cahaya senja.Kau tak berbalik, tapi aku tahu kau sedang tersenyum lebar sekarang.Tangan kananmu terangkat, membentuk isyarat “OK”. Kemudian langkahmu menjauh perlahan.Aku hanya terkekeh sambil meraba pipi yang panas.(Berakhir dengan ilustrasi gadis menatap hujan)
MISTERI KADO SEBUAH BONEKA
Kado ulang tahun menumpuk rapi di atas meja. Di sampingnya sudah siap kue tart dilingkari dua puluh satu lilin. Hari ini ulang tahunku. Dari jumlah lilin yang disematkan pada kue tart, pasti sudah dapat mengira umurku kini dua puluh satu tahun. Bukan umur yang muda lagi, namun juga bukanlah umur yang sudah tua. Karena aku masih bisa berkarya dan melakukan sesuatu untuk keluarga, nusa, dan bangsa.Pukul tujuh malam pesta ulang tahunku dimulai. Kawan-kawan dengan membawa kado masing-masing sudah datang sejak tadi. Di sinilah kami berada, di ruang tamu yang berukuran tujuh kali enam meter ini. Ruang yang cukup luas untuk menampung kurang lebih dua puluh orang yang meramaikan pesta ulang tahunku.Suasananya cukup meriah, dentuman lagu pop membahana ke seluruh sudut ruangan. Ayah, ibu, dan kedua adik perempuanku ikut meramaikan pesta ini. Lampu-lampu hias berwarna-warni menambah gemerlapnya malam. Pesta ulang tahun yang meriah. Kami bersenda gurau. Dan… tibalah saat aku harus meniup lingkaran lilin di atas kue tart.“Selamat ulang tahun kami ucapkan…” Iringan lagu membuat hasratku terus membuncah ingin segera meniup lingkaran lilin kecil itu.“… Selamat panjang umur dan bahagia! Tiup lilinnya… tiup lilinnya, tiup lilinnya… sekarang juga…”Aku berdo’a di dalam hati sebelum ku tiup lilin. Dan inilah saatnya!“Sekarang juga… sekarang… juga… !”Pet…Seketika lampu mati serentak setelah lilin ku tiup. Sontak semua berteriak, tak terkecuali aku. Bagaimana tidak kaget, jika tiba-tiba saja ruangan sebelumnya begitu terang dengan gemerlapnya lampu pesta seketika padam, begitu pula dengan lilin yang ku tiup.“Ayah cek sekring di luar dulu…” ujar ayahku sedikit cemas.“Wah gelap banget nih…” ujar Ayana, salah satu temanku.“Iya, nih… nakutin!”Tak ingin kawan-kawanku kecewa, aku menyusul ayah yang sibuk mengecek sekring di depan. “Aku susul ayah dulu, ya! Siapa tahu butuh bantuanku.”Adik perempuanku menarik tanganku. “Jangan, Mbak. Biar aku saja. Kan, mbak sedang ulang tahun. Jadi, mbak diam saja di sini.”Aku menyetujuinya. Dan, aku kini menemani kawan-kawanku yang mulai ribut sendiri. Lima menit berlalu, ayah dan adikku belum juga kembali. Kami terpaksa menyalakan kembali lilin-lilin di kue tart ku, agar ada sedikit cahaya yang melegakan pupil mata kami.Puk! Ada yang menepuk pundak kiriku. Sontak aku menoleh. Heran, tidak ada siapa-siapa. Aku agak merinding karena suasana gelap gulita. Aku merapat pada Inna yang duduk di samping kananku. Tak lama kemudian, ayah dan ibuku datang membawa nyala api dari korek api.“Sekringnya terbakar, enggak bisa dibetulkan. Biar ayah panggil tukang listrik saja.”“Aduh, kalau panggil tukang listrik, masih lama dong?” Aku agak sedih. Mengapa ulang tahunku jadi begini?Salah satu kawanku, Hendra, mengusulkan, “Bagaimana kalau kita rayakan ulang tahunmu dengan suasana lilin saja?”“Benar kata Hendra, Mila!” Serentak lainnya menyetujui.Aku mengangguk. “Ya sudah, kalau begitu, kita potong kuenya!”Ibu berdiri. “Oke, ibu carikan lilin yang lebih banyak lagi di dapur.”Pukul 00.30 WIB. Listrik sudah menyala dan kawan-kawan pulang semua. Saatnya aku membuka kado dari mereka. Dua puluh orang dengan lima belas kado. Ada yang berpatungan. Tak apa, penting sudah hadir.Satu per satu aku membuka kado. Ada jam tangan, tas, bantal lucu, hingga boneka yang memiliki tatapan dingin dan menyeramkan!Rambutnya pirang kusut dan kumal. Bajunya kumal. Warna kainnya memudar kekuningan. Kedua tangannya dari plastik dan rapuh. Tangan dan kakinya bisa ditekuk. Wajahnya… pucat kekuningan dengan bibir merah mencolok. Senyumnya tegas dan mengerikan. Matanya bulat biru, seperti menatapku… ingin mencengkeramku.Aku bergidik. Tengah malam di kamar, aku membuka kado terakhir. Bungkusnya merah legam dengan pita hitam. Ada kartu ucapan:“Selamat ulang tahun Mila. Hari ini adalah harimu! Kau akan mendapatkan keinginanmu.”Tanpa nama.Aku cocokkan semua kartu ucapan dari undangan yang hadir, tak ada yang terlewat. Semua yang hadir sudah tercatat. Lalu, dari siapa kado tadi?Lelah memikirkan, aku meletakkan boneka itu ke kotaknya, memasukkannya ke kolong tempat tidur. Lainnya ku letakkan di meja.Aku mengantuk. Menutup mata.Kakiku bergerak-gerak. “Nanti dululah… capek nih…”Namun, guncangan semakin keras. Dingin. Seperti tangan seseorang menyentuh kakiku. Aku bangun—jempolku TIBA-TIBA DITARIK sangat kuat! Sampai persendiannya bunyi.“Aduh! Siapa sih!”Aku membuka mata. Gelap. Jam menunjukkan pukul satu kurang lima menit.Tak ada siapa-siapa. Tapi jempol kakiku masih ngilu…Aku mencoba tidur lagi. Tapi insomnia menyerang. Baru saja selimut ketarik!Ya Tuhan!Aku tak berani membuka selimut. Kupikir hanya mimpi… tapi ngilu jempolku nyata…Pagi. Aku bangun karena rasa perih di lenganku. Darah mengering. Ada goresan panjang membiru.“Astagaaa, Mila!” Ibuku menangis.Adikku memberikan cermin. Wajahku… BERUBAH. Aku menjadi… seperti boneka yang ku dapat tadi malam! Lipstik merah menyala, kulit pucat kekuningan.Aku mencari boneka itu. Kotaknya terbuka. Kosong.Aku menangis. Aku tampak muda! Sangat muda! Bahkan nyaris seperti gadis kecil berwujud boneka. Apa ini jawaban doaku semalam? Bahwa kuingin tetap muda seperti gadis kecil. Dan kini…?TAMAT