Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Hadiah Sederhana Yang Tak Ternilai
Folklore
17 Dec 2025

Hadiah Sederhana Yang Tak Ternilai

Pria berjas hitam, bertubuh tinggi dan agak gemuk itu berdiri di angkasa, di antara awan-awan yang menggulung bak ombak, sambil mengamati seorang pemuda yang baru saja memarkir motornya di lahan parkiran pasar jauh dibawah sana.Meskipun Jon mengambang di atas langit, dengan petir yang menyelimuti sekujur tubuhnya, tapi sayangnya tak ada satu orangpun yang mampu melihatnya. Yah, beginilah cara dunia ini bekerja. Dunia ini selalu saja menyembunyikan keajaibannya dari mata manusia, dan Jon menganggap itu layaknya sebuah hadiah.Bagi manusia, keajaiban itu sama seperti sebuah cahaya yang amat terang dan indah, namun, mereka sama sekali tidak sadar bahwa cahaya itu sebenarnya bisa membakar mata mereka.Jon merupakan suatu kepingan kecil dari keajaiban yang menaungi dunia ini. Dia hidup bersama keajaiban. Tapi, bukan berarti itu adalah hal yang baik. Karena keajaiban yang ada di tangannya—kekuatan yang ada dalam dirinya—memaksa Jon melalui berbagai macam kenyataan yang mengerikan, seperti peperangan, dan bahkan malapetaka.Jika diingat-ingat lagi, Jon sendiri telah melewati enam peperangan dalam hidupnya.Sudah begitu banyak kematian yang Jon lihat dengan mata kepalanya selama ia hidup. Orang-orang yang dia kasihi, teman-temannya, sahabat-sahabatnya, bahkan keluarganya. Semua itu terjadi karena kekuatan yang ada dalam genggamannya. Dan faktanya, semua orang yang sama seperti Jon—Rakyat Dunia Lain—juga mengalami kengerian semacam itu selama mereka hidup.Sedangkan manusia? Ya, mereka sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kenyataan lain yang menyelimuti dunia ini. Hanya Jon, dan orang-orang yang memiliki keajaiban saja, yang tahu akan betapa kejamnya kenyataan itu."Yah... mungkin lebih baik jika mereka tidak tahu apa-apa." Gumam Jon dengan suara yang berat dan terkesan lembut. Senyuman terbentuk di bibirnya. "Ketidaktahuan itu memang hadiah yang sangat luar biasa, bukan?"Setelah memastikan pemuda itu tiba di pasar tanpa kekurangan apapun, Jon akhirnya memutuskan untuk turun ke daratan. Bagaikan kilat yang menyambar bumi, dia jatuh ke bawah dan mendarat dengan mulus di samping pemuda itu. Seluruh cahaya kilat yang terpancar dari tubuhnya telah padam, dan Jon pun kini tampak seperti manusia biasa pada umumnya."Loh! kenapa Om malah ikut juga!?" Tanya emuda bertubuh gemuk itu dengan wajah terkejut sekaligus jengkel."Yah, saya ikut kemanapun kau pergi. Itu sudah tugasku sebagai seorang pengawas.""Tapi, Om kan tahu kalau aku nggak suka ditemani disaat-saat seperti ini.""Sudahlah, kau tahu nggak ada gunanya berargumen denganku." Jawab Jon acuh tak acuh sambil memandang sekeliling.Di pasar ada begitu banyak orang yang berjalan hilir mudik dan memenuhi hampir seluruh tempat dalam kesesakan sejauh mata memandang. Terdengar pula suara asing para pedagang yang tengah menawarkan dagangan mereka dengan penuh semangat, dan tak lupa juga dengan para pembeli yang sedang berusaha menawar barang-barang para pedagang dengan cara yang terkesan sadis. Semua ini tentu saja wajar, mengingat saat yang paling tepat untuk pergi ke pasar adalah di waktu pagi, seperti sekarang ini.Sungguh hadiah yang amat megah. Jon yang jelas-jelas bukan manusia, ternyata masih diberikan kesempatan untuk menikmati kenormalan seperti ini."Hah... Yaudah deh.""Eh, tunggu sebentar."Jon menggenggam pergelangan tangan kiri si pemuda dengan erat, kemudian mengucap, "Ferrum, Lucendi, Omnia." Tiba-tiba, tercipta semacam rantai bercahaya yang mengikat tangan Jon dan pemuda itu. "Rantai Pengikat Mutlak.""Apa-apaan..." Pemuda itu menatap tak percaya tangan kirinya yang kini terikat dengan tangan kanan Jon. "Om serius?""Seratus persen." Jawab Jon sambil menyeringai. "Ngomong-ngomong, berhentilah bicara dan melihat ke arahku. Bisa-bisa, kau dikira gila sama orang-orang.""Ya Tuhan... ini memalukan. " Pemuda itu menghela nafas pasrah.Tanpa menunda-nunda lebih lama lagi, Jon pun mulai berjalan menyusuri jalanan yang penuh sesak, sementara si pemuda mau tak mau harus ikut melangkah di sampingnya. Jon yakin, orang-orang yang dia senggol pasti terkejut, karena mereka tak bisa melihatnya yang berada dalam wujud Astral."Jadi, kau mau beli apa?""Aku mau beli kaki ayam doang kok. Aku lagi ingin makan ceker pedas soalnya." Jelas pemuda itu.Akan tetapi, saat Jon melirik ke arah si pemuda, Jon pun sadar kalau ternyata pemuda itu sedari tadi terus menatap tangan mereka yang saling bertaut. Namun, anehnya anak itu tampak terlihat sedih, dan senang di saat yang sama."Kau nggak punya kelainan kan... ?" Tanya Jon sambil memandang ngeri pemuda itu."Hah!? Om nggak usah mikir yang aneh-aneh. Gila banget. Aku cuma merasa aneh aja kok. Soalnya, ini adalah pertama kalinya aku berjalan dengan orang yang lebih tua dariku, sambil bergandengan tangan. Jadi... ya, ini memang aneh. Apalagi... untuk orang sepertiku." Jelas si pemuda. Wajahnya sedikit merona."Hmm... kalau dipikir-pikir, perkataanmu ada benarnya juga.""Hah? Apanya yang benar?" Tanya si Pemuda tak percaya."Maksudku, ini memang aneh, bahkan untuk orang-orang seperti kita." Jelas Jon dengan wajah yang terlihat sedikit sedih. "Kita yang setiap malam harus terjun ke medan pertempuran, ternyata masih bisa mendapatkan pengalaman seperti ini. Berjalan-jalan seperti manusia biasa, pergi ke pasar, dan belanja. Bukankah menurutmu ini hadiah yang hebat?""Eh... " si pemuda menggaruk tengkuk lehernya dengan ragu. "Mungkin...?""Jawaban macam apa itu? Kupikir kau harusnya lebih sadar tentang kenyataan dibanding siapapun. Mengingat kau sendiri telah melewati empat belas peperangan dalam hidupmu. Suatu pengalaman yang tak mungkin bisa dirasakan oleh orang lain yang hidup di dunia manapun. Pengalamanmu itu... benar-benar mengerikan loh.""Yah... bukannya gimana." Pemuda itu menundukkan kepala. "Tapi... Kalau seandainya Om bisa merasakan masa laluku, mungkin Om juga bakal bingung harus menjawab apa." Ungkap Pemuda itu. "Aku tahu... Aku selalu tahu. Tapi, kadang aku berpikir, pasti akan lebih menyenangkan jika aku tidak mengetahui semua itu."Jon tiba-tiba berhenti melangkah, namun matanya memandang ke arah seorang pedagang yang menjual berbagai macam aksesoris seperti cincin, kalung, dan kaos kaki. Lalu, setelah berpikir sejenak, Jon memutuskan untuk menghampiri pedagang itu tanpa sepengetahuan si pemuda."Apa yang kuketahui, bukanlah hadiah. Ini... adalah kutukan.""Apapun yang ada di dunia ini, adalah hadiah. Bahkan kutukan sekalipun." Ujar Jon."Apa-apaan... Loh, kok? Kenapa malah ke sini?" Tanya si pemuda keheranan ketika ia sadar kalau mereka sekarang berada di toko aksesoris. "Om mau beli apa?""Saya beli topi yang ini ya, Bu Ningsih." Jon langsung bergerak meraih sebuah topi berwarna abu-abu yang tergantung dipojokkan, lalu menyelipkan topi itu di ketiaknya, kemudian dengan tangan kirinya, ia memberikan sekeping koin perak kepada si Ibu penjual itu, yang juga kebetulan bisa melihat sosok Jon, mengingat dia juga adalah Rakyat Dunia Lain, sama seperti mereka berdua."Terima kasih, Tuan Jon." Kata si Ibu penjual dengan ramah."Eh... itu topi untuk siapa Om?" Tanya si Pemuda. "Untuk anak Om ya?""Bukan. Dan tolong jangan menyinggung apapun tentang kehidupanku sebagai manusia. Kau tahu aturannya." Kata Jon seraya memakaikan topi itu di kepala si pemuda. "Ini untukmu. Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun."Pemuda itu tak mampu berkata-kata. Dia tampak sangat kebingungan. Namun dia mencabut topi itu dari kepalanya dan memandangnya sekilas dengan mata yang berbinar, lalu tak lama kemudian, ia kembali mengenakan topi itu."Ternyata Om ingat ya? Hebat, hebat." Ujar si Pemuda yang berusaha untuk terlihat tak acuh. Tapi, warna merah di kedua pipinya menggagalkan usahanya itu tanpa ia sadari. "Te-terima kasih deh.""Terserah kamu sajalah." Balas Jon sambil tersenyum kecil. "Ya sudah. Jadi, sekarang tinggal ceker ayam saja kan? Ayo."

Kenyataan
Folklore
17 Dec 2025

Kenyataan

Nabila cukup terkejut saat mendengar kalimat bijak yang keluar dari mulut Jo beberapa saat lalu. Yah, bukan apanya, hanya saja, setelah dua tahun belajar di kelas yang sama, mungkin tidak apa bila dikatakan kalau Jo adalah murid paling bodoh di kelas ini."Jangan pikir kau akan merasa hebat hanya karena kau tahu banyak hal. Mungkin kamu belum sadar, tapi kenyataan-kenyataan yang kau simpan sendirian itu, kelak akan menjadi kutukan buat kamu."Itulah yang dikatakan Jo.Seumur hidupnya, Nabila tidak pernah melihat Jo bicara dengan nada serius seperti itu. Bahkan, itu adalah kali pertama Nabila melihat Jo tidak tersenyum.aneh sekaligus menyeramkan bisa dibilang."Itu mengejutkan, bukan?" Tanya seekor anjing berbulu putih dan bermata tiga yang sejak tadi berbaring santai di meja Nabila. "Entah kenapa aku merasa kalau dia bisa melihatku.""Jangan berpikir yang aneh-aneh deh... " jawab Nabila sambil tersenyum kecut. "Maksudku, dia itu hanya Jo." Nabila mengingatkan sambil mengarahkan pandangannya ke arah Jo yang sedang bercerita seru dengan teman-teman sekelas yang lain."Ya, dan gadis kecil yang kita temui di Jepang itu hanya seorang gelandangan biasa juga kan?""Hah? kenapa singgung itu lagi sih?""Aku hanya ingin bilang, lebih baik kamu berhenti menilai segala sesuatu hanya dari sampulnya saja." Jelas anjing itu. "Kalau saja kamu saat itu nggak iseng buat melihat kenyataan gadis malang itu, semuanya pasti masih berjalan mulus sampai sekarang. Kau tahu, aku membutuhkan banyak kenyataan agar bisa kembali ke dunia asalku.""Hah... iya, iya, Fenris yang serba tahu." Kata Nabila dengan malas sambil mencubit kedua pipi anjing mungil itu. "Tapi, kalau diingat-ingat, sepertinya sudah setahun ya, sejak kau datang ke rumahku dan meminta bantuanku.""Yap, hari ini tepat satu tahun sejak kita pertama bertemu." Jawab Fenris tak acuh. "Ini adalah hari yang sama saat dimana aku menggunakan Mata Kebenaran-ku untuk memperlihatkan padamu masa lalu dan masa depan yang nggak pernah menjadi milikmu.""Yah, nggak usah kamu bilang begitu juga aku ingat kok."Ada suara dengungan yang tiba-tiba tertangkap oleh telinga Nabila dan Fenris. Keduanya lalu melirik ke jendela yang berada tepat di samping meja mereka, dan memandang sesuatu yang tengah melayang tinggi di angkasa.Jauh di atas sana, Nabila melihat beberapa alat transportasi yang mengambang dengan kekuatan ajaib dan misterius. Itu jelas-jelas bukan pesawat, melainkan sebuah kapal. Namun, sampai sekarang, Nabila masih tidak tahu mengapa bisa kapal-kapal yang seharusnya berlayar di udara, kini mengambang di angkasa."Apa sih yang sebenarnya kau lihat waktu itu?" Tanya Fenris. "Kita sudah sepakat kan? Apapun yang kau lihat menggunakan mataku, kau juga harus memberitahukannya padaku. Tapi, kenapa kau masih nggak mau memberitahuku apa yang kamu lihat dari gadis malang itu?"Sepoy angin yang masuk melalui celah jendela awalnya membawa rasa damai ke dalam diri Nabila, namun, setelah ia mendengar pertanyaan yang dilantunkan oleh Fenris, kengerian yang dilihatnya beberapa bulan lalu kembali merasuk ke dalam jiwanya, dan membuat hatinya merasa sangat sakit."Sepertinya apa yang dikatakan Jo tadi, itu ada benarnya." Gumam Nabila yang mengamati keindahan yang ada di angkasa, sambil menikmati segelas teh dingin. Entah kenapa sampai sekarang, Nabila tetap tidak mampu untuk menceritakan pada Fenris apa yang dilihatnya dari gadis kecil itu. Rasanya terlalu menyakitkan."Yah... Sesuatu yang benar memang belum tentu baik." Kata Fenris."Waktu itu... aku mendengar banyak teriakkan... tangisan... amarah... dan keputusasaan. Lalu... gadis malang itu terbang tinggi ke angkasa untuk menyelamatkan semuanya, tapi dia akhirnya jatuh dan sejak saat itu, hidupnya menjadi kematian. Sedangkan anak berambut emas itu... dia hanya bisa menangis meratapi kepergian semua yang berarti baginya. Seorang yang dianggapnya sebagai adik, kakak, om, tante, semuanya mati... Langitnya berwarna merah... Dan sosok bersayap putih yang ada di langit itu memasang senyuman di bibirnya."Fenris yang juga masih mengamati angkasa dan menikmati hembusan angin lembut, hanya mampu diam membisu mendengar setiap bisikkan yang keluar dari mulut Nabila.Yah, tak bisa dipungkiri, kalau kenyataan memang selalu mengerikan.

Tangisan Yang Lahir Dari Perang
Folklore
17 Dec 2025

Tangisan Yang Lahir Dari Perang

Mungkin banyak yang tak tahu, tapi, kesedihan itu, merupakan suatu bahasa yang cukup rumit untuk dimengerti.Orang pertama yang dilihat Aril di kejauhan adalah seorang gadis yang juga mengenakan seragam yang sama persis dengannya. Dia langsung melesat ke arahnya secepat mungkin, tapi gadis itu juga tengah didesak oleh tiga pasukan musuh, dan sepersekian detik kemudian, diiringi teriakan yang terdengar menyedihkan, gadis itu akhirnya meregang nyawa setelah ditikam dengan tiga pedang sekaligus tepat di bagian perutnya."Astaga! Ti-tidak! Elisa!"Pemandangan itu awalnya sempat membuat Aril merasa kosong, seolah-olah seluruh kekuatan dalam dirinya habis tanpa sisa, namun itu tidak menghentikannya. Ketika dia melihat temannya yang lain yang juga sedang dalam kesulitan, Aril kembali berlari dan mencoba menolongnya.Kerajaan Cekatora diambang kekalahan, dan nyawa Aril berada diujung tanduk.Langit malam memancarkan warna merah gelap yang membuat siapapun merinding melihatnya, ditambah suara teriakkan, dan kematian, tentu saja akan memberikan rasa takut yang teramat sangat bagi semua orang yang mendengarnya.Satu perang, lima medan pertempuran. Di dunia ini takdir seperti itu bisa dibilang wajar-wajar saja, bahkan untuk seorang anak yang masih berumur enam tahun. Ditambah lagi, Aril juga merupakan seorang tawanan perang, jadi mau tak mau dia harus terjun ke medan pertempuran untuk bertempur demi kesatuan yang tak pernah tahu kalau dia ada.Namun, beginilah situasinya sekarang.Mereka dijebak. Kerajaan benar-benar akan hancur hanya karena satu kesalahan kecil.Aril sangat kelelahan, tenaganya terkuras habis setelah bertempur lima jam lamanya. Namun sekarang dia harus menyelamatkan dirinya. Dia mencoba untuk melarikan diri dari sana, tapi tampaknya itu terlalu mustahil jika dilihat dari situasinya saat ini. Sama sekali tak ada celah. Pasukan musuh berada dimana-mana. Pedang menari dengan liar, peluru berjatuhan dari langit bagaikan hujan, dan sihir bisa dengan mudahnya merubah medan pertempuran dalam sekejap mata.Kehancuran, kematian, dan akhir; itulah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan situasi Aril saat ini. Dia dilanda kepanikan dan ketakutan, dan yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah berlari kesana kemari untuk menyelamatkan teman-temannya yang bisa diselamatkan, dan berharap bisa keluar dari sana bersama-sama dalam keadaan hidup.Akan tetapi, lambat laun Aril pun akhirnya sadar bahwa semua usahanya sia-sia. Orang-orang yang coba dia gapai selalu saja berubah menjadi debu-debu cahaya sebelum ia berhasil menyelamatkan mereka. Mereka semua pulang.Satu per satu teman-teman Aril mati tepat sebelum dia sempat menatap mata mereka. Aril mulai menangis, tapi dia terus berlari, berlari, dan berlari untuk menolong orang-orang yang dikenalnya, siapapun itu. Hingga akhirnya, rasa putus asa perlahan-lahan mulai menelan Aril. Dia tak mampu menyelamatkan siapapun.Aril sudah tak tahan lagi mendengar suara teriakan mereka, dan suara pertempuran.Dia benar-benar tidak menyangka, kalau melihat seorang yang dikenalnya mati di depan mata, ternyata rasanya akan sesakit ini."Hah... Hah... Hah... " Nafasnya terengah-engah saat dia memandang berkeliling sambil berusaha mencari wajah-wajah yang akrab dalam ingatannya. Namun, sudah tak ada satupun yang tersisa.Aril jatuh berlutut. Dia menengadah menatap langit, seraya menghembuskan nafasnya. Rasanya sangat menyakitkan, tapi dia sadar betul kalau sekarang adalah saat yang tepat untuk pasrah."Tuhan... jika ini adalah saatnya, maka jadilah kehendak-Mu. Tapi... aku masih ingin melanjutkan hidupku, Tuhan. Jadi... Aku percaya, kalau malapetaka ini bukanlah kehendak-Mu." Aril berbisik dengan wajah kosong yang dibanjiri air mata. "Kau... Engkau tidak pernah membuat rancangan kecelakaan untukku, kan? Kumohon... kumohon berikan aku satu kesempatan lagi." Aril menundukkan kepalanya dalam-dalam, wajahnya berlinang air mata.Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.Tiba-tiba saja ada pilar cahaya yang turun dari langit. Cahaya yang amat terang itu menelan Aril, mengambil alih pandangannya, dan membuat semuanya menjadi putih."Eh... ? Ini... Jembatan Pelangi?"Beberapa saat kemudian, pandangan Aril akhirnya telah kembali padanya setelah dia mengedipkan mata beberapa kali, dan pada saat itu pula dia sadar kalau segalanya sudah berubah—Dunia telah berubah.Tak ada teriakkan, guncangan, kehancuran, dan kematian. Tak ada sihir-sihir yang bisa menyebabkan gempa bumi, serta hujan peluru yang menembus daging, serta suara bilah pedang yang saling beradu, dan hal-hal mengerikan lainnya. Semuanya itu telah lenyap begitu saja digantikan oleh kesenyapan.Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah kegelapan malam, serta rumah-rumah yang tertata rapi yang memancarkan cahaya temaram dari balik gorden jendelanya, juga pepohonan yang tampak normal, jalanan beraspal, dan tiang-tiang lampu yang berjejer di sepanjang jalan.Semuanya benar-benar biasa.Aril masih berdiri diam di tengah jalan yang sepi itu. Dia sungguh tidak tahu ini nyata atau tidak. Dari wajahnya, terlihat jelas kalau dia seolah tidak mempercayai dengan apa yang dilihatnya, seakan-akan dia berada di dunia lain.Akan tetapi, entah kenapa Aril merasa sangat nyaman sekarang. Semua perasaan mengerikan yang merasuk ke dalam tubuh dan jiwanya karena peperangan tadi, kini semuanya telah sirna."Ya Tuhan... "Tanpa diduga, hujan tiba-tiba turun, dan lambat laun semakin deras hingga membuat Aril basah kuyup. Suara hujan memenuhi pendengarannya. Dia lalu menengadah ke angkasa yang juga tampak biasa saja, sembari menatap tiap titik-titik air yang berjatuhan dari langit."Ini... Dunia Manusia?" Aril bergumam. Rahangnya terkatup rapat dan rasanya sedikit nyeri. "Ini... benar-benar Dunia Manusia. Aku berada di Dunia Manusia... Tapi... bagaimana mungkin?" Air matanya bercampur dengan tetesan hujan di wajah. Matanya memerah karena menangis selama pertempuran tadi.Setelah sekian lama, dan setelah semua perjuangannya, akhirnya Tuhan memberi Aril kesempatan. Namun, anehnya, Aril tiba-tiba merasa sangat kosong. Kehampaan memenuhi hatinya, dan lama kelamaan, semua ketiadaan itu mulai membuat Aril merasa kesakitan tanpa alasan yang jelas.Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia mengangkat kepala dan menoleh memandang ke ujung jalanan yang tak dapat dijangkau matanya.Jika ini memang kesempatan kedua, maka Aril akan mengambilnya tanpa ragu. Tapi, dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang mungkin akan didapatkannya di ujung jalan itu? Di hari esok, di dunia yang tidak ia kenali.Lalu, terdengar satu suara yang bergema dalam benaknya."Aku akan meminjamkan namaku kepadamu. Mulai sekarang, hingga ke dalam kekekalan. Inilah namaku, Heimdal."Ya, itu merupakan kabar yang sangat tak terduga.Dewa yang menjaga jembatan antar dunia kini meminjamkan namanya kepada Aril. Yang artinya, Aril bisa menggunakan kekuatan itu sesukanya mulai sekarang."Jadi... bagaimana sekarang?" Aril menatap kedua telapak tangannya lekat-lekat, kemudian kembali menoleh memandang ke ujung jalan.Akhirnya, dengan kehampaan yang membanjiri dirinya, Aril pun mulai berjalan menembus hujan menyusuri jalanan yang kosong itu, dan meninggalkan jati dirinya jauh di belakang.Seperti semua anak bayi yang baru terlahir ke dunia, Aril pun mengawali hidup barunya dengan tangisan."Sampai jumpa... kenyataan masa laluku." Bisiknya seraya melangkah pergi. Aril terus berjalan, berjalan, dan berjalan, dan tak lama kemudian, sosoknya pun akhirnya lenyap di kejauhan, ditelan gelap malam.

Kisah Enam Orang Buta Melihat Gajah
Folklore
17 Dec 2025

Kisah Enam Orang Buta Melihat Gajah

Seorang wanita duduk di pelataran rumahnya, sepi. Itulah yang ada. Sebab kedua orang tuanya telah pindah."Sepi sekali disini, dulu enak ramai semua berkumpul"Ditelinga kirinya berbisik "Sudah kamu mati saja, pasti tenang"Iya, ya apa aku mati saja . Ucapnya dalam hati lalu menggeleng usai tersadar.Nickyta, begitu mereka menyebutnya. Sosok gadis cantik yang ramah juga baik hati. Siapa saja yang mengenalnya, pasti akan nyaman berteman dengannya. Tapi dibalik itu, ada suatu kisah yang sampai saat ini membekas diingatannya layaknya sebuah rekaman yang terus dia simpan.Mira dan Ardi, mereka adalah sepasang kekasih yang telah menjalin kasih sejak duduk di bangku SMP. Jarak rumah mereka berdekatan, dengan kata lain mereka tinggal di desa yang sama. Meski hubungan mereka tidak direstui, nyatanya hingga kini mereka masih menjalin kasih.Ardi berasal dari keluarga yang kaya di desa itu sementara Mira dari keluarga sederhana. Mungkin, dengan dalih seperti itu mereka tidak direstui. Sebagai ibu Mira, Tira tidak ingin Mira mengalami kesulitan jika ia tetap memaksakan bersama Ardi tanpa restu di keluarga Ardi.Pernah suatu hari Mira dikirim ibundanya mengungsi ke suatu tempat yang cukup jauh dari desanya guna memisahkan ia dengan Ardi.Mereka sempat beberapa kali berjauhan, di tempat yang jauh mereka akan memiliki pasangan masing-masing juga memiliki kehidupan masing-masing namun jika mereka kembali, maka mereka juga akan kembali menjalani kisah mereka kembali. Begitu seterusnya.Dulu saat Mira kembali di desa pernah memiliki kekasih lain, karena ia berpikir mungkin ia tidak bisa bersama dengan Ardi tapi nyatanya Ardi tidak bisa menerimanya, ia mengancam setiap lelaki yang menemui Mira. Semenjak saat itu pula tak ada satupun pria yang mau menemui Mira. Dan Mira akan selalu bersama Ardi.Kini mereka sudah menikah, tahun pertama di pernikahannya cukup sulit untuk Mira karena Mira ikut tinggal bersama mertuanya, ibu dari Ardi, Tika sebab Tika tinggal sendirian. Sementara ayah Mira meninggal 2 hari kemudian setelah Mira dan Ardi menikah.Setelah menikah mereka tetap menjadi pasangan yang harmonis, perekonomian lancar bahkan bisa dikatakan berlebih.Tapi dibalik itu semua, ada sesuatu yang disimpannya.Pada mertuanya, Mira tidak boleh makan sebelum menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Meski menahan peluh akibat lelah ia tetap melakukannya.Bahkan ia pernah menyapu rumah tapi disapu kembali oleh ibunya.Yang lebih menyakitkan ketika ada seorang perempuan yang bertandang kerumahnya, yakni suka pada Ardi dengan profesi bidan.Tika dengan ramahnya menyapa "Eh ayo masuk.. Sudah makan belum?" Sementara Mira belum makan dari pagi.Dwi, adik dari Ardi. Mira dan Dwi merupakan sahahat baik semasa sekolah. Dwi juga merupakan adik Ardi. Tapi semenjak Mira dan Ardi menikah, Dwi menjadi tidak menyukai Mira, sifatnya yang terlihat memusuhi membuat Mira enggan bercerita keluh kesahnya.Kabarnya, Dwi tidak menyukai keharmonisan yang terjadi pada sahabatnya. Ia merasa tidak adil karena memiliki suami yang pemarah, pemabuk juga suka main perempuan dan tidak ingin bekerja. Selain itu, salah satu tetangga mereka juga ada yang iri pada keharmonisan rumah tangga Mira dan Ardi.Beberapa tahun telah terlewati, Mira dan Ardi dikarunia 2 putri cantik. Anak pertamanya bernama Nickyta dan adiknya bernama Zahra. Saat itu Nickyta telah berumur 8 tahun dan Zahra 2 tahun. Semenjak saat itu, ujian rumah tangga mereka mulai diuji.Ardi yang semula bersikap sangat baik berubah menjadi pemarah dan arogan, masalah kecil selalu diperbesar hingga terjadi pertengkaran hebat antara keduanya. Jika Mira atau Nickyta melakukan sedikit kesalahan saja, Ardi marah besar dan bisa memukuli mereka, mata dan hatinya tertutup untuk mengiba kasih pada keluarganya.Tidak sampai disitu, pernah Mira dan anak-anaknya tidur di dapur tanpa alas. Juga sering diusir oleh Ardi. Tapi keesokan harinya maka semua akan kembali seperti semua tanpa pernah terjadi apa-apa begitu seterusnya.Saat itu hanyalah pancaran amarah benci yang dilakukan Nickyta pada ayahnya karena selalu bersikap kasar pada mereka terlebih pada ibunya.Anak mana yang tidak sakit hati. Bukankah cinta pertama seorang wanita adalah ayahnya? Namun pria itu pula yang menorehkan luka dalam padanya juga ibunya.Hingga Nickyta telah tumbuh menjadi wanita yang cantik. Selama itu pula ia selalu meyakini bahwa ayahnya adalah orang yang baik. Saat Nickyta memasuki bangku SMA perlahan amarah ayahnya mulai mereda hingga akhirnya ia lulus SMA. Kemudian berlanjut kuliah, namun tiba-tiba ayahnya mengatakan akan pergi merantau ke Jambi tanpa tahu alasannya namun tekadnya sudah bulat ingin pindah kesana.POV NickytaSekitar satu tahun ayahku pergi merantau ke Jambi, ibukupun ikut ke jambi. Kemudian setelah dua tahun adikku juga ikut ke Jambi. Kini menyisakan aku seorang diri dirumah.Namun dari sinilah kisahku dimulai, kejadian-kejadian aneh mulai kurasakan. Mulai dari sakit perut, sakit kepala hingga kurang darah padahal semula aku selalu sehat. Juga ibuku mengatakan aku sedari kecil tidak pernah sakit-sakitan.Tapi aku selalu meyakinkan diriku bahwa ini semua baik-baik saja, mungkin memang kondisiku yang kurang sehat.Singkat cerita, aku sudah duduk di semester delapan perkuliahan menyusun skripsi sembari bekerja di salah satu kantor pemerintahan. Disini banyak persaingan untuk saling menjatuhkan satu dengan lainnya.Di sini juga aku bertemu dengan seorang perempuan bernama Sekar. Sekar adalah teman sekantorku yang berperilaku semena-mena, sombong hingga angkuh, suka marah-marah hingga apapun pekerjaan serba salah dimatanya, jika kita membela diri ia akan mengata-ngatain kita secara fisik dan materi. Belum lagi dia suka melabrak orang jika ia tidak suka.Iuhh... Sungguh menyebalkan!Tapi anehnya, semua atasan terlihat tunduk seolah itu bukanlah masalah sehingga ia merajalela.Ia pernah mengatakan "Silahkan adukan ke bapak, memangnya apa yang bisa dia lakukan padaku?"Iuhh... Sudah aku katakan dia memang semenyebalkan itu.Hingga suatu hari kami, aku dengan dua orang temanku, Dila Dan Dara bertengkar dengannya diluar kantor. Karena memang sudah tidak sepaham, tidak suka melihatnya berprilaku buruk.Bibirnya yang di poles lipstik merah bak biduan itu memaki-maki kami, cacian kata pedas dilontarkan padaku sambil menunjuk-nunjuk mukaku. Sejatinya aku juga manusia biasa yang memiliki batas kesabaran.Namun lagi dan lagi atasan kami semua seolah takut dan tunduk pada Sekar. Hanya kami -Aku, Dara dan Dila- yang berani. Muncul ide gila di kepala kami untuk pergi ke dukun untuk menjawab rasa penasaranku. Kebetulan aku punya saudara yang memiliki kemampuan khusus. Sekali lagi, dari sini menghantarkanku pada suatu rahasia.Nando, selaku kekasihku yang kebetulan di kotaku ada janji temu denganku. Maklum jarak rumah kami cukup jauh, sekitar 2 jam perjalanan. Ikut bersama kami.Sampai disana, ternyata dia sudah meninggal. Jujur aku tidak tahu perihal ini.Tiba-tiba Nando berkata "Bagaimana jika kita kerumah bibiku saja?" Tawarnya pada kami.Kami sempat berpikir sejenak namun mengiyakan. Tiba disana kami sedikit berbincang hingga menyampaikan masalah yang sedang kami hadapi. Bi Tari, berprofesi dokter bedah yang memiliki kemampuan khusus."Anehnya, Bi. Semua atasan tidak ada yang berani padanya." Ucap Dila dengan menggebu, aku mengangguk mengiyakanBibi itu tersenyum singkat lalu berkata "Iya, selama ini dia menggunakan susuk semar mesem sehingga tidak ada yang berani membantahnya"Kami semua terkejut, "Astaghfirullah..." Ucap kami berbarengan saling pandang"Setiap malam ia selalu mandi bunga juga memandikan krisnya sembari menyebut nama mangsanya" tambahnya yang membuat bulu kuduk kami meremang seketika.Lalu tatapan bibi itu beralih padaku, tatapannya cukup dalam hingga ia mengatakan "Aku kasihan melihatmu, orang tuamu sering bertengkar, bukan?""Hanya hal kecil tapi dibesar-besarkan, orang tuamu pernah ingin berceraikan?" TambahnyaDengan spontan aku langsung menjawab "Iya. Kok bibi tahu?"Lalu ia tersenyum, "Mau aku beritahu rahasia?"Aku menaikkan alisku tanda tidak mengerti maksudnya. Kenapa ia bisa tahu namun aku hanya mengangguk."Banyak yang iri pada keluargamu."Dalam hati aku bingung, ada apa dengan kami.Kemudian bibi itu kembali berucap "Di rumahmu, sudah di guna-guna orang. 3 orang yang membuatnya dan sudah 3 tempat yang sudah di tanam. Pelakunya orang terdekatmu, saudaramu. Mereka ingin menghancurkan keluargamu. Mempermalukan keluargamu, menghabisi keluargamu. Dan mereka juga ingin membuatmu gila, menutup auramu agar tidak menikah sampai tua sekalipun. Bahkan pikiranmu mudah berubah-ubah, satu menit begini dua menit begini. Tanpa sebab bisa menangis, merasa hidup tidak berguna. Berujung kamu lampiaskan pada Nando, kamu marah-marahin dia, segala amarah yang ada di dirimu kamu lampiaskan padanya." Jedanya sambil ia meneguk teh di sampingnya"Kamu meminta putus sama Nando, padahal kamu sayang sekali padanya. Tapi hatimu selalu berkata, udalah tidak usah menikah sampai tua. Benar tidak?" TanyanyaSungguh aku terperangah mendengar penuturannya. Aku bahkan belum mengucapkan satu katapun.Aku mengangguk "Iya benar, Bi. Semuanya benar" Jawabku"Baiklah, nanti kamu bibi syaratin. Mulai sekarang jangan seperti itu lagi. Jika bibi lihat dari bintang kalian cocok, kemanapun kalian pergi bahkan ke lubang semut sekalipun, tetap Nando yang pas untukmu begitupun sebaliknya" jelasnya kemudianMendengar ucapan di kalimat terakhirnya aku tertawa kecil, tak ayal aku saling curi pandang pada Nando."Jadi mereka hingga kini masih mengganggu kami ya, bi?" TanyakuBibi itu mengangguk "Syukurlah orang tuamu sudah pindah, jika masih disini mungkin akan pecah perang. Bahkan salah satu dari mereka akan sakit parah."Lagi, aku belum mengatakan apapun mengenai keluargaku tapi ia sudah tahu orang tuaku pindah."Tapi apa salahku dan keluargaku, bi?""Tidak ada. Hanya mereka iri pada keluargamu."Kami sedikit berbincang-bincang, kamipun bergegas kembali karena jarak yang lumayan jauh untuk ditempuh."Sebaiknya kalian pulang saja. Besok kembali lagi, bibi tunggu jam 2 ya" pesannya sebelum kami pulang.Keesokan harinya kami berempat kembali, sedikit berbincang."Tadi malam bibi sholat tahajud, saat bibi berdzikir bibi di datangi makhluk itu. Wujudnya tinggi, besar, hitam dan berbulu. Dia marah pada bibi karena ingin membantu keluargamu. Dia mengatakan bahwa jangan ikut campur, itu bukan urusanmu tapi bibi tetap melanjutkan dzikir itu."Kemudian aku diberikan tangkal berupa 2 buah bambu kuning yang di tanam di belakang dan depan rumah. Mencari aman agar tidak terlihat orang kami menanamnya pada tengah malam.Ajaibnya usai kami tanam, selang 5 menit terdengar bunyi letusan yang kuat baik dari depan maupun belakang. Akupun lega, mungkin setelah ini akan tenang tanpa gangguan.Namun aku salah, setelah 3 atau 4 bulan kemudian gangguan itu kembali. Bedanya, saat ini lebih peka. Di telingaku seperti ada bisikan seperti jangan tidur, jika ku lanjutkan maka aku akan ketindihan.Hari itu aku yang lelah sepulang kerja sekitar pukul satu siang bermain ponsel hingga ketiduran. Aku sering ketindihan tapi kali ini berbeda.Aku ingat posisi tidurku miring ke kanan menghadap arah jendela. Ketika aku ketindihan mukaku berasa ditutup ingin membuka mata tapi tidak bisa.Suara nafas menggeram terdengar di telinga "khkhhkhh"Doa dan segala upaya ku lakukan tapi sia-sia. Beberapa saat aku bisa bergerak membuka mata, ternyata sudah pukul 3 sore. Seluruh tubuhku meremang menghantar sensasi mengerihkan ditubuh.Ku tatap tangan dan kakiku menghitam bagai terkena arang. Aneh.Ponselku berdering menampilkan panggilan video dari Nando yang segera ku angkat.Aku menceritakannya diapun menasehati untuk sholat ashar yang saat itu sudah memasuki waktu sholat.Saat aku ingin memulai sholatku, terlihat dari ekor mataku sosok itu. Sosok hitam, tinggi dan besar berada di depan pintu kamarku berlari ingin menerkamku tapi seoalah tak bisa, tak sampai padaku.Desau angin membuat buluku naik ditambah keringat dingin membanjiri tubuhku, namun tetapku lanjutkan sholatku meski rasa takutku kian mencekam. Lantunan ayatpun sudah tak fokus kala ku rapalkan, namun tetap ku selesaikan sholatku.Usai sholat aku bergegas pergi kerumah nenek dari ibuku, jaraknya tak jauh sekitar 300 m saja dari rumahku. Disana aku langsung menelpon kedua orang tuaku menceritakan yang terjadi.Di jambi ada kakek yang kebetulan bisa hal seperti itu. Tak lama ibuku menelponku sambil menangis menceritakan bahwa benar ada yang jahat menggangu dengan niatan membunuhku, ia sudah 3 hari di rumahku menunggu waktu yang tepat, saat aku tertidur tadi."Jadi aku harus bagaimana?" Tanyaku penuh kekhawatiran, namun kakek dengan lantang menjawab"Maaf, kakek tidak bisa mengobati hanya bisa melihat" ucapnya diseberang sana."Kalau kakek boleh saran, sebaiknya pergi berobat ke orang karo juga sebab yang melakukan orang karo juga." TambahnyaKemudian aku bercerita ke Nando, kamipun kembali pada Bibi.Menceritakan padanya, dengan lugas ia menjawab "Sebenarnya dia sudah keterlaluan padamu. Saat ini dia membeli beguganjang untuk membunuhmu. Yang ketindihan, tanganmu hitam itu ulahnya, bekas bulunya semua." Jedanya"Jika leluhurmu tidak ada yang menjagamu, sudah pasti kamu akan tiada. Taringnya sudah menancap di nadimu, dia hanya perlu menghisap darahmu. Apabila masih selamat, kamu akan sakit terus menerus sampai menghabiskan uang tanpa sisa. Sebenarnya bukan kamu target mereka tapi orang tuamu, karena orang tuamu jauh maka kena padamu yang dekat disini." JelasnyaDan mereka ini pintar, ingat pada awal kami sudah menanam bambu?Yap. Bibi berkata awalnya melalui tanah, kemudian melalui angin."Sering mendengar bunyi berjalan atau lainnya di atap rumah?"Aku refleks mengangguk "Aku berpikir itu kucing, bi.""Saat ini mereka ada di atas bubungan rumahmu, oleh sebab itu kamu sering mendengar seperti orang berjalan di atap dan sebagainya." Bibi itu tersenyum sebelum melanjutkan "Ya sudah tidak apa, nanti kita syaratin lagi ya."Dan syukurlah setelah disaratin bibi rumahku kembali damai dan aman.Tidak berhenti disini, selang beberapa bulan ternyata aku seperti diikutin saat kerumah nenekku, dari mulai ketindihan, aktivitas mandi seperti di awasi hingga nenekku sakit.Di telinga kiriku sering berbisik,"Coba lihat ke dalam sumur" tapi di telinga kanan "Jangan lihat, ayo cepat selesaikan dan keluar"Pernah juga, mandi dilihatin hanya kepalanya saja yang kelihatan bak manusia mengintip padahal aku hanya sendiri di rumah nenek yang kebetulan ia sedang ada urusan.Bayangan hitam berlalu lalang di sampingku.Karena masih terus mengalami kejanggalam aku kembali pada bibi bersama Nando, bibi itu mengatakan"Sungguh luar biasa, mereka tidak bisa dirumahmu lagi makanya mengikutimu kerumah nenek yang akhir-akhir ini kamu lebih sering disana. Kasihan nenekmu, dia sudah tua tetapi malah jadi kena akibatnya.""Sebenarnya siapa yang tega melakukan seperti ini, bi?" Tapi bibi hanya diam, enggan menjawabnya, sudah entah berapa kali ia tidak ingin menjawabnya"Ayolah, bi. Ku mohon beritahu aku" pintaku bersikeras."Bibi tidak bisa menjawabnya karena tidak memiliki bukti nyata. Tapi baiklah, bibi beritahu cirinya saja padamu." Akunya pada akhirnyaAkupun mendengarkan dengan seksama."Ia memiliki hubungan sedarah dengan ayahmu (senina dalam bahasa karo), rumahnya di seberang rumahmu, kemudian dua orang lagi laki-laki dan perempuan usianya sekitar kurang lebih 70 tahun tetapi laki-laki inilah yang menjadi tangan kanannya karena dia yang menanam." JelasnyaMendengar itu aku jadi paham siapa mereka. Sudahlah cukup aku saja yang mengetahui ini.Bibi juga syaratin rumah nenekku seperti rumahku.Pantas saja selama ini, mereka seperti membenciku sementara aku tak pernah melakukan apapun pada mereka. Mereka bertiga juga selalu menghindar jika kami sedang bersitatap.Belum lagi aku yang selalu berbarengan dengan Nando, mereka yang melihatnya seperti kami telah melanggar norma.Padahal kami juga tahu batasan, bahkan kami selalu pulang tak lebih dari jam 10 malam.Ah hampir terlewatkan, sebelum aku kerumah bibi ataupun rumah nenek di syaratin. Saat aku tidur dirumah nenekku, ada satu kejadian aneh.Saat malam ada suara aneh seperti orang berjalan dan memukul atap beberapa kali, kala itu nenekku sedang di dapur sedangkan aku sudah lebih dulu di dalam kamar.Kebetulan kami tidur mengenakan kelambu, aku mendengar suaranya cukup jelas. Tak lama nenekku masuk, aku langsung bertanya"Nenek dengar suaranya kan?" TanyakuNenekku mengangguk, "Sudahlah tidur saja" ucapnyaTak lama ada burung hantu terbang di atas kelambu kami, berputar mengelilingi kelambu kami.Kami saling melempar pandang merasa aneh bagaimana bisa masuk, nenekku bergegas keluar mengambil spatula memukul burung tersebut. Burung dan darahnya berserakan di lantai, karena sudah tengah malam nenekku meminggirkannya untuk dibuang besok pagi.Ketika aku bangun tidur ku lihat di lantai sudah bersih, mungkin nenekku sudah membersihkannya subuh tadi.Akan tetapi saat aku keluar kamar nenekku malah bertanya, "Tadi pagi niki yang bersihkan burung tadi malam?"Tentu saja aku bingung, "Tidak, nek. Aku malah baru aja bangun"Kamipun kembali memeriksa, dan benar saja di lantai bersih tanpa sisa. Hanya di spatula tersisa sedikit bercak darah bekas pukulan. Aneh.Dan saat ini jika ditanya bagaimana kondisi keluargaku, syukurlah semua aman dan terkendali. Disana, Orang tuaku semakin harmonis, perekonomian juga semakin naik. Sakitku perlahan mulai berkurang. Tetapi aku jadi sedikit lebih peka, baik dari bisikan maupun penglihatan.------------------------------------Sengaja gak bikin end, karena emang hidupnya masih berlanjut heheKisah yang ini berbeda, bestie..Gimana? Mungkin kita bisa gak percaya tapi jika sudah mengalami pasti akan percaya. Dan ini hanya sedikit yang tercerita, belum lagi ranjangnya digoyang tengah malam saat ia tidur, dll.

Cerita Rakyat Laos
Folklore
17 Dec 2025

Cerita Rakyat Laos

Dahulu, ada dua orang sahabat. Mereka bernama Suta dan Kao Fong. Mereka berdua sama-sama cacat. Mata Kao Fong buta sedangkan kaki Suta lumpuh.Suatu hari, mereka ingin berpetualang. Kao Fong menggendong Suta yang lumpuh. Lalu, Suta yang bisa melihat menjadi penunjuk jalan.Di tengah perjalanan, mereka merasa lapar. Tiba-tiba, Suta melihat ada lubang di batang pohon. Suta mengira lubang itu sarang burung."Kao Fong, di pohon itu ada sarang burung. Kau naiklah ke sana," kata Suta.Kao Fong segera menurunkan Suta dari gendongannya. Lalu, dia naik ke atas pohon seperti yang dikatakan Suta.Setelah sampai atas, Kao Fong merogoh lubang itu. Ternyata yang dipegang Kao Fong bukan burung, melainkan seekor ular ajaib."Apakah yang aku pegang ini, Suta?" tanya Kao Fong.Suta pun terkejut melihat Kao Fong memegang ular. Tanpa diduga, ular itu menyemburkan bisanya ke mata Kao Fong.Tiba-tiba, mata Kao Fong bisa melihat. Kao Fong sangat kaget ketika melihat ular di tangannya.Kao Fong marah pada Suta. Dia mengira Suta ingin mencelakainya. Kao Fong lalu melemparkan ular itu ke arah Suta.Suta pun ketakutan dan segera berlari sangat cepat. Karena panik, tanpa disadari kini kakinya sudah tidak lumpuh lagi.Akhirnya, kedua sahabat itu berbaikan kembali. Kao Fong menyadari kalau Suta tidak pernah bermaksud mencelakainya.Mereka pun pulang dengan gembira.

Titik Temu
Romance
17 Dec 2025

Titik Temu

Pernahkah kamu mencintai tapi merasa tak dicintai?Sekian lama berhasil menyita perhatian tapi terkalahkan oleh kebersamaan. Bukan, melainkan kebersamaan dengan dia.Mungkin inilah yang sedang ku alami.Temaram yang sedang terjadi menyita perhatian. Di pantai, kami bediri tegak saling menatap ke dalam dasar bola mata. Perlahan kami tersenyum bersama.Semakin lama, cahaya semakin menusuk ke dalam dasar ingatan kami."Hai" ucapku yang malu-malu saat kini ia melihatku dengan baju basketnya juga beberapa titik keringat di dahi juga tubuhnya.Ia tersenyum dengan menghampiriku, ku berikan ia sebotol mineral yang langsung di teguknya hingga tak bersisa."Gimana? Aku hebatkan di pertandingan kali ini"Aku mengangguk "Kamu selalu hebat. Selamat untuk kemenanganmu" jawabku tulusIa mengusap rambutku, "Tunggu ya, Pita. Aku ganti dulu" ucapnyaSena, lelaki yang kini menyandang status pacaran denganku. Kisah kami seperti remaja lainnya, ia salah satu lelaki tertampan dan populer di sekolah menengah atas yang kedudukannya sebagai ketua tim basket.Sedangkan aku? Tentu saja aku hanya siswi biasa yang tidak terlalu populer atau bahkan bisa dikatakan sedikit populer berkat pacaran dengan Sena.Jangan salah paham, aku murni mencintainya juga dia begitu.Ah aku ingat awal pertemuan hingga kedekatan kami. Itu semua bermula saat hujan turun begitu derasnya ketika pulang sekolah, terpaksa aku menepi di dekat halte bus, aku tidak membawa kendaraan karena kendaraanku masuk bengkel.Ia yang baik hati, menawarkan tumpangannya padaku yang mulanya ku tolak. Tidak enak, kami tidak terlalu dekat, bukan? Namun berkat gadis di samping kemudi yang memaksaku naik, maka mau tidak mau aku naik bersama. Gadis itu bernama Luvi, sahabat dari Sena.Ia sungguh gadis yang cerdas juga menawan. Ia adalah ketua tim chereleader juga bagian dari anggota osis. Menarik bukan?Entah bagaimana, kami menjadi sangat dekat sejak saat itu."Ayo, sayang" ucap Sena, yang menarikku dari awal cerita kami.Aku mengangguk, namun Sena tampak merhatikan sekelilingnya."Luvi?" Tanyaku, ia mengangguk"Ah itu si Luvi duluan, di jemput sama Brian"Ia tampak senang "Woah.. gencar sekali Brian. Semoga mereka cocok ya" balas Sena dengan tawa dan wajah yang semangat dan aku juga tersenyum sambil mengangguk.Sebenarnya, jika jujur aku sedikit meragukan pertemanan antara Sena dan Luvi. Seperti yang kita tahu, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan tanpa perasaan salah satunya. Namun biarpun begitu, mereka sudah bertemu dahulu dibandingkan denganku."Mm.. Sena, kamu tidak cemburu?" Tanyaku ragu. Kini kami sudah mulai berjalan ke area parkir.Dia menyemburkan tawanya "Aku dengan Luvi maksudnya?"Aku hanya mengangguk"Yang benar saja, Pita sayang. Jika memang aku menyukainya tentu sudah dari dulu bukan bersama dia?""Iya sih, tapikan bagaimanapun itu....""Sst.. ah bercandaan kamu gak lucu, sayang. Intinya, aku sudah sama kamu sekarang. Dan cuma kamu." PotongnyaIa membukakan pintu mobil untukku, akupun memasuki mobilnya sementara ia mengitari mobilnya untuk duduk di bangku kemudi."Jadi mau kemana kita, yang?""Aku lapar""Mau makan apa?""Terserah" jawabkuDia tampak berpikir mengetukkan jarinya di kemudi."Mie ayam?" Tanyanya"Enak sih, tapi belum makan nasi.""Nasi padang?""Sedang tidak ingin""Fast food?""Tidak sehat, sayang" balasku lagi"Batagor?""Kan belum makan nasi, yang""Oh aku tahu, nasi goreng mang oleh" dengan semangat"Tenggorokan lagi gak enak, ntar batuk""Jadi apa dong?""Sudah deh, fast food di depan jalan itu saja, biar cepat" balasku dengan senyum lebarIa tampak mengusap wajah sambil bergumam "Untung cinta" lalu tak lupa mengecup pipiku.Akhirnya kami memilih makanan fast food di depan sana, renyahnya ayam goreng dengan tepung memanjakan lidahku. Aku memang penyuka makanan jenis fast food. Sedangkan Sena, penyuka segala jika bersama denganku pastinya.Memulai hubungan dari kelas 2 yang kini kami telah menduduki kelas 3 semester akhir membuat kami saling memahami satu dengan lain. Mengenai Luvi aku terkadang sedikit cemburu tapi selalu berusaha untuk tampak biasa saja. Lagi pula mereka memang sudah dekat yang ku ketahui sedari awal masuk sekolah dulu.Bahkan yang ku ketahui, ibu mereka saling berteman dekat juga rumah yang searah. Syukurlah antara ibu itu tidak menampilkan drama perjodohan karena persahabatan sebab itu akan merepotkan urusan percintaanku dengan Sena. Kesimpulannya, selama itu tidak terjadi maka hatiku aman, bukan?Usai makan Sena langsung mengantarkanku pulang kerumah. Begitu tiba akupun langsung bergegas memasuki kamar untuk berganti pakaian dan terlelap sejenak hingga panggilan ibu membangunkanku dari mimpiku yang indah.Sialan! Bisa-bisanya aku bermimpi menikah dengan Sena di sore hari begini.Wah... Sepertinya aku memang sudah terserang virus bucin."Ada apa, Ma?" Tanyaku"Itu hp kamu bunyi terus menerus siapa tau yang menelpon penting." Ibu menggelengkan kepalanya "Tidur sudah seperti orang pingsan"Aku tergelak mendengar omelan di akhir kalimat ibuku. Ku akui memang itu kebiasan burukku."Yasudah, angkat telpon lalu mandi setelah itu kita makan malam bersama""Ay... Ay. Kapten!" Balasku.Segera aku mengecek ponselku yang tergeletak di nakas.Ada 10 panggilan tak terjawab dari Sena. Juga beberapa pesannya.Komandanku♥️Sayang.. KangenEh.. kita baru ketemu. Tapi gimana dong?Gak diangkat pasti tidurOhh.. Aku tau, kamukan tidur seperti orang mati.Aku tertawa geli melihat pesannya yang tak kunjung ku balas. Satu pesan terakhir yang membuat aku sedikit was-was tapi mencoba biasa saja.Aku mengantar Luvi sebentar ya, sayang. Belanja disuruh bundanya. Tidak lama.Laluku balas dengan kata " O ke, hati-hati, sayang. Tipsam sama Luvi ya"Setelah balasan iya darinya aku mandi dan makan bersama orang tuaku. Sedikit membahas beberapa hal untuk melanjutkan pendidikan apa setelah masa abu-abu usai. Orang tuaku, selalu berkata bahwa jangan pikirkan biaya, tugas anak adalah belajar saja. Biaya urusan kami dan yang terpenting jangan permalukan orang tua.Aku memilih untuk mengambil hukum saja. Aku memang berasal dari kelas jurusan IPA tapi aku ingin menjadi Jaksa. Itupun kuliah di sini saja tanpa keluar negara. Mungkin aku akan memilih universitas terbaik di negeri saja.Usai membahas ku lihat ponselku berbunyi menampilkan nama Luvi, sepertinya mereka sudah selesai belanja.Kami memang menjadi dekat bahkan kami selalu curhat bersama, aku yakin ia ingin bercerita tentang Brian.Segera ku angat panggilannya"Hallo" ucapku" Pitaaacuuuu " teriaknya gembira, membuatku sedikit menjauhkan ponselku"Ia, Vi. Budek ni teriak-teriak" balasku" Seriusan demi apa, Brian nembak aku tadi. Gilee banget, gak sih?" Nahkan dia memang akan curhat tentang semua gebetannya padaku tapi tampaknya Brian yang memenangkan hatinya"Wah.. Terus gimana?"" Ya terima dong. Gilee aja aku nolak. Uhh.. mana dia sweet banget bikin meleleh ketika nembaknya" ucapnya dengan lebayAku tertawa singkat "Selamat my luv luv nya aku. Jangan lupa PJ ya" balasku dengan semangat" Eh tapikan, Pit. Masa Sena bilang Brian tidak sebaik pikiran kita"Tunggu, bukankah Sena mendoakan semoga mereka cocok ya"Masa sih? Bukannya Sena biasa suka ya menjodoh-jodohkan kalian malahan"" Nah iya, bener, Pit. Tapi ketika saat Sena mengantarkanku tadi dia bilang melihat Brian bersama perempuan." Jelasnya di seberang sana"Mungkin adik atau kakak atau sodara kali, Luv"" Sepakat. Aku juga bilang gitu sama Sena.""Lalu apa katanya?"" Dia cuma menghendikan bahunya aja tanda tidak peduli""Yasudahlah, intinya kembali sama luvi aja gimananya. Nanti tanya aja sama Brian biar enak jugakan daripada prasangka buruk" jelasku" Iya bener, Pit. Ohiya..."Selanjutnya dilanjutkan dengan percakapan kami yang lainnya hingga tak terasa sudah malam dan kami mengakhirinya karena mengantuk.Keesokan harinya libur, Sena mengajakku untuk berjalan-jalan ala remaja biasa. Menghabiskan waktu bersamanya minus Luvi karena ia juga berjalan bersama Brian yang ia tidak mau main bersama. Katanya nanti saja baru juga jadian pengen berduaan dulu."Wah.. warna lipstiknya bagus ya" ucapku seraya melihat lipstik baru kubeli yang di balas tawa kecil oleh Sena."Sena, bagaimana? Sudah menentukan pilihan lanjut kemana" tanyaku kemudianSaat ini kami sedang di pusat perbelanjaan yang kini sedang makan di restoran setelah lelah berputar-putar juga menonton film."Sepertinya aku lanjut ke Harvard deh, yang. Kembali di pilihan utama. Mama Papa juga ingin begitu"Ya Sena memang pernah mengatakan ini, Sena anak tunggal yang tentunya kedua orang tuanya ingin Sena menjadi penerusnya. Salah satunya melalui pendidikan diluar negeri. Saat itu ia bercerita masih bingung namun kini kutahu ia telah mantap dengan pilihannya berbeda denganku yang hanya ingin kuliah di dalam negeri saja."Artinya kita bakalan LDR" jawabkuSena tertawa singkat lalu mengacak rambutku, menyuapkan potongan steak padaku yang langsung kuterima "Hanya sementara. Libur nanti kitakan bisa bertemu, sayang"Aku menghela nafas, "Bagaimana jika kamu selingkuh dengan bule disana?"Sena semakin tertawa "Seleraku masih lokal, sayang."Tak urung aku tersenyum, "Yasudah deh""Kamu sudah bulat memilih hukum? Jadi jaksa" tanyanyaAku mengangguk antusias. "Tentu saja, sudah ada beberapa referensi sih. Tapi sepertinya aku lebih tertarik ke Sumatera, kampus USU. Sepertinya menarik kalau aku bisa kuliah disana. Lagipula aku juga bisa hidup mandiri tanpa terlalu jauh kan? Ya setidaknya bukan diluar negeri" jelasku"Serius? Banyak kampus bagus di pulau jawa padahal seperti kampus...""Iya, iya, sayang. Aku tau, tapi aku tertarik dengan kota Medan. Kampus USU. Aku lebih tertarik disana." PotongkuIa menganggukkan kepalanya, "Oke. Yang terpenting selalu jaga hati kita ya" putusnya lalu aku mengangguk dan kami bercerita ringan tentang hal lainnya, layaknya pasangan mabuk asmara lainnya.Selang beberapa bulan akhirnya, hari dimana kami tunggu telah tiba. Kami semua telah dinyatakan lulus. Masa putih abu-abu telah usai, digantian dengan kami yang memilih langkah mana yang kami ambil.Malam ini adalah malam prom nigth , malam pesta kelulusan kami. Tentu saja malam ini aku berpasangan dengan Sena, Luvi dengan Brian, pacarnya.Kami sedang menikmati alunan syahdu dengan gerakan ikut alunan juga tangan saling menggenggam pasangan. Mungkin esok aku dan Sena akan terpisah dengan jarak, perbedaan waktu dan tempat karena menuntut ilmu pendidikan untuk menjadi layak bersama.Dan betapa senangnya, aku dan Sena terpilih menjadi raja dan ratu malam ini.Lepas dari berdansa, aku kembali duduk di meja awal kedatanganku disini. Menikmati sedikit makanan ringan, seraya menyesap jus aku mengedarkan pandangan ke sekitar lalu tersenyum. Masa putih abu-abu yang menyenangkan.Terlihat Luvi yang tertawa gembira bersama Brian, aku berharap ia bahagia selalu. Ku tatap Sena diujung sana, ia berbincang seru bersama temannya. Aku sudah cukup lelah karena sedari awal hadir aku sudah berbincang seru bersama yang lainnya.Tak lama ponselku berdenting, nama Luvi tertera mengatakan bahwa Ia akan pulang duluan.Ku lihat ia berjalan keluar bersama Brian dengan tangan tertaut dengan senyum mengukir.Aku melirik arloji ternyata sudah cukup malam, usapan di rambut membuatku menoleh ternyata Sena sudah kembali ke meja kami."Sudah malam, bagaimana kita kembali saja"Aku mengangguk "Luvi dimana?" Tanyanya karena memang kami datang bersama"Ah iya, tadi Luvi bilang pulang duluan sama Brian. Barusan saja."Ia mengangguk "Yasudah, ayo"Kami berjalan menuju parkiran lalu masuk ke dalam mobil, mulai menjalankan mobilnya perlahan.Percakapan sederhana mulai tercipta, mungkin usai ini kami akan menjalani LDR, tak masalah bagiku asal kami saling menjaga hati.Hingga dering ponsel Sena berbunyi, ia langsung mengangkatnya"Ya, Vi" ucapnya, aku menoleh ternyata Luvi yang menghubungi."Apa!" Ucapnya sambil melirik ke arahku, "Katakan kamu dimana?" Tambahnya, lalu membelokkan setir mobil ke arah balik"Luvi kenapa?" Tanyaku penuh kekhawatiran"Sayang, aku turunin disini. Tidak apa?"Aku juga menatapnya penuh khawatir, ini sudah malam aku juga sedikit takut."Ada apa, Sena?""Luvi dilecehkan sama Brian. Aku ingin menjemputnya. Aku pesankan taksi online saja ya, aku juga gak tega ninggalin kamu""Aku ikut" balasku"Pita, tapi...""Sudahlah Sena, ayo cepat. Luvi butuh bantuan kita" tukaskuIa menghela nafas, "Baiklah" balasnya sambil menambah kecepatanDalam hati aku merapalkan doa semoga Luvi baik-baik saja disana. Aku tidak habis pikir, bagaimana Brian lelaki baik itu melecehkan Luvi. Sungguh ini diluar dugaanku. Brian adalah lelaki baik juga dari keluarga baik, tapi apa yang terjadi padanya sehingga ia seperti itu.Hubungan pertemanan kami juga cukup baik, sedikit banyaknya aku mengerti dia tidak akan pernah berbuat buruk pada wanita.Bahkan terkadang ia membantu Sesil, wanita seangkatan kami yang sering dibully. Sungguh apa yang terjadi?Hingga kami tiba di sekolah, langkahku berlari terseok-seok mengikuti langkah Sena ke arah belakang sekolah.Terlihat dari sana, adegan tarik menarik antara Brian dan Luvi, kancing teratas gaun Luvi juga sedikit terlepas.Sena langsung menarik Brian dan melayangkan pukulan bertubi-tubi.Aku mendekat pada Luvi langsung memeluknya, Luvi terisak-isak di pelukanku.Aku menenangkannya, mengusap punggungnya berharap bisa meredakan sesak di jiwanya. "Aku takut, Sen" gumamnya yang cukup ku dengar jelas meski pelan, padahal aku yang sedang memeluknya. Mungkin dia syok.Aku terus mengusap "Tidak apa, kamu sudah aman sama kami" ucapkuLalu dengan tarikan sedikit tersentak, tanpa aba-aba Sena langsung menarik Luvi kedalam pelukannya dengan erat."Kamu tidak apa-apakan? Kamu sudah aman sekarang sama aku"Tangis Luvi semakin nyaring, ia menganggukkan kepalanya "Sena, aku takut" paraunyaIa masih menangis sesenggukan dalam dekapan sena, ku lihat Sena mencium puncak kepalanya, melihatnya hatiku seperti diremas.Suara batuk dari Brian mengalihkan pandanganku terhadapnya, tampak ia terkapar dengan beberapa luka dan darah. Itu pasti sakit sekali.Ia bangkit duduk, memegangi perutnya dan terbatuk kembali."Kau lihatkan mereka. Itu yang ku rasakan" aku menatap Brian mengangkat alis tidak mengerti maksud perkataannya, tapi aku menatap Sena dan Luvi lalu kembali memandang Brian."Aku tidak akan melakukan hal serendah ini, hanya aku harus berpura melakukannya agar semuanya jelas"Aku sungguh tidak mengerti maksud perkataannya."Tidak ada kalimat pembenaran untukmu" balasku sambil menatap Sena dan Luvi yang kini sedang terduduk saling mengusap menenangkan."Mereka saling mencintai. Kita hanyalah penghalang mereka" ucapnya lagi dengan tertatih "Tapi terserah kau saja"Aku menatap kembali ke arah Sena dan Luvi. Mereka bahkan tidak menghiraukan aku disini, perlakuan Sena saat menarik Luvi tadi juga tidak mempedulikan keberadaanku.Menatap mereka begini, membuatku tertampar kenyataan bahwa tak ada pertemanan antara lelaki dan perempuan tanpa cinta di dalamnya.Mungkin mereka bisa saja mengelak, tidak ada perjodohan ataupun semacamnya, tapi lelaki dan perempuan bersama selama bertahun-tahun menumbuhkan rasa tanpa disadari.Tak sadar, air mataku menetes, kenapa sesakit ini rasanya.Aku berjalan ke arah Sena dan Luvi. "Luvi, kamu baik-baik sajakan?" Tanyaku sambil duduk disebelahnya dan ia hanya mengangguk.Lalu Sena mengajak kami pulang dengan merangkul Luvi dan aku mengekori di belakang mereka. Betapa bodohnya aku, kenapa baru benar-benar sadar."Pita, duduk di belakang tidak apakan? Luvi di depan" ucap SenaAku mendongak menatapnya sambil menggigit bibirku berusaha menahan sesak, tapi juga mengangguk "Ah, baiklah" jawabku, kenapa jadi mellow beginiUsai beberapa malam itu aku terus berpikir mengenai hubungan kami, bahkan Sena selalu menghibur dan bersama Luvi. Mereka bahkan lupa jika hari ini adalah jadwal keberangkatanku untuk ke Medan karena cita-citaku. Tak apa setidaknya, aku sudah mengingatkan melalui pesan singkat.Saat aku sudah di bandara menunggu jadwal keberangkatan, Sena memanggilku juga disana bersama Luvi."Sayang, maaf aku lupa sampai tidak mengantarmu" ucapnya, orang tuaku sudah kembali karena ada urusan mendadak"Tidak apa, tadi aku diantar sama orang tuaku kok""Pita, maaf aku juga lupa" ungkapnya ia memelukku "Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu"Aku menganggukkan kepalaku. Lalu aku menghampiri Sena, "Maaf ya, selama ini aku kurang peka dengan hubungan kalian""Kamu ngomong apa sih?" Tanya Sena"Kamu dengan Luvi. Hubungan kita sampai sini saja ya. Kalian harus mulai peka terhadap satu sama lain""Pita, aku dan Sena hanya..."Aku menggeleng, "Aku tahu kamu, Vi. Kamu harus percaya sama aku." Potongku cepat, sialnya air mataku menetesSena memelukku, "Maafin aku.""Suatu hari nanti kita bertemu, kita akan jadi orang asing. Jangan tegur aku jika kamu bisa" tukasku menatapnya namun dia menggeleng.Suara keberangkatanku diumumkan, aku mulai berjalan masuk tanpa menoleh ke belakang lagi, tak ingin mendengarkan ucapan Sena maupun Luvi. Aku sudah berusaha merelakan.Bahkan saat aku kuliah di Medan, tepatnya di semester akhir, aku bertemu dengan Brian. Ia hanya sedang berlibur beberapa hari ke rumah saudaranya, bertemu denganku yang sedang jalan ke mall di Medan. Percakapan singkat kami terjadi, mengapa dia berbuat seperti itu pada Luvi.Bahkan aku juga mempertanyakan perempuan yang pernah dibicarakan Luvi kala itu, tapi Brian hanya menjawab ia adalah sepupunya yang di Medan ini.faktanya saat itu, ia berusaha meyakinkan Luvi bahwa Sena dan Luvi saling mencintai namun Luvi selalu menyangkal. Hingga ia berpura mengajak Luvi untuk melakukannya, Luvi berlari menolak dan ia menelpon Sena. Brian memberikan sedikit waktu pada Luvi hingga kami datang ia segera menarik Luvi berpura akan melakukannya.Dan ku dengar darinya, jika Luvi berangkat ke Amerika lalu menikah dengan teman di kampusnya itu sesama pelajar indonesia. Sejak saat itu aku memang memutuskan hubungan dengan mereka.Kini, saat ini, aku tertarik dari khayalanku di masa lalu.Kini di hadapanku tampak Sena, kami saling menatap di tepi pantai ini, sudah bertahun-tahun berlalu tapi wajahnya masih juga rupawan, sinar senja yang memantul menjadi saksi bisu kami bertemu.Mungkin sudah 6 tahun sejak pertemuan terakhir di bandara itu, namun dilihat ia semakin tampan saja, tubuhnya juga masih tegap sama seperti dulu. Tatanan rambutnya sedikit berubah tapi tak jauh."Mama..." Panggil anakku, Devan berusia 2 tahun.Aku menoleh langsung mengangkatnya ke gendonganku, "Papa beliin kita es krim" adunya padakuTak lama suamiku, Arta. Datang menghampiriku "Ayo kita kembali ke hotel, anginnya mulai dingin" Aku mengangguk mengiyakan, Devan di ambil alih oleh Arta. Kami memang sedang berlibur di Bali.Aku kembali sejenak menatap Sena yang sepertinya ingin menyapaku tapi ia ragu. Saat aku berbalik berjalan, ada suara lembut menyapa di telingaku"Ih.. Sena aku cari kemana-mana ternyata disini. Ayo kitakan baru saja menikah. Jadi harus bersama terus"Aku menolehkan kembali kepalaku sejenak menatap mereka, menyunggingkan senyuman padanya dan di balas anggukan senyuman pula untukku.Pada akhirnya, kami hanyalah seorang figuran dalam kisah kehidupan kami.Sena yang ku kira adalah tokoh utama dalam ceritaku, juga Luvi sahabat tokoh utama, ternyata mereka hanya figuran. Pemanis cerita cinta singkat kami.Di masa putih abu-abu.End

Menyekap Rasa 2
Romance
17 Dec 2025

Menyekap Rasa 2

Aku berjalan mengikuti langkahnya, ia cepat sekali berjalan. Ini sudah malam dan aku sama sekali tidak mengetahui tempat ini, lebih tepatnya pertama kali datang kesini.Suara burung gagak menambah bulu kudukku semakin naik, belum lagi angin berhembus menggerakkan dedahanan di sekeliling yang menciptakan sensasi aneh di malam hari. Oh ayolah, ini sudah pukul 10 malam."Renal, kamu gak lagi berusaha buat ninggalin aku, kan?"Tadi kami ada urusan meninjau lapangan bersama, lokasi ini cukup seram karena banyak pepohonan. Kabarnya, ini akan dijadikan tempat wisata asri. Harusnya memang tadi siang kami sudah sampai tapi akibat beberapa kendala jadi sampai malam kami baru selesai. Belum lagi menunggu para petinggi lainnya, sungguh melelahkan."Oh ayolah Tasya, lihat mobilnya terparkir di sana. Udaranya dingin"Aku menepuk keningku, benar. Kenapa aku saat ini jadi penakut sih.Langsung ku bergegas berlari menuju mobil Renal "Cepat buka, Renal!" TeriakkuAkhirnya lega sekali sudah di dalam mobil.Renal segera menghidupkan mesinnya, dan mulai merangkak perlahan meninggalkan proyek."Huh.. Lega banget" desahku"Tumben, biasanya kamu pemberani"Aku terkikik geli, mungkin ini akibat aku sering menonton maupun membaca kisah horor "Penakutkan manusiawi" tampikkuIa hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap fokus menyetir."Sya, makan dulu ya sebelum cari hotel. Laper juga ni""Oke. Aku juga laper banget sebenernya cuma malu aja mau bilang" ucapku sambil tertawaDiapun ikut tertawa "Gayaaa syekali anda""Itu aja nasi goreng, enak deh kayaknya malam-malam gini" sarankuDi depan sana terdapat beberapa gerobak penjual makanan, Renal memberhentikan mobilnya kamipun segera turun.Memesan nasi goreng dengan pelengkap minum teh manis hangat."Sudah seperti orang tua, minum kita teh manis" candakuRenal tertawa "Ngejek akukan? Kamu kan tau aku suka ngeteh"Ya aku tahu, karena sedari dulu aku sudah berteman dengan Renal.Tak lama pesananpun datang dan kami langsung melahapnya, kelaparan tentu saja melanda kami jika dari tadi kami belum sempat makan."Loh, Tasya Renal" ucap seorang perempuan menghampiri kami"Eh. Ya ampun. Windy, kan?" TanyakuIa mengangguk antusias "kalian kok bisa sampai sini? Jauh banget mainnya sampe Bandung. Padahal di Jakarta juga banyak yang jual nasi goreng" ucapnya sambil tertawaWindy tetaplah Windy, dia adalah teman SMA kami. Orangnya seperti ini, suka sekali berbicara tanpa jeda. Tapi tak urung ia baik hati. Saat di Jakarta dulu ia menemani neneknya, namun setelah neneknya tiada, ia kembali ke Bandung."Oh aku tahu, kalian lagi Honeymoon ya? Parah sih, nikah gak ngundang aku"Wah... Ternyata dia tidak berubah. Masih saja suka menyimpulkan tanpa sebab dan masih belum memberi cela untuk kami menjawab"Kamu apa kabar, Wind?" Tanya Renal"Sehat dong" jawabnya "Kalian juga sehatkan?" Tambahnya"Sehat juga ni. Seneng deh bisa ketemu kamu disini" ucapku"Eh kalian honeymoon kenapa bajunya formal banget. Pake kemeja, celana bahan, blazer, apa-apan itu?"Aku tertawa geli "Kami tadi ada kerjaan, Wind" balasku, Renal juga tertawa geli tapi tidak menjelaskan"Oh sweet banget kalian. SD, SMP, SMA, kuliah sampe kerjaanpun barengan""Kita belum nikah, Wind" jelasku padanya" What ! Ih Renal kok gitu" cecar Windy"Aduh.. Wind. Pusing aku. Tanya aja sendiri sama Tasya." Balas Renal"Ah gak seru Tasya, aku aja bisa liat loh Renal terbaik." Ucapnya "Tapi tenang Renal, aku jomblo ini. Baru putus. Kalau Tasya gak peka. Bisa banget sama aku. Apalagi kamu juga jomblokan? Makin seneng akutuh" tambahnya sambil tertawa"Boleh. Sini deh no wa kamu"Hah! Jawaban apa itu Renal. Katanya kamu mau berjuang buat aku, kok begitu.Seperti dikatakan Windy, aku dan Renal bersahabat sedari dulu. SD, SMP, SMA, Kuliah hingga bekerja aku selalu terlibat bersamanya, selain itu rumah kami berdekatan. Berbicara tentang Renal, saat itu Renal menyatakan perasaannya padaku ketika tak lama aku bermasalah dengan pacarku, tepatnya mantan pacarku.Bisa dibilang waktu yang tidak tepat, tapi begitulah faktanya. Mengingat hal itu, Roki aka mantanku pasti sudah bertunangan dengan Caca, anak teman ibunya.Menyebalkan bukan? Dan Renal katanya akan berusaha membuatku menerimanya tapi kenapa malah begini.Renal itu memang cuek, terkesan tidak peduli tapi sejujurnya dia orang yang humble juga hangat. Kesan yang sulit ditemukan pada orang lain dan itu yang membuatku bertahan untuk selalu berteman padanya." Tenkyu , Ren." Balas Windy ku lihat ia mengambil ponselnya dari Renal."Eh aku juga mau no kamu" sahutku sambil menyerahkan ponselku "No kamu gantikan" tambahkuWindy tertawa "Iya, ponsel aku hancur setelah di banting mantanku dulu, bukan mantan yang ini ya. Trus hilang kontak sama kalian" ia dengan cepat mengetikkan no nya padakuSegera ku hubungi no itu lalu berkata "Itu no aku""Yauda aku duluan ya." pamitnya berjalan, tapi tak lama memalingkan wajahnya pada kami "Renal, nanti aku hubungi kamu ya." TambahnyaRenal tertawa lalu mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.Aku menggelengkan wajahku "Dari dulu Windy gak berubah ya. Tetap aja lucu""Tapi Windy banyak berubah ya" Ucap RenalAku melihat ke arahnya, ku lihat Renal masih melihat Windy yang masuk ke dalam mobilnya "Makin cantik ya" lalu kembali melahap nasi gorengnyaAku mengangguk, benar Windy memang makin cantik. Aku kembali melahap nasi gorengku juga.Tak lama, acar berpindah ke piringku. Tentu saja Renal pelakunya. Aku tersenyum sejenak, "Terima kasih"Aku memang sangat menyukai acar jika makan nasi goreng."Dihabiskan. Setelah ini ga ada drama lapar tengah malam ya, Sya"Aku terbahak lalu menggoyangkan bahuku mengenai tubuhnya "Ah Renal.. Suka gitu" ia juga ikut tertawa sambil mengambilkan tisu mengelap sudut bibirku.Akhirnya kamipun selesai, segera mencari hotel terdekat karena tubuh kami memang sangat letih. Ini adalah malam sabtu, besok libur tentu saja. Tapi pulang ke rumah juga bukan pilihan yang tepat karena seharian ini kami sudah sangat bekerja keras ditambah hujan lebat mengguyur jalanan.Akhirnya kami menemukan sebuah hotel tidak besar lebih tepatnya seperti motel. Aku dan Renal segera masuk, tak sabar ingin merebahkan tubuh. Menunggu Renal memesan kamar."Ayo, Sya." Ucap Renal, ku lihat resepsionis tersenyum meledekku. Entahlah mungkin hanya firasatku"Kamar berapa? Letih banget aku"Renal menggaruk tengkuknya "Sya, jangan marah. Kamar sisa 1 jadi""Ha? Terus gimana?""Ya gimana? Sudah letih banget kalau kita keluar lagikan"Aku menganggukkan kepala, ya sudahlah. Lagipula tidak akan terjadi apa-apa juga antara aku dengan Renal. Aku tahu banget siapa dia. Dulu juga kami pernah berbagi kamar saat SMA, aku yang takut menginap dirumahnya lalu malah menonton horror. Dia bisa menjaga batasan, malah aku yang tidur tanpa sengaja memeluknya, memalukan.Begitu tiba di kamar, aku melepaskan sepatuku melompat ke kasur. "Ya ampun lega banget" desahku"Bersih-bersih dulu kali, Sya."Aku menepuk sisi ranjangku, "Sini deh, Ren. Nyaman banget dijamin malas bersih-bersih"Renal tertawa geli "Aku bisa khilaf, Sya. Kamu tidak lupakan mengenai perasaanku?" BalasnyaAku terdiam mengatupkan bibirku rapat, aku sedikit melupakan itu karena kami biasa bercanda ria. Ku tatap wajahnya yang sepertinya memang tidak bercanda hanya saja terselip nada canda saat ia mengatakannya."Ren... Mm.. Aku"Cup.Ia mengecup keningku membuatku terdiam sejenak lalu menatapnya. Ia hanya tersenyum lalu berlalu memasuki kamar mandi.Aku menutup wajahku dengan tangan, lalu menelungkupkan wajahku pada bantal menggoyang-goyangkan kedua kakiku.Oh kenapa aku salting?Dulu gak begini deh perasaan.Sudah deh mending tidur aja, rilex Tasya.---Dering ponsel mengusik tidur lelapku, posisi ini beneran nyaman. Aku terbangun dengan posisi memeluk Renal, tanganku mencari-cari ponsel lalu melihat siapa yang menghubungi sepagi weekend ku ini.Aku bangkit duduk di ranjang menghela nafas karena terpampang nama Roki di layar ponselku.Huh! Ada apa sihKu akui beberapa waktu belakangan ini dia selalu menghubungiku tapi selalu ku abaikan.Ayolah.. Dia sudah bertunangan. Untuk apa lagi?"Kenapa gak di angkat sih, Sya? Berisik banget" suara serak Renal mengintrupsi, aku menoleh ke arahnya"Roki" jawabkuDiapun bangkit duduk, "Mau apa lagi sih dia? Gak bosen apa" tersirat nada cemburu di wajahnya sedikit menggelitik hatiku membuatku senangEh tadi aku bilang apa? Senang?Tapi kenapa?Gak, gak, gak. Aku gak boleh begitukan"Angkat ajalah, siapa tau penting" sarannyaAku menekannya, memutuskan untuk menjawabnya"Ya?" Tanyaku" Hallo, Sya. Syukurlah kamu angkat ""Ada apa, Ki?"" Bisa kita bertemu sebentar?"Aku mengerutkan glabelaku, "Untuk?"" Ada hal penting, boleh?"Aku menghela nafas, "Roki, aku rasa kita sudah berakhir, aku tidak enak pada Caca. Jadi tolong kita akhiri saja" putusku" Sya, Aku masih mencin " ku akhiri sepihak, aku sudah tahu apa yang ingin dia sampaikan.Jika dia memang benar-benar tidak bisa bersama Caca, lalu kenapa melanjutkan? Itukan sudah keputusannya dari awal."Sya.. Aku rasa kamu perlu berdamai dengan keadaan." Ucap Renal"Aku sudah berdamai, Ren. Aku juga sudah mulai mengikhlaskannya kalau kamu lupa, tapi lihatlah"Ia memegang bahuku, mengarahkannya ke hadapannya "Bilang sama aku, kalau kamu sudah gak cinta sama dia?"Aku terdiam, tidak mengerti harus berkata apa.Tapi jika ditanya perasaanku, bohong sekali jika aku berkata tidak mencintainya. Sudah 3 bulan lamanya, tapi aku rasa perasaan ini masih ada.Tapi aku rasa juga tidak. Sungguh aku tidak mengerti.Dia melepaskan tangannya, "Gak bisa jawab? Bimbang?" Lalu ia tertawa kecil tapi terlihat terluka dan sungguh aku tak menginginkan itu"Kamu masih cinta sama dia, Sya. Jadi untuk apa membohongi diri? Temuilah Roki" tambahnya lalu bangkit menuju kamar mandi meninggalkanku yang termangu akan jawabannya.--Sudah dua minggu ini Renal seperti menghindariku. Apakah aku ada salah dengannya?Sepulang dari kegiatan proyek lalu sepertinya kami masih baik-baik saja.Tadi ketika aku mengetuk ruangannya, berniat untuk mengajaknya makan siang tapi ia menolak mengatakan sudah ada janji dengan seseorang.Satu hal baru yang kini ku ketahui, sekarang ia adalah direktur di perusahaan ini. Lebih tepatnya ternyata ini salah satu anak perusahaan milik kakeknya. Ia tidak pernah menceritakan ini, mungkin karena aku bukan siapa-siapanya kan?Lupakan soal ini, yang paling menyebalkan adalah ia janji makan siang dengan Windy. Ah sedekat apa mereka sekarang ini? Bukankah baru bertemu dua minggu yang lalu.Tentu saja, mereka sudah bertukar nomor ponsel.Dan kini aku sedang di cafe yang sama dengan mereka, cafe yang tidak jauh dari kantor. Memandang mereka yang tengah asik berbincang.Jangan katakan aku mengikutinya, sudah ku katakan bahwa ini letaknya tak jauh dari kantor.Tapi Windy kan temanku juga, kenapa mereka tidak mengajakku?Kenapa juga Renal merahasiakannya? Biasa juga kami selalu berbagi cerita.Dari mulai zaman sekolah hingga kini, kami selalu bersama. Berbagi keseharian.Aku menghela nafas, untuk apa juga aku bertanya-tanya. Biasa juga tidak begini. Saat bersama mantan-mantanku juga aku tidak peduli dengannya, karena dia juga akan selalu disampingku.Ah sial. Ternyata aku baru sadar temanku hanya Renal.Aku menunduk memegang bibir cangkir tehku, mengusapnya perlahan. Menstruasi membuatku mellow."Kebiasaan kamu gak berubah ya, Sya?"Aku kembali mendongak, "Roki?"Ia duduk di hadapanku, "Senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu. Akhir-akhir ini aku selalu menunggu kamu. Tapi aku lupa kamukan lebih sering makan di kantin kantor"Aku hanya diam, ada benarnya. Aku biasa malas untuk keluar tapi kini entahlah.Roki memegang tanganku yang langsung ku tarik. Aku menggeleng tanpa kata."Sya, please..." MohonnyaAku menggeleng "Maaf, Ki. Aku gak bisa'"Aku menyesal, Sya. Aku uda batalin sama Caca."Aku menatapnya tidak percaya, sependek itu pemikirannya. Aku mendengus tak percaya, mengalihkan ke arah lain yang sialnya malah terlihat kemesraan antara Renal dan Windy.Hey apa-apaan itu Renal kenapa mengusap sudut bibir Windy? Ada tisu kali bisa sendiri. Biasa juga Renal begitu padaku. Sedikit aneh melihat Renal begitu, biasa juga sama aku."Sya, Aku ingin kita seperti dahulu" ucap Roki lagi."Ki, harusnya itu yang kamu katakan dahulu. Kemudian, ibumu juga tidak merestui kita. Kamu paham gak sih? Ibumu maunya Caca yang menjadi menantunya." Ucapku menggebu-gebu, lumayan untuk pelampiasan amarahku.Eh tapi kenapa juga?"Tapi aku sadar, aku bener-bener maunya kamu, Sya. Tolong pertimbangkan lagi"Kini aku sadar, perasaanku pada Roki sudah hilang tak tersisa entah pergi kemana. Melihatnya sungguh membuatku muak."Maaf, Ki. Aku gak bisa. Jam makan siangku sudah habis."Aku bangkit dari kursiku, tangan Roki menahanku, "Sya" ucapnya dengan tatapan memohon yang membuatku sekali lagi untuk mengatakan muak dalam hati karena Caca juga mengekori Roki sampai disini.Aku melepaskan cekalan tangannya dari tanganku "Itu Caca sudah datang ke sini, Ki" lalu aku pergi meninggalkannya. Berpapasan dengan Caca dengan pandangannya yang penuh permusuhan.Aku berjalan keluar cafe, tanganku kembali di tahan seseorang yang ku yakini pasti Roki. "Akukan... Renal?" Ucapku"Ayo kembali ke kantor bareng. Daripada jalan kaki" ucapnya, padahal cafe ini kurang lebih berjarak 200 meter saja."Wind, aku duluan ya? Maaf ya gak bisa antar" ucapnya pada Windy"Ah iya tidak apa, santai aja" balasnya"Kalau tau kamu disinikan bisa bareng, Sya. Gak bilang sih" kata Windy padaku"Ah aku juga tidak tau kalian disini" kilahkuWindy mengangguk "Yasudah lain kali aja kita makan bareng ya. Byee.." ucapnya padakukemudian ia menatap Renal sebelum berlalu " See you "Ku alihkan pandanganku pada Renal, "Apa sih? Kenapa tidak mengantar Windy saja"Renal hanya tertawa kecil tanpa menjawab membuatku semakin kesal. Ia membukakan pintu mobilnya padaku lalu aku masuk. Kembali ke kantor, sampai di parkiran, ia ingin turun aku mencegahnya dengan memegang tangannya."Ren, kamu kenapa sih dua minggu ini menghindariku? Oh aku tahu, karena posisi kamu uda Direktur ya jadi gak mau temenan sama aku lagi yang staff biasa""Apaan sih, Sya" balasnya dengan nada protes"Aku yakin kamu tau maksudku, kenapa menghindariku? Aku ada salah ya""Sya, kita sudah dewasa. Aku rasa tidak sepantasnya kita seperti ini, kan?" Katanya dengan suara yang dalam sambil menatapku, lalu mengalihkan tatapannya pada tanganku yang masih menggenggam lengannyaAku menggigit bibirku lalu melepaskannya, "Renal, bukankah kita biasa saja selama ini?" TanyakuIa mengangguk, "Kamu mungkin begitu, Sya. Tidak denganku. Aku rasa aku juga butuh pelabuhan terakhir untuk melanjutkan hidup"Aku menatapnya bingung. Kenapa Renal sikapnya aneh sekali."Aku yakin kamu mengerti. Aku juga gak bisa terus di samping kamukan Sya? Suatu hari nanti mungkin kita akan punya pasangan masing-masing." Jelasnya"Ren, dari dulukan meskipun kita punya pasangan kita tetap temenan" kilahku"Kamu harus tahu ini, Sya. Bu Karmila yang terhormat itu akan mencarikan istri buat aku kalau-kalau sampai akhir ini aku belum bisa bawakan calon menantu untuknya" jelas Renal padaku, aku tahu nada ucapannya terlihat kesal terbukti dia kesal pada ibunya sehingga menyebutnya bu Karmila"Terus apa kita harus mengakhiri pertemanan, Ren?""Bu Karmila bilang, dia gak akan dapatkan calon menantu kalau aku terus sama kamu.""Kenapa mama kamu gak jodohin kita aja?" Tanyaku dengan spontanTapi benarkan? Aku mengenal bu Karmila sudah pasti. Kami juga sudah berteman lama. Juga sering pergi bersama.Renal tersenyum geli "Emang kamu mau sama aku? Kemarin kan kamu nolak aku"Aku salah tingkah di buatnya, selama ini aku dengan Renal dekat, sangat tapi sepertinya tidak pernah begini. Renal selalu perhatian dari dulu tapi kami selalu layaknya teman.Tapi satu hal yang sangat ingin aku tahu."Aa.. ee.. iya. Tadi bertemu Windy ngapain?""Kamu cemburu?""Enggak" sanggahku dengan cepatIa mengangguk-anggukkan kepalanya, "Dia salah satu kandidat calon menantu Bu Karmila""Ha? Apa!" Pekikanku tak sadar begitu saja. Oh Tuhan sempit sekali dunia itu"Terus kamu mau?" Tanyaku tak sabarDia mengangkat bahu acuh "Ya mau gimana, cuma dia satu-satunya orang yang masuk di akal jika aku menerimanya. Ya setidaknya aku sudah kenal. Mmm.. kecuali...."Ia menggantung ucapannya, "Kecuali?" TanyakuDia hanya diam, tapi tatapannya begitu dalam padaku. Aku bahkan tidak dapat menafsirkan tatapannya, tatapan Renal yang sama saat ia menyatakan perasaannya.Kemuadian tatapannya naik turun dari mata ke bibirku, oh aku tidak tau harus bagaimanaSelama beberapa detik begitu, tapi aku mulai sadar saat bibir kami bertemu.Awalnya sebuah kecupan ringan tanpa protes dariku, dia mulai melumatnya perlahan tapi pasti. Yang mulanya aku diam, kini aku membalas ciumannya. Tanganku ku kalungkan ke lehernya, tangannya menarik tengkukku guna memperdalam ciuman kami. Lama kelamaan ciumannya seakan menuntut."Ahh.." lenguhan tak sadar keluarIa semakin bersemangat mencecapnya, hingga ia mengangkatku ke pangkuannya, entahlah kemahirannya datang dari mana yang jelas saat ini setan apa yang merasukiku. Tapi aku sungguh menikmatinya.Renal melepas tautan bibir kami, nafas kami terengah-engah akibat ciuman itu. Ku lihat tatapannya menggelap menatapku. Matanya memandang lekat mataku."Ren..." Kataku terhenti kala bibir itu kembali memagut bibirku, menyalurkan hasrat yang menggelap di matanya. Ciuman kami kembali panas, dari ciuman ini aku dapat merasakan cinta yang diberikan Renal.Perlahan kecupannya turun ke leherku, aku mendongakkan kepalaku agar ia dapat menjangkau sisi lainnya sedangkan jemariku meremas rambutnya. Saat tangannya ku rasakan membuka kancing kemejaku, atensi kepalaku lansung tersadar bahwa saat ini kami sedang di parkiran.Aku mendorongnya pelan, "Ren... Cukup. Kita di parkiran"Umpatan lirih ku dengar dari mulutnya, sungguh sisi liar Renal yang baru kali ini ku ketahui. Dan ini cukup menggangguku.Ia mengusap pelan bibirku dengan ibu jarinya yang kuyakini bibirku terasa bengkak olehnya.Menyadari posisiku yang tengah duduk di atasnya, akupun melepaskan diri kembali pada posisiku yang semula.Aku memijat pangkal hidungku menelungkupkan kepalaku, menutup wajahku dengan tangan.Sungguh aku malu bukan kepalang.Ku dengar tawa kecil dari Renal tapi sepertinya aku ragu jika ia menyesalinya.Aku menatapnya sejenak lalu menghela nafas, rasanya sesak mengingat ia akan di jodohkan oleh orang lain."Mm.. Jadi kamu terima jika dijodohkan oleh orang lain?"Ia hanya mengangkat bahu tanpa mengatakan apapun.Aku menghela nafas perlahan lalu turun dari mobilnya, ku lihat ia tidak turun melainkan menjalankan kembali mobilnya entah kemana, kemudian berjalan memasuki kantor duduk di kubikelku mengerjakan pekerjaan yang tertunda.Tapi nihil, pikiranku tidak bisa fokus. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku benar-benar tidak akan berteman lagi dengan Renal.Atau mungkin, hidup tanpa Renal.Ponselku berbunyi menampilkan nama Windy sebagai penelponnya. Dan segera ku angkat."Ya?"" Maaf menghubungimu di jam kerja. Aku hanya ingin bertanya, Renal sukanya apa ya? Maksudku ia suka penampilan perempuan yang bagaimana?" Tanyanya di seberang sana. Aku menunggu kelanjutan ucapannya" Mmm.. ini sedikit mengejutkan sih, tapi kami ya bisa dikatakan di jodohkan begitu. Nanti malam kami rencana ingin makan malam bersama. Jadi aku ingin terlihat cantik " ucapnya sambil sedikit tertawa disana." Sebenarnya ya, Sya. Aku dari dulu suka sama Renal. Tapi kalian selalu bersama buat aku patah hati. Tapi sekarang malah begini ceritanya " tambahnyaUhh aku yakin disana dia pasti kesemsem gitu. Aku tahu sih dia memang suka Renal dulu, terlihat dari gestur tubuhnya. Belum lagi terkadang dia suka salah tingkah. Aku sih bodo amat tapi kenapa sekarang aku yang ketar ketir yaIh.... Apaan sih." Sya " panggilnya di seberang sana"Eh.. Iya, Wind" sahutku" Jadi Renal suka perempuan yang bagaimana?"Tentu saja sepertiku, iyakan?"Mm.. Aku juga tidak tahu pasti, Wind. Tapi dandan semaksimal mungkin saja" ucapku pada akhirnyaDia tertawa diujung sana sebelum menjawab " Iya sih, setidaknya aku juga harus berusaha menarik hati diakan" tukasnyaPanggilan telah berkahir beberapa menit yang lalu, aku sungguh tidak fokus lagi disini. Aku harus bertemu dengan Renal.Dan Sebelum kanjeng ratu Renal itu menjodohkan Renal aku harus bicara padanya, melabrak jika perlu. Enak saja dia mau jodoh-jodohkan Renal.Ku lirik jam, 15 menit lagi jam kerja usai. Ah bodo amat aku kabur saja, keburu Renal bertemu dengan si Windy itu.Aku melirik ke kanan dan ke kiri, lalu berlari keluar cepat-cepat pergi menuju kediaman kanjeng ratu Renal.Begitu tiba dirumahnya, aku mendengar ucapan ibunya Renal "Kamu mau cari yang gimana lagi? Windy kan sudah masuk kriteria yang kamu sebutkan itu. Lagipula, Tasya itukan gak mau sama kamu" cerca Karmila itu yang di balas dengkusan oleh RenalCepat-cepat aku masuk menyela pembicaraan mereka "Tante, aku mau kok sama Renal" ucapku sambil menggandeng lengan Renal.Tante Karmila berdecak "Jangan bercanda kamu, Sya. Nanti malam kami akan makan malam membicarakan hubungan mereka."Aku menatap Renal mencari pembelaan. Ini aku sungguh-sungguh loh."Aku gak bercanda, Tante. Asal tante restuin sih hehe" ucapnya sambil tertawa di akhirnya karena malu"Lihatkan, ma? Tasya itu suka sama aku. Cuma kemarin lagi bodoh aja" ucapnya lalu ku balas dengan tatapan tajam."Haduh... Pusing mama kalau begini""Tenang, ma. Nanti aku bicara sama Windy" lerai Renal"Yasudahlah. Tasya awas kamu ya jadi menantu tante, nanti tante repotin Shooping bareng" tukasnya lalu berlalu, aku tertawa kecil, gak jadi menantu juga aku sering shopping bareng dia. Renal mana mau shopping bareng ibunya."Jadi, Sya. Lanjutin yang tadi di mobil yuk!" Bisik Renal di telingaku dengan muka tengilnyaAku menatapnya dengan pongah lalu mengangkat tanganku, menggoyangkan jemariku lalu berkata" Buy me ring."ENDDDDDDD

Putih Salju dan 7 Kurcaci
Folklore
17 Dec 2025

Putih Salju dan 7 Kurcaci

Pada Zaman dahulu kala , ada seorang putri cantik bernama Putri Salju . Dia baik dan lembut serta bersahabat dengan semua hewan .Suatu hari, Putri Salju bertemu dengan seorang pangeran yang menawan. Saat mereka sedang menyanyikan sebuah lagu cinta, ibu tiri Salju Putih yang jahat, sang Ratu, mengawasi mereka . Ratu sangat cemburu dengan kecantikan putri salju .Sehingga dia Sang Ratu memerintahkan pemburu Huntsman untuk membunuh sang putri . Tapi si pemburu Huntsman tidak mau menyakiti Putri Salju. Dia menyuruh sang putri pergi jauh sehingga Ratu tidak akan pernah menemukannya .Putri Salju pergi jauh ke dalam hutan. Dia tersesat dan ketakutan hingga dia menemukan sebuah pondok . Sang putri mengetuk, tapi tidak ada orang di pondok itu . Perlahan dia melangkah masuk .Pondok itu berantakan! Dengan bantuan teman-teman hutannya, Putri Salju membersihkan setiap sudut didalam pondok itu"Mungkin siapa pun yang tinggal di sini akan membiarkan aku tinggal," kata Putri Salju . Di lantai atas, Putri Salju menemukan tujuh tempat tidur kecil. Dia berpikir itu milik anak-anak . Lelah setelah membersihkan seluruh rumah, Putri Salju menguap dan tertidur lelap di ranjang .Sementara itu di sisi hutan yang lain, tujuh Kurcaci berjalan menuju pondok mereka dengan penuh semangat . Setelah bekerja di tambang permata seharian hal yang paling mereka inginkan saat ini adalah beristirahat di pondok mereka yang hangat.Saat Putri Salju terbangun, dia terpesona oleh Tujuh Kurcaci: Dopey, Sneezy, Happy, Grumpy, Doc, Bashful, dan Sleepy . Para kurcaci ingin melindungi putri cantik itu dari ratu yang jahat, jadi mereka mengundang Putri Salju untuk tinggal bersama mereka disana . Untuk merayakannya, mereka bernyanyi dan berdansa semalaman .Di istana, Ratu mengetahui bahwa Putri Salju masih hidup . Dia sangat Marah, dia membuat ramuan ajaib untuk mengubah penampilannya. Rencananya adalah untuk menipu sang putri.Setelah para kurcaci berangkat kerja hari berikutnya, sang Ratu menyamar sebagai wanita pedagang kelontong tua, menawari Putri Salju sebuah apel merah yang indah . Putri Salju mengigit apel itu dan tertidur lelap. Ratu telah meracuninya!Ketika Para Kurcaci pulang, mereka mengejar Ratu ke puncak sebuah gunung yang penuh badai. Tiba-tiba, petir menyambar gunung, membuat sang ratu terjatuh ke dalam jurang dan tidak pernah terlihat lagi.Semetara itu Putri Salju masih terlelap. Tujuh Kurcaci terus menjaganya siang dan malamAkhirnya Pangeran Tampan Putri Salju tiba. Dia telah mencari-cari putri salju ke seluruh penjuru kerajaan . Pangeran membangunkan Putri Salju dengan ciuman cinta sejati. Mantra jahat itu musnah, Putri Salju dan Pangeran kembali ke kerajaan dan hidup bahagia selamanya.

HOROR SHIFT TIGA (HANTU MERAH)
Horror
17 Dec 2025

HOROR SHIFT TIGA (HANTU MERAH)

Pagi ini Diego sengaja datang pagi-pagi untuk menemui pak Herman dan menginformasikan bahwa dia ingin tetap bekerja Di shift tiga."kamu yakin Diego, aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman" ucap Pak Herman"yakin pak, saya rasa Pieter juga tidak bermaksud jahat kepada saya, justru dari situlah saya semakin yakin kalau saya ingin terus bekerja disini" ucap Diego"saya lega mendengarnya, jadi kita tetap bisa memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan" ucap Pak Herman legaSetelah itu Diego berpamitan dan kembali malamnya untuk bekerja.Seperti biasa Diego bertemu teman-teman lain yang sudah pulang dari shift dua."kamu anak shift tiga ya" ucap wanita bertubuh mungil dan wajah yang manis"iya, kamu siapa? Aku sepertinya belum pernah lihat kamu" ucap Diego"Namaku Mira, aku anak baru di shift dua" ucapnya"oh begitu, senang kenal denganmu" ucap Diego"iya aku juga, hati-hati ya Diego" ucap MiraDiego melihat dari kejauhan Mira tampak menarik dengan sweater merahnya.Dan akhirnya waktu yang ditunggupun tiba, setelah Diego menyiapkan semua alat untuk bekerja malam ini, tiba-tiba terdengar langkah kaki."srek..srek..""Hai Diego" sapanya dengan wajah pucat khasnya"Hai Pieter" jawab Diego sambil menatap Pieter dengan tatapan yang bingung"kamu tidak takut?" tanya Pieter"takut kenapa?" tanya Diego"aku tahu kamu sudah mengetahui ceritaku dari Herman" jawab Pieter"aku tahu, tapi aku rasa kamu tidak bermaksud menyakitiku" ucap Diego bergetar"kamu benar aku justru ingin membantu melalui kamu" ucap Pieter"maksudmu?" tanya Diego"kamu tahu diduniaku masih banyak hantu yang seperti aku, mereka meninggal dengan banyak misteri yang belum terselesaikan, oleh karena itu call center ini bisa menjadi media untuk mereka meminta kamu untuk menyelesaikan misteri tersebut" ucap Pieter"kenapa aku?" tanya Diego"karena kamu yang terpilih" ucap Pieter"apa yang bisa kulakukan?" ucap Diego"yang perlu kamu lakukan adalah mendengar, itu saja Diego" ucap PieterSuasana hening sebentar, lalu Pieter pun berdiri"mau kopi?" tanya Pieter"boleh" ucap Diego sambil tersenyumDan telepon pertama pun berbunyiKring...kring..."halo" ucap Diego"Tolong Diego" ucap suara wanita diseberang telepon"dengan siapa ini?" jawab Diego, tapi sambil berfikir suaranya sepertinya dia kenal sambil mengingat"aku Mira Diego" ucapnya"Mira? Mira anak shift dua tadi" ucap Diego tenang mungkin dia butuh bantuan untuk kendaraannya fikir Diego"kamu dimana? Apa yg terjadi?" tanya Diego sedikit panik"aku jadi korban Begal Diego, mayatku dibuang di sungai Citarum oleh pembunuhku" ucap Mira sambil menangis"Mira kamu bercanda kan?" ucapku masih tak percaya"tolong aku Diego temukan pembunuhku, dan tolong bantu agar tubuhku ditemukan" ucap Mira dan telepon pun terputusTiba-tiba ada tangan yang mencolek pundak DiegoSaat Diego menengok ke belakang tak sengaja menyenggol gelas yang dibawa Pieter.Prakkk"maaf Pieter" ucap Diego sambil membersihkan pecahan gelas kopi itu"kamu kenapa Diego?" ucap Pieter"Mira Pieter, kita harus menolongnya" ucap Diego panik"sabar, ada satu peraturan untuk shift tiga ini kamu tidak bisa meninggalkan ruangan ini sampai kamu selesai di shift tiga kamu" ucap Pieter"lalu Mira bagaimana?" tanya Diego"ingat kata-kataku kamu harus mendengar apa yang dikatakan seperti hari kemarin" ucap PieterDiego segera mengambil kertas dan menulis semua informasi yang disebutkan Mira tadiAkhirnya sampai juga di akhir shift tiga, Diego segera ingin mencari tahu kondisi Mira, dan dia buru-buru absenBrukkTak sengaja Diego menubruk pak Herman"kenapa Diego, kamu sepertinya terburu-buru, apakah Pieter mengganggumu" ucap Pak Herman"tidak pak... Pieter sangat baik" ucap Diego"Pak Herman" ucap Diego"Iya Diego" jawab Pak Herman"Mira, anak baru di shift dua apakah dia benar baru masuk kantor kemarin?" tanya Diego"oh iya benar, dia baru saja selesai training dan bekerja kemarin" ucap pak Herman"dia membawa kendaraan apa ya pak?" tanya Diego"saya kurang faham, tapi pos keamanan mencatat semua kendaraan karyawan mereka pasti tahu" jawab pak Herman"oh baiklah, terimakasih pak Herman" ucap DiegoDan Diego pun menuju ke parkiran, dan mampir ke pos security"maaf pak, mau tanya" ucap Diego"iya mas Diego bisa dibantu" jawab laki-laki pelontos berseragam hitam bernama santoso"bapak tau anak baru shift dua namanya Mira?" ucap Diego"yang mana ya mas?" tanya pak Santoso bingung"anaknya kecil kemarin pakai baju merah" ucap Diego"oh iya mas, saya ingat dia bawa motor mas, ada kok catatannya dibuku" ucap pak SantosoLalu Diego melihat buku log book pak santoso dan mencatat no polisi Mira dan Mencatat identitas Mira dari fc ktpnya yang ada dipos.Langkah pertama Diego menuju ke rumah Mira, saat hampir sampai kerumahnya tiba-tiba Diego melihat motor Mira sedang diparkir didepan warung dipinggir jalan.Diego berhenti dan mengecek lagi benar sekali no polisinya samaDiego berpura-pura jajan ke warung dan memarkirkan motornyaDia melihat dua pemuda sedang bicara sambil minum kopi."gila lo ji, sekarang gimana kalau kita ketahuan" tanya laki laki berambut panjang dengan jaket hitam"tenang aja mat, ga ada yang tahu juga" jawab laki laki botak dengan Tato bunga ditangannya.Setelah selesai ngopi mereka pergi dengan motor MiraDiegopun membuntutinya, dan agak menjauh supaya tidak dicurigai.Dan akhirnya mereka pun berhenti disebuah rumah diperkampungan, dan disana Diego ke warung terdekat dan menanyakan identitas pembegal tsb.Setelah identitasnya lengkap, Diego segera meninggalkan tempat itu dan menuju rumah Mira, setelah tiba dirumah Mira, Diego menceritakan semua nya kepada orangtua Mira yang terlihat sangat khawatir dan sedih karena anaknya tidak pulang dan dikabarkan dibunuhTidak berapa lama Diego dan orangtua Mira melaporkan ke kantor polisi, dan Diego menginformasikan lokasi rumah pembegal tsb dan setelah itu mereka berdua ditangkapSetelah mendapat pengakuan, polisi mencari mayat Mira dan menemukannya di pinggir sungai Citarum tersangkut pohon besar.Akhirnya Diego sudah menjalankan amanat Mira, dan pulang kerumah untuk istirahat.Begitu jam 7 malam Diego sampai lagi di tempat kerja, baju merah lewat."hi diego" ucapnya"hi Mira" jawab diego pucat--------

HOROR KELAS KOSONG
Horror
17 Dec 2025

HOROR KELAS KOSONG

Lea sudah tiba disekolah barunya, SMA Purnama, Lea langsung melihat papan pengumuman untuk mengetahui dia dapat dikelas mana, tiba-tiba dia merasa seseorang menepuk pundaknya."Lea, kamu sudah datang? Dapat kelas berapa?" tanya Puri yang ternyata sahabat Lea dari SMP"Puri... Kita ga sekelas" ucap Lea sedih"Ya sudahlah ya, mudah-mudahan temen baru kita asyik-asyik" ucap PuriTernyata tidak membutuhkan waktu yang lama, Lea dan Puri memiliki banyak teman baru di SMA ini.Ada Dinda teman sekelas Lea anaknya mungil dan memiliki wajah yang imut.Ada juga Melan temen sekelas Puri yang sedikit tomboy dan cuek.Setiap pulang sekolah mereka selalu pulang berempat.Hari itu, saat sudah selesai sekolah, kelas Puri dan Melan masih belum keluar dari kelas, karena ada ulangan tambahan dari Bu Ina yang kemarin tidak masuk karena sakit, terpaksa Lea dan Dinda menunggu dikantin"Dinda kamu gapapa nunggu Melan sama Puri pulang terlambat" tanya Lea"Gapapa Lea asal nunggunya sama kamu, tapi kalau aku nunggu sendirian ga janji deh" jawab Dinda"memang kenapa kalau nunggu sendirian? Ini kan masih siang" tanya Lea"Memang kamu ga denger gosip dari kakak kelas kita, kan sekolah kita serem kalau sudah sepi""Masa? Aku belum denger Din, memang ceritanya kenapa?""Dulu ada anak SMA Purnama yang bunuh diri, gara-gara diomelin sama bu guru dan distrap sendirian saat pulang sekolah" ucap Dinda serius"Serius kamu Din? Ko bisa diomelin bu guru sampai kaya gitu" tanya Lea penasaran"iya Lea, karena ternyata bu guru tidak informasikan kepada penjaga sekolah kalau ada murid yang distrap, dan akhirnya penjaga sekolah mengunci semua ruang kelas, dan murid tersebut tidak bisa keluar dan karena ketakutan dia akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri" ujar Dinda"Ruang kelas mana Din?" tanya Lea"Itu lho yang dipojok dekat tangga" ucaap Dinda sambil menunjuk ruangan tersebut"Itu kan gudang" ucap Lea"Iya sejak kejadian itu baik murid atau guru suka diisengin Lea, jadi akhirnya pihak sekolah menjadikan kelas itu gudang" ucap Dinda sambil menunjukkan wajah ketakutan.Tidak lama Melan dan Puri segera menghampiri mereka"Maaf ya menunggu lama" ucap Puri"Iya nih, Bu Ester rese banget, masa ulangan soalnya susah-susah banget" Ucap Melan menimpali"Aku makan dulu ya laper" ucap Puri"iya aku juga lapar" ucap Melan kembali"ya udah kalian pesen makan aja dulu, daripada kalian pingsan" ucap Dinda dikantin"Aku mau ke toilet dulu ya" ucap LeaSaat Lea menuju toilet, dan melewati tangga tidak sengaja dia melihat ke arah jendela kelas kosong tersebut, betapa kagetnya ternyata ada seorang gadis berseragam SMA purnama yang ada dikelas tersebut, dan gadis itu tersenyum padanya.Bulu kuduk Lea merinding, dia segera berjalan cepat menuju ke toilet, tapi tiba-tiba gadis itu sudah ada dibelakangnya"kenapa kamu berjalan cepat?" ucap gadis itu"tidak apa-apa kok" jawab Lea gugup"namaku Anggun, aku tadi disuruh bu Ester ambil buku digudang" ucapnya"Oh.. Aku fikir kamu..." Lea tidak melanjutkan omongannya"kenapa kamu fikir aku hantu" ucap Anggun sambil tertawa geli"Iya.. Gara-gara cerita temanku tadi, aku jadi ketakutan" ucap Lea"Oiya kamu bisa bantuin aku gak, kan gudangnya berantakan, aku butuh teman untuk cari barang tersebut" ucap Anggun ramah"aduh, ga bisa minta tolong yang lain ya, aku mau pipis dulu" jawab Lea"Kan semua murid sudah pulang, udah sepi gapapa aku tunggu kamu pipis aja" jawab AnggunAkhirnya Lea pun tidak bisa menolak Anggun, setelah selesai dari toilet dia pun menuju ke gudang untuk membantu Anggun mencari barang tersebut.Saat mencari, Anggun melihat ke arah Lea"memangnya temen kamu cerita apa sama kamu sampai ketakutan begitu" tanya Anggun"Katanya diruang kelas ini dulu ada siswi yang bunuh diri karena distrap bu guru" jawab LeaAnggun menatap Lea"Kamu percaya siswi itu bunuh diri?" tanya Anggun"lho ceritanya memang begitu kok" jawab Lea"bagaimana kalau sebenarnya siswi itu tidak bunuh diri, tapi di bunuh" tanya Anggun"ya tidak mungkinlah, kan dia distrap sendirian lalu dia gantung diri, ga mungkin dia dibunuh" ucap Lea menimpaliAnggun pun berjalan ke arah Lea, dan dia memegang tangan Lea, entah mengapa Lea seperti keluar dari raganya, dia melihat ruang kelas ini sudah bersih tidak seperti gudang.Dia melihat Anggun masuk dari pintuTapi tunggu dulu dia melihat Bu Ester dibelakang Anggun."Kamu itu kenapa sih selalu mengulang tidak membawa tugas yang sudah di sampaikan, kali ini Ibu harus menyetrap kamu supaya kamu tidak menjadi kebiasaan" ucap bu Ester"Aduh ibu itu cerewet banget deh, namanya juga lupa masa saya harus distrap sih bu" rengek AnggunKamu diam disini, sambil.mengerjakan tugasmu kalau kamu sudah selesai segera keruangan ibu" ucap Bu Ester tegasAnggun melirik kekanan dan kekiri, dia tahu bu Ester kali ini serius, tapi dia juga malas mengerjakan tugas akhirnya dia malah tertidur, lalu pak Ujang lewat sambil membawa sapu dan melihat ke arah jendela laku tiba-tiba dia mengunci ruang kelas, oadahal jelas dia melihat Anggun masih disana.tiba-tiba Lea bergerak keluar dan mengikuti pak Ujang, disitu dia melihat pak Ujang masuk keruang guru" Ibu ester masih disini" tanya pak Ujang"iya pak, masih menunggu Anggun dia lagi distrap pak karena tidak mengerjakan tugas" ucap Bu Ester"Tadi saya lihat mba Anggun sudah pulang bu sama teman-temannya" jawab Pak UjangLea bingung kenapa pak Ujang berbohong, Anggun masih ada dikelas tadi"Ruangan juga sudah saya kunci bu" ucap Pak Ujang"Aduh aneh anak-anak sekarang ya pak, susah banget hormat sama gurunya, kalu begitu ngapain saya masih disini ya" ucap Bu Ester lalu merapihkan mejanya dan segera meninggalkan ruangan untuk pulangAnggun membuka matanya tetapi tangannya sudah terikat dimeja dengan mulut yang sudah tertutup rapat oleh lakban"apa-apaan ini" fikir Anggun "masa bu Ester marah sampai seperti ini" fikir AnggunPintu terbuka, tiba-tiba Anggun melihat Pak Ujang masuk ke ruang kelas, Anggun meminta tolong pak Ujang untuk membantunya melepaskan ikatan tali tangannyaTapi tiba-tiba pak Ujang mendekatinyaa dan mulai mencium pipinya, Anggun berontak berusaha sekuat tenaga menjauhi PaK Ujang, tapi Pak Ujang sangat kuat, Anggun tidak dapat berteriak karena mulutnya ditutup, saat pak Ujang mulai mendekap Anggun, kaki Anggun menendang sekuat tenaga sehingga berhasil membuat Pak Ujang terjatuh, Anggun segera melarikan diri menuju pintu, tapi pintu terkunci dan kuncinya ada di Pak Ujang, saat Anggun menghadap kebelakang ternyata Pak Ujang sudah berada tepat didepannya, dan Pak Ujang memukul Anggun sampai dia pingsan.Melihat kondisi itu pak ujang panik, dia mengambil tali yang ada di ruangan kelas dan mengambil kursi lalu memakaikan tali itu seolah-olah Anggun bunuh diri setelah Anggun terikat didepan pintu ruang kelas, pak Ujang menendang kursinya dan Anggun merasakan lehernya terikat dan perlahan-lahan nafasnya pun tercekat dan dia melihat ke arah Lea sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya.Lea hanya bisa melihat situasi yang ada seolah dia menonton televisi, tiba-tiba semua ruang menjadi gelap, semua teman Lea ada disana, termasuk bu Ester, mata Lea pun terbuka kembali."Lea kenapa kamu berani masuk ke gudang seorang diri?" tanya Bu Ester"Aku.. Aku diajak Anggun bu" ucap LeaWajah Bu Ester berubah seketika menjadi ketakutan"Anggun.. Tidak mungkin Lea, dia pasti masih dendam kepada ibu makanya dia masih mengganggu sekolah ini" ucap Bu Ester histerisBaru saja Lea mau menceritakan apa yang terjadi, tapi dia melihat ada pak Ujang dibelakang bu Ester.Akhirnya Lea menutupi cerita tadi dari Bu Ester, saat pulang akhirnya Lea menceritakan semuanya pada Puri,Dinda dan Melan, semua sahabatnya juga tidak percaya bahwa Lea telah bertemu hantu di kelas kosong.Mereka memutuskan malam ini untuk datang ke rumah Bu Ester dan menceritakan semua yang Lea alami, betapa kagetnya Bu Ester karena selama ini dia merasa Anggun benar-benar bunuh diri karena membencinya.Pagi itu tim kepolisian pun dan keluarga Anggun datang ke sekolah lalu polisi berhasil menangkap Pak Ujang dan akhirnya setelah diinterogasi pak Ujang pun memgakui perbuatannya.Untuk mengenang Anggun, maka ruang kelas kosong dibersihkan dan dijadikan perpustakaan kecil, supaya tidak terasa menyeramkan, saat Lea dan teman-teman sedang membaca dan bersantai, Lea melihat dipojok lemari ada siswi berkepang dua sedang tersenyum padanya."kalian kenal gak sih cewek yang dipojok itu" tanya LeaTeman-temannya segera melihat ke arah pojok dan seketika menarik Lea untuk keluar ruangan."Ada apa sih?" tanya Lea setelah keluar"karena tidak ada siapa-siapa dipojok ruangan tadi" ucap sahabat Lea serentak

HOROR KARTU RAMALAN
Horror
17 Dec 2025

HOROR KARTU RAMALAN

Kiki sedang naik angkot menuju ke sekolah, dan dia merasa sangat antusias berangkat ke sekolah karena hari ini adalah classmeeting, tidak ada belajar mengajar, hanya ada kegiatan ekskul dan bazar-bazar aneka jajanan dan booth.Saat kiki sudah sampai, teman-teman sudah banyak yang berkumpul di lapangan menunggu pembukaan classmeeting, ada acara dance, live music dan juga lomba olahraga.Kiki mendengar ada yang memanggil namanya"Ki... Sini" ucap Ayu teman sekelasnya"Seru ya yu acaranya, bazarnya banyak lagi" ucap Kiki"Iya Ki selama seminggu ini kita bebas dari pelajaran" ucap Ayu senangSetelah puas meninton pertunjukan band dan dance, Kiki mengajak Ayu untuk melihat bazar"Ih seru banget ya yu, semua jajanan masa kecil ada lho di bazar kali ini, kaya kue rangi, cireng, cilok ada juga rambut nenek" ucap Kiki senang sambil menikmati jajanan itu"Iya Ki, makanan kekinian juga ada semua, pokoknya kita bakalan kenyang deh" ucap Ayu senangDari bazar kuliner, merek mulai masuk ke dalam bazar kreasi, ada nail art, ada face painting, clay art lalu ada juga fipaling pojok untuk kartu tarot atau ramalan.Karena Ayu sangat suka dengan kuku dan wajah dia langsung mengajak Kiki untuk ke tempat nail art dan face painting. Tapi Kiki tidak tertarik sama sekali dia malah akan mencoba ke tempat ramalan di pojok ruangan."Maaf ya Yu, aku mau coba ke stand ramalan dulu, nanti kita ketemu lagi disini ya" ucap Kiki"Oke Ki, have fun" ucap Ayu sambil masuk ke stand nail art.Kiki mulai memasuki stand kartu tarot yang tertutup, saat memasuki ruang tenda yang tertutup suasana ruangan sangat gelap, dengan dekorasi lampu dan hiasan yang penuh suasana mistis."Haloo" ucap KikiSuasana hening tidak ada jawabanAda sebuah meja dan kursi, dengan kartu yang tertumpuk pada meja tersebut dan berada ditengah ruanganKiki langsung duduk, tiba-tiba didepan dia sudah ada wanita berjubah hitam yang melihat kepadanya"Apa yang kamu ingin tahu?" ucap wanita itu"saya mau coba meramal hidup saya mbak" ucap Kiki"Silahkan difikirkan dengan matang semua kartu yang keluar baik atau buruk tidak dapat kamu rubah hasilnya" ucap wanita ituKiki berfikir ini hanya permainan saja, jika bagus akan menjafi motivasi untuknya tapi jika hasilnya buruk maka dia tidak akan mempercayainya."Iya aku yakin mbak, gapapa kok" jawab Kiki"silahkan kocok kartunya" ucap wanita peramal ituDan Kiki pun mengocok kartunya sampai wanita itu mengatakan berhentiLalu wanita itu meminta Kiki mengambil Lima kartu, dan setelah Kiki mengambilnya dia meletakkan Kartu tersebut dimejanya.Saat wanita itu membuka kartu pertama, bergambar the fool "engkau akan menemukan seseorang atau hubungan yang baru tidak lama lagi"Lalu membuka kartu yang kedua bergambar the lovers"artinya engkau akan mulai mengikuti hatimu untuk dapat mencintai orang ini dengan seluruh hatimu"Lalu mebuka kartu yang ketiga the hanged man"artinya adalah engkau harus mengorbankan sesuatu dan bersabar menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan keinginanmu"Kartu keempat setelah dibuka adalah the devil dimana artinya adalah" hati-hati menempatkan suatu kesetiaan pada sesuatu hal yang salah"Dan kartu terakhir adalah the judgement"artinya adalah untuk memaafkan semua orang yang telah menyakiti amda dan memulai hidup yang baru yang lebih baik" ucap wanita itu"Oh begitu, makasih ya mbak, saya harus bayar berapa?" tanya Kiki"Rp. 20.000, silahkan masukan ke toples kaca disamping meja" ucap wanita ituDan Kiki pun Keluar meninggalkan stand tarot tersebut, betapa kagetnya ternyata ruangan sudah sepi dan semua stand yang lain sudah tutup.Kiki pun tidak berhasil mencari Ayu, saat keluar dari ruangan ternyata hari sudah gelap, sepertinya dia berada diruangan ramalan hanya sebentar tetapi mengapa waktu berjalan dengan cepat.Akhirnya Kiki pun memutuskan untuk menunggu angkot pulang kerumah, tapi tiba-tiba ada sepeda motor vespa mendekati dia"Ki, kok baru mau pulang?" tanya Andre kakak kelas Kiki"Iya kak Andre, aku tadi asyik lihat bazar" ucap Kiki polos"Rumah kamu di Gelatik kan? Tidak jauh dari rumah aku, ikut aku aja kita pulang bareng" ucap Andre"Serius? Gak ngerepotin?" tanya Kiki"Gapapa, lagian udah malam kamu kasihan kalau nunggu angkot kelamaan" ucap AndreDan akhirnya Kiki dan Andre pulang bareng, bahkan ditengah jalan mereka berhenti dulu buat makan nasi goreng karena lapar, dan mereka banya sekali berbicara tentang banyak hal seputar sekolah, dan Kiki meras Andre adalah cowok yang menarik, tiba-tiba Kiki ingat ramalan kartu tadi.Dia akan menemukan seseorang atau hubungan yang baru.Tidka terasa akhirnya Kiki sampai rumahSebelum berpamitan Andre mengajak Kiki untuk berangkat ke sekolah bareng esok hari."boleh saja" jawab Kiki senangDan keesokan harinya dia dan Andre berangkat bareng ke sekolah.Todak terasa Kiki dan Andre semakin dekat dan malam ini Andre menembak Kiki untuk menjadi pacarnya, dan Kiki mengiyakannya, tanpa Kiki sadari rasa sayangnya kepada Andre semakin besar, bahkan beberapa kali Andre jelas sudah ketahuan berbohong padanya karena dia jalan dengan gadis lain, dan dengan beribu alasan Kiki akan memaafkannya lagi.Sore ini Kiki sedang berjalan di pusat perbelanjaan, dan tanpa sengaja dia melihat di eskalator Andre sedang bergandengan dengan gadis mungil rambut lurus sebahu, dan Kiki pun langsung mendekati mereka."Andre" panggil KikiAndre melihat ke belakang "Kiki, kamu ngapain disini?" tanyanya"terserah aku lah, aku justru mau tanya, kamu sama siapa?" ucap Kiki marah"Ini... ini... teman aku Ki" jawab Andre gugup"Apa? teman? kamu bilang kemarin kita resmi pacaran" ucap gadis mungil itu"maksudnya?" tanya Andre pura-pura tidak mengerti"Kok kamu gitu sih Dre" ucap gadis itu kesal dan segera meninggalkan Kiki dan Andre"Kamu memang gak bisa dipercaya ya Dre" ucap Kiki sambil meninggalkan Andre juga"Ki... tunggu" ucap Andre sambil mengejar Kiki ke Lobi"Ki.. biar aku jelaskan dulu, itu tidak seperti kamu kira, ayo kamu ikut aku, aku perlu menjelaskan semuanya" ucap AndreEntah kenapa seperti biasa Kiki luluh lagi dengan bujuk rayu Andre, Andre mengambil motornya dan mengajak Kiki ke taman yang sepi."Ki, maafkan aku, aku khilaf, aku tidak suka dengan dia, aku hanya menyukaimu" ucap Andre dikursi taman"Kenapa sih Dre, kamu sellau buat kesalahan berulang, dan aku juga aneh kenapa aku selalu memaafkan kamu" ucap Kiki"Karena kamu cinta aku Ki, dan aku janji aku ga akan kecewain kamu lagi" ucap AndreTiba-tiba Andre semakin mendekat, dia mencium Kiki, dan Kiki tidak bisa menolaknya, tapi tangan Andre semakin jauh berusaha untuk membuka pakaian Kiki, Kiki spontan menolaknya, dia tidak menginginkan itu, tapi tenaga Andre begitu kuat, bahkan saat Kiki menolaknya, Andre menampar pipi Kiki, dan nafsu Andre sudah menguasainya, sepertinya Kiki tidak mengenal Andre saat ini.Dan Andre pun melakukan perbuatan bejat itu, Kiki hanya bisa menangis, dan setelah itu Andre meminta maaf, tanpa raut wajah bersalah.Kiki kesal dengan perbuatan Andre, dia mendorong Andre, dan Andre terjatuh, tetapi diluar dugaan Andre bangun dan mendorong Kiki, dan Kiki terjatuh dengan kepala penuh darah karena dia terbentur batu yang besar, Andre kaget dan panik, dia melihat Kiki yang sekarat dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.Karena panik, Andre membawa mayat Kiki ke danau dan menceburkannya disana.semua menjadi gelap, tetapi ada secercah cahaya yang terlihat, Kiki membuka matanya dan didepannya dia melihat kartu ramalan itu, disinilah titik dia merasa apa yang dikatakan kartu tadi menjadi kenyataan.Dia melihat Andre di dalam bola kristal yang besar, Andre sedang tertawa tidak merasa bersalah sama sekali, bakan dia menggoda cewek baru yang ada di sekolah, dan Kiki melihat orang tuanya yang sedang sedih saat mendengar berita dari polisi bahwa mayat kiki sudah ditemukan meninggal dunia, sepertinya Kiki tidak percaya dengan apa yang terjadi.Bayangan putih datang"itu lah saat kau menempatkan kesetiaanmu kepada orang yang salah Ki"Wajah peramal itu mulai terlihat jelas"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Kiki"menerimaya Ki, kamu harus ikhlas apa yang terjadi, dan memaafkan semua yang terjadi, dan kamu jharus mulai berdamai dengan dunia barumu disini.Kiki menatap kartu itu sekali lagi"aku sudah berusaha mengingatkanmu" lalu peramal itu menghilangKiki melihat lama kelamaan bayangan tubuhnya memudar,"Aku ikhlas dan aku memaafkan semuanya" ucap Kiki untuk terakhir kalinya.

HOROR JAM ANTIK
Horror
17 Dec 2025

HOROR JAM ANTIK

Kiran baru saja memasukan buku ke tasnya, dia sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus, dan Dinda sudah menunggu dibawah."maaf ya Din, aku tadi kesiangan bangunnya" ucap Kiran merasa bersalah"Ya ampun ran, kay ague gak tau aja lo tuh tukang ngaret dari dulu" jawab Dinda menyindir"Hihihihi iya, maaf ya cantik" rayu Kiran kepada DindaMereka pun menaiki mobil Dinda menuju kampusnya"Lo kayanya mesti beli jam baru deh Ran" ucap Dinda sambil menyetir"Maksud lo?" tanya Kiran bingung"Iya lo tau gak, dari zaman SD kebiasaan lo ini gak hilang-hilang" ucap Dinda bercanda"Dasar lo Din, masa sih dari SD gue udah terlambat" ucap Kiran"Serius, masa lo lupa, inget kan pas kita malam pramuka, lo datang pas acara api unggun udah selesai, alesan lo ketiduran, terus pas SMP lo inget anak Ospek yang datang jam 10 dan suruh diri dilapangan, itu kan cuma lo aja Ran" ucap Dinda mengingatkan"Hihihihi iya iya... abis gimana namanya juga kesiangan" ucap Kiran santai"Iya tapi kadang alasan lo gak masuk akal tau gak, masa dari ratusan orang mereka semua bisa tepat waktu cuma lo aja yang kesiangan" ucap Dinda geregetan dengan sifat temannya yang satu ini"Ya terus gue mesti gimana lagi" tanya Kiran tak bersalah"Nanti pulang dari kampus kita beli jam weker buat lo, biar lo gak lupa dan gak kesiangan lagi" ucap Dinda"Serius lo Din?" tanya Kiran tidak percaya"Lihat saja nanti" ucap Dinda kesal dengan kelakuan sahabatnya ituSetetlah mata kuliah sore ini, ternyata Dinda betul masih menunggu Kiran di lobi, dan Saat diperjalanan, Dinda melihat ada satu toko antik berada di pinggir jalan dan Dinda memarkirkan mobilnya disana"Kok berhenti disini?" tanya Kiran"Siapa tahu aja ada jam antik buat orang yang antik kaya lo" jawab Dinda sambil membuka mobilnyaKiran mengikuti Dinda masuk kedalam toko tersebut"Klenteng... klenteng..." suara didepan pintu saat Dinda dan Kiran masuk"Permisi" ucap Dinda sambil melihat ke sekeliling ruangan"Hai" ucap gadis berwajah oriental"Iya mba, aku mau cari jam weker ada?" tanya Dinda sedangkan Kiran lebih tertarik melihat barang-barang unik lainnya yang dijual ditoko tersebut"Jam ya? nanti saya coba cari dulu ya mbak" jawab gadis itu ramahsetelah menunggu lima belas menit, gadis toko tersebut datang dengan membawa jam yang terbuat dari kaca dengan bentuk kubus."Ini ada yang cocok mbak" ucap gadis itu"Jam weker kan mbak? suaranya kenceng gak? soalnya temen aku ini paling susah bangun pagi butuh suara yang mirip Toa kencengnya" ledek Dinda"Iya mbak boleh dicoba kok" dan benar saja ternyata suara jam tersebut cukup kencang dan ada pilihan bentuk sirene mobil polisi"Oke mbak saya ambil yang ini ya" ucap Dinda dan membayar jam weker tersebut"Nih aku kasih hadiah buat kamu" ucap Dinda menyerahkan jam itu kepada Kiran saat sudah berada di mobil"Makasih ya Din, aku janji aku gak akan kesiangan lagi" ucap Kiran sambil tersenyum kepada DindaMalam ini Kiran menyetel jam dindingnya untuk bangun jam 6 besok pagiKiranpun tertidur lelap"Nguing...nguing..." jam weker itupun membangunkan Kiran dengan suaranya yang kencang"wah berhasil juga jam weker ini membangunkanku" fikir KiranKiran segera pergi kebawah, betapa aneh ternyata yang Kiran lihat bukan seperti rumahnya, Dekorasi seperti rumah adat jawa yang khas, dengan aroma kayu yang melekat"ini bukan rumahku" fikir KiranLalu Kiran mencoba masuk ke kamarnya lagi, betapa kagetnya dia ternyata dia juga tak menemukan kamarnya sendiri, tapi lebih ke ruang kosong dengan jendela besar dan pemandangan pohon tua yang persis berada di rumah tersebut."Aku pasti mimpi" ucap Kiran dalam hatiKiran berjalan lagi ke bawah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sepertinya semenit yang lalu dia masih berada dirumahnya, kenapa sekarang dia di tempat yang berbeda.Tiba-tiba pintu terbuka, dan Kiran melihat Dinda masuk, Dinda menggunakan pakaian adat Jawa"Dinda" teriak Kiran senang karena melihat sahabatnyaTapi anehnya Dinda menatap padanya dengan aneh"Raden Kiran kenapa? kok pakaian Raden sangat aneh?" ucap Dinda"apa sih Dinda, gak lucu tau, aku lagi bingung kok rumahku berubah ya" ucap Kiran"Raden sepertinya sedang kurang sehat, kenapa omongan Raden Kiran aneh" ucap DInda bingung"ayu masuk ke ruang belajar, sebentar lagi Raden Wicaksono akan masuk dan mengajar Raden Kiran" ucap dinda"Dinda kamu ngomong apa sih? aku gak ngerti, mobil kamu mana? kita jalan keluar yuk" ucap Kiran"Mobil itu apa ya raden?" tanya DInda bingung"Apa sih, perlakuan Dinda sangat aneh" fikir Kiran, dan Kiran segera membuka pintu betapa kagetnya dia ternyata tidak ada rumah sama sekali kecuali rumahnya semua hanya lapang kosong."Dinda ada apa sih ini? kok gak ada tetangga lain" ucap Kiran bingung"Raden Kiran memang seluruh tanah ini kepunyaan Bapak raden Kiran yaitu tumenggung Adiputro, kenapa Raden Kiran sepertinya kaget ya?" tanya Dinda"Terus kamu siapanya aku?" tanya Kiran"Aku abdinya Raden Kiran" jawab Dinda"Abdiku, kamu kenapa sih Din, kamu kan sahabat aku" ucap Kiran"iya Raden Kiran saya juga selalu menemani Raden seperti teman, tapi tetap raden Kiran adalah tuan saya" ucap DInda sambil tersenyumDan tiba-tiba Kira mendengar suara kereta kuda yang masuk ke pekarangan rumahnya"Tumenggung sudah datang Raden, sepertinya saya harus masuk untuk menyiapkan masakan untuk Tuan" ucap Dinda sopansemakin aneh, Kiran tidak percaya dengan yang dia alami, bahkan Kiran mencoba mencubit dirinya sendiri untuk meyakinkan bahwa semuanya bukan mimpi.Seorang lelaki berkumis tebal datang dengan pakaian adat Jawa yang sangat kental"Putriku, pakaian apa yang kau kenakan itu, sangat aneh, ayo lekas ganti bajumu, Pangeran Waluyo sebentar lagi akan datang" ucap laki-laki itu"Pangeran waluyo, maksudnya?" tanya Kiran"Sudah, kamu tidak berhak menjawab aku bapakmu, cepat pergi ke kamar ganti baju" ucap TumenggungBaru saja Kiran ingin melangkah ke belakang, tiba-tiba ada seorang laki-laki muda masuk ke rumahnya"Tumenggung, aku harus membunuhmu atas perbuatanmu kepada keluargaku" dan dia mengeluarkan pisau dan menikam perut tumenggung didepan Kiran"Kenapa ini" tangan Kiran bercucuran darah dimana-manaTiba- tiba KIran merasa kepalanya berputar dia merasa ada tembakan yang mengenai dadanya, meilhat kondisi itu Dinda masuk dan teriak dan orang itu juga menembak Dinda.Semua menjadi gelap dan aku sepertinya sudah berada di alam lain."Kiran... Kiran... bangun nak" suara ibu menyadarkanku"Bu... aku sudah meninggal?" tanya Kiran"kamu ngomong apa sih nak" ucap ibu"aku tadi di tembak" kata KiranIbu pun tertawa "Kiran.. Kiran.... kamu itu tadi mengigau... dan seperti biasa kamu tetap kesiangan jadi jam weker kamu tidak ada gunanya" ucap ibu tertawa geli

HOROR BALERINA
Horror
17 Dec 2025

HOROR BALERINA

Diaz hari ini bersiap-siap untuk menstarter mobilnya, dia sudah memakai kaus kuning dan celana kakinya."Lulu cepet dong" teriak Diaz"sabar Di" ucap Teri kakak Diaz, ibu nya Lulu, Lulu adalah gadis kecil berusia lima tahun dan hari ini adalah hari pertamanya les balerina"Mah, Om Diaz cerewet banget sih, Lulu kan lagi pakai baju" ucap lulu dengan tatapan gemasnya"Iya, biarin aja Lu, ga usah marah, Om Diaz kan dari dulu emang bawel, maafin mamah ya gak bisa anter kamu, temen mamah ada yang mu datang sudah dijalan" ucap Teri menenangkan LuluLalu Lulu pun berjalan menuju ke mobil"Mana ada balerina yang lelet kaya kamu Lu" ejek Diaz"Mamaaahhhh" teriak Lulu sambil menurunkan jendela mobil"Diaz, jangan godain Lulu terus, awas ya kalau dia nangis" ancam Teri"Iya kak, tapi susah emang Lulu nya aja yang cengeng" jawab Diaz sambil tertawa puas"Om Diaz nyebelin" kata Lulu"Tapi kan kamu tetep sayang sama Om karena Om Ganteng" Goda Diaz"Awas ya, nanti jangan godain aku kalau di tempat les" rengek Lulu"Idih geer, ngapain godain anak kecil" ucap Diaz sambil tertawaDan akhirnya mereka pun sampai di tempat Les, bangunanya kecil tetapi terlihat kokoh, bangunan tua yang klasik fikir Diaz"Halo, siapa nama kamu?" seorang gadis muda yang cantik menyambut mereka di depan pintu"Lulu tante""Dan kamu, papahnya?" tanya gadis itu kepada DiazDiaz sedikit terpana melihat wajah gadis itu sangat cantik"Hmm.. maaf saya omnya" ucap Diaz sambil memberikan tangannya ke Gadis itu"Oh.. maaf saya Riri guru Balerina disini" ucapnya "Hai Lulu mari kita masuk ke dalam kelas"Mereka mengikuti Riri ke dalam kelas, ada beberapa anak yang sudah menggunakan seragam baletnya sedang latihan didepan kaca."Hai kenalkan ini teman baru kalian namanya Lulu" ucap Riri disambut perkenalan anak-anak yang menghampiri Lulu"Baik, Om Diaz boleh duduk dan menonton dulu sebelum kita mulai latihannya ya" ucap Riri"OKe" jawab DiazDan latihan pun dimulai, tatapan Diaz selalu tertuju pada Riri, sangat cantik dan anggun dengan gaun balerinanya.Dan latihan pun selesai"Terimakasih Lulu, sampai bertemu besok lagi" ucap Riri "dan senang bertemu denganmu juga Diaz" sambil tersenyum"Iya makasih juga sudah mengajari Lulu" jawab Diaz salah tingkahSepanjang jalan Lulu memperhatikan wajah Diaz yang senyum-senyum sendiri"Om... kok om Diaz senyum sendiri" kata Lulu"guru balet kamu cantik Lu" jawab Diaz"Ih.. Om Diaz gak boleh, itu kan guru aku" jawab Lulu polosKeesokannya Diaz selalu semangat mengantar Lulu ke tempat les, dan dia sangat menantikan bertemu dengan Riri."Riri.. tunggu" sebelum pulang Diaz memberanikan diri untuk menghampiri Riri"Iya kenapa?" tanya Riri"Rumah kamu dimana?" tanya Diaz"Di Jalan Kemanggisan tidak jauh dari sini" jawab Riri"Boleh aku antar kamu?" tanya Diaz"Gak merepotkan?" Tanya Riri " Lulu tidak apa-apa Ibu bareng Lulu""Gak kok, Lulu juga senang" jawab Diaz tidak memberikan Lulu kesempatan menjawabTidak lama akhirnya sampai juga dirumah Riri, Diaz segera memarkirkan mobilnya"Ayu mampir dulu ke rumahku, ketemu mamahku dulu" ucap Riri"Tidak apa-apa memang Ri?" tanya Diaz"Gapapa mamahku pasti senang" jawab RiriLulu dan Diazpun mengikuti Riri masuk ke dalam rumahnya"mah kenalin ini murid balerinaku namanya Lulu dan ini Omnya namanya Diaz"Diaz tante" ucap nya sopan"Iya kamu ganteng nak, kamu juga cantik"ucap mamah Riri pada Lulu dan DiazTidak terasa waktu menunjukan jam 5 sore, Diaz pun pamit ke mamah Riri untuk pulangDiperjalanan Diaz sangat bahagia sekali akhirnya bisa mengantar Riri pulang, tiba - tiba saat Diaz sedang melamun, ada Bus besar didepannya dan akhirnya tabrakan itu pun terjadiEntah apa yang terjadi, kepala Diaz sangat pusing dan dia terbangun, tapi anehnya dia melihat banyak orang mengerumuninya saat dia melihat ke samping dia melihat Lulu yang sedan gterkapar penuh darah.Diaz langsung bangun dan menuju Lulu"Lu... bangun lu kamu tidak apa-apa?" tanya Diaz tanpa Diaz sadari ternyata Diaz melihat dirinya sendiri sedang terkapar tidak jauh dari Lulu dengan wajah penuh darah"Itu aku... tapi tidak mungkin" ucap Diaz tidak percayaTidak jauh dari kerumunan orang banyak Diaz melihat Riri sedang melihat mereka berdua terkapar, dan Riri segera pergi meninggalkan kerumunan tersebut."Riri..." Panggil DiazTapi Riri seolah tidak mendengar dan tetap berlari menuju mobilnya dan Diaz tetap mengikutinya sampai kerumahnya"Mamah" teriak Riri"Kenapa nak?" tanya mamah kaget"Diaz mah dan Lulu" ucap Riri"Kenapa mereka yang tadi kesini" tanya mamah"iya mah, kutukan itu terjadi lagi, seharusnya saya tidak membawa mereka ke rumah ini" ucap Riri histeris"Tidak mungkin Ri, kutukan itu tidak mungkin selamanya, mereka baik-baik saja kan?" tanya mamah"mereka meninggal mah, tabrakan tidak jauh dari rumah, dan mereka meninggal" jawab Riri histeris"Tidak mungkin Ri, oh Tuhan itu tidak mungkin" teriak Mamah"Kutukan.. kutukan apa?" tanya DiazRiri duduk di bangku sofa, "aku tidak tahu mah, aku tidak sengaja menabraknya, dia tidak terlihat lalu nenek tua itu tiba-tiba sudah didepan mobilku dan aku menabraknya, sungguh bu aku sangat ketakutan, makanya aku tidak berhenti dan terus mengendarai mobilku sampai rumah, aku tidak mau dipenjara mah, lalu dia datang dalam mimpiku dan memberiku kutukan itu, bahwa siapapun calon laki-laki yang kusukai datang kerumah pasti akan meninggal dunia, dan salahku mah, aku menyukai Diaz mah" ucap Riri sambil menangis"Sudahlah nak, itu bukan salahmu" ucap mamahnyaDiaz tidak percaya mendengar kata-kata Riri "Apa? Riri menyukaiku? gadis yang kupuja ternyata juga menyukai ku, tetapi aku terkena kutukan itu" fikir Diaz"Ri... aku juga menyukaimu" ucap Diaz sambil meneteskan airmataTiba-tiba ada seorang nenek-nenek menghampiri Diaz"Kamu harus pergi tempatmu tidak disini" ucap nenek tua itu"Kamu siapa?" tanya Diaz"Akulah nenek-nenek yang memberinya kutukan" ucap nenek tua itu"Tolong nek, hapuslah kutukan itu dan ikhlaslah, dia sudah merasa bersalah dan dia tidak sengaja untuk melakukan itu" ucap Diaz"Aku tidak suka dengan caranya yang tidak bertanggung jawab" kata nenek tua itu"Aku ikhlas nek, jika aku harus meninggalkan dunia ini, tapi tolong nek jangan beri dia penderitaan lagi" ucap Diaz tulusmelihat ketulusan Diaz nenek itu tersenyum, "ternyata kamu adalah lelaki yang tulus, aku akan mengabulkan permintaan mu tapi dengan satu syarat" ucap nenek itu"Apa syaratnya" tanya Diaz"kamu harus membawanya ke kuburanku dan meminta dia minta maaf di pusara aku" ucap nenek tua itu"Baik nek, aku akan melakukannya" ucap Diazlalu nenek tua itu tersenyum dan tiba-tiba Diaz terbangun di satu sudut kamar rumah sakit"Dokter dia sudah sadar" ucap salah satu perawatBeberapa minggu setelah sembuh, Diaz berkunjung kerumah Riri, dan betapa kaget Riri melihat Diaz sudah ada di hadapannya."Diaz" kata Riri"Iya Ri, aku sudah mengetahui semuanya, tentang kutukanmu juga" kata Diaz"Maksudmu? kamu tahu darimana?" tanya Riri bingunglalu Diaz menceritakan semuanya, Riri menangis"Iya Diaz. aku harus meminta maaf dipusaranya, aku sangat senang kamu baik-baik saja" ucap Riri tersenyum"Aku juga Ri, dan aku menyukaimu dan ingin menikahimu""Aku juga menyukaimu Diaz, dan aku mau menjadi istrimu"melihat mereka berdua, mamah menangis karena mimpi Riri sebentar lagi akan menjadi nyata

HOROR POHON BERINGIN
Horror
17 Dec 2025

HOROR POHON BERINGIN

Wisnu hari ini sedang bermain bola ditaman depan rumah, Ida melihatnya dari jendela di dalam rumah, melihat Wisnu yang tumbuh dengan baik pada usia 5 tahun membuat Ida merasa bahagia. Ari suami Ida senang dengan anak laki - lakinya yang satu ini, karena dia selalu ceria dan banyak pola gayanya."Wisnu, papah ayu masuk dulu ke rumah ini mendung nanti takut hujan" ucap Ida melihat cuaca sudah mulai gelap"Iya mah sebentar lagi" jawab AriWisnu tidak menghiraukan panggilan Ida, dia terus menendang bola ke arah papahnya. Saat rintik hujan mulai turun, Ari langsung mengangkat Wisnu masuk kedalam rumah."Aduh kalian susah ya, dibilangin masuk dari tadi malah tidak mau, lihat kan Wisnu jadi kehujanan" ucap Ida kesal"Iya mah, maafin ya" rayu Ari"Mah, Wisnu masih mau main bola" rengek Wisnu"Nanti lagi ya dek, kalau kamu main hujan nanti kamu sakit sayang" jawab Ida menenangkan Wisnu"Tapi aku masih mau main bola" jawab Wisnu"Sudah - sudah, kita main bolanya didalam rumah saja, tapi kamu jangan kencang - kencang ya nendang bolanya" ucap Ari supaya Wisnu tidak menangisSambil melihat Ari dan Wisnu bermain, Ida menyiapkan cemilan untuk mereka berdua, baso kuah kesukaan Wisnu."Ayo berhenti dulu main bolanya, baksonya sudah matang sini" ucap Ida"Hore...." jawab Wisnu kegiranganSetelah habis memakan bakso, Wisnu nonton sebentar di depan Televisi, dan akhirnya dia tertidur pulas.Tengah malam ini, Ida terbangun dia mendengar suara merintih"Mahh.... mahhh..." rintih suaraIda terbangun, dan melihat Wisnu menggigil, dan mengigau memanggil namanya, lalu Ida menempelkan tangannya di dahi Wisnu"Ya ampun, badan kamu panas banget dek" ucap Ida kaget"Pah.. bangun pah, Wisnu sakit" ucap Ida kepada Ari"Kenapa mah?" tanya Ari"Badan Wisnu sangat panas pah, dia mengigau juga, aku takut pah, ayo cepat kita pergi ke dokter" ucap IdaLalu Ari segera bangun dan memegang dahi Wisnu, Ari pun terlihat kaget dengan suhu badan Wisnu yang demam tinggi"Ayo mah, kita siap - siap ke rumah sakit" ujar Wisnu dengan kondisi panikDan berangkatlah mereka ke Rumah Sakit, ternyata setelah diperiksa Wisnu mengalami radang pada tenggorokannya, dan Dokter memberikan obat untuk Wisnu.Pagi ini Wisnu masih naik turun demamnya, Ida terpaksa harus menemani Wisnu dikamar, kondisinya cukup lemah belum bisa keluar kamar."Mah..."rintih Wisnu"Iya dek, dedek mau makan apa?" tanya Ida"Dedek takut mah" kata Wisnu"Takut apa sayang" Tanya Ida"Sama itu mah" tunjuk Wisnu ke dinding dekat jendela pintu kamar"Memang ada apa sayang? kenapa takut?" tanya Ida"Dia mau deketin Wisnu mah, Wisnu takut mamah jangan tinggalin Wisnu ya mah" ucap WisnuIda berfikir mungkin Wisnu mengalami halusinasi karena demam tingginya, jadi Ida mengiyakan saja perkataan Wisnu"Iya sayang, mamah disini jagain kamu" ucap IdaAkhirnya Wisnu pun tertidur lelap, melihat Wisnu yang sudah pulas, Ida segera keluar kamar untuk membereskan rumah, dan tidak terasa waktu cepat berlalu sudah hampir maghrib, Ida baru saja menyelesaikan setrikaan yang menumpuk.Ida agak heran kenapa dari tadi Wisnu sepertinya belum terbangun, karena tidak ada suara ataupun rintihan yang terdengar dari kamar Wisnu.Lalu Ida pun segera melihat kondisi Wisnu di kamar dan betapa kagetnya Ida melihat Wisnu tidak ada di kasurnya."wisnu" panggil Ida dan Ida semakin panik karena tidak menemukan Wisnu dimanapun disudut rumahnya"Wisnu" Ida mulai mencari keluar rumah dan bertanya kepada beberapa tetangga apakah ada yang melihat Wisnu.Ida sudah benar - benar panik tidak ada satu orangpun yang melihat Wisnu, dan Ida mulai merasa lemas dia menelepon Ari yang sedang berada di kantor dan menceritakan kejadian hilangnya Wisnu.Sekitar satu jam, Ari datang dan dia memeluk Ida yang sudah menangis kencang ditemani ibu - ibu lain dirumahnya."Sabar ya mah" ucap Ari"Wisnu pah, aku salah, aku teledor, aku ga bisa menjaga Wisnu, dia sakit pah kasihan" jawab Ida sambil berderai airmata"Sabar mah, aku tahu ini bukan salah kamu" kata Ari menenangkan IdaPolisi pun datang malam ini, dan meminta Ida menjelaskan secara detail, kronologis kejadian Wisnu hilang, setelah itu Polisi itu terlihat mencatat."Tunggu pak" ucap Ida saat polisi itu mau pergi"Ada yang Wisnu ucapkan sebelum tidur, dia menunjuk ke dinding kamarnya dan dia bilang ada yang mau mendekatinya, tapi saya lihat tidak ada apa - apa disitu pak" ucap Ida mengingat perkataan Wisnu tadi"Aneh" kata Ari jadi Wisnu berkata seperti itu sebelum tidur, tapi kamu tidak melihat apa - apa mah?" tanya Ari bingung"Sepertinya kita harus memanggil orang pintar" ucap Ari setelah polisi meninggalkan rumah, Ari segera menelepon Bi Dedeh, kerabatnya yang memang dikenal memiliki keahlian dengan mahluk gaib.Pagi ini Bi Dedeh sudah sampai dirumah Ida dan Ari, dia sangat mengerti kondisi Ida dan Ari yang terlihat lelah dan tidak tidur."Coba perlihatkan saya kamarnya" ucap Bi DedehLalu Ari membawa Bi Dedeh ke kamar Wisnu "ini Bi" jawab AriBi Dedeh segera mengambil air wudhu, dan mengaji di kamar Wisnu, khusyu sekali, sekitar empat puluh lima menit Bi Dedeh keluar menemui Ari dan Ida"Wisnu dibawa mahluk gaib, tinggalnya dekat pohon tua daerah disini, dia menyukai Wisnu dan ingin membawa Wisnu ke alam mereka, tapi kalian beruntung karena langsung menelepon saya, kita masih bisa menemukannya" ucap Bi Dedeh"Pohon tua dekat dari sini" fikir Ari"Pohon Beringin pah" kata Ida"Pohon Beringin di taman kota mah?" tanya Ari"Iya pah, itu kan pohon tua pah, bahkan tidak dapat ditebang saat taman mau direnovasi" ucap Ida"Ayo kita kesana" ucap Ari, mengajak Ida dan Bi DedehDan mereka segera pergi kesana, dan akhirnya sampai di depan pohon beringin tuaTidak ada siapa-siapa, bahkan tidak ada seorangpun yang terlihat siang itu di taman kota iniBi Dedeh langsung mengambil air minum yang dibawanya, dan dia membacakan bacaan surat sambil, khusyu berdoa memohon kepada Tuhan untuk membantunya, lalu setelah itu dilemparkan air tadi ke batang pohon dan akarnya. sambil terus didoakan, dan tiba - tiba."Duk..." tiba - tiba terdengar suara"Wisnu" ucap Ida kaget melihat Wisnu jatuh dari atas pohon"Wisnu" ucap Ari sambil menghampiri Wisnu dan menggendongnya"Coba ceritakan Wisnu apa yang terjadi" tanya Bi Dedeh"Aku dipaksa ikut sama orang berbadan besar dan hitam, aku sudah ga mau, tapi aku digendong dan dipaksa pah untuk ikut, aku sudah lihat mamah lagi setrika, aku udah panggil tapi mamah gak denger pah" cerita Wisnu sambil menangis"Ya Allah nak, mamah tidak tahu nak" ucap Ida sambil menangis"Alhamdulillah, Wisnu sudah ketemu, kalian harus lebih sering sholat dan tingkatkan keimanan kalian supaya rumah kalian tidak dijadikan umpan bagi mereka" ucap Bi Dedeh bijaksana.Saat mereka mau meninggalkan Pohon Beringin itu, tiba-tiba ada suara"Duk...."Mereka melihat ke belakangAda gadis kecil berponi yang jatuh dari atas pohon beringin tadi

HOROR PASAR HANTU
Horror
17 Dec 2025

HOROR PASAR HANTU

Deby sudah bersiap siap dengan ranselnya, dia sudah tidak sabar dengan pengalaman pertamanya mendaki ke Gunung Salak dengan teman-teman dikampusnya, memang dia hanya cewek sendiri tetapi dengan empat sahabat cowoknya Ian, Beni, Iwan dan Rei pasti akan melindunginya dengan baik, kebetulan mama mengizinkan karena mama sudah mengenal teman Deby dari awal tahun kuliah pertama."Deby... Teman-teman kamu sudah datang sayang" teriak mama dari ruang tamu"iya mah, Deby turun"Saat Deby turun dia melihat teman-temannya sedang makan brownies buatan mama"bentar ya Deb, enak banget nih kue mama kamu" ucap Beni yang memiliki badan paling gendut diantara kita"iya Deb, sebentar dulu, abis ini mama kamu mau ambilin puding susu yang enak itu" timpal Ian"Dasar, ga boleh lihat makanan langsung anteng deh, cepetan jangan lama-lama aku udah ga sabar nih berpetualang" ucap Deby semangatSetelah selesai menyantap semua kue yg mama buat, mereka pamit untuk mendaki dan berangkat."hati-hati ya, cari tempat yang ramai saja, jangan ke tempat yang sepi" ucap mama yang berdiri didepan pintu pagar"iya mah.. Dadah" jawab DebyHampir dua jam perjalanan, akhirnya sampailah mereka di pintu masuk pendakian gunung salak, dan setelah itu mereka mulai berjalan."Deb, kamu bawa cukup bekal kan?" tanya Beni"Aduh Beni, naik juga belum udah mikirin makan melulu, pantasen aja perut lo gendut" jawab Deby kesal dan diikuti tawa anak-anak lainnya.Mereka terus berjalan sesuai rute pendakian yang ada didalam peta, seharusnya sekitar lima belas menit lagi mereka akan sampai ke lokasi tenda pendakian.Dan betul saja didepan mulai terlihat keramaian ada banyak tenda-tenda pendaki lain yang sudah berdiri disana."Ayu kita mulai buat tenda di sana ada lokasi yang kosong" ucap ReiMereka semua langsung menuju tempat itu dan segera membuat tenda, setelah selesai tidak terasa mulai maghrib, Deby menyiapkan makanan yang dia bawa untuk dibakar, sosis, mie rebus dan telur, dan Rei membantu Deby memasak."Deb, aku senang kamu ikut mendaki" ucap Rei manisSebenarnya Rei lah penyemangat Deby untuk ikut mendaki saat ini, Deby sudah lama mengagumi Rei, tapi belum berani untuk berterus terang"aku juga senang Rei, sangat seru" jawab Deby"udah mateng belum" rengek Beni"udah, tapi sayangnya kamu ga kebagian" canda Rei kepada Beni diikuti tawa lainnyaAkhirnya setelah makan, bermain gitar dan bernyanyi, tidak terasa sudah tengah malam, mereka pun siap siap tidur. Deby menggunakan tenda sendiri yang berwarna biru, sedangkan teman lainnya di tenda mereka masing-masing."Deb...Deby bangun" suara samar diluar tenda, Debi membuka matanya dan melihat keluar"Beni, ngapain kamu kesini?" tanya Deby"Aku kebelet pipis, anterin aku yuk" jawab Beni"kenapa mesti aku sih, kan banyak temen lainnya" jawab Deby malas sambil menguap dan mengucek matanya"yang lain ga mau bangun, aku sudah kebelet pipis nih" rengek BeniTidak tega melihat wajah Beni, akhirnya Deby mengantar Beni juga"Ben, kamu mau pipis dimana sih? Kita jalan udah mulai jauh lho dr perkemahan" ucap Deby"cari tempat pipis yang enak Deb, sabar kenapa" jawab BeniTiba-tiba Deby melihat keramaian di tengah hutan, dengan suara ramai."Deb, kita kesana yuk, kayaknya ada kampung rumah penduduk aku bisa numpang pipis disana" jawab Beni"iya, ramai bener padahal sudah malam gini"jawab DebyDan benar saja, saat mereka masuk ke tempat tersebut, ternyata banyak tukang dagang yang menjual sayur, daging dan buah juga penduduk yang sedang berbelanja."Kok aneh ya Ben, malam-malan gini ada pasar?" tanya Deby"Sepertinya ini pasar malam Deb, gapapa kan banyak barang yang kita bisa beli buat besok, aku bosan makan mie melulu sekali kali kita makan ikan, kamu bawa uang kan?" tanya BeniDeby merogoh kantung celananya "ada Ben, oiya kamu ga jadi pipis?""iya Deb, kamu tunggu disini ya, aku cari kamar mandi dulu" ucap BeniSambil menunggu Beni, Deby ke tempat salah satu pedagang yang menjual ikan."ikan yang ini berapa pak?" tanya Deby ke bapak penjual ikan"dua ratus neng sekilo" ucap bapak tua itu"dua ratus? Murah banget pasar ini" fikir Deby, dan Deby langsung memesan ikan setengah kiloDan Deby mulai ke tempat lain, harganya sangat murah, Deby membeli buah, membeli sayur, dan membeli daging juga.Sudah hampir setengah jam Debi menunggu Beni dan belum terlihat juga, tiba-tiba ada nenek-nenek tua mendekatinya."Neng, tempatmu bukan disini, kamu harus kembali" ucapnya"Maksudnya?" tanya Deby"Ikuti jalan didepan yang terang, kamu akan kembali ke dunia kamu, sekarang juga" ucap Nenek itu"tapi nek? Temanku belum kembali" ucap Deby"jangan tunggu dia, dia ingin berbuat jahat pada kamu" ucap nenek ituDan tidak lama Deby melihat Beni datang"mau apa kamu nek?" kata Beni"jangan kau ganggu dia, dunia dia berbeda" ucap nenek tua itu kepada BeniTiba-tiba wajah Beni berubah, menjadi menyeramkan, wajahnya penuh darah dan berubah besar"Kamu milikku" jawab mahluk itu dan saat mahluk itu mendekati Deby nenek tua itu menahannya, Deby lari sekencang-kencangnya dan mengikuti saran nenek itu dia berlari dijalan yang terang.Tiba-tiba Deby terjatuh dan tidak sadarkan diri, saat dia membuka matanya dia melihat sekeliling, teman-temannya sedang memanggil namanya."Deby.. Kamu sudah sadar?" ucap Rei dan Ian"aku dimana?" tanya Deby"kamu tadi hilang dari tenda Deb, dan saat kita mencari kamu, ternyata kamu pingsan ditanjakan atas sana" ucap Iwan sambil menunjuk tanjakan disana."pingsan? Aku diajak Beni untuk mengantarnya pipis" ucap Deby"pipis? Aku tidak kemana-mana, malah aku tidur dengan nyenyak di tenda" ucap Beny bingungPak Madun, penghuni yang menemukan Deby, meminta Deby menceritakan kejadian yang dia alami,dan setelah mendengar cerita Deby dia mulai menjelaskan."oh nak Deby, dibawa oleh hantu jail ke pasar hantu, disini sudah banyak yang mengalami kejadian serupa, untunglah nak Deby tidak apa-apa" ucap pak Madun"sepertinya itu sangat nyata" ucap Deby"baiklah karena nak Deby sudah sadar, dan sudah bertemu teman-teman, saya pulang dulu mungkin sebaiknya kalian segera pulang kerumah" ucap pak Madun, "oh iya tadi ada kantung milik nak Deby yang tertinggal.Deby menerima kantung yang diberikan pak Madun, dan dia melihat isi kantung itu."ini belanjaanku dari pasar semalam" ucap Deby kagetDan teman-teman melihat ke dalam isi kantung tersebut"ikan, buah,sayur dan daging masih segar dan utuh""apakah kita boleh memakannya?" tanya Beni spontansemua teman-teman mengarah kepada beni dan memelototinya.

HOROR HOTEL KENANGA
Horror
17 Dec 2025

HOROR HOTEL KENANGA

Hari ini Abigail mengambil cuti dikantornya dan dia sedang dalam perjalanan liburan ke Pantai dia berpergian hanya berdua saja dengan adiknya Andrea yang berusia 14 tahun karena minggu ini sudah masuk liburan sekolah, mereka ingin menikmati liburan kali ini ke Pelabuhan Ratu dan mereka berencana menginap disana selama beberapa hari, suasana pantai pasti bisa membuatnya lebih fresh dari rutinitas sehari - harinya dikantor.Perjalanan dari Jakarta dirasakan tidak terlalu banyak mengalami kendala, sehingga pada jam 10 pagi ini mereka sudah sampai di Pelabuhan Ratu, saat sampai dipantai suasana terasa berbeda lebih segar, dan Abigai senang melihat laut luas dengan bunyi ombak yang bersambung."Aku ganti baju pantai dulu ya kak" ucap Andrea"Iya dek, kakak tunggu disini saja ya" jawab AbigailTidak jauh dari tempat mereka duduk ada saung menjual makanan dan minuman yang masih sepi pengunjung."Bu, saya pesan es kelapa ya" ucap Abigail"Baik teh, pesan berapa?" tanya ibu penjual"Dua saja bu, terima kasih"Tidak lama Andrea datang dengan kain pantai dan baju tank topnya"Dek, kakak disini" panggil Abigail"Iya kak" sahut Andrea sambil menuju ke saung makan tersebut"Pengunjungnya masih sepi ya bu" tanya Abigail"Iya neng, dulu biasanya masa liburan sekolah gini rame terus neng, tapi sudah beberapa bulan ini sepi terus neng" keluh si ibu"Kenapa begitu bu, pantainya bagus banget kok" tanya Abigail bingung"Mungkin karena rumor yang beredar neng, katanya pantai ini seram, jadi banyak yang takut dan khawatir datang kesini neng" jawab ibu"Seram bagaimana bu? saya lihat pemandangan disini sangat indah, sayang banget kalau orang - orang tidak datang hanya karena rumor tersebut" ucap Abigail dengan gemas"Iya neng, ibu juga mengharapkan pengunjungnya banyak lagi kan biar warung ibu rame neng" jawab ibu sambil tersenyumSetelah menghabiskan es kelapa mereka, lalu Abigail dan Andrea bermain di pantai dan berjemur, tidak terasa hari sudah mulai sore, Abigail kembali ke saung si ibu, untuk memesan makanan sebelum mereka mencari penginapan."Bu, pesen mie rebus dua ya, sama teh manis hangat" Ucap Abigail"Iya neng""Bu, saya kan berencana mau mencari penginapan di sekitar sini, ibu tahu tidak ya hotel yang bagus, tapi jangan yang terlalu mahal" tanya Abigail"Banyak neng, tidak perlu khawatir, nanti neng kalau keluar dari pantai tinggal lurus saja kekanan disepanjang jalan semuanya hotel dan penginapan neng."Oh begitu bu, baik kalau gitu nanti saya kesana, besok mungkin saya kesini lagi kok bu" ucap Abigail"Wah bagus neng, ibu mah senang kalau neng masih main lagi kesini" ucap ibu polosSetelah itu Abigail dan Andrea menuju ke arah yang ibu penjual itu bilang, dan benar saja memang banyak pilihan penginapan di kanan dan kiri jalan, sepanjang itu mereka masih belum memutuskan hotel mana yang akan mereka pilih"Kak, kita sepertinya semakin jauh, kenapa tadi kakak gak berhenti aja sih pas banyak hotel" keluh Andrea"Sabar dek, kakak belum ketemu yang pas hotelnya" jawab Abigail"Tapi ini sudah malam kak, aku juga sudah ngantuk dan kita jadi jauh ke pantainya, kembali lagi saja yu kak ke jalanan yang tadi" rengek Andrea"Iya bawel, kalau sehabis ini kita lihat hotel, kakak akan berhenti dan menginap disana" janji Abigail"Baru saja Andrea berniat memutar mobilnya lagi, tiba - tiba dia melihat ada bangunan besar di kiri jalan, saat mobil Abigail mendekat ternyata itu adalah hotel, dan di atas gerbang tertulis HOTEL KENANGA.Abigail langsung masuk ke dalam hotel dan memarkirkan mobilnya."Kak kok hotelnya gelap banget" ucap Andrea"Kamu kenapa rewel banget sih dek, tadi katanya sudah capek, kakak sudah pilih hotel kenanga ini untuk tempat menginap kita dek" ucap Abigail"Iya kak, maaf" ucap AndreaMereka masuk kedalam hotel, dan hotel tersebut sangat sepi tidak ada resepsionis yang menyambut mereka didepan lobi. AKhirnya Abigail memencet tombol untuk memanggil petugasDan benar saja lima menit kemudian ada seorang wanita yang datang."Selamat Datang Ibu di Hotel Kenanga" ucap wanita itu"iya mbak, kami butuh satu kamar yang standar saja mbak" ucap Abigail langsung"oh baik bu, kamar tersedia silahkan menunggu sebentar nanti kami akan serahkan kuncinya" jawab wanita itu"maaf mbak, permalam berapa ya?" tanya Abigail"250 ribu bu" ucapnya"oh baik.. Terimakasih" lalu Abigail dan Andrea duduk dilobi yang sepi menunggu dipanggil, anehnya mereka berdua tidak melihat ada tamu yang lain dihotel tersebut dan suasana hotel sangat sepi"kak, aku merinding sepertinya hotelnya aneh" ucap Andrea"apa sih dek, jangan bikin kakak parno deh, kakak udah capek cuma mau tidur" jawab Abigail ketusTidak lama wanita itu datang menghampiri mereka dan memberikan kunci kamar"selamat menikmati malam ini" ucap wanita itu sopan"Terimakasih mbak" jawab AbigailKamar 666 berada di lantai 6, sebenernya dengan kondisi tamu yg sepi mereka tidak perlu kamar yang jauh dr lobi, tapi ya sudahlah Abigail terlalu lelah untuk protes, dan diapun membuka kamarnya dan melihat sekeliling ruangan, entahlah ada sesuatu yang aneh karena bulu kidiknya langsung berdiri.Abigail langsung menaruh koper di dalam lemari, Andrea memutuskan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Tidak berapa lama Abigail mendengar Andrea menjerit"Aaaghhhh" Andrea teriak sambil keluar pintu kamar mandi dengan handuknya"kenapa dek?" tanya Abigail"tadi saat aku melihat kaca di cermin kamar mandi kak, ada bayangan wanita dan wajahnya sangat menyeramkan" ucap Andrea dengan wajah ketakutanAbigail langsung ke kamar mandi dan memeriksa seluruh ruangan disana lalu keluar "tidak ada apa apa dek, mungkin kamu capek saja jadi kamu berfikir yang aneh - aneh" ucap Abigail"Aku yakin kak" ucap Andrea sambil memakai baju tidurnya "ada yang tidak beres dengan kamar ini" ucap andrea lagi"baik dek, kita hanya akan menginap malam ini saja besok pagi kita akan meninggalkan hotel ini lalu kita pulang kerumah ya dek" ucap Abigail"baiklah, sepertinya aku ingin segera tertidur dan banhun esok pagi" ucap AndreaDan betul saja tidk lama Andrea sudah tidur dikasurnya, Abigail masih melihat handphonenya dan melihat hasil foto tadi di pantai, tiba - tiba lampu mati dan seluruh ruangan menjadi gelapAbigail segera menyalakan senter dari handphonenya dan menelepon operator tetapi tidak ada yang mengangkat."bagaimana ini" fikir Abigail lalu dia berusaha untuk menutup matanya agar dia juga cepat tertidur seperti Andrea, tetapi tidak bisa dia sama sekali tidak mengantukTiba - tiba lampu menyala kembali, dan benar kata Andrea. Abigail melihat ada bayangan wanita di cermin kaca lemari pakaian dikamarnya.Abigail tidak dapat mengeluarkan suara karena ketakutan, dia langsung menutupi wajahnya dengan selimut dan memeluk AndreaTiba - tiba Abigail mendengar ada suara ketukan pintu di kamarnya, "oh itu pasti petigas hotel yang ingin memeriksa" dan Abigail langsung membuka pintunya, tapi...Ternyata ada seorang laki laki berkumis tebal yang mendorong Abigail masuk ke dalam kamar sambil menutup mulut Abigail dengan tangannya."diam, jangan bersuara" ucap laki laki itu"mmmmmm" Abigail berusaha memberontak dan menggigit tangan pria itu"Awww" teriak laki laki ituAndrea pun terbangun "ada apa i i kak?" tanyanya"diam kamu, kalau kamu macam macam kakak mu akan aku bunuh" ucap laki laki ituDan andrea juga abigai di dudukan dikursi dan diikat kedua tangannya"Apa maumu?" tanya Abigail"Aku ingin semua baramg berharga mu dan uangmu" kata pria tadi"bagaimana kamu bisa dengan mudah masuk ke hotel ini" tanya Abigail"hahaha karena aku lah yang memiliki hotel ini" ucap pria tadi sombong tiba - tiba lampu mati kembali suasana menjadi gelap dan laki laki itu mengambil sesuatu di dalam lemari ternyata itu adalah lilin, dan dia menyalakannyaTetapi saat lilin itu dinyalakan Abigail dan Andrea melihat bayangan wanita yang dicermin tadi yang semakin jelas ada di belakang pria itu."Pak.... itu...itu..."Teriak Andrea sambil menunjuk ke arah bayangan wanita ituSpontan Pria tadi menoleh ke belakang, dan wajah dia sangat ketakutan"Bu Dera..... ampun bu...." ucap Pria itu sambil berjongkok dan menutup matanya "Ampun bu jangan sakiti saya" dia sepertinya sangat ketakutanTapi wanita itu hanya diam dan melihat ke arah pria itu tanpa bersuaraMelihat kesempatan itu, Abigail akhirnya bisa membuka tali yang mengikat tangannya, dan melepaskan tali ikatan Andrea dan mereka berdua segera kabur dari kamar itu, dan melarikan diri keluar dari hotel itu sampai dibawah lobbi, mereka bertemu dengan resepsionis tadi."Mbak... mbak tolong.... tolong kami" teriak Abigail"Kenapa mbak?" tanya wanita itu"Ada orang jahat yang ingin mencuri di kamar kami" Teriak Andrea"Baik mbak, tenang dulu coba mbak duduk dulu dan ceritakan apa yang terjadi" ucap wanita itu"Baik, baik mbak" lalu Abigail menceritakan seluruh kejadian yang terjadi dikamar"Baik mbak berdua coba tenang dulu, saya akan menelepon polisi" ucap wanita itu dan segera pergi ke meja resepsionis dan menelepon.Sekitar 5 menit, Abigail dan Andrea diajak untuk masuk keruangan kecil oleh wanita itu dan disuruh menunggu disana sampai polisi datang, tapi tiba - tiba wanita itu mengunci ruangan tersebut."Mbak... mbak kenapa dikunci" Teriak AndreaAbigail masih terdiam dan tiba - tiba fikiran dia menjadi terang"Andrea hentikan, jangan berteriak, coba kamu fikir bagaimana pria tadi bisa masuk ke kamar kita tanpa wanita itu mengetahuinya" ucap Abigai"Jadi menurut kakak?" tanya Andrea"Mereka pasti bekerjasama" ucap Abigail gemetarTiba - tiba pintu terbuka, pria tadi dan wanita resepsionis itu masuk ke dalam ruangan"Maafkan kami, kami harus membunuh kalian, karena kalian tahu rahasia kami tenatang Ibu Dera" kata pria itu"IbuDera? kami tidak tahu apa apa kok"Ucap Abigail ketakutan"Tapi kalian sudah melilhat hantu Ibu Dera, dan kalian harus kami bunuh" ucap wanita itu"Apa yang terjadi pada Ibu Dera" ucap Andrea gemetar"Ibu Dera adalah pemilik hotel ini, karena hotel sangat sepip dia berencana memecat kami berdua, bahkan gaji dan pesangon kami tidak dia berikan, sedangkan kami saat itu membutuhkan uang untuk pernikahan kami, karena istri saya sudah hamil dan harus segera dilaksanakan" cerita pria itu"Lalu apa yang kalian perbuat kepada Ibu Dera""Kami membunuhnya dan mengambil semua hartanya termasuk hotel ini" ucap wanita itu tanpa ada perasaan bersalah"Kalian membunuhnya dimana?" Tanya Abigail"Di kamar yang kalian tiduri tadi, dan kami menguburnya didinding kamar itu juga" ucap pria tadi dengan dingin"Lalu apa yang kalian akan lakukan kepada kami" tanya AbigailSambil mendekati Abigail dan Andrea, pria itu mengeluarkan golok yang tajam "saya harus membunuh kalian malam ini juga"Tiba - tiba ada suara angin yang besar masuk kedalam ruangan, dan semua meja dan kursi di lobi berterbangan, enath apa yang membuat situasi menjadi seperti itu, tiba - tiba bayangan wanita itu muncul, semakin mendekat dan mendekatMelihat kondisi itu Pria tadi dan wanita itu sangat ketakutan dan lari keluar dari hotel tersebut, tiba - tiba kondisi ruangan kembali tenang, wanita itu hanya tersenyum dan akhirnya menghilang.Akhirnya Abigail dan Andrea selamat dan mengendarai mobilnya ke arah kantor polisi terdekat, dan sesampainya disana mereka menceritakan semua kejadian di hotel tersebut.Dan tidak memakan waktu lama untuk polisi menemukan Mang Dadang dan Teh Esih yang menjadi pelaku pembunuhan Bu Dera sang pemilik hotel, dan setelah di telusuri polisi pun menemukan mayat Bu Dera yang ada pada dinding kamar."Terimakasih ya Mbak Abigail dan Mbak Andrea sudah membantu kami mengungkap kasus ini" kata Pak Darman polisi disana"Iya pak sama - sama" ucap AbigailMereka pun kembali ke rumah dengan pengalaman yang tidak terlupakan, saat melintasi jalanan Pelabuhan Ratu, di pinggir kiri jalan mereka kembali melihat bayangan Ibu Dera yang tersenyum memandang jauh kepada mereka.

HOROR KAFE MONALISA
Horror
17 Dec 2025

HOROR KAFE MONALISA

Hari ini hari yang penting untuk Angela, karena dia akan merayakan hari jadinya yang ke satu tahun dengan Rendi, dan Angela akan memberikan Rendi kejutan dengan makan malam yang romantis untuk mereka berdua, untuk perayaan ini Angela harus bekerja keras sendiri, karena Rendi adalah tipe cowok yang cuek, dan tidak mungkin dia ingat untuk merayakan hari aniversary mereka."Halo Dela" sapa Angela"Iya Angel" jawab Della"Della kamu punya referensi gak, buat tempat dinner yang romantis buat aniversary aku sama Rendi, malam ini, tapi jangan yang terlalu ramai dan tempatnya simple aja tapi hangat" pinta Angela"Hmmm... kamu mau yang seperti itu, tapi tempatnya agak jauh dari sekolah kita" ucap Della"Dimana Del?" tanya Angela"Di ujung kota Angel, dekat dengan sekolah Mandiri, tapi tempatnya instgramable banget deh, nanti aku kasih lihat foto - fotonya ya" ucap DelaDan Angel sibuk melihat foto yang diberikan Dela"Oiya keren banget" fikir Angela, pasti hasil foto mereka berdua akan keren banget"Nama kafenya apa Del?" tanya Angela"Kafe Monalisa" ucap DelaDan selepas pulang sekolah hari itu Dela langsung menaiki mobilnya, dan menuju ke arah Kafe Monalisa, sayang sekali Dela tidak bisa ikut karena Dela ada ujian di tempat lesnyaPerjalanan cukup jauh saat ini sudah hampir setengah jam, Angela menyetir dan masih belum sampai ke arah tujuanTiba - tiba Angela melihat didepannya ada tempat Kafe yang dia tuju Kafe Monalisa.Angela memarkirkan mobilnya dan turun untuk ke dalam Kafe tersebutSaat Angela berada di dalam Kafe ada datu pelayan wanita mendekatinya"Selamat datang di Kafe Monalis, ada yang bisa saya bantu?""Oiya, nama saya Angela, saya ingin booking tempat dinner untuk nanti malam" jawab Angela"Oh tentu saja bisa mbak Angela, Nama saya Lisa, kira - kira apa konsep yang ingin mbak Angela buat?" Tanyanya"Saya ingin yang sesimple mungkin, tetapi saya tetap ingin ada kesan romantis, ada candle light dinner, ada nuansa gelap dan banyak lampu dekorasi" ucap Angela"Oh baik saya akan catat, makanannya apa saja ya Mbak?"Sambil melihat menu Angela memilih menu untuk dipesan"Untuk pembuka saya mau Sticky Rice Mango mbak dan main course saya mau steak dan french fries dan ditutp dengan ice cream banana split dengan toping coklat ya mbak Lisa?" ucap Angela"Oke, mbak Angela semua sudah saya catat, ada lagi yang bisa saya bantu?""Oiya, kalau bisa tempatnya agak jauh dari keramaian ya mbak, saya mau agak sedikit privacy""Baik mba, akan saya persiapkan semuanya dengan baik" ucapnyaAkhirnya Angela kembali pulang dan mempersiapkan hadiah kejutannya untuk Rendi"Halo Ren, kamu dimana?""Aku lagi main Futsal sayang sama teman - teman" jawab rendi"Jangan Lupa ya, nanti malam kamu harus anterin aku kondangan" pinta Angela"Iya sayang, sabar ya, masih nanti malam kan" jawab Rendi datarDan Angela sudah sampai di pusat perbelanjaan, Angela menuju ke counter Jam Tangan favorit Rendi, dia tahu Rendi sangat menginginkan jam tangan model terbaru dan dia akan menghadiahkan jam tangan tersebut malam ini kepada Rendi, setelah itu dia segera pulang kembali ke rumah.Dan sore ini Angela sudah sibuk dikamar memilih pakaian yang akan dikenakannya, hampir sepuluh stel baju sudah di coba tapi Angela masih belum bisa menentukan yang mana yang akan dia pakai.Tidak lama Angela menelepon Rendi lagi"Halo Sayang""Iya kenapa sayang" jawab Rendi"Aku boleh tahu kamu malam ini mau pakai baju apa?" tanya Angela manja"Hmmm apa ya sayang,, paling kemeja cokelat aku aja, mau kondangan kan ya?" tanya Rendi polos"Oh okey... sampai ketemu nanti ya sayang, bye..." ucap AngelaDan akhirnya Angela mantap untuk menggunakan dress coklat yang baru dibelinya minggu yang lalu, mereka pasti akan serasi, fikir AngelaDan pada pukul 7.00 malam ini Rendi sudah sampai dirumah Angela membawa mobil VW berwarna hitam miliknya, dan Angela turun dengan dress cokelat mini yang dipakainya, dan tidak lama mereka pamitan kepada mama Angela"Wow kamu cantik banget sayang" ucap Rendi"iya kamu juga Ganteng sayang" balas Angela"Oiya lokasi undangan dimana ya?" tanya Rendi"Kamu ikuti jalan besar ini dan lurus terus lokasinya di ujung perbatasan nanti" jawab AngelaJalanan sudah sangat gelap mereka ditemani sorot lampu jalanan saja yang menerangi jalan yang mereka lewati, aneh sekali jalanan sangat lengang hari ini, tidak ada satu pun mobil yang terlihat di jalan tersebut kecuali mobil mereka saja."Sayang masih jauh ya tempatnya?" tanya Rendi dengan agak bingung"Sebentar lagi sayang" itu didepan, ada Kafe Monalisa" jawab AngelaDan akhirnya Kafe Monalisa terlihat, dan Rendi memarkirkan mobilnya, dan mereka turun berdua, suasana Kafe sangat sepi, tidak ada yang parkir mobil di Kafe tersebut kecuali mereka berdua."Kok sepi banget ya Angel, acara kondangannya?" tanya Rendi"Iya Ren, gapapa mungkin yang lain belum datang saja" Jawab AngelaDan mereka berdua masuk ke dalam Kafe, yang banyak dipenuhi lilin - lilin tanpa cahaya lampu"Selamat datang, untuk Mas Rendi dan Mbak ANgela" ucap pelayan yang tadi pagi melayani Angela"Silahkan meja kalian sudah kami siapkan, mari ikuti saya" ucapnyaAngela berfikir, keren sekali mbaknya sangat tahu yang diinginkan ANgela, bahkan hari ini mereka hanya berdua di Kafe ini.Dan di meja pojok terlihat meja yang penuh hiasan taplak warna merah dengan lilin dekorasi yang sangat menarik."Happy Anniversary sayang" ucap Angela"Maksud kamu? kita gak pergi kondangan, tapi kamu siapin ini untuk kita" jawab Rendi merasa bersalah"Iya, aku tahu kamu pasti lupa, makanya aku yang siapin semua untuk kita" ucap Angela"Sayang, maafin aku, aku benar - benar lupa. kamu kenapa gak ingetin aku""Kalau aku bilang gak akan jadi kejutan dong" ucap Angela sambil tersenyum manis"Makasih ya sayang" ucap Rendi sambil mengecup kening AngelaDan mereka menikmati makan malam itu dengan suasana sangat romantis, dan Rendi menerima dengan senang hati hadiah jam tangan yang diberikan Angela.saat mereka sudah mau pulang dan menyelesaikan transaksi di kasir, sang pelayan mendekati Angela"Maaf mbak spesial hari ini, kalian dapat bonus photo booth, silahkan ikut dengan saya ke sana" ucapnya"Wah mbak, baik banget, kita dikasih bonus sayang" ucap Angela manjaDan mereka mendapatkan dua foto untuk kenang - kenangan Anniversary mereka hari itu.Dalam perjalanan pulang, Rendi merasa ada yang aneh, kenapa tadi tidak ada orang yang terlihat sama sekali, baik pengunjung dan mobil yang parkir, apakah Kafe tersebut memang jarang dikunjungi, padahal tempat dan makanannya sangat enak menurut RendiTiba - Tiba Angela teriak"Rendiiii"Rendi samapi menginjak remnya dengan kaget"Apa sih sayang kamu kagetin aku aja" ucap Rendi"Ini lho kamu lihat deh hasil foto booth kita tadi" ucap Angela dengan ekspresi ketakutanRendi melihat hasil foto tersebut dan dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnyaMereka berdua foto diatas kuburan dengan banyak nisan di belakang mereka, dan saat diawal sama sekali fotonya tidak terlihat seperti itu.Karena penasaran, Rendi memutar kembali mobilnya, dan menuju ke Kafe Monalisa tadiSaat sampai benar saja, ternyata tidak ada apapun disana, hanya sisa - sisa puing bekas kebakaran.Saat Rendi turun dan melihat - lihat kembali ke Kafe tersebut bersama Angela seolah mereka tidak oercaya bahwa mereka baru melewatkan hari jadi di Kafe ini tadi, tiba - tiba ada yg mencolek bahu Rendi"sedang apa kalian disini" tanya lelaki muda dengan kaus kuning dan celana cokelat"kami tadi baru dari kafe ini sekitar lima belas menit yang lalu" ucap Rendi"Maksudnya? kalian tadi ke Kafe Monalisa? itu sangat tidak mungkin karena seminggu yang lalu kafe ini terbakar bersama Lisa si pelayan yang tinggal menginap di Kafe ini karena lilin yang menyambar kain saat situasi mati lampu" ucap anak muda tadi"Anda siapa?" tanya Rendi"Saya petugas keamanan yang berjaga, dan saya baru kembali hari ini karena saya ada urusan keluarga" ucap lelaki itu "perkenalkan nama saya Tedi" ucapnya sambil memberikan tangannyaAkhirnya Angela dan Rendi menceritakan kejadian yang mereka alami dan memperlihatkan foto booth mereka kepada Tedi, dan anehnya wajah Lisa ada di pojok foto booth mereka."oh Tuhan, semoga Lisa mendapatkan ketenangan disana" ucap Tedi.Saat dalam perjalanan Angela dan Rendi hanya terdiam, mereka masih tidak percaya dengan kejadian yang mereka alami tadi."Happy Anniversary sayang" ucap Suara dibelakangdan Rendi hanya bisa menatap Angela dan Angela menatap Rendi dan mereka berdua melihat ke kaca spion....."Lisaaaaaaaaaaaa"

HOROR LORONG RUMAH SAKIT
Horror
17 Dec 2025

HOROR LORONG RUMAH SAKIT

Hari ini aku merasakan sakit di sekitar perutku, rasanya sangat sakit luar biasa, dan sepertinya aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang hampir membuatku pingsan, dan aku langsung maju ke depan kelas dan memberitahu Bu Dewi yang sedang mengajar di kelas, bahwa aku sangat tidak sehat hari ini."Bu Dewi, mohon maaf, perutku sangat sakit" ucapku dengan keringat yang mengalir deras"Kenapa Din? kamu terlihat sangat pucat" ucap Bu DewiDan segera Bu Dewi membawaku ke ruang UKS, dan disana aku bertemu Pak Mamat penjaga sekolah."Pak Mamat tolong antarkan Dini ke ruang UKS, dan biarkan dia istirahat disana dulu lalu saya akan menelepon orang tua Dini" ucap Bu Dewi"Baik Bu" Jawab Pak Mamat tegas"Halo dengan Ibu Mira?" ucap Bu Dewi"Iya betul" jawab Bu Mira diseberang telepon"Maaf bu, saya mau memberitahu bahwa Dini hari ini sakit disekolah, bisakah pihak keluarga ada yang menjemput Dini diruang sekolah" Ujar Bu Dewi dengan lembut"Oh, baik Bu guru, saya akan langsung ke sekolah" Ucap Bu Mira"Dini, kamu sangat pucat nak" ucap Ibu saat melihat kondisiku saat ini"Bu, aku gak kuat, perutku seperti ditusuk - tusuk mah" ucap Dini sambil menangis"Sabar ya, ibu akan membawa kamu ke rumah sakit terdekat" ucap IbuDan akhirnya aku meninggalkan sekolah, dan aku dengar ibu mulai memarkirkan mobil di duatu rumah sakit, dan disana aku lihat Rumah sakit dengan Gedung yang sangat tua, tidak jauh dari sekolah, nama rumah sakit itu Rumah Sakit Jaya Purnama.Setelah Ibu mengurus adminisitrasi Rumah sakit, ibu langsung membawa aku ke ruang UGD dan setelah aku diperiksa oleh Dokter aku dibawa dengan kursi roda ke arah lift, dan disana aku sudah tidak memiliki tenaga.Akhirnya aku masuk ke kamar perawatan intensif di lantai 3, dan aku dibaringkan di kamar yang berisi dua tempat tidur, dan hanya aku yang mengisi tempat tidur dikamar tidur itu sekarang.Ternyata setelah diperiksa sakit usus buntu, dan aku masih harus menjalani operasi di esok hari, dan ibu sama sekali tidak membawa persiapan bahwa aku harus menginap di rumah sakit."Din, Ibu sebentar pulang ke rumah ya, Ibu mau ambil baju ganti kamu dan peralatan lainnya" ucap Ibu"Iya bu" jawabkuDan akhirnya aku ditinggal sendirian di kamar ini, entah mengapa aku merasa tidak nyaman dengan rumah sakit ini.Sekitar jam 3 sore ibu sudah datang kembali ke rumah sakit, dengan tas koper besar penuh dengan baju dan makanan serta selimut, dan ibu juga membawa bantal kesayanganku, setelah melihat ada ibu, perasaanku sedikit tenang."Bu, aku baru lihat Rumah Sakit ini, padahal tiap hari aku ke sekolah aku tidak pernah lihat kalau ada rumah sakit" ucapku"Iya karena kamu tidak memperhatikan saja" jawab IbuDan akhirnya berganti malam, Ibu menelepon Bapak untuk langsung ke Rumah Sakit, tetapi Bapak hari ini ada urusan kantor yang tidak bisa di tinggal."Din, ibu khawatir Bapak tidak bisa menjaga kamu di Rumah sakit, sedangkan Andi di rumah sendirian" ucap Ibu terlihat gelisahAndi adalah adikku, dia memang masih berusia sepuluh tahun, dan sepertinya dia tidak akan bisa tanpa ibu ada di rumah"Tapi ini sudah malam bu, nanti aku bagaimana?" rengek ku"Kan ada suster Din, kamu harus berani ya kan kamu sudah besar" ucap ibu menenangkan kuAkhirnya aku ikhlaskan ibu untuk pulang"Tok... tok..." suara di depan pintuDan suster berperawakan gemuk masuk ke kamar ku, sambil membawa alat tensi dan jarum suntik"Ibu maaf besok pagi mulai puasa ya, karena sore besok Ibu harus Operasi" ucapnya"Baik sus" ucapku, dan setelah aku mendapatkan suntikan rasa sakit di perutku sedikit hilang"Oh iya, Mba gak ada yang jaga?" tanya susternya"Tidak sus, Ibu dan ayahku ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan" jawabku lemah"Oh begitu, baik kalau perlu apa - apa tinggal pencet tombolnya, aku akan datang" ucap Suster itu, ternyata suster itu cukup baik dan ramah.Aku menonton TV untuk membunuh kebosananku, dan aku hanya berbaring di tempat tidur.Tiba - tiba ak umelihat ada orang yan gmelihat ke arah kamarku dari jendela"Sus... suster" panggilkuTapi tiba - tiba pintu kamarku terbuka lebarSekali lagi aku panggil "Sus... suster"Tapi tidak ada jawaban sama sekali, Karena aku panik aku memencet tombol seperti yang di ucapkan suster tadi."Kenapa mba Dini?" saat Suster Ria menghampiriku"Tadi aku melihat ada orang dijendela sus, apakah itu suster Ria?" tanyaku"Oh bukan mbak, dari tadi saya menjaga di depan, belum sempat ke belakang ucap Suster Ria polos."Tapi tadi siapa ya sus? karena dia hanya memandang saya dari jendela, yang piket hari ini mungkin ada suster lain?" tanya Dini"Tidak mungkin mbak, karena sekarang hanya saya suster jaga disini" ucap suster Ria."Aneh" fikir Dini"ada lagi yang bisa saya bantu mbak?" tanya suster Ria"Tidak sus, terima kasih" jawabkuDan tidak lama aku mulai memejamkan mataku, aku berharap aku segera tertidur dan esok sudah pagi hari" fikirkuDan tiba - tiba aku mendengar suara itu lagi"Tok...Tok..." dan pintu terbuka lagi. akhirnya aku memberanikan diri untuk berdiri dan mendorong infus yang menempel di tubuhku, saat aku melihat keluar pintu, aku melihat lorong yang panjang bagiku untuk sampai ke petugas yang berjaga hari ini."Halooooooo..." ucapkuAku mulai berjalan di lorong itu, karena ku melihat ada bayangan orang di ujung lorong itu, tetapi dia tidak menjawab panggilanku."Suster..." panggilkuBayangan itu berjalan mendekatiku.... dan semakin dekat"Dini..." ucap bayangan itu setelah mendekat"Bapak..." jawabku lega"kamu ngapain keluar malam gini" tanya Bapak"Aku mendengar ada suara yang manggil aku pak, dan aku penasaran makanya aku keluar" jawabku"Ayu masuk lagi, Bapak bawa makanan untuk kamu" ucap BapakDan aku sangat lega ternyata malam itu ada Bapak yang menemaniku, dan sepertinya aku sangat lapar, sehingga aku memakan semua makanan yang bapak bawa apalagi nasi padang yang Bapak bawakan sangat enak sekali bumbunya dan Bapak hanya diam dan melihat aku makan.Aku tertidur sangat lelap, dan terbangun keesokan pagi, tidurku sangat lelapaku mencari Bapak, di ruangan tetapi sepertinya Bapk sedang keluar, dan aku coba untuk kekamar mandi karena aku ingin buang air kecil.saat aku keluar dari kamar mandi aku terkaget karena ternyata aku lihat ibu sedang membereskan ranjang kamarku."Ibu.... kapan datangnya?" tanyaku"Baru kok din, sebentar ibu rapihkan dulu ya ranjang kamu" jawab ibu"Ibu sudah ketemu Bapak tadi?" tanyaku"Bapak? maksudnya?" tanya Ibu"Iya semalam Bapak yang menemani Dini disini, Dini ketemu sama Bapak dilorong depan kamar dan Bapak bawakan makanan buat Dini" ucapku"Din, kamu pasti masih mimpi, ga mungkin Bapak kesini" ucap Ibu"Kok ga mungkin, bener kok bu" ucapku"Kemarin malam Bapak telepon Ibu, bilang kalau sekarang Bapak udah sampe Pekan baru untuk urusan proyek baru diperusahaannya" ucap Ibu"Tapi Bu, Bapak nemenin Dini kok" ucap aku tidak percayaDan Dini melihat diatas meja masih ada bungkusan nasi padang yang dimakan bersama Bapak kemarin."Ini Dini kalau gak Percaya, Bapak mau bicara" ucap Ibu sambil memberikan Handphonenya kepada Dini"Halo Dini, bagaimana kamu sudah baikan?" tanya Bapak"Pak. kemarin Dini ketemu Bapak di Rumah Sakit, dan Bapak kemarin temenin Dini sambil bawa makanan" ucapku"Bapak gak mungkin disana Din, orang semalem Bapak barusampe di Pekan Baru, Bapak telepon sama ibu, bilang gak bisa nengokin kamu dulu""Terus kemarin siapa yang dikamar Dini pak?" ucapku sambil menangis"Sudah jangan takut din, kamu jangan lupa berdoa, nanti Bapak suruh Ibu temenin kamu, nanti Andi biar dititip dirumah nenek dulu sampai kamu sembuh" jawab Bapak menenangkan kusaat aku berbicara dengan Bapak, aku lihat bayangan lorong itu melihat dari jendela luar ke arahku sambil tersenyum.__________________________________**********_______________________________

Eidelweiss
Romance
16 Dec 2025

Eidelweiss

Aku duduk sambil menatap monitor, mataku dengan sigap menelisik deretan nama disana mencari hal yang ditanyakan wanita paruh baya di depanku."Maaf, bu. Sudah saya periksa namun memang tidak ada." ucapku menjelaskan karena wanita di depan ini menanyakan seseorang yang informasinya ada di rumah sakit ini."Coba tolong periksa lagi," ia menjedanya sebentar "Ana.. Tolong saya. Informasi yang saya terima begitu"Aku tersenyum tipis karena wanita paruh baya ini memanggil namaku, tidak heran karena seluruh petugas disini menggunakan nametag "Mohon maaf, bu. Namun nama yang ibu sebutkan tidak terdaftar" Jelasku kembali untuk kesekian kalinya. Begini memang jika bekerja dibagian admin yang ada di rumah sakit.Sudah terhitung 3 tahun lamanya aku bekerja disini, rumah sakit yang ada di kotaku yang dapat dikatakan kota kecil, dan tidak heran jika ada pertanyaan yang ditemui beragam seperti pertanyaan wanita paruh baya itu yang menanyakan keberadaan anaknya namun tak satupun ku temui nama itu di catatan kami.Ku lihat wanita itu menghela nafasnya "Baiklah.. Terima kasih" sebelum ia melangkahkan kakinya.Aku kembali mendudukkan diri pada bangku, sebenarnya aku rindu pada seseorang.Seseorang yang telah berjanji untuk menunaikan niat baik kami. Aku percaya, kepergiannya untuk kebaikan kami.Dia yang selalu berkata "Sabar ya"Aku melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku sudah pukul setengah 4 sore itu artinya setengah jam lagi jam kerjaku akan segera berakhir dan aku bisa istirahat di rumah. Dan ini adalah hari sabtu, malam minggu.Ponselku berdering tanda sebuah pesan masuk, menghela nafas ternyata pesan dari provider bukan seseorang yang ku rindukan.Andrew, seorang pria yang berhasil mencuri hatiku. Menjalani kisah empat tahun lamanya lalu berjanji untuk menikahiku. Lebih tepatnya, kepergiannya untuk mencari pundi rupiah agar kami dapat bersatu.Sudah ku katakan kepergiannya untuk kebaikan kami bukan?Telah terhitung pula dua tahun kami menjalani komunikasi jarak jauh. Bahkan aku bekerja disinipun, untuk membantunya mencari uang agar kami dapat bersatu.Awalnya aku tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh, seperti kata kebanyakan orang. Long distance relationship hanyalah omong kosong belaka. Namun Ia selalu meyakinkanku dengan ucapannya "Kamu harus percaya"Atau ucapannya "Aku pergi untuk menunaikan janji kita bersama"Atau bahkan yang paling membekas diingatan "Aku pergi tidak dengan sebenar-benarnya. Aku akan kembali kepadamu"Namun sudah sepekan ini ia belum memberiku kabar. Sebenarnya, ia memang jarang memberiku kabar dalam waktu dekat ini tapi aku memakluminya, bagaimanapun ia pergi untuk bekerja. Aku memilih mempercayainya.Terlebih omongan tetangga yang selalu mengatakan tidak ada hubungan komunikasi jarak jauh yang berhasil, bahkan para tetangga sering membandingkan dengan kata-kata "Lihat tu si A, ternyata pacarnya selingkuh. Bilangnya pergi cari kerja tapi malah selingkuh"Yang paling sadisnya "Pacaran tidak pernah bertemu, barangkali hanya mainan"Juga jajaran para temanku selalu mengatakan "Tidak ada hubungan yang baik jika dia jarang memberimu kabar""Dia tidak memberimu kabar itu karena dia juga lagi sibuk sama perempuan lain" merupakan kata yang juga membuatku sedikit gelisah disini. Bagaimanapun kami sudah merencanakan pernikahan.Bukan aku tidak pernah mengutarakan itu pada kekasihku hanya saja ia selalu memiliki kalimat penenang untukku yang berakhir aku memilih kembali mempercayainya.Apakah aku sudah mengatakan bahwa aku begitu mencintai kekasihku itu? Yang anehnya belum memberiku kabar selama sepekan ini dan membuatku gelisah.Jam kerja telah usai, saatnya aku bergegas kembali kerumah. Aku langsung merebahkan tubuhku lalu melihat notifikasi pada ponsel yang sialnya untuk kesekian kalinya tidak ku dapati kabar darinya.Kalau dipikir-pikir hubungan ini melelahkan, juga rutinitas keseharianku yang melelahkan.Tak lama ponselku berdering menampilkan nama yang kutunggu sejak sepekan ini, senyumku terulas dengan mengatakan "Halo"" Halo.. Sudah pulang kerja, sayang?" tanya suara di seberang yang kudengar masih sama.Aku mengangguk seolah lupa yang tengah berbicara tak bisa melihat itu dengan cepat aku mengatakan "Sudah, sayang. Kamu sedang apa?"" Aku.." ia menjeda suaranya, sayup-sayup terdengar suara seperti seorang perempuan. Tapi siapa? Andrew tengah berbicara dengan siapa"Sayang" panggilku namun belum kudapati jawaban dari seberang, seketika hening. Ku tarik ponsel dari telinga untuk memeriksa ternyata panggilannya masih terhubung." Sayang, nanti aku hubungi lagi ya" ucapnya kemudian setelah hening dan memutus panggilan tanpa respon dariku.Aku menghembuskan nafas lelah.Begini, sudah dua bulan belakangan ini dia begitu. Meskipun sedari dulu ia memang tidak pernah romantis terhadapku.Jika pacar kalian datang dengan membawa bunga atau coklat, jangan ditanya, Andrew tidak akan pernah membawakan itu padaku.Jika pacar kalian mengajak kalian diner romantis, dengan berat hati aku tertawa miris. Andrew sama sekali tidak pernah membawaku terbang seperti kalian.Tapi itu sisi romantisnya. Aku menyukai sikapnya yang begitu.Menggelengkan kepala menepiskan segala pemikiran buruk yang terlintas di kepala, dengan merapalkan kalimat "Aku cinta Andrew, ia bekerja"Dahulu aku juga pernah malam minggu bersama Andrew, malam minggu yang berjalan biasa saja. Hanya sekedar berbincang bersama.------Hari ini kembali seperti rutinitas biasa, bekerja. Aku berangkat menggunakan sepeda motor yang telah ku parkirkan. Hari ini aku sengaja datang lebih awal, karena ingin sarapan dulu di dekat rumah sakit karena tidak ingin sarapan di rumah.Aku memilih memakan sarapan di pedagang kaki lima di sekitar rumah sakit, duduk sembari menunggu pesananku datang. Seorang pria, bernama Jason duduk di seberangku. Pria ini memerhatikanku yang ku balas dengan senyuman."Belum sarapan juga, Ana?""Belum, pak" jawabku"Panggil Jason saja kita tidak sedang bekerja" balasnya dengan cepat yang hanya ku angguki. Jason adalah seorang dokter bedah yang belakangan ini mendekatiku, bukan aku baper. Dan aku bukan tidak tahu bahwa Jason sebenarnya menyukaiku namun aku memilih untuk menutup mata karena sudah bersama Andrew."Sepulang kerja ingin berkeliling kota?" tanya lagi dan seperti biasa maka aku menjawab"Maaf, mungkin lain kali ya" tolakku halus dan untuk kesekian kalinya ia hanya mengangguk dan tersenyum lalu kami hanya diam.Tak sengaja aku menatap sepasang remaja yang begitu romantis. Melihatnya aku jadi ingin, Andrew cepat pulang aku ingin seperti mereka.Ah aku jadi ingat, dulu aku pernah makan bersama Andrew berharap kami melakukan hal romantis seperti pasangan lainnya namun untuk kesekian kalinya aku hanya tertawa miris. Mustahil.Kata orang, perut kenyang hatipun senang tapi tidak denganku karena setelah sambungan telepon terputus kemarin hingga kini Andrew belum juga menghubungiku.Ditambah dengan adanya suara perempuan disana, apa yang sedang terjadi?Aku berjalan ke tempat dimana aku bekerja, melakukan hal yang seharusnya ku lakukan."Kusut banget tuh muka" ucap Tiara rekan kerjaku seraya menekuni ponselnyaAku tertawa rasanya ingin menjemput Andrew pulang. Rinduku belum tertuntaskan. Bahkan aku sudah berusaha menghubunginya namun belum ada jawaban."An.. Kamu sudah putus ya?"Aku menoleh "Maksudnya?""Andrew. Ini... Andrewkan, pacar kamu?" ucap Tiara sembari memperlihatkan ponselnya padakuAku mengernyitkan dahi melihat itu, mengerjabkan mata. Tak sadar mataku sudah berkaca-kaca. Apa maksudnya?Foto yang memperlihatkan Andrew berkumpul dengan teman-temannya, iya tidak ada yang salah. Lalu apa maksudnya Andrew duduk bersama seorang perempuan dengan saling merangkul.Memilih tak menjawab Tiara, aku menoleh pada ponselku yang terlihat sepi dan aman tak ada ku dapati satupun pesan dari Andrew.Pantas saja.Beberapa waktu ini ia tidak memerhatikanku, tidak memberiku kabar atau sekedar berbincang.Faktanya ia sedang asik dengan dunianya.Lagi, aku tertawa miris menertawakan suatu kebodohan yang sepertinya harus segera ku akhiri.Aku berjuang melawan segala perkataan orang lain, tanggapan miring tentangnya. Namun disana? Ia bermesraan bersama wanita lain.Inikah balasan yang setimpal akan kesetiaanku padanya?"Kamu tidak apa-apa?" tanya Tiara lagi yang ku balas dengan gelengan kepala dan senyum tulusku.I'm not okay but i'm to be okay.Segera ku ambil ponselku, membuka media sosial mencari fotonya dengan wanita yang tidak ku ketahui siapa namanya. Menutup segala akses agar ia tak bisa menghubungiku.Yang sebelumnya ku kirim pesan dengan kalimat perpisahan dan juga alasan berakhirnya hubungan kami.Dan satu fakta yang seolah menamparku, aku sama sekali tidak mengetahui apa pekerjaannya disana. Jangan salahkan aku karena tidak bertanya itu karena keengganan ia menceritakan pekerjaannya disana.Ia hanya selalu mengatakan "Jangan khawatir pekerjaanku baik-baik saja". Ternyata jarak kami sejauh itu.Aku menyerah."Ana.. Apa kabar?" ucap suara lembut yang mengalun merdu di telingaku menarikku dari daya ingatan."Eh, ibu. Sedang apa?" tanyaku terkejut melihat sosok ibu dari seorang yang kucintai, Ibu Andrew.Ia tersenyum "Baru kembali jenguk teman, Ana bagaimana kabarnya?"Aku kembali melukiskan senyum "Sehat, bu. Ibu juga sehatkan?" tanyaku yang dibalas anggukan dan senyuman tulusnya."Sudah lama tidak main kerumah ya. Nanti kerumah ya? Ibu masakin makanan kesukaan kamu. Kemungkinan Andrew lusa pulangkan"Aku tersenyum "Ana tidak janji ya, bu. Ana usahakan karena sedang banyak pekerjaan" Dan bahkan aku sendiri tidak yakin akan sudi datang kerumah itu terlebih bertemu dengan Andrew. Ia menghianatiku bu. Tentu saja itu hanya mampu ku sebutkan dalam hatiku.Setelah itu ibu Andrew pamit kembali dan aku dengan senang hati mempersilahkannya, karena jika tidak aku takut lepas kendali dan mengatakan sesuatu yang buruk padanya akibat prilaku anaknya yang berkilah bekerja sembari menghianatiku.-----Selepas keputusanku untuk menyerah pada hubungan kami aku tidak baik-baik saja. Tentu saja aku bersedih, hubungan yang telah kami jalani harus berakhir dengan adanya pihak ketiga.Kabar yang disampaikan ibu Andrew benar adanya, ia kembali.Bahkan saat itu ia tidak memberikanku kabar akan kembali. Ia memang mengunjungiku tapi aku melakukan segala penolakan untuk bertemu dengannya.Aku belum siap. Nyatanya hatiku masih selalu memihaknya.Pintu kamarku diketuk menampilkan sosok yang teramat ku cintai masuk"Bagaimana pekerjaan kamu?" tanya ibuku"Baik, bu"Ku lihat ibuku tampak mengatakan sesuatu namun ragu "Katakan saja, bu""Andrew sudah pulang" ucap ibu membuka percakapan kami dan langsung ku angguki"Tadi dia kesini, ingin bertemu dengan kamu. Katanya ada yang ingin di jelaskan padamu"Aku tahu apa yang ingin di jelaskan olehnya tapi rasanya hatiku sakit, aku sudah terlalu dalam mencintainya tapi ia..."Dia menghianati Ana, bu" cicitku pada ibuku lalu memeluknya bahkan tak sadar aku menangis di pelukan ibuku.Ini sangat menyesakkan dan aku tidak menyukai perasaan ini."Sudah meminta penjelasan padanya?" tanya ibuku sambil merenggangkan pelukan kami. Aku menggelengkan kepalaku dan ibu membantuku mengusap lelehan air mataku."Cobalah temui Andrew besok dan meminta penjelasan padanya" saran ibuku.Haruskah?"Tiana anak ibu yang bijak, kan?" tanya ibuku tampak tersenyum "Ibu ingat dulu semasa kecil teman kamu pernah berebut mainan lalu kamu menengahi mereka agar tidak bertengkar dengan memberikan solusi menggabungkan mainan bersama dan main bersama" ibu menjedanya dan menatap ke arahku "Ibu yakin kamu bisa mengambil keputusan yang lebih bijak." tambahnya lalu meninggalkanku sendirian di kamar.Benar-benar sendirian, hanya berteman dengan luka yang menganga ini. Aku mencintai pria itu namun kenapa seperti ini?Tapi apa itu artinya ibuku menyuruhku menemuinya dan menyadari keputusanku itu juga salah. Aku memang belum mendengar penjelasannya, aku akui itu.Tak sengaja mataku menangkap bunga pemberiannya padaku semasa dulu awal ia mendaki gunung bersama teman-temannya, mungkin di awal masa pacaran kami.Bunga Eidelweiss.Pria itu selepas pulang langsung menemuiku hanya untuk memberikan bunga itu, ia berucap "Kamu tahukan bunga ini?""Eidelweiss, orang juga menyebutnya bunga Abadi, kan?" balaskuIa mengangguk dan tersenyum "Aku hanya berharap semoga cinta kita tetap abadi. Aku pamit pulang ya"Sialan kamu Andrew! Bisa-bisanya aku tetap memikirkanmu disaat luka yang kamu torehkan ini belum terselesaikan.----Tidak dapat dipungkiri percakapanku dengan ibuku sangat mempengaruhi pikiranku.Aku memang harus mendengarkan penjelasan Andrew terlebih dahulu sebelum memutuskan segala sesuatunya agar tidak menimbulkan penyesalan di akhir nanti, juga sepertinya aku juga masih terlalu dalam mencintainyanya.Atas dasar itu, kini aku telah duduk di teras rumahku bersamanya, Andrew yang baru saja kusuguhkan teh bahkan cangkir itu masih mengeluarkan kepulan asap. Udara malam ini cukup dingin, sepertinya akan segera hujan padahal waktu masih menunjukkan pukul 7 malam."Sayang" panggilnya membuka percakapan yang memang sudah 30 menit terdiam. Pangilannya masih sama, masih juga membuat hatiku bergetar."Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" aku menjedanya "Aku tidak punya banyak wak..""Kamu salah paham." potongnya dengan cepatAku langsung menoleh ke arahnya, salah paham kalau dia tidak hanya merangkul wanita lain, begitukah maksudnya."Yang pertama, aku ingin memberimu kejutan makanya tidak menghubungi kepulanganku. Dan aku tidak memiliki hubungan apapun dan dengan siapapun. Hanya kamu" jelasnyaAku berdecih "Lalu? Kamu mau mengatakan kalau kamu tidak sengaja bertemu perempuan itu begitu"Tatapannya melembut ke arahku "Dengarkan dahulu, setelah itu kamu boleh memutuskannya""Jadi maksud kamu memang ingin mengakhiri ini semuakan?"Ia menggeleng dengan cepat "Tidak begitu, aku hanya ingin menjelaskannya dulu. Kamu salah paham.""Aku minta maaf, mungkin belakangan ini kita kurang berkomunikasi" tambahnya"Sudahlah, Ndrew. Aku bahkan tidak mengetahui calon suamiku disana bekerja apa"Ia memegang tanganku yang segera ku tepis, ia menghela nafasnya sebelum bercerita "Jadi sebenarnya disana aku bekerja sebagai supervisor di sebuah gudang pemasaran produk kosmetik yang cukup ternama. Aku tidak mengatakannya padamu karena aku takut kamu semakin salah paham, aku tahu kamu adalah wanita pencemburu." ia menatap ke arahku yang ku balas menatap ke arahnya.Iya tepat sekali itu, aku cemburu. Tapi tetap saja siapa perempuan yang dirangkul itu?"Aku tahu, sekarang bukan itu pertanyaanmu. Mengenai perempuan itu, ia salah satu karyawan disana juga yang tidak sengaja baru putus dari pacarnya dan berencana akan bunuh diri. Jadi kami menolongnya. Bahkan kamu mungkin pernah mendengar suaranya saat aku menghubungimu, itu karena ada kendala di pekerjaan."Aku tertawa remeh, itu jelas sekali berbohong "Andrew, kalian sedang berkumpul disalah satu tempat makan. Lalu kamu merangkul wanita itu, apa aku harus percaya?" balasku tak mau kalahIa menggeleng "Benar kami berkumpul. Tepat saat itu ia ingin bunuh diri. Sebagai rekan kerja, apakah aku akan membiarkannya mati begitu saja?""Tetap saja. Aku..." aku kehabisa kata-kata, karena jauh dalam lubuk hatiku berteriak ingin kembali kepelukannya tapi aku cemburu."Komunikasi kita memang buruk belakangan ini tapi itu murni karena pekerjaan dan kendala disana. Bukan karena wanita lain." ia menggamit tanganku namun kali ini tidakku tolak dengan tatapan memohon ia melanjutkan ucapannya"Beri aku kesempatan ya"Tentu saja. Tapi, mungkin sedikit memberinya pelajaran boleh juga."Aku akan memberimu kesempatan dengan satu syarat" ucapku dengan menyeringaiIa mengerutkan glabelnya "Apa?" tanyanyaAku menahan tawa melihat ekspresinya "Buatkan 1000 candi dalam satu malam" pintaku"Hah?" ia melongo di tempat sebelum berucap " Imposible . Kamu pikir aku Bandung Bondowoso?"Lagi, aku menahan tawa saat ia menyebutkan karakter laki-laki di dalam dongeng roro jonggrang.Aku mengangkat bahu acuh "Ya sudah, kalau kamu tidak ingin kuberi kesempatan"Ia tampak gelagapan "1000 candi?" tanyanya dan aku mengangguk."Dalam semalam?" tanyanya lagi dan aku menganggukBahunya yang tegap menjadi lemas, ya ampun lucu sekali dia. Kira-kira apa yang akan dia lakukan ya? Ah aku tidak sabar."Besok pagi sebelum aku berangkat bekerja kamu sudah harus sampai disini. Siap?"Ia menghela nafas "Kalau tidak bisa bagaimana?" ah ternyara Andrew belum patah semangat, ia ingin bernegosiasi ternyata. Tidak akan kubiarkan. Biarkan saja ia kelimpungan memikirkan itu, lagipula itu hukuman untuknya."Aku akan memikirkannya besok" tutupku pada akhirnya dan ku lihat ia mengangguk lalu mengusap puncak kepalaku"Baiklah. Aku pamit pulang" ucapnya melangkahkan kaki lalu kembali berjalan ke arahku lalu berkata "Tapi buka dulu blokirnya ya, Sayang" dan ku balas dengan dengkusan.Apa yang akan dilakukannya besok ya? Membayangkannya saja sudah membuatku tertawaSeperti ucapanku tadi malam, Andrew benar-benar datang di pagi hari sebelum aku berangkat bekerja.Tapi ada yang aneh, wajahnya kenapa cerah sekali?Tersenyum dengan sumringah menghampiriku dan berkata " I'm coming kesempatan!" sapanya kelewat bahagiaMau tidak mau senyum itu menular padaku "Pede sekali" cibirku"Tentu saja. Ini yang kamu mintakan, Sayang" ucapnya dengan menekankan kata sayang dan menunjukkan maha karyanya yang membuatku seketika terbahak.Kalian tahu apa? Ia menggambarkanku gambar seribu candi di dalam sebuah kertas berukuran jumbo."Coba kamu hitung, pasti ada seribu." ucapnya dengan menaik turunkan alisnya "Beruntungnya aku memahami kalimat perintahmu 'buatkan', makanya aku membuat gambar coba kalau kamu bilang bangunkan bakalan ribet dong" tambahnyaDan membuatku tidak habis pikir dan terus tertawa, aku bahkan tidak seserius itu menyuruhnya. Hanya ingin mengerjainya. Andrew diluar ekspektasiku!"Lalu kita jadi menikahkan, sayang?"Aku tertawa lalu mengangguk "Tapi antarkan aku kerja dulu ya" pintaku lagi dan ia langsung berlari ke arah motornya dan memakaikan kepalaku dengan helm.Ah.. Aku sungguh begitu teramat mencintainya pria ini.End

Complicated Love
Romance
16 Dec 2025

Complicated Love

Ibukota masih saja setia dengan padatnya kendaraan. Sahutan klakson kendaraan turut menemani sinar mentari pagi menjelang siang ini.Sesekali suara pengendara umum terdengar berteriak untuk memanggil penumpang. Sesekali juga terdengar tawa pejalan kaki.Hari yang indah. Tapi tidak denganku, kakiku bergerak gelisah dibawah sana sesekali mataku melirik arloji."Pak, bisa cepat sedikit tidak?" ucapku pada supir taksi yang ku tumpangi."Maaf mbak, ini sudah cepat tapi jalanan macet"Aku terus saja menggerutu dalam hati, apakah ini adalah akhir dari kisahku dengannya?Mataku menelisik sekali lagi pada surat dan arloji di tangan. Tidak akan ku biarkan dia meninggalkan ku begitu saja. Tidakkah dia tahu aku begitu teramat mencintainya?Menghembuskan nafas dengan segala pertimbangan, aku mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar tagihan argo pada taksi dan segera meninggalkan taksi itu.Aku mempercepat langkahku agar segera sampai pada tempat yang ku tuju.Hingga aku tiba di depan gerbang rumah bernuansa klasik itu"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya..."Kakiku melemas, telingaku berdenging tak kuasa mendengar suara itu. Lekaki yang begitu teramat ku cintai meninggalkanku?Aku terduduk di halaman itu, tak sadar air mataku menetes tanpa bisa di cegah. Meremas surat yang ia berikan berisi surat perpisahan"Kamu penipu, Arlan" lirihku.Ini adalah akhir dari kisah yang sudah kita bangun Arlan, kamu menghancurkan itu.Ya, hari ini adalah hari pernikahan Arlan dengan wanita yang ku tahu adalah pacarnya itu. Jangan salah sangka, aku adalah pacarnya juga. Maksudku, pacar dalam arti sebenar-benarnya.Ia dengan wanita itu yang ku ketahui bernama Mela, dengan nama panjang Melati merupakan wanita yang sengaja di kenalkan oleh orang tuanya.Dan aku? Tentu saja aku adalah wanita yang dicintainya. Ah.. Masih bolehkah aku berkata sombong setelah ditinggalkan olehnya?Rasanya aku ingin tertawa sekaligus menangis."Mbak, jangan duduk disitu. Ayo masuk saja"Intrupsi suara asing yang mengganggu drama sedihku ini. Aku mendongak, sejenak mata kami bertemu.Gilaa... Tampan sekali.Aku segera menggelengkan kepalaku, tetap saja aku cintanya dengan Arlan.Ia mengulurkan tangannya padaku "Ayo, mbak. Saya bantu. Mau masuk tidak? Ada beberapa makanan."Tunggu, dia kira aku ini pengemis apa?"Hari ini keluarga kami sedang berbahagia. Adik saya menikah dengan..."Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya aku segera bangkit, menatapnya dengan nyalang tak lupa menyeka air mata dan hidungku sebab menangisi pria tak tahu malu itu.Aku membalikkan badan tanpa menghiraukan panggilan pria itu dan meninggalkan rumah itu dengan menaiki taksi yang kebetulan berhenti menurunkan seorang wanita.4 tahun kemudian"Dil, dipanggil pak bos tu" seru teman satu divisiku, dengan wajahnya yang cantik tapi mulut lambe turahnya."Ngapain?""Tau dah. Naksir mungkin"Nahkan.. Begitu, selalu begitu. Rautnya tampak tidak suka padaku.Aku segera berlalu menuju ke ruang pak bos, dia ini sungguh tampan. Ah.. Lucu sekali pertemuanku dengannya.Saat itu, aku melamar kerja di salah satu perusahaan. Dan aku nyaris terkena serangan jantung karena yang menginterview ku adalah pria yang saat itu pernah menghentikan drama tangisku ditinggal Arlan. Nuga.Mimpi terburukku.Aku segera mengetuk pintu ruangan itu sebanyak 3 kali, tidak jangan berpikir anjuran agama. Tapi ini perintahnya, jika tidak ada intrupsi maka harus balik kanan. Sama seperti ini tidak ada sahutan, aku memutar tumit kakiku tapi pintu itu terbuka menampilkan pak bosku yang super tampan."Masuklah..." aku bergidik. Pasalnya jika suara ia lembut begini aku takut. Takut diberi proyek yang letaknya jauh dan mengharuskanku ke luar kota hingga berhari-hari.Tapi biarlah.. Aku akan mengerjakan 1 proyek lagi sebelum pengunduran diriku.Ya sudah 3 tahun aku bekerja di perusahaan ini, bagiku bekerja disini adalah pelarianku untuk melupakan rasa sakit hatiku.Nyatanya, hatiku terlalu ringkih untuk dipulihkan. Setelah ditinggalkan olehnya bukan membencinya melainkan semakin mencintainya. Aku berani bertaruh mereka pasti sudah bahagia dengan buah hatinya.Ibuku selalu bersikeukeh untuk aku segera menikah, tentu saja usia 27 tahunku sudah cukup matang untuk menikah. Ia juga menyuruhku untuk berhenti bekerja dan mengikuti aturannya dengan pergi kencan buta dengan salah satu anak dari sahabatnya.Kalau sudah begitu, aku bisa apa? Lagipula aku tidak punya kandidat yang tepat untuk di bawa pulang. Jadi ku pikir tidak ada salahnya mengikuti perintah kanjeng ratu.Sebelum ia mengatakan apapun, dengan sigap aku mengeluarkan amplop putih surat pengunduran diriku padanya.Kulihat ia menaikkan alisnya, "Saya ingin mengundurkan diri, pak" ujarku"Saya memanggil kamu bukan untuk itu. Saya in...""Iya saya akan mengerjakan proyek itu sebelum mengundurkan diri, tentu saja, pak""Bisa jangan di potong?"Aku mengangguk cepat, dia menghela nafas dengan berat. Lalu menumpukan tangannya di atas meja kerjanya."Begini, adik saya baru saja kembali dari Jepang tetapi tidak ada yang menjemputnya. Karena Suaminya tidak bisa ikut pulang dengannya dan saya juga sedang ada rapat penting besok. Bisa kamu menjemputnya?" jelasnya padakuApa maksud dari perkataannya, tidakkah dia tahu bahwa adiknya adalah penyebab perpisahanku dengan Arlan juga drama tangisku di halaman rumahnya saat itu?Ah sekelibat ide muncul, bagaimana jika aku rusak saja wajah cantik adiknya itu dengan kuku indahku ini?Tidak, aku tidak sejahat itu.Tapi tetap saja, aku tidak sudi menjemputnya."Maaf, pak Nuga yang terhormat. Bukankah bapak orang kaya yang bisa saja menyuruh supir untuk menjemputnya." ucapku dengan nada kesal."Saya permisi. Dan ini surat pengunduran diri saya" lanjutku seraya mendorong amplop putih itu.------Sudah seminggu ini kerjaanku hanya rebahan dan maraton drama korea ataupun drama thailand.Sudah seminggu pula, aku berhenti bekerja. Ibuku masih tetap sama, mengingatkan kandidat untuk dinikahin.Akukan wanita? Kenapa harus sibuk mencari.Pintu kamarku diketuk lalu ibuku masuk duduk di pinggir ranjangku"Ingatkan nanti siang ke Rumah Sakit untuk menemui Bian, kan?"Aku menghela nafas sejenak sebelum mengangguk "Bian pria tampan juga baik.. Kamu pasti menyukainya. Ibu juga sudah menyiapkan makanan untuknya, nanti sekalian kamu bawa ya. Malam itu melihat kalian berdua ibu rasa kalian cocok"Aku mengangguk merasa pasrah tak memiliki kalimat pembelaan yang tepat untuk diriku sendiri.Aku memang sudah pernah bertemu dengannya, lebih tepatnya tiga hari yang lalu ia datang menyambangi rumah kami mengantarkan makanan yang katanya masakan ibunya dan berbincang sedikit.Namanya Arbian, pria itu berprofesi sebagai dokter. Yang ku ketahui ia seorang dokter bedah. Orangnya cukup tampan, sopan dan juga supel. Tapi entahlah, ia belum mampu menggetarkan hatiku. Masih tetap Arlan di hati.Dengan begitu aku segera bangkit bersiap untuk menuju rumah sakit menemui Bian.Aku berjalan menelusuri koridor rumah sakit sambil menenteng paper bag berisikan makanan. Aku sudah memberitahu Bian bahwa aku akan mengunjunginya, ya sedikit seperti pacar yang membawakan makan siang. Ia mengatakan bahwa ia sedang ada pasien untuk dibedah, uhh mendengarnya saja aku bergidik. Dan ia menyuruhku menunggu di dalam ruang kerjanya.Tapi kurasa aku perlu ke kantin untuk membeli minuman untuk melegakan kerongkonganku yang terasa gatal.Tapi saat aku tiba disana, langkahku terhenti sistem saraf kerjaku melambat melihat sosok yang sedang duduk disana yang kini juga menatapku.Tuhan... Ada apa lagi ini? Setelah sekian lama aku menghindarinya haruskah aku bertemu kembali.Bagaimana hati ini bisa move on. Pria itu, Arlan. Sosok pria yang sampai saat ini masih kucintai, kini ia semakin tampan mengenakan jas snelinya.Ah.. Apakah itu artinya cita-citanya tercapai? Aku turut senang.Tampaknya ia bersungguh-sungguh saat mengucapkan ingin menjadi dokter. Akan tetapi dokter apa?Melihatnya bangkit dari kursi dan berjalan ke arahku semakin membuat degub jantungku semakin kencang. Ia masih sama, bahkan lebih tampan.Tunggu.. Jika ia berjalan ke arahku harusnya aku menghindarkan? Tapi terlambat ia sudah terlebih dahulu mencekal pergelangan tanganku seraya berkata "Kita perlu bicara" dan menarikku pergi meninggalkan kantin rumah sakit.Kini disini, aku duduk di dalam ruang kerjanya. Sudah 20 menit kami diam tanpa suara, hanya dentingan jam yang terdengar ataupun orang yang berlalu lalang di luar sana."Dila, aku merindukanmu"Aku tertawa singkat "Omong kosong apalagi ini, Arlan?"Raut wajah Arlan sulit dijabarkan, ia menatapku dengan tatapan yang akupun tak mengerti. Seolah-olah akulah yang salah disini."Harusnya itu yang aku tanyakan padamu 4 tahun yang lalu, Dila."Aku tertawa singkat seraya menggelengkan kepala, "Sudahlah, Arlan. Aku ada janji""Tunggu.. Aku belum selesai""Tapi aku sudah selesai" Arlan melihatku menenteng paper bag dan mulai menggapainya dari tanganku."Untuk siapa?" tanyanya namun aku diam tak menjawab"Erdila Novia, untuk siapa?" tanyanya lagi. Kini aku takut dengannya, syarat akan kekesalannya jika memanggil nama lengkapku."Bian" lirihku"Apa kamu mencintainya?"Kenapa ia harus bertanya seperti itu. Apa kalimat yang tepat untuk jawaban pertanyaannya. Sadarlah Dilla, ia sudah menikah."Ya, aku mencintainya" jawaban itu meluncur begitu saja.Ku lihat ia mengumpat tertahan, entahlah.. Bukankah ia sudah memiliki istri mengapa begitu."Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanyanyaAku diam. Aku bahkan masih begitu teramat mencintainya, tapi mana mungkin aku tega menghancurkan istana orang lain demi kebahagaiaan ku."Sudahlah, Arlan" putusku pada akhirnya.Diluar dugaan, ia bangkit menepiskan berkas pada meja kerjanya kemudian ia mengangkatku lalu mendudukkanku di atas meja kerjanya.Tangannya menahan tanganku dengan tubuhnya berada di antara kakiku. Ia menciumku, melumatnya hingga menggigit bibirku terasa kasar dan tergesa-gesa isyarat penuh kerinduan.Sebisa mungkin aku menghindar yang pada akhirnya itu terasa sia-sia. Faktanya, hatiku kembali luluh pada euforia kebahagian kami dahulu. Kilasan-kilasan balik momen kami terasa berputar memenuhi isi kepalaku.Betapa bahagianya aku saat itu, sebelum surat itu sampai mengatakan bahwa ia pergi meninggalkanku dengan wanita lain.Ia melepaskan pagutannya, menyatukan keningku dengan keningnya seraya berbisik yang membuat kulitku meremang"Kamu masih mencintaiku, begitu sangat mencintaiku, Dilla. Kamu tidak bisa menipuku."Aku hanya diam menikmati hal yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya. Setelah ini aku akan pergi dan melupakannya."Lihatlah, aku kini sudah menjadi dokter spesialis jantung seperti keingininanmu, bukan?" ia menghela nafasnyaAku tertegun, ia masih mengingat itu. Ya saat ayahku sakit aku memang mengutarakan nya untuk mengambil spesialis jantung agar ia bisa menangani ayahku nantinya."Aku tidak mengerti mengapa kamu menghindariku, aku sudah kembali dan tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku hanya pergi untuk pendidikan ini, Dilla. Aku sungguh mencintaimu."Tunggu apa katanya? Ia masih tidak ingin mengakui kesalahannya.Aku mendorong tubuhnya, menegakkan badanku dan tak lupa dengan tatapan nyalang. Tanganku meraih paper bag kemudian meninggalkan ruangan itu sebelum berkata "Sudah cukup, Arlan. Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu lagi"Aku menutup pintu ruangan Arlan dan membalikkan badan berniat pergi sebelum sebuah suara masuk ke indra pendengaranku"Dila.. Sudah lama? Tapi Itu bukan ruanganku""Eh.. Aku"Ya, Bian ada di belakangku memandangku dengan raut bingung"Salah ruangan ya.. Yasudah ayo" ajaknya seraya meraih tanganku untuk digenggam. Terlihat dari sudut mataku, Arlan melihat kami.Biarlah mungkin ini lebih baik."Bian, aku membawa makanan untukmu. Sudah laparkan?" tanyaku-------Saat ini aku sedang menunggu Bian di taman, memandang sepasang cincin yang melingkari jariku.Aku menghela nafas, semoga memang ini yang terbaik. Sudah terhitung sebulan berlalu sejak kejadian aku bertemu Arlan kembali, malamnya Bian melamarku yang lebih tepatnya masih hanya kami berdua yang tahu. Setidaknya ia berniat serius padaku.Awalnya aku ingin menjawab tidak namun terlintas wajah Arlan disertai ucapan janji suci pernikahannya beberapa tahun yang lalu, aku membencinya sekaligus mencintainya.Jujur saja, saat ini aku bimbang harus melakukan apa dan bagaimana."Cincin yang bagus" celetuk suara disampingku yang membuatku menoleh."Arlan.." lirihkuIa mengangguk lalu duduk disampingku tanpa dipinta, ia menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya dengan kasar.Apakah ia sedang banyak pekerjaan? Atau ia bertengkar dengan istrinya.Kalau bukan, lalu apa yang menganggu pikirannya sehingga wajahnya tampak kalut."Aku pikir kamu bohong saat itu" aku kembali menatapnya tak mengerti"Saat mengatakan sudah tidak mencintaku lagi, maaf aku menciummu tanpa izin tapi melihatmu menggunakan cincin itu, aku sadar. Kamu sudah tidak mencintaiku lagi" jelasnyaKamu salah Arlan, aku bahkan ingin sekali rasanya berteriak mengatakan pada dunia kalau aku masih terlalu mencintaimu. Tapi kita tidak bisa begini, Aku tidak sejahat itu hingga merusak rumah tanggamu bersama Mela."Tidak apa-apa" hanya itu yang mampu ku katakan."Tapi sebelum itu, boleh aku bertanya?"Aku mengerutkan glabelaku, tapi juga mengangguk. Aku rasa ini adalah akhir sebelum aku benar-benar melepaskannya."4 tahun yang lalu. Kamu kemana? Kenapa menghindariku"Aku tertawa sumbang mendengar itu "Arlan, tidakkah kamu ingat kamu mengirim surat perpisahan untukku? Kamu meninggalkan aku demi perempuan lain" ucapku dengan kesal kulihat ia mengerutkan dahinya, ah sekalian saja ku tumpahkan ini yang sudah sesak di dada"Kamu penipu, Arlan. Kamu bilang kamu tidak akan pernah meninggalkanku tapi faktanya apa? Kamu menikah dengan Mela. Sadarlah, Arlan kamu sudah menikah untuk apa menemuiku lagi" semburku tanpa celaTapi Arlan tertawa bahkan sangat kencang, apa itu terlihat lucu untuknya?"Astaga, Dilla." ucapnya setelah tawanya mereda."Otak cantikmu itu selalu saja menyimpulkan sesuatu dengan sesukamu"Aku menyipitkan mata, jangan-jangan dia mau menipuku dengan berkata batal menikah atau apa. Jelas-jelas tempo hari yang lalu mantan bosku sekaligus kakak dari Mela menyuruhku menjemput adiknya karena suaminya tak bisa mengantarnya."Okay, yang pertama aku minta maaf baru kembali setelah 4 tahun" ujarnyaIa menghela nafas, " Dila, aku sungguh mencintaimu. Mana mungkin aku meninggalkanmu demi wanita lain. Perihal Mela, ia memang menikah tapi bukan denganku melainkan dengan kakakku, Erlangga."Eh tunggu apa maksudnya sih ini? Kenapa begitu"Tapi isi surat itu jelas mengatakan kamu menikah dengan Mela. Bahkan aku sempat pergi ke acara itu tapi terlambat" sahutkuIa tersenyum geli "Dilla sayang, suratnya tertukar. Pantas saja aku menunggumu di bandara tapi kamu tidak datang"Penjelasan apa itu? Dia kira aku mudah tertipu."Jangan menipuku, Arlan" ketuskuIa mengeluarkan ponselnya menampilkan foto kakaknya bersanding dengan Mela juga seorang balita sekitar umur 2 tahunan."Masih tidak percaya, hm? Mereka saling mencintai, karena Mela sering curhat padaku orang tua kami menjodohkan kami. Tapi itu keliru, dan pada akhirnya mereka menikah.""Tapi...""Andra kan yang mengantar surat itu. Dia keliru mengirimnya, bahkan jika kamu lebih lama sedikit akan bertemu dengan Linda yang mengamuk di resepsi itu. Erlan mencintai Mela. Ia tidak pernah mencintai Linda, itu hanya pelariannya saja. Sedikit kejam, tapi begitu"Aku memegang kepalaku yang terasa berdenyut setelah mendengar rentetan penjelasannya. Jadi ini hanya salah paham? Bagaimana bisa.. Ah rasanya aku frustasi lalu bagaimana ini.Dan sialnya aku mengingat wanita yang saat itu turun dari taksi yang aku tumpangi kejalan pulang dari acara itu.Tapii..."Kenapa kamu tidak menjelaskan itu padaku, Arlan?" tanyaku seakan tak puas akan penjelasannya itu"Apakah kamu memberiku kesempatan, Dil? Bahkan saat aku libur mengetuk rumahmu terasa sia-sia karena untuk kesekian kalinya aku takkan bisa bertemu denganmu. Aku hanya pergi untuk menempuh gelar doker seperti impian kita saat itu dan sebulan yang lalu aku baru saja kembali, melihatmu membuatku semakin frustasi"Aku menutup wajahku tidak tahu harus bagaimana, kurasakan Arlan memelukku."Jika aku masih memiliki tempat di hatimu, aku mohon. Kembalilah padaku, Dil" bisiknya di telingaku.Aku menegakkan kembali punggungku menatapnya penuh keraguan, sebelum bibirku berucap. Suara orang lain terdengar lebih dahulu"Kembalilah padanya, Dil" aku kembali menoleh kebelakang, ada Bian yang menatapku dengan sendu.Ah bagaimana ini?"Tidak apa-apa. Kamu harus bahagia, Dila." ucapnya padaku, lalu ia menatap Arlan "Jaga dia baik-baik, jika tidak aku akan mengambilnya kembali""Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa mengambilnya dariku" tukas Arlan cepat.Aku tersenyum haru kemudian menghampirinya seraya memberikan cincin itu padanya yang langsung diterima "Terima kasih, Bian. Semoga kamu mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku" ucapku tulus dibalas dengan usapan lembut dipuncak kepalaku dan senyumannya.Lalu Bian pergi dari tempat itu menyisakan aku, Arlan dan kenangan bodoh kami tapi mataku masih menatap punggungnya.Bian lelaki baik. Pantas saja ibuku menjodohkanku dengannya."Besok kita nikah saja ya?" ucap Arlan di sampingku yang langsung ku hadiahi dengan tatapan kekesalan tapi juga rindu yang teramat.Ia meringis merasakan pukulanku di bahunya tapi detik itu ia langsung merengkuh tubuhku.Akhirnya aku bisa merasakan nyamannya pelukannya.Sejauh apapun kita pergi, tetap saja akan kembali kerumah.Ya, Arlan adalah rumahku untuk pulang.The end

Tujuh Tahun Lalu Aku Diusir, Hari Ini Anakku Memanggilnya Ayah
Teen
16 Dec 2025

Tujuh Tahun Lalu Aku Diusir, Hari Ini Anakku Memanggilnya Ayah

"Pergi jauh kamu dari anakku""Kamu menghancurkan masa depannya""Kamu menghancurkan harapan kami""Saya mohon, saya akan berlutut di kaki kamu agar kamu meninggalkan Raydan, Kirana"Mimpi buruk itu masih terus datang, meskipun sudah tujuh tahun berselang, dan rasa sesak juga sakitnya tak pernah berkurang apalagi menghilang.Mereka tidak sadar bukan hanya anaknya yang kehilangan masa depan, bukan hanya anaknya saja yang hancur, dirinya kehilangan lebih daripada siapapun.Di tampar sang ibu dan di usir sang ayah, malam itu ia hendak mengadu pada Raydan, tentang bayinya tentang pengusirannya, namun yang ia dapat ternyata lebih pedih daripada keluarganya, bukan Raydan yang ia temukan namun pengusiran dan penghinaan kembali yang ia peroleh.Gadis 18 tahun yang kehilangan segalanya karena mengandung bayi berusia 5 minggu, kesalahan karena terlalu bebas berpacaran, terlena karena rayuan hingga akhirnya dia ditinggalkan."Mami... Bangun mami."Sebuah gedoran terdengar di pintu kamarnya, melihat jam di nakas baru pukul 05.30 pagi tapi pasti si kecil Kimi tengah menagih susu hangatnya di pagi ini.Kimora, gadis kecil berusia 6 tahun yang baru memasuki sekolah dasar, gadis kecil yang tujuh tahun lalu orang-orang meminta untuk melenyapkannya, malu katanya, mencoreng nama baik keluarga, dan menghancurkan masa depan."Anak mami masih pagi udah berisik aja.""Ayam udah berkokok mami, matahari juga sudah mau keluar." Rengeknya dengan wajah cemberut lucu membuat Kirana tak tahan untuk menghujami wajah kecilnya dengan ciuman. "Mami berhenti, kalau enggak aku ngambek."Kirana tertawa mendengar ancamannya, entah bagaimana jika ia tujuh tahun lalu menuruti orang-orang untuk menggugurkannya, karena Kimi saat ini adalah dunianya, sumber kebahagiaannya, segalanya."Kimi mandi dulu ya, mami siapin susu cokelat sama sarapan pagi buat Kimi, oke!""Siap mami, Kimi sayaaaaang mami."Begitulah ia mengawali harinya, teriakan Kimi adalah penyemangatnya untuk berkutat dengan bakery yang telah dikelolanya selama tiga tahun, toko kue yang mengedepankan pesanan khusus kue-kue untuk pesta."Mbak Kiran, Bu Andini mengundang anda langsung untuk hadir dalam acara ulang tahun keponakanya.""Oke, berarti yang nganterin langsung saya aja ya Li, biar kamu gak bolak-balik.""Apa Kimi akan ikut?""Enggak, Kimi gak saya bawa, di rumah ada Omnya saya titip ke dia, lagi pula saya gak akan lama, saya datang hanya untuk menghormati undangan Bu Andini saja, diakan pelanggan tetap Bakery kita, setelah saya berangkat kamu langsung pulang aja Li."Hello Bakery, adalah toko kue yang dikelola Kirana, milik seorang nenek baik hati yang hidup sebatang kara, toko kue yang sepi pembeli sebelum Kirana bekerja disana, hingga sang nenek mewariskan toko padanya sebelum dia meninggal.Kirana sampai di tempat acara pukul tiga sore, sengaja dia datang lebih awal untuk memastikan kuenya terpajang sempurna, perayaan ulang tahun ke 3 seorang anak perempuan yang bernama Sheika Ramia Alezander, dia tahu karena Kirana sendiri yang menulis nama itu dalam kue ulang tahunnya, satu nama terakhir membuatnya berdesir merasakan sakit yang masih sama sesaknya. Hanya sebuah nama yang sama pikirnya. Namun semua tidak hanya sebuah nama saat Andini mengenalkannya pada Tuan yang punya acara."Kiran, makasih ya udah mau datang, sini aku kenalin sama yang punya acara, mana ya..." Andini mengedarkan pandangannya menyapu ruangan mencari keberadaan seseorang. "Ray... Ray... sini!"Sebuah nama yang membuat Kirana membeku, ngilu, dan rasa yang sudah lama ia berusaha kubur selama tujuh tahun kini seolah percuma, memohon pada tuhan supaya dia bukanlah orang yang sama, berdoa sekuat hati agar hanya namanya saja yang sama, ia tak ingin bertemu lagi dengan sumber kedukaan dan kehancurannya, ia sekuat tenaga memohon namun ia tau tuhan tak mengabulkannya kali ini saat yang datang menghampirinya benar adalah dia, Raydan Bright Alezander. Pangerannya, hidupnya, planetnya, kebahagiaanya, dulu.Dia masih sama, tinggi, tampan dan sorot matanya yang selalu bisa meluluhkan siapapun, dia baik-baik saja, tentu saja dia baik-baik saja, hidupnya sempurna, tak seperti dirinya yang harus terlunta-lunta di jalan mencari perlindungan, tak seperti dirinya yang harus memulai hidup dari titik minus bahkan hingga dia bisa berdiri lagi saat ini."Ray ini Kiran, dan Kiran ini Raydan adik ipar aku."Suara Andini seolah mengilang, beku semuanya beku. Raydan terpaku memandang seseorang didepannya, seseorang yang tak pernah dilihatnya selama tujuh tahun, meskipun ia telah berusaha setengah mati untuk menemukannya, seratus kali ia menyerah dan seratus satu kali lagi ia terus kembali mencobanya. Kini ia di hadapannya, Kirananya baik-baik saja, dia cantik dan semakin dewasa, sungguh ia setengah mati merindukan wanita ini, wanita yang terpaku dengan mata berkaca-kaca, tapi bukan sorot mata bahagia melainkan terluka."Ray, Shei mau potong kue sama kamu katanya." Seorang wanita paruh baya menghentikan apapun yang sedang merajai pikiran mereka, Ibunya Raydan dengan Sheika, gadis kecil di gendongannya.Wanita itu, yang memohon agar ia pergi meninggalkan Raydan, ia yang juga terlihat pias melihat wanita dihadapannya, wajah tuanya terlihat sedih, terpaku melihat Kirana. Rengekan Sheika, teguran Andini tak ada yang bisa menyadarkan mereka, mereka menatap wanita yang sama, Kirana.Satu tetes air mata jatuh dipipi Kirana, membuatnya tersadar bahwa ia harus segera pergi dari sana, melihat kebahagian mereka, kesempurnaan hidup Rayden membuat semuanya terasa semakin sakit, hanya ia yang berjuang sendirian, hanya ia yang terluka sendirian. Ia berlari sekuat tenaga, keluar dari venue acara tanpa menghiraukan seruan Andini yang kebingaungan, ia hanya ingin pergi, harus pergi jauh lagi.Raydan tersadar, saat Kirana yang dipandanginya pergi dari hadapannya, namun ia seperti tersihir dengan airmata mengalir dipipinya."Ma... Dia Kirana kan, dia Ranakan? Dia Rananya Ray kan Ma."Ibunya Tiara memeluknya, sama-sama menangis. "Ia Ray, dia Rana, Rana nya kamu, maafin mama sayang, maafin mama." Ia tersedu sedan penuh penyesalan, kesalahan yang ia lakukan telah merenggut kebahagiaan Raydan, ia telah kehilangan putranya meskipun Raydan ada dihadapannya. "Kejar dia sayang, kejar dia, jangan sampai dia pergi lagi."Seolah tersadar, ia berlari mengejar Kirana, memanggil namanya, berteriak seperti kesetanan, namun apakah ia terlambat lagi seperti waktu itu, tidak ia tidak akan terlambat untuk kedua kalinya, ia akan menemukannya, ia harus menemukannya."Kirana! Diamana kamu Kirana, Rana."Raydan terduduk, menangis, begitupun Kirana, ia tersedu di balik pilar, mereka sama-sama menangis membiarkan kesakitan menguasai mereka, mencoba melepaskan semua duka, tangis yang sama-sama mereka pendam selama tujuh tahun, kini jebol seolah mewakilkan semua rasa mereka, sakit, luka, cinta, rindu semua menyatu.***Kirana tau cepat atau lambat Raydan akan menemukannya, hanya tentang waktu. Ia memeluk Kimi erat, seakan tak ada hari esok."Mami kenapa, kenapa mami terlihat sedih?"Mata hitamnya adalah mata Rayden, rambut cokelatnya adalah rambut Rayden, hidung bangirnya adalah hidung Rayden, dia memang anak Rayden terlihat dari sekali pandang. Namun, bagaimana kalau Rayden juga sudah memiliki keluarga, bahkan seorang putri juga."Gak apa-apa sayang, mami hanya sedang ingat papa kamu.""Papa? Bukannya papa sedang pergi jauh? Kata mami kalau Kimi rindu papa, Kimi hanya harus berdoa pada tuhan agar papa datang dalam mimpi Kimi.""Ia sayang, apa papa suka datang dalam mimpi Kimi?"Kimi tersenyum sumringah. "Ia mami, kalau Kimi merindukan papa, terus Kimi berdoa sama tuhan, maka papa akan datang dalam mimpi Kimi dan memeluk Kimi tidur, tapi..." wajahnya berubah sedih. "Tapi begitu Kimi bangun papa sudah gak ada."Kirana memeluk erat Kimi, menciumnya bertubi. "Mami minta maaf, maafin mami.""Kenapa mami minta maaf, mami gak ada salah sama Kimi."Demi Kimi setidaknya Raydan harus tau kalau Kimi ada, meski nanti seperti apa status mereka setidaknya ia harus mempertemukan mereka. Namun apa ia akan kuat bertemu lagi dengan Raydan, memperkenalkan Kimi sebagai anaknya, bagaimana jika ia mengabaikan Kimi, bagaimana jika Kiminya tak diinginkan, bagaimana... Ia pasti akan merasakan sakit yang lebih parah, dan Kimi ia tak ingin membuat Kimi kecewa, hal terakhir yang ia inginkan adalah melihat kesedihan Kimi, ia tak ingin membuat Kiminya kecewa.***Hello Bekery milik Kirana, begitu yang ia tau dari Andini, ternyata begitu dekatnya ia dengan Kirana tapi ia tak dapat menemukannya, padahal setiap perayaan di keluarganya, Andini selalu memesannya kue dari sana. Kini ia berdiri di depan Hello Bakery, hanya tinggal selangkah lagi ia bisa menemui Rananya, namun kini ia merasa takut, ia gemetar, ia gentar setelah tujuh tahun penantiannya ia merasa sangat takut, takut Kirana lari, takut Kirananya pergi lagi."Om mau beli kue?"Seorang gadis kecil berseragam putih merah dengan kuncir kuda membuyarkan lamunannya, ia terpaku, ia kembali membeku melihat anak kecil dihadapannya."Masuk Om, Om mau beli kue maminya Kimi?"Mata bulatnya, bibir tipisnya mengingatkannya pada seseorang di dalam sana, tapi bukan hanya itu melainkan kenapa anak kecil ini sangat mirip dirinya."Lho kenapa Om nangis? Kemarin mami Kimi yang nangis, sekarang Om juga nangis, ayo Om masuk, Kimi kasih gratis deh kue maminya Kimi biar Om gak nangis lagi, biasanya mami kalau Kimi nangis selalu bikinin kue kesukaan Kimi."Kimi menarik jemari Raydan, membuatnya tersentak, seperti ada aliran listrik, mengejutkan jantungnya, menghangatkan hatinya. Kimi menariknya masuk mempersilahkannya duduk di kursi dekat jendela."Ini meja favorit Kimi, Kimi biasanya bermain dan belajar disini." Kimi tersenyum pada Raydan memperlihatkan senyum yang mirip Kirana dan lesung pipit seperti miliknya."Nama Om siapa? Nama aku Kimi eh Kimberly tapi mami memanggilku Kimi yang artinya kuat, kalau sudah besar nanti Kimi akan kuat jagain mami."Raydan mengusap airmatanya, menerima uluran tangan gadis kecil di hadapannya, tangannya mungil sehingga tenggelam dalam genggaman tangan kekarnya."Nama Om Ray, Kimi."Raydan sangat enggan melepaskan genggaman tangannya pada Kimi, 'Kimi' menyebutkan namanya membuat hatinya menghangat, ia merasa bahagia, sesuatu yang terasa jauh darinya selama ini."Om Ray kenapa nangis, apa Om lapar, Kimi kalau lapar suka nangis.""I..iya...""Tunggu sebentar ya Kimi minta kue ke mami, Kimi traktir."Genggaman itu terlepas, membuat Raydan merasa kehilangan, gadis kecil itu berlari menuju pintu bertuliskan "Kitchen Area", dan tubuh kecilnya menghilang disana."Mami, Kimi boleh minta kuenya? Buat temen baru Kimi dia lagi nangis di depan."Kirana yang sedang menghias kue mengalihakn pandangannya pada Kimi."Anak mami sudah pulang? Cium dulu dong maminya."Kecupan mendarat di pipi Kirana. "Ia, dijemput Om Reyhan, tapi Om Reyhannya pulang, mana mami kuenya?""Minta sama tante Oli sayang kuenya, temen barunya Kimi gak di kenalin ke mami?""Ayo ikut Kimi kedepan kalau mami mau kenalan." Kimi berlalu dengan empat potong kue yang ia dapatkan dari Oli, karyawan Hello Bakery.Kirana kembali tenggelam dalam pekerjaannya, setelah urusannya selesai ia segera mencari Kimi untuk mengganti seragamnya, namun apa yang dia lihat membuatnya terdiam, terenyuh, terharu.Bagaimana bisa ia melihat pemandangan seindah ini, Raydan sedang menyuapi Kimi, mengelap cream yang menempel di bibir Kimi.Kirana kembali menangis, setelah semalaman ia hampir tak tidur karena menangis."Mamiiii...."Kimi turun dari kursinya berlari menghampiri Kirana, Kirana berjongkok menyambut Kimi dan memeluknya, menangis lagi. Raydan begitu iri melihat pemandangan didepannya, ia ingin bergabung disana, ia ingin memeluk mereka, ingin memeluk Rana dan Kimi.Raydan turun dari kursinya, mengahampiri mereka dengan perasaan berkecamuk, ia ragu, ia takut."Ran...."Kirana hanya mengangguk sebagai jawaban.

Cowok Kampus Itu Manis, Tapi Kenapa Posesif ke Aku?
Teen
16 Dec 2025

Cowok Kampus Itu Manis, Tapi Kenapa Posesif ke Aku?

Dia adalah cowok paling tampan, paling manis, paling cute, paling lucu diangkatan Una, bahkan mungkin di seluruh kampus. Ngomongnya, kerlingannya, kagetnya, tatapannya, semuanya bikin orang betah lama-lama menatap wajahnya bahkan hanya dengan melihat diamnya.Bian, teman satu kelasnya yang selalu bikin Una deg-degan tiap ia dekat dengan Bian, dan Bian itu ramah jadi dia tak segan mendekat, mengobrol dan bergabung dengan siapapun dimanapun."Hai Na.""Bi...""Kantin yu, laper banget aku gak sarapan tadi pagi.""Ko ngajak aku, Teddy mana?""Kenapa? memang kamu gak laper, kamu tadi pagi datang telat lo, dan aku yakin kamu belum sarapan, jadi gak boleh nolak, ayo!"Santai, Bian menempatkan tangannya di bahu Una, seperti memeluknya. Apakah dia biasa aja dengan perlakuan seperti ini? Dan apakah Una yakin akan selamat sampai kantin dengan tangan Bian melingkari bahunya dan Una menahan nafasnya, sementara sepanjang jalan semua perempuan yang mereka lewati berbinar karena sekali lagi Bian itu ramah jadi selama itu ia terus menebar senyum menawannya."Mau pesen apa, biar aku ambilin!""Gak usah aku ambil sendi...""Duduk aja, biar aku yang ambil, jaga meja oke!"Una diam, ia mulai bertanya kenapa Bian mengajaknya ke kantin, kemana Teddy, bukannya ia biasa bersama Teddy, kenapa harus berdua?"Caramel Mochiatto dan Cheese Cake."Bian datang dengan pesanan mereka berdua, dan kalau Una tak salah ingat ia belum menyebutkan pesanannya pada Bian, tapi Bian datang dengan makanan favoritnya."Benarkan itu makanan kesukaan kamu?""Yep, ko tau?" Bian Diam, Una seperti salah bicara, "Kamu cenayang ya Bi?"Bian terkekeh pelan, "Tak perlu jadi cenayang untuk tau makanan yang setiap hari kamu pesan Na."Masalahnya ia jarang sekali makan bareng Bian di kantin biarpun itu rame-rame, bisa dihitung dengan jari, jadi gak aneh kalau Una bilang Bian cenayang."Jangan bengong, entar ayam tetangga mati lo."Una makin bengong, dan kali ini Bian tertawa.Una heran, "Apa yang lucu sih Bi?""Aku suka deh kamu manggil aku Bi.""Dari pada Yan, entar dikiranya aku manggil Yanto satpam kampus."Bian tertawa lagi, keras. "Kamu lucu banget sih Na". Dia mengatakan itu sambil mengacak rambut Una, gemas. Dan Una semakin merasa aneh dengan tingkah Bian."Aku minjem buku kalkulus dong, aku belum nyatet materi yang kemarin.""Gak aku bawa, ada di kosan.""Entar aku ambil." Jawab Bian santai, dan Una sekali lagi merasa heran. Apa Bian akan benar-benar mengambilnya ke kosan, sementara dia bisa meminjamnya kepada siapa aja disini yang bahkan pasti rela menyalinkan untuk Bian."Ayo..." Bian menunggu Una bangkit dari duduknya, membawa Una keluar kantin. Sama seperti tadi Bian setia berjalan disamping Una meski banyak yang menyapa tapi ia enggan berhenti walau untuk sekedar basa-basi."Una!!!" Teriakan Rengga menghentikan langkah mereka berdua. Dia datang dengan wajah sumringah, menyapa Bian sebentar dan menatap Una."Ada apa Ngga?""Entar pulang bareng ya, kita mampir dulu ke toko kue, oke?"Baru Una hendak menjawab tapi keburu disela oleh Bian."Una pulang bareng gue?"Bukan hanya Una yang terkejut tapi Rengga juga, keanehan Una menular juga pada Rengga, Rengga melihat sorot tidak suka dari Bian, tajam, sesuatu yang siapapun tak pernah mereka lihat dari wajahnya."Ayo Na." Tanpa menunggu jawaban dari siapapun Bian menarik tangan Una, menjauhkannya dari Rengga, menjauhkannya dari tatapan siapapun."Masuk.""Bi...""Masuk Na, aku anterin kamu pulang!"Apakah Bian sedang marah, karena wajah cutenya kini hilang hanya tatapan tajam yang ada, membuat Una tak berani membantah.Mobil Bian membelah jalanan Jakarta, menuju kosan Una, sekali lagi Bian tak bertanya dan Una tidak menyebutkan kosannya dimana tapi kini mereka telah sampai di depan gerbang kosannya.Kebingungan semakin terlihat jelas di wajah Una. "Bi kamu ko...""Kamu gak akan mempersilahkan aku masuk?"Pertanyaan Una terpotong, ia segera mempersilahkan Bian masuk, menyuruhnya duduk sementara ia mengambil buku kalkulusnya. Tapi sungguh ia sudah tak tahan dengan rasa penasaran, kaget, bingung dengan perlakuan Bian hari ini, ia bertekad untuk bertanya, harus!"Ini." Una menyodorkan bukunya kehadapan Bian, dan Bian masih memperhatikan kamar Una, tepatnya ruang tamu kecil Una yang hanya ada dua sofa panjang, televisi dan rak buku."Thank you, besok aku balikin ya.""Bi..." Una memberanikan diri."Hmm..." Bian menatap Una lekat, menyukai pemandangan di depannya saat ini, wajah memerah dan salah tingkah, sungguh lucu."Kamu ngerasa aneh banget gak hari ini.""Aneh gimana?""Emhhh.. Anu, aneh aja!"Bian terkekeh pelan menikmati kegugupan Una."Kenapa, ada yang mau kamu tanyain?""Kamu kenapa tiba-tiba ngajak aku ke kantin, tau makanan yang tiap hari aku pesen, bahkan kamu tau kosan aku tanpa kamu bertanya."Bian hanya tersenyum, manis, sangat manis bahkan. "Mungkin aku cenayang seperti apa yang kamu bilang." Mendapatkan Una hanya diam, Bian memintanya pindah ke sampingnya. "Sini deh, duduknya deketan." Una masih bengong, membuat Bian akhirnya pindah duduk disamping Una."Ko bengong sih, aku cium nih kalau kamu masih bengong."Dengan gerakan cepat Bian mencium pipi Una."Masih bengong juga?"Una meraba pipi yang tadi dicium Bian. "Bi...""Kaget? Sini aku jelasin."Una fokus menatap Bian begitupun sebaliknya."Aku suka sama kamu Na, sejak... Emm mungkin sejak saat kita kamping di Bogor, saat kamu ngambil ranting kayu terus kamu jatuh dan wajah kamu terkena tanah, tapi justru aku suka saat melihat itu.""Masih bengong, aku cium lagi nih."Namun kali ini Bian tidak hanya mencium pipi Una, tapi bibirnya, perlahan, lembut dan tidak menuntut, dan Una menyambut ciuman Bian, dia mengalungkan tangannya di leher Bian, mendapatkan persetujuan dari Una, Bian memperdalam ciumannya pada Una, membelitkan lidahnya saling mengeksplorasi mulut masing-masing, hingga mereka telah bergumul disofa kecil milik Una. Mereka mengentikan ciumannya saat sama-sama kehabisan nafas, hal pertama yang dilakukan Bian adalah tersenyum manis dan mencium kening Una sayang."Bi...""Hmmm...""Berat Bi...""Masa sih, aku enak ya posisi kaya gini."Una memukul dada Bian pelan. "Bi... Beneran ini!""I love you Na, jangan deket sama cowok lain, jangan jalan sama cowok lain, jangan lirik cowok lain, deket, jalan, dan lirik aku aja.""Idih, posesif.""Biarin, kan cinta.""Tapi aku enggak."Wajah Bian serius membuat Una menghentikan senyumnya. "Bener?".Una menggeleng.Lalu tanpa ampun Bian menindih Una lagi menciumnya habis-habisan sampai Una menyerah dan mengaku cinta."I love You too, Fabian."

Anak Baru Itu Terlalu Berbahaya… Aku Jatuh Cinta Tanpa Siap
Teen
16 Dec 2025

Anak Baru Itu Terlalu Berbahaya… Aku Jatuh Cinta Tanpa Siap

"Hei apa lo udah liat anak baru yang rambutnya pirang itu?"."Anak baru, memangnya boleh kalau rambutnya di warnai, eh atau itu memang rambut aslinya?""Gak tau juga sih, tapi gue lihat dia di ruang guru saat gue nganterin buku tugas dari Bu Indah dan dia itu cakep bangeeeet Re"."Masa? Secakep itu sampe 'banget' lo panjang banget"."Serius cakep, cute juga sih, kaya opa-opa kesukaan gue itu lho, atau gue ngefans ke dia aja kali ya secara dia kan ada di depan mata gitu"."Ck ada-ada aja deh lo"."Gue penasaran kira-kira dia masuk kelas mana ya, semoga aja masuk kelas kita, biar kegantengan cowok-cowok di kelas kita terupgrade biar gue betah diem di kelas dan semangat pergi sekolah".Aku hanya bedecih tak heran melihat antusias Andin tiap liat cowok gantengan dikit, tapi aku di buat penasaran juga karena Andin jarang muji cowok pake 'ganteng banget' gitu.Suara ribut-ribut di kelas tiba-tiba hening, digantikan dengan suara kasak kusuk anak-anak perempuan, juga sikutan Andin pada lenganku."Itu anak barunya, alhamdulilah dia masuk kelas kita". Ujarnya dengan luapan kegirangan yang tertahan.Gak salah memang kalau Andin bilang dia itu 'ganteng bangeeet' dia ganteng, putih, manis dan terlihat sangat cute, aku rasa beberapa perempuan akan kalah cute dari pada dia, dan dia jangkung, matanya tajam, dan matanya berwarna abu-abu."Noah silahkan duduk di sana, di sebelah Bagas".Sepanjang dia memperkenalkan diri tak pernah sedikitpun senyum tampak di wajahnya, dia terlihat cuek tapi tidak juga terlihat mengabaikan mungkin itu efek dari wajah cutenya, kecuali kalau dia menatapmu tajam, matanya terlihat dingin. Seperti saat ini dia yang sedang menatapku menuju kursi di sebelah Bagas yang sama persis juga di sebelahku, begitu dia duduk aroma colognya tercium kuat dalam indraku, membuat aku penasaran parfum apa yang dia pakai, yang pasti bukan parfum murah yang biasa ada dalam iklan-iklan TV, dan kalau di perhatikan lagi sepertinya semua yang dia kenakan juga bukan barang murah, pasti dia orang berada. Mudah-mudahan aja dia gak sombong dan arogan seperti orang-orang kaya kebanyakan, tapi walaupun demikian apa masalahnya?.Ketika bel istirahat berbunyi nyaring, kelas kembali riuh terutama bangku sebelahku, anak-anak mencoba berkenalan dengan Noah termasuk Andin yang sudah melesat memperkenalkan diri dan ternyata Noah cukup baik menaggapi perkenalan mereka, yah ternyata dia bukan orang kaya yang sombong.Kelas tenang kembali karena para penghuninya telah berburu makanan ke kantin hanya menyisakan sebagian orang disini."Kamu gak ngajakin aku kenalan?". Ternyata Noah sedang melihat ke arahku dengan sedikit senyum samar di wajahnya."Tadi masih rame". Jawabku apa adanya.Dia menyodorkan tangannya kearahku. "Noah".Aku menerima ulurannya. "Aretha"."Kamu gak ke kantin?""Enggak, aku mau ke perpus dulu balikin buku". Jawabku sambil menumpuk buku yang akan ku kembalikan ke perpustakaan."Boleh aku ikut, jujur aku belum tau denah sekolah ini".Aku melihat sekeliling mencari Bagas, dan ternyata dia sudah tak ada. 'Apaan dia kenapa gak ngajakin Noah ke kantin'."Boleh, tapi apa kamu gak lapar?". Dia tak menjawab hanya menapilkan ekspresi bingung di wajahnya. "Oh, yaudah nanti abis dari perpus kita ke kantin".Dan aku sangat jengah sepanjang kelas-perpusatakaan-kantin semua mata tertuju pada kami pada Noah tepatnya, dia jalan biasa aja udah kaya jalan diatas catwalk seperti sedang memamerkan segala aksesoris yang dia kenakan, padahal dia jalan biasa aja dengan sesekali bertanya padaku tentang ruangan yang kami lewati. Ketika kami sudah sampai dikantin aku melihat keberadaan Bagas dan langsung mengajaknya ke meja Bagas dan yang lain."Kamu sama Bagas ya". Noah terlihat bingung."Kamu gak makan?""Euhhh-- aku mencari keberadaan Andin--- aku kesana makan sama Andin". Akupun berlalu pergi meninggalkannya bersama Bagas, serius takut aku dilihatin sama orang-orang terus kalau sama dia.***Sudah satu minggu Noah berada disekolah kami, dan aku tau dari Andin kalau dalam waktu seminggu itu sudah ada yang namanya Noah fans, ya beberapa kali memang ada adik kelas yang menitipkan beberapa hadiah padaku untuk Noah yang selalu dia bilang "Buat kamu aja, atau Makan aja" tapi aku yang gak mau akhirnya selalu di tampung sama Bagas, kesenengan banget dia bisa jadi temen sebangkunya Noah."Buat kamu harus eksklusif ya baru mau di terima". Ucapnya pada suatu hari, ketika aku memeberikan cokelat titipan dari salah satu fansnya.Ya gimana ya, itu kan dari orang, cewek lagi buat Noah aneh aja kalau aku yang makan.Hari ini adalah jadwal kelas kami olahraga, dan OMG apa mereka pada gak masuk kelas banyak banget yang nonton.Aku yang sedang istirahat di pinggir lapangan setelah sepuluh kali mengelilingi lapangan basket, sambil melihat cowok-cowok yang sedang tanding basket yang membuat penonton menjerit heboh kalau Noah berhasil memasukan bola ke ring, Ck ya ampun gara-gara Noah penontonnya ampe bejibun gini. Tapi ya Noah memang selalu terlihat menarik sih apalagi sekarang setelah olahraga dengan headband hitam di kepalanya dia terlihat seperti model brand pakaian olahraga, juga badannya yang berkeringat membuat ototnya tercetak jelas dari balik kaosnya. Lalu dia berlari ke pinggir lapangan, dan-- apa di kesini."Re minum dong!". Dia mengulurkan tangan meminta botolku yang tinggal setengahnya."Tapi---".Dia segera meraih botolku dan segera meneguknya. "Aus".Ya ampun kita minum dari botol yang sama, entah pikiran tolol dari mana tapi tiba-tiba ucapan Andin menyeruak di kepalaku tentang ciuman tidak langsung melaui botol atau gelas, aku menggelengkan kepala mengenyahkan pikiran tololku gak mungkin Noah peduli dengan hal-hal seperti it---."Ciuman pertama gue".Ucapnya dengan senyum jailnya membuat dadaku bergemuruh dan panas menyerang pipiku. 'Oh my god apa dia bilang barusan, ciuman pertama'. Sementara aku masih membeku dipinggir lapangan Noah sudah kembali ke tengah lapangan dan tengah mencetak angka. Ketika aku melihatnya dia sedang mengedipkan matanya padaku. 'Ya tuhan aku mau pingsan aja rasanya'.***Minggu siang ketika aku sedang berleha-leha di dalam kamar dengan santainya mamah menyuruhku untuk mengambil pesana Skincarenya di salon langganan mamah."Mah... suruh kak Aldo aja sih, aku males banget keluar panas-panas gini". Gerutuku menolak permintaan Mama."Gak bisa, Aldo mau Mama ajak kondangan, jadi kamu aja ya sayang ajak Andin sekalian jalan-jalan"."Andin lagi ada acara sama keluarganya Mah, aku gak mau pergi sendiri"."Ayolah Re nanti mamah kasih uang buat kamu nyalon deh, udah lama juga kan kamu gak perawatan, gih sana mungpung hari minggu apa ke nonton jangan ngedekem aja di kamar".Akhirnya walaupun terpaksa tapi karena embel-embel uang tambahan buat nyalon aku berangkat juga, lumayan uangnya bisa buat beli buku atau sepatu lucu incaranku.Setelah mengambil pesenan Mamah aku seperti melihat orang yang familiar, tapi meragu ketika melihat warna rambutnya yang berbeda, tapi begitu dia berbalik aku yakin kalau itu dia."Noah!! rambut kamu?"."Hai Re". Dia terlihat kaget. "Iya nih aku cat rambutku jadi item tempo hari wali kelas menegurku. Kamu ngapain?"Aku mengangkat paperbag yang ku bawa. "Ini, titipan Mama".Kami pun jalan bersama keluar dari salon."Sendiri Re, abis ini mau kemana?""Iya ini juga terpaksa keluar rumah Mama maksa, aku mau bei sepatu kemarin pas jalan sama Andin aku lihat ada yang lucu"."Lucu ya kalian ini mendeskripsikan sesuatu". Noah terkekeh pelan."Maksudnya?""Iya kaya kalau cewek liat barang misalnya baju atau tas atau sepatu selalu bilang lucu, padahal.lucunya darimana coba emang bisa bikin ketawa"."Iih... Maksudnya tuh ya lucu gitu lucu pengen beli". Akhirnya aku tertawa juga mengikuti Noah."Ayo... aku temenin"."Beneran, kamu lagi nyantai banget nih?""Iya ayo... Toko sepatu yang mana yang kamu maksud?".Akhirnya aku menerima ajakan Noah, gak bisa ngajak Andin dapet Noah sebagai partner tentu tidak buruk. Sesampainya di toko yang dimaksud aku langsung menuju etalase yang memajang sepatu incaranku."Lucu kan?". Aku memamerkan sepatu yang sedang ku coba padanya."Ya, langsung dipake aja Re, wedgesnya kamu simpan aja, aku mau ngajak kamu keliling dulu bolehkan?"."Cie... Mau ngajak aku jalan ya". Godaku bercanda. "Boleh deh, tapi traktir ya nanti kalau ngajakin makan".Iyalah dari pada bengong dirumah terus dapat gandengan ganteng kaya Noah, ya milih jalan bareng Noah lah."Siap, Re mau dapat sepatu itu dengan harga diskon gak?"."Maulah gila, gimana caranya?". Siapa yang gak mau dapat diskon coba."Kamu tunggu dikasir bentar, nanti aku susul".Dan ternyata yang dimaksud Noah adalah dia datang dengan memakai sepatu yang sama denganku. "Couple shoes" Gila."Kita jadi couple goal banget nih, kalau fans kamu pada tau aku bisa habis di babat sama mereka". Komentarku setelah kami keluar dari toko."Lumayankan dapat diskon 25%". Jawabnya santai. "Kamu mau kemana abis ini?"."Makan aja yu, aku yang traktir deh ada sisaan dari uang belanja tadi".Dia diam sebentar, lalu mengiyakan. Ketika kami sedang jalan ke salah satu foodcourt yang ada di mall itu terlihat seseorang yang terasa familiar menghampirinya."Noah!""Mom""Kamu belum pulang sayang? tadi katanya mau langsung pulang?"."Emmh Noahnya ketemu temen Mom, kenalin ---dia menarik tanganku kesebelahnya Mom dia Aretha temen sekolah Noah".Terlihat wajah antusias di wajah yang sepertinya mamahnha Noah."Oh.. Sayang temennya Noah, cantik banget". Dia memeluku hangat layaknya Mamah kalau ketemu Andin.Akupun menyalami Mamah Noah "Aretha tante"."Gimana Noah di sekolah dia gak bikin ulahkan?"."Moomm---""Sayang Mami kan hanya basa basi saja".Lalu datang seorang yang terlihat segan menghampiri Mamah Noah."Bu, tuan muda -- bu anda sudah ditunggu untuk rapat"."Oh iya, Aretha kapan-kapan kita harus ketemu lagi buat makan bareng, Noah jangan lupa kapan-kapan ajak Aretha ke rumah, Mami pergi dulu".Aku masi cengo berdiri di hadapan Noah. 'Apa katanya tadi Tuan muda'."Jangan bilang Mami kamu yang tadi itu Raya Maheswari Bramantyo"."Kalau iya memang kenapa?". Jawabnya dengan wajah geli."Noah!! Kalo gitu kamu juga yang punga mall ini"."Yang punga mall ini tuh Mami dab papi bukan aku Re"."Tetep aja, pantesan pas masuk toko tadi pegwainya pada ngehormat gitu, aku kira pelayanannya emang kaya kerajaan-kerajaan gitu, ternyata karena ada kamu".

Mantan Itu Duduk di Sebelahku… dan Jantungku Masih Memilih Dia
Teen
15 Dec 2025

Mantan Itu Duduk di Sebelahku… dan Jantungku Masih Memilih Dia

Pernah gak sih kalian bingung mau ngapain?Misalnya kalian biasanya anteng nonton TV, anteng nonton drama, atau bisa berjam-jam baca novel favorite lalu tiba-tiba semua acara TV gak ada yang asik, genre novel favorit udah gak menarik lagi.Sama seperti yang aku alami sekarang, dan penyebabnya adalah dia, Jev, Jeviar. Hanya seorang mantan yang tiba-tiba ngambil jurusan Publik Relation padahal dia udah ngambil jurusan hukum di kampus berbeda."Ta, tau nggak gue denger ada mahasiswa baru ganteng pake banget di jurusan kita"."Siapa? Tau dari mana?"."Gosipnya udah berhembus kenceng banget Ranita, makanya Grup chatnya dibaca, biar gak kudet!"."Gue gak sempet baca, waktu gue abis buat ngerjain tugas dosen killer yang baru keluar kelas tadi, lagian buat apa sih lo masih kepo kalau ada cowok bening dikit, Ardan mau dikemanain Na".Nana teman dekatku dikampus sejak masih Maba, punya pacar super baik dan pengertian seperti Ardan, gimana enggak Ardan bisa dengan sabar dengerin curhatan atau omelan Nana selama seharian penuh bahkan rela diseret kesana kemari dari satu toko ke toko lain di mall dengan senyum masih menghiasi wajahnya."Yee, gue ngasih tau ini bukan buat gue tapi buat elo Ta, biar elo gak jomblo lagi"."Gak usah ikut campur dengan kejombloan gue, bukannya gue gak laku ya cuma emang belum ketemu yang bikin gue berdebar-debar aja"."Makanya dicari bebeb, jangan ngamar aja kalau malam minggu tuh, ikut nongkrong bareng gue makanya, move on, move on susah banget ya lo move on dari mantan terindah lo itu".Obrolan kami terhenti ketika dosen masuk ke dalam kelas, padahal aku sangat ingin membalas ocehannya.Move on? Bukannya aku gak mau move on tapi memang aku belum nemu seseorang yang bisa bikin aku deg-degan lagi sepeeti saat dulu pertama kali aku bertemu-- ah sudahah ngapain aku inget-inget dia algi.Aku sedang mencatat apa yang diterangkan dosen ketika ada yang mengetuk pintu kelas. Pikirku berani sekali dia datang terlambat di mata kuliahnya Mr.Rahman, tapi aku gak peduli siapapun itu sampai suara yang sangat familiar tapi sudah lama tak kudengar masuk dalam indra pendengaranku. Dan tanganku yang di senggol-senggol oleh Nana."Itu mahasiswa baru yang gue makdsud Ta, namanya Jeviar".Kepalaku reflek melihat objek yang ada di depan, aku tercekat ketika matanya sedang menatap lurus ke arahku, tatapannya yang selalu membuatku tersesat dan ingin berlari ke arahnya. Waktu seakan berhenti begitu saja, saat mata kami saling mengunci hingga terdengar ucapan Mr. Rahman untuknya mencari tempat duduk.Aku bisa melihat beberapa mahasiswi yang terlihat memperbaiki cara duduknya berharap kursi kosong disampingnya bisa diduduki oleh mahluk sempurna yang sedang berdiri tegap di depan kelas. Masih banyak tempat kosong di depan tapi dia melewatinya, ah kupikir dia hanya mencari tempat duduk yang ada disamping Rere--mahasiswi cantik di kelas kami-- tapi diapun melewatinya dan --oh my god jangan bilang dia mau duduk di kursi kosong-- dia duduk di kursi kosong sebelah kiriku.Aku hanya diam membisu ditengah pacuan jantungku yang tak karuan --oh tuhan ternyata debaran jantung ini masih setia untuknya."Bernapas Ta". Dia berbisik di telinga kiriku yang membuatku reflek menoleh kearahnya dan dia sedang tersenyum sangat manis. Oh my god, bisa mati mendadak aku kalau cobaannya kaya gini."Pinjem pensil dong, lupa gak bawa"."Niat belajar gak sih, masa alat tulis aja gak bawa". itu hanya gerutuan dalam hati tanpa bermaksud untuk mengatakannya depan dia. Tapi tanpa sadar aku mengucapkannya pelan, dan membuat dia menoleh dan tersenyum lagi --- dia senyum sodara-sodara--- belum lima menit aku sudah dua kali dapat senyum dari dia.Dua jam berlalu dengan tenang, hingga Mr. Rahman berlalu keluar kelas mahasiswa dan mahasiswipun berlalu mengikutinya, termasuk si kutil Nana yang malah nyelonong gitu aja, padahal aku butuh bantuan dia agak bisa berdiri dengan tegak dan keluar dari kelas dengan selamat. Dan ini kenapa juga mahluk disebelah aku hanya diam aja di tempat duduknya sambil memperhatikan teman-temanku yang berhamburan keluar kelas.Berhubung gak ada tanda-tanda dia akan bangkit dari tempat duduknya padahal kelas sudah mulai kosong maka aku yang akan keluar lebih dulu meskipun gak tau ini kaki bisa diajak jalan atau enggak, tapi belum juga aku beranjak tangan besarnya meraih tanganku menghantarkan aliran hangat sekujur tubuhku."Tunggu, bentar kagi"."Apaan?". Aku yang ditarik olehnya duduk lagi di tempat semula."Nih...". Dia meyerahkan sebuah sketsa yang dia gambar di atas kertas --gambar seorang perempuan dengan tatapan lurus kedepan dengan pulpen ada dimulutnya-- astaga apa ini yang ku lakukan sejak tadi, menggigiti sesuatu kala gugup. "Masih tetep cantik". Dan dia senyum lagi, oh tuhan kenapa dia murah senyum banget sih."Ayo... Kamu mau diem aja di kelas?". Ucapannya menyadarkan lamunanku dan aku buru-buru beranjak mengikutinya keluar kelas.Sepertinya dia akan pergi ke kantin bisa dilihat dari alah kakinya melangkah, aku tak berniat mengikutinya, sungguh. Sehingga aku diam-diam berbelok ke taman samping universitas dan untungnya ada Nana dan Ardan duduk disana."Heh, tega banget lo ninggalin gue di kelas?". Semburku begitu aku ada di depan Nana.Dia malah cengengesan. "Sengaja Ta, siapa tau lo mau kenalan sama dia". Jawabnya."Gue gak perlu kenalan sama dia, gue---""Tata!"Aku mengikuti arah suara, astaga ngapain dia ikut ke sini. Nana dan Ardan juga melihat hal yang sama."Aku cariin, malah ngilang!". Lalu dengan santainya dia duduk dekat Ardan tepat di depanku. Jujur aja aku salah tingkah, belum lagi tatapan tajam Nana yang melihat interaksi aku dan Jeviar yang terkesan canggung."Duduk". Tanpa rasa bersalah dia menariku untuk duduk disampingnya."Minum, aku udah beli buat kamu". Dia menyodorkan gelas yang dia bawa dari kantin kampus."Gak usah Je, aku bisa beli sendi--" sedotan itu sudah ada di mulutku. 'Je sialan!!'Ucapan Nana mengintrupsi kecanggungan aku dan Je."Kalian udah kenal lama?". Aku bisa melihat wajah bingung di wajahnya. Dan Je hanya menjawabnya dengan senyum misteriusnya."Dia temen lama". Akhirnya suaraku keluar untuk menjawab."Temen kencan". Itu suara Je."Whattt?!!!!". Aku dan Nana berteriak berbarengan."Kenapa kaget gitu sih Yang". Aku melotot lagi melihat Je, apa dia gak sadar ucapannya barusan bisa bikin orang jantungan. Dan Je dengan santainya mengacak rambutku dan melingkarkan tangannya di bahu."Ayo, kita pergi". Dengan seenaknya dia menarik tanganku, melingakrakan tangannya di bahuku membuat orang-orang yang kami lewati melihat aneh ke arah kami.Aku melepaskan tangannya begitu kami sampai di tempat parkir. "Kamu apa-apaan sih Je, gak lucu tau".Dia lalu mencium bibirku secepat kilat. "Je!!!". Aku sungguh geram di buatnya tapi dia malah tertawa senang."Masuk dulu, gak enak diliat orang". Dia mendorongku ke dalam mobilnya masih dengan tawa menghiasi wajahnya.Aku hanya diam disampingnya, entah dia mau membawaku ke mana."Kamu mau bawa aku kemana?"."Apartemen"."Nagapin kesana, aku gak mau!""Aku mau!""Aku bukan pacar kamu lagi, kalau kamu lupa!!". Dia menepikan mobilnya perlahan. "Jadi kamu gak bisa bawa aku seenaknya ketempat yang kamu mau"."Udah?"Lalu dengan cepat dia telah menyatukan bibirku dengan bibirnya, pelan dan lembut tapi aku gak bisa melepaskannya dan aku malah terbuai dengan pesonanya, ternyata aku sangat merindukannya juga perlahan ciumannya berubah cepat dan penuh gairah, kami melepaskan ciuman kami dengan terengah-engah. Kening kami masih menyatu."Aku gak pernah mengiyakan saat kamu bilang putus, kalau kamu lupa yang".Aku tak tahan untuk menangis, dia langsung memeluku. "Kenapa baru datang sekarang". Gerutuanku disela-sela tangisku.Dia melepaskan pekukannya dan meraih wajahku dengan kedua tangan besarnya. "Ssttt, aku hanya memeberi kamu waktu". Dia kembali mengecup bibirku."Kelamaan". Aku mulai merajuk."Ini nih, yang membuat aku setengah mati menahan diri untuk tidak mendobrak apartemenmu dan memelukmu.""Hihi... Jadi kita balikan lagi?". Tanyaku memandang wajah tampannya yang aku rindukan sebulan ini."Kita gak pernah putus Yang". Wajahnya terlihat geli."I love You Je"."I love You More Tata".

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 17 dari 35
Menampilkan 24 cerita