Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
BELAJAR RENANG MALAH SAYANG
Teen
17 Dec 2025

BELAJAR RENANG MALAH SAYANG

"Hanya bermodalkan selalu ada akan kalah dengan yang selalu mengatakan Cinta .""Gue bener bener yakin tuh cewek bakal masuk kelas ini," seseorang berambut cokelat mengacungkan dua jarinya dengan penuh keyakinan."Cantik?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Tino pun langsung di iyakan oleh seseorang berambut cokelat bernama Anggra itu."Elah kita liat aja nanti, lagian gue juga belum liat tuh cewek gimana bentuknya," kali ini Rico angkat bicara."Eh tapi bener loh katanya si Anggra barusan, cewe yang tadi dia liat itu emang cantik kok," Pian mulai berandai andai."Lo nggk usah ngayal mulu Yan, lo nyapa cewe aja masih ngompol apalagi mau nembak," timpal Anggra diikuti oleh kedua temanya yang tertawa setuju."Eh tapi kalo aja nih cewek yang lo lo pada bilang itu beneran sexy fuyuu gue bakal kejar dah," Riko memainkan alisnya naik turun dengan senyum manis, membuat teman temannya mengernyitkan kening jijik."Terserah lo deh, kalo cantik harus jadi punya gue titik." Kata Pian bersih keras.Kelas yang tadinya rame kini mendadak sepi karena kedatangan guru sejarah mereka. "Selamat pagi anak anak!" sapanya dengan tegas."Pagi juga bu!" jawab anak anak serentak."Wih liat ko bulu matanya Mak Erot makin tebel aja," kata Anggra yang duduk disampingnya."Iya apalagi alisnya udah kaya jalan tol," timpal Rico keduanya menahan tawa.'Gubrak!'Mereka berdua tersentak tatapannya langsung lurus ke depan disana Guru yang sering mereka sebut Mak Erot tengah menggebrak meja, nafasnya sudah naik turun tak beraturan."Bisa tidak sehari saja tidak buat onar dikelas!" Serunya kemudian. Sementara Riko dan Anggra hanya menunduk, dibawah meja kaki mereka saling menendang satu sama lain."Oke, kita kembali ke topik utama, jadi anak-anak!" suaranya yang nyaring terdengar sangat keras. "Kalian kedatangan teman baru," senyumnya mengembang kearah luar kelas "masuk sya," ucapnya lagi . Dengan hati menggebu gebu keempat orang itu melongok keluar kelas, ujung sepatu wanita mulai terlihat dan..."Wow" Pian menganga.Anggra berdecak kecewa namun kemudian tersenyum lebar, Tino tidak bergumam apapun dia hanya tersenyum, sedangkan Rico dia memandang penampilan wanita itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.Dia Memakai flat berwarna abu abu, dengan khas baju SMA serta rambut panjang terurai. Wajahnya berbentuk oval matanya berwarna cokelat madu ditambah bibir tipis dibalut dengan senyum manis."Enggak buruk kan ko, cuman dia enggak punya body sesuai selera lo, wah si Pian kesem sem tuh," Anggra melirik Pian yang berada di pojok kanan nya."Gue bakal dapetin dia." Rico tersenyum miring, sedangkan Anggra hanya menatap wajah Rico aneh."Alsya silahkan perkenalkan dirimu." ucap Bu Mira yang hanya di jawab Alsya dengan anggukan, dia maju selangkah lebih dekat."Selamat pagi. Nama gue Alsya Putriana. Gue pindahan dari SMA Cendana. Salam kenal semuanya," Alsya memperkenalkan diri."Hay Alsya salam kenal juga, gue Rico Permana siswa terkeren di SMA karang bintang," sorakan siswa kelas XI IPS 1 pun langsung terdengar ricuh mereka menjerit histeris terutama kaum hawa yang tidak menyangka bahwa Rico bisa se-PD itu. Bu Mira langsung menenangkan suasana yang gaduh dan mempersilahkan Alsya duduk."Sudah sudah diam semua. Kamu duduk di belakangnya Rico ya Alsya," Bu Mira menunjuk sepasang kursi kosong dibelakang Rico. Alaya pun mengangguk lalu berjalan menuju tempat duduknya. "Oke sekarang kita lanjutkan materi kemarin."🌺🌺🌺Bel sekolah berbunyi sebagai tanda berakhirnya pelajaran, siswa maupun siswi SMA karang bintang mulai terlihat berhamburan keluar kelas, tak terkecuali Alsya dia berjalan pelan menuju gerbang sekolah. Langkahnya terhenti saat suara seseorang yang tidak asing menyapanya. "Hai Alsya" Alsya menolehkan kepalanya mendapati seorang lelaki bertubuh tinggi tengah berdiri di sampingnya mata cokelat kayunya menatap Alsya lekat."Ck Lo lagi lo lagi nggk capek apa lo dihukum lari lapangan tadi," dengan kesal Alsya mempercepat langkahnya namun dengan mudah Rico dapat menjajarkan langkahnya agar seimbang dengan Alsya."Mau lo sebenernya apa sih," Alsya kembali berhenti diikuti Rico yang melirik kearah Alsya yang lebih pendek darinya."Gue mau kenalan sama lo, salah ya" ucapnya to the poin."Lo kan tadi udah kenalan sama gue!" seru Alsya membuat para siswa yang berjalan menoleh kearah mereka."Yeee tadi kan nggk resmi kenalannya, gue Rico," Rico mengulurkan tangannya untuk bersalaman alih alih menerima uluran tangan Rico Alsya malah berlalu begitu saja tanpa sutas kata pun."Huaaaaah lo dikacangin ko gila enggak nyangka gue," Anggra dan teman temannya datang menghampiri Rico."Haha sukurin lo makanya jangan suka nikungin cewek orang,"Pian tertawa terbahak-bahak. "Heh Yan lo bilang si Alsya cewe lo? Mimpi!" sahut Rico kesal."Yaelah ko gimana sih, katanya lo enggak suka sama cewe yang bodynya tipis," Anggra merapatkan bibirnya."Jangan bilang cewe gue tipis ya, dia emang enggak sebohay yang gue idam idamkan tapi gue suka dia," Rico memuji Alsya sedangkan Pian menyebikkan bibirnya.Alsya berjalan menuju indekosnya namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil hitam terparkir nyaman tepat didepan indekosnya, dia mengernyit sesaat lalu matanya menangkap sosok lelaki bertubuh tinggi sedang duduk bersampingan dengan Ibu kosnya, dengan cepat Alsya berjalan menghampiri mereka berdua. "Faiz!" seru Alsya langsung memeluk lelaki itu dari belakang Faiz dan ibu kosnya menoleh bersamaan."Alsya ibu pulang dulu ya, kamu sama nak Faiz lanjut aja ngobrolnya, oh ya satu lagi jangan sampai pulang larut malam ya nak Faiz," Ibu Nia mengingatkan sebelum akhirnya undur diri."Siap Bu," ucap Faiz dan Alsya serentak."Faiz gue kangen banget sama lo," dengan manja Alsya duduk di samping Faiz."iya sya gue juga kangen sama lo," ucap Faiz sembari mengacak-acak rambut Alsya."Gimana hari pertama lo masuk sekolah baru, temen temennya rese enggak?" Faiz menatap Alsya yang sedang menyisir rambutnya dengan jari."Rese banget," pikirannya melayang pada sosok Rico teman sekelas nya yang tadi membuat naik darah."Ngapain lo duduk disini," kata Alsya risih sedangkan Rico hanya memandangnya lekat kemudian bergumam"mana mungkin sih gue biarin bidadari surga duduk sendirian tanpa pendamping." Alsya membulatkan matanya."apaan sih lo, dasar cowo aneh." ucap Alsya sembari meninggalkan tempat duduknya."Sya," walau lirih tapi mampu menyadarkan Alsya dari lamunannya."Eh iya iz,"ucap Alsya gugup.Faiz menaikkan salah satu alisnya "Gue tadi nanya malah bengong".Alsya menghembuskan nafasnya berat "Hari pertama gue sekolah enggak buruk buruk banget si, ya cuman tadi ada cowo yang bikin gue kesel"."Namanya siapa?" tanya Faiz ingin tahu."Rico," sesaat setelah mengucapkan namanya bayangan wajah Rico berkelebat di matanya membuat Alsya memajukan mulut."Lo bener bener enggak suka sama tuh cowok ya, sampe muka maju gitu,"."Iya gue enggak suka sama dia, bener bener nggk suka." Alsya menyandarkan kepalanya di bahu Faiz."Ya udah besok gue bakal cari tuh cowok biar gue kasih pelajaran. Udah lo jangan kesel lagi oke," Faiz mengelus rambut panjang Alsya dengan sayang.Alsya menegakkan kepalanya "Btw baru dua hari gue pindah bawaannya pengen meluk mulu," Alsya menatap Faiz manja membuat Faiz gemas dan langsung mencubit kedua pipinya yang chubby."Gue juga kangen sama lo sya.""Kenapa sih lo tuh nggak pindah sekolah aja ikut gue". Ujar Alsya."Sya gue sih mau mau aja ya pindah sekolah ngikutin lo, jagain lo tapi gue enggak bisa pindah secepat ini lo kan tauk gue ketua OSIS disana," Faiz menyandarkan kepalanya di kepala Alsya."Eh iz udah malem nih. Entar ibu kos gue marah marah lagi ngeliat lo masih disini, lo pulang gih lumayan jauh sekarang kan rumah lo," Alsya langsung berdiri lalu menarik tangsn Faiz agar ikut berdiri."ya udah gue pulang ya, besok gue kesini lagi lo mau gue bawain apa," ucapannya langsung membuat Alsya kegirangan luar biasa."Eum..." Dia tampak berpikir lalu menyimpulkan. "Gue mau es krim rasa cokelat sama vanila masing masing empat bungkus, sama nasi Padang. Udah dua hari enggan makan nasi Padang gue belum sempet beli enggak punya uang juga. Suruh lo aja nggk papa kan?" Alsya mengedipkan matanya manja, Faiz tersenyum lalu mengacak acak rambut Alsya."Iya gue bawain deh, dasar tukang morotin orang," Faiz mengelus rambut Alsya lembut."Apa apaan kan lo sendiri yang bilang kalo gue mau dibawain apa! nah gue kan cuma minta lo bawain itu doang dan denger gue bukan tipe orang yang suka morotin orang ya." Alsya menyisir rambutnya yang berantakan karena ulah Faiz.🌺🌺🌺"Pagi ini gue mau maen ke kosan lo boleh?" Naya menyantap nasi goreng di depannya bersama Alsya."Em siang ini sih boleh boleh aja," jawab Alsya sesudah menengguk segelas air putih."Ya udah ntar gue langsung bareng Lo aja ya?" Naya melahap suapan terakhir nasi gorengnya."Siap ya udah yuk cabut " ucap Alsya sembari mengelap mulutnya dengan tissue.Alsya dan Naya pun berjalan menuju kelasnya. Naya berjalan lambat karena asyik berkaca sembari membenarkan make up nya, sedangkan Alsya tengah membalas chat dari Faiz. Tiba-tiba ponselnya ditarik paksa oleh seseorang. Alsya sangat terkejut hampir berteriak namun tertahan karena mulutnya dibungkam oleh sebuah tangan."Eh apa apaan nih," gerutu Naya yang melihat Alsya dibungkam mulutnya oleh Rico. Rico hanya meringis sedangkan Alsya langsung menampar pipi Rico."Heh lo tu enggam punya otak atau gimana sih, untung aja jantung gue enggak copot," setelah puas menampar pipi Rico dengan santai Alsya mengambil kembali ponselnya kemudian berlalu begitu saja."Eh Co lo nggk papa kan," Naya mendekati Rico yang memegangi pipinya."Gue nggk papa".Tidak berlangsung lama Rico kembali mengejar Alsya diikuti oleh Naya."Sya sya tunggu!" Seru Rico yang berjalan mendekati Alsya."Apa! Kurang tamparannya?" Ujar Alsya sembari mengangkat salah satu tangannya hendak menampar Rico."Sakit nih masa mau ditambah lagi," Rico berlagak kesakitan agar mendapat perhatian Alsya."Duh Rico kenceng banget larinya capek gue ngejar, gimana pipi lo." Naya yang baru datang pun mendekati Rico."Nah udah ada Naya kan sekarang, Nay lo urusin tuh katanya dia kesakitan," ucap Alsya sebelum melenggang pergi."Alsya!" Seru Rico namun tak dihiraukan oleh Alsya yang berjalan menjauh."Udah ko, mending kita ke UKS dulu pipi kamu merah itu," Naya memeriksa pipi Rico."Udah gue enggak papa," ucap Rico acuh lalu meninggalkan Naya.Cuaca sangat panas seluruh siswa siswi SMAN2 karang bintang berhamburan untuk pulang kerumahnya."Sya naik mobil gue aja ya," ucap Naya sebelum keluar gerbang."Gue sih ngga nolak hehe," gumam Alsya."Oke deh," Naya dan Alsya pun pergi ke indekosnya.Naya mengernyit sesaat karena melihat mobil hitam bermerek BMW X5."Sya itu siapa didepan indekos lo," Naya menyenggol lengan Alsya yang asyik membaca artikel. Alsya pun mendongak."Mantap nih, itu sahabat gue Faiz." Mobil Naya pun berhenti di belakang mobil Faiz. Mereka pun turun bersamaan."Tuh Alsya udah dateng, ibu tinggal dulu ya," ibu Nia tersenyum memberikan isyarat kepada Alsya sebelum melenggang pergi."Hai Iz," Alsya langsung menghambur ke pelukan lelaki itu. Sesaat Naya tercengang dengan kejadian di hadapannya. Lelaki tampan dengan almamater SMA yang masih menempel pas di tubuhnya, kulitnya kuning, matanya sipit, rambutnya berkilauan karena minyak rambut."How are you today my heart," ujarnya pada Alsya yang masih memeluk erat tubuh Faiz."Im fine beloved," kemudian tawa mereka pecah."Gila gila alay banget gue, eh iz kenalin ini Naya temen gue. Nay kenalin dia sahabat gue Faiz." Alsya melepas pelukannya lalu memperkenalkan kedua temanya. Naya dan Faiz pun bersalaman."Naya," ucap Naya nervous."Faiz," gumam Faiz tenang."Iz kemana nih titipan gue,"Alsya celingak-celinguk mencari makanannya."Itu di mobil bentar gue ambilin," selepas kepergian Faiz Naya pun bergumam."Syaa itu Faiz. Cute banget," Naya meleleh dibuatnya."Kenapa lo naksir?" Alsya menaikkan salah satu alisnya."Iya tapi dia punya lo," Naya menyebikkan bibirnya."Yaelah ambil aja sih, gue sama Faiz itu enggak ada apa apa. Gue jadian sama dia udah kaya ayam ngelahirin bayi kodok tauk nggak. Gue udah anggep dia itu kaya saudara kandung gue. Jadi santai aja," diam diam Faiz mendengarkan percakapan mereka berdua. Ada raut wajah kecewa dan terluka namun berhasil di tutupinya."Eh Faiz," Naya yang menyadari keberadaan Faiz pun terlihat gugup."Alsya gue cabut dulu ya, hari ini gue mau nganterin nyokap cake up." Ujar Faiz tenang. "Dan nih titipan lo," Faiz memberikan bungkusan itu pada Alsya lalu berjalan menuju mobilnya."Oke! Thanks ya iz," seru Alsya hanya dibalas dengan anggukan dan senyum manis oleh Faiz.🌺🌺🌺"Eh sya lo bisa berenang enggak?" tanya Anggra pada Alsya yang duduk berdua dengan Naya."Enggak kenapa emng?" ucap Alsya cuek."Rico mau ngajarin lo renang gimana?" ujar Anggra langsung mendapat pelototan dari Alsya dan Naya."Enggak sudi gue diajarin sama dia, engga ada untungnya juga gue bisa renang.""Lo belum tau aja Sya," Sahut Naya."Maksud lo?" Alsya mengerutkan keningnya bingung."Jum'at ada latihan renang di sekolah, pak Jojo yang ngelatih. Dan buat yang bener bener enggak bisa harus diusahakan bisa Sya. Kalo enggak lo nggak bakal dapet nilai dari dia." kata Naya menjelaskan."Gila! Duh gimana dong," Alsya menyebikkan bibirnya."Udah lo minta ajarin Rico aja, dia itu ikut ekskul renang," ujar Anggra meyakinkan."Eh eh apa ini ngomongin gue, gue denger nih," Rico muncul dari balik pintu."Gini Co si Alsya minta ajarin lo berenang," Sahut Anggra santai. Yang langsung mendapat senggolan dari Alsya."Eh apaan sih Nggra," bisiknya ketus."Hah berenang!" seru Rico."Iya berenang," Anggra memberikan kode melalui kedipan mata."em.. Lo mau Saya?" tanya Rico pada Alsya yang terlihat kebingungan."Iyain Sya," Anggra meyakinkan lagi."iya Sya daripada lo nggak dapet nilai." Naya juga meyakinkan."Huh oke oke, Rico gue mau." Ucap Alsya setengah hati."Hah serius nih," Rico hampir melonjak kegirangan."Iye," Alsya memutar bola matanya malas."Besok kita latihan, di kolam renang rumah gue aja gimana?""Secepat itu kah?" Anggra menatap Rico tak percaya."iya lah, iya kan Sya." Rico tersenyum lebar."Hm," gumam Alsya.Sepulang sekolah Naya tidak pulang ke rumah, dia memilih untuk ikut Alsya ke indekosnya."Sya besok gue jemput lo jam berapa nih?" Naya duduk di tepi ranjang melihat temannya yang sedang menyisir rambut."terserah lo," jawab Alsya tenang."jam 10 lo harus siap, ehm... Bakal ketemu sama calon mertua dah," Naya menahan tawanya."Dih amit amit," Alsya bergidik."Tuan Puteri lagi ngobrolin apa sih, seru amat keliatannya?" tiba tiba suara laki laki terdengar di ambang pintu. Sedikit mengejutkan Naya dan Alsya."Eh Faiz," gumam Naya malu malu."Faiz lo ngapain disini, keluar keluar ibu kos gue murka entar!" berbeda dengan Naya yang malu malu Alsya malah berteriak mengusir Faiz."Gue udah izin kok," Faiz masuk ke dalam kosnya lalu duduk di samping Naya."terus di izinin gitu?" Naya melotot tak percaya."Menurut lo," dengan senyum sumringah Faiz menatap Naya di sampingnya."Ck ck bener bener gila lo," Alsya menggelengkan kepalanya pelan tak percaya Faiz berani melakukan ini."Iz besok lo sibuk nggak?" tanya Naya malu malu."Enggak sih, kenapa emang Nay?""Besok Alsya mau belajar renang sama calonnya," Naya tersenyum manis.Faiz sedikit bingung "Hah?""Pokoknya lo ikut aja, jam 10 lo udah harus ada di sini oke," melihat tingkah Naya Alsya benar benar geram dilempar nya sisir yang sedari tadi ia pegang dan tepat mengenai kepala Naya."Au.." rintih Naya kesakitan."Rasain lo," Alsya mendengus kesal."Lo nggak papa Nay?" wajah Faiz yang melembut perhatian membuat pipi Naya memerah."udah udah kalian jadian aja!" seru Alsya yang langsung mendapat pelototan dari Faiz dan Naya."Alsya!" seru keduanya."Tuh kan kalian jodoh, teriak aja pakek barengan," Alsya mengejek.Naya hanya menunduk malu. 'huh kenapa sih itu mulut enggak bisa di jaga, blak blakan banget,' batin Naya geram.🌺🌺🌺"Nggra lo gimana sih. Lo kan tauk gue enggak terlalu bisa renang," gumam Rico yang duduk di ruang tamu."Biar lo jadi pria sejati Co, karena pria sejati itu harus bisa melakukan hal hal yang ekstrim," ujar Anggra yang sibuk meminum jus jeruk."Tapi lo enggak boleh kaya gitu, kalo si Alsya kelelep gimana?""Ya itu tanggungan lo. Lo suka sama Alsya ya buat dia suka sama lo. Lo mau Alsya direbut sama si Pian? Enggk kan. Makanya lo harus berani berkorban," Rico menimbang nimbang ucapan Anggra.Rico mangut mangut setuju "Iya juga sih,""Nah! Gitu dong itu baru temen gue. Gue cuman enggak suka aja kalo Alsya jadian sama Pian," Rico meringis ngeri."Jangan Sampek dah,""Makanya, ya udah gue cabut yak. Selamat berjuang buat cinta lo bro," kata Anggra sembari menepuk pundak Rico lalu melenggang pergi."Alsya!" Naya sudah berada di depan indekos Alsya. "Alsya!" serunya lagi tapi tidak mendapat jawaban.Tok... Tok... Tok...Naya kembali mengetuk ngetuk pintu indekosnya sedikit lebih keras. Setelah menunggu beberapa saat dia pun mengambil handphone dari tasnya.Tangannya dengan lihai memencet nomor Alsya. "Enggk aktif, kemana sih tu bocah." gumam Naya pelan.Sebuah mobil hitam berhenti di depan indekos Alsya. Naya mengernyit sepertinya dia tau itu mobil siapa. 'Faiz hampir terlonjak saat pemilik mobil itu turun."Eh Faiz," gumam Naya mencoba menahan detak jantungnya yang berdegup kencang."Hay, Alsya nya mana?" melihat pintu indekos mungil itu tertutup rapat Faiz bertanya pada Naya."Nah iya itu. Dari tadi gue nungguin tu bocah masih ngebo kayanya," Naya meringis."Alsya, Sya!" seru Faiz hingga ibu kos Alsya menghampirinya."Eh nak Faiz, mau nyari adeknya ya?" tanya ibu kos ramah."iya Buk, kemana ya?" Faiz balik bertanya."Ibu liat tadi Alsya pergi sama cowo,""Hah cowo! Siapa Buk?" Naya angkat bicara."Kurang tau, tapi kalo nggk salah namanya Pian soalnya tadi Alsya teriakin nama itu," jelas ibu kos."What! Pian," Naya cemas."Lo kenapa Nay," tanya Faiz ingin tahu."Gawat darurat pokonya ini, jangan jangan si Pian mau nembak Alsya lagi," Naya terburu buru masuk mobil. "Makasih ya Bu, saya permisi assalamualaikum." gumam Naya."saya juga Bu," ucap Faiz cepat."Iya waalaikumsalam," ibu kosnya pun melenggang pergi."Ini kenapa lagi mobil gue," Naya pun turun dari mobilnya."Kenapa Nay?" tanya Faiz yang mau melaluinya."Mobil gue mogok nih," Naya menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Ya udah, naik mobil gue aja," tawar Faiz tenang."Eum.. iya deh iya," mereka berdua pun pergi mencari Alsya."Hp gue lowbat nih nggra," gumam Alsya yang duduk di bangku depan mobil Anggra. "pasti Naya sama Faiz nyariin gue deh," gumamnya lagi sembari melirik Anggra yang fokus menyetir mobil."Udah biarin aja kenapa sih, emng lo mau ntar si Pian nyamperin lo," ujar Anggra yang hanya di jawab dengan gelengan kuat."Pokoknya lo harus ke rumah Rico terus belajar renang, masalah Naya sama sahabat lo tu biarin aja mereka pasti lagi PD kate," Anggra tersenyum manis.Mereka pun sampai di rumah Rico, rumahnya cukup besar dengan dominan warna putih gading."Ayo masuk, Rico udah di kolam renang tuh," Anggra mempersilahkan Alsya masuk ke dalam rumah Rico."Co Alsya udah dateng nih!" seru Anggra sembari berlari kecil menuju kolam renang. Dilihatnya Rico yang tengah bersantai dengan bertelanjang dada dan celana pendek."Sya samperin dah, gue mau nanganin si Pian dulu. Bye," gumam Anggra lalu melenggang pergi."Bye," Alsya sedikit tidak nyaman, dia dan Rico hanya berdua saja apa yang akan terjadi pikir Alsya. Perlahan Alsya mendekati Rico yang tengah memejamkan mata, telinganya tertutup earphone."Rico!" seru Alsya keras namun Rico tidak bergeming. Di goyangkannya bahu Rico keras membuat Rico berjingkat lalu melepas earphone nya."Wih Alsya, kaget gue. Kemana Anggra?" Rico celingak-celinguk mencari Anggra."Dia mau nemuin Pian," jawab Alsya ketus."hmm... Naya nggk ikut?" tanyanya lagi membuat Alsya mengerutkan kening."Ini jadi nggk sih," gumam Alsya to the point."Ya jadi dong," jawab Rico semangat. Alsya membalikan badannya hendak mengganti baju tetapi kakinya terpleset hingga ia jatuh ke kolam. Alsya panik dia sama sekali tidak bisa berenang kepalanya muncul di permukaan air namun kembali tenggelam.Rico yang panik melihat Alsya pun langsung menceburkan diri ke kolam renang, saat dia menarik lengan Alsya spontan Alsya menariknya kuat. Rico yang tidak dapat menyeimbangkan diri pun ikut tenggelam.Rico berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tepi kolam dengan terus memeluk tubuh Alsya. Alsya tau Rico akan ikut tenggelam bersamanya dia berusaha melepas pegangan tangan Rico tapi Rico tidak melepasnya. Saat Alsya berhasil melepas pegangan tangannya dari Rico, Rico kembali meraih lengannya dan memeganginya erat."Alsya! Sya!," seru Naya panik dia yang baru datang spontan berteriak keras saat melihat Rico dan Alsya tenggelam bersamaan."Faiz! Alsya nggk bisa berenang!" serunya lagi."Iya gue tauk!" Faiz pun tak kalah panik. Dengan cepat Naya yang bisa berenang pun menolong mereka berdua dibantu Faiz yang menariknya ke darat."Lo enggak papa Co?" tanya Naya pada Rico yang terlihat pucat."Gue nggk papa, tapi Nay Alsya pingsan," dia melirik wajah Alaya yang pucat pasi."Kayaknya dia minum banyak air," gumam Faiz lalu menekan perut Alsya."Uek.." air itu keluar dari mulutnya. Alsya mengerutkan kening melihat Rico di depannya."Kenapa lo nggak ngelepasin gue?" ucap Alsya lirih."G...gu.. gue," suara Rico gemetar."Udah udah mending kita ke dalem dulu ayo!" sela Naya cepat. Faiz pun membantu Rico berjalan sedangkan Naya membantu Alsya.Setelah diberikan handuk dan teh hangat Naya pun bertanya pada Rico."Sebenarnya apa yang terjadi Co?""Maafin gue Sya, gue emang bisa berenang tapi gue nggak terlalu mahir. Gue hampir bunuh lo," gumam Rico."Jadi, Maksud lo!" seru Naya yang tampak emosi."Iya, Anggra yang ngerencanain ini semua. Karena Pian mau nembak Alsya. Anggra nggak mau Pian sakit hati karena penolakan dari Alsya, Anggra terpaksa ngelakuin ini," ucap Rico menyesal. Alsya menatap Rico teduh."Oke itu kesalahan pertama. Kesalahan kedua kenapa lo bisa ceroboh sampek Alsya tenggelam kaya gini," Naya mengembuskan napasnya berat."Itu bukan salah Rico Nay. Itu salah gue, gue yang ceroboh." Rico menatap Alsya tak mengerti."Kenapa lo enggak mau ngelepasin tangan gue tadi, lo hampir mati tauk nggak!" seru Alsya geram. Sedangkan Rico hanya diam."Jawab gue Co!" serunya lagi."Itu karena Rico sayang sama lo Sya," sebuah suara muncul dari balik tembok, rupanya sedari tadi Anggra mendengarkan percakapan mereka."Anggra," desis Naya dan Alsya."Kalo Rico ngelepasin tangan lo dan memilih buat nyelametin dirinya sendiri, dia bukan pria sejati Sya!" seru Anggra mantap."apa bener itu Co?" Alsya memastikan namun Rico tidak menjawab."Lo tau Sya Rico rela mempertaruhkan nyawanya demi lo, demi cewe yang dia sayangi," ujar Anggra."Udah udah. Alsya ayo pulang," gumam Faiz yang sedari tadi hanya diam dan mulai mengerti. Di gandengnya Alsya masuk ke mobil Faiz diikuti Naya.Setelah peristiwa itu Rico menjadi pendiam sedangkan Pian dia sudah sadar bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan jadi dia mundur perlahan."Thanks bro, lo itu emang sahabat sejati gue," Pian tersenyum bangga kepada Anggra."Yaelah santai aja kalik," jawab Anggra tenang.Rico berjalan di koridor sekolahnya sendirian karena Anggra dan Pian sedang makan di kantin saat itu Rico tidak sengaja berpapasan dengan Alsya."Hei Rico!" sapa Alsya ceria. Tidak ada balasan apapun dari Rico."Bentar Rico, entar sore kita latihan renang yuk," ajak Alsya semangat, Rico menatap Alsya tenang."Kalo gue nggak sibuk," ujarnya sebelum melenggang pergi. Alsya mengerutkan keningnya bingung."Hai Rico!" sapa Naya yang berpapasan dengan Rico."Hai," jawabnya pelan namun cukup terdengar oleh Alsya."Ada yang lagi galau nih hahaha," Naya menghampiri Alsya lalu mereka berdua berjalan beriringan."Cie... Yang udah nggak jutek lagi sama Rico, tapi sekarang malah Rico yang jutek hahaha dasar aneh!" gumam Naya."Gue juga nggak tau kenapa si Rico jadi berubah ya, semenjak gue tenggelem itu," Alsya menghembuskan nafasnya berat."Saran gue sih lo minta maaf ke dia. Gimana kalo ntar sore lo kerumah Rico buat minta maaf sekalian ngajakin dia latihan renang lagi gimana?" Naya tersenyum lebar."Nggak segampang itu Nay,""Tapi lo harus coba, siapa tau berhasil iya nggak," Naya tak mau kalah."Lo jangan ngurusin gue deh, btw gimana Lo sama Faiz?" Alsya duduk di taman sekolahnya diikuti Naya."Hehe ntar sore gue mau diajak jalan sama dia," Naya mengedipkan matanya sembari tersenyum lebar."sukur deh kalian cocok," gumam Alsya dingin."ih kok lo gitu sih, kaya nggak suka gue sama si Faiz.""hem ya mau gimana suruh sorak sorak gitu?""Bodo ah, entar sore lo kerumah Rico sendirian ya gue kan mau jalan," ujar Naya sembari nyengir kuda."Hem makasih ya sarannya gue balik dulu bye." Gumam Alsya dengan senyum yang dipaksakan."Lah Sya lo nggak bareng gue!" Naya hanya tercengang melihat punggung Alsya yang semakin menjauh. Sedangkan Alsya tidak menghiraukannya.Alsya duduk di tepi ranjangnya pikirannya melayang pada ucapan Naya.'Ck apa gue kerumah Rico aja kali ya,''Tapii ntar dia ke GR an lagi, gue kerumah dia minta maaf terus langsung pulang gitu kali ya.' Pikiran-pikiran itu berkecamuk di otak Alsya."Ah bodo ah, gue nggak betah lama lama kek gini," Alsya pun langsung mengambil tasnya lalu pergi ke rumah Rico.Sesampainya di sana Alsya sedikit ragu, namun dia bertekad untuk meminta maaf."Pak Rico nya ada?" tanyanya pada satpam."Ada silahkan masuk," ucapnya ramah."Oh gitu iya pak makasih," Alsya tersenyum manis sebelum melenggang masuk.Alsya memanggil manggil Rico tapi tidak ada jawaban, Alsya berjalan melalui pintu belakang dan di kolam renang Alsya melihat Rico yang sedang berenang disana. Alsya tersenyum manis melihat Rico yang berenang gaya dada sembari memejamkan mata. Alsya pun menghampirinya."Rico," gumamnya pelan. Mendengar ada yang memanggil Rico pun membuka matanya dan melihat Alsya."Lo ngapain disini," rico mengernyit heran."Naik dulu gue mau ngomong," mereka pun duduk di tepi kolam."Jadi gini Co gue kesini mau minta maaf," Alsya sedikit ragu dia bahkan terlihat gugup.'Sebelumnya gue enggak pernah kaya gini kalo deket sama rico. Batin Alsya."Yelah santai aja gue udah maafin lo kok, gue juga minta maaf ya," Alsya menghembuskan nafasnya lega."Huft iya gue udah maafin lo juga kok," Alsya tersenyum manis diikuti oleh Rico."Mulai sekarang Damai ya," gumam Rico sembari mengacungkan jari kelingkingnya."Eum... Iya damai," ucap Alsya mantap lalu mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Rico."Cie... Cie... Alsya, Rico udah jadian," seru Anggra, Faiz, dan Naya muncul dari balik pintu mereka sengaja menguping pembicaraan mereka berdua."Ih apaan sih kalian tu," Alsya menunduk malu."Co gaskeun," Anggra memberikan kode."Sya gue mau jujur sama lo," Rico menatap wajah Alsya dalam. "Gue mau jujur kalo gue sayang sama lo Sya," ucapnya kemudian."Ehm...ehm..." Faiz berdehem melihat mereka berdua."Lo mau kan jadi cewe gue," gumam Rico mantap."G gu gue gue," Alsya merasakan tubuhnya gemetar hebat serta jantungnya yang berdetak tidak normal."iya gue mauk," ucap Alsya cepat lalu tersenyum manis."Mau apa Sya," Rico ingin memastikan apa yang didengarnya ini adalah nyata."Iya gue mau Co jadi cewe Lo," Alsya memejamkan matanya. Senyum manis tercetak di bibirnya.Rico tersenyum manis dengan nafas lega. Dibawanya Alsya kedalam pelukannya."Thanks Sya," gumam Rico lirih yang hanya mendapat anggukan kecil dari Alsya.Anggra, Faiz dan Naya tersenyum bahagia mereka menyaksikan kedua insan bersatu hanya karena hak sepele."pelan pelan Sya, jangan buru buru. Tangannya ngayun ke depan," Rico memberi aba aba.Faiz dan Naya diam diam berpegangan tangan. Anggra dan Pian menyaksikan Rico dan Alsya latihan renang sembari nyemil.End

Gadis kuat bernama Almira
Teen
17 Dec 2025

Gadis kuat bernama Almira

Seorang wanita berambut pendek sebahu,sedang menikmati coffenya disebuah kafe bernuansa eropa.Siapa yang tidak mengenalnya?Arinta Almirana.Seorang wanita karir, yang sedang berada dipuncak kejayaannya. Ceo dan pendiri perusahan Peach Company yang bergerak dibidan Fashion dan kecantikan.Rasanya apa yang tak dimiliki oleh perempuan berdarah bandung dan sulawesi ini?Usia muda, karir yang bagus, wajah yang cantik, teman yang banyak, bahkan pendiri sebuah organisasi bernama MeLier Asossiciasion.Sebuah organisasi sosial yang dimana isinya para sosialita indonesia, kolongmerat, pengusaha terkenal, dan wanita karir seperti dirinya.Dan jangan lupakan, calon suaminya yang begitu mapan dan sangat perhatian.Sempurna bukan? Namun hidup nyatanya bukan sebuah kesempurnaan, kembali kepadanya kesempurnaan hanya miliknya, milik tuhan semata.Nyatanya dibalik hidup yang hampir sempurna, Azmira memiliki banyak luka yang disembunyikan begitu rapat.Luka yang akan selalu membekas dalam ingatannya.7 tahun lalu adalah hari yang paling berat dan mengesankan untuk Almira.Dimana ia masih terbelenggu oleh siksaan sang ayah kepadanya, dimana selalu menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh Bima. Ayah kandungnya.Tidak ada yang membelanya, sekalipun ibu kandungnya.Setelah perceraian orang tuanya saat ia berusia 5 tahun, ia harus hidup dengan Bima, sosok ayah yang keras, egois, pemabuk, dan pemain judi.Hingga ia bertemu dengan sosoknya, sosok yang menjadi pahlawan dan menggantikan peran yang seharusnya menjadi cinta pertamanya yaitu sang ayah.Arnio namanya, sosok laki laki tegas, tampan dan berwibawa, sosok yang sekarang menjadi calon suaminya.7 tahun lalu Arnio berhasil menariknya dari segala luka yang mendera dikepalanya.Almira kembali teringat, sosok Arnio yang masih berseragam putih abu abu, menyapanya untuk pertama kalinya." Kamu gadis pemilik rumah nomor 17 kan?""Aku Arnio tetanggamu sejak sebulan lalu""Kenapa kamu selalu menunduk? Apakah karna luka dikepalamu ?""Kita bisa menjadi teman?""Bukankah aku cukup mengenalmu?, Gadis yang selalu berada dirumah, menatap kosong kearah jendela? Gadis yang tidak pernah menyalakan lampu dirumahnya?""Apakah kau tidak takut sendirian di kegelapan? Aku tau ayahmu selalu memukulmu, tidak papa setelah lulus, aku berjanji akan melindungimu , dan membawamu menuju kebahagiaan"Sejak saat itu, Arnio tidak pernah melupakannya, ia benar benar menepati janjinya untuk membawa Almira pergi dari kehidupan sensara itu.Hingga ia menjadi sosoknya yang sekarang ini, sosok yang begitu takut pada kegelapan, padahal ia selalu. berada dikegelapan saat itu.Dimana ayahnya selalu memukulnya ketika menyalakan sebuah lampu, karna ia tidak ingin mengeluarkan uang sepeserpun untuk Almira."Kau kenapa melamun?"ucap seorang pria seusia dengan Almira,dia Arnio.Almira tersenyum melihat Arnio, dan Arnio memeluk dan mencium puncak kepalanya."Kamu masih memikirkan hal itu?""Tidak, aku sedang berusaha melupakannya, tapj mengapa aku tidak bisa melupakan semua itu Ar?! Sungguh aku ingin melupakannya"ucap Almira sambil memeluk Arnio dengan air mata yang sudah mengalir deras dikelopak matanya."Tidak apa apa Mira,menangis lah jika kau ingin, karna pundakku akan selalu ada untuk melindungimu""Hiks aku ingin melupakannya Arnio aku ingin"ucap Almira dengan lirih"Iya"TDan tampa ia sadair, bahwa ucapannya akan membawanya kepada luka selanjutnya........."Bibi"Almira mengacak ngacak lemarinya mencari barang yang ia cari.Kamarnya sudah seperti kapal pecah karna terus membuka dan menutup lemari lemarinya."Iya non? Non cari apa?"Almira menghela nafas"Bi, Almira mencari jam tangan Almira yang tadi pagi, Almira lupa manruhnya dimana, Almira tidak ingat"ucap Almira dengan frustasi."Maaf non? Tapi apakah itu jam tangan yang non cari?"tanya Bi Maria sambil menunjuk jam tangan yang ada ditangan Almira.Almira melirik sekilas tangannya," Astaga bagaimana aku bisa lupa ?""Oh iya bi makasih"Pukul 9.00 Am indonesia,Almira sedang bersiap untuk berkencan bersama Arnio, dan tak lama setelahnya mobil Arnio pun datang."Selamat pagi sayang""Pagi juga""Dress hijau? Bukankah kau menelfonku untuk memakai kaos biru? Kamu mau kita couple kan?"tanya Arnio dengan bingung."Benarkah? kapan? Aku tidak merasa mengatakannya?"tanya Almira"Hmm tidak apa apa, kamu sangat cantik dengan dres itu"ucap Arnio sambil mengelus pelan rambut Almira.Selama diperjalanan, Almira terus memikirkan sikapnya.ia merasa ada yang aneh dengan dirinya, ia akan memeriksanya nanti.......Almira meneteskan air matanya nelihat sebuah kertas berlogo rumah sakit.Ia mengingat apa kata dokter psikologi yang menanganinya."Jadi keluhan apa yang anda alami?""Saya merasa aneh dengan diri saya dokter, saya kerap kali melupakan hal hal yang sederhana seperti jam tangan saya, atau janji kepada orang lain, bahkan saya merasa kesulitan berkonsentrasi bahkan untuk menggitung belanjaan saya""Hmm ibu Almira, sepertinya dari gejala gejala yang ibu alami, saya merasa anda mengidap penyakit Alzheimer bu"Almira terkejut"Alzheimer?! Bukankah penyakit itu tejadi pada lansia?""Benar sekali bu Almira, tapi Alzheimer ini juga bisa menyerang usia muda seperti anda, mungkin 5% anak muda didunia mengidap penyakit ini""Tapi dok? Mana mungkin?!""Bu Almira, apakah anda memiliki keluarga yang mengidap Alzheimer?,biasanya anak muda yang terkena penyakit ini, memiliki riwayat turunan atau genetik dari keluarganya, saya harap ibu terus mengelilingi diri anda dengan orang yang anda sayangi, dan rajin berkonsultasi agar kita bisa mencegah penyebaranya didalam otak"Mendengar itu, Almira merasa dunianya seakan runtuh, apa yang harus dia lakukan? Bagaimana masa depannya dengan Arnio? Bagaimana perusahaanya? Bagaimana pernikahannya?Pertanyaan itu terus memutar dikepala Almira, hingga puncaknya ia harus mengabaikan Arnio, tidak menjawab pesannya dan tidak menemuinya.Almira ingin Arnio mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya.Bukan perempuan pelupa sepertinya.Menghilangkan Arnio dari fikirannya bukanlah satu hal yang mudah,7 tahun mereka marajut kisah, namun Almira tidak bisa melupakan semua hidupnya tentang ArnioHingga jalan satu satunya, ia harus pergi dari kehidupan Arnio.Almira memutuskan untuk terbang ke Afrika, menuju kota pretoria yang indah. dimana tempat itu selalu menjadi impiannya bersama Arnio.Ia pergi,meninggalkan kota kelahirannya, yang penuh akan luka dan tawa........3 bulan kemudian, disebuah rumah dikota pretoria Almira sedang menatap anak anak yang berada dipanti asuhan sebelah rumahnya."Jadi Samanta kau sedang melukis apa?""Kak Almira? Bukankah kau sudah menanyakan itu 3 kali?, Aku menggambar boneka salju"ucap bocah perempuan berambut ikal"Benarkah Samantha? Sepertinya kakak sedang sakit kepala, jadi agak pelupa, sebaiknya kakak pergi istirahat dulu"Almira masuk kedalam rumahnya, ia membuka ponselnya dan memesan layanan makanan,lalu meletakkan hpnya diatas naskas.Sedetik kemudian"Aku menaruh hpku dimana?"ucap Almira sambil mencari hpnya dikamar dan disetiap sudut ruangan"Astaga, apakah aku menghilangkan hpku?"Melihat keadaan Almira, pria yang sedari tadi mengamati Almira refleks menjatuhkan air matanya, tiga bulan lalu ia berhenti menghampiri Almira sebab Almira menolak keras keberadaanya bahkan meraung raung menyuruhnya pergi.Arnio mengiyakan permintaanya,namun ia selalu mengawasi Almira dari jauh.Hingga keadaan memaksanya untuk kembali ke Indonesia,karna harus mengurus perusahaannya yang bermasalah.setelah sebulan lamanya Arnio kembali lagi ke pretoria untuk melihat Almira.Ia tak menyangka Almira berubah secepat ini.Arnio mengambil handphone Almira dinaskas"Apakah kau mencari ini?"ucap Arnio dengan sedih"Ah iya hpku, dimana kau menemukannya"tanya Almira dengan senang."Kau menyimpannya dinaskas""Ah benarkah, aku melupakannya,tapi kau siapa? Apa aku mengenalmu? Oh iya apakah kau pengantar paket? Tapi aku merasa tidak merasa apapun"ucap Almira dengan lesu.Arnio tidak bisa lagi membendung tangisnya"Aku Arnio Almira, Arnio, calon suamimu"ucap Arnio dengan lirih.Almira tersadar, dan mengingat ingatannya beberapa detik lalu."Arnio?Almira melangkah mundur menghindari Arnio."Aku .. aku melupakanmu Arnio, apa yang sudah kulakukan?! Akh aku melupakanmu"ucap Almira sambil memukul kepalanya dengan keras.Arnio memeluk Almira dengan erat."Tidak apa apa Almira, kamu jangan melukai dirimu sendiri, aku menerimamu apa adanya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, tidak akan pernah"ucap Arnio dengan lirih dan terus memeluk Almira yang memberontak."Tidak Arnio! Aku jahat, aku bodoh telah melupakanmu! Kau harus meninggalkanku, harus!"Arnio tidak akan menuruti permintaan Almira, untuk meninggalkan Almira bahkan sampai mencari wanita lain, baginya Almira adalah segalnya, sumber kehidupannya.Dimana ia dan Almira memiliki kisah yang tidak akan selesai hingga maut memisahkan mereka." Nyatanya kebahagiaan tidak selalu datang untuk selamanya, namun cukup bersamamu, aku bahagia Almira.Tidak ada perempuan sekuat dirimu, bahkan ketika kau melupakan semua hal tentang kita.Tidak apa apa,sungguh aku tidak apa apa, lupakanlah semuanya, aku mengerti bahwa ingatan itu membuatmu sakit setiap mengingatnya, kau berhasil Almira, namun aku menyesal telah menyuruhmu melupakannya, karna pada akhirnya kenangan yang kau lupakan bukanlah semua kenangan tentang masa surammu , namun kau juga melupakan semuanya, bahkan untuk aku sekalipun.Namun aku tidak akan pernah melupakanmu Almira.aku akan terus menjagamu seperti janjiku"batin Arnio sambil terus merengkuh tubuh AlmiraPov AlmiraArnio, pria kesayanganku, aku minta maaf jikasanya aku harus pergi meninggalkanmu. Karna 7 tahun itu akan menjadi sebuah cerita yang sangat ingin kukenang . Aku mungkin terlalu senang akan 7 tahun dihidupku yang hidup dengan suatu kebebasan. Dan pastinya bersamamu. Namun kau tau? Tuhan mengabukan doaku, untuk menghapus seluruh ingatanku. Jikalau pada akhirnya aku melupakan semua cerita ini, bahkan namamu. Aku mohon carilah wanita lain yang akan membuatmu bahagia, walau kutahu kau tidak akan mau, tapi aku menginginkannya Arnio. Aku menginginkanmu bahagia. Tidak apa kalau kau belum mau meninggalkanku, tapi aku mohon, setelah mataku terpejam untuk selamanya, carilah wanita yang dapat membahagiakanmu. Love you for eyes my lover.

Warna untuk Kanfaz
Teen
17 Dec 2025

Warna untuk Kanfaz

Jangan biarkan ku pulangKe rumah yang bukan engkauMendengar lirik itu, seorang pria berkemeja putih menghembuskan nafas pelan, sungguh lagu kau rumahku, sangat begitu indah ditelinganya.Lagu ciptaan Raissa anggiani memberikan seni yang begitu menusuk indah ditelinganya.Iyah, dia pria pencinta seni, panggil saja dia Satria. Tidak ada hal yang menarik didunianya. kecuali semua tentang seni.Satria tak seperti anak seni lainnya, yang mudah berbaur dan sangat humble kepada orang orang, ia lebih cederung menarik diri keramaian.tapi Satria bukanlah pendiam, bukan pula orang yang cuek, ia hanya ingin dunianya sendiri. Tampa orang lain tentunya.Bagi Satria, kedatangan orang lain sama seperti mengantarnya kepada kesedihan. Ia cukup sekali mengalaminya,dan ia tak mau lagi.Ditengah asiknya Satria mendengarkan sebuah musik, tiba tiba sebuah bola basket melesat tepat disampingnya, ia menoleh sedikit kearah lapangan, dan melihat segerombolan anak basket yang sedang meneriakinya untuk mengambil bolanya.Namun ia hanya cuek, ia lebih memilih mengabaikan bolanya, dan lebih memilih mendengarkan lagu.Tapi tiba tiba suara anak basket itu terdengar sangat nyaring ditelinga Satria. Suara itu bahkan melebihi volume dimusiknya"Kanfazarina! Woi! Zarina!Satria mengalihkan pandangannya kepada seseorang yang bernama Kanfazarina atau Zarina itu.Satria cukup terkejut, bukan karna penampilannya, tapi karna ekspresi gadis itu.Sangat datar, dan terlihat kosong, persis seperti sebuah patung yang berjalan, gadis itu mengambil bola disamping Satria dan langsung melemparkannya kearah anak basket itu.Setelahnya, ia pergi tampa menjawab apapun ucapan terima kasih anak basket itu.Namanya Kanfazarina ya?. Tampa bertanya pun Satria tau, bahwa perempuan yang baru saja pergi dari hadapannya adalah anak olahraga.Sekolahnya adalah sekolah full ekstrakurikuler. Tidak seperti sekolah lain, yang mencakup banyak hal tentang mata pelajaran, sekolahnya hanya untuk siswa yang ingin menekuni satu hal, contohnya seperti Satria yang menyukai seni lukis. dan darinya itu, ia masuk sekolah seni.Sedangkan wanita yang bernama Kanfazarina adalah anak olahraga, gedung olahraganya tepat berada disamping gedung seni.Entah kenapa melihat Kanfazarina, Satria jadi merasakan hal yang berbeda, ia seperti memiliki tantangan untuk dirinya sendiri, bagaimana wajah Kanfazarina jika tersenyum? Pasti sangat cantik,saat ini, Ia terlihat seperti manusia yang tak memiliki ekspresi, dan entah kenapa Satria ingin sekali mengubah ekspresi itu.Kanfazarina namanya, tapi Satria merasa itu sangat panjang, jadi bolekah Satria memanggilnya dengan sebutan kanfaz?.Karna,defenisi kanfaz sepertinya sangat cocok untuk menggambarkan Kanfazarina, ekspresinya persis seperti sebuah kanvas yang belum diberikan warna untuk jadi hidup.Dan Satria ingin memberikan warna kepada Kanfas.Tapi, entah dimana Satria akan memulai, ia masih kekurangan pengalaman untuk menjadi dekat dengan orang lain, mendekati kanfaz seperti menjadi teka teki yang sangat sulit untuk menemukan kuncinya. Entah kenapa.Sesulit itu untuk memberikan warna kepada kanfaz.Satria dan kanfaz adalah manusia spesies sama, bukannya memudahkan untuk saling mendekat, hal itu malah membuatnya semakin sulit.Sialnya kesamaan mereka adalah tidak ingin berbaur pada orang lain, sehingga Satria bagi kanfaz terdefenisi sebagai orang lain, dan sepertinya Itu juga berlaku untuk Satria.Entah kenapa tidak ada sebuah pertemuan, atau ketidaksengajaan yang bisa mempertemukan mereka berdua.kanfaz dengan kesendiriannya dan Satria dengan keterdiamannya.Satria frustasi, karna hanya bisa melihat kanfaz dari jauh, ia bahkan berulang kali memilih untuk menyerah, namun entah kenapa, ia juga punya tekad yang besar untuk tetap mewarnai kanfaz.Hingga Suatu ketika, Satria pergi keperpustakaan sekolah, ia memilih tempat itu, karna tidak bisa melihat kanfaz hari ini. Entah kemana gadis itu pergi, namun Satria tidak bisa melihatnya dimanapun.Biasanya Satria bisa melihat kanfaz dilapangan, anak olahraga memang selalu diluar ruangan, kecuali dengan materi tertentu yang memang semestinya dilakukan didalam ruangan.Ia mengamati deretan buku yang tersusun rapi disetiap rak, Satria sempat kebingungan memilih buku yang mana, tapi akhirnya, pilihannya jatuh kepada sebuah buku yang covernya bertemakan senja,ia menariknya, dan tampa diduga, buku disebelahnya juga ikut tertarik dari tempatnya.Mata Satria otomatis terkunci pada netra yang mengambil sebuah buku berjudul gemini caracters.Bayangkan betapa ia terkejut, melihat netra itu,gadis yang hari ini membuatnya tidak bersemangat, kini tepat berada didapannya, hanya terhalang sebuah rak dengan deretan buku panjang .Satria tersenyum kikuk, kepada Kanfaz, namun kanfaz hanya meliriknya tampa senyuman, itulah mengapa Kanfaz sangat cocok dengan namanya. Sangat dingin dan sulit untuk ditebak.Kanfazpun memilih duduk dimeja perpustakaanDan entah kenapa, Satria mulai memiliki keinginan untuk mendekat, ia berjalan kearah meja disamping kanfaz, namun kanfaz hanya diam dan tak meliriknya sama sekali.Satria kebingungan sekarang, apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu? Haruska ia menyapa dengan semangat?ataukah mengajak kanfazarina berkenalan?Akh ia bingung dengan pikirannya sendiri, manusia bodoh!Namun ditengah kefrustasianya,netra Satria di alihkan oleh sebuah buku yang berjudul gemini caracters yang sedang dibaca oleh Kanfaz.Ia melirik kanfaz yang terlihat begitu serius"Gemini caracters?"tanya Satria membuat Kanfaz menoleh kepadanya."Kenapa?""Kamu gemini?"tanya Satria, namun Kanfaz hanya menoleh sesaat, dan memilih mengabaikan Satria.Satria menghela nafas melihat sifat Kanfazarina, sangat cuek, bahkan sangat dingin."Hmm, kalau memang benar, kayaknya gemini kurang cocok denganmu"ucap Satria dan mampu mengalihkan atensi Kanfaz."Jangan sok tahu"ucap Kanfaz lalu beralih kembali pada bukunya."Kamu cocoknya jadi Zodiak yang dingin, Cancer"ucap Satria membuat Kanfaz menghela nafas."Kamu bukan tuhan"ucap kanfaz lalu berdiri meninggalkan Satria.Satria tersenyum, ternyata selain dingin,Kanfaz juga emosional.Namun bukannya, takut Satria makin merasa kanfaz semakin menarik dimatanya.Satria terkekeh dan mengikuti Kanfaz, perempuan itu berjalan menuju uks sekolah, entah gadis itu sedang sakit atau kenapa, namun Satria hanya mengikutinya.Ia mengikuti Kanfaz, layaknya seorang anak itik yang mengekor pada induknya, Satria bahkan mengikuti setiap langkah kaki yang diinjak oleh Kanfaz."Hal itu membuat Kanfaz menghela nafas, saat sampai didepan uks, ia mulai membuka suaraKamu mau apa?"tanya Kanfaz dengan mata yang memicing.Satria hanya menampakan deretan giginya."Aku mau apa? Emm banyak sih, aku mau ke swiss,mau ke paris, mau mobil BMW mau-"ucap Satria terpotong oleh Kanfaz."Kenapa ngikutin aku?"tanya kanfaz dengan nada datar."Nggak, aku nggak ngikutin kamu, aku emang lagi mau ke uks aja"ucap Satria membuat Kanfaz menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan."Yaudah terserah kamu"ucap kanfaz, lalu merebahkan tubuhnya dimatras uks.Melihat itu,Satria pun ikut merebahkan badannya dimatras sebelah Kanfaz, hingga akhirnya mereka tidur saling bertatapan.Satria terus memperlihatkan senyuman manis yang jarang diperlihatkannya kepada orang lain.Sedangkan Kanfaz hanya menatapnya dengan wajah datar.Satria terus saja mengoceh didepan kanfaz, dan itu membuat kanfaz jengah dengan tingkah Satria.Ia bangun dari tidurnya lalu menarik tirai untuk memberi pembatas pada Satria."Berisik!"Mengapa pria ini sangat menyebalkan, ia bahkan tidak mengenal pria didepannya namun mengapa ia sok kenal sekali?"Kanfazarina?"panggil Satria"Namamu kanfazarina bukan? Aku lupa memperkenalkan diri, namaku Satria ak-"ucap Satria terpotong oleh suara kanfaz"Aku tidak peduli"ucap Kanfaz diseberang tirai."Tidak apa apa, aku sudah menebaknya, yang jelas aku ingin berteman denganmu kanfaz"ucap Satria dengan kekeh."Kanfaz? Namaku Zarina Kanfazarina bukan kanfaz"ucap Kanfaz membuat Satria terkekeh."Aku tau,Itu nama pemberian dari ku dan kau tidak boleh membiarkan orang lain memanggilmu dengan nama itu""Ck, siapa kau yang berhak mengaturku?"tanya Kanfaz.Satria maju kearah brankar Kanfazarina, ia mendekatkan wajahnya hingga nyaris menyentuh hidung Kanfaz.Ia tersenyum, lalu mengacak pelan rambut Kanfaz"Aku orang yang akan mengubah hidupmu yang datar, dan aku akan mewarnaimu Kanfaz bersiaplah"

Sosokmu Anggara
Teen
17 Dec 2025

Sosokmu Anggara

Selasa!Kamis!Sabtu!Ada apa dengan hari itu? Itu hari biasa bukan, namun anehnya ia menjadi luar biasa karna kamu.Iya kamu, seseorang yang hanya bisa kukagumi dalam netraku, tapi tidak pada bibirku.Ia masih tak cukup berani, atau mungkin tak pernah berani.Apakah kamu sadar? Atau tidak? Atau berpura pura tak sadar? Entahlah aku tidak peduli, yang jelas nampakmu dapat terlihat dimataku,Mungkin tidak akan jadi hal yang romantis.Namun aneh, cerita ini, bahkan bukan kisah yang panjang,namun ia singkat tapi berkesan.Bagaimana kau mengartikan ku? Si pengagum rahasia? Ataukah lebih kasarnya sipenguntit?Maaf tapi dua duanya bukanlah aku. aku hanya aku, yang tak sengaja tertarik padamuOh ya aapakah aku berbelit belit?Baiklah baiklah, intinya ini tentangnya yang pernah singgah.pertama tama, biarkan aku memperkanalkan sosoknya pada kalian.Dia itu cowok populer, eh tapi nggak juga sih, gimana yah? sedang sedang tapi nggak sedang banget, emm gimana ngejelasinnya? Akh pokoknya seperti itu.Pertemuan pertama kami memang sangat klasik, persis seperti cerita novel novel pada umumnya. Namun percayalah ini bukan fiksi, namun cerita yang memang pernah ada.Pertemuan pertama kami, dimulai di SMPN Indah Jaya, sekolah di desa yang kecil dan jauh dari kota,aku lupa tepatnya kapan, tanggal berapa, ataupun hari apa, aku benar benar tidak ingat, yang jelas, itu dibulan Desember dihari porseni.Sosoknya bernama Anggara, pria yang telah memberiku kesempatan untuk memiliki kisah cinta seperti anak remaja pada umumnya.Awalnya aku hidup dengan biasa saja, tidak senang dan tidak sedih, lebih tepatnya hampa, tidak ada yang spesial, mungkin karna aku muak dengan hidupku sedari dulu, hingga aku bertemu sosoknya.Anggara .Kami bertemu dilapangan Volly, karna kebetulan dia menjadi pemain inti untuk mewakili kelasnya,awalnya aku tak pernah berniat untuk menonton pertandingan seperti itu,lagipula aku tak mengenal banyak orang disana.Hingga temanku yang bernama Indah mengajakku untuk menontonnya, oh iya,kebetulan, dia adalah sosok manusia pencinta cowo tampan, atau bahasa gaulnya Cogan, dan Anggara masuk dalam listnya.Aku berjalan dengan ekspresi tak minat" aish kenapa juga aku harus mengikuti indah kemari ?"batinku saat melihat banyaknya siswa yang berkumpul dilapangan itu.Oh ayolah, ini adalah sesuatu yang paling kubenci yaitu"keramaian"Oh iya aku hampir lupa memperkenalkan diri,namaku Arenaya Anara Putri, kalian bisa menyebutku Ami, ataupun Am walaupun nama panggilanku meleset dari nama asliku, tapi tak apa, kalian bisa memanggilku apa saja,itu terserah kalian.Sedikit informasi, aku seorang introvet sejati, dan hal seperti ini, adalah hal yang paling kubenci.Tatapan orang kepadaku, kebisingan dan masih banyak lagi.Aku hanya menunduk sedari tadi, nyatanya banyak senior yang mulai mencibir kearahku dan Indah, namun entah kenapa, indah tak peduli sama sekali, ia hanya sibuk berteriak menyebut nama kelas 11 saat itu."Kenapa aku yang malu melihat tingkahnya?"ucapku heran dan terus menunduk, hingga tanpa sadar sebuah bola langsung menggelinding disampingku, tepat disampingku, aku melirik sekilas bola itu.Aku ingin mengambilnya, namun aku tak berani, lagipula bolanya juga sudah diambil, lalu aku memberanikan diri melihat seorang pria yang membawa bolanya, namun anehnya mataku terkunci pada satu netra, yang juga menatap kearahku.Aneh, kenapa ia menatap kearahku,dan hal itu membuat getaran aneh muncul didadaku,Apa ini, mengapa matanya seperti memiliki magnet?.Aku berusaha keras untuk mengalihkan pandanganku namun anehnya tubuh ini menolak, aku merasa manusia manusia disamping kami menghilang begitu saja, dan tersisa hanya aku dan dia.Hingga pemain lain mengagetkan dia,dan akupun refleks memutuskan kontak mata kita"Anggara Lo kenapa bengong? Ayo main!" Ucap temannya membuatnya tersadar mengangguk singkatJadi namanya Anggara?........Setelah hari itu, sosok Anggara membuatku merasakan satu hal yang sebenarnya sangat kubenci, bagaimana aku bisa jatuh cinta dengannya sedangkan aku sangat membenci cinta.Sungguh aku tak ingin mencintai jika harus seperti ibu dan ayah.Hidup mereka memberikan trauma besar kepadaku,walau bukan aku yang merasakannya.Namun entah kenapa, rasa benci terhadap cinta itu seakan menghilang jika aku melihat sosok Anggara disekolah.Ia mengalihkan pikiranku terus menerus. Dan secara tak sadar, aku mulai mengindahkan Anggara. Ketika banyak hal hal konyol yang dilakukannya, justru itu terlihat sangat indah dimataku.Aneh, jika temanku tau, mungkin mereka akan bertanya apa yang kau sukai dari sikap konyolnya itu? Tak ada hal menarik darinya, jadi apa yang membuatku menyukainya?Entahlah, anehnya akupun tidak tau, tapi, hal buruk darinya justru terlihat sangat indah dimataku. Aneh memang, kurasa aku akan gila karnanya, namun ini nenyenangkan..Aku yang dahulunya merasa bahwa setiap hari sangat membosankan,justru beralih bahwa selasa, kamis dan sabtu adalah hal yang paling kutunggu.Karna dihari itu, aku bisa menatapnya setiap saat.Hari hari mulai berlalu, aku merasa setiap detik, cintaku bertambah padanya, ketika pergi dan pulang kesekolah,kami selalu berpas pasan dibawah pohon mangga yang berderet rapi disetiap jalan.Walaupun tidak langsung, aku berjalan kaki dan dia menaiki motornya.Entah kenapa ia terus melambatkan motornya dibelakangku, padahal teman temannya sudah saling balap menuju sekolah.Ia membuat adiknya kesal, karna motornya yang begitu lambat, sampai sampai aku bisa mendengar celotehannya.Namun aku tak mau terlalu pd dengannya, cukup menjadi kisahku saja, aku hanya ingin mengaguminya.Namun, setiap kali aku berusaha untuk tidak pd, ia selalu membuatku merasa benar akan dugaanku caranya menatapku, caranya tersenyum padaku. Semua hal itu yang membutku bimbang untuk tak percaya padanya.Aku selalu bertanya, kenapa disaat kami kelas 7 sedang olahraga, ia selalu bolos dan nongkrong dimotor, sambil melirik kami?.Sungguh aku tidak mau Baper padanya, aku takut jika bertepuk sebelah tangan.Namun kenapa ia selalu memberikanku hal hal manis, walau bukan dengan ucapan?Seperti dia yang memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan, dia yang tersenyum begitu tulus kepadaku, dia yang selalu ingin berada dibarisan dekatku pas upacara, dia yang mengintip kelas kami, sampai kepalanya harus terbentur segala.Aneh, aku tak mau mempercayainya, namun ini benar benar membuat perasaanku makin tinggi padanya.Dan sepertinya iya, hal yang kutakutkan selama ini terjadi juga, aku sadar cintaku bertepuk sebelah tangan, tiba tiba saja aku mendengar kabar bahwa, Anggara berpacaran dengan teman sekelasnya, bertepatan dengan 2 orang sahabatnya, dan sepertinya meraka akan trible date?Akhh, kenapa Anggara membuat hatiku bimbang seperti ini? Apakah pada akhirnya aku yang bersalah?Aku yang selalu terbawa perasaan padanya?Kalau memang iya, aku benar benar kecewa pada diriku sendiri.Harusnya sedari awal, aku tak belajar untuk mengerti sebuah cinta, karna pada akhirnya cinta itu akan berakhir dengan sendirinya.Sial,ini membuatku pusing, dan sejak hari itu pula, aku memilih berhenti, aki tak lagi menatap manik mata indah itu jika berpas pasan, aku tak akan tersenyum padanya, aku tak akan mencari media sosialnya,Aku tak akan mencari apapun tentangnya lagi.Karna memang sedari awal, kita hanyalah orang yang tak saling mengenal, aku tau bahwa aku tak punya hak,untuk memilih pasangan Anggara, karna kalaupun punya, mungkin aku akan memilih diriku sendiri.Aku bahkan tidak tau, Anggara mengetahui namaku atau tidak?Dan sialnya aku malah berhayal bahwa ia juga menyukaiku.Bangunlah Ami! Aku akan mulai membencinya, tidakah cara terbaik melupakan seseorang adalah membencinya? Iya aku akan melakukannya.Namun setelah kulakukan, aku menjadi mengerti akan satu hal.ini adalah fase paling rumit dalam mencintai, yaitu berusaha melupakannya.Mungkin terdengar singkat dan sepele, namun percayalah melupakan itu adalah hal yang punya beribu alasan untuk menjadi sulit.Entah bagaimana hati dan fikiran kita tak bekerja sama, ketika hatiku mantap untuk melupakannya namun aku masih selalu mencari Media sosialnya, menatapnya dari jauh, bahkan mencarinya saat upacara.Satu hal yang kutanyakan pada diriku kenapa ?Kenapa aku seperti ini?Apakah melupakannya adalah hal yang sesulit itu?.....................Setelah sekian lama, waktuku kuhabiskan untuk melupakannya, dan saat kufikir aku telah berhasil, ia malah merusak tembok kokoh yang sudah kubangun begitu saja dengan mudah.Saat kufikir ketika dia lulus, aku tak melihatnya lagi, namun bagaimana bisa aku dipertemukan kembali dengannya.Aku lupa bahwa ia memiliki adik yaitu juniorku.Waktu itu, kami disuruh ke fotocopy Azera untuk mencetak foto kami untuk raport, jadi mau tak mau seluruh anak sekolah harus kesana.Namun ditengah perjalanan ban motor teman yang memboncengku harus meletus ditengah jalan, jadi mereka harus membawanya kebengkel.Aku menatap langit dengan tatapan bosan, hpku mati, ban motor kempes, dan aku harus duduk sendirian disini.Sangat sial!Hingga netraku tak sengaja menangkap sosok ibu ibu yang berjalan kearahku.akh bukan tepatnya kepada pemilik warung yang kutempati singgah, aku tercengang ibu ibu ini ternyata kembar,aku yakin aku tak dapat membedakannya.Aku bersyukur bahwa ibu ibu itu sangat ramah, dan aku bru tau bahwa ia mengenal kakek dan nenekku, aku pun mengobrol singkat dengan mereka.Hingga suara yang begitu kukenang terdengar sangat nyata ditelingaku."Ma"Dia Anggara, sosok yang membuatku belajar mencintai dan terluka secara bersamaan.Ia membiarkan adiknya berbicara kepada mamanya, sedangkan aku dan Anggara hanya saling menatap dan tersenyum,sangat manis, seolah ada segudang kerinduan yang terpancar sangat jelas dimatanya, akupun sama,Aku sangat merindukannya.Saat kami berada difotocopy Azera, ia sama sekali tak melepaskan aku dalam netranya, ada apa sebenarnya dengannya? Ia menatapku seolah mencintaiku, namun ia tak pernah mau mendekatiku.Dan tampa aku sadari, foto yang kucetak untuk raport ku, menjadi kenangan paling indah yang pernah kudapatkan bersamanya, ketika kami tak ingin saling berpisah, namun kami juga tak bisa mengungkapkannya.Foto itu selalu mengingatkanku pada AnggaraAku merasa ini pertemuan terakhir kita untuk selama lamanya, kisah cinta kita akan usai dengan sendirinya.Pada akhirnya, aku dan Anggara tak mau mendekat dan akhirnya pula kita akan menjauh.Kita mempunyai kisah yang tak diselesaikan, ia berakhir tanpa pengenalan.Dan entah kapan aku bisa melihat Anggara kembali, karna 5 tahun lalu, adalah kisah terakhir yang kuukir bersamanya, dan kuharap Anggara bisa bahagia dengan hidupnya.Aku sedikit berharap, dan menyesal secara bersamaan, bahwa aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya, dan aku ingin dia menjawab pertanyaanku selama ini?Tentang apa maksud dari semuanya?Dari netranya, aku melihat banyak binar cinta untukku, namun ia tak mau mengungkapkannya.Aku hanya penasaran Anggara, dan aku berharap kau mejawab rasa penasaranku dengan sosokmu.Karna jika boleh jujur, rasa itu masih ada, walau sudah 5 tahun berlalu namun ia tak tenang, karna kamu tak pernah menjawab pertanyaan nya.Anggara membuat hatiku terus terkunci dengan ribuan pertanyaan untuknya.Sosok Anggara masih menjadi teka teki sekarang

Pelangi
Teen
17 Dec 2025

Pelangi

Aku Alaangi Andrea Hirata, aku biasa dipanggil pelangi.Katanya sih,hidupku akan secerah pelangi,namun aku rasa tidak.Hari ini, hari pengumuman hasil nilai ulangan harian kemarin,aku belajar dengan sangat keras kemarin, karna katanya usaha tak akan pernah mengkhianati hasil.Yang Remedi Hari ini adalah, Reno,Fika, Aroya Lestari,Mahendra Yunata dan terakhir"ucap guruku membuatku menggigit kukuku, berharap bukan aku yang remedi.Alangi Andrea"tambah Guruku membuatku ingin merosot seketika.Percuma rasanya aku belajar, begitu keras saat itu, namun hasilnya selalu nihil.Aku menghela nafas panjang, inilah aku, sibodoh yang punya harapan besar,.......Setelah pulang sekolah, dengan suasana hati yang kurang menyenangkan, aku berjalan menuju Halte bus, namun tiba tiba rintik hujan mulai berjatuhan.Seketika aku tersenyum, bukankah tuhan baik? Tuhan tau aku suka hujan, dan ketika kecewa menghampiriku, hujan selalu datang menemaniku.Alih alih, berteduh dihalte, aku memilih berjalan menuju rumahku, dengan tetesan air yang menerpa wajahku begitu saja.Banyak orang yang heran melihatku, bahkan tak banyak dari mereka yang menyuruhku berteduh dihalte, namun aku menolak,Setelah perjalanan singkat, aku melanjutkan langkahku dengan berlari, diiringi oleh Teriakanku dan menari ditengah hujan berputar putar dengan begitu menyenangkannya.Akh!! Kenapa aku Remedi?!Padahal aku sudah belajar dengan keras!! Tuhan tidakah kau adil?!"teriakku seraya mengeluarkan unek unekku.Tampa sadar, aku telah sampai didepan rumah, rumah yang sederhana, dan terlihat sangat hidup,aku tersenyum saat itu, namun bersamaan dengan air mataku yang luruh.Apa aku semengecewakan ini?Memantapkan hatiku, aku mulai masuk kedalam rumah,aku menghapus derai air mataku dan mulai membuka pintu.Kulihat seseorang wanita berumur renta, menghampiriku dengan wajah yang khawatir.Dia nenekku, yang sedang tergopoh menghampiriku, dengan ribuan kekhawatiran yang tercetak jelas diwajahnya.Tampa permisi, aku langsung memeluknya, aku berkata lirih dalam hati.Nenek aku gagal lagi, lagi setelah ribuan ka li"namun itu hanya kuucap dalam batinkuPelangi kenapa kehujanan?"tanya nenek dengan khawatir.Tidak apa apa nek, sudah terlanjur basah tadi, jadi aku langsung lari aja"jawabku menenangkan nenek.Ya sudah, kamu naik saja diatas, ganti baju, lalu mandi"ucap nenek dan aku menganggukinya.Aku tak langsung naik kekamarku diatas, karna aku sadar bahwa nenekku kedatangan tamu, aku sedikit penasaran, lalu aku mengintip sedikit diujung pintu." Oh ternyata yang datang adalah omku". Saudara ibu .Aku melanjutkan kembali langkahku, namun aku seketika berhenti kala mendengar ucapan samar dari omku.Ngapain sih bu,maksa diri buat ngurusin Pelangi? Diakan punya ibu sama ayah, suruh aja dia ikut sama ayah dan ibunya"ucap omku membuat air mataku seketika luruh.Aku berlari naik ke kamarku,Inilah hal yang paling kubenci dari semuanya, aku memang memiliki ayah dan ibu, namun mereka sama sekali tak peduli denganku.Hanya nenek yang kupunya didunia ini.Hanya dia, satu satunya manusia, yang punya hati baik untuk merawatkuEsok harinya .Aku berangkat menuju sekolah, namun baru satu langkah keluar dari rumah.Aku mendengar suara jatuh dari dalam.Aku langsung panik,Nenek !Aku masuk kedalam rumah, dan kulihat neneku yang sedang berbaring tak berdaya diruang tamu.Air mataku kembali luruh, aku panik, aku segera menelfon omku dan memanggil tetangga untuk membantuku.Nenekku dilarikan kerumah sakit, dan aku selalu setia menggenggam tangannya.Tangan yang sudah keriput dan sangat tipis.Aku merasa kehilangan banyak waktu dengan sia sia.Aku tak marah ketika omku menyalahkanku atas apa yang dialami nenek. Aku sadar bahwa aku terlahir hanya untuk menjadi pengacau.Aku berlalu menuju masjid rumah sakit, aku sholat dengan sangat khusyuk .Sesekali air mataku jatuh saat aku bersujud diatas sajadah.Aku berdoa, dan memohon kepada tuhan, untuk memberikan nenekku kesembuhan.Berharap tuhan memberiku banyak waktu, agar aku bisa membahagiakan nenek disisa hidupnya.Aku sangat takut, nenek kenapa napa.Karna aku merasa tidak layak hidup jika aku hanya terus mengecewakan nenek.Aku kembali keruang rawat nenek.Aku kembali menggenggap tangannya.Dan berucap lirih."Nenek harus kuat untuk pelangi"Aku menghapus air mataku kala mendengar suara dering ponselku.Halo?"Ini siapa?"tanyaku heran karna aku memang tak mengenal siapa orang yang menelfon saat ini.Saya, Admin Gramedia pustaka Raya,saya ingin meminta persetujuan anda untuk menerbitkan buku anda yang berjudul" The world Life "ucap seseorang dari seberang telfon.Tentu saja aku kaget mendengarnya.Oh iya aku memang hobi menulis sejak SMA. Tapi aku tak pernah berfikir bahwa Novelku akan dilirik oleh Penerbit.Tampa menunggu lama,aku langsung menyetujui penerbit itu, kalau hal ini yang akan jadi jalanku menuju kesuksesan, maka aku akan mengikutinya.

Langit Bumi Telah Lenyap
Teen
17 Dec 2025

Langit Bumi Telah Lenyap

Namaku langit Andara mahesa, biasa dipanggil Langit.Bagus bukan? Itu nama pemberian ibu, kata ibu, dia ingin aku menjadi seperti langit yang akan terus terang dan tak akan redup dimalam dan siang hari.Oh iya, aku mempunyai penyakit leukimia sedari kecil, suatu keberuntungan sebenarnya aku bisa hidup sampai sekarang.aku mengidap penyakit ini ketika usiaku 1 tahun, lalu aku masih bertahan hingga 15 tahun hidupku.Terkadang, aku merasa lelah dengan penyakitku, aku ingin bermain bersama teman teman, ingin kesekolah, namun hidupku terbatas didalam rumah.Aku homeschooling kembali 2 bulan lalu, karna penyakitku drop , dan mengharuskan aku dirawat dirumah sakit.Akh, aku benci seperti ini, aku harus rajin kemoterapi, tapi sayangnya rambutku harus berjatuhan kemana mana.Itu membuatku tidak pd, kelly tidak akan suka padaku, jika aku botak, itu sebabnya aku akan kesekolah, hingga rambutku tumbuh kembali.Hari ini, aku akan menjalani Terapi radiasi atau radioterapi , aku tak tau itu apa, otakku belum sampai ketahap itu, yang jelasnya aku harus berobat.Itu saja.Aku bersemangat menjalani pengobatan ini, karna ibu bilang setelah ini, aku akan masuk sekolah kembali.Anggap saja ibu menyogokku untuk terapi, karna aku awalnya memang tidak mau melakukan terapi ini.Aku terkadang sedih melihat ibu, dia selalu menangis diam diam,untungnya ada ayah yang menenangkannya.......Dan hari ini tiba, hari dimana aku akan bersekolah kembali, aku tak sabar bertemu Kelly.Langitt!!" Panggil Kelly dari jauh sambil melambai padaku, aku pun menghampirinya dengan segera.Akhirnya bisa sekolah lagi"ucapku pada Kelly, sedangkan Kelly hanya mengangguk.Iya, akhirnya aku punya teman cerita lagi"ucap Kelley sambil mengajakku berjalan ke kelas, Kelly memang selalu bercerita hak apapun padaku, sangat random.Oh iya, aku abis nonton loh, film Dilan"ucap Kelly kepadakuDilan? Siapa Dilan?"Kamu tak tau? Dilan itu emm pacarnya Milea ahk aku nggak tau jelasin pokonya Dilan itu peramal yang tampan"ucap Kelly sambil tersenyum membayangkan sosok dilan.Peramal ?Mendengar kata peramal, suatu ide langsung terlintas difikiranku.Bisakah aku meramal sepertinya?Dan apakah ramalanku akan nyata?Kebetulan, aku baru saja membaca sebuah buku yang berjudul " Astronomi world" buku yang diciptakan oleh penulis terkenal bernama Handryson Taldwin.Dibuku itu, ia menjelaskan bahwa Langit akan Runtuh, tapi tak dijelaskan secara rinci kapan waktunya.Seolah masih menjadi pertanyaan, dan masih belum menemukan jawabannya.Bagaimana kalau aku yang mencari jawabannya?Namun, bagaimana caranya?aku bukan peneliti, aku hanyalah siswa smp biasa yang terbatas pengetahuannya.Untung saja cerita Kelly memberiku suatu ide,okeHari ini aku akan menjadi Dilan sang peramal, ah bukan! Lebih tepatnya Langit sang peramal.Hihi aku tertawa mendengar diriku sendiri, sangat konyol, meramal sesuatu yang tak tau apakah akan nyata kebenarannya atau tidak.Tapi tak apalah, namanya juga meramal, masih menduga hal hal yang belum pasti.Oke aku mulai dari mana?Emm hari initanggal 05 September 2021Singkat saja yah, ini pertamaku berprofesi sebagai langit sang peramal hihi.Oh iya dimana kita memulainya, oke, langit bumi akan lenyap, pada tanggal 05 November 2021..........Setelah hal yang ku ramal pada tanggal 5 hari itu, ternyata tidak benar adanya, ini sudah tanggal 8 November, namun tak ada tanda tanda langit akan runtuh dimanapun.Aku menghela nafas, terus mulai menulis kembali dibuku harianku yangkuberi judul Langit bumi Telah lenyap.19 September 2021kegagalan satu kali,tak akan membuatku menyerah begitu saja. Benarkan?Mungkin saja jika ramalanku berhasil, aku akan mendapatkan penghargaan, ah iya aku lupa, jika langit telah lenyap maka bumi pun akan berakhir .27November 2021Hari ini, aku dilarikan kembali kerumah sakit, aku tiba tiba pingsan disekolah, entahlah.Padahal awalnya aku hanya sedang bercanda dengan Kelly, namun tiba tiba darah keluar dari hidungku,seketika pandanganku langsung menggelap, menyebalkan,Aku harus home schooling kembali harus cuci darah kembali, dan seperti biasa rambutku akan rontok kembali.Aku menatap malas obat yang diberikan ibu padaku, aku lelah meminum itu, sebenarnya, untuk apa aku harus meminum obat ini? Bukankah langit akan akan lenyap? Itu artinya bumi tak akan lama, jadi untuk apa aku harus meminum obat obatan ini? Dan menjalani pengobatan yang merontokkan rambutku?.Ibu membujukku untuk meminum obat,Namun aku hanya menjawabnya dengan pertanyaan.Ibu, jika langit akan lenyap, apa yang akan terjadi pada ibu?"tanyaku pada ibu, awalnya ibu menyerengit heran.Emm, kalau langit lenyap, maka ibu akan memeluk langit anak ibu saat ini, bukan hanya bumi yang punya langit, tapi ibu juga punya langit indah sepertimu nak"ucap ibu diiringi dengan senyuman.Tapi, bagaimana kalau aku tidak bisa melindungi ibu?"Emm, bagaimana yah, em kita kan punya ayah, maka langit tak perlu melindungi ibu, karna ayah yang akan melindungi ibu dan Langit"ucap Ibu menenangkanku.Akh, iya aku sampai lupa dengan ayah, benar ada ayah yang akan melindungi ibu....1 Desember 2021Tak terasa ini sudah bulan Desember, bulan terakhir dari 2021Nyatanya ramalanku, selama ini tak pernah ada yang benar akan adanya.Namun entahlah aku masih percaya pada ramalankuBagaimana kalau Langit akan lenyap pada tanggal 29 Desember?Aku sangat yakin! Jika tidak berhasil, maka aku akan berhenti meramal.Sudah 3 bulan berlalu, namun ramalanku masih belum menemukan titik temunya,Hari ini, aku harus mengalami kemoterapi kembali, aku sudah lelah sangat lelah, berulang kali aku merengek pada ibu, namun ibu tak pernah mendengarku.Aku menatap malas keluar kaca mobilBanyak hal yang bisa kulihat tentang dunia.Seperti Orang orang yang bekerja, untuk mendapatkan penghasilan, sangat keras, bahkan aku yakin aku tak bisa melakukannya.Juga orang orang yang belajar untuk masa depannya, penjahat yang mencari nafkah walaupun dengan cara yang salah. Dan masih banyak lagi.Jika seandainya, ramalanku benar, orang orang akan merasa kecewa telah bekerja begitu keras dengan hidupnya.Pasti mereka tak akan memikirkan uang lagi, mereka akan melepas beben hidup yang mereka tanggung dan berusaha menyenangkan diri mereka sendiri tampa beban.Gedung gedung akan tutup, kejahatan akan lenyap, dan semua orang akan menuju bahagainya masing-masing.Mereka akan mengungkapkan semua perasaan yang tersembunyi dihati mereka, mau itu kekesalan. Ataupun cinta.Emm sepertinya aku juga akan mengungkapkan perasaanku pada Kelly?29 Desember 2021Ramalanku ternyata salah lagi, untuk terakhir kalinya, aku akan berhenti untuk menjadi Langit sang peramal.Aku akan menikmati hidupku seperti ini saja.Tapi aku akan mengoreksi sedikit pada catatanku, mungkin bukan langit bumi yang akan lenyap, namun Langit yang akan lenyap.Apakah aku akan lenyap?Kalau seandainya aku yang akan lenyap, aku akan berdoa semoga ibu tak akan sedih jika aku telah lenyap, aku ingin ibu bahagia walau tampa Langit disisinya"Rani menangis luruh setelah membaca sebuah buku berjudulkan Langit Bumi Telah Lenyap yang dicoret kata buminya menjadi Langit Telah lenyap.Hari ini, pukul 06.00 Rani ingin membangunkan langit yang sedang tertidur dengan lelap, namun anehnya langit tak bergerak sama sekali, Rani menangis kala suaminya berucap lirih, Langitnya telah tiada.Tubuh langit telah pucat dan kaku, dia meninggal dengan tenang

Melodi
Teen
17 Dec 2025

Melodi

Namaku Dimas Prasetyo Anggara, biasa dipanggil Angga namun orang tuaku memanggilku Dimas.Aku orang yang cukup populer disekolahan, bisa dibilang salah satu Mostwanted sekolah.Aku cukup percaya diri, karna aku memang tampan sejak dini, banyak perempuan yang ingin menjadi kekasihku, namun aku tidak pernah tertarik dengan mereka.Aku orang yang bebas, dan malas terkekang oleh sebuah hubungan.Aku banyak belajar dari temenku yang bernama Reno, ia punya pacar yg namanya Sinta yang rempongnya bikin darah tinggi, terlalu posesive dan Aku merasa ngeri jika punya pacar sepertinya.Hari ini, aku berniat keruang eskul musik untuk mengambil barangku yang tertinggal, sekolah nampak sunyi,karna semua siswa telah pulang kerumah masing masing.Langkahku terhenti, ketika mendengar nada nada piano di ruang musik, itu membuatku penasaran siapa yang bermain piano sore sore begini?Setelah nada nada intro itu, sebuah suara langsung menggetarkan hatiku,Gila, sangat merdu.Bait bait lirik dari lagu "someone like you" yang diciptakan oleh Adele terasa sangat merdu dinyanyikan olehnya, apalagi suaranya yang berirama dipadukan dengan ritme ritme piano yang sangat indah.Perfect"Aku tak tau siapa orang didalam sana, ia menghadap kebelakang, jadi aku hanya dapat melihat punggungnya, juga tangannya yang lihai memainkan note note piano.Gila, ternyata sekolah ini juga punya siswa yang berbakat sepertinya? Namun setahuku, belum ada seseorang yang segitu mahirnya bermain piano seperti gadis didepanku ini.Aku terlalu fokus tekagum kepadanya, hingga tampa sadar nyanyiannya berakhir, didalam sana terdengar gaduh, sepertinya gadis itu ingin pulang?Aku segera pergi keruangan sebelah ruang musik, agar aku tak tertangkap basah mengintipnya bermain.Beberapa menit kemudian, ruangan itu terasa sunyiApakah dia udah pergi?"batinku bertanya tanya, dan perlahan aku memberanikan diri untuk keluar dari persembunyianku.Perlahan, aku masuk kedalam ruang musik, Pianonya sudah rapi kembali, aku menghela nafas pelan,lalu mengambil gelangku yang ketinggalan tadi diruang ituEsoknyaAku celingak celinguk mencari seseorang kemarin, punggung kecil dengan tangan yang cantik.Walaupun mustahil aku bisa menemukannya di banyaknya murid yang bersekolah disini.Namun setidaknya aku ingat postur tubuhnya.Aku menghela nafas, ternyata mencari seseorang itu tidak segampang itu, hingga Rion temanku menghampiriku bersama Reno.Woy, Angga! Cari apa loh? Cari gebetan yah?"goda Reno padaku.Aku langsung menabok kepalanya,Kepo lo!"ucapku sambil melanjutkan aksiku mencari gadis itu, entah kenapa aku begitu ingin tau siapa dia.Cari apasi?"tanya Rion yang mulai penasaran denganku.Mendengar pertanyaan temanku, aku menghela nafas pelan,Lo tau nggak cewe yang jago nyanyi sama main piano disini?"tanyaku pada Rion dan Reno.Rion dan Reno saling pandang,lalu mereka mengindikan bahunya pelan tanda tidak tau."Perasaan disini nggak ada murid yang kayak gitu"ucap Rion dan diangguki oleh Reno.Kenapa si? Lo mau gebet ya?!"tuduh Reno membuatku menghela nafas kembali, dan memilih mengacuhkannya.Dasar lambe turah !" sindirku pada Reno, karna bukan apa apa Reno begitu kepo, Reno ini paling nggak bisa diajak bicara sesuatu yang private, soalnya mulutnya sangat Lambe sekali, semenit dapet informasi 1 jam kemudian seluruh sekolah pada tau.Aku meninggalkan mereka berdua dengan malas, sepertinya aku akan menunggunya kembali keruang musik.Aku naik ke rootof untuk tidur dan mengatur alarmku hingga jam pulang, kebetulan sekali guru guru sedang ada pertemuan sesama guru jadi anak anak disuruh pulang cepat.Pukul 03.00 aku terbangun karna suara dering Alarm.Aku menetralkan fikiranku, agar tidak pusing, lalu kembali turun ke lantai bawah diruang musik.Namun orang yang sedari tadi kutunggu, tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya, hingga suara derap langkah, membuatku menoleh dan langsung bersembunyi dibalik tembok.Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahnya, sangat manis dan cantik, kenapa aku tak pernah melihatnya?Mungkin dia gadis yg tertutup?Dan dari sini aku mulai penasaran siapa namanya? Dari mana dia? Dan masih banyak lagi pertanyaan tentang dia.Aku bersandar ditembok, sembari menikmati note note piano yang disusun dengan indahnya.Kali ini ia memainkan lagu "love your self"Sangat indah dan aku seketika terhanyut dalam alunan musiknya.Hingga beberapa saat keadaan terasa sunyi,apakah dia sudah pulang?"Namun kala aku ingin mengeceknya, langkahku terhenti ketika mendengar ritme piano yang sangat membuatku tercengang.Bagaimana bisa?!Ini lagu Sonata Hammerklavier opus 106 by beethoven, lagu yang sangat sulit untuk dipelajari.Oh my good!Aku semakin penasaran dengan dirinya.Walaupun tidak seluruh lagu dimainkannya, tapi setengah saja sudah membuatku tercengang.Oh perfect girl! Sepertinya dia baru belajar lagu ini, tapi bagaimana bisa?Aku tau banyak hal tentang piano, karna keluargaku berasal dari keluarga musisi, dan pamanku adalah pemain piano yang terkenal.Aku pulang dengan raut wajah yang berseri, bunda bahkan heran melihatku, entahlah perempuan itu menghantui pikiranku.Aku bahkan tak tau namanya,Oh iya, bagaimana kalau dia kupanggil melodi?Bukankah cocok dengannya? Melodi yang mengeluarkan ritme ritme indah pada dirinya yang tersusun rapi, namun tersembunyi keberadaannya?Sangat mengagumkan, aku menyebutnya Melodi.Sungguh, aku ingin berkenalan dengannya, menanyakan banyak hal padanya, mengagumi keindahannya.Melodi...Sejak hari itu, aku mulai mengaguminya diam diam, mengikutinya kemana mana bak seorang stalker, tapi aku tak cukup berani untuk menunjukan diriku padanya,Entah kemana hilangnya kepercayaan diriku yang tinggi itu.Dia satu satunya perempuan yang menenggelamkan percaya diriku begitu saja.Melodi, gadis dengan segala keindahannya yang tertutupi, bak irama yang hanya bisa didengar namun tak bisa dilihat.Dia wanita menarik, dan aku harap dia tak sadar aku selalu melihatnya dari jauh.Hari ini aku kembali melihatnya, bersandar didepan ruang musik, mendengarnya bernyanyi, dan aku selalu merekam nyanyiannya untuk ku dengar, ketika aku sedang rindu kepadanya.Aneh, aku sadar aku telah jatuh cinta padanya, tapi aku bahkan tak tau namanya, aku hanya memanggilnya"melodi"Aku selalu terhanyut ketika mendengar dia bernyanyi, lalu tampa sadar aku memejamkan mataku, menghayati setiap lagunya, hingga tampa sadar musiknya berhenti.Aku membuka mataku perlahan dan kulihat seorang gadis yang selama ini menghantui fikiranku, tentu saja aku terkejut, aku tertangkap basah sekarang,Dan bodohnya layar hp ku masih terus merekam.Bodoh!Kamu siapa?"tanyanya membuat jantungku berdetak cepatLihatlah, suaranya sangat merdu"batinku sambil terus menatapnyaKamu senior kelas 3 yah? Maaf aku pake ruang musiknya"ucapnya dengan nada menyesal, sedangkan aku hanya diam dan tak menjawabnya.Kalau begitu aku pulang dulu yah"ucapnya sambil membungkuk hormat dan melangkah pergi dari hadapanku.Namun refleks tanganku menahan tangannya,Jangan pergi"ucapku membuatnya bingung.Maksudnya?Aku Dimas Prasetyo Anggara, panggil aja Diman atau enggak Angga"ucapku sambil memberikan tanganku untuk diajak kenalan.Ia yang awalnya bingung langsung mengangkat sudut bibirnya tanda tersenyumAku Rania Alexandrani panggil aja Alexa"ucapnya sambil mengambil uluran tanganku.Salam kenal Melodi"ucapku membuat Alexa kembali mengerutkan keningnya.Melodi?"Iya boleh kan aku panggil kamu melodi, kamu mirip banget sama Melodi lagu ada tapi tersembunyi"ucapku membuat Alexa terkekeh.Kamu aneh, kalau gitu aku panggil kamu em Gara? Setidaknya nyambungkan dari pada kamu enggak haha"ucap Alexa membuat aku juga tertawa.Mau main piano bareng?"tanyaku pada AlexaEm bolehEnd

Ayah
Teen
17 Dec 2025

Ayah

Ternyata, memang benar adanya, bahwa penyesalan akan selalu datang diakhiran.Penyesalan yang membuat kita merasa telah gagal untuk hidup yang alurnya tidak akan bisa kembali.Seperti aku contohnya,Kata yang selalu terngiang dihidupku, adalah ketika ayah bilang, semoga kau bahagia dengan jalanmu nak.Iyah, jalan yang kupilih, dan aku sangat menyesal akan itu, tapi,seandainya aku bisa kembali, mungkin aku akan memilih jalan yang sama, namun dengan alur yang berbeda.aku ingin kembali dengan cerita yang berbeda, bilang pada ayah, bahwa maaf atas segala kesalahanku ayah, aku menyayangimu, hanya itu yang ingin kuucapkan pada ayah, namun itu semua tak pernah tewujud hingga ayah berpulang kehadapan tuhanAyah, sosok yang mengajariku banyak hal tentang kehidupan, dan memberiku jawaban tentang hidup yang begitu rumit.Aku benci ayah!"ucapku pada ayah saat itu,aku memang membencinya, karna aku berfikir karna ayah, ibu pergi meninggalkanku.Raya, ayah lakukan ini demi kamu juga, ayah peduli sama kamu Raya"mohon Ayah saat itu kepadaku.Udah, aku mau sekolah ayah,aku capek berdebat sama ayah!"ucapku lalu berlalu begitu saja dihadapan ayah.Disekolah ,Aku berjalan dengan malas,ayah telah merusak moodku saat ini,benar benar rusak.Woy!, Kamu kenapa sih dari tadi cemberut mulu?"tanya Rena yang heran melihatku.Biasa, bertengkar lagi sama ayah"ucapku dengan malas sambil menenggelamkan wajahku dibangkuku.kamu kapan sih mau maafin ayah kamu?, Dia emang salah saat itu,tapi ini semua udah berlalu kan? Memafkan itu nggak buruk kok Ray?"nasehat Rena padaku.Aish itu karna lo nggak ngerti Ren, gimana rasanya jadi gw! Lo nggak bakalan pernah paham"ucapku langsung melangkah keluar kelas dengan sedikit emosi.Aku tidak tau hari ini kenapa begitu menyebalkan, dimulai dari ayah sampai Rena. Mereka membuatku kesal saja.Aku berlari menuju taman belakang, hari ini aku malas bertemu dengan orang orang.Aduh, kenapa dada gw sesek banget?"ucapku sambil memegang dadaku saat itu, rasanya sangat sesak.Agar tak terlalu sesak, aku memilih memejamkan mataku, dan bersandar di kursi taman seraya menetralkan nafasku, tampa sadar aku tertidur.Hingga suara bel pulang berbunyi,aku mulai terbangun.Gila, aku tertidur begitu lama,untung saja bel pulang berbunyi, kalau tidak aku akan ketiduran hingga malam.Koridor sekolah mulai sepi, aku beranjak untuk mengambil tasku didalam kelas dan bergegas untuk pulang.Ditengah perjalanan,mataku tak sengaja melihat sebuah martabak telur,Itu makanan kesukaan ayah"batinkuPak berhenti dulu pak?"ucapku kepada supir taksi didepanku, dan turun membeli martabak itu.Aku heran, kenapa aku selalu membeli martabak ini ketika pulang ke rumah, padahal aku membenci ayah, tapi aku selalu peduli padanya, huh rumit.Aku menyandarkan kepalaku di jok mobil, hingga tanpa sadar aku telah sampai dirumah.Rumah sama seperti biasanya, masih dalam keadaan sepi.Dan hal itu yang membuatku malas untuk pulang.Aku berjalan menuju dapur, dan memindahkan martabaknya kedalam piring, lalu aku akan menutupnya ditempat saji, agar ayah pulang dia bisa memakannya.Martabak? Buat ayah?"ucap ayah membuatku kaget setengah mati, kenapa aku terlihat seperti maling yang sedang mencuri?Eh?! anu-itu enggak, ini buat Raya tapi Raya udah kenyang,tapi kalau mau makan makan aja, Raya mau keatas"ucapku dengan kikuk.Sedangkan ayah hanya tersenyum, ayah pasti tau, aku membelikannya untuknya, karna memang aku selalu membawakannya makanan ketika pulang. namun aku malu untuk terlihat peduli pada ayah, itu karna egoku lebih besar dari hatiku, makanya aku hanya peduli pada ayah secara diam diam, namun hari ini aku tertangkap basah, tumbenan sekali ayah pulang cepat?Aku tak langsung naik keatas,aku mengintip ayah yang tersenyum sambil memakan martabak yang kubeli, tampa sadar bibirku berkedut dan terus memperhatikan ayah.BesoknyaKamu berangkat bareng ayah?"Nggak"jawabku singkatKita udah lama nggak berangkat bareng Raya?"ucap Ayah menghela nafasAku bareng temen ayah"ucapku lalu meninggalkan ayah sendirian.Sebenarnya bukan aku tak mau berangkat bareng ayah, tapi aku mau berangkat bersama em pacarku RionKami berangkat menggunakan motor sport miliknya.Ditengah perjalanan, mataku tak sengaja menatap seseorang yang selama ini aku rindukan.Ibu!Rion stopp!"Kenapa?"tampa menjawab pertanyaan Rion aku segera berlari mengejar seorang wanita paruh baya yang sangat kukenali.Ibu"aku menarik tangannya dan sontak ia pun berbalik, ia menatapku bingung.Ibu ini Raya?"ucapku dengan nata berkaca kacaRaya? Serius kamu Raya nak?"ucap ibuku sambil menangkup wajahku dan akupun mengangguk, kami berpelukan saat itu, dan aku memilih bolos untuk menghabiskan waktu bersamaa ibuku.Aku boleh nggak tinggal sama ibu?"tanyaku pada ibuKamu serius nak?"tanya ibu setelah mendengar niatku yang ingin tinggal bersamanya.Iya bu, aku serius, aku benci ayah, gara gara ayah, ibu pergi"ucapku sambil memeluk ibu.Suut, kamu nggak boleh gitu nak, mau gimanapun dia ayah kamu "ucap ibu menasehatiku, namun aku tetap kekeh mencoba membujuk ibu untuk tinggal dengannya.Baiklah, kita kemas barang barang kamu, habis itu pergi"ucap ibu membuatku bersorak gembira.........Kamu nggak tanya ayah kamu dulu?"tanya ibu setelah aku mengemas barang barangku.Aku sebenarnya ingin, tapi aku gengsi .Nggak usah bu, nanti ayah juga bakalan nelfon kok"alih alih berpamitan pada ayah, aku memilih mengabaikannya.Setelah aku dirumah ibu, instingku memang benar,ayah pasti akan menelfonku, buru buru aku mengangkat nyaTerdengar nada khawatir diseberang telfonKamu dimana Meera?"tanya ayah dengan khawatir.Ayah, mulai hari ini sampai seterusnya aku bakalan tinggal bersama ibu"ucapku membuat ayah kaget.Kenapa kamu nggak bil-"ucap ayah terpotong oleh suaraku.Ayah, aku mohon jangan larang aku, aku udah dewasa, jadi aku bebas nentuin hidup aku"ucapku dengan serius membuat ayah hanya bisa menghela nafas dan menyetujui permintaanku"Baiklah, kalau itu memang yang terbaik buat kamu, ayah nggak bisa ngelarang, itu hak kamu, asal jangan melarang ayah ketemu dengan kamu"ucap ayah diseberang telfonIya Ayah".....Tak terasa aku sudah hampir 2 bulan tinggal bersama ibu, dan ternyata, realitanya tak seindah ekspektasiku . Hanya ibu yang peduli kepadaku disini, dan yang lain tidak, aku cukup terkejut mengetahui ibu telah memiliki 2 orang anak .satu masih 3 smp dan satunya lagi masih bayi.Aku merasa sedikit terkekang disini, tertekan oleh orang orang,apalagi ayah tiriku, yang seperti tak menyukaiku, selalu membandingkanku dengan prestasi anaknya, dan faktanya aku memang anak yang kurang dalam pembelajaran sangat kurang.Tapi ayahku tak pernah mempermasalahkannya.Tampa sadar aku berharap pulang, setelah memantapkan hatiku,Aku pamit pulang pada ibu, aku rindu kamarku, dan tentunya ayah, mungkin aku akan minta maaf pada ayah, tinggal dikeluarga ibu membuatku belajar banyak hal, dan aku akan mencoba berdamai dengan masalalu.Aku ingin kerumah ayah saat itu, dan aku memilih naik gojek untuk pulang. namun sebuah mobil menghantam motor yang kutumpangi dengan tragisnya.Akh apakah aku akan mati"batinku sebelum pandanganku menggelap .Aku dilarikan kerumah sakit, dan saat itu, sesak yang selalu kualami terjawab sudah, ternyata aku memiliki penyakit jantung turunan dari kakekku.Ayah dan ibuku tentu saja syok , apalagi ketika mendengar kemungkinan hidupku hanya 5% kecuali ada seseorang yang mendonorkan jantungnya untukku.Ayah dan ibuku kelimpungan mencari pendonor yang akan mendonorkan jantungnya untukku namun sudah 2 bulan tetap tak ada.karna sangat kecil kemungkinannya tapi setidaknya mereka sudah berusaha.Aku hanya terbaring lemah, dengan banyak alat bantu untuk hidupku,Hingga suatu ketika denyut jantungku mulai melemah,dan jika orang tuaku tak menemukan pendonor untukku, sepertinya inilah akhir hidupku.Namun, tiba tiba dokter membawaku keruang operasi, katanya sudah ada pendonor yang cocok yang ingin memberikan jantungnya, aku dan ibu tak tau siapa orangnya, hanya ayah yang tau.Beberapa saat kemudian, operasi telah selesai dan hal itu yang membuatku bisa membuka mataku kembali.Nama pertama yang kusebut saat itu adalah ayahAku benar benar merindukannya, namun mengapa hanya ibu yang datang?Ibu, ayah kemana?"tanyaku dengan nada lemah, ibu tidak menjawab ia hanya menangis dan itu membuatku bingung dan khawatir.Ibu! Ayahku kemana?"ucapku sekali lagi dengan khawatir karna melihat ibu hanya diam dan tak sanggup berbicara.Hingga seorang dokter datang dihadapanku.Raya, kamu yang sabar yah? Kamu beruntung memiliki ayah seperti pak Varo.Pak Varo adalah ayah terbaik yang pernah saya lihat selama saya menjadi seorang dokter "ucap Dokter Elfano membuat jantungku beredebar hebat.Maksudnya apa dokter?"tanyaku dengan lirih.Mungkin ini berat buat kamu tapi,pak Varo, meninggal dunia tepat setelah oprasi selesai, hari Senin pukul 15.30 ia mendonorkan jantungnya untuk kamu"ucap Dokter Elfano membuat tangisanku luruh seketika.Tidak mungkin?!"tangisanku pecah dan berusaha menolak kenyataan yang ada.Ayah, ayahku telah pergi dengan jantung yang tertinggal bersamaku,sebegitu sayangkah ayah padaku? Namun aku begitu bodoh telah membencinya?Sungguh aku menyesal, amat menyesal, aku bahkan belum meminta maaf kepada ayah, sedangkan ayah sudah berpulang terlebih dahulu?Ia meninggalkanku,dengan sebuah surat yang berisi tentang harapan ayah padaku untuk hidupku sendiri.Bahkan ayah telah mengatur surat warisan untuk tunjangan hidupku kedepannya, aku bodoh!Menyia nyiakan ayah sebaik dia,Tuhan maafkan aku, aku telah menjadi anak yang durhakaEnd

Sesal
Teen
17 Dec 2025

Sesal

Aku menatap berulang kali jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah hampir pukul sepuluh malam tapi aku belum pulang juga. Aku menggigit cemas bibir bawahku. Khawatir akan dimarahi setibanya di rumah nanti karena sudah berani melanggar jam malamku."Kamu pulang aja. Aku nggak papa kok." Aku menggeleng. Tidak mungkin aku meninggalkan temanku sendirian di cafe yang sepi pengunjung ini. Selain karena perasaan tidak tega, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya."Kamu tenang aja. Rumahku dekat dari sini, jalanannya juga selalu ramai. Aku temani sampai teman kamu datang."Sepuluh menit kemudian, sesosok tubuh berbadan tegap menghampiri kami. Ah, sepertinya ini dia orang yang ditunggu."Maaf gue telat, San. Latihannya baru kelar." Suaranya tidak begitu berat, tapi tidak cempreng juga. Wajahnya dibuat semeringis mungkin—senjata andalan agar tidak dimarahi."Gara-gara lo lama, teman gue jadi telat pulang. Tanggung jawab! Kita anterin dia dulu," ketus Sausan. Dia sampai memukul lengan cowok dihadapannya itu."Eh, nggak usah, San. Gue pulang sendiri aja," tolakku tak enak hati. Aku segan harus merepotkan orang lain, apalagi orang yang tidak aku kenal."Nggak papa, Shei. Kamu nggak bisa cepat pulang karena dia. Dia nggak bakal keberatan kok." Sausan berkata ringan. Aku melirik pelan teman Sausan yang belum aku ketahui namanya. Inginnya menggeleng agar dia dan Sausan tidak perlu mengantarku, tapi perkataannya membuatku kalah telak malam itu."Gue nggak keberatan nganter lo dulu. Sausan benar, gue salah dan gue harus tanggung jawab."Aku kira pertemuanku dengan cowok berbadan tegap itu berhenti sampai di sana. Tapi siapa sangka itu hanyalah permulaan saja?***Halo, Shei.Aku mengernyit saat nomor tak dikenal mengirimkan chat . Foto profilnya berwarna hitam. Display name -nya hanya bertuliskan huruf A.Siapa?Sorry, gue lupa memperkenalkan diri.Alvin.Temannya Sausan.Mulutku membentuk huruf O. Ternyata cowok itu. Yang mengantarkanku pulang seminggu yang lalu.Hai, Alvin.Ada apa?Gue minta maaf karena kejadian seminggu yang lalu.Kata Sausan, lo dimarahin ortu karena pulang telat.Sorry juga kalau gue baru bisa minta maaf sekarang, susah dapetin nomor lo.Sausan pelit.***Permintaan maaf itu menjadi awal mula kedekatanku dengan Alvin. Aku tidak begitu ingat apa yang mengikat kami hingga makin akrab dari hari ke hari. Mungkin karena kepribadiannya. Mungkin juga karena selera humornya. Atau mungkin karena kami memang nyambung satu sama lain. Ntah lah, aku tidak tahu yang mana yang benar.Sebelum aku lebih lanjut menyeritakan cerita kami, biarkan aku memperkenalkan dulu siapa itu Alvin. Nama lengkapnya Alvin Fiazer. Nama belakangnya agak aneh, ya? Aku juga menganggapnya begitu. Pernah ku tanya apa arti dari nama belakangnya. Katanya itu adalah gabungan nama dari kedua orang tuanya. Dia kelas sebelas, sama denganku, satu sekolah dengan Sausan. Dari cerita-ceritanya, aku tahu dia menggemari olahraga basket. Hobinya itu bahkan membawanya sampai ke ajang nasional. Sangat membanggakan bukan? Sayangnya, basket menyita waktunya sampai dia sering ketinggalan pelajaran sekolah. Dia sudah berusaha mengejar ketertinggalannya sampai ikut les, tapi dia masih keteteran. Ah, satu lagi. Dia jomblo. Dia sendiri yang mengatakannya padaku—padahal aku tidak bertanya. Entah itu informasi penting atau tidak."Oi!" Tepukan di bahuku membuatku sadar dari lamunanku. Di sana, Alvin berdiri dengan senyum lebarnya. Seragam sekolah putih abu-abu masih melekat di tubuhnya meskipun saat ini sudah pukul empat sore. Tas punggung berwarna hitam bertengger di bahu lebarnya. "Sore-sore malah ngelamun. Kesambet jin ntar.""Mulut kamu, ih."Alvin tertawa. Ia menarik kursi di sampingku lalu duduk di sana. Sebelum itu ia meletakkan tasnya di atas meja."Udah nunggu lama?" Aku menggeleng. Aku baru datang sepuluh menit yang lalu. Minuman pesananku baru diantarkan. "Kamu bohongkan biar aku nggak merasa bersalah?""Ngapain juga aku bohong. Nambah-nambah dosaku aja," cibirku."Kirain demi aku." Awalnya Alvin menggunakan lo-gue padaku. Tapi sepertinya lama-kelamaan dia jadi tidak nyaman kami berbeda panggilan begini, kemudian dia mengubahnya jadi aku-kamu—mengikutiku yang memang selalu menggunakan aku-kamu pada semua temanku."Gimana latihannya?""Capek. Keringetan, tapi aku udah mandi tadi. Jadi kamu nggak perlu khawatir bakal nyium bau nggak sedap." Lelah itu nyata terlihat di wajahnya, meskipun dia berusaha menutupi dengan cengiran khasnya."Harusnya kamu pulang kalau capek, bukannya malah ngajak aku ketemuan.""Hm." Perlahan, Alvin merebahkan kepalanya di bahuku. Aku menegang sejenak. Helaan napasnya dapat aku dengar dengan posisi kami yang sedekat ini. "Males pulang. Ribut sama Bunda.""Lagi?"Kalau kalian kira kalau Alvin memiliki hubungan yang tidak baik dengan ibunya, kalian salah besar. Alvin sangat menyayangi ibunya—sebagaimana hubungan orang tua dan anak semestinya. Dia juga bisa dikatakan mama's boy dan lumayan manja pada ibunya—kalau mereka sedang akur. Hanya saja Alvin dan ibunya sering berbeda pendapat dan sama-sama keras kepala. Mereka kekeh memegang argumen masing-masing hingga berakhir saling ngambek seperti ini. Padahal yang mereka perdebatkan itu sering kali tidak penting."Kok nanyanya gitu? Seakan-akan aku sering ribut sama Bunda." Alvin menarik kepalanya dari bahuku. Ia protes padahal yang aku ucapkan benar."Emang iya kan? Kalau aku nggak salah hitung, ini udah ketiga kalinya di bulan ini.""Mana ada. Kamu ngarang.""Nggak penting banget aku ngarang gituan.""Shei ...." Alvin merengek. Dia merebahkan kepalanya di bahuku lagi. Kelakuannya terkadang seperti anak kecil dan ... membuatku sedikit berdebar. "Bunda nyebelin tadi pagi. Masa aku disuruh ngurangin jadwal latihan. Mana bisa. Tim basket sekolahku bentar lagi mau tanding—meskipun cuma antar sekolah. Aku nggak mungkin bolos latihan sedangkan aku kaptennya."Aku diam. Mendengarkan saja apa yang Alvin ceritakan. Tanggapanku belum diperlukan sebelum Alvin bertanya."Aku tahu bentar lagi ujian kenaikan kelas. Aku pasti belajar kok, nggak mungkin nggak. Aku nggak mau tinggal kelas. Tapi ya jangan berharap banyak sama nilaiku. Pas-pasan KKM aja alhamdulillah. "Aku masih diam. Menunggu Alvin melanjutkan ceritanya. Tapi selang beberapa detik, cowok itu tidak juga membuka mulutnya. Dia malah menatapku dengan pandangan kesal. Apalagi salahku?"Kok kamu diem aja, sih, Shei? Aku lagi curhat, nih. Butuh ditanggapi."Oh, sudah selesai. Pantas dia kesal. Aku mendorong kepalanya menjauh sebelum berbicara. Ku putar badanku hingga kami duduk saling berhadapan."Bunda kamu cuma khawatir sama masa depan kamu, Al. Kamu tahukan nilai rapor ngaruh banget sama penerimaan SNMPTN? Kamu nggak mau apa masuk kuliah jalur undangan gitu, nggak perlu capek-capek belajar buat UTBK atau tes mandiri. Kalau nilai rapor kamu cuma pas-pasan KKM, universitas mana yang mau nerima kamu di SNMPTN?" Aku berujar lembut. Alvin tipe yang tidak bisa dikerasin . Cowok itu akan lebih batu dari lawannya."Ya ... aku tahu." Nada suaranya melemah. Bibirnya mengerucut dan jari telunjuknya sibuk menyusuri pinggiran meja. "Tapi aku nggak bisa ninggalin basketku. Les rasanya juga percuma, nggak nyangkut di otakku.""Aku tahu kamu cinta banget sama basket. Tapi akademikmu tetap nggak boleh tinggal. Kamu hebat kalau bisa nyeimbangin antara akademik dan non-akademik."Alvin diam cukup lama. Mungkin dia sedang merenungi ucapanku. Mungkin juga dia sedang berusaha mencari penyangkalan lain."Aku punya PR. Mending aku kerjain sekarang." Tanggapan yang sama sekali tidak kuduga. Alvin membuka tasnya lalu mengeluarkan buku paket matematika serta buku PR-nya. Dengan gerakan malas, dia membuka buku.Aku memerhatikannya yang mulai menulis. Tidak bersuara, takut mengganggu konsentrasinya. Aku kira Alvin akan terus menekuni tugasnya, sayangnya pada menit kesepuluh dia menyerah. Rambutnya acak-acakan karena banyak digaruk saat dia bingung. Wajahnya yang tertekuk lucu menatapku."Nggak bisa." Pecah lagi rengekannya. Aku menghela napas sebentar sebelum ikut mengintip tugas cowok itu. Tentang matriks."Mau aku ajarin?"Matanya yang tadi sendu berubah berbinar dengan cepat. "Kamu bisa?""Kayaknya. Aku coba dulu."Alvin dengan semangat mengangsurkan buku paket serta buku PR-nya. Aku tahu niatnya, pasti minta dituliskan sekalian. Aku menyobek pertengahan buku PR-nya dan menyoret di sana."Sekalian aja, sih, Shei.""Aku mau bikin kamu pinter, bukan tambah bodoh."***Sejak aku membantu Alvin mengerjakan tugasnya waktu itu, aku secara tidak resmi menjadi tutornya. Kata Alvin, dia lebih suka belajar denganku daripada guru di sekolah ataupun di les. Cara menerangkanku sederhana dan cepat diserap otaknya. Ntah benar atau hanya sekedar bualan.Tidak semua tugasnya yang aku bantu, tapi dia sering tiba-tiba menelepon atau mengajakku keluar untuk membantunya mengerjakan tugas atau belajar bersama. Seringnya sih menelepon tengah malam dengan panik karena dia baru ingat ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi. Tidak terhitung berapa kali aku begadang demi menemani dan mengajarkannya mengerjakan tugas. Harusnya aku marah karena dia mengganggu jam istirahatku, membuang banyak waktuku demi dia. Sayangnya yang aku rasakan adalah sebaliknya. Aku mau disusahkan olehnya. Aku tidak keberatan diganggu padahal mau tidur. Aku senang merasa dibutuhkan olehnya. Aku dengan suka rela memberi banyak waktuku untuknya." Shei ...." Panggilnya pada suatu malam via telepon. Aku baru saja mematikan lampu kamar—bersiap untuk tidur."PR apa lagi sekarang?"" Ih, kok kamu ngomongnya ketus gitu. Nggak ikhlas, ya, bantuin aku? " Alvin memang sedikit tidak tahu diri. Dia yang mau minta tolong, tapi malah dia yang merajuk."Ikhlas Al ...." kataku memanjangkan namanya. "Kalau nggak ikhlas, udah aku decline telepon kamu."" Sheila Cantik emang terbaik. " Padahal itu hanya gombalan biasa, tapi sukses membuat jantungku disko malam-malam begini. " Bantuin fisika, ya. Pas materi ini aku nggak masuk karena lagi latihan basket. Ada PR dikasih tahu temanku barusan. Kalau nggak, tamat riwayatku di sama Bu Mena besok.""Ya udah, buruan. Halaman berapa?" Aku menghidupkan kembali lampu kamar. Mengaktifkan loudspeaker ponsel dan membuka buku paket fisika sekaligus kertas coretan.Lagi-lagi, aku begadang demi cowok satu ini. Alvin Fierza.***Alvin sepertinya makin sibuk saat kenaikan ke kelas dua belas. Katanya, dia dan timnya sedang mempersiapkan performa untuk pertandingan terakhir mereka. Ya, seperti pada umumnya, siswa kelas dua belas tidak diperbolehkan lagi mengikuti ekskul manapun. Harus fokus pada ujian nasional dan ujian masuk ke perguruan tinggi. Nilai tidak boleh anjlok.Ngomong-ngomong tentang nilai, Alvin dapat nilai yang lumayan memuaskan pada semester lalu. Tidak sampai juara kelas sih , tapi nilainya lumayan bagus untuk ukuran yang pasrah nilainya dibatas KKM. Berita bagusnya lagi, ibunya cukup puas dengan nilai Alvin. Dia senang bisa mengakhiri kelas sebelas dengan tenang—tanpa ceramah dari ibunya.Aku ikut mengapresiasi pencapaian Alvin tersebut. Aku tahu bagaimana giat dan semangatnya Alvin belajar ditengah ketertinggalannya karena basket. Aku saksi hidup yang menyaksikan betatap gigihnya dia. Meneleponku tengah malam untuk mengerjakan tugas dan mengajakku belajar bersama saat weekend menjadikanku ikut serta dalam perjuangannya. Aku ... bangga bisa menjadi salah satu bagian diperjalanan hidupnya.Hampir dua minggu aku tidak bertemu Alvin. Dia juga jarang menghubungiku. Kesibukannya menyita waktunya. Biasanya, hampir setiap malam dia menelepon atau melakukan panggilan video, dengan dalih minta bantuan mengerjakan tugas atau hanya iseng saja—kangen katanya. Dalam dua minggu ini, baru dua kali dia menelepon dan tidak ada panggilan video. Di salah satu sesi telepon kami, dia sempat bercerita kalau jadwal latihannya mulai gila-gilaan. Belum lagi bimbel yang dia ikuti—paksaan ibunya.Aku maklum karena waktuku juga lebih banyak untuk belajar sekarang, meskipun aku tidak sesibuk Alvin yang memegang ponsel saja jarang. Aku menyemangati dan mendukungnya. Tidak menuntut banyak karena aku bukan siapa-siapa, hanya teman. Miris, ya.Rasa rinduku padanya membuatku nekat ke sekolahnya. Berdasarkan informasi yang aku dapat dari Sausan, pertandingan basket kali ini diadakan di sekolah mereka dan terbuka untuk umum. Aku mudah menyelinap kalau begitu.Harusnya aku ditemani Sausan saat ini. Tapi Sausan mendadak ada urusan penting dan harus segera pulang. Jadilah aku sendirian di tempat asing. Untungnya pertandingan segera dimulai. Senyumku merekah saat melihat Alvin di tengah lapangan, sedang men- drible bola berwarna oranye.Selama pertandingan, mataku terpaku pada Alvin. Kemanapun pergerakannya, aku ikuti. Alvin sepertinya tidak menyadari keberadaanku. Posisiku memang tersembunyi karena berada di bagian belakang—terhalang orang-orang di depan. Tidak masalah. Aku bisa menemuinya nanti setelah pertandingan selesai.Setelah menunggu empat puluh enam menit, akhirnya pertandingan selesai dengan tim Alvin keluar sebagai pemenang. Aku bersorak dengan penonton lain—merayakan kemenangan mereka. Aku buru-buru turun dari tribun sambil membawa sebotol air mineral. Alvin pasti haus walaupun kemungkinan dia sudah punya minum, tapi apa salahnya aku memberikan perhatian padanya kan?Langkahku yang tadinya semangat langsung melemah saat melihat sudah ada cewek lain yang memberi Alvin minuman. Senyum Alvin terukis dan dibalas senyum lebih manis oleh cewek itu.Perlahan aku mundur, lalu balik badan. Ada rasa sesak di dadaku melihat Alvin akrab dengan cewek lain. Padahal, bisa jadi cewek itu temannya saja kan? Ntah lah, cemburu menguasaiku dengan hebat membuatku urung menghampirinya. Memilih pulang dengan rasa kecewa.***Aku tidak berani menanyakan siapa cewek tempo hari pada Alvin saat dia muncul di depan rumahku di suatu sore. Dia mengajakku makan es krim. Katanya sebagai traktiran kemenangannya kemarin. Alvin tidak tahu aku datang saat itu karena aku tidak berniat memberi tahu. Jika Alvin tahu, dia pasti akan bertanya banyak. Aku takut rasa cemburuku saat itu diketahui Alvin.Sepanjang sore, Alvin menyeritakan bagaimana pertandingannya padaku. Aku pura-pura tertarik karena tanpa dijelaskan pun aku sudah tahu. Ingat, aku ada di sana. Aku memasang telinga baik-baik, siapa tahu Alvin menyinggung tentang cewek yang memberinya minum. Tapi sampai cerita berakhir dan kami hendak pulang, tidak sekalipun Alvin menyenggol tentang cewek itu. Kemungkinan cewek itu tidak penting karena Alvin tidak menyeritakannya. Ya, pasti begitu. Alvin menyeritakan semua hal padaku selama ini. Kalaupun ada yang tidak dia ceritakan, itu sesuatu yang tidak penting dan sudah dia lupakan.Alvin menganggap cewek itu tidak penting dan sudah melupakannya. Huft, aku sudah bisa tenang sekarang.***Sayang sekali, aku terlalu percaya diri pada saat itu.Alvin bertingkah aneh sejak kemarin. Dia tidak membalas satupun chat yang aku kirim—hanya dibaca, tidak mengangkat panggilanku, dan yang paling parah dia berhenti mengikutiku di media sosial. Aku mulai berpikir sudah melakukan kesalahan apa sehingga dia menghindariku seperti ini. Sekian lama aku memaksa otakku bekerja, tidak ada hasilnya. Aku tidak ingat sudah melakukan kesalahan apa padanya dan aku kesal sendiri. Mau minta penjelasan langsung tidak bisa, aku tidak tahu di mana rumahnya.Seminggu sudah Alvin menjauhiku. Aku yang tidak tahan dengan semua pengabaiannya ini, akhirnya menelepon Sausan. Bertanya apa yang terjadi dengan Alvin pada temanku itu. Sausan terkejut mendengar ceritaku karena menurutnya Alvin baik-baik saja. Mereka masih saling melempar candaan tadi di sekolah dan Alvin tidak terlihat memiliki masalah apapun." Bentar, Shei. Gue hubungi Alvin dulu. Lagi nggak waras mungkin tuh anak. "Aku menunggu penjelasan dari Sausan hampir sejam. Selama itu, hatiku tidak tenang dan jantungku berdetak tidak karuan. Aku takut kalau ternyata Alvin membenciku. Aku tidak akan siap menghadapi itu. Karena aku ... mencintai Alvin.Ya, aku akui aku mencintainya. Ntah kapan rasa itu mulai tumbuh. Keberadaannya di sekitarku membuatku terbiasa dan menumbuhkan perasaan ini. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Alvin padaku, apakah sama atau hanya menganggapku sebagai teman. Aku tidak berharap banyak karena memang dari awal pertemuan kami bukan mengarah ke sana.Sausan tidak meneleponku. Dia mengirim chat dengan beberapa screen shoot hasil percakapannya dengan Alvin. Balasan Alvin membuat napasku tercekat. Duniaku rasanya runtuh seketika. Dia ... dia berhasil menjungkir balikkan duniaku dalam sekejap mata.Gue nggak bisa lagi berhubungan sama dia, San.Gue sekarang punya pacar dan cewek gue nggak ngebolehin gue berhubungan lagi sama dia.Cewek gue cemburu banget sama dia.Sejujurnya, berat bagi gue untuk jauhin dia.Gue udah nyaman sama dia, udah dekat banget sama dia. Dia udah bantuin gue banyak hal.Dia udah gue anggap teman dekat.Tapi gue nggak bisa apa-apa, gue tetap harus memilih.Sampai kan maaf gue ke dia, San.Maaf udah bikin dia kecewa.Dia nggak salah apa-apa, dia baik. Di sini gue yang salah.Kalau dia marah, gue terima. Gue pantes dapetin itu.Tolong bilang ke dia, semoga dia selalu bahagia.Gue bakal ngehubungi dia, kalau keadaan udah memungkinkan.Foto yang menampilkan Alvin sedang merangkul seorang cewek menjadi penutup chat yang dikirim Sausan. Di foto itu, mereka tersenyum sumringah dan terlihat serasi. Pandanganku mengabur ketika menyadari siapa cewek itu. Dia ... cewek yang tempo hari memberikan minuman pada Alvin.Aku tersenyum hambar. Ternyata dia sudah pacar. Aku tidak tahu kenapa Alvin tidak mengatakan hal sepenting ini padaku. Alvin selalu menyeritakan semuanya padaku, dari yang penting sama tidak penting. Aku tidak tahu apakah dia sengaja menyembunyikan pacarnya dariku atau bagaimana. Sesulit itu mengatakan padaku kalau dia sudah punya pacar? Dia menganggapku teman dekatnya bukan? Meskipun sakit yang kurasa karena aku menganggapnya lebih dari itu.Rasa sakit ini bukan hanya karena perasaan yang tidak terbalaskan. Tapi karena tidak dipercayai dan tidak dianggap penting oleh orang terdekat, sampai dibuang begitu saja saat tidak dibutuhkan lagi. Kalau begini ceritanya, aku menyesal pernah mengenal seorang Alvin Fierza. Lebih baik kami menjadi orang asing tanpa perlu menyakitiku seperti ini.

Sana dan Saha
Fantasy
17 Dec 2025

Sana dan Saha

Manan Sana.Manan Saha.Sang Kembar, tak terpisahkan.Mereka dari desa terpencil, dekat pegunungan penuh siluman.***Memikul kayu bakar di punggung masing-masing, si Kembar terus berjalan perlahan menuruni gunung selagi mencari sesuatu yang bisa dijual atau dimakan langsung."Aku dengar kabar," kata Sana. "Kalau tetangga kita meninggal malam itu."Saha membalasnya. "Aku mendengar, kalau dia tewas dimangsa."Desa yang mereka tinggali saat ini, punya kisah tersembunyi. Setiap satu purnama, pasti ada setidaknya satu warga yang meninggal. Jasad tampak kering seakan darahnya dihisap, juga begitu kurus bagai tengkorak berbalut kulit.Semua sudah terjadi selama mereka tinggal di sana. Si Kembar terus mendengarkan setiap larangan dan peringatan warga sekitar akan teror makhluk yang menganggu mereka sejak satu dekade lamanya."Dahulu, ada kakak beradik seperti kalian tinggal di sini," kata salah satu tetangga Sana dan Saha di hari kedua kedatangan mereka. "Namun, di malam purnama mereka lenyap tanpa jejak."Bukan hal janggal jika ada warga yang kabur akibat teror makhluk misterius itu. Namun, sekali melangkah, sudah raib dan tidak terdengar lagi kabarnya.Sana dan Saha bukan pendatang baru di desa ini. Mereka menetap di sana baru beberapa bulan dan sudah ada banyak kehilangan tetangga. Entah tewas dalam keadaan aneh tadi atau justru lenyap seperti beberapa warga.Namun, Sana dan Saha hanya menyimak. Entah percaya atau tidak.Selagi menyusuri jalan kecil, mereka sesekali menengok ke belakang. Kadang ke kiri dan kanan sambil memasang telinga. Waspada ketika mendengar suara gemerisik, meski itu hanya dari babi hutan yang mencari makan."Sana, malam ini malam purnama." Saha menginggatkan.Sana pun mengiakan.Mereka hidup bersama sejak lama, lebih tepatnya kembar tak terpisahkan. Tapi, tidak jelas dari mana kedua orangtua mereka dan tidak sekalipun dibahas ketika mengobrol santai maupun ditanya."Kami dilahirkan dan hidup begitu saja," ujar Sana ketika ditanyai perihal orangtua. "Aku dan Saha saling melengkapi. Kami hidup berdampingan dan saling menjaga."Maka, keduanya pun tetap hidup bersama meski tidak mengenang atau mengingat masa lalu barang sekali.Sana punya rambut lurus hitam legam yang diurai dengan mata biru langit serta postur tubuh yang tinggi.Saha punya postur dan gaya rambut sama dengan warna ungu, sebagai pembeda di antara mereka.Keduanya tinggal bersama di sebuah desa kecil di bawah gunung bersama warga lain. Orang-orang sana tahu keduanya hanyalah pendatang yang kemudian menjadi warga di desa itu.Mereka berdua muncul dalam wujud yang kita ketahui saat ini, tampak seperti dua gadis remaja yang menawan. Meski hidup di tengah desa yang diteror makhluk misterius pemangsa warga selama satu dekade lamanya."Kamu dari desa mana?" tanya salah seorang warga begitu melihat si Kembar.Sana menatap adiknya sesaat. "Dari sebuah desa dekat pegunungan.""Pegunungan yang terpencil," timpal Saha.Keduanya lalu meninggalkan si petanya. Kesannya seperti tidak ingin bicara, tapi jika ditanya lagi mereka akan menjawabnya dengan kalimat yang sama untuk pertanyaan serupa. Hampir semua orang menanyai, dari kepala suku hingga warga sekitar bahkan sesekali pengunjung yang kebetulan menetap di tempat mereka untuk sementara. Semua pertanyaan itu selalu dijawab demikian seakan mereka tidak ingat asal usul sendiri."Saha, lihat di sana, desa ini telah mati," ujar Sana setibanya mereka di tempat yang mereka tinggali saat ini.Hanya ada rumah-rumah kosong dan suasana hening menyambut. Belum lagi kabut putih menyelimuti menambah kesan kelam. Seakan desa ini tidak dihuni sejak lama.Saha mengiakan. "Kamu sudah kumpulkan semuanya?""Iya, aku sudah mengumpulkan semua ." Sana sengaja mengucapkannya dengan perlahan untuk menekankan. "Kamu lapar?""Tentu saja tidak," balas Saha. "Ayo, kita cari rumah lain!"Mereka pun melanjutkan perjalanan.***Hingga keduanya tiba di sebuah danau yang cukup keruh dan diselimuti kabut.Saha menyalakan api, Sana mencari kayu.Keduanya lalu duduk diam saling tatap, sesekali juga memandang sekitar tanpa mengucapkan sepatah kata."Sana, aku lapar," keluh Saha."Aku juga," balas Sana. "Sebentar, aku merasakan aura makhluk yang mendekat."Benar saja, muncul perahu dengan seorang pria mengayuh pelan menyusuri danau. Ia berhenti kala menyadari keberadaan si Kembar."Hai, gadis-gadis! Tidak takut di sana berduaan?" Sang pengayuh berniat menggoda, melihat paras sang Kembar bagai bintang-bintang penghias malam.Sana lantas berdiri, bersama Saha keduanya melambaikan tangan, isyarat menyuruh si pengayuh mendekat.Si pengayuh tersenyum. Ia mendekat dengan antusias, mengabaikan kabut yang kian pekat menghalangi pandangan.Kabut-kabut ditembus tanpa beban, si pengayuh tadi akhirnya tiba di depan sang Kembar lalu duduk menghadap mereka."Kalian berani sekali ke sini," komentarnya. "Banyak siluman ganas, lho."Sana dan Saha tersenyum."Kami terbiasa," ujar Sana."Kami tahu apa yang harus dilakukan," timpal Saha."Kami tidak perlu takut.""Kami tidak akan takut."Keduanya tersenyum pada pria yang baru dikenal itu. Membuat lawan bicara terlena akibat suara mereka yang mendayu bagai kicauan burung."Kamu pasti lapar," ujar Sana.Saha kembali menimpali. "Kamu pasti lelah.""Izinkan kami menghiburmu," ucap si Kembar.Tentu saja pria itu senang mendengarnya. Ia lalu kembali berkomentar."Kalian kembar yang cantik," pujinya. "Akan kupinang kalian berdua."Sana dan Saha terkikik, mereka tidak menjawab setelahnya melainkan dengan menyodorkan segelas air hangat.Si pengayuh menegaknya dengan lahap. "Terima kasih. Aku tidak menyangka kalian ternyata di sini."Sana dan Saha hanya tersenyum menanggapi. Bukan hal aneh jika mereka bertemu lagi meski dengan wajah yang berbeda.Pria itu menghabiskan gelasnya. "Benar-benar lezat, aku suka hasil panen dari desa itu.""Sayangnya, para warga telah pergi beberapa jam lalu," ujar Sana.Saha membenarkan. "Sepertinya mereka sudah tahu.""Sayang sekali." Pria itu lantas berdiri. "Kalau begitu, sampai jumpa di lain desa."Ia lalu kembali ke perahunya lalu lenyap ditelan kabut.Sana berdiri. "Ayo, kita cari tempat baru."Saha menyusun bekal mereka. "Ayo."Mereka pun melanjutkan perjalanan.***Manan Sana.Manan Saha.Sang Kembar, tak terpisahkan.Mereka dari desa terpencil, dekat pegunungan penuh siluman.TAMAT

Spirit of The Forest
Fantasy
17 Dec 2025

Spirit of The Forest

Pada hari itu, hutan hening seperti biasa. Di hari itu pula, dia berkeliling. Seperti penghuni hutan lain, dia memulai harinya dengan menghirup udara segar, kemudian mencuci wajah di genangan air yang terkumpul berkat embun. Setelahnya, dia akan melangkah keluar dari pohon tempatnya bernaung dan mengamati tanah dia dilahirkan.“Selamat pagi!” sapa salah seorang tetangga. Dia memiliki tubuh mungil dengan telinga runcing serta sepasang sayap tipis menghias badan guna memudahkan tugas sebagai penjaga hutan.Dia pun membalas sapaan kenalannya dengan senyuman. Dalam wujud hari ini, dia menyerupai tetangganya itu. Sehari sebelumnya, menyamar sebagai tupai. Karena dia tidak memiliki wujud asli melainkan menyerupai makhluk hutan.“Kamu menjadi peri hari ini?” tanya tetangganya lagi.Dia mengiakan, kemudian pamit kepada tetangganya. Hari ini, dia akan memulai aktivitas yang sama seperti hari sebelumnya.Sambil mengepakkan sayapnya yang tipis, dia itu terbang melintasi pepohonan subur layaknya pagar penjaga. Sesekali mengamati sesama penghuni pohon yang masih terlelap dalam dahan berselimut dedaunan. Sebagai salah satu peri penghuni hutan, dia tahu betul apa tugasnya hari ini.Sebagai ruh penjaga hutan, dia tidak bisa berjaga tanpa raga. Pada malamnya, dia bisa leluasa berkeliling tapi ketika mentari menampakkan wajahnya, ruh tidak bisa berbuat banyak. Maka, dengan menjelma sebagai makhluk lain bisa membantu.Seperti yang terjadi di percakapan sebelumnya, dia kini mengambil wujud salah satu pekerja keras yang senantiasa menjaga hutan, sekaligus sebagai pilar penyangga agar hutan tetap berjalan dengan stabil. Maka, ruh ini tertarik dan mencoba wujud sebagai bagian dari mereka hari ini. Entah wujud apa yang akan dia pakai esok harinya.Terus menyusuri, di antara pepohonan yang berdiri kukuh, dia menemukan seekor tupai yang tengah sibuk mengumpulkan biji-bijian di mulut mereka. Namun, masih banyak barang bawaannya sementara pohon yang dipanjang jauh lebih tinggi.Tupai itu pasti kesulitan, itulah yang ruh ini pikirkan. Maka, dia dekati tupai itu dan terus mengamati dalam diam selama beberapa saat.Tidak lama, salah satu biji yang dibawa si tupai terjatuh ke tanah, padahal jaraknya begitu jauh. Mau tidak mau, si tupai harus turun dan memanjat jauh lagi agar bisa mengambil makananya atau dia tidak akan makan hari ini.Ruh memang tidak sepenuhnya punya empati, tapi mereka dikaruniai akal untuk meresap apa yang dilihat dan memikirkan solusi untuk penghuni hutan.Tanpa berpikir panjang, ruh itu mengerakkan jemari mengikuti irama hati. Saat itulah biji-bijian yang tadinya tergeletak di tanah mulai terbang perlahan dengan sendirinya, mengikuti arah si tupai menuju sarang. Akhirnya, si tupai tidak perlu lagi turun dan memanjat untuk mengumpulkan semua makanan.Si tupai tersenyum cerah melihat bantuan yang datang untuknya. Dia tatap ruh dalam wujud peri itu. “Terima kasih!”Ruh itu hanya membalas dengan senyuman.Sebelum masuk, tupai itu melambai ke arah sosok yang membantunya tadi dan kemudian pergi dari pandangan. Kini dia bisa menghabiskan waktu bersama makanannya hari ini tanpa kesulitan.Itulah salah satu tugasnya, berjaga dan memastikan keadaan hutan tetap aman sambil sesekali membantu yang membutuhkan. Maka, pada hari ini, sang ruh merasa puas dengan bantuan kecilnya dan kembali menjalankan tugas dengan menyusuri hutan.Sambil tersenyum puas, ruh itu melayang lagi menyusuri hutan, memastikan tidak ada yang kesulitan hari ini dan seterusnya.Tamat

Maiden of The Sea
Fantasy
17 Dec 2025

Maiden of The Sea

Lautan menyimpan seribu misteri. Di antara misteri, menyimpan keajaiban. Sebagian disembunyikan dari penghuni darat, sebagian pula sudah diketahui.Di antara misteri lautan, berdiri sebuah tempat yang aman bagi penghuni lautan dalam. Mereka menjaga dan memastikan tidak ada penghuni darat yang berani masuk. Mereka disebut penjaga lautan.Alannis salah satunya. Di hari ulang tahunnya yang keenam belas, dia akhirnya bisa bebas berenang menjelajahi lautan lepas tanpa pengawasan dari orangtuanya. Sudah lama bercita-cita menjaga laut, dia bertekad akan memastikan dunianya senantiasa aman.Di hari pertamanya berjaga, Alannis ditemani beberapa temannya. Meski berada di lautan dalam, mereka berenang tanpa beban. Dengan siripnya yang ungu gelap, Alannis terus berenang di sisi teman-temannya sambil mengawasi lautan untuk kali pertama.Sebagai penghuni lautan dalam, tidak banyak yang mau mendekati. Itu sebabnya tempat asal Alannis selalu sepi. Namun, dia tidak memedulikan selama masih berada di sisi teman-temannya."Hari ini, aku melihat kapal berlayar." Temannya bercerita. "Mereka mencoba menangkap mermaid.""Ah, biarkan saja," sahut Alannis. "Salah mereka mencari perhatian terus dengan manusia."Siren memang tidak sering bercengkerama dengan manusia. Alannis sudah muak dengan para mermaid sejak dia masih kecil. Tidak tahan menyaksikan kaumnya selalu disisihkan dengan "yang cantik" padahal mereka saja tidak mengurusi hidup para mermaid."Kalau ada manusia yang jatuh cinta dengan mermaid, pasti terjadi hal yang tidak diinginkan," sahut temannya dengan wajah masam."Ya, paling mermaid dungu itu berakhir di restoran ikan." Alannis pun tertawa dan diikuti teman-temannya.Alannis merasa, kaumnya yang seharusnya tinggal bahagia di laut. Meski tidak secantik mermaid, setidaknya tidak pernah mencampuri urusan makhluk di darat sana. Kenapa juga para mermaid berduyun-duyun hendak ke darat? Ah, harusnya ini jadi berita bagus bagi para siren agar tidak diganggu terus. Perlahan, mungkin kaumnya akan menguasai lautan seperti sedia kala."Alannis," panggil temannya. "Kamu lihat itu?"Alannis mendongak. Di atas sana, terpantul cahaya bulan yang senantiasa menghias lautan. Namun, di laut dalam fenomena ini cukup jarang sehingga sukses membuat Alannis kagum menyaksikannya. Tanpa sadar, bayangan sirip merah muda memantul menyakiti matanya."Akh!" Alannis lantas mundur dengan wajah jijik penuh kekesalahan."Alannis!" Teman-temannya yang berjumlah empat siren mendekat dan menahan Alannis agar tidak terlempar jauh."Beraninya dia merusak pemandangan!" kesal Alannis.Tepat ketika Alannis mengucapkannya, mermaid itu menjulurkan lidah dan memandangnya hina. Membakar hati Alannis seketika."Hei, lihat! Ada kapal!" seru temannya sambil menunjuk ke atas. Dia lalu berbisik kepada ketiga teman lainnya. "Kita tarik dia ke sana, lumayan buat dijadikan ikan bakar."Alannis terkikik. "Ide bagus, ayo!"Tanpa ragu, mereka semua berenang cepat ke arah mermaid yang juga terpana menyaksikan kapal berlayar. Dia menyadari kehadiran Alannis dan teman-temannya. "Hei!"Belum sempat mermaid itu bersuara, Alannis menyambar tubuhnya lalu dengan kuat melempar badan mermaid malang itu ke atas kapal. Mereka semua menertawakan kesialan lawan mereka saat mendengar bunyi benda jatuh di atas kapal. Diam-diam semua mengintip suara dari sana."Wah, ada mermaid." Terdengar suara berat dari atas. "Lumayan dijual dengan harga mahal."Tawa seketika memecah malam, perpaduan antara kru kapal dengan kawanan Alannis sukses membuat mermaid itu menjerit ketakutan."Tunggu, jangan!" seru mermaid itu. Namun, naas sebilah pedang telah menusuk jantungnya hingga tewas.Alannis dan teman-temannya pun langsung meninggalkan tempat dan kembali menjelajahi lautan lepas.Tamat

Let's Fly Together
Fantasy
17 Dec 2025

Let's Fly Together

Seharusnya aku tidur malam ini. Namun, entah kenapa mata menolak untuk memejam meski malam sudah larut. Ah, aku ingat niatku sekarang, menunggu kepulangannya. Sudah sebulan lamanya dia tinggal di rumah ini dan kedatangannya bagai penerang dalam kegelapan hidup. Selama hidup sebatang kara tanpa seseorang menemani setelah kematian Ibu, hidup ini terasa hampa. Apalagi sebagai satu-satunya manusia di perumahan ini. Namun, seorang wanita datang membawakan surat adopsi beberapa bulan setelahnya. Kini, dia resmi menjadi waliku atau ... Hanya sekadar penggalang dana.Dia datang dengan niat menemani, meski lebih sibuk dibandingkan Ibu. Diselingi pekerjaannya, dia akan pulang membawa makan malam dan mengobrol bersama hingga jam tidur. Kali ini, sosoknya tidak juga muncul meski sudah lewat jam sembilan malam.Kuraih ponsel dan berniat menghubungi, tidak terjawab. Bahkan pesanku tiada yang terkirim. Barangkali dia sibuk mengurus segala hal yang tidak pernah diceritakan. Kalau kutanya apa pekerjaannya, dijawabnya dengan sesederhana ini."Memastikan kota ini tetap aman."Lalu, jika ditanya lebih jauh, dia hanya tersenyum lalu mengalihkan topik. Aku sendiri tidak paham mengapa dirahasiakan. Alasannya mengadopsiku belum jelas selain simpati. Barangkali karena dia dekat dengan mendiang Ibu, atau sesuatu.Dya namanya. Setiap hari pergi dan pulang jam tujuh, kadang kala lebih awal atau sebaliknya. Tidak banyak waktu yang kami habiskan, kecuali akhir pekan atau tanggal merah. Itu pun lebih canggung dibandingkan obrolanku dengan orang asing. Namun, aku maklum jika Dya mencoba menjadi sosok 'Ibu' bagiku.Terdengar suara kepakkan sayap dari luar jendela. Beberapa bulu putih berjatuhan menghiasi pandangan."Aku pulang!"Suara khas Dya yang antusias dan berima menggelitik telinga. Aku keluar kamar lalu menyambutnya di ruang tamu yang menyatu dengan pintu depan. Sudah pasti dia mendarat tepat setelah mengucapkannya."Bagaimana harimu?" sapanya dengan senyuman. Rambut pirangnya disisir ke belakang, hanya sebatas bahu, membuatnya tampak seperti pria dari belakang. Dia kenakan jaket hitam kesayangannya yang kabarnya sudah dipakai sejak memasuki masa Sekolah Menengah Atas. Sayapnya yang terpasang di punggung, dia lipat agar dapat masuk ke rumah. Ya, barangkali kami perlu merenovasi pintunya.Tidak banyak keluhan darinya selain pintu tadi, itu pun hanya diucapkan sekali saat pertemuan pertama saat Ibu masih ada."Ayo, dimakan! Nanti dingin." Dya letakkan sebungkus makanan di meja lalu melepas jaketnya. Kini dia mengenakan kaos putih yang dirancang sesuai dengan tubuh sehingga tidak menyulitkannya untuk terbang.Kutatap diriku di cermin. Aku hanya manusia biasa, sama seperti Ibu. Lingkunganku dipenuhi makhluk ajaib, terutama Dya yang bersayap. Kuhela napas, aku tidak berguna baginya. Tapi, dia juga yang memungutku sejak awal tanpa diminta."Kamie?" Suara Dya terdengar lagi. "Ada apa?"Aku tidak menjawab. Langsung duduk dan menatap makanan yang dibeli. Ini sudah lewat jam sembilan dan aku seharusnya tidur dan kenyang. Namun, kupilih untuk diam dan menyantap apa yang ada. Dya membelikan gorengan yang lumayan banyak dan mengunggah selera. Wanita itu duduk di depan, makan lebih lahap dariku.Kutarik napas. Ada perasaan menjanggal yang selama ini menghantui. Perbedaan ras hanya masalah kecil, apalagi bagi sosok Dya. Namun, kekuatanku tiada gunanya dibandingkan bayi sekalipun. Bisa dibilang, keluargaku yang manusia hanya penumpang gelap perumahan ini."Kamie, dari tadi kamu diam saja," tegur Dya sambil mengepakkan sedikit sayapnya. "Ada apa? Seseorang mengganggumu di sekolah?"Itu bukan masalah, lantaran aku diperlakukan sama di sekolah. Atau, barangkali semua siswa disuruh menghargaiku sebagai makhluk lain. Sepertinya, aku jenis terakhir yang harus dilindungi setelah Perang Besar. Kuharap, jauh di sana ada manusia yang bertahan. Barangkali, Dya bisa membantu. Namun, lagi-lagi aku tidak nyaman meminta.Aku ingin keluarga manusia, yang mengerti dan menjalani hidup sepertiku. Bukannya tidak bersyukur, tapi hidup di dunia seperti ini, rasanya bagai titik hitam di kertas putih. Dya sendiri belum tentu paham tentang manusia, apalagi makhluk lain selain dia.Kepakkan sayapnya membuyarkan lamunan. "Kamu tampak sedih hari ini. Aku telat, ya?"Merasa tidak nyaman, aku balas dengan pelan. "Bukan. Aku ... Agak ragu."Dya tersenyum, "ragu kenapa, Nak? Siapa tahu aku bisa bantu."Kutarik napas, berharap agar dia paham maksudku. "Apa benar aku satu-satunya manusia di dunia ini?"Setelah kematian Ibu, aku jelas kesepian dan tiada manusia yang bisa diajak bicara. Tentu saja, Dya datang saat beliau dimakamkan lalu menghibur dengan beragam kata. Meski sedikit membaik, aku tetap tidak terima kenyataan bahwa satu-satunya manusia dalam hidupku telah pergi dan tidak akan kembali."Tidak juga," sahut Dya sambil tersenyum. "Aku yakin di luar sana ada manusia menunggumu."Kupaksakan senyum, pendapat kami ternyata sama. "Dya, kamu ... Mau membantuku mencari mereka? Aku butuh keluarga.""Keluarga?"Ah, ucapanku sepertinya kasar. Aku jelas menyakiti perasaannya. Ya, Dya memang bukan manusia, namun masih punya hati nurani dan perasaan. Kalimatku tadi seakan menolak keberadaannya di rumahku."Maksudku ... Aku ..." Aku kehabisan kata. Mau bagaimana lagi? Tidak ada makhluk yang cocok di sini. Dalam segala hal, tentu memerlukan ras yang sama, bukan?Tidak disangka, Dya tersenyum lalu berdiri dan menepuk pelan bahuku. "Kamie, kamu mau melihat dunia baru?"Belum sempat menjawab, Dya tarik tanganku dan mengepakkan sayap. Lantas melesat keluar jendela sambil mendekapku yang belum siap sama sekali. Entah ke mana dia membawaku, diri ini sibuk berlindung di pelukannya lantaran takut jatuh. Udara dingin menusuk kulit namun tampak tidak mengganggu Dya yang berpakaian kaos biasa, sementara aku mengenakan piama merah muda dan celana panjang."Dya!" seruku selagi kani melesat melewati sebuah gedung.Dya tertawa dan malah melesat.Kueratkan pelukan sambil memejamkan mata. Kuharap Dya tidak pergi ke tempat aneh para makhluk lain di kota.Tak lama, Dya mendarat. Menurunkanku lalu duduk di samping sambil menikmati keindahan kota. Kami berada di atas gedung, tidak terlalu tinggi sehingga tidak menakutiku. Tercium aroma udara malam nan segar."Dya?" panggilku, meminta penjelasan."Kamie, kamu pikir keluarga itu harus satu ras?" Dya tersenyum sambil menikmati pemandangan."Tentu," balasku. Ibu manusia, begitu juga dengan Ayah. Aku juga satu ras dengan mereka. Yang mana membuat kami satu keluarga. Meski Ayah tidak pernah menampakkan diri."Jadi, kamu anggap sedarah itu keluarga?" sahut Dya. "Lalu, apa kabar orangtua yang membuang anaknya? Atau anak yang mendurhakai orangtuanya?"Pertanyaannya lantas membuatku bungkam. Apa Ayah sosok yang dimaksud? Aku sendiri tidak tahu. Ibu tidak pernah cerita dan menolak membahas. Jika ditanya, pasti mengalihkan topik atau menjawab kalau beliau sedang bekerja di luar sana. Nyatanya, setelah kematian Ibu, tidak ada pria yang datang ke pemakanannya yang mengaku sebagai suami beliau atau ayahku. Ke mana dia? Tidak ada yang tahu. Ibu bahkan tampak marah jika ditanya soal itu.Dya tatap para pejalan kaki menikmati malam. "Aku sama sepertimu. Dulu berpikir jika sedarah berarti keluarga. Ya, tidak sepenuhnya salah. Tapi, tidak semua orang pantas menjadi bagian dari keluarga."Aku diam saja."Kamie, kalau kamu ingin mencari keluarga-mu di sana, aku tidak keberatan membantu," lanjutnya dengan senyuman. "Lagi pula, tidak ada salahnya mencoba. Kalau kamu ingin keluarga manusia, bukannya makhluk aneh sepertiku."Aku lantas menyahut, entah dari dorongan mana. "Dya!"Dya menatapku. "Hm?""A ..." Kugantung kalimat, mencari yang tepat.Dia berusaha menjadi teman bahkan keluarga bagiku. Jelas tidak ingin melihatku sedih atas kesendirian ini. Kalau Ibu melihatnya, beliau pun pasti senang menerimanya di rumah. Kalau begitu, keputusanku telah bulat."Dya, mari terbang bersama!" ajakku. "Ajak aku keliling duniamu dan jadikan aku sebagai sahabatmu.""Ah, kamu berubah pikiran?""Kurasa, keluarga tidak harus sedarah. Melainkan mereka yang menerimamu apa adanya," balasku. "Tidak masalah jika aku berbeda, bukan?"Dya tersenyum, "tidak ada yang menolak, Nak."Aku mendekat lalu menatapnya penuh tekad. "Terima kasih, Dya.""Atas apa?" Dya mengangkat sebelah alis."Telah mengajariku apa arti dari keluarga." Kuhela napas. "Terima kasih."Dya tersenyum. "Kamie, let's fly together!"Dya meraihku lalu kami melesat pulang. Tanpa banyak bicara, kami tidur di ruang terpisah dengan damai menghabiskan malam. Ah, entah kenapa ada perasaan baru di kalbu. Sesuatu yang kudambakan sejak awal.Ucapan Dya terus terdengar, seakan menolak untuk berpisah.Let's fly together!Tamat

Pemburu dan Iblis
Fantasy
17 Dec 2025

Pemburu dan Iblis

Ada iblis, ada pemburu.Ketika dunia perlahan dikuasai iblis, di situlah para pemburu berusaha menjaga ras mereka dari kepunahan.Iblis membutuhkan daging manusia untuk dimakan, tapi tiada manusia yang bersedia menyerahkan diri begitu saja. Pada akhirnya, para iblis mulai membantai di kala lapar maupun bosan. Kematian dan darah sudah menjadi makanan sehari-hari bagi kedua ras itu.Manusia yang pemberani mulai berkumpul dan melindungi sesama. Beberapa iblis tumbang, namun ada juga yang berhasil mengubah pemburu menjadi iblis.Hanya sinar matahari yang ditakuti iblis, hanya di saat itulah manusia merasa aman.Iblis hanya akan berkeliaran di malam hari hingga fajar tiba. Memangsa siapa saja yang berdiri di depan mata. Tidak banyak yang bisa dilakukan manusia selain mencoba berjaga meski di kala lelah dan sakit.Ada iblis, ada pemburu.Para pemburu lahir dari kalangan manusia pemberani, mereka tidak takut mati apalagi iblis.Sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk memburu iblis dan melindungi sesama. Tidak sedikit juga berusaha mencegah manusia lain menjadi iblis.Mereka memastikan tidak ada benda yang mengandung sihir hitam, sekaligus membagikan benda yang sekiranya bisa dipakai untuk membela diri.Para pemburu akan berjaga pada malam hari, memastikan manusia aman. Jika ada tanda kedatangan iblis, mereka akan bergerak melawan hingga titik darah penghabisan.Meski tidak sedikit dari mereka yang tumbang dimangsa bahkan menjadi iblis, namun tekad para pemburu menjaga sesama tidak akan padam.Iblis tetaplah iblis.Jika pemburu menjadi iblis, tamatlah riwayatnya.Jika iblis bertemu pemburu, mereka akan bertarung hingga salah satu akan memutuskan nasib yang lain.Kedua kubu ini akan selamanya berdampingan.Iblis akan memburu pemburu.Pemburu akan membasmi iblis.Ada iblis, ada pemburu.Jika iblis bertemu pemburu, tidak selamanya mereka akan saling memburu.Jika pemburu melihat iblis, tidak selamanya akan membunuh.Ada iblis, ada pemburu.Keduanya tidak akan dipisahkan.***“Tolong! Iblis!”Jeritan seorang wanita menggemparkan seisi desa lantaran saudaranya telah berubah menjadi iblis setelah berburu.Seorang pria dengan tatapan liar dengan taring tajam siap memangsa. Cakarnya hendak mencengkeram leher wanita yang berlari di depannya.Wanita itu tumbang.Iblis telah mengisap darahnya. Geligi itu perlahan menggerogoti seluruh bahu wanita malang itu.Mangsanya menjerit dengan sia-sia. Perlahan, suaranya semakin serak hingga akhirnya hening. Wanita itu tewas dengan mata terbalak merasakan dirinya dimangsa hidup-hidup.Syaaat!Iblis telah tumbang. Sebuah tombak menancap di kepalanya.Sosok wanita berdiri memandangi tragedi di depannya. Dia terlambat.Wanita itu menatap korban dengan tatapan prihatin. Namun, segera setelahnya, dia tancapkan pisau ke kening sang mayat hingga remuk kepalanya demi mencegah perubahan.Seorang warga yang ketakutan mencoba memastikan bahwa wanita di depannya itu memang berasal dari rasnya sendiri. Menyadari bahwa itu manusia, dia mendekat. “Terima kasih!”Para warga yang ketakutan mulai berduyun-duyun keluar rumah untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Namun, wanita itu hanya membalas dengan senyuman lalu pergi meninggalkan mereka.Wanita ini sudah cukup lama menjadi pemburu. Terbiasa baginya jika setiap langkah hidup akan dihantu makhluk pemangsa manusia itu. Karena dia pemburu.Ada iblis, ada pemburu.Di setiap langkah pemburu, akan ada iblis menyertai.***Yumi dibesarkan di sebuah desa seperti kebanyakan anak, dengan ibu yang menyayangi serta teman-temannya. Terlahir dari keluarga pemburu membuatnya tumbuh besar dengan keahlian memanah dan bela diri, termasuk memanfaatkan peralatan dapur seperti pisau bahkan sendok. Ayah Yumi tewas dimangsa iblis ketika dia masih di dalam rahim ibunya. Maka dia tidak pernah tahu rasanya memiliki seorang ayah.Tinggal bersama dengan ibunya yang merupakan salah satu pemburu membuatnya harus sering ditinggalkan. Tapi, bukan berarti ibunya jarang menjenguk. Beliau selalu memastikan akan punya waktu di rumah dan menghabiskan hari bersama sang buah hati.Hari ini, ibunya datang lebih awal.“Yumi, Ibu pulang!”Yumi yang waktu itu berusia tujuh tahun bergegas menghampiri sang ibu dan memeluknya. Di tengah pelukan manis bersama sang ibu, Yumi melihat seorang anak berdiri di belakang.“Siapa itu?” bisik Yumi pada ibunya.Sang Ibu tersenyum, dia menyuruh bocah itu masuk. “Yumi, perkenalkan, ini Hisa.” Ibunya menepuk bahu anak itu.Sama dengan Yumi, anak itu memiliki rambut hitam sebahu dengan kulit pucat serta mata biru, sementara Yumi punya netra cokelat seperti ibunya dengan kulit kuning langsat.“Halo, Hisa!” sapa Yumi.Hisa membalas dengan senyuman.“Hisa sekarang keluargamu,” ujar ibunya. “Yumi tidak akan sendirian lagi.”***Yumi dengan cepat bergaul dan berteman baik Hisa yang kini menjadi keluarganya. Mereka hampir tidak bisa dipisahkan dan saling menyayangi.Yumi menyadari jika Hisa berbeda dari kebanyakan anak. Dia berpenampilan pucat dan begitu pendiam. Bahkan setelah bertahun-tahun lamanya mereka bersama, tidak juga muncul sifat lain seperti yang dia kira.“Hisa,” panggil Yumi ketika mereka mencapai usia dua belas tahun. Keduanya memang sebaya. “Kenapa kamu begitu pucat?”Hisa hanya tersenyum. “Setiap makhluk diciptakan berbeda.”Yumi hanya ber-“oh” panjang tanpa bertanya banyak.“Yumi, Hisa!” Ibu mereka memanggil.Kedua anak itu langsung mencari ibu mereka yang sedang duduk di serambi. Beliau sudah memakai pakaian tebal demi melindungi diri dari gigitan dan beberapa senjata.“Ibu akan berburu,” ujar ibu mereka. “Kalian jaga diri!”Hanya dengan itu, ibu mereka tersenyum dan melangkah pergi untuk terakhir kalinya.***Tahun demi tahun berlalu, Yumi dan Hisa tumbuh menjadi lebih dewasa tanpa kehadiran ibu mereka. Yumi akhirnya mengikuti jejak sang ibu dan mulai berkelana mencari tempat yang nyaman untuk ditinggali. Sementara Hisa pada akhirnya keluar rumah untuk mendampinginya.Yumi mengamati sekitar, sudah lama dia melihat hal yang sama di daerah berbeda, tapi kali ini dia yakin dengan apa yang dilihatnya.Syut!Hanya dengan sekali lemparan, iblis tumbang dari semak belukar. Nyaris saja memangsanya.Yumi memungut kembali pisaunya yang menancap di kening iblis itu. Dia pun menghancurkan kepala sang iblis, memastikan makhluk terkutuk itu tidak bangkit kembali.Sambil menarik napas, Yumi pun membersihkan pisau di genangan air terdekat lalu menyimpannya ke kantong sebelum melanjutkan perjalanan.Ada pemburu, ada iblis.Selama dia melangkah, ada iblis menyertai.***“Yumi, apa kabar?”Untuk pertama kali dari sekian lamanya, Yumi mendengar suara itu lagi. Dia sedang beristirahat di salah satu rumah warga dan tidak menyangka akan dikunjungi.“Baik.” Yumi menyahuti suara tadi. “Bagaimana denganmu?”“Aman, aku sudah menumbangkan iblis yang nyaris memangsamu. Beberapa bergerak menuju ke arah sini. Sebaiknya kita bersiap.” Hisa yang telah lama berpisah dengannya kembali membawa beberapa uang dan kabar. Seperti biasa, mereka akan saling menjaga dari kejauhan. Dia tidak boleh terlihat.Yumi tahu, bagaimanapun, Hisa akan memihaknya meski dia tahu kenyataannya.Sudah sejak lama ibunya menyembunyikan kebenaran itu, bahkan setelah kepergiannya. Yumi tahu dan Hisa berjanji akan melindunginya.Yumi akan berburu, Hisa akan menjaga.Ada pemburu, ada iblis.Tamat

Sayang Semuanya
Fantasy
17 Dec 2025

Sayang Semuanya

Aku sayang semuanya.Tiada dari mereka yang tidak kucinta.Mereka pergi, aku tidak rela.Karena mereka keluarga.Keluarga akan selalu bersama.***Dalam laut, kami hidup damai.Dalam buaian ombak, kami bermain.Setiap hari, dilalui bersama. Membiarkan ombak membawa ekor kami selagi lautan jernih menampilkan beragam makhluk dan tumbuhan. Beberapa menyapa, beberapa pula sekadar melewati.Aku mengintip ke luar dari air, disambut dunia atas dengan embusan angin. Pemandangan biru cerah disertai cahaya hangat menyambut. Di saat itu juga aku perlahan merasa kedinginan dan kembali ke air demi menghangatkan diri."Cordelia!" Seruan Kakak menyambut ketika aku kembali ke dalam. "Ayo, pulang! Nanti ditangkap bajak laut!"Aku mengibaskan ekor menuju Kakak. Tentu saja tidak mau ditangkap bajak laut yang telah lama memburu para putri duyung seperti kami.Kakak mengenggam tangan dan kami berenang kembali ke dasar air. Dia mrmang bertugas menjagaku dan Adik saat bermain. Tapi, sepertinya Adik sudah pulang dan tinggal aku yang tersisa.Kami hidup di bagian gelapnya laut. Ketika makhluk atas tidak mampu menjangkau kami. Karena mereka yang selalu memburu, aku tidak tahu mengapa.Rumah kami hanya berupa lubang yang menjorok ke bawah, lebih tepatnya berupa lorong panjang yang menyatu dengan lorong lainnya menuju satu tempat di bagian terdalam yang belum pernah kujangkau.Semakin dekat, kulihat ekor kuning melesat ke arah kami. Ketika ekorku tercekat akibat kaget, saat itu juga kudengar seruan."Kakak!" Adik berenang mendekat dan menyambut kami berdua.Aku memeluk Adik dan mencubit pelan pipinya yang tembam. "Makin gemuk saja.""Iya dong, Adik 'kan, sehat," balasnya dengan senyuman cerah."Makan terus, sih, sama kayak kamu." Kakak justru mengacak rambut pirangku.Aku mengangkat pelan tangannya dari kepala. "Ih, mana ada.""Sudah," tegur Kakak. "Ayo, masuk. Nanti telat."Kami pun berenang masuk ke rumah. Bergandengan selagi sesekali mengayunkan tangan untuk bermain sejenak.Ketika memasuki rumah, Ibu menyambut kami dengan hidangan malam ini. Dia tersenyum dan menyuruhku duduk di antara mereka.Sementara Ayah sudah duduk dan tampak menunggu kami sebelum menyantap hidangannya. Begitu kami duduk, dia menyambut kami semua."Bagaimana harimu?" Begitulah basa-basi yang kerab diucapkan orang tua kami, tapi kami tidak akan bosan mendengar."Cordelia kembali menengok daratan," lapor Kakak."Hanya sekali!" sanggahku."Tidak ada manusia, 'kan?" tanya Ibu, raut wajahnya tampak khawatir.Selama ini, aku hanya melihat langit biru serta burung camar dari kejauhan. Rasanya sukar jika ada manusia atau makhluk dunia atas yang melihat."Tidak ada, seperti biasa," jawabku."Hati-hati ke sana," ucap Ayah. "Kita tidak tahu jika mereka bisa melihat dari jauh."Aku mengiakan tanda patuh."Cordelia juga kurangi ke atas," timpal Ibu. "Takutnya kalau berjumpa dengan satu saja manusia, habislah."Aku diam saja, memilih menunduk dan tidak bersuara sebagai jalan aman. Memang benar nasihat mereka, tapi manusia mana yang rela menempuh jarak begitu jauh hanya untuk melihat kami?Sementara Adik dan Kakak makan, kedua orang tua kami pun menyantap makan malam.Kami pun kembali makan bersama. Makanan kami beragam setiap hari tergantung suasana hati Ibu. Menu utama kali ini adalah ikan tentunya. Di tengah waktu, beberapa dari kami akan bercerita tentang hari ini untuk mendapat saran atau hanya sekadar bercerita.Setelah makan malam, kami pun pergi tidur. Kamar hanya terdiri dari bebatuan penyusun gua. Dalam satu ruang ini kami isi bersama khusus tidur hingga hari esok menyambut.Aku memejamkan mata.***"Pagi, Ibu! Pagi juga, Ayah!" sambutku ketika hari esok tiba. Mata biruku menyambut lembaran baru kehidupan.Mereka sedang duduk di meja makan, tersenyum kepadaku."Di mana Adik dan Kakak?" tanyaku, menyadari keduanya tidak muncul juga setelah ditunggu."Mereka bermain," jawab Ibu. "Kamu ketiduran, jadi ditinggal, deh."Aku tersenyum meski sedikit malu. Jarang sekali aku bangun terlambat, padahal kemarin biasa saja."Ya, sudah. Cordelia pergi juga, ya." Aku mendekat dan memeluk kedua orang tuaku sebagai tanda perpisahan singkat. Toh, nanti bakal kembali lagi ke sini setelah beberapa waktu."Hati-hati," ucap Ibu."Jangan sampai tertangkap," timpal Ayah."Baik." Aku berenang menjauh. "Cordelia pergi, ya!"Aku pun pergi meninggalkan mereka dengan semangat membara, tidak sabar kembali menyambut daratan dan desiran angin pantai yang segar.***Ketika pandangan laut biru gelap semakin terang, aku melesat ke atas dan berniat melompat."Halo, daratan!" seruku.Langit tersenyum cerah hari ini, tanda akan menjadi hari yang baik seperti kemarin. Aku melompat dan merasakan angin membelai wajah dan kembali dipeluk lautan.Kembali melompat, aku menatap lautan luas seakan melihat dari sudut pandang burung camar, belum setinggi itu sudah membuatku terkesima.Hari ini begitu damai, begitu sunyi.Tiada suara, tiada interupsi.Sepertinya memang aku harus sendirian saat ini. Kenapa gerangan?Aku kembali menyelam ke dalam, menatap lautan yang masih hening. Sejauh mata memandang, tiada suara melainkan gelombang air."Kakak? Adik?" panggilku. Biasanya mereka yang terlebih dahulu menyeru namaku. Tapi, ini sudah lebih lama dari biasanya.Aku menyelam semakin dalam, menuju daerah terpencil, lebih tepatnya rumahku.Masih saja hening."Ibu? Ayah?" panggilku. "Adik? Kakak?"Lagi-lagi, tiada sahutan.Tetapi, aku dapat melihat secara samar warna gua yang berubah menjadi lebih gelap dan bau aneh.Aku diam, mencoba mencerna apa gerangan yang terjadi. Namun, tidak ada yang baik. Tidak ingin semakin menjadi, aku memberanikan diri masuk ke rumah."Ibu! Ayah!" seruku semakin kencang. "Adik! Kakak!"Terdengar bunyi geraman, di saat itu juga gua bergetar hebat menciptakan guncangan. Aku yang tidak sempat berpikir langsung berlari menyelamatkan diri. Tidak peduli makhluk jenis apa yang mencoba merisak rumahku.Ekorku kini terasa berat. Sesuatu seakan mencoba menarik.Aku berhasil menebas hingga ekorku terlepas. Bergegas pergi sebelum makhluk itu memangsa.Makhluk itu berbentuk bulat besar serta dipenuhi tentakel. Begitu besar hingga gua tempatku tinggal terasa begitu sempit. Dia menyelinap ke sana tanpa memedulikan ukuran.Aku menelan ludah, menatapnya tanpa gerakan. Seakan melihat makhluk ini sukses membuatku gentar hingga pasrah.Namun, makhluk itu berlalu. Meninggalkanku seakan aku makhluk tiada daya tariknya.Menyadari ada kesempatan, aku berenang kembali ke dalam gua dan menyeru nama keluargaku."Ibu! Ayah!" seruku lagi dan lagi. "Adik! Kakak!"Namun, tiada balasan.Ekorku yang lelah mulai melamban. Aku berenang begitu pelan hingga berhenti tepat di ruang makan tempat terakhir aku menjumpai mereka.Mereka di sana.Ekor terpisah dari raga, sementara beberapa bagian telah dimangsa makhluk itu. Menyiksakan tulang dan beberapa daging yang tidak tergigit.Mereka di sana.Tidak mampu bergerak maupun bicara padaku lagi.Terlelap dalam keabadian.Tidak akan ada yang menyambutku pulang.Tidak akan ada yang menemaniku.Tiada lagi ...Mereka yang kusayangi telah pergi.Aku dekati mereka. Terdiam selagi ekorku yang masih menyatu dengan raga mencoba menyeimbangkan diriku yang mulai lunglai.Keluargaku.Aku baringkan badan. Membiarkan raga menyentuh bagian bawah gua yang dingin, menatap langit-langit yang tersusun dari bebatuan.Membiarkan ini menjadi momen kebersamaan kami.Aku tersenyum selagi mata terasa berat. Dunia terasa berputar.Perlahan, menginggat kembali.Andai aku pulang lebih dahulu.Andai pula aku lebih waspada.Andai saja ...Kegelapan perlahan menyambut. Membawaku ke dunia mimpi, satu-satunya tempatku bisa melihat mereka kembali.Aku sayang Ibu.Juga sayang Ayah.Sayang Adik dan Kakak.Aku sayang semuanya.Tamat

Ada Lima
Fantasy
17 Dec 2025

Ada Lima

Ada lima, termasuk aku.Beragam rupa dan kisah.Dari yang senasib hingga beda nasib.Tapi, tujuan kami hanya satu.Pergi dari sini hidup-hidup.***Hijaunya rumput membuatku rindu, mengenang masa di mana masih bisa menikmati indahnya sinar mentari yang kuning dan hangat.Tinggal di sini, dunia rasanya hanya terdiri dari warna kelabu. Hambar rasanya tanpa bisa menghirup udara segar, melihat dunia luar, harus tetap tegar.Di sini, kami hanya makan apa yang diberikan. Bentuknya hanya satu, yaitu berupa bubur merah muda. Baunya aneh seperti bahan yang biasa dipakai untuk berobat. Tapi, demi mengisi perut kami makan saja. Jika minta yang lain, yang ada hanya cacian.“Sudah diberi gratis malah minta lagi! Dasar tidak tahu terima kasih!”Setelahnya, kami hanya bungkam. Berserah diri dengan apa yang diterima.Tinggal dalam satu ruang bersama empat orang lainnya, lengkap dengan keheningan dan kecanggungan, tiada rasa selama beberapa waktu terkurung di sini.Aku tidak ingat banyak apa yang terjadi. Dahulu, aku hanya bermain bersama teman sebayaku di sebuah taman.Muncul sosok pria datang kepadaku, menawarkan sebuah permen.“Ini permen paling manis yang pernah diciptakan,” katanya sambil menyodorkan permen kecil berwarna merah muda. “Kamu yang terpilih untuk mencicipinya.”Tanpa ragu, diriku yang tidak tahu menahu langsung menyantapnya kemudian lari menyusul teman-temanku.Langkah kakiku terpacu mengejar teman-teman sambil tertawa riang. Bermain sambil mengecap permen manis ini. Hingga perlahan dunia terada berputar, kaki perlahan kaku, hingga kepalaku terbentur ke tanah.Menyisakan kegelapan.Disertai jeritan teman-temanku.***Begitu bangun, aku telah berada di ruangan kelabu ini bersama keempat anak lainnya. Mereka duduk memeluk lutut, sebagian berbaring, tapi tidak satu pun menyapa saat menatapku.“Um, halo?” sapaku.Hening.Tiada dari mereka yang bahkan membuka mulut. Semua diam menatapku. Tatapan yang sama herannya.Menyadari bahwa aku barangkali tidak akan bisa bicara lagi, kuputuskan untuk diam dan duduk di pojokkan. Menunggu dan menunggu.Di sinilah aku berada. Bersama orang baru di tempat yang baru pula.***Langit biru tampak di sela jendela berjeruji. Aku dekati kemudian berusaha menghirup udara dari sana. Saking lamanya di sini, lupa bagaimana bau kebebasan itu.Ada lima orang termasuk aku di sini. Kami diambil pada suatu hari, direngut dari tanah kelahiran tanpa tahu apa yang terjadi.Tidak ada yang bicara, bahkan aku sendiri merasa berat saat hendak berbisik. Namun, kami semua tetap saling menerima, meski di sisi lain tampak lebih mengabaikan.Terkurung di sini dan diberi makan makanan yang aneh, tanpa alasan yang jelas, membuat semangat hidup pudar.Rasanya, tiada gunanya hidup di dunia candramawa ini.Namun, aku tidak akan menyerah.Kami akan keluar.Kami harus pergi.Suatu saat nanti jika takdir berkehendak, aku akan mengibarkan sayapku menuju langit biru.Mencari keluargaku yang tidak pernah ada.***Ada lima, termasuk aku.Meski tidak bicara, kami bisa saling memahami melalui isyarat.Tapi, dengan ini kami juga harus bersabar dan menunggu sebelum melancarkan aksi.Ketika penjaga yang biasa mengawasi kami pergi, kami mencoba mendobrak pintu. Setiap bunyi dentuman yang kami ciptakan, tidak menimbulkan suara lain melainkan dentuman tadi. Pertanda kami benar-benar aman.Inilah kesempatan.Makanan merah muda aneh itu memang terasa memengaruhi badan kami, membuat kami kian cepat letih. Tetapi, tekad kami tetap kuat hingga ...Pintu didobrak.Jatuh di hadapan kami.Atas ketabahan dan kekuatan, kami bersama berhasil keluar dari jeruji besi ini.Terpampang jelas rumput hijau menyambut. Artinya kami hanya dikurung di satu ruang kecil tanpa pengawasan yang berarti. Tampak warna lembayung senja menyambut mata, membuatku seakan telah bertemu dengan sosok yang telah lama tidak dijumpa.Rasa rindu ini ... Membuat jantungku berdebar.Rasa rindu ini membuat hatiku terasa berbunga.Aku telah bebas.Tapi, ada yang aneh.Kami hanya dikurung semudah ini dan bebas secepat ini pula. Lantas, kenapa kami ditangkap dan dikurung? Jika benar tiada niat, kenapa bisa terjadi?Aku tidak begitu memusingkan, kami pun saling tatap dan memantapkan diri.Begitu mentari mulai tenggelam, kami meneruskan langkah ke depan. Tidak tahu pasti apa yang menghadang.Kami akan maju.Kami harus tetap maju.Bergandengan kami berlari menembus hijaunya hutan di kelamnya malam.Tidak ada yang terlihat melainkan bayangan kegelapan.Tiada suara melainkan suara napas dan langkah kaki.Napasku memburu, perlahan membuatku tersenggal. Tapi, tekad untuk bebas tetap berkobar. Demi bisa merasakan kehidupan lamaku yang indah.Hingga tampak semburat cahaya dari kejauhan. Tampak bagaikan malaikat penyelamat.Itu lampu jalanan menuju kota.Sebentar lagi kami akan diselamatkan warga kota di ujung sana.Kami akan keluar.Kami telah bebas ...Dor!Jantungku berdegup kencang, napasku kian kacau. Bahkan kaki nyaris terjatuh akibat tidak fokus berlari saking gentarnya.Rasa takut kembali menggelayut. Harapanku untuk bebas pecah bersamaan dengan bunyi tembakan itu. Seakan sebuah peluru menembus langsung ke kepala.Bruk!Bunyi benda jatuh menghantam tanah. Diiringi langkah kaki kami yang meleburkan suara kekacauan tadi.Mataku tidak sempat menoleh, hanya melihat salah seorang dari kami jatuh.Dia telah gugur. Bersama genangan merah dari kepala.Kami tidak menjerit. Sejak awal kami tidak bisa bersuara meski berharap.Kami tidak boleh bersuara. Tidak bisa menolong apalagi membopong.Kami harus maju.Kami harus tetap maju.Meneruskan langkah, menghindari bunyi tembakan serta peluru yang melesat ke segala arah.Beberapa pohon dan tanah tertembak, mereka tidak menjerit juga.Lidahku kelu, ditambah tenaga kian menipis. Yang ada di benak adalah cara bebas. Setelah semua perjuangan ini, aku akan pergi, harus.Kini tinggal kami berempat.Ketika bunyi dentuman disertai bentakan menghias udara malam yang sunyi, kami berpegangan dengan erat.“Sialan! Di mana mereka?!”Suara itu tidak digubris melainkan dengan bunyi tembakan dan bentakan lain darinya. Bagai kesetanan, dia menjerit layaknya seekor serigala yang kelaparan dan geram akibat kehilangan mangsa.Sayangnya, dia hanya berhasil menemukan satu. Itu pun tiada gunanya lagi baginya.Aku menarik napas, mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya melesat sambil menarik tangan teman-temanku.Kami berlari.Berlari dan terus berlari.Menyusuri hutan yang gelap, disertai bunyi tembakan dalam ketakutan.Kami akan bebas.Kami harus bebas.Jika perjuangan kami sia-sia, setidaknya kami tidak menunjukkan kalau kami pasrah.Ketika bunyi mengerikan itu perlahan tertelan di dalam gelapnya hutan, kami akhirnya bisa tenang.Meski kami tidak tahu pasti jika kami telah aman.Aku terus menggandeng teman-temanku. Bertekad akan menjaga mereka hingga maut memisah.Kami terus berlari. Meninggalkan semua kesialan ini. Menuju terbitnya mentari.Tamat

Makanan Hari Ini (Special Halloween)
Fantasy
17 Dec 2025

Makanan Hari Ini (Special Halloween)

Aku merentangkan badan, berusaha mengumpulkan kesembilan nyawaku yang berjalan di kala lelap. Hari sudah gelap, biasanya babu akan datang dan menyapa. Mata masih setengah terbuka. Begitu bisa melihat dengan jelas, seisi ruangan masih terlihat sama seperti sedia kala. Hanya diterangi cahaya lampu beserta perabotan rumah yang masih tertata rapi.Mengeong pelan, memastikan tidak ada siapa pun di rumah ini, atau setidaknya direspons oleh babuku. Nyatanya, semua hening.Aku lalu melangkah keluar dari tempatku tidur yang berupa keranjang kecil berisi kain menumpuk. Mencari apa saja yang bisa dilakukan selama babuku pergi.Tidak banyak cerita tentang diriku. Aku hanya makhluk kecil imut yang berbulu kelabu. Kegiatanku hanya makan, tidur, dan sesekali kawin jika berkehendak. Bukan berarti aku hanya hiasan di rumah, aku berguna jika ada tikus, lho. Meski tidak semua bisa ditangkap.Babu yang kumiliki saat ini sepertinya sibuk. Karena biasanya dia akan pulang membawa daging. Mungkin makanan hari ini lebih susah dicari karena jalanan lebih ramai.Kenapa jalanan ramai? Karena sekarang ini Halloween.Perayaan setahun sekali yang menurutku biasa saja. Ketika orang-orang memakai pakaian gembel dan berkeliling komplek sambil menjerit minta sebiji makanan. Memang, babuku juga ikut merayakan, tapi percuma dia membawa pulang banyak permen kalau taringku tidak kuat. Sebagai kucing, aku merasa tidak dihargai.Sambil menginggat-ingat, berulah aku sadar jika babuku keluar rumah lebih awal. Sepertinya suasana hati tampak berbunga, melihat dia langsung pergi tanpa pamit maupun memeriksa mangkuk makananku bilamana kosong. Padahal biasanya, sebelum pergi, dia akan datang padaku dan menggendong majikannya yang imut ini sambil memberitahu rencananya."Hari ini, aku cari makanan yang banyak, ya." Begitulah pesan dari babuku.Tapi, hari ini tidak ada sama sekali.Aku hanya diam sambil memandanginya keluar. Sebagai kucing yang baik, harus tetap kalem. Meski dalam hati sedikit kesal karena pelayanannya kurang.Tapi, sudahlah. Toh, sebentar lagi dia pulang dan aku akan memaafkannya.Kepergian babuku sudah biasa terjadi, lebih tepatnya hampir setiap hari. Maka aku sebagai majikan, harus menjaga rumah. Baru setelahnya kuhabiskan waktu di tempat tidur. Jangan salah, tidur bukan berarti lengah.Sebagai kucing yang istimewa dan imut, telingaku berfungsi dengan baik. Saat tidur, masih bisa mendengar bunyi decitan tikus yang sedang bergosip di loteng. Ah, apa gerangan yang mereka bahas?"Cit, cit, cit!" Decitan yang menyebalkan.Aku biarkan saja. Mereka barangkali membahas kenapa makanan di sini mulai berkurang. Salah sendiri rakus, yang punya rumah siapa, yang susah siapa.Aku lanjutkan perjalanan menyusuri rumah. Mengabaikan para tikus yang sedang berkumpul. Selama mereka tidak merusak barang berharga, biarkan saja. Lagian, sudah wajar kalau rumah berbau ini dipenuhi tikus. Makanya aku di sini.Ekor yang panjang ini bergoyang tegak selagi menuntunku berjalan mengelilingi rumah babuku. Meski sudah hidup bersamanya selama hampir empat tahun, aku tetap saja jarang melihat ruangan tersembunyi. Barangkali ada benda yang menarik.Sayangnya, meski dia babuku, dia sering marah ketika aku merobek gorden jendela maupun melubangi seprai kasur dengan cakar. Maksudku, aku hanya mengasah pusakaku demi melindungi kami berdua dari segala gangguan. Kenapa harus marah?Karena hari ini dia tidak ada, aku bisa kembaki mengasah pusakaku tanpa halangan. Tapi, itu untuk hari lain. Sekarang, aku butuh istirahat setelah perjalanan panjang.Ketika aku kembali ke kamar babuku, aku pun berbaring di kasurnya. Ah, ada aroma kami berdua. Baguslah kalau dia tidak menghilangkan bauku dari barangnya.Ah, nyamannya. Enak sekali dia berbaring di tempat yang lebih luas dan empuk, sementara aku hanya di keranjang berisi tumpukan kain. Aku harus protes!Tapi ...Mataku perlahan terpejam selagi aku membaringkan diri. Begitu nyamannya hingga aku melupakan sejenak kekesalanku. Tidak heran babu,ini betah berbaring. Sehabis menghilang beberapa jam, langsung saja dia tepar di sini. Sayangnya, babu tidak sepenuhnya senang melihatku berbaring di kasurnya. Tapi, salah dia membiarkan pintu kamar terbuka."Venn! Venn!"Akhirnya datang juga babuku.Bergegas aku datang mengeong, mengeluh kenapa dia terlambat.Dia menggendong lalu mencium pipiku yang berbulu. Sudah biasa bagiku, meski tetap saja di sisi lain risi.Babu ini cukup pendek untuk anak berusia enam belas tahun, dengan tubuh kurus serta rambut kelabu agak panjang yang terlihat lepek. Pascal namanya, dan dia babu ekslusifku. Maksudku, memang hanya aku yang dibesarkan oleh Pascal.Seperti hari biasa, aku mencium bau menyengat tapi lezat. Langsung saja mengeong meminta.Pascal ternyata membawa beberapa kantong yang cukup besar, dia lempar ke lantai.Aku pun mendekat lantaran penasaran.Ternyata seperti biasa. Pascal memang membawa daging yang sering kami santap bersama. Kali ini, jumlahnya lebih banyak dan ada tambahan daging yang telah dihancurkan hingga tidak jelas bentuknya. Tapi, baunya sungguh harum.Aku pun menatapnya polos, meminta penjelasan.Pascal tersenyum, "Venn, malam ini kita makan daging lagi, ya."Aku akui, memang bosan makan daging. Tapi, aku juga tidak bisa makan yang lain selain itu. Selama bertahun-tahun, kupendam saja perasaan ini.Pascal kemudian mengambil beberapa potong daging dari kantong yang paling besar. Ternyata banyak cairan merah yang masih basah dan perlu dibersihkan. Bagian ini hanya akan disimpan untuk beberapa hari ke depan.Kantong kedua sedikit lebih kecil, dan terakhir tentunya. Dia hanya membawa dua kantong yang cukup besar. Sementara isinya kebanyakan berisi bagian yang paling kami suka, tangan.Pascal mendekatkan tangan itu padaku. Seperti biasa, aku akan mengendusnya. Sedikit tergoda untuk menyantap, tapi sudah telanjur ditarik kembali."Hari ini, dagingnya sedikit susah dicari karena agak gagah," ujar Pascal. "Kulitnya susah dipotong, belum lagi aku sudah lelah dari tadi mengejarnya."Aku diam saja, membiarkan Pascal mengelusku lembut. Bertingkah seakan mendengarkan, demi makanan. Maka, aku gulingkan badan dan menampilkan perutku yang indah."Venn," panggil Pascal dengan nada manja. "Kamu manja, deh. Ya, sudah, aku kasih sekarang."Langsung saja aku berdiri dan mengeong keras, sudah tidak sabar tentunya.Pascal tertawa kecil dan menyerahkan tangan pucat itu padaku. "Makan yang lahap, ya."Aku pun menggigit tangan itu dan berjalan menuju mangkuk makan yang telah kosong. Rasanya enak, meski sedikit keras. Pasti semasa hidup belum pernah merawat diri.Pascal tampak tersenyum melihatku lahap. Dia lalu berpaling dan kembali membereskan daging-daging itu. Tidak perlu menunggu lama bagiku menunggu Pascal memasak dan menyajikan makanannya. Sementara sisa daging bisa disaji besok.Pascal duduk di meja bersama sup dengan daging baru itu. Dia menghirup asap yang mengepul dari mangkuk sebelum akhirnya menyantap masakannya.Setelah selesai menyantap tangan mentah, aku mendekati babuku.Aku mendekat lalu mengeong, menunjukkan betapa enaknya dagingnya kali ini, meski sedikit keras. Tapi toh, tetap saja lidahku merasa dimanja. Sekaligus ingin daging tambahan.Pascal mengelus kepalaku, dia lalu menyerahkan sepotong daging mentah padaku. Langsung aku santap dengan nikmat. Sementara dia kembali menyantap sup tadi."Hari biasa, bersama daging," ujar Pascal sambil tersenyum.Aku mengeong, tanda setuju. Barangkali nanti dia bisa mencarikan daging yang lebih montok. Tapi, untuk kali ini, sudah cukup.Di malam Halloween, kami menikmati makan malam bersama. Di bawah rembulan yang lembut diselimuti kebahagiaan kami bersama.Tamat

Dunia Berbunga
Fantasy
17 Dec 2025

Dunia Berbunga

Ketika memejamkan mata, aku pun terlelap. Tempat di mana aku semestinya merasa nyaman bersama pikiranku, hingga menuntun ke alam mimpi.Ketika aku bermimpi, yang kulihat adalah kehidupan. Sekelompok makhluk bercengkarama dalam sebuah ikatan. Namun, yang kualami saat ini jauh dari impian itu.***Begitu kembali membuka mata, aku hanya bisa melihat tumbuhan merambat dari sela lubang kamar. Merangkak mendekat setiap detiknya, tampak mencoba meraihku.Kamar kini dipenuhi tumbuhan dari beragam bentuk dan rupa. Mulai dari warna putih, ada pula merah. Setiap hari, mereka tampak bergerak mengeliat ingin melakukan sesuatu. Tapi, saat itu juga aku berhasil memotong mereka sebelum meraihku.Sulur yang mengekang pintu kamar sudah berhasil kupotong semua. Kupastikan tidak ada lagi yang mencoba menganggu. Setelahnya, aku akan keluar dari wilayah terkutuk ini.Sudah seminggu semenjak wabah aneh menyelimuti daerahku. Ketika tanaman tumbuh dengan cepat membentuk rupa yang aneh. Ada yang menyerupai hewan, manusia, bahkan bentuk aneh dari kombinasi semua ini.Sulur-sulur yang merambat di bekas kamarku ini bukan tipe yang berbahaya secara langsung. Tapi, bisa jadi mereka mengikat lalu mencekikku dalam tidur jika lengah. Maka, kuputuskan untuk pergi dan mencari tempat baru yang tidak dijamah.Aku keluar dari bekas apartemenku. Semua orang sepertinya sudah pergi. Tentu saja, mereka pasti minggat sehari setelah mendengar kabar wabah aneh ini. Tapi, aku menunda karena mengira tidak akan separah tadi. Akhirnya, seperti yang lain, pergi juga dari wilayah yang sudah ditempati selama dua tahun ini. Niat hendak pulang kampung jika memang di sana belum terjangkit.Sambil mengangkat tas punggung berisi barang bawaan, aku melangkah menuju stasiun, mencari-cari kereta yang masih beroperasi. Semenjak tumbuhan mulai merambat menguasai kota, seluruh alat komunikasi tidak terkecuali televisi seketika padam. Sehingga aku jelas ketinggalan banyak.Stasiun tampak menyedihkan. Sulur-sulur merambat memeluk erat hampir setiap sisi, belum lagi beragam macam bunga tumbuh menghiasi stasiun yang mulai tampak mati ini. Layaknya kebun, semua hanya terdiri dari itu saja."Tolong! Tolong!"Terdengar jeritan dari dalam. Entah naluri dari mana, aku sahuti mereka dari luar."Tunggu!" Aku pun melangkah masuk. Memberanikan diri mendekat tanpa memikirkan sulur-sulur yang bergerak ke arahku. Ini kesempatan terakhir, jangan sampai tertinggal.Mereka menjerit lagi, kali ini lebih keras disertai isak tangis. Aku yang tidak tega, mempercepat langkah hingga tiba di sumber suara.Aku terkesiap menyaksikan apa yang kulihat. Sesuatu yang kutakutkan sejak wabah aneh ini menyerang.Sekumpulan orang melekat satu sama lain. Menyatu dalam ikatan sulur selapis demi selapis. Namun, hanya satu dua orang yang berseru padaku, sementara sisanya terkulai lemas dalam balutan sulur."Bertahan!" seruku sambil menarik tas punggung untuk mencari pisau kecil yang biasa kupakai untuk memotong sulur.Mereka berhenti menjerit, tapi pandangan terus tertuju padaku, tampak berharap agar aku lekas membebaskan mereka.Syat! Aku memotong sulur demi sulur yang mengikat mereka.Satu dari mereka lepas. Terkapar sebelum akhirnya bangkit dan menjauh beberapa langkah."Terima kasih!" serunya sambill memandangi sisa orang yang masih terikat.Tidak butuh waktu lama, aku berhasil membebaskan satu lagi. Menyisakan yang lainnya, tidak merespons seakan sudah tiada."Terima kasih," ucap satunya.Baru saja hendak berkenalan, terdengar bunyi kereta lewat. Bagai disambar petir, aku melesat. Ini kesempatan terakhir, jangan sampai tertinggal.Terdengar suara langkah kaki lain, rupanya mereka berdua mengejarku, berniat turut serta.Tepat di depanku, telah singgah sebuah kereta. Aku langsung naik bersama dua orang baru tadi kemudian duduk. Tidak butuh waktu lama, kereta melaju sebelum sulur-sulur merambat kembali.Aku duduk di kereta yang isinya tidak terjamah sulur. Sementara kedua orang baru ini langsung tepar di tempat duduk bahkan ada yang di lantai. Mereka tampak kurus dan pucat, belum lagi tubuh dipenuhi bekas ikatan hingga menciptakan garis besar membekas di kulit.Aku belum bisa memastikan untuk memperkenalkan diri. Melihat kondisi mereka yang menyedihkan ini. Hendak mengambilkan air minum, tapi aku urungkan niat menyadari stok terbatas. Mungkin bisa dibagikan kalau ada tambahan.Dua orang yang kuselamatkan adalah seorang pemuda dan gadis sebaya denganku. Mereka tampaknya juga berusaha pindah sepertiku, tapi malah justru ditangkap tumbuhan aneh itu."Terima kasih," lirih salah satu dari mereka. Seorang gadis berambut hitam pendek, melirikku dengan sorot mata lelah. "Kukira aku tidak akan selamat."Aku mengiakan. "Kalian mau ke mana?""Ke mana saja," sahut gadis itu, dia kemudian duduk perlahan di sisiku. "Kamu?""Sama, asalkan aman," jawabku kemudian menatap pemuda yang telah tepar. "Kamu mengenalnya?""Tidak," jawab gadis itu. "Tapi, dia terjebak lebih dulu dariku.""Kukira sama," balasku."Tidak," jawabnya. "Saat aku terperangkap, saat itu stasiun masih penuh dan semua orang kalang kabut. Tanaman meliar dan aku tidak sempat menyelamatkan diri."Dia lalu menarik napas lega. "Untung ada kamu."Aku mengiakan tanda mendengar. Kubiarkan kedua orang baru ini beristirahat selagi kereta melaju.***Ketika aku bermimpi, kulihat lagi pemandangan yang sama. Hamparan rumput menyapa, bersama beberapa orang melintas disertai senyuman.Aku berada di antara mereka, semua tampak bahagia bersama alam. Ketika bunga dan tumbuhan masih menghias bumi dengan indah, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya juga.Begitu harum, begitu indahnya.Ketika aku memetik sebuah dandelion kemudian meniupnya, serpihan halus menghias udara dengan indahnya. Aku menyaksikan dalam diam, selagi mentari senja semakin jingga.***Perasaan geli membuatku tersadar. Sesuatu telah menyentuh pipi.Begitu aku mengerjapkan mata. Aku disunguhi pemandangan sulur yang merambat menghiasi langit-langit hingga mengeliat ke arahku."Hiii ...!" Rekfleks aku menjauh dan terjatuh ke lantai yang dipenuhi sulur-sulur.Nyaris saja menyergapku, aku langsung berdiri dan berhasil menarik sulur yang menyentuhku hingga putus.Mengatur napas, aku mencari area dalam kereta yang tidak tersentuh.Area sekitarku telah dipenuhi sulur. Tampak telah memangsa semua yang terlihat. Aku bahkan tidak menemukan kedua teman baru yang bahkan tidak jelas namanya.Berbekal pisau kecil, aku berlari dan mengayunkannya pada sulur yang merambat. Kereta telah berhenti, bisa jadi masinisnya telah pergi bahkan tewas. Aku berusaha mencari pintu yang terbuka, malahan terkunci.Sial! Aku harus menyelamatkan diri sebelum sulur meliar!Teman-teman baruku telah pergi, dan barangkali tewas juga lantaran aku tidak menemukan jejak atau bekas berupa perlawanan. Bahkan tidak ada tanda pintu maupun kaca diretakkan. Bisa jadi mereka dimangsa dalam lelap.Sulur-sulur ini mulai mengikat kaki. Aku tebas semua dan melompat ke kursi, meski telah dikuasai mereka juga.Mataku tertuju pada gumpalan sulur yang menutupi sesuatu di samping kiri dekat pintu. Aku berhasil memotong mereka semua setelah beberapa kali menebas. Akhirnya ketemu juga apa yang dicari.Palu!Langsung kuraih dan mengarahkannya ke kaca jendela.Prang! Jendela pecah hingga terlihat celah bagiku.Aku menarik napas lega. Tanpa berpikir panjang, melompat keluar dari kereta yang telah dikuasai sulur.Ketika keluar, aku menyadari suatu kenyataan pahit.Di depanku, terdapat jurang yang begitu luas dan curam. Dan kegelapan semakin dekat ke arahku. Hingga akhirnya menjemputku.

Mora
Fantasy
17 Dec 2025

Mora

Malam ini, tidak ada jatah untuknya.Hari ini, pertunjukan ditiadakan.Saat ini seharusnya dia sudah kenyang dan siap menyambut mimpi. Namun, dia tidak mungkin tidur dengan gelisah, ditambah perutnya yang terus menjerit minta diisi.Selagi menunggu pengurus, dia kembali menatap ke luar jendela dengan penuh harap, menggenggam jeruji besi yang menghias jendela, di ruang yang dia sebut sebagai kamarnya.“Tuan akan memberimu makan dan minum, selalu menjagamu dan memastikan kamu tetap bahagia.”Begitulah yang diucapkan seseorang di hari dia memilih meninggalkan rawa tempat dia berasal. Sambil menggenggam tangan gadis lugu itu, orang asing ini membawanya masuk ke kereta kuda yang melaju kencang menuju tempat yang belum pernah gadis ini lihat.Sambil berharap, gadis lugu itu menatap jendela, memandangi jalanan yang asing. Sejak awal dia hidup, belum pernah ada pemandangan lain melainkan pepohonan dan sungai mengalir. Di hutan itu dia hidup berkecukupan, makan apa yang ada, menemukan teman bermain. Namun, kini gadis itu sepertinya menemukan teman baru.Kereta melewati tempat yang dipenuhi makhluk yang aneh, sama persis seperti sosok yang membawanya ini.Gadis itu bertanya-tanya. Ke mana sirip mereka? Kenapa kulitnya begitu aneh? Sambil mengamati, dia pegang sirip yang menghias telinganya, serta tangan yang berlapis kulit kehijauan persis seperti tempat kelahirannya di rawa. Dia tidak tahu dari mana asalnya, tapi dia tahu rawa itu cocok untuknya.Sekarang, dia menemukan tempat lain. Barangkali akan lebih baik dibandingkan kehidupannya di hutan.Tirai kereta ditutup.Gadis itu terkejut dan menatap teman barunya. Dia mengungkapkan kebingungan di balik wajahnya yang berlapis sisik kehijauan.“Mereka belum siap melihatmu,” ujar sang teman. “Tapi, mereka pasti akan menyukaimu.”Tidak begitu paham dengan apa yang diucapkan, gadis itu mengiakan dan diam memandangi seisi kereta.Begitu sampai, tampak sebuah tempat mirip gua yang biasa dia lihat, bedanya yang ini penuh dengan warna dan bentuk atasnya tampak runcing seperti taring. Campuran warna dari semua musim yang dia lalui, tercampur padu dalam satu tempat aneh ini. Inilah rumah baru.“Ayo, masuk!” Orang itu mendorong si gadis masuk ke gua aneh.Mereka menjelajahi lorong panjang yang gelap, sebelum akhirnya tiba di tempat yang luas dan terang. Tempat ini layaknya sebuah dasar jurang namun dindingnya terbuat dari kayu serta tampak beberapa celah yang bisa diduduki. Belum lagi yang mereka pijak selama ini terbuat dari pasir. Ada beberapa cahaya nyaris menusuk mata, tapi gadis ini sudah terbiasa dengan sinar mentari yang jauh lebih ganas.Teman baru menyeru, “Tuan! Aku dapat dia!”Gadis itu menatap sekeliling, bertanya-tanya siapa gerangan yang dipanggil.Tidak lama setelahnya, muncul sosok berbaju hitam dan tampak rapi mendekat dan mengamati mereka berdua. Entah kenapa, dia tidak tampak seseram yang dibayangkan. Namun, gadis ini merasa ada yang janggal, tapi tidak tahu harus berbuat apa.“Jadi, ini yang kamu maksud?” tanya pria berbaju rapi itu.“Ya, Tuan,” jawabnya. “Tidak disangka, dia begitu jinak.”Si Tuan mengamati kembali gadis ini, tampak ujung bibirnya melengkung membentuk senyuman tapi tidak begitu menyenangkan hati si gadis. “Dia anak yang baik. Dengan kedatangannya, sudah pasti dia akan memberi kita banyak keuntungan.”“Ya, dia akan menari dan bermain untuk pengunjung sirkus ini.” Orang itu menepuk bahu gadis itu. “Dia pasti akan memberi kita banyak uang. Jika dilatih dengan benar, maka sirkus ini akan laku keras!”Gadis itu tidak paham maksudnya, tapi dia merasa telah diberikan tugas yang diemban untuk waktu yang lama. Tidak tahu apa dan mengapa harus dijaga amanat aneh ini. Hendak bertanya tapi tidak tahu bagaimana cara bicara, gadis ini lagi-lagi hanya diam dan patuh.“Sekarang, kita beri dia nama.” Sosok yang disebut Tuan ini kemudian menatapnya. “Bagaimana kalau ‘Gadis Rawa’ atau mungkin ‘Monster Rawa’ saja?”“Pilihan kedua lebih keren, menurutku,” komentar teman baru ini. “Kita singkat saja jadi si ‘Mora’ lalu tulis di papan ‘Mora si Monster Rawa’ pasti langsung penuh sirkus ini!”Kini, dia punya kata yang harus dia tanggapi, “Mora.” Sepanjang hidup, belum pernah dia memiliki kebiasaan seperti itu. Dia bahkan tidak tahu fungsinya nama. Kini, dia harus ingat bahwa kini ada perubahan baru untuknya.“Ayo, Mora! Kubawa ke kamarmu!” Teman membawanya berjalan menuju lorong gelap lagi, meninggalkan Tuan di ruang penuh cahaya itu.Mora yang kini punya julukan baru terus menatap Teman. Ya, itu panggilannya untuk sosok ini. Meski pertemuan mereka berawal dari sebuah kebetulan.Ketika itu, Mora sedang asyik mengamati tumbuhan yang menarik selagi dia memainkan jari. Saat itulah dia terkesiap melihat sosok besar bersembunyi di balik pohon, tidak kalah kagetnya. Mereka saling tatap, sebelum akhirnya pria aneh ini mendekat.“Siapa namamu?” tanyanya. “Di mana orang tuamu?”Mora jelas bingung. Dia tidak punya nama, apalagi orang tua. Dia jawab dengan keheningan.Sosok itu tertegun. “Di mana kamu tinggal?”Tanpa ragu, Mora menarik tangannya dan mengajak tamu aneh ini menuju rawa tempat tinggalnya. Gadis itu langsung melompat dan berenang sambil tertawa. Dia kemudian menatap sosok baru itu, tampak hendak mengajaknya bermain.Tapi, dia hanya mengamati, lalu kembali bertanya.“Kamu tinggal sendiri?”Mora mengiakan dan kembali berenang.Sosok itu terus mengamati gerak-gerik Mora, mulai dari cara dia berenang hingga kembali ke darat dan bermain bersama apa saja yang lewat, mulai dari dedaunan hingga kelinci.Tamu aneh ini kemudian menghampiri Mora yang sedang mengelus kelinci. Tapi, binatang itu lari begitu melihat makhluk asing.“Kamu suka menari, ya?”Mora mengangguk.“Aku punya tempat di mana kamu akan terus menari dan bermain,” katanya. “Kamu tidak perlu khawatir, karena kami akan merawatmu dengan baik.”Mora hanya tersenyum, mengira ini sekadar tawaran dari sosok yang baik hati.Dari situlah, keduanya saling kenal dan kini Mora tinggal di tempat yang dimaksud.Kamarnya terdiri dari jerami yang empuk, sekiranya dia bisa tidur dengan nyaman. Teman juga memberinya makanan ikan mentah, sama enaknya dengan yang biasa Mora tangkap.“Ingat, Mora,” pesan Teman sebelum pamit. “Besok kamu harus menari untuk kami, kalau mau makan enak.”Mora tanpa ragu mengangguk, dia pun ditinggalkan di kamarnya.***Begitu mentari bersinar kembali, Mora dibangunkan oleh Teman dan disuruh memakai kain aneh yang menghias kulitnya yang bersisik. Kain ini terbuat dari bahan nyaman dan berwarna seperti daun di musim gugur. Rambut hijau pucatnya juga disisir lalu diikat dua sisi membentuk jeruk. Mora tampak manis hari ini.“Nah, Mora, silakan menari dan jangan kecewakan kami!”Teman pun menggandeng Mora menuju gua aneh yang disebut “sirkus” itu. Setelah melewati lorong gelap yang panjang, dia tidak menyangka akan disambut dengan jeritan memekakkan telinga.“Inilah Mora si Monster Rawa!”Suara aneh yang menggema sontak membuat Mora gemetar, ditambah lagi jeritan dan kericuhan dari atasnya. Puluhan orang yang menyerupai Teman dan Tuan menatap dan tampak hendak mengusirnya.Dia tahu karena biasanya binatang akan menjerit dan mendesis jika tidak ingin dia mendekat. Mora kira dia telah ditolak. Sakit hati, Mora berlari sambil terisak.“Hei, kembali!”Seruan Teman dia abaikan. Terus saja berlari sambil menahan derai air mata. Dia ketakutan, tidak tahu mengapa ini terjadi.“Akh!” Mora terjatuh ketika benda yang begitu ringan menyayat kakinya.Begitu menoleh, Mora melihat tangan Teman memegang benda menyerupai sulur panjang yang mengeluarkan suara layaknya dahan patah. Ketika benda itu berayun ke arahnya dan mengenai badan mungil Mora, gadis itu menjerit.“Diam!” bentak Teman.Mora tersentak dan terisak. Dia tidak mengerti mengapa dia dimarahi.“Kamu merusak acaranya!” kesal Teman. “Kamu membuat kami bangkrut!”Teman menyeretnya dengan kasar kembali ke kamar.Mora terlempar dan kamarnya langsung dikunci. Dia gemetar mendengar geraman dari luar. Mengingat kembali jeritan serta sulur menyakitkan itu, membuat tangis Mora pecah saat itu juga.Mora menjerit, meluapkan segala yang menjanggal di hati. Kesal, malu, takut, dan sakit.Mora roboh dengan isak tangis di kamarnya.***“Maklum, Mora hanya anggota baru.” Terdengar suara Teman dari kejauhan, terdengar jelas oleh Mora di kamarnya. “Dia perlu belajar.”“Kalau begini terus, kita bisa bangkrut!” bentak Tuan. “Carikan aku makhluk aneh lain! Pastikan dia tidak pengecut seperti bajingan tadi!”“Baik, Tuan.”“Jangan beri Mora makan! Dia harus belajar untuk berusaha baru bisa makan enak.,” tambah Tuan.“Baik, aku mengerti.”Hanya dengan itu, suasana kembali hening.Mora menatap dari dalam kamar, lantas duduk dan mengamati bekas luka di kaki. Apa dia harus melawan para makhluk aneh yang menjerit itu? Atau sekadar menari? Tapi, apa mereka suka dengannya? Jika mereka tidak suka, maka Mora tidak bisa makan.Katanya, mereka akan merawat Mora dengan baik.Tapi, di hari pertama malah seperti ini.Dia harus menurut, agar bisa menikmati ikan mentah yang enak. Tapi, apa dia akan selamanya harus menari untuk makhluk menjerit itu?Mora menatap jendela, membayangkan dirinya terbebas dari kurungan ini.Membayangkan dirinya harus melakukan apa pun yang mereka inginkan, demi melangsungkan hidup. Jika tubuhnya terlalu rapuh, bagaimana dia bisa makan? Apa mereka akan membuangnya?Dalam keheningan malam, Mora memeluk lututnya.Berharap kebebasan akan menghampiri.TAMAT

Kabayan
Folklore
17 Dec 2025

Kabayan

Tersebutlah seorang lelaki di tanah Pasundan pada masa lampau. Si Kabayan namanya. Ia lelaki yang pemalas namun memiliki banyak akal. Banyak akal pula dirinya meski akalnya itu kerap digunakannya untuk mendukung kemalasannya. Si Kabayan telah beristri. Nyi Iteung nama istrinya.Pada suatu hari Si Kabayan disuruh mertuanya untuk mengambil siput-siput sawah. Si Kabayan melakukannya dengan malas-malasan. Setibanya di sawah, ia tidak segera mengambil siput-siput sawah yang banyak terdapat di sawah itu, melainkan hanya duduk-duduk di pematang sawah.Lama ditunggu tidak kembali, mertua Si Kabayan pun menyusul ke sawah. Terperanjatlah ia mendapati Si Kabayan hanya duduk di pematang sawah. "Kabayan! Apa yang engkau lakukan? Mengapa engkau tidak segera turun ke sawah dan mengambil tutut-tutut (Siput) itu?""Abah-abah (Bapak), aku takut turun ke sawah karena sawah ini sangat dalam. Lihatlah, Bah, begitu dalamnya sawah ini hingga langit pun terlihat di dalamnya," jawab Si Kabayan.Mertua Si Kabayan menjadi geram. Didorongnya tubuh Si Kabayan hingga menantunya itu terjatuh ke sawah.Si Kabayan hanya tersenyum-senyum sendiri seolah tidak bersalah. "Ternyata sawah ini dangkal ya, Bah?" katanya dengan senyum menyebalkannya. Ia pun lantas mengambil siput-siput sawah yang banyak terdapat di sawah itu.Pada hari yang lain mertua Si Kabayan menyuruh Si Kabayan untuk memetik buah nangka yang telah matang. Pohon nangka itu tumbuh di pinggir sungai dan batangnya menjorok di atas sungai. Si Kabayan sesungguhnya malas untuk melakukannya. Hanya setelah mertuanya terlihat marah, Si Kabayan akhirnya menurut. Ia memanjat batang pohon. Dipetiknya satu buah nangka yang telah masak. Sayang, buah nangka itu terjatuh ke sungai. Si Kabayan tidak buru-buru turun ke sungai untuk mengambil buah nangka yang terjatuh. Dibiarkannya buah nangka itu hanyut.Mertua Si Kabayan terheran-heran melihat Si Kabayan pulang tanpa membawa buah nangka. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan raut wajah jengkel. "Mana buah nangka yang kuperintahkan untuk dipetik?"Dengan wajah polos seolah tanpa berdosa, Si Kabayan menukas, "Lho? Bukankah buah nangka itu tadi telah kuminta untuk berjalan duluan? Apakah buah nangka itu belum juga tiba?""Bagaimana maksudmu, Kabayan?""Waktu kupetik, buah nangka itu jatuh ke sungai. Rupanya ia ingin berjalan sendirian. Maka, kubiarkan ia berjalan dan kusebutkan agar ia lekas pulang ke rumah. Kuperingatkan pula agar ia segera membelok ke rumah ini. Dasar nangka tua tak tahu diri, tidak menuruti perintahku pula!""Ah, itu hanya alasanmu yang mengada-ada saja, Kabayan!" mertua Si Kabayan bersungut-sungut. "Bilang saja kalau kamu itu malas membawa nangka itu ke rumah!"Si Kabayan hanya tertawa-tawa meski dimarahi mertuanya.Pada waktu yang lain mertua Si Kabayan mengajak menantunya yang malas lagi bodoh itu untuk memetik kacang koro di kebun. Mereka membawa karung untuk tempat kacang koro yang mereka petik. Baru beberapa buah kacang koro yang dipetiknya, Si Kabayan telah malas untuk melanjutkannya. Si Kabayan mengantuk. Ia pun lantas tidur di dalam karung.Ketika azan Dhuhur terdengar, mertua Si Kabayan menyelesaikan pekerjaannya. Ia sangat keheranan karena tidak mendapati Si Kabayan bersamanya. "Dasar pemalas!" gerutunya. "Ia tentu telah pulang duluan karena malas membawa karung berisi kacang koro yang berat!"Mertua Si Kabayan terpaksa menggotong karung berisi Si Kabayan itu kembali ke rumah. Betapa terperanjatnya ia saat mengetahui isi karung yang dipanggulnya itu bukan kacang koro, melainkan Si Kabayan!"Karung ini bukan untuk manusia tapi untuk kacang koro!" omel mertua Si Kabayan setelah mengetahui Si Kabayan lah yang dipanggulnya hingga tiba di rumah.Keesokan harinya mertua Si Kabayan kembali mengajak menantunya itu untuk ke kebun lagi guna memetik kacang-kacang koro. Mertua Si Kabayan masih jengkel dengan kejadian kemarin. Ia ingin membalas dendam pada Si Kabayan. Ketika Si Kabayan sedang memetik kacang koro, dengan diam-diam mertua Si Kabayan masuk ke dalam karung dan tidur. Ia ingin Si Kabayan memanggulnya pulang seperti yang diperbuatnya kemarin.Dongeng Si Kabayan Cerita Rakyat Sunda Jawa BaratAdzan Dhuhur terdengar dari surau di kejauhan. Si Kabayan menghentikan pekerjaannya. Dilihatnya mertuanya tidak bersamanya. Ketika ia melihat ke dalam karung, ia melihat mertuanya itu tengah tertidur. Tanpa banyak bicara, Si Kabayan lantas mengikat karung itu dan menyeretnya.Terperanjatlah mertua Si Kabayan mendapati dirinya diseret Si Kabayan. Ia pun berteriak-teriak dari dalam karung, "Kabayan! Ini Abah! Jangan engkau seret Abah seperti ini!"Namun, Si Kabayan tetap saja menyeret karung berisi mertuanya itu hingga tiba di rumah. Katanya seraya menyeret, "Karung ini untuk tempat kacang koro, bukan untuk manusia."Karena kejadian itu mertua Si Kabayan sangat marah kepada Si Kabayan. Ia mendiamkan Si Kabayan. Tidak mau mengajaknya berbicara dan bahkan melengoskan wajah jika Si Kabayan menyapa atau mengajaknya bicara. Ia terlihat sangat benci dengan menantunya yang malas lagi banyak alasan itu.Si Kabayan menyadari kebencian mertuanya itu kepadanya. Bagaimanapun juga ia merasa tidak enak diperlakukan seperti itu. Ia lantas mencari cara agar mertuanya tidak lagi membenci dirinya. Ditemukannya cara itu. Ia pun bertanya pada istrinya perihal nama asli mertuanya."Mengetahui nama asli mertua itu pantangan, Akang!" kata Nyi Iteung memperingatkan. "Bukankah Akang sudah tahu masalah ini?"Si Kabayan berusaha membujuk. Disebutkannya jika ia hendak mendoakan mertuanya itu agar panjang umur, selalu sehat, murah rejeki, dan jauh dari segala mara bahaya. "Jika aku tidak mengetahui nama Abah, bagaimana nanti jika doaku tidak tertuju kepada Abah dan malah tertuju kepada orang lain?"Nyi Iteung akhirnya bersedia memberitahu jika suaminya itu berjanji untuk tidak menyebarkan rahasia itu. katanya, "Nama Abah yang asli itu Ki Nolednad. Ingat, jangan sekali-kali engkau sebutkan nama Abah itu kepada siapa pun!"Setelah mengetahui nama ash mertuanya, Si Kabayan lantas mencari air enau yang masih mengental. Diambilnya pula kapuk dalam jumlah yang banyak. Si Kabayan menuju lubuk, tempat mertuanya itu biasa mandi. Ia lantas membasahi seluruh tubuhnya dengan air enau yang kental dan menempelkan kapuk di sekujur tubuhnya. Si Kabayan kemudian memanjat pohon dan duduk di dahan pohon seraya menunggu kedatangan mertuanya yang akan mandi.Ketika mertuanya sedang asyik mandi, Si Kabayan lantas berseru dengan suara yang dibuatnya terdengar lebih berat, "Nolednad! Nolednad!"Mertua Si Kabayan sangat terperanjat mendengar namanya dipanggil. Seketika ia menatap arah sumber suara pemanggilnya, kian terperanjatlah ia ketika melihat ada makhluk putih yang sangat menyeramkan pada pandangannya. "Si siapa engk ... engkau itu?" tanyanya terbata-bata."Nolednad, aku ini Kakek penunggu lubuk ini." kata Si Kabayan. "Aku peringatkan kepadamu Nolednad, hendaklah engkau menyayangi Kabayan karena ia cucu kesayanganku. Jangan berani-berani engkau menyia-nyiakannya. Urus dia baik-baik. Urus sandang dan pangannya. Jika engkau tidak melakukan pesanku ini, niscaya engkau tidak akan selamat!"Mertua Si Kabayan sangat takut mendengar ucapan 'Kakek penunggu lubuk' itu.Ia pun berjanji untuk melaksanakan pesan 'Kakek penunggu lubuk' itu.Sejak saat itu mertua Si Kabayan tidak lagi membenci Si Kabayan. Disayanginya menantunya itu. Dicukupinya kebutuhan sandang dan pangan Si Kabayan. Bahkan, dibuatkannya pula rumah, meski kecil, untuk tempat tinggal menantunya tersebut.Setelah mendapatkan perlakuan yang sangat baik dari mertuanya, Si Kabayan juga sadar akan sikap buruknya selama itu. Ia pun mengubah sikap dan perilakunya. Ia tidak lagi malas-malasan untuk bekerja. Ia pun bekerja sebagai buruh. Kehidupannya bersama istrinya membaik yang membuat istrinya itu bertambah sayang kepadanya. Si Kabayan juga bertambah sayang kepada Nyi Iteung seperti sayangnya kepada mertuanya yang tetap baik perlakuan terhadapnya. Mertuanya tetap menyangka Si Kabayan sebagai cucu 'Kakek penunggu lubuk'. Ki Nolednad sangat takut untuk memusuhi atau menyia-nyiakan Si Kabayan karena takut tidak akan selamat dalam hidupnya seperti yang telah dipesankan 'Kakek penunggu lubuk'!

Takuban Perahu
Folklore
17 Dec 2025

Takuban Perahu

Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya. Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat. Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing.Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

Abu
Folklore
17 Dec 2025

Abu

"Tak ada yang tergantikan di dunia ini! Semuanya berarti!"Teriakkan Helen menyebar dengan liar ke seluruh penjuru gereja yang hampir runtuh. Entah apa yang akan terjadi jika ia mengeluarkan seluruh kekuatannya di sini saat ini, karena dampaknya akan sangat buruk untuk dirinya, juga Milo yang berdiri di belakangnya.Atau entahlah, Helen tidak yakin.Gereja ini terlalu luas dan malah hampir menyerupai labirin. Akan tetapi dia harus bertahan. Tinggal beberapa menit lagi hingga matahari terbit, Helen harus menahan boneka sialan itu, atau nyawa kekasihnya menjadi taruhannya."Kau dan aku tahu, manusia seringkali melakukan tindakan yang sia-sia, hanya karena mereka ingin melakukannya. Dan situasi ini adalah buktinya. Mereka memainkan permainan pemanggilan arwah, karena rasa penasaran yang tak jelas." Ujar boneka wanita yang hidup itu sambil menyeringai seram. "Lebih baik kau serahkan dia padaku. Tak ada gunanya melawan. Meski kau bisa menahanku hingga matahari terbit, aku tetap tidak akan mati. Matahari hanya mengusirku ke dunia asalku, dan saat kembali ke sana, aku bisa bersantai seperti biasa lagi.""Heh! Dia ini pacarku idiot! Tidak mungkin aku membiarkannya mati saat aku masih bisa melindunginya!""Tapi... kau itu cewek loh... " Ujar boneka itu. Dari sepertinya tidak setuju dengan argumen Helen. "Harusnya cowokmu yang melindungimu. Bukan malah sebaliknya.""Dan kau itu setan jahat!""Dan kau benar-benar manusia yang sangat bodoh." Balasnya. "Menggunakan kekuatan dari sang Api, padahal kau itu hanya manusia biasa.""Kan, yang punya kekuatan itu aku, bukan dia, jadi nggak masalah kan?" Kata Helen sambil kembali mengangkat tangan kanannya ke depan dada, dan garis-garis di sekujur tubuhnya juga ikut berpendar memancarkan warna jingga layaknya nyala api. "Ugh!" Tiba-tiba Helen merasakan seluruh tubuhnya seperti terkena sengatan listrik, tapi dia terus menahannya, dan tetap tersenyum."Hmm? Apa... yang ingin kau lakukan?" Tanya si boneka sambil menatap tajam Helen. "Jangan bilang... ""Yah, kau pasti tahu kok." Kobaran api tiba-tiba muncul di atas telapak tangan Helen dan membentuk sebuah bola. Dan lama kelamaan, api itu terus membesar sampai-sampai hawa panasnya membuat keringat mengucur deras membanjiri tubuh Helen dan Milo. "Aku sadar, aku nggak akan bertahan sampai pagi... jadi, menciptakan matahari adalah pilihan terbaikku saat ini.""Hnggghhh!"Helen langsung menoleh ke belakang setelah mendengar suara itu.Kekasihnya, Milo, mencoba untuk mengatakan sesuatu. Tampak dari wajahnya, kalau lelaki itu jelas sudah dilahap rasa putus asa dan ketakutan. Tapi, suaranya tidak mau keluar. Ia bahkan mencekik lehernya sendiri karena kesal dengan situasi yang dialaminya."Berarti ini saatnya ya?" Helen bertanya sambil menyunggingkan senyuman penuh arti. Pakaian gadis itu juga ikut terbakar. Tapi tekad Helen sudah bulat. Ia harus mengakhiri ini sekarang. "Kau ingat kan? Kalau kontrak itu akan membuatmu tak dapat berkata-kata, jika aku akan menghadapi kematian."Wajah Milo menjadi pucat pasi saat mendengar perkataan Helen."Hngh! Hngh!""Maaf ya, Milo, karena selama ini aku sudah menjadikanmu umpan untuk memancing si keparat ini. Tapi, aku cinta kok sama kamu. Dan saat setelah ini selesai, jangan lupa ambil bayarannya oke? Kalau nggak salah, harga dari dosa setan yang satu ini bisa sampai tiga miliar loh. Jadi, kau bisa menggunakan uangnya untuk membayar sekolahmu juga."Milo langsung jatuh berlutut, dan dia mulai menangis."Baiklah. Tolong rawat ibuku ya, Milo." Helen kembali mengarahkan pandangannya ke arah si boneka yang telah membunuh semua teman sekelas Milo, dan bersiap mengakhiri semuanya. "Jati diriku datang darimu, wahai Api. Dan kini, aku telah memenangkan pertarungan melawan kenyataan, masa depan yang kau tunjukkan, dan juga masa lalu yang kutinggalkan."Bola api yang tadinya hanya sebesar bola voli, perlahan-lahan mulai berubah menjadi semakin besar hingga menyamai ukuran sebuah mobil, dan bersamaan dengan itu, garis-garis bak urat yang terukir di permukaan kulit Helen juga berpenjar makin terang."Tunggu!" si boneka melesat dengan cepat menuju Helen.Namun semuanya sudah terlambat."Jadi, aku memohon maaf padamu, karena aku akan mengembalikan semuanya kepadamu dua kali lipat, bersama dengan jiwa dan ragaku!" Helen kembali berbalik menatap sang kekasih. "Maafkan aku juga, Milo, dan selamat tinggal."Cahaya menyilaukan yang terpancar dari bola api memaksa semua orang menutup mata, tanda bahwa api raksasa itu telah meledak dan menghamburkan ombak api ke segala arah, serta membakar segalanya."Jangan... kumohon... jangan ambil dia dariku... "Saat api padam, satu-satunya makhluk yang masih berdiri di sana hanyalah Milo seorang. Tak ada satupun luka bakar maupun goresan yang tertoreh di tubuhnya. Tapi, pandangan matanya yang penuh nestapa terpaku pada seonggok abu di lantai yang tadinya telah mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.Abu itu adalah apa yang tersisa dari kekasihnya, Helen.

Bagaikan Angin Yang Datang Dan Pergi
Folklore
17 Dec 2025

Bagaikan Angin Yang Datang Dan Pergi

Nikmatilah hidup selagi bisa.Ya, begitulah cara hidup Rakyat Dunia Lain yang menetap di dunia ini.Saat kau sedang berteduh dari hujan atau panas terik matahari, nikmatilah. Saat kau sedang belajar di sekolah atau bekerja, nikmatilah. Saat kau sedang makan, mandi, duduk ataupun tidur, nikmatilah. Saat kau sedang berjalan-jalan, berlari, atau juga bersepeda, nikmatilah. Nikmatilah semua kegiatan itu, walaupun semuanya itu hanyalah sesuatu yang biasa-biasa saja. Nikmatilah.Di bawah pohon besar tua dan berdaun lebar itu, Lei duduk sendiri menikmati tiupan angin lembut sambil mengamati pemandangan lapangan bola yang terbentang luas di depannya. Lapangan itu kosong, jelas, mengingat sekarang masih pukul dua siang.Yah, pada dasarnya, memang tidak ada hal yang istimewa, tapi Lei sangat bersyukur karena bisa berada di sana sekarang.Gadis elok berpakaian serba hitam, minim, ketat, dan memiliki sayap kelelawar di punggungnya itu benar-benar merasa sangat bersyukur.Di saat ia menengadah menatap sinar mentari yang menerobos melalui celah dedaunan di atas, Lei teringat kembali dengan masa lalunya.Padahal, dulu dia bahkan tidak pernah melihat warna dari cahaya matahari sama sekali, karena dia selalu terkurung dalam penjara dari pagi, dan hanya akan dikirim keluar untuk berperang pada waktu malam.Entah itu bisa disebut hidup atau tidak, tapi begitulah kenyataannya.Namun, kini semuanya sudah berubah. Setahun yang lalu, kerajaan Lei kalah melawan Kekaisaran Aura, kemudian entah bagaimana Lei terpilih oleh Dewan Dua Dunia, dan dikirim ke dunia manusia untuk bertugas sebagai Agen Arch, yaitu pelindung dunia manusia.Waktu berjalan begitu saja, hingga disinilah dia sekarang, menjalani kehidupan yang sedikit normal dan lumayan damai. Tak ada pertarungan yang mengerikan, jeritan, tangisan, warna merah darah, dan tak ada peperangan. Hanya kenormalan."Ya... Terima kasih, Tuhan " Ia bergumam sambil memasang senyuman kecil di bibir. "Tapi... manusia itu sungguh aneh... " Lei lalu memutar kepala dan menoleh ke belakang. Jauh di sana, dia melihat ada seorang pemuda bertubuh agak gemuk, dan seorang anak yang masih berusia sepuluh tahunan, yang tengah duduk di teras sebuah gedung besar, dan tampak sedang seru bercerita.Pemuda itu itu adalah alasan utama mengapa Lei berada di lapangan ini. Dia dikirim ke kota Kendari untuk menjadi penjaga, pengurus, dan pengawas pemuda itu.Sedangkan anak itu, entahlah, Lei tidak terlalu menyukainya.Alis Lei berkerut. Dia tampak kesal."Ya, manusia memang aneh." Ujar seorang pria besar yang tiba-tiba muncul di belakang Lei. Pria itu mengenakan jas serba hitam rapi, tinggi, agak buncit, dan berwajah tampan."Oh... Om Jon, ya. Kukira siapa." Ucap Lei sambil menyunggingkan senyum ramah. "Ngomong-ngomong, nggak biasanya Om nggak bilang dulu kalau mau datang.""Ah... kau tahu sendiri, kalau aku akan mengikuti apapun yang dikatakan instingku. Jadi, begitulah." Ujarnya sambil ikut memandang dua anak yang duduk di teras itu. "Tumben kau mengeluarkan isi pikiranmu, Lei. Ada angin apa sampai kau berkata seperti itu?""Yah... lihat anak itu... Padahal wajahnya lugu begitu, dan senyumnya juga manis, tapi aku nggak menyangka kalau dia benar-benar bisa memanfaatkan kebaikan Tuan tanpa pandang bulu." Jelas Lei. "Dan aku juga sama sekali nggak mengerti dengan pikiran Tuan. Padahal dia tahu kalau anak itu hanya memanfaatkannya, tapi kenapa dia malah tetap menganggap anak itu sebagai adiknya? Kan, kasihan Tuan. Masa hidupnya terbuang sia-sia karena memberikan kebaikan pada orang yang salah. Sedangkan anak-anak itu, mereka nggak bisa memberikan apa-apa pada Tuan."Om Jon menghela nafas dalam setelah mendengar penjelasan Lei."Hmm... aku juga sebenarnya sudah bosan menasehatinya, tapi dia terus saja mengangkat anak-anak yang ditemuinya menjadi adiknya. Bahkan anak pertamaku juga." Om Jon tersenyum masam. "Dan yang paling buruk, dia juga selalu memberikan barang-barang yang diinginkan anak-anak itu.""Kan, benar!" Pekik Lei. "Kalau begini sih lebih baik kita laporkan saja, Om.""Hmm... Kau pasti belum membaca berkas-berkas itu kan, Lei?""Eh... ketahuan deh... Tapi, kan intinya aku dikirim ke sini untuk mengurus, mengawasi, dan melindungi Tuan. Nggak kurang, nggak lebih.""Ya, kamu benar kok." Ujar Om Jon. Dia membusungkan dada dan tampak berwibawa sekarang. "Kita memang ditugaskan di sini untuk mengawasi, melindungi, dan mengurusnya. Tapi, sebenarnya, Dewan mengirim kita ke sini, karena mereka tahu kalau hanya kita saja yang bisa memahaminya."Lei terkejut. Matanya yang terbuka lebar tertuju pada Om Jon."Memahami? Maksudnya?""Yah... Dia berbeda dengan kita, karena Tuhan masih memberikan pengampunan pada kita. Di masa lalu, masa kini, maupun di masa depan. Sementara dia... Dia sudah kehilangan terlalu banyak hal hingga tak ada satupun yang tersisa untuknya. Keluarganya, sahabat-sahabatnya, teman-temannya, jati dirinya, bahkan masa lalunya. Semua yang dia miliki selalu lenyap tepat di depan matanya."Lei terdiam seribu bahasa. Dulu, dia memang sempat mendengar tentang itu entah di mana. Kenyataan bahwa Tuannya pernah mengalami penderitaan yang luar biasa mengerikan. Bahkan lebih mengerikan dibandingkan masa lalu Lei sendiri."Dan masalahnya, dia itu abadi, jadi... dia akan hidup dengan rasa sakit itu sampai selamanya." Om Jon menjelaskan. "Dan kini, yang bisa dilakukannya, hanyalah mencari alasan agar bisa terus hidup.""Eh... Berarti... ""Ya, anak-anak itu, adalah alasan kenapa dia bertahan sampai sekarang... "Lei kembali mengarahkan pandangan ke arah teras itu.Sekarang, kedua anak itu sudah bangkit berdiri, dan selang beberapa waktu, si bocah akhirnya mulai berjalan pergi sambil melambaikan tangan pada Tuan. Tapi, Tuan tidak balas melambai, dia hanya berdiri di sana sambil memasang senyuman yang penuh akan berbagai arti di bibirnya."Jadi... dia juga berusaha untuk menikmati ya?""Benar.""Entah kenapa... ini terasa sedikit... menyakitkan. Bahkan bagi orang-orang yang tahu tentang kenyataan dunia seperti kita... ini tetap saja terasa menyakitkan."Tiba-tiba saja, muncul cahaya keemasan di belakang Tuan. Cahaya itu perlahan-lahan mulai berkumpul dan membentuk bulu-bulu burung emas, lalu dengan cepat menyatu menjadi sepasang sayap di punggungnya.Sebuah sayap yang indah, mengkilap, dan amat mengagumkan, yang kemudian digunakannya untuk terbang tinggi ke angkasa bagai kilat hingga tak terlihat oleh mata."Sudah berapa peperangan yang dia lalui... ?" Tanya Lei hampa."Empat belas. Dia telah menyelesaikan empat belas peperangan... ""Sialan... "Bulu-bulu emas dari sayap Tuan tiba-tiba berjatuhan dari angkasa, berhamburan di mana-mana, dan menghiasi dunia di sekitar Lei dengan kemegahan. Sungguh pemandangan yang sangat ajaib. Bulu-bulu itu jatuh ke tanah, lalu lenyap begitu saja tanpa sisa"Dia... mencurahkan berkatnya loh, Om." Lei bergumam tak percaya ketika ia menyadari bahwa Tuan sebenarnya baru saja melakukan sesuatu di balik awan-awan itu."Tak apa. Yang penting dia menikmatinya." Ungkap Om Jon.

Laut
Folklore
17 Dec 2025

Laut

"Tenggelamlah. Jika kau yakin itu akan membuatmu hidup, maka ikutlah denganku, dan tenggelam."Waktu itu sebenarnya masih subuh, tapi Ranti malah merasa seperti terbakar.Yah, ini jelas saja sangat menjengkelkan. Padahal, sudah setengah jam Ranti mondar-mandir di bibir pantai dan bersusah payah mengumpulkan batu-batu besar itu untuk mengisi ranselnya, dan dua kantong kain yang sengaja diikatnya di kedua pergelangan kakinya. Tapi, karena anak itu tiba-tiba muncul di atas laut dan mengatakan sesuatu yang aneh, akhirnya rencana Ranti untuk menenggelamkan dirinya sendiri pun jadi kandas.Anak berambut biru dan bertampang agak ganjil itu benar-benar berdiri di atas air. Dia berdiri agak jauh di hadapan Ranti, dan mengatakan hal yang entah bagaimana bisa membuat Ranti naik darah."A-apa maksudmu!? Aku ini ingin tenggelam agar bisa mati! Bukannya malah hidup! Dasar bodoh!" Sahut Ranti jengkel. "A-aku sudah lelah! Aku sudah capek banget! Sumpah!""Loh, kalau kamu lelah ya istirahat dong." Jawab anak berambut biru itu. "Jangan malah membuat sang Laut jadi kerepotan.""Ta-tapi dimana aku harus istirahat!? Bagaimana!?" Ranti kembali menjerit. Tangisannya meleleh. "Ibuku sekarat di rumah sakit! Sahabatku juga sudah mati dan jadi abu! Dan aku juga baru dipecat! Aku kehabisan uang dan nggak bisa membayar sewa kontrakkan! Aku sudah nggak punya apa-apa lagi, tahu!""Wah... sepertinya dunia ini sudah terlalu jahat padamu ya? Malang sekali nasibmu." Ujar anak itu sambil memasang senyum yang menyebalkan.Ranti yang jelas-jelas bisa melihat dan mendengar anak itu, hanya bisa menundukkan kepala sambil mengatupkan rahangnya dan mengeraskan tinjunya. Amarahnya berkobar. Tapi toh, dia tetap tak bisa melakukan apa-apa."Menurutmu, siapa yang patut disalahkan atas semua kesialan yang menimpamu?""Eh?" Setelah mendengar pertanyaan singkat itu, Ranti seakan habis tersambar guntur. Dia kembali mengangkat kepala, dan menaruh semua perhatiannya kepada anak itu. "Ma-maksudmu... ?""Sudah pasti, bukan? Semua yang kau alami itu tak terjadi begitu saja. Pasti ada penyebabnya." Jelasnya. "Mungkin penyebabnya adalah orang-orang, atau dunia ini, atau mungkin juga... sang Pencipta? Yah... harusnya kamu yang lebih tahu. Aku nggak tau apa-apa loh. Aku kesini hanya untuk menawarkan bantuan padamu.""Bantuan... Kau mau membantuku... ?" Tanya Ranti tak percaya. Satu-satunya yang terlihat di matanya kala itu, hanyalah rasa putus asa yang amat dalam."Tapi, kau harus memberitahuku terlebih dahulu. Siapa sebenarnya penjahat dalam ceritamu?"Lalu, semua memori itu mulai berputar dalam benak Ranti.Ranti teringat kembali dengan ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit karena leukimia yang sangat parah. Dia juga teringat dengan abu dari sahabatnya yang tergeletak begitu saja di gereja yang terbakar itu, tanpa satu orang pun yang menyadarinya.Ya, memori itu memang sangat menyakitkan untuk dikenang. Meski hanya sesaat, tapi rasa sakitnya benar-benar sangat mengerikan.Akan tetapi, Ranti sadar dengan satu hal.Dia juga memiliki kenangan yang indah dalam hidupnya, dan itu sangat banyak. Dia masih ingat dengan senyuman tulus yang biasa terbentuk di bibir ibunya, juga suara dari tawa bahagia sahabatnya saat mereka berdua tengah bercanda bersama.Jika dipikir-pikir lagi, rasanya semua itu terlalu indah untuk ditinggalkan.Yah, hadiah dari kehidupan jelaslah lebih megah dibanding hadiah dari kematian."Mungkin... aku ada disini saat ini, karena Tuhan belum memanggilmu. Mungkin, inilah kehendak-Nya." Kata anak itu. "Jadi... siapa sebenarnya yang bersalah, Ranti?"Dunia terasa hening untuk sesaat. Suara deru ombak, burung camar, dan sepoy angin memenuhi telinganya. Namun, di tengah-tengah kesenyapan itu, ada satu kata yang terlintas dalam hati dan pikiran Ranti."Dunia... Dunia inilah yang bersalah atas semuanya... " Kata Ranti dengan suara yang tertahan karena berusaha menahan amarah."Nah... kalau begitu, ikutlah denganku. Aku adalah sang Suara Laut, dan kau... adalah sang Ombak Laut. Dan dengan itu, kau bisa menyembuhkan ibumu, dan membuat hidupnya menjadi lebih baik."Ranti membentuk senyuman jahat di bibirnya. "Baiklah... aku akan ikut denganmu.""Tapi, kau harus ingat... Lautan adalah perampok, Ranti. Dan apa yang diberikan oleh Laut adalah mutlak, begitu juga dengan apa yang direnggutnya.""Masa bodo dengan jati diriku. Jika Laut ingin mengambilnya, maka biarlah.""Heh... Aku nggak menyangka kalau perubahan kenyataan sesederhana ini ternyata bisa merubahmu sampai seperti itu."Bersamaan dengan perkataan si bocah yang lenyap terbawa angin, Ranti pun melepaskan jaketnya yang penuh batu, dan ranselnya, serta dua tas kecil di pergelangan kakinya. Kemudian dengan tekad dan amarah membara, Ranti pun melangkah maju menuju lautan.Kaki telanjangnya menapak di atas permukaan air. Rasanya memang agak dingin, tapi dia tetap maju, dan terus maju, hingga dia tiba di sisi bocah itu."Yah... masa penghakiman telah tiba. Mengamuklah sesukamu, Ranti. Berikan hukuman bagi mereka yang layak, dan tamparlah dunia ini."

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 16 dari 35
Menampilkan 24 cerita