Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Moryo
Horror
23 Jan 2026

Moryo

Moryo merupakan istilah umum, seperti chimi , untuk sekelompok besar roh halus yang hidup di hutan belantara. Bedanya, kalau chimi merujuk pada roh di gunung-gunung dan rawa-rawa, Moryo merujuk pada roh air. Mereka dikatakan terlihat seperti anak kecil berumur sekitar tiga tahun dengan kulit berwarna merah atau hitam, mata merah, telinga panjang, dan rambut panjang yang indah.Moryo memakan daging dari mayat manusia. Oleh karena itu, mereka suka merampok kuburan untuk menggali mayat dari tanah. Mereka lalu memakan isi perut dari mayat yang sudah membusuk. Mereka juga suka mengganggu prosesi pemakaman dengan menggunakan kekuatan sihir untuk mengalihkan perhatian para pelayat, lalu mencuri mayat dari peti mati sementara tidak ada seorang pun yang melihat. Karena kebiasaannya ini, mereka sering menyebabkan masalah. Banyak cara yang telah dilakukan untuk mencegah gangguan mereka.Moryo takut pada pohon ek dan harimau. Oleh karena itu, China kuno biasanya menanam pohon ek di halaman pemakaman. Selain itu, mereka juga menghiasi jalan masuk dan keluar halaman pemakaman dengan patung-patung harimau. Sebagai tambahan, kepala biara menguburkan peti mati di dalam tanah. Seorang pelayan akan masuk ke dalam lubang kubur dan menusuk sekitarnya dengan tombak untuk meyakinkan tidak ada Moryo yang bersembunyi di kuburan. Hal ini tidak dilakukan di Jepang.Moryo pertama kali muncul dalam catatan China kuno dimana mereka dikatakan merupakan roh halus atau iblis. Di Jepang, mereka dikatakan sebagai kami air, bekerjasama dengan chimi dan kami di pegunungan. Banyak jenis yokai yang bisa diklasifikasikan sebagai Moryo, salah satu yang paling terkenal adalah Kappa.Di Mimibukuro, sebuah koleksi cerita rakyat dikumpulkan selama zaman Edo. Ada sebuah kisah tentang Moryo yang menyamar menjadi manusia. Kantor pemerintahan bernama Shibata memiliki petugas yang loyal. Pada suatu malam, ia memberitahu Shibata bahwa ia akan pergi meninggalkan pekerjaannya. Saat ditanya mengapa, laki-laki tersebut menjawab ia sebenarnya bukan manusia tapi Moryo yang menyamar. Ia akan kembali mencuri mayat. Ia berkata akan pergi ke sekitar desa untuk menjalankan tugasnya sebagai Moryo. Hari berikutnya, pekerja tersebut hilang. Pada saat yang sama, di desa yang ia sebutkan, awan hitam mendadak muncul pada salah satu upacara pemakaman. Saat awan kembali bersih, mayat telah hilang dari petinya.

Hashihime
Horror
23 Jan 2026

Hashihime

Hashihime merupakan dewi yang sangat cemburu, ia hidup di jembatan-jembatan. Khususnya, jembatan yang sangat panjang dan tua. Sebagai dewi, Hashihime memiliki berbagai bentuk yang berbeda, tergantung pada situasi yang ada. Namun demikian, mereka biasanya digambarkan memakai jubah putih, wajah seputih cat, memiliki sebuah tatakan besi, dan membawa lima buah lilin. Ini merupakan peralatan yang digunakan untuk mengadakan kutukan.Hashihime menjaga jembatan dimana mereka tinggal dengan buas. Apabila banyak dewa dihubung-hubungkan dengan lokasinya, ia akan menjadi sangat cemburu. Jika salah satu orang berbicara baik tentang jembatan lain sementara ia ada di atas jembatan milik Hashihime, atau jika seseorang menyanyikan sebaris Noh yang menyajikan kemarahan wanita sebagai tema utamanya, sesuatu yang menakutkan akan terjadi pada orang tersebut.Terlepas dari sikap mereka yang menakutkan, mereka dihormati oleh orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Tempat di sekitarnya tinggal juga akan dianggap keramat sebagai wujud penghormatan mereka. Selama masa perang, penduduk akan memohon pada Hashihime untjk melindungi jembatan dari serangan musuh. Setelah masa perang selesai, Hashihime merupakan dewi pemutus dan pemisah. Ia diminta untuk membantu orang-orang dalam hal putus cinta, cerai, dan nasib buruk.Kekuatannya untuk memisahkan sangat kuat sehingga pasangan dilarang melintas di depan tempat keramat milik Hashihime atau melangsungkan pernikahan di depan tempat keramat Hashihime bersama-sama. Jika pengantin baru harus menyeberangi jembatan yang ditinggali oleh Hashihime, mereka harus melintas di bawahnya dengan kapal daripada menanggung risiko mengalami kutukan dalam pernikahan mereka.Cerita Hashihime yang paling terkenal berasal dari Tsurugi no Maki dalam Dongeng Heike yang diceritakan kembali pada sandiwara Noh Kanawa.Seorang wanita mengunjungi Kifune-jinja di Kyoto pada jam dua pagi. Ia penuh kemarahan dan kecemburuan pada mantan suaminya yang membuangnya untuk bersama dengan wanita lain. Malam demi malam, ia mengunjungi tempat keramat untuk berdo'a pada dewa di sana agar mengubahnya menjadi iblis yang kuat. Wanita itu tidak menginginkan yang lain kecuali melihat mantan suaminya hancur, bahkan jika hal itu harus dibayar dengan nyawanya. Setelah malam ketujuh berziarah, do'anya dijawab. Dewa memberitahunya jika ia membenamkan dirinya sendiri ke dalam sungai Uji selama dua puluh satu malam, ia akan berubah menjadi iblis.Wanita itu melakukan apa yang diperintahkan. Ia mengenakan jubah putih dan mengikat rambutnya menjadi lima tanduk. Ia menggambari wajahnya dan mengecat tubuhnya dengan warna merah tua. Ia menaruh tatakan kaki tiga di atas kepalanya dan menaruh obor pada tiap kakinya. Ia menghidupkan ujung-ujung obornya dan menaruhnya di mulut. Ia membenamkan dirinya di sungai Uji selama dua puluh satu hari dengan rasa benci yang berkobar di dalam hatinya. Kemudian, seperti yang dewa katakan padanya, setelah dua puluh satu hari, ia berubah menjadi kijo (setan) mengerikan yang memiliki kekuatan hebat. Ia telah berubah menjadi Hashihime dari Uji.Malam itu, suaminya bangun dari mimpi buruk sebagai pertanda bahaya. Ia cepat-cepat mencari onmyouji (master yin yang) terkenal, Abe-no-Seimei. Seimei mengenali mimpi itu sebagai tanda bahwa istri si laki-laki telah datang untuk menghancurkan pasangan tersebut. Malam itu, ia berjanji untuk menyelamatkan mereka. Ia datang ke rumah mereka, mengadakan upacara pengusiran setan. Ia membuat dua katashiro , yaitu boneka kertas yang merepresentasikan si lelaki dan istrinya, dimaksudkan sebagai target pengganti untuk sang kijo yang dendam.Malam itu, seperti yang Seimei prediksi, iblis tersebut muncul. Ia menyerang dua katashiro , bukan pasangan yang sesungguhnya. Pekerjaan Seimei berhasil, kekuatan iblis itu berbalik padanya. Wanita iblis tersebut menyadari bahwa ia tidak bisa menandingi kekuatan Abe-no-Seimei. Ia lalu menghilang, mengancam akan kembali pada waktu yang lain.

Mawar dan Capung
Folklore
23 Jan 2026

Mawar dan Capung

Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis cantik yang tak pernah tersenyum sama sekali. Namanya adalah Mawar. Ia hidup di sebuah desa terpencil di tengah hutan belantara yang letaknya sangat jauh dari perkotaan.Pagi itu, Mawar berjalan seorang diri untuk mencari bunga melati sebagai penghias di rumahnya. Dengan berbekal sebotol air minum yang dikalungkan di lehernya, ia berjalan menyusuri hutan yang katanya terbilang cukup angker.Setelah berjalan cukup lama, ia memutuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon beringin. Sambil menyandarkan kepalanya pada batang pohon ia terlelap begitu saja seperti sedang tersihir oleh keadaan di sekitarnya. Tak lama kemudian,terdengar suara yang memanggil namanya."Mawar ... Mawar ... Mawar ...." Terdengar suara itu memanggil namanya sebanyak tiga kali.Mawar pun terbangun dari tidurnya dan mencari sumber suara itu berasal. "Siapa kamu?" teriaknya."Mawar," panggilnya lagi."Keluarlah, aku tidak takut denganmu!" titah Mawar menantangnya."Aku di sini, Mawar. Aku seekor capung," serunya terbang mengelilingi Mawar.Mawar berdiri mendekati si Capung yang hinggap di ranting pohon. "Ada apa kamu memanggil namaku?""Tolong bantulah aku untuk menemukan bunga melati yang dapat menyembuhkan seseorang dari tidur panjangnya," kata si Capung."Mengapa kamu meminta bantuan padaku?" tanya Mawar penasaran."Kamu adalah seorang putri, lebih tepatnya Putri Bunga. Bukankah kamu sekarang juga sedang mencari bunga melati itu?" kata si Capung."Aku bukan seorang putri dan memang benar aku sedang mencari bunga melati itu," kata Mawar perlahan berjalan melangkahkan kakinya.Si Capung terbang mengikuti ke mana arah langkah kaki Mawar pergi membawanya."Nanti kamu bakal tahu sendiri, jika kamu adalah seorang Putri Bunga. Tolong bantulah aku untuk membangunkan Pangeran Langit!"Mawar menghembuskan napasnya kasar."Baiklah, ikutlah denganku!"Mawar dan si Capung tersebut melanjutkan perjalanannnya melewati batu terjal yang berbahaya. Banyak rintangan yang harus ia hadapi agar bisa sampai ke puncak Gunung Matahari. Hari sudah mulai gelap, cahaya matahari perlahan menghilang tergantikan sang awan hitam yang menyelimuti hutan. Tiba-tiba, Mawar dikejutkan sebuah pancaran cahaya dari gelang yang melingkar di tangannya."Itu pasti pertanda kalau sebentar lagi kita akan sampai di Gunung Matahari," kata si Capung."Kamu tahu dari mana?" tanya Mawar menyentuh gelangnya."Karena benda itu hanya dimiliki oleh seorang Putri Bunga dan akan bertemu dengan pangeran yang bisa mengembalikan senyumannya," kata si Capung."Sebenarnya kamu siapa?" tanya Mawar yang mulai curiga."Aku prajurit dari kerajaan awan yang ditugaskan untuk mencari Putri Bunga dan setangkai bunga melati," kata si Capung hinggap di permukaan telapak tangannya."Jangan mengarang cerita!" tegur Mawar."Terserah kamu saja. Suatu saat, pasti kamu tahu kebenarannya," si Capung terlelap tidur.Keesokan harinya, Mawar dan si Capung melanjutkan perjalanannya menuju ke Gunung Matahari. Ia menempuh jarak lima kilometer untuk sampai di sana. Terlihat tenaga Mawar yang mulai habis dan nyaris terpelosok ke dalam jurang. Mau tidak mau ia harus beristirahat lagi, mengumuplkan tenaganya."Jika kamu lelah, maka naiklah ke badanku Mawar!" titah si Capung berubah menjadi besar."K—kamu? Kenapa bisa jadi besar?" kata Mawar kaget melihat si Capung."Cepat naiklah, waktu kita tidak banyak!" titah si Capung dan Mawar pun menuruti perintahnya."Mengapa kamu tidak bilang jika bisa berubah menjadi besar dan terbang membawaku ke Gunung Matahari?" tanya Mawar di sela-sela perjalanannya."Karena aku ingin melihat seberapa gigihnya perjuangan dari Putri Bunga," kata si Capung mengepakkan sayapnya."Aku bukan Putri Bunga!" sanggah Mawar tak percaya.Akhirnya Mawar dan si Capung sampai di Gunung Matahari. Ia memetik beberapa bunga melati dan memasukkannya ke dalam kantong yang dibawanya. Setelah itu, si Capung membawa Mawar ke kerajaan awan yang tak jauh letaknya dari Gunung Matahari.Kehadiran Mawar dan si Calung disambut sangat baik oleh prajurit yang menjaga istana tersebut. Si Capung menyuruh Mawar turun dan mengantarkannya ke kamar Pangeran Langit yang sedang terbaring lemah di atas kasurnya."Campurkan bunga melatinya pada minuman pangeran, teteskan minumannya ke mulutnya!" titah si Capung berubah mengecil seperti semula.Mawar meneteskan minuman tersebut dan ia terkejut saat Pangeran Langit terbangun dari tidur panjangnya berkat minuman air melati yang ia petik dari Gunung Matahari."Syukurlah, pangeran sudah sadar," kata si Capung berbahagia melihat Pangeran Langit yang sudah bangun setelah berbulan-bulan lamanya akibat tersengat lebah."Siapa gadis yang kamu bawa memasuki kamarku ini, Capung?" tanya Pangeran menatap sesosok gadis cantik di hadapannya."Apa pangeran tak mengenalinya sama sekali?""Tidak," kata Pangeran Langit menggelangkan kepalanya."Dia, Putri Bunga yang selama ini kita cari pangeran," kata si Capung."Putri Bunga?" tanyanya sekali lagi."Benar, Pangeran. Dia Putri Bunga yang selama ini kehilangan senyumannya," kata si Capung hinggap di pundak sebelah kanan Mawar."Mawar, masih ingatkah kamu denganku? Aku Pangeran Langit, sahabat masa kecilmu." Pangeran Langit mencoba mengembalikan separuh ingatan Mawar."Aku pernah mengenal namamu, tapi aku lupa siapa dirimu," kata Mawar menerawang masa kecilnya."Langit yang selalu bersamamu dan tak pernah membiarkan kamu bersedih," kata Pangeran Langit.Seketika Mawar teringat memori masa lalunya di mana ia pernah bermain lari-larian dengan sosok anak kecil laki-laki yang tampan mengejarnya di taman bunga."Benerkah kamu Langit yang selama ini kurindukan?" tanya Mawar dengan mata berbinar.Pangeran Langit tersenyum. "Iya, aku Langitmu Mawar. Jangan pernah takut untuk tersenyum Mawar, karena dunia tak membutuhkan tangismu. Tapi membutuhkan sebuah senyumanmu. Jangan jadikan alasan bahwa kepergianku saat itu membuat dirimu tak pernah tersenyum kembali. Sebab aku tak ingin melihatmu terus bersedih. Tetaplah tersenyum dalam keadaan apa pun itu!Karena kamu adalah seorang Mawar yang mendapat gelar Putri Bunga dari Kerajaan Bunga dan telah kehilangan senyumannya selama bertahun-tahun lamanya," pungkas Pangeran Langit."Terima kasih, Langitku," kata Mawar terisak tangis kecil."Tersenyumlah, Bungaku!" kata-kata dari Pangeran Langit sukses membuat cekungan bulan sabit terlukis di bibir Mawar.Pada akhirnya, Mawar atau Putri Bunga yang telah kehilangan senyumannya selama bertahun-tahun lamanya kini dapat tersenyum kembali seperti sedia kala. Dan ia dinobatkan sebagai Putri Bunga di Kerajaan Bunga—tempat di mana ia dilahirkan.

Kancil yang Cerdik dan Buaya
Folklore
23 Jan 2026

Kancil yang Cerdik dan Buaya

Suatu hari, seekor kancil sedang duduk bersantai di bawah pohon. Ia ingin menghabiskan waktu siangnya dengan menikmati suasana hujan yang asri dan sejuk. Beberapa waktu kemudian, perutnya keroncongan. Ia berpikir bagaimana cara mendapatkan mentimun yang letaknya berada di seberang sungai. Tiba-tiba, terdengar suara kecipak keras dari dalam sungai. Ternyata itu adalah buaya.Kancil yang cerdik itu pun punya ide jitu untuk menghilangkan rasa laparnya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke sungai untuk menghampiri buaya.“Selamat siang, Buaya. Apakah kau sudah makan?” tanya Kancil berpura-pura. Namun, buaya itu tetap diam. Tampaknya ia tertidur pulas sehingga tidak menjawab pertanyaan kancil.Si kancil pun mendekat. Kini jaraknya dengan Buaya hanya satu meter saja. “Hai, Buaya. Aku punya banyak daging segar. Apakah kau sudah makan siang?” tanya Kancil dengan suara yang dikeraskan.Buaya itu mengibaskan ekornya di air. Ia bangun dari tidurnya. “Ada apa? Kau mengganggu tidurku saja,” ucap Buaya agak kesal.“Sudah aku bilang, aku punya banyak daging segar, tetapi malas untuk memakannya. Kau tau bukan, kalau aku tidak suka daging? Jadi, aku berniat memberikan daging segar itu untukmu dan teman-temanmu,” ujar Kancil polos.“Benarkah itu? Aku dan beberapa temanku memang belum makan siang.Hari ini, ikan-ikan entah pergi ke mana, sehingga kami tak punya cukup makanan,” jawab Buaya kegirangan.“Kebetulan sekali. Kau tidak perlu khawatir akan kelaparan selama kau punya teman baik sepertiku, Buaya. Benar, kan?” Kancil memperlihatkan deretan gigi runcingnya.“Terima kasih, Kancil. Ternyata hatimu begitu mulia. Berbeda dengan apa yang dikatakan oleh teman-teman di luar sana. Mereka bilang kau licik dan suka memanfaatkan keluguan temanmu untuk memenuhi segala ambisimu,” ucap Buaya tanpa ragu.Mendengar itu, Kancil sebenarnya agak kesal. Namun, ia harus tetap terlihat baik demi mendapatkan mentimun yang banyak di seberang sungai. “Aku tidak mungkin sejahat itu. Biarlah. Mereka hanya belum mengenalku karena selama ini sikapku terlalu cuek dengan omong kosong. Sekarang, panggillah teman-temanmu.”Buaya tersenyum lega, akhirnya, ada jatah makan siang hari ini. “Teman-teman, keluarlah. Kita punya jatah makan siang daging segar yang sangat menggoda. Kalian sangat lapar, bukan?” pekik Buaya.Tak lama kemudian, 8 ekor buaya yang lain pun keluar secara bersamaan. Melihat kedatangan buaya itu, Kancil berkata, “Ayo, berbaris yang rapi. Aku punya banyak daging segar untuk kalian.” Mendengar itu, 9 ekor buaya pun berbaris rapi di sungai. “Baiklah, aku akan menghitung jumlah kalian, agar daging yang aku bagikan bisa merata dan adil,” ucap Kancil menipu.Kancil pun meloncat girang melewati 9 ekor buaya sembari berkata, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tuju, delapan, dan sembilan.” Hingga akhirnya, ia sampai di seberang sungai.Sembilan buaya itu bertanya, “Mana daging segar untuk makan siang kami?”Kancil terbahak-bahak, lalu berkata, “Betapa bodohnya kalian. Bukankah aku tak membawa sepotong pun daging segar di tangan? Itu artinya aku tak punya daging segar untuk jatah makan siang kalian. Enak saja, mana bisa kalian makan tanpa ada usaha?”Sembilan ekor buaya itu pun merasa tertipu. Salah satu di antara mereka berkata, “Akan ku balas semua perbuatanmu.”Kancil pun pergi sembari berkata, “Terima kasih, Buaya bodoh. Aku pamit pergi untuk mencari mentimun yang banyak. Aku lapar sekali.”Buaya itu pun dendam terhadap Kancil. Mereka akan membalas perbuatan Kancil yang telah menipunya.

Senja Di Ujung Rahasia
Teen
23 Jan 2026

Senja Di Ujung Rahasia

Senja baru saja menyentuh cakrawala saat Salsa berdiri di balkon apartemennya. Angin musim panas membelai rambut panjangnya yang tergerai, dan pikirannya melayang pada hari itu—hari yang seharusnya biasa, sampai dia bertemu lelaki asing itu di studio tari.Arlian.Nama itu masih terngiang di telinganya. Mata pria itu begitu tajam, seakan bisa menembus dinding pertahanan yang telah ia bangun bertahun-tahun. Ia bukan hanya pelatih tamu dari luar kota—Arlian membawa sesuatu yang sulit dijelaskan. Aura. Dominasi. Dan tatapan yang membuat jantung Salsa berdetak tidak karuan."Langkahmu bagus, tapi kamu menahan diri," suara Arlian siang tadi masih terngiang, pelan namun penuh tekanan."Aku... aku hanya mengikuti irama," jawab Salsa, mencoba tenang."Tubuhmu bicara, Salsa. Tapi jiwamu masih ragu," katanya sambil mendekat.Saat Arlian berdiri hanya beberapa inci darinya, Salsa bisa mencium aroma parfum maskulin yang samar tapi memabukkan. Ada ketegangan di antara mereka. Bukan karena amarah, bukan juga karena persaingan. Itu... gairah. Sebuah tarikan yang tak bisa mereka hindari.Dan malam itu, saat Arlian muncul di pintu apartemennya tanpa aba-aba, membawa sebotol anggur dan sepasang mata yang masih menyimpan tanya, Salsa tahu ini bukan sekadar latihan tari.---Anggur merah di gelas kristal bergetar pelan saat Arlian menaruh botolnya di meja."Maaf kalau tiba-tiba," ucapnya dengan suara rendah."Tapi aku merasa... kita belum selesai."Salsa menatap pria itu dari balik rambutnya. Jantungnya berdetak cepat, tapi tubuhnya tak bergerak. Dia tidak mengusirnya. Itu saja sudah cukup sebagai jawaban."Apa yang belum selesai, Arlian?" tanyanya, setengah berbisik."Rasa ingin tahuku tentang kamu..." Arlian mendekat, menelusuri ruang sempit antara mereka. "Dan mungkin... rasa ingin tahumu tentang aku."Salsa tertawa kecil, gugup tapi tak menolak."Dan kamu pikir kamu bisa temukan jawabannya malam ini?"Arlian hanya tersenyum. Ia mengangkat tangan, perlahan menyentuh rambut Salsa dan menyelipkan helaian yang menutupi pipinya."Aku tidak datang untuk jawaban," bisiknya."Aku datang untuk merasakan... apa yang kita tahan sejak tadi siang."Salsa tidak berkata apa-apa. Tapi ketika bibir mereka akhirnya bersatu, semuanya menjadi jelas. Tak ada lagi latihan. Tak ada lagi jarak. Yang tersisa hanya dua tubuh yang menari dalam diam, di ruang yang mereka ciptakan sendiri.Arlian mencium Salsa perlahan, penuh rasa, namun dengan api yang tersimpan di dalamnya. Tangannya menyusuri punggung Salsa, lembut tapi pasti. Salsa membalas dengan sentuhan yang gemetar, tapi penuh keyakinan.Malam itu, mereka tak hanya menyatu secara fisik—mereka membongkar lapisan emosi yang lama tersembunyi. Setiap sentuhan adalah ungkapan dari sesuatu yang selama ini tidak terucap. Luka. Rindu. Hasrat. Dan kerinduan akan kehangatan yang lebih dari sekadar gairah.---Pagi menyelinap masuk lewat tirai putih yang setengah terbuka. Matahari belum tinggi, tapi sinarnya cukup untuk membangunkan Salsa dari tidurnya yang tak biasa—tidur dalam pelukan seorang pria yang belum sepenuhnya ia kenal, tapi entah kenapa, terasa seperti rumah.Salsa menoleh. Arlian masih terlelap, wajahnya tenang, napasnya teratur. Ada garis keras di rahangnya, tanda bahwa dia bukan pria yang mudah terbuka. Tapi tadi malam, garis itu sempat lunak. Ia membiarkan Salsa melihat bagian dirinya yang tidak banyak orang tahu—rapuh, penuh luka, tapi hangat ketika disentuh dengan benar.Salsa turun dari ranjang perlahan. Mengenakan kemeja Arlian yang tadi malam tergeletak di lantai, ia berjalan menuju balkon. Di sana, angin pagi menyapa, membelai wajahnya yang masih menyimpan sisa-sisa gairah dan keraguan.Apa yang sedang aku lakukan?Pertanyaan itu menghantam keras di dalam kepalanya.Salsa bukan gadis polos. Ia tahu bagaimana rasanya disentuh, dicintai untuk semalam, lalu ditinggalkan seolah tidak pernah berarti. Tapi dengan Arlian... semuanya terasa berbeda. Terlalu dalam. Terlalu cepat.Suara langkah kaki terdengar di belakangnya."Sudah bangun?" suara Arlian pelan, berat.Salsa tidak menoleh. "Aku nggak nyangka kamu masih di sini.""Aku juga nggak nyangka kamu membiarkanku tetap di sini," jawab Arlian jujur.Diam."Aku punya masa lalu yang berantakan, Salsa. Mungkin lebih gelap dari yang kamu pikir," katanya tiba-tiba.Salsa menatapnya, pelan. "Kamu pikir aku nggak?"Tatapan mereka saling menembus. Ada semacam pengakuan di dalamnya."Aku nggak akan janji apa pun. Aku nggak yakin aku tahu cara mencintai seseorang dengan benar," ujar Arlian, nyaris seperti permohonan.Salsa tersenyum tipis. "Aku nggak butuh janji. Aku cuma butuh kamu jujur. Bahkan kalau itu berarti kamu akan pergi."Arlian mendekat, menyentuh wajahnya dengan lembut."Kalau aku bilang... aku takut pergi?"Salsa menggenggam tangannya."Maka tetaplah."---Sudah seminggu sejak malam itu. Salsa dan Arlian tak lagi saling berpura-pura bahwa semua hanya kebetulan. Mereka bertemu hampir setiap hari—kadang di studio, kadang hanya untuk makan malam singkat yang berakhir dengan ciuman panjang di ambang pintu.Tapi malam ini berbeda.Arlian datang terlambat ke studio. Raut wajahnya lebih dingin dari biasanya. Salsa melihatnya dari cermin besar saat mereka berlatih—langkah-langkah tari yang biasanya lembut kini berubah kaku, terburu-buru, seolah tubuhnya ingin lari dari sesuatu."Arlian, ada apa?" tanya Salsa, menghentikan musik.Pria itu menatapnya sesaat, lalu menarik napas panjang. "Kamu nggak perlu tahu."Salsa maju selangkah. "Kita sudah terlalu jauh untuk mulai pakai tembok, kan?"Arlian akhirnya bicara, tapi nadanya rendah dan berat."Dulu aku pernah bertunangan," katanya pelan."Namanya Maira. Kami merencanakan semuanya—rumah, anak, masa depan. Tapi aku hancurkan semua itu dalam satu malam."Salsa terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena cemburu, tapi karena rasa takut: takut bahwa Arlian akan kembali terperangkap dalam masa lalunya."Kenapa?" tanyanya akhirnya.Arlian tersenyum pahit. "Karena aku nggak bisa miliki satu orang... tanpa merasa kehilangan semuanya. Aku takut pada keterikatan. Takut bahwa kalau aku mencintai, aku akan hancur lagi."Salsa mendekat, menatap mata pria itu dalam-dalam."Aku nggak minta kamu cintai aku sekarang. Tapi jangan hukum dirimu karena masa lalu. Aku bukan Maira... dan kamu bukan dirimu yang dulu."Arlian menunduk. Tangannya meraih tangan Salsa, menggenggam erat, seperti memohon agar waktu berhenti. "Kalau kamu pergi suatu hari nanti... aku nggak tahu apakah aku bisa pulih."Salsa menggenggam balik. "Maka pastikan aku punya alasan untuk tetap tinggal."---Sudah tiga hari sejak Arlian datang ke studio tanpa menyapa. Tiga hari sejak sentuhan terakhir mereka menghilang tanpa kejelasan. Salsa mencoba menepis perasaannya—berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi kenyataannya, setiap ruang di dalam hatinya mulai terasa kosong.Ia berdiri di tengah studio, menyalakan musik yang dulu mereka latih bersama. Tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama, tapi langkah-langkahnya terasa kehilangan makna. Salsa menari bukan untuk tampil—ia menari untuk bertahan.Di sudut lain kota, Arlian duduk sendiri di atas motor sport hitamnya, menatap laut yang luas. Di tangannya, masih tergenggam foto kecil—gambar dirinya dan Maira lima tahun lalu, di malam pertunangan mereka. Matanya memerah, bukan karena rindu, tapi karena kebingungan.*Kenapa aku begitu takut bahagia?* pikirnya.Dia tahu perasaannya untuk Salsa nyata. Tapi justru karena itu, dia takut. Salsa membuatnya merasa utuh, dan itu menakutkan—karena jika ia kehilangannya, ia akan hancur lagi. Seperti dulu, ketika Maira pergi karena ia terlalu dingin, terlalu tertutup, terlalu... terluka.---Salsa duduk sendiri di kafe langganannya. Di depannya, ada dua cangkir kopi—satu untuknya, satu lagi yang sengaja ia pesan untuk Arlian, walau ia tahu lelaki itu takkan datang."Kamu bisa kuat, Sal," gumamnya pelan.Saat itulah notifikasi di ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal.*Kamu luar biasa malam itu. Aku lihat video kompetisimu. Kamu bersinar bahkan tanpa aku di sana. A*Hanya itu. Tapi cukup untuk mengguncang seluruh perasaan yang berusaha ia pendam.*Dia melihatku... tapi tidak datang?**Dia peduli... tapi memilih menjauh?*Salsa menahan air mata yang menggantung di pelupuk. Ia tahu ini bukan tentang cinta yang tidak saling, tapi tentang cinta yang belum siap.---Malam itu, Salsa pulang dan menemukan sesuatu di depan pintu apartemennya: seikat bunga lili putih—bunga favorit ibunya, dan juga yang pernah Arlian sebut ketika mereka pertama kali berbicara soal masa kecil.Di bawah bunga itu, ada sepucuk surat.> *Aku butuh waktu. Bukan untuk memilih antara kamu atau dia, tapi untuk memastikan bahwa ketika aku bersamamu... aku benar-benar utuh. Aku ingin datang bukan sebagai pria yang setengah hancur, tapi sebagai seseorang yang bisa menopangmu, bukan malah menuntutmu untuk menambal lukaku. – A*Salsa memeluk surat itu. Tidak ada marah. Tidak ada kecewa. Hanya air mata yang jatuh dalam diam—karena ia tahu, cinta sejati tidak selalu datang dalam bentuk hadir yang pasti, tapi juga dalam bentuk keberanian untuk mengakui ketidaksiapan.---Langit mendung saat Arlian turun dari mobil di depan sebuah rumah di pinggir kota, jauh dari keramaian. Rumah itu sederhana, namun rapi. Di teras, seorang wanita duduk sambil membaca buku. Matanya langsung menatap ke arahnya, dan tanpa banyak kata, ia berdiri."Maira," sapa Arlian pelan.Wanita itu tersenyum, tipis namun tulus. "Akhirnya datang juga."Mereka masuk ke dalam, duduk di ruang tamu yang masih menyimpan aroma lavender, aroma yang dulu selalu menenangkannya."Aku datang bukan untuk membuka luka," kata Arlian. "Aku datang untuk benar-benar menutupnya."Maira menatapnya lama, lalu mengangguk. "Aku sudah lama menutupnya, Lian. Tapi mungkin kamu belum."Arlian menghela napas. "Aku kira aku sudah. Tapi ketika aku mulai mencintai seseorang lagi... semuanya muncul. Ketakutan. Rasa bersalah. Luka-luka yang kupikir sudah hilang.""Kamu mencintai dia?" tanya Maira."Iya," jawab Arlian tanpa ragu."Bagus. Karena kamu pantas bahagia, Lian. Kita memang tidak berhasil, tapi itu bukan akhir. Itu cuma jalan memutar."Hening meliputi ruangan beberapa saat sebelum Maira berdiri dan berjalan ke lemari. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil."Ini foto-foto kita. Kenangan yang dulu berarti, tapi kini bukan milikku lagi. Simpan, atau buang. Terserah kamu. Yang jelas, aku tidak menyimpannya karena masih berharap. Tapi karena aku ingin kamu tahu bahwa aku telah memaafkan. Kamu juga harus memaafkan dirimu sendiri."Arlian menunduk. Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Kali ini bukan karena luka, tapi karena beban yang perlahan terangkat dari dadanya.---Di sisi lain kota, Salsa kembali ke studio untuk berlatih. Tubuhnya bergerak dengan presisi, tapi ada kekosongan dalam gerakannya. Ia tidak tahu apakah Arlian akan kembali. Ia tidak tahu apakah surat itu adalah salam perpisahan atau janji diam-diam untuk kembali.Namun ia tetap menari. Karena menari adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup ketika cinta terasa menggantung.Ketika sesi latihannya selesai, ia duduk bersandar di lantai kayu yang dingin. Lalu tiba-tiba, pintu studio terbuka.Seseorang berdiri di ambang pintu, membawa dua cangkir kopi."Aku salah satu murid yang lari dari latihan," suara itu terdengar akrab—dan penuh penyesalan.Salsa menoleh. Matanya langsung membasah."Arlian...""Aku kembali. Bukan sebagai pecundang yang takut luka. Tapi sebagai laki-laki yang tahu siapa yang ingin ia perjuangkan."Ia mendekat, menyerahkan kopi yang masih hangat. "Kamu masih suka kopi pahit, kan?"Salsa mengangguk. Lalu tersenyum. "Aku suka apapun... selama kamu yang bawakan."---Studio itu gelap ketika Salsa datang malam itu. Ia tak mengundang siapa pun. Hanya dirinya, sepatu dansa, dan lagu kenangan yang ia simpan di playlist pribadinya.Ia menyalakan lampu di tengah ruangan. Suasana lengang. Tapi di sinilah semuanya dimulai. Di tempat inilah tubuh dan hatinya mulai belajar bicara lewat tarian. Dan di sini pula, Arlian datang kembali ke hidupnya.Musik mulai mengalun. Perlahan, tapi dalam. Salsa mulai melangkah. Setiap gerakan seperti menciptakan ruang untuk semua rasa yang pernah mengganggu: rindu, marah, kecewa, takut.Dan di tengah putarannya, ia berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena tarian—tapi karena pintu studio terbuka.Langkah kaki itu ia hafal. Nada napasnya ia kenali. Dan saat Salsa menoleh, ia melihat Arlian berdiri di sana, dengan wajah lelah namun matanya penuh api."Aku mau menari denganmu... bukan untuk pertunjukan. Tapi untuk hidupku," ucap Arlian sambil melangkah mendekat.Tanpa aba-aba, tubuh mereka langsung menyatu dalam irama. Tangan Arlian di pinggang Salsa, mata mereka saling terkunci. Tidak ada kata-kata, hanya gerak yang menggantikan suara.Dalam setiap putaran, ada pengakuan.Dalam setiap sentuhan, ada permohonan maaf.Dan dalam pelukan terakhir di akhir tarian itu, ada satu hal yang tak perlu diucap lagi: *Kita pulang.*Mereka terdiam. Musik berhenti. Dunia di luar menghilang. Yang ada hanya mereka berdua—duduk di lantai studio, berkeringat, bernapas cepat, dan saling menatap."Sekarang aku tahu, Sal," ujar Arlian pelan. "Aku tak bisa menjadi utuh tanpamu. Tapi bukan karena aku butuh kamu untuk menyembuhkan. Melainkan karena kamu... adalah bagian dari diriku."Salsa mengangguk. "Dan kamu adalah rumah yang tak pernah berani aku minta."Mereka saling mendekat, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka berciuman tanpa beban. Tanpa ragu. Tanpa bayang-bayang masa lalu. Hanya dua jiwa yang akhirnya berhenti melawan takdirnya sendiri.---Setahun telah berlalu sejak malam itu—malam di mana tarian menjadi bahasa pengampunan, dan pelukan menjadi titik awal kebersamaan. Banyak yang berubah, namun yang paling terasa adalah cara Salsa dan Arlian kini melihat dunia: dengan lebih tenang, lebih jujur, dan lebih saling menerima.Studio yang dulu hanya digunakan untuk latihan kini berganti nama: *Studio Senja*. Tempat itu bukan hanya ruang berkeringat, tapi rumah bagi puluhan pasangan muda yang belajar menari dan mencintai—pelan-pelan, tanpa terburu-buru.Salsa berdiri di balik kaca besar studio, memperhatikan murid-murid barunya. Di tangannya, selembar undangan pernikahan. Nama mereka terukir rapi di atasnya. Bukan pesta mewah, bukan acara besar. Hanya pernikahan kecil di tepi pantai, di waktu senja, tempat di mana langit dan laut bersentuhan diam-diam.Sementara itu, Arlian sibuk di bagian belakang, memeriksa pengeras suara yang akan mereka gunakan untuk pertunjukan murid malam ini. Setiap beberapa detik, ia melirik ke arah Salsa, seolah belum percaya wanita itu benar-benar memilih tetap bersamanya."Lian," panggil Salsa dari seberang ruangan.Ia menoleh."Kita sudah sampai, ya?"Arlian berjalan mendekat. Ia menyentuh pipinya pelan. "Belum. Tapi sekarang aku tahu, kita berjalan ke arah yang sama."Salsa tersenyum. "Lalu bagaimana jika suatu hari kita tersesat lagi?"Arlian menggenggam tangannya erat. "Kita berhenti, duduk... dan menari."Sebuah tepuk tangan terdengar dari para murid. Pertunjukan mereka baru saja selesai. Tapi bagi Salsa dan Arlian, pertunjukan sejati baru saja dimulai—bukan di atas panggung, tapi di kehidupan nyata.Mereka melangkah keluar studio. Langit mulai berwarna jingga. Senja kembali menyapa. Namun kali ini, senja tak lagi jadi tanda perpisahan.Kini, senja adalah rumah.Tempat di mana semua rahasia yang dulu mengaburkan cinta... akhirnya menemukan cahaya.---~End~

OTTO SI MOBIL KESAYANGAN AYAH
Teen
23 Jan 2026

OTTO SI MOBIL KESAYANGAN AYAH

Hai teman-teman! Namaku Otto. Coba tebak apakah aku ini? Apa aku manusia atau hewan? Bukan. Bukan. Aku adalah mobil. Mobil Jeep berwarna putih kesayangan Ayah.Aku lahir di tahun 2010, tahun yang sama di mana Ayah membeliku dari dealer mobil di kota. Aku senang sekali! Teman-teman iri karena Ayah memilihku.Selain warnaku yang putih cerah, ukuranku cukup mungil, hanya muat untuk lima orang, berisi satu kursi pengemudi dan empat kursi penumpang. Berukuran 4x4 dengan kapasitas 2000 cc. Aku muat untuk Ayah dan keluarganya.Ayo kukenalkan kepadamu keluarga Ayah. Selain Ayah, ada Ibu, wanita yang cantik dan bersahaja sekali. Ibu sudah melahirkan dua anak, nama panggilan mereka adalah Kakak dan Adik. Kakak lebih tua tiga tahun dari Adik, mereka kadang seperti dua sahabat karib, tetapi juga kadang menjadi musuh bebuyutan.Pada hari pertama Ayah membawaku ke rumah, Ayah mengenalkanku kepada keluarganya."Kakak, Adik ... ini mobil pertama Ayah, namanya Otto." Begitu Ayah mengenalkanku sekaligus memberiku nama.Sejak hari itu, sudah menjadi tugasku membawa Kakak dan Adik pergi ke sekolah setiap hari. Tidak hanya itu, di hari Sabtu dan Minggu, Ayah juga akan membawa keluarganya jalan-jalan. Bila hari ini ke mal, maka esok harinya akan diajak jalan-jalan ke pantai atau gunung. Ayah senang sekali setiap berjalan-jalan, beliau akan menyalakan radioku dan menyenandungkan lagu dangdut dari penyanyi bernama Elvi Sukaesih atau Rhoma Irama.Kakak dan Adik tidak suka lagu dangdut, Kakak suka lagu dari sebuah sinema anak-anak berjudul Power Ranger, setiap saat ia akan berteriak "Power Ranger!" Sembari menirukan Power Ranger merah. Kebalikannya, Adik lebih senang mendengar lagu-lagu dari Barbie: Princess and The Pauper.Ayah sering bertanya ke Kakak dan Adik, "Kakak, Adik, kalau sudah besar mau jadi apa?"Kakak segera menjawab, "Mau jadi dokter, Yah!""Kalau, Adik?"Adik membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menjawab sebelum akhirnya berkata, "Aku ikut Kakak aja, deh.""Jadi dokter juga?""Enggak." Adik menggeleng polos. "Aku mau jadi suster, biar bisa jadi asistennya Kakak."Ayah dan Ibu tertawa mendengar jawaban Adik. Apalagi Adik yang suka mengganti cita-citanya setiap tahun, sering kali ketika melihat si Merah, mobil milik para pemadam kebakaran, Adik akan berseru, "Aku mau jadi seperti mereka!""Kenapa?" Kakak bertanya dengan dahi berkerut dalam, di tangannya tergenggam sebuah mainan mobil-mobilan berwarna putih yang menyerupai aku."Aku mau naik mobil merah dengan suara ' niuniuniu '! Pasti seru sekali!" Mata Adik selalu berkilat senang setiap kali melihat si Merah yang melesat di antara kerumunan mobil-mobil lain, dipersilakan lewat terlebih dahulu di antara kami para mobil keluarga.Selain si Merah, Adik juga suka sekali dengan Lili si mobil polisi. Dia juga suka dengan seragam yang para polisi kenakan."Aku ingin menangkap para penjahat! Dor ! Dor !" Adik akan meloncat-loncat senang di atas jokku yang empuk.Setiap kali Adik meloncat-loncat, Kakak yang kalem akan menegur adiknya dan memintanya duduk dengan tenang sembari memakai sabuk keamanan. "Jangan loncat-loncat!" Kakak menegur dengan suara keras.Tidak hanya ada si Lili atau si Merah, Adik juga akan berseru setiap kali melihat mobil baru yang terlihat unik di matanya. Suatu hari dia bertanya kepada Ayah, "A-N-T-O-N," Adik mengeja tulisan di badan sebuah truk tronton. "Nama mobilnya Anton. Itu mobil apa, Yah?""Itu truk tronton, Dik." Ayah tersenyum melihat anaknya itu."Wah, rodanya banyak sekali, ya." Adik berusaha menghitung jumlah roda yang Anton miliki. Belum selesai menghitungnya, aku sudah menyalip lebih dahulu dan berada jauh di depan kumpulan truk-truk yang membawa aneka benda; ada semen, kadang pasir, kadang pula bebatuan, dan kerikil untuk jalanan yang baru saja ingin dibangun. "Yah, Ayah! Adik, kan, belum selesai menghitung."Ayah dan Ibu akan tertawa mendengar seruan Adik. Sesaat kemudian Adik kembali bertanya tentang aneka mobil lainnya, di mulai dari Bang Toyib—si bus antarkota, Anton si truk tronton, hingga aneka mobil keluarga lainnya."Udah, ah, Dik. Tidur." Kakak akan mengeluh kesal tiap kali mendengar Adik menunjuk mobil-mobil lain dan terus menerus bertanya ke Ayah tipe-tipe mobil apa saja yang lewat di sebelah mereka.Ibu akan tertawa mendengarkan kakak adik itu saling bersahut-sahutan atau berebut memutar lagu kesukaan mereka juga menceritakan pengalaman seru mereka di sekolah, sementara Ayah akan mendapatkan giliran paling akhir.Sst ... Ibu tidak bisa menyetir, jadi sering kali Ibu pergi ke pasar bersama Juki. Motor bebek Suzuki yang menjadi temanku di garasi. Omong-omong, Juki Itu berisik sekali. Jangan bilang-bilang ke siapa-siapa, ya!Tidak terasa sudah beberapa tahun aku menemani keluarga Ayah. Kakak dan Adik sekarang sudah besar, loh! Mereka tidak lagi suka berebutan radio untuk mendengarkan lagu. Ayah masih setia mengantar Kakak dan Adik ke sekolah denganku.Suatu hari Kakak membawaku untuk menjemput pacarnya. Mereka mau berkencan. Selama ini Kakak naik motor kalau membawa pacarnya berkencan, tapi karena hujan deras, kali ini jadi tugasku membawa mereka jalan-jalan.Malang nian nasibku kali ini. Aku yang sudah mulai sakit-sakitan, tiba-tiba saja mogok di tengah jalan! Tepat sebelum lampu merah. Kakak malu sekali. Hujan deras membasahi bajunya yang apik ketika membuka kapku, untuk memeriksa bagian mesin mana yang rusak.Aku terbatuk-batuk, uap yang mengepul dari kapku menghalau pandangan Kakak.Tak lama kemudian, Kakak menelepon Ayah. Meminta Ayah untuk menjemputnya, sementara ia sendiri memanggil taksi untuk mengantar kekasih hatinya. Aku sedih sekali karena tidak bisa menjalankan tugasku dengan baik.Hari itu, mobil derek, yang omong-omong namanya juga Derek—sok kebule-bulean sekali, ya?!— menjemputku dari tengah jalan raya. Aku terpaksa menginap di bengkel selama beberapa hari. Tugas mengantar Adik ke sekolah pun digantikan oleh Kakak dan si Juki.Di usiaku yang sudah sepuh ini, Ayah masih setia menggunakan jasaku. Setiap pagi Ayah akan menyabuniku dengan sabun khusus mobil lalu memeriksa mesin-mesinku.Namun, akhir-akhir ini baik Ayah dan keluarganya tidak pernah lagi jalan-jalan. Bahkan si Juki pun jarang diajak keluar ke pasar bersama Ibu. Kakak dan Adik juga tidak lagi ke sekolah, mereka semua di rumah! Ada apa, ya?Sesekali Ayah menggunakanku ketika pergi ke kantor. Beliau menyalakan siaran radio, tepat ke bagian berita. Wah, rupanya ada penyakit baru yang bernama Covid-19 dan kini menjadi pandemi sehingga Ayah dan keluarganya jadi nyaris tidak pernah keluar rumah. Ayah tampak sedih, belakangan ini Ayah juga tidak lagi menyanyikan lagu dangdut kesukaannya.Di jalan raya, aku sering menyapa mobil-mobil lain. Lili si mobil polisi yang lebih sering parkir di depan kantor polisi, kini juga ikut parkir di tepi jalan. Banyak polisi berlalu lalang yang memeriksa kelengkapan berkas pengemudi kendaraan.Yang paling sering kulihat di jalan raya saat ini adalah si Alan, mobil ambulans. Alan sering menyapa ketika dia berhenti di sebelahku saat tidak sedang membawa pasien. Namun, Alan pun sibuk sejak penyakit yang disebabkan oleh virus corona itu membuatnya bolak-balik ke rumah sakit.Tanggal 17 Juni 2021, Ayah masuk rumah sakit karena tertular dari teman kantornya saat WFO. Kakak dan Ibu membawa Ayah ke rumah sakit bersamaku. Keadaan Ayah tiba-tiba memburuk setelah sempat demam dan meriang beberapa hari lalu, batuknya terdengar berat dan tidak kunjung berhenti, Ibu, Adik, dan Kakak pun tetap memakai masker walaupun berada di dalam rumah."Otto! Ayo, Otto!" Kakak berseru ketika men- starter mesinku, memaksaku untuk menyala dan meraung kencang. "Ayo, Bu!" Menggunakan masker yang didobel dengan masker kain, Kakak dan Ibu mengantar Ayah ke rumah sakit sementara Adik menunggu di rumah.Di hari Sabtu ini, jalanan ramai sekali. Kakak memencet klaksonku berulang kali, sementara aku berteriak agar diberikan jalan oleh mobil-mobil lain. Situasi Sabtu ini berbeda dengan saat ketika pandemi baru pertama kali muncul, jalanan yang dulunya lenggang kembali ramai dan macet seperti pandemi telah berakhir.Beberapa pesepeda motor dan pesepeda balap berada di tengah jalanan yang ditujukan untuk mobil."Minggir! Ayo, minggir!" Aku membunyikan klaksonku, meminta mereka menyingkir dari jalanan agar aku bisa melaju cepat dan membawa Ayah ke rumah sakit.Pada akhirnya, Kakak berhasil menyetir mobil hingga sampai di rumah sakit terdekat. Kakak memarkirkanku di parkiran dekat UGD lalu terburu-buru Kakak dan Ibu membopong Ayah ke UGD sementara aku menunggu.Selama aku di parkiran, aku melihat banyak mobil yang berlalu lalang, salah satunya si Alan, mobil ambulans yang bekerja keras membawa pasien kritis ke rumah sakit."Hai, Otto!" Alan menyapaku."Hai, Alan! Kamu kelihatannya sibuk sekali akhir-akhir ini.""Iya, nih. Pak Joko, lengkap dengan pakaian hazmat -nya, membawaku ke mana-mana. Sayangnya, jalanan ramai sekali dan mobil-mobil lain sulit memberikan jalan. Seringnya kita tidak bisa tiba lebih cepat ke rumah sakit atau rumah warga yang membutuhkan bantuan." Alan menghela napas keras. "Akhir-akhir ini, pasien semakin bertambah. Jadi, banyak yang membutuhkan jasaku."Benar saja, seperti kata Alan, tidak lama kemudian ada mobil ambulans lain yang membawa pasien, sementara Alan pun tidak bisa menemaniku berbincang lebih lama karena Pak Joko, supir yang membawa Alan, harus menjemput pasien lain.Aku menatap pintu UGD, tampak Kakak dan Ibu tengah berbincang. Mereka tidak bisa masuk lebih jauh menemani Ayah, ada manusia-manusia lain berpakaian hazmat yang mengambil alih Ayah. Ibu terlihat lelah, sementara Kakak mengelus punggung Ibu. Semoga saja Ayah cepat sembuh.Tak dapat berbuat banyak dan karena ruang isolasi hanya terbatas untuk pasien positif dan kritis, Kakak dan Ibu pun beranjak pulang.Hari demi hari berlalu, tidak ada Ayah yang mencuci dan mengelap kacaku di pagi hari. Kakak, Ibu, dan Adik pun melakukan isolasi mandiri di rumah, mereka menghindari keluar rumah dan bertemu orang-orang. Aku sedih sekali karena rumah tampak sepi tanpa senda gurau Ayah dan keluarganya.Tanggal 20 Juni 2021, tepat pada Hari Ayah, Ayah telah tiada. Kakak, Ibu, dan Adik tidak bisa melihat Ayah untuk terakhir kalinya secara langsung, menggunakan video call yang disambungkan oleh suster di rumah sakit, keluarga menyampaikan salam perpisahan untuk Ayah.Kakak, Adik, dan Ibu sedih sekali, aku juga sedih karena tidak ada lagi yang memandikanku setiap pagi atau memutar lagu dangdut dengan suara kencang. Si Juki pun turut sedih hingga mogok berhari-hari.Ah, seandainya saja teman sekantor Ayah tidak terkena Covid-19, seandainya saja aku bisa berlari lebih cepat membawa Ayah ke rumah sakit, seandainya saja mobil-mobil di jalanan itu tetap di rumah mereka masing-masing, mungkin saja Ayah masih akan ada saat ini.Aku tidak bisa mengubah keadaan saat ini, tetapi aku berharap mobil-mobil lain tetap di rumah mereka masing-masing dan tidak jalan-jalan terlebih dahulu agar pandemi ini segera berakhir.Hari demi hari berlalu, Ibu, Kakak, dan Adik tidak lagi memakai masker di dalam rumah, pelan-pelan mereka berusaha bangkit setelah kepergian Ayah. Sesekali aku masih mogok di jalan karena bukan Ayah yang memanasi mesinku ataupun memandikanku. Gantian Kakak dan Adik memandikanku di pagi hari lalu membawaku sesekali berjalan-jalan ke kota lengkap dengan masker dan protokol kesehatan yang ketat untuk memanaskan mesinku tak jauh dari kompleks perumahan. Tanpa Ayah, mobil tidak seseru biasanya, tidak ada yang menyanyikan lagu dangdut dengan suara keras ataupun melemparkan candaan yang membuat Kakak dan Adik mengerutkan kening berpikir keras sebelum akhirnya mengerti apa maknanya.Sementara itu Alan dan Pak Joko serta mobil-mobil ambulans lainnya masih bekerja keras berusaha memerangi virus corona ini. Sering kali Kakak menekan klaksonku setiap kali mereka lewat sebagai tanda kasih atas segala jasa Alan dan Pak Joko di masa pandemi ini.Aku tidak tahu kapan Covid-19 akan berlalu, tetapi melihat mobil-mobil tidak lagi sebanyak saat Kakak mengantar Ayah ke rumah sakit, aku berharap manusia-manusia pun mulai sadar bila pandemi dapat lebih mudah diatasi bila semua tetap di rumah dan jaga jarak.

Tiga Tikus Got
Fantasy
23 Jan 2026

Tiga Tikus Got

Lorong gelap terowongan di dasar jalan raya selalu padat dengan mobilisasi lalu-lalang. Hal itu menimbulkan getaran hingga ke bawah—di mana terdapat kehidupan lain yang keberadaannya tak pernah terbesit di pikiran siapa pun yang tinggal di atas. Kita bisa menyebut tempat yang terdapat jalan raya tersebut adalah dunia atas, sedangkan di bawah yang katanya tempat dari “kebusukan” berada adalah dunia bawah.Dunia atas yang ingar bingar, mengalir dengan glamour, berbeda dengan dunia sebaliknya. Memang peribahasa yang tepat adalah “bagaikan langit dan bumi” artinya sungguh jauh berbeda. Dunia bawah yang kumuh, becek, berbau tak sedap, kotor, menjijikkan, serta semuanya yang tak menyedapkan indra.Dalam lingkupan hal menjijikkan ini, ada secuil kisah dari penghuni bawah tanah yang terlupakan. Hidup tiga ekor tikus yang sudah seperti keluarga. Sebuah ikatan keluarga yang tercipta dari nasib yang sama, sesama makhluk terbuang yang kehadirannya tak diharapkan siapa pun.Arel—tikus malang yang semenjak kecil telah ditinggal mati orang tuanya hingga menjadi trauma. Reli—tikus gemuk yang sedari kecil telah menghabiskan banyak makanan dibanding tikus mana pun, hingga tubuhnya gemuk. Yang terakhir adalah Rey—tikus perempuan yang pernah hampir mati karena kelaparan. Nasib baik ketika Rey bertemu dua tikus yang sekarang menjadi keluarganya.Kala itu, Rey sedang merintih kesakitan, meringkuk di dalam sebuah kaleng bekas ikan sarden yang nyaris berkarat sepenuhnya. Ia bertemu Arel dan Reli yang sedang berjalan-jalan menjelajahi penjuru gorong-gorong. Nyawa Rey berhasil terselamatkan berkat Arel yang merebut paksa makanan di mulut Reli, lantas memberikannya pada Rey yang sekarat. Semenjak saat itu, mereka bertiga memutuskan untuk bersatu, melakukan petualangan, menghadapi kehidupan bersama sama dan menciptakan sebuah keluarga buatan.* * *Pagi cerah dimulai kembali. Angin berdesis kalem, embun perlahan tertepis sinar mentari hangat, udara bersahaja untuk menjalankan rutinitas. Namun, semua itu hanya terjadi di dunia atas. Dunia bawah terjadi sebaliknya.Pagi yang tetap gelap, sinar matahari hanya secercah—hasil menembus lubang-lubang kecil penutup gorong-gorong. Udara yang dingin, lembab, aroma buruk yang tidak jelas muncul dari benda apa, serta keadaan yang sepi, hanya terdengar tetesan limbah air dari atas. Suasana yang membuat siapa pun merasakan lebih baik mati saja. Namun, bukan itu penyelesaianya. Justru ketika seseorang yang berkata lebih baik mati saja dalam keadaan yang serba buruk, ia tak pernah merasakan bahwa sebenarnya hidup yang begini itu indah. Bukankah ada semacam fenomena yang berisi orang-orang dengan kekayaan berlebih, hidup bergelimang kecukupan yang kadang berlebihan? Akan tetapi, menjalani kehidupan dengan mengeluh terus-menerus, merasa kekurangan dan sangat haus akan kekuasaan, hingga nekat mengambil rezeki insan lain sekalipun. Saking hausnya, sampai lidahnya terjulur tak bisa kembali meneteskan air liur yang menjadi saksi kedustaan mulutnya. Lidah terjulur, menggonggongkan kebenaran hasil pencitraan tanpa kenyataan, mirip seekor paling hina di dunia ini. Kita semua tahu apa itu.Hari masih pagi, Arel sudah di pinggir sungai dasar gorong-gorong, sibuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Si besar Reli masih tidur. Sementara itu, Rey layaknya perempuan. Mungkin ia jalan-jalan atau pergi berbelanja. Konyol, tidak mungkin ada tikus yang berbelanja walalupun tikus berdasi sekalipun.Di mana pun tikus berada, nalurinya tetaplah mencuri. Mengapa seorang Arel tidak mencuri layaknya teman-temannya? Malahan, ia lebih memilih mengais sisa makanan di tempat sampah? Inilah trauma yang dialami Arel. Nyawa orang tuanya terenggut akibat mencuri di sebuah rumah besar. Kedua orang tuanya dikejar, lalu pada akhirnya diterkam seekor kucing penjaga rumah tersebut. Arel menyaksikan sendiri dengan mata mungilnya."Guys! Ada kabar gembira nih!" Suara mengagetkan Rey tiba-tiba muncul entah dari mana. Arel yang terkaget, hampir tersungkur ke dalam aliran limbah masyarakat. Sementara itu, Reli tetap melanjutkan dengkurannya setelah beberapa saat terdiam pasca Rey berteriak."Ada apa sih Rey? Kalem dikit kenapa?""Ya maklumlah, berita bagus nih.""Iya-iya, katakan aja.""Tadi, pas lagi jalan-jalan di atas, aku lihat ada sekumpulan makanan dekat tong sampah di sebuah rumah.""Makanan?" Reli langsung bangkit dari mimpinya setelah sebuah kata "makanan" terlontar dari ujung lidah Rey."Bukan berita bagus. Setiap hari kan memang selalu ada sisa makanan di tong sampah. Manusia kan emang gitu," ucap Arel biasa saja."Iya. Tapi, ini tempatnya dekat dan sepi," balas Rey tetap kukuh."Kesempatan nih, yuk!" ujar Reli dengan liurnya mulai menetes."Terakhir kapan kita makan?""Tiga hari lalu. Tapi, aku punya beberapa lalat, mau coba satu?" tawar Reli." .... "Arel tampak berpikir keras untuk sebuah pilihan yang sulit. Di antara trauma yang masih bersarang di dalam tubuhnya, juga karena perutnya kini benar-benar berteriak keras minta diisi."Kalau kamu masih saja berpikir terus tak melakukan apa pun, aku akan lakukan sendiri," kata Rey sambil berlalu."Rey! Aku ikut!" teriak Reli ketika sudah agak jauh berlalu.Sementara itu, Arel tetap merenung, memikirkan sesuatu dengan dalam. Menimbang apa yang harus ia lakukan saat ini. Bagaimanapun ia sudah sangat kelaparan."Untuk kali ini saja, aku ikut." Arel sudah membulatkan keputusannya."Nah, gitu dong," ujar Rey dengan riang, lalu melakukan tos dengan dua sahabatnya sambil berjalan menuju rumah tersebut.Ketiga sahabat ini pun lantas mengendap-endap di balik sebuah sapu ijuk. Rey sedang mengawasi keadaan, barangkali kucing itu sedang tidak ada atau pun tidur. Reli masih mengunyah makanannya sembari menunggu instruksi dari Rey. Sementara itu, Arel gemetaran karena hidungnya mencium sebuah aroma ikan asin dan nafas yang memburu di belakangnya. Rey berada di depan, Reli di tengah, dan Arel di urutan ketiga. Di urutan paling belakang, seekor hewan berkumis telah membuka cakarnya yang tajam, hendak menerkam mangsanya.T A M A T

Sang Malam
Fantasy
23 Jan 2026

Sang Malam

Angin berhembus kencang kala senja mulai meredup, digantikan langit tanpa mentari yang mendinginkan suasana. Di angkasa yang luas itu, sang Malam di dalam kegelapan tengah tersenyum manis sembari menunggu Bulan menyapa. Sudah saatnya Sang Malam menghabiskan waktu bersama Bulan hari ini.Ketika siang telah usai, Sang Malam akan bertemu Bulan indah yang tak ada duanya itu. Ia sudah rindu kepada Bulan yang selalu menemani malamnya.Bulan juga tak kalah merindukan Sang Malam yang menjadi semangat untuknya bersinar. Hanya cahaya Bulan yang selalu ada dan menemani ketika Sang Malam datang. Biarlah waktu berlalu, Bulan akan menghabiskan sisa sinarnya hanya untuk Sang Malam. Mereka akan selalu bersama hingga waktu dunia telah usai.Kala itu, sang Malam tersenyum menghampiri bulan sembari berkata, "Aku merindukanmu."Bulan pun tersipu malu, ia juga tak kalah merindu. "Aku juga merindukanmu."Sang Malam semakin tersenyum, menatap cinta kepada Bulan yang tengah memerah seperti tomat. Bulan memang selalu cantik meskipun merah menghiasi, terlihat sangat menggemaskan.Ia pun berbisik. "Malam ini, kau sangat indah."Kemudian Bulan buru-buru mengulum senyum, sang Malam memang selalu bisa membuatnya malu. Tiada malam tanpa merayu, Bulan akan selalu tersipu karena rayuan yang langka itu. Begitupun sang Malam yang hanya bisa terkekeh pelan.Setiap hari, sang Malam mengirim syair-syair indah tentang Bulan yang selalu cantik. Bulan semakin jatuh cinta kala sang Malam mengukir kisah mereka bersama pada syair-syair langka dari pujaan hati yang tampan. Meskipun malam menjadi sangat dingin, tapi Bulan selalu hangat dengan syair indah itu.Sebelum malam tiba, senja selalu menjadi pertanda bahwa sang Malam akan datang. Terkadang Bulan yang menunggu, dan tak jarang sang Malam juga menunggu Bulan. Mereka saling menunggu dengan tenang meskipun waktu berjalan. Kemudian berakhir dengan senyuman bahagia kala mereka bertemu melepas rindu.Bagi Bulan, sang Malam adalah kenyamanan. Mereka saling berkeluh kesah sembari tersenyum bahagia. Semua dilalui dengan tersenyum, meskipun terkadang rasa lelah datang. Namun, Bulan mengerti sang Malam selalu kuat melewati gelap yang mencekam pada dini hari karena sang Malam akan menghabiskan waktu dengan Bulan lebih lama.Ketika Sang Malam terkekeh, tiba-tiba sinar kilat datang diikuti Petir yang menyambar. Langit berubah mendung dan semakin hitam, mereka sangat terkejut menatap langit di hiasi sinar petir. Tidak jauh dari mereka berada, suara petir menggelegar seolah siapapun yang dekat dengannya akan habis saat itu juga.CETARRR!Sang Malam mencemaskan Bulan sehingga bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"Bulan terlihat cemas dan takut, Petir sangat menyeramkan di antara gelap."Bagaimana aku bisa tenang? Petir itu sangat menyeramkan," ujarnya. Bahkan Petir tak segan hampir mengenai Bulan jika saja sang Malam tidak menghalangi."Aku akan melindungimu," ucap sang Malam di tengah kegaduhan Petir di antara mereka.Petir menyambar dengan tiba-tiba sungguh mengganggu kebersamaan mereka. Ketika mereka mulai tersenyum bersama, diikuti cepatnya kilat petir datang dengan seramnya. Ditambah langit mendung yang mendukung bahwa keadaan cuaca akan berubah buruk.CETAAAR!"Wahai Bulan, menjauhlah darinya!"Di kala Bulan tengah ketakutan, suara oetir terdengar menggelegar menyebut namanya. Hingga Bulan berpaling, menatap tak suka pada Petir yang berbicara seenaknya itu."Apa yang sudah kau katakan?""Kau harus meninggalkan sang Malam!""Kenapa aku harus meninggalkannya?" Bulan terdengar sangat ketus.Petir menguar tertawa, kemudian berkata, "Sang Malam tidak akan bisa melindungimu dari cambukan petirku!""Tidak, aku tidak akan meninggalkan sang Malam." Bulan menatap sang Malam dengan gurat sedih bercampur cemas.Digantikan Petir yang masih menggelegar dengan cambukan panas penuh kekuatan, lantas memandang Bulan yang terlihat begitu menatap cinta pada sang Malam."Bulan, tenanglah. Meskipun bukan aku pemenangnya, tapi percayalah bahwa aku akan selalu ada bersamamu." sang Malam menenangkan Bulan dengan lembut.CETAAAR!Lagi-lagi Petir menyambar dengan kuat, sinar kilat tak henti menakuti. Namun, sang Malam tetap berada di depan Bulan. Ia akan melindungi Bulan apa pun yang terjadi. Meskipun cambukan petir itu menyapa, ia akan tetap melindungi Bulan hingga waktunya telah habis. Dengan sekuat tenaga sang Malam merentangkan tongkat sakti pada Petir."Lawan aku, sebelum kau menyakiti Bulanku!" teriaknya.Petir yang masih sibuk akan cambukan, lantas ia menatap remeh sang Malam. "Wahai sang Malam, kau hanyalah kegelapan yang mencekam! Tidak akan ada yang mencintai kegelapan sepertimu!"Sang Malam menatap marah, ia merasa bahwa petir menghina kegelapan yang ada dalam dirinya."Wahai Petir, aku tidak butuh pengakuan cinta. Karena siapa pun yang berada dalam kegelapan sepertiku adalah yang paling kuat untuk melawan Petir seperti dirimu!"Petir terkekeh. "Lebih baik kau menyerah, sebelum aku mencambukmu dengan petir panasku ini!"Sang Malam mengeluarkan kekuatan dari tongkat sakti, melawan Petir yang dengan sombong meremehkan kegelapan. Mereka bertengkar di tengah angkasa hingga menimbulkan gemuruh kencang.CETAAAR! WUSSH!Sang Malam sekuat tenaga mengalahkan Petir panas itu hingga menghilang. Tongkat sakti miliknya kembali pada tangan dengan tenang. Berbalik melihat Bulan yang masih meringkuk takut, ia menghampiri dengan perlahan."Bulan, kita sudah aman. Petir telah menghilang."Bulan menatap dan bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"Sang Malam mengangguk yakin. "Aku berhasil."Mendengar itu, Bulan tersenyum bahagia. Ia memeluk sang Malam yang sudah berhasil mengalahkan petir dengan hebatnya dan sang Malam pun berbalik memeluk Bulan dengan begitu erat."Aku akan selalu ada bersamamu, karena cahaya Bulanmu yang membuatku kuat."Dahulu, sang Malam terlalu sepi akan kegelapan. Namun, hadirnya Bulan mengubah sang Malam menjadi sangat kuat. Cahaya Bulan telah membangkitkan sang Malam untuk mengetahui arti dari tersenyum. Ia merasa nyaman bersama Bulan hingga mereka saling jatuh hati.Terkadang kegelapan memang menyeramkan, tetapi masih ada cahaya di dalamnya yang tak akan pernah.

Taksi
Romance
23 Jan 2026

Taksi

Taksi adalah seorang gadis manja dan kesayangan orang tuanya.Hari ini adalah hari pertama Taksi di ospek di kampusnya.Taksi keluar dari kamarnya dengan pita warna-warni yang menghiasi rambutnya."aduh, anak mama kok cantik banget sih".Meskipun sudah dipuji, tetap aja Taksi masih cemberut."kok muka kamu ditekuk gitu sayang ?", tanya papa Taksi."papa sama mama nggak liat, pakaian aku ini kayak ondel-ondel tau nggak", jawabnya masih cemberut."namanya juga diospek sayang. Oh yah, ini mama udah buatin bekal untuk kamu"."mama, kan Taksi bukan anak kecil lagi. Ngapain dibuatin bekal segala sih. Kalo Taksi laper, kan bisa makan di kantin"."tapi mama nggak jamin kebersihan makanan di kantin sayang. Makanan buatan mama ini lebih sehat bergizi"."ya ampun mama. Aku bisa diketawain sama temen-temen aku kalo mereka liat aku bawa bekal"."nggak bakalan sayang. Udah, kamu nggak usah protes, nurut aja apa kata mama"."oke hari ini Taksi bakalan bawa bekal ini. Tapi besok-besoknya nggak lagi yah"."iya".Setelah sarapan, papa ngantar aku ke kampus. Setelah sampai di kampus aku melihat banyak anak yang dihukum karena terlambat.Oh my god !B erarti aku juga udah terlambat dong.Seorang senior menghampiri aku. "hei anak baru, napa loe terlambat. Ini udah jam berapa hah ?". bentaknya."udah jam 8"."loe disuruh datang jam berapa ?"."setengah 8"."terus kenapa loe masih aja terlambat"."aku kan cuma terlambat setengah jam. Gitu aja kok sewot sih", ucap Taksi cemberut."wah nih anak baru mulai ngelawan nih".Tiba-tiba seorang cowok datang menghampiri kami. Kayaknya dia juga kakak senior deh."napa Hen ?", tanyanya."ini nih Tris anak baru. Udah terlambat masih aja mau ngelawan"."nama loe siapa ?", tanyanya dengan galak."Taksi...".Mereka tertawa saat aku nyebut namaku. "kenapa kalian ketawa, ada yang lucu ?"."heh..! Kenapa nggak sekalian aja nama loe bus, becak atau bajaj. Lebih cocok tuh". Mereka tertawa lagi."jangan ngeledek aku yah. Kayak nama kamu bagus aja ?"."emangnya loe tau nama gue ?"."ng..nggak"."makanya jangan sok tau. Sekarang sebagai hukumannya loe jalan bebek 50 kali"."hah ? Kok banyak banget sih ?"."malah protes lagi. Atau loe mau gue tambahin jadi 100 kali"."nggak nggak. Iya 50 kali aja". Aku kemudian jalan bebek. Sesekali aku melirik ke senior yang tadi. Aku sih nggak tau namanya. Tapi tadi aku denger temennya manggil nama Tris. Oh atau jangan-jangan namanya Trisno kali. Ha ha ha....***Saat istirahat aku dan sahabatku Diana makan bareng di kantin. Diana kaget saat ngeliat aku ngeluarin bekal dari dalam tas."Taksi, kamu bawa bekal, nggak salah ? Kita ini udah kuliah Taksi, bukan anak sd, smp atau sma. Kamu jangan samain lagi deh. Oke waktu masih sma aku masih maklumin, tapi sekarang..."."ini itu kemauan mama aku Di. Aku udah nolak tadi, tapi mama tetep aja maksa. Ya udah deh. Tapi besok-besoknya nggak lagi kok".Tiba-tiba senior yang tadi ngehukum aku datang bersama teman-temannya. Dia langsung ngetawain aku."eh, ini nih kampus bukan tk. Ngapain bawa bekal segala sih ?".Mereka tertawa lagi.Aku langsung berdiri dengan marah. "emangnya kenapa ?, masalah buat kamu ? Kenapa kamu yang jadi sewot. Suka-suka aku dong"."keliatan banget anak manja"."aku bukan anak manja !"."kalo bukan, terus kenapa masih bawa bekal". Dia tertawa lagi. Setelah itu dia ninggalin kantin.Kurang ajar, berarti dia ke sini cuma mau ngeledek aku, bukan untuk makan . Aku kemudian duduk kembali. "dasar senior nyebelin.."."sabar aja Taksi. Eh, tapi aku denger-denger yah, nama kakak senior tadi tuh..."."Trisno", kataku memotong omongan Diana."kok Trisno sih, Tristan. Namanya Tristan bukan Trisno. Dia itu jadi incaran cewek-cewek di kampus ini. Udah ganteng, keren, kaya raya lagi. Perfect banget kan"."ganteng dari hongkong. Gitu aja dipuji-puji. Malahan menurut aku, dia itu cowok paling nyebelin di dunia. Males aku berurusan sama dia"."bener males ? Nanti jadi suka loh"."nggak bakalan..!".***Setelah seminggu masa ospek, akhirnya kelar juga. Sekarang aku udah mulai kuliah. Mama juga nggak buatin aku bekal lagi. Tapi yang masih bikin aku kesel, aku masih sering ketemu sama senior nyebelin itu. Terus kalo ketemu, ujung-ujungnya pasti aku cuma diledekin. Dibilangin cewek manja lah, cengenglah. Dasar.., emangnya situ pernah liat aku nangis.Setiap aku diantarin sama papa, pasti dia ngeledek aku lagi. Kayak nggak pernah dianterin aja..."wah, cewek manja udah datang lagi nih", katanya waktu aku baru datang ke kampus."heh..! Aku males yah berantem sama kamu. Minggir sana, ngerusak suasana aja"."ih galak banget. Takuutt...", ledeknya.Dia bener-bener nyebelin. Nggak tau kenapa dia hobby banget ngeledek dan ngegangguin aku. Kayaknya kalo sehari aja dia nggak ngeledek aku mulutnya udah gatel. Sebelum aku pergi, aku masang tampang galak sama dia. Eh, dia malah nyengir. Nyebelin banget kan...***"Taksi Taksi...", panggil Diana terburu-buru lari ke arah aku."ada kabar heboh nih"."kabar heboh apaan ?"."aku denger, Tristan udah putus sama pacarnya"."apa ? Jadi itu yang kamu bilang kabar heboh ?"."ya iya. Kan kamu tau, Tristan itu populer banget di kampus ini. Jadi kalo dia udah ngejomblo sekarang, pasti banyak cewek-cewek nih yang pada ngantri mau jadi pacar dia. Kamu nggak mau coba ngantri ?"."ogah..! kayak nggak ada cowok lain aja yang bisa disukai. Emangnya cuma dia cowok ganteng di dunia ini. Masih banyak kali..."."ye..h, tapi dia itu yang paling ganteng di kampus ini. Kamu beneran nggak suka sama dia ?"."nggak..!"."emangnya loe pikir gue juga suka sama loe ?", kata Tristan yang datang tiba-tiba. "walaupun cuma loe satu-satunya cewek di dunia ini, gue juga nggak bakalan mau sama loe. Dasar cewek manja !".Meskipun kaget melihat kedatangan Tristan yang tiba-tiba, Taksi tetap membalas perkataannya."baguslah. Aku juga nggak akan mau sama kamu walaupun cuma kamu satu-satunya cowok di dunia ini..!". Aku langsung pergi ninggalin Tristan. Aku bisa denger Diana teriak-teriak manggil aku.***Udah dari tadi aku nunggu kendaraan, tapi nggak ada yang lewat-lewat juga. Malah langit mendung banget lagi, kayaknya sebentar lagi bakalan hujan nih. Kalo kayak gini terus bisa-bisa aku akan kehujanan.Tiba-tiba aja ada sebuah mobil sport mewah yang berhenti di depanku. Ternyata yang turun dari mobil adalah Tristan.Ngapain lagi sih dia ?"ada orang yang lagi nunggu kendaraan nih yeh. Tumben-tumbenan gak dijemput sama bokap", ledeknya."kamu nggak usah mulai lagi yah. Mendingan pergi aja deh, nggak usah gangguin aku terus !"."yeh malah ngusir. Gue bukannya sok baik yah. Tapi mendingan loe naik aja gih ke mobil gue. Gue anter loe pulang. Mau nggak ? Kalo nggak mau hujan gini, sebenarnya sih gue juga ogah nawarin loe ikut. Tapi setidaknya gue masih punya hati nurani"."aku nggak butuh bantuan kamu !"."yeh masih aja sok jual mahal. Jadi loe malah lebih milih kehujanan ? Ya udah, gue cuma nawarin sekali yah". Saat Tristan ingin kembali ke mobilnya..."eh tunggu...".Tristan menghentikan langkahnya."aku..aku ikut".Tristan berbalik kemudian memunculkan smirk nya padaku."ya udah cepetan naik sana".Aku kemudian naik ke mobil tristan. Setelah mobil berjalan, hujan langsung turun dengan deras.Tanpa kusadari, aku tertidur di dalam mobil.....***Aku bangun karena mencium aroma masakan mama, kayaknya enak banget. Aku langsung keluar menuju meja makan."eh sayang kamu udah bangun, padahal mama baru aja mau bangunin kamu untuk makan. Tadi kamu kan nggak makan siang karena ketiduran".Oh iya aku baru ingat, tadi kan aku ketiduran di mobil Tristan. "ma, pa kok aku bisa..."."kamu heran yah kenapa kamu bisa tidur di kasur padahal tadi kamu tertidur di mobil Tristan ?"."mama sama papa tau Tristan ?"."ya taulah. Awalnya tadi papa salah paham saat nelpon kamu, tiba-tiba yang ngangkat suara laki-laki, terus dia bilang kamu lagi tidur. Papa kirain dia udah macam-macam sama kamu. Ternyata setelah dia jelasin, papa baru percaya. Terus dia nanya alamat rumah kita. Kamu ini kalo diantarin sama orang, kasih tau alamat rumah dulu dong. Malah asyik ketiduran. Untung aja Tristan pemuda yang baik, jadi dia nggak ngambil kesempatan saat kamu tidur di mobilnya"."jadi pas aku sampai, papa langsung ngegendong aku masuk ke kamar ?"."bukan papa yang gendong kamu, tapi Tristan"."hah..? Papa jangan bercanda ah"."ngapain papa bercanda. Tadi Tristan yang gendong kamu turun dari mobil. Ceritanya sih papa tadi mau ambil kamu bawa ke kamar. Tapi kata Tristan, dia aja karena udah terlanjur. Ya udah, papa biarin dia yang gendong kamu sampai di kamar"."apa.. ?, kok papa malah ngebiarin Tristan sih gendong aku"."karena papa liat dia anak yang baik. Orangnya bertanggung jawab"."iya lohTaksi. Mama suka banget sama Tristan. Kalo aja mama seumuran kamu, pasti mama akan suka sama dia. Dia anaknya sangat baik dan ganteng. Kalo dia yang jadi pacar kamu, mama pasti ngedukung"."iya, seharusnya pemuda seperti Tristan yang cocok jadi pacar kamu"."papa sama mama apaan sih. Dia itu cuma senior aku di kampus. Aku nggak suka sama dia..!"."kalau nggak suka, kenapa kamu mau dianterin coba ?"."ih papa mama..". Aku langsung lari masuk kekamar dengan tampang cemberut."loh Taksi, kamu belum makan sayang ?"."udah nggak mood..... !". teriakku.***Aku nggak sengaja ketemu sama Tristan di coridor kampus."eits tunggu...", cegatnya."apalagi..!", kataku judes."yeh galak banget sih. Nggak usah pura-pura lagi. Pasti papa sama mama loe udah bilang tentang kemarin"."terus kenapa ? Apa kamu mau aku berterima kasih sekarang sama kamu ?"."yah harus dong"."makasih..!", kataku judes. "udah puas ?"."belum", jawabnya singkat. "gue baru akan puas kalo loe nraktir gue makan di kantin"."hah ? Kok gitu sih ? Kamu kan orang kaya, masa minta ditraktir ?"."ini bukan masalah kaya atau nggaknya yah. Kalo loe nggak mau nraktir gue, berarti loe masih berhutang sama gue"."apa ? i..iya iya, aku mau..". Aku akhirnya mentraktir tristan di kantin. Nyebelin banget sih nih orang..Aku melirik ke kiri kanan saat duduk bersama Tristan di kantin. Semua mata tertuju pada kami. Pandangan cewek-cewek tajam banget ke aku. Kayaknya mereka heran aku bisa makan sama Tristan di kantin.Berarti aku udah bikin cewek-cewek kampus cemburu karena deket sama Tristan yang katanya paling populer di kampus. Ha ha ha...Sedangkan Tristan dari tadi cuma cuek aja. Malahan dia tetep sibuk nyantap makanannya. Aku heran, sebenarnya apa sih yang ada di pikiran cowok ini ? Kalo dia nggak nyebelin, pasti kegantengannya semakin terpancar di mata aku. Apalagi dia udah nolong aku. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku sebenarnya kagum sama dia. Tapi sikapnya susah banget ditebak. Bener-bener buat aku bingung."woi...". Tristan mengagetkan aku. "ngelamun aja....Oh gue tau, pasti loe heran yah, kok ada cowok seganteng gue", katanya menaikturunkan alisnya."ih dasar GR, kayak kamu aja yang paling ganteng. Masih banyak kali cowok ganteng di luar sana"."emang masih banyak di luar sana. Tapi cuma gue yang paling ganteng di sini"."ya iya, karena cuma kamu cowok yang aku liat di depanku"."alah, pinter banget sih ngelesnya"."bodo' ". Aku kembali menyantap makananku.Tiba-tiba aja Tristan megang tangan kiriku."meskipun bukan hanya gue cowok ganteng yang pernah loe liat. Tapi bisa nggak, cuma gue cowok satu-satunya yang loe simpen dalam hati loe ?". Aku langsung tersedak mendengarnya."kamu ngomong apa ?"."jangan bilang loe nggak ngerti maksud omongan gue. Meskipun loe cewek manja dan cengeng, tapi nggak berarti kan loe cewek oon".Aku langsung memukul tangan Tristan. "masih sempet aja yah ngeledek aku. Emangnya kamu pernah liat aku nangis, pake ngatain aku cengeng segala"."nggak. Tapi biasanya kalo cewek manja, pasti cengeng juga"."ih, kamu nyebelin banget sih. Hobby banget ngeledek aku"."kalo loe mau berhenti gue ledekin terus, ada syaratnya..."."apa ?"."loe harus jadi pacar gue ?"."hah ?" Aku melongo."kalo nggak mau, berarti loe harus siap gue ledekin setiap hari'"."ih kok ngancam sih. Emangnya kayak gini yah cara kamu kalo nembak cewek ?"."nggak, ini pertama kalinya gue kayak gini. Karena bagi gue, cewek yang satu ini langka banget"."kurang ajar, emangnya aku apaan dibilang langka"."sekarang jawab dong. Mau nggak jadi pacar gue ?"."kok maksa sih ? Tapi tunggu deh, kamu kan pernah bilang kalo kamu nggak akan mau sama aku meskipun cuma aku satu-satunya cewek di dunia ini"."itukan cuma bercanda Taksi. Habisnya loe sendiri yang mulai"."enak aja. Yang mulai pertengkaran kamu yah. Kamu yang pertama kali ngeledek aku"."ya udahlah, itu kan udah lewat. Yang gue mau sekarang, loe tinggal bilang kalo loe mau jadi pacar gue"."nggak, aku nggak suka cara kamu yang maksa"."ya ampun, nih cewek yang satu ribet banget sih. Oke..".Tristan langsung berdiri. "gue bakalan bikin jadi romantis".Tristan mendekat ke aku kemudian berjongkok sambil megang tanganku."KALIAN SEMUA DI SINI HARUS DENGERIN BAIK-BAIK.....", teriak Tristan sehingga seluruh isi kantin mendengarnya."GUE...., TRISTAN ANGGARA SANGAT MENCINTAI TAKSI RENATA....". Gue bener-bener nggak nyangka Tristan seberani itu."jadi apa kamu mau jadi pacar aku..?"."kamu kok bisa tau nama lengkap aku ?"."itu nggak penting. Yang lebih penting sekarang adalah kamu harus jawab aku ? Mau yah jadi pacar aku, please..?"."harus aku jawab sekarang yah ?"."ya iyalah Taksi, masa tahun depan sih. Biar semua orang denger dan tau"."ya udah deh.."."Ya udah apa ?".Aku mengangguk."jangan hanya ngangguk dong. Bilang apa ?"."ya ampun.., iya Tristan, aku mau jadi pacar kamu".Tristan langsung memeluk aku. Semua orang bertepuk tangan melihat kami. Tapi ada juga sebagian cewek yang pergi. Mungkin kecewa karena mengetahui aku udah jadian sama Tristan.Aku langsung melepas pelukan Tristan. "pelan-pelan dong meluknya"."iya cewek manja", kata tristan mencubit hidungku."kok cewek manja sih. Kamu kan udah janji nggak akan ngeledek aku lagi".Tristan cengengesan. "iya sayang. Gitu aja marah.., bercanda doang".The End

Cowok Misterius
Romance
23 Jan 2026

Cowok Misterius

Kring..kring...kring......Suara berisik jam weker membuat gue langsung terbangun. "berisik banget sih...". Gue ngucek-ngucek mata gue, kemudian memandang jam weker."oh my god....!". Ini sudah pukul 8, sedangkan gue masuk pukul setengah 8. Tumben mami nggak bangunin gue.Akh.., gue lupa, mami kan udah berangkat ke bandung tadi malam, pantesan aja gak ada yang bangunin gue. Kalo bi Sumi, nggak usah ngarep ngebangunin...Gue langsung ngambil handuk dan buru-buru mandi, walaupun gue tau pasti udah telat banget ke sekolah, tapi gak apa-apa deh, daripada gak datang sama sekali, he he he..."mau ke sekolah non ?", tanya bi Sumi ketika gue baru aja turun dari atas."nggak, mau ke pasar..!Yah mau ke sekolahlah bi, gak liat apa aku lagi pake seragam gini". Sahutku ketus."yah habisnya ini udah pukul 8 non. Non Nina kan masuknya setengah 8"."ini semua gara-gara bibi, kenapa coba nggak bangunin aku. Aku jadi telat kan". Sahutku masih ketus."kan non nggak nyuruh bibi buat ngebangunin non". Katanya dengan nada polos."ya ampun.., yah meskipun aku nggak nyuruh seharusnya bibi tetap harus bangunin aku dong"."maaf non". Bi Sumi cengengesan sambil garuk-garuk kepala.Yeh, malah cengengesan..., dari dulu penyakit oon bi Sumi nggak berubah juga. Yah meskipun rada'oon, tapi sebenarnya bi Sumi baik sih. Kalo nggak, buat apa coba mami masih mempekerjakan bi Sumi. Apalagi bi sumi sudah bekerja saat gue masih kecil."ya udah, aku pergi dulu..."."nggak sarapan dulu non"."mana sempat sih, aku udah telat banget nih..."."tapi non...". Gue langsung cabut sebelum bi Sumi ngelanjutin ucapannya.***Untung aja jalanan tadi nggak terlalu macet, jadi gue nggak harus nunggu lama di dalam taksi.Setelah sampai, gue langsung berlari menuju gerbang pintu yang sudah tertutup. Dan mendapati pak satpam sedang berdiri."pak..., bukain dong", rengekku dengan wajah memelas."nggak bisa. Kamu lupa yah peraturannya, kalau siswa yang sudah terlambat, tidak diijinkan masuk"."yah bapak..., masa tega sih sama saya. Ayolah pak, kali ini saja yah. Please..?"."No..!", bentak pak satpam.Idih.., nih pak satpam galak banget sih. Malah ngebentaknya pake bahasa inggris lagi. Sok deh..!."pak, saya kasih kesempatan bapak berpikir yang kedua kalinya untuk ngijinin saya masuk"."dan saya kasih kamu kesempatan untuk pergi sebelum saya laporin sama kepala sekolah !".Ya ellah, nih satpam malah ngancem segala lagi. Masa gue harus kembali ke rumah. Nanti kan jam ketiga gue ulangan kimia. Malah pak Ferry guru kimia gue galak banget lagi. Kalo gue gak ngikutin ulangannya, bisa-bisa nama gue tercoreng merah dimata pak Ferry.Hem..., gue harus mikir.., kalo nggak ada rotan, akar pun jadi...Aha..., gue punya ide. Gue langsung berlari menuju belakang sekolah. Seingat gue, disana ada sedikit jalan yang bisa dimasuki , moga aja masih ada.Setelah sampai, ternyata...yes.., akhirnya masih ada juga, gue kirain udah diperbaikin, he he he...Tanpa pikir panjang gue langsung menerobos masuk..Gue kaget saat ngeliat seorang cowok duduk disebuah bangku. Entah kenapa gue tertarik ingin menghampiri dia, seperti ada suatu magnet yang narik gue. Besi kali gue, he he he .."permisi..", sapa gue.Cowok itu menoleh ke arah gue. Tatapannya lurus banget, terus mukanya pucat pasi, apa dia sakit kali yah ?."kok loe ada di sini ?, inikan udah jam pelajaran. Loe nggak masuk ?".Cowok itu nggak ngejawab, malah natap gue terus tanpa berkedip. Dia bisu kali yah ?."halo, kok diem aja sih ? loe bisa ngomong kan ?"."bisa", jawabnya datar. Akhirnya dia ngejawab juga, gue kirain beneran bisu."loe kok bisa ada di sini ?, loh dari kelas mana ? Gue baru liat loe di sekolah ini".Lagi-lagi dia hanya diem. "kok malah diem aja sih ?, jawab dong"."kamu sendiri ngapain disini?"."em gue..., gue terlambat, makanya lewat belakang, abisnya satpam galak banget nggak ngebolehin gue masuk lewat depan. Lo sendiri ?".Cowok itu hanya ngangkat kedua bahunya. Aneh.."nama lo siapa ?", tanya gue .Lagi-lagi dia hanya diam natap gue. "nama lo siapa ?" tanya gue lagi."Nando", jawabnya singkat.Heran deh, dia baru ngejawab kalo gue udah dua kali nanya."kalo gue Nina. Anak X IPA 3. Kalo lo ?".Dia hanya menggeleng."maksudnya ?". Gue gak ngerti maksud dia menggeleng apa ?"bukannya kamu sudah terlambat, kok masih di sini", ucapnya.Astaga, kok gue bisa lupa gini sih dan malah keasyikan ngobrol sama dia. "ya udah gue duluan yah", kata gue kemudian berlari menuju kelas.***Bener dugaan gue, gue dimarahin habis-habisan sama guru pkn gue gara-gara telat satu jam masuk di kelasnya. Dan lebih marahnya lagi saat beliau nyuruh gue untuk ceritain sejarah G30 S/PKI gue malah nggak bisa. Gue akuin, otak gue emang lemah kalo pelajaran pkn, tapi jangan salah, kalo pelajaran hitungan kayak matematika atau kimia, gue jagonya. Hua ha ha..., bukannya sombong nih yeh."tumben lo telat datangnya tadi Nin ?", tanya Leni teman sebangku gue."gue kesiangan tadi Len . Mami yang seharusnya selalu bangunin gue tiap hari, malah nggak ada. Pergi ke bandung tadi malam"."bukannya ada pembantu lo ?"."kalo dia, nggak usah nanya lagi deh. Malas gue ngomongin pembantu gue yang rada'oon itu". Ucap gue mendesah.Gue ceritain semua kejadian yang gue alami tadi sama Leni. Dia malah tertawa terpingkal-pingkal dengerin cerita gue saat diusir sama satpam."berarti hari ini loe emang sial banget Nin. Tapi tadi cowok yang lo temui itu anak mana ?"."yah mana gue tau, saat gue nanya dia hanya geleng-geleng"."aneh.., jangan-jangan bukan siswa dari sekolah ini kali"."nggak mungkin, orang seragamnya sama kok sama kita"."emangnya lo beneran nggak pernah liat dia sebelumnya di sekolah ini ?".Gue hanya menggeleng. Tapi meskipun Leni bilang gue sial banget hari ini, tapi bagi gue nggak juga tuh, apalagi saat gue ketemu sama cowok yang tadi. Buat cewek yang punya mata normal, pasti bakalan bilang kalo tuh cowok ganteng banget. He he he....***Sepulang sekolah, gue iseng-iseng pergi ke belakang. Barangkali aja tuh cowok masih ada disana. Ngarep banget sih. Entah kenapa gue penasaran banget sama tuh cowok.Oh my god.. Tuh cowok beneran ada loh. Gue hampirin ah..."hei, kok loe ada lagi di sini sih ?, tadi loe masuk belajar kan ?".Lagi-lagi dia hanya menatap lurus ke gue. Sumpah, baru kali ini gue ketemu sama cowok aneh kayak dia."loe sakit yah, makanya pendiem banget ?".Dia menggeleng."muka lo pucat banget". Saat gue ingin megang jidatnya, dia langsung menghindar, dan malah natap gue tanpa berkedip lagi kayak tadi pagi."aku nggak apa-apa. Dan aku nggak suka disentuh", katanya datar.Gue kaget mendengarnya. Lagian gue juga sih mau main pegang-pegang aja, baru kenal tadi pagi juga. Sok akrab deh..."maaf yah, gue nggak bermaksud...". Gue nggak bisa ngelanjutin omongan gue, nggak tau deh mau ngomong apa sama dia."kenapa kamu ada lagi disini ?", tanyanya kemudian."gue...". Gue harus ngejawab apa yah ?, kalo gue bilang gue sengaja datang karena pengen ketemu sama dia, gengsi dong.."gue sih cuma iseng-iseng doang ke sini, ternyata ketemu lagi sama loe".Dia memandang lurus ke depan."loe suka banget nongkrong sendirian di sini yah ?".Dia diem lagi. "emangnya loe nggak kesepian sendirian di sini ?".Dia hanya menggeleng."rumah loe di mana ?", tanya gue lagi."setelah jalan cenderawasih ", katanya lagi datar."setelah jalan cenderawasih ?, emangnya jalan apa setelah jalan cenderawasih ?. Gue lupa bagian jalan di sana, karena seingat gue, gue hanya sekali datang ke jalan cenderawasi, itu pun saat masih kecil".Nando kemudian berdiri dan ingin pergi."loe mau ke mana ?, mau pulang ?".Dia hanya mengangguk."em.., sebelum loe pulang, gue..., gue mau ngajak loe temenan. Gimana ?, mau nggak temenan sama gue ?, walaupun kita baru kenalan, tapi gue liat lo orangnya baik".Dia hanya mengangguk." Gue boleh minta nomer hp loe nggak ?".Dia lalu menyebut nomor hpnya, dan gue segera ambil hp gue disaku kemudian mencatatnya.Setelah itu dia pergi...Heran deh gue, tuh cowok kok nggak pernah senyum sih. Nggak senyum aja dia ganteng, apalagi kalo senyum yah.., he he he.***Gue langsung nelpon Nando ketika sampai di rumah.Tapi kok...., nomernya nggak aktif. Ini nomor beneran nggak sih?, tapi masa Nando bohongin gue, nggak mungkin. Tapi tadi dia nggak ngasih tau alamat rumahnya loh.Akh..., kenapa gue jadi penasaran gini sih ?.Usai ganti baju gue langsung keluar rumah, ceritanya sih pengen ke rumah Nando. Dan tiba-tiba gue berpapasan sama Leni didekat gerbang rumah gue."eh, loe mau ke mana Nin ?"."loe sendiri ngapain ke sini ?"."ya ellah, yah mau ketemu sama loe lah. Kayak biasa..".Gue tau, setiap kali Leni datang ke rumah gue, pasti ujung-ujungnya cuma ngajak ngegosip doang..."oh yah, karena kebetulan lo datang, loe harus temenin gue pergi ke rumah Nando"."hah ?, ke rumah Nando ?, siapa tuh, gebetan loe ?".Gue ngejitak kepala Leni. Yah, meskipun omongannya nggak salah juga, tapi tetep aja, gue nggak mau dibilang ngejar-ngejar cowok. Gengsi dong. Sebelum Leni ngoceh, gue langsung narik tangan dia naik ke taksi yang sudah berhenti di depan.Setelah sampai di jalan cenderawasih, gue bingung sendiri."rumah cowok yang lo maksud dimana Nin ?"."gue juga nggak tau"."loh, kok malah nggak tau sih ?", tanya Leni melongo kaget."Nando hanya bilang kalo rumah dia setelah jalan cenderawasih"."setelah jalan cenderawasih ?, berarti bukan jalan cenderawasih dong"."tau ah. Gue itu nggak tau lokasi di sekitar sini"."gimana sih ngasih alamat nggak jelas".Ketika ada orang yang lewat, gue berhentiin."permisi pak. Saya mau nanya, setelah jalan cenderawasih, jalan apa lagi yah ?".Ekspresi muka Bapak itu terlihat kaget. "setelah jalan cenderawasih kan, udah bukan jalan lagi neng, tapi perkuburan umum."hah..?", gue sontak kaget bersamaan dengan Leni."ah, bapak jangan bercanda deh", kata gue cengingiran."bapak nggak bercanda neng. Serius.., setelah jalan cenderawasih memang langsung perkuburan umum. Memangnya kenapa neng nanyain itu segala ?"."soalnya saya punya teman, katanya rumah dia setelah jalan cenderawasih. Atau barangkali aja bapak kenal sama dia. Namanya Nando pak"."wah, setau bapak di jalan cenderawasih ini nggak ada yang bernama Nando neng. Mungkin aja neng salah alamat kali".Gue nggak mungkin salah alamat, jelas-jelas gue denger Nando bilang rumahnya setelah jalan cenderawasih. Apa Nando sengaja ngerjain gue ?, nggak mungkin..."gimana sih Nin, kok cowok itu ngasih alamat yang salah. Setelah jalan cenderawasih kan perkuburan, atau emang cowok itu tinggal di perkuburan kali. Jangan-jangan hantu nin...".Gue ngejitak kepala Leni. "jangan ngomong sembarang deh loe. Masa ganteng-ganteng gitu dibilang hantu"."yah barangkali aja hantu versi 2017 udah jadi berubah, jadi cakep-cakep semua, he he he..".Leni malah cengengesan. Gue langsung ngejitak kepala dia lagi."candaan lo nggak lucu tau nggak.."."yeh, emangnya siapa bilang lucu ?"."mendingan sekarang kita pulang aja. Moga aja gue bisa ketemu sama Nando besok, jadi gue bisa minta penjelasan sama dia. Dan loe ikut gue besok ke belakang, biar loe ngeliat gimana cakepnya Nando"."oke..".***Esoknya di sekolah, gue langsung narik tangan Leni ke belakang sekolah.Dan ternyata...., si Nando udah nggak ada lagi."dianya mana Nin?"."hufh.., dia udah nggak ada. Malah gue nggak tau lagi dia di kelas mana"."loe payah banget sih ketemu sama cowok"."jangan mulai lagi deh loe".Tiba-tiba pak satpam sama Leo kakak kelas gue datang."kalian ngapain disini ?", tanya pak satpam."bapak sendiri ngapain ke sini sama kak Leo ?"."ditanya malah balik nanya".Gue cengingiran. "sorry pak. Saya datang ke sini sama Leni mau ketemu sama teman saya"."teman kamu siapa ?"."kemarin saya ketemu sama dia disini. Kirain masih ada, ternyata nggak ada. Namanya Nando. Bapak kenal nggak sama dia ?"."hah..?". Pak satpam dan Leo sontak kaget."loe jangan ngawur deh Nin. Nando kan udah meninggal satu tahun yang lalu"."hah..?", gue yang giliran kaget banget bersamaan dengan Nina."kak Leo kalo bercanda jangan keterlaluan dong. Masa tega ngomong kayak gitu tentang Nando", kata gue nggak percaya."gue serius Nin, nggak bohong. Nando itu sahabat dekat gue. Dia udah meninggal sebelum loe masuk ke sekolah ini. Satu tahun yang lalu tepat kemarin, dia meninggal di tempat ini karena memang ada penyakitnya. Kebetulan pak Wayan juga dekat sama Nando, makanya kita datang ke sini, kemarin lupa. Yah kita cuma mau mengenang satu tahun kematian Nando, makanya datang ke sini tempat dia meninggal".Gue syok banget ngedenger penjelasan kak Leo."berarti loe itu udah ngeliat hantu Nando kemarin nin. Gue jadi merinding nih..", ucap Leni dengan gemetar."ka..kalo tem..pat Nando dimakamkan di..di mana ?", tanya gue dengan suara gemetar."diperkuburan umum, setelahnya jalan cenderawasih", jawab Leo."hah..?", gue tambah kaget lagi."bener kan Nin. Berarti Nando emang nggak salah ngasih loe alamat. Dia kan udah meninggal, jadi emang tinggal diperkuburan"."Len..Len", kata gue megang lengan Leni dengan lemas. Seluruh badan gue lemas banget."gue.. gue masih ada kan. Lo masih liat gue kan ?".Leni langsung mencubit pipi gue dengan keras."aww....!", jerit gue.Gue langsung ngejitak kepala Leni lagi."Gila, sakit banget tau.."."abisnya loe sih ngomongnya ngelantur.."."abisnya gue nggak percaya bisa ketemu sama hantu Nando kemarin. Pantesan aja mukanya pucat pasi banget, nggak kayak manusia normal. Ternyata..."."ternyata benerkan omongan gue, hantu versi 2017 cakep-cakep. He he he..".Perasaan gue nggak mimpi serem kemarin malam, tapi kenapa bisa ketemu sama hantu yah ?, tapi nggak apa-apa deh, yang penting hantunya cakep banget, nggak kayak di film-film. He he he....Sekarang gue tau, kenapa gue bisa ngeliat hantu Nando kemarin, sedangkan hari ini nggak. Karena kemarin tepat satu tahun hari kematian dia, makanya muncul di tempat ini, tempat dimana ia meninggal gitu, mungkin gue bisa ngeliat dia lagi satu tahun kemudian kali yah tepat hari kematian dia.Nggak apa-apa deh tiap hari gue ketemu sama hantu, asalkan cakep kayak Nando.He he he....Dananehnya, kenapa cuma gue yang kebetulan bisa ngeliat dia kemarin...........The End

Gerhana Bulan
Romance
23 Jan 2026

Gerhana Bulan

"woi Gerhana......! Mau ke mana loe....", teriak gue.Si Gerhana bener-bener buat gue naik darah. Tiap hari dia cari masalah terus sama gue. Dan kalo udah gitu, gue harus cari cara lagi untuk ngebales dia. Dia baru aja ngebuat ban sepeda gue bocor. Terpaksa deh gue harus jalan kaki pulang nanti sambil ngedorong sepeda gue ke bengkel. Kayaknya, dia emang sengaja nggak bawa motornya ini hari. Mungkin takut kalo gue juga bikin ban motornya bocor. Awas loe yah, besok-besoknya gue bales loe. Malah tadi dia cuma cengengesan lagi pas ngeliat ekspresi marah muka gue.Gue sama dia udah tetanggaan cukup lama. Semenjak dia pindah di samping rumah gue satu tahun yang lalu, gue sama dia bagaikan kucing dan tikus. Selalu aja berantem tiap hari. Padahal yah, ortu kami akur-akur aja tuh."hai Bulan. Kok muka loe ditekuk lagi sih. Perasaan tiap hari muka loe selalu aja jutek", kata Tari waktu gue berpapasan sama dia di dekat pintu kelas.Tari itu pacarnya Gerhana. Itu sih cuma penafsiran gue aja. Habisnya mereka sering banget jalan bareng. Gue sering liat Gerhana ngebonceng Tari kalo pulang sekolah. Makanya itu gue langsung nyimpulin kalo mereka pacaran. Gue sih ogah cari tau yang sebenarnya tentang mereka."loe nggak usah mancing emosi gue deh. Loe itu sama aja tau nggak kayak pacar loe itu"."pacar gue ? Siapa ?", tanya Tari kayak nggak ngerti. Aduh, pura-pura bloon deh."yah siapa lagi kalo bukan Gerhana. Emangnya loe punya banyak pacar. Wah, kasian juga Gerhana udah diselingkuhin ". Gue langsung masuk ke kelas sebelum ngedengerin omongan Tari.Lagi-lagi gue ngeliat Gerhana. Gue emang sekelas sama dia. Padahal yah, gue enek banget kalo tiap hari ngeliat dia. Tapi yang anehnya, Lola teman sebangku gue malah terus muji-muji dia. Tiap hari malahan. Udah tau gue benci banget sama Gerhana, malah dipuju-puji lagi di depan gue.Gerhana balik ke arah gue. "heh Bulan, gimana kejutan gue tadi pagi ? Seru kan ?", katanya dengan smirk menyebalkannya." Awas loe yah, gue bales perbuatan loe"."oke deh gue tunggu. Kapan rencana loe mau ngebales gue ?", ledeknya."ih malah ngeledek". Gue langsung ngejitak kepala Gerhana."aw...". Dia nahan tangan gue. "loe jadi cewek kasar banget sih. Nanti nggak ada yang suka loh"."bodo' !". Gue berantem sama gerhana di kelas."Gerhana ! Bulan !", bentak bu Merry guru matematika gue.Gue dan Gerhana seketika berhenti."kalian ini bener-bener yah. Tiap hari kerjaannya berantem terus".Gue dan Gerhana saling melirik."kalian berdua maju ke depan ! cepat..!".Gue dan Gerhana lalu maju dan berdiri di depan kelas. "apa kalian ini nggak bisa akur sedikit.."."nanti kalo matahari udah terbit dari barat bu", kata Gerhana."dan kalo matahari udah terbenam dari timur bu", lanjutku."kalian ini bener –bener keras kepala. Seharusnya kalian ini tetap akur. Karena biar bagaimana pun ada yang namanya gerhana bulan. Gerhana nggak mungkin sendiri. Pasti kalo bukan gerhana bulan, maka gerhana matahari"."kalo gitu, saya mau cari cewek aja bu yang namanya Matahari. Lebih cocok tuh gerhana matahari daripada gerhana bulan. Kalo dia, lebih cocok cari cowok yang namanya Sabit, biar jadi bulan sabit bu. Atau nggak, cowok yang namanya Purnomo. Jadi bulan purnomo deh. Ha ha ha", kata Gerhana tertawa meledek.Gue langsung nginjak kaki Gerhana"aw..", katanya menjerit."heh kutu kupret. Adanya bulan purnama kali. Bukan bulan purnomo"."biarin aja, suka-suka gue dong"."dasar loe yah.."."sudah sudah.. Kalian ini memang bener-bener nggak bisa disatuin. Emangnya kalian nggak takut nanti saling jatuh cinta. Benci sama cinta itu beda tipis loh. Apa kalian nggak tau kepanjangan dari benci"."emangnya apa bu. Benci itu kan cuma satu kata"."benci itu kepanjangan dari 'benar-benar cinta' "."hoek..". kata gue bersamaan dengan Gerhana.***"Bulan, kamu bawain kue ini ke tetangga sebelah"."sebelah mana ma ?"."yah dimana lagi kalo bukan di rumahnya tante Siska, mamanya Gerhana"."hah ? Kok aku sih ma ?"."emangnya siapa lagi. Ayo cepetan"."tapi ma.., kan aku sama Gerhana nggak akur. Kalo aku ketemu sama dia gimana ?"."lagian kamu kenapa sih kok benci-bencian sama Gerhana ?, dia anaknya baik kok"."itukan di depan mama. Tapi kalo di depan aku, ampun deh nyebelin setengah mati"."sudah-sudah. Cepetan kamu bawain ini ke tante Siska. Lagian cuma bentar kok"."ya udah deh, sini..". Gue lalu ke rumah tante Siska.....Setelah sampai, untungnya tante Siska yang bukain pintu. Tante Siska langsung nyuruh gue masuk."seharusnya kamu nggak usah repot-repot loh ngasih kue segala sama tante"."nggak apa-apa tante. Lagian kan tante juga sering ngasih kami makanan. Jadi saling membalas kan"."kamu ini. Oh yah, ngomong-ngomong kamu mau ketemu sama Gerhana nggak ?".Gue kaget, "nggak kok tante. Bulan mau langsung pulang aja"."loh kenapa ? Gerhana ada di kamarnya. Tante panggilin yah"."nggak usah tante. Bulan bener-bener mau pulang aja sekarang"."bener ?"."iya tante. Kalo gitu Bulan permisi yah tante"."oh iya. Salamin yah sama mama kamu. Bilangin makasih atas kuenya"."iya tante". Gue langsung keluar dari rumah tante Siska.Setelah sampai di pintu gerbang, gue dikagetkan sama kehadiran Gerhana. "ngapain loe disini ?, ada urusan sama gue ?".Loh, bukannya Gerhana ada di kamarnya kata tante Siska ?"nggak ! Gue cuma ada urusan sama tante Siska"."loe bawain kue untuk mama gue"."nah itu tau, pake nanya lagi"."mau cari perhatian sama gue, makanya bawain kue segala ?"."enak aja. Jangan GR yah. Gue itu cuma disuruh sama mama gue". Gue langsung cabut ninggalin Gerhana."eh ada yang lupa tuh.....!", teriak Gerhana."apa ?", kata gue balik."jejak kaki loe. Ha ha ha..", katanya tertawa menyebalkan.Gue pasang tampang marah. Dasar cowok nyebelin...***"eh lan, loe kan tetanggaan sama gerhana, Gue minta disalamin dong sama dia", kata Lola waktu gue makan di kantin sama dia.Gue langsung tersedak. "apa loe bilang ? minta disalamin ? nggak salah ?"."apanya yang salah coba. Lo tau nggak sih. Gue itu udah lama naksir sama Gerhana. Semenjak dia jadi siswa pindahan di sini. Sebagai sahabat, loe harus bantuin gue"."ogah..! udah tau gue sama Gerhana musuhan, pake minta disalamin lagi sama dia. Kenapa nggak sekalian aja loe yang nyamperin dia. Lagian kita kan sekelas"."gue kan malu lan. Masa cewek yang duluan sih"."ya udah kalo malu. Lupain aja.., lagian kayak nggak ada cowok lain aja yang bisa loe taksir. Terus kenapa pake malu segala lagi sama Gerhana. Apa yang loe maluin coba ?"."elloe tuh yah. Nggak ngerti banget perasaan gue"."udah, lupain aja si kutu kupret itu. Cari cowok lain aja gih. Lagian, bukannya Gerhana udah punya pacar yah ? Dia kan pacaran sama Tari"."hah ? Siapa yang bilang ?"."loe nggak liat mereka sering barengan. Gerhana sering banget ngeboncengin Tari"."tapi belum tentu mereka pacaran kali"."menurut gue mereka itu pacaran"."nggak. Mereka nggak pacaran"."ya udah, terserah loe..".***Waktu itu gue pulang malam karena ada yang gue kerjain di sekolah. Gue kan aktif banget di sekolah, jadi kalo ada kegiatan gue selalu ikut berpartisipasi.Jalanannya sepi banget sih...Tiba-tiba aja ada segerombolan preman yang menghampiri gue."mau ke mana neng ?".Aduh ,mukanya sengar banget sih..."mau ke mana neng ? kita anterin yah"."nggak usah bang".Saat gue ingin lari kayak di film-film, tangan gue dicekal."lepasin.."."buru-buru amat sih neng. Temenin kita dulu dong"."nggak..! lepasin...". Preman itu tertawa, mungkin karena melihat gue yang begitu ketakutan."heh.., lepasin cewek itu..!".Gerhana tiba-tiba aja datang."siapa loe ? Nggak usah jadi pahlawan kemalaman yah"."gue bilang lepasin cewek itu. Kalian langkahin dulu mayat gue sebelum gangguin cewek itu".Gerhana berani banget...Para preman itu malah tertawa. "anak ingusan mau ikut campur"."ayo maju kalo berani", tantang Gerhana. Preman itu kemudian maju melayani gerhana berkelahi.Mereka sudah cukup lama berkelahi. Tiba-tiba aja seorang preman yang tadi jatuh tersungkur dibuat Gerhana, langsung bangun dan dengan cepat menusuk perut Gerhana dengan pisau."Gerhana..... !", teriakku.Tubuh Gerhana langsung limbung. Para preman itu langsung kabur. Gue segera menghampiri Gerhana."Gerhana.., bangun Gerhana..". Gerhana sudah tak sadarkan diri."tolo..nngg". Gue teriak minta tolong. Tanpa sadar gue nangis melihat perut Gerhana yang berlumuran darah. "Gerhana...".Setelah gue teriak minta tolong berkali-kali. Akhirnya orang-orang datang. Salah satu dari mereka menghubungi ambulance. Kemudian beberapa saat kemudian, Gerhana sudah dibawa ke rumah sakit..Gue nggak henti-hentinya menangis. Bahkan setelah Gerhana masuk ke ruang UGD. Gue ngerasa bersalah banget sama Gerhana. Gara-gara gue keadaannya jadi kritis. Kata dokter Gerhana masih koma. Dan gue bener-bener syok ngedengernya.Beberapa lama kemudian orang tua Gerhana sudah datang bersama dengan orang tua gue."gimana keadaan Gerhana, Bulan ?", tanya tante Siska cemas."kata dokter Gerhana masih koma tante", kataku masih menangis."maafin Bulan tante, ini semua gara-gara Bulan. Kalo aja Gerhana nggak nolongin Bulan, pasti dia nggak akan kayak gini"."sudahlah bulan nggak apa-apa. Ini semua sudah takdir. Yang penting kita berdoa aja, semoga Gerhana keadaannya bisa membaik"."iya tante".Mama menenangkan gue yang nggak henti-hentinya menangis. Ini untuk pertama kalinya gue nangis karena cowok. Itupun cowok yang jadi musuh gue selama ini.***Hari ini gue sengaja nggak ke sekolah karena nungguin Gerhana. Mama sama tante Siska sebenarnya udah ngebujuk gue ke sekolah, tapi tetep aja gue nggak mau. Gue nggak mau ninggalin Gerhana sampai dia siuman. Lagian walaupun gue ke sekolah, pasti gue juga nggak akan konsentrasi belajar karena mikirin Gerhana terus.Semalaman gue nggak bisa tidur karena ngejagain Gerhana. Sampai-sampai mata gue bengkak, ditambah lagi habis nangis. Tanpa sadar gue tertidur di dekat Gerhana sambil megang tangannya.Tiba-tiba aja gue ngerasa tangan Gerhana bergerak. Gue langsung manggil dokter. Setelah diperiksa, akhirnya dokter bilang kalo Gerhana udah melewati masa komanya. Alhamdulillah...Gerhana membuka matanya perlahan. "Gerhana, syukurlah loe udah siuman. Gue khawatir banget sama loe"."Bulan ?". Kelihatannya Gerhana kaget ngeliat gue. "gu..gue a..da di mana ?"."loe ada di rumah sakit. Loe lupa yah , tadi malam kan loe ditusuk pisau sama preman yang mau gangguin gue. Sekarang ini udah pagi, dan syukurlah loe udah bisa sadar"."kok loe bisa ada di sini ? Nggak ke sekolah ?"."gimana gue bisa ke sekolah coba kalo tadi loe belum siuman. Gue khawatir banget sama loe. Walaupun gue ke sekolah, gue juga nggak akan bisa konsen. Jadi gue mutusin nungguin loe sampai siuman. Orang tua loe tadi pulang bentar ke rumah. Nanti juga balik kok".Gerhana mencoba bangun."sini gue bantuin". Gue bantuin Gerhana bangun."aw..", jerit Gerhana memegang perutnya. Kelihatannya perutnya masih sakit."hati-hati. Perut loe kan belum pulih. Oh yah, loe harus makan sekarang. Gimana kalo gue suapin"."kok loe tiba-tiba baik banget sama gue ?"."yah abisnya loe udah nolongin gue tadi malam. Dan gue berhutang nyawa sama loe. Gue nggak tau harus balas loe kayak gimana ?"."jadi seandainya tadi malam gue nggak nolongin loe, loe nggak akan sebaik ini sekarang ? Kalo gitu mendingan gue sakit terus aja supaya loe bisa perhatian terus sama gue"."husy.., kok loe ngomong gitu sih. Dengan loe udah siuman aja, itu udah buat gue lega banget"."loe bener-bener khawatir sama gue ?"."ya iyalah"."loe peduli sama gue ?"."kok loe nanya gitu ?"."selama ini loe benci banget yah sama gue ? Apa gue terlalu nyebelin jadi orang ?"."gue itu nggak akan mulai, kalo bukan loe yang duluan. Bukannya loe yang nggak suka sama gue yah. Gue kira loe yang benci sama gue ?".Gerhana megang tangan gue. "gue nggak pernah benci sedikit pun sama loe Bulan"."terus kenapa lo selalu jailin gue ?"."karena gue mau cari perhatian sama loe. Loe selalu aja jutek sama gue. Nggak pernah sedikit pun tersenyum. Makanya satu-satunya cara gue bisa cari perhatian sama loe, yaitu dengan jailin loe terus"."jadi selama ini loe nggak beneran benci sama gue ?".Gerhana menggeleng. "semenjak gue pindah di sebelah rumah loe dan juga di sekolah loe, gue udah mulai suka sama loe ?"."apa ? Te..terus Tari gimana ?, kalo emang loe suka sama gue, kenapa loe bisa pacaran sama Tari ?"."hah ? Siapa yang pacaran sama Tari ?"."gue sering liatin kalian berdua. Loe sering boncengin Tari kan ?"."gue emang sering boncengin dia. Gue selalu ajak Tari bersama saat gue ngeliat loe, Itu karena gue mau ngetes loe. Gue pengen tau apa yang loe rasain saat ngeliat gue sama cewek lain. Lagian nggak mungkin lah gue pacaran sama Tari. Dia kan sepupu gue"."hah ? Kok Tari nggak pernah bilang sih ?"."gue emang sengaja nyuruh dia nyembunyiin. Terutama sama loe"."kok loe tega sih sama gue ?"."emangnya kenapa ? Apa itu pertanda loe juga suka sama gue ?".Gue mengangguk malu. "tapi gue langsung mundur saat gue kira lo udah punya pacar. Apalagi banyak cewek-cewek cantik yang suka sama loe di sekolah. Dibandingin mereka, gue nggak ada apa-apanya lah"."gue nggak peduli itu semua Bulan. Yang gue peduliin sekarang adalah perasaan loe sama gue".Gue tersenyum. "jadi loe mau kan jadi pacar gue ?".Gue mengangguk tersenyum.Gerhana juga ikut tersenyum."tapi gue nggak mau kejadian tadi malam terulang lagi. Seharusnya loe langsung aja bawa gue lari tadi malam tanpa harus ngelawan para preman itu"."itu berarti pengecut dong. Lagian gue rela kok pertaruhin nyawa gue asalkan loe selamat. Gue nggak akan biarin orang lain ngegangguin loe sebelum ngelangkahin dulu mayat gue".Gue hanya tersenyum. Gue bener-bener bahagia. Ternyata bener, setiap kejadian itu pasti ada hikmahnya....The End

Sorry
Romance
23 Jan 2026

Sorry

"ini semua gara-gara loe tau nggak Gin, andai aja tadi loe nggak teriak-teriak. Kita nggak bakalan ketahuan sama Niko. Sampai-sampai dia ngeliat kita kabur segala"."yah maaf Ray. Gue kan gak tau loe mau menghindar dari Niko. Emangnya kenapa sih, loe kayak nggak suka banget sama dia. Padahal kan dia perhatian banget sama loe. Seneng lagi punya pacar kayak dia"."pacar dari hongkong ! Kapan coba gue jadian sama dia. Dia aja tuh yang suka ngaku-ngaku jadi pacar gue. Sukanya cari perhatian mulu, apalagi sama papa dan mama".Siapa yang nggak kesel coba, tiap hari si Niko yang ngakunya keren dan ganteng terus datang ke rumah gue. Malah sok perhatian lagi. " udah makan belum Ray. Tadi malam tidur loe nyenyak nggak ? Loe makin cantik aja deh hari ini dan bla bla bla ".Hoek.., gue kayak mau muntah kalo inget kata-kata si Niko. Emangnya dia pikir, gue cewek yang mudah digombalin. Dasar playboy kampungan.. !."wah, kasian Niko dong kalo gitu. Masa lo gantungin dia terus sih"."siapa juga yang ngegantungin dia. Gue itu udah beberapa kali nyuruh dia berhenti ngedeketin gue terus, tapi tetep aja dia nggak nyerah dan cari perhatian terus sama ortu gue. Nyebelin banget kan !"."lo tuh yah"."jangan-jangan loe suka lagi sama Niko, Gin ? makanya lo belain dia terus"."yah nggaklah. Gue cuma heran aja. Kalo diliat selama ini, Niko itu baik banget dan perhatian sama lo, gue heran aja kenapa loe nggak suka banget sama dia. Jadi karena lo ngira dia playboy".Braaakk...... !"oh my god Raya, loe nabrak orang".Gue kaget banget. "gara-gara loe tau nggak karena ngajakin gue ngomong terus dari tadi"."kok loe malah nyalahin gue sih"."mendingan kita turun sekarang". Gue dan Gina lalu turun dari mobil.Orang yang gue tabrak terkapar di jalan, gue bisa lihat kepalanya berdarah. Ya ampun, mati gue...Orang-orang lalu datang melihat keadaan ibu-ibu yang gue tabrak. Mereka nuntut gue untuk bertanggung jawab. Akhirnya gue segera nelpon ambulance. Tidak lama kemudian, ambulance datang dan membawa ibu tersebut ke rumah sakit. Gue dan Gina langsung nyusul ambulance tersebut.Setelah sampai, bukannya gue ke ruang rawat ibu yang tadi gue malah singgah di bagian administrasi ngurusin semuanya. Setelah selesai, gue masih nggak beranjak juga."Raya, lo kenapa sih ? Ayo kita ke ruang rawat ibu yang tadi"."gue takut Gin. Gue takut kalo ibu yang tadi gue tabrak kenapa-napa. Kalo sampe dia meninggal, pasti gue bakalan masuk penjara"."husy.., lo itu jangan ngomong sembarangan. Kita kan belum tau keadaan ibu itu. Mendingan sekarang kita pergi lihat keadaan dia. Barangkali aja keluarganya belum datang, dan dokter membutuhkan seorang wali"."justru itu, kalo misalnya keluarganya udah datang pasti mereka akan nyalahin gue"."belum tentu Ray. Lagian kita kan udah tanggung jawab dengan nolongin ibu itu. Jadi bukan salah kita lagi. Kalopun ibu itu sampai kenapa-napa, emang udah takdirnya dan bukan kesalahan kita. Kita hanya sebagai perantara". Tumben omongan si Gina bijak banget. Gue dan Gina lalu ke ruang rawat ibu tersebut.Saat kita sampai, terlihat ada seorang pemuda yang mondar-mandir dengan wajah cemas di depan kamar rawat ibu tersebut. Gue dan Gina lalu mendekat ke arah pemuda tersebut."maaf mas", sapa gue. Dia lalu menoleh ke arah kami. Wah.., nih cowok ganteng banget.Gue melirik ke arah Gina, dan ternyata dia juga sama lagi mesem-mesem. Dari gelagatnya gue udah tau kalo Gina punya pikiran yang sama kayak gue saat ngeliatin ini cowok."em.., mas ini keluarga dari ibu yang ditabrak tadi yah ?", tanya gue setengah takut."iya. Kalian siapa ?", tanyanya datar."em.. kita.....kita..".Gue melirik lagi ke arah Gina. Gue bener-bener takut bilang yang sebenarnya sama cowok ini. Gina hanya mengangguk dengan maksud mengiyakan atau menyetujui gue jujur.Cowok itu menatap gue dengan penuh tanda tanya."maaf yah mas, sebenarnya saya yang tadi nggak sengaja menabrak ibu yang dirawat didalam". Ucapku menunduk.Wajah datar cowok itu berubah sangat kaget."saya...."."terus kamu masih punya muka untuk datang ke sini !", katanya marah.Gue bener-bener kaget dengerin omongan dia. Wajahnya bener-bener diliputi rasa amarah."kalian orang kaya memang nggak punya perasaan. Kalian beranggapan segala sesuatu hanya bisa diselesaiin dengan uang !"."nggak. Saya mohon jangan salah paham. Saya nggak sengaja menabrak ibu yang tadi".Tiba-tiba seorang dokter keluar dari kamar rawat ibu itu."dokter, bagaimana keadaan ibu saya ?".Astaga, jadi orang ini adalah anak ibu tadi ? ."keadaan ibu anda masih kritis. Tapi kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhannya". Dokter itu lalu pergi."jadi, ibu itu adalah ibu kamu ? Saya bener-bener minta maaf. Tapi kamu tenang aja, saya sudah bayar semua kok biaya administrasinya. Kalo pun ibu kamu masih perlu perawatan yang lain, saya juga akan menanggungnya"."apa kamu pikir segala sesuatu hanya bisa diselesaiin dengan uang !".Gue belum pernah liat ada cowok semarah ini sama gue."sekarang kamu dan teman kamu itu pergi dari sini. Saya nggak mau ngeliat muka kalian".Astaga , segitu marahnya orang ini ?"masih nggak denger juga ! saya bilang pergi dari sini !"."udah Ray, kita pergi aja dulu", bisik Gina."tapi Gin...".Gina langsung narik tangan gue pergi dari sana."nggak seharusnya tadi loe narik tangan gue Gin. Gue masih harus berada disana untuk ngejelesin sama cowok itu"."tapi tadi loe liat sendiri kan dia uda ngusir kita. Kalo loe mau datang, besok aja lagi deh. Mungkin aja amarah tuh cowok udah mereda. Lagian, gue paling nggak suka kalo liat cowok ganteng marah".Akhirnya gue dan Gina lalu pergi.***Esoknya, gue datang lagi ke rumah sakit. Dan seperti kemarin cowok itu sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat ibunya."gimana keadaan ibu kamu ?", tanya gue menghampiri cowok itu.Muka cowok itu seketika kaget campur marah saat ngeliat gue. Gue jadi takut lagi nih ngehadapin dia.."ngapain lagi kamu ke sini ?", tanyanya sinis. "masih berani juga ngemunculin muka kamu ! "."aku cuma mau buktiin sama kamu, kalo aku bukan orang yang akan lari dari tanggung jawab"."Raya ! Loe ngapain disini ?", kata Niko yang tiba-tiba datang."loe ngapain disini ko ?",tanya gue terkejut melihatnya."seharusnya gue yang nanya balik sama loe. Ngapain loe disini dan ngomong sama...". Niko memandang hina cowok itu. "sama orang berpenampilan miskin kayak dia"."Niko, jaga omongan loe ! Nggak sopan banget sih".Niko kemudian menarik tangan gue menjauh dari cowok itu.Walaupun berpenampilan miskin, itu nggak mengurangi kegantengannya loh ...Gue langsung menghentakkan tangan gue yang ditarik Niko. "loe sengaja yah ngebuntutin gue ?"."iya, karena loe terus ngehindarin gue. Pasti karena cowok tengik tadi kan ?"."heh.., dia nggak ada hubungannya yah sama kita. Gue aja baru kenal dia kemarin. Gue nggak sengaja nabrak ibu dia, makanya gue datang ke sini sebagai rasa tanggung jawab gue"."alah.., loe kan bisa tinggal ngasih dia uang. Selesai kan"."loe itu masih nggak ngerti juga yah. Loe pikir dengan hanya uang bisa nyelesaiin semuanya ?".Cieh, kenapa gue jadi ikutan kayak cowok itu."sekarang loe pergi dari sini. Jangan ngebuntutin gue terus, kayak nggak ada kerjaan lain aja. Dan satu lagi, berhenti ngedeketin gue ataupun ortu gue. Gue udah beberapa kali ngasih tau kan kalo gue nggak pernah suka sama loe !".Gue langsung pergi ninggalin Niko dan kembali ke tempat tadi.Ternyata cowok itu udah nggak ada. Eits.., pintu kamarnya terbuka . Ibu itu udah siuman, gue bisa dengar cowok itu sedang nanyain keadaan ibunya. Kemudian gue memberanikan diri masuk."permisi bu. Keadaan ibu bagaimana ?", tanya gue berusaha ramah.Cowok itu kaget lagi pas ngeliat gue. "kamu ngapain lagi ke sini ?"."dia siapa Rio ?". Oh, jadi namanya Rio toh ?"perkenalkan, nama saya Raya bu. Saya mau minta maaf atas kejadian kemarin. Saya bener-bener nggak sengaja menabrak ibu".Ibu itu kelihatan sedikit kaget. "saya tau, mungkin ibu sangat membenci saya, sama halnya seperti Rio. Saya berjanji untuk menebus kesalahan saya. Saya akan membiayai perawatan ibu sampai ibu pulih total"."kamu nggak usah sok baik yah", kata Rio dengan sinis."Rio, nggak boleh ngomong kasar sama perempuan", kata ibu Rio lembut."dia ini cuma mau cari muka bu. Biasalah kerjaan orang kaya"."aku bener-bener nggak ada maksud apa-apa kok. Aku tulus"."dan kamu pikir aku percaya. Udah deh, mendingan sekarang kamu pergi !"."Rio, setidaknya nak Raya sudah mau bertanggung jawab".Gue heran, kan yang ditabrak mobil ibunya Rio, tapi kenapa Rio yang lebih marah-marah. Ibunya aja udah maafin gue ."ya sudah bu, kalo gitu saya pulang dulu. Besok saya akan ke sini lagi menjenguk ibu"."terima kasih yah nak"."justru saya yang berterima kasih pada ibu karena sudah memaafkan saya". Gue langsung pergi setelah pamitan sama ibunya Rio.***Esoknya gue ke rumah sakit lagi. Tapi ternyata kata suster, ibu Rio sudah pulang tadi pagi. Untung aja suster ngasih tau alamat mereka jadi gue langsung ke sana.Rumah Rio emang sederhana banget. Tapi gue nggak pernah permasalahin masalah ekonomi seseorang. Yang paling penting itu hatinya .Emangnya loe apanya Rio..?.Iya juga yah, masa gue udah jatuh cinta sih pada pandangan pertama sama Rio.Nggak mungkii....nnn.. !Gue lalu beri salam, dan ternyata ibu Rio yang bukain pintu. "nak Raya ?"."apa kabar bu ?", sapa gue tersenyum. "tadi saya datang ke rumah sakit. Tapi kata suster, ibu udah keluar tadi pagi. Makanya saya langsung datang ke sini. Memangnya keadaan ibu sudah membaik ?"."iya. Ibu sudah membaik kok. Ya sudah, ayo masuk nak". Gue lalu masuk dan duduk.Gue berbincang-bincang sama ibu Rio. Ternyata Rio itu kerja di bengkel. Kata ibunya, mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Gue juga nggak tau, kenapa gue pengen banget ketemu sama dia, meskipun dia masih jutek sama gue, tapi gue bakalan bikin dia jadi baik sama gue. Liat aja entar...Tidak lama kemudian, Rio datang dengan wajah berkeringat, mungkin lelah karena habis bekerja.Ya ampun, berkeringat aja dia ganteng banget.... Kayaknya gue beneran jatuh cinta nih sama Rio."ngapain lagi kamu disini !".Gue kaget banget saat Rio ngebentak gue."Rio, kamu jangan kasar gitu sama nak Raya. Dia datang ke sini dengan baik-baik. Dia sengaja mau menjenguk ibu"."ibu seharusnya nggak nyuruh dia masuk"."kamu segitu bencinya yah sama aku sampai-sampai nggak ngebolehin aku masuk ke rumah kamu"."kamu lihat sendiri kan rumah kami. Begitu kecil dan sempit. Kalo nggak ada maksud tertentu, nggak mungkin orang kaya kayak kamu mau menginjakkan kaki di rumah ini"."sumpah, aku nggak ada maksud apa-apa kok. Aku bener-bener tulus"."Rio, kita seharusnya menghargai nak Raya karena mau datang ke sini". Rio langsung masuk ke dalam dengan wajah kesal."nak Raya jangan ambil hati yah omongan Rio"."nggak apa-apa bu", kata gue berusaha terlihat baik-baik saja.Rio kenapa sih benci banget sama gue..?***Gue masih nggak nyerah juga untuk datang ke rumah Rio. Kali ini gue datang bersama Gina. Gue sengaja minta dia nemenin gue, supaya kalo Rio marah, bukan hanya gue yang kena, tapi Gina juga.Hehehe....tega banget sih loe jadi temen.."rumah Rio sederhana banget yah Ray", kata Gina saat kami berada di depan rumah."iya. Tapi itu nggak masalah buat gue. Gimana pun keadaan keluarga Rio, itu nggak merubah perasaan gue sama dia"."tunggu tunggu..., perasaan loe ?, maksudnya apa nih ? Jangan bilang loe suka sama Rio ?".Gue cengingiran. "jadi bener Ray lo suka sama Rio ?"."iya Gin, gue nggak bisa bohongin perasaan gue"."jadi makanya itu loe sengaja bawa makanan segala untuk cari perhatian"."yah bukan gitu juga kali". Gue dan Gina lalu memberi salam.Lagi-lagi ibu Rio yang bukain pintu. Saat gue kasih makanan, ibu Rio malah jadi nggak enak.Tiba-tiba aja Rio keluar dari dalam. Dia kaget saat tau gue bawa makanan ."kamu pikir kami kekurangan makanan sampe harus bawa makanan segala !".Ya ampun, Rio kenapa sih sentimen mulu sama gue ? Kali ini gue hanya diem. Gue serasa mau nangis ngedengerin omongan kasar Rio. Kalo aja nggak ada ibunya yang ngebelain gue, mungkin aja gue udah nangis didepan dia. Setelah ibunya ngomong, Rio langsung keluar rumah. Oh my god...."jadi meskipun Rio nggak suka sama loe. Loe tetap pengen ngejar dia ?", tanya Gina."yah gimana lagi. Gue udah terlanjur cinta sama Rio. Gue yakin kok, suatu saat Rio bakalan suka sama gue".Gina hanya menggeleng, merasa heran dengan sikap gue. Iyalah, baru kali ini gue ngejar-ngejar cowok.***Gue sengaja datang ke bengkel tempat Rio bekerja.Saat gue sampai, gue bisa liat Rio sedang sibuk ngotak-ngatik mesin nobil. Gue lalu ngehampirin dia."hai Rio ?", sapa gue tersenyum walaupun gue tau pasti Rio bakalan jutek lagi.Ternyata bener kan, pas ngeliat gue wajah Rio jadi berubah kaget. Tapi kali ini dia nggak ngomong. Dia hanya menoleh sebentar, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Diacuhin nih..Gue lalu jongkok . " Rio, aku mau ngomong sama kamu. Bisa nggak kasih waktu aku sebentar". Dia hanya diam. "Rio.."."kamu nggak liat aku lagi kerja !"."aku tau. Tapi emangnya nggak bisa kita ngomong sebentar".Rio tiba-tiba berdiri. Gue kaget dan ikut berdiri. "kamu jadi cewek emang nggak punya malu yah ! Masih beraninya juga ngemunculin muka kamu di hadapan aku !"."kenapa sih kamu benci banget sama aku Rio ? Ibu kamu aja udah maafin aku, tapi kenapa kamu nggak. Lagian ibu kamu kan baik-baik aja".Rio tidak menjawab dan hanya menatap gue."apa yang harus aku lakuin supaya kamu mau maafin aku ?, apa nggak boleh kita temenan ?".Rio kemudian mengulurkan tangannya. "kamu mau kita temenan kan. Ya udah kamu jabat tangan aku". Rio mau ngetes aku atau apa ? Tangan Rio kotor, penuh dengan oli sehingga jadi hitam. Kalo aku jabat tangan Rio, tangan aku juga bakalan ikutan kotor dan hitam."kenapa ? jijik ? Hem.., aku tau cewek kaya yang manja kayak kamu nggak mungkin mau melakukannya".Saat Rio ingin menurunkan tangannya, gue langsung menarik lengan dan menjabat tangannya.Rio tersentak saat gue menjabatnya."jadi kita udah temenan kan ?", tanya gue tersenyum.Rio menatap gue seperti tidak percaya.Tiba-tiba aja Niko langsung datang menarik bahu Rio. "heh...!!". Niko langsung memukul Rio."Niko apa-apaan sih !".Rio memegang mulutnya yang sedikit lecet dan memandang Niko tajam."dasar cowok kampung ! Berani-beraninya yah loe ngedeketin Raya !"."Niko ! loe jangan keterlaluan yah !"."loe yang keterlaluan Ray. Bisa-bisanya loe lebih milih deketin cowok kampung ini dibanding gue !"."emangnya loe pikir perasaan bisa dipaksain ?"."jadi loe mau bilang kalo loe suka sama dia !"."iya ! Gue suka sama Rio !", kata gue tegas. Gue sama sekali nggak liat gimana ekspresi Rio saat gue bilang kayak gitu. Lagian gue berani banget sih ngomong kayak gitu. Niko tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia langsung pergi dengan perasaan kesal.Gue langsung ngehampirin Rio. "Rio, maafin aku yah, gara-gara aku kamu jadi kena pukul oleh Niko"."lain kali jangan bikin pacar kamu jadi salah paham !"."dia bukan pacar aku kok. Dia emang suka sama aku. Tapi aku nggak suka sama dia.Aku sukanya...."."aku nggak peduli kamu mau suka sama siapa", kata Rio motong omongan gue.Saat dia ingin pergi.."aku suka sama kamu Rio". Rio langsung berhenti. "aku serius"."mana mungkin gadis kaya seperti kamu suka dengan pemuda miskin seperti aku"."tapi aku bener-bener serius. Aku nggak peduli perbedaan status diantara kita. Yang aku cintai itu hati kamu Rio"."Raya...".Gue megang tangan Rio sebelum dia ngomong. "aku akan buktiin sama kamu kalo aku bener-bener cinta sama kamu"."kamu itu perempuan. Emangnya nggak malu ngomong kayak gitu sama laki-laki".Gue menggeleng."nggak ada kata malu untuk cinta".Rio masih menatap seperti tidak percaya."kasih aku kesempatan Rio.., please.."."aku bukan orang yang mudah percaya sama seseorang, apalagi orang yang belum lama aku kenal"."aku tau, makanya itu kasih aku kesempatan untuk deket sama kamu. Jangan menghindari aku terus. Yah...".Rio berpikir sejenak."jawab dong Rio"."oke, aku akan kasih kesempatan sama kamu"."bener ?", kataku nggak percaya.Rio mengangguk.Gue langsung meluk dia. Eits.... Rio tentu spontan kaget. Gue lalu lepasin Rio. "Maaf yah, aku terlalu seneng", kata gue tersenyum.Akhirnya Rio juga ikut tersenyum.Sumpah..... senyumnya manis banget.... !!The End

Kalo Jodoh Gak Akan Ke mana
Romance
23 Jan 2026

Kalo Jodoh Gak Akan Ke mana

Bruk.... !Semua buku-buku gue jatuh karena bertabrakan dengan seorang cowok di koridor kampus." sorry sorry ..", ucapnya.Gue langsung jongkok buat ngeberesin buku-buku gue. "gimana sih kalo jalan, pake mata dong..!", omel gue ke dia tanpa ngeliat mukanya dan tetap konsen ngeberesin buku gue.Cowok itu langsung ngejongkok juga ngeliat gue. Gue kirain mau bantuin beresin, taunya nggak."kalo orang jalan itu pake kaki, bukan pake mata. Loe udah kuliah semester berapa sih, kok masih nggak bisa ngebedain kaki digunain buat apa dan mata digunain buat apa ?".Gila, nih omongan orang ngeselin banget sih.. Gue hanya balik mandang dia dengan tatapan kesal."natapnya biasa aja dong loe. Kayak mau bunuh gue aja. Tapi.., loe tau kan ngebedain mulut sama telinga ? Barangkali aja telinga loe yang dipake buat ngomong", katanya menunjukkan smirk menyebalkan.Wah, nih orang bener-bener cari masalah..."emangnya loe nggak liat mulut gue tadi yang ngomong..!"."judes banget sih jadi cewek.."."bodo'..". Gue langsung berdiri dan cabut ninggalin tuh cowok. Abisnya dia ngeselin banget. Moga-moga gue nggak pernah ketemu lagi sama tuh cowok rese' . Biar pun gue sekampus sama dia, gue berharap ini terakhir kalinya gue ketemu sama dia.***"Laras banguu..nn. Woi..", teriak Levi adik gue yang masih sma. Bikin tidur gue keganggu aja. Dia malah narik-narik tangan gue buat bangun."apaan sih loe Levi..., ganggu aja"."loe tuh yah masih molor aja. Heran deh, kok gue bisa punya kakak kayak loe yang kerjaannya tidur mulu, nggak pagi, nggak siang dan nggak.. sore..".Gue langsung bangun melototi Levi."apa loe bilang tadi ?".Dia malah cengengesan."lagian nggak tiap hari kali gue kayak gini". Gue langsung tidur lagi."yeh malah tidur lagi. Woi..., ada tamu tuh.., mama nyuruh loe keluar"."terus apa hubungannya coba sama gue. Itu kan tamu mama, bukan tamu gue", kata gue dengan mata yang masih merem."tapi mama pengen loe keluar supaya kenalan sama tamu mama"."akh, tumben-tumbenan mama mau ngenalin gue sama tamunya. Emangnya dia konglomerat dari mana sih ?"."loe tuh yah. Dia sahabat mama. Gue liat tadi, dia datang sama anak laki-lakinya. Cepetan keluar, barangkali aja dia naksir sama lo, supaya lo nggak ngejomblo terus. Walaupun gue Cuma yakin 5 % sih dia bakalan suka sama loe".Gue ngejitak kepala Levi."aw.., loe kasar banget sih"."maksud loe ngomong gitu apa coba ?".Dia malah nyengir. "cowok yang biasa-biasa aja sering kabur kalo ketemu sama loe, apalagi cowok ganteng kayak dia", katanya sambil ngeledek.Wah, nih anak satu juga udah mulai ngeselin nih."kalo loe nggak mau keluar, mama yang bakalan masuk lagi ke sini untuk nyuruh loe turun. Emangnya nggak malu apa sama temen mama sama anaknya, udah gede masih aja kayak anak kecil harus dibujuk"."iya gue turun.., puas loe..!".Levi malah mengangguk dengan menunjukkan wajah sok polos. Kemudian keluar dari kamar gue.Kenapa juga gue harus ikut-ikutan sih ketemu sama temen mama. Kalo gue ikut duduk di sana, ujung-ujungnya cuma ngedengerin mereka ngomong panjang lebar sambil ngenang masa lalu. Ngebosanin banget kan. Mending gue tidur sambil mimpi indah.Oh yah, tadi gue mimpi loh ketemu sama pangeran berkuda putih, kayak di dongeng-dongeng gitu, he he he...Tapi gara-gara Levi bangunin gue, mimpi indah gue jadi gak nyampe. Malah nggak kayak sinetron-sinetron lagi yang bisa bersambung...Setelah cuci muka, gue langsung keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu.Dan... Oh my godItu kan cowok ngeselin yang kemarin, yang udah nabrak gue. Nggak mungkin, gue pasti mimpi nih. Gue ngecubit lengan gue sendiri "aw..", ternyata gue nggak mimpi. Dia malah senyam-senyum nggak jelas ngeliat gue."wah, ternyata ini toh anak kamu yang bernama Laras. Sudah gede yah ?".Sudah pasti itu adalah teman mama, dan..., oh berarti cowok ngeselin ini adalah anak dari teman mama.Mama hanya tersenyum mendengar perkataan temannya."ras, ini loh teman mama, tante Maya sama anaknya Pandu. Ayo salam".Gue lalu nyalamin tante Maya, tapi nggak sama si..si Pandu itu. Dia malah senyam-senyum dari tadi."hei, kenalin gue Pandu", katanya ramah.Sok ramah deh loe, pikir gue.Gue hanya tersenyum masam. Walaupun sebenarnya gue nggak mau senyum sama dia, cuma nanti disangkanya sombong sama tante Maya."gue..."."Laras kan", potong dia tiba-tiba. "gue nggak tuli kok. Telinga gue berfungsi dengan baik sesuai dengan tempatnya", ucapnya lagi tersenyum yang dibuat-buat.Kayaknya dia nyindir gue nih karena masalah kemarin.Dasar..!Dan tiba-tiba dia narik tangan gue. "oh yah ma, tante. Kita lebih baik ngobrol-ngobrol di luar aja yah".Sebenarnya gue mau ngelepasin tangan gue yang ditarik sama dia, tapi gue nggak bisa, dia megangnya terlalu erat banget. Malah mama dan tante maya hanya senyam-senyum lagi....Gue langsung sentakin tangan dia saat sampai di teras. "loe nggak usah sok akrab yah jadi cowok !"."orang tua kita aja akrab, jadi kenapa kita nggak bisa akrab coba"."ih nggak usah ngarep gue bakalan mau akrab sama loe..".Dia hanya tersenyum."loe gila yah dari tadi senyum melulu"."loe itu emang udah dari sananya yah judes dan galak"."iya ! Dan semua cowok kalo ngeliat gue bakalan kabur. Loe nggak ada niat pengen kabur..!"."nggak tuh. Yah, barangkali aja kita jodoh, iya kan ?".Beh.., nih orang pede banget yah."nggak usah ngarep..!", ucap gue kasar."lagian kalo jodoh nggak akan ke mana kok", ucapnya lagi dengan santai.Gue nggak tau harus ngejawab apa lagi sama nih cowok. Gue langsung masuk sebelum dia ngomong lagi...***Tangan gue udah penuh sama belanjaan. Lagian gue juga sih, belanja kok nggak kira-kira. Lagian kapan lagi coba gue belanja sebanyak ini. Mumpun kan gue libur, jadi digunain aja buat seneng-seneng. Nanti deh kalo pulang baru tidur lagi di rumah. He he he...."butuh bantuan nggak ?", ucap suara cowok tiba-tiba terdengar di belakang gue. Gue langsung balik. Oh my god , dia lagi..."halo, butuh bantuan nggak..?", ucapnya lagi."nggak.. !", ucap gue ketus.Dia hanya tersenyum ngeliat gue."loe ngapain di sini ? Loe sengaja yah ngikutin gue ?"."ada orang yang ke-pd an nih".What ?"emangnya nih mall punya nenek moyang loe. Cuma loe yang boleh datang ke sini ? Berarti semua orang yang datang ke sini ngikutin loe dong..", ucapnya santai.Gue nggak tau harus ngejawab apa sama dia."terus kenapa loe ngehampirin gue ?"."jadi loe mau gue pura-pura nggak ngenal lo gitu ? Gue kan nggak sombong kayak loe".Beh.., omongan nih cowok pedes banget sih..."emangnya kita nggak bisa temenan yah ? Biar bagaimana pun, nyokap kita kan temenan, masa kita juga nggak bisa temenan"."nggak ! Gue nggak mau temenan sama loe..!"."oh, loe nggak mau temenan sama gue ? Berarti lo mau yah pacaran sama gue ?", ucapnya mesem-mesem.Gila nih cowok...."loe itu nggak usah semakin ngelantur yah. Males gue ngomong sama loe". Gue langsung pergi ninggalin dia.***Sepulang dari kampus, tiba-tiba gue dihadang sama dua orang preman. Ih.. mukanya serem-serem. Ya iyalah serem Laras. Kalo lucu, bukan preman namanya, tapi badut.." minta duit loe dong..". Wah, dia mau meres gue nih. Emangnya dia pikir gue takut ?"nggak malu apa badan segede gitu minta duit sama cewek, apalagi cuma seorang mahasiswi kayak gue", ucap gue berani."wah, dia berani ngejawab bos.."."eh, loe mau cari mati ?", kata preman yang satunya lagi."ngapain mati dicari segala mas, kalo udah waktunya bakalan datang juga kok", kata gue santai. Padahal sebenarnya takut sih.."nih anak berani nantangin nih. Loe belum tau siapa kita, hah ?", ucapnya galak."tau kok. Kalian preman kan ?". Sempet aja sih bercanda...Kedua preman tersebut sudah mulai geram. Dia semakin mendekat sama gue, sedangkan gue mulai melangkah mundur.Tapi tiba-tiba pundak mereka dipegang seseorang dari belakang.Oh my god..? , itukan Pandu ? kok dia bisa ada lagi sih. Tapi nggak apa-apa deh, waktunya tepat banget dia datang."eh, bos..", ujar kedua preman itu nyengir.What ? Mereka manggil Pandu dengan sebutan bos. Maksudnya apa ? jangan-jangan ....."kalian ngapain di sini ?", tanya Pandu dengan nada biasa."nggak bos, cuman iseng-iseng doang gangguin cewek"."kalian nggak tau yah. Cewek yang kalian gangguin ini cewek gue".Apa ? Gue kaget banget dengerin omongan pandu. Bisa-bisanya dia ngaku-ngaku pacar gue."kalo gitu maap bos. Kita cabut dulu deh. Maaf yah neng..". Kata preman itu ke gue kemudian cabut.Gue mandangin pandu dengan geram. "loe kan yang nyuruh preman itu untuk gangguin gue ?"."jangan nuduh sembarangan yah. Kan tadi gue yang nolongin loe. Buat apa coba gue nyuruh preman gangguin loe kalo gue juga yang nolongin loe"."tadi tuh preman bilang bos sama loe"."dia emang anak buah gue. Tapi gue sama sekali nggak pernah nyuruh mereka gangguin loe. Paling dia cuma iseng tadi"."iseng apanya ? Orang tadi dia udah mendekat banget sama gue. Ngaku deh, loe sengaja nyuruh mereka kan ?"."loe itu jadi cewek sentimen banget sih. Bukannya sekarang malah terima kasih".Iya juga sih, kalau nggak ada pandu mungkin aja tuh preman udah berbuat macam-macam sama gue, walaupun preman itu emang anak buah Pandu. Yang namanya preman tetep aja preman."ya udah, mendingan sekarang gue antarin loe pulang, biar loe percaya kalo gue nggak ada niat jahat sama loe". Pandu langsung narik tangan gue sebelum gue ngomong. Dan entah kenapa gue nurut aja ditarik sama dia.Setelah sampai , gue masih aja diam-diaman sama pandu di dalam mobilnya. Akhirnya gue duluan yang cairin suasana."makasih udah ngantar gue", kata gue masih judes.Pandu mesem-mesem ngeliatin gue. "ternyata loe tau juga yang namanya terima kasih".Gue mandang Pandu dengan sinis, walaupun sebenarnya dalam hati gue seneng sih diantarin sama dia. He he he..."lain kali boleh kan gue antar loe lagi ?", katanya.What ? Apa gue nggak salah denger ?"lo nggak usah ngejawab. Mendingan sekarang loe turun, nanti nyokap loe nyariin lagi., Dan satu lagi yang harus gue tegesin dan harus loe ingat, kalo jodoh itu nggak akan ke mana ?", katanya tersenyum penuh arti.Gue hanya melongo...***Semakin hari, hubungan gue sama Pandu makin akrab aja. Dia duluan yang sering nyamperin gue di kampus meskipun fakultas gue sama dia beda jauh banget. Dia juga selalu ngantarin gue pulang. Dan selalu singgah sebentar ngobrol-ngobrol sama papa dan mama, atau nggak sama si Levi. Malahan menurut gue, Levi lebih akrab sama Pandu ketimbang gue. Mungkin karena sama-sama cowok kali yah."kak Pandu tahan juga deket sama Laras, hebat..kakak satu-satunya cowok yang masih bisa bertahan lama sama dia", ucap Levi ngejelekin gue di depan Pandu. Dan tiap kali Levi ngomong kayak gitu, dia hanya senyam-senyum. Jujur, gue suka banget sama sikap Pandu. Nggak pernah gue sedekat ini sama cowok. Dia juga asyik banget diajak ngobrol, selalu nyambung dan humoris kadang-kadang.***"kira-kira loe setuju nggak ras, kalo tiba-tiba hubungan kita lebih dari seorang temen atau sahabat". Gue kaget ngedenger penuturan Pandu. Sebenarnya sih gue seneng dengerin ucapan dia, tapi gue malu-malu ngungkapin perasaan gue."kan loe sendiri yang bilang, kalo jodoh nggak akan ke mana".Hanya itu yang bisa gue ungkapin sama Pandu. Dan dia hanya manggut-manggut sambil tersenyum.***Udah seminggu sejak penuturan Pandu dan gue nggak pernah liat dia. Nggak tau ke mana ? Setiap gue nanyain kabar dia sama teman-teman sejurusannya, mereka hanya menggeleng. Dan gue coba minta tolong sama mama untuk nanyain kabarnya sama tante Maya.Dan ternyata..., tante Maya bilang kalo Pandu ke luar negeri untuk beberapa bulan dengan suatu alasan yang mama nggak dikasih tau oleh tante Maya.Gue bener-bener nggak habis pikir, Pandu tega banget ninggalin gue tanpa ngasih tau apa-apa. Walaupun gue sama dia nggak pacaran, tapi bukannya dia udah ngungkapin perasaannya sama gue. Atau jangan-jangan dia hanya ingin mempermainkan gue.Tega banget sih loe Pandu . Padahal gue udah terlanjur sayang sama loe."loe napa sih, kok akhir-akhir ini sering banget murung ? Lagi mikirin kak Pandu yah ?", goda Levi."udah deh Levi, jangan ganggu gue. Urusin aja urusan loe sendiri.."."galak banget sih. Tinggal bilang kangen sama kak Pandu kok susah banget sih".Gue memelototi Levi. Levi langsung cengengesan kayak biasanya. Emang sih yang dibilang Levi emang bener. Gue kangen banget sama Pandu. Sumpah..! . Tapi seharusnya gue nggak mikirin dia, karena belum tentu dia juga mikirin gue.***"Laras bangun.., Laras..".Terdengar suara mama ngebangunin gue. Tapi gue malas ngebuka mata gue. Gue masih ngantuk."ini anak ampun deh..., Laras.., Laras..", mama menggoncang badan gue."ada apa sih ma ngebangunin Laras pagi-pagi gini..", kataku dengan mata masih merem."ini tuh udah jam 9, bukan pagi-pagi lagi. Ayo bangun..., mama mau ngomong sesuatu penting sama kamu"."mama ini jadi mulai kayak Levi deh. Malas ah bangunnya. Kalo mau ngomong, nanti aja.."."nggak bisa nanti, harus sekarang Laras. Ini penting banget. Ayo bangun..". Mama narik-narik tangan gue."iya iya, aku bangun". Aku langsung bangun dengan malas.Mama menepuk-nepuk pipi gue. "eh dengerin mama"."hm..?", kataku masih dengan nada malas."ada yang datang ngelamar kamu tuh"."hah..?". Mata gue langsung membulat ngedengerin ucapan mama. Apa gue nggak salah dengar ? Ada orang yang datang ngelamar gue ? Mimpi apa gue semalam..?"orang yang mau ngelamar kamu ada di luar. Kamu mau terima nggak lamarannya. Kalo mau, mama tinggal bilang sama dia dan keluarganya"."mama ini gimana sih. Aku kan belum pernah ngeliat orangnya. Lagian aku rasanya nggak percaya kalo tiba-tiba ada orang yang datang ngelamar aku. Selain itu, aku nggak mau nikah sekarang, kan masih kuliah ma"."siapa bilang sih langsung nikah. Makanya kamu keluar dulu ketemu sama orangnya. Ayo cepetan mandi. Mama tunggu kamu di luar. Kalo dalam waktu 15 menit kamu belum keluar, mama langsung terima lamaran mereka"."ih mama, ngancam segala. Sama anak sendiri juga"."makanya cepetan keluar". Mama langsung keluar dari kamar gue.Entah kenapa gue deg-degan banget. Tapi gue nggak akan semudah itu nerima lamaran orang. Apalagi dengan orang yang gue nggak kenal. Selain itu, gue masih belum bisa ngelupain Pandu......Tangan gue gemeteran ketika keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu. Gue bisa denger dari kejauhan mama sedang ngobrol sambil ketawa sama tamu yang datang.Oh my god.. ?Itu kan Pandu sama keluarganya?Pandu langsung berdiri dan tersenyum ngeliat gue. Tapi gue hanya mandang lurus ke arah dia. Gue nggak percaya yang gue liat adalah Pandu. Bukannya dia..."Laras, ini Pandu sama keluarganya datang, ayo sayang...", panggil mama.Gue masih syok ngeliat Pandu. Kayaknya pandu nyadar kegugupan gue. Dia lalu mendekat ke gue."hei..", sapanya tersenyum. "kaget yah ngeliat gue ?".Gue nggak bisa nahan lagi unek-unek gue selama 2 bulan ini saat dia ninggalin gue. Gue rasanya pengen marah banget sama dia karena udah ninggalin gue tanpa ngasih kabar."loe marah yah sama gue ras karena udah ninggalin loe cukup lama tanpa ngasih kabar ?"."kalo tau kenapa nanya lagi. Apa alasan loe ninggalin gue selama ini. Gue kirain loe nggak akan balik lagi selamanya", kata gue sinis."yah nggak mungkinlah gue nggak balik lagi. Kan belahan jiwa gue ada disini. Buktinya gue balik lagi kan"."jadi loe yang kata mama datang ngelamar gue ?". Pandu mengangguk tersenyum."maksudnya apa datang ngelamar gue ?"."yah mau apa lagi kalo bukan karena mau milikin loe selamanya. Loe mau kan nerima lamaran gue ?"."tetep aja loe udah ninggalin gue lama. Dan gue benci karena loe nggak ngasih kabar apa-apa".Pandu memegang kedua pundak gue. "kalo gitu gue minta maaf yah. Tapi yang penting kan gue udah kembali. Dan kalo jodoh emang nggak akan ke mana kan ?".Akhirnya gue tersenyum juga melihat Pandu. Sumpah gue seneng banget hari ini karena ternyata orang yang lamar gue nggak lain adalah Pandu, cowok yang gue cintai...The End

Marry Young
Romance
22 Jan 2026

Marry Young

"be, babe harus percaya sama Jelita. Jelita kagak pernah ngapa-ngapain sama Bara. Sumpah be. Babe harus tolak lamaran oma Yasmin"."ditolak gimane. Kan tadi babe udah nerima lamarannye. Seharusnya loe bersyukur karena Bara masih mau tanggung jawab sama loe"."tanggung jawab apaan sih babe ? Kagak ada yang perlu dipertanggung jawabin. Jelita sama Bara kagak pernah ngapa-ngapain"."kalo loe sama dia kagak pernah ngapa-ngapain, kenape dia dan omanya kesini segale buat ngelamer loe ?"."ini tuh hanya kesalahpahaman. Jelita udah jelasin ama oma Yasmin, tapi dia tetep kagak percaye"."pokoknye loe tetep kudu nikah sama cucunya bu Yasmin. Lagian loe kagak bakalan sengsare, dia dari keluarga kaye-raye. Dan pastinya hidup loe bakalan terjamin"."aduh babe. Buat apa banyak harta kalo nggak cinta. Lagian kan Jelita masih sekolah. Asal babe tau aja yah, Jelita sama bara itu musuh bebuyutan di sekolah. Jadi kagak masuk akal kan kalo kita sampe nikah"."apapun itu, yang penting loe kudu nikah sama Bara. Titik..".***Sengsara deh hidup gue kalo harus nikah sama si Bara hidung belang itu. Sebelum gue masuk ke sekolah yang sama dengan Bara, gue udah musuhan sama dia. Ditambah lagi saat gue jadi siswa pindahan, tiap hari gue sama dia bagaikan tikus dan kucing. Ada aja akal-akalan dia ngerjain gue tiap hari. Tentunya gue juga nggak tinggal diam dong.Waktu itu, seluruh siswa dari sekolah gue ngadain pariwisata diluar kota. Nah, kita kan nginep tuh.Nggak tau kenapa saat gue keluar dari kamar mandi, tiba-tiba aja gue udah ngeliat dia telanjang dada. Yah gue kaget banget lah. Dia bilang dia nggak tau kalo ini kamar gue, kirain kamar temennya. Kebetulan kamar gue sama kamar temennya itu bersebelahan. Cuma numpang ganti baju doang. Gue ngedorong-dorong dia untuk keluar, eh dia malah nahan karena masih belum ganti baju. Dan tanpa sengaja kita jatuh berdua di kasur. Dan sialnya, pada saat bersamaan sebagian temen-temen dan guru langsung masuk ke kamar gue karena denger ada yang ribut, ada juga oma Yasmin, omanya Bara yang juga kebetulan ikut pariwisata karena sekolah itu emang milik keluarga Bara. Nah, semua orang jadi salah paham sama kita, ditambah lagi Bara yang nggak pake baju. Gimana semua orang nggak berpikiran macem-macem coba. Saat itu gue dan Bara udah jelasin yang sebenarnya, tapi nggak ada yang percaya. Akhirnya oma Yasmin putusin akan nikahin kami. Emang sih oma Yasmin suka sama gue, dulu dia ingin buat gue akur sama Bara, tapi tetep aja nggak bisa. Dan baginya, mungkin ini kesempatan buat gue akur sama Bara dengan nikahin gue sama dia. Ya ampuun..Terus babe lagi, pake nerima lamaran oma Yasmin. Bener-bener sial hidup gue...Terus yah, bisa-bisa gue dilabrak sama cewek-ceweknya Bara. Dia kan playboy hidung belang di sekolah. Gue yakin 100 %, seluruh sekolah bakalan gempar kalo denger gue dan Bara akan nikah.***Gue nemuin Bara paginya saat dia sedang ngumpul sama teman-temannya. Seluruh orang terutama cewek-cewek mandang gue dengan sinis. Gue yakin nih, pasti kabar kalo gue dan Bara mau nikah udah tersebar."heh tokek belang ! Pokoknya loe harus bilang sama oma yasmin buat ngebatalin pernikahan kita"."emangnya loe pikir gue nggak pernah bilang apa ? Gue udah mohon-mohon yah sama oma untuk ngebatalin, tapi tetep aja dia nggak mau ! Pasti loe nih yang sengaja pengaruhin oma gue supaya jadiin loe cucu menantunya. Iyakan ? Ayo ngaku, cewek mana coba yang nggak suka sama gue". Kata Bara ke-pd-an."heh..! Loe ke Gr-an banget sih jadi orang. Loe tau, kejadian tersial gue seumur hidup saat nikah sama loe. Mimpi apa gue semalem bisa nikah sama tokek belang kayak loe"."emangnya gue juga mau nikah sama tikus got kayak loe. Mendingan gue nikah sama kambing daripada sama loe"."ya udah, nikah aja coba sama kambing..!". Gue langsung ninggalin Bara. Kayaknya semua orang merhatiin kita. Bodo' amat...***Tibalah hari pernikahan gue sama Bara. Mulai dari didandanin, muka gue udah cemberut, ditambah lagi saat Bara ngucapin ijab kabul dihadapan penghulu, gue nggak henti-hentinya manyun. Babe sempat negur gue karena gue nggak pernah senyum sedikit pun, tapi gue cuekin aja. Kayaknya Cuma gue dan Bara yang nggak bahagia disini, yang lainnya pada senyum semua. Termasuk juga sahabat gue Amelia. Eh, dia malah ikut tersenyum, udah tau gue Cuma kepaksa nikah. Kayaknya penderitaan gue udah bakalan dimulai.Setelah pernikahan, gue dan Bara cuma disuruh tinggal berdua di rumah yang udah disiapin oma Yasmin. Rumahnya gede banget. Babe malah ngeiyain aja. Seneng banget sih pisah sama anak..Terus yang lebih parahnya lagi, gue disuruh sekamar sama dia. Awalnya sih gue udah kompak sama Bara nurutin kemauan oma, tapi kalo oma nggak ada, gue sama dia pisah kamar. Lagian kan nggak tiap hari oma datang ke rumah. Semenjak gue dan Bara udah nikah, gue udah barengan terus sama dia ke sekolah. Itupun kemauan oma yah. Gue sih ogah bareng terus sama dia. Pernah yah sekali dia nurunin gue dijalanan. Nyebelin banget kan coba. Terus kalo di sekolah, kita kayak biasanya aja. Kayak orang yang nggak pernah nikah. Gue masih terus berantem sama dia. Tapi lebih parah kalo udah di rumah, selalu berantem tiap hari. Bahkan pernah dia bawa cewek malam-malam ke rumah. Gue langsung usir aja cewek itu. Gue bukannya cemburu yah, gue Cuma nggak suka Bara bawa cewek ke rumah untuk mesra-mesraan. Mentang-mentang nggak ada oma."eh tikus got...!", teriak Bara.Gue langsung keluar ke ruang tamu. "ada apa sih teriak-teriak segala ? Loe pikir ini hutan ?"."cepet buatin minum sana". Bara membawa seorang cewek ke rumah, kayaknya cewek barunya deh. Pake nyuruh gue segala lagi buatin minum..."ogah..!, loe sendiri aja yang buatin. Itu kan tamu loe..!"."ye..h, malah ngebantah. Denger yah, loe itu sekarang istri gue. Jadi loe harus nurutin perintah gue"."heh, kita cuma suami istri bohongan yah. Jadi nggak usah bersikap seakan-akan gue istri beneran loe. Ngerti..!". Gue langsung masuk ke dalam."dasar tikus got.. Nyebelin banget sih tuh cewek..!".***Waktu itu, oma Yasmin ingin nginap di rumah. Terpaksa deh gue sama Bara harus pura-pura lagi sekamar. Dan parahnya, gue harus satu kamar tidur sama dia malam ini."karena malam ini oma nginep disini, jadi terpaksa malam ini kita harus tidur sekamar. Tapi gue nggak mau satu ranjang sama loe. Loe harus tidur dibawah"."enak aja. Loe kali yang harus tidur dibawah. Loe kan cowok, jadi harus ngalah sama cewek"."ogah banget gue harus ngalah sama loe. Ini rumah gue, jadi gue yang berkuasa. Loe yang harus ngalah sama gue, ngerti..?". Bara langsung berbaring di kasur. Gue mendekati dia."pokoknya gue nggak mau tidur dibawah"."ya udah terserah..!, loe keluar aja sana tidur di kamar loe kembali"."oke..". Gue lalu keluar. Tiba-tiba aja gue berpapasan oma didepan kamar."loh Jelita, kamu mau kemana ?, Bara mana ?"."Ba..ra udah.. tidur oma", jawab gue gugup."kok kamu belum tidur"."em... aku..aku tadi juga udah tidur oma, tapi..mau ke dapur sebentar"."oh gitu. Oh yah tadi kok ada pakaian kamu di kamar sebelah? "Mati gue, itukan emang kamar yang selalu gue tempati. Gue nggak tau kalo oma nginep di kamar itu. Padahal ceritanya tadi gue mau kesana. "em.. anu oma. Itu.. Jelita sering nginep dikamar sebelah"."hah ? Kok gitu, tapi sama Bara kan ?"."i..iya. Kita biasanya pindah-pindah kamar oma. Kalo bukan di sini, di kamar sebelah". kata gue cengingiran."oh, oma ngerti. Kalian kan masih suasana pengantin baru. Jadi nggak betah kalo cuma satu kamar", kata oma senyam-senyum.Kalo gue sedang makan, pasti gue udah kesedek dengerin omongan oma."gimana kalo oma atur bulan madu kamu sama Bara ?"."apa ?", gue kaget banget. "ng..nggak usah oma"."loh kenapa ? Kalian kan memang seharusnya harus pergi bulan madu ke luar kota atau dimana gitu"."beneran oma nggak usah. Aku sama Bara nggak perlu bulan madu sampai jauh-jauh gitu"."ya udah deh. Tapi kalo kamu dan Bara butuh sesuatu, bilang-bilang aja yah sama oma"."i..iya oma".Setelah pura-pura ke dapur, gue langsung masuk lagi ke kamar Bara. Gue duduk di kasur, disamping Bara yang udah tidur. Gue heran sama nih orang, bukannya gelisah kayak gue, dia malah nyenyak tidur. Nyebelin banget sih... Gue sengaja pelan-pelan naik di kasur supaya Bara nggak bangun. Gue sengaja kasih guling diantara gue dan dia. Jadi gue sama dia nggak bisa bersentuhan. Meskipun gue udah merem, tetep aja gue nggak bisa tidur gara-gara ada Bara di samping gue. Hufh.., tersiksa banget sih hidup gue.......Paginya gue terbangun, gue langsung duduk di kasur sambil ngucek-ngucek mata. Kayaknya gue bangun agak kesiangan, untung aja gue libur hari ini. Gue ngeliat ke samping, Bara udah nggak ada.Tiba-tiba aja Bara keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang meliliti pinggangnya. Spontan gue langsung teriak. "a........!".Bara tersentak. "heh..!. apaan sih loe teriak-teriak segala ?, ngagetin aja.."."elloe tuh yang ngagetin, keluar dari kamar mandi langsung telanjang. Loe nggak liat ada gue ?"."emangnya kenapa kalo ada loe ? Gue kan cuma telanjang dada".Gue cemberut."kenapa ? Loe nggak usah pura-pura kaget gitu deh. Sebenarnya loe suka kan liat gue kayak gini. Gue pake baju aja, cewek-cewek pada tertarik, apalagi kalo nggak pake baju, keindahan tubuh gue semakin terpampang. Boong banget kalo loe nggak tertarik".Hoek.. , nih orang satu pd nya tinggi banget sih. "ngapain juga gue harus tertarik sama tokek belang kayak loe. Nggak usah ke pd-an deh"."alah, masih aja mungkir. Terus kenapa tadi malam loe tidur disini segala ? Di samping gue lagi".Bara menyeringai "Loe udah sadar yah kalo hanya gue satu-satunya cowok yang mempesona. Ayo ngaku.."."ih, apaan sih. Sebenarnya gue mau tidur di kamar sebelah yah, tapi ternyata oma tidur disitu. Waktu gue keluar dari kamar loe tadi malam, gue langsung berpapasan sama oma didepan pintu. Untung aja gue pinter cari alasan. Terpaksa deh gue balik ke sini. Dan tentang kenapa gue tidur di kasur juga. Gue.. loe kan tau lantai ini dingin banget, selimut juga gak ada. Di kasur aja gue tidur gak pake selimut gara-gara loe. Tapi gue nggak nyentuh loe sedikitpun yah. Loe liat kan ada guling yang mengantarai kita. Untung aja nih kasur gede banget"."alasan loe cukup masuk akal juga. Tapi gue kurang percaya tuh. Bisa aja kan saat gue tidur loe ngambil kesempatan meluk-meluk gue atau apa gitu"."apaan sih. Jangan nuduh sembarangan yah. Meskipun kata orang loe itu ganteng atau apalah gitu, gue nggak bakalan tertarik sama loe. Sekarang loe minggir, gue juga mau masuk ke kamar mandi"."galak banget sih.."."bodo". Saat gue mau masuk ke kamar mandi......"tapi tadi pagi loe nggak sadar yah gue apain loe ?".Gue langsung berhenti dan balik ngeliat Bara. Dia menyeringai."e...emangnya loe..ngapain gue ?"."gue itu kan bangun lebih awal dari loe. Pas gue bangun loe udah menghadap ke gue. Terus gue....".Bara berhenti sejenak. Nih orang bikin penasaran aja. "loe percaya nggak kalo tadi gue cium loe"."apa ?". Gue kaget banget. "elloe...", gue nunjuk Bara.Sesaat kemudian dia tertawa. "kok muka loe merah gitu ? Gue cuma bercanda kali. Ogah banget kalo gue harus cium loe", katanya masih tertawa.Gue marah banget. "ih Bara...".Gue langsung pergi mukul Bara. "nyebelin banget sih loe"."eh eh..." Dia malah lari. Gue kejar aja dia. Meskipun gue kejar, dia masih aja ketawa. "sini nggak loe. Dasar nyebelin..". Gue mukul dia lagi saat gue tangkap. Ya iyalah, dia kan lari nggak sampai keluar kamar. "eh eh gue kan cuma bercanda"."loe pikir candaan loe lucu, hah ?"."oh gue tau, loe marah karena tadi gue cuma boongin loe yah kalo gue cium. Sebenarnya loe ngarep banget kan gue cium"."apaan sih.., pd-an loe itu nggak pernah hilang yah.."."tinggal ngaku aja kok susah banget sih"."ngapain juga gue harus ngaku kalo kenyataannya nggak kayak gitu".***"loe kenapa ta, kok muka ditekuk gitu. Seharusnya sekarang loe itu happy terus karena udah jadi istri Bara. Semua cewek-cewek pada sirik tau sama loe. Mereka yang selama ini berharap dijadiin pacar sama Bara, eh taunya loe udah dijadiin istri sama dia. Apalagi kan, loe sama Bara masih dalam suasana pengantin baru. Harus happy dong.."."happy dari hongkong. Justru sekarang yah, hidup gue bakalan suram terus. Gue nggak betah serumah tau nggak sama dia. Tiap hari gue harus liat muka dia yang super nyebelin. Malah dia terus ngegodain gue lagi"."ngegodain gimana ?"."masa dia ngira gue udah tertarik sama dia. Ke pd-an banget jadi orang"."emangnya loe beneran nggak tertarik sama dia. Bara itu ganteng banget ta, keren lagi. Seandainya gue yah yang jadi istrinya, tiap hari gue ambil kesempatan terus mesra-mesraan sama dia".Hoek, gue mau muntah dengerin Amelia. "kenapa sih semua orang itu pada ngenilai dari ukuran gantengnya doang ? Gue mah ogah deket-deket terus sama dia, apalagi mesra-mesraan"."tunggu deh, loe sama Bara...., belum pernah ngapa-ngapain ?"."ya nggaklah, amit-amit deh. Kan loe tau sendiri mel, gue sama Bara itu nikah cuma karena kesalahpahaman. Kita itu nggak pernah ngapa-ngapain. Oma Yasmin aja yang nggak percaya sama penjelasan kita"."tapi kan tetep bagus. Berarti.., loe sama Bara nggak tidur sekamar dong ?"."ya nggak lah. Kita tuh cuma sekamar kalo ada oma yang nginep. Pura-pura gitu"."tapi tetep aja kan loe udah pernah tidur bareng sama Bara"."kalo seranjang iya. Tapi kita gak pernah ngapa-ngapain yah"."masa sih Bara nggak pernah nyentuh loe sedikit pun. Nyium juga nggak pernah ?"."ih apaan sih loe mel. Gue bilang nggak pernah yah nggak pernah. Lagian gue tau selera cewek Bara. Cantik, seksi terus keganjengan. Emang cocok tuh ama dia"."loe kan juga cantik ta. Masa Bara nggak tertarik sedikitpun sama loe"."udah deh, kenapa omongan kita jadi ke arah sana. Bagi Bara, gue itu cuma tikus got jelek. Gue yakin 100%, dia nggak bakalan pernah tertarik sama gue. Buktinya dia nggak segan-segan tuh sering telanjang dada di hadapan gue. Emangnya dia pikir gue bakalan tertarik dan terpesona kalo dia kayak gitu. Hem.., nggak.."."terserah loe deh. Gue bener-bener bingung yah sama kisah cinta loe sama Bara"."kisah cinta apaan. Emangnya gue sama Bara saling cinta. Dan emangnya loe pikir ini sinetron atau novel, yang mulanya benci-bencian terus saling cinta. Nggak yah, gue sama Bara itu beda"."terserah loe deh".***"heh., loe ikut gue sekarang juga", kata Bara ngehampirin gue."ikut ke mana ?"."kita disuruh oma ke acara aqiqah cucu temannya. Oma udah ada disana, jadi dia udah nunggu kita"."kenapa bukan loe aja yang pergi. Gue masih ada urusan di sekolah"."yehhh, gue juga males kali ajak loe kalo bukan karena kemauan oma. Udah, ayo cepetan kita pulang ganti baju terus langsung ke acara teman oma. Lagian daerahnya nggak jauh kok".Walaupun gue cemberut, gue tetep masuk ke mobil Bara. Kita balik ke rumah ganti baju. Setelah itu, kita langsung ke acara teman oma.Setelah sampai, kita langsung masuk. Ternyata ramai banget,kelihatan banget pesta orang kaya. Oma langsung ngehampirin kita. "eh kalian udah datang. Ayo"."iya oma". Oma ngajak kita menghampiri keluarga yang ngadain aqiqah."ini loh jeng cucu saya Bara sama cucu menantu saya Jelita"."wah, cucu menantu jeng Yasmin cantik banget yah". Gue bisa liat jidat Bara berkerut saat teman oma muji gue. "mereka pasangan serasi loh jeng".Whatt ?, Serasi dari hongkong ?Sementara oma hanya tersenyum.Beberapa lama kemudian, bayi yang di aqiqah tiba-tiba nangis. Ibunya mencoba menenangkannya."mbak, bisa saya coba gendong nggak. Bayinya lucu banget"."oh iya". Ibunya memberikan bayi itu ke gue. Ih lucu banget... "nah sayang, cup cup cup..". Tiba-tiba bayinya langsung berhenti nangis."wah jeng, cucu menantu jeng ini pinter banget ngegendong bayi. Udah punya rencana nggak pengen punya bayi juga".Whatt ? Gue kaget banget, kayaknya Bara juga gitu."udah pantas loh punya bayi". Malah oma cuma cengengesan lagi, kayaknya ngedukung banget omongan temennya."ki..kita belum...a..da rencana nek. A..ku sama Bara kan masih sekolah. I..iya kan Bara". Gue mencubit lengan bara memberi isyarat."i..iya nek. Kita inikan masih sekolah. Kita nggak mau mikirin itu sekarang, kita hanya mau fokus belajar".Mereka hanya tersenyum.***Waktu itu tiba-tiba aja Dimas sahabat gue juga di sekolah datang ke rumah. Nggak biasanya sih."eh Dimas, tumben ke sini ?"."loe lupa yah, kita kan udah janji mau belajar bareng"."oh iya, tapi kan maksud gue bukan disini"."jadi ceritanya ngusir nih ?"."nggak nggak. Loe kan tau sendiri kalo ada Bara, kita jadi nggak tenang. Dia suka banget ngecekcokin orang"."ya udah, gimana kalo kita keluar aja. Ke mana gitu, cari tempat yang tenang".Jelita berpikir sejenak. "tapi gue males keluar hari ini. Ya udah deh di rumah aja, kita ke belakang. Pasti Bara nggak bakalan gangguin deh, palingan sebentar lagi dia akan keluar lagi"."bener nggak apa-apa ?". Gue mengangguk. Setelah itu gue dan dimas ke halaman belakang untuk belajar........***"ehem..ehem..".Gue langsung balik ke belakang saat mendengar Bara berdehem. Entah berapa lama dia sudah berdiri bersandar di dinding sambil melipat tangannya diatas dada."ada yang lagi pacaran nih ", sindirnya.Gue dan Dimas kaget. Sembarangan banget sih ngomongnya.."loe ngapain disitu ?", tanya gue ketus."justru gue yang nanya, kenapa pacaran disini. Diluar sana..!"."ye..h sembarangan. Siapa juga yang pacaran, loe nggak liat gue lagi belajar bareng sama dimas"."iya, loe jadiin belajar sebagai alasan, tapi sebenarnya loe mau mesra-mesraan sama dia"."terserah loe mau ngomong apa ?". Gue kembali ngeliat buku tanpa memperduikan Bara. Nggak tau deh ekspresi wajahnya kayak gimana ?."ta, nggak apa-apa nih kita tetap belajar disini ?", tanya Dimas setengah berbisik."iya nggak apa-apa. Loe nggak usah peduliin dia deh. Setiap hari dia emang kayak gitu. Gak bisa banget ngeliat orang seneng, apalagi gue".Setelah Dimas pulang, gue langsung masuk ke kamar. Gue kaget banget saat ngeliat Bara duduk di kasur kamar gue. "loe ngapain disini, ngagetin aja tau nggak ?"."dia udah pulang ?", tanya Bara dengan nada ketus. "lain kali jangan bawa dia ke sini ....!"."kenapa loe yang jadi sewot. Gue aja nggak pernah protes tuh kalo loe bawa cewek ke sini, kenapa loe malah protes"."Karena ini rumah gue. Jadi gue berhak bawa siapa aja. Sedangkan loe..". Bara seperti susah melanjutkan kata-katanya.Gue udah mulai tersinggung. "sedangkan gue hanya orang lain. Itukan yang loe mau bilang"."gue tau, pernikahan ini hanya dipaksakan. Jadi menurut loe, meskipun kita udah nikah, tetep aja kan kita seperti orang lain. Gue sadar kok dengan hubungan kita sekarang. Tapi nggak berarti kan loe bisa ngatur-ngatur siapa aja yang gue bawa ke sini. Gue kan juga nggak ngelanggar norma. Gue nggak berbuat macem-macem ataupun yang senonoh. Jadi kenapa loe yang jadi sewot. Dan kalo loe emang nggak betah kalo gue masih ada disini. Mendingan loe kasih tau aja oma supaya kita cerai. Beres kan ?".Wajah Bara kayaknya tampak kaget. "gue yakin kok oma bakalan ngerti. Karena seharusnya dia tau dari awal kalo kita nikah karena dipaksa".Gue langsung keluar dari kamar berlari menuju keluar. Tiba-tiba terbersit dibenak gue untuk pulang ke rumah babe.***Bara masih duduk melamun di kasur kamar Jelita. Pikirannya benar-benar terganggu dengan perkataan Jelita tadi.Tiba-tiba ponselnya bunyi. "babe ?", dahi Bara berkerut.Tiba-tiba aja perasaannya nggak enak. Bara kemudian mengangkat telponnya. Setelah mendengar perkataan babe Jelita. Ekspresi Bara langsung syok. Tanpa sengaja dia menjatuhkan ponselnya ke lantai. Tanpa berpikir panjang dia lalu bergegas keluar, langsung menyetir mobilnya .Setelah sampai, Bara berlari di koridor rumah sakit dengan pikiran cemas. Yah, tadi babe menelponnya mengabarkan kalo Jelita kecelakaan dan masuk rumah sakit. Dia bisa mendengar suara panik babe tadi. Saking kaget dan syoknya, Bara lupa menanyakan kamar rawat Jelita. Untungnya dia segera bertanya ke bagian administrasi. Setelah tau, Bara langsung lari menuju kamar rawat Jelita.Terlihat babe Jelita mondar-mandir didepan ruang UGD. "be, gimana keadaan Jelita ?". tanya Bara dengan wajah yang masih cemas."babe nggak tau. Jelita masih ditangani same dokter"."kenapa Jelita bisa kecelakaan be ?"."babe juga nggak tau. Tadi babe langsung dapet telpon dari pihak rumah sakit kalo Jelita kecelakaan ditabrak mobil".Bara langsung mengingat kejadian tadi saat dia marah pada Jelita. Ini semua karena dia, andai aja tadi dia nggak marah-marah, mungkin Jelita nggak akan keluar rumah dan akhirnya kecelakaan. Kalo sampai terjadi apa-apa dengan jelita, Bara tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Pikirnya.....Bara juga heran kenapa dia bisa semarah itu hanya karena Jelita membawa Dimas ke rumahnya. Padahal Jelita sudah menjelaskan kalo mereka hanya belajar bersama. Tapi tetap saja Bara marah dan tidak terima. Apakah dia cemburu..?Yah, Bara tidak mungkin marah pada Jelita karena membawa Dimas ke rumah kalo dia tidak cemburu. Buktinya dia juga cemas banget saat mengetahui kondisi Jelita. Bukan hanya babe Jelita yang mondar mandir dari tadi, Bara juga ikut mondar mandir menunggu dokter keluar.Tidak berapa lama kemudian, oma Yasmin datang bersama Amelia . "Bara, bagaimana keadaan Jelita ?"."Bara juga belum tau oma. Dokter belum keluar-keluar dari tadi".Mereka menunggu cukup lama sampai dokter keluar. Bara langsung mendekati dokter. "dokter, bagaimana keadaan Jelita ?"."apa anda keluarganya ?"."iya, saya suaminya". Untuk pertama kalinya Bara mengaku sebagai suami Jelita.Dokter itu tersenyum. "untunglah kami bisa mengatasi pendarahan yang ada di kepalanya. Jadi keadaan pasien sudah membaik". Semuanya tampak lega mendengarnya."kalo gitu, apa boleh saya masuk melihat keadaannya ?"."silahkan. Tapi saya harap kalian bisa tenang, karena pasien belum boleh terganggu"."baik dokter". Mereka lalu masuk ke ruangan JelitaJelita terbaring begitu lemah dengan inpus selang oksigen yang ada di hidungnya . Meskipun dokter sudah mengatakan bahwa keadaan Jelita sudah membaik, tetap saja wajah Bara masih menunjukkan ekspresi cemas. Bara langsung duduk disamping Jelita. Entah kenapa, dia langsung memegang tangan Jelita dengan lembut. Mungkin bagi babe dan oma Yasmin itu hal biasa, tapi nggak bagi Amelia. Dia terkejut melihatnya, karena setau dia Bara sama Jelita itu musuhan dan nggak saling suka. Dan yang lebih membuat Amelia terkejut saat Bara mengecup tangan Jelita. "gue mimpi atau apa yah ?", itulah yang ada dibenak Amelia.Amelia keluar dari ruangan Jelita seperti masih nggak percaya apa yang dilihatnya.Tiba-tiba Dimas datang dengan wajah cemas juga. "Mel, gimana keadaan Jelita ? Dia baik-baik aja kan ?".Amelia mengangguk. "keadaan Jelita udah membaik Dim. Sekarang di dalam ada Bara, oma Yasmin sama babe Jelita".Tiba-tiba oma Yasmin dan babe Jelita juga keluar."biar aja Bara yang nungguin Jelita di dalam. Sepertinya dia benar-benar cemas melihat keadaan Jelita", kata oma Yasmin."namanya juga seorang suami yang mengkhawatirkan istrinye" , kata babe Jelita.Dimas lumayan terkejut mendengarnya. Oma Yasmin dan babe Jelita lalu pergi meninggalkan Dimas yang bengong."Mel, gue salah denger atau apa ?"."nggak Dim. Gue juga heran, tadi gue liat ekspresi Bara begitu cemas ngeliat Jelita. Padahal kan mereka musuhan. Dan yang lebih mengejutkan gue, saat Bara tiba-tiba mengecup tangan Jelita. Masuk akal coba nggak Dim ?"."hah ?" ,Dimas melongo. "kok bisa sih ?"."mana gue tau"."jangan-jangan Bara emang suka lagi sama Jelita. Tadi waktu gue datang ke rumahnya, dia marah banget ngeliat gue belajar bareng sama Jelita. Gue aja kaget benget saat ngedenger Jelita kecelakaan. Padahal tadi baik-baik aja. Dia juga bilang kalo hari ini dia males keluar-keluar"."entahlah, yang jelas gue bingung sekarang. Pokoknya kita liat aja lah nanti perkembangan Jelita. Dan kalo gue boleh saranin, mendingan loe nggak usah masuk deh Dim. Apalagi kata loe tadi, Bara sempat marah-marah sama loe. Mendingan kita tunggu di luar aja"."ya udah deh".Bara terus memandang jelita yang masih belum siuman sambil memegang tangannya.Tiba-tiba aja tangan Jelita bergerak. Tentunya Bara terkejut.Jelita membuka matanya perlahan. Dan langsung menatap Bara yang juga menatapnya tanpa berkedip. Jelita ingin melepas selang oksigennya, tapi tiba-tiba Bara menahannya dengan memegang tangannya."jangan dilepas dulu,kamu kan baru siuman". Entah kenapa, Bara jadi ngomong 'aku kamu'.Jelita mengerutkan dahinya merasa aneh dengan ucapan Bara. Dia lalu menggeleng dengan maksud bahwa dia tidak apa-apa. Dia lalu membuka selang oksigen di hidungnya. "ini dimana ?"."di rumah sakit. Tadi kamu kecelakaan". Jelita lalu mengingat kecelakaan yang menimpanya. Dia sedang berlari sambil memikirkan perkataan Bara, sehingga tidak konsentrasi. Bahkan dia tidak menyadari ada mobil di depan.Jelita mencoba bangun. Dengan segera Bara membantunya, merangkul tubuh Jelita yang masih lemah. "seharusnya kamu baring aja". Yah, lagi-lagi Jelita terkejut."kok cuma kamu disini ? Babe mana ?". Entah kenapa, Jelita juga jadi ngomong 'aku kamu' pada Bara."mereka tadi keluar sebentar, makanya aku yang jagain kamu. Gimana kondisi kamu sekarang ? Apanya yang sakit ?. Aku panggilin dokter yah ?". Jelita menggeleng."kenapa kamu bisa ada disini ?"."tadi babe nelpon aku. Aku bener-bener khawatir sama kamu"."kamu khawatir sama aku ?". Jelita bertanya seperti anak kecil.Bara mengangguk. "ini semua kesalahan aku. Tadi kamu keluar dari rumah karena gara-gara aku. Andai aja aku nggak marah-marah pasti kamu nggak akan kayak gini. Maafin aku yah".Lagi-lagi Jelita mengerutkan dahinya. "kamu beneran Bara kan", pertanyaan Jelita membuat Bara terkejut."kamu baik-baik aja kan Jelita ?'."justru aku yang harus bertanya. Kamu kesambet setan apa bisa jadi ngomong kayak gitu ?". Ya ampun, masih bisanya yah Jelita bercanda.Bara sadar apa yang baru dia omongin tadi. Dia jadi gugup mau bilang apa sama Jelita."em..Jelita, aku....aku minta maaf atas omongan aku tadi. Aku nggak bermaksud untuk marahin kamu. Aku..."."udah lupain aja. Nggak apa-apa kok. Kamu berhak marah, karena itu emang rumah kamu"."nggak. Maksud aku bukan kayak gitu. Aku... pada dasarnya aku marah kamu membawa Dimas ke rumah bukan hanya karena itu rumah aku. Tapi..."."tapi apa ?"."karena aku....aku nggak suka kamu bawa laki-laki ke rumah. Aku... aku marah ngeliat kamu sama Dimas berdua-duaan. Aku....aku rasa aku cemburu".Jelita benar-benar terkejut."aku sendiri juga masih bingung dengan perasaan aku sama kamu. Tapi aku marah kalo kamu berdua-duaan dengan cowok lain. Aku juga cemas banget ngeliat keadaan kamu tadi. Jadi aku rasa, itu semua karena aku udah mulai sayang sama kamu".Jelita hanya menatap Bara tanpa berkata apa-apa. "kenapa kamu diam aja Jelita ?"."aku harus bilang apa ?"."masa kamu nggak tau harus ngomong apa. Setidaknya kamu juga ngungkapin perasaan kamu sama aku". Jelita masih terdiam. Ekspresi wajahnya seperti sedang berpikir."kasih aku kesempatan"."apa ?"."kasih aku kesempatan untuk membuktikan kalo aku beneran sayang sama kamu. Please". Bara memegang tangan Jelita sambil memandang sendu kepadanya."kamu tetap mau jadi suami aku ?"."kenapa kamu ngomong kayak gitu ?"."aku kira kamu akan ceraiin aku. Aku kira kamu ingin bilang yang sebenarnya sama oma"."itu emang pernah terbersit dipikiranku. Tapi sekarang nggak lagi. Kenapa kita nggak coba untuk menjadi suami istri yang sesungguhnya"."suami istri yang sesungguhnya ?"."iya. Tapi kita kan emang suami istri yang sah secara hukum. Cuma sikap kita aja selama ini yang nggak menunjukkan suami istri. Jadi aku mau, mulai sekarang kita baikan. Aku males berantem terus sama kamu". Bara mendekatkan jari kelingkingnya ke Jelita tanda meminta perdamaian.Tanpa pikir panjang Jelita langsung mengaitkan kelingkingnya di kelingking bara."jadi sekarang kita udah damai yah. Nggak boleh berantem lagi".Jelita hanya mengangguk.Tiba-tiba aja Bara mencubit pipi jelita dengan lembut."aku sayang sama kamu". Jelita hanya membelalakkan matanya."heh.., jawab dong".Jelita mengangguk sambil tersenyum malu. "aku...aku juga","juga apa ?"."juga... juga sayang sama kamu."Bara spontan memeluk Jelita.Dimas dan Amelia yang dari tadi mengintip diluar tersenyum bahagia melihat mereka.The End

Don't Avoid Me
Teen
22 Jan 2026

Don't Avoid Me

" sorry sorry, aku nggak sengaja ".Itulah kata yang ku ucapkan saat pertama kali bertemu dengan Kaffa di mall. Aku nggak sengaja bertabrakan dengan dia waktu itu ." lain kali hati-hati kalo jalan ". Hanya itu yang diucapkannya kemudian berlalu meninggalkan aku. Mungkin ini yang dinamakan cinta pandangan pertama. Aku sudah menyukai Kaffa sejak pertama kali aku melihatnya. Awalnya aku merasa ini hanya perasaan sementara. Tapi setelah aku bertemu lagi dengannya, aku yakin kalo ini bener-bener cinta.Aku bertemu Kaffa saat dia menjadi mahasiswa pindahan di kampusku. Kebetulan aku satu jurusan sama dia, tapi nggak satu kelas. Saat aku mengajaknya bicara, dia hanya cuek. Hanya bicara seperlunya. Sepertinya aku hanya dianggap teman kampus biasa. Walaupun aku selalu mendekatinya dan selalu mencari perhatian, tetap saja dia mengacuhkanku. Aku rasa Kaffa memang sengaja menghindariku. Padahal sesama teman yang lain tidak juga. Dia juga tidak dekat dengan teman cewek. Aku mengambil kesimpulan kalo Kaffa mempunyai sifat tertutup."kamu udah mau pulang yah ?", tanyaku pada Kaffa saat diparkiran."iya", jawabnya cuek tanpa memandang aku."aku boleh nebeng nggak ?". Sebenarnya sih bisa aja aku naik kendaraan lain. Cuman aku mau basa-basi aja sama dia. Barangkali aja kalo aku terus deketin dia, dia jadi mulai ramah sama aku."jalur kita kan berbeda. Aku juga ada urusan penting, jadi nggak bisa numpangin siapa-siapa. Sorry", katanya dengan suara dingin."ya..ya udah deh. Tapi lain kali aku boleh nebeng kan ?"."aku nggak janji". Dia lalu masuk ke mobilnya kemudian pergi. Walaupun aku agak kecewa, tapi nggak apa-apa deh. Lagian ini kan bukan pertama kalinya aku ditolak sama dia. Entah kenapa, aku nggak mau nyerah untuk deketin Kaffa.***"eh Kin, kok Kaffa orangnya cuek banget yah jadi orang. Nggak pernah senyum sedikit pun sama kita. Semenjak dia jadi mahasiswa pindahan. Aku sama sekali nggak pernah dia senyum sedikitpun sama kita semua", kata Windy temen deket aku saat kami berada di kelas."apa karena dia pintar kali, makanya jadi sombong gitu"."husy, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu win. Aku yakin kok, Kaffa itu nggak sombong. Mungkin aja itu emang sifatnya yang pendiam dan tertutup"."iya, tapi bisa kan dia bersikap ramah sedikit aja sama kita. Kalo aja dia ramah dan seneng bergaul sama kita, pasti banyak cewek yang ngejar-ngejar dia, orang dia ganteng gitu"."mungkin aja Kaffa punya alasan kenapa dia kayak gitu"."kamu tuh yah Kin, emang selalu aja belain Kaffa. Kamu bener-bener suka yah sama dia ?".Aku kaget. "kapan aku bilang kalo aku suka sama Kaffa ?"."nggak usah mungkir deh Kin. Emangnya aku nggak pernah lihat apa kamu sering merhatiin Kaffa, dan juga sering ngehampirin dia. Kentara banget tau kalo kamu suka sama dia "."masa sih ?"."tapi kayaknya Kaffa nggak ngerespon kamu sama sekali deh kin. Mendingan kamu berhenti aja deh ngejar-ngejar Kaffa". Aku hanya tersenyum samar mendengar omongan Windy. Memang mudah mengatakan, tapi aku sudah terlanjur cinta sama Kaffa. Tidak mudah untuk melupakannya dalam sekejap. Aku tau cinta aku memang bertepuk sebelah tangan. Tapi selama aku masih mampu untuk bertahan, aku nggak akan berhenti mencintai Kaffa. Meskipun aku tau, mungkin selamanya dia nggak akan pernah melirik aku.***Waktu itu aku sengaja menghampiri Kaffa yang sedang duduk membaca di perpustakaan. "hai Kaffa, bisa duduk disini nggak ?". Kaffa melirik aku sebentar kemudian kembali fokus ke buku."ini kan tempat umum, jadi siapapun boleh duduk", katanya tanpa melihat aku lagi. Aku kemudian duduk berhadapan dengannya. Dia kelihatan fokus banget belajar."oh yah Kaffa, kamu tau nama aku kan ?"."apa ?", katanya dengan sedikit terkejut."yah, selama ini kan kita nggak akrab. Kamu juga tertutup banget pada semua orang. Yah barangkali aja kamu nggak tau nama aku, kita kan emang nggak sekelas"."emangnya penting yah tau nama kamu ?", katanya cuek.Buarrrr.....! Aku bagaikan disambar petir saat mendengar perkataan Kaffa. Ternyata benar, aku sama sekali nggak ada arti apa-apa dimata Kaffa selama ini."aku tau, aku memang bukan orang yang penting. Tapi nggak apa-apa kan, setidaknya kita bisa jadi seorang temen. Kenalin, nama aku Kinar", kataku mengulurkan tangan. Dia tetap saja mengacuhkanku. Tetap fokus pada bukunya tanpa melirik aku sedikit pun. Aku sedikit kecewa dengan sikap acuh Kaffa. "kamu nggak mau temenan sama aku yah ?. Emangnya tipe orang yang mau kamu ajak berteman kayak gimana sih".Kaffa langsung menghempaskan bukunya di meja. Kelihatannya dia mulai marah. "bisa nggak kalo masuk di perpus itu diam. Udah baca aturannya kan ?". Dia langsung berdiri untuk mengembalikan buku itu pada rak. Kemudian berjalan keluar dari perpus meninggalkan aku. Padahal aku hanya ingin mencoba temenan sama dia. Tapi kenapa dia seperti itu ? Apa benar kata Windy kalo Kaffa itu emang sombong..?Tapi aku selalu merasa kalo dia punya alasan kenapa melakukan itu. Dia tidak terlihat seperti orang sombong.***Aku kira setelah kami lulus kuliah, aku bisa melupakan Kaffa karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Tapi ternyata takdir mempertemukan kami kembali. Aku sekantor dengan dia. Dia adalah seorang direktur di kantorku, sedangkan aku hanya karyawan biasa.Saat pak Randy ayah Kaffa memperkenalkan dia sebagai direktur di kantor, aku sangat kaget karena tidak menyangka bisa melihatnya lagi. Dan setelah itu aku baru tau kalo kantor tempat aku bekerja adalah milik keluarga Kaffa. Aku nggak tau ini kebetulan atau apa. Yang jelas, aku bener-bener bingung. Apalagi saat aku bertemu dengan Kaffa, sikapnya terhadap aku seakan-akan kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Dan terpaksa aku juga harus pura-pura bahwa aku nggak pernah bertemu sebelumnya dengan dia.Sikapnya masih sama 2 tahun yang lalu saat dia pindah sebagai mahasiswa baru. Dia tetap cuek, sampai-sampai saat aku sedang bekerja, aku sering mendengar para karyawan lain membicarakan Kaffa tentang sikap dingin dia pada semua orang.Waktu itu, tanpa sengaja kami masuk dalam lift berdua. Seperti biasa, sikapnya kaku dan cuek. Aku juga cukup lama diam, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya."permisi pak".Yah, semenjak dia menjadi direktur, aku selalu memanggilnya dengan sebutan bapak, karena biar bagaimana pun, dia adalah bos ku, dan sudah sepantasnya aku menghormatinya.Kaffa hanya menoleh , memandangku datar. "bapak masih kenal kan sama saya ?", pertanyaan yang sama saat aku menyapanya di perpustakaan dulu. Lagi-lagi dia hanya diam. "saya..."."kamu Kinar karyawan di kantor ini", katanya memotong ucapanku. "bukannya dulu sudah perkenalan kan. Ingatan saya masih cukup kuat untuk mengingat nama karyawan di sini", katanya dengan masih nada dingin."maksud saya..., dulu kita kan..". Aku ingin bilang kalo dulu kita satu kampus. Tapi lift sudah keburu terbuka. Aku mengikuti Kaffa di belakang. "pak Kaffa...".Aku langsung berhenti saat Kaffa balik melihatku. "sepertinya nggak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan sama saya. Jadi kenapa terus ngikutin saya ?"."maaf pak, saya hanya....".Belum selesai ngomong Kaffa langsung pergi. Astaga, sampai kapan dia akan terus bersikap seperti ini...***Malam itu aku baru saja selesai bekerja. Aku memang sengaja lembur karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaiin. Aku terpaksa menunggu di lobi karena hujan turun dengan deras. Aku juga tidak punya payung, makanya aku lebih memilih menunggu hujannya reda.Tiba-tiba Kaffa juga keluar. Dia memegang sebuah payung. Dan sepertinya sudah siap untuk melintasi hujan. "maaf pak ", aku mendekati Kaffa. "saya boleh minjam payungnya nggak kalo bapak sudah selesai ?"."saya kan mau pulang, jadi saya harus bawa payung ini"."saya tau. Begini saja pak, saya antar bapak pake payung itu sampai di mobil bapak, setelah bapak masuk, saya ambil payungnya. Saya janji akan kembalikan besok". Sepertinya Kaffa berpikir sejenak."ya sudah". Aku tersenyum. Baru kali ini dia mau menolongku. Aku dan Kaffa lalu menuju ke mobilnya sambil membawa payung. Yah, kalo dibilang aku memang dekat sekali dengannya saat berjalan ditengah hujan.Sesekali aku memandangnya. Tapi seperti biasa, pandangan dia hanya ke depan terus tanpa sedikit pun melirik aku. Setelah kami sampai di mobil Kaffa. "sini biar saya pegang pak. Bapak masuk aja ke mobil". Kaffa langsung masuk ke mobilnya.Tiba-tiba aja dia membuka kaca pintu mobilnya. "saya janji akan mengembalikannya besok. Makasih sebelumnya pak". Saat aku ingin pergi.."Kinar tunggu..". Aku lalu balik. "lebih baik kamu naik ke mobil saya. Saya antar kamu sampai rumah". Aku bener-bener terkejut mendengarnya, tidak menyangka Kaffa menawari aku untuk diantar."tidak usah pak. Nanti saya naik kendaraan lain saja. Jalur kita kan berbeda"."nggak apa-apa. Lagian ini kan sudah hampir larut malam. Hujan lagi. Sepertinya sudah tidak ada kendaraan yang lewat".Dalam hati, aku seneng sekali, tapi aku juga bingung dengan sikap Kaffa. Akhirnya aku naik saja ke mobilnya."rumah kamu apa masih yang dulu"."iya pak". Kaffa lalu menyetir mobilnya.Tapi tunggu..., kenapa dia bisa tau rumah aku. Dia kan nggak pernah pergi sebelumnya."kok bapak bisa tau rumah saya ? Saya kan nggak pernah ngasih tau. Bapak juga nggak pernah datang sebelumnya". Aku bisa melihat raut wajah Kaffa berubah seketika."sa..saya ngeliat data kamu di kantor", katanya agak sedikit terbata.Sebenarnya aku masih bingung dengan jawaban Kaffa. Yah, akhirnya aku memutuskan untuk diam saja. Mobil jadi sunyi, hanya suara gemuruh hujan yang terdengar. Aku dan Kaffa sama-sama memandang ke depan tanpa melirik satu sama lain. Pikiranku bener-bener berkecamuk.Setelah sampai, hujan juga sudah mulai reda. "makasih pak udah nganter. Saya turun dulu. Hati-hati di jalan". Aku lalu turun dari mobil. Setelah itu Kaffa pulang tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya aku harus benar-benar melupakan Kaffa. Aku yakin, tadi dia mengantarku hanya karena kasihan. Yah, setidaknya Kaffa masih punya belas kasihan terhadapku.Yah, aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkan Kaffa lagi. Aku terus fokus pada pekerjaanku. Bahkan aku sengaja membawa makanan siang di ruanganku. Aku berencana untuk tidak keluar-keluar ruangan saat istirahat. Karena bisa saja aku tidak sengaja berpapasan dengan Kaffa . Makanya aku hanya dimeja kerjaku sampai pulang. Teman-teman kerjaku merasa heran dengan sikapku. Bahkan kalo ada berkas yang tidak terlalu penting ingin aku kumpul, aku hanya menitipkannya."Kinar, kok kamu aneh banget sih akhir-akhir ini ? Jarang banget keluar", tanya teman kerjaku."nggak apa-apa". Hanya itu yang kujawabkan ketika ada yang bertanya......***Waktu itu aku disuruh masuk ke ruangan Kaffa untuk memberikannya berkas penting. Terpaksa aku masuk karena tidak bisa juga menolak.Aku mengetuk pintu ruangan Kaffa berulang kali, tapi tak ada yang menyahut. Akhirnya kuberanikan diri membukanya.Setelah aku membuka pintu.....Astaga, aku melihat Kaffa di lantai memegang perutnya seperti sedang kesakitan. Dia berkeringat dingin. Sepertinya dia berusaha ingin mengambil sesuatu di meja kerjanya. Aku bener-bener kaget."pak Kaffa...".Aku langsung lari mendekati Kaffa. Wajahnya bener-bener pucat."pak Kaffa kenapa ? Pak Kaffa sakit ? Saya bawa ke dokter yah pak. Sebentar saya panggil...", saat aku ingin berdiri, Kaffa tiba-tiba memegang tanganku. Dia menggeleng, memberikan isyarat agar aku tidak memanggil siapa-siapa. "am..ambilkan", katanya terbata-bata. "apa pak ?". Dia menunjuk ke meja kerjanya. "apa yang harus saya ambilkan ?", aku juga sangat cemas melihat keadaan Kaffa. "di.. di laci". Aku langsung ke meja kerja Kaffa membuka lacinya ."o..bat", katanya lagi. Iya, aku menemukan banyak obat. Akhirnya aku membawa semuanya pada Kaffa. Dengan segera, dia memakan semua obat itu. Aku langsung mengambil air diatas meja, kemudian memberikannya pada kaffa untuk diminum.Setelah itu, tiba-tiba saja Kaffa langsung membaik. Kelihatannya perutnya sudah tidak sakit lagi. Meskipun keringatnya masih bercucuran."pak Kaffa baik-baik saja ? Apa perlu saya bantu pak Kaffa pergi ke dokter"."nggak usah. Lebih baik kamu keluar aja sekarang. Simpan berkas itu diatas meja"."tapi tadi pak Kaffa kenapa ? Saya bisa lihat pak Kaffa begitu kesakitan. Apa pak Kaffa sakit ?"."kamu nggak usah banyak nanya, lebih baik kamu keluar sekarang !", ucapnya tegas."tapi pak..., saya.."."keluarrr...!!", bentaknya dengan suara tinggi. Aku langsung kaget dan ingin menangis saat dibentak. Tentu saja, aku yang tadi begitu khawatir melihat keadaannya, tiba-tiba saja dibentak disuruh keluar. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku takut campur bingung melihat Kaffa. Aku langsung berlari keluar. Aku nggak tau keadaan Kaffa setelah itu. Hati aku bener-bener sakit saat dibentaknya. Apa karena aku masih punya perasaan untuknya..?***Saat itu aku baru saja menjenguk teman kerja aku yang baru saja melahirkan di rumah sakit.Saat aku ingin pulang, tiba-tiba saja aku berpapasan dengan pak Randy yang kelihatan panik menemani seseorang yang berbaring di kasur rumah sakit yang didorong oleh para suster dan bersama seorang dokter.Ketika semakin dekat....Astaga itu kan Kaffa yang sedang diimpus. Aku sangat kaget. Tiba-tiba saja mata kami bertemu. Kaffa seperti kaget melihat aku. Kami saling memandang cukup lama sampai akhirnya aku tidak bisa melihatnya karena dibawa masuk ke ruangan UGD.Aku masih terpaku di tempat, berharap itu hanya mimpi. Tapi itu emang kenyataan. Aku langsung mengingat kejadian tadi pagi. Apa ini ada hubungannya dengan rasa sakit yang dialami Kaffa tadi pagi di ruangannya. Aku semakin cemas, pikiranku berkecamuk. Akhirnya aku menghampiri pak Randy yang sedari mondar-mandir di depan kamar rawat Kaffa. Sepertinya beliau juga sangat cemas."maaf pak..". Aku masih bisa melihat Kaffa dari jendela terbaring di dalam. Kaffa sempat melirik ke arahku. Tapi aku langsung memalingkan wajahku melihat pak Randy, berharap penjelasan darinya tentang kondisi Kaffa."Kinar ? Apa yang kamu lakukan disini ?". Sepertinya pak Randy terkejut melihatku."saya kebetulan jengukin teman pak. Dan saya lihat bapak di sini beserta pak Kaffa yang dirawat. Kalo boleh saya tahu, pak Kaffa sakit apa yah pak ? Yang pastinya ini mungkin bukan kecelakaan. Karena saya tidak melihat luka dibagian tubuh pak Kaffa ?"."Kaffa memang tidak kecelakaan. Dia..."."dia kenapa pak ?". Sepertinya pak Randy berat untuk mengatakannya."pak Kaffa kenapa pak ? Apa dia sakit ? Sakit apa ?", tanyaku cemas campur penasaran."dia mengidap kanker.., kanker lambung..".Bagaikan petir disiang bolong yang langsung menyambarku saat mendengar perkataan pak Randy. Tiba-tiba saja semua tubuhku langsung lemas.Untungnya aku segera bersandar di dinding."pak Randy pasti bercanda ?"."tidak. Kaffa sudah divonis mengidap penyakit ini 4 tahun yang lalu. Saat dia masih kuliah di jogja. Karena bapak ingin terus memantau keadaan dia, makanya bapak menyuruh Kaffa pindah kuliah ke Jakarta. Jadi bapak bisa menemaninya. Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini keadaannya mulai drop lagi", kata pak Randy dengan nada sedih. Sebenarnya aku ingin menangis, tapi aku berusaha menahannya. Aku lalu berpikir, apa karena penyakit Kaffa makanya dia selalu cuek dan bersikap dingin selama ini.....?Setelah dokter keluar dari ruangan. Aku minta izin pada pak Randy untuk masuk ke dalam. Akhirnya pak Randy mengizinkanku...Kaffa masih terbaring. Aku berjalan pelan mendekati Kaffa. Tanpa kusadari air mataku menetes.Saat Kaffa melihatku, aku langsung mengusap air mataku. Aku nggak mau Kaffa curiga melihatku menangis. Mana mungkin karyawan biasa sepertiku menangis melihat direkturnya yang sedang terbaring sakit. Pasti Kaffa akan berpikiran seperti itu.."kamu ngapain disini ?", katanya dengan masih nada dingin."saya..., saya hanya ingin lihat keadaan pak Kaffa"."sekarang kamu udah liat aku kan. Apa sekarang kamu mau menertawai aku. Orang yang selama ini kamu lihat selau cuek, dingin dan sombong kayak aku ternyata hanya seorang yang berpenyakitan, dan nggak akan hidup lama lagi"."kenapa pak Kaffa ngomong kayak gitu ? Apa bapak pikir saya seneng dengan keadaan bapak seperti sekarang ? Apa pak Kaffa selalu menilai negatif tentang saya ? Apa pak Kaffa begitu membenci saya ?". Tanpa kusadari air mataku jatuh lagi. Dengan segera aku mengusapnya."saya tahu pak Kaffa bukan orang yang sombong. Alasan bapak bersikap cuek dan dingin selama ini hanya karena penyakit bapak kan ? Tapi mengapa bapak selalu menghindari dan menjauhi saya. Kenapa bapak berpura-pura tidak mengenal saya di kantor. Padahal kita satu kampus dulu. Kasih tau saya alasannya, apa yang membuat pak Kaffa membenci saya ?".Kaffa menatapku lembut. Tatapan dinginnya telah hilang. "aku nggak pernah membenci kamu Kinar. Aku sama sekali nggak pernah bermaksud untuk menjauhi kamu"."terus kenapa selama ini......"."aku selalu menghindar dan menjauhi kamu karena penyakit aku", potong Kaffa."itu nggak masuk akal. Mana mungkin hanya karena penyakit yang pak Kaffa derita, pak Kaffa menjauhi saya. Padahal pak Kaffa jelas-jelas tau, kalo dulu saya selalu berusaha mendekati bapak"."justru karena itu, aku nggak mau kalo kita dekat. Karena itu hanya akan membuat aku menderita"."maksud bapak ?"."aku.......Sebenarnya sudah sejak lama aku menyukai kamu Kinar. Aku selalu menjauhi kamu agar aku bisa melupakan kamu. Aku nggak mau jatuh cinta sama kamu. Karena biar bagaimanapun, aku nggak akan bisa membahagiakan kamu. Hidup aku nggak akan lama lagi. Aku.........".Aku langsung memeluk Kaffa sebelum dia ngomong lagi."Kinar kamu..."."aku nggak peduli. Aku nggak peduli kalo kamu sakit atau apa. Yang penting jangan menjauhi aku, jangan hindarin aku. Bukan dokter yang menentukan kapan kamu mati tapi tuhan."."tapi kamu pasti tau kalo penyakit aku ini mematikan. Sewaktu-waktu keadaan aku bisa saja langsung drop kayak tadi"."aku nggak peduli. Asal kamu tau, aku bener-bener tulus mencintai kamu. Aku nggak peduli kamu sakit atau apa "."apa kamu bilang ? Kamu cinta sama aku ?".Aku mengangguk."aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak lama, saat kita masih kuliah dulu. Saat aku ingin dekat sama kamu, kamu selalu aja menghindar dan menjauhi aku. Aku kira kamu membenci aku"."ini yang aku nggak inginkan kinar. Kamu seharusnya nggak mencintai aku. Aku bukan orang yang pantas kamu cintai, aku nggak mungkin selamanya menemani kamu"."Kaffa, aku nggak peduli itu semua. Yang aku butuhkan sekarang hanyalah cinta tulus dari kamu. Aku menerima keadaan kamu apa adanya. Aku akan selalu menemani kamu untuk melawan penyakit kamu. Aku yakin pasti kamu bisa. Kamu harus mengalahkan penyakit ini. Janji sama aku ?".Kaffa langsung memelukku. "aku janji, demi kamu aku akan bertahan. Demi kamu aku akan mengalahkan penyakit ini. Aku ingin segera sembuh agar aku bisa menjaga dan membahagiakan kamu. Aku sayang sama kamu Kinar"."aku juga Kaffa"."maafin sikap aku selama ini yah sama kamu. Apa yang aku lakuin semata-mata hanya tidak ingin membuat kamu menderita"."tapi sekarang aku mau kamu harus terus jujur sama aku. Ceritain semuanya tanpa ada dirahasiain"."iya aku janji", jawab Kaffa tersenyum, kemudian mencium keningku.The End

Not Her, but You
Teen
22 Jan 2026

Not Her, but You

Nasya's pov"Gue udah peringatin sama loe kan sebelumnya, kalo loe berani nyakitin Misya loe bakalan berhadapan sama gue !!!"."Loe itu emang cewek terjahat yang pernah gue kenal ! Gue heran, emangnya salah Misya apa sih sama loe, sampai-sampai loe tega nyakitin dia terus, hah !!!".Kata-kata Elang terngiang terus dibenakku. Nggak pernah ada sebelumnya orang yang ngatain aku cewek jahat. Dan yang lebih menyakitkan saat dia datang-datang langsung nampar aku di depan semua teman-teman.Dia juga mengatai-ngataiku dengan kasarnya.Karena tidak ingin terlihat lemah, aku berusaha menahan air mataku.Aku nggak tau kenapa Elang selalu berpikiran aku nyakitin Misya. Meskipun Misya hanya saudara tiriku, aku nggak mungkin nyakitin dia. Nggak kayak mama yang memang dari awal nggak menyukai Misya.Sejujurnya, sejak pertama kali aku ngeliat Elang, aku langsung suka sama dia. Tapi ternyata Elang gak suka sama aku. Dia hanya merhatiin Misya terus. Belum lagi dia nganggap aku saudara tiri yang jahat.Aku sadar, dibandingkan denganku Misya jauh lebih cantik dan feminim.Aku ?Banyak orang yang ngatain aku tomboy. Dan aku akui penampilanku memang tidak feminin seperti Misya.Waktu itu Misya terjatuh dari tangga. Aku yang melihatnya tentu saja kaget dan langsung menghampirinya bermaksud membantunya. Namun lagi-lagi Elang salah paham sama aku dengan mengira aku yang menyebabkan Misya jatuh.Bahkan tanpa bertanya, dia langsung menuduhku.Aku sebenarnya ingin menjelaskan, tapi dia keburu pergi sambil menggendong Misya.Dan itu bukan pertama kalinya Elang menuduhku.Dia bahkan menghasut teman-teman sekelas membenciku karena menganggap aku jahat pada Misya.***Author's pov"Nasya sama sekali nggak salah lang. Justru dia yang nolong aku saat jatuh", jelas Misya pada Elang."Mungkin aja itu cuma akal-akalan dia aja. Dia sengaja yang membuat kamu jatuh, terus pura-pura nolongin kamu", balas Elang dengan mimik wajah kesal.Misya menggeleng."Nasya nggak kayak gitu. Dia adalah saudara yang baik meskipun hanya saaudara tiri. Mungkin alasan kamu membenci Nasya karena mengira dia selalu menyakiti dan berbuat jahat sama aku. Tapi nggak lang. Justru Nasya selalu bantuin dan nolongin aku. Apalagi kalo mama nyakitin aku"."Mereka kan ibu dan anak kandung. Jadi bisa aja kan mereka bersekongkol", sahut Elang masih dengan kekeraskepalaannya. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa Nasya adalah cewek jahat."Aku nggak tau kenapa kamu terlalu berpikiran negatif sama Nasya. Tapi emang itulah kenyataannya. Nasya sangat berbeda dari mama Elsa. Meskipun Nasya agak cuek, tapi sebenarnya dia baik banget. Kamu percaya deh sama aku lang. Aku cuma nggak mau kamu terlalu jauh salah paham sama Nasya yang jelas-jelas nggak salah".Kali ini Elang hanya terdiam mendengar perkataan Misya. Dia memikirkan baik-baik apa yang Misya katakan tentang Nasya.***Nasya dan Misya memang sudah menjadi saudara agak lama. Waktu itu papa Misya menikahi mama Nasya setelah 2 bulan kematian istrinya. Awalnya Misya sangat senang saat tahu mama Nasya akan menjadi ibu tirinya, karena sebelum mamanya meninggal, mama Nasya sering datang ke rumahnya untuk sekedar beramah tamah ataupun mengantarkan makanan karena mereka bersebelahan rumah. Bedanya, kalau keluarga Misya bisa dikatakan kaya raya, maka keluarga Nasya dikatakan hidup sederhana.Demi membantu mamanya, Nasya harus kera part time di sebuah cafe. Bahkan meskipun mamanya sudah menikah dengan papa Misya, dia tetap kerja part time karena tidak ingin terlalu bergantung dengan keluarga Misya.Mereka, Nasya dan Misya mengenal Elang saat mereka pindah sekolah. Keduanya sama -sama tertarik pada Elang saat pandangan pertama. Namun tentu saja Elang lebih tertarik pada Misya dibandingkan Nasya karena Misya lebih feminim. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau mereka sama-sama cantik. Penampilan tomboy Nasya lah yang membuat kecantikannya tidak terlalu tampak.Awalnya Nasya tentu merasakan sakit saat Elang dan Misya berpacaran. Namun dia berusaha melupakan perasaannya kepada laki-laki yang tidak mungkin meliriknya sama sekali, bahkan membencinya.Perasaan suka Nasya pada Elang hanya dirinya yang tahu. Dia selalu memendam perasaannya. Berbeda dengan Misya yang selalu curhat kepadanya tentang hubungannya dengan Elang.***Nasya's pov"Mama heran yah sama kamu. Kok bisa-bisanya sih kamu selalu belain Misya !", ucap mama saat masuk ke kamarku."Denger yah Nasya, Misya itu sudah merebut Elang dari kamu !!"."Ma cukup !! Emangnya kapan sih aku jadi milik Elang, sampai-sampai mama nganggap Misya ngerebut Elang dari aku. Dari dulu Elang memang hanya menyukai Misya. Dan dia hanya menganggapku sebagai musuhnya"."Justru mama yang sudah merebut kebahagiaan Misya. Semenjak kita masuk di rumah ini, Misya jadi menderita karena ulah mama !"."Berani yah kamu ngomong begitu sama mama kamu sendiri !!"."Karena kenyataannya emang kayak gitu ma !".Aku masih nggak ngerti dengan jalan pikiran mama. Dia udah dapetin apa yang dia mau, tapi masih aja serakah. Seharusnya mama bersyukur bisa dinikahin oleh papa Misya, tapi ternyata itu semua belum cukup membuat dia puas. Mama selalu aja memperlakukan Misya dengan tidak baik.Seandainya aja aku boleh memilih, lebih baik kami hidup miskin seperti dulu, daripada sekarang kaya, tapi membuat orang sengsara.Kapan mama bisa berubah ?Mama memang sangat terobsesi ingin menjodohkanku dengan Elang.Keluarga Elang dan keluarga papa Misya sudah lama saling kenal, bahkan sebelum aku dan mama jadi bagian keluarga Misya.Mama ngotot ingin menjodohkanku dengan Elang karena dia berasal dari keluarga kaya-raya. Dari dulu sampai sekarang, mama memang matre. Bahkan aku tau saat mama menerima lamaran papa Nasya, itu dikarenakan keluarga Nasya yang kaya.Keluarga Elang sebenarnya tidak menyukaiku dan mama. Aku bisa memperhatikan raut wajah tidak suka mereka saat keluarganya mengundang keluarga Misya makan malam. Mama Elang selalu memandangku dan mama dengan tatapan sinis.Mungkin saja Elang yang memberitahu mamanya kalau aku dan mama tidak memperlakukan Misya dengan baik.***Aku baru saja sampai di rumah, dan mendapati Elang dan Misya yang baru keluar dari rumah."Nasya, kamu kok baru pulang sih ? Tadi aku hubungi ponsel kamu tapi nggak aktif".Elang hanya diam seperti biasa saat kamu bertiga bersama. Karena dia nggak mungkin memaki aku di depan Misya.Tapi ada yang sedikit berubah. Matanya nggak lagi memandangku tajam. Malahan terlihat biasa-biasa aja."Aku tadi emang nggak ngaktivin ponselku", jawabku."Terus kamu dari mana aja, kok baru pulang ? Masih pake baju seragam lagi", tanyanya."Tadi ada keperluan sebentar", jawabku singkat."Oh kalo gitu cepet ganti baju gih. Aku, Elang sama papa mau pergi ke restoran Melati. Mama nggak bisa ikut karena nggak enak badan katanya. Papa juga masih ganti baju tuh. Kamu cepetan yah"."Kayaknya aku nggak usah ikut deh sya, kalian aja yang pergi", jawabku."Loh, kok gitu sih sya. Kamu juga harus ikut dong. Iya kan lang ?". Tanya Misya meminta persetujuan pada Elang.Sepertinya Elang sedikit terkejut saat namanya disebut Misya.Sedetik kemudian, dia hanya menganggukkan kepalanya."Aku beneran nggak usah ikut deh sya. Aku kan baru pulang, lagian aku juga agak capek. Jadi aku nggak usah ikut yah", kataku memelas.Tiba-tiba papa udah keluar dari rumah. "Loh Nasya, kamu sudah pulang. Ya sudah kamu ganti baju dulu sana baru kita pergi bareng"."Maafin Nasya pa. Nasya nggak bisa ikut kayaknya. Nasya agak capek, nggak apa-apa kan?" Jawabku."Yah, padahal ceritanya kita sekeluarga mau pergi bareng. Mama kamu tadi juga nggak bisa pergi karena nggak enak badan"."Lain kali aja yah pa Nasya ikut"."Ya sudahlah kalau begitu", jawab papa menghela napas pasrah.***Saat ingin memasuki kamar mama, aku mendengar mama berbicara dengan seseorang di ponselnya.....Aku tidak langsung masuk, melainkan menguping pembicaraannya yang terlihat serius.Beberapa menit kemudian , aku dikejutkan dengan pernyataan mama kepada si penelponnya di seberang sana.Bagaimana tidak, itu tentang kematian tante Arini, mama Misya.Bahkan aku sangat syok saat mendengar dari mulut mama sendiri kalau dia yang menyebabkan tante Arini meninggal agar bisa menikah dengan papa Misya dan menguasai hartanya.Sedetik kemudian, mama terkejut menyadari kehadiranku."Nasya ?"."Aku nggak nyangka mama bener-bener sejahat itu pada keluarga Misya", ucapku dengan menangis."Nasya, dengerin penjelasan mama dulu".Sebelum mendengar penjelasan mama, aku langsung berlari meninggalkan rumah sambil menangis tersedu-sedu.Aku terus berlari di jalan sampai tiba-tiba terbersit di pikiranku untuk menyusul papa Misya ke restoran Melati seperti yang disebutkan tadi.Aku langsung menyetop taksi yang lewat dan mengantarku ke restoran melati.***Sesampainya disana, aku yang masih menangis langsung menghampiri papa saat aku melihatnya bersama Misya dan Elang.Mereka begitu terkejut saat melihat penampilanku yang urak-urakan masih mengenakan baju seragam, ditambah lagi menangis dengan tersedu-sedu.Bahkan aku jadi bahan perhatian pengunjung restoran. Namun aku tidak memperdulikan mereka."Nasya, kamu kenapa ? Kok nangis ? Dan kenapa kamu bisa tiba-tiba ke sini, bukannya...""Papa...", aku langsung memotong ucapan papa.Sedetik kemudian, aku langsung bertekuk lutut dihadapannya sambil menggumamkan kata-kata maaf berulang kali."Nasya, ada apa sebenarnya ? Kenapa kamu minta maaf terus ? Ayo bangun dan cerita sama papa"."Iya sya, kamu kenapa sih". Misya jadi ikut cemas melihat keadaan aku.Setelah menarik napas dengan panjang, aku memberanikan untuk menceritakan semuanya pada mereka tentang mama yang terlibat dengan kematian tante Arini.Mereka langsung syok. Terutama Misya yang langsung oleng, untung saja Elang menahannya.Kemudian aku meminta pada papa agar mama mempertanggungjawabkan perbuatannya.Papa langsung menyetujui dan memintaku menjadi saksi.***Mama langsung dibawa oleh polisi begitu sampai di rumah.Mama meneriaki dan memaki-makiku saat tangannya diborgol. Katanya aku adalah anak yang tidak berguna karena menjerumuskan mamanya sendiri ke penjara.Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu mendengar teriakan mama yang histeris.Aku tau aku berdosa membiarkan mama di penjara. Tapi disisi lain, aku tidak mau mama menjadi serakah, menikmati kekayaan papa Misya. Membiarkan Misya menderita karena ulah mama.***Papa masih membiarkan aku tinggal di rumahnya, begitupun Misya.Tapi aku cukup tau diri. Aku tidak ingin membebani keluarga ini karena kehadiranku. Aku ingin pergi dari rumah dan hidup sendiri.Tapi Misya tidak merelakanku pergi. Dia sudah menganggapku seperti saudara kandungnya. Betapa mulia hatinya.Akhirnya karena desakan darinya, aku mengalah untuk tetap tinggal. Setidaknya bagiku untuk sementara sampai keadaan lebih membaik. Karena nantinya aku bener-bener ingin meninggalkan rumah ini.***Sikap Elang juga akhir-akhir ini berubah. Dia lebih banyak diam entah kenapa.Setidaknya dia tidak lagi menatapku tajam seperti dulu. Malahan tatapannya sangat datar setiap kami bertemu.Dari raut wajahnya, dia seperti ingin mengatakan sesuatu setiap kami bertemu. Namun tidak pernah ada yang keluar sama sekali.Aku ?Semenjak kejadian itu, sikapku semakin cuek daripada biasanya kecuali pada papa dan Misya. Aku juga jarang tersenyum pada orang-orang.***Saat itu aku mendengar Misya menangis terisak karena Elang kecelakaan ditabrak mobil.Aku yang sedang bekerja di restoran tentu saja terkejut. Sedetik kemudian, aku langsung menyusul ke rumah sakit.Biar bagaimanapun, aku tetap harus menemani Misya disaat dia bersedih.Sesampainya aku di rumah sakit, keadaan Elang masih kritis. Dia kehilangan banyak darah.Untung saja ada papanya yang mendonorkan darah untuknya. Namun ternyata, itu belum cukup.Misya dan papa juga ikut tes darah namun tidak cocok. Akhirnya aku merelakan diri untuk tes darah.Aku tidak menyangka ternyata golongan darahku cocok dengan Elang. Jadilah aku mendonorkan darah untuknya.***Meskipun Elang sudah melewati masa kritis, namun dia belum menyadarkan diri.Bahkan sebelum dia sempat sadar, aku sudah pergi meninggalkan kota ini.Sebelum Elang kecelakaan, aku memang sudah membicarakan perihal kepindahanku pada papa dan Misya.Aku mempunyai saudara jauh di luar kota. Jadi aku putuskan untuk pindah dan melanjutkan sekolah disana.Awalnya papa dan Misya tidak setuju. Namun setelah aku memohon berkali-kali, akhirnya mereka setuju juga.Kalau boleh jujur, aku sebenarnya memang ingin menghindari keluarga ini. Bukan karena tidak suka, hanya saja perbuatan jahat mama membuatku enggan untuk tinggal berlama-lama di rumah papa. Aku sebagai anak mama tentu merasa malu.Makanya itu, setelah berpikir matang-matang aku putuskan untuk menjauh dari orang-orang terdekatku sekarang.Karena aku yakin waktu bisa menyembuhkan keadaan, meskipun tidak akan sama lagi.***7 tahun kemudianAkhirnya aku kembali lagi ke Jakarta karena pekerjaan menuntutku disana.Sebelum kembali ke kota yang pernah kutinggali 7 tahun yang lalu, aku memang sudah terlebih dahulu menghubungi papa dan Misya.Selama tinggal di luar kota, aku memang terkadang berkomunikasi jarak jauh dengan papa ataupun Misya.Saat mengetahui aku akan kembali ke Jakarta, papa dan Misya malahan menyuruhku tinggal di rumah mereka. Tapi aku menolak dan lebih memilih tinggal di rumahku sendiri.Meskipun sederhana aku tetap bahagia karena rumah itu aku beli dengan hasil jerih payahku sendiri.***"Kita mau ke mana sih Misya ?", tanyaku saat kami sedang di dalam taksi.Yah, aku sudah tinggal di kota ini selama seminggu.Saat memiliki waktu luang, tiba-tiba Misya mengajakku makan malam di restoran bersama seseorang. Tapi dia belum memberitahu identitas orang itu.Kami langsung masuk setelah sampai.Dari kejauhan aku bisa melihat orang yang dimaksud Misya dari belakang.Elang ?Saat kami menghampirinya, aku bisa melihat raut wajah Elang terkejut melihatku.Aku harap dia tidak membenciku lagi.Misya tersenyum senang saat mempertemukan kami.Untuk mencairkan suasana yang sempat tegang, aku langsung mengulurkann tanganku untuk menyapa Elang. Hanya sekedar berlaku sopan.Dan saat kami bersalaman, aku bisa melihat kecanggungan diantara kami.Kami bagaikan orang yang baru saling mengenal.Untung saja ada Misya yang selalu mencairkan suasana dengan candaannya.Oh yah, aku juga tidak lupa memberikan selamat atas pertunangan mereka.Mereka memang sudah bertunangan sekitar 1 tahun yang lalu, namun aku tidak sempat hadir karena pekerjaan.Dan yang aku dengar dari Misya, tidak lama lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.Semoga mereka bahagia.Saat kami akan pulang, Elang menawarkan mengantarku pulang bersama Misya. Namun aku menolak dan lebih memilih naik taksi.Bukan apa-apa, hanya saja aku merasa risih dan tidak enak hati berada diantara mereka.Alias jadi obat nyamuk.***Hari-hari yang kujalani semenjak tinggal di Jakarta memang tidak seperti di luar kota dulu.Mungkin saja karena aku sudah kembali berbaur dengan orang-orang dari masa laluku.Tapi untuk mengusir kepenatan itu, aku sibukkan diri dengan pekerjaanku.Bagiku, pekerjaan adalah sarana untuk melupakan keadaan sekitar untuk sejenak.Saat ingin pulang dari kantor tempatku bekerja, tiba-tiba aku tidak sengaja bertemu dengan Elang.Dia sepertinya sudah mulai ramah terhadapku. Buktinya dia menawariku untuk diantar.Tapi tentunya aku menolak.Entah kenapa aku selalu ingin menghindar darinya.***Bahkan bukan waktu itu saja, dia sudah beberapa kali menawariku tapi selalu kutolak.Entah kenapa, aku sering bertemu dengannya akhir-akhir ini."Kenapa sih kamu selalu nolak setiap aku mau antar pulang, sya ?", tanyanya saat aku bertemu lagi dengannya."Apa pacar kamu marah kalo aku antar pulang ?", lanjutnya sopan."Nggak kok. Lagian kan aku udah biasa naik kendaraan umum kalo pulang. Selain itu, arah kita kan juga beda"."Jadi bukan karena pacar kamu marah ?", tanyanya lagi.Aku menggeleng. "Ngapain juga pacar aku harus marah. Orang punya pacar aja nggak", jawabku tersenyum tipis.Entah kenapa perasaanku saja atau tidak melihat tatapan aneh Elang saat menyebut kata 'pacar'."Kalo gitu aku nggak nerima alasan penolakan kamu cuma karena kita beda arah. Sekali-kali nggak apa-apa kan kalo antar kamu", sahutnya.Karena dipaksa beberapa kali, akhirnya aku pasrah saja diantar oleh Elang.Selama aku mengenalnya, ini pertama kalinya aku melihat senyuman tulus di wajahnya.***Waktu itu papa dan Misya mengajakku ke rumah keluarga Elang untuk makan malam karena diundang. Aku sudah menolak, tapi Misya begitu ngotot memaksaku. Akhirnya aku mengiyakan saja.Saat sementara kami makan malam, aku bisa melihat tatapan kebencian dimata mama Elang untukku.Aku tau, dari dulu dia memang tidak pernah menyukaiku.Rasanya aku ingin cepat pergi dari rumah ini.Semakin lama pembicaraan mereka mengarah ke pernikahan Elang dan Misya yang ingin dilangsungkan secepatnya.Tapi yang membuatku heran, kenapa mimik wajah Elang seperti tidak suka saat membicarakan hal itu. Sedangkan Misya begitu antusias.Bukankah Elang seharusnya bahagia karena sebentar lagi akan menikah dengan Misya, gadis yang dicintainya.Karena sudah jenuh duduk terlalu lama, aku pura-pura menanyakan toilet untuk menghindar dari mereka.Bukannya ke toilet, aku malah ke halaman belakang.Aku menemukan kolam renang, dan memutuskan untuk duduk dipinggir dan merendam kakiku disana.Tidak lama kemudian, aku dikagetkan dengan kehadiran Elang yang duduk disampingku."Kamu ngapain disini ?", tanyanya."Aku....cuma cari angin", bohongku."Emangnya nggak terlalu dingin apa disini ?".Aku hanya menggeleng.Tidak lama kemudian."Nasya, kamu ikut aku deh", ucapnya tiba-tiba.Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah duluan menarik tanganku ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari kolam renang itu.Tempat ini bisa dibilang seperti taman mini. Banyak bunga-bunga disekelilingnya. Di tengahnya ada ayunan untuk dua orang.Sedetik kemudian, Elang langsung menggenggam tanganku dengan lembut."Aku mau jujur sama kamu sya", ucapnya dengan nada serius.Aku mengernyit bingung menatapnya."Aku cinta sama kamu", lanjutnya kemudian.Aku membulatkan mataku terkejut mendengar ucapannya.Namun lagi-lagi dia mengulang ucapannya.Tentu saja aku nggak percaya. Aku menganggap Elang hanya bercanda mengatakannya.Saat aku ingin meninggalkannya, dia menahan tanganku. Dia mengataakan kalau ucapannya serius tidak main-main.Itu impossible.Mana mungkin Elang yang selama ini mencintai Misya tiba-tiba bilang cinta sama aku."Asal kamu tau sya, perasaan ini sudah ada semenjak 7 tahun yang lalu. Bahkan sebelum kamu donorin darahmu untukku. Aku terlalu malu untuk ngungkapin perasaan ini mengingat perbuatanku yang keterlaluan sama kamu", sahutnya."Ketika aku siuman dan mengetahui kamu sudah pergi, aku bener-bener menyesal telat mengatakannya, ditambah lagi saat aku tahu kamu yang donorin darah untukku", lanjutnya."Aku sadar kalo perasaanku pada Misya hanya kekaguman saja. Gadis yang bener-bener kucintai adalah kamu sya. Bukan Misya tapi kamu".Aku bener-bener syok mendengarnya."Kamu tau, aku sudah berusaha mencarimu selama ini, tapi aku tidak mendapat petunjuk. Bahkan kata Misya, kamu nggak memberitahunya daerah tempat tinggalmu"."Aku sangat bahagia saat tiba-tiba kita dipertemukan. Dan aku sudah bertekad saat kita pertama bertemu tidak akan melepaskan kamu lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Aku bener-bener sayang sama kamu Nasya".Aku menggeleng."Kamu bohong lang. Aku nggak percaya sama kamu. Nggak seharusnya kamu ngomong kayak gini. Ini sama saja kamu menghianati cinta Misya"."Tapi Nasya...".Aku langsung lari meninggalkan Elang masuk ke rumah sebelum dia melanjutkan ucapannya.Kejadian ini bener-bener diluar dugaanku. Elang yang dulu begitu membenciku, tiba-tiba saja bilang cinta kepadaku.Terus apa arti hubungannya dengan Misya selama ini ?Bukankah mereka sudah bertunangan dan akan menikah sebentar lagi ?Meskipun aku masih memiliki perasaan pada Elang, tapi nggak ada niatku sedikit pun untuk menghancurkan hubungan mereka. Aku tidak ingin menyakiti Misya.Sudah cukup mama yang menghancurkan keluarga Misya. Nggak perlu ditambah lagi denganku.***Aku sudah tau ternyata saat makan malam waktu itu, mereka membicarakan pernikahan Elang dan Misya yang dilangsungkan 3 minggu ke depan.Dan aku berencana tidak ingin menghadirinya.Tuhan mengabulkan doaku.Tepat di hari pernikahan mereka, tiba-tiba saja aku dapat tugas ke luar kota dari bosku di kantor untuk waktu yang sangat lama. Dan mungkin ini memang kesempatan buatku untuk lagi-lagi menghindar dari mereka, terutama Elang.Semenjak kejadian di rumahnya, dia sering menemuiku. Tapi aku selalu mengambil alasan menghindar darinya."Kok kamu gitu sih sya. Ini kan hari penting dalam hidupku. Masa saudaraku sendiri nggak bisa hadir sih", rengek Misya saat aku menelponnya."Aku bener-bener minta maaf sya. Pekerjaanku bener-bener mendesak. Meskipun aku nggak hadir, tapi aku selalu mendoakan kebahagiaan kamu bersama Elang".Akhirnya setelah kubujuk cukup lama, Misya merelakan juga aku ke luar kota.Syukurlah..***Aku berjalan di bandara sambil menenteng satu koper besar.Sesekali aku celingak-celinguk ke belakang seperti menunggu seseorang.Dalam hati aku berharap Misya dan Elang akan hidup bahagia. Semoga pernikahan mereka lancar hari ini.Semoga saja keputusanku sudah benar.Saat aku kembali melangkah, tiba-tiba aku mendengar seseorang meneriakkan namaku dari belakang."Nasya.............!!"Aku sangat terkejut ketika aku berbalik melihat Elang berlari ke arahku diikuti oleh Misya, papa dan orang tua Elang di belakang."Kamu mau ninggalin aku lagi ?", tanya Elang begitu didepanku."Elang, kamu kok ?"."Aku kan udah bilang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya".Aku masih terkejut melihat mereka disini. Kemudian aku melirik ke arah Misya. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk."Misya udah tau semuanya kalo aku hanya mencintai kamu".Aku membulatkan mataku terkejut."Jadi jangan pergi dari aku", lanjutnya.Elang melepaskan koper yang ada digenggamanku. "Aku bener-bener cinta sama kamu sya. Aku tau sikap aku dulu memang sangat kasar dan keterlaluan sama kamu. Tapi kamu harus tahu kalo itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku", katanya sendu."Aku bener-bener nggak ngerti deh, bukannya ini hari pernikahan kamu sama Misya, tapi kok...""Aku sengaja batalin pernikahanku sama dia", potongnya."Awalnya aku ingin batalin saat kamu datang. Tapi kata Misya kamu akan berangkat ke luar kota hari ini. Makanya aku langsung ke sini". Lanjutnya."Kamu kenapa jahat banget sama Misya, lang ? Misya itu sangat mencintai kamu. Dan dengan teganya kamu batalin pernikahan ini"."Kalaupun pernikahan ini berlanjut, aku juga nggak akan bisa bahagiain Misya. Justru akam semakin membuatnya menderita kalo tau selama ini aku nggak mencintai dia, melainkan mencintai saudaranya yaitu kamu".Aku terdiam mendengar ucapan Elang.Tiba-tiba Misya menghampiriku."Elang bener-bener mencintai kamu sya", katanya dengan nada biasa. Bahkan tidak ada raut kesedihan di wajahnya."Misya, Elang, kalian jangan bercanda deh. Ini semua nggak lucu tau"."Kami nggak bercanda Nasya", sahut Elang."Sebenarnya aku udah dengar pembicaraan kamu dan Elang saat malam itu. Dan semenjak itu, aku jadi tau kalo gadis yang dicintai Elang itu kamu, bukan aku".Astaga, jadi Misya udah lama tau."Maafin aku Misya, aku nggak bermaksud merebut Elang dari kamu. Kamu tenang aja, aku sama Elang nggak ada apa-apa kok, aku.....""Sya, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah. Perasaan itu nggak bisa dipaksain. Mulai sekarang aku sama Elang cuma temenan kok. Bahkan mungkin aja sebentar lagi kami akan jadi saudara ipar", katanya tersenyum.Aku membulatkan mata terkejut."Aku bener-bener rela kok kamu bisa bersama dengan Elang. Elang itu sebenarnya baik dan perhatian meskipun dulu dia sempat kasar sama kamu. Aku yakin kamu akan bahagia bersamanya".Misya lalu meninggalkan kami berdua.Elang kembali menggenggam tanganku. "Percaya sama aku sya kalo aku bener-bener mencintaimu".Aku masih menatap Elang seperti tidak percaya akan semua ini."Sya, kamu dengerin aku kan. Apa yang harus kulakukan agar kamu percaya sama aku ?"Aku menggeleng. "Aku percaya sama kamu. Cuman aku......aku masih ragu", kataku menunduk."Ini terlalu cepat buat aku menerima semuanya", lanjutku."Aku ngerti. Kita bisa mulai hubungan ini secara perlahan. Aku nggak akan maksain kamu nikah sekarang. Kita coba pacaran dulu sebelum memutuskan ke jenjang yang lebih serius"."Terus bagaimana dengan keluarga kamu ? Aku tau mama kamu nggak suka denganku"."Kamu tenang aja, keluarga aku nggak ada masalah kok. Mereka selalu ngedukung keputusan aku. Sama seperti aku dulu, mama hanya salah paham sama kamu"."Aku ingin menjalani hari-hariku denganmu. Dan aku akan mencintai kamu selamanya sampai ajal memisahkan kita. Kamu percaya kan ?"Aku hanya mengangguk.Bagiku ini terlalu tiba-tiba. Tapi jujur, aku sangat bahagia bisa dicintai oleh Elang, laki-laki yang juga memang aku cintai dari pertama bertemu sekitar 7 tahun yang lalu.The End

Pepo, Oh Pepo
Fantasy
22 Jan 2026

Pepo, Oh Pepo

Di suatu hari, riuh suasana mengisi hari seekor kura-kura. Tempurungnya yang cacat, menjadi bahan elokan para hewan di hutan. Sedih dan rapuh, mengisi hati sang kura-kura. Setiap harinya, berbagai ejekan dia terima dengan sebuah senyuman.Kala itu, petir menyambar rumahnya yang cukup sederhana dengan balok kayu sebagai papah. Reruntuhannya menghancurkan barang-barang yang dimiliki sang kura-kura.Biar aku kenalkan namanya pada kalian semua. Hewan-hewan di sekitarnya, kerap memanggilnya dengan sebutan Pepo. Seekor kura-kura yang begitu cekatan dan pandai.Saat ini, dia hanya tinggal seorang diri. Tanpa keluarga, teman atau pun saudara. Di setiap paginya, dia selalu pergi untuk mencari bahan makanan yang bisa dia gunakan atau simpan sebagai cadangan makanan di rumah. Mulai dari ujung ke ujung, selalu dia tempuh tanpa ada keluh kesah sedikit pun.Lalu pada hari itu, seekor kelinci bernama Rai mendekatinya dan bertanya padanya, "Hai, Pepo. Kau sedang apa di sini?""Aku sedang mencari bahan makanan, Rai. Aku harus mencari untuk menyimpan cadangan makanan di rumah," jawab Pepo."Wah, pas sekali. Aku juga ingin mencari makanan. Apakah aku boleh ikut?" tanya Rai."Tentu, Rai. Ayo!" jawab Pepo, lalu mereka berjalan beriringan bersama.-o0o-Di tengah perjalanan, seekor harimau tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Harimau itu tampak ganas dan mengerikan. Sampai-sampai, kelinci gemetar dan berlindung di belakang kura-kura.Saat harimau itu semakin dekat dengan jarak mereka berdua, seekor burung elang datang, mengepakkan sayapnya. Elang itu tak lain adalah Heri. Seekor elang yang memiliki sayap yang indah dan lebar. Elang itu pun bertanya, "Hai Remo. Kau sedang apa di sini?""Aku ingin mencari mangsa," jawab Remo—harimau tadi."Oh, Remo. Kau tak boleh memakan Pepo dan Rai. Mereka adalah teman kita, Remo," ujar Heri."Tidak! Mereka adalah mangsaku. Mangsaku! Bukan teman," tukas Remo tak sudi menganggap kura-kura cacat dan kelinci itu sebagai temannya."Kenapa? Bukankah mereka adalah warga di hutan ini? Kita sudah sepantasnya menganggap mereka teman, bukan?" tanya Heri."Aku tidak peduli. Aku hanya ingin makan," jawab Heri semakin mendekati kelinci dan kura-kura dengan wajah mengerikannya."Hm, baiklah. Aku pergi," ucap Heri kembali terbang jauh, menjauhi mereka bertiga."Haha. Kalian tak akan bisa selamat dariku," seru Remo semakin dekat--lima sentimeter dari jarak mangsanya.Saat harimau itu hendak menerkam mereka bertiga, segerombolan orang utan datang mendekati mereka. Orang utan itu tampak memberi perlawanan pada sang harimau. Kelinci dan kura-kura yang melihatnya, hanya bisa mengernyitkan dahi mereka—bingung. Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga banyak hewan yang melindungi mereka saat ini. Mereka hanya bisa diam dan melihatnya dengan saksama."Hei, Remo! Jangan berani-berani mendekati mereka. Mereka itu teman kami. Kau tak berhak untuk memangsa mereka. Tak berhak sedikit pun!" gertak salah satu orang utan, yang tak lain adalah Derel."Apa kau bilang? Teman? Haha," ujar Remi tertawa keras."Ya. Mereka adalah teman kami. Kau tak bisa mendekati mereka, selama kami masih ada di sini," tukas orang utan lainnya."Oh, ya? Memangnya kalian bisa mengalahkanku? Hah!" tanya Remo menantang."Tentu saja kami bisa," ujar Derel dengan percaya dirinya.Aksi perkelahian terjadi di antara dua kubu dengan sangat seriusnya. Mereka tampak saling marah dan melampiaskan segala emosi yang ada. Saat nabastala berubah menjadi jingga, perkelahian mereka usai dengan orang utan sebagai pemenangnya. Kepintaran dan kehebatan mereka berhasil mengalahkan seekor harimau yang gagah dan perkasa. Baru itulah sang kura-kura mendekati mereka dan bertanya, "Kenapa kalian menyelamatkan kami?""Karena kamu sudah menyelamatkan nyawa kami. Ingat kejadian beberapa hari yang lalu?" jawab Derel, lalu bertanya balik.Wesh! Angin bertiup dengan sangat kencangnya. Tak seperti biasanya keadaan hutan dipenuhi dengan rasa takut akan kehancuran. Kala itu, semua rumah-rumah dan pepohonan milik para hewan, hancur berkeping-keping bak kaca yang bersemai. Namun, anehnya, rumah kura-kura menjadi satu-satunya yang masih utuh dan hanya atapnya yang runtuh.Semua hewan heran. Mengapa semua itu bisa terjadi? Padahal rumah kura-kura paling kecil dan berpotensi hancur pertama dari rumah yang lainnya. Semua itu mengundang pertanyaan di benak para hewan.Saat itulah, kura-kura membantu semua hewan dalam membangun kembali rumah mereka. Mulai dari nol, hingga menjadi rumah seutuhnya. Tak hanya itu, kura-kura juga berbagi makanan dengan mereka.Padahal, dia selalu menjadi bahan hinaan dan selalu dijauhi khalayak ramai. Dia tak pernah menyimpan dendam sekali pun pada mereka. Di saat itulah, mereka menyadari, bahwa hal yang tak sempurna, tak seburuk kelihatannya. Begitu pun sebaliknya."Jadi, begitu. Terima kasih karena sudah menyelamatkan kami," ucap Pepo mengembangkan senyumannya."Tidak. Harusnya kami yang berterima kasih," tukas salah satu orang utan bernama Lei."Hehe. Ya, sudah. Aku dan Rei harus mencari makanan.""Wah, kalau begitu, datanglah ke rumah kami. Kami punya banyak persediaan," ucap Derel menawarkan dengan senang hati."Benarkah?" tanya Rei."Iya, benar," jawab Derel."Hm, tidak. Terima kasih. Aku akan mencari sendiri. Tak enak jika harus merepotkanmu," ujar Pepo."Tak apa. Mari!" ajak Derel.Kura-kura pun menerimanya. Mereka pergi bersama dan saling merangkul satu sama lain hingga sampai di rumah orang utan. Sejak kejadian itu, semua hewan berjanji tak akan pernah mengulangi semua hal itu lagi. Mereka akan menjadi teman kura-kura, untuk selamanya.

Selingkuhan CEO
Romance
22 Jan 2026

Selingkuhan CEO

Ponsel Aidan berbunyi pukul lima tepat. Setiap pagi rutinitasnya selalu sama, menguras keringat di gym pribadi, mandi, sarapan bersama istri tercinta, lalu berangkat ke kantor untuk menjalankan tugas sebagai CEO.Istri tercinta. Aidan yang masih setengah sadar menyadari sosok wanita di sampingnya. Bergelung nyaman dalam selimut, melindungi diri dari dinginnya penyejuk udara. Wajah tanpa riasan sang istri tampak muda dan mirip malaikat. Kejantanan Aidan teracung tegak sekeras tongkat kayu. Normal, dalam istilah medis disebut nocturnal penile tumescence (NPT). Sebelum tidur semalam, dia menonton film horor baru yang diunduhnya. Sang sutradara tampaknya menyasar kaum pria. Bukan hanya adegan tegang penuh darah, tetapi bertebaran adegan penuh birahi.Aidan mengecup hidung istrinya dan membelai pipi sehalus sutra. Wanita itu belum merespons. Aidan menyingkap selimut. Sial, lingerie hitam transparan membungkus tubuh seksi mulus ditambah bongkahan padat dadanya sungguh menyiksa. Aidan mengecup leher jenjang istrinya, mengisapnya lembut."Aidan, ini masih pagi." Wanita itu akhirnya terbangun.Aidan mendongak. Sepasang mata cokelat karamelnya menatap penuh gairah. Senyum iblis penggoda terukir. "Semalam kamu pulang kemalaman. Aku hampir mati nunggu kamu, Wulan." Lidahnya menyapu kulit Wulan, bermain di puncak dadanya.Wulan mengerang ketika merasakan tangan suaminya menyentuh titik sensitif. Aidan seringkali panas pada pagi hari, waktu yang dibenci Wulan untuk bercinta sehingga dia menolak. Namun kali ini Wulan menyerah, membiarkan gairah membakarnya, manyambut lumatan bibir kenyal Aidan yang dengan sigap meloloskan lingerie itu lalu melemparnya sembarangan. Wulan menarik ujung kaus suaminya, melepaskannya juga.Dada bidang dan otot perut maskulin milik Aidan terasa mengintimidasi tubuh ramping Wulan. Ciumannya semakin panas bernafsu."You are fucking beautiful," ceracau Aidan sembari melebarkan sepasang kaki jenjang Wulan, menyuguhkan permainan lidah yang tak pernah gagal memuaskannya. Wulan melenguh memejamkan mata. Gelenyar terkumpul pada pusat tubuhnya, menunggu untuk meledak.Kowe ra iso mlayu saka kesalahanAjining diri ana ing lathi.Sara Fajira menyanyikan nada mistis. Aidan mengangkat wajah, meraih ponsel di atas nakas. Wulan mengerang kecewa. Sedikit lagi tubuhnya akan meraih sensasi memabukkan itu, tetapi ponsel Aidan meraung-raung kurang ajar. Seketika mood bercinta Wulan hancur berantakan."Sini aku lempar," sergah Wulan."Papa kamu," bisik Aidan, terlalu masa bodoh untuk mengenakan pakaian kembali. Dia berjalan menjauh, berbicara serius dengan si penelepon yang mengganggunya sepagi ini."Papa kenapa?" tanya Wulan tanpa menutupi kekesalan ketika Aidan mengakhiri percakapan."Memastikan aku datang ke TwentyFour untuk memasok brokoli dan paprika.""Hah," Wulan mendengus, "Masa harus kamu sendiri yang ke sana? Pegawai Organext nggak makan gaji buta, 'kan?"Aidan memungut kausnya, menutupi tubuh yang membuat tatapan kaum hawa tak sanggup beralih. "Nggak masalah. Aku juga sekalian mau mengantarkan pesanan teman-temanmu."Fakultas Kebanyakan Gadis, julukan yang pas untuk FKG. Jumlah makhluk berkromosom XX melimpah, miskin laki-laki. Akibatnya, Aidan dijadikan sasaran fantasi sesama dosen. Wulan tahu bahwa teman-temannya memesan sayur organik dari Aidan hanya akal-akalan agar suaminya sering ke sana. Namun, otak bisnis Aidan memanfaatkannya dengan baik."Udahlah, aku aja yang bawa pesanan Batari dan Alicia," ujar Wulan menyebutkan nama koleganya dari departemen Orthodonsia dan Pedodonsia."Aku mesti mengambil di gudang. Seingatku ada dua belas orang yang memesan hari ini, makanya nggak bisa kubawa pulang.""Dua belas?" Mata Wulan membelalak seperti melihat setan. Tahtanya sebagai Nyonya Fitzgerald kian terancam. Memiliki suami tampan berparas setengah bule baik untuk kebanggaan, tetapi buruk untuk kesehatan.Aidan mendekat, hendak mengecup Wulan. Namun Wulan menghindar."Kenapa kamu bagikan nomer telepon kamu ke mereka?""Memangnya kenapa?" Aidan terkekeh. "Mereka calon pembeli potensial.""Kamu pura-pura nggak tahu niat mereka ya?""Tahu," jawab Aidan tegas, "dan memang aku manfaatkan untuk memajukan bisnis.""Tapi aku nggak suka cara mereka natap kamu. Kayak...." Napas Wulan memburu. Aidan menunggunya melanjutkan. "Kayak mau nerkam kamu."Tawa Aidan meledak. Apa istrinya berpikir dia akan melemparkan diri ke pelukan salah satu pengagumnya?Wulan melempar bantal ke muka Aidan. "Nggak lucu, tahu!""Kamu tambah cantik kalau marah gitu. Jadi pengen...." Aidan berusaha menyergap istrinya yang langsung kabur, memungut lingerie lalu mengunci diri di kamar mandi.Satu jam kemudian Wulan masuk ke ruang makan yang menyambung dengan pantry. Blus merah pas badan dipadu bandage skirt hitam sedikit di atas lutut memeluk pinggulnya. Wulan tampak profesional dan menarik.Mbak Marni, asisten rumah tangga mereka yang sedang menyedot debu tergopoh menghampiri. "Mau sarapan apa, Bu?""Nggak usah, Mbak. Lanjut bebersih aja," sahut Wulan seraya mengambil empat lembar roti gandum dan memanggangnya."Baik, Bu." Mbak Marni kembali melanjutkan pekerjaan.Wulan mengolesi roti panggang dengan selai nanas organik produksi Organext. Aidan menyusul ke ruang makan, sibuk membalas chat customer garis miring pengagum. Wulan berkacak pinggang. Dalam balutan kemeja slim fit biru gelap yang memamerkan perut datarnya saja, Aidan sanggup mengacaukan ritme jantungnya. Padahal mereka telah menikah empat tahun, tetapi sel-sel femininnya belum beradaptasi. Bagaimana kaum wanita di luar sana mengatasi pesona suaminya?"No cellphone for breakfast." Wulan merampas ponsel Aidan, membaca sekilas chat yang dikirimkan teman-temannya. Batari sudah memesan empat kilo nanas dan tiga kilo wortel minggu ini. Seingatnya, Batari tidak memelihara kelinci."Kamu bikin customer-ku kabur. Jangan cemburuan gitu lah." Aidan berhasil mengambil ponselnya kembali."Mereka nggak beneran mau beli produk Organext, cuma mau ngeliat kamu!" Wulan melotot."Nggak masalah. Aku nggak pernah menanyakan motif Pak Surya ke klinik kamu beneran mengantar anaknya yang kontrol behel atau cuma mau melototin paha kamu," balas Aidan seraya mengisi cangkirnya dengan kopi dari mesin."Jadi kamu nggak cemburu kalau istri kamu main sama laki-laki lain?""Kita hanya bisa mempertahankan pernikahan yang langgeng dengan orang yang kita percaya. Kecurigaan berlebih akan mengancam keutuhan rumah tangga. I trust you." Aidan duduk di stool, menggigit roti gandum panggang."Jangan-jangan kamu memang suka dikagumi perempuan ya?" tuduh Wulan sinis.Aidan tertawa. Wulan yang dulu manis dan membuatnya jatuh cinta berubah menjadi posesif dan pencuriga. Dia menenggak kopi hitamnya hingga tandas, malas berdebat. "Aku berangkat," ujarnya singkat seraya mengecup pipi istrinya.Wulan menghabiskan sarapan sendirian. Mercedes Aidan terdengar meninggalkan rumah besar mereka. Sepi, hampa. Dia berangkat ke kantor membawa perasaan kacau. Belakangan Wulan terpikir untuk mundur sebagai dosen Orthodonsia agar teman-temannya berhenti menggoda Aidan.***Selain julukan Fakultas Kebanyakan Gadis, orang iseng bilang FKG kependekan dari Fakultas Kebanyakan Gosip. Wulan membenarkan. Buktinya ketampanan Aidan menyebar sampai seantero kampus. Kabar keretakan rumah tangga karena belum adanya momongan berembus entah dari mana sehingga fans Aidan semakin gencar mengejar.Wulan melangkah cepat ke mejanya ketika tiba di ruangan dosen Orthodonsia."Pagi Wulan," sapa Batari, "aku pesan nanas dan wortel loh sama Mas Aidan."Mas Aidan? Kenapa suara Batari melembut ketika menyebut nama suaminya?"Nggak usah panggil 'Mas' segala," sahut Wulan ketus."Lho, terus panggil apa? Kan Mas Aidan lebih tua dariku.""Panggil Pak aja. Sopan sedikit. Dia bukan kakakmu.""Ya ampun, Wulan. Gitu aja sewot." Batari menggeleng. "Dasar ML," bisiknya."Eh, bilang apa?" Wulan memicingkan mata, menusuk Batari yang langsung kabur. Wulan menyibukkan diri dengan menilai tugas paper mahasiswa sampai jadwal kelas skills lab agar tak perlu mengobrol dengan koleganya.Ketika waktunya tiba, Wulan menuju kelas. Pintu kayu berderit. Mahasiswa yang tadi bergosip kembali ke meja masing-masing, mengunci mulut. Semua mata menatap high heels merah runcing yang kalau dipakai menggetok kepala akan langsung bolong. Naik ke betis putih mulus. Naik lagi ke rok hitam ketat. Terakhir jas putih. Inilah sosok Dokter ML yang membuat umur mahasiswa berkurang satu menit setiap kali mendapat kelasnya."Selamat pagi." Wulan menatap tajam para mahasiswa.Terdengar gumaman, "Selamat pagi, Dok.""Hari ini kalian belajar membuat finger spring. Guna kawat gigi ini untuk menormalkan gigi yang miring, misalnya pada anak-anak. Dekatkan bangku ke sini."Para mahasiswa menggeser kursi mengelilingi Dokter Wulan yang mengambil kawat 0.6 dan tang. Tanpa basa-basi langsung mendemonstrasikan cara membentuk kawat. Setiap lekukannya mereka perhatikan baik-baik."Coba kalian buat."Aruna, salah satu mahasiswi yang baru saja kembali dari upacara pemakaman ayahnya sulit berkonsentrasi. Siapa yang bisa fokus dalam keadaan dukacita?"Aduh!" pekik Aruna ketika ujung kawat menusuk jarinya."Pelan-pelan aja," bisik Ilham, mahasiswa laki-laki di sebelahnya."Aduh." Kawat itu sepertinya sedang alergi dipegang Aruna. Memberontak terus.Ilham mencuri pandang kepada Wulan yang sibuk dengan ponsel. Aman. "Sini gue bantu. Punya gue dikit lagi beres," bisiknya."Jangan, nanti dimarahin.""Nggak pa-pa. Eh, tangan lo berdarah.""Dikit doang."Gemeletuk high heels terdengar mendekat. "Kalau mau pacaran, di luar."Saking kagetnya, Ilham menjatuhkan kawat Aruna yang masih tak berbentuk. Wulan memungutnya."Punya kamu, Ilham?"Ilham diam saja."Itu yang di meja punya siapa? Punya Aruna?" tanya Wulan lagi."Itu punya Aruna, Dok." jawab Ilham takut-takut."Kenapa ada dua? Punya kamu mana, Aruna?""Itu," ruangan berpendingin udara terasa panas, "yang dipegang Dokter,""Kenapa punya kamu dipegang Ilham?""Tangannya Aruna berdarah, Dok." Perlu perjuangan ekstra keras bagi Ilham untuk mengucapkan kalimat singkat itu."Jangan cengeng lah. Aruna, kamu mau jadi dokter gigi nggak? Gini aja udah manja.""Saya yang...."Ucapan Ilham sontak berhenti ketika ditatap tajam Wulan."Jangan, Dok!"Terlambat, kawat Aruna sudah meluncur turun ke ubin, lalu diinjak high heels Wulan. Tidak, kawat itu tidak hancur, hanya sedikit penyok. Masih ada kawat baru dalam kotak perlengkapan. Hati Aruna yang hancur. Dia sedang berusaha bangkit dari keterpurukan, tetapi cobaan datang bertubi-tubi. Air matanya lolos."Keluar sana, saya nggak suka lihat calon dokter gigi cengeng." Dagu Wulan menunjuk pintu.Aruna mengemasi peralatannya. Kesal, marah, sedih, terhina. Campur aduk tak karuan. Dia menuju toilet, membasuh muka. Aruna menatap cermin besar di atas wastafel. Manik mata cokelat tuanya balik menatap, membuncahkan kerinduan pada sosok yang telah pergi. Bibir pink tipisnya, serta wajah berbentuk hati, semua warisan almarhumah Ibu. Dilepaskannya ikatan rambut sehingga jatuh lembut melewati bahu. Perutnya lapar. Aruna menuju kantin untuk mengisi perut."Mang, jus sirsak ada?" Aruna bertanya pada Mang Dadang."Ada, Neng. Pake es?""Pake deh. Susunya dikit aja. Jangan pake gula.""Siap, mau diantar ke mana?"Mahasiswa teknik yang sebagian besar cowok, bergerombol memadati sebagian besar meja, merokok pula. Beginilah akibat fakultas teknik yang miskin kaum hawa. Mahasiswanya hijrah ke FKG.Aruna benci asap rokok. Selain baunya busuk, juga menimbulkan karang gigi. Uh, dia teringat baksos semester dua harus membersihkan karang gigi seorang perokok berat.Di depan kios bakso, seorang laki-laki duduk menghadap laptop. Kemeja slim fit biru tua, celana panjang khaki, dan sepatu pantofel, tidak merokok. Serius dan tampak baik."Antar ke sana aja, Mang." Aruna menunjuk meja yang ditempati laki-laki itu."Siap."Aruna menjauhi kerumunan anak teknik, mendekati bangku pria slim fit."Maaf, boleh duduk di sini?"Pria slim fit berhenti mengetik. Ketika dia mendongak dan tatapannya bersirobok dengan Aruna, jantung gadis itu tiba-tiba berdetak lebih cepat. Adrenalinnya melonjak.Rambut ikal hitam, alis tegas, dan rahang yang kokoh. Jelas laki-laki tadi berdarah separuh bule. Manik mata cokelat karamel itu menatap intens. Kulitnya putih tetapi tidak selicin artis Korea. Ganteng yang macho. Arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya tampak berkelas. Dari dekat, laki-laki ini menarik dan dewasa. Bukan mahasiswa ingusan lagi. Apakah dosen baru?"Silakan.""Makasih."Laki-laki itu menatap logo hijau putih di dada kanan jas praktikum Aruna."Anak FKG?""Iya, Om."Laki-laki itu tertawa."Kenapa?" tanya Aruna heran."Om," ulangnya.Aruna nyengir. Memangnya minta dipanggil apa? Sayang? Eh! Kenapa dia jadi kurang ajar?"Silakan, Neng." Mang Dadang meletakkan gelas plastik berembun yang terlihat menyegarkan. Aruna menggumamkan terima kasih."Om calon dosen kah?" Aruna kembali fokus pada laki-laki itu."Ada lowongan?" Laki-laki slim fit kembali mengetik."Langsung daftar aja sepertinya bisa." Aruna menyedot jusnya.Si laki-laki slim fit mengulum senyum geli. "Kira-kira cocoknya saya mengajar apa?""Om spesialis apa?""Hmm.... Ortho?"Aruna mulai curiga. Kenapa si Om bisa tidak yakin dengan gelar sendiri? Dia tepis pikiran buruk. Tidak baik buat kesehatan jiwa."Oh, ngajar Ortodonsia, Om.""Bukannya di sini sudah ada? Kalau nggak salah ada drg. Wulan, drg. Minerva, drg. Aldion, dan drg. Batari."Aruna manggut-manggut. Rupanya si Om ganteng sudah riset siapa saja calon temannya. "Iya, Dokter Aldion baik. Sayang saya nggak diajar beliau, malah dapat Dokter Wulan.""Memangnya Dokter Wulan kenapa?"Aruna mencondongkan tubuh, lantas berbisik, "Galak. Finger spring saya diinjek sampai peyot, pokoknya Om jangan sampai berurusan sama beliau. Bakal menyesal dunia akhirat," keluhnya yang ditanggapi Laki-laki slim fit dengan mengulum senyum. Lesung pipinya mengalihkan dunia Aruna. Dia menyedot jus lagi demi meredakan debar jantung kampungannya."Suka jus ya?""Suka, Om." Sebetulnya Aruna lapar, tetapi dalam rangka penghematan, dia puasa makan."Suka jus buah atau sayur?""Jus buah."Laki-laki itu mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. "Pernah dengar Organext? Kami menjual buah dan sayur organik. Bisa pesan lewat Website, Instagram, Shopee, Tokopedia, atau Blibli. Kalau mau memilih langsung, tersedia di supermarket TwentyFour."Aruna membaca nama yang tertera. "Aidan Fitzgerald, CEO.""Betul. Panggil Aidan saja, nggak usah pakai Om."Pipi Aruna terasa panas. Namanya saja sudah ganteng. Kalau tidak melihat sendiri, dia akan menyangka Aidan mengedit foto wajahnya."Aidan lagi nunggu orang?""Iya. Dokter gigi di sini pesan sayur dan buah. Sekalian mau ketemu istri saya. Hari ini ulang tahun perkawinan ke-empat kami."Aruna menghela napas sedikit kecewa. "Siapa istrinya?""drg. Wulan Elsari, Sp.Ort."Jus sirsak Aruna pun tersesat ke jalur napas. Terbatuk-batuk sampai matanya berair dan sedikit sesak napas.***Ada orang-orang yang meskipun sudah kita kenal lama, tidak meninggalkan kesan. Sebaliknya, ada seseorang yang baru bertemu sebentar mampu menjungkir balikkan dunia. Terlalu cepat mengatakan Aidan Fitzgerald menjungkir balikkan dunia Aruna. Namun, senyum berlesung pipinya bagai mantra sehingga menyihir Aruna berselancar di Google dan YouTube, melupakan segunung tugas.Segerombolan kakak tingkat kerap membahas keberuntungan drg. Wulan mendapatkan suami bak model internasional. Pujian setinggi langit disahuti ungkapan kasihan karena beristrikan ML alias Mak Lampir. Aruna tak acuh. Jangankan membicarakan suami orang, pria lajang saja tak menarik. Dia hanya berharap lulus tepat waktu. Pacaran menempati daftar terbawah prioritas hidup. Seharusnya Aidan tak perlu ke kampus. Jemari Aruna bandel, ingin mencari sebanyak mungkin berita tentangnya.Aruna merasa hidup dalam gua bersama text book. Belajar terus sampai tidak tahu banyak kanal YouTube mewawancarai Aidan. Perhatiannya teralih pada ponselnya yang bergetar. Ilham mengirimkan chat.Ilham:Jari lo gimana?Aruna memplester jarinya. Sedikit keluar darah karena tertusuk kawat tadi.Aruna:Udah baikan. Makasih ya.Ilham tidak lagi membalas. Cowok berkaca mata itu biasanya pendiam. Sulit baginya beradaptasi di lingkungan penuh mahasiswi. Kalau ada waktu luang, Ilham sering mojok main game. Aruna mengira Ilham tidak peduli. Namun dia salah."Cie, mau jadi petani, Bu?" Nabila mengibaskan rambut bercat pirang di samping Aruna yang melanjutkan menonton vlog Aidan menjelaskan cara menanam selada organik. "Oh, Aidan Fitzgerald, CEO Organext," celetuknya."Kenal?" Aruna merutuk dalam hati karena gagal menutupi antusiasme. Dia mengklik tanda pause di layar laptop. Terakhir kali darahnya berdesir karena lelaki adalah saat Song Joong-ki menikahi Song Hye-kyo. Hari patah hati sedunia dialami olehnya. Kini Aidan mengambil alih posisi Joong-ki menciptakan desir aneh."Lagi naik daun kan setahun belakangan. Dulu tuh, CEO identik sama om-om buncit macam Om Ihsan." Pipi Nabila bersemu ketika menyebut nama Ihsan Malik, direktur utama sebuah perusahaan eksportir buah dan sayur yang banyak membantunya. Bukan jenis bantuan gratis tentu saja mengingat dia bukan pegawai dinas sosial."Om Ihsan?" beo Aruna."Iya. Om Ihsan bilang, sekarang banyak CEO muda macam Yasa Singgih, Belva Devara, dan Aidan Fitzgerald pastinya.""Om Ihsan siapa?" Dua tahun berkawan dengan Nabila, baru sekarang Aruna mendengar nama tersebut. Dia pernah memergoki ibu kost mendamprat Nabila karena pulang melebihi jam malam diantar mobil mewah. Tetapi setiap ditanya, Nabila selalu mengalihkan pembicaraan."Dia yang bantu biaya kuliah gue," bisik Nabila. Pertama kali menerima kemurahan hati pria beristri dengan empat orang putra putri, dia melawan hati nurani. Namun, manusia paling suci bisa berubah menjadi iblis paling durjana karena uang. Nabila berusaha menyangkal statusnya sebagai simpanan. Netizen maha benar halal menghakimi pelakor tanpa memahami problem yang dihadapi.Apakah para penghujat peduli napas kembang kempis orang tuanya yang hanya pegawai biasa? Apakah para pencibir tahu biaya kuliah mahasiswa FKG? Manusia memang lebih cepat membuka mulut untuk mencaci ketimbang membuka tangan untuk membantu.Aruna menggigit bibir. Dua hari yang lalu ayahnya meninggal akibat penyakit jantung. Usaha bakery keluarga terancam gulung tikar karena pandemi. Tante Amelia, ibu tirinya, memecat beberapa karyawan. Sebetulnya Tante Amelia sudah meminta Aruna untuk berhenti kuliah dan membantu mengurus usaha bakery yang morat-marit. Aruna sungguh dilema. Pesan almarhumah ibunya terngiang di kepala. Dia harus menjadi dokter gigi, meneruskan profesi sang Ibu, mewarisi klinik gigi yang sementara dikelola Tante Siska, sahabat beliau semasa kuliah.Tante Amelia hanya memberikan bekal sedikit uang untuk membayar indekos dan makan sekali saja sehari. Keuangan keluarganya memburuk setelah Ayah operasi jantung."Sebenernya.... Gue juga butuh," lirih Aruna."Pasti berat banget ya ditinggal orang tua. Lo harus kuat, Na." Nabila merangkul bahu Aruna.Air mata Aruna menitik. Dia benci dikasihani, dianggap gadis rapuh meskipun kenyataannya demikian. Aruna kalut. Bagaimana cara mencari uang tambahan? Ibunya dulu hanya menekankan pentingnya kepintaran akademik. Nilai rapor harus baik. Ayahnya mendukung anjuran Ibu. Akibatnya fatal, Aruna tidak punya skill yang bisa dijual. Michelle, salah satu teman kuliahnya bisa menggambar. Dia menjual ilustrasi di Fiverr dan mendapatkan sampai tujuh ratus dollar sebulan. Maya, adik tingkatnya, jago memasak nasi kebuli dan punya bisnis kecil dengan kakaknya. Dulu Aruna merasa tidak perlu bekerja selagi kuliah karena orang tuanya mampu membiayai pendidikannya. Tak disangka, Tuhan mengambil Ayah dan Ibu secepat ini."Zaman sekarang skill lebih penting daripada school, koneksi lebih berguna daripada prestasi," ucap Aruna sembari mengusap air mata."IP semester lo kan bagus, nggak coba daftar beasiswa?""Kan baru buka awal semester."Nabila mengeratkan pelukan. "Gue kenalin sama Om Ihsan mau? Kali dia bisa bantu."Terlalu buntu berpikir, Aruna mengangguk samar. Biarlah Om Ihsan membantunya dengan risiko yang dia pikirkan nanti. Nabila mengambil ponsel."Halo, Om Ihsan, Bila kangen deh," ujar Nabila cekikikan menanggapi godaan Om Ihsan. "Ih, nakal. Om kapan balik dari Belanda?"Aruna mengamati gaya bicara manja merayu Nabila. Apakah dia harus bersikap begitu?"Oh besok malam, Om. Bisa dong. Bila mau kenalin Om Ihsan sama teman Bila. Namanya Aruna. Dia juga lagi kesusahan, Om. Tolongin ya, please," rajuk Nabila. "Oke, Om."Aruna memberikan tatapan, "gimana?" pada Nabila."Beres." Nabila membentuk simbol oke dengan telunjuk dan ibu jari. "Besok Om Ihsan minta ketemu."***Besok yang ditunggu berjalan cepat. Sepulang kampus, Nabila menyuruh Aruna masuk ke kamarnya."Ini punya lo?" tanya Aruna agak terkejut saat melihat koleksi sepatu bertabur kristal yang terlihat mewah berlabel Jimmy Choo."Dari Om Ihsan," sahut Nabila singkat.Mungkinkah pengusaha sekelas Om Ihsan membeli barang palsu seharga dua ratus ribu?"Duduk sini." Nabila menepuk-nepuk kursi rias. Bermacam botol, tube, lipstik, maskara, dan kuas tertata di atas meja. Aruna terkadang menonton channel beauty vlogger di YouTube. Sedikit banyak dia tahu harganya.Nabila cekatan merias wajah Aruna. Primer, foundation, loose powder, eye shadow berwarna tanah yang membuat area matanya seperti habis ditonjok Chris John, eye liner yang menyebabkan matanya seperti punya sayap, masih ditambah maskara pula. Nabila membubuhkan perona pipi lalu terakhir, lip cream."Ah, cantik kebingitan," Nabila memuji hasil kerjanya."Lo mendingan bikin channel YouTube," saran Aruna yang takjub."Terus saingan sama Tasya Farasya? Eh, sesama dokter gigi jadi beauty vlogger gitu ya," ucap Nabila sambil membuka lebar pintu lemarinya. "Nah ini bagus." Dia melepas dress penuh mote mengkilap dari penggantung pakaian.'"Kita mau ketemu Om Ihsan di mana kok mesti heboh gini?" Aruna menurut saja memakai dress."Baltimore Club. Tempatnya eksekutif muda dan ekspatriat." Nabila sekarang mendandani dirinya dengan riasan persis Aruna. Mereka jadi pinang dibelah dua, saudara kembar hanya karena make up.Nabila melapisi dress-nya dengan kardigan hitam, meminjamkan kardigannya pula untuk Aruna. Pagar indekos akan dikunci pukul sepuluh malam. Maka mereka harus bergegas keluar sekarang. Aruna memesan Grab car dari depan Alfamart.Arus kendaraan menuju pusat kota masih padat. Mobil mengarah ke kawasan hutan pencakar langit, Jalan MH. Thamrin. Aruna sekali mengunjungi Plaza Indonesia. Selebihnya dia lebih nyaman belanja di Kelapa Gading atau ITC."Itu Kaiser Tower, Mas." Nabila menunjuk gedung bernuansa moderen.Pengemudi Grab car menurunkan Nabila dan Aruna di lobi. Petugas berseragam hitam tersenyum ramah memeriksa clutch dua perempuan muda itu, lantas mengarahkan ke lift khusus yang mengantar sampai lantai 25.Penjaga pintu Baltimore Club telah mengenal Nabila. Om Ihsan sering mengajaknya bersenang-senang melepas penat. Biasanya setelah menyogok istrinya dengan Hermes. Nyonya Ihsan tak pernah curiga suaminya main serong dengan gadis awal dua puluhan. Kehidupan seks mereka membara. Malah belakangan Om Ihsan tak pernah lupa membelikan bunga setiap akhir pekan. Romantis bagai pemuda kasmaran.Musik lembut mengalun dan penerangan temaram menunjukkan kelas Baltimore Club. Tiga orang ekspatriat berwajah Kaukasia ditemani perempuan berperawakan mungil duduk di sofa dekat bar membahas bisnis sembari bersenang-senang."Tunggu di situ yuk." Nabila menunjuk sofa. "Om Ihsan barusan WA, udah otw kok."Aruna menurut. Mereka memesan minuman tanpa alkohol serta sepiring churros. DJ memainkan musik nge-beat. Nabila melepas kardigan sehingga bahu telanjangnya terpampang. Berjoget mengikuti irama."Om Ihsan." Nabila melambai pada laki-laki gempal yang baru datang ditemani sesosok pria tinggi menjulang."Halo sayang." Om Ihsan mencium pipi Nabila, membelai bahu telanjangnya penuh minat. "Aruna ya?" sapanya ramah. Pipi berlemaknya mengkilap tertimpa cahaya redup.Aruna mengangguk rikuh, terkejut memandang laki-laki yang menemani Om Ihsan. "Aidan," gumamnya."Wah, Mas Aidan memang terkenal. Di grup kolektor Panerai pun ada. Semakin mantap saya kerjasama dengan Organext.""Aruna." Aidan menyalaminya.Dua jam kemudian, Aruna dan Nabila bertingkah layaknya pajangan, mendengarkan negosiasi Om Ihsan dan Aidan. Organext memiliki perkebunan edamame di Temanggung. Berkat promosi Om Ihsan, Belanda yang sedang menyukai kedelai jepang setuju menjajaki kerjasama dengan Organext."Oke, Mas Aidan. Tinggal urus dokumen aja ya." Om Ihsan mengangkat gelas berisi bir. "Cheers.""Cheers." Aidan menyentuhkan gelasnya ke gelas Om Ihsan, demikian pula Aruna dan Nabila."Nggak suka ya?" Om Ihsan memperhatikan mimik Aruna. Sangat tersiksa saat bir membakar kerongkongan."Maklum Om, teman Bila nih gadis pingitan," sahut Nabila.Aruna tersenyum canggung. Ingin ke toilet memuntahkan isi perutnya, tetapi khawatir dikatai kampungan. Pengunjung semakin padat. Musik lembut bertransformasi menjadi EDM. Penuh semangat, mengundang orang melantai. Asap vape diembuskan banyak tamu bergulung mengaburkan pandangan."Kita turun." Om Ihsan menggandeng Nabila.Aidan melirik Aruna lalu mengulurkan tangan. Aruna sedikit gemetar saat menerimanya. Clubbers bersorak menikmati dunia. Nabila menyapa teman-temannya, sesama daun muda seksi."Kamu belum pernah clubbing?" tanya Aidan pada Aruna yang mematung di tengah keramaian."Hah?" Aruna berteriak mengalahkan kebisingan.Aidan menggenggam telapak tangan sedingin es Aruna."Kamu nggak suka di sini?" tebak Aidan to the point."Nggak biasa."Aidan membimbing Aruna kembali ke sofa lantas meminum sisa bir dalam gelas. Apa enaknya minuman berbusa itu? Kepala Aruna pening padahal hanya minum seteguk."Belum pernah clubbing ya?" ulang Aidan tersenyum geli. Perempuan kebanyakan mempertontonkan kemulusan. Perawatan mahal memang bertujuan untuk dipamerkan. Hanya Aruna yang mengancingkan kardigan rapat-rapat.Orang buta pun tahu betapa salah tingkahnya Aruna. Percuma berbohong. Jam ponsel menunjukkan pukul sebelas. Pagar indekosnya sudah ditutup. Ke mana dia pulang setelah ini?"Saya juga nggak suka. Pak Ihsan memaksa ke sini. Sebenarnya kami janji mau ketemu siang. Tapi beliau meeting mendadak dengan orang dari Badan Karantina Pertanian.""Aidan mau ekspor edamame?" Aruna berbasa-basi."Iya. Wulan ada lahan di Temanggung. Sejak setahun lalu Organext mulai menggarap edamame. Baru tahu kalau Belanda impor dari Indonesia.""Asik banget pacarannya." Om Ihsan kembali bergabung. Napasnya terengah. Staminanya digerogoti usia. "Udah malam nih," ucapnya sembari merengkuh pinggang Nabila yang bersandar manja."Iya, kita pulang," sahut Aidan."Pulang?" Om Ihsan terbahak, "Saya sudah reservasi kamar. Kayaknya bakal sibuk ditemani dua gadis manis." Tangannya bergerilya meremas bokong Aruna.Kamar yang dimaksud apa lagi kalau bukan kamar hotel. Nabila masih betah bergelayut, sebaliknya Aruna mengkerut tidak siap melayani Om Ihsan. Perlahan dia mendongak, mencari manik mata cokelat karamel Aidan, meminta tolong.“Mas Aidan mau main bareng juga boleh. Makin ramai makin asyik kan?” Seringai Om Ihsan melebar tidak sabar mencoba mainan baru. Sebelum ke sini dia telah meminum obat kuat agar tahan minimal dua ronde.“Sepertinya lain kali saja. Istri saya menunggu di rumah,” tolak Aidan halus.“Ah, istrinya kurang sesajen makanya rewel. Ya kan, Sayang?” Om Ihsan mengerling pada Nabila. "Oke Mas Aidan. Nanti kita contact-contact lagi.”Aruna ingin berteriak. Dia menautkan alis menatap Aidan agar tak meninggalkannya bersama Om Ihsan."Pak Ihsan, keberatan kalau Aruna saya bawa?" Aidan berkata sopan.Om Ihsan terbahak. "Tentu tidak. Silakan, silakan. Mau saya reservasikan kamar?"Aruna menghela napas lega. Aidan memang juga pria seperti Om Ihsan, tetapi ada sebuah magnet dalam dirinya yang menarik kepercayaan Aruna. Kalau harus menghabiskan malam, setidaknya bersama pria yang dia suka.Aidan mendekap mahasiswi istrinya. "Saya punya hotel langganan. Terima kasih, Pak. Sampai ketemu."***

Manusia dan Alam
Fantasy
22 Jan 2026

Manusia dan Alam

Pada aman dahulu, seorang manusia yang merupakan Kepala Suku di suatu tempat di dunia ini, sudah membawa kesejahteraan pada para penduduknya. Kepala suku ini mempunyai jiwa kepemimpinan yang besar. Dia begitu tegas, ramah, dan menebarkan rasa kasih sayang kepada para penduduknya.Namanya Raja Mala. Raja Mala bukanlah seorang raja biasa. Dia mempunyai kemampuan untuk berbicara pada Alam. Itulah kenapa, kemakmuran menghampiri para rakyatnya. Bahkan, dia menamai semua alam itu dengan berbagai macam nama, seperti Pantai, Pasir, Samudera, Gunung, Tanah dan lain sebagainya.Kehidupan kerajaan ini dan rakyatnya tidak jauh dari Alam. Mereka begitu bersahabat pada alam. Begitu pun dengan Alam yang senang berdampingan dengan para manusia itu. Karena hubungan kedua makhluk hidup ini mulai tercipta, ketika Raja Mala dan para Alam membuat perjanjian untuk saling menjaga dan memberi.Manusia menjaga alam dengan merawat dan menanam mereka, dan juga memanfaatkan sumber daya mereka dengan secukupnya. Alam pun berjanji untuk tidak akan mengusik peradaban ini dengan bencana, dan akan terus memberi kenyamanan serta kebutuhan mereka tanpa pamrih.Sudah ratusan tahun hubungan ini terjalin dengan baik. Hingga pada suatu ketika, Raja Mala termenung di atas gunung sambil melihat suasana kampungnya dari atas sana. Terdapat sedikit perbincangan dari Raja Mala dengan Alam di sekitarnya."Hei, Mala. Apa yang sedang kamu pikirkan seharian di atas ini?” tanya Gunung.“Aku memikirkan tentang banyak hal yang berhubungan dengan kita,” jawab Raja Mala.“Kita?” seru Gunung kebingungan.“Sepertinya aku akan sedikit memberi perubahan pada wilayah kekuasaanku ini,” lanjut Raja Mala.“Apa maksudmu, Mala?” tanya Gunung kembali.“Kalau dilihat. Selama ini, rakyatku menanam dan merawat kalian dengan baik, memanfaatkan Alam ini dengan secukupnya. Rakyatku juga yang memetik hasilnya sendiri, semua mereka lakukan sendiri. Tanpa bantuan sedikit pun dari kalian,” jelas Raja Mala."Jadi, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?” tanya Gunung kembali."Yah, sepertinya sudah merupakan hal yang wajar jika mereka dapat memanen lebih dari kata cukup seperti biasanya. Karena merekalah yang melakukan semua hal itu sendiri dan itu adalah hak rakyatku untuk menikmatinya sendiri,” jelas Raja Mala lagi.Para Alam terlihat ricuh saat mendengar perkataan Raja Mala yang mengejutkan itu. Mereka semua meneriaki Raja Mala untuk menarik kembali ucapannya karena bisa merusak perjanjian mereka yang sudah terjalin lama."Hei, Mala. Tarik ucapanmu itu,”teriak Pohon.“Kamu tidak akan tumbuh, jika rakyatku tidak menanammu," balas Raja Mala.“Jangan terlalu angkuh, Mala. Kalian tidak bisa hidup tanpa kami!” sahut Air sungai.“Kalian terdapat banyak di belahan Bumi ini, kalian tidak akan pernah habis walaupun rakyatku terus mengambil. Menurutku, sudah tugas kalian untuk mencukupi segala sesuatu yang diperlukan oleh rakyatku," jawab Raja Mala membalas ucapan Air.“Hati-hati Mala. Kalian tidak akan hidup makmur jika tanpa kami,” seru Gunung.“Diamlah, Gunung. Jika tidak ada kami, kalian akan merasa kesepian di dunia ini. Dengan adanya kami, adalah bukti bahwa kalian sudah tugasnya melayani segala kebutuhan kami," balas Raja Mala dengan penuh amarah.Alam tidak berhenti meneriaki Raja Mala. Namun, dia mengabaikan semua itu dan turun dari Gunung. Semenjak kejadian itu, Raja Mala juga menjelaskan pada semua Alam tentang pemikirannya. Semua Alam tidak ada yang menyetujui sama sekali pemikirannya karena dapat merusak keseimbangan dan perjanjian yang sudah terjalin bertahun-tahun.Raja Mala Pulang ke Singgasananya dengan wajah yang kusut dan terlihat marah karena apa yang dia pikirkan tidak diterima oleh Alam. Para penasihat melihat ekspresi Raja Mala yang sangat memprihatinkan itu."Ada apa, Tuanku?” tanya Penasihat.“Penasihatku, pemikiranku sama sekali tidak disetujui oleh mereka. Kalau terus begini, eakyatku tidak dapat mengambil sumber daya alam dengan jumlah yang lebih dari cukup untuk kebutuhan mereka. Dan kemakmuran kerajaan ini," jelas Raja Mala.“Lupakan kritik mereka, Tuanku. Mereka melupakan apa yang sudah kita lakukan bertahun-tahun untuk generasi mereka. Dan mereka membalasnya dengan tidak mau memberikan sedikit lebih banyak hasil mereka. Tuanku bukan Raja bagi rakyat ini saja, tapi sudah termasuk Raja bagi Bumi ini. Semua keputusan Tuanku adalah perintah mutlak,” jelas Penasihat.Mendengar penjelasan penasihat itu, Raja Mala pun merasa mendapat persetujuan dari para rakyat tercintanya. Hingga akhirnya, para rakyat mulai memproduksi sedikit lebih banyak dari hasil yang mereka tanam sebelumnya. Mereka menebang banyak pohon sekaligus untuk pembangunan desa, mengambil air, sayur dan buah dalam jumlah yang besar. Sehingga, beberapa kali Raja Mala mengadakan Pesta besar-besaran atas kemakmuran desa ini.Alam merasa sangat marah saat itu, mereka selalu mengkritik dan berteriak sekencang-kencangnya pada para manusia. Namun, hanya Raja Mala saja yang dapat mendengarnya. Dan ia hanya mengabaikan hal itu. Selama Rakyatnya bisa bahagia dengan apa yang sudah mereka hasilkan bertahun-tahun ini.Gunung sudah tidak tahan lagi dengan sikap Raja Mala, Gunung pun berteriak dengan sangat kencang sambil berkata, “Mala, ini sudah keterlaluan. Terimalah akibatnya!" teriaknya.Teriakan Gunung membuat gemuruh yang sangat besar, hingga mengagetkan para rakyat yang sedang berpesta. Tanah saat itu bergetar, para rakyat takut dan kebingungan. Tiba-tiba, puncak Gunung itu pecah mengeluarkan asap dan api dalam jumlah yang begitu banyak. Mereka semua kaget dengan apa yang terjadi pada Gunung itu. Hingga Raja Mala membawa mereka menuju ke pesisir Pantai.Namun, gemuruh tidak hanya terjadi di Gunung. Gemuruh juga terjadi di dalam Laut. Air tiba-tiba saja menyurut sedikit dari Pantai dan mereka tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi. Hingga pada akhirnya, sebuah gelombang setinggi dua puluh meter menuju ke arah mereka. Raja Mala begitu kebingungan dan gelisah melihat keadaan rakyatnya yang panik, mereka sudah terkepung.Lava turun perlahan menuju kaki Gunung, dan Air Laut menghampiri mereka dengan kecepatan yang tinggi. Karena dataran mereka yang sudah sedikit gundul, membuat gelombang itu dengan mudah menghancurkan dataran dan banyak rakyat Raja Mala yang tewas karena hal itu.Raja Mala sendiri yang selamat dalam bencana itu. Dia begitu menyesal dengan keputusannya. Namun, yang terjadi sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Alam berhenti percaya kepada Raja Mala. Dataran dia hancur dan mengalami kekeringan setelah itu, hingga memutuskan Raja Mala untuk berlabuh ke dataran lain dan mencari peradaban.Sampai sekarang ini, bencana tidak berhenti menghantui manusia. Di mana pun kita bersembunyi saat ini. Alam memberikan hukuman yang setimpal untuk manusia serakah seperti Raja Mala. Namun, tetap mentoleransi pada manusia yang masih ada bentuk rasa kepedulian terhadap kelangsungan hidup Alam.

Hasian dan Gogo
Fantasy
22 Jan 2026

Hasian dan Gogo

Di Huta Siantar Standuk, ada seorang ompung bermarga Hasugian. Ia punya banyak ternak. Ia menyayangi ternak-ternaknya. Dari semua ternak, yang paling disayanginya ialah Hasian, seekor ayam betina.Hasian berbulu indah. Badannya besar. Rajin bertelur. Karena itu, Ompung Hasugian merasa senang dengan Hasian. Apabila hendak pergi, Ompung Hasugian selalu membawa Hasian. Ia tak peduli orang menertawakannya. Baginya, Hasian pembawa keberuntungan. Lebih-lebih, kalau sedang memancing.Suatu ketika, Ompung Hasugian pergi ke dekat kaki gunung untuk memancing. Di situ, ada sungai yang jernih. Tak lupa, ia membawa Hasian.Saat Ompung Hasugian asyik memancing, Hasian berjalan ke arah gunung untuk mencari cacing. Tak sadar, ia telah masuk jauh ke dalam. Namun, Hasian tidak merasa takut. Ia justru penasaran.Hasian menemukan sebuah telur besar. Ia heran melihat besarnya telur itu. Saat asyik mengamati, tiba-tiba telur itu retak.‘Ciap? Ciap Ciap!’Seru anak burung yang baru menetas. Melihat si anak burung sendirian, Hasian merasa iba. Ia mematuknya dan membawanya pergi.Di sungai, Ompung Hasugian mencari-cari Hasian. Ia hampir menangis ketika melihat Hasian kembali. Dengan cepat, ia mengangkat Hasian.“Ke mana saja kau, Nang? Aku takut kali kehilangan kau! Eh, apa yang kau bawa itu?” katanya memperhatikan paruh Hasian.Ia menurunkan Hasian. Diambilnya si anak burung dengan hati-hati. “Ini kan anak elang? Dari mana dapatmu?” tanya Ompung Hasugian.Hasian berkotek-kotek ke arah kaki gunung. “Ini harus dikembalikan. Nanti dicari induknya,” kata Ompung HasugianHasian berkotek-kotek lebih keras. Bahkan, mematuk-matuk kaki Ompung Hasugian. Ia tak rela si anak burung dikembalikan.“Aduh, baiklah kalau itu maumu. Kita bawa saja ke rumah. Kau jaga baik-baik. Tapi, ingat! Kalau sudah besar, dia harus dilepaskan!” tegas Ompung Hasugian.Mendengar itu, Hasian meluapkan kebahagiaannya. Ia mengepak-ngepakkan sayap. Berlari-lari mengelilingi Ompung Hasugian.Ompung Hasugian geleng-geleng kepala melihat kelakuan Hasian.“Kita kasi namalah anak elang ini. Bagaimana kalau Gogo? Karena elang itu kuat,” kata Ompung Hasugian.Demikianlah Gogo menjadi keluarga baru di peternakan Ompung Hasugian. Hasian membawa Gogo pulang dengan bangga. Sesampainya di peternakan, ternak-ternak lain melihat Gogo penasaran.Bunyi ribut terdengar di seluruh peternakan manakala Hasian membawa Gogo jalan-jalan. Mereka belum pernah melihat elang. Walau demikian, mereka senang. Gogo tidak terlihat buas. Hasian mendidik Gogo seperti mendidik anak ayam.Hari demi hari, bulan demi bulan, Gogo bertambah besar. Paruhnya semakin tajam. Cakarnya semakin kokoh. Sayapnya semakin lebar. Melihat itu, Ompung Hasugian mendekati Hasian.“Sudah saatnya Gogo dilepaskan,” kata Ompung Hasugian.Hasian tertunduk. Ia terlihat tak rela. Tapi, ia ingat janjinya. Dengan berat hati, ia berkotek pelan.Esoknya, Ompung Hasugian membawa Gogo kembali ke kaki gunung. “Gogo, di sini rumahmu. Pulanglah pada keluargamu,” kata Ompung Hasugian melepas Gogo.“Selamat tinggal, Gogo!” pamit Ompung Hasugian. Ia berbalik. Sebenarnya, ia merasa sedih kehilangan Gogo. Namun, ia sadar bahwa peternakan bukan tempat Gogo.Tiba-tiba, Gogo mengepakkan sayapnya. Ia terbang dan hinggap di bahu Ompung Hasugian. Ompung Hasugian terkejut.“Gogo? Sejak kapan kamu bisa terbang?” tanya Ompung Hasugian heran.Gogo mengelus kepalanya ke kepala Ompung Hasugian. Kemudian, berteriak pelan. Ompung Hasugian tersenyum.“Gogo, Ompung tidak mengusirmu. Hanya saja, peternakan bukanlah rumahmu. Rumahmu ialah alam liar. Kalau rindu, kamu boleh pulang kapan pun kamu mau. Kami akan tetap menerimamu,” kata Ompung Hasugian“Ingatlah selalu mereka yang membesarkanmu dengan baik,” pesan Ompung Hasugian.Gogo menjawab dengan mengelus kepala Ompung Hasugian. Ia pun terbang menghilang. Ompung Hasugian merasa lega atas pengertian Gogo. Ia pulang dengan air mata kebahagiaan.Di peternakan, Hasian terlihat murung. Ia tidak mau makan. Pikirannya terus pada Gogo. Ompung Hasugian bersedih melihat keadaan ternak kesayangannya itu.Berulang kali, ia membujuk Hasian makan. Namun, Hasian tetap tidak mau makan. Hasian membiarkan saja makanannya sampai berhari-hari.Hasian menjadi semakin kurus. Tubuhnya semakin lemah. Saat itulah, Gogo datang ke peternakan. Badannya terlihat gagah. Semua hewan ternak memandangnya dengan kagumIa mengetuk paruhnya di pintu rumah Ompung Hasugian.Melihat Gogo, Ompung Hasugian bergegas memeluknya. Ia menangis. Mengadu keadaan Hasian.Gogo mengerti. Ia pun terbang menjumpai ibu angkatnya. Hasian terlihat menyedihkan. Napasnya berat. Gogo merasa sedih.“Hasian, anakmu datang,” kata Ompung Hasugian.Melihat Gogo, Hasian mencoba berdiri. Tapi, ia tidak kuat. Dengan lembut, Gogo mengangkat Hasian dengan paruhnya. Ia teringat masa lalu. Saat itu, Hasian yang membawanya ke peternakan.Hasian merasa senang. Gogo masih mau kembali. Padahal, Hasian hanya ibu angkat. Hasian pun kembali bersemangat dan mau makan.Sejak saat itu, Gogo sering berkunjung ke peternakan. Ia tidak pernah lupa mereka yang telah membesarkan dan mendidiknya dengan baik. Demikianlah peternakan Ompung Hasugian menjadi penuh sukacita karena kebaikan-kebaikan yang ditabur oleh Hasian dan Gogo.

Keajaiban Si Marmut
Fantasy
22 Jan 2026

Keajaiban Si Marmut

Suatu pagi yang cerah, ada si Marmut yang sedang mandi di tepi sungai. Pagi-pagi buta, si Marmut melakukan rutinitasnya seperti biasa yaitu bekerja di pasar dengan giat untuk menyambung hidupnya. Ketika berangkat, si Marmut tidak sarapan karena bahan pangan si Marmut sudah habis. Akhirnya pun si Marmut lekas berangkat kerja supaya tidak terlambat.Si Marmut adalah kaum yang sangat tampan di antara kaum yang lain, tetapi sayang hidup si Marmut ini bukanlah kaum yang kaya. Ia tergolong kaum yang miskin atau kurang mampu. Si Marmut hidup sebatang kara. Keluarganya sudah tiada. Kedua orang tua si Marmut sudah meninggal dan si Marmut adalah anak tunggal.Si Marmut belum mempunyai pendamping hidup yang tulus, banyak calon wanita-wanita yang mendekatinya karena memang Marmut tampan. Namun, setelah wanita-wanita tersebut tahu bahwa Marmut adalah orang yang kurang mampu dan hidup sebatang kara, wanita-wanita tersebut menjauhi Marmut dan bahkan tidak pernah menemui Marmut lagi.Terkadang bertemu di jalan tak pernah bertegur sapa sama sekali dan Marmut pun sangat sedih. Dia tetap bersabar. Marmut selalu berdoa kepada Tuhan."Ya Allah, pertemukanlah hamba dengan jodoh hamba yang sholeh dan menerima saya dengan apa adanya. Hamba janji ya Allah, hamba akan berusaha lebih keras lagi untuk kehidupan ini hingga hamba memiliki keluarga kecil," ujar Marmut dalam doanya.Sesampainya di pasar, seperti biasanya Marmut langsung memutari semua pedagang untuk menarikan biaya tempat sewa perdagangan mereka. Marmut di sini bekerja sebagai asisten yang kerjaannya hanya sebagai pesuruh dan gajinya pun juga tidak seberapa, tetapi Marmut tetap bersyukur atas karunia yang telah Allah berikan kepadanya.Marmut tidak sendiri, ia bersama shohibnya yaitu Kelinci. Kelinci adalah sahabat baik Marmut dari kecil hingga sekarang.Usai menarik uang pedagang mereka pun beristirahat, Marmut mengajak Kelinci untuk makan."Makan, yuk. Laper nih, belum sarapan," ujar Marmut yang lelah karena kelaparan dan juga capek seharian mutar di pasar."Ya, udah. Ayo, aku temenin kebiasaan emang jarang sarapan," ujar Kelinci yang sangat kasian dengan Marmut."Iya, kamu tau kan aku hidup sebatang kara. Boro-boro ada yang nyiapin makanan," ujar Marmut yang sudah sangat kelaparan."Ya udah yang sabar aja, ya. Terus berdoa biar cepet punya pendamping yang nerima apa adanya supaya besok ada yang nyiapin makanan," ujar Kelinci mendoakan Marmut."Aamiin, baik banget di doain. Hihi," ujar Marmut bahagia."Udah lah, nggak usah lebay. Mau es teh dua sama nasi goreng buat Marmut satu," ujar Kelinci sembari memesan untuk keduanya."Nggak makan?" tanya Marmut."Udah kenyang, tadi Ibu kan nyiapin sarapan," ujar Kelinci menjelaskan Marmut."Oke," jawab Marmut singkat."Gini Mut, nggak usah khawatir. Jodoh dah ada yang ngatur. Tuhan nggak asal kok milihnya karena jodoh itu cerminan dari kita. Kalau kita baik pasti kita juga dapet calon yang baik juga sebaliknya, tapi semisal kita buruk, ya udah tinggal bayangin aja jodohnya kayak apa," canda Kelinci sembari memberi sedikit ilmu pada Marmut."Coba mau nanya kalau semisal udah baik, tapi jodohnya kita buruk gimana tuh. Meraka nggak cocok cerai cari baru atau selingk ... " ujar Marmut terpotong"Sst, jangan dilanjutin. Itu mah kitanya aja yang nggak introspeksi diri ngaku-ngaku baik. Semisal udah terlanjur, lebih baik perbaiki, bicara dengan baik, pecahkan masalah dengan kepala dingin. Intinya kita cari jodoh itu yang bener lah, nggak perlu cantik deh, ya. Walapun kau sangat tampan, penting nerima apa adanya. Udah cukup itu pun sudah bersyukur," ujar Kelinci menjelaskan lebih lengkap.“Iya juga kebanyakan zaman sekarang ciwi-ciwi pada matre sih,” ujar Marmut sebagai penutup obrolan di siang itu.Usai istirahat meraka kembali bekerja hingga sore, dan setelah mereka selelsai Marmut menghampiri si Kelinci."Allhamdulillah selesai, ayok pulang," ujar Marmut dengan lelah."Yuk, siap." Semangat Kelinci menjawab."Besok libur," ujar Marmut senang."Iya, eh besok mandi di sungai sekalian nangkep ikan daripada bosen di rumah," ujar Kelinci seraya mengajak Marmut."Wah, ide bagus. Aku suka banget idemu," ujar Marmut senang."Ya, emang ideku bagus. Aku kan cermelang." Lagak sombongnya Kelinci yang penuh canda pun keluar.“Iya deh, iya. Besok ke rumahku dulu, ya jemput,” ujar Marmut."Oke, sip,” singkat Kelinci.Pagi pun tiba dan si Kelinci sudah sampai di rumah Marmut."Mut ....""Eh, iya. Cepet banget, masih pagi ini,” ujar Marmut yang masih mengantuk."Ayo cepetan kebetulan masih pagi nih, ikannya masih fresh,” ujar Kelinci semangat.Ketika si Marmut udah selesai buang air tiba-tiba, di pertengahan jalan ada buah beri yang jatuh.“Alhamdullilah, rezeki nih. Makan ah, kebetulan belum sarapan," ujar Marmut seraya melahapnya.Tiba-tiba ...."Wahai anak muda, apakah kau sedang makan buah beri milikku?” ujar paman Kucing.Si Marmut pun ketakutan seraya menjawab, “Ma ... maafkan saya, Paman. Tadi saya makan karena kelaparan, tapi saya janji Paman akan bertanggung jawab atas semua ini. Saya hanya kaum yang miskin Paman, mungkin saya bisa membantu paman berkebun,” kata Marmut yang sangat ketakutan dan ia juga bertanggung jawab atas semua yang ia perbuat.“Oke, baiklah. Kamu harus bertangung jawab, kau harus menikahi putriku. Putriku seorang gadis yang cacat tidak bisa melihat tidak bisa berjalan. Terserah, mau tidak mau kau harus bertanggung jawab atas yang kau perbuat,” ujar tegas paman Kucing.Setelah bepikir panjang Marmut pun menyetujui karena ia harus bertanggung jawab.“Baik, Paman. Aku akan menikahi putrimu."Akhirnya mereka berjalan menuju rumah paman Kucing untuk melihatnya. Sampai di ruang tamu, Paman ke dalam kamar putrinya dan memanggil. Saat putrinya datang, Marmut pun kaget."Ma'syaa Allah, cantiknya” ujar Marmut kagum karena putrinya tidak cacat sama sekali."Iya, ini putriku. Ketika aku bilang cacat menguji kesetiaanmu, ia tidak pernah keluar rumah untuk itu aku carikan jodoh yang pas,” ujar Paman.Akhirnya Marmut mendapat pasangan yang diidamkan. Marmut pun memberitahu sahabatnya yang berada di sungai atas kejadian tadi. Marmut hidup bahagia dan tak sebatang kara lagi.

Late Night Show
Horror
22 Jan 2026

Late Night Show

Beberapa tahun yang lalu, ada sebuah acara TV yang ditayangkan larut malam di Jepang. Program tersebut berhubungan dengan hantu, aktivitas paranormal dan misteri. Salah satu episode dari acara tersebut, pembawa acara memilih tiga orang remaja putri diantara penonton dan mengirim mereka untuk menjelajahi rumah berhantu secara live di TV.Kru kamera mengikuti mereka melewati rumah seram sambil mengambil semua gambar tentang apa yang mereka lakukan. Para penonton terlonjak kaget setiap ada suara aneh yang mereka dengar dan berteriak ketika ada bayangan aneh yang melintas. Pada akhirnya, ketiga gadis ini keluar dari rumah hantu tersebut sambil menangis dan gemetar dan para penonton pun menertawakan ketakutan mereka.Kemudian, salah satu kru mengambil gambar di depan rumah itu untuk kenang-kenangan. Walaupun para gadis tidak berjumpa dengan hal-hal mistis di rumah itu, sesuatu yang aneh terjadi ketika fotonya dicetak.Ketiga gadis di foto sangat berbeda dari yang seharusnya. Gadis pertama benar-benar hitam, dari kepala sampai kaki, gadis kedua dikelilingi oleh asap putih tebal dan kepala gadis ketiga hilang.Yang lebih mengerikan adalah apa yang terjadi kemudian. Gadis pertama terbunuh karena alasan yang misterius. Terjadi kebakaran di rumahnya ketika ia sedang tidur dan ia terbakar hidup-hidup. Ketika mereka membwa keluar mayatnya, mayatnya sama seperti yang ada di foto.Sepertinya hal ini berlebihan jika disebut kecelakaan dan ketika MC dari acara tersebut mendengar beritanya, ia memutuskan untuk mendedikasikan episode selanjutnya untuk menceritakan gadis-gadis itu dan foto mereka. Ia mengundang kedua gadis yang bertahan hidup ke dalam studio untuk diwawancara.Pada saat syuting episode selanjutnya, gadis kedua datang tepat waktu, tetapi gadis ketiga tidak muncul juga. Para penonton sudah duduk di tempatnya dan kamera sudah mulai merekam gambar. MC menceritakan bagaimana foto tersebut diambil dan memastikan kepada penonton bahwa foto itu bukanlah trik kamera.Ia mengenalkan gadis kedua dan ia pun berjalan ke panggung. Ketika para penonton bertepuk tangan, ia duduk di sebelah meja MC. Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan, lampu studio jatuh dari langit-langit dan menimpanya. Ia tersetrum di depan penonton yang ketakutan. Ketika para kru berusaha untuk mematikan lampu tersebut, asap putih tebal membumbung dari tubuh gadis itu.MC tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mayat gadis itu sama seperti yang ada di foto."Jangan berhenti merekam!" teriaknya. "Kamera tetap merekam!"Selama kekacauan itu, tidak ada yang menyadari bahwa ibu dari gadis ketiga sudah datang ke studio. Ia memaksa masuk lewat pintu, menggendong sesuatu di tangannya. Rambutnya berantakan dan bajunya bernoda darah.Ia naik panggung, menaruh bungkusan ditangannya di meja MC dan membukanya. Di dalamnya terdapat kepala anaknya."Lihat apa yang sudah dilakukan acaramu kepada anakku!" teriaknya.Kemudian, mereka mengetahui apa yang sudah terjadi. Gadis ketiga sedang dalam perjalanan ke studio dengan ibunya. Mereka terlambat sehingga memaksa supir taksi untuk mengemudi lebih cepat. Supir taksi mengemudi dengan kecepatan tinggi di tengah hujan, ia kehilangan kendali atas kemudinya dan menabrak truk. Gadis ketiga terjepit karena tabrakan tersebut dan ibunya menyaksikan semua kejadiannya. Sebuah pemandangan yang mengerikan yang membuat wanita malang itu menjadi gila.Stasiun televisi itu tidak pernah menayangkan episode tersebut, MC-nya dipecat dan acaranya langsung dihentikan. Untuk menghilangkan jejak dan publikasi ke masyarakat, mereka menghancurkan semua yang sudah terekam. Sampai sekarang, hal ini merupakan hal yang tabu dibicarakan pada industri pertelevisian Jepang.***

Suami Masa Depan
Horror
22 Jan 2026

Suami Masa Depan

Bertahun-tahun yang lalu, sebuah permainan berupa tebak-tebakan keberuntungan sangat populer diantara gadis-gadis remaja di Jepang. Mereka menyebutnya sebagai "Suami Masa Depan". Menurut legenda, jika kau memainkan permainan ini maka kau akan mengetahui siapa yang akan kau nikahi.Mereka mengatakan bahwa permainan ini harus dimainkan dengan lampu dimatikan, di samping jendela di bawah sinar bulan. Jika kau menaruh mata pisau cukur di mulutmu pada tengah malam, lalu melihat ke dalam baskom yang berisi air, maka kau akan melihat wajah istri atau suamimu di masa depan. Wajahnya akan terpantul di air.(Peringatan: Jangan mainkan permainan ini. Berbahaya. Kau bisa mengiris mulutmu sendiri dan berakhir seperti Kuchisake Onna.)Salah satu siswi sekolah mendengar tentang permainan tebakan keberuntugan ini. Ia memutuskan untuk segera mencobanya. Gadis itu belum pernah memiliki pacar, ia khawatir dirinya tidak pernah bisa jatuh cinta. Mimpi terburuknya adalah ia tidak akan pernah bisa menikah. Rasa penasarannya membuat dirinya putus asa untuk mengetahui seperti apa suami masa depannya.Ia mengambil salah satu mata pisau cukur milik ayahnya dari kamar mandi orang tuanya. Kemudian, ia mengambil baskom dari lemari dapur dan mengisinya dengan air. Akhirnya, ia mematikan lampu, membuka korden, dan menunggu sampai jam menunjukkan tengah malam. Ia menaruh mata pisau cukur dengan hati-hati di mulutnya. Ia lalu mengintip ke dalam baskom dengan rasa penasaran.Di dalam air, ia melihat wajah seorang laki-laki berbalik menatapnya.Gadis itu terkejut hingga ia menjerit tanpa sengaja. Pada saat yang sama, mata pisau cukur terlepas dari mulutnya lalu jatuh ke dalam baskom. Air berubah menjadi merah pekat seperti darah. Gadis itu melompat mundur dengan ketakutan sambil gemetar menatap baskomnya.Beberapa saat kemudian, saat ia melihat ke dalam baskom lagi, air telah kembali sebening kristal. Mata pisau cukur tergeletak di bawah baskom. Gadis itu bingung. Apakah tadi hanya sebuah ilusi? Apakah matanya sedang mengelabui dirinya? Apakah ia benar-benar melihat sebuah wajah atau itu hanya pantulan cahaya bulan di dalam air? Gadis itu memutuskan untuk melupakannya, lalu pergi tidur.Tahun berlalu dengan cepat. Gadis itu telah tumbuh dewasa. Ia lulus dari sekolah, pergi kuliah, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan. Ia juga mulai berkencan dengan laki-laki yang baik. Laki-laki itu merupakan pacar pertamanya. Kekasihnya sangat lembut dan menuruti apa pun yang ia inginkan. Laki-laki tersebut memiliki sikap yang ramah, selalu humoris, dan lucu.Namun demikian, ada satu hal yang aneh tentang kekasihnya tersebut. Ia selalu menutupi wajahnya dengan masker operasi putih yang besar. Di Jepang, mereka biasa memakai masker seperti itu untuk mencegah flu. Pada saat pertama mereka bertemu, laki-laki itu menjelaskan bahwa ia sedang menderita flu dan tidak ingin si gadis tertular. Pada saat itu, si gadis menerima penjelasan tersebut. Tapi, bulan terus berlalu dan si lelaki tetap memakai masker tanpa pernah melepaskannya sama sekali.Setiap kali mereka bertemu atau pergi kencan, laki-laki itu akan memakai masker. Jika si gadis memintanya untuk melepaskan masker, maka ia akan menolak dengan marah. Kecuali keadaan aneh tentang masker ini, si gadis semakin jatuh cinta pada laki-laki tersebut. Akhirnya, hari dimana si lelaki meminta si gadis untuk menikah telah datang.Si gadis mulai berpikir. Bagaimana kau bisa menikahi seseorang yang tidak pernah kau lihat wajahnya? Seharusnya tidak ada rahasia apa pun diantara suami dan istri. Apa yang laki-laki itu sembunyikan dari dirinya? Gadis itu percaya bahwa perasaannya tidak akan berubah, bagaimana pun rupa laki-laki itu yang sebenarnya.Pada suatu malam, si gadis duduk di sebelah kekasihnya. Ia memberitahu kekasihnya bahwa ia mau menikah hanya jika lelaki tersebut percaya padanya untuk membuka masker. Awalnya, si lelaki menolak. Tapi setelah didesak oleh si gadis, laki-laki itu akhirnya bersedia membuka maskernya.Laki-laki itu memunggungi si gadis. Ia melepas tali masker dari telinganya dengan perlahan-lahan. Kemudian, ia tiba-tiba berputar menghadap si gadis. Gadis itu menatap kekasihnya dengan ketakutan.Wajah lelaki itu rusak mengerikan karena luka panjang dari mata, turun ke pipi, dan melewati mulut sampai ke dagunya. Luka itu sangat dalan hingga tampak seperti dicukil dengan pisau yang tajam. Sangat menyakitkan ketika melihatnya."Apa yang terjadi dengan wajahmu?" tanya gadis itu dengan ketakutan. "Apa yang terjadi padamu?"Mata laki-laki itu menciut karena marah. Wajahnya penuh dengan ekspresi benci."Kau seharusnya tahu," geramnya. "Kau yang menjatuhkan mata pisau cukur itu!"***

Sunshine 60
Horror
22 Jan 2026

Sunshine 60

Sunshine 60 adalah gedung pencakar langit yang memiliki 60 lantai di Ikebukuro. Bangunan itu merupakan gedung tertinggi di Jepang sejak tahun 1978 sampai 1991 ketika Tokyo City Hall sudah selesai dibangun.Gedung pencakar langit Sunshine 60 yang berhantu ini berdiri di bekas penjara paling kejam di Jepang, yakni Penjara Sugamo.Penjara Sugamo dibangun dari bawah ke atas untuk memenjarakan tahanan politik. Mulai tahun 1920 sampai 1945, penjara ini menahan para anarkis, komunis, pembangkang, dan tawanan perang. Di bawah pendudukan Amerika, penjara ini telah menahan sekitar 2000 kriminal perang termasuk Perdana Menteri saat itu, yaitu Hideki Tojo.Pada tahun 1971, penjara ini ditutup. Beberapa tahun kemudian, pembangunan kantor dan kompleks perbelanjaan besar-besaran mulai dilakukan di sana. Perencana telah mengetahui dengan baik bahwa reputasi penjara tersebut bisa menimbulkan legenda urban pada gedung yang baru, jadi mereka menamainya dengan nama yang bagus: Sunshine 60.Hal itu tidak berlangsung lama. Tepat setelah hari pembukaan, banyak rumor beredar bahwa gedung tersebut berhantu. Gedung itu satu-satunya pencakar langit yang dianggap berhantu. Legenda berkembang tanpa keraguan saat gedung itu sudah semakin tua.Pendapat lain mengatakan bahwa desain dari Sunshine 60 dipengaruhi oleh arsitektur Tokyo yang berumur lebih dari 35 tahun. Gedung itu merupakan "kota dalam kota" pertama di Tokyo. Gedung pencakar Sunshine 60 tepat di tengah-tengahnya memiliki kompleks bangunan yang dikenal dengan Sunshine City.Ide di balik "kota dalam kota" merupakan desain yang menggabungkan kantor, tempat belanja, hotel, gedung pertemuan, hiburan, kesehatan, dan perawatan ke dalam satu bangunan. Rancangan ini berusaha ditiru oleh gedung-gedung di Tokyo selama beberapa tahun. Rappongi Hills dan Ebisu Garden Place merupakan contoh yang menonjol.Gedung-gedung modern mengembangkan konsep "kota dalam kota" dengan menambahkan pemukiman dan taman ke dalam rancangan mereka. Misalnya gedung yang bisa meminimalisir mobilisasi: orang-orang bisa hidup, belanja, dan relaksasi di tempat mereka bekerja.Sunshine 60 merupakan tempat yang direkomendasikan jika kau akan mengunjungi Tokyo. Letaknya hanya di sebelah timur stasiun Ikebukuro. Gedungnya menyediakan pemandangan terbuka di lantai 59 dan 60. Di lantai 60, ada ruang terbuka yang jarang ditemui di Tokyo. Ia dibuka setiap hari sepanjang tahun termasuk akhir pekan dan hari libur mulai pukul 10.00 sampai 21.30. Sunshine City menyediakan akuarium, planetarium, pusat hiburan (Namco Namja Town), museum (Ancient Orient Museum), gedung teater, dan tempat perbelanjaan.

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 1 dari 35
Menampilkan 24 cerita