Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Gangguan Tidur
Horror
17 Jan 2026

Gangguan Tidur

Beberapa bulan yang lalu, aku dan temanku yang bernama Yoko pergi ke rumah seorang gadis untuk menginap. Aku tidak terlalu mengenal gadis itu. Namanya Emi, ia adalah teman Yoko. Mereka bersekolah di tempat yang sama saat kanak-kanak.Emi merupakan gadis yang aneh. Ia sangat pendiam dan jarang sekali mengatakan sesuatu. Orang tuanya sedang pergi keluar pada malam itu, sehingga kami tinggal sendirian di rumah. Kami memakai piyama dan duduk melingkar untuk menceritakan cerita-cerita tentang hantu. Masalahnya, kami tidak terlalu tahu banyak.Tiba-tiba, Emi menyeletuk, "Aku tahu sebuah website yang bagus."Ia membuka laptopnya dan meng-klik di salah satu halaman. Kami berkumpul di sekelilingnya untuk melihat website tersebut. Website itu memiliki banyak sekali cerita seram dari seluruh dunia, termasuk Jepang. Emi mengarahkan mouse-nya ke halaman bawah sementara kami menatap layar monitor.Yoko menunjuk salah satu cerita. Ia lalu bertanya, "Apa ini?"Selama beberapa saat, wajah Emi berubah menjadi serius. "Kau tidak disarankan membaca yang satu ini," katanya. "Ini berbahaya.""Isi website ini mengerikan," kataku."Apakah ini boleh dibaca oleh anak kecil?" tanya Yoko."Tidak," balas Emi dengan suara serius. "Ini bukan untuk anak kecil. Beberapa cerita dan permainan di dalamnya benar-benar berbahaya... seperti yang satu ini."Ia meng-klik salah satu tautan untuk membuka cerita. Halamannya terlihat sangat aneh. Ada gambar seorang wanita dengan rambut hitam yang panjang, tapi wajahnya mengerikan. Hal itu membuatku tidak nyaman.Teks di dalamnya tertulis, "Orang yang menulis cerita ini bukan manusia.""Kau tidak disarankan untuk mendengarkan cerita ini," kata Emi."Jadi, jangan dengarkan," jawab Yoko."Yah, mari pergi tidur," kataku.Aku memiliki perasaan yang aneh tentang situs ini. Maksudku, dari mana mereka mendapatkan semua cerita menyeramkan ini? Lalu, mengapa mereka mengumpulkan cerita macam begitu? Siapa yang membuat situs seperti ini? Ada sesuatu yang sangat mengganggu.Emi tidak memperhatikan kami. Ia menekan tombol untuk memainkan video. Kami mulai mendengar cerita. Segera setelah mendengar suara aneh itu, aku menjadi takut. Aku menutup telingaku dengan kedua tangan dan pergi dari kamar. Yoko mengikutiku. Kami menunggu di dalam kamar mandi sampai selesai. Aku tidak ingat cerita itu tentang apa, tapi aku ingat kalau ceritanya sangat pendek. Itu hanya seperti puisi dibandingkan dengan cerita, tapi tidak berima.Saat kami kembali masuk ke kamar, Emi memasang wajah aneh."Lihat kan, tidak ada yang terjadi," katanya.Tak lama setelah itu, kami memutuskan untuk pergi tidur. Kami sangat mengantuk. Emi naik ke ranjangnya, sedangkan aku dan Yoko berbaring di atas futon. Kami mematikan lampu dan mulai tidur.Aku selalu memiliki gangguan tidur saat menginap di rumah orang lain. Pada tengah malam, aku terbangun oleh suara aneh. Setelah beberapa menit, aku menyadari itu suara Emi. Ia membuat suara berisik dalam tidur seperti... hmm... hmm... hmm.Suaranya seolah-olah ia sedang mimpi buruk. Aku mengguncang-guncang tubuh Yoko untuk membangunkannya."Mungkin Emi seharusnya tidak membaca cerita itu sebelum tidur," bisiknya.Aku mencoba untuk tidur kembali, tapi rintihan Emi semakin keras. Kemudian, ia mulai berbicara dalam tidurnya."Bagaimana kau menemukannya?" katanya.Aku menyentuh Yoko. Kami berdua berbaring di sana untuk mendengarkannya."Bagaimana kau tahu?" katanya."Itu pasti mimpi yang aneh," kata Yoko.Baru saja Yoko berkata begitu, Emi mendadak bangun dari tempat tidur. Ia bergerak tersentak-sentak seperti boneka kayu. Saat aku melihatnya, setetes keringat dingin menuruni punggungku.Emi memunggungi kami. Kepalanya menunduk. Rambutnya yang hitam panjang menutupi wajahnya. Ia hanya berdiri di sana, menatap tempat tidurnya, merintih pelan. Pelan, sangat pelan, ia mulai membalikkan tubuhnya.Kemudian, Yoko melompat panik. "Itu bukan Emi," desis Yoko.Emi masih berbalik dengan perlahan-lahan. Yoko menatap Emi, matanya terbuka ketakutan. Aku tidak ingin melihat, tapi aku tidak bisa membalikkan tubuhku. Aku gemetar tak terkontrol. Dalam cahaya yang redup, aku bisa melihat wajah Emi saat ia berbalik. Itu wajah Emi, tapi entah mengapa seperti bukan.Kulitnya pucat, sedangkan matanya membelalak tidak normal. Mulutnya miring seperti iblis yang menyeringai.Itu bukan Emi...Seolah-olah wajah Emi bercampur dengan wajah orang lain... seolah-olah orang lain sedang berpura-pura menjadi Emi.Dalam suara yang bukan seperti manusia, ia berbisik, "Aku ingin tahu bagaimana..."Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Aku pikir, aku dan Yoko pingsan.Saat aku bangun, ternyata sudah pagi. Yoko berbaring di atas futon di sebelahku. Tapi di atas tempat tidur, hanya ada sepasang piyama. Tidak ada tanda-tanda Emi dimana pun.Kami menuruni tangga, tapi rumah benar-benar kosong. Kami sangat ketakutan karena peristiwa malam sebelumnya masih terekam jelas di benak kami. Aku dan Yoko menggenggam erat tas kami dan pergi secepat yang kami bisa.Kami mencoba untuk menelepon ponsel Emi, tapi jawabannya di luar jangkauan. Kami mencoba lagi sepanjang siang, tapi selalu di luar jangkauan.Malamnya, kami menelepon nomor telepon rumahnya. Ibunya yang menjawab. Ia mengatakan jika ia tidak tahu dimana Emi berada. Aku dan Yoko semakin ketakutan. Kami mengirim pesan ke seluruh teman kami, tapi tidak ada yang mendengar kabar dari Emi. Ia seperti hilang dari muka bumi.Orang tua Emi pergi ke polisi untuk mengisi laporan orang hilang. Mereka mulai mencari keberadaan Emi. Kebanyakan orang berpikir ia lari dari rumah. Tidak ada yang bisa menemukan jejaknya. Polisi datang untuk menanyaiku dan Yoko, tapi tidak ada yang bisa kami sampaikan padanya. Kami berdua tahu Emi tidak lari dari rumah.Pada suatu hari, Yoko datang ke rumahku. Kami membuka laptopku dan mencari situs internet seram yang telah dibaca Emi. Dengan jemari gemetar, Yoko meng-klik tautannya.Sebuah peringatan muncul di layar. "Cerita ini telah dihapus," tulisnya. "Jangan coba mencari cerita seram ini. Terlalu berbahaya."Kami mencari ke seluruh website, tapi kami tidak bisa menemukannya.Sejak saat itu, aku memiliki gangguan tidur. Aku takut saat aku bangun... aku tidak ada di sini lagi.

Sekotak Senja di Balik Rumah Pohon
Teen
17 Jan 2026

Sekotak Senja di Balik Rumah Pohon

Angin senja menerpa wajahku, mataku terpejam menikmati semilir angin yang menyejukan, rambutku yang terurai tanpa ikat bergerak mengikuti gerakan angin senja.Saat berada di sini rasanya semua masalah yang ku pikul seperti hilang, masalah yang selalu berhasil membuatku terpuruk lenyap, seperti aku lupa semua nya.Aku Raina, gadis penikmat hujan dan senja, setiap ada masalah yang membuatku bimbang aku selalu datang ke rumah pohon ini.Aku menyukai hujan, bagiku hujan adalah peristiwa alam yang menyejukan butiran butiran air menetes dari awan yang selalu ingin aku datangi, hujan indah mengalir dengan teratur.Aku juga penikmat senja, senja begitu indah di mataku karena selalu datang di waktu yang sama namun yang aku tidak sukai di senja adalah hanya datang sesaat “Tuhan, mengapa hal yang indah selalu datang sesaat? adakah hal indah yang selalu ada selama nya?" Ucap ku suatu malam saat senja telah berganti.***“Raina, kamu liat Andra gak?" Tanya Silvia teman sekaligus sahabat ku saat bel istirahat baru berdering. Dia adalah sahabat ku dari mulai kami kecil, kami sudah saling mengenal satu sama lain, dan aku juga sudah tahu bahwa dia menyukai Andra.“Gak tahu, paling juga di perpustakaan biasanya kan dia pergi ke perpustakaan pas jam istirahat." Ucap ku. Silvia hanya mengangguk dan menarik tangan ku menuju perpustakaan, sudah pasti menemui Andra, siapa lagi?.Aku dan Silvia berjalan memasuki perpustakaan tempat favorit Andra, dan benar saja Andra ada si sana duduk dengan tenang sedang membaca sebuah buku yang aku tidak tahu apa judul nya.Senyum Silvia langsung mengembang begitu melihat Andra, pangeran Idamannya. Silvia kembali manarik tangan ku dan berjalan menuju bangku yang Andra duduki, aku pasrah saja.“Andra." Panggil Silvia dengan senyum manis nya, dia memang cantik gadis pintar dengan prestasi yang pantas untuk di banggakan. Andra tersenyum manis bahkan sangat manis, terlalu manis, tidak bukan ke arah Silvia tapi Andra tersenyum untuk ku.“Aku ke toilet " ucapku sembari berjalan meninggalkan mereka, ada sesuatu yang akan menetes.***Aku sesenggukan di dalam toilet, menangis sejadi jadi nya, ku tumpahkan semua rasa sakit yang menjalar membakar hati ku. Tapi bukan hanya air mata yang menetes, hidungku mengeluarkan darah segar sudah kesekian kali nya.Ada sedikit rasa ngilu dalam hati ku. Sakit saat melihat Silvia dan Andra bersama, aku sudah lama menyembunyikan rasa cemburu ku terhadap mereka, namun tetap saja mata ku tak sekuat hati ku yang tetap tegar.Apakah kalian tahu rasanya saat melihat orang yang kita cintai bersama orang lain?apalagi orang itu adalah sahabat mu sendiri, rasanya sakit saat berusaha tersenyum kaku di depan mereka.Aku ingat senja itu.“Raina, mengapa kamu selalu menghindar dari ku?" Suara Andra terdengar pilu, aku hanya menangis tak mampu bicara.“Aku tahu Raina, aku tahu kau juga mencintaiku, tapi mengapa kau bertingkah seperti ini?"Hujan perlahan turun, aku meremas jari tangan ku aku bingung harus mengatakan apa pada Andra. “Apa karena Silvia?" Seketika tenggorokan ku terasa tercekat, benar Andra benar aku mencintai nya namun karena Silvia sahabatku, aku tak ingin membuatnya terluka.Mulutku bungkam, tak mau berkata apa pun, air mata menetes bersama deras nya hujan dan kilatan petir. Aku menyeka air mata ku “Apa yang membuat mu yakin bahwa aku mencintai mu?" Tanya ku pada Andra yang masih tersenyum pilu.Langkah Andra mendekat, aku dapat melihat mata nya yang berkaca kaca, aku tahu dia menangis namun dia tak mau terlihat rapuh, bukan kah lelaki hanya bisa menahan kepedihan di dalam dadanya?“Aku telah membaca buku diary mu, aku telah membaca hingga halaman terakhir Raina, apa kau berfikir aku buta?." Jawaban Andra membuat tenggorokan ku tercekat, aku ingat buku diary ku hilang dua hari yang lalu.“ Tidak sopan membaca diary orang lain tanpa izin." Ucap ku kasar pada Andra, dia malah tertawa sambil melambungkan pandangan nya pada runtikan air hujan senja itu. “Bila membaca buku diary orang adalah hal yang salah, apakah berbohong kepada orang yang jelas sudah tahu kebenaran nya adalah hal yang benar bagi mu Raina?" Jawab Andra, Andra benar aku telah berbohong.Andra mengeluarkan sebuah buku bersampul hitam dan abu abu, itu dairy ku.“Ini milik mu." Aku menerima dan melihat isi nya benar ini buku ku. “Andra,bmenjauhlah dariku!."bentak ku pada nya, dia kaget,"Aku akui aku memang mencintai mu, tapi mengertilah aku takkan mungkin menyakiti hati Silvia, dia adalah sahabat ku," ucap ku dengan nada bergetar.“Apakah kau tega menyakiti dua hati hanya untuk menyelamakan satu hati? Kau bukan hanya menyakiti hatimu Raina, tapi kau juga menyakiti hatiku." Ucap Andra dengan raut wajah sulit di artikan.Aku mematung Andra benar, iblis macam apa aku sekarang? “Aku mohon mengertilah, jika sungguh kau mencintaiku maka aku mohon lakukan apa yang aku ingin Andra suatu hari kau akan mengerti kau akan pahami bahwa ini adalah keputusan terbaik." Ucap ku.Andra bungkam saat itu, menatapku memikirkan sebuah jawaban. “Apa kau yakin?" Tanya nya. Aku mengangguk.“Sangat yakin, aku mohon cintai Silvia seperti kau mencintaiku." Ucap ku dengan sebuah senyuman palsu.Andra menangguk dan tersenyum aku tahu itu bukan senyuman kebahagiaan itu adalah senyuman kekecewaan, maafkan aku Andra. Andra menuruni rumah pohon dan berjalan menembus hujan yang semakin menggila,ku tatap punggung Andra yang semakin menjauh. Itu adalah punggung yang selalu aku pandangi saat semua orang tak menyadari.***Hari hari ku setelah itu berubah seketika aku jadi seorang gadis yang pendiam dan sering melamun. Aku jadi jarang berada di rumah, aku lebih suka pergi ke rumah pohon dan menyendiri di sana.Aku sering menangis padahal tadi nya aku adalah seorang gadis yang tegar dan tak suka menangis, entahlah semenjak hari itu aku menjadi seorang gadis cengeng.Hari ini aku hanya diam bersama sunyi, aku hanya melamun dan terus berandai andai. Rasa nya ada yang hilang dari diriku,ada sesuatu yang pergi dan menyisakan luka terdalam.“Bunda,,,jangan tinggalin Raina, Raina takut bun, Raina takut, orang orang di dunia ini jahat bun, Raina gak mau di tinggalin nanti kalau Raina sakit lagi siapa yang mau anter Raina ke dokter?bbunda bangun bun." Seorang anak kecil memeluk tubuh yang terbujur kaku sambil menangis histeris.Orang orang begitu tersentuh melihat pemandangan yang begitu memilukan. Gadis itu aku Raina.“Raina, jangan nangis, kan masih ada Ayah sayang." Seseorang memelukku, dia ayahku. Aku mendorong tubuh yang tengah memelukku .Aku mengusap air mata yang tanpa ku sadari telah menetes membasahi pipi ku, masa lalu begitu jahat. Aku marah pada diri ku takdir ku dan juga semuanya, mengapa keluarga dan semua hal selalu saja mengecewakan ku, aku lelah rasanya ingin sekali aku pergi dari dunia ini.“Raina?" Panggil seseorang. Aku menengok dan aku melihat Andra tengah berdiri di belakang ku. Dia mendekat dan duduk di sampingku,“Mengapa kau menangis?" Tanya nya saat melihat wajah ku yang merah karena menangis, aku tersenyum pilu.Ku sandarkan kepala ku, aku menangis sejadi jadi nya. Dia mengusap kepala ku, dia tahu pasti tahu tentang luka yang tengah aku rasakan. Aku nyaman berada di samping Andra,namun aku tak bisa memiliki nya, aku tak ingin semua nya hancur karena ego ku.Andra selalu ada untuk ku, dia adalah teman berbagi cerita, meskipun ini diam diam tanpa sepengetahuan Silvia, maafkan aku Sil.***“Dasar wanita tak punya hati!" Bentak Silvia, aku terlonjak kaget saat melihat Silvia datang ke rumah pohon dan marah marah, aku sudah menduga hal ini pasti akan terjadi, hal yang aku takut kan pasti akan terjadi.Andra baru saja pulang dan aku kaget karena kedatangan Silvia yang tiba tiba.Dia terlihat marah bahkan sangat marah.“Aku tahu Raina, aku tahu bahwa Andra sering datang kemari dan duduk berdua dengan mu, aku tahu Raina, mengapa kau lakukan itu semua Raina? bukan kah kau tahu bahwa aku menyukai nya?" Ucap Silvia bertubi tubi.Aku diam mencerna dan berusaha memahami maksud dari kata kata Silvia. “Apa katamu Sil?" Tanya ku pada nya,dia hanya menyeringai sinis ke arah ku. “Aku tak percaya Raina,kau adalah sahabat yang sangat aku percayai, lalu mengapa kau lakukan itu? kau jahat Raina," Teriak Silvia dengan wajah merah padam,aku tahu Silvia pasti marah, sangat marah padaku.Aku diam,btak tahu harus marah sedih atau ketakutan,r asanya aku sudah mati rasa untuk semua hal yang terjadi di sekitar ku.“Maafkan aku Sil." Hanya kata itu yang terucap oleh ku aku bingung harus berkata apa lagi pada nya. “Kau ini sebenarnya siapa hah? kau ini sahabat? musuh? atau musuh berbentuk sahabat? aku tak percaya Raina aku tak percaya." Keluh Silvia menggelengkan kepala nya, tatapan mata nya sudah tak seteduh biasa nya dia marah pada ku.Aku tak bisa membayangkan apa kah aku begitu hina nya di mata Silvia? apa aku begitu hianat nya di mata Silvia? Aku bahkan telah merelakan Andra untuk Silvia, aku telah melepasnya untuk mu Sil, aku telah menahan sakit untuk membuatmu bahagia, aku telah merelakan kebahagiaan satu satu nya di hidupku agar kau dapat tersenyum setiap hari, aku telah mati matian menahan luka karena mu.Lantas sejahat itu kah aku di mata mu? mulut ku bungkam tak mau bicara, aku sudah berjanji takkan menceritakan tentang aku dan Andra kepada Silvia tentang rasa kami yang tumbuh dan selalu berusaha kami bunuh.Pandangan ku kabur, aku terus memanggil nama Silvia meminta pertolongan, namun Silvia melangkah pergi meninggalkan aku di rumah pohon ini, aku sakit Sil apakah kau tahu?Tolong aku siapa pun.***Aku duduk di bangku rumah pohon kesayangan ku, rasanya aku akan tetap di sini aku tak punya rumah lagi. Seseorang duduk di sampingku, dia Andra pandangan nya kabur menyapu seluruh pojok rumah pohon.Aku melihat ada cairan bening jatuh di pipi nya,dia Andra menangis. Aku pertama kali nya melihat Andra menangis,aku belum pernah melihat nya menangis. Entah apa alasan nya yang pasti,hal itu adalah hal yang sangat memilukan bagi nya, hal itu pasti adalah hal yang sangat berharga bagi nya.Aku hanya menatap nya, melihat berbagai perubahan raut wajah nya, dia tampak kecewa, sedih dan marah. Aku ikut menangis melihat Andra menangis,ada getaran pilu melihat nya menangis.Sesorang tiba tiba datang “Andra maafkan aku." Dia Silvia, ada apa ini? mengapa Silvia menangis? apakah mereka sedang bertengkar? Silvia mendekati Andra dan memohon untuk meminta maaf pada Andra, Andra hanya bungkam menangis, dia tampak sangat rapuh.Andra hanya bungkam tak ucapkan apa pun, sedangkan Silvia menangis histeris, ini adalah pemandangan yang sangat memilukan. Kedua sahabatku menangis,hingga rumah pohon ku hanya terdengar suara tangis Silvia memecah keheningan.“Pergi kamu" Ucap Andra, aku hanya mematung melihat nya. Silvia kasihan dia, mengapa Andra memperlakukan nya seperti itu? apa masalah nya? “Kamu adalah seorang sahabat terbusuk yang pernah Raina miliki."Apa? apa? Andra menyebut nama ku. Silvia menangis,“Aku tak tahu Andra, yang aku tahu dia berusaha merebut mu dari ku, dia mendekatimu di belakangku." Lirih nya.Aku mematung, mengapa mereka membicara kanku? “Kamu egois Silvia apakah kau tahu Raina telah merelakan aku untuk mu, dia memendam perasaan nya untuk kau bahagia." Ucap Andra dengan kasar, aku tak tega melihat nya.“Raina...mengapa kau tak ceritakan pada ku bahwa kau punya penyakit tumor otak Raina, mengapa kau rahasia kan ini dari ku." Lirih Andra mengacak acak rambut nya.Aku diam mematung, aku mendekati Andra dan menyentuh wajah nya, namun tangan ku tak bisa menyentuh wajah nya. “Dan kau tak punya perasaan, meninggalkan Raina saat dia sedang kesakitan, apa kau tak punya perasaan Silvia? aku tak mengerti." Ucap Andra dengan pilu.“Dan saat pemakaman nya, mengapa kau tak datang?" Lanjut Andra kepada Silvia. Silvia mengatur nafas nya “Aku kaget, aku tak percaya bahwa Raina benar benar telah pergi, aku fikir ini hanya mimpi tapi aku salah ini benar, aku menyesal." Lirih Silvia dia tak henti menangis.Aku diam air mata menetes, terjawab sudah pertanyaan yang bermunculan di benak ku, mengapa Andra dan Silvia bertengkar, itu karena kematian ku kemarin, pantas saja Andra dan Silvia tidak bisa melihat ku, ternyata aku hanyalah arwah.Senja tiba, begitu pun hujan mulai turun dengan damai, menjelaskan tentang luka yang baru saja tergores. Aku berjalan dan berdiri di antara Andra dan Silvia, mereka sama sekali tak bisa melihat ku, aku hanya arwah yang tak tau harus pergi ke mana.Ingin rasa nya aku berkata dan memeluk mereka tapi tak bisa, aku telah berbeda dunia.aku bingung harus bagimana. “Raina maafkan aku."Lirih silvia.Aku tersenyum,“Aku telah memaafkan mu bahkan sebelum kau meminta maaf Sil, terima kasih." Ucap ku berharap Silvia mendengar. Aku berjalan dan kembali duduk di samping Andra yang masih tampak frustasi, “Andra maafkan aku karena aku merahasiakan tentang penyakit ku, aku hanya tak mau kau tahu bahwa hidupku memang sudah tak lama lagi, dan aku merelakan kau untuk Silvia agar kau dapat melupakan aku secepat nya "Aku tak peduli meski pun aku tahu berbicara pada mereka adalah hal yang percuma, aku tak peduli yang pasti aku sudah jelaskan. Andra berpelukan dengan Silvia membuat aku tersenyum bahagia “Aku akan mengikuti apa yang Raina mau, menjaga mu." Ucap Andra sambil merangkul Silvia dan menuruni rumah pohon.Aku tersenyum bahagia,"Andra ternyata sampai kini kau masih mengingat permintaan ku." Mereka berjalan menembus hujan, aku kembali menangis ini adalah tangis bahagia, aku bahagia melihat mereka bersama.Aku sekarang telah bebas dari kesakitan ku, rasa sakit karena kanker otak yang membuat sakit menjalar ke seluruh tubuh ku tanpa orang lain ketahui, aku juga telah bebas dari rasa sakit hati karena melihat Andra dan Silvia, sekarang aku telah merelakan mereka bersama, aku berharap kematian ku adalah awal dari kebahagiaan Andra, Silvia dan aku.“Raina, sayang." Aku mengenal suara itu suara yang aku rindukan, aku berbalik dan melihat bunda yang tersenyum ke arah ku. Aku berlari menghampiri nya,“Aku rindu bunda." Ucapku.Bunda tersenyum dan menarik ku ke alam ku yang baru. Selamat tinggal rumah pohon dan kutitipkan sekotak Senja terakhirku.***end.

Yang Terlupakan
Teen
17 Jan 2026

Yang Terlupakan

"Vio cepetan ini udah kelewat subuh." Suara Dena terus membuat aku mempercepat aku yang serdang menggunakan baju kebaya. Segera aku dan Dena menuju sebuah salon. Hari ini adalah hari perpisahan.Dan dengan berat hati aku terpaksa harus menggunakan baju kebaya yang telah mama ku pilihkan. Itu mendingan hal yang paling tak aku suka make up, hari ini aku harus menggunakan make up seharian. Benar benar tak terbayangkan.***Acara pengalungan medali telah selesai aku telah resmi menjadi alumni. Hingga di lanjutkan dengan acara foto bersama teman sekelas. Dan teman lainnya. Ada yang beda pikir ku saat kami akan melaksanakan salam salaman dengan teman satu angkatan.Hingga setelah selesai, aku pun pulang bersama teman ku Dena, huh hari yang melelahkan.***Aku merebahkan tubuhku di kasur sambil memandangi langit langit kamarku. Ada rasa was was dalam benakku tapi aku juga tak tahu apa itu, ku ambil ponselku dan ku lihat foto ku bersama Revan, dia teman spesialku.Namun sepertinya ada yang kurang tapi aku tak tau apa itu, aku pun berusaha tak peduli dengan perlahan memejamkan mataku, waktunya tidur siang.***Beberapa tahun setelah kelulusan, aku pun sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Hari ini aku telah selesai belanja, bukan belanja baju dan alat kecantikan seperti gadis lainnya hari ini aku di tugaskan belanja bahan masakan yang telah habis.Gerah, matahari menyorot wajahku aku pun memasuki sebuah cafe, lalu memesan es krim dan duduk di sebuah kursi, sendirian. Saat sedang sibuk dengan es krim ku, tiba tiba seorang lelaki duduk di depan ku, aku lalu mendongakkan kepala, siapa dia?Aku sama sekali tak mengenalnya, dia bisa di bilang hmm tampan."Kehabisan kursi?" Tanyaku karena aku mulai risih dengan tatapan nya. Dia tersenyum lalu menggeleng "Tidak" ucap nya aku pun berdiri berniat untuk pergi dari cafe ini."Elta vionita" ucap lelaki itu aku langsung membeku kaget mengapa dia tau nama lengkap ku? Aku berbalik dan dia masih dengan ekspresi yang cool, sambil meminum kopi di meja nya. Aku lalu duduk kembali. "Siapa kamu ini?" Tanyaku dengan dahi berkerut."Dari tadi kau baru bertanya." Ucap nya dengan sedikit senyuman "kau bahkan langsung pergi begitu saja, seperti aku ini orang gila." Ucapan nya membuat aku tercengang. "Maaf, ku kira kau orang jahat." Ucap ku seadanya.Dia mengangguk dan kembali diam."Siapa nama mu? mengapa kamu tahu nama lengkap ku?" Tanya ku tanpa berkedip. "Kan ku jawab pertanyaan mu satu satu." Lalu dia menarik nafas panjang, aku seperti mengenalinya."Namaku Alvin Chandra." Ucap nya aku langsung tercengang. Aku ingat nama itu, itu adalah nama teman ku yang selalu aku hindari dan abaikan. Dulu berpenampilan bak preman dan sekarang? dia hampir mirip dengan aktor terkenal."What? yaampun Alvin ku kira siapa, kamu ini jauh berubah." Ucap ku sambil tersenyum girang dan menatap dari atas hingga bawah, hingga aku dapat melihat sepatu hitam berkilau nya. "Hahaha sepertinya kau sudah melupakan ku ya Vio." Ucap nya dengan nada tak bisa ku jelaskan.Aku hanya tersenyum. "Kenapa kau masih mengingatku?" Tanya ku ketus, dia tersenyum lalu memandangku. "Ya pastilah bagaimana mungkin aku bisa melupakan seseorang yang aku kagumi?" Ucap nya, aku membeku."Kau ini selalu bercanda." Ucap ku, padahal aku sudah dag dig dug di buat nya. "Aku tak bercanda, aku serius." Ucap nya masih dengan ekspresi tenang. Aku diam kikuk rasanya,"Haha santai saja Vio, kau ini kenapa?""Hmm tidak" Ucapku. "Kau sudah punya pacar?" Tanya Alvin membuat aku tersentak "Sudah pacarku Revan." Ucapku hati hati. Jujur aku juga menyukai Alvin, aku juga kagum pada nya, tapi aku telah memilki Revan yang aku sukai semenjak masa putih abu.Alvin tersenyum,"Aku bahagia Vio menurutku kamu dan Reva sangat cocok, Revan yang rajin, pintar, baik dan sopan." Ucap nya sambil membuang muka. "Jujur Vio, jika aku boleh jujur?" Tanya Alvin pada ku. "Tentu saja boleh" ucap ku."Aku menyukai mu, bahkan saat kau masih mencintai Revan, yah seperti sekarang ini, aku menyukai mu semenjak kamu menguatkan aku, waktu penolakkan oleh Sherin, kau wanita yang berbeda begitu polos dan apa adanya, kau berbeda cuek dan tak peduli hingga aku berpikir siapa kah lelaki yang akan beruntung selalu kau pikirkan?Kau pintar dan cerdas selalu membuat aku semangat, bahkan saat aku selalu di hukum guru, aku tahu kah begitu jijik padaku? aku Alvin yang nakal dan berandalan, sering kau marah padaku.Kau membuat aku berubah, aku akui ingin aku menjadi pelindungmu namun aku terlalu nakal untuk kau yang baik kau wanita baik aku tak ingin menyakitimu.Kau pantas dengan Revan, dia tampan pantas dengan kau yang cantik, aku mengerti bahkan kau sama sekali tak mengingatku dengan begitu kau sudah menjawab pertanyaan ku, aku tak pernah penting di hidup mu." Ucap Alvin lalu beranjak pergi.4 Tahun yang lalu."Vio minjem pensil dong" bisik Dena padaku. Tanpa pikir panjang aku pun mengeluarkan pensil 2b dan memberikan nya pada Dena. Tiba tiba Alvin datang "Mana tugas lo?" Tanya nya, aku hanya diam tak merespon."Apaan si lo, ngerjain sendiri punya otak kok gak di pake entar karatan loh." Ucap Dena pada Alvin. Karena berisik mendengarkan adu mulut mereka, tanpa pikir panjang aku pun mengeluarkan buku tugas tanpa mengucapkan sepatah kata pun."Makasih Vio." Ucap Alvin lalu berlalu dengan senyuman merekah di wajahnya. "Lo gimana si? masa gue gak boleh nyontek tapi Alvin boleh?" Protes Dena pada ku. Aku hanya diam tak peduli, malas bahkan sangat malas untuk bicara.***Aku melihat Alvin di lapangan, ia sangat pintar bermain basket, tampak lebih gagah. "Yaampun Alvin keren abis," Ucap Citra temanku, huh aku tau dia menyukai Alvin, aku juga sadar bahwa aku mengagumi nya ingat hanya sekedar kagum jadi tak masalah.***Telepon ku berdering aku segera berlari dan mengangkat nya."Halo?""Vio please bantuin gue." Aku kenal suara ini dia Sherin."Kenapa?""Bantuin gue buat nolak Alvin." Ucap Sherin, demi apapun saat itu rasanya sesak, rasanya tak percaya ternyata Alvin suka pada temanku, dan itu Sherin.***Sekarang tinggal satu tahun lagi aku bisa menyelesaikan sekolah SMA ku. Semua ku persiapkan untuk menghadapi ujian, mulai dari belajar dan belajar, mengurangi waktu main dan sebagainya."Woy!" Teriak seseorang di kelas sebelah ku lihat, dia Alvin. Baju tak rapi, rambut berwarna pirang menatapku dengan tajam,aku sudah biasa melihat penampilan nya seperti ini. Kemana Alvin yang aku kenal?dia sudah seperti bukan Alvin lagi.Tapi dia tak pernah berani mengganggu ku, padahal aku tau dia selalu menggoda gadis gadis yang lewat, tapi tidak padaku. Aku mengerti kehilangan seseorang yang sangat di sayangi memang menyakitkan, saat aku mendengar berita kematian ibu Alvin awalnya aku tak percaya.Tapi benar dia Alvin temanku, aku selalu menguatkan nya. Satu tahun berlalu penampilan Alvin perlahan berubah, namun sifat lucu nya masih bisa ku lihat. hubungan persahabatan Citra dengan Sherin kini mulai memudar mereka tak sedekat dulu lagi, aku jadi merasa bahwa cinta adalah salah satu penyebab retak nya hubungan persahabatan. Bahkan setelah perpisahan, kami yang biasa berempat kini hanya tinggal aku dan Dena.***Aku diam merenung di jendela kamar, dengan sweter tebal membungkus tubuhku. Entah lah setelah pertemuan ku dengan Alvin, aku tak bisa berhenti memikirkan nya, ada rasa sesak dan perih yang ku rasakan.Aku tahu Alvin adalah lelaki baik baik, hanya saja dia terbawa ke jalan yang salah. "Non, minum obat nya." Ucap bi Arni pembantu di rumah ku. Aku hanya diam tak merespon sedikitpun. Bibi langsung ke luar saat aku hanya diam, bibi mengerti aku ingin sendirian.Aku berjalan dan melihat pantulan di cermin, lalu wajahku bucat, dengan mata sayu.Pintu kamar kembali terbuka, ku lirik sebentar dia Revan, aku tak bergeming sedikit pun. Ku lihat Revan membawa setangkai bungan dan coklat kesukaan ku di tangan nya, tampak biasa saja."Vio" lirih Revan saat aku masih diam.Perlahan tangan nya mengelus rambut ku lembut. "Kamu sudah makan?" Tanya Revan sambil menatap mataku. Aku mengangguk.Lalu Revan mengambil gelas dan obat, aku menolak. "Vio ayolah, aku mohon minumlah obat ini." Ucap Revan. Aku sama sekali tak menatap wajahnya."Besok hari pertunangan kita." Ucap Revan sambil terseyum.Aku menatap Revan, dia tersenyum sangat bahagia."Jangan sakit, besok adalah hari besar." Ucap Revan mengecup tangan ku yang dingin. Aku sekuatnya mencoba terseyum.***Aku berusaha memakai sweter tebal ku, dengan syal berwarna abu abu pemberian Revan. Rumah ku agak ramai, keluarga berdatangan untuk mempersiapkan hari besok. Aku sudah mendingan. Tapi aku tahu orang orang pasti takkan mengizinkan aku ke luar, aku pun keluar mengendap endap.***Aku berjalan di trotoar jalan. Mencari Alvin padahal aku tak tau di mana dia. Aku hanya berharap dia masih di kota ini,aku ingin berbicara dengan nya sebelum hari pertunangan ku dengan Revan di mulai.Namun aku tak menemukan Alvin di manapun, waktu mulai malam aku takut Revan mencari ku. Langkah lesu, aku melihat ke arah orang orang yang sedang berkumpul.Telah lama sendiri dalam langkah sepiTak pernah ku kira bahwa akhirnya tiada dirimu di sisiku.Dia Alvin aku langsung berlari mendekati panggung.Meski waktu datang dan berlaluSampai kau tiada bertahanSemua takkan mampu mengubahkuHanyalah kau yang ada di benakku.Hanyalah dirimu yang mampu membuatkuJatuh dan mencinta kau bukan hanya sekedar indah....Alvin kaget saat aku tiba tiba naik panggung dan bernyanyi.Kaau tak akan terganti....Riuh tepuk tangan menggema."Vio?."Alvin memelukku.***"Kamu sakit?" Tanya Alvin sambil memberi ku teh hangat. "Tidak " ucap ku sambil tersenyum. "Tapi wajahmu pucat." Ucapnya. Aku hanya terseyum, sambil memandangi Alvin yang sedang menghirup teh nya."Alvin jangan berubah " Ucapku, seketika Alvin tersedak. Ia memandangiku dengan wajah kaget," Apa?" Tanya nya. "Bila kamu memintaku untuk datang ke acara pertunanganmu, aku akan datang Vio, tenanglah." Ucap nya.Entah kenapa, mataku memanas saat mendengar ucapan Alvin. "Alvin.." lirihku. Dia lalu menatapku masih dengan raut tenang padahal aku begitu sakit."Alvin aku..." ragu harus memulai dari mana, maafkan aku Revan. "Aku sejak dulu kagum padamu, aku mohon mengertilah." Ucap ku tak ada perubahan di raut wajah nya.Dia masih tenang seperti tak terjadi apapun, mataku memanas melihat tingkah Alvin yang begitu menyebalkan. Aku pergi Alvin bodohnya aku yang percaya semua omongan busuk mu, kamu mempermainkan ku.***Acara pertunangan telah selesai, aku telah terikat menjadi calon pe pendamping Revan seorang laki laki yang aku pilih. Bahagia nya aku saat ku lihat cincin yang terselip di jari manisku. Aku dan Revan sangat bahagia, kami menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga kami.Sambil mendiskusikan tanggal pernikahan, semua berpendapat agar kami segera menikah. Toh Revan telah menjadi pengusaha yang sukses, ah hari yang sangat bahagia.***Aku berjalan ke luar saat suara bel terus berbunyi, orang tuaku sedang ada acara jadi aku hanya berdua dengan bibi. Ku buka tak ada siapapun, aneh pikirku, ku lihat sekali lagi benar benar tak ada. Tak sengaja ku lihat, seikat bunga mawar putih dan boneka beruang tergeletak di lantai.Aku tersenyum geli pasti Revan, pikirku. Ku ambil dan ku hirup, ku peluk boneka beruang ini, ini boneka pertama yang Revan berikan.Sebelum nya tak pernah, buket bunga tadi jatuh di lantai, saat ku abil ada sepucuk surat terjatuh dari sela sela bunga itu. Dengan amplop pink.Dear:Elta VionitaSalam rindu dari ku untuk kau wanita yang istimewa. Maafkan aku yang mungkin salah, awal nya rencana ku untuk mengungkapkan perasaan ku adalah hal yang benar. Tapi aku salah, kamu telah terikat dengan Revan.Kau tau Vio? Aku telah berusaha pergi jauh darimu. Tapi semua yang ku lakukan malah menyakiti diriku sendiri. Aku telah berusaha untuk menerima takdir, bahwa kita tidaklah berjodoh.Kau pantas dengan Revan, maafkan pertemuan kita yang kemarin. Kau tau? saat kau menanti jawaban ku saat itu jiwaku sedang bergejolak.Mungkin ini adalah surat yang terakhir, bila boleh aku jujur aku sangat ingin menjadi pria yang selalu di samping mu. Tapi aku tak bisa, orang tua ku telah menjodohkan aku dengan wanita yang tak aku kenali.Aku juga tak ingin menyakiti Revan, dia terlalu baik untuk aku sakiti dan kau terlalu indah untuk aku milikki. Jadi aku setuju saja untuk di jodohkan, katakan pada Revan dia adalah orang yang beruntung. Aku pamit yaa.Dan setelah pernikahan ku aku dan keluarga berencana untuk pindah ke Australia, selamat tinggal.AlvinTanganku bergetar saat ku baca terakhir surat ini, Alvin? kamu di mana? Kamu gila, aku sangat merindukan mu. Dan kau dengan mudah pergi, kamu tak tau Betapa aku takut jau takkan kembali lagi. Luluh semua harapanku, untuk kembali melihatmu. Kamu pergi akan menjadi kenangan yang takkan aku lupa kan.Kubaca tulisan di balik surat.Menangislah, keluarkan semua nya.Aku sebenarnya ingin menjadi bahu tuk kau bersandar, tapi takdir kita tak searah lagi .“Alvin!!!" Jeritku, ku peluk boneka beruang pemberian darinya. Mataku kini telah basah.***end.

Monkey Dream
Horror
16 Jan 2026

Monkey Dream

Ini adalah sebuah cerita tentang mimpi. Kau tahu jenis mimpi dimana kau tiba-tiba menjadi sadar bahwa kau hanya bermimpi? Ini adalah mimpi yang sejenis.Aku sedang sendirian, berdiri di peron yang sunyi di stasiun kereta api berpenerangan redup."Wow, mimpi yang membosankan," pikirku.Beberapa saat kemudian, aku mendengar sebuah pengumuman yang berasal dari loudspeaker. Sebuah suara monoton yang membosankan berkata, "Kereta api akan segera datang. Jika kau naik ke gerbong, kau akan mengalami sesuatu yang sangat mengerikan."Segera setelah pengumuman samar-samar tersebut, kereta api muncul di stasiun. Namun demikian, itu bukan benar-benar kereta api. Benda itu lebih terlihat seperti sejenis kereta api yang bisa kau lihat di pasar malam, bentuknya seperti rollercoaster atau kereta monyet yang dimiliki kebun binatang. Ada beberapa laki-laki dan perempuan yang duduk dalam kendaraan tersebut. Wajah mereka sangat pucat."Benar-benar mimpi yang aneh," pikirku.Tapi aku penasaran tentang pengumuman yang kudengar. Akankah aku benar-benar melihat sesuatu yang mengerikan? Apa itu? Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kereta api untuk mencari jawabannya. Setelah ini, bagaimana seramnya mimpi ini kalau aku menyadari semuanya hanya mimpi?Aku duduk di bangku ketiga dari belakang. Udara di sekitarku terasa panas yang tidak nyaman. Semuanya terlihat sangat alami sehingga aku mulai ragu-ragu jika aku sebenarnya hanya bermimpi.Suara pengumuman terdengar, "Kereta api akan berangkat."Sementara kereta api mulai bergerak, hatiku menunggu dengan gelisah. Aku penasaran apa yang akan terjadi. Segera setelah kereta api meninggalkan peron, kami memasuki terowongan yang tertutupi oleh cahaya ungu menyeramkan."Aku pernah melihat terowongan ini sebelumnya!" kataku pada diriku sendiri.Itu adalah terowongan yang berasal dari kereta hantu yang kunaiki di sebuah pasar malam saat aku masih kecil. Itulah mengapa aku memimpikan tentang kereta monyet aneh ini. Aku hanya ingat semua rumah hantu yang kukunjungi saat aku masih kecil."Ini bukan sesuatu yang harus ditakuti," aku memberitahu diriku sendiri.Kemudian, ada pengumuman lain yang berbunyi, "Pemberhentian berikutnya, Ike-zukuri! Berikutnya, Ike-zukuri!""Ike-zukuri?" pikirku. "Itu bukan stasiun, itu adalah santapan Jepang yang langka!"Seorang juru masak Jepang yang profesional bisa memotong seekor ikan dan memasaknya mentah-mentah. Itulah mengapa ikan tersebut masih hidup saat dihidangkan padamu. Ikan malang itu akan tergeletak di piringmu, meronta-ronta sementara kau memakannya. Hal itu sangat mengerikan, tapi di Jepang termasuk makanan yang lezat.Aku masih berpikir tentangnya saat aku mendengar suara jeritan yang sangat keras dari belakangku. Aku menoleh dan melihat empat orang kerdil bungkuk yang berpakaian compang-camping. Mereka sedang mengelilingi laki-laki di kursi paling belakang. Saat aku menatap lebih dekat, aku melihat orang-orang kerdil itu memakai topeng monyet. Mereka mengacungkan pisau yang tajam. Mereka mulai memotong-motong laki-laki itu tepat di depan mataku. Mereka menyiapkannya seperti seorang juru masak sedang menyiapkan Ike-zukuri!Bau amis yang luar biasa menguar di udara. Laki-laki itu tetap menjerit dan meraung saat mereka menarik keluar organ tubuhnya. Orang-orang kerdil itu menghambur-hamburkannya ke sekeliling kereta api.Aku memperhatikan seorang wanita berwajah pucat dengan rambut panjang sedang duduk tepat di belakangku. Saat suara jeritan itu mulai terdengar, ia mulai panik tapi hanya sebentar. Kemudian, ia terdiam sambil menatap ke depan seolah-olah tidak ada yang terjadi.Aku sangat ketakutan karena hal mengerikan yang baru saja terjadi di belakangku. Aku mulai penasaran apakah ini benar-benar mimpi atau bukan. Saat aku menoleh ke sekitarku lagi, laki-laki di kursi belakang sudah hilang. Yang tersisa hanyalah noda darah dan gumpalan daging berwarna merah. Wanita di belakangku masih menatap lurus ke depan, wajahnya tanpa ekspresi."Pemberhentian berikutnya, sendok!" terdengar suara dari pengumuman. "Sendok adalah pemberhentian berikutnya!"Saat ini, dua orang kerdil bermuka monyet muncul sambil membawa sendok yang pinggirnya bergerigi tajam. Mereka mulai menyendok keluar bola mata milik wanita di belakangku. Sampai saat ini, ia masih memasang wajah tanpa ekspresi, tapi wajahnya terlihat penuh kesakitan. Ia mulai menjerit dengan keras hingga aku berpikir gendang telingaku akan robek. Bola mata melompat keluar dari rongganya. Bau amis darah dan keringat membuatku tak tahan.Aku membungkuk ketakutan. Saat ini adalah kesempatanku untuk kabur. Aku tidak bisa menahannya lagi."Bangun!" aku berkata pada diriku sendiri. "Aku harus keluar dari sini! Kumohon, bangun!"Kemudian, pikiran mengerikan menyambar benakku. Melihat bagaimana semuanya terjadi, akulah urutan berikutnya..."Pemberhentian berikutnya, daging cincang!" terdengar suara pengumuman. "Daging cincang adalah pemberhentian berikutnya!"Aku merasa sakit. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berkonsentrasi sekeras yang kubisa untuk mencoba memaksa diriku sendiri bangun dari mimpi."Ayolah! Bangun!" kataku pada diriku sendiri. "Ini hanya mimpi! Bangun! Bangun!"Tiba-tiba aku mendengar suara desingan besi yang berisik. Suaranya seperti berasal dari sebuah mesin penggiling. Saat ini, dua orang kerdil sedang duduk di pergelangan kakiku. Mereka memegang mesin aneh yang kuduga sebagai mesin pemotong daging. Aku sangat ketakutan."Ini semua hanya mimpi yang mengerikan! Bangun! Bangun!" aku menutup mataku dan berdo'a sekeras yang kubisa. "Demi Tuhan, kumohon bangun!"Whiiiiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrr!Suara itu semakin mendekat. Aku bisa merasakan angin yang berhembus dari mesin itu di wajahku. Aku yakin jika aku sudah tidak lagi memiliki harapan. Semuanya sudah berakhir. Aku yakin aku akan mati. Kemudian, mendadak semuanya menjadi sunyi.Aku bangun di atas tempat tidurku, tubuhku mandi keringat. Air mata menetes membasahi pipiku. Entah bagaimana, aku berhasil melarikan diri dari mimpi buruk itu. Aku berjuang turun dari ranjang dan pergi ke dapur. Di sana, aku minum segelas air dan mencoba menenangkan diriku sendiri."Mimpi itu seperti nyata," pikirku. "Terima kasih Tuhan, itu hanya mimpi..."Hari berikutnya di sekolah, aku menceritakan pada semua temanku tentang mimpi mengerikan yang kualami. Aku berharap mereka akan ketakutan, tapi mereka semua menganggap hal itu sebagai sesuatu yang lucu. Aku juga berharap demikian sebenarnya. Itu hanya sebuah mimpi.Empat tahun berlalu. Aku baru saja lulus dari perkuliahan. Aku benar-benar lupa tentang mimpi itu.Suatu malam, aku bekerja lembur di kantor. Hari itu adalah hari yang sibuk hingga membuatku sangat kelelahan. Aku membaringkan punggungku pada kursi dan menutup mataku selama beberapa waktu.Saat itu, mimpi itu datang lagi."Pemberhentian berikutnya, sendok! Sendok adalah pemberhentian berikutnya!"Mimpi itu sama. Semuanya kembali. Dua orang kerdil bertopeng monyet yang sama sedang mencungkil keluar bola mata milik gadis tanpa ekspresi."Ini hanya mimpi! Bangun! Bangun!"Aku mulai berdo'a, tapi aku tetap tidak bisa bangun."Ini hanya mimpi! Bangun! Kumohon bangun!""Pemberhentian berikutnya, daging cincang! Daging cincang adalah pemberhentian berikutnya!""Tidak! Ini sudah keterlaluan!"Whiiiiiirrrrrrrr!Suara itu semakin mendekat."Ini hanya mimpi! Bangun! Bangun! Kumohon, bangun!"Tiba-tiba, semuanya hening.Aku melarikan diri lagi, atau pikirku begitu.Baru saja aku akan membuka mata, aku mendengar sebuah suara berkata, "Apakah kau akan melarikan diri lagi? Berikutnya, kami akan datang padamu untuk terakhir kalinya!"Aku membuka mataku. Saat ini, aku benar-benar bangun di ruanganku. Tapi, pengumuman yang baru saja kudengar tidak berasal dari mimpi. Aku mendengarnya di sini, di dunia nyata. Aku tahu. Tidak ada yang salah dengan itu.Mengapa aku? Apa yang telah kulakukan hingga aku harus menerima ini?Aku tidak lagi bermimpi sejak saat itu, tapi aku tahu jika selanjutnya aku memimpikannya lagi, aku akan mati. Hal itu mungkin akan membuatku terkena serangan jantung atau sesuatu yang lain. Di dunia ini, mungkin seperti serangan jantung, tapi di dunia lain aku akan menjadi daging cincang.***

Kamera Digital
Folklore
16 Jan 2026

Kamera Digital

Salah satu kenalanku meninggal secara mendadak. Aku tak pernah bertemu wanita itu. Ia memiliki seorang putri yang berumur empat tahun. Gadis kecil itu bernama Yuki. Ayahnya tidak bisa membesarkan Yuki sendirian, jadi ia meminta bibiku untuk merawatnya.Gadis kecil itu menolak ditinggal sendirian, jadi ia tak pernah pergi dari sisi bibiku. Hal itu mulai menjadi masalah. Bibiku jadi tidak bisa pergi kemana-mana tanpa Yuki. Gadis cilik itu terus-terusan mencari perhatian. Bahkan putri bibiku mulai merasa cemburu.Pada suatu hari, bibiku memberitahuku bahwa ia harus pergi keluar kota selama beberapa hari. Aku diminta untuk mengasuh Yuki. Aku tinggal sendirian sehingga ia bisa menjadi temanku.Beberapa hari kemudian, bibiku mengantar Yuki ke apartemenku. Saat bibiku akan pergi, ia berdiri di samping Yuki dan berkata, "Yuki, jadilah anak yang baik. Beranikan dirimu sendiri."Saat bibiku pergi, aku mencoba berbicara pada Yuki. Aku juga memainkan beberapa permainan dengannya, tapi sikap gadis kecil itu sangat aneh. Ia memiliki boneka beruang yang selalu dipeluknya. Ia tak pernah melepaskan boneka itu. Ia juga tak pernah tersenyum. Ia bahkan tak pernah berbicara. Yang dia lakukan hanya duduk diam di ruang depan sambil menatap dinding. Hal itu membuatku tidak nyaman.Aku sedang mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menghiburnya. Aku baru saja membeli sebuah kamera digital. Jadi, kuputuskan untuk membiarkan Yuki bermain dengan kamera digitalku yang lama. Saat ia melihat kamera tersebut, matanya berbinar-binar. Aku menunjukkan padanya bagaimana cara menggunakan kamera itu. Ia lalu pergi berkeliling apartemen untuk mengambil gambar apa saja. Ada senyum lebar di wajahnya.Malam itu, aku menemukan betapa sulitnya meninggalkan Yuki sendirian. Kapan pun aku mencoba untuk meninggalkan ruangan, ia mulai menangis dan menjerit memanggil namaku. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian karena ia akan memelukku dengan sangat erat. Ia bahkan memaksa ikut masuk ke kamar mandi bersamaku. Hal itu sangat memalukan.Ketika datang waktu untuk tidur, ia menolak tinggal di kamar sendirian. Jadi, ia memaksa untuk tidur di ranjangku. Aku membacakan dongeng sebelum tidur untuknya. Setelah beberapa waktu, aku membiarkannya tidur. Itu adalah saat aku melihat boneka beruang miliknya. Salah satu kakinya berwarna hitam karena hangus, seolah-olah benda itu sebelumnya pernah terbakar. Hal itu membuatku penasaran.Pada tengah malam, aku terbangun oleh suara aneh. Saat aku menoleh, aku melihat jika ada sesuatu yang salah dengan Yuki. Tubuh gadis kecil itu gemetar dan menggigil. Matanya terbuka lebar, giginya bergemeletukan, dan air mata menetes di kedua pipinya. Aku memegang tubuhnya dan bertanya apa yang terjadi."Dia menatapku lagi," ia berkomat-kamit."Siapa?" tanyaku terkejut."Wanita dalam kegelapan," balas Yuki.Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku mencoba memberitahunya bahwa itu hanya imajinasinya saja, tapi ia menggelengkan kepalanya. Aku memerlukan waktu yang lama untuk menidurkannya lagi.Hari berikutnya, Yuki sudah baikan. Ia senang bermain dengan kamera digital. Saat tiba waktunya pulang ke rumah, aku membiarkan Yuki menyimpan kamera digitalku yang lama. Yuki memelukku. Walaupun ia tidak mengatakan apa pun, aku bisa tahu bahwa ia bahagia.Aku mengantar gadis kecil itu ke rumah bibiku. Sebelum pulang, aku menyempatkan untuk meminum secangkir teh. Bibiku berterima kasih padaku karena telah merawat Yuki. Kami menghabiskan beberapa waktu untuk mengobrol di meja dapur."Kasihan dia," kata bibiku. "Ia tidak berbicara sepatah kata pun sejak ibunya meninggal."Aku tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahuku, maka aku bertanya, "Bagaimana ibu Yuki meninggal?"Sebuah tatapan aneh muncul pada wajah bibiku, "Dia tewas terbakar...""Bagaimana kebakaran itu terjadi?" tanyaku."Well..." bibiku ragu-ragu untuk berbicara tentang hal itu. "Itu cerita yang menyedihkan. Ibu Yuki melakukan bunuh diri. Ia merupakan wanita yang sakit jiwa. Ia menuang bensin ke seluruh tubuhnya, lalu menyalakan korek api. Ia membakar dirinya sendiri hidup-hidup.""Ya Tuhan!" seruku. "Betapa mengerikan!""Ya," kata bibiku. "Keluarganya sangat terkejut, mereka menutupinya dan berpura-pura kejadian itu sebagai kecelakaan. Mereka mengadakan upacara pemakaman kecil-kecilan, hanya keluarga dekat saja yang diundang. Yuki tidak ada di sana. Dia bahkan tidak tahu jika ibunya meninggal. Ia mengira ibunya hanya sedang liburan panjang. Kami tidak tega menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.""Kasihan Yuki," bisikku.Bibiku mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sedih. "Kasihan Yuki."Beberapa hari setelahnya, Yuki meninggal.Bibiku mencoba mengubah kebiasaan Yuki. Malam itu, ia memaksa gadis kecil tersebut untuk tidur sendiri di kamarnya. Walaupun Yuki menangis dan meraung, bibiku tetap meninggalkan ia di kamarnya dengan pintu yang terkunci. Pada pagi harinya, bibiku menemukan tubuh Yuki sudah tidak bergerak di atas ranjangnya. Gadis kecil yang malang itu telah meninggal.Tidak adayang tahu apa yang terjadi. Dokter tidak bisa mengidentifikasi penyebab kematiannya. Tidak ada bekas apa pun di tubuhnya. Ia benar-benar sehat. Ia meninggal secara misterius pada malam itu. Tidak ada penjelasan apa pun.Setelah upacara pemakaman, aku kembali ke rumah bibiku. Semua orang merasa sangat sedih. Bibiku mengembalikan kamera digital yang kuberikan pada Yuki. Aku membawanya pulang ke rumah. Benda itu mengingatkanku padanya.Kartu memori kamera digitalku penuh dengan foto yang diambil oleh Yuki. Aku melihat-lihat foto yang ia ambil sambil mengusap air mata yang menetes di pipiku. Ada gambar apartemenku, gambar rumah bibiku, gambar bunga, anjing, mainan, permen... Gambar-gambar lucu yang diambil oleh seorang anak kecil.Kemudian, aku membuka gambar terakhir yang membuat darahku membeku. Tanganku gemetaran. Aku ingin berteriak, tapi tidak ada apa pun yang keluar dari mulutku. Tanggal yang tercetak di foto menunjukkan bahwa itu diambil pada malam saat Yuki meninggal.

Bayangan di Stasiun
Folklore
16 Jan 2026

Bayangan di Stasiun

Aku tinggal di Tokyo. Setiap pagi, aku naik kereta api bawah tanah untuk pergi bekerja. Stasiun lokal yang kugunakan adalah Stasiun Shin-Koiwa di jalur Chuo. Tempat itu terkenal sebagai tempat untuk melakukan bunuh diri.Bahkan, tempat tersebut memiliki julukan "Statiun Bunuh Diri". Sepanjang tahun, orang yang depresi dan salah jalan yang tak terhitung jumlahnya telah melakukan bunuh diri di sana dengan melompat di depan kereta api.Hal itu menjadi masalah, sehingga pihak stasiun memasang cermin di kereta api bawah tanah. Mereka mengatakan jika orang-orang melihat bayangan mereka sendiri saat akan melompat, itu akan mengubah niat mereka. Aku tidak berpikir ide tersebut akan benar-benar bekerja.Baru minggu lalu, ada bunuh diri di stasiun. Aku ada di sana saat hal itu terjadi. Aku melihat segalanya.Saat itu pagi buta. Aku sedang menunggu kereta api. Hanya ada sedikit orang di peron. Aku mendengar suara dari loudspeaker yang mengumumkan bahwa kereta akan datang.Tiba-tiba, aku memperhatikan seorang wanita yang berdiri tepat di depanku. Ia wanita biasa yang berumur kira-kira 26 atau 27 tahun. Tapi sesuatu tentang dia membuatku was-was.Dia bertingkah sangat aneh. Saat kereta api semakin mendekat, ia melangkah ke depan dan mulai melangkah setapak demi zetapak ke pinggir peron. Ada sesuatu yang sangat salah. Ia menoleh ke belakang untuk memandangku. Aku hanya bisa melihat tatapan ketakutan di wajahnya.Tiba-tiba, aku tahu apa yang kira-kira akan ia lakukan. Tapi aku tidak memiliki kekuatan untuk menghentikannya. Aku membeku di tempat karena ketakutan. Aku hanya bisa melihatnya melempar dirinya sendiri di depan kereta api.Ada decit rem yang berbunyi saat kereta api mencoba untuk berhenti. Penumpang lain di peron menjerit. Diantara gema suara penumpang yang menjerit dan decitan besi, aku bisa mendengar suara tabrakan yang memualkan.Pandangan menjadi sangat mengerikan sekali. Aku tidak bisa melupakannya dari benakku. Ada darah dan potongan daging beterbangan dimana-mana. Aku pikir aku akan muntah. Penumpang lain berlari dari peron. Aku juga ikut berlari bersama mereka.Petugas polisi harus menutup semua jalur. Saat kami menunggu di luar untuk naik bus menuju tempat tujuan, aku masih memikirkan tentang wanita yang malang itu. Adegan tersebut berputar lagi dan lagi dalam benakku, tapi ada sesuatu yang salah. Akhirnya, seuatu itu datang padaku.Bayangan.Itulah yang membuatku khawatir. Aku memperhatikannya sebelum wanita itu melompat. Lampu di stasiun kereta api bawah tanah bersinar terang. Saat lampu-lampu itu menyinari ke bawah, mereka membuat bayangan dari kiri ke kanan. Pilar, kios, semuanya membuat bayangan dari kiri ke kanan.Tapi bayangan wanita itu berbeda. Bayangannya berjalan tepat ke depan, menarik kakinya sampai ke pinggir peron, seolah-olah cahaya bersinar dari belakang.Pasti ada sesuatu yang salah. Aku memiliki perasaan tidak nyaman dalam perutku yang tidak mau hilang. Aku telah sampai pada kesimpulan dari ini semua.Segera setelah sampai di tempat kerja, aku langsung membuka internet untuk mencari berita lama tentang stasiun kereta api bawah tanah. Ada lebih dari 20 kasus bunuh diri yang terjadi pada tahun lalu. Beberapa dari mereka adalah pengusaha, beberapa ada yang tua, ada juga wanita dan pria muda, bahkan ada sedikit anak kecil.Akhirnya, aku menemukan apa yang kucari. Itu adalah sebuah foto yang diambil beberapa detik sebelum seorang laki-laki paruh baya melompat di depan kereta api. Aku menekan tombol zoom untuk memperbesar gambarnya, kemudian aku memeriksanya dengan hati-hati.Satu kakinya di udara, ia sedang mencoba untuk berbalik. Aku mengenali wajah penuh teror di wajahnya. Ada sebuah bayangan hitam seperti lengan yang keluar dari peron. Tangan itu sedang menyambar pergelangan kaki si pria paruh baya. Tiba-tiba, segalanya menjadi jelas.Saat aku melihat gadis muda di stasiun pada pagi itu, ia tidak melompat di depan kereta... Ia ditarik ke depan kereta api.

Tangga Kayu
Folklore
16 Jan 2026

Tangga Kayu

Ada sebuah bangunan apartemen tua di Jepang yang memiliki cerita terkait angka tujuh. Apartemen tersebut sangat kecil dan tua sekali. Bangunan apartemen itu juga tidak memiliki lift. Hanya ada tangga kayu besar yang bobrok. Tangga dari kayu tersebut terdiri dari tujuh anak tangga. Setiap anak tangga memiliki tujuh langkah.Di lantai satu dari bangunan tersebut, ada satu ruang apartemen yang berseberangan langsung dengan anak tangga. Pemilik apartemen sangat kesulitan menemukan penyewa yang mau tinggal di apartemen tersebut. Kapan pun ia menyewakannya, penyewa tiba-tiba akan pergi tanpa memberikan penjelasan apa pun. Setiap penyewa akan pergi kurang dari seminggu setelah menyewa ruangan tersebut.Suatu hari, seorang laki-laki muda datang untuk melihat-lihat apartemen yang kosong. Apartemen itu sangat kecil, tapi pemiliknya meminta harga sewa yang sangat rendah. Kemudian, si laki-laki memutuskan untuk mengambil apartemen tersebut. Ia memindahkan barang-barang miliknya beberapa hari kemudian.Hari pertama laki-laki muda menghabiskan waktunya di apartemen merupakan hari Senin. Sepanjang malam, ia terbangun dari tidur karena suara asing. Itu seperti suara anak kecil, bergema di anak-anak tangga dekat pintu depan."Aku telah sampai di anak tangga pertama," kata suara tersebut."Apa yang dilakukan anak kecil pada jam tidur malam-malam begini?" si laki-laki bertanya pada dirinya sendiri.Namun demikian, ia terlalu lelah karena harus mengangkut barang-barangnya. Ia lalu kembali tidur.Malam berikutnya, ia terbangun lagi oleh suara yang sama dari luar, "Aku telah memanjat anak tangga kedua!"Pada hari Rabu malam, suara itu terdengar menjerit, "Aku telah memanjat anak tangga ketiga!"Si laki-laki melompat keluar dari ranjang dan berlari ke pintu depan. Saat ia membuka pintu dan melongok keluar, ia melihat anak tangga itu kosong. Sebuah pemikiran menakutkan lewat di benaknya. "Apakah mungkin anak tangga itu berhantu?"Hal yang sama terjadi pada hari keempat, kelima, dan keenam. Setiap malam, si laki-laki mendengar suara anak kecil yang memanggilnya dari luar. Setiap waktu, suara itu semakin mendekat.Minggu malam akhirnya datang. Si laki-laki gemetar di tempat tidurnya. Ia berpikir untuk pindah, tapi ia meyakinkan dirinya sendiri jika ia harus berani. Ia menolak untuk membiarkan dirinya ketakutan oleh suara hantu. Pada tengah malam, ia bangun karena mendengar sesuatu mencakar pintunya.Sebuah suara melolong terdengar, "Aku telah sampai di anak tangga ketujuh!"Bulu kuduk si laki-laki berdiri saat ia mendengar pintu kamarnya yang terkunci tiba-tiba mengayun membuka.Pagi berikutnya, pemilik apartemen datang untuk menagih biaya sewa. Saat ia mengetuk pintu apartemen, tidak ada jawaban sama sekali. Penasaran dengan kondisi si laki-laki yang menyewa apartemennya, si pemilik mengambil kunci dan masuk.Pemilik apartemen menemukan tubuh si penyewa telentang di atas ranjang. Wajahnya menunjukkan kengerian yang luar biasa. Polisi datang untuk memeriksa tubuh penyewa, tapi tidak ada penyebab kematian yang jelas. Sepertinya laki-laki itu mati karena ketakutan.Apartemen itu masih kosong sampai hari ini, menunggu penyewa baru. Sepanjang tahun, semua orang yang tinggal di sana sebelumnya, memilih kabur sebelum seminggu. Mereka semua mengatakan bahwa mereka pergi karena takut apa yang akan terjadi saat suara itu sampai di anak tangga ketujuh.Hanya ada dua orang yang tahu jawabannya: Laki-laki yang mati dan suara aneh yang memanjat anak tangga setiap malam.

Badut yang Sedih
Folklore
16 Jan 2026

Badut yang Sedih

Beberapa hari yang lalu, aku bermimpi sesuatu yang sangat aneh. Aku sedang berdiri di jalan sempit yang panjang menuju sekolahku. Hari itu ada kesunyian yang aneh. Tidak ada angin yang bertiup, tidak ada burung ynag menyanyi, dan tidak ada serangga yang mengerik. Jalan tampak sangat lengang karena tidak ada siapa pun di sana. Aku mulai berjalan.Setelah itu, aku merasakan perasaan aneh bahwa seseorang sedang mengawasiku. Aku menoleh ke balik bahuku dan melihat bayangan kecil di kejauhan. Bayangan itu seprtinya berlari dengan kecepatan kencang. Aku tetap berjalan, tetapi setiap kali aku melihat ke belakang, bayangan itu semakin dekat. Segalanya membuatku sangat tidak nyaman. Bayangan itu semakin mendekat padaku.Pada suatu tempat, aku menghentikan langkahku untuk menoleh kr belakang. Bayangan itu ikut berhenti. Ia hanya berdiri di tengah jalan sana sambil menatapku. Saat aku mulai berjalan kembali, bayangan itu mulai berlari di belakangku. Akhirnya, bayangan itu cukuk dekat denganku sehingga aku bisa melihat wajahnya.Ia adalah seorang badut. Riasan sedih bisa kau lihat pada wajah badutnya. Ia memakai mantel tipis dan topi yang lusuh, seperti seorang gelandangan. Caranya memandangku membuatku sangat ketakutan. Untuk beberapa saat aku berpikir, "Jika ia menangkapku, ia akan membunuhku."Aku ingin lari, tapi karena beberapa alasan, aku tidak bisa melakukannya. Kakiku terasa berat sehingga aku tidak bisa mengangkat kakiku. Hal yang bisa kulakukan hanya jalan di tempat. Badut itu semakin mendekat ke arahku. Saat aku melihatnya lagi, aku bisa melihat mata badut tersebut. Ia sedang menangis.Aku melihat sekolahku di kejauhan. Sebuah harapan muncul. Sesuatu berbisik padaku jika aku bisa ke sana sebelum ia menangkapku, maka aku akan selamat.Baru saja aku sampai di gerbang utama sekolah, aku menoleh untuk terakhir kalinya. Badut itu berada tepat di belakangku. Tangannya menyambar bahuku dan memutar tubuhku.Hal yang sangat menakutkan adalah wajahnya. Ia tidak marah sama sekali. Malahan, ia terlihat putus asa dengan tampang mengerikan. Air mata jatuh membasahi riasan di pipinya."Tertangkap kau!" katanya.Kemudian yang mengejutkanku adalah ia hanya melepaskanku dan berjalan pergi.Aku berdiri tercengang di sana. Bagaimana aku bisa menjadi bodoh? Aku ketakutan tanpa alasan. Aku mulai menertawakan diriku sendiri. Badut itu berhenti dan berbalik. Ia mengambil pisau berkarat dari sakunya dan memamerkannya di depan wajah."Kali kedua aku menangkapmu, akj harus memotongmu," katanya. "Ketiga kalinya, aku harus membunuhmu... Sampai jumpa lagi."Dengan pisau karatan itu, si badut mengusap air mata dari wajahnya dan melangkah pergi.Aku terbangun dengan keringat dinginSejak aku bermimpi tentang si badut, aku terlalu takut untuk pergi tidur. Selama berhari-hari, aku minum kopi dan coca cola karena putus asa untuk selalu terjaga. Aku tidak berani menutup mataku walaupun hanya sejenak. Aku takut aku jatuh tertidur... dan jika aku bermimpi, aku tahu badut itu akan berada di sana untuk menungguku.

Aku Ingin Pulang
Romance
16 Jan 2026

Aku Ingin Pulang

Namaku Tini, aku berusia 12 tahun. Aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakakku bernama Oka, dan adikku bernama Mina. Ibuku bernama Surti, seorang perempuan tangguh yang selalu tabah. Kak Oka adalah seorang pemuda kuat tak kenal lelah.Adikku Mina adalah seorang adik penyayang dan lembut usia nya baru 8 tahun. Ayahku? Ayah telah meninggal 2 tahun yang lalu, kecelakaan adalah penyebab kematian ayah, kami sangat terpukul oleh kepergian nya, karena ayah adalah tulang punggung, imam dan motivator keluarga.Setelah kepergian ayah, keluarga kami menjadi sangat sulit, jangankan membeli baju membeli sesuap nasi saja sangat sulit bagi kami. Hingga aku dan kak Oka harus pergi merantau ke ibukota untuk mencari nafkah bagi keluarga, ibu dan Mina tinggal berdua di gubuk reyot.Kakak ku berkerja sebagai penjaga toko orang, dan aku sebagai tukang cuci piring di tukang bakso agak jauh toko pemilik kakakku. Gaji nya lumayan, bila di kumpulkan dengan gaji kakak ku. Aku dan kakak tinggal di sebuah kontrakan kecil.Cukup untuk berteduh, setiap hari aku dan kakak selalu berdoa kepada sang kuasa agar kami selalu di lindungi dan di mudahkan rezeki.***"Kerja yang bener dong" bentak pak Dirman kepadaku, aku hanya menunduk dan mengucapkan kata maaf. Usia ku masih belia, bila harus mengerjakan pekerjaan ini, seiring bertambahnya pelanggan bakso Pak Dirman maka aku juga harus semakin cepat mengerjakan nya.Tak terhitung tetes keringat yang telah menjadi saksi bisu pengorbananku selama ini, tak apalah yang penting kebutuhan kami tercukupi. Aku membawa setumpuk mangkuk bakso menuju wadah yang telah di sediakan, bagiku membawa barang berat seperti ini sudah biasa ku lakukan toh aku sudah biasa membantu ibu di kampung.Perutku lapar, aku melihat ke arah meja para pelanggan pak Dirman banyak juga, mereka bercanda ria sambil berkumpul bersama membuat aku ingat keluarga di kampung. Ku pegangi perutku yang keroncongan, aku semakin lapar, ku usap keringat yang menetes, aku ingat dari pagi aku dan kakak memang belum sarapan.Ku langkah kan kaki ku, niat ku untuk minta izin kepada pak Dirman untuk pergi sebentar ke arah warung tempat kakak berkerja. Namun sebuah tangan menghentikan langkahku, aku berbalik dan melihat ke arah belakang.Seorang kakak cantik menggunakan kerudung berwarna hijau army tengah tersenyum ke arah ku. Aku melepaskan tangan kakak itu, aku ingat pesan ibu jangan cepat akrab dengan orang yang belum di kenal. Kakak itu tersenyum melihat tingkah ku, aku jadi merasa kikuk."Dek? namanya siapa? " tanya kakak itu seketika membuat aku sedikit lega, ternyata kakak ini ramah dan baik."Namaku Tini kak." Jawab ku di sambut senyuman oleh kakak itu,"Kakak siapa?" Tanya ku pada kakak itu. "Nama kakak Aisha, panggil aja kak Ica, kakak anak Pak Dirman dek." Ucap kakak yang bernama Aisha itu.Aku mengangguk, ternyata aku telah berprasangka buruk kepada kakak ini. "Adek udah makan?" Tanyak kak Ica membuat aku sedikit tertunduk karena malu, lalu ku gelengkan kepalaku.Kak Ica menarik tangan ku lembut dan membawa aku untuk duduk di sebuah kursi,"Pak, Tini belum makan." Ucap kak Ica membuat aku malu. Pak Dirman seketika melihat ke sumber suara,"Eh adek kok gak bilang, maaf ya dek bapak pelupa." Ucap Pak Dirman lalu membawakan aku semangkuk bakso yang seketika membuat aku semakin lapar.Tenyata pak Dirman memiliki sifat yang lembut, padahal awal nya aku mengira bahwa pak Dirman seorang yang jahat dan kasar, ternyata aku salah. Seketika aku santap bakso yang terhidang di depan ku, tanpa aku pedulikan kak Ica yang menatapku.Setelah bakso itu habis, aku mengucapkan terima kasih pada Pak Dirman, Pak Dirman pun memberi ku upah untuk kerja hari ini. Adzan Ashar berkumandang kak Ica mengajakku untuk shalat berjamaah di masjid terdekat aku pun akhirnya mengikuti ajakan kak Ica."Kakak ini ternyata baik dan salihah."***Pagi ini aku di antarkan kak Oka menuju warung bakso pak Dirman dengan berjalan kaki, betapa kaget nya aku saat melihat beberapa preman tengah mengacak warung pak Dirman.Mereka seperti sedang marah, aku tak melihat kak Ica, aku dan kak Oka hanya melihat Pak Dirman tengah berdebat dengan seorang preman bertubuh kekar. Kak Oka mendekati warung bakso pak Dirman dan menanyakan ada apa, tapi preman itu telah pergi karena warga sekitar mulai berkumpul dan meneriaki mereka.Aku dan kak Oka mendekati pak Dirman yang tengah mengusap dada, setelah di tanyakan ternyata preman tadi adalah adik pak Dirman sendiri nama nya Jaka. Ia meminta uang untuk berjudi, tapi karena pak Dirman menolak lalu Jaka marah dan akhirnya memporakporandakan warung Pak Dirman bersama dua anak buahnya.Kak Oka pamit untuk kembali ke warung, aku mulai bekerja pelanggan mulai ramai aku akui bakso pak Dirman memang enak. Waktu cepat berlalu terdengar suara adzan berkumandang, karena hari ini hari jumat Pak Dirman akan pergi ke masjid aku pun di tugaskan menjaga warung bersama Kak Ica yang baru saja datang."Dek kakak ke kamar mandi sebentar yaa " ucap Kak Ica saat aku masih sibuk dengan mangkuk kotor, aku menangguk. Baru saja kak Ica ke kamar mandi tiba tiba sebuah tangan membekam mulutku, aku tak bisa bernafas tiba tiba saja semua menjadi gelap.***Mataku perlahan membuka, aku dapat merasakan bahwa aku sedang berada di dalam sebuah mobil. Aku kaget di sampingku seorang preman sedang tidur, ia memiliki tubuh lumayan gemuk, di samping pengemudi seorang preman dengan jaket hitam tengah merokok.Dan aku sudah bisa mengira pasti pengemudi itu adalah Jaka adik pak Dirman, aku berusaha bergerak namun tangan dan kaki ku di ikat dan mulutku di tutupi kain. Seorang preman di sampingku melihat ke arahku aku langsung pura pura tidur, lalu mendengarkan apa yang mereka obrolkan."Buat apa si nyulik anak kecil?" Tanya Preman di sampingku. "Buat jadiin pengemis ntar kita ambil uang nya." Ucap Preman satu lagi, keringat dingin menetes aku takut, kakak, ibu. Aku masih memejamkan mataku.Deru mobil tak secepat jerit ku dalam jiwa aku takut kemana mereka akan membawaku? kak Oka aku takut kak, ibu aku takut, ayah Tini takut ayah, aku menangis dalam diam aku ingin pulang, aku ingin pulang ibu.***Aku tak tahu berapa puluh km yang di tempuh yang aku tau ini jauh. Sepanjang perjalanan aku tak henti nya berdoa, agar selalu di lindungi. Aku terus berpikir bagaimana caranya aku kabur dari mobil ini, aku ingin pulang menemui Kak Oka.Tiba tiba mobil berhenti aku yang pura pura memejamkan mataku kaget, jantungku berdebar keringat dingin mulai menetes. Aku di gendong oleh preman berbadan kekar yang aku tahu nama nya jaka, mereka membawaku ke sebuah rumah kosong bersama dua anak buahnya.Di sana aku dikurung di sebuah ruangan yang kotor, aku ketakutan aku hanya berdoa dan berusaha berpikir positif. Aku di ikat pada sebuah kursi dan akhirnya penutup mulut ku di buka, aku hanya memperhatikan 3 preman yang sedang berbincang, aku takut. Tiba tiba Jaka menghampiri ku,“Siapa nama mu?" Ucap nya bersamaan dengan keluarnya aroma asap rokok dari napas nya.Aku gemetaran, bibirku kaku, darah di tubuhku seperti mendadak berhenti. Jaka tiba tiba mengangkat daguku.“Kau bisu?" Tanya nya, seketika aku langsung menggeleng. “Jawab pertanyaanku!" Bentak nya membuat aku semakin takut “Namaku Tini." Ucap ku secepat kilat wajah ku menunduk aku takut,air mata mengalir, aku ingin pulang.Jaka lalu membuka ikatan tangan dan kaki ku, lalu memberi ku sebungkus nasi.“Makanlah " ucap nya lalu mereka keluar. Aku melihat sekeliling ruangan ini tidak lah luas, tapi cukup untuk tidurku malam ini. Aku menemukan sebuah tikar dan menggelar nya, ruangan ini berdebu dulu ibu sering mendongeng kan aku sebuah kisah yang membuat aku tertidur pulas.Sekarang aku jauh dari ibu, bahkan aku tak tahu di mana aku sekarang, aku ingat Mina dia yang selalu tersenyum dan menguatkan aku, aku ingat kak Oka yang selalu melindungiku, ayah yang selalu memberi aku nasihat, aku rindu mereka. Ku simpan nasi bungkus tadi, rasa nya aku tidak lapar, ku baring kan tubuh ku di tikar tadi, aku menangis aku ingin pulang menemui kak Oka.Aku berpikir mungkin sekarang kak Oka,Kak Ica dan pak Dirman tengah mencari ku, aku berharap semoga aku bisa secepatnya pulang.***“Heh bangun." Seseorang mengguncang kan tubuh ku, aku seketika terbangun dan mendapati seorang preman yang tak aku ketahui nama nya. “Udah siang masih aja tidur, cepetan cari duit." Ucap nya, aku bingung.“Saya harus kerja apa?" Tanya ku tanpa berani menatap wajah nya.“Ngamen atau ngemis" ucap nya lalu ia mengeluarkan sebuah perban,“Aku tak sakit apapun om." Ucapku menolak saat Ia akan membungkus lututku. “Kamu ini tak punya otak! Ini agar orang orang kasihan sama kamu, jadi kamu bisa dapet uang banyak." Ucap nya lalu langsung membungkus kaki ku. "Kau pura pura pincang." ucap nya lalu mendorong tubuhku dengan kasar menuju pintu keluar.Saat aku baru saja akan keluar “Tini, tunggu!" Suara kasar Jaka terdengar aku melihat ke sumber suara, Jaka membawa seorang anak laki laki seusia ku membawa sebuah ukulele tua. “Ajak Rio, jangan pernah berusaha kabur!" ucap Jaka kepadaku,ku lihat Rio dengan baju lusuh dan wajah kumal nya, aku sudah bisa membayangkan dia pasti sudah lama mengamen di jalan.Aku langsung menggandeng tangan Rio dan pergi dari tempat itu menuju pasar yang dekat dengan daerah sini. “Namamu siapa?" Tanya Rio saat bening menuju pasar, aku menoleh ke arah nya.“Tini "ucap ku sambil mengulurkan tangan.Kami mengamen di pasar, Rio yang memetik ukulele dan aku yang bernyanyi, rasanya lelah tapi tak apa dari pada aku meminta minta lebih baik aku menyanyi dan berusaha. Sepulang dari pasar aku dan Rio berlarian menuju rumah kosong, Jaka menghampiri kami lalu mengambil uang kami, kami hanya pasrah lalu Jaka memberikan kami nasi bungkus. Hari hari itu terus berjalan,termasuk pertemanan ku dengan Rio.***Suara adzan Subuh terdengar, aku tak tidur aku hanya menangis aku rindu pada keluargaku sudah berbulan bulan aku tak pulang, apakah mereka tahu aku di culik?Rio berbaring di sampingku aku tahu dia tak tidur, Rio bangun dan melihat ke arahku.“Tini berhentilah menangis, nanti aku bantu kau agar cepat pulang." Ucap Rio membuat aku berhenti menangis.Rio tiba tiba bangun dan melihat ke luar lewat jendela,aku hanya diam memperhatikan.“Tini kemarilah." Ucap Rio tanpa melihat ke arahku,a ku seketika berlari ke arahnya.Di luar ada mobil bak yang sedang terparkir,“Itu adalah mobil pak Zainal biasanya pak Zainal mengantarkan barang ke pasar di daerah Jakarta Selatan tapi aku tak tahu pasar apa, kau bisa ikut." Ucap Rio membuat aku tersentak, tiba tiba aku ingat pernah pergi ke pasar bersama kak Ica dan pak Dirman, aku berharap semoga pasar itu.Tapi aku tak bisa membayangkan bila aku pergi pulang, pasti Jaka marah pada Rio tapi Rio meyakinkan aku bahwa semua akan baik baik saja, Rio mengatakan bahwa Ia juga akan berusaha kabur dari tempat terpencil ini.Aku berusaha ke luar melewati jendela di bantu oleh Rio saat aku telah melewati jendela aku menatap Wajah Rio ku lihat ada titik kesedihan di sana, namun Rio masih bisa tersenyum pada ku aku berjalan perlahan menjauhi rumah kosong itu dan kembali melihat ke arah Rio dia masih tetap tersenyum meyakinkan aku.Aku menyelinap dan menaiki mobil bak pak Zainal, beruntungnya mobil ini ditutupi terpal hingga aku bisa bersembunyi di bawahnya saat aku akan melambaikan tangan ke arah Rio, aku melihat Jaka datang ke rumah itu dan mendobraknya, aku pun menunduk karena Jaka melihat ke arah mobil ini.Mesin mobik di nyalakan lalu mobil ini melaju menjauhi rumah kosong itu, aku melihat sebentar memandangi rumah kosong itu,bada rasa sakit saat mengingat betapa Rio baik pada ku, aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi agar bisa membalas kebaikan Rio ibu... Tini pulang.***Mobil berhenti menandakan bahwa mobil ini telah sampai di pasar, aku segera ke luar sebelum pak Zainal mengetahui keberadaan ku, tapi saat aku baru akan berlari sebuah tangan menangkap tanganku.Aku melihat ke arah nya ternyata itu pak Zainal, aku takut dia marah.“Tunggu nak" ucap nya aku hanya tertunduk, Pak Zainal lalu memandang Wajah ku,“Kau Tini bukan?" Tanya nya lalu aku mengangguk “Dirman sudah lama mencari mu,mari saya antarkan." Ucap pak Zainal.Aku duduk di samping pak Zainal, ternyata pak Zainal adalah teman pak Dirman, aku beruntung bisa ikut dengannya. Mobil pak Zainal berhenti di warung bakso Pak Dirman, tak banyak perubahan aku lalu di gandeng oleh pak Zainal.Lalu aku dapat melihat kak Ica yang sedang melayani pelanggan, kak Ica melihat ke arahku lalu kak Ica tampak kaget dan berlari menghampiriku. “Tini kamu kemana aja?" Tanya kak Ica lalu memelukku, aku menangis tak bisa bicara, rasanya aku sudah lama tak di peluk kak Ica.Pak Zainal izin pergi, lalu aku di ajak kak Ica untuk menemui pak Dirman yang katanya sakit, aku di ajak kak Ica memasuki sebuah kamar di sana ada kak Oka yang sedang mengobrol dengan pak Dirman.Kak Oka kaget lalu menghampiriku,memelukku sangat erat. “Tini kamu dari mana? kakak khawatir, ibu di kampung juga khawatir." Ucap kak Oka, aku menangis bahagia akhirnya aku bertemu dengan kak Oka.Ku lihat pak Dirman, tampak lemah kak Ica mengatakan bahwa Pak Dirman sakit aku menyalami pak Dirman,aku rindu.***Akhirnya aku bisa pulang kampung,aku rindu ibu dan Mina aku juga sudah menceritakan semua yang aku alami, kak Ica marah pada Jaka sekarang Jaka dan kedua anak buahnya sudah di penjara,aku lega. Tapi ada hal yang kurang, Rio. Di mana Rio?aku bahkan tak mendengar kabar tentang nya lagi, di mana dia? Aku sepertinya merindukan dia.Banyak hal yang tak aku ketahui karena penculikan itu, salah satunya adalah tentang hubungan kak Oka dan kak Ica yang sebentar lagi akan menuju jenjang yang lebih serius.Hampir setiap malam aku merenung, melihat purnama yang biasanya aku pandangi bersama Rio, hmm aku rindu Rio. “Tini " panggil Ibu dengan lembut, lalu aku menghampiri ibu, ibu menarik ku menuju ruang tengah.Betapa kaget nya aku, saat melihat Rio bersama pak Zainal, aku lalu lalu menyalami mereka lalu kami semua berkumpul dan mengobrol, termasuk kak Ica dan kak Oka. Aku baru tahu ternyata sekarang pak Zainal mengangkat Rio menjadi anak nya, aku ikut bahagia mendengarnya.Apalagi kabar tentang Kepindahan pak Zainal dan keluarganya ke kampungku, berarti Rio juga kan, aku bisa bermain dengan Rio setiap hari, terimakasih Ya Allah.“Tini?." Ucap Rio saat aku sedang duduk di teras, ku lihat Rio dia lebih rapih kami pun berbincang tentang hari baru yang akan datang, ahh Rio ternyata dia juga merindukanku.***end.

Aku Ingin Seperti Wulan
Romance
16 Jan 2026

Aku Ingin Seperti Wulan

“Wulan kesayangan mama" Ucap mama sambil mengecup lembut kening Wulan yang berdiri tepat di sampingku, aku ikut terseyum. Kenapa? ya aku bahagia, manusia mana yang tak merasa bahagia saat melihat adik kita dan mama kita yang tampak saling menyayangi.Aku Maira anak sulung dari ibuku yang bernama Regina, papa ku bernama Jordan dan adik perempuan ku bernama Wulan. Aku sangat merasa beruntung memiliki keluarga dan aku sangat menyayangi mereka, sangat menyayangi meski ada luka yang timbul dan rasa sakit.Usia ku dan Wulan beda satu tahun, aku 6 tahun dan wulan 5 tahun sangat tipis. Hingga aku harus bisa lebih dewasa meski umur kita hampir sama.***Aku sedang mengerjakan PR di kamar tidur memang aku satu kamar dengan adikku hanya saja di batasi oleh gorden di antara tempat tidurku dan Wulan, aku tak tahu karena apa.Tiba tiba terdengar ketukan di pintu aku dan Wulan segera berlari menuju pintu kamar kami memang di batasi gorden tapi berada di ruangan dan pintu yang sama.Karena tubuh Wulan tak bisa menggapai gagang pintu maka aku yang membuka kan, pintu terbuka terlihat mama membawa dua gelas susu untukku dan Wulan.Aku menerima gelas yang pertama dan Wulan yang berada di sampingku di beri gelas satu nya lagi. Mama menggandeng Wulan menuju tempat tidurnya, aku hanya diam melihat dari arah pintu dengan gelas susu di tanganku.Mama mengecup kening Wulan lalu memeluk nya, seingat ku mama tak pernah memperlakukan aku seperti itu. Mama ku tak pernah mengecup kening ku saat menjelang tidur ku. Sedangkan Wulan selalu.Mama tak pernah menggandeng tangan ku, sedangkan Wulan selalu. Mama tak pernah memelukku, sedangkan Wulan selalu. Mama tak pernah menatapku dengan kasih sayang, apa aku jijjk? Mama tak pernah tersenyum padaku, apa aku nakal? Mama tak pernah menggendong ku sedangkan Wulan selalu.Mataku memanas, aku tahu aku sudah terbiasa dengan perlakuan mamaku, aku sudah terbiasa melihat mama yang selalu mendahulukan Wulan di banding aku, aku sudah terbiasa. Mama pernah bilang “Maira kamu harus bersikap dewasa, kamu ini kakak maka jaga adik mu baik baik." Saat Wulan menangis karena berebut boneka panda.Padahal itu boneka ku, aku ingat boneka pemberian mama saat ulangtahun ku aku tahu mama tahu bahwa itu boneka ku, aku tahu mama selalu mendahulukan Wulan, aku tahu.Waktu itu aku hanya menunduk lesu, ucapan mamaku yang setajam pedang telah berhasil menusuk batinku hingga membuat air mataku menetes membasahi pipi ku, aku tak bisa melawan mungkin memang begini.Aku tak bisa apa apa, bahkan papa tak pernah melerai bila mama sedang memarahiku, aku ingin seperti Wulan aku ingin di diistimewakan, aku butuh nasihat bukan kemarahan mama setiap hari, aku hanya anak kecil yang membutuhkan kasih sayang kedua orang tua. Bukan menjadi sasaran kemarahan, aku ingin seperti anak anak di luar sana yang tertawa di pelukan mama papa, aku ingin di kasihi, apakah salah? aku adalah seorang anak dan mereka adalah keluargaku, aku memiliki hak untuk di cintai dan di sayangi bukan hanya Wulan. Aku butuh keadilan aku ingin seperti Wulan dan anak anak di luar sana, mama papa.***“Dorrrr" Teriakan seseorang membangungkan aku yang Tadi nya masih pulas dengan untaian mimpi tidurku. Dengan berat sangat berat ku lihat Wulan dengan kostun panda membawa kue dan terlihat lilin dengan angka 17.Aku tersenyum ternyata sekarang hari ulangtahun ku.“Happy birthday to you happy birthday to you happy birthday happy birthday happy birthday to...youuu." suara Wulan yang agak cempreng ini membuat aku tersenyum lalu memeluknya dengan penuh haru. Aku bahagia sekarang umurku telah 17 tahun sekarang mungkin aku akan lebih dewasa lagi.“Happy birthday kakak." Ucap Wulan lagi, aku hanya mengeratkan pelukan ku. Mataku melihat ke sekeliling kamar tak ada mama maupun papa, mungkin mereka masih tidur kerena jam memujukan pukul 00.02 pagi.Wulan mendekatkan kue ulangtahun ku, lalu aku memejamkan mata untuk berdoa. “Tuhan, aku hanya ingin mama papa selalu ada untukku, selalau menyertai jalan ku, aku ingin selalu berada di samping Wulan mama dan papa, aku ingin memeluk papa dan mama seperti apa yang mereka lakukan terhadap Wulan, Tuhan aku ingin di hari ulangtahun ku ini mama dan papa selalu ada." Tanpa ku sadari air mata menetes.Ada rasa perih dan kecewa, padahal waktu ulangtahun Wulan mama dan papa selalu ada membawa kue dan kado, sedangkan ulang tahun ku?hanya ada Wulan, tapi aku bahagia apapun jalan dan keadaan nya semua adalah yang terbaik, aku harap.***Suara sendok terdengar di ruang makan, aku hanya diam menikmati sarapan rasanya hambar. “Mama papa," ucap Wulan tiba tiba. Mama dan papa seketika menoleh,“Iya sayang.""Hari ini kak Maira ulangtahun ke 17 aku ingin kita makan atau jalan jalan ke luar merayakan nya" ucap Wulan membuat aku sedikit tersedak. Beberapa saat hening, tak ada respon dari mama maupun papa,“Ouh kau sudah besar ya." Ucap papa dengan seyuman, aku tahu senyuman yang di paksakan.Aku tersenyum padahal rasanya ingin sekali aku menangis,“Menurut mama tak usah," ucap mama tiba tiba, rasanya sekarang mata ku semakin memanas. “Ulangtahun itu kan mengurangi umur, tak usah merayakan harus nya sedih karena umur Maira berkurang apakah ini harus di rayakan?" Ucap mama tanpa menoleh ke arah ku.Aku berlari ke luar,“Maira !" Teriak papa membuat langkah ku terhenti. “Mau kemana kamu? tak sopan meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan sarapan mu" Air mataku mengalir deras, sakit rasanya di perlakuan seperti ini oleh papa ku sendiri.Aku menangis “Anak yang tak punya sopan santun." Lanjut mama, aku berlari kini benar benar berlari ke luar, aku ingin pergi.Mama papa apakah menurut kalian aku tak punya sopan santun? memang aku anak yang tak memiliki sopan santun, aku tahu aku nakal aku tak tahu mengapa kalian bertingkah seolah merasa jijik padaku, aku memang tak pernah di ajari sopan santun, aku hanya diam dan memperhatikan saat kalian mengajari Wulan hanya wulan sedangkan aku tak pernah.Aku berjalan menuju toko es krim mungkin mood ku akan kembali membaik aku berharap begitu. Tiba tiba ponselku bergetar menandakan ada panggilan yang masuk, ternyata Wulan.“Wulan?" Tak terdengar apa apa, hanya ada isak tangis di balik telepon aku khawatir. “Wulan? kamu menangis? kenapa?" Ku tanya kembali tapi tangisan itu semakin menjadi jadi.“Wulan di marahi mama dan papa karena Wulan tak terima bila mama dan papa terus saja memarahi kak Maira,Wulan kabur dari rumah Wulan ingin mencari kak Maira, kak maira di mana?" Ucap Wulan membuat aku kaget.“Tak usah Wulan, tak usah kembalilah ke rumah temani mama dan papa, biar aku saja yang pergi." Ucap ku dengan nada bergetar.“Wulan tak mau kak, Wulan ingin bersama kakak, kakak jangan pergi jangan tinggalkan Wulan, Wulan tak mau sendiri." Ucap Wulan sambil terisak.“Wulan, kakak mohon, kembali mama dan papa akan sangat sedih, kamu masih kecil Wulan, kakak sudah dewasa tak perlu mengkhawatirkan kakak, kakak baik baik saja, kembali lah tinggal bersama mama dan papa mereka lebih menyayangi mu, mereka lebih membutuhkan mu, mereka lebih mengharapkan kepulangan mu Wulan, kakak mohon kembali demi kak Maira." Ucap ku menahan tangis, air mata ku pecah aku tak kuat lagi menahan perih.“Wulan sudah besar kak, kita hanya beda satu tahun kita bersaudara, kak Wulan sedang di jalan cepatlah katakan kakak ada di mana? biar Wulan dapat menemui kakak," ucap Wulan.Aku bungkam, tak ingin katakan apa pun, aku tak ingin Wulan pergi menemui ku aku tahu pasti mama dan papa akan sedih bila Wulan pergi meninggalkan mereka, aku tak ingin itu terjadi.“Ayoo kak cepat" desak Wulan. Aku masih diam, karena bingung. “Kakk cepat.." desak Wulan kembali,“Wulan mohon" “Aaaaaaaahhhhhh" terdengar jeritan Wulan di balik telepon bersamaan dengan suara benda terbentur keras di ujung perempatan tepat di depan mataku, mobil itu...mobil itu..“Wulan!!!!!!"Aku berlari menuju jalan yang mulai ramai dengan orang orang, baru saja terjadi kecelakaan. Aku berlari hatiku gusar, aku takut. Tuhan lidungi Wuan, saat aku sampai ku lihat, mobil yang ringsek karena bertabrakan dengan mobil bak dari arah berlawanan. Aku kenal mobil ini, ini mobil papa, aku ingat plat nomor papa, aku menerobos orang orang yang menjerit karena ketakutan.Lari ku semakin cepat dan aku melihat Wulan dengan kepala berlumuran darah "Wulan!!!" Jeritku. Aku segera memeluk Wulan, menjerit jerit sejadi nya, ini salah ku, andai saja aku tak kabur dari rumah mungkin Wulan takkan ikut menyusulku, mungkin saja Wulan takkan kecelakaan, andai saja tepat di hari ulang tahunku aku sudah mati mungkin semua nya takkan seperti ini, mama papa, Wulan maafkan aku.***Aku berjalan mondar mandir menunggu papa dan mama, aku tak henti menangis dan berdoa agar wulan baik baik saja. Keringat dingin bercucuran, aku takut sesuatu akan terjadi, andai saja aku bisa bertukar peran dengan Wulan, andai saja aku bisa menggantikan posisi Wulan saat ini, aku rela.Derap langkah perlahan mendekat ke arah ku, ku lihat mama dan papa, mama tak henti menangis dan papa terlihat sangat tegang. Aku berlari ke arah mama ingin menceritakan apa yang terjadi, namun.PlakUntuk kesekian kali nya, mama menamparku aku memegangi pipi kanan ku, rasanya perih bercampur pilu, aku semakin menangis. "Mama maaf." Ucap ku sambil tertunduk."Bila maaf mu bisa membuat Wulan kembali membaik, mungkin terdengar sedikit berguna." Ucap mama, aku tertunduk. "Kau ini tak tahu diri Maira." Ucap papa dengan nada berapi api.Aku diam sebenarnya aku tak mengerti apa pun"Kamu ini bukan anak kandungku." Jerit mama, aku terbelalak kaget. "Kamu ini hanya anak pembawa sial, pergi kamu, kamu telah membuat Wulan terluka." Jerit mama lalu mama pingsan.Aku menangis menutup wajah ku dengan kedua tangan ku, rasanya semua sangatlah menyakitkan, dunia ini tak adil, di mana keadilan?baku ingin lenyap sekarang juga dari dunia ini.Aku merasa bahwa aku adalah mahluk terkecil dan termalang. Kaki ku tak kuat menahan berat badan ku, aku duduk di lantai sendirian, bahkan saat seperti ini tak ada satupun manusia yang peduli dengan ku, apa kah benar aku anak pembawa sial?Aku tetunduk lesu, pantas saja mama dan papa selalu membedakan aku dan Wulan ternyata aku bukan anak kandung mama, harus nya aku bersyukur masih ada orang lain yang mau merawatku meski awal nya aku mengira bahwa orang itu adalah orang tuaku, harusnya aku tak berfikir ingin seperti Wulan karena aku berbeda, mama kamu bukan mamaku.***Aku sekarang telah tahu semua nya, tentang ibu dan papa, tentang semua hal yang selalu aku tanyakan pada diriku semenjak aku kecil. Papa merangkul ku mengucapkan beribu maaf, aku hanya bisa diam, papa menceritakan semuanya aku tak henti nya menangis.Ibu kandungku bernama Amira, seorang gadis cantik yang menjadi kembang kampung, bpapa dulu sangat menyukai ibuku, sudah berulang kali papa mengucapkan semua nya pada ibuku.Namun Ibu ku terus saja menolak, membuat papa bingung padahal papa juga tahu bahwa ibuku juga menyukai papa, lama lama ibuku mulai menjauhi papa, mulai saat itu papa sangat gusar.Papa pun menanyakan semuanya pada kedua orang tuanya, tepat nya nenek dan kakek ku. Mereka ternyata telah menjodohkan papa dengan seorang gadis, papa awal nya berontak tak ingin menikahi gadis yang sama sekali tak ia kenali.Namun semuanya terlambat, kedua orang tuanya ternyata telah menjodohkan papa dan gadis itu semenjak bayi. Papa hanya pasrah, Amira ibuku juga telah meinggalkan nya, mungkin ibuku tak menyukai papa, fikir papa saat itu.Hingga pernikahan megah pun di gelar, papa akan menikahi seorang gadis yang bernama Regina, saat pernikahan akan di langsungkan papa kaget saat melihat ibuku, ibuku sedang duduk di samping orang tua Regina.Setelah di tanyai ternyata papa akan menikahi kakak dari ibuku, Regina. Awalnya papa ingin membatalkan pernikahan ini, namun Ia tak ingin membuat kedua orang tuanya malu hingga berlangsung lah pernikahan ini.Saat malam pertama pernikahan, papa kabur dari rumah, papa pergi menuju diskotik dan bermabuk mabukan di sana. Waktu telah menujukan tengah malam, papa pulang dengan keadaan mabuk hingga tanpa sadar telah melakukan hal yang buruk kepada ibuku.Regina kakak ibuku marah pada ibuku, hingga Regina membenci ibuku. Ibuku hamil, mengandung aku, saat itu ibu sering melamun dan berfikir untuk menggugurkan kandungan nya,namun nenek ku yang sabar selalu menguatkan ibuku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja.Saat ibu menjerit menangis papa hanya bisa melihat dari jauh, dengan rasa bersalah. Aku pun dilahirkan, ibuku mengecupku dengan lembut, saat itu ada Regina dan papa ku, namun Regina tak suka bila papa mengakui bahwa bayi itu adalah anak nya.Setelah aku berusia satu bulan, ibuku stres, sering melamun dan kadang menyakiti ku, orang orang mengatakan bahwa ibuku gila.Ibu sering tertawa sendiri dan menangis, hingga membuat nenek khawatir, suatu hari Regina berniat membawa ibuku ke rumah sakit jiwa. Namun nenek menolak, ibuku juga tak mau,nia mengatakan bahwa ia tidak gila, ia tidak gila.Suatu hari, tanpa sepengetahuan ibuku mengembuskan nafas terakhir, karena penyakit jantung nya telah menyerangnya. Itu menimbulkan luka terdalam bagi keluarga terutama nenek dan papaku.Karena merasa aku adalah tanggung jawabnya papa bersedia merawatku , namun tidak bagi Regina. Nenek ku membujuk agar Regina mau merawatku , dan mengaggap nya sebagai anak nya, namun Regina terus menolak dengan alasan bahwa Ia sedang hamil saat ini. Namun papa juga membujuk Regina, hingga akhirnya Regina menyetujui semua nya.Akhirnya aku tinggal bersama papa kandungku dan kaka dari ibukub ,dan adikku adalah anak dari Regina dan papa. Wulan adalah anak dari mama dan papa. Sudah jelas, sekarang aku tahu, papa ku tetaplah papaku .***"Maafkan papa sayang, ini semua karena papa." Ucap papa sambil memelukku. Aku terisak, batinku menjerit tak ada siapapun yang bisa mendengar selain Sang Pencipta.Hari itu ayah mengajakku untuk mengunjungi kuburan Ibu dan nenek. Aku sangat bersemangat aku ingin bertemu dengan mereka, namun aku tak bisa, hanya bisa membaca nama mereka di batu nisan. Hari itu terasa sangat pilu, aku memeluk batu nisan ibuku, yang berdampingan dengan kuburan nenek.Ibu, andai ibu masih ada di sini, Maira ingin memeluk ibu, Maira ingin menceritakan betapa Maira berat menjalani hidup tanpa seorang ibu kandung, Maira ingin tertawa bersama ibu seperti Wulan dan mamanya, belasan tahun lamanya Maira hudup di dalam rasa sakit dan penasaran, rasa tidak adil, Ibu.. Maira ingin merasakan kasih sayang seorang ibu dalam hidup Maira. Namun Maira tak bisa, ini semua adalah ketetapan Sang Pencipta Maira dan Ibu mungkin memang harus begini, harus terpisahkan oleh takdir, Maira harus kuat, Maira akan tetap kuat menjalani hidup, tanpa Ibu. Maira rindu bu.Aku menjerit dalam diam ku, rasanya aku rapuh, namun perjalanan hidupku masih panjang, aku hanya perlu berdoa dan berusaha agar Sang Pencipta memberikan aku kemudahan.***"Regina tunggu, tolong dengar penjelasanku." Ucap papa sambil menahan mama yang akan pergi dari rumah. Aku hanya mematung melihat pemandangan yang sangat memilukan,bagaimana mungkin keluarga Wulan bisa hancur karena kehadiran ku di antara mereka?aku tau aku bukanlah bagian dari mereka."Mama, maafkan aku." Ucapku sambil memohon memegangi kakinya, papa membangunkanku agar aku berdiri. "Maira sudah." Ucap papa lirih,aku menangis sesenggukan, aku ingin pergi saja. "Pa, Maira lebih baik pergi maafkan Maira yang telah membuat keluarga papa berantakan."Aku mencium tangan papa."Pergi saja, tak ada siapapun yang menginginkan kehadiranmu di keluarga ku." Ucap mama dengan mata pedang yang berhasil meluluhkan air mata yang dari tadi aku tahan. Papa memelukku,"Jangan Maira, keluarga ini adalah keluargamu juga kau tak usah pergi." Mama dengan kasar menarik tangan papa."Kau sudah mulai membela anak tak tau diri itu." Ucap mama, dengan kasar. "Berhenti Regina, inilah hal yang tak ku sukai darimu, kau kasar."Ucap Papa dengan suara lirih.Mama terdiam,"Padahal aku berharap kamu akan berubah menjadi lembut, tapi tak ada." Ucap papa denga mata menatap mama. "Katakan saja kau merindukan Amira, kamu masih mencintainya, aku mohon jangan membandingkan aku dengannya aku dan dia berbeda, dia sama tak tahu diri seperti Maira." Jerit mama lalu berjalan menuju pintu.Entah apa yang membuat aku berlari memeluknya dari belakang, aku tak ingin mama pergi, aku dapat merasakan mama yang mulai tenang, aku dapat merasakan kehangatan. "Pergi kamu!" Jerit mama lalu mendorong tubuh ku dengan kasar, aku kaget ku kira mama telah luluh."Jangan pernah menyentuhku!" Hardik mama, aku hanya menangis papa datang lalu membantuku untuk berdiri. Mama lalu pergi dengan membawa koper besar, aku menjerit menangis sejadi jadinya, aku tak ingin mama pergi.Papa memeluk erat seakan tahu sakit yang aku rasakan,"Mama hanya butuh waktu Maira." Ucap papa dengan lirih.air mataku semakin deras, aku harap.***"Satu dua tiga." Ucap papa sambil memegang kamera,yap hari ini adalah ulangtahun Wulan ke 17, aku sangat bahagia. Kami tidak penyelenggara pesta karena permintaan Wulan, semenjak Wulan kecelakaan mama menjadi lebih baik.Mama mulai dapat menerima keberadaanku di keluarganya, aku sangat bahagia, aku dan Wulan sekarang sudah memiliki kamar masing masing. Bukan karena ada sesuatu, tapi karena kami sudah dewasa, rumah yang kami tempati juga sudah di renovasi. Itu juga permintaan Wulan, alasan nya karena Wulan selalu merasa sedih saat mengingat di mana aku di perlakuan tidak adil.Aku bersyukur atas semua nya, terimakasih Sang Pencipta, atas segala kehendak dan takdirmu, aku mungkin takkan bisa sebahagia ini, terima kasih atas nikmat mu. Ku ucapkan kembali aku sangat bahagia memiliki keluarga seperti mereka, Mama papa dan Wulan.***end

Itu Bukan Aku
Romance
16 Jan 2026

Itu Bukan Aku

Aku melihatmu, kamu tengah bermain bola voli bersama teman temanmu, terlihat jelas keringat mengucur dari pelipis mu, aku dapat melihat betapa kau sangat menyukai olahraga itu, setiap sore bahkan kamu dan teman mu tak pernah absen untuk bermain bola voli, begitu pun aku yang tak pernah absen memandangi mu di pinggir lapangan tanpa kamu sadari.Tanpa kamu tahu aku cemburu pada bola voli yang selalu kamu perhatikan kemanapun dia melambung, sedangkan aku? tak kamu lihat bahkan tak sempat kamu lihat, tapi tak apa aku sadar aku siapa, bukan seseorang yang penting untuk kamu perlakukan spesial.Tapi tanpa kamu tahu setiap menjelang tidurku, aku selalu berdoa kepada yang Pencipta agar kamu selalu bahagia, agar kamu selalu ada di pandanganku, aku tak pernah berdoa agar kau mencintaiku karena cinta adalah ketulusan, bila kamu di ditakdirkan mencintaiku tanpa ku pinta pun aku yakin kamu akan mencintaiku.***Hari ini adalah hari rabu, jadwal kelasmu untuk olahraga, dan sekarang adalah jadwal bagiku untuk ke perpustakaan mengembalikan buku yang telah selesai aku baca.Aku berjalan di samping lapangan, karena jalan menuju perpustaan berada si samping lapangan, aku tak berani menatap mu, aku tak mau kau tahu, jadi ku tundukan saja wajah ku menatap kedua sepatuku.DukAku terjatuh, karena tiba tiba sebuah bola voli mengenai kepalaku, ku pegang kepalaku, sebuah tangan mengelus kepalaku aku mendongak kan kepala ku lihat kamu sedang mengelus kepalaku.Aku bangun dan memberskan buku yang berserakan, "maaf " Ucap mu dengan wajah tak bisa ku artikan, aku hanya tersenyum "Tak apa."Kamu memperhatikan wajah ku entah apa yang kamu pikirkan saat itu,"Aku tak mengenal mu, nama mu siapa?" Aku mematung ada rasa sakit dalam hatiku, kamu sama sekali tak mengenal ku "Aku Jeanneta."Kamu kemudian tersenyum membuat hatiku tak karuan,"Nama yang bagus. kamu kelas X Ipa 2 kan?" Aku hanya mengangguk "Perkenalkan namaku Bintang." Ucap mu sambil mengulurkan tangan, aku menerima uluran tangan dan bersalaman dengan mu.Sebenarnya aku sudah tahu namamu, namun aku berpura pura saja. Suara sorakan dan siulan teman mu dilapangan membuat aku malu dan pergi meninggalkanmu yang entah sedang apa aku tak berani menatap matamu sekarang.***Kelas begitu ramai, aku sangat kesal. Jamkos telah membuat mood ku tak karuan, di sampingku Sindi sedang membaca buku novel yang begitu tebal. Sindi adalah teman ku, sahabat dan juga seperti sepupu bagiku. Karena kedua orang tuaku bekerja di luar kota aku di tinggal sendiri, tadi nya aku ingin ikut ke luar kota dan bersekolah di sana, tapi aku tak mau akhirnya aku mengajak Sindi tinggal bersama ku, kedua orang tua nya telah meninggal.Aku berjalan menuju kantin,"Jean?" Aku berbalik dan melihat Sindi yang berlari mengejarku. "Ke kantin kok gak ajak ajak" ucap Sindi, lalu kami berjalan menuju kantin.***Aku tengah memandangimu tanpa berkedip, aku heran bagaimana mungkin kau menyukai olahraga voli? Keringat menetes melewati kening mu,kau tampak lelah. Andai saja aku adalah seseorang yang spesial di hidupmu, mungkin aku akan menghampiri mu dan memberi mu air minum.Namun aku tahu diri, aku bukanlah seseorang yang pantas untuk itu, kau tampan dan aku tidaklah cantik. Aku selalu berfikir tak mungkin kau mau bersanding dengan ku karena tak mungkin bagiku. Aku tahu banyak gadis yang menyukaimu, bukan hanya aku.aku mungkin hanya sebagian kecil dari mereka.Setiap malam aku selalu ingat padamu, mesti tak mungkin kau ingat padaku, gila nya aku bahkan sering tidur awal hanya untuk secepatnya melewati waktu malam yang menurutku menyebalkan. Mengapa? itu ku lakukan karena aku terlalu ingin bertemu dengan mu, aku tahu aku bodoh dan berlebihan, aku lupa bercermin siapa aku dan siapa kamu.Aku sangat ingat hari itu adalah hari selasa, Sindi dan aku berjalan menuju kantin, kamu tiba tiba datang aku seperti merasakan kupu kupu yang beterbangan di perutku.Rasanya aku bahagia sekali waktu itu, ketika kamu duduk bersama aku dan Sindi, aku tertawa lepas bersamamu sebelumnya tak pernah membayangkan bila hal seperti ini akan terjadi, hari itu adalah hari terindah bagiku. Hingga waktu itu tiba, kau sering menghabiskan waktu bersama. Aku semakin yakin bahwa kau juga mempunyai perasaan yang sama.Suatu hari saat kau telah selesai olahraga voli, kau menghampiri ku membuat aku salah tingkah "Jeanneta, aku ingin berbicara sesuatu dengan mu, nanti kita bertemu di cafe aku akan menjemput mu" Ucap mu di kemudian tersenyum aku pun mengangguk tanda setuju.Malam itu kau akan menjemputku untuk membicarakan sesuatu, aku tak tahu apa itu, aku tak sabar. Semua baju di lemari telah aku keluarkan aku mencari baju yang terbaik hanya untuk malam ini, malam pertama pertemuan kita setelah sekian lamanya aku idamkan. Kamu datang dengan motor kebanggaan mu aku naik kemudian sangat sangat menikmati duduk di berboncengan dengan mu, demi apapun saat itu aku sangat bahagia.***"Jeanneta aku rasa kita sudah akrab lama ,dan aku sangat mempercayai mu." Ucap mu malam itu, jantungku berdetak tak karuan menahan gejolak rasa. Aku diam dengan senyuman yang tak ku sadari, kamu menghembuskan nafas berat, aku diam menunggu kamu melanjutkan kata kata mu."Kau adalah wanita pertama yang mungkin akan terkejut" ucap mu, membuatku semakin penasaran. Aku tertawa mendengarnya,"Katakan saja jangan berteletele seperti ini." Ucap ku.Kamu tersenyum "Aku sebenarnya sudah lama ingin mengatakan ini namun, dulu aku belum terlalu yakin kamu adalah orang yang tepat, namun setelah aku mengenalmu aku yakin kau adalah orang yang tepat." Aku diam dengan detak jantungku yang tak karuan."Kau tahu Jeanneta?" Tanya mu membuat aku bingung, lalu aku menggeleng dengan rasa penasaran yang membucah. "Aku menyukai Sindi." Aku membeku diam dan melihat dirimu yang tersenyum dengan sumriangah, ada rasa sakit dalam hatiku."Aku ingin kamu membantuku untuk mendekati Sindi." Ucap mu, aku masih diam perlahan mata ku memanas ingin sekali aku menangis, namun itu tak mungkin. Aku tersenyum meski itu di paksakan,aku berharap ini mimpi, aku harap ini mimpi buruk dan agar aku segera bangun.Namun semuanya tampak nyata sangat nyata, hatiku sakit kamu yang selama ini aku sukai ternyata telah menyukai seeorang dan ternyata seseorang itu adalah sahabatku sendiri, Sindi.Aku mungkin hanya daun gugur yang tak di ketahui keberadaannya, mungkin aku tak terlihat tapi sepertinya bukan tak terlihat tapi kau yang tak mau melihat ku, melihat perjuangan ku dengan luka dan sakit, aku tau mungkin bola voli yang kau banggakan akan tergantikan dengan kedatangan Sindi ke hidupmu, padahal aku berahap itu adalah aku ,hahha aku terlalu banyak menghayal.***end

Siapa Gadis Manis itu?
Romance
16 Jan 2026

Siapa Gadis Manis itu?

Hujan lebat mengguyur sekolahku, petir menyambar menyisakan cahaya kilatan petir. Lorong sekolah telah kotor dan basah karena jejak sepatu siswa siswi yang berlalu lalang. Aku berjalan tak tentu arah dan tujuan, tiba tiba aku melihat seorang gadis cantik tengah membaca buku dengan tenang, kulitnya kuning langsat, wajah tirus dengan kacamata yang menambah kecantikan wajahnya, rambutnya bergelombang dan sedikit di selipkan di balik telinganya.Aku tak tahu siapa nama gadis manis itu, karena hari ini adalah hari pertama ku bersekolah di sini. Aku Rio siswa baru di sini, sialnya aku belum memiliki satu teman pun, seperti nya tak ada satu pun orang yang mau berteman dengan lelaki sepertiku.Aku terlihat idiot kata teman ku dulu padahal apa kah berpenampilan rapih dengan baju rapih dan rambut di sisir rapih adalah telihat idiot? Menurutku tidak, justru mereka anak brandalan tak tahu aturan berpenampilan bebas dan rambut berwarna yang tampak mengerikan.Ku lihat gadis manis itu masih memegang sebuah buku dengan raut wajah tenang. Baru saja aku berjalan mendekati nya bel tiba tiba berbunyi menandakan jal pelajaran kembali tiba, niat untuk berkenalan dengan nya ku urungkan.Aku berjalan menjauhi nya "Besok, aku akan mengenalmu gadis manis."***Pelajaran telah usai, jam dinding menujukan pukul 15.30 waktu nya pulang, tiba tiba aku kembali teringat akan gadis manis yang tadi aku lihat. Aku pun segera ke luar dan melihat sekeliling, aku lupa kalau aku sama sekali tak tahu gadis itu kelas apa dan berapa, kalau begitu bagaimana mungkin aku bisa mencari nya sekarang.Aku berjalan dan menuju gerbang sekolah berharap gadis manis itu belum pergi, saat aku baru melangkah kan kaki, tiba tiba aku melihat gadis manis berjalan agak jauh di depan ku, aku memang tak bisa melihat wajah nya tapi, aku yakin dia adalah gadis manis yang tadi aku temui.Aku berlari mengejarnya, namun tanpa sengaja aku malah menabrak seseorang yang juga sedang berlari dari arah samping. “Woy, jalan liat liat." Ucap seseorang itu, ternyata dia adalah seorang perempuan, dari penampilan nya dia terlihat tomboy wajahnya mirip dengan gadis manis.“Lo yang liat liat." Ucap ku pada nya. Aku tak melihat gadis manis tadi, mata ku mengedar ke seluruh penjuru sekolah namun nihil, gadis tadi hilang seketika. “Lo siapa?" Tanya ku pada gadis yang barusan bertabrakan denganku, dan ku lihat gadis di sampingku ini sedang mengusap kaki nya, astaga kakinya berdarah.“Eh, kaki lo kenapa?" Tanya ku pada nya namun dia malah melihat ke arahku dengan tatapan sinis, dasar gadis aneh. “Ini kan gara gara lo" ucapnya, lalu berjalan meninggalkan ku, kaki nya yang berdarah di balut nya dengan dasi.“Sorry yaudah sini gue obatin." Ucap ku padanya, namun dia malah tersenyum meremehkan. “Gak usah so care orang asing." Ucap nya, mataku tak bermasalah wajah nya mirip dengan gadis manis yang tadi ku lihat, apakah dia gadis tadi? tapi mengapa penampilan nya bisa berbeda? gadis tadi tampak feminim dan gadis ini tampak sangat tomboy.Dia kembali melajutkan langkah nya “Tunggu." Ucap ku seketika berhasil membuat langkah gadis ini berhenti. “Nama lo siapa?" Tanya ku padanya.“Shanti." Ucap nya lalu pergi berlalu. Aku menatap punggung nya dari belakang, dia mirip seperti gadis manis bahkan sangat mirip.***“Oke anak anak pelajaran sampai di sini dulu besok kita lanjutkan." Ucap Bu Arum ketika bel istirahat kembali berdering. Kelas perlahan sepi menyisakan aku yang masih sibuk memberekan buku. Setelah usai aku berjalan ke luar dan berniat mengisi perut di kantin.“Doorr." Seseorang mengagetkan ku, aku berbalik dengan detak jantung masih tak beraturan ku lihat siapa orang ini.“Shanti" Ucap ku.Setelah kejadian di gerbang sekolah Aku dan Shanti jadi teman dekat, aku tahu Shanti adalah gadis manis yang ku lihat saat itu. Namun ada berbagai keanehan yang terjadi, Shanti sama sekali tak suka membaca buku dia lebih suka musik, Shanti tidak suka berpenampilan feminin dia lebih suka berpenampilan senyaman nya dia. Namun selalu ku tepis kemungkinan itu, mungkin itu hanya pikiran negatif.***Waktu kian berlalu aku dan Shanti telah lama berteman, ada keinginan dalam benak ku untuk melepas status teman yang telah lama melekat menjadi seseorang yang lebih istimewa, ya kalian pasti mengerti maksudku.Sore ini di taman, aku berjanjian dengan Shanti untuk bertemu, tepat nya jam 15.00 sore ini, di rumah pikiran ku berdebar tak karuan. Aku mungkin grogi karena akan mengungkapkan semua rasa ku pada Shanti.Ku lihat jam masih pukul 14.45, aku rasanya sudah tak sabar karena aku tak sabar aku pun menuju taman. Saat aku telah sampai, ku lihat seorang gadis mengenakan gaun putih dengan rambut terurai, dia pasti Shanti.Aku berjalan dari arah belakang nya, perlahan lahan dan saat jarak sudah dekat rasanya tubuhku terasa dingin pasti karena grogi, pikirku. Aku menarik nafas secara perlahan “Rio." Panggil seseorang aku melihat ke sumber suara Shanti tengah berdiri di belakang ku dengan baju tomboy seperti biasanya.Aku melihat ke arah kursi, gadis tadi yang ku kira Shanti kini tak ada, siapa gadis itu? Shanti menarik tangan ku dan kami duduk di kursi taman, wajah ku pucat bukan karena grogi tapi aku bingung siapa gadis tadi? “Shan, sejak kapan sampai?" Tanya ku. Shanti tersenyum “Kan tadi," ucap nya, aku menelan saliva berati gadis tadi bukan Shanti.“Shan, aku mau nanya tapi kamu jangan tersinggung atau marah ya." Ucap ku mengendalikan suasana. Shanti mengangguk, aku berfikir mulai dari mana aku bertanya,“Kamu masih ingat pertama bertemu dengan ku?" Tanya ku pada nya.“Ingat, di gerbang saat itu" jawab nya seketika.“Berati kau tak menyadari waktu aku memperhatikan mu di lorong sekolah saat itu?" Shanti diam tampak mencerna apa yang aku tanyakan, dia menggeleng dengan wajah bingung. “Kapan? aku tak menyadari?" Tanya nya “Waktu itu kamu terlihat sedang membaca sebuah buku" Shanti kembali diam.“Aku tak suka membaca buku dan aku tak suka berdiam di lorong." Jawaban Shanti membuat aku kaget, berati dia bukan Shanti? “Lalu siapa dia?" Tanya ku pada Shanti “Ciri cirinya?" Tanya Shanti kembali."Dia sangat mirip dengan mu, hanya saja sedikit feminin dengan kacamata nya, rambut nya teruarai." Ucap ku seketika merubah ekspresi wajah Shanti yang tadi nya tenang menjadi gugup.Shanti terdiam sedikit lama, aku hanya diam menunggu Jawaban nya “Dia Shinta." Aku terdiam tak mengerti. “Bukan, aku melihat wajahnya dia mirip bahkan sangat mirip dengan mu tak mungkin aku salah lihat." Ucap ku. “Kau tak mengerti Rio," ucap Shanti, aku terdiam.“Dia Shinta, kembaran ku." Ucap nya. Aku kaget berati gadis manis itu adalah Shinta bukan Shanti. “Dan mana Shinta?" Tanya ku padanya.“Shinta udah meninggal kerena kecelakaan dulu waktu bus pariwisata yang di tumpangi menabrak bohon dan jatuh ke jurang, sial nya aku tak ikut, waktu itu aku dan dia jauh berbeda aku adalah wanita yang tak punya sopan santun dan dia sebaliknya, aku tak suka membaca buku dan dia sebaliknya, aku dan dia berbeda sangat berbeda." Ucap Shanti mengakhiri.Aku membeku diam, kaget berati selama ini aku telah diam diam menyukai arwah Shinta, bukan Shanti.****End

Catatan Terakhir
Teen
16 Jan 2026

Catatan Terakhir

"Kamu bukan mama ku." Jerit seorang anak perempuan sambil menutup telinga nya, dia menangis tepat di depan seorang wanita yang berdiri dengan raut wajah kebingungan. "Kesalahan apa yang mama lakukan pada mu Keyla?" Tanya wanita itu dengan lembut pada seorang anak kecil yang masih menjerit dan menangis."Kamu bukan mamaku, aku takut." Jerit anak itu. Wanita itu hanya menghembuskan nafas berat berusaha tetap sabar, walau wajahnya tampak bingung harus melakukan apa lagi. Dia Sarah mama tiri Keyla, Keyla tak menyukai keberadaan Sarah dalam hidupnya. Dan Sarah menyadari itu.***Waktu perlahan berputar cepat, Keyla kini telah menginjak umur 17. Namun Keyla masih sama tak menyukai keberadaan mama tiri dalam hidupnya, ia selalu membantah apapun yang di katakan mama tirinya walau Keyla tau itu untuk kebaikan dirinya sendiri.Suatu malam ketika Keyla tengah menatap bintang di langit terdengar suara nyaring yang membuyarkan lamunannya "Keyla makan sayang." Suara Sarah di ruang makan, tanpa banyak bicara atau berpikir seketika Keyla turun dan duduk untuk makan."Kenapa wajahmu pucat?" Tanya papa Keyla yang menyadari ada yang aneh, Keyla hanya diam tak bergeming fokus pada makanan yang dia santap. Sarah yang melihat sikap Keyla langsung angkat bicara "Keyla kalau ada yang nanya jawab yaa."Emosi yang Keyla tahan seketika meluap ia berdiri dan menggebrak meja makan "Kenapa sih? kenapa Keyla selalu salah di mata kalian?apakah tak pernah Keyla terlihat benar kenapa dinia selalu tak berpihak pada Keyla?" Ucap Keyla dengan air mata berlinang."Keyla rindu bunda, Keyla gak mau hidup, Keyla cape hidup Keyla itu selalu di kekang, Keyla mau mati." Ucap Keyla lalu segera berlari ke luar rumah, mama dan papa nya langsung berlari mengejar Keyla namun Keyla telah lari cepat, keluar gerbang tanpa menghiraukan panggilan papa dan mamanya. Mama dan papa Keyla khawatir lalu mereka mencari Keyla ke luar, dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan***Keyla sesenggukan di sebuah cafe, dia menangis tak peduli dengan tatapan aneh dari pengunjung cafe. Seketika matanya tak sengaja bertatapan dengan seorang pemuda, dia menatap Keyla dengan tatapan tak bisa di artikan.Keyla merasa risih dan mengira pemuda itu menertawakan nya atau mungkin menganggapnya gila seketika berfikir untuk beranjak dari tempat itu. Saat Keyla baru saja berdiri ada sebuah tangan yang menggengam tangan Keyla, Keyla berbalik dan melihat ternyata dia adalah pemuda tadi.Keyla berjalan dan melepaskan genggaman pemuda tadi, dia benar benar lancang."Keyla?" Ucap pemuda itu.Keyla berbalik,dahi nya berkerut."Siapa kamu?" Tanya Keyla.Pemuda tadi tersenyum dan mengulurkan tangan "Aku Kelvin." Keyla membalas uluran tangan masih dengan wajah tanpa eksepsi "Keyla." Mereka saling berjabat tangan, walau masih terlihat wajah tak nyaman yang Keyla tunjukkan."Kenapa kamu tahu namaku?" Tanya Keyla. Kelvin terlihat tenang "Ibuku sering bercerita tentang kamu padaku, makannya aku tahu hehe." Jawab Kelvin masih dengan wajah tenang.***"Keyla mama mohon, tolong kamu bersikap sopan pada tamu, bersikaplah layakanya gadis seusia mu, kamu sudah dewasa janganlah bersikap kekanak kanakan ya sayang." Ucap Sarah pada Keyla. Hari ini Keyla melakukan hal yang tidak sopan, Keyla tak menjawab atau pun tersenyum saat teman papa nya bertamu ke rumah nya.Sarah berusaha tetap sabar, namun menurutnya kali ini kelakuan Keyla benar benar sudah melewati batas.Brag gSuara pukulan dimeja membuat perdebatan antara Keyla dan Sarah terhenti,papa Keyla tiba tiba datang. "Kamu ini,tak punya sopan santun"Plak kTangan papa Keyla mendarat di pipi kiri Keyla, Keyla memegang pipinya yang merah, mata nya memanas, memperlihatkan butiran air yang siap menetes. "Pa, jangan main kasar" Bela Mama Keyla, papa Keyla diam tak menyadari apa yang telah di lakukan pada Keyla, matanya memerah menahan emosi."Tak usah membelaku, tak usah bertingkah baik di depan ku." Jerit Keyla, Keyla berjalan menuju ke luar berlari sambil air mata bercucuran membasahi wajah manis nya.***Keyla berlari di tengah padatnya kota, jam telah menunjukan pukul 20.00 Keyla tak ingin pulang, Ia berjalan dan melihat orang orang ramai di depan sebuah gedung. Mereka memakai baju sexy, Keyla melangkah menuju tempat itu, semakin dekat dan akhirnya Keyla memasuki ruangan itu, diskotik.Di dalam diskotik Keyla bingung tak ada seorang pun yang Ia kenal. Ia tak tahu mengapa dia ingin memasuki ruangan ini. Tiba tiba seorang pemuda menghampiri Keyla memberikan segelas minuman dan mengatakan Untuk meminum nya, Keyla hanya diam menolak tawaran pemuda yang tampak setengah sadar itu.Akhirnya pemuda itu memaksa Keyla untuk meminumnya, Keyla tetap menolak hingga gelas itu jatuh dan pecah di lantai. Pemuda itu marah dan mendekat ke arah Keyla. Keyla takut Ia pun berlari keluar tetapi pemuda itu tetap mengejar Keyla. Kelvin tak sengaja melihat Keyla yang di kejar seseoang, Kelvin kaget dan mengikutinya.Keyla berlari secepatnya Ia takut, takut pemuda itu melakukan hal yang menyeramkan. Keyla berlarian di trotoar dan menyeberang jalan, tanpa dia sadari ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang melaju ke arahnya."Aghhhhhhhhh"Jeritan itu menembus malam yang pekat.***"Keyla bangun sayang maafin mama."suara tangis terdengar pilu itu suara Sarah. Semalam Keyla kecelakaan tertabrak mobil, kini Keyla kritis, sudah 2 hari Keyla tak sadarkan diri.Kelvin hanya diam membeku, rasanya tak percaya bahwa Keyla benar benar kecelakaan. Ia masih sangat ingat saat mobil itu menabrak dan membuat tubuh mungil Keyla terbanting.Kelvin menyesal, menurutnya ini adalah salahnya, harusnya Ia berlari cepat, lebin cepat agar Keyla dapat di kejar, namun semuanya sudah terjadi kecelakaan itu telah terjadi. Sekarang hanya bisa berdoa agar Keyla dapat segera sadarkan diri.***Pov Keyla"Bunda?" ucapku dengan suara parau, aku lupa bahwa Bunda telah tiada. Ku coba membuka mataku namun setelah ku buka semuanya gelap, aku takut di mana aku sekarang?mengapa gelap?di mana mama?papa?atau Kelvin?Dapat ku rasakan seseorang membelai kepalaku, aku kenal tangan ini, ini tangan Mama. Mama seperti sedang terisak "Mama?kenapa gelap?" Tanya ku pada mama, tapi mama malah memeluku.Aku tak mengerti dan tak ingat apa yang terakhir terjadi yang aku ingat adalah pertengkaran ku dengan mama. Dan aku ingat saat aku memasuki diskotik dan di kejar oleh pemuda aneh, dan saat itu...Aku menangis aku ingat bahwa aku mungkin kecelakaan, tapi mengapa sekarang semuanya gelap? apa aku buta? aku takut."Sayang, kamu yang sabar." Aku kenal suara itu, itu suara papa."Papa mata ku kenapa? kenapa gelap?" jeritku pada papa dan ku rasakan pekukan mama semakin kencang."Aku tak mengerti" keluh ku hampir tak terdengar."Dokter mengatakan kamu tidak akan bisa melihat Kayla, kecelakaan itu penyebabnya, matamu terbentur keras." Ucap mamaku "Kecuali bila ada yang bersedia mendonorkan mata untuk mu,tapi itu sulit Keyla." Ucap mamaku.Aku menjerit sekencang nya, Tuhan bantu aku.***"Keyla?" Panggil seseorang aku yang sedang duduk segera berdiri dan berjalan ke sumber suara. "Tak usah berjalan duduk saja." Ucap seseorang itu, aku tahu dia Kelvin."Mau ikut ke kebun teh?" Tawar Kelvin, aku memang tak bisa melihat raut wajahnya namun dari suaranya aku dapat merasakan bahwa Kelvin sangat ingin aku ikut.Aku menangguk ,dan mengambil tongkat Kelvin berjalan di sampingku. Aku dapat mersakan sejuknya angin menyentuh kulit wajahku. "Kamu tahu Keyla?" Tanya Kelvin saat kita sedang duduk di sebuah batu besar.Aku menggeleng "Tidak."Kelvin tertawa,"Aku sangat senang saat ku tahu kamu sudah dapat kembali menerima mamamu dalam hidupmu," ucap nya. Aku tersenyum."Iyaa emang kenapa?" Tanya ku, "Berati kau telah siap dan bahagia ya?" Tanya Kelvin sambil tangannya merangkulku.Aku terdiam tak mengerti ucapan nya "Siap apa?" Tanyaku lagi. Kelvin tiba tiba batuk, sangat keras aku kaget dan memberinya air minum dari tas ku, tapi dia malah menolak. "Aku minta tisu." Ucap Kelvin, tanpa pikir panjang aku segera mengeluarkan tisu untuk nya sambil meraba tasku mencari tisu."Kamu kenapa?" Tanya ku aku cemas "Hanya pilek." Ucap Kelvin. Aku terdiam, benarkah?."Aku dengar ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya untuk mu." Ucap Kelvin sambil mengacak rambutku.Aku tersenyum bahagia dan tak percaya, ternyata setelah sekian lamanya akhirnya Tuhan mengirimkan ku manusia yang bersedia mendonorkan matanya, siapapun dia terimakasih.***"Siap Keyla?" Tanya dokter, aku diam aku marah pada Kelvin mengapa saat seperti ini dia tak datang, padahal yang aku ingin saat perban pembungkus mataku ini di buka,aku ingin melihat mama, papa dan Kelvin, tapi entah kenapa Kelvin tidak datang. "Kelvin mana?" Tanyaku pada mama dan papa yang sedari tadi membujukku untuk segera membuka perban ini."Kelvin menunggumu Key, di luar."ucap mama dengan nada tak bisa aku jelaskan, aku tersenyum. Di pikiranku mungkin Kelvin akan menyiapkan kejutan untuk ku aku pun bersedia untuk di buka perban mataku.***Aku merengek kepada mama dan papa agar aku segera bertemu Kelvin, tapi mama dan papa membisu aku jadi kesal bagaimana tidak, sudah dari kemarin aku ingin bertemu Kelvin, tapi selalu saja mama menolak.Akhirnya hari ini mama dan papa bersedia mengantarku bertemu Kelvin, aku sangat bahagia. Aneh ada yang aneh mengapa mama dan papa menuju jalan yang tidak aku ketahui,aku mulai merasa tak tenang.Ku lemparkan pandanganku ke seluruh penjuru, mataku tak salah, ini tempat pemakaman, untuk apa mama dan papa mengajakku ke sini? bukankah kita ingin bertemu dengan Kelvin? namun aku tetap berusaha tenang."Ma?kita mau ke mana?" Tanya ku hati mulai tak tenang pikiran buruk menyerbu. Namun mama dan papa tetap diam, aku gusar sendiri ada rasa takut dalam hati ku. Langkah mama dan papa akhirnya berhenti di samping sebuah makam, aku diam mematung tak berani membaca batu nisan yang tertulis nama seseorang itu."Sayang Kelvin ada di sini." Ucap mama. Aku membeku dan membaca nama yang tertulis di nisan itu.Kelvin AndikaDegggAku menangis memeluk batu nisan itu, Kelvin bagaimana ini semua bisa terjadi?Ku lihat ternyata Kelvin meninggal tetap saat aku sedang melakukan operasi mata, pantas saja dia tak datang, Kelvin maafkan aku yang marah padamu karena kau tak datang."Ma?Kelvin kenapa ma? pa? kenapa?" Tanya ku di sela isakan."Kelvin sudah di vonis memiliki penyakit jantung Key, dan tidak memiliki uang untuk membeli obat, papa sudah mengajak nya untuk melakukan operasi dan membeli obat, tapi penyakit nya itu tak bisa di obati lagi, dia meminta kepada papa untuk mendonorkan matanya untuk mu, dan semua nya telah terjadi."Aku ingat terakhir bertemu Kelvin, saat dikebun teh aku ingat saat dia menanyakan apakah aku siap? siap apa? Apa ini maksud mu Kelvin?jika benar sampai kapan pun aku takan siap, kenapa?karena aku mencintaimu.Ku raba mata ini, ini mata yang biasa Kelvin gunakan untuk melihat dunia? dan kini sekarang dia telah tiada, aku kembali terisak, Kelvin.Mama menyodorkan sebuah surat.Ku bukaDear: KeylaKeyla kamu tahu? saat kau sedang dirawat karena kecelakaan, aku sangat takut kehilanganmu aku takut tak bisa kembali melihatmu tapi takdir sangat baik kepada kita, kau sembuh. Kau tahu?aku selalu melihatmu menangis sendiri, aku tahu kau ingin kembali seperti semula.Dan maafkan aku yang jarang menemanimu, aku memiliki banyak urusan, seperti berobat, kerja dan menyakinkan ibuku agar ibu iklas akan kepergianku . Dan hal yang paling aku ingat adalah saat di kebun teh, aku sangat menikmati saat terakhir bersamamu, sebenarnya aku takut karena aku tak akan bisa lagi melihat mu lagi. Tapi selalu ku yakinkan bahwa semuanya adalah yang terbaik.Ku titipkan mata ku padamu, agar kau bisa kembali melihat indah dunia,dan aku tahu kau sangat menyukai senja, haha aku selalu benar kan?tentang mu aku akan selalu mengingat dan mengetahui. Aku pamit Keyla, terimakasih atas kehadiran mu di sisa hidupku. Keinginan terakhirku,aku mohon jadilah gadis cantik dan tetap baik.Kelvin Andika:)

Waktu Singkat untuk Salma
Teen
16 Jan 2026

Waktu Singkat untuk Salma

Ku pandangi seluruh penjuru kelas, tak ada Fahri. Aku duduk dan menghela nafas berat, kemana anak itu? “Salma?" Ucap seseorang aku menengok ke sumber suara, dia Lisa temanku bukannya menyahut aku hanya diam, dia lalu mengerutkan dahi lalu menghampiriku sambil tangan nya mencubit pipi cabi ku.Aku berusaha melepaskan tangan nya dari pipi ku bisa bisa semakin melebar jika di biarkan terus begini. “Galau terus kerjaan nya" ucap Lisa sambil duduk di sampingku, aku hanya diam rasanya sangat malas untuk bicara. “karena Fahri?" tanya Lisa saat keadaan hening beberapa saat. Tapi aku tetap diam tanpa ekspresi, rasanya tak perlu dijawab toh Lisa pasti tahu.“Sabar Sal, mungkin Fahri izin karena ada acara keluarga atau semacam nya." Aku masih saja diam, walau aku sadar ucapan Lisa ada benar nya, tapi semua ini tak adil seperti ada hal yang aneh, tapi aku sendiri tak tahu.~~~“Bunda Salma pulang." Ucap ku sambil mendorong pintu rumah, ku lihat Bunda sedang memasak sesuatu di dapur. Aku datang dan mencium punggung tangannya, lalu duduk di kursi sambil tanganku melonggarkan dasi di leherku. Bunda menengok ke arah ku “kenapa muka kok di tekuk gitu" tanya bunda heran.“Fahri gak masuk lagi bun" Ucap ku dengan nada merendah mirip rengekan anak kecil, bunda terkejut. “Kok Fahri jadi jarang masuk ya?" Tanya bunda, aku mendengus kesal, bila aku tahu aku juga tak akan gelisah seperti ini. Aku hanya menggeleng, lalu beranjak menuju kamar meninggalkan bunda yang menunggu jawabanku "Dasar Salma." Ucap bunda.~~~Aku diam dan duduk memandangi jam dinding, tak punya kerjaan. Tiba tiba aku mendengar sebuah ketukan di pintu, ini pasti bunda membawakan ku makan siang, karena aku tak mau makan dari pagi. “Masuk aja gak di kunci kok," ucapku tanpa beranjak dari kursi. Pintu terbuka mataku melebar tak percaya dengan penglihatanku, dia bukan bunda tapi Fahri.Aku berdiri dan berjalan ke arahnya, dia terseyum lebar dengan jaket abu abu yang Ia kenakan. Senyum ku hilang seketika saat aku ingat aku sedang marah dan kesal padanya, aku berbalik dan duduk di kursi. Fahri mengerutkan kening, dan ikut duduk di sampingku aku diam tanpa ekspresi. “Salma kau kenapa?vmarah padaku?" Tanya Fahri.“Tidak." Jawabku cepat “Syukurlah." Ketus nya, aku jadi semakin kesal Fahri ini sangat tidak peka. “Fahri..." Ucap ku dengan wajah masam “Apa?" Tanya nya, aku menghela nafas “Aku marah, kenapa kau tak peka? dasar lelaki." Ucapku ketus. Fahri malah tertawa “Tadi ku tanya katanya gak marah, dasar wanita." Ucapnya sambil tertawa, aku tak ikut tertawa tak ada yang lucu.“Baiklah kenapa kau marah Salma?" Tanya Fahri menyadari raut wajah ku “Kau selalu menghilang" ucapku. Seketika aku dapat melihat perubahan raut wajah nya “Adikku sakit Sal" ucap nya aku kaget dan mengerti “Fahri kenapa kau tak memberi tahu ku? masa aku temanmu saja tak kau beri tahu." Ucap ku cepat.“Maaf Sal," ucap Fahri dengan raut tak bisa di tebak.~~~“Apa? jadi adiknya Fahri sakit?" Tanya Lisa saat aku selesai curhat tentang Fahri kemarin.Aku mengangguk "Fahri memang kakak yang baik ya." Ucap Lisa, aku mrngangguk menandakan setuju dengan nya. “Gimana kalo kita ngejengukin adik nya?" Tawar Lisa "Ide bagus" Ucapku antusias. “Ada apa nih?" Suara Fahri tiba tiba. “Kita mau nengokin adikmu Fah" jawab Lisa seketika, aku hanya mengangguk."Eh serius? Yaudah Salma nanti ku jemput ya?" Tawar Fahri dengan seyuman khas nya, aku melihat ke arah Lisa. “Iya aku setuju soal nya aku mau berangkat sama kak Elang, kakak ku." Ucap Lisa, aku dan Fahri berpandangan.“Aku tak mau." Ucap ku pada Fahri,dia kaget dan melihat ke arah ku,“Kenapa?" Tanya nya.“Kamu selalu berbohong, kemarin kau berjanji akan masuk sekolah buktinya? tidak ada." Jawab ku ketus. Lisa hanya diam tak menanggapi. “Itu karena adikku kemarin sakit Salma." Jawab Fahri, aku diam memang benar.Fahri menghela nafas, kami sudah saling mengetahui sifat masing masing “Aku janji kali ini aku akan datang, aku akan berusaha." Ucap Fahri dengan sungguh sungguh. Aku bingung, bukan kah hanya menjemputku hingga berusaha? apakah sulit? Aku berbicara dalam hati, tapi tak apa lah mungkin bagi Fahri menepati janji adalah hal yang sulit,aku tak berfikir panjang.~~~“Sal? kamu di mana?" Suara Fahri dalam telepon, aku mendengus kesal,dia ini dari tadi ditunggu dan sekarang baru menelepon?“Aku di rumah, kamu di mana? kan janji jam 19.00 sekarang udah jam 19.34, dari tadi di tugguin." Ucap ku dengan helaan nafas, bosan Fahri selalu mengingkari.“Maaf tadi abis pulang sekolah, aku gak pulang ke rumah langsung aja ke rumah sakit, ehh itu Lisa udah dateng ke sini, tungguin aku jemput kamu." Ucap Fahri.“Iya,cepetan." Ucap ku.“Okeee waktu singkat." Ucap Fahri lalu mematikan telepon aku tak mengerti, waktu singkat?~~~Aku berjalan mondar mandir di teras rumah menunggu Fahri yang tak kunjung tiba, dia itu selalu saja begini. Ku putuskan ku tunggu dia 5 menit lagi,jika dia tak datang maka aku akan memilih tudur, dari pada menuggu dia yang tak pasti.Lima menit berlalu Fahri tak datang juga, aku kesal. Benar kata orang, orang yang mudah berjanji adalah orang yang mengingkari. Aku berjalan menuju rumah, ku lihat ada Fahri berjalan ke arah rumah ku dia berjalan kaki dengan wajah menunduk, aku tak menghiraukan nya.Aku masuk saja ke rumah ku. Dan mengurung diri di kamar, kesal sangat kesal ku tunggu Fahri tapi dia tak mengetuk pintu sama sekali, ahh Fahri aku semakin kesal, aku diam saja tapi Fahri tak juga mengetuk pintu atau memanggil namaku.Ponselku tiba tiba bergetar, ada panggilan masuk,tertera nama Lisa di layar. “Halo?" Ucap ku. Lisa tak berbicara apa pun, tapi aku dapat mendengar suara isakan tangis, Lisa menangis.“Sal..." ucap Lisa di sela isakan nya. “Lis, kamu kenapa?" Tanya ku dengan tangan bergetar. “Fahri Sal, Fahri " ucap Salma, aku terkejut bukan kah Fahri ada di sini?“Fahri kecelakaan dan meninggal di perjalanan ke rumahmu." Ucap Lisa dengan suara getar. Aku diam perlahan air mata jatuh menetes, dan ku buka jendela kamar ku untuk melihat ke teras, tak ada Fahri di sana. Apakah halusinasi ku sendiri?Fahri, kau memang tak menjemputku tapi kau datang, untuk terakhir kali nya, ini kah yang kau sebut sebagai waktu singkat? dan itu untukku?~~~end.

Kisah Tahun Lalu
Teen
16 Jan 2026

Kisah Tahun Lalu

Aku tahu hal yang indah takkan datang dua kali. Sekuat apapun kita menahan agar semua tetap sama, tapi bila sudah takdir kita bisa apa?Namaku Icha aku sekarang bekerja sebagai jurnalis. Setiap hari ku hanya menulis berita dan peristiwa. Hingga suatu hari aku mendatangi sebuah kecelakaan. Seorang pemuda terluka parah, aku datang untuk meliput kejadian sebagai berita terkini. Namun suatu kejadian mampu membuat kenangan itu kembali.Ketika seorang gadis datang dengan histeris, menangis dan terus berdoa untuk kesembuhan pemuda itu, yang bisa ku tebak mungkin mereka pacaran? Aku merasa sedikit pusing tapi tetap berusaha bertaha dan fokus dengan apa yang aku kerjakan, namun berkali kali aku hampir pingsan. Lalu aku pun pergi ke dalam mobil dan menenangkan diri.Hidupku seperti ini, kepalaku selalu pusing dan sakit saat aku melihat atau mendengar apapun yang bersangkutan dengan peristiwa hari itu. Aku pun pulang dan menenangkan diri di rumah. Tiba tiba terbesit sebuah nama "Alan?" Aku diam, seolah tak sadar akan apa yang aku ucapkan barusan.Lalu kenangan itu kembali.1 tahun yang lalu.Aku tergesa gesa, berlari menuju perpustakaan karena ku tahu hari ini akan datang buku novel yang aku tunggu tunggu. Saat sibuk berlari seseorang menabraku dari belakang, hingga membuat aku jatuh ke jalan yang kebetulan terdapat batu tajam di sana.Aku meringis menahan perih kaki ku yang mengeluarkan banyak darah. Lalu dengan sigap pemuda yang menabrakku membopong tubuhku dan membawa aku ke rumah sakit. Setelah kejadian itu, aku jadi tahu nama pemuda itu adalah Alan. Dia adalah anak dari Pak Wiryono, kepala sekolah di SMA kami waktu itu.Aku tau Alan adalah anak yang disiplin dan patuh. Hingga saat Pak Wiryo tahu bahwa aku mendapat 6 jahitan di betis karena ulah Alan Pak Wiryono marah, dan memberikan Alan hukuman. Hukuman nya mampu membuat aku tak bisa tidur semalaman.Apa? Hukuman nya adalah Alan di tugaskan untuk menjemput dan mengantarkan aku pulang sekolah selama 4 bulan. Aku tahu Alan tak suka pada hukuman ini. Dan aku tahu kalau Alan sudah punya pacar hingga hal itu membuat aku takut, jujur saja aku takut mendapatkan masalah dari itu semua.Setiap hari sikap Alan selalu dingin, ia diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun membuat aku merasa sangat bersalah. Aku juga ingat pernah di jahili oleh Sasa pacar Alan. Waktu itu dia mengotori baju ku dengan minumannya terkadang mengerjaiku dengan membuang atau menyembunyikan sebelah sepatu ku.Namun aku tak bercerita tentang hal itu pada Alan. Hingga tiga bulan berlalu, Alan masih saja banyak diam, tak banyak bicara. Dasar kulkas berjalan.***Suatu siang Sasa tiba tiba menarik rambutku hingga aku meringis kesakitan, dia marah padaku dan menuduh bahwa aku berusaha merebut Alan darinya, aku menjerit sekuat nya karena cengkraman tangan Sasa sangat kuat. Tiba tiba Alan datang, lalu menolongku. Entah karena apa yang pasti saat itu Alan tiba tiba memutuskan hubungan Sasa. Aku hanya diam melihat dua manusia yang sedang bertengkar.Lalu Alan mengajakku pulang, di perjalanan Alan terus saja menanyakan keadaan ku, dan meminta maaf atas sikap Sasa. Aku hanya mengangguk. Entah kenapa sikap Alan berubah dan aku merasa ada ribuan kupu kupu terbang di perutku,ada apa ini?***Empat bulan berlalu. Aku masih ingat saat tanggal akhir di bulan ke empat, Alan menanyakan boleh kah dia tetap mengantar jemput ku? Aku memikirkan jawaban yang tepat dan ku kira aku tak keberatan. Hingga aku dan Alan semakin akrab, setiap hari kami sering belajar bersama untuk sekedar mengerjakan PR atau tugas.Semakin hari Sasa semakin menghilang aku mulai jarang di ganggu oleh nya, syukurlah.Hingga aku sudah kelas 12 SMA. Hanya tinggal beberapa bulan lagi untuk lulus. Aku mempersiapkan segalanya untuk mengahadapi ujian nasional.Dan akhirnya aku dan Alan lulus dengan nilai memuaskan. Semua sangat indah, saat Alan mengungkapkan perasaan nya dan kami mulai pacaran. Kejadian itu berlangsung saat kami akan berkunjung ke sebuah Universitas untuk melihat lihat fasilitasnya. Aku masih ingat saat itu Alan datang dengan baju berwarna abu abu, warna kesukaanku. Kami sempat bercanda dan tertawa di dalam perjalanan.Namun sayang. Rem mobil Alan blong, Alan tak mampu mengendalikan mobil nya hingga mobil Alan jatuh ke jurang.***Aku membuka kedua mataku, ada ayah, ibu yang tampak cemas akan keadaan ku. Aku mencari Alan. Saat ku tahu kepala Alan mengalami pendarahan dan harus di operasi. Aku kaget hingga terus mencari keberadaan Alan saat itu. Namun betapa sakit nya, saat aku melihat Sasa tengah menunggu Alan yang terpejam. Aku sakit, melihat Sasa di sana.Akupun berlari masuk sambil bernait memeluk Alan yang terpejam, namun Sasa langsung mendorong tubuh ku yang masih lemas. Aku pun terjatuh lalu Pak Wiryono datang dan membantuku. Saat aku tahu Alan masih koma sesudah operasi itu, membuat aku terpukul. Namun itu tak seberapa sakit nya di banding aku tahu Pak Wiryono menjodohkan Sasa dengan Alan.Aku terpuruk beberapa minggu, hingga Alan mulai sadar dari koma. Saat Alan membuka mata nya Alan langsung memanggil nama Sasa. Aku kaget dan bingung, apakah Alan tidak mengingatku? Dokter mengatakan kalau Alan mengalami Amnesia, ia hanya bisa mengingat sedikit tentang dirinya.Hingga aku pun memilih kalah, aku tahu Alan bukan lupa padaku dia hanya sakit. Aku juga sudah tahu kalau Sasa adalah penyebab kecelakaan aku dan Alan. Namun biarlah, aku pun memilih mundur melepaskan Alan, aku yakin cepat atau lambat mungkin Alan akan mulai ingat padaku. Dalam benak ku bila mungkin Alan di ditakdirkan untukku seberapa jauhnya ia melangkah kami akan tetap di pertemukan.Namun bila tidak, biarlah Alan menjadi mantan terindah yang pernah hadir dengan cara yang istimewa. Aku pun sadar dari lamunan ku, pusing memang bila mengingat hal yang menyakitkan.***Aku kembali bertugas dengan dunia jurnalis ku. Pergi ke sana kemari, mencari berita menarik hmm rasanya aku mulai menyukai pekerjaan ku. Yaa dan sekarang aku sudah bertunangan dengan Arga. Dia adalah teman ku dari kecil, tapi entah kenapa aku rasanya baru mengenali nya sekarang, hmm jodoh memang unik ya. Tentang Alan? Aku tak mencari bukan tak ingat,hanya saja aku sudah memilih Arga kan?Brukk, aku menabrak seseorang."Ichaa? Kamu Icha kan? Inget aku? Aku Alan chaa.."***end.

CLAIRE
Teen
16 Jan 2026

CLAIRE

Aku tersenyum mengamati sekeliling. Seorang wanita paruh baya sedang membersihkan pekarangan. Rambut putih keperakan tak dapat bersembunyi meski tertutup topi anyaman bambu. Cukup lebar melindungi dari sengatan sinar matahari. Tampak beberapa orang mondar-mandir menata ruang tamu. Dapur tak kalah menunjukkan kesibukan."Claire, kita harus membuat pesta ulang tahun besar-besaran untukmu" kata Mama antusias satu minggu lalu."Ngapain sih, Ma? Males deh" aku kembali sibuk membaca komik."Kalo gitu, bagaimana kalo kita ngerayainnya di rumah aja?" memberikan pilihan lain."Iya aja sayang?" sahut Papa, duduk di sebelah Mama.Setiap sore kami selalu berkumpul di taman rumah. Menikmati udara segar di sore hari sambil menikmati teh panas. Aku meletakkan komik di meja dan kembali meresapi aroma lemon di dalam cangkir."Aku udah gedhe, Ma" meminum sedikit teh sambil melihat ekspresi Mama, "Bukankah terlalu kekanak-kanakkan merayakannya besar-besaran?"."Kekanak-kanakkan? wanita berambut pirang tersenyum, " Seventeen Party isnt ?"."Apa kado yang kamu pengen?" potong Papa."Aku ingin kita bertiga pindah rumah" pintaku membuat Mama urung cemberut, "Suasana rumah ini sangat membosankan, jadi kita bertiga bisa menikmati hidup"."Bukan hadiah yang buruk kan, Pa?" mata Mama berbinar.Meski masih dalam kata-kata namun persetujuan mereka membuatku cukup membuatku bahagia. Menyaksikan kesibukan hari ini semakin menambah bunga dalam hatiku. Sebenarnya aku tak perlu repot berkeliling memeriksa persiapan dan pekerjaan tiap orang. Menyewa seorang event organizer telah sangat cukup membantu, tapi aku melihat rumah ini untuk terakhir kalinya. Firasatku tepat tak meleset."Tasya, apa yang sedang kamu lakukan di sini? tanya wanita baju ungu.Suara itu kembali merusak suasana hati. Pemandangan indah di hadapanku seketika menghilang. Rumah megah berubah menjadi gubuk reyot tanpa atap menaungi."Tidak ada bu, saya sedang membaca buku" jawabku sekenanya.Ibu menghela napas berusaha tidak marah hari ini. Aku dapat melihat ia tidak percaya. Ia selalu memberikan pekerjaan dan tak membiarkan sendirian. Perintah untuk mengerjakan ini, melakukan itu tanpa memberikanku kesempatan menikmati duniaku."Bukankah ibu sudah bilang untuk tidak bermain di halaman belakang? Kenapa kamu selalu main ke sini?".Ia mulai membombardir dengan pertanyaan sama. Apa yang aku cari di halaman belakang? Kenapa aku suka main ke tempat menyeramkan ini? Berkali-kali pertanyaan itu dilemparkan seakan-akan dia merasa khawatir."Ada apa ibu mencari saya?" tanyaku mengalihkan perhatian."Oh..." teriak Ibu. Aku dapat matanya bersinar. Tatapan mengingatkanku pada Papa dan Mama saat mendengarkan keputusan hakim."Hari ini ada seseorang yang ingin bertemu denganmu" penuh semangat ia menarik tanganku.Seorang wanita memiliki wajah bagaikan malaikat, tersenyum menyambut kedatanganku. Dia memelukku sejenak terasa hangat. Setelah mencium keningku, kami duduk berhadapan dengan Ibu."Ibu ini langsung tertarik saat melihat foto kamu langsung saja ia sangat ingin segera menemuimu" kata Ibu."Bagaimana dia bisa tinggal di sini?" tanya wanita calon ibu angkatku.Ibu melemparkan senyum padaku. Aku mengerti dan segera berdiri berpura-pura keluar dari ruangan penuh dokumen itu."Saya akan jujur menjelaskan tentang dia, namun saya sangat berharap ibu tidak membatalkan niat baik ibu" perkataan kepala panti asuhan seperti mengatakan ketakutan kehilangan uang."Silahkan"."Dia anak yang baik, sopan dan manis seperti yang anda lihat tapi dia termasuk anak yang antisosial dan pendiam" tampak wanita itu menunggu penjelasan latar belakangku,"Hari itu Tasya sendiri yang datang ke tempat ini. Beberapa hari kemudian, saya baru tahu kalau Tasya yatim piatu saat berumur enam tahun dan tinggal bersama adik laki-laki ayahnya. Sepupu Tasya ditemukan meninggal di rumah menjelang pesta ulang tahunnya. Hal ini membuat bibinya menjadi gila dan pamannya mengalami kebangkrutan setelah memimpin perusahaan ayah Tasya selama dua tahun"."Pasti itu sangat berat baginya" wanita berwajah malaikat itu tampak tersentuh.Aku segera pergi menuju bangku di taman Panti Asuhan. Kini giliranku memainkan peran sesuai rencana yang telah kami sepakati. Wanita malaikat itu menghampiriku kembali mendekapku. Kurasakan getaran tubuh dan terdengar suara Isak tangis."Mulai hari ini aku adalah ibumu" katanya di sela-sela tangisannya."Benarkah, nyonya?" ku lepaskan pelukannya.Aku yakin wajah polosku cukup mengelabuhi.Wanita itu segera menghapus air matanya, "Mulai sekarang Tasya panggil Mama bukan nyonya".Aku tersenyum menatap ibu kepala panti asuhan. Semua berjalan sesuai rencana. Mama segera mengurus semua surat adopsiku. Tak lupa Mama mengajakku untuk berpamitan ke semua penghuni panti."Semoga kamu betah tinggal bersama ibu angkatmu" kata Ibu saat tepat Mama datang setelah dari parkir.Aku mengangguk dan melambaikan tangan pada semua sebelum masuk ke dalam mobil, duduk di samping Mama."Kerja bagus, Claire" puji Mama tetap menyetir tanpa memandangku, "Kau memilih tempat yang tepat".Tamat

Kisah Ubur ubur yang dijahui oleh temannya
Fantasy
15 Jan 2026

Kisah Ubur ubur yang dijahui oleh temannya

Suatu hari didalam laut yang sangat dalam hiduplah seekor ubur ubur Kakak beradik, Suatu ketika adik Ubur ubur bertanya kepada Kakaknya"Kak? Kenapa kita dilahirkan dengan kekuatan untuk menyetrum binatang lain" KatanyaLalu sang Kakak menjawab dengan bangga "Kita diberikan kekuatan seperti itu oleh Dewa untuk melindungi diri kita dari predator yang lain"Lalu si adik membalas dendam "Tetapi kekuatan seperti ini hanya membuat diriku tidak memiliki teman disekolah"Sang Kakak hanya bisa memberikan kata-kata semangat. Keesokan harinya di kelas Ubur Ubur tidak sengaja menyentuh seekor Ikan BuntalIkan buntal yang terkejut lantas dirinya mengembang hingga terlihat seperti bola. Ikan buntal sangat marah kepada ubur ubur karena dia menyentuh Ikan Buntal walaupun tidak disengajaAkhirnya Sang Ubur-ubur pulang kerumah dengan suasana hati yang sadih. Disaat yang bersamaan Sang kakak memberikan sebuah Jaket Khusus berwana kuningJaket itu dirajut oleh Sang Kakak salama 2 hari satu malam tanpa henti "dengar Adikku. Ini adalah Jaket khusus yang dapat menghilang kekuatan kita, apakah kamu ingin menggunakannya? " Tanya Sang kakakUbur ubur terlihat sangat senang ia tersenyum lebar dan bahagia sambil berkata "ya, dengan begini aku akan mendapatkan teman"Akhirnya Sang Kakak memberikan jaket tersebut dan Ubur-ubur menggunakannya.... Keesokan harinya Sang Ubur Ubur sudah tidak menyengat teman sekelasnyaIa bahkan berhasil berteman dengan beberapa ikan disana, akan tetapi suatu saat temannya Ikan Terima dalam bahayaIa sedang dikejar oleh Predator ganas yaitu Hiu. Hiu berkata kepada Sang Ubur ubur "hahahaha.... Kemana kekuatan mu Ubur ubur? Apakah kamu tidak ingin menyelamatkan temanmu" KatanyaIkan teri tersebut begitu ketakutan dan gemetar di terumbu karang melihat Ikan Hiu yang akan menyantapnya. Dengan berani Ubur ubur ingin melindungi temannyaAkan tetapi kekuatan tersebut tidak dapat digunakan. Pada akhirnya Ubur ubur tidak dapat melindungi siapapun termasuk dirinyaHingga Seekor Paus besar menghampiri Hiu. Sang Paus dengan kekuatan membuka mulut selebar lebarnya untuk menakuti Sang HiuHiu pun lari terbirit-birit melihat Ikan Paus dibelakangnya. Lau Sang Paus berkata "Hei Anak Kecil.... Aku akan memberikan mu suatu nasihat penting dari keluarga ku""Kamu tidak perlu mengikuti apa yang di inginkan orang lain, ikutilah dirimu sendiri. Karena kamu sendiri tau mana yang terbaik untuk dirimu" LanjutnyaSang Ubur-ubur sangat menyesal menggunakan jaket tersebut hingga pada akhirnya ia melepaskan jaket tersebut dan kekuatan nya kembaliKeesokan harinya Sang Ubur ubur begitu Populer karena melindungi Ikan Teri dari santapan Hiu. Walaupun sekarang Ubur-ubur memiliki kekuatan itu kembaliIa bertekad untuk menjadi dirinya sendiri dan melindungi teman-temannya dengan kekuatan tersebut....Akhirnya Ubur-ubur hidup bahagia selamanyaTamat... .......

Samuetang dan Jume
Fantasy
15 Jan 2026

Samuetang dan Jume

Samuetang adalah seorang raja dari kerajaan yang terletak sangat jauh di barat, di tanah yang jarang tersentuh oleh makhluk selain manusia. Kerajaannya makmur, tentaranya kuat, dan namanya dikenal luas sebagai raja yang berani. Namun di balik keberaniannya, tersembunyi sifat yang perlahan tumbuh: kesombongan.Pada suatu hari, Samuetang melakukan perjalanan jauh hingga ke wilayah terlarang—tempat yang menurut legenda dihuni oleh makhluk terkuat di dunia, para naga. Di sanalah ia bertemu dengan Jume, Raja dari segala naga, makhluk kuno yang telah hidup jauh sebelum kerajaan manusia pertama berdiri.Tanpa rasa takut, Samuetang melangkah maju. Dadanya dibusungkan, wajahnya penuh keyakinan, seolah-olah di hadapannya bukanlah makhluk legendaris, melainkan musuh biasa.Dengan suara lantang ia menantang Jume.Kesombongan telah membutakan hatinya. Dalam pikirannya, tidak ada satu pun makhluk yang mampu mengalahkannya, bahkan naga yang dikenal sebagai makhluk terkuat sekalipun.Jume menundukkan kepalanya, menatap Samuetang dengan mata yang menyimpan ribuan tahun kebijaksanaan. Dengan suara berat namun tenang, ia berkata, “Wahai makhluk kecil, mengapa engkau begitu sombong hingga berani menantangku?”Samuetang tertawa kecil. Keberaniannya bukan tanpa alasan. Ia mengangkat tongkat yang digenggamnya erat-erat—sebuah tongkat ajaib yang diberikan oleh teman-temannya. “Aku telah diberikan kekuatan yang dapat mengalahkan apa pun dan siapa pun,” jawabnya dengan nada penuh keangkuhan.Raja para naga itu perlahan melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar, namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan amarah. “Sebenarnya,” ucap Jume dengan suara rendah, “engkau telah dibodohi oleh teman-temanmu sendiri.”Ucapan itu menusuk harga diri Samuetang. Dengan emosi meluap, ia membantah keras. Berkali-kali tongkat ajaib itu dihantamkan ke tanah, seolah ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar kuat.Namun saat itulah Jume menghembuskan napas api dari mulutnya. Api itu bukan semburan amarah, melainkan peringatan—panasnya cukup membuat udara bergetar, cahayanya menyinari wajah Samuetang yang perlahan kehilangan keberanian.Jume tidak murka. Yang ia rasakan hanyalah rasa iba. Baginya, Samuetang hanyalah seorang raja manusia yang tertipu oleh sesamanya, yang menggantungkan harga dirinya pada sesuatu yang bukan miliknya sendiri.Melihat kekuatan sejati Jume, tubuh Samuetang gemetar. Kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia terjatuh, dan pada saat yang sama, tongkat yang selama ini ia banggakan retak, lalu hancur menjadi serpihan tak berarti.Dengan suara lembut namun tegas, Jume berkata, “Ingatlah ini, Samuetang. Janganlah mempercayai kekuatan yang kau miliki, karena nyatanya kekuatan itu tidak selamanya menjadi milikmu.”Setelah mengucapkan kata-kata itu, Jume berbalik dan kembali merebahkan tubuhnya, melanjutkan tidurnya seolah peristiwa itu hanyalah pelajaran kecil bagi dunia.Samuetang pulang ke kerajaannya bukan sebagai raja yang menang, melainkan sebagai manusia yang sadar. Ia belajar bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari benda, bukan pula dari pujian orang lain, melainkan dari kerendahan hati dan kebijaksanaan.Makna cerita ini adalah bahwa manusia tidak diciptakan untuk menyombongkan apa yang ia miliki. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.Samuetang memiliki tongkat ajaib yang tidak dimiliki oleh Jume. Namun Jume memiliki napas api yang tidak dimiliki oleh Samuetang.Tidak ada yang sepenuhnya lebih tinggi, dan tidak ada yang sepenuhnya lebih rendah. Kesombongan hanya akan membuat kita lupa, bahwa apa yang kita banggakan hari ini bisa saja hilang esok hari.

Burung yang sangat indah
Fantasy
14 Jan 2026

Burung yang sangat indah

Suatu ketika Merak sedang beristirahat di bawah pohon yang lebat, Sang Merak disana kelelahan karena telah menghibur banyak Manusia dengan keindahannyaSemua manusia terpukau dengan bulu Merak yang sangat indah, bahkan melebihi permata seperti emas yang mengkilap. Sang Merak merasa bangga bahwa dirinya sangat indahBahkan Sang Merak begitu sombong dengan keindahan bulunya tersebut. Ketika Merak bertemu dengan Ayam, Sang Ayam bercerita bahwa dirinya tak sepesial Merak"Hei Merak, bagaimana caranya agar aku memiliki bulu seindah dirimu" Kata Si AyamSang Merak menjawab dengan penuh kesombongan "Hahahaha, Ayam. Kamu tidak bisa menjadi seindah seperti ku ini" Kata Merak ituAyam terlihat sangat sedih dengan kelakuan Merak, Ayam meninggalkan Merak dengan penuh kesedihan. Ayam lebih memilih untuk bersedih daripada marahBaginya walaupun marah atau sedih tidak dapat mengubah apapun, tetap seperti itu. Beberapa hari kemudian Manusia berbondong-bondong datang kembali untuk melihat Merak melakukan AtraksiSang Merak dengan Bangga memperlihatkan bulunya yang indah itu, sedangkan ayam hanya bisa melihat Merak melakukan atraksi di sampingnyaSemakin hari Merak semakin sombong, bahkan Sang Raja Hutan Singa memuji dengan keindahan bulunya. Itu membuat Sang Merak semakin banggaSuatu ketika, beberapa manusia mencurigakan masuk kedalam hutan tanpa sepengetahuan penjaga. Disana Merak sedang tertidur pulas bersama AyamManusia itu membawa senapan, seakan-akan terlihat ingin memburu sesuatu, Sang Merak terbangun saat ia terbangun ia begitu ketakukanIa takut dirinya akan di buru oleh manusia karena keindahannya. Sang Merak memanggil ayam yang tidur disampingnya"Hei Ayam, bangunlah. Manusia itu ingin memburuku" Kata Merak dengan penuh ketakutanAyam terbangun, tetapi ayam tak menanggapi si Merak, Merak disana begitu ketakutan tidak ada Seekor Hewan yang ingin menyelamatkan nyaSang Merak akhirnya Pasrah untuk diburu oleh manusia tiba-tiba manusia itu melewati Sang Merak begitu saja, ternyata manusia yang membawa senapan itu adalah Penjaga hutan yang mengelola hutan dan menjaga hutan dari Hewan Liar yang tidak terdaftar pada Hewan wisataAkhirnya Merak begitu lega, Tiba-tiba Singa dan Ayam mendekati Merak. Ayam berkata "Ingat Merak, keindahan bulumu itu tidak bisa menyelamatkan dirimu bahkan itu bisa membawamu kedalam masalah" Kata Ayam dengan menasehati Merak"Hei Merak, Kesombongan mu itu sebagai Hewan yang cantik hanya sebatas itu. Percuma indah bila keindahan itu hanya bisa memikat orang bukan untuk melindungi orang" Kata Singa ituPada akhirnya Sang Merak meminta maaf dengan semua kesombongannya. Keesokan harinya Merak, Singa dan ayam melakukan atraksi bersamaanAkhirnya mereka bertiga menjadi sahabat yang tak terpisahkan dan memiliki kekurangan dan kelebihan. Tugas mereka adalah saling menutupi kekurangan satu sama lain....

kisah ular yang tak berbisa
Fantasy
14 Jan 2026

kisah ular yang tak berbisa

Di hutan yang lebat, terdapat seekor Ular yang tak berbisa. Sang ular itu selalu diganggu oleh hewan hewan yang lain bahkan mangsa ular tak berbisa ini sering di ambil oleh hewan hewan yang lainSang ular itu merasa sedih sekaligus kesal karena selalu direndahkan oleh hewan yang lain, namun seuatu hari datang Seekor ular yang mematikan, ia bisa membunuh badak dengan sekali gigit dengan racun ituSang ular yang tak punya racun itu sangat iri dengan si ular yang memiliki racun itu"Hay, ular berbisa bagaimana cara kamu mendapatkan racun tersebut" Sahut si ular yang tak berbisa"Aku memiliki racun ini dari keturunan" Jawab si Ular berbisa"Apakah saya bisa memiliki racun seperti kamu? " Ujar si ular tak berbisa"Kamu bisa saja memiliki racun yang ada di taringmu itu" Ujar ular berbisa"Bagaimana caranya" Ujar ular yang tak berbisaUlar itu langsung mengeluarkan racunnya dari mulut lalu ia berkata"Kamu harus meminum racun itu, tenang kamu akan baik baik saja"Ular yang tak berbisa itu menuruti kata ular yang berbisa, ular itu meminum racun yang telah dikeluarkan dari mulut ular yang berbisaNamun si ular yang tak berbisa itu mengalami sakit perut yang parah selama 1 minggu lalu ular itu berkata "Ular berbisa itu telah membohongi ku"Lalu Sang ular itu menemui ular yang berbisa dan berkata "Wahai ular berbisa, apakah kamu menipuku? ""Tidak, aku tidak menipumu" Ujar sang ular yang berbisa"Lalu kenapa aku mengalami sakit perut" Sahut si ular yang tak berbisa"Kamu akan mengalami rasa sakit yang luar biasa sebelum kamu mendapatkan kekuatan yang besar" Ujar sang ular berbisaAkhirnya si ular tak berbisa itu bersabar dan menunggu agar sakitnya itu hilang, akhirnya rasa sakit sang ular tak berbisa itu sembuhIa mulai berburu rusa dengan racunnya tersebut, sang ular itu merasa senang dan bergembira, lalu sang ular itu mengancam hawan hewan yang adaSang ular itu merasa sombong dengan kekuatan baru itu, ia terus mengigit para hewan yang menentangnya, hingga suatu saat ular itu merasa kesepian, karena tidak ada temen sama sekaliSang ular itu merasa bahwa dirinya telah berubah karena racun itu, dulu sang ular itu memiliki teman namun semenjak sang ular menerima racun itu ia tidak memiliki teman sama sekaliIa terus menjalani hidupnya dengan kesepian, hingga suatu saat ia mengalami penyakit yang mematikan karena racun tersebut, sang ular itu meronta ronta kesakitan, ia meminta maaf kepada hewan hewan yang telah ia sakitiNamun hewan itu tidak memafkan ular itu, di saat itu datanglah seekor Belalang yang berkata "Wahai ular, kamu telah memakan sahabatku, tapi aku memafkan mu, karena sahabat ku pasti akan melakukan hal yang sama jika aku dimakan"Hewan hewan lain yang mendengar perkataan si Belalang itu langsung ikut memafkan Sang ular, akhirnya sang ular memiliki teman lagi sebelum ia meninggalAkhirnya sang ular itu meninggal, hewan hewan yang lain merasakan sedih sekaligus senang.____________________________________

bintang untuk sang adik kecil
Fantasy
14 Jan 2026

bintang untuk sang adik kecil

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan hutan bambu, hiduplah sepasang kakak beradik bernama Dika dan Rani. Dika adalah kakak yang berusia sepuluh tahun, sedangkan Rani adiknya yang baru berusia tujuh tahun. Mereka tinggal bersama Ayah dan Ibu di rumah kayu sederhana.Dika selalu merasa dirinya harus menjadi yang paling hebat. Kalau bermain, ia ingin selalu menang. Kalau membantu Ibu, ia ingin dipuji lebih dulu. Sementara itu, Rani adalah gadis kecil yang ceria, tapi sering kali merasa tersisih karena kakaknya terlalu ingin jadi yang utama.Suatu sore, setelah membantu Ibu menjemur pakaian, Dika dan Rani duduk di teras rumah. Langit mulai berwarna jingga, menandakan matahari akan tenggelam. Rani berkata sambil menunjuk ke langit,“Kak Dika, lihat! Nanti kalau malam, bintang-bintangnya akan banyak sekali. Rani ingin sekali punya bintang.”Dika tertawa kecil.“Bintang itu jauh sekali, Ran. Kakak saja belum tentu bisa mengambilnya.”“Tapi pasti ada cara,” balas Rani dengan mata berbinar.Keesokan harinya, mereka mendengar kabar dari Pak Seno, kakek tua di desa yang suka bercerita, bahwa ada sebuah bintang jatuh yang terperangkap di dalam hutan bambu. Bintang itu konon bersinar lembut dan bisa memberi kebahagiaan bagi siapa pun yang menemukannya.Rani langsung menatap kakaknya dengan penuh harap.“Kak… kita cari bintangnya, ya?”Dika mengangguk. Ia juga penasaran, dan dalam hatinya ia ingin menjadi orang pertama yang menemukan bintang itu, supaya bisa membanggakan diri di depan teman-temannya.Mereka pun berangkat sore itu juga. Hutan bambu di tepi desa terasa sejuk, tapi makin lama semakin gelap. Angin bertiup pelan, membuat suara dedaunan bergesekan seperti bisikan rahasia.“Ran, jangan jauh-jauh dari kakak,” kata Dika sambil melangkah cepat.Rani berusaha mengikuti, tapi langkah kakaknya terlalu cepat. Ia terhenti sejenak, memandangi cahaya kecil yang berkelip di kejauhan.“Kak! Aku lihat sinarnya!” seru Rani.Namun Dika tidak menoleh. Ia terus berjalan mengikuti jalan setapak lain yang ia pikir lebih cepat. Rani akhirnya memberanikan diri berjalan menuju cahaya itu sendirian.Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah bintang kecil, sebesar kepalan tangan, yang tersangkut di rumpun bambu. Sinarnya hangat dan membuat hati terasa damai. Rani mengulurkan tangannya, dan bintang itu seperti menyambutnya, mengapung di telapak tangan kecilnya.Di saat yang sama, Dika malah tersesat. Jalan yang ia pilih ternyata buntu. Ia mulai panik ketika matahari benar-benar tenggelam. “Rani! Rani!” panggilnya.Tak lama kemudian, dari balik rumpun bambu, muncul Rani dengan wajah lega.“Kak Dika! Aku menemukan bintangnya!” katanya sambil menunjukkan cahaya hangat itu.Dika terdiam. Ia merasa campur aduk—antara kagum dan malu. Selama ini ia selalu ingin menjadi yang paling hebat, tapi ternyata adiknya yang menemukannya.“Bagaimana kalau bintangnya untuk Kakak saja?” tanya Rani tulus.Dika menggeleng. “Tidak, Ran… Kamu yang menemukannya. Kakak malah meninggalkan kamu. Maaf, ya.”Rani tersenyum. “Tapi kita bisa memegangnya sama-sama, Kak.”Mereka pun memegang bintang itu bersama. Cahaya hangatnya semakin terang, dan entah bagaimana, bintang itu perlahan terbang ke langit malam, meninggalkan jejak cahaya seperti pelangi. Meski bintang itu pergi, hati mereka terasa penuh kebahagiaan.Sesampainya di rumah, Dika tidak menceritakan bahwa adiknya yang menemukannya. Ia hanya berkata kepada Ayah dan Ibu bahwa mereka menemukan bintang itu bersama-sama.Sejak malam itu, Dika berubah. Ia tidak lagi ingin selalu menjadi yang utama. Ia mulai belajar mendengarkan Rani, bermain bersama, dan membiarkan adiknya mencoba hal-hal baru lebih dulu.Sementara itu, Rani merasa kakaknya kini lebih hangat dan perhatian. Mereka menjadi kakak beradik yang saling membantu, bukan saling mendahului.Dan di malam yang cerah, saat mereka duduk di teras rumah, Rani terkadang berkata sambil menunjuk ke langit,“Kak, lihat… itu bintang kita.”Dika tersenyum, karena ia tahu, bintang itu bukan hanya milik Rani atau dirinya, tetapi milik mereka berdua—simbol bahwa kebahagiaan lebih indah jika dibagi bersama.---Pesan yang bisa di ambil:Kadang, menjadi hebat bukan berarti selalu menjadi yang pertama atau paling pintar, tetapi mau berbagi, saling menghargai, dan menjaga orang yang kita sayangi. 🤗

Anak ayam
Fantasy
14 Jan 2026

Anak ayam

Pada zaman dahulu ada sebuah keluarga ayam yang sederhana dan hidup bahagia di sebuah hutan lebatMereka hidup bahagia tanpa di ganggu oleh manusia, mereka hidup berdua saja anak ayam dan ibu ayamNamun suatu hari ibu dari anak ayam itu di culik oleh sebuah Elang yang jahat."Wahai anak ayam, akan ku bawa ibumu" Sahut sang Elang"Untuk apa kamu membawa ibuku" Jawab anak ayam dengan panikElang itu pun pergi membawa ibunya si anak ayam tersebut tanpa menjawab pertanyaan Si anak ayam ituAnak ayam itu merasa sedih dan menangis, lalu semut itu menghampiri anak ayam yang sedang menangis"Wahai ayam kecil, Ada apa?kenapa kamu menangis" Sahut si semut itu"Ibu ku di bawa oleh Elang" Jawab si Anak ayam tersebut dengan sedih"Wahai anak kecil, janganlah engkau menangis, karena tangisanmu itu tidak membuat Ibumu kembali kepada mu" Ujar si semut itu"Lalu apa yang harus kulakukan" Ujar anak ayam"Pergilah, carilah ibumu. Aku melihat Elang itu membawa seekor ayam. Mungkin saja itu ibumu. Pergi lah ke arah barat" Ujar sang semutAnak ayan itu pun pergi meninggalkan semut kecil itu, Di perjalanan Anak ayam itu merasa sedih karena ditinggalkan oleh ibu tercintanyaSaat lagi berjalan anak ayam itu terhenti karena ia harus melewati sungai yang besar, Saat itu datanglah seekor burung yang sombong"Wahai ayam kecil, apa yang kamu lakukan itu" Sahut burung itu"Aku ingin menyebrangi sungai tersebut wahai burung" Jawab anak ayam tersebut"Hahahaha, kamu adalah anak ayam tidak bisa terbang bagaimana caranya kamu bisa melewati sungai ini" Ujar si Burung itu dengan sombong.Namun datanglah seekor ikan dari sungai itu dan berkata "Wahai burung, cobalah untuk berenang di sungai ini" Ujar ikan"Akan kuterima tantangan mu itu" Jawab si burungBurung itu bisa berenang dengan hebat di atas air, namun badai pun datang menerjang sang burung ituIkan itu tidak terbawa arus karena ikan ahli dalam berenang sedangkan anak ayam bersembunyi di bawah pohon dekat sungaiNamun Burung itu terbawa oleh arus air, Burung itu tidak bisa terbang karena bulu bulunya yang basah terkena air.Akhirnya badai pun berhenti burung itu terdampar di sebuah pinggiran sungai, Ikan dan anak ayam segera menuju kesanaIkan pun berkata "Wahai Burung kamu telah sombong terhadap binatang yang lemah, ini akibat dari kesombongan mu" Ujar sang ikan"Aku minta maaf wahai ikan" Ujar sang burung sambil menangis"Wahai anak ayam, jadikanlah ini pelajaran untuk mu, karena Sehebat-hebatnya hewan ia memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing" Ujar ikan ituAnak ayam itu mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan meminta si ikan untuk mengantarkannya ke sebrang sungaiAkhirnya ikan mencari kayu untuk di gunakan anak ayam agar bisa menyeberangi sungai ituAkhirnya anak ayam menaiki kayu itu dan di dorong oleh ikan tersebut"Wahai ikan, aku sangat berterima kasih kepada mu karena telah membantu ku" Ujar sang anak ayam"Wahai teman ku, tidak usah berterima kasih. Berhati hatilah di jalan" Ujar sang ikan kepada Anak ayamAnak ayam itu langsung melanjutkan perjalanannya menuju arah barat. Anak ayam itu mempelajari dari kejadian kemarin bahwa setiap binatang memiliki kelebihan masing-masingAnak ayam itu terus berjalan hingga waktu malam pun tiba, saat malam anak ayam itu melihat seekor ular yang lagi memakan Ayam di sekitaran sanaAyam itu pun terkejut dan ingin berlari, namun anak ayam itu diketahui keberadaannya oleh ular tersebutSang ular sudah siap memakan anak ayam itu, anak ayam itu ketakutan namun seekor singa membantu anak ayam tersebut"Ular, temanku. Jangan makan ini" Ujar Sang singa"Kenapa kamu melarangnya?" Jawab ular itu dengan terheran heran"Wahai ular, kamu tidak berhak memakan ini" Ujar singa tersebutUlar itu tidak mendengarkan si singa itu dan memakan anak ayam itu, ular langsung memakan anak ayam namun setelah beberapa menit ular itu mengalami sakit perutTernyata yang ia makan itu adalah Cacing beracun, Sangking rakusnya si ular itu sampai sampai ular tersebut berkhayal bahwa yang ia lihat itu adalah ayam ternyata itu adalah cacingSang singa itu berkata kepada anak ayam "Inilah akibatnya tidak mendengarkan kata orang lain""Apa yang terjadi dengan dia" Ujar sang ayam"Sangking rakusnya ular itu, ia tidak mendengarkan peringatan ku" Ujar sang singaSinga itu telah memperingati si ular agar tidak memakan apa yang ia lihat itu.Akhirnya anak ayam itu mendapatkan pelajaran yang sangat berharga bagi dirinyaAkhirnya anak ayam itu berjalan kembali hingga suatu saat ia melihat Seekor Elang yang membawa ibunya itu"Heiii, Elang kemana ibuku" Sahut anak ayam"Anak ayam, lihatlah kebawah" Ujar Elang ituAkhirnya anak ayam tersebut melihat ibunya yang sedang menanam jagungTernyata Elang itu meminta agar ibu dari anak ayam itu menanam jagung untuknya"Ibuu" Ujar anak ayam itu sambil terharu"Anaku" Jawab ibu dari anak ayam ituElang tersebut tersenyum dan berkata "wahai anak ayam, kamu pasti telah melewati banyak pelajaran yang penting""Ya" Ujar anak ayam____________________________________Pelajaran yang bisa kita ambil dari kesombongan burung adalah:Jangan pernah sombong sampai merendahkan orang lain. Karena setiap manusia memiliki kehebatannya dalam berbagai bidangContohnya:Ikan pandai berenang tapi tidak bisa terbang tinggi, Burung pandai terbang namun tidak bisa berenang sepandai ikan.Pelajaran yang bisa kita ambil dari ular yang rakus adalah: dengarkan lah kata orang lain, karena setiap kata dari orang lain ada yang terbaik untuk kita, apalagi kata dari orang tuaPelajaran dari anak ayam. Janganlah kalian berprasangka Buruk terhadap orang lain karena prasangka kita tidak sesuai dengan apa yang kita lihat nantinya.

Gadis dalam Foto
Horror
14 Jan 2026

Gadis dalam Foto

Note:Gadis dalam foto merupakan sebuah cerita seram tentang seorang laki-laki yang menemukan gambar gadis cantik. Laki-laki itu mulai terobsesi padanya. Setelah melakukan beberapa penelitian, aku sangat yakin cerita ini berasal dari Jepang atau Korea.Suatu hari, seorang laki-laki sedang duduk di ruang kelas. Ia benar-benar bosan menunggu bel pulang sekolah berbunyi. Saat ia melihat keluar jendela, pandangan matanya menangkap sesuatu. Ada sebuah foto tergeletak di rerumputan di luar sana.Saat sekolah telah berakhir, laki-laki itu berlari keluar kelas dan memungut foto itu sebelum orang lain sempat melihatnya. Ia membalikkan foto tersebut dengan tangannya. Lalu ia menyadari bahwa itu adalah foto seorang gadis yang sangat cantik. Gadis itu memakai atasan berwarna putih, rok hitam pendek yang ketat, dan sepatu yang juga berwarna hitam. Karena beberapa alasan, ia memegang dua jari.Si gadis sangat cantik sehingga laki-laki itu ingin bertemu dengannya. Si laki-laki menunjukkan foto tersebut pada semua orang di sekolah dan bertanya jika mereka mengenalnya. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang mengenalinya.Malam itu saat si laki-laki pergi ke tempat tidur, ia meletakkan foto si gadis di meja samping ranjangnya, lalu ia tidur. Sekitar tengah malam, ia terbangun. Ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk jendela. Kemudian, ia mendengar seseorang yang tertawa terkikik. Meskipun sedikit ketakutan, ia mencoba memberanikan diri untuk menyelidiki asal suara. Ia melompat keluar dari ranjang, lalu menuju jendela dan membukanya. Tidak ada apa pun di luar.Hari berikutnya, laki-laki itu menunjukkan foto si gadis pada teman-teman dan tetangganya. Ia bertanya apakah mereka tahu siapa gadis tersebut. Semua orang yang ia temui mengatakan bahwa mereka belum pernah melihat si gadis seumur hidupnya.Malam itu saat laki-laki berbaring di tempat tidur, ia mendengar sesuatu mengetuk jendela lagi. Ia melihat keluar jendela dan menangkap sesosok bayangan sedang berdiri di seberang jalan. Ia tidak yakin, tapi bayangan itu seperti gadis misterius dalam foto.Laki-laki tersebut berlari ke lantai dasar menuju pintu depan sambil menggenggam erat foto si gadis. Saat ia menyeberang jalan, ia lupa untuk melihat ke kanan dan ke kiri hingga tiba-tiba sebuah mobil menabraknya. Pengemudi mobil keluar dari kendaraannya untuk menolong si anak laki-laki, tapi percuma. Anak laki-laki tersebut telah tewas.Si pengemudi memperhatikan sesuatu tergenggam erat di tangan bocah laki-laki. Pengemudi lalu membalik foto itu dengan tangannya. Lalu, si pengemudi menyadari bahwa itu merupakan foto seorang gadis yang sangat cantik. Gadis itu memakai atasan berwarna putih, rok hitam pendek yang ketat, dan sepatu yang juga berwarna hitam. Karena beberapa alasan, gadis itu meme

Hello Kitty
Horror
14 Jan 2026

Hello Kitty

Hello Kitty merupakan karakter kartun terkenal di Jepang. Menurut legenda, Hello Kitty dibuat oleh seorang wanita China pada akhir 1970-an. Rupanya, anak perempuannya yang berumur 14 tahun telah didiagnosa menderita penyakit kanker mulut. Para dokter memberitahu si ibu bahwa anaknya sakit parah dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuknya.Si ibu menolak untuk menyerah. Ia mengunjungi semua gereja di kota untuk berdo'a bagi putrinya. Saat semuanya tidak berhasil, ia menjadi putus asa. Ibu yang putus asa ini lalu terlibat dalam ritual yang memuja setan. Mereka bilang, bayaran untuk menyelamatkan putrinya adalah dengan membuat perjanjian bersama setan itu sendiri.Untuk mengobati penyakit kanker putrinya, si setan hanya meminta satu hal. Si ibu harus membuat karakter kartun yang akan menarik perhatian anak-anak di seluruh dunia. Setan ingin menggunakan popularitas karakter kartun ini untuk menipu manusia agar memuja setan. Saat sang putri sembuh dari penyakit kanker, si ibu menepati janjinya pada setan. Ia membuat Hello Kitty.Menurut cerita, Hello Kitty didesain tidak memiliki mulut karena si anak perempuan memiliki kanker mulut. Telinga runcing Hello Kitty menggambarkan tanduk setan. Kata "Kitty" berarti setan dalam Bahasa China. Jadi, Hello Kitty berarti Halo Setan. Mereka bilang jika seseorang membeli sebuah pernak-pernik Hello Kitty, berarti ia menyilakan masuk setan ke dalam hati mereka. Penganut Satanisme di seluruh dunia menggunakan Hello Kitty sebagai simbol rahasia. Banyak dari mereka yang menggambar Hello Kitty pada tubuh mereka. Pemuja setan menyebut Hello Kitty sebagai anak perempuan setan.Tentu saja, ini semua hanyalah sebuah legenda urban. Hello Kitty sebenarnya dibuat oleh sebuah perusahaan asal Jepang bernama Sanrio yang memiliki kemampuan mendesain karakter kartun. Hello Kitty sebenarnya didesain sebagai hiasan dompet. Juga, Hello Kitty tidak memiliki arti setan dalam Bahasa China.Perancang membuat Hello Kitty tanpa mulut karena mereka ingin membuat ekspresinya sulit ditebak. Ekspresi kosong bertujuan supaya kau dapat memberikan emoticon-mu sendiri terhadap kartun ini. Jika kau sedih, lalu Hello Kitty akan melihatmu dengan wajah sedih. Jika kau bahagia, maka Hello Kitty akan terlihat bahagia. Hello Kitty akan terlihat merasakan emosi apa pun yang sedang kau rasakan. Jadi, kebenarannya adalah Hello Kitty tidak berhubungan dengan ritual setan atau pemujaan iblis sama sekali.Namun demikian, pada tahun 1999, sebuah pembunuhan sadis terjadi di Hong Kong. Sekarang, cerita itu terkenal dengan sebutan "Pembunuhan Hello Kitty". Tiga orang lelaki menculik seorang wanita muda dan menahannya di apartemen mereka selama sebulan. Mereka menyakitinya, kemudian membunuhnya. Kasus ini terkenal sebagai Pembunuhan Hello Kitty karena para pembunuh memotong kepala korbannya dan menyembunyikannya di dalam boneka Hello Kitty. Kalau yang ini cerita yang benar-benar terjadi.***

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 4 dari 35
Menampilkan 24 cerita