Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
The Phone Booth
Horror
11 Jan 2026

The Phone Booth

The Phone Booth atau Telepon Umum merupakan cerita hantu seram berasal dari Jepang yang menceritakan dua orang sahabat. Keduanya tertarik dengan urban legend yang ada.Ada dua orang pemuda bernama Kenzo dan Tatsuya. Mereka selalu berbagi certa seram.satu sama lain. Kapan pun mereka bertemu, mereka harus mempunyai satu cerita seram yang harus diceritakan.Suatu hari, saat Tatsuya sedang browsing di internet, ia menemukan sebuah website yang memiliki banyak legenda Jepang. Lalu, ia membaca sebuah cerita tentang jembatan gantung yang terletak dekat dengan rumahnya. Di website tersebut, terdapat banyak gambar jembatan tersebut dan sekitarnya. Saat ia membaca legenda itu, Tatsuya tahu bahwa Kenzo akan tertarik.Kemudian, saat ia bertemu Kenzo, ia menceritakan tentang legenda jembatan gantung. Jembatan gantung tersebut sudah tua usianya, biasanya digunakan untuk menyeberangi sebuah jurang. Dijelaskan dalam website bahwa jembatan itu terkenal karena banyak orang yang telah bunuh diri di sana. Setiap tahun, ada sekitar 20-30 orang yang melompat dari jembatan tersebut. Tak ada seorang pun yang dapat menjelaskan kenapa mereka bunuh diri. Mereka mengatakan bahwa tempat itu dihantui oleh arwah dari semua orang yang telah melakukan bunuh diri di sana.Saat Kenzo pulang, ia berencana untuk mengunjungi tempat itu. Dia sangat ingin melihat hantu. Pada saat malam tiba, ia berangkat ke pegunungan dimana jembatan itu berada. Diperlukan sekitar setengah jam untuk sampai di sana.Saat itu sudah hampir tengah malam. Dia tiba di jembatan dan tak ada seorang pun di sekitar situ. Sangat gelap dan hening. Suasananya begitu menyeramkan dan membuat tubuh belakang Kenzo merasa dingin."Wow, tempat ini menyeramkan," katanya bergumam sendiri sambil dengan hati-hati berjalan ke tepi jurang dan mengintip ke dalamnya.Dia mulai berpikir tentang semua orang-orang yang telah melompat ke dalam jurang itu. Pikiran itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ini sangat menegangkan dan ia merasa harus memberi tahu Tatsuya tentang tempat ini. Dia mengeluarkan handphone-nya dan mulai memencet nomor. Tapi dia tersadar bahwa di sini adalah tempat yang tinggi dan jauh dari jangkauan sinyal.Dia melihat ke sekeliling dan mendapati telepon umum tak berada jauh darinya. Ia menuju telepon umum tesebut, memasukkan beberapa koin, dan memencet nomor Tatsuya."Hallo? Tatsuya! Tebak aku sedang berada dimana!" katanya. "Aku sedang berada di Jembatan yang kau ceritakan itu! Pemandangannya luar biasa! Kamu harus datang kesini suatu hari!""Yah, maunya sih begitu" balas Tatsuya. "Aku sudah melihatnya di foto-foto di web... Hei tunggu dulu.. Darimana kau meneleponku?"Kenzo terkekeh, "Oh, handphone-ku tak mendapatkan sinyal. Jadi aku meneleponmu dari telepon umum di sekitar sini."Tatsuya heran, "Telepon umum? Tak ada telepon umum di sana. Aku sudah melihatnya di foto.""Apa yang kau bicarakan?" kata Kenzo. "Aku berada di telepon umum tepat di depan pintu masuk ke jembatan. Tunggu, lebih baik aku pergi. Ada antrean orang di luar menunggu untuk menggunakan telepon. Aku akan meneleponmu ketika aku sampai di rumah."Begitu Kenzo berkata begitu, Tatsuya berteriak, "Tidak Kenzo! jangan keluar dari tempat itu! Aku tahu tempat itu! Aku akan segera ke sana dalam 30 menit. Apa pun yang kau lakukan, jangan bergerak! ""Ada apa sih?""Berjanjilah untuk tidak bergerak sedikit pun, oke? Aku akan datang!"Ketika temannya menutup telepon, Kenzo merasa gelombang rasa takut menyelimuti dirinya. Dia berdiri di bilik telepon dan gagang telepon terus menempel di telinganya. Ia menoleh melihat antrian orang yang berdiri di luar bilik telepon, diam-diam mengawasinya. Sorot mata mereka membuat Kenzo menggigil.Setengah jam kemudian, ketika Tatsuya tiba di jembatan gantung, dia menemukan temannya berdiri di bagian paling tepi jurang. Dia memegang ponselnya di telinganya. Tidak ada bilik telepon dan tidak ada antrian orang yang menunggu untuk menggunakan telepon.Jika Kenzo bergerak satu inci saja, ia akan jatuh dari tepi jurang dan jatuh ke dalamnya.***

Kaimuki House
Horror
11 Jan 2026

Kaimuki House

Rumah Kaimuki merupakan cerita hantu yang benar-benar terjadi tentang sebuah rumah berhantu di Honolulu, Hawai. Hantu yang katanya menghantui rumah ini biasa dipanggil "Kasha", sesosok setan pemakan manusia dari cerita rakyat Jepang.Ada sebuah rumah berhantu tak terlalu dikenal di Honolulu, Hawai. Sebutan rumah itu adalah "Rumah Kaimuki". Beberapa orang memanggilnya Rumah Berhantu Amatyville dari Hawai.Pada musim panas tahun 1942, rumah itu ditinggali oleh seorang wanita dan tiga anaknya. Suatu malam, polisi ditelepon agar segera ke rumahnya. Mereka mendapati si wanita yang histeris di halaman depan, teriaknya, "Ia mencoba membunuh anak-anakku!"Saat mereka memasuki rumah, petugas kepolisian terkejut melihat pemandangan yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Tiga anak dilemparkan ke segala arah oleh kekuatan tak terlihat di dalam ruangan. Petugas polisi melihat sampai lebih dari sejam. Mereka tidak bisa melakukan apa pun saat anak-anak itu dipukul dan dicekik oleh roh yang tak terlihat. Insiden itu nenjadi headline halaman depan koran lokal sampai beberapa hari.Bertahun-tahun kemudian, tiga orang gadis menyewa rumah tersebut. Suatu malam, mereka mulai nendengar suara aneh. Suara itu seperti seseorang berjalan berkeliling sampai berbicara. Salah satu dari gadis-gadis itu merasakan tangan tak terlihat menyentuh lengannya. Mereka menelepon polisi. Saat seorang petugas datang, ia mendapati tiga gadis sedang berdiri di luar rumah dengan tatapan penuh teror di wajah mereka. Gadis-gadis itu memutuskan untuk pergi dan tinggal dengan ibu salah satu dari mereka. Sedangkan petugas polisi memutuskan mengikuti mereka untuk memastikan tidak ada sesuatu yang terjadi.Namun demikian, petugas polisi melihat mobil gadis-gadis itu bergerak tak beraturan di parkiran. Gadis di depan kemudi sedang berjuang dengan sesuatu tak terlihat yang mencekik lehernya. Saat polisi melompat keluar dari mobilnya dan mencoba menyelamatkan gadis-gadis tersebut, ia merasa tangan kuat yang tak terlihat menangkap lengannya, lalu memutarnya. Tiba-tiba, pintu dari kendaraan terbuka dan gadis itu terlempar ke jalanan. Ia mencakari tenggorokannya seolah-olah seseorang sedang mencekiknya. Mereka tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikan serangan tersebut. Mereka terpaksa hanya bisa melihat gadis itu bertarung dengan kematian.Pada tahun 1977, sepasang suami istri orang Jepang pindah ke rumah berhantu di Kaimuki. Mereka tidak tahu apa pun tentang sejarah rumah tersebut. Pada malam pertama di tempat itu, si istri terbangun saat tengah malam karena kamar tidurnya menjadi sangat dingin. Ketika ia melihat sekeliling, ia dikejutkan oleh penampakan hantu berwarna putih yang melayang di tengah-tengah udara. Itu adalah sesosok wanita tanpa tangan maupun kaki. Saat si istri mencoba membangunkan suaminya, bayangan hantu itu menghilang.Hari berikutnya, pasangan suami istri itu diganggu oleh hantu sehingga mereka memanggil seorang pendeta. Ia menganjurkan mereka untuk memberikan persembahan berupa roti dan air untuk arwah tersebut setiap malam. Ia berkata hantu itu adalah Kasha, yakni iblis dari Jepang yang menyebabkan beberapa pembunuhan mengerikan di rumah tersebut sebelumnya. Setelah mengulangi upacara selama seminggu, pasangan itu tak pernah melihat arwah mengerikan di rumah lagi.Cerita di atas hanya sekelumit kecil dari kisah sesungguhnya. Konon katanya, suatu tempat akan berhantu jika pernah terjadi berbagai pembunuhan mengerikan di sana.Bertahun-tahun sebelumnya, seorang imigran Jepang tinggal di rumah itu dengan istri dan kedua anaknya. Entah kenapa, si suami membunuh istrinya, anak laki-lakinya, dan anak perempuannya. Ia memotong-motong tubuh mereka, kemudian menyembunyikannya di dalam rumah. Polisi menemukan mayat istri dan anak lelakinya dikubur di halaman, tetapi tubuh anak perempuannya tak pernah ditemukan. Mereka berkata bahwa mayat anak perempuan itu masih disembunyikan entah dimana di dalam rumah. Setelah itu, rumah tersebut ditinggalkan selama bertahun-tahun.Lalu, ada dua orang wanita yang tinggal di dalam rumah. Salah satu wanita tersebut jatuh cinta dengan seorang laki-laki. Terjadi cinta segitiga diantara mereka. Ada yang bilang bahwa laki-laki itu merasa sangat cemburu. Ia lalu membunuh kedua wanita tersebut, kemudian ia bunuh diri di dalam rumah. Tubuh ketiganya ditemukan di dalam rumah setelah lewat beberapa hari.Ada kepercayaan bahwa pembunuhan mengerikan ini menciptakan Kasha, yakni sejenis hantu Jepang yang muncul karena dendam atau rasa kemarahan yang luar biasa. Sekarang, para penduduk masih menceritakan kisah ini. Bahkan ada banyak buku dan artikel majalah yang menulis detail dari rumah berhantu Kaimuki.

104 Try to Smile
Horror
10 Jan 2026

104 Try to Smile

Ini adalah sesuatu yang menimpaku. Aku masih bingung bagaimana menceritakannya dengan mudah.Aku tinggal di Jepang selama dua tahun. Aku tinggal di Pulau Kyushu, benar-benar sebuah pinggiran kota. Aku mengajar Bahasa Inggris di sana. Tempat tinggalku berada di sebuah komplek apartemen dengan sembilan guru Bahasa Inggris lain. Ada juga beberapa keluarga Jepang.Apartemen kami memiliki dua bagian dengan bentuknya yang seperti rumah-rumah perkotaan. Apartemenku merupakan bangunan yang paling baru. Sebelum ada aku, ada guru Bahasa Inggris lain yang tinggal di sana selama dua tahun. Tetapi sebelum ada dia, seperti yang diberitahukan padaku, apartemen itu kosong.Aku pindah ke sana pada awal Agustus saat musim panas dan lembab di Jepang. Saking lembabnya, kertas dinding di apartemenmu akan basah dan mulai melengkung. Satu-satunya pendingin udara di apartemen ada di lantai bawah dan kamar tidur di lantai atas. Saat itu benar-benar tak menyenangkan, sehingga aku harus tidur di bawah untuk menghindari panas dan berkeringat di dalam kamarku. Itulah bagaimana semuanya berawal.Suatu hari, aku pulang dari sekolah ketika menemukan pintu belakang terbuka lebar. Pintu itu merupakan pintu kaca yang bisa digeser. Aku yakin sebelum pergi ke sekolah, aku meninggalkannya terkunci. Aku juga mengunci pintu depan dengan rapat. Awalnya, kupikir mungkin seseorang telah masuk, tapi tidak ada sesuatu yang dicuri. Semuanya berada di tempatnya semula.Salah satu tetanggaku datang dan memeriksa seluruh ruangan bersamaku, tetapi kami tidak menemukan sesuatu yang aneh. Saat itu, aku berpikir hal tersebut bukan masalah besar. Mungkin hanya beberapa anak Jepang yang penasaran sehingga mereka masuk ke apartemen dan melihat-lihat rumah orang asing itu seperti apa.Malam itu, aku turun ke lantai bawah untuk berbaring tidur. Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki menaiki tangga. Awalnya, suara itu terdengar seperti seseorang melangkah bolak-balik diantara dua ruangan. Kemudian, tiba-tiba berhenti.Pada titik ini, aku yang sedang berbaring mulai gemetar dengan napas tertahan. Aku takut siapa pun yang telah memasuki kamarku dulu, saat ini bersembunyi di kolong di lantai atas. Setelah satu menit tanpa suara, aku mendengar sebuah bunyi keras yang tak masuk akal. Seperti sesuatu yang besar dan berat baru saja jatuh hingga membentur lantai di atasku.Aku lari keluar dari apartemen dan pergi ke rumah tetanggaku. Aku meyakinkan tetanggaku untuk kembali bersamaku guna memeriksa lantai atas. Tapi kami tidak menemukan apa pun. Ini berlanjut setiap malam.Suatu malam, aku sedang di bar dengan guru Bahasa Inggris yang lain. Ia telah tinggal di sini selama lima tahun. Aku mulai menceritakan padanya tentang hal-hal aneh yang terus terjadi setiap malam. Aku tidak bisa tidur karena hal itu." Well , ada alasannya," katanya. "Sebelum kau, ada guru lain yang tinggal di apartemen itu. Tetapi sebelum dia, apartemen itu kosong. Tidak ada seorang pun yang mau tinggal di sana karena seorang wanita menggantung dirinya sendiri di lantai atas setelah suaminya meninggalkannya. Orang-orang Jepang tak menyewakan apartemen itu karena mereka berpikir tempat tersebut telah dikutuk. Sehingga apartemen itu kosong sampai pendidik luar negeri memutuskan untuk menyewakannya pada guru asing.Pada saat itu, aku mengira ia hanya menceritakan hal-hal tersebut untuk mencoba menakutiku. Tetapi suatu hari, aku bertanya pada bosku tentang hal itu. Ia langsung berubah pucat dan berkata bahwa guru lain seharusnya tidak boleh menceritakan hal-hal seperti itu. Aku mencoba menekannya untuk memperoleh informasi lain, tetapi ia tidak mau membenarkan atau menyanggah.Suatu hari, saat aku sedang membersihkan apartemenku, aku memperhatikan sesuatu di bawah ambang jendela. Seseorang telah mengukir kata-kata "Cobalah untuk tersenyum" dalam Bahasa Jepang sekitar sepuluh kali. Saat aku melihatnya, aku berpikir darahku mengalir deras.Aku masih belum tahu apa sebenarnya yang terjadi di apartemen itu, tetapi setiap malam selama musim panas sampai aku mulai tidur di lantai atas lagi, suara itu kembali terdengar.

Kanbari-Nyudo
Horror
10 Jan 2026

Kanbari-Nyudo

Suatu malam, laki-laki botak pergi dari rumah ke rumah, mengintip jendela di kamar mandi dan melihat saat orang-orang duduk di toilet, mandi, atau melepas pakaian. Ia seorang lelaki tua, orang Jepang dengan wajah yang terlihat menakutkan, dan ia mencukur kepalanya. Laki-laki gundul itu akan mengintip melalui jendela dan meneteskan air liur di mulutnya saat sedang mengintaimu, berharap bisa menangkapmu dalam keadaan telanjang.Beberapa tahun yang lalu, ada seorang laki-laki tua yang terobsesi melihat gadis-gadis muda telanjang. Orang yang menyeramkan dan tidak bermoral ini mengintai jalanan di desanya pada malam hari, mengintip dari jendela-jendela, berharap bisa menangkap sekilas kulit telanjang.Saat keluarganya mengetahui kelakuan menjijikkan laki-laki tua itu, mereka merasa malu dan menolak untuk membantu pria itu. Sebagai hukuman, mereka mencukur kepalanya dan membuangnya dari desa.Pria gundul itu membangun sendiri sebuah gubuk di gunung dan hidup di sana sebagai pertapa. Ia melakukan usaha terbaiknya untuk berhenti memikirkan tentang gadis-gadis yang telanjang, tetapi itu tidak berguna. Dorongan jahat mengalahkannya dan ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Akhirnya, ia terpaksa kembali pada kebiasaan anehnya. Suatu malam, ia bergerak pelan ke desa dan menculik seorang gadis muda. Ia membawa gadis itu ke gubuknya. Diikatnya gadis muda itu dan melakukan hal yang sangat buruk padanya.Suatu hari, saat lelaki gundul pergi, seorang pencuri memasuki gubuk yang tidak dijaga itu dan memutuskan untuk mencuri barang-barang berharga milik lelaki itu. Saat si pencuri masuk ke dalam, ia menemukan gadis muda yang diculik. Merasa kasihan pada gadis yang malang itu, ia melepaskan ikatannya. Baru saja ia akan membantu gadis itu melarikan diri, si pria botak kembali. Terjadilah pertarungan besar, tetapi pada akhirnya si pencuri berhasil membunuh pria botak dan membawanya kembali pada orang tuanya.Setelah itu, si pria botak menjadi hantu dan mulai muncul di luar rumah si gadis. Ia mengenakan kimono berwarna putih dan memandang dengan tajam melalui jendela pada malam hari, menakuti setiap orang di dalamnya. Orang tua gadis itu cemas jika hantu itu berusaha menculik anak mereka lagi, jadi mereka menyembunyikannya. Sejak saat itu, lelaki botak itu pergi dari rumah ke rumah, mengintip jendela toilet, kamar mandi, dan kamar tidur mencari dengan putus asa gadis muda itu.Mereka mengatakan jika kau menyanyikan "Kanbari Nyudo" di dalam kamar mandi, kepala botaknya kadang-kadang akan berguling di toilet. Jika kau menyanyi "Ganbari Nyudo, si gila" di dalam kamar mandi pada malam tahun baru, maka lelaki gundul itu tidak akan mengganggumu lagi.Pada salah satu cerita, seorang gadis muda sedang ke kamar mandi pada larut malam. Ia berdiri dan meraih kertas toilet saat ia mendengar suara tawa kecil di belakangnya. Ia berputar dan melihat sebuah wajah menekan permukaan kaca di jendela kamar mandinya. Ia bisa melihat wajah lelaki tua gundul yang sedang mengintipnya. Lelaki gundul itu tertawa dengan pelan pada dirinya sendiri. Sisi lain jendela itu tertutupi oleh air liur.Gadis muda itu sangat ketakutan dan berlari keluar dari kamar mandi dengan celananya melorot sampai pergelangan kaki sambil berteriak pada orang tuanya. Saat ia menceritakan pada ayahnya apa yang ia lihat, sang ayah berlari keluar dalam kemarahan untuk menghajar si lelaki tua menjijikkan. Namun demikian, saat ia berhasil mencapai gang kecil di belakang rumahnya, ia tidak menemukan apa pun.Kemudian, sang ayah melihat ke jendela kamar mandi. Ada batang besi yang melintang di jendela dan ada jarak 10 cm diantara besi dan kaca. Tidak ada jalan bagi siapa pun yang dapat menekan wajah mereka ke arah kaca. Rasa dingin mengalir di urat nadinya saat ia menyadari apa pun yang mengintip putrinya saat ia di toilet sudah pasti bukan manusia.Pada cerita yang lain, ada seorang gadis muda Jepang yang sangat malu karena tubuhnya. Suatu malam, ia sedang bermain bola voli dengan sekumpulan gadis lain. Setelah bermain, ia harus mandi, tetapi ia terlalu malu membiarkan orang lain melihatnya telanjang. Akhirnya, ia menunggu sampai semua gadis selesai mandi kemudian pergi mandi sendiri.Sendirian di dalam kamar mandi yang bercahaya suram, ia menjatuhkan handuknya dan menghidupnya shower. Tekanan air terlihat lemah karena keluar dari tetesan air yang pelan. Ia berusaha membasuh dirinya dengan aliran kecil air tersebut. Setengah bersih, ia mendengar suara tawa yang menyeramkan."Hehehe..."Suara itu seperti tawa kecil seorang laki-laki tua. Ia melihat sekeliling, tetapi ia tidak melihat siapa pun. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mencari asal suara aneh tersebut tetapi yang ia dengar hanya keheningan. Gadis itu melanjutkan mandi, sampai ia mendengar suara tawa lagi."Hehehe..."Kali ini, suara itu menjadi lebih keras."Hei orang aneh!" teriak gadis itu. "Jangan pikir aku tidak bisa mendengarmu!"Gadis itu merasa mudah diserang dengan berdiri telanjang di bawah pancuran, jadi ia memutuskan untuk cepat menyelesaikan mandinya. Baru saja ia akan pergi, ia mendengar suara tawa lagi."Hehehe..."Kali ini, suara itu sangat keras seperti berasal dari atas. Gadis itu mendongak ke atas pancuran dan melihat sesuatu yang membuat gadis itu menjerit kencang.Bukannya melihat pancuran air, ia malah melihat kepala seorang lelaki tua menjulur dari dinding. Lelaki tua itu menatap ke bawah, menyeringai dengan menakutkan dan meneteskan air liur padanya.

The School at Night
Horror
09 Jan 2026

The School at Night

Sekolah di Malam Hari merupakan sebuah urban legend Jepang tentang sekolah yang angker. Biasa disebut juga "Gakkou no Kaidan" atau "School Ghost Stories". Urban legend ini juga kadangkala dikenal dengan nama "Seven Wonders of the School".Bertahun-tahun yang lalu di Jepang, pernah ada kejadian mendesak tentang pembuatan sekolah baru. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa pemerintah memerlukan tanah yang murah sehingga mereka bisa membangun sekolah. Jadi, mereka membangun sekolah itu di tempat bekas pemakaman tua. Hal ini memunculkan rumor dan gosip diantara anak-anak jika sekolah mereka berhantu.Mereka mengatakan jika kau pergi ke sekolah pada tengah malam, kau akan melihat dan mendengar banyak hal aneh, seperti sebuah lilin yang melayang melewati halaman sekolah, gema suara langkah kaki tanpa tubuh menyusuri aula, dan patung-patung yang matanya bergerak mengikuti langkahmu. Di kelas sains, rangka anatomi menjadi hidup, kau akan mendengar suara bola tak terlihat yang terpelanting di ruang gym, dan bahkan kau juga bisa melihat hantu terpenggal yang kepalanya terbang mengitari kelas.Jika kau berjalan menyeberangi halaman sekolah, tangan pucat akan muncul dari bawah untuk mencoba menarikmu agar terjatuh. Jika kau menggali halaman sekolah, kau akan menemukan tulang tengkorak dan batu nisan. Jika kau pergi berenang di kolam renang, tangan pucat akan menangkap kakimu dan mencoba untuk menenggelamkanmu. Bangunan-bangunan tua muncul di halaman sekolah dan ada tangga yang akan membimbingmu ke antah berantah. Jika kau berjalan menaikinya, kau akan lenyap. Mereka bilang toilet juga berhantu dan jika kau memasukinya, sebuah tali akan jatuh dari langit-langit dan membentuk sebuah simpul.Di sebuah kota kecil di Jepang, ada sekelompok remaja laki-laki yang telah mendengar desas-desus tentang sekolah mereka. Menurut legenda, jika kau pergi ke sekolah saat tengah malam pada hari kelima belas dalam sebulan, sesuatu yang aneh akan terjadi.Ada sebuah patung yang berdiri di jalan setapak yang menuntun kalian ke sekolah. Menurut dugaan, matanya akan mengikuti seiring langkah kakimu. Jika kau berjalan ke tangga utama, jumlah anak tangga akan berubah saat kau menuruninya. Jika kau menghidupkan keran di laboratorium sains, darah akan mengalir keluar, bukannya air. Dan jika ada orang yang berani memasuki bilik toilet terakhir di lantai dasar, orang itu tidak akan terlihat lagi.Anak-anak lelaki itu memutuskan untuk pergi ke sekolah pada malam hari guna menguji apakah legenda itu benar atau hanya cerita saja. Pada hari kelima belas bulan itu, mereka menyelinap keluar dari rumah dan bertemu tepat saat tengah malam. Mereka semua berempat, Shinichi, Mikio, Takashi, dan Hiro.Saat mereka berjalan melewati gerbang sekolah dan naik ke jalan setapak, anak-anak itu melihat patung. Mereka menunggu sesuatu terjadi. Mata patung itu melihat ke kiri dan bahkan saat anak-anak itu lewat, mata itu tidak berpindah satu inchi pun."Legenda yang bodohnya keterlaluan," salah satu anak tertawa kecil.Mereka memasuki bangunan sekolah dan berjalan hati-hati menaiki tangga, menghitung langkah demi langkah. Satu, dua, tiga... Totalnya ada tiga belas anak tangga. Saat mereka berjalan turun, anak tangga masih berjumlah tiga belas buah."Dongeng tak masuk akal lainnya," kata salah seorang anak.Mereka berjalan menyusuri koridor ke laboratorium sains dan menghidupkan semua keran. Bukan darah, semua keran itu hanya memancarkan air. Mereka mengeluh dalam kekecewaan."Aku tahu," kata salah satu anak. "Kita ke sini hanya sia-sia saja."Mereka memutuskan untuk menguji satu legenda lagi sebelum mereka pulang. Kemudian, mereka pergi ke toilet di lantai dasar. Namun demikian, saat mereka sampai di depan pintu toilet, beberapa anak lelaki itu kehilangan keberanian. Bukannya berbicara dengan gembira, tidak ada satu pun dari mereka yang mau membuka bilik berhantu itu.Akhirnya, salah seorang anak yakni Shinichi melangkah ke depan dan memberitahu teman-temannya bahwa ia tidak takut apa pun. Ia mendorong pintu agar membuka dan masuk ke dalam toilet, sedangkan teman-temannya menunggu di luar. Anak-anak itu melihat jam. Saat itu tepat pukul satu pagi.Beberapa menit kemudian, Shinichi keluar dari toilet dengan seringai lebar di wajahnya."Tak ada!" katanya. "Itu hanya sekumpulan cerita dan dongeng untuk anak-anak!"Anak-anak itu tertawa dan berjalan pergi. Ketika mereka keluar dari sekolah, mereka kembali menyusuri jalan setapak. Sebelum pergi, mereka melihat terakhir kali pada patung, tetapi matanya masih menatap ke kiri."Legenda bodoh," bisik salah satu anak dengan sinis dan mereka semua pulang ke rumah.Pagi berikutnya, setiap anak menerima sebuah telepon bernada khawatir dari ibu Shinichi."Apakah tadi malam Shinichi bersamamu?" tuntut ibunya. "Ia tidak di kamarnya saat aku mengeceknya di sana pagi ini. Ia pergi diam-diam dan masih belum pulang ke rumah. Dimana dia?"Anak-anak itu merasa ada sesuatu yang salah. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk memberitahu orang tua mereka tentang trip pendek yang mereka lakukan malam sebelumnya. Orang tua mereka menelepon kepala sekolah. Dan segera, kepala sekolah mengumpulkan orang tua dan anak-anak itu di luar sekolah."Apa yang kau katakan?" tanya kepala sekolah. "Kau menceritakan patung di luar sekolah? Mata patung itu selalu melihat ke kanan.""Tapi saat kami ke sana tadi malam, matanya melihat ke kiri!" jelas salah satu anak.Memasuki gerbang, mereka terkejut melihat mata patung itu sungguh-sungguh melihat ke kanan."Tapi bagaimana tentang anak tangga di tangga utama?" teriak salah satu anak.Mereka dengan cepat berlari ke tangga utama dan mulai menghitung jumlah anak tangganya."Satu, dua, tiga... DUA BELAS?!""Ya," sahut kepala sekolah. "Tangga utama selalu memiliki dua belas anak tangga. Saat dibangun, arsiteknya membuat kesalahan dengan rancangannya. Itu seharusnya memiliki tiga belas anak tangga.""Tidak mungkin!" salah satu anak berteriak. "Tapi bagaimana dengan keran-keran di laboratorium?"Memasuki laboratorium sains, mereka semua melihat ke bak cuci. Setiap keran dilapisi noda merah hitam. Anak-anak itu kaku dengan ketakutan."Tapi... Tapi... Bagaimana dengan Shinichi?" salah satu anak berkomat-kamit. "Ia masuk ke toilet...""Ayo pergi dan lihat," kata kepala sekolah dengan suara keras.Mereka semua berkumpul di luar toilet. Anak-anak dan orang tua mereka melihat satu sama lain dengan cemas. Kepala sekolah menarik napas dalam, meraih gagang pintu dan mendorong pintu toilet agar terbuka.Darah ibu Shinichi serasa membeku. Ia berteriak dan jatuh pingsan, yang lainnya melompat mundur dalam ketakutan. Beberapa dari mereka tidak bisa menahan muntah dan muntah mengotori lantai.Mayat teman mereka, yaitu Shinichi, tergantung di langit-langit dengan tali yang melilit lehernya. Wajahnya pucat dan matanya terbuka lebar, membeku dalam ketakutan. Tenggorokannya disayat dari telinga ke telinga dan darahnya diperas keluar dari tubuh sehingga memenuhi lantai bak dengan warna hitam gelap. Organ dalam dan ususnya telah diambil. Kemudian, ditumpuk dengan rapi di atas kloset.Salah satu anak berdiri dalam keadaan linglung. Ia menatap tidak berkedip pada jam tangan Shinichi. Benda itu berhenti tepat pukul satu pagi.***

Dream School
Horror
09 Jan 2026

Dream School

Ada seorang anak lelaki Jepang bernama K yang mengalami sebuah mimpi aneh. Dalam mimpinya, ia menemukan dirinya berkeliaran di sebuah sekolah. Itu bukan sekolahnya. Itu adalah sekolah yang tidak ia kenali.Saat itu malam hari dan sekolah tersebut tertutup dalam kegelapan. Suara langkah kaki terdengar di lorong yang kosong. Itu sangat menakutkan. Ia mencoba membuka pintu-pintu dan jendela-jendela, tapi semuanya terkunci. Ia mencoba memukul pintu dan jendela itu sekeras yang ia bisa, tapi kacanya tetap tidak mau pecah.Sekolah itu besar dan rumit seperti sebuah labirin. Benar-benar tak masuk akal. Berjalan menyusuri koridor akan membawanya kembali ke tempat sebelumnya. Hal itu sangat aneh, seolah-olah dimensi waktu dan tempat tidak berlaku.K mulai ketakutan. Ia mulai berlari sepanjang lorong. Koridor terentang terus dan terus tanpa akhir dan tidak ada jalan keluar. Setelah berlari dan kembali ke ruang kelas yang sama selama beberapa kali, K memperhatikan sesuatu yang aneh. Koridor tidak memiliki jalan kekuar. Bagaimana pun ia berlari menyusurinya, ia pasti menemukan dirinya kembali lagi ke posisinya semula.K memutuskan untuk mencoba rute yang baru. Ia berlari menyusuri lorong kanan, kemudian berbelok ke kiri dan ke kiri lagi. Ia memasuki ruang kelas ekonomi dan saat ia keluar dari pintu di sisi lain, ia menemukan dirinya sendiri di lorong yang lain. Ia memasuki ruang kesenian dan keluar dari pintu di sisi lain. Kadang, ia membawa dirinya ke lantai tiga, bersebelahan dengan toilet wanita.Ia masuk melalui ruang musik dan berlari menyusuri lorong, melewati beberapa kelas. Ia mendatangi anak tangga dan mendudukinya. Ia terus menerus berkeluyuran. Malam seperti tak akan berakhir dan fajar seperti tak akan pernah datang.Ding... Ding... Ding... Ding...K mendengar bunyi lonceng jam. Saat ia menoleh, ia melihat sebuah jam. Jarumnya bergerak bolak-balik seperti sebuah pendulum.Tap... Tap... Tap... Tap...K mendengar gema suara langkah kaki yang berat memburunya. Ia terlalu takut untuk menoleh ke belakang. Dengan perasaan putus asa, ia melarikan diri. Ia berlari ke sekumpulan tangga yang seharusnya membawanya ke lantai empat, malahan ia menemukan dirinya sendiri di lantai pertama di luar ruang audio visual.Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap...Langkah kaki mulai semakin cepat dan cepat. Ia berlari menyusuri koridor dan berbelok ke kiri, kiri lagi, kanan, dan kiri lagi. Ia keluar dari sekumpulan ruang kelas. Di ujung lorong, ada sebuah pintu keluar darurat. Ada kotak kaca rusak yang menyimpan kunci dan kuncinya hilang. Ada sebuah catatan di dalamnya yang berisi bahwa kunci ada di kelas 108.Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap...Langkah kaki semakin mendekat. K berlari menuruni tangga. Ia berbelok ke kiri, berlari sepanjang lorong, kemudian berbelok ke kanan dan kanan lagi. Ia menemukan dirinya sendiri di luar sebuah ruang kelas. Di pintunya terdapat tanda yang bisa dibaca, "108". K mencoba membuka pintu itu. Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.Ruang kelas itu gelap dan ia tidak bisa melihat dengan jelas. K menekan tombol saklar, tapi benda itu tidak bekerja. Ruang kelas itu diisi dengan meja-meja dan ada tas punggung tergantung di belakang setiap kursi. K mulai mencari di setiap tas, mencari di setiap laci.Sejenak, ia bisa mendengar langkah kaki datang dari lorong.Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap...Tak lama, ia mendengar sesuatu menabrak pintu ruang kelas dengan keras.Brak! Brak! Brak! Brak! Brak!K masih belum menemukan kunci yang ia cari. Ia menarik laci-laci keluar dari meja dan menjatuhkannya ke lantai. Ia membuka tas-tas dan mulai mengeluarkan isinya ke lantai.Brak! Brak! Brak! Brak! Brak! Brak!Suara sesuatu yang menabrak pintu semakin lama semakin keras. Pintu terlihat seperti akan copot dari engselnya. Ia mencari dengan putus asa, tetapi ia tetap tidak menemukan kuncinya.Baru saja, ketukan di pintu tiba-tiba berhenti. Ada keheningan yang mencekam. K berdiri dengan gemetar, menunggu sambil menahan napas. Ia berdiri dalam kegelapan ruang kelas, takut untuk bergerak sedikit pun.Setelah beberapa waktu, ia masih tidak bisa mendengar apa pun sehingga ia berjalan menuju pintu. Ia mencoba meraih pintu, memutar gagang pintu, kemudian membukanya dengan perlahan dan menatap keluar koridor.Apa yang ia lihat membuatnya ketakutan, tetapi teriakan seperti tertahan di tenggorokannya.Ada anak laki-laki dan anak perempuan yang tak terhitung jumlahnya. Mereka terpotong-potong. Kepala, lengan, dan kaki mereka terpisah dari batang tubuh. Lantai dibanjiri dengan darah dan mereka menari... menyentak ke depan dan belakang... bagian tubuh mereka tersentak ke depan dan belakang dalam sebuah tarian kematian.K tertarik ke dalam dunia mimpi. Tubuhnya tetap tertidur. Ia tak pernah bisa bangun. Bahkan sekarang, dalam pikirannya ia masih berkeliaran di sekolah.Sekarang setelah kau membaca kisah ini, tolong coba lupakan. Jika kau tidak melupakan cerita ini dalam seminggu, kau akan mengalami mimpi yang sama dimana kau akan menemukan dirimu sendiri berkeliaran di sekitar sekolah. Kau harus menemukan kunci dan melarikan diri melalui jalan keluar darurat sebelum kau melewati potongan-potongan tubuh anak laki-laki dan anak perempuan yang menari, atau kau akan tertarik ke dalam mimpi.***

 Aozukin
Horror
08 Jan 2026

Aozukin

Zaman dahulu kala, hiduplah seorang pendeta Budha bernama Kaian Zenji yang selalu mengenakan jubah biru. Ia menghabiskan hari-harinya dengan bepergian mengelilingi Jepang, bermeditasi, berdo'a, dan mencoba membantu siapa pun yang membutuhkan. Suatu malam, ia tiba di sebuah desa bernama Tomita.Orang-orang menatap Kaian, kemudian mereka mulai menjerit dan memekik. Wanita dan anak-anak berlarian, berteriak dan meraung, jatuh bertindihan satu sama lain dalam upaya untuk kabur. Para lelaki mendekap senjata mereka dan datang berlarian padanya."Bunuh dia!" mereka menjerit ketakutan. "Bunuh dia sebelum dia membunuh kita!""Apa yang terjadi?" tanya Kaian sambil menutup kepalanya dengan tangan. "Kalian tidak perlu takut padaku. Aku tidak bermaksud melukai kalian."Saat para lelaki itu melihat wajah Kaian yang ketakutan, mereka menurunkan senjata dan tertawa dengan gugup."Maaf," kata seorang laki-laki. "Kami kira kau orang lain.""Ya, kami minta maaf atas kekacauan ini," kata yang lainnya dengan malu-malu."Itu karena jubahmu yang berwarna biru," kata yang lainnya lagi.Salah satu laki-laki itu mengenalkan diri dan mengundang Kaian untuk tinggal semalam di rumahnya. Ia berkata bahwa ia adalah tukang pandai besi dan menawarkan Kaian makan serta minum."Saat kami melihatmu datang, kami kira kau adalah iblis," ia menjelaskan."Mengapa kalian berpikir begitu?" tanya Kaian. "Apakah aku terlihat seperti iblis?""Yah, itu cerita yang mengerikan," jawab si pandai besi. "Tapi aku akan menceritakannya padamu. Di gunung tepat di atas desa, ada sebuah kuil dan pendeta yang tinggal di sana mengenakan jubah biru sepertimu. Sang pendeta dulunya memiliki reputasi yang baik, karena ia sangat pandai dan baik hati. Orang-orang percaya padanya. Semuanya berubah musim semi yang lalu. Sang pendeta pergi ke desa lain untuk melakukan pembabtisan. Saat ia kembali, ia membawa seorang anak lelaki bersamanya. Ia adalah anak lelaki yang sangat tampan, kira-kira umurnya 12 atau 13 tahun. Pendeta itu menghabiskan seluruh waktunya dengan si anak lelaki dan bahkan sang pendeta jatuh cinta padanya. Semua orang berpendapat itu hal yang sangat aneh. Kemudian, anak laki-laki itu terserang penyakit. Kondisinya semakin serius dan dokter dari kota datang untuk merawatnya. Sayangnya, hal itu tidak berguna dan anak laki-laki itu akhirnya mati. Sang pendeta menangis terus menerus sampai ia tidak bisa menangis lagi. Ia memekik dan memekik sampai suaranya hilang. Satu hal yang paling aneh, ia menolak tubuh anak laki-laki itu dibakar atau dikremasi. Malahan, ia menggendong mayat itu di lengannya dan mengusap pipinya seakan-akan anak lelaki itu masih hidup. Kami tidak menyadari saat itu, tetapi sang pendeta meracau marah dengan keras. Suatu pagi, beberapa penduduk desa mengunjungi kuil dan apa yang mereka lihat membuat mereka kabur melarikan diri sambil berteriak ketakutan. Sang pendeta sedang memakan daging dan menjilati tulang anak lelaki itu. Mereka bilang sang pendeta berubah menjadi iblis. Sejak saat itu, sang pendeta meneror desa kami. Ia menuruni gunung malam demi malam dan menggali kuburan untuk mencari lebih banyak mayat. Saat ia menemukan mayat yang masih segar, ia akan memakannya. Kami semua mendengar dongeng kuno tentang iblis dan orang-orang hidup dalam ketakutan. Setiap rumah dipasangi papan yang kuat saat senja karena cerita tersebut telah menyebar di sini. Orang-orang tidak mau lagi datang kemari. Kau bisa melihat mengapa kami salah mengira kau adalah dia. Apa yang dapat kami lakukan untuk menghentikannya?""Hal-hal aneh terjadi di dunia ini," seru Kaian. "Ada beberapa orang yang dilahirkan sebagai manusia, tetapi terjadi sesuatu yang salah dan mereka melakukan perbuatan yang jahat dan tidak bermoral. Ini menyebabkan mereka berubah menjadi iblis. Hal itu bahkan terjadi sejak dulu. Dalam sebuah kasus yang kutahu, seorang wanita berubah menjadi ular. Kasus lainnya, seorang ibu lelaki menjadi sesosok setan kubur. Aku tahu lelaki lain yang menyukai daging dan diam-diam menculik anak-anak untuk memasak dan menghidangkan mereka sebagai makanan. Temanku yang seorang biarawan berjalan melewati sebuah desa dan ia tinggal semalam di gubuk milik seorang wanita tua. Saat itu hujan dan angin angin berderu kencang. Ia berbaring tanpa pencahayaan untuk menyamankan diri dari kesendirian. Saat malam semakin larut, ia mengira mendengar suara seekor kambing mengembik. Segera setelah itu, sesuatu mengendus sekitarnya untuk mengetahui ia masih tidur atau sudah bangun. Secepat kilat, ia memukulkan tongkatnya dengan keras. Makhluk itu berteriak dan roboh di lantai. Wanita tua mendengar keributan titu dan datang dengan lampu pelita. Mereka menemukan seorang gadis muda terbaring pingsan di lantai. Wanita tua memohon padanya untuk tidak membunuh gadis itu karena ia adalah anak perempuannya. Apa yang bisa ia lakukan? Ia pergi. Tetapi setelah itu, saat ia kembali ke desa tersebut, orang-orang sedang berkumpul untuk melihat sesuatu. Saat ia bertanya pada mereka apa yang terjadi, mereka memberitahunya jika mereka telah menangkap seorang gadis muda penyihir dan mereka akan membakarnya hidup-hidup.""Jadi, bagaimana pendapatmu tentang pendeta kami?" tanya si tukang pandai besi."Menurutku, ada sesuatu yang dilakukan pada anak lelaki itu," balas Kaian. "Tingkah pendeta yang aneh dan tidak alami melekat pada anak laki-laki itu dan membuatnya berubah menjadi setan kubur. Apa yang kuketahui sekarang ialah kita menghadapi iblis. Aku mungkin saja bisa membantumu dan membersihkan desamu dari iblis celaka ini.""Jika kau dapat melakukannya untuk kami, semua orang di sini akan sangat berterima kasih," kata si tukang pandai besi."Aku hanya membutuhkan satu hal," kata Kaian. "Sebuah tongkat kayu yang panjang dengan mata pisau yang tajam di dalamnya."Jadi, si tukang pandai besi bekerja keras sepanjang hari. Akhirnya, ia memberikan senjata khusus yang dipesan oleh Kaian. Benda itu hanya terlihat seperti tongkat kayu biasa, tetapi saat kau memutarnya ke atas dan mendorongnya, ia akan memunculkan mata pisau yang tajam.Dengan tongkat di tangan, Kaian pergi melakukan misinya. Ia memanjat puncak gunung sampai matahari tenggelam. Kuil itu terlihat sepi dan gerbangnya dikelilingi duri. Laba-laba memintal jaring-jaring pada patung-patung dan altar ditutupi oleh lumut dan kotoran burung. Seluruh tempat itu memancarkan perasaan hancur dan membuat mual.Kaian berjalan ke depan dan mengetuk pintu. Dalam waktu yang lama hanya ada keheningan. Dari kegelapan, seorang laki-laki muncul sambil menggertakkan giginya."Mengapa kau datang ke sini?" teriaknya dengan suara parau.Kaian menoleh dengan hati-hati, menjaga jaraknya agar tetap aman antara dirinya sendiri dan si setan kubur."Kuil ini sepi dan orang-orang pergi," katanya. "Di tempat gersang seperti ini, beberapa hal bisa terjadi. Orang-orang memberitahuku hal ini terjadi karena kau berubah menjadi iblis. Mereka bilang setiap malam, kau turun ke desa dan berpesta dengan daging manusia. Tidak ada seorang pun yang merasa hidupnya aman.Sang pendeta maju ke arahnya, menggeram seperti anjing gila. Air liur menetes dari janggutnya dan ia terlihat sangat lapar. Tubuh Kaian tetap membelakanginya."Apa yang mereka katakan itu benar," gertak sang pendeta. "Daging manusia adalah makananku. Malam ini, aku akan menggunakan dagingmu untuk mengisi perutku.""Bagaimana kalau aku memberitahumu ada sebuah obat untuk menyembuhkanmu?" kata Kaian.Sang pendeta terkejut, "Sebuah obat?" tanyanya, ia melihat Kaian dengan curiga. "Jika kau tahu obat itu, cepat katakan padaku sekarang supaya aku dapat melarikan diri dari nasibku yang mengerikan ini."Kaian melepas jubah birunya dan melemparkannya kepada pendeta yang busuk dan kejam."Pakai itu," katanya.Sang pendeta menangkap jubah itu dengan cepat, kemudian ia duduk di batu pipih di depan kuil dan memakai jubah itu melalui kepalanya."Jangan coba menipuku," raung sang pendeta. "Aku masih bisa melihatmu, jadi jaga jarakmu. Jika tidak, aku akan mengunyah tulangmu sampai subuh.""Pecahkan teka-teki berikut dan kau akan bebas dari kesengsaraanmu," kata Kaian. "Dengarkan baik-baik..."Ia mulai mengatakan teka-teki tersebut:Di atas air bulan bersinar,diantara pohon-pohon angin bertiup dengan kencang,dan mengapa tidak ada yang tahu?Sang pendeta merenungkan kata-kata itu sejenak."Dapatkah kau memberiku sebuah petunjuk?" tanyanya."Tidak ada petunjuk," kata Kaian. "Kau harus berkonsentrasi dengan keras dan bersemedi, tak masalah berapa lama. Akhirnya, kau akan mengerti maknanya dan menemukan kebebasan dari kengerian ini."Menit dan jam berlalu, sang pendeta masih duduk sambil terus berpikir, Kaian mulai mendekat sedikit demi sedikit. Ia bergerak tanpa kelihatan, memindahkan berat badannya dari kaki satu ke kakinya yang lain, dan menggeser setiap kaki semakin dekat ke tempat dimana sang pendeta duduk.Malam berakhir dan sebuah cahaya abu-abu menyebar di langit sampai fajar menyingsing. Sang pendeta duduk tanpa bergerak di atas batu, berbisik tanpa suara, tidak lebih keras dari dengung nyamuk."Di atas air bulan bersinar,diantara pohon-pohon angin bertiup dengan kencang,dan mengapa tidak ada yang tahu?"Kaian menonton dalam diam, tangannya menggenggam kuat-kuat ujung tongkatnya. Ia semakin dekat sampai sang pendeta menjauhkan diri.Ia mendengar ayam jantan berkokok di kejauhan."Jadi, apakah kau sudah bisa memecahkan teka-teki itu?" tanya Kaian."Belum," jawab sang pendeta."Itu karena tak ada seorang pun yang bisa," kata Kaian sambil mengayunkan mata pisau tajam itu sekuat yang ia bisa.Mata pisau yang tajam menusuk leher sang pendeta seperti pisau panas menyentuh keju, memotong kepalanya sampai menggelinding ke sisi gunung. Tubuhnya terjatuh, terbaring tak berdaya diantara rumput liar.Kaian membersihkan mata pisaunya dan memasukkannya kembali ke dalam tongkat. Kemudian, ia mulai menuruni gunung untuk memberitahu warga desa bahwa mimpi buruk mereka sudah berakhir.

Tsurara Onna
Horror
08 Jan 2026

Tsurara Onna

Ada seorang laki-laki yang tidak pernah menikah. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah kecil di hutan belantara Jepang. Ia merasa sangat kesepian dan berharap ada seseorang yang mau menghabiskan hidup bersamanya.Suatu pagi di musim dingin, ia sedang memandang keluar dari jendela saat memperhatikan beberapa tetes air yang membeku bergantung di bagian bawah atap rumahnya.Ia berkata pada dirinya sendiri, "Aku berharap aku memiliki seorang istri secantik tetesan-tetesan air yang membeku itu."Malam itu, ada ketukan di depan pintu rumah si lelaki. Saat si lelaki menjawab, ia melihat seorang wanita cantik berdiri di depan pintu. Tubuhnya sangat tinggi dan ramping, wajahnya sepucat salju. Laki-laki itu mengundangnya masuk agar bebas dari udara luar yang dingin.Selama waktu berjalan, wanita itu tak pernah pergi dan keduanya saling jatuh cinta. Mereka memutuskan untuk hidup sebagai pasangan suami dan istri. Hanya ada satu masalah kecil. Laki-laki itu memperhatikan jika istrinya yang cantik tidak pernah mandi. Kapan pun si lelaki mencoba berbicara pada istrinya tentang hal itu, sang istri menolak untuk mendiskusikannya.Suatu hari, sang suami merasa muak. Ia menangkap istrinya dan menyeretnya ke kamar mandi. Teriakan dan jeritan terdengar dari mulut sang istri. Ia terus mencoba meronta dari suaminya. Sang suami melemparnya ke dalam pipa-pipa berisi air panas, kemudian meninggalkannya di sana. Sang suami membanting pintu di belakangnya dengan keras.Satu jam berlalu dan laki-laki itu tidak mendengar apa pun. Tidak ada suara kecipak air yang berasal dari kamar mandi. Berpikir hal tersebut aneh, ia membuka pintu kamar mandi dan melihat ke dalam.Kosong. Istrinya telah pergi. Satu-satunya hal yang bisa ia lihat hanya sisir rambut istrinya yang selalu ia pakai, mengambang di air.Laki-laki itu patah hati. Ia menduga istrinya telah meninggalkannya dan kabur darinya. Ia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya. Beberapa bulan kemudian, ia bertemu dengan seorang wanita dan mereka saling jatuh cinta. Wanita itu datang untuk hidup bersamanya dan mereka melalui bulan demi bulan bahagia bersama sampai musim dingin kembali datang.Setelah semalaman hujan salju dengan deras, laki-laki itu melihat keluar jendela dan memperhatikan sebuah tetesan air membeku yang besar di bagian bawah atap rumahnya. Ia pergi keluar untuk menjatuhkan tetesan air membeku itu, tetapi ada seorang wanita yang berdiri di luar rumah. Laki-laki itu mengenalnya. Itu adalah istrinya.Dari dalam rumah, istrinya yang baru mendengar sebuah pekikan yang sangat menderita. Ia berlari keluar dan menemukan suaminya tergeletak di atas salju. Ia telah mati dan darah berceceran di sekitar kepalanya hingga membasahi salju. Sebuah tetesan air yang besar menusuk tepat pada matanya dan menembus otaknya.

Madoka-Chan
Horror
07 Jan 2026

Madoka-Chan

Kisah nyata di Jepang pada tahun 1997 ini bercerita tentang seorang gadis bernama Madoka-chan. Seorang gadis kecil yang suatu hari menghilang secara misterius.Di sore hari yang agak cerah, Madoka-chan berjalan-jalan dengan ibunya di suatu taman. Saat di taman, ibunya melihat temannya yang juga sedang berjalan-jalan bersama seorang putrinya di taman itu. Keduanya lalu bertemu dan bercakap-cakap, sementara Madoka-chan pergi bermain dengan putri teman ibunya.Beberapa menit kemudian, ibu Madoka melihat sekeliling dan tidak dapat menemukan putrinya di sekitarnya. Ibunya mulai panik dan langsung menuju ke anak gadis yang tadi bermain bersama putrinya.Dia bertanya kepada anak tersebut, "Dimana Madoka?""Aku tidak tahu," jawab anak itu.Ibu Madoka mulai panik, dia mencari Madoka di sekitar taman namun tetap saja Madoka tidak ketemu. Akhirnya orang tua Madoka melaporkan hal itu ke polisi, berharap Madoka cepat ditemukan. Polisi memeriksa tempat dimana Madoka hilang, namun tidak ada tanda-tanda kehilangan Madoka. Setelah beberapa bulan, Madoka tetap saja tidak ketemu. Polisi berusaha meyakinkan orang tua Madoka bahwa mereka akan tetap berusaha mencari putrinya itu.Sudah setahun Madoka hilang, hingga polisi mendatangi orang tua madoka dan meminta maaf tidak dapat meneruskan pencarian. Kemudian memasukan kasus tersebut ke dalam daftar kasus yang tidak terpecahkan.Namun, orang tua Madoka tidak putus asa, mereka tetap berusaha mencari Madoka. Akhirnya, orang tua Madoka menyewa seorang paranormal untuk mengetahui keberadaan Madoka. Paranormal itu datang dan memeriksa kamar Madoka. Dia memejamkan matanya sambil memegang benda-benda di kamar Madoka."Dia masih hidup," kata paranormal itu.Orang tua Madoka merasa senang mendengar kabar tersebut."Dia hidup. Jantungnya masih berdetak, paru-parunya masih berfungsi," kata sang paranormal."Iya kami tahu. Dimana dia sekarang?"tanya sang ibu bersemangat."Dia sedang menatap barang-barang mahal dan rumah mewah, perutnya hanya diisi makanan-makanan yang nikmat dan mahal."Orang tua Madoka bernafas lega. "Sekarang dia dimana?" tanya mereka lagi.Sebenarnya, apa yang terjadi pada Madoka?

Uba Yo Sare
Horror
07 Jan 2026

Uba Yo Sare

Di sebuah daerah pinggiran kota di Jepang, hiduplah seorang pria yang tinggal sendirian di rumah warisan keluarganya. Rumah itu sudah tua, dengan dinding kayu yang sering berderit ketika malam semakin larut. Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, pria tersebut terbangun karena rasa ingin buang air yang sudah tidak tertahankan.Dengan mata setengah terpejam, ia bangkit dari tempat tidurnya. Rumah itu sunyi—terlalu sunyi. Tak ada suara serangga, tak ada angin yang menyusup lewat jendela. Hanya detak jam dinding di ruang tamu yang terdengar samar.Ia berjalan pelan, meraba-raba dinding menuju kamar mandi. Lampu kamar mandi tidak dinyalakan, karena ia yakin hanya sebentar saja. Ia membuka pintu kamar mandi sedikit, membiarkan cahaya bulan purnama yang terang masuk dan menerangi ruangan dengan cahaya pucat kebiruan.Saat ia sedang buang air, matanya menangkap sesuatu yang bergerak di luar pintu kamar mandi.Bayangan.Awalnya hanya samar—seperti siluet seseorang yang berdiri di ujung lorong. Ia berpikir mungkin hanya bayangannya sendiri, atau pantulan cahaya bulan. Namun bayangan itu tidak diam. Ia bergerak. Perlahan. Mendekat.Jantung pria itu mulai berdegup lebih cepat.Bayangan itu semakin jelas, hingga akhirnya ia bisa melihat sosok seorang wanita berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Wanita itu mengenakan kimono lama yang warnanya sudah memudar, penuh noda dan terlihat sangat kotor, seolah telah lama terkubur tanah. Tubuhnya tinggi—tidak wajar—kepalanya hampir menyentuh kusen pintu.Wajahnya… tidak bisa dikenali.Bukan karena gelap, tetapi karena wajah itu seperti tertutup sesuatu—entah rambut, entah kain, entah sesuatu yang lain. Tidak ada mata yang terlihat jelas. Tidak ada ekspresi. Hanya kehampaan.Wanita itu berdiri diam, membisu.Dengan suara bergetar, pria itu berkata, “Apa yang sedang kau lakukan di sini? Cepat pergi!”Tidak ada jawaban.Udara di kamar mandi terasa mendadak dingin. Pria itu merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia ingin bergerak, ingin berlari, tetapi kakinya terasa berat, seolah menancap ke lantai.Wanita itu melangkah maju satu langkah.Dan satu langkah lagi.Kimono itu terdengar bergesek dengan lantai, seperti kain basah diseret perlahan.Pria itu menjerit—namun suaranya seperti tertelan oleh rumah itu sendiri.Keesokan paginya, keluarga dan tetangga pria tersebut mencarinya ke seluruh rumah. Pintu-pintu terkunci dari dalam. Tidak ada tanda perampokan. Tidak ada darah. Tidak ada kerusakan.Pria itu menghilang.Satu-satunya hal aneh yang ditemukan adalah jejak kaki basah di lantai kayu. Jejak itu tidak seperti kaki manusia biasa—bentuknya menyeret, panjang, dan tidak seimbang. Jejak itu berjalan dari kamar mandi… menuju dinding ruang tamu.Dan berhenti di sana.Tidak menembus dinding. Tidak berbelok. Hanya berhenti, seolah sesuatu telah masuk ke dalam dinding itu sendiri.Sejak saat itu, legenda tentang wanita berkimono mulai menyebar.Konon, siapa pun yang mengetahui kisah ini berisiko didatangi olehnya.Ia akan datang dalam waktu tiga hari, tepat di tengah malam.Jika kalian terbangun dan mendengar tiga ketukan pelan dari luar pintu kamar mandi… jangan membukanya.Sebaliknya, ucapkan kalimat ini dengan suara tegas, sebanyak tiga kali:“Uba Yo Sare.”Itulah namanya.Dan hanya dengan menyebut namanya, wanita berkimono itu akan pergi… menjauh dari kamar mandi kalian.Jika tidak—tidak akan ada yang tersisa, selain jejak kaki yang berakhir di dinding rumah.

Yuki-Onna
Horror
06 Jan 2026

Yuki-Onna

Yuki-onna muncul ketika salju turun, ia berwujud wanita tinggi yang anggun dan cantik dengan rambut hitam panjang dan bibir biru. Kulitnya putih pucat. Terkadang ia memakai kimono putih, tetapi legenda lainnya menggambarkan dia tak memakai sehelai benang pun.Meskipun kecantikannya sangat mempesona, pandangan matanya bisa memancarkan ketakutan kepada orang yang menatapnya. Dia selalu melayang di atas salju, tidak meninggalkan jejak kaki (beberapa cerita mengatakan ia tidak memiliki kaki). Dan dia bisa berubah menjadi awan kabut atau salju.Sampai abad ke-18, beberapa legenda mengatakan Yuki-onna adalah roh seorang wanita yang tewas akibat badai salju. Yuki-onna selalu digambarkan sebagai wanita yang tenang dan lembut, namun ia sangat tidak suka kalau ada orang yang menggodanya, ia akan langsung membunuh orang tersebut.Yuki-onna muncul jika melihat ada orang terjebak di badai salju, ia akan berpura-pura untuk minta tolong. Karena ia sangat cantik, banyak orang yang terlena dengan kecantikannya. Jika orang tersebut menggodanya dan ingin berbuat jahat kepadanya, maka ia akan menghembuskan napas esnya untuk membuat tubuh orang tersebut menjadi biru dan kaku. Tetapi jika orang tersebut mempunyai niat baik dan tulus untuk menolong, maka badai salju akan segera berhenti dan tubuh Yuki-Onna akan mencair.Kisah Yuki-Onna (Wanita Salju) Merupakan salah satu kisah hantu klasik di Jepang yang sudah sering diangkat dalam bentuk opera, bahkan pernah dibuat dalam bentuk film klasik. Kisah hantu yang bukan klasik ditandai dengan adegan berdarah-darah, namun lebih merupakan cerita yang diisi tokoh manusia dan hantu yang melibatkan percintaan, kesedihan yang dalam, dan tragedi.Cerita dimulai dari dua orang penebang kayu bernama Mosaku dan Minokichi yang hidup di daerah provinsi Musashi (terletak di antara Tokyo dan Saitama). Mosaku adalah seorang pria yang berada di usia senja, sementara muridnya, Minokichi adalah seorang pemuda tegap berumur 18 tahun. Setiap hari mereka berangkat pagi-pagi sekali ke sebuah hutan yang jaraknya 5 mil dari desa mereka. Di antara desa mereka dan hutan yang dituju ada sebuah sungai besar yang beraliran deras. Begitu derasnya arus sungai tersebut sehingga tidak ada jembatan yang kuat menahan arus (jembatan yang ada selalu rusak akibat terjangan arus deras). Siapa pun yang ingin menyebrangi sungai harus melewatinya dengan bantuan kapal penyebrang kecil.Suatu hari Mosaku dan Minokichi sedang dalam perjalan pulang. Ketika itu cuaca begitu dingin dan mulai turun badai salju. Saat sampai di tepi sungai, mereka menemukan bahwa si pengayuh perahu yang menyeberangkan mereka telah pulang ke rumah dan meninggalkan perahunya karena cuaca buruk. Sadar bahwa mereka tidak mungkin menyeberangi sungai, mereka memutuskan bermalam sementara di pondok si pengayuh perahu. Pondok itu benar-benar sederhana, hanya terdiri dari sebuah ruangan tanpa jendela yang berisi dua buah Tatami, tanpa perabotan apa pun.Mosaku dan Minokichi yang sudah lelah segera menutup pintu agar salju tidak masuk ke dalam pondok, kemudian beristirahat. Mereka merasa cukup hangat dan nyaman sehingga Mosaku yang sudah lanjut usia tak lama berbaring langsung tertidur pulas, sementara Minokichi yang masih muda termenung mendengar suara angin yang menderu yang disertai arus sungai yang bertambah deras. Badai tidak mereda dan udara malah bertambah dingin, namun setelah bersusah payah akhirnya Minokichi tertidur juga.Entah telah berapa lama Minokichi tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena merasakan butir-butir salju yang lembut di wajahnya. Ternyata pintu pondok yang mereka diami telah terbuka dengan paksa. Minokichi melihat seorang wanita dalam pondok, wanita yang putih seperti salju dan memancarkan cahaya seperti salju (Yuki-Akari) sedang membungkuk diatas Mosaku. Ia tengah meniupkan nafasnya yang dingin menyerupai asap putih kepada Mosaku. Minokichi benar-benar terkejut dan ketakutan, ia ingin menjerit namun tak ada sebuah suara pun yang keluar dari mulutnya. Saat itulah sang wanita misterius itu beradu pandang dengannya, ia mendekatkan wajahnya pada Minokichi. Dalam ketakutan yang amat sangat, Minokichi merasakan bahwa wanita yang berada di hadapannya adalah seorang wanita yang amat cantik, walaupun sorot matanya membuat tubuhnya gemetar dalam ketakutan.Wanita itu terus menatap Minokichi dan tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Aku ingin memperlakukanmu sama seperti orang lain, tapi aku kasihan padamu. Kau masih muda, begitu tampan, Minokichi. Aku tidak akan menyakitimu, tapi jika kau memberitahu siapa pun termasuk ibumu tentang apa yang terjadi malam ini... maka aku akan membunuhmu! Ingat apa yang telah kukatakan ini."Seusai wanita salju itu berkata seperti itu, ia meninggalkan Minokichi sendirian. Mengira bahwa itu hanyalah mimpi, Minokichi segera bangun dan melihat keluar namun ia tidak melihat siapa pun atau apa pun. Sambil menutup pintu ia bertanya-tanya apakah bukan angin yang membuka pintu pondok tadi. Ia memanggil Mosaku namun tidak ada jawaban. Minokichi mengulurkan tangan untuk menyentuh Mosaku dan tanpa sengaja ia menyentuh wajah Mosaku, dan ternyata wajahnya telah membeku. Mosaku telah meninggal.Ketika fajar tiba, badai pun berakhir dan si pengayuh perahu menemukan Minokichi yang tergeletak pingsan di samping Mosaku yang telah meninggal. Ia membawa keduanya menyeberang, lalu menguburkan jenazah Mosaku. Sementara Minokichi dibawa pulang ke rumahnya. Setelah sembuh, Minokichi tidak dapat langsung melupakan kejadian yang telah ia alami. Ia dihantui oleh kematian Mosaku, namun ia bersikeras untuk tidak menceritakan kejadian itu pada siapa pun, karena ia tidak ingin kehilangan nyawanya.Lama berselang, Minokichi baru berani kembali pada pekerjaan sehari-harinya, menebang kayu, membelahnya menjadi potongan-potongan kecil, lalu menjual kayu tersebut ke pasar dengan bantuan ibunya. Pada musim dingin tahun berikutnya, Minokichi sedang berada dalam perjalanan pulang melalui jalan setapak di hutan, saat ia berpapasan dengan seorang gadis yang amat cantik, berkulit putih indah yang hendak melalui jalan yang sama. Minokichi pun menyapa gadis itu dan tanpa disangka gadis itu menjawab dengan suara yang menurut Minokichi adalah suara yang paling merdu yang pernah didengarnya. Mereka pun mulai berjalan bersama dan bercakap-cakap. Si gadis menceritakan bahwa ia bernama O-Yuki, ia telah kehilangan kedua orangtua, dan untuk menyambung hidupnya ia akan pergi ke Yedo (Edo atau Tokyo) untuk mencari kerabatnya agar dapat membantu mencarikannya pekerjaan sebagai pelayan.Entah apa yang dirasakan Minokichi, namun rasanya gadis itu nampaknya makin cantik di matanya. Minokichi pun mulai merasa suka pada gadis itu, sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya apakah gadis itu sudah memiliki pasangan. Gadis itu tertawa sambil mengatakan bahwa ia belum memiliki pasangan atau kekasih. Ia pun balik bertanya apakah Minokichi telah memiliki pasangan, dan Minokichi menjawab bahwa ia pun belum memilikinya. Setelah pernyataan ini, maka kedua muda-mudi ini tidak berbicara lagi sampai mereka tiba di desa tempat tinggal Minokichi. Namun dalam hati masing-masing telah tumbuh rasa saling menyukai. Maka Minokichi mengundang O-Yuki untuk singgah dan beristirahat di rumahnya. O-Yuki ternyata bukan hanya gadis cantik, namun juga berkelakuan baik. Ibu Minokichi pun tak butuh waktu lama untuk menyukainya. Sampai ia membujuk agar O-Yuki mau menunda perjalanannya ke Yedo. Pada akhirnya O-Yuki tidak pernah melanjutkan perjalanannya ke Yedo, melainkan menetap di desa itu dan tinggal bersama Minokichi dan ibunya, sebagai istri dan menantu.Lima tahun kemudian ibu Minokichi meninggal, O-Yuki tetap bersama-sama Minokichi, bahkan ia telah melahirkan 10 orang anak lelaki dan perempuan bagi Minokichi. Semuanya tampan dan cantik, serta memiliki kulit putih seindah ibunya. Banyak penduduk desa yang mengagumi O-Yuki. Kebanyakan petani tampak tua setelah melahirkan anak, namun O-Yuki yang telah menjadi ibu 10 anak tetap terlihat cantik. Secantik saat pertama kedatangannya di desa, mereka. Suatu malam setelah anak-anak tidur, O-Yuki menjahit dibantu dengan sebuah cahaya dari lampu kertas.Minokichi yang sedang menatapnya, tiba-tiba berkata, "Melihat kau menjahit dengan pantulan cahaya di wajahmu, aku teringat suatu hal aneh yang terjadi saat aku masih berusia 18 tahun. Kala itu aku melihat seorang wanita yang secantik dan seputih dirimu... dan ia memang mirip denganmu..."Tanpa menghentikan pekerjaannya, O-Yuki bertanya, "Ceritakanlah padaku, dimana kau bertemu dengannya?"Lalu Minokichi mulai bercerita tentang Mosaku dan pengalamannya di pondok pengayuh perahu. "Entah itu sebuah mimpi atau bukan,tapi saat-saat itulah aku pernah melihat orang secantik engkau. Tentu saja ia pasti bukan manusia dan aku sangat takut padanya. Hingga sekarang pun aku tidak yakin apakah yang aku lihat itu mimpi atau memang benar-benar seorang wanita salju."O-Yuki langsung melemparkan jahitannya. Ia mendekati suaminya dan berseru, "Itu adalah aku! Bukankah aku telah mengatakan bahwa aku akan membunuhmu jika cerita itu pernah keluar dari mulutmu. Sekarang, demi anak-anak kita..." O-Yuki tetap berteriak namun suaranya menjadi penuh kesedihan, "Jagalah anak-anak kita, karena jika kamu tidak melakukannya, maka aku akan melakukan hal yang pernah aku katakan padamu..."Minokichi tidak sempat berkata apa-apa. O-Yuki mulai tidak terlihat dan kemudian menguap menjadi butir-butir salju yang halus, yang menghilang melalui cerobong asap. sejak saat itu, ia tidak pernah terlihat lagi.------------------------------------------------------

Hachishakusama
Horror
06 Jan 2026

Hachishakusama

Hachishakusama adalah legenda urban Jepang tentang seorang wanita tinggi yang menculik anak-anak. Dia memiliki tinggi 8 kaki, mengenakan gaun putih panjang dan membuat suara seperti, "Po... po... po... po... po..."Kisah tentang Hachishakusama-------Kakek dan nenekku tinggal di Jepang. Setiap musim panas, orang tuaku membawaku ke sana pada hari libur untuk mengunjungi mereka. Mereka tinggal di sebuah desa kecil dan mereka memiliki halaman belakang yang luas. Aku senang bermain di sana selama musim panas. Ketika kami tiba, kakek dan nenek selalu menyambutku dengan tangan terbuka. Hanya aku cucu mereka, sehingga aku merasa dimanjakan.Terakhir kali aku melihat mereka adalah musim panas ketika umurku 8 tahun. Seperti biasa, orang tuaku memesan penerbangan ke Jepang dan kami melaju dari bandara ke rumah kakek-nenek. Mereka senang melihatku dan mereka memiliki banyak hadiah kecil untuk diberikan. Orang tuaku ingin memiliki beberapa waktu sendiri, sehingga setelah beberapa hari, mereka mengambil perjalanan ke bagian lain dari Jepang, meninggalkanku dalam perawatan nenek dan kakek.Suatu hari, aku sedang bermain di halaman belakang. Kakek-nenek berada di dalam rumah. Itu adalah hari musim panas yang panas dan aku berbaring di rumput untuk beristirahat. Aku menatap awan dan menikmati perasaan sinar lembut matahari dan angin lembut. Ketika aku hendak bangun, aku mendengar suara aneh."Po... po... po... po... po... po... po..."Aku tidak tahu apa itu dan sulit untuk mencari tahu di mana suara tersebut berasal. Kedengarannya hampir seperti seseorang sedang membuat kebisingan sendiri... seolah-olah mereka hanya mengatakan, "Po... po... po..." berulang-ulang.Aku melihat sekeliling, mencari sumber kebisingan ketika tiba-tiba aku melihat sesuatu di atas pagar tinggi yang tertutup halaman belakang itu seperti topi jerami. Di situlah suara itu berasal."Po... po... po... po... po... po... po..."Kemudian, topi itu mulai bergerak, seolah-olah seseorang sedang memakainya. Topi tersebut berhenti di sebuah celah kecil di pagar tanaman dan aku bisa melihat wajah mengintip melalui celah. Itu adalah seorang wanita setinggi pagar yang tingginya hampir 8 kaki.Aku terkejut melihat seberapa tinggi wanita itu. Aku bertanya-tanya apakah dia memakai egrang atau semacam sepatu bertumit tinggi besar. Sekian detik kemudian, ia berjalan pergi dan suara aneh menghilang, memudar dari kejauhan.Bingung, aku berjalan kembali ke dalam rumah. Kakek-nenekku berada di dapur, mereka sedang minum teh. Aku duduk di meja dan setelah beberapa saat, aku mengatakan kepada kakek-nenek tentang apa yang kulihat. Mereka tidak benar-benar memperhatikanku, sampai aku menyebutkan bahwa ia memiliki suara khas, "Po... po... po... po... po... po... po..."Begitu aku mengatakan bahwa wanita tinggi itu bersuara aneh, keduanya tiba-tiba diam. Mata nenek melebar dan dia menutup mulutnya dengan tangannya. Wajah Kakek menjadi sangat serius dan ia meraih lenganku."Ini sangat penting," katanya, dengan suara yang serius. "Kamu harus memberitahu kami persis seperti apa dia... Berapa tingginya kira-kira?""Setinggi pagar taman," jawabku, mulai merasa takut.Aku dibombardir kakek dengan pertanyaan, "Di mana dia berdiri? Ketika kejadian tadi terjadi? Apa yang kamu lakukan? Apakah dia melihatmu?"Aku mencoba untuk menjawab semua pertanyaan itu sebaik mungkin. Tiba-tiba ia bergegas keluar ke lorong dan melakukan phonecall. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Aku memandang nene dan dia gemetar. Kakek datang menerobos kembali ke dalam ruangan dan berbicara dengan nenek."Aku harus pergi keluar untuk sementara waktu," katanya. "Nenek tinggal di sini.""Apa yang terjadi, Kakek?" teriakku.Dia menatapku dengan ekspresi sedih di matanya dan berkata, "Kau sudah disukai oleh Hachishakusama."Dengan berkata seperti itu, ia bergegas keluar, masuk ke truk dan melaju pergi. Aku berbalik untuk nenekku dan hati-hati bertanya, "Siapa Hachishakusama?""Jangan khawatir," jawabnya dengan suara gemetar. "Kakek akan melakukan sesuatu. Tidak perlu khawatir."Ketika kami duduk gelisah di dapur menunggu kakek datang kembali, dia menjelaskan apa yang terjadi. Dia mengatakan kepadaku ada hal yang berbahaya yang menghantui daerah kami. Mereka menyebutnya Hachishakusama karena tingginya. Dalam bahasa Jepang, "Hachishakusama" berarti "Delapan Kaki". Terakhir kali ia muncul adalah 15 tahun yang lalu. Nenek mengatakan bahwa siapa pun yang melihat Hachishakusama (Delapan Kaki) ditakdirkan untuk mati dalam beberapa hari.Semuanya terdengar begitu gila, aku tidak yakin apa yang harus kupercaya. Ketika Kakek kembali, ada seorang wanita tua yang datang bersamanya. Dia memperkenalkan dirinya sebagaiK-san dan menyerahkan sepotong kusut perkamenkecil (sejenis jimat), mengatakan, "Ini, ambil ini dan tahan."Lalu, ia dan kakek pergi ke lantai atas untuk melakukan sesuatu. Aku ditinggalkan sendirian di dapur dengan nenek lagi. Aku harus pergi ke toilet. Nenek mengikutiku ke kamar mandi dan tidak akan membiarkanku menutup pintu. Aku mulai mendapatiku benar-benar takut dengan semua ini.Setelah beberapa saat, kakek dan K-san membawaku ke atas, ke dalam kamar. Jendela ditutup dengan surat kabar dan banyak rune kuno telah ditulis. Ada mangkuk kecil garam di keempat sudut ruangan dan tokoh Buddha kecil yang ditempatkan di tengah ruang di atas kotak kayu. Ada juga ember biru cerah."Ember ini untuk apa?" aku bertanya."Itu untuk kencing dan buangkotoran," jawab Kakek.K-san menyuruhku duduk di tempat tidur dan berkata, "Matahari akan segera terbenam, sehingga kau harus mendengarkan dengan seksama. Kau harus tinggal di ruangan ini sampai besok pagi. Kau tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun sampai jam 7 besok pagi. Nenek dan kakekmu tidak akan berbicara denganmu atau menghubungimu sampai saat itu. Ingat, tidak meninggalkan ruang untuk alasan apa pun sampai saat 7 besok pagi. Aky akan memberitahu orang tuamu tentang apa yang sedang terjadi."Dia berbicara dengan nada serius, yang bisa kulakukan hanya diam mengangguk."Kau harus mengikuti instruksi K-san," kata Kakek. "Dan jika terjadi sesuatu, berdoa kepada Buddha. Dan pastikan kau mengunci pintu ini ketika kami pergi nanti."Mereka berjalan ke lorong dan setelah mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, aku menutup pintu kamar dan menguncinya. Aku menyalakan TV dan mencoba untuk menonton, tapi aku begitu gugup, aku merasa mual. Nenek telah meninggalkan beberapa makanan ringan dan nasi untukku, tapi aku tidak bisa makan. Aku merasa seperti berada di penjara dan aku mrasa sangat tertekan dan takut. Aku berbaring di tempat tidur dan menunggu, kemudian aku tertidur.Ketika aku terbangun, itu adalah pkul 1 pagi. Tiba-tiba, aku menyadari bahwa ada sesuatu yang mengetuk jendela."Tap, tap, tap, tap, tap..."Aku merasakan darah mengalir dari wajah dan jantungku berdetak kencang. Aku berusaha keras untuk menenangkan diri, mengatakan pada diri sendiri itu hanya angin bermain trik atau mungkin cabang-cabang pohon. Aku keraskan volume pada TV untuk meredam kebisingan tersebut. Tapi suara itu tetap tudak berhenti sama sekali. Saat itulah aku mendengar kakek memanggilku."Apakah Kamu baik-baik saja di sana?" tanyanya. "Jika kau takut, kau tidak harus tinggal di sana sendirian. Kakek bisa datang dan menemanimu."Aku tersenyum dan bergegas untuk membuka pintu, tapi kemudian, aku berhenti. Seluruh tubuhku merinding. Kedengarannya seperti suara kakek, tapi entah bagaimana, itu berbeda. Aku tidak tahu apakah itu benar-benar kakek."Apa yang kau lakukan?" tanya kakek." Kau dapat membuka pintu sekarang."Aku melirik ke kiri dan tulang belakangku terasa sangat dingin . Garam dalam mangkuk perlahan berubah hitam. Aku mundur dari pintu. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Aku jatuh berlutut di depan patung Buddha dan mencengkeram bagian perkamen erat di tanganku. Aku mulai putus asa, berdoa meminta bantuan."Tolong selamatkan aku dari Hachishakusama," aku meratap.Kemudian, aku mendengar suara di luar pintu, "Po... po... po... po... po... po... po..."Suara pada jendela mulai lagi. Untuk mengatasi rasa takut dengan berjongkok di depan patung Buddha, setengah menangis setengah berdoa untuk sisa malam. Aku merasa ini seperti tidak akan pernah berakhir, tapi akhirnya pagi juga. Garam di semua keempat mangkuk itu berubah menjadi gelap gulita. Aku melihat jam. Sudah pukul 7:30. Aku hati-hati membuka pintu. Nenek dan K-san berdiri di luar menungguku. Ketika dia melihat wajahku, Nenek menangis."Aku sangat senang kau masih hidup," katanya.Aku turun dan terkejut melihat ayah dan ibuku duduk di dapur.Kakek datang dan berkata, "Cepat! Kita harus pergi."Kami pergi ke pintu depan dan ada van hitam besar menunggu di jalan masuk. Beberapa orang dari desa itu berdiri di sekitar van itu, menunjuk ke arahku dan berbisik, "Itu anaknya."Van tersub bermuatan sembilan orang dan mereka menempatkanku di tengah, dikelilingi oleh delapan orang. K-san berada di kursi pengemudi.Pria di sebelah kiriku, menatapku dan berkata, "Aku tahu kau mungkin khawatir, tapi tutup matamu. Kami tidak bisa melihatnya, tapi kau bisa. Jangan membuka matamu sampai kami katakan kau aman di sini."Mobil kakek melaju di depan dan mobil ayahku mengikuti di belakang. Ketika semua orang sudah siap, konvoi kecil kami mulai bergerak. Kami cukup lambat... sekitar 20 km/jam atau mungkin kurang.Setelah beberapa saat, K-san mengatakan, "Ini adalah saat di mana itu akan sulit," dan mulai menggumamkan doa di bawah napas. Saat itulah aku mendengar suara itu."Po... po... po... po... po... po... po..."Aku mencengkeram perkamen yang telah diberikan K-san padaku, kupegang erat di tangan. Aku terus menunduk, tapi tanpa sengaja aku mengintip ke luar. Aku melihat sosok gaun putih berkibar oleh angin. Dan bergerak bersama dengan van. Itu adalah Hachishakusama (Delapan Kaki). Dia berada di luar jendela, tapi ia menjaga kecepatan agar sama dengan kami. Lalu, tiba-tiba ia membungkuk dan mengintip ke dalam van."Tidak!" Aku terkejut.Pria sampingku berteriak, "TUTUP MATAMU!"Aku segera menutup mata sekeras mungkin dan memperketat cengkeraman pada sepotong perkamen. Kemudian teror dimulai."Tap, tap, tap, tap, tap..."Suara menjadi lebih keras. "Po... po... po... po... po... po... po..."Ada yang mengetuk jendela di sekitar mobil kami. Semua orang di dalam van yang terkejut dan gelisah, gugup bergumam kepada diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa melihat Hachishakusama (Delapan Kaki) dan mereka tidak bisa mendengar suaranya, tapi mereka bisa mendengarnya mengetuk jendela. K-san mulai berdoa lebih keras dan lebih keras sampai ia hampir berteriak. Ketegangan dalam van itu tak tertahankan. Setelah beberapa saa teror berhenti dan suara menghilang.K-san kembali menatap kami dan berkata, "Kupikir kita aman sekarang."Semua orang di sekitarku menarik napas lega. Van menepi ke sisi jalan dan orang-orang keluar. Mereka memindahkanku ke mobil ayah. Ibuku memelukku erat dan air mata mengalir di pipinya. Kakek dan ayahku membungkuk kepada orang-orang dan mereka melanjutkan perjalanan mereka. K-san datang ke jendela dan memintaku untuk menunjukkan potongan perkamen yang telah ia memberikan padaku. Ketika aku membuka tangan, aku melihat bahwa jimat sudah benar-benar hitam."KUpikir kau akan baik-baik saja sekarang," katanya. "Tapi hanya untuk memastikan, pegang ini untuk sementara waktu."Dia menyerahkan sepotong perkamen baru. Setelah itu, kami melaju langsung ke bandara dan kakek dapat melihat kami telah aman di pesawat. Ketika kami berangkat, orang tuaku menarik napas lega. Sebelumnya. Tahun lalu, anaj temannya juga telah disukai oleh Hachishakusama (Delapan Kaki). Anak itu menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.Ayahku mengatakan ada orang lain yang telah disukai oleh dia dan hidup untuk menceritakan tentang hal itu. Mereka semua harus meninggalkan Jepang dan menetap di luar negeri. Mereka tidak pernah bisa kembali ke tanah air mereka. Dia selalu memilih anak-anak sebagai korbannya. Mereka mengatakan itu karena anak-anak tergantung pada orang tua mereka dan anggota keluarga. Hal ini membuat mereka lebih mudah untuk ditipu apalagi ketika dia bertindak sebagai kerabat mereka.Ayah mengatakan orang-orang di dalam van adalah kerabat sedarah, dan itulah sebabnya mereka duduk di sekitarku dan kenapa kakek mengemudi di depan dan ayah di belakang. Itu semua dilakukan untuk mencoba dan membingungkan Hachishakusama. Butuh beberapa saat untuk menghubungi kerabat sedarah, jadi itu sebabnya aku harus dikurung di kamar sepanjang malam. Ayah mengatakan kepadku bahwa salah satu patung Jizo kecil (yang dimaksudkan untuk menjagaku supaya dia terjebak) telah rusak dan entah bagaimana dia lolos. Ini membuat saya menggigil. Saya sangat senang ketika kami akhirnya kembali ke rumah.Semua ini terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Aku sudah tidak melihat kakek-nenek sejak saat itu. Aku belum mampu menginjakkan kaki kembali ke sana. Tapi aku selalu berbicara di telepon dengan kakek dan nenek tiap minggu. Selama bertahun-tahun, aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya sebuah urban legend, bahwa segala sesuatu yang terjadi hanya beberapa lelucon yang rumit. Tapi kadang-kadang, aku tidak begitu yakin.Kakekku meninggal dua tahun lalu. Ketika ia sakit, ia tidak mengizinkanku untuk mengunjungi dia dan dia meninggalkan petunjuk ketat dalam wasiatnya bahwa aku tidak boleh menghadiri pemakamannya. Itu semua membuatku sangat sedih. Nenekku memberi kabar beberapa hari yang lalu. Dia mengatakan bahwa dia telah didiagnosa terkena kanker. Dia merindukanku, dia sangat ingin melihatku untuk terakhir kalinya sebelum dia meninggal.Pada percakapan telepon itu saya bertanya, "Apakah Nenek yakin, Nenek?" Saya bertanya, "Apakah aman?""Sudah 10 tahun," katanya. "Semua yang terjadi sudah sangat lama. Ini semua sudah dilupakan. Kau sudah dewasa sekarang. Saya yakin tidak akan ada masalah. ""Tapi... tapi... bagaimana dengan Hachishakusama?" Kataku.Untuk sesaat, ada keheningan di ujung telepon tersebut. Kemudian, tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi dalam telepon mengatakan, "Po... po... po... po... po... po... po..."

 Red Robe
Horror
05 Jan 2026

Red Robe

Seorang wanita Jepang sedang berlibur di Amerika dan memutuskan menginap di sebuah hotel murah untuk menghemat uangnya. Saat ia tiba di kamarnya, ia menyadari bahwa ia berada di kamar 66 di lantai ke-6. Secara teknis, kamarnya bernomor 666. Ia bergidik ngeri. Namun ia berpikir, ini semua pasti kebetulan. Ia pun tak terlalu memikirkannya dan pergi mandi.Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia keluar dari kamar mandinya dan mengenakan jubah mandi putih bertudung yang sudah disiapkan di hotel tersebut bagi tamunya. Ia membuka kamarnya, namun tak ada seorang pun di luar kamarnya. Iapun menutup kembali kamarnya dan berganti pakaian.Kembali terdengar ketukan di pintu kamarnya. Ia membuka kamarnya dan melihat seorang gadis kecil memakai jubah mandi bertudung yang sama persis seperti yang tadi ia pakai. Hanya warnanya merah."Ada yang bisa saya bantu? Dimana orang tuamu?"Ia melihat bahwa gadis kecil bertudung merah itu tampak habis menangis."Saya terkunci di luar kamar. Anda bisa membantu saya?"Wanita itu memutuskan untuk membawa gadis itu ke resepsionis. Kasihan, pikirnya. Gadis itu tampak kebingungan.Dalam perjalanan ke resepsionis, ia bercakap-cakap dengan gadis itu, "Siapa namamu?"Gadis itu tak menjawab. Mungkin gadis ini sudah diajari oleh orangtuanya untuk tidak bercakap-cakap dengan orang asing, pikir wanita itu.Ia bertanya lagi, "Dimana orang tuamu?""Tidak tahu.""Apa kamarmu di lantai ini juga?"Gadis itu mengangguk. Akhirnya mereka sampai di depan meja resepsionis."Bisa Anda bantu gadis kecil ini? Ia terkunci di luar kamarnya."Resepsionis itu melongok, "Gadis yang mana?""Gadis berjubah merah ini ..."Namun ketika wanita itu menoleh, tak ada seorang pun di sana."Aneh, ia tadi di sini. Katanya ia menginap di lantai 6, sama seperti saya.""Lantai 6?" resepsionis itu tampak heran, "Namun hanya Anda tamu yang menginap di lantai 6.""Tapi tadi ada gadis yang memakai jubah mandi bertudung warna merah ..."Resepsionis itu menghela napas, "Anda sudah bertemu 'dia' rupanya.""Dia siapa?""Dahulu pernah terjadi sebuah tragedi di hotel ini. Kami tak suka membicarakannya, namun karena Anda sudah melihat 'dia', apa boleh buat. Dahulu ada sepasang suami istri menginap di lantai 6 bersama anak perempuannya. Mereka menginap di kamar 66, sama seperti Anda. Namun, mereka berdua bertengkar dan sang suami menembak istrinya. Ia lalu membunuh anaknya sendiri. Saat itu, anak itu memakai jubah mandi putih yang langsung berwarna merah karena terkena darahnya. Tapi pria itu tetap tak puas. Ia mengisi senjatanya dan mulai menembaki semua orang di hotel ini, karyawan, dan para tamunya."Napas wanita itu terasa terhenti karena ketakutan. Namun cerita sang resepsionis ternyata belumlah selesai. Resepsionis itu lalu berbalik dan menunjukkan lubang merah di punggungnya."Lihat, di sini ia menembakku."

Rokurokubi
Horror
05 Jan 2026

Rokurokubi

Rokurokubi adalah salah satu hantu yang dipercaya oleh masyarakat Jepang. Rokurokubi merupakan sosok hantu wanita yang memiliki leher yang sangat panjang. Hantu ini juga digambarkan mengenakan kimono Jepang, dan rambutnya yang terikat sanggul.Cerita hantu Rokurokubi bermula dari mitos yang berkembang pada zaman Edo. Pada saat itu masyarakat Jepang masih berada dalam keadaan yang masih kental dengan tingkat ketradisionalannya, dimana para masyarakatnya belum tersentuh oleh berbagai kebudayaan asing.Seperti halnya yang sudah kita ketahui secara umum bahwa Jepang dulu merupakan bentuk negara yang sangat tertutup terutama dari segi politiknya, karena pada dasarnya mereka sangatlah mementingkan tingkat tradisi dari negaranya tersebut.Hantu Rokurokubi adalah hantu wanita yang memiliki leher yang sangat panjang, hantu ini dipercaya sebagi sosok perempuan cantik yang telah melakukan pelanggaran terhadap aturan yang terdapat dalam agama Budha (agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Jepang, yaitu agama Sitto). Oleh sebab itu lah perempuan tersebut dikutuk oleh Budha hingga pada akhirnya memiliki leher yang amat panjang.Masyarakat Jepang pada dasarnya mempercayai bahwa pada siang hari hantu ini dapat berubah wujud menjadi manusia biasa, sehingga tidak dapat dibedakan dengan masyarakat pada umumnya. Bahkan masyarakat Jepang juga percaya bahwa pada siang hari hantu Rokurokubi ikut berbaur dengan masyarakat lainnya. Ia hidup normal dan melakukan berbagai aktivitas seperti manusia biasa dalam kesehariannya.Namun jika malam datang, hantu Rokurokubi langsung berubah bentuk dengan memanjangkan lehernya, terutama pada waktu tengah malam. Begitulah yang dipercaya oleh masyarakat Jepang.Untuk memanjangkan lehernya tersebut, biasanya hantu Rokurokubi akan keluar dari rumahnya untuk menghindari keluarganya, agar ketika lehernya berubah menjadi panjang hal tersebut tetap tidak diketahui oleh para keluarganya.Menurut masyarakat Jepang, hantu ini juga sangat senang menakut-nakuti orang-orang dengan lehernya yang panjang tersebut. Ia biasanya digambarkan berjalan seorang diri ketika tengah malam. Dan ia sangat senang menakut-nakuti orang yang tengah mabuk dan juga tengah tertidur pulas. Hantu Rokurokubi juga dipercaya memiliki kebiasaan menghisap darah. Hingga pagi menjelang, barulah lehernya kembali secara normal.Seperti yang sudah disebutkan pada bagian atas bahwa hantu Rokurokubi sangat senang untuk mengganggu orang-orang di malam hari. Hantu ini selain dikenal sangat menyeramkan oleh masyarakat Jepang, ia juga dikenal sebagai hantu yang sangat usil. Sebagian orang Jepang mempercayai bahwa hantu Rokurokubi tidaklah jahat, melainkan hanya usil saja karena ia sering menjahili manusia di kala malam hari.Orang Jepang juga percaya bahwa hantu Rokurokubi merupakan satu bentuk siluman yang terkadang lupa dengan jati dirinya sendiri. Oleh sebab itulah dalam penggambaran di atas hantu Rokurokubi disebutkan dapat melakukan aktivitas seperti manusia normal lainnya di malam hari. Bahkan dalam beberapa cerita, juga dikisahkan bahwa hantu Rokurokubi ada yang sampai menikah dengan manusia biasa. Hal ini dikarenakan mereka lupa akan jati diri mereka yang sebenarnya sebagi seorang hantu atau bahkan siluman.Mereka juga terkadang lupa, bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memanjangkan leher mereka, sehingga tampak menyeramkan bagi masyarakat Jepang yang melihatnya. Akan tetapi jika dilihat dari kebiasaanya yang usil, masyarakat Jepang percaya bahwa hantu Rokurokubi tidaklah jahat melainkan hanya usil saja. Namun, apabila tingkat keusilan yang dilakukan mereka sudah berlebihan, maka saat itulah mereka dikatakan jahat.Seperti halnya penggambaran di atas yang menyebutkan bahwa terkadang hantu Rokurokubi juga menghisap darah. Oleh karena itu, meskipun hantu Rokurokubi dipercaya tidak jahat, tetapi banyak masyarakat Jepang yang mulai mewaspadai terhadap keadaannya. Karena tindakan usil yang hantu tersebut lakukan juga dapat membahayakan masyarakat Jepang itu sendiri.

Gozu
Horror
04 Jan 2026

Gozu

Menurut legenda urban yang berkembang di Negara Jepang, memang ada sebuah cerita pendek yang dikenal dengan Gozu. Dalam bahasa Jepang Gozu adalah "Cow Head" atau kepala sapi. Konon kabarnya, kisah tersebut berasal dari abad ke-17. Meskipun demikian, cerita asli dari Gozu sendiri sampai saat ini masih tetap menjadi misteri dan belum dapat ditemukan di mana pun. Pasalnya ada kepercayaan siapa yang menceritakan atau bahkan hanya mendengarkan kisah asli Gozu, akan mati.Beberapa tulisan di era tersebut mengungkapkan bahwa Gozu adalah sebuah kisah yang amat mengerikan. Namun tulisan-tulisan tersebut hanya berani menuliskan judulnya saja dan tidak berani untuk menulis ceritanya secara keseluruhan. Bahkan saking menakutkannya cerita tersebut, beberapa tulisan termasuk salinan yang menceritakan kisah tersebut sudah dibakar habis. Sejumlah salinan yang berhasil diselamatkan dari pemusnahan tersebut dipecah menjadi beberapa bagian, setelah itu disebar ke seluruh penjuru negeri sakura.Menurut rumor yang berkembang, jika kisah ini diceritakan, pada pendengar kisah Gozu akan mendapatkan teror yang sangat luar biasa. Demikian halnya dengan orang yang menceritakan atau membaca kisah-kisah tersebut bisa mati karena takut.Hal ini pada akhirnya membuat cerita Gozu hadir dalam berbagai versi dan mungkin saja tidak ada satu pun yang sama persis dengan kisah asli dari Gozu itu sendiri. Hasilnya munculah misteri Gozu, siapa yang menceritakan dan mendengarkan cerita ini akan mati.Gozu Versi Baik HatiSalah satu versi kisah Gozu menceritakan tentang seorang wanita yang bernama Oksana. Wanita tersebut pada malam hari didatangi oleh sosok kepala sapi. Kepala sapi yang tidak memiliki tubuh (versi lain menyebutkan kepalanya berbentuk kepala sapi sedangkan tubuhnya manusia) tersebut diduga merupakan jelmaan makhluk halus dan sapi tersebut berusaha untuk masuk ke dalam rumah wanita tersebut. Oksana pun mengijinkan kepala sapi itu masuk ke rumahnya. Kemudian kepala sapi itu meminta Oksana untuk memberinya makan dan juga selimut supaya ia tidak kedinginan. Tanpa rasa takut sedikit pun, Oksana pun kemudian melakukan apa yang diminta oleh kepala sapi itu. Pada pagi harinya, Oksana menyadari bahwa kepala sapi itu sudah menghilang. Namun ia sangat tercengang karena ia mendapati bongkahan berlian dan juga perhiasan. KisahOksana ini sama dengan cerita rakyat dari negara Ukraina. Kisah tersebut berjudul Kepala Sapi. Kisah ini juga menceritakan tentang seorang gadis yang mendapat keberuntungan setelah ia mempersembahkan makanan serta tempat tinggal untuk kepala sapi yang berkunjung di rumahnya pada suatu malam. Tetapi kisah ini tentu tidak mungkin dapat menyebabkan kepanikan atau bahkan ketakutan untuk para pendengarnya.-------Gozu Versi Sakyo KumatsuSelain kisah di atas, salah satu cerita yang paling terkenal tentang Gozu adalah kisah mengenai guru yang sedang berlibur bersama dengan para muridnya. Guru tersebut mempunyai kebiasaan bercerita tentang kisah-kisah yang seram tetapi hanya bertujuan untuk menghibur para muridnya. Salah satu kisah yang diceritakan oleh guru tersebut merupakan legenda tentang Gozu atau kepala sapi. Baru bercerita beberapa baris saja, para murid yang mendengarkan cerita itu sudah merasa sangat ketakutan. Bahkan murid-murid tersebut menutup telinga mereka dan sampai meminta guru tersebut agar berhenti bercerita. Namun entah mengapa guru mereka seolah tidak bisa menghentikannya dan saat itu pula konon guru mereka terlihat dirasuki oleh satu sosok makhluk gaib. Matanya tiba-tiba berubah menjadi putih dan lidahnya yang terus menjulur keluar. Saat si guru tetap membaca cerita tersebut, beberapa murid wajahnya menjadi pucat dan mereka berteriak-teriak. Tidak ada keterangan yang pasti terkait kejadian tersebut, namun menurut sumber saat guru tersebut sadar ia melihat semua muridnya pingsan termasuk supir bus sementara bus yang ia kendarai berada di dasar jurang.

Boneka Okiku
Horror
04 Jan 2026

Boneka Okiku

Boneka lucu dan cantik ini ternyata menyimpan kisah mistis. Okiku disebut-sebut sebagai boneka setan yang 'hidup'.Hampir seperti jenglot, boneka ini benar-benar di luar nalar. Seorang peneliti jepang mengungkapkan bahwa dari hasil uji forensik, rambut yang ditumbuhkan boneka ini sama persis dengan rambut pada anak usia 10 tahun.Nama Okiku ini diambil dari nama seorang anak yang sedang bermain dengan boneka dengan ukuran tinggi 40 sentimeter, berpakaian kimono dengan mata hitam seperti manik-manik dan rambut yang lebat. Boneka Okiku telah ada di kuil Mannenji di kota Iwamizawa (Prefektur Hokkaido) sejak tahun 1938.Awalnya boneka ini dibeli tahun 1918 oleh seorang pemuda bernama Eikichi Suzuki di Sapporo, Di sana ia melihat sebuah boneka cantik Jepang dengan Kimono. Boneka ini dibeli Eikichi untuk adiknya yang berumur 2 tahun yang bernama Okiku.Anak ini sangat menyenangi boneka itu dan memainkannya setiap hari. Tapi sayang, Okiku meninggal tak lama setelah itu karena demam. Kemudian pada saat pemakamannya, Keluarga ingin memasukkan boneka ke dalam peti matinya, tapi entah mengapa mereka lupa. Keluarga gadis tersebut kemudian menempatkan boneka itu di altar rumah tangga dan berdoa untuk setiap hari dalam rangka memperingati Okiku.Beberapa waktu kemudian, mereka melihat rambut mulai tumbuh pada boneka milik Okiku. Menurut cerita, ini merupakan roh dari gadis itu yang berlindung di dalam boneka itu. Tahun 1938 keluarga Suzuki pindah ke Shakalin, boneka Okiku akhirnya dititipkan di kuil Mannenji di Hokkaido.Menurut pendeta di kuil itu, boneka tradisional jepang selalu berambut pendek. Dia juga membenarkan kalau rambut boneka Okiku terus memanjang.Walaupun dipotong terus secara berkala, tapi rambutnya tumbuh terus. Menurut kuil, boneka tradisional awalnya memiliki rambut dengan potongan pendek. Tapi seiring waktu terus bertambah panjang sekitar 25 sentimeter, hingga ke lutut boneka. Meskipun rambut boneka ini dipotong secara berkala, namun menurut cerita rambut tersebut tumbuh lagi.Cerita ini telah menginspirasi berbagai macam film-film horor Jepang populer, salah satunya adalah film Haunted School.

The Accident
Horror
03 Jan 2026

The Accident

Aku adalah peramal terkenal di kotaku. Dengan melihat masa depan maupun lampau, aku jadi bisa seterkenal ini, wajahku dipajang dimana-mana. Mulai dari reklame, poster, spanduk, majalah. Sungguh mereka semua percaya pada kemampuanku. Dan Akupun bangga dengan hal itu.--Hari ini, aku dipanggil oleh seorang kerabat yang ingin kuramal. Walaupun rumahnya sangat jauh, tapi aku tak mau menyusahkannya dengan menyuruhnya datang kerumah-ku. Karena aku tahu, ia orang yang sangat sibuk. Jadi, kuputuskan, aku yang datang kerumahnya. Aku tidak mengharapkan imbalan, tetapi lebih kepada ingin membantu.Aku mulai mempersiapkan segala barang yang ingin ku-bawa, dan segera, aku berangkat menuju halte bis. Mobil yang terdiam manis di bagasiku, ku-hiraukan. Aku lebih memilih bis. Mungkin aku melakukan kesalahan besar dengan tidak melihat masa depan...Setelah sampai di halte, aku menunggu kurang lebih 15 menit. Dan... "Pip-pip! " suara klakson bis terdengar lantang mengagetkan lamunanku. Aku segera naik dan tak lupa menyelipkan selembar uang ke kotak. Ku-lihat keadaan bis yang lenggang. Dan aku langsung duduk di kursi paling belakang. Tiba-tiba saja semua menjadi gelap... Kurasa, aku tertidur."PIIPPP... ! " suara klakson bis membuatku terbangun dari tidurku. Segera ku-buka mataku, dan ternyata bis yang ku-tumpangi ini hilang kendali, ku-dapati semua orang yang ada di bis ini ketakutan, menjerit, dan bahkan menangis. "BRRAKK... !". Bis menabrak sebuah truk pengangkut minyak, lalu meledak. Kurasakan sekujur tubuhku panas, sakit, dan semua terasa sangat nyata."Pak... Pak... Bisa minggir sedikit? ", suara seorang pemuda membangunkan-ku dari tidur. "Oh... Ya... Tentu ", kataku sambil duduk sedikit merapat. Kudapati aman-aman saja keadaan bis ini, walaupun perbedaannya adalah, bis ini terasa lebih sesak dengan bertambahnya penumpang.Tapi setelah kusadari... Mimpi itu... Seperti nyata!. Kurasa ini adalah sebuah pengelihatan yang akan terjadi pada bis ini. Aku yakin, ramalanku tak akan pernah meleset. Aku harus memberitahu yang lain. Tentunya mereka akan percaya.Namun setelah kuceritakan semuanya. Mereka hanya diam, terpaku. Apa mereka takut atau tak peduli?. Tiba-tiba pemuda yang duduk disampingku tadi tertawa sambil berkata "Kupikir kau seorang peramal hebat. Ternyata tak sehebat itu. Dengar ya... Kejadian yang kau katakan tadi sudah terjadi 5 menit sebelum kau bangun tadi... Hah " orang itu tertawa kecil, lalu melanjutkan kata-katanya "dan... Lihat kebelakang... Orang-orang sedang mengevakuasi mayat kita... " katanya dengan senyum bangga

Because, I Love You
Horror
03 Jan 2026

Because, I Love You

Aku punya teman bernama Karin, Ia tinggal di apartemen sebelahku. Sudah lama aku menyukainya karena Ia adalah gadis yang baik dan juga ramah terhadap semua orang termasuk aku. Dia bekerja disebuah perusahaan percetakan koran. Ia bertugas untuk mencari berbagai macam berita untuk dimuat dalam koran. Namun ia sering mengeluh padaku tentang pekerjaanya, dikarenakan Ia sering dimarahi atasannya karena berita yang dimuat itu-itu saja. Sungguh aku ingin sekali membantunya.*****Aku terbangun di pagi hari, ketika matahari menyeruak masuk melalui celah-celah gorden berwarna Biru. Aku langsung memeriksa Handphoneku siapa tahu ada pesan. Mataku terbelalak ketika melihat nama Karin terpampang di layar Handphoneku langsung saja ku buka pesan darinya."Dave, kita bertemu di kafe sebelah taman pagi ini jam 7.30, ada kabar menggembirakan." itu pesan singkat dari Karin untukku. Yah, tentu saja aku akan datang dengan senang hati. Aku penasaran... kira-kira kabar menggembirakan apa... kulirik jam yang berada di meja. "Ah... sudah jam 7. aku harus bergegas!"... langsung saja kuambil handuk yang tergantung manis di belakang pintu dan dengan sigap langsung berlari menuju kamar mandi."Hmm... kira-kira parfum apa yang cocok ya?" pikirku sambil mengangkat beberapa botol parfum, dan akhirnya pilihanku tertuju pada parfum beraroma aigner, ku semprotkan parfum itu keseluruh tubuh"Kurasa tidak terlalu menyengat... " pikirku dalam hati. setelah itu aku langsung mengambil sepatu dari rak, saking sigapnya tumpukan sepatuku berantakan semua hingga membuatku kesal."Siapa peduli dengan tumpukan sepatu usang!" keluhku sambil memasang sepatu di kaki. semoga saja tidak telat.segera saja kuhentikan taksi yang sedang melaju tanpa penumpang itu. lalu membuka pintu belakang dan segera duduk disana sambil menyebutkan tujuanku. Dengan sigap taksi melaju... ku lirik jam tangan yang ternyata sudah menunjukan jam 7.20... aku tidak mau membuat Karin kecewa dengan datang terlambat... dan akhirnya aku sampai di kafeKulihat seorang gadis melambaikan tangan kearahku dengan memasang senyuman di wajahnya.Ya, itu Karin, dengan 2 cangkir kopi hangat di mejanya."Berita bagus apa?" tanyaku padanya sambil mengaduk kopi hangat yang tertera diatas mejaku."Belakangan ini banyak terjadi kasus pembunuhan, itu membuat koranku semakin laris terjual!! aku gembira sekali karena berkat kasus-kasus itu, atasanku memujiku... " kata Karin dengan ekspresi ceria."Benarkah?? baguslah... aku turut gembira mendengarnya. Apa kau berharap agar kasus-kasus seperti itu terus terjadi?" tanyaku padanya."Sebenarnya aku turut prihatin terhadap korban. Tapi, kalau itu membuatku untung kenapa tidak?" jawab Karin seperti tanpa beban."Mau jalan-jalan?" tanyaku"tentu... " jawab Karin sambil menghabiskan secangkir kopi di tangannya, begitu pula denganku. Lalu setelah itu, kami pergi.***Aku berjalan keluar dengan menggunakan jaket tebal untuk menghangatkanku dari dinginnya udara malam ini. Aku tahu, Seharusnya aku tak Keluar rumah di jam segini, mengingat ini sudah lewat tengah malam. Tapi, apa peduliku...Aku langsung menghentikan langkah kakiku di depan sebuah rumah tua yang tak terpakai lagi, mungkin karena keadaannya yang sudah buruk sehingga orang-orang tak mau membelinya. Aku langsung memasukinya.kubuka perlahan-lahan pintunya diiringi suara decit pintu yang memecah keheningan malam."Tolong..!!! jangan bunuh aku..!!!" teriakan dari dalam rumah membuat langkah kakiku semakin cepat memasuki ruangan lebih dalam. hingga akhirnya aku menemukan sebuah pintu usang menuju kamar, kubuka pintu kamar itu, dan kulihat seorang pria dengan keadaan luka parah terikat di dinding kamar."JANGAN MENDEKATT..!!! TOLONGGG..!!! KUMOHONNNN.." teriaknya padaku.Aliran darahku mulai Tak beraturan seiring teriakannya, membuat aku tak tahan untuk mengambil pisau yang terletak diatas meja. Ku dekati pria itu dengan menggenggam pisau di tangan kananku... tangan kiriku mulai menarik kepalanya keatas dengan keras. Dan dengan sigap ku gorok lehernya dengan pisau. Darah merembes keluar melalui celah-celah tenggorokannya. Ku tusuk perutnya berkali-kali dan ku robek perutnya hingga memuntahkan isi perutnya. tidak cukup itu saja, aku langsung memotong pergelangan tangannya yang terikat rantai. sekarang Ia sudah mati... Aku langsung memasukkannya dalam karung dan membawanya ke jalanan. Kuletakan mayatnya di atas tumpukan karung bekas dan langsung pergi meninggalkannya.***"KRIINGGGG...!!" dering Handphoneku membangunkanku di pagi hari... lagi-lagi, nama Karin terpampang di dalamnya... aku segera mengangkatnya."Halo...?" kata Karin."Iya, ada apa?" jawabku."Ada kabar bahagia lagi nih... aku dapat berita mengenai pembunuhan... ""Pembunuhan apa?""Pembunuhan seorang pria, mayatnya ditemukan di atas tumpukan karung dekat rumah kosong... terlebih lagi, mayat itu tewas secara tragis... ini pasti berita yang sangat bagus... ya kan, Dave?""Ohh... Tentu saja... selamat ya!!! kamu harus lebih giat lagi bekerja OK?... ""OK, Dave, dah dulu ya... aku mau lanjut kerja... sampai jumpa... "Karin-pun mematikan teleponnya... Entah kapan ku sampaikan perasaanku ini padanya, yang pasti aku akan terus membuatnya bahagia... pasti.-The End-

Dark Souls
Horror
02 Jan 2026

Dark Souls

Malam ini cuaca tidak begitu bersahabat. Suara guntur yang terus-menerus bergemuruh diiringi tiupan angin kencang membuat siapapun akan merasa tidak nyaman, terlebih aku. Jadi, kuputuskan untuk memesan segelas kopi hangat untuk menghangatkan diriku dari dinginnya cuaca malam ini."Ini nona... ada yang bisa kami bantu lagi?" kata pelayan kafe."Oh... tidak... terima kasih... " ujar ku sambil memberikan sejumlah uang ke pelayan kafe tersebut. Lalu pelayan kafe itu berlalu...Aku memeriksa isi tas ku dan mengambil sebuah boneka usang dari dalamnya. Ku ingat kejadian tadi sore ketika aku pulang dan menemukan boneka usang ini di bawah pohon, aku memilih untuk membawanya pulang karena kurasa boneka ini tidak terlalu buruk, hanya terdapat beberapa noda merah yang tidak ku ketahui asalnya. Aku menyeruput kopi hangat itu dan menatap boneka itu lagi."Pemilik mu pasti sangat ceroboh dengan meninggalkan mu di bawah pohon itu," kataku sambil membersihkan noda di boneka itu.Aku rasa tidak ada salahnya membawa boneka itu pulang dan membersihkannya... namun aku salah.~~~"Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jiwamu... " Teriak seorang gadis yang tidak kuketahui dari mana asalnya.Aku langsung terbangun dari tidur ku dan memeriksa ke sekeliling kamar untuk mencari asal suara itu. Keringat membasuhi tubuhku, detak jantung ku semakin tidak beraturan."Kurasa hanya mimpi... " kataku mencoba menenangkan diri.Aku pun mencoba untuk kembali tidur tanpa menghiraukan mimpi yang mengganggu ku tadi, sembari memeluk boneka tadi yang sebelumnya sudah ku cuci."Good night Teddy," kataku sebelum akhirnya tenggelam dalam tidur ku.~~~"Creekk...Crreeekkk"Aku terbangun di pagi hari dan mendengar suara seperti suara cakaran di dinding kamar ku. Aku lalu bangkit dari tempat tidur dan memeriksa setiap dinding, lalu kutemukan bekas cakaran dalam jumlah banyak di diniding kamar ku."Siapa yang melakukannya?" tanyaku dalam hati sambil meraba permukaan dinding yang terdapat bekas cakaran itu."Kurasa ada seseorang yang menyelinap masuk ke kamar ku tadi... ini tak bisa dibiarkan, aku harus lapor polisi." kataku dalam hati.~~~"Kami sudah memeriksa seluruh rumah Anda, dan tidak ada seorang pun di rumah anda nyonya... mungkin saja kau yang melakukan nya tanpa kau sadari," kata pak polisi kepadaku."Tidak mungkin, saya tidak pernah melakukannya. Saya ingat sekali tadi pagi saya mendengar suara itu dan saya langsung bangun untuk memeriksanya. Jadi tidak mungkin saya yang melakukannya." bantah ku."Tapi, kami sudah mencari disetiap sudut rumah Anda, tetap tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan,""Kalau begitu apa yang harus saya lakukan?""Pergi ke psikiater,""Tapi, saya tidak gila!""Saya rasa anda harus memeriksanya terlebih dahulu dan jika ada masalah hubungi kami lagi... ,"Polisi itu pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Aku hanya bisa duduk termenung menatap Teddy yang duduk manis di atas lemari, aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Kurasa polisi itu benar, tidak ada salahnya aku mencoba.~~~"Dari hasil test, kau dinyatakan tidak mengalami gangguan apa pun. Hanya saja kau mungkin terlalu lelah, cobalah untuk meluangkan waktumu untuk beristirahat dengan begitu tubuhmu akan merasa lebih baik... ""Ya... baik... aku akan melakukannya... terima kasih...""Tak masalah... " ujarnya sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya.Aku pun melangkah keluar dan langsung memanggil taksi yang lewat. Aku segera membuka pintu dan langsung duduk didalamnya sambil menyebutkan tujuan. Taksi pun melaju.~~~Kini... hanya ada kesunyian di rumahku. Hanya aku yang sedang duduk di kursi sambil termenung dan Teddy yang berada di lantai."oh... Teddy, sejak kapan kau terjatuh...??" ujar ku seraya mengangkat Teddy dari lantai Kurasa aku tidak sengaja menjatuhkannya tadi.Aku tidak peduli lagi dengan gadis kecil yang ada dalam mimpiku tadi malam dan juga bekas cakaran yang ada di dinding itu... aku sudah tidak peduli lagi... mungkin benar kata psikiater, aku kurang istirahat. Sebaiknya aku membuat teh dahulu untuk menenangkan pikiran ku.~~~"Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jiwamu, ""AAAAA....!!!!..." Aku tersontak kaget dari tidur ku. Kurasakan tubuh yang gemetar dan sudah di penuhi keringat. Kulihat jam menunjukan jam 2 malam. Aku rasa aku bermimpi itu lagi, memang sepertinya ada yang tidak beres."Tik, tik, tik,"Suara tetes air terdengar menggema, tak salah lagi suara itu berasal dari kamar mandi. Kuputuskan untuk memeriksanya.Mataku terbelalak kaget ketika melihat Teddy di lantai kamar mandi dengan sebuah pisau di dekatnya. Dengan perlahan ku dekati Teddy dan langsung mengambilnya... kurasa, ada yang tidak beres dengan boneka ini, aku harus membuangnya!."Nyyiiiittttreteteteetet.."Bunyi decit pintu menambah suasana tegang di rumahku. Tanpa pikir panjang kubuang Teddy, tidak, maksudku boneka terkutuk itu di tempat sampah dan segera ku tutup pintu. Lalu, segera ku pergi ke ruang tamu untuk menenangkan diri."Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jiwamu, " Suara seorang gadis kecil mengagetkan ku."Siapa itu..!!! Keluar kau..!!! Apa yang kau inginkan dariku...!!" Teriakku sekeras-kerasnya."Jiwamu... Jiwamu... Jiwamu... Jiwamu... ""Tidakk...!!! hentikan..!!! jangan ganggu aku..!!!" Teriakku diiringi isakan tangis."tokk... tok... tok...". Suara ketukan pintu terdengar lantang... semakin lama semakin keras diiringi suara cakaran,dengan gemetar dan ragu ku langkahkan kaki perlahan menuju pintu. Pintupun terbuka. Dan betapa kagetnya aku ketika melihat sesosok anak kecil yang berlumuran darah sedang menggendong boneka terkutuk itu. Jantungku berdetak sangat cepat, gemetar yang hebat kurasakan disekujur tubuhku, kakiku terlalu lemas untuk melangkah."AAAAAa...!!!!" Aku berlari secepat mungkin menuju kamar walaupun berulang kali terjatuh tapi aku tetap berlari menjauhi gadis itu, karena kupikir itu jalan satu-satunya.Sesampainya di kamar aku terkejut melihat kondisi kamar yang sudah berantakan, banyak noda darah dimana-mana, terdapat banyak coretan yang bertuliskan "I WANT YOUR SOUL" dengan noda darah. Tiba-tiba saja kurasakan nyeri yang sangat hebat di perutku, yang ternyata sudah tertancap pisau, aku langsung berbalik dan terjatuh melihat betapa banyaknya arwah-arwah yang mengelilingi ku dengan kondisi mengenaskan."Jiwamu... jiwamu... jiwamu... ""Tidakkk... Tidakkk...!!!" Teriakku sambil merangkak menjauh, tapi tetap saja itu tidak berhasil. Sambil memegang perut ku yang sudah tertusuk aku pun bangkit dan berusaha kabur. Namun itu hanya sia-sia, mereka terus menghantui ku sampai aku sudah berbaring tak berdaya di toilet dengan tubuh berlumuran darah. Aku menyesal telah mengambil dan merawat boneka itu..."Kumohon jangan dekati aku... " ujarku pelan sebelum akhirnya seorang gadis kecil keluar dari kerumunan arwah-arwah mengerikan itu dan berkata..."Kami hanya mau jiwa... Jiwa yang kelam... Penuh penderitaan. Dan, berikan itu untuk kami!!" Ujarnya sebelum akhirnya menusuk ku sampai mati, dan mengambil jiwaku yang kelam.~~~~~~"Boneka ini bagus... Aku akan bawa pulang ini! " kata seorang gadis kecil sambil mengangkat boneka Teddy Bear yang Ia temui di taman dan berjalan pergi dengan hati gembira.

Keresahan Marji dan Ramih
Horror
02 Jan 2026

Keresahan Marji dan Ramih

Andi dan mobil sportnya segera berlalu. Pak Ji atau Marji memandanginya hingga hilang di tikungan jalan yang menukik ke bawah. Sebenarnya tadi Andi sempat juga menawarinya tumpangan pulang, tapi ia menolak, karena berniat untuk menengok Mak Ramih sebentar.Saat Andi benar-benar telah pergi, Marji menoleh ke belakang. Rupanya Mak Ramih sudah beringsut masuk. Rahang wajah Marji mengeras, napasnya tersengal sesaat dan matanya berubah menyala seperti marah. Sambil mengepal tangan, Ia pun melangkah menghampiri rumah Mak Ramih.Langsung saja Ia masuk ke dalam, tampak Mak Ramih duduk di dekat jendela sambil memeluk tongkatnya ke dada. Seketika rasa marah di hati Marji sirna melihat wanita tua itu seolah menyiratkan tatapan sedih. Sepertinya Ia paham sekali Marji, ponakannya yang baik itu akan memarahinya.'Siapa orang itu, Ji?' tanya Mak Ramih.'Cucu Pak Darman ... ' jawab Marji. Seketika Mak Ramih tercekat mendengar jawaban itu, 'Hah...!? Cucu Pak Darman? Anak lelaki yang dulu sering diajaknya ke sini ya?' ulangnya.'Iya! Rupanya Mamak masih ingat dia...'Ramih terdiam sebentar, bayangan masa lalu terpampang jelas di ingatannya ...Tampak seorang bocah lelaki bergayut manja pada sosok Pak Darman, lelaki paruh baya bertubuh gempal, dengan rambut sedikit botak.Kakek dan cucu itu bermain dengan gembira di teras pondok, sementara Ramih muda sepintas melihatnya dari halaman. Ia sibuk menjemur pakaian.Tak lama terdengar suara wanita memanggilnya dari dalam pondok, 'Ramiiiiiih...! Apa cucianmu sudah selesai!? Tolong kau angkat sampah ini keluar!'Ramih muda tersentak, Pak Darman terlihat resah memperhatikannya, 'Dipanggil Ibuk, Ramih!' katanya. Pak Darman memandangnya penuh arti di sela-sela bersantai dengan cucunya.Ramih mengangguk, dan bergegas berjalan ke tangga belakang. Ia agak kagok, malu pada Pak Darman, karena pakaian yang melekat di tubuhnya cukup basah, sehabis mencuci di kali.'Banyak lalat! Tolong bawa keluar sampah ini Ramih, nanti biar Marji yang membuangnya!' seorang wanita paruh baya menghadangnya begitu langka Ramih muda mencapai dapur.Tak lama terlihat Marji muda datang ke sana. Keduanya lalu sibuk mengurus sampah itu.Sampai di situ. Sampai di situ saja pikiran Ramih melanglang buana ke masa lalu, sebab suara Marji tetiba mengagetkannya. 'Kenapa, Mak?''Anak itu. Mau apa dia ke sini?" tanya Ramih kemudian. Penuh selidik.'Mau nginap beberapa hari di pondok sebelah. Dia setres di kota dan ingin menenangkan diri. Makanya Mamak jangan bertingkah. Tidak perlu seperti tadi, memandangnya lama seperti itu tanpa menyapa ... dia bisa ketakutan' tukas Marji. Mak Ramih terdiam mendengar itu. Matanya kembali memandang keluar.'Dia tak akan lama di sini kan?' tanya Ramih seolah mencemaskan sesuatu. Sampai di titik ini, Marji pun tampak ikut cemas.'Berapa lama?' kembali terdengar suara parau Ramih memecah kesunyian. Marji tetap enggan menjawab, namun kemudian lirih berkata, 'Itu juga yang aku cemaskan, Mak! Tapi katanya tak akan lama, sampai Ia merasa lebih baik saja.'Ramih menarik napas berat. Tatapannya kembali beralih ke luar jendela. Karena paham dengan apa yang dipikirkan bibiknya itu, maka Marji pun berkata pelan, 'Apakah iblis itu akan segera datang, Mak...?' nada suara Marji terasa sekali mengandung ketakutan.Ramih tak menjawab. Tetiba angin berhembus kuat dari jendela, ujung rambut putih Ramih bergerak ritmis sejenak mengikuti liukan angin itu. Dan di halaman, dedaunan kering jatuh menggelepar ke tanah.Fragmen singkat itu seolah menghadirkan suasana mencekam. Tampak kedua tangan keriput Ramih mengcengkeram tongkat kayu di dadanya. Sorot matanya kosong, ada kehampaan di sana.'Mak...!?' tegur Marji penasaran.'Aku tak tahu, Marji...' akhirnya kembali dengan kesadaran penuh, Ramih menjawabnya. 'Aku semakin tua dan tak mampu mengingat lagi semua hal, termasuk 'berhitung'' ...' lanjutnya.'Tapi Mamak harus tetap berusaha mengingat dan menghitung hal itu dengan baik! Jika tidak, ...' suara Pak Ji lantas hilang. Lidahnya kelu. Kedua matanya terlihat nanar.'Rasanya belum, Ji.' sahut Ramih kemudian. 'Asalkan anak muda itu tak tinggal lama, aku pikir aman saja! Atau kau punya ide lain, untuk membawa kami menyingkir sebentar, selama anak muda itu di sini?''Kalian mau kubawa ke mana, Mak? Ke tengah hutan untuk diterkam singa!?' keluh Marji. Mak Ramih terkejut mendengar itu.Marji menghempaskan pantatnyadi sudut ruangan, lalu merebahkan tubuhnya di atas tikar pandan. Matanya dipejamkan, rasanya Ia ingin tidur sejenak. Pikirannya kalut sekali.'Bagaimana baiknya ya, Mak!? Jika kalian kubawa ke rumahku, istri dan anak-anakku ketakutan pada kalian. Lagi pula, jika ada warga yang melihat kalian kusembunyikan di rumahku, kami bisa diusir! Sedang jika kalian kutaruh di atas bukit ini, masih ada juga warga yang tak setuju...' kata Marji kemudian. 'Aku bingung, Mak! Pusing!'Maafkan kami, Marji. Kami telah membuat hidupmu susah. Terutama aku ...,' air mata Ramih merembes sedikit dari mata tuanya. Terutama aku ...! Akulah penyebab semua ini.''Aku si pendosa! aku mencelakai semua anak cucuku! Hiks, ya Tuhan, mengapa tidak Kau ambil saja nyawaku ini...!?' sesal Ramih sambil menangis. Sangat emosional, hingga dada Marji terasa ikut sesak juga.'Sudahlah, Mak! Yang penting Mamak hitung lagi dengan baik penanggalan itu. Jangan sampai gegabah!''Ya, aku akan mengerahkan ingatanku dengan baik. Aku akan mengingat dan menghitungnya lagi, ' tekad Ramih setelah menyeka air matanya.Marji menarik napas lega. 'Baiklah, Mak! Ini sudah sore, istriku pasti mencariku. Aku pulang dulu ya...,' katanya. Ia lalu bangkit dan bergegas.'Oh, iya...! Rampe di mana, Mak?' tanyanya sebelum pergi.'Di kamar ...' jawab Ramih. 'Tolong kau lepas rantainya, mungkin setannya sudah pergi. Tentu raganya sangat lemah. Aku enggan melepasnya tadi karena Ia masih terus berteriak. Tolong, periksalah Marji!' tambah wanita tua itu.Seketika Marji teringat sesuatu, oh iya tadi malam bulan bersinar penuh. Ia lupa menengok mereka. Setiap sehari sebelum purnama, Rampe harus diikat dengan rantai besi.Marji lalu melangkah ke sebuah bilik kecil. Di dalamnya tampak seorang gadis muda, dengan kaki dan tangan terikat rantai besi. Rambut panjangnya kotor dan berantakan, matanya menatap marah pada Marji, pamannya. Terdengar suaranya menggeram seperti suara harimau. Marji balas memandangnya.Lelaki tua itu lalu mendekat dan menjambak rambut sang gadis, 'Pergi kau, Iblis! Tubuh ini sudah terlalu lemah kau tumpangi sejak semalam!' ' hardiknya. Bibirnya lalu komat-kamit merapal sesuatu. Mungkin doa atau mantra.Yang terjadi kemudian, gadis itu meronta, seperti binatang liar yang terjebak perangkap, lalu jatuh terkulai. Marji menarik napas lega. Sekarang gadis itu sudah tenang. Langsung saja Marji menggugahnya, 'Rampe ... bangun, sayang! Ini ada paman. Bangun, nak! Bangun ....!' pintanya.Surampe membuka matanya. Sesaat Ia terkesiap, menyadari dirinya kembali ke keadaan normal. Wajah gadis itu sangat bening, matanya indah membulat seperti purnama.'Iblisnya sudah pergi..., pulanglah Marji! Biarlah aku yang memberinya makan!' Mendadak Ramih sudah berdiri di pintu kamar sambil memegang sepiring makanan. Marji membalikkan badannya lalu pergi.

Pondok Yang Tak Terawat
Horror
01 Jan 2026

Pondok Yang Tak Terawat

Perjalanan tertatih-tatih ditempuh mobil sport Andi dengan kokohnya. Kini keempat bannya telah berwarna coklat keseluruhan. Andi dan danPak Ji sedikit terguncang-guncang di dalamnya. Ya, jalan non aspal berlumpur sehabis hujan. becek parah! Sejurus kemudian terlihat ada perkampungan di sisi jalan.'Nah! Itu rumah saya, terlihat atapnya dari sini!' seru Pak Ji. 'Jika sudi, anak boleh mampir atau menginap,' lanjutnya.'Ya, nanti saya coba ke sana, sekaligus mengantar bapak pulang!' Kata Andi.Diam-diam Andi merasa menyukai keadaan desa tersebut. Rapi, asri dan bersih. 'Damai sekali ya rasanya?' Komentar Andi. Tapi Ia merasa heran, mengapa tak banyak warga sekitar yang tampak lalu lalang di sana.'Ini siang hari, nak! Banyak warga yang kelelahan dari kebun. Mereka sedang istirahat. Sore, baru agak ramai. Tapi jumlah warga di sini memang semakin sedikit, banyak yang pindah ke kota sekarang. Mungkin hanya ada tiga puluh keluarga saja yang menetap di sini, itu pun sudah pada tua seperti saya' jelas Pak Ji.'Jadi tak ada gadis cantik yang bisa dirayu di sini, Pak?' Canda Andi.Pak Ji tak membalas candaan Andi dan malah tertawa terbahak-bahak. Sekarang dia paham bahwa Andi adalah seorang anak muda yang ramah dan cukup humoris. Dia menyukainya.'Belok kiri...! Nah ... itu pondoknya!' Tunjuk Pak Ji. Ya salaaam, akhirnya mereka sampai juga.Andi memarkir mobilnya di dekat rimbunan pohon bambu. Sambil memutar kemudi mobil, matanya lekat mengamati pondok kecil diarea itu. Ingatannya mendadak kembali ke masa lalu.Dulu Ia dan kakeknya pernahduduk bersama di terasnya. Adajuga neneknya yang wara-wiri mengantar camilan.PRAK! Ditutupnya pintu mobil, lalu berjalan ke arah pondok. Pak Ji sudah lebih dulu di sana, menyingkirkan dedaunan kering di tangga.Amazing! Andi takjub memandang pondok mungil itu. Ini pertama kalinya Ia ke sini lagi setelah umurnya dewasa.'Benar kata Mama, kayunya kuat sekali!' puji Andi. Pak Ji tersenyum kecil menanggapinya.Semakin dekat, Andi menginjak tanjakan tangga lalu menjejak kakidi teras. Pak Ji masih saja sibuk menyingkirkan daun-daun kering yang diterbangkan angin ke teras.Andi mengeluarkan kunci darisaku celananya, lalu membukapintu rumah. Ketika melangkah masuk, seketika serangkaian jaring laba-laba mencaplok wajahnya.'ADUH...! Kaget saya!' Keluhnyasambil menyingkirkan jejaring itu. Pemandangan debu bagaikan di area padang pasir pun tergelar di depannya. Spontan Ia mencari masker di saku kemeja dan lalu memasangnya.' Hasyi! Rumah ini sungguh kotor!' Andi sampai bersin dibuatnya. Ia bersungut-sungut karena sebenarnya Ia punya alergi berat terhadap debu.Anak muda itu lalu kembali ke teras.'Tolong bapak bersihkan, ya nanti!' katanya pada Pak Ji.'Saya mau kembali ke kota sebentar, mengambil beberapa perlengkapan yang tak ada di sini. Saya tertarik menginap di sini beberapa hari.'ujar Andi.Pak Ji terbelalak memandangnya. Andi bisa menangkap keresahannya, 'Loh..., kenapa!? Kenapa Pak Ji seperti tak suka, saya nginap...!?' sergapnya.'Ah, tidak apa-apa, nak!' Saya hanya kaget, karena saya pikir tadi anak sekedar datang saja' jelas Pak Ji.'Awalnya memang begitu, tapi saya melihat tempat ini cocok buat saya untuk menyepi sementara waktu. Hhhh , saya sedang punya masalahdi kota, Pak. Ada seseorang yang harus saya hindari' keluh Andi.'Sampai kapan?' tanya Pak Ji.'Ya, secukupnya!' jawab Andi.Lagi-lagi Ia merasakan gelagat anehdari Pak Ji. Walau tak kentara, namun sangat terasa lelaki tua itu keberatan jika Ia tinggal lama di pondok itu.'Tapi di sini tak ada listrik, nak! Di bawah ada..., maksud saya, di desa. Tapi kita harus merentangkan kabel yang panjang untuk menyambung aliran listrik ke sini.' lapornya.'Tapi air ada kan, untuk mandi?'Andi dan Pak Ji lalu berjalan ke halaman belakang. Di sana tampak toilet dan sebuah sumur.'Nah, ini ada airnya. Selama saya pergi, tolong bapak beresin semuaini. Bersihkan!' Perintahnya sambil mengeluarkan uang di dompetnya.'Ini ada uang, silakan bapak ambil semua, saya mau pondok ini sudah bersih saat saya ke sini lagi, minggu depan!' kata Andi. 'Mengenai kabel tadi, nanti kita bicarakan lagi.'Pak Ji tampak menyimak denganbaik semua yang dikatakan Andi. Mereka berbincang serius selama beberapa menit, sebelum bergegas meninggalkan pondok itu.'Bapak punya nomor telepon yang bisa saya hubungi?' tanya Andi.Pak Ji menggeleng, 'Saya tak paham pakai begituan, nak!' jawabnya. Andi pun mengerti. Memang biasanya orang-orang tua di kampung tidak paham dengan teknologi.'Ini kunci pintu saya tinggal, jangan lupa toilet dan semua ruangan di sini dibersihkan ya, Pak! Sumur tadi juga tolong dikuras!' pesan Andi. Ia masih ingin melanjutkan ucapannya, tapi tercekat saat melihat ternyata ada sebuah pondok lain yang berdiri tak jauh dari pondok warisan kakeknya.Ya, terlihat di sana berdiri sebuah rumah panggung kecil, mirip punya kakeknya, sekitar beberapa metersaja di depannya. Letaknya agak serong ke kiri. Seingatnya dulutak ada rumah lain di situ.Yang lebih mengagetkan lagi, ada seorang wanita tua, bungkuk dan bertopang tongkat, sedang beku memandangnya dari tadi, di depan rumah sederhana tersebut.Andi bergidik menyadarinya. Bulu kuduknya berdiri. Sementara Pak Ji agak gelagapan di sampingnya. Sebenarnya itu yang memberatkan pikirannya dari tadi.'Siapa orang itu, Pak Ji?' tanya Andi pelan. Sementara wanita itu masih beku memandangnya.'Masuk, Mak! Di dalam saja!' teriakPak Ji tiba-tiba. Ia mengabaikan pertanyaan Andi, dan malah berteriak pada wanita itu.Wanita tua itu bereaksi dingin saja,Ia tetap memandang ke arah mereka dengan beku. Wush! Angin tiba-tiba berhembus di tempat itu dan rambut putih si wanita tua pun bergoyang.Andi takjub memandangnya, walau kali ini Ia tak begitu merasakan keanehan lagi, terlebih setelah mendengar penjelasan Pak Ji.'Maaf, nak! Jangan kaget! Itu saudara Ibu saya. Dia menumpang tinggal di tanah ini. Maaf sebelumnya jika saya lancang membuatkan mereka rumah di lokasi ini, tanpa minta ijin dulu... Saya bingung, harus mencari alamat Pak Darman di mana.' terang Pak Ji.'Mereka tak punya siapa-siapa lagi selain saya. Dan rasanya saya taktega menelantarkannya' lanjutnya.'Sebentar!' tahan Andy. 'Pak Ji tadi bilang 'mereka', ada berapa orang yang tinggal di situ memangnya?''Cuma dua, nak. Ada seorang gadismuda juga di dalam rumah ... ''Gadis?' desis Andi. Hatinya sedikit berbunga mendengarnya. Wauw , di daerah sepi, di atas bukit yang tidak berpenghuni seperti ini ada seorang gadis...? Seperti apakah sosoknya? Ia merasa penasaran ingin melihatnya.'Iya, cucu bibi saya itu. Tapi kalau anak keberatan, saya segera akan memindahkan mereka berdua ke tempat lain. Minggu depan, kalauanak ke sini lagi, rumah merekapasti sudah saya pindahkan lebih jauh ke dalam hutan.''Tidak perlu!' tahan Andi. 'Asalkan mereka tak berisik, tak mengapa. Hanya ada dua orang kan?'Pak Ji mengangguk.'Saya malah senang, jika punyateman di sini.' kata Andi.Meski begitu, Pak Ji tampak tetap resah memandangnya. 'Maaf ya, nak! Saya sengaja menaruh mereka di sini agar saya mudah mengunjunginya setiap waktu. Membawakan mereka bahan makanan atau apapun dari bawah!' paparnya.'Iya tak apa-apa! Saya juga kan tak tinggal selamanya di sini. Bapak jangan repot-repot membongkar rumah mereka. Biarkan saja! Kasihan ... ' putus Andi.'Baiklah, sudah sore. Saya pamitdulu, Pak! Sampai bertemu lagi!''Iya, sama-sama! Hati-hati di jalanya, nak!' Balas Pak Ji.'Terima kasih, mari!' pungkas Andi.Ia beserta mobilnya segera berlalu dari tempat itu. Tersisa Pak Ji yang tampak shock dan kebingungan.Apa gerangan yang dipikirkannya?

Perjalanan Menuju Ke Bukit
Horror
01 Jan 2026

Perjalanan Menuju Ke Bukit

'Sialan!' maki Andi.Wajahnya tampak berkeringat.Cuaca begitu panas, dan ia masih sibuk memperbaiki ban mobilnya yang tiba-tiba meletus di jalan. Beruntung mobilnya itu rusak di jalan perkampungan, jadi tak ada kendaraan yang harus lewat.Sesaat kemudian, ban mobil itu telah berhasil digantinya. Ia menarik napas lega, meski kemeja kotak-kotak birunya tampak basah oleh keringat. Gluk ... gluk ... gluk...! Ia lalu kalap meneguk sebotol air mineral, yang diambil dari dalam mobilnya. Seketika hausnya hilang.Andi lalu menatap liku jalan kecil menuju ke atas bukit kecil di depannya. Tak terlihat jauh lagi. Alisnya berkerut dan terlihat raut optimis di wajahnya. Bukit kecil itu memang menjadi sasarannya, spot yang akan Ia tuju.Andi memutuskan untuk duduk, berteduh sebentar di bawah pohon rindang di tepi jalan. Dibakarnya sebatang rokok sambil melihat oret-oretan di kertas kecil. Coretan tangan pak Samaun, mantan supir keluarganya.'Ya, sudah benar ... sepertinya! Jalur yang ku tuju sudah tepat' gumam Andi sendiri. Oret-oretan itu kemudian diremas lalu dihempasnya. Glek! Sekali lagi Ia meneguk air mineral favoritnya.Tak lama Ia mulai beranjak ke dalam mobilnya kembali. Ia sedikit bergidik melihat lumpur menempel di keempat ban mobilnya. Biasalah! Jalanan becek di perkampungan.Dari jalan besar tadi, Andi telah menempuh kira-kira sepuluh kilometer masuk melewati jalan yang tak beraspal ini.Baru saja Andi ingin masuk ke mobil, tiba-tiba Ia kaget melihat ada seorang petani lewat di dekatnya. Lelaki kurus menenteng cangkul.'Pak ..., bapak ...! Maaf, saya mengganggu sebentar,' teriak Andi spontan. Ia bergegas menghampiri lelaki itu. Hatinya sangat senang, memang sedari tadi Ia berharap bisa bertemu seseorang di sekitar tempat itu, untuk memastikan apakah Ia sudah berada di tempat yang benar.'Mohon maaf, saya ingin tahu ... apakah benar desa ini, desa Raga?' tanya Andi.Lelaki tua itu menyimak dengan tenang lalu menjawab, 'Iya, benar! Anak mau ke mana?' Ia balik bertanya.Andi tersenyum, bahagia sekali. 'Memang saya mau ke sini, Pak!' jawabnya pendek.Lelaki tua itu terkejut. Matanya lalu memandangi sosok Andi, dari kepala sampai kaki. Ah, tidak! Pikirnya, anak muda di depannya tampak sangat perlente untuk mencari sesuatu di desanya. Terlebih saat Ia melihat mobil sport hitam Andi yang terparkir gagah di tengah jalan.'Anak mau cari apa di sini?' tanya si lelaki, lugu. Raut wajah Andi betul-betul bersemangat, 'Saya mau ke bukit kecil itu, Pak! Menurut orang yang memberi saya informasi, bukit kecil yang saya tuju, berada persis di dekat desa Raga ini. Nah, kurasa itu bukitnya!' jawab Andi percaya diri.Lelaki itu lekat memandangnya, seperti keheranan. Sekali lagi matanya menyelidiki sosok Andi dari atas sampai ke bawah.'Tapi kok, saya melihat dari tadi tak ada orang ramai di sini ya, Pak? Mengapa tak ada rumah warga di sini?' tanya Andi sejurus kemudian.'Rumah warga ada di sana, tepat di bawah kaki bukit itu. Sekitar sini, memang area ladang dan jalan masuk saja dari kota.' jelas si lelaki tua.'Oh...begitu!' balas Andi. 'Jadi, Bapak mau pulang sekarang? Bagaimana jika Bapak ikut di mobil saya?' tawar Andi. Si lelaki terkejut.'Ah, tidak! Jangan, jangan! Saya tak biasa naik mobil seperti itu. Lagi pula, saya masih harus menengok kolam ikan saya di sana.' tolaknya halus.'Baiklah! Tapi bolehkah kita kenalan dulu. Nama Saya Andi, Pak! Dan saya adalah cucu Pak Darman, mungkin Bapak tahu?' Andi mengulurkan tangan. Wajah lelaki tua itu mendadak cerah.'Oh...!' responnya singkat.'Bapak kenal sama kakek saya? Dia sudah meninggal, Pak! Dan sekarang saya kemari, hendak melihat rumah bekas peristirahatan beliau, jaman dulu ... kala sedang jemu di kota!'Lelaki tua itu menyambut tangan Andi. Dan Karena cuaca begitu panas, si petani mengajak Andi beringsut ke bawah pohon.Wajahnya tampak terkesan sekali, dan untuk ketiga kalinya, Ia mengamati lagi sosok Andi, dari kepala sampai kaki. Namun kali ini, Ia lebih fokus mengamati wajahnya.'Serius, anak ini cucunya Pak Darman? Iya, saya tahu, saya dulu sering diajak kerja sama beliau. Seluruh warga kampung ini dulu tahu siapa dia, kecuali yang baru lahir belakangan, karena itu sudah lama sekali' ingatan si lelaki menerawang jauh ke masa lalu.'Benar, Pak! Kalau bapak ingat lagi, kadang kakek membawa saya ke sini juga, menginap seminggu jika libur sekolah!' Jelas Andi lagi.'Oh, Iya betul! Jadi kamu anak lelaki itu!? Ada perempuan juga ya?''Nah itu Siwi, kakak perempuan saya!' seru Andi.'Ah, ya...ya...ya! Sudah lama sekali. Waktu itu saya masih bujangan. Pak Darman sering meminta saya membantunya, apa saja!' Kenang si lelaki. Wajahnya tampak tenang sekarang.'Saya ingin menengok pondok kakek saya itu, Pak! Kata ibu Saya, kayunya kayu ulin, jadi pasti belum hancur. Mungkin hanya perlu diperbaiki sedikit bagian-bagian tertentunya. Apa bapak bisa membantu saya?' tanya Andi sambil mulai membakar sebatang rokok lagi.Yang ditanya malah tertegun. Seolah ada sesuatu yang meresahkannya.'Pak...!?' tegur Andi.'Ya, ya, maaf! Saya sedikit melamun tadi!' balas si lelaki tua.'Apa yang dilamunkan? Hehe... ' seloroh Andi. 'Ngomong-ngomong, Saya belum tahu nama bapak dari tadi?''Marji...! Nama saya Marji, biasa dipanggil Pak Ji saja' balas si lelaki.'Bapak mau rokok? Ambil saja semuanya, satu kotak ini! Di mobil masih banyak, kalau mau' kata Andi.'Ah, tidak ... tidak! Saya sudah berhenti merokok.' balas Pak Ji.Andi lekat memandangnya, lalu berkata, 'Karena kita sudah kenalan, berarti saya boleh dong berharap Pak Ji mau menemani Saya ke rumah itu. Sebentar saja, kita naik mobil. Mana tahu, ada yang harus diperbaiki. Mau ya, Pak? Tenang saja! Upahnya sudah saya siapkan kok!'Pak Ji tampak senang, meski wajahnya terlihat tegang.'Tentunya mau! Tapi saya mau tanya dulu, apakah Tuan akan tinggal di sini, atau hanya berkunjung?''Mentang-mentang saya ini cucu Pak Darman, jangan dipanggil 'Tuan' juga, Pak! Panggil Andi saja! Bersikaplah yang sama seperti tadi. Hahaha...' protes Andi seraya tertawa.'Aktivitas saya semuanya ada di kota, jadi tentu saya hanya berkunjung di sini! Bukan mau tinggal. Refreshing saja!' lanjut Andi.Seketika wajah Pak Ji berkerjap-kerjap bagai cahaya bintang. 'Tentu, saya mau membantu. Kita bisa berangkat sekarang!?' ajaknya.Andi mematikan puntung rokoknya. Puntung yang masih menyala itu ia lempar ke tanah, lalu diinjaknya dengan sepatu hingga apinya benar-benar mati.'Nah, gitu dong!' sambutnya.Keduanya lalu menuju mobil.Mesin pun dinyalakan, Andi mengemudikan mobilnya dengan tenang. Dia merasa lega Pak Ji mau membantunya, walau diam-diam dia merasa ada sesuatu yang janggal. Mengapa lelaki tua ini seolah enggan jika Ia tinggal lama di pondok itu?'Hm, ada apa ya? Something strange....' pikirnya.

Pulau Hashima Yang Tak Berpenghuni
Horror
31 Dec 2025

Pulau Hashima Yang Tak Berpenghuni

Jepang tak hanya terkenal dengan hutan misterius Aokigaharanya saja, tetapi juga punya satu pulau bersejarah yakni Pulau Hashima. Pulau Hashima bisa dikatakan menjadi salah satu Pulau mati yang terkenal di Jepang karena berbagai kisah misteri di dalamnya. Pulau ini merupakan pulau tak berpenghuni yang berada di lepas pantai di Jepang.Dahulu, pulau ini dihuni oleh puluhan ribu orang yang mayoritasnya adalah kaum pria, para pekerja batu bara. Sekitar satu abad lamanya sejak tahun 1887 hingga 1974 pulau ini dihuni. Selain dihuni sekitar ribuan pekerja tambang batu bara, dulunya Hashima juga menjadi salah satu pulau dengan jumlah penduduk cukup padat. Pulau ini dihuni 5.259 warga dan didominasi kaum pria.Pada 1890, sebuah perusahaan besar bernama 'Mitsubihi' membeli Pulau Hashima ini untuk membangun proyek batu bara di dasar laut. Bahkan, di tahun 1916 pihak Mitsubishi membangun apartemen dengan sembilan lantai yang dibangun untuk tempat tinggal para pekerja agar terhindar dari terpaan angin topan di sekitar pantai.Namun di tahun 1974, pulau seluas 6,3 hektar tersebut resmi ditutup dan proyek pengerjaan batu bara pun dihentikan karena tak ada lagi batu bara yang tersisa di dasar laut. Kemudian para penduduk pun mulai pergi meninggalkan Pulau Hashima hingga akhirnya pulau ini menjadi seperti pulau mati karena tak berpenghuni.Meskipun telah resmi ditutup sekitar tahun 2000-ann, ketertarikan para wisatawan yang datang ke Jepang untuk melihat lokasi bekas penambangan batu bara tersebut baru mulai muncul setelah 9 tahun berlalu.Hingga akhirnya lokasi ini pun kembali dibuka untuk umum, khususnya para wisatawan yang datang ke Jepang.Tepat di tahun 2015 lalu, UNESCO menobatkan gelar pada pulau tak berpenghuni ini sebagai warisan sejarah dunia. Tapi sayangnya, penobatan tersebut menuai kontroversi bagi negara Tiongkok dan Korea. Pasalnya saat Perang Dunia II banyak kabar yang beredar bahwa banyak sekali para pekerja batu bara asal Tiongkok dan Korea yang menjadi tawanan.Empat dari lima pekerja paksa tewas setiap bulannya di pulau tersebut akibat kecelakaan saat bekerja, karena tidak adanya prosedur keamanan yang mumpuni untuk para pekerja. Hal itu diungkapkan Suh Jung Woo, salah seorang mantan pekerja batu bara di Pulau Hashima, dalam sebuah wawancara pada 1983. Namun, pemerintah Jepang tetap mengelak jika disinggung soal nasib para pekerja paksa tersebut.Setelah tak berpenghuni lagi, pulau ini menjadi salah satu pulau yang memiliki sejarah cerita menyeramkan tentang para pekerja batu bara yang dipaksa bekerja hingga akhirnya banyak yang meninggal dunia. Kemudian mulai ditinggal para penduduk lainnya dan menjadi pulau mati.Seluruh bangunan di Pulau Hashima ini dibiarkan begitu saja, hingga akhirnya bangunan disana pun mulai runtuh seiring dengan berjalannya waktu. Bangunan-bangunan tua di Pulau Hashima tersebut menjadi angker dan menyeramkan. Banyak penduduk yang datang berkunjung ke pulau tersebut mengatakan pernah mendengar suara-suara misterius yang membuat merinding.Meskipun sudah terkenal dengan berbagai kisah menyeramkannya, Pulau Hashima ini tetap masih dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin menguji nyali di tempat bersejarah ini. Selain itu, Pulau Hashima yang menyeramkan ini juga sempat dijadikan lokasi syuting film Hollywood “Skyfall” yang dibintangi oleh James Bond.Demikianlah cerita singkat mengenai sejarah pulau menyeramkan di Jepang, yakni Pulau Hashima.Sementara itu, cerita mengenai para pekerja paksa asal Korea di Pulau Hashima ini juga diangkat menjadi sebuah film yang dibintangi sederet aktor kenamaan Korea Selatan yakni Song Joong Ki dan So Ji Sub.

HOROR KONTES KECANTIKAN
Horror
31 Dec 2025

HOROR KONTES KECANTIKAN

Delia adalah gadis cantik berusia 17 tahun, sejak SMP Delia sudah sering mengikuti kontes modelling, didukung dengan postyr badan yangbtinggi dan wajah cantik menawan, membuat Delia dengan mudah memenangkan kejuaraan modelling tersebut. Bahkan sudah banyak agensi model yang mengajaknya untuk bergabung dengan mereka. Tapi karena Delia tetap menomor satukan sekolahnya sehingga dia hanya menjarikan modelling aebagai kegiatan tambahan dan tidak membuatnya menjadi pekerjaan utama.Sore ini Delia sedang bermain di rumah Agnes, kawannya dari kecil, Delia sedang asyik membaca buku novel yang dimiliki Agnes, sambil terbaring di ranjang, tiba-tiba suara Agnes mengagetkannya."Del... lihat deh ada iklan kontes kecantikan My Girl" ucap Agnes"Oh ya? Kayanya ga dulu deh nes, kan benta lagi mau ujian" ucap Delia Acuh sambil tetap membaca buku."Hadiahnya gede Del, seratus juta rupiah plus mobil seri terbaru" ucap Agnes memaksa Delia untuk melihatnya."Apaan sih nes?" Jawab Delia risih dengan pemaksaan yang dilakukan Agnes"Lihat dulu Del" paksa AgnesAkhirnya Delia pun melihatnya, "untuk pendaftarannya paling lambat besok nes" ucap Delia"Ya udah besok aku anterin, tapi jangan lupa kalau kamu menang, aku minta 10 persen dr hadiahnya ya" ucap Agnes sambil tersenyum licik."Apaan sih, ga usah kalau ga ikhlas" jawab Delia kesal"Bercanda Del, kamu harus ikut pokoknya"Akhirnya Delia pun menyerah, dia setuju dengan Agnes untuk mengikuti kontes kecantikan ini.Keesokan harinya, Delia dan Agnes ke tempat pendaftaran kontes kecantikan tersebut, saat sampai mereka melihat sudah banyak antrian gadis gadis mida yang berparas cantik.dan juga modis."Maaf pak saya mau mendaftar kontes" ucap Delia kepada penjaga keamanan"Silahkan ikut antri dulu" jawab bapak tadiSetelang setengah jam mengantri akhirnya Delia sampai juga ke petigas pendaftaran, Delia disuruh masuk ke dalam untuk sesi foto dan wawancara.Delia pun masuk ke ruangan tertutup, saat masuk.dia disambut fotografer dan mulai untuk sesi foto.Dan setelah itu fotografer menyuruh Delia untuk.masuk ke ruangan lain untuk sesi wawancara, Delia pun berjalan ke belakang gedung untuk mencari ruangan wawancara, dia melihat ada pintu berwarna hitam dipojok, Delia.pun segera membukanya.Saat pintu terbuka, Delia melihat ruangan yang sangat gelap, tidak ada lampu hanya cahaya dari luar saja, ada satu meja kecil dengan seorang wanita berbaju putoh yang duduk menatap Delia."Selamat siang saya Delia, salah satu kontestan model" ucap DeliaWanita itu hanya diam dan tangannya mempersilahkan Delia untuk duduk.Delia pun menurutinya, duduk didepan wanita tadi.Kesunyian sangat terasa diruangan iniTiba-tiba wanita itu berbicara"Nama kamu Delia?" Tanyanya"Iya betul.bu" jawab Delia"Kenapa kamu suka modelling?" Tanyanya"Karena saya merasa ini adalah pekerjaan yag menarik bu, dan bisa menghasilkan uang" jawab Delia jujur"Apakah kamu akan selamanya menjadi model?" Tanyanya"Saya tidak tahu bu" jawab Delia jujur"Kamu tahu resiko menjadi model itu apa?""Harus selalu menjaga penampilan bu" jawab Delia yakin"Bagaimana caramu menjaga penampilan agar tetap disukai?""Dengan makan yang aehat dan olahraga bu" jawabnya lancarSetelah itu suasana sunyi kembali, wajah ibu pewawancara yang selalu menunduk, membuat Delia tidak dapat jelas melihat wajahnya ditambah suasana ruangan yang gelap."Baiklah menurut saya kamu kandidat yang cocok untuk menjadi model kami" ucapnyaDengan wajah lega Delia tersenyun"Tapi ada satu syarat lagi" ucapnya"Syarat apa ya bu?" Tanya DeliaTiba-tiba wanita itu berdiri dan memperlihatlan wajhnya yang penuh luka dan sayatan serta robekan kulit dengan belatung belatungDelia melihatnya dan sangat ketakutan badannya gemetar dan tidak sanggup lagi.berkata kata"Syaratnya kamu harus mati" ucapanya sambil tertawa cekikikanSaat tersadar Delia segera berlari ke arah pintu, tapi pintunya macet, dia melihat hantu tersebut mendatanginy, Delia berteriak kencang dan hampir pingsan sesaat setelah hantu tersebut semakin dekat.Tiba-tiba pintu terbuka"Del" suara yang tak asing ditelinganya"Agnes... " ucap Delia segera memeluknya dan setelah itu Delia tidak sadarkan diriSaat membuk mata dan terbangun, Delia melihat sekeliling, beberapa orang sedang memberinya minyak kayu putih di hidungnya."Alhamdulillah kamu sudah sadar Del" ucap Agnes"Aku dimana?" Tanya Delia"Kamu pingsan Del, tadi setelah sesi foto, panitia yang akan mewawancaraimu menunggu hampir setengah jam, dan mereka mencai karena kamu.belum datang" cerita Agnes"Fotografer itu memberitahu aku, bahwa kamu tadi ke belakang, dan tetnyata kamu ada di ruang kosong belakang gedung, saat aku mendengar kamu berteriak" cerita Agnes lagiDelia merasa sangat ketakutan, wajahnya pucat dan dia tidak.memiliki tenaga untuk bersuara."Maaf ya nes, aku rasa aku ga mau ikut kontes kecantikan lagi" ucap Delia"Iya gapapa, kita pulang aja" ucap.Agnes menenangkanSaat taksi membawa mereka pergi dari tempat kontes, tiba-tiba mata Delia tertuju pada spanduk kontes, wanita berbaju putih dispanduk itu adalah hantu yang ditemui Delia.

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 2 dari 7
Menampilkan 24 cerita