Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
PUTRI KELANA DAN PANGERAN KEMBARA
Konon ketika Kanjeng Putri Kelana dan Kanjeng Pangeran Kembara lahir, langit bergemuruh kencang, lalu turunlah badai terderas yang pernah ada sepanjang tahun itu. Putri Kelana muncul lima menit setelah Pangeran Kembara keluar, sehingga tabib istana dan bidan yang mendampingi proses persalinan menyatakan bahwa Putri Kelana adalah sang Kakak karena ia membantu adiknya dilahirkan terlebih dahulu.Kata para penasihat raja dari Keraton Mangunkarta, hujan deras bisa diartikan sebagai berkah atas kelahiran putra dan putri kembar sang Raja. Oleh karena itu, pada hari sepasaran mereka berdua, Raja mengadakan kenduri yang sangat meriah dan dihadiri oleh seluruh penduduk sebagai bentuk syukur.Saat usia mereka berdua tujuh tahun, koki keraton memergoki Pangeran Kembara diam-diam menyelinap ke dapur dan mencicipi segala jenis bumbu di dalam cawan. Di pipinya ada bercak kemerahan seperti bubuk cabai, ujung jarinya kekuningan kena kunyit, serta di dahinya menempel serpihan daun kemangi kering.Koki pun menghadap sang Raja di singgasananya dan melaporkan semua yang terjadi hari itu. Alih-alih murka, Raja malah memanggil juru bangunan terbaik di kerajaan, dan memintanya membuatkan sebuah dapur kecil di samping dapur utama untuk arena bermain sang Pangeran. Lengkap dengan tungku, peralatan memasak, dan berbagai macam bumbu dapur. Pangeran Kembara sangat antusias karena memiliki dapur miliknya sendiri dan dia menghabiskan banyak waktu di sana, bereksperimen dengan bahan-bahan yang bisa ditemukannya di taman keraton.Sementara itu, penjahit keraton mengeluhkan bahwa Putri Kelana sering bolos pelajaran menjahitnya dan kabur ke lapangan belakang tempat para prajurit raja berlatih. Putri Kelana meminta seorang prajurit untuk membuatkan busur dan panah seukuran tubuhnya yang mungil agar dia bisa ikut latihan. Dengan sangat mengejutkan, anak panah Putri Kelana selalu tepat mengenai sasaran, bahkan meski jaraknya terlampau jauh. Raja yang mendengar hal tersebut dari panglima perangnya, menyatakan jika mulai hari itu Putri Kelana mendapatkan izin untuk berlatih bersama prajurit yang lain. Seketika, para penasihat raja, menteri, bahkan kepala pasukan terkejut mendengar keputusan Raja."Putri Kelana hanyalah anak perempuan berusia tujuh tahun," kata penasihat raja."Saya takut Kanjeng Putri akan terluka dalam latihan yang keras," tambah panglima dengan nada khawatir.Namun, Raja menepis semua pernyataan tersebut dengan mengatakan, "Putri Kelana akan baik-baik saja. Mungkin di dalam darahnya mengalir jiwa seorang pahlawan seperti mendiang raja terdahulu. Maka latihlah ia seperti kalian melatih prajurit yang lain dan biarkan Putri Kelana melakukan hal yang dia sukai."Maka, Putri Kelana pun diizinkan untuk berlatih bela diri dengan menggunakan segala jenis senjata dengan pasukan raja. Permainan pedangnya sangat cekatan dan gesit. Putri Kelana juga ahli silat dengan tangan kosong dan dia berhasil menjatuhkan lawan meski tubuhnya jauh lebih besar. Namun, Putri Kelana paling suka memanah, terutama ketika dia berada di atas pelana kuda sambil mengincar obyek yang bergerak.Sementara itu, Pangeran Kembara yang menyukai dapur kecil barunya, menyajikan menu hidangan penutup untuk sang Raja. Pangeran Kembara menghancurkan dua buah mangga harum manis yang jatuh dari pohon, mencampur dengan susu perah segar di atas api yang menyala kecil, lalu menambahkan larutan tepung sagu untuk mengentalkan adonan.Raja menyukai makanan buatan Pangeran Kembara. Pangeran juga membuat hidangan dari daging ayam yang dihaluskan dan diberi bumbu, lalu dibentuk bola-bola dalam kuah kaldu hangat. Bahkan juru masak istana mengakui kehebatan Pangeran Kembara dalam mengolah bahan makanan. Beliau pun akhirnya mengizinkan Pangeran Kembara untuk masuk dapur istana dan berjanji untuk mengajarkan resep rahasianya pada sang Pangeran.Saat mereka beranjak remaja, Putri Kelana menempati posisi paling atas dalam segala ujian kelayakan prajurit yang diadakan setiap tahun, dan panglima kerajaan memberinya gelar kehormatan sebagai prajurit terbaik. Sedangkan Pangeran Kembara sudah menciptakan banyak menu kreasi baru yang rasanya sangat lezat dan diakui oleh juru masak di penjuru Kerajaan Mangunkarta. Bahkan Pangeran Kembara memiliki beberapa orang anak didik yang mengikutinya setiap saat untuk mempelajari rahasia masakan Pangeran tersebut.Raja sangat bangga dengan prestasi kedua anaknya tersebut, sehingga beliau hendak mengadakan pesta perayaan hari jadi Putri Kelana dan Pangeran Kembara yang ke-16. Raja bahkan mengundang para raja, ratu dan pangeran dari kerajaan lain untuk menghadiri acara tersebut.Seminggu sebelum perayaan tersebut, para undangan mulai berdatangan ke Kerajaan Mangunkarta dengan membawa banyak buah tangan. Mulai dari kain tenun beraneka corak, makanan dan buah-buahan eksotis khas daerah masing-masing, serta hewan ternak atau kereta kuda sebagai hadiah ulang tahun.Raja juga mengadakan pertandingan persahabatan antar kerajaan, mulai dari permainan bola sepak beregu yang dimenangkan oleh Pangeran dari Kerajaan Suramenggala. Lalu permainan-permainan lain seperti memanah yang tentu saja dimenangkan Putri Kelana, serta pertandingan menciptakan hidangan baru dengan bahan yang sudah ditentukan yang dimenangkan oleh Pangeran Kembara.Barulah pada malam perjamuan, Raja Mahmud dari kerajaan di seberang pulau mempertanyakan cara Raja mendidik kedua pangeran dan putri sambil mencibir."Di Kerajaan saya, anak-anak perempuan berdandan cantik dan mereka pandai memasak di dapur. Sedangkan anak laki-laki berlatih pedang dan berjalan dengan gagah berani."Raja yang mendengar sindiran tersebut hanya bisa mengulum senyum. Putri Kelana dan Pangeran Kembara yang duduk mengapit sang Raja saling bertukar pandangan penuh arti."Tetapi belum pernah saya menemukan seseorang yang sangat berbakat dalam memanah seperti Putri Kelana," sanggah panglima kerajaan sambil bersungut-sungut. "Tuan Putri adalah murid terbaik saya di kerajaan ini.""Benar." Raja menganggukkan kepala. "Di kerajaan ini, anak perempuan dan anak laki-laki berhak menentukan apa yang mereka sukai dan apa yang ingin mereka lakukan ketika besar nanti. Semua profesi sama baiknya, asalkan mereka menjalani dengan sepenuh hati.""Apakah Raja tahu betapa beratnya pekerjaan di dapur istana?" koki istana memberanikan diri untuk angkat bicara. "Setiap pagi kami menanak berkarung-karung beras untuk makan seluruh anggota kerajaan termasuk prajurit dan dayang istana. Kami juga harus bertahan menghadapi panasnya tungku seraya mengaduk-aduk makanan agar matang merata. Pangeran Kembara dengan gagah berani menaklukkan semua itu tanpa mengeluh. Ayam goreng lezat yang sedang Anda cicipi itu dimasak langsung oleh Pangeran sendiri."Dengan wajah merah padam, Raja Mahmud tertunduk malu dan pembicaraan di perjamuan berhenti di sana. Keesokan harinya, utusan Raja Mahmud datang untuk menemui Putri Kelana dan Pangeran Kembara dan menyampaikan permintaan maaf sekaligus hadiah untuk mereka. Busur panah dari logam ringan untuk Putri Kelana, dan satu set pisau dapur untuk Pangeran Kembara. Raja Mahmud menyadari kesalahannya dan beliau berjanji sekembalinya ke kerajaan di seberang pulau, beliau akan membebaskan anak-anak perempuan dan laki-laki untuk menjadi apapun yang mereka inginkan.
Biar Nurut
Halilintar sadar, meskipun ia memiliki enam orang adik, yang selalu memanggilnya dengan embel-embel "Kak" tanpa berubah-ubah itu hanya lima orang: Gempa, Blaze, Ice, Duri, dan Solar.Lalu, bagaimana dengan Taufan? Ah, Halilintar bingung bagaimana cara menjawabnya.Taufan itu, selalu punya variasi panggilan yang berbeda untuk Halilintar. Terkadang Taufan akan memanggilnya dengan nama kecil yang Ia miliki: Alin. Namun di beberapa waktu lainnya, Taufan akan memanggilnya dengan panggilan "Kak". Tapi, pada saat-saat yang berbeda, Ia akan memanggil Halilintar dengan panggilan "Bang".Pada awalnya, kebiasaan baru Taufan ini memang membingungkan. Namun, setelah beberapa lama, Halilintar akan menoleh dengan sendirinya kala suara ceria Taufan menyapa indera pendengarannya.Tidak sekali dua kali Halilintar mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana cara Taufan memanggil dirinya. Namun, Halilintar hanya mengedikkan bahunya tak tau, lalu melirik Taufan yang selalu memiliki kesibukan sendiri di sela-sela kegiatan mereka.Bahkan sekarang, saat matahari sedang bersinar terik di langit dan riuhnya suara murid-murid yang sedang mengantri di meja kantin, Halilintar kembali mendapatkan pertanyaan serupa dari sosok gadis berjilbab di depannya, Yaya."Taufan manggil lo itu sebenernya gimana, sih, Li?" tanya Yaya pada Hali sembari mengaduk-aduk es tehnya di atas meja.Hali menghela napas lelah, bosan dengan pertanyaan yang selalu didapatkannya dari orang-orang berbeda setiap hari. Manik merah delimanya melirik Taufan yang saat ini sedang sibuk menyusun puzzle dengan kedua temannya—Fang dan Gopal."Entahlah. Panggilannya berubah tergantung mood," jawab Hali acuh, lalu menghabiskan es cappuccino di hadapannya dengan sekali teguk.Yaya menganggukkan kepalanya paham, lalu merengsek mendekati Ying yang duduk berhadapan dengan Gempa; keduanya sama-sama menghadap buku pelajaran.Hali, yang tidak memiliki kegiatan, kini mengaduk-aduk gelas kosongnya dengan sedotan. Kedua alisnya bertaut, sementara kedua manik delimanya menerawang, mengingat saat Taufan pertama kali memanggilnya dengan panggilan yang berbeda-beda setiap saat."Lin. Alin, woy! Halilintar!"Hali tersentak. Kepalanya menoleh kaku pada Taufan yang kini menatapnya sembari mengelus lembut bahu Halilintar yang baru saja dipukulnya."Kenapa?" Tanya Hali. Kali ini, ekspresi wajahnya sudah kembali seperti semula.Taufan membenarkan posisi duduknya—bersila di atas kursi dengan tubuh menghadap Halilintar. Manik biru safirnya kini berbinar cerah menatap Halilintar."Tadi gue denger Gentar dipanggil Mas sama adeknya."Halilintar menaikkan sebelah alis, menatap Taufan yang kini grasak-grusuk di depannya dengan tatapan bertanya. Sementara Taufan mengulas senyumnya kian lebar menatap Hali."Dia keliatan keren banget waktu dipanggil Mas sama adeknya. Gue juga mau keliatan keren."Alis Halilintar kini bertaut. Apakah adiknya ini meminta Hali untuk memanggilnya Mas ?Sebuah pertanyaan terbesit di benak Hali. Ia lalu menatap Taufan dengan tatapan serius. "Bentar, lo denger Gentar dipanggil Mas sama adiknya di mana?""Waktu adeknya nelpon Gentar."Mata Halilintar kini memicing, menatap Taufan dengan penuh peringatan. "Ayah pernah bilang soal ini, 'kan? Nguping pembicaraan orang di telpon itu gak sopan."Aura menyeramkan kini menguar dari Halilintar, membuat orang-orang di meja itu sontak menoleh ke arah kakak beradik yang sedang duduk berhadapan."Kenapa, Kak?" tanya Gempa. Tubuhnya dibawa mendekati Halilintar yang masih mengeluarkan aura mencekam, lalu menepuk-nepuk bahu Kakaknya pelan.Taufan yang berada di seberangnya terlihat panik. "Enggak, Lin. Gue gak nguping. Gentar sendiri yang nyuruh gue ngangkat telponnya, terus nyalain speaker. Dia lagi ngangkatin kursi pas itu," jelas Taufan, kentara sekali raut panik di wajahnya kala melihat ekspresi tidak bersahabat dari Hali.Halilintar yang mendengar itu menghela, lalu menganggukkan kepalanya. "Jadi, alasan lo mau dipanggil Mas karna apa?""Ya, karna keren. Gentar kayak Mas-Mas Jawa yang sering muncul di TV waktu dipanggil Mas sama adeknya," jelas Taufan. Manik safirnya kembali berbinar menatap Halilintar, lalu beralih menatap Gempa memelas. Gempa yang melihat itu langsung bergidik ngeri melihat tatapan Kakak pertamanya."Gentar kan emang orang Jawa," suara Gopal mengalun, membuat Taufan menoleh ke belakang, menatap Gopal yang ada di belakangnya."Orang Jawa biasanya keren-keren. Lah dia, keren enggak, jamet iya."Mata Gopal melotot dramatis menatap Taufan, lalu menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Gue aduin Gentar, lo ngatain dia jamet."Taufan mengernyitkan dahi kesal, lalu berniat menjawab ucapan Gopal sebelum suara Fang yang berasal dari sebelah Gopal terdengar."Berisik lo pada," ujar Fang tanpa mengalihkan pandangannya dari puzzle di hadapannya. Kali ini, dia menyusun puzzle tersebut dengan bantuan Yaya dan Ying yang entah sejak kapan sudah berpindah posisi.Taufan mendecak kesal, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Halilintar dan Gempa yang sedari tadi memperhatikannya."Kata Bunda, kalo mau adik-adik nurutin apa yang kita mau, kita harus ngasih contohnya dulu ke mereka, biar mereka ngikutin."Manik Taufan menatap Gempa yang masih mendengarkannya dalam diam, lalu beralih kembali pada Halilintar yang kini menatapnya datar."Jadi, gue manggil lo Mas ya, Lin? Biar Gempa nurut manggil gue Mas, " kata Taufan memohon, menatap Hali dengan tatapan memelas, membuat Gempa yang duduk di belakang Hali menutup mulut menahan tawa."Gue gak ikutan, ya, Kak," Gempa mengangkat kedua tangannya, lalu bangkit dari posisinya yang duduk di belakang Hali, dan beralih mengambil tempat di kursi depan Fang.Taufan menatap Gempa yang melarikan diri dengan mata memicing, lalu menoleh ke arah Hali yang masih menatapnya datar."Lo telat kalo mau ngajarinnya sekarang. Kita udah 16 tahun, dan itu gak bakal ngaruh."Taufan mendesah lelah, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi usai mendengar ucapan Hali. Di sisi lain, Gempa diam-diam melirik kedua kakaknya sembari terkekeh kecil.Kedua manik Taufan mengedar ke sekeliling kantin dengan alis berkedut, seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak lama setelahnya, ia kembali menegakkan tubuhnya cepat menghadap Halilintar, membuat Hali yang tadi sedang memainkan ponselnya seketika menoleh."Gue pastiin rencana gue berhasil, liat aja. Hahaha!"Halilintar menggelengkan kepalanya, pasrah dengan apa pun yang akan dilakukan oleh adik pertamanya itu.▵▾▵▾▵▾▵Gempa mengucapkan terima kasih sembari mengulas senyum pada teman-teman OSIS-nya yang satu per satu mulai berjalan keluar dari ruang rapat, kala kegiatan yang dilangsungkan sejak pulang sekolah tadi akhirnya selesai.Biasanya, mereka akan pulang saat bel berbunyi pada pukul 14.50. Namun, di hari-hari tertentu, akan ada beberapa murid yang tinggal di sekolah untuk mengikuti ekskul sekolah, contohnya ekskul OSIS. Dan hari ini, Gempa harus menjadi salah satu murid tersebut.Gempa menghidupkan ponsel di genggamannya, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 16.45. Helaan napas berat terdengar dari sela bibirnya kala menyadari sudah hampir dua jam ia berada di sekolah di luar jam pelajaran.Ditangkinnya tas yang tadi ia sampirkan di sandaran kursi, lalu berjalan menuju pintu keluar—menuju ke parkiran—seraya bersenandung kecil.Manik emasnya sedikit menyipit kala mendapati sosok familiar sedang bersandar pada mobil hitam di parkiran: Halilintar."Kak Hali!" seru Gempa, lalu memacu langkahnya lebih cepat mendekati Hali, yang kini mengantongi ponselnya kala melihat sang adik datang."Udah lama, Kak?""Kurang lebih tujuh menit."Gempa mengangguk, lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi samping kemudi. Hali menyalakan mesin mobil, kemudian mulai mengendarai kendaraan roda empat itu menuju rumah.▵▾▵▾▵▾▵Halilintar membuka pintu rumah perlahan, matanya mengedar menatap ke dalam rumah yang tumben-tumbenan masih sepi. Biasanya, adik-adiknya—terutama Taufan, Blaze, dan Duri—akan berlarian ke sana kemari entah memperebutkan sesuatu, atau menjahili Solar yang sedang belajar. Tapi sore ini, keadaan rumah cukup lenggang."Huh? Kemana orang-orang?" Gempa bertanya, melangkah masuk sembari menoleh ke kiri dan kanan, lalu mulai menjelajahi seisi rumah.Halilintar mengikuti langkah Gempa dari belakang, lalu menoleh ke arah dapur saat mendengar suara cekikikan seseorang."Gem, di dapur." Halilintar meraih tangan Gempa, lalu menariknya ke arah dapur.Keduanya berjalan pelan mendekati dapur yang hanya dibatasi dinding sebagai sekat dengan ruang tamu. Semakin mereka mendekat, semakin jelas pula suara cekikikan seseorang di baliknya."Selamat datang, Mas Hali! Mas Gempa!"Gempa dan Halilintar memasang wajah cengo bersamaan, bingung harus memberi respon seperti apa pada orang-orang di depan mereka saat ini.Taufan, Blaze, Ice, Duri, Solar, Ayah, dan juga Bunda, berdiri sejajar menyambut mereka. Di kedua tangan mereka terdapat masing-masing piring yang berisi makanan berbeda."Ini... kenapa?" Gempa bertanya, menatap satu per satu anggota keluarganya yang masih menatap mereka berdua dengan senyum lebar.Ayah mereka tertawa sejenak, lalu meletakkan piring berisi ikan goreng yang dipegangnya ke atas meja. "Gabut," jawabnya singkat, sebelum duduk di kursi dan mencomot satu ikan goreng dari piring."Hah?""Kata Mas Taufan, ini hari orang Jawa. Jadi, kita semua harus manggil saudara yang lebih tua dengan panggilan Mas, " jelas Duri, matanya berbinar menatap Halilintar dan Gempa sembari bergelayut manja pada lengan Taufan, yang wajahnya sudah merah menahan tawa.Halilintar menatap Taufan, lalu mengusak rambutnya frustasi. "Hari orang Jawa, Kau bilang? Dan Kalian percaya?"Adik-adiknya mengangguk kompak, sementara Hali hanya bisa tersenyum pasrah melihat kepolosan adik-adiknya."Ayah sama Bunda juga percaya?" Gempa menatap kedua orang tuanya bergantian, menanti jawaban.Bunda mereka tertawa kecil. "Jelas enggak. Tapi Taufan ngerengek ke Bunda sama Ayah. Mukanya melas banget tadi, kayak mau nangis," terang Bunda, lalu melirik ke arah Taufan yang kini sibuk menggoda Halilintar.Gempa tersenyum pasrah, lalu menggelengkan kepalanya pelan sembari menarik kursi dan mendudukkan diri di sana."Ayo main," Taufan tiba-tiba berseru."Yang kedapatan ga nyebut saudara yang lebih tua pake sebutan Mas , harus nyuci piring selama seminggu," usul Taufan, membuat Blaze dan Duri berseru semangat."Ah, memang sebaiknya Aku tidur saja.""Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi situasi ini."Ice dan Solar mengeluh bersamaan, sementara Gempa dan Halilintar hanya bisa tersenyum pasrah mendengar usulan aneh lainnya dari kembaran mereka.Dan, ya. Keempat adik mereka benar-benar berusaha memanggil mereka dengan sebutan Mas semalaman, bukan Kak seperti biasanya.▵▾▵▾▵▾▵
Bu Dokter
Derap langkah kaki terdengar jelas melewati lorong sepi sekolah. Ini pukul 7 pagi, lebih tepatnya setengah 8 lewat, yang menandakan jika kegiatan belajar-mengajar telah dimulai.Beberapa kelas terlihat hening dengan penampakan jika penghuninya sedang mencatat atau mengerjakan tugas. Sementara itu, di sisi lain tampak sebagian kelas yang riuh dengan suara murid dan guru yang bersahutan saat kuis sedang berlangsung.Lain di kelas, lain lagi di lorong. Lorong sekolah saat ini sangat lenggang dikarenakan semua murid sudah memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran. Semuanya—kecuali murid dengan tubuh gempal dan jaket hijau—yang kini sedang berlari tunggang-langgang melewati satu per satu kelas di lorong panjang.Semakin cepat kakinya dipacu, semakin terlihat jelas pula sebuah pintu yang terbuka setengah dengan suara teriakan yang bersahutan dari dalamnya. Gopal memacu langkahnya lebih cepat, lalu menggebrak pintu dengan sangat kuat, Ia berdiri dengan napas terengah di tengah pintu.Teman sekelas yang awalnya riuh secara bersamaan langsung menatapnya dengan pandangan bertanya—beberapa bahkan menatap dengan pandangan kesal."Ngapain sih? Abis dikejar bison, lo?" Tanya seorang gadis yang duduk di pojok ruangan bersama beberapa temannya.Gopal melirik sekilas, lalu mengatur napasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari gadis itu. "Ada dokter, anjir. Bawa tas gede. Curiga kita bakal divaksin sekelas buat ngurangin penularan virus rabies," jelas Gopal, mendapatkan delikan tajam dari gadis yang bertanya tadi.Beberapa anak laki-laki dikelas itu meneguk ludah kasar, lalu menatap Gopal takut-takut. "Jangan boong lo. Lo boong, lobang idung lo makin gede ntar."Gopal mengangkat sebelah tangannya, mengacungkan dua jari membentuk peace sign disertai dengan raut wajah seriusnya yang jarang terlihat. "Serius, anjir. Sumpah, ga boong gue. Lo kalo gak percaya, liat aja noh ke ruang TU," jawabnya sungguh-sungguh, membuat murid laki-laki yang berdiri di pojok ruangan semakin pucat.Belum sempat murid lain mengeluarkan suara, tiba-tiba saja terdengar suara guru dan langkah kaki yang berjalan mendekati ruang kelas, membuat mereka semua secara bersamaan menoleh langsung ke arah pintu, menanti siapa yang akan segera muncul dari balik pintu."Lho, kalian kenapa posisinya acak-awur begini? Lagi main drama?" Itu Bu Risa, wali kelas mereka, yang bertanya dengan wajah cantiknya yang senantiasa menampilkan senyum manis.Kelas hening. Tidak ada satupun yang merespons pertanyaan Bu Risa—mereka semua terlalu fokus, hingga ada beberapa siswa yang melongo melihat tiga orang dewasa dengan jas putih dan seseorang yang membawa kotak besar ditangannya.'Anjir, terakhir kali gue suntik pas SD aja sampe kudu diregang Ayah, bangsat.'Bu Risa tertawa kecil melihat reaksi anak muridnya yang tercengang melihat 3 orang dokter yang berdiri sambil mengulas senyum kecil di sampingnya."Pasti udah tau dong ya siapa yang ada di sebelah Ibu ini? Yap, benar! Ini Bu Dokter sama Kakak-Kakak Perawat yang tugasnya meriksa kesehatan kalian-"Click! WHOOSH !Suara jendela, yang kuncinya baru saja dibuka, terdengar dari arah pojok; di susul dengan suara angin yang tiba-tiba berembus kencang memasuki ruang kelas, membuat atensi mereka semua beralih pada jendela yang kini tirai biru mudanya terayun mengikuti tiupan angin.Kelas kembali hening. Mereka menatap jendela yang tiba-tiba terbuka itu dengan pandangan bingung sebelum tiba-tiba seorang murid laki-laki, yang merupakan ketua kelas, tiba-tiba berseru, "Lah, Taufan mana?"▵▾▵▾▵▾▵Suasana kelas Halilintar cukup hening saat ini, hanya suara diskusi dari beberapa murid yang sesekali terdengar dari arah belakang.Kelas mereka sedang tidak ada guru saat ini. Guru mereka hanya datang dan memberikan sedikit catatan, lalu kemudian menutupnya dengan beberapa tugas kelompok dikarenakan beliau sedang ada kesibukan.Halilintar membaca soal di bukunya dengan tenang, sesekali menoleh pada teman satu kelompoknya saat Ia menanyakan pendapat mereka tentang jawaban yang didapatnya.Ting!Atensi Halilintar yang semula fokus pada buku kini teralihkan pada layar HP-nya yang menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan. Ia meraih HP-nya dari atas meja, lalu membaca sekilas nama si pengirim pesan.TaufanLin😭😭😭07.43Halilintar membaca pesan itu dengan alis sedikit berkedut, lalu menggerakkan jarinya untuk mengirimkan balasan pada si pengirim.Kenapa?07.45Pesan yang baru saja dikirimnya itu langsung dilihat oleh Taufan. Tak lama kemudian, muncul gelembung yang menandakan jika seseorang di seberang sana sedang mengetikan balasan.Lin, gua ketemu monster, anjir07.46Bibir Halilintar mengulas senyum tipis, terlampau hapal dengan pikiran aneh adik pertamanya ini. 'Bocah gajelas.'Lin, balas kek, elahh07.46Iya, apa?07.47Gua tadi ketemu monster. Bajunya putih, pake kacamata07.47D-dia bawa rombongan 20 orang di belakangnya. Masing-masing pake baju zirah putih07.47Lin, tolongin gua pliss07.48Halilintar kembali mengernyit, memikirkan sejenak maksud dari perkataan adiknya. Lalu Ia teringat dengan beberapa tenaga medis yang berada di ruang TU saat Ia mengantarkan absen kecil tadi. Tanpa sadar, Ia terkekeh kecil mengingat jika adiknya ini sangat takut pada para tenaga medis.Oh, Bu Dokternya udah sampai sana? Kenapa lo masih bisa main hp?07.48Hah? Udah sampai sini?!07.48Anjir, sia-sia doang gua loncat dari jendela tadi07.48Loncat dari jendela? Tunggu, jadi maksudnya lo lagi gak ada dikelas sekarang?07.49Oh.. itu..07.49Hehehe, gua loncat dari jendela waktu liat rombongannya masuk kelas tadi..07.49Hehehe07.50Hehehehehehe, Lin?07.50Helaan napas berat keluar dari bibir Halilintar, membuat teman-temannya yang sedari tadi mengawasinya saling berpandangan dengan raut bertanya-tanya.Tangannya kembali mengetikan balasan pada Taufan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi selagi menunggu balasan.Di mana?07.51Belakang kelas lo..07.52Halilintar melongo, membaca ulang pesan yang baru saja dikirimkan Taufan.Taufan berada di belakang kelasnya? Benar-benar di belakang kelasnya? Tunggu, bukankah belakang kelasnya itu penuh semak-semak dan sampah dari beberapa murid yang suka membuang sampah sembarangan? Dan Taufan? Sembunyi di sana? Astaga.."Kenapa lo?" Tanya seorang murid laki-laki, membuat Halilintar menoleh ke arahnya dengan raut wajah yang sudah kembali netral.Halilintar memijit pelipisnya sejenak, lalu bangkit dari kursi dan menatap teman satu kelompoknya sejenak. "Adek gue ngulah. Gue izin keluar bentar, ya?"jawab Halilintar, yang langsung diangguki oleh teman-temannya yang sudah dapat menebak siapa adik yang dimaksud Halilintar itu.Halilintar mengulas senyum tipis, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat keluar kelas, berjalan dengan langkah lebar menuju belakang kelasnya.▵▾▵▾▵▾▵Taufan menatap sekelilingnya dengan waspada, sesekali mengusap lengannya yang dirayapi oleh semut karena Ia yang sedang duduk berjongkok dibalik semak-semak."Ah elahh, ini kapan kelarnya, anjir. Kaki gue pegel,"gerutunya kesal.Manik biru safir miliknya yang sedari tadi berpendar ke kiri dan kanan kini memicing kala mendapat sosok berjaket hitam yang berjalan tegap ke arahnya. Lebih tepatnya, mungkin ke arah semak yang ditempatinya saat ini."Fan? Lo di mana?" Panggil suara itu, membuat Taufan diam sesaat, memikirkan harus keluar dari persembunyian atau tidak.'Kalo gue keluar, pasti di seret ke kelas. Tapi kalo ga keluar, kaki gue pegel.'Terlalu lama berdebat dengan pikirannya sendiri, Taufan sampai tidak menyadari jika Halilintar sudah berhasil menyingkirkan semak-semak yang berhasil menyembunyikan tubuhnya tadi."Fan." Panggil Halilintar dengan manik merah delimanya yang menatap datar ke arah Taufan.Taufan menoleh patah-patah ke arahnya, lalu dengan cepat berdiri dan membersihkan seragamnya yang terkena tanah.Manik biru safirnya menatap Halilintar dengan tatapan takut, lalu mengulas cengiran lebar yang terkesan canggung sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal."Hai.. Alin.. Apa kabar?"tanya Taufan, sebelah tangannya melambai dengan kaku ke arah Halilintar.Halilintar mendengus, lalu dengan cepat meraih tangan Taufan dan menariknya menjauh dari semak-semak.Taufan yang tangannya ditarik tiba-tiba sontak memberontak, berusaha melepaskan genggaman Halilintar dari tangannya meskipun percuma."Lin! Jangan seret gue ke ruangan monster itu, anjir! Lo mau gue is det di tusuk mereka pake tombak?" protes Taufan, masih setia menggerakkan tangannya secara brutal di genggaman Halilintar.Halilintar tetap diam, tak peduli dengan pemberontakan sia-sia yang dilakukan adiknya. Ia hanya terus berjalan, mengacuhkan teriakan Taufan."Hali! Jangan seret gue, anjir! Gue bukan kambing!" teriak Taufan lagi. Kali ini matanya memandang Halilintar dengan tatapan memelas.Helaan napas berat lagi-lagi keluar dari bibir Halilintar. Halilintar menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Taufan yang tidak siap pun langsung menabrak punggungnya."Anjing."Halilintar menatap Taufan malas, lalu tanpa aba-aba menggendongnya ala karung beras dan kembali berjalan."Bukan kambing, tapi karung beras." ujarnya santai sembari berjalan keluar dari area belakang kelas.Taufan yang masih kaget pun terdiam, lalu kembali menggelepar di gendongan karung beras Halilintar, minta untuk di turunkan— yang hanya dibalas deheman singkat dari Halilintar.Halilintar terus berjalan menuju kelas Taufan, mengacuhkan teriakan Taufan dan pandangan jenaka dari beberapa murid yang dilewatinya di lorong."Gem, itu kembaran lo gak, sih?" Tanya salah satu murid yang sedang berjalan di tepi lorong pada murid dengan manik emas di sebelahnya. Ia sedikit menahan tawanya kala melihat dua orang yang tidak asing berjalan melewati mereka berdua.Gempa, yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh, melirik ke kiri dan kanan sebelum akhirnya tercengang melihat kelakuan kedua kakaknya yang memang kadang sulit diprediksi.Ia segera menutup wajahnya, merasa malu setelah melihat kedua saudaranya yang telah menghilang di telan pintu kelas paling ujung—kelas kakak keduanya yang menjadi asal muasal kejadian aneh pagi hari ini.▵▾▵▾▵▾▵"Permisi, Bu. Saya bawa pasien yang kabur tadi," ujar Halilintar seraya mengetuk pintu kelas Taufan pelan. Ia membungkukkan tubuhnya sekilas sebelum masuk dan meletakkan Taufan di depan kelas.Taufan yang semula masih terus menggelepar kini terdiam dengan tatapan tajamnya yang ditujukan pada Halilintar— yang saat ini berbalik berbicara dengan wali kelasnya."Terima kasih,ya, Hali. Udah susah-susah bawain pasien Ibu yang kabur aja." Canda Bu Risa.Wali kelas Taufan ini memang masih tergolong cukup muda, jadi selera humornya masih lumayan nyambung dengan murid-muridnya.Halilintar hanya terkekeh kecil, lalu berpamitan untuk keluar kelas sebelum suara salah satu murid menginterupsi pergerakannya."Gue kalo jadi lo sih gak bakal keluar sebelum si Taufan selesai di periksa, Li," celetuk Gopal, membuat Taufan menatapnya dengan tajam.Halilintar kembali terkekeh kecil mendengar ucapan Gopal, "oh iya.. Saya izin jagain pasien Ibu sebentar ya, Bu." Katanya pada Bu Risa.Seketika, suara gelak tawa memenuhi ruangan kelas disertai wajah Taufan yang semakin masam kala Bu Dokter mulai melakukan pemeriksaan padanya setelah puas tertawa.
PUTRI TIRTA WUNGU
"Oalah ... ndableg! Sulit sekali dibilangi. Jelas-jelas dilarang memancing dan memakan ikan dari goa itu, kenapa si Rinto itu masih kekeh, sih? Kan, ngadep Gusti Pangeran sekarang. (Oalah ... bebal !) "Aku mendengar orang-orang mulai bergosip soal kematian Pakde Rinto malam kemarin. Pakde Rinto adalah warga di desa kami, semalam ia ditemukan meninggal setelah mengonsumsi ikan yang ia tangkap di Goa Tirta Wungu. Goa tersebut terletak di desa kami, tepatnya di area hutan selatan, salah satu hutan mistis yang sering dijadikan tempat untuk persembahan. Konon katanya, di hutan itu juga terdapat banyak hewan buas dan hal-hal yang menyeramkan. Ibu selalu menakutiku soal itu." Eee ... mboh Yu, lak yo mesakne anake iseh cilik-cilik kae? Wonge ki ancene ngeyelan, wes dindari karo wong-wong , tapi ora digatek. (Entahlah, Mbak, kan, kasihan dengan anaknya yang masih kecil-kecil. Orangnya memang suka ngeyel, sudah dikasih tahu , tapi tidak dihiraukan.) "Aku memeras kain yang baru saja kucuci. Aku memang sedang berada di kali Wungu untuk mencuci pakaian. Sudah menjadi rutinitas setiap pagi, para warga di desa ini juga melakukan hal yang sama. Desa kami adalah Desa Tirta Wungu, letaknya ada di Pulau Jawa bagian timur. Mayoritas warga di sini bekerja sebagai petani tebu. Dulunya, kami menanam padi, tapi semenjak Pemerintah Hindia Belanda menetapkan sistem tanam paksa, sebagian besar dari petani di sini harus menanam tebu, termasuk bapakku. Memang tidak semua lahan, tapi karena warga desa ingin mendapatkan aman, mereka memilih untuk menjadi petani tebu seutuhnya."Muning, enggak pulang, toh , Nduk? Sudah siang ini, loh." Yu Sari membuat pemikiranku buyar, aku lalu mendongak, melihat wajahnya yang sudah dipenuhi keriput di sudut-sudut matanya."Bentar lagi, Yu. Aku masih ada sisa satu kain lagi."" Yowes, Nduk, tapi jangan lama-lama, loh, ya, cepat pulang. Keburu ada kompeni lewat," katanya seraya khawatir."Iya, Yu. Duluan saja.""Hmm, aku pulang dulu, yo. Salam kanggo ibumu.""Iya, Yu Sari."Sepeninggal Yu Sari, aku buru-buru menyelesaikan sisa cucian yang belum selesai. Yang dibilang Yu Sari memang ada benarnya, para pegawai Pemerintah Hindia Belanda itu sering datang ke desa kami, lalu biasanya akan mengambil beberapa gadis untuk dijadikan pasangan. Biasanya, mereka akan dipanggil Nyai. Anak-anaknya akan menjadi peranakan Indo-Belanda dan sebagian dari mereka selalu merasa tinggi derajatnya dibanding kami para kaum pribumi. Walau sejatinya, para Belanda Totok tidak pernah mengakui mereka sebagai kaum Eropa.Oh, perkenalkan ... aku adalah Kemuning. Hanya Kemuning, tidak ada nama panjang. Biasanya, orang-orang akan memanggilku Muning atau Ning. Tahun ini aku berusia lima belas tahun. Di Desa Tirta Wungu, anak-anak seusiaku sudah banyak yang menikah, termasuk teman baikku—Arum. Ia dijadikan pasangan oleh seorang pegawai Pemerintah Hindia-Belanda dan dibawa ke kota. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu bagaimana kabarnya, hubungannya dengan keluarga juga telah diputus. Arum dianggap telah mati sejak hari itu. Memang begitu kenyataannya, terdengar menyedihkan bukan?"Ayo, pulang. Bantu Ibu masak," ibuku berteriak dari tepi kali."Iya, Bu. Sebentar."Aku mengambil bakul yang kujadikan tempat untuk menampung beberapa pakaian yang kucuci, lalu berjalan mendekati Ibu yang sudah menunggu."Bu, tadi aku mendengar soal Goa Tirta Wungu. Aku jadi penasaran, kenapa ikan-ikan di goa itu tidak boleh dimakan?"Ibu menghela napasnya, kami berjalan bersisian, menyusuri jalanan yang dipenuhi lumpur sehabis hujan semalaman suntuk. Ibu hanya diam, belum menjawab pertanyaanku, sementara itu beberapa orang yang bersinggungan dengan kami, melempar senyum atau sekadar menyapa."Kau mau tahu ceritanya?"Aku mengangguk dengan antusias. Sudah lama sekali aku penasaran, tapi setiap kali kutanya pada Ibu dan Bapak, mereka selalu bungkam. Tidak pernah mau menjawab atau bercerita soal Goa Tirta Wungu."Nanti akan Ibu ceritakan, setelah kau membantu Ibu memasak. Bagaimana?""Ayo, segera memasak kalau begitu, aku tidak sabar." Aku sangat antusias dan segera mempercepat langkah kakiku, mendahului Ibu.***Tirta Wungu Sekartadji berlari tak tentu arah, gadis hampir berusia lima belas tahun itu lari tunggang langgang saat dikejar oleh prajurit kerajaan. Putri Tirta Wungu terancam hukuman penjara oleh ayahnya sendiri. Ibu tirinya, Kanjeng Ratu Batari Dewi telah melemparkan fitnah keji padanya. Tirta Wungu dituduh telah membunuh adik tirinya sendiri, anak dari Ratu Batari, padahal kala itu Tirta Wungu hanya mencoba menyelamatkan adiknya Pangeran Seno Adhiyaksa yang tergelincir ke jurang saat mereka tengah bermain bersama.Napas sang putri hampir putus rasanya, ia masuk ke tengah-tengah hutan belantara yang jarang terjangkau oleh penduduk sekitar. Tirta Wungu tidak tahu apakah ia bisa selamat setelah ini, yang ada di pikirannya hanya lari dan mencari keselamatan."Tirta ... berhentilah di depan batu besar itu. Berdiam diri di sana, Ibu akan menolongmu."Suara itu ... Tirta Wungu tidak asing dengan suara-suara yang terus menghantui isi kepalanya. Suara itu sering ia dengar saat ia sedang terdesak karena sesuatu, atau saat ia sedang bermuram durja. Tirta Wungu tidak tahu siapa pemilik suara yang selalu memanggil dirinya ibu. Apakah benar itu ibunya? Tapi ... mana mungkin? Bukankah ibunya sudah meninggal sejak ia lahir ke dunia?"Tirta Wungu, segera ... cepatlah."Bisikan itu lagi. Tirta Wungu merasa tidak punya pilihan, gadis itu mempercepat langkahnya dengan sisa tenaga yang ada. Menuruti perintah dari suara tanpa tuan yang mampir di indra pendengarannya, Tirta Wungu lalu berhenti di sebuah batu besar yang ada di depannya. Batu itu tampak seperti batu biasa, dipenuhi lumut berwarna hijau kekuningan, ada beberapa semak belukar di sisi bawahnya. Tirta Wungu memejamkan matanya sejenak, ia mengumpulkan sisa kekuatan yang ada, tubuhnya gemetaran, Tirta Wungu sangat takut bahwa ini hari terakhir ia hidup."Tirta ... bukalah matamu, Nak."Tirta Wungu terkejut bukan main, ketika ia membuka mata, gadis itu menemukan sosok wanita berbaju biru tua tengah tersenyum padanya. Wanita itu sangat cantik, matanya berbinar-binar, dengan bibir semerah darah yang tampak alami. Selendang berwarna senada membalut tubuhnya yang semampai. Tirta Wungu tidak pernah menemui wanita secantik sosok yang ada di depannya ini. Aromanya juga sangat harum, wangi, dan segar seperti tetesan air di atas tanah kering."Si—siapa? Aku di mana?"Wanita itu tersenyum, membuat Tirta Wungu sedikit tenang. "Perkenalkan Tirta Wungu, aku adalah Dewi Anahita, ibumu.""Bagaimana bisa? Ibuku sudah meninggal." Tirta Wungu tersentak, ia benar-benar terkejut dengan kehadiran wanita yang mengaku ibunya itu."Aku masih hidup anakku, aku mengawasimu dari jauh. Jika kau mendengar suara-suara yang ada di kepalamu, itu adalah aku.""Lalu kenapa Ayah bilang ibuku sudah meninggal?"Dewi Anahita tersenyum, ia berjalan mendekat, mengelus rambut panjang milik Putri Tirta Wungu yang tampak berantakan karena tadi berkejaran dengan prajurit istana."Aku dan ayahmu, Baginda Raja Sri Adji Bratawirya, bertemu saat beliau melakukan pertapaan di salah satu pantai di daerah selatan. Aku adalah salah satu dari pemilik kerajaan di pantai selatan. Di sana ada banyak kerajaan, termasuk kerajaanku. Singkatnya, kami jatuh cinta dan memutuskan untuk bersama, hingga akhirnya kau terlahir."Tirta Wungu terdiam, ia berusaha mencerna perkataan Dewi Anahita. "Kau serius? Masih sulit kupercaya.""Kau boleh saja tidak percaya, tetapi di dalam dirimu tersimpan kekuatan yang hebat, yang mungkin akan kau lihat sebentar lagi. Kau adalah anakku, Tirta Wungu Sekartadji.""Lalu kenapa I—bu meninggalkanku?"Ada senyum sedih yang menghiasi wajah sang Dewi. Wanita itu tampak menarik napasnya sebelum melanjutkan perkataannya, "Ibu terpaksa, sang Penguasa Alam Semesta tidak menghendaki manusia biasa seperti ayahmu dan Ratu dari Kerajaan Pantai Selatan sepertiku untuk bersama dan aku juga tidak bisa membawamu karena saat itu kau masih manusia biasa. Nanti, di usia lima belas tahun, kau bisa memilih untuk menjadi sepertiku atau tetap menjadi manusia biasa seperti ayahmu.""Maksud Ibu, aku punya pilihan untuk itu?""Iya, anakku. Kau Tirta Wungu, terlahir saat ombak sedang besar di lautan, saat badai sedang menghantam bumi dan saat bulan sedang terang di atas langit. Kau adalah sumber kekuatan besar, terlalu banyak orang yang mengancam, sehingga selama ini aku dan ayahmu harus menyembunyikanmu, Nak."Tirta Wungu tertunduk menyedihkan, ia menekuri tanah berbatu yang sedang ia pijak, tak sadar bahwa dirinya saat ini ada di dalam sebuah goa yang indah. Goa yang dipenuhi oleh ukiran-ukiran bebatuan cantik yang membentuk seperti selendang yang panjang."Tapi, kenapa Ayah ingin membunuhku sekarang?"Dewi Anahita tersenyum tipis, ia menggenggam tangan Tirta Wungu erat. "Anakku, manusia biasa tidak akan pernah bisa benar-benar bijak. Seperti ayahmu, beliau mengingkari janjinya pada Ibu untuk menjagamu. Ayahmu berubah, ia lupa untuk bersyukur dan tidak lagi memedulikanmu, kekuasaan jugalah yang membuatnya berubah.""Lalu, apa yang harus kulakukan?""Tirta, kau tunggulah di sini. Ibu akan menyediakan banyak makanan dan keperluan untuk kehidupanmu sampai kau berusia lima belas tahun, hanya tinggal beberapa waktu. Tidak akan lama. Setelah itu, ikutlah Ibu pulang ke istana Ibu. Ibu yang akan merawatmu, Anakku.""Tapi, aku tidak berani di sini sendiri Ibu. Lihatlah tempat ini."Dewi Anahita tertawa pelan. "Ibu akan mengirimkan satu dayang untuk bersamamu, tapi ingat, jangan biarkan banyak orang melihatnya, atau ia akan menghilang.""Sungguh?"Dewi Anahita mengangguk. "Tentu. Ibu akan pastikan itu.""Dan ... goa ini?""Goa ini akan menghubungkanmu dengan istana Ibu, goa ini sangat panjang dan besar, Tirta. Ini semua milik Ibu, kau tidak perlu khawatir.""Baiklah, aku akan menuruti perkataan Ibu.""Ibu tahu kau anak yang baik."***Hari berganti hari, awalnya Tirta Wungu cukup sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan goa yang lembab. Namun, kini ia mulai terbiasa. Apalagi keberadaan Dayang Winarsih sangat membantu, Tirta Wungu merasa lebih damai hidup di dalam goa ini ketimbang saat ia berada di istana. Karena jujur saja, keberadaannya memang tidak disukai oleh ibu tirinya."Dayang Winarsih, aku akan berjalan-jalan sebentar. Kau tunggulah di sini.""Tapi Putri Tirta, hamba ditugaskan menjaga Anda, dan hamba harus mengikuti Anda ke mana pun Anda pergi.""Tidak, hanya sebentar. Aku ingin mencari beberapa buah untuk kumakan, hanya di sekitar goa ini, tidak akan lama. Aku akan marah kalau kau mengikutiku," Tirta Wungu mengancam, membuat Dayang Winarsih mau tak mau menurutinya."Baiklah, Putri."Tirta Wungu lalu berjalan, meninggalkan goa itu sambil tersenyum lebar. Ia sudah tahu cara keluar dari goa, setelah Dewi Anihita memberitahu caranya. Mata sang putri menelusuri beberapa pepohonan, mencari keberadaan buah-buah liar yang tumbuh di sekitar goa. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara-suara berisik yang membuatnya waspada. Suara tangisan seseorang, tidak salah lagi. Ia lalu mencari sumber suara itu."Hei, kenapa kau di sini?" panggilnya pada seorang gadis seusia dirinya, Tirta Wungu menemukan gadis itu sedang berlari ketakutan."Siapa kau?""Aku Tirta, kau sedang apa di sini?""Aku tersesat, aku sedang mencari buah-buahan dan tersesat sampai ke dalam hutan ini karena tadi aku melihat burung yang sangat cantik masuk ke dalam hutan.""Aku tahu jalan keluar, kau mau kuantar?" Tirta Wungu menawarkan bantuan."Kau bersungguh-sungguh?""Ya, tapi siapa namamu?""Nara, panggil aku Nara.""Baiklah, Nara ... apa kau lapar?"Nara menunduk malu, sejujurnya ia sangat kelaparan, sejak tadi pagi ia belum makan. "Hm, iya.""Kau mau mampir ke rumahku?""Rumah?""Ya, kau akan tahu.""Baiklah kalau kau tidak keberatan."Tirta Wungu tersenyum lebar lalu mempersilakan Nara untuk masuk ke dalam goanya, sambil menceritakan sedikit mengenai dirinya yang seorang putri raja. Entah mengapa, Tirta sangat percaya pada Nara, padahal baru saja mereka bertemu."Jadi, kau adalah sang putri yang hilang?""Ya, tapi kumohon, jangan ceritakan pada siapa pun bahwa aku ada di sini."Nara menggeleng yakin. "Tidak, aku akan menjaga keberadaanmu. Jangan khawatir."Tirta tersenyum lebar, ia merasa senang dengan keberadaan Nara karena memang ia sudah merasa sangat kesepian beberapa bulan ini."Putri Tirta, berhati-hatilah terhadap orang asing," nasihat Dayang Winarsih saat ia melihat keakraban Tirta dan Nara."Aku percaya pada Nara, jangan khawatir.""Hamba hanya takut akan ada hal yang membahayakan Anda, Putri.""Kau, tenanglah, Dayang. Dan, kau Nara ... kau bisa main ke sini kalau kau mau, aku akan dengan hati menerimamu, lalu ... oh ya, bawalah makanan ini untuk keluargamu."Nara memandang Putri Tirta dengan penuh haru, gadis berpakaian sederhana itu tak pernah mendapatkan kebaikan sebanyak yang Putri Tirta berikan. "Terima kasih, Putri. Ibuku memang sedang sakit dan aku tadi mencarikannya buah-buahan untuk ia makan. Terima kasih atas kebaikan hatimu.""Tidak masalah, sekarang ... pulanglah sebelum petang. Mari kutunjukkan arahnya."Nara bangkit dari duduknya, gadis itu mengucapkan terima kasih kepada Putri Tirta dan Dayang Winarsih karena mau menyelamatkannya. Nara berjanji akan menjaga rahasia sang putri rapat-rapat.***Sejak saat itu, Nara dan Putri Tirta sering bertemu. Tiga hari sekali mereka akan bermain bersama di sekitar goa dan sampai saat ini Putri Tirta masih aman, ia masih belum ditemukan oleh pasukan kerajaan. Nara menjaga rahasianya dengan baik. Meski sebenarnya sang putri sedih karena beberapa hari lagi ia akan berusia lima belas tahun dan harus meninggalkan goa itu untuk pergi ke istana Dewi Anahita."Penyakit Ibu semakin parah, tapi aku tidak punya uang untuk pergi ke tabib," Nara bermonolog, ia bingung bagaimana harus mengobati ibunya."Nara, kau tahu ... ada sayembara untuk mencari keberadaan sang putri. Dan yang mengetahuinya, akan diberi satu peti emas sebagai imbalan. Bagaimana kalau kita ikut? Kau bisa mengobati ibumu dan aku bisa membeli pakaian bagus untukku." Kenanga—temannya memberi tahu Nara mengenai sayembara yang dilakukan oleh pihak istana."Tapi, bagaimana caranya? Mencari sang putri? Terdengar mustahil," kata Nara mengelak, meski ia mengetahui keberadaan Putri Tirta."Ayolah Nara, kita usahakan saja dulu.""Hmmm ... akan kupikirkan." Nara menarik napasnya sedih. Haruskah ia mengkhianati persahabatannya dengan Putri Tirta? Namun, ibunya juga membutuhkan pertolongan.Nara terus memikirkan soal sayembara itu, ia bimbang antara mengingkari janjinya pada sang putri atau menyelamatkan ibunya. Namun, Nara hanya manusia biasa, ia tidak bisa terus menerus melihat ibunya menderita. Nara menghela napasnya berat. Keputusan sudah ia ambil, Nara tidak memiliki pilihan lain. Hari itu juga, ia pergi ke istana, melaporkan pada prajurit istana tentang keberadaan sang putri yang bersembunyi di dalam goa. Berulang kali, Nara meminta maaf pada sang putri dalam hati, berharap sang putri bisa memberi pemakluman padannya."Kau yakin, di ada di sana?""Ya, tentu saja," kata Nara yakin."Tapi di sana hanya batu biasa," kata salah seorang prajurit tidak percaya dengan perkataan Nara."Kau tunggulah di sini, aku akan memanggilnya.""Awas kalau kau berbohong.""Tidak, percayalah padaku."Nara lalu berjalan menuju goa, ia bahkan sudah tahu cara masuk ke dalam goa karena Putri Tirta telah memberitahunya. Berkali-kali Nara harus menghela napasnya, saat bertemu sang putri, Nara merasa sangat bersalah."Nara, aku merindukanmu.""Aku juga, Putri."Putri Tirta tersenyum. "Ayo, kita bermain lagi.""Bagaimana kalau kita mencari pisang?" Nara memberi penawaran dan Putri Tirta mengangguk dengan antusias.Mereka lalu memutuskan untuk keluar dari dalam goa, dan saat itulah pasukan prajurit telah mengepung sang putri yang tampak terkejut, tidak menyangka bahwa ia akan tertangkap."Nara ...," lirihnya pelan."Maafkan aku, Putri. Ibuku sedang sakit dan aku membutuhkan biaya untuk pengobatan.""Apa, Nara? Kau bahkan tidak pernah meminta bantuanku, padahal kita adalah teman.""Maafkan aku, Putri, sekali lagi maafkan aku.""Kau mengkhianatiku! Dayang Winarsih," teriak sang putri membuat Dayang Winarsih datang tergopoh-gopoh dengan wajah paniknya."Sampaikan pada Ibu bahwa aku menyayanginya. Maaf sudah tidak mempercayai perkataanmu.""Putri, hamba akan meminta bantuan pada Kanjeng Dewi.""Tidak perlu, ini adalah risiko yang harus kuterima.""Diamlah, Putri, mari ikut kami ke istana, Raja akan segera memberikan hukuman pada Anda karena Anda telah membunuh Putra Mahkota."Hati Putri Tirta terasa perih, fitnah dan pengkhianatan telah terlampau keji untuknya. Dayang Winarsih tiba-tiba menghilang, Putri Tirta hanya pasrah, meski kemarahan dan rasa sakit hati terasa sesak memenuhinya. Teringat perkataan Dewi Anahita tempo hari tentang keberadaan Dayang Winarsih."Ibunda Ratu telah memfitnahku, Ayahanda tidak lagi menyayangiku, dan sahabatku juga melakukan hal yang sama. Bukankah dunia ini tidak adil?" Putri Tirta berteriak kencang.Ia marah pada ayahnya, pada sang ibu tiri, ia juga kecewa pada Nara. Rasa amarah dan dendam itu menyelimuti dirinya, membuat hawa panas mulai terasa. Sang Putri lalu berteriak kencang, otot-otot tubuhnya mengencang, rambutnya tiba-tiba bertambah panjang, menjadi warna perak yang berkilau, pakaian yang ia kenakan menjadi warna ungu yang berpendar-pendar. Sang Putri telah kehilangan kendali.Angin kencang melanda hutan dan kerajaan ayahnya, memorakporandakan bangunan. Air dari lautan tiba-tiba menenggelamkan daratan di sekitar. Nara, para prajurit, dan penghuni istana telah tenggelam. Kecuali goa itu, hanya goa itu yang terselamatkan. Goa tempatnya berlindung selama ini, tempat paling aman yang bisa dijangkau oleh sang putri."Kalian akan menerima akibat karena telah melakukan kejahatan, aku bersumpah, barang siapa yang mengambil apa pun dari dalam goa itu, ia akan celaka."Angin menerbangkan tubuh sang putri ke dalam goa. Putri Tirta menghilang dan tidak lagi ditemukan oleh siapa pun. Sejak saat itu, goa tempat sang putri mengalirkan air hingga membentuk sungai sepanjang area hutan dan kerajaan. Sungai itu kemudian dikenal dengan nama Sungai Wungu dan Goa itu dinamai sesuai nama sang putri, Goa Tirta Wungu yang sangat cantik dan indah.***"Jadi, begitu ceritanya?" aku bertanya pada Ibu yang baru saja menyelesaikan ceritanya soal Putri Tirta Wungu."Ya, sejak saat itu sang putri dipercaya moksa di dalam goa. Kau harus bisa mengambil pelajaran dari itu semua. Jangan mengingkari janji dan tamak, Anakku."Aku tersenyum lebar lalu menggeleng. "Tidak akan, Ibu. Aku tidak akan menjadi seperti Nara.""Bagus. Sejujurnya, sebelum hamil kamu, Ibu pernah bertemu dengan sosok yang sangat cantik di hutan selatan sana, katanya ... ia bernama Putri Tirta Wungu Sekartadji. Setelah itu, Ibu memilikimu. Kata Mbah Buyutmu, kau adalah titisan sang putri.""Benarkah?""Ya, mungkin saja. Jadilah anak yang suka menolong seperti sang putri, tapi ingat jangan jadi pendendam. Kau harus bisa memaafkan dengan mudah."Aku mengangguk, adat di tempatku memang masih mempercayai hal-hal seperti itu dan aku mencintai budayaku. Aku berjanji akan menjadi anak yang baik, berbakti pada Ibu dan Bapak tanpa harus mengorbankan orang lain, seperti yang Nara lakukan. Untuk Putri Tirta, aku berharap bahwa Putri Tirta bisa bahagia di mana pun ia berada saat ini."Ayo, masuk ke dalam rumah!" Ibu memerintahku untuk masuk."Ya, Bu. Sebentar lagi," balasku.Tiba-tiba ada angin sepoi-sepoi yang membelai tubuhku dan aroma yang harum menyeruak memasuki hidungku. Di ujung pepohonan, aku melihat sosok cantik yang memakai pakaian berwarna ungu, tersenyum manis padaku sambil melambaikan tangan. Benarkah itu Putri Tirta Wungu Sekartadji?
REMY DAN BURUNG GAGAK
Remy hanyalah sebutir biji jagung di ladang petani. Dia tinggal dalam bonggol jagung tua yang mulai keras dan mengering di bawah sinar matahari. Semua saudaranya sudah pasrah karena ketinggalan dipanen. Mungkin Pak Tani yang sudah tua, lupa memakai kacamatanya ketika memetik jagung minggu lalu sehingga bonggol jagung itu terlewatkan oleh matanya yang renta.Jagung yang terlalu tua sudah tidak enak dimakan dan tidak akan laku di pasar. Padahal Pak Tani sudah merawat mereka sampai gemuk dan Remy yakin kalau rasa mereka manis dan legit."Sayang sekali, padahal kita enak dibuat jagung rebus.""Atau sayur asem.""Nasi jagung juga sedap."Para biji jagung lain mengeluh. Mereka semakin keras dan berubah kecokelatan.Tidak lama lagi, mungkin musang atau babi hutan akan mengendus dan menggigit mereka. Para biji jagung itu pun akan singgah di perut para hewan yang lapar.Namun, Remy tidak suka. Walau dia hanya sebutir biji jagung yang kecil, dia merasa bisa melakukan hal yang lebih besar. Dia sudah dirawat sepenuh hati oleh Pak Tani dan akan terasa sangat lezat di piring makan para manusia. Kenapa dia harus terlupakan?Seekor anjing penjaga ladang tampak berjalan mendekati pohon jagung tempat Remy tinggal dan mengendusnya."Makan kami! Makan kami!" Para biji jagung itu berkata. Jagung dan tanaman lainnya adalah makhluk hidup dan sesekali berbicara dengan sesamanya. Sayangnya, tidak ada yang bisa mendengar mereka.Anjing ladang itu hanya mengangkat telinganya dan mengabaikan pohon jagung itu."Ah, dia pergi.""Mungkin anjing tidak makan jagung.""Bagaimana ini? Kalau kita sudah semakin tua tidak akan ada yang mau memakan kita."Para biji jagung itu mulai bersedih. Kalau mereka tidak dimakan dan disia-siakan maka mereka akan sangat bersedih. Mereka butuh waktu berbulan-bulan untuk tumbuh di ladang Pak Tani dan tidak mau jadi makanan yang terbuang.Semua makanan seperti jagung dan nasi akan menangis kalau mereka tidak dihabiskan. Mereka tahu kalau banyak orang kelaparan di Afrika dan negara lainnya. Sebutir nasi dan biji jagung saja sangat berharga bagi perut anak yang kelaparan. Namun, kenapa masih banyak anak yang suka membuang makanan? Para anak yang baik seharusnya ambil makanan secukupnya dan habiskan isi piringnya.Remy dan para biji jagung lainnya kini melihat lagi. Ada terwelu yang mengintai mereka. Dia biasanya suka jagung."Makan kami! Ayo makan kami!"Sayangnya, si terwelu merasa pohon jagung Remy terlalu tinggi dan dia pun pergi.Remy dan para biji jagung semakin gelisah. Tangkai mereka akan mengering dan menjatuhkan bonggolnya ke tanah. Kalau hujan turun, mereka bisa membusuk. Kalau cuaca terik, mereka bisa mengering dan menjadi sangat keras untuk bisa dikunyah.Menjadi busuk dan terbuang adalah mimpi buruk setiap makanan.Kemudian mereka mendengar suara keras dari langit. Ada beberapa ekor gagak terbang berputar mencari apa pun yang tersisa di ladang."Makan kami! Makan kami!" Para biji jagung itu berharap.Salah seekor gagak terbang ke arah mereka dan mulai mematuki bonggol jagungnya. Dia makan dengan lahap sebutir demi sebutir dengan suka cita.Para biji jagung itu senang karena bisa bermanfaat mengenyangkan perut gagak yang lapar. Burung gagak itu pun sudah kenyang dan menyisakan Remy. Dia pun akan terbang kembali. Remy tidak suka ini. Dia akan menjadi satu-satunya biji jagung yang terlupakan dan dibuang?"Hei! Makan aku! Kenapa kau sisakan aku?" teriak Remy putus asa.Di luar dugaan, burung gagak itu seperti mendengarnya dan batal terbang."Apa biji jagung ini bicara padaku?" tanyanya bingung."Aku Remy dan aku minta padamu untuk memakanku," katanya."Tapi aku sudah kenyang dan kamu tampak berbeda. Kamu lebih tua dan keras, selain itu warnamu lebih coklat dari yang lain. Kamu tidak akan enak dimakan," si gagak beralasan."Tapi kamu tidak boleh membuangku, aku harus dimakan atau aku akan sangat bersedih karena menjadi biji jagung yang mubazir." Remy menangis."Kasihan, baiklah aku akan membantumu. Mungkin gagak lain bersedia memakanmu."Sang gagak berkaok, kemudian memetik Remy dari bonggolnya dengan paruh kuatnya. Dia lalu mengepakkan sayap hitamnya yang indah dan pergi ke angkasa.Si gagak bertengger di sebuah atap rumah di mana banyak gagak lain bertengger."Hei! Apa ada yang lapar? Aku membawa biji jagung untuk kalian." Gagak itu menawarkan dan meletakkan biji jagung itu di antara mereka."Biji jagung ini sudah terlalu tua!""Paruhku tidak akan kuat memakannya.""Perutku bisa sakit karenanya."Para gagak itu menolak. Remy semakin bersedih. Apakah sudah terlambat baginya? Apakah dia ditakdirkan menjadi biji jagung yang terbuang?Si gagak memungut Remy lagi dan kembali terbang ke angkasa."Jangan cemas, aku akan mencari hewan lain yang mau memakanmu."Remy merasakan angin yang sejuk di sekitarnya. Dia bisa melihat ladang dari langit. Sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Remy bersemangat. Desa ini sangat luas. Pasti ada yang mau memakannya.Si gagak memasuki bangunan mirip gudang dan mematuk pagarnya untuk memberitahu keberadaannya.Remy melihat sekumpulan domba sedang merumput dan mengembik."Ada yang lapar? Aku bawa sebutir jagung untuk kalian," kata si gagak."Jagung? Aku tidak akan kenyang dengan hanya sebutir," kata seekor domba yang berbulu putih."Kami biasa makan jagung dengan bonggolnya. Biji ini akan menyangkut di gigi kami dan mengganggu hari kami." Domba lain pun menolak.Remy bersedih lagi, bahkan para domba itu menolaknya. Dia merasa putus asa dan ingin menyerah saja, tapi gagak itu merasa tertantang dan masih bersemangat untuk membantunya."Tidak usah cemas, aku akan mencari hewan lain untuk memakanmu," gagak itu berkata."Aku akan memastikan mereka menelanmu sebelum aku pergi." Dia meyakinkan Remy lagi.Burung gagak yang cantik itu terbang kembali ke angkasa. Dia berputar-putar ceria untuk menghibur si jagung yang bersedih."Pasti menyenangkan ya terlahir sebagai burung.""Kenapa?""Kau bisa terbang bebas dan melihat pemandangan indah setiap harinya. Sementara aku hanya berdiam di bonggolku dan berharap seseorang akan memakanku," Remy berkata muram."Tidak perlu bersedih, setiap makhluk hidup terlahir dengan tujuan mulia. Kalian para jagung berjasa untuk mengenyangkan perut kami dan memberi kami tenaga untuk bekerja.""Tapi kalau aku menjadi gagak—" Remy ingin membantah."Jadi gagak juga tidak selalu enak.""Kenapa?"Dor!Suara tembakan senapan angin terdengar. Remy memekik kaget dan sang gagak terbang panik menjauh. Hampir saja tembakan itu mengenai sayapnya. Si gagak bersembunyi ke balik daun pohon yang rimbun menunggu aman."Lihat, kan, sekarang? Menjadi gagak juga tidak selalu enak. Kami dianggap hama dan sesekali para manusia akan memburu kami dengan senapan atau racun," kata si gagak.Dua makhluk itu melihat langit berubah kemerahan pertanda hampir waktunya petang."Pada jam ini, para istri petani akan memasak makan malam," kata si gagak."Kenapa memangnya?""Aku punya rencana. Ayo, ikut aku!"Si gagak memungut Remy lagi dan terbang ke rumah Pak Tani.Di sana mereka melihat Pak Tani duduk di teras dengan memakai sarung sambil memakan singkong rebus dan membaca koran. Ada segelas kopi di dekatnya yang masih mengepulkan asap.Si gagak terbang diam-diam ke jendela dapur. Dia bisa melihat kalau istri Pak Tani sudah menggoreng tempe dan sedang mencuci lalapan. Ada aroma sambal terasi yang digoreng serta ikan asin yang sedap.Burung gagak itu menyelinap ke dapur dan diam-diam bersembunyi di balik rak piring. Dia mencoba tidak bersuara dan berhati-hati karena Bu Tani bisa saja kaget melihatnya dan memukulnya dengan cobek.Si gagak menaruh Remy diam-diam di Periuk nasi. Istri Pak Tani sudah menakar beras dan akan mencucinya. Si gagak berpikir kalau sebutir jagung itu akan lolos dan dimasak bersama nasi dan dimakan bersama keluarga Pak Tani.Istri Pak Tani yang sudah selesai masak lauk kini mau mengolah nasinya. Dia menyalakan air keran dan mulai mencuci berasnya sambil bersenandung. Dia mengaduk berasnya dan membuang airnya lalu menyiramnya dengan air lagi. Dia melakukannya berulang kali sampai airnya tidak lagi terlalu keruh."Apa ini? Kenapa bisa ada biji jagung di periuk nasiku?" keluh istri Pak Tani.Remy ketahuan!Istri Pak Tani melempar Remy si biji jagung yang sudah basah keluar jendela.Si gagak bersuara prihatin mengetahui Remy lagi-lagi ditolak. Dia gagal mengisi perut keluarga petani. Dia merasa sial dan tidak berguna.Biji jagung itu menangis."Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk dimakan," keluhnya."Jangan bersedih, masih ada waktu.""Kau tidak lihat? Tubuhku sudah basah dan aku akan membusuk esok pagi," Remy mengeluh."Tidak! Tidak! Aku sudah berjanji padamu, aku tidak akan membiarkanmu membusuk," kata si gagak tegas dan sekali lagi memungut Remy dan terbang ke langit."Mau ke mana?""Tidak ada yang mau memakanmu karena kamu sudah terlalu tua dan keras, tapi aku pernah melihat biji jagung sepertimu di kantong Pak Tani. Aku pernah melihat Pak Tani melakukannya, mungkin itu akan membuatmu kembali empuk dan enak dimakan," si gagak bercerita."Maksudnya apa?""Apakah kamu percaya padaku?" tanya si gagak."Kamu sudah membantuku sampai sini, aku akan terus mempercayaimu, Tuan Gagak," sahut Remy tulus."Baiklah, ini tempatnya. Tanahnya gembur seperti ladang Pak Tani. Aku akan menggali di sini."Gagak dan Remy tiba di pekarangan rumah seseorang. Si gagak meletakkan Remy dan mulai menggali lubang dengan paruhnya. Dia lalu memasukkan Remy ke dalamnya."Pak Tani melakukan ini pada biji-biji jagung yang tua. Mungkin ini akan membuatmu kembali enak dan empuk."Gagak adalah burung yang cerdas. Malah dia katanya bisa berhitung karena itu si gagak bisa meniru apa yang dilakukan oleh Pak Tani. Gagak menanam Remy di bawah tanah yang subur kemudian menyiramnya dengan air yang dibawanya menggunakan gelas plastik yang ditemukannya di tempat sampah.Remy hanya melihat kegelapan di sekitarnya. Rasanya hangat dan sesekali dia merasa dingin pada tubuhnya. Dia tahu kalau si gagak selalu berkunjung setiap harinya untuk menyiram tanahnya. Dia bersyukur punya teman seperti sang gagak yang tidak ingkar pada janjinya.Dalam beberapa hari, Remy merasa gatal pada tubuhnya. Kemudian dia menyadari kalau akar mulai muncul dari bawah tubuhnya. Remy yang hanya sebutir jagung kini bisa menghisap nutrisi tanah dengan kakinya yang berakar.Dia merasa semakin besar dan dirinya terbelah. Ada dua helai daun jagung muda tumbuh darinya. Tubuhnya semakin memanjang dan mendesak tanah di atasnya.Remy pun muncul ke permukaan tanah dan kembali melihat cahaya."Aku tumbuh! Aku menjadi pohon jagung!"Remy si pohon jagung kecil sangat bahagia. Walaupun dia gagal dimakan. Dia lebih bersyukur karena berkat bantuan si gagak dia malah menjadi pohon jagung.Remy mendengar suara kepak sayap si gagak dan melihatnya membawa air."Hei gagak! Ini aku, Remy!" serunya ceria."Remy? Bukan. Temanku itu adalah sebutir biji jagung. Dia berada di bawah tanah.""Iya, itu aku. Aku kini tumbuh menjadi pohon jagung. Terima kasih wahai gagak. Semoga Tuhan akan membalas budimu suatu hari nanti," kata Remy penuh syukur."Sesama makhluk hidup memang harus saling membantu. Sampai kamu tumbuh besar dan kuat aku akan terus memberimu air," kata gagak turut senang.Empat bulan sudah berlalu sejak saat itu. Si gagak menanam Remy di rumah dua orang anak yatim yang girang karena sebatang pohon jagung tumbuh dengan misterius di rumah mereka.Ketika waktunya panen, para yatim itu memetik semua bonggolnya yang ranum dan memasaknya.Remy si pohon jagung sangat bahagia karena dia bisa berguna bagi kehidupan para anak yatim itu. Hidupnya yang singkat akan segera berakhir karena dia merasa kalau daunnya mulai kering dan batangnya semakin rapuh. Jagung adalah tanaman yang akan segera layu jika sudah dipanen."Sudah mau pergi, sahabatku?" si gagak bertanya pada Remy yang hampir layu."Sebentar lagi, Gagak. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"Si gagak berkicau senang dan menunjukkan isi paruhnya bangga. Remy si pohon jagung melihat sebutir biji jagung tua dan keras di paruhnya."Aku membawa sebutir biji dari bonggolmu dan akan kembali menanamnya. Tidurlah yang tenang Remy. Hidupmu bermanfaat dan para anak yatim itu tidur dengan perut kenyang berkat dirimu. Berbangga dan bersyukurlah," kata si gagak tatkala Remy si pohon jagung berubah layu untuk selamanya.Sebagai makhluk hidup, kita pernah mengalami kesusahan hidup. Apa yang kita harapkan belum tentu terwujud dan terpaksa harus kita relakan, tapi kita mungkin akan bertemu orang baru yang bisa menuntun diri kita pada takdir yang lebih baik. Percayalah kalau kegagalan bisa berubah menjadi kesuksesan jika kita tetap berusaha dan berdoa.Selalu habiskan makanan di piringmu dan jangan menyia-nyiakannya, ya, karena mereka akan bersedih kalau tidak dimakan.
RIAN DAN PENYU
Sepanjang akhir pekan ini, Rian diajak ayahnya untuk menghabiskan waktu di pantai. Ke rumah kakek dan neneknya yang selama enam bulan belum dia temui. Sejak sudah dekat, Rian tak mampu memalingkan matanya dari pemandangan air laut yang memantulkan matahari hangat berkelap-kelip. Kedua tangan menempel di kaca mobil dengan wajah tak mampu menahan rasa sabar.Begitu saat mobil ayahnya sampai di ujung aspal, Rian cepat-cepat turun dan berlari di atas pasir menuju rumah kakeknya yang di bagian teras hanya ditopang oleh tiang-tiang kayu.Baru saja Rian ingin menaiki tangga, kakeknya bersamaan keluar, sembari memakaikan kepalanya sebuah topi nelayan berwarna hijau yang biasa dipakainya jika ingin ke laut agar terlindung dari panas."Kakek!" Rian langsung melesat dan memeluk kakeknya."Eh! Cucu Kakek yang ganteng udah datang!" Rian disambut dengan ramah, pipinya dicubit pelan, dan rambutnya dielus lembut. Kebiasaan kakeknya.Setelah Rian diturunkan barulah terlihat ayah dan ibunya menyusul, naik ke teras membawa barang-barang bawaan. Membuat kakek Rian berkacak pinggang menatap Rian."Lah, kenapa enggak bantu bawa barang, Rian?""Hehe, udah kangen banget pengin ketemu Kakek. Jadi, lupa, deh." Rian menyeringai menahan malu."Enggak papa, Pa. barangnya dikit, kok," balas ayahnya Rian. Kemudian lanjut menyalami tangan Bapak sekaligus kakek dari cucu anak tunggalnya itu."Kirain kalian mau datang hari Minggu. Kan, rumah belum diberesin, makanan juga enggak disiapin. Hari ini juga mau pergi saya.""Enggak papa, kok, Pa. Nanti Neneng bantu Ibu masak." Wanita yang ada di sana, Ibunya Rian menyahut."Kakek mau ke mana? Mau naik kapal, yah?" sambung Rian bertanya."Iya. Udah janji ke Pak Munthu, mau ke penangkaran sore ini.""Rian boleh ikut?!" ucap Rian langsung. Menaruh kedua tangan tanda harapnya."Memang Rian enggak capek habis jalan? Lagian nenekmu ada di dalam, loh, enggak mau ketemu?""Enggak papa, kok, Pa. Lagian pulangnya enggak malam, kan?" tanya balik ayahnya Rian."Enggak. Sebelum magrib pulang, kok. Pak Munthu cuman sebentar.""Udah. Rian boleh ikut. Tapi jangan nakal, ya? Dengar kata Kakek sama Paman Munthu.""Beneran? Yey! Makasih, Yah!" Saking senangnya Rian sampai melompat-melompat dan membuat papan-papan kayu yang menjadi teras rumah kakeknya ikut berderak-derak."Udah, Rian. Ayo, kita pergi! Kapalnya Pak Munthu juga udah siap dari tadi.""Pamit dulu, Bu, Yah." Rian cepat-cepat turun setelah itu, menyusul kakeknya yang sudah turun lebih dahulu.Pak Munthu adalah tetangga dari kakeknya Rian. Dia punya tanggung jawab untuk mengurus penangkaran penyu yang berada di pulau kecil yang jaraknya kurang lebih 20 menit dari pantai. Di atas kapal sudah ada beliau yang sejak tadi sudah menunggu."Pak Munthu!""Pak Alif, eh, ada Rian! Kapan datang?" sahut Pak Munthu."Barusan, Paman," jawab Rian sopan. "Paman, Rian boleh ikut ke penangkaran bareng Kakek?""Eh, boleh. Nanti Rian juga bisa bantu Paman kalau mau.""Asyik! Terima kasih, Paman," ulang Rian lagi kegirangan. Kemudian dia dinaikkan ke atas kapal yang mesinnya sudah berisik sebelum berjalan.Setelah akhirnya tali yang menahan kapal dari tiang dermaga dilepas, Kakek Rian duduk di kursi kemudi untuk menjalankan kapal. Sementara Rian duduk di belakang bersama Pak Munthu. Hingga kapal akhirnya bergerak, angin laut yang selama ini Rian rindukan kembali menerpanya.Dia juga tak akan mampu memalingkan pemandangan di bawah air dangkal yang jernih itu. terlihat banyak batu-batu karang cantik dengan warna-warni seperti pelangi bawah laut. Ikan-ikan yang berenang bersama dengan kapal juga memberikan keindahannya. Sesekali Rian akan menurunkan tangannya dan melambaikan tangan ke makhluk-makhluk laut itu."Paman, nanti di penangkaran mau ngapain?" tanya lagi Rian."Buat mendata. Jadi telur-telur penyu baru menetas. Nanti kita mau hitung ada berapa mereka.""Bayi penyu, ya. Wah! Rian enggak sabar mau lihat. Pasti mereka lucu-lucu," riang kembali Rian. "Kalau Rian pelihara satu boleh?" sambungnya."Haha! Enggak boleh, Nak. Rian tau enggak, kenapa ada penyu yang ditaruh di penangkaran?"Ekspresi Rian kini berubah, menggelengkan kepalanya kebingungan, dan itu membuat Pak Munthu berusaha menahan tawa pelannya, melihat sifat anak-anak yang masih dimiliki cucu sahabatnya."Jadi, penyu sekarang udah terancam punah. Banyak yang mati dan semuanya juga karena ulah manusia. Penyu enggak cuman diburu, tapi lingkungannya juga dirusak. Itu makanya penyu ditaruh di penangkaran, biar mereka terjaga," jelas Pak Munthu. Rian yang paham membalas dengan anggukan, tetapi kini memasang wajah murung."Kasihan banget penyunya. Emang kenapa penyu diburu, Paman?""Ya, buat dipelihara, kayak Rian tadi," jawab Pak Munthu. "Enggak cuman itu, ada juga yang memburu penyu karena mau dimakan.""Hah?! Memangnya ada yang makan penyu. Hih! Emang rasanya enak apa?""Yah, Paman enggak tau, sih," balas Pak Munthu, "tapi Rian coba bayangin. Nanti kalau Rian udah besar, terus anak-anak kayak Rian nanti enggak bisa lihat penyu."Rian mulai terdiam dan semakin murung. Dirinya sendiri juga belum pernah melihat penyu secara langsung dan akan sangat sedih jika beberapa tahun lagi manusia sudah tidak bisa melihat penyu seperti dirinya.Tanpa dia rasa, kapal memelan hingga berhenti. Mereka sudah sampai di pulau tempat penangkaran. Semangat Rian kembali saat dia diturunkan dari kapal dan berjalan bersama kakeknya masuk ke dalam gedung penangkaran yang berada di tengah-tengah daratan.Kembali Rian menemukan keindahan-keindahan makhluk laut di dalam sana. Bukan hanya penyu, di dalam akuarium kaca berukuran besar terdapat ikan-ikan mungil dan kuda laut yang juga belum pernah Rian lihat, dan semua itu tak henti-hentinya membuat Rian terkagum. Tangannya menempel erat di akuarium kaca memperhatikan gerakan lucu dari hewan-hewan kecil itu."Rian, sini," panggil kakeknya. Rian ke sana dan menemukan ada orang lain. "Ini namanya Kak Toni, dia yang bantu Pak Munthu di sini.""Hai, Kak Toni!" sapa Rian."Halo, Rian. Kamu mau kenalan sama penyu-penyu di sini, enggak?""Mau! Mau!" balas Rian semangat.Rian dibawa pergi sedikit lebih ke dalam gedung penangkaran dan menemukan ada tiga penyu besar dalam sebuah kotak yang dialiri air laut."Kak Toni, yang ini siapa?" tanya Rian menunjuk salah satunya."Yang itu Retno. Dia itu termasuk penyu sisik," jawab Toni. Kemudian lanjut memperkenalkan sisanya, "Ini Liana, penyu hijau. Kalau yang itu Dian, dia penyu belimbing. Kemarin telur-telur mereka baru aja menetas. Rian mau lihat?"Rian mengangguk semangat dan kembali di bawa ke akuarium lainnya untuk melihat bayi-bayi penyu yang sudah diceritakan Pak Munthu saat masih dalam perjalanan menuju pulau."Wah, banyak! Kak Toni, penyu-penyu ini bakalan disimpan terus di penangkaran, ya?""Eh, enggak. Nanti semuanya dilepas, kok," jawab Toni. "Di penangkaran mereka cuman sementara aja dirawat. Kalau udah siap, nanti penyu-penyu ini bakalan dikembalikan ke laut, kok.""Oh, Rian kira bakalan disimpan terus. Soalnya mau lihat lagi kalau ada waktu, hehe."Tangan Rian dimasukkan ke dalam sana. Jarinya berusaha mengusap-usap lembut cangkang dari bayi penyu dan sesekali berpindah ke siripnya. Memperhatikan bagaimana saat mereka berjalan pelan di bagian berpasir dan kecepatan berenangnya begitu memasuki air.***Hari-hari menyenangkan dirasakan Rian. Bertemu dengan kakeknya, pergi ke penangkaran, dan melihat banyak sekali bayi-bayi penyu yang lucu. Ingin Rian kembali lagi untuk melihat saat bayi penyu itu dilepaskan ke laut, tetapi Pak Munthu bilang kalau masih ada sekitar beberapa hari lagi sebelum mereka dikembalikan."Gimana, Rian. Senang?" tanya Pak Munthu."Senang, Paman, tapi sekarang Rian lapar. Mau cepat-cepat balik buat makan," jawabnya menyeringai malu."Oh, hahaha! Enggak lama lagi, kok, tapi kalau memang lapar banget, ini ada roti, buat mengganjal."Tanpa mengatakan apa pun Rian mengambil roti dengan selai coklat itu. Membuka kemasan plastiknya dan mulai mengunyah. Tangannya bergerak ke samping dan kemudian membuang kemasan plastik itu ke laut."Eh, jangan!" Seketika Pak Munthu berteriak, mengagetkan Rian yang baru saja menelan makanannya."Rian, plastiknya jangan dibuang ke laut. Laut, kan, bukan tempat sampah," lanjut Pak Munthu.Rian sontak membalikkan kepalanya, tetapi melihat plastik itu sudah jauh darinya, perlahan-lahan mulai tak mampu lagi Rian lihat."M—minta maaf, Paman. Rian enggak tau mau taruh di mana," balas Rian, "t—tapi, kan, cuman satu bungkus. Enggak papa, kan?""Eits! Mau satu pun enggak boleh. Coba bayangin, kalau kamu buang satu sampah ke laut, terus Paman buang satu, terus kakekmu buang satu juga. Jadi, semua orang buang satu sampah ke laut, jadi semuanya menumpuk jadi sepuluh ribu sampah."Rian kembali terdiam mendengar kalimat Pak Munthu itu."T—tapi, Paman. Memangnya kenapa kalau buang sampah plastik ke laut?""Yah, pasti lautnya tercemar. Terus bisa bahaya buat ikan-ikan dan makhluk lain yang tinggal di laut. Bisa bayangin, kalau laut udah tercemar, terus nelayan menangkap ikan di laut. Ikannya, kan, udah enggak bersih." Pak Munthu menjeda sebentar penjelasannya."Terus, kamu tau enggak kalau penyu bisa aja makan plastik kamu tadi?""Hah?! Emang penyu bisa makan plastik?" kaget Rian."Iya. Jadi, sebenarnya penyu makan ubur-ubur, tapi penyu enggak bisa bedain makanannya dengan plastik. Nah, sekarang gimana? Rian udah buang satu, nanti kalau penyu makan terus mati?! Hayooo! "Rian terdiam, bergidik ketakutan. Dia benar-benar tak menyangka kalau satu sampah plastik saja bisa berdampak seperti itu pada laut dan yang tinggal di dalamnya. Pikiran Rian terus dipenuhi dengan kemasan roti yang baru saja dia buang itu, membayangkan ada penyu yang sudah memakannya dan kemudian mati karena ulah Rian.Di sisa perjalanan Rian sudah tidak seperti sebelumnya, bahkan saat sudah sampai di pantai Rian tak lagi mengeluarkan suara yang sama, dia hanya terdiam. Begitu berpamitan dengan Pak Munthu juga hanya melambaikan tangan.Di dalam rumah pun masih sama. Rian bahkan ragu-ragu menyantap ikan yang sudah dimasak ibu dan neneknya tadi. Mendengar cerita Pak Munthu sebelumnya membuat Rian takut dan berpikir kalau ikan itu sudah tercemar sampah plastik di laut. Pada akhirnya, Rian lebih memilih memakan sayur yang sebenarnya tidak terlalu dia sukai.Saat waktu tidur pun Rian masih kepikiran dengan apa yang sudah dilakukannya. Kepalanya dipenuhi dengan bayang-bayang dari penyu-penyu yang ditemuinya hari ini, mati karena memakan sampah plastik. Bayi-bayi penyu itu tidak pernah tumbuh besar karena tidak mengonsumsi makanan yang sebenarnya. Pada akhirnya, malam Rian menjadi panjang, dari kesulitan tidur dan kemudian berujung jadi mimpi buruk.Rian bermimpi sedang berjalan di pantai yang penuh dengan sampah-sampah berbau busuk di sana-sini. Air laut tak lagi berwarna biru, tetapi hitam pekat dan tidak lagi mampu memantulkan sinar matahari. Ikan-ikan mati terdampar di sekitar langkah kaki Rian, pemandangan yang hanya membuatnya jijik.Lalu tak lama dia berhenti saat menemukan ada banyak penyu yang terdampar di tepi pantai, dalam keadaan sudah mati berada di hadapannya. Di salah satu mulut penyu-penyu itu masih tercapit sebuah plastik kemasan roti, kemasan sama seperti yang pernah Rian buang ke laut." Tidaaaaaaaak! "Rian tanpa sadar akhirnya berteriak dalam tidurnya, mengagetkan seisi rumah. Semuanya cepat-cepat masuk ke kamarnya dan berusaha membangunkan Rian."Rian, Nak. Udah, bangun. Enggak papa."Rian terbangun dan langsung memeluk erat ibunya, menangis dengan keringat yang mulai membasahi tubuhnya karena sangat ketakutan."Ibu, penyu itu mati, Bu. Penyu itu mati karena Rian!" Pada akhirnya, Rian menceritakan mimpi itu dan rasa khawatir ibunya sedikit menghilang."Udah, Rian. Mana mungkin Penyu bisa mati karena Rian?""Iya, soalnya kemarin Rian udah buang sampah ke laut, terus penyu makan sampah itu." Seisi rumah hanya bernapas lega mendengar cerita Rian. Kemudian meninggalkan dia dengan ibunya agar bisa ditenangkan."Udah, enggak papa. Yang penting nanti Rian enggak buang sampah lagi ke laut, ya," ucap Ibunya Rian, berusaha menenangkan anaknya. Namun, Rian masih terdengar sendu, walau tidak terlalu kencang."Nah, Rian. Nanti Pak Munthu, Kakek, sama warga-warga di sini bakalan bersih-bersih pantai. Jadi, nanti udah enggak ada sampah terus lautnya bersih dan penyu-penyu bisa hidup tanpa sampah plastik."Rian menyeka matanya saat pelukan dia dilepas. Memberikan anggukan pelan sebagai tanda setujunya. Berpikir kalau dengan membersihkan pantai setidaknya akan mampu mempertahankan penyu-penyu lain agar tetap hidup.Sejak saat itu, setiap kali dia melihat sampah maka tangan Rian akan langsung mengambil dan membuangnya ke tempat sampah. Di rumah, tidak pernah ada sampah plastik yang lolos dari matanya. Rian bahkan meminta ke ayah dan ibunya untuk dibelikan buku tentang laut agar dia bisa semakin memahami tentang lingkungan yang harus dia jaga.Di sekolah, Rian akan selalu memarahi teman-temannya yang membuang sampah sembarangan. Kemudian mengatakan kalau sampah plastik akan berbahaya untuk lingkungan."Eits! Jangan di buang ke laut!"Terlebih saat di pantai, Rian akan sigap. Seperti hari ini, saat ada anak sebayanya yang membuang sampah di tepi laut. Rian langsung mengambilnya, dan membuangnya sebelum dihanyutkan oleh ombak."Kamu tau enggak, kalau kamu buang sampah ke laut nanti penyu bisa makan.""Ups, maaf. Aku enggak tau. Aku minta maaf," ucap anak itu malu-malu. Namun, tidak lama Rian memberikannya sebuah senyuman ramah dan dibalas dengan cara yang sama oleh anak itu.Rian sudah berjanji akan menjaga laut, dia ingin agar saat sudah besar nanti keindahan laut yang dia lihat sekarang masih bisa Rian nikmati dan rasakan lagi.
DUNIA MIMPI
Nadia memeluk tubuh Rara lama. "Selamat, ya, Ra, kamu akhirnya lulus sebagai siswa terbaik dan dapat beasiswa di kampus impian kamu. Aku senang, sih, mimpi kamu tercapai, tapi sedih juga karena kita bakal berpisah," ujar gadis itu dengan ekspresi sedih.Rara membalas pelukan Nadia lalu menepuk-nepuk punggungnya. "Ih, cengeng, deh, kamu, Nad. Kan, kita bisa tetap berkirim pesan atau melakukan panggilan video. Lagi pula, nanti setiap liburan aku juga pulang."Nadia mengangkat jari kelingkingnya. "Janji, ya?"Rara mengangguk lalu menautkan kelingkingnya dengan kelingking Nadia. "Iya, janji Nadnad!" Kemudian mereka tertawa bersama.Rara dan Nadia kemudian saling bernostalgia tentang masa lalu sambil sesekali tertawa. Dulu mereka hanyalah bocah ingusan yang suka menangis sembari berebut boneka, tapi sekarang mereka sudah dewasa. Sudah lulus sekolah dan Rara akan kuliah di luar negeri.Nadia mengambil Bubu, si boneka beruang yang pintar mendongeng. Dulu waktu kecil Bubu sudah seperti ibu pengganti bagi Rara karena Mama terlalu sibuk di kantor."Eh, Ra, nanti kalau kamu kuliah ke Negeri Panda, Bubu kesepian di sini, dong, ya?" kata Nadia sambil menyalakan tombol on di punggung Bubu dan boneka beruang itu otomatis mendongeng tentang Maling Kundang.Rara memandang Bubu cukup lama, sebelum mengalihkan pandangannya menatap bonekanya yang lain; Sisy si penyihir cilik yang cerdas, Bibi si boneka cantik yang bisa mengubah bentuk benda, Henry si pangeran pemberani, dan terakhir Toro si boneka monyet yang cerdik. Mereka berlima adalah teman Rara saat Rara kecil kesepian.Namun, waktu terus berjalan dan Rara semakin sibuk sehingga tak bisa bermain bersama mereka lagi. Rara paling hanya menyapa mainan kesayangannya itu saat debu mulai menempel di tubuh Bubu dan yang lainnya untuk dibersihkan.Rara menutup matanya. "Ya, gimana lagi, Nad? Kan, aku enggak mungkin bawa mereka semua ke China . Paling nanti jadi pajangan di ruang tamu, terus sesekali dibersihin sama Mbak Lala."Setelah mengatakan itu Rara seperti tersedot ke dalam kegelapan yang sangat pekat. Tubuhnya seakan masuk ke dalam lubang yang sangat dalam dan tak berujung. Hingga saat ia bangun, kini ia tengah duduk bersama Sisy, Toro, Henry, dan Bibi. Mereka semua tengah mendengarkan Bubu yang sedang berdongeng tentang si Kancil dan Buaya.Entah bagaimana, Rara kembali ke masa lalu. Saat gadis itu berumur 5 tahun. Waktu itu Mama dan Papa tidak pulang karena ada pekerjaan di luar kota. Rara kecil yang kesepian hanya bisa mendengar Bubu mendongeng hingga larut malam.Bocah itu mendesah saat Bubu menyebutkan kata tamat di akhir cerita. Ini sudah cerita ketiga Bubu yang ia dengar, tapi mata kecilnya belum mau terpejam. Ia mengangkat Bubu, lalu mendudukkan boneka beruang itu di tengah-tengah Bibi dan Henry."Pasti seru, deh, kalau kalian berlima bisa ngomong. Aku pasti enggak kesepian lagi," oceh Rara cemberut.Toro bangkit dari duduknya. "Kita emang bisa ngomong, kok, Ra," kata Toro yang sontak membuat Rara terlonjak kaget dan turun dari ranjangnya.Pangeran Henry yang pemberani menghunus pedang plastiknya ke leher Toro. "Tor, kan, kita udah sepakat enggak bikin Rara kaget. Kamu malah ngajakin Rara ngomong tiba-tiba. Dasar monyet ceroboh! Lihat Rara jadi takut, kan!" seru Henry."Enak aja kamu panggil aku monyet ceroboh! Ngaca, dong, Hen! Kamu itu bukan pangeran pemberani, tapi pangeran penakut!" ejek Toro lalu boneka monyet itu menatap mata Rara. "Ra, Henry itu enggak sepemberani yang kamu kira tau. Dia takut gelap. Makanya kalau kamu matiin lampu, Henry bakal pucet terus minta dipeluk sama Bubu."Wajah Henry tampak memerah. "Punya rasa takut itu wajar tau, Tor. Enggak ada makhluk yang sempurna. Iya, kan, Ra?" Kali ini Henry menatap Rara. Sedangkan Rara hanya diam tak bergerak. Bocah lima tahun itu masih sangat terkejut. Semua mainan kesayangannya yang dia kira tak bernyawa, kini dapat berbicara. Apa ia sedang bermimpi?Bubu bangkit dari duduknya dan menengahi pertengkaran Toro dan Henry. "Eh, kok, kalian malah berantem sih, Tor, Hen? Liat tuh Rara jadi takut. Ra, kamu takut, ya?" tanya Bubu pada Rara.Rara mengerjapkan matanya. Bibir mungilnya terbuka. Masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Gadis lima tahun itu mengucek matanya dua kali sebelum mulai berbicara, "Aku enggak takut, Bu. Cuma ini mimpi, ya?"Kali ini Bibi yang bicara, "Kamu enggak mimpi, kok, Ra. Kami beneran ngomong sama kamu sekarang," ujarnya seraya tersenyum anggun."Tapi gimana bisa?""Ra, kadang sesuatu enggak harus ada jawabannya sekarang. Kalau kamu emang penasaran, mau ikut kami berpetualang?" tanya Bubu."Berpetualang ke mana, Bu? Aku mau! Aku mau! Apa bakal seseru petualangan Peterpan sama Alice yang sering kamu ceritain?" tanya Rara antusias. Seolah melupakan fakta jika mainannya baru saja berbicara. Ya, begitulah bocah lima tahun, begitu mudah teralihkan. Bubu tersenyum misterius. "Tentu. Dijamin kamu bakal suka, Ra, tapi Sisy enggak bakal bisa nerbangin kamu kalau kamu segede itu. Kamu harus kecil dulu seukuran kami," jelas boneka beruang pendongeng itu.Rara memindai tubuhnya sendiri dari atas sampai bawah. "Eh, tapi gimana caranya tubuhku jadi kecil, Bu?"Bibi menggerakkan jari telunjuknya. "Hoho ... kamu lupa, ya, Ra, kalau aku bisa mengubah bentuk sesuatu?"Rara kembali antusias. "Oh, iya! Bi, kamu, kan, punya kemampuan mengubah bentuk. Ayo, ubah aku, Bi! Ubah aku!"Rara naik ke tempat tidur, merentangkan kedua tangannya, dan menutup kedua mata. Bibi lantas menggoyangkan jari telunjuknya, membaca mantra, dan boom ! Rara berubah menjadi manusia kerdil.Tubuh Rara kini seukuran dengan Toro dan yang lainnya.Rara menatap takjub ke sekeliling. Semua tampak begitu besar dan tinggi. Kipas angin di samping ranjangnya sudah seperti raksasa!"Wah, semuanya jadi gede banget, Bu! Apa ini yang dirasain Alice pas jadi manusia kerdil?""Tentu, Alice juga ngerasa takjub kayak kamu sekarang. Udah siap terbang ke dunia mimpi, Ra?""Siap banget, Bu! Eh, tapi gimana caranya aku bisa terbang? Aku, kan, enggak punya sayap," ujar Rara kecewa.Sisy maju seraya mengacungkan tongkat tinggi-tinggi. "Tenang, Ra ... kan, ada aku. Si penyihir cilik yang cerdas," ujar Sisy sombong.Sisy mengatur semua teman-temannya termasuk Rara dalam satu baris lalu penyihir cilik itu menggoyangkan tongkatnya. " Abakadabra puspuspuspus ! Terbang!" seru Sisy seraya tersenyum sombong.Rara dan yang lain memang terbang. Namun, baru terbang satu meter tubuh mereka kembali terhempas ke kasur. Mencipta suara debum dan rintihan sakit yang khas." Uwah !" teriak mereka bersamaan."Sy, kamu pasti salah mantra lagi, kan!" protes Toro. "Ra, gara-gara kamu puji-puji Sisy sebagai penyihir cilik yang cerdas dia jadi sombong banget tau. Padahal suka lupa ngucap mantra dengan benar," adu Toro.Sisy meringis. "Iya, maaf-maaf. Kali ini aku ngucapinnya bener, deh. Maaf, ya, Ra? Ada yang sakit enggak?""Enggak ada, kok, Sy. Inget, ya, kamu itu penyihir cilik yang cerdas. Bukan penyihir cilik yang sombong. Kalau mantra terbang, pus -nya tiga kali. Jangan lupa ngitung. Kan, udah aku kasih tau," nasihat Rara.Harusnya Sisy ingat karena penyihir itu yang selalu menemani Rara belajar matematika bareng Mbak Lala."Iya, Ra, maaf aku lupa. Sekarang aku bakal ngitung pus -nya dengan benar dan enggak bakal sombong lagi."Sisy berkonsentrasi sebelum menggoyangkan tongkatnya. " Abakadabra puspuspus ! Terbang!" Kali ini sihir Sisy berhasil. Rara dan kelima mainannya terbang melewati jendela. Namun, bedanya jendela itu seperti pintu ke mana saja milik Doraemon karena sekarang Rara terbang di atas taman penuh bunga, bukan halaman rumahnya yang ada kolam ikan.Mata gadis lima tahun itu menatap hamparan bunga dengan kagum. Ia seperti ada di negeri dongeng. Rara terbang sambil tertawa riang. Memutar tubuhnya di udara dan berbaring di bunga-bunga raksasa.Ia juga berbicara dengan nona kupu-kupu lalu memetik bunga dandelion. Bubu dan yang lain juga memetik bunga dandelion lalu menerbangkannya tinggi-tinggi. Membuat bunga itu terbang dibawa angin. Itu tampak sangat indah.Rara juga terbang bersama tuan merpati. Lomba balap panjat pohon dengan tuan tupai dan mencicipi madu milik nona lebah. Petualangan di dunia mimpi ini sangat menyenangkan. Toro, Bubu, Bibi, Sisy, dan pangeran Henry juga bersenang-senang.Hingga akhirnya mereka berenam singgah di sebuah rumah kayu yang hangat. Aroma kue jahe menguar dan musik khas anak-anak diputar. Rara dan kelima mainannya masuk ke dalam sebuah rak kaca. Di sini Rara berubah menjadi mainan. Gadis cilik itu tak lagi terbang dan bersenang-senang. Kini ia hanya duduk kaku di dalam rak tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.Rara berusaha memanggil-manggil Bubu dan yang lain. Namun, semua mainannya juga hanya diam. Semua seolah tak lagi bernyawa. Rara sangat kesepian. Hanya terpajang di rak rasanya sangat membosankan. Gadis itu seperti terpenjara. Ia ingin terus bermain.Hingga akhirnya sekitar sepuluh anak kecil masuk ke dalam rumah lalu mengambil mainan yang ada di rak. Rumah yang sepi ini kembali terasa hidup. Rara rasanya kembali mendapat kesenangannya."Lang, cepetan pencet tombol di punggungnya Bubu! Aku pengin dengerin kisah Keong Mas!" seru anak kecil berkepang dua.Gilang menuruti perintah Liana. Bocah itu memencet tombol on dan Bubu mulai bercerita dengan semangat. Rara dapat melihat itu.Sisy juga sedang dimainkan oleh dua orang anak. Penyihir cilik itu tampak antusias saat seorang anak menyuruhnya menghafalkan mantra mengubah suatu benda menjadi kodok. Sisy memang dapat menirukan suara orang. Penyihir cilik cerdas itu tampak belajar dengan sungguh-sungguh.Toro dan pangeran Henry juga sedang bertarung. Seorang anak memegang Toro dan seorang anak memegang pangeran Henry. Toro begitu semangat melawan Henry dengan ekor saktinya, sedangkan Henry menggunakan pedangnya dengan lihai. Mereka berdua memang musuh bebuyutan sejati.Sedangkan Rara dan Bibi kini tengah didandani. Rambut Rara dikepang ke samping seperti princess Elsa. Sedangkan Bibi dikepang dua seperti Anna. Lalu kedua anak yang memainkan Rara mengganti baju Rara dengan gaun yang sangat cantik. Mereka menyanyikan lagu Do You Want to Build a Snowman dengan agak cadel. Mereka berdua menuntun Rara dan Bibi menari lalu berputar di udara. Rara sangat senang. Gadis kecil itu tak berhenti tersenyum lebar. Jadi, begini rasanya bahagia saat sebuah mainan dimainkan?Lonceng berbunyi tiga kali. Menandakan semua anak harus kembali ke kamar masing-masing karena hari sudah pagi. Semua anak pergi meninggalkan rumah dunia mimpi. Namun, sebelum pergi, mereka kembali mengatur semua mainan ke rak. Mengembalikannya ke posisi semula.Rumah hangat dengan aroma kue jahe ini kembali terasa hening. Rara kembali kesepian. Diam duduk di dalam rak rasanya tidak enak. Sebagai mainan, ia ingin terus dimainkan. Ia ingin terus membuat semua anak tertawa dan bahagia. Ia ingin menemani mereka yang kesepian. Karena hanya anak-anak kesepian yang bisa masuk ke dunia mimpi.Sisy lompat dari dalam rak. Diikuti oleh Bubu dan yang lainnya. Rara juga ikut turun. "Gimana, Ra, rasanya pergi ke dunia mimpi dan jadi mainan? Seru enggak?" tanya Bubu."Seru banget, Bu! Aku suka jadi mainan dan bisa dimainkan anak-anak, tapi aku enggak suka terus-terusan di rak. Enggak enak cuma jadi pajangan," ujar gadis lima tahun itu sedih.Bubu hanya mengangguk mengerti lalu boneka pendongeng itu melirik ke arah Sisy. Seperti mengerti kode Bubu, Sisy langsung maju ke depan.Sisy membenarkan topi lancip khas penyihirnya. "Ra, aku tau di sini menyenangkan, tapi sekarang waktunya pulang! Kalian siap-siap, ya. Kali ini aku pake sihir teleportasi. Hoho! Mungkin kalian bakal sedikit mual.""Sy, kali ini bener-bener, ya, bilang mantranya! Jangan sampe salah lagi!" ujar Toro memperingatkan.Sisy mengangguk. "Iya, Tor, ini aku konsentrasi, kok! Siap-siap, ya! Abrakadabra puspus ! Pulang!"Rara mengucek matanya dua kali sebelum membuka mata. Wajah gadis cilik itu tampak muram. Saat ini Bubu dan yang lain sudah tidak dapat berbicara. Semua sudah kembali seperti semula. Namun, petualangan Rara rasanya begitu nyata. Entah itu hanya mimpi atau memang keajaiban yang datang sesekali.Rara masih merasakan senang luar biasa saat bisa terbang dan berbicara dengan berbagai hewan. Gadis itu juga senang saat menjadi mainan dan dimainkan oleh anak-anak. Ia senang bernyanyi, rambutnya dikepang, dan menari di udara.Namun, Rara juga sangat sedih. Ia begitu sedih saat di dunia mimpi ia hanya dijadikan pajangan. Rasanya hampa saat tidak ada yang memainkan.Rara kecil memeluk Bubu. "Bu, apa kamu dan yang lainnya juga kesepian kalau cuma dipajang di rak? Aku janji bakal mainin kalian terus. Enggak bakal bikin kalian semua kesepian," janji Rara kecil dengan polosnya.Lalu bocah cilik itu kembali menutup matanya. Kali ini rasanya ia seperti disedot ke lubang tanpa dasar. Begitu dalam, begitu gelap, seperti tiada akhir.Hingga akhirnya ia membuka mata, dekorasi kamarnya sudah berbeda. Bukan lagi serba pink seperti saat ia berumur lima tahun. Dekorasinya kamarnya kali ini berwarna putih gading."Ra, udah bangun kamu? Diajakin ngobrol, kok, malah ketiduran," protes Nadia. "Makan malam dulu, yuk! Ibu tadi udah manggil-manggil!""Nad," panggil Rara sebelum Nadia membuka pintu."Apa?" tanya gadis itu."Besok temenin aku ke panti asuhan, ya!""Eh, ngapain?""Nyumbangin mainan," ujar Rara seraya tersenyum pada Bubu dan entah Rara yang gila atau apa, ia juga dapat melihat Bubu balas tersenyum.Mimpinya tadi sangat nyata. Dunia mimpi itu sangat nyata. Kebahagiaan itu sangat nyata. Rasa kosong itu juga sangat nyata. Mungkin, Rara berumur lima tahun benar-benar pergi ke dunia ajaib seperti Alice. Rara dewasa hanya perlu meyakininya.Dan besok ia akan menepati janjinya pada Bubu. Ia tidak akan membuat Bubu dan yang lainnya kesepian karena hanya menjadi pajangan di rak. Rara akan menyumbangkan semua mainannya ke panti asuhan."Lho, kok, tiba-tiba, Ra? Katanya mau dipajang aja tadi."Rara tersenyum lagi pada Bubu.Bu, terima kasih karena udah jadi temanku dari kecil."Aku berubah pikiran. Udahlah, Nad. Ayo, kita makan! Lapar, kan?"Besok Rara bisa pergi dengan tenang karena semua mainannya bakal ada yang merawat, yaitu anak-anak kesepian yang datang ke dunia mimpi.
MERRIE SI KUCING PELIT
Di sebuah rumah keluarga seorang petani timun yang makmur. Mereka memelihara kucing dan kelinci yang dirawat oleh sosok anak perempuan lembut dan cantik bernama Marsha. Merrie, si kucing betina menyukai namanya yang sangat bagus dan manis. Tidak seperti temannya, si kelinci yang diberikan nama Kici.Hanya Merrie yang bisa menjadi tempat mengeluh kelinci jantan yang lebih suka memiliki nama Ricky itu. "Aku yakin nama Ricky lebih keren dibandingkan Kici!" keluh Kici setiap kali teringat namanya yang jelek dan tak disukai olehnya. Walaupun begitu, di lain waktu dia akan lupa pada kejengkelannya.Mereka hidup berdampingan hanya memiliki satu sama lain untuk menjadi kawan bermain dan berbicara. Selalu disayangi, dirawat, dan dibersihkan. Merrie si kucing cantik yang sedikit sombong, memiliki bulu putih bersih pada bagian kaki dan perut, sedangkan dari buntut, punggung hingga ke wajah bulunya berwarna abu-abu tua. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk tidur daripada bermain. Di tengah tidurnya, Merrie akan segera bangun saat mengendus aroma makanan, seperti saat ini dia mencium aroma wangi ayam goreng. Begitu melihat Marsha yang berjalan cepat menuju ke arah depan rumah, dia menyusul dengan berlari cepat-cepat amat penasaran.Saat tiba di pintu, Merrie melihat Marsha memberikan potongan ayam itu kepada kucing jalanan yang jelek, kurus, bulunya kotor, dan mukanya menyedihkan—seakan-akan tengah memohon-mohon pemberian. Merrie tahu kucing jelek itu sedang meminta makanan dan dia menjaga matanya tertuju pada makanan yang dibawa oleh Marsha. Kemunculan Merrie bagai menimbulkan hawa persaingan yang tak diinginkan.Merrie mendengkus kesal, jatah makanan yang bisa diberikan kepadanya malah dibuang-buang untuk kucing jalanan. Dia bersiap mau menyerobot potongan daging ayam yang diletakkan Marsha pada tempat makanan. Namun, belum sempat merebut dan membawa kabur potongan ayam itu, tubuhnya sudah ditarik lalu digendong oleh Marsha. Perempuan itu menasihati dengan suara lembut yang dibuat sok imutnya. Merrie hanya bisa pasrah saat mendengar suara Marsha yang berbicara akan memberikan makanan kemasan khusus untuknya.Sebelum Marsha kembali dari mengambil makanan di gudang penyimpanan, Merrie kembali ke halaman depan dengan gerakan gagah. Wajahnya sombong terangkat tinggi-tinggi, sorotnya menampilkan kekesalan saat mendapati kucing jalanan itu sudah menyelesaikan makanannya dan memberikan tatapan waswas."Gara-gara ada kamu, makanan itu tidak diberikan padaku! Pergi sana, jangan datang ke sini lagi merebut makananku!" maki Merrie pada si kucing berwarna putih kumal yang warnanya nyaris menyamakan bercak oren di ujung kepalanya sendiri. Jika tidak dilihat seksama, kucing itu terlihat seperti kucing berwarna oren muda sepenuhnya, bukan percampuran."Apa aku tidak boleh menerima sedikit makanan? Bukankah makananmu sudah banyak dan terjamin diberikan oleh gadis baik itu?" tanya si kucing jalanan dengan suara lirih dan mata sendu."Ini rumahku. Daerahku. Kamu mengambil jatah yang harusnya adalah milikku! Cepat pergi!!!" Merrie mulai marah membuat geraman dan bulu-bulu serta buntutnya menegak menyeramkan. Kucing jalanan itu pun segera pergi berlari cepat-cepat.Kemudian Merrie dipanggil oleh Marsha dengan suara merdu untuk masuk ke rumah dan menikmati makanannya, Marsha juga mengelusi badan Merrie yang empuk, hangat, dan dilapisi bulu-bulu yang lembut." Miaw !"***Setiap hari Merrie dan Kici hanya bisa melihat segalanya dari halaman depan rumah. Menyaksikan binatang-binatang lain diajak para pemiliknya bekerja ke kebun, sawah, atau hutan. Terkadang dari mencuri dengar cerita para binatang yang baru kembali, mereka dapat bermain di kebun, sungai, atau parit-parit.Merrie dan Kici sering mendengar cerita dari Marsha dan Pak Beni, mereka semakin penasaran pada tempat-tempat yang kerap kali didatangi oleh para teman binatangnya. Mereka mengharapkan kebebasan karena hanya bisa mengintip dunia luar. Iri pada binatang lain yang bisa melihat keindahan dan bermain bersama-sama dengan yang lainnya.Merrie iri melihat burung yang berseru ramai di angkasa saat terbang. Para gerombolan kambing, sapi, dan kerbau yang bercerita satu sama lain tentang pengalaman dilepas di lapangan untuk makan rumput, lalu bebek yang berkata betapa segarnya air parit dan sungai yang mengalir, terlebih untuk mandi. Rasanya seakan hanya Merrie dan Kici yang tidak tahu bagaimana suasana selain di halaman rumah Marsha dan tak pernah melihat pemandangan langit yang menakjubkan tanpa penghalang pepohonan.Rasanya bagai ada kabar baik saat Marsha berceloteh tentang kontes binatang yang diadakan di kantor desa setempat. Kici dan Merrie sangat antusias menguping Marsha yang berbincang dengan para temannya, bahkan orang tuanya. Ini salah satu cara agar mereka dibawa keluar rumah. Merrie sangat bahagia saat membayangkan dirinya akan melihat lingkungan luar.Beberapa hari Merrie bersikap kelewat manja pada Marsha agar disayang-sayang dan dibawa pergi. Sayang sekali, hari itu hanya Kici yang dimandikan sampai putih kinclong. Kandang untuk membawa Kici pergi juga sudah dibersihkan dari beberapa hari lalu. Merrie iri dan cemburu karena hanya Kici yang akan dibawa ke kantor desa. Selama beberapa jam dia menunggu Kici dan Marsha kembali dengan amat gelisah dan sedih di atas kain keset depan pintu rumah. Merrie selalu menahan kantuknya agar tidak tertidur.Sekembalinya Kici ke rumah, dia tersenyum dengan sombong karena merasa ditunggu dan dia berniat membuat Merrie semakin iri sekaligus penasaran."Kamu dari mana saja?" Nada suara Merrie meninggi."Marsha menyuruhku lari-lari bersaing dengan para kelinci lainnya," tutur Kici usai Marsha memasukkannya ke dalam kandang yang biasa ditempatinya."Lalu? Kamu menang?" Merrie menatap penasaran. "Bukankah langkah larimu pendek sekali?""Tidak, tapi itu bukan masalah." Kici tertawa menggoda."Payah. Marsha sangat bodoh membawamu untuk berkompetisi. Larimu, kan, lelet. Andai aku yang dibawa ke sana pasti bisa menang!" seru Merrie berapi-api.Seketika Kici tertawa terpingkal. "Kamu tahu alasan kenapa dirimu tak dibawa? Pantas saja kamu tidak diajak pergi ke sana. Kucing-kucing yang dibawa ke sana sangat cantik-cantik, bulunya lebat, halus, dan matanya berwarna-warni. Sangat lucu dengan pita dan baju cantik. Tak ada yang seperti kamu. Aku baru tahu bahwa bangsamu ada yang secantik itu."Merrie menggeram kesal, dia memang hanya kucing betina domestik berwarna gelap pada bagian atas tubuhnya, yang beruntung dipelihara oleh manusia sehingga kini terawat bersih dan gemuk. Kalau tidak dirawat Marsha, dia akan sama saja seperti kucing jalanan lainnya. Dia iri pada Kici yang jantan, tetapi sangat lucu dan indah. Bulu putihnya panjang dan halus. Matanya berwarna merah.Kici bercerita, "Lapangan itu luas sekali untuk melihat langit yang luas. Aku bisa melihat gunung yang indah walau dari jauh dan ada tempat yang rindang namanya hutan. Aku melihat para kambing, sapi, dan kerbau bergerak bebas di padang rumput sedang makan, sementara majikan mereka bekerja memotong dan mengumpulkan makanan mereka."Merrie langsung membayangkannya, bagaimana rasanya bisa berjalan-jalan di luar dengan bebas seperti binatang lainnya?"Kamu mau pergi keluar? Ayo, kita buat suatu rencana!" pekik Kici tiba-tiba dengan penuh semangat dan matanya berbinar memberikan harapan cerah untuk Merrie."Kamu bisa melakukannya?" Kucing itu tersenyum meremehkan.Merrie menjadi amat yakin kala Kici menyipitkan matanya dengan mimik serius. "Kita buktikan! Ikuti saja rencanaku!"***Suatu hari Merrie dan Kici mengatur rencana, ingin kabur saat Marsha lengah. Merrie diperintah Kici untuk membuat gaduh suasana rumah. Dengan sengaja Merrie melompat naik ke atas meja makan dan saat melihat piring kecil yang berisikan sisa makanan, dia menendang dengan kaki belakangnya hingga piring-piring itu terjatuh.Untuk sesaat Merrie ikut terlonjak saat mendengar suara pecahannya yang begitu nyaring. Dia segera melompat untuk mencari posisi aman agar jauh dari lokasi pecahan piring yang berserakan."Merrie!" Suara teriakan Marsha menggelegar dari pintu depan saat berpapasan dengannya.Berakting ketakutan, Merrie segera berlari cepat-cepat ke halaman samping, pergi menuju kandang Kici. Setibanya di sana, dia segera berusaha membuka pintu kandang Kici dengan tangan bulatnya.Pintu berhasil dibuka, Kici segera meloncat keluar dan tersenyum bangga, matanya bersinar-sinar licik. "Ayo, kita segera pergi selagi Marsha masih mengomel dan dimarahi oleh Bu Lyly!" ajak kelinci itu sembari berusaha berjalan cepat.Merrie melangkah riang mengikuti Kici, bahkan berhasil melampaui langkah lompatan Kici yang pendek. Keduanya berjalan beriringan melewati pagar rumah yang beruntungnya kini sedang terbuka, kalau saja pagarnya tertutup maka hanya Merrie yang akan mampu melompati pagar tinggi itu.Inilah kali pertama Merrie melihat indahnya dunia luar. Kebebasan di lingkungan yang luas. Dia merasa bagai burung yang terbang di langit dan bagai bebek, kambing, dan sapi yang tak pernah hidup bosan karena terkurung terlalu lama di kandang. Kici juga merasakan hal yang sama. Sesungguhnya dia bosan sekali karena paling sering berada di dalam kandang, sedangkan Merrie bisa bebas bergerak bahkan masuk ke dalam kamar Marsha.Sudah lama berjalan-jalan, Merrie dan Kici menyatu dengan dua ekor kambing dan satu ekor sapi yang sedang diikat pada pohon di kebun, dijaga oleh sosok manusia yang sedang bekerja memotong rumput. Merrie dan Kici menatap takjub pada asap yang membumbung tinggi akibat pembakaran sisa-sisa rumput dan sampah."Kalian sedang apa di sini wahai para anak kecil?" Sosok sapi menatap Merrie dan Kici dari atas. Keberadaan mereka disadari oleh makhluk lain."Main. Melihat-lihat saja. Kami bosan di rumah," jawab Kici."Berhati-hatilah!"Namun, saat sedang bermain di padang rumput dekat hutan, ada teriakan panik yang mengejutkan semua yang mendengarnya."Ada kebakaran!" Teriakan itu berasal dari para kambing dan sapi yang sedang dibuka tali ikatannya, mereka akan dibawa pergi oleh para majikan masing-masing yang ketakutan.Merrie dan Kici terkejut bukan main saat melihat ada kobaran api tinggi yang membakar salah satu tumpukan sampah dan sedang berusaha dipadamkan oleh seorang manusia. Hawa panasnya terasa menyergap, mereka membayangkan bagaimana jika mereka sampai dilalap api tanpa ada pertolongan manusia.Teriakan para kambing dan sapi serta kepanikan seorang manusia yang akan membawa para hewan itu pergi membuat Merrie dan Kici lari kocar-kacir tanpa peduli arah. Mereka takut terbakar oleh api. Tanpa tahu jika kebakaran kecil itu sudah berusaha dipadamkan.Terlalu jauh pergi dari kebun mengakibatkan mereka lupa jalan kembali. Ketika pergi ke sebuah saung dekat ladang jagung. Mereka lapar ingin mencari makanan, tetapi diusir oleh binatang lain, seekor burung gagak. Mereka lantas pergi ke sebuah rumah di tepi hutan, tetapi kembali diusir lagi. Saat menemukan kebun petani wortel. Kici berhasil menyelinap dan memakan wortel di sana.Merrie memintanya agar tidak mencuri. "Jangan makan yang bukan milikmu!"Kici melirik kesal. "Kalau ada ayam atau ikan goreng, kamu juga pasti akan mencurinya. Kalau lapar masuk saja ke dalam rumah itu dan carilah sesuatu."Merrie hanya bisa iri dan kesal. Dia tak bisa makan wortel yang masih utuh. Biasanya Marsha akan mencampurkan wortel dengan daging ayam untuk pakannya. Nekat karena sudah sangat kelaparan, dia pun masuk ke rumah itu, tetapi perasaan takut hinggap di hatinya, dia ragu akan berhasil mengambil makanan. Merrie mencoba mengintip dengan harapan ada manusia baik seperti Marsha, yang akan menyukainya dan memberinya makan. Dia mengendap pelan-pelan masuk ke rumah saat mencium aroma ikan goreng yang menggoda hidungnya. Kala sudah berada di dalam, tiba-tiba muncul sosok manusia yang langsung menghardiknya."Husssss! Pergi!!!" serunya keras membuat Merrie lari kencang ketika dikejar oleh manusia yang membawa sapu kayu."Pergi! Jangan maling makanan!" pekik sosok wanita itu dengan amat seramnya.Merrie berlari kencang ke halaman depan, membuat Kici yang ketahuan mencuri ikut berlari menghindar, padahal dia sedang asyik menikmati wortelnya. Karena larinya jauh lebih cepat, Merrie kini menunggu kemunculan Kici di tepi hutan.Kelinci itu marah pada Merrie. "Kamu membuatku jadi terkena imbas ikut dikejar, padahal aku sedang asyik menikmati makanan!""Rasakan itu! Kamu enak sendiri, sedangkan aku harus kesusahan tak dapat makanan!" balas Merrie menatap sinis, matanya menyorotkan kekesalan.Mereka masih berdebat panjang di tepi hutan, sampai tiba-tiba ada suara mesin penebang pohon yang sangat keras dan mengejutkan Merrie. Kucing itu merasa asing dan ketakutan mendengar suara keras yang membuatnya seketika panik karena merasa nyawanya terancam. Merrie sangat ketakutan. Tanpa peduli apa pun, kucing panik itu berlari kencang, bahkan meninggalkan Kici. Kelinci itu sangat lambat , pikirnya. Dia terus berlari tak tentu arah hingga akhirnya jatuh terpeleset ke dalam kubangan air hujan, kini tubuhnya basah dan kotor.Terpisah. Merrie tersesat. Di sisi kanan dan kirinya yang ada hanyalah pepohonan tinggi dan beberapa batang yang tumbang. Dia mengamati sekitar dengan gelisah dan menunduk lesu. Telinganya bergerak untuk berusaha mengenali suara-suara asing.Beberapa puluh langkah saat masuk semakin dalam ke hutan, ada kucing hitam muncul menghardiknya, "Kucing baru, ya! Aku tak pernah melihatmu! Ini bukan daerahmu, ini daerahku! Pergi sana! Kalau tidak, kamu akan bertemu anjing dan babi. Kamu mau dimakan sama mereka?"Merrie tahu dari televisi, binatang bernama anjing sangatlah galak dan mampu bergerak cepat. Giginya yang tajam mampu mengoyak. Merrie makin mengkeret takut membayangkan dirinya akan dimakan oleh anjing. Dia berjalan berbalik arah sambil mengendus aroma. Sampai hari mulai gelap, tak kunjung juga dia sampai di rumah Marsha.Di tengah perjalanannya Merrie melihat seekor anjing muncul dari tengah hutan, dari balik pohon-pohon tinggi itu. Merrie bersembunyi di balik batang pohon tumbang yang sudah sangat lapuk, bersembunyi dengan ketakutan sambil menahan bau tubuhnya karena basah dan kotor. Sampai akhirnya anjing itu pergi menjauh bersama sekelompok manusia menyerukan kalimat, "Ada Babi di sana!"Lega berhasil sembunyi, Merrie keluar dari tempatnya bersembunyi. Namun, itu tidak serta merta membuatnya aman, Merrie dihadang oleh seekor kucing oren yang langsung mengibarkan permusuhan. Kucing oren itu menyerangnya dengan cakaran hingga lengan Merrie terluka, berdarah, dan terasa perih. Merrie ingin membalas, tetapi setiap ingin mengeluarkan cakarnya, selalu saja kucing oren itu bergerak lebih ganas. Merrie hanya bisa berusaha berteriak dengan suara keras dan berlari menghindar sekencang-kencangnya. Ternyata yang melukainya justru bangsa sesamanya."Perih, lenganku terluka dan berdarah." Merrie menahan tangis, merintih menatap suasana sekitar yang semakin asing dan menyeramkan. Langit sudah semakin gelap.***Merrie semakin lapar dengan perutnya yang terus berbunyi. Dia hanya bisa minum dari air sisa hujan yang tertampung pada kubangan. Dia lemas tak mampu menemukan jalan sampai hari benar-benar sudah gelap. Tanpa cahaya, dalam kesunyian, kedinginan, kelaparan, dan juga haus mendambakan air bersih. Tempat baru yang dia datangi tak lagi memiliki sisa-sisa air hujan. Lukanya terasa semakin sakit. Sambil merenungi, dia menyesali perbuatannya. Andai saja dia tidak pergi keluar dari rumah, dia juga sangat merindukan Marsha.Kucing itu mencari tempat yang aman, tidur bersembunyi di atas dahan pohon. Hanya suara jangkrik dan burung hantu yang menemaninya. Terkadang ada suara kodok dan tokek saling bersahutan.Waktu berjalan cepat, di pagi hari si kucing hitam membangunkannya. Merrie bisa bangun, tetapi kesulitan untuk turun. Si hitam memaksanya turun dengan menyusul naik ke atas dan mendorong Merrie untuk melompat ke tanah. Si hitam memberikan informasi yang beredar di kalangan para binatang, khususnya dari kelompok kucing yang mengatakan bahwa ada seekor kucing bernama Merrie yang sedang hilang dan diminta untuk cepat pulang. Pemiliknya yang bernama Marsha sedang mencarinya."Jika kamu bertemu dengan binatang lain, tolong katakan bahwa kucing bernama Merrie sedang dicari oleh Marsha!" titah si kucing hitam itu."Merrie itu aku! Oh, Marsha! Cepat temukan aku di sini," ratap Merrie dengan mata berkaca-kaca."Sudah aku duga, kamu adalah kucing yang dicari. Kenalkan, aku Black. Kamu terluka?""Diserang kucing oren. Aku benci padanya!" geram Merrie."Dia memang musuh semua kucing di sini. Tukang bikin keributan.""Oh ya, apa kamu bertemu dengan Kelinci bernama Kici?""Tidak. Marsha hanya menyebut nama Merrie," jawab Black.Merrie akhirnya mengaku, "Aku tak tahu jalan pulang kembali ke rumah Marsha." Nada suaranya penuh penyesalan dan lirih. Dia menahan diri untuk tidak menangis."Mari aku antarkan ke kawanan kucing pinggir hutan, di sana asal beritamu tadi beredar. Pasti semakin dekat dengan Marsha."Black mengarahkan jalan menuju keluar hutan, sampai Merrie akhirnya melihat kebun pertama yang dia kunjungi bersama Kici. Sayangnya, dia tak ingat jalan menuju rumah Marsha. Black kemudian menitipkan Merrie agar dijaga oleh kucing lainnya, yang rupanya sosok kucing jalanan jelek yang sering dihina olehnya. Kucing dengan warna putih dan oren di bagian kepala yang dulu dia benci."Marsha memberiku nama Abi. Kau pasti sudah tidak asing denganku!" pekik Abi, wajahnya sudah tak semenyedihkan waktu itu. "Mari aku antar ke rumah gadis baik itu!" ajaknya.Merrie menjadi malu karena diperlakukan baik dan dibantu oleh kucing yang dulu dia benci, usir, dan marahi. Merrie mengikuti Abi dari belakang dengan penuh rasa bersalah. Dalam perjalanan mereka, Merrie akhirnya mengatakan sesuatu."Maaf, aku pernah mengusirmu. Kamu tidak marah dan dendam? Kenapa mau membantuku?" tanya Merrie menatap dengan mata berkaca-kaca sedih, hampir menangis."Kalau kamu hilang selamanya, gadis itu akan sedih sekali. Aku sangat menyayanginya. Aku merasa cukup dengan pemberiannya, tak pernah iri padamu." Abi membuat Merrie semakin kagum dan terpana.Merrie merasa malu. Baru juga sehari dia menjadi kucing liar, dia sudah nekat mencuri makanan, tetapi Abi bahkan tak pernah masuk ke rumah Marsha. Hanya menunggu manis di halaman menanti makanan sisa.Perjalanan itu terasa begitu jauh dan daerah itu masih asing untuknya. Namun, tiba-tiba dia mendengar pekikan lantang. Marsha sudah berada di dekatnya dan meneriakkan namanya, gadis itu langsung menggendong dan tanpa ragu memeluk kucingnya yang kini jelek, kotor, dan bau itu."Jelek dan bau sekali! Kamu pergi ke mana saja?" omel Marsha sambil mengendus tubuh Merrie, sedangkan kucing itu ingin menangis terharu. "Kamu terluka Merrie. Terima kasih Abi sudah kembali bersama Merrie!"Sembari digendong Marsha, Merrie melihat ke arah Abi yang sedang menyenggolkan punggungnya pada betis kaki Marsha lalu mengeong."Kamu takut karena habis memecahkan piring, ya, Merrie? Jangan kabur lagi." Marsha semakin memeluk Merrie dengan amat erat.Merrie memandang gadis itu dengan tatapan berkaca-kaca. Dia merasa bersalah atas segala perbuatannya. Dia amat beruntung disayangi oleh Marsha."Terima kasih, aku pulang dulu!" seru Merrie pada Abi."Jangan pergi jauh lagi!" balas Abi."Datanglah ke rumah Marsha kapan pun. Aku akan menunggu kamu datang bermain!" seru Merrie.Di rumah, Merrie melihat Kici sudah berada di kandang memakan wortel. Ternyata Kici ditemukan lebih cepat karena kaburnya tak jauh. Usai dimandikan, Merrie menyambangi kandang Kici. "Kapan kamu kembali ke sini? Kamu sudah sempat makan wortel dan kembalinya cepat sekali!"Kici mengomel, "Kenapa kamu lari kencang sekali hanya karena takut suara keras?" Kici juga ketakutan, tetapi kakinya yang pendek tak bisa membuatnya pergi terlalu jauh. Dia tak bisa menyusul Merrie yang berlari kencang sekali."Dasar lelet!" ledek Merrie."Kamu jadi nyasar dan sengsara saat pergi jauh. Rasakan itu kucing bodoh." Kici tertawa nyaring.Merrie merasa sedih dan langsung tertunduk lesu, tubuhnya kini berbaring di lantai."Hei ... kok, lesu? Kamu sedih? Maaf, aku hanya bercanda." Kici seketika panik dan berubah serius."Maafkan aku yang meninggalkanmu karena sangat ketakutan, Kici." Merrie memandangi Kici dengan tatapan bersalah."Tak apa-apa kalau memang kekuatanmu lebih besar dibanding aku. Maafkan aku juga yang selalu membuatmu sedih." Kici tersenyum hangat, tidak menyebalkan dan sinis seperti biasanya.Keduanya kini berbaikan, tetap menjadi teman bermain dan berbicara. Merrie sangat menyayangi Kici yang mungil. Merrie seketika teringat akan satu hal yang tak pernah dia lakukan, yaitu bersyukur.Dia tak mau membuat Marsha bersedih lagi karena dirinya yang hilang dan terluka. Merrie jadi harus membuat Marsha mengurus luka-lukanya dan membawanya ke dokter hewan di kota untuk mengecek kesehatannya.Merrie berjanji tak akan nakal lagi pada Marsha, apalagi sampai merepotkan dan membuat rumah berantakan. Meskipun mengurus Merrie itu merepotkan, Marsha tak pernah marah dan mengeluh.Lain hari Merrie tak akan marah lagi jika kucing jalanan yang bernama Abi itu main ke rumah Marsha dan dia berjanji akan berbagi makanannya. Kini Merrie bahkan sering mengintip di pintu menunggu kedatangan Abi.
ALITA DAN PUTRI KUBIS
Alita senang sekali bermain boneka. Bonekanya berbentuk anak perempuan berambut merah. Dia biasa bermain boneka itu sepanjang hari.Orang tua Alita adalah seorang petani kubis. Sering kali, Ibu mengingatkan Alita untuk berhenti bermain boneka dan membantunya di ladang. Alita sering jengkel kalau ibunya sudah memerintahnya bekerja di ladang."Ibu saja yang membantu Ayah. Aku tidak mau mengotori tanganku," tolak Alita saat Ibu mengajak ke ladang."Alita, uhuk ... Ibu tidak bisa memanen kubis hari ini. Uhuk ! Tolong bantu Ayah," mohon Ibu. Pagi itu Ibu terserang flu. Dia tidak bisa berangkat membantu Ayah yang akan memanen kubis.Alita tidak suka berada di ladang yang panas. Dia juga tidak mau berkeringat dan kotor akibat memanen kubis. Karena kesal, dia kabur dari rumah bersama bonekanya. Ibu berteriak memanggilnya, tetapi Alita terus berlari.Alita berlari ke bukit di belakang rumah. Dia letih dan beristirahat di bawah pohon yang rindang. "Aku tidak mau pulang ke rumah kalau masih disuruh membantu memanen kubis," gumamnya sambil mendekap bonekanya erat-erat.Angin berembus lembut. Suasana yang tenang dan sejuk menyebabkan Alita tertidur di bawah pohon.Cip! Cip! Cip!Alita terbangun oleh suara burung di dahan pohon. Matahari mulai terbenam. Langit berwarna kemerahan. Alita segera bangun dan berlari pulang. Dia sudah tertidur lama.Setibanya di rumah, Alita terkejut melihat ada anak perempuan di meja makan. Anak itu mempunyai rambut berwarna hijau dan mengenakan gaun yang sama hijaunya."Siapa dia?" tanya Alita pada sang Ibu."Dia adalah Putri Kubis. Putri Kubis membantu Ayah di ladang. Dia juga yang membuatkan Ibu bubur supaya lekas sembuh," jawab Ibu."Nama yang aneh," ejek Alita."Kamu tidak boleh menghina nama orang lain. Itu tidak baik," Ayah menasihati."Sebaiknya kamu bersikap baik dengan Putri Kubis sebab mulai sekarang Putri Kubis akan tinggal bersama kita," kata Ibu."Kenapa Putri Kubis harus tinggal bersama kita? Memangnya dia tidak punya rumah?" Alita melirik Putri Kubis dengan jengkel."Aku tidak mempunyai rumah," jawab Putri Kubis dengan tenang."Ayah dan Ibu yang memberikan izin pada Putri Kubis untuk tinggal bersama kita. Kamu harus menerimanya. Nah, sekarang kamu mandi, lalu makan malam," kata Ayah tegas.Alita tidak suka akan kedatangan Putri Kubis. Dia bertambah kesal saat makan malam. Ayah dan ibunya terus saja mencurahkan perhatian kepada Putri Kubis.Putri Kubis diberikan kamar di ujung lorong. Alita senang karena kamar Putri Kubis jauh dari kamarnya dan kamar orang tuanya. Namun, Alita kembali jengkel saat Ibu menyuruhnya membantu Putri Kubis membereskan kamar itu.Esok harinya, Alita bangun kesiangan. Dia terkejut mengetahui Ayah dan Ibu sudah berangkat ke ladang bersama Putri Kubis, padahal semalam dia sudah membuat rencana akan membantu orang tuanya. Alita segera pergi menuju ladang. Tidak lupa dia membawa bonekanya.Alita terkejut melihat Ayah, Ibu, dan Putri Kubis sedang beristirahat di tepi ladang. Mereka bercengkerama dengan akrab. Ibu menyuapi Putri Kubis. Ayah mengelap keringat di dahi Putri Kubis, sementara Putri Kubis tampak bahagia di antara orang tua Alita."Ayah! Ibu!" Alita berteriak. Sayangnya Ayah dan Ibu tidak mendengarnya. Alita berlari mendekat supaya terdengar, tetapi kakinya tergelincir, lantas dia terjatuh ke dalam lumpur. Badannya tersedot lumpur itu. Astaga, itu adalah lumpur hidup yang berbahaya. Alita meronta-ronta meminta tolong. "Ayah! Tolong aku! Ibu! Aku terjatuh! Ibu! Ayah! Tolong aku!"Badan Alita semakin tenggelam. Dia takut. Bonekanya ada di tepian, akan tetapi bonekanya adalah benda mati yang tidak bisa menolongnya. Alita menangis meraung-raung dan tidak seorang pun yang datang menolongnya."Apakah kamu menyesal karena tidak pernah membantu orang tuamu?"Alita membelalak. Putri Kubis tahu-tahu sudah ada di dekatnya."Tolong aku!" pinta Alita."Aku akan menolongmu asalkan kau mau menyadari kesalahanmu selama ini. Apakah kau tahu apa kesalahan terbesarmu?" balas Putri Kubis.Alita teringat perbuatan nakalnya yang menolak membantu orang tua. Dia menangis dan menyesal. "Aku telah menolak permintaan tolong orang tuaku. Aku sangat menyesal," dia mengakui kesalahannya."Baguslah kau sudah menyadari kesalahanmu. Apakah kau akan mengubah sikapmu jika aku menyelamatkanmu?" tanya Putri Kubis."Iya, aku akan berubah. Aku sangat menyesal dan aku tidak mau orang tuaku tidak mengacuhkanku lagi," sahut Alita.Putri Kubis tersenyum. Dia mengambil boneka milik Alita, kemudian melemparnya ke dekat Alita. "Ambil boneka itu dan peluk erat-erat. Aku akan menolongmu." Alita menurut. Dia mengambil bonekanya, lalu memeluknya erat-erat."Ingat baik-baik untuk meminta maaf dan membantu orang tuamu begitu kau selamat. Sekarang tutup matamu dan hitung sampai sepuluh, setelah itu buka matamu perlahan," lanjut Putri Kubis.Alita menutup matanya dan berhitung keras-keras, "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh." Dia membuka matanya perlahan. Alita terkejut melihat dia tidak lagi tenggelam lumpur, melainkan sedang duduk di bawah pohon yang ada di atas bukit."Aku harus menemui Ibu," gumam Alita. Dia segera pulang ke rumah."Ibu! Ibu!" Alita berteriak."Ada apa, Nak?" tanya Ibu keheranan.Alita memeluk Ibu. "Aku meminta maaf karena tidak mau membantu di ladang. Aku berjanji akan membantu kalian mulai sekarang. Putri Kubis telah mengingatkanku untuk berbuat baik pada orang tua."Di balik jendela, diam-diam Putri Kubis mengintip. Dia mendekatkan telunjuknya ke dekat bibir, memberikan pesan pada Alita untuk tidak memberi tahu Ibu soal dirinya. Alita mengangguk sambil tersenyum."Putri Kubis? Siapa dia?" tanya Ibu. Dia bertambah bingung."Seorang teman. Temanku, Bu," jawab Alita.Sejak saat itu, Alita tidak pernah lagi menolak permintaan untuk membantu orang tuanya. Putri Kubis juga tidak pernah datang lagi. Alita tidak pernah memberi tahu siapa pun soal Putri Kubis.
SI KUCING DAN SI SEMUT
Alkisah, terdapat sebuah kota di mana penduduknya sangat menyukai kucing. Hampir seluruh rumah memelihara setidaknya seekor kucing. Di kota ini, tidak ada seekor pun kucing yang hidup di jalanan—seluruh kucing yang berada di sana merupakan kucing peliharaan. Tentu saja, para kucing ini dipelihara dengan sangat baik. Mereka diberi makanan kucing bermerek, diberi minum, bahkan memiliki jadwal khusus bermain. Tidak hanya itu. Mereka juga memiliki kamar tidur sendiri, walau berukuran lebih kecil dari kamar manusia.Berawal dari kecintaan terhadap kucing, perlahan tapi pasti para kucing ini beralih menjadi simbol kekayaan pemiliknya. Tiap penduduk seolah berlomba untuk memamerkan kekayaannya melalui kucing peliharaan mereka. Mereka sibuk mengunggah potret kucing peliharaan mereka mengenakan pakaian mahal, bermain di tempat bermain yang didesain khusus, medali yang dimenangkan dari berbagai perlombaan antarkucing, atau bahkan saat mereka membawa kucing mereka berjalan-jalan ke luar negeri.Seorang saudagar kaya di kota itu bukan pengecualian.Saudagar itu mendiami sebuah rumah megah di tengah kota. Dia merupakan salah satu orang paling kaya di kota tersebut dan sebagai salah satu bukti kekayaannya, dia memelihara lima ekor kucing. Semua merupakan kucing ras yang harganya terbilang mahal. Masing-masing kucing memiliki kamar dan asisten yang bertugas merawat mereka. Tiap kucing bahkan memiliki akun media sosial yang dikelola oleh seseorang yang dipekerjakan oleh si saudagar.Kelima ekor kucing itu juga diberi nama. Salah satunya, yaitu seekor kucing gendut berbulu putih dan cokelat keemasan, bernama Dino dan baru berumur satu tahun. Dino merupakan kucing kesayangan putri si saudagar, oleh karena itu kerap mendapatkan perlakuan istimewa. Hal ini pun membuat Dino tumbuh menjadi kucing yang manja dan sering berperilaku buruk terhadap keempat kucing yang lain. Alhasil, Dino tidak memiliki teman dan lebih sering bermain sendirian. Namun, tentu saja Dino tidak peduli. Dia memiliki banyak mainan dan tidak kekurangan apa pun. Ditambah lagi, jadwalnya cukup padat lantaran baru-baru ini Dino didapuk menjadi model untuk salah satu merek makanan kucing ternama.Sore itu, Dino baru saja pulang setelah menjalani sesi pemotretan. Ketika hendak duduk di kamarnya, dia melihat seekor semut berjalan keluar dari piring makannya. Sebelum ini, Dino tidak pernah melihat semut di piring makannya lantaran sang asisten selalu telaten membersihkan piring makan mereka. Akan tetapi, hari ini sang asisten tengah keluar sebentar akibat suatu urusan mendadak, dan tidak sempat membersihkan sisa-sisa makanan di piring Dino.Terkejut, Dino hanya dapat membelalak selama sepersekian detik. Kemudian, dia sadar apa yang sedang terjadi. Semut itu sedang mengangkut remah-remah. Semut itu mencuri makananku! pikir Dino. Dia pun menjulurkan cakarnya, berusaha menggapai si semut. Dino berhasil. Semut itu terguling dan menjatuhkan remah-remah yang dia bawa."Ha! Rasakan itu!" seru Dino penuh kemenangan.Si semut bangkit dengan susah payah dan balas berteriak, "Kenapa kau melakukan itu?"Dino mengeluarkan dengusan kesal. "Kau sedang mencuri makananku. Seharusnya kau meminta maaf. Dasar semut tidak tahu malu!"Si semut menatap Dino sejenak. Kelihatannya dia baru menyadari siapa yang tengah berbicara dengannya. "Oh, jadi kau pemilik kamar ini?"Itu benar-benar pertanyaan bodoh. Siapa lagi kucing yang akan memiliki kamar sebesar ini selain aku? pikirnya. Dino mengangguk. Dadanya membusung penuh kebanggaan. "Benar," jawabnya.Dino mengira si semut akan menatapnya penuh kekaguman begitu mengetahui identitasnya. Namun, alih-alih terpukau, semut itu malah memberinya tatapan datar seraya menunjuk remah-remah yang tadi dia jatuhkan. "Kalau begitu ... boleh, kan, aku membawa itu? Kau memiliki banyak makanan, jadi permintaanku pasti bukan masalah besar," pintanya.Ucapan si semut benar. Dino bahkan tidak akan memakan sisa-sisa makanan di piringnya lantaran asistennya akan mengganti makanan itu dengan yang baru, tapi nada bicara si semut membuat Dino kesal. Seharusnya semut itu memohon dengan lebih rendah hati, bukannya dengan nada arogan begitu. Bagaimanapun, dia sedang meminta makanan Dino."Kau tidak tahu bagaimana cara meminta dengan lebih sopan?" tukas Dino.Semut itu menatapnya lama hingga Dino menjadi tidak nyaman. "Bukankah aku sudah bertanya dengan cukup sopan?" balas si semut.Dino menyimpulkan bahwa semut itu tidak pernah diajarkan sopan santun. "Seharusnya kau bertanya seperti ini. Dino yang baik, bolehkah aku meminta makananmu?"Semut itu terhenyak kaget. "Oh, jadi kau kucing bernama Dino?Dino lagi-lagi membusungkan dada dengan bangga. Rupanya dia populer! Sudah sepantasnya. Bagaimanapun, dia memiliki paling banyak pengikut di media sosial ketimbang keempat kucing lain di rumahnya. "Benar," jawabnya. "Namaku Dino. Kau pasti sering mendengar tentangku, kan?""Ya. Kudengar kau kucing yang sombong, egois, dan tidak punya teman."Kini ganti Dino yang terhenyak kaget hingga nyaris terjerembap. Tidak punya teman barangkali benar, tapi sombong dan egois? Dino tidak merasa pernah bersikap seperti itu. Bukankah dia selalu menyapa setiap kucing yang dia temui? Merekalah yang tidak pernah balas menyapa. Bukankah itu berarti merekalah yang seharusnya disebut sombong?"Pasti ada kesalahan," tukas Dino, sedikit gusar. "Katakan, dari mana kau mendengarnya?""Dari banyak sumber," jawab si semut santai, kelihatannya tidak menyadari kegundahan Dino. Dia mengangkut remah yang tadi dia jatuhkan. "Kalau kau tidak keberatan, Dino yang baik, bolehkah aku membawa ini?"Kendati si semut mengucapkannya sesuai dengan yang diinginkan Dino, entah kenapa kalimat itu lebih terdengar seperti sindiran. Dino berusaha menyibukkan diri dengan menjilat-jilat bulunya, akan tetapi dia tak bisa mengenyahkan ucapan semut tadi dari benaknya. Ini pertama kalinya Dino mendengar dia dikatai sombong dan egois. Dan Dino benar-benar terganggu akan hal itu.Dino terus merasa terganggu hingga keesokan harinya tidak menghabiskan sarapannya. Dino juga tidak terlalu merespons ajakan bermain dari putri si saudagar, sampai-sampai gadis cilik itu duduk di sampingnya dengan wajah cemas lantaran mengira Dino sedang tidak enak badan. Tentu saja, Dino berusaha menjelaskan bahwa dia baik-baik saja. Akan tetapi, bagi manusia yang terdengar hanyalah bunyi mengeong yang tidak mereka pahami. Akhirnya, Dino pun menyerah dan memilih untuk bergelung diam-diam di atas kasur empuknya.Setelah beberapa hari, Dino berhasil melupakan kata-kata si semut dan kembali menjalani aktivitas normalnya seperti biasa. Ketika baru saja menghabiskan makan siangnya, Dino lagi-lagi bertemu dengan si semut. Hanya saja, kali ini semut itu khusus datang untuk mengobrol dengan Dino, bukannya untuk meminta makanan."Hai," sapa si semut.Dino menjilat-jilat cakarnya, dan baru sadar kalau dia belum tahu nama si semut. "Kau belum memberitahuku namamu," ucap Dino.Si semut tertawa. "Aku kaget kau masih mengingatku. Namaku Mumut. Apa kabar, Dino?""Baik," jawab Dino, meski suasana hatinya kembali memburuk lantaran pertemuan dengan Mumut membuatnya teringat lagi akan ucapan Mumut beberapa hari yang lalu.Mumut mengamati raut wajah Dino. "Tidak terlihat begitu. Jangan-jangan ... akibat ucapanku waktu itu?" godanya.Dino memberengutkan wajahnya. Tebakan Mumut benar dan dia tidak suka itu. Dino tidak suka jika pikirannya terlalu mudah ditebak. Namun, di sisi lain, Dino tidak pandai berbohong, jadi dia tidak dapat menyangkal perkataan Mumut. Akhirnya, dia hanya bergelung dengan malas di kasurnya."Kau tahu kenapa mereka mengataimu sombong?" tanya si semut."Karena mereka iri, barangkali," jawab Dino asal-asalan.Mumut mengangguk. "Separuh benar. Mereka memang sedikit iri karena kau lebih populer ketimbang mereka di media sosial, tapi masalahnya, mereka memang tidak terlalu menyukaimu bahkan sebelum kau dibuatkan akun media sosial."Dino menguap lebar-lebar. Ini sudah hampir jam tidur siangnya. "Bukan salahku jika aku menjadi kucing kesayangan.""Memang," Mumut mengiakan. "Masalahnya terletak pada sikapmu. Sebagai contoh, bukankah kau tidak pernah membiarkan mereka ikut mencicipi makananmu? Padahal kau tahu betul kalau putri si saudagar membelikanmu makanan yang paling mahal."Dino terdiam. Apa yang dikatakan oleh Mumut benar. Kendati makanan mereka semua merupakan makanan bermerek, tapi Dino tahu kalau makanan yang diberikan padanya lebih mahal daripada makanan keempat kucing yang lain dan dia memang tidak pernah bersedia membaginya dengan mereka sebab Dino berpendapat bahwa miliknya adalah miliknya. Bukan untuk dibagi-bagi."Jika aku membaginya dengan mereka, lalu bagaimana denganku?" protes Dino."Yah, kau tak perlu membagi seluruhnya. Seperlunya saja. Hanya agar mereka juga dapat merasakan seperti apa rasanya makanan yang lebih mahal dari makanan mereka. Lagi pula, kau juga jarang menghabiskan makananmu.""Bagaimana jika mereka menghabiskannya?""Menurutku, mereka kucing yang baik. Jadi, mereka tidak akan melakukannya. Kalau tidak percaya, kau coba saja."Dengan serius, Dino mempertimbangkan kata-kata Mumut. Keesokan harinya, Dino mengundang keempat kucing yang lain ke kamarnya dan menawarkan mereka untuk mencicipi makanannya. Mereka tampak terkejut dan untuk sesaat mereka saling bertukar pandang, tapi kemudian mereka menerima tawaran Dino dengan senang hati. Tepat seperti ucapan Mumut, mereka tidak menghabiskan makanan Dino, melainkan hanya mencicipinya sedikit, kemudian kembali ke kamar mereka masing-masing setelah mengucapkan terima kasih."Kau benar," kata Dino ke Mumut ketika mereka bertemu lagi—entah untuk ke berapa kalinya. Sekarang Mumut cukup sering berkunjung ke kamar Dino untuk berbincang-bincang, bukan hanya sekadar untuk meminta remah makanan Dino. Sejujurnya, kini Dino sangat tidak keberatan untuk berbagi makanannya dengan Mumut. Sering kali, dia bahkan mempersilakan Mumut untuk mengajak teman-temannya datang agar dapat membawa lebih banyak remah-remah makanan ke sarang mereka."Benar tentang apa?" tanya Mumut."Tentang banyak hal," balas Dino dengan riang. Dia mendapat banyak nasihat dari Mumut tentang bagaimana menjadi kucing (atau pribadi) yang baik dan setelah mengikutinya, kini Dino sudah berteman akrab dengan empat kucing yang lain. Mereka bahkan kerap mengajak Dino bermain bersama setelah sesi pemotretan Dino selesai.Mumut tertawa. "Sekarang tidak ada lagi yang mengataimu egois dan sombong. Kelihatannya kau mengikuti petunjukku dengan baik," ucapnya."Sebenarnya, sulit untuk melakukannya," sahut Dino jujur. Selama ini Dino sudah terbiasa menjadi kucing yang seluruh kemauannya diikuti. Dia terbiasa bersikap seenaknya tanpa memedulikan perasaan kucing yang lain. Jadi, untuk mengubah itu terasa sangat berat, bahkan Dino dulu merasa tak rela sewaktu harus menawarkan makanannya pada kucing yang lain.Salah satu faktor yang mendorong Dino untuk terus mengikuti saran Mumut adalah, karena melakukannya memberikan Dino perasaan nyaman. Ketika untuk pertama kalinya membagi makanannya, Dino merasa bahagia. Ketika melihat teman-temannya dapat turut mencicipi makanan favoritnya, Dino merasa senang. Itu adalah perasaan yang sebelumnya tak pernah Dino rasakan.Sekarang Dino menyadari kalau dulu dia tak bahagia. Meski Dino tak kekurangan apa pun, bahkan memiliki jadwal yang padat setiap harinya, tapi dia tak merasa senang. Dino tahu ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Namun, dia tak tahu apa itu. Akan tetapi, dengan bantuan Mumut, kini Dino pun menjadi jauh lebih bahagia."Berbagi dengan yang lain memang dapat memberikan perasaan menyenangkan," kata Mumut. "Selama kau melakukannya dengan tulus. Hal-hal baik akan menjadi semakin baik bila dibagi."Dino mendengarkan dengan saksama. "Terima kasih banyak atas bantuanmu selama ini, Mumut," katanya. "Jika bukan karenamu, hari ini aku pasti masih menjadi kucing egois dan sombong yang tak suka berbagi."Mumut tertawa. "Jangan berterima kasih padaku. Itu semua karena kau sendiri yang mau berusaha untuk menjadi lebih baik. Peranku hanyalah memberitahumu beberapa hal."Dino melipat kedua kaki depannya ke bawah tubuh. Itu benar, tapi justru di situlah bagian yang paling penting.Selama ini, tidak pernah ada yang mengatakan pada Dino bahwa perilakunya buruk. Mereka semua lebih memilih untuk menjauhinya, tanpa memberi Dino kesempatan untuk menjadi lebih baik atau bahkan untuk menyadari kalau dia belum menjadi kucing yang baik, sedangkan putri si saudagar selalu memuji-muji Dino. Demikian juga halnya dengan orang-orang serta kucing-kucing lain yang dia temui di lokasi pemotretan. Mereka semua selalu memuji betapa bagusnya bulu Dino serta betapa manis Dino.Dari Mumut-lah untuk pertama kalinya Dino menyadari kalau perilakunya selama ini terbilang buruk.Dan, Mumut tidak hanya berhenti sampai di situ. Dia juga membantu Dino untuk memperbaikinya. Jika tadinya Mumut tidak membantu, Dino yakin kalau hingga hari ini dia pasti masih menjadi Dino yang sama. Dia tahu kalau kelakuannya buruk, tapi tidak tahu bagaimana cara mengubahnya. Pada akhirnya, hal tersebut hanya akan membuat Dino frustrasi dan malah menjadi pribadi yang lebih buruk."Kau adalah teman yang baik, Mumut. Terima kasih," ucap Dino dengan tulus.Itulah kesimpulan akhir yang didapat oleh Dino. Teman yang baik bukan teman yang selalu memujimu, melainkan berani untuk mengungkapkan kekuranganmu serta membantumu untuk memperbaikinya. Memang benar, selalu mendapat pujian itu menyenangkan, tapi itu tidak membantunya untuk menjadi lebih baik. Pujian malah membuatnya selalu merasa lebih tinggi daripada kucing yang lain tanpa menyadari kalau dia masih bisa berkembang menjadi lebih baik lagi.Sebaliknya, kritikan tidak selalu mengenakkan untuk didengar. Malah Dino merasa kesal mendengarnya. Kejujuran selalu menyakitkan. Itu benar. Akan tetapi, dari kejujuran Mumut-lah Dino mendapat kesempatan untuk menyadari kekurangannya dan pada akhirnya kesadaran diri itu membawa Dino ke arah yang lebih baik—tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi lingkungan di sekitarnya.Demikianlah, pada akhirnya Dino pun hidup berbahagia di rumah si saudagar bersama empat kucing temannya, serta Mumut si semut.
LEGENDA SITU AGENG
Ribuan tahun silam, di sebelah selatan kota Garut, terdapat desa bernama Desa Damai. Nama desa tersebut merepresentasikan keadaan di sana. Penduduknya ramah, mereka saling membantu, dan penuh toleransi. Mereka hidup tenteram dan penuh suka.Desa Damai juga punya tanah yang subur sehingga mampu membantu para petani untuk menghasilkan banyak buah-buahan, sayuran, dan padi yang berkualitas. Sumber penghasilan terbesar penduduk Desa Damai adalah dari hasil panen dan karena hal itu, jumlah petani di desa tersebut cukup banyak. Biasanya mereka akan menjual hasil panen ke tengkulak untuk kebutuhan makan sehari-hari.Namun, semuanya berubah saat Juragan Ageng mulai menguasai laju perekonomian penduduk Desa Damai. Tubuhnya jangkung dengan tinggi 175 cm membuatnya tampak gagah dan berwibawa. Pakaian yang dikenakannya selalu yang terbagus dan termahal. Tak lupa, untuk menyempurnakan penampilannya, Juragan Ageng selalu memakai perhiasan di tubuhnya, seperti gelang dan cincin. Semuanya berbahan dasar emas murni.Usai istrinya—Nyai Asri—meninggal, Juragan Ageng mengambil alih pekerjaan Nyai Asri sebagai tengkulak. Tidak seperti sang istri, Juragan Ageng menjadi tengkulak yang semena-mena. Padahal ia mempunyai banyak warisan dari istrinya yang kebetulan sudah tidak punya siapa-siapa termasuk anak. Kendati demikian, Juragan Ageng masih belum puas dengan harta yang ia miliki.Tak hanya terkenal pelit, Juragan Ageng adalah orang yang sombong. Ia kerap kali memaksa para penduduk agar menjual hasil panen mereka kepadanya dengan harga yang sangat murah dan setelah persediaan hasil panen penduduk sudah habis, Juragan Ageng bisa memanfaatkannya. Ia membalik keadaan dengan cara menjualnya kepada mereka, dan mengambil keuntungan yang sangat besar. Juragan Ageng menjual dengan harga yang meroket tinggi.Penduduk tidak bisa menolak dan hanya bisa pasrah. Tiap kali penduduk menolak menjual hasil panennya, Juragan Ageng akan menyuruh anak buahnya memukuli mereka. Penduduk Desa Damai memilih diam dan hidup sengsara daripada kehilangan salah satu anggota keluarga."Juragan, saya mohon naikkan lagi harga penjualan hasil panen saya. Kalau hanya segitu saya tidak bisa membeli keperluan rumah tangga lainnya.""Ini sudah harga sepadan. Kau lihatlah itu sayuranmu, wortelnya saja tidak terlihat segar. Jangan-jangan sayuran ini sudah lama dipanen," tuduh Juragan Ageng sekenanya. Penduduk bernama Wawan itu mendesah pelan, peluh di dahinya seakan tidak bermakna di depan lawan bicaranya. Juragan Ageng hanya mencari alasan agar bisa menjual dengan harga rendah."Tidak, Juragan. Sayuran ini baru tadi pagi saya panen lalu saya bersihkan. Mana mungkin layu. Lihatlah ini, masih sangat segar, Juragan." Perlahan Wawan mengeluarkan sayuran tersebut agar Juragan Ageng melihatnya dengan benar."Baiklah, aku percaya. Jadi, apa kau masih mau menjualnya padaku? Kalau kau masih keberatan, tidak masalah. Kau juga yang akan rugi sendiri," ujar Juragan Ageng jemawa dan Wawan pun hanya bisa setuju dengan keputusan semena-mena Juragan Ageng.Hari demi hari, kelakuan Juragan Ageng makin kikir dan sombong. Bukannya menolong dan memberikan sedikit saja harta yang dimilikinya kepada penduduk miskin, Juragan Ageng justru berfoya-foya dengan mengadakan pesta di rumahnya. Ia menghambur-hamburkan uang dengan membeli keperluan pesta, seperti baju-baju mahal dan makanan yang berlebihan.Juragan Ageng juga mengundang beberapa biduan yang turut memeriahkan acara pestanya. Riuh rendah alunan musik menggema memenuhi telinga para penduduk sekitar. Tidak ada yang berani menghentikan kelakuan Juragan Ageng, meskipun mereka begitu terganggu karena malam makin larut. Juragan Ageng sungguh bersenang-senang di atas kesengsaraan penduduk Desa Damai.Setiap ada yang meminta sedekah atau sekadar meminjam uang, Juragan Ageng tidak segan-segan mengusir mereka, bahkan mencaci makinya. Juragan Ageng bahkan tidak merasa bersalah sudah mengucapkan kata-kata menyakitkan kepada mereka."Ini harta milikku. Enak saja mereka tinggal minta dan pinjam. Kalau mau punya harta melimpah sepertiku, harusnya mereka kerja keras bukannya malah meminta-minta! Memangnya harta yang kupunya dari hasil memetik di pohon? Macam-macam saja permintaan mereka itu."Begitulah omelan yang sering Juragan Ageng ucapkan ketika ada penduduk yang meminta bantuan darinya. Padahal di setiap pesta yang diadakannya, Juragan Ageng selalu memamerkan harta kekayaannya secara sombong kepada penduduk setempat. Tak ayal penduduk merasa sedih dengan polah orang terkaya di Desa Damai itu."Pak, persediaan beras kita makin menipis. Bahan makanan juga sudah habis. Bagaimana untuk makan besok?" tanya Ratna kepada suaminya, Wawan."Bapak juga bingung, Bu. Juragan Ageng menaikkan harga bahan makanan enam kali lipat. Dari mana kita punya uang sebanyak itu?" Wawan tampak lesu mengetahui fakta yang baru saja dibagikan penduduk lain kepadanya siang tadi."Kenapa Juragan Ageng begitu kejam, ya, Pak?" Wawan hanya bisa menggeleng pelan. Dalam hatinya, ia pun sependapat dengan sang istri."Kita berdoa saja, Bu, semoga Tuhan memberikan kita keringanan atas beban yang sedang kita pikul ini dan semoga Juragan Ageng dibukakan pintu hatinya agar bisa peduli kepada penduduk di desa ini.""Iya, Pak, amin," Ratna berujar dengan raut wajah penuh belas.Setiap hari penduduk Desa Damai makin bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, dan mereka juga menjual hasil panen kepada Juragan Ageng. Sebagai orang paling kaya di desa ini, Juragan Ageng merasa bangga karena mau tidak mau dan suka tidak suka, para penduduk akan datang kepadanya jika butuh uang dan bahan makanan.Tiap harinya, Juragan Ageng sibuk memantau persediaan lumbung padi dan bahan makanan di kediamannya. Tak lupa, ia juga terus menghitung seberapa banyak harta kekayaannya, mulai dari uang dan perhiasan yang jumlahnya sudah sangat banyak. Juragan Ageng menyimpan semua hartanya di rumah megahnya, di sebuah kamar khusus. Ia juga menyewa pengawal terbaik agar tempat tinggal serta dirinya selalu aman dari orang jahat.Musim hujan berganti musim kemarau berkepanjangan. Penduduk Desa Damai benar-benar dilanda kelaparan. Tumbuhan yang mereka tanam kekurangan curah air dan akhirnya mati. Kabar buruknya, para petani mengalami gagal panen. Dengan terpaksa, penduduk berbondong-bondong menjual harta yang mereka punya kepada Juragan Ageng. Meskipun dihargai dengan jumlah yang sangat murah, mereka tidak bisa menolak demi bertahan hidup.Suatu hari, ada seorang perempuan paruh baya membawa anak dalam gendongannya datang ke rumah Juragan Ageng. Perempuan itu berniat meminta sedekah, atau sekadar air minum demi melepas dahaga. Namun, belum sempat memberikan alasannya meminta-minta, Juragan Ageng sudah mengusir perempuan itu diikuti makian ketus.Tidak ada rasa iba sedikit pun di dalam hati Juragan Ageng."Juragan, saya mohon beri kami air minum. Kami sangat kehausan setelah berjalan jauh." Perempuan itu memohon dengan wajah lelah. Anak dalam gendongannya kini tengah menangis. Juragan sangat terganggu dengan tangisan anak perempuan itu. "Tolonglah, Juragan. Kasihan anak saya.""Pergi kau dari rumahku, dasar pengemis jelek! Berani-beraninya kau menginjakkan kaki di rumahku. Gara-gara kau, rumahku jadi kotor dan bau," Juragan Ageng berteriak diliputi rasa jengkel tak berkesudahan. "Suara tangisan anakmu juga membuat telingaku sakit. Pergi sana!"Perempuan itu menunduk lesu. Ia begitu iba dengan anak dalam gendongannya yang pasti sedang kelaparan dan kehausan. Meskipun ucapan Juragan Ageng melukai harga dirinya dan membuatnya sakit hati, ia tidak mampu menyangkal. Ia memang seorang pengemis.Juragan Ageng yang makin terganggu langsung memanggil para pengawalnya untuk mengusir mereka dari rumahnya, dan perempuan itu pun pergi dengan tangan kosong. Perempuan itu sampai menahan sesak di dada saat melihat sang anak tidak berhenti menangis dalam gendongannya.Beberapa hari setelah itu, Juragan Ageng kembali kedatangan pengemis. Kali ini pengemis tersebut datang di tengah pesta yang sedang Juragan Ageng adakan. Tentu saja hal itu membuat Juragan Ageng murka karena merasa pengemis itu sudah mengacaukan kebahagiaannya. Lagi dan lagi, Juragan Ageng berhasil mengusir pengemis berkat bantuan pengawalnya. Ia kaya dan berkuasa. Apa pun bisa dilakukannya dengan mudah.Waktu berlalu, tetapi musim kemarau masih belum ingin pergi. Daun kering berguguran. Tanah makin gersang dan udara makin panas. Sebagian penduduk kekurangan air. Lantas, para penduduk di Desa Damai bahu-membahu saling membantu sebisa mungkin demi kelangsungan hidup mereka.Ketika sedang berkumpul di lumbung padi, para penduduk desa kedatangan seorang kakek tua dengan membawa tongkat. Pakaiannya lusuh dengan wajah keriput. Tubuhnya ringkih, tetapi terlihat sangat berani pergi sendirian di desa ini."Di mana rumah orang yang paling kaya di desa ini?" si Kakek bertanya sembari memperhatikan para penduduk di depannya."Maksud Kakek, Juragan Ageng?" Si Kakek mengangguk pelan dan Ratna kembali berkata, "Di ujung jalan itu, ada pertigaan. Nanti Kakek belok kiri, ya. Rumahnya berwarna kuning gading, pasti Kakek tidak akan salah. Rumah Juragan Ageng paling besar di sana.""Terima kasih," jawab si Kakek lalu kembali berjalan menuju rumah Juragan Ageng. Namun, sesaat Ratna menghentikan langkahnya."Kakek ada perlu apa pergi ke sana?" Raut khawatir tak luput dari wajah Ratna."Saya mau minta sedekah.""Percuma, Kek. Kakek tidak akan mendapatkannya. Juragan Ageng sangat pelit.""Saya akan mencobanya.""Kalau Kakek mau makan, ke rumah saya saja, tapi makan dengan lauk seadanya. Apa Kakek mau?""Terima kasih banyak, tapi saya hanya ingin pergi ke rumah itu." Si Kakek masih bersikukuh. Meskipun khawatir, Ratna tidak bisa menghentikan niatan si Kakek yang terlihat pantang menyerah."Kalau begitu, terserah Kakek saja." Ratna hanya bisa berdoa, semoga saja si Kakek tidak sakit hati karena ditolak oleh Juragan Ageng.Sebelum melanjutkan langkahnya, si Kakek berujar pada Ratna, "Tiga hari lagi akan ada bencana besar di desa ini. Kau harus memberi tahu seluruh penduduk untuk meninggalkan desa ini dan mencari tempat yang aman. Ingatlah kata-kataku ini!"Kendati merasa aneh, Ratna tetap memercayai ucapan si Kakek. Setelahnya, Ratna langsung menyebarkan berita tersebut kepada penduduk desa. Mereka mulai berkemas dan pergi dengan keluarga masing-masing.Sesampainya si Kakek di rumah Juragan Ageng, ia langsung memanggil pemilik rumah dengan mengetuk-ngetuk pintu menggunakan tongkat miliknya. Merasa kesal karena tidur siangnya terganggu, Juragan Ageng ke luar seraya memelotot tajam. Ia terkejut mendapati kedatangan kakek tua di depan rumahnya. Lusuh dan kotor, pikirnya."Siapa kau? Berani-beraninya pengemis tua dan lusuh sepertimu mengganggu tidur siangku!""Aku ingin meminta sedekah kepadamu," ujar si Kakek tanpa basa-basi.Juragan Ageng tersenyum sinis lalu berkata, "Hah, sedekah? Enak saja minta-minta padaku. Kau hanya mengacaukan tidur siangku demi meminta sedekah. Di mana otakmu, wahai Kakek Tua?""Jadi, kau tidak akan memberiku sedekah, wahai Ageng?""Tentu saja tidak. Pergi sana, aku tidak akan memberikan apa pun kepadamu, bahkan setetes air. Jadi, jangan bermimpi!" Kakek tua itu langsung pergi tanpa mengucapkan apa pun lagi kepada Juragan Ageng. Kendati merasa aneh, Juragan Ageng tidak peduli. Ia justru senang dan berniat melanjutkan tidur siangnya.Sementara itu, dalam perjalanan meninggalkan rumah Juragan Ageng, si Kakek tersenyum penuh arti.Kehadiran kakek tua kemarin cukup mengganggu pikiran Juragan Ageng, ditambah ia menemukan sesuatu yang aneh di depan rumahnya.Tongkat.Juragan Ageng berusaha mengingat siapa yang datang dan berani menancapkan tongkat itu di depan rumahnya?Juragan Ageng lalu memerintahkan para pengawalnya untuk mencabut tongkat tersebut, tetapi tidak ada yang berhasil. Setiap ada penduduk yang lewat, ia juga minta untuk mencabut tongkat tersebut, tetapi sama saja. Mereka gagal mencabutnya. Akhirnya, Juragan Ageng turun tangan. Dengan rasa kesal memuncak, Juragan Ageng menarik tongkat tersebut.Hap.Dengan sekali tarikan saja, tongkat itu berhasil dicabutnya."Begini saja kalian tidak bisa mencabutnya. Payah!" sindir Juragan Ageng kepada para pengawalnya. Selintas ia menyayangkan, kenapa tidak sejak awal ia mencabutnya sendiri?Juragan Ageng lalu membuang tongkat itu ke sembarang tempat. Dan tiba-tiba saja air muncul dari lubang bekas cabutan tongkat tersebut.Tak lama, si Kakek tua kembali mendatangi Juragan Ageng. Melihat kehadiran si Kakek, Juragan Ageng kesal lalu memaki-makinya, "Hei, Kakek Tua. Itu tongkat milikmu, kan? Ambil sana. Tongkatmu sudah mengotori halaman rumahku, bahkan ada air keluar dari sana.""Itu hukuman untukmu, wahai Ageng. Air itu adalah bentuk kemarahan dan kesedihan para penduduk Desa Damai atas sikap kikir dan sombongmu. Maka, nikmatilah apa yang kau perbuat selama ini. Manusia akan menuai hasil dari apa yang mereka tanam di hidupnya. Baik dan buruknya."Makin hari aliran air makin deras, Juragan Ageng mulai panik dan memerintahkan seluruh pengawalnya menyumbat aliran tersebut dengan apa pun. Mereka menutupnya dengan kain besar, tetapi gagal. Mereka juga menggali lubang besar di suatu tempat agar air hanya mengalir ke sana, tetapi tetap saja gagal.Air itu makin besar alirannya dan sulit untuk dihentikan. Bahkan kini setengah rumah Juragan Ageng sudah terendam air. Pengawal pun tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat situasi seperti itu, para pengawal justru segera berkemas untuk meninggalkan Desa Damai beserta keluarga mereka, tak terkecuali para penduduk. Mereka sudah mulai pindah ke desa seberang demi menyelamatkan diri."Hei, mau ke mana kalian?" teriak Juragan Ageng yang masih berada di rumahnya."Kami akan pergi ke desa seberang, Juragan. Ayo, Juragan, kita harus menyelamatkan diri. Air sudah makin tinggi.""Tidak. Aku akan tetap di sini menjaga hartaku dari orang-orang miskin.""Baiklah kalau itu kemauan Juragan."Luapan air makin tinggi, tetapi itu tak membuat Juragan Ageng meninggalkan rumahnya. Ia bersikukuh ingin tetap tinggal bersama kekayaannya. Sampai akhirnya, Juragan Ageng ikut tenggelam bersama hartanya.
5 Eksperimen Ekstrem Yang Hampir Memusnahkan Dunia
Secara etimologi, kata 'manusia' berasal dari bahasa sansekerta “ manu” dan “mens” (Latin) yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai khalifah berbekal akal pikiran untuk berkarya di muka bumi. Kepada manusia diberikan-Nya akal dan dipersiapkan untuk menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi (berdaya cipta) dan sanggup menguasai alam dan binatang.Kehidupan manusia sendiri sangatlah komplek, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta.Setiap hubungan harus berjalan selaras dan seimbang. Namun, apa jadinya jika kecerdasan dan rasa keingintahuan manusia yang terlampau tinggi justru digunakan untuk tujuan eksploitasi dan pada akhirnya berpotensi memusnahkan dunia?Berikut adalah 5 eksperimen ekstrem yang pernah dirancang dan dilakukan oleh manusia dengan potensi bahaya sangat tinggi untuk memusnahkan segala peradaban di dunia. Beberapa eksperimen di bawah pernah menjadi kontroversi besar sehingga sebagian proyek ada yang ditunda atau dihentikan.1. Kola Superdeep BoreholeProyek dimulai pada tahun 1970an dan pada tahun 1994, bor mereka sudah mencapai kedalaman 12.000 kilometer. Tempat ini dijuluki sebagai tempat terdalam di permukaan bumi. Peristiwa ini pada akhirnya menjadi sejarah pengeboran paling dalam yang pernah dilakukan oleh manusia. Mereka sempat berambisi untuk mencapai lapisan mantel dalam bumi.Sayangnya, bumi bereaksi dengan menciptakan sebuah gaya tekan ke atas yang kuat. Ketakutan, akhirnya pengeboran ini dihentikan. Para ilmuan khawatir jika sesuatu yang buruk akan menimpa mereka jika proyek ini diteruskan. Mereka mulai menyadari kenyataan bahaya dari penggalian bumi yang bisa saja memicu kehancuran bumi.2. Trinity Test0.06 - 0.127 ms setelah ledakanLedakan yang kasat mataTrinity test adalah uji coba bom nuklir selama proyek Manhattan. Peledakan itu dilakukan di Alamogordo (New Mexico), pada tanggal 16 Juli 1945. Berat bom 19 kiloton , menghasilkan daya ledak setara 80 terajoule (sama dengan peledakan TNT seberat 19.000 ton ), melebihi panas permukaan matahari.Merupakan peledakan bom atom pertama yang bermuatan plutonium dan sama modelnya dengan yang dijatuhkan di Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Peledakan dilakukan di Alamogordo Bombing Range, sebuah tempat yang berada di antara Carrizozo dan Socorro, New Mexico.Bom tersebut digantung di menara baja berketinggian 20 meter untuk simulasi penjatuhan dari pesawat. Ledakan meninggalkan kawah dengan kedalaman 3 m dan selebar 330 m. Awan jamir setinggi 16.000 m, dan gelombang kejut yang terasa dalam radius 160 kilometer.Kawah tersebut melumerkan gurun pasir dan mengubahnya menjadi lapisan kaca hijau tipis yang disebut trinitit. Kawah tersebut segera terisi kembali, dan sekarang daerah ini dilindungi. Di tempat peledakan itu didirikan tugu setinggi 3,65 m dan kawasan itu masih mengandung unsur radioaktif.Suksesnya percobaan ini menjadi tonggak sejarah dalam terciptanya bom atom dan nuklir yang sangat mematikan. Hingga kini, peristiwa apapun yang terkait dengan nuklir seperti bencana kebocoran reaktor dan uji coba nuklir selalu menjadi kontroversi.3. Hadron Collider Penumbuk raksasa Hadron Collider adalah kompleks pemercepat partikel berenergi tinggi terbesar yang ada di dunia. Berfungsi untuk menabrakkan dua buah pancaran partikel proton dengan energi kinetis yang sangat besar. LHC dibuat oleh Badan Riset Nuklir Eropa (CERN).Proyek ini dimulai sejak tahun 1995 dan merupakan proyek terbesar yang pernah dilakukan oleh Manusia dengan menggunakan peralatan paling rumit di dunia, serta memakan biaya lebih dari USD 10 Miliar dengan waktu penyelesaian lebih dari 14 tahun.Terletak 91 meter dibawah perbatasan Franco-Swiss dekat Geneva, Switzerland, mesin yang berbentuk terowongan sepanjang 27 kilometer ini dibangun oleh 10000 ilmuwan dan insinyur, dari lebih 100 negara, serta didukung oleh ratusan universitas dan laboratorium.Proyek ini murni untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tapi dampaknya dinilai bisa membuat membuat kehidupan di bumi mengalami kematian. Hadron Collider adalah eksperimen raksasa yang salah satu tujuan utamanya mensimulasikan Black Hole mikroskopis dan meneliti fenomenanya.Namun, penelitian yang kontroversi ini dihentikan sementara (delay). Penyebabnya antara lain disebabkan kekhawatiran kalau lubang hitam yang terbenruk dapat tumbuh besar dan mampu mengonsumsi benda di sekitarnya. Jika dibiarkan, maka kehidupan di bumi bisa terancam.4. Starfish PrimeBagi kalian yang pernah browsing aau mempelajari tentang lapisan atmosfer bumi, kita mengenal kalau lapisannya dibagi menjadi lima. Agar lebih mudah, perhatikan gambar dan fungsi masing-masing bagian.Lapisan Magnetosfer terletak diatas lapisan Ionosfer yang terletak antara Termosfer dan Eksosfer. Magnetosfer adalah medan magnet bumi yang menjangkau ribuan kilometer ke antariksa, ibarat perisai yang mampu melindungi bumi dari badai dan radiasi matahari yang ekstrem.Bayangkan saja jika bagian itu rusak, bahkan dirusak! Maka manusia dapat punah. Mirisnya, Amerika pernah melakukan peledakan di lapisan Magnetosfer. Adapun kekuatan ledakan sebesar 1,8 megaton yang diperkirakan hampir 100x kali lebih besar dari Trinity Test!Misi aslinya untuk mengganggu satelit milik Rusia, tapi dampaknya luar biasa. Jalur komunikasi sempat mati di beberapa wilayah secara bersamaan. Terlebih, dampak badai matahari yang mampu menjangkau bumi. Untungnya, Amerika kemudian membuat satelit anti radiasi untuk menambal lubang di Magnetosfer yang pernah mereka rusak itu.5. SetiSeti adalah program yang ditujukan untuk mencari kehidupan lain selain di bumi. Penelitian ini semakin menunjukkan hasil ketika peneliti mendapat semacam gelombang frekuensi dari planet-planet terdekat terutama Mars. Hingga akhirnya, SETI semakin gencar melakukan kontak hingga sekarang denan berbekal peralatan yang semakin canggih.Beberapa peneliti berpendapat kalau rasa penasaran dan keingintahuan manusia akan kehidupan lain selain di bumi tidak perlu dilanjutkan. Tentu saja ketakutan mereka didasari oleh teori invasi alien yang mungkin terjadi. Bumi berpotensi kiamat dan manusia akan punah. Mengingat tingkat teknologi alien dan kita seringkali digambarkan terpaut jauh.
Cold CEO has Falling in Love
Jeon Jungkook.Siapa yang tidak mengenal nama itu. CEO muda dan tampan dari perusahaan multimedia terbesar di Korea Selatan. J&J Media Corporation . Perusahaan itu dibangun oleh sang kakek, dan nama perusahaannya diambil dari nama kakek dan neneknya, Jeon Jaemin dan Song Jiae. Setelah kakeknya pensiun karena penyakit yang dideritanya, ayahnyalah yang menjabat sebagai direktur utama di perusahaan itu saat ini.Sebagai seorang CEO perusahaan ternama, Jungkook tentunya menjadi pria idaman para wanita. Bukan hanya karena ia masih muda dan kaya, ia juga memiliki wajah yang rupawan. Ditambah lagi bentuk tubuhnya yang tinggi, tegap dengan otot-otot yang terbentuk sempurna.Di balik kesempurnaan yang dimilikinya, ia juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah sifatnya yang dingin dan sulit didekati. Banyak wanita dari berbagai kalangan, baik itu karyawan di kantornya, rekan bisnis, maupun putri dari teman-teman kedua orangtuanya, telah berusaha mendekatinya. Namun, semua usaha mereka tak ada yang mendapatkan hasil. Jungkook sama sekali tak pernah melirik mereka. Ia belum tertarik untuk menjalin sebuah hubungan. Ia masih ingin memfokuskan dirinya pada pekerjaan. Lagipula di matanya, semua wanita yang mendekatinya hanya melihatnya sebagai seorang CEO J&J Media Corp , bukan sebagai seorang Jeon Jungkook..." Sajangnim , pak direktur menghubungi anda barusan. Anda diminta segera pulang" ujar Park Jimin, sekretaris pribadinya, sembari menyerahkan ponsel atasannya itu.Jungkook yang baru saja keluar dari ruangan rapat, segera mengambil ponselnya dari tangan Jimin. Tanpa berbicara sepatah katapun, ia lalu berjalan melenggang menuju lift. Jimin mengikutinya dari belakang, dan seperti biasa, para karyawan wanita yang dilewati ataupun melewatinya, menatap sang CEO dengan tatapan kagum, bahkan tak sedikit yang berani menatap atasannya itu dengan tatapan menggoda. Namun, tetap saja, Jungkook tak terpengaruh sama sekali.Kini Jungkook telah duduk di kursi belakang mobil Rolls-Royce Ghost EBW hitam miliknya. Jimin duduk di depan, di samping sopir pribadi Jungkook. Saat berangkat ke kantor, Jungkook memang lebih sering menggunakan sopir untuk mengendarai mobilnya.Hari masih sore saat mereka keluar dari gedung perusahaan. Jalanan juga masih basah dan terdapat beberapa genangan air, sisa-sisa hujan sebelumnya."Tidak bisakah kau menyetir lebih cepat?" titah Jungkook dengan ekspresi dinginnya."Tapi tuan, jalanan masih basah. Bagaimana nanti kalau..." sang sopir tak berani melanjutkan kalimatnya kala melihat tatapan Jungkook, yang seolah ingin membunuhnya, dari kaca depan mobil. Ia hanya bisa menelan salivanya dan berkata, "baik tuan".Saat sedang melaju kencang, tanpa sengaja mobil milik Jungkook melintasi genangan air, dan membuat seorang gadis yang tengah berjalan di trotoar kini basah terkena cipratan air tersebut...Jieun baru saja keluar dari toko kue. Ia nampak girang menenteng kue tart yang baru saja dibelinya. Hari ini adalah ulang tahun ibunya. Ia sengaja ingin memberi kejutan dengan membelikan kue kesukaan ibunya itu.Namun, siapa sangka, senyum cerah yang terukir di wajahnya menghilang kala sebuah mobil melewati genangan air tepat di hadapannya dan membuatnya basah kuyup terkena cipratan air."YAK!!!"Mobil itu pun berhenti seketika. Seorang pria turun dari kursi pengemudi."Maafkan saya nona. Anda baik-baik saja, bukan?" tanya pria yang merupakan sopir Jungkook."Apa kau lihat aku sedang baik-baik saja?" gerutu Jieun seraya menatap dirinya yang tengah basah kuyup. Belum lagi kuenya yang telah hancur karena terguncang saat Jieun berusaha menghindari cipratan air tadi."Lagipula siapa yang mengajarimu untuk mempercepat laju kendaraan saat melintasi genangan air?!""Maafkan saya sekali lagi nona. Saya hanya seorang sopir yang melaksanakan instruksi atasan saya. Saya mohon anda tidak menyulitkan saya" pinta sang sopir. Ia sudah membayangkan Jungkook akan memarahinya bila ia terlalu lama berurusan dengan gadis ini.Jungkook yang tidak sabar menunggu di dalam mobil, segera meminta Jimin untuk mengatasi masalah di luar sana. Ia memberikan uang 100.000 KRW kepada Jimin dan menyuruhnya memberikan uang itu kepada sang gadis."Nona, kami minta maaf. Atasan kami tengah terburu-buru. Ini dari atasan kami sebagai ganti rugi" ujar Jimin seraya menyerahkan uang 100.000KRW tadi kepada Jieun.Jieun menatap uang yang diserahkan oleh Jimin padanya."Di mana atasanmu? Bukankah ia yang menyuruh untuk mempercepat laju kendaraannya? Kenapa bukan ia yang meminta maaf secara langsung?""Nona, anda tak tahu siapa atasan kami. Kalau anda tahu, anda akan..."Belum sempat Jimin menyelesaikan kalimatnya, Jieun segera meraih uang tersebut dari tangan Jimin dan berjalan menghampiri mobil Rolls-Royce yang tengah menepi itu.Tok...tok...tok...Jieun mengetuk kaca mobil tepat di mana Jungkook tengah duduk menunggu. Jungkook melirik ke arah gadis itu. Kaca mobil miliknya cukup gelap, sehingga ia takkan terlihat dari pandangan Jieun. Sebaliknya, ia dapat melihat Jieun dengan jelas. Gadis itu memiliki kulit putih seperti susu. Wajahnya nyaris tanpa riasan, selain lipstik merah jambu yang mewarnai bibirnya. Rambut hitam panjangnya tergerai lurus dengan indah.Jungkook awalnya tak menghiraukan apa yang dilakukan Jieun. Ia berpikir gadis itu ingin bertemu dengannya agar ia bisa meminta ganti rugi yang lebih banyak. Tapi Jungkook tak semurah hati itu. Baginya 100.000 KRW yang diberikannya sudah cukup banyak.Namun, saat melihat Jieun memegang sebuah batu dan hendak menggunakan batu itu untuk dilempar ke jendela mobilnya, ia pun segera menurunkan kaca mobilnya."Apa kau gila?" tanya Jungkook dengan tatapan dinginnya.Jieun nampak emosi kala mendengar ucapan Jungkook barusan." Mwo ? Gila? Hei, bukankah yang gila di sini adalah kau? Ini! Ambil uangmu! Aku tidak memerlukannya!" ujarnya seraya melemparkan uang itu ke dalam mobil, tepat di hadaan Jungkook." Wae ? Apa uang segitu kurang bagimu?" sahut Jungkook. Nada bicaranya sangat tenang dan dingin."Haha... Yang benar saja"Jieun tertawa sinis."Aku seharusnya mendapat permintaan maaf darimu. Kau yang menyuruh sopirmu mempercepat laju kendaraannya di tengah jalanan yang tergenang air, bukan? Apa orang-orang seperti kalian menyelesaikan semua masalah hanya dengan uang, huh?""Nona, sebaiknya anda menerima uang itu dan pergilah. Anda tak tahu siapa beliau" pinta sang sopir pada Jieun."Memangnya aku peduli siapa dia?" geram Jieun."Nona, dia adalah CEO J&J Media Company . Kau pasti memgenal namanya, Jeon Jungkook" ujar Jimin.Jungkook, Jimin, dan sang sopir berpikir Jieun akan diam dan mundur setelah mengetahui identitas Jungkook yang sebenarnya. Tetapi dugaan mereka salah. Reaksi Jieun tak sesuai dengan ekspektasi mereka."Oooh. Jadi kau yang namanya Jeon Jungkook? Kurasa mereka terlalu melebih-lebihkan cerita tentangmu. Bahkan Jongsuk oppa masih lebih tampan darimu. Ditambah lagi kau sama sekali tak memiliki etika. Kau hanya beruntung karena kau kaya" sindir Jieun.Wajah Jimin dan sang sopir nampak pucat pasi kala mendengar perkataan yang keluar dari mulut Jieun. Mereka sangat takut bila Jungkook merasa tersinggung karenanya.Namun rupanya, Jungkook bereaksi sebaliknya, sudut bibirnya malah terangkat. Ia menatap Jieun dan bertanya, "Baiklah, kau menginginkan permintaan maaf dariku, bukan?"Usai bertanya seperti itu, Jungkook keluar dari mobil dan berdiri di hadapan Jieun."Aku minta maaf nona" ujarnya seraya sedikit membungkuk.Jieun nampak tersenyum puas."Hmmm.. Kali ini aku memaafkanmu. Lain kali kalian tak boleh melajukan mobil dengan kencang saat jalanan basah begini. Bukan hanya merugikan orang yang tengah berjalan di trotoar, kalian juga membahayakan diri kalian sendiri" ujarnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada.Jieun lalu menatap kue yang masih berada di tangannya."Hhhh... Bagaimana bisa aku memberikan kue ini pada eomma " keluhnya lalu berjalan menjauhi ketiga pria itu.Tanpa Jieun sadari, dompet miliknya terjatuh di tempat tadi...Jungkook memungut dompet ungu yang tergeletak di trotoar. Ia melihat tanda pengenal yang berada di dalamnya."Ini milik gadis itu rupanya" gumamnya.Ia pun menyimpan dompet itu di saku celananya dan segera kembali ke mobilnya. Sepanjang perjalanan, Jungkook nampak beberapa kali membuka dompet milik Jieun dan memperhatikan kartu tanda pengenal gadis itu....Jungkook kini telah tiba di rumahnya. Sesuai dugaannya, di ruang tamu, kedua orangtuanya telah menunggunya bersama dua orang wanita. Yang seorang Jungkook kenali sebagai sahabat ibunya. Yang seorang lagi sepertinya adalah putrinya."Ah, kau sudah datang? Kemarilah" pinta Ny. Jeon.Jungkook pun duduk di samping ibunya. Namun, ia lebih banyak diam dibanding meladeni pertanyaan-pertanyaan yang diajukan gadis itu.Saat kedua tamunya telah pulang, kedua orangtua Jungkook menatap putranya penuh rasa penasaran."Bagaimana gadis itu? Kau tertarik padanya?" tanya Ny. Jeon."Tidak"" Aigoo . Sebenarnya gadis seperti apa yang kau inginkan, huh? Semua gadis yang kukenalkan padamu kau tolak" keluh Ny. Jeon."Jungkook-ah, kau tahu kan, kakekmu ingin melihatmu segera menikah. Dengan penyakit yang dideritanya saat ini, dia takkan punya banyak waktu" bujuk Tn. Jeon.Jungkook nampak berpikir sejenak. Meskipun ia terlihat tak memiliki empati, pria itu sangat menyayangi kakeknya dan tidak ingin mengecewakannya. Apalagi dokter telah memberikan vonis umur kakek Jungkook takkan lama."Aku akan memikirkannya kembali. Sekarang aku ingin istirahat dahulu" ujarnya kemudian beranjak pergi menuju kamarnya.Setelah menutup pintu kamarnya, Jungkook segera mengambil ponselnya dan menghubungi Jimin."Cari tahu tentang gadis yang bernama Lee Jieun tadi. Aku ingin mengetahui semua tentang dirinya. Jangan melewatkan hal sekecil apapun".'Baik sajangnim'..Pagi-pagi sekali Jimin telah mendatangi kediaman keluarga Jeon. Seperti biasa, ia akan meninggalkan mobilnya di sana dan berangkat bersama Jungkook usai memaparkan jadwal atasannya itu."Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan informasi yang kuminta?" tanya Jungkook pada Jimin yang tengah duduk di samping sopir." Ne sajangnim "Jimin pun mengambil sebuah map cokelat dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Jungkook."Gadis yang bernama Lee Jieun itu tinggal di Myeong-dong. Ia tinggal bersama kedua orangtuanya. Mereka keluarga yang sederhana. Kedua orangtuanya memiliki sebuah rumah makan di daerah sana, dan sepertinya ayahnya tengah terlibat hutang yang cukup besar pada seorang rentenir dan ia kesulitan membayarnya. Dari informasi yang kudapat, rentenir itu ingin menikahi Jieun agar hutang Tn. Lee dapat dianggapnya lunas. Meskipun Ny. Lee menolaknya mati-matian, kurasa nona Jieun bisa saja menerima syarat itu untuk melunasi utang ayahnya, mengingat ia sangat berbakti kepada kedua orangtuanya" papar Jimin seraya melirik Jungkook yang tengah membaca laporannya.Jungkook pun menutup map tersebut."Antarkan aku ke rumah gadis itu" titah Jungkook.Jimin dan sang sopir nampak terkejut mendengar permintaan Jungkook." Ne ?""Apa kau tak mendengarku?" tanya Jungkook dengan tatapan tajamnya. Mau tak mau, sang sopir pun memutar balik mobilnya menuju alamat yang diberikan oleh Jimin...Jieun tengah sibuk membantu ibunya menyiapkan sarapan saat pintu rumahnya diketuk."Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" gerutu ayah Jieun yang tengah membaca surat kabar di ruang makan."Biar aku yang membuka pintunya, appa " ujar Jieun seraya melepaskan celemek yang dipakainya.Saat membuka pintu rumahnya, Jieun nampak terkejut melihat wajah pria yang kemarin membuatnya kesal."Kau?? Kenapa kau bisa kemari?" tanya Jieun.Bukannya menjawab pertayaan Jieun, Jungkook malah bertanya balik kepadanya."Apa kau tidak mempersilahkan tamumu untuk masuk?""Jieun-ah! Siapa itu? Kenapa tidak dipersilahkan masuk?!" seru ayah Jieun dari dalam.Dengan terpaksa, Jieun pun membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilahkan Jungkook dan Jimin untuk masuk. Ayah Jieun pun berjalan menuju ruang tamu untuk melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Ia nampak terkejut saat mengenali Jungkook. Bagaimana tidak, wajah pria itu kerap muncul menghiasi TV dan majalah. Semua media memberitakannya sebagai CEO termuda dan terkaya di Korea."A...anda Tuan Jeon Jungkook? A...ada perlu apa a..anda kemari?" tanya ayah Jieun gugup.Ibu Jieun yang sedari tadi masih di dapur, segera bergegas keluar saat mendengar nama Jeon Jungkook keluar dari mulut suaminya." O...omo ! Apa aku tak salah lihat?"Jungkook membungkuk dengan sopan pada ayah dan ibu Jieun." Anyeonghaseyo . Maaf pagi-pagi seperti ini aku sudah mengganggu kalian"."A .. .ah... Gwe...gwenchana . Kami tidak merasa terganggu" sahut ibu Jieun.Jieun sendiri memutar bola matanya malas melihat tingkah kedua orangtuanya yang nampak segan dengan Jungkook. Menurutnya, seharusnya Jungkook lah yang segan kepada orangtuanya karena mereka jauh lebih tua darinya, bukan sebaliknya."Ada urusan apa kau kemari? Cepat katakan dan segeralah pergi dari sini" celetuk Jieun ketus."Jieun!" ayah dan ibu Jieun kompak menegur Jieun yang bersikap tak sopan di depan Jungkook."Ah. Maafkan putriku, tuan Jeon. Aku kurang mendidiknya dengan benar" ujar ayah Jieun penuh penyesalan.Jungkook tersenyum tipis." Gwenchana Tuan Lee. Aku kemari ingin mengembalikan dompet Jieun yang terjatuh kemarin" ujarnya seraya mengeluarkan sebuah dompet dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Jieun.Jieun segera mengambil dompet itu dari tangan Jungkook."Ah, aku bahkan tak menyadari dompetku terjatuh"."Jieun, kau harus berterima kasih pada tuan Jeon" tegur ibu Jieun." Gomawo " ujar Jieun setengah terpaksa."Selain itu, ada hal yang ingin kubicarakan dengan kalian" sela Jungkook kembali."Eh? Apa yang anda ingin bicarakan?" tanya ayah Jieun."Sebelumnya aku minta maaf karena aku mencari tahu informasi mengenai Jieun. Kudengar, ahjussi memiliki hutang yang cukup besar pada rentenir".Ayah dan ibu Jieun terkejut mendengar ucapan Jungkook. Mereka merasa sedikit malu karena Jungkook mengetahui soal hutang mereka. Berbeda dengan Jieun yang marah karena pria itu diam-diam mencari tahu tentang dirinya-tentang keluarganya."Yak! Kau sungguh tak sopan! Mencari informasi pribadi seseorang itu melanggar hukum!" protes Jieun.Jungkook tak menggubris protes yang diucapkan gadis itu. Ia malah menatap kedua orangtua Jieun bergantian."Aku ingin menawarkan bantuan pada kalian. Aku bisa membantu melunasi hutang kalian pada rentenir itu. Tetapi dengan satu syarat"."Be...benarkah? A...apa syarat yang ingin anda ajukan?" tanya ayah Jieun."Aku ingin menikah dengan putri kalian, Lee Jieun"Kedua orangtua Jieun sangat terkejut mendengar syarat yang diajukan oleh Jungkook. Terlebih Jieun. Ia benar-benar tak tahu apa yang ada di pikiran pria itu."Yang benar saja! Kenapa aku harus menikah denganmu? Tidak! Kami tak perlu bentuanmu!" seru Jieun kesal."Jieun!" tegur ayah Jieun."Lalu kau mau menikah dengan rentenir itu? Bukankah ia juga memberikan syarat yang sama denganku?" tanya Jungkook seraya menunjukkan smirk -nya pada Jieun."Ka...kau mengetahuinya?" tanya Jieun tak percaya."Sudah kukatakan padamu bukan? Aku mencari tahu semuanya" sahut Jungkook datar."Maaf, tuan Jeon. Untuk hal ini, kami harus mendengar pendapat Jieun. Kami tak ingin memaksa Jieun menanggung hutang kami" ujar ayah Jieun."Benar tuan Jeon. Kami tak bisa menjual putri kami hanya untuk melunasi hutang itu" imbuh ibu Jieun dengan wajah sendunya.Jieun nampak tersentuh mendengar ucapan kedua orangtuanya. Meskipun mereka hidup pas-pasan, Jieun selalu merasa bersyukur memiliki orangtua yang menyayangi dan menghargainya. Namun, Jieun tentu saja tak ingin hutang ayahnya terus menghantui mereka. Ia tak tega melihat ayahnya selalu dipukuli kala rentenir itu datang untuk menagih hutang mereka."Maaf kalau membuat kalian berpikir seperti itu, tapi bisakah aku berbicara berdua dengan Jieun terlebih dulu?" tanya Jungkook.Kedua orangtua Jieun saling menatap kemudian beralih menatap Jieun. Melihat Jieun menganggukkan kepalanya, kedua orangtuanya lalu mempersilahkan Jungkook berbicara berdua dengan putri mereka. Jieun mengajak Jungkook berbicara di kamarnya sementara Jimin bersama kedua orangtua Jieun menunggu di ruang tamu."Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jieun setelah menutup pintu kamarnya."Pertimbangkanlah syarat yang kuberi. Dibanding menikah dengan rentenir itu, jauh lebih baik menikah denganku. Kau tahu, aku tahu banyak tentang rentenir yang berurusan dengan appa mu. Tua bangka itu telah memiliki enam belas istri, apa kau mau menjadi istri ke tujuh belasnya? Terlebih lagi, kuyakin ia akan terus memaksamu melayani kebutuhan seksualnya setiap hari" ujar Jungkook sedikit menakut-nakuti Jieun.Jieun bergidik ngeri membayangkan ucapan Jungkook. Memang benar, pria paruh baya itu selalu menatapnya dengan mata berkilat, dan tersenyum seperti pria mesum setiap kali ia datang."La..lalu apa bedanya denganmu?" tanya Jieun masih ragu."Oh, ayolah. Aku tak perlu memberitahumu kalau aku jauh lebih muda darinya. Aku lebih kaya, dan juga aku akan menghargaimu" sahut Jungkook sedikit menyombongkan dirinya."Maksudmu?""Begini Jieun, bila kau mau menikah denganku, bukan hanya aku yang membantu keluargamu, tapi kau juga membantuku. Kakekku memiliki penyakit jantung dan komplikasi lainnya. Dokter menyatakan umurnya takkan lama. Dan sebelum ia meninggal, ia ingin melihatku menikah. Aku ingin mengabulkan permintaan terakhirnya itu. Karena itu, aku ingin membuat syarat yang menguntungkan untuk kita berdua"."Ta..tapi kenapa harus aku? Bu...bukankah kau bisa mencari gadis lain? Ada ribuan gadis di luar sana yang pasti sangat ingin menikah denganmu"Jungkook mendekat dan menatap Jieun lekat."Karena itu aku tidak menginginkan mereka. Aku tidak ingin ada perasaan yang terlibat karena itu akan menyusahkan, karena itu aku memilih gadis yang tidak tertarik padaku seperti dirimu" ujarnya.Melihat Jieun mulai bimbang, Jungkook pun berusaha meyakinkannya sekali lagi. "Begini saja. Enam bulan. Setidaknya jadilah istriku selama enam bulan, setelah itu kita akan berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. Selama itu, aku berjanji tidak akan berlaku buruk padamu. Kita tidak akan melakukan kontak fisik tanpa persetujuan kedua belah pihak. Aku juga takkan mengekangmu atau melarangmu kalau kau mencari lelaki lain di luar sana selama keluargaku tidak mengetahuinya".Setelah berpikir cukup lama, Jieun merasa alasan yang diberikan Jungkook cukup masuk akal. Enam bulan bukanlah waktu yang lama. Terlebih Jungkook telah berjanji untuk tidak berbuat yang macam-macam. Menikah dengan Jungkook akan jauh lebih baik dibanding menikah dengan rentenir tua mesum itu."Ba...baiklah kalau begitu. Aku setuju dengan syaratmu".Jungkook tersenyum mendengar jawaban Jieun."Bagus. Kalau begitu, segera beritahu kedua orangtuamu. Kita akan mendaftarkan pernikahan kita sekarang juga"." N..ne ???"Jungkook nampak tak memperdulikan Jieun yang terlihat sangat terkejut. Ia meraih lengan Jieun dan membawanya ke ruang tamu menemui tuan dan nyonya Lee." Ahjussi, ahjumma , kami telah membicarakannya dan Jieun telah menyetujui syarat yang kuajukan" ujar Jungkook sopan.Ayah dan ibu Jieun tentunya terkejut dengan keputusan yang diambil Jieun."Jieun-ah apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya ayah Jieun."Jangan melakukannya bila terpaksa, sayang. Kau tak perlu melakukannya demi kami" pinta ibu Jieun."Aku tidak terpaksa appa , eomma . Kurasa tak ada pilihan yang lebih baik dari ini. Kami sudah membicarakan semuanya dan Jungkook juga memiliki alasannya sendiri" sahut Jieun. Mereka lalu memaparkan alasan Jungkook memilih Jieun. Tapi tentu saja, mereka tak menjelaskan mengenai perjanjian enam bulan itu."Kalian jangan khawatir. Aku akan memperlakukannya dengan baik. Kalau klaian mengizinkan, kami akan segera mendaftarkan pernikahan ini sekarang juga" ujar Jungkook."Aku percaya kalau ia akan menjagaku" bujuk Jieun berusaha meyakinkan kedua orangtuanya."Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Aku tahu, kalau kau sudah memutuskannya, kami tak bisa menghalangimu" sahut ayah Jieun."Maafkan kami, Jieun. Kami membuatmu harus menanggung beban hutang ini" ujar ibu Jieun lirih." Eomma , kau tak perlu meminta maaf. Aku juga bertanggung jawab melunasi hutang itu. Bagaimanapun, appa berhutang juga demi kita".Ibu Jieun lalu menarik putrinya itu ke dalam pelukannya. Ia merasa bersalah karena harus membiarkan putri semata wayangnya itu menanggung beban hutang mereka. Tapi di sisi lain, ia juga menyadari kalau mustahil bagi mereka melunasi hutang itu tanpa bantuan Jungkook. Dibanding melepaskan putrinya pada rentenir tua bangka yang mesum itu, entah mengapa hati ibunya merasa percaya melepaskan putrinya pada Jungkook."Jungkook-ssi, kau tahu keluarga kami bukan keluarga terpandang sepertimu. Putri kami tidak terbiasa hidup dalam kemewahan sepertimu. Tetapi ketahuilah, bagi kami, ia adalah harta yang paling berharga. Kami memberikannya pendidikan yang terbaik, menjaganya dengan baik. Kuharap kau juga bisa menjaganya dengan baik. Jangan biarkan orang lain merendahkannya" pinta ibu Jieun.Jungkook menatap ibu Jieun penuh ketulusan."Aku berjanji, eommonim ".Usai memberitahukan keputusan mereka kepada kedua orang tua Jieun, Jungkook dan Jieun pun segera menuju ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka, setelah sebelumnya menyiapkan berkas-berkas yang mereka perlukan."Apa kau tidak bertanya kepada orangtuamu lebih dulu?" tanya Jieun ragu. Saat ini mereka telah berada di depan kantor catatan sipil."Tak perlu. Mereka pasti tidak keberatan. Ayo kita masuk sekarang. Setelah ini kita temui rentenir itu" sahut Jungkook seraya meraih lengan Jieun.Setelah mereka mengisi formulir dan menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan, keduanya pun kini telah sah menikah secara hukum.Jieun menatap sertifikat pernikahannya."Tak bisa dipercaya secepat ini statusku berubah" gumamnya miris."Yah, sekarang kita telah resmi menjadi suami-istri. Tapi jangan khawatir, aku tetap akan mengurus pemberkatan dan resepsi untuk pernikahan kita. Sekarang sebaiknya kita pergi menemui rentenir itu" sahut Jungkook tenang..."Apa maksud semua ini tuan Jeon?" tanya Mr. Son, sang rentenir, seraya menatap cek bernilai dua ratus juta won tertera di sana."Itu adalah pembayaran hutang tuan Lee. Aku bahkan melebihkannya untukmu. Mulai sekarang, jangan mengganggu mereka lagi" sahut Jungkook datar.Awalnya Mr. Son merasa sangat marah karena gadis yang diincarnya ternyata telah dimiliki oleh pria lain, dan pria itu adalah CEO dari perusahaan J&J Media Co rporation . Tetapi ia tak dapat berbuat banyak kala Jungkook mengancam akan membuat bisnisnya gulung tikar bahkan bisa saja memasukkannya ke dalam penjara bila ia masih berani mengganggu keluarga Lee. Lagipula uang yang diberikan Jungkook dua kali lipat dari hutang keluarga Lee ditambah bunganya.Setelah memperoleh kesepakatan dengan Mr. Son, Jungkook pun mengajak Jieun menemaninya ke kantor.Semua pegawai di perusahaan J&J Media corporation menatap penuh rasa penasaran pada wanita yang berjalan di samping CEO mereka. Terlebih Jimin, sekretaris pribadi sang CEO bahkan bersikap sopan padanya. Tak pernah ada wanita yang bisa berada sedekat itu pada CEO mereka. Meskipun banyak wanita yang berusaha mendekat, Jungkook selalu menjaga jarak dengan mereka.Jungkook tidak langsung menuju ruangannya, melainkan menuju ruangan presdir, ayahnya sendiri. Ia juga mengajak Jieun menemaninya, sementara Jimin menunggu di ruangannya.Reaksi yang diberikan presdir Jeon benar-benar di luar dugaan Jieun. Bukannya marah dan menyerang Jieun dengan beribu pertanyaan, pria paruh baya itu malah tersenyum sumringah mendengar berita yang disampaikan Jungkook.Bahkan, ia dengan semangatnya meminta Jieun memanggilnya abonim . Presdir Jeon bahkan tak bertanya tentang asal usul Jieun. Baginya, selama wanita yang dipilih Jungkook adalah wanita baik-baik, ia akan merestuinya.Ayah Jungkook pun berjanji akan mengatur acara pemberkatan dan resepsi pernikahan mereka yang akan dilaksanakan minggu depan, tepat di hari ulang tahun kakek Jungkook...Tak terasa seminggu telah berlalu. Selama seminggu ini, Jieun telah tinggal di rumah keluarga Jeon. Ia pun tidur sekamar dengan Jungkook, karena secara hukum mereka telah sah sebagai suami-istri. Namun, Jungkook tak pernah menyentuhnya sedikitpun. Jieun menaruh guling besar di tengah kasur mereka sebagai pembatas saat mereka tidur.Dan hari ini adalah hari yang melelahkan bagi mereka. Setelah pemberkatan nikah di Gereja, mereka segera menuju ke sebuah hotel mewah yang merupakan tempat berlangsungnya resepsi. Banyak tamu dari kalangan atas yang menghadiri acara itu. Tak sedikit wanita yang merasa iri pada Jieun karena telah berhasil mendapatkan Jungkook.Keluarga Jungkook pun sangat menyukai Jieun, terutama kakek Jungkook. Meskipun Jieun bukan berasal dari kalangan mereka, namun gadis itu sangat sopan dan berpengetahuan luas. Ia juga sangat tulus dan baik hati. Jungkook saja tak menyangka bila gadis arogan yang beberapa hari lalu ditemuinya itu ternyata memiliki hati seperti emas.Hampir lima jam lamanya mereka menjamu tamu-tamu mereka yang tak terhitung jumlahnya. Setelah tiba di rumah, Jieun segera merebahkan diri di atas kasur. Kaki dan punggungnya terasa sangat pegal usai berjalan ke sana kemari menjamu tamu.Jungkook sendiri segera melepas jasnya dan melonggarkan dasi yang dikenakannya."Apa kau tak mau mandi dan berganti baju terlebih dulu?" tanyanya pada Jieun."Tentu saja aku mau. Tapi tubuhku terasa berat" sahut Jieun lemah.Namun, tak lama kemudian, ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Semakin lama, pakaian itu membuatnya tak nyaman.Jungkook menunggu Jieun selesai mandi. Ia juga merasa sangat gerah dan tak nyaman. Hampir setengah jam menunggu, tak juga suara pancuran air terdengar dari dalam kamar mandi. Ia pun mengetuk pintu kamar mandi."Hei, Jieun. Apa kau masih lama di dalam sana?"Tak terdengar sahutan dari dalam, sehingga Jungkook hendak mengetuk sekali lagi. Namun, pintu kamar mandi terlebih dahulu terbuka dan Jieun memunculkan kepalanya di sana."Jungkook, aku butuh bantuanmu" pinta Jieun dengan pipi merona.Rupanya Jieun kesulitan membuka resleting di belakang gaunnya sehingga ia meminta Jungkook untuk membantunya melepaskan gaun itu.Kala jemari Jungkook menarik restleting gaun Jieun, Jungkook tak dapat menahan kekagumannya menatap punggung Jieun yang putih dan mulus. Bagaimanapun, ia seorang pria normal. Tidak mungkin ia tak bergejolak melihat punggung polos wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Namun, ia mengingat janjinya. Susah payah ia menahan dirinya."Aku akan menunggu di luar. Jangan terlalu lama. Aku juga butuh mandi" ujar Jungkook dengan nada yang sangat dingin, seolah ingin menutupi kegugupannya..Tengah malam, Jieun terbangun karena ingin ke kamar kecil. Sekembalinya dari kamar mandi, ia menyadari suaminya tak berada di tempat tidur. Matanya lalu menangkap sosok seseorang di beranda kamarnya. Ia pun keluar menghampiri orang itu, Jeon Jungkook."Kau belum tidur?"Pertanyaan Jieun membuat Jungkook tersadar dari lamunannya."Kau terbangun?" tanya Jungkook kembali. Jieun hanya mengangguk.Jungkook menatap Jieun yang hanya memakai gaun tidur yang tipis. Sepertinya gadis itu lupa memakai luaran sebelum menuju beranda. Ia pun segera berjalan menghampiri Jieun dan membawa gadis itu kembali ke kamar."Di luar sangat dingin. Kau bisa masuk angin" ujar Jungkook dingin. Namun, Jieun bisa merasakan kehangatan dalam kalimat itu. Tanpa sadar pipinya kini merona.Jungkook menatap wajah Jieun yang memerah. Entah mengapa sekujur tubuhnya terasa panas saat ini. Terlebih melihat Jieun dalam gaun tidur yang memperlihatkan bahu mulusnya itu membuat jantungnya berdebar kencang.'Sejak kapan ia menjadi secantik ini?' batinnya.Menyadari tatapan Jungkook yang intens padanya, membuat Jieun semakin gugup."Ke...kenapa kau menatapku seperti itu?""Jieun..... boleh aku.... menciummu?"Pertanyaan Jungkook membuat Jieun terkejut bukan main." M...mwo?! Neon michyeosseo? "" Wae ? Bukankah kita telah menikah?"Ia terdiam, berpikir untuk beberapa saat. Ia tak memiliki alasan untuk menolaknya. Secara hukum, mereka adalah suami-istri. Jungkook berhak mendapatkannya, meskipun setelah enam bulan mereka akan berpisah. Apalagi Jungkook secara sopan menanyakan persetujuannya. Tapi tetap saja Jieun ragu.Melihat Jieun hanya terdiam sejak tadi, Jungkook pun mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Perlahan, bibir mereka semakin mendekat hingga akhirnya bertemu. Jieun tentu saja terkejut, namun entah mengapa tubuhnya tak bisa menolak. Untuk sesaat, bibir Jungkook hanya menempel, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu perlahan, Jungkook mulai melumat bibir ranum istrinya itu. Lembut dan memabukkan.Bagi Jieun, ini adalah ciuman pertamanya. Ironis memang, ia tak pernah berkencan sebelumnya. Sebagai ciuman pernikahan mereka saja, Jungkook hanya memberikannya di kening Jieun. Namun, dari cara Jungkook menciumnya, ia tahu ini bukan pertama kalinya bagi Jungkook.Semakin lama ciuman mereka semakin menuntut. Jungkook bahkan telah menjelajahi rongga mulut Jieun dengan lidahnya. Jieun nampak mulai kehabisan nafas. Ia pun mendorong tubuh Jungkook perlahan."Yak! Kau mau membunuhku, huh?" gertak Jieun dengan wajah yang sangat memerah.Jungkook segera memalingkan wajahnya dan beranjak keluar kamar."Kau mau ke mana?" tanya Jieun ketus."Tidurlah duluan. Masih ada hal yang harus kukerjakan" sahut Jungkook tanpa menoleh sedikitpun.Jieun menatap punggung Jungkook dengan penuh tanda tanya.'Apa-apaan dia? Setelah menciumku lalu meninggalkanku begitu saja?' batinnya kesal.Jieun tak tahu, di balik pintu, Jungkook menyandarkan tubuhnya dan menempelkan telapak tangan di dadanya, mengatur nafasnya yang saling beradu dengan detak jantungnya...Hari ini adalah hari pertama Jieun bekerja. Sebenarnya ayah Jungkook meminta Jieun untuk bekerja di perusahaan mereka saja. Terlebih melihat riwayat pendidikan Jieun yang merupakan lulusan Universitas Seoul jurusan bussiness management . Tetapi Jieun menolaknya. Ia merasa jika ia menerima tawaran itu, seluruh karyawan akan berpikir ia diterima karena merupakan menantu presdir, bukan karena kemampuan yang dimilikinya. Untung saja Jungkook memahami keputusannya.Setelah memasukkan lamaran pekerjaan di beberapa perusahaan, Jieun akhirnya diterima di sebuah perusahaan entertainment.Hari itu, Jungkook berangkat lebih pagi untuk mengantarkan sang istri terlebih dahulu sebelum berangkat menuju kantornya."Pukul enam sore nanti aku akan menjemputmu" ujar Jungkook saat menurunkan Jieun di depan tempat kerjanya."Kau tak perlu repot-repot. Aku bisa pulang dengan bus atau taxi. Lagipula aku juga tak tahu pastinya akan pulang jam berapa" tolak Jieun.Jungkook hanya mengendikkan bahunya."Baiklah. Terserah kau saja".Setelah Jieun turun, mobil Jungkook pun segera melaju meninggalkan tempat itu.Jieun menatap miris kepergian mobil suaminya itu."Cih! Katakan saja memang tak berniat menjemput" gerutunya.Jieun melangkah memasuki gedung berlantai enambelas itu. Ia pun segera menuju lantai tujuh, tempat dimana divisinya berada. Saat pintu lift nyaris tertutup, seorang pria nampak menahan pintu itu, lalu masuk ke dalam.Jieun mengamati pria itu. Pria itu berkulit putih dan berwajah manis. Satu persatu pengguna lift itu keluar saat lift berhenti di tujuan mereka. Hingga saat perhentian di lantai empat, tersisa Jieun berdua saja dengan pria itu.Pria itu pun kini mulai memperhatikan keberadaan Jieun. Ia menaikkan sebelah alisnya menatap Jieun."Kau karyawan baru di sini? Aku baru melihatmu"."Ah. Ne . Aku Lee Jieun, karyawan baru di divisi pemasaran. Ini adalah hari pertamaku bekerja" sahut Jieun."Oh begitu ya?"Kini pria itu mulai tersenyum menatap Jieun. Ia pun mengulurkan tangannya di hadapan Jieun."Perkenalkan, aku Min Yoongi. Salah satu produser di perusahaan ini".Jieun menatap pria itu lalu menjabat tangannya. Untuk sesaat, Jieun merasa terpesona dengan senyuman Yoongi yang membuat pria itu nampak semakin manis..Jieun baru saja selesai dengan pekerjaannya. Berhubung dia adalah karyawan baru, dia harus pulang lebih lambat dibanding karyawan lainnya. Jieun melirik jam tangannya, pukul delapan malam. Ia pun meraih ponselnya, entah mengapa ia berharap ada pesan dari Jungkook yang masuk ke ponselnya. Namun ternyata nihil. Pria itu tak menanyakannya sama sekali.Jieun pun mulai mengetikkan pesan untuk suaminya agar pria itu tak khawatir. Meski Jieun ragu pria itu akan khawatir terhadapnya. Setelah memastikan pesannya terkirim, Jieun pun beranjak keluar dari bangunan itu.Sayangnya, hujan deras di luar sana membuat langkah Jieun terhenti. Ia tidak membawa payung sama sekali."Apa aku terobos saja hujan ini?" gumamnya bingung.Di tengah kebingungan Jieun, sebuah mobil mercedes hitam berhenti tepat di depannya. Sang pengemudi menurunkan kaca mobilnya dan memanggil Jieun."Jieun-ssi? Kau baru pulang?"Jieun mengamati sang pemilik mobil yang rupanya adalah produser yang ditemuinya pagi tadi."Ah, Yoongi-ssi. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku. Tapi sepertinya aku harus menunggu hingga hujan sedikit reda".Tanpa basa-basi, Yoongi pun membuka pintu mobil di bagian penumpang."Naiklah"." N..ne ?""Aku akan mengantarmu kalau kau tidak keberatan. Hujan sepertinya masih akan lama redanya".Meskipun sesaat ragu, Jieun pun akhirnya menerima tawaran Yoongi. Awalnya Jieun meminta Yoongi menurunkannya di depan kompleks perumahannya saja, tetapi Yoongu bersikeras ingin mengantarnya hingga di depan rumah. Pria itu bahkan memayungi Jieun memasuki halaman rumahnya yang cukup besar. Hari itu di rumah Jieun hanya Jieun, Jungkook, dan ara pelayan. Kedua orangtua Jungkook sendiri sedang mengadakan perjalanan bisnis di Jerman selama dua minggu.Yoongi mengamati sekeliling rumah Jieun.Ia melihat mobil Rolls Royce hitam dan beberapa mobil mewah lainnya terparkir di garasi rumahnya."Kenapa tak membawa mobil ke kantor?""Ahh... Itu bukan mobilku. Mobil itu milik suamiku" sahut Jieun."Kenapa suamimu tidak menjemputmu?" tanya Yoongi bingung. Ia telah menyadari Jieun telah menikah saat mereka bertemu tadi karena cincin pernikahan yang melingkar di jari manis wanita itu."Sebenarnya dia ingin menjemputku tadi. Tapi aku menolaknya"."Tetap saja, sebagai suami seharusnya ia menjemputmu meskipun kau menolaknya. Apalagi di hari hujan seperti ini akan sangat sulit menunggu kendaraan umum" ujar Yoongi.Jieun merasa sedikit tersentuh dengan perhatian yang diberikan Yoongi. Pria itu kemudian kembali menatapnya seraya tersenyum."Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Jangan lupa mengeringkan rambutmu segera" ujarnya seraya menepuk ringan puncak kepala Jieun."Ah.. N..ne . Kamsahamnida Yoongi-ssi" ujar Jieun dengan wajah tersipu. Ia menatap punggung Yoongi hingga pria itu menghilang di balik pintu pagar rumahnyaJieun tidak sadar ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi..Jungkook menatap pemandangan di depan rumahnya itu dari beranda kamarnya. Entah mengapa ada perasaan tak suka saat seorang pria asing tersenyum kepada istrinya. Terlebih istrinya membalasnya dengan senyuman. Bahkan wajahnya turut tersipu. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan kesal.Tak berselang lama, Jieun pun memasuki kamar mereka. Jungkook berdiri di tepi jendela dengan tangan bersilang di depan dadanya, menatap setiap pergerakan istrinya."Siapa pria tadi?"Jieun menatap Jungkook bingung untuk sesaat. Namun kemudian mulai menyadari maksud pertanyaan suaminya."Ah, maksudmu yang mengantarku tadi? Dia Min Yoongi, produser di tempatku bekerja"."Ohh.. Sepertinya kau cukup akrab dengannya"."Tidak juga. Kami baru saja bertemu. Tadi dia berbaik hati memberiku tumpangan karena hujan. Itu saja" bantah Jieun."Tapi kelihatannya tidak sebatas itu".Jieun mulai bingung dengan ucapan suaminya itu."Ada apa denganmu sebenarnya?""Lee Jieun, ingatlah kau sudah menikah. Ku harap kau tahu menempatkan dirimu.Tak pantas bila kau mendekati pria lain dengan statusmu itu" tegur Jungkook.Jieun nampak kesal kini." Heol . Apa kau lupa? Bukankah kau sendiri yang berkata aku bebas menemui pria lain di luar sana? Lagipula pernikahan ini hanya sekedar perjanjian di antara kita. Setelah enam bulan, bukankah semuanya akan selesai?"Jungkook mengeram kesal. Memang benar, ia sendiri yang mengatakan semua itu pada Jieun. Tapi mengapa hatinya merasa tak rela saat Jieun mengatakannya kembali?Dengan amarah yang meliputinya, ia menarik tubuh Jieun dan melemparkannya ke atas kasur. Dikungkungnya tubuh mungil wanita itu. Tanpa berbicara sepatah kata pun, Jungkook melumat bibir Jieun dengan kasar. Jieun meronta, berusaha melepaskan dirinya. Namun, tenaga Jungkook jauh lebih kuat.Jungkook semakin memperdalam ciumannya, memainkan lidahnya dengan leluasa. Jemarinya bermain di balik kemeja yang dikenakan Jieun sehingga membuat Jieun mulai melenguh merasakan sensasi aneh menjalari tubuhnya. Jungkook mulai membuka kancing kemeja Jieun, membuat kulit mulus di baliknya terekspos. Kemudian ia mulai melepaskan satu per satu kancing kemejanya sendiri.Jungkook pun kini beralih menciumi leher Jieun, menuruni leher jenjang gadis itu hingga menuju ke payudara Jieun yang hanya tertutupi bra."Ngghhh... Jung...kookhhh.... H..hentikan".Tak menggubris ucapan Jieun, jemari Jungkook bahkan dengan lincahnya membuka pengait bra Jieun, membebaskan kedua benda kenyal di baliknya. Jieun menatap mata Jungkook yang menggelap dan berkilat. Ini pertama kalinya ia melihat Jungkook seperti itu. Pria itu kini mulai memainkan lidahnya di nipple Jieun, sementara sebelah tangannya meremas payudara sebelahnya.Lenguhan-lenguhan tertahan Jieun membuat Jungkook semakin gelap mata, entah berapa banyak kissmark yang ditinggalkannya di kulit mulus istrinya itu. Tubuh Jieun bergetar. Tangisnya mulai pecah."Hhh... Jungh..kookhh.. Hiksss.. Kumohon...hentikan...hiks...".Mendengar isakan Jieun, Jungkook menghentikan aksinya. Ditatapnya wajah Jieun yang nampak ketakutan dengan air mata yang mulai menggenang di kedua matanya. Ia pun mulai menjauhkan dirinya dari tubuh Jieun.Setelah Jungkook melepaskan kungkungannya, Jieun segera menutupi tubuhnya lalu mendaratkan satu tamparan di pipi Jungkook."Kau keterlaluan! Apa bedanya dirimu dengan rentenir mesum itu!!" seru Jieun penuh amarah. Dihapusnya air mata yang mulai mengalir di pipinya dengan kasar.Jungkook tak bergeming. Bahkan setelah ditampar seperti itu, ia tak menunjukkan tanda pembelaan diri. Ia pun tak sedikitpun menatap Jieun." Mianhae "Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Jungkook sebelum bangkit dan keluar meninggalkan Jieun sendiri. Malam itu, dan malam-malam setelahnya, Jungkook tak pernah tidur di kamarnya dan memilih tidur di kamar tamu. Ia juga mulai berangkat sendiri ke kantor, sementara sopirnya ia perintahkan untuk mengantar jemput Jieun.Jieun berbaring menatap tempat kosong di sampingnya. Entah sejak kapan, ia telah terbiasa dengan keberadaan Jungkook di sisinya. Meskipun ia masih marah bila teringat perlakuan Jungkook terhadapnya beberapa hari lalu.Sudah hampir seminggu ini pria itu selalu menghindarinya. Jungkook selalu berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam sehingga hampir mustahil bagi mereka untuk bertemu meskipun tinggal bersama. Jieun merasa sedikit kehilangan. Ia tak dapat membohongi dirinya. Ia merindukan Jungkook.Apa mungkin Jieun telah mulai mencintai suaminya itu?"Augh... Itu tak mungkin" gumam Jieun menyangkal pikirannya sendiri.Sementara itu di sebuah bar, Jungkook nampak bersama seorang wanita. Ia adalah Kim Yerim, sahabatnya sejak kecil. Mereka sama-sama berkuliah di New York. Hanya saja saat Jungkook kembali ke Korea, Yerim masih tinggal di sana. Yerim sendiri tengah datang berlibur di Seoul."Kudengar kau telah menikah. Tega sekali tak mengundangku" ujar Yerim merajuk."Maaf, aku tak sempat menghubungimu. Lagipula pernikahan kami bukan seperti yang kau pikirkan" sahut Jungkook kemudian menyesap segelas cocktail di hadapannya."Aku tahu. Mengingat sifatmu, mustahil kau mau berkomitmen secepat itu dengan wanita yang baru kau kenal. Pasti kau punya alasan. Tapi aku penasaran, siapa wanita beruntung itu?" tanya Yerim penasaran."Kau tak mengenalnya"Yerim tersenyum kecut mendengar jawaban Jungkook."Melihatmu seperti ini, kurasa kau sedang bertengkar dengannya"Jungkook tak menjawab, ia hanya kembali meneguk cocktail -nya.Yerim memajukan wajahnya mendekati Jungkook."Apa kau ingin kutemani malam ini?"Melihat wajah Yerim berada sangat dekat dengannya, refleks Jungkook mendorong tubuh Yerim."Maaf. Aku harus ke toilet sebentar" ujarnya lalu bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Yerim sejenak.Yerim menatap kesal kepergian Jungkook. Memang bagi Jungkook mereka hanya bersahabat. Tetapi baginya, Jungkook adalah pria yang disukainya diam-diam. Selama mereka di New York bahkan tak jarang mereka berciuman-sebagai sepasang sahabat. Terutama bila keduanya tengah dipengaruhi alkohol, dan itu bukanlah sesuatu yang dipermasalahkan Jungkook. Tetapi hari ini, pria itu menolaknya.Yerim pun menyadari ponsel Jungkook yang tertinggal di meja bar. Ia meraihnya dan membuka kunci layarnya. Jungkook tak pernah merubah kode sandinya dan ia tahu itu. Ia membuka kotak pesan Jungkook, jemarinya sibuk menggeser ke bawah, ke pesan-pesan terdahulu. Matanya lalu menatap satu nama yang terlihat di sana. Jieunnie .Yerim mengerutkan keningnya. Bagi sebagian orang, menulis nama seperti itu dalam daftar kontak mereka adalah hal yang wajar, tapi tidak bagi Jungkook. Yerim pun membuka daftar kontak Jungkook, untuk memastikan kebiasaan pria itu masih sama atau tidak. Setelah melihat daftar kontak itu, ia menyadari kebiasaan Jungkook tak pernah berubah.Ahn Jaehyun, Mr.0xxxxxxxAppa0xxxxxxxxCha Eunwoo, Mr.0xxxxxxxDamian Peter, Mr.0xxxxxxxEomma0xxxxx||Harabeoji0xxxxxJieunnie0xxxxxKim Taehyung, Mr.0xxxxKim Yerim, Mrs.0xxxxxHanya ada tiga nama dalam kontak itu yang penulisannya berbeda dari yang lain: appa, eomma, harabeoji dan Jieunnie . Bahkan namanya pun ditulis dengan formal, meskipun mereka telah berteman sejak kecil. Saat itu pula, Yerim menyadari kalau wanita yang bernama Jieun itu pastilah memiliki tempat spesial di hati Jungkook..Jam telah menunjukkan pukul 00.15, dan Jungkook belum pulang juga. Setiap malam, secara tak sadar, ia selalu terjaga menunggu kepulangan Jungkook. Tak berselang lama, Jieun dapat mendengar bunyi mobil memasuki pekarangan rumahnya.Jieun bangkit dari tempat tidurnya dan mencoba menengok dari balik jendela kamarnya. Ia melihat Jungkook keluar dari mobil yang Jieun yakini bukanlah mobil suaminya. Terlebih Jungkook turun dari bangku penumpang. Kemudian turunlah pengemudi mobil itu, gadis cantik berambut pirang sepinggang. Belum lagi pakaiannya, yang bagi Jieun terlalu terbuka.Jieun mengamati keduanya nampak bercakap-cakap sesaat. Jungkook bahkan tersenyum pada wanita itu. Sebelum wanita itu kembali masuk ke mobilnya, ia sempat mendaratkan sebuah kecupan di pipi Jungkook.Entah kenapa, melihat pemandangan itu, dada Jieun terasa sesak.'Siapa wanita itu? Apa Jungkook selama ini pulang selarut ini karena bersama wanita itu?'Sayup-sayup terdengar langkah kaki Jungkook dari koridor depan kamar mereka. Ia tahu tujuan Jungkook adalah kamar tamu yang berada di ujung koridor. Ia pun segera membuka pintu kamar.Jungkook terkejut kala pintu kamar Jieun tiba-tiba terbuka."Eoh. Kau belum tidur?" tanya Jungkook datar.Jieun tak menyahut. Ia menatap Jungkook penuh kekesalan."Ada apa?" tanya Jungkook yang mulai bingung melihat Jieun yang sepertinya tengah kesal padanya."Kau benar-benar pria egois" gerutu Jieun."Maksudmu?""Saat Yoongi mengantarku pulang malam itu, kau marah padaku hingga...hingga kau melecehkanku. Dan lihatlah sekarang... Kau pulang dengan seorang wanita, bahkan berciuman dengannya".Kening Jungkook berkerut. 'Apa Jieun melihat Yerim mengantarku tadi? Tapi berciuman? Tidak. Aku tidak berciuman dengannya'Jungkook menghela nafasnya panjang."Kau salah paham. Kami tidak berciuman. Dia hanya mencium pipiku"."Hanya?! Bahkan aku yang HANYA diantar Yoongi kau anggap aku tidak tahu menempatkan diri! Heol ! Daebak !" seru Jieun tak terima."Jieun"Jungkook berusaha menenangkan Jieun. Ia melirik sekitarnya, memastikan tak ada pelayan yang mendengar keributan mereka."Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam" bujuk Jungkook seraya membimbing Jieun masuk ke kamarnya.Jieun baru menyadari bau alkohol yang menyeruak dari tubuh Jungkook kala jarak mereka sedekat ini."Kau minum-minum dengan wanita itu?" selidik Jieun. Alisnya terangkat sebelah menatap Jungkook.Jungkook nampak bingung untuk menjawab. Melihatnya, Jieun dapat memastikan sendiri jawaban pertanyaannya."Sepertinya kau telah melanggar banyak hal di perjanjian kita. Pertama kau menyentuhku tanpa persetujuan dariku, kemudian kau melarangku terlalu dekat dengan Yoongi, sementara kau sendiri minum-minum dengan wanita lain hingga larut malam, bahkan berciuman dengannya" ujar Jieun dingin."Jieun, sudah kukatakan, itu bukan berciuman" terang Jungkook.Namun Jieun tak peduli."Kurasa sebaiknya kita mengakhiri semuanya. Aku tak bisa menunggu hingga enam bulan lagi. Lagipula kau sendiri yang telah melanggar perjanjian kita. Mengenai uangmu, aku akan berusaha untuk mengembalikannya padamu secepatnya".Jungkook nampak sangat terkejut mendengar ucapan Jieun. Tidak. Ia tidak ingin berpisah dengan Jieun. Tidak setelah ia menyadari perasaannya pada wanita itu." Shirreo "." Mwo ?! Apa-apaan ka...."Kelimat Jieun terputus kala Jungkook menarik tubuhnya ke dalam pelukannya." Mianhae . Perlakuanku malam itu memang keterlaluan. Aku mengakuinya. Aku tidak akan bertemu Yerim lagi kalau kau tidak menyukainya. Tapi maaf, aku tak ingin melepaskanmu. Bahkan setelah enam bulan pun, kuharap kau masih berada di sisiku"Jieun melonggarkan pelukan Jungkook dan memberanikan diri menatap Jungkook."Ma..maksudmu?"Jungkook membelai rambut Jieun kemudian menyampirkan rambut-rambut Jieun ke belakang telinganya."Dengarkan aku baik-baik karena aku mungkin hanya akan mengatakannya sekali""Lee Jieun, saranghae ".Jieun terdiam berusaha mencerna kalimat barusan."Karena itu, mari lupakan perjanjian itu, dan teruslah berada di sisiku" bujuk Jungkook kembali."Ka..kau tidak sedang bercanda bukan?" tanya Jieun tak percaya."Sejak kapan aku pernah bercanda?" tanya Jungkook balik. Kali ini ekspresinya lebih tenang dan lembut menatap Jieun.Jieun tahu, Jungkook bukanlah pria yang suka bercanda. Ia selalu serius dalam segala hal. Bahkan terkadang terlalu serius. Karena itu, mau tak mau, Jieun mulai mempercayai perkataan Jungkook."Jieun, kau maukan hidup bersamaku hingga seterusnya?" tanya Jungkook penasaran, sebab sejak tadi Jieun sama sekali tidak menanggapi perkataannya.Jieun terdiam sesaat, mencoba meyakinkan perasaannya sendiri. Setelah beberapa menit berpikir, ia pun menengadahkan kepalanya menatap Jungkook.Sambil tersenyum, Jieun pun berkata,"Baiklah. Aku mau"......#####
Pupus
Hari ini adalah hari berkabung bagi keluargaku. Kakak kembarku yang bernama Arzriel meninggalkan kami sekeluarga. Nenek, ibu, ayah dan saudara saudara ku cukup terpukul oleh berita yang sangat mengejutkan ini.Kemarin ibu mendapat telepon bahwa kak Azriel kecelakaan saat pulang dari rumah temannya. Ibu aku dan ayah segera menuju rumah sakit di mana kak Azriel di rawat.Kepala kak Azriel terbentur hingga kemungkinan kak Azriel akan amnesia. Kami sangat terpukul oleh berita ini, kami selalu berdoa untuk kesembuhan kak Azriel. Tapi Tuhan berkehendak lain, beberapa hari setelag kecelakaan kak Azriel menghembuskan nafas terkahir malam itu.Berita ini menyebar cepat, kerabat dan teman teman kak Azriel hadir malam itu, dengan suasana pilu kami membacakan doa agar kak Azriel di terima di sisi-Nya. Namaku Aurel, aku adalah anak kedua dari dua bersaudara, hanya ada aku dan kakak kembar laki laki ku kak Azriel yang kemarin telah pergi.Setelah kepergian kak Azriel hidupku berubah drastis. Semua hal yang biasanya aku lakukan bersama dengan kakak ku sekarang harus aku lakukan sendiri. Hidup ku seperti hampa.***Hari ini adalah hari senin,dua hari setelah kepergian kak Azriel. Aku harus berangkat dengan ayah yang akan pergi ke kantor. Biasanya aku berangkat bersama kak Azriel tapi kali ini aku harus bisa tanpa kak Azriel.Pelajaran membosankan telah usai dan bel berteriak menunjukan bahwa jam istirahat telah tiba. Aku hanya diam membaca novel tebal tanpa ada niat sedikitpun untuk beranjak dari bangku ku.Sebuah pesawat kertas mendarat di meja ku,dan derap langkah seseorang terdengar mendekat ke arah meja ku. "Maaf" ucap seseorang. Aku menoleh dan melihat Alex mendekat dan mengambil pesawat kertas nya.Aku mengangguk saja dengan dengan senyum yang di paksakan. Alex adalah teman satu SMP denganku dia adalah teman dekat kak Azriel hingga akupun bisa kenal dengan Alex. "Rel, nanti pulang lo pulang bareng gue ya?" Tanya nya yang lebih pantas di sebut permintaan."Kan jauhan rumah gue," Ucap ku sambil menutup novel dan menyimpan nya di laci meja."Gapapa kok, entar gue anterin sampe rumah." Ucap nya lalu pergi sambil membawa pesawat kertas tadi.***Aku menunggu di depan kelas, dimana Alex? Dari arah lain dia datang dengan blazer yang rapi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia tiba tiba menggenggam tangan ku dan menarik menuju tempat parkir.Aku tak tahu mengapa aku tak melakukan penolakan sedikitpun, tanpa sadar aku tersenyum, merasakan ada ada kupu kupu yang terbang di perutku. Aku dan Alex menjadi pusat perhatian,karena aku tahu cewek cewek yang menyukai Alex itu tidak sedikit. "Rel lo gak papa kan naik motor? " tanya Alex membuyarkan lamunan ku. "Eh gapapa kok." Ucap ku.***Hari hari berlalu, aku dan Alex kini benar benar dekat. Setiap hari aku selalu menghabiskan waktu dengan Alex karena kami satu kelas dan tinggal di kompleks yang sama. Bahkan Alex sering main ke rumah ku untuk mengerjakan PR atau sekedar main menghabiskan waktu lenggang.Pernah suatu malam Alex main ke rumah dengan membawa gitar. Aku lalu meminta nya mengajari bagaimana cara memainkan gitar. Dia dengan senang hati mengajarkan aku yang tidak bisa.Semua terasa indah, hingga aku mulai menyukai Alex. Aku selalu merasa nyaman bila dekat dengan Alex. Setelah hadirnya Alex aku mulai terbiasa hidup tanpa kak Azriel. Bahkan teman teman sekelas mengira bahwa aku dan Alex pacaran padahal kami hanya teman, sungguh hanya teman.Hari itu kelas kami sedang berolahraga,entah kenapa kepalaku seperti pusing. Tiba tiba semua gelap. Beberapa saat setelah itu aku tersadar di ruang UKS dan kulihat Syila teman ku yang sedang menungguku, Syila bilang aku di gendong Alex saat pingsan tadi.***Semua hal yang aku lalui terasa sangat berkesan. Tapi aku kadang berfikir apakah Alex memiliki perasaan yang sama? Mengapa sampai saat ini tak ada kemajuan dalam hubungan kami? Hingga waktu itu tiba di mana aku mulai menggali info tentang Alex.Waktu itu ku tanya Rai teman Alex, awal nya dia mengatakan bahwa dia tidak tau kalau Alex sedang menyukai siapa. Hingga berminggu minggu aku mulai merasakan ada yang berbeda dari Alex. Dia mulai berubah bahkan kami jarang pulang dan menghabiskan waktu bersama.Pernah suatu hari aku berfikir apakah aku langsung saja bertanya pada Alex dia sedang menyukai siapa? Semua hal yang tidak pasti ini membuat aku lelah sendiri, hingga aku mulai tak peduli aku mulai menutup diri dari semua hal yang menyangkut diri Alex.Hingga semua perilaku ku tanpa sadar membiat Alex semakin jauh. Dia semakin tak peduli denganku, aku pun berfikir bila dia tak peduli mengapa aku harus peduli? Aku tau aku egois ingin di pedulikan sendiri, tapi aku hanya ingin Alex mengerti, namun salah nya aku lupa bahwa aku bukanlah siapa siapa bagi Alex.Suatu malam aku mendapat sebuah telepon dari Rai, katanya dia melihat Alex tengah tertawa sambil memandangi layar ponsel dia seperti sedang video call dengan seorang wanita. Saat itu juga aku benci Alex, aku tak ingin melihat atau mendengar suaranya lagi.***Aku melangkahkan kaki di antara rak buku di perpustakaan. Mencari novel yang mungkin bisa mengisi waktu luang ku dari pada memikirkan Alex. Tanpa sengaja aku mendengar perdebatan seseorang. Di balik lemari buku aku mengintip dan melihat Rai tengah berbicara serius dengan Alex.Aku samar samar bisa mendengar suara mereka."Lo apaan si Rai kepo banget sama hidup gue""Heh Alex gue nanya ya, lo itu gak punya perasaan ya? ""Apaan si ?""Gue tanya, kenapa lo selalu perhatian dan peduli sama Aurel?"Selang beberapa lama Alex tak menjawab, aku gemetar menunggu jawabannya."Emang salah?""Bukan gitu Lex, tapi lo nyakitin Aurel.""Oke gue bakal jawab pertanyaan lo, gue kasihan sama dia karena Kematian Azriel gue kasihan liat dia sedih tiap hari, dan Azriel itu sahabat gue, dia pasti sedih kalau tau Aurel sedih."Tanpa mau mendengar lanjutannya aku langsung berlari menuju kelas di sana aku menangis tanpa suara.***Semua hariku kembali suram,aku merasa menjadi orang terbodoh karena menaruh harapan pada orang yang hanya kasihan. Tanpa sengaja aku mendengar suara sorangan teman sekelas ku."Alex gue denger lo jadian sama Maya, selamat yaa."Degg .Aku tak tau harus bagaimana lagi semua harapanku hancur impianku runtuh semuanya karena Alex.***Jika pedulimu hanya sebatas kasihan semata,lebih baiknya kau tak perlu hadir sekali pun. Karena dia yang telah ada sebelumnya adalah hal yang pantas kau pertahankan, seperti sekarang.Aurella Alshyra.
Sepucuk Catatan dari Mayang
Namaku Mayang. Aku sekarang baru kelas X SMA. Hidupku menyebalkan dan membosankan semua hal yang hadir sekarang dengan ajaib nya bisa hilang di telan waktu.Begitu juga dengan seseorang yang datang membawa sepucuk harapan lalu pergi menanam benih kesakitan. Aku tak suka mengistimewakan seseorang karena fisik.Fisik bisa hilang pada waktu nya. Sedangkan hati akan tetap ada meski warna rambut mulai memudar. Bahkan hari hariku hanya biasa ku habiskan dengan pena dan kertas.Menulis bait bait puisi adalah hal yang biasa aku lakukan. Dengan mencurahkan semua isi hati pada kertas yang tak akan pernah membukakan rahasia ku.Namun semua berubah. Saat aku mulai mengenal seseorang. Sebut saja dia Kak Panji kakak kelasku yang tak sengaja ku lihat saat dia sedang berolah raga di depan kelasku. Aku memang biasa melihatnya. Namun entah kenapa saat itu dia tampak berbeda. Laun hari aku mulai mencari tahu tentang kak Panji.Perlahan lahan cerita temanku mengenai kak Panji mulai aku sukai, tentang kak Panji baik mahir olahraga dan aku dengar dia belum pernah punya pacar. Aku terus menerus mencari tahu, hingga aku mulai menyukai kak Panji. Setiap pagi dan pulang sekolah aku selalu duduk di teras kelas hanya untuk melihat kak Panji lewat.Aku hanya bisa melihat kak Panji dari jauh. Aku tak akan pernah bisa menyentuh kak Panji. Dia terlalu sempurna untuk aku yang hanya biasa. Semua hal itu membuat aku tertekan. Aku mulai sering mengeluh dan melamun. Teman teman ku terus menguatkan aku dan mengatakan kak Panji pasti akan sadar akan keberadaanku.Suatu hari teman ku mengatakan bahwa kak Panji akan mewakili sekolah untuk mengikuti turnamen sepak bola, tentu saja itu adalah salah satu waktu yang bisa aku gunakan untuk melihat kak Panji dari Jauh. Namun semua membuat aku sedikit tersadar bahwa kak Panji terlalu sibuk dengan dunianya. Ia bahkan tak pernah mengirim pesan atau pun menyapaku, aku merasa seperti seseorang yang bodoh.Saat aku benar benar terpuruk seseorang kembali hadir, panggil saja dia Leo. Leo baik dia selalu menghiburku dan selalu ada bahkan untuk sebuah perhatian yang kecil. Aku hanya merespon seadanya dengan hati masih berharap pada kak Panji yang bahkan tak mengenalku.Semua waktu aku habiskan dengan hancur, lalu Leo tiba tiba mengungkapkan perasaan nya. Membuat aku kaget dan tak tahu bila Leo menyukai ku.Teman temanku menyarankan agar aku menerima Leo yang sudah pasti dari pada Kak Panji.Namun aku memikirkan matang matang. Aku telah memilih kak Panji dari awal lalu Leo datang dan menarik perhatianku, namun hatiku masih sama aku masih berharap pada Kak Panji. Dengan penuh pertimbangan aku menolak Leo dia tampak sedih dan tak percaya. Namun aku mengatakan aku masih menyukai kak Panji walau tak pernah di lihat.Leo pergi dari hidupku dengan kekecewaan yang aku berikan padanya dan sebagai timbal balik nya aku pun sama menerima kekecewaan dari sikap kak Panji yang dingin dan tak pernah mengganggap aku di depannya. Aku. merasa aku bodoh karena tetap menunggu seseorang yang belum pasti, tapi tak apa yang pasti aku masih tetap berharap pada satu orang, tanda dan bukti bahwa aku tak main main.Aku harap Kak Panji segera tahu.***end.
Dino
Kisah ini pernah ada, kisah ini pernah terasa. Semua tetap sama bahkan jeritan dan tawa hari itu masih begitu jelas di telinga. Luka yang tak kunjung kering menjadi bukti bahwa aku pernah ada, aku pernah bertahan hingga semua menjadi tak lagi bermakna.Adinda Elereaina***"Adinda Adinda " Suara itu terus menggema di depanku, dengan berat hati ku angkat kepala yang dari tadi ku benamkan pada kedua tangan ku. "Apa?" Satu kata yang keluar dari mulutku dengan ketus.Anak di depanku ini hanya diam menatapku tanpa kedip, rambut hitam lebat nya ia garuk perlahan. "Kita main yuk keluar." Ajak nya dengan seyum sumringah. Aku menatap malas ku lihat seluruh kelas kosong semua orang pasti sedang mengisi perut di kantin."Aku ngantuk." Ucapku sampil kembali memejamkan mataku. Dia memutar bola matanya, lalu melangkahkan kaki dengan lesu. Aku membuka kedua mataku, dia sudah tak ada di depanku. Sepi, satu kata yang aku rasa saat ini, padahal harus nya aku senang bukan?***"Adinddaaa" aku menoleh ke sumber suara, Dino lagi Dino lagi. "Apa ?" Tanyaku ketus, dia tersenyum picik sambil menyembunyikan sesuatu di balik tubuh nya.Tentu saja itu membuat aku penasaran, dengan segera aku berjalan me arah nya,dan mendapati dua es krim yang dari tadi ia sembunyikan. "Aku mau Dino, rasa vanila." Ucapku sambil mataku tak lepas dari dua benda dingin nan manis itu."Apa? Adinda mau Dino yang rasa Vanila?" Ucap nya sambil sesekali menggodaku. Aku tertawa mendengar gurauan nya,Dino memang orang yang humoris, ingat hari itu aku masih tak mengerti apa yang di maksudkan Dino.Matahari tersenyum lebar membuat semua orang kepanasan, tepat jam itu kelas kami kosong tak ada guru yang mengajar. Seperti biasanya, aku membenamkan wajahku pada kedua lenganku "Adindaa" pasti Dino pikirku.Ku angkat wajahku dan mendapati Dino sedang menatapku, ku lemparkan pandangan ku pada seluruh kelas. Banyak orang orang yang sedang bersenda gurau,sedangkan Dino? Dia malah duduk di depanku.Dia mencoret coret buku milikku, dengan namanya yang ia beri bingkai hati. Tentu saja itu membuatku marah, aku segera menutup buku ku dengan rasa tak menentu. "Apaan si Adinda ini itu buat kenang kenangan di rumah kalau Dinda inget sama Dino." Ucap Dino membuat aku kesal."Apaan sih, aku itu gak inget sama Dino. Dino bisa gak kalau gak ganggu Adinda? Masih banyak teman selain Adinda, Adinda cape pengen tidur Adinda gak mau di ganggu Dino lagi, Dino bisa kan gak ganggu Adinda lagi?" Ucapku dengan sabar.Lain dari Dino biasanya yang semakin gencar menggangguku,Dino berdiri sebentar lalu pergi ke luar, aku menatapnya dengan heran apakah perkataanku terlalu jahat? Aku berusaha bertingkah tak peduli, sekarang aku bisa melanjutkan tidur ku dengan harapan bahwa pelajaran hari ini tak ada guru yang datang.***Aku berjalan kaki sambil membaca buku novel yang mamaku beli kan semalam. Tanpa sengaja aku menginjak batu lalu jatuh terpeleset. Ku lihat luka di lututku, lalu tak jauh dari tempatku jatuh Dino berdiri dengan wajah tak bisa ku tebak. "Dino?." Panggilku, tapi Dino malah pergi menjauh tanpa mempedulikan aku yang sedang meringis kesakitan.Buku novel yang jatuh dan basah tak lagi ku hiraukan, aku terus melihat punggung Dino yang perlahan menjauh. Ada rasa sakit yang aku rasa. Bahkan luka tangan ku tak lagi ku ingat yang aku pikirkan hanyalah kenapa Dino?***Pelajaran usai, aku membereskan buku dan kali ini ku angkat lagi novel yang sedikit basah karena jatuh. Hening. Itu yang ku rasa, namun aneh nya aku seperti kehilangan sesuatu ku tutup novel tadi dan kembali melihat seisi kelas, tak ada Dino lagi.Aku berjalan ke luar dan mendapati Dino sedang melamun di ujung koridor, baru saja ku langkah kan kaki ku. Rara datang dengan dua minuman dingin di tangan nya. Tentu saja itu membuatku kaget, aneh, kesal, mungkin sedikit cemburu.Aku kembali ke kelas berusaha menyibukkan diri dengan tumpukan buku di depanku, namun mataku tiba tiba rabun tatapan ku kabur, tidak aku tidak menangis aku tidak ingin menangis tapi mataku memanas melihat Dino yang duduk bersama Rara.Aku tak boleh menangis.***"Dino ini gimana? " tanya Rara membuat aku kesal, dengan tatapan teduh Dino mengajarkan Rara yang duduk di sampingku. Dino sedikit melirikku, aku pura pura baik baik saja, aku tak akan menunjukan cemburu.Dino kembali fokus pada buku Rara dan mengajarkan Rara bagaimana rumus matematika. Aku berdiri lalu berjalan ke toilet udara cukup panas. "Adinda, mau kemana?" Tanya Rendi ketua kelas kami."Udara panas, aku mau cuci muka." Ucapku ketus, di luar dugaanku teman teman berdehem, melirik ke arah Dino. Aku berjalan tak peduli. Hari demi hari Dino tak lagi menyapa ku aku seperti di jauhi. Bahkan sekarang Dino tengah dekat dekat dengan Rara.Aku akui mungkin aku yang salah aku yang terlalu menutup diri dari semua orang, hingga tak ada satupun orang yang mau berteman denganku, aku rindu Dino.Sudah ku coba cara membuka percakapan kecil, namun jangankan merespon mendengarkan ucapan ku saja tidak. Aku seperti jatuh, Dino dan Rara sekarang semakin dekat, sedangkan aku? Aku hanya melihat dari kejauhan dengan rasa pahit di dada.Dino, aku tahu mungkin di abaikan adalah hal yang tak menyenangkan, tapi percayalah tak di lihat adalah hal yang terpahit yang pernah aku rasa. Dino kamu sahabat terbaik ku terima kasih mau menajdi seseorang bersandar walau akhirnya kau pergi karena aku sendiri.Dan sampai saat ini tak ada lagi percakapan antara aku dan Dino, kami seolah menjadi dua manusia asing yang entah sampai kapan ini akan terus terjadi. Dino kamu tak mau kita seperti dulu lagi?***end.
Dia Indy
"Nnti kalau aku udah besar aku mah pergi ke Australia. Aku mau lihat kanguru di sana mau lihat koala juga jadi kalau aku gak ada pasti aku lagi di sana, yaa tinggal di sana" Ucap Indy waktu itu. Dia gadis lucu, aku belum pernah mengenal gadis selugu dia tapi impian nya sungguh tak wajar, suatu hari pernah aku bertanya padanya."Mimpi itu jangan ketinggian nanti kalau gak ke capai malah kecewa." Ucap ku dengan datar. Dia langsung menengok ke arahku, lalu menampakan wajah kesal, sangat lucu."Gak papa, kan biar semangat belajarnya. Dari pada kak Rafa gak punya impian kan?" Ucap nya membuat aku terseyum. "Tentu ada, impian ku ingin membahagiakan semua orang" Jawbaku dengan mantap, di luar dugaanku Indy malah tertawa lalu aku yang di tertawakan langsung mengejar dia yang duluan berlari.Hmm kenangan itu selalu ada, bayangan Indy tak pernah lepas dari pikiranku. Aku tau aku bodoh, aku tak pernah memikirkan perasaan Indy, aku selalu saja mengabaikan nya. Ardy juga tak akan memutuskan tali persahabatan kami.Bila saja aku lebih peka. Bila saja aku lebih mengerti dan bila saja aku jujur akan perasaanku, semua takkan pernah terjadi.B eberapa Tahun yang lalu"Eh Ardy, apa kabar bro " sapa ku ketika tiba tiba aku melihat Ardy di mall. Ardy sahabatku, kami satu angkatan dan seumuran. Ardy langsung menyapa dan berbasa basi. Di sampingnya berdiri seorang gadis manis, dengan tatapan datar pasti dia adik Ardy bisa ku lihat karena wajah mereka mirip."Ini Indy adikku satu satunya." Ucap Ardy dengan ramah. Sedangkan Indy malah menatapku penuh curiga lalu Ardy menyenggol Indy pelan. "Hallo namaku Indy" ucap Indy langsung mengulurkan tangan."Aku Rafa." Ucapku dengan sedikit senyuman. Setelah itu persahabatan aku dan Ardy semakin erat, aku sering main ke rumah Ardy begitupun Ardy. Karena kebetulan jarak rumah kami tak jauh dan perlahan lahan juga tanpa sengaja aku mulai mengenal Indy dia gadis yang ramah dan sangat baik.Dia selalu saja berhasil membuat aku tertawa dengan candaan konyolnya. Aku jadi semakin dekat dengannya. Setelah aku mulai kuliah aku jadi sedikit sibuk, jadi tanpa aku sadari aku mengabaikan Indy.Tapi Indy selalu saja mengerti, kami tak pacaran kami hanya berteman seperti adik dan kakak. Pernah suatu hari saat hari minggu, aku jatuh sakit. Entah bagaimana aku tak ingat yang pasti Indy ketiduran di sofa dan aku melihat ada air hangat dan handuk pasti Indy yang mengompres ku.Setelah hari hari berlalu aku akui aku mulai menyukai Indy tapi tak mungkin bisa berlanjut karena Indy adik dari Ardy sahabatku. Hingga aku menepis semua yang aku anggap beda, aku kira Indy juga menganggap aku sebagai kakak.Bertahun tahun lagi aku telah menjadi seorang dokter, impian ku dari kecil telah terwujud. Indy terlihat sangat senang dia terus saja memujiku memberi ucapan selamat. Aku hanya mengucapkan terimakasih. Bukan hanya kepada Indy, tapi juga kepada Tuhan yang selalu membantu dan mengabulkan semua doaku termasuk doa agar Indy selalu di sisiku.Hari hariku sebagai dokter berjalan normal, aku mulai terbiasa mengobati dan berinteraksi dengan pasien dan orang orang yang baru aku temui. Indy? Dia sebentar lagi lulus kuliah, aku terus mensupport agar dia secepatnya lulus.Hingga tiba waktu itu, hari wisuda Indy aku datang dan memberikan dia buket bunga kesukaan nya. Wajahnya semakin cantik, dia sudah dewasa, kami berfoto bersama Indy dan keluarganya. Indy sekarang sibuk begitu pun aku lalu waktu terus bergulir aku mulai kenal dengan Maya.Dia dokter spesialis mata, dia cantik dan baik hati.aku kira tak apa kami mulai dekat. Indy memang takut datang ke rumah sakit, dia takut darah dan orang orang yang kecelakaan dia jarang menengokku. Aku pun berfikir untuk mengenalkan pada Indy perihal Maya, tapi aku. masih ragu dan harus berfikir dua kali takut apa yang aku lakukan salah."Indy?" Sapaku saat Indy sedang membaca sebuah Novel tebal. Indy seketika menengok dan langsung menghampiriku. Ia terus saja bicara,"Kak Rafa kok jarang ke sini? aku udah lama gak ketemu kak Rafa, pasti sibuk ya? hmm seorang dokter memang selalu sibuk, oh iya kak, aku sekarang lagi mikirin keberangkatanku ke Australia." Ucap nya tanpa mengenal titik dan koma."Wahh kapan?" Tanyaku, dia diam "Gak tau, aku bingung gak mau ke sana sendiri." Ucap nya. Aku merutuki diriku, andai aku mengerti apa maksud Indy waktu itu. Kami lalu melanjutkan mengobrol dan tertawa bersama, aku bertanya pada Indy.Di mana Ardy, Indy menjawab bahwa Ardy sedang ingin menyendiri, ku tanya lagi ternyata kekasih nya telah memutuskan hubungan tanpa sebab. Aku mengerti dan mengenal Ardy, dia memang tipikal orang yang sulit jatuh cinta hingga saat seseorang meninggalkannya ia akan sangat lama untuk mencari pengganti.Sebelum aku bertanya, aku benar benar telah memikirkan apakah semua akan baik baik saja? "Indy?menurutmu aku ini sudah pantas punya pacar?" Tanya ku hati hati. Indy tersenyum "Kak Rafa Ini sudah sangat pantas" Ucapnya dengan senyum yang sangat sukses membuat aku salah tingkah.Aku pun yakin bahwa mengenalkan Maya adalah hal yang benar. Aku dan Indy merencanakan untuk kami bertemu, tujuanku sebenarnya adalah untuk mengenalkan Maya padanya. Hingga di sebuah kafe tempat yang kami pilih, Maya belum datang sedangkan aku sudah duduk menunggu.Ponsel ku berdering ternyata Indy. Indy mengatakan bahwa Ardy juga akan bertemu dengan klien nya di cafe itu dan Indy akan berangkat bersama Ardy, tentu saja aku tak keberatan.Indy datang dengan penampilan manis, Ardy lalu berada di meja yang lain. Entah kenapa, hatiku gusar merasa akan terjadi sesuatu."Baju mu bagus" puji ku. Indy tersenyum dia tampak salah tingkah."Ini kan hadiah dari kak Rafa." Ucap Indy dengan tenang.Saat aku dan Indy sedang asyik mengobrol Maya datang, lalu duduk di sampingku. Aku dapat melihat perubahan raut wajah Indy, dia terlihat pucat dan bibir nya yang dari tadi terangkat kini tak lagi.Aku bergetar dan bingung harus mulai dari mana. "Kak! Dia siapa?" Tanya Indy dengan nada agak tinggi."Kenalin ini Maya, pacarku." Ucapku. Tanpa ku sangka Indy menangis, di depanku, aku berusaha menenangkan nya.Tapi dia menolak."Tak usah, aku kira kak Rafa akan menjadikan aku pacar kak Rafa, tapi ternyata bukan, aku sudah merencanakan dan membayangkan bila aku dan kak Rafa berlibur ke Australia, tapi semua pupus dan kak Rafa..." Indy menangis, Maya bingung melihat ini.Ardy datang dan menarik Indy,"Jangan pernah dekati adikku!" Bentaknya. "Kau penghianat Rafa, aetelah kau dekati Adikku lalu kau rebut Maya dariku? dasar pecundang, kita bukan lagi sahabat!" Ucapan Ardy saat itu bagaikan sambaran petir yang berhasil membuat aku kaget tak mampu bicara,ternyata Maya adalah wanita yang telah memutuskan Ardy demi aku?***Berminggu minggu, aku menjauhi Maya. Setelah kejadian itu, Indy tak lagi main ke rumah ku begitu pun Ardy hubungan kami benar benar retak. Aku menyesal, tak ada lagi tawa Indy ,tak ada lagi suara Indy, tak ada lagi cerita Indy tetang impian nya tinggal di Australia.Aku merindukannya, andai saja aku mengakui bahwa aku mencintai Indy dan tak mencari orang lain. Mungkin Indy masih di sampingku. Aku memberanikan diri main ke rumah Ardy, ku ketuk pintu nya tapi tak ada yang membukakan.Ada seorang pembantu di rumah itu mengatakan bahwa tadi Ardy menyusul Indy yang akan pergi ke Australia. Aku pun secepatnya menuju bandara. Saat aku tiba di sana, aku tak mekihat Indy hanya ada Ardy yang sedang tampak frustrasi.Aku mendekatinya."Menjauh kau gara gara kau Indy kabur ke Australia!" Ucap Ardy lalu pergi meninggalkanku. Aku mengerti sekarang, Indy?kau benar benar akan tinggal di sana?Saat aku sedang merebahkan tubuhku di sofa rumah, ku lihat tayangan berita yang menyiarkan bahwa sebuah pesawat yang menuju Australia telah jatuh. Gelas yang sedangku genggam jatuh dan pecah di lantai.Aku menuju rumah Ardy. Ia tampak kacau dan dia sama sekali tak mau melihatku. Beberapa hari kemudian Jasad Indy telah di temukan, dengan bagian tubuh yang tak utuh.***Ku lihat batu nisan yang tertulis nama Indy dan tanggal kematiannya. Ardy sangat terpukul oleh kepergian Indy, begitupun aku, aku bisa di bilang penyebab tersiksa nya Ardy dan Indy. Hidupku kacau, aku tak lagi memikirkan pacar atau sebagainya."Kak Rafa? Indy sekarang ada di Australia, Indy bahagia ada di sini. Padahal Indy berharap kak Rafa selalu di samping Indy, tapi tak apa ini takdir dan kita harus mengikuti jalan takdir.Kak, Indy sangat kecewa pada kak Rafa, kak Rafa ternyata tak menyukai Indy kan? hmm Indy memang tak peka ya.. Semoga bahagia bersama kak Maya, Indy baru tau ternyata kak Maya adalah mantan dari kak Ardy tapi tak apa jangan hiraukan kak Ardy.Indy tadinya sengaja menuliskan surat ini dan menitipkan nya pada mbok Sum agar di berikan pada kak Rafa saat nanti mbok Sum menerima kabar bahwa Indy telah sampai di sana. Tapi bila Indy tak sampai maka Indy mohon agar surat ini menjadi bukti dan pamit bahwa Indy menyukai kak Rafa telah tinggal di Australia atau mungkin sebagainya."Indy
Pangeran itu Berkopiah
Dia Baik, kata itulah yang muncul di pikiran ku saat pertama melihat Hendra. Umi nya bernama Aisyah adalah teman sekaligus sahabat bagi bundaku yang bernama Anjani.Kata bunda aku harus memanggil Ibu Hendra dengan panggilan umi, aku tak keberata umi Aisyah adalah seseorang yang baik dan lembut. Kata bunda Abi nya Hendra telah tiada, pantas saja Hendra sangat menyayangi umi nya.Hendra dia adalah seseorang yang sangat menghormati wanita, terutama ibu nya. Yang aku tau Almarhum Abi nya adalah pendiri pondok pesantren. Pekerjaan umi nya adalah mengajar santri wanita mengaji. Hendra tingggal di pondok pesantren itu, pernah suatu hari saat aku dan teman ku tak sengaja melewati area pesantren itu aku mendengar suara lantunan ayat suci Al Qur'an.Saat ku tanya pada bunda, kata bunda itu adalah suara Hendra, sejak hari itu aku yakin Hendra memang pemuda yang Shaleh. Sedangkan aku? aku hanyalah wanita biasa yang tak pintar ilmu agama bukan nya aku tak mau tapi aku hanya takut bila harus pesantren dan jauh dari bunda, mungkin aku memang terlalu di manja.Tapi sampai saat ini, aku masih sangat ingat waktu aku menginjak kelas 3 SD saat bu guru bertanya apa cita cita ku, aku menjawab bahwa aku ingin menjadi guru ngaji. Dan pada saat aku kelas 4 SD aku kembali merubah cita citaku, yakni menjadi seorang pendakwah yang pintar, awal nya karena aku sering menonton tv tentang tayangan dakwah, lalu aku berfikir Betapa hebat nya.Saat aku lulus SD, aku sangat ingin mondok di pesantren, aku sudah membayangkan hidup di sana pasti sangat menenangkan. Tapi saat itu Bunda ku sakit tumor yang bersarang di lehernya aku menemani bunda berobat dan sampai saat ini bunda belum di operasi karena menurut bunda ini tidak lah parah.Aku jadi sering menangis tengah malam, aku takut bila bunda pergi, hingga saat itu aku jadi tak mau pergi jauh dari bunda. Ayahku ada, tapi selalu meratau pergi ke kota untuk mencari nafkah bagi keluarga kami tanpa di beri tahu aku sudah merasa bahwa bunda adalah tanggung jawabku.Bertahun tahun berlalu.Aku telah lulus SMP dan kini akan melanjutkan ke SMA, masih ada keinginan pesantren, namun semua tertutupi karena ketakutanku kehilangan Bunda.Suatu hari saat aku sedang menulis diary di kamar, aku mendengar suara ketukan pintu, dengan segera aku berlari dan membukakan pintu. Masih ingat baju ku saat itu berwarna abu dengan celana di bawah lutut dan tanpa kerudung.Saat pintu terbuka, aku melihat Hendra dan Umi Aisyah datang untuk menjenguk ibuku. Ada rasa malu saat tanpa sengaja ku tatap mata Hendra dan dia memalingkan wajah nya, aku pun mempersilahkan Umi dan Hendra duduk.Aku ingat suatu hari umi pernah masuk ke dalam kamarku saat aku sedang menyisir rambutku. Beliau datang dengan senyuman manisnya lalu berdiri di belakang ku saat aku sedang duduk menghadap cermin.Di usap nya rambut ku dengan lembut lalu beliau menatapku lewat cermin."Azizah kamu cantik nak." Ucap nya masih mengelus rambutku. Aku tersenyum malu lalu mengucapkan terima kasih."Umi lebih cantik." Ucapku.Beliau terkekeh."Kamu lebih cantik Azizah, apalagi bila rambut indah mu ini di tutupi oleh hijab." Ucap umi aku jadi diam."Dan hanya suami mu yang bisa melihat nya nanti, sangat istimewa kan?"ucap umi, aku masih diam saja.Umi mengucapkan salam lalu keluar karena sudah sore, aku melihat wajahku dan membayangkan bila rambut ku di tutupi hijab, apakah aku semakin cantik?***Keadaan bunda semakin parah setiap hari nya, aku jadi takut tapi umi selalu menguatkan aku dan mengatakan semuanya baik baik saja. Aku sering menangis sendiri. Suatu hari saat Hendra dan umi baru datang untuk menjenguk Bunda.Tiba tiba Bunda memanggilku, aku segera menghampirinya.saat aku datang ku lihat bunda sedang berbincang dengan Hendra tampak serius.Lalu betapa terkejutnya aku saat ku tahu, bahwa bunda dan Umi Aisyah menjodohkan aku dengan Hendra? Aku malu, tak terbayangkan bila aku bersanding dengan Hendra seorang santri yang berilmu.Sedangkan aku? tidak semua tak mungkin terjadi, terus saja ku tolak dengan alasan bahwa aku masih sekolah. Tapi bunda memohon agar aku mau, toh Hendra pun sanggup menungguku. Akhirnya aku pun mau demi bunda apapun akan ku lakukan.Tiga tahun berlalu, aku tinggal menunggu hasil ujian ku yang baru di laksanakan bulan lalu. Masih ingat tentang perjodohanku, dan satu minggu lagi akan di laksanakan tunangan. Aku semakin resah. Tunangan baru terlaksanan, aku tak tau tiba tiba aku menangis.Aku terisak sendiri di balkon rumahku, tiba tiba Hendra datang dengan mengucap salam."Azizah kamu kenapa?" Tanya Hendra tanpa menatapku. Aku kembali terisak, "Jangan menangis cerita lah padaku bukan kah aku adalah calon suami mu?" Ucap nya membuat aku berhenti menangis.Aku menarik nafas panjang,"Aku..aku hanya merasa tak pantas untukmu, kau yang sangat shaleh dan aku?" Ucapku, Hendra diam mendengarkan. "Aku aku sangat takut bila tidak menjadi pendamping yang baik."ucap ku dengan nada bergetar.Hendra berdehem, "Apakah ini yang membuat Azizah sedih?" Tanya Hendra. Aku mengangguk. "Aku sebenarnya tak keberatan, namun bila Azizah mau mari hijrah aku dan umi akan membimbingmu untuk menjadi seorang wanita yang lebih baik." Ucap Hendra membuat aku tenang.Hendra, terima kasih atas segalanya. Terimakasih karena telah menjadi seseorang yang berarti dalam hidupku. Aku merasa bahwa aku adalah wanita beruntung yang bisa menjadi seorang yang kau jaga,Terima kasih. Terima kasih karena hadirnya dirimu dapat membuat aku menjadi wanita yang lebih baik.Bunda telah meninggal, aku begitu terpukul. Namun Hendra selalu ada di sampingku bersama umi yang selalu menguatkan aku untuk tetap tabah.Aku kehilangan bidadari dalam hidupku namun Allah mengantikan nya dengan malaikat seperti umi dan pangeran tanpa kuda dia Hendra suamiku.***end.
Polisi
Polisi merupakan sebuah cerita seram tentang laki-laki yang pulang terlambat ke rumah setelah bekerja. Ia lalu masuk dalam lift dan bertemu dengan seseorang yang mencurigakan. Cerita ini berdasarkan legenda urban populer dari Jepang dan Korea.Beberapa tahun yang lalu, aku tinggal di sebuah kompleks apartemen besar di kota. Gedung itu memiliki 10 lantai, sedangkan apartemenku berada di lantai 8. Di sana merupakan kawasan yang buruk dengan banyak tindak kriminalitas. Aku berencana untuk segera pindah, sehingga aku tidak pernah bersusah payah untuk mengenal tetanggaku.Pada Jumat malam, aku pulang ke rumah sehabis bekerja sepanjang hari. Aku merasa sangat kelelahan. Aku lalu masuk ke dalam lift, kemudian menekan tombol ke lantai apartemenku. Saat pintu lift terbuka, ada seorang laki-laki yang berdiri di sana. Ia memakai mantel panjang. Topinya ditarik ke bawah untuk menutupi matanya."Halo," kataku berusaha untuk ramah.Laki-laki itu tidak menjawab.Saat aku keluar dari lift, ia mendorongku dengan kasar. Lalu ia masuk ke dalam lift dan mulai menekan tombol."Menyebalkan," aku komat-kamit sendiri.Aku membuka kunci apartemenku, lalu masuk. Aku langsung pergi ke kamar mandi. Sementara aku mencuci tangan, aku menatap cermin dan melihat sesuatu yang aneh. Ada noda merah gelap di lengan bajuku. Itu seperti darah.Kemudian, aku ingat pada laki-laki kasar yang mendorongku di dalam lift. Hal itu membuatku gugup. Aku tidak tahu dari mana darah itu berasal, tapi aku merasa curiga. Aku segera mengunci pintu depan. Lalu, aku mandi dan membuang kemejaku yang bernoda darah ke keranjang sampah. Aku tidak bisa tidur nyenyak malam itu.Hari berikutnya adalah hari Sabtu. Aku memiliki janji kencan dengan wanita muda yang menarik. Aku sudah siap pergi saat aku mendengar bel pintu berbunyi."Siapa itu?" omelku yang merasa terganggu.Aku sudah terlambat kencan, jadi aku tidak mau membuang-buang waktu. Aku mengintip dari lubang intip, lalu kulihat seorang polisi berdiri di luar."Apa ini?" tanyaku keras-keras melalui pintu."Maaf telah mengganggumu, Pak," katanya dengan sopan. "Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan padamu. Ada pembunuhan tadi malam di apartemen tepat di depan milikmu."Aku sudah terlambat kencan. Aku juga tidak ingin terlibat."Maaf petugas, aku tidak tahu apa pun," kataku berbohong."Tapi kau mungkin bisa membantu kami," kata si polisi. "Apakah kau melihat seseorang yang mencurigakan? Bisakah kau membuka pintu untuk bicara sebentar?""Aku tidak ada di rumah tadi malam," aku berbohong lagi. "Maaf Pak, aku tidak bisa membantumu.""Baiklah, Pak," respon si polisi. "Terima kasih atas waktumu."Polisi itu berjalan menyusuri lorong. Aku lalu melanjutkan persiapan untuk kencan.Selama beberapa hari berikutnya, aku merasa was-was. Tetanggaku telah terbunuh. Lingkungan ini benar-benar tidak aman. Aku akan senang jika bisa segera pindah.Aku juga merasa bersalah tentang berbohong pada petugas polisi. Sebenarnya, aku melihat si pembunuh. Walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya, mungkin ada sesuatu yang bisa kuberitahu pada polisi yang akan membantu mereka menangkap si pembunuh. Kadang-kadang, tindak kriminalitas bisa diatasi dengan satu gambaran detil yang kecil.Pada suatu pagi sebelum aku berangkat kerja, aku penasaran apakah polisi telah memecahkan kasus itu. Aku menghidupkan televisi dan melihat berita, tapi mereka tidak menyebutkan apa pun tentang pembunuhan.Saat aku pergi untuk bekerja, aku mencium bau tidak sedap di lorong. Sepertinya bau itu berasal dari apartemen di depanku. Aku merasa tidak nyaman di perutku. Bulu kudukku berdiri tegak.Aku pergi menemui manajer gedung untuk memberitahunya tentang bau tak sedap tersebut. Saat aku menyebutkan tentang pembunuhan, ia berkata tidak ada pembunuhan di gedung apartemennya. Aku meyakinkannya untuk datang ke lantai apartemenku. Saat ia mencium bau amis, ia lalu membuka kunci pintu apartemen milik tetanggaku. Kami berdua merasa ngeri dengan apa yang kami temukan.Tetanggaku tergeletak di lantai dengan dikelilingi oleh genangan darah. Baunya sangat tak tertahankan. Ia telah tergeletak di sana selama beberapa hari...
Air Minum
Ada seorang gadis kecil yang tinggal di sebuah gedung apartemen. Pada suatu hari, ia memberitahu ibunya bahwa ia akan keluar untuk bermain dengan teman-temannya. Berjam-jam kemudian, saat ibu si bocah turun ke bawah dan memanggil putrinya untuk makan malam, wanita itu menyadari bahwa putrinya tidak bisa ditemukan dimana pun.Si ibu bertanya pada semua anak yang tinggal di gedung apartemen apakah mereka melihat putrinya. Mereka semua memberitahunya jika mereka belum melihat gadis kecil itu sepanjang hari. Gadis kecil tersebut telah hilang.Orang tua si bocah menelepon polisi. Mereka mencari ke sekeliling daerah itu. Semua orang tua di gedung apartemen bergabung untuk ikut mencari, tapi sia-sia. Pada akhirnya, gadis kecil tersebut tidak pernah ditemukan.Tiga bulan kemudian, orang-orang yang tinggal di kompleks apartemen mulai mengeluh tentang persediaan air minum. Kapan pun mereka menyalakan keran di apartemen, mereka mencium bau busuk yang aneh.Akhirnya, manajer apartemen mulai menerima keluhan dari penghuni tentang bau dan rasa air minum mereka. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Ia menyuruh penjaga gedung untuk memeriksa tangki penyimpanan air minum yang terletak di atap.Penjaga gedung pergi ke atap. Ia memindahkan tutup dari tangki untuk memeriksa kandungan air di dalamnya. Saat ia sampai di tangki terakhir, ia mengangkat tutupnya, bau amis yang sangat kuat menyerangnya. Ia menatap ke bawah pada kedalaman yang gelap. Ia bisa melihat sesuatu mengambang di atas air. Itu seperti tubuh anak kecil yang membusuk.Setelah polisi melakukan otopsi, mereka bisa mengkonfirmasi bahwa mayat itu merupakan gadis kecil yang hilang tiga bulan sebelumnya. Sepertinya, ia sedang bermain di atas atap saat tutup penyimpanan tangki air minum terbuka. Rupanya, ia melihat ke dalam tangki dan tanpa sengaja terjatuh ke dalam air. Ia lalu tenggelam.Mayat gadis kecil itu diam-diam mengapung di sana selama tiga bulan. Dan selama tiga bulan, penghuni apartemen tidak tahu telah mengkonsumsi air minum dimana mayat gadis kecil yang telah membusuk itu mengapung di dalamnya.
Mobil yang Rusak
Pada suatu malam, aku sedang membersihkan garasi saat aku mendengar deru kendaraan. Sebuah mobil melaju kencang di jalan. Tiba-tiba, ada decit ban diikuti dengan bunyi tabrakan yang keras. Aku keluar ke jalan dan menyadari ada sebuah kecelakaan. Seorang anak laki-laki telah ditabrak mobil. Tubuh kecilnya tergeletak di atas batu-batu kerikil.Aku segera mengambil ponselku dan menelepon ambulan. Aku melihat tak percaya pada laki-laki yang menyetir mobil. Ia keluar dan mulai memeriksa kerusakan pada mobilnya tanpa menaruh perhatian pada anak laki-laki yang berbaring penuh luka di bawah kendaraannya.Tiba-tiba, seorang wanita datang sambil berlari keluar dari rumahnya, ia menjerit dan menangis. Ia jelas merupakan ibu si bocah laki-laki. Ia lari menuju si pengemudi dan mulai mengguncang-guncang tubuhnya."Apa yang telah kau lakukan?" raungnya. "Apa yang telah kau lakukan pada anakku?"Kesedihannya yang mendalam membuat bulu kudukku merinding. Si pengemudi mendorongnya dengan kasar. Laki-laki itu mulai bertengkar dengannya."Ini bukan salahku!" teriak laki-laki tersebut. "Anak itu melompat ke depan mobilku! Lihat apa yang dia lakukan pada mobilku! Aku akan membuatmu membayar untuk ini!""Terkutuk kau!" teriak si ibu. "Terkutuk kau! Aku tak akan pernah memaafkanmu karena ini!"Ambulan akhirnya datang, tapi tak ada satu pun yang bisa mereka lakukan untuk anak lelaki tersebut. Ia telah meninggal.Polisi datang dan mencoba menetapkan siapa yang bertanggung jawab untuk kecelakaan itu, tapi tidak ada saksi mata. Mereka harus menerima cerita versi si pengemudi. Ia tidak dituntut akibat kejahatannya dan dibiarkan bebas begitu saja.Beberapa hari kemudian, si pengemudi mengirim tagihan untuk perbaikan mobil pada ibu si anak laki-laki. Bagian depan mobilnya penyok, sedangkan lampu depannya pecah. Saat si ibu menolak membayar, laki-laki itu membawanya ke pengadilan. Wanita yang sedang berduka itu kalah dalam kasus tersebut. Tidak hanya membayar kompensasi, tapi ia juga harus membayar biaya pengadilan.Beberapa bulan setelah kecelakaan, si pengemudi pulang ke rumah dari bekerja. Ia menemukan istrinya telah menghilang. Ia menelepon polisi dan mengisi laporan orang hilang, tapi mereka tidak bisa menemukan jejaknya. Wanita itu seperti menguap di udara.Beberapa hari kemudian, dua anak si laki-laki juga hilang. Mereka terlihat berangkat ke sekolah, tapi mereka tak pernah pulang ke rumah. Entah dimana, mereka hilang secara misterius.Beberapa minggu kemudian, mayat salah satu anaknya ditemukan di tempat pembuangan sampah. Saat detektif yang menginvestigasi kasus itu mendengar tentang anak lelaki yang terbunuh dalam kecelakaan, mereka mulai curiga. Mereka menanyai ibu si bocah laki-laki. Mereka mendapat surat perintah untuk memeriksa rumahnya.Mereka terkejut dengan apa yang mereka temukan.Di ruang keluarga, si ibu telah membangun altar yang didekorasi dengan gambar-gambar dari si anak lelaki yang telah meninggal. Di atas altar, terdapat penggalan kepala istri si pengemudi dan anaknya yang hilang. Mata dan mulut istri si pengemudi dijahit dengan senar.Polisi menangkap ibu dari anak lelaki tersebut. Ia mengaku melakukan hal kejam itu karena ia ingin membalaskan dendamnya. Ia ingin menyiksa si pengemudi agar menderita.Wanita itu mengatakan ia menjahit mulut mayat istri si pengemudi karena ia terlalu berisik. Wanita itu memaksa si istri pengemudi melihat saat anak-anaknya dibunuh di depan matanya. Kemudian, saat semuanya selesai, wanita itu juga membunuh istri pengemudi dengan memotong kepalanya. Ia menjahit matanya karena ia tidak suka cara mayat itu menatap padanya.Si ibu dinyatakan bersalah dan mendapat vonis mati. Dia dieksekusi dengan cara digantung. Semuanya terjadi karena sebuah mobil yang rusak.***
Psikiater
Aku adalah seorang psikiater. Sepanjang karirku, aku telah berhadapan dengan banyak orang yang memiliki masalah aneh dan tidak biasa. Namun demikian, ada satu kasus yang sangat menggangguku lebih dari yang lain.Ada sebuah keluarga terdiri dari tiga orang yang tinggal di depan rumahku. Mereka adalah pasangan suami istri berumur 60-an tahun yang memiliki anak berumur kira-kira 30 tahun. Anak laki-laki itu melakukan apa yang orang Jepang sebut sebagai "hikikomori". Seseorang yang berjiwa introvert, petapa, dan terisolasi. Seseorang yang menarik diri dari interaksi sosial.Kami tidak pernah melihat anak laki-laki itu. Orang-orang yang melakukan hikikomori biasanya mengunci diri mereka sendiri di dalam kamar untuk menghindari orang lain. Aku tidak pernah mendengar tentang keadaannya secara langsung dari orang tuanya. Aku menduga mereka tidak ingin mendiskusikan hal tersebut. Di Jepang, orang-orang sangat peduli tentang penampilan. Memiliki seorang anak laki-laki yang melakukan hikikomori merupakan sebuah hal yang memalukan.Hari terus berlalu, anak lelaki mereka tidak pernah mau keluar. Akhirnya, ia benar-benar tidak keluar rumah sama sekali. Setiap malam, suara marah ibunya yang berteriak dan menjerit padanya bisa terdengar dari jendela kamar anak tersebut. Kapan pun aku bertemu dengan wanita malang itu, ia tersenyum dan menyapaku, tapi ketegangan tampak di wajahnya. Ia menjadi pucat dan kurus.Saat itu sudah lebih dari enam tahun sejak semua orang melihat si anak laki-laki terakhir kali. Suatu hari, ayahnya mengetuk pintu rumahku. Ia memintaku untuk datang ke rumahnya. Ia tahu jika aku adalah seorang psikiater. Karena kami tetangga, aku memutuskan untuk melakukan apa pun yang bisa kulakukan untuk membantu keluarga tersebut.Saat kami sampai di pintu depan, ibunya sedang menunggu kami di sana. Ia memimpin kami menuju lantai atas, ke kamar anak laki-lakinya.Ia memukul pintu keras-keras dengan jemarinya dan berteriak, "Kami masuk!"Kemudian, ia membuka pintu dengan keras dan memekik, "Apa kau mau tidur selamanya? Bangun, kau pemalas tak berguna!"Sebelum aku tahu apa yang terjadi, wanita itu menyambar sebuah tongkat golf dan mulai memukuli sosok yang tidur di bawah selimut. Selama beberapa saat, aku membisu sementara ia memukul dengan membabi buta. Kemudian, aku menyambar tongkat golf dan memaksanya keluar dari kamar.Aku cepat-cepat kembali ke dalam untuk memeriksa luka anak lelakinya, tapi saat aku menarik penutup tempat tidur, aku tidak mempercayai pandanganku sendiri. Sesuatu yang berbaring di bawah selimut adalah mayat yang telah menjadi mumi.Aku berdiri di sana, membeku keheranan sambil menatap tumpukan tulang dan kulit yang sudah membusuk.Si ayah mendekat padaku sambil memegang kepalanya dengan malu."Itu istriku yang ingin kupertemukan denganmu," katanya. "Ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Aku tidak bisa menahannya lagi..."
Fishy Smell
Beberapa tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku sekolah, aku pergi piknik dengan temanku. Kami baru saja menyelesaikan ujian, sehingga kami mencari sedikit kesenangan dengan berpetualang. Temanku membawa binatang peliharaannya, yaitu anjing, untuk menemani perjalanan kami. Karena kami tidak punya banyak uang, kami menghindari menginap di hotel. Malahan, kami berhenti di pinggir jalan untuk tidur di dalam mobil.Pada suatu malam yang mulai larut, kami tiba di sebuah desa di pinggiran pantai. Desa itu terletak di pesisir, di bawah kaki gunung. Kami hampir kehabisan bahan bakar, jadi kami mengemudi berkeliling untuk mencari tempat pengisian bensin. Menyetir menyusuri jalanan berpasir, kami melihat satu-satunya pom bensin di desa itu. Tapi sayangnya sudah tutup.Itu adalah sebuah rumah kecil dengan pom bensin di luar, jadi aku berjalan dan menekan bel. Ada sebuah keranjang besar menggantung di pintu depan. Keranjang itu berisi daging, sayuran, permen, dan beberapa perhiasan kecil. Benda itu terlihat seperti persembahan atau sejenis benda yang akan kau tinggalkan di tempat keramat.Aku kembali membunyikan bel. Aku bisa melihat seseorang sedang mengintip keluar melalui kaca yang buram, tapi tak ada seorang pun yang membuka pintu."Hei, aku tahu kau ada di rumah! Buka pintunya!" teriakku.Tidak ada jawaban."Mobil kami hampir kehabisan bensin. Kami tidak ingin terdampar di sini," kataku.Lampu menyala. Aku mendengar suara kunci yang diputar. Pintu membuka sedikit, sedangkan sesosok laki-laki memandang tajam melalui celah pintu."Apa yang kau inginkan?" geramnya."Aku hanya butuh bensin..." balasku."Apa kau tidak bisa baca? Kami tutup hari ini.""Maaf telah mengganggumu, tapi kami benar-benar terjebak.""Kau tak tahu kau ada dimana?" katanya. "Keluar dari sini sekarang!""Aku juga ingin, tapi kami butuh bensin," balasku."Ini, ambil," geramnya.Si laki-laki membuka pintu lebih lebar dan menyorongkan sekaleng bensin ke tanganku."Sekarang, pergi dan tinggalkan kami sendiri!" teriaknya sambil membanting pintu tepat di depan wajahku.Aku pikir ia sangat kasar. Tapi saat menyadari ia tidak meminta bayaran untuk bensinnya, aku hanya berterima kasih lalu pergi.Sambil berjalan ke arah mobil, aku melihat sekeliling dan memperhatikan bahwa jalanan sangat sunyi. Segalanya tampak hening. Semua rumah terlihat gelap. Setiap rumah itu memiliki sebuah keranjang yang tergantung di depan pintu."Apakah ada semacam festival atau sesuatu yang lain?" tanyaku penasaran."Jika ada, aku tidak tahu apa pun tentangnya," balas temanku.Kami berdua sangat kelelahan karena menyetir sepanjang hari, jadi kami memutuskan untuk menginap di desa itu sepanjang malam. Lalu melanjutkan perjalanan kami pada pagi harinya. Kami memarkir mobil di sisi jalan yang bisa digunakan untuk melihat lautan.Temanku merayap ke bangku belakang dengan anjingnya, sementara aku menutupi tubuhku dengan selimut di bangku depan. Kami mencoba untuk tidur.Kemudian, si anjing mulai menggeram. Aku mencium bau amis ikan yang sangat kuat di udara. Si anjing menampakkan gigi-giginya dan melanjutkan menggeram sambil menatap keluar ke arah lautan. Biasanya, anjing itu tenang dan bersikap baik, tapi sesuatu tampak membuatnya ketakutan.Aku menatap tegang ke dalam kegelapan. Laut tampak tenang, disinari oleh cahaya bulan yang pucat. Aku bisa melihat sesuatu menggeliat di pinggir dermaga."Apa itu?" desisku."Aku tidak tahu," bisik temanku dengan suara serak.Awalnya, benda itu terlihat seperti balok kayu yang mengambang di atas air. Tapi semakin kami melihatnya, benda itu tampak merangkak keluar dari lautan. Makhluk itu pelan-pelan mencapai tanah, meliuk-liuk dan merayap seperti seekor ular. Tapi tidak ada suara apa pun. Makhluk itu terlihat seperti kumpulan asap hitam, berputar, lalu berubah bentuk menjadi seorang laki-laki yang sangat besar.Aku bisa mendengar dengung keras di telingaku. Bau amis ikan semakin menjadi-jadi hingga membuatku merasa mual.Bayangan hitam itu menyeberangi jalan dan sampai di rumah pertama yang berseberangan dengan lahan parkir. Makhluk itu tingginya hampir sama dengan rumah itu sendiri. Ia berbentuk seperti manusia dengan lengan menggantung yang panjang dan kaki kurus.Makhluk itu menatap tajam melalui jendela seolah-olah ia memiliki wajah. Kemudian, ia menuju keranjang yang tergantung di depan pintu. Ia mulai melahap semua benda di dalamnya.Aku menoleh pada temanku. Ia sedang duduk di kursi belakang, gemetar seperti daun. Aku sangat takut sampai tidak bisa menggerakkan satu otot pun. Seluruh tubuhku kaku. Jantungku berdetak sangat cepat. Aku takut jantungku akan melompat keluar dari rongga dadaku.Bau amis menjijikkan dari ikan mati menggantung di udara seperti asap tebal. Bau itu sangat kuat. Sosok itu menjelajahi rumah ke rumah, menatap tajam ke jendela. Lalu ia menyambar apa pun yang ada dalam keranjang."Hidupkan mobil," kata temanku dengan suara bergetar.Segera setelah aku menghidupkan mobil, sosok hitam itu menoleh perlahan-lahan. Ia menatap langsung pada kami. Kemudian, makhluk itu mulai melangkah ke arah kami. Aku langsung tancap gas dan keluar dari area parkir.Si anjing mulai menggonggong seperti anjing gila di bangku belakang. Temanku berteriak padaku. Aku tidak berani menoleh ke belakang. Kami menyetir secepat yang kami bisa sampai keluar dari desa itu dan masuk ke kota berikutnya.Saat kami kehabisan bensin, aku menyambar kaleng bensin lalu cepat-cepat mengisi tangki mobil. Kami langsung melanjutkan perjalanan. Saat sudah pagi, kami kelelahan, tapi harus pergi sejauh mungkin dari desa yang mengerikan itu.Saat kami sampai di rumah beberapa hari kemudian, aku menceritakan pada orang tuaku tentang pengalaman kami yang mengerikan. Ibuku berkata bahwa ia samar-samar mengingat legenda yang pernah ia dengar saat masih muda. Legenda itu tentang sebuah desa nelayan kecil di pinggir pantai.Ia berkata bahwa desa itu dikutuk karena diganggu oleh sejenis makhluk supranatural. Pada hari yang sama, setiap tahun sesuatu akan muncul dari lautan untuk menyerang penduduk desa. Ia mengoyak-ngoyak mereka dan menghamburkan tubuh mereka. Untuk melindungi diri mereka sendiri, mereka akan mengunci pintu pada malam hari dan meninggalkan persembahan di luar rumah mereka untuk diserahkan pada makhluk tersebut.Sejak saat itu, aku selalu menghindari lautan. Ada sesuatu tentang bau amis ikan yang membuatku takut. Hal itu membuatku gemetaran seperti daun.***
Night Owl
Saat Ryoko pergi kuliah, ia pindah ke asrama kampus. Itulah awal mulanya ia bertemu dengan Yukie, seorang gadis berumur 20 tahun yang berbagi kamar dengannya. Yukie merupakan orang yang aneh, sejenis bayangan. Ia tidak banyak bicara, tidak pernah tersenyum, dan selalu sendirian. Ada rumor yang beredar bahwa ia kehilangan pacarnya beberapa tahun sebelumnya.Pada larut malam, Ryoko mendengar Yukie bangun dari ranjang dan keluar ruangan. Awalnya, Ryoko berpikir bahwa Yukie hanya pergi ke toilet. Jadi, ia tidak menaruh perhatian. Namun demikian, setelah beberapa waktu, ia menyadari bahwa Yukie sering mengendap-endap keluar pada tengah malam. Yukie tidak kembali selama berjam-jam lamanya. Akhirnya, Ryoko menjadi sangat curiga.Pada suatu malam, Ryoko memutuskan untuk mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan teman sekamarnya yang aneh. Ia berpura-pura tidur, menunggu Yukie keluar dari kamar. Seperti biasanya, Yukie bangun dari tempat tidur dan keluar kamar. Ryoko menunggu selama beberapa menit, lalu mengikutinya. Ryoko menjaga dirinya tetap di bawah bayangan sehingga tidak terlihat oleh Yukie.Setelah berjalan kira-kira 30 menit, Yukie berhenti di sebuah pemakaman. Ia lalu masuk ke dalam. Ryoko gemetar ketakutan, memaksa dirinya agar tidak melarikan diri. Ia mengintip melalui dinding dan melihat Yukie bersimpuh di depan sebuah makam. Gadis itu memeluknya. Ada kegembiraan yang luar biasa di wajahnya hingga ia tertawa histeris.Ryoko telah cukup melihat. Ia berbalik ketakutan dan lari kembali ke asrama. Saat ia sampai di kamarnya, ia melompat ke atas ranjang dan berpura-pura tidur sambil menunggu Yukie kembali. Namun demikian, teman sekamarnya tidak juga kembali. Segera, Ryoko jatuh tertidur.Saat ia bangun pada pagi berikutnya, Ryoko mendengar berita yang mengerikan. Rupanya, Yukie memutuskan untuk bunuh diri pada malam sebelumnya. Ia mengiris pergelangan tangannya sampai kehabisan darah di pemakaman. Ia ditemukan terbaring di depan makam pacarnya. Ryoko sangat ketakutan.Yukie tidak memiliki keluarga. Tidak ada satu pun orang yang datang untuk mengambil barang-barangnya. Setelah tiga hari, Ryoko menjadi penasaran. Ia mulai membersihkan ruangan dan mengaduk-aduk isi tas Yukie. Ia menemukan sebuah buku harian. Ia membuka dan membaca tulisan dalam halaman-halaman buku harian tersebut. Saat ia telah sampai pada halaman terakhir, ia membeku.Di sana, ada kata-kata yang ditulis dengan darah. Bunyinya:"Aku tahu kau melihatnya!"