Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
CEO Itu Menabrakku… Lalu Menjadikan Aku Pacarnya
Hari itu pada tengah hari di hari Jumat terjadi kecelakaan beruntun di jalan utama dalam kota karena seorang pengemudi tak bertanggung jawab yang mengemudi dalam keadaan mabuk, tengah hari. Kecelakaan beruntun itu memiliki dampak sampai 500 meter dibelakangnya, sehingga seorang gadis yang sedang berjalan kaki tersenggol motor karena ngerem mendadak. Membuat siempunya motor buru-buru turun dan menghampiri gadis itu.Terlihat gadis itu meringis sambil memegangi betisnya tapi tak lama dia langsung berdiri dengan sedikit tertatih."Kamu gak papa?".Gadis itu berbalik dan menatap pria tersebut. "Gak papa ko, cuma lecet dikit". Jawabnya masih menyeimbangkan kakinya."Mau ke rumah sakit? Mungkin butuh penanganan lebih lanjut?"."Its oke gak papa, lagian saya lagi buru-buru, tuh liat saya masih bisa jalan kan". Jawabnya sembari mencoba melangkahkan kakinya.Namun pria dihadapannya masih terlihat khawatir."Saya duluan ya udah telat". Gadis itu masih meyakinkan pria dihadapannya kalau dia memang tidak apa-apa. Tapi kemudian pria itu mengentikan langkahnya."Tunggu, Saya Miller". Lalu dia membuka dompet dan mengeluarkan uang sebagai kompensasi yang langsung di tolak oleh gadis tersebut. "Oke, jika kamu menolak uang saya seenggaknya kamu pegang kartu nama saya kalau ada apa-apa sama kaki kamu, kamu bisa hubungi nomor yang tertera disana".Tak mau urusannya makin lama gadis itu buru-buru mengambil kartu nama tersebut dan langsung berlalu pergi.Miller membaca tulisan yang ada di punggung gadis tersebut lalu tersenyum miring.'Universitas Garuda Bangsa'---"Rafael Aldern Miller, CEO R-Sport Company".Gumam Anin membaca nama yang tertera disana."Wow, padahal kelihatannya masih sangat muda tapi udah jadi CEO"."Serius masih muda?". Tanya Zeline teman Anin yang sedang menemaninya makan di kantin Fakultas Ekonomi."Ia kelihatannya usianya sekitar 26 atau 27 tahunan lah"."Ganteng gak?"."Banget". Jawab Anin sambil tertawa membuat Zellin makin penasaran. "Dan seperti yang tertera di kartu namanya kalau dia CEO R-Sport penampilannya sesuailah, dia tinggi dan badannya keliatan banget kalau dia rajin olahraga"."Gak boleh dilewatkan dong Nin kalau yang boyfriend material gitu, lo minta tanggung jawab aja sama dia""Tanggung jawab gimana orang gue gak papa ko cuma lecet dikit pake plester juga sembuh". Jawab Anin sambil melirik betisnya yang sudah di pasangi plester."Tapi Nin gara-gara dia lo jadi gak bisa bimbingan sama Mr. Robert karena lo telat dan gantinya lo harus jadwal ulang bimbingan di akhir pekan which is yang harusnya lo pake buat tiduran".Anin hanya mengendikan bahu menanggapi ucapan Zellin, mau gimana lagi udah kejadian, mau gak mau dia besok harus mengunjungi rumah Mr. Robert untuk bimbingan skripsi bab terakhirya.---Miller baru saja bangun dari tidurnya pukul 11 siang, seperti biasa kalau weekend dia akan menginap di rumah orangtuanya, kalau weekday dia akan berada di apartemennya. Begitu turun dia mendapati mamanya di dapur sedang menyiapkan makan siang."Mam". Miller menghampirinya lalu mencium kedua pipi mamanya."Baru bangun sayang, mau kopi?". Tanya mamanya yang sudah mengambil cangkir untuk Miller."Boleh, papa lagi ada tamu?". Tanya Miller ketika mendengar papanya sedang mengobrol diruang tamu."Lagi bimbingan sama mahasiswanya, mungkin sebentar lagi selesai udah dari jam 9 soalnya". Mamanya meletakan kopi tanpa gula dihadapan Miller."Hari sabtu banget? biasanya papa gak suka kalau weekendnya di ganggu sama mahasiswa"."Iya tapi kata papa alasan mahasiswanya bisa di terima kenapa kemarin dia telat bimbingan, jadi memperbolehkan datang kerumah.Tiba-tiba Miller teringat dengan gadis yang hampir dia srempet kemarin, nama kampus di jaket yang di pakainya sama dengan kampus dimana papanya mengajar."Ma, Anin mau pamit pulang". Terdengar ucapan papanya dari ruang tamu membuat mamanya ikut menghampiri mereka kesana. Tak ayal Miller pun ikut mengintip ke ruang tamu dan dia sedikit terkejut ketika melihat mahasiswa yang dibimbing papanya adalah gadis yang di temuinya kemarin. Gadis itu terlihat sedang menyalami papa dan mamanya kemudian dia pergi setelah mengucapkan terimaksih."Siapa pa?". Miller menghampiri papanya yang sedang membereskan kertas-kertas di mejanya."Anindira, mahsiswa papa. Kemarin dia telat bimbingan dan papa keburu pulang, katanya dia telat karena hampir keserempet motor, jadi papa tawarin bimbingan dirumah". Setelah membereskan kertas-kertas dihadapannya Mr.Robert lalu meminum kopi dihadapannya."Tumben papa bolehin kerumah, biasanya kalau telat ya telat aja"."Anindira itu salah satu mahasiswa kebanggaan papa, minggu depan dia udah sidang. Anaknya gak pernah macem-macem, jadi kalau dia gak bisa datang berarti memang terjadi sesuatu dan terbuktikan dia hampir keserempet".Miller diam beberpa detik. "Sebenernya yang hampir nyerempet dia itu aku pa"."Kamu? Ko bisa, tapi Anindira gak apa-apa kan? Udah kamu bawa ke rumah sakit?""Justru itu dia nolak, aku kasih uang dia nolak juga, terus aku kasih kartu nama tapi dia juga gak ada ngehubungin aku". Jawaban Miller membuat papanya tersenyum."Kan? dia emang anaknya gak macem-macem, kalau menurut dia emang gak butuh ya udah dia gak akan ambil, dia anaknya gak cari kesempatan dalam kesempitan". Mr. Robert kembali meminum kopi dihadapannya. "Tapi kalau kamu ketemu dia lagi minta maaf yang bener"."Pasti pap". Jawab Miller mantap."Dia juga cantikkan?". Tanya Mr. Robert tersenyum penuh arti pada Miller. "Umur kamu udah mau 28, mulailah cari yang serius nak".Ketika Miller berbaring di tempat tidurnya dia teringat ucapan papanya tadi.Dia bergumam kecil. "Cantik. Dan namanya Anindira". Lalu pikirannya kembali pada hari kemarin saat dia bertemu dengan Anin. Wajah kecil dengan mata bulat dan bibir pink mungilnya, juga posturnya yang tinggi langsing, rambut panjangnya yang dikuncir asal-asalan. Miller akui dia masuk kriteria wanita idamannya, belum lagi kata papanya kalau dia anak baik-baik yang gak neko-neko. "Bisa dilihat sih kemarin dia gak nuntut apa-apa sama gue, disaat gadis lain mungkin akan pura-pura lumpuh agar gue mau bertanggung jawab". Seulas senyum terbit dibibir Miller.----"Zeliiiiinn... Gue lulus". Teriak Anin ketika dia keluar dari ruang sidang setelah di bantai habis-habisan disana. Merekapun berpelukan di dikoridor panjang tersebut, setelahnya teman-teman Anin memberi selamat disertai buket bunga-bunga cantik untuk Anin."Anindira". Anin berbalik pada suara yang memanggilnya, dan dia sungguh terkejut tentag siapa yang ada di hadapannya."Anda?".Pria di hadapannya tersenyum melihat wajah kaget Anin."Miller, panggil aku Miller, selamat atas kelulusannya". Miller mengulurkan tangannya pada Anin, dan langsung dibalas oleh Anin. "Anindira, panggil saja Anin dan terimakasih".Miller lalu menyerahkan buket bunga mawar putih yang di bawanya. "Thanks, gimana kamu tau aku hari ini sidang?".Tak lama Mr. Robert keluar dari ruang sidang. "Itu, dari papa". Jawab Miller membuat Anin kaget untuk kedua kalinya."Mr. Albert itu papa kamu? Berarti waktu itu...."."Iya aku tau kamu pas kamu ke rumahku waktu bimbingan sama papa". Anin hanya mengangguk menaggapi ucapan Miller, disamping dia gak tau harus merespon bagaimana dia juga merasa aneh karena menjadi pusat perhatian karena berbicara dengan Miller, yang semua mata dikoridor ini tertuju padanya."Butuh tumpangan untuk pulang?". Miller menawarkam Anin yang terlihat kesusahan membawa beberapa buket bunga juga beberapa buket snack dari teman-teman angkatannya."Gak usah, nanti aku pesen---""Pliss jangan nolak, anggap sebagai permintaan maafku untuk waktu itu"."Emmm...""Pliss aku maksa". Tuturnya sambil tersenyum lebar. Membuat Anin terpaku pada wajah tampannya Miller."Oke". Jawab Anin sambil tersenyum setetelahnya Miller mengambil buket yang ada di pelukan Anin lalu menuntun menuju mobil sportnya.Sepanjang kaki mereka melangkah, mereka jadi pusat perhatian ditambah tangan Miller yang menggandeng tangan Anin.Terdengar kasak+kusuk di telinga Anin." Pacarnya Anin ganteng banget sumpah""Waah beruntungnya Anin""Mobilnya keren gillaaa""Anin pantes sih dapat yang kaya gitu".Dan kasak-kusuk lainnya yang tak hanya didengar oleh Anin tapi juga terdengar oleh Miller." Sorry ya...". Begitu masuk mobil Anin meringis tak nyaman pada Miller tentang kasak-kusuk teman-temanya." Its oke gak papa, mungkin omongan mereka bisa jadi kenyataan"."Maksudnya". Anin tak mengerti maksud Miller."Tentang pacarnya Anin, May I be your boyfriend?Hari apakah ini, kenapa Aku beruntung sekali ya tuhan, sidang lulus terus langsung dapat pacar, tentu saja langsung ku jawab Ya.End
Lea Dan Bara
Dia adalah Bara, cowok idola kampus angkatanku. Badan tinggi tegap, dada bidang, perut sixpack , wajah rupawan dan suara emasnya sukses membuat para wanita di kampus ini menjerit-jerit ketika dia dan bandnya tampil di panggung kampus. Rambut ikal yang sudah mulai memanjangnya selalu ia singkirkan dengan bando yang biasa dipakai kaum perempuan tapi tak ayal itu membuatnya aneh justru di mata para wanita malah terlihat keren ketika dia mengenakannya.Dengan kepopulerannya di dalam maupun luar kampus tak membuatnya sombong atau arogan, dia masih orang yang humble , dekat dan berteman dengan siapa saja, juga tak membuatnya jadi seorang playboy. Banyak wanita di kampus ini yang sudah menyatakan cinta padanya tapi dia menolak mereka semua dengan halus. Katanya "aku akan menjadi pacar wanita yang memang dia menyuakiku dan aku juga menyukainya".Banyak orang yang mecoba menebak siapa orang yang disukai Bara, tapi tak ada yang bisa menebaknya karena banyak wanita yang memang dekat degannya."Lea, cari tempat duduk yu". Kata Paris sahabatku.Aku berada di area lapangan kampus yang hari ini di jadikan tempat untuk pensi, sudah ada panggung megah dan kursi berbaris rapih yang sudah hampir setengahnya terisi oleh para mahsiswa dan mahasiswi yang ingin menyaksikan meriahnya acara tahunan kampus ini."Baris ketiga dari depan ada tempat kosong Le". Paris menarikku menuju tempat tersebut."Tumben masih kosong, biasanya penuh ya?" Tanyaku pada Paris."Biasa pangeran kampus kan belum tampil, gue yakin para cewek-cewek itu sekarang lagi ke backstage ngerubungi mereka". Jawabnya dengan nada malas."Eh lo haus gak, gue mau beli minum nih"."Boleh". Jawabku singkat.Paris beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju stand minuman yang ada di samping panggung, tak lama setelah kepergiannya tempat ini mulai terisi penuh bahkan kursi yang tadi di tempati Paris sudah ada yang mengisinya.' Eh, ini kan Bara ' gumamku begitu melirik ternyata yang duduk disampingku adalah Bara dan ke dua teman ngeband nya.Aku dapat mendengar diskusi mereka bertiga tentang aksi panggung dan lagu yang akan mereka bawa di panggung nanti."Lea kan?". Suara Bara mengintrupsi lamunanku."Ya, hai Bara". Sapaku ramah padanya tak lupa dengan senyuman."Seneng banget gue bisa ketemu lo disini". Jawabnya disertai senyum manisnya."Sendiri?". Tanyanya lagi."Enggak tadi gur bareng Paris, tapi dia lagi beli minum belum balik". Jawabku dengan sedikit gugup karena matanya yang intens memperhatikanku."Oke, bearti gak bareng pacar dong kesini?""Enggak, gue lagi free sekarang.""Sama yang kemarin udah putus?""Emang lo tau gue punya pacar?". Tanyaku balik pada Bara."Tau lah, jadi beneran udah putus nih?". Tanyanya lagi dengan wajah penasarannya.Lalu aku menjawab dengan anggukan." Yes !!" Desisnya lumayan keras.Aku mengerutkan keningku bingung dengan tingkahnya." Yes , maksudnya?". Aku memberanikan diri untuk bertanya."Ehmmm.... Gue.. Sebenernya... Le lo mau gak jadi cewek gue?""HAH!"Aku kaget dengan apa yang baru saja di katakannya, mulutku terbuka tapi tak ada kalimat yang keluar."Gue Bara, udah suka sama elo dari lama"."Maksud lo?". Akhirnya aku dapat mengeluarkan kata lain selain HAH tadi."Gue tau elo suka gitar, suka nyanyi, suka mawar putih, kalau sore hari lo suka naik ke rooftoop kampus lihat sunset , dan suka cowok romantis, right ?"Aku hanya tergugu dengan apa yang dia ucapkan, seorang Bara bisa tau apa yang disukai Lea."Dan impian lo di tembak sama cowok sambil main gitar dan bawa bunga". Terusnya lagi membuatku bungkam tak bersuara karena yang diucapkannya benar semua." I'll do that ". Ucapnya mantap.Semua mata tertuju pada kami, tidak bukan pada kami tapi pada Bara karena MC sudah memanggil nama Bandnya dari tadi tapi Bara masih belum beranjak dari tempatnya.Kemudian dia pergi ke backstage meninggalkanku yang masih diam membisu tak percaya dengan ucapannya.' I'll do that ' maksudnya apa.Tidak berselang lama dia muncul diatas panggung dengan gitarnya dan setangkai mawar putih ditelinga kirinya. Dia mulai memtetik sinar gitarnya mengalunkan lagu Perfect milik Ed Shireen.Baby, I'm dancing in the dark with you between my armsBarefoot on the grass, listening to our favorite songWhen you said you looked a mess, I whispered underneath my breathBut you heard it, darling, you look perfect tonightDia berjalan diantara penonton dan menghampiriku yang masih syok ditempat." Whould you be mine?" Ucapnya dengan setangkai mawar putih ditangannya." Please say yes?".Suara musik berhenti, aku menahan nafasku bahkan mungkin semua orang disini menahan nafasnya menanti jawabanku.Seorang Bara, pangeran kampus nembak aku di depan seluruh mahasiswa, aku yang notebene bukan siapa-siapa dan gak sepopuler Bara, kebaikan apa yang aku lakukan dikehidupanku sebelumnya hingga mendapatkan keajaiban seperti ini.Aku yang hanya mengaguminya dari jauh dan hanya bisa senyum saat dia menyapaku kini mendapatkan pernyataan cinta darinya. Tentu saja aku akan bilang..." Yes ".Suara riuh tepuk tangan dan musik kembali mengalun.Dia, Bara. Cowok idaman kampus memintaku menjadi pacarnya.Dengan gerak cepat dia langsung membawaku dalam pelukannya dan mencium lembut bibirku." Thanks Lea, aku menyukaimu sejak kamu memainkan gitarku di aula 2 tahun lalu".'Dia menyukaiku selama itu'" Kamu menyukai aku selama itu, Gak mungkin". Ucapku yang belum sepenuhnya percaya."Ya, terimakasih kamu udah nerima aku"." Thanks juga udah ngabulin impian aku, gitar, bunga dan sunset ".END
Kegelisahan Eksistensial
Aku kerap melihatnya—dan, ketika perasaan itu muncul, keyakinan kehilangan kedudukan dan semesta diliputi kegelisahan.Kendati sepersekon detik dalam hidupnya, manusia pernah meragukan esensi Tuhan: entah karena hanyut oleh sains atau depresi dengan masalah duniawi. Ada yang memilih abai dan mengikuti mayoritas. Ada yang kritis dan memilih tidak percaya. Ada juga yang gelisah karena meragukan pilihannya: seperti bocah itu (yang berjanji mentraktir di kafe favoritku jika aku mau menjawab pertanyaannya)."Bahkan, tanpa embel-embel rahmat Tuhan pun bumi bisa terbentuk; evolusi tetap berjalan; dan bulan tetap berevolusi terhadap bumi. Alam semesta adalah sistem raksasa yang independen. Kak Aslam harusnya paham itu." Ia menyangga tubuh dengan kedua tangan.Perkataannya tegas tetapi matanya gelisah. Aku tepekur, merasa melihat diriku yang dulu: independen dan ortodoks-saintik.Ayah adalah dosen dan Ibu telah pergi saat aku kecil, jadi agama menjadi sesuatu yang asing bagiku: aku hanya mengenalnya dari pelajaran sekolah. Berbekal teori Big Bang dan evolusi Darwin, aku menentang keberadaan Tuhan, hingga bus darmawisataku mengalami kecelakaan yang menewaskan seluruh orang, kecuali aku.Aku koma dan memimpikan sesuatu. Aku tidak ingat detailnya, tetapi rasanya seperti dibawa ke tempat bercahaya bersama sosok bercahaya. Kami berdialog singkat. Ketika bangun, itu adalah hari kesepuluhku di rumah sakit. Hanya aku yang selamat.Entah sial atau tidak, aku seperti anak kecil yang ditegur oleh orangtuanya. Aku beruntung bisa selamat tetapi juga tertekan karena mengetahui hanya aku satu-satunya yang selamat.Sejak saat itu, aku berhenti menentang. Namun, jumlah diriku yang lama kerap berkeliaran di dunia ini, termasuk bocah itu.Aku menegakkan tubuh. "Kamu percaya bahwa semesta adalah infinitas yang selalu berkembang, 'kan?""Ya.""Kamu percaya bahwa atom adalah unsur terkecil kehidupan, 'kan?"Bocah itu mengerutkan kening. "Ya.""Kalau begitu, justru aneh jika kamu meragukan esensi Tuhan. Kamu tahu betul bahwa tidak tampak bukan berarti tidak ada . Logika kita hanya tidak dapat mencapai apa yang dapat dicapai Tuhan." Aku menyilangkan kaki sembari menyesap kopi. Kuperhatikan ia yang ganti membatu. "Yah, setelah ini kau tidak harus percaya pada Dia—iman serta sains itu berbeda—yang penting jadilah 'manusia'. Mukjizat akan datang setelahnya."Aku tidak tahu jawabanku membantunya atau tidak; tetapi ketika pergi, dia tidak lagi menyerupai diriku yang dulu.*Setelah itu, beberapa kali aku keberadaan merasakan diriku yang dulu. Yah, itu manusiawi. Manusia selalu bertanya dan mencari.Kadang kala, pertanyaan dan perasaan semacam itu kembali datang; tetapi aku memilih mengabaikannya. Tuhan punya rahasia-Nya sendiri; dan percaya tidak harus didasarkan bukti visual semata. Pun, iblis selalu berusaha mengobrak-abrik hati manusia.Iya, 'kan? (*)
Kepahitan Hidup yang Telah Lewat
Saat Jaka melihat anak itu menangis, Jaka bisa merasakan sesuatu yang amat menyakitkan dalam dirinya. Suatu perasaan yang tidak dapat dimengerti dan gelap.Jaka memang tidak tahu apa yang telah dilewati oleh anak itu, tapi Jaka yakin, kalau anak itu telah melalui dunia yang teramat sangat berat. Seakan-akan, anak yang masih berusia enam tahun itu, tampak seolah baru saja kembali dari medan peperangan.Waktu masih menandakan pukul empat subuh saat Jaka mendengar suara bising yang berasal dari luar kamar. Mungkin dari ruang keluarga.Hal seperti ini tentu saja jarang terjadi di rumah ini. Tapi sekalinya kejadian berarti Tante Roslia sudah pulang dari kegiatan misteriusnya yang selalu dilakukannya sekali tiap beberapa bulan, dari tengah malam hingga subuh."Apa itu Tante?" Tanya Rian.Jaka menyalakan lampu dan memperhatikan keenam teman sekamarnya sekilas. Kenyataannya, semua orang yang ada di dalam kamar ini adalah anak-anak yang dipungut oleh Tante Roslia dari jalanan, termasuk Jaka."Ya." Jawab Jaka sambil menilik pintu yang masih tertutup di pojok. Ada sesuatu yang mengganggu benaknya saat ini. "Tapi... kali ini agak berbeda... ""Iya, sepertinya begitu." Ujar Ilham."Jadi, bagaimana?" Tanya Beni."Kita tungguin saja dulu." Jelas Jaka. "Sudah mau pagi juga, kan?"Keenam anak lainnya mengangguk mengikuti perkataan Jaka, dan mereka semua pun sepakat untuk tetap terjaga hingga waktu sarapan tiba.Sambil menunggu, Jaka menoleh memandang jendela yang tergantung di dinding. Di luar sana masih gelap, dan langit memancarkan warna kelabu yang agak menyeramkan, tapi, entah kenapa Jaka selalu menyukai pemandangan seperti ini. Rasanya asing sekaligus nyaman.Jaka lalu mengalihkan pandangannya dan memandang berkeliling sembari memastikan keadaan adik-adiknya satu demi satu.Diantara mereka semua, Jaka adalah yang tertua, Dia juga sudah menempuh pendidikan hingga ke universitas ternama di Jogjakarta. Dan semua itu berkat Tante Roslia pastinya. Sementara saudara-saudaranya yang lain masih berada di bangku SMA, SMP, bahkan SD.Jaka tidak tahu betul dari mana uang Tante Roslia berasal, tapi pada dasarnya, dia itu sangatlah kaya. Rumah yang mereka tempati saat ini saja sangatlah mewah, dan ada pula empat pembantu yang selalu siap untuk melayani mereka.Waktu demi waktu berlalu, dan sekarang sudah pukul lima lewat tiga puluh menit. Waktunya untuk sarapan bersama.Semua orang kini berkumpul di ruang makan, namun kali ini situasinya agak berbeda karena keberadaan seorang anak tak dikenal yang berdiri di samping Tante Roslia.Akan tetapi, Jaka dan semua saudaranya tampak sangat tercengang dengan sosok bocah berusia enam tahun itu. Mata mereka membuka lebar, dan nafas mereka tertahan. Bukan karena dia orang asing, tapi karena bekas-bekas luka yang tertoreh di kulitnya."Apa-apaan... "Tangan, kaki, leher, dagu, muka. Hampir seluruh bagian tubuhnya dipenuhi luka, dan itu bukanlah jenis luka yang disebabkan oleh semacam penyiksaan. Luka-luka yang melekat di kulit anak itu sangatlah berbeda dari luka yang pernah dilihat Jaka selama dia hidup. Dan dia sama sekali tidak bisa membayangkan luka seperti apa yang tersembunyi di balik bajunya."Itu... bajuku... " Gumam Aska sambil memasang wajah kosong."Itu... pedang?" Mata Jaka tertuju pada pedang hitam dengan corak ungu yang digenggam erat oleh bocah itu. Mau dilihat dari sisi manapun, pedang itu pastilah sungguhan, bahkan ada batu pertama ungu yang melekat di ujung gagangnya. Tapi, kenapa anak itu memiliki pedang?"Hey! Semuanya sudah bangun rupanya!" Seru Tante Roslia penuh semangat. "Oh iya!" Tante Roslia berdiri di belakang anak itu, dan memegang kedua pundaknya. "Perkenalkan, anak ini namanya Kakak—Eh! Maksudku Armarto, dan mulai sekarang, dia juga akan menjadi adik kalian! Ayo! Mana tepuk tangan kalian!"Mau tak mau, Jaka dan yang lainnya pun bertepuk tangan dengan wajah bego sambil mengikuti perintah Tante Roslia. Bahkan para pembantu juga yang tampak berwibawa seperti biasa."Baiklah, karena perkenalannya sudah selesai, jadi ayo kita sarapan. Ayo, ayo, kita harus makan biar bisa beraktivitas hari ini!"Setelah Tante Roslia duduk di kursi, Jaka dan yang lain pun ikut duduk. Sedangkan si anak baru itu duduk tepat di samping kiri Tante Roslia, yang berhadapan langsung dengan Jaka.Ada banyak makanan yang tersaji di atas meja, dan semuanya benar-benar tampak sangat enak. Semua orang membalik piring mereka masing-masing, dan mulai mengambil hidangan yang telah disiapkan, hingga membuat suara dentingan memenuhi pendengaran.Seperti biasa, Jaka selalu sarapan dengan sepiring nasi yang ditambah sayuran-sayuran tumis seperti kacang panjang dan buncis. Kemudian, setelah berdoa dia pun makan dengan lahap."Oh, iya. Tante bisa nggak bayarin baju praktekku? Soalnya sebentar lagi ujian, dan nanti kita diharuskan buat pakai baju praktek selama ujian." Tanya Ilham."Heh!? Tunggu, kenapa kamu baru minta sekarang!? Gila, padahal sudah mau ujian loh." Tanya Bibi Roslia yang terkejut setengah mati."Yah, cuma telat empat bulan nggak masalah, kok.""Nggak masalah ginjal kau retak!" Pekik Tante Roslia jengkel. "Kan Tante selalu bilang, kalau kalian butuh uang buat urusan sekolah, lebih baik cepat dilunasi biar nggak merepotkan pihak sekolah.""Hah... iya deh. Namanya juga lupa, Tante." Jawab Ilham kalem.Tante Roslia menghela nafas dalam dan pasrah. Tapi, begitu dia menyadari bahwa si anak baru itu sama sekali belum membalik piringnya, Tante Roslia kembali heboh."Loh! Ar! Kenapa kamu belum makan! Ayo sini, Tante ambilin." Ujar Tante Roslia sembari mengambilkan makanan untuk Armarto. "Nih, makan yang banyak, ya." Katanya.Jaka sadar, ada sesuatu yang aneh antara Tante Roslia dan si Armarto itu. Wajah Tante Roslia tampak sangat ganjil. Dia memang tersenyum seperti biasa, tapi bibirnya bergetar dan matanya pun terlihat seolah dia merasa sangat kesakitan. Seakan-akan Tante Roslia berusaha untuk tidak menangis.Namun, lambat laun, anak itu pun akhirnya mengangkat sendok dan garpunya, kemudian, dengan tangan yang gemetaran, dia pun berhasil menyendok nasi dari piringnya, yang lalu dia masukkan ke dalam mulutnya. Dia mengunyah dengan teramat sangat pelan.Jaka benar-benar kebingungan. Anak itu bertingkah seolah dia tidak pernah makan sebelumnya. Dan anehnya, Jaka percaya dengan kata hatinya itu.Tapi, tiba-tiba saja air mata anak itu mulai jatuh membasahi wajahnya. Air matanya terus mengalir dan tampak seakan tidak akan pernah berhenti. Wajahnya kosong tak mengekspresikan apapun, namun dia tetap menangis dalam diam."Aku nggak pernah makan makanan kayak begini sebelumnya... " Gumam Armarta sambil kembali melanjutkan makannya. "Ini sangat enak... Sudah lama banget... nggak tahu sudah berapa tahun aku nggak makan."Sementara itu, Bibi Roslia tiba-tiba meletakkan sendok dan garpunya di piring, lalu menutup wajah dengan tangannya, dan mulai menangis.Kesunyian seketika memenuhi ruang makan. Tak ada yang bersuara sama sekali, semuanya terdiam seribu bahasa. Dunia bahkan terasa seolah sedang berhenti bergerak."Ya... pada akhirnya, dunia ini sebenarnya baik, kan?" Kata Armarta. "Itu berarti, perang telah berakhir, kan?" Air mata anak itu mengalir semakin kencang, dan dia pun makan lebih lahap.Ini benar-benar pemandangan yang sangat menyakitkan untuk dilihat. Anak itu menangis hanya karena makanan. Jaka bertanya dalam hati, apa yang sebenarnya telah dilewati oleh anak itu? Kehidupan seperti apa yang telah ia lalui? Padahal, dia hanyalah seorang anak kecil.Dulu, Jaka pernah hidup di jalanan tanpa punya apa-apa, dan kehidupannya waktu itu tentulah terlalu jauh dari kata mudah. Dan waktu itu, Jaka merasa bahwa dirinyalah yang paling menderita di dunia ini, sampai-sampai, setiap hari dia hanya memikirkan tentang indahnya rasa dari kematian.Akan tetapi, setelah melihat keberadaan anak itu, Jaka tahu bahwa kehidupannya yang dulu, sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding dunia yang telah dilihat oleh anak itu.Pemandangan ini, lebih dari cukup untuk menjelaskan betapa pahitnya kenyataan itu.
Bebungaan yang Menyembunyikan Kengerian
Benar-benar sangat sulit untuk memandang dunia ini dengan cara yang baik, apalagi Sully juga hampir tidak pernah mendapati kebaikan yang layak sejak dia menetap di dunia manusia ini.Hari demi hari, dunia ini terus bergerak menuju ke dalam kehancuran oleh karena ulah manusia, dan itulah salah satu penyebab mengapa Sully begitu kesulitan untuk mempertahankan kebaikan yang ada dalam diriya. Meski begitu, Sully tetap tak berniat untuk menyerah terhadap kebenaran.Sully tidak akan pernah berhenti melindungi kehidupan, apapun yang terjadi."Tapi, bukan berarti menyerah itu buruk, bukan? Lagipula kita juga bisa beristirahat sejenak, kan? Maksudku, menyerah itu bukanlah suatu pilihan yang buruk atau baik, itu hanyalah sesuatu yang harus dilakukan disaat yang tepat demi kebaikan diri kita sendiri."Butuh waktu lama hingga perkataan Ujang lenyap dibawa angin yang berhembus kencang. Pemuda jangkung berkulit agak gelap itu berdiri di samping seorang lelaki misterius berpakaian aneh.Sosok pemuda elok berkulit putih dan berambut pirang emas cerah serta berpakaian kain putih bersih itu, bernama Sully, seorang yang mampu mengendalikan tumbuhan. Entah itu pepohonan, rerumputan, juga bunga-bunga. Bagi Sully, semua itu bagaikan bagian dari tubuhnya sendiri.Namun, Ujang tidak terlalu peduli dengan itu, karena baginya merupakan suatu kebahagiaan tiada tara karena bisa berteman dengan seorang yang baik seperti Sully. Dan disinilah, di bawah pohon beringin tua inilah, Ujang dan Sully selalu bertemu setiap hari."Hey, memangnya siapa yang ingin menyerah?" Tanya Sully heran. Pemuda itu masih duduk di bangku yang terbuat dari kayu jati tempat ia selalu duduk, sambil mengamati anak-anak yang tengah bermain di taman tak jauh di depan sana. "Siapa yang akan menjaga anak-anak itu jika aku menyerah? Kamu?""Wah... kejam amat, Pak." Gumam Ujang sambil meremas dada sebelah kirinya."Hehe... aku bercanda, kok." Kata Sully sambil nyengir. "Tapi, ya, aku tidak akan menyerah. Aku akan menjaga setiap anak-anak yang datang bermain di taman ini. Tak peduli mereka kelak akan menjadi pribadi yang buruk atau baik, yang penting, aku tetap akan menjaga masa kanak-kanak mereka, apapun yang terjadi.""Heh... kau benar-benar terlalu baik, loh, Sul." Ujar Ujang sambil tersenyum."Mereka... masih terlalu polos untuk melihat kenyataan lain dari dunia ini. Aku hanya ingin mereka terus bermain seperti itu, tanpa tahu apa-apa, dan membiarkan takdir yang akan menunjukkan kengerian itu kepada mereka suatu saat nanti.""Yap, aku juga setuju dengan yang itu." Kata Ujang. "Ngomong-ngomong, bisa nggak kamu urus yang itu dulu." Ujang menunjuk ke arah sosok makhluk lain yang berdiri tak jauh di sana dan tampak mengincar anak-anak di taman. Sosok itu seperti gumpalan asap hitam yang menyerupai serigala raksasa dan memiliki dua titik hijau menyala layaknya bola mata."Dosa? Padahal sekarang masih sore loh." Gumam Sully sambil menempelkan telapak tangannya di pohon beringin yang berada tepat di sampingnya.Tiba-tiba, akar pohon beringin itu mulai mencuat keluar dari dalam tanah dengan cepat, dan langsung mengejar serigala itu. Si serigala yang tidak menyadari kedatangan akar-akar itu tak mampu berbuat apa-apa saat akar-akar itu menembus tubuhnya dan mengangkatnya ke udara."Heh... sadis banget." Bisik Ujang ngeri sambil memandang ke atas pohon. Rupanya, di atas sana ada begitu banyak makhluk hitam yang telah dikalahkan oleh akar beringin tua itu. Ada yang berbentuk serigala, ular, banteng, singa, dan entah apa lagi. Semuanya sudah mati dan kini mereka mulai dilebur menjadi debu-debu cahaya hijau.Akan tetapi, entah kenapa leher ujang seolah bergerak dengan sendirinya, dan tatapan matanya yang kosong seketika tertuju ke arah setangkai bunga putih yang tumbuh sendirian di antara rerumputan tak jauh dari sana."Hmm... "Ujang lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sully dengan senyuman lebar yang terbentuk di bibir. "Kau benar-benar terlalu baik, Sul!" Ujar Ujang sambil merangkul Sully dan mengacak-acak rambutnya."Berhenti woy, Jang!"
Cerita Yang Menembus Batas Garis Kehidupan
Renaldi berbaring terpaku menatap suster yang sedang berusaha berbicara kepadanya. Entah mengapa sulit baginya memahami apa yang dikatakan wanita itu. Kesadarannya kembang kempis. Ia tak yakin sedang berada di mana. Apakah sekarang siang? Atau malam? Di mana ibunya? Mulutnya terasa kering.Sang suster menyodorkan segelas jus seraya membantu meletakkan ujung sedotannya di bibir Renaldi. Pemuda itu menyeruput sedikit. Tapi ia lekas merasa mual. Lidahnya hambar. Padahal biasanya ia sangat menyukai jus melon.Akhirnya sang suster pergi setelah membantunya mengubah posisi berbaring. Kini ia tinggal sendiri bersama kebingungannya. Ia mulai mengantuk. Tubuhnya lelah sekali. Ia memejamkan kelopak mata sembari menerka. Kapan?"Empat minggu lagi."Pemuda itu kembali membuka mata. Suara barusan benar-benar jelas. Tidak seperti perkataan sang suster yang bahkan tak bisa ia pahami setengahnya. Seolah suara barusan berbicara langsung ke dalam pikirannya.Disampingnya berdiri sosok besar berkepala tengkorak yang mengenakan jubah hitam."Siapa?" Mulut pemuda itu tak bergerak, tapi ia mengajukan pertanyaan tersebut."Aku adalah yang akan mencabut nyawamu, empat minggu dari sekarang."Akhirnya Renaldi ingat. Satu tahun terakhir ini ia sedang berjuang melawan kanker."Apa kau takut?" tanya sang malaikat kematian.Renaldi terenyak.Ia merenung beberapa saat, lalu menggeleng, "Nggak."Wajah tengkorak sang malaikat tentu tak menyiratkan apa-apa. Sementara Renaldi, ia sendiri keheranan. Ia sama sekali tidak takut, padahal dulu hanya melihat papan tulisan 'Kamar Jenazah' saja sudah membuat seluruh kuduknya merinding."Aku mengerti. Dalam posisimu saat ini, memang kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit," ujar sang malaikat seraya menganggukkan kepala."Entahlah," kata Renaldi. "Aku cuma senang akhirnya punya teman ngobrol.""Heh?""Kau mengingatkanku pada temanku waktu SD. Dia orangnya kekanak-kanakan. Ia senang memakai topeng ke sekolah lalu berlagak. Kadang ia memakai topeng Kamen Rider sambil berlagak seperti penegak keadilan. Kadang juga memakai topeng franskentein, kadang kepala gorila."Sang malaikat hening beberapa saat. "Tapi... Ini bukan topeng."Renaldi pun tertawa terbahak. "Aku tahu! Tidak usah dibawa serius begitu!"Sang malaikat hening lagi, lalu duduk di sofa yang kosong."Hei, hei, beri tahu aku," kata Renaldi lagi, seolah ia takut sang malaikat pergi kalau tak diajak bicara. "Apa di surga... ah, aku tidak yakin apa akan masuk surga... pokoknya di sebelah sana, apakah ada permainan gim? atau PS?""Uh... pertanyaan itu di luar kapasitasku.""Kenapa begitu?" Renaldi agak kecewa."Tugasku hanya mencabut nyawa manusia.""Tunggu! Jangan bilang... kau bahkan tidak tahu apa itu gim?"Sang malaikat tak menjawab."Jadi benar? Kau hidup selama ini tanpa tahu gim? Yang benar saja?!""Cukup! Aku tahu apa itu gim! Tapi itu tidak ada kaitannya—""Apa gim favoritmu?"Sang malaikat mendesah. Ia menyerah."Winning Eleven," katanya. "Bukannya aku pernah memainkannya. Aku hanya suka menonton orang-orang memainkannya.""Sama!" seru Renaldi tiba-tiba. "Sejak dulu aku tidak bisa bermain sepak bola. Biasanya aku jadi anak bawang, atau dipaksa jadi kiper. Gara-gara itu aku jadi sering dibuli. Tapi ternyata bakatku memang bermain bola di dunia gim, hahahaha.""Wow," respon sang malaikat datar. Kemudian ia kembali diam.Waktu terus berlalu."Hei," panggil Renaldi.Sang malaikat tak menjawab. Pemuda itu jadi khawatir."Apa aku membuatmu bosan?"Sang malaikat berdecak, "Kalau mau cerita, cerita saja. Aku mendengarkan."Renaldi terbelalak.Tiba-tiba saja, suatu bulir hangat mengalir dari sudut matanya. Seumur hidup pemuda itu tak pernah banyak bicara. Ia kira bermain game sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Ia tak pernah mengira selama setahun terakhir ini justru yang paling menyakitkan bukanlah proses kemoterapi. Melainkan, rasa kesepian. Ia ingin sekali memulai semuanya dari awal, tapi waktunya sudah habis."Kenapa malah menangis?" tanya sang malaikat. "Cepat cerita!""Ya... baik..." jawab Renaldi sesenggukan. Lalu ia tersenyum lebar. "Aku sering membayangkan bagaimana kalau diadakan turnamen Winning Eleven tingkat nasional! Pasti seru, kan. Pertama adalah pertandingan di tingkat sekolah, lalu perwakilannya melawan sekolah lain, sampai akhirnya wakil-wakil tiap provinsi bertanding untuk menentukan gelar juara."Renaldi terus bercerita, dan sang malaikat mendengarkan. Mereka melakukan hal itu sampai empat minggu lamanya, hingga waktu yang ditentukan tiba.Maka pagi itu, pukul empat lebih dua puluh, Renaldi semakin lemah. Dokter sudah pasrah. Kedua orang tuanya menanti dengan haru di samping tempat tidurnya. Pemuda itu tak bisa menahan tangisnya sendiri, tapi hanya air mata yang sanggup ia titikkan. Tenggorokannya sudah tak mampu bersuara."Siap?" tanya sang malaikat kematian.Renaldi membuat senyum terakhirnya, lalu mengangguk.Sang malaikat pun mencengkram ubun-ubunnya, lalu mencabut jiwanya.Pemuda itu memejamkan mata. Ia merasakan sensasi unik tak terjelaskan yang belum pernah ia rasakan semasa hidup. Saat sensasi itu hilang, ia membuka kedua matanya.Surga? Atau neraka?Namun, ternyata ia masih di bumi. Ia berdiri di samping sang malaikat kematian, di atas bangunan rumah sakit."Belum berangkat?" tanyanya."Ah... Kupikir... aku ingin mendengar ceritamu lebih banyak lagi," jawab sang malaikat kematian tanpa melihat ke arahnya. Makhluk itu tengah menatap pekatnya malam. "Ya... kau jelas layak untuk melihat kenyataan lebih dalam... " Gumamnya. "Di dunia ini, kau hidup dengan cerita yang terbatas karena rasa sakit yang kau derita. Tapi, karena rasa sakit itulah, kamu tumbuh menjadi sangat kuat. Jadi, sekarang aku akan membawamu ke sana... ke dunia yang penuh keajaiban. Karena aku yakin, anak yang kuat sepertimu, pasti bisa menemukan lebih banyak cerita di sana."Renaldi pun tersadar ia sudah tak lagi mengenakan baju pasien. Seluruh tubuhnya kini dibalut jubah hitam yang sama seperti yang digunakan sang malaikat."Sudah siap untuk tugas pertamamu?"Pemuda yang masih terkesima itu pun menjawab, "Tentu saja!""Ambilah semua kesempatan yang ada, entah itu terlihat baik atau jahat. Dan ingatlah, pada akhirnya, semua itu tergantung padamu." kata sang malaikat sembari melangkah pergi.
Terbang Meninggalkan Penyesalan Masa Lalu
Dodi berdiri di tepi atap sebuah gedung pencakar langit. Pemuda itu melempar tatapan ke kota di bawahnya. Cahaya yang berasal dari lampu jalan dan kendaraan bermotor, juga jendela-jendela rumah serta apartemen, bersatu-padu seperti gugusan rasi bintang. Begitu indah. Sebuah mahakarya yang terbentuk tanpa disengaja.Lalu pemuda itu melangkah. Tubuhnya serta-merta jatuh bebas, menuju rasi bintang di bawahnya.Namun, sesaat sebelum wajahnya menghantam lantai beton, tiba-tiba saja tubuhnya bergerak melawan gravitasi. Ia meluncur ke atas, menuju angkasa yang sebenarnya. Menembus lapisan awan, seperti seekor burung rajawali.Pemuda itu memejamkan mata, meresapi terpaan angin malam membelai wajahnya. Sejak dulu inilah mimpinya. Terbebas dari belenggu dunia. Pergi kemanapun yang ia inginkan, tanpa ada yang mengatur atau menghalangi. Ia selalu berdoa pada yang Maha Kuasa—meski ia tahu mustahil—tapi ia juga tahu jika Sang Maha Kuasa tak mampu mengabulkan ini, masih pantaskah Ia disebut Maha Kuasa?Dan kini Sang Maha Kuasa mengabulkan permintaannya.Meski dengan harga yang mahal.Malam itu, bertahun-tahun yang lalu, Dodi kecil terjebak dalam kemacetan lalu-lintas. Ia sudah bilang tak mau ikut, tapi orang tuanya memaksa dirinya ikut menghadiri pesta pernikahan seorang kerabat. Padahal ia sangat ingin menonton film yang saat ini sedang diputar di televisi.Kemacetan itu membosankan, membuat hatinya panas. Ia terus mengutuk dalam hati.Tuh kan, seharusnya aku tidak ikut! pikirnya.Ia mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai sebagai bentuk protes. Ayahnya merespon dengan membesarkan volume radio.Dodi pun berdecak. Ia menatap keluar jendela mobil. Hujan deras sepertinya membuat kemacetan semakin parah.Anak itu mulai melamun. Pikirannya melayang. Untuk kesekian kali, ia berharap dirinya bisa terbang. Membelah angkasa sambil menertawai orang-orang yang kesal terjebak macet. Terbang cepat seperti superman, menukik dan bermanuver, menjelajah hingga ke ujung dunia."Ah, jadi ini sebabnya!"Suara sang ayah membuat lamunan Dodi buyar. Di depan sana ada perbaikan jalan sehingga terjadi penyempitan lajur. Setelah berdesakan dengan mobil lain—dan sedikit adu klakson—akhirnya kendaraan mereka bisa lolos. Lalu lintas menjadi lengang. Ayahnya mulai menancap gas.Dodi selalu menyukai akselerasi. Ia yang tadinya nyaris mati bosan, kini mencondongkan kepalanya ke depan, di antara kursi kedua orang tuanya. Ia asyik memperhatikan jalan, seolah dirinya lah yang menyetir mobil."Pah, hati-hati," kata ibunya."Tenang saja, biar cepat sampai," jawab sang ayah.Dodi juga lebih senang begini. Paling tidak pengorbanannya untuk tak nonton televisi jadi tidak sia-sia.Namun, saat melewati jembatan, tiba-tiba mobil mereka oleng. Entah kenapa kendaraan itu tergelincir dengan sendirinya."Pah, jangan bercanda!" sang ibu sedikit berteriak.Tapi sang ayah tak menjawab. Hanya ada ekspresi panik bercampur ngeri di wajahnya. Sebab ia sendiri tidak mengerti. Padahal ia mencengkram gagang setirnya erat-erat, tapi roda kendaraannya seolah memiliki keinginan sendiri. Mobil mereka terus meluncur menghantam pembatas jalan, lalu terjun ke jurang yang cukup dalam.Entah apa yang membuat Dodi dengan sigap membuka kunci pintu. Ia melompat keluar. Ia sama sekali tidak berpikir bahwa tindakannya bodoh. Ia hanya merasa bahwa hal itu yang harus ia lakukan. Dan tubuhnya pun melayang di udara. Untuk sesaat kebahagiaannya membuncah. Ia benar-benar bisa terbang!Namun, berikutnya ia menyaksikan mobil yang masih membawa kedua orang tuanya meluncur ke jurang. Suara jeritan mereka terdengar begitu keras, hingga terpatri ke benak ingatannya. Kemudian kendaraan itu menghantam tanah, dan tak terdengar suara apapun lagi. Seketika anak itu menjadi lemas. Ia perlahan mendarat. Ia meringkuk putus asa di depan mobil yang hancur berantakan. Ia tidak berani melihat ke dalamnya. Ia tak mengerti kenapa doanya dijabah dengan cara seperti ini.Bertahun-tahun sejak saat itu, Dodi tak pernah lagi merasa bahagia. Ia bahkan lupa seperti apa rasanya bahagia. Meski berapa kalipun ia terbang membelah angkasa, ia sama sekali tak bahagia. Seolah ada lubang menganga di dadanya.Tiap pagi ia akan kembali ke kamar, lalu ke ruang tamu sambil pura-pura baru bangun tidur. Kakak perempuannya sudah menyiapkan sarapan sederhana seperti telur dadar atau gorengan nugget."Ayo makan sama-sama."Dodi mengangguk. Ia duduk berhadapan dengan sang kakak.Setiap hari, momen inilah yang paling menyiksa dirinya.Ketika ia harus bersikap seakan tak pernah terjadi apa-apa, padahal dirinya yang telah membuat mereka jadi yatim piatu. Kalau saja ia tak menginginkan permintaan aneh tersebut... saat ini keluarga mereka pasti masih utuh. Kakaknya bisa melanjutkan kuliah, tak perlu susah-payah bekerja untuk membiayai hidup mereka.Dada Dodi sesak."Kenapa?" tanya sang kakak keheranan. "Kamu udah nggak doyan telur?""Ng—nggak apa-apa Mbak."Dodi menelan ludah, lalu mulai menyantap sarapannya. Kemudian mereka berangkat.Setelah ratusan kali mengulang keseharian tersebut, akhirnya Dodi tak sanggup lagi.Malam itu, ia tak mengudara seperti malam-malam sebelumnya. Ia terjaga untuk menulis sebuah surat. Berkali-kali ia merobek kertasnya, lalu menulis lagi dari awal. Waktu sudah hampir dini hari saat ia akhirnya puas atas kalimat-kalimat yang ia susun. Ia meletakkan surat tersebut di atas meja, mengambil ransel, mengenakan jaket, lalu ia membuka jendela kamarnya, menatap gelap. Ia naik ke bingkai jendela. Untuk terakhir kali ia menoleh ke belakang, merekam situasi kamarnya dalam ingatan.Di cermin pintu lemari, Dodi menatap bayangannya. Disitu tampak siluet sosok pemuda bertubuh jangkung dengan mata yang menyala memancarkan warna keemasan."Ya... Aku nggak bisa menyalahkan sang Takdir, karena ia terlalu polos, dan dia juga hanya melakukan tugasnya. Namun, jika saja ada satu jalan, satu pilihan, apapun itu, aku akan mengambilnya, asalkan penyesalanku di masa lalu bisa sirna dari ingatanku... "Kemudian ia melompat.Tubuhnya terbang ke angkasa.Melebur dalam pekat malam.
She's Helena
Happy ReadingAku terbangun dari tidur yang ku rasakan bermimpi sangat lama, aku mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya mentari yang mengusik mata kemudian mengedarkan pandangan menatap langit-langit ruangan berwarna putih, ah tidak semuanya berwarna putih di ruangan ini.Aroma khas obat menyeruak di penciumanku, aku mencoba mengenali siapa perempuan yang sedang tertidur dengan kepala bertumpu di ranjangku ini.Menatap kemudian aku mencoba menggerakkan tubuhnya tapi rasa sakit menghantam kepalaku menciptakan lenguhan"Engghh.."Seorang wanita yang tertidur tadi segera terbangun karena merasa terusik. "Kamu sudah sadar?" tanyanya lalu wanita itu segera memanggil dokter.Dokter disertai perawat itu masuk memeriksa keadaanku yang baru saja bangun, dokter mengatakan bahwa keadaan aku itu stabil dan akan segera membaik. Entahlah aku masih bingung dengan ini semua.Wanita itu menghembuskan nafas seolah kabar itu menciptakan kelegaan di hati wanita itu. Namun dokter itu sedikit menjauh dan berbincang sedikit dengan wanita itu, lalu keluar. Entahlah aku tidak mengerti.Selepas kepergian dokter tersebut, wanita itu duduk dan kembali bertanya padaku "Bagaimana? Sudah baikan?"Aku menatap wanita itu sejenak sebelum menjawab "Kamu siapa?"Aku benar-benar tidak mengenali siapa wanita itu dan bahkan aku tidak tahu siapa aku sebenarnya.Aku menangkap raut wanita itu terkejut namun berusaha mengontrol emosinya "Aku Helena"Aku berusaha mengingat tapi nihil tak kutemukan jawaban itu, bahkan siapa aku?"Aku siapa?" tanyaku pada wanita yang baru ku ketahui bernama Helena, kurasa dia orang baik. Ia orang pertama yang aku lihat bahkan ia sampai tertidur hanya kepala saja yang bertumpu di ranjang. Pasti itu tidak menyenangkan."David. Ya namamu David" jawabnya"Lalu kamu siapaku?" tanyaku yang bingung tidak mengerti kenapa dia bisa disini, semuanya terasa membingungkan."Aku... Aku tunangan kamu"Aku tidak mengerti ada apa ini, aku butuh penjelasan "Aku tidak mengerti. Bisa tolong jelaskan semuanya padaku, Lena""Sudahlah, simpan pertanyaanmu nanti aku akan menjawabnya" lalu ku lihat Helena yang berkata bahwa ia tunanganku itu bangkit dari duduknya.Dengan cepat aku menggapai tangannya "Mau kemana?" tanyaku, ia tersenyum kemudian mengusap kepalaku dan berkata "Aku akan membelikan makanan untukmu"Dengan enggan aku melepaskannya dan ia pergi berlalu, sungguh ada banyak sekali rentetan pertanyaan bersarang dikepalaku. Aku ingin segera mengetahuinya.Seminggu berlalu dengan cepat dan aku sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Sehingga disinilah aku dengan tunanganku, Helena. Ia berkata ini adalah apartemenku dan benar terdapat bingkai fotoku disebuah ruangan yang Helena katakan tempatku menghabiskan waktu untuk bekerja.Satu hal yang membuatku bingung, Helena masih bungkam tidak menyuarakan penjelasan padaku, ia berkilah akan menjelaskannya nanti menungguku sudah membaik.Kami sedang duduk di depan tv, dengan Helena bersandar di bahuku dan sesekali menyuapkan buah padaku."Lena, aku ingin mendengar penjelasanmu. Ini sudah seminggu, dan kamu lihatkan bahwa keadaanku baik-baik saja" ucapkuHelena hendak bangkit menjauhkan kepalanya dari bahuku dengan cepat aku menahannya, "Tetap seperti ini" pintaku sambil menahan kepalanya, mengusap puncak kepalanya seolah tak ingin mengganggu hal yang disenanginya. Ia tunanganku bukan?Kudengar ia berdehem singkat "Kamu tahu Dave, saat itu kamu bertengkar dengan seorang wanita di jalan. Saat menemaniku ke mini market di ujung jalan sana."Ia menghela nafas "Saat aku melihatmu, aku ingin menghampirimu namun ada mobil yang melaju kencang. Aku pikir kamu tidak melihatku tapi ternyata kamu menyelamatkanku. Dan..." ia menghela nafas sebelum melanjutkan "Maafkan aku, karena aku kamu begini""Sstt... Sudahlah. Terpenting aku masih berada disini" jawabku "Tapi siapa perempuan itu?" tanyaku lagi"Aku.. Aku tidak tahu siapa perempuan itu. Ia langsung pergi meninggalkanmu saat itu"Aku mengangguk singkat tapi sejak kapan dan bagaimana aku kisahku dengan Helena sehingga kami bisa bertunangan"Boleh ceritakan kisah kita, sayang?" tanyaku memunculkan rona merah di pipinya, apa ada yang salah. Aku melihat beberapa pasangan menyebutkan kata 'sayang' pada kekasihnya"Kisah kita?"Aku mengangguk "Seperti awal pertemuan kita" balaskuSaat ini kami sudah duduk saling berhadapan, ia tersenyum dan pandangannya seakan menerawang "Pertemuan kita di Bandara, Bandara ngurah rai. Saat itu aku sedang menunggu taksi dan kamu dengan baik hati menawarkan tumpanganmu, padahal kamu tahu Dave? Di pesawat kita bertengkar, ada saja hal yang kita perdebatkan. Kita duduk bersebelahan saat itu." Helena tertawa kecil seoalah memori itu begitu indah untuknya"Lalu lama kelamaan kita dekat dan yaa menjalin hubungan dan akhirnya kamu..."Baiklah aku mengerti, aku tahu bahwa ia akan mengungkapkan aku kecelekaan hingga amnesia. Segera ku rengkuh tubuhnya mengusap surai hitamnya.Aku merasa bersalah tidak mengingat moment indah kami "Maafkan aku tidak mengingatnya. Andai aku mengingatnya pasti akan menyenangkan" ucapku.Helena menggeleng " Tidak apa, ayo kita buat kenangan baru dan lebih banyak lagi" ucapnya dengan tersenyum sambil menyeka air matanyaAku mengangguk membantunya mengusap ait matanya " As your wish , Honey "----Pagi ini aku terbangun karena mendengar suara di dapur, membuka pintu aku langsung menghirup aroma masakan.Aku berjalan ke arah dapur, tersenyum singkat ternyata tunanganku sedang menyiapkan sesuatu untukku.Aku berjalan mendekatinya, memeluk tubuhnya dari belakang serta menumpukan kepalaku di bahunya."Sudah bangun?" tanyanya yang hanya ku angguki."Tumben pagi sekali sudah datang. Masak apa?""Hari ini kamu check up, ingat?" tanyanya padaku menghiraukan pertanyaanku sebelumnya"Iya aku ingat" jawabku, ia mematikan kompor dan berbalik ke arahku.Tangannya ia kalungkan di leherku, ekspresinya sungguh menggemaskan. Aku mendekatkan wajahku berniat mengecupnya sedikit tapi ia sudah berkata "Tidak boleh" seraya jarinya menutup mulutku dan ku balas dengan gigitan di jarinya"Ewuh.. Dave" protesnyaAku menggenggam jarinya menatap kejanggalan yang ada disana "Sayang, dimana cincin pertunangan kita?"Helena tampak terkejut, apakah pertanyaanku aneh? Wajarkan jika aku bertanya padanya"Aku.. Aku lupa meletakkannya dimana" balasnya,"Nanti aku akan mencarinya" tambahnya.aku memandang raut wajahnya. Enggan bertanya lebih, takut menyakiti hatinya."Mmm.. Dave, aku.."Aku menatapnya sepertinya ada yang ingin dikatakannya namun ia ragu, "Ada apa? Katakan saja"ku lihat ia menggeleng lalu berkata "Yasudah.. Ayo kita sarapan. Setelah itu mandi lalu kita berangkat" ucapnya yang langsung ku turuti sepertinya ia mengalihkan topik, sudahlah biarkan saja.Seperti rencana, kami sudah melakukan chek up. Dokter mengatakan bahwa keadaanku semakin membaik. Aku bersyukur memiliki tunangan seperti Helena.Dia cantik, mandiri juga tegas. Dan sikapnya bisa berubah manja sekaligus padaku."Dengan dibantu mengingatkannya pada hal-hal kecil itu akan membantu saudara Dave" itulah yang dikatakan oleh dokter, aku tidak khawatir karena aku memiliki Helena.Kami berjalan sambil bergandengan tangan keluar menuju parkiran, setiba di parkiran yang tak jauh dari letak mobil kami berada langkah Helena terhenti dan ia juga melepaskan tautan tangan kami, yang otomatis langkahku juga terhenti dan menatapnya.Baru saja aku ingin bertanya pada Helena namun suara lirihan orang lain terdengar"Sam.." lirih seorang wanita disana, aku mengernyitkan dahi. Kenapa dia memanggilku Sam.Lalu ia mendekat mencoba meraih tanganku yang langsung ku hindari "Maaf, kamu siapa?" tanyaku, ku dengar ia menangis sesenggukan, apa ada yang salah"Sam, ini aku.. Arlita""Aku David, bukan Sam" ucapku"Ya, David Samudra. Kamu lebih suka di panggil Sam" jelas wanita itu yang semakin membuatku bingung."Sam, aku tunangan kamu, Arlita. Bagaimana mungkin kamu menghilang begitu saja dan apa ini"Tunangan katanya?Aku menggeleng "Saya tidak mengerti" hanya itu yang mampu ku ucapkan.Aku menoleh menatap Helena yang hanya diam. Apa dia marah? Tidak ingin menyakiti hati Helena akupun merangkulnya mengajaknya pergi dari sana."Ayo Sayang" ucapku yang diikuti Helena"Tunggu" ucap wanita itu. Kami berhenti dan wanita itu mendekatikami dan menampar pipi Helena membuat kami terkesiap. Aku membantu Helena dengan tetap merangkulnya"Dasar tidak tahu malu!" teriaknya"Sam, kamu harus tahu. Dia perempuan yang membuat kita bertengkar. Aku tunangan kamu, kita bahkan sudah bersama sejak SMA" Jelasnya lagi yang membuatku bingung"Ayo Sam, ingatlah kenangan kita"Aku berusaha mengingatnya, tapi yang ku dapat hanyalah sakit yang begitu mendera. Aku memegang kepalaku kuat-kuat rasanya sungguh sakit sekali.Ku lihat Arlita mendekat tapi aku semakin mundur. Aku tidak mengerti penjelasan itu, Helena selalu menceritakan bagaimana aku yang ketus dan lebih suka dipanggil David olehnya dan lain-lain. Itu membuatku pusing.Aku memegang pergelangan tangan Helena, dengan sigap ia memapahku memasuki mobil dan meninggalkan pelataran rumah sakit.Entah bagaimana kesadaranku raib seketika dan menggelab setelah sebelumnya aku mendengar gumaman Helena mengatakan "Maafkan aku, Dave"Kilasan aneh saat aku terpejam begitu tercetak di mimpiku, kilasan pertemuanku dengan Helena di pesawat meski aku tidak terlalu jelas tapi itu memanglah wajah Helena.Perlahan aku membuka mata meringis merasakan sakit di kepalaku."Dave.. Sudah sadar" ucap pertama kali aku membuka mata, selalu Helena. Aku semakin yakin bahwa ia tunanganku, dan bahkan yang kurasakan aku mencintainya. Entahlah tapi rasa tak ingin kehilangan begitu kental di hatiku."Helena, aku mencintaimu."Helena hanya diam namun ia tersenyum dan mengangguk sambil terus menggenggam jemariku."Kamu mencintaikukan?" tanyaku padanya"Tentu saja""Terlepas dari masa lalu sebelum aku amnesia, tetaplah bersamaku. Aku memanglah tidak tahu apa yang terjadi di masa itu tapi saat ini aku yakin bahwa aku begitu sangat mencintaimu" ucapku tulus dengan bersungguh-sungguh padanya.Aku tidak perduli ada apa dan mengapa tapi hanya Helena, aku ingin selalu dia berada di sisiku.Setetes air mata menetes di wajahnya, aku mengusapnya. Menggeleng seraya mengatakan "Jangan menangis, sayang. Stay with me , okay " ia mengangguk meskipun masih menangis.Ya biarlah begitu.-----Sudah 2 bulan selepas kejadian itu. Hubunganku dengan Helena juga semakin membaik seiring berjalannya waktu.Aku bahkan sudah dapat mengingat sedikit demi sedikit.Kini aku duduk di cafe tempat janji temu dengan Helena, aku tidak sabar bertemu dengannya.Tiba-tiba di sisi kiri mejaku ada anak kecil mungkin usianya sekitar setahun hendak terpleset aku berusaha menolongnya namun entah bagaimana kepalaku malah terbentur nampan pelayan yang sedang lewat.Ah ini seperti pernah terjadi, "Hei, hati-hati boy." ucapku pada anak itu yang tak lama ibunya datang dan megucapkan terima kasih telah menolong anaknya.Aku duduk termenung, ingin sekali rasanya aku mengingat semuanya. Akupun berusaha mengingat, sakit sungguh sakit sekali rasanya. Namun aneh, kilasan balik semua tercetak jelas. Bahkan kejadian terbentur nampan pernah ku rasakan, dan wajah Helena yang muncul disana bukan Arlita yang mengaku tunanganku tempo hari lalu.Tapi kilasan itu juga jelas bahwa ada Arlita disana. Menghembuskan nafas aku mengontrol diriku.Lama aku menanti, seorang wanita yang pernah aku temui di pelataran rumah sakit datang dan duduk di hadapanku, ya dia Arlita."Hallo, Sam" sapanya"David. Bukan Sam" balasku, wanita bernama Arlita itu terseyum mengangguk"Baiklah, David. Aku ingin berbicara padamu sebentar saja"Aku melihat ke arloji, aku takut jika Helena tiba dan salah paham atas pertemuanku dengan Arlita ini. Bagaimanapun hati perempuan itu begitukan? Mengaku tidak apa-apa padahal jelas terjadi apa-apa."Baiklah, cepat katakan" putusku yang memang ku akui penasaran."Dave, aku ini tuna..""Tunanganku, benar?" potongkuIa diam mengangguk "Dave, maafkan aku. Awalnya aku tidak tahu jika kamu kecelakaan selepas kita bertengkar"Tunggu jadi ia yang dikatakan Helena saat itu "Sebenarnya siapa kamu ini Arlita?" tanyakuIa menghembuskan nafas lelah "Aku tunangan kamu, lihat ini cincin yang pernah kamu berikan padaku" sambil memperlihatkan cincinnya sebelum melanjutkan penjelasannya."Saat kamu koma di hari ketiga, kamu sadar dan selalu menyebutkan nama Helena namun kamu kembali koma hingga dokter menyarankan Helena disisimu. Entahlah aku juga tidak mengerti. Tapi aku mohon ingatlah kenangan kita, Dave"Aku memejamkan mataku, kembali.. Kilasan itu bergerak sangat cepat kepalaku semakin berdengung sakit. Kurasakan tangan Arlita menyentuh bahuku wajahnya tampak khawatir. Aku ingat, aku ingat...Aku memerintahkan ia duduk kembali kala sakit dikepalaku sedikit mereda "Lanjutkan ceritamu" pintakuIa diam sejenak menatapku "Ini kesalahanku, aku memberikannya password apartemenmu bermaksud ia akan menebus kesalahannya itu yang dikatakan padanya. Aku pikir ia akan membantu kita ternyata ia egois. Ia lebih mementingkan cintanya terhadapmu."Fakta baru yang membuat aku tidak mampu mengatakan apapun "Lihat Dave, ini foto moment kita saat bersama" ia memberikan ponselnya padaku memperlihatkan segala foto dengan kami berdua.Lalu bagaimana ini? Arlita yang memang tunanganku tapi aku mencintai Helena.Yaa aku sudah mengingatnya sekarang disertai bukti yang diberikan Arlita.Tetap saja, aku tidak menerima kebohongan atas Helena lakukan. Aku mengedarkan pandangan dan menangkap sosok Helena berdiri di depan pintu cafe, pandangannya sendu menatapku.Aku bangkit ke arahnya "Kenapa Helena?" tanyaku."Dave.. Aku" aku menggeleng enggan mendengar penjelasannya. Andai saja, ia tidak berbohong sedari awal.Aku mengambil kotak beludru berisi cincin dari sakuku dan menyerahkan itu ketangannya "Aku sudah melupakan semuanya berniat hanya ingin denganmu tapi kebohonganmu.." aku menghembuskan nafas dan berlalu pergi dari hadapannya.Aku berjalan keluar cafe, jika tidak salah diseberang jalan sana ada taman aku akan kesana untuk menenangkan hatiku serta mencari jawaban atas hatiku.Namun baru saja aku sampai di trotoar seberang jalan, bunyi benturan kuat memekakan telingaku. Tunggu.. Apa itu? Aku segera membalik tubuhku mendapati Helena bersimbah darah, rasanya lututku lemas.Berjalan perlahan menghampirinya "Helena.." lirihku, aku menumpukan kepalanya di pangkuanku, tidak ku hiraukan darah yang mengenai kemejaku. "Tolong..." teriakku frustasi"Sayang, bertahanlah" ucapku lagi padanya. Ia terbatuk, aku menggelengkan kepalaku berharap ini hanya mimpi"Dave, maafkan aku." ucapnya dengan parau tapi aku menggeleng "Kamu bilang tidak ingin berpisah denganku" ucapnya lagi sebelum terbatuk"Iya sayang itu benar. Bertahanlah.." balaskuIa menggeleng pelan "Aku tidak bisa, aku salah. Kembalilah bersama Arlita. Maafkan aku" gumamnya lagi sebelum matanya tertutup meninggalkanku dengan segala rasa frustasiku."PAPAAAAA!!" Teriakan pagi hari Aksa menyentakku dari lamunan itu, setiap pagi ia selalu memanggilku hanya untuk sarapan saja. Anakku sungguh pintar meski usianya sudah menginjak 5 tahun.Aku segera bangkit dari ranjang menghampiri Aksa yang sedang duduk bercerita dengan ibunya."Ma, Aksa ingin bisa mengendarai pesawat. Aksa ingin jadi supir pesawat""Pilot. Supir pesawat disebut Pilot." selaku sambil mencium pipi jagoanku."Hari ini kamu tidak kerjakan" tanya istriku, aku tersenyum mengangguk."Mas, aku ingin memberikan surat ini" lalu ia mengulurkan surat itu padaku "Beberapa tahun lalu aku menemukannya di laci nakas. Maaf baru memberikannya sekarang"Aku menghela nafas, sudah 7 tahun berlalu juga. "Tadinya aku sangat marah pada Helena tapi setelah membaca surat itu, aku mengerti""Arlita, sudahlah..""Kamu harus baca surat itu, mas. Setelah mengantar Aksa ke sekolah kita akan ke makam nya." balas Arlita.Ya, kecelakaan itu merenggut nyawa Helena. Sudah 7 tahun berlalu, setiap tahunnya aku dan Arlita ke makamnya untuk berziarah di hari tepat kematiannya seperti hari ini.Aku segera membuka surat ituHallo, David.Yang pertama maaf aku berbohong. Niat awalku hanya ingin membantu kalian yang bertengkar karena aku.Tapi aku juga berusaha ingin mempertemukan kalian suatu hari meski aku akan kehilanganmu.Tapi kau tahu? Egoku menghancurkan itu. Alih-alih mengatakan aku temanmu tapi aku malah berkata tunanganmu.Lucu sekali ya. Aku merasa bersalah tapi tidak memiliki kekuatan untuk menyampaikan itu semua makanya aku menulis surat.Tolong.. Jangan marah padaku. Aku hanya orang dari salah satu korban cinta.Dan mengenai pertemuan kita, benar saat kau memberikan tumpangan itu, aku mencintaimu. Dan kau tahu David? Perdebatan kecil kita di pesawat jugaku sengaja, karena saat melihatmu pertama kali aku sudah merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Dan kau juga harus tahu Dave, aku baru saja patah hati saat itu. Tapi melihatmu seketika aku lupa.Hingga kau mengantarkan aku di minimarket, aku melihat kau bertengkar dengan seorang perempuan yang ternyata, Arlita tunanganmu. Niatku ingin meluruskan kesalahpahaman.Tapi ternyata semakin memperburuk keadaan. Sekali lagi, maafkan aku.The And
Unexpected Love
I'm Come back, guys. Adakah yang rindu. Semoga bisa menemani Saturday Night kalian yaaaSemoga terhibur .Happy Reading , guysRinai sudah reda berjatuhan membasuh bumi pertiwi walaupun tidak terlalu deras. Aku yang masih berdiri di pelataran kantor melipat tanganku berusaha menghalau hawa dingin yang menembus tulang.Aku melihat jam yang bertengger di pergelangan tanganku menunggu seseorang yang berjanji akan menjemputku. Sudah pukul 8 malam, waktu yang cukup terlambat untuk kepulangan dari kantor. Hari ini lembur, ini semua ulah kepala divisiku yang seenak jidatnya mengatur karyawannya.Mobil hitam terhenti tak jauh dari tempatku berdiri, seorang pria yang ku cintai turun menghampiriku. Aku melambaikan tanganku, ia tersenyum menghangatkan sudut hatiku.Ku lihat ia membuka jas kerjanya, memakaikan pada tubuh kurusku namun cukup berisi untuk seorang perempuan yang berusia 23 tahun dengan tinggi 157 cm.Ini adalah hari pertamaku bekerja, dan benar sekali, di hari pertama bekerja aku sudah kena lembur oleh kepala divisiku. Uh rasanya aku ingin bercerita banyak bersama pria yang ku cintai ini, sudah seminggu kami tidak bertemu.Pria itu berucap "Dingin ya, Lisa. Ayo pulang" ajaknya padaku sambil melingkarkan lengannya di bahuku, ah rasanya sungguh nyaman."Bagaimana hari pertama kerjanya?" tanyanya, namun belum sempat bibirku berucap ponsel di sakunya berdering.Ia menghentikan langkahnya, tangannya masih merangkulku dengan sigap tangan satunya menjawab panggilan di ponselnya. Aku mengalihkan wajahku berpura tidak melihatnya."Baiklah, Amel" hanya itu suara yang sangat jelas ku tangkap di indera pendengaranku.Ia melepaskan rangkulannya dan menatapku dengan tatapan memohon maaf, ya aku tahu jelas artinya apa.Aku mengangguk "Pergilah.." ucapku"Maafkan aku, Amel memintaku menjemputnya." balasnya, aku sudah paham itu dan ini bukanlah pertama kalinya untukku. Ku lihat ia mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu kembali berucap "Dengar, tunggu disini jangan kemanapun. Aku sudah memesankan taksi online untukmu. Mengerti?"Aku mengangguk seraya tersenyum "Baiklah. Hati-hati" jawabku, ia mengacak singkat rambutku sebelum pergi meninggalkanku bersama sendu gelapnya malam.Aku merapatkan jas yang tersampir di tubuhku dengan harum parfumnya terasa nyaman di penciumanku seraya menatap nanar punggungnya yang meninggalkanku dan hilang ketika ia memasuki mobilnya.Ah bukan hanya rambutku yang di acak tapi hatiku juga terasa diacak-acak olehnya.Bian Alprasesa. Seorang pria berusia 24 tahun, anak teman dekat ayahku. Pria yang sudah mengisi hatiku delapan tahun lamanya.Sedari kecil kami memang selalu bersama, rumah yang berdekatan serta sekolah yang selalu bersama. Entahlah saat itu ia bagaikan sosok kakak lelaki bagiku hingga saat usiaku 15 tahun aku menyadari bahwa aku mencintainya, aku tidak memandangnya sebagai sosok kakak.Dan tentu saja ia menganggapku hanya sosok adik kecilnya yang harus dijaga. Ia juga sudah terlalu sering bergonta-ganti pacar yang berujung aku ditinggalkan olehnya jika pacarnya memintanya bertemu.Dan yang paling menyebalkan adalah pacarnya akan selalu mengadu padaku jika kak Bian menyakiti mereka. Hanya reaksi kata "Baiklah, nanti aku bicarakan pada Kak Bian" yang aku berikan pada mereka, karena hatiku sendiripun rasanya sakit.Orang tua kami adalah orang yang terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan kabar pada anaknya, jika salah satu orang tua kami pulang maka mereka akan mengundang kami makan malam. Seperti malam itu tepatnya beberapa hari yang lalu saat aku makan malam di rumahnya bersama ayah dan juga ibunya, ia mengatakan hal yang membuat hatiku berkedut nyeri.Saat makan malam sedang berlangsung kak Bian mengatakan bahwa ia akan melamar gadis bernama Amel, aku yang mendengarnya tersedak yang langsung diberikan segelas air oleh kak Bian.Ayah dan ibunya juga terkejut bahkan beliau sempat mengatakan "Kenapa mendadak, Bi? Apa kau menghamilinya?" tapi kak Bian hanya menjawab "Tidak pa, aku tidak seberengsek itu. Amel menanyakan keseriusanku padanya" ucapnya padahal yang ku ketahui mereka baru berpacaran 3 bulan lamanya.Namun tanpa berniat mendengar kelanjutannya, aku pergi meninggalkan makan malam itu memasuki kamar tamu yang biasa ku gunakan jika aku menginap di rumahnya kala orang tuaku tak di rumah. Aku hanya berkilah bahwa aku sedang tidak enak badan."Nona, benar atas nama Bian?" teriakan suara pria dari dalam mobil menarik lamunanku, sepertinya ini taksi online yang sudah dipesan kak Bian. Aku segera mengangguk dan melesak masuk ke dalam taksi.Dan sepertinya aku harus secara benar-benar melupakan kak Bian.Bukankah aku juga berhak untuk bahagia? Seperti yang dilakukan kak Bian pada Amel.Lagipula seperti apa rasanya berpacaran? Hidup selama 23 tahun aku tidak pernah merasakan berpacaran.Bukan karena aku jelek, mereka bilang aku cantik dan menarik hanya saja kak Bian selalu menghalangiku.----Sudah dua bulan lamanya aku aku berhasil menghindari kak Bian, aku selalu berusaha mencari alasan-alasan kecil untuk tidak terlalu dekat padanya. Seperti tadi pagi saat ia menjemputku berniat mengantarkanku ke kantor untuk bekerja belum sempat aku mengucapkan sepatah katapun, klakson mobil berbunyi.Kepala divisi bidang akunting, Jatmiko, ya kepala divisi yang di awal pertemuan kami ia sudah membuatku lembur entah bagaimana seiring berjalannya waktu kami menjadi dekat. Dan pagi ini ia datang menjemputku.Ia memang kerap beberapa kali menjemput dan mengantarku bekerja, dimana ia selalu mengatakan bahwa "Kan searah".Aku menghela nafas karena untuk kesekian kalinya aku bisa menghindari kak Bian, setidaknya aku ingin melupakannya juga dan menikah dengan orang yang mencintaiku."Kak, aku berangkat dengan pak Miko saja" ucapku pagi tadi dan ku lihat ia hanya mengangguk pasrah lalu mengusap lembut rambutku.Saat ini aku sedang duduk di cafe yang tak jauh dari kantorku, duduk sambil menikmati dalgona coffe yang akhir-akhir ini sedang viral. Rasanya segar sekali cocok dengan cuaca yang panas ditambah aku yang sedang menahan rasa kantuk.Aku tahu cara membuat dalgona coffe ini, membuatnya sangatlah mudah. Aku jadi ingin membuatkannya untuk kak Bian. Karena dari dulu semua percobaanku dia yang selalu mencobanya.Ah shut up, Lisa! Harus Move on.Tak lama seorang pria duduk di depanku sambil menyesap coffenya dengan berbalut kemeja biru muda, yang lengan kemejanya digulung hingga ke siku." Long time no see.. Remember, me?" ucapnya padaku, aku mengernyitkan seakan teringat siapa pria ini."Ra.. Radit, Right? " balasnya dengan antusias dan pria itu juga tersenyum.Dia tertawa singkat lalu berujar "Apa kabar, Lis?""Ya beginilah, sehat. Kamu bagaimana?" tanyaku" You look me, I'm fine. Btw , bodyguard kamu kemana?"Aku mengernyit tak mengerti maksudnya, seakan mengerti Radit berucap "Bian, bagaimana sudah jadian?" tanyanyaAku tertawa sebelum menjawab "Kak Bian menganggapku adiknya, begitu pula aku jadi mana mungkin kami memiliki hubungan lebih" walaupun sebenarnya aku ingin kak Bian memelukku lalu mengatakan bahwa ia mencintaiku."Tidak mungkin. Ia jelas mencintaimu, bahkan dulu aku pernah dilempar petasan olehnya" balasnya lagi sambil tertawa di ujung kalimatnya.Aku sudah bilang bukan bahwa kak Bian selalu menghalangi pria yang dekat denganku.Aku juga tertawa mengingat moment itu, saat itu aku dan Radit masih duduk di bangku kelas dua hanya beda kelas, aku di IPA dan Radit IPS. Ia selalu memiliki cara untuk mendekatiku dan kak Bian selalu memiliki cara untuk menyingkirkan pria yang selalu berusaha mendekatiku seperti melempar petasan ke Radit saat kami duduk berdua di taman, ia mengatakan bahwa ia takut aku disakiti tanpa pernah ia sadari aku sakit karenanya.Aku menatap jam yang bertengger di pergelanganku, seperti jam makan siang akan berakhir dan dengan segera aku bangkit untuk pamit dari hadapannya karena akan melanjutkan pekerjaanku dengan sebelumnya ia meminta no ponselku.---Hari ini aku kembali lembur, aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul sembilan malam.Akupun bergegas segera membereskan berkas tiba-tiba ponselku berdering menampilkan nama kak Bian. Ada apa sih ia menghubungiku, tidakkah dia tahu aku sedang menjaga hatiku agar tidak terbawa perasaan padanya.Ponsel berhenti berdering, beberapa menit kemudian kembali berdering dengan malas aku mengangkatnya namun bukan suara kak Bian melainkan suara pria lain.Seorang bartender menelponku untuk menjemput kak Bian, ah kalau begini aku jadi khawatir padanya. Semabuk apa dia sekarang ini.Dengan cepat aku memesan ojek online agar lebih cepat sampai. Sampai disana aku mulai masuk perlahan, yang mana aroma alkohol begitu menyengat sampai ke paru-paru. Sungguh baru kali ini aku masuk ke tempat seperti ini.Membayangkan sajapun aku tidak pernah.Aku menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari kak Bian, ah dia di depan meja Bartender. Aku melesat segera menghampirinya."Kak" ucapku padanya sambil menepuk bahunya"Ah.. Sayangku" racaunya sambil berusaha memelukku."Ayo kita pulang" ucapku sambil berusaha memapahnya.Uh sungguh dia itu berat, "Kak mana kunci mobilnya?" tanyaku lagi tapi dia hanya diam, apa segitu mabuknya.Aku merogoh ke saku celananya, diluar dugaan ia malah berkata "Geli, honey. Sabar" lalu ia membantuku mengambilkan kunci mobilnya padaku.Setelah memastikan ia duduk di kursi penumpang samping kemudi akupun memposisikan duduk di balik kemudi dan mulai mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.Sampai di rumahnya aku kembali memapahnya menaiki kamarnya yang ada di lantai dua, oh sungguh perjalanan yang panjang dan menyusahkanku.Begitu sampai di kamarnya, aku membaringkannya, membantunya membukakan sepatu juga kaos kakinya dan aku juga membantunya membukakan jas serta dasinya.Aku berjongkok seraya menghela nafas lelah, sejenak memandang wajahnya yang sungguh tampan dan ku idamkan menjadi suamiku kelak meski aku sadar siapa aku.Kembali menghela nafas, aku mulai bangkit dan pergi namun tangan kak Bian menarikku sehingga aku terjatuh di sampingnya, ia memelukku dengan erat."Sayang, aku rindu" gumamnya membuatku memutar bola mata, ia pikir aku Amel kali ya"Kak, ini aku Lisa" balasku menyadarkannya, sesak juga dipeluk erat begini lalu ia membalikan tubuhnya menjadi di atasku sedangkan aku di bawahnya." I know ." balasnya yang membuatku bingung, apa efek alkohol begitu dahsyat yaa sampai ia jadi begitu."Kak.. Ay.." ucapanku terhenti kala bibirnya membungkamku, hanya sebatas kecupan. Ia melepaskannya lalu menatapku yang ku balas dengan tatapan tak percaya.Bukan sadar, ia malah kembali mendekati wajahnya dan kembali menciumku kali ini ia melumatnya, entah setan dari mana ataupun apa aku tidak mengerti tapi aku juga membalas ciumannya.Rasa yang tak pernah ku rasakan selama hidupku ini, dan akupun tak mengerti mengapa malam ini aku melakukan hubungan itu dengannya.Aku tahu kak Bian mabuk sedangkan aku dalam keadaan sadar, logikaku menolak tapi reaksi tubuhku menginginkannya, hal yang seharusnya ku berikan pada suamiku. Rasanya aku menikmatinya meski aku tahu kak Bian dalam keadaan mabuk.Dan aku menyukainya, ya ketika dia menyebutkan namaku di sela aktivitas kami yang terasa salah.Aku mengerjabkan mataku, tangan kiriku berusaha menghalau cahaya mentari yang mengusik tidurku, entahlah mimpi tadi malam begitu terasa indah.Mimpi yang begitu penuh hasrat menggebu dan menyenangkan, mimpi yang akan menjadi malam yang panjang untukku.Perutku terasa berat seperti tertindih sesuatu, ku lihat ada tangan di bawah selimut memelukku dengan erat.Oh Tuhan.. Apa yang terjadi? Bahkan aku tak mengenakan sehelai benangpun.Ini bukanlah mimpi.Aku menolehkan wajahku pada seoarang pria yang tak lain kak Bian, aku memiringkan tubuhku ke arahnya menatap wajahnya yang masih setia memejamkan matanya dengan ekspresi tak percayaku.Apa yang sudah ku lakukan? Aku berusaha mengingat apa yang terjadi dan sialnya semua terasa detail di ingatanku, bahkan kini air mataku mulai berkaca-kaca.Biar bagaimanapun aku yang salah, aku dalam keadaan sadar.Terasa ia memelukku semakin erat, merapatkan tubuhku ke dada bidangnya. Aku menangis sesengukan disana, aku bingung harus bagaimana. Bukankah ia akan segera melamar Amel? Demi Tuhan aku tak ingin menyakiti mereka meskipun aku mencintai pria ini.Kak Bian mengelus suraiku sesekali mengecup puncak kepalaku lalu berkata " It's okay, dear" bukan menjawab aku semakin menangis."Kak bagaimana ini?" parauku"Tenanglah, aku akan bertanggung jawab, okay ?"Sungguh aku menginginkan ia tapi bukan berarti aku harus menghancurkan istana Amel, kan?Aku juga sangat menginginkan pria ini tapi juga dengan cintanya. Aku tak ingin memaksanya hanya karena rasa bersalahnya, karena di sini aku yang salah.Perlahan aku menggeleng, kurasakan ia terkejut, aku melonggarkan pelukan kami lalu menatap manik matanya, yang mana menatap manik matanya saat ini entah kenapa ada ketulusan disana "Aku tidak ingin jika kakak menikahiku hanya karena rasa bersalah" ucapku perlahanIa menggeleng dengan tegas kemudian ia berkata "Tidak, apapun itu aku akan tetap menikahimu"Andaikan ia mencintaiku, tapi bolehkah aku egois?"Bagaimana dengan Amel?" balasku lagi yang sudah meninggikan satu oktaf suaraku padanyaIa menghembuskan nafasnya, "Tenanglah.. Aku akan mengurusnya" jawabnya sambil mengusap pipiku "Tapi... boleh aku memintanya lagi?" tambahnya dengan ekspresi menjengkelkan.Aku membelalakkan mata tak percaya pada kata yang di ucapkannya, aku masih mode marah ini.."Kak!" pekikku kala ia menggigit leherku dan ia tertawa, namun selanjutnya aku bangkit ke kamar mandi dengan membelitkan selimut di tubuhku dan membuatnya kelimpungan untuk menutupi tubuhnya.Rasakan itu.Sejak kejadian beberapa minggu yang lalu aku memang sudah menyandang status resmi menjadi istri sahnya. Tapi tidak dengan cintanya, ya bahkan di malam pernikahan itu ia menemui Amel hingga waktu tengah malam ia baru kembali ke kamar kami. Bahkan aku sudah berhenti bekerja karena permintaannya.Meskipun saat ini hubungan kami seperti suami istri pada umumnya, seperti pagi ini aku memasangkan dasi untuknya."Baiklah aku pergi ke kantor dulu ya. Ada apapun kabarin aku, okay" ucapnya padaku lalu mengecup keningku, dan aku mengantarkannya sampai di pintu lalu menyalim tangannya. Sebelum masuk ke dalam mobilpun ia kembali mengecup kening dan mengelus perutku, entahlah.. Aku membiarkannya saja.Aku berlari ke kamar mandi, sejak beberapa hari ini memang tubuhku terasa tidak enak bahkan perutku mual sekali. Aku memijat pelipisku, dan segera mencuci mukaku.Kalian benar jika berfikir aku hamil, aku memang hamil itulah yang ku lihat di tespeck yang menunjukkan garis dua saat itu.Namun kak Bian belum mengetahuinya, aku sempat ingin memberitahukannya sore itu namun melihatnya duduk berdua bersama Amel di teras itu, teras rumah kami seraya tertawa dengan menyesap teh ditemani brownis yang dibawa oleh Amel membuat hatiku sakit.Apakah aku terlalu egois untuk memiliki kak Bian yang hatinya jelas untuk Amel?Menunduk aku mengelus perutku yang belum terlihat "Sabar ya sayang, mama akan bertahan meskipun papamu mungkin tidak sayang padamu" ucapku berinteraksi padanya."Atau apa kita pergi saja dari papamu?" monologku lagi tapi aku menggeleng.Tidak akan, tidak akan ku biarkan kamu hidup tanpa kasih sayang papamu nak.Aku merebahkan kembali tubuhku namun aku bangkit kembali ketika muncul suatu keinginan di kepalaku. Nanti siang aku ingin mengantarkan makanan pada kak Bian di kantornya."Kamu sudah rindu dengan papamu ya, sayang. Padahal baru sebentar." ucapku sambil mengelus kembali perut rataku "Okay sayang. Kita beres-beres rumah lalu memasak untuk papa kamu ya" ucapku lagi.Akupun mulai membereskan rumah, hingga aku memasuki ruang kerja kak Bian. Semenjak menikah aku tidak pernah masuk ke ruang ini memang, tapi rasanya tingkat keingintahuan ku sangat besar hari ini.Aku sedikit membersihkan debu di raknya, merasa lelah aku duduk di kursi kebesarannya melihat bingkai kecil berisi pernikahan kami yang terpajang di meja sisi kanan. Garis bibirku melengkung menatap bingkai itu."Setidaknya ia ingat memiliki kita sayang" monologku lagi dengan mengusap perutku.Iseng aku membuka laci mejanya, aku menemukan fotoku selfie dengan kak Bian memakai seragam SMA, foto kami duduk dengan pose kak Bian yang merangkulku dan kepala kami saling bertumpu.Lagi, aku tersenyum mengingatnya. Dimana moment ini adalah saat kami bolos sekolah dan pergi ke kedai es krim karena hari itu aku marah padanya telah menjatuhkan bekal yang buat untuknya. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua sedangkan dia kelas tiga SMA.Menghela nafas, aku memasukkan kembali foto itu namun belum dengan benar memasukkan foto itu, fotonya jatuh ke lantai.Aku mengerjap, ternyata di balik foto itu terdapat tulisan tangan kak Bian. Aku segara mengambil dan membacanya namun aku kembali tersenyum, apa-apaan ini? Aku membacanya berulang kali seakan meyakinkan bahwa ini benar.Apa maksudnya, aku tidak percaya namun aku sangat bahagia.Melihatmu menatapku dengan sendu aku sadar bahwa aku begitu mencintaimu, Lisa. A l ways, forever and till the end.Iseng, aku membuka bingkai foto pernikahan kami. Entahlah aku hanya penasaran, apakah isi bingkai dengan ukuran sekitar lima inci memiliki kata-kata.Tertawa kecil, aku menemukan kata-kata itu lagi. Sekaligus tidak menyangka kalau kak Bian sedikit berlebihan.I wish I was your mirror; I could look at you every morning.Kemudian aku memperbaiki bingkai itu dan menatanya kembali."Papamu mencintai mama" aku kembali bermonolog. Aku melihat jam yang bertengger di dinding. Aku bangkit untuk segera bersiap.Ah aku semakin semangat, masih dengan semangat aku memasukkan makanan yang telah ku masak ke dalam paper bag dan tak lupa memasukkan foto selfie kami ke dalam tasku.Aku pergi ke kantornya dengan menggunakan taksi, sesampai di kantor beberapa karyawan menyapaku.Saat aku tiba di depan ruangan kak Bian, Aryo selaku sekretaris kak Bian terlihat khawatir."Kenapa? Kak Bian di dalam kan" tanya padanya yang langsung di angguki dan di jawab "Benar, nona"Aku langsung membuka pintu namun pemandangan di depanku saat membuka pintu membuatku ingin marah.Terlihat tangan Amel di bahu kak Bian, ia yang melihatku karena ia menghadap pintu langsung menyentak tangan Amel."Sayang.." ucapnya dengan wajah panik aku masih diam menatap mereka, bahkan kak Bian mulai melangkah tapi aku menahannya dengan gerakan tangan untuk berhenti.Ku lihat Amel mulai merangkulkan tangannya ke lengan kak Bian namun dengan cepat ditepis oleh pria itu. Aku masih diam menatap mereka, rasanya aku ingin lari dan menangis. Tapi itu tidak akan ku lakukan. Ya tentu saja, aku menjadi kuat setelah melihat foto kami dengan tulisannya."Lepas Amel, kau membuat istriku salah paham" bentak pria di depanku. Entahlah aku masih ingin menikmati wajah panik kak Bian, apakah ia masih mencintaiku seperti ucapannya di foto itu."Sayang.. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan okay " ucapnya lagi, namun Amel masih terus menempel padanya. Aku sudah tidak tahan.Dengan menghela nafas, aku melangkahkan kaki menuju ke suamiku menatapnya tajam lalu mengayunkan tanganku menamparnya. Bukan, aku tidak menampar kak Bian tetapi menampar Amel tentu saja. Enak saja ia mengganggu suamiku.Amel tampah syok berbeda dengan ekspresi kak Bian yang terlihat... senang?"Dengar. Dia itu sudah menjadi suamiku harusnya kamu sadar posisi kamu sekarang" ucapku pada Amel lalu aku bergelanyut manja di lengan suamiku dengan berkata "Sayang aku bawa makan siang"Diluar dugaan kak Bian malah merangkulku dan mengecup pipiku dengan tersenyum senang "See.. Sekarang keluarlah. Aku ingin makan bersama istriku" ucap kak Bian pada Amel, dan Amel mendengkus lalu pergi.Sepeninggalan Amel aku langsung menghempaskan tangannya dan duduk di sofa."Jelaskan!" ucapku dengan tegas padanya, ia menggaruk belakang kepalanya lalu mengikutiku.Ia menunduk mengecup perutku "Mama kamu galak banget hari ini" gumamnya yang masih dapat ku dengar. Loh kok?"Kak?""Kenapa? Kamu pikir aku tidak tahu.""Tapi..""Aku melihat tespeckmu di laci namun aku menunggu kamu memberitahuku langsung" potongnyaLalu aku mengeluarkan foto yang ku bawa ia terlihat salah tingkah melihat foto itu "Kenapa tidak beritahu kalau dari dulu mencintaiku" ucapku padanya"Apa kamu mencintaiku?" tanyanya dan ku balas dengan senyuman dan anggukan"God.. Tahu begitu aku tidak menggunakan Amel untuk memancingmu" ucapnya lagi dengan menjambak rambutnya yang membuat aku mengernyit.Ia memelukku dengan erat "Aku sungguh mencintaimu.." ucapnya lagi"Halah.. Cinta tapi pacaran sama yang lain juga" balasku lagi padanyaIa tidak menjawab namun mengurai pelukannya dan menunduk di depan perutku "Sayang, kamu harus jadi tim papa nanti ya" yang membuat hatiku merasa hangat.Ah selama ini kami hanya gengsi. Tapi perkataan kak Bian selanjutnya membuatku terdiam, bahagia dan seketika menyerangnya."Okay, sekarang aku ingin jujur padamu. Aku sangat mencintaimu dan tak pernah menyesalinya. Dan.....""Dan?" tanyaku"Malam itu aku tidak benar-benar mabuk. Aku frustasi ingin memilikimu"The End
Salah Satu Nama Kutukan
Sesungguhnya, Diva memang tidak memiliki cacat otak apapun, tapi dia tentu saja dapat merasakan saat ingatan-ingatannya tentang sang sahabat perlahan lenyap begitu saja dari dalam benaknya. Kenangan-kenangan indahnya bersama Sella seakan telah direnggut dari dirinya secara paksa, dan Diva merasakannya. Rasanya sangat menyakitkan, tajam, dan gelap.Untuk mengantisipasi hal itu, Diva akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah buku harian. Tiap detik yang dilaluinya bersama Sella akan ditaburkannya ke dalam bentuk tulisan, agar dia tidak lupa akan keberadaan sang sahabat.Terkadang Diva beranggapan bahwa apa yang ditulisnya kemarin, terasa sangat sulit untuk diterima oleh akalnya tiap kali dia membaca ulang tulisan-tulisan itu di keesokan harinya. Namun, di sampul depan buku itu tertulis, " Semua ini adalah benar. Percayalah...?" dan anehnya tulisan itu adalah tulisan tangannya.Diva mulai membalik lembar demi lembar dalam buku itu, dan mencari-cari kalimat-kalimat aneh yang sulit dicerna oleh logikanya sendiri. Bahkan, hanya dengan melihatnya sekilas, hampir tiap lembar ternyata memiliki paragraf-paragraf yang menyatakan suatu keajaiban atau keanehan." Ada banyak dunia dalam kehidupan ini. Dunia itu memang indah sekaligus mengerikan... Sella bekerja menjadi Pengawal seorang pedagang kaya yang menjual hewan-hewan... gaib? Sekaligus bekerja sebagai agen? di bawah pemerintahan Indonesia? " Bibir Diva komat-kamit seolah-olah dia sedang membaca mantra. "Sella mendapatkan kekuatan yang hebat dan menakjubkan dari pekerjaan itu, tapi bayaran atas kekuatan itu adalah... keberadaannya sendiri."Mata Diva menyipit sedih setelah membaca bagian yang satu itu."Semua ini memang tulisanku... Tapi, apa-apaan ini..." gumamnya tak percaya sembari menghela nafas berat, kemudian menutup buku bersampul kulit itu. "Untuk apa memiliki suatu kekuatan yang hebat, kalau akhirnya, tidak akan ada yang mengingatnya...?"Di tengah malam itu, Diva tengah duduk santai sendirian di taman kota. Memang agak berisiko sebenarnya, karena ada banyak orang-orang jahat yang berkeliaran di waktu seperti ini. Belum lagi sosok Diva yang tampak lugu, juga hijab merah mudanya, serta kacamata yang menghiasi wajahnya, membuat dirinya terlihat sangat cantik sekaligus menjadikannya sebagai mangsa yang empuk di mata para orang-orang jahat.Tapi, menurut buku ini, semua penjahat-penjahat yang sering beraksi di sini, ternyata mengenal Diva. Hampir semua penjahat di sini, pernah mencoba untuk berbuat jahat padanya. Namun, untung saja semua aksi mereka selalu berhasil digagalkan oleh Sella.Orang-orang jahat itu berakhir dalam kondisi babak belur, atau yang paling parah sampai harus dibawa ke rumah sakit. Tapi keesokan harinya, mereka tidak ingat siapa yang telah melukai mereka. Dan satu-satunya gambaran wajah yang ada di dalam ingatan mereka, adalah sosok Diva. Dan, ya, seharusnya itu sudah cukup untuk menjadi alasan agar mereka tak berbuat macam-macam lagi pada Diva."Hah... sudah dingin begini, Sella juga masih belum datang-datang, lagi." Gumam Diva sambil mendongak menatap angkasa malam. Bintang-bintang berhamburan menghiasi langit dengan kelap-kelipnya yang terlihat berwarna-warni. Siapapun juga tidak akan bosan walau harus menunggu lama asalkan ada pemandangan semacam ini.Meski Diva selalu menunggu hingga berjam-jam di sini, tapi anehnya, dia sama sekali tidak pernah marah pada Sella. Ya, mungkin saja karena dia memang seorang sahabat yang patut untuk ditunggu. Seseorang yang begitu berharga bagi Diva.Waktu Diva mengamati pemandangan langit, tiba-tiba tampak segaris cahaya yang muncul di atas sana dan seakan membelah langit malam; itu sebuah bintang jatuh. Mata coklat Diva mengkilap saat melihat pemandangan yang agak langka itu. Namun, saat ini, masih ada satu hal yang sangat mengganggu benaknya, sehingga membuat pemandangan bintang jatuh itu seolah tidak berarti di mata Diva."Semua dongeng dan legenda hidup itu... hidup... ya? " Diva menggumamkan salah satu kalimat yang ada dalam buku itu, seraya menutup matanya rapat-rapat. Kalimat itu tadinya benar-benar sempat membuat Diva merasa bahwa dunia ini penuh akan kebohongan.Sungguh aneh Dirinya menulis itu. Tapi, sekarang Diva paham maksudnya.Diva membuka matanya, dan pada saat itu pula, dia kini mendapati pemandangan dunia malam yang sangat berbeda dari sebelumnya. Di mana sebelumnya hanya ada bintang-bintang, manusia, pepohonan, dan kegelapan yang suram, sekarang Diva dapat melihat banyak makhluk-makhluk aneh berterbangan di udara dan melompat jauh kesana kemari tanpa kesusahan."Wah..." mata Diva berbinar-binar takjub.Ada gadis-gadis yang terbang menggunakan sapu di udara, bahkan ada beberapa siluet yang melompat dengan ringannya dari satu tiang listrik ke tiang tiang listrik lainnya. Ada juga peri-peri kecil yang memancarkan cahaya terang warna-warni dari tubuh mereka, dan ada sesosok reptil raksasa yang jelas-jelas adalah seekor naga yang baru saja melintas tepat di atasnya. Serta hantu-hantu menyeramkan yang sedang nongkrong di bawah pohon dan tengah berbincang. Semua itu benar-benar nyata."Inilah kenyataan dunia..." Dunia yang tadinya sangat biasa dan gelap, sekarang berubah menjadi ramai dan berkelap-kelip.Namun, tiba-tiba, ada seorang pria asing yang berjalan menghampiri Diva sambil bersiul riang.Diva memicingkan mata dan menatap lelaki bertampang penjahat itu lekat-lekat. Senyum pria baya itu sangat aneh, tapi, entah kenapa Diva malah memasang senyuman kecil di bibirnya."Wah-wah... nggak baik, lho, perempuan duduk sendirian di sini tengah malam begini." Ujar pria itu dengan nada menggoda yang terdengar menjijikkan, sembari bersandar di pohon di samping tempat duduk Diva. Pria itu menarik sebungkus rokok dari kantongnya, dan mengambil satu batang rokok yang kemudian diselipkan di bibirnya.Diva memandang berkeliling sejenak. Hampir semua orang yang kala itu sedang nongkrong di sana, tiba-tiba beranjak pergi dan tampak ketakutan saat melihat pria itu mendekat dengan Diva."Lihat mereka." Kata pria itu, terdengar agak tak jelas, karena rokoknya masih terselip di antara bibirnya. "Hah... Syukurlah. Mereka sepertinya sudah paham, dan bersedia memberikan waktu untuk kita." Pria itu terkekeh-kekeh. Dia mungkin beranggapan, bahwa rencana jahat yang telah ia siapkan untuk Diva mungkin pasti berjalan mulus malam ini."Ya, tentu saja begitu." Kata Diva dengan nada bercanda. Dia masih terlihat santai, dan senyumnya juga malah makin lebar.Mata Diva agak sedikit melebar saat melihat pria itu merogoh kantong belakangnya. Sempat Diva berpikir kalau lelaki itu mungkin menyembunyikan pisau di situ, tapi untungnya, yang diambil pria itu dari kantongnya ternyata bukanlah barang yang berbahaya—itu hanya sebuah pemantik.Akan tetapi, baru saja pria itu berniat menyalakan pemantiknya, semua lampu di sana tiba-tiba saja padam. "Lho, mati lampu mendadak begini?" pria itu memandang berkeliling dengan heran.Diva mendongak lagi menatap angkasa. Semuanya menjadi gelap gulita, bahkan sinar rembulan juga terhalangi oleh awan-awan yang kini menggumpal di atas sana. Tapi, anehnya mata Diva sudah tak lagi mendapati kenyataan dunia yang tadi. Matanya telah tertutup kembali.Seharusnya ini merupakan situasi buruk bagi Diva. Tapi, tetap saja, dia tak beranjak dari tempatnya dan tetap tersenyum."Kenapa lama sekali, Sella?" Tanya Diva entah pada siapa."Hah? Kamu bicara sama siapa, cantik?" pria itu tengah berusaha untuk menyalakan pemantiknya. "Tapi terserahlah... Keadaan semakin membaik saja, bukan? Seolah-olah, yang di atas sana juga merestui hubungan yang akan kita jalin... sebentar lagi." Pria itu kembali terkekeh-kekeh dan kesannya juga semakin menjijikkan.Namun, akhirnya sesuatu yang ganjil tiba-tiba terjadi.Saat pemantik pria bejat itu akhirnya menyala dan menghasilkan api kecil, tiba-tiba saja, mata pria itu membuka sangat lebar, dan wajahnya seketika menjadi pucat pasi.Entah bagaimana bisa gadis berambut perak, panjang nan lebat itu tiba-tiba muncul di depannya begitu saja. Seakan-akan sedari tadi, gadis itu memang bersembunyi di dalam kegelapan.Dialah Sella, sahabat Diva sejak kecil—menurut buku ini, tentu saja."Si-siapa kamu...?" tanya pria itu ragu-ragu sekaligus takut."Diva tidak suka asap rokok." Jawab Sella sambil mengangkat tangan kirinya. Dari postur itu, dia sepertinya berniat untuk menampar pria itu. "Apa anda tahu? Dari tadi, suara anda itu terdengar sangat menjijikkan di telinga saya." Sella langsung menampar pipi kiri pria itu, yang seketika membuatnya terhempas jauh sampai— duar! menabrak sebuah pohon hingga tumbang. Dan tak lama kemudian, listrik pun kembali menyala.Daripada disebut tamparan, serangan Sella barusan itu malah dapat disamakan dengan tembakkan mobil baja yang biasa digunakan untuk peperangan.Diva agak keheranan saat melihat sosok Sella, karena dia saat ini mengenakan gaun pengantin putih berenda dengan corak-corak berbentuk bunga mawar berwarna hitam. Namun, Diva tahu tatapannya barusan agak aneh, jadi dia menggeleng dan menyunggingkan senyuman kecil.Sella tersenyum kecil kemudian duduk di samping Diva. "Nggak apa-apa, kok, kalau kau melihatku seperti itu, asalkan itu kamu, Div." Katanya. "Ngomong-ngomong, maaf aku terlambat, soalnya tadi ada pekerjaan mendadak." Jelasnya sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Diva. Rambut peraknya terasa sangat halus.Entah kenapa rasanya sangat aneh, seakan-akan ini adalah kali pertama Diva bertatap muka dengan Sella. Tapi kenyataannya, Sella tetaplah sahabatnya. Walau Diva sangat kesulitan menemukan sosok Sella di dalam memorinya, tapi tubuh dan hatinya tetap mengenal Sella.Diva juga menyandarkan kepalanya ke kepala Sella. "Nggak apa-apa, kok, yang penting, sih, kamu sudah datang." Jawab Diva sambil memasang senyum penuh arti. "Tapi, apa nggak berlebihan, memukul laki-laki tadi sampai segitunya?""Ya, aku yakin dia nggak apa-apa." Jawab Sella yang tampak mengantuk dan lelah. "Hah... aku rindu kamarmu, Div." Gumamnya.Diva tertawa pelan mendengar keluh kesah sang sahabat. Ya, walau dia tidak memasang mimik apapun di wajahnya, tapi hati Diva tahu bagaimana sikap Sella saat sedang ada masalah."Hmm... Kamarku itu sempit lho." Diva berusaha mengingat-ingat kapan dia sekamar dengan Sella. Tapi sepertinya, mustahil untuk mendapatkan ingatan itu."Sempit sih, iya. Tapi... Ranjangmu yang keras itu benar-benar terasa nyaman buatku." Sella terkekeh. "Juga bantal-bantal punyamu yang telah terkena tanda-tandaku... Aku rindu bantal-bantal itu.""Hah? Tanda? Jadi, semua iler yang ada di bantal-bantal itu punyamu!?" pekik Diva karena saking terkejutnya akan kenyataan itu. Pagi tadi—atau bahkan mungkin di pagi-pagi yang sebelumnya—saat merapikan ranjangnya, Diva sempat keheranan karena ada iler di bantalnya. Tapi, akhirnya, karena tidak ingat apapun, Diva berspekulasi bahwa iler-iler itu adalah miliknya.Sella tersentak saat menyadari kebodohannya sendiri. "Hmm... aduh, harusnya aku nggak bicara."Tawa Diva dan Sella mendadak meledak memecah kesunyian malam kala itu.Ya, tentu saja, mereka memang bersahabat, tapi tetap saja wajahnya terlihat sedih. Pasalnya, tidak mungkin Diva bisa tertawa lepas seperti ini bersama orang asing, bukan?"Jadi, bagaimana pekerjaanmu?" Entah kenapa pertanyaan itu yang pertama terlintas di benak Diva."Hmm... Bukannya di bukumu tertulis agar tidak membahas tentang pekerjaanku saat kita sedang bersama?" Sella terlihat sangat nyaman bersandar di pundak Diva. Dia bahkan terlihat hampir tertidur di situ. "Tapi, ya... pekerjaanku hari ini, baik-baik saja, kok. Dan ngomong-ngomong, barusan aku sudah mengirim bagianmu ke rekeningmu.""Ah, iya! Aku mau bertanya." Diva bangkit secepat kilat, hingga membuat Sella tersentak. "U-u-uang di rekeningku! Untuk apa uang sebanyak itu!? aku bahkan bisa membeli sebuah negara dengan uang sebanyak itu!""Baca saja di bukumu—" Sella berhenti berkata-kata kala menyadari Diva tengah memelototinya sekarang."Itu tidak ada bukuku! Astaga!" Teriak Diva panik."Tapi, Div, biasanya, kalau orang punya banyak uang, harusnya senang, dong. Bukannya malah kesurupan kayak begitu." Cibir Sella."Serius, dong." Diva memohon. Dia berlutut di depan Sella serta memeluknya, dan membenamkan wajahnya di rok Sella yang luar biasa besar dan tebal, kemudian menjerit histeris sekeras mungkin dengan suara yang teredam. "A-aku tahu gajimu sangat-sangat besar dari pekerjaanmu! Tapi di bukuku tidak dijelaskan kenapa kamu memberikan setengah dari gajimu kepadaku! KENAPA!"Sella tak dapat menahan senyumnya melihat tingkah bodoh Diva."Diva," bisik Sella lembut."Hmm?" Diva mengangkat wajah dan bertukar pandang dengan mata Sella."Makan di sari laut, yuk. Soalnya aku sudah lapar banget." Ujar Sella sambil menyunggingkan senyuman manis.Namun, Diva merasa amat kesakitan begitu melihat senyum yang terbentuk di bibir Sella. Senyumnya memang tampak manis dan tulus, seolah-olah dia terlihat sangat bahagia. Walau pada kenyataannya, senyum Sella sebenarnya telah lama mati, dan tak bermakna apa-apa—itu hanyalah senyum palsu yang penuh kehampaan. Tapi, Diva tak mau berlama-lama terpuruk dalam pemikiran itu. Untuk saat ini, satu-satunya yang harus dilakukannya adalah membuat Sella merasa senang."Hmm... ya sudah, ayo! Kebetulan juga aku belum makan!" Diva bangkit secepat yang dia bisa, seraya menarik Sella untuk beranjak dari tempat duduk. Sekaligus berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang dirasakannya. "Jadi, kita mau makan di mana—""Awas." Bisik Sella."Eh? Kenapa?"Dalam sekejap mata, Sella tiba-tiba saja sudah berada di belakang Diva. Entah bagaimana bisa dia melakukannya, tapi Diva tak mau dan tak ingin tahu tentang kekuatan anehnya itu. Namun, mata Diva membuka semakin lebar kala melihat sebuah pedang putih berukuran jumbo yang digenggam oleh Sella, kemudian ia perlahan mengangkat pedang itu tinggi ke atas dengan tangan kanannya, seolah-olah dia berniat untuk memotong sesuatu dengan itu."Tunggu... Apa yang mau kamu lakukan dengan itu?" Tanya Diva heran."Sepertinya... ada sesuatu yang mengejarku." Bisik Sella seraya mengayunkan pedangnya ke depan yang seketika membuat angin di sekitar mereka mengamuk tak karuan, sampai-sampai debu-debu berhamburan dengan liar memenuhi udara."Hey! hey! hey! Apa lagi ini!?" Diva yang panik langsung menguatkan pijakannya agar tidak terhempas. Dia amat sangat terkejut dengan kemunculan angin kencang ini, yang ternyata berasal dari ayunan pedang Sella. Benar-benar luar biasa mengagumkan sekaligus aneh.Di saat angin sudah berhenti mengamuk dan debu-debu juga berhenti berterbangan, Diva akhirnya bisa melihat apa yang sebenarnya diserang oleh Sella tadi.Kini ada seekor makhluk seukuran bus bertampang menyeramkan yang tengah berdiri di hadapan mereka. Sosok itu adalah seekor serigala. Namun, anehnya serigala itu memiliki bola mata yang memancarkan warna hijau menyala, dan dia juga tampak sangat marah, sampai-sampai air liurnya mengalir deras melalui sela-sela gigi-giginya yang tajam."Eh... Sella, Apa itu—""Bukan. Makhluk ini sudah bukan hewan gaib lagi." Tukas Sella. "Serigala ini sudah tercemar oleh dosa." Pandangan mata Sella yang tajam tertuju pada serigala itu, sementara pedangnya teracung ke depan."Dosa? Maksudnya?" Diva langsung terpikirkan hal-hal aneh saat mendengar kata itu."Dosa manusia." Jelas Diva. "Hewan-hewan gaib itu menjadi rusak karena tercemar oleh dosa.""Tapi... Aku masih nggak terlalu mengerti... " Jawab Diva. Dari air mukanya terlihat jelas kalau ia sedang berkutat dalam benaknya."Ya, sudah kuduga..." Jawab Sella tak acuh."Heh!" Pekik Diva jengkel."Nggak usah dipikirin, ah, Div." Kata Sella sambil menyunggingkan senyuman kecil. "Yang penting kamu nggak boleh lupa, kalau kita itu sahabat sampai mati. Oke?""Hmm... baiklah..." Jawab Diva yang ikut tersenyum.Dalam sekejap mata Sella lenyap lagi dari pandangan, hingga membuat lantai tempatnya berpijak tadi hancur, dan bagaikan kilat, dia kini sudah muncul lagi di atas si serigala, dan langsung menerjang dengan pedangnya.Akan tetapi, serigala itu berhasil menghindar dengan melompat cepat ke belakang. Sementara itu, jalanan di taman kota ini malah sudah hampir tidak berbentuk lagi akibat serangan pedang Sella yang barusan.Namun, entah kenapa serigala itu sekarang mulai mengerang kesakitan, padahal Diva melihat dengan jelas kalau serigala itu berhasil mengelak sebelum terkena serangan Sella. Tapi, tak lama kemudian, Diva tersadar kala melihat kuping sebelah kanan si serigala yang tiba-tiba saja jatuh ke lantai, dan perlahan melebur menjadi debu-debu cahaya.Diva kembali dibuat bingung. Dia bersumpah melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau serigala itu tidak terkena serangan apapun. Tapi, bagaimana bisa kuping serigala itu tiba-tiba copot?Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Diva. Dengan kekuatan seperti itu, Sella mungkin bisa saja menghancurkan kota ini dengan mudah, tanpa harus mengeluarkan setetes keringat.Ya, Diva sempat membacanya di halaman ke lima puluh tujuh di bukunya. Kekuatan yang Sella dapatkan dari pekerjaannya, ialah kekuatan itu sendiri. Di situ tertulis, kalau Sella memiliki hak atas kekuatan, dan menjadi tuan dari kekuatan. Berdasarkan penjelasan itu, Diva hampir tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya kekuatan Sella yang sebenarnya."Kumohon, Div, kamu ingat, kan? apa yang aku katakan tadi." Tanya Sella tiba-tiba.Pemikiran Diva langsung berhenti seketika saat mendengar perkataannya. Seolah-olah, Sella berharap agar Diva tidak berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya.Ingin rasanya Diva menampar pipinya sendiri sekeras mungkin karena sudah memikirkan hal-hal yang buruk itu. Tapi, apa daya, Diva sudah terlanjur membayangkannya. Jadi, untuk menebus kesalahannya, Diva akhirnya memutuskan untuk menjawab pertanyaan Sella. Dia mencengkeram erat tali tas sampirnya, lalu berkata dengan penuh keyakinan, "Ya, kita adalah sahabat, sampai maut memisahkan.""Nah, kalau begitu, Diva pergi saja dulu cari warung makan yang bagus." Ujar Sella sambil melompat keluar dari lubang besar yang tercipta dari serangannya tadi. Gadis berambut perak itu tetap berdiri kokoh, sementara pedangnya kembali ia arahkan ke arah si serigala."Tapi, kamu jangan lama-lama. Cepat lakukan apa yang mau kamu lakukan kepada serigala itu. Aku juga sudah mulai lapar, soalnya.""Iya, iya, kamu tenang saja. Nggak bakalan lama, kok." Ungkap Sella.Diiringi suara dentuman keras yang membahana, Diva akhirnya melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Namun, senyuman yang tadinya terbentuk di bibirnya kini perlahan mulai luntur. Dia memang bahagia, karena bertemu dengan sahabat sejatinya, tapi, Diva juga merasa sangat kesakitan karena kenyataan yang masih membelenggunya."Aku akan berusaha..." Diva mengungkapkan kata-kata yang timbul dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam. "Aku berjanji tidak akan melupakanmu, Sella."Akan tetapi, walau Diva sudah bertekad untuk tidak melupakan Sella, tapi sayang, di keesokan harinya, Diva terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang hampa.Diva yang masih duduk di atas ranjang sedang melamun dan menatap kosong pada jendela yang tergantung di dinding. Pancaran sinar mentari terlihat jelas di balik jendela itu. Namun, di pagi yang cerah ini, anehnya Diva malah merasa sangat suram. Dia merasa telah kehilangan sesuatu dan itu membuatnya kesal.Tiba-tiba, mata Diva tanpa sadar bergerak sendiri memandang ke arah sebuah buku yang tergeletak di sampingnya. Kemudian tangan Diva dengan perlahan mulai menggapai buku itu, lalu setelah mendapatkannya, Diva langsung kembali berbaring sambil mengurung buku itu ke dalam dekapannya yang erat."Hari ini aku ada jadwal kuliah apa nggak, ya?"
Gaib
"Jika kau bertanya padaku, mana yang lebih mengerikan antara manusia dan makhluk halus? Yah jawabannya sudah pasti, bukan? Kalau yang paling mengerikan itu adalah, manusia."Jarwo menampar makhluk jelek berwajah menyeramkan, bertubuh jangkung dan berambut panjang berantakan itu dengan amat kuat, sampai-sampai makhluk itu terlempar ke pagar tembok bagaikan habis ditabrak oleh truk.Yah, Jarwo juga sebenarnya tidak mau melakukannya, tapi masalahnya, makhluk gaib itu sudah terlalu sering mengganggu Jarwo setiap kali dia lewat di jalan ini, dan itu sangat menjengkelkan."Manusia keparat!"Namun, Jarwo tak berhenti sampai di situ. Pemuda berseragam SMA itu kembali melesat dengan sangat cepat menghampiri makhluk yang masih menempel di dinding, lalu mencekik lehernya tanpa ragu dan welas kasih."Ugh! Apa-apaan! Le-lepaskan aku manusia gila!""Bisa diam nggak sih, demit sialan..." Ujar Jarwo dengan suara sedingin es. "Sudah seminggu loh... seminggu!" Ia menekankan dengan nada mengancam. "Tapi, kau tetap saja menggangguku setiap kali aku lewat sini. Maumu apaan coba? Padahal kau tahu aku bisa melihatmu, tapi kau tetap saja bertingkah. Kau minta disiksa?""A-aku nggak bermaksud jahat kok! Aku hanya iseng doang! Jadi cepat lepaskan tanganmu! Sakit woy!" Makhluk itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Jarwo, tapi usahanya sia-sia. Jarwo tidak bergeming sama sekali.Akan tetapi, setelah termenung selama beberapa saat, Jarwo akhirnya menghela nafas dalam dan memutuskan untuk melepaskan si jelek itu."Eh?""Lebih baik kau pergi aja deh." Ujar Jarwo sembari melangkah pergi. "Aku sudah capek, lapar, pusing lagi. Dan gara-gara ladeni kamu, kepalaku jadi tambah sakit begini.""Te-terima kasih, Tuan! Aku bersumpah tidak akan mengganggumu lagi mulai sekarang! Dan ka-kalau bisa, aku juga akan menjadi pelayanmu!" Sahut makhluk itu."Heh... kau mau jadi pelayanku ya?" Langkah Jarwo terhenti. "Boleh sih, tapi siapa namamu? Soalnya aku nggak suka berteman dengan setan yang nggak ingat namanya sendiri.""Yah, panggil saja aku Aska." Katanya."Hmm... Baiklah, kau boleh ikut, Aska, tapi tolong jangan panggil aku dengan sebutan yang aneh-aneh seperti tadi. Panggil saja aku Jarwo atau Bos.""Siap, Bos." Jawab Aska sambil mengikuti Jarwo dari belakang. "Cuma sebelumnya, aku punya satu pertanyaan.""Hmm? Apa?""Kenapa Bos nggak melawan balik anak-anak nakal yang sering mengganggu itu?"Pertanyaan singkat itu seketika kembali membuat Jarwo berhenti melangkah. Dia tenggelam dalam diam. Ingatan tentang anak-anak yang disinggung Aska langsung terbayang dalam benaknya."Maksudku, Bos kan kuat banget loh. Bahkan Bos ini nggak sama seperti Indigo yang lain. Masa anak-anak bodoh seperti itu saja, Bos nggak bisa ladeni."Ya, di sekolah Jarwo ada sekelompok anak yang sangat ahli dalam hal menyiksa Jarwo. Bahkan, kalau dipikir-pikir, sudah hampir enam tahun Jarwo terlibat dengan anak-anak itu. Dari SMP sampai sekarang. Keterlaluan memang, tapi Jarwo sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli jika mereka hanya menyiksanya saja, asalkan anak-anak yang lain tidak menjadi target mereka juga.Namun, Jarwo kini merasa agak kesal setelah Aska menyinggung soal itu."Yah... karena manusia itu sangat aneh... dan jahat."Jarwo melanjutkan perjalanannya keluar dari jalan kecil itu, sementara Aska mengikut di belakang. Saat mereka berdua sampai di suatu trotoar yang sangat ramai, Jarwo melihat ada begitu banyak makhluk aneh seperti Aska yang berkeliaran di mana-mana. Mereka ada di dekat manusia, di langit, dan jumlah mereka juga tak kalah banyak dengan manusia."Aku nggak bisa membalas mereka, karena mereka hanya manusia.""Ah... maaf, tapi aku sama sekali nggak paham Bos."Jarwo tertawa pelan setelah melihat ekspresi Aska yang tampak sangat kebingungan."Ya, tentu saja. Aku juga nggak bisa menjelaskannya dengan benar. Tapi... intinya sih, aku sebenarnya sangat-sangat membenci yang namanya manusia. Dan akhir-akhir ini, kebencian itu... semakin bertambah besar." Jarwo menyipitkan matanya, seakan menahan sakit."Hah... ?""Minggu lalu, ada salah seorang sahabatku yang mati terbakar karena dia berusaha menyelamatkan pacar bodohnya. Dan tiga hari yang lalu, ada lagi sahabatku hilang begitu saja kayak ditelan bumi. Lalu, mereka berdua sama-sama memiliki ibu yang keduanya juga sakit keras dan sekarat di rumah sakit."Jarwo tiba-tiba menggigit bibir dan mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Matanya memancarkan amarah dan kesedihan yang mendalam. Wajahnya juga berubah menjadi sangat menyeramkan dibanding sebelumnya. Sungguh perasaan gelap yang menyakitkan."Wah? Yang benar, Bos? Kok bisa sih? kasihan banget mereka." Ujar Aska tulus. "Memangnya mereka nggak ada keluarga atau tetangga yang bisa membantu ya?"Yah begitulah manusia, mereka itu pendosa yang cuma peduli pada diri mereka sendiri, dan sangat hobi menciptakan kehancuran... Manusia brengsek, bodoh, keparat, tolol, dungu, tak berguna, sampah!" Orang-orang di sekitar sedikit terkejut saat mendengar bentakan Jarwo yang penuh emosi, namun mereka hanya menghiraukannya."E-eh! Tenang bos! Tenang!""Hah... aku nggak terlalu mempermasalahkannya kok. Tak apa jika mereka berdua menyerah, apalagi mereka juga cewek. Lagi pula, mereka memang sudah pernah mengaku kalau mereka tidak kuat lagi menghadapi kehidupan ini... dunia ini... dan manusia. Malahan... aku sebenarnya bersyukur, karena mereka sudah beristirahat dengan tenang sekarang.""Jadi... gimana dengan Bos?" Tanya Aska takut-takut."Hoh... Aku nggak akan menyia-nyiakan nafasku. Pasti ada alasan mengapa Allah memberikanku mata untuk melihat dua dunia, jadi aku akan menggunakan berkat ini sebaik-baiknya. Dan yang paling hebat lagi, kemarin aku juga dapat kiriman uang satu miliar dari entah siapa, jadi, sekarang seharusnya aku bisa bersiap-siap." Jarwo menengadah menatap angkasa gelap, dan mendapati sosok ular raksasa bersisik hitam yang menyeramkan. "Soalnya, kalau aku juga ikut menyerah, siapa dong yang akan merawat orang tua mereka berdua? Sudah jelas itu sekarang tanggung jawabku.""Mantap Bos! Selalu berpikir positif, ya kan?""Yah... Kau tenang saja. Aku akan menggunakan mata ini... aku benar-benar akan menggunakannya untuk masuk lebih dalam lagi menuju kegaiban... Akan kurobek kenyataan dunia yang jahat ini... dan manusia. Tunggu saja. Suatu saat nanti. Pasti."
Dalam Kegelapan Lebih Lagi
Awal adalah akhir, dan akhir adalah awal.Segala sesuatu yang ada dalam dunia ini hanyalah tentang kehidupan. Ada yang berjuang mati-matian untuk terus bernafas, dan ada juga yang hanya duduk diam pun, tapi tetap bisa hidup dalam kebahagiaan.Anak itu pun juga sangat mendambakan hidup. Seumur hidupnya, dia hanya ingin hidup seperti yang diinginkannya. Dia rela berjabat tangan dengan kutukan demi menggapai impiannya itu.Namun, pada akhirnya, dunia ini terlalu keras padanya.Di atas gunung, di antara ribuan mayat yang berhamburan, dan dihiasi oleh warna merah darah yang meneror jiwa, anak lelaki itu berdiri sendirian di sana, membiarkan dirinya diguyur hujan yang berjatuhan dari langit kelabu dengan diiringi suara guntur yang membahana.Setelah melalui perjalanan panjang yang sangat melelahkan dan penuh dengan pertempuran, dia kini telah sampai di bukit Golgota, dan memutuskan untuk mengambil apa yang telah menjadi haknya. Namun, sayangnya dia sadar kalau hatinya terlalu ragu untuk memilih."Tuhan, aku percaya... Aku selalu percaya bahwa segala yang ada di dunia ini, adalah kehendak-Mu. Jadi... kumohon... biarkan aku hidup."Setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, air matanya pun mengalir membasahi pipi. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas seakan ingin meraih angkasa, dan menerima berkat dari kegelapan dengan tangan dan hati yang terbuka lebar, karena terpaksa.Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara teriakkan yang amat lantang dari kejauhan. Anak itu lantas menoleh dan melihat ada beberapa orang yang berdiri jauh di sana.Sama seperti dirinya, keadaan mereka pun juga terlihat sangat buruk. Tubuh mereka dibalut luka, dan mereka juga tampak sangat-sangat kelelahan. Bahkan, ada dua orang di antara mereka yang baru saja jatuh berlutut karena mungkin sudah tak sanggup berdiri lebih lama lagi. Dan, salah satunya juga sedang dalam keadaan pingsan."Jangan lakukan itu! Jojo!"Dengan sedikit kekuatan yang tersisa, mereka menjerit keras untuk memperingati Jojo agar tidak mengambil pilihan yang salah."Maafkan aku... semuanya... dan terima kasih. Terima kasih karena kalian telah bersedia menemaniku dalam semua penderitaan ini."Meski suara yang keluar dari mulut Jojo hanyalah bisikkan, namun mereka semua bisa mendengarnya dengan sangat jelas, seolah-olah Jojo berbicara tepat di samping mereka."Walau ini mungkin adalah pilihan yang salah, tapi aku akan menjadikannya sebagai keputusan yang benar... Demi kebaikan kalian." Ucap Jojo. Sekali lagi, dia memasang senyuman manis di bibir. Matanya yang tadinya berwarna hijau zamrud, kini mulai berubah menjadi hitam.Mereka semua mulai menangis saat melihat perubahan yang terjadi pada diri Jojo. Kekecewaan tergambar jelas di wajah mereka, dan rasa putus asa memenuhi raga."Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih... Jadi, tolong biarkan aku membalas semua kebaikan kalian." Jojo mengepalkan tangan kanannya sambil menguatkan tekadnya, dan pada saat itu pula, cahaya hitam turun dari langit melubangi awan-awan dan menelan Jojo. Angin bertiup keras, dunia terasa berguncang, dan terdengar pula suara jeritan yang amat menyeramkan.Tangisan teman-temannya semakin menjadi-jadi menyaksikan pemandangan itu. Ada yang berteriak dengan penuh ketakutan, dan beberapa lagi hanya mampu diam membatu.Lalu, ketika pilar cahaya yang turun dari angkasa itu padam, Jojo pun akhirnya telah terlahir kembali dengan jati diri yang sangat berbeda. Sangat gelap. Hitam. Tapi, benar.Sang Raja Keputusasaan.
Sagara ❤ Baby
"Baby, gak apa-apa nih gue pulang duluan?""Iya gak apa-apa, gue mau nunggu bis di halte.""Oke deh kalo udah nyampe rumah lo telepon gue, dan kalo sampe malem lo belum dapat bis juga lo pesen taksi aja, oke?""Sip.""Dah Baby..."Rena pulang duluan karena di jemput Iras pacarnya, biasanya kita berdua akan menunggu bisnya barengan karena memang kita jalannya searah.Sayangnya juga sore ini turun hujan yang cukup lebat membuat halte ini terlihat sepi, kelas sore, hujan lebat aku yakin akan cukup sulit untuk mendapatkan kendaraan pulang."Huft... Semoga saja masih ada bis lewat." Gumamku sangat pelan.Dan sekarang aku benar-benar sendiri di halte ini, orang terakhir yang menunggu bersamaku memlilih menyebrang membelah hujan, dan sekarang sudah pukul 17.20, langit lebih gelap dari waktu biasanya, dan hujan semakin deras."Kamu sendirian?"Aku sungguh kaget mendengar suara bariton itu mengudara dari belakangku."Maaf, saya mengagetkanmu yah?""I..iya Pak, maaf saya gak lihat Bapak."Aku ingat dia adalah salah satu dosen di fakultasku, tapi kelasku tidak ada yang kebagian diajar olehnya."Teman kamu mana?""Dia sudah pulang duluan."Meskipun aku heran kenapa Pak Sagara bisa tau kabiasaanku yang suka kemana-kemana berdua bareng Rena dan dia hanya membalasnya dengan anggukan."Keberatan kalau saya merokok?" Tanyanya seraya memperlihatkan bungkus rokok yang dia kleuarkan dari balik jaket."Tidak Pak, silahkan.""Sagara saja.""Ap...apa?""Panggil saya Sagara saja Baby, kita tidak sedang berada di kampus lagi pula saya bukan dosen kamu, secara teknis saya tidak mengajar kamu."'Gusti, mana mungkin aku hanya memanggilnya Sagara saja, bisa di penggal ini leher kalau ada yang denger' Aku hanya diam saja tidak mengiyakan.Dia mulai menghisap rokoknya, jujur aku kaget banget kalau dosen kesayangan mahasiswi ini ternyata merokok, dari selentingan yang ku dengar dia termasuk dosen yang ramah tapi juga misterius."Kamu mau menunggu disini sampai kapan, Baby? Biasanya kalau hujan begini agak susah dapat kendaraan, sebaiknya kamu pesan taksi atau mau saya antar?""Hah?""Mobil saya ada disana." Dia menunjuk bengkel dekat kampus, "Bannya bocor sedang di perbaiki, kalau sudah selesai saya bisa antar kamu."Akhirnya karena sudah satu jam aku menunggu dan tak ada bis yang lewat aku mengikuti ajakan Pak Sagara hanya sampai bis yang biasa ku tumpangi terlihat, nantinya aku akan naik bis. Lagipula aku tak tau rumah Pak Sagara dimana, bisa saja berlawanan arah dengan rumahku.Tapi baru sepuluh menit perjalanan mobil Pak Sagara menepi di sebuah restoran, restoran yang tentu saja harganya sangat jauh untuk kantong mahasiswi sepertiku."Saya lapar, kita makan dulu." Ucapnya ketika mesin mobil mati dan dia bergegas keluar."Tapi...pak..." Ucapku tertelan kembali.'Ya ampun ini gue harus turun apa nunggu aja sih, atau gue keluar aja nyari taksi, kenapa gak dari tadi coba.'Tapi Pak Sagara sudah membuka pintu mobil sebelahku dan menyuruhku keluar."Ayo, temani saya makan dulu."Dengan terpaksa aku mengikutinya, aku tau ini restoran mahal, penampilanku yang sudah berantakan sangat kontradiksi sekali dengan tampilan restoran ini, penampilan Pak Sagara meskipun sudah seharian mengajar di kampus masih terlihat mempesona, tampan luar biasa. Kalau sudah seperti ini ingin rasanya aku menghilang atau mengecil jadi gantungan kunci mobil Pak Sagara, menyesal sudah menerima ajakannya harusnya ia pesan taksi saja walaupun harus memakai jatah jajan tiga hari."Kamu mau pesana apa Baby? Steak di restoran ini sangat enak, kamu mau mencobanya?""Tapi... tapi saya..."'Duh ini di bayarin apa bayar sendiri'"Tenang saja karena saya yang mengajak kamu jadi kamu saya traktir jika itu yang kamu khawatirkan."Aku hanya tersenyum kaku. "Terimakasih pak."Walaupun steak di restoran ini memang sangat enak tapi jujur aku tidak bisa menikmatinya, gugup di depan Pak Sagara, juga takut ada orang yang melihat kami, kenal Pak Sagara tentunya, bisa repot jadinya. Baru saja minggu kemarin ada mahasiswi yang nekat mendekati Pak Sagara dan akhirnya mendapatkan banyak cemoohan di kampusku, membuatnya langsung cuti kuliah.Setalah selesai membayar aku yang mengatakan akan naik taksi saja sampai rumah malah tak digubris sama dosen di depanku ini."Udah malam, biar saya antar sampai rumah.""Tapi pak... Saya semakin merepotkan bapak.""Kamu bisa menggantinya lain waktu."Dengan canggung dan kurang mengerti aku hanya mengatakan ia saja, agar percakapan kami cepat selesai, aku sangat gugup karena setiap kali berbicara dengan Pak Sagara, beliau selalu menatap mata lawan bicaranya, dan kali ini adalah aku.Sebulan lebih berlalu sejak kejadian itu, aku tak pernah menceritakannya pada siapapun termasuk Rena, aku hanya tak ingin membuat kehebohan, dan sikap Pak Sagara pun biasa saja bahkan cenderung tak mengenaliku, jadi aku menganggap kejadian waktu itu hanya sekedar lewat saja walaupun aku masih bertanya-tanya kenapa Pak Sagara bisa tau namaku."Beb, nanti temenin gue ya mau ketemu sama Iras.""Ko gue harus ikut, biasanyakan juga berdua?" Tanyaku pada Rena."Iras ulang tahun, nah dia mau rayain sama temen-temennya juga, makan-makan, gue kan belum kenal-kenal banget sama temen-temenya dia, jadi lo ikut ya temenin gue, mau ya... Pliss.""Oke, tapi nanti anterin gue pulang.""Beres!"Acara surprise ulang tahunnya Iras lumayan rame dan seru, dan aku menyesal kenapa gak membeli kado terlebih dahulu, aku jadi gak enak hati."Santai aja Beb, gue bukan anak kecil yang akan nangis kalo gak di kasih kado." Kelakarnya saat aku minta maaf."Ren gue ke toilet dulu, kalo mau pulang tungguin gue, perut gue mules." Bisiku pada Rena."Ya kali gue tinggalin lo, sana gih buruan."Aku cukup lama di toilet karena perutku benar-benar gak enak, dan betapa kagetnya aku saat keluar dan berpapasan dengan Pak Sagara. Apalagi penampilan beliau sangat berbeda dengan saat di kampus, saat ini beliau hanya mengenakan kaos santai dan celana selutut dipadukan dengan sneaker hitam dan tatanan rambut messy yang membuatnya terlihat bak anak kuliahan."Pak Sagara...""Baby, sedang apa kamu disini?""Makan-makan pak, ada temen yang ulang tahun.""Oh.. Sama siapa kesini?""Sama Rena pak, saya duluan ya Pak.""Baby...."Aku yang sudah berjalan beberapa langkah berbalik menatap pada Pak Sagara yang memandang lurus kearahku tanpa mengatakan apa-apa."Enggak apa-apa..." lalu dia tersenyum, dan sumpah senyumannya membuat dadaku berdebar kencang, dengan buru-buru aku pamit segera menuju Rena."Beb... Gue lihat Pak Sagara lo tadi, ke arah toilet hampir bareng sama lo, lo papasan gak sama dia?"Aku hanya menggeleng sebagai jawaban berbohong pada Rena."Itu Pak Sagara, " tunjuk Rena padanya yang baru saja muncul dari lorong, "Gila ganteng banget," aku yang ikut melihat arah pandang Rena tak melihat jiga ada waitress yang berjalan di depanku sehingga minuman yang di bawanya tumpah diatas bajuku."Aduh mbak maaf, saya kurang hati-hati." Ucapnya.Terlihat Rena mau memarahi waitress itu aku langsung menghalaunya karena ini memang salahku yang gak lihat jalan."Baju lo basah Beb, gimana dong nih."Saat kami masih berdiskusi perihal bajuku yang basah dari arah belakang seseorang menyodorkan kemeja flanel berbau cologne yang sangat wangi, dan itu adalah Pak Sagara. Aku dan Rena terbengong sesaat."Beby lebih baik kamu ganti baju kamh dengan kemeja ini, kamu bisa masuk angin nanti." Ia menawarkan."Gak usah pak, saya mau pulang kok." Namun pak Sagara diam saja tanpa menurunkan kemeja yang ia tawarkan padaku."Iya Beb, kamu ganti aja gih di kamar mandi." Rena memberi dukungan.Akhirnya aku mengambil baju itu dan pergi ke kamar mandi, pak Sagara bahkan sampai memberikanku paperbag untuk bajuku yang basah. Kemeja pak Sagara begitu besar di tubuhku yang ramping dan aroma parfumnya serasa membuatku dipeluk Pak Gara, wanginya membuat nyaman.Saat aku kembali Rena ternyata sudah pergi, membuatku kebingungan mencarinya."Ayo...""Kemana Pak?""Saya antar kamu pulang.""Tapi pak..."Tanpa mengatakan apa-apa, Pak Gara menarik tanganku menuju mobilnya, seperti ada sengatan listrik saat kulit kami bersentuhan, dan membuat jantungku berdebar.Hujan yang mengguyur Jakarta sejak siang membuat banjir di beberapa titik, sehingga kami terjebak macet parah. Membuatku mengantuk dan menguap beberapa kali dan tertangkap mata Pak Gara."Kalau kamu mengantuk tidur saja, turunkan kursinya, tuasnya ada di sebelah kirimu.""Gak apa-apa Pak kalau saya tidur?" Aku merasa gak enak, tapi aku ngantuk banget."Tidur aja, macet juga."Akupun mencari tuas namun sangat sulit menurunkan sandaran kursi, sehingga aku sangat terkejut saat pak Gara yang mengambil alih membuat posisi kami begitu dekat. Bahkan jika pak Gara berbalik sedikit saja maka bibir kami akan bersentuhan. Tepat setelah aku memikirkan itu pak Gara berbalik dan jarak kami hanya terpaut satu cm, tatapan matanya yang tajam perlahan turun pada bibirku membuat jantungku berdetak tak karuan.Lalu dia bergerak semakin dekat. "Can i?"Aku hanya diam, otakku blank, hingga aku merasakan benda kenyal itu menyentuh bibirky dengan lembut, pelan, intens lalu saat bibir itu menjauh aku merasa kehilangan."Baby, saya minta maaf tapi saya tidak akan menyesal telah melakukan ini."Lalu dia menciumku lagi lebih dalam, lebih intense dan lebih menggairahkan, sehingga tanpa sadar akupun membalas ciumannya, membuat ciuman kami semakin panas, Pak Gara segera menurunkan sandaran kursi dengan mudahnya dan tangnnya yang lain sudah masuk kedalam kemejaku membuat kuliat tangnnya berada dipingganku, mengelus perut rataku, hingga saat nafas kami habis baru kami berhenti, kami mulai mengatur nafas, namun wajah pak Gara masih sedekat tadi dengan wajahku, membuat pipiku memanas, dan ingat bahwa aku baru saja ciuman dengan dosenku."Saya menyukaimu sejak pertama kali melihatmu bersandar di mobil saya, tapi kamu begitu sulit untuk saya dekati Beby..."
Menjadikan Namamu Abadi
Kenapa kamu selalu hadir Ar?Sudah dua belas tahun berlalu, tapi kenapa kamu masih gak bisa lepas dari ingatanku.Berbagai cara sudah kulakukan agar bisa melupakanmu, tapi tiap aku sudah lupa, kamu selalu datang melalui mimpi hingga akhirnya aku memikirkanmu lagi.Sudah lama, bahkan aku gak tau bagaimana kehidupanmu, bagaimana hidupmu, dimana kamupun aku tak tau, dan sudah lama tak mencari tau.Tapi, kenapa aku gak pernah bisa benar-benar lepas dari kamu.Saat awal-awal aku bermimpi, dimimpi itu selalu aku yang mengejar kamu, memuja kamu, tapi kamu selalu saja tak terjangkau. Lalu semakin lama mimpi itu berubah, seperti mimpi yang membuat harapan, kadang dimimpi itu kamu tiba-tiba datang, tiba-tiba nyapa, tiba-tiba baik.Lalu akhir-akhir ini, mimpi itu seolah kamu cinta, seolah kamu punya rasa yang sama.Tapi aku sudah tak tergoda, sudah ku bilang aku tak bisa melupakanmu, tapi memujapun aku sudah tidak, kamu hanya akan jadi kenangan yang ku simpan saja.Tolong saja, semoga kita tidak pernah berjumpa, karena aku takut, takut... takut aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, jangan sampai itu terjadi.Aku sudah bahagia dengan hidupku yang tanpa kamu, meski kadang kalau malam menjelang, kenangan tentang dirimu selalu datang, seperti saat ini.Tapi aku sudah berjanji, tak akan buka social mediamu, dan aku bersyukur disaat tak tahan postingan terakhirmu masih yang tiga tahun lalu, artinya akunmu sudah ganti, dan seperti kataku tadi, aku tak akan mencari.Pernah ku berjanji sepuluh atau sebelas tahun lalu, saat jarak ku dan jarakmu hanya terhalang dinding sekolah, aku berbicara begini pada tuhan."Ya tuhan jika engkau memang mengijinkan kami bertemu maka pertemukanlah kami, tanpa aku yang harus mencarinya atau menemuinya."Dan kamu tau apa hasilnya, kita tidak bertemu, saat itu aku sudah lelah aku terus yang mencarimu, sebenarnya dalam permintaanku pada tuhan itu ada doa terselubung "aku ingin kamu yang mencariku."Tapi walaupun saat itu kita tidak bertemu, beberapa jam setelah itu kita bertemu, kamu menelponku dan aku pura-pura gak tau itu kamu. Padahal lihat nomormu atau hanya suara deheman kamupun aku sudah sangat bisa mengenalimu.Dan saat itu adalah petemuan terakhir kita, benar-benar terakhir, kita tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini.Dan aku selalu bilang pada diriku sendiri "sangat mustahil kita bertemu secara kebetulan, kecuali itu benar-benar takdir tuhan."Ya.. Benar-benar mustahil, karena garis kita gak ada yang bersinggungan. Beda kota, beda angkatan, beda sekolah, beda circle pertemanan.Tapi ada satu kejadian yang buatku benar-benar lucu, seperti sebuah kebetulan kita pernah ada di tempat yang sama hanya berbeda sepuluh menit saja. Lucu bukan? Setelah bertahun-tahun, hanya berbeda sepuluh menit saja. Tapi kembali lagi aku gak ingin mencari, kita akan bertemu kalau itu benar-benar takdir tuhan, atau kalau kamu yang mencariku.Tapi kalau kita bertemupun mau apa?Pernah di suatu malam gila, aku dan sahabatku bernostalgia untuk kembali ke masalalu hanya satu malam itu saja. Saat itu kami benar-benar membicarakan masa lalu, sesuatu yang sudah ku anggap tabu, dia membicarakan crushnya dulu dan aku membicarakan kamu.Bahkan dia membuka sosmedmu dan melike satu foto terbawahmu, apa kamu melihatnya?Haha, itu ulah sahabatku ya bukan aku.Tapi aku berfikir kalau kamu lihat notifikasi like itu, apa yang ada di pikiranmu? Apa terlintas itu aku?Kamu tau cara mudahku melupakanmu? Yaitu dengan tidak menyebut namamu baik oleh lidahku ataupun otakku, jadi dalam pikiranku pun namamu gak boleh disebut. Dan itu cukup ampuh. Benar itu cukup ampuh.Tapi malam ini aku menyebut bahkan menulis setengah namamu. Membuatmu abadi dalam tulisanku.Kenapa? Beranikah kamu datang lagi dalam mimpiku?
Fara dan Algra
Putus....Kami putus tanpa kata putus, dia pindah tanpa pamit, bahkan aku tau dia pindah dari teman-teman tongkrongannya.Sakit? Tentu saja, aku dianggap apa selama ini. Apa cuma aku saja yang merasa kami punya hubungan, apa cuma aku aja yang menganggap dia pacar? Mungkin saja, karena dia memang secuek itu selama ini sama aku dan sehumble itu jika pada orang lain.Sebulan berlalu aku masih malu jika mengingat kelakuanku yang selalu menghampirinya di kelas, mengajaknya makan, mengajaknya jalan, atau bela-belain ikut ekskul olahraga padahal gak suka.Kukira dia punya rasa yang sama ternyata kita beda.Yah... Finally akhirnya aku sadar dan mulai memperbaiki diri, kalau bahagiaku gak boleh tergantung padanya, aku harus membahagiakan diri sendiri dulu."Fafa... Nonton basket yu...""Males ah, panas.""Duillle... Yang ayangnya udah gak ada, alesan aja panas, gak inget dulu lo yang paling semangat kalau nonton basket.""Itukan dulu, sekarang gue males, super males apalagi harus ketemu temen-temen nongkrongnya dia. Dan satu lagi Ren, jangan panggil gue Fafa, nama gue Fara."Dan temanku Rena hanya nyengir."Yaudah kalau males yu kantin aja makan, biar semangat bestie.""Yu... Makan lebih berfaedah dari pada panas-panasan.""Kata seseorang yang baru saja ditinggalin ayang". Ledek Rena, lagi.Tapi tak berselang lama setelah Fara dan Rena duduk di kantin, datanglah gerombolan anak basket plus dayang-dayangnya alias tim hore mereka, mengambil tempat duduk tepat di meja sebelah Fara."Dih ngapain sih mereka duduk disana, meja jauhan dikit masih ada kali." Gerutu Fara yang di balas Rena, "Biarin aja, cuekin."Masalahnya kalau dekat-dekat mereka Fara suka gerah sendiri, mereka seolah menyindir Fara dengan menceritakan updatean terbaru dari mantannya itu. Seperti saat ini."Eh gila si Algra makin keren aja tuh anak, pake update nonton balapan di Mandalika lagi."'Satu' batin Fara."Kenapa sih doi kalau bikin snap gak pernah senyum, padahalkan gue kangen sama senyumnya dia."'Dua'"Semalam gue chatan sama dia katanya kakaknya yang cewe ulang tahun, hadiahnya minta jalan-jalan ke Lombok, si Al ngikut deh."'Tiga' Kuping Fara udah mulai pengang dengar nama Algra terus di sebut-sebut."Eh gue chat dia juga deh siapa tau di bawain oleh-oleh."Cukup sudah, panas deh kuping Fara, bahkan soto di mangkoknya masih banyak dia sudah berdiri hendak pergi."Ck... Gak tepat banget sih gue milih waktu makan."Ia cepat-cepat pergi darisana meninggalkan Rena, yang masih menghabiskan kuah baksonya."Fara!" Fara berhenti melangkah tanpa menoleh. "Salam dari Algra." Dan selanjutnya langkah Fara diiringi suara tertawa mereka.Fara tau mereka tak serius tentang salam dari Algra, dan Fara juga gak mau tau tentang Algra lagi, nomor dan sosial media Algra sudah dia blok sebelum dia di blok terlebih dahulu, ya siapa tau Algra semalas itu untuk tau tentang dia, pergi aja tanpa pamit, jadi ya Fara blok duluan aja Algra.***"Fara... Ada abang gojektuh di depan, kamu pesen makanan?" Tanya Kinan ibunya Fara."Enggak... Aku gak pesen mah, salah alamat kali." Jawab Fara yang sedang leha-leha di depan TV."Coba kamu cek ke depan, mamah gak ngerti sama yang begituan.""Dengan Neng Fara?" Fara mengangguk, "Martabak kacang keju sesuai pesenan ya Neng." Abang Gojek menyerahkan kotak yang terbungkus kresek dari tangannya."Tapi saya gak pesen Bang, abang salah amat kali." Keukeuh Fara."Ini dengan Neng Fara Audya kan?" Fara mengangguk. "Berarti saya gak salah alamat."Meskipun masih heran akhirnya Fara menerimanya. "Eh Bang ini udah di bayar belum?""Udah Neng pake Gopay, saya di kasih tipsnya gede lagi, makasih ya Neng.""Sama-sama Bang."Fara meneteng keresek berisi martabak itu ke ruang TV dimana sekarang ada Ibunya yang menggantikan tempatnya tadi."Dari siapa Ra?"Fara mengendikan bahu, "Gak tau.""Isinya apa?"Fara menyerahkan bungkusan itu ke sang ibu lalu di bukanya. "Ini kan martabak kesukaan kamu, kamu gak tanya ke abang Gojeknya ini dari siapa."Fara hanya nyengir, "lupa Ma.""Ih ari kamu, nanti kalau sudah tau siapa pengirimnya bilang makasih sama dia, tau aja dia kalau lagi dingin-dingin gini enaknya makan yang anget-anget, sini cobain biasanya kalau Papamu beli martabak kamu yang paling semangat ngabisin.""Takut ada apa-apanya kalau di makan." Jawab Fara."Hush kamu kalau ngomong jangan sembarangan, ini mamah udah cobain gak ada apa-apa malah enak banget, makanya kalau mau makan baca Bismillah dulu, ayo sini."***"Eh... Gue kemarin gak sengaja lho liat Kak Algra di Mall, serius gue beberapa bulan gak ketemu makin ganteng aja Kak Algra."Bisikan itu Fara dengar saat lewat depan koridor kelas sepuluh. 'Heran pagi-pagi udah denger nama Algra aja, bikin gak mood' Dengan langkah cepat Fara segera menaiki tangga menuju kelasnya."Far sini deh... cepetan." Teriak Rena begitu melihat Fara diambang pintu kelas."Apa sih, pagi-pagi udah ribut aja.""Sstt diem terus lo duduk sini." Paksa Rena untuk duduk di bangkunya. "Gue tadi pagi denger dari anak-anak kalau si Algra lagi ada di Kota ini, lo denger gak?""Bodo amatlah, yang penting dia gak masuk sekolah ini lagi." Jawabnya kesal."Justru itu gue denger sesuatu yang lain tentang Algra."Fara melirik Rena penasaran. "Apa?""Katanya dia gak pernah pindah ataupun keluar dari sekolah ini.""Maksudnya?""Artinya dia masih murid di sekolah ini Fafa.""Jangan panggil gue Fafa.""Gak penting nama panggilan lo apa, yang pasti lo harus siapin mental seandainya dia emang masuk lagi ke sekolah, ngerti?""Tapi... Mana bisa, diakan udah hampir dua bulan gak masuk." Heran Fara."Bisa-bisa aja sih Fa, diakan anaknya Pak Kusuma salah satu donatur terbesar sekolah kita, bahkan kalau dia mau sekolah kita bisa di beli kali sama keluarganya.""Tapikan... Tetep aja...." Desah Fara frustasi, dia tidak bisa membayangkan satu sekolah dengan mantan sepopuler Algra."Tenang dulu, inikan juga belum valid baru gosip aja, siapa tau Algra emang bener-bener pindah, ya kan."Tapi sayangnya gosip itu tervalidasi di siang hari, dimana Algra dan teman-temannya terlihat bermain basket di lapangan, bahkan lapanganapun kembali ramai dan ricuh karena yel-yel dan teriakan nama Algra.Sementara Fara berusaha untuk tak melihat dan bertemu Algra, seperti bermain kucing-kucingan, mungkin Fara selamat untuk hari itu tapi tidak di hari berikutnya. Diaman saat dia sedang makan datang di kantin Algra datang dengan rombongannya.Fara yang saat itu pura-pura tidak melihat berusaha berkonsentrasi dengan kuah sotonya, lantas tersedak saat Algra benar-banar duduk dihadapannya.Fara melotot kaget, sementara Algra menatap Fara tajam."Hp kamu!" Ucap Algra."Ap...apa?" Gugup Fara."Hp kamu mana?" Pinta Algra."Buat apa sih?""Hp kamu siniin!"Dengan raut bingung Fara menyerahkan Hpnya pada Algra. Dengan mudah Algra membuka kunci HP Fara."Eh ko kamu tau sandinya.""Tanggal jadian kita kan?"Sial Fara lupa mengganti sandi Hpnya. Tak lama Algra membuka dan menutup akun Fara juga mengotak-atiknya sebentar dan di serahkan lagi pada Fara."Jangan suka blokir nomer orang tanpa sebab, masa mau bilang kangen sama pacar aja harus titip ke si Galen sih."Fara tambah kaget dong, 'pacar? Kangen'"Pacar? kita inikan udah putus." Ucap Fara bingung."Kapan aku mutusin kamu Audya, kamu aja yang mikirnya kejauhan."Algra lalu berdiri mengacak rambut Fara pelan. "Lanjutin makannya, ilernya jangan lupa di lap."Reflek Fara mengelap sudut bibirnya dna tidak ada apa-apa diasana. "Ishh.... Algraaa!"Algra berbalik dan tersenyum manis. "Apa? Sama aku juga kangen sama kamu." Balasnya disertai iringan tawa dari teman-temannya.Ingin rasanya Fara berkata kasar, tapi ia tak mau berakhir di ruang BK. Akhirnya dia kembali duduk dna memeriksa HPnya, ternyata Algra membuka blokiran nomernya dan juga menambahkn sesuati di profilnya. "Pacar Algra"***"Pulang yuu..." Ajak Rena."Lo duluan deh...""Kenapa sih... Takut ketemu Algra? Bukannya lo kangen ama dia, tadi aja di godain dikantin muka lo ampe blushing-blushing gitu." Goda Rena."Itu gue malu begoooo""Ah... Salting juga gak apa-apa, kan di godain ayang.""Diem lo... Hush pulang sana, kalau ada yang nanyain gue bilang gue udah pulang duluan.""Cieee ada yang ngarep ditungguin." Rena masih asik menggoda Fara yang wajahnya sudah merah bak kepiting rebus."Renaaa... Gue timpuk lo pake penghapus kalo gak pergi juga.""Iye... Iye... Gue pergi, hati-hati lho sekolah sepi ada yang nyulik tau rasa lo gue gak bakal nolongin."Akhirnya setelah puas menggoda Fara Rena pun pergi, tersisa Fara satu-satunya di kelas, ia sengaja menunggu sekolah sepi takut untuk bertemu Algra, berharap Algra sudah pulang atau paling tidak dia sudah sibuk di lapangan basket.Setelah berapa lama berdiam diri di kelas dan terdengar di lapangan basket sudah riuh tepuk tangan Farapun dengan hati tenang beranjak pulang, sayangnya saat membuka pintu kelas bersamaan pula dengan seseorang mendorongnya."A... Algra." Tanya Fara terbata. "Ka...kamu ngapain disini?"Algra hanya diam menatap tepat di bola mata Fara, sementara Fara melangkah mundur saat Algra semakin maju."Aal... Kamu mau ngapain." Fara mulai takut, ia mulai menyesali kenapa dia menunggu semua orang pulang.Secepat kilat Algra menarik tangan Fara lalu membawa tubuh Fara dalam pelukannya, erat. Fara yang kaget hanya menganga dengan perlakuan Algra tanpa merespon apapun."I miss U" Bisik Algra di telinga Fara. "Kamu gak kangen sama aku?" Lama tak ada jawaban dari Fara, Algra melepas pelukannya berganti dengan mengelus kedua pipi Fara."Hey... Aku kangen banget sama kamu, apa kamu gak kangen aku?"Perlahan mata Fara mulai berkaca-kaca pertahannya mulai luruh, dengan terisak dia bertanya. "Kamu kemana aja?""Maaf... Maaf banget aku gak pamit, karena kalau aku bilang ke kamu dulu berat aku untuk pergi."Fara masuk ke dalam pelukan Algra kembali, "Tapi kenapa kamu gak hubungin aku." Suaranya sedikit teredam di dada Algra."Kamu blokir nomer dan sosial media aku kalau kamu lupa." Balas Algra."Maaf..." bisik Fara dan tangisnya makin kencang."Hey.... Sstttt.... Aku nyakitin kamu banget ya?" Fara mengangguk lalu menggeleng membuat Algra tersenyum gemas. "Udah dong nangisnya, sini aku lihat dulu wajah pacar aku yang cantik ini.""Ish apaan sih, gombal.""Kok gombal sih, beneran lho aku susah tidur kalo lagi kangen sama si cantik ini.""Aaaallll...""Apa, sini cium dulu, pipi aja sini." Goda Algra.Tapi pada prakteknya bukan pipi yang di cium Algra tapi bibir manis yang selama ini dia rindukan, kelas kosong dan lorong yang sepi menjadi saksi dua anak remaja itu menjalin kasih kembali.End
Jam Dua Pagi, Aku Pulang ke Kamu
Jam sebelas malam Kara tiba-tiba terbangun dari tidurnya, melirik ke kiri ia melihat foto mesranya dengan Christian, pacarnya selama dua tahun ini yang sayangnya saat ini hubungan mereka sedang break entah sampai kapan.Jujur Kara kangen Ian, biasanya di jam-jam seperti ini Ian akan datang setelah selesai melakukan syuting, Ian akan membangunkan Kara dengan sebuah ciuman atau hanya sekedar kecupan lalu Ian akan tidur memeluk Kara."Argghh... Gue kangen banget sama dia."Kara mulai frustasi, hampir dua bulan mereka saling berjauhan tepatnya Kara yang menghindari Ian untuk mendinginkan kepala sebagai alasannya, nyatanya bukannya dingin pikiran dia malah semakin gak karuan berjauhan dari Ian, ingin minta segera diakhiri ia terlalu gengsi.Kara hanya melenguh dan menjatuhkan diri kembali ke atas bantal. Dengan susah payah dia hampir terlelap tapi seketika terbangun ketika terdengar ketukan di pintu, ia melirik jam di nakas yang menunjukan pukul 00.17 dini hari."Siapa malem-malem ketok pintu."Ian gak mungkin pikirnya, ia jadi takut sendiri, tapi ketukan di pintu tak mau berhenti, memberanikan diri ia membawa payung panjang untuk berjaga-jaga kalau ada pencuri ia akan langsung memukulnya."Siapa?"Tak ada jawaban, Kara mendekati pintu, mengintip dari lubang kecil dan dia kaget saat membuka pintu bahwa itu adalah Ian, dengan senyum mengembang ia langsung memeluk Kara sampai terhunyung kebelakang sehingga payung yang di pegang Kara jatuh ke lantai." I Miss You Ra, I really do."Kara membiarkan Ian masuk, lega dan juga bahagia ia bisa melihat Ian malam ini."Kamu bau alkohol?" Protes Kara sesaat setelah Ian melepaskan pelukannya."Ada pesta perayaan tadi, aku minum dikit.""Kamu mau minum apa? No kopi ya, aku gak mau kamu gadang sampai subuh.""Sini dulu jangan kemana-kemana, aku gak mau apa-apa, aku cuma mau kamu". Ian menarik tangan Kara yang akan melangkah kedapur hingga terjatuh di pangkuannya."Baikan ya, aku gak tahan jauh-jauh dari kamu". Ian membelai pipi dan rambut Kara hal yang ia sangat rindukan bahkan ia rasa akan gila jika sehari saja ia tak dapat kabar tentang Karanya."Aku gak mau cuma liat foto-foto kamu atau hanya dengar kabar kamu dari orang lain.""Kamu nguntit aku Yan?""Ya kadang aku nyuruh Bobby buat ngikuti kamu, atau kalau aku udah gak kuat banget kangen sama kamu aku sendiri yang akan ngikutin kamu.""Kamu segaada kerjaannya sampai ngikutin aku kemana-mana bapat Direksi yang terhormat""Buat kamu gak ada kata sibuk.""Gombal.""Berani ya bilang aku gombal." Jawab Ian sambil menggigit hidung mancung Kara gemas.Suara perut Ian menghentikan acara romantis-romantisan mereka, dan akhirnya mereka tertawa bersama."Yah aku gak masak gimana dong?""Beli sate depan komplek yu" Ajak Ian."Jam segini? Ini udah hampir jam dua pagi Yan.""Ada kok beneran, yu?!""Aku gak perlu ganti bajukan ya, cuma kedepan ini.""Gak usah, nih pakai jaket aku." Ian menyerahkan jaket hitam kesayangannya yang hanya pada Kara ia relakan untuk memakainya."Kamu bawa motor? Kirain bawa mobil.""Males Ra, malam minggu gini jalanan macet.""Gak malam minggu juga Jakarta mah tetep macet.""Udah ayo." Ian menarik tangan Kara menuju motor Harley yang terparkir di depan rumah Kara, merapatkan Jaket Kara dan membantunya naik, lucu sekali jika Ian melihat Jaket atau bajunya di pakai oleh Kara, sangat oversize tapi selalu cantik kalau di pakai KaraSesampainya di tempat jualan sate, Ian mengajak Kara duduk di kursi paling jauh dari tukang sate."Jauh banget duduknya.""Biar bisa lakuin ini." Jawab Ian sambil mencium tangan Kara lama yang sejak tadi tak lepas dari genggamannnya.Tak berselang lama pesanan mereka datang lalu mereka makan dalam diam sambil sesekali Ian melihat Kara yang sedang makan, saat ia melihat ada saus kacang yang menempel di ujung bibir Kara tanpa ia bisa cegah ia langsung mencium dan melumatnya hingga membuat Kara sewot."Iaaan... Kamu,! kalau ada yang lihat gimana?""Itu satu lagi alasanku kenapa ngambil meja ini"."Kamu kaya ABG aja sih ngumpet-ngumpetan."Ian menvubit pipi Kara gemas.Setelah selesai mereka ngisi perut mereka kembali lagi ke rumah Kara."Yang peluk dong, kangen aku dipeluk sama kamu pas naik motor gini.""Palingan pas aku gak sama kamu kemarin kamu ganti-gantikan bonceng cewek di motor ini.""Enggak yang, sumpah ya, kamu jelek banget sih pikirannya, aku gak pernah bawa siapapun selain kamu, cuma tas isi kamera yang gantiin posisi kamu sengaja biar gak ada yang minta nebeng.""Kalau kamu bawa mobil gimana?""Aku bawa baju ganti dari rumah dan aku taruh di kursi belakang, kursi samping aku taruh kamera biar gak ada yang minta nebeng juga."Kara tersenyun senang di belakang, padahal ia hanya bercanda, tapi siapa yang tau kalau cowok ganteng, dengan tato yang memenuhi tangan, sebelah dada dan punggungnya juga penuh talenta ini bisa begitu setia itu padanya.Kara meminta break karena merasa terlalu berat berada di sisi Ian apalagi setelah studionya makin rame dan Ian sendiri akhirnya merilis album.Tapi ternyata jauh dari Ian ia merasa lebih berat dibanding menghalau wanita-wanita yang menginginkan Ian.Kara mencubit pipi Ian dari belakang. "Ulu.. Ulu... bucin banget sih Christian super ganteng ini, pacarnya siapa sih?""Pacarnya Kara dong." Jawab Ian mantap.***"Mandi dulu gih kalo mau tidur, aku udah siapin." Kara menghampiri Ian yang sedang membalas pesan entah pada siapa di jam tiga dini hari seperti ini.Ian menurut dan segera masuk ke kamar mandi, sementara Kara langsung menuju tempat tidur dan langsung merebahakn dirinya disana. Sepertinya malam in ia akan tidur nyenyak karena ada Ian disampingnya. Itu yang ada di pikiran Kara sampai Ian keluar kamar mandi hanya dengan boxernya dang langsung bergabung dengan Kara di tempat tidur.Awalnya Ian hanya memeluk Kara dari belakang, lalu mulai menciumi tengkuk Kara, tangannya mulai masuk ke dalam kaos Kara melepas kaitan bra Kara dan meremas kesukaannya disana."I miss you so bad". Ucapnya di sela-sela cumbuannya di leher Kara hingga suara desahan Kara keluar dan tak mampu lagi membendung hasrat Ian yang sangat mendamba akan tubuh Kara.Ian langsung mencumbu Kara penuh gairah, dari mulai bibirnya, turun ke leher, lalu lebih bawah lagi, Ia bermain main disana, menghisap menggigit dan memberi tanda sebanyak-banyaknya di dada Kara, membuat Kara menggelinjang mengharap lebih."Iaaann... ah...""Apa sayang..."Ciuman Ian turun ke perut Kara, kembali memberi tanda disana, Ia ingin memiliki Kara untuk dirinya sendiri. Turun lagi ke bawah, ia membelai milik Kara juga menciuminya, hingga Kara sudah meracau tak karuan."Iaann pliiiissssh"...Ian kembali memagut bibir Kara panas, lalu menempatkan Juniornya yang sudah menegang di depan milik Kara."Im home." Desah Ian saat miliknya sudah menyatu dengan milik Kara.Desahan saling bershutan diantara mereka, melepaskan kerinduan dan cinta, penuh keringat dan basah, mereka saling memuaskan, saling mendamba, hingga desahan panjang mengakhiri kegiatan keduanya saat mereka medapatkan pelepasan. Lalu mereka jatuh tertidur.Matahari sudah tinggi saat Kara bangun, ia menutupi matanya karena merasa silau, namun karena ada suara kekehan dari sebelahnya ia membuka matanya lagi.Ian sedang menatap dalam Kara membuat wajah Kara memerah malu."Jangan diliatin, malu ih." Ucap Kara membenamkan wajahnya di bantal namun tak diabiarkan oleh Ian."Lihat sini, aku udah lama gak liat bidadari bangun tidur, cantik banget sih bidadarinya Ian."Ucap Ian sambil menhadiahi wajah Kara dengan kecupan-kecupan kecil, Kara pun memberiakn ciuman singkat di bibir Ian. Akhirnya mereka hanya diam saling menatap."Kita udah baikan kan yang?" Kara mengangguk sebagai jawaban."Aku gak sanggup jauh lagi dari kamu, aku gak mau kehilangan kamu, so....." Ian mengelurkan cincin tanpa kotak dari saku boxernya, "Will you marry me?"Kali ini wajahnya serius dan penuh harap, dan Kara tentu saja terdiam kaget.Ian laki-laki korban broken home, takut untuk menikah karena takut menyakiti seperti papanya, hidup bebas, lepas tapi kini memnintanya untuk menikah, hidup bersama dengan Kara, tentu saja Kara sangat menginginkan itu."Are u sure?""Aku gak pernah seyakin ini, kehilangan kamu membuatku merasa lebih takut dari pada dengan bayangan kelam perlakuan papa ke mama, jauh darimu membuatku tak berdaya Kara."Pliss jangan tolak aku, Will you marry me?" Pintanya sekali lagi.Tanpa berpikir lagi Kara langsung menjawab."Yes yes yes... Love you Ian.""I love you more than anything."Akhirnya pagi-pagi itu kembali disiisi dengan adegan ranjang panas antara Ian dan Kara."Btw, kamu gak romantis banget sih ngelamarnya cuma boxeran doang. bahkan aku masih naked Ian."Nanti aku ulangin lagi dengan cara romantis, sekarang ayo lanjutkan adegan panas kita, goda Ian sambil menekan Kara."Iaaaannnnnn" 😘😘😘END
Kawan-kawannya yang Tak Nampak
Sejak dua hari yang lalu, Joni selalu datang ke taman itu bukan karena banyaknya botol-botol bekas atau barang-barang bekas yang bisa dia punguti, melainkan karena keberadaan seorang kakek tua misterius yang berdiam di taman itu dari siang sampai sore bersama dengan teman-temannya yang aneh."Apa, sih, yang aneh dari teman-teman kakek itu?" Tanya Bagas heran."Kalau yang kamu maksud itu kakek-kakek yang selalu pakai kacamata dan baju batik coklat itu, ya, aku nggak pernah lihat kalau dia punya teman di taman. Dia sendirian terus, kok." Celetuk Rima."Hmm... " Joni lalu memandang sekeliling.Karena masjid di kejauhan sudah mulai mengumandangkan adzan, berarti sekarang harusnya sudah hampir pukul dua belas siang, yang artinya Joni akan pergi meninggalkan tempat yang kumuh ini dan berkeliling kota untuk mencari barang-barang bekas yang bisa didaur ulang."Tapi... aku nggak bohong, kok. Kakek itu punya banyak teman. Cuma... " Terdengar keraguan dari suara Joni. "Teman-temannya memang aneh. Mereka bukan orang seperti kita. Mereka seperti hewan, tapi bukan hewan.""Ya, terus saja dengarkan ocehan Joni, biar kalian dihukum sama Bos." kata seorang anak bertubuh besar yang sukses membuat anak-anak lainnya langsung bergegas pergi dari sana, termasuk Joni.Kenyataannya, Joni adalah seorang pemulung. Sejak kecil dia ditinggalkan di jalanan oleh kedua orang tuanya, tapi untungnya ada orang yang memungut Joni dan merawatnya hingga sekarang. Dia adalah Bos Anca, salah seorang pemimpin preman di daerah Jakarta Pusat ini. Walaupun Bos Anca merupakan seorang preman, tapi dia adalah orang yang baik.Semua anak-anak yang ada di sini adalah anak pungut Bos Anca. Di bawah kolong jembatan ini, Joni dan teman-temannya biasanya beristirahat sebelum lanjut memulung lagi di siang hari.Namun, saat semua teman-temannya pergi ke satu daerah yang sangat ramai, anehnya Joni malah melangkah ke arah yang berlawanan, tepatnya menuju ke suatu taman yang tak jauh dari pusat kota.Anak kecil bertampang tak karuan itu berjalan dengan santainya menyusuri trotoar. Meski tubuhnya memancarkan aroma yang tak sedap, tapi dia terus melangkah dan memasang senyum lebar di bibirnya.Joni tahu kalau orang-orang di sekitarnya selalu menjaga jarak darinya. Entah apa yang mereka takuti dari Joni. Mungkin bau badannya, atau tubuhnya yang kotor, atau mungkin juga mereka curiga dengan isi dari karung yang tergantung di punggung Joni. Tapi Joni tidak peduli dengan hal itu.Biarkan orang-orang itu tetap menjadi diri mereka sendiri, dan Joni tetaplah Joni. Begitu lebih baik, bukan? Bos Anca saja setuju dengan Joni. Lagi pula, Joni tidak melakukan kesalahan apapun kepada orang-orang."Lho? Kamu mau pergi ke taman lagi, ya?" Tanya seorang pemuda tinggi yang tiba-tiba muncul di samping Joni.Lelaki itu berpakaian rapi dan keren layaknya orang-orang kaya. Dia mengenakan pakaian yang tampak mahal dan wangi. Wajahnya juga tampan seperti artis-artis yang biasa dilihat Joni di televisi. Namun, lelaki itu memiliki sesuatu yang aneh di belakang pantatnya, dan itu adalah ekor. Pemuda itu benar-benar memiliki tiga ekor berbulu putih bersih dan terlihat sangat lembut.Meski begitu, Joni tidak ambil pusing dengan keanehan yang dimiliki pemuda ini. Dia bersedia berjalan bersebelahan dengan Joni, dan hal itu sudah cukup untuk menjelaskan bahwa dia adalah orang yang baik sama seperti teman-temannya, dan juga Bos Anca."Kamu ini teman kakek itu, kan?" Tanya Joni spontan."Ya, benar. Dan, kamu ini anak yang suka memperhatikan kakek, kan?" Pemuda itu tersenyum tipis."Eh... Hehe—Tolong jangan kasih tahu dia, Kak." Kata Joni yang tiba-tiba berkeringat dingin sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan gelisah."Kau tenang saja, aku nggak akan memberitahu kakek, kok.""Hahaha—Makasih, deh, kalau begitu.""Hmm... Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya tentang sesuatu." Ungkap pemuda itu ragu-ragu. "Kamu ini, kan, masih kecil, ya? Tapi, kok, kamu sudah bekerja begini, sih? Orang tuamu di mana?"Mendengar pertanyaan ini, Joni merasa sedikit heran sekaligus bingung."Lho... aku, kan, pemulung, Kak. Masa Kakak nggak sadar, sih?" Tanya Joni yang baru saja memungut beberapa gelas plastik."Pemulung? Apa itu? Makanan, ya?"Dilihat dari raut wajah pemuda itu, tampaknya dia tidak sedang bercanda. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang pemulung."Eh... itu pekerjaanku." Joni menjelaskan. "Kami memunguti gelas-gelas minuman atau botol-botol yang terbuat dari plastik, juga barang-barang bekas yang sudah dibuang oleh orang, atau sesuatu yang sudah tidak dibutuhkan tapi masih memiliki sedikit harga. Terus, nanti malam kami akan menyerahkannya pada Bos Anca buat dijual.""Oh, rupanya pekerjaanmu itu ternyata nggak jauh beda dengan pekerjaanku."Hening sejenak.Joni memandang ke angkasa, dan melihat ada banyak gumpalan awan di atas sana yang melindunginya dari sengatan sinar mentari. Namun, karena pemandangan itu, Joni jadi tersadar akan satu hal."Heh!?" Joni memekik heran. "Kakak pemulung juga!?""Sepertinya begitu. Soalnya si Kakek selalu mengajak kami ke taman buat memunguti sampah-sampah yang mengotori taman. Tapi... aku nggak tahu kalau sampahnya bisa dijual." Wajah lelaki itu masih tidak berubah. Dia benar-benar serius dengan perkataannya. "Terus, siapa itu Bos Anca? Apa dia orang tuamu?""Ah... bukan. Dia itu orang yang merawatku. Soalnya aku nggak punya orang tua. Waktu kecil, aku dibuang di jalanan, dan Bos Anca yang memungutku dan membesarkanku.""Tunggu—Apa!? Kau dibuang oleh orang tuamu!?" Pemuda itu terkejut. "Kenapa bisa begitu!? Kenapa mereka melakukan hal jahat seperti itu!?""Kata Bos Anca, orang tua biasanya membuang anak mereka bukan karena mereka tidak menginginkan kita, tapi karena mereka juga memiliki masalah sendiri." Ujar Joni."Tapi, bukannya itu tidak layak? Mereka berarti orang jahat, kan? Cih... semua manusia sama saja rupanya. Para pendosa yang tak tahu berterima kasih pada sang Pencipta.""Lho... Kakak nggak boleh bicara begitu, lah. Mereka juga pasti punya alasan. Siapa tahu saja, karena ada aku, mereka jadi tambah menderita atau masalah mereka jadi tambah besar. Makanya mereka membuangku. Toh, begitu juga bagus, kan? Dari pada harus melihat orang yang kita sayangi kesakitan.""Tapi, setelah semua yang terjadi, masa, sih, kamu masih sayang dengan orang tuamu? Kamu saja nggak pernah melihat mereka, kan?""Ya, nggak apa-apa kok. Lagian, kalau nggak ada mereka, pasti aku juga nggak berbicara dengan Kakak sekarang."Lelaki itu terdiam dan tampak sedang berkutat dalam benaknya, tapi entah kenapa ekornya bergoyang-goyang dengan cepat seperti cacing yang kepanasan. Lalu, tak lama kemudian, pemuda itu berdeham pelan dan kembali angkat bicara, "Hmm... Sepertinya aku harus menarik kembali semua kata-kata burukku tentang manusia.""Hmm?""Tapi, kulihat-lihat, sepertinya kamu kayaknya nggak keberatan, ya, hidup seperti ini? Atau itu hanya perasaanku saja?"Joni cukup terkejut mendengarnya. "Ah... bukannya nggak keberatan, Kak. Cuma, aku sudah bahagia bersama dengan teman-temanku. Walau kami memang tidak punya banyak uang, tapi kalau berhemat, pasti kami bisa bertahan, kok."Tak jauh di depan sana tampak suatu daerah yang ditumbuhi banyak pepohonan yang hijau dan rimbun. Tinggal beberapa langkah saja lagi, Joni akan sampai di taman itu. Bahkan sebenarnya Joni sendiri sudah tak sabar untuk bertemu banyak orang-orang menarik seperti pemuda itu di sana."Apa sebenarnya yang kau inginkan?" Tanya pemuda itu tiba-tiba.Joni seketika terdiam begitu mendengar pertanyaan yang tak terduga itu. Seolah-olah pertanyaan itu membawa suatu perasaan yang aneh ke dalam diri Joni. Rasanya sangat dingin, dan menusuk, dan membuat senyumnya hilang untuk sesaat."Aku... hanya ingin hidup." Kata Joni dengan suara berbisik. "Aku ingin terus hidup, dan membantu orang-orang yang tak beruntung sepertiku. Aku... aku ingin menuntun mereka dan memastikan mereka semua tetap hidup hingga besok... "Sesampainya di taman itu, Joni melihat ada lumayan banyak orang yang sedang nongkrong di sana. Tapi, mata Joni langsung tertuju pada seorang kakek tua yang duduk sendiri di bangku panjang di bawah pohon. Kakek misterius itu hanya diam di situ, dengan kedua tangannya yang berpegang pada tongkat di depannya, sementara matanya terpaku memandang ke bawah.Namun, selain pemandangan biasa itu, mata Joni juga bisa menangkap hal-hal aneh yang ada di taman itu.Ada banyak makhluk aneh di sana. Jika dihitung, jumlah mereka mungkin ada lima belas termasuk si pemuda. Mereka berada di setiap sisi taman dan mengawasi orang-orang, atau tepatnya, mereka memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, yang lalu mereka masukkan ke dalam salah satu dari dua karung yang berada di dekat air pancuran.Sebagian dari mereka ada yang sosoknya hampir terlihat sama seperti orang-orang biasa pada umumnya, tapi mereka memiliki setidaknya satu bagian aneh yang melekat pada tubuh mereka, sama seperti si pemuda yang memiliki ekor. Sementara sebagiannya adalah sosok-sosok yang wujudnya sama sekali tidak menyerupai manusia. Bentuk mereka malah terlihat seperti hewan, hantu, monster dan entah apa lagi."Yah... Sudah nggak ada apa-apa lagi yang bisa dipungut di sini... " Kata Joni pasrah."Kau boleh, kok mengambil punya kami." Kata si pemuda sambil menunjuk ke arah karung. "Karung yang di sebelah kanan, isinya itu khusus untuk sampah-sampah yang bisa didaur ulang, kok.""Wah! Yang benar, Kak!?" Tanya Joni tak percaya."Ya, tentu saja."Tanpa basa-basi lagi, Joni langsung melesat ke pancuran itu untuk melihat isi dari karung itu, dan ternyata ada begitu banyak gelas dan botol plastik di dalamnya. Makhluk-makhluk aneh yang ada di sana juga ikut merapat ke tempat Joni, dan mereka semua terlihat senang, termasuk si pemuda.Akan tetapi, Joni sama sekali tidak sadar bahwa si Kakek misterius itu ternyata sudah bangkit dari bangkunya dan tengah mengamatinya sejak tadi. Tapi, tiba-tiba saja Kakek itu tersenyum kecil, dan tak lama kemudian, dia pun berjalan pergi meninggalkan taman, hingga akhirnya dia hilang di antara kerumunan pejalan kaki yang baru saja masuk ke dalam taman. Sementara itu, si pemuda yang menyadari kepergian kakek itu, hanya mampu berdiri di sana dan melihat kepergiannya, begitu juga dengan semua teman-teman anehnya."Selamat tinggal, Tuan." Bisik si pemuda."Hey, Kakek itu, kok, sudah nggak ada?" Tanya Joni yang baru sadar kalau kakek itu sudah tak ada lagi di sana."Hmm... Joni, aku mau bertanya lagi padamu." Ujar si pemuda."Apa lagi, Kak?" Tanya Joni yang sedang fokus memindahkan setengah dari isi karung itu ke karung miliknya."Boleh nggak aku jadi sahabatmu?"Pertanyaan itu berhasil memancing minat Joni. "Wah! Tentu saja, Kak! Dan... dan... Kakak tenang saja, deh! Aku nggak akan minta uang Kakak, kok!" Kata Joni tampak bangga."Baiklah, itu aneh." Kata sesosok serigala yang berdiri layaknya seperti manusia."Wajar, dia masih anak-anak." Ujar sesosok makhluk kerdil berwajah lucu, berkulit hijau dan memiliki telinga yang panjang dan lancip."Begini, Joni." Kata si pemuda seraya berlutut satu kaki di depan Joni, sementara satu tangannya memegang pundak Joni. "Kalau aku boleh menjadi sahabatmu, aku akan membantumu untuk mendapatkan segala yang kau inginkan, termasuk menjagamu dan juga teman-temanmu. Dan kalau aku menjadi sahabatmu, maka teman-temanku ini juga akan menjadi temanmu, dan kami juga akan membantumu mengumpulkan semua sampah yang ada di dunia ini. Gimana?"Joni seketika memandangi semua makhluk-makhluk aneh itu dengan heran, dan kemudian, sambil tersenyum lebar dia berkata, "Ya, tentu saja aku mau, Kak!""Baiklah kalau begitu." Pemuda itu bangkit berdiri sembari mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya, itu adalah sebuah kalung yang tampak indah, dengan empat belas batu berwarna-warni yang tertata pada hiasannya yang berbentuk lingkaran, dan sebuah batu berwarna hitam berukuran agak besar yang berada di bagian tengahnya."Kalung ini buatku?""Ya, ini untukmu." Jelas si pemuda. "Dengan kalung ini, kamu bisa meminjam kekuatanku, dan juga kekuatan salah satu dari mereka. Tapi, kau hanya boleh menggunakannya di saat-saat penting saja, oke?""Hmm... Beneran, Kak?" Tanya Joni heran sambil memandangi kalung itu. "Kalung ini kelihatannya mahal banget, lho... "Si pemuda, beserta teman-temannya yang aneh tiba-tiba tertawa pelan setelah mendengar apa yang dikatakan Joni."Lho? Kenapa?""Ah... Nggak, kok." Jawab pemuda itu sambil mengusap kepala Joni. "Ya, sudah, kita pulang ke rumahmu, yuk?""Ah... baiklah. Ayo, Kak."Namun, saat Joni berniat untuk pergi meninggalkan taman itu, tiba-tiba saja ada seorang gadis bertubuh tinggi yang memiliki empat lengan, yang mengambil kedua karung Joni, lalu memasukkannya ke dalam mulut sesosok makhluk berbulu biru dan bertubuh besar. Kedua karung yang yang isinya hampir penuh itu benar-benar masuk ke dalam perut makhluk bertampak lucu dan berbulu lebat itu."Kok—""Joni tenang saja, kami, kan, teman-temanmu sekarang, jadi kami akan membantumu membawa barang-barang itu ke tempatnya si Bos Anca itu." Jelas si pemuda seraya menggandeng tangan Joni, lalu menuntunnya keluar dari taman. "Ayo kita pulang."Joni berjalan di depan bersama pemuda itu, sementara teman-temannya yang lain mengikuti dari belakang."Oh, iya, Joni, namaku adalah Ulficer, tapi kamu boleh memanggilku Ulfi.""Oke, Kak Ulfi. Dan namaku Joni, Kak.""Ya, aku tahu, kok, Joni." Ujar Ulfi. "Itulah sebabnya kami memilihmu untuk melindungi orang-orang... "
Untuk Dirinya yang Telah Pergi
Usianya baru menginjak dua belas tahun, saat Kevin menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Di tengah hutan yang senyap ini, anak kecil kurus berambut emas itu berlutut di hadapan keputusasaan. Dia menangis di depan sebuah papan kecil yang tertancap di tanah, di mana di papan itu pula terukir satu nama dari orang yang sangat ia sayangi di dunia ini.Suatu ingatan berputar dalam pandangan Kevin.Dia melihat seorang anak berambut putih yang jatuh di bawahnya. Tangan anak itu terulur ke arah Kevin seakan dia berharap agar Kevin segera menolongnya. Tapi, Kevin tidak mampu berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa ia lakukan saat itu, hanya melihatnya jatuh ke dalam lautan api yang mengamuk jauh di daratan.Namun, waktu itu, Kevin menangkap sebuah senyuman yang terbentuk di bibir anak itu. Dia tersenyum kepada Kevin. Meski ia tahu bahwa kematian kini sudah berjarak satu jengkal saja dari kehidupannya, anehnya, anak itu malah tersenyum."Tidak... Tidak... Aku gagal... Ya Tuhan... " Kalimat singkat itu meluncur keluar dari mulut Kevin. Air matanya mengalir deras di wajah dan tak dapat dibendung lagi. Sungguh rasanya sangat menyakitkan, karena dia telah gagal melindungi seorang sahabat sekaligus keluarga yang paling berarti baginya. "Mereka yang hidup dengan pedang... akan mati dengan pedang... Apakah ini maksudnya? Tapi... Kenapa?"Setelah perjuangannya selama ini, setelah semua pengorbanan yang diberikannya selama ini, akhirnya, dia gagal. Kevin gagal untuk melindungi Abi, seorang yang dianggapnya sebagai adik di kehidupan ini.Abi selalu berdiri di depan Kevin dalam situasi apapun. Setiap pagi, saat matahari terbit, anak berambut putih cerah itu adalah orang yang selalu berdiri paling depan untuk menyambut hari esok. Dia adalah anak paling pemberani yang pernah dikenal Kevin seumur hidupnya. Meski tubuhnya kecil, tapi dia memiliki hati yang sangat berani seperti singa.Akan tetapi, kini Abi telah pergi meninggalkan kehidupan.Semua yang pernah Kevin lalui bersama Abi juga teman-teman lainnya dalam perjalanan menuju ke dunia manusia, sekarang telah bertukar menjadi sebuah kenangan yang terasa menyakitkan.Dulu, mereka semua selalu tidur di kamar yang sama, makan di tempat yang sama, berenang di sungai bersama, bercanda gurau bersama, duduk di depan api unggun bersama, bernyanyi bersama, dan mengikuti jalan setapak yang sama. Mereka semua melakukan segalanya hampir bersama-sama.Namun, karena peperangan, Kevin terpisah dari teman-temannya yang lain, dan satu-satunya yang menemaninya hingga perjalanannya selesai, hanyalah Abi seorang. Akan tetapi, Kevin tak menyangka, bahwa orang yang selalu ada untuknya, sekarang sudah tiada.Meski begitu, Kevin tahu dia tidak bisa berlama-lama seperti ini. Kesedihannya saat itu cukuplah untuk sehari saja. Dia harus meninggalkan semua penderitaannya di masa lalu dan menuju ke masa depan, agar kejadian yang sama tidak terulang lagi. Cukup Abi saja lah yang menjadi bukti bahwa Kevin pernah gagal. Tak perlu ada lagi orang lain yang menjadi korban atas kesalahannya."Jika saja aku tidak membunuhnya... Pasti aku tidak akan berada di sini sekarang... " Kevin bangkit dan memandang papan itu dengan tatapan marah. Pelupuk matanya bengkak mengingat ia sudah seharian menangis. "Baiklah, kalau memang begitu maumu, aku pastikan, aku tidak akan membuat kesalahan lagi. Tak akan pernah."Di keesokan harinya, Kevin memutuskan untuk mencari teman-temannya yang lain yang selamat dari perang itu, dan mungkin juga sudah sampai ke dunia ini. Apalagi, mereka semua sudah pernah membuat janji untuk memulai kehidupan baru yang damai di dunia manusia ini bersama-sama. Dan sebagai pemimpin dari rombongan mereka, orang pertama yang harus melanjutkan rencana itu adalah Kevin.Ya, atau begitulah yang diharapkannya.Namun, beberapa bulan setelah berduka atas kepergian Abi, takdir yang mengerikan tanpa diduga berhasil menemukan Kevin dan menyeretnya kembali ke dalam hutan itu. Untuk yang kedua kalinya di dunia ini, Kevin kembali dipaksa berlutut di depan dua batu nisan baru yang berada di samping papan nisan Abi.Terdapat sepasang anting-anting berbentuk api yang terletak di depan batu nisan sebelah kiri, sedangkan di nisan sebelah kanan yang berukuran lebih kecil, dihiasi oleh sebuah busur biru gelap yang dililit akar hijau dengan bebungaan yang tumbuh di sekujurnya.Kini, dua nama lagi telah pergi, yaitu Ronzo Putra dan Arima Putri. Seorang kakak yang bertampang seperti preman pasar tapi memiliki hati yang tulus, serta seorang adik perempuan periang yang bisa menyelesaikan persoalan apapun dengan memanah."Ya Tuhan! apa sebenarnya salahku padamu, hah!?" Kevin meraung keras. Tangannya meremas rerumputan dalam genggamannya, dan kepalanya tertunduk hingga dahinya menyentuh tanah. "Aku sudah menyelesaikan semua yang kubisa! Aku menyelesaikan tugas yang kau berikan padaku! Tapi, kenapa Kau malah mengambil mereka dariku?! KENAPA!?"Tangisan Kevin terdengar membahana di bawah rintik hujan. Angkasanya gelap, guntur datang lalu pergi begitu saja. Entah kenapa Kevin merasa seakan ada seseorang yang sedang duduk di balik awan-awan itu dan menyaksikan dirinya yang tengah terpuruk dalam penderitaan.Seluruh tubuhnya terasa hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, karena sekarang Kevin sudah kehilangan dua anggota keluarga lagi.Namun, Kevin tiba-tiba teringat akan satu hal.Dia teringat saat-saat dimana dia dipertemukan kembali dengan semua sahabat-sahabatnya—seluruh keluarganya—di Taman Bunga Abadi, Faharum, setelah tiga tahun terpisah. Dan di hari itu juga, untuk pertama kalinya mereka semua bisa merasakan apa itu kedamaian setelah bertahun-tahun. Ya, walaupun keesokan harinya mereka harus kembali berpisah untuk menyelesaikan tugas masing-masing, tapi tetap saja, Kevin sangat bersyukur karena mengetahui bahwa mereka semua baik-baik saja."Sa-saat itu, ka-kalian semua berkata kalau bunga Faharum a-adalah bunga paling indah yang pernah kalian lihat. Jadi, ku-kuharap kalian senang dengan ha-hadiahku ini. Kamu juga, Abi, ma-maaf aku baru kasih kamu hadiah sekarang." Kevin lalu menengadah ke angkasa, dan menutup matanya rapat-rapat seraya menghela nafas dalam. Dia merasa sangat lelah.Meski air matanya terus mengalir deras dan nafasnya terasa sesak, Kevin sudah memutuskan untuk memberikan hadiah terakhir kepada mereka. Kevin mengayunkan tangan kanannya yang masih gemetaran untuk menghasilkan debu-debu cahaya emas, yang kemudian berubah menjadi tiga buah vas bening, yang masing-masing menampung setangkai bunga putih bercahaya di depan ketiga nisan itu."Kuharap... Kau menunjukkan belas kasihanmu padaku... Tuhan." Kevin menghela nafas sekali lagi, dan pasrah kepada sang Takdir.Akan tetapi, pada kenyataannya, nisan-nisan itu terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Hari berganti hari, musim berganti musim, dan bulan berganti bulan, Kevin selalu datang ke hutan itu untuk berduka, menangis, dan menderita. Empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, dan menjelang akhir tahun, jumlah seluruhnya ada sepuluh nisan yang Kevin letakkan di tempat itu.Mungkin seperti inilah rasanya terjun ke dalam jurang keputusasaan.Kevin hampir tak mampu merasakan apa-apa lagi, hatinya sudah hancur lebur. Dia hanya berdiri di sana, di bawah lebatnya hujan salju yang dingin dan menusuk, sambil menatap kosong pada jejeran nisan itu. Sempat Kevin berpikir bahwa raga itu bukan lagi miliknya. Lalu, tak lama kemudian, Kevin pun akhirnya jatuh berlutut, dan mulai menangis dalam diam.Dunia menjadi hening kala itu.Seluruh keluarganya telah pergi meninggalkan dirinya seorang."Abi... Ronzo... Arima.... Paman Zara... Anna... Kak Alam... Kak Olla... Kak Amalia... Sella... Juga Kak Lion, dimanapun Kakak berada... Maafkan aku... Aku sudah tak bisa lagi. Aku tidak tahu kenapa ini terjadi padaku... pada kita semua. Padahal... kita sudah pernah menyelamatkan dunia ini, tapi... kenapa kalian semua malah pergi?"Kevin mengangkat kepalanya dan memandang angkasa yang kelabu."Tuhan... aku tahu kalau kami semua sudah berdosa... aku paham kalau membunuh itu salah... Tapi... Aku benar-benar tidak menyangka bahwa bayarannya ternyata semahal ini... Kukira... semua teriakkan kami di sana, semua tangisan kami, semua luka kami... kukira semua itu sudah cukup untuk melunasi semuanya... Rupanya aku salah... "Wajah Kevin yang tadinya kosong, perlahan memancarkan nestapa."Kenapa aku selalu terlambat! KENAPA!? Kumohon, sekali saja dalam hidupku, bisakah kau berhenti menyiksaku!?"Kesedihan, amarah dan penyesalan mulai merasuk dalam dirinya."Kau yang menempatkan kami di sana... tempat mengerikan dimana kedamaian itu hanya dianggap sebagai mimpi... dan saat kami berusaha menemukan kedamaian itu, Kau malah menghukum kami sampai seperti ini! Kami sudah menolong banyak orang! Kami sudah berjuang! Tapi kenapa Kau malah menyiksa kami!"Kevin ada di sana menjelang saat-saat terakhir mereka. Dari Abi, sampai pada Sella, Kevin ada di sisi mereka dan memegang erat tangan mereka. Dia mendengar kalimat terakhir yang mereka ucapkan, dia juga mendengar hembusan nafas terakhir mereka semua. Dan satu-satunya yang Kevin rasakan saat itu terjadi, adalah rasa sakit yang tiada tara."Sekali lagi... maafkan aku, ya, semuanya." Senyuman kecil tiba-tiba terbentuk di bibir Kevin. "Aku akan memulai semuanya dari awal lagi... Tapi, kalian tenang saja... aku berjanji akan membawa kenangan-kenangan itu di kehidupanku yang baru. Jadi... Selamat tinggal."Ya, itu terlalu menyakitkan untuk dilihat, jadi pada hari itu, Velicia memilih untuk menutup mata dari pemandangan menyedihkan itu.Akhirnya, sehari sebelum tahun baru, Velicia kembali ke hutan itu untuk melihat keberadaan makam itu. Gadis berambut pirang keemasan itu berdiri di sana. Dia memandang nisan-nisan itu dengan mata kanannya yang berwarna emas menyala, serta mata kirinya yang berwarna biru mengkilap."Sangat keterlaluan untuk membuat anak-anak seperti mereka merasakan penderitaan semacam itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Mereka yang hidup dengan pedang akan mati dengan pedang." Velicia tersenyum aneh.Veli meregangkan jari jemari kakinya. Dia tak mengenakan alas kaki apapun, jadi wajar kalau dia bisa merasakan hawa dingin yang terasa menusuk-nusuk telapak kakinya layaknya jarum."Menyedihkan, bukan? nasib mereka yang hidup berdampingan dengan keajaiban."Veli menatap sedih pada batu nisan yang terletak di bagian paling depan."Maaf, ya, Vin, aku nggak bisa membantumu saat kau berusaha menghadapi semua kesengsaraan itu." Lalu, Veli berpaling dam berniat meninggalkan hutan itu. "Kau sudah berusaha, Vin. Jadi... kau bisa beristirahat sekarang."Ada banyak bulu burung berwarna emas yang berhamburan di sekitar nisan itu, juga sebuah jaket berwarna abu-abu yang menggantung di atas nisan. Satu nama terukir di situ, dan nama itu adalah namanya. Kevin.
Keajiban Peri Keemasan
Kalian percaya pada sebuah keajaiban? Kepada Peri yang bisa mengabulkan permohonan? Peri itu bersemayam di sebuah air terjun dekat dengan Desa Tebing Linggahara. Hanya saja tidak pernah ada yang menyaksikan secara langsung wujud peri itu. Sehingga semua orang di desa menganggap itu sekedar mitos belaka.Namun tidak dengan Reihan. Reihan yang berusia tujuh tahun diselamatkan oleh peri itu saat dia terjatuh dari puncak air terjun. Reihan yang tidak bisa berenang, hampir tenggelam bersama arus air. Saat nyaris tidak sadarkan diri, Reihan merasakan kehangatan yang begitu lembut menyelimuti tubuhnya."Wahai anak manusia, kisahmu masih belum berakhir. Hiduplah sebagai bagian dari diriku." ucap sosok yang berkilauan itu.Saat itu, sang peri menyelamatkan hidupnya. Peri itu "mengorbankan" dirinya sendiri. Mungkin akan lebih tepat jika dikatakan bahwa Reihan telah membunuh sang peri karena kecerobohannya. Itu adalah sebuah fakta yang tidak diketahui orang lain.Hasilnya, Reihan mendapatkan sebuah keajaiban dan kutukan disaat bersamaan. Keajaiban yang Reihan dapatkan membuat dirinya mampu mengabulkan sebuah permohonan yang benar-benar dia inginkan. Hanya saja kutukan yang diterimanya membuat Reihan tidak memiliki hasrat untuk menggunakannya. Benar-benar ironis. Namun itu menjelaskan kenapa banyak sekali peri yang punya keajaiban namun mereka tidak menggunakannya sembarangan.Entah mengapa Reihan malah mengingat kenangan yang seharusnya ia lupakan. Ah! Benar juga, Reihan teringat hal itu karena surat yang dikirimkan Anggita. Anggita tidak menuliskan banyak hal di dalam suratnya.Reihan kawanku.Aku akan kembali.Anggita.Hanya tiga kalimat.Sebagai orang yang telah lama mengenalnya, Reihan pasti merasa senang akan kedatangan Anggita. Hanya saja Reihan tidak bisa mengabaikan kemungkinan lain. Sebuah firasat buruk yang tiba-tiba menyelimuti batinnya. Yang dia ketahui, Anggita pergi dari desa untuk melakukan pengobatan terhadap penyakit yang dideritanya. Apakah dia telah sembuh atau tidak? Reihan tidak mengetahuinya sama sekali. Karena surat itu adalah surat pertama yang diterimanya sejak mereka berpisah.Pagi ini dia akan tiba di halte yang tidak jauh dari desa. Reihan telah menantinya di sana. Dengan mengenakan kaos dan celana panjang, dia duduk sambil membaca sebuah buku. Tidak lama setelah itu, bis pun terlihat dari kejauhan. Reihan menutup buku dan berdiri. Melihat bis itu semakin dekat ke arahnya, semakin bergejolak pula keresahan di dadanya. Sebuah firasat yang tidak bisa dienyahkan dari hatinya.Tak berselang lama, seorang gadis akhirnya turun dari dalam bis. Dengan mengenakan rok, topi kupluk, baju lengan panjang, dan tas sandang, ia berdiri di hadapan Reihan. Sebuah senyuman pun muncul dari wajah wanita itu. Senyuman yang selalu menghangatkan sanubari."Reihan.""Anggita ..."Wanita itu langsung lompat dan memeluk Reihan erat-erat."Selamat datang kembali... Anggita."Anggita melepaskan pelukannya. Ia menatap Reihan sesaat lalu menggenggam jemarinya, dan menariknya untuk berlari bersamanya. Setiap langkah kakinya yang terdengar oleh Reihan, membuat Reihan merasa sangat bahagia.Setelah lima menit, mereka pun berhenti berlari."Hah... Aku tidak kuat lari lagi..." keluh Anggita sembari menghela nafas."Tentu saja. Perjalanan dari kota ke desa sangat jauh. Dan lihat dirimu, masih pagi tapi sudah keringatan segitu banyaknya." celetuk Reihan.Anggita tertawa. Ia berbalik dan tersenyum lebar."Bahkan setelah lama tidak bertemu, kamu tetap saja tidak pernah berubah.""Eh? Kamu juga tidak berubah, Anggita. Masih saja memaksakan diri seperti itu.""Ini semangat di pagi hari!" ucapnya sembari menggembungkan pipinya. "Olahraga di pagi hari itu menyehatkan, lho!""Ya, ya, ya. Kalau begitu kita temui dulu kepada desa buat mengambil kunci rumahmu yang dulu.""Oke!" sahutnya cepat.Desa Tebing Linggahara merupakan desa yang masih permai. Sawah padi yang membentang luas di sisi jalan menuju desa membuat siapapun terkesima. Kebun sayuran warna-warni juga menghiasi daerah perbukitannya. Lingkungan di desa ini sangat bersih, sampai parit di depan rumah penduduk saja jernih sekali. Saat mereka masuk ke dalam desa, udara sejuk itu begitu nikmat dihirup."Baiklah, ayo masuk. Pak Kades pasti bakalan senang melihatmu lagi." Kata Reihan setibanya mereka di depan halaman rumah pak Kepala Desa.Mereka pun masuk ke rumah kepala desa. Setelah bersilaturahmi dengan pak Kades, dan juga menerima kunci rumah Anggita, mereka pun bergegas pergi ke sebuah rumah yang Anggita tempati dulu. Rumah itu cukup jauh. Letaknya di ujung jalan setapak. Rumah bernomor enam belas itulah yang menjadi tempat tinggal Anggita dahulu. Sesampainya disana, mereka tanpa ragu mulai membersihkan rumah itu."Gila... banyak banget debunya!" keluhnya.Akan tetapi, entah kenapa Anggita tiba-tiba berhenti bergerak. Dia mematung dan tubuhnya sedikit gemetar, walau Reihan tak menyadarinya."Aku mungkin akan mati besok, Reihan." bisik Anggita dengan suara datar. Dia menggigit bibirnya dengan keras tanpa alasan yang jelas."Hey... Berhentilah bercanda."Ia menggelengkan kepalanya. Senyuman yang selalu ia pasang kini telah raib."Aku tidak bercanda... Reihan."Perkataan Anggita seolah menusuk dada Reihan bagaikan bilah pisau yang teramat sangat tajam."Kalau begitu, kenapa kamu tidak menghabiskan saat terakhirmu bersama ayah dan ibumu di sana? Mereka pasti—""Karena aku memilihmu, Reihan. Aku ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu."Reihan pun berhenti membersihkan lantai. Tanpa menatap Anggita, Reihan mengatakan sesuatu yang kasar."Kalau begitu kamu tidak perlu datang kemari."Keheningan pun menyelimuti ruangan."Apa maksudmu, Rei!?" Anggita kesal."Bukankah kamu harus menghabiskan waktumu bersama orang-orang yang berharga untukmu? Aku cuma temanmu. Tidak lebih." jelas Reihan yang masih tak mampu menatap Anggita. Perasaan yang amat mengerikan merasuk ke dalam dirinya. Dia menatap kosong pada lantai di bawah kakinyaReihan benar-benar tidak menyangka, bahwa dia akan mendengar hal menggusarkan sanubarinya itu di pagi ini. Semuanya terlalu tiba-tiba, sehingga rasanya Reihan seakan baru saja jatuh ke dalam jurang tanpa dasar."Kau tahu, kan? kalau kamu adalah temanku yang sangat berharga," lirihnya.Ucapan Anggita itu berhasil mengetuk kembali hati Reihan. Menyadarkannya kembali akan betapa berharganya sosok Anggita di dalam hidupnya. Wanita yang dulu memberi dirinya motivasi untuk melakukan sesuatu. Wanita yang mengajarkannya untuk bersemangat dalam setiap hal. Wanita yang berhasil membuatnya mengerti betapa indahnya hidup di dunia."Lho, kok kamu malah nangis, sih?"Anggita menyeka air matanya. Reihan tidak bisa menjawab pertanyaan Anggita."Karena aku telah memilihmu, itu artinya kamu harus mengabulkan seratus keinginanku hari ini!""Tunggu—Apa!?"Anggita membalas dengan senyuman.Setelah selesai membersihkan, Anggita mengajak paksa Reihan untuk keluar dari rumah. Gadis itu lalu mengeluarkan sebuah buku dari sakunya."Keinginan pertama telah selesai," gumamnya sambil mencoret sebuah kalimat di dalamnya."Lho, kenapa berhenti?" tanya Reihan."Tidak perlu! Membersihkan kamarku itu saja sudah cukup. Kita tidak punya banyak waktu!" Anggita menarik Reihan lagi."Setidaknya pakaianmu diganti dulu, Anggita.""Tidak perlu! Kita sekarang harus mencari es krim!""Hah?""Itu keinginanku yang kedua." Jawabnya sambil melemparkan senyuman.Ia tahu sekali cara memaksa Reihan untuk ikut dengannya. Benar-benar wanita yang egois. Namun keegoisannya lah yang membuat Reihan jadi seperti ini. Reihan benar-benar berterima kasih atasnya.Setibanya di sebuah kedai, dia langsung membeli dua buah es krim. Satu untuknya dan satu untuk Reihan. Mereka pun duduk di bangku dekat kedai itu.Setelah tuntas melumat habis es krim mereka, Anggita langsung membuka bukunya dan mencoret satu kalimat lagi di baris kedua."Jadi, apa lagi keinginanmu itu?" tanya Reihan."Keinginanku yang ketiga adalah... teng, teng teng! Makan udang bakar!" sorak Anggita."Kalau begitu kita pergi ke tempat Pak Somat." Kata Reihan."Siap!"Di sepanjang perjalanan, Anggita terus bersenandung ria. Dia benar-benar tampak bahagia, dan Reihan sangat bersyukur melihatnya. Tapi, kenyataan bahwa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi besok, membuat Reihan sangat ketakutan. Jauh di dalam hatinya, Reihan menjerit sangat keras. Namun, dia tetap berusaha untuk tegar, demi Anggita."Wah! Udangnya enak banget!" teriakan Anggita menggelora saat memakan satu ekor udang bakar Pak Somat."Hahaha! Ini udang spesial buat Mbak Anggita! Udang gala bakar rasa spesial!" seru Pak Somat. "Ngomong-ngomong, ini gratis! Anggap saja hadiah kepulangan buat Mbak.""Wah! Terima kasih banyak, Pak Somat!" Anggita terus melahap udang bakarnya.Mereka berdua ngobrol sangat akrab sekali. Reihan bahkan tidak ingin mengganggu momen ini. Dahulu Anggita adalah sosok anak kecil yang sangat disayangi di desa. Sekarang ia telah tumbuh menjadi wanita yang begitu cantik dan ceria. Reihan yakin rasa bangga dan bahagia juga tumbuh di benak Pak Somat."Baiklah, selanjutnya kita akan pergi ke kebun tomat Pak Saleh!" celetuk Anggita."Hah... terserah kau saja, deh, Anggita. Tapi... kebun itu cukup jauh, lho.""Tenang saja! Aku ini sangat kuat!" celetuknya."Kuat makan doang kamu!" ejek Reihan."Karena aku masih dalam pertumbuhan!" ujarnya dengan percaya diri.Setelah berjalan cukup jauh, mereka pun tiba di kebun Pak Saleh.Melihat kebun tomat Pak Saleh tidak berbuah, Anggita menggeram."Kenapa kamu tidak bilang kalau ini belum masanya panen?" cibirnya."Kau yang benar saja, aku bukan petani tomat, lho.""Gagal, deh, makan tomat Pak Saleh ..."Rasanya cukup kesal jika harus melihat gadis cantik seperti Anggita makan terlalu lahap tanpa memikirkan kondisinya sendiri. Tapi, begitulah Anggita.Anggita terlihat sedang memikirkan sesuatu. Reihan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sudah empat jam berlalu sejak Anggita tiba di desa."Kamu mau jalan-jalan ke SD, nggak?" usul Reihan."Ah! Ide bagus! Ayo!" sahutnya secepat kilat.Jarak sekolah dasar dengan kebun Pak Saleh tidak jauh. Selang beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di tempat dimana mereka dulu belajar bersama.Melihat anak-anak yang berlarian saat jam istirahat membuat Reihan teringat masa lalu. Itu adalah masa-masa yang menyenangkan bersama Anggita. Sebuah kenangan saat Anggita masih tinggal di desa ini."Wah... aku jadi ingin kembali ke SD lagi." ungkap Anggita."Kenapa nggak coba jadi guru saja?" tanya Reihan."Jadi guru itu merepotkan. Mendidik anak kecil itu susah banget!""Ya, lupakanlah kalau begitu." ujar Reihan dengan tawa kecil.Anggita menatap Reihan sebentar, kesal. Lalu tawa kecilnya terlepas begitu saja."Ternyata berada di sini malah membuatku teringat dengan masa lalu yang indah itu.... Aku... benar-benar merindukan saat-saat itu." Ungkap Anggita. Wajahnya terlihat sangat damai. Saat ini."Bagaimana denganmu, Reihan?"Reihan memilih untuk tidak menjawabnya.Dia menatap Reihan yang membisu sebentar. Kemudian memutuskan untuk berkeliling sebelum pergi ke tujuan selanjutnya.Reihan memang sudah menebaknya, tapi tetap saja itu mengejutkannya."Wah! Bakso Pak Bejo memang paling top dah di dunia!""Mbak Gita bisa aja deh!" Kata pria baya itu."Tidak-tidak! Aku serius Pak Bejo! Coba kalau Pak Bejo jualan di kota, pasti bakal laris manis baksonya!""Hahaha! Jualan di sini aja sudah cukup, Mbak!" Kata pria baya itu malu-malu. "Tapi, Abang masih kaget banget, lho, soalnya kamu tiba-tiba saja nongol kayak nggak ada apa-apa."Orang-orang di desa tidak mengetahui alasan Anggita dan keluarganya pindah ke kota. Itu karena permintaan Anggita yang tidak ingin membuat semuanya khawatir. Anggita benar-benar menyukai orang-orang di desa. Maka dari itu orang-orang di desa bisa tersenyum bahagia saat melihatnya kembali tanpa mengkhawatirkan apapun.Namun tidak bagi Reihan. Dia masih sadar akan kenyataan itu. Baginya ini adalah mimpi yang awalnya terlihat bahagia, namun pada akhirnya... akan menjadi sebuah mimpi buruk—mimpi yang teramat sangat buruk. Bahkan Reihan masih berharap apa yang dikatakan oleh Anggita sebelumnya hanyalah gurauan belaka.Setelah selesai makan bakso, Anggita pun menarik Reihan pergi—lagi—menuju ke sebuah toko. Di sana dia membeli kembang api yang ukuran kecil. Lalu dia menyuruh Reihan untuk membawanya.Tiap kali Anggita berjalan melintasi orang yang menjual makanan, dia pasti akan membelinya. Di saat ia melihat baju yang dijual di toko, dia juga membelinya. Di saat dia melihat hal hal yang menarik baginya, dia akan langsung menuju ke sana. Ia terlihat begitu bebas bagai tidak memiliki beban hidup apapun. Wajahnya yang terus terlihat bahagia itu membuat Reihan sedikit khawatir.Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga senja mulai menyapa."Anggita, kamu tidak lelah?""Heh! Aku tadi sudah bilang kalau aku ini wanita yang kuat!" ujarnya sambil menulis sesuatu di dalam bukunya. "Baru empat puluh dari seratus keinginan yang sudah terwujud. Kita tidak punya banyak waktu!""Tapi... sebelum itu, kita mungkin harus membawa semua barang-barang ini pulang ke rumah dulu, deh." Reihan memperlihatkan beragam kantong plastik yang sedari tadi dibawanya. Syukur Reihan cukup kuat untuk menahan semua beban itu."Ah, maaf aku lupa."Reihan menghempaskan nafas panjang. Kegiatan ini membuatnya cukup lelah.Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak berbicara sepatah kata pun. Anggita berjalan di samping Reihan dengan tenang. Tanpa membuka buku dan hanya menatap ke jalanan yang panjang. Reihan tidak ingin bertanya apa yang sedang Anggita pikirkan.Sesampainya di rumah, Reihan menaruh semua barang belanjaan itu di dalam kamar Anggita. Namun, saat dia keluar dari rumah itu lagi, Reihan melihat Anggita berdiri diam sambil menatap langit. Reihan mendekatinya. Lalu Anggita menoleh saat mendengar langkahnya."Sudah selesai? Yuk kita lanjut lagi!""Ya... Kemana kita malam ini? Aku tidak mau makan lagi."Dia kaget seolah Reihan bisa membaca pikirannya."Kamu ini seperti dukun ya? Tahu aja apa yang sedang kupikirkan," cibirnya."Itu hanya perasaanmu saja," balas Reihan, "Lalu kemana kita selanjutnya?""Hmmm..." Anggita tampak ragu-ragu, "Aku... ingin pergi ke air terjun.""Ditolak." balasnya cepat."Eh?! Kenapa?""Kau tahu kalau tempat itu dilarang untuk dimasuki oleh siapapun. Lagian sekarang sudah gelap. Sangat sulit pergi ke sana dalam kondisi seperti ini."Anggita tersenyum licik. Ia pergi ke dalam rumah sebentar dan setelah beberapa saat, dia akhirnya keluar membawa dua senter dan satu lentera."Benar-benar penuh persiapan." Reihan terkagum melihat kematangan rencananya."Walau ada senter dan lentera, tempat itu tetap saja tidak boleh dikunjungi oleh siapapun, Anggita.""Kita bukan anak kecil lagi, Reihan!""Nggak bisa! Tidak boleh pokoknya!""Kalau begitu aku pergi sendiri." Wanita itu pun berlari.Reihan tidak punya pilihan selain mengejarnya. Namun entah mengapa ia tidak bisa menghentikan langkah Anggita."Halo." Sapa seseorang yang tiba-tiba muncul di depan mereka.Anggita hampir melompat karena saking terkejutnya."Eh... halo?" Reihan membalas sapaannya dengan ragu."Eh... maaf, kalau aku membuat kalian terkejut. Tapi aku ingin bertanya, boleh nggak?" Jelas sosok itu, yang ternyata hanya seorang anak yang mungkin masih berusia dua belas tahunan. Anak itu berkulit kecoklatan dan memiliki mata kuning yang agak mengkilap."Wah... " Anggita tampak kagum dengan warna mata anak itu. Ya, karena memang sangat jarang ada orang yang memiliki warna mata seperti itu di Indonesia. "Tadi kamu mau tanya apa memangnya?""Oh, iya. Bisa nggak kalian memberitahuku jalan menuju ke Air Terjun Linggahara?""Eh? Air Terjun? Kamu ingin ke sana? Kebetulan kami berdua sedang menuju kesana sekarang. Kamu mau ikut?" Anggita menawarkan."Maaf sebelumnya." Kata Reihan tiba-tiba. Dia memandang curiga anak itu. "Kalau boleh tahu, kamu mau ngapain kesana malam-malam begini? Dan kamu juga jelas-jelas bukan warga desa ini.""Aku memang bukan orang sini, sih, Kak. Aku datang ke sini karena aku ingin bertemu dengan peri yang tinggal di sana." Jawab anak itu sambil tersenyum kecil. Bahkan, kalau diperhatikan, anak itu sejak tadi memang terus memandang ke arah Reihan."Jarang, lho, ada orang luar desa yang tahu tentang cerita itu." Bisik Anggita heran.Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Ada cahaya hijau yang tiba-tiba terpancar dari salah satu kantong celana anak itu. Mata Reihan dan Anggita langsung terbelalak saat menyadarinya."Cahaya apa itu...?""Hmm?" Anak itu memandang cahaya itu cukup lama, lalu kembali angkat bicara dengan santai setelah beberapa saat. "Oh, sepertinya aku nggak jadi kesana, deh. Kalau begitu, sekarang aku akan kembali ke penginapan. Terima kasih, ya, Kakak-kakak sekalian. Aku pergi dulu. Dadah." Anak itu dengan cepat melangkah pergi dari sana meninggalkan Reihan dan Anggita begitu saja."Hmm... sungguh aneh... " Gumam Reihan dan Anggita dengan wajah datar.Anggita pun melanjutkan perjalanannya. Reihan tetap mengekor di belakang gadis itu. Beberapa menit telah berlalu, dan Anggita bersama dengan Reihan akhirnya tiba di pintu masuk menuju air terjun tersebut. Tanpa dipandu, Anggita memasuki jalan menuju air terjun. Dia masih ingat betul jalan menuju ke sana. Meski sudah bertahun-tahun."Sudah lama sekali, bukan?""Hah?" ucapannya membuyarkan lamunan Reihan."Dulu kita sering kemari, bukan? Saat itu benar-benar menyenangkan.""Tapi... itu sudah lama banget.""Ya memang. Aku masih ingat sekali saat itu, saat-saat kita masih takut dengan apapun. Aku merindukan perasaan seperti itu. Perasaan yang bebas tanpa terkekang oleh apapun.""Waktu tidak bisa diputar kembali, kau tahu.""Tentu. Hanya saja, aku tetap ingin kembali ke masa-masa itu. Aneh sekali, bukan? Padahal aku jelas-jelas sudah dewasa sekarang."Reihan merasa kalau Anggita sedang menangis saat mengatakan hal itu. Walau gelapnya malam ini tidak mengizinkannya untuk melihat air mata Anggita, dan Reihan cukup peka untuk tidak mengarahkan cahaya senternya ke arah wajah Anggita.Suara riak air mulai terdengar. Mereka sudah hampir tiba di tempat itu.Saat menembus semak yang ada di depan, terlihat sebuah pemandangan yang sangat merindukan.Air yang deras jatuh dengan bebasnya hingga menimbulkan suara yang amat berisik. Suara jangkrik dan lolongan anjing yang berirama menambah kesan kerinduan di dalam hati.Sudah berapa lama dia tidak ke sini? Batin Reihan."Lihat!" Anggita menariknya menuju tepian. "Bulannya terpantul di air!""Harus dijelaskan, ya?" celetuk Reihan.Tawa Anggita pun meledak. Kenangan masa kecil dulu mengalir bagaikan sungai di dalam kepalanya. Tanpa sadar, Reihan pun terhanyut dalam perbincangan itu."Tapi coba lihat... air terjun ini terlihat lebih pendek sekarang.""Bukan Anggita. Air terjun itu tidak bisa mengubah ukurannya sekalipun. Kitalah yang telah berubah. Air terjun yang tingginya tidak sampai sepuluh meter ini, dulu memang terlihat tinggi. Waktu itu, kita, kan, masih bocah."Anggita malah terpingkal-pingkal."Heh, apanya yang lucu?"Ia menggelengkan kepala sambil menahan tawanya. Anggita perlahan mengatur nafasnya, lalu menatap mata Reihan."Kamu benar-benar sudah berubah ya, Reihan. Sekarang kamu tidak kaku dan membosankan seperti yang dulu.""Ya, itu kan gara-gara kamu, Anggita." Reihan menggaruk kepalanya dengan gelisah. "Tapi, terima kasih banyak, deh, karena telah mengubah hidupku.""Ya... Aku juga," Anggita menggenggam erat tangan Reihan, "Aku sangat berterima kasih karena kamu mau menemaniku saat itu dan saat ini juga, Reihan."Setelah itu, mereka pun menyalakan kembang api yang telah dibeli sebelumnya. Berlarian sambil memegang kembang api itu terlihat kekanak-kanakan menurut Reihan. Namun Anggita tidak peduli dengan tanggapan seperti itu. Dia berlarian bebas ke sana ke mari, sedangkan Reihan memilih untuk berjalan dengan santai. Wajah Anggita yang terlihat sangat bahagia membuat rasa senang membingkai hati sang lelaki. Namun tetap saja, ini adalah waktu terakhirnya.Saat semua kembang apinya telah habis, Reihan mengajaknya untuk pulang."Pulang yuk, Anggita—""Reihan, kamu masih ingat tidak tentang Peri di air terjun ini?" sela Anggita tiba-tiba.Reihan memperhatikan air terjun itu."Cerita itu sudah seperti bagian dari kita semua yang tinggal di desa ini. Jadi... pertanyaanmu agak konyol lho."Ya... aku sudah tidak terlalu mengingatnya, sih.""Hah... " Reihan menghela nafas. "Konon katanya peri itu terlihat seperti gadis bertubuh kecil yang memiliki sayap berkilauan. Ada juga yang mengatakan kalau bentuknya seperti kakek tua yang mengerikan." Reihan menghela nafas sebentar, "Aku nggak nyangka kalau kamu masih tertarik pada mitos seperti itu.""Hmm... Itu bukan mitos, Reihan. Bukankah kamu yang mengatakannya waktu itu? Kalau peri itu sudah menyelamatkan hidupmu?""Ya Tuhan... waktu itu kita masih SD.""Tapi... sejak dulu aku memang selalu percaya pada ucapanmu. Hingga saat ini juga masih seperti itu.""Kalau begitu ayo kita pulang. Sudah gelap banget, lho, sekarang. Dan aku juga mulai merinding, nih.""Aku... tidak mau pulang." Mata Anggita berkaca-kaca, "Aku ingin tetap di sini."Reihan pun tidak bisa lagi memaksanya. Sorot mata itu membuatnya gentar.Suasana mulai hening. Hanya suara riak air dan suara jangkrik yang terdengar."Reihan..." suara Anggita memecah kesunyian, "Mati di tempat seperti ini tidak buruk, bukan?"Pertanyaan itu membuat dadanya bergetar hebat."Anggita... kalau boleh tahu, kenapa, sih, kau memaksakan diri untuk datang ke desa lagi?""Hmph! Kan sudah aku bilang kalau aku ingin menghabiskan waktu terakhirku bersamamu.""Jangan beralasan! Apa kau pikir aku tidak melihat semua obat-obatan yang kau bawa di dalam tasmu?" Pekik Reihan. Dia berusaha menahan amarahnya.Anggita tidak terlihat terkejut."Jika saja kau tidak memaksakan diri, pasti kau bisa sembuh. Paling tidak... kau bisa hidup lebih lama...""Hidup lebih lama, kah?" Anggita berjalan menghampiri Reihan, "Kamu kira nggak bosan apa, tiduran di rumah sakit seharian? Bau obat-obatan itu juga membuatku mual. Saat aku mendengar vonis dokter tentang hidupku yang tidak lama lagi, aku pun memutuskan untuk kemari. Bertemu denganmu di sini, membicarakan masa lalu dan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersamamu. Reihan... memangnya yang aku lakukan ini salah, ya?"Reihan berusaha menahan gejolak yang menderu di dalam jiwanya."Aku... tidak tahu...""Oh ya! Aku masih ada lima puluh sembilan keinginan lagi!" seru Anggita."Hey! ini sudah malam! Kamu sadar apa nggak, sih?""Aku tidak bilang kalau kita akan keliling seperti tadi." Anggita memberikan isyarat agar Reihan duduk di dekatnya.Saat duduk, Anggita langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Reihan."Dengan begini keinginanku tinggal lima puluh delapan lagi."Reihan duduk sambil memandangi angkasa malam berbintang."Ya... sepertinya aku tidak bisa mewujudkan semua keinginanku yang tersisa. Tapi, sebagai gantinya, Reihan... kamu mau nggak mendengarkan keinginan-keinginanku yang tersisa itu?""Ya... aku mau, kok.""Elus kepalaku, Reihan."Sesuai dengan permintaannya, Reihan pun mengelus kepalanya.Kemudian Anggita pun memberitahukan satu persatu keinginannya yang tidak bisa dilakukan lagi. Setiap kali ia mengatakan keinginannya itu, suaranya terdengar semakin pelan. Seolah tenaganya terus terkuras setiap ia menyebutkannya."Sudah ke berapa... ya?" tanya Anggita pelan."Sudah ke sembilan puluh sembilan. Tinggal satu keinginan lagi." jawab Rehan sambil terus mengelus kepala sang wanita.Anggita tersenyum lemas. Badannya mulai gemetaran."Kalau begitu... yang terakhir aku berikan untukmu, Reihan. Apa keinginanmu?"Reihan jatuh dalam ketakutannya sendiri. Rasa sedih yang bercampur aduk dengan rasa sakit yang ia rasakan, membuatnya menitiskan air matanya."Kenapa kamu menangis lagi, Reihan? Dasar anak kecil." ucap Anggita sambil menyeka air matanya."Aku... aku hanya ingin...""Apa... kamu bilang apa, Reihan...? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Aku... sangat mengantuk. Reihan... cepat beritahu apa keinginanmu...?"Suaranya lambat laun memudar. Anggita pun menutup matanya perlahan. Tangannya terkulai lemas. Tidak bergerak.Dia... telah pergi."Apa-apaan...?"Air mata Reihan mengalir deras membasahi wajah Anggita yang tak lagi tersenyum itu. Reihan menggenggam tangannya dan bermunajat kepada segala yang bisa mendengarkan permohonannya.Reihan jatuh dalam sendu yang menggerayangi jiwanya. Hanyut dalam kenangan dan rasa sakit yang mendalam. Bercampur aduk. Menggerakkan hatinya yang telah membeku oleh kutukan dari keajaiban Peri Tebing Linggahara. Seolah rantai yang mengekang hasratnya itu hancur, dan membuatnya mampu untuk mengucapkan sebuah permohonan. Permohonan yang begitu sederhana."Aku... hanya ingin dia bisa tersenyum setiap hari. Besok, dan besoknya lagi, dan besok harinya lagi. Aku hanya ingin hal itu! Kumohon dengarlah! Dengarlah keinginanku, Hey, Peri! Kalau memang kau nyata! Kumohon kabulkanlah permintaan ini! Kabulkanlah! Kabulkanlah! Kabulkanlah! Kumohon!" Reihan terus menjerit, meminta agar Anggita bisa tersenyum kembali esok hari.Hingga akhirnya sesuatu terjadi.Tiba-tiba tubuh Anggita mulai mengeluarkan cahaya keemasan yang amat terang benderang dan mengagumkan. Hal itu sempat membuat Reihan berhenti sebentar.Ia terkejut melihat hal yang tidak masuk akal itu. Cahaya keemasan itu berubah bentuk menjadi gerombolan kupu-kupu cahaya yang menari-nari di angkasa. Kemudian gerombolan kupu-kupu itu turun dan menyelimuti tubuh Anggita yang mulai dingin. Kupu-kupu cahaya membungkus Anggita dengan benang-benang keemasan dan membentuk kepompong yang terbuat dari cahaya yang menyilaukan mata. Membuat dunia seperti di siang hari.Angin kencang berhembus dan membuat Reihan terdorong ke pohon. Namun itu tidak menghentikan munajatnya. Ia memohon dengan segenap jiwanya kepada keajaiban yang bisa membawa senyuman Anggita kembali menghiasi dunianya. Lalu, kepompong cahaya itu pun pecah, mengeluarkan Anggita yang kini memakai sayap yang terbuat dari cahaya dan turun perlahan ke daratan. Reihan segera menghampiri dan menyambut Anggita dengan lembut.Sebuah suara menggema di dalam kepala Reihan."Wahai pewaris Peri Tebing Linggahara, Reihan, Gunakanlah keajaiban yang kamu miliki dengan bijaksana.""Tapi... Aku tidak menginginkan kekuatan ini! Yang aku inginkan hanyalah membuat Anggita bisa tersenyum lagi seperti hari ini! Aku mohon!"Kemudian suara itu lenyap bersama sayap cahaya yang menempel di punggung Anggita. Debu-debu cahaya keemasan itu terangkat ke langit dan hilang tanpa jejak."Tunggu—""Reihan..."Reihan terkejut setengah mati. Wanita yang harusnya sudah tidur dalam keabadian, tiba-tiba menyebut namanya."Anggita...?" Reihan langsung memeluk erat tubuh Anggita. Ia kembali menitiskan air mata."Rei...han... Apa... yang terjadi?""Syukurlah... Syukurlah!"Anggita juga tidak mengerti. Harusnya ia telah mati. Namun ia masih bisa merasakan kehangatan dari sebuah pelukan. Air matanya pun menetes tanpa henti. Di dalam keheningan malam, mereka berdua tenggelam dalam kebahagiaan yang begitu besar.Malam itu, mata Reihan akhirnya terbuka.Padahal, selama bertahun-tahun, Reihan terus menyangkal keberadaan kekuatan yang bersemayam di dalam dirinya. Namun, Reihan juga tak bisa menyangkal, kalau Anggita kini bisa kembali bernafas lagi, itu semua berkat kutukan, sekaligus keajaiban itu.Dalam hati Reihan mulai berpikir, apa yang akan terjadi jika orang-orang mengetahui tentang kekuatan yang dimilikinya? Ya, Reihan sendiri memang tidak tertarik dengan kekuatan itu karena kekuatan itu sendiri yang menjadikannya begitu. Tapi, bagaimana jika itu adalah orang lain?Akan tetapi, semua itu tidak penting sekarang, karena Permohonan Reihan sekarang sudah terkabulkan."Apa, sih, yang kau pikirkan?" Tanya Anggita. Gadis itu kembali memasang senyum di bibirnya."Tersenyumlah... "
Surat Terakhir yang Menggoreskan Kebahagiaan
"Anggrietta, Aku tidak akan menggunakan sihirku padamu lagi.""Lho! Tapi kenapa, Zelos?""Ingat kembali kenapa engkau mulai berdansa."Ucapan yang dilontarkan Zelos saat latihan kemarin masih menghantui benaknya. Hal itu dilontarkan Zelos saat mereka sedang berselisih. Anggrietta tidak pernah bermaksud untuk melukai perasaan Zelos saat itu, hanya saja Anggrietta tidak bisa menahan emosinya."Kamu egois sekali, Anggrietta," ia menegur dirinya sendiri, "Padahal, Zelos adalah sosok yang membantumu sampai sejauh ini? Namun apa maksud dari ucapannya kemarin? Bukankah sudah jelas kalau aku berdansa agar memiliki uang untuk biaya perawatan ibuku di rumah sakit? Argh!"Seketika Anggrietta menepuk kedua belah pipinya. Kemudian memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu saat ini."Fokus, Anggrietta! Fokus!"Dengan musik yang tengah berputar, ia kembali berdiri.Anggrietta pun mengatur nafasnya kembali. Perlahan mata birunya ia tutup. Kemudian kedua tangannya ia angkat dan meletakkannya di udara. Tangan kirinya sedikit ia lekukkan seolah sedang memeluk seseorang dan tangan kanannya ia julurkan panjang menggantung di udara. Terlihat begitu kokoh seolah kedua tangannya sedang bertumpu pada sesuatu. Kemudian tubuhnya ia lekukkan dan agak condong ke kiri. Posisi itu membuatnya terlihat sangat rapuh namun amat menawan.Anggrietta pun mulai melangkahkan kaki kanannya. Kaki kirinya pun langsung mengikuti seolah tak ingin ketinggalan dalam irama dansa. Langkah-langkah itu beriringan dengan gerakan tubuhnya dan melahirkan sebuah keharmonisan. Memberikan kesan keanggunan dan keindahan yang luar biasa.Setelah selesai dengan latihannya, Anggrietta pun segera pergi dari ruang latihan menuju kamarnya. Ia harus bersiap-siap untuk menghadapi kontes dansa siang ini. Akan tetapi, di atas meja riasnya, Ia melihat secarik kertas yang terlipat rapi. Ia membukanya. Sebuah tulisan tangan dari orang yang sangat ia kenal.Aku akan menunjukkan sesuatu saat kontes akan dimulai. -ZelosSaat itu Anggrietta masih beranggapan bahwa semuanya akan sama seperti biasanya. Namun hingga kontes akan dimulai, Zelos tidak muncul. Dan itu benar-benar membuatnya gusar. Ia terus melihat ke arah belakang dan berharap Zelos akan datang dan memberikannya mantra sihir agar dia bisa berdansa dengan maksimal seperti biasanya.Sayangnya... Zelos tetap tidak muncul, bahkan setelah nomor pesertanya disebutkan oleh moderator. Sesaat ia melangkahkan kakinya menuju panggung, tepuk tangan penonton terdengar riuh. Dan sorakan-sorakan itu menggetarkan ruangan. Mata Anggrietta terbelalak saat menyaksikannya.Jemari Anggrietta gemetaran. Bahkan yang menjadi pasangannya juga ikut khawatir."Mbak Anggrietta baik-baik saja?" bisik lelaki yang menjadi pasangannya."Eh! Iya. Aku baik-baik saja, Om Gilbert. Maaf membuat Anda khawatir.""Pacar Mbak tidak hadir seperti biasanya. Kalian lagi berantem?""Bukan, Om Gilbert! Dia bukan pacar saya! Dan kami tidak sedang berantem!"Reaksi Anggrietta mengundang tawa Gilbert. Sejak menjadi partner dansa, Gilbert memang terkadang suka usil. Namun dibalik keusilannya itu, Gilbert selalu memikirkan Anggrietta."Apa demam panggungmu sudah hilang, Mbak Anggrietta?""Sudah lebih baik. Terima kasih, Om Gilbert." ucapnya sambil tersenyum.Walau Anggrietta sudah merasa baikan dari demam panggungnya, itu bukan yang jadi inti dari permasalahan kali ini. Kali ini ia mau tidak mau harus berdansa sendiri tanpa sihir dari Zelos. Hal itu membuatnya benar-benar takut. Ia takut akan kehilangan segalanya saat gerakannya menjadi kacau balau dan mengecewakan penonton dan juri. Saat ini Anggrietta tidak tahu harus berbuat apa.Sihir yang digunakan oleh Zelos kepadanya membuat dirinya mampu menari dengan sangat baik. Seolah tubuhnya digerakkan oleh sesuatu dan pikirannya hanya tinggal mengikuti saja.Saat ini Anggrietta sendirian. Ia tidak akan bisa menari seperti yang sebelumnya. Mengingat kontes dansa ini tidaklah sebentar, Ia hanya bisa berharap kalau Zelos akan datang disela-sela pertandingan.Setelah semua peserta masuk ke panggung, hiruk-pikuk penonton pun mulai reda. Suasana mulai hening dan para peserta sedang mengatur posisi masing-masing.Gaun berkilau yang ia kenakan sangat cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Ditambah rambut hitam yang ia sanggul rapi membuatnya terlihat sangat cantik dan mempesona. Anggrietta Sang Primadona. Begitulah para fans menyebutnya.Musik pun telah diputar, dan kontes dansa pun dimulai. Semua peserta memulai dance routine mereka masing-masing.Begitu juga dengan Anggrietta, walau tanpa sihir, ia harus tetap berdansa. Di dalam kepalanya terus mengingat-ingat gerakan mereka dan berusaha sekuat mungkin untuk tetap konsentrasi agar dansa mereka sinergi dan penyatuannya sempurna. Gilbert menyadari keanehan itu dari raut wajahnya yang terlalu tegang. Walau Anggrietta menyembunyikannya dengan senyuman.Mereka terus berdansa dan berdansa. Menyelesaikan Waltz disusul dengan Quick-Step di babak selanjutnya. Dan kembali ke Waltz di ronde terakhir. Stamina para pedansa pasti terkuras. Namun tidak satu pun dari mereka berhenti menggerakkan tubuhnya. Terus dan terus bergerak, hingga panggung itu terlihat seperti bingkai dengan bunga-bunga yang bermekaran di tengahnya.Lalu, seiring dengan berjalannya waktu, kontes dansa pun berakhir. Para pedansa dengan keringat bercucuran itu kemudian berbondong-bondong keluar dari panggung.Gilbert yang sedari tadi merasakan keanehan itu hendak menyampaikan sesuatu pada Anggrietta."Maaf, Gilbert," ucap Anggrietta, "Maafkan atas penampilanku yang tidak bagus hari ini."Gilbert tidak bisa berkata apa pun.Anggrietta dengan langkah yang cepat berjalan menuju koridor. Di saat ia hendak masuk ke ruang ganti, Zelos terlihat di sana. Disampingnya terdapat seorang wanita tua yang duduk di kursi roda. Wanita tua itu sambil tersenyum lebar dan berkata kepada Anggrietta,"Gerakanmu benar-benar indah, Anggrietta. Ibu... sangat bahagia." air matanya pun meleleh.Tangis Anggrietta meledak. Ia langsung berlari seperti anak kecil sambil menangis histeris. Tangannya meraih tubuh sang ibu dan memeluknya erat. Sang Ibu hanya bisa mengelus kepala anak perempuannya dengan lembut. Dan setelah tangisan anaknya mulai reda, sang ibu pun menyeka air matanya."Sudah... sudah... nanti kecantikanmu akan hilang jika menangis terus." ujar Ibu."Maafkan Anggrietta, Bu. Hari ini... Anggrietta tidak berdansa dengan baik." ucapnya terbata-bata diselingi isakan tangis."Yang menilai bagus atau tidaknya sebuah dansa bukanlah pedansa itu sendiri, tapi dewan juri," sela Zelos, "Kontes belum selesai sampai mereka mengumumkan siapa pemenangnya. Sekarang kembalilah dan temui Gilbert. Apapun hasilnya, hadapi dengan dada yang membusung."Ucapan Zelos bagaikan cahaya yang memberikan harapan di dalam hati Anggrietta. Namun ia tidak ingin berpisah dengan ibu nya saat ini."Pergilah Anakku. Ibu baik-baik saja."Namun, perkataan sang ibu membulatkan tekad anak perempuannya itu. Anggrietta kembali menemui Gilbert sambil menanti pengumuman pemenangnya.Tak lama kemudian, Moderator pun mulai mengumumkan pemenang kontes dansa yang digelar saat ini. Pengumuman pemenang di mulai dari peringkat terakhir. Nomor peserta terus disebut satu persatu. Namun nomor urut mereka belum juga disebutkan. Anggrietta hanya bisa pasrah mengingat penampilannya yang tidak seperti biasanya."Untuk peringkat kedua, Beri sorak gembira kepada Nomor urut sepuluh, Erix Reyes dan Armita!" lanjutnya, "Dan untuk peringkat pertama, Berikan selamat kepada nomor urut delapan, Gilbert dan Anggrietta!""Tunggu... Kita... menang?" ucap Anggrietta tidak percaya, "Bagaimana mungkin?"Gilbert langsung mencubit pipi gadis yang menjadi pasangannya."Apa yang kamu bicarakan, Mbak Anggrietta? Hari ini adalah penampilan terbaikmu. Saya bahkan sampai terkagum-kagum melihat betapa sempurnanya gerakanmu hari ini."Anggrietta yang tidak menyangka hal ini, jatuh dalam kebahagiaan yang tidak bisa ia bayangkan. Air matanya deras mengalir. Padahal bukan sekali saja ia memenangkan kejuaraan dansa. Entah mengapa kejuaraan kali ini sangat memberikan kesan yang luar biasa bagi dirinya."Mbak Anggrietta." Gilbert pun mengulurkan tangannya kepada Anggrietta bak pangeran yang menyambut putri kerajaan. "Ini adalah hasil yang sesuai dengan firasat saya hari ini."Mereka pun bergandengan tangan berjalan menuju barisan para pemenang. Sorak sorai penonton menjadi liar setelah primadona mereka berhasil memenangkan kejuaraan. Ucapan-ucapan selamat terus bertebaran tanpa henti kepada para pemenang khususnya kepada peringkat pertama.Dan kejuaraan kali ini pun berakhir.Setelah selesai dengan urusan kejuaraan itu, Gilbert pergi karena ada suatu urusan. Sementara Anggrietta kembali menemui ibunya. Setibanya di sana, ia tidak melihat Zelos."Ibu..." Anggrietta memeluk ibunya sebentar, "Di mana lelaki yang bersamamu tadi?""Ini..." Sang Ibu menyerahkan sebuah karangan bunga dengan sepucuk surat berada di atasnya.Setelah menerima karangan bunga itu, Anggrietta langsung membuka amplop dan membaca suratnya.Untukmu, Anggrietta,Selamat atas kemenanganmu hari ini.Aku tidak pernah menyangka kalau gadis super introvert dan sangat pemalu dahulu, kini menjadi gadis yang bersinar sangat terang di panggung dansa. Bahkan telah menjadi pedansa yang terkenal di kotanya sendiri. Sifatnya yang kikuk dan kaku kini sangat luwes dan anggun. Kini, tidak akan ada lelaki yang bisa menertawakannya lagi. Padahal aku sangat merindukan momen-momen saat dirinya dijahili oleh lelaki sebayanya. Hehehe.Tapi, bersamaan dengan surat ini aku ingin menyampaikan dua hal kepadamu.Pertama, aku ingin meminta maaf. Sihir yang aku gunakan padamu bukanlah sebuah sihir yang bisa membuatmu berdansa lebih baik atau semacamnya. Itu hanya sebuah sihir yang menimbulkan percikan cahaya yang silau. Tidak lebih. Maaf karena selama ini aku memanfaatkanmu untuk kesenanganku pribadi. Membuatmu membelikan burger setiap hari untukku atau membawaku ke tempat karaoke yang sangat berisik itu.Awalnya aku hanya ingin memanfaatkanmu saja. Tidak lebih. Karena keberadaanmu sebagai manusia sangat singkat dan rapuh. Sehingga bagi Selestial seperti diriku, hal itu tidak memberikan keuntungan apa-apa. Namun itu adalah diriku yang dulu. Setelah bersamamu selama ini, (walau aku menipumu sampai saat ini) aku merasakan dedikasi dan semangat yang menjalar sampai ke dalam ragaku. Dan yang membuatku sampai seperti ini adalah sebuah perkataanmu saat itu. Apakah kamu ingat? Di malam yang penuh dengan salju, kamu dengan polosnya berkata saat itu tentang alasanmu berdansa."Aku akan berdansa sepenuh hati! Dan dengan dansa, aku berharap Ibuku akan sembuh secepatnya!"Saat itu aku membalas ucapanmu dengan asal."Memangnya ada apa dengan dansa?"Dengan senyuman yang sangat lebar itu, kau dengan sangat percaya diri menjawabnya."Karena dansa adalah caraku berdoa kepada para dewa agar mereka mengabulkan permintaanku."Ucapanmu saat itu benar-benar membuatku terdiam. Aku bahkan tidak bisa tertawa. Lalu dengan buruknya aku malah membodohimu dengan mengeluarkan sebuah sihir yang tidak diperlukan olehmu. Jadi, sebagai ganti rugi atas kebohonganku, Aku menggunakan kekuatanku untuk membangunkan Ibumu yang sedang koma. Semoga ini bisa membuatmu memaafkanku.Dan karangan bunga itu adalah hal kedua yang ingin aku utarakan.Aku akan pulang ke duniaku. Soalnya, semakin lama aku bersamamu, ternyata malah membuatku semakin sulit untuk berpisah denganmu. Entah sejak kapan hati ini mulai bersemi benih-benih cinta. Namun aku ini bukan manusia, aku ini Makhluk yang sejajar dengan bintang-bintang di langit, sementara engkau adalah manusia yang fana. Kita ditakdirkan untuk berpisah. Maka dari itu, lupakanlah aku dan tetaplah berdansa. Tapi, kamu tenang saja, aku pasti akan selalu menyaksikan dansamu yang mempesona itu.Zelos. -Seorang Anak BintangUntuk kesekian kalinya, air mata Anggrietta menetes lagi. Ia berusaha menahan isakan tangisnya saat selesai membaca surat itu. Ia menggenggam erat pakaiannya dan tertunduk. Sang Ibu pun mengelus lembut kepala anaknya."Lelaki itu tadi mengatakan kalau dia akan berada di tempat kalian pertama kali bertemu untuk beberapa waktu.""Eh...? Benarkah Ibu?"Sang Ibu tersenyum bahagia."Temuilah lelaki yang sangat engkau cintai itu, Anggrietta."Anggrietta menyeka air matanya. Lalu mencium kening ibunya."Anggrietta pergi dulu, Bu. Ibu jangan kemana-mana, ya." Ia pamit dan bergegas ke tempat itu. Anggrietta pun pergi meninggalkan ibunya.Dari balik lorong, Gilbert muncul."Mari saya antar ke ruang ganti Anggrietta,." Kata Gilbert."Terima kasih banyak, Nak Gilbert." Jawab Ibu Anggrietta sambil tersenyum simpul.Mentari pun terbenam dan rembulan mulai naik menggantikannya. Bintang-bintang juga ikut bertebaran di angkasa. Bersatu padu dalam harmoni dan gemerlap bagai debu berlian.Di bawah langit itu, tepat di tengah taman yang ada di kota, sesosok lelaki yang berambut keperakkan berbaring di tanah. Kemudian sesosok cahaya datang menghampirinya."Tuan Zelos, Bagaimana perjalananmu di dunia manusia?"Zelos menghempaskan nafas panjang. Sebuah senyuman tertoreh di wajahnya."Menyenangkan. Benar-benar menyenangkan." jawabnya. "Ini kunjunganku yang ke delapan di dunia ini, tapi, ya... dunia manusia benar-benar menarik." Zelos tersenyum kecil."Kalau begitu, sudah saatnya Tuan untuk kembali.""Belum," sela Zelos, "Apa kau tidak mendengar langkahnya?""Langkah?"Perhatian mereka berdua teralihkan oleh gemerlap cahaya yang bergerak dari kejauhan. Perlahan demi perlahan, langkah itu mulai terdengar jelas bagi telinga manusia. Hingga, perlahan-lahan tampaklah sosok manusia yang sedang berlari tersebut. Dia Anggrietta. Wanita yang memenangkan kontes dansa hari ini. Dengan perintah dari Zelos, sosok cahaya itu menghilang tanpa jejak."Zelos! Zelos! Zelos!" Teriakkan Anggrietta menggema.Bahkan bagi entitas yang setara dengan para dewa sekalipun, saat namanya dipanggil seperti itu, mau tidak mau ia harus memperhatikan dengan seksama siapa yang menyebut namanya tersebut."Anggrietta..." ujar Zelos.Anggrietta masih terengah-engah saat tiba di hadapannya. Wanita itu bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya. Dan itu membuat Zelos terkagum dengan semangat yang dimilikinya."Zelos... kamu melupakan satu hal lagi di dalam suratmu."Zelos menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian tertawa kecil."Memangnya apa? Perasaan aku sudah menulis semua yang harus kukatakan, deh.""Ingat nggak? waktu dulu, saat pertama kali kamu menepuk punggungku... kamu berkata, 'aku akan berdansa denganmu jika kau telah menjadi pedansa yang bermekaran'." Anggrietta mengulurkan tangannya, "Aku bukan lagi gadis kikuk dan kaku seperti robot. Jadi... Mau nggak kamu berdansa denganku sekarang?"Hati Zelos berdesir keras. Seolah Anggrietta bisa melihat sesuatu dari dirinya dan memancing hasrat di dalamnya."Mungkin kah hal itu dilakukan oleh wanita seperti dirinya?"Zelos sempat membatu. Namun melihat ini adalah kesempatan pertama dan terakhir yang ia miliki, ia tidak punya alasan untuk menolaknya."Dengan senang hati, Anggrietta."Zelos pun menjetikkan jarinya, dan seketika sebuah musik yang entah dari mana terdengar oleh mereka.Anggrietta tersenyum. Ia langsung merapatkan tubuhnya ke Zelos. Tangan kirinya ia letakkan di bahu sang lelaki. Dan tangan kanannya menggenggam erat jemari di tangan kiri nya. Mereka pun saling bertatapan."Baiklah, mari kita mulai, dansa pertama dan terakhir kita, Anggrietta." Zelos memulai langkahnya.Mereka pun mulai berdansa.Ini pertama kalinya mereka berdansa bersama namun gerakannya begitu harmonis. Seolah-olah tubuh mereka telah menyatu.Alunan musik yang terus berputar membuat keduanya larut dalam dansa. Wajah mereka sangat cerah. Senyuman di wajah keduanya tidak bisa diredupkan oleh gelapnya malam. Langit, rembulan dan gemintang menjadi saksi atas indahnya dansa yang mereka tampilkan."Anggrietta... Aku akan menggunakan sihir istimewa kali ini." bisiknya sambil terus berdansa.Zelos membacakan sebuah mantra sihir. Seiring mereka berdansa, posisi mereka terus naik ke angkasa. Seolah udara menjadi padat saat kaki mereka menyentuhnya. Tak hanya itu, Setiap langkah mereka akan mengeluarkan percikan cahaya yang gemerlapan. Dansa mereka bak cahaya yang sangat terang benderang menghiasi kesunyian malam. Percikan cahaya itu menyebar dan terus menyebar menjadi bintang-bintang kecil yang ikut memeriahkan suasana.Itu benar-benar momen yang luar biasa bagi Anggrietta. Sebuah pemandangan indah yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Itu adalah dansa terhebat yang pernah ia lakukan.Walau mereka terus menikmati setiap detik kebersamaan mereka malam itu, waktu tetap tidak bisa dihentikan."Anggrietta... waktuku telah tiba." Zelos tiba-tiba menghentikan tariannya.Anggrietta terdiam. Lagi, ia mencoba menegarkan dirinya."Jangan pernah melupakan ucapanmu sendiri, Zelos," matanya mulai berkaca-kaca, "Aku... akan terus berdansa. Maka... Kamu juga, jangan pernah melepaskan pandanganmu dariku."Spontan, Zelos mengecup kening wanita itu. Lalu memeluknya sangat erat."Aku janji. Aku akan tetap melihat dansamu sampai engkau tidak sanggup lagi untuk berdiri."Perlahan mereka mulai turun dari angkasa dan musik pun berhenti. Kaki mereka pun sudah menginjak tanah kembali. Seluruh gemerlapan malam itu mulai menghilang.Zelos melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat mata Anggrietta. Melepaskan senyuman lebar dan air mata yang mengalir begitu saja."Selamat tinggal, Anggrietta."Anggrietta mencoba menahan gejolak yang berusaha meledak dari dalam dirinya. Dengan bibir yang gemetaran, ia berusaha untuk tersenyum manis."Sampai jumpa lagi, Zelos. Terima kasih... untuk segalanya."Tubuh Zelos perlahan demi perlahan menjadi bulir-bulir cahaya dan lenyap begitu saja. Saat semua itu telah berakhir, Anggrietta tak sanggup lagi menahannya. Tangisannya sangat keras sampai-sampai ia tidak bisa mendengarnya.Malam itu adalah malam terakhirnya bersama lelaki yang ia cintai. Dan di malam itu dia sadar bahwa dansanya tidak hanya untuk membuat ibunya tersenyum bahagia. Tetapi juga untuk dirinya sendiri.Perasaan yang ia terima di malam itu menjadi sebuah semangat baru dalam hidupnya. Bersama cinta yang tidak akan terbalaskan lagi.
Paus Yang Menari Di Angkasa
Selama ini, ikan paus itu adalah satu-satunya makhluk bernyawa yang terhipnotis akan musik indah dari permainan piano gadis berambut putih itu. Paus yang mengambang di angkasa itu terus menari-nari dengan gerakan yang gemulai, sementara gadis itu serta pianonya berada tak jauh dari paus yang tubuhnya sama besarnya layaknya bintang itu.Sungguh, itu pemandangan paling indah yang pernah Veli lihat seumur hidupnya.Paus yang berenang-renang di angkasa, merupakan salah satu dari sekian banyak rahasia paling megah yang disembunyikan oleh dunia ini. Tapi, kenapa semua ini dirahasiakan? Apa sebabnya? Padahal itu hanyalah seekor paus aneh dan seorang gadis.Kenapa?Sebagai seseorang yang menggenggam dunia ini, Veli hanya memiliki satu tugas untuk dilaksanakan, yaitu membantu semua orang untuk menyelesaikan kisah hidup mereka.Kali ini, benang merah kembali melibatkan Veli ke dalam sebuah kisah yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Kini takdir membawanya ke tempat ini—ke atas langit biru yang begitu luas dan tak berujung, untuk menemui gadis berambut putih itu, juga si paus putih itu.Inilah yang menjadi tugas kedua Veli sebagai Pemilik Dunia yang baru.Kemanapun kedua mata Veli memandang, yang terlihat hanyalah warna oranye dari langit senja, juga awan-awan yang membentuk gulungan ombak, serta planet Mars yang tampak sangat dekat dan amat besar di angkasa sana.Tapi, yang paling membuat Veli heran adalah tempatnya berdiri saat ini yang ternyata adalah air—atau mungkin lantai yang terbuat dari kaca—yang karena sangking beningnya, langit yang ada di atas sana bahkan berhasil dipantulkannya dengan sangat sempurna.Dengan pandangan yang masih tertuju pada paus itu, Veli berjalan perlahan mendekati gadis yang tengah bermain piano itu. Jujur saja, dia sendiri masih merasa agak takut dengan makhluk dewata yang ukurannya bukan main itu. Apalagi Veli juga pernah mendengar rumor-rumor aneh tentang paus itu."Apa yang kau inginkan, wahai sang Pemilik Dunia?" Tanya gadis itu dengan suara yang lembut nan sendu, tapi anehnya berhasil membuat Veli tersentak kaget.Padahal, Veli yakin betul kalau gadis itu tak pernah menoleh ke arah lain, apalagi matanya juga tertutupi oleh kain hitam yang melingkar di kepalanya. Dan tentu saja, seluruh perhatiannya pasti tengah disita oleh suara merdu dari pianonya."Tak ada gunanya mengendap-endap. Aku bahkan bisa mendengar suara anak-anak yang tengah bermain di taman di kota asalmu, Jogjakarta. Jadi, katakan apa yang kau inginkan dariku, Velicia." Ujar gadis itu lagi.Veli langsung memasang senyum kecil sewaktu mendengar apa yang baru saja dikatakan gadis itu. "Eh? Kupikir kau tidak menyadari keberadaanku, Fennah," katanya sembari melangkah ke samping gadis itu—Fennah. "Jadi cerita itu memang benar, ya? Kalau kamu bisa mendengar semua suara yang ada di seluruh alam semesta.""Tentu," jawab Fennah singkat. Jari-jarinya terus bergerak lincah dan gemulai di atas tuts pianonya. Berpindah-pindah dari kunci nada satu ke yang lain untuk membuat melodi merdu yang menenangkan jiwa dan raga."Wah, kau ternyata memang pandai bermain piano rupanya." Mata Veli dibuat berbinar-binar karena kagum dengan cara Fennah memainkan pianonya."Hey, jangan sentuh pianoku." Cegat Fennah yang entah bagaimana bisa tahu kalau Veli barusan berniat menekan tuts pianonya."Aku tahu kau datang ke sini untuk membantuku menyelesaikan kisahku.""Oh? Dari mana kau tahu tentang tugasku?" Tanya Veli penasaran sambil beralih memandang paus itu."Aku mengenal baik Pemilik Dunia sebelum dirimu. Juga yang sebelumnya lagi. Dan yang sebelumnya lagi. Bahkan Pemilik Dunia yang paling pertama," jelas Fennah. "Bisa dibilang, aku mengenal kalian semua." Fennah memutar kepalanya, dan menoleh pada Veli. Tapi sepertinya, dia tetap tidak bisa melihat wujud Veli.Mata Veli langsung melebar kala mendengar pernyataan Fennah. Dia agak terkejut. "Tunggu-tunggu. Kalau kau memang mengenal semua Pemilik Dunia yang sebelumnya, juga yang sebelumnya, bagaimana bisa kamu masih berada di sini? Harusnya kau sudah mati."Fennah tiba-tiba memasang senyum kecil yang aneh. "Jawabannya sudah jelas, bukan? Mereka semua gagal melakukannya.""Hmm... gagal, ya?" gumam Veli pelan sembari mendongak menatap angkasa. Benaknya berkecamuk bak badai. "Apa, ya, yang terjadi jika aku gagal sekali saja dalam tugas ini?""Sepertinya tidak apa-apa, kok. Buktinya, pendahulumu saja bisa menyelesaikan jatah mereka walaupun mereka tidak bisa membantuku," jelas Fennah. "Jadi, bagaimana? Apa kau masih tetap ingin mencoba membantuku?""Hmm... Apa kau tahu? Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku merasakan keraguan seperti ini," ujar Veli masih sambil menatap angkasa senja, yang tak lama lagi akan dikuasai oleh kegelapan malam. "Tapi, ya... aku akan tetap mencobanya, kok. Apalagi, ini baru tugas keduaku. Coba pikirkan, jika aku menyerah sekali saja tanpa mencoba terlebih dahulu, bagaimana bisa aku menyelesaikan miliaran kisah rumit yang lain? Lagipula, aku tidak pernah menyerah seumur hidupku. Dan sebisa mungkin, aku tetap tidak akan pernah menyerah sekalipun sampai tugasku selesai."Fennah tertawa pelan mendengar jawaban Veli. "Kau memang benar," katanya. "Sekali saja kau mengetahui rasa dari menyerah itu sendiri, maka suatu hari nanti, kau pasti akan melakukannya lagi... Lagi... Lagi... dan lagi. Hingga kau mulai berpikir, bahwa berserah itu merupakan sesuatu yang sangat nikmat untuk dilakukan."Mata Veli membulat mendengar penjelasan Fennah yang agak terkesan aneh itu."Oh... begitu, ya?" Bahkan, Veli sempat berpikir kalau kata menyerah yang dimaksud Fennah itu adalah nama dari satu jenis makanan. Tapi, untung saja suara piano Fennah berhasil menyadarkan Veli dari lamunannya. Veli menunduk menatap jari-jari Fennah. "Hmm ... bisa nggak kamu berhenti bermain piano sedetik saja?"Fennah memasang senyum anehnya lagi, lalu angkat bicara, "maksudmu ... kamu ingin agar aku menghancurkan bumi menjadi debu, gitu?""Hah?! Maksudmu?" Pekik Veli kaget."Sedetik saja pianoku berhenti mengalun, maka paus keparat itu akan bangun dari tidur abadinya, dan berenang ke dunia dunia manusia untuk menghancurkan segalanya."Awalnya Veli tidak paham dengan maksud Fennah yang mengatakan hal mengerikan seperti itu. Tapi, setelah mencari dalam memorinya selama beberapa saat, Veli akhirnya paham. "Jadi ... paus itu adalah Pembawa Kiamat yang ke sembilan, ya?""Yap! Selamat! anda telah memenangkan hadiah yang berupa kenyataan! Hahahaha—" Fennah terkekeh-kekeh dan sukses membuat Veli kesal."Huh!""Eh—ngomong-ngomong, Vel, sebentar lagi malam, tuh. Kamu nggak pulang?""Oh, iya, Fen! malam ini aku menginap di sini saja, boleh, kan?" Tanya Veli sambil membuka tas sampirnya yang mungil, lalu mengambil dua buah kain tebal berwarna krem berukuran jumbo dari dalam tas itu. "Oke. Satu untuk alas, dan satunya kujadikan selimut.""Ya. Suka-sukamu saja." Ujar Fennah tak acuh.Segera setelah mendapatkan izin dari tuan rumah, Veli langsung mengatur tempat tidurnya tepat di samping Fennah. "Yap, tempat tidur sudah siap, jadi sekarang tinggal makanannya."Veli kembali membuka tas mungilnya, kemudian mengeluarkan sebuah keranjang yang berisikan bahan-bahan makanan, juga sebuah kotak berukuran besar yang di dalamnya tersimpan tungku dan sekantong batu bara. Veli menata dapur kecil-kecilannya tak jauh dari sana, dan bersiap untuk memasak makan malam.Detik demi detik, langit perlahan-lahan berubah menjadi gelap, dan udaranya juga semakin bertambah dingin. Mentari kini terlelap, dan bulan pun datang membawa cahaya baru untuk menerangi dunia. Langit yang tadi selayaknya kanvas polos, sekarang telah dipenuhi titik-titik berpendar yang berwarna-warni.Beberapa batang lilin tiba-tiba muncul entah dari mana dan melayang-layang di sekitar Fennah dan Veli. Di lantai tempat mereka berpijak juga mulai memancarkan garis-garis cahaya aneh yang bergerak-gerak dan meliuk-liuk layaknya aurora yang seharusnya menyala di langit.Mata Veli terpaku pada suatu pemandangan yang ada di langit timur sana. Itu tampak seperti sebuah batang pohon raksasa yang memancarkan cahaya putih temaram, dan menjulang tinggi ke angkasa seakan tak ada akhirnya."Sepertinya pohon itu memang tidak ada ujungnya, deh." gumam Veli tanpa sadar sembari mengaduk sup yang tengah dimasaknya di dalam panci, lalu menyicipinya sedikit. "Oke, sepertinya sudah matang." Setelahnya, Veli kemudian menjentikkan jarinya, dan api yang ada di dalam tungku itu pun padam seketika."Wah! Kau pandai masak juga, ternyata!" Puji Fennah yang terkagum-kagum setelah menyicipi sup buatan Veli untuk yang pertama kalinya. "Serius! Masakanmu enak banget, lho, Vel! Daging sapinya benar-benar lembut gini!"Veli hanya bisa ternganga melihat reaksi Fennah. Gadis itu menggunakan tangan kanannya untuk menyendok sup dan melahapnya dengan kecepatan super. Sedangkan jari-jari tangan kirinya masih terus bergelut dengan pianonya dan menciptakan musik yang sendu."A-ah—ya, makasih...""Wah! Syukurlah! Padahal aku tidak ingat kapan terakhir kali aku makan! Tapi aku bersyukur banget! Masih bisa membedakan mana yang enak dan nggak!"Setelah mereka berdua selesai makan, Veli langsung memasukkan semua barang-barangnya yang sudah tak terpakai lagi kembali ke dalam tas mungilnya. Hanya dengan satu jentikan jarinya saja, semua peralatan masaknya tiba-tiba mulai melayang-layang, dan meluncur dengan sendirinya ke dalam tasnya.Veli kembali ke tempat tidurnya yang terletak di samping Fennah, dan duduk bersila disitu, lalu membungkus tubuhnya dengan selimut."Orang-orang di daratan sering menyinggung tentang keindahan yang hanya ada tempat ini," Veli angkat bicara sambil menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit. "Seyilva, atau begitulah nama yang tertera di peta. Sarang para Ubur-ubur Angkasa, makhluk hidup nan indah yang lahir dari segala macam warna yang ada di semesta ini. Keindahan yang bahkan melebihi Tujuh Bulan Naros.""Oh, jadi itu sebenarnya alasanmu menginap di sini?" Terka Fennah."Ya... begitulah." Jawab Veli ragu-ragu. "Tapi, aku sebenarnya punya tujuan lain juga, sih. Kalau bisa, aku ingin mengambil beberapa ubur-ubur itu untuk diekstrak menjadi suatu bentuk keajaiban yang mungkin akan berguna untuk tugasku nanti.""Oh? Ambillah. Ubur-ubur itu nggak ada hubungannya denganku, kok."Veli melirik ke arah Fennah dengan tatapan yang kosong dan terkesan sedih.Entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam diri Veli. Perasaan yang meledak-ledak dan membuat dia serasa sedang terjun bebas ke dalam jurang tanpa dasar. Suatu perasaan dingin dan menyesakkan yang terasa amat tidak nyaman."Kamu kenapa?" Tanya Fennah."Eh? Kenapa, apanya?""Nggak usah mengelak. Aku bisa mendengar tarikkan nafasmu yang berat itu, kok." Jelas Fennah. "Kalau ada apa-apa, cerita saja sekarang. Mumpung senggang, kan?"Veli mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. "Begini... sejak semua perjalanan mengerikan itu berakhir, entah kenapa dadaku selalu saja terasa sesak tiap kali melihat suatu pemandangan yang indah seperti ini.""Hah? Kok bisa?""Yah... aku juga bingung, sih." Jawab Veli takut-takut. Ia menyipitkan matanya, sedih. "Aku hanya masih heran... Kenapa semua perjalananku dulu selalu saja berakhir dalam kekacauan dan perang yang tak ada habisnya... Padahal, ada begitu banyak orang yang menitipkan harapannya pada kami dalam petualangan itu."Rahang Veli terkatup rapat."Kenapa kegelapan yang pekat itu selalu saja datang walaupun di atas sana jelas-jelas ada suatu cahaya terang benderang yang tengah menyinari dunia ini? Kenapa semua masalah itu tak ada habisnya? Kenapa—""Dan kenapa kamu baru mengeluh sekarang?" Tukas Fennah tajam."Hah...?" Veli mengalihkan pandang pada Fennah."Lihat aku," Fennah menjelaskan. "Saat aku mendengar suara yang muncul di kepalaku berabad-abad lalu, aku langsung yakin kalau suara itu akan menolongku dan membebaskanku dari segala penderitaan itu. Namun, kenyataan malah berkata lain."Permainan piano Fennah yang tadinya lembut dan menenangkan, kini terdengar berbeda. Seakan-akan dia sedang mencurahkan seluruh kemarahannya dari masa lampau ke dalam nada-nada yang sedang dia ciptakan saat ini juga."Waktu itu... aku merasakan dengan jelas ada yang menggendongku dan membawaku terbang ke langit. Dan setelah orang itu mendudukkanku di atas kursi ini, dia pun memintaku agar aku memainkan piano ini sampai selama-lamanya...""Dan?! Apa jawabanmu?!" Pekik Veli penasaran."Ya... Aku hanya bisa tersenyum saja dan melakukan apa yang dia katakan. Dan sejak saat itu, aku terus memainkan piano ini sampai saat ini.""Hah...?" Itu kenyataan pahit yang amat menyakitkan menurut Veli. Sangat jelas malah. Tapi, kenapa gadis ini malah menerima permintaan itu mentah-mentah, meski pun saat itu dia tidak mengetahui apapun. "Jadi... kau langsung menerimanya begitu saja?""Hooh," jawab Fennah kalem. "Aku juga selalu merasa kalau Tuhan menciptakan aku agar aku bisa menunaikan tugas ini. Dan kalau dugaanku memang benar, itu artinya aku telah menjalani hidupku seperti yang seharusnya. Toh, begini malah lebih baik, kan?""Hidup seperti yang seharusnya?" Suara Veli membawa keraguan yang kental."Yap, aku hanya perlu hidup dan melakukan segala kebaikan yang bisa kulakukan."Pada titik ini, Veli akhirnya mulai paham dengan apa yang sebenarnya dimaksud Fennah. Selama ini, Veli hidup dengan menggantungkan mimpi dan angan-angan sebagai tujuannya. Kenyataannya, semua orang memang begitu—semua orang membutuhkan suatu piala penghargaan—tujuan—yang harus mereka capai di ujung jalan mereka, dan mereka pastinya akan melakukan apa saja demi mendapatkannya.Namun, apa yang terjadi setelah orang-orang menggenggam piala itu? Tentu saja mereka tidak akan puas dan berusaha mencari piala penghargaan yang baru lagi, lalu meletakkannya di ujung jalan itu, kemudian berusaha untuk menggapainya lagi.Siklus ini akan terus berulang dan tak akan ada akhirnya. Entah ini bisa disebut keuntungan atau kutukan, tapi selama orang-orang tetap berpikir bahwa itu perlu untuk kelangsungan hidup, maka mereka akan terus melakukannya dan tak peduli dengan segala persyaratan yang harus dipenuhi.Termasuk melakukan kejahatan demi mencapai tujuan-tujuan itu."Ya, kalau dipikir-pikir... kita semua memang seperti itu, bukan? Kita memang mendambakan penghargaan yang layak." Veli berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi itu berarti kita tidak perlu tujuan untuk hidup, dong?" tanyanya pada Fennah.Fennah mendesah. "Bukan berarti kau tidak memerlukan tujuan. Apa serunya, coba, hidup kalau tidak ada tantangan sama sekali." Jelas Fennah. Permainan pianonya juga sudah kembali seperti semula—lembut dan menenangkan hati. "Nah, begini. Misalnya di depanmu ada sebuah pedang yang sudah kau cari-cari selama ini, tapi pada saat itu juga, di belakangmu ada seorang anak kecil yang tengah dikepung oleh sekelompok bandit. Jadi, coba beritahu aku, ke arah mana kedua kaki dan tanganmu akan bergerak lebih dulu?"Veli tampak bingung. Bukan karena sulitnya menemukan jawaban untuk pertanyaan itu, melainkan karena keganjilan dari pertanyaan itu sendiri. "Eh... tentu saja aku akan menolong anak-anak itu lebih dulu. Aku bukan penjahat, lho.""Hmm... tak kusangka pemikiranmu sedangkal itu. Gimana kalau begini, pertama kau mengambil pedang itu dulu, terus kamu tolong, deh, anak-anak itu. Haduh... Vel, bisa-bisanya pikiranmu nggak sampai ke situ, padahal kamu ini sang Pemilik Dunia, lho. Tapi tenang saja, lagi pula itu hanya contoh."Veli menggembungkan pipinya, kesal. "Harusnya kau bilang kalau bisa begitu—""Jika tujuanmu adalah pedang itu, maka ambilah. Nggak ada yang akan menyalahkanmu, kok. Tapi, setelah kau berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan, selanjutnya, adalah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Selamatkanlah anak-anak itu. Dengan adanya sebilah pedang di tanganmu, pasti melakukannya tidak akan jadi masalah, bukan?"Semua pembahasan ini menciptakan badai dahsyat di dalam benak Veli. Pelipisnya berdenyut nyeri karena penjelasan yang rumit dan kompleks itu. Otaknya terus menerus mengolah semua informasi itu, hingga akhirnya Veli sampai pada satu kesimpulan yang membuat bibirnya membentuk senyuman kecil tanpa arti."Intinya, yang perlu kita lakukan sekarang, adalah hidup. Kita harus hidup dan terus melangkah. Lakukan semua kebaikan yang bisa kau lakukan, jangan sekali-kali mencoba berpaling dari pekerjaan yang mampu kau selesaikan. Asal itu baik, maka perbuatlah.""Hmm... sepertinya aku mulai paham dengan cara berpikirmu." Ujar Veli."Ya, baguslah kalau kamu paham. Apalagi bagi makhluk-makhluk abadi seperti kita, sebenarnya sangat tidak baik jika kita memiliki suatu keinginan dan impian. Mengingat kita tidak memiliki batas hidup sama sekali.""Yap, kau memang benar." Veli menjatuhkan tubuhnya ke belakang, dan menutup matanya rapat-rapat untuk merenungkan semua kebenaran yang baru didengarnya itu. Dia terlihat seakan sedang tertidur pulas, tapi, jika kala itu Veli memang sedang tertidur, maka akan ada air liur yang mengalir keluar dari belahan bibirnya layaknya sungai. "Aku kadang lupa, kalau aku ini Selestial.""Dih... masa kamu yang baru jadi Selestial selama empat puluh lima tahun saja sudah pikun begitu. Padahal aku yang sudah hidup ratusan abad saja tak pernah lupa, tuh."Meskipun Veli tenggelam dalam lamunannya, dia masih mendengar suara Fennah dan memutuskan untuk meresponnya. "Kamu, sih, enak, Fen. Masalah yang kau miliki hanya paus itu saja, sementara aku masih punya banyak masalah, walau aku jelas-jelas sudah menjadi Pemilik Dunia.""Hahahaha—Tapi, ngomong-ngomong, bisa nggak kamu buka matamu sekarang?" Pinta Fennah tiba-tiba."Hmm? Kenapa memangnya?""Buka saja, kalau nggak, nanti menyesal, lho."Veli dengan ragu mengikuti permintaan Fennah. Kelopak matanya perlahan-lahan membuka, dan seketika, mata Veli langsung terbuka sangat lebar ketika mendapati suatu pemandangan yang sangat indah yang ternyata sedang berlangsung tepat di depan matanya."Wah..." Mata Veli berbinar-binar. Sudah hampir semenit berlalu, namun dia bahkan belum berkedip sekalipun karena terpaku akan pemandangan yang benar-benar mengagumkan itu.Apa yang ada di atas langit sana bukanlah bintang-bintang, itu semua adalah lautan ubur-ubur yang menyala-nyala dan memancarkan beragam cahaya yang teramat sangat indah. Segala macam warna yang pernah dilihat Veli, maupun yang belum pernah dia lihat—semuanya ada pada makhluk-makhluk gaib yang kini mengambang di atas mereka itu."Apa-apaan... ini bukannya terlalu... megah, ya?" Veli perlahan-lahan bangkit."Hahahaha—semua orang juga selalu berkata seperti itu, tapi sayang, aku nggak bisa melihatnya." Ujar Fennah yang terdengar senang."Eh..." Veli hanya mampu memasang senyuman kecut untuk menanggapi Fennah."Biasa aja, kali. Toh, aku juga sudah merasakan kebahagiaanku sendiri." Jelas Fennah kalem. "Nah, buruan tangkap mereka biar semuanya selesai lebih cepat.""Baiklah..." bisik Veli lirih seraya melompat sangat tinggi ke langit bagai roket, dan pada saat itu pula, tiba-tiba saja ada debu-debu cahaya emas yang berkumpul di samping kanannya dan membentuk sebuah gelembung raksasa.Dengan cekatan, Veli berhasil menangkap lima ekor ubur-ubur menggunakan gelembung itu. Setelah itu dia langsung mendarat kembali di samping Fennah."Hmm... ini terlalu cepat, kan?" Gumam Veli yang tengah menilik ubur-ubur di dalam gelembung itu. "Jadi... apa yang harus kulakukan sekarang?" Bisiknya sangat pelan."Jangan sampai gundah, Vel. Lebih baik kita selesaikan semuanya sekarang, oke?"Veli tersentak mendengar Fennah. Tubuhnya terasa lemas dalam sekejap. Sorot matanya tampak sangat kosong, dan dia mulai menggigit bibirnya sendiri dengan sangat keras, sampai-sampai ada darah yang mengalir dari sela-sela bibirnya.Veli mematung persis seperti sebuah patung."Hah..." Fennah menghela nafas dalam sembari menurunkan kedua tangannya dengan perlahan dari atas tuts, lalu ia bangkit berdiri seolah-olah tidak ada masalah yang akan terjadi.Tiba-tiba, terdengar suara auman yang amat membahana dari si paus. Saat ini paus itu telah terbangun dari tidur abadinya, dan kini ia bersiap untuk meluluhlantakan dunia manusia dengan amukannya yang tanpa ampun—atau begitulah yang seharusnya terjadi.Namun, Veli buru-buru menjentikkan jarinya sebelum semua itu terjadi, dan pada saat itu pula, sebuah pedang emas yang ukurannya lebih besar lagi dari pada paus itu—lebih besar dibandingkan sebuah bintang—tiba-tiba muncul di angkasa sana, di antara ubur-ubur, lalu jatuh layaknya kilat menembus tubuh paus itu, hingga membuat paus itu menjerit tak karuan dengan suara yang memekakkan telinga."A-apa yang kau lakukan, Fen!" Teriak Veli yang teramat sangat panik."Lebih cepat, lebih baik, bukan?" Jawab Fennah enteng."Ta-tapi, jangan tiba-tiba begitu, dong!" Veli kembali menoleh pada si paus yang masih mengerang kesakitan.Tampaknya, paus itu tengah berusaha melepas pedang Veli dengan menghantamkan tubuhnya berkali-kali ke daratan kaca ini. Tapi, bukannya pedang itu yang lepas, malahan lubang besar tercipta di daratan kaca tepat di mana ia menghantamkan tubuhnya tadi, karena bobot tubuhnya yang terlalu besar. Alhasil, paus itu kini terjun bebas ke daratan."Tiap kali ada Raja Cahaya baru yang ingin membantuku, aku selalu berkata "tidak" begitu mereka menginjakkan kaki di atas daratan ini." Fennah menjelaskan. "Dan setelah mendengar jawaban itu, mereka langsung meninggalkanku tanpa menawariku kesempatan yang kedua."Fennah memasukkan tangannya ke dalam gelembung yang berisi ubur-ubur itu, lalu perlahan-lahan, kelima ubur-ubur itu mulai larut menjadi gelombang cahaya dan menyatu membentuk sebuah bola kecil berwarna-warni berukuran seperti sebuah kelereng."Semuanya pergi begitu saja, dan tak ada satupun dari mereka yang mau memberiku kesempatan kedua. Tapi, ya, mereka mungkin sadar, kalau aku saat itu memang belum siap." Fennah menarik keluar kelereng itu dari dalam gelembung, dan memberikannya pada Veli. "Namun, untungnya kau berbeda, Vel. Aku sangat senang sewaktu kau memutuskan untuk tidak menyerah, dan ingin mencoba untuk membantuku.""Hmm... Aku tidak merasa kalau kau menolakku, kok, Fen." Jawab Veli heran sambil menatap lekat-lekat pada kelereng cantik itu yang telah berubah menjadi sebuah senjata api—pistol. "Tapi, kalau kau memang memilih untuk mengambil kesempatan ini, itu berarti kau sudah siap, ya?" Tanya Veli ragu."Ya, begitulah. Waktu aku sadar kalau aku sudah hidup sangat lama, di saat itu juga aku sadar, bahwa bagi makhluk tanpa waktu seperti kita ini, hidup dan mati bukanlah takdir terakhir yang menunggu kita di ujung jalan itu, melainkan keduanya itu hanya sekadar pilihan semata yang sama-sama tak ada artinya."Pandangan Veli beralih pada angkasa yang masih dipenuhi ubur-ubur ajaib itu."Hah... pantas saja, kau terlihat tenang-tenang saja dari tadi. Ternyata kau sudah tau tentang segalanya." Veli mengambil nafas dalam, dan membulatkan tekadnya. "Nah, kalau begitu, aku tidak akan ragu lagi. Jadi, kali ini, tolong biarkan aku yang menyelesaikan kisahmu, Fennah Leivth.""Yap, silahkan saja, Velicia Irene Meliona. Tolong akhirilah kisahku." Pinta Fennah tulus sambil menyunggingkan senyum simpul penuh arti.Meski Fennah tak dapat melihat Veli, tapi dia masih mampu membayangkannya dan merasakannya. Dalam wujud gadis kecil yang lugu dan polos, Veli berdiri di hadapan Fennah, dengan pistol yang dia arahkan tepat ke dahi Fennah."Jadi... bagaimana?" Tanya Veli."Bagianku sudah selesai. Suamiku juga telah mengetahui tentang ini. Jadi sekarang, selesaikan bagianmu, Vel.""Baiklah kalau begitu. Selamat tinggal, Fennah.""Ya... Selamat tinggal... Veli." Air mata mulai mengalir keluar melalui sela-sela kain penutup mata Fennah. Meskipun begitu, gadis itu tetap saja memasang senyumnya yang manis.Dor!Diiringi dengan suara tembakkan yang menggelegar itu, Fennah akhirnya berhasil meninggalkan kehidupannya, menuju ketenangan yang hampa dan abadi, yaitu kematian."Ya, pada akhirnya... kita semua, memang harus siap, bukan? Dia terpilih karena hanya dialah yang sanggup melakukannya... dan begitu juga denganku. Ya... setidaknya aku mulai paham mengapa Engkau memilihku untuk memiliki dunia ini..."
Senyuman sang Malaikat Maut
Monah ingat. Saat orang-orang yang menyayanginya menangis, Monah ingat, dia muncul di sampingnya. Sayapnya yang hitam sangatlah indah. Juga wajahnya benar-benar sempurna. Dan senyumnya—senyumnya sangat manis dan tulus... Meski itu gemetar.Siang itu, dokter yang merawat Monah akhirnya menyatakan bahwa waktu Monah sudah semakin dekat. Alhasil, sebagian besar anggota keluarga Monah yang berkumpul di sana langsung menangis begitu mendengarnya. Bahkan, ayah Monah sampai mengamuk tak karuan dan berkata bahwa dia bersedia membayar lebih banyak asal Monah bisa disembuhkan.Namun, kebenaran sudah berkata lain. Kanker yang menggerogoti tubuh Monah terus bertumbuh pada tingkat yang tak manusiawi. Tak ada apapun di bawah langit ini yang mampu memulihkan Monah. Hanya tinggal menunggu maut saja yang datang menjemputnya.Waktu itu, ibunda Monah langsung mendekap Monah dan menangis. Begitu juga dengan saudara-saudari Monah yang lain yang masih kecil."Maafkan Ibu, Monah!" Bisik sang Ibu yang tak kuasa menahan air mata."Iya, Bu, nggak apa-apa, kok." Jawab Monah tulus."Maafkan Ayah, Nak! Ayah gagal! Ayah sudah gagal! Lagi! Lagi! Lagi!" Teriak ayahnya yang baru selesai mengamuk."Iya, Yah. Lagian, Ayah juga sudah berusaha keras, jadi, nggak apa-apa." Ujar Monah sambil mengedarkan pandangannya. Hampir semua yang ada di sana kini tengah menangis. "Haduh, gimana, sih? Padahal aku sudah bilang kalau aku nggak suka lihat orang menangis." Bisik Monah pelan. Senyuman kecut terbentuk di bibirnya.Meski dengan semua kenyataan mengerikan yang menimpanya saat ini, gadis berparas cantik yang sudah tak memiliki rambut di kepalanya itu tetap tersenyum manis dan tak mengeluarkan air mata setetes pun.Akan tetapi, di tengah-tengah momen yang seharusnya amat menyedihkan ini, ada satu hal yang sangat mengganggu Monah, yaitu keberadaan seorang pemuda yang sama sekali tak dikenalnya.Entah sejak kapan pemuda tinggi jangkung dan berwajah tampan itu berada di sana, tepat di sebelah kiri ranjang Monah. Lelaki berpakaian keren serba hitam itu berdiri di depan jendela menghalangi pancaran cahaya mentari, dia juga membawa sebuah sabit panjang menyeramkan yang baru saja dia sandarkan ke meja. Akan tetapi, selain Monah, tampaknya tak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa melihat orang itu."Hah..." Lelaki itu menghela nafas dalam. "Masa iya orang sepertiku harus mencabut nyawa perempuan seperti ini." Dia mengeluh.Monah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar kata-kata pemuda itu. Tubuhnya juga sempat tersentak sedikit karena kaget. Sangat menakutkan sekaligus sangat ajaib. Namun, dia menghiraukan keanehan itu untuk saat ini.Menjelang petang, semua keluarga Monah memutuskan untuk pulang. Begitu juga dengan ibu dan ayah Monah yang telah dilahap oleh nestapa. Walau mereka sebenarnya sangat tidak ingin meninggalkan Monah, tapi, mereka berhasil melawan perasaan itu dan memilih untuk mengabulkan permintaan terakhir Monah."Kalau waktunya sudah dekat, aku berharap tak ada satupun dari kalian yang berada di sini saat itu terjadi. Itu saja permintaan terakhirku." Itulah yang dikatakan Monah pada seluruh sanak keluarganya beberapa minggu silam."Sepertinya mereka semua sudah pergi." Bisik Monah yang tengah melirik ke arah pintu. Tadinya dia sempat mendengar bisikkan seseorang di balik pintu itu. Mungkin ayah dan ibunya, yang pastinya tidak ingin meninggalkan Monah. Tapi, sekarang sudah senyap. Tak terdengar apa-apa lagi di situ."Nggak masuk akal banget... " Celetuk si pria tak terlihat yang sedang duduk sambil melihat-lihat isi buku gambar yang ada di atas meja. "Masa, sih, mereka pergi. Padahal jelas-jelas anaknya sudah mau mati begini."Monah tersenyum kecil ketika mendengar ocehan pria itu."Tapi... terima kasih, Ayah, Ibu." Kata Monah. Tiba-tiba, kelopak matanya mulai menutup dengan perlahan, lalu ia mengambil nafas dalam, dan kemudian berkata, "baiklah, aku sudah siap.""Hah?" Suara kecil itu tiba-tiba keluar dari mulut si lelaki yang sedari tadi bersandar di samping jendela. "Apa-apaan itu?" Dia terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Monah."Apanya yang apa-apaan? Kamu ini malaikat pencabut nyawa, kan?""Lho, serius kau bisa melihatku!?" Pekik pemuda itu tak percaya."Ya, jelas saja, bukan?" Ungkap Monah sambil tersenyum kecut. "Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong, karena aku tadi bilang kalau aku sudah siap, nah, jadi, sekarang kau bisa mencabut nyawaku. Ayo, buruan." Monah melipat kedua tangannya di depan dada sembari menutup matanya lagi. "Nah, ayo, tunggu apa lagi?""Tapi... " Lelaki itu melihat arlojinya kemudian berkata dengan suara datar, "waktumu masih tersisa dua jam lagi, sih... " Jelas si malaikat maut."Eh... Oh... jadi begitu." Raut wajah Monah ikut berubah datar. Jawaban yang tak terduga itu sukses membuat situasinya menjadi terasa canggung. "Jadi... bagaimana sekarang?""Yah, menunggu." Kata pemuda itu sembari kembali bersandar pada dinding.Hening sesaat, tapi waktu mata Monah melirik ke arah jendela dan melihat gordennya bergerak meliuk-liuk karena terkena hembusan angin, senyuman simpul tiba-tiba terbentuk lagi di bibirnya."Oke, deh." Monah bangkit dari ranjang dengan susah payah, lalu dia berjalan ke arah jendela tepat di samping pemuda itu sambil bersenandung.Dari situ, Monah bisa merasakan hembusan angin yang sangat lembut dan menenangkan. Mungkin inilah yang disebut kedamaian. Ada miliaran orang yang rela melakukan segalanya demi merasakan ketenangan seperti ini, tapi sayangnya, dunia ini tidak bekerja dengan cara seperti itu.Sejak pagi tadi, Monah bisa merasakan ada yang berbeda dengan dirinya. Dia memang menyadari perasaan aneh itu, tapi sekarang, dia tidak mau memedulikannya. Dia hanya ingin menikmati sisa waktunya yang tinggal sedikit.Dari langit barat, sinar kuning keemasan yang indah mulai terlihat, pertanda senja sudah datang. Cahaya menyilaukan itu turun ke bumi, menyinari segalanya dan membuat pemandangan di dunia luar tampak semakin indah. Di mata Monah, senja merupakan suatu bentuk dari keajaiban itu sendiri."Ngomong-ngomong, kenapa kau nggak suka melihat orang menangis?" Tanya malaikat itu tiba-tiba."Hmm?" Monah menoleh dan bertukar pandang dengan pemuda itu. Matanya yang berwarna merah bak darah membuat Monah terkagum-kagum dalam hati. "Wah...""Heh! Malah bengong. Jawab, dong." Lelaki itu menyentil pelan dahi Monah."Ah—kenapa aku nggak suka orang menangis? Ya, karena menurutku, air mata itu adalah bukti kalau orang-orang masih menderita." Jelas Monah."Hah?""Setiap kali aku lihat air mata, pasti aku langsung berpikir kalau Tuhan juga sebenarnya bisa salah." Ungkap Monah. Matanya menyipit sedih karena teringat akan musibah yang dialaminya beberapa tahun silam."Buset... perkataan yang berani..." Gumam si malaikat."Waktu itu sedang terjadi badai hebat, dan semua penumpang kapal sudah tertidur pulas, termasuk ayah, ibu dan adik-adikku. Tapi, ada seorang anak di sampingku. Kedua orang tuanya juga sudah tidur. Namun, dia terlihat sangat senang entah karena apa."Sambil bercerita, Monah kembali menatap keluar jendela. Cahaya senja perlahan mulai padam dan digantikan oleh kegelapan. Embusan angin yang hangat dan nyaman berubah menjadi rasa dingin yang menusuk. Monah juga bisa mendengar suara adzan maghrib yang terdengar dari masjid di kejauhan."Waktu itu aku masih berusia delapan tahun," Monah memberitahu. "Sekitar jam dua subuh, gadis itu bangkit dari kursinya, lalu dia pergi ke geladak kapal dan mulai bermain hujan.""Gila juga, mandi hujan jam segitu. Nggak dingin apa?" Tanya malaikat itu tak percaya."Ya, makanya aku nggak ikut-ikutan mandi." Jelas Monah sambil tersenyum masam. "Saat itu, anak itu sepertinya sangat bahagia. Walau langit menggelegar dan kapal terombang-ambing oleh lautan, dia tetap menari dan tertawa. Seakan-akan, hujan dan guntur itu juga tengah ikut menari bersamanya." Monah tiba-tiba berhenti berkata-kata. Tapi, tak sampai beberapa detik, dia mengambil nafas dalam dan kembali melanjutkan. "Namun, ada satu ombak besar yang menghantam kapal dengan keras, sementara saat itu, anak itu sedang berada di ujung dan tengah mengamati lautan di bawah kapal. Alhasil... karena guncangannya yang terlalu kuat, dia langsung terjatuh..."Dari jendela, Monah mengamati angkasa yang sekarang sudah gelap gulita. Tapi, entah kenapa, pemandangan langit malamnya yang tak berbintang, malah mengingatkan Monah akan pemandangan mengerikan waktu itu."Eh... kau membiarkannya?" Tanya si malaikat yang tampak tercengang."Ah... aku menolongnya, kok. Aku masih sempat menangkapnya. Malahan menolongnya saat itu adalah usaha paling keras yang pernah kulakukan seumur hidupku. Tapi, saat itu ayahku tiba-tiba muncul di pintu dan berteriak. Aku kaget, dan langsung kehilangan keseimbangan... dan kami berdua pun jatuh... "Monah berusaha untuk membayangkan ingatan yang amat sangat menyakitkan itu.Waktu itu, rasanya Monah seakan seperti sedang mengambang di atas langit malam, hanya saja, dia tak bisa bernafas. Karenanya, Monah terus berenang ke atas untuk mencari udara. Tapi, saat jarak antara kepalanya dan permukaan tinggal beberapa jengkal lagi, Monah melihat sesuatu jauh di bawahnya.Sesuatu itu berpendar, memancarkan cahaya putih yang temaram. Namun, tatkala Monah sadar, ternyata sesuatu itu adalah gadis yang tadi. Dia pingsan. Monah seketika menjadi panik, dan ia pun berusaha untuk menolong gadis itu. Entah kenapa Monah merasa seakan tak bisa membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Apalagi tadi, Monah jelas-jelas melihat gadis itu tampak sangat bahagia hanya karena bermain hujan.Namun, gadis itu terus tenggelam, ditarik ke dasar laut. Semakin jauh, dan jauh, sampai-sampai Monah sudah tak bisa menggapainya lagi. Meski begitu, Monah tetap berusaha untuk mencapainya. Dengan nafas yang sesak, dia terus menyelam menghampiri maut hanya untuk menolong anak itu."Hingga akhirnya... aku gagal... " Monah mengakhiri ceritanya. Titik-titik air matanya berjatuhan. "Ayahku muncul sebelum aku pingsan. Tapi, aku tak mengalihkan pandanganku dari anak itu."Si malaikat tak bisa berkata-kata. Mungkin dia berpikir kalau kejadian yang menimpa Monah itu sangat mengerikan. Atau mungkin juga karena alasan lain. "Setidaknya kau sudah berusaha... jadi—""Waktu aku melihat semua orang yang mengenal anak itu menangis, aku langsung berpikir, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya tidak nyata." Ungkap Monah. Dia terus menghapus air matanya yang terkutuk itu dan tersenyum tegar. "Selama air mata masih ada, maka kebahagiaan itu hanyalah sebuah cerita dongeng belaka.""Hmm... jadi... kejadian itu, ya, yang memicu kankermu?""Yap." Jawab Monah santai. Raut wajahnya kembali seperti sedia kala. "Aku tidak tahu bagaimana itu terjadi, tapi, ya, kankerku muncul setelah kejadian itu."Malaikat itu menundukkan kepalanya sedikit. Dia menggigit bibirnya dengan keras. Namun, Monah menyadarinya."Ngomong-ngomong, kamu ada makanan, nggak?" Celetuk pemuda itu tiba-tiba."Eh!? Serius? Malaikat Maut memangnya bias makan?" Tanya Monah keheranan.Pemuda itu tidak kunjung menjawab, tapi, dari wajahnya, dia sepertinya memang sedang kelaparan."Di kulkas," Monah menunjuk ke arah kulkas di pojok, dan si malaikat langsung melesat ke sana tanpa ragu dan mengambil beberapa kantung keripik kentang, kemudian ia duduk di ranjang, di samping Monah, lalu mulai makan dengan lahap."Orang bodoh macam apa yang menaruh makanan-makanan tidak sehat ini di sini? Ah, sudahlah, aku makan saja semuanya.""Dih... nih orang, urat malunya sudah putus, kayaknya...""Hey, daripada kamu nonton aku makan, mending kamu telepon kerabat-kerabatmu buat pamitan, mumpung masih ada waktu." Ujarnya seraya menjejalkan segenggam keripik kentang ke dalam mulutnya."Wah... ide yang bagus." Gumam Monah sambil memilah-milah. "Baiklah."Mengikuti saran si malaikat pencabut nyawa itu, Monah langsung mengambil ponselnya lalu menelpon semua orang yang dia kenal. Awalnya dia menghubungi keluarganya. Dia meminta maaf pada mereka. Dari Ayahnya, ibunya, serta om, tante, dan saudara juga sepupu-sepupunya. Bahkan Monah juga sempat menasehati mereka untuk terus meningkatkan hal-hal baik yang ada pada diri mereka. Namun, sepertinya mereka tidak mampu mendengarkan ceramah Monah karena mereka menjadi panik begitu Monah mulai mengatakan hal-hal yang aneh. Apalagi ayah dan ibunya yang langsung histeris.Tiap kali Monah mengucapkan selamat tinggal, dia langsung menutup telponnya, agar dia tidak perlu mendengar suara tangisan mereka.Yang terakhir, Monah membuat postingan yang berisi permintaan maafnya pada teman-temannya di sosial media. Terkesan aneh memang, tapi tentu saja perlu, agar teman-temannya yang berada di dunia maya tahu bahwa dia sudah pergi."Hah... " Saat Monah mematikan ponselnya, untuk sesaat, dia merasa dunia ini menjadi sangat senyap."Sudah selesai?" Tanya si malaikat maut yang baru keluar dari kamar mandi."Yap.""Keluarga dan teman-temanmu pasti sedang dalam perjalanan ke sini. Ya... tentu saja." Ujar malaikat itu sambil melirik arlojinya. "Waktunya tinggal beberapa menit lagi. Bersiaplah."Monah mengangguk mantap. Dia kemudian berbaring di ranjang, lalu meletakkan kedua tangannya di atas dada, dan memosisikan tangan kanannya di atas tangan kiri selayaknya posisi orang meninggal pada umumnya."Oh, iya, aku mau mengaku sesuatu dulu." Kata si malaikat tampak ragu."Apa?""Sebenarnya aku sudah lama mengenalmu, lho. Dan bisa dibilang... akulah yang membuatmu jadi seperti sekarang ini." Dia menjelaskan. "Saat itu, aku benar-benar tidak menyangka, kalau kau akan mencoba menolongnya. Karena memang tidak tertulis seperti itu sejak awal. Jadi... ""Jadi kau mau ikut-ikutan bilang kalau Tuhan juga bisa salah? Halah... lupakan saja, aku sendiri juga tidak percaya dengan itu, kok. Aku berpikir begitu karena emosi, doang.""Dih...""Apaan? Sudahlah, mending kau selesaikan pekerjaanmu sekarang.""Ya... baiklah. Dan sebagai permintaan maafku, aku akan memberikanmu kematian yang paling hampa.""Kematian yang paling hampa? Apa pula itu?" Tanya Monah penasaran."Hmm... intinya, itu adalah kematian tanpa rasa sakit sama sekali. Biasanya aku hanya memberikan layanan ini bagi mereka yang benar-benar layak saja. Dan kau beruntung. Kau akan menjadi orang ke tujuh belas dalam sejarah, yang akan merasakan kematian ini." Malaikat itu tersenyum seraya memposisikan tangan kanannya di bawah leher Monah, dan tangan lainnya di bawah lutut."Tunggu! A-apa yang kau lakukan!" Warna merah timbul di wajah Monah. Pasalnya, adegan ini sama seperti adegan-adegan di film-film romansa yang sering ditontonnya."Saatnya membuka gerbang itu. Senja." Lalu dia perlahan mengangkat Monah ke atas dan pada saat itu pula seluruh dunia bergerak sangat cepat, sementara yang bergerak lambat hanyalah dirinya.Monah melihat semuanya.Matahari yang terbit dari ufuk timur mengusir kegelapan malam dalam sekejap. Beberapa detik kemudian, angkasa menjadi cerah dan semua keluarga serta teman-teman Monah datang untuk berkabung. Semua orang menangis, termasuk seluruh keluarganya.Namun, Monah melihat satu pemandangan yang aneh. Senyum malaikat yang sedang mengangkatnya ke atas itu mulai bergetar. Monah tidak tahu apa penyebabnya, tapi waktu untuk Monah sudah pada batasnya.Waktu terus bergerak dan akhirnya petang pun tiba."Selesai." Kata si malaikat yang sekarang terlihat sangat berbeda karena keberadaan sayap hitam yang sangat indah yang terbentang di punggungnya."Turunkan aku!" Pekik Monah jengkel sambil melompat turun. "Wah..." Wajah Monah memancarkan kekaguman yang teramat sangat sewaktu melihat tubuh aslinya terbaring di ranjang, dan di situ juga masih ada banyak orang yang berduka untuknya. Tapi, Monah lebih terkejut lagi saat menyadari bahwa tubuhnya saat ini menjadi transparan dan bercahaya, sama seperti gadis itu waktu itu. "Jadi... aku berubah jadi hantu?""Heh! Mulutmu." Celetuk si malaikat maut."Hahahaha—iya, iya. Maaf.""Ya sudah, waktunya pergi. Yuk." Ajak si malaikat maut. Dia mengambil sabitnya yang disandarkan di meja, kemudian dia menarik tangan kanan Monah dan mengajaknya keluar menembus tembok.Monah tidak menyangka akan melihat senja untuk kedua kalinya hanya dalam beberapa jam saja. Dia benar-benar sangat senang. Namun, saat dia menoleh ke belakang, dan melihat ke arah jendela kamar tempat dia dirawat selama ini, sungguh, rasanya menyakitkan. Hatinya terasa remuk saat ibu dan ayahnya muncul di jendela itu dan menatap keluar."Selamat tinggal... semuanya."
Janji Empat Naga Berwarna
Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Abel, karena siang nanti dia akan pergi berkunjung ke tempat tinggal gurunya yang berada di puncak Himalaya. Ini merupakan kabar yang sangat menyenangkan, mengingat dia hanya bisa bertemu dengan gurunya setiap pertengahan bulan januari saja. Tapi, hari ini, di bulan november yang sangat dingin ini, gurunya tiba-tiba memanggil Abel juga ketiga saudaranya, untuk membicarakan tentang suatu hal.Akan tetapi, ada satu bunga tidur yang datang dalam tidurnya semalam. Abel bermimpi tentang kenangan buruk yang seharusnya sudah ia lupakan. Setelah puluhan tahun, mimpi buruk itu kembali menghampiri Abel dan berhasil membuatnya merasa sangat gelisah sampai ke ubun-ubun.Dalam mimpinya, Abel melihat nyala api.Api itu membakar seluruh kota, dan mengubah para penduduknya menjadi abu dalam sekejap mata. Jeritan terdengar dimana-mana. Teriakan pria, wanita, juga tangisan anak-anak memenuhi pendengarannya. Dan yang berdiri di tengah-tengah lautan api itu adalah seekor binatang buas raksasa bersisik merah, dengan sayap berapi yang terbentang lebar di punggungnya."Jadi kenapa?" Tanya seorang gadis kecil berambut biru—Fira—yang sedang duduk di meja kasir sambil menonton televisi yang tergantung di langit-langit."Memangnya penting?" Tanya seorang gadis lainnya—Nita—yang berpakaian ketat serba hitam yang tengah mengatur bola-bola kaca aneh di atas rak."Itu cuma mimpi, kan? Nggak penting, ah." Ungkap gadis lainnya—Bella—yang duduk di samping gadis kecil berambut biru. Gadis berkacamata itu sedang menatap malas pada bola kaca di tangannya."Hey... Kalian nggak asik, ah." Ujar Abel tampak kecewa. Anak lelaki berambut merah gondrong dan bermata kuning keemasan itu menghela nafas dalam, dan hanya bisa pasrah dengan sikap teman-temannya yang tidak seperti yang diharapkan."Lagian, kita semua tahu, kok, kalau naga bersisik merah yang ada di dalam mimpimu itu, adalah kau. Jadi, nggak usah diceritain lagi, deh." Ujar Bella."Tapi... aku serius, lho." Kata Abel. Wajahnya kini terlihat tegang. "Aku sudah cukup lama nggak memimpikan itu. Jadi, kupikir itu semacam pertanda."Teman-temannya yang lain langsung melirik Abel dengan tatapan penasaran. Itu mungkin karena Abel jarang terlihat serius seperti ini. Mengingat dia orangnya selalu tersenyum dan senang bercanda."Hey, hey, serius, itu cuma mimpi, lho." Nita berusaha untuk menenangkan Abel."Kan, empat tahun lalu kamu juga sempat memimpikan tentang kejadian itu, tapi, lihat, nggak terjadi apa-apa, kan, waktu itu." Ujar Fira sambil menyandarkan wajahnya di kedua telapak tangan."Nita dan Fira benar." Kata Bella yang kini tidak terlihat malas lagi. Dia menghela nafas dalam. "Lagi pula, sekarang kamu juga sudah bisa sedikit bersenang-senang, bukan? Kamu nggak perlu lagi berpindah-pindah tempat setiap tahun. Mungkin, ada baiknya jika kau menganggap kejadian di masa lalu itu sebagai mimpi saja mulai sekarang." Gadis itu menjelaskan. "Bukannya kami memintamu untuk melupakan kejadian itu, tapi, situasimu akan jadi lebih baik kalau kamu nggak mengungkit-ungkit soal kejadian itu lagi.""Tapi, tetap saja perasaanku nggak enak..." bisik Abel."Ya, kita semua yang ada di sini tahu, kok, bagaimana rasanya hidup bukan sebagai manusia biasa." Kata Bella yang kembali menatap lamat-lamat pada bola kacanya. "Maksudku... nggak semua orang bisa mendapatkan kesempatan untuk menjalani semuanya dari awal lagi.""Toh, sudah lima tahun kau tinggal di toko ini, dan nggak ada masalah, kan?" kata Nita. "Lagi pula, kami bertiga juga datang menemanimu setiap musim dingin.""Ya... kalian benar juga, sih... cuma...."Meski begitu, perasaan gelisah itu masih menggumpal di dalam diri Abel."Ya sudah, ah. Mendingan aku cari udara segar di luar." Abel akhirnya mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berjalan-jalan keluar ke luar toko.Sesampainya di luar, Abel langsung disuguhkan dengan pemandangan hujan kepingan-kepingan putih salju yang tak terhitung jumlahnya yang berhamburan dari angkasa. Udaranya juga terasa dingin, sejuk, sekaligus menusuk. Namun, walau Abel tidak bisa merasakan panas ataupun dingin, tapi anehnya, dia selalu merasa lebih nyaman dengan cuaca yang dingin seperti ini."Hah... Sepertinya memang benar kalau tahun ini bakal jadi lebih dingin daripada tahun kemarin." Keluh Abel yang tersenyum kecut. "Aku jadi kangen sama Indonesia."Abel lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Sejauh mata hanya salju saja yang bisa dilihatnya. Tak ada satupun pejalan kaki yang terlihat. Jalan raya di depannya bahkan kosong melompong bagai kuburan. Tapi, saat dia menoleh ke belakang dan memandang toko miliknya, Abel jadi merasa rindu dengan masa lalunya."Toko Sihir Astaroth. Menawarkan barang dan jasa." Abel membaca hiasan tulisan berkelap-kelip yang menempel di dinding kaca di bagian depan. "Syukurlah, sudah lima tahun sejak aku membuka toko ini, dan sampai sekarang nggak ada keluhan apapun." Nafasnya mengepul di udara.Rasanya, dunia ini terasa sangat tenang. Padahal, sejak kejadian beribu-ribu tahun lalu, Abel sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa merasakan ketenangan seperti ini lagi. Orang seperti dirinya, yang pernah melenyapkan jutaan manusia dalam satu malam, ternyata malah diberikan kesempatan kedua oleh sang Pencipta.Sampai sekarang, Abel masih tidak tahu alasan mengapa Tuhan memberikan hadiah megah semacam ini kepada Abel."Ya... Tuhan memang bertindak dengan cara yang terlalu aneh, bahkan bagi seorang Crystalian sepertiku... seekor Naga... " Gumam Abel sambil memasang senyuman kecil. "Mereka benar. Aku nggak akan membiarkan mimpi itu membuat usahaku lima tahun ini menjadi sia-sia.""Permisi, Nak." Sapa seorang pria yang tiba-tiba muncul di depan Abel tanpa dia sadari."Eh? Ada apa, Om?" Tanya Abel sedikit terkejut."Kalau Om boleh tahu, apa sebenarnya barang yang dijual di dalam toko itu?" Tanya si pria sambil menunjuk ke arah toko Abel."Oh, toko ini menjual alat-alat yang berhubungan dengan dunia magis, Om. Seperti bola peramal, kartu tarot, jimat, dan benda-benda aneh lainnya." Jawab Abel sambil memandang heran pria itu. "Dan kebetulan saya pemilik toko ini, Om.""Kamu pemilik toko ini?" Tanya si pria tampak terkejut. "Wah... hebat juga. Padahal kamu masih sangat muda.""Eh... Kalau boleh tahu, Om ini asalnya dari mana, ya? Kok, bahasa indonesia om fasih banget?""Ya, karena saya memang warga negara Indonesia, Nak." Jawab pria misterius itu sambil tersenyum kecil. Lalu, pria itu kembali melihat toko Abel dengan tatapan kagum. "Bagaimana dengan keaslian barang-barang yang kamu jual di toko ini?""Seratus persen asli, sih, Om. Tapi, kami selalu memberikan syarat khusus kepada para pelanggan yang ingin membeli barang-barang kami atau menyewa jasa kami, agar lebih aman."Bohong kalau Abel tidak curiga dengan pria ini. Abel sama sekali tidak bisa merasakan apa-apa dari pria itu. Benar-benar tidak ada apa-apa. Tidak ada aura, karisma atau semacamnya. Tapi, Abel tahu kalau orang ini hanya manusia biasa. Hanya saja, memang ada sesuatu yang aneh dari orang ini. Dan itu membuat Abel menjadi awas."Om boleh tidak menyewa jasamu saja?""Ah, ya, tentu saja, Om." Jawab Abel spontan sambil tersenyum lebar. Rasa curiganya tadi telah sirnah, karena sekarang ini adalah urusan bisnis. "Tapi, jasa seperti apa yang ingin om pakai?""Begini." Ujar pria itu seraya melepas sarung tangannya. "Tolong baca garis tangan Om, dan beritahu Om tentang jati diri Om yang sebenarnya. Jujur saja, terkadang Om sendiri bahkan tidak mengenal siapa diri Om yang sebenarnya.""Ya, Om tenang saja. Manusia memang sering begitu, kok." Abel kemudian dengan perlahan menggapai tangan kanan pria itu, lalu meraba-raba bagian telapaknya. Dan tiba-tiba saja, kedua mata Abel mulai berpendar memancarkan cahaya merah temaram, saat ia memandang lekat-lekat telapak tangan pria itu."Wah, matamu menyala. Apa itu semacam trik?" Tanya si pria."Nggak Om." Kata Abel yang masih fokus menelisik telapak tangan si pria. "Mataku memang bisa jadi seperti ini kalau aku menggunakan kekuatanku." Ujar Abel hampir berbisik.Akhirnya, setelah Abel selesai membaca sifat dan karakter pria itu melalui media telapak tangan, Abel pun menutup matanya sejenak dan saat ia membuka kelopaknya kembali, sinar di matanya sudah padam begitu saja.Abel mendapati kenyataan yang cukup menyeramkan dari pria itu. Tapi, seharusnya itu bukan ancaman bagi orang seperti Abel."Eh... Mungkin ini agak mengejutkan, tapi sifat om sendiri... bisa dibilang cukup buruk." Jelas Abel ragu-ragu."Heh... kamu memang benar." Katanya, "Ayo, lanjutkan saja, kamu tidak perlu takut.""Om orangnya pemarah, agak anti sosial juga. Senang memukul... selalu bisa memulai konflik, atau memperbesar masalah tepatnya. Dan tidak cocok menjadi kepala keluarga karena sifat Om yang ingin selalu berada di atas dan memerintah. Juga, om tidak suka ada yang menentang keputusan Om. Terus, Om juga tidak suka minum kopi, dan suka pilih-pilih makanan. Lalu... " Abel berusaha mengingat-ingat apa yang tadi dibacanya. "Dan Om... berduka.""Hebat, hebat. Sungguh berbakat kamu, Nak. Seumur-umur aku tidak pernah melihat orang yang bisa membaca garis tangan dengan sangat mudah seperti dirimu." Kata si pria yang terdengar kagum. "Semua yang kau katakan itu benar sekali, Nak. Ya, walau ada beberapa yang kurang, tapi semua yang kamu bilang tadi itu seratus persen benar."Meski jati dirinya yang bisa dibilang buruk sudah diketahui oleh Abel, tapi pria itu terlihat sangat kalem. Atau mungkin, memang seperti itulah ciri-ciri orang dewasa."Hehehe... makasih, Om." Kata Abel yang masih tersenyum lebar. "Tarifnya lima dolar, Om, untuk pembacaan tadi. Silahkan menuju ke meja kasir untuk membayar jasa yang telah Om pakai."Pria itu tertawa dengan suara yang agak keras. "Baiklah, baiklah."Setelah mereka berdua masuk ke dalam toko, Fira langsung menyambut pria itu dengan riang. Sementara Bella yang berada di sebelah Fira masih memandangi bola kacanya, dan Nita masih menyusun barang-barang jualan di rak."Selamat datang di Toko Sihir Astaroth!" Seru Fira. "Kami menjual—""Om ini sudah menyewa jasa membaca telapak tangan waktu di luar tadi, sekarang tinggal di bayar saja." Potong Abel."Oh, baiklah. Berarti semuanya lima dolar, Om.""Wah, tempat yang nyaman." Kata pria itu sambil memandang berkeliling. "Dan... sudah kuduga, kalau kalian semua yang ada di sini... adalah Rakyat Dunia Lain. Para Crystalian... ""Eh... " Suara kecil itu bukan hanya keluar dari mulut Abel saja, tapi juga dari mulut Fira, Nita dan Bella.Suasana di dalam toko menjadi tegang seketika."Siapa kau... ?" Tanya Abel dengan nada dingin.Mereka semua sekarang memandang pria misterius itu dengan tatapan yang tajam.Pria itu mulai berjalan melihat-lihat barang-barang yang ada di sana. "Apa kalian pernah mendengar NOX?""NOX... itu bukannya organisasi yang memburu para Crystalian?" Tanya Nita.Pria itu lalu berhenti melangkah, dan memandang Abel sambil tersenyum tipis. "Ya, dan kebetulan aku adalah pendiri NOX."Perkataan si pria langsung membuat Nita, Fira, dan Bella tersentak kaget. Tapi, tidak dengan Abel. Bibir anak itu malah membentuk senyuman simpul."Kalian tahu? Aku membangun organisasi itu setelah anakku meninggal dua belas tahun lalu." Pria itu menjelaskan. "Aku ingat betul, malam itu, ada sesosok makhluk raksasa bertubuh hitam pekat yang terlihat di langit. Aku dan istriku sempat mengira kalau itu hanya imajinasi kami saja, tapi ternyata semua orang yang ada di perumahan kami juga bisa melihat makhluk mengerikan itu. Namun, setelah beberapa menit, tiba-tiba makhluk itu jatuh ke daratan lalu... meledak seperti bom.""Tunggu... aku pernah mendengar cerita itu. Kalau nggak salah, tragedi itu terjadi di Medan." Kata Nita."Benar sekali." Ungkap pria itu. "Ratusan orang di perumahan kami meninggal malam itu juga, termasuk anakku. Sementara aku dan istriku adalah satu-satunya korban yang selamat.""Tapi... Makhluk hitam yang Om lihat dilangit itu adalah Dosa... " Jelas Fira yang tampak takut sambil menoleh memandang Bella dengan tatapan cemas. "Dan... tidak mungkin Dosa bisa menyebabkan hal seperti itu. Mereka bahkan tidak memiliki fisik.""Hmm... sudah kuduga kalau kalian juga berpikir begitu. Tapi... sayangnya, kami sendiri yang mengalaminya." Katanya santai. "Oh, dan sayangnya lagi... tempat ini sudah dikepung oleh pasukanku.""Hah!? Yang benar!?" Pekik Fira panik."Ya, dia tidak bohong." Bisik Bella."Nah, kalau begitu, ada bagusnya jika kalian menyerahkan diri sekarang, karena kami memiliki alat yang mampu menetralkan kekuatan aneh kalian.""Kalau boleh tahu, apa saja, sih, yang Om ketahui soal kami? Rakyat Dunia Lain—Crystalian?" Tanya Abel yang juga tampak santai."Ya, intinya kalian semua itu adalah sampah yang seharusnya tidak ada di dunia ini." Jelas pria itu. "Tapi, aku juga sebenarnya tahu cara membedakan mana yang lemah dan mana yang kuat. Dan kamu, Nak," dia menunjuk Abel. "Kau sepertinya kuat... sangat kuat. Baru pertama kali aku melihat yang sepertimu. Itulah sebabnya aku mengambil langkah aman untuk menangkap kalian.""Ya, Om memang benar. Aku sangat kuat, lho. Tapi, kalau soal pengalaman, mungkin Nita adalah yang paling hebat di sini. Soalnya dia sudah berperang dua kali." Abel menunjuk ke arah Nita yang masih berada di depan rak. "Namun, ada satu hal penting yang harus Om ketahui tentang kami. Di antara seluruh Crystalian, ada satu kaum yang bisa dibilang terlalu kuat karena tidak memiliki batasan apapun. Dan, karenanya, kaum itu dianggap sebagai entitas yang sama dengan sang Pencipta. Mereka disebut Selestial, atau anak-anak bintang. Dan... sayangnya, aku adalah Selestial, Om.""Hoh, begitu, ya? Tanpa batas katamu?" Pria itu tiba-tiba melihat arlojinya. "Aku ada acara makan malam hari ini, jadi cepat putuskan apa pilihan kalian.""Oh, iya, terima kasih karena sudah memberikan kami waktu untuk melarikan diri." Ujar Nita sambil nyengir lebar."Tunggu, Apa!?" Pria itu terkejut setengah mati kala mendengarnya."Lubuntur Defuid... " Setelah Nita membisikkan kalimat itu, tiba-tiba saja terdengar suara guntur menggelegar serta kilat hijau yang turun dari langit-langit, dan langsung menyambar Bella, Fira, juga Nita, dan membuat ketiga gadis itu lenyap entah kemana, meninggalkan Abel sendirian di sana."TIDAK! TIDAK! TIDAK!" Pria itu mengamuk karena telah kehilangan tiga mangsa yang berharga. Dan Abel yakin, pria ini menganggap Nita sebagai target yang paling berharga karena pengalamannya itu. Dia kini terlihat sangat marah. "Bocah keparat...!"Tiba-tiba, ada suatu cahaya merah yang terpancar dari balik mantel pria itu, lalu, tak lama kemudian, pakaiannya perlahan-lahan mulai bertukar menjadi sebuah baju baja atau mungkin perlengkapan robot atau semacamnya, hingga menutupi seluruh tubuh pria itu dan membungkusnya.Dalam balutan zirahnya, sekarang pria itu terlihat dua kali lebih besar dan kekar dibanding sebelumnya. Cahaya-cahaya merah juga terpancar dari sekujur tubuhnya. Mungkin itu semacam urat atau aliran energi yang memberikan tenaga pada zirahnya. Namun, secara keseluruhan, wujud dari zirah itu persis menyerupai iblis. Ada dua tanduk yang mencuat di atas kepala, dan pada bagian wajahnya juga ada empat itik kecil yang mengeluarkan cahaya semerah darah, sehingga membuat penampilannya menjadi amat mengerikan."Kau akan membayar semuanya bocah sialan!" Ujar pria itu. Suaranya juga telah berubah jadi lebih dalam, keras, dan menggema."Hmm? Tidak, bukan aku yang akan membayarnya. Tapi Om." Abel melangkah maju dengan pelan, namun anehnya, kakinya ternyata sama sekali tidak menyentuh tanah, dia berjalan di udara. Tangannya dalam sekejap mata menggapai leher pria itu dan mencengkeramnya keras-keras hingga menembus permukaan zirahnya. "Om lah yang harus membayar semuanya. Karena Om sudah mengancam aku dan teman-temanku, dan Om juga belum membayar jasa yang Om pakai tadi.""Ugh! Apa-apaan! Cepat Lepaskan!"Dengan gerakan yang ringan, Abel melempar pria itu ke atas bagaikan melempar sebutir kelereng hingga menembus langit-langit. Pria itu terus terlontar jauh—sangat-sangat jauh—tinggi ke angkasa hingga tak terlihat lagi.Abel kemudian ikut melompat melewati lubang di langit-langit tokonya. Akan tetapi, begitu Abel terlihat di tempat terbuka, pada saat itu pula, para prajurit yang tadinya sudah mengepung toko langsung menyerbu Abel dengan tembakkan senapan mesin. Tapi sayangnya peluru mereka sama sekali tidak bisa mengenai Abel karena dia terbang dengan kecepatan tinggi.Nyala api membara muncul membungkus tubuh Abel. Api itu semakin besar dan besar, membuat Abel terlihat seperti matahari yang melaju ke atas. Namun, setelah beberapa detik, bola api raksasa itu akhirnya mulai padam, lalu seekor naga raksasa bersisik merah dan bersayap api muncul dari baliknya menggantikan keberadaan Abel. Itulah wujud Abel yang sebenarnya. sang Naga Merah, salah satu dari Empat Naga Berwarna."TIDAK MUNGKIN!" Pria itu menjerit ketakutan. "SEEKOR NAGA!?""Dengan ini, aku anggap semuanya sudah lunas!" Teriak Abel dengan suara yang amat keras dan menggelegar. Abel yang berada dalam wujud naganya membuka rahangnya lebar-lebar, dan bersiap menelan bulat-bulat pria itu."TIDAK! TUNGGU! TOLONG AMPUNI AKU!"Namun, ketika jarak gigi-gigi Abel dengan tubuh pria itu tinggal beberapa jengkal saja, tiba-tiba saja ada satu suara yang berbisik di dalam benak Abel. Suara itu berhasil membuat rahang Abel menutup rapat, dan membuat hatinya merasa sangat tenang.Abel mematung di angkasa. Dia benar-benar menghiraukan si pria yang kini sudah berada jauh di bawahnya. Padahal dia tadi sempat emosi karena tingkah pria itu."Abel?" Tanya suara tak bertuan itu. Suara seorang sendu dan menenangkan. Suara seorang wanita, tentu saja."Guru... ""Abel, kamu di mana? Semuanya sudah ada di sini, lho.""Baik... aku akan kesana sekarang, Guru." Abel mengibaskan sayapnya dengan sangat kuat hingga membuat angin di sekitarnya mengamuk, kemudian ia terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke arah barat, menembus hujan salju.Ia terus terbang dengan sangat cepat, dan setelah beberapa waktu berlalu, Abel akhirnya berhasil keluar dari langit yang bersalju, dan terbang di bawah langit yang memancarkan cahaya mentari keemasan nan hangat.Namun, perjalanan Abel belum usai. Dia tetap mengepakkan sayapnya dan terus melaju dengan kecepatan kilat, sampai dia tiba lagi di langit bersalju yang berbeda.Meski dia hampir tak bisa melihat apa-apa dari atas sana, tapi Abel tetap tahu dimana gurunya berada. Dia bisa menciumnya, dan juga merasakannya. Dia tidak perlu mata untuk menemukan seorang yang berharga baginya.Sebelum turun dari langit, Abel memutuskan untuk berubah kembali menjadi wujud kanak-kanaknya. Kulit serta sisiknya yang lebih keras dibanding baja mulai berubah menjadi api, dan sedikit demi sedikit, sosok naga itu pun lenyap dan digantikan oleh siluet seorang anak berambut merah dengan wajah yang tampak dingin.Abel mendarat di suatu tempat yang merupakan puncak paling tinggi di pegunungan Himalaya. Di sana Abel disambut oleh tiga orang anak lainnya yang wajahnya begitu mirip dengan Abel.Ada anak lelaki berambut hijau pendek cepak, serta anak lelaki berambut biru gelap yang tersisir rapi, dan seorang anak gadis yang tampangnya paling aneh di antara mereka berempat. Rambut gadis itu memiliki dua warna yang berbeda; yaitu warna hitam di rambut bagian kanan, dan warna putih di bagian kiri. Kedua warna itu benar-benar terbelah tepat di bagian tengah rambutnya. Bahkan, dia juga memiliki dua bola mata yang berbeda, senada dengan warna rambutnya.Namun, Abel menghiraukan ketiga saudaranya, lalu berjalan melewati mereka dan menghampiri sebuah bunga yang tumbuh di tengah puncak itu.Bagi Abel, bunga itu adalah bunga paling indah yang ada di dunia ini. Kelopaknya sendiri berupa permata yang berpendar dengan warna biru temaram, dan mahkotanya pun juga adalah permata yang memancarkan warna biru cerah dan terang. Jika dilihat lebih dekat, Abel seakan bisa bola-bola cahaya yang menari-nari di dalam mahkotanya.Itulah Guru Abel.Abel jatuh di atas kedua lututnya saat ia sampai di hadapan bunga itu. Kepalanya tertunduk sangat dalam."Maaf aku terlambat... Guru... " Bisik Abel."Aku melihat apa yang kamu lakukan, Abel." Ujar suara wanita itu. "Tapi, syukurlah aku juga tepat waktu, jadi kau sama sekali belum melanggar janji kita. Hanya hampir, kok.""Ya... terima kasih karena telah mencegahku, Guru." Kata Abel sambil mengangkat kepalanya kembali dan tersenyum kecil."Namun, hari ini aku ingin bertanya pada kalian semua."Ketiga saudara Abel yang lain juga langsung menaruh perhatian mereka secara penuh kepada bunga itu."Apa kalian merasakan perasaan yang tidak mengenakkan itu?"Abel terkejut mendengar pertanyaan itu."Ya, kami merasakannya, Guru." Kata si gadis lucu bertampang setengah-setengah."Kukira hanya aku saja yang merasakannya... " Bisik si Anak berambut biru."Apa yang sebenarnya terjadi, Guru?" Tanya si Anak berambut hijau.Abel terperangah. Padahal, dia sendiri sudah setuju untuk menganggap perasaan yang tidak mengenakkan itu sebagai angin lewat saja. Tapi, ternyata perasaan itu bukanlah sesuatu yang harus dihiraukan. Apalagi, kini gurunya sendiri juga sudah menyinggung tentang itu."Mimpi itu bahkan datang lagi tadi malam... " Bisik Abel takut-takut.Tatapan semua orang sekarang tertuju pada Abel. Terlihat jelas dari raut wajah mereka, kalau mereka juga telah mendapatkan mimpi buruk yang sama."Manusia sudah berubah. Dunia sudah berubah." Guru menjelaskan. "Sesuatu yang besar akan datang tak lama lagi. Bencana, malapetaka, peperangan, dan... janji yang akan teringkari."Keempat anak itu langsung tersentak kaget saat mendengar bagian yang terakhir."Beribu-ribu tahun lalu, kalian mengamuk dan hampir menenggelamkan seluruh Benua Eropa setelah melihatku dibakar hidup-hidup oleh penduduk desa yang sebenarnya tidak tahu apa-apa."Abel dan ketiga saudaranya langsung menundukkan kepala saat gurunya mulai bercerita tentang masa lalu mereka yang amat mengerikan."Tapi untung saja sang Pemilik Dunia yang baru datang dari masa depan, dan dengan kekuatannya, dia menghidupkanku kembali menjadi seperti sekarang ini." Guru melanjutkan. "Aku memang bahagia. Tapi, sayangnya bara amarahku timbul saat aku tahu bahwa kalian sudah memusnahkan jutaan manusia, anak-anak, wanita, dan bahkan pria yang tak berdosa. Dan sejak saat itu, kalian berempat berjanji tidak akan pernah menyakiti manusia lagi. Akan tetapi... mulai hari ini... Kalian mungkin akan, dan pasti mengingkari janji itu."Keempat anak itu berniat untuk menyela sang Guru. "Tapi, Guru! Kami tidak mungkin mengingkari janji—""Pasti, kalian akan mengingkari janji itu." Jelas sang Guru, ada nada final dalam suaranya. "Hanya tinggal menunggu waktu saja.""Tidak mungkin! Kami tidak bisa melakukannya!" Teriak si anak biru."Janji itu adalah tali penyambung kehidupan Guru!" Saudara perempuan Abel mulai menangis."Jika kami melakukannya... maka Guru akan pergi... Untuk selama-lamanya... " Gumam Abel. "Aku tak bisa... aku belum siap."Ketiga saudara Abel yang lain kini ikut berlutut di samping Abel. Mereka berusaha berada sedekat mungkin dengan bunga itu. Wajah mereka penuh nestapa. Kekecewaan mulai melahap nurani. Rasa takut yang amat besar telah melahap mereka."Kalian sudah siap." Jelas sang Guru. "Tapi, pastikan kali ini kalian tidak akan membuat kesalahan lagi.""Tapi—""Kalian harus berjanji untuk tidak melanggar peraturan apapun. Meskipun nanti aku mati, aku berharap kalian tidak akan pernah melanggar janji itu.""Tidak! Guru tidak boleh mati!" Mereka memekik bersamaan."Inilah takdir... "Walau badai salju tengah mengamuk, keempat anak itu tetap tak beranjak dari sisi bunga itu, seakan mereka berusaha untuk menjaga agar bunga itu tidak terbang tertiup angin. Kenyataannya, penderitaan mereka lebih menyakitkan dibandingkan rasa sakit apapun yang ada di dunia ini. Namun, mereka tetap disana. Hingga akhirnya takdir terpaksa menyeret mereka ke dalam malapetaka yang lebih gelap dibandingkan kegelapan itu sendiri.
Pembunuh yang Mendambakan Kehidupan
Kebenaran pahit adalah monster yang nyata di dunia ini.Zeal hidup hanya untuk satu hal, yaitu; uang. Dia membutuhkan banyak uang untuk menghidupi ketiga adiknya. Meskipun ia harus terjun ke dalam jurang yang amat gelap dan penuh dengan kedengkian, dia tidak peduli, asalkan dia tetap mendapatkan uang.Segala cara dihalalkannya demi mendapatkan uang, termasuk mencuri, bahkan menjual barang-barang terlarang. Dan dari segala jenis pekerjaan jahat yang ada di dunia ini, yang paling banyak menghasilkan uang ialah dengan menjadi pembunuh bayaran. Dan, ya, Zeal adalah pembunuh yang andal. Walaupun itu adalah dosa besar, dia tidak peduli, asalkan ketiga adiknya bisa hidup berkecukupan.Di Indonesia sendiri, membunuh merupakan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Kebetulan juga pihak keamanan negara pun belum memiliki teknologi yang cukup dalam memecahkan kasus pembunuhan yang rumit dan tidak wajar.Zeal memiliki banyak hal yang dapat digunakannyadalam menjalankan pekerjaannya. Segala kebiasaan yang telah ditingkatkan melalui latihan jangka panjang, seperti berjalan, meraba, bernafas, melihat, bahkan mendengar—semua hal-hal biasa itu baginya adalah senjata yang mematikan.Langkahnya seringan angin. Nafasnya setenang lembah kelam. Sentuhannya sehalus sutra. Tatapannya bahkan mampu menembus dan membaca isi hati orang lain. Juga telinganya yang tajam, mengubahnya menjadi predator yang berbahaya.Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa dia memang pembunuh profesional.Namun, saat ini dirinya sama sekali tidak dapat berkutik. Walaupun dengan segala kemampuan yang ia miliki, percuma saja, karena sekarang dia benar-benar sudah terpojok. Bahkan tak ada celah kecil dimana pun.Nafas remaja kurus berpakaian serba hitam dan ketat itu terengah hebat. Rambut gondrongnya terlihat basah karena bermandikan keringat. Sementara matanya yang hitam bak kegelapan malam, masih terpaku pada satu titik jauh di depannya. Jantungnya berdegup kencang, dan matanya membuka sangat lebar tiap kali mendengar suara-suara dari balik pintu di ujung lorong itu.Zeal tak dapat pergi kemanapun lagi sekarang. Polisi sudah menjebaknya agar masuk ke dalam rumah yang terisolasi ini. Benar-benar hari yang buruk. Dia tak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini."Menyerahlah!" sahut suara dari balik pintu itu. "Rumah itu tak lebih dari kandang khusus untukmu yang telah kami persiapkan dari jauh hari untuk menangkapmu!"Zeal menyeringai tipis sambil menyeka keringat di dahi. "Sialan. Kesabaran mereka pasti sudah habis. Sampai-sampai membuat jebakan seperti ini buatku." Ya, tentu saja begitu, apalagi Zeal adalah satu-satunya pembunuh di indonesia yang sudah membunuh seratus tiga puluh orang.Tangan kanannya menggapai sesuatu di belakang pinggangnya; sebuah sarung untuk senjata tajam berukuran kecil. Tapi sayangnya, tak ada apapun di situ. "Hah... benar-benar hari yang penuh kesialan." Gumamnya lagi. "Bisa-bisanya pisau itu jatuh!" Dia masih tak menyangka, karena telah menjatuhkan belatinya—satu-satunya senjata yang ia miliki.Tidak ada penyesalan. Zeal terus mengulang kalimat itu dalam benaknya. Tapi, disaat itu juga, ia tengah memikirkan ketiga adiknya di gubuk yang mungkin sedang menunggunya pulang saat ini.Zeal menyipitkan mata. Dia berusaha untuk santai dan tidak terlalu tegang. Namun, bibirnya yang membentuk senyuman tetap tak berhenti bergetar, karena mungkin saja hari ini, dia tidak akan pulang ke rumah, dan tidak akan menemani ketiga adiknya untuk menyikat gigi lagi."SUDAHLAH! LANGSUNG SAJA TEROBOS MASUK!" Seru suara dari luar.Seketika, karena panik, Zeal memasang kuda-kuda saat mendengar sahutan itu. Dia bersiap-siap untuk menerjang ke arah pintu, dan berharap menemukan kesempatan untuk melarikan diri dari serbuan peluru.Akan tetapi, suatu hal yang amat mengejutkan terjadi. Pintu itu didobrak dengan cara yang tidak biasa. Entah apa yang membuat pintu itu sampai tiba-tiba terhempas ke arah Zeal begitu saja dengan sangat cepat. Tapi, untung refleks Zeal yang luar biasa, mampu membuat dirinya menghindari terjangan pintu itu dengan mudah—dia langsung membungkuk."Apa-apaan!" Walau begitu, dia tentu saja terkejut. Pintu itu terhempas seolah-olah baru saja diserang oleh sesuatu yang sangat besar seperti tank.Namun, Zeal baru saja membuat kesalahan yang amat besar. Dia melewatkan kesempatan untuk melarikan diri, karena terlalu terpaku pada kejadian barusan. Tapi, saat Zeal bangkit, dia kembali dikejutkan oleh pemandangan aneh.Ada seorang gadis yang berdiri di ujung sana. Rambut peraknya yang panjang dan lebat, ditambah oleh matanya yang sebiru langit cerah, juga pedang raksasa yang ditancapkannya di lantai, membuat gadis yang mengenakan semacam gaun pengantin putih itu, terlihat amat mengerikan. Wajahnya yang kosong bahkan berhasil membuat Zeal keringat dingin."Ke mana semua polisinya..." gumam Zeal sambil menilik gadis itu. Benar-benar pemandangan yang tidak masuk di akal sebenarnya. Gadis itu tampak normal dan sepertinya dia masih berusia delapan belasan, tapi anehnya, dia datang ke sini sambil mengenakan gaun pengantin, juga membawa pedang besar yang gila. "Apa dia baru saja kabur dari pernikahannya?""Zeal Longres, pelaku dari pembunuhan berantai di kota seluruh Indonesia." Ujar gadis itu tiba-tiba. Suaranya datar dipadu wajahnya yang kosong terkesan membuatnya terdengar makin aneh."Eh? K-kau siapa?" tanya Zeal ragu-ragu. Pasalnya, gadis ini benar-benar aneh. Zeal sering bermain game, jadi dia tahu bagaimana sosok karakter-karakter fiksi berkekuatan tak masuk akal dalam dunia game. Dan gadis ini benar-benar terlihat seperti karakter fiksi. "Walaupun kau gadis, aku tidak akan segan-segan." Kata Zeal dingin seraya menelan ludah.Gadis itu mencabut pedangnya dari lantai, seolah itu bukan apa-apa. Padahal tangannya sendiri sangatlah kurus dibanding bilah pedang yang diangkatnya. "Jumlah korban, seratus tiga puluh jiwa. Dan hukuman yang dijatuhkan dari pemerintah adalah, hukuman mati." Jelasnya sambil mengacungkan pedangnya ke arah Zeal."Aku tidak tahu siapa kau, dan aku tidak tahu apa yang kau lakukan di sini, tapi, maafkan aku, karena aku tidak bisa membiarkan satupun saksi untuk hidup." Gumam Zeal sambil memikirkan suatu cara untuk membunuh gadis luar biasa aneh ini. "Ya, cara satu-satunya adalah dengan memutar lehernya." Bisiknya.Zeal memantapkan pijakannya, kemudian dengan satu tarikan nafas, dia dengan sangat cepat melesat lurus menuju ke arah si gadis.Gadis itu tiba-tiba mengangkat pedangnya ke atas dan bersiap menebas ke depan.Zeal menyeringai. Walau gadis itu kelihatan menakutkan, tapi Zeal yakin, dia pasti hanya seorang amatir. Memangnya orang gila macam apa yang datang ke tempat seperti ini mengenakan gaun pengantin?Zeal terus membatin seolah-olah dia telah memenangkan pertarungan ini. Zeal bisa saja menyerangnya dari depan, tapi pedang itu benar-benar berhasil membuatku merinding. "Baiklah kalau begitu!"Di mata Zeal, waktu seakan-akan berjalan sangat lambat, seiring dengan degup jantungnya yang semakin cepat.Saat Zeal sudah berada cukup dekat dengan gadis itu, dia menambah kecepatan langkahnya, kemudian melompat dan menapak di dinding di samping kanannya dengan kedua kakinya. Gerakannya benar-benar lihai dan seringan angin. Dia kemudian segera melompat ke belakang si gadis. Tapi anehnya, gadis itu masih berdiri diam seperti tadi.Dan akhirnya, tiba saatnya untuk memelintir leher si gadis.Kedua tangan Zeal segera menggapai kepala gadis aneh itu dari belakang. Namun, semuanya terasa sangat ganjil. Bahkan, tak sekalipun gadis ini menoleh ke arah Zeal yang sudah jelas-jelas berada di belakangnya.Zeal yakin ini bukan jebakan. Dan aura menakutkan yang dipancarkan gadis itu juga bukanlah tipuan semata. Entah dia bodoh atau memang ini juga bagian dari rencananya, tapi walau begitu, Zeal tidak akan membuang kesempatan sekecil apapun."Hah..."Suara helaan nafas yang tenang dan sendu dari gadis itu, tanpa alasan membawa perasaan yang amat mengerikan ke dalam diri Zeal. Seolah-olah ada angin badai yang hebat menghantam Zeal dan menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan kecil. Mata Zeal seketika terbelalak lebar, dan instingnya mengisyaratkan dirinya untuk segera berlari sejauh-jauhnya dari sana.Namun, semuanya sudah terlambat. Gadis itu tetap melancarkan tebasannya ke depan, dan—Boom! Disertai kilatan putih yang menyilaukan, terjadilah ledakan yang amat dahsyat hingga memporak-porandakan segalanya.Zeal terhempas jauh ke belakang—ke luar rumah—sampai-sampai dia menabrak sebuah pohon. Rasanya benar-benar sangat menyakitkan, apalagi di bagian punggungnya. Walau akhirnya dia sudah keluar dari rumah itu, tapi perasaan yang sangat tidak enak ini masih saja ada di dalam dirinya. Bahkan perasaan itu membuat Zeal seakan tak dapat mengendalikan raganya lagi."Kenapa... tubuhku tak bisa bergerak..." Zeal sekarang terbaring tak berdaya di tanah berlumpur. "Oh, ayolah!" Dia terus berusaha memaksa tubuhnya untuk bergerak, tapi bahkan satu jarinya pun sama sekali tak merespon perintahnya. "Sialan! Apa yang sebenarnya baru saja terjadi!? Aku yakin tidak menyentuh apapun!"Zeal melirik ke segala arah, dan anehnya, sepasukan polisi yang tadinya berkumpul di sini ternyata sudah hilang begitu saja. Zeal kemudian beralih pandang ke arah rumah itu, yang telah hancur lebur menyisakan puing-puing di segala penjuru.Apa yang terjadi barusan pada umumnya memang sudah tak bisa lagi diterima oleh akal manusia. Sebuah ledakan dahsyat terjadi karena entah apa, dan itu bersamaan dengan saat si gadis mengayunkan pedangnya.Tidak masuk akal! Pekik Zeal dalam hati.Tiba-tiba, gadis berpakaian pengantin tadi mendarat di depan Zeal dengan pedang raksasa yang masih digenggamnya.Zeal benar-benar telah kehabisan akal. Dia menutup mata dan membayangkan maut yang mungkin akan menjemputnya sebentar lagi. Walau air matanya ingin menyembur keluar, tapi Zeal tetap menahannya, dan terus menjerit dalam hatinya. Tak ada penyesalan! Tak ada penyesalan! Tak ada penyesalan!"Apa yang kau rasakan, saat membunuh seseorang?" Tanya gadis itu.Zeal benar-benar terkejut saat mendengar pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut gadis ini. Pertanyaan yang terdengar sangat aneh di telinga Zeal. Apa yang dia rasakan saat membunuh? Ya, tentu saja kadang Zeal merasa jijik dan ngeri, juga berdosa, tentu saja."Padahal... kau ini masih muda, dan jalanmu masih sangat panjang. Tapi, kenapa kau memilih jalan seperti ini?" Gadis itu mengangkat pedangnya sekali lagi, dan tampaknya dia bersiap untuk memenggal kepala Zeal."Jika dengan cara ini, aku dan ketiga adikku bisa bertahan hidup di dunia yang rusak ini, sepertinya tak apa... " Bisik Zeal."Dosa adalah dosa... Jadi, sampai jumpa."Zeal merasa agak tenang sekarang. Ketakutannya akan kematian seolah hilang begitu saja, saat mendengar pertanyaan dari gadis ini. Ya, walau Zeal tahu bahwa ajalnya sudah berada di depan matanya, tapi jauh di lubuk hati kecilnya, dia sebenarnya sangat takut meninggalkan ketiga adiknya."Berhenti Sella!" Sahut seseorang dari belakang Zeal.Zeal seketika tersadar dari lamunannya. Tetapi dia tetap saja tak dapat menggerakkan tubuhnya."Tolong lepaskan kekanganmu darinya, Sella." Perintah suara itu—suara yang terdengar tua dan rapuh—yang jelas-jelas adalah suara seorang pria tua.Zeal mendengar suara kesempatan di situ."Baik, Tuan." Jawab gadis itu sambil menancapkan pedangnya ke tanah, dan pada saat itu pula, Zeal mendapatkan kembali tubuhnya.Zeal langsung bangkit, dan berniat menyandera seorang yang memberi perintah kepada gadis mengerikan ini. Tapi, belum saja Zeal berdiri tegak, satu tendangan didaratkan tepat ke wajah Zeal, dan langsung membuatnya terdorong mundur. Tapi untung saja, gadis mengerikan itu menahan Zeal."Ugh! S-sakit banget!" pekik Zeal sambil meraba wajahnya yang memerah. Darah mengucur keluar dari hidungnya yang dibuat patah. "A-apa yang kau lakukan!?" Hardik Zeal pada seorang pemuda tinggi jangkung, berambut pirang kuning gondrong dan bersetelan jas serba hitam layaknya pelayan, yang berdiri di samping kakek tua itu."Tentu saja, aku hanya melindungi Tuanku." Jelas pemuda itu sambil menyunggingkan senyuman kecil. Tapi tiba-tiba, entah kenapa senyum di bibir pemuda itu lenyap, dan matanya yang memancarkan hawa membunuh, menatap tajam pada Zeal, hingga membuatnya bergidik ngeri. "Kau harusnya bersyukur, karena bisa melihat wujud asli Tuanku." Katanya dengan nada sedingin es.Zeal melepaskan diri dari si gadis seraya menyeka keringat dinginnya. "S-siapa sebenarnya kalian!? A-apa mau kalian!?" tanya Zeal kesal. "Dan apa yang telah kalian lakukan pada semua polisi-polisi tadi!?""Aku memerintahkan mereka semua untuk kembali ke markas." jawab kakek itu. Dari tampangnya, dia terlihat seperti orang yang baik hati. Suaranya juga lembut, dan wajahnya pun terlihat tulus. "Karena aku yakin, tak ada satupun dari mereka yang dapat menyentuhmu.""Eh?" Zeal lumayan terkejut mendengar kakek itu. Padahal, dia sama sekali tidak terlihat seperti seorang polisi berpangkat tinggi. Apalagi dia dapat memerintahkan seluruh armada untuk kembali ke markas begitu saja, sementara target yang mereka cari-cari selama ini padahal sudah ada di depan mata. Entah sebesar apa pengaruh yang dia miliki pada pihak kepolisian. Atau mungkin, di negeri ini."Sebelumnya, perkenalkan, nama saya adalah Relanar Allefren. Kau boleh memanggilku Relan. Dan, saya adalah seorang pedagang." Kakek Relan melanjutkan. "Gadis dibelakangmu namanya Sella, dia adalah salah satu dari sekian banyak Pengawalku. Dan begitu juga dengan Nak Tom yang ada di samping saya ini." Si kakek merangkul pemuda itu—Tom—dengan akrabnya."Hah? Apa-apaan ini!? Untuk apa seorang pedagang membutuhkan pengawal!? Dan lagi pula, pengawal macam apa kedua orang ini!? Mereka bahkan bukan manusia!" pekik Zeal yang makin jengkel.Si kakek tertawa pelan sebelum angkat bicara. "Ya, mereka manusia kok, tapi... mereka memiliki kekuatan tambahan yang aku berikan."Zeal berusaha mencerna tiap kalimat yang keluar dari bibir kakek itu. "Kekuatan? apa sebenarnya maksud kakek?""Dengan kekuatan itu, kau setidaknya bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang sedikit lebih baik. Kekuatan yang mampu mengubah kenyataan.""Apa... maksudnya...?" Kebingungan Zeal sudah sampai di puncaknya."Begini saja. Datanglah ke alamat ini." Kakek itu menyodorkan secarik kertas pada Zeal. Dia bahkan berjalan ke arah Zeal tanpa ragu. "Aku ingin kamu menjadi Pengawalku, Nak Zeal. Kemampuanmu pasti akan sangat berguna untuk membantu pekerjaanku yang menyusahkan ini.""Hah!? Menjadi pengawal—""Gaji per-harinya sepuluh kali sampai seratus kali lipat dibanding bayaran untuk membunuh satu orang." Kenyataan itu sukses membuat Zeal terdiam seribu bahasa. "Dan tentang masalah catatan kriminalmu yang hebat ini, kau bisa menyerahkannya padaku."Tiba-tiba saja, dering ponsel Tom berbunyi, sehingga membuat Zeal tersentak kaget."Yang lainnya sedang dalam perjalanan pulang, Tuan." Ujar Tom setelah membaca pesan masuk itu."Oh, baiklah." Kakek itu kemudian berbalik dan berjalan pergi, diikuti Tom juga Sella di belakangnya. Tetapi, mereka sempat berhenti sebelum benar-benar lenyap termakan kegelapan hutan. "Aku yakin, kau membutuhkan uang, nak Zeal. Agar ketiga adikmu bisa bertahan hidup." Jelasnya, hingga akhirnya, ketiga orang itu benar-benar lenyap tak terlihat ditelan kegelapan."Hah?" mata Zeal membuka amat lebar mendengar ucapan kakek barusan. Zeal sangat terkejut karena kakek itu tahu tentang keberadaan adik-adik Zeal. Zeal menggosok bibirnya dan meludahkan darah yang sedari tadi menggumpal dalam mulutnya karena tendangan telak Tom.Zeal memandang kertas itu lamat-lamat.Sejujurnya, dia sangat tertarik dengan kekuatan yang dimaksud oleh Kakek Relan. Kekuatan yang mampu mengubah dunia. Zeal mulai berpikir, jika saja dia memiliki kekuatan semacam itu, mungkin dia tidak perlu lagi membunuh orang demi mendapatkan uang.Namun, kedua orang itu—Sella dan juga Tom, adalah bukti nyata bahwa perkataan Kakek tadi itu adalah benar. Kekuatan mereka yang luar biasa, yang tak bisa dibandingkan dengan kekuatan manusia normal pada umumnya, adalah bukti yang terlalu nyata untuk dilewatkan."Baiklah kalau begitu... Aku akan melakukannya." Kata Zeal penuh tekad. "Demi ketiga adikku."Akhirnya, kehidupan baru Zeal pun dimulai. Akan tetapi, dia sama sekali tidak sadar, bahwa takdir yang menunggunya di depan mata, adalah sesuatu yang lebih mengerikan dibandingkan maut itu sendiri.