Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Taman Bermain
Folklore
14 Jan 2026

Taman Bermain

Ini terjadi saat aku menjadi mahasiswa. Aku sedang berjalan pulang ke rumah saat aku dihentikan oleh seorang gadis kecil. Ia terlihat berumur lima atau enam tahun. Ia menyambar tanganku dan mulai menarikku."Tolong datanglah," ia memohon. "Ibuku membutuhkan bantuan..."Aku tidak tahu mengapa, tapi karena beberapa alasan aku pergi bersamanya.Gadis cilik itu menyeret tanganku sekitar 4 atau 5 blok sampai kami tiba di sebuah taman. Ada pohon-pohon, bangku, ayunan, dan perosotan. Mungkin karena sudah agak petang, taman itu terlihat sepi.Gadis itu tidak mau melepaskan tanganku. Ia menyeretku ke arah perosotan. Di dekatnya, aku melihat seorang wanita duduk di bangku di bawah sebuah pohon. Dari tempatku berdiri, aku tidak bisa melihat wajahnya karena cabang-cabang pohon menutupinya."Aku membawa seseorang, Bu!" gadis cilik itu memanggilnya dengan ceria.Si wanita yang duduk di atas bangku tidak bergerak.Dari belakang cabang-cabang pohon, aku mendengarnya berkata, "Maafkan saya. Itu anak perempuan saya..."Ada sesuatu tentang suara wanita itu yang membuat bulu kudukku merinding. Aku merasakan sesuatu yang sangat-sangat salah. Aku hanya ingin pergi dari sana secepat mungkin.Si gadis kecil berkata, "Ayo, bermain denganku." Ia lalu berlari ke arah perosotan."Maafkan saya, itu anak saya..." kata wanita itu lagi dalam nada datar.Aku masih tidak bisa melihat wajahnya. Sesuatu tentang caranya duduk membuatku gelisah. Aku mulai berkeringat dingin. Si gadis cilik bermain di perosotan di belakangku. Sedangkan matahari terbenam sehingga mulai berubah gelap."Mengapa Anda memberitahu anak Anda untuk membawa saya ke sini?" tanyaku. "Mengapa saya?"Saat itu, wanita tersebut tiba-tiba berteriak, "Jenny!"Ada suara gedebuk. Aku menoleh ke arah perosotan di belakangku. Gadis kecil itu telah terjatuh. Ia berbaring tanpa suara di atas tanah. Wajahnya pucat, sedangkan matanya terbuka lebar. Ia terlihat tidak bernapas. Saat aku melihatnya dengan penuh ketakutan, darah mulai merembes hingga menyebar di sekitar kepalanya.Aku ingin menelepon polisi, ambulan, atau apa pun itu... tapi aku membeku ketakutan. Aku tidak bisa bergerak.Aku menoleh kembali ke arah bangku taman. Wanita itu duduk di sana tanpa bergerak. Aku tidak mengerti mengapa ia tidak menolong anak perempuannya.Aku menggapai dan menarik cabang-cabang pohon yang menutupi wajahnya. Apa yang kulihat membuatku menjerit ketakutan. Itu adalah wajah mayat seorang wanita.Wajahnya berwarna keunguan. Matanya menonjol keluar, sedangkan lidahnya menjuntai diantara bibirnya. Ada sebuah syal yang membungkus lehernya dengan ketat. Ujungnya terikat di cabang pohon di atasnya. Ia menggantung dirinya sendiri.Mulut wanita itu terbuka dan ia menggumam, "Maafkan saya, itu anak saya..."Aku tidak ingat banyak setelah itu. Pikirku, aku pasti pingsan.Saat aku kembali sadar, aku sedang berbaring di atas tanah. Saat itu sangat gelap, sedangkan taman sudah sepi. Aku bangun dan lari pulang ke rumah.Setelahnya, aku mendapati kabar bahwa wanita itu melakukan bunuh diri di taman bertahun-tahun yang lalu. Anak gadisnya tewas dalam sebuah kecelakaan, sehingga ia menyalahkan dirinya sendiri. Wanita yang malang tersebut menjadi putus asa hingga ia akhirnya bunuh diri.Taman bermain lalu ditinggalkan sejak saat itu, tapi aku tidak akan pernah melupakan apa yang aku lihat.

Hotel Murah
Folklore
14 Jan 2026

Hotel Murah

Delapan tahun lalu, aku bekerja di sebuah perusahaan keamanan di Jepang. Itu adalah perusahaan kecil yang sibuk sepanjang tahun. Beberapa dari kami harus menghadiri konferensi bisnis di luar kota. Tugasku adalah memesan beberapa kamar hotel dimana kami bisa menginap.Sebulan lebih sebelum konferensi, aku membuka internet untuk memesan empat kamar di sebuah hotel yang murah. Kelompok yang pergi ke konferensi adalah aku sendiri, rekanku yang bernama Shinichi, manajer kami, dan pemilik perusahaan.Sehari sebelum konferensi dilaksanakan, aku menelepon pihak hotel untuk mengkonfirmasi pemesanan. Tapi aku dikejutkan oleh kabar yang tidak menyenangkan. Saat mereka mengecek pemesanan, staf hotel menyadari mereka membuat kesalahan besar. Mereka hanya menyediakan dua kamar single untuk kami.Aku sangat geram. Aku memprotes dengan marah, tapi staf hotel memberitahuku mereka tidak memiliki kamar lain. Aku menuntut untuk berbicara pada manajer hotel. Akhirnya, ia memberitahuku ada kamar ganda yang bisa ia berikan pada kami dengan harga yang sama dengan kamar single . Aku tidak terlalu senang, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.Hari berikutnya, kami menghadiri konferensi. Saat kami sampai di hotel, saat itu sekitar pukul satu pagi. Kami mengambil kunci kami di meja resepsionis. Karena sangat lelah, jadi kami berempat langsung masuk ke kamar. Tentu saja, pemilik perusahaan dan manajer memperoleh kamar single . Jadi, aku dan Shinichi terpaksa berbagi kamar.Kamar kami terletak di lantai atas pada bagian belakang hotel. Saat aku membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan, aku merasakan perasaan ngeri yang aneh. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi entah kenapa ruangan itu memiliki suasana yang sangat tidak menyenangkan. Kamar itu didekorasi bergaya Jepang, tapi luar biasa kotor.Karena aku sudah lelah, jadi aku masuk ke dalam kamar sambil menaruh koperku di atas lantai. Aku bisa melihat rekanku, Shinichi yang tidak terlalu bahagia. Aku mencoba meyakinkannya bahwa mungkin saja kamar itu tak seburuk kelihatannya.Ada dua buah futon * di atas lantai. Keduanya terlihat sedikit baru, tapi yang lainnya kotor dan tertutupi debu. Tirai terlihat compang-camping dan lembab. Kertas dinding mengelupas dari dinding dengan tambalan-tambalan, bahkan ada jamur dimana-mana. Hal itu sangat menjijikkan. Kamar tersebut seperti tidak pernah dipakai selama bertahun-tahun.Ada dua buah shoji ** untuk berganti pakaian, jadi kami pergi ke belakangnya untuk berganti pakaian. Aku sedang menunduk ke lantai saat aku melihat sebuah noda merah gelap di karpet, seolah-olah seseorang menumpahkan sesuatu di sana tapi tak ada orang yang mau membersihkannya.Aku memutuskan untuk protes ke manajer hotel tentang hal itu keesokan harinya. Pada waktu itu, yang paling kuinginkan adalah cepat-cepat mandi dan pergi tidur. Namun demikian, saat aku masuk ke dalam kamar mandi, ada bau busuk yang membuatku menutup hidung. Kamar mandi itu lembab dan pengap. Bak mandinya dipenuhi noda berwarna cokelat.Kami berdua tidak jadi mandi, jadi kami hanya berbaring di atas futon dan mencoba untuk tidur. Futon yang kugunakan menghadap langsung ke arah kamar mandi, sedangkan futon milik Shinichi menghadap ke arah jendela.Pada tengah malam, aku tiba-tiba terbangun. Aku mengedipkan mata dan melihat sekeliling. Dalam cahaya temaram, aku melihat pintu kamar mandi terbuka. Sebelumnya, pintu itu tertutup untuk mencegah baunya memasuki ruangan. Tapi sekarang pintu tersebut terbuka. Saat pandanganku berpindah ke bawah, aku melihat sesuatu bergerak di lantai.Saat itu sangat gelap, aku tidak bisa memastikan itu apa. Ada dua bentuk gelap mencakari karpet."Apa lagi sekarang?" geramku. "Tikus?"Mataku berangsur-angsur menyesuaikan diri dengan kegelapan. Aku tidak percaya pada apa yang kulihat. Itu adalah kepala seorang wanita dengan rambut hitam yang panjang. Apa yang kukira tikus ternyata adalah tangan wanita tersebut.Tangannya yang berbonggol menggenggam dan mencakari karpet sebelum tubuhnya secara perlahan-lahan merangkak keluar dari kamar mandi, sedikit demi sedikit. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut.Aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat itu seolah-olah aku lumpuh. Aku tidak bisa bergerak. Aku hanya berbaring di sana, menatap ketakutan pada wanita yang merangkak pelan-pelan ke arahku... inci demi inci... semakin dekat.Akhirnya, aku tidak tahan lagi. Aku mengeluarkan teriakan yang tadinya tertahan dan berjuang keluar dari tempat tidur. Aku menghidupkan lampu dan wanita itu menghilang. Aku gemetar hingga keringat dingin turun dari dahiku."Shinichi," aku berbisik. "Apakah kau melihatnya...? Wanita itu... ia merangkak menyeberangi lantai..."Aku mendekat untuk mengoyang-goyangkan tubuh Shinichi, tapi ternyata ia sudah bangun. Ia menoleh hingga aku bisa melihat matanya terbuka lebar penuh ketakutan."Aku juga melihatnya," ia berkata dengan suara bergetar. "Setengah jam yang lalu, ia menatap tajam melalui jendela... menatapku..."Kami berdua berjuang untuk berdiri, menyambar tas kami, dan lari keluar dari ruangan. Kami menghabiskan waktu semalaman di ruang manajer untuk memberitahunya apa yang kami lihat.Pagi berikutnya, kami pergi ke meja resepsionis untuk protes. Aku memberitahu manajer hotel bahwa kami tidak akan pernah menginap di hotelnya lagi. Kami juga akan memperingatkan semua orang yang kami kenal untuk tidak menginap di sana.Kapan pun aku memikirkan tentang hantu wanita itu, betapa ia dekat sekali dengan kami, itu membuatku merasa ketakutan.****Futon: Jenis perangkat tidur tradisional Jepang. Futon digelar di atas tatami, di atas tempat tidur, atau kasur. Satu set futon terdiri dari shikibuton sebagai alas tidur dan kakebuton yang lebih lunak sebagai selimut.**Shoji: Panel dari rangka kayu berlapis kertas transparan. Kertas pelapis dapat berupa washi atau kertas bercampur serat sintetis. Dalam arsitektur tradisional Jepang, shōji berfungsi sebagai pintu geser, atau ketika dipasang permanen sebagai jendela atau partisi.

Sentuhan Sihir
Romance
14 Jan 2026

Sentuhan Sihir

“Hayo… tebak, apa yang akan keluar dari topi ini?” tanya pesulap.“KELINCI…” teriak anak-anak bersamaan.Mereka berkerumunan di depan panggung kecil berukuran 4 meter x 2 meter dengan papan yang bertuliskan “Pesulap Ciamik dari Ciamis”.“Wah… ternyata kalian sudah sering melihat pesulap ya? Tapi jawaban kalian salah”.Aku tersenyum melihat acara sulap ini. Setiap hari minggu sore, pesulap itu selalu datang menghibur di taman kompleks perumahanku. Menyenangkan menurutku. Setidaknya acara ini bisa mengusir rasa bosanku. Hari ini, aku akan menghadiri pesta ulang tahun teman sekelasku. Aku mengenakan longdress biru dengan cardigan hitam sebagai pengusir hawa dingin. Aku melirik jam tangan, mencoba memastikan sesuatu. Penampilan pesulap telah berakhir. Aku dapat merasakan kekecewaanku, hilanglah hiburanku.“Sedang menunggu seseorang?” tanya pesulap tampan yang tanpa ku sadari duduk di sampingku.Aku menggeleng, ”Lebih tepatnya sekawanan tukang ngaret”.Dia tersenyum mendengar jawabanku.“Apakah kamu akan ke pesta ulang tahun?”.“Wah… ternyata selain tukang sulap, kamu juga seorang peramal?” candaku.“Bukan… aku hanya menebak karena itu” ia menunjuk ke arah tasku yang terbuka dan terlihat kotak yang dilapisi kertas kado bergambar balon dan lilin.Seketika aku dan dia tertawa.“TEET… TEET… SARAH AYO KITA TELAT NIIIH” teriak Dea sambil tetap membunyikan klakson mobil.“Aish… siapa sih yang ngaret” umpatku.“Tunggu sebentar” pesulap itu berdiri, lalu kedua tangannya mengusap lembut kepalaku.Perlakuannya membuatku terkejut.Belum selesai aku terkejut, ia berkata,”Sekarang kamu tampak lebih cantik”.Reflek tanganku menyentuh rambutku. Aku dapat merasakan bando kecil menghiasi rambutku.“SARAAAAH…” kali ini suara cempreng Mita memanggilku. Aku segera bergegas berlari ke mobil.“Ngapain aja lo?” tanya Nuri sebal.“Gak… gak… gak napa-napa” jawabku gugup.Mataku kembali melihat ke arah kursi taman tadi. Dia tampak sibuk menata peralatan sulap. Entah mengapa bibirku tertarik simetris ke samping membentuk lengkungan seperti bulan sabit.*Tiap minggu sore, aku jadi rajin berkunjung ke taman. 3 minggu ini pesulap tampan itu tak terlihat. Ini adalah minggu ke-4, aku mengunjungi taman ini. Aku sangat senang, karena ia berada di atas panggung dan telah memulai aksi sulapnya. Ia selalu menampilkan trik sulap yang jenaka. Aku menikmati tiap pertunjukan yang ia tampilkan.“Hai… masih ingat aku?” sapaku saat penonton telah bubar.“Oh… kamu yang gadis kelinci itu? Aku ingat!!!” serunya.“Kelinci???” seketika aku ingat, gigiku memang seperti kelinci. Aku dapat merasakan wajahku panas.“Walaupun seperti itu kamu terlihat cantik” tambahnya sambil tetap menata peralatan sulap, seketika aku mengaruk tengkuknya meskipun tidak gatal.“Oh ya… aku ingin mengucapkan terima kasih soal bando itu. Ini buat kamu” kataku sedikit gugup.“Oh… bando itu? Nggak apa-apa kok, nggak usah terima kasih” tanpa melihat ke arahku.“Kenapa? Kamu nggak suka?” tanyaku sedih.Seketika ia menoleh ke arahku. Ia tersenyum.“Baiklah, akan aku terima” katanya membuka bingkisan dariku.“Bagaimana? Apakah kamu suka?”.Sejujurnya, aku sangat antusias waktu memilihkan topi hitam ala pesulap untuknya.“Wow… ini bagus sekali. Aku janji akan selalu memakainya. Terima kasih ya…”.“Sarah. Kenalkan namaku Sarah” aku mengulurkan tanganku.“Aku Lucky” ia menyambut tanganku.Sejak hari itu, aku sering pergi ke taman tiap hari minggu sore. Kita sering menghabiskan waktu bersama setelah ia selesai pertunjukkan. Dia selalu bisa membuatku tersenyum. Bersama dia membuatku melupakan masalahku. Kedua orangtuaku yang selalu memaksakan kehendaknya kepada empat orang anaknya. Hingga detik ini, aku selalu menjadi seperti yang mereka pinta termasuk kuliah di bidang ekonomi bisnis padahal aku sangat ingin menjadi mahasiswa sastra.Lucky… Lucky…. Nama itu mulai mengisi hatiku. Taman ini menjadi tempat terindah. Tanpa kata cinta, tanpa ungkapan gombal, kami berdua berikrar berhubungan lebih dari sekedar teman dan lebih hangat dari seorang sahabat.*Hari ini sangat istimewa bagiku. Hari ini adalah hari pertamaku mulai menyandang status sarjana dan aku tak sabar ingin segera memperkenalkan Lucky ke ayahku. Ia telah berjanji akan menghadiri acara wisudaku.“Wah… selamat ya Sarah, papa bangga sama kamu” puji papa.Pria paruh baya ini mencium keningku. Sementara mama hanya menangis haru. Aku memeluknya, mencoba menenangkannya.Ibu, walaupun aku tak pernah mengungkapkan perasaanku tapi beliau selalu mengetahuinya. Ibu tahu, aku tidak pernah ingin membuat papa kesal seperti ketiga kakakku. Ibu paham, aku selalu menyimpan kemarahanku dan menggantikannya dengan senyuman. Beliau adalah wanita terhebat yang pernah ku temui.Saat aku memeluk ibuku, Lucky datang dengan membawa seikat bunga mawar merah, bunga favoritku.“Ibu, Pa, ada seseorang yang ingin aku kenalkan”.Aku menggandeng Lucky di depan kedua orangtuaku. Ini adalah pertama kali aku memperkenalkan seorang pria di hadapan mereka.“Lucky, Om, Tante” Lucky memperkenalkan diri.Dia mencium tangan ibu dan papa, suatu kesopanan yang jarang ditemukan saat ini.“Ini pria yang buat anak perawan ibu selalu terlihat bahagia ya?” celetuk ibu membuat pipiku memerah.“Nak Lucky, kerja sebagai apa?” tanya papa tanpa basa-basi.“Saya sebagai pesulap, Pak. Terkadang diundang di beberapa acara, terkadang tampil di jalan-jalan” jelas Lucky.Ia sama sekali tidak malu dengan keadaannya. Hal ini membuat senyuman tak pernah lelah menghiasi wajahku saat ini.“Oh… orangtua kamu setuju dengan pekerjaan kamu?” tanya papa lagi.“Sejak lahir saya tinggal di panti asuhan, om. Saat lulus SMP, saya mulai mencari uang sambil sekolah tapi tidak bisa menempuh pendidikan di universitas seperti adek Sarah”.“Oh… hebat sekali kamu, belajar menjalani hidup. Sarah, kamu harus seperti nak Lucky. Hidup itu harus survive” papa tertawa sambil menepuk bahu Lucky.“Pasti, pa” aku menatap Lucky.“Nak Lucky, kami mau pulang, mau istirahat. Bagaimana kalo nanti malam kamu datang ke rumah? Anggap saja datang ke syukuran kelulusan anak emas saya ini”.“Baik, om. Saya pasti akan datang” Lucky melepaskan tanganku yang sedari tadi menggandengnya.Papa dan ibu menuju tempat parkir terlebih dulu. Meninggalkanku dengan lucky.“Lucky… aku sangat senang. Terima kasih sudah datang”.Ia tersenyum.“Lucky… Ada apa di sebelah sana” aku menunjuk sesuatu ke arah pintu keluar, tanpa ia sadari aku mencium pipinya.“Sarah???” ia benar-benar terkejut.“Eh… eh… aku… aku ke parkir dulu. Nanti malam jangan lupa” aku berlari kecil menghindari tatapan Lucky.*Aku datang menemuinya. Aku berharap ia tidak curiga dengan mataku yang terlihat seperti menangis semalaman. Walaupun memang seperti itu kenyataannya. Aku tersenyum. Ia membalas senyumanku.“Lucky…. Aku…” ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirku yang pucat.“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu tapi matamu harus ditutup dulu” pintanya.Aku berjalan perlahan bergandengan dengannya. Lucky… apakah hatimu tak bisa terluka? Aku pikir papa benar-benar menyukaimu, tapi ternyata ia sengaja mengundangmu untuk memperkenalkan dengan seorang pria yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Lucky… maafkan aku.“Kita sudah sampai, sekarang kamu boleh membuka mata”.Aku melepaskan ikatan kain yang menutupi mataku beberapa saat yang lalu. Aku terkejut, kami berdiri tepat di depan bangku yang pertama kali mempertemukanku dengannya. Bangku ini dihiasi balon yang membentuk tulisan “SMILE”.“Apa ini?” tanyaku keheranan.Ia tersenyum. Lucky memberikanku sebuah kotak pink kecil.“Apa isinya? Bukan bom kan?” Lucky terkekeh mendengar pertanyaanku.Perlahan-lahan aku membuka kotak tersebut. Aku tak melihat apapun di kotak itu. Kotak itu kosong. Lucky mengambil tangan kiriku dan menutupi kotak yang telah terbuka itu dengan tanganku itu.“Tadaa…” aku terkejut.Sepasang anting-anting emas putih mengisi ruang kotak kosong. Lucky mengambilnya dan memasangkannya ke telingaku. Ia menolehkan kepalaku ke kanan ke kiri, mencoba memastikan apakah anting-anting itu cocok denganku. Aku hanya diam, menahan air mata yang ingin keluar.“Hah… telingamu berdarah!” serunya sambil memegang daun telinga kiriku.“Apa???” aku ikut memegangnya. Kali ini ia membohongiku, tak ada darah di sana.Namun di jarinya terlihat ada darah membuatku mengernyit keheranan. Kemudian ia menutupi jarinya dengan tangan kiri, perlahan-lahan keluar kain kecil warna-warni yang panjang. Kain panjang itu dilipatnya, lalu diletakkan ke kepalaku.“Bando lagi?” Lucky menggeleng.Saat ia melepaskan kain dari kepalaku. Aku dapat merasakan sesuatu di kepalaku. Kedua tanganku memegang kepalaku, ternyata Lucky memberikanku mahkota yang terbuat dari ranting-ranting dedaunan.“Kamu kira aku anak kecil, dikasih mahkota-mahkotaan” Aku berusaha bersikap manja seperti biasa, ia mengangkat kedua bahunya.Kain panjang itu dilemparkan ke udara. Seketika kain itu menghilang dan berganti dengan kelopak bunga mawar merah yang turun dari atas. Aku tertawa bahagia namun air mata tak bisa menahan lagi.“Wah… kamu membuaku terharu. Darimana kamu belajar trik romantis seperti ini?” godaku.“Entahlah… tiba-tiba muncul begitu saja di pikiranku” ia menggaruk kepalanya.Aku mencoba tersenyum. Ia selalu membuatku merasa spesial.“Sarah… hari ini adalah hari terakhir kita bertemu”.Aku tahu hal ini akan terjadi. Air mataku mengalir lebih deras.“Sarah, aku tidak ingin membuat kamu berubah. Selama ini kamu selalu menjadi yang terbaik bagi orangtuamu. Aku tidak ingin kamu bingung memilih antara aku atau orang tuamu”.“Lucky… kita masih punya kesempatan” aku memeluknya.“Sarah… kamu yang lebih tau daripada aku bahwa jawaban dari perjuangan kita adalah kegagalan” Lucky tak membalas pelukanku, “Aku tidak pernah bisa menunjukkan rasa baktiku kepada orangtuaku meskipun aku ingin. Aku tidak perlu mengatakan betapa beruntungnya kamu. Apakah kamu mau berbagi merasakan keberuntungan itu?”.Hari itu aku hanya bisa menangis sesenggukkan di pelukannya. Lucky… aku berjanji takkan pernah mengecewakanmu. Aku janji… aku janji.*“Ma, bagaimana dengan rok baruku ini?” tanya anak sulungku centil.”Maya, anak gadis tidak boleh memakai rok sependek itu. Diintipin orang, baru tau rasa kamu” kataku sambil menata barang di kamar baruku ini.Sejak suamiku meninggal satu tahun yang lalu, kedua anakku meminta pindah dari rumah yang telah ku tempati lebih dari 20 tahun. Sejak suamiku meninggal, anak-anak menjadi tempat tertinggi perhatianku. Aku ingin mereka juga mendapatkan pendamping hidup seperti ayah mereka.”Mama gitu deh, aku kan udah gedhe” bantahnya kesal.“Ini taruh di gudang belakang ya” perintahku, memberikan kardus ukuran sedang padanya. Ia menurut, meskipun dengan wajah yang cemberut.“Kring… kring…” terdengar bunyi bel sepeda pancal di depan rumahku.“Sandra, tolong bukakan pintunya” teriakku ke anak keduaku.“Sandra masih mandi, Ma” teriaknya.“Kring… kring…”.“Iya sebentar, siapa ya?” betapa terkejutnya saat aku membuka pintu.Aku mengenalnya. Bukan… aku sangat mengenalnya. Senyumannya, tatapannya, dan topi hitam itu. Ia tak berubah. Sama sekali tak berubah. Ia tampak lebih cocok menjadi pacar anakku daripada menjadi mantan terindahku.“Lucky…” panggilku pelan. Aku mencoba meyakinkan diriku.“Apa kabar Gadis Kelinci?” sapanya ramah.Ia tak berubah, sama sekali tak pernah berubah.

Cinta dan Cita Kita
Romance
14 Jan 2026

Cinta dan Cita Kita

Cinta cinta dan cinta adalah suatu kata tidak akan selesai dibahas. Kata yang mempunyai makna luas dan arti berbeda dalam setiap individu. Love is never die , karena dari masa ke masa "Cinta" tetap menjadi " Trending topic ".Saat pertama aku lahir ke dunia, cinta telah menyertai. Sebelum diberi nama Ajeng Citra Reynaldi, tuhan telah memperkenalkan dengan cinta yaitu cinta dari mama dan papa. Kemudian mama dan papa mengajarkanku untuk cinta pada tuhan, kakek, nenek, kakak, tetanggaku, hingga hewan kesayangan mama dan mbak Vio yaitu Leon si kucing hobi buang hajat sembarangan tanpa rasa bersalah. Menjijikkan...!!Orangtuaku tidak perlu susah payah mengajarkanku tentang cinta ke lawan jenis. Secara naluri, aku belajar mencintai dan tertarik pada pria pada awal masa pubertas. Pertama kali aku merasakan cinta pada temen sekelasku di kelas 1 SMP 45 Merah Putih, Malang."Kenalkan namaku Daufik Firdaus panggilannya Dafid, nama kamu siapa?" tanyanya padaku sambil mengulurkan tangan. Dia berdiri di depan bangkuku, setelah berkenalan dengan teman sebangkuku.Aku tidak langsung menjawab untuk memperkenalkan diri. Karena aku sedang sibuk mencoba memperbaiki pulpenku yang ada 4 pilihan warna dalam satu tempat. Entah mengapa, pulpen itu rusak saat aku mencoba memilih dua warna sekaligus."Ada apa? pulpen kamu rusak ya?" tanya Ivi, teman sebangkuku.Aku hanya mengangguk tanpa menolehkan wajahku. Di benakku hanya terbayang wajah seram mbak Vion. Saat ia tahu pulpennya yang aku ambil diam-diam dari tasnya rusak. Sebenarnya ini kesalahan mama, masak aku dibelikan gambar Power Rangers sedangkan pulpen mbak Vion bergambar Hello Kitty. Seharusnya mbak Vion dibeliin yang polos tanpa gambar kan dia udah masuk SMA, kelas tiga pula."Sini, aku coba baikin" kata Dafid yang tanpa menunggu jawaban dariku, mengambil pulpen dari tanganku.Dafid mencoba memperbaiki pulpen Hello Kitty itu. Sementara itu aku dan Ivi menunggu dengan Harap-Harap Cemas. Akhirnya pulpen yang sok manis itu bisa kembali seperti semula."Terima kasih ya? siapa tadi nama kamu? Dafid ya? Perkenalkan namaku Ajeng Citra Reynaldi, cukup kamu panggil Ajeng" kataku dengan penuh semangat.Dafid hanya mengangguk dan tersenyum. Oh My God !!! ternyata dia cakep banget, apalagi hidungnya yang mancung itu. Aku pun membalas senyumannya. Aku tetap memandanginya meski dia telah pergi menuju lapangan."Cie... cie... kamu suka sama dia ya?" goda Ivi sambil menyenggol bahu kananku."Apaan? ke kantin yuk ntar ku traktir".Setiap hari aku suka merhatiin Dafid baik di kelas, di kantin, di tempat parkir dan semua sudut di sekolah. Aku suka banget sama dia tapi rasa itu tiba-tiba hilang. Cukup satu alasan karena makanan favoritnya adalah yang paling aku benci di dunia ini yaitu paetae alias pete. Informasi ini didapatkan, saat wawancara mewakili JSP (Jurnalis Siswa Prestasi yaitu ekstrakulikuler jurnalis di sekolah) untuk mengisi profil siswa berprestasi di majalah sekolah. Saat itu Dafid meraih juara 1 Lomba Catur se- kota Malang. Sumpah ilfeel abisss sama dia.**HARI PERTAMASabtu, 12 Januari 2013 pukul 15.48 di lapangan basket SMA Tunas Bangsa, Aku dan Reifan resmi jadian. Dia adalah pacar pertamaku dan aku juga pacar pertama baginnya. Sebenarnya aku lebih berharap Denny, kapten basket yang nembak. Tapi setelah aku melakukan berbagai usaha pedekate alias pendekatan, bukan dia yang nempel malah dideketin sama anak buahnya. Walaupun menurut teman-teman Reifan jauh lebih tampan dan keren daripada Denny. Awal dideketin masih ngerasa kecewa. Lama-kelamaan aku luluh dengan semua perhatian diberikan.HARI KELIMAEmang ya? Kalau sudah punya pacar rasanya pengen hubungin si dia terus. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur, bahkan di tengah-tengah tidur rela bangun bentar buat balas sms atau sekedar memberikan ucapan "Good Night". Tiap hari pulang-pergi sekolah bareng naik motor boncengan. Lumayan, motorku bisa istirahat.HARI KELIMA BELASSaat jam istirahat pertama, Reifan nyamperin ke kelas. Tanpa rasa canggung masuk ke kelas, padahal dia kelas XI-IPS 2 sedangkan aku kelas XI-IPA 1. Beberapa teman menggoda kita. Alhasil aku nyuruh dia pergi.HARI KEDUA PULUH DUA"Langsung antar aku pulang aja" kataku ketus tanpa melihat wajahnya sambil mengambil helm dari motor."Ada apa? Aku kan udah janji ajakin kamu nonton" Reifan membatalkan niat memakai helm."Kamu nonton sama Okta ajaKok ngajakkin Okta? Reifan terlihat menyatukan alis tebalnya.Aku diam. Malas menjelaskan.Aku menampik tangan Reifan, "Nggak usah pegang-pegang. Tadi aku lihat kamu seneng banget dihapus keringat sama tuh cewek. Nggak takut ketularan panu ya kamu? Apa kamu nggak mikir? Jangan-jangan kulitnya putih itu karena kena panu"."Ajeng, kamu cemburu ya? Kan Okta anak cheerleader jadi wajar kalau aku akrab sama dia. Anak basket dan tim cheers itu kan emang harus saling mendukung" Reifan mencoba memberikan pengertian."Akrab? Aku pengen kamu bisa jadi ketua basket bukan sok-sokan kayak ketua basket. Seharusnya kamu fokus latihan bukan fokus ketawa-ketiwi sama Okta"."Iya" Reifan terlihat menyerah."Iya. Iya. Dari pulang sekolah sampai jam 5 sore, aku nungguin kamu latihan basket. Selesai latihan bukannya nyamperin aku malah manja-manja ke Okta"."Ajeng, aku nggak ada perasaan apa-apa kok ke Okta"."Udah. Aku mau naik ojek aja" kataku berlalu meninggalkan Reifan."Satu dua tiga empat lima enam" aku menghitung sambil terus melangkah menuju pangkalan ojek depan sekolah."Mbak, ojek?" tawar salah satu tukang ojek."Bentar, pak" jawabku, "Sembilan sepuluh sebelas"."Ngitungin apa neng?" celetuk tukang ojek lain."Bang, duluan" pamit Reifan.Aku mengangkat alis sebelah lalu berbalik ke arah suara."Iya, monggo" jawab tukang ojek bebarengan."Dasar cowok, bukannya ngejar malah pulang duluan" gerutuku."Gimana mbak?"."Ayo mas antar aku pulang" tanpa menunggu mesin dihidupkan, aku naik ke jok."Kemana mbak?"."Udah mas, jalan aja nanti ikut arahanku"."Iya mbak, tapi kemana?".''Mas tau orang lagi kesel gak?" rengekku."Oh iya mbak. Iya mbak" tukang ojek akhirnya menurut.HARI KEDUA PULUH TIGA"Assalamu'alaikum... Halo, ada apa Rei?" setelah dua puluh kali panggilan."Wa'alaikumsalam... Ajeng ngapain kamu bocengan sama Aldo? Lalu kalian pergi ke mana sepulang sekolah?" tanya Reifan dengan penuh emosi."Kenapa tanya?"."Ajeng, aku ini masih pacar kamu. Seharusnya sebelum keluar sama cowok lain ngomong ke aku. Kenapa kamu nggak bilang ke aku sih?"."Ngapain? Mamaku sudah ngasih izin. Lagian aku dan Aldo pergi ke percetakan untuk majalah sekolah nggak sok mesra-mesraan kayak tim basket dengan anak cheers" jawabku ketus."Ajeng, kenapa harus bahas masalah itu lagi?"."Udahan kan tanyanya? Aku udah ngantuk pengen tidur" aku menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Reifan.HARI KEDUA PULUH EMPATAku dan Reifan masih berantem.HARI KEDUA PULUH LIMAAku dan Reifan baikan, setelah dia meminta maaf dengan mengirimkan sebuah video yang berisi foto kita. So sweet... serta yang membuat aku lebih melting, backsong video hasil cover Reifan dengan lagu Adera lebih dari indah dalam alunan musik piano. Untung hanya instrument bukan Reifan ikutan nyanyi.**Suasana siang di taman alun-alun hari minggu cukup ramai. Aku dan Reifan duduk berteduh di bawah pohon sambil menikmati es krim. Anak-anak yang asyik bermain, satu-persatu meninggalkan taman bersama orangtuanya atau baby sitter ."Hari rabu, aku ada pertandingan basket dengan SMA 5 Harapan. Kamu nonton ya?" Reifan membuka suara setelah lama kita larut menikmati es krim."Jam berapa?""Jam setengah 3 di GOR, kamu ada acara nggak?""Ada atau nggak ya?" godaku."Kalau sibuk, nggak apa-apa kok" kata Reifan."Nggak sibuk, sayang" aku mengoleskan es krim di hidungnya, "Nanti kita berangkat bareng ya?"."Tenang sayang takkan ku biarkan kau jalan kaki" kata Reifan sok puitis."Gombal... lagian ngapain Jalan kaki? Angkot banyak""Ya udah, nona naik angkot saja"."Reifan..." teriakku manja.Reifan tertawa sambil menikmati es krim kembali. Kita merasa geli, saat melihat seorang anak yang mengendarai sepeda namun bergaya seperti Valentino Rossi lengkap dengan jaket dan helmnya. Sementara mulutnya yang mungil tak berhenti berbunyi menirukan suara motor."Kapan diklat basketnya?" tanyaku."Minggu ini, hari sabtu dan minggu. Nanti pas hari sabtu, kamu bawa motor sendiri ya?" kata Reifan."Ok, itu nanti ada acara pemilihan ketua basket kan?""Ada, emangnya kenapa?" Reifan menatapku heran."Ehm... ntar pas pertandingan, kamu maksimal ya? Biar ntar bisa kepilih jadi ketua tim basket sekolah" aku melihat ke arah anak yang lucu tadi."Insya Allah... cita-cita kamu apa?""Kenapa tiba-tiba kamu tanya tentang itu?""Nggak apa-apa, kamu kenal Ria Andansari?" aku menggelengkan kepala,"Dia sepupuku, katanya dia satu SMP sama kamu tapi kakak kelas".Aku diam menunggu penjelasan selanjutnya."Dia bilang kalo sejak SMP, kamu sudah aktif di ekskul jurnalistik dan pernah menjadi ketua redaksi juga""Owh...aku ingin jadi penyiar berita suatu saat nanti" kataku sambil memandang langit.**Aku menatap laptopku dengan mata sayu dan jemari butuh dilurusin. Seharian ini, aku mencari artikel mengenai kesehatan dan memilih beberapa puisi kiriman teman yang bisa dimasukkan ke blog. Aku ingin blog sekolahku ini bisa menjadi sarana refrensi mengerjakan tugas sekolah dan hiburan. Bukan diisi dengan gosip atau isu yang nggak jelas sumber informasinya."Sayang, sudah jam berapa? kok belum tidur" kata mama sambil membuka pintuku tanpa mengetuknya terlebih dahulu."Tinggal dikit kok, Ma" jawabku tanpa menoleh ke arah Mama."Ya, mama tidur dulu dan adik jangan sampai tidur larut malam. Ingat, besok sekolah" mama menutup pintu kamarku kembali.Akhirnya tugasku selesai, aku melirik jam di meja belajarku. Mama benar sekarang sudah larut malam, angka menunjukkan pukul 22.18. Sebelum berlayar ke negeri impian, aku mengecek apakah ada pesan dari Reifan.Dari: Reifanku 03/03/2013 21:05Besok kamu berangkat ke sekolah bawa motor sendiri ya?Soalnya aku kecapekan habis ikut diklatPulang sekolah, kita pergi ke kafe Mawar ya?Good night n love you :)**Kalo ada yang bilang kota Malang adem, aku akan membantahnya. Menurutku semua kota sama saja, kalau sudah siang matahari akan dengan bangga memancarkan aura panasnya ke bumi. Aku sampai ke kafe dan langsung menuju lantai 2. Di meja no.4, Reifan duduk menungguku sambil mendengarkan musik."Maaf lama, tadi aku ke Pak Abdul buat omongin tentang blog" kataku sambil meletakkan tas."Woles, aku ngerti. Gimana ujian kimia?" tanya Reifan.Jawabanku harus tertunda saat seorang pelayan datang. Aku dan Reifan memesan untuk makan siang. Waiter mencatat pesanan kami dengan teliti dan tak lupa sebelum meninggalkan kami, ia menawarkan paket terbaru di kafe ini."Tadi asam-basa cukup menyenangkan" jawabku tersenyum setelah waiter meninggalkan kami."Ehm... Dasar anak IPA" cibir Reifan."Apaaan sih?" aku berpura-pura akan melemparkan vas bunga ke kepalanya.Pesanan kami pun datang. Kita menikmati steak ayam dan orange juice. Jangan pernah ditanya, apa yang terjadi saat cewek dan cowoknya makan bareng. Suatu hal yang selalu terjadi adalah cowok selalu makan lebih cepat daripada cewek dan makanan si cewek akan dimakan oleh si cowok apabila si cewek tidak sanggup menghabiskannya. Aku heran sama cowok, mulutnya kok cepet banget gilingin makanan."Gimana acara diklat kemarin?" tanyaku setelah kulihat dia telah menghabiskan makanannya."Makan dulu diselesaiin, habis itu baru ajak ngomong" kata Reifan menyuapiku.Aku nurut saja, lagian yang bayarin dia bukan aku. Namun harus bagaimana lagi, perutku sudah berteriak tidak sanggup. Aku pun memasang wajah melas agar Reifan saja yang menghabiskan makananku. Reifan tersenyum dan menghabiskan makananku dengan lahap. Aku merasa yakin resep badan tegap dan tinggi 174 cm ini didapatkan dari banyak makan."Oh ya? besok aku akan mewawancarai Ogi"ceritaku antusias,"Dia hebat, bisa mendapatkan juara 1 Olimpiade Matematika Nasional. Sumpah keren abis"."Ogi siapa?""Ogi anak IPA 2, yang baru-baru ini bikin heboh kalo mulai hari kamis kemarin jadian sama si tulalit, Ana" jawabku kesal."Kok baru diwawancarai? kan dia dapat juaranya 2 minggu yang lalu".Aku hanya mengangkat kedua bahuku."Diklat kemarin seru, kita dikasih pelatihan hardskill" jelas Reifan."Oh ya? terus siapa yang tepilih jadi ketua tahun ini?" tanyaku."Tahun ini, Denny yang terpilih kembali untuk menjadi ketua" bangga Reifan."Denny? kok nggak kamu yang jadi ketua?" tanyaku kecewa."Sayang, Denny itu leader yang top banget. Lagian kenapa kamu pengen banget aku jadi ketua basket?" tanya Reifan halus."Kenapa? kamu sudah janji sama aku, kamu ingat kan?" Aku menatap Reifan.Reifan mengusap kepalanya sambil membuang wajahnya,"Iya, aku ingat"."Lalu, mana buktinya?""Ajeng, kenapa kamu mau jadi pacar aku?" pertanyaan Reifan membuatku kebingungan untuk menjawab."Kamu nggak bisa jawab?" aku tetap terdiam, belum menemukan jawaban."Ajeng, terus terang selama ini aku harus selalu jadi seperti apa yang kamu pengen. Kamu nggak pernah bisa terima aku apa adanya. Kamu malu punya pacar kayak aku? Aku yang hanya anggota biasa di tim basket bukan leader kayak kamu"."Reifan... kenapa kamu mikir kayak gitu? Aku... aku cuma pengen kamu maju gitu aja" aku berusaha menenangkan Reifan."Pengen liat aku maju dengan malu punya pacar kayak aku itu beda tipis" aku diam membiarkannya berbicara."Aku rasa hubungan kita nggak bisa diterusin" membuatku bagaikan tersengat petir."Reifan... please masalah kita nggak separah itu kan?" bujukku."Ajeng, kamu nggak nyadar kalo kamu itu.... kamu itu egois"Aku sangat amat terasa terkejut dengan jawabannya. Tanpa sadar aku mendorong kursiku ke belakang dengan kasar. Sehingga menimbulkan suara yang cukup keras untuk membuat semua pengunjung di lantai itu memandang ke arahku. Lalu aku mengambil tas, aku ingin segera keluar dari kafe ini. Aku tidak mengerti dengannya yang merasa terdzalimi olehku. Aku hanya ingin dia tidak diremehin teman-temanku yang selalu menganggap Reifan hanya modal tampang untuk masuk ke tim basket. Tapi mengapa sekarang dia salah mengartikan dukunganku."Ajeng, ku mohon jangan pergi" Reifan memegang tangan kananku.Tak ingin kembali menjadi pusat perhatian di kafe aku kembali duduk,"Tadi katanya hubungan ini nggak bisa diterusin"."Ajeng, aku masih sayang banget sama kamu" aku diam dan tak ingin melihatnya."OK, terserah kamu. Aku akan beri waktu 1 minggu untuk kamu berfikir untuk dibawa kemana hubungan ini".Aku hanya diam memandangnya. Tak ada kata-kata yang bisa ku ungkapkan. Reifan memanggil waiter untuk membayar tagihan. Setelah selesai dia membayar, kita berdua keluar dari kafe tanpa canda, tanpa mengucapkan selamat tinggal.**Hari ini mataku bengkak akibat efek menangis semalaman. Cinta itu rumit, nggak ada definisi yang tepat kecuali kata "rumit" hanya itu di pikiranku. Untuk mengurangi efek bengkak, pagi-pagi aku meneteskan obat mata. Aduh perih banget... tapi lebih perih sakit hati ini yang bikin galau. Yang terjadi biarlah terjadi, kalau aku dan Reifan harus putus biarlah dia mendapatkan yang lebih baik dariku. Tiba-tiba wajah Okta terbayang di pelupuk mataku.**Bel pertanda pulang telah berbunyi, aku dan teman-teman mengakhiri kegiatan belajar mengajar. Tak ingin membuang waktu, aku segera keluar dari kelas untuk menemui Ogi di gazebo. Saat berjalan menuju gazebo, aku melihat Reifan ngobrol dengan temannya di depan kelas. Namun baik aku maupun Reifan tidak saling menyapa.Proses wawancara berjalan dengan baik. Walaupun lucu, mendengarkan jawaban Ogi yang sangat menjunjung tinggi kosa kata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ternyata Ogi lebih menggemari pelajaran fisika daripada matematika. Nggak terlalu suka aja dapet juara 1 tingkat nasional, apalagi kalau suka bisa-bisa dia dapet juara 1 tingkat internasional. Sebenernya di otak orang pinter itu ada apaan sih." Thanks udah mau diwawancarai" kataku mengakhiri.Ogi hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum."Ogi, boleh nggak aku tanya sesuatu? Tapi ini sedikit pribadi, ehm.. tapi ini nggak akan aku masukin ke blog atau majalah sekolah" aku ragu-ragu."Jika ada yang ingin kamu tanyakan, silahkan".Aku menarik napas panjang,"Kamu jadian sama Ana? Nggak, maksudku apa yang kamu suka dari Ana? Nggak gitu maksudku.. ehmm".Aku kebingungan menyusun kata-kata, agar dia tidak salah sangka denganku. Sungguh!!! aku hanya ingin tahu pandangannya tentang cinta."Saya paham maksud perkataan kamu. Menurut saya, cinta bisa terjadi pada setiap insan dan untuk siapapun tanpa memandang perbedaan"."Kamu nggak malu, kalo ngledekin kamu gara-gara jadian sama Ana"."Mengapa kita merasa rendah diri dengan perkataan teman? Ana adalah perempuan yang unik. Jika 1+1=2, menurut Ana 1+1=5. Ajeng, kita jangan pernah menuntut orang untuk menjadi sempurna. Sesungguhnya perbedaan lebih indah daripada sempurna".Kata-kata Ogi telah membuka mata hatiku. Setelah berpamitan dengan Ogi, aku bergegas menuju kelas Reifan. Karena tidak ada tanda-tanda kehidupan, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Reifan. Namun saat aku menuju tempat parkir, aku melihat Reifan duduk menengelamkan kepala di antara kedua lututnya di depan ring basket. Serta membiarkan 8 bola basket berserakan di lapangan basket."Ini lapangan basket bukan kamar" teriakku sambil memunguti salah satu bola basket.Reifan tersenyum,"Lagi capek banget nih"."Ajarin maen basket dong" aku mencoba memasukkan bola ke ring dan berhasil."Pengen gabung ke tim basket ya?" goda Reifan.Aku duduk di sampingnya,"Kamu kasih aku waktu 1 minggu untuk berfikir tapi kenyataannya aku mendapatkan jawabannya dalam waktu 1 hari. Mungkin kamu tertekan selama jadi pacarku. Aku sadar Rei, kamu mau nggak maafin aku?".Reifan berdiri mengambil tasnya dan memunguti bola-bola basket, sementara aku masih duduk. Aku ingin menangis lagi, Reifan pergi dari lapangan ini berarti dia telah memutuskan hubungan ini."Hey... ayo beli bakso, perutku laper banget".Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku menghapus air mataku dan berlari ke arah Reifan."Rei, aku pikir kamu akan..."."Ayo... entar keburu baksonya Cak Ipin habis" Reifan menarik tanganku.Aku tersenyum mengikuti langkah kaki Reifan.

Arti Kecantikan
Romance
14 Jan 2026

Arti Kecantikan

Apa arti kecantikan wanita bagimu? Bukan apa yang kau inginkan dari seorang wanita? Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu menoleh ke arahku?"Kamu ini jadi cewek kok gendut banget sih?" kata pertama yang keluar dari bibirmu saat kita mengerjakan tugas MOS bersama.Saat itu hatiku sangat amat sakit namun seketika perasaan positif menghampiriku. Mungkin dia ingin aku jadi cewek yang langsing. Mulai detik itu aku mulai melakukan diet ketat, berbagai macam diet ku coba untuk menghilangkan selulit diberbagai bagian tubuhku dan segala jenis olahraga mulai membantu mengusir lemak jahat di tubuhku.Tahukah kamu? Tiap hari saat aku merasa bosan, capek dan lapar dalam kegiatan pengurusan ini, fotomu yang terpajang rapat di buku Diary selalu memberikan suntikan semangat. Berat badanku mulai ideal bahkan cukup membuat seluruh cowok untuk menoleh dua kali ke arahku."Hai, sekarang kamu keren?' kata kamu saat kita berpaspasan setelah dari perpustakaaan.Aku sangat senang. Tiap malam aku berguling-guling di tempat tidur. Gara-gara menyesal tidak mempunyai kesempatan untuk merekam suaramu dan senyumanmu yang mampu membuat kupu-kupu di perutku terbang."Kenapa kamu ngeliat dia gak brenti-brenti?" tanya sahabatmu saat kita berdua menikmati makanan di kantin, kebetulan aku bisa duduk di sampingmu.“Zea, wajah kamu kenapa?Emanngnya ada apa Ken?" tanyaku tersipu malu.Jantungku berdegup kencang. Tak boleh ada seorangpun yang tahu bahwa aku suka sama dia. Apalagi dia? Apakah wajahku saat ini memerah?"Wajahmu jelek banget. Banyak jerawat kecil-kecil" dia kembali menyuap pentol ke mulutnya, "Jadi cewek itu perawatan dong? Percuma badan kece tapi wajah hancur".Seketika makanan di hadapanku terasa hambar. Ingin rasanya aku menangis. Tenang. Tenang. Aku tidak boleh bereaksi. Perasaan ini nggak boleh ada yang tahu.“Linda, kamu perawatan ke salon mana? Kasih tau ke Zea biar dia secantik kamu" kata Ken lagi sebelum pergi.Tahu nggak Ken? Habis itu aku menangis selama berjam-jam saat malam hari. Pikiran positif kembali muncul. Apa wajah seperti Linda yang Ken sukai? Segera aku mebuka media sosial. Tarrraaa... keesokan harinya aku rajin berangkat ke salon. Lama kelamaan mama tidak menyukainya. Mau tidak mau dan dengan berat hati aku hanya perawatan kulit dan wajah menggunakan bahan-bahan buatan mama."Zea, wajah kamu halus banget" puji Wina, teman sebangkuku, "Perawatan dimana?".Aku tersenyum. Di dalam pikiranku hanya terlintas bahwa kamu akan menyukai perubahanku. Mungkin akan sangat menyukai perubahanku

Donor Darah
Romance
14 Jan 2026

Donor Darah

Ini ceritaku saat zaman MABA. Telah menjadi tradisi setiap kedatangan MABA selalu disambut dengan kegiatan kemanusiaan. Donor darah salah satunya. Aku seperti kebanyakan mahasiswa baru atau manusia penakut lainnya, ketakutan saat mendengar pengumuman MABA wajib mengikuti kegiatan amal tersebut.Tentu saja banyak pertanyaan yang disampaikan kepada panitia. Entah untuk memastikan sesuatu atau hanya sebagai ajang pedekate semata. Namun aku tidak peduli apapun. Aku hanya membutuhkan pencerahan. Angin segar terasa saat salah satu panitia mengklarifikasi bahwa semua MABA wajib daftar namun kewajiban donor hanya kepada orang-orang yang memenuhi syarat.Aku langsung berdoa dalam hati. Berharap aku akan menstruasi saat donor darah. Apalagi kegiatan itu akan diadakan satu minggu lagi. Hanya itu yang aku harapkan.Suasana mencekam dan menegangkan terjadi pada hari yang telah ditetapkan. Wajah sangar dan galak kakak panitia terkalahkan oleh jarum suntik yang akan menyedot darah kami. Aku sangat heran di saat situasi seperti ini, tetap saja ada orang-orang yang memanfaatkan momen untuk pedekate. Entah panitia yang sok memberikan saran hingga peserta yang pura-pura takut berharap perlindungan."Aku nggak sarapan tadi" kata Hella tiba-tiba saat kami berempat terdiam."Kenapa?" tanyaku polos."Siapa tau entar berat badanku turun" kata Hella lemas, "Kan kita berdua ini berbadan subur, Tia".Aku langsung cemberut. Tapi menurutku melewatkan sarapan hanya hari ini tidak akan mempengaruhi angka timbangan. Mustahil."Untung aku kurus" kata Dwi yang hanya memiliki badan setipis triplek dan pendek."Jangan gitu dong Dwi" sergah Alice, "Justru kita harus sedih karena nggak bisa bantu".Dwi memilih diam. Tidak peduli. Alice dan Dwi memiliki berat badan yang sama. Namun Alice memiliki tinggi sekitar 163cm. Jadi bisa dibayangkan bagaimana tipisnya cewek ini dengan berat badan 39kg."Nggak sakit kok" kata Leony berpengalaman."Tetep aja takut, Nini" kata Hella tidak terima.Leony kembali menceritakan ulang pengalamannya. Entah ini yang ke berapa. Yang jelas sejak pengumuman donor darah, dia ta henti-hentinya mengajak kami untuk berpartisipasi."Prasetiya Mulya, Hella Geraldine dan Leony Lee Marpaung" panggil Kakak Hakim, salah satu panitia."Ayo Tia" ajak Leony sambil menggenggam tanganku.Meskipun Leony berusaha menguatkan dengan memberikan senyuman termanis. Tetep saja hatiku mencelos saat masuk ke ruang pemeriksaan. Jika aku sudah terlalu takut hingga menjadi pendiam. Berbeda dengan Hella, ia seakan yakin barat badannya akan turun dalam kurun waktu beberapa jam saja."Absen dulu ya?" kata Kak Hakim kembali mengabsen kami dan meminta tanda tangan.Hella langsung semangat saat disuruh panitia tampan itu untuk menimbang berat badan. Seketika wajah cerahnya berubah suram. Kak Hakim pun menyuruh Hella untuk pemeriksaan selanjutnya. Leony menuju timbangan tanpa diminta. Ia paham aku masih belum siap."Ok, selanjutnya" kata Kak Hakim."Kakak" panggilku."Iya, ada apa Tia?" tanyanya dengan senyum penuh pesona.Jika suasana mendukung dan normal, kemungkinan aku akan melayang. Saking senangnya. Saat ini hati dan otakku terlalu penuh dengan ketakutan jarum suntik. Apalagi sesi timbang berat badan adalah hal yang paling memalukan bagiku."Kak, bisa gak usah timbang berat badan?" tanyaku penuh harap."Kenapa?" tanyanya memasang wajah polos.Tak mungkin aku mengatakan bahwa aku malu dengan angka yang akan muncul. Seharusnya dia tak perlu bertanya. Cukup membaca bentuk badanku ini pasti akan menemukan jawaban. Akhirnya aku hanya tersenyum."Begini Kak, tanpa ditimbang aku udah tau" kataku menjelaskan."Nggak apa-apa, ditimbang aja" kata Kak Hakim."Nggak usah ya? Sudah pasti mencukupi kok" kataku terdengar kesal dan menyedihkan bersamaan."Ok deh, tapi ditulis ya berat badannya biar petugasnya tau" akhirnya ia mengalah.Aku tersenyum senang. Selanjutnya aku mengikuti pemeriksaan tekanan darah dan hemoglobin atau Hb. Nilai Hb menyelamatkanku dari sesi penusukan jarum. Hella menatap tajam ke arahku saat mendengar panitia mengatakan bahwa aku tidak bisa donor."Tia, kamu kok bisa gak donor?" tanya Hella sebal."Hb aku rendah" jawabku"Kok bisa? Gimana caranya?" Hella semakin menjadi menyebalkan."Mana aku tau?" Aku sebal melihat tatapan menuduhnya."Ayo, Hella" ajak Leony menuju kursi pendonor darah."Nggak mau" tolak Hella, tampak ia ingin menangis."Ayo. Aku temenin" rayuku tak tega."Beneran?" setitik air mata lolos dari matanya."Iya" aku semakin merasa kasihan.Alhasil kami teriak bersamaan saat jarum itu menusuk kulit Hella. Aku terpaksa menerima cubitan kecil dari Hella. Pelampiasan rasa sakitnya. Sementara Leony hanya tersenyum menyaksikan penderitaanku.

Mama Papa
Teen
14 Jan 2026

Mama Papa

Bella senang melihat Albert menjemputnya dengan mengendarai mobil berwarna silver."Mobil baru?" goda Bella saat Albert keluar dari mobil."Silahkan masuk, permaisuriku" Albert membukakan pintu mobil.Bella tersenyum. Senyuman berubah menjadi rasa kaget dan kecewa. "Albert, apa-apaan nih?"." Sorry , di rumah lagi ada arisan ibu-ibu kompleks jadi aku disuruh ngajakin mereka keluar biar nggak ganggu. Nggak apa-apa ya?".Bella tetap cemberut melihat di belakang ada anak-anak kecil. Ia menghitung dalam hati." Satu...Dua...Tiga...Empat...Lima. Hah... Albert emang raja tega. Bodohnya aku. Seharusnya curiga waktu ngeliat dia datang pakek mobil biasanya Vespa " keluh Bella dalam hati.Sesampainya di taman Albert segera memasang tikar. Ia menata bekal dan beberapa bawaannya di atas tikar. Sementara Bella merasa kesulitan menggendong Sasya, bayi yang baru saja berusia 13 bulan."Mama... tolong bukain sepatu Casey" suara mungil itu mengejutkan Bella."Tadi aku bilang ke mereka, kita akan main rumah-rumahan. Mereka jadi anaknya, kita jadi orangtua".Penjelasan Albert sukses membuat Bella melongo."Ini makanan favorit keluarga kami. Tada... Lumpia rebung ayam" tunjuk Albert dengan penuh kebanggaan."Aku mau... aku mau" teriak yang lainnya kecuali Bella."Sayang, kamu mau?" tawar Albert."Huwek...." Bella merasa ingin muntah. Gadis berdarah Jawa ini tidak menyukai rebung, terutama baunya yang menyengat."Aduh... mereka gak ikutan KB ya? Masak udah punya lima anak, mau hamil lagi?" Bisik salah satu ibu."Iya ya. Kok mereka masih muda udah punya lima anak?" sahut ibu bergaun merah muda."Mungkin mereka menikah muda" kata ibu yang pertama."Atau mungkin mereka itu hamil sebelum nikah".Tampak kedua wanita itu lebih menyetujui alasan kedua.Albert menggenggam tangan Bella. "Ini teh hangat, maaf aku nggak tau kamu nggak suka rebung"."Aku sebal sama ibu-ibu itu. Gosip dan Fitnah aja yang diomongin".Albert terkekeh melihat tingkah Bella."Bella, maafin aku ya?"."Nggak apa-apa. Emang tuh ibu-ibu" gumam Bella.Albert kembali menggoda Bella, "Ma demi anak ke enam kita yang kuat ya?" Albert sengaja mengeraskan suaranya.Tanpa melihat ibu-ibu itu, Bella dapat merasakan ibu-ibu itu semakin panas menjadikan dia bahan gosip di pagi hari."Albert" rengek Bella."Kamu ngidam apa sayang?" Albert memperhatikan gerombolan ibu-ibu telah pergi."Puas?" Bella kesal."Mama, papa, kita main ke sana dulu ya?" teriak James"Hati-hati ya sayang adiknya dijaga" Albert terlihat menikmati permainan,"Ma, si kecil mulai ngantuk ya?".Bella mendengus kesal. Sementara Albert menggendong bayi itu, menyanyikan lagu nina bobo."Menyenangkan, bukan?" bisik Albert sambil meletakkan bayi itu ke tikar.Mau tak mau gadis itu tersenyum. Bella teringat perkataan Albert di mobil bahwa ia sangat menyukai anak kecil."Hai..." Sheryn tiba-tiba datang."Sheryn, kamu buat orang kaget aja" kesal Bella namun seketika wajahnya kembali cerah, "Sheryn..."."Ada apa sayang?" Sheryn sangat tidak suka saat Bella mulai merajuk."Hari ini Albert nyebelin banget" adu Bella."Kamu apain sahabatku?" Sheryn memukul Albert dengan kipas tangannya."Nggak aku apa-apain kok" jawab Albert enteng, "Pelan-pelan ya kalo ngomong si kecil baru ja tidur"."Oke" Sherly mulai memelankan suaranya, "Sebuah Hil yang awalnya mustahal hingga mustofa. Sahabatku yang gak ada cantik-cantiknya ini..."Bella menyenggol bahu Sheryn, "Maksudnya, sahabatku yang biasa-biasa aja ini nggak mungkin tiba-tiba merengek gak jelas"."Kamu bisa diam nggak?" Albert kesal."Nggak" jawab Bella dan Sheryn barengan."Aduh... aku tadi ngomong sama Sheryn" jelas Albert.Bella dan Sheryn diam."Sayang, aku nggak maksud..." kata Albert."Apa? Kamu manggil Sheryn 'sayang'?" potong Bella tak terima."Itu tadi buat kamu, Bella" Albert menarik rambutnya frustasi."Kalo ngomong itu yang jelas dong" omel Sheryn."Mama, Papa adek mukulin aku" teriak Casey.Albert segera pergi menghampiri gadis cilik berambut pirang"Albert udah punya anak?"."Ya nggaklah..." kemudian Bella menjelaskan hal yang telah terjadi."Pantesan aja si bule itu kesal, kamunya aja nggak bantuin dia"."Trus aku harus ke sana?" tanya Bella."Ya nggaklah ini bayi siapa yang jaga?""Kamu"."Enak aja, nggak bisa. Nggak mau. Aku ke sini mau jalan-jalan. Refreshing . Bukan jadi babysitter " kata Sheryn sebelum bersiap pergi." Please bantuin aku" pinta Bella. Memelas."Bel, ikhlas ya? Itung-itung latihan jadi ibu" Sheryn segera pergi sebelum mendapatkan cubitan dari sahabatnya.Bella merengut menatap bayi tertidur lelap. Berpacaran dengan Albert selalu tak romantis seperti pasangan yang lain. Tiba-tiba ia merasa bahagia, setidaknya Albert tak pernah melirik cewek lain.Selesai

Me Vs Tukang Ojek
Teen
14 Jan 2026

Me Vs Tukang Ojek

Nanda merasakan terik matahari ditambah debu jalanan aspal tanpa tanaman asri penghias kota. Polusi semakin memperparah. Ia merasa sangat gerah berada di bis yang penuh sesak dengan penumpang. Kondektur tidak peduli keadaan penumpang yang berdesak-desakan. Ia selalu menambah penumpang di setiap pemberhentian.Alhasil, Nanda harus berjuang melewati beberapa penumpang untuk keluar selamat dan aman. Maklum, keadaan seperti ini selalu dimanfaatkan tangan panjang merajai barang penumpang. Jangan lupakan tangan mesum dapat sewaktu-waktu ambil kesempatan.“Mbak ngojek? Mbak mau kemana? Mbak sudah dijemput?” beberapa tukang ojek berebut saat Nanda turun dari bis antar kota.Nanda bingung harus memilih tukang ojek. Ia tidak mau memilih bapak yang menggunakan jaket abu-abu. Bulan lalu hampir sesak napas menahan bau badan pak ojek, melebihi bau amoniak. Ia tidak menyukai bapak berkumis tebal selalu mengajak ngobrol sepanjang jalan. Bapak klimis itu terlihat tak pernah ganti jaket. Hampir seluruh tukang ojek sudah pernah mengantar pulang.Mata Nanda tertumbuk pada pria duduk di atas motor gedhe, asyik memainkan smartphone. Tanpa ragu gadis berkerudung itu menghampiri.”Mas, Kandangan Slamet ya?”.Pria itu menatap Nanda. Terdiam sesaat. Beberapa saat kemudian ia menghidupkan mesin motornya.“Ayo mbak, naik”.Nanda merasa ada hal tidak beres. Pria ini tidak melakukan tawar-menawar ongkos seperti biasa.“ Mungkin nanti di jalan ” mencoba menenangkan diri.Nanda menurut saat pria itu menyuruh untuk naik.“ Aneh. Udah gak nanya soal ongkos, trus gak ngasih helm, lo… lo… ini mau kemana? kok lewat gang perumahan gini. Jangan-jangan… ” pikiran Nanda mulai tidak karuan, " Ok… ok… tenang. Kalo ada apa-apa, aku harus siap-siap lompat ”.Nanda menelan ludah. Mengumpulkan keberanian. “Mas, terminal ke kandangan slamet berapa?”.“Kira-kira 20 km, mbak”.“Mas ngajak bercanda?” keluh Nanda dalam hati."Maksudnya ongkos” kata gadis berlesung pipi ini sambil mengesekkan ibu jari ke jari tengah dan telunjuk.“Oh… biasanya berapa mbak?” tanya tukang ojek santai.Tiba-tiba Nanda berpikir jahil. ”Lima belas ya, mas?”.“Ok”.Seketika Nanda melongo. Ini artinya ia hemat 50% dari harga biasanya. Tukang ojek ini benar-benar aneh. Nanda ingin bertanya, apakah hari ini adalah hari perdana tukang ojek ini bekerja. Namun urung, takut harga lima belas ribu akan melayang.Tiba-tiba motor berhenti.“Kenapa, Mas?”“Mogok, mbak” jujur tukang ojek.”Pantas aja mau dibayar lima belas ribu, ternyata mesinnya mogokkan” gerutu Nanda.“Mbak, tolong jalan kaki dulu ya?” pinta tukang ojek itu sambil cengengesan.“Kenapa bisa mogok mas? Mesinnya rusak?” tanya Nanda pura-pura prihatin.“Bukan mesinnya mbak, bensin saya yang habis” jujur tukang ojek itu malu, “Pom bensin 15 meter lagi kok mbak”.Nanda menggelengkan kepala keheranan.“Mbak” saat mereka berjalan beberapa langkah.“Hhmmm…” sahut Nanda jengkel.“Nanti tolong bayarin bensin” pinta tukang ojek itu lagi.“Apa?” Nanda tidak percaya dengan telinganya.“Tolong bayarin mbak, pakek uang bayaran ojek aja” sambil tetap mendorong motor.Mau tidak mau, Nanda mengangguk. Ia berjanji dalam hati, takkan naik ojek dengan mas ini lagi.“Mbak darimana?”Pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh tukang ojek. “Dari Malang, mas”“Mbak kerja? Apa kuliah?” tanyanya lagi.“Kuliah” jawab Nanda malas.Motor kehausan segera diisi bensin seharga lima belas ribu. Beruntung tidak antri. Dengan wajah tertekuk, perasaan penuh kecewa dan lelah, Nanda membayar bensin tersebut.“Wah… Kok yang bayarin bensin ceweknya? Putusin aja mbak” goda petugas pom bensin.Seketika mata Nanda melotot. Ingin rasanya Nanda membalas namun ia lebih memilih untuk tidak meladeni.“Mbak….” Panggil tukang ojek setelah sekian lama mereka diam.“Apa?” jawab Nanda malas.“Maaf ya mbak?” Nanda melongo.“Sepertinya ada yang gak beres nih. Harus siap-siap lompat nih” kata Nanda dalam hati. Mulai ambil ancang-ancang.“Mbak… ini udah masuk ‘Kandangan Slamet’ tapi rumah mbak ‘Kandangan Slamet’ yang nomor berapa?” tanya tukang ojek polos.“Ooh… gang enam nomor 36, mas” tukang ojek mengangguk.“Mas, itu warna pagarnya cokelat” tunjuk Nanda.“Iya Mbak” tukang ojek itu memperlambat laju motornya.Nanda menghela napas. Ia merasa lega sebentar lagi sampai tujuan.“Mbak sebenarnya aku ini bukan tukang ojek. Tadi aku habis nganterin sepupuku terus iseng duduk-duduk sebentar di dekat pangkalan ojek. Eh… mbak ngira aku tukang ojek tapi gak apa-apa kok mbak. Terima kasih bensinnya” akunya malu-maku.“Apa???” tanya Nanda tak percaya bersamaan motor berhenti.“Maaf ya mbak” tukang ojek gadungan itu masih menghidupkan mesin motornya.“Iya” Nanda segera turun dari motor." Pantesan tampangnya terlalu ganteng buat jadi tukang ojek ” keluh Nanda dalam hati.“Mbak” Nanda batal melangkahkan kakinya.“Ada apa?”“Ini tasnya ketinggalan” Tukang ojek gadungan itu menyerahkan tasnya.“Mbak” membuat Nanda berhenti setelah berhasil berjalan satu langkah.“Apa lagi?” ketus Nanda.“Mbak, kenalin nama aku Abi. Boleh gak minta no hape atau nama ig deh mbak”.“Gak mau mas, thanks ” tolak Nanda.Bergegas ia mencoba membuka pagar rumahnya.”Assalamu’alaikum…” teriak Nanda.“Mbak” panggil tukang ojek gadungan alias Abi lagi.“Apaan sih?”“Dada bubay. Salam buat keluarga ya? Lain kali aku main ke sini ya?” segera Abi pergi.Nanda heran dengan tingkah Abi. Ia menggelengkan kepalanya.“Mimpi apaan sih aku tadi malem?”.Setelah memastikan tukang ojek gadungan pergi. Nanda tertawa. Berjalan menuju rumah bercat biru di sebelah rumah kosong tak berpenghuni itu.Tamat

Friendship or?
Teen
13 Jan 2026

Friendship or?

Cahaya matahari menembus jendela kamar Bella. Bella membuka matanya, lalu meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Bella bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke arah balkon, sekedar untuk menghirup udara segar.Pandangannya teralih pada jendela di seberang sana, jendela kamar milik Ardega, sahabat sekaligus orang yang Bella suka. Ya, mereka bertetangga. Bella tak menyadari, jika jendela itu terbuka, dan Dega sedang menatapnya."Bella?" Dega menyapanya sambil melambaikan tangan, namun Bella tak kunjung merespon. Hal itu membuat Dega tersenyum tipis."ARABELLA GIANICA?" Dega memanggil dengan lantang, hal yang membuat Bella terkaget lalu memandang Dega."Gue kaget woe." Bella cemberut, tapi tak lama kemudian ia tersenyum saat Dega mengangkat ponselnya dan menggoyangkannya."Chat aja ya, gue mau siap-siap ke sekolah. Nanti pergi bareng." Dega tersenyum, lalu berbalik dan menutup kain jendela.Bella tersenyum saja, lalu menghela nafasnya sesaat, sebelum akhirnya ia masuk dan bersiap.___Bella duduk di teras rumahnya, sambil menggoyangkan kakinya pelan, menunggu Dega menjemputnya. Ia berdecak pelan, saat menyadari Dega tak kunjung datang. Ia memutuskan untuk mendatangi rumah Dega.Bela berjalan menyusuri jalanan kompleks, tak sampai satu menit, ia sampai di depan rumah Dega.Di sana, ia menemukan Dega yang sedang duduk sambil berbincang dengan Tiara, sahabat Bella.Rumah mereka memang satu kompleks, jadi sangat mudah untuk bertemu.Bella tersenyum tipis, lalu melangkahkan kakinya mendekat."Gak jadi pergi bareng, ya?" Bella memandangi Dega sekilas, lalu tersenyum manis pada Tiara."Maaf ya Bel, gue harus nganterin Tiara, papanya pergi duluan tadi, jadi Ara sama gue. Gapapa kan?" Dega berucap sambil menarik Tiara mendekat.Namun, Tiara memandangi Bella dengan tatapan bersalah. Ini salahnya, padahal, Bella sudah memiliki janji untuk pergi bersama Dega."Bella, kalo lo mau pergi sama Dega, pergi aja, gue bisa kok nyari taksi atau naik bus aja. Serius. Gue jadi ngerasa gak enak sama lo." Tiara meraih tangan Bella, lalu menggenggamnya erat.Bella tahu, sejak lama bahwa Tiara menyukai Ardega. Namun, ia juga menyukai Dega, sehingga Bella tak mampu berbuat apapun."Lo aja deh yang pergi sama Dega, gue bisa sendiri kok, santai aja. Ya udah, gue pamit." Bella tersenyum lebar, lalu menepis pelan tangan Tiara.Setelah Bella pergi, Dega dan Tiara segera menuju ke sekolah. Tiara tersenyum tipis, ia senang hari ini. Karena setelah sekian lama, Tiara memiliki kesempatan untuk pergi sekolah bersama Dega.Tak sengaja, matanya menatap ke arah pinggir jalan, dan menemukan Bella yang sedang berjalan kaki. Tiara mengernyit, rasa bersalahnya kembali muncul.Tiara masuk ke dalam lorong ingatannya, mencoba berbalik arah, menyelami waktu. Ingatannya berputar, pada masa dulu.Saat itu, ia baru saja pindah rumah, lalu menemukan dua orang anak kecil seumurannya yang sedang bermain bersama. Tiara memandangi mereka dengan tatapan iri. Ia tak pernah diperbolehkan untuk bermain di luar rumah karena kondisi kesehatannya yang lemah.Namun, salah satu dari mereka menyapanya. Namanya Bella. Itu teman pertama Tiara. Dari Bella, Tiara mengenal Dega, anak lelaki yang nakal.Hari-hari Tiara menjadi lebih berwarna, saat orangtuanya melarang supaya tidak bermain di luar, Bella selalu datang bersama Dega untuk menemaninya bermain.Seiring berjalannya waktu, Tiara mulai menyukai Dega, sahabat lelaki pertamanya. Tetapi, Tiara bisa apa? Bella lebih dekat dengan Dega. Tiara takut jika Bella menyukai Dega juga. Namun ia hanya diam.Tak terasa, Tiara dan Dega sampai ke halaman parkir sekolah. Mereka berjalan beriringan, sambil berbincang tentang hal-hal ringan.Mereka masuk ke dalam kelas, bertepatan dengan Bella yang datang berlarian dari koridor.Bella menyusul mereka, lalu segera duduk di samping Tiara."Hadeh, akhirnya gue nyampe." Nafas Bella tak beraturan, hal itu membuat Tiara tertawa."Lo jalan kaki?" Tiara menyodorkan botol air mineral miliknya, lalu diserahkan pada Bella."Iya, gue pengen jalan aja." Bella berucap setelah meminum air yang diberikan Tiara."Soal tadi, gue..., " ucapan Tiara terpotong saat Bella berbicara."Udahlah, gak usah dibahas ih." Bella berucap sambil meraih buku dari dalam tasnya.Dega datang, lalu mengusap rambut Tiara, hal itu membuat Bella kaget. Sedangkan Tiara hanya tersenyum malu."What? Kalian kenapa? Ada something?" Bella menatap mereka dengan tatapan meledek. Hal itu membuat Tiara tertawa kecil dan menutup wajahnya."Something gimana?" Dega tersenyum pada Bella, senyuman tipis yang memiliki arti.Bella mengernyit melihat senyum itu, lalu meraih ponselnya. "Ya gak gimana-gimana."Bel masuk berbunyi, pertanda pelajaran akan segera dimulai. Dega kembali ke tempat duduknya.Bella menatap Tiara yang duduk di samping kirinya. Tiara mengerjap polos, hal itu membuat Bella mengalihkan pandangannya."Bella? lo tau ga?...," ucapan Tiara terpotong oleh Bella."Ngga, gue ga tau.""Ish, gue belum selesai." Tiara merengek kecil, membuat Bella mendelik. Baiklah, Bella mengakui jika Tiara memiliki wajah polos dan imut. Tidak sepertinya, yang wajahnya amit-amit."Hm, apa?" Bella menatap ke papan tulis, memperhatikan Bu Ina yang sedang menjelaskan materi."Em... Gini aja deh, lo suka sama seseorang gak?" Tiara bertanya serius."Dih, lo kenapa? Gue masih suka cowo." Bella terkaget mendengar pertanyaan Tiara."Ck, bukan gitu. Ah, lo mah ngeselin." Tiara mengalihkan pandangannya. Tak berniat untuk melanjutkan pertanyaannya.___Bel istirahat berbunyi, Dega menarik tangan Bella, membuat Bella kaget."Nanti malem gue jemput, gue mau ngajak lo ke suatu tempat." Dega berbisik di telinga Bella, lalu tersenyum misterius.Bella mengangguk saja. "Pake baju apa?"Dega memandangi Bella dari atas hingga bawah, lalu tersenyum manis. "Dress aja." Setelahnya, Dega melangkah pergi.Tiara datang." Dia bilang apa?"Bella yang sedang tersenyum sendiri merasa kaget, dengan cepat, ia menggelengkan kepalanya. "Gak ada apa-apa."___Malam pun tiba, sesuai ucapan Dega, ia menjemput Bella.Mereka berangkat menuju restoran ternama, hal ini membuat Bella mulai menerka apa yang akan Dega lakukan, karena biasanya, Dega selalu makan bersamanya di pinggiran jalan.Sesampainya di restoran, mereka ditunjuk ke tempat khusus, lalu memesan makanan. Tiba-tiba, Dega meraih tangan Bella, Bella tersenyum gugup."Lo mau ngapain?" Bella bertanya terbata.Dega tersenyum menenangkan, lalu menarik nafasnya sejenak. "Gue udah suka sama lo sejak dulu, lo mau gak, jadi pacar gue?"Bella terdiam, mencerna kata-kata Dega. "Gue...."Dega tertawa, lalu melepaskan tangan Bella. "Gimana? Bagus ga?"Bella mengernyit. "Maksud lo?"Dega tertawa lagi. "Gue mau nembak Tiara, menurut lo gimana? Tadi gue cuman latihan."Bella menatap Dega tak percaya. "Gue bahan percobaan lo??"Dega mengangguk, lalu tersenyum. "Bagus ga? Kalo ada salah, lo bisa koreksi."*Plak!*Dega memegang pipinya yang panas. "Lo kenapa?""Kenapa???? Lo tau gak? Gue suka sama lo." Bella berucap lirih, matanya berkaca-kaca. Tak menyangka dengan perbuatan Dega.Dega terkaget, sungguh, ia tak berniat membuat keadaan seperti ini."Lo? Suka sama gue? Gue sukanya sama Tiara, Bel." Dega berucap lirih, tak tega, namun lebih baik dikatakan sekarang, agar tak semakin menyakiti.Bella terisak pelan. Tak sadar jika Tiara sudah datang sejak Bella menampar Dega.Tiara berjalan mendekati Bella lalu memeluknya. Pandangan Tiara teralih pada Dega."Dega? Maksud semua ini apa?" Tiara bertanya serius. Tak tega melihat Bella menangis.Dega hanya diam, lalu berkata, "gue gak niat gitu...."Tiara menghembuskan nafasnya, lalu mengusap punggung Bella. "Bella, gue tau semuanya, gue denger."Dega kaget. "Lo juga tau? Kalo gue...."Tiara mengangguk. "Gue tahu, gue paham.""Gue ga mau pertemanan kita hancur cuman gara-gara cowok." Bella yang sudah mulai tenang mulai membuka suara."Gue tahu, kalian saling suka. Iya kan? Jujur aja, gue ga bakalan marah." Bella mengusap sisa-sisa air matanya.Dega menatap Tiara, mata gadis itu berkaca-kaca."Dega? Gue yakin, Tiara juga suka sama lo. Kalian mau jadian? Ya udah, gue gapapa." Bella merangkul Tiara, mencoba tersenyum lebar."Gue ga bisa bertindak lebih, gue cuman gak mau, kehilangan sahabat karena lebih memilih cowok. Paham kan? Kalian saling suka, sedangkan gue? Perasaan gue gak berbalas. Jadi, buat apa gue tetap bertahan? Gue mundur aja, kalian maju, berjuang bersama." Bella meraih tangan Dega, lalu meraih tangan Tiara, menyatukan tangan keduanya dengan tangannya."Kita sahabat. Dan ternyata emang bener, gak ada yang namanya sahabat dalam lingkup pertemanan antara cewek dan cowok." Bella tertawa. Jika ini memang yang terbaik, Bella ikhlas, sungguh."Kita, tetap berteman. Kita, bertiga. Meskipun status kalian berubah, kita tetap bersama." Bella melepaskan tangannya, lalu menepuk pundak Dega."Gue pamit, kalian bisa bicarain ini berdua. Dan untuk Dega, gue mau bilang, jaga Tiara baik-baik." Bella melambaikan tangannya, lalu berbalik arah, berjalan menuju pintu keluar, dan pergi.___Bel pulang sekolah berbunyi, Dega keluar dari ruang kelas bersama dengan Tiara dan Bella. Masalah malam tadi, semuanya sudah mereka selesaikan. Tiara berpacaran dengan Dega. Namun mereka tetap mengutamakan persahabatan.Bella turun dari mobil Dega, lalu melambaikan tangan pada Tiara yang masih ada di mobil.Bella tersenyum, ini keputusannya. Ini yang terbaik. Ia berjalan riang menuju kamarnya. Lalu merebahkan diri ke atas kasur.Ternyata, ia lebih bahagia saat melihat Tiara tertawa bersama Dega. Jika seperti ini, maka ia memutuskan untuk melupakan perasaannya.Karena memang benar, cinta itu, tak harus memiliki.[ E N D ]

I'll Be There For You
Teen
13 Jan 2026

I'll Be There For You

Seorang gadis bername tag Salwa Maharani sedang duduk di halte dekat sekolah. Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang yang ditunggunya. Bel pulang sekolah sudah lama berbunyi, namun pemuda itu belum juga menampakkan batang hidungnya.Sebuah mobil yang sangat ia kenali tepat berhenti di depannya. Terlihat seorang pemuda keluar dari mobil, dan menghampirinya."Masih nunggu Raka?" tanya pemuda itu seraya duduk di samping sang gadis."Iyaa ... awa udah nunggu daritadi, tapi Raka nggak muncul muncul." Ia mengerucutkan bibirnya. "Eh, Argha kenapa masih disini?" sambungnya."Gue nemenin lo," tutur Argha. Salwa hanya mengangguk. Lantas ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, menanyakan kabar pemuda yang telah menjadi pacarnya dari seminggu yang lalu._"Kok handphone-nya nggak aktif ya?"_ batin Salwa."Pulang aja yuk, Wa. Mungkin dia udah balik duluan," ajak Argha.Dengan cepat Salwa menggelengkan kepalanya. "Enggak! Nanti bentar lagi juga muncul."Argha menghela napasnya. Matanya menatap dalam gadis di sampingnya itu. " Bertahun-tahun gue jadi sahabat lo, Wa. Gue tahu banget, lo tipe orang yang nggak suka nunggu. Segitu cintanya lo sama dia sampe rela nunggu lama begini? " Batin Argha.Hari kian sore. Argha beranjak dari duduknya. "Gue anterin lo pulang, dia nggak bakal dateng Wa," tuturnya. Kini Salwa menurut. Dengan muka yang ditekuk, Ia masuk ke dalam mobil Argha.Akhirnya mobil mereka pun meluncur menuju rumah Salwa.___Setelah mengantar Salwa, kini Argha dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Namun, netranya tidak sengaja menangkap pemuda yang sedang membonceng seorang gadis. Wajah pemuda itu nampak tidak asing.Argha mendengus ketika menyadari bahwa pemuda itu adalah Raka, pacar Salwa. Ia memutuskan untuk mengikuti motor itu.Tibalah mereka di sebuah cafe . Sebelum keluar dari mobil, Argha menyempatkan mengambil kacamata hitam di dashboard -nya agar keberadaanya tidak diketahui.Ia memilih duduk di tempat yang tidak jauh dari Raka dan gadis itu agar bisa menguping pembicaraan mereka.Tidak sia sia, Argha dapat mendengar samar samar percakapan mereka."Hahaha, kamu beneran cemburu?" Pertanyaan dari seorang pemuda membuat sang gadis di depannya mengangguk dan memanyunkan bibirnya."Dia cuma dijadiin taruhan, Rin ... kamu tenang aja."Argha menajamkan telinganya. "Dia?" gumamnya."Syukur, deh. Lagian masih cantik aku daripada Salwa," balas sang gadis.Kini Argha mengepalkan tangannya. Bibirnya tak henti hentinya mengumpati Raka."Uang taruhannya bakal dikasih setelah 2 minggu pacaran, jadi kamu tunggu sampe minggu depan ya ... pasti aku bakal putusin dia kok." Raka mengusap lembut surai gadis di depannya.Cukup! Argha sudah tidak dapat lagi menahan emosinya. Ia beranjak dan menghampiri Raka.Bugh!Dengan brutal, Argha meninju rahang Raka.Bugh!Tangannya beralih meninju pelipisnya hingga mengeluarkan darah segar.Setelah mengatur napasnya yang memburu, Argha segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.___Kini Salwa sedang memandang langit langit kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun ia belum mendapat kabar dari pacarnya itu.Sepersekian detik kemudian dering telepon berbunyi. Senyumnya mengembang ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya."Halo, Raka!" sapa Salwa ketika panggilan tersambung." Halo sayang, maafin aku ya ... tadi siang aku jemput bunda ke bandara, jadi nggak bisa nganter kamu pulang, deh. ""Hm, iya deh nggak papa," balas Salwa." Besok kamu berangkat sendiri dulu ya? Nanti kita ketemu di kantin. "Salwa mengerucutkan bibirnya. "Yah ... Emang kenapa ka?""Eh, aku udah di panggil bunda, Wa. Aku tutup teleponnya ya ... bye , good night sayang."Panggilan terputus.Salwa menghela napasnya. Tak apa lah. Setidaknya, perkataan manis Raka mengurangi rasa kesal yang menyelimuti dirinya.___Keesokan paginya, Salwa berangkat sekolah diantar oleh Pak Dirman, supir pribadinya.Niat hati ingin berangkat bersama sahabatnya, namun Argha tidak membalas chat-nya.Ketika ia tiba di kelas pun, ia tidak menemukan Argha. Padahal bel masuk sudah hampir berbunyi.Kring kring .Benar saja, pembelajaran sudah akan dimulai, kemana pemuda itu?___Kini, sudah waktunya istirahat. Ketika Salwa ingin beranjak ke kantin, betapa terkejutnya ia mendapati Argha yang baru masuk kelas dengan menenteng tasnya."Argha darimana aja?" tanya Salwa menghampiri pemuda itu.Argha diam. Ia tak berniat membalas perkataan Salwa. Sebenernya, sejak jam pertama ia berada di rooftop untuk menenangkan diri.Entahlah, ia masih terbayang bayang ucapan Raka tempo lalu. Sungguh, ia tak ingin melihat sahabatnya sakit hati.Sepersekian detik berikutnya, Argha menarik Salwa ke dalam dekapannya."Gue kemarin liat Raka sama cewe, Wa. Dia cuma jadiin lo taruhan ...," lirih Argha.Tubuh Salwa menegang. Ia langsung melepaskan pelukannya."Ngaco deh, Gha. Orang kemarin Raka ke bandara kok," elak Salwa.Argha menggelengkan kepalanya. " Please , percaya sama gue, Wa. Akhiri sekarang, gue nggak mau lo jatuh lebih dalam.""Salwa ...." Teriakan dari luar kelas menginterupsi pembicaraan mereka.Lagi lagi Salwa terkejut mendapati Raka dengan lebam di wajahnya."Raka, kamu nggak papa?" panik Salwa seraya mendekat ke arah Raka.Raka melirik Argha sebentar. "Pasti dia udah bicara yang enggak enggak tentang aku kan, Wa? Jangan percaya ... Dia emang keliataannya nggak suka sama aku, Wa. Buktinya kemarin dia nonjok aku tanpa sebab," dusta Raka.Argha membulatkan matanya. " Brengsek ." batinnya.Sedangkan Salwa memandang Argha tak percaya. "Kenapa sih Gha? Argha mau bikin Awa sakit hati, iya? Nggak gini caranya Gha!" sentak Salwa.Diam diam Raka mengeluarkan smirk -nya. " Nggak semudah itu lo hancurin rencana gue ," batinnya.Argha menggeleng. "Awa, bukan begitu. Dia bohong, Wa. Percaya sama gue," tutur Argha.Salwa mengangkat tangannya di udara. " Stop ! Awa kira kamu sahabat yang baik buat Awa ... tapi, nyatanya enggak!"Salwa segera beranjak dari kelasnya. Sebelum menyusulnya, Raka menyempatkan diri memandang remeh ke arah Argha dan menertawainya. "Ck, kasian banget lo.""Argh!" Argha menarik rambutnya frustasi.___Semenjak kejadian itu, baik Salwa maupun Argha tidak pernah sekalipun bertegur sapa. Entahlah, padahal setiap hari mereka bertemu di kelas. Namun, seakan ada jarak membentang di antara keduanya.Kini, sudah menginjak minggu pertama setelah pertengkaran Salwa dan Argha. Sedengkan hubungannya dengan Raka masih baik baik saja."Salwa," panggil Raka. Wajah sendu Salwa berubah menjadi sumringah ketika mendengar suara Raka. Sekarang, ia berada di kelas disaat teman teman kelasnya sudah berpencar menuju kantin.Keadaan kelas sepi, hanya ada mereka berdua di dalam kelas itu. Eh tunggu! Ada seseorang yang menelungkupkan kepalanya di bangku belakang."Gue mau kita putus." Perkataan Raka berhasil membuat tubuh Salwa menegang. Ia mengerutkan keningnya. Sepersekian detik kemudian, kekehan keluar dari mulutnya. "Kamu lagi nge-prank?""Gue mau kita putus," ulang Raka dengan wajah seriusnya. "Temen lo bener, lo cuma dijadiin taruhan."Deg .Bak disambar petir, tubuh Salwa seolah tidak berkutik. Pernapasannya tercekat, seakan pasokan udara kian menipis."Jangan ganggu gue lagi," tutur Raka seraya beranjak keluar dari kelas.Tak berselang lama, bulir berjatuhan dari pelupuk mata Salwa.Isakkan terdengar. Kenapa gue harus ngalamin ini? Batinnya.Ternyata, sedari tadi Argha menyimak pembicaran dua insan itu di bangku belakang. Ia mendekat ke arah Salwa. Sungguh, ia tidak kuasa melihat sahabatnya itu terpuruk dalam kesedihan.Argha menarik Salwa ke dalam dekapannya. "Udah, udah ... jangan nangis ah, masih ada gue disini," ucapnya seraya mengusap kepala Salwa.Bukannya reda, tangisan Salwa pecah mendengar penuturan sahabatnya itu. Ia merasa tak enak hati telah berprasangka buruk padanya minggu lalu."Maafin Awa, Gha...," lirih Salwa."Iya iya...." Pelukan terlepas, Argha menangkup kedua pipi gadis di depannya itu."Gue nggak mau liat lo sedih," ucapnya seraya menuntun bibir Salwa agar tersenyum. "Nah, gini kan Awa cantik," lanjutnya diiringi kekehan."Makasih, Argha."" Mungkin saat ini gue masih jadi sahabat lo , Wa . Tapi gue yakin , suatu saat nanti gue yang akan ngisi tempat di hati lo ."[ E N D ]

Bak Mandi Baja
Folklore
13 Jan 2026

Bak Mandi Baja

Beberapa tahun yang lalu, aku pindah ke apartemen baru. Biaya sewanya murah dan dekat dengan tempat kerjaku. Apartemen itu terdiri dari satu kamar kecil dengan dapur dan kamar mandi. Hal yang paling bagus tentangnya adalah ada bak mandi baja yang cantik termasuk dengan shower .Suatu malam, aku sedang berada di bak mandi untuk mencuci rambut. Penglihatanku dikaburkan oleh shampo, tapi sudut mataku menangkap sekilas ada sesuatu yang aneh. Di pinggir bak mandi, aku pikir aku melihat dua tangan berwarna putih.Aku cepat-cepat membasuh wajahku dengan air. Tapi saat aku membuka mata dan melihat sekeliling, tangan yang tadi kulihat sudah tidak ada. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanyalah penglihatan yang keliru.Namun demikian, beberapa hari kemudian aku berada di bak mandi lagi. Aku sedang mencari sabun. Tiba-tiba aku melihat ke belakangku. Saat itulah aku melihatnya. Dua tangan putih berpegang teguh pada pinggir bak mandi.Beberapa detik kemudian saat aku melihat lagi, kedua tangan itu telah hilang. Aku yakin bahwa tangan pucat yang aku lihat milik seorang anak kecil.Tidak lama setelah itu, aku lelah bekerja dan memutuskan untuk menata kamar tidurku. Aku membutuhkan tempat untuk menaruh koperku, jadi aku membuka bagian bawah lemari. Saat aku menarik kertas karton yang melekat di bagian bawah lemari, sesuatu terjatuh dan mendarat di lantai.Itu adalah foto dari seorang anak lelaki yang kira-kira seumuran dengan siswa taman kanak-kanak. Aku melihat tangannya yang putih pada foto tersebut. Tangan-tangan itu tampak familiar. Hal itu membuatku takut, jadi aku membuang foto itu ke kaleng sampah bersama sisa-sisa sampah yang lain.Malam itu saat aku berbaring di tempat tidur sambil menonton TV, aku mendengar suara dari kamar mandi. Aku bangun untuk mengeceknya dan menemukan bahwa bak mandi baja telah terisi dengan air dingin sampai meluber. Aku membungkuk untuk mematikan keran, tapi aku melihat sesuatu terpantul dari permukaan air.Itu adalah bayangan seseorang yang berdiri di belakangku. Seorang wanita dengan rambut panjang. Tiba-tiba, sesuatu menyambarku. Kepalaku didorong ke dalam air dingin. Aku mencoba melawan, tapi ia terlalu kuat. Aku bertarung untuk melarikan diri dari cengkeraman licin tersebut, tapi ia tidak mau membiarkanku pergi. Aku tidak bisa bernapas karena paru-paruku rasanya akan meledak. Aku ketakutan jika aku sampai tenggelam.Karena panik, aku menendang-nendang dengan kakiku, tapi tidak ada sesuatu di belakangku untuk kutendang. Aku memutar tubuhku. Tanganku terangkat, mencoba sekeras mungkin untuk mengangkat tubuhku sendiri dari bak mandi. Dengan seluruh kekuatanku, aku berusaha menarik kepalaku keluar dari dalam air. Aku berhasil setelah megap-megap.Tidak ada seorang pun di sana.Pintu kamar mandi tertutup. Aku memutar kenop untuk membukanya, tapi aku merasa sesuatu menyentuh kakiku. Aku melihat ke bawah dan melihat tangan kecil berwarna putih sedang mencengkeram pergelangan kakiku.Aku menjerit ketakutan dan lari keluar dari kamar mandi. Apartemen benar-benar kosong. Aku buru-buru keluar untuk menginap semalaman di rumah temanku.Aku merasa terganggu oleh berbagai pertanyaan. Siapa yang tinggal di sana sebelum aku pindah? Apa yang terjadi di sana? Aku mencoba bertanya pada penyewa, tapi ia tak mau berbicara tentang hal itu.Aku memutuskan untuk pindah dan mencari tempat tinggal lain. Saat aku kembali ke apartemen guna mengumpulkan barang-barangku, aku menemukan koperku tergeletak di lantai kamar tidur. Benda itu sudah penuh dengan baju.***

Tujuh
Folklore
13 Jan 2026

Tujuh

Cerita berikut ini diceritakan oleh temanku dari Jepang. Katanya, ia pernah membacanya pada sebuah surat kabar. Aku belum pernah melihat surat kabar itu, jadi aku tidak tahu cerita ini benar terjadi atau bohong belaka. Cobalah baca dan putuskan sendiri.Ada sekelompok remaja yang terdiri dari empat anak laki-laki dan empat anak perempuan yang bersekolah di sekolah yang sama. Suatu malam, mereka mengadakan sebuah pesta kecil di salah satu rumah anak laki-laki. Saat itu telah larut malam dan obrolan berubah menjadi cerita-cerita menyeramkan. Sekelompok sahabat itu ingin menguji keberanian mereka dengan pergi ke tempat berhantu. Mereka pikir hal itu akan menyenangkan untuk menakut-nakuti diri mereka sendiri dengan berwisata di suatu tempat yang berhantu pada malam hari.Bertahun-tahun yang lalu, mereka pernah mendengar tentang sebuah sekolah tua yang telah ditinggalkan. Tempat itu terletak di pinggiran kota. Semua orang bilang sekolah tersebut berhantu. Tidak ada satu pun dari kelompok sahabat itu yang percaya adanya hantu, tapi mereka ingin menakut-nakuti diri mereka sendiri. Selain itu, sekolah yang telah ditinggalkan tersebut merupakan tempat paling mudah yang bisa didatangi.Salah satu dari gadis-gadis memiliki mobil, jadi mereka mengemudi ke sekolah dan berhenti di halaman luar. Kedelapan anak itu memutuskan untuk masuk sekolah secara berpasangan. Rencananya, setiap pasangan harus berjalan-jalan di sekitar sekolah berlawanan arah dengan jarum jam. Hal itu akan memakan waktu sekitar 10 menit untuk mengelilingi sekolah. Jika pasangan pertama sudah selesai maka saat mereka kembali, mereka harus menceritakan apa yang mereka lihat pada yang lainnya. Kemudian, giliran pasangan kedua yang harus berjalan mengelilingi sekolah.Pasangan pertama yang terdiri dari seorang anak laki-laki dan perempuan masuk ke sekolah, sedangkan enam teman-temannya yang lain menunggu di dalam mobil. Setelah beberapa saat, mereka mulai tidak sabar. Saat itu sudah lebih dari 20 menit, tapi teman-teman mereka masih belum kembali. Setelah 30 menit berlalu sejak pasangan pertama pergi, teman-temannya yang lain mulai bosan menunggu. Anak laki-laki dan perempuan berikutnya memutuskan untuk berjalan mengelilingi sekolah guna mencari kedua teman mereka.Teman-temannya yang lain menunggu dan terus menunggu, tapi pasangan kedua tak juga kembali. Teman-temannya yang tersisa tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka mulai penasaran apakah teman-temannya memainkan kelakar pada mereka.Saat itu hampir satu jam sejak pasangan pertama pergi. Anak laki-laki dan perempuan yang mendapat giliran ketiga dengan cemas pergi ke sekolah untuk mencoba mencari teman-teman mereka yang hilang. Mereka tak pernah kembali.Anak laki-laki dan perempuan yang tersisa paling belakang merasa sangat gelisah. Si anak perempuan mulai menangis, sedangkan si anak laki-laki mencoba untuk menenangkannya.Akhirnya, si anak laki-laki berkata, "Aku akan pergi untuk mencari yang lainnya. Jika aku tidak kembali setelah 30 menit, maka panggillah polisi."Setelah si anak laki-laki pergi, si anak perempuan berdiri sendirian di tengah malam yang gelap dan dingin sambil menangis diam-diam. Ia menunggu selama satu jam, tapi tidak ada seorang pun yang kembali. Ia masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin, dan mengemudi ke kantor polisi terdekat.Empat petugas polisi menemani si anak perempuan kembali ke sekolah. Saat menjelang subuh, mereka mulai mencari tujuh remaja yang hilang. Awalnya, mereka tidak bisa menemukan tanda-tanda dari anak-anak itu di lapangan sekolah, tapi kemudian mereka menemukan pintu samping sekolah tua. Gedung olahraga yang tak terpakai pintunya terbuka.Para polisi masuk ke dalam, tapi ruangan itu kosong. Hanya ada kesunyian di udara. Saat mereka melihat ke dalam toilet gedung olahraga, mereka akhirnya menemukan tujuh remaja yang hilang. Leher mereka semua tergantung di atap.Polisi menginterogasi gadis yang selamat. Ia bersumpah bahwa ia menceritakan cerita yang benar. Tujuh remaja pergi ke sekolah terlantar untuk menguji keberanian mereka. Mereka tidak punya alasan untuk melakukan tindakan bunuh diri.Namun demikian, setelah menghabiskan waktu berminggu-minggu mencoba untuk memecahkan misteri tersebut, polisi akhirnya menutup kasus. Mereka berkata bahwa mereka tidak bisa menemukan bukti jika remaja-remaja itu telah dibunuh. Pada akhirnya, kejadian itu dijelaskan sebagai kasus dari histeria massal. Polisi mengklaim bahwa tujuh remaja pasti terlibat bunuh diri.Sampai hari ini, tidak ada seorang pun di kota itu yang berani pergi ke sekolah tua terlantar setelah larut malam.***

Kuda-Kudaan
Horror
13 Jan 2026

Kuda-Kudaan

Ada sepasang suami istri yang memiliki satu anak laki-laki. Bahkan sebelum anak mereka lahir, pernikahan pasangan ini telah goyah. Setelah bertahun-tahun berlalu, ayah dan ibu anak itu berkelahi sepanjang waktu. Pertengkaran mereka menjadi lebih sering terjadi. Mereka mulai berbicara tentang perceraian.Pada akhirnya, mereka tetap bersama demi anak lelaki mereka. Tapi, pertengkaran itu terus berlanjut hingga perkelahian semakin lama menjadi sengit. Saat umur anak mereka menginjak lima tahun, pasangan ini saling membenci satu sama lain.Suatu malam, setelah mereka menidurkan si bocah, ibu dan ayahnya terlibat dalam pertengkaran yang hebat. Si ayah mulai menggila dan membunuh istrinya sendiri.Saat ia kembali waras dan menyadari apa yang telah ia lakukan, ia segera menyusun rencana untuk menghilangkan tubuh istrinya. Ia menyeret mayat istrinya ke dalam garasi, lalu menaruhnya di dalam mobil. Kemudian, ia menyetir ke pegunungan. Di bawah langit yang gelap, ia membopong mayat istrinya di pundak. Ia membawa mayat istrinya ke rawa terdekat. Ia menyeret istrinya ke dalam air kotor yang berbau busuk dan melihatnya tenggelam dalam lumpur.Saat subuh, lelaki itu kembali ke rumah untuk membersihkan diri. Berapa kali pun ia mengosok, bau rawa yang menjijikkan itu tidak bisa hilang.Ia tidur selama beberapa jam. Saat ia bangun, ia mulai memikirkan apa yang ia lakukan jika anak lelakinya bertanya dimana ibunya. Ia memutuskan untuk memberitahu anaknya bahwa istrinya telah pergi untuk tinggal dengan saudarinya selama beberapa saat. Namun demikian, saat anaknya bangun untuk sarapan, ia tak pernah menyebut ibunya. Ia hanya menatap ayahnya tanpa berkata apa-apa.Lelaki itu masih bisa mencium bau busuk dari rawa dimana ia mengubur istrinya. Ia mengambil pengharum ruangan dan mulai menyemprotkannya ke sekitar rumah, berharap bisa menghilangkan bau tak sedap. Hal itu membuatnya merasa sakit.Beberapa jam berlalu. Anak lelakinya sedang menonton TV di ruang keluarga. Ayahnya mulai merasa tidak enak badan, terutama pada bagian perutnya. Setiap kali ia pergi ke ruang keluarga, ia memperhatikan bahwa anak lelakinya menatapnya dengan tatapan ingin tahu di wajahnya. Hal itu membuat ayahnya merasa nervous dan paranoid.Pikirannya berpacu. Mungkin saja anak itu tahu apa yang terjadi, pikirnya. Mungkin anak itu mendengarnya membunuh ibunya. Jika anak lelakinya tahu apa yang telah ia lakukan, mungkin ia harus membunuh anak itu.Si ayah berjalan ke dalam ruangan dimana anak lelakinya masih menonton TV."Apakah ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?" kata ayahnya.Si anak laki-laki berpikir beberapa detik dan menjawab, "Yeah...""Apakah ini tentang ibumu?" tanya ayahnya lagi."Ya.." kata si anak laki-laki."Aku menduga kau penasaran dimana ibumu," kata si ayah."Tidak," kata anaknya. "Aku penasaran kenapa wajah Ibu pucat. Lalu mengapa kalian bermain kuda-kudaan sepanjang hari."

Rambut Hitam
Horror
13 Jan 2026

Rambut Hitam

Ada seorang laki-laki Jepang yang bosan dengan istrinya. Saat mereka menikah, istrinya adalah wanita paling cantik yang pernah ia lihat. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna hitam, alis mata yang cantik, dan kulit yang lembut. Namun demikian, setelah bertahun-tahun, penampilannya yang cantik memudar dan ia menjadi gemuk. Wajahnya menjadi keriput. Lelaki itu menyadari bahwa ia tidak tertarik lagi pada istrinya. Ia memutuskan untuk meninggalkannya.Si lelaki memberitahu istrinya bahwa ia ingin bercerai, kemudian pindah dari rumah itu. Ia menyewa sebuah apartemen di kota. Ia mengunjungi bar dan diskotik untuk mencari wanita baru. Ia memerlukan waktu yang lama sampai ia bertemu dengan gadis muda cantik yang menarik. Umur gadis itu 18 tahun, ia tinggi dan ramping dengan rambut pirang. Laki-laki itu langsung jatuh cinta. Beberapa minggu kemudian, ia meminta gadis tersebut untuk menikah dengannya.Gadis pirang menerima lamarannya. Setelah mereka menikah, gadis itu pindah dengannya. Namun demikian, segera setelah cincin berada di jarinya, sikap gadis pirang itu berubah. Sebelum menikah, ia sangat manis, menyenangkan, dan ramah. Tetapi sekarang, sikapnya keras, kasar, dan jahat.Gadis itu sangat sombong. Ia terlihat menghabiskan waktunya di depan cermin untuk bersolek. Ia mengenakan make up dan menatap pada pantulan wajahnya sendiri. Ia juga sangat boros. Ia membuat suaminya menghabiskan semua uangnya untuk gadis tersebut. Ia memaksa suaminya untuk membelikannya baju baru, perhiasan baru, gadget baru, dan mobil baru.Suatu hari, si lelaki pulang ke rumah dan melihat istrinya baik-baik. Semua riasan itu... eyeliner , maskara, eye shadow ... hanya menyisakan kejelekan yang tersembunyi di dalamnya. Ia mulai berharap tak pernah menikahi gadis tersebut.Setelah bertahun-tahun berlalu, si lelaki mulai merindukan istrinya yang lama. Ia mungkin telah tua dan gemuk, tapi ia tetap orang yang peduli dan penuh perhatian. Ia menangis saat mengingat suara lembut istrinya, senyumnya yang manis, dan kesabarannya yang tak pernah habis. Ia menyesal hari itu telah menceraikan istrinya.Ia akhirnya menyadari bahwa ia masih mencintai istri pertamanya, mencintainya lebih dari gadis pirang. Ia mulai mengerti bagaimana ia telah membuang satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya. Kadangkala di dalam mimpinya, ia bisa melihat istri lamanya. Wanita itu duduk sendirian di dalam kamarnya, rambutnya yang hitam panjang menutupi wajahnya. Larut malam, lelaki itu akan bertanya pada dirinya sendiri bagaimana hidup istrinya, apa yang ia lakukan, apakah ia akan kembali?Suatu malam setelah pertengkaran yang sengit, laki-laki itu memutuskan bahwa ia tidak tahan lagi. Ia tidak bisa bersabar lagi. Ia lalu meninggalkan istrinya yang pirang. Ia meninggalkan kota dan melakukan perjalanan jauh kembali ke rumah istrinya yang lama. Saat ia sampai di jalan tempat mereka tinggal, saat itu telah lewat tengah malam.Rumah mereka terlihat sunyi. Rumput-rumput tinggi tumbuh di halaman. Jendela-jendela pecah dan rusak. Genteng-genteng hilang dari atap. Dinding terlihat seolah-olah tak pernah dicat selama bertahun-tahun.Ia mengetuk pintu depan, tapi tidak ada seorang pun yang menjawab. Kemudian, ia mencoba menyentuh kenop pintu. Ternyata tidak dikunci. Ia berjalan masuk dan mendapati ruangan kosong. Angin dingin berhembus melalui jendela yang rusak.Laki-laki itu menaiki tangga. Ia membuka pintu kamar tidur. Ia kaget melihat istrinya duduk di atas ranjang. Ia berlari pada istrinya, memeluknya ke dalam lengannya, dan menangis di pundak wanita tersebut. Sambil menangis, lelaki itu memberitahunya betapa ia merindukan istrinya selama bertahun-tahun. Ia juga memohon pada istrinya untuk memaafkannya karena telah pergi.Wajah istrinya tertutup oleh rambut hitamnya yang panjang, tapi lelaki itu bisa mendengar suara istrinya yang lembut di telinganya. Wanita itu berkata padanya, "Aku senang kau datang kembali padaku. Walau hanya sebentar.""Hanya sebentar?" jawab suaminya sambil tertawa. "Aku kembali. Sekarang kita bisa menghabiskan sisa hidup kita bersama-sama."Lelaki itu menyibak rambut dari wajah istrinya. Ia baru saja akan mencium wanita itu. Tapi saat membuka mata, ia berteriak ketakutan. Wajah istrinya kotor, hanya tinggal tengkorak. Ketakutan, ia menyadari yang dipeluknya bukan lengan tapi tulang berdebu yang panjang dengan rambut hitam yang seperti senar.Lelaki itu mencoba menjauhkan dirinya dari tengkorak menjijikkan tersebut. Ia berdiri di sana dalam cahaya temaram. Perasaan ngeri menyebar ke seluruh tubuhnya.Ia berlari menuruni tangga dan keluar dari pintu depan. Di jalan, ia bertemu dengan tetangganya. Ia bertanya siapa yang tinggal di rumah tua yang telah ditinggalkan itu."Tidak ada seorang pun yang tinggal di rumah itu sekarang," kata si tetangga. "Bertahun-tahun yang lalu, rumah itu milik seorang wanita yang ditinggalkan oleh suaminya. Suaminya menceraikannya karena ingin menikah dengan wanita lain. Ia sangat sedih hingga bunuh diri tak lama setelah itu."***

Simpanan CEO
Romance
12 Jan 2026

Simpanan CEO

Lany Maulia. Seorang wanita muda yang masih berusia 22 tahun. Tinggal sendirian, dan tak memiliki orang tua. Sebenarnya, dia masih memiliki seorang ibu tiri. Hanya saja, dia tak tahu di mana keberadaan ibu tirinya.Lany bekerja sebagai wanita malam atau biasa di sebut juga sebagai wanita panggilan. Hampir setiap malam dia mendapatkan klien yang meminta untuk di temani. Tentu saja Lany menerima, karena itu memang pekerjaannya.Sebenarnya, Lany bukan sengaja mau menjadi seorang wanita panggilan. Namun kondisi terdesak memaksanya mau mengambil pekerjaan ini. Dan pada akhirnya, menjadi pekerjaan tetap baginya.Semuanya berawal dari satu tahun yang lalu, saat Lany kehilangan pekerjaan dan tak punya uang banyak. Ibu tirinya yang kabur entah kemana meninggalkan hutang sampai berpuluh juta yang akhirnya imbasnya dirasakan oleh Lany.Atas saran dari teman, akhirnya Lany berani menjual keperawanannya pada seorang pria kaya yang mau membayarnya mahal. Tentu itu bukan kenangan yang indah. Lany bahkan sempat mengutuk dirinya yang kotor.Dan sekarang, menemani pria-pria berdompet tebal menjadi pekerjaan tetap Lany. Dia bekerja secara individu, tanpa memiliki bos. Dia hanya sering saling kontak dengan teman-temannya yang sesama wanita panggilan. Hingga akhirnya, Lany tetap mendapatkan seorang klien.Seperti malam ini, Lany mendapatkan telepon dari salah satu temannya. Katanya, ada seseorang yang ingin di temani. Pria itu sudah menunggu di kamar hotel, dan Lany di beritahu alamat beserta nomor kamarnya.Lany belum tahu siapa pria yang akan dia temani malam ini. Apakah dia seorang pria muda atau sudah lanjut usia. Apakah dia seorang pria single atau sudah memiliki pasangan. Lagi pula, itu bukan hal yang harus Lany pikirkan. Yang penting, dia mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupnya.Lany berdiri di depan sebuah pintu hotel dengan tulisan angka 353. Dia mengetuk pintu itu beberapa kali, hingga seseorang membukanya dari dalam. Lany mendongak, menatap seorang pria dengan mata yang sayu. Lany langsung bernafas lega dan tersenyum saat tahu kalau kliennya malam ini bukan seorang kakek-kakek."Kamu temannya si Clarissa itu?" Pria itu bertanya dengan suara parau."Iya, Tuan. Saya temannya." Lany menjawab dengan ramah. Pria itu mengangguk lalu menyuruh Lany untuk masuk. Lany tak merasa gugup, karena ini sudah menjadi pekerjaannya sejak setahun yang lalu. Lany bahkan sudah mempelajari banyak hal agar kliennya puas. Karena banyak dari mereka yang selalu memberikan bonus jika Lany bisa memuaskan mereka.Lany berjalan mendekati laci di samping tempat tidur dan menyimpan tasnya di sana. Dia lalu melepaskan cardigan panjang yang dia pakai, memperlihatkan dirinya yang hanya memakai sebuah gaun pendek.Pria yang belum Lany ketahui namanya itu berjalan pelan mendekati ranjang. Dia tak menyentuh Lany, hanya duduk dengan mata kosong terarah pada dinding di depan. Lany jadi terheran-heran melihatnya. Selama ini, Lany seringnya mendapatkan klien yang agresif dan selalu terburu-buru."Siapa namamu?" Pria itu bertanya tanpa menatap Lany."Lany, Tuan." Lany menjawab lalu memberanikan diri duduk di samping pria itu."Sudah berapa lama kamu kerja begini?" Pria itu kembali bertanya. Lany menatapnya cukup lama, entah kenapa dia merasa tersinggung."Satu tahun, Tuan."Pria itu terdiam mendengar jawaban Lany, seolah sedang memikirkan sesuatu."Satu tahun ya. Kenapa dia gak jadi wanita panggilan juga? Lumayan kalau di bayar."Lany menatap pria itu dengan bingung. Siapa yang pria itu maksud? Tapi sepertinya, memang bukan dia.Cukup lama mereka sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Lany pun tak tahu harus apa, karena pria di sampingnya tak memperlihatkan keinginan untuk segera melakukan seks. Jadi, mungkin Lany akan menemani pria itu mengobrol saja. Sampai pria itu sendiri yang meminta lebih dulu.***Lany memang bekerja sebagai wanita panggilan. Hingga tak aneh, kalau yang harus dia lakukan adalah melayani kebutuhan biologis para pria yang membayarnya.Namun selama setahun bekerja, baru kali ini Lany mendapatkan klien yang berbeda. Pria itu, tak melakukan apa-apa padanya. Dia hanya bercerita pada Lany, menceritakan kisah hidupnya. Walau Lany tak terlalu paham, dia mendengarkan dengan seksama.Mereka tak melakukan hubungan badan, dan pria itu hanya memeluk Lany, berkata kalau dia hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya. Lany tentu senang, karena dia tak perlu lelah dan berkeringat untuk mendapatkan uang.Pagi hari saat bangun, Lany mendapatkan dirinya masih berada dalam pelukan pria itu. Pria bernama Sebastian, yang Lany terka memiliki banyak beban hidup. Apakah beban hidup pria itu terlalu berat hingga dia tak bergairah? Menjadi sebuah tanda tanya bagi Lany."Tuan, ini sudah pagi. Saya harus segera pulang." Lany berbicara kala dia sulit melepaskan lengan kekar pria itu dari pinggangnya."Aku akan bayar lebih." Pria itu bergumam, menandakan kalau Lany harus tinggal lebih lama. Lany pun tak menolak, dan kembali diam. Lumayan dong. Dia bisa mendapatkan uang tanpa harus melakukan apa-apa. Cukup diam dan mendengarkan cerita pria bernama Sebastian tersebut."Kamu punya orang tua?" Tiba-tiba Sebastian bertanya, membuat Lany cukup terkejut dengan pertanyaannya."Ayah dan ibu saya sudah meninggal dunia. Ibu tiri saya entah berada di mana." Lany menjawab secara jujur, sesuai kenyataan. Tak ada kesedihan dalam sorot matanya, karena dia sudah tegar menerima nasib hidupnya."Kamu tak punya keluarga lain?""Ada. Tapi mereka yang tak mau mengakui sebagai keluarga. Saya tak bisa memaksa masuk ke dalam keluarga mereka.""Hm. Kenapa kamu kerja seperti ini?" Lany terdiam mendengar pertanyaan itu. Memang tak sedikit yang menanyakan hal sama padanya."Uang. Itu yang saya butuhkan untuk kebutuhan hidup." Lany menjawab dengan lugas. Sebastian bergumam tak jelas saat mendengar itu. Posisi tangannya masih memeluk pinggang Lany, dengan wajah berada di dada wanita tersebut. Mata terpejam, merasakan kenyamanan yang timbul, tanpa berniat melakukan hal lebih."Ah, kau benar. Hidup di kota ini tidak mudah," gumam Sebastian lebih jelas. Lany terdiam lagi, merasa sebal juga. Sudah tahu, kenapa masih bertanya?"Apa kamu selalu menikmati sentuhan semua laki-laki yang tidur denganmu?" Sebastian bertanya lagi. Lany cukup terkejut mendengar pertanyaan Sebastian barusan."Tidak. Saya melakukannya demi uang." Lany menjawab dengan pelan. Memang, kadang Lany menikmati permainan yang dia lakukan dengan para kliennya. Tapi tak sedikit yang membuat Lany merasa tak nyaman. Intinya, dia tak bisa menikmati semua sentuhan pria yang membayarnya. Lany bisa ikut menikmati, tergantung bagaimana sentuhan yang dia dapatkan.Sebastian terdiam cukup lama mendengar itu. Dia tak bicara lagi, dan tetap sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya dia bersuara kembali, dan berhasil membuat Lany merasa sangat kaget."Aku akan menjamin kehidupanmu asal kamu hanya melayaniku saja. Kamu sanggup?"Lany duduk berhadapan dengan Sebastian di sebuah restoran mewah bintang lima. Tentu itu bukan tempat aneh bagi Lany, karena dia juga pernah ke sana beberapa kali dengan kliennya. Well , bisa dibilang Lany cukup beruntung sebagai seorang wanita panggilan. Karena selama ini, kebanyakan pria yang dia temani bukanlah sembarang pria. Maksudnya, pria-pria itu memiliki status sosial yang tinggi. Bahkan, Lany juga pernah mendapatkan klien seorang pejabat negara.Namanya -sensor-."Aku mau nasi goreng seafood dan lemon tea saja." Lany menutup buku menu seraya menyebutkan makanan yang akan dia pesan. Pelayan yang berdiri di dekat meja langsung mencatat pesanan Lany."Samakan saja." Sebastian menimpali dengan singkat. Pelayan itu mengangguk, lalu pamit undur diri.Lany melipat tangannya di atas meja, lalu menatap Sebastian. Dia tak pernah gugup melakukan ini, karena dia selalu bisa profesional. Ini semua demi uang, bukan cinta. Jadi, tak perlu memakai perasaan."Jadi Tuan, bagaimana surat perjanjian yang aku minta?" Lany bertanya disertai senyuman yang manis. Sebastian menatapnya dengan datar, tak merasa tertarik. Oke, bisa dibilang dia menjadikan Lany sebagai simpanan hanya untuk ajang balas dendam dan pembuktian saja. Membuktikan kalau dia juga bisa mengikat wanita manapun yang dia inginkan. Membuktikannya pada sang tunangan, Rhita."Perjanjian seperti apa yang kamu mau?" Sebastian bertanya. Lany diam sesaat, dan berpikir."Mudah saja. Tuan sebagai pihak pertama berhak mendapatkan pelayanan yang sangat baik dariku. Dan aku sebagai pihak kedua, berhak mendapatkan jaminan hidup yang cukup." Lany menjawab dengan simple. Masa bodoh Sebastian mencapnya sebagai wanita matre, karena nyatanya uang adalah segalanya bagi Lany."Uang kan yang kamu butuhkan?" tanya Sebastian. Lany hanya menjawab dengan senyuman saja."Kartu kredit yang aku berikan itu sebagai jaminan yang tagihannya akan langsung masuk ke rekeningku. Jadi, kamu bebas membeli apapun dengan kartu itu," ucap Sebastian. Lany mengangguk pelan mendengar itu. Ah, dia sempat lupa kalau Sebastian sudah memberinya sebuah kartu kredit unlimited ."Apa lagi yang kamu butuhkan? Apartemen? Rumah? Kendaraan? Katakan saja agar aku membelinya untukmu," ujar Sebastian. Mata Lany membulat sempurna mendengar itu."Apa saja terserah Tuan. Aku akan menerima semua pemberian Tuan," jawab Lany. Sebastian mengangguk kecil mendengar itu. Sungguh, acara makan siang ini membuatnya bosan sebenarnya. Tapi, rasanya setiap hari bahkan setiap jam dia merasakan hal yang sama. Tak ada perasaan menggebu-gebu saat bersama Lany. Yang membuktikan kalau kehadiran wanita itu tidaklah begitu penting.Simpanan. Ya, statusnya pun hanya sebagai simpanan saja. Tak ada yang istimewa.Sebastian mengambil ponselnya, dan mulai sibuk dengan urusan sendiri. Sementara Lany, sedang menikmati suasana. Menatap sekeliling, tak pernah bosan mengagumi interior restoran yang mewah. Norak? Bisa saja. Tapi, Lany memang kagum dengan tempat makan yang megah tersebut.Lany tak protes, tak mempermasalahkan Sebastian yang sibuk dengan ponsel. Tujuannya hanya menemani pria itu saja. Pria itu mau melakukan apapun, bukan urusan Lany. Sekali lagi Lany tegaskan, ini semua demi uang. For the sake of money.Setelah lama menunggu, akhirnya pelayan datang membawakan pesanan Lany dan Sebastian. Berbeda dengan Sebastian yang memasang wajah bosan, Lany malah terlihat riang. Tentu saja dia sedang berbahagia. Alasannya memang karena Sebastian. Lebih spesifik, Lany bahagia karena Sebastian akan menjadi sumber uang tetap baginya.Itu berarti, mulai sekarang Lany hanya perlu melayani Sebastian. Dia hanya perlu memuaskan pria itu. Tak perlu lagi berkencan dengan pria yang berbeda setiap malam. Ditambah lagi, Sebastian akan memberikan tempat tinggal untuknya. Siapa juga yang mau menolak?Ditambah, Sebastian tak begitu buruk dalam segi fisik. Dia tampan. Tubuhnya cukup atletis, dengan dada bidang dan perut kotak-kotak. Lalu bahu lebar, dan paha yang berotot. Satu lagi, that's dick . Lany sungguh menyukainya, karena dia pun ikut terpuaskan.Lany jadi teringat seks panasnya dengan Sebastian tadi. Sebastian juga hebat dalam urusan ranjang, dan mampu membangkitkan gairah Lany. Itu berarti, Lany mendapatkan banyak keuntungan. Tak ada kerugian apapun.***Selesai makan siang, Sebastian mengajak Lany ke mall. Tujuannya adalah menemani Lany berbelanja segala macam barang yang dibutuhkan dan diinginkan. Sebastian meminta Lany untuk langsung tinggal di apartemennya. Karena itu, Lany harus belanja segala kebutuhan pribadinya. Karena Sebastian juga melarang Lany untuk membawa barang-barang dari apartemen lamanya. Untuk apa mengangkut barang jika membelinya juga bisa?Lany berjalan mendekati deretan dress yang memiliki potongan pendek, dan memperlihatkan kesan seksi. Dia memilih beberapa yang cocok dan dia sukai. Sebastian sendiri yang menawarkan, jadi untuk apa dia malu-malu?"Buat apa semua baju itu?" Sebastian bertanya dengan sebelah alis terangkat. Lany menoleh, dan tersenyum miring."Untukmu, Tuan." Lany menjawab dengan singkat disertai senyuman penuh misteri. Sebastian tertawa remeh setelah mendengar itu. Berani juga ternyata."Seberani apa dirimu? Aku jadi penasaran." Sebastian menantang. Lany menaruh semua dress itu di raknya semula lalu mendekati Sebastian. Lany memasang ekspresi nakal, dengan tangannya yang berani menyentuh alat kelamin Sebastian.Tangan Lany bergerak naik turun, mengusapnya. Hingga Lany bisa merasakan benda itu mengeras dengan sempurna."Mari, Tuan. Ada butuh servis sekarang," ucap Lany dengan kedipan nakal. Dia meraih tangan Sebastian dan mengajak pria itu masuk ke dalam ruang ganti. Tanpa basa-basi, Lany langsung berlutut di hadapan Sebastian dan melepaskan ikat pinggang pria itu.Wajah Sebastian memerah, karena gairah yang sudah menguasai. Dia mendesis nikmat saat lidah Lany menjilat ujung kelaminnya. Lany tertawa puas, melihat ekspresi penuh kenikmatan dari Sebastian. Memang ini yang harus dia lakukan, agar Sebastian merasa puas dan tetap mempertahankannya.Tanpa aba-aba, Lany langsung melahap kejantanan Sebastian. Menghisapnya, dan mengocoknya secara bersamaan. Kepalanya bergerak cepat maju mundur, memberikan servis terbaik yang dia bisa lakukan. Tatapannya terlihat puas, kala melihat Sebastian mati-matian menahan desahan dengan mata tertutup.Gerakan kepala Lany semakin cepat, dibantu oleh tangan kanannya. Setelah beberapa saat, Sebastian menggeram dan menekan kepala Lany dengan kuat. Tubuhnya bergetar, menyemburkan cairan kepuasannya ke dalam mulut Lany. Dan tanpa rasa jijik, Lany menelannya.Lany membereskan celana Sebastian, memastikan penampilan pria itu agar tetap rapih. Kemudian, dengan sengaja dia menjilat bibirnya sendiri, menggoda sang tuan yang berdiri di hadapannya."Katakan saja apa yang Tuan inginkan, maka aku akan melakukannya sebaik mungkin. Tuan tak akan kecewa." Lany berucap dengan percaya diri. Setelah itu dia keluar dari ruang ganti, meninggalkan Sebastian yang sedang memulihkan tenaga.Lany memandangi wajah Sebastian dengan lekat. Sesekali jemari lentiknya menyentuh pipi Sebastian dan mengelusnya dengan lembut. Pria itu sedang tidur siang, dengan posisi memeluk Lany. Mereka tidur di kamar utama. Hanya tidur, tidak melakukan apapun. Lany juga sempat tidur, namun dia lebih dulu bangun.Sebelum terlelap tadi, Sebastian dengan sengaja bercerita dan mengeluh padanya. Mengeluh akan hidupnya yang terus dikekang oleh sang ayah. Juga menceritakan siapa Rhita.Lany tentu penasaran, dan dia merasa puas karena mendapatkan jawaban. Tapi sungguh, jawaban dari Sebastian membuat Lany sangat terkejut.Jika dibandingkan, mungkin dia dengan Rhita itu memiliki kesamaan. Yaitu, sering tidur dengan banyak pria. Namun, alasan yang mereka miliki berbeda. Saat Lany melakukan semua itu demi uang, agar kehidupannya terjamin, Rhita melakukan itu memang hanya demi nafsu semata.Dari Sebastian, Lany tahu kalau Rhita katanya mengidap hypersex . Salah satu kelainan seks, di mana penderitanya selalu merasa kurang puas. Dan ternyata, Rhita sering melakukan hubungan seks dengan pria lain di belakang Sebastian, dengan alasan kalau Sebastian tak bisa memuaskannya.Perkataan Rhita itu terasa sebagai hinaan bagi Sebastian, hingga egonya sebagai lelaki terluka. Sebastian sempat ingin memaafkan, dan menyarankan Rhita untuk melakukan pengobatan. Namun nyatanya, tak ada hasil. Rhita malah bermain serong dengan psikiaternya sendiri.Karena hal itu, Sebastian membenci Rhita. Saat hati dan tubuhnya setia hanya untuk Rhita, tapi wanita itu tidak. Sampai sekarang Sebastian enggan lagi berhubungan badan dengan Rhita. Hinaan Rhita yang merendahkannya masih terngiang-ngiang, membuat Sebastian selalu diliputi amarah.Lany sempat kebingungan setelah mendengar cerita Sebastian tentang Rhita. Jika misalnya Sebastian merasa jijik karena Rhita sudah sering melakukan seks dengan laki-laki lain, lalu kenapa memilihnya menjadi seorang simpanan? Padahal sudah jelas kalau Lany bekerja sebagai wanita panggilan, yang berarti dia pun sudah sering melakukan seks dengan laki-laki lain.Namun alasan Sebastian membuat Lany sedikit terenyuh."Kamu berbeda dengannya. Kamu sanggup meninggalkan pekerjaanmu hanya untuk melayaniku seorang."Itulah alasan kenapa Sebastian mau menjadikan Lany sebagai simpanan. Simplenya, Sebastian hanya tak suka berbagi. Jika terjalin sebuah hubungan, maka Sebastian ingin mereka saling memiliki, tanpa berhubungan dengan orang lain. Entah itu dirinya, atau pasangannya.Mendengar itu, Lany merasa lega. Sekaligus merasa heran pada Rhita yang menyia-nyiakan pria seperti Sebastian. Padahal, jika bukan terdesak oleh keadaan, Lany pun enggan melakukan pekerjaan itu, bergonta-ganti pria. Namun apa daya, keadaan yang menjepit membuatnya terpaksa mau menjajakan tubuh demi uang. Karena hanya pekerjaan itu saja yang memudahkan Lany mendapatkan uang.Lany menarik kepala Sebastian, dan memeluknya. Pria itu tertekan oleh banyak hal, dan hanya menginginkan sesuatu yang sederhana. Yaitu seseorang yang mau mendengarkan semua keluh kesahnya, dan setia padanya seorang.Dan dalam hati, Lany berjanji akan melakukan itu. Selama Sebastian menjadikannya seorang simpanan, dia akan setia pada pria itu. Dia tak akan berhubungan dengan pria mana pun lagi, walau itu kliennya. Dan Lany akan berusaha menjadi tempat curhat Sebastian. Lany rasa, itu semua setimpal.Dia bisa menjadi pendamping Sebastian, sesuai keinginan pria itu. Dan Sebastian bisa menjamin kehidupannya agar tetap baik.Lupakan soal pelayanan Lany terhadap Sebastian perihal seks. Karena dia bukan hanya sekedar melayani. Tapi, dia ikut menikmati. Suka sama suka, tak ada yang terpaksa.***Malam ini, Lany dan Sebastian memustukan untuk tetap di apartemen. Lany memesan makanan via online untuk makan malamnya dengan Sebastian. Tentu saja Sebastian yang membayar. Hehe.Malam ini, sengaja Lany berdandan agar terlihat lebih cantik dan segar. Dia mandi, tak lupa keramas juga. Lany sengaja memakai sebuah dress tidur yang cukup seksi. Dengan tujuan memanjakan mata Sebastian.Selain itu, Lany juga memoles wajahnya dengan make up tipis. Tak lupa sebuah lipstik dengan warna natural agar tidak terlihat pucat.Sebastian menatap Lany penuh dengan rasa tertarik. Well , wanita muda itu cukup pintar untuk bisa memuaskan pandangannya. Dan tentu, bukan hanya itu saja."Bagaimana? Apa aku cocok memakai ini?" Lany bertanya seraya berdiri di depan Sebastian. Sebastian tersenyum tipis dan mengangguk. Lany ikut tersenyum melihat reaksi Sebastian yang tak mengecewakan.Tanpa rasa malu dan gugup, Lany melangkah mendekati Sebastian. Dia langsung duduk di atas pangkuan pria tersebut, yang disambut rangkulan mesra oleh Sebastian."Filmnya seru?" tanya Lany seraya melihat sekilas pada televisi. Sebastian hanya mengangguk, dan kembali fokus pada film yang sedang di putar. Sementara Lany, sibuk memandangi wajah tampan Sebastian dari samping.Mimpi apa dia hingga bisa bersama dengan pria tampan dan kaya raya seperti Sebastian? Ini seperti sebuah keberuntungan. Selain kemewahan yang diberikan, Sebastian juga memberikan pengertian pada Lany kalau tak setiap pria itu suka bermain dengan banyak wanita.Ah, sudahlah. Rumit memang menjelaskan tentang Sebastian dengan segala hal yang ada dalam dirinya, yang berbeda dari pria lain. Yang jelas, Lany beruntung.Lany memeluk leher Sebastian, lalu mengecup singkat pipi pria itu. Sebastian tak bereaksi apa-apa, membiarkan Lany melakukan apa yang diinginkan. Dan Lany pun semakin menjadi-jadi."Mas Tian, apakah film itu lebih menarik dari pada aku?" Lany bertanya dengan nada merajuk. Dia memaksa Sebastian untuk menghadap ke arahnya, dan matanya memicing tajam melihat ekspresi Sebastian yang terlalu biasa."Mau apa hm?" Sebastian bertanya dengan lembut. Dia meraih remote tv dan mematikannya. Kini fokusnya hanya pada wanita yang duduk di atas pangkuannya.Lany tak menjawab, hanya memberikan senyuman nakal. Dengan berani Lany menggoda Sebastian. Menyentuh dada pria itu, dan mengusapnya. Lalu menjilat telinga Sebastian, yang berhasil membuat Sebastian menggeram. Lany sudah tahu kalau telinga adalah salah satu titik sensitif para pria. Dia sudah belajar banyak hal."Kamu pintar menggoda juga rupanya," desis Sebastian. Tanpa aba-aba, Sebastian langsung membaringkan tubuh Lany di atas sofa. Lany tertawa genit, menarik kepala Sebastian agar semakin dekat dengannya."Ini memang tugasku," balas Lany. Dengan berani dia mencium bibir Sebastian. Tentu saja Sebastian tak menolak, dan membalas ciuman Lany tak kalah panas.Setelah beberapa saat, bibir mereka terlepas. Gairah mulai menguasai Sebastian, terlihat dari sorot matanya. Dan Lany bersorak riang karena berhasil membangunkan 'sesuatu'."Kamu lebih suka lidah atau jari?" Sebastian bertanya dengan suara berat dan serak. Mata Lany melebar tak percaya, namun berakhir terkikik geli."Kalau bisa dua-duanya, kenapa harus memilih salah satu?" Lany bertanya dengan pose menantang. Sebastian menyeringai mendengar jawaban berani dari wanita itu. Tanpa bicara lagi, Sebastian kembali mencium Lany dengan kasar. Tangan kekarnya bergerak berusaha menelanjangi wanita di bawahnya tersebut. Untuk saat ini, Sebastian ingin sekali mendengar Lany mendesahkan namanya. Itu pasti akan terdengar sangat menyenangkan.Lany keasyikan mengobrol dengan dua teman dekatnya sampai-sampai mereka bertiga lupa waktu. Setelah menghabiskan kurang lebih tiga jam di cafe, mereka memutuskan untuk belanja bersama ke mall sekalian jalan-jalan. Posisi Lany yang sudah berbeda membuatnya akan sedikit sulit untuk berkumpul dengan dua temannya tersebut. Karena jika mau, dia harus mendapatkan izin dulu dari Sebastian.Lany, Gesya, dan Clarissa asyik memilih baju dan sepatu. Tentu mereka memilih yang bagus dan berkualitas. Utamanya, yang bisa memperlihatkan sisi sensual mereka. Karena mereka membeli baju-baju itu untuk pekerjaan mereka.Lany ikut memilih dan hanya mengambil satu. Baru kemarin dia belanja dengan Sebastian, jadi dia masih memilih beberapa baju baru yang bahkan belum dia coba. Jadi, untuk sekarang Lany tak terlalu membutuhkannya."Lan, selain dibayarin belanja, kamu udah di beri apa saja?" Gesya bertanya seraya memilih sepasang sepatu hak yang cocok di kakinya."Ehm, sampai sekarang aku sudah di beri kartu kredit unlimited ." Lany menjawab dengan ekspresi polos seperti anak kecil."Ck, beruntung sekali kamu, Lan. Btw , kamu punya rencana gak?" Kini Clarissa yang bertanya."Rencana apa?" tanya Lany tak paham. Gesya dan Clarissa saling tatap. Gemas dengan Lany yang memang susah untuk diajak berpikir panjang ke depan."Saran dariku nih ya. Kamu gunakan pemberian dari Sebastian dengan sebaik mungkin. Ya, kamu bisa buat usaha offline atau online . Atau melakukan investasi. Jadi, saat Sebastian memutuskan hubungan denganmu, kamu gak perlu kerja malam lagi," ujar Gesya. Dalam matanya, terlihat keseriusan. Dia dan Clarissa memang lebih dulu terjun kerja sebagai wanita panggilan. Mereka memang sudah memiliki tabungan, tapi tak seberapa. Karena sebagian hasil kerja mereka juga dipakai untuk biaya hidup keluarga. Beda dengan Lany yang memang untuk dirinya saja."Gesya benar, Lan. Kamu berhak menjalani hidup normal. Apalagi kamu memiliki peluang besar bisa keluar dari pekerjaan malam ini," lanjut Clarissa. Lany terdiam, seraya memperhatikan sepatu hak berwarna hitam di depannya. Jujur saja, dia tak pernah kepikiran sampai ke sana."Kamu gak ada tanggungan, Lan. Beda dengan kita yang memang dituntut untuk selalu mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat," sambung Gesya. Lany tetap diam, namun mulai memikirkan perkataan dua temannya tersebut. Tak salah juga sebenarnya."Aku pikir-pikir dulu," jawab Lany pada akhirnya. Gesya dan Clarissa tersenyum mendengar itu.Selesai memilih baju dan sepatu, mereka pun melangkah menuju kasir untuk membayar belanjaan. Tak ada yang aneh, dan semuanya berjalan dengan lancar tanpa masalah. Selesai belanja di mall, mereka berniat mencari tempat yang nyaman untuk kembali ngobrol dan berbincang-bincang. Tapi ternyata, Lany mendapatkan telepon dari Sebastian."Halo, Mas Tian. Ada apa?" Lany bertanya dengan ramah. Gesya dan Clarissa yang mendengar itu terkikik geli."Kantormu, Mas? Boleh saja. Tapi, aku gak tahu di mana tempatnya.""...""Oh, oke. Aku akan segera meluncur ke sana," ujar Lany riang. Setelah sambungan telepon di putus, Lany berbalik menghadap dua temannya."Mas Tian memintaku datang ke kantor tempatnya bekerja," ujar Lany dengan senyuman. Gesya dan Clarissa saling tatap cukup lama mendengar itu."Kamu yakin? Maksudku, apa itu bukan tindakan berbahaya?" tanya Clarissa hati-hati. Lany mengangkat kedua bahunya."Aku tak tahu. Tapi Mas Tian sendiri yang minta," jawab Lany jujur."Pergi saja, Lan. Tapi tetap hati-hati saja," ucap Gesya. Lany tersenyum dan mengangguk. Dia pun pergi meninggalkan kedua temannya untuk segera menemui Sebastian.***Lany tak mengkhawatirkan apa-apa, saat Sebastian menghubunginya dan memintanya datang ke kantor. Sebastian bahkan mengirimkan alamat kantornya lewat ponsel. Dan dengan mudah Lany menurut.Lany baru sadar, kala dia berhadapan dengan resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan Sebastian. Tatapan bingung dan curiga dari resepsionis membuatnya sadar akan kenyataan.Dia ini hanya seorang simpanan. Bagaimana kalau nanti orang-orang curiga?Walau rasa khawatir mulai menyergap dalam hati, Lany tetap berusaha bersikap tenang. Dan akhirnya, dia bisa segera menemui Sebastian setelah tahu di mana ruangan kerja pria itu.Lany kagum, karena ternyata Sebastian merupakan pemimpin dari perusahaan besar. Itu berarti, Sebastian memang kaya raya. Pantas saja Sebastian dengan mudah memberinya sebuah kartu kredit unlimited .Saat pintu lift terbuka, Lany pun melangkah keluar dan mendekati ruangan Sebastian. Rasa khawatir kembali menyergap, kala sadar dia harus berhadapan dulu dengan sekretaris Sebastian. Dan beruntungnya, sekretaris Sebastian tak menanyakan apapun. Malah langsung menyuruh Lany untuk masuk."Kamu tersesat?" Sebastian melontarkan pertanyaan saat tahu kalau Lany sudah berada di ruangannya."Tidak. Hanya sedikit khawatir saja," jawab Lany jujur. Dia menyimpan tas belanjaan dan tas pribadinya di atas sofa secara asal. Kemudian menghampiri Sebastian yang masih duduk di kursi kerjanya."Khawatir apa?" Sebastian bertanya lagi. Tangannya direntangkan, menerima Lany yang langsung duduk di atas pangkuannya."Resepsionis dibawah sepertinya mencurigaiku," jawab Lany dengan suara pelan. Sebastian tak bereaksi lebih, membuat Lany keheranan."Mas, bagaimana kalau nanti tunangan Mas tahu tentang hubungan kita?" tanya Lany. Ada kekhawatiran dalam sorot matanya."Dia memang sudah tahu." Sebastian menjawab dengan mudah. Mata Lany melebar kaget mendengar itu."Dia tahu kalau aku memiliki wanita lain. Dan aku memiliki banyak alasan untuk memberikan pengertian padanya kalau dia tak berhak melarang." Sebastian menjelaskan. Lany paham apa yang dimaksud oleh Sebastian. Pasti hal tentang kelainan tunangan Sebastian tersebut."Apa semuanya akan baik-baik saja?""Jangan khawatir. Aku akan menjamin keselamatanmu," jawab Sebastian. Ujung bibirnya tertarik, membuat sebuah senyuman tipis. Lany ikut tersenyum melihat itu. Kemudian, tanpa malu Lany memeluk Sebastian dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang pria."Ngomong-ngomong, ada apa Mas Tian memanggilku ke sini?" Lany mendongak, menatap wajah tampan Sebastian."Menurutmu?" Bukannya menjawab, Sebastian malah balik bertanya dengan senyuman misterius. Lany mengerling nakal kemudian turun dari pangkuan Sebastian."Mau bermain sebentar?" tanya Lany dengan genit."Lama pun tak masalah." Lany tertawa pelan mendengar itu. Dia kembali duduk di atas pangkuan Sebastian, dengan posisi mengangkang. Dia siap untuk memulai permainan panas dengan sang tuan. Yang tentu, dia sukai juga.Sebastian memeluk pinggang ramping Lany dengan lembut. Perlahan tapi pasti, Sebastian semakin memojokkan Lany ke arah ranjang. Lany tak menolak, dan menerima dengan senang hati. Tangannya tak henti menggerayangi dada dan perut Sebastian, membuat pria itu menggeram nikmat.Akhirnya, Lany terbaring pasrah di atas ranjang dengan Sebastian yang siap menggagahi. Mata sayu Lany membuat Sebastian semakin bernafsu. Dan dia kembali mencium bibir Lany, tanpa kelembutan.Lany mengerang, merasakan nikmat kala tangan Sebastian menyentuh dadanya. Remasan yang teratur membuat Lany keenakan. Tanpa sadar, Lany semakin membusungkan dadanya. Membiarkan Sebastian mempermainkan kedua buah dadanya.Gairah yang membara terlihat jelas dalam sorot mata Sebastian. Dia semakin tak tahan, kala Lany terus saja menggerling manja. Wanita itu, benar-benar hebat dalam hal menggoda dan merayu. Bahkan tak segan untuk memulai permainan panas mereka."Mas, buka saja," ujar Lany dengan suara lemah. Sebastian tak membalas, dan mulai melepaskan gaun tipis itu hingga hanya tersisa bra dan g-string saja. Dan tentu saja, dua kain itu juga tak bertahan lama di tubuh Lany.Sebastian menatap nyalang tubuh telanjang Lany, sudah tak sabar untuk segera melahapnya. Lany tak bisa berhenti tersenyum melihat segala ekspresi yang ditampilkan oleh Sebastian.Lany membuka kakinya, membiarkan Sebastian melihat bagian tubuhnya yang sudah basah dan mendambakan dirinya. Namun, Sebastian tak ingin buru-buru. Dia ingin mempermainkan wanitanya terlebih dahulu. Membuat wanitanya tersebut memohon padanya.Sebastian kembali mencium bibir Lany dengan perlahan dan lembut. Sementara tangannya, menyentuh setiap inchi kulit Lany yang tergapai. Meninggalkan jejak-jejak panas di tubuh Lany. Tubuh Lany menggelinjang pelan, tak sabar untuk segera mendapatkan yang lebih. Namun, Sebastian memang tak ada niatan untuk mengabulkan keinginan Lany secepat mungkin.Pelan, sentuhan bibir Sebastian turun ke dagu dan leher. Menciuminya perlahan, tanpa meninggalkan jejak. Lalu tak lama kemudian, wajah Sebastian berhadapan dengan dada Lany. Lany mendesah pelan merasakan puncak dadanya yang dikulum. Rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya karena Sebastian mempermainkan puncak dadanya dengan sangat baik.Desahan Lany semakin kuat, saat tangan kekar Sebastian menyentuh paha dalamnya. Pinggul Lany bergerak tak sabar, menginginkan jari Sebastian. Sebastian tak bisa menahan senyumnya lagi, melihat Lany yang seperti tersiksa oleh hasratnya sendiri."Ahhh...." Lany mendesah panjang saat merasakan belaian lembut di klitorisnya. Kedua tangannya meremas sprei dengan kuat, tak tahan dengan sensasi nikmat yang diberikan Sebastian. Kepala Lany bergerak tak tentu arah, saat lidah dan jari Sebastian memberikan kepuasan secara bersamaan. Sungguh, Lany tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini. Dan Sebastian, berhasil membuat Lany ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi."Ahh ahh. Mas, lebih cepat. Ahh..." Sebastian menurutinya, menggerakkan dua jarinya semakin cepat. Desahan Lany terdengar semakin bergema di dalam kamar mewah tersebut. Hingga akhirnya Lany menjerit penuh kenikmatan, saat orgasmenya datang.Sebastian tersenyum miring, melihat kewanitaan Lany yang berkedut. Kemudian dia melepaskan handuknya, dan mengurut kejantanannya. Jangan bilang dia tak bergairah. Karena sejak tadi dia pun sudah tak tahan."Cepat masukin, Mas." Lany meminta dengan tak sabar. Sebastian tertawa pelan, lalu memposisikan tubuh mereka agar segera menyatu. Baru juga masuk setengah, ponsel Sebastian yang berada di atas laci berdering nyaring. Tanpa memikirkan Lany, Sebastian mencabut kejantanannya dan mengangkat telepon yang masuk. Sementara Lany, menganga tak percaya karena ulah Sebastian."Siapa, Mas?" Lany bertanya penasaran. Dia memperhatikan Sebastian yang mendekati lemari dan memakai celana pendek juga kaos oblong polos."Pengantar makanan sudah di depan," jawab Sebastian kalem. Setelah berpakaian dan mengambil uang di dompet, Sebastian keluar dari kamar. Meninggalkan Lany ditengah-tengah percintaan mereka. Lany menggerutu, merasa kesal dengan kelakuan Sebastian. Padahal, dia sudah tidak tahan lagi. Tapi pria itu terus saja mempermainkannya.Lany turun dari atas ranjang dan berjalan keluar dari kamar dengan tubuh telanjang. Masa bodoh reaksi Sebastian, yang jelas dia akan menuntut pada pria itu. Enak saja meninggalkan dirinya saat semuanya belum selesai.Sebastian menutup pintu dengan tangan yang memegang kresek berwarna putih. Dia berbalik, dan cukup kaget melihat Lany yang berdiri telanjang beberapa langkah darinya."Sabar dong, Lan." Sebastian berbicara. Dia menaruh semua makanan itu di atas meja kemudian mendekati Lany yang sudah merajuk padanya."Ini yang kedua kalinya loh, Mas. Bagaimana aku tidak kesal?" Lany bertanya. Sebastian terkekeh geli mendengar itu. Dia lalu memeluk Lany, dan menggendong wanita itu untuk kembali ke kamar."Ya sudah. Ayo kita lanjutkan," ujar Sebastian. Bibir mereka kembali bertemu, berusaha membangkitkan gairah yang hampir padam. Lany jadi lebih agresif sekarang, mungkin karena kesal pada Sebastian. Namun, Sebastian tak membiarkan Lany menjadi pemimpin. Dia memaksa Lany agar tetap berada di bawah tubuhnya.Jari Sebastian kembali masuk ke dalam tubuh Lany, dan bergerak pelan membuat wanita muda tersebut mendesah nikmat. Setelah dirasa cukup, Sebastian langsung melepaskan pakaiannya. Melebarkan kaki Lany, dan mulai memasukkan kejantanannya ke dalam tubuh Lany.Lany mendesah, dengan tangan mencengkeram bahu Sebastian. Sebastian pun tak bisa menahan desahannya saat merasakan miliknya yang diremas kuat oleh Lany. Tak sabar, Sebastian pun segera menggerakkan pinggulnya.Desahan Lany terdengar begitu nyaring memenuhi kamar. Ini sungguh nikmat, hingga Lany tak ingin Sebastian berhenti. Kedua kakinya melingkar erat di pinggul Sebastian, tak membiarkan pria itu lepas darinya.Detik demi detik, gerakan pinggul Sebastian semakin cepat. Suara dua kelamin yang beradu terdengar sangat menggoda. Sebastian semakin mempercepat gerakannya, tak sabar untuk segera mencapai puncak kenikmatan."Mas Tian!" Lany menjerit, saat kembali mendapatkan orgasmenya. Disusul oleh Sebastian, yang menyemburkan banyak benih ke dalam rahimnya. Nafas mereka terengah-engah, dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh. Lany memeluk Sebastian dengan erat, dengan nafas yang mulai teratur."Aku lupa tidak memakai pengaman." Sebastian berucap. Lany mengerjap pelan, mulai menyadari. Benar saja."Tak apa, Mas. Aku aman," balas Lany. Sebastian mengangguk, dengan tubuh masih terasa lemas.

Menikah Dengan Ceo Posesif
Romance
12 Jan 2026

Menikah Dengan Ceo Posesif

Bara Alexander Rodriguez, seorang CEO muda, gagah dan tampan. Ia merupakan idaman bagi setiap wanita. Namun, siapa sangka, di balik namanya yang melejit sebagai seorang pengusaha muda berbakat, Bara tak pernah sekali pun menjalin hubungan dengan wanita. Ia dijuluki berhati batu, bahkan Monica yang seorang model pun, tak mampu meluluhkan hatinya. Bara terlalu fokus dengan karirnya, semua waktunya hampir ia gunakan untuk memajukan bisnis konstruksi perusahaan keluarganya, Rodriguez Corporation. Selain itu, Bara juga kesulitan dalam mencari perempuan yang sesuai dengan kriterianya.Siang ini, Bara berjalan tergesa memasuki Kafe untuk bertemu dengan klien. Namun, ia malah menabrak seseorang hingga jatuh ke lantai.Bara langsung berjongkok melihat keadaan gadis bersuarai hitam sepunggung itu. Ringisan kecil keluar dari bibirnya."Maafkan saya, apa kau baik-baik saja?" tanya Bara sopan.Gadis itu mendongak lalu mengumbar senyum manis pada Bara. Detak jantung Bara berdebar kuat saat lesung di pipi kanan gadis itu terlihat jelas. Bara terpana dengan kecantikannya.Bara sadar, ada yang salah dalam dirinya. Gelora pertama yang ia rasa. Inikah yang disebut jatuh cinta pandangan pertama?Bagaimana dia bisa melakukan ini? batin Bara heran."Aku baik-baik saja, aku hanya terkejut," jawab Sheila pelan membenarkan tas slempangnya. Ia berdiri diikuti Bara.Sheila menatap Bara lekat, seakan terhipnotis dengan penampilan rapi dalam balutan jas hitam itu. Tubuh tinggi dengan badan tegap, rahang tegas, dan tatapan matanya mendebarkan.Penampilan fisiknya benar-benar mengesankan bagi Sheila. Hingga Sheila sadar, ia sampai tak berkedip saking kagumnya."Saya terlalu terburu-buru, hingga saya tidak menyadari keberadaanmu," jelas Bara lembut, rasanya baru kali ini Bara mengucapkan nada sehalus ini.Sheila mengangguk. "Iya, aku mengerti. Tidak apa-apa kok. Kalau begitu aku pergi, ya." Sheila mulai melangkah meninggalkan Bara."Tunggu," sergah Bara ketika Sheila telah berjarak lima langkah darinya.Sheila berbalik badan dengan cepat. Ia menunggu ucapan Bara selanjutnya. Bara tak kunjung berucap membuat Sheila dilanda kegugupan karena tatapan mata Bara seolah tengah menelanjanginya."Ada apa?" tanya Sheila memberanikan diri."Siapa namamu?" Rasa penasaran terpancar dari sorot mata Bara.Sheila tampak berfikir, ide jahil muncul di kepalanya. Lalu Sheila tersenyum simpul, ia mengucapkan namanya tanpa suara.Bara mengernyit, mencoba mengejanya, ia gemas saat Sheila mengulanginya beberapa kali. Pergerakan bibir mungil itu membuat Bara ingin menarik pinggang ramping itu lalu melumat habis bibir ranumnya."She ... ila," gumam Bara. Kebahagiaanya kian membuncah ketika Sheila mengangguk, pertanda mengiyakan.Sebelumnya, tidak pernah terasa begini. Debaran di dadanya terasa menyenangkan, wajah Sheila yang terlihat polos membuat Bara ingin melindunginya.Mendekapnya erat dan keduanya menghabiskan waktu bersama. Namun, itu masih sebatas khayalan tapi sudah membuat Bara terlena dalam imajinasi liarnya."Dia dengan mudahnya meruntuhkan pertahanan hati ini, apa mungkin dia yang aku cari?" Bara bertanya pada dirinya sendiri. Dari banyaknya wanita yang Bara temui, hanya Sheila yang dengan mudah membuatnya terobsesi untuk memiliki.Bara menyeringai, "Sheila, aku akan membawamu jatuh dalam pelukanku," tekad Bara penuh ambisi.Pintu ruangannya terketuk berulang-ulang, membuat bayangan Bara tentang Sheila buyar."Masuk," titah Bara dengan suara baritonnya. Pria itu dengan cepat merubah raut wajahnya menjadi datar dan terkesan dingin.Bryan berdiri di depan meja dengan tumpukan berkas di tangannya."Ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani, Pak," ucap Bryan menaruh berkas bawaannya di meja Bara.Bara memajukan kursi lalu memeriksanya teliti. Ia lantas membubuhkan tanda tangannya. Bryan yang melihat Bara selesai langsung mengambilnya kembali."Kalau begitu, saya permisi," pamit Bryan membungkukan badan dan keluar.Bara mengangguk, ia berdiri seraya melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Pikirannya tidak fokus, Bara harus menggali informasi tentang Sheila secepatnya.Bara berjalan melewati mejanya, ia tidak sengaja menginjak sebuah dompet berwarna coklat tua. Dahi Bara mengernyit lalu mengambilnya.Kedua mata Bara memandang remeh."Jelek sekali seleranya," desis Bara mengamati penampilan dompet itu. Tangan Bara tergerak untuk melihat isinya. Pupil matanya melebar saat foto gadis yang terus membekas di ingatannya ada di sana. Sheila tengah tersenyum manis bersama Bryan. Terasa begitu dekat dan bahagia."Ada hubungan apa Bryan dan Sheila?" geram Bara, darahnya seakan mendidih disertai emosi yang bergolak."Permisi." Bryan datang lagi mengetuk pintu."Masuk!" seru Bara dengan tatapan tajam yang menusuk manik mata Bryan.Bryan menelan ludahnya kasar merasakan aura gelap yang menguar dari diri Bara. Apalagi pandangan Bara yang seakan ingin membunuhnya.Tujuan Bryan datang kemari adalah untuk memastikan. Apakah dompet miliknya terjatuh di sini atau tidak. Rupanya memang benar, saat ia melihat Bara memegangnya."Maaf Pak, itu dompet saya," ucap Bryan."Siapa perempuan ini?" tanya Bara langsung pada inti."Dia calon istri saya," jawab Bryan sungguh-sungguh.Bara syok mendengarnya, ia bagai tersambar petir. Baru saja ia akan mengincar Sheila tapi, kenapa semuanya seperti ini? Apa kali ini takdir tidak akan berpihak padanya? Bara tidak rela jika Sheila bersama dengan Pria selain dirinya. Tidak boleh!Bryan merogoh sakunya setelah merasakan getaran ponselnya. Bryan mendapati pesan masuk dari adiknya yang mengatakan jika ibunya jatuh di kamar mandi dan sekarang dirawat di rumah sakit. Dokter harus segera melakukan tindakan operasi karena ibunya mengalami stroke.Bryan menatap ragu pada Bara, ia gugup sekarang. Pria itu menghela napas panjang menenangkan dirinya."Pak, bolehkah saya meminjam uang untuk biaya operasi ibu saya? Tolong Pak, saya sangat membutuhkannya," mohon Bryan dengan wajah mengerut cemas."Ibumu sakit apa?" tanya Bara sekedar basa-basi."Beliau stroke dan harus segera di operasi," jelas Bryan."Baiklah, asal ada jaminannya," kata Bara tersenyum sinis. Hal ini akan Bara menfaatkan dengan baik untuk merebut Sheila.Bryan berfikir keras, ia hanya tinggal di rumah kontrakan. Mobil pun tidak punya, apa yang harus ia jaminkan?"Saya hanya memiliki motor," ucap Bryan apa adanya."Saya tidak mau!" tolak Bara keras."Bagaimana … jika tunanganmu sebagai jaminannya," usul Bara bersidekap tangan menampakan aura otoriternya.Bryan tertohok, seketika hatinya langsung panas mendengar penuturan Bara. Bryan mengepalkan tangan, ia mati-matian menahan dirinya untuk tidak menghajar wajah sombong Bara yang notabene adalah Bossnya."Tidak! Apa maksud Bapak berkata begitu? Saya tidak akan melepaskan Sheila! Carilah perempuan lain, Sheila bukan wanita seperti itu!" tegas Bryan menentang keras. Kemarahan menyala di matanya."Tau apa kau tentang saya? Saya jatuh cinta padanya saat kami tidak sengaja bertemu. Tapi sialnya kau mengenalnya lebih dulu!" sesal Bara frontal."Saya tidak akan menyetujuinya, apapun selain itu saya akan turuti," kata Bryan.Suasana terasa tegang saat Bara dan Bryan saling melempar sorot permusuhan."Tidak ada," ketus Bara memalingkan wajah.Tak lama terdengar telfon masuk pada ponsel Bryan, ia segera mengambilnya."Kak, tindakan operasi harus segera dilakukan, jika tidak ... ibu akan meninggal. Biayanya sekitar 150 juta, Kak," ucap Tiara diiringi isakan melalui sambungan telfon.Wajah Bryan berubah pias, tangannya gemetar ia tidak ingin kehilangan ibunya secepat ini."Katakan iya, Kakak akan segera melunasi biayanya!" perintah Bryan cepat.Bara menjengitkan sebelah alisnya. "Bagaimana? Apa kau masih bisa bersikap sombong ketika terdesak?" sindir Bara terdengar angkuh dan menyebalkan.Bryan memejamkan matanya erat, meredam emosi. "Baik saya setuju." Seketika rasa sesal memenuhi hati Bryan."Pilihan yang tepat Bryan," puji Bara tersenyum puas semakin membuat Bryan meradang.Bara mengambil selembar kertas yang sudah tertempel materai dan menyodorkannya pada Bryan."Tanda tangan di sini," titah Bara. Bryan berjalan mendekat dan mematuhi perintah Bara.Bara mengambil ponselnya. "Saya sudah transfer uangnya. Silahkan pergi," usir Bara."Baik, terima kasih," balas Bryan dengan nada tidak ikhlas. Tangan Bryan mengepal kuat dengan emosi yang menderu.**Sheila menghampiri Bryan dengan rasa khawatir dan cemas yang begitu jelas dari wajahnya. Sheila langsung duduk di kursi sebelah Bryan. Sheila mendapat kabar dari Bryan dan ia langsung bergegas ke rumah sakit."Bryan bagaimana keadaan ibumu?" tanya Sheila."Kondisinya berangsur membaik setelah operasi," jawab Bryan terdengar lelah."Syukurlah, aku turut senang mendengarnya," sahut Sheila tenang.Detik berikut, Bryan menggenggam kedua tangan Sheila dan mengecupnya lembut. Sheila menyadari ada yang berbeda, sorot mata Bryan tampak sendu."Sheila, berjanjilah, kamu akan terus mencintaiku," ucap Bryan terdengar memohon.Sheila tersenyum manis, tanpa ragu dia menjawab. "Iya, aku berjanji."Ada kelegaan yang Bryan rasakan, sedari tadi seperti ada tali yang mengikatnya kencang dan membuatnya sesak. Namun, sekarang tali itu telah melonggar seiring dengan kecemasan yang perlahan memudar. Berada di dekat Sheila membuat Bryan nyaman. Dan binar kebahagiaan di mata Sheila seolah mengatakan semuanya baik-baik saja."Persiapan pernikahan kita sudah selesai kan?" tanya Bryan.Sheila mengangguk pelan. "Sudah, kita hanya mengundang sahabat dan keluarga saja," jelas Sheila mantap."She, aku ingin memajukan tanggal pernikahan kita menjadi minggu depan," ucap Bryan membuat Sheila terkejut.Inilah solusinya, jika Bryan menikahi Sheila secepatnya Bara tidak akan mengambil Sheila darinya.Sheila menangkup wajah Bryan, "Apa kamu takut kehilanganku?" goda Sheila mengusap lembut pipi Bryan."Ya, aku sangat takut," jawab Bryan yakin dan lugas. Bryan menarik Sheila lalu membawanya ke dalam pelukan. Dari perlakuan Bryan itu, justru menghadirkan perasaan aneh dalam hati Sheila.Apa yang Bryan sembunyikan?Tanpa mereka sadari, pria berwajah tampan tapi mematikan itu tengah mengintai mereka dengan senyum dan tatapan bak iblis. Ya, dia Bara Alexander Rodriguez, pria yang memiliki keinginan yang sangat kuat dan harus selalu terpenuhi."Lihat saja Bryan, aku tidak akan membiarkan rencanamu berjalan mulus!"Sheila melirik ke arah jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Ia menatap Bryan."Yan, sepertinya aku harus pulang. Maaf, tidak bisa menunggu ibumu sadar. Aku ingat, masih ada pesanan yang belum selesai," ungkap Sheila."Iya, She," jawab Bryan."Semoga ibumu cepat pulih," kata Sheila."Amin. Hati-hati, She. Aku minta maaf tidak bisa mengantarmu pulang," balas Bryan. Sheila tersenyum sembari mengusap pundak Bryan."Aku tau kondisimu, Bryan. Secepatnya aku akan kembali nanti. Kalau begitu aku pamit, ya," pamit Sheila."Iya."Sheila berada di pintu keluar rumah sakit. Namun, hujan turun dengan lebat. Sheila mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah agar pandangannya bisa melihat jelas ke depan. Terpaksa, Sheila berlari menerobos guyuran hujan deras dari pelataran demi menuju halte.Napas Sheila memburu, ia mengusap wajahnya."Hey, kita bertemu lagi." Suara berat dan rendah itu membuat Sheila menoleh.Bara menatap Sheila dengan pendar hangat. Bara memang sudah menduga, Sheila pasti akan kemari karena ia membuntuti Sheila dan bergerak cepat mendahului gadis itu.Sheila tersenyum canggung, "Senang bertemu denganmu," balas Sheila memandang Bara sebentar lalu mengusap lengannya."Sepertinya, hujan yang mempertemukan kita," timpal Bara.Kedua sudut bibir Bara terangkat, senyumannya yang jarang terlihat. Namun, Bara ingin Sheila melihat sisi manisnya. Menginginkan Sheila mengaguminya.Sheila terpana, ia tidak menyangkal, Bara begitu karismatik di matanya.Jatuhlah dalam pesonaku, Shei, batin Bara.Sheila ingat! Kamu sudah punya Bryan! peringat hati kecil Sheila."Astaga!" seru Sheila menggeleng, sudah seharusnya ia menjaga pandangan."Kau kenapa, Shei?" Kening Bara mengerut karena Sheila berucap dengan nada terkejut."Hm, a-aku melamun tadi," jawab Sheila menunduk, melihat ke ujung sepatunya."Oh.""Shei, saya ingin kita berkenalan secara resmi," pinta Bara seraya mengulurkan tangan.Sheila tersenyum salah tingkah. Gaya bicara Bara terdengar unik.Semakin sering melihatmu tersenyum, semakin dalam rasa ini padamu.Entah sudah berapa kali Bara terus memuji Sheila. Seolah gadis itu adalah hal paling indah yang pernah ia temui di sepanjang hidupnya.Sheila menjabat tangan Bara, kulit tangan Sheila terasa lembut dan begitu pas di genggaman Bara. Perasaan Bara bergejolak, denyut nadinya berpacu cepat. Bara jadi berpikir, apa Sheila merasakan hal sama?"Sheila Annatasya," ucap Sheila dengan degup jantung menggila. Namun, Sheila pastikan, ini hanyalah debaran biasa karena Sheila gugup di dekat Bara. Ya, Sheila tak menyangkal pesona Bara sekuat itu."Bara," balas Bara singkat, kemudian tautan tangan mereka perlahan terlepas.Sheila memeluk lengannya, angin berhembus dingin menerpa halus kulitnya.Bara melepas jas hitamnya lalu menyampirkannya di belakang punggung Sheila.Sheila menatap Bara tidak enak."Nanti jaketmu basah." Sheila hendak melepas, tapi tangan Bara menahannya."Jangan pedulikan itu, akulebih khawatir jika kau jatuh sakit karena kedinginan," ucap Bara berhasil membuat hati Sheila menghangat."Tapi ... bagaimana jika pacarmu melihat kita?" tanya Sheila panik. Ia tidak ingin dicap sebagai perebut kekasih orang.Bara tergelak mendengarnya. Apa Sheila bilang? Pacar? Yang benar saja, asal Sheila tahu dialah perempuan yang Bara inginkan.Dahi Sheila mengernyit, apa ada yang lucu dari pertanyaannya?"Sheila kau ini ada-ada saja, aku belum memiliki pacar," aku Bara membuat Sheila melongo serta mulut yang sedikit menganga.Sheila bertanya ragu dalam benaknya. Apa iya, pria sebaik dan setampan Bara belum memiliki pendamping?"Aku sibuk mengurus bisnis, sampai aku masih belum memikirkan untuk memiliki pendamping hidup," jelas Bara seakan mampu membaca pertanyaan yang muncul di benak Sheila.Sheila mengangguk paham. Di zaman sekarang memiliki uang banyak dan jabatan tinggi adalah keinginan semua orang.Atensi keduanya teralih pada sebuah mobil hitam mewah yang berhenti tepat di depan halte."Sheila, jika kau tidak keberatan, ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu pulang," ajak Bara."Gak usah repot-repot. Aku naik taksi aja," tolak Sheila pelan."Shei," panggil Bara dengan tatapan yang penuh harap."Baiklah, aku ikut," jawab Sheila.Bara menggulung lengan kemejanya sampai siku menampakkan otot-otot yang tercetak jelas di sana. Sheila tersipu merasakan pipinya memanas.Bara memegang payung putih pemberian sopirnya. Bara memayungi Sheila bahkan tangannya memeluk lengan Sheila dari belakang. Bara membawa tubuh Sheila merapat padanya. Sheila sempat terkejut, ia mendongak melihat payung itu lebih banyak ke arahnya.Bara melindunginya, kenapa Bara peduli padanya?Degup jantung Sheila berdebar kencang. Tubuh Bara begitu kuat dan tinggi. Lengan kokoh Bara melingkupi erat tubuhnya."Perhatikan jalanmu, Shei! Jika tidak, kau bisa tersandung," peringat Bara padahal keduanya hanya berjalan pelan dan lurus.Sheila mengalihkan pandangan kikuk, ia tertangkap basah karena terlalu lama mengamati Bara."Tapi, tak apa, jika kau jatuh. Saya yang akan menangkapnya," lirih Bara yang tak didengar Sheila karena suara gemercik hujan menyamarkannya.**Sheila telah sampai di rumahnya bahkan Bara sudah kembali masuk ke mobilnya. Namun, detik itu Sheila berbalik."Bara, tunggu sebentar," sergah Sheila membuat Bara tidak jadi menaikkan kaca jendelanya.Sheila berlari masuk ke rumah membuat Bara menunggu kedatangan Sheila."Aku mau kasih ini," ucap Sheila.Bara tersenyum kecut seraya meraihnya. "Undangan, ya," gumam Bara biasa, padahal hatinya panas, terbakar cemburu."Aku tunggu kedatanganmu," ucap Sheila dengan wajah berseri.Aku akan datang, tapi bukan sebagai tamu, melainkan calon suamimu! jawab Bara dalam hati."Pasti, aku akan datang," pungkas Bara."Hati-hati." Sheila melambaikan tangan ketika mobil Bara mulai melaju.Bara meremat kuat undangan berwarna pink berpadu warna putih itu. Sangat muak. Sayup-sayup, Bara mendengar suara dari heandsetnya."Sheila, kau sudah memiliki Bryan, jangan sampai hatimu berpaling.""Iya, Ma. Itu tidak akan terjadi, Bryan adalah Lelaki yang baik. Dia satu-satunya lelaki yang aku cintai."Bara mendengarnya karena ia memasukan penyadap suara ke dalam kantong kecil tas Sheila tanpa sepengetahuan Sheila.Sontak emosi Bara langsung melesak naik. "Tidak ada Pria yang boleh kau puji selain aku, Sheila! Secepatnya, aku akan mengambilmu dari Bryan!" tekad Bara berapi-api.**Waktu terus bergulir, hari yang begitu dinanti Sheila dan Bryan telah tiba. Momen mendebarkan sekaligus bermakna bagi keduanya. Sheila duduk menghadap cermin memandang pantulan dirinya yang memakai kebaya putih dengan model kutu baru serta rambut yang disanggul, memancarkan aura kecantikannya.Laras memegang pundak Sheila dengan wajah berseri-seri. "Shei, Mama sampai pangling loh," puji Laras, ibu Sheila."Ah, Mama," ucap Sheila tersipu malu. "Padahal Mama awet muda, masih cantikkan Mama daripada Sheila," goda Sheila diiringi kekehan geli."Kau ini bisa saja," balas Laras mencubit pipi Sheila gemas.Pintu kamar Sheila kembali terbuka, Sheila dan Laras kompak menoleh. Perempuan dengan tinggi semampai dan senyum merekah berjalan ke arah mereka."Ya, ampun Shei. Kau cantik sekali!" puji Kayla histeris."Kayla bisa aja," ucap Sheila dengan paras yang merona.Rasanya masih seperti mimpi bagi Laras, putri kecilnya telah tumbuh dewasa. Dan, kini akan memulai lembaran baru bersama Bryan. Laras menitikan air mata, terharu. Ia menyekanya cepat, tidak ingin Sheila mengetahuinya.Semoga kau bahagia sayang, putri tercinta Mama dan Papa, batin Laras."Kita ke depan, semuanya sudah menunggu," kata Laras pelan.Sheila menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan."Santai, Shei," ucap Kayla terkekeh. Sheila milirik kesal pada Kayla karena terus menertawakannya.Laras dan Kayla berjalan bersisian menggiring Sheila menuju tempat akad nikah dilangsungkan. Tepatnya di ruang tamu rumah Sheila yang telah didekorasi sederhana tapi, mempesona.Ketika Sheila menginjakkan kakinya kemari, semua perhatian berpusat padanya. Sheila gugup, ia berusaha mengumbar senyum. Sheila melihat Bryan yang tampak berwibawa dengan jas putih yang membalut tubuhnya.Laras menarik kursi mempersilahkan Sheila duduk di samping Bryan. Senyum yang terpatri di wajah Bryan membuat Sheila bersemu. Pria itu memuji Sheila dari pancaran matanya. Tak terkecuali para tamu yang menatap Sheila terkesima.Degup jantung Sheila berdebar kuat. Ada yang aneh, di balik rasa bahagia yang menggebu terselip keresahan di hatinya."Baik, mari kita mulai," kata Pak Penghulu.Ayah Sheila mulai mengulurkan tangan dan Bryan dengan mantap menjabat uluran tangan itu."Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Bryan Darmawan bin Hasan Darmawan Almarhum dengan anak saya bernama Sheila Annatasya binti Herman Kurniawan dengan mas kawin senilai delapan juta rupiah dibayar tunai.""Saya ter──""Hentikan!"Jantung Bryan serasa berhenti berdetak, wajahnya memucat.Semua orang di sana berdiri ketika melihat Bara, pria itu datang mengagetkan semua orang. Nama Bara tengah melejit lantaran masuk jajaran pengusaha muda dan kaya raya.Bara berjalan gagah menampakan raut wajah sangar, menahan emosi. Pandangannya tak lepas dari Sheila.Aku datang, Shei. Menepati janjiku, ucapnya dalam hati.Tersirat keinginan kuat dari sorot matanya untuk memiliki Sheila."Bryan, apa kau lupa perjanjian kita?!" sindir Bara.Hampir semua orang yang mendengarnya mengerutkan kening diiringi tanda tanya besar.Bryan menelan ludahnya berat. Mulutnya terasa pahit, tenggorokannya tercekat. Darimana Bara tahu jika pernikahannya diadakan sekarang?"Kau lupa Bryan? Sainganmu ini bukan orang sembarangan!" tegas Bara melipat tangan.Sheila menatap Bryan kemudian beralih pada Bara. Sesungguhnya apa yang terjadi?Bara mendekat lalu mencengkeram kerah Bryan membuat tubuh keduanya hanya berjarak satu jengkal.Seringaian jahat terbit di wajah Bara. "Kau cerdik, tapi saya licik Bryan. Bisa-bisanya kau ingin menikah dengan Sheila, sementara Sheila menjadi jaminan atas hutangmu!" kelakar Bara kesal menghempas tubuh Bryan ke samping hingga membentur meja.Sheila tercengang, "Hutang?" tanyanya bingung.Bryan menunduk lemah. Lidahnya terasa kelu untuk menjelaskan.Herman menatap nyalang Bryan yang diam seperti pengecut."Kau ini! Beraninya menjadikan putriku sebagai jaminan! Kau kurang ajar Bryan!" seru Herman kecewa, dadanya naik turun beriringan dengan emosi yang menderu.Tangan Herman melayang di udara hendak menampar Bryan, tapi Sheila menghentikannya.Rupanya, perseteruan ini yang membuat kegundahan di hati Sheila."Ayah, Bryan pasti memiliki alasan mengapa dia melakukan ini," bela Sheila mengusap lengan ayahnya memberi ketenangan. Meski dirinya juga syok atas tindakan Bryan."Bryan, jelaskan sejujurnya," pinta Laras menengahi di atas ketegangan yang menguasai.Bryan menghembuskan napas berat. "Saya terpaksa melakukan ini. Memang benar, saya meminjam uang pada Bara. Uang itu saya gunakan untuk biaya operasi Ibu saya. Saya berjanji akan membayarnya, tapi Bara bersikeras menginginkan Sheila menjadi jaminannya.""Saya sudah menolak. Namun, di sisi lain saya butuh uang itu segera. Demi keselamatan ibu saya," jelas Bryan pilu. Sheila trenyuh mendengarnya.Sedangkan Bara justru berdecak malas, ini terlalu mengulur waktu. Apa susahnya tinggal berkata iya dan memberikan Sheila padanya.Ibu Bryan yang duduk di kursi roda, merasa bersalah sekaligus benci pada dirinya. Menurutnya, akar dari masalah ini adalah ia."Harusnya ibu mati saja Bryan agar tidak menyusahkan kamu!" sesal Santi Ibu Bryan, ia bisa berbicara, tapi kaki dan tangannya masih belum bisa berfungsi normal.Bryan menggeleng kuat, ia bersimpuh di kaki ibunya. "Jangan katakan itu, Bu. Aku tidak mau kehilangan untuk kedua kali," ucap Bryan membuat Santi terisak. Syifa adiknya, memeluk ibunya erat.Kedua tangan Bryan mengepal, ia harus mempertahankan Sheila."Jangan ambil Sheila dari saya!" seru Bryan.Alih-alih terpancing, Bara justru memandang remeh. "Mudah saja, kau harus melunasi hutang itu sekarang," balas Bara telak."Saya tidak memberi batas waktu dalam perjanjian kita. Jadi, terserah saya mau menagihnya kapan saja," lanjut Bara santai.Bryan menggeram emosi. "Anda keterlaluan Bara, bahkan saya rasa uang itu tidak ada harganya bagi anda," balas Bryan sengit."Karena tujuan saya adalah memiliki dia! Saya mencintainya dan saya ingin Sheila menjadi istri saya!" tegas Bara menunjuk Sheila sementara Sheila ketakutan dan mundur beberapa langkah."Saya tidak akan membiarkan Sheila jatuh ke tanganmu!" tolak Bryan keras."Kau menantangku?!" Bara mulai tersulut emosi, tangannya mengepal.Tanpa aba-aba Bara langsung meninju rahang kiri Bryan kuat. Bryan yang tidak siap langsung terhuyung ke samping.Semuanya berteriak, belum sempat Bryan membalas, Bara menendang keras tepat di ulu hati Bryan."Akh!" erang Bryan, rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya."Jangan ada yang mendekat atau membantu dia! Atau kalian berurusan dengan saya!" ancam Bara ketika beberapa orang ingin melawannya."Sebenarnya siapa Bara? Kenapa dia sangat berkuasa?" tanya Sheila pada Kayla."Dia itu ...." Kayla menggantung kalimatnya."Anak pemilik perusahaan RodriguezCorp yang bergerak di bidang konstruksi. Memiliki beberapa cabang di luar negeri. Bara, pemimpin galak dan terkenal perfeksionis," jelas Kayla membuat Sheila tercengang."Shei, kau tidak sadar?" tanya Kayla menoleh pada Sheila.Sheila menggeleng, Bara di foto dan dunia nyata berbeda. Jika dilihat langsung Bara lebih tampan daripada hanya melaui jepretan kamera.Bryan menyeka cairan kental di sudut bibirnya. Ia melangkah maju dengan tekad bulat melawan Bara. Namun, nihil tak ada satu pukulan yang berhasil mengenai Bara. Kokohnya pertahanan Bara tidak mampu Bryan runtuhkan. Bara melayangkan tendangan kuat pada wajah Bryan, sontak membuat Bryan terpelanting ke lantai.Bara menginjak bagian atas tubuh Bryan. "Mengaku kalah dan berikan Sheila pada saya!" seru Bara seraya mengangkat dagu.Bryan bersikukuh menggeleng membuat Bara menginjaknya kuat."Cukup! Berhenti!" Sheila akhirnya bersuara setelah lama bungkam akibat ketakutannya. Melihat Bryan teraniaya membuat Sheila menderita.Bara tertarik menatap Sheila. "Shei, aku memiliki pilihan untukmu. Menikah dengan saya, maka Bryan aman dan hutangnya lunas. Atau ... menolakku dan Bryan akan dalam bahaya!"Sheila berfikir keras. Ia tidak mau Bryan terluka lebih, tapi di sisi lain, Sheila tidak ingin menikah dengan sosok pemaksa seperti Bara."Jawab Shei! Waktumu tidak banyak!" gertak Bara memukul Bryan brutal dan beringas.Bryan terbatuk kencang. Dadanya nyeri dan luka lebamnya berdenyut sakit.Sekali lagi, iris gelap Bara menatap Sheila tajam, seakan memperingatkan sebuah kalimat, jangan pernah menentang perintahku."Sudah cukup! Jangan sakiti Bryan, a-aku bersedia," kata Sheila parau."Bersedia apa?!" kelakar Bara menuntut kejelasan."Menjadi istrimu!" pekik Sheila walau hatinya menjerit menolak keras ucapan itu."Pilihan yang bagus, Shei," puji Bara memindahkan kakinya dari tubuh Bryan. Lalu Bara tersenyum tanpa dosa pada Bryan."Sheila!" panggil Herman dengan pandangan putus asa. Sheila menoleh pedih."Maafkan ayahmu yang tidak bisa membantumu, nak," sesal Herman, ia merasa gagal melindungi putrinya. Mengingat orang seperti Bara sulit untuk dilawan. Mereka punya kuasa sekaligus berbahaya."Sheila, apa kau yakin?" tanya Laras menangkup pipi Sheila. Air mata Sheila turun deras.Bara, tidak peduli. Mau tidaknya Sheila, yang terpenting adalah Sheila berada dalam cengkeramannya."Kalian, bawa barang-barang di mobil kemari," titah Bara pada ketujuh bodyguardnya yang memakai setelan jas hitam.Sheila menggeleng tidak percaya melihat seserahan yang dipersiapkan Bara, ini artinya Bara telah merencanakannya matang-matang.Tak lama Bara telah kembali dengan mengenakan jas putih."Shei, kemarilah," pinta Bara meraih tangan Sheila. Dengan cepat Sheila mundur menghindari sentuhan itu lalu duduk di kursi seperti semula.Bryan memandang sedih, tatapan kecewanya begitu kentara. Dadanya sesak, sakit sekali, lebih menyakitkan ketimbang pukulan dan tendangan yang Bara berikan.Harusnya dirinya yang di sana. Hubungan yang terjalin selama tiga tahun bersama Sheila terpaksa kandas. Bryan bangkit dengan luka yang menganga di hatinya. Tidak sanggup menyaksikan pujaan hatinya bersanding dengan pria lain.Suatu saat nanti saya akan membalas perbuatanmu, Bara. Dasar iblis! batin Bryan, dadanya bergemuruh."Bryan," gumam Sheila tidak rela ketika Bryan perlahan menghilang dari penglihatannya.Bara melirik sinis Sheila lewat ekor matanya membuat Sheila menunduk takut."Bisa kita mulai?!" protes Bara membuat semua orang yang semula larut dalam kebingungan kembali fokus."Bisa.""Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Bara Alexander Rodriguez bin Robert Rodriguez dengan anak saya bernama Sheila Annatasya berupa seperangkat alat Sholat dan mas kawin senilai 888 juta rupiah dibayar tunai.""Saya terima nikahnya Sheila Annatasya binti Herman Kurniawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.""Sah!"Sheila lemas, bahunya merosot ke bawah. Air matanya kembali luruh setelah Bara selesai mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan lantang. Dunianya hancur, hatinya berdesir perih.Apa begini akhir kisahnya dengan Bryan? Sungguh menyedihkan, Sheila berakhir dengan pria yang tidak ia cintai.Sheila yang awalnya menangis sesenggukan berusaha keras menahan. Ia mencium punggung tangan Bara dengan derai air mata. Bara tersenyum, ia lantas menciun kening Sheila.Laras memilih untuk berpaling, tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Sheila.Bara memasangkan cincin pernikahan pada jari manis Sheila lalu bergantian."Aku mencintaimu Shei, sangat," ungkap Bara.Sheila menatap mata Bara lekat mencari celah kebohongan di sana. Namun, yang Sheila dapatkan justru sorot hangat penuh ketulusan."Mulai saat ini kalian berdua resmi menjadi sepasang suami istri," ucap Pak Penghulu."Mulai saat ini, kau akan tinggal di rumahku. Ayo kita pergi dari sini," ajak Bara menggandeng tangan Sheila."T-tapi acaranya belum selesai," protes Sheila."Siapa yang peduli?" balas Bara acuh."Aku bisa menggelar pesta lebih mewah dari ini!" tegas Bara.Sheila mendelik, Bara memiliki ego yang tinggi dan sifat arogan yang mendarah daging."Saya mohon, jangan sakiti anak saya," pinta Herman."Tidak akan, selama Sheila tidak membantah perintah saya," jawab Bara dengan wajah dingin."Sheila ikutlah dengannya," perintah Herman.**Sheila termangu menatap suasana luar dari jendela kamar. Putaran memori tentang kegagalannya menikah dengan Bryan memenuhi isi pikirannya. Kejadian 10 jam lalu telah mempora-porandakan hatinya.Sheila terpelonjak kaget ketika sebuah lengan kekar melingkar di perutnya. Ia tidak bisa menoleh karena dagu Bara bertumpu di pundaknya. Tubuhnya meremang saat napas Bara berhembus lembut di ceruk lehernya. Bara menciumnya sekilas."Jangan menyesali apa yang terjadi. Sekarang kau harus menerima takdirmu dan menjalani hidup denganku," ucapan manis Bara yang terdengar begitu menyayat hati Sheila.Sulit bagi Sheila untuk menerimanya, menimbang kenangan indah yang telah ia lewati bersama Bryan terus terngiang-ngiang di kepala.Merasa diabaikan, Bara dengan cepat membalikkan tubuh Sheila untuk menghadapnya. "Aku tidak suka melihat istriku bersedih di malam pertama pernikahan ini." Bara ikut memasang raut sedih seolah ia prihatin dengan keadaan Sheila."Bagaimana aku bisa tersenyum? Kalau pria di hadapanku ini adalah penghancur kebahagianku?!" balas Sheila tajam dan mampu menyentil hati Bara."Shei, aku tidak meminta kau membahas itu," ucap Bara dengan nada rendah tapi, penuh peringatan."Tapi itu faktanya, kau egois, jahat dan semena-mena!" cerca Sheila kian emosi. Kedua mata Sheila memanas menahan lapisan bening yang terbendung di pelupuk matanya."Shei, harusnya kau merasa beruntung menikah denganku." Bara berusaha mengontrol amarahnya. Seandainya Sheila tahu, sudah ada banyak wanita yang ditolak Bara karena tidak ada yang memenuhi kriterianya."Beruntung katamu?" sindir Sheila, ia malah merasa sebaliknya."Shei …." panggil Bara serak diiringi geraman. Bara mencengkeram lengan Sheila. Habis sudah batas kesabarannya. Sheila memang tidak bisa diajak bicara baik-baik.Bara memeluk Sheila erat seraya menciumi leher Sheila. Tangan Bara mengusap punggung Sheila. Gelenyar aneh terasa di sekujur tubuh Sheila. Ia mendorong Bara tapi, percuma.Bara memiringkan wajahnya, sedangkan Sheila sudah memejam, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bara terkekeh geli melihat guratan kegugupan yang kentara dari paras Sheila, hal itu sedikit menyurutkan emosinya."Kau sangat menginginkan itu, Shei?" goda Bara mengangkat sebelah alisnya.Sheila membuka mata seraya menipiskan bibir."I-itu apa? Aku tidak mengerti maksudmu apa!" ketus Sheila berpaling menyembunyikan rona merah di pipinya.Bara merapatkan tubuhnya pada Sheila. "Biar aku tunjukkan," kata Bara mendaratkan bibirnya lembut di bibir Sheila. Tangan Bara memegang tengkuk Sheila memperdalam ciumannya. Sheila berusaha lepas, tapi tidak bisa, Bara semakin menguasainya. Ciuman Bara sangat lembut bahkan Sheila mulai terlena.Bara bergerak mendorong Sheila menuju ranjang. Sheila terlentang dengan bibir keduanya yang masih bertautan, Bara semakin gencar untuk menyesapnya dan menggigitnya kecil."Manis, Shei." Bara mengusap bibir Sheila dengan ibu jari. Sheila yang diperlakukan begitu gugup. Dadanya berdebar kencang melihat senyuman Bara.Bara berada di atas Sheila dengan tangan yang mengurung tubuh Sheila sepenuhnya. Bara kembali melumat bibir Sheila, turun ke leher dan pundak Sheila meninggalkan jejak-jejak panas di sana. Sheila menahan mulutnya untuk tidak mengerang ketika tubuhnya terangsang hingga dadanya terasa padat. Sheila tidak mau, ia menolak, tapi tubuhnya bereaksi lain. Setiap sentuhan Bara memanaskan aliran darahnya.Tangan Bara menyusup ke dalam piyama Sheila, Bara sempat terkejut, rupanya Sheila tidak mengenakan bra, hal itu memudahkan Bara untuk meremas pelan di sana."Apa ini caramu menggodaku?" tanya Bara merasakan miliknya menegang.Sheila menggeleng. Ia tidak memakai bra karena dirinya selalu melepasnya ketika akan tidur.Tangan Bara masih bermain di sana dengan bibir yang memagut lembut bibir Sheila. Bara begitu menikmatinya. Sheila menggelinjang saat Bara memainkan bagian atasnya.Rasanya geli membuat Sheila menginginkan lebih. Sheila meremat kuat sprei menahan suara aneh yang ingin keluar dari mulutnya."B-berhenti!" pinta Sheila ketika Bara memberi jeda ciumannya.Napas keduanya sama-sama memburu. Sheila menghirup oksigen dengan cepat, Bara terkekeh.Ini belum ada apa-apanya, Shei, batin Bara. Ia bahkan bisa lebih buas daripada saat ini.Bara menyingkirkan helai rambut Sheila ke belakang telinga. Wajah Sheila memerah. Aliran darahnya berdesir."Aku tidak akan menuntutmu melakukannya sekarang. Walaupun aku bisa memaksamu dan aku sangat ingin. Tapi, aku masih memiliki rasa iba. Aku ingin kau menyerahkan dirimu padaku."Sheila menghembuskan napas lega, ia bersyukur Bara telah berubah menjadi pengertian."Bagaimana kau bisa secantik ini, Shei?" puji Bara mencium pipi Sheila menggigitnya kecil membuat Sheila meringis dan mengusap bekas gigitan Bara."Itu hanya perasaanmu! Di luar sana banyak wan──"Bara memotong ucapan Sheila dengan mendaratkan kecupan singkat di bibir Sheila. Mata Sheila melebar, tubuhnya mendadak kaku."Kau ingin aku mengulangi yang tadi?"Sheila menggeleng cepat, takut bila Bara berubah liar. Bara berbaring di sebelah Sheila kemudian merengkuh pinggang Sheila menjadikan lengan kekarnya untuk bantalan kepala Sheila."Tidurlah dalam pelukanku, jangan berusaha untuk kabur! Atau … aku akan menerkammu!"Bara terkejut mendapati Sheila tidak ada di sisinya. Harusnya ketika ia membuka mata, wajah Sheila yang masih tertidur damai menyambutnya. Bukan malah menghilang yang membuat Bara kalang kabut. Gegas Bara menyingkap selimut, ia lantas mencari Sheila ke seluruh sudut kamar.Bara menggeram kesal. "Sial! Dia pasti kabur!"Buru-buru Bara menuruni undakan tangga dengan kemarahan yang memancar dari matanya."Di mana Sheila?" tanya Bara pada salah satu pelayan."Nyonya sedang ada di dapur, Tuan," jawab Pelayan itu.Bara melangkah lebar untuk sampai di dapur. Wajah yang semula muram penuh kesal itu berubah cerah. Senyum Bara merekah mendapati Sheila tengah memasak nasi goreng, terlihat dari Sheila yang mulai menuangkan kecap. Dari aromanya saja sudah menggugah selera Bara untuk segera mencicipinya.Bara melingkarkan tangannya posesif di pinggang Sheila, hidung mancungnya mencium aroma tubuh Sheila. Harum bunga mawar, membuat Bara betah menghirupnya lama-lama.Sheila merinding, hembusan napas halus Bara terasa menggelitik. "B-bara," panggil Sheila tergagap."Iya, Sayang," jawab Bara."Aku kira kau melarikan diri," ucap Bara membenamkan wajahnya di ceruk leher Sheila. Sebenarnya Sheila risih. Tapi mau bagaimana lagi, Bara suaminya. Bara berhak atas tubuhnya."Apa kau takut jika aku pergi?" tanya Sheila."Jelas, karena aku mencintaimu," ungkap Bara mencium pipi Sheila.Sheila bisa merasakan ketulusan dari Bara tetapi ia tidak bisa membohongi hatinya yang masih mendambakan sosok Bryan. Sheila mematikan kompor saat dirasa makanannya siap disajikan."Bara, lepas. Aku mau mengambil piring," perintah Sheila melepas tangan Bara tapi Bara kian mengeratkan pelukannya."Aku ikut," rengek Bara."Astaga," gumam Sheila menggeleng dengan sikap manja Bara. Alhasil Sheila berjalan mengambil piring dengan Bara yang masih memeluknya dari belakang."Kenapa harus dua? Kurasa satu saja cukup," protes Bara membuat Sheila meletakkan satu piringnya.Sheila memindahkan nasi goreng dari teflon ke piring, sedangkan Bara ikut memperhatikannya."Aku lapar, aku mau duduk lalu sarapan," keluh Sheila.Bara melepas pelukannya lalu duduk manis di kursi meja makan."Aku ingin kau menyuapiku," pinta Bara membuka mulutnya.Sheila berdecak. "Memangnya kau bayi apa?" ejeknya menimbulkan tawa kecil bagi Bara.Sheila mulai menyendok nasi goreng kemudian mengangkatnya ke arah mulut Bara."Enak Shei ... selain cantik, ternyata kau pandai memasak. Aku memang tidak salah memilih istri, " ucap Bara bangga pada dirinya sendiri, ia merapikan helai rambut Sheila."Hm, iya-iya," jawab Sheila sekenanya. Bara memberengut ketika raut wajah Sheila terlihat terpaksa.Bara mencondongkan tubuhnya, ia mengecup bibir Sheila singkat.Sheila tertegun, matanya terbelalak.Dasar Bara api! rutuk Sheila, Bara selalu membuatnya terkejut dan itu membuat Sheila kesal."Ini baru sarapan sesungguhnya," ucap Bara santai lalu melahap nasi goreng itu lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.Sheila menatap Bara lekat, ada yang mengganjal di benaknya. Ketika mengingat frame berwarna emas besar berisi foto Bara dan keluarganya."Bara, apa keluargamu tau kita sudah menikah?" tanya Sheila.Bara mengangguk pelan. "Aku sudah memberi mereka kabar, tapi sekarang mereka ada di luar negeri. Hawai," terang Bara membuat Sheila mengerti bila keluarga Bara tengah berlibur."Kenapa kau tidak ikut?"Senyum jahil muncul di paras Bara. "Jadi kau sedang memberiku kode? Kau ingin bulan madu, Sayang?" goda Bara bersemangat.Sheila tersedak ludahnya sendiri."A-aku hanya bertanya," kilah Sheila meraih gelas berisi air putih lalu meneguknya."Shei, jangan malu. Kita bisa berangkat hari ini juga kalau kau mau. Lagi pula, aku ingin segera memberi cucu untuk, Oma. Dia selalu menagih itu padaku," papar Bara sengaja menekankan kata demi katanya."Bara!" pekik Sheila malu, wajahnya merona, tangan Bara terulur mengusapnya membuat rona merah itu makin jelas."Blushing! Tapi semakin cantik," ledek Bara."Kau ini!" Sheila memukul lengan Bara."Hari ini aku mau pergi ke toko kue. Ada pesanan soalnya, boleh, ya?" Sheila meminta izin meski ia ragu, akankah Bara memperbolehkannya.Seketika raut Bara berubah, ia tampak keberatan. "Kau lupa, sayang? Kau Nyonya di rumah ini. Kau tinggal duduk manis dan merasakan kemewahan yang aku berikan padamu. Mencari nafkah itu kewajibanku.""Iya, aku tau. Tapi aku butuh kegiatan untuk mengisi waktuku. Usaha kue itu sudah aku kelola sejak SMA, walaupun dari uang Ayah. Dan, aku ingin terus mengelolanya. Aku mohon Mas Bara," pinta Sheila dengan wajah menggemaskan.Satu alis Bara berjengit. Sheila barusan memanggilnya, Mas? Astaga, Bara menggigit pipi bagian dalamnya. Tersipu, istrinya ini benar-benar pandai merayunya."Aku izinkan, asal mereka menemanimu." Bara menunjuk Anton dan Angga yang ia tugasi khusus menjaga Sheila."Oke, tidak masalah," jawab Sheila lugas, tersenyum sumringah.**Sheila berada di mobil, ia terus meremas jemari tangannya. Rencananya telah tersusun rapi di otak, hanya tinggal mempraktekkannya saja."Bisa kita berhenti sebentar? Aku ingin ke toilet," ucap Sheila meremas perutnya. Perlahan laju mobil mulai melambat dan berhenti di tepi jalan."Baik, Nyonya. Tapi kami harus mengikuti Nyonya," kata Anton."Terserah kalian," ketus Sheila.Anton keluar kemudian membukakan pintu mobil untuk Sheila. Ketika Sheila keluar, ia langsung mendorong Anton membuat Anton dengan sigap mencekal tangan Sheila."Jangan mencoba kabur, Nyonya!' tegas Anton."Aku harus pergi," gumam Sheila terpaksa menendang aset pribadi Anton."Akh! N-nyonya Sheila!" pekik Anton meraskan nyeri yang tak tertahan."Maafkan aku!" jerit Sheila berlari kencang.Angga turun menghampiri. Ia mengeluarkan ponselnya."Jangan beritahu Tuan Bara! Dia bisa marah besar," cegah Anton pada Angga.Anton bergidik ngeri bila mengingat kemarahan Bara, Pria itu pasti akan mengamuk."Apa kau kira dengan kita menyembunyikan ini nyawa kita aman?" tanya Angga."Setidaknya, kita cari dulu kemana Nyonya Sheila pergi. Jika memang tidak bisa ditemukan baru kita lapor," usul Anton."Cepat kejar dia!" perintah Anton.Angga berlari menyusul Sheila meninggalkan Anton yang masih berkutat pada rasa sakitnya.**Sheila menoleh ke belakang dengan wajah panik. Dari kejauhan, terlihat Angga berlari menuju ke arahnya. Peluh keringat menetes dari dahi Sheila. Ia lelah dan akhirnya Sheila masuk ke dalam toko pakaian dan mengambil jaket, topi juga kacamata hitam menyamar layaknya seorang pembeli.Jantung Sheila berdebar tak karuan ketika Angga masuk dan menatapnya curiga.Semoga dia tidak mengenalku! batin Sheila matanya memejam erat.Sheila menelan ludahnya berat saat derap langkah Angga mendekatinya."Maaf, saya hanya ingin memberi tahu. Kaca mata anda terbalik," ucap Angga."Oh ini," kata Sheila memegang kaca matanya, suara Sheila terdengar serak."Saya memang sengaja, karena zaman sekarang hal seperti ini menjadi tren," kata Sheila asal dengan suara dibuat serak."Oh begitu. Apa anda melihat seorang perempuan berlari ke sini?" tanya Angga lalu mengedarkan pandangannya."Tidak!"Sheila bergegas menuju kasir dan membayar pakaian dan aksesoris yang membalut tubuhnya.Sheila merogoh ponselnya dan mengetik pesan.Sheila .Bryan, temui aku di taman Pelangi.Sheila telah menunggu Bryan sekitar tiga puluh menit. Namun, Bryan tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Taman Pelangi terasa sunyi, jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Namun, tetap saja Sheila khawatir."Ada apa, She?" tanya Bryan membuat Sheila berdiri. Menatap prihatin penampilan Bryan yang terlihat kacau dengan mata sayu serta lebam biru keunguan di wajahnya."Aku mau kita pergi dari sini Bryan." Sheila memegang erat lengan Bryan."Sejauh apapun kita pergi, Bara akan mampu mengetahui keberadaan kita, She." Bryan menatap kosong ke depan."Jadi ... kau benar-benar merelakanku, Yan?" tanya Sheila tidak menyangka."Kau tidak mau memperjuangkan aku? Aku kecewa padamu!" jerit Sheila."Sekarang, aku paham maksud ucapanmu di rumah sakit itu. Kau sendiri yang membuat ku pergi darimu!" jelas Sheila tertawa sumbang."She, cukup!" Bryan tidak tahan mendengar kalimat Sheila yang menusuk hatinya."Keadaan yang membuatku begini," lirih Bryan."Kembalilah ke rumah, sebelum Bara menyadarinya," perintah Bryan membuat Sheila menatapnya tidak percaya."Semudah itu kau melupakanku?" Rasa sesak kian menghimpit dadanya."Bryan, aku kira kau rela melakukan apapun untukku, tapi aku salah besar! Kau tidak lebih dari pengecut yang hanya memanfaatkanku!" seru Sheila menangis."She, berhenti menyalahkanku! Aku benar-benar terdesak! Aku begini demi ibuku, She! Cuma dia orang tuaku sekarang. Aku tidak mau kejadian tiga tahun terulang lagi, ayahku meninggal karena terlambat ditangani. Karena apa? Karena aku tidak memiliki uang!" bentak Bryan menggoyangkan kedua bahu Sheila.Sheila terisak. Gadis itu berlari, pergi sejauh mungkin. Tidak ada yang bisa diharapkan dari Bryan. Lelaki itu menyerah."Aku berjanji akan melepaskanmu dari belenggu Bara. Tapi tidak sekarang. Maaf mungkin tidak bisa menebus kesalahanku, She. Karena aku, kau terperangkap dengan lelaki kasar dan tidak berhati seperti Bara," sesal Bryan.**Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas normal, ia menyalip satu per satu kendaraan dengan lihai. Pria itu dipenuhi kabut emosi. Bara sudah berkeliling mencari Sheila. Namun, hingga petang ini, ia belum menemukan Sheila yang membuatnya tidak mempedulikan dirinya sendiri.Bara menepi, ia memukul setir mobil dengan kondisi buku-buku jari yang penuh akan darah yang mengering."Sheila!" erang Bara."Aku terjebak denganmu!" geram Bara frustasi.Sebenarnya mudah saja jika Bara ingin segera menemukan Sheila, ia tinggal menyuruh anak buahnya. Namun, Bara terlanjur marah dan bertekad menemukan Sheila sendiri. Pria itu akan tetap berpegang teguh pada prinsipnya.**Sheila melangkah lemas dengan kedua mata merah dan sembab. Langkah kaki menggiringnya ke sebuah gang sempit yang diterangi cahaya temaram. Sheila bahkan bingung ingin kemana. Jika ia pulang, Sheila takut keluarganya akan terseret dalam permasalahannya. Hatinya masih tersayat perih ketika mengingat respon Bryan yang tidak peduli lagi dengannya."Cantik," sapa seorang pria memegang pundak Sheila.Sheila terpelonjak kaget lalu menepis tangan itu kasar.Sheila mendelik pada pria dengan tato di lengan juga tindik di telinganya.Pria itu tidak menjawab. Ia justru melayangkan tatapan tertarik dengan memandang Sheila dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sheila risih, ia berbalik ingin pergi tapi, pria itu mencekalnya."Jangan harap lo bisa pergi, sebelum gue seneng-seneng sama tubuh lo!" tegas pria itu membuat Sheila gemetar takut."Lepaskan!" pinta Sheila menghentakkan tangannya."Aaaa!" jerit Sheila ketika pria itu menghantamkan tubuhnya ke dinding pembatas.Pria itu menjilat bibir bawahnya seraya menatap lapar ke arah Sheila. Otak Sheila mendadak kosong, Sheila ketakutan, untuk kali ini Sheila sangat mengharapkan Bara datang menolongnya meskipun rasanya mustahil.Bara ... tolong aku, batin Sheila."Tolong-tolong!" teriak Sheila matanya memanas dan penglihatannya memburam.Pria itu tersenyum meremehkan."Percuma! Gak akan ada yang bakal bantuin lo di gang sempit dan terpencil ini!"Pria itu merobek baju atas Sheila membuat Sheila memekik dan menyilangkan tangan menutupi dadanya."Gue gak sabar buat rasain itu," kata Pria itu mencoba menyingkirkan tangan Sheila."Jangan!"Sheila menangis sesenggukan, andai ia tidak mencoba kabur, ini pasti tidak akan terjadi. Jika Sheila bisa memutar waktu. Sheila akan memilih benar-benar pergi ke toko kuenya."Singkirkan tanganmu dari istriku bangsat!" kelakar Bara menarik pria itu dan menghempasnya ke tanah.Sejenak, Sheila merasa aman, ia memeluk dirinya sendiri.Iris mata Bara menggelap menatap pria itu. Bara menghajarnya brutal."Kau harus mati!" desis Bara yang menduduki perut pria itu dan memukul wajahnya kuat.Sheila bergegas menghampiri Bara ketika Bara hilang kendali dan terus mengumpat."Bara hentikan!" Sheila berusaha menarik Bara dan memeluk Bara dari belakang melihat preman itu terkapar tak berdaya dalam kondisi mengenaskan. Matanya bengkak, hidung serta sudut bibirnya berdarah."Kau melindungi si berengsek ini, Shei?!" murka Bara.Sheila menggeleng dengan air mata yang terus mengalir."T-tidak, aku tidak mau k-kau masuk penjara nanti," kata Sheila bibirnya bergetar.Emosi Bara mereda, ia berbalik dan memeluk Sheila erat. Mencium puncak kepala Sheila berkali-kali.Beruntung Sheila membawa tas kecil yang dulu Bara beri penyadap suara sehingga Bara bisa mendengar suara Sheila. Dan mengetahui keberadaan Sheila yang ternyata tidak jauh dari tempat mobilnya berhenti.Bara menangkup wajah Sheila, "Coba kau pikirkan Shei, jika aku tidak datang tepat waktu. Dia mungkin telah melecehkanmu! Kau bisa bayangkan, betapa hancurnya aku kalau hal itu sampai terjadi?" ungkap Bara sorot matanya begitu cemas.Sheila terisak kuat, bahunya bergetar. Apa Bara sepeduli itu padanya? Rasa sesal dengan cepat menggeroti hatinya.Tak lama, Anton dan Angga tiba di tempat kejadian dengan tergesa."Urus sampah meresahkan ini!" perintah Bara dingin."Kurang ajar!" umpat Bara ketika baju bagian atas Sheila robek, Bara melepas jasnya lalu menggendong Sheila ke dalam mobil. Sikap Bara yang tenang dan perhatian justru menghadirkan kecurigaan di benak Sheila.Sheila pikir Bara akan marah, membentaknya ataupun melakukan hal kasar, tapi nyatanya Bara tak seburuk yang Sheila kira.Bara baru saja duduk di mobil dan membuat degup jantung Sheila berdetak keras. Sheila menunduk melihat jas hitam yang ia pakai. Milik Bara dengan aroma maskulin yang menyeruak ke dalam hidungnya. Wangi khas yang membuat Sheila selalu teringat dengan Bara.Sheila menoleh saat Bara belum juga melajukan mobilnya. Bara meremat kuat setiran dengan napas memburu.Sheila baru tahu, ada luka di tangan Bara. Bahkan bercak merah terlihat kontras di lengan kemeja putih Bara. Sheila menyentuhnya membawa tangan Bara ke arahnya."I-ini kenapa?" tanya Sheila cemas.Bara menyentak tangan Sheila."Apa pedulimu!" bentak Bara.Sheila menelan ludahnya berat."Maaf," lirih Sheila.Bara mencengkeram dagu Sheila memaksa Sheila menatapnya."Maafmu tidak berguna!"Bara mendekatkan wajahnya membuat Sheila sampai menahan napas ketika jarak mereka begitu dekat. Bara menatap bibir Sheila yang seolah menggodanya. Namun, Bara dengan cepat menjauhkan wajahnya dan duduk dengan posisi semula."Tepis jauh pikiranmu untuk pergi dariku, karena aku jamin, kau tidak akan bisa!" tukas Bara.Sheila menunduk sambil meremas jari-jarinya."Bersiaplah, aku akan menghukummu di rumah!" peringat Bara dingin berhasil membuat Sheila membeku.**"Mau ke mana?" protes Bara ketika Sheila membuka pintu mobil sendiri dan berlari masuk rumah mendahuluinya."Mengambil kotak P3K," jawab Sheila membuat Bara mempercepat langkah untuk menyusulnya.Sheila membawa kotak P3K dan menggandeng tangan Bara untuk masuk ke dalam kamar."Ini harus diobati, takut infeksi," kata Sheila mengambil kapas yang sudah ia beri alkohol untuk membersikan luka itu. Lalu Sheila mengoleskan kapas yang sudah ia beri obat merah.Bara menatap Sheila, rasa senang mengisi rongga hatinya. Sheila tampak khawatir dan hati-hati dalam mengobatinya. Bara tersenyum tipis."Sudah selesai," kata Sheila tersenyum manis namun Bara justru memasang raut datar. Bara menarik tangannya kasar dari Sheila, walau sempat terkejut. Tapi Sheila bisa memakluminya.Bara keluar dari kamar sementara Sheila masuk ke kamar mandi.Beberapa menit berlalu. Sheila baru selesai mandi. Pandangan Sheila langsung mendapati Bara yang berdiri seraya membawa nampan berisi makanan dan minuman."Makan! Aku tidak ingin kau lemas nanti!" kata Bara ambigu.Nanti? Apa yang nanti? tanya Sheila dalam hati."Shei, kau tidak dengar? Makan sekarang!" titah Bara melihat Sheila melamun.Sheila menerimanya lalu duduk, ia mulai menyendok nasi tapi, hanya seujung sendok. Sheila tidak selera makan dan atensinya tertuju pada Bara, pria itu duduk di pinggir ranjang, memunggunginya.Aneh, Sheila jadi memikirkan, katanya Bara akan menghukumnya. Namun, pria itu masih terdiam. Bukan begitu, Sheila sebenarnya tidak mengharapkan itu. Ia hanya was-was saja.Sheila meletakkan piring cukup kasar di nakas, menimbulkan dentingan bunyi sendok dan piring cukup keras."Seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu, Bara!" sungut Sheila.Mungkin ini saatnya menanamkan kebencian pada Bara.Bara berdiri, jantung Sheila berdebar kencang. Tuhan, sepertinya Sheila salah langkah! Tatapan mata Bara menguliti keberaniannya."Kau benar-benar membuatku marah, Shei!" gertak Bara, rahangnya mengeras. Sheila harus diberi pelajaran. Sudah cukup Bara bersabar. Percuma Bara berusaha menahan amarahnya, karena Sheila justru memancingnya.Bara melepas satu per satu kancing kemejanya seraya berjalan mendekati Sheila.Bara menyeringai. "Aku tarik ucapanku kemarin. Rasanya terlalu lama menunggumu untuk menyerahkan dirimu padaku. Jadi aku percepat saja," kata Bara melepas bajunya memperlihatkan tubuh berototnya.Sheila terpaku melihat pemandangan itu, Bara memang memikat. Sheila menggeleng, ia tidak boleh tergoda. Sheila berlari menuju pintu.Bara menutup pintu itu cepat, memutar kunci dan membuang kuncinya ke atas lemari."Mau kemana istriku?" Suara bariton Bara membuat tubuh Sheila gemetar. Kedua lengan kokoh dan berotot itu mengurungnya di sisi pintu. Wajah Sheila memucat melihat manik mata hitam Bara yang menggelap.Baru begini saja kamu sudah menciut takut! Sok-sok'an mau menantangku! geram Bara dalam hati.Bara tersenyum puas ketika keringat dingin menetes dari dahi Sheila."Aku akan mengambil hak ku sekarang!" tekan Bara membuat napas Sheila memburu ketika tubuh mereka saling bersentuhan. Sheila tidak bisa membayangkan betapa perkasanya Bara nanti."S-sakit," rintih Sheila saat Bara meremas lengannya, bahkan Bara menancapkan kukunya di kulit Sheila."Ini tidak sebanding dengan rasa kecewa saya!" seru Bara."Saya bersikap baik, tapi kau malah memilih pergi!" kesal Bara suaranya meninggi."Itu salahmu, karena merebut aku dari Bryan!" balas Sheila menatap nyalang Bara.Bara geram, giginya saling bergemelutuk rapat bahkan dalam keadaan tersudut Sheila masih saja terus menantangnya."Tidak ada yang salah Sheila! Karena saya akan membuatnya benar!" pungkas Bara, menyorot kejam, dingin. Membekukan."Ceraikan aku!" desak Sheila.Kedua mata Bara membelalak,kalimat itu menyulut emosinya. Tangan Bara sudah terangkat, tetapi detik berikutnya, tangan itu terhenti dan terkepal di udara. Bara hampir saja kelepasan ingin menampar Sheila."Argh!" erang Bara mengacak rambutnya."Kenapa? Kau takut? Di mana Bara yang tidak takut apapun itu?"Merasa tertantang Bara mencium bibir Sheila keras. Bahkan hingga mengeluarkan setitik darah di bibir pucat itu.Perih, batin Sheila.Bara tersenyum sinis melihat bibir Sheila yang membengkak. Air mata Sheila terus mengalir membasahi pipi. Bara mengangkat tubuh Sheila tanpa beban, lebih tepatnya Bara memanggul Sheila di pundaknya"Turunkan aku!" pekik Sheila memukul punggung Bara.Bara kemudian menghempas tubuh Sheila ke ranjang dan merangkak naik menindih Sheila."Tidak ada kata ampun untuk malam ini! Kau akan menjadi istriku seutuhnya!" seru Bara, matanya berkilat penuh gairah.Buliran bening terus menetes dari mata Sheila. Bara terus melumat bibirnya hingga bibir Sheila terasa kebas. Sheila tidak bisa lepas karena kedua lengan kokoh Bara menahan tangannya.Bara melepas ciumannya menatap Sheila dengan hasratnya yang meluap-luap."Sudah siap melihat diriku yang sebenarnya, Shei?" tanya Bara bernada rendah."B-bara, a-ku belum siap. Aku takut," lirih Sheila dengan wajah yang basah."Takut? Di mana Sheila yang menantangku beberapa detik yang lalu? Hahaha!" Bara tertawa."A-aku tidak bermaksud," cicit Sheila. Sungguh Sheila benar-benar takut. Bara terlihat menyeramkan di matanya."Jangan harap aku akan luluh dengan wajah memelasmu itu!" kelakar Bara.Dengan satu tarikan Bara merobek piyama Sheila."Bara!" pekik Sheila menutupi dadanya. Bara tersenyum miring.Tubuh atas Sheila yang polos membuat Bara kian bergairah.Bara mencium bibir Sheila lembut lalu turun ke leher menghisap kulitnya meninggalkan tanda merah di sana.Sheila melenguh, Bara dengan ahli melepas tali bra Sheila, detik itu Bara tertegun melihat tubuh indah Sheila. Bara memangkas jarak di antara mereka.Sheila terkejut ketika bibir Bara turun mencium dadanya, Sheila tidak mampu menolaknya. Apalagi ketika Bara terus memainkan itu dengan ujung lidah, menjilatnya lalu memutarinya. Sheila terbakar gairah.Bara menghisap bagian atasnya dengan rakus dan tanpa sadar membuat Sheila melengkungkan punggunggnya. Sensasi nikmat menjalar ke seluruh tubuh Sheila. Ia bahkan merasa area bawahnya basah sekarang.Bara naik memastikan kondisi Sheila. Pria itu menjilat bibir bawahnya sedangkan Sheila berusaha mengatur napasnya.Perempuan itu terlihat menikmati walau awalnya Sheila menolak sentuhanya."Terima setiap gerakanku Shei, agar kamu tidak tersiksa," kata Bara.Sheila kehilangan konsentrasi, rangsangan ini benar-benar membuatnya lemah. Rambut Bara yang acak-acakan itu justru tampak seksi di matanya.Bara mempercepat temponya dan Sheila terus menahan rasa sakit akibat gesekan benda asing di dalam tubuhnya. Bara menggeram ketika Sheila menjempit miliknya begitu ketat.Keduanya sama-sama berada di puncak, saat itu terjadi, Bara dan Sheila merasakan kenikmatan yang luar biasa. Yang belum pernah mereka rasakan selama ini.Bara menyandarkan kepalanya di pundak Sheila. Napas mereka saling beradu."Ini baru permulaan, Shei," bisik Bara. Sheila merinding, dia menoleh kaget pada Bara."Cu-kup, ini sakit. Aku mohon pelan-pelan," pinta Sheila parau tapi terlambat, Bara sudah berada di atasnya lagi. Sheila nyaris tak melihatnya bergerak tadi.Bara mengulum senyum. "Kau berada di bawah kendaliku, Shei!"Bara kembali menggerakan tubuhnya brutal ia bahkan mencium Sheila tanpa ingin memberi jeda untuk bernapas barang sedetik pun. Pria itu dikuasai kabut gairahnya. Malam ini Bara akan menuntaskan hasratnya yang kian memuncak.Bara tidak peduli dengan suara isakan, yang berganti desahan dan jeritan yang memintanya untuk berhenti. Sheila merintih dibawah kungkungannya, Sheila tidak berdaya untuk melawannya dan ini yang Bara inginkan. Sheila memang harus tunduk padanya.**Hawa panas menjalar ke kulit Bara. Pria itu terusik dan membuka kedua matanya perlahan. Rupanya tubuh Sheila menggigil dan perempuan itu memeluknya begitu erat. Bara menempelkan tangannya ke kening Sheila."Shei, kau demam," gumam Bara kaget.Bara kian panik saat wajah Sheila memucat. Bara melihat ke arah jam, pukul tujuh pagi. Ia hendak menggendong Sheila tapi detik selanjutnya Bara tersadar, dirinya dan Sheila masih dalam keadaan polos."Astaga!"Bara turun dan mengambil pakaiannya di dalam lemari."Shei, pakailah," perintah Bara sudah bersiap memakaikan baju untuk Sheila."A-aku bisa memakainya sendiri," tolak Sheila merampas bajunya.Bara berdecak kasar. Padahal kondisi Sheila terlihat lemas dan untuk duduk saja membutuhkan waktu cukup lama."Berbaliklah!" perintah Sheila merasa risih dengan Bara yang menatapnya intens bercampur khawatir."Untuk apa? Aku sudah melihat semuanya," balas Bara enteng. Sudut bibirnya melengkung mengingat setiap jengkal tubuh Sheila yang sangat menggoda untuk disentuh.Bara menyesal karena kalah melawan hasratnya dan membuat Sheila kewalahan, dia sadar semalam ia begitu liar. Lihat saja, seluruh tubuh Sheila hampir penuh dengan jejak kemerahan karena ulahnya."Bara!" geram Sheila bersemu malu mengingat pergulatan panas itu."Iya-iya, Shei," jawab Bara dengan kekehannya dan berbalik menghadap jendela."Sudah selesai?" tanya Bara melirik lewat ekor matanya."Sudah," kata Sheila.Bara berbalik dan membungkukkan badannya membuat Sheila mengernyit."Ma-mau apa?" tanya Sheila grogi saat wajah Bara sangat dekat dengannya."Membawamu ke rumah sakit," balas Bara."Tidak perlu, nanti aku juga sembuh," ketus Sheila."Kalau begitu aku panggil dokter saja," pungkas Bara meraih ponsel miliknya.Sheila memperhatikan Bara yang mulai keluar dari ruangan. Tubuhnya terasa kaku dan pegal apalagi di area sensitifnya. Sheila merasa jika Bara akan segera selesai namun ternyata belum, Bara seolah tidak pernah merasa puas. Dan itu benar-benar menguras tenaga Sheila."Mari Dok," kata Bara mempersilahkan Dokter Hesti masuk. Dokter Hesti adalah Dokter pribadi keluarganya."Ya ampun!" seru Sheila terbelalak.Bara ini sengaja atau memang bagaimana? Di saat Dokter Hesti masuk, Sheila baru menyadari jika keadaan kamarnya masih berantakan, sprei kusut serta pakaian semalam masih tersebar di lantai. Mau ditaruh dimana wajahnya?Lelaki ini gila!Rasanya Sheila ingin menjerit dan mengumpat pada Bara, tapi Sheila sadar. Itu tidak boleh! Nanti ia dosa.Sheila makin malu, ketika Dokter wanita itu tersenyum padanya. Pasti karena ada tanda merah di lehernya. Ciuman panas semalam masih sangat membekas bagi Sheila. Cepat-cepat Sheila mengenyahkan pikiran itu dan turut mengumbar senyum kecil."Dok, cepat periksa istri saya!" pinta Bara."Baik." Dokter pun mulai memeriksa detak jantung Sheila lalu mengeluarkan termometer dan melihat suhu tubuh yang muncul di sana."Demamnya cukup tinggi, Nyonya Sheila syok dan kelelahan. Apa belakangan ini ada yang membuat anda stres?" tanya Dokter Hesti.Langsung saja Sheila melirik sinis ke arah Bara sementara Bara pura-pura tidak melihatnya.Huh! Apa dia mendadak amnesia?! gerutu Sheila dalam hati."Saya memang banyak fikiran hari-hari ini Dokter," ungkap Sheila lelah.Dokter Hesti mengangguk."Anda harus istirahat yang cukup Nyonya. Tolong perhatikan pola makan anda, jangan sampai telat makan karena hal itu yang membuat tubuh anda lemas," urai Dokter Hesti.Beliau mulai mengeluarkan beberapa obat dari dalam tasnya."Saya akan memberi obat juga vitamin agar Anda cepat pulih. Anda harus makan makanan yang bergizi dan minum banyak air putih," tutur Dokter Hesti."Baik Dok," jawab Sheila."Berikan obat yang terbaik Dokter," timpal Bara."Tentu saja Tuan. Anda perhatian sekali, anda pasti sangat mencintai istri anda," puji Dokter Hesti membuat Sheila menghembuskan napas panjang.Jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan melakukan hal nekat dengan merebutnya di hari pernikahannya! batin Bara namun ia hanya menampilkan senyum tipis.Dokter Hesti mulai menjelaskan kapan dan berapa obat yang harus diminum Sheila kepada Bara."Kalau begitu saya permisi Tuan. Lekas sembuh Nyonya Sheila," pamit Dokter Hesti."Terima kasih, Dok," ucap Sheila.Bara duduk di pinggir ranjang membelai lembut pipi Sheila. Sementara Sheila memejamkan mata dan memalingkan wajah. Berusaha menghindari kontak mata dengan Bara."Shei, kau marah?" tanya Bara mengerut bingung.Hening."Aku harus apa? Supaya kau tidak marah?" bujuk Bara dengan suara lembutnya.Belum ada jawaban."Apa kau sakit karena aku?"Pertanyaan itu membuat Sheila tertarik membalasnya dan tanpa sadar otaknya kembali memutar kejadian semalam. Dia menoleh ke arah Bara."Dasar Barbar!" rutuk Sheila."Apa barusan? Kau mengataiku? Suamimu sendiri?!" tanya Bara tidak percaya denga ucapan Sheila, lelaki itu terkejut."Iya Barbar!" seru Sheila lebih keras meski dengan suara serak.Bara tergelak, suara tawanya menggema mengisi ruangan. Alih-alih merasa jengkel, panggilan itu justru membuat Bara senang. Bara menganggap itu panggilan sayang lain untuknya."Ya, aku akui. Kau memang benar," pungkas Bara masih dengan tawa yang semakin membuat lelaki itu tampan."Badanku rasanya remuk dan pegal karena ulahmu!" omel Sheila memasang raut wajah marah."Benarkah?" Sebelah alis Bara berjengit."Tengkuraplah, biar aku memijatnya," perintah Bara.Sheila menggeleng, dia takut Bara justru melakukannya lagi."Sejak

Pulang
Teen
12 Jan 2026

Pulang

Matahari nampak malu-malu menampakkan cahaya nya, justru embun pagi yang menyeruak membuat pagi itu terasa lebih dingin. Seorang gadis terbangun dari tidur nya saat mendengar gedoran jendela yang semakin lama semakin berisik."Siapa sih pagi-pagi ganggu tidur aja." Gadis itu membatin kesal.Akhirnya dia pun membuka jendela. Betapa terkejut nya dia melihat lelaki yang sedang menyengir tak berdosa."Astaghfirullah, Devan lo ngapain pagi-pagi datang ke rumah gue?" tanya Aira."Ya mau ngajak lo jalan pagi, gue tau lo orang nya mageran parah," jawab Devan dengan santai."Yaudah bentar gue mau siap-siap dulu, tunggu aja," ucap Aira dengan kesal.Raka dan Aira adalah sahabat dari kecil entah satu dari mereka menaruh perasaan nya atau sama-sama punya rasa, hanya tuhan dan mereka yang tahu.Mereka menyusuri taman bermain yang sangat ramai di pagi hari. Devan melihat di samping taman ada tukang bubur, dia pun menarik tangan Aira untuk berjalan di samping nya sambil menuju tukang bubur tersebut."Kita makan dulu ya, ntar lanjut jalan-jalan lagi," ucap Devan."ya deh," jawab Aira.Sembari menunggu bubur nya disiapkan, Aira melihat Devan yang raut mukanya seperti gelisah. Aira menepis pikiran itu lalu beralih ke bubur yang baru saja datang.Mereka makan dalam diam. Setelah selesai mereka kembali ke taman dan duduk di salah satu bangku taman."Ra, kalo suatu saat gue ga ada di samping lo gue mohon lo tetep bahagia," ucap Devan sambil menatap dalam mata Aira."Kenapa Dev? Tumben banget lo ngomong kaya gini, seakan akan lo bakal ninggalin gue," ucap Aira sambil menahan air mata yang sebentar lagi akan jatuh.Devan enggan menjawab, mereka menangis dalam diam."Lo udah janji buat ga ninggalin gue, tapi kenapa arghh," tangis Aira pecah.Devan pun memeluk Aira yang masih dalam keadaan menangis.Devan melepaskan pelukannya, mengangkat kepala wanitanya."Gue bakal ke Jerman besok, untuk ngelanjutin sekolah gue di sana. Bunda di sana sendirian Ra, gue harus jagain dia di sana." Devan menjelaskan sambil memegang tangan Aira.Setelah itu tidak ada lagi yang mengeluarkan suara, sibuk dengan pemikiran masing-masing.Devan berdiri sambil menatap lurus ke depan, dia tak sanggup lagi menatap Aira yang sedang menangis."Gue harap lo bakal ikut ngantar gue ke bandara, kalo engga juga gapapa gue ngerti. Gue cuma mau bilang kalo selama ini sebenarnya gue sayang bahkan cinta sama lo. Maaf banget baru ngucapin sekarang."Devan pergi, ya dia pergi dengan segala kenangan nya. Meninggalkan tanpa tau jawaban apa yang akan di berikan gadis itu.“ Manusia akan datang dan pergi, singgah di suatu tempat tapi pasti akan kembali ke rumah. Rumah adalah tujuan akhir .”[ E N D ]

Le Triangle Amourex
Teen
12 Jan 2026

Le Triangle Amourex

BRUKK!!DUGH!!"Liaaa, hati hati sayang," peringat mama Lia yang mengetahui anaknya terbentur pintu."Iya maaaah, tapi Lia buru buru ini.""Mah, Lia berangkat dulu yah, assalamu'alaikum!" pamit Lia."Waalaikumsalam, ga sarapan dulu?""Ga deh mah, takut telat nih."___Hari ini hari adalah hari dimana ujian kenaikan kelas dilaksanakan. Dan seminggu terakhir ini Lia belajar dengan giat untuk mempersiapkan diri naik ke kelas 12."Untung ga telat.""Ish, kenapa pagi tadi ke bentur segala si, dahi gua kan jadi merah," omel Lia pada dirinya sendiri."Pagi cantik!" Cowok tampan yang bernama Romeo itu menyapa Lia. Romeo adalah kekasih dari seorang Alia Oktalyana. Ia kakak kelas Lia. Orangnya dingin, cuek, namun hanya pada Lia dan sahabatnya, Romeo bisa bersifat hangat. Berbanding terbalik dengan Lia yang ceria dan ramah."Pagi juga Romeo!" jawab Lia."Mau ke kelas?" tanya Romeo."Iya""Aku antar," kata Romeo dan langsung merangkul kekasihnya itu.Lia sudah terbiasa dengan sikap Romeo yang se enaknya.Sesampainya di depan kelas Lia, Romeo melepaskan rangkulannya dari Lia."Belajar yang rajin, nanti jawab soalnya yang teliti," pesan Romeo."Siap kapten!" jawab Lia sambil hormat layaknya menghormati bendera. Romeo gemas dengan tingkah laku Lia, ia mengacak acak rambut hitam Lia."Ih Romeoooo, kan berantakan jadinya rambut Lia!" kesal Lia."Udah udah, masuk sana," kata Romeo setelah merapikan rambut Lia kembali.Lia pun masuk ke kelasnya dan duduk di bangku nya."Tumben baru dateng li?" tanya Syifa. Asyifa aulia adalah sahabat Lia yang sifatnya sama periang dengannya."Iya, tadi telat bangun," jawab Lia."Lu udah siap li naik kelas 12?" tanya Syifa basa basi sambil menunggu bel berbunyi."Siap siap aja," jawab Lia santai."Oh ya, gimana hubungan lu sama Romeo? Baik baik aja kan? Soalnya lu kalo mau ujian gini ga ada yang lu perhatiin sama sekali," tanya Syifa kepo."Apaan sih, baik baik aja kok," jawab Lia.___Ujian kenaikan kelas sudah selesai dan para murid murid diliburkan beberapa minggu. Dan sekarang sudah saatnya masuk sekolah lagi.Sekarang Lia sedang di lorong sekolah bersama Syifa."Liaa!" panggil Romeo dari kejauhan."Iya? Ada apa Rom?" tanya Lia."A ... aku mau ngomong sama kamu," gugup Romeo."Ck ... pacaran aja terus, dunia serasa milik berdua ye? Yang lain ngontrak ... dahlah mending pergi gue dari pada pagi pagi liat keuwu an orang lain," cerocos Syifa lalu meninggalkan Lia dan Romeo.Lia hanya terkekeh dan Romeo tak mengindahkan kekesalan Syifa. Yang terpenting ia mengungkapkan apa tujuan utamanya."Oh ya, tadi Romeo mau ngomong apa sama Lia?" tanya Lia."Maaf ... aku terpaksa ngomong ini ... Aku akan melanjutkan kuliah ke singapura sesuai permintaan papa," ucap Romeo.Tentu saja Lia terkejut dengan apa yang di ungkapkan Romeo."Dan aku minta kita putus, aku ga bisa LDR," pinta Romeo.Dan saat itu Lia langsung menatap Romeo tak percaya. Bulir bulir air mata Lia jatuh begitu saja."R ... rom? Kamu bercanda kan? Gak mungkin kita putus," kaget Lia."Aku beneran Li"Lia menangis dan langsung saja ia berlari meninggalkan Romeo dengan rasa kecewa. Perjuangannya melelehkan hati Romeo berakhir begitu saja?Lia menangis di dalam toilet sangat lama, bahkan bel masuk sudah berbunyi. Bahkan Syifa sampai mencarinya.Syifa mencari namun Lia belum ketemu, sekarang ia berada di toilet untuk memeriksa apakah ada Lia disana. Dan ia mendengar suara sesenggukan dari dalam toilet, hanya saya pintu itu terkunci. Sial.*Brak!*Syifa mendobrak pintu toilet, untung pintunya bukan pintu kayu atau bahkan besi.Setelah mendobrak pintu, ia menemukan Lia yang sedang menangis di lantai toiletHari ini Lia memutuskan untuk izin pulang terlebih dahulu dengan alasan sakit dan diantar oleh Syifa.Sesampainya di rumah Lia, Syifa menemani Lia di kamar sampai Lia tidur. Untung saja mama Lia sedang ke kantor.Karna Lia sudah tidur Syifa pulang, hari juga sudah sore.___2 minggu setelah perginya Romeo ke singapura Lia sudah menjalani hidupnya seperti biasanya, walau belum sepenuhnya sakit hatinya sembuh dan melupakan Romeo.Hari ini Lia berinisiatif untuk pergi ke pantai. Ia sebenarnya ingin mengajak Syifa, hanya saja Syifa tidak bisa dihubungi. Dan akhir akhir ini juga sibuk katanya.Sesampainya di pantai, Lia duduk di bangku yang sudah disediakan dekat pantai. Ia melihat sekeliling. Indah. Itu kata yang pas untuk menggambarkan pantau ini.Namun tatapan matanya menangkap sosok pria yang sepertinya ia kenali dengan seorang perempuan. Mereka seperti sedang berkencan. Lia mempertajam penglihatannya."Romeo?! Syifa?!" kaget Lia dengan apa yang di lihatnya sekarang.Mendengar suara samar samar yang seperti memanggil namanya, Romeo melihat siapa yang memanggilnya. Syifa juga menoleh ke belakang dan mendapati sahabatnya yang sedang terkejut karna melihat dirinya dengan mantan kekasihnya.Lia menghampiri meja Romeo dan Syifa."K ... kalian pacaran?" tanya Lia dengan air mata yang mengalir.Romeo dan Syifa hanya diamLia berbalik dan berlari meninggalkan Romeo dengan rasa sakit yang sama saat Romeo memutuskan hubungan dengannya.Romeo dan Syifa mengejar Lia.Tanpa Lia sadari, ia berada di jalanan dan dari arah kiri ada truk yang berkecepatan tinggi. Karna tak sempat menghindar, Lia tertabrak truk tadi."LIAAAAA!" teriak Romeo dan Syifa terkejut dengan apa yang mereka lihat.___Romeo langsung membawa Lia ke rumah sakit dan Syifa menghubungi Mama Lia.Pintu UGD terbuka dan menampakkan seorang dokter."Dok! Bagaimana anak saya?" tanya mama Lia tanpa basa basi."Pasien mengalamai gagal ginjal karna kecelakaan yang menimpanya, dan secepatnya harus ada yang mendonorkan ginjalnya kepada pasien.""Aku aja tan, dok," ujar syifa."Syifa? Apa kau yakin?" tanya mama Lia."Iya tan, golongan darah Syifa juga sama kok, O. Ini juga untuk menebus kesalahan saya pada Lia," Yakin Syifa."Baiklah, mari ikut saya untuk melihat kesehatan ginjal yang akan kau donorkan," kata dokter.Syifa mengikuti dokter itu, sebelumnya ia tersenyum pada mama Lia dan Romeo untuk menyakinkan mereka.___Sudah beberapa jam operasi dilakukan. Dan akhirnya pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang dokter."Bagaimana dok? Apakah operasinya lancar?" tanya mama Lia."Maaf, kami sudah memberikan yang terbaik, namun tuhan sudah berkehendak lain. Pendonor dan pasien tidak bisa diselamatkan," ucap dokter dengan berat hati."Gak! Gak mungkin!""Lia sama Syifa masih bisa diselamatkan dok!" Romeo sangat frustasi sekarang.Mama Lia sudah menangis sesenggukan di lantai rumah sakit yang dingin. Mereka sangat terkejut dengan kenyataan ini.Romeo dan mama Lia diperbolehkan masuk untuk melihat Lia dan Syifa untuk yang terakhir kalinya.___Terkadang semesta hanya mampu mempertemukan dan memperkenalkan, bukan untuk mempersatukan hingga akhir hayat.[ E N D ]

Wanita Bercadar Milik Seorang CEO
Romance
12 Jan 2026

Wanita Bercadar Milik Seorang CEO

'Azura Arsyila' nama seorang gadis yang akan Abyan halalkan hari iniSesungguhnya perjalanan Abyan tidak lah mudah ia akan menikah dengan seorang gadis bercadar yang bahkan tidak pernah ia kenal sama sekaliAbyan menikahi gadis itu bukan karena rasa cinta melainkan karena tali perjodohan, beberapa menit lagi ijab kabul akan di laksanakanTetapi Abyan belum melihat calon istrinya sama sekaliTapi beberapa menit kemudian Abyan melihat ada seorang perempuan bercadar turun dari tangga dan di dampingi oleh dua seorang perempuan"Apa itu calon istri ku??" Tanya Abyan dalam hati"Baik sudah bisa kita mulai acara ijab Kabul nya" ucap penghulu tersebutTangan Malik (Abi Azura) sudah berjabatan dengan tangan AbyanKeringat Abyan mulai bercucuran kemana-mana rasanya sangat gugup sekali"Saudara Abyan Athala bin bapak Iqbal Ady Pratama. Saya nikahkan dan saya kawin kan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Azura Arsyila, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat serta uang sebesar 1 Miliyar di bayar tunai!" Ucap MalikAbyan mengambil nafas panjang terlebih dahulu setelah itu ia mengucapkan nya"Saya terima nikah dan kawinnya Azura Arsyila, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" Ucap Abyan dengan suara yang lantang dan tegasSetelah semua para tamu mengucapkan kata 'SAH' tanggung jawab Abyan sudah bertambah sekarang ia tidak hanya mengurus perusahaan besar tapi ia akan mengurus gadis bercadar yang sekarang sudah 'SAH' menjadi istri nyaDari kejauhan Azura melihat sambil Menangis terharuAzura mendekat di sebelah Abyan"Zura cium tangan Abyan" bisik fayda (Umma Azura) di telinga azuraTangan Azura ingin meraih tangan Abyan tetapi Azura menarik nya lagi rasa nya gugup untuk berpegangan tangan dengan lawan jenisTapi pada akhirnya Azura meraih tangan Abyan Azura mencium punggung tangan AbyanDan Abyan yang mencium kening Azura jantung Abyan dan Azura kini berdegup sangat cepatSetelah menandatangani surat-surat dan melayani para tamu yang datang akhirnya Azura dan Abyan beristirahat"Abyan kamu yakin nggak tidur di sini dulu?" Tanya Sonia (bunda Abyan)"Ya sudah Bun Abyan tidur sini" jawab Abyan"Nah gitu dong kamu dari tadi bimbang banget jawab nya" balas Sonia senang melihat menantu nya akan tidur sini"Azura sini sayang" ucap Sonia kepada Azura"Iya ada apa Bun?" Tanya Azura"Gak papa bunda cuma pengen meluk kamu aja kok, sebenarnya bunda pas hamil Abyan pengen punya anak perempuan eh pas sudah lahir malah laki-laki jadi bunda senang banget punya mantu kaya kamu" cerita Sonia"Oh ya kalian harus progam hamil ya bunda pengen cepet-cepet punya cucu" ucap Sonia tanpa beban Abyan yang sedang minum kaget mendengar ucapan bunda nya"Nggak bisa Bun, kan zura masih muda bisa di tunda dulu hamil nya" jawab Abyan"Kok di tunda sih byan? Azura kan sudah umur 23 tahun jadi gak papa hamil lagian kalian juga sudah nikah" balas Sonia marah, ia pengen segera punya cucu eh Abyan malah mau nundaCukup lama Sonia bertengkar dengan Abyan mungkin sekitar 20 menit"Udah Bun sabar, Abyan bawa zura ke kamar pasti dia capek" Iqbal berusaha untuk menenangkan SoniaAbyan melirik ke sebelah nya ternyata Azura tertidur Dengan sangat pulasSecara perlahan Abyan menggendong Azura ala bridal style, Abyan membawa Azura ke kamar"Maaf aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu Ra" ucap Abyan saat sudah menaruh Azura di ranjangEntah dapat dorongan dari mana Abyan mencium kening AzuraCup" Selamat tidur" kata Abyan dan sehabis itu meninggalkan Azura untuk mengerjakan dokumen-dokumen yang belum ia periksaSekitar 2 jam lebih Abyan memeriksa dokumen tersebut tapi rasa kantuk belum menyerang"Uhuk" Azura terbatuk-batuk sehingga membuat diri nya terbangunSetelah mengambil minum di nakas Azura melihat Abyan sedang duduk sambil memangku laptop dan banyak kertas-kertas berhamburan kemana-mana"Loh mas kok belum tidur?" Tanya Azura"Sedang memeriksa dokumen" jawab Abyan dingin"Aku buatin kopi mau?" Tawar Azura terhadap Abyan"Nggak usah, kamu tidur aja lagi" Abyan tidak menyukai kopi makanya ia tak ingin Azura membuatkan nya kopi"Tapi aku sudah nggak bisa tidur lagi" jawab Azura, sebenarnya Azura masih bisa tidur lagi tapi ia tidak enak kepada Abyan yang masih mengecek dokumen"Ini masih jam 11 malam tidur aja lagi" ucap Abyan lagi"Aku belum ngantuk" lagi dan lagi jawaban Azura samaAbyan menghela nafas, ia tau Azura ini tidak enak jika meninggalkan nya tidur karena waktu itu Umma Azura memberi tahu kepada Abyan kalo Azura orangnya nggak enakanSekarang Abyan sudah berada di ranjang entah kenapa jantung Abyan dan Azura berdegup sangat kencang sekali"Kamu mau ngapain? Sendiri malam-malam kaya gini? Saya mau tidur cepat sini tidur" ucap Abyan sedikit canggungAzura langsung menurut ia tidur di sebelah Abyan tapi dengan jarak sedikit jauh"Ya Allah jantung Azura kenapa sih, jadi gini rasanya tidur satu ranjang bareng suami" ucap Azura dalam hatiJika begini Azura tidak akan bisa tidur beneran, Azura sudah berusaha memejamkan mata nya agar tertidur tapi tidak bisa"Mas Azura mau ke kamar mandi dulu ya" sangking gugup nya Azura sampai ingin kencing bah kan ia tak menyadari jika diri nya mau kencing izin dulu dengan AbyanTetapi Abyan tidak menjawab ntah Abyan yang sudah tertidur atau memang Abyan tidak ingin menjawabSetelah Azura selesai kencing ia melihat Abyan sudah tertidur dengan sangat pulas"Pasti capek yah" ucap Azura saat melihat suaminya tertidur dengan sangat pulasAzura ikut berbaring di ranjang dan perlahan tertidur jugaSekarang sudah menunjukkan pukul jam 3 malam Azura terbangun untuk melakukan sholat tahajudSaat Azura terbangun cukup kaget melihat ada seorang lelaki di samping nya, 'astagfirullah Azura lupa kalo Azura sudah nikah' ucap nya dalam hati saat sadar lelaki itu adalah suami nyaSetelah melakukan sholat tahajud Azura tak lupa untuk membaca Al-Qur'anBeberapa jam kemudian adzan subuh berkumandang, Azura menaruh Al-Qur'an di dalam lemari dan berjalan ke arah ranjang untuk membangun kan Abyan"Mas bangun sholat subuh" ucap Azura dengan sangat lembut"Iya" jawab Abyan dengan nada yang serakAbyan sebenarnya sudah bangun dari tadi tapi ia pura-pura tidur lagiAzura sudah mengambil wudhu terlebih dahulu setelah itu Abyan juga menyusul mengambil wudhuAzura sedang mempersiapkan alat sholat dan Abyan sudah keluar dari kamar mandi"Mau aku imamin?" Tanya Abyan dengan gugup karena saat ini Azura tidak memakai cadar nya" Istri siapa sih ini cantik bener" kata Abyan dalam hati"Mau" balas Azura senang, jantung Azura selalu berdegup sangat kencang jika berdekatan dengan AbyanSetelah selesai sholat Azura mencium tangan Abyan dan Abyan mencium kening Azura" Yaallah kenapa jantung Azura berdegup nya kencang banget" ucap Azura dalam hatiYang merasakan hal itu tidak Azura saja Abyan juga merasakan itu jantung mereka sekarang sedang tidak baik-baik saja"Em zura mau kebawah dulu mas bantu bunda masak" ucap Azura canggung"O-oh ya sudah kalo begitu" balas Abyan dengan nada yang patah-patahAzura langsung turun kebawah dan menetralkan jantung nya terlebih dahulu"Loh bi bunda mana?" Tanya Azura kepada bi inem"Ibu belum kedapur non masih di kamar" balas bi inem dengan senyum ramah"Oooo, bi jangan panggil Azura non ya panggil aja zura atau apa senyaman bibi aja tapi jangan panggil non" ucap Azura merasa tidak nyaman jika di panggil seperti itu"Ehh iya non eh maksudnya neng" balas bi inemBi inem juga tidak enak jika memanggil Azura dengan sebutan zura jadi ia memanggil Azura dengan sebutan nengAzura hanya menanggapi dengan anggukan saja sekarang Azura sedang membuka kulkas untuk mencari bahan apa yang akan ia masak hari ini"Biar saya aja bi yang masak, bibi duduk aja dulu" Ucap Azura saat sudah mendapatkan bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk memasak"Eh nggak usah neng biar bibi bantu" kata bi inem"Ya sudah deh, bi inem bantu kupasin bawang aja" Azura hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat bi inem tidak ingin duduk saja"Loh zura kok kamu yang masak sayang?" Tanya Sonia heran melihat menantu nya sudah stand Stan by di dapurAzura menoleh kebelakang ternyata itu suara mertua nya"Eh bunda, gak papa bun biar zura aja yang masak kalo zura bisa kenapa harus orang lain yang masak bunda duduk aja ya" balas Azura"Ya sudah deh, bunda penasaran sama masakan menantu kesayangan bunda" Ucap Sonia tidak sabar merasakan masakan menantu nyaSetelah 1 jam akhirnya semua masakan yang Azura masak sudah selesai"Azura panggil Abyan untuk sarapan ya" kata Sonia Azura mengangguk dan beranjak untuk memanggil AbyanSedangkan Sonia ia juga memanggil suaminya yang masih berada dalam kamar"Mas sarapan dulu" ucap Azura kepada AbyanRespon Abyan hanya menoleh dan menganggukkan kepala nya sebagai jawabanAzura turun ke bawah dan Abyan yang mengekor di belakang"Abyan cepat sini!! Coba kamu lihat enak-enak semua nih makanan nya bunda sudah nggak sabar deh buat makan" ucap Sonia saat melihat anak nya baru menuruni tangga"Eh bi inem mau kemana? Sini makan bareng nggak usah malu biasanya juga bareng" kata Sonia saat melihat bi inem menjauh"Eh iya Bu" balas bi inem sedikit canggung"Mau yang mana mas? Biar Azura Ambil kan" tawar Azura kepada abyan"Ayam rica-rica aja" balas Abyan•~~~~•"Hati-hati ya di jalan, sering kesini ya Ra" ucap Sonia dengan sedih melihat anak dan menantunya akan pergi"Insyaallah Bun kalo Azura waktu nya luang main ke sini" balas Azura dengan senyuman di balik cadar nya"Ya sudah kalo gitu Abyan sama Azura mau berangkat, assalamualaikum"Azura dan abyan Salim kepada Iqbal dan Sonia"Iya hati-hati di jalan, jaga istri kamu baik-baik" ucap Iqbal kepada anak nya"Iya yah" balas AbyanAbyan dan Azura hanya diam saat diperjalanan tak ada satupun yang mengeluarkan perkataanJarak dari rumah Iqbal ke rumah Abyan cukup jauh memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke rumah AbyanSaat sudah sampai di rumah Abyan Azura cukup kagum melihat rumah Abyan ini sangat besar"Kenapa beli rumah nya besar betul mas?" Tanya Azura kepada Abyan"Biar nanti kalo sudah punya anak nggak beli rumah lagi" ucap abyan setelah itu ia langsung pergi membawa koper milik AzuraAzura yang mendengar perkataan abyan cukup salah tingkah, anak?? Apa kah abyan ingin memiliki anak dari rahim AzuraTak terasa waktu terlalu cepat berlalu Azura sedang di rumah sendiri dan hanya bermain bersama kucing liar yang datang ke rumah nya eh rumah nya tapi kan rumah suami rumah istri jugadi mana Abyan mengapa Azura sendiri di rumah? Abyan sedang mengadakan meeting di perusahaan nya jadi harus meninggalkan Azura sendiri"Ya Allah kok zura sudah lapar lagi ya?" Tanya Azura"Hem kira-kira masak apa untuk makan malam nanti" ucap Azura sedang berpikir masak apa ia untuk makan malam nantiAzura melihat kucing liar yang tadi ia ambil tertidur di pangkuan nya dengan perlahan Azura memindahkan kucing tersebut ke sofaAzura berjalan kedapur untuk melihat bahan-bahan apa saja yang ada di kulkas agar bisa di olah menjadi makanan'cuma kangkung sama tempe' ucap Azura dalam hatiBagi yang bertanya di mana pembantu nya?? Azura tidak ingin ada pembantu jika diri nya sendiri bisa melakukan pekerjaan tersebutSelama beberapa menit Azura memasak kangkung dan tempe akhirnya selesai makanan nya tidak istimewa tapi Azura yakin abyan akan menyukai masakan nya"Kok lama banget mas abyan pulang"gumam nya melihat jam yang berada di dapur sudah menunjukkan pukul setengah delapanKucing liar yang tadi menghampiri nya entah kemana saat dia balik ke ruang tamu kucing tersebut sudah hilangSampai adzan isya berkumandang Abyan belum juga pulang, Azura segera ke kamar untuk melaksanakan sholat isya setelah itu ia turun lagi ke bawah menunggu Abyan"Huaaaaah" Azura sudah merasa mata nya mulai berat rasa lapar yang tadi menyerang nya sekarang sudah hilang dan tergantikan dengan rasa kantukTak sadar Azura tertidur di ruang tamu abyan pulang pada jam sepuluh malam"Assalamualaikum" ucap abyan saat memasuki rumah nyaSunyi tidak ada yang membalas salam nya saat dia melewati ruang tamu abyan melihat ada seseorang yang sedang tidurPerlahan abyan menggendong Azura tanpa sadar Azura memeluk abyan dengan kuat, Abyan hanya melotot kaget melihat Azura memeluk nyaAbyan hanya berharap Azura tidak terbangun karena suara jantung nya yang sedang berdegup sangat kencang•~~~~•"Mas" ucap Azura terhadap abyan"Iya kenapa?"balas Abyan"Coba kamu liat deh masa ada yang baca tapi nggak vote, jahat banget mereka" ujar Azura"Kok bisa sih mereka nggak vote" ucap abyan heran"Nggak tau tuh, coba marahin mereka biar vote cerita nya" kata Azura sambil tertawa kecil"Heh cepat pencet vote nya, kalo nggak aku bunuh kamu" ancam abyan terhadap Readers"Ihhh jangan galak-galak" ucap Azura"Maaf" cicit abyanSetelah memindahkan Azura ke kamar abyan merasa badan nya lengket dan bau tak ambil pusing abyan segera mandiAbyan menghela nafas panjang saat melihat tumpukan kertas"Perasaan ni pekerjaan kantor nggak ada selesai nya selalu aja numpuk" ujar Abyan pusing melihat pekerjaan kantor yang tak ada habis nya perasaan kemarin ia sudah menyelesaikan tapi kenapa sekarang numpuk lagi??Dari pada pekerjaan nya numpuk lagi abyan segera mengecek dokumen tersebut•~~~~•Malam menjelang pagi Azura bangun untuk melaksanakan sholat tahajud tapi ia merasakan kalau badan nya panasTak menghiraukan badannya yang sedang panas Azura buru-buru mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban nyaTak lama Azura selesai sholat Azura mendengar suara alarm dan tak lama juga abyan terbangun"Loh mas kenapa bangun nya cepat banget?" Tanya Azura heran melihat abyan memasang alarm jam seginiWalaupun Abyan baru bangun tidur dan hanya bisa melihat istrinya secara remang-remang karena keadaan lampu di matikanTetapi abyan melihat Azura sangat cantik ia bersyukur Azura memakai cadar dan hanya diri nya yang bisa melihat kecantikan istri nya lelaki lain tidak bisa kecuali Abi nya azura"Mas?" Tanya Azura karena Abyan tidak merespon pertanyaan nya dan malah bengong"Eh iya kenapa?" Ucap abyan yang mulai sadar"Kenapa bangun cepat banget? Nggak kaya biasanya" ucap Azura"Hari ini ada meeting lagi tapi di luar kota jadi saya harus berangkat pagi biar tidak terlambat" jelas abyan"Oo terus pulang jam berapa nanti?" Tanya Azura lagi, baru saja menikah ia sudah di tinggal pergi terus tapi nggak apa-apa Abyan juga pergi bukan untuk berfoya-foyaAbyan pergi kerja hanya untuk mencari uang dan uang itu untuk menafkahi nya serta untuk masa depan rumah tangga mereka berdua"Belum tau, tapi insyaallah pulang jam tigaan" jawab abyan"Ya sudah biar Azura siapkan air dan baju nya, em kalo dokumen dan file-file nya Azura nggak tau harus bawa yang mana jadi Azura cuma bisa siapkan air dan baju" ujar Azura ia tidak mengerti soal dokumen-dokumen atau file-file dari pada nanti ia salah membawa kan dokumen dan file bisa bahaya nanti"Iya, gak apa-apa" ucap abyan dan mulai berjalan untuk menyiapkan dokumen dan file yang harus ia bawa nanti"Oh ya, mau Azura bawakan makanan nggak??" Tanya Azura kepada Abyan"Nggak usah, kamu istirahat aja pasti kemarin capek habis nungguin saya dan beberes rumah" balas abyan"Cieee khawatir ya nanti kalo Azura sakit?" Goda Azura abyan langsung gelagapan karena ucapan nya tadi"Gak" ucap abyan dengan dingin"Gak salah lagi kan maksudnya mas?" Ucap Azura sambil tertawa karena wajah abyan memerah seperti kepiting rebus"Apa sih Ra gak jelas" ucap abyan sambil menetralkan jantung nya"Ahahaha lucu banget muka mas merah kaya kepiting rebus" kata Azura tak tahan lagi melihat muka abyan yang sudah memerahAbyan yang mendengar perkataan Azura tambah gelagapan apa muka nya merah? Yang benar saja sungguh rasa nya abyan ingin menghilang dari bumi"Ya sudah lah zura capek ketawa terus" ucap Azura dan melanjutkan memilih baju yang abyan pakai untuk meeting nantiAzura merasa perut nya sakit karena terlalu banyak tertawaSetelah bersiap abyan sudah mau berangkat dan di antara oleh supir pribadi Abyan"Hati-hati di jalan ya mas, jangan lupa makan dan jangan lupa sholat lima waktu nya di jaga satu lagi pulang nya jangan lama-lama" ucap Azura merasa tidak rela di tinggal suami nya pergiPadahal baru menikah tiga hari mengapa azura sudah merasa nyaman berada di dekat Abyan dan sebaliknya abyan merasa nyaman saat di dekat Azura"Belum aja saya berangkat sudah mulai kangen" kali ini abyan balas dendam dan menggoda Azura"Apaan sih mana ada Azura kangen, Azura tuh cuma bosen aja di rumah ini sendiri nggak ada teman kan kalo di rumah Umma waktu itu banyak anak-anak tetangga Azura main jadi rumah nya rame kalo di sini sepi nggak rame, kemarin aja Azura cuma di temenin kucing liar itu aja nggak lama Azura tinggal masak malah kucing nya pergi ninggalin zura" oceh Azura panjang lebar Abyan terkekeh kecil melihat Azura mengoceh tentang keseharian nya kemarin"Makanya cepat punya anak" balas Abyan"Gimana bisa punya anak, orang belum di buat" ucap Azura tanpa sadar tentang ucapan nya yang cukup vulgar"Mau buat sekarang?" Tanya abyan sambil tersenyum miring"Apa nya?" Azura malah bertanya balik"Buat anak, kan kamu pengen punya anak" ucap abyan Azura langsung sadar tentang ucapan nya tadi pipinya langsung merah meronaMengapa ia bisa mengatakan itu malu Azura sungguh malu, bisa kah kalian membawa Azura pergi dari bumi ini? Rasa nya Azura ingin menghilang"Ih bukan itu maksud ku, tau ah sana sudah berangkat nanti terlambat" ucap Azura mengalihkan pembicaraan"Ya sudah Salim dulu" kata abyan dan mengangkat tangan nya untuk di Salim AzuraAbyan hanya mengecup kening azura sekilas"Assalamualaikum" ucap abyan"Wallaikumsallam wrb" balas Azura"Sejak kapan aku bisa nyaman sama perempuan" ucap abyan dalam hatiAbyan sedari dulu tidak menyukai perempuan kecuali bundanya bukan berarti ia homo karena tidak menyukai perempuanSedari dulu banyak sekali perempuan yang menggangu abyan mereka selalu saja mengejar-ngejar Abyan bahkan ada yang melakukan secara nekat dengan cara kotorTapi untungnya usaha perempuan itu gagal makanya Abyan memandang perempuan itu secara jijik tapi tidak semua perempuan ia pandang jijikSetelah abyan berangkat Azura segera masuk ke rumah dan ia duduk di pinggir ranjang sambil memegang kepala nya yang pusing"Apa gara-gara zura tadi malam nggak makan ya?" Tanya Azura dengan diri nya sendiriAzura turun kebawah dan melihat makanan yang kemarin ia buat sudah basi dan berlendir (nama nya juga basi ya berlendir lah)Azura membuka kulkas ia melihat kulkas tersebut kosong tidak ada isi nyaAzura lupa untuk memberi tahu Abyan bahwa kebutuhan dapur sudah habisKarena tak ada makanan yang bisa ia makan Azura hanya duduk di ruang tamu sambil menonton tvTingTongSuara bel rumah berbunyi Azura mengerutkan keningnya siapa yang datang? Tak mungkin AbyanTanpa berpikir panjang Azura langsung membukakan pintu tersebut ia melihat seorang perempuan dengan hijab syar'i ada di depan nya sambil memegang rentang bekal"Maaf mba ada apa ya?" Tanya Azura"Eh iya lupa memperkenalkan diri, nama saya Mila Oktavia panggil aja Mila saya istri dari teman sekantor nya kak Abyan" Ucap Mila memperkenalkan diri nya"Oh ayo masuk dulu mba" kata Azura tidak enak melihat Mila hanya berdiri"Eh iya makasih" ucap Mila dan masuk ke dalam rumah tersebutSetelah itu Mila bercerita kalo diri nya itu siapa, ia di suruh suami nya menemani Azura dan Alan (suami Mila) di suruh oleh AbyanSetelah Mila bercerita ia baru sadar bahwa muka Azura terlihat pucat, walaupun Azura menggunakan cadar Mila bisa melihat dari mata azuraDengan pelan Mila meletakkan punggung tangan nya di dahi azura"Astagfirullah panas banget, sudah makan belum?" Tanya Mila dengan sangat khawatirAzura hanya geleng-geleng sebagai jawaban dirinya benar-benar lemas"Ya Allah kenapa nggak bilang dari tadi, sini makan dulu aku suapin kalo nggak kuat" ucap Mila dengan mimik wajah Yang sangat khawatir ia langsung mengeluarkan makanan yang ia bawa tadiAzura tersenyum melihat seberapa panik nya Mila padahal mereka baru bertemu"Makasih" ucap Azura dengan lirihSetelah Mila menyuapi Azura Mila langsung jalan keluar untuk membeli obatAzura langsung meminum obat yang tadi Mila belikan"Makasih mba" balas Azura ia merasa berhutang budi kepada Mila"Nggak usah berterimakasih sebagai manusia harus saling menolong" ucap Mila sambil tersenyum, Mila merasa sedikit tenang karena suhu badan Azura yang sedikit menurun"Kalo engap buka aja cadar nya Ra, lagian cuma ada aku di sini" ucap Mila merasa Azura tidak nyamanAzura langsung melepaskan cadar nya nafas nya panas tidak enak rasa nya jika memakai cadar"Aku kompres ya biar turun lagi panas nya" ucap Mila, tanpa persetujuan dari Azura Mila langsung bertanya di mana dapur dan mulai berjalan ke arah dapur"Aku kasih tau ke mas Alan ya Ra biar nanti mas Alan kasih tau kak Abyan" ucap Mila sambil memegang kompres tersebut"Nggak usah mba, biar aja bentar lagi juga bakal turun panas nya maaf ya kalo zura ngerepotin" ucap Azura"Nggak ngerepotin sama sekali kok Ra santai aja" ujar Mila ia tidak merasa di repotkan oleh Azura"Oh iya Ra jangan panggil aku mba dong kesan nya aku tua banget panggil aja Mila lagian kita seumuran" ucap Mila lagi ia paling tidak suka di panggil mba padahal seumuran"Hah seumuran? Kukira kamu lebih tua" ucap Azura bingung karena tadi ia pikir Mila lebih tua dari nya eh ternyata seumuran"Iyaa Azura" balas Mila"Tapi kok kamu nikah nya muda banget Mila?" Tanya Azura heran karena Mila juga sudah menikah"Aku juga sama kaya kamu, aku di jodohin sama mas Alan" ucap Mila dengan jujur"Kok kamu tau kalo aku nikah sama mas abyan karena perjodohan?" Tanya Azura lagi"Di kasih tau sama mas Alan" balas MilaKarena Mila sudah mengurus Azura rasa pusing dan demam yang tadi menyerang nya perlahan mulai menghilangTanpa di sadari mereka berdua mulai akrab layaknya seorang sahabat padahal baru bertemu hari iniDan saat Azura tertidur Mila mengabarkan kepada Alan kalo Azura sedang sakit dengan cepat Alan langsung memberi tahu AbyanAbyan awalnya panik tapi karna Mila bilang panas nya sudah mulai turun Abyan tidak terlalu panikWalaupun diri nya masih panik sekali melihat sang istri sakit tapi ia tidak bisa mengurus

Tangan Putih
Folklore
12 Jan 2026

Tangan Putih

Ada empat remaja laki-laki yang berteman baik. Suatu malam, mereka memutuskan untuk mengunjungi sebuah terowongan berhantu. Penduduk setempat kadangkala mengunjungi terowongan itu untuk menguji keberanian mereka. Anak-anak lelaki itu tidak mempercayai hantu. Mereka ingin mengambil gambar diri mereka sendiri di dalam terowongan sehingga mereka bisa menunjukkannya pada teman-teman mereka yang lain.Malam itu, empat anak laki-laki itu mengemudi ke jalan menuju pegunungan. Akhirnya, mereka sampai di terowongan. Mereka memarkir mobil di luar terowongan angker.Menurut urban legend yang mereka dengar, jika kau berdiri di mulut terowongan dan mengulangi kata-kata ini, sesosok hantu akan muncul. Mereka berdiri di depan terowongan diterangi cahaya mobil. Mereka berkata bersama-sama, lagi dan lagi, "Keluarlah, keluarlah dimana pun kau berada!"Kemudian, mereka menunggu. Tapi tak ada apa pun yang terjadi."Seperti perkiraanku," kata salah satu anak laki-laki. "Tidak ada hantu.""Yeah, ini hanya legenda bodoh," kata anak lelaki yang lain, mencoba tidak menunjukkan ketakutannya. "Ayo, ini membosankan. Ayo segera berfoto lalu pulang."Anak-anak laki-laki itu berkumpul di depan mulut terowongan. Mereka meletakkan kamera di atas mobil. Timer kamera berhitung mundur hingga berhasil memotret mereka. Kemudian, mereka semua kembali masuk ke dalam mobil.Namun demikian, anak lelaki yang duduk di bangku kemudi tidak segera menghidupkan mesin mobil. Teman-temannya yang lain menunggu beberapa menit dalam kesunyian. Kemudian, mereka mulai tidak sabar."Hei, mengapa kita tidak bergerak?" teriak seorang anak dari bangku belakang.Si sopir tidak merespon. Ia hanya duduk di sana."Ayolah, Kawan. Apa yang terjadi padamu?" tanya teman-temannya.Anak lelaki yang duduk di depan kemudi pelan-pelan menoleh untuk menatap teman-temannya. Wajahnya pucat dan keringat kecil-kecil menuruni pipinya."Teman-teman... Kita teman, kan?" katanya. Suaranya terdengar gemetar."Tentu saja kita teman," balas yang lainnya. "Sahabat baik.""Kalian akan selalu bersamaku, kan?" tanyanya."Tentu saja," balas mereka. "Selalu bersama.""Jika aku berada dalam masalah, kalian tak akan meninggalkanku... kan?" katanya."Tidak akan," kata mereka. "Kau bisa mempercayai kami."Laki-laki muda di kursi kemudi tersenyum lemah. Ia mengusap alisnya. Ia berbisik lemah, "Lalu... Lihatlah kakiku..."Anak-anak lelaki lainnya saling bertukar pandangan dengan bingung. Mata mereka pelan-pelan berpindah ke arah kakinya. Dua tangan berwarna putih muncul dari lantai mobil. Jari-jari panjang mencengkeram pergelangan kaki si pengemudi dengan kuat.Untuk beberapa saat, teman-temannya menatapnya dengan terkejut. Kemudian, tiba-tiba mereka mulai berteriak ketakutan. Mereka berebutan membuka pintu mobil dan melarikan diri secepat kaki membawa mereka, meninggalkan teman mereka sendirian di dalam mobil.Anak-anak lelaki itu tidak berhenti berlari sampai mereka sampai di bawah bukit. Mereka berhenti untuk menarik napas sambil melihat satu sama lain dengan wajah ketakutan.Setelah beberapa waktu, mereka berhati-hati kembali ke pintu masuk terowongan. Mobil itu masih terparkir di sana. Cahaya lampunya menyinari terowongan, tapi anak laki-laki di kursi kemudi telah hilang. Ia telah lenyap dan mereka tak pernah menemukannya. Sekarang, keberadaannya tak pernah diketahui.

Tas Sekolah
Folklore
12 Jan 2026

Tas Sekolah

Saat aku berumur delapan tahun, ada seorang gadis cilik di kelasku. Namanya Haako-chan. Ia orang yang ceria dan selalu tersenyum pada siapa pun. Salah satu yang paling kuingat tentang dirinya adalah ia memiliki sebuah tas sekolah berwarna merah.Suatu hari, Haako tidak datang ke sekolah. Semua orang penasaran dimana ia berada. Saat kami bertanya pada guru, mereka berkata bahwa mereka juga tidak tahu. Seminggu kemudian, ia tetap tidak datang ke sekolah sehingga kami mengira keluarganya pasti sudah pindah. Waktu berlalu, kami secara berangsur-angsur lupa padanya.Kemudian pada suatu pagi sebelum bel masuk berbunyi, kami melihat sebuah bayangan kecil berjalan melewati gerbang sekolah. Itu adalah Haako-chan. Ia berjalan sangat lambat. Tasnya yang berwarna merah berada di belakang punggungnya. Kami memanggil namanya, tapi ia hanya mengabaikan kami.Saat ia datang mendekat, aku bisa melihat wajahnya secara jelas. Ada yang berbeda dengannya. Aku tidak tahu apa itu, tapi ada sesuatu yang salah. Ia terlihat pucat dan sakit.Kemudian, bel sekolah berbunyi. Tidak ada yang ingin telat masuk kelas, jadi kami berlari kencang masuk ke dalam kelas. Saat guru datang, meja Haako masih kosong. Ia tidak pernah datang ke kelas. Semua orang menjadi bingung. Kami pikir ia datang lagi ke sekolah.Saat istirahat siang, kami pergi keluar ke taman bermain. Ada sebuah tas merah tergeletak di tanah. Aku tahu itu milik Haako. Kami tidak bisa menemukan ia di mana pun, jadi kami membawanya ke dalam kelas dan menaruhnya di atas mejanya. Ia tak pernah datang untuk mengambilnya.Pagi berikutnya saat aku tiba di sekolah, tas sekolah berwarna merah itu masih tergeletak di meja kosong milik Haako. Temanku, Taro, sangat penasaran. Ia memutuskan untuk mengintip ke dalam tas tersebut. Ia menggeser gespernya dan membuka tutup tas itu. Tiba-tiba, ia menjerit ketakutan sehingga tas jatuh dari tangannya. Sesuatu jatuh ke lantai. Benda itu menggelinding meninggalkan jejak merah di atas lantai kayu. Itu adalah penggalan kepala Haako.Hiruk pikuk pecah di ruang kelas. Semua orang menjerit dan menangis. Beberapa anak laki-laki tangisnya meledak, sedangkan beberapa anak perempuan histeris.Kemudian, guru datang ke kelas untuk menanyakan apa yang terjadi. Semua orang mulai berteriak secara bersamaan. Aku melihat ke bawah. Penggalan kepala itu telah hilang. Jejak darah di lantai juga telah lenyap.Awalnya, guru menolak mempercayai kami. Tapi beberapa anak perempuan bersikeras tentang apa yang telah mereka lihat. Akhirnya, guru memutuskan untuk pergi berbicara pada kepala sekolah.Malam itu, mereka memanggil ibu Haako-chan. Mereka bertanya padanya beberapa pertanyaan. Karena tidak mendapatkan jawaban yang tepat, guru dan kepala sekolah menelepon polisi.Hari berikutnya, dua detektif mengunjungi rumah Haako untuk berbicara pada ibunya. Ia mencoba memberitahu mereka ia tidak tahu dimana anak perempuannya. Akhirnya, karena tertekan oleh berbagai pertanyaan, ia meledak.Ibu dan ayah Haako telah bercerai. Ibunya mulai berkencan lagi, tapi kekasihnya yang baru tidak menyukai anak-anak. Jadi, ia membunuh Haako dan memotong-motong tubuhnya. Mereka mengeruk danau di dekat rumah Haako dan menemukan sisa-sisa potongan tubuhnya.Semua orang di sekolah terkejut. Tidak ada satu pun dari kami yang percaya bahwa sesuatu semengerikan ini dapat dialami oleh salah satu teman sekelas kami. Kami berjanji setiap pagi akan ada bunga segar di bangku kosong milik Haako, bersebelahan dengan tas sekolahnya yang berwarna merah.

Back to Back
Horror
12 Jan 2026

Back to Back

Ada dua orang gadis bernama Kimi dan Suzume. Mereka berteman baik sejak mulai sekolah bersama-sama. Saat mereka pergi kuliah, gadis-gadis tersebut berbagi kamar tidur. Kimi tidur di ranjang atas, sedangkan Suzume tidur di ranjang bawah.Suatu hari, Kimi kembali dari kuliah tetapi Suzume tidak ada di kamar. Kimi mencoba menghubungi temannya itu, tapi handphone Suzume berada di luar jangkauan atau malah mati. Kimi melihat sekeliling ruangan. Ia memperhatikan bahwa semua barang-barang milik Suzume masih di sana. Kopernya masih berada di atas lemari pakaian.Kimi mulai merasa khawatir. Ia tetap mengirim pesan yang mengatakan, "Tolong telepon aku" dan "Apakah kau baik-baik saja?"Tetapi tetap tidak ada jawaban.Pagi berikutnya, saat Suzume tetap tidak muncul, Kimi menelepon semua temannya tapi tak ada salah satu pun dari mereka yang melihat Suzume. Kimi tetap menghubungi nomor handphone Suzume, tapi tidak ada yang mengangkat. Akhirnya, Kimi mengirim pesan, "Dimana kau? Aku sungguh-sungguh khawatir padamu! Tolong balas pesanku."Malam itu, saat Kimi sedang berbaring di ranjang, ia menerima sebuah pesan singkat. Pesan itu dari Suzume. Pesannya pendek, "Saling membelakangi".Kimi terkejut. Ia tidak mengerti maksud dari pesan tersebut. Saat ia merasa bingung, ia memperhatikan ada bau amis di dalam ruangan. Ia mulai melihat sekeliling untuk mencari sumber bau busuk itu.Ia menarik keluar barang-barang dari lemari pakaian, tapi ia tidak bisa menemukan apa pun yang telah menyebabkan bau. Ia menarik koper Suzume dan membukanya, tapi benda itu kosong. Ia berputar untuk melihat ranjang Suzume. Dengan jari gemetar, ia menarik kasur Suzume dan melihat bagian bawahnya. Tapi tidak ada apa pun di sana.Kemudian, Kimi melihat sekilas ke atas kepalanya. Ia lalu menjerit ketakutan. Ia mendapati dirinya sendiri berhadap-hadapan dengan mayat Suzume yang membusuk.Hal itu terjadi saat seorang penyusup membobol kamar tidur mereka. Suzume memergoki orang itu saat ia akan merampok. Si perampok kemudian membunuhnya. Ia menyembunyikan mayat Suzume di bagian bawah ranjang atas. Setiap malam, gadis-gadis itu berbaring saling membelakangi.***

Jembatan Gantung
Horror
12 Jan 2026

Jembatan Gantung

Cerita ini diceritakan oleh salah satu temanku dari Jepang. Ia bersumpah kisah ini benar-benar terjadi, tetapi ia menolak memberitahuku dimana tepatnya cerita ini terjadi di Jepang. Ia berkata bahwa dua orang tewas hingga ia diinterogasi berkali-kali oleh polisi.Pada waktu itu, ia berumur 17 tahun. Pada suatu musim panas, ia bekerja paruh waktu di sebuah toko yang menjual barang-barang elektronik. Suatu hari sepulang kerja, manajer toko memutuskan untuk mengajak semua pekerjanya untuk makan malam di luar. Restoran yang akan mereka datangi berada di pegunungan. Untuk sampai ke sana, mereka harus menyeberangi jembatan gantung tua yang terbentang di atas lembah yang dalam.Ada lima orang yang akan pergi, jadi mereka memutuskan untuk membawa dua buah mobil. Si manajer mengemudikan mobil di depan dengan dua pemuda di dalamnya. Temanku mengemudi mobil di belakang, sedangkan rekannya duduk di kursi penumpang.Mereka pergi tepat setelah bekerja, tapi si manajer salah belok. Jadi, saat mereka sampai di jembatan gantung, hari sudah sangat temaram. Rintik hujan turun hingga menyebabkan jembatan tertutup oleh gumpalan kabut aneh.Si manajer mengemudi menyeberangi jembatan gantung, sedangkan temanku mengikutinya dari belakang dengan mobil lain. Entah kenapa saat mereka sampai di tengah-tengah jembatan, mobil manajer tiba-tiba berhenti.Dua orang di mobil belakang kebingungan. Mereka tidak mengerti mengapa bos mereka berhenti di tengah-tengah jembatan. Setelah menunggu beberapa menit, mereka mulai tidak sabar. Mereka tidak melihat tanda-tanda mobil di depannya akan bergerak. Jadi, temanku keluar untuk melihat apa yang terjadi.Kemudian, mereka melihat pintu belakang mobil terbuka dan dua anak laki-laki yang duduk di bangku belakang keluar. Temanku membuka pintu mobil. Ia baru saja akan bertanya pada mereka apa yang terjadi, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan.Ia mendengar anak-anak lelaki itu menjerit sangat keras. Tiba-tiba, dua pemuda itu bergandengan tangan dan mulai berlari seperti orang gila. Mereka berlari terburu-buru ke sisi jembatan. Lalu, mereka melompat melewati pagar pelindung.Temanku yang ketakutan buru-buru berlari ke sisi pagar pengaman dan melongok ke dalam lembah, tapi ia tidak bisa melihat apa pun karena kabut yang tebal. Lembah itu dalamnya lebih dari 100 kaki. Tidak ada seorang pun yang bisa bertahan hidup jika jatuh ke dalamnya. Ia berdiri di sana dalam keheningan, melihat ke bawah ke dalam jurang yang berkabut.Saat ia kembali untuk memeriksa mobil di depan, ia mendapati manajer membungkuk di depan setir, mencengkeram kemudi sangat kuat hingga jari-jarinya memutih. Air mata menuruni wajahnya dan ia berbisik terengah-engah, lagi dan lagi, "Aku ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa. Aku ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa. Aku ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa..."Temanku menelepon polisi. Saat mereka sampai, mereka harus berusaha keras melepas cengkeraman manajer dari kemudi. Mereka membawanya dengan ambulan, tetapi ia masih berbisik dan meracau seolah-olah ia kehilangan akal sehat. Setelah malam itu, tubuh kedua pemuda dievakuasi dari sungai.Temanku dan rekannya diinterogasi oleh polisi, tapi mereka tidak mengerti sama sekali tentang kejadian yang membingungkan tersebut. Polisi sepertinya berpikir bahwa itu mungkin sejenis kasus bunuh diri yang aneh.Beberapa bulan setelah itu, temanku pergi mengunjungi manajer toko yang telah dirawat di rumah sakit jiwa. Setelah mengobrol sebentar, ia mengubah topik pembicaraan pada kejadian aneh yang terjadi di tempat tragis pada malam musim panas.Manajer toko memberi isyarat padanya agar mendekat. Lelaki itu kemudian berbisik di telinganya. Manajer tersebut memberitahunya bahwa saat mereka menyetir menyeberangi jembatan gantung, ia dikejutkan oleh seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik kabut. Ia berdiri tepat di depan mobil. Si manajer harus mengerem untuk menghindari mobilnya menabrak wanita tersebut. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna hitam. Ia mengenakan gaun putih.Tiba-tiba, manajer melihat kabut semakin mendekat kemudian mengelilingi mobilnya. Dari dalam kabut tebal, sekelompok anak-anak muncul. Mereka berpakaian sama seperti si wanita. Wajah mereka rusak dan berlumuran darah.Sebelum mereka sadar apa yang terjadi, anak-anak yang aneh itu mengelilingi mobil dan mulai memukuli jendela maupun pintu dengan tinju mereka.Anak-anak itu mulai menyanyi, "Bergabunglah bersama kami, datanglah pada kami. Bergabunglah bersama kami, datanglah pada kami. Bergabunglah bersama kami, datanglah pada kami..."Si manajer berkata bahwa suara nyanyian anak-anak itu bergema di kepalanya. Ia merasa tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Ia berpegang teguh pada setir agar bisa bertahan hidup. Saat itu, ia ingin mati. Tapi hati kecilnya menginginkannya untuk tetap hidup.Ia mendengar dua pemuda di bangku belakang menjerit saat anak-anak itu membuka pintu dan menyeret mereka keluar menuju kabut. Manajer yang ketakutan melawan keinginan untuk bergabung bersama mereka menuju kematian.Setelah mendengar cerita ini, temanku gemetar ketakutan. Saat ia hendak pergi, manajer menarik tangannya dengan kasar. Ia mendesis, "Kupikir itu yang terjadi, tapi jangan beritahu polisi. Mereka tidak akan mempercayaimu. Kadang, aku bahkan tak percaya pada diriku sendiri. Berjanjilah padaku satu hal... Berjanjilah padaku bahwa kau jangan mencoba menyeberangi jembatan gantung lagi, atau mereka akan datang padamu dan menyeretmu pada kematian..."***

Mafia Obsession
Romance
12 Jan 2026

Mafia Obsession

Gadis bermanik amber mendengus kesal. Pasalnya dia sedang terburu buru pulang, tapi taksi yang di tumpanginya justru mogok. Gadis itu takut di marahi oleh sang paman karna pulang terlalu malam.Grazella Elnara Wesley itu namanya, gadis dengan wajah penuh jerawat dan berkacamata bundar ini, baru saja pulang dari rumah sakit. Karena menjaga adik tunggalnya, Giorgino Austin Wesley. Sang adik masih berusia 7 tahun.Gio mengalami kelainan jantung dan harus senang tiasa di rawat di rumah sakit. Kedua orang tua mereka sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan.Grazella nekat mengambil jalur cepat, dan melewati gang sempit yang gelap. Gadis itu sudah tidak tahan menahan nyeri di bagian payudaranya, karna seharian ini dia lupa memompa asi. Alhasil dadanya sangat besar, dan kram.Yah... Gadis berusia 18 tahun tersebut mengidap 'Galaktorea' kondisi dimana tubuhnya kelebihan hormon, yang membuatnya bisa menghasilkan ASI. Masa bodoh dengan desas desus ada penunggu di sana. Gadis itu terus melangkah masuk.Baru juga beberapa langkah, sayup sayup Grazella mendengar ada suara erangan, kakinya sudah bergetar tak menentu. Gadis itu ingin berbalik, dan berlari. Namun kakinya justru lancang melangkah maju, mengikuti suara tersebut.Grazella berusaha mengambil ponselnya, karena gang itu sangat gelap. Di tambah suara rintik hujan menambah kesan horor."Aakkhhh!" Gadis itu tersandung sesuatu, dan terjatuh cantik di aspal."Sial. Apa'an sih tadi!?" Grazella mencari ponselnya yang terjatuh.DEG!"Aarrgggh!!!" Mata Grazella membola sempurna, saat menyinari benda yang membuatnya terjatuh. Di sana seorang pria tergeletak, dengan badan penuh darah. Wajah yang sudah babak belur, tangan gadis itu terlihat bergetarGrazella mendekati pria itu, dan menjadikan pahanya sebagai bantalan. Dia berucap dengan nada bergetar. "A–aku harus bagaimana?"Beberapa detik kemudian, mata pria itu perlahan terbuka. Grazella langsung  menyambutnya dengan berbagai pertanyaan."Kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini?" Gadis itu memegang wajah sang pria, dan meneliti setiap lukanya.Sementara pria itu hanya diam memperhatikan manik gadis di depannya ini."Bellissimo," ucapnya lemah,(cantik)Setelah mengatakan itu, sang pria menutup matanya kembali."Aku tidak bisa mendengarmu, bisa lebih keras lagi." Grazella menggoyangkan badan sang pria.Gadis itu terlihat khawatir. "Aduh ... berpikirlah El, kenapa otakmu jadi bodoh begini sih!""Aduh om, paman atau siapa pun dirimu, ayo bangun donk! Jangan mati dulu! Nanti aku yang kena imbasnya! Lagian kenapa kamu malah meninggalkan jejak di tubuhnya El!?"Grazella menoleh kekanan dan kiri. "Tidak ada orang lagi, aduh bagaimana ini? Ah ya nomor darurat!" Gadis itu segera mendial nomor 112 di ponselnya.• • •Mobil ambulance melaju dengan cepat, pria itu terlihat membuka matanya kembali. Dia melihat lekat wajah Grazella yang sedang fokus menghadap ke depan.Drt...Grazella segera menggeser tanda hijau, "Iya kak Dicky, Kenap– Apa!? Bagaimana bisa kak!? Bukankah tadi Gio baik baik saja? I–iya aku segera ke sana sekarang." Grazella segera mematikan ponsel itu."Pak, kit-a mau ke rumah sakit mana ya?" tanyanya dengan suara bergetar."Mutiara kasih, dek, " jawab supir ambulan dengan cepat"Pak, lebih cepat lagi ya pak" Gadis itu sangat khawatir dengan sang adik.Beberapa saat kemudian, ambulance telah sampai di depan loby rumah sakit. Grazella segera turun, saat akan pergi tangannya di cengkal oleh pria yang ia tolong. Grazella langsung menghempaskan tangan itu, dan segera pergi ke ruang inap adiknya. Pria itu mengeram kesal."Kamu tidak bisa lari dariku baby girl! Mulai sekarang, kamu milikku!" batinnya dengan senyum menyeringai.• • •Grazella memegang tangan Gio dengan erat, dia merasa bersalah telah meninggalkan adiknya sendirian,Drt...Grazella menghela nafas kasar, pasti sang aunty akan marah besar karna dia tidak pulang. Grazella memilih mengabaikan panggilan itu.Sudah 3 hari Grazella tidak berangkat ke sekolah, dia fokus untuk mengurus Gio, dia juga bolak balik ke rumah dan rumah sakit. Seperti sekarang ini, Grazella sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga pamannya."Aunty, setelah ini aku akan ke rumah sakit, besok pagi aku datang lagi," ucap Grazella dengan lembah lembut."H'm!" jawab sang paruh baya dengan ketus. Grazella melangkah pergi dan akan memakan makanannya di dapur.Nyatanya selama hampir 5 tahun lalu, pasca kematian kedua orang tuanya, hidup Grazella bagaikan pembantu di rumahnya sendiri. Beruntung pamannya sedikit mempunyai belas kasih. Saat Grazella menerima hukuman karena tidak becus bekerja, pamannya diam diam memberi Grazella makanan.Perusahaan keluarganya juga di ambil alih oleh pamannya. Gadis itu tidak keberatan, karena dia juga tidak tau menahu masalah perusahaan. Grazella hanya fokus untuk menyembuhkan sang adik.Saat akan makan suara mutiara kembali menyambut telinganya. "Grazella! Sini kamu! Dasar anak sialan!"Gadis itu dengan langkah cepat melangkah menuju sang aunty. "Iya aunty. Kenapa?"PLAK!"KAMU MAU MERACUNI KAMI HAH?!""Maksud aunty, apa?""Cicipi udang itu cepat!" bentak sang paruh baya,"Ma-af aunty, tapi aku ale-rgi udang, makanya aku tidak mencicipinya tadi,"PLAK!"Saya tidak perduli kamu mau alergi atau tidak! Bella mau makan udang, dan kamu masaknya asin begini! Kamu mau meracuni anakku, hah! Dasar pembawa sial!!"Gadis itu menunduk meremas bajunya, dia sangat capek hari ini. Kenapa hidupnya sangat melelahkan, di saat semua gadis menikmati hidup, dan berkutik dengan make up, kenapa dirinya justru hidup melelahkan seperti ini.Itulah satu alasan wajahnya jelek, Grazella tidak punya waktu untuk mengurus diri.Jangankan untuk membeli skincare, untuk membeli baju saja dia harus berhemat, mungkin jika Bella sedang baik dia bisa minta baju lengseran.Dulu hidupnya bak putri ratu, tapi setelah orang tuanya meninggal, Grazella langsung berubah menjadi babu di rumahnya sendiri sungguh tragis.RUMAH SAKIT MUTIARA KASIHPria dengan setelan serba hitam terlihat menghampiri seseorang dan membungkukkan badannya memberi hormat. "Tuan, anda sudah di perbolehkan pulang. Apa kita terbang hari ini saja?"Pria yang sedang berbaring di brangkar tersebut mendelik tajam. "Dimana gadisku! Jangan pernah berfikir kembali sebelum menemukannya!" Anak buahnya langsung memberikan sebuah map coklat.Pria itu segera membukanya dan terlihat sebuah lengkungan di bibir manisnya. "Grazella Elnara Wesley... Nama yang cantik. Apa ada lagi yang mau kau sampaikan Wil?" ucapnya dengan membuka berkas itu."Nona mempunyai seorang adik, yang juga di rawat di rumah sakit ini Tuan," jawab sang anak buah yang membuat pria itu semakin bersemangat.Bibirnya langsung tersenyum menyeringai. "Kerja bagus, Wiliam!"Anak buahnya langsung menanggapi pujian sang tuan. "Nona, juga bekerja di salah satu cafe dekat sini Tuan. Apa anda ingin menemuinya?" Pria dengan pakaian pasien itu langsung tersenyum lebar."Tentu! Dan lakukan sesuai arahanku!" Dia tersenyum miring membayangkan rencananya."Baik, Tuan Gabriel. Saya akan persiapkan semuanya," jawab sekertaris sekaligus sahabat, pria bernama Gabriel Leonard Mattew tersebut."Kamu akan segera menjadi milikku sayang." Dengan bibir terangkat Gabriel berucap.Grazella segera menuju Cafe untuk mencari pundi pundi rupiah. Baru juga sampai, gadis itu sudah di sibukkan dengan banyaknya pesanan pelanggan. Dengan semangat Grazella menyiapkan dan membawa pesanan itu ke pelanggan.Sebenarnya gadis itu sangat risih bekerja menjadi Waiters. Grazella lebih memilih menjadi tukang cuci piring atau OG, tapi karena Cafe ini milik keluarga Veronica sahabatnya, dia di taruh di bagian Waiters.Bukan tanpa alasan Grazella membencinya. Gadis itu sangat risih dengan seragam kerjanya. Karna dia harus memakai baju ketat dengan rok di atas lutut, tentu saja akan memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan dia sangat membenci itu.Grazella juga harus melepas kacamata bundar atas tuntutan dari sang manager. Karena Gadis itu sudah di ijinkan memakai masker untuk menutupi wajah penuh jerawatnya. Kadang ada pria hidung belang yang sengaja menepuk pantat atau sekedar memegang tangannya.Seperti saat ini, dengan lancangnya seorang pria menarik tangan Grazella yang mengakibatkan sang gadis harus duduk dipangkuan pria itu, di meja lain seorang pria yang melihat semua itu mengeraskan rahangnya. Dengan tatapan iblis yang ingin memangsa."Fuck! Beraninya tangan kotormu menyentuh milikku! Lihat saja, setelah ini hanya aku yang boleh menyentuhmu baby girl."Pria Itu tersenyum senang saat melihat Grazella menampar dan menendang area junior sang pelanggan dengan kerasnya."Good girl," ucapnya dengan banggaDengan lancang pelanggan itu justru memeluk erat Grazella, sudah pasti sang gadis memberikan hadiah kepada pelanggan tersebut.Grazella terlihat mengikuti langkah sang manajer. "Sudah berapa kali aku bilang, tahan saja! Jangan buat keributan! Apa kamu tidak mengerti ucapanku Grazella!" bentak sang manager, yang di hadiahi senyum getir sang gadis. Grazella menatap tajam ke arah manajer tersebut."Bapak liat sendiri tadi!? Bagaimana bisa saya menahannya!" jawab gadis itu tak mau kalah."Aku tau ... tapi kamu bisa bicara baik baik, Grazella!" Sang manajer memijit pelipisnya, dia tau sangat susah berdebat dengan karyawan yang satu ini.Dia berusaha kembali memberi saran. "Kamu bukan preman, dan bagaimana pun mereka pelanggan yang menggajimu," ucap sang manajer.Grazella hanya mengangguk, tanpa memperdulikan wajah sang atasan yang sudah kusut. Grazella kembali melakukan pekerjaannya. Sedangkan di lain meja Gabriel enggan berpaling dari Grazella, pria itu terus menatap lekat sang gadis. Sampai manager pun tidak berani mengganggunya karena sudah pasti uang-lah yang membuatnya diam.Barulah saat Cafe itu tutup, Gabriel langsung pergi dan masuk ke mobilnya. Beberapa menit kemudian Grazella ikut keluar dari Cafe dan segera pulang. Dia sudah rindu dengan ranjang empuknya.Baru juga melangkah, matanya menyipit heran, melihat jalanan yang biasa dia gunakan ternyata di tutup, dengan terpaksa dia memilih pulang dengan rute lain.Gadis itu terpaksa melewati gang sempit waktu itu. Sementara di lain tempat, pria di dalam mobil tersenyum puas mendapatkan kabar dari orang orangnya, "Tuan, nona sudah masuk perangkap anda!" Dengan kecepatan seribu pria itu melajukan mobil menuju tempat eksekusi.• • •Baru masuk setengah jalan, Grazella merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Dia pun menoleh dan benar saja, seseorang dengan Hoodie hitam dan celana sobek, sedang terlihat berpura pura olahraga.Bukankah orang itu sangat bodoh? Bagaimana mungkin ada orang yang berolahraga jam 11 malam. Grazella berlari bak kesetanan."Arrgh! Aku takut." Gadis itu mencoba mencari persembunyian, dia menemukan sebuah tong.Dengan langkah cepat Grazella berlari ke sana. Sialnya orang itu menemukannya lebih dulu. "Aargggh! Ka-mu siapa?!" Grazella tidak mengenal pria tersebut.Gabriel mengambil tangan Grazella, dan menariknya."Andiamo a casa," ucapnya santai.[ Ayo kita pulang, ]Gadis itu hanya diam, karena bingung."Can you speak English, please?""You are mine, let's go home." Mata gadis itu membola sempurna."What?! are you crazy!" Grazella menghempaskan tangan Gabriel dengan kasar.Pria itu menatap tajam ke arah Grazella yang membuat gadis itu sedikit bergidik. Pria itu kembali mengeluarkan suara baratnya. "Aku tidak perlu persetujuanmu, baby girl." Pria itu tersenyum miring.[Mereka menggunakan bahasa inggris]"Ti-dak! Enak saja. Aku tidak mengenalmu paman! Lagi pula, apa salahku!?" ucapan gadis itu membuat sang pria kesal.Bagaimana mungkin, dia di panggil dengan sebutan paman?"Kesalahanmu cuma satu, karna kamu membuatku jatuh cinta sayang,""Bwuuhaha!"Grazella tertawa dengan sangat brutalnya. pria itu terlihat kebingungan, apa ada yang salah?Grazella menatap lekat sang pria dengan masih sedikit tersenyum geli, "Matamu buta ya? Liat wajahku! Apa yang kamu sukai dari wajah buruk ini pama_ aarrghh!" Dengan sigap pria itu menggendong sang gadis bak karung beras.Grazella langsung mengeluarkan suara emasnya. "Lepasin aku brengsek! Tolong! Tolong!" Gadis itu memukul punggung kekar sang pria, kacamata bundar yang ia pakai pun terlepas jatuh di bawah dengan cantiknya."Aku banyak uang sayang, aku akan membuat wajahmu cantik.""DASAR PSIKOPAT. LEPAS!""Apa kamu tidak mau, bertemu dengan adikmu baby?" Gadis itu langsung menghentikan pukulannya.Dengan cekatan Grazella mengambil benda pipih, dan mendial seseorang. "Halo kak Dicky, Gio ada di rumah sakitkan? Dia la-gi di sana kan kak?!" Suara Grazella sudah sedikit bergetar."Tadi ada beberapa orang pake setelan jas hitam, terus bawa Gio pergi, bukannya kamu yang menyuruh mereka Grace?"PLETAK!Ponsel gadis itu terjatuh dengan cantiknya di aspal."Dimana adikku bangsat!" Gadis itu menegakan tubuhnya dan menatap tajam ke arah sang pria.Sementara sang empu hanya tersenyum manis dan mengusap lembut wajah sang gadis. "Jangan mengumpat sayang, adik ipar berada di mansionku, kita akan menyusulnya sekarang."Tanpa menunggu jawaban Grazella pria itu segera menghubungi anak buahnya. "Segera bawa helikopter ke tempatku berada! Dan persiapkan penerbangan ke Italia, sekarang juga!" Gadis itu hanya terdiam dengan banyak pikiran di kepalanya.Gabriel mencengkram dagu Grazella dengan kuat, sehingga mulut mungil itu sedikit terbuka. Di rasa mendapatkan kesempatan pria itu melancarkan aksinya."Damn it! Sentuhannya sangat berpengaruh di tubuhku!"  batinnya mengeram kesal.Setelah melihat Grazella kehabisan nafas, dengan tidak rela Gabriel menghentikan aksinya. Gadis itu langsung menatap tajam dan penuh kebencian pada Gabriel."APA KAMU INGIN MEMBUNUHKU HAH!?" Mata Grazella sudah basah penuh air mata, pandangannya nyalang menatap pria di depannya ini, tenggorokannya terasa mati rasa, dadanya pun sangat sesak.Grazella benar benar merasakan siksaan yang teramat. Dia memilih di siksa bibinya dari pada mendapatkan siksaan seperti ini. Gabriel mengusap sudut bibir Grazella yang terlihat sedikit basah karena ulahnya."Kamu hanya milikku sayang, aku ingin sekali memasukimu," ucapnya dengan tersenyum.Grazella langsung mendongak dan menatap bengis ke arah Gabriel. "Tidak sudi tubuhku menyatu denganmu, brengsek! Lebih baik milikku, di masuki banyak pria di luar sana! Dari pada, di masuki iblis sepertimu!""Sialan!" Gabriel langsung berdiri, dan menarik Grazella menuju ranjang."Akh!!" Gabriel mendorong gadis itu ke ranjang dan mengungkungnya.Grazella berusaha beranjak, dan menendang tubuh Gabriel agar menjauh, namun pria itu lebih cepat, ia mendorong tubuh Grazella untuk kembali berbaring.PLAK!"Arrghh! Dasar iblis!""Diam El!""Sakit brengsek!"PLAK!Dengan tanpa ampun Gabriel menampar pipi sang gadis, Grazella hanya bisa menangis histeris. "Shit! Milikmu sempit sekali baby,""Berhenti brengsek!""DIAM! Aku tidak akan berhenti El! Jangan pernah bermimpi untuk melakukan hal ini dengan orang lain! Atau saat itu juga, akan kubunuh adikmu! Hanya milikku, yang boleh berada di dalam sini!""Da-sar iblis! hiks ...""Fuck!!" Mereka melakukan kegiatan itu dengan nikmatnya.Grazella benar benar merasa sangat kotor. Mati matian selama ini menjaga tubuhnya agar tidak bertemu dengan pria brengsek, tapi takdir justru lebih kejam terhadapnya."Kevin tolong aku! Kamu kemana? Hiks ... tolong kembalilah, bawa aku pergi dari iblis ini," batinnya, teringat dengan orang yang sangat ia sayangi.VENESIA | ITALIA 01.20 PM (siang)Setelah hampir 17 jam di pesawat, akhirnya mereka sampai di Italia. Terlihat gadis itu sedang berbaring, Grazella terlihat sudah memakai dress, dan wajahnya sudah sedikit di poles. Gabriel memanggil pramugari, dan menyuruhnya membersihkan tubuh sang gadis.Gabriel berusaha membangunkan Grazella, dengan mengusap lembut wajah sang gadis. "Baby, bangunlah kita sudah sampai."Gadis itu perlahan membuka matanya, dia mencoba bangun, dan berdiri untuk melangkah."Arrghh!""Perhatikan langkahmu, El!" Gabriel mengeram kesal, melihat Grazella hampir saja terjatuh, jika tangannya tidak cekatan menarik tubuh mungil itu.Bagaimana tidak lemas? Dengan santainya gabriel terus menggempur Grazella di sana. Bahkan baru 1 jam istirahat tubuh Grazella sudah di gempur lagi dan lagi."Badanku sakit semua." Pria itu terkekeh mendengar ucapan gadisnya ini."Aku gendong mau?" Grazella mengangguk pasrah, karna memang badannya sangat lemas."Terima kasih baby, karna kamu memberikan itu untukku, tapi aku tidak menyesal karna mengambilnya darimu!"Grazella terlihat kesal dengan ucapan pria yang sedang memeluknya ini. "Dari yang ada di film film, aku harus pura pura patuh sama penculiknya, setelah itu kabur! Kamu memang cerdas El!" batin gadis itu tersenyum lebar."Ekm. Namamu siapa?" Gabriel terkejut dengan pertanyaan gadis itu. Pria itu tersenyum, dan mengusap kepala Grazella yang membuat gadis itu mendongak.Grazella sedikit terkesima melihat wajah datar, yang sudah tersenyum lebar ke arahnya."Gabriel Leonard Mattew." Grazella mengangguk. Badan pria itu terdiam, saat mendengar apa yang di ucapkan Grazella. Gabriel sangat suka, saat namanya di panggil dengan nada lembut dan halus."Baiklah Leon, aku akan menurut padamu. Tapi tolong pertemukan aku dengan Gio." Gabriel tersenyum simpul."Aku suka saat kamu memanggilku Leon, terus panggil aku dengan itu."Mereka segera turun dari pesawat. Mata Grazella melotot, melihat banyaknya mobil van hitam yang berbaris di sana. Grazella juga mobil Mercedes yang terparkir cantik di parkiran pesawat itu. Gabriel membantu gadisnya untuk turun melewati tangga pesawat."Bentornato, signore."(Selamat datang kembali, Tuan)Mereka mengunakan bahasa italia."Bagaimana keadaan markas!""Baik Tuan!""Mereka siapa?" Dengan berbisik Grazella bertanya."Mereka anak buahku." Gadis itu terkejut mendengar ucapan Gabriel.Grazella kembali bersuara. "Sebanyak itu?" Gabriel menahan senyum, karena masih banyak anak buahnya di sana.Mereka segara memasuki mobil Mercedes yang sudah di siapkan anak buahnya. "Apa kau membawa yang kumau, Wil?" tanya Gabriel pada anak buahnya."Ini, Tuan." Wiliam memberikan sebuah paper bag ke tuannya, dia duduk di kursi depan.Gabriel memberikan itu pada Grazella, yang membuat gadis itu kebingungan. Dia pun mengeluarkan suaranya. "Buat apa? Aku bukan musli__""Pakai saja El," jawab Gabriel datar. Grazella mendengus kesal, dia pun memakai cadar yang di berikan padanya.Gabriel kembali bersuara yang membuat gadis itu semakin badmood."Ingat! Jangan pernah kamu perlihatkan wajahmu pada siapa pun, saat berada di luar mansion! Mengerti?" Grazella meremas dengan kuat dress yang ia gunakan."Kalau malu karena wajahku, kenapa dia membawaku? Dasar menyebalkan!" batinnya, dengan mata sudah berkaca kaca.• • •Setelah hampir satu jam mereka sudah sampai di sebuah mansion mewah nan megah, Grazella sedikit takut karena mansion itu berada di tengah hutan. Gabriel dan grazella segera turun dari mobil dan melangkah menuju mansion. Baru juga sampai di ruang tamu, seorang wanita paruh baya menyapa mereka."Benveito, signore."(Selamat datang, Tuan)Bibi Margaret. Paruh baya itu menjabat menjadi kepala maid di mansion. Di belakangnya terdapat 6 seorang gadis, yang berpakaian ala maid.Mereka berbaris menjadi dua bagian, dan membungkuk menyapa Gabriel."Di antara kalian, siapa yang bisa bahasa Indonesia!?" Gabriel segera mengutarakan keinginannya."Saya Tuan." Seorang gadis dengan wajah oriental mengangkat tangannya. Gabriel segera menghampirinya."Mulai sekarang, kau jadi maid pribadi untuk gadisku." Gadis itu mengangguk.Gabriel kembali menggandeng Grazella, untuk naik ke lantai atas. Mereka berhenti di depan lift."Baby, aku akan ke perusahaan, kamu istirahat setela__""Tidak Leon! Aku mau ketemu Gio! Dimana dia!?" Gabriel mencoba menenangkan gadisnya, ia mengusap lembut wajah Grazella"Kita bertemu adik ipar besok saja, ya?""Dasar pembohong!" Grazella mendorong tubuh Gabriel, terlihat pria itu berusaha sabar."Baby, kamu tau aku bukan orang yang penyabar, jangan selalu memancing iblisku keluar!""Persetan dengan itu Leon! Kamu pembohong! Dasar bajingan! Dimana adikku, brengsek!" Grazella langsung berlari."BERHENTI EL!!" Gabriel mengeluarkan suara emasnya.Grazella tidak menghiraukan dan terus berlari, para maid pun terlihat tegang, mereka sudah hafal betul tabiat Tuannya, lebih baik mereka diam bagai patung sebelum mendapat perintah.DOR! DOR!Tubuh Grazella berhenti di tengah ruang tamu, Gabriel segera menghampiri gadis itu. "Sekali lagi kakimu melangkah, maka salah satu maid di sini akan menjadi mayat El!!"Gadis itu berbalik dan menatap nyalang ke arah Gabriel. "Hahaha kamu pikir aku percaya!""Baiklah. Kamu! Tembak kepalamu jika gadis keras kepala ini tidak mengikuti perintahku!" Gabriel menunjuk salah satu maid, dengan menggunakan bahasa Inggris. Itu adalah bahasa wajib yang harus di kuasai seluruh anak buahnya yang bekerja di mansion.Grazella membalikan badannya dan melihat bahwa maid itu berjalan dan mengambil salah satu pistol yang ada pada bodyguard di sana, yang membuat mata Grazella membulat sempurna."Kamu gila hah!? Untuk apa kamu menuruti ucapan iblis ini!""Ke sini El." Grazella masih tidak perduli dan tetap melangkah."Tembak kepalamu sialan!" Grazella langsung berbalik dan menatap bengis ke arah Gabriel."Atas hak apa kam__"DOR!DEG!Tubuh maid yang berada di belakangnya, sudah terbaring dengan kepala berlumuran darah.Grazella segera berbalik, dia menutup mulutnya dengan tangan bergetar, kakinya sudah lemas tak bertenaga."Da-dasar gila!"Gadis itu berbalik dan menatap penuh kebencian ke arah Gabriel."Masuk ke kamarmu sekarang!" Grazella masih mematung di sana, dia sangat takut pada pria di depannya ini.Saat melihat Gabriel melangkah, dengan cepat Grazella berlari menuju Wiliam, dia berdiri di belakang pria itu."Tolong aku! Tuanmu itu iblis! Aku takut! Kumohon. Tolong aku hiks ...."Badan gadis dengan mata amber sudah bergetar hebat, dia berusaha meminta bantuan pada pria di sampingnya ini. Grazella meminta pria itu membawanya pergi dari mansion terkutuk ini. Bukannya menurut Wiliam justru menarik Grazella dan memberikan pada Gabriel.Grazella menangis histeris, bahkan cadarnya sudah terlihat sedikit basah. Gadis itu menahan tarikan Gabriel dan memohon kepada Wiliam, serta para maid di sana untuk menolongnya.Namun memang dasarnya semua penghuni mansion itu adalah iblis! Mereka hanya melihat, dan tidak perduli dengan Grazella.Sang gadis terlihat menggigit tangan gabriel yang berusaha menariknya. semua orang yang melihat itu hanya melongo, bagaimana bisa gadis bercadar itu sangat berani menggigit Tuannya.Gabriel mengeraskan rahang, dan menutup matanya sekilas untuk menahan rasa sakit di tangannya. Para maid melihat dengan tatapan ngeri, karna tangan pria itu terlihat mengeluarkan cairan merah. Grazella menggigitnya dengan penuh tenaga.Gabriel menarik tangan Grazella dengan kasar menuju lift.Grazella berjalan terseok seok, karena tidak bisa mengimbangi langkah panjang pria bermanik biru gelap tersebut. Mereka segera masuk dan menuju lantai atas, hingga saat lift terbuka, Grazella yang tidak seimbang pun terjatuh di marmer dingin, hingga lututnya terluka yang membuat Gabriel menghela nafas kasar."Kenapa kau sangat lamban!?" ucapnya penuh penekanan."Tolong lepasin a-ku Leon, aku takut hiks ...."Gadis itu memohon dengan memegangi kaki sang pria. Gabriel tersenyum miring melihat hal itu."Kamu pikir dengan menangis, bisa membuatku luluh? Jangan harap! Sampai menangis darah sekalipun, kamu akan tetap berada di sini El!" Lagi lagi pria itu mengeluarkan uratnya saat bicara.Gabriel menarik tangan Grazella dan masuk ke kamar. Sampainya di kamar, pria itu langsung mendorong tubuh Grazella dengan kasar, sehingga tubuh ringkih itu tersungkur di ranjang big size di sana.Gadis itu menangis dan berusaha menuju pintu untuk kabur, namun dengan mudah Gabriel menangkap tubuh gadisnya kembali. Grazella menyingkirkan dengan kasar lengan kekar itu dari perutnya. "Lepas brengsek! Lepas!! Dasar iblis!"PLAK!"Diam! Kamu tau? Usahamu itu sia sia!" Dengan langkah gontai Grazella menjauhi pria itu, dia sangat jijik dan benci pada Gabriel.Pria itu menatap tajam ke arah sang gadis. "Jadilah gadis yang penurut, maka aku akan menjadi pria yang lembut juga, renungkan kesalahanmu!" Dengan langkah seribu Gabriel menguncinya di kamar itu.Grazella hanya bisa menggedor dengan putus asa di dalam sana. "Dasar bajingan! Aku membencimu Leon!"Gadis tersebut terlihat sangat kacau.Lututnya terasa sakit, bahkan payudaranya sangat nyeri, karena hampir satu hari dia tidak mengeluarkan ASI, alhasil dadanya sangat kram."Kevin kamu kemana? Tolong aku hiks ...." Dia teringat dengan seseorang, yang sangat berarti di hidupnya.Grazella melangkah ke arah balkon, netranya menyipit melihat pemandangan di bawah sana, saat ini dia berada di lantai empat. Terlihat di bawah terdapat kolam ikan, taman mawar, bahkan sungai, serta pohon pohon besar berada mengelilingi mansion yang sangat luas dan besar itu.Tapi sayang kemewahan mansion ini, tertutupi oleh aura yang menakutkan. Bagaimana tidak? Seluruh penjuru sudut di isi oleh penjaga berseragam serba hitam, terlihat setiap penjaga itu memiliki pistol di setiap saku pinggangnya.Grazella sedikit berfikir siapa pria itu sebenarnya? Kenapa dia bisa menggunakan senjata dengan sesuka hati. Sementara Gabriel menuju bawah dan memanggil anak buahnya, "Kalian jaga di depan pintu kamar! Jangan sampai gadisku keluar dari sana!""Baik, Tuan!" jawab kedua bodyguard tersebut.Wiliam terlihat menghampiri Gabriel, dan mengatakan laporannya. "Tuan, tim alpa sudah menemukan tikus penghianat itu, dan sekarang dia di markas." Gabriel mengangkat salah satu sudut bibirnya. Akhirnya dia bisa melampiaskan kemarahan dalam dirinya."Kita ke markas sekarang!""Baik tuan."• • •Waktu menunjukan pukul tujuh malam, terlihat pintu kamar terbuka dengan seorang maid masuk kesana.Ceklek"Nona apa anda, aakkhh!!" Maid itu melotot sempurna, dia memandang wajah Grazella dengan lekat, yang membuat gadis itu tersenyum getir."Apa, sejelek itu?""Maaf Nona! Maaf saya lancang memandang Nona maaf Nona!" Gadis itu di buat melongo melihat respon maidnya, dia segera turun dari ranjang dan membantunya berdiri. pasalnya maid tersebut bersujud di lantai."Dimana iblis itu?""Maksud Nona?" Maid itu terlihat kebingungan."Tuanmu itu, dimana dia?""Maaf Nona, saya kurang tahu. Karna Tuan tidak memberi tahu kami.""Nama kamu siapa?" Grazella duduk di pinggiran ranjang."Sheryl Nona." Dengan masih menunduk maid itu menjawab."Kamu sudah lama bekerja dengan iblis itu,""Saya dulu bekerja di salah satu club milik Tuan, lalu beliau menyuruh saya untuk bekerja di mansion Nona." Grazella mengangguk mendengar jawaban itu. Dia kembali melemparkan pertanyaan."Umurmu berapa?""19 tahun Nona." Maid bernama Sheryl mendongakkan Kepalanya, kala melihat tangan itu terulur."Namaku Grazella kamu bisa panggil aku Grace umurku 18 tahun, seharusnya aku memanggilmu kakak bukan?" Grazella tersenyum manis, sedangkan manis itu langsung menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat pucat."Tidak Nona, saya bisa di pecat atau bahkan di hukum Tuan, kalau sampai berani memanggil Nona hanya dengan nama." Grazella makin di buat malas."Jangan takut, kamu bisa melakukan itu jika hanya ada kita berdua, kamu maukan jadi temanku?" Maid itu mengangguk."Em ... Sheryl apa aku bisa meminta tolong?" Maid tersebut mengangguk yakin."Apa kamu bisa membelikanku em ... sesuatu, tapi aku tidak punya uang. Bisa aku pinjam dulu, dan tolong belikan itu untukku?" Grazella sedikit canggung."Hahaha Nona lucu. Nona tidak perlu meminjam uang saya, Tuan pasti dengan senang hati menuruti perintah Nona. KM" Maid itu tersenyum manis."Apa Nona menginginkan sesuatu?""Apa kau bisa membelikanku pom-pa asi?" Maid itu terdiam mendengar ucapan Grazella."Mak-sud Nona? Apa Nona sedang menyus__""Tidak aku masih vir__ em ... maksudku aku kelebihan hormon, dan secara alamiah aku menghasilkan asi. Sudah hampir 1 hari aku tidak mengeluarkannya, p4yudaraku rasanya sangat sakit, bisakah kau membantuku?" Setelah mengerti maid itu tersenyum dan mengangguk."Saya akan membelinya besok Nona, kebetulan besok jadwal belanja mingguan." Gadis itu terlihat berbinar."Terima kasih Sheryl." Grazella memeluk Sheryl dengan erat yang membuat maid itu terkejut bukan main.• • •Jam sudah menunjukan jam 1 dini hari, terlihat seorang pria dengan langkah pelan masuk ke sebuah kamar, dia menyipitkan matanya kala mendengar suara isakan, dengan cepat pria itu menyalakan lampu di kamar itu.DEG"Fuck!"

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 5 dari 35
Menampilkan 24 cerita