Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
HOROR SELENDANG WARISAN
Horror
22 Dec 2025

HOROR SELENDANG WARISAN

Pagi ini Dera sedang mengunjungi rumah bibi Dera di daerah Bogor, kebetulan Dera sedang libur kuliahnya, dia mengajak adiknya Lea untuk main ke rumah Bibi Ane sudah lama mereka tidak kesini, kebetulan rumah Bi Ane di daerah puncak sangat sejuk dan bisa dijadikan tempat liburan yang menyenangkan.Baru saja mereka sampai Bi Ane sangat menyambut kehadiran mereka, ditambah anak-anak Bi Ane sudah banyak yang berkeluarga jadi Bi ane hanya tinggal dengan Mang Asep saja suaminya."Bagaimana kabar mamah kalian?" tanya Bi Ane"Alhamdulillah baik Bi, dia juga titip salam buat Bi Ane sama Mang Asep" jawab Dera sambil makan rengginang yang ada di meja"Alhamdulillah senang mendengarnya, mudah-mudahan lebaran tahun ini semua bisa berkumpul ya disini" ucap Bi Dera"Iya Bi, mama sekarang lagi banyak kerjaan dinas di luar kota" ucap Lea"Iya mamah dan papah mu memang hebat karir mereka sukses, tidak seperti bibi dan mamang yang hanya bisa berkebun saja disini" ucap Bi Ane merendah"Disini sangat nyaman bi, hiduppun lebih tenang" jawab Dera sambil mencivipi serabi buatan bibi"Kalian nanti kalau mau jalan biar mang Asep saja mengantar kalian" ucap Bi Ane"Iya Bi, beres itu mah, Bi ada singkong rebus tidak?" tanya Dera yang ternyata perutnya masih laparBi Ane dan Mang Asep tertawa melihat kelakuan DeraSore itu Dera dan Lea diajak Mang Asep ke Curug yang dekat dengan lokasi rumah Bi Ane, pemandangannya sungguh indah dan sangat menyejukkan mata, belum lagi daerahnya masih asri belum terkontaminasi, masih sangat hijau dan suasana sejuk sangat terasa.Karena sudah hampir malam Mang Asep mengajak mereka kembali ke rumah"Aduh kang, kenapa baru ajak anak-anak pulang, saya khawatir kalau keburu gelap tadi" ucap Bi ane khawatir"Iya, anak-anak pada betah dan gak mau pulang" ucap Mang Asep yang sudah membujuk mereka"Bagus sekali Bi Ane pemandangannnya, aku sangat suka besok mau kesana lagi" ucap Dera"Iya Bi indah banget" ucap Lea"Iya memang bagus, tapi disana pantangannya ga boleh lewat maghrib, kalau tidak kalian bisa dibawa kedunia lain" ucap Bi Ane"Masa sih bi, itu cuma dongeng aja kali bi, kan memang kalau orang dulu selalu bilang ga boleh keluar maghrib" ucap Lea"Hushh jangan bicara kaya begitu, pamali kalau disini" ucap Bi Ane mengingatkan"Bi itu selendang warnanya bagus banget" ucap Dera menunjuk selendang merah di gantung di kursi"Itu selendang peninggalan nenek Dera mau?" tanya Bi Ane"Mau Bi, aku suka banget" jawab Dera"aku mana bi?"tanya Lea ga mau kalah"Lea ini saja selendang bibi" lalu diberikannya selendag hijau dengan motif bunga"Makasih ya bi" ucap mereka bersamaan"Iya sama-sama apa sih yang nggak buat keponakan bibi" ucap Bi Ane sambil tersenyumKeesokan harinya setelah ke puncak dan ke wisata Teh, mereka kembali minta diajak ke Curug kemarin dan memang sampai disana sudah jam 4 sore."Jangan lama-lama ya neng" ucap Mang Asep"Iya Mang, cuma sebentar kok" ucap Dera"Mang Dera mau lihat kesana dulu ya, siapa tahu ada yang bagus buat difoto" ucap Dera"Mang Asep temenin ya Dera" ucap Mang Asep"Ga usah mang" ucap Dera"Aku capek Der, aku disini saja ya sama mang Asep" ucap Lea"Iya, aku gak akan jauh-jauh kok" ucap DeraLalu Dera berjalan ke dalam kebun kecil disamping air terjun, Dera melihat ada kebun bunga yang sangat bagus, disana dia melihat ada spot yang indah untuk difoto dan Dera mengeluarkan selendang merahnya untuk menambah kesan pada fotonya nanti, dan Dera mulai melakukan selfie-selfie, entah karena asyiknya Dera tidak merasa kalau hari sudah senja dan sudah mulai gelap, Dera berusaha untuk kembali ke Mang Asep, tapi entah mengapa dia seperti berputar-putar dan hari akhirnya gelap, Dera mulai ketakutan, dia ingat perkataan Bi Ane, bahwa tidak boleh berada saat gelap didaerah ini, Dera mulai berteriak memanggil Mang Asep dan Lea."Mang Asep" Teriak Deratapi suasana sangat hening, bahkan tidak ada suara binatang yang terdengar, tiba-tiba ada hembusan angin yang cukup kencang, dan selendang Dera menutupi wajah Dera, saat Selendang Dera menutupi wajahnya, mata Dera melihat ramai sekali orang didepannya, bahkan dia melihat ada dimana-mana, tetapi wajah mereka sangat menyeramkan, dan mereka seperti cerita-cerita yang Dera lihat di televisi, ada yang seperti pocong, ada yang seperti kuntilanak, genderuwo, buru-buru Dera melepaskan selendangnya, dan keadaan kembali normal, tidak ada apa-apa disini, lalu Dera memakai kembali lagi selendangnya dan kembali semua wajah itu muncul bahkan tambah banyak, Dera lepas lagi dan kembali sepi, selendang ini sangat aneh fikir Dera.Dera akhirnya pasrah setelah lelah berjalan, dia memutuskan untuk istirahat di sebuah pohon besar, ketakutan dia luar biasa melihat kejadian yang dialaminya, sepertinya tempat ini adalah tempat untuk mahluk lain yang berada di dunia gaib.Tiba-tiba angin kencang membuat selendang menutupi wajahnya, saat selendang itu ada di wajahnya dia melihat sosok nenek-nenek didepan wajahnya dan tangannya meminta Dera untuk mengikutinya. Entah mengapa wajah itu seperti dikenal Dera, dan Dera mulai mengikutinya, saat mengikuti nenek-nenek itu banyak mahluk yang ingin menggapai Dera, tetapi nenek tadi memelototi mereka, dan merka tidak berani mendekati Dera."Nek kita mau kemana?" tanay DeraNenek hanya melihat tapi tidak menjawab sama sekali, sampai akhirnya Nenek itu membawa Dera ke tempat cahaya terang, ada ketakutan pada diri Dera, tempat apakah itu? apakah dia harus mengkuti nenek tua itu atau dia tetap memeilih di tempat ini, saat sudah sampai ke titik cahaya, nenek itu melambai ke Dera meminta Dera cepat pergi kesana.Saat Dera ragu dia melihat ke belakang dan disana dia melihat banyak sosok yang menyeramkan mulai menuju ke arahnya, dan dia melihat ke nenek tadi, dan dia memutuskan untuk pergi ke cahaya tadi."Deraaaaaaaaa" teriak Lea"Alhamdulillah Dera kamu ketemu" ucap Mang AsepSaat Dera membuka matanya, sudah ada Lea, Mang Asep dan beberap abapak-bapak tidak dikenalnya"Aduh Dera, kamu bikin kami khawatir, kan tadi Mamang sudah bilang jangan lama-lama dan jangan jauh-jauh" ucap Mang AsepSetelah Dera beristirahat sebentar dan minum minuman hangat yang diberikan oleh Lea, akhirnya Dera dibawa kembali pulang, saat diperjalanan menuju ke mobil tiba-tiba angin meniup knecang dan membuat selendang menutupi wajah Dera, Dera melihat wajah nenek itu sedang tersenyum melihat Dera telah menemukan kembali keluarganya.Saat sampai dirumah Bi Ane memberikan wejangan kepada Dera karena rasa khawatirnya tadi, tapi ternyata Dera tidak fokus dan melihat satu foto di dinding dengan wajah yang dikenalnya."Ini siapa Bi?" tanya Dera"Itu nenek kamu Dera, dia meninggal pas kamu baru berusia dua tahun" ucap Bi Ane"Dia yang selamatin aku Bi Ane, dia yang menunjukkan jalan aku pulang" ucap Dera"Nenek?" tanya Bi AneLalu Dera menceritakan semuanya ke Bi Ane ada rasa bingung, takut dan senang karena yakin nenek akan selalu menjaga anak cucunya.

HOROR KOTA MATI
Horror
22 Dec 2025

HOROR KOTA MATI

Isabel hari ini sedang menyiapkan semua pakaiannya untuk pergi ke rumah neneknya di Malang, Akomodasi tiket sudah disiapkan untuk perjalanannya kali ini, karena dia hanya berdua saja dengan Rai teman sekosnya, mereka merencanakan liburan kali ini harus berpetualang ke tempat kelahirannya di Malang.Satu Jam Isabel menunggu tetapi Rai masih belum datang, akhirnya Isabel memutuskan untuk naik bus berikutnya kali ini, kalau tidak dia bisa ketinggalan kereta api, hampir saja Isabel mengangkat kakinya, tiba-tiba terdengar suara Rai"Isabel tunggu... tunggu..." ucap Rai ternegah engah"Aduh Rai, untung saja hampir saja terlambat sedetik lagi" ucap Isabel geram dengan kebiasaan Rai yang jam karet"Maaf Bel aku kesiangan" ucap Rai"Terus kalau kamu ga jadi ikut, aku sendirian kenapa coba ga pasang alarm saja" ucap Isabel kesal"Iya maaf... maaf..." ucap Rai"Sudah sekarang kita fokus ke perjalanan kita saja, kamu gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Isabel"Sepertinya gak kok, aku sudah siapin sejak malam" jawab Rai bersemangatAkhirnya mereka berdua sampai di stasiun, tidak berapa lama kereta yang mereka naiki sudah tiba"Wah pas sekali, coba kalau aku masih nungguin kamu, bisa gak jadi pergi kita kali ini" ucap Isabel menyindir Rai"Kenapa sih masih bahas itu aja, yang penting kan kita sudah naik kereta tepat waktunya" ucap Rai bernada cuek"Rumah nenek ku itu masih Asri banget Rai, rumahnya ada di tengah hutan Pinus, yang pemandangannya sangat indah saat siang, tetapi cukup mengerikan kalau kamu berjalan sendirian malam hari" cerita Isabel"Serius Rai, terus kita kesananya naik apa?" tanya Rai"Naik angkot sampai depan taman kota, terus kita lanjutkan naik ojeg sampai di pintu pegunungannya" ucap Isabel"Langsung sampai dirumah nenekmu?" tanya Rai"Ya belum lah masih jauh lagi jadi kita nanti jalan kaki masuk ke hutan pibus, kira-kira sampai sorelah kita di rumah nenek ku Rai" ucap Isabel"wah benar-benar berpetualang banget ya Rai, tapi kamu gak mungkin nyasar kan?" tanya Rai"Ya gak mungkinlah itukan kampung halaman nenekku" ucap Isabel sombongLalu mereka kan mulai menaiki angkot menuju ke tempat yang dituju, tidak terasa hari sudah mulai sore saat mereka tiba, jalanan sangat macet kondisinya, dan mereka sudah mulai keringatan saat sampai di angkot tersebut, lalu tibalah mereka dipangkalan ojek, Isabel dan Rai harus naik ojeg yang berbeda, menuju pintu gunung pinus yang dituju."Isabel jangan buru-buru bilangin tukang ojeknya, aku takut nyasar" ujar Rai"Iya bawel, aku kan sudah bilang ke tukang ojek kamu berhenti di pintu gunung pinusnya" ucap IsabelSekitar 30 menit lewat jalan rusak dan berkelok-kelok, akhirnya samapi juga mereka berdua di pintu gunung pinus tersebut"nenek kamu gak takut tinggal di Gunung bel?" tanya Rai penasaran setelah melihat lokasi yang sangat jauh dari perkotaan"Gak lah Rai, kalau kamu sampai juga kamu pasti akan sangat senang dengan pemandangannya sangat damai sekali" ucap Isabel bersemangat mengingat rumah neneknya yang sangat dirindukannya"Terus besok kita kemana?" tanya Rai"Besok kita baru jalan jalan ke Bromo, ke kota Malangnya sekalian kita wisata kuliner" ucap Isabel"Baik lah siap, sekarang kita istirahat dulu di rumah nenekmu kan?" tanya Rai"Iya dong, aku kan kangen sama nenekku" ucap Isabelmereka melanjutkan perjalanannya, tidak terasa hari mulai malam, dan sepertinya suasana mulai terasa mencekam, bahkan Isabel mulai merasa ragu dengan jalan yang ditapakinya, beberapa kali Isabel menelepon nenek, tidak ada sinyal yang didapatnya."Bel, kok belum sampai aku sudah capek, dan sepertinya kita sudah berjalan jauh sekali" ucap Rai"Iya tapi aku yakin ini jalannya Rai, sabar ya" ucap Isabel menenangkanHampir jam tujuh malam jam ISabel menunjukkan mereka sudah berjalan selama tiga jam lebih, dan biasanya untuk mencapai rumah nenek hanya sekitar satu setengah jam saja."Maaf ya Rai sepertinya aku benar-benar kehilangan jejak, kita tersasar" ucap Isabel jujur ditengah-tengah hutan pinus"Isabel kok bisa? terus suasananya seram banget lagi, terus kita bagaimana?" ucap Rai panik"Kita menginap disini dulu ya sampai besok pagi, aku tidak berani jalan lebih jauh lagi" ucap Isabel sambil memandangi sekeliling tetapi tiba-tiba secercah harapan datang, didepan mereka terlihat ada pemukiman yang terang dengan banyak cahaya lampu"Rai lihat" ucap Isabel"Apa bel?" jawab Rai lelah"itu ada pemukiman, mungkin malam ini kita kan menginap disana dulu" ucap Isabel"Baiklah terserah kamu saja" ucap Rai pasrahMereka berjalan masuk ke gerbang kota sekelilingnya masih terlihat ramai orang berlalu lalang"Maaf pak, boleh kami numpang menginap disini?" tanya ISabel kepada seorang bapak tua yang berjalan didepannyaBapak tadi hanya melihat saja tanpa menjawab pertanyaan Isabel, tetapi tangannya meminta mereka berdua untuk mengikutinyaBerjalan sebentar, akhirnya Isabel dan Rai sampai ke rumah gaya klasik jawa, mereka masuk kedalam ruangan yang gelap hanya ditemani lampu lilin saja."Terimakasih ya pak, kami sudah boleh menginap disini" ucap Isabel melihat kebaikan bapak tua tadi kepada merekatapi seperti biasa bapak tua itu hanya tersenyum saja dan tidak berbicara sama sekali"Tidak menyangka ya di tengah hutan begini ada kota juga ya Bel" ucap Rai"Iya Rai, tapi anehnya setiap aku kesini aku belum pernah melihat kota ini" ucap ISabel bingung"Tapi tidak apa-apa deh ini saja sudah lumayan, daripada kita menginap di hutan sendirian" ucap RaiSetelah masuk kekamar kecil yang ditunjukan oleh si Bapak tua tadi Isabel dan Rai menaruh tas yang dibawa mereka, mereka sudah bersiap-siap untuk tidur karena rasa lelah yang dijalani hari ini.Baru saja Rai dan ISabel mau rebahan, tiba-tiba terdengar suara ramai banyak sekali orang didepan rumah, mereka mengintip dari jendela kamarAda Api Unggun besar, dikelilingi hampir semua warga, sepertinya ada upacara yang berlangsung dan mereka terlihat sangat gembira, si Bapak TUa tadi juga terlihat seperti memimpin upacara.Isabel dan Rai hanya melihat satu sama lain"Rai aku sudah ngantuk tidur saja yuk, biarin saja mereka sedang upacara" ucap Isabel"Iya Bel, aku juga tidak mau melihat acara itu, mending aku tidur saja"Dan akhirnya mereka terlelapIsabel tersentak terbangun merasa ada yang aneh dia membuka matanya, ternyata Dia dan Rai sudah diikat di papan kayu dekat api unggun."Loh kok kami dibawa kesini?" tanya Isabel "Rai.. bangun.. Rai bangun" teriak ISabel kepada RaiTetapi itulah Rai dia adalah anak yang pelor, tidak mudah untuk dibangunkan, sangat tidak mungkin untuk Rai bangun mendengar suara yang ramai seperti ini.Bapak tua tadi hanya melihat ISabel sambil tersenyum dan melanjutkan upacara nya kali ini.Isabel merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia merasa semua warga disini memiliki wajah yang pucat dan sangat kaku, bahkan banyak beberapa wajah yang memiliki wajah yang cacat seperti luka bakar, dan penuh darah."Tolong....tolong..... " teriak Isabel tetapi sepertinya saat ini tidak akan ada seorangpun yang akan menolongnya.Tiba-tiba warga membawa papan kayu Isabel dan Rai ke tengah-tengah api unggun"Tidaaakkkkkk.... tolong.... tolong kasihani kami" teriak Isabeldan mereka masuk kedalam api unggun Isabel berteriak sekencang mungkin"Tolongggggggggggggggggggggggg nenekkkkkk" teriak ISabelTIba-tiba Isabel melihat semua warga dan bapak tua tadi menghilang yang ada hanya hutan pinus kosong dengan banyak reruntuhan rumah dan kuburan yang ada didalam hutan pinus tadi"Rai... bangun... Rai" teriak Isabelmatahari sudah mulai terbit, dan Suasana menjadi lebih terang"Kenapa sih Bel? kamu teriak teriak gitu, pusing tau aku mendengarnya" ucap Rai sambil membuka matanya"Syukurlah kamu akhirnya bangun juga Rai" sapa Isabel lega"Kok kita ada di sini? rumah bapak tua tadi mana? dan kenapa kita tidur ditanah seperti ini?" banyak pertanyaan yang diajukan Rai"Nanti aku ceritakan, sekarang kita harus ke rumah nenek dulu" jawab Isabel"iya" ucap RaiSetelah 30 menit mereka berjalan akhirnya mereka berdua menemukan rumah nenek Isabel, dan sampai disana akhirnya Isabel menceritakan semua yang terjadi kepada nenek, dan Rai sangat ketakutan ketika mendengarnya."Iya dulu ada perkotaan di gunung ini yang dijadikan perumahan seperti vila, dan banyak yang sudah menghuni dan tinggal disana, tetapi pada suatu malam terjadi kebakaran yang sangat hebat semua vila disana terbakar habis dan semua penduduk disana meninggal semua" cerita nenek"Ya ampun, hampir saja kita jadi korban dari warga dikota mati tersebut" ucap Rai dengan nada ketakutandan saat melewati hutan pinus tersebut, tiba-tiba dikejauhan Isabel melihat bapak tua tadi melihatnya dari pohon pinus diatas bukit.

Berdiri Kokoh
Fantasy
22 Dec 2025

Berdiri Kokoh

Malam berselimut embun, siang bertudung awan. Begitu kisah hidupku dalam satu kalimat. Setiap hari menyaksikan penghuni bumi ini lalu lalang di sekitarku, membiarkan keadaanku kian menyedihkan. Padahal, jika diberi sedikit kasih sayang, maka aku sudah dikatakan layak.Bumi memberi belas kasih dengan menyediakan tempat berteduh bagi penghuninya. Namun, ada kalanya bumi mulai marah dan mengusir sebagian penghuninya, termasuk orang tuaku. Mereka marah karena perbuatan penghuninya yang belum juga membalas belas kasih darinya. Hingga saat ini pun, semua masih berlalu seperti sebelumnya.Aku kini hanya bisa mengandalkan bumi untuk merawatku, meski tentu saja ada banyak sekali penghuni lain yang harus dijaga. Namun, saat ini untuk bisa melihat esok hari pun sudah membuatku mensyukuri keadaan. Bumi memang memberiku tempat berteduh, meski tidak seperti penghuni lain. Setidaknya, aku masih bisa makan dari berian bumi meski tidak sebanyak yang lain. Selama ini, aku hanya mengandalkan belas kasih."Tolong, beri belas kasih," ujarku lirih.Namun, tidak ada yang memberi bahkan melirik. Kupandangi langit, cuaca hari ini memang cerah, tapi tidak pernah menggambarkan keadaan penduduk di perumahan ini.Aku berada di sebuah perumahan sunyi, bisa dibilang hampir mati karena jumlah warganya yang bisa dihitung dengan jari. Mereka melewati perumahan ini tanpa senyuman apalagi sapaan. Seperti boneka yang berjalan tanpa jiwa. Itulah mengapa aku hanya menyaksikan mereka melewatiku tanpa sekalipun menunjukkan belas kasih.Bumi memang memberikan belas kasihnya dengan sedikit makanan dan tempat berteduh bagi penghuninya. Namun, aku tidak mendapat belas kasih seperti itu. Hanya bisa duduk diam sambil menunggu keajaiban tiba.Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara benda keras saling menumbuk, diselingi suara orang-orang saling menyahut. Kulihat, kebanyakan arah jalan warga yang melewatiku itu melanjutkan langkahnya menuju arah suara tadi. Bisa jadi ada kejadian luar biasa di perunahan ini sampai bisa menarik banyak perhatian warga.Rasa penasaran mendorongku menuju arah keramaian. Rupanya ada tanah lapang yang sedang diberi beberapa kayu dan semen, entah rumah siapa yang akan dibangun kali ini.Di antara keramaian, kulihat dua pria sedang berbincang. Dari pakaiannya yang megah, kuduga salah satu pria itu pasti seorang hartawan."Untuk anakku nanti, tidak mungkin kuberikan rumah yang biasa," ujarnya kepada pria lain. "Kamu selaku pengawas harus memastikan kalau rumah ini akan jadi tempat yang bagus baginya."Pria satunya, yang aku yakini sebagai mandor, membalas ucapannya. "Kalau begitu, Tuan cukup tambahkan upah bagi kuli bangunan agar mereka dapat menciptakan rumah yang indah.""Tidak, tidak, itu tidak akan cukup," balas sang hartawan. Dia menatap fondasi bangunan yang belum rampung itu. "Aku menginginkan rumah yang kokoh. Bangunan yang kuat butuh fondasi yang kuat pula.""Kalau fondasi, kami bisa memberikan saran," ujar si mandor. "Apa Tuan tertarik?""Apa itu?" tanya sang hartawan."Jika ditambahkan satu saja, sudah cukup membuat rumah ini tetap kokoh meski sudah diterpa seribu badai," ujar si mandor. "Bahkan akan tetap terlihat baru dibangun meski sudah lewat seribu tahun."Aku yang waktu itu penasaran, langsung mendekat sambil mengharapkan belas kasih dari mereka. Mereka pasti akan bergerak hatinya. Toh, demi anak saja rela membangun rumah yang bagus, apalagi anak kecil malang sepertiku yang hanya bisa menetap diselimuti tanah."Tolonglah aku," lirihku. "Aku sudah lama tidak diberi makan." Aku ulangi ucapan itu, kukira mereka tidak mendengar karena masih sibuk berbincang. Namun, pada akhirnya seluruh tatapan tertuju padaku.Aku pun meninggikan nada suaraku. "Tuan, mohon berbelas kasihlah!"Perutku yang kosong menuntut banyak makanan, sementara aku saat ini bahkan belum diberi sedikit belas kasih dari bumi. Entah karena bumi mulai bosan merawatku atau aku mungkin sudah dianggap tidak layak untuk dikasihi.Sang hartawan menatapku. Tidak seperti dugaanku, dia justru memandangiku dengan wajah risi. "Hei, di mana orang tuamu? Beraninya masuk ke sini!"Suara kerasnya membuatku gemetar, tapi aku berhasil memberanikan diri untuk membalas. "Keduanya telah mati karena bencana."Sang hartawan terdiam, begitu juga dengan si mandor. Keduanya diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan pembahasan perihal rumah itu."Jadi, apa satu hal yang kamu maksud itu?" tanya si hartawan."Cukup satu hal saja." Si mandor mulai menatapku."Satu?" Si hartawan mengulang, matanya pun ikut mengarah kepadaku.Si mandor mengiakan, tanpa mengalihkan tatapannya dariku. "Tentu saja, tanpa jiwa yang menyangga, bangunan ini tidak akan berdiri lama."TAMAT

Mengapa Aku Ada?
Fantasy
22 Dec 2025

Mengapa Aku Ada?

Setiap yang diciptakan, pasti ada tujuan.Namun, mengapa aku ada?Semua makhluk yang berjalan di atas bumi memiliki tugasnya masing-masing.Lantas bagaimana denganku?Mereka menjalani hidup sesuai dengan garis takdir yang ditentukan.Namun, apa garis takdirku?Tercipta dari makhluk ciptaan, aku tidak dapat menerka. Jika aku ada hanya sekadar untuk mengisi dunia, maka tiada gunanya aku di sini. Penciptaku hanya bisa membuatku ada, tapi tidak mampu memberi tujuan untukku ada.Pada malam itu, aku diciptakan. Kali pertama aku melihat dunia dan penciptaku. Dia memberiku raga dari gumpalan daging dan tulang, setelahnya dia jejal dengan tumpukan organ dan menyatukannya dalam rangkaian benang jahitan. Dapat kulihat wajah penciptaku dipenuhi gairah, tanpa lelah menyatukan satu demi satu bagian tubuh itu.Aku berada di ruang yang remang, sehingga sulit menerka waktu. Aroma harum yang berasal dari kobaran api kecil di pojokkan membuatku merasa aman. Sementara dia merakitku dari sisi kiri dan kanan, perlahan tapi pasti, dengan dua tangannya menyatukan ragaku menjadi satu.Bagian tubuh pertama yang dia ciptakan adalah kepala, tempatku bisa melihat dan mendengar. Ketika dia memasang telinga di kedua sisi wajahku, aku bisa mendengar. Dia lanjutkan menyatukan bagian tubuh lain. Sepanjang mengerjakannya, kulihat dia sesekali tertawa menatapku, sesekali pula menangis ketika tangannya tidak sengaja tergores jarum. Namun, itu tidak membuatnya berhenti. Terus menerus hingga akhirnya dia berhenti dan menarik napas."Nah, sedikit lagi." Kudengar ucapan penciptaku untuk kali pertama. Sebelumnya hanya kikikan dan tangisan sejenak.Dia mengambil sebuah gumpalan daging yang tampak lebih pucat dan meletakkannya dalam kepalaku. Dia tutup bagian atas kepalaku dengan tempurung. Ukuran benda itu sama persis dengan kepalaku. Lalu dia satukan dalam satu jahitan.Sesekali dalam proses menjahit, kudengar dia bicara sambil menatapku seakan tahu jika aku dapat memahami bahasanya."Kamu ciptaanku, dan kamu mahakarya terbaik yang bisa manusia ciptakan. Oh, mana mungkin orang lain bisa? Aku pasti diberkati!" Dia kemudian terkikik.Dari bentuknya, penciptaku sepertinya jauh lebih kecil dan pendek. Rambutnya cokelat dan panjang terurai, dia sepertinya tidak keberatan jika rambut itu sesekali menghalangi pandangannya."Nah, sudah jadi!" Penciptaku berdiri sambil berkacak pinggang, dia bernapas dengan berat. "Perjuanganku! Akhirnya terbayar sudah!"Hening sesaat. Asap yang berasal dari kobaran api kecil itu perlahan memamerkan diri. Seakan membiarkan aroma harum itu tampil untuk kami sesaat.Sungguh wangi, hanya bau itu yang tercium dalam ruangan ini."Ah, kamu suka bau itu?" Penciptaku bicara lagi, seakan membaca pikiranku. "Ini untuk menutupi bau busuk, sekaligus memicu api agar tidak pernah padam kecuali jika tersentuh air."Dia mengambil sebuah lilin dan menyodorkannya pada kobaran api harum itu. Dia dekatkan padaku. "Ini aroma dari dupa ciptaanku. Begitu menyengat hingga kamu tidak dapat mencium bau busuk sama sekali."Tidak heran aku tidak dapat mencium aroma tanah atau aroma badanku sendiri selama di sini. Untuk apa dia melakukannya? Barangkali karena aku terbuat dari gumpalan daging yang bau.Aku berdehem tanda mendengar."Kamu mengerti?" Matanya melotot dihiasi senyuman di wajahnya.Aku tidak tahu harus balas apa selain dengan menutup mataku dan membukanya secara perlahan."Kamu mengerti!" serunya diselingi jeritan tertahan. "Aku berhasil! Aku menciptakan manusia!"Mengapa aku memahami bahasa yang dia ucapkan? Barangkali karena sesuatu yang dia letakkan dalam kepalaku. Apakah itu benda yang digunakan manusia juga? Aku mencoba menggerakkan bibir, tapi terasa berat dan keras."Oh!" Dia menutup mulutnya, tapi aku tahu dia sepertinya gembira. "Ayo, ayo! Ucapkan sesuatu!"Bibirku begitu berat, terasa kaku dan kering. Berbeda dengan dia yang bisa buka-tutup mulut sesuka hati. Beberapa saat berjuang, akhirnya keluar suara dari bibirku. "A ..."Kukira dia akan kecewa, tapi kulihat dia berjingkat-jingkat di tanah sambil menjerit pelan. Dia berseru kembali. "Aku berhasil! Aku telah menciptakan manusia!"Aku diam saja menyaksikan dia menari-nari selama beberapa saat hingga dia berhenti dan menghampiriku."Luar biasa! Kamu pintar! Tidak rugi aku menciptakanmu! Kamu mahakaryaku! Ciptaan terbaik umat manusia! Tidak tertandingi!" Dia serbu aku dengan puluhan pujian lainnya dengan cepat hingga ludahnya menciprat ke arahku.Setelah puas memuji, dia pun berhenti untuk mengatur napas. Aku mencoba duduk hingga posisi kami sejajar. Meski dia masih terlihat mungil."Karena kamu perempuan sepertiku, akan kuberi nama yang cantik," ujarnya. "Kamu tidak bisa hidup tanpa jantung, jadi aku ambil dari nama lain dari 'jantung' itu sendiri. Ya, namamu Cordia!""Cor ..." Aku mencoba menyebut namaku." ... dia." Dia menyambungkan. "Cor-dia, namamu Cordia."Aku ulangi sekali lagi. Dia bertepuk tangan dan kembali menari lagi mengelilingi ruang beralaskan tanah ini. Tak lama, dia roboh di tanah dan tidak bergerak. Aku mendekat dan memeriksa keadaannya. Rupanya dia tertidur. Entah berapa lama bekerja untuk menciptakanku, yang pasti telah menguras tenaganya.Sekarang apa?Apa aku harus menunggunya? Berapa lama dia akan tidur?Kulihat secercah cahaya memantul dari belakang kami. Ketika menoleh, kulihat itu berasal dari lubang di atas sana, seakan memberiku isyarat untuk mendekat.Barangkali, di sana ada yang menarik.Aku lewati penciptaku dan menaiki tangga yang terbuat dari besi. Menuju pintu menuju keadaan luar.Dia tinggal di rumah yang cukup luas, entah kenapa malah memilih menciptakanku dalam rubanah yang kotor, pengap, lagi gelap. Barangkali agar terkesan tersembunyi, tapi aku lebih yakin dia hanya tidak ingin mengotori rumahnya selama menciptakanku. Melihat beberapa bercak noda dan tumpukkan benda tajam tergeletak di tanah.Aku menyusuri rumah yang terdiri dari satu tingkat ini, hanya rubanah menjadi daya tariknya karena di situ keadaan tampak kebalikan dengan di atas. Bawah sana sungguh tidak nyaman untuk dilihat, sebaliknya atas sana malah terkesan nyaman untuk dihuni.Sepertinya, penciptaku hidup nyaman di sini. Lantas, untuk apa dia menciptakanku?Aku duduk di sebuah sofa. Kali pertama merasa nyaman berbaring setelah merasa kaku akibat berbaring di atas tanah yang keras selama ini. Terasa tidak adil dia bisa berbaring dengan nyaman selama aku kedinginan dan merasa nista di bawah sana.Pada akhirnya, aku habiskan malam dengan menyusuri rumah penciptaku dan menikmati segala yang ada di sana.***Kudengar bunyi ketukan pintu dari luar. Di saat itu juga terdengar langkah kaki dari balik rubanah."Sebentar!" seru penciptaku. Dia keluar dari rubahan dengan rupa persis seperti sebelumnya. Tatapan kami kembali bertemu. "Waduh, Cordia, aku kira kamu hilang!"Terdengar lagi ketukan pintu."Iya, sebentar!" sahut penciptaku. Dia berlari ke arah pintu dan membukakannya.Terlihat sosok gadis yang tampak sebaya dengannya. "Waduh, Mallory, kamu kok terlihat lusuh begitu?"Penciptaku tertawa canggung. "Malam itu aku selesai menciptakan manusia."Gadis itu melotot mendengarnya. "Ma ... nusia?"Mallory–penciptaku berbalik dan menunjukku. "Perkenalkan, Cordia! Manusia pertama yang diciptakan oleh sesama manusia!"Aku yang tadinya berbaring pun berdiri. Mereka tampak hanya setinggi perutku yang mana membuat mereka harus mendongak untuk melihat wajahku.Gadis itu begitu pucat, bibirnya gemetar, bahkan dapat kulihat matanya sedikit berkaca. Dia terbata-bata. Bibirnya berjuang mengeluarkan sepatah kata. "Mo ... monster!"Gadis itu berpaling dan lari tunggang langgang."Hei!" tegur Mallory, dia berusaha meraih gadis itu tapi gagal. Dia berdecak. "Orang yang tidak paham mana mau mendengarkan."Dari ilmu yang diberikan padaku, aku mengerti maksud dari kalimat gadis itu. Monster. Apa maksudnya? Dia melihat sesuatu yang menakutkan? Tapi ... hanya ada aku di pantulan matanya."Pencipta, apa aku monster?" tanyaku. Bukankah dia bilang aku ciptaan terbaik umat manusia? Harusnya tidak seburuk itu, bukan?"Bukan, bukan." Mallory mengibas tangan sebagai isyarat betapa konyolnya kalimat tadi. "Kamu ciptaan terbaik umat manusia. Tidak ada yang bisa menandingi. Jangan dengarkan mereka, mereka iri karena tidak sepertimu.""Benarkah?" sahutku, sedikit terhibur.Mallory tersenyum. "Ya, tentu. Yuk, sarapan. Kamu dari kemarin belum makan, tuh."Aku ikut dia ke dapur dan menikmati sarapan bersama. Karena kursi yang disediakan terlalu kecil, aku duduk di lantai sementara Mallory membuatnya sarapan berupa roti selai kacang dan memberiku dua potong. Meski dua potong tampak terlalu banyak baginya, aku bisa langsung melahapnya dalam sekali gigit. Begitu mungilnya dia dan temannya di mataku. Entah kenapa Mallory menciptakanku begitu tinggi."Nah, habis ini, aku mau belanja dulu. Kamu di rumah saja dan tunggu aku, ya," pesan Mallory. "Nanti malam kita akan jalan-jalan. Kebetulan ada pasar malam, jadi kamu pasti suka."Aku mengangguk patuh. Selagi menunggunya mandi dan berdandan untuk pergi, aku berpikir lebih baik berbaring sambil memandangi langit-langit rumahnya yang berhias warna krem. Di sisi lain aku membayangkan bagaimana kehidupan di luar rumah ini. Mendengar ucapan dari Mallory membuatku kian penasaran dan antusias.Sepertinya, ini akan seru.***Seusai kepergian Mallory, aku kembali merana sendirian di rumah. Dalam keadaan tidak tahu harus berbuat apa, aku mencari segala cara agar tidak bosan menunggu. Ada beberapa hal yang kulakukan guna mengulur waktu, mulai dari mengamati lukisan-lukisan yang dipajang, hingga hiasan rumah.Dari lukisan, hanya ada satu gambar yaitu Mallory seorang. Wajahnya sama persis dengan yang kulihat di masa sekarang tanda ini lukisan yang masih baru. Namun, aku tidak menemukan lukisan lain seakan hanya dia yang menghuni rumah ini sejak awal. Berarti, Mallory bisa jadi sendirian sejak awal. Apa karena ini dia menciptakanku?***Aroma dupa dari rubanah kian menyengat bahkan sampai menguasai rumah ini. Aku bukannya terganggu, hanya saja cemas jikalau api yang menyalakan dupa itu perlahan akan menghabisi rumah ini.Pintu terbuka dan kulihat Mallory telah datang membawa beberapa bungkus, entah apa isinya."Aku membawa beberapa makanan," ujarnya.Aku bukannya membalas kalimat itu, justru menanyai perihal bau itu. "Bau dupanya ...""Ah, itu," potong Mallory. "Sengaja kubiarkan. Tidak masalah jika rumah kita sedikit harum, 'kan?"Aku mengiakan.Mallory mengeluarkan beberapa buah dan daging ayam dari bungkusan. "Nah, kamu mau makan apa?"Aku mengamati makanan yang ditata. Meski aku tahu namanya, tidak dapat kutebak rasa yang dihasilkan. "Apa saja."Dia mulai mengambil sepotong daging ayam mentah. "Cobalah."Maka kukunyah. Rasanya sedikit aneh tapi entah kenapa lidahku memaksa untuk mencicipinya lebih banyak. Hingga aku habiskan ayam mentah dengan utuh."Enak, 'kan?" tanya Mallory.Aku mengiakan.Kudengar suara ricuh dari luar. Pintu dan jendela digedor hingga dapat kudengar bunyi kaca pecah. Aku tersentak dan bahkan tidak bersiap untuk menghadap apa pun di luar sana."Monster! Monster! Monster!"Suara itu menggema bersama dengan derap kaki yang sukses mengguncang bumi. Aku menelan ludah, antara berniat kabur atau merasa harus menghadap mereka.Mallory mendekati pintu. "Tetap di belakangku."Aku mendengar dan patuh.Pintu hancur akibat pukulan dari senjata mereka. Membuatku merasa kian terpojok. Mereka semakin dekat.Kini, mereka di hadapanku. Mengangkat setiap benda yang bisa dijadikan senjata, bahkan batu sekali pun, menghadap padaku."Monster! Monster! Monster!"Kenapa mereka begitu marah?Kenapa mereka ingin mengusirku?"Mallory sudah gila! Apa dia kira dengan begini bisa menghidupkan orang tuanya kembali?" Salah seorang dari mereka berucap."Lihat! Itu wajah orang tuanya yang digabung jadi satu! Menjijikkan!" Seorang wanita berseru sambil menunjuk wajahku."Lihat badannya yang tinggi! Semua berasal dari dua jasad, ini kejahatan!" seru salah satu dari mereka.Kulihat seorang gadis di antara mereka, orang asing pertama yang melihatku. "Musnahkan dia!""Hentikan!" seruku.Mereka terkesiap, masih siaga senjata.Mallory berdiri di depanku. "Dia bukan monster, dia manusia seperti kalian, lihat?"Aku coba untuk tersenyum, sekiranya bisa meredakan amarah.Mereka melangkah mundur, tidak sedikit juga menutup mata begitu melihat senyumanku."Wajahnya tidak tampak manusiawi," sahut salah satu dari mereka. "Bahkan iblis pun akan berpaling begitu melihatnya.""Aku tetap manusia!" sahutku."Sepertinya dia belum pernah berkaca," balas seorang dari mereka.Makin ricuhlah mereka. Masing-masing melempar senjata ke arahku dan tidak sedikit pula melempariku dengan kata-kata menyayat hati."Monster." Kata yang terus mereka ulangi hingga nyaris membuatku gila.Aku dan Mallory menghindari lemparan batu bahkan benda tajam yang mereka arahkan padaku. Belum lagi harus menahan batin agar tidak tersayat mendengar ucapan buruk dari mereka. Ini sungguh menyakitkan.Sebuah batu mendarat di wajahku, aku menggerang.Mallory bergerak mendekat. Wajahnya tampak kontras dengan wajah-wajah di sekeliling kami, penuh belas kasih."Dia belum tahu sampai melihat sendiri." Gadis itu berkata. "Berikan dia cermin!"Aku mengelus pipi, tepat pada luka bekas lemparan batu.Tangan gadis itu mengarahkan cermin itu padaku dengan gemetar. "Lihat dirimu!"Cermin itu hampir saja memantulkan wajahku tapi dia menepis tanganku yang mencoba meraih cermin tadi."Ew, jelek!" seru gadis itu ketika aku menatapnya. Dia melempar cermin itu.Aku langsung mengambilnya dan mencoba memandangi bayanganku.Terdengar bunyi batu yang menghantam dinding rumah."Hei!" tegur Mallory. "Hentikan!"Duk!Sebuah batu mendarat di wajahku. Aku menggerang dan terduduk membelakangi mereka. Bertepatan dengan itu, dapat kulihat dari pantulan kaca ...Mengapa ... wajahku ...Dipenuhi jahitan, susunan kulit pucat dengan berantakan, mata tajam membekas ke dalam jiwa, bila aku tersenyum, benang-benang itu melebar dan menciptakan lubang yang lebih dalam di wajah. Sementara mereka memiliki kulit mulus dan tampak elok dipandang, berbeda denganku yang tampak seperti kutukan.Aku seperti dua jasad yang menyatu, seperti apa yang mereka ucapkan.Betapa buruk rupanya ...Mengapa aku diciptakan dengan seburuk-buruknya rupa?Dia bilang aku manis, tapi aku sendiri bahkan tidak sanggup melihat wajahku.Pencipta, mengapa kau membuatku ada?"Hei! Hentikan itu!" Kudengar seruan Mallory. "Lepaskan Cordia! Kalian yang monster, rupa bagus tapi tidak punya rasa kemanusiaan!"Terdengar suara erangan dari belakang. Ketika aku menoleh, terlihat Mallory tengah berjuang melawan kumpulan orang yang telah menggerombolnya."Lepaskan Cordia, dasar monster berkedok manusia!" seru Mallory pada sekitarnya. "Kalian bahkan belum melihat sifatnya, malah sok menilai dari luar!""Kami tidak ingin kehancuran umat manusia!" seru seorang dari mereka. "Kau kira mayat hidup itu mau mendengarmu? Dengan badan sebesar itu dia pasti akan memberontak dan menghabisi kita semua!""Memangnya kau pernah dengar dia bilang begitu?" sahut Mallory."Kami khawatir jika dia berbahaya bagi dunia.""Lepaskan kalau begitu. Kalian manusia, 'kan? Kenapa tidak berempati sedikit dan memberi Cordia kesempatan? Aku heran dengan kalian yang merasa paling sempurna di sini, padahal perusak dunia yang sebenarnya adalah kalian sendiri.""Jadi, kau kira mayat hidup dapat menyelamatkan dunia?" tanya gadis yang tadinya menjadi temannya. "Mallory, aku mengerti kamu sedang berduka, tapi sadarlah jika orang tuamu tidak akan kembali.""Ini tidak ada sangkut pautnya dengan mereka," sahut Mallory. "Lepaskan saja Cordia! Dia anak baik!""Kau mau mayat berkeliaran di rumahmu?"Pertanyaan itu membuat hatiku tersayat. Hanya karena rupa, mereka telah menilai seakan telah melihat segala tindakan dan membaca lubuk hatiku. Mereka kira aku akan membinasakan umatnya.Ah, sungguh lucu.Mereka menakuti sesuatu padahal mereka sendiri yang melakukannya.Mereka tidak akan sadar.Manusia tidak akan sadar.Sementara Mallory paham, tapi tidak ada yang ingin mendengarnya. Mengira dia akan menyakiti mereka.Aku mengerti, aku tidak mampu membaca isi hatinya, tapi pantaskah jika aku langsung bertindak berdasarkan asumsi belaka tanpa melihat sedikit kenyataan dari itu?Aku baru ada sejak kemarin dan belum memahami dunia, tapi sepertinya mereka tidak ingin aku maupun Mallory di sini.Oh.Mereka tidak ingin kami di sini. Maka mereka tidak pantas berada di dekat kami sejak awal. Jika itu yang mereka pikir aku tidak pantas hidup di dunia maka mereka juga tidak pantas berlama-lama di sini.Aku berpaling selagi mereka sibuk berdebat dengan Mallory. Di rubanah, kulihat sebuah obor dan sebuah bubuk yang kuyakini telah menghiasi aroma rumah ini, begitu harum hingga dapat menutupi segala bau. Ini akan menjadi jawaban atas keinginan manusia-manusia itu.Aku keluar sambil membawanya. Kulihat Mallory telah dipenuhi luka wajahnya, bahkan sebelah mata tidak mampu melihat terhalang oleh lebam. Malangnya dia.Aku secara perlahan membiarkan angin membawa bubuk itu, biar angin membawanya pergi entah ke mana asalkan di desa ini sudah mulai tertutup bubuk itu. Mereka tidak sadar bahwa ada butiran berjatuhan ke wajah bahkan tidak sedikit telah masuk ke dalam dirinya.Mereka terlalu sibuk merasa sempurna."Kalian hanya akan merusak bumi!"Aku taburi bubuk lagi hingga habis. Udara dipenuhi bubuk yang telah menyatu dengan angin. Menciptakan gambaran layaknya terkurung dalam kabut.Seseorang mulai menyadari tanganku yang sedari tadi terangkat. "Hei! Apa yang dipegangnya?!"Terlambat sudah. Ini keputusan dariku. Aku sangat menyayangkan tindakan mereka. Jika dibiarkan terus, maka binasa sudah dunia seperti yang mereka takutkan.Aku angkat obor tinggi-tinggi. Menciptakan kobaran api yang kian meluas."Kalian yang seharusnya binasa."Pandanganku dipenuhi warna merah diiringi jeritan dan tangisan di balik asap yang mengepul. Mereka yang telah menghirup udara kematian itu tumbang menjadi abu sementara lainnya telah tersapu angin dengan kobaran api menyertai.Di antara manusia-manusia yang berjuang menyelamatkan diri meski sudah di ambang kematian, kulihat seorang gadis terkapar di tanah. Setiap bagian dari wajahnya dipenuhi tanah habis diinjak secara bertubi-tubi.Aku mendekat dan menatapnya. "Pencipta."Kudengar bisikan darinya, layaknya desiran angin bersama jeritan dan tangisan. Tidak dapat kudengar, namun daat kusentuh maknanya. Dia menutup mata dan membiarkan api mendekapnya.Aku terdiam. Meski semua orang memandangku dengan jijik, dia satu-satunya yang tetap membelaku.Untuk apa aku masih di sini? Pencipta, satu-satunya yang menunjukkan kebaikan padaku kini telah tiada.Sementara mereka yang telah menyakiti kami telah binasa.Mereka membuatku menderita. Mereka alasanku tidak dapat menikmati hidup layaknya manusia lain.Mereka harus merasakan deritaku.Mereka harus diberi pelajaran.Mereka harus tahu jika aku telah terzalimi.Mereka telah merasakan akibatnya.Jika tidak ada lagi yang tersisa bagiku, untuk apa aku masih di sini? Apa aku akan bertahan di luar sana seorang diri?Apa aku harus menjalani hidup seperti yang dia harapkan padaku? Dia menciptakanku dengan alasan pastinya agar aku bertahan di dunia ini. Di luar sana, masih ada yang belum kujangkau dan barangkali ini yang Mallory inginkan padaku.Dia ingin aku bertahan. Dia ingin aku terus melangkah.Maka, kukabulkan keinginannya.Aku melangkah pergi dari desa itu. Menyisakan abu dan asap menghias udara. Jeritan mereka berangsur hilang menyatu dengan angin, bersamaan dengan aroma dupa mengubur bau jasad yang menyengat.Tibalah aku di luar batas desa, satu-satunya area yang belum tersentuh api. Sebelum melangkah, aku menatap desa itu untuk terakhir kali. Menyaksikan api membawa mereka menuju dunia yang pantas mereka tinggali.Tamat

Nenek Gayung
Folklore
22 Dec 2025

Nenek Gayung

Konon nenek gayung merupakan manusia yang menguasai ilmu hitam, dan dia membutuhkan sejumlah tumbal untuk dapat menyempurnakan ilmunya.Nenek misterius ini kemudian diceritakan muncul di suatu sore, di salah satu kota besar di Indonesia.Mitosnya, siapapun yang berbicara kepada nenek misterius ini, dalam kurun waktu beberapa hari dia akan mati sebagai tumbal ilmu hitam.Suatu hari, dua orang pria tengah melintas di jalanan dengan mengendarai sepeda motor. Mereka kemudian menyadari kehadiran seorang nenek di tepi jalan.Nenek ini terlihat linglung dan sepertinya butuh bantuan. Kedua pria ini kemudian mendekati nenek tersebut dan menanyakan kemana arah yang ingin ditujunya.Entah bagaimana, mereka akhirnya mengantar nenek ini dengan membonceng tiga.Setelah beberapa jauh berjalan, mungkin karena posisi memboncengnya atau bagaimana. Motor yang dikendarai mengalami kecelakaan setelah menabrak sebuah mobil di tengah jalan.Mereka berdua pun terjatuh. Anehnya, salah satu dari mereka tewas seketika tanpa penyebab yang jelas.Temannya yang menyadari temannya telah meninggal, kemudian mencari nenek yang tadi mereka bawa. Namun dia tidak menemukan nenek misterius tersebut.Ketika menanyakannya kepada orang-orang yang mengerumuni mereka, tak ada satupun yang melihat sosok nenek itu.Bagi mereka, yang ada cuma kedua orang itu yang berada di atas motor. Sejak itu, rumor keberadaan hantu nenek gayung mencari tumbal semakin kencang berhembus.Bahkan cerita-cerita penampakan sosok hantu nenek gayung muncul di beberapa tempat di Indonesia, membuat panik sebagian masyarakat.Kian maraknya orang-orang membicarakan nenek misterius ini membuat sosoknya menjadi legenda seketika.Bermacam-macam cerita pun mengiringinya. Ada yang mengatakan bahwa nenek gayung itu mengumpulkan tumbal buat pembangunan “busway” yang ketika itu sedang berlangsung.Bahkan sampai cerita-cerita kematian misterius yang diduga karena nenek gayung pun sering dihubung-hubungkan.Nenek gayung yang biasa diceritakan orang-orang yang mengaku pernah melihatnya adalah seorang nenek renta yang mengenakan kebaya.Identitas lainnya ia selalu menggenggam sebuah gayung dan tikar di tangannya.Namun, ada juga yang mengatakan bahwa nenek ini mengenakan pakaian serba hitam.Bermacam-macam penampakan sosok nenek gayung bermunculan, yang jelas dia selalu terlihat membawa sebuah gayung dan tikar.Menurut ceritanya, gayung dan tikar itu akan digunakan oleh nenek tersebut dalam melakukan ritual pengambilan nyawa korbannya.Kabarnya, siapa pun yang pernah berbicara dengannya, maka dalam kurun beberapa hari dia akan didatangi sosok nenek menyeramkan tersebut.Nenek itu akan hadir ketika kamu sedang tertidur pulas di malam hari. Lalu dia akan memandikanmu dengan gayung beralaskan tikar yang dibawanya. Layaknya orang yang sudah mati.Sebagian masyarakat yakin dengan mitos yang mengatakan bahwa siapapun yang dimandikan oleh nenek gayung. Maka dia tak akan pernah bangun lagi dari tidurnya.

Kolor ijo
Folklore
22 Dec 2025

Kolor ijo

Pada awal tahun 2000-an, masyarakat Indonesia sempat dihebohkan dengan kemunculan sesosok makhuk halus yang disebut Kolor Ijo. Kolor Ijo digambarkan sebagai sosok siluman botak berwarna hijau yang berkeliaran hanya mengenakan celana dalam atau kolor saja.Konon asal-usul Kolor Ijo merupakan salah satu bentuk pesugihan yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan kekayaan secara instan. Syaratnya, sang Kolor Ijo harus memerkosa wanita baik yang remaja dan yang sudah berkeluarga.Bahkan kabarnya beberapa wanita yang pernah di tiduri oleh makhluk ini, konon katanya makhluk ini pun juga mengincar nenek – nenek, tidak hanya wanita muda saja. Dan katanya cerita misteri kolor ijo ini masih berkembang hingga saat ini di daerah – daerah tertentu.Kemunculan hantu kolor ijo pertama kali di kampung Cijengkol, Bekasi. Seorang wanita yang mengaku telah di perkosa oleh sosok misterius berwarna hijau di sepan putranya yang berumur dua tahun, serta mertua perempuannya. Dan sejak kasus tersebut sontak banyak kasus yang serupa terjadi, di daerah Jabodetabek bahkan meluas sampai ke bagian Jawa Tengah dan Jawa Timur.Menurut cerita hantu tersebut memiliki ciri – ciri berkepala botak, berwujud lelaki dengan badan yang besar, berbulu lebat dan memiliki telinga yang lebar. Serta celana kolornya yang berwarna hijau tidak ketinggalan dari sosok hantu ini, menurut cerita bila seseorang telah di tangkap oleh hantu kolor ijo ini tidak akan bisa melepaskan diri.Karna kisah menyeramkan hantu kolor ijo ini meresahkan bayak warga dan tidak ingin menjadi korban dari hantu ini, oleh karna ini banyak warga yang memagari rumahnya menggunakan bambu kuning dan daun kelor yang di percaya warga memiliki kekuatan magis yang tidak bisa membuat makhluk ini masuk ke dalam rumah.Konon katanya hantu kolor ijo ini memiliki kelemahan terhadap bawang putih, dan bagi para wanita yang bepergian disarankan selalu membawa bawang putih, agar makhluk kolor ijo ini tidak dapat mengganggu.Teror mengerikan akan hantu kolor ijo ini, ada kasus seorang wanita yang di paksa untuk memenuhi hasrat kolor ijo ini, sampai tertusuk alat vitalnya hingga tewas tetapi belum ada penjelasan lebih mendalam akan kasus ini.

Potret Usang Tentang Kita
Romance
22 Dec 2025

Potret Usang Tentang Kita

Ali :Dulu, aku selalu memandang wajahnya. Wajahnya yang penuh bahagia dan girang. Dan hingga membuatku ingin sekali bersamanya untuk selamanya.Akan tetapi, seiring waktu berlalu dan pergi meninggalkanku. Takdir mengatakan kami harus berpisah. Aku tak bisa memilikinya.Aku hanya bisa menahan kerinduan terbata ini dengannya. Aku mengurungkan semua niat nekadku agar aku bisa bertemu dengannya. Aku tak ingin Milan curiga.“Ehh.. Milan. How are you, bro?” sapaku setelah aku sadar bahwa Milan sedari tadi sedang mengintaiku.Semuanya seakan hanyalah angin lewat baginya. Dia tidak mengacuhkanku dan hanya terdiam. Memandangku dengan murung.“Ali..”“Ya, mil?”“Sekali lagi, lo lirik-lirik Nila nanti. Gue gak segan-segan bunuh lo nanti.” ancamnya seakan menjadi sebuah batu besar yang menimpaku.“Ingat itu!” Aku meneguk ludahku, ketakutan.Ketahuilah, diantara Milan denganku. Milanlah yang paling kuat daripadaku. Paling tampan mungkin aku. Tapi jika paling jago berantam yaitu dia.Aku mengangguk mengerti. Hanya itulah salah satu cara agar selamat darinya. Hanya itu pula caraku agar bisa mempertahankan hidupku.Nila :Setiap hari, dia selalu memarahiku, mengintaiku saat pergi bersama teman-temanku, dan selalu berlebihan dalam menanggapi pesan dari teman-teman lamaku yang bergender laki-laki. Aku risih! Aku tak suka lelaki posesif seperti Milan ini! Aku lebih menyukai lelaki jenaka daripada lelaki ke-overproctetive-an seperti Milan.Seandainya, aku melihat Ali disini. Saat ini! Kalau bisa kami bisa dinner bareng disini.Ali, kamu apa kabar, ya, disana?Aku mengambil ponselku dan memeriksa sesuatu.Ali :“Halo?” aku mengambil bantal gulingku dan duduk di sofa. “Ini siapa?”Hening.Aku hanya menyandarkan diri dan hanya termangu tak paham. “Halo?”Hening kembali.Aku tak suka berlama-lama tanpa bicara. Langsung ke intinya saja, aku langsung memutuskan panggilan itu dan membiarkan ponselku terdiam di atas sofa.Aku mau ambil cheeky-cheeky kesayanganku di kulkas.Ponsel masih berbunyi. Hmm, siapa sih itu?Aku menghampiri ponselku dan mengangkatnya lagi.“Ali? Ini aku Nila.”Aku terpaku. Semuanya tampak seperti jatuh berbalik di mataku.“Ali, aku kangen sama kamu.”Aku masih terdiam.“Ali? Aku kangen sama kamu. Kamu kangen juga kan?”Aku harus tahan! Tahankan niatmu! Jangan nekad!Tanpa membuang waktu, aku langsung mematikan ponselku dan menjauhkan diri dari ponselku.Nila :Dia tidak mengangkat telepon aku? Kenapa Ali tidak mengangkatnya?Sudah berkali-kali. Dan sudah puluhan kali kulakukan. Dia tetap tidak mengangkat ponselku. Walaupun hanya sekali, tapi dia tampak bisu. Tak berbicara apapun padaku.Aku nyerah sajalah! Untuk malam ini, aku tak usah meneleponnya lagi. Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya.Aku menyandarkan diri pada sofaku. Aku hela napasku.Ali, aku kangen sama kamu.Aku mengambil sepucuk amplop coklat dari dalam laci lemariku.For Nila Septiany Claudyana. Ini seperangkat potret cinta antara kita berdua untuk dirimu. Meskipun nanti akan usang, tapi ini akan tetap menjadi potret cinta kita berdua untuk selamanya.Aku tersenyum.Aku membuka amplop itu dan mengambil potret kami berdua.Kupandang wajah kami berdua saling tersenyum bersama. Riang bersama. Dia memelukku dengan erat dan aku memegang sebuah bouquet bunga mawar yang terikat indah dengan pita merah muda.Aku ingat, potret ini diambil pada hari valentine pertama kami. Sudah lama kami tidak bersama lagi.Sekarang potret ini semakin menguning. Tampak usang dan tak terurus lagi.Sekarang aku sadar. Semuanya hilang begitu saja, ketika Milan membuatku buta akan cinta dan membuatku terperosok atas cintanya. Dan akhirnya aku menyesal sekarang.“Ali, aku kangen bertemu denganmu. Aku ingin meminta maaf padamu.”Ali :“Ali!”Aku masih meminum pop ice kesayanganku dengan santai. Siapa sih yang sudah menggonggong siang-siang bolong gini? Sudah tahu aku haus!Aku berbalik. Dan tanpa kusadari, sebuah gumpalan batu keras kini menghampiri pipiku yang semakin lama semakin menembem.“Auww.” Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Wajahku mungkin semakin lebam untuk kali ini.“Lo sudah berani, ya? Dekatin cewek gue seenaknya!” aku memandang Milan dengan tidak mengerti. Masalah ceweknya lagi?“Apaan, mil? Aku dekatin Nila?”“Iya! Gue punya buktinya. Lo nelpon Nila kan kemarin?”Aku terdiam.Dan semuanya seakan menjadi kecam. Semakin lama mereka semakin menghimpitku. Milan dan teman-temannya yang dulu sahabatku kini menghantamku dengan beribu gumpalan batu keras. Aku tak tahu, entah nasib apa yang kualami pada saat ini? Semuanya seakan membuatku menjadi manusia paling malang dari semua manusia yang berada di dunia ini.Aku tak tahu, entah sudah berapa kali pukulan yang menghantam wajahku. Tapi, aku tak bisa bertahan lagi. Perlahan, tanpa sepengetahuanku, aku merasa lemah dan ingin tidur lama disini.“ALI!”Nila :“Kau gila?” aku menampar wajahnya dengan keras di depan ruang gawat darurat.“Kau tak waras lagi? Kenapa harus Ali yang kau incar duluan? Bukan dia yang menelponku duluan! Malahan aku, Mil! Aku!” Dia berlutut. Tapi aku menendangnya.“Aku minta maaf, Nil.”“Aku gak butuh!”“Tapi, aku mencintai kamu, Nil.”“Cinta? Ini yang namanya cinta? Untuk mempertahankan sebuah hubungan, kau harus pakai kekerasan fisik dengan orang yang dulu pernah menjadi orang yang kusayangi? Kau pecundang! Bukan pahlawan cinta! Aku tak suka sama orang yang kayak dirimu ini!”“Tapi..”“Aku tak peduli!"“Kau tetaplah pecundang di mataku!”“Nila, aku mohon sama kamu.”“Aku tak butuh! KITA PUTUS!”Ali :Aku merasa ada sebuah sentuhan hangat di tangan kananku. Perlahan, aku membuka mataku. Dan…“Ali? Kamu sudah sadar?”Nila sudah berdiri memandangku dan memegang tangan kananku.“Nila?”Dia memandangku dengan sedih.“Ali, untunglah kamu sudah sadar sekarang. Aku bersyukur. Kamu masih bisa diberi kesempatan hidup untuk kali ini.”Aku masih terpaku.“Ali! Aku kangen sama kamu, Li.” Dia memelukku.“Aku kangen sama kamu, Ali!”Aku ingin menangis tapi tak bisa.Dia melepaskan diri dariku dan mengambil sebuah amplop dan…“Aku ingin menjadi kita seperti di potret usang ini, Li.”Aku tersenyum ketika melihat potret usang itu. Potret usang tentang kami. Dia masih mengingatku.“Ayo, kita menjadi kita dahulu lagi.”Aku mengangguk.“Kau ingin?”Dia tersenyum dan mengangguk.“Iya, Li. Aku menyesal karena meninggalkanmu. Aku minta maaf, Li.”Aku berusaha duduk dan menyandarkan diri pada dinding kamar perawatanku. Aku memandangnya dan memeluknya.“Tidak apa-apa. Yang penting sekarang, waktu dan cinta sudah membuatmu tersadar bahwa masih ada hati yang sedang merindukanmu disini. Yaitu diriku, Nil.”Kini kami saling memandang dan tersenyum bersama.Aku mencintaimu, Nila!

He Is A Ghost
Romance
22 Dec 2025

He Is A Ghost

HE IS A GHOST"Maksud lo, lo itu indigo?" Tanya Sephia pada Larasati yang dibalas gadis itu dengan dengusan."Gue gak ngomong gitu loh Ya, gue itu cuma bisa lihat mereka kadang-kadang doang. Lagian gue gak bisa liat masa depan ataupun masa lalu" Larasati mengelak. Lalu dia bangun dari posisi duduknya kemudian meninggalkan Sephia dengan dua mangkok bakso yang belum tersentuh.Setelah meninggalkan kantin, Larasati menyusuri koridor menuju kelasnya. Gadis itu baru saja bercerita dengan teman sebangkunya perihal dia melihat sosok perempuan bergaun putih dengan rambut menjuntai melewati pinggang dikamar nya semalam.Namun, respon Sephia membuatnya jengah. Dia bukan anak indigo, dia tidak bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Lagipula dia yakin itu hanya imajinasi.Larasati lagi lagi menghela nafas dengan kasar. Dia jenuh, sangat. Kenapa bisa akhir-akhir ini dia sering melihat penampakan. Padahal dia bukan anak yang dibilang spesial.Larasati mendongak kalau mendengar suara sepatu mendekatinya. Suasana kelas saat itu sepi karena masih jam istirahat.Gadis itu menaikkan sebelah alisnya ketika seseorang mendekatinya."Apa?" Tanya Larasati sarkastik. Dia sedang pusing, dan cowok ini brani sekali mendekatinya."Kamu jutek banget ya ternyata," Balas cowok itu sambil menyunggingkan senyum."Saya Aldy, kalau kamu pengen tau" Lanjutnya.Mata Larasati berotasi. Ada apa dengan cowok ini? Kenapa tiba-tiba dia memperkenalkan diri begitu tiba-tiba pikir Larasati."Gak penting""Kamu jutek banget ya?" Senyum Aldy belum juga terlepas dari bibirnya dan itu membuat Larasati muak."Lu gila ya?" Tanya Larasati tak segan segan.Aldy menggeleng lalu dia menarik kursi yang berada didepan Larasati dan duduk dengan posisi berhadapan dengan Larasati."Trus kenapa dari tadi senyum senyum gak jelas? Sori ya, lo emang ganteng. Tapi senyum lo gak mempan buat ngegaet hati gue," Terang Larasati."Ternyata kamu gak jutek aja ya, tapi pede juga. Saya boleh tau nama kamu gak?""Kalo gak?""Gak papa. Saya gak maksa" Kembali senyum merekah dibibir Aldy."Larasati. Lo ada perlu apa kesini? Dan cari siapa?Sebelum Aldy sempat menjawab. Larasati mendengar pintu berderit, iapun menoleh ke asal suara."Ngomong sama siapa tadi Ras?" Tanya Sephia.Ia baru saja kembali dari kantin. Setelah menghabiskan dua mangkok bakso miliknya dan milik Larasati."Sama..." Ucapan Larasati terpotong ketika mendapati kursi didepan nya kosong."Loh, dia kemana?" Tanyanya heran."Dia siapa?""Gak penting," Ketus Larasati sambil mengeluarkan novel dari ranselnya."Gue punya novel baru nih. Lo mau baca?" Tawar Larasati yang dibalas anggukan oleh Sephia.Dengan cepat ia mengambil novel tersebut dari tangan Larasati sembari membuka halaman demi halaman dengan antusias."Gue mau ke perpus. Kalo guru masuk, bilang sama dia gue izin. Kayanya gue gak masuk sampe beli pulang berbunyi" Larasati berkata sambil mengemasi buku yang berserakan diatas meja dan memasukkannya ke dalam ransel berwarna pinknya."Lo yakin? Abis ini guru Fisika loh Ras, gue gak tanggung jawab kalo lo dibuat cabut lagi sama tuh guru killer" Sephia mencoba mengingatkan.Larasati menoleh pada Sephia yang berada disampingnya sebentar. Lalu kembali mengecek isi ranselnya."Bodo amat," Cetusnya cuek.Sambil menggendong ransel yang haya berisikan beberapa buku, Larasati melangkah keluar kelas tanpa memperdulikan temannya yang telah tenggelam didalam fantasi novel.Koridor masih ramai ketika Larasati melewatinya. Ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Masih 5 menit lagi bel masuk berbunyi. Dengan langkah cepat ia segera menaiki tangga yang menghubungkan kelasnya dengan perpustakaan.Larasati sampai didepan pintu perpustakaan ketika bel pertanda masuk berbunyi. Setelah melepas sepatunya, ia masuk sambil mengucapkan salam pada pengawas perpus. Sementara pengawas hanya melirik sekilas dan kembali lagi dengan rutinitasnya.Larasati menyusuri rak mulai dari buku pelajaran, majalah hingga novel dan komik. Kali ini pilihannya jatuh pada komik serial kartun dari negeri sakura.Ketika ia berbalik, ia dikejutkan oleh seseorang yang baru ditemuinya beberapa menit yang lalu dikelasnya."Lu bikin kaget aja," Desis Larasati."Lu ngapain disini?"Tanya gadis tiba tiba bernada curiga." Kamu mau baca buku apa?" Tanya Aldy.Ya, orang yang membuat Larasati kaget itu Aldy."Ohh. Doraemon," Ucapnya sambil melihat sekilas pada buku yang ada digenggaman nya.Larasati pun berlalu dan berjalan menuju meja yang berderet dibalik rak rak buku. Meja tersebut merupakan tempat ternyaman bagi Larasati karena jauh dari meja pengawas.Sementara Aldy juga duduk disebelahnya. Cowok itu tampak misterius bagi Larasati karena kehadirannya yang tak dapat ditebak."Kamu kayak lagi bete. Kalau boleh tau, kenapa? Kamu bisa cerita ke saya" Cowok itu menatap Larasati tak henti sementara gadis itu sibuk dengan buku bacaannya."Bacod" Sepenggal kata tersebut mampu membungkam Aldy.Namun senyum tak memudarkan senyum di wajah tampannya.Tak terasa bel pulang berbunyi. Larasati menatap heran sekitar. Bertanya dalam hati kapan cowok itu pergi. Lalu mengangkat bahu pertanda dia tidak peduli. Mungkin saja karna dia terlalu asik dengan bacaannya Aldy pun pergi tanpa pamit.°°°Hari berganti minggu berlalu begitu saja tanpa terasa, rutinitas Larasati tetap tak berubah. Kecuali kehadiran Aldy yang kerap kali membuat matanya berotasi dan menghela nafas panjang.Pada hari ini saja, cowok itu kembali menghampirinya ketika ia sibuk mengerjakan latihan kimia."Ada apa lagi?" Tanya Larasati tanpa basa basi sementara tangan nya masih sibuk mencoret buku buramnya."Pengen ketemu aja," Ucap cowok itu lirih."Tiap hari lo nyamperin gue. Emang lo gak bosen? Gue yakin, dengan tampang lo yang mirip artis barat gini banyak cewek diluar sana yang ngejar ngejar lo""Jadi kamu mengakui kalau saya itu ganteng?" Demi mendengar penuturan beserta pertanyaan yang meluncur dari bibir Aldy, Larasati menghentikan kegiatan menulisnya ia menatap wajah Aldy dengan seksama lalu kembali berkutat dengan soal soal." Sedikit," Ucap gadis itu jujur.Karena tak ada balasan, Larasati kembali mendongakkan kepalanya. Heran. Cowok itu kembali menghilang tanpa pamit padanya.Setelah selesai dengan soal soal yang disukainya itu dan telah mengecek bahwa jawaban nya benar, Larasati meninggalkan mejanya untuk mengisi perutnya yang dari tadi sudah mendendangkan suara alam yang menandakan bahwa ia lapar.Setelah sampai di kantin dan memesan semangkuk bakso, Larasati menghampiri meja dimana Sephia duduk. Teman sebangkunya itu tak sendiri, ia bersama Ovanita."Hay Ov, Ya," Sapa Larasati.Mereka Menghentikan menyendok makanan masing masing lalu menatap gadis itu." Hay," Balas mereka serentak."Udah selesai ngerjain latihannya Ras? Kalau udah, ntr contek ya," Seru Sephia tanpa rasa malu.Larasati hanya mengangguk sebangai jawaban atas permintaan itu.Pesanan Larasati telah datang, asap mengepul menandakan bahwa bakso tersebut masih panas. Setelah memberi saudara dan kecap iapun melahap dengan tenang."Ras.." Panggil Ovanita yang dibalas gadis itu dengan mengangkat sebelah alisnya.Ia tak suka ada orang yang menggangunya ketika sedang makan."Gue denger ada desas desus tentang lo Ras. Yakan Ya?" Ovanita menoleh pada Sephia seolah meminta persetujuan yang dibalas anggukan.Larasati meletakkan sendok dan garpunya. Menatap serius pada dua teman dekatnya itu. Ia tak suka ketika ada yang membicarakannya dibelakang. Jika seseorang ada masalah dengannya, dia siap melayani orang tersebut dengan senang hati."Lo suka bicara sendiri," Kata Ovanita pelan, seolah olah ucapannya takut membuat Larasati meledak."Maksud lo?" Larasati mengerutkan keningnya.Ia sungguh tak mengerti dengan ucapan Ovanita. Siapa yang telah mlakukan fitnah seperti itu Padanya."Bicara sendiri Ras. Banyak yang udah liat pake mata mereka sendiri. Dari mulai dikelas, perpus bahkan koridor sekolah," Tambah Sephia menjelaskan.Larasati sempat bergidik ngeri. Bagaimana bisa dia dikatakan seperti itu. Karena jelas jelas dia berbicara jika hanya ada lawan bicara saja."Gue gak pernah bicara sendiri Ya, Ov. Percaya sama gue," Ucap Larasati putus asa. Kedua temannya saling berpandangan."Kita percaya sama lo kok Ras" Sephia mencoba menenangkan, Ovanita ikut mengangguk sambil tersenyum."Tapi ada satu hal yang pengen gue tanyain sama lo," Lanjut Sephia menatap Larasati tanpa berkedip."Apa?""Lo inget waktu lo ninggalin gue dikantin terus abis itu gue nyamperin lo dikelas" Ucapan Sephia dibalas anggukan oleh Larasati." Lo bilang lo ada orang yang ngomong sama lo sebelum gue dateng, itu siapa?" Sambungnya lagi."Aldy," Jawab Larasati cepat."Kenapa?""Hm. Lo yakin dia manusia? Maksud gue ya gitu deh" Sephia menatap Larasati dengan Ovanita secara bergantian." Ya ini cuma pemikiran gue aja," Tambahnya.Larasati tercekat. Lalu dengan cepat ia berdiri dari posisi duduknya lalu meninggalkan kantin tanpa sepatah katapun. Ia berlari disepanjang koridor dengan mata menatap sekitar. Ia mencari seseorang.Namun, sudah tiga kali ia mengitari sekolah dari mulai halaman, koridor, perpus, ruang olahraga, ruang osis bahkan halaman belajkang sekolah ia tak kunjung menemukan seseorang yang ia cari.Larasati menyerah. Ia berjalan gontai menuju kantin. Ia lelah, bahkan ia tidak sempat minum dikantin sebelum pergi tadi. Dan sekarang ia rela bolos demi mencari Aldy." Kamu nyari saya?" Tepat didepan ruang musik.Suara yang amat dikenal Larasati terdengar dari arah belakang. Ia segera memutar badannya 180 derjat. Dan mendengua tertahan." Lo darimana aja?" Ucapnya kesal sambil balik badan dan kembali melangkah. Aldy dengan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Larasati."Kenapa kamu nyari saya? Tumben banget," Ucap cowok itu sambil memainkan gelang nya yang berada ditangan kirinya."Atau kamu sudah tau siapa saya?"Langkah Larasati terhenti. Ia menatap ragu ragu ke arah Aldy yang berada tepat di sampingnya. Ada rasa takut menghampirinya namun dengan cepat ia tepis."Kamu ... Beneran hantu?" tanyanya hati hati.Dengan tenang, Aldy menjawab 'iya' tanpa suara. Ia menatap lekat pada manik abu abu milik Larasati. Larasati meringsut menjauh secara perlahan dari Aldy."Kamu takut sama saya?" Tanya Aldy.Larasati mengangguk pelan. Ia tak berbohong. Ia takut, sangat. Untung saja Aldy tidak Berpenampilan seperti yang kerap ia lihat sehingga ia mampu bertahan bersama Aldy. Jika tidak ia mungkin akan menjerit."Saya gak berbahaya. Saya gak bakal ngelukain kamu. Kamu mau ikut saya sebentar? Saya hanya ingin mengobrol. Jujur, kamu orangnya menyenangkan walaupun kamu terkesan cuek tapi saya memakluminya" Larasati hanya terdiam kala Aldy berbicara.Alih alih mendengarkan, ia hanya sibuk menatap ujung sepatunya dengan pikiran yang entah kemana."Larasati," Panggil Aldy lembut seraya hendak menyentuh pundak Larasati.Namun tangannya hanya menerpa angin, sementara Larasati mendapatkan sensasi dingin hingga bulukuduknya berdiri.Mata nya melotot menatap Aldy tak percaya."Jangan sentuh gue," Ucapnya bergetar."Kamu mau ikut?""Kemana?" Meski tak percaya sepenuhnya Larasati menjawab dengan nada setenang mungkin."Mari," Ujar Aldy.Ia hanya ingin berbicara dengan Larasati tak lebih tak kurang. Ia mengajak gadis itu keluar dari area sekolah melewati pagar samping. Lalu ia melewati jalan setapak yang terlihat sudah berumout dan sedikit bersemak dikarenakan jarang dilewati. Diujung jalan ada sebuah lama yang terlihat sudah tak berpenghuni."Kamu takut?" Tanya Aldy.Larasati mengangguk patah patah." Saya suka kamu. Kamu gadis yang jujur," Ucapnya lagi.Aldy menatap rumah yang berada 3 meter didepan nya dengan pandangan sendu." Itu rumah saya," Ujarnya membuka cerita." Namun orangtua saya pindah sejak setahun yang lalu karena kepergian saya. Kuburan saya ada disamping rumah itu" Aldy menghentikan ceritanya seraya menoleh ke sisi kirinya ketika mendapati Larasati tengah menatapnya tanpa berkedip. Gadis itu tampak terkejut karena ketauan mencuri pandang ke Aldy. Aldy terkekeh sesaat."Saya tau saya ganteng," Ucapnya percaya diri.Larasati hanya bisa merutuki diri sendiri. Lalu berucap pelan seperti berbisik"Iya, gue akui ko kalau lo ganteng"" Saya dengar Larasati," Balas Aldy. Namun ia kembali melanjutkan cerita yang sempat terputus." Mereka sudah lama tidak melihat saya, membersihkan tempat peristirahatan saya. Saya hanya ingin kamu membantu saya Larasati"Larasati menelan salivanya kuat kuat."Apa?" Tanyanya tak sabaran."Tolong temui orangtua saya. Bilang sama mereka bahwa saya sayang banget sama mereka. Bilang kuga sama mereka sering sering jengukin saya," Pintanya." Saya tau kamu gadis yang spesial dan baik hati Larasati," Lanjutnya." Ayo kita ke sekolah. Berlama lama disini membuat saya sedih," Ujar cowok itu jujur dan dibalas anggukan oleh Larasati.°°°Hari hari berlalu, Larasati tak pernah absen mencari keberadaan orangtua Aldy. Dan tak bisa dipungkiri, ia dan Aldy semakin akrab bahkan tak jarang jika pipi Larasati bersemu merah kala Aldy melontarkan candaannya."Al..," Panggil Larasati. Mereka tengah berada ditaman belakang sekolah karena disana satu satunya tempat yang tepat untuk bertemu.Aldy menoleh, ia menatap pemilik mata abu abu itu."Apa hubungan kita bisa lebih dari sekedar orang yang minta bantuan dan orang yang ngasih bantuan?" Tanya Larasati.Mereka saling tatap dalam waktu yang lama, Aldy terdiam sesaat mendengar pertanyaan Larasati."Jangan berharap lebih Ras," Ujar Aldy membuat Larasati memalingkan wajahnya ke arah lain.Tak bisa dipungkiri ada sesak didalam jiwa masing masing. Tak hanya Larasati yang merasakan nya. Aldy juga merasakan hal yang sama." Kenapa?" Tanya Larasati sedikit parau.Ia kembali menatap Aldy, namun Aldy mengarah kan pandangan ke arah lain."Ras, kita beda alam. Kamu jangan lupakan itu. Jika kamu ingin diperjelas, saya sudah mati Ras. Kamu gak bisa abaiin fakta itu. Mending kamu fokus aja sama tugas kamu," Ujar Aldy."Tapi gue gak bisa boong sama perasaan gue sendiri Al" Larasati tetap bersikeras. Bagaimanapun ia berharap bisa bersama Aldy.Aldy tak punya pilihan. Tiba tiba dari tangannya keluar darah segar, begitupun kepalanya. Larasati yang melihat itu menjerit ketakutan dan pergi meninggalkan Aldy dengan air mata menetes perlahan." Maafkan saya Ras. Andai kamu tau, saya juga mencintai kamu. Tapi saya tau bahwa itu tidak mungkin," Ucap Aldy lirih.°°°°Keringat tak henti gentinya membanjiri Larasati sehingga seragamnya sedikit basah. Nafasnya masih menderu, ia segera menuju kelasnya dan mendapatkan Sephia sedang menyalin latihannya."Lo kenapa Ras?" Tanya Sephia ketika melihat tampilan sahabatnya yang jauh dari kata rapi."Kaya habis ngeliat setan aja" Sambung gadis itu sambil mengangkat bahu."Lo tau sama keluarga Yulianchan gak Ya?" Alib alih menjawab pertanyaan Sephia.Larasati malah melontarkan pertanyaan ke Sephia."Keluarga Yulianchan? Ya tau lah Ras, siapa yang gak kenal sama keluarga tajir itu sih. Emang kenapa?" Tanya Sephia menyelidik."Lo tau rumah mereka gak? Yang mereka tempati sekarang?" Tanya Larasati dengan nafas memburu.Ia tak sabar ingin bertemu dengan orangtua Aldy."Ayah gue kayanya tau soalnya dua salah satu kolega dari perusahaan Yulianchan," Jawab Sephia santai.Larasati mengangguk mantap."Lo hubungin ayah lo sekarang, tanyain. Pulang sekolah kita pergi ke alamat yang dikasih ayah lo" Meski sempat heran dengan Larasati, Sephia tetap mengangguk.°°°°Setelah mengecek alamat yang dikirim ayah Sephia dengan alamat yang tertera, mereka mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu besar denan ukiran rumit itu terbuka."Cari siapa?" Tanyanya. Sepertinya ia asisten rumah tangga dirumah tersebut. Dan berusia lebih dari 40 an dilihat dari wajahnya."Tante Charolina ada?" Tanya Laras sopan." Ada. Kalian siapa ya? Ada perlu Apa ingin menemui nyonya?" Tanya ART tersebut. Sepertinya ia enggan menerima tamu untuk nyonyanya."Penting. Bisa kami bertemu?" Tanya Larasati lagi. ART tersebut mengangguk sembari kembali masuk kedalam rumah besar itu. Beberapa saat kemudian ia kembali dan mempersilahkan Larasati dan Sephia masuk."Kalian siapa ya?" Itu pertanyaan pertama dari wanita cantik yang duduk dengan anggun disofa ruang tamu itu." Saya Larasati tante. Ini teman saya Sephia. Kami temannya Aldy" Sedikit tersentak mendengar penuturan Larasati namun Charolina kembali tenang meski ada sorot sedih dimatanya."Ada perlu apa menemui saya?" Tanya Charoline to the point."Aldy berpesan ke saya..." Belum sempat Larasati menyelesaikan ucapan nya namun Charollina telah memotong dengan kalut."Gak mungkin. Gak. Gak mungkin. Aldy udah meninggal. Dia gak mungkin temuin kalian," Ujarnya sambil berteriak."Tenang tante tenang. Teman saya ini memiliki kemampuan istimewa meski ia tak mengakuinya. Ia Indigo tante" Sephia mencoba menjelaskan, Larasati menyikut dengan sikunya yang dibalas cengiran oleh Larasati.Charolina tampak sedikit tenang dengan penuturan itu. Keadaan nya lebih stabil."Apa pesannya?" Tanya wanita paru baya itu."Dia sayang sama tante sama om. Katanya, tolong seringjengukin dia. Bersihin pemakaman nya. Dia sedih melihat tante gak pernah ketempat istirahat terakhir nya," Jelas Larasati.Seketika butiran kristal menggenangi mata Charolina dan perlahan jatuh setetes demi setetes. Ia menyadari kesalahannya itu."Baik, mulai saat ini tante akan sering kesana. Terimakasih telah menyampaikan pesan dari Aldy. Tante juga menyayangi nya dan tante menyesal karena jarang ke pemakaman nya. Jujur, tante sangar sedih jika mengingat Aldy. Maka dari itu, tante jarang mendatanginya. Tante gak nyangka kalau itu bikin Aldy sedih," Tutur Charolina sambil terisak."Sama sama Tante. Yaudah ikhlasin Aldy tante. Biarin dia tenang." Charolina mengangguk menyetujui ucapan Larasati.Setelah berbasa basi dan makan malam bersama akhirnya Larasati dan Sephia pamit pulang dengan alasan sudah malam. Meski sempat ditawarkan menginap mereka menolak ajakan itu dengan lembut.°°°Larasati datang terlambat hari ini. Ia berlari menyusuri koridor dengan cepat. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Aldy dengan bersandar di dinding koridor."Jangan temui gue lagi," Ucap Larasati dingin. Ia berbalik dan hendak pergi ketika ucapan Aldy menahannya untuk tetap bertahan disana."Saya tau kamu udah benci sama saya sekarang. Tapi saya pengen bilang makasih sama kamu. Mama udah bersihin pemakaman saya. Saya senang akan hal itu. Dan itu semua karna kamu. Saya pengen sehari ini saya ngabisin waktu bareng kamu Ras. Semua terserah kamu. Kalau kamu gak mau juga gak papa saya gak maksa"Hari itu Larasati tidak masuk kelas. Ia bolos dan menerima ajakan Aldy. Mereka menghabiskan waktu seharian hingga sore menjelang. Banyak hal yang mereka lakukan. Dari bercerita, main dan banyak hal lainnya."Udah sore. Kamu harus pulang. Saya yakin kamu gak mau lihat saya berubah lagi" Larasati mengangguk patuh. Meski setengah hatinya tidak menyetujui hal itu." Saya akan pergi jauh. Jiwa saya sekarang lebih tenang. Makasih buat sepenggal kisah ini" Aldy masih tetap berbicara ketika mereka melintasi lorong koridor sekolah. Sementara Larasati hanya diam mendengar penuturan Aldy."Jujur, saya gak bisa bohongi perasaan saya. Saya nyaman sama kamu" Langkah Larasati terhenti demi mendengar sepenggal kalimat tersebut ia menatap Aldy dengan sedikit tersenyum."Gue pulang dulu ya. Udah sore," Ujar Larasati kemudian.Gadis itu berjalan menunduk meninggalkan Aldy, dan Aldy tau Larasati tengah menangis.°°°°Waktu begitu cepat. Seminggu tak terasa telah dilalui Larasati tanpa bertemu Aldy, ada sepercik rindu tertanam didalam diri Larasati meski mati matian ia menguburnya. Ia menyadari hal yang tak mungkin terjadi, ini Salahnya. Mencintai makluk tak kasat mata. Bermain dengan kenyamanan yang diberikan Aldy padanya.Walau tak bisa ia pungkiri. Setiap malam ia menangis kalau memikirkan Aldy.Tepat ke hari sepuluh. Ia mendatangi pemakaman Aldy sendirian. Ia memberanikan diri mendekati rumah tak berpenghuni dan berjalan menuju pemakaman Aldy.Larasati meletakkan sebuket bunga. Pemakaman itu bersih, tidak ada rumput atau tanaman liar disana. Setelah membaca doa, Larasati menatap nisan Aldy dengan perasaan rindu bergejolak."Hay," Sapa Larasati seolah ia tengah berbicara dengan orang sungguhan."Aku kangen," Ujarnya. Untuk kali pertama Larasati memakai kata aku ketika berbicara."Kamu tau? Seminggu ini aku ngerasa sepi tanpa kamu. Aku kangen ngobrol sama kamu. Becanda. Apalagi lihat senyum kamu. Itu bagian terfavorit buat aku. Andai kamu tau Al. Meski aku kenal kamu sebatas imajinasiku aku sangat mencintai kamu Al. Semoga kamu tenang ya disana. Dan aku selalu berharap kita akan bertemu lagi. Dan disatuin ditempat yang abadi nanti. Lucu sebenarnya. Tapi itu yang aku inginkan Al." Setelah mengatakan itu. Larasati berdiri. Untuk terakhir kalinya ia menatap nisan Aldy. Lalu beranjak pergi."Larasati," Panggil seseorang dengan suara familiar. Larasati terhenti. Ia menoleh dan mendapatkan Aldy berada tak jauh darinya."Saya juga merindukanmu Ras. Dan saya juga sangat mencintai kamu Ras. Semoga tuhan mempersatukan kita," Sambungnya. Senyum merekah dibibir Aldy usai mengatakan itu. Begitupun Larasati ikut tersenyum menatap lembut kepada pemilik hatinya itu. Rindu pun meluruh seiring memudarnya bayangan Aldy."Selamat jalan sayangku," Bisik Larasati.

I Love You
Teen
21 Dec 2025

I Love You

Ketika bunga jatuh pada awal bulan April, bulan menunggu untukmerindu. Pada awal bulan April banyak peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan. Bayi menangis pertama kalinya ketika keluar dari perut seorang ibu, seorang pemuda pergi untuk melanjutkan studinya, seorang kakek yangbercanda bersama cucunya diberanda, dan seorang wanita menangis karenakelaparan, dan juga sebuah kematian yang sewaktu – waktu memanggil semua orang di dunia ini. Di suatu kota yang tidak pernah ramai, terdapat berjajar penjual yangmenjual barangnya pada pembeli. Mereka menawarkan suatu benda atau bahkan makanan dengan suara yang lantang. Dan tak lupa juga betapa ramainya tempat tersebut. Tidak pernah sepi akan para pembeli.Di sisi lain tempat, terdapat sebuah toko yang sangat kuno dan sepi. Toko tersebut diapit oleh beberapa toko dan letak toko tersebut sangatlah sulit untuk dicari, letaktempat toko itu berlawanan dengan toko yang lain. Cat dinding yang mengelupas dan juga kaca yang tampak usang termakan waktu.Beberapa orang tidak mengetahui jika ada toko kuno di daerah yangramai akan penjual. Mereka seperti tidak menyadari jika toko tersebut ada.“oii kampret ! tungguin ! ” Teriak seseorang dengan suara kerasnya.“ kampret bener dah gw ditinggalin,” Keluh seseorang tersebut kala diatidak melihat orang yang dia cari.Beberapa orang yang mendengar suara tersebut hanya melirik danmengabaikannya, mereka kembali berjalan dan menghiraukan itu. seseorang yang berteriak itu memandang tempat yang dia lewati, seketika itu dia melototmengetahui jika dia tidak mengenal tempat ini.“ Etdah, ini dimanaaa…,” gerutunya kesal.Dia menghela nafas danberbalik untuk melewati jalan awal ketika dia berangkat bersama seseorang. Dia berjalan dengan pelan dan melihat – lihat sekitar yang terasa ramai akan suara penjual. Matanya menyisir setiap sudut tempat untuk menemukan sesuatu yang dicarinya. Dan ketika dia melangkah, dia menghentikan langkahnya karena di depannya terdapat dua belokan. Dia bingung dan juga dia lupa kemana jalan yang tadi dia lewati.“ gila dah. Jalan yang bener mana?” keluhnya bingung sambilmenggaruk tangannya yang tidak gatal.Dia mencoba melihat sekeliling tempat itu untuk mengingatnya, tetapi dia kembali mendesah jika dia lupa akan jalan yang dia lewati. Dia menunduk merutuki kepalanya yang bodoh ini. Dia melanjutkan jalannya dan semoga dia menemukan hotel yang dia tempati untuk menginap bersama teman – teman sekolahnya. Ketika dia berjalan, dia berhenti ketika di depannya ada 2 jalan. Dia memperhatikan jika jalan yang disebelah kiri sangat banyak pejalan sepertinya, sedangkan sebelahkanan hanya sedikit. Dia berpikir mungkin dia akan mencoba untuk melewati yang kiri terlebih dahulu. Dia pun melangkah dan sedikit merapikan topi yang bertengger diatas kepalanya agar tidak menutupi matanya. Dia melangkah dengan pasti jika yang dia lewati ini benar jalan awal dia kembali ke tempat dia beristirahat. Kakinya pun berjalan melewati setiap toko yang berjejer di kiri jalan, dan tak lupa para pembeli yang memenuhi didalamnya. Dia melihat lurus kedepan dan mencoba untuk mengingatnya. Ketika dia ingin lurus dia melihat sesuatu yang berbeda di jalanan yang dia lewati. Ini bukan jalan yang dia lewati dengan temannya. Dia yakin betul jikajalanan yang tadi lewati tidak ada toko toko yang berdempetan. Diamengerjapkan matanya merasakan jika dingin menusuk kulitnya. Dia ingin segera kembali ke hotel dan bertemu dengan teman yang sialnyameninggalkannya. Ketika dia ingin berbalik melangkah pergi. Tubuhnya terasa terdorong ke depan dan tubuhnya menabrak seseorang.“ aduh ! ” rutuk seseorang yang menabrak punggungnya.Dia yang merasa punggungnya terkena sesuatu berbalik dan melihat jika ada seseorang yang menabraknya. Dia melihat jika orang yang menabraknya itu masih tidak sadar jika dia berbalik. Dia pun memperhatikan seseorang tersebutdan dia merasa bersalah karena dirinya membuat seseorang kesakitan.“ maaf ya. Saya berhenti mendadak. Kamu tidak apa – apa ?” tanyanyadengan memgang pundak orang di depannya.Orang yang ditanya pun mendonggak-kan kepalanya untuk melihatorang yg dia tabrak. Dia membuka mulutnya aneh dan mengerjapkan matanya jika apa yang dia lihat ini benar – benar nyata. Dia mencoba untuk menepuk menepuk pipinya jika apa yang di lihatnya benar – benar nyata dan bukan ilusi.Sedangkan dia memperhatikan orang yang dia tabrak dengan alis terangkat satu.“kamu tidak apa – apa ? apa ada yang sakit ?” tanyanya lagi karena tidakdi respon.Sedangkan seseorang yang ditanyai hanya bengong dan tidak bisaberkata apa – apa. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas.“ lo bangsal bukan ?” ujar orang yang dia tabrak.Dia yang ditanya pun mengernyit bingung kala dia pertanyaan keluardari mulut orang di depannya. Kenapa orang didepannya tahu nama panggilannya di sekolah ?Dia pun melihat orang yang dia tabrak, mencoba mengingat apakahorang didepannya ini temannya sekolah. Ketika dia menatap manik hitam itu, entah mengapa dia merasa pernah melihat orang didepannya. Dia pun mendekati orang tersebut dan mencoba untuk melihat dengan jelas wajah dan rupanya. Sedangkan ia tersenyum dan hanya diam melihat dia mencoba mengingatnya.Dia pun mendekat memperhatikan orang yang memanggilnya bangsaltersebut. Dari wajah dia seperti pernah melihatnya, badannya yang tidak besar dan tidak kecil itu seperti pernah dia lihat, pakaian berwarna hitam dengan jaket jeans yang menutupi tubuhnya. Dia mencoba untuk kembali menatap mataorang didepannya. Dan ketika dia melihat senyuman orang tersebut, dia melotot dan juga dia merasa ingin mati sekarang. Dia tahu siapa orang didepannya, dan juga dia tahu siapa orang yang saat ini tersenyum aneh kepadanya.Shit ! kenapa gw ketemu dia lagi! Double shit ! damn gilaaa! umpatnya dalam hati. Dia kembali melihat orang didepannya dan menyadari jika saat ini diatidak akan bisa hidup dengan tenang.“ sepertinya lo tahu siapa gw,” Ujarnya menahan tawa melihat ekspresi orang didepannya.Sedangkan dia diam tidak tahu harus bicara apa. dia pun melihatsekeliling lingkungannya yang mana dia tidak menyadari jika saat ini, tempat yang dia pijak sangat sepi. Dia melirik melalui ekor matanya merasa jika dia tidak akan bisa selamat. Dia mencoba untuk tenang dan tidak gegabah dalam melangkah. Dia harus berpikir bagaimana caranya dia keluar dari tempat aneh ini dan situasi yang tidak dia suka.“anda siapa ? bangsal ? saya bukan bangsal. Mungkin anda salah orang.Saya permisi dan maaf jika saya berhenti mendadak,” Ungkapnya mantap di depan orang tersebut.Dia membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat ini, dan ketikadia berjalan dengan sedikit cepat, tangannya terasa ditahan oleh seseorang dan itu membuatnya panas dingin. Mendengar perkataan orang yang didepannya membuatnya tersenyum, menyadari jika dia sudah tahu ia siapa. Ia melihat jika orang tersebut ingin pergi dari tempat ini. Ia tersenyum mengetahui sikap orang didepannya, oh tidak semudah itu ferguso ujarnya licik dalam hati.Ia pun memegang tangan itu untuk menghentikan langkahnya. Dan diamerasakan jika tangan yang dia pegang terasa kaku dan dingin. Ia tersenyum puas merasakan bahwa tangan yang ia pegang masih seperti dulu tidak pernahberubah.“ hai kenapa pergi ? tidak ingin bertemu dengan kawan lama hum ?” bisiknya lirih pada telinga orang didepannya.Ia melirik sedikit perubahan padawajah didepannya.Gotcha. I got you. Ujarnya dalam hati.Ia pun melepaskan pegangannya dan melangkah ke depan untuk melihatwajah yang dirindukannya. Langkah kakinya pelan dan ia ingin merasakan perasaan ini kembali. Ia pun sudah ada di depan orang tersebut dan tidak membutuhkan waktu lama, ia pun memeluk orang tersebut dengan erat.“ I got you,” Ucapnya lirih dalam pelukannya.Sedangkan orang yang berada dalam pelukannya menegang dan butirkeringat keluar dari wajahnya. Dia memejamkan matanya merasakan pelukan erat pada tubuhnya. dia mencoba untuk tenang dan tidak menunjukkan bahwadia gemetar. Dia menghela nafas lalu melirik seseorang yang memeluknya. Dia tidak tahu jika orang yang memeluknya sudah berubah sangat jauh. Dia tidak menyadari itu. Dia kira, tidak akan bertemu seseorang yang berasal dari masa lalunya, tetapi tuhan seperti ingin membuatnya merasakannya lagi.” kau tahu, sudah lama aku ingin menemuimu dan berbicara denganmu seperti ini,” Katanya dengan lembut dengan menopangkan kepalanya pada pundak didepannya.Dia menegang mendengar perkataan tersebut. Dia tidak tahu sekarangapa yang harus dilakukannya, dia seperti tidak bisa bergerak dan juga tubuhnya terasa kaku. Dia ingin berlari menjauh dari tempat ini. dia merasa ingin mati saja sekarang.Seseorang yang memeluknya melepaskan pelukannya dan menatapnya teduh. Kedua mata itu menunjukkan jika ia merindukannya dan juga tatapan yang berbeda dari biasanya. Seseorang tersebut mengelus rambutnya dan mengusap sedikit rambutnya seperti takut jika usapannya akan membuat kepalanya sakit. Ia tersenyum menatapnya dengan senyum yang seolah menjadijawaban atas semua yang terjadi dalam hidupnya.Tubuhnya bergetar dan perasaan itu kembali lagi, dia merasa sesak nafas dan tak bisa bergerak. Matanya berkaca – kaca dan kepalanya terasa ingin pecah. Dia menatap mata teduh itu. Mata yang menyimpan beribu – ribu tandaTanya. Dia menegang kala merasakan tatapan itu lagi, tatapan yangmembuatnya tidak bisa keluar walaupun dia mencoba. Dia mencoba untuk mengendalikan tubuhnya agar tetap waras dan tenang. Selama beberapa detik dia dan seseorang di depannya hanya saling menatap satu sama lain. Mencoba menyampaikan seluruh perasaan yang merekapendam . mata hitam itu gelap segelap malam , tidak ada apapun di dalam mata itu dan dia merasakan perasaan yang berbeda saat ini. dia merasa akan terjadi sesuatu padanya. Dia mencoba untuk melirik ke arah lain dan dia melihat sebuah toko tua. Dia menoleh kembali dan tatapan mata itu masih menatapnya.Dia menghela nafas dan mencoba untuk berbicara.“ha ha ha. Loo… oh gw inget sekarang. Lo si tiang itu kan ? yangbiasanya suka nginep di sekolahan ?” tanyanya dengan muka tenang.Ia yang mendapatkan pertanyaan itu merasa ingin tertawa. Dan tanpamenunggu waktu lama suara tawa yang keluar dari mulutnya pun terdengar.“ hahahhahahaaha… lo lucu banget,” Ungkapnya dengan tawa yangmasih berderai keluar, dan melepaskan pelukannya.“ lo tahu, gw nggak tahu jika manusia di dunia ini bener – bener bisamenjadi hebat jika tanpa melakukan sesuatu. Dan gw nggak tahu jika saat ini gw merasa bahagia.” Ungkapan yang keluar dari mulutnya, membuat dia menegang mengingat kalimat itu.“ ekhm. Oke. Gimana kalau lu ikut ama gw ? sekalian kita temu kangen.Dan juga kayaknya lo nggak tahu daerah ini dimana ya ?” tanyanya dengan senyuman misterius.Dia diam karena apa yang ditanyakannya itu memang benar adanya dan juga saat ini tubuhnya teara kaku dan tida bisa bergerak kemana pun. Dia menghembuskan nafas pelan melalui mulutnya agar tidak terlihat bahwa dia merasa was-was akan sesuatu.“ ekhm. Temu kangen ? kayaknya gw nggak bisa deh. Gw harus balik.Gw takut ntar dicariin. dan gw tahu kok daerah ini, cuman tadi agak lupa,” jawabnya sedikit berbohong. Dia tersenyum palsu untuk meyakinkan bahwa apa yang dia ucapkan benar. Tubuhnya gemetar merasakan udara malam dan jugaperasaan was was jika kebohongannya diketahui oleh orang didepannya.Seseorang tersebut tersenyum senang dalam hati, bahwa saat ini dia merasa ingin melakukan sesuatu dan membahagiakan temannya ini.“ oh gitu ya. Tapi kayaknya tubuh lo butuh kehangatan deh. Lu kedinginan dan lu butuh sesuatu untuk menghangatkannya. Mmm.. gimana kalau di toko itu ? disana ada minuman atau makanan hangat yang bisa menghangatkan tubuh,” Katanya dengan senyum misterius.Ia juga menunjukkan toko yang agak kuno itu. Dia yang mendengar kalimat tersebut merasa ingin mencekik orang didepannya ini. dia benar – benar ingin mati saja. Kenapa orang tersebut bisa tahu dengan keadaan tubuhnya dan juga kenapa dia bisa bertemu dengan seseorang yang dulu menjadi musuh terbesarnya dan yang membencinyasetengah mati ini. Dia menoleh kearah toko tersebut dan melihat bahwa toko itu sedikit menyeramkan karena lampunya yang remang – remang dan juga dia sebenarnyasudah merasa ada yang tidak beres dengan lingkungan yang mendadak sepi. Dia kemudian menoleh ke depan dan melihat bahwa orang didepannya masih memperhatikannya. Oke. Kali ini dia tidak bisa untuk menahannya.Dia benar –benar ingin…….“hei, apa kau baik – baik saja ?” Tanya seseorang di depannya.Ia sedikit memiringkan kepalanya memastikan jika dia baik – baik saja. Dan ketika dia menggelengkan kepalanya kaku, membuat ia bahagia.“oke. Mari kita mampir ke toko itu,” Ajaknya dengan senyum menawan.Ia pun menarik tangannya dan membawanya berjalan mendekati toko itu. Dia yang merasa tidak bisa lari pun hanya bisa pasrah ketika tangannya di genggam. Dia sedikit melihat sekeliling lagi untuk memastikan jika jalan yang dia lalui terasa sangat sepi. Dan juga tidak ada seorang pun yang lewat. Ini aneh.Tadi dia melewati jalanan ini dan masih ada banyak pejalan kaki tapimengapa sekarang terasa sangat sepi dan ganjil. Hhh. Dia tidak bisa berpikir sekarang. Tenaganya habis karena terlalu banyak berpikir.Duk !Ketika dia menoleh kedepan, dahinya tertabrak sesuatu yang keras. Diamengelus dahinya dan merasakan jika ada benjolan kecil di sekitar dahi.Huft, kenapa hari ini aku sial terus ? rutunya dalam hati.Dia pun menatap kearah yang ditabraknya dan melihat jika dia sudah sampai di depan pintu toko tua ini. dia bergidik ngeri ketika membayangkan jika ada hal – hal yang tidak diinginkan. Dia mencoba menenangkan diri dan menghela nafas mencoba untuk menghilangkan pikiran – pikiran buruk yangberseliweran di dalam pikirannya. Dan dengan kekuatan penuh dia melangkah dan membuka pintu tua itu.KlontangklontangklontangSuara bel pintu berbunyi ketika dia masuk, dia sedikit menutup matanya dan mengintip isi dari toko tua itu. Dan ketika matanya terbuka sempurna, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia menganga karena apa yang dilihatnya benar – benar diluar akal. Dia melangkah lebih dalam untuk melihatkeadaan toko tersebut.Banyak sekali buku didalamnya dan juga di tengah ruangan terdapat sebuah meja melingkar dan beberapa kursi untuk duduk. Di pinggir – pinggir tembok terdapat meja dan kayu beserta lemari buku yang dia tidak tahu berapa banyak buku di lemari tersebut. Dan jangan lupakan, di pinggir pojok kanan pintu keluar terdapat kolam ikan atau kolam air yang sangat indah beserta airmancur. Dan oh lihat, banyak sekali pelayan – pelayan yang sangat cantik dan ganteng berjalan memberikan sesuatu kepada beberapa orang yang duduk di kursi .Dia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak dia memasuki toko tersebut. Seseorang tersebut menunduk dan tersenyumketika matanya bersitatap dengan seseorang yang berada tepat di depan orang yang di lihat. dia berbalik badan dan pergi ke suatu tempat.“bagaimana ? apakah lo suka ?” tanyanya dengan membalikkantubuhnya menghadap seseorang yang berada di belakangnya.Dia yang ditanya mengalihkan tatapannya dan menatap manik hitam tersebut. Dia pun sedikit melirik suasana toko yang saat ini sedikit ramai dan juga aroma kopi dan buku sangat membuatnya nyaman. Dia kembali menatapmanik hitam itu dan mengangguk. Ia yang melihat anggukannya pun tersenyum dan mengangguk.“sekarang ikuti gw dan jangan sampe nyasar.” Ujarnya tanpa melihatwajahnya.Dia yang mendengarnya mengangguk dan mengikuti kemanapun diapergi. Dia dan seseorang di depannya berjalan lebih dalam memasuki ruangan toko itu. Dia memperhatikan desain ruangan itu. Sangat klasik dan benar –benar hangat, membuatnya sedikit lupa akan ketakutannya. Dia kembali menghadap depan melihat seseorang didepannya memasukipintu berwarna coklat gelap. Dia berhenti mendadak dan ragu jika dia melangkah.“ masuklah. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Teriak seseorangyang sudah masuk ke pintu coklat itu.Dia menghela nafas untuk menetralkan detak jantungnya dan kakinya melangkah untuk memasuki ruangan tersebut. Ketika dia sudah menutup pintu coklat itu, dia melihat sekeliling ruangan yang didominasi warna hitam dan putih itu. Dan ketika dia melihat ke depan, wajahnya pucat, matanya melotot kaget. Dia tak menyangka apa yang dia lihatsaat ini benar – benar membuatnya ingin pergi dari ruangan sialan ini. kakinya bergetar dan refleks bersandar pada belakang pintu.Seseorang di depannya menunduk melihat sepatu hitamnya dan sedikitmenerawang memikirkan masa lalu.“kau tahu. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Semuanya memiliki hargayang harus dibayar. apapun yang telah di rusak tidak akan bisa kembali menjadi sempurna. Dan kamu tahu seseorang akan bertindak wajar ketika ada yang telah merusak barang kesayangan miliknya,” Ucapnya dengan menunduk dengan tubuh yang bergetar.Dia menatap tubuh di depannya dan tak menyangka jika apa yang duluterjadi kini terulang lagi. Tubuhnya bergetar dan keringat membasahitubuhnya. Matanya berkunang – kunang dan dia merasa akan muntah.“kamu tahu jika aku selalu menunggu sesuatu hal yang tak mungkin akubisa dapatkan, dan juga aku selalu merasa jika aku tidak diperbolehkan untuk bahagia di dunia ini. aku merasa ingin mati rasanya dan ingin membunuh seseorang,” Ucapnya dengan senyum menyeramkan tercetak di bibirnya.Matanya berkilat dan ia merasa ingin tertawa dan menangis. Ketika tubuh orang di dipannya berbalik menghadap kearahnya, dia merasa benar – benar hancur. Dia tidak bisa berpikir dan juga tubuuhnyamendadak lumpuh mati rasa. Seseorang di depannya melangkah dengan tenang dan nyaris pelan.TapTapTapLangkah kaki itu berhenti tepat di depannya, dan dia dengan jelas bisamelihat wajahnya. Jantungnya berdebar keras, tubuhnya bergetar, dan pikirannya kosong sesaat ketika melihat dengan jelas siapa orang di depannya. Tubuhnya menegang tat kala merasakan pelukan hangat yang saat ini dilakukan oleh orang di depannya.“kau tahu, aku berharap kita bisa mengulang waktu seperti dulu kala dan juga aku ingin kita bisa bersama lagi temanku. I love you my little life, but I don’t care. Because you know, I was killing your parents. And you know, I’m the person you hated by your friends,” Ucapnya dengan berbisik.Dia mati rasa, dia tidak tahu jika apa yang terjadi dulu dengan hidupnyaberhubungan dengan satu orang dan semua masalah yang terjadi di dalam kehidupannya dikarenakan oleh 1 orang saja, dan itu merupakan orang yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Dan ketika dia menatap manik hitamtersebut, dia merasakan jika dadanya terasa sakit dan itu menjalar kebagian dalam tubuhnya.JlebDia menunduk melihat ada pisau yang menancap tepat di dadanya dan ketika dia mendonggakkan kepalanya, dia tidak tahu jika orang di depannya telah membunuhnya dengan senyuman menakutkan. Dia menunduk dan merasakan jika tubuhnya terasa lelah. Tubuhnya bersandar pada pintu belakangnya dan menunduk jika dia sulit untuk bernafas. Dia tersenyum danmendonggakkan wajahnya menatap orang di depannya.“kau tahu, uhuk uhuk hidup ini hhhh… indah hhhh…. ketika kamu uhuk bisa melihat hhhh… seseorang yang kamu sayangi uhuk uhuk bisa bahagia. Hhh… Dan…. kamu tahu uhuk uuhuk uhukkk jika aku uhukkk akan … te….tap… men..jadi…. uhuk… sahabat…. Mu.. uhuk… teri….ma uhuk ka….sih…..hhhhh…hhhh.. ah...kuu.. juga uhulkkk.. hhhh.. men….cintai….mu…hhhhh… i… uuhuk lohhhve…..hhh.. you…. My lil friend Lingga.”

Bukan Takdirku
Teen
21 Dec 2025

Bukan Takdirku

Seorang gadis berpenampilan sangat sederhana tengah memasuki kelas barunya, ia adalah murid pindahan sekolah dari Surabaya yang pindah ke Jakarta ke salah satu sma Favorit di sana, salah satunya adalah SMA CAHAYA ABADI salah satu sekolah terkenal di Jakarta.Saat memasuki area parkiran banyak sekali yang menggodanya karena memiliki wajah yang rupawan, baru saja selesai memarkir sepeda motornya sudah banyak sahutan sahutan yang terdengar.Dimisya Alena, nama gadis cantik tersebut namun sifat cueknya tidak sepadan dengan wajah cantiknya. Dengan langkah kesal ia melangkah ke ruangan Kepala Sekolah untuk mengetahui di kelas mana ia di tempatkan, namun langkahnya harus berhenti saat seseorang dengan tidak sengaja menabraknya.Alena terpental ke belakang saat bertubrukan sedangkan lelaki tersebut hanya diam di tempatnya tidak bergerak sedikitpun.Alena nyaris saja mengira ia adalah patung yang sangat kokoh jika saja ia tidak langsung berbicara."Maaf maaf gue ga sengaja gue buru buru tadi," kata seorang lelaki yang menabraknya."Iya gue gapapa ko, lo jangan khawatir," kata Alena menimpali.Karena Alena terburu-buru ingin ke ruang Kepsek, iapun langsung saja pamit ke lelaki tersebut buru buru melangkah pergi."Eh tunggu nama lo siapa? Tanya lelaki tersebut."Nama gue Dimisya Alena, panggil aja Alena," teriak Alena, pasalnya saat mengatakannya jaraknya sudah lumayan jauh dengan laki laki tersebut."Kita pasti bertemu kembali alena," Kata laki-laki itu seraya tersenyum miring.Gadis cuek tersebut mendapat informasi dari Kepsek bahwa ia berada pada kelas 11 IPA 3, langsung saja Alena mencari kelasnya dan menyusuri banyak koridor. Saat di kelas bisa di lihat bahwa teman sekelasnya menerimanya dengan sangat baik,tanpa ada cibiran pedas yang sering aku baca pada cerita Wattpad.Entah mengapa Alena jadi kepikiran dengan seorang lelaki yang menabraknya tadi pagi, ia sendiri aneh dengan pikirannya ini, kenapa ia jadi memikirkan anak itu sih.Saat jam istirahat Alena berniat ingin mengantri bakso karena entah mengapa mendengar kata bakso membuat air liurnya ingin keluar saking sukanya dengan makanan bulat itu.Tiba-tiba ada seorang yang mendekat kearahnya dan ia mengenal siapa orang itu, dia adalah orang yang di tabraknya tadi pagi.Laki laki itu tiba-tiba saja menarik tangan Alena untuk menuju salah satu bangku yang kosong yang terdapat di salah satu pojok kantin."Hay kita ketemu lagi girl," ucap laki laki itu."Ko lo narik gue ke sini sih, gue kan mau pesen bakso" Kesal Alena pada laki-laki yang menabrak ya tadi pagi.Pasalnya Alena sudah tidak tahan ingin mencicipi bakso yang menggiurkan lidah tersebut."Maaf ya nanti aku pesenin deh baksonya," Kata laki-laki itu menenangkan Alena yang kesal karena di tarik duduk.Dan Alena hanya diam saja tidak merespon."Oh ya tadi pagi kan lo belum sempet nanya nama gue kan, jadi gue mau perkenalan dulu sama lo sekarang, nama gue Aditya Satria Bagaskara. Gue ketua basket sekaligus ketos di sekolah ini," kata laki-laki tersebut memperkenalkan diri."Oh," Kata Alena singkat."Et dah singkat amat jawabnya, gue udah ngomong panjang kali lebar dari tadi lo cuma jawab 'oh' doang ckckckck," kata laki-laki di depan gue."Iya mang napa? " kata Alena ketus."huffff" terdengar helaan nafas panjang dari depan. Ternyata dari laki-laki tersebut."Gini ya aku cuma mau kamu jadi temen aku, tapi kenapa kamu ketus banget sama aku,aku ga ada niat buat nyakitin kamu ko tenang aja," kata Bagas laki-laki di depan ku.Aku mengguk saja walaupun di hatiku masih sedikit tidak percaya, dan menerima ajakan pertemanan yang bagas katakan kepadaku.Dan mulai pada hari di mana Bagas memperkenalkan diri padaku hingga sekarang kami menjadi sangat dekat. Aku dan Bagas sering kali jalan bersama, diner romantis serta kemana-mana sering kali bersama sampai orang-orang bilang kami adalah pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta.Aku juga sering berpikiran begitu kadang aku baper sendiri saat di gombalin dia, dan entah mengapa jika berdekatan dengan dia aku merasa jantungku berdetak dengan sangat cepat tidak seperti biasanya. Aku pun mulai merasakan perasaan aneh tersebut sekarang dan aku menyadari aku telah jatuh cinta kepada temanku sendiri.Saat itu kami sedang bergandengan tangan berjalan menuju kelas ku di lantai dua, tiba-tiba saja langkahku dan Bagas di cegat oleh seorang gadis cantik bermata hazel, gadis itu ingin berbicara berdua dengan Bagas dan aku pun membiarkan kedua orang itu berbicara.Aku merasa heran akhir-akhir ini Bagas terkesan menjauhiku, entah hanya perasaan ku saja mungkin. Awalnya aku ingin mengungkapkan perasaan ku pada nya keesokan harinya saat sebelum seorang gadis tempo hari lalu menemui Bagas. Tetapi semenjak hari itu Bagas berlagat seperti menjauhiku jadi rasa ini harus terpendam lagi.Keesokan harinya aku bertemu dengan Bagas di luar kelasnya, akupun menarik tangan nya sebelum benar-benar pergi, dia awalnya kaget melihat kehadiranku mungkin tapi segera mengganti ekspresi wajahnya menjadi datar tidak seperti biasanya yang ceria, aku jadi heran dia kenapa ya? batinku."Kamu kenapa jadi jauhin aku si gas,apa aku punya salah sama kamu?" Tanyaku meminta penjelasan."Kamu ga ada salah,tapi jangan lagi temui aku," Ucapnya datar dan terkesan cuek.Aku terkejut mendengar nada bicaranya sangat dingin barusan, dan aku tersadar dari terkejutanku saat dia berjalan menjauhiku, niatnya aku ingin memanggilnya tetepi aku merutuki mulutku sendiri yang tiba tiba saja tidak bisa berbicara.Di rumah aku pusing memikirkan sikap Bagas yang berubah akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya di rumahnya saja meminta penjelasan sekaligus mengatakan perasaanku yang sebenarnya.Aku pun memutuskan untuk pergi ke rumah Bagas malam ini saja mungkin sekitar jam 07:00. Ku langkahkan kaki ku menuju alamat yang pernah aku terima dari Bagas waktu itu, aku mengeryit saat akan memasuki pagar rumah Bagas saat selesai memarkirkan motor di seberang jalan rumah Bagas.Karena aku penasaran kenapa banyak sekali orang yang berdatangan ke rumah ini, akupun memberanikan diri bertanya kepada satpam yang menjaga di sana."Pak ini ada acara apa ya pak?" tanyaku penasaran pada pria paruh baya di depanku ini."Oh eneng ini temennya Aden kan ya?" tanya satpam itu balik.Aku pun hanya bisa menganggukkan kepala saat di tanya olehnya, kemudian dia berkata yang akan membuatku sesak nafas selanjutnya."Oh Eneng di undang Aden Bagas ke acara tunangannya ya, kok engga langsung masuk aja sih neng," Kata satpam melanjutkan ucapannya.Bagai di sambar petir berita yang ku dapat malam ini sukses membuat hatiku hancur berkeping keping. Rasa yang ku punya untuknya harus kandas bahkan sebelum aku mengatakan padanya. Tuhan kenapa begitu sakit, kenapa harus di pertemukan dengannya jika ujung-ujungnya akan sesakit ini Tuhan. Lebih baik aku tidak pernah bertemu dengannya jika aku tau keadaannya akan seperti ini Tuhan,sakit.,...sakit sekali....,"Batin Alena merintih."Loh Neng kenpa diem doang di situ," Kata satpam itu lagi."Ah maaf Pak nanti saya akan ke sini lagi ada yang ketinggalan Pak" alibi Alena pada satpam tersebut.Satpam itu mengangguk kemudian alena berlari ke seberang jalan kemudian melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata rata.Saat ini Alena tidak tahu harus pergi kemana untuk menenangkan hatinya. Akhirnya dari kejauhan terlihat sebuah taman indah walaupun malam, cukup dengan penerang lampu pinggir jalan dan kedai yang berada di sekitar taman tersebut cukup membuat taman tersebut terlihat.Walaupun sudah malam tetapi taman tersebut masih ramai pada jam segini, bahkan anak-anak beserta orang tua mereka masih sangat asik bercanda ria.Setelah memarkir motornya Alena duduk di sebuah bangku yang ada di sana, memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hatinya yang sedang tidak baik baik saja, tak terasa air matanya pun menetes dari pelupuk mata indahnya.Iya menyesali hari-harinya bersama pria yang sudah berhasil membuat hatinya terluka,kenapa? Kenapa harus datang kehidupku seolah memberi harapan pada hubungan kita, kalo pada akhirnya sudah ada yang menempati hatinya.Kenapa kamu begitu jahat,Tuhann,.....bisakah hati ini tenang Tuhan...kenapa sesakit ini. Tangis batin Alena.Tak lama kemudian seseorang datang kemudian duduk di samping Alena, dia seorang pria dewasa yang terlihat berwibawa degan tampang di atas rata-rata.Pria itu tiba tiba saja berbica."Hey kamu lagi putus cinta ya?" Tanyanya sok tau.Aku hanya diam saja mendengarkannya."Dengar jika kamu putus cinta bukan berarti kamu harus terus bersedih begini, dia meninggalkan kamu bukan berarti Tuhan telah memberitakun kepadamu sebelum hubungan kalian berlanjut ke hubungan yang lebih serius bahwa dia bukanlah seseorang yang tepat untukmu.""Berterima kasihlah pada Tuhan bahwa telah memberitahumu yang sebenarnya sebelum semuanya terlambat" Nasehat pria tadi.Alena yang mendengar nasehat pria tadi tersadar kenapa harus menyalahkan Tuhan yang telah mempertemukan nya denga pria jahat seperti Bagas, seharusnya dia senang dia tuhan telah memberi tahu yang sebenarnya, bukan malah menyalahkan Tuhan bukan.Dengan segala tekad yang kuat dia harus bangkit tidak boleh terpuruk lagi oleh keadaan ini, Alena harus kuat ya harus kuat. Katanya meyakinkam dalam hatinya yang terdalam.Alena menjadikan pelajaran kisahnya yang tidak berakhir seperti yang tidak di inginkannya, menjadikannya pelajaran paling berharga jika ingin melangkah di masa depan nantinya.Ia pun berterimakasih kepada pria tersebut dan hanya di balas dengan anggukan saja, berpamitan kepada pria tersebut untuk pulang dan menata hidupnya dengan awal yang lebih baik tanpa harus memikirkan masalalunya yang telah membuatnya sakit hati.

Pekan Raya Fisika
Romance
21 Dec 2025

Pekan Raya Fisika

“Rita…” suara heboh Ellin memanggil Rita dari pintu kelas.“Apaan sih lin pagi-pagi udah ribut aja lo,” jengkel Rita pada Ellin.“Ada berita penting nih buat lo”“Berita apaan, gosip mulu kerjaan lo” Rita selonjoran di kursinya memandang ellin jengah.“nama lo ada di mading, lo lulus di tahap pertama seleksi olimpiade fisika ta” dengan antusias Ellin memberikan informasi yang diliatnya di mading.“yang bener lo, demi apa kok bisa sih” Rita terkejut dengan yang di katakan sahabatnya ini dan langsung pergi untuk melihat sendiri nama nya di madding.“eehh.. mau ke mana lo ta, gue bener kok ga percayaan amat sih nih anak, heh tunggu gue napa” Ellin menyusul langkah Rita menuju mading.Sampainya di mading dengan teliti Rita melihat pengumuman yang di temple.“nama gue lin, ini nama gue” Rita sungguh tidak menyangka jika namanya muncul dan lulus tahap pertama di seleksi olimpiade fisika ini, dan Rita langsung memeluk sahabatnya Ellin. Dan terjadilah kehebohan lokal diantara mereka berdua.****“Eehh bro gue dapet info terbaru nih tadi, lo tau ga?” tanya Alan dengan antusias kepada Jojo.“Buset… mana gue tau sih lan kan lo belum ngasih tau,” jawab Jojo kesal.“Dasar bego,” tukas Rahmad.“Hahaa… jadi infonya nama lo jo, si jojo arsento lulus di tahap pertama seleksi olimpiade fisika” beritahu Alan dengan cengengesan.Jojo hanya menampilkan wajah datar.“Ouhh yang itu ketinggalan berita lo lan, Jojo mah udah tau kali orang yang nempelin kertas seleksinya dia kok di suruh pak didit tadi,” jelas Rahmad pada Alan.“kok gue ga di kasih tau sih, apa yang kalian lakuin itu jahat!” Alan menunjuk Jojo dan Rahmad bergantian.“udah deh ga usah drama” timpal Jojo tidak berminat bermain drama dengan Alan.“Yokk masuk kelas, bentar lagi bu sima masuk nih.” Rahmad melihat jam di tangannya.Dan akhirnya mereka pun masuk kekelas dan dengan khidmat mengikuti pelajaran sejarah.*****Hari ini peserta yang lolos di seleksi di kumpulkan kelapangan basket. Ada sepuluh orang siswa-siswi yang lulus di tahap pertama. Mereka di beri pengarahan untuk mengikuti seleksi tahap kedua. Dan yang lulus di tahap pertama seleksi olimpiade fisika akan mulai lagi seleksi yang kedua pada hari selasa pas pulang sekolah.Dan hari selasa pun tiba, semua siswa-siswi berkumpul di lab fisika sekolah. Termasuk Rita yang duduk di pojok ruangan. Yang awalnya ribut seketika hening karena bu wati memasuki lab fisika.“Assalamualaikum anak-anak dan selamat sore”“Walaikumsalam bu, selamat sore,” jawab mereka serempak.“baiklah terima kasih sudah mau meluangkan waktunya hari ini untuk mengikuti seleksi tahap kedua dari olimpiade fisika ini, Apakah sudah datang semua?” tanya Bu Wati.Salah satu siswa mengangkat tangan bernama Wina.“Belum bu, Jojo masih belum datang,” jawab Wina.“Permisi bu, maaf saya terlambat.” terdengar suara dari arah pintu.“Silahkan masuk jo.” bu wati menyuruh jojo untuk masuk.“Baiklah, karena sudah kumpul semua kalian akan di seleksi untuk tahap kedua hari ini. Pengumuman tahap kedua akan di umumkan hari senin depan. Kalian akan mengisi lembar pertanyaan ini. Kalian akan mengisi 50 soal. Saya akan mengawasi kalian. Saya akan beri waktu 60 menit. Saya memilih 3 orang di sini untuk mengikuti olimpiade antar nasional di Jakarta nanti. Andi tolong bagikan ini kepada teman-teman mu” Andi berdiri dari kursinya dan memberikan lembar pertanyaan kepada teman-temannya.Yang mengikuti olimpiade tidak hanya dari jurusan Ipa, ada juga jurusan Ips yang lulus di tahap seleksi yang pertama misalnya Jojo dan Wina.Mereka berdua diikutkan karena pada kelas X, mereka mendapat nilai terbaik dan di kelas XI mereka memilih jurusan Ips. Jadi masih bisa di ikutkan untuk seleksi olimpiade tahap pertama.“ waktu tersisa tinggal 15 menit” peringatan dari Bu Wati.“bu saya sudah selesai” Rita mengangkat tangan.“silahkan kumpulkan Rita, dan kamu boleh pulang” Rita berdiri dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju kedepan untuk menyerah kan lembar jawabannya.Setelah Rita menyusul-lah Jojo, dan teman-teman yang lain. Begitu selesai semua Bu Wati langsung keluar ruangan dan mengunci ruangan lab fisika.****Rita yang datang awal kesekolah langsung menuju ke tempat mading berada. Dan menunggu di depan mading dari setengah jam yang lalu,dia duduk di kursi didepan mading.“kapan sih di tempel nama-nama nya nih ga sabar gue,” guman Rita.Datanglah Jojo dari ruangan guru menuju kearah mading, dan menempel satu kertas.Rita melihat gerak-gerik Jojo.“ jangan-jangan orang ini yang bakal nempel nama-namanya nih” dan tebakan Rita benar.Selesai Jojo menempel satu kertas dan menuju kekelasnya di lantai 2.Dengan sigap Rita dan siswa yang lewat seketika melihat mading dan di situlah Rita berteriak dengan hebohnya menandakan dia lolos di tahap kedua untuk seleksi olimpiade fisika.Rita menuju kelas dengan berlari, sesampainya di kelas XI IPA 2 dia langsung menghampiri ellin yang sedang menulis.“Ellin… gue lulus lin, gue lulus” Rita memberitahukan kelulusannya dengan suka cita kepada Ellin.“iya” Ellin melihat Rita sebentar dan kembali menulis.“Lin… kok reaksi lo kayak gitu sih ga seneng yaa kalo gue lolos?” protes Rita.“nanti dulu ta, gue lagi nyalin tugas pak handoko nih gue belum selesai nanti gue di hukum lagi kalo ga selesain nih tugas,” ucap Ellin menjelaskan masalah nya mengapa dia tidak antusias mendengar informasi Rita.“Emang ada tugas ya.. perasaan ga ada deh” tanya Rita mengingat tugas yang kemarin.“Sebaiknya lo kerjain deh bareng gue, nanti lo di hukum lagi kalo ga ngerjain, gue tau lo pasti belum ngerjain kalo lo masih nanya kaya gini” Rita cengengesan.“Tau aja lo lin gue lupa kok kalo ada tugas,yaudah mana tugasnya?”“Ga usah ngeles deh lo, nih” Ellin mengeser bukunya agar dapat dilihat oleh Rita.*****Hari ini ada tiga orang yang terpilih sebagai perwakilan dari sekolah SMA NEGERI 1 NUSA JAYA. Mereka di kumpulkan ke ruangan bapak kepala sekolah.“Selamat untuk kalian, kalian akan berlomba pada bulan februari jadi kita akan melakukan pelatihan dari sekarang agar persiapan kita matang”“Baik pak, kami akan melakukan pelatihan dengan baik dan akan berusaha menjadi yang terbaik” Rita hanya diam mendengarkan dua orang yang saat ini berbicara.“padahal gue juga ada disini tapi ga di omongin,” batin Rita jengkel.“Dan mana satu orangnya, mengapa kalian hanya berdua?” tanya Bapak kepala sekolah.“Ohh itu, dia ijin hari ini pak karena ibunya masuk rumah sakit,” jawab Jojo dengan sopan.“Nanti beritahu dia bahwa kalian akan pelatihan untuk persiapan olimpiade fisika ini”“Baik pak akan saya sampaikan nanti”Akhirnya mereka keluar dari ruang kepala sekolah.Mereka berjalan menuju ruang lab fisika tanpa ada percakapan. Rita sungkan untuk menyapa Jojo dan Jojo juga sebaliknya. Padahal mereka satu sekolah tetapi mereka berdua jarang berinteraksi dengan orang lain selain sahabat-sahabat mereka. Rita asik dengan pikirannya sendiri dam membayangkan bagaimana dia nanti akan berlomba. Ini adalah perlombaan pertama bagi Rita, tidak dengan Jojo yang waktu smp sudah pernah mengikuti olimpiade fisika. Begitu sampainya diruangan lab fisika mereka duduk bersebelahan dengan canggung.“Hhhmm gue asmarita” Rita memberanikan diri untuk berbicara kepada rekannya yang sedang sibuk melihat kertas.Jojo diam sesaat dan melihat Rita.“huhh nama lo Asma?” tanya Jojo bingung dia hanya mendengar nama awal Rita.“Yaa nama gue Asmarita, lo bisa panggil gue Rita,” jelas Rita.“Kalo gue mau panggil bengek gimana”“Eeeh enak aja gue ga ada penyakit bengek atau asam yaa”“Tapi nama lo Asma”“Kenapa emang nya kalo nama gue ada Asmanya, yang penting gue ga ada penyakit asma” Rita jengkel kepada Jojo.“Terserah gue dong mau manggil lo apa, kan yang punya mulut gue,” jawab Jojo santai sambil masih melihat soal latihan yang dia pegang.“Tapi kan…” ucapan Rita terpotong karena ada Bu Wati yang masuk ke lab fisika.“Kenapa rita?” Tanya Bu Wati kepada Rita.“Eehh ibu udah datang, ga kenapa-kenapa kok bu” Rita menjawab dengan cengengesan.“Baiklah kita mulai sekarang yaa di mulai dengan kalian menjawab soal-soal yang ibu bawa ini,” perintah Bu Wati kepada Rita dan Jojo.“Bu, Anis Wulandari hari ini ijin karena Ibunya masuk rumah sakit,” beritahu Jojo kepada Bu Wati.“Iya jo, tadi juga anis ada nelpon ibu kalo dia ga bisa ikut latihan sama kita”Akhirnya Rita dan Jojo mengisi soal yang di berikan Bu Wati.****“Ta, semalam gue di chat sam anak Ips, nama nya” Ellin berhenti bicara saat menoleh Rita yang di sebelahnya yang sedang tertidur pulas.“Ta bangun ta ada bu wati”“Huhh mana mana” Rita langsung bangun dan menanyakan keberadaan Bu Wati.“hahahahahahha” Ellin tertawa sambil memegangi perutnya.Rita sadar bahwa dia sedang di bohongi.“kurang asem lo lin, gue lagi tidur juga”“Lo sihh gue lagi cerita lo malah tidur dan ga dengerin,” bela Ellin.“Gue ngantuk lin, semalem gue begadang gara-gara si jojo tuh,” jelas Rita kesal.“Wait wait… siapa Jojo?” tanya Ellin bingung dan melihat Rita dengan curiga.“Itu temen satu olimpiade gue lin, masa lo ga tau sih”“Oh… Jojo Arsento”“Nah tuh lo tau”“Ya tau lah gue, siapa sih yang ga tau sama Jojo Arsento”“Tumben lo lin ga kekantin” Rita mencoba mengalihkan pembicaraan.“Lagi ga mood jalan gue” alasan Ellin untuk bertanya lebih lanjut tentang Jojo dari Rita sahabatnya.Rita adalah tipe orang yang jarang bicara dengan orang lain dan termasuk dengan teman-temannya di kelas. Dan dikelas dia hanya punya satu teman yaitu Ellin. Berbeda dengan Rita, Ellin adalah anak yang aktif dalam berorganisasi dan pintar dalam bergaul. Biarpun banyak temannya tapi Ellin tetap memilih untuk bersama Rita di waktu istirahat.****Sudah 2 minggu Jojo, Rita dan juga Anis melakukan perlatihan untuk perisapan olimpiade fisika. Mereka biasanya mengerjakan soal latihan yang di berikan Bu Wati. Dan Rita juga Jojo semangkin dekat. Setiap malam Jojo akan mengirimkan chat dengan Rita.Ting ting tingRita mendengar pesan masuk di handphonenya.Jojon kuker : uhuk uhukRita : batuk pak hajiJojo : nyanyi nengRita: ohJojo: oh doangRita : mau apa lagi emang nyaJojo: gimana asma lo dah baikan?Rita : apaan sih jo, gue ga asma kaliJojo : tapi nama lo ada asmanya, dasar bengekRita: lo tuh jojonJojo: enak aje lo nama gue bagus yaa, kaya pemain badminton tuh yang ada di tv lo tau kagakRita: ga tau tuh gue, dan gue ga ngurusin orang yang namanya lo sebut itu yee.Hari sudah semangkin malam, mereka berdua masih saling bertukar pesan.****Besok adalah pertandiangan olimpiadenya di mulai. Rita, Jojo dan juga Anis berangkat kejakarta hari ini, yang ditemani Bu Wati dan Bapak Handoko. Mereka berangkat memakai mobil yang sudah disediakan oleh sekolah. Setibanya sampai dihotel Rita, Anis dan Bu wina berada di satu kamar sedangkan Jojo dan juga Pak Handoko juga satu kamar. Rita sedang duduk di kursi kamar hotel dan tiba-tiba mendapat pesan.Rita berdiri dari duduknya dan memanggil Anis.“nis gue kebawah bentar ya, bilangin ke Bu Wati gue beli mie kedepan”“iya nanti gue bilangin” Anis bingung sendiri bukannya hotel banyak makanan ngapain masih mau beli mie lagi pikir Anis.Rita turun dan berjalan menuju pintu keluar hotel. Dan didepan pintu hotel sudah berdiri seseorang yang dikenal oleh Rita yaitu Jojo.“Ngapain nyuruh gue kesini”“eehh dari mana lo datang nya, kok gue ga liat?”“Yaa ga liat lah muka lo kemana gue kemana”“yok jalan keburu sore nanti” Jojo menarik tangan Rita.“Eeh mau kemana nih, nanti bu wati marah sama gue”“Gue udah ngasih tau bu wati kalo lo pergi sama gue”“kapan lo ngasih tau bu wati”“Tadi sebelum gue chat lo, gue chat bu wati dulu”“oh gitu, jadi kita mau kemana nih dan mau ngapain?” tanya Rita sambil melihat tangan nya yang di genggam oleh Jojo.“kita ke rumah nenek gue bentar” Jojo masih fokus mencari mobil yang dikirim neneknya ke hotel tempat mereka menginap.“jo,” panggil Rita.“apaan sih,” gumam Jojo yang menemukan mobil neneknya.“Tangan gue”“Hah tangan lo” Jojo langsung melihat tangannya sendiri dan cepat-cepat melepaskan tangan Rita.“Maaf ta gue sengaja, biar tangan lo anget hehehe tuh mobil nenek gue” Jojo mengajak Rita menuju mobil. Dan akhirnya mereka naik kedalam mobil. Di dalam mobil suasananya menjadi canggung.“Den Jojo udah lama ya ga main ke rumah nyonya?”“Iya pak, emang udah lama saya ga ke rumah nenek” Jojo menjawab pertanyaan pak sopir.Jojo melihat Rita yang berada di samping nya. Diperjalan mereka hanya diam dan tidak bicara apa-apa. Akhirnya mobil berhenti didepan gerbang rumah neneknya Jojo. Mereka berdua turun, Jojo memimpin jalan. Sedangkan Rita berjalan di belakang Jojo.“assalamualaikum...” Jojo mengucapkan salam di depan pintu rumah yang tertutup.“waalaikumsalam” terdengar suara sautan dari dalam rumah. Pintu terbuka dan muncullah seseorang.“Jojo ya ampun sudah besar ternyata kamu udah lama kita ga ketemu kamu mangkin tinngi saja, ayo masuk” Jojo langsung di peluk oleh neneknya dan menyuruh Jojo untuk masuk ke dalam.“Nek, Jojo ga datang sendiri Jojo datang sama temen Jojo” Jojo menoleh kebelakang dan melihat Rita yang juga melihatnya. Nenek melihat kebelakang dan melihat Rita yang sedang tersenyum canggung. Dan juga menyuruh Rita untuk masuk bersama mereka.****Selama 2 jam mereka berbincang-bincang dan sekitar jam 5 sore mereka berdua sampai kehotel. Rita langsung keluar mobil dan menuju ke kamarnya tanpa menunggu Jojo.“Perempuan emang selalu benar, dan cowo selalu salah” pikir Jojo karena sempat berdebat dengan Rita tentang hubungan mereka.Tibalah dimana mereka akan melakukan pertandingan.“Ta, perut gue sakit banget” Anis memegang perutnya.Rita memberikan minum kepada Anis“minum dulu nis”“Anis lo kenapa kok muka lo pucet banget, bentar lagi kita tanding nih” Jojo melihat Anis dengan sedikit khawatir karena mereka akan bertanding sebentar lagi.“Jojo, Anis, Rita kalian sudah siap nak, sebentar lagi pertandingannya dimulai” Bu Wati bertanya dengan anak didiknya.“Tapi bu-” ucapan Rita terpotong oleh Anis.“Gue gapapa kok ta”Mereka bertanding dengan sangat sengit banyak sekolah yang mengirim perwakilannya yang pintar-pintar. sempat mereka ketinggalan poin. Tetapi mereka masih tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh juri. Dan ini adalah saat-saat pengumuman kemenangan.Akhirnya jerih payah mereka berlatih selama hampir sebulan membuahkan hasil. Mereka menang dan berada di urutan pertama juara nasioanal sejakarta.****“Ritaaaaa” Ellin berteriak dengan heboh setiba sampai dikelas.“Apaan sih lo lin, sakit nih kuping gue” Ellin mengedipkan sebelah matanya.“gimana hubungan lo sama jojo, ada perkembangan ga?”Rita senyum malu-malu.“ hhmm kami udah pacaran”“Udah gue duga, selamat ya yang udah ga jomlo lagi” Ellin duduk di samping Rita.Dengan berakhirnya olimpiade fisika akhirnya Jojo dan Rita pacaran. Sebenarnya mereka sudah pacaran saat pulang dari rumah neneknya Jojo. Jojo mengajak Rita ke luar hotel, awalnya Rita menolak karena masih marah dengan Jojo pas di dalam mobil. Tapi malam itu Jojo meyakinkan Rita, bahwa dia sangat menyayangi Rita. Karena Rita juga ada perasaan lebih kepada Jojo, akhirnya Rita memutuskan untuk menerima perasaan Jojo. Walau pun pada awalnya mereka menyembunyikan hubungan mereka, sebenarnya hanya Rita yang tidak mau teman-temannya di sekolah mengetahui hubungan nya bersama Jojo. Tetapi karena mulut ember sahabatnya sendiri si Ellin, akhirnya hubungan mereka berdua terbongkar hanya dengan hitungan menit. Jojo tidak masalah jika hubungan nya dengan Rita di ketahui semua orang di sekolah, karena percuma di sembunyikan ujung-ujungnya juga pasti juga nanti ketuan. Dan akhirnya sekarang sudah terbongkar juga karena Rita sendiri yang menceritakan hubugan mereka berdua terbongkar dan menjadi gosip terhangat disekolah.

Serena
Romance
21 Dec 2025

Serena

" Kerap terjadi, ketika kita menyukai seseorang ia malah berpaling muka seolah tidak perduli tetapi ketika kita sudah menjauh ia malah balik mengejar, memang benar cinta butuh kesepakatan namun apa lantas bisa aku jatuh cinta kepadanya yang sedingin kutub Utara? "S erena🍅🍅🍅"Sebenernya lo itu cantik, deh Ser. Mata lo hazel, bibir lo mungil, senyum lo manis." Aci duduk khidmat di samping temannya itu sambil menatap lekat wajah Serena."Baru sadar lo?" Jawab Serena tidak menanggapi lebih lanjut perkataan Aci, karena ia tengah sibuk menata bungkusan camilan yang ia beli tadi."Ya seharusnya lo bisa nyari cowok yang menganggap lo ada, yang bangga punya elo."Serena melirik Aci sinis tanpa menolehkan kepalanya, "Kenapa lo ngurusin urusan gue? Kenapa lo nggak nyelesaiin masalah lo sama kak Ramond yang playboy itu?""Kalo gue jadi elo ya, Ci. Si Ramond udah gue tendang jauh-jauh dari hidup gue.""Bisa-bisanya dia jalan sama cewek lain, terus masih sempat-sempatnya selfie bareng!" Serena bergidik membayangkannya."Urusan gue sama kak Ramond udah kelar kok, malah gue sempet ketemu sama ceweknya." Nada suara Aci yang terlihat santai membuat serena gemas."Gila lo?! Berarti lo putus dong sekarang?" Sontak Serena memutar badannya 360° menghadap Aci.Aci menggelengkan kepalanya, "Bukan putus tapi baikan."Serena langsung menoyor kepala sahabatnya, "Bego! Gue kasih tau ya sama lo, cowok kalo udah berani selingkuh selamanya dia enggak akan berubah!""Lebih begoan mana sama lo yang hobinya ngejar Dendra padahal dia ga respect sama lo." Aci mengulum senyumnya melihat serena memutar bola matanya malas." For you information, ya Serena. Yang kemarin jalan sama kak Ramond itu saudara kembarnya yang baru balik dari jogja bukan selingkuhannya, mana ada spek bidadari semacam gue di selingkuhin.""Serah!"🍅🍅🍅"Pagi sayang!!!" Sapa Serena renyah kepada pemuda yang berdiri tidak jauh di depannya."Sayang, tadi aku bangunin kamu kesiangan enggak?" Pemuda yang di panggil sayang itu hanya melirik Serena yang sekarang sudah ada di sebelahnya tanpa berniat menjawabnya."Yaudah deh, besok aku bangunin kamu lebih pagi lagi. Belajar yang pinter ya, sampai ketemu istirahat nanti!" Senyum di bibir Serena tidak pernah surut jika sudah bertemu dengan kekasih hatinya."Iya." Dendra langsung memasuki ruang kelasnya tanpa menghiraukan gadis yang berdiri di depan kelasnya sambil melambai-lambaikan tangannya."Woe, udah lonceng!" Tepukan tangan di pundaknya membuat Serena mengumpat kesal."Apasih! Rival!""Biasalah, Rival kan emang gajelas," sahut Wildan yang berkata lebih kalem kepada Serena."Makanya otak sering-sering di cuci biar kelakuan lo ga kaya ...." Ucapan Serena menggantung di udara ketika pandangan matanya bertemu dengan Dendra."Ssst ... Udah, bubar, masuk kelas masing-masing," kali ini Joy yang bersuara.Sejurus kemudian rival langsung menarik lengan Serena menjauh dari kelas XII ipa 1."Ngapain, sih, Val!" Serena menepiskan tangannya kesal."Mau nganterin lo ke kelas lo, lah.""Heh, ubi jalar, lo gausah sok pahlawan! minggir!" Jo dengan sengaja menabrak tubuh Rival lalu berdiri di depan Serena."Gue aja yang nganterin lo ke kelas, ya?" Ucap Jo lembut. Sedangkan Rival yang mendengarkan langsung berlagak ingin muntah.Serena berdecak kesal, "Ga perlu, gue masih punya kaki, dan masih normal. jadi, gue bisa jalan ke kelas tanpa bantuan kalian."Wildan yang sedari tadi diam kini ikut angkat bicara, "Iya, kita semua tau Ser. tapi yang jadi masalah lo itu deket sama Dendra. Lo tau kan hampir 95% cewek gasuka sama orang yang ngedeketin dia.""Kita takut lo di apa-apain."Serena mengerutkan alisnya tidak terima, "Buktinya hampir tiga bulan gue sama Dendra, adem ayem aja. Mereka cuma berani ngatain gue di belakang dan itu ga masalah.""Hati-hati aja, Ser. Kalo lo butuh, gue akan selalu ada kok.'"Aseek piwwit, cuit ... cuit ...," teriak Rival heboh lantaran melihat Dendra yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dari dalam kelas."Dahlah, gue balik dulu papay sayaaang ...." Serena memberikan kiss bye pada Dendra membuat pemuda itu mengalihkan pandangannya dengan raut datar.***Dendra, Rival, Jo, dan Wildan baru saja sampai di sebuah kafe milik Dendra."Widih makin rame aja, nih kafe." Rival sudah mulai tebar pesona pada perempuan-perempuan yang ada di kafe tersebut.Mereka duduk di salah satu kursi pengunjung sedangkan Dendra sedang berbicara kepada waiters kepercayannya."Lo mau ngapain?" Tanya Jo pada Rival yang seolah sedang menelpon seseorang."Nyuruh pacar kesini," jawabnya enteng."Tumben, pacar yang mana Val?""Ayang Bila.""lo ga takut Bila naksir gue?" Jo menaikkan sebelah alisnya menggoda Rival."Enggak lah, kan stoknya masih banyak, ambil aja kalo lo emang naksir.""Dasar buaya!" seru Jo."Heh, buaya teriak buaya. Sakit lo pada." Dendra yang baru ikut bergabung langsung angkat bicara.Wildan yang sejatinya tidak memiliki mulut comel hanya bisa tersenyum melihat ketiga temannya."Nah, gini kan enak. Damai.""Ndra?" panggil Wildan pelan"Paan?""Lo sebenernya suka kan sama Serena."Dendra diam sejenak sebelum berkata, "Pertanyaan lo itu nggak bermutu.""Bukan apa-apa kalo lo ga bisa buat Serena bahagia, gue siap kok gantiin posisi lo." Dendra yang duduk di depan Wildan langsung melayangkan tatapan tajamnya.Ditatap seperti itu Wildan langsung mengulum senyum, "bercanda elah."Dendra langsung mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang terus memberinya singal nontifikasi.SerenaSayang lagi dimana?Kata Rival kalian lagi nongkrongAda Bila juga ya katanya?Dendra hanya membaca chat dari Serena tanpa membalasnya, tidak lama Dendra mendapatkan panggilan video dari Serena. Ia membiarkannya tanpa ada niatan sedikit pun untuk mengangkatnya, ia malah lanjut mengobrol bersama Wildan.Berkali-kali panggilan video masuk di ponsel Dendra membuat pemiliknya kesal.SayangkuuhKenapaSerenaKangeeeenMau ketemu:(DendraIyaSerenaAku dataaang mwahSerena berjingkrak senang akhirnya ia bisa bertemu dengan kekasih hatinya. Ia segera berganti pakaian lalu menelpon Aci untuk menemaninya pergi ke kafe milik Dendra.Di sepanjang perjalanan Serena hanya membahas Dendra, Dendra, dan Dendra membuat kepala Aci pening rasanya. Tadi saja ia memaksa Aci untuk menemaninya meskipun Aci sudah menolak sekuat tenaga tetapi tetap saja, Serena sudah berada di depan rumah menjemputnya.Sesampainya di sana, Serena masih dengan hati yang berbunga-bunga. Menebarkan senyum kepada pengunjung yang melihatnya."Itu, Dendra." Aci menunjuk menggunakan dagu empat orang yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri."Sayaaaang." Cicitnya nyaris tidak berbunyi takut mengganggu pengunjung lain. Serena langsung mengambil tempat di samping Dendra lalu mendekap sebelah lengan kekar pemuda tersebut."Aaaaa gue juga mau Serena!" Rival berteriak heboh membuat Jo langsung menyumpal mulut Rival menggunakan tissue."Ahahaha mampus!" Jo tertawa terbahak-bahak begitupun yang lainnya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya heran.Terkecuali Wildan, pemuda itu hanya tersenyum tipis alih-alih memandangi Rival yang mendumel kepada Jo. Ia malah memandangi Serena di depannya yang terlihat bahagia."Hai baby!" Bila dan antek-anteknya datang ke meja mereka membuat suasana langsung hening.Bila yang pada dasarnya pernah memiliki hubungan dengan Dendra, ketika di beri kabar oleh Rival jika ia dan Dendra sedang berada di kafe. Ia pun segera datang."Hai ayang Bila, baru dateng ya, sini duduk samping aak." Rival menepuk kursi kosong di sebelahnya.Melihat Bila datang Dendra langsung menyingkirkan tangan Serena yang menggelayut di lengannya sedikit kasar membuat Serena menyebikkan mulutnya."Gue maunya duduk di samping Dendra, jadi tolong dong lo cewek yang di samping Dendra minggir."Aci mengerutkan keningnya merasa tidak nyaman, sedangkan Serena langsung menatap Bila terang-terangan."Lo siapa?" Ejeknya sambil tersenyum."Gue mau duduk di samping Dendra, lo tuli?!" Bila sedikit nyolot."Apa susahnya lo pindah duduk di samping Rival?" Serena pikir kalimat yang Dendra lontarkan untuk Bila tetapi ternyata untuk dirinya."Gamau ayaaang." Serena memeluk lengan Dendra merengek seperti anak kecil."Minggir!" Bila sudah berdiri di samping Serena yang tengah bergelayut di lengan Dendra.Suasana langsung memanas, seluruh pengunjung memusatkan perhatiannya kepada mereka.Tidak ada yang berani angkat bicara, termasuk Rival ia hanya mengamati apa yang selanjutnya akan terjadi.Serena memejamkan matanya sedikit lama sebelum akhirnya ia bangkit berdiri menghadap Bila, "Lo siapa?! Hah!""Lo cuman masalalunya Dendra, hubungan diantara kalian berdua udah selesai! Dan gue, gue pacar sekaligus masa depannya Dendra. Ngerti lo!""Jadi, lo ga berhak ngusir gue!""Serena!" Jantung Serena terasa berhenti berdetak ketika Dendra berteriak menyebut namanya."Malu-maluin aja, sih lo!" Serena berbalik menatap Dendra yang terlihat menahan amarah."Sayang, Bila yang mulai duluan. Bukan aku." Serena merengek lagi bahkan sekarang sambil menyebikkan bibirnya terlihat menggemaskan."Kita, putus!"Bila dan antek-anteknya yang mendengarkan langsung tersenyum bahagia.Sedangkan Rival, Jo, dan Aci mentap tidak percaya."Gamau! Pokoknya aku gamau putus." Mata Serena mulai berkaca-kaca ia menahan malu di jadikan bahan tontonan pengunjung kafe."Sayang aku gamau putus hiks," Serena mencoba meraih tangan Dendra tetapi langsung di tepis oleh pemiliknya."Bisa nggak lo gausah kasar!" Wildan bangkit berdiri lalu menarik tangan Serena menjauh dari Dendra."Ucapan gue tadinya cuman bercanda, tapi karena kelakuan lo udah kelewat batas. Gue bakal lakuin apa yang udah gue omongin tadi." Tegas Wildan.Dendra menatap Wildan dengan tatapan membunuh, "Lepasin, tangan dia.""Lo siapa?" Tanya Wildan mengejek."Lo sama Serena udah putus!"Wildan mengajak Serena yang menangis sesenggukan meninggalkan kafe tersebut."Sabar bro, sabar." Rival menepuk pundak Dendra lalu menuntunnya agar kembali duduk.🍅🍅🍅Seminggu setelah kejadian itu. Serena benar-benar merasa kecewa dengan laki-lakinya. Ia bahkan tidak memiliki semangat untuk sekedar makan bahkan bersekolah. Setiap hari Aci lah yang membujuknya tetapi nihil.Begitupun dengan Wildan ia selalu setia menemani Serena, membelikannya makanan sampai barang kesukaannya. Wildan juga membujuk anak yang hidup jauh dari orangtuanya ini untuk pergi ke sekolah."Ke sekolah bareng gue ya?" Serena diam tidak menjawab. Wildan mengelus rambut Serena lembut lalu meninggalkan Serena sendirian di kamarnya untuk bersiap-siap.Sesampainya di sekolah, tidak sengaja Serena bertemu dengan Dendra, Jo, dan Rival. Pandangan mata Serena dan Dendra bertemu. Serena yang biasanya langsung menghampiri dan bermanja-manja kepada Dendra sekarang hanya diam, sedangkan Wildan di sampingnya menghela nafas lalu mengajak Serena pergi masuk ke dalam kelas."Gue ke kelas dulu ya, nanti pulangnya bareng gue. Semangat Serena cantik." Wildan berucap lembut sambil mengelus puncak kepala Serena. Ketika Wildan sudah berlalu tiba-tiba sudut bibir serena terangkat ke atas."Aaaaa Serena, akhirnya lo berangkat juga!" Aci yang baru datang langsung menghambur ke pelukan Serena.Tidak lama segerombol teman sekelasnya yang terkenal julid memasuki kelas."Eh, si cewek gatau diri berangkat sekolah guys. Gue kira udah ga berani lagi nunjukin mukanya di sini.""Ga punya malu, ih."Serena menatap datar teman-temannya yang dengan terang-terangan mengatainya."Mulut lo belum pernah gue gampar ya, Na? Lemes banget perasaan!""Upss ... Sorry!" Ketiganya tertawa mengejek."Udah gapapa, sabar yaa." Aci mengelus pundak Serena menguatkan.🍅🍅🍅Bel sekolah berbunyi seluruh siswa siswi SMA karang bintang menghambur keluar kelas.Serena berjalan menuju parkiran bersama Aci, entah mengapa ia tidak memiliki semangat sedikitpun bahkan untuk sekedar berjalan.Ia memandangi ujung kakinya sambi terus berjalan sampai langkahnya terhenti karena ada sesuatu menghalangi.Serena menatap sepasang sepatu yang pemiliknya begitu ia kenali. Perlahan Serena mendongak menatap datar wajah Dendra yang menampilkan senyum manis."Selama lo belum punya pacar, gue masih cowok lo.""Stres." Serena berlalu begitu saja namun lagi-lagi di hentikan."Pulang bareng gue, jauhin Wildan. Gue gasuka lo deket sama dia.""Apaan sih!""Love you serena."Serena mengedipkan matanya cepat. Berusaha mencerna apa yang baru saja laki-laki ini katakan."Maafin Dendra ya Serena. Selama ini belum bisa jadi pacar yang baik buat Serena. Tapi mulai sekarang Dendra bakalan buktiin kalo Dendra pantes buat Serena."Aci melotot tidak percaya pertama kali ini ia mendengar suara lembut Dendra begitupun dengan Serena."Iyain Ser," bisik Aci gemas.Di satu sisi ada Wildan yang memperhatikan dari jauh, hatinya seperti tercelos sesuatu. Tapi bibirnya tetap tersenyum."Gue rela Ser, asal lo bahagia," bisiknya dari kejauhan.Serena mengangguk bersamaan dengan itu air matanya menetes."Aku kangen sama ayang, mau peyuk." Akhirnya Serena bisa merengek lagi namun kali ini rengekannya berujung pelukan, perhatian, serta senyuman."Love you, love you Serenaku." Dendra memeluk erat tubuh Serena sambil menghirup aroma strawberry di rambutnya.End

Pendamping
Fantasy
21 Dec 2025

Pendamping

Aku adalah pendamping dan tugasku hanya mendampingi. Sejak awal penciptaan, dia sudah ada bersamaku dan kami dibesarkan di tempat yang sama. Namun, dia tidak tahu tentangku sementara dia terus kuawasi. Sejak kecil hingga detik ini, perkembangan dan seluruh kisah hidupnya kutahu. Hanya itu yang kulakukan, mengamati dalam diam tanpa campur tangan selagi dia melukis takdirnya. Sejak matahari terbit hingga bulan terlelap, aku selalu ada. Ketika dia bersuka cita maupun berduka, setiap kisah tidak lepas dari pandanganku.Aku menjadi pendamping bagi seorang anak lelaki yang diberi nama Dale. Meski nama itu terkesan monoton, tapi dia sepertinya suka nama itu mengingat dia sering mengucapkannya dengan bangga. Dia jalani hidup layaknya anak lelaki lain. Mulai dari belajar berjalan, bicara, hingga akhirnya memasuki bangku sekolah menengah akhir yaitu masa sebelum kuliah dimulai. Kujalani semua tugas ini dalam diam selagi mengamati.Aku adalah pendamping dan aku pula cerminan darinya. Karena darinya saja yang kutahu. Selama dia masih hidup, aku harus selalu ada di sisinya. Semua kusaksikan dalam diam meski sesekali kubisiki ke dalam hatinya pendapat dan ajakan dariku. Ketika sedang menyendiri, aku bisikkan kata-kata di hati. Dia dengarkan dan renungkan, entah setelahnya. Dalam beberapa kisah Dale bergerak melakukan semua bisikanku dan bilang jika itu ungkapan dari hati, dalam beberapa kisah lainnya diabaikan atau hanya dia simpan dalam hati. Mengira jika semua pemikiran tadi murni berasal darinya karena yang didengarnya sama persis dengan suaranya sendiri. Selama itu Dale masih saja mengira bahwa pemikiran yang dianggapnya “aneh” atau “tidak biasa” ini berasal darinya, lagi dan lagi. Setiap ungkapan dariku merupakan cerminan dari hati dan sikapnya selama ini. Salah satunya ketika dia memutuskan untuk mengenal lebih jauh dengan seorang teman sekelas.Anak itu pendiam dan tidak memiliki teman. Semua orang mengabaikannya selama di luar maupun dalam lingkungan sekolah. Orang yang kudampingi tentu muncul rasa iba darinya. Padahal sebentar lagi masa sekolah akan berakhir dan sayang sekali jika tidak meninggalkan kenangan berkesan bersama teman sekelas. Sebagai makhluk sosial, Dale merasa perlu bicara pada anak itu meski aku sendiri ragu.Melihat tingkah anehnya, aku bisikkan kembali pendapatku dan kali ini kuharap dia memilih mengikuti ucapanku. “Sebaiknya abaikan saja. Toh, dia mungkin anak yang tidak ingin berteman seperti yang lain. Sudah, jangan diganggu.”Tidak sesuai harapan, Dale mulai mendekat dan bicara pada anak itu. Mulai bahas sana dan sini hingga beberapa penggalan pengalaman kisah yang dilalui masing-masing. Aku dengarkan dengan saksama dan kutarik sebuah kesimpulan sederhana mengenai anak itu.Anak lelaki itu tidak ingin banyak bicara karena dia tidak tahu cara memulai pertemanan. Nama dia Hail. Sejak kecil selalu di rumah dan tidak dibiarkan bermain di luar layaknya anak lain. Sementara Dale telah melewati rangkaian pengalaman bermain di luar rumah bahkan sampai nyaris disangka menghilang oleh orang tuanya. Namun, anak itu tidak pernah merasakan dan dia mengaku ingin mengalaminya. Aura yang dipancarkan anak itu memang janggal, tidak tampak tertarik dengan obrolan tapi langsung banyak berkisah pada orang yang kudampingi. Mungkin memang pemalu, tapi firasatku berkata lain.Kudengar lagi Dale bicara padanya. “Bagaimana kalau hari ini kamu main ke rumahku?”Aku rasa itu tawaran yang buruk. Aku pun berbisik padanya. “Apa yang kamu lakukan? Jangan secepat itu! Kalian baru saja mengenal!” Bukannya kenapa tapi aku merasa semakin janggal jadinya. Aku masih bisa hidup setelah Dale, tapi aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.Dale membatin yang selama ini dia anggap secara konflik internal. “Sudahlah, kasihan kalau dia habiskan waktu sekolah seorang diri. Setidaknya dalam sebulan ini ada pengalaman bersama seorang teman.”Aku masih ragu tapi tidak bisa membalas.Dale dan Hail sepakat untuk bertemu di rumah Hail yang jaraknya hanya beberapa perumahan dari rumah Dale. Aku kian ragu dan terus membisikan keraguan di hati orang yang kudampingi ini.Sayangnya, Dale terus membalasku dengan penolakan tegas. “Aku tidak mau mendengar lagi! Pokoknya aku akan memastikan Hail punya teman!”Atas izin orang tuanya, Dale pergi menggunakan sepeda dan mengayuh hingga tiba di alamat rumah yang Hail sebutkan. Rumah anak itu ternyata tidak seseram yang kukira. Terbuat dari beton dan masih tampak baru dan kokoh.Ketika Dale mengetuk pintu, terlihat seorang pria paruh baya menyambut kedatangannya. “Oh, kamu pasti Dale.”“Benar, Pak. Apa Hail di sini?” tanya Dale berusaha formal.Aku yang kian ragu mencoba berbisik untuk menyuruhnya pulang, tapi dia abaikan setiap pendapatku. Kenapa dia begitu keras kepala? Apa yang merasukinya?Pria itu menyuruh Dale duduk dan meminum teh hangat di meja. Aku dengan cepat berseru ke hatinya. “Jangan minum itu! Tolak dengan sopan!”Namun, Dale sudah meneguk teh itu hingga habis akibat lelah selama mengayuh sepeda. Dia pun bicara sejenak dengan pria itu selagi menunggu Hail muncul. Tidak berselang lama, dapat kulihat mata Dale kian berat dan perlahan seakan menahan kantuk yang amat berat.Aku berseru ke hatinya. “Ada apa?”Dale membatin. “Aku merasa pusing dan mengantuk. Sepertinya aku akan tidur.”“Hei! Jangan sekarang! Pergi dari sini!”Dale membalas dengan membatin. “Aku ... sangat mengantuk.” Dia pun memejamkan mata, meninggalkan wajah yang teduh.Dapat kurasakan tubuhku terdorong mundur bahkan sukses membuatku terjengkang seakan ada yang memukulku. Rupanya, aku tidak terikat lagi dengan jiwa Dale dan tugasku selesai. Di saat itu juga, tubuhku mulai terasa lebih ringan, aku merasa lebih leluasa bergerak bahkan tidak sebatas sekitar Dale saja. Tanda kontrak kami telah putus. Namun, di saat itu juga muncul perasaan cemas akan nasib Dale yang kini tewas. Apa yang harus kulakukan?Kudengar suara Hail dari balik ruangan. Keparat itu muncul pada akhirnya. “Sudahkah?”Pria itu menjawabnya. “Sudah. Lama sekali!”“Maaf, hanya dia yang mau mendekatiku, kamu sendiri yang menyuruhku diam saja layaknya sebuah benda yang dijaja,” sahut Hail.Pria itu mengangkat jasad Dale layaknya sebuah karung. “Sudahlah. Setidaknya sekarang kita sudah bisa berjualan lagi di pasar gelap dengan tubuh muda ini.”Aku menatap mereka pergi membawa tubuh orang yang pernah kudampingi dulu. Sementara aku pergi meninggalkan mereka, tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menyaksikan. Kini, aku telah bebas meski telah gagal menjaga seseorang. Kubiarkan angin membawaku, menanti suatu tempat yang bisa ditinggali tanpa jejak darinya. Semua kenangan dari orang yang kudampingi akan aku kubur dalam hati layaknya kenangan tersembunyi.TAMAT

Penguasa Absolut
Fantasy
21 Dec 2025

Penguasa Absolut

Setiap makhluk memiliki kuasa atas dirinya. Namun, di antara mereka harus ada penguasa dan yang pantas berkuasa hanyalah aku.***Ketika ajal menjemput, tidak dikira akan seperti ini. Semua terjadi begitu cepat layaknya badai di tengah damainya siang hari. Cat hitam mulai memenuhi pintu rumahku. Tidak hentinya aku mengagumi warna itu. Rumah yang baru saja dibangun ini terletak di pinggir jalan, tapi suasana masih saja sunyi entah mengapa.Di saat berlena, sebuah mobil sedan hitam kehilangan kendali laju dan menghantam rumah beserta diriku.Sebelum menghembuskan napas terakhir, kudengar suara asing seakan berbisik padaku."Engkau akan dilahirkan kembali sebagai sosok yang akan menaklukkan dunia!"Langsung saja ajal menjemput.***Tidak disangka kematian akan tiba secepat itu. Bahkan beberapa utang belum juga dilunasi, tapi beginilah nasib.Suara tadi membuatku merenung. Apa maksudnya? Akan jadi apa aku nanti? Kenapa harus menjadi penakluk dunia? Bagaimana caranya? Dia kira aku bisa melakukan itu semua dengan mudah dengan segala keterbatasan ini. Tidak mungkin aku bisa dan tidak mungkin pula akan semudah itu dilakukan. Kalau begini, seharusnya aku tetap di dunia dan mengecat rumahku.Saat meratapi nasib, pandanganku yang tadinya gelap berganti jadi ruang megah terbuat dari beton lengkap dengan warna cat krem. Ditambah adanya gadis manis yang sedang berbaring di sisiku sambil terkikik. Rupanya dia baru saja menyentuh hidungku."Ih! Imutnya!"Baru hendak memberontak, aku menyadari bentuk tangan yang aneh.Apa?Kenapa dipenuhi bulu putih? Kenapa pula telapaknya hitam? Kenapa aku begitu mungil dibandingkan gadis ini?Kenapa? Kenapa? Kenapa?Isi kepalaku dipenuhi dengan rasa heran serta ketakutan, sedikit. Terlebih tidak adanya kejelasan atas semua ini.Aku bereinkarnasi menjadi kucing!Gadis ini jelas majikanku–tunggu, babu lebih tepatnya. Karena dia pasti akan tunduk kepadaku.Ha! Aku sadar, inilah kekuatanku!"Nyaw (Peluk aku)!" Aku mengeong.Benar saja, gadis itu tersenyum dan mendekapku ke dadanya. Merasa nyaman, aku mendengkur."Imutnya!" jerit gadis itu sambil mempererat pelukan. Alhasil, aku tercekik."Meow (Lepaskan)!" Aku menjerit.Dia serta merta melepaskanku.Aku turun kemudian menatapnya. "Meow, ngeong ... Raw! Ngeow ... Ngaw ... (Sadarlah, engkau bukan majikanku. Sekali-kali tidak! Kau hanyalah alat bagiku dan aku tidak akan membiarkanmu menjadikanku sebagai budak!)"Gadis itu diam. Dia kembali mengelus kepalaku.Ah, segarnya.Tanpa sadar, aku terbuai dalam belaiannya.***Payah! Aku dikalahkan oleh gadis itu!Seharusnya aku tidak tunduk kepadanya!Ah, sudahlah. Akan kucoba lain waktu. Semua ini tidak bisa dipaksakan meski aku ingin ini segera terlaksana. Tidak semua makhluk dapat berkuasa tapi aku ingin melakukannya sekarang!Dia telah pergi. Tanda aku bisa dengan leluasa menjelajah.Aku langkahkan keempat kaki menuju jendela yang terbuka dan melompat. Di depanku terpampang kerumunan orang. Sebagian berdagang, mengobrol, bahkan sekadar melintas. Banyak sekali manusia, peluangku untuk mengendalikan mereka akan semakin besar.Ha! Dunia sebentar lagi akan tunduk kepadaku!"Eh, kucing!""Ih! Comel!"Kerumunan gadis mendekat. Mereka langsung mengangkatku.Menjijikkan! Beraninya mereka tersenyum selagi menghancurkan harga diriku!"Eh, eh! Minta kucingnya!"Seorang pemuda mendekat. Langsung saja aku diberikan kepadanya.Bagus, dia akan jadi korban pertama yang ...Apa yang dia lakukan?Dia melipat kepalaku! Membentuk diriku layaknya bola!"Dor!"Dia berucap sambil menggulingkanku di jalan. Kepala menjadi pusing ditambah rasa malu tiada tara. Terlebih mereka justru menertawakanku.Memalukan! Lihat saja pembalasanku nanti!***Menahan malu di tengah kerumunan sungguh tidak nyaman, terlebih ketika badanmu kini dipenuhi pasir kotor dari jalanan. Kucing manis yang tercoreng harga dirinya tidak mungkin menerima semua itu begitu saja.Aku harus menemukan cara.Harus ..."Hei, kenapa dia?"Kudengar suara anak perempuan dari seberang. Bukan, lebih tepatnya beberapa langkah saja. Kami berdiri di antara tanah sempit yang mengalirkan air layaknya sungai kecil."Eh, anak kucing!" balas perempuan di sebelahnya dengan antusias.Kenapa aku dipenuhi gadis-gadis sekarang?Tangan gadis itu mengarah padaku sementara temannya masih menatapku."Meow (Hei)!" seruku.Jangan ... Jangan terulang lagi!Dia meletakkanku di sisi mereka, tepatnya di seberang sungai kecil ini. Rupanya dia berniat menyeberangkan aku entah untuk apa, barangkali agar terkesan baik hati dan ringan tangan.Kedua gadis itu berjalan menjauh, membiarkanku begitu saja.Tunggu, sepertinya ini target yang cocok untuk membalaskan dendamku. Agar aku dihormati dan disegani. Harga diriku akan pulih dan aku akan menguasai dunia!Aku melangkah mengikuti mereka. Kedua gadis itu akan jatuh dalam pesonaku. Aku akan menjadi penguasa absolut–Hingga tubuhku tenggelam kembali dalam dasar sungai kecil itu.***"Dia sepertinya di ambang kematian.""Sudah kubilang, kucing ini seharusnya tidak perlu diselamatkan, nanti susah sendiri.""Sudahlah, kita telanjur mengangkatnya. Lagi pula, dia tampak lucu."Begitu mataku terbuka, kulihat tiga orang wanita tengah mencuci badanku. Mereka mengusap bulu putihku hingga menyebabkan air yang merendam badanku menjadi cokelat. Entah kenapa aku tidak mampu bergerak untuk melawan apalagi menyerang mereka bertiga.Ketiga wanita ini mengenakan pakaian layaknya pelayan istana. Tanda aku bisa jadi telah menarik begitu banyak perhatian. Apa ini pertanda baik? Tentu saja."Nah, sudah cantik kembali."Tubuhku digosok menggunakan kain halus yang hangat. Belum lagi mereka memuji sambil mengeringkan badanku. Ketika badanku kering, mereka tersenyum memandangiku."Kucing ini terlalu lucu untuk ukuran kucing jalanan," komentar salah satu wanita."Bahkan kucing hias pun kalah akan pesonanya," sahut wanita lain.Aku membusungkan dada, mereka entah memuji atau membeberkan fakta. Bagaimanapun, ini langkah bagus menuju tujuan utamaku."Sepertinya Tuan Putri akan menyukainya," komentar wanita itu lagi. "Lumayan untuk dijadikan hiasan kerajaan."Wah, sepertinya harapanku melambung tinggi menyentuh nirwana."Mari kita coba." Temannya serta merta mengangkat dan mendekapku ke dadanya.Aku dibawa mereka menuju tempat yang menyerupai lorong dipenuhi benda megah di antaranya lukisan maupun ukiran indah menghias dinding marmer, menciptakan kesan luar biasa dari depan. Berarti benar aku berada di tempat kaum ningrat, tidak bisa dipercaya memang, tapi aku layak menyaksikan semua kemegahan ini secara langsung."Oh, Tuan Putri!" sapa wanita yang membawaku. "Lihat apa yang kami bawa!"Dari jauh terlihat wanita yang mengenakan gaun berwarna hijau laut mendekat. Meski terlihat tergesa, dia sanggup berlari dalam keadaan anggun. Aku mengakui, dia tampak manis."Oh, kucing kecil!"Tanpa aba-aba, aku ditarik olehnya dan dibawa lari dalam keadaan kaki menjuntai. Membuat kedua kaki bagian depan terasa sakit terlebih karena berat perut yang menekan ke bawah.Parah! Dia hancurkan harga diriku!"Kucing! Kucing!" jerit sang Putri selagi berlari membawaku. Dia jelas telah kehilangan kendali.Pandangan berputar. Dia membawaku layaknya saputangan yang dibiarkan berkibar di tengah serbuan angin. Jika seperti ini terus, aku akan gagal!"Putriku!" Seruan dari seorang wanita terdengar."Ibu?" Gadis itu berhenti berlari.Akhirnya siksaan ini berakhir. Aku langsung turun dari cengkeramannya dan duduk, mencoba menyeimbangkan diri agar tidak tumbang."Di sini rupanya." Wanita itu mengenakan gaun yang lebar dan panjang hingga menutupi seluruh kakinya. Sama seperti sang Putri, warna gaunnya serba hijau laut. Kemungkinan ini ciri baju anggota kerajaan. "Kucing dari mana ini? Kotor!"Beraninya dia menyebutku kotor! Aku melotot tanda tidak terima. Dia membalas tatapanku. Menciptakan suasana hening sejenak."Ibu?" Sang Putri jelas merasa canggung dengan keheningan ini. Dia menatapku juga.Aku tatap mereka berdua secara bergantian. Lucu sekali, mereka langsung saja diam ketika pandangan kami bertemu. Tanpa sadar bibirku melengkung hingga menampakkan taringku."Meow ... Meow ... Ngaung ... Ngeow! (Jangan pernah merendahkanku, hai Manusia. Sungguh kalian akan tunduk padaku dan selamanya aku akan berkuasa di atas kalian!)"Keduanya menatapku. Pandangan tampak kosong. Detik itu juga, wanita tua yang kuduga sebagai ratu negeri ini mengangkatku."Daulat, Yang Mulia," bisiknya sambil membawaku menuju lorong istana lagi.Semakin dekat menuju ruang singgasana, tempat berkuasa.Baguslah, kalau sampai berani menjatuhkan harga diriku lagi, tidak akan kumaafkan.Inilah saatnya bagiku menjadi penguasa absolut negeri ini!***"Hei, apa-apaan ini?!"Aku dikejutkan oleh suara seorang pemuda ketika sedang bersantai di takhta berlapis paha Tuan Putri. Rupanya suara itu berasal dari seorang Pangeran yang bisa jadi saudara kandung sang Putri.Aku menyeringai, memamerkan geligi tajam yang menghias bibirku. Namun, beberapa saat berlalu tidak ada reaksi darinya."Adik, kau biarkan kucing jalanan mengotori takhta Ayah?" tanya pemuda itu lagi.Aku menatap sang Putri. Dia akan bicara untukku, karena jelas Pangeran tidak akan mengerti bahasa kucing."Ayolah, kucing ini sudah dimandikan dan jelas tidak akan mengotori istana."Abangnya membalas lagi. "Kamu kira seekor kucing layak duduk di singgsana? Kita bahkan belum layak, apalagi makhluk itu.""Dia layak." Adiknya membalas dengan datar. "Dia yang berhak berkuasa."Pangeran berkacak pinggang sambil menggeleng pelan, dipikirnya sang adik sudah hilang akalnya."Di mana Ibu?" tanya Pangeran."Dia sedang mempersiapkan upacara pemahkotaan." Adiknya menjawab."Pemahkotaan siapa?"Sang Putri menunjukku. "Dia."Dapat kulihat wajah Pangeran merah padam, rahangnya mengatup, ditambah tangan yang dikepal, tanda amarah tidak dapat dia bendung."Cukup sudah!" Pangeran menarik pedang yang tersarung di pinggangnya. "Pemberontak itu tidak layak mewarisi takhta!""Meow!" Aku mengeong dengan keras hingga menggetarkan istana.Menyertai itu, langkah kaki berirama terdengar semakin keras tanda mereka semakin dekat. Itulah pasukan yang kudapatkan secara sukarela karena kelucuanku.Pangeran menatap sekelilingnya dengan tajam. Aku yakin dia tidak menyangka akan kebesaran kekuatanku. Terlalu merendahkan seekor kucing.Begitu pasukan kerajaan berkerumun, mereka mengarahkan pedang pada Pangeran. Meski jumlah mereka tidak sebanyak jumlah keseluruhan pasukan kerajaan, setidaknya cukup untuk menjatuhkan Pangeran."Apa ini?" Pangeran menatap pasukan kerajaan yang mengepungnya. "Ada apa dengan kalian?""Tidak ada yang layak berkuasa," ucap salah seorang dari mereka. "Melainkan dia."Semua jari telunjuk–kecuali jari sang Pangeran–mengarah padaku. Membuktikan kekuasaanku di atas mereka.Aneh, kenapa sang Pangeran tidak tersentuh dengan kelucuanku padahal sebagian besar penghuni kerajaan telah tunduk kepadaku? Dia pasti pembenci kucing. Parah!"Kami beri kesempatan untuk menyerah atau memihak kami," ucap sang Putri kepada kakaknya. "Kami akan menjamin keselamatanmu."Pangeran menatapku dengan sinis. "Setelah apa yang Ayah perbuat, ini balasannya?"Tiada yang membalas.Aku mengeong, menyebabkan semua yang ada di ruangan kecuali si Pangeran, turut mengucapkan kalimat yang manusia itu pahami."Dia yang layak berkuasa. Dia penguasa sesungguhnya. Tidak ada yang berhak dihormati selain dia."Pangeran berdecak. "Dia? Hei, kucing ini bahkan tidak punya nama dan gelar. Dia malah seenaknya mengambil hak orang lain.""Meow ..." Aku mengeong dengan nada pelan."Kau sebaiknya menyerah." Putri menerjemahkan.Aku kembali mengeong."Karena bagaimanapun kau pasti akan kalah. Kami akan menyelamatkanmu jika memihak kami.""Aku? Tunduk pada kucing?" Pangeran tertawa. "Bahkan jika kerajaan ini runtuh pun tidak akan kulakukan!""Terlalu percaya diri," komentarku yang diterjemahkan oleh sang Putri."Kau berani mengendalikan pikiran saudari, kemudian ibuku, lalu pasukan kerajaan. Kau pasti tidak bisa mengalahkan Ayah karena di luar sana banyak yang tidak suka dengan kucing, termasuk aku, selaku pewaris takhta yang sesungguhnya.""Kau terlalu banyak bicara," balasku. "Kenapa tidak coba tunjukkan kekuatanmu sekarang?"Pangeran menyeringai. "Kau takut melawanku sendiri? Tunjukkan bahwa kamu layak berkuasa!"Sang Putri berdiri, hendak melawan kakaknya demi aku. Tapi, karena aku merasa harga diri akan tercoreng karenanya, maka aku cegah gadis itu dan maju menghadap Pangeran dengan kepercayaan diri penuh.Aku memang hanya seekor kucing, tapi aku tidak mungkin selemah yang dia bayangkan. Lihat saja, akulah yang layak berkuasa!Pangeran menarik pedangnya dan menebasnya ke arahku.Aku tidak akan kalah! Aku akan berkuasa–Slash!***Pandanganku menghitam seketika itu juga. Semua mendadak hening bahkan tidak terlihat apa pun melainkan kegelapan.Hei, apa aku mati? Atau sekadar dikurung? Di mana lagi aku?"Kukira kamu belajar dari pengalaman," ucap suara yang pertama kali menyambutku di alam kematian. "Nyatanya kamu mati akibat injakan kaki sang Pangeran."Aku tidak percaya ini! "Apa? Bukannya dia memegang pedang?""Dia berlari lalu tidak sadar jika badanmu lebih kecil dari bayi, akhirnya terinjak." Sosok yang tidak jelas rupanya itu menarik napas, tampak lelah dengan semua ini. "Memalukan. Seharusnya aku tidak memberimu kekuatan.""Hei! Ini salahmu yang tidak membuat tubuhku sedikit lebih besar!" Aku membantah. "Kaukira bisa menaklukkan dunia dengan kekuatan sekecil ini?""Cukup!" bentaknya. "Kamu akan terlahir kembali sebagai kucing kecil biasa dan jangan bertingkah lagi!"Semburat cahaya merasuki mata.***Aku dikejutkan oleh cubitan dari tangan seorang gadis."Ih, lucunya!" Dia mendekapku begitu erat hingga nyaris mencekik.Argh! Hargaku diriku hancur!"Eh, itu bayi kucing yang kemarin." Seseorang mendekat lalu menarikku kepadanya. Dia berputar pelan dan sukses membuatku mual. "Lucunya!"Aku mendengkus. Apa seperti ini akhirnya? Sungguh memalukan! Penakluk kerajaan dan sekarang menjadi seekor kucing biasa tanpa kekuatan spesial.Aku melompat dari pegangan manusia itu dan berlari. Tunggu saja pembalasan dariku!TAMAT

Rumah Gurita
Folklore
21 Dec 2025

Rumah Gurita

Bagi beberapa orang, Rumah Gurit memang menjadi hal yang tidak asing.Karena sejatinya memang ada lokasi di Bandung yang bernama Rumah Gurita dan di kenal sebagai salah satu lokasi paling misterius dan angker di Bandung.Rumah Gurita memiliki berbagai mitos yang belum tentu benar atau salah.Sama seperti berbagai kota lain di Indonesia, Bandung juga memiliki beberapa lokasi yang memang di percaya angker dan mengerikan.Salah satu yang begitu tersohor adalah Rumah Gurita.Jika kamu berkunjung ke Bandung, kamu bisa menemukan Rumah Gurita di belakang hotel Grand Aquila.Tak cukup sulit untuk menemukan Rumah Gurita.Karena bangunan ini cukup jelas dari jalan Pasteur di sebelah hotel Grand Aquila.Bahkan jika kamu menyebrang, sosok rumah tersohor itu begitu mudah terlihat.Untuk masuk ke sana, kamu bisa melewati jalan Sukadamai tak jauh sebelum hotel Aquila.Nanti kamu akan menemukan bangunan besar dengan kaca-kaca gelap yang besar, gambar wajah-wajah orang jaman dulu, kartu domino/remi yang di panjang dalam ukuran raksasa.Jika banyak orang yang penasaran dengan misteri Rumah Gurita, sepertinya warga yang tinggal di sekitar rumah itu justru sebalikanya.Memang sih di atap rumah itu ada sebuah patung gurita raksasa berwarna hitam yang akhirnya membuat rumah itu di juluki Rumah Gurita.Namun ketua RT di kawasan tersebut justru bercerita jika patung gurita yang ada di atas rumah itu sejatinya hanyalah dekorasi karena patung itu di pakai untuk tandom air.Di mana di dalam kepala gurita itu ada wadah untuk menampung air.Bentuk patung yang besar dengan tentakel yang menjulur kemana-mana dan menutupi bagian atap rumah membuat berkesan mengerikan.Karena begitu misterius, Rumah Gurita sempat di tuding sebagai gereja iblis.Hal ini di ketahui bahwa nomor Rumah Gurita adalah enam di mana sang pemilik memasang tiga angka enam dalam pola berbeda.Jika kamu tahu, tiga angka enam yakni 666 sudah sejak lama di anggap sebagai simbol iblis.Akhirnya berkembang mengenai rumah ini sebagai tempat pemujaan.Beberapa rumor yang sempat berkembang adalah jika kamu ingin bergabung dengan sekte sesat ini maka jari mu akan di tusuk untuk persembahan darah kepada setan.Lalu lagu yang di gunakan adalah lagu-lagu heavy mental dan menggunakan kitab Anton Lavey Satanic Bible.Seakan kurang, mereka yang melakukan pemujaan harus makan tubuh bayi dari klinik aborsi dan dan meminum darahnya.Dengan isu yang berhembus luas dari Rumah Gurita adalah sebagai tempat ritual sesat, sang ketua RT setempat justru tak tahu menahu karena dia hanya tahu bahwa bangunan itu merupakan tempat tinggal.Di mana ada orang yang memang menempati Rumah Gurita meskipun bukannya sang pemilik.Di kabarkan orang yang tinggal di sana adalah orang tua san malas membuka pintu kepada tamu sehingga seolah-olah tampak tak berpenghuni.Namun sang ketua RT justru punya cerita unik di mana sempat ada seseorang yang ingin mendaftar di gereja yang di akui di Rumah Gurita itu.Hal itu membuat ketua RT binggung karena baru kali ini tahu ada orang yang ingin beribadah harus mendaftar dulu.Karena banyaknya rumor dan pertanyaan, Rumah Gurita menjadi benar-benar misterius.Belum lagi bentuk bangunan yang seolah selalu tertutup dan warna tembok yang mengelupas membuat Rumah Gurita tampak angker.Karena banyaknya rumor tidak jelas tersebar di Rumah Gurita yakni sebagai lokasi ritual sesat dan sekte bebas, kepolisian sampai melakukan pemeriksaan.Yap, banyak rumor menyebutkan jika anggota pengikut ritual sesat di sana di wajibkan melakukan seks langsung di depan jemaat lain.Namun dari pemeriksaan kepolisian, mereka sama sekali tak menemukan fakta jika bangunan itu di gunakan untuk sesat dan seks bebas.Tudingan itu kabarnya sempat di bantah oleh rekan pemilik rumah yang menyebutkan tak ada aktivitas gereja sesat dan sekte seks bebas di rumah itu seperti tudingan banyak orang.Dia menjelaskan bahwa Rumah Gurita hanya di huni tiga orang yang menjaga.Senada dengan ungkapan rekan pemilik rumah, beberapa tetangga yang sudah lama tinggal di dekat Rumah Gurita juga tak pernah menemukan kegiatan kecurigaan di sana.

Hantu Jamu Gendong
Folklore
21 Dec 2025

Hantu Jamu Gendong

Cerita nyata misteri hantu ini terjadi ketika Tono sedang bertugas jaga malam di kantor tempatnya berkerja.Sebagai seorang Satpam pasti sudah menjadi hal yang lumrah bekerja di shift malam.Sosok Hantu Jamu Gendong menghampiri Tono yang tengah asyik minum kopi di pos satpam.Ketika itu jam baru menunjukkan pukul 09:00 malam.Setelah patroli mengelilingi gedung kantor Tono beranjak keluar dari pintu gerbang tempatnya berkerja untuk melihat situasi dan kondisi sekitarnya.Satpam tersebut merasa sedikit aneh dengan keadaan sekalilingnya, di mana pertokoan sudah pada tutup sejak pukul 08:00 malam dan hanya terlihat seorang penjual nasi goreng tenda yang sepi pelanggan.Karena tidak ada teman ngobrol lantas Tono kembali ke pos jaga membuat kopi sebagai penghangat perut di malam itu.Belum juga kopi yang ia buat habis tiba-tiba ada suara seorang perempuan setengah baya yang bersumber dari balik gerbang menawarkan jamu pegel linu dan lain sebagainya.Tono yang tak curiga jika wanit tersebut merupakan Hantu Jamu Gendong lantas membuka gerbang dan meminta untuk di buatkan secangkir jamu pegel linu.Singkat cerita, Satpam di sebuah bank swasta itu lantas menghabiskan jamu tersebut.Ketik hendak membayar rupanya dompet Tono tertinggal di jaket yang ia centelkan di ruang samping kantor yang menjadi tempatnya parkir sepeda.Sebelumnya ia telah memiliki feeling yang tidak mengenakkan, terlebih ketika si penjual jamu gendong hanya diam saja ketika ia ajak bicara.Singkatnya Tono mengambil dompet di jaket untuk membayar jamu tersebut.Namun betapa terkejutnya ketika ia kembali di halaman kantor wanita setengah baya tersebut telah lenyap dan tak ada lagi di sana.Kisah misteri nyata ini rupanya baru di sadari oleh Tono.Ia berusaha mencari sekeliling dan menuju ke jalan untuk melihat apakah ada tukang jamu gendong yang terlihat berjalan.Ia berfikir pasti tukang jamu gendong tadi belum jauh dari tempatnya berkerja mengingat ia hanya mengambil uang dalam hitungan menit saja.Cerita misteri rupanya tak sampai di situ saja, ketika Tono hendak kembali ke pos jaga tanpa sengaja ia melihat tumpahan jamu yang tadi ia minum.Dan tiba-tiba tumpahan jamu yang ia minum berubah menjadi darah dan berbau anyir, sontak Tono lari ke toilet yang berada di belakang dan memuntahkan jamu yang telah ia minum.Perasaan merinding, takut sekaligus gemetar langsung menyelimuti Tono.Ia semakin yakin bahwa wanita yang barusan ia temui merupakan sosok Hantu Jamu Gendong yang menjadi pembicaraan masyarakat di sekitar tempatnya berkerja beberapa waktu yang lalu.Demikian cerita misteri nyata yang di alami Tono ketika di ganggu Hantu Jamu Gendong.

HOROR HANTU TANPA MUKA
Horror
21 Dec 2025

HOROR HANTU TANPA MUKA

James saat ini mulai memasuki koridor loby yang panjang, dia akan memulai hari barunya sebagai staf Akuntan di Bondan Law and Firm, kantornya sangat bonafid terletak di area strategis di wilayah Sudirman, gedung tinggi menjulang sampai 78 lantai, dan James melihat banyak profesional dengan pakaian yang sangat elegan hilir mudik di perkantoran tersebut.Dan James memasuki Lift menuju Lantai 13 kantor barunya berlokasi disana, saat pintu lift terbuka, James melihat koridor sepi lagi yang ada disana, dan James pun berjalan melewati koridor hingga sampai di ruangan dengan pintu bening dan disana sudah ada resepsionis yang menyambut James dengan ramah, dan saat James menunjukkan surat penugasannya, Resepsionis itu mengantarkan James ke ruangan HRD."Silahkan Pak James, ini ruangan Pak Andrew Manager Akuntan disini" ucap Lisa sang Resepsionis"Baik Terimakasih mbak" ucap James sopanPak Andrew menyambut kedatangan James dengan ramah"Silahkan duduk James, selamat saya ucapkan lebih dahulu atas keberhasilan bapak sudah bergabung diperusahaan kami" ucap Pak Andrew"Terima kasih pak, saya harap saya dapat memberi kontribusi yang baik pada perusahaan ini" jawab james"Pasti, saya sangat menyambut kamu dengan baik, karena memang saya kehilangan staf saya beberapa bulan ke belakang dan banyak pekerjaan yang menumpuk dan butuh diselesaikan" ucap Pak Andrew menaruh harapan kepada James untuk membantunya."Baik Pak" ucap james bersemangatDan Pak Andrew mengantrakan James ke ruangannya yang terletak di pojok sudut gedung, sambil memperkenalkan rekan-rekan lainnya.Dan hari itu dilewati James dengan cukup baik, rekan-rekan sekantornya cukup ramah dan banyak membantunya dalam mempelajari ruang kerja barunya. Dan betul kata Pak Andrew James harus sudah siap dengan banyaknya laporan yang belum terselesaikan.Tidak terasa jam sudah menunjukkan jam 5 sore, semua karyawan bersiap-siap untuk pulang, dan James masih melihat banyaknya kertas yang menumpuk di mejanya sehingga dia urungkan untuk pulang tepat waktu seperti mereka."james ayu pulang" sapa Mira rekan kerjanya yang duduk di seberang James"Nanti saja Mir, sebentar lagi aku selesaikan pekerjaan hari ini dulu" ucap James sambil tersenyum"Santai sajalah hari ini hari pertama kamu, jangan terlalu keras" ucap Mira menghampiri James"Iya mir tidak apa-apa kok" jawab James sambil tersenyum lagi"James, kamu masih baru, kamu belum tahu ada apa saja dikantor ini, sebaiknya kamu pulang jangan terlalu malam nanti" ucap Mira dengan nada khawatir"Baik Mir, aku usahakan sebelum gelap aku sudah pulang" ucap James bersemangatEntah mengapa hampir semua rekan-rekan James menatap James aneh dan mendekati Mira dan mereka sepertinya membicarakan James kepada rekan lainnya."Apakah aku terlalu bekerja keras, mungkin aku terlalu terlihat aneh saat ini" fikir James"Hai James" sapa Pak Andrew"Iya pak" jawan James"Aku lihat kamu sangat bersemangat, aku senang sekali dengan energi baru seperti kamu" ucap Pak Andrew"Iya pak, emang benar kata Bapak banyak sekali pekerjaan yang tertumpuk" ucap James"Semangat kamu James aku sangat menyukainya, lanjutkan ya, tapi hari ini aku sangat tidak fit jadi aku harus pulang sekarang" ucap Pak Andrew"Baik pak hati-hati" ucap James"Justru kamu yang harus hati-hati" ucap Pak Andew dengan nada misterius"Baik pak" entah mengapa sepertinya kata-kata hati-hati itu menjadi nada yang ditekankan oleh Pak AndrewWaktu sudah menunujukkan jam 9 malam, sebentar lagi laporan tersebut akan selesai.Tiba-tiba mesin fotokopi menyala sendiridan ruangan Pak Andrew nyala tiba-tiba, James merasa ada yang tidak beres disini, dia mulai berjalan ke arah koridor dan melewati ruangan ke arah mesin foto kopi.Dan tiba-tiba dia melihat di tempat mesin foto kopi ada seorang gadis sedang mengahadap mesin foto kopi, James lega berrarti dia tidak sendiri di ruangan ini, dan masih memiliki teman, dan James menghampirinya."Mbak, maaf kamu lembur juga ya?" tanya JamesTiba-tiba gadis itu menghadap ke arah James dan yang membuat James kaget adalah gadis itu tidak memiliki muka smeua polos.James langsung lari ke arah ruangannya, badannya sangat gemetar dan keringat dingin pun mengucur, dan James mengambil tasnya dan lari ke arah pintu, dan menuju liftnya.Tiba-tiba gadis tanpa muka itu sudah ada didalam lift saat pintu lift terbuka"Kamu... mau apa?" tanya JamesGadis itu hanya diam menatap James dan tiba-tiba tubuh James tertarik untuk masuk kedalam Lift"Tolong jangan ganggu aku" ucap James ketakutanDan gadis itu membuat lift terasa sangat ringan dan membawa James kembali ke ruangannya dengan gadis itu, James melihat ada gadis yang berpakaian sama sedang memfoto kopi tapi gadis ini memiliki wajah yang cantik, dia hanya seorang diri sepertinya teman yang lain sudah pulang.Tiba-tiba ada empat orang mendekati dia diantaranya Mira"Bela, kamu itu selalu cari muka sama atasan dengan lembur seperti ini, kamu tahu gara-gara kamu sekarang kami tidak bisa pulang tepat waktu" ucap Mira"Tapi aku hanya ingin menyelesaikan tugasku" ucap Bela dengan wajah ketakutan"Tidak apa-apa kalau itu tidak merugikan kita, tapi kelakuan kamu itu membuat kita semua sekarang harus ikut lembur seperti kamu" ucap Roy laki-laki dengan tubuh gempal"Lalu kenapa kalian menyalahkan aku?" tanya Bela"memang ini semua salahmu" ucap mereka beramai-ramai, dan tanpa sadar Mira membenturkan wajah Bela ke mesin foto kopi sampai Bela tidak sadarkan diri"Bagaimana ini" tanya Mira"Kalau dia lapor Pak Andrew kita pasti dikeluarkan" ucap Roykita bersihkan darahnya, dan kita harus membawa dia ke tempat lain, dan mereka segera ergi membawa Bela ke taman belakang gedung, dan dengan teganya mereka memukul wajah Bela sampai wajah Bela hancur dan Bela tidak bernafas lagi.mereka menguburkan Bela di taman belakang itu, dan sampai saat ini tidak ada yang tahu apa yang diperbuat oleh mereka."Hai James, kamu pulang jam berapa tadi malam?" tanya Mira ke James pagi iniJames melihat Mira ketakutan "Aku... aku hanya sampai sore saja kok mbak Mira" ucap James gugup"Oh baiklah bagus, awas saja" ucap Mira tidak menyelesaikan kalimatnya seperti ada nada ancamanSeharian ini James tidak tenang mengetahui dia bekerja dengan rekan-rekan yang telah membunuh Bela karena kesalah pahaman.Ada niat James untuk memberitahu Pak Andrew tentang masalah ini, saat James berjalan ke ruangan Pak Andrew tiba-tiba dia melihat Mira ada disana"Dia berbohong sayang, pasti dia juga karyawan yang cari muka, masa dia bilang dia pulang sore padahal di CCTV dia pulang hampir jam sembilan malam" ucap Mira"Jangan sampai bos besar tahu tentang hal ini" ucap Pak Andrew"Lalu bagaimana jika kita berbuat hal yang sama seperti kepada Bella kalau dia macam-macam" ucap Pak Andrew"Coba kita lihat malam ini" ucap MiraTiba-tiba James shock mendengar apa saja yang baru saja dibicarakanDia berjalan kembali ke mejanya, dan disitu dia melihat kertas sudah bertumpuk kembali di mejanya dengan note : besok di kumpulkanJames kehilangan akalnya bagaimana bisa Pak Andrew terlibat hal seperti iniWaktu sudah menunjukkan jam 5 sore, semua rekan - rekan pamit dan James mulai ditinggalkan sendirian, keringat bulir James mengucur deras, tapi dia mengalihkan semua ketakutan kepada pekerjaannya.Dan kejadian itu terulang, mesin foto kopi yang menyala sendiri, dan juga lampu ruangan pak Andrew yang berkedap -kedip, James mulai membayangkan Bela ada di mesin foto kopitetapi tiba-tiba lampu gelap gulita, semua mati total tidak ada yang menyalaAda seberkas cahaya terlihat, seperti sinar dari handphone"Siapa... siapa kamu?" tanya JamesAda dua orang bertopeng mendatanginya, "James kami sangat benci dengan orang yang cari muka" ucap suara wanita yang dikenalnya seperti suara Mira"Aku tidak cari muka, tapi aku hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan ku" ucap James"Dasar orang-orang seperti kamulah yang membuat karir saya tidak bisa naik, hanya diam ditempat saja" ucap suara laki-laki yang James kenal suara Pak ANdrewTapi tiba-tiba listrik menyala, pak Andrew dan Mira sangat kaget, ternyata mereka membawa senjata tajam ditangannyaDan tiba-tiba Mira terpental jauh ke sudutPak Andrew sangat kaget dibuatnya"Kamu... kamu bagaimana kamu ada disini" ucap Pak AndrewDan disitulah James melihat Bela di Hantu tanpa muka ada disana"Kalian memang orang jahat" ucap Bela dengan wajah amarah yang membabi butaPak Andrew pun terlempar jauh ke sudut ruangan"Ampun Bela" ucap Mira"Kami tidak bermaksud seperti itu" ucap MiraTetapi Bela semakin menjadi murka "Kalian harus bertanggung jawab, muka kalian harus sebagai ganti untuk mukaku""Jangan Bela, Jangan tolong jangan kamu balas dendam kepada kami" ucap Mira bersuara ketakutanDan tiba- tiba mereka berdua terlempar ke jendela dan jatuh ke lobi bawah gedung.James sangat kaget dan ketakutan melihat kejadian tersebut, dia benar - benar tidak bia menggerakkan tubuhnya, sehingga datang security kantor yang menghampirinya, dan setelah itu James menjadi saksi kepada polisi atas apa yang terjadi hari itu.Saat semua polisi sudah menginterogasi JAmes, James pun keluar dan menuju koridor kantornya dan menuju lift, dan ternyata di dalam lift, ada HAntu bela tapi kali ini dia sudah memiliki wajah Mira.

HOROR SHIFT TIGA (HANTU PIETRA)
Horror
20 Dec 2025

HOROR SHIFT TIGA (HANTU PIETRA)

Beberapa hari yang lalu Diego mengambil cuti dikantornya untuk pergi bersama keluarga keluar kota, dan hari ini Diego baru masuk kembali kekantor, seperti biasa suasana kantor sudah mulai sepi saat Diego datang, Diego langsung masuk ke ruang Call Centre dan melakukan aktivitas seperti biasa, abesen dan log in ke semua sistem, dan sepertinya ada sesuatu yang aneh suasana sangat sepi, bahkan beberapa menit ini Diego menunggu sahabatnya Pieter seperti biasa untuk menemaninya tapi Pieter seolah-olah lenyap tidak datang sampai saat ini.Satu jam berlalu, Pieter belum datang juga, Diego jadi merasa gelisah seperti ada yang kurang dalam shift tiga kali ini, Diego mencari Pieter ke Pantry dan juga ruangan yang lainnya."Apakah Pieter marah padaku karena aku cuti beberapa hari ini??" fikir DiegoDan jam - jam pun berlalu sampai waktu menunjukkan jam sepuluh malam, dan Diego semakin gelisah, beberapa telepon nrmal pun banyak yang masuk untuk menanyakan masalah teknis yang mereka hadapi.Hari ini sangat aneh bagi Diego, semua terasa sangat NORMAL, dan hal ini sangat membuat Diego malah menjadi resah, mana hantu-hantu yang sering mengunjunginya, bersamanya saat menjalani shift tiga, apakah semua sudah menjadi biasa, apakah cuti kemarin berdampak pada kebiasaan yang dijalaninya dikantor ini.Jam pun menunjukkan jam dua belas, Diego hampir saja tertidur karena dia sangat lelah menunggu Pieter yang tidak datang-datang, sampai dia merasakan ada orang yang berdiri didekat dirinya."Kamu siapa?"Tanya DiegoLaki-laki berwajah Indo berkulit putih dan sangat pucat itu hanya melihat Diego dan memandangnya tanpa bersuara sedikit pun."Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Diego sekali lagiDan masih wajah yang sama hanya memandanginya saja tidak bersuara sama sekali"Apa yang terjadi kepadamu?" tanya Diego "Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Diego"Aku sudah melenyapkan Pieter" jawabnya datar"Apa maksudmu?" tanya Diego kaget"Aku suda melenyapkan semua hantu-hantu disini, sekarang akulah penguasa disini" ucapnya"Apa maksudmu, kenapa kau melenyapkan Pieter, dia penjaga dikantor ini" ucap Diego tidak terimaTiba-tiba hantu laki-laki itu menerbangkan semua berkas yang ada di meja Diego"Kamu harus pergi dari sini" ucap hantu tersebut"Aku tidak akan pergi aku bekerja di tempat ini, dan aku tidak takut kepadamu" ucap Diego"Apakah kamu mau melawanku" tanya Hantu itu kepada Diego"Aku tidak takut kepadamu" ucap Diego sekali lagiKali ini semua kursi bergerak ke sana kemari, membuat Diego menutup matanya, sepertinya kali ini hantu itu serius untuk mengusir Diego dari kantornya.Diego membacakan semua hafalan surat yang diingatnya, dia menutup matanya berusaha tidak menatap mata hantu tersebut.Dan Hantu tersebut mulai mendekati Diego, dan mulai mencekik leher Diego."Kamu akan menjadi tumbalku, pengikutku" ucap Hantu tersebut terus menekan Diego"Diego hampir tidak kuat untuk menahannya, dia sangat sulit untuk melepaskan tangan Hnatu tersebut dari lehernya, sepertinya kali ini Hantu itu dapat menguasai tubuhnya, tiba-tiba angin kencang masuk ke dalam ruangan, berputar semakin kencang.Sampai akhirnya Diego melihat Pieter melempar hantu itu menjauh darinya"Jangan pernah kau sakiti dia Pietra" ucap Pieter"Mengapa kau menolongnya, dia bukan golongan kita" Ucap Hantu Pietra sangat marah kepad Pieter"Dia tidak bersalah, dan dia banyak membantu hantu gentayangan seperti kita" ucap Pieter"Tapi kita harus mengajaknya ke dunia kita" Ucap Hantu Pietra dengan nada sangat kencang dan marah"Belum waktunya dia didunia kita" ucap PIeter sekali lagiDan ternyata Pietra mulai mendekati Pieter dan ingin mencekiknya, dan Pieter melawannya, sekilas yang terjadi seperti kilatan-kilatan cahaya yang ada, mereka bergerak sangat cepat, dan hampir tidak terlihat, sampai akhirnya Diego melihat bahwa Cahaya besar itu terjadi, dan dia melihat Pieter dan Pietra terlampar saling menjauhi, dan akhirnya Pietra seperti menghilang.Diego lega ternyata Pieter menghampirinya"Siapa dia?" tanya Diego"Dia adalah Pietra hantu belanda, penghuni Kantor perpusatakaan di belakang, dai berusaha untuk menguasai ruangan ini" ucap Pieter"Mengapa kau menghilang tadi?" tanya Pieter"Aku menyelamatkan hantu-hantu lainnya yang hampir disakiti oleh Pietra untuk menjadi pengikutnya" ucapnya"Untung kau datang tepat waktunya menyelamatkan aku" ucap Diego"Pietra adalah hantu yang jahat, dia adalah penjahat yang mati penasaran pada zamannya dikarenakan hukuman gantung yang diterimanya karena semua kejahatannya" ungkap Pieter"Dan saat menjadi hantupun Pietra tetap menjadi hantu yang jahat" tanya Diego"Iya, dia sangat benci jika ada hantu penasaran kembali menjadi tenang" ungkap PieterDisaat itu Diego tersenyum bahagia, bukan hanya Pieter menyelamatkan dari Hantu jahat seperti Pietra tetapi karena Diego tahu Pieter akan selalu menemani dan menjaganya di Shift Tiga ini.

Antara Cinta dan Corona
Teen
20 Dec 2025

Antara Cinta dan Corona

XI IPS 1Gilvan Sanjaya :ASSALAMUALAIKUM WR.WB. SALAM SEJAHTERA DAN SELAMAT SORE. TABIK PUN.KEPADA YTH. BAPAK IBU GURU DAN STAF TU SERTA PESERTA DIDIK KELAS X, XI DAN XII SMAN 1 PENAWARTAMA ATAS DASAR SURAT PETSETUJUAN BELAJAR TATAP MUKA TERSEBUT MAKA MULAI BESOK: SELASA, 4 AGUSTUS 2020. KITA MULAI KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR TATAP MUKA.DENGAN JADWAL NEW NORMAL YANG SUDAH ADA (2 SIP )TERIMA KASIH.Ahul gans : Wanjay gurinjayy ini beneran bosque?Arlan : PRANK nih PRANK! Ya kan @Gilvan Sanjaya?Aksara : @Gilvan Sanjaya @Gilvan Sanjaya tolong dong jangan gantungin dedek:(Ahul : @Aksara NajisunGilvan Sanjaya : Itu Chat dari Pak Suyadi selaku kepala sekolah di SMAnsaSintya : Allhamdulilah uang saku lancar lagi:)Selin : 2 bosen njir di rumah rebahan teros:(Gilvan Sanjaya : Jadwal nanti di share wali kelas masing2. Karena di bagi 2 sesuai nomor absen. Jngan lupa besok pakai masker, bawa handsanitaizer, bawa bekal karena wacananya kantin blm boleh buka, bawa air minum jugaSintya : Siyap sayang @Gilvan SanjayaAhul : Ahsiap pak ketos gans tapi masih gans an gua hahahAksara : sedang mengetik....Ahul : sedang mengetik....Hanya admin yang dapat mengirim pesanHanya admin yang dapat mengirim pesan***Seperti pengumuman yang diberikan Gilvan selaku ketua osis Smansa peta, tahun ajaran baru di mulai hari ini.Ahul in the geng sudah nangkring di parkiran sambil melirik para murid baru yang masuk sif pagi."Adek kelas kita bening-bening banget asli, jadi pengen halalin," gumam Aksara pada ketiga temannya sambil bersiul bahagia."Percuma glowing kalo ga bisa cetik geni," celetuk Arlan."Kalian apaan sih, baru masuk sekolah udah ngegosip aja. Harusnya kalian itu bersyukur di saat yang lain belum di izinkan tatap muka, kita udah bisa face to face kaya gini walaupun harus selalu mematuhi protokol kesehatan.""Sosial distancing minimal satu meter bege!" Ahul kesal karena keempat temannya itu malah berkumpul bagaikan semut mengelilingi gula, Ahul yang jadi gula tentunya."Eh, Van mau kemana?""Kelas.""Buset, dari tadi diem aja giliran mau cabut ga ngajak-ngajak ngerti lagi gua." Ingin rasanya Ahul menenggelamkan wajah gans Gilvan ke comberan saat ini juga."Ah lama." Kedua temannya Aksara dan Arlan sudah berjalan menyusul Gilvan, meninggalkan Ahul yang masih mendumel tidak jelas."Suek! Njir tungguin guee...."Gubrak!"Aish!""Monyet." Ahul menabrak benda hidup!"Kalo jalan liat-liat dong, kak," keluh adik kelas Ahul.Ahul melirik name tag di sisi baju gadis di depannya Chaca ."Sorry, Cha. Buru-buru soalnya telor gue mau netes."Chaca menaikkan sebelah alisnya sebelum akhirnya ia tertawa keras."Telor kakak netes? Huwah congrats kak! Telor apa btw?" Wajah innocent Chaca membuat Ahul menyadari sesuatu."Telor buwung puyuh." Ahul menggaruk tengkuknya. Chaca terkikik di tempatnya."Lo, kenapa ga pake masker?" Gadis di depannya memang berbeda dari kebanyakan murid lainnya yang mematuhi peraturan pemerintah. Memakai masker."Oh, lupa ga kebawa tadi.""Nih, pake punya gue." Ahul segera melepas maskernya lantas memberikannya kepada Chaca."Hidih ogah, bau jigong.""Ahahahaha mana ada, cogan kaya gue bau jigong."Jika di lihat-lihat Ahul memang ga burik-burik amat. Rambutnya berantakan yang malah terkesan sexy, matanya sipit, kulitnya sawo matang ditambah bau parfumnya yang anti badai yang di pake sekali wanginya berhari-hari."Gaje lo kak, dahlah." Tanpa permisi Chaca segera meninggalkan Ahul.Ia baru sadar jika ketiga temannya sudah sampai di kelas membuktikan jika kesetia kawanan mereka lemah!***Sepulang sekolah tadi, Ahul menyeret ketiga temannya untuk mampir ke rumahnya sekedar makan siang katanya."Kalian pernah denger nama Chaca ga di SMAnsa?" Tanya Ahul pada ketiganya."Gak." Gilvan to the point."Sama, gue juga ga pernah denger, gue pernah sih denger tapi yang gini nih. Chaca maricha hehey, Chaca maricha hehey, Chaca maricha ada di kampung baru...."Krik krik..."Anak kelas XI IPA bukan? Satu-satunya Chaca yang gue tau cuma itu," kata Erza tanpa menghiraukan Aksara yang mulai ga waras."Maybe, ciri-cirinya kulitnya putih, putih banget sampe terkesan pucet terus rambutnya pendek.""Iya, bener Chaca anak XI IPA 1.""Kenapa, Hul? Lo naksir?""Enggak, dia yang naksir gue," jawabnya sambil ngupil."Halu tingkat dewa!""Cowok tukang ngupil, siapa yang doyan?" Ketiganya tertawa keras kecuali Ahul. Untung saja ayah dan ibu Ahul tidak sedang berada di rumah kalau ada sudah ribet urusannya.Kampret!***"Len, lo tau kakel kita yang namanya Ahul gak?"Arlen yang tadinya rebah di atas kasur pun langsung bangkit duduk di samping Chaca."Ahul upil maksud lo?" Chaca mengernyit tidak mengerti."Upil apaan?""Kakel kita, anak XI IPS 1.""Ga tau sih.""Wait."Arlen mengotak-atik ponselnya setelah beberapa lama ia menyodorkan layar ponselnya ke arah Chaca."Ini kan?""Nah, iya!"Melihat reaksi Chaca yang begitu berlebihan, Arlen jadi penasaran dong."Kenapa emangnya sama dia?""Ga kenapa-napa, gue tadi di tabrak sama dia. Wanjir wangi banget....""Halah percuma wangi kalo suka ngupil, lagian kak Ahul ga mungkin mau sama cewek bandel kaya lo.""Bandel gapapa yang penting cantik."Arlen memutar bola matanya malas, "BODO AMAT!"***Tidak terasa face to face sudah memasuki bulan ke delapan, dimana kelahiran Indonesia tercipta."Gue peringatin, sebelum Bu Henny bertindak kalian harus sadar diri. Apa susahnya sih make masker di muka kalian?" Gilvan jengah melihat beberapa siswa maupun siswi yang kerap melanggar aturan. Sekali lagi tidak mematuhi anjuran pemerintah."Jangan mentang-mentang kita berada di zona hijau, kita selamat. Belum tentu, siapa tau nanti kamu," Gilvan menunjuk gadis berambut pendek yang berada di depannya."Yang kena covid-19.""Hih, amit-amit." Gadis yang ditunjuk hanya menyaut acuh seperti biasanya."Hukuman buat kalian hari ini adalah ngepel Mushola." Finish. Gilvan berbalik melenggang pergi."Aish, yang kena Corona kan gue, kenapa situ yang repot!" Chaca gadis yang sempat di tunjuk Gilvan kembali mendumel."Bentar lagi 17 Agustus, bakal ada kegiatan apaan Van?""Alah paling cuma daring di rumah," Aksara meremehkan."Semoga aja enggak, bosen weh di rumah terus.""Van, astaga! Gue nanya elu bor. Muka lenturin dikit napa kaku amat kaya kanebo kering." Ahul menyebik."Belum ada.""Lo kenapa sih, Van? Gabut segitunya.""Gue ga gabut. Gue cuma kesel sama anak yang selalu ngelanggar aturan sekolah. New normal ga akan berjalan lancar kalau anak-anak semacam Chaca terus berkeliaran bebas seenaknya.""Urusin tuh, gebetan lo. Ahul upil." Aksara tertawa kecil melihat ekspresi datar Ahul.Memang sekarang Chaca dan Ahul semakin dekat, tapi Ahul belum ada rencana tuh buat nembak Chaca.***"Kak, jalan yuk.""Lah kamu pikir kita ini lagi apa? Ngesot?"Chaca berdecak sebal, "maksud aku jalan-jalan.""Mau kemana?""Pokoknya jalan-jalan. Bosen tau di rumah terus berasa di kurung.""Harusnya emang gitu, oke kita jalan.""Yes!""Kita bakal beli masker dan peralatan lain buat kamu, jangan bandel Cha. Kasian temen aku.""Aku ga bandel, kak Gilvan aja yang galak.""Gue anterin pulang, besok gue jemput jam sepuluh.""Okeee."***Seperti yang di janjikan, Chaca sudah menaiki beat putih milik Ahul. Mereka akan jalan-jalan sekedar melepas bosan, meskipun itu sebenarnya di larang pemerintah karena tidak memiliki kepentingan untuk keluar rumah."Kak," panggil Chaca."Apa, Cha?""Ke pasar yuk.""Gamau.""Ih, kenapa?""Ribet. Banyak orang. Gaboleh.""Aish, ayo dong kak. Bentar aja.""Kamu ga pake masker Cha.""Tapi aku kan pake helm, janji deh helmnya ga aku lepas.""Enggak usah, kita ke Alfamart aja.""Gamau!""Cha.""Gamau, gamau, gamau."Ahul terpaksa menepikan motornya, lantas membuka helm full face nya lalu menoleh ke belakang."Bentar aja," kata Ahul lembut."Huwah, siap makasih kakak sayang."Meskipun berat namun Ahul tetap menuruti kemauan gadis yang telah mencuri perhatiannya itu.Suara bising khas orang yang saling tawar menawar serta ramainya pengunjung pasar membuat Ahul berdecak lantas meraih tangan Chaca.Setelah satu jam berkeliling, mereka akhirnya bergegas kembali ke motor. Chaca sudah repot membawa belanjaannya, dia membeli beberapa plastik sayuran dan makanan. Berbeda dengan Ahul yang langsung menunggangi kuda besinya mengajak Chaca pulang."Kamu tadi romantis banget," kata Chaca ketika mereka sampai di depan rumah Chaca."Romantis kenapa?""Romantis karena tadi pas di pasar kamu megangin tangan aku terus.""Romantis apanya, aku cuma ga mau kamu belok ke toko baju."Seketika Chaca menyebikkan bibirnya."Aku ga suka baju, Ahul. Aku sukanya sayuran, seblak, sama kamu doang.""Iya udah sana masuk, nih maskernya besok sekolah jangan lupa di pake. Love you."***Gilvan berdiri memperhatikan wajah bandel yang sudah sangat ia hapal beberapa bulan lalu."Chaca indira, mana masker lo.""Ketinggalan, kak.""Klasik." Gilvan berdecih."Hari ini cuma lo yang ngelanggar aturan jadi....""Hacih... Maaf kak," kata Chaca dengan suara yang sedikit berbeda. Hidungnya gatal luar biasa."Oke, hukuman lo....""Hacih... Hacih... Maaf kak.""Lo sakit? Kenapa masuk sekolah?" Melihat mata Chaca yang mendadak teduh serta hidungnya yang memerah membuat Gilvan sedikit khawatir."Tadi enggak sak... Uhuk... Uhuk... it kak.""Tapi sekarang Uhuk... Uhuk.... Tenggorokan gue sakit, badan gue juga rasanya demam.""Ada yang nggak beres," gumam Gilvan."Lo tunggu di sini, jangan kemana-mana dan nyentuh apapun di sini."Gilvan segera pergi ke ruang guru dan memberitahu kepada guru BK."Halo, Ahul, cewek lo sakit ke depan kantor sekarang." Setelah menghubungi Ahul, Gilvan segera menyusul Bu Henny yang sudah terlebih dahulu menemui Chaca."Chacha ayo ke UKS." Belum sempat Bu Henny memapah Chaca suara Gilvan membuat Bu Henny mengurungkan niatnya."Kenapa, Van?""Apa ga sebaiknya Chaca di bawa ke dokter langsung aja, takutnya ada sesuatu yang ga diinginkan."Benar juga batin Bu Henny."Ya sudah Chaca ayo ibu antar ke puskesmas.""Tunggu!"Ahul datang tergopoh-gopoh sampai napasnya naik turun tak beraturan."Chaca kamu beneran sakit?" Chaca hanya mengangguk sesekali ia bersin sesekali pula ia batuk-batuk."Gue jadi ngeri, ya," bisik Arlan yang membuntuti Ahul bersama Aksara dan Erzan."Jangan-jangan kena Corona lagi." Suara Aksara membuat Bu Henny, Gilvan, Ahul dan Chaca sendiri menoleh ke arahnya."Hust! Gaboleh ngejudge sembarangan. Ayo Cha." Bu Henny berjalan mendahului Chaca memasuki mobil. Untuk berjaga-jaga, Chaca di tempatkan di bangku tengah seorang diri sedangkan Ahul, Gilvan, Aksara, Erzan, dan Arlan membuntuti di belakang membawa motornya masing-masing.***Dokter yang menangani Chaca mendadak pucat pasi, ia bungkam enggan berbicara. Namun Ahul terus memaksa dokter berperawakan gemuk itu untuk berbicara."Chaca demam biasa, kan Dok?""Dok tegang amat, lemesin dikit dong," keluh Aksara gemas."Dok, gimana hasilnya?" Kali ini Bu Henny yang berbicara."Siswi atas nama Chaca ternyata positif Corona.""Astaghfirullah halazim.""Ya Allah.""Subhanallah."Mendadak suasana mencekam bak sedang menonton film horor."Kita harus segera menangani pasien suapaya yang lain tidak terjangkit, silahkan kalian semua bersih-bersih diri dahulu lalu kita bicarakan ini lagi. Oh, ya, orang tua pasien tolong segera di beritahukan." Dokter tersebut lalu bergegas pergi, ikut membersihkan diri barangkali.Sedangkan Ahul sudah seperti orang gila. Ia ngupil dengan tatapan kosong."Gue mau ketemu Chaca sebentar.""Enak aja! Enggak-enggak, kita harus bersihin diri dulu baru bisa kesini lagi.""Ayo." Bu Henny terlihat lemas pasalnya sudah dapat di pastikan jika sekolah akan di tutup kembali.***"Chaca," bisik Ahul."Kak Ahul, maafin Chaca, ini akibat dari kesalahan yang Chaca buat sendiri. Chaca nganggep Corona ga berbahaya ternyata dia bisa memisahkan kita...." Air mata Chaca mengalir deras. Ia benar benar menyesal namun mau bagaimana lagi nasi sudah jadi rengginang. Chaca harus segera di pindahkan ke rumah sakit khusus penampung pasien corona.Maka dari itu sebelum semuanya terlambat, baik zona hijau, kuning, orsnge, bahkan merah, jangan sampai menyepelekan aturan yang sudah di tetapkan oleh pak Jokowi. Karena itu demi kebaikan dan kebahagiaan bersamaEnd

Bita, bakso dan Arya
Teen
20 Dec 2025

Bita, bakso dan Arya

"Jatuh cinta itu seperti menancapkan belati ke ulu hati, semakin dalam tusukannya akan semakin dalam lukanya dan akan semakin lama juga pulihnya"Ting ... Ting ... Ting ...Suara sendok yang di ketukkan pada mangkuk terdengar nyaring, seperti biasa Bita gadis berambut Curly langsung berlari keluar rumah untuk menghampiri sesosok tukang bakso bakar langganannya."Pak!" Gadis itu tersenyum dengan mata berbinar ketika melihat bola bola bakso yang sedang ditusuk oleh pak Bolang. Pemilik gerobak bertuliskan BAKSO BOLANG itu langsung dengan sigap menyiapkan pesanan Bita seperti biasanya tanpa bertanya terlebih dahulu.Hidung Bita melebar menghirup dalam-dalam aroma beberapa tusuk bakso yang di panggang."Wah, tumben baksonya jam segini tinggal sedikit, pak." Bita baru menyadari kalau bola bola bakso yang biasanya di tata di balik kaca gerobak menumpuk kini sudah nyaris habis."Allhamdulilah neng Bit, tadi ada pemuda seumuran neng yang borong bakso bolangnya bapak," jawab pak Bolang dengan raut tak kalah ceria."Laris manis tanjung kimpul, bakso bolang abis duit terkumpul!" Tiba-tiba Bita berteriak seolah ialah yang menjual bakso bakar tersebut.Pak Bolang menggeleng sambil tersenyum lantas menyodorkan lima puluh tusuk bakso bakar yang sudah matang."Ini neng bit, baksonya.""Ini pak Bol, uangnya." Keduanya langsung berpisah melanjutkan aktivitasnya masing-masing.***Bita baru selesai mandi, handuk masih melilit tubuhnya namun ia belum ada niatan untuk berganti baju malah berjalan mendekati meja dekat ranjang dimana sepiring bakso bakar miliknya berada."Tanggung, gue abisin dulu deh," gumamnya pada diri sendiri.Di saat ia sedang asyik mengunyah Bita teringat ucapan pak Bolang sore tadi yang sedikit mengganjal."Siapa yang borong bakso bakarnya pak bolang ya? Selain gue mana ada! Gabisa di biarin gue harus cari tau. Kalo ketemu, gue ajak mukbang bakso bakar bolang!!" Serunya ambisius.***Suara riuh di kelas membuat Bita langsung merasa lapar, sayangnya jam istirahat masih kurang satu jam lagi ditambah ia harus mengisi tugas yang di berikan oleh guru matematikanya, karena beliau sedang sakit maka ia hanya mengirimkan segudang tugas untuk para muridnya.Bita mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan tidak ada yang bisa ia andalkan kecuali pemuda yang duduk di bangku pojok kanannya, siswa pindahan beberapa hari lalu. Dia cukup pandai di bidang akademik, tanpa menunggu lama Bita pun menghampirinya."Hei," sapa Bita sedikit ragu.Mata cokelat madu yang tadinya menunduk kini mendongak menatap Bita."Gue boleh nyontek?" Tanyanya to the to the point"Kalo lo bisa ngerjain sendiri kenapa harus bergantung sama orang lain?"Bita mengerutkan dahinya, pasalnya pemuda yang ia kira kalem ternyata memiliki lidah setajam silet."Gue gabisa, makanya gue minta bantuan lo." Ia tidak mau kalah."Bantuan buat lo tambah bodoh?""Arya!" Seru Bita sebal ia tidak terima di katai bodoh, dia tidak bodoh hanya saja ia malas berpikir.Tanpa aba-aba Bita menyerbu Arya dengan pukulan beruntun."Dasar ya lo, cowok belagu! Sok pintar! Rasain, nih!""Sialan!" Arya melindungi wajahnya dari tangan Bita lalu dengan mudahnya ia menangkap kedua tangan gadis itu.Nafas Bita terengah-engah menahan rasa kesalnya, rambut Curly miliknya yang hanya di urai jatuh sebagian di pipi Arya."Lepasin!""Gue enggak berteman sama spesies kaya lo." Setelah mengatakan itu Bita langsung keluar dari kelasnya, tanpa mereka sadari banyak yang diam-diam mengamati kejadian tersebut.***"Lo tadi kenapa bisa ribut sama Bita?""Dia itu cewek aneh, masa dateng-dateng minta contekan.""Kenapa ga lo kasih aja ketimbang bonyok tuh muka.""Alvin, kalo dia doang mah ga ada apa-apanya," ucap Arya meremehkan."Pokoknya lo harus minta maaf daripada lo nyesel. Daripada lo bonyok beneran.""Harus banget?""Terserah lo!" Alvin lalu bangkit meninggalkan Arya sendirian.***Ting ... Ting ... Ting ...Bakso bakar bolang lewat di jam yang sama seperti biasanya. Bita yang memang sedang tidak ada kerjaan sengaja duduk di teras rumahnya menunggu pak Bolang lewat sambil mendengarkan musik."Pak!" Serunya lantas bangkit berlari mendekati gerobak pak bolang."Duh neng, maaf banget baksonya sudah habis." Pak bolang berkata dengan nada sedih begitupun dengan Bita, mata yang tadinya berbinar seketika meredup. Padahal seharusnya pak bolang senang karena dagangannya habis terjual tetapi karena pelanggan setianya menjadi murung ia ikut bersedih."Yah, kok bisa sih. Bisanya juga enggak.""Pemuda yang kemarin borong bakso bolang bapak, tadi dia beli lagi dan di borong deh semuanya," jelas pak Bolang dengan menyebikkan bibir."Yaudah deh pak, gapapa. Makasih." Bita berbalik kembali ke rumahnya sementara itu pak Bolang masih menatap kasihan gadis yang hidup sebatang kara itu setelahnya pak Bolang mendorong gerobak kembali kerumahnya.Bita sudah memegang handle pintu bersiap untuk mendorongnya tetapi sebuah suara familier menginterupsi gerakannya."Bit."Bita menoleh, sedetik kemudian ia menatap tajam kearah pemuda yang memegangi kantong plastik."Ngapain lo kesini?!""Gue mau minta maaf, salah?""Gaperlu." Bita sudah hampir masuk kedalam rumahnya namun di cegah oleh Arya."Maafin gue Bit.""Gamau dan ga akan pernah mau. Gue udah bilang kan, gue enggak temanan sama spesies kaya lo, Minggir!" Ketusnya.Arya mendorong Bita masuk kedalam rumah bersama dirinya."Gue minta maaf, gue nggak akan ngelakuin hal bodoh itu lagi." Arya menatap teduh wajah Bita."Nggak!""Ini, sebagai permintaan maaf gue." Arya menyodorkan bakso bakar yang ia borong tadi kepada Bita."Oh, jadi lo yang udah ngeborong dagangannya pak Bolang.""Nih, buat lo.""Eit, tapi janji lo harus maafin gue." Sambungnya ketika tangan Bita hampir mengambil bakso bakar darinya."Berisik lo!"Bita langsung menyaut lantas memakan tusuk pertusuk bakso bakar favoritnya sedangkan Arya mengamati bagaimana lahapnya gadis itu melahap bakso. Diam-diam ia mengaguminya.Semenjak kejadian itu mereka lebih sering berdua, mukbang bakso berdua, jalan-jalan berdua, bermain berdua sampai akhirnya Arya mengungkapkan perasaannya."Bita, gue enggak tau sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi semenjak ada lo hidup gue lebih berwarna, gue rasa lo harus jadi pacar gue."Bita tersenyum sampai matanya membentuk bulan sabit, "Bahkan cinta pun harus butuh kesepakatan, kalo cuma kamu yang suka bakalan berat sebelah dan bakalan sakit sendiri."Arya menggembungkan pipinya, sangat menggemaskan."Tapi kan lo suka gue?"Bita kembali tersenyum namun kali ini sambil menggeleng."Mungkin iya dan mungkin enggak.""Kenapa? Setelah apa yang terjadi lo nggak ada rasa sama gue?" Arya menatap penuh tanya, terlihat sekali kekhawatiran di wajahnya."Sama sekali enggak ada, kalo dengan berteman bisa menumbuhkan rasa cinta lebih baik kita akhiri ini.""Tapi?""Kita nggak pacaran, kita juga nggak temenan. Kita kembali ke awal yang nggak saling mengenal.""Kenapa Bit?" Arya meraih kedua tangan Bita berharap ini hanya lelucon."Gue cuma nggak mau kita sama-sama sakit. Yah, walaupun gue tau lo sakit sekarang tapi seenggaknya nggak terlalu dalam." Perlahan Bita melepaskan genggaman tangannya dari Arya lalu melenggang pergi.***Arya berjalan seorang diri melewati koridor sekolah yang masih sepi, ia sengaja berangkat awal agar bisa dengan cepat menemui Bita. Ia meyakinkan dirinya jika yang terjadi semalam hanyalah sebuah mimpi.Namun, sampai jam istirahat selesai Bita belum juga muncul. Sampai pak Harto memberikan informasi mengejutkan Arya."Maaf mengganggu waktunya sebentar, mulai hari ini dan seterusnya teman kita Bita cahyani pindah sekolah ke luar kota. Sekian terimakasih."Seluruh murid Xl IPA 1 bertanya-tanya, pasalnya kemarin Bita tidak sedang terjadi apa-apa. Begitupun Arya tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipinya.TAMAT

Chain Reaction
Fantasy
20 Dec 2025

Chain Reaction

"Lari! Lari!"Jeritan memenuhi udara ketika aku masih sibuk menyapu ruang kerja raja. Bukannya turut mencari tempat berlindung, aku justru diam dan kembali bekerja. Inilah waktu yang selama ini kutunggu."Lari, Blair! Gajimu tetap akan dibayar!"Seruan dari rekan sesama pelayan ini tidak pula aku dengarkan. Bukan perkara gaji, melainkan rasa penasaran akan kejadian selanjutnya. Aku tahu ini terdengar bodoh, tapi ada satu hal yang harus aku lihat setelah sekian lama."Lari! Selamatkan diri kalian!"Seruan itu tidak juga aku gubris. Kembali menyapu ruang kerja baginda raja, aku dengan tenang melanjutkan pekerjaan selagi pelayan lain kalang kabut dalam istana. Mereka mungkin akan tewas juga terinjak kerumunan akibat panik. Sebagian lagi ada yang memilih menunggu sejenak membiarkan yang lain berlalu daripada menyatu dengan karpet nantinya.Keadaan semakin parah ketika terdengar kabar tidak kalah mengerikannya."Drystan dari Utara telah memasuki gerbang!"Drystan dari Utara, itukah namanya sekarang? Terdengar menarik.Dia bocah dari negeri di utara yang desanya dihancurkan dua dekade lalu. Drystan bisa dibilang satu-satunya yang selamat dari tragedi tersebut. Kini, dia menjelma menjadi sosok pria yang dipenuhi amarah dan dendam kepada raja kami, Raja Brone."Keluarlah, Brone! Hadapi aku dan jangan jadi pengecut!"Wah, cepat sekali dia sampai ke depan gerbang.Tentu saja momen ini yang aku tunggu. Ketika sang pahlawan berasal dari kaum yang paling tersakiti kini berdiri tegak mengarahkan pedang pada leher sang tiran.Ah, ungkapan tiran terkesan terlalu kejam. Tapi, biarlah. Toh, begitulah Raja Brone di mata Drystan, bukan?"Berakhir sudah eramu!" ucap Dyrstan dengan sorot mata layaknya api membara.Tanpa aba-aba, kulihat Drystan sudah mendekatkan pedangnya ke leher Raja Brone. Bahkan dari jendela istana saja aku merasakan hawa dingin menusuk hingga membuatku gemetar, antara takut sekaligus penasaran."Engkau merenggut semua yang aku miliki!" Drystan menatapnya tajam. "Kini, aku ingin membalas ribuan nyawa yang engkau renggut!"Raja Brone tentu mengetahui, dia juga yang terlebih dahulu merencanakan misi kabur bagi para penghuni istana ini, kecuali para jenderal dan pasukannya, setelah mendengar kabar Drystan dalam perjalanan menuju istana.Tragedi dua dekade yang lalu sebenarnya cukup sederhana. Ada tiga ekor naga penghancur massal dari istana yang menyerang tiga negeri sekaligus, termasuk daerah Drystan berasal. Akibatnya, kami kehilangan banyak sekali rakyat dan harta.Raja Brone tidak bertindak banyak atas tragedi tadi, dia justru sibuk menyembuhkan jiwanya dengan bertamasya di sebuah gunung bersama para jenderal. Dan aku harus tetap membersihkan ruang kerjanya selama seminggu meski tidak ada yang mengotori selain debu yang tidak jelas asal-usulnya."Engkau harusnya menahan diri, Drystan dari Utara," balas Raja Brone dengan nada tenang."Menahan diri?" beo Drystan dengan nada mengejek. "Kaukira ribuan nyawa itu tiada harganya, begitu? Oh, rakyat kecil mana pernah berharga di matamu.""Engkau terlalu cepat menilai."Nah, di situasi seperti ini Raja Brone yang usianya setengah abad tetap bersikap tenang. Bahkan tidak tampak gentar. Dia berani menatap langsung ke mata hitam Drystan yang memancarkan api kebencian."Lantas, siapa yang membebaskan Tiga Naga Penghancur dua dekade lalu?" balas Drystan. "Asalnya dari istanamu! Dari mana lagi?"Raja Brone masih tidak mengubah nada suaranya. "Percayalah, waktu itu aku masih di gunung bersama para jenderal. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada mereka!"Dia tunjuk para jenderal yang berbaris di depan pasukan. Semua secara serempak menyatakan bahwa memang betul apa yang raja mereka katakan. Memang benar, bersantai di gunung merupakan kegiatan bulanan Raja Brone bersama beberapa jenderal yang dia pilih. Tidak jarang juga dia ajak beberapa pelayan dan staff istana lain untuk turut serta.Drystan berdecak. "Yang benar saja! Para jenderal bisa kamu ancam agar mau berbohong, bukan?"Tidak ada yang membalas.Drystan mengangkat pedangnya, bersiap membelah Raja Brone. "Siapa lagi yang membebaskan para naga itu selain engkau, he?"Pada akhirnya, Raja Brone mengepalkan tinju hingga keluar aura keunguan di balik tangannya. Bertepatan dengan itu, sihirnya berhasil menahan tebasan pedang Drystan.Di situlah pertempuran pecah.Aku menjauh dari jendela, takut jika ada sesuatu yang menabrak hingga membuat jantungku meledak. Sebagai satu-satunya pelayan lelaki yang bertahan di dalam istana, aku kembali membersihkan ruang kerja baginda raja. Menghindari segala jenis keributan seperti yang terjadi di luar."Aku tidak memberi apa pun. Tapi, engkau seenaknya mengambil segala yang aku miliki!"Seruan Drystan dari luar disertai dentingan pedang dan perisai membuat bulu kudukku meremang. Menyadari tekadnya yang kuat serta aura membunuh darinya membuatku ingin segera melayang ke langit dan duduk di antara para malaikat. Namun, nyawaku tidak juga dicabut dan terpaksa aku terima saja takdir ini."Brone! Enyahlah di neraka!" Seruan Drystan menciptakan kericuhan yang lebih parah.Untungnya, Raja Brone masih utuh di dalam tameng ungu ciptaannya dan membiarkan Drystan mengamuk di luar sambil menebas pedangnya.Drystan tidak lelah menyeru kalimat yang sama."Pembunuh! Perampas! Tiran!"Tentu aku tidak bisa membiarkan Drystan terus tenggelam dalam bayangan palsu akan kejadian di balik semua ini. Dia mungkin tidak siap mengetahui fakta di balik tragedi yang merenggut nyawa keluarga serta temannya.Semua ini terjadi karena satu hal. Aku benci mengakuinya, tapi inilah saat yang tepat untuk menyampaikan kebenaran.Banyak orang yang tahu bahwa dalam istana ini, lebih tepatnya di ruang ini, ada ruang rahasia yang hanya bisa dimasuki oleh raja dan aku–sebagai tukang kebersihan. Ruangan itu harus selalu dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang salah apalagi sampai menciptakan keributan seperti di luar.Tunggu, memang seperti itu kejadiannya.***Dua dekade yang lalu, waktu aku masih baru saja dilantik sebagai tukang kebersihan ruang kerja raja, aku diutus untuk menjaga ruang ini selagi raja bersama para jenderal berlibur eh, maksudnya bertugas mengasah kemampuan berburu mereka di gunung.Aku bersihkan setiap jengkal yang ada, termasuk lukisan keluarga sang raja yang ukurannya luar biasa besar. Belum lagi aku perlu menyusun rak buku, memungut dan merapikan berkas berhamburan, hingga memeriksa tinta jikalau kosong."Bersihkan setiap jengkal ruangan ini atau kupenggal gajimu!"Tentu, ancaman dari Raja Brone tadi membuatku takut seribu satu kali. Hingga ketika membersihkan ruangan, tiada lagi bekas noda yang tersisa.Ketika hendak beristirahat, aku menyadari ada satu ruang yang belum disentuh. Maka terpaksa aku bangkit dari tempat duduk kemudian berjalan mengarah ke ruangan rahasia tadi. Kunci yang Raja Brone berikan memang ajaib, karena ruang mana saja bisa dimasuki termasuk ruang rahasia sekalipun.Raja Brone memiliki tiga ekor naga yang dia rampas dari sebuah kerajaan beberapa dekade sebelumnya. Kini naga-naga itu sudah pasti tumbuh besar dan semakin kuat. Tentu akan sangat berguna nanti. Tidak heran mengapa dia sangat menjaga binatang buas ini, meski nyawa taruhannya.Jika Raja ingin naga itu tetap terawat selama dia pergi, maka tidak menutup kemungkinan bahwa dia juga ingin aku setidaknya membersihkan ruangan ketiga peliharaannya.Maka tanpa ragu aku buka pintu besar itu dengan harapan dapat membersihkannya. Namun ketika pintu terbuka, aku menyadari kesalahan kecil ini."ROOOAAARRR ....!"Aku menjerit dan jatuh. Dunia bergetar kala raungan dari ruangan tadi menggelegar menggetarkan istana."Naga! Naga!" Aku menjerit.Para pelayan yang masih di istana juga turut menjerit. Apalagi ketika dentuman bersahutan mulai meruntuhkan bagian dalam maupun luar istana. Tidak ada yang lolos dari semburan api, gigitan naga, bahkan yang lolos dari keduanya pun tetap akan mati terinjak kaki naga. Tanda makhluk itu benar-benar ingin memusnahkan setiap apa yang mereka lihat.Anehnya, para naga yang berfungsi sebagai pemusnah massal ini tidak menggubrisku ketika lepas. Mereka membiarkanku terbaring sambil melongo menyaksikan kepergian mereka. Barangkali tidak melihatku akibat terlalu bersemangat ingin memusnahkan umat. Bagaimanapun juga, aku tetap menyesal dan membawa perasaan ini hingga sekarang.***Saat itulah aku menyadari, aku telah membebaskan senjata pemusnah massal yang berakibatkan perang ini. Akulah penyebab kematian ribuan nyawa tidak bersalah. Dan kini raja di negeriku menjadi taruhannya pula. Sekarang, seorang pria pemarah yang tampaknya akan menjelma menjadi naga pemusnah massal tadi, mungkin akan membunuh setiap pelayan di istana yang tersisa, hingga sampai padaku.Lalu di sinilah aku, di ruangan yang memulai tragedi ini, sedang menanti takdir.TAMAT

Pahlawan
Fantasy
20 Dec 2025

Pahlawan

Seorang gadis kecil menjerit ketika rambutnya yang jingga dijambak oleh seorang pria yang diduga mendagangkan buah. Di tengah suasana pasar yang ramai, gadis malang itu tampak sengaja dipermalukan. Terdapat banyak tumpukan buah yang keluar dari tas yang gadis itu bawa, tanda banyaknya buah yang dia curi. Tidak heran menyulut amarah pedagang itu“Lihat! Ini pencurinya!” Si penjambak menarik kepala gadis itu dengan kasar. “Dia pantas untuk dihukum!”Aku yang waktu itu berusia dua belas tahun tidak sanggup menyaksikan anak seusiaku diperlakukan begitu. Namun, di sisi lain aku memang tidak bisa membenarkan tindakannya. Belum pernah kulihat gadis ini di kota tempatku berasal, barangkali dia pendatang yang kelaparan.“Apa yang sebaiknya kulakukan?” ucap si pedagang dengan nada mengejek. “Akan kupukuli saja!”“Tunggu!” seruku. “Biar aku yang ganti rugi, asal bebaskan dia!”Pedagang itu menatapku. “Kamu mau membayar sebanyak ini?” Dia tunjuk tumpukan buah yang berjatuhan.Entah kenapa aku dengan penuh percaya diri berucap. “Ya, akan kubayar semua kerugian ini. Dengan syarat, bebaskan gadis itu!”***Kejadian empat tahun silam kembali membuatku sedikit malu meski di sisi lain bangga telah menyelamatkan seseorang. Namun, hingga kini aku belum juga menemui gadis itu lantaran dia langsung pergi begitu dibebaskan. Menduga dia sebagai pendatang membuatku berprasangka bahwa bisa jadi dia sekarang telah kembali ke kampung halamannya. Andai kami dapat berjumpa kembali suatu saat nanti.Kini, aku berada di pasar dan hendak membeli makan malam. Hingga jeritan memecah suasana pasar yang meriah. Bersamaan dengan itu, beberapa barang yang akan dijual di pasar berjatuhan akibat sesuatu yang mengejar. Berlarian para warga berusaha menyelamatkan diri. Sebagian bahkan berani saling mendorong dan menjatuhkan agar selamat.Seekor iblis telah memangsa seseorang, tapi masih menginginkan mangsa baru. Di antara yang terjatuh dan terinjak kerumunan menjadi santapan.Di antara yang berlarian, aku berjuang menyeimbangkan kaki agar tidak mudah terjatuh apalagi terinjak. Namun, tubuhku terdorong oleh sosok di belakang hingga jatuh.Bruk! Aku jatuh di antara kerumunan yang berlari. Mereka hanya terus berlari, tidak peduli dengan apa pun selain keselamatan diri.Tepat ketika aku membuka mata. Wajahku berhadapan langsung dengan sosok iblis yang kelaparan.Aku menutup mata, tidak sanggup jika harus menyaksikan iblis itu menyantapku.Kudengar suara sesuatu yang terpotong. Bertepatan dengan benda jatuh di depan. Perlahan ketika mata terbuka, dapat kulihat sosok wanita berdiri di depanku, di tangannya terdapat sebilah pedang yang berdarah serta kepala iblis yang terpenggal di tanah.Dialah Dima, yang melindungi kota ini dari para iblis. Selain gerakannya yang tangkas, juga penglihatannya yang tajam membuat dia selalu menjadi pengawas terbaik. Meski kali ini dia datang terlambat karena sudah memakan korban.Ketika iblis tadi tumbang, kerumunan perlahan menghentikan langkah untuk menyaksikan tubuh iblis yang telah terpenggal itu.“Terima kasih!” Ucapan yang menggema dan selalu terdengar setelah kedatangannya. Hampir semua orang di area terdekat berseru bahkan menganggungkan Dima. Meski begitu, tidak pernah kulihat dia menanggapi. Barangkali karena itu hanya sekadar ucapan, bukan sambutan lain seperti upah atau hadiah.Dima menjauh membiarkan mereka terus mengucapkan terima kasih padanya. Bahkan ketika sebagian mendekat untuk mengucapinya pun dia abaikan layaknya angin lalu. Namun, sikap itu tidak membuat reputasinya menjadi buruk karena dia tetaplah pelindung kota ini. Sebagai sosok yang terkenal, tidak sedikit yang mendekat dan ingin menjadi temannya. Namun, sejauh ini belum ada yang menarik perhatiannya.Ketika Dima menjauh, aku memberanikan diri mendekat dan menatap wajahnya. Rambutnya jingga agak bergelombang yang diikat di bagian belakang, kulitnya kuning langsat sementara matanya kuning. Penampilannya memang seperti kebanyakan penduduk sekitar sini sehingga asal-usulnya bisa ditebak hanya dengan anggapan bahwa dia memang benar terlahir dari bangsa kami.“Terima kasih.” Ucapan itu keluar dari bibirku.Tidak disangka, matanya tertuju padaku. “Aku yang seharusnya berterima kasih.”Meski terlihat biasa saja, balasan darinya sukses membuatku terkesiap. Jantungku berdebar ketika ucapan dibalas oleh sosok yang aku kagumi juga. Namun, kenapa dia berterima kasih padaku?Namun, belum sempat berbuat banyak, dia telah raib.***“Keren, lho, dia bicara padamu langsung,” puji tetanggaku keesokan paginya.“Barangkali itu hanya ucapan untuk kita semua, bukan hanya untukku,” ujarku berkilah. Meski aku tahu dia mengucapkannya sambil menatap langsung ke arahku. Tapi, kenapa bilang terima kasih alih-alih bilang “sama-sama” yang lebih masuk akal?“Siapa tahu kamu bakal menjadi temannya,” ujarnya lagi.Ucapan itu hanya kubalas dengan gelak tawa.Setelah obrolan kecil itu, aku memutuskan untuk pergi ke hutan untuk mencari beberapa kayu bakar atau barangkali berburu. Setelah berkemas, aku bawa dalam satu tas kulit dan melangkah menuju hutan di tengah teriknya mentari. Memasuki hutan, aku berhenti sejenak untuk mengamati sekitar. Memastikan tidak ada bahaya mengintai. Bahkan di suasana hening pun tidak selamanya aman. Dengan waspada, kembali kulangkahkan kaki dan mencari kayu bakar. Bila beruntung, akan ada seekor kelinci yang bisa disantap untuk malam ini.Srek! Bunyi daun kering terinjak membuatku terperanjat. Langsung saja aku berpaling dan memegang erat pisau yang kugunakan sebagai alat berburu. Suasana hutan kembali hening, namun tentu setelah mendengar bunyi itu membuatku skeptis.“Maaf sudah membuatmu takut.”Suara yang kukenal.“Dima?” Aku nyaris tidak percaya. Kebetulan macam apa ini?!Baru kali ini kulihat dia tersenyum. “Maaf kalau malam tadi terlalu membingungkan.”“Tidak apa.” Ah, mungkin saja dia salah berucap.Dima kemudian merogoh saku dan menunjukkan beberapa keping uang. “Terima kasih sudah membayar ganti rugi waktu itu. Kini, aku kembalikan uangmu.”Aku ternganga melihat kepingan uang yang ada di tangannya. Hendak berucap tidak tapi aku juga merasa pantas menerimanya. Kuakui waktu itu dia mencuri buah dalam jumlah yang tidak sedikit. Maka, aku terima uang itu. “Terima kasih.”Dima mengangguk. “Sama-sama, pahlawanku.”Aku tersipu mendengarnya. Melihat sosok yang waktu itu hanya gadis kurus kering yang tampak menyedihkan kini menjelma menjadi wanita penuh wibawa.Baru saja hendak berucap lagi, Dima telah pergi. Meninggalkanku yang hanya bisa menyaksikan kepergiannya dengan melongo.Tamat

Don't bet on it
Romance
20 Dec 2025

Don't bet on it

Aleta menghempaskan bokongnya ke jok mobil Tiara, mulutnya sudah menguap berulang kali."Yuk, gas," Serunya tak bertenaga."Kasian banget, sih lo. Udah gue bilang nggak usah dateng ke tempat kek gini masih aja ngeyel." Tiara yang memegang kemudi hanya bisa mendengus kesal melihat temannya tepar."Tiara, gue juga mau kaya lo. Gue mau kaya anak cewek pada umumnya.""Tapi nggak gini juga!""Lo beda, Let. Lo cewek baik-baik."Tidak ada sahutan, karena selanjutnya dengkuran haluslah yang Tiara dengar. Memang salah Tiara mengajak temannya yang masih bau popok emaknya itu ke tempat party. Tiara menggeleng pelan mengingat Aleta yang banyak meminum minuman beralkohol, mungkin malam ini Aleta akan ia ajak pulang ke indekosnya.****"Huaa...!"Seisi penghuni kos berlari tergopoh-gopoh menuju sumber teriakan."Ada apa yak?""Enek opo to?""Ana apa kue?"Hening. Sampai kemudian Tiara muncul dengan handuk yang melilit di atas kepalanya."Eh, kenapa pada ke sini?" Tanyanya bingung ketika melihat tiga orang temannya berdiri di depan kamarnya."Itu, ada yang tereak di kamar lu.""Aleta!" Tiara segera menggedor pintu kamarnya."Leta! Buka Ta! Lo nggak papa kan?""Huaaa....!" Teriakan kembali terdengar membuat empat gadis di depan pintu kamar Tiara kembali gaduh."Jangan jangan koncomu arep bundir?""Hus, lambene lah nik ngomong oradi saring sik.""Minggir!" gadis keturunan betawi mengusir teman-temannya agar menyingkir dari depan pintu. Tiara lupa jika Neli punya bakat bela diri.SatuDuaTigaDan...Gubrak!Neli terjerembab ke lantai, seluruh temannya hanya terpaku lantaran terkejut melihat pemandangan di depannya."Bwahahahaha! Ngapain lo?"Aleta?" Tiara ikut menahan senyum pasalnya ketika Neli mendobrak pintu tiba-tiba saja Aleta membukanya."Aduh, sealan!" Umpat Neli lantas berdiri sambil mengusap-usap wajahnya."Sorry, sorry. Lagian lo ngapain main dobrak kamar orang?" Aleta masih cekikikan melihat wajah Neli yang kini membiru akibat ulahnya sendiri. Ralat akibat ulah Aleta. Sebenarnya."Oke, balik ke topik awal. Lo ngapain teriak-teriak, Let?" Tiara berkacak pinggang sembari menaikkan sebelah alisnya."Gue... Gue berubah jadi ayam!"Tiara hanya mengedikkan bahunya, "Mungkin efek karena semalem lo minum terlalu banyak. Fine, sekarang kenapa kalian masih pada di sini?" Ketiganya menyengir lantas membubarkan diri. Menyisakan Tiara dan Aleta."Yaudah masuk, gue mau ganti baju." Tiara mendorong tubuh Aleta kembali masuk ke dalam kamarnya.****Pasca kejadian semalam. Aleta di buat mengantuk pagi ini. Dia mendengarkan materi pelajaran sambil sesekali menguap. Bahkan kondisinya saat ini sangat mengenaskan. Rambutnya awut-awutan di tambah lingkaran hitam di sekeliling matanya membuatnya seperti Mak lampir. Boro-boro make up-an, mandi aja enggak!What the...FuckTuk! Kepala Aleta terkatuk meja. Ia hanya meringis lalu kembali memejamkan matanya sampai sebuah suara mengerikan bergaung."Leta, cuci muka. Sekarang!""Leta!" Melihat siswinya itu hanya mengangguk-angguk tanpa arti akhirnya Pak Jojon pun bertindak.Byuur...Nasi sudah menjadi bubur. Aleta terperangah merasakan guyuran hujan menimpa tubuhnya. Aleta mendongak untuk melihat siapa pelakunya yang tak lain adalah guru kimianya sendiri."Hehe..." Aleta hanya meringis melihat pak Jojon yang mendelik menatapnya."Keluar dari kelas! Murid krucil ini sukanya bikin ulah saja."Aleta menurutinya tanpa banyak bicara. Lagipula kesadarannya masih belum sempurna. Ia akan tidur di tempat lain yang pastinya lebih nyaman dari ruang kelas. Yap! Perpustakaan. Ide bagus.Aleta berjalan perlahan menyusuri anak tangga karena perpustakaannya berada di lantai atas. Namun, tiba-tiba suara maskulin menyapanya membuat Aleta terperangah."Hai, Aleta.""Eh, hai!" Aleta semakin canggung ketika melihat pemuda yang baru saja menyamakan langkahnya."Lo, mau kemana?" Tanyanya sambil memiringkan kepala menatap Aleta."Gu... Gue mau ke... Ke perpustakaan. Lo sendiri?" Aleta menoleh menatap pemuda berkumis tipis di sampingnya."Oh, gue mau juga mau ke sana.""Dih cie... Samaan!""Hehe iya. Btw bukannya kelas lo lagi ada guru, ya?"Keduanya melangkah masuk ke dalam perpustakaan. "Iya ada guru. Gue di suruh belajar sendiri. Gatau itu pak Jojon jahat banget sama gue.""Eh, curhat?""Bukan gitu Rafael. Yaudahlah." Aleta mengibaskan tangannya lantas mengisi daftar hadir diikuti Rafael.Setelah mengisinya. Mereka berjalan mulai membiak ratusan buku yang tertata rapi di atas rak."Lo mau nyari buku apa, sih?""Gue?" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri."Hm.""Mau cari buku yang tebel.""Buku tebel? Buku apaan?""Ya, pokoknya buku yang tebel!""Heh, kalian berdua. Udah tau tata tertib di sini, kan?" Petugas perpustakaan mengangkat tongkat panjang yang diacungkan tepat ke arah Aleta dan Rafael."Iya, kak. Sorry." Aleta memutar tubuhnya namun malah tersandung kakinya sendiri alhasil tubuhnya limbung, belum sempat punggungnya menyentuh lantai Rafael sudah menyangganya.Keduanya bertatapan sama-sama canggung sampai deheman penjaga perpustakaan menyadarkan mereka."Ehm....""Eh.""Lo, lo, ga papa?" Tanya Rafael gugup."Gue... Gapapa kok."Setelah mengambil buku keduanya berjalan dan duduk di meja melingkar. Semula keduanya hanya diam namun, setelah penjaga perpustakaan keluar dari ruangan barulah Rafael bergumam, "Aleta, semalem lo ke bar, ya?"Aleta yang masih membaca sambil terkantuk-kantuk pun mendongak lantas menyengir kuda. "Iya hehe lo, tau darimana?""Yah, semalem gue juga ada di sana."Bibir Aleta membentuk huruf O."Lo nanti balik sama siapa?"Aleta menaikkan sebelah alisnya.' kenapa Rafael jadi care sama gue, duh jadi melting kan!!!'"Leta...""Eh, iya?""Gue balik sama Tiara kaya biasanya, lah.""Oh, kalo baliknya sama gue gimana?""Hah?" Terlihat Rafael memutar bola matanya sekilas sambil tersenyum."Gue anterin ke kosan lo, Mau?""Enggak tau.""Oke gue anterin.""Lho?" Aleta memasang wajah cengo sedangkan Rafael hanya tersenyum sekilas.****Ketiganya berjalan beriringan menuju parkiran."Rafael mau nganterin gue balik, lo beneran, nih gapapa nyopir sendirian?""Gapapa lah, yaudah sono. Rafael tiati bawa ni bocah."Rafael menyengir sambil mengacungkan jempolnya. "Siap, gue duluan ya.""Bye."Keduanya meninggalkan Tiara menuju mobil Rafael. Rafael sendiri hanya senyam-senyum sedari tadi."Lo, kenapa, sih, Raf senyum-senyum sendiri?""Gapapa, cuma gatau kenapa gue gemesh sendiri sama muka lo.""Hah! Muka gue?""Iya muka lo itu imut jadi pengen gigit tau."Aleta menggembungkan pipinya.Masa gue mau di gigit sih, mending juga di tium terus di coyong coyong ya kan:(Rafael yang masih mengemudi sekilas menoleh. "Ngambek?""Kagak, siapa juga yang ngambek!""Lah itu ngegas, berarti lo ngambek.""Enggak Rafael.""Kok berhenti?" Aleta berkedip pelan ketika Rafael mematikan mesin mobilnya."Donat.""Hah?!""Gue mau beli donat.""Oh.""Lo suka donat?"Enggak, gue gasuka donat, gue sukanya Lo"Aleta, kok malah ngelamun, sih?""Lo gasuka donat?"Enggak! Dibilangin gue sukanya elo bukan donat ga peka banget sih_-"Leta," panggil Rafael untuk kesekian kalinya, namun kali ini sambil menepuk lengan Aleta."Iya kenapa? Gimana?""Gue nanya, lo suka donat enggak?""Oh, gue sih ga terlalu suka.""Yaudah kalo gitu, lo tunggu sini bentar."Setelahnya Rafael pun keluar dari mobilnya lalu berjalan memasuki sebuahBakery cake yang cukup terkenal.Aleta menghembuskan nafasnya berat."Dua tahun lebih gue suka sama lo, Raf dan sekarang lo datang tanpa gue minta," lirihnya.Aleta menoleh ketika Rafael masuk kembali ke dalam mobil sambil membawa selusin donat kacang di tangannya.Ternyata lo ga perduli sama gue yang ga terlalu suka donat. Buktinya tuh lo beli donatnya, selusin lagi!"Sorry, ya lama nunggu."Aleta mengangguk. Rafael kemudian melanjutkan perjalanan mereka.Setelah beberapa lama, Rafael kembali membanting setir menepikan mobilnya ke pinggir jalan."Kenapa lagi?""Lo suka bunga kan?"Senyum Aleta mengembang, matanya memancarkan harapan yang teramat besar. Ia mengangguk, "Gue suka... elo Banget.""Yaudah, yuk turun."Aleta dan Rafael melihat lihat berbagai macam bunga, Aleta nyaris berteriak ketika matanya melihat bunga berwarna putih"Daisy!""Apa, Let?" Rafael menoleh melihat Aleta yang sudah berlari memeluk bunga berwarna putih itu."Gue mau ini!" Katanya setengah berseru."Oke.""Mbak bunganya yang itu, ya. Dua."Alis Aleta berkerut, "Dua?"Rafael tersenyum sambil mengangguk, "Lo mau nemenin gue sebentar nanti?""Kemana?""Secret...."Aleta mendengus namun kembali tersenyum ketika pegawai toko menyodorkan bunga Daisy kesukaannya.Aleta berjalan membawa dua bunga sekaligus, hatinya berbunga-bunga."Let."Aleta yang baru saja menutup pintu mobil pun menoleh."Kenapa?""E... Jangan jauh dari gue ya nanti."Mata mereka bertemu, pipi Aleta memanas ketika Rafael mendekatkan kepalanya ke kepala Aleta. Aleta memejamkan matanya dan..."Pipi ke tempelan daun."Yah gue kira mau di ciumHup...Kening Aleta terasa panas oleh benda kenyal yang tak lain adalah bibir Rafael yang menempel di sana.Jantungnya sudah berlari kesana kemari bahkan perutnya terasa mual mungkin ini yang di sebut butterfly syndrome?***"Kita mau kemana, sih Raf?"Mereka sampai di sebuah apartemen. Rafael tidak menjawab hanya saja ia langsung menyuruh Aleta turun, tidak lupa ia mengambil donat yang tadi ia beli.Rafael mengotak-atik ponselnya, tidak lama kemudian seorang cewek berpipi chubby keluar dalam apartemen tersebut."Rafael?" Cewek itu tersenyum membuat matanya menyipit.Rafael balas tersenyum, ia menoleh ke arah Aleta yang hanya mematung di tempat dengan wajah penuh tanda tanya.Selanjutnya, Rafael menggandeng tangan Aleta mendekati cewek berpipi chubby tersebut.Rafael melepaskan tangannya dari tangan Aleta ketika mereka sudah berdiri tepat di depan cewek itu."Kenalin ini Aleta, temen aku.""Aleta ini pacar gue, Wulan."Aleta mendengus, "Wulan kan punyanya Joko, ngapain lo pacarin!"Kenapa, kenapa Rafael setega ini!"Garing tau Let."Rafael menganggap ini guyonan?! Enggak enggak gue ga bisa ngalah lagi sekarang."Nama gue Wulan intan Nuraini, kalo menurut lo Wulan itu punyanya Joko, lo bisa panggil gue Intan karena Intan itu punyanya Rafael." Cewek itu tersenyum manis membuat Aleta jengah bahkan ingin menangis sekarang.Aleta tidak menjawab, hatinya dongkol pada makhluk mungil bantat di hadapannya. Saat ini ia benar-benar bernafsu untuk mencabik-cabik serta memolor pipinya yang tembam itu."Kamu udah makan?" Wulan menggeleng."Makan donat dulu nih buat ganjel perut, aku masakin gurame ya?" Wulan mengangguk."Pinter." Rafael tersenyum lalu mencubit pipi Wulan gemas.Aleta mendengus, bisa-bisanya dia diajak ke sini hanya untuk menyaksikan ke-uWuan mereka berdua."Aku ke mobil sebentar ada yang ketinggalan."Aleta mengedikkan bahunya acuh, sementara Wulan mengangguk."Lo anggep Rafael pacar Lo?" Kali ini Aleta bersuara."Iya, ada masalah?""Lo anggep dia budak atau pacar? Bisa-bisanya dia mau repot masakin lo.""Rafael itu... kerjaannya ngurusin gue, macarin gue, ngedate sama gue, ngurusin gue, jalan bareng gue, ngurusin gue, merhatiin gue, ngurusin gue," terangnya polos."Lo...." Aleta menahan ucapannya ketika Rafael datang dan langsung menyodorkan bunga Daisy kepada Wulan."Wah indah banget." Wulan terkagum-kagum melihat satu buket bunga di tangannya."Iya, Aleta yang milihin."Aleta memutar bola matanya malas, kalau saja dia tau akhirnya akan seperti ini tidak akan dia memilih bunga Daisy untuk cewek ini."Gue mau balik.""Aleta, kenapa?" Rafael menarik lengan Aleta, mencegahnya untuk pergi."Terlalu berharap sama orang itu... Ribet!" Aleta menepis tangan Rafael kasar sebelum akhirnya ia berlari meninggalkan apartemen Wulan.Gue ga sedih, gue ga kecewa, cuma nyesek aja kenapa bisa Rafael milih wulannya Joko ketimbang gue, cewek bantat kaya dia yang bisanya cuma ngerepoti doang. The right, gue bakalan nyari yang lebih pantes dari lo Rafae l.End

Sweetest
Romance
20 Dec 2025

Sweetest

Ada yang cinta tapi bukan lauraCirah membereskan kelas barunya sambil bersiul menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, dia sangat senang karena hari ini adalah hari pertama ia menyandang status baru yakni menjadi seorang senior sekolah, lebay memang tapi begitulah Cirah mengekspresikan dirinya. Padahal ia bukanlah siswu berprestasi atau berbakat dalam bidang apapun dia hanyalah Cirah, gadis dengan segala kesantuyannya."Lagi bersih-bersih, Reng?" Cirah menoleh lantas memutar bola matanya malas, ia bahkan menggantungkan pertanyaan yang memang ditujukan untuknya di udara tanpa berminat untuk menjawab."Sombong, nih sombong!""Lo bersihin kaca deh, timbang bicit aja," ujar Cirah kepada pemuda yang sedari tadi hanya duduk di atas meja sambil memandangi para siswa lain membersihkan ruang kelas."Si Bima sama si deglek udah gue utus, tuh." Pemuda itu mengarahkan pandangannya kepada dua orang laki-laki yang sama sibuknya dengan siswa lain."Reng, gue duduk di sebelah lo."Alis Cirah langsung menjengit sebelah seolah tak rela. "Lo manggil gue apa barusan? Reng? Lo kira gue Gareng apa." nada suaranya yang santuy memang selalu menjadi nilai tersendiri bagi Yoyon untuk terus menggoda Cirah.Yoyon terkekeh kecil lantas turun dari meja dan berjalan mendekati Cirah yang sudah selesai menata bangkunya."Gue di sini." Yoyon mengambil tempat di sebelah Cirah tanpa sadar ia tersenyum melihat gadis bertubuh bantat itu tidak menggubrisnya."Mau kemana?" Yoyon mendongak ketika melihat Cirah sudah mencangklong tasnya hendak keluar kelas."Mau bolos di hari pertama? Gila ya lo! Tunggu woe!" Yoyon ikut ikutan mencangklong tasnya lantas menyusul Cirah yang sudah menghilang lebih dahulu."Percuma kalik gue masuk kelas kalo gurunya masih pada stand di kantor.""Lo hobi banget, sih, bolos," gerutu Yoyon yang memegangi perutnya lantaran berlari mengejar Cirah tadi."Lah, emang lo nggak?""Ya, kan bedaa cireng.""Stop, panggil gue cireng, nggak enak di denger.""Ya iyalah Cireng nggak enak buat di denger, Cireng enaknya kan, di makan," kelakar Yoyon."Aci di goreng maksud lo?"Yoyon mengangguk lantas menghentikan langkah Cirah."Ada, apa?" Cirah menoleh dengan raut wajah bingung."Ada yang cinta tapi bukan laura." Yoyon mengekspresikan wajahnya secengo mungkin dan sedetik kemudian wajah malas Cirah lah yang menyambut Yoyon."Kita mau loncat pager, lo duluan abis itu gue.""Siap, mulai," Cirah mengintrupsi.Yoyon hanya mengangguk lalu melompat keatas pagar dengan begitu lincahnya begitupun dengan Cirah, meskipun ia seorang wanita yang memiliki berat badan lumayan tetapi, jangan remehkan attaksi lompat melompatnya apalagi jika hanya melompati pagar sekolah yang tingginya sekitar satu meter setengah."Lo, ninggalin Bima sama Angga di sekolahan?""Iyalah, biarin aja ntar juga mereka nyusul kok," sahut Yoyon sembari menyedot es degan."Gue mau pulang ke rumah," Cirah bangkit berdiri sudah bersiap untuk meninggalkan Yoyon."Lo bolos bareng gue, masak mau ninggalin gue sih, Reng.""Yang suruh lo ikut gue, siapa?" Cirah menatap Yoyon teduh dengan suara yang datar."Gue,""Ya udah berarti itu urusan lo, bukan urusan gue. Bye," kata Cirah diiringi senyum tipis."Dasar Cireng! Di ikutin malah ninggalin, untung sayang kalo nggak udah gue buang.""Ini cendolnya, kenapa sih, kok ngedumel aja dari tadi?" Seorang pedagang cendol memberikan segelas cendol kepada Yoyon lantas ikut duduk di sebelahnya."Enggak papa bu, cuma kesel aja sama Cireng yang nggak pernah peka ups.""Siapa nama ceweknya? Cireng? Kok kaya makanan begitu ya?" Bu Pur tertawa kecil lantas bangkit berdiri."Bu," panggil Yoyon ketika sang pemilik kedai mulai masuk kedalam untuk membuatkan minuman kepada pelanggan lain."Iya nak?""Cendolnya satu lagi, hehe."Bu Pur tersenyum lembut lantas mengangguk. "Dari SD tidak pernah berubah kamu itu, ya, Favoritnya cendol.""Enggak papa lah bu, enak soalnya." Yoyon menggaruk kepalanya ketika para pelanggan imut tersenyum.🌺🌺🌺Corona jangan sentuh!Penyebaran virus corona benar-benar meresahkan masyarakat. Sama halnya yang terjadi di Jakarta pusat. Akibatnya, masyarakat berlomba-lomba membeli masker untuk mencegah tertular virus mematikan itu."Reng, masker lo buluk tuh, nih pake masker gue aja masih wangih tauk." Jika bukan Yoyon pasti Cirah sudah menendangnya."Sorry masker gue sekali pakai, kok. Dan ini masih baru." Cirah memasang maskernya menutupi sebagian wajahnya lantas memasuki ruang kelas."Smart," kikik Yoyon."Hai Cirah, good morning hony!" Nelson menghampiri Cirah ingin menjabat tangannya dan melakukan cipika cipiki tetapi ..."Corona jangan sentuh!" Yoyon membuka kedua tangannya menghadang tubuh tinggi Nelson yang sudah merentangkan tangannya. Sedetik kemudian tawa Cirah lah yang pecah melihat dua orang lelaki yang berdiri berhadapan dengan kedua tangan terentang seolah ingin berpelukan."Ih, najis!""Lo kali yang najis, pake mau peluk peluk Cireng segala," ketus Yoyon lantas menarik tangan Cirah agar menjauh."Kenapa sih, lo Yon?""Gue? Kena Corona!""Kok, ngegas?""Tauk!""Jangan panggil gue Cireng lagi, sih. Nama gue kan Cirah." masih dengan nada santai Cirah meletakkan tangannya di atas meja untuk menopang wajahnya."Cirah bukannya ini, ya kalo dalam bahasa Jawa?" Yoyon memegang kepala Cirah."Itu ...." Cirah yang memang bukan orang Jawa hanya bisa memasang muka cengok."Sirah, sayang.""Oh.""Ntar ikut gue, yuk." Yoyon membuka buka buku pelajarannya tanpa berniat untuk membacanya."Kemana?""Ada, deh. Ke sebuah tempat favorit gue dari zaman esde."Cirah hanya mengangguk sekilas lantas bangkit berdiri."Mau kemana?""Toilet." Yoyon hanya mengangguk membiarkan Cirah pergi sendirian, biasanya tidak. Dimana pun Cirah pergi di situlah Yoyon mengintili.Satu jamDua jamYoyon resah karena sudah dua jam Cirah pergi ke toilet tanpa kembali. "Atau jangan-jangan Cireng kebebelan lagi!" Yoyon segera meminta izin kepada guru yang mengajar saat itu untuk mencari Cirah dan hasilnya nihil."Sinting! Dia bolos lagi." Yoyon kembali ke kelas sebelum sebuah suara yang bersumber dari kantor kembali membuatnya merinding."Sekali lagi, untuk pemilik tas ransel wanita berwarna pink yang di temukan di dalam kelas XII IPA 2 segera datang untuk mengambilnya."Tidak salah lagi, itu adalah tas milik Cirah. Allahu alam karena pemiliknya pasti jelas sudah merebah dan berguling-guling diatas kasur tanpa memikirkan nasib tasnya yang tertinggal.Yoyon sudah menghubungi Cirah berkali-kali dan hasilnya nihil!"Untung sayang!" Akhirnya Yoyon lah yang mengakui jika tas ransel itu miliknya meski harus berdebat dahulu dengan beberapa guru yang ada di sana. Parahnya seisi teman sekelasnya tidak tahu jika tas itu adalah milik Cirah lalu, selama ini mereka ngapain aja? Njemur semvak?🌺🌺🌺"Kopinya satu, jangan terlalu manis.""Iya, pak, silahkan tunggu sebentar.""Mbak, es tehnya dong kaya biasanya.""Oke.""Cendolnya, Bu kaya biasanya ya.""Loh? Yoyon?" Mata Cirah mengerjap cepat ketika mendapati Yoyon tengah duduk nyaman di kedainya."Lah? Lo kok disini Reng? Kerja tempatnya Bu Pur?" Yoyon sama bingungnya dengan Cirah."Gue, anaknya Bu Pur. Lo pelanggannya Yon?"Yoyon menggaruk tengkuknya salah tingkah, jadi selama ini yang ia jahili adalah anak dari Bu Pur. Dan kenapa selama ini mereka tidak pernah bertemu padahal Yoyon selalu datang ke kedai ini dari SD sepulang sekolah berhubung sekarang Yoyon sudah SMA jadi ia lebih sering membolos dan datang ke sini semata mata hanya demi cendol buatan Bu Pur? Entahlah."Yoyon kan, gimana ya, cool gitu kenapa sukanya minum cendol udah kaya banci aja," ejek Cirah."Diem lo, Reng." Terlihat jelas jika Yoyon tengah menahan malunya."Ah, sekali-kali gue sebar ke kelas biar viral gitu.""Jangan, ih!""Bodo wlee." Cirah berbalik lantas membuatkan minuman untuk para pelanggannya termasuk Yoyon."Nih." Cirah meletakkan segelas cendol di atas meja Yoyon."Ibu lo kemana emang? Baru tau gue kalo lo anaknya dia.""Ibu gue di rumah, lagi sakit. Iyalah orang nyokap gue selalu ngelarang gue buat datang kesini.""Why?""Takut ketemu sama lo dan ikutan sinting."Tapi malah gue udah kenal sama lo batinnya miris.🌺🌺🌺Cirah menggigiti pensilnya sambil menatap nanar lembar soal PTS di hadapannya. Ia sama sekali tidak mudeng dengan soal matematika yang satu ini. Ia kemudian menoleh ke arah Yoyon yang kelihatannya sedang sibuk menghitung."Sst ... Yhon" bisik Cirah berusaha sepelan mungkin agar pengawas tidak mencurigainya."Yhooyooon!"Yoyon menoleh dengan wajah cengok lantas mengangkat dagunya seolah menjawab 'apa?'"Nyontek siih""Ha?" Yoyon membuka mulutnya."Conteekin!" Yoyon mengangguk mengerti."Itu yang dibelakang harap tenang karena kalau tidak tenang saya akan ambil lembar jawabannya dan saya sobek!" Keduanya merapatkan bibir lalu mengangguk.Setengah jam kemudian Cirah sudah berhasil mengerjakan 45 dari 50 soal pilihan ganda, ralat ia berhasil mencontek dari Yoyon."Yon, ikut gue jualan cendol yuk.""Hayok!" Seru Yoyon dengan semangat45 ia merasa senang akhirnya walaupun dengan perlahan Cirah mengerti perasaannya. Meskipun tidak pesat tapi ini sudah termasuk kemajuan bukan?End

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 14 dari 35
Menampilkan 24 cerita