Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Hantu Jeruk Purut
Folklore
20 Dec 2025

Hantu Jeruk Purut

Di kisahkan pada tahun 1986, seorang penjaga tempat makam TPU Jeruk Purut yang saat itu sedang jaga malam, ia melihat sesoaok pastur tak berkepala sedang berjalan melintas melalui di antara makam perkuburan.Pastur itu sedang menenteng kepalanya sendiri dan di belakangnya, di ikuti se'ekor anjing.Konon, pastur ini " salah pulang ".Ia mencari-cari tempat makam kuburannya yang sebenarnya bukan berada di situ, melainkan di unit Kristen TPU Tanah Kusir, sedangkan di sini TPU Jeruk Purut hanya ada pemakaman unit Islam.Sapri Saputra, adalah salah satu penjaga makam yang melihat hantu pastur kepala buntung itu, hingga kini dia masih tetap menjaga makam TPU Jeruk Purut tersebut dan di anggap menjadi juru kunci atau kuncen serta orang yang di tuakan di TPU Jeruk Purut.Kesaksian dari bapak Sapri ini kemudian membuat ceritanya menyebar luas se-Jakarta dan hingga kini sosok hantu " Sang Pastur Kepala Buntung " telah menjadi legenda horor di tempat pemakaman Jeruk Purut tersebut.Konon kata warga di situ, jika anda keinginan untuk menemui pastur legendaris ini, anda harus tepat pada waktu tengah malam Jum'at dengan jumlah ganjil (sendirian atau bertiga).Testimonial : Sejak kecil, Asmari (36), anaknya dari Bapak Sapri, telah terbiasa tinggal di kawasan areal pemakaman Jeruk Purut.Ayahnya adalah seorang pegawai Pemda dan dulunya pernah berkerja di sana.Semenjak ia ku lulus sari SD (1986), Asmari telah menjadi pengurus makam non-karyawan TPU Jeruk Purut ia mengikuti jejak ayahnya yang dulu juga pernah berkerja di situ.Menurut pengakuan Asmari, pengalamannya dalam bertemu dengan sosok makhluk-makhluk gaib merupakan hal yang sudah biasa baginya, mulai dari melihat sosok penampakan kuntilanak, tuyul, pocong, genderuwo dan lain-lain sebagainya.Pada suatu hari menjelang petang (magrib) di tahun 1986, Asmari hendak pulang ke rumah bersama di temani dengan ayahnya.Mereka berdua tiba-tiba di kejutkan sesuatu, karena melihat seorang anak kecil telanjang bulat tengah asyik sendirian bermain berlarian di antara tanah makam kuburan sambil tertawa-tawa cekikikan.Anak itu lalu berteriak dan meminta uang kepada Asmari.Asmari heran karena anak itu masih terlihat asing baginya atau tak di kenalinya, sementara ia sangat mengenal dengan semua penduduk yang ada di kampung belakang Jeruk Purut.Dulu di situ memang hanya ada satu kampung yang di mana penduduknya tidak terlalu banyak jumlah penghuninya.Ketika di tanya tentang latar belakangnya, anak kecil itu malah pergi berlari ke dalam salah satu makam keramat, sebuah tempat makam tradisional khas Betawi.Asmari lalu pergi mengikuti kemana arah perginya anak itu, hingga ke dalam makam keramat itu, dan tentu bisa di tebak anak itu menghilang entah kemana.

Rumah Pondok Indah
Folklore
20 Dec 2025

Rumah Pondok Indah

Setelah kosong selama puluhan tahun.Rumah Hantu Pondok Indah konon menjadi tempat makhluk halus berkumpul.Menurut mitosnyang beredar, kalau ada yang memasuki rumah itu maka orang itu kadang tidak dapat kembali lagi.Pada akhir September 2002, kisah tentang hilangnya seorang tukang nasi goreng di depan rumah kosong ini sempat ramai di bicarakan.Kejadian ini sempat menghebohkan karena di depan rumah tersebut tertinggal gerobak nasi goreng tanpa pemiliknya.Konon, malam sebelum hilangnya tukang nasi goreng tersebut, dia hendak mengantar nasi goreng yang di pesen oleh seorang perempuan dari dalam rumah tersebut.Namun setelah masuk ke dalam, ia tak pernah keluar lagi.Sebenarnya dahulu rumah itu pernah di tinggali sebuah keluarga.Namun mereka berserta pembantunya di bantai oleh sekawan perampok.Semuanya meninggal dengan mengenaskan dalam rumah tersebut.Namun ada yang bilang sebenarnya motifnya persaingan bisnis.Perampok itu hanya kedok untuk menutupi identitas persaingan bisnis yang merencanakan pembunuhan tersebut.Setelah beberapa hari kemudian, mulai banyak kejadian aneh-aneh dan horor di rumah itu.Semakin lama di kosongkan, Rumah Pondok Indah tersebut semakin angker.Menurut cerita lain yang beredar, supir taksi yang lewat rumah menyeramkan tersebut sering di ganggu.Cerita lain menyebutkan menjelang subuh atau habis magrib sering terlihat anak kecil bermain basket di lapangan parkir.Rumah itu kini di tumbuhi semak belukar hingga terlihat tak terawat di siang hari.Jika malam hari, terkadang ada yang melihat rumah itu seperti bagus kelihatannya.Setelah di renovasi, rumah itu sempat di sewakan, namun tidak ada yang betah menempati rumah tersebut karena mengaku di hantui oleh penunggu rumah tersebut.Sekitar tahun 2002, Nurdin (32), penjual gulai dan soto di sekitar Pondok Indah , mengaku pernah melihat penampakan hantu yang menyerupai bapak-bapak mondar-mandir di halaman depan rumah ini.Namun, akhir-akhir kehororan rumah ini kian memudar.Bahkan beberapa waktu lalu, rumah ini sempat di jadikan tempat bermalam para tunawisma dan tidak ada kejadian aneh yang terjadi lagi.

HOROR RUMAH WARISAN
Horror
20 Dec 2025

HOROR RUMAH WARISAN

Dela hari ini berencana pulang cepat dari kantornya, dikarenakan hari ini dia dan tiga kakak lainnya akan berpergian ke Bandung, baru saja sebulan yang lalu Mamah dan Papah Dela meninggal karena kecelakaan mobil yang dikendarai mereka saat ingin berlibur ke luar kota.Duka yang mendalam masih sangat terasa di keluarga Dela, sampai Pak Habib kemarin datang ke rumah, dan memberitahu bahwa ada wasiat dari kedua orang tua mereka jika mereka meninggal dunia."Jadi saya awali terlebih dahulu dengan ucapan belasungkawa sebesar-besarnya untuk kalian" ucap Pak Habib"Iya pak Terimakasih" ucap Kakak Dela Rio"Ada apa ya pak, sampai bapak malam-malam kemari?" tanya Kak Shinta Kakak Dela yang tertua"Jadi begini, saya dan papah kalian sudah berteman lama sekali, kebetulan om ini kan pengacara, papah dan mamah kalian sudah memikirkan keadaan kalian saat kalian masih kecil, dengan membuat surat wasiat untuk kalian, ada beberapa asset yang dimiiliki Bapak dan Ibu kalian, dan saya akan membacakannya saat ini"Hampir semua yang dibacakan oleh Pak Habib kami semua mengetahui aset yang dimiliki oleh orang tua kami, tapi ada satu wasiat yang sama sekali kami tidak mengetahui."Bapak dan Ibu kalian memiliki rumah dan tanah di Bandung sekitar 2 hektar dan luas rumah 500 meter, dan ini untuk kalian bertiga" ucap Pak Habib"2 hektar?" ucap Rio"rumah 500 meter?" ucap Shinta"Kenapa mamah dan papah gak pernah ajak kita kesana ya?" tanya Dela"Mungkin karena orang tua kalian sangat sibuk, dan tidak sempat kesana" Ucap Pak Habib sambil memberikan sertifikat tanah dan rumah tersebut.Oleh karena itu hari ini kami berencana untuk berangkat kesana, untuk melihat warisan tanah dan rumah yang kami tidak tahu sama sekali, kebetulan besok ada tanggal merah dibarengi dengan hari libur, jadi kami bisa lebih banyak waktu melihat kondisi rumah dan tanah di Bandung.Saat diperjalanan, karena ini sudah mulai malam kami berhenti beberapa kali di rest area untuk beristirahat, dan ternyata daerah tanah yang dimaksud cukup jauh diperkampungan, kami harus bertanya kepada beberapa orang untuk ke tempat itu.Setelah akhirnya kami bertanya, akhirnya tepat pukul 7 pagi kami sampai juga di kampung yang dimaksud, Kampung nyageng Cibeunyit, saat kami memasuki area perkampungan itu suasana perkebunan STrawberry dan area persawahan sangat menyejukkan mata, kami sempat berhenti sebentar di rumah makan sederhana.Sambil memesan beberapa menu Dela bertanya kepada ibu tua yang sudah berwarna abu abu disemua rambutnya."Punten bu? kami sedang cari alamat ini?"tanya Dela sambil memberikan kertas kepada sang ibu"Ini teh masih Satu setengah jam lagi neng, tepatnya diatas bukit itu" ucap sang Ibu"Oh begitu bu, berarti dari sini hanya tinggal mengikuti arah bukit itu?"tanya Rio sambil menunjuk bukit kecil yang terlihat dari arah warung tersebut"Iya pak" ucap sang ibu sambil tersenyum"Makanan yang enak ya kak?" ucap Dela saat di mobil sambil mengelus perutnya"Iya karena semua dipakai dari bahan yang alami, gak kaya di Jakarta udah kebanyakan pengawetnya" jawab Shinta ketus"Menurut kalian, apakah mamah dan papah mungkin sudah lupa dengan rumah dan tanah ini ya? " tanya kak Rio"Masa tanah sebesar itu bisa lupa sih ka?" ucap ShintaDan setelah menempuh satu setengah jam perjalanan mereka akhirnya sampai juga tepat ucapan ibu tadi."Waw... sepi kak" ucap Dela saat turun dari mobilhanya ada area tandus yang luas dan kejauhan ada rumah bertingkat yang terlihat"Itu pasti rumahnya" ucap ShintaDan Rio menyuruh kami semua masuk, dan menuju kerumah tersebutRumah tua dan tidak terurus tetapi kondisi rumah tersebut masih sangat kokoh dan kuatTidak ada satupun orang yang ada disini, sepertinya rumah dan tanah ini sudah sangat lama ditinggalkan"Kakak yakin kita akan menginap disini?" ucap Dela"Tidak apa-apa ini hanya karena kotor saja, karena tidak dibersihkan, kalau sudah rapih dan bersih, akurasa rumah ini akan sangat bagus dan cantik" ucap Shinta bersemangat"Okey, kita lihat ke atas dulu" ucap RioSambil berjalan ke atas dengan suasanan rumah yang tinggi dan besar, banyak ruangan dengan interior antik dan khas eropa terlihat disana, menambah kesan kokoh pada rumah ini."Sayang ya, coba mamah dan papah suruh orang jaga rumah in, pasti kita akan betah main kesini setiap tahunnya" ucap DelaAda empat kamar pada rumah tersebut, akhirnya kami memilih satu-satu kamar yang akan kami tempatiSetelah kami berganti pakaian kami langsung bergotong royong membersihkan rumah tersebut, dan waktu pun berjalan tidak terasa sudah hampir jam 3 sore, yang menyadarkan kami adalah perut kami yang keroncongan."Sudah ya kita istirahat dulu" ucap Kak Rio"Iya kak, aku lapar, kayanya kita harus belanja juga untuk keperluan kita menginap" jawab Shinta"Iya kak, gak terasa udah sore aja" ucap DelaSetelah mereka mandi dan ganti baju, mereka langsung menuju keperkampungan awal untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya"Teteh dan aa sepertinya orang kota? saya baru lihat disini?" ucap Bapak tua pemilik warung"Iya pak, saya lagi nengokin rumah dan tanah saya yang ada di bukit itu" ambil menunjuk ke bukit kecil tadi"Maksudnya rumah tua yang lama tidak dihuni?" ucap Bapak tua tadi kaget"Iya pak, itu warisan orang tua kami" ucap Dela"Kalian akan menginap disana?" tanya Bapak tua tadi"Iya pak""Saya sarankan teteh dan aa menginap dikampung sini saja, biar besok pagi baru kesana lagi, karena rumah itu lama tidak dihuni" ucap Bapak tadi sedikit memaksa"Iya pak, tadi kami sudah bersihkan dan kondisinya sekarang sudah lebih rapih, makanya kami membeli beberapa lampu penerangan juga pak" ucap Shinta"Baiklah teteh dan aa tapi hati - hati ya" ucap Bapak tadi"Hati - Hati kenapa pak?" tanya Rio sambil memakan roti yang ada di tangannya"Banyak cerita hantu tentang rumah itu" jawab Bapak tua tadi"Hantu?" ucap Dela"Iya teh, disana banyak hantunya" kata Bapak tua tadiSetelah selesai membayar semua keperluan yang dibeli , di mobil suasana jadi sedikit aneh"Kak, rumah itu berhantu" ucap Dela membuka pembicaraan"memang kamu percaya sama hantu?" tanya Rio"Kamu tahu gak Del, itu cara orang-orang kampung biar tanah kita ga cepet dijual" ucap kak Shinta ketus"Pantesan mamah dan papah ga mau ajak kita kesini, jangan-jangan mamah dan papah percaya sama kabar angin itu" ucap Shinta"Tapi, kalau memang ada hantunya bagaimana?" tanya Dela"Ya makanya kita bersihkan, kita pakai sholat, kita ngajiin, biar adem rumahnya" ucap RioDela hanya berfikir, apakah dia bisa tidur dirumah itu malam ini.Suasana gelap mulai terasa, kak Rio memasang lampu lentera dibeberapa titik agar rumah menjadi sedikit lebih terang."Kak Shinta, aku tidur sama kakak ya?" ucap Dela"Ya udah, kamu tidur sama kakak saja, daripada kamu ketakutan kaya gitu" ucap ShintaRio sedang asyik main game dan mencharge handphonenyatiba-tiba datang semilir angin kencang, dan memadamkan semua lampu yang Rio nyalakan"Kak Shinta.. kak Rio" teriak Dela"Sabar Del" sebekas sinar putih menyala dari handphone Kak Rio menenangkan hati DelaKak Rio mencoba menyalakan kembali semua lampu yang telah padam"Aneh, padahal pintu dan jendela tertutup tadi" ucap Rio"Tuh kan benar ada hantunya" ucap Dela ketakutan"Angin Del, bukan hantu" jawab Shintatiba - tiba ada suara "Brukkkkk" dari atas seperti ada benda yang jatuh keras ke lantai"Kak... suara pa itu" ucap Dela"Coba kau cek Rio" ucap ShintaBeberapa menit Rio kembali "Tidak ada apa-apa kok"Aneh, kok suaranya kencang beul" fikir Shinta"Tuh kan kak, kita ke kampung dibawah saja yuk, aku ga mau disini" ucap Dela"Inget Del, tujuan kita kesini untuk menajga rumah dan tanah peninggalan warisan orang tua kita, masa baru begini saja kamu sudah nyerah" ucap Shinta marahtiba-tiba ada suara ketukan dipintu"Tok...Tok..." suara cukup kerasRio membuka pintu tersebut, dan melihat ada seorang pemuda desa didepan rumahnya"Maaf nama saya Derajat, saya disuruh Bapak Haji buat temenin kalian disini" ucapnya"Pak Haji?" tanya Rio bingung"Iya, yang punya warung dikampung bawah" ucapnya"Oh iya, silahkan masuk" jawab RioPemuda itu cukup tampan, dengan pakaian sederhana baju kok dan sarung dia duduk ditengah-tengah kakak Rio, Shinta dan Dela."Jadi maksud pak haji mengirim kamu kesini apa ya?" tanya Shinta"Kata pak Haji untuk menjaga kalian saja, khawatir kalau ada apa-apa" ucapnya"Alhamdulillah" ucap Dela"Tadi Nama kamu siapa?" tanya Shinta"Nama saya Derajat teh" jawabnyaDan kini mereka semua berada di ruang tamuDan benar saja ternyata semakin banyak kejadian aneh, mulai dari barang-barang yang melayang dan terjatuh, bayangan wanita setengah baya di balik jendela, dan juga suara anak-anak berlarian di lantai atas, bahkan saat ini mereka semua tidak ada yang berani beranjak ke kamar masing-masingmulut Derajat komat kamit, dan matanya terpejam seolah dia sedang membacakan sesuatu, dan setelah Derajat membacakan memang hantu-hantu tadi akan berhenti, tetapi tidak berapa lama akan muncul lagi, dan bayang-bayang itu semakin banyak terdengar dari luar pintu."Kak... ada yang mau buka pintu, bagaimana ini?" tanya Dela"tenang saja kak, sebentar lagi subuh, mereka akan pergi dengan sendirinya" ucap DerajatDengan perasaan sangat ketakutan, suara-suara yang berada di luar, akhirnya kumandang azan subuh terdengar senyap senyap, dan matahari mulai terbit memancarkan cahayanya"Alhamdulillah, kak hari ini kita pulang ya" ucap Dela merengek kepada kakak-kakaknya"iya Del, aku juga tidak akan mau datang ke rumah ini lagi" jawab Rio"Pantas saja orang tua kita tidak mau cerita tentang rumah ini kepada kita, mungkin mereka sudah tahu dan tidak ingin kita kenapa-kenapa" jawab Ka ShintaAkhirnya mereka berpamitan kepada Derajat, setelah membereskan semua pakaiannya dan siap-siap menuju ke mobil"Terimakasih ya Derajat atas bantuannya" ucap mereka semua"Iya sama-sama kalian jangan khawatir saya akan menjaga rumah ini seperti rumah saya sendiri" ucapnya"Tidak usah, rumah ini angker, kamu jangan sering-sering kesini" ucap DelaDerajat hanya tersenyum dan itu menjadi perpisahan terakhirnyaSetelah sampai di toko klontong Pak Haji, mereka semua turun untuk berpamitan dan menyampaikan terima kasih karena sudah mengirimkan Derajat ke rumah kemarin"Assalamualaikum" ucap Rio, Dela dan Shinta"waalaikumsalam, Alhamdulillah kalian baik-baik saja" jawab Pak Haji melihat kedatangan mereka "Bagaimana kalian menemui hal aneh-aneh disana?" tanya Pak Haji"Iya pak, tenyata rumah itu memang sangat angker, kami bahkan tidak bisa tidur, untung saja ada Derajat, makanya kami ucapkan terima kasih atas bantuannya mengirimkan Derajat" jawab Rio"Derajat?" jawab Pak Haji kaget "Bagaimana kalian bisa kenal dengan Derajat?" tanya Pak Haji"Iya pak kemarin malam dia datang, membantu kami dari teror hantu-hantu tersebut" ucap Shinta"Silahkan duduk dulu" jawab Pak Haji "Derajat itu anak saya, dan dia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu" jawb pak Haji dengan raut sedih"Meninggal" kami semua bertatapan keheranan"Iya, jadi Derajat itu anak saya, suka membantu saya di kebun orang tua teteh, dan pada hari naas itu, ada sekumpulan perampok sedang berada disana, Derajat melihat perampok itu dan berusaha untuk mencegahnya, tetapi naasnya perampok itu membunuh Derajat dengan kejam bahkan dia di gantung dipohon besar samping rumah tersebut" ceita Pak Haji sambil menangis sedih mengingat kejadian itu"Kami semua hampir tidak ada yang berani ke rumah tersebut sejak kejadian itu, karena beberapa kali terjadi pembunuhan yang serupa disana, bahkan ada wanita yang diperkosa sampai meninggal, itulah yang menyebabkan rumah dan kebun kosong teteh sangat angker sampai saat ini" cerita pak Haji"Astagfirullah" kamis emua kaget mendengar cerita itu, bahkan Dela sampai tidak bisa berkata-kata, orang sebaik Derajat adalah hantu penghuni rumah tersebut"Saya rasa baiknya rumah dan kebun orangtua kami, kami hibahkan untuk dibangun rumahh ibadah pak haji, dan bisa digunakan masyarakat sini untuk keperluan warga, agar semua kejadian tersebut tidak terjadi lagi dan bisa menjadi ladang pahala untuk orang tua kami" ucap Rio bijaksana "bagaimana menurut kalian?" tanya Rio"Iya kak, aku setuju, karena memang itu yang terbaik" jawab Shinta dan Dela"Terimakasih teh, Aa Insyaallah amanat akan kami laksanakan, terimakasih atas kebaikan kalian" ucap Pak HajiSetelah beberapa jam bertemu, mereka pun melanjutkan perjalanan kembali, saat Rio melihat kaca spion, bayangan Derajat sedang tersenyum kepada mereka.

BIOSKOP HOROR
Horror
20 Dec 2025

BIOSKOP HOROR

Karmila hari ini sudah mulai libur sekolah, tidak terasa ujian di kelas 3 SMA ini sangat berat dan sulit seakan menguras semua energinya saat baik dirumah ataupun disekolah, sekarang dia bisa beristirahat sambil menunggu hasilnya, dan fokus untuk memilih perguruan tinggi mana yang akan dia pilih.Karmila memiliki hobi yang unik untuk melepaskan penat dan stressnya dia hobi membaca cerita horor dan menonton film horor, baginya adrenalin ketegangan itu akan melepas semua stress yang ada padanya.Tapi sayang begitu melihat koleksi buku ceritanya ternyata semua sudah Karmila baca, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke Mall membeli buku horor lagi dan melihat ke bioskop siapa tahu ada film horor yang lagi main saat ini.Setelah asyik berkeliling toko buku akhirnya dia membeli 3 buku horor yang dia suka, ada 1 cerita misteri juga, dan Karmila membayar dikasir.Dan Karmilapun berjln menuju ke bioskop, Saat masuk ke dalam bioskop suasana sangat ramai sekali, harap maklum ini liburan sekolah semua anak anak sekolah pasti menghabiskan waktu dengan jalan jalan salah satunya nonton bioskop ini.Sambil berjalan melihat papan sinopsis film, ada dua film yang memiliki genre horor, yang satu judulnya "Dendam Nyi Rangkuni" satu lagi film horor barat dengan judul "One Night at Freddys house" sepertinya Karmila ingin nonton kedua duanya, tapi sayang uang dia tidak cukup karena pasti dia akan membeli makanan juga jadi dia harus memilih salah satu film dan akhirnya dia ke tempat pembelian tiket dan memesan kursi di tengah untuk film horor Indonesia dulu, karena masa tayangnya sudah mau berakhir.Sambil menunggu jam main yang akan mulai 30 menit lagi, Karmila menuju toilet, supaya saat didalam bioskop dia tidak akan keluar untuk buang air kecil, dan saat keluar Kamar mandi Karmila ke food stall membeli pop corn dan minuman dingin, sepertinya nonton tidak akan asyik kalau tidak ada cemilannya.Karena pengunjung yang sesak Karmila terus berjalan mencari tempat yang lebih sepi agar dia bisa duduk, dan ternyata semua penuh sesak, tapi diujung lorong ada tirai yang terbuka sedikit, disana ada kursi tunggu juga, Karmila segera menuju kesana dan tiba tiba ruangan menjadi sedikit lebih gelap, ada kursi kosong Karmila langsung duduk disana.Ternyata lorong bioskop ini sangat panjang, karena dibalik tirai itu ada lorong lagi dimana Karmila melihat ada beberapa pengunjung yang menunggu studio terbuka juga tapi tidak sebanyak di lorong sebelumnya. Suasana lorong ini juga lebih sepi, karena semua orang hanya duduk diam tidak bicara sama sekali, berbeda dengan lorong sebelumnya mereka saling bicara membuat bising siapapun orang yang mendengarnya.Dan panggilan masuk pun terdengar, "pintu studio 4 segera dibuka bagi para pengunjung yang sudah memiliki tiketnya kami persilahkan"Karmila melihat ke tiketnya dan benar saja studio dia adalah studio 4, Karmila bergegas masuk dan anehnya studio 4 persis di depan kursi menunggu yang dia duduki.Suasana bioskop saat Karmila masuk sudah penuh dengan pengunjung, dan dia mencari kursi yang dia duduki, dan akhirnya Karmila menemukannya, disampingnya ada gadis seumurannya berambut panjang tergerai dengan pakaian warna putih hanya diam tapi wajahnya sangat pucat. Di depannya ada banyak anak kecil berkepala botak tetapi bertelanjang dada."bioskop hari ini pengunjungnya aneh-aneh" fikir Karmilatiba-tiba ada lelaki berbadan besar berjalan didepannya, dan menubruk kaki Karmila dan laki-laki itu sama sekali tidak minta maaf, hampir saja Karmila membentaknya, tapi melihat badannya yang besar Karmila mengurungkan diri, dia tidak ingin mencari masalah dia hanya ingin menonton film saja.Akhirnya film pun dimulai, anehnya cerita film dari awal sampai akhir Karmila fikir akan menonton film yang menyeramkan, tetapi yang dia tonton saat ini lebih seperti sinetron religi, banyak cerita keagamaan yang ada pada cerita itu, dan anehnya setiap ada adegab orang yang mengaji semua penonton bioskop itu langsung berteriak dan ada juga yang kejang kejang, dan itu berjalan selama film diputar, Karmila hanya bisa melihat situasi seperti itu sampai film selesai.Karmila benar-benar kecewa dengan cerita film horor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, tidak menyeramkan sama sekali, Karmila pun terus berjalan keluar tirai yang tadi dia masuki, dan keadaan menjadi lebih terang kembali dengan pengunjung yang berjubel, tiba-tiba Karmila mendengar suara panggilan"pintu studio 4 segera dibuka bagi para pengunjung yang sudah memiliki tiketnya kami persilahkan"Dan anehnya dia melihat studio 4 ada diposisi samping kamar mandi, dan dia mendekati mbak mbak penjaga tiket"maaf mbak tadi saya juga baru selesai menonton di studio 4 tapi posisinya di belakang tirai itu" sambil Karmila menunjuk tirai tadi."Maaf mbak studio 4 hanya ada disini saja dan dibelakang tirai itu tidak ada ruangan itu hanya tembok saja" ucap mbak tadiKarmila tidak percaya dan pergi ke tirai itu lagi, dan benar saja tidak ada apa apa hanya tembok besar pembatas bioskop disana.Seperti tak percaya, Karmila melihat tiket yang ada ditangannyaDitiket judulnya"RUKIYAH"dan itu sama sekali tidak ada dipapan keterangan film yang sedang dimainkan saat ini.

Si Manis Jembatan Ancol
Folklore
19 Dec 2025

Si Manis Jembatan Ancol

Sebut Saja Jembatan Ancol, yang dahulu merupakan jembatan goyang, yang terletak di Jakarta Utara.Jembatan ini lebih populer di banding dengan jembatan lain yang lebih besar dan lebih bagus di Jakarta.Bukan karena keunikan bentuk bangunan atau ukuran jembatan ini, melainkan cerita di balik jembatan ini.Pada tahun 1995, seorang pelukis di Ancol di datangi seorang perempuan yang meminta di lukis.Ketika itu hari telah gelap dan gerimis mulai turun.Sesuai permintaan perempuan tersebut, sang pelukis mulai menyapu kuasnya pada permukaan kanvas.Namun, saat sang pelukis baru menggambar setengah bagian tubuhnya, perempuan itu menghilang.Warga percaya bahwa perempuan itu adalah Si Manis Jembatan Ancol.Mitos ini sudah di mulai puluhan tahun sebelumnya.Di tahun 60-an ketika daerah Ancol masih berupa empang-empang (tambak), seorang pendayung perahu pernah bertemu dengan Si Manis.Perempuan itu naik perahu malam-malam san membayar pendayung tersebut dengan daun.Keterangan ini di dapat dari Kostan Simatupan, seorang fotografer keliling di Ancol.Sebenarnya siapakah Si Manis Jembatan Ancol tersebut ?Berdasarkan tradisi lisan yang berkambang di masyarakat sekitar, Si Manis tersebut bernama Mariyam (ada juga yang mengatakan gadis itu bernama Siti Ariah), yaitu seorang gadis manis kembang desa yang meninggal di kawasan Jembatan Ancol dan jasadnya di buang setelah sebelumnya di perkosa.Karena kematian yang tidak wajar, akhirnya Mariyam menjadi penunggu Jembatan Ancol dan beberapa kali menampakkan diri pada orang-orang tertentu.Seperti yang pernah di alami oleh Anshori, penjual rokok di dekat pintu keluar Ancol.Anshori mengaku pernah melihat Siti Ariah dari dekat.Ia membuka pertama kali kios rokoknya di sini pada tahun 1990, tepatnya di samping jembatan goyang.Saat malam Jum'at, Anshori sedang menunggui kiosnya, agak gerimis.Sekitar pukul 01:00 pagi, lewat seorang perempuan.Ketika sudah agak jauh, perempuan itu berbalik arah menghampiri kios Anshori sembari tersenyum.Anshori menyapa perempuan yang di kiranya calon pembeli dagangannya itu.Jarak Anshori dengan perempuan itu kira-kira 50cm.Menurut Anshori, perempuan itu berwajah manis, serta memakai kemeja kuning dan rok abu-abu.Setelah di tanya hendak belanja apa, perempuan itu menghilang.Meski tidak memakai pakaian serba putih, Anshori yakin perempuan itu adalah Si Manis Jembatan AncolHotel Horison Ancol, yang juga terletak di kawasan Ancol, pun tak lepas dari cerita.Di hotel ini sering terlihat wanita cantik yang melintas di depan mata tapi saat di perjelas wanita tersebut hilang entah kemana.Konon wanita tersebut tak lain adalah sang tokoh legendaris " Si Manis Jembatan Ancol ".Kabarnya management hotel membuat kamar khusus untuk si hantu manis ini.Tak percaya datang saja sendiri.Masih dari kawasan Ancol, Jakarta Utara.Selain Hotel Horison, putri duyung Ancol juga memiliki cerita.Di salah satu bangunan putri duyung Ancol pernah ada suatu kejadian di mana seorang wanita simpanan terbunuh secara mengenaskan.Selain dari putri duyung, kawasan area balap mobil Ancol juga menyimpan sebuah cerita.Tahukah anda, bahwa tempat ini merupakan tempat pertama kali di temukannya mayat terpotong (kasua mutilasi).Legenda mayat terpotong menjadi tiga belas (13) bagian ini adalah rekor tersendiri yang mengawali peristiwa mayat terpotong-potong lainnya di seputar Jakarta.Hingga saat ini pembunuhannya tidak pernah di temukan.Selain jembatan Ancol, kali sunter Ancol juga di anggap angker oleh masyarakat sekitar.Dahulu, di kali ini pernah ada kejadian yang menewaskan banyak orang, yaitu terperosoknya metro mini ke dalam kali sunter.Sehingga sebagian besar penumpangnya tenggelam.

CERITA SI KANCIL DAN BUAYA
Folklore
19 Dec 2025

CERITA SI KANCIL DAN BUAYA

Dikisahkan pada suatu siang yang terik, seekor kancil berjalan lunglai menahan haus dan lapar. Musim kemarau sudah tiba. daratan tempat tinggal Kancil sudah kering dan tak ada makanan."Aduh aku lelah dan lapar sekali. Musim kemarau sudah tiba," keluh Kancil.Kancil pun berjalan menuju sungai nun segar. Ia hanya bisa minum tanpa bisa makan.Tiba-tiba di seberang sungai, Kancil melihat kebun timun tumbuh subur dan lebat. Mentimun adalah makanan kesukaan Kancil. Ia berniat menyeberangi sungai yang dalam tersebut.Namun sungai tersebut penuh dengan buaya buas.sungai ini penuh dengan buaya yang rakus. Jika aku menyeberang, pasti aku akan dimakan," kata Kancil."Dari jauh, tampak tiga ekor buaya berenang mendekati Kancil."Kancil, kebetulan sekali kau datang ke sungai ini. Mendekat dan minumlah air sungai kami yang segar. Kau haus bukan? " bujuk seekor buaya paling besar.Kancil yang cerdik pun tidak mudah kena bujuk rayu buaya.Ia pun berfikir keras bagaimana caranya ia bisa menyeberang.Tak perlu waktu lama, Kancil si Cerdik pun menemukan ide cemerlang." Wahai buaya.... Sebenarnya aku ke sini diperintahkan oleh raja hutan untuk membagikan daging segar untuk kalian semua," tutur Kancil."Benarkah Kancil?" tanya Buaya.Kancilpun mendekat ke sungai sambil meminum air segar."Tetapi aku harus tahu jumlah kalian semua agar adil," kata Kancil."Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Buaya."Panggil teman-temanmu kemari, aku akan menghitung jumlahnya," kata Kancil.Lalu salah satu buaya pun pergi untuk memanggil teman-temannya.Belasan buaya sudah berkumpul di hadapan kancil.Kancil sebenernya menyimpan rasa takutnya melihat banyak buaya beringas ada di hadapannya."Kalau kalian bergerombol begitu, mana bisa aku menghitungnya. Sekarang berbarislah yang rapi," pinta Kancil.Para buaya pun berbaris di sepanjang sungai agar bisa dihitung jumlahnya.Kancil pun lantas menginjak barisan buaya itu. Kancil melompat dari punggung buaya satu ke buaya lainnya sambil menghitungnya.satu, dua, tiga,......... dua belas, tiga belas, empat belas," hitung Kancil.Kancil menghitung jumlah biaya nyaSetelah sampai pada buaya yang ada di barisan terakhir maka ia pun melompat dan sampai di seberang sungai.Sesampainya di seberang sungai, Kancil pun mengucapkan terimakasih." Terimakasih telah membantuku menyeberang,"kata Kancil segera berlari kencang.Para buaya pun saling berpandangan." Jadi kita hanya dijadikan jembatan? Kau telah menipu kami. Awas kau kanciiiil," teriak buaya paling besar.

Sosokmu Anggara
Teen
19 Dec 2025

Sosokmu Anggara

Selasa!Kamis!Sabtu!Ada apa dengan hari itu? Itu hari biasa bukan, namun anehnya ia menjadi luar biasa karna kamu.Iya kamu, seseorang yang hanya bisa kukagumi dalam netraku, tapi tidak pada bibirku.Ia masih tak cukup berani, atau mungkin tak pernah berani.Apakah kamu sadar? Atau tidak? Atau berpura pura tak sadar? Entahlah aku tidak peduli, yang jelas nampakmu dapat terlihat dimataku,Mungkin tidak akan jadi hal yang romantis.Namun aneh, cerita ini, bahkan bukan kisah yang panjang,namun ia singkat tapi berkesan.Bagaimana kau mengartikan ku? Si pengagum rahasia? Ataukah lebih kasarnya sipenguntit?Maaf tapi dua duanya bukanlah aku. aku hanya aku, yang tak sengaja tertarik padamuOh ya aapakah aku berbelit belit?Baiklah baiklah, intinya ini tentangnya yang pernah singgah.pertama tama, biarkan aku memperkanalkan sosoknya pada kalian.Dia itu cowok populer, eh tapi nggak juga sih, gimana yah? sedang sedang tapi nggak sedang banget, emm gimana ngejelasinnya? Akh pokoknya seperti itu.Pertemuan pertama kami memang sangat klasik, persis seperti cerita novel novel pada umumnya. Namun percayalah ini bukan fiksi, namun cerita yang memang pernah ada.Pertemuan pertama kami, dimulai di SMPN Indah Jaya, sekolah di desa yang kecil dan jauh dari kota,aku lupa tepatnya kapan, tanggal berapa, ataupun hari apa, aku benar benar tidak ingat, yang jelas, itu dibulan Desember dihari porseni.Sosoknya bernama Anggara, pria yang telah memberiku kesempatan untuk memiliki kisah cinta seperti anak remaja pada umumnya.Awalnya aku hidup dengan biasa saja, tidak senang dan tidak sedih, lebih tepatnya hampa, tidak ada yang spesial, mungkin karna aku muak dengan hidupku sedari dulu, hingga aku bertemu sosoknya.Anggara .Kami bertemu dilapangan Volly, karna kebetulan dia menjadi pemain inti untuk mewakili kelasnya,awalnya aku tak pernah berniat untuk menonton pertandingan seperti itu,lagipula aku tak mengenal banyak orang disana.Hingga temanku yang bernama Indah mengajakku untuk menontonnya, oh iya,kebetulan, dia adalah sosok manusia pencinta cowo tampan, atau bahasa gaulnya Cogan, dan Anggara masuk dalam listnya.Aku berjalan dengan ekspresi tak minat" aish kenapa juga aku harus mengikuti indah kemari ?"batinku saat melihat banyaknya siswa yang berkumpul dilapangan itu.Oh ayolah, ini adalah sesuatu yang paling kubenci yaitu"keramaian"Oh iya aku hampir lupa memperkenalkan diri,namaku Arenaya Anara Putri, kalian bisa menyebutku Ami, ataupun Am walaupun nama panggilanku meleset dari nama asliku, tapi tak apa, kalian bisa memanggilku apa saja,itu terserah kalian.Sedikit informasi, aku seorang introvet sejati, dan hal seperti ini, adalah hal yang paling kubenci.Tatapan orang kepadaku, kebisingan dan masih banyak lagi.Aku hanya menunduk sedari tadi, nyatanya banyak senior yang mulai mencibir kearahku dan Indah, namun entah kenapa, indah tak peduli sama sekali, ia hanya sibuk berteriak menyebut nama kelas 11 saat itu."Kenapa aku yang malu melihat tingkahnya?"ucapku heran dan terus menunduk, hingga tanpa sadar sebuah bola langsung menggelinding disampingku, tepat disampingku, aku melirik sekilas bola itu.Aku ingin mengambilnya, namun aku tak berani, lagipula bolanya juga sudah diambil, lalu aku memberanikan diri melihat seorang pria yang membawa bolanya, namun anehnya mataku terkunci pada satu netra, yang juga menatap kearahku.Aneh, kenapa ia menatap kearahku,dan hal itu membuat getaran aneh muncul didadaku,Apa ini, mengapa matanya seperti memiliki magnet?.Aku berusaha keras untuk mengalihkan pandanganku namun anehnya tubuh ini menolak, aku merasa manusia manusia disamping kami menghilang begitu saja, dan tersisa hanya aku dan dia.Hingga pemain lain mengagetkan dia,dan akupun refleks memutuskan kontak mata kita"Anggara Lo kenapa bengong? Ayo main!" Ucap temannya membuatnya tersadar mengangguk singkatJadi namanya Anggara?........Setelah hari itu, sosok Anggara membuatku merasakan satu hal yang sebenarnya sangat kubenci, bagaimana aku bisa jatuh cinta dengannya sedangkan aku sangat membenci cinta.Sungguh aku tak ingin mencintai jika harus seperti ibu dan ayah.Hidup mereka memberikan trauma besar kepadaku,walau bukan aku yang merasakannya.Namun entah kenapa, rasa benci terhadap cinta itu seakan menghilang jika aku melihat sosok Anggara disekolah.Ia mengalihkan pikiranku terus menerus. Dan secara tak sadar, aku mulai mengindahkan Anggara. Ketika banyak hal hal konyol yang dilakukannya, justru itu terlihat sangat indah dimataku.Aneh, jika temanku tau, mungkin mereka akan bertanya apa yang kau sukai dari sikap konyolnya itu? Tak ada hal menarik darinya, jadi apa yang membuatku menyukainya?Entahlah, anehnya akupun tidak tau, tapi, hal buruk darinya justru terlihat sangat indah dimataku. Aneh memang, kurasa aku akan gila karnanya, namun ini nenyenangkan..Aku yang dahulunya merasa bahwa setiap hari sangat membosankan,justru beralih bahwa selasa, kamis dan sabtu adalah hal yang paling kutunggu.Karna dihari itu, aku bisa menatapnya setiap saat.Hari hari mulai berlalu, aku merasa setiap detik, cintaku bertambah padanya, ketika pergi dan pulang kesekolah,kami selalu berpas pasan dibawah pohon mangga yang berderet rapi disetiap jalan.Walaupun tidak langsung, aku berjalan kaki dan dia menaiki motornya.Entah kenapa ia terus melambatkan motornya dibelakangku, padahal teman temannya sudah saling balap menuju sekolah.Ia membuat adiknya kesal, karna motornya yang begitu lambat, sampai sampai aku bisa mendengar celotehannya.Namun aku tak mau terlalu pd dengannya, cukup menjadi kisahku saja, aku hanya ingin mengaguminya.Namun, setiap kali aku berusaha untuk tidak pd, ia selalu membuatku merasa benar akan dugaanku caranya menatapku, caranya tersenyum padaku. Semua hal itu yang membutku bimbang untuk tak percaya padanya.Aku selalu bertanya, kenapa disaat kami kelas 7 sedang olahraga, ia selalu bolos dan nongkrong dimotor, sambil melirik kami?.Sungguh aku tidak mau Baper padanya, aku takut jika bertepuk sebelah tangan.Namun kenapa ia selalu memberikanku hal hal manis, walau bukan dengan ucapan?Seperti dia yang memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan, dia yang tersenyum begitu tulus kepadaku, dia yang selalu ingin berada dibarisan dekatku pas upacara, dia yang mengintip kelas kami, sampai kepalanya harus terbentur segala.Aneh, aku tak mau mempercayainya, namun ini benar benar membuat perasaanku makin tinggi padanya.Dan sepertinya iya, hal yang kutakutkan selama ini terjadi juga, aku sadar cintaku bertepuk sebelah tangan, tiba tiba saja aku mendengar kabar bahwa, Anggara berpacaran dengan teman sekelasnya, bertepatan dengan 2 orang sahabatnya, dan sepertinya meraka akan trible date?Akhh, kenapa Anggara membuat hatiku bimbang seperti ini? Apakah pada akhirnya aku yang bersalah?Aku yang selalu terbawa perasaan padanya?Kalau memang iya, aku benar benar kecewa pada diriku sendiri.Harusnya sedari awal, aku tak belajar untuk mengerti sebuah cinta, karna pada akhirnya cinta itu akan berakhir dengan sendirinya.Sial,ini membuatku pusing, dan sejak hari itu pula, aku memilih berhenti, aki tak lagi menatap manik mata indah itu jika berpas pasan, aku tak akan tersenyum padanya, aku tak akan mencari media sosialnya,Aku tak akan mencari apapun tentangnya lagi.Karna memang sedari awal, kita hanyalah orang yang tak saling mengenal, aku tau bahwa aku tak punya hak,untuk memilih pasangan Anggara, karna kalaupun punya, mungkin aku akan memilih diriku sendiri.Aku bahkan tidak tau, Anggara mengetahui namaku atau tidak?Dan sialnya aku malah berhayal bahwa ia juga menyukaiku.Bangunlah Ami! Aku akan mulai membencinya, tidakah cara terbaik melupakan seseorang adalah membencinya? Iya aku akan melakukannya.Namun setelah kulakukan, aku menjadi mengerti akan satu hal.ini adalah fase paling rumit dalam mencintai, yaitu berusaha melupakannya.Mungkin terdengar singkat dan sepele, namun percayalah melupakan itu adalah hal yang punya beribu alasan untuk menjadi sulit.Entah bagaimana hati dan fikiran kita tak bekerja sama, ketika hatiku mantap untuk melupakannya namun aku masih selalu mencari Media sosialnya, menatapnya dari jauh, bahkan mencarinya saat upacara.Satu hal yang kutanyakan pada diriku kenapa ?Kenapa aku seperti ini?Apakah melupakannya adalah hal yang sesulit itu?.....................Setelah sekian lama, waktuku kuhabiskan untuk melupakannya, dan saat kufikir aku telah berhasil, ia malah merusak tembok kokoh yang sudah kubangun begitu saja dengan mudah.Saat kufikir ketika dia lulus, aku tak melihatnya lagi, namun bagaimana bisa aku dipertemukan kembali dengannya.Aku lupa bahwa ia memiliki adik yaitu juniorku.Waktu itu, kami disuruh ke fotocopy Azera untuk mencetak foto kami untuk raport, jadi mau tak mau seluruh anak sekolah harus kesana.Namun ditengah perjalanan ban motor teman yang memboncengku harus meletus ditengah jalan, jadi mereka harus membawanya kebengkel.Aku menatap langit dengan tatapan bosan, hpku mati, ban motor kempes, dan aku harus duduk sendirian disini.Sangat sial!Hingga netraku tak sengaja menangkap sosok ibu ibu yang berjalan kearahku.akh bukan tepatnya kepada pemilik warung yang kutempati singgah, aku tercengang ibu ibu ini ternyata kembar,aku yakin aku tak dapat membedakannya.Aku bersyukur bahwa ibu ibu itu sangat ramah, dan aku bru tau bahwa ia mengenal kakek dan nenekku, aku pun mengobrol singkat dengan mereka.Hingga suara yang begitu kukenang terdengar sangat nyata ditelingaku."Ma"Dia Anggara, sosok yang membuatku belajar mencintai dan terluka secara bersamaan.Ia membiarkan adiknya berbicara kepada mamanya, sedangkan aku dan Anggara hanya saling menatap dan tersenyum,sangat manis, seolah ada segudang kerinduan yang terpancar sangat jelas dimatanya, akupun sama,Aku sangat merindukannya.Saat kami berada difotocopy Azera, ia sama sekali tak melepaskan aku dalam netranya, ada apa sebenarnya dengannya? Ia menatapku seolah mencintaiku, namun ia tak pernah mau mendekatiku.Dan tampa aku sadari, foto yang kucetak untuk raport ku, menjadi kenangan paling indah yang pernah kudapatkan bersamanya, ketika kami tak ingin saling berpisah, namun kami juga tak bisa mengungkapkannya.Foto itu selalu mengingatkanku pada AnggaraAku merasa ini pertemuan terakhir kita untuk selama lamanya, kisah cinta kita akan usai dengan sendirinya.Pada akhirnya, aku dan Anggara tak mau mendekat dan akhirnya pula kita akan menjauh.Kita mempunyai kisah yang tak diselesaikan, ia berakhir tanpa pengenalan.Dan entah kapan aku bisa melihat Anggara kembali, karna 5 tahun lalu, adalah kisah terakhir yang kuukir bersamanya, dan kuharap Anggara bisa bahagia dengan hidupnya.Aku sedikit berharap, dan menyesal secara bersamaan, bahwa aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya, dan aku ingin dia menjawab pertanyaanku selama ini?Tentang apa maksud dari semuanya?Dari netranya, aku melihat banyak binar cinta untukku, namun ia tak mau mengungkapkannya.Aku hanya penasaran Anggara, dan aku berharap kau mejawab rasa penasaranku dengan sosokmu.Karna jika boleh jujur, rasa itu masih ada, walau sudah 5 tahun berlalu namun ia tak tenang, karna kamu tak pernah menjawab pertanyaan nya.Anggara membuat hatiku terus terkunci dengan ribuan pertanyaan untuknya.Sosok Anggara masih menjadi teka teki sekarang

Cinta sejati
Teen
19 Dec 2025

Cinta sejati

Apakah kalian percaya cinta sejati itu?Cinta yang tumbuh dengan ketulusannya, sangat lembut dan menenangkanCinta yang penuh dengan kasih sayang dan kesucian, cinta yang membuat kita merasa bahwa cinta adalah segalanya, cinta yang bisa meredupkan kekurangan kita, dan hanya menyinari keindahan kita.Sebesar apa kekuatan cinta sejati?Lantas bagaimanakah cinta sejati itu?Aku ingin merasakannya ?"Rose! Apa yang kau lakukan disitu?"Rose membuka matanya secara perlahan, dan ia lihat Venny,yaitu kakaknya sedang berjalan kearahnyaAku sedang menikmati angin kak"ucap Roese pada Veny dengan lembut.Aneh, bagaimana bisa kau menikmati angin ditempat seperti ini? Kau tidak takut ada ular disekitar sini?"ucap Venny sambil melihat ngeri,sekeliling yang penuh dengan rerumputan liar disekitarnya.Alih alih menjawab Veny,Rose lebih memilih mengabaikannya,Ia menghampiri pus dan Cherry yang sedang bermain direrumputan.Astaga kau juga membawa pus dan Cherry?!"ucap Venny dengan nada tak percaya.Bisakah kau berhenti mengomel kak? Lihatlah pus dan Cherry menjadi takut"ucap Rose sambil mengelus lembut bulu tebal Kucingnya.Ck, apa yang kau suka dari tempat ini?"ucap Venny sambil duduk mengambil pus.Kak, bukankah pus dan Cherry begitu serasi?"tanya Rose pada Venny, Venny langsung mengamati pus dan Cherry."Emm mereka memang sedikit serasi"ucap Venny dengan ragu.Ah betulkan? Mereka punya cinta sejati, jadi mereka terlihat sangat mencintai"ucap Rose membuat Venny termenung.Kak, bagaimana cinta sejati itu? Apakah itu menyenangkan?"tanya Rose pada Venny.Venny mengalihkan wajahnya, dengan raut yang kurang menyenangkan"berhentilah berkhayal tentang cinta sejati Rose,. Didunia ini tak ada cinta yang benar benar tulus!"tegas Venny dengan nada kesal.Tidak kak, itu karna kakak belum menemukannya"bantah RoseBelum menemukannya? Tidakkah kau belajar Rose, dari ibu dan ayah? Mereka saling mencintai, kata orang mereka punya cinta sejati? Tapi kenapa akhirnya mereka saling menyakiti? Kenapa akhirnya mereka berpisah dan meninggalkan kita? "Teriak Venny membuat Rose membeku.Rose, buka matamu sedikit Rose, didunia ini, cinta sejati itu tidak ada,Ais bisakah kau tidak kembali mengorek luka Rose,akh sudalah, lebih baik kau ke kebun membantu paman memetik bunga, kakak harus kerumah pak kepala"ucap Venny dengan nada tak percaya melihat adiknya,ia melenggang pergi dari hadapan Rose.Sedangkan Rose hanya termenung dan beralih menatap kelangit.Apakah cinta sejati itu memang tidak ada? Apakah semua cinta sejati itu akan berakhir seperti ayah ibu?Rose,ayo!"panggil Venny dari jauhIya kak sabar"Rose lalu beranjak dan pergi kekebun bunga milik pamannya.Kebun yang berisi banyak sekali bunga dengan berbagai jenis.Kau dari mana Rose?"tanya paman Gustin kepadaku.Ah, aku habis mencari angin paman hehe"ucapku sambil terkekeh pada paman.Aish, kau pasti kekebun kosong itu lagi.kenapa kau selalu saja membuat kakakmu marah?"tanya pamanku sambil berdecak pinggang.Aku langsung menghampiri paman dan memegang lengannya"oh ayolah paman, tidakkah paman jahat jika memarahiku juga? Aku akan dimarahi dua kali hari ini"ucap Rose sambil mengurucutkan bibirnya yang terlihat sangat imut.Karna gemas Gustin tak jadi memarahi Rose, justru mala mengelus pelan rambut panjang Rose"Mana mungkin paman bisa memarahi keponakan paman yang cantik ini"ucap paman membuat Rose terkekeh, ia tau pamannya akan luluh padanya.Rose sangat menyayangi Gustin sebagai pengganti ayahnya, dan Gustin pun sebaliknya, ia sedikit kasihan kapada keponakannya, namun ia sedikit beruntung akan itu. Ia jadi dapat merasakan memiliki anak disisinya, dari dulu , ia dan istrinya berusaha sangat keras untuk mendapatkan keturunan, namun sayangnya ada yang bermasalah pada rahim istrinya, maka dari itu sampai kapanpun ia tak bisa memiliki anak.Ia juga tak cukup hati untuk mendapatkan istri baru, karna ia sangat menyayangi istrinya.hingga suatu ketika kakaknya membawakan 2 orang anak perempuan yang sangat manis dan cantik. dia Venny yang saat itu masih berusia 14 tahun dan satunya lagi adalah Rose yang masih berusia 8 tahun .Ia saat itu perihatin melihat kedua anak itu, ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, namun ia hanya bisa bersyukur, berkat kakaknya, ia merasa hidupnya menjadi lengkap karna dua gadis ini.Rose, tuan Hadi memesan bunga Lily untuk diantar jam 4 sore, sedangkan paman harus kerumah pak Budi untuk membahas sesuatu, jadi bisakah kau yang mengantarkannya?"pinta paman Gustin pada Rose.Tentu saja paman, aku akan mengantarnya menggunakan sepedaku"Baiklah hati hati yah.......Hmm jadi kalau menurut alamat,aku harus menyebrang bukan?"ucapku sambil melihat kertas dihadapanku.Hmm lebih baik aku kehalte sebentar, jalur sepeda masih sangat lama"Rose mengayunkan sepedanya kearah halte.Ia duduk dan menatap rintik rintik hujan yang berjatuhan dari pohon pohon sekitar.Bukankah suasana kota sangat indah jika baru saja hujan? Semua terasa sangat segar.Aku beralih pada anak kecil yang ditinggal dihalte sendirian, sepertinya ibunya akan mrmbelikannya es krim, tampa sengaja aku melihat mobil Dengan kecepatan tinggi, aku pun langsung berlari melindungi anak itu.Dan sparasshh.Huwaa baju kakak basah"ucap anak kecil itu sambil menangis, aku tersenyum dan berjongkok.Tidak apa apa girl, ini hanya basah dan kotor sedikit"ucapku sambil mengelus pelan rambutnya.Tapi baju kakak sudah tidak bisa dipakai? Itu gara gara aku?"ucap gadis kecil itu sambil terus terisak.Berhentilah menangis girl, kakak tidak marah, kakak senang menolongmu, bukankah kalau kita baik, santa akan memberi kita hadiah? Makanya kakak berbuat baik, karna sebentar lagi musim salju"ucapku dan membuat anak itu mengangguk paham dan tersenyum.Baiklah kak, aku juga akan berbuat baik, kalau begitu aku pergi dulu, mama udah panggil aku dadah kakak cantik"ucap gadis kecil itu sambil melambai menjauh dari hadapan .Aku tersenyum dan membalas lambaiannya, tampa sadar ternyata ada seseorang yang tersenyum melihat aksiku.Setelah menempuh beberapa menit perjalanan akhirnya aku sampai di sebuah rumah yang sedikit mewah dan besar."Permisi, pak ini ada titipan bunga dari gustina Flower"ucapku kepada pak satpam.Baik non, terima kasih"Aku pulang dengan sangat sial, bisa bisanya hujan menerpaku ditengah jalan, dengan terpaksa aku harus meneduh ke depan halte, ugh sangat dingin dan sepi, hingga mobil berwarna hitam dengan laku yang tak benar berhenti didepan halte, seorang pemuda tampan langsung keluar dari mobil dan berjongkok tepat disampingku, ia meringkuk dan menutup telinganya dengan sangat takut, apakah dia takut hujan?.Dengan ragu, aku memakaikan earphoneku ditelinganya, ia terkejut dan langsung mendonggak bingung.Dari pada menjawab kebingungannya, aku lebih memilih mengambil secarik kertas dari keranjang bungaku, dan menuliskan sesuatu didalamnya, setelahnya aku menaruh tulisan beserta bungaku disampingnya.Dan aku langsung pergi tampa berpamitan dengannya.........Besok harinya.Bagaimana tidurmu Rose?"tanya bibi Tina sambil mengoleskan Roti panggang selai coklat dipiring RoseSangat menyenangkan, bibi aku bermimpi bertemu seorang pria tampan dimimpiku"ucap Rose dengan senang sambil mengambil roti buatan bibi.Benarkan? Itu bisa jadi pertanda baik, biasanya pria dimimpimu adalah jodohmu"ucap bibi membuat Rose berbinarBenarkan?"tanya Roee dan bibi hanya menganggukApa yang kalian bicarakan?"tanya Venny sambil menghampiri Rose dan bibi TinaKami sedang membahas pria tampan"ucap bibi membuat Venny menggeleng kepala, Venny memang tak suka hal hal berbau cinta.Rose, bibi sudah menyiapkan bunga bunga yang akan kau antar pagi ini, kau bisa mengambilnya di gazebo dekat taman"ucap bibi membuat Rose menganggukBaiklah bibi"Setelah makan, Rose mengambil bunga bunga pesanan dan siap untuk mengantarkannya, ditengah hari, tak sengaja ia melihat seseorang yang begitu dirindukannya.Rose tersenyum senang, ia menghampiri seorang pria paruh baya, yang sedang menatap senyum kepada seorang wanita dan dua anak kecil didepannya.Ayah"ucapku membuatnya kagetApa yang kau lakukakn disini?! Bagaimana kalau istriku melihatmu?"ucap ayah sambil menarikku menjauh dari sanaAyah, aku merindukan ayah"ucapku dengan mata yang sudah berkaca kacaRose! Ayah akan menjengukmu, tapi jangan sekali kali menampakan wajahmu didepan keluargaku"ucap ayah membuat hati Rose mencelosKamu disini saja! Istriku akan segera kembali, ayah tidak akan memafkanmu kalau kau menampakkan dirimu seperti tadi"ancam ayah membuatku hanya termenung rapuh.Bagaimana bisa, ayah yang selalu memanjakanku , ayah yang selalu melindungiku , menjadi seperti ini? Dia bukan ayahku !"Rose masih temenung dengan air mata lirih dipipinya, mengabaikan hujan yang terus berjatuhan dan menerpanya, tatapan Rose hanya terpaku pada 1 keluarga yang terlihat harmonis dan melindungi putra dan putrinya dari hujan.Ia sangat membenci ini !Ia terduduk dan menekuk lututnua. Ia menyembunyikan wajahnya dilututnya" Apakah cinta sejati memang tidak ada? Apakah benar cinta sejati akan seperti ayah dan ibu?" ucap Rose lirih dibawah terpaan hujan yang membasahi hampir seluruh tubuhnya.Hingga sebuah kaki berdiri tepat didepannya, dan membuat hujan berhenti mengguyurnya, Rose mendonggak dan ia melihat seorang pemuda yang memayunginya.Kau siapa?"tanya Rose dengan nada terisakJangan berhenti mempercayai cinta sejati, karna cinta sejati akan datang dengan sendirinya"ucap pria itu membuatnya bingung.Pria itu berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Rose tampa melepas payung yang melindungi mereka.Aku Geren, kau memang tidak mengenalku, tapi aku tau semua tentang kamu, kau ingat earphone ini, ini pemberianmu, kalau kau memilih tak percaya lagi dengan cinta sejati, maka aku akan mengajarkanmu hingga kau kembali percaya"

HOROR SUNGAI CIBENING
Horror
19 Dec 2025

HOROR SUNGAI CIBENING

Pagi ini Reva sangat bersemangat menunggu kedatangan Mas Slamet kerumahnya, karena kantor mereka akan mengadakan outing ke Desa Bening di ujung selatan daerah Bogor, dan Reva sudah siap dengan pakaian santainya kaus merah muda dan celana jeans dengan topi renda di kepalanya."Tin....tin..." suara Klakson dari motor klasik Mas Slamet"Iya mas sebentar, aku pamitan dulu sama mamah" teriak RevaDan mamah pun mengantar Reva keluar menghampiri Mas Slamet"Tolong titip Reva ya mas" ucap Mamah"Iya bu, pasti saya akan menjaga anak perempuan ibu yang paling susah diatur" ucap Mas Slamet sambil bercanda"Apaan sih mamah, ga usah dengerin Mas Slamet, ini saja aku udah berat hati dianterin Mas Slamet, bikin pasaran aku nanti turun" balas canda Reva"Kalian berdua hati-hati ya, dan selamat bersenang-senang" ucap Mama melepas mereka berduaSaat sampai dikantor beberapa Bus sudah nampak di area parkir"Reva... Mas Slamet" panggil Suci dari area parkir"Hai jeng.... kamu nginep ya dikantor" canda Reva"Bantuin aku ya Rev, koordinir temen-temen buat nomer busnya, sama bagiin konsumsinya" jawab Suci tanpa menghiraukan candaan RevaDan setelah semua selesai, semua karyawan masuk ke dalam bus akhirnya tiba mereka semua berangkat ke Bogor.Perjalanan cukup lancar, tidak mengalami kendala kemacetan atau lain-lain, Reva sangat menikmati pemandangan di sepanjang jalan melihat semakin banyaknya pepohonan, dan melihat gunung yang sangat asri membuat perjalanan outing kali ini akan menyegarkan dan menyenangkan.Suci sudah tertidur pulas di samping Reva, sepertinya dia sangat kelelahan karena dia menjadi ketua panitia oouting kali ini.Mas Slamet dibelakang sedang main gitar dengan teman lainnya, Mas Slamet sudah berusia empat puluh tahun lebih, dan semua karyawan dikantor sangat menyukainya, karena dia selalu mau menolong siapa saja yang kesusahan.Dan akhirnya Bus pun berhenti di tempat tujuan, semua orang perlahan turun dari Bus ke arah tempat peristirahatan di motel terdekat.Dan jadual hari ini cukup padat, setelah kita sampai dihotel waktu berisitirahat hanya satu jam, sore ini jam 3 kita akan mulai menuju Sungai Cibening untuk wahana outbound dan arum jeram di sungai Cibening, terakhir adalah acara api unggun untuk seluruh karyawan, dan esok hari jadwalnya hanya tea walk dan acara bebas baru pulang kembali ke Jakarta.Semua karyawan antusias dengan aneka permainan outbound yang diberikan, terutama banyak permainan yang mengharuskan kerjasama tim yang baik.Mas Slamet dan timnya banyak memenangkan permainan kali ini, dan terakhir kami semua bersiap bergantian naik arung jeram.Karena keterbatasan orang yang bisa naik ke wahana hanya sedikit, jadi memang membutuhkan waktu yang lama Reva bisa mencoba Arung Jeramnya, dan kebetulan Reva mendapatkan posisi antrian yang paling akhir bersama Suci, karena mereka berdua harus membereskan asset saat permainan tim tadi.Tidak terasa waktu sudah hampir senja, langit sudah berubah, Mas Penjaga sudah menyetop peserta yang akan naik ke arum Jeram saat Reva sudah memasuki antrian menaikinya."Maaf mba, sudah mau maghrib, kita tutup dulu" ucap mas penjaga"Tapi mas, aku sudah antri dari tadi, dan kita panitia lho mas" ucap Reva kesal"Tapi, bahaya mbak arusnya lebih kencang kalau mau malam" ucap Mas Penjaga"Tolong dibantu mas, kita cuma berdua kok" ucap Suci mendesak"Maaf mbak tidak bisa" ucap Mas Penjaga tadi tegasTiba-tiba Mas Slamet datang menghampiri Reva, Suci dan Penjaga tadi"Ada apa ini kumpul-kumpul?" tanya Mas Slamet"Mas kita belum cobain arum jeramnya, masa udah nunggu dari tadi kita ga jadi main""Bisa gak mas, mereka boleh main tapi saya ikut jagain mereka" ucap Mas Slamet"Terserah mas saja, tapi resikonya saya tidak tanggung jawab ya mas" ucap mas penjaga"Hore... makasih Mas Slamet" ucap Suci dan Reva berbarenganDan akhirnya mereka pun menaiki arung jeram itu ditemani mas slamet sebagai pengganti dari penjaga arung jeram itu, Suci dan Reva sangat menikmati permainan adrenalin ini, tiba - tiba ditengah sungai mereka melihat ada gadis memakai baju putih sedang mengapung di sungai, sepertinya dia mau tenggelam, spontan mas slamet berusaha membantu gadis itu untuk naik ke perahu arung jeramnya, dan akhirnya mas slamet pun berhasil."nama kamu siapa?" tanya mas Slamet begitu gadis iu sudah naik di kapal arung jeramTapi anehnya gadis itu hanya diam saja"kamu tidak apa-apa?" tanya SuciDan sekali lagi gadis berwajah pucat iti tidak menjawab"rumah kamu dimana?" tanya RevaDan gadis itu masih diamAkhirnya mas Slamet menjalankan kembali arung jeramnya dan siap siap mendekati ke tempat pemberhentian tidak jauh didepan sanaSaat berhenti suasana sangat sepi, mad penjaga sudah tidak ada disana, mereka bertiga turun, dengan membawa gadis yg hampir tenggelam tadi.Mas slamet agak anaeh melihat gadis itu hanya diam dengan tatapan kosong, dan tidak mau menjawab sepatah katapun.Suci dan Reva saling berpandangan, tidak tahu harus berbuat apa pada gadis itu"Mungkin kita harus bawa ke tempat menginap, mungkin kalau sudah istirahat dia akan lebih tenang" ucap mas slametDiikuti anggukan suci dan revaDan mereka pun berjalan ke tempat menginap, saat ditengah jalan mas slamet yang berjalan bersama gadis itu ingin pipis, dia berhenyi dan menyuruh gadis itu untuk menunggu dibawah pohon kelapa.Suci dan Reva tetap berjalan pelan menuju tempat penginapanTidak berapa lama tiba-tiba mas Slamet berlari ke arah suci dan reva"Suci..Reva kalian ga lihat gadis tadi?" tanya mas Slamet terengah - engah"lho kan tadi bareng mas slamet" ucap Reva"iya mas, tadi aku lihat dia duduk dipohon kelapa" ucap Suci menimpali"tidak ada, aku sudah mecarinya makanya ak mengejar kalian siapa tahu kalian bersamanya" ucap Mas Slamet bingungTiba-tiba mereka melihat ada cahaya cahaya kecil mendekati ke arah mereka"apa itu?" tanya SuciCahaya itu semakin dekat dan semakin dekat"Mas Slamet... Mbak suci dan mba Reva , Alhamdulillah sudah ketemu" ucap mas penjaga tadi"ketemu? Kan tadi kami main arung jeram mas kan tahu" jawab mas slamet"iya mas, tapi mas Slanet, mba Suci dan mba Reva sudah hilang 24 jam, bahkan kami menyusuri sungai pagi ini tidak ketemu dgn kapal arung jeramnya" ucap mas penjaga tadi ditemani beberapa teman kantor , dan petugas penginapan"iya mas Slamet sudah kami semua cari dr pagi tadi""tidak mungkin kami bertiga hanya sebentar bermain arung jeram, kami hanya menyelamatkan wanita yg mau tenggelam td ditengah sungai" ucap Mas Slamet"berbaju putih?" tanya mas penjaga"iya kok mas tahu?" tanya Suci"oh kalian dibawa penunggu sungai, sudah banyak kejadian seperti ini makanya kita tidak boleh main arung jeram saat sudah maghrib dan malam hari" ucap mas penjaga tadi"penjaga sungai?" ucap Reva dan Suci berbarengan"Jadi kami sudah menghilang 24 jam" tambah bingung isi kepala mas Slamet dan saat dia melihat keatas sambil berfikirGadis berbaju putih sedang melihat ke arah mereka sambil tersenyum

HOROR RAHASIA MASA LALU
Horror
19 Dec 2025

HOROR RAHASIA MASA LALU

Indra hari ini pergi bekerja seperti biasa menuju stasiun untuk menaiki kereta ke arah kantornya yang berada dipusat kota, Saat menunggu di stasiun tiba-tiba ada wanita cantik berbaju kuning dengan rok span duduk disebelahnya, Indra melihat sambil tersenyum."Maaf kereta ke arah manggarainya sudah tiba blm ya mas?" tanya gadis itu"Belum kok mbak, sama saya juga menunggu kereta itu" jawab Indra"Oh begitu, baiklah. Maaf ya saya baru pertama naik kereta nanti tolong saya diinformasikan ya mas?" tanyanya ramah."Baik mbak, oh iya nama saya Indra, nama kamu siapa?" tanya nya"Saya Ranti" jawab gadis cantik ituSetelah hari itu, Indra semakin sering bertemu dengan Ranti, tidak menyangka hubungan mereka semakin erat bahkan dalam hitungan bulan mereka akhirnya berkomitmen untuk berpacaran, dan Indra tidak menyangka bahwa Ranti menerima cintanya.Hari ini Indra datang berkunjung ke rumah Ranti, untuk apel pertama kali, dan ada seorang wanita paruh baya menyambutnya, dan mempersilahkan duduk.Indra pun duduk di teras, dan sambil menyeruput teh yang disediakan.Tiba-tiba ada sosok laki-laki diujung pintu gerbang yang sedang memperhatikan Indra tanpa berkata apa-apa.Tiba- tiba Ranti keluar dengan pakaian dasternya, dan masih terlihat cantik, dan saat Indra melihat ke arah pintu tadi sosok laki-laki itu telah hilang"Hai dra, aku seneng kamu datang kesini" ucap Ranti"Iya Ran, aku juga seneng kok" jawab Indra"Oh iya, papah kamu dirumah?" tanya Indra"Papahku lagi pergi keluar sama mamah, kenapa memangnya?" tanya Ranti"Tidak apa-apa hanya saja tadi aku melihat ada laki-laki didepan pintu kamu disana" jawab Indra"Laki-laki? tidak ada siapa-siapa kok, cuma ada Bi Susi saja" jawab Ranti"Baiklah, mungkin tadi hanya orang lewat saja" ucap Indradan akhirnya Indrapun pamit pulang karena waktu sudah sangat malam, bahkan Papah dan Mamah Ranti juga belum kembali dan Indra tidak sempat bertremu dengan mereka.Minggu depan Indra bermain lagi kerumah Ranti saat Indra mau memasuki gerbang Indra melihat lagi sosok laki-laki kemarin, Tapi kali ini Indra memberanikan diri mendekatinya, untuk menanyakan siapa dia dan mengapa dia melihat ke arah Indra terus.Tapi saat Indra mendekat tiba-tiba laki-laki tadi menghilang, sama sekali tidak terlihat kapan dia meninggalkan tempat tersebut."Hai dra" sapa Ranti yang melihat Indra kebingungan didepan pintu"Hai Ran" sapa Indra bingung"Kamu ngapain berdiri disitu?" tanya RantiIndra melihat ke sekeliling sepertinya dia tidak perlu mengatakan apapun kepada Ranti atau dia akan dianggap aneh"Tidak apa-apa kok Ran" jawab IndraBerbeda dengan minggu kemarin, Papah dan Mamah Ranti ada dan berkenalan dengannya, sepertinya semuanya sangat ramah dan menerima Indra, bahkan kali ini Indra tidak duduk di teras tapi berbincang di ruang tamu.Tiba-tiba ada satu foto yang membuat Indra kaget, wajah itu yang ada dalam foto di bingkai kecil ruang tamu, mirip dengan wajah laki-laki yang dilihatnya."Maaf Ran, itu foto siapa ya?" tanya Indra"Oh itu foto papahku Dra, tapi Papah meninggalkan aku dan mamah saat aku masih kecil, dan Papah Bram adalah papah tiriku yang menikahi mama dan menjagaku sejak aku masih kecil" jawab Ranti"Kenapa Dra, kok wajah kamu bingung seperti itu" ucap Om Bram"Oh tidak apa-apa kok Om, hanya tanya saja" jawab Indra dengan senyum kecilPulang hari itu Indra sama sekali tidak bisa melupakan wajah yang melihatnya dari minggu kemarin di rumah Ranti, kenapa papah Ranti muncul saat Indra berkunjung ke rumahnya terus, fikir Indra.Hari ini Indra datang kerumah Ranti untk memberikan kado spesial hari jadian mereka, Indra sengaja tidak memberitahu ke Ranti bahwa dia akan datang, tetapi ternyata Ranti tidak ada dirumah"Halo Ran, kamu ada dimana?" tanya Indra"Aku sedang jalan sama mamah papah ke rumah bibi aku di Tangerang Dra, kenapa?" tanya Ranti"Oh, aku ke rumah kamu, mau rayain hari jadi kita" ucap Indra"Ya ampun aku lupa, maafkan aku ya sayang" ucap Ranti"Aku bawa kado juga" ucap Indra"Kamu masuk saja kerumah ada Bi Susi, kamu titip saja kadonya sayang" ucap Ranti"Oh, oke" jawab Indra dan memutus teleponnyaSaat Indra ingin berjalan masuk, berdiri dihadapan dia laki-laki itu"Kamu... kamu mau apa?? kamu papahnya Ranti kan??" tanya IndraLaki-laki itu hanya diam, dia memegang tangan Indra, dan saat itu juga iNdra seperti itidak sadarkan diriRuangan ini sangat gelap, "aku berada dimana?" fikir IndraLalu masuklah dua orang kedalam ruangan itu, wajahnya Indra sangat kenal, Om Bram dan Tante Selpi (mamanya Ranti)"Mas, aku tidak bisa meninggalkan Ranti, kalau sampai Mas Johan tau hubungan aku dan kamu, pasti dia akan membawa Ranti jauh dariku" ucap Tante Selpi"Tapi aku sangat mencintaimu Selpi, aku sudah tidak tahan dengan kita selalu berhubungan diam-diam seperti ini" ucap Om Bram"Tapi kamu tahu kan, kalau aku tidak menikahi Johan, aku tidak bisa hidup dengan nyaman seperti ini" ucap Tante Selpi"Tapi sekarang kamu sudah mendapatkannya kan Sayang, dan itu lebih dari cukup untuk kita berdua" ucap Om BramTiba-tiba pintu terbuka"Apa yang kalian berdua lakukan" ucap Om JOhan"Mas Johan" ucap Tante Selpi kaget"Aku sudah mendengar semuanya, ternyata prasangka aku benar, kamu Bram teman baikku menghianatiku seperti ini dengan istri aku sendiri, apakah kalian sudah tidak punya perasaan?" teriak Om Johan"Aku mencintai Selpi Johan" ucap Bram"silahkan kalian lanjutkan hubungan kalian, tapi jangan harap kalian akan bisa mendapatkan hartaku, dan kamu Selpi jangan fikir kamu akan bisa melihat Ranti lagi" ucap Om Johan sambil berteriak dan bersiap meninggalkan merekaTapi tiba-tiba tante Selpi mengambil palu yang ada di gudang dan tante selpi memukul kepala Om Johan dengan palu tersebut dari arah belakang.Om Bram mendekati badan Om JOhan dan memukul kembali bertubi-tubi badan Om Johan dengan palu.Tante Selpi menangis sangat keras, tidak percaya dia telah membunuh suaminya sendiri"Aku tidak mau kehilangan Ranti Bram" ucap Tante Selpi mengulang ulang perkataan tersebut"Ini mungkin jalan terbaik untuk kita sayang, saat ini kita tidak akan kehilangan Ranti maupun harta mu sayangDan tante selpi tetap menangissementara om Bram menyiapkan kayu bakar dan membuat api dan membawa jasad Om Johan ke dalam api tersebut.Setelah jenazah Om Bram menjadi abu, bagian tengkorak Om Johan dikubur dipojok GudangIndra hanya terpaku melihat kejadian itu tiba-tiba kepalanya sangat pening"Indra... Indra..." suara Ranti terdengar sayup ditelinga INdra"Aku dimana?" Tanya Indra"Kamu pingsan didepan rumahku tadi" ucap RantiDan Indra langsung duduk ketakutan ketika melihat wajah Om Bram dan Tante Selpi"Ran... Ran... aku.. aku...." ucap Indra"Kamu kenapa?" tanya Ranti"Om Johan... papah kamu...." ucap Indra terbata-bata"Tante Selpi dan Om Bram saling melihat satu sama lain"Ibu mu dan Om Bram telah membunuh papah kamu" ucap Indra"Apa yang kamu bilang Indra" ucap Om Bram marah"Apa yang kamu katakan" bantah tante Selpi"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" ucap Ranti bingung dan marah"Om dan Tante harus bicara jujur ke Ranti, itulah yang diinginkan Om Johan supaya dia bisa tenang" ucap Indra"Apa buktimu" ucap Om Bram "darimana kamu mengarang cerita itu?""Ranti kamu harus percaya padaku, Om Johan sendiri yang mendatangiku" ucap Indra"Apakah itu benar mah? pah?" tanya RantiTante Selpi melihat ke dalam mata Ranti"Maafkan mamah, Ranti, mamah tidak sengaja" ucap Tante Selpi histeris"Apa yang kamu katakan Selpi, anak muda itu tidak memiliki bukti" ucap Om Bram mencegah tante Selpi untuk berkata jujur"Aku tidak bisa Bram, membohongi putriku seumur hidupnya" ucap Tante SelpiAkhirnya diceritakanlah semuanya kepada Ranti, dan Ranti sangat shick dan tidak menerima kenyataan ini"Sekarang mamah terserah kamu nak, mama siap menanggung resikonya walaupun mamah harus masuk ke penjara""Om Johan hanya ingin Ranti mengetahui kenyataan yang terjadi Ranti, tapi aku rasa jika kamu bisa memaafkan mamah dan Om Bram itu akan jauh lebih baik" ucap Indra"Aku sunggu sakit mah, pah aku tidak tahu apakah aku akan bisa memaafkan kejadian itu, tapi aku tahu kalian berdua menyayangiku dan memperlakukan ku dengan kasih sayang, aku juga tidak akan bisa melihat kalian berada didalam penjara, yang aku inginkan hanya satu""Apa nak" jawab Tante Selpi dan Om Bram bersamaan"Aku ingin menguburkan ayah secara layak" ucap SelpiDan keesokan harinya kerangka Om Johan diambil dari gudang dan dikuburkan di taman samping rumah, dengan mendoakan semoga dia juga bisa hidup tenang dialam lain."Terimakasih nak Indra sudah membuka jalan agar kami tenang dengan masa lalu kami" ucap tante Selpi"Iya Tante, kadang kejujuran itu sangat menyakitkan tapi itulah yang harus kita hadapi" ucap Indra sambil melihat ke belakang di kuburan Om Johan tersenyum kepadanya dan menghilang.

Nomagi Academy
Fantasy
19 Dec 2025

Nomagi Academy

Aku menarik napas selagi mencoba membaca kembali apa yang tertulis di depanku. Sudah beberapa menit berlalu dan bukannya berkembang, pikiranku malah semakin kalut ditambah suhu memanas. Berusaha fokus menjadi hal tersulit sekarang ditambah suasana kelas semakin ricuh setelah kepergian guru beberapa detik yang lalu.Ayo, fokus!Aku membaca kembali paragraf yang bertuliskan tentang sejarah sekolah yang kutempati saat ini. Ketika aku di ambang kesusahan di bawah gelapnya malam tanpa rembulan ditemani onggokan sampah jalanan, di situlah muncul selembar surat mendarat tepat di depanku. Cukup dengan membaca sebaris kata saja sudah membuat duniaku terasa terang benderang seketika.Kamu diterima di Nomagi Academy, tempat sihir dan keajaiban berada!Nomagi Academy terkenal di tempatku sebagai sekolah asrama yang mengajar sihir serta makhluk ajaib dari berbagai belahan dunia. Kamu cukup lahir dari keluarga keturunan penyihir, barulah akan diseleksi oleh salah seorang pengurus sekolah yang biasa menyamar di tengah manusia. Mereka tahu tanpa diberi tahu. Kini, aku diterima sebagai siswi di sana."Kudengar sebentar lagi kita akan belajar tentang unicorn !" ujar salah seorang siswa yang berkacamata. Dia berdiri di tengah kerumunan siswa yang penasaran akan kabar terbaru sekolah ini.Jujur saja, aku juga tertarik mendengar bahasan mereka. Tetapi, tidak satu pun dari anak-anak itu kukenal sehingga aku mengurungkan niat untuk berkumpul. Barangkali setelah cukup berani memperkenalkan diri di depan kelas, barulah aku bisa ikut mengobrol."Aku paling suka dengan unicorn ," komentar salah satu siswi dengan nada antusias. "Ah, kita belum mengobrol dengan anak lain, nih. Ayo, kita kumpulkan mereka!"Mataku terbalak. Semoga mereka tidak ..."Para penghuni kelas, mendekatlah!"Hanya dengan mendengar suara siswa berkacamata itu, sebagian murid yang sibuk sendiri, termasuk aku, tertarik ke arahnya."Tolong!"Jeritan kami menggema sepanjang ruang kelas selagi kami ditarik oleh sihir si bocah berkacamata itu.Meski diizinkan masuk ke sekolah sihir, bukan berarti bisa sebebasnya bermain dengan sihir!Aku terjatuh membelakangi salah satu siswi yang merupakan teman dari si Kacamata tadi. Sungguh memalukan!Beberapa erangan terdengar dari para murid yang diseret mendekat, padahal bocah itu cukup bicara pelan saja sudah bisa didengar satu kelas."Anak baru, ya?" sapa si Kacamata kepadaku."Kita semua anak baru," balas si gadis kepadanya. "Ayo, semua! Kita mengobrol soal sihir atau diri kalian!"Aku lantas duduk dan mengelus pantat.Mentang-mentang ini sekolah penyihir dia bisa pakai seenaknya. Tetapi, sekarang aku tidak bisa protes karena kedua orang ini langsung mengatur posisi kami semua hingga duduk berjajar layaknya anak kecil yang siap mendengarkan dongeng."Nah, perkenalkan diri kalian masing-masing," ujar si Kacamata. "Sebelum guru datang, ada baiknya latihan dulu, 'kan?"Tidak ada yang menanggapi."Nomagi Academy adalah sekolah sihir yang didirikan, tentu saja, untuk anak penyihir seperti kita," kata si gadis. "Aku dan saudara kembarku ini akan membimbing kalian bersekolah di sini, lho. Kalian kalau ada pertanyaan seputar sekolah bisa langsung datang ke kami."Ah, ternyata begitu.Ketika aku hendak melontarkan pertanyaan soal sekolah sihir ini, terdengar bunyi langkah kaki dari luar. Beberapa murid langsung bebas dari sihir si Kacamata dan berlari menuju kursi masing-masing. Aku pun begitu, memacu langkah sebelum pintu kelas dibuka dan mengatur napas ketika seorang wanita mengenakan topi panjang hitam muncul dari balik pintu."Selamat datang di Nomagi Academy!" sambut wanita itu. "Kalian siap belajar tentang sihir?""Siap!" Tentu saja kami semua membalas dengan serentak. Apalagi sekarang atmosfer ruangan berubah menjadi lebih ceria dari sebelumnya.Wanita itu tersenyum. "Baguslah. Sekarang, kita akan saling memperkenalkan diri. Aku guru wali kelas kalian dan hari ini kita akan belajar tentang unicorn ."Tamat

Cermin
Fantasy
19 Dec 2025

Cermin

“Cermin ini istimewa, aku membelinya dengan harga mahal.” Maia baru saja pamer kepada adiknya. Dia bangga dengan hasil tabungannya selama ini. Sudah lama dia menginginkan cermin ini.Cermin itu memiliki warna biru tua dengan rangkaian ukiran menghiasnya. Bentuknya memang cukup kecil, hanya segenggam tangan Maia. Tetapi, warna dan hiasan yang tampak seperti tiruan berlian itu yang menarik minatnya. Tentu Maia tidak mau cermin itu direbut.Meski harganya lumayan mahal dan nyaris menghabiskan tabungannya, Maia tidak begitu peduli. Selama masih bisa memiliki cermin ini, tidak masalah.Dia membeli cermin itu dari sebuah stan yang baru muncul dekat sekolahnya, lebih tepatnya di bagian belakang sekolah di mana beberapa pedagang menjaja dagangan mereka. Ada yang menarik perhatiannya waktu itu, yaitu pantulan dari cermin yang dipajang di sebuah stan itu.Seorang gadis yang sedang menjaga stan itu tersenyum pada Maia. Dia membiarkan Maia terus menatap cermin itu hingga beberapa detik.“Cermin ini kudapatkan dari seseorang beberapa tahun silam,” ucap gadis itu. “Ini benda antik, harus terus dijaga dan dirawat.”Maia yang tidak terlalu memusingkan, langsung menanyakan harganya dan dari situ saja sejarah di mana dia mendapatkan cermin itu. Tanpa bertanya banyak melainkan ingin segera mendapatkan cerminnya.“Kakak tidak bertanya dari mana asalnya?” tanya adiknya. “Kakak tidak mungkin membeli tanpa berpikir terlebih dahulu, ‘kan?”Maia terdiam. Dia kembali menatap cermin yang digenggamnya, hasil tabungan yang seharusnya akan dipakai untuk kebutuhan lain justru berkurang demi sebuah cermin yang cantik.“Aku yakin ini cermin yang datang dari pabrik seperti kebanyakan cermin lainnya,” jawab Maia.Adiknya hanya mengiakan sebelum akhirnya meninggalkan Maia sendirian di kamarnya.Maia senang memandangi dirinya di cermin, terutama jika dia suka warnanya. Apalagi kalau bentuknya yang sedang cukup mudah dibawa ke mana saja.Saat memandangi pantulan wajahnya, Maia tersenyum. Melihat kulit kuning langsatnya yang mulus tanpa jerawat, manis cokelat tua seolah menambah kepercayaan diri bagi Maia. Dia memang merasa lebih cantik dibandingkan teman sebayanya, tapi itu tidak membuatnya terlalu berbangga diri.“Aku jadi penasaran, bagaimana rasanya jika bayanganku melihat aku di seberang sini.” Maia membatin selagi memandangi pantulan dirinya di cermin itu.Maia pun meletakkan cermin itu di kasur lalu keluar untuk makan siang. Setelah pulang dari sekolah dan langsung memandangi barang beliannya tentu menunda jam makan yang seharusnya sudah berlangsung selama tiga puluh menit.Maia berniat akan menata cermin itu lagi setelah makan. Mungkin di meja belajar bagus untuk dipajang.***Makan siang hari ini sukses membuat Maia kenyang. Niatnya hendak kembali meletakkan cermin baru itu ke meja belajar, supaya dia lancar mempelajari materi di sekolah, kalaupun dia fokus.Kembalinya ke kamar, Maia ambil cerminnya dan meletakkan ke meja belajar.Tunggu, ada yang aneh.“Eh, mana bayanganku?” Maia membatin sambil menatap cermin yang hanya memantulkan dinding putih di belakangnya, dinding kamarnya. Tapi, di mana wajahnya yang seharusnya menatap balik dia?Maia memutar cermin itu lalu kembali mengarahkannya tepat di wajahnya.Sama saja. Hanya terlihat lantai berlapis marmer. Bukannya wajah serta badannya.“Kok bisa?” Dengan bingung, Maia terus mengarahkan cermin ke mana saja.Memang, cermin itu sudah memantulkan bayangan, tapi di mana bayangan Maia?Maia yang kebingungan lantas pergi keluar kamar mencari anggota keluarganya. Tidak mungkin semua ini terjadi pada dirinya seorang, bukan?Begitu dia keluar, dia melihat kucing ras peliharaannya yang berbelang kelabu. Ia menatap babunya dengan bingung seakan berkata, “Ada apa dengannya?”Maia langsung mengarahkan cerminnya ke kucing itu. Tentu saja hewan itu terkejut melihat wajah kucing aneh menatap tajam dirinya.Kucing Maia kabur ketika melihat bayangannya sendiri.Maia menatap kepergian kucingnya dengan bingung. “Aneh, ke mana bayanganku?”Maia tidak mau menyerah. Dia keluar dan mencari anggota keluarganya. Satu-satunya yang masih di rumah saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah adik Maia.“Adik!” seru Maia panik. Dia mengetuk pintu kamar adiknya.Sang adik keluar dengan melotot, beraninya seseorang mengganggu tidur cantiknya. “Kenapa, Kak?”Maia langsung mengarahkan cermin itu ke adiknya. “Adik lihat bayangannya?”“Ya, ada wajah,” komentar sang Adik. “Kenapa?”Maia berdiri di sisi adiknya dan mengarahkan cermin kepada mereka. Hanya bayangan adiknya yang terpantul.“Lho, Kakak di mana?” heran adiknya.“Makanya,” balas Maia. “Aneh, ‘kan?”Adiknya tentu tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Dia kembali menatap bayangannya dan pantulan karpet kamar dia, tanpa ada bayangan kakaknya meski dia berdiri tepat di samping.“Kakak mending buang saja cerminnya,” saran adiknya. “Tidak berguna lagi cerminnya kalau begini.”“Hei, enggak bisa!” tolak Maia. “Kakak beli ini mahal, lho.”“Tapi, apa gunanya cermin tanpa bayangan?” balas adiknya.“Sudahlah.” Maia pun melangkah keluar dari kamar adiknya. “Nanti dipikirkan.”Adiknya hanya bisa menatap kakaknya dalam kebingungan.***“Bagaimana ini? Masa aku buang begitu saja? Tapi, cermin tanpa bayangan juga percuma, walau hanya berlaku untukku.”Maia duduk diam di kasur sambil menatap cerminnya dalam dilema. Kalau tujuan utama dia beli selain bentuknya juga karena dia memang suka bercermin. Cermin ini hanya menemaninya selama beberapa jam saja, sangat disayangkan jika dia singkirkan. Tidak mungkin, harus ada jalan.Sangat aneh jika sebuah cermin enggan memantulkan bayangan, apalagi jika itu hanya berlaku untuk dirinya seorang.“Apa aku harus mencari bayanganku?” batin Maia. Dia tatap cerminnya yang tergeletak dekat kakinya. “Bagaimana caranya?”Sejak awal beli, Maia memang tahu cermin ini istimewa. Tapi, dia tidak mengira bakal seaneh ini. Dia kira, ini hanya benda antik warisan seseorang. Seingatnya, gadis yang menjual cermin ini dari seseorang. Tapi, siapa?“Aku harus kembali ke sana!” Maia bertekad.Maia memberanikan diri menatap lekat cermin itu. “Aku harus tahu asal-usulmu.”Dia pun bergegas kembali ke tempat itu. Jaraknya memang sedikit jauh, hampir dua kilometer. Maia menaiki sepedanya dan menyimpan cermin dalam tas, kemudian mengayuh. Tidak butuh waktu lama baginya kembali ke sana.“Aku harus menanyakannya langsung,” batin Maia di tengah perjalananan.Setibanya di sana, dia tercengang. Tempatnya sudah kosong tanpa siapa pun menjaja dagangannya. Ya, mungkin karena hari sudah sore dan sekolah jelas telah tutup. Dengan gontai, Maia pulang dan mencoba memikirkannya sendiri.Dia berhenti di dekat minimarket dan membeli minuman akibat haus sepanjang jalan. Di saat meminum, Maia kembali memandangi cermin tanpa bayangannya.“Ya, sudahlah, akan aku simpan di kamar dan tidak bakal menyentuhnya lagi,” batin Maia. Dia yakin cermin ini pasti ada niat tersembunyi untuknya, tapi dia tidak tahu apa.“Jika kamu mau sesuatu dariku, katakan saja!” seru Maia kepada cerminnya. Dia benar-benar bingung dengan semua keanehan ini. “Aku akan melakukan apa pun asalkan kamu kembalikan bayanganku!”Tidak disangka, cermin itu memantulnya cahaya biru, bersinar di bawah senja dan nyaris membuat Maia menjerit ketakutan. Dia mencoba menggoyangkan cermin itu yang malah membuat sinarnya semakin terang.Maia yang ngeri langsung mengempaskan cermin itu ke aspal.Cermin itu retak. Sinarnya memudar.“Aneh,” batin Maia. “Sebaiknya aku lari.”Tanpa berpikir panjang, Maia mengayuh sepedanya.Tetapi ...“Hah? Kenapa ini?” Maia memandangi dirinya yang mulai memantulkan sinar kebiruan dari kulitnya.Maia langsung berhenti di tepi jalan, menengok ke sana ke mari, memastikan tidak ada yang melihat. Dia coba menggosok tangannya agar sinar itu menghilang. Akan tetapi, tubuhnya perlahan menjadi terang hingga tidak jelas rupanya.“Tolong!” jerit Maia. Namun, di sore ini, jalanan begitu sepi hingga teriakannya pun hampir tidak terdengar. “Tolong!”Tubuh Maia bersinar terang, bahkan berhasil memerangi langit senja yang menggelap.Dalam sekejap, tubuhnya lenyap. Menyisakan sepeda dan tas kecilnya yang tidak berisi.***Di lain waktu, seorang gadis menatap kejadian tadi dari kejauhan. Wajahnya tidak menunjukkan reaksi apa pun, hanya diam memandang salah satu pembelinya yang lenyap tak berbekas.Dengan pelan, dia mendekati cermin yang tergeletak di aspal. Memungutnya, lalu memandangi wajahnya yang terpantul jelas.“Cermin ajaib, kamu sudah kenyang?” tanya gadis itu.Si cermin membalas dengan memantulkan sinar redup kebiruan, tidak membuat gadis itu gentar sama sekali.“Baguslah,” ucap gadis itu. “Lumayan untuk sebulan.”Gadis itu membawa pergi cermin tadi. “Enak, ya. Sudah dapat duit, ada tumbal untuk kecantikan abadiku.”Tamat

Cetak Rindu
Romance
19 Dec 2025

Cetak Rindu

Gajah di depan mata tak tampak, semut di ujung jalan nampakYuk yang mau ralat, author lupa itu pepatahnya. Mon maap! Ye ya nggak usah ngegad bisa kan Thor?Huhu so pasti bisa. Lama nggak update nih lagi dilanda sejuta kemiskinan imajinasi huhu. Cus lanjut aja! Siap, mulai ...Malam ini bener bener gabut. Orangtua ke luar kota, do'i nge-game mulu kerjaannya, temen pas butuh doang muncul. Sedangkan aku, aku tertinggal disini dikamar sendirian tanpa makanan."enaknya ngapain, nih, njir." Ucapku pada diri sendiri. Yang kulakukan saat ini adalah rebahan di samping stop kontak, yah you know lah apa yang sedang aku lakuin.Layar ponselku menyala, Azril, nama itu tertera di layar ponselku. Dengan gerakan malas aku membuka chat darinya.Azril : Woi bukain pintu .Seutas kata namun berhasil mengembangkan senyumku. Akupun membalas chat darinya dengan sigap.Gue : Gue bakal bukain, asal lo beliin gue nasi Padang:)Akupun mengklik send.Azril : gue ga beli nasi Padang, tapi gue beli ayam bakar lo mau nggak?Pemberitahuan itu masuk dengan cepat di layar ponselku.Gue : Ok! karena lo baik hati, gue meluncur sekarang.Dengan girang akupun turun dari tangga untuk membukakan pintu untuknya.Ckleak...Bunyi pintu yang ku buka perlahan. Kulihat Azril tengah berdiri di teras, bajunya basah kuyup dan OMG! gue bener bener ga sadar kalo di luar lagi..."Ehm ...." Azril berdehem melihat ku melamun."Eh, ya udah yuk, masuk." Akupun mengambil kantong plastik yang ada ditangannya."Lo bego banget si Zril, udah tauk ujan kenapa nekat kesini," Ucapku kesal."Karena gue tauk lo lagi kelaparan sekarang," Ucapnya sembari menoyor kepalaku."Ya udah tunggu sini, gue ambilin handuk dulu, lo jangan duduk di sofa ntar basah lagi sofa gue." Tidak ada jawaban tapi sekilas ku lihat dia menggelengkan kepalanya."Nih keringin dulu badan lo, abis itu lo ganti baju di kamar tamu." Akupun kembali sambil menyodorkan handuk dan pakaian untuknya."Baju siapa nih." Azril mengerutkan keningnya mihat kaos oblong berwarna hitam."Itu baju Kenzo, kemaren dia nginep sini," Jawabku santai."Hm." Aku tidak memperdulikan dia lagi karena sekarang perhatian ku sepenuhnya tertuju pada kantong plastik yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat aku membuka kantong plastik itu, aroma ayam yang menggiurkan langsung membuat cacing di perutku meronta-ronta minta jatah."Ck ck ck, udah makannya?" Suara Azril mengagetkan ku."Mau?" Ucapku lirih karena tidak rela aku berbagi makanan dengannya."Enggak buat lo aja." Huft... Untung aja Azril nolak, nih, ayam bakar karena yang tersisa hanya tulangnya saja.selesai makan akupun duduk di samping Azril, "Kenyang?" Tanyanya padaku, dengan cepat aku mengangguk."Thanks, ya lo baik banget hari ini," kataku tulus sambil bersandar di bahunya. Kebiasaanku untuk bersandar di bahunya sudah seperti candu, karena setiap kali aku dan Azril duduk berdampingan, aku selalu tertarik untuk meletakkan kepalaku di bahunya. Toh dia pun tidak bergeming."Sya?" Suaranya menggugah lamunanku."Hm..." Jawabku malas"Lo ngantuk ya?""Dikit doang," Sahutku lirih."Tidur gih gue mau pulang, lagian dirumah ga ada siapa siapa ntar gue digebukin massa lagi." Mendengar itu akupun menegakkan kepala."Ya udah deh, pulang sono oh ya besok lo mau nganterin gue ke mall gak?" Tanyaku padanya."Besok?" Tanyanya memastikan."Iya," jawabku. Kemudian Dia menatapku lekat entah apa yang ada di pikirannya."Oke, jam delapan gue jemput," katanya final lalu beranjak dari duduknya."Oke!" Dengan semangat aku mengikutinya untuk menutup pintu."See you," Azril tersenyum manis.Dan aku? apa yang aku lakukan, aku hanya terpaku melihatnya. Nghehehe.Who is Azril? Sahabat ku, yah, dia selalu ada untuku setiap saat, setiap waktu, bahkan setiap detiknya rela ia habiskan untuk diriku. Meskipun aku sering sekali membuat dia kecewa, kemarin saja aku membuat dia panas panasan karena menungguiku bersama Kenzo, biasalah mantai sambil foto foto syantiks.Anehnya setiap aku mulai tidak enak karena sering merepotkannya dia selalu berkata, "Elisya lo nggak perlu sungkan minta tolong ke gue." Akupun menutup pintu lalu beranjak tidur."Non, bangun non!" Suara pembantuku menggema memenuhi ruangan."Eum..." Aku menggeliat, mataku perlahan terbuka."Ehm, iya Bik?" Ucapku malas."Azril, nak Azril kecelakaan!" Ucap pembantuku panik. Akupun langsung terduduk dengan mata terbelalak."Hah Azril!" Seruku tak percaya dengan cepat aku berlari, mengeluarkan mobil jazz putih ku lalu pergi ke RS. Aku tidak menghiraukan perkataan pembantuku yang aku dengar Faro dilarikan ke RS indah purnama.Sesampainya di RS aku langsung masuk ke dalam belum sempat aku bertanya kepada resepsionis mataku sudah menangkap sosok lelaki tinggi, putih, dengan luka di kepala, tangan, serta kakinya. Darah mengalir deras di sekitar kepalanya."Azril," lirihku, kugunakan sisa tenagaku untuk menghampirinya."Azril!!" Tangisku pecah.Beberapa suster sempat menenangkan ku. Di dorongnya Faro menuju sebuah ruang akupun berhenti sejenak.Ruang mayatTulisan itu tertera di depan pintu masuknya, "Yang sabar ya mbak." seorang suster memelukku erat. Tubuhku lunglai hingga akhirnya kesadaran ku pudar."Azril kecelakaan saat ingin menjemput Elisya, mobilnya menabrak mobil truk di depannya, korban mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, hingga akhirnya nyawa korban melayang," keterangan dari Salsa salah seorang saksi mata.Aku baru saja selesai menaburkan bunga diatas makam sahabatku, Kenzo masih setia menungguiku meratapi kebodohan yang aku buat sendiri. Satu persatu para pelayat sudah melenggang pergi.Dear ElisyaGue seneng lo udah mau jadi sahabat gue, gue seneng akhirnya gue bisa lebih deket sama lo. Astaga terserah kalau lo mau bilang gue alay atau apalah itu karena jujur gue bener bener nge-fly ketika kepala cantik lo bersandar di bahu gue. Asal lo tau gue setengah mati nahan detak jantung gue yang melompat lompat mau keluar dari tempatnya, gue ingin nyatain perasaan gue selama ini Sya, perasaan yang terkubur selama 17 tahun tetapi gue nggak bisa, orang bilang cinta gue kejebak friend zone. Entah kenapa gue tiba-tiba bahagia karena berhasil jadi penyelamat lo malam ini. Besok gue akan jujur mengenai perasaan gue, gue tau lo masih punya Kenzo. Tapi, tenang aja karena gue cuma mau lo tau perasaan gue ke elo. Good night Elisya wijaya-,Diary yang baru saja aku baca ini adalah diary terakhir sebelum Azril meninggalkanku untuk selama lamanya. Selain selembar diary ini masih banyak lembaran lain yang aku sendiri dibuat menangis karenanya. Semua diary ini bertuliskan tentangku, mulai dari aku yang baru saja bertemu dengannya di TK dahulu, aku yang marah karena ingin naik kuda sewaktu SMP, sampai aku yang menangis haru karena Kenzo menembakku, semuanya tertulis jelas disini.Azril I'm so sorry gue terlalu cupu buat peka terhadap perasaan lo. Gue bahkan nggak menangkap singal singal yang lo kasih. Azril, lo sadar kalau lo pergi dengan membawa perasaan yang terpendam? Kamu pergi tanpa ucapan selamat tinggal dan kamu pergi meninggalkan aku yang kini hanya bisa menyesal.End

Never the twain shall meet
Romance
19 Dec 2025

Never the twain shall meet

"Cinta memang katarak sampai mendekati picek ."Vivi Permatasari"Gue nggak bisa deket sama dia!""Enggak akan pernah bisa. you know it is something that is impossible!" Ujarnya tanpa menurunkan nada bicaranya. Mata Abrizio memicing terus menatap ponsel yang menampilkan foto seorang gadis."Kenapa?! Dia terlalu baik buat lo? Terlalu lembut untuk ukuran cowok bad kaya lo?!" Zen yang geram langsung menyaut ponsel Abrizio, lantas memandangi sekali lagi wajah imut cewek yang paling di benci sahabatnya itu.Abrizio menghisap rokoknya dalam dalam hingga perlahan asapnya keluar melalui lubang hidung."Gue enggak bisa biarin cewek itu terus terusan ngintilin gue.""Tapi ..." Perkataan Zen terputus karena Abrizio yang mengambil ponselnya lalu melenggang pergi tanpa menghiraukan Zen di belakangnya.💔💔💔"Zio ntar malem gue ikut ...""Gak.""Ih gue belom selesai ngomong tauk.""...""Abrizio jalannya jan cepet cepet." Abrizio menghentikan langkahnya, ia mengatur nafasnya yang memburu menahan amarah. Diliriknya gadis yang sedang menyebikkan bibirnya, jujur Abrizio begitu gemas ingin sekali ia mengecupnya. Argh! Ada yang lebih penting dari gadis ini yakni menjauhinya."Capek?" Tanya Abrizio dan gadis itu hanya mengangguk tetapi kali ini dengan mata mengerling, kapan lagi ye kan di tanyain seperhatian gitu sama kecengan! Hoho."Gue mau naik tangga lo naik lift biar nggak capek.""No way. Capek gue udah ilang kok sayang hehe." Abrizio melirik sinis gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya. Ia kembali berjalan tanpa memperdulikan gadis di belakangnya yang terus saja mengejarnya mencoba menjajari langkah panjang Abrizio."Zio, gue er- ke kelas dulu ya. Bye!" Serunya ketika Abrizio sudah sampai di ambang pintu kelasnya. Sekali lagi Abrizio menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.Mana ada coba orang yang rela relain naik tangga ke lantai tiga cuma demi nganterin kecengan gajelass macam zio sedangkan kelasnya sendiri IPA 3 berada di lantai paling bawah. Kebutaan cinta membuat kita goblog nggak ketulungan ."Hei. Ngapain nganyer di depan pintu, pamali." Zen yang baru saja datang langsung menyeret Abrizio yang mematung di tempatnya masuk ke dalam kelas."Ardania udah balik ke kelasnya?" Pertanyaan Zen hanya mendapat anggukan samar dari Abrizio. Sepertinya Abrizio mulai linglung setelah kurang lebih setengah bulan gadis bernama Ardania itu mengejar ngejarnya dengan tidak tahu malu."Dahlah, mending lo sikat aja tuh cewek. Gue kasian ngeliat dia pantang mundur gitu.""Kalo bisa udah gue sikat dari kemarin-kemarin, tapi gue nggak bisa karena dia itu spesies cewek yang paling gue hindari seumur hidup.""Nggak bodygoals? Kaya si Lisa? Xixi?""Yeah. Dia terlalu child buat gue.""Entah apa yang merasukimu Ardania sampai-sampai suka sama bad boy cem Abrizio." Setelah mengucapkan itu Zen mendapatkan bogem gratis tepat di kepalanya."Hei, Be." Gadis berpakaian serba ketat berjalan mendekati Abrizio lalu dengan tidak tahu malunya ia bergelayut manja di lengan kekar Abrizio."Gue cabut bentar mau ngambil rokok di kantin," kata Zen seraya memutar bola matanya malas ketika melihat Lisa."Oke, Xixi juga ada di kantin kok." Lisa menyaut, Zen tersenyum samar lantas bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kelas. Alih-alih ke kantin Zen malah turun ke lantai 1 menuju kelasnya Ardania.Tok ... tok ... tok ..."Permisi, Bu saya minjem Ardania sebentar, boleh?" Seluruh murid termasuk seorang guru berperawakan tinggi putih itu menoleh kearah pintu masuk kelas."Mau apa kamu Zen?! Buat ulah lagi? Kenapa keluar waktu jam pelajaran?! Mana Abrizio?" Mata sipitnya menjelajah ke belakang punggung Zen mencari sosok Abrizio dan hasilnya nihil."Maaf, Bu. Saya minjem Ardania sebentar kenapa Ibu malah nyari temen saya?" Tanyanya balik.Ardania menggeleng pelan sambil mengulum senyum melihat teman kecengannya yang mendadak goblok."Memangnya Ibu ini tolol apa, kalo ada Zen malik Ibrahim pasti ada Abrizio mungkar nakir!" Serunya seraya berkacak pinggang.Hah? Apa? Jadi nama kecengannya Ardania itu Abrizio mungkar nakir ? Astaga nggak ada keren kerennya begitu! Iya masak nama malaikat yang bertugas di alam kubur. Enggak banget deh padahal tuh ya nama depannya udah kece abis ABRIZIO tuh kan kek nama Inggris ke Korea korean begitu kok. Emaknya ngidam apaan sih?!."Senakal nakalnya saya, saya tidak pernah mengajak Abrizio kemana mana Bu paling cuman main solo di kamar mandi." Seketika semburat merah di kedua pipi guru mata pelajaran fisika itu terlihat jelas, tentu saja dia tau apa yang dimaksudkan.Zen bermain solo dikamar mandi pula akh, sudah sudah jangan sang'e readers!"Ardania 10 menit." Ardania yang masih menyalin rumus rumit di papan tulis itu langsung bangkit lalu berjalan mendekati Zen yang tersenyum lebar."Kenapa Zen?" Tanya Ardania setelah mereka berbicara di depan tangga."Lo beneran suka sama Abrizio?""Hah? Ya iyalah Zen gue suka dia.""Maka dari itu lo berjuang?" Ardania mengangguk."Kenapa, sih?""Dia nggak suka lo, udah berapa kali sih dia ngomong begitu ke elo." Ujar Zen mulai gerah."Gue tauk, tapi gue bakalan berjuang buat dapetin Abrizio.""Nggak akan dapat.""Why?""Kalian nggak seimbang. Kalian berbeda, lo ngerti kan?" Zen menatap gadis di depannya yang tengah menggembungkan kedua pipi gembulnya. Huah Zen dibuat gemas ingin menelan bulat bulat gadis ini!"Sebenarnya maksud kedatangan lo apa Zen?""Memperingatkan lo, gue udah ngasih lampu kuning ke lo. Inget Abrizio berbahaya."Setelah mengucapkan itu Zen langsung berbalik arah dan melenggang pergi meninggalkan Ardania yang menghela nafas panjang.🌺🌺🌺Ardania memandangi foto yang terpajang besar besar di dinding kamarnya lekat-lekat, pertanyaannya kenapa ia bisa jatuh hati kepada Abrizio yang notabennya adalah cowok nakal, suka ngerokok, minum minuman beralkohol, suka merawani anak orang sampe keluar masuk penjara karena balapan motor liar. Kenapa hatinya terpatri kepada sosok yang baru ia sadari getarannya di Indomaret bulan lalu. Ardania tersenyum geli membayangkan pertemuan pertamanya dengan Abrizio yang bisa dikatakan gila.Flash backGadis berpakaian serba pink berjalan melihat-lihat rak makanan yang berjejer rapi, tentu saja ia terngiler ! Tetapi ia langsung kebingungan ketika ingat sesuatu, Bibinya menyuruhnya membeli barang sakral!!Barang yang Ardania sendiri tidak tau gunanya untuk apa, tetapi dari covernya saja ia sudah bergidik ngeri. Apalagi setelah ia iseng membaca bagian belakang bungkusnya, setelah tau apa kegunaannya. Cepat-cepat Ardania menjauh bahkan ia sempat berjongkok membelakangi rak barang yang dianggapnya sakral itu akibat malu ketika sadar kalau ada CCTV tengah mengintainya.Ia menggigit bibir bawahnya gugup harus berbuat apa, pasalnya jika ia tidak membelikan pesanan Bibinya ia pasti akan mendapat seember omelan panjang yang kalau didengarkan bisa sampai seminggu suntuk."Minggir, jangan di jalan." Suara tegas penuh penekanan membuat Ardania mendongak mendapati seorang laki-laki berperawakan tinggi, berponi, berkulit putih yang menatapnya aneh."Maaf, hehe." Ardania segera berdiri membuka jalan untuk laki-laki berbaju putih polos itu."Eh sebentar. Lo bisa bantuin gue nggak?" Cegah Ardania sebelum punggung pemuda itu menjauh."Apa?"" Ambilin itu, dong." Pintanya memelas. Abrizio melirik rak besi yang di tunjuk lewat gerakan mata oleh Ardania."Hah! Kondom?"" Sst , jangan kenceng kenceng." Bisik Ardania seraya menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir."Lo gila?" Abrizio menatap tak percaya gadis mungil itu."Cewek sepolos lo beli begituan buat apa? Masih kecil ga usah aneh aneh.""Wait ... Wait ... Wait ... Gue nggak asing deh sama muka lo?" Ardania mencoba mengingat-ingat kembali apakah mereka pernah bertemu sebelumnya."Lo Two Z kan?!" Serunya dengan mata mengerling. Ardania mengamati lebih detail wajah laki-laki dihadapannya sambil mengulum senyum."Yang suka bikin rusuh di sekolah, kita se- SMA." Lanjutnya.Berbeda dengan Ardania yang langsung terlihat bersemangat, Abrizio malah mengedikkan bahunya acuh. Ia tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya, mungkin dia tidak terkenal di sekolah. Entahlah."Nama lo Zio kan, ya? Satu lagi si Zen, kemana anaknya?" Ngapain sih nanyain Zen! Bukan apa apa kenapa gadis imut ini malah mencari yang tidak ada sedangkan yang ada saat ini wajahnya tampan luar biasa, kurang apa lagi coba?"Gue, Ardania rifda." Ardania mengulurkan tangannya untuk bersalaman, tadinya Abrizio enggan untuk menjabat tangan mungil nan lembut milik gadis itu. Tetapi karena dia tidak tega mengabaikannya akhirnya Abrizio membalas jabatan tangannya."Udah kan, gue cabut." Abrizio hendak berbalik namun lagi lagi Ardania mencegahnya."Tunggu, ih. Buru buru amat." Ardania menyebikkan bibirnya."Gue sibuk Ar-nia .""Ardania." Ralat Ardania."Iya, gue sibuk Ardania rifda ." Ulang Abrizio."Lo IPA berapa?" Tanya Ardania, meski sikap Abrizio terbilang tidak cukup baik padanya tetapi ia seolah mendapat lampu hijau karena Abrizio sudah mau menjabat tangannya."IPA 2.""Lantai atas dong, wih gue jarang tuh ke lantai atas. Mentok jalan jalan sampek lantai 2.""Terus?" Abrizio menaikkan sebelah alisnya."Tolong ambilin itu." Pintanya lagi."Buat apaan, lo masih kecil.""Ralat, masih polos.""Bukan buat gue, tapi buat saudara gue." Belanya tak terima."Ya, ya, ya?" Ardania menarik ujung kaos oblong Abrizio hingga molor ke bawah."Apaan sih." Abrizio menghempaskan tangan gadis itu lalu sedikit mundur kebelakang."Enggak mau, nih?" Tanyanya hampir menyerah."Males, gue lagi sibuk.""Beneran?""Gue cabut.""Yakin," katanya lagi."Permisi.""Tega?" Ardania menyebikkan bibirnya." Sssh , iya dah." Abrizio menghela nafasnya panjang lantas melangkah maju menuju rak besi yang berisikan barang barang sakral."Mau berapa?" Tanya Abrizio."Dua." Sahut Ardania seraya tersenyum lebar.Setelah mengambil dua bungkus benda sakral yang bertuliskan kondom sutera itu, ia lalu berjalan menuju kasir.Mbak mbak penjaga kasir mengulum bibir ketika melihat tiga buah barang yang disodorkan Abrizio. "Kondom sutera 2 sama Pocary Sweet 1, ya?" Abrizio menggaruk tengkuknya sambil mengangguk, ia sedikit melirik kebelakang dimana tubuh Ardania berdiri tepat dibelakangnya.Setelah selesai membayar Abrizio keluar dahulu, ia menunggui Ardania selesai melakukan pembayaran."Nih." Disodorkannya dua kondom berwarna merah itu pada Ardania dengan kasar."Huah makasih." Ardania yang baru keluar pun langsung menerimanya."Nih uangnya, gw gantiin.""Nggak perlu." Tanpa menunggu apa-apa lagi Abrizio langsung meninggalkan Ardania begitu saja.Tidak pernah Ardania sadari, diam diam ia kagum kepada seorang Abrizio padahal lebih dari 5 tahun ia tidak pernah merasa seperti sekarang ini, bahagia ketika melihat Abrizio kesal. Sejak saat itulah Ardania memutuskan untuk mengejar cinta pertamanya.Flashback off"let's say I'm crazy for chasing after men with no embarrassment. even though I have often been rejected outright, but maybe because of this first love, I consider this a challenge."Ujar Ardania pada dirinya sendiri. Seharusnya ia mundur tetapi tidak meski ditolak mentah-mentah dia harus tetap bertahan. Dia yakin seyakin-yakinnya kalau Abrizio akan melihatnya, Abrizio akan mencintainya. Itu pasti itu.Pikiran jahil terlintas dalam benaknya, Ardania menghidupkan ponselnya lantas masuk ke dalam aplikasi foto. Dengan gayanya yang khas ia menckrek/selfie🤳, setelah selesai ia membuka aplikasi WhatsApp dan langsung menemukan kontak milik Abrizio di bagian paling atas lalu Ia mengirimkan fotonya dengan caption ...Secantik cantiknya gue, gue enggak pernah jelek karena lo tolakTidak masuk akal memang, tapi biarlah. Ia mengklik tombol send, ia langsung melempar ponselnya ke sembarang arah.Di rumah lain, Abrizio baru saja selesai mandi. Ia menyempatkan diri untuk melihat ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Ia melihat ada 87 notifikasi salah satunya milik Ardania. Karena ingin tahu ia pun melihat pesan darinya.Abrizio hampir tak berkedip melihat foto yang dikirimkan Ardania untuknya. Gadis cantik berponi tipis tengah tersenyum manis sambil meletakkan jari telunjuknya di sudut bawah bibir orangenya. Cantik, batinnya.Tetapi Abrizio mendadak geli ketika membaca tulisan di bawahnya."Kurang kerjaan." Abrizio hanya me-read pesan Ardania begitu saja, meskipun ia sempat tenggelam oleh kecantikan Ardania.💔💔💔Ardania ArdaniaArdania ArdaniaArdania ....Nama yang selalu memenuhi kepalanya hingga ia merasa pusing. Malam minggu, seperti biasanya ia menghabiskan malamnya di sebuah club ternama di Jakarta. Abrizio sudah menghabiskan 10 botol white wine tanpa sadar. Ia ingin mengenyahkan nama Ardania dari kepalanya, sungguh gadis itu mengusik hatinya, Mengusik ketenangannya."Zio, gue ke toilet bentar." Zen yang menemani Abrizio ke bar sedikit risih karena para jalang melingkarinya dengan gaya aneh aneh. Ada yang memonyongkan bibir sambil menungging, ada yang memutar mutar matanya seolah ingin menunjukkan bahwa bulu matanya anti badai dan masih banyak lagi."Hm ..." Abrizio sudah tidak kuat membuka matanya, matanya teramat sangat berat namun tubuhnya terasa ringan raungan raungan nama Ardania lenyap begitu saja. Apalagi di pangkuannya terdapat wanita bertubuh gempal yang terus saja menyodorkan white wine.Kepalanya berputar, pandangannya kabut. Abrizio yang sudah berada di ambang batas kesadarannya merogoh saku untuk mengambil rokok, dibantu wanita gempal yang melayaninya akhirnya Abrizio dapat merokok meski agak kesusahan karena kepala gembul wanita yang ada di pangkuannya menghalanginya.Lama, hingga rokok yang disulutnya sudah menjadi putung. Abrizio benar benar teler, ia di papah oleh wanita sebut saja mutan (mon maap namanya begitu, author benci jalang soalnya. Berdoa aja semoga Zen segera datang!)Baru beberapa langkah Abrizio di papah sebuah teriakan menghentikannya. Mutan menoleh kearah teriakan tersebut seraya menaikkan sebelah alis tebalnya."Ada apa?" Tanyanya."Maaf, itu pacar gue.""Pacar lo?" Mutan menyebikkan bibirnya mengejek, dari penampilannya saja sudah jelas bahwa gadis itu sangat tidak cocok dengan Abrizio. Gadis berpakaian serba orange itu mengangguk lalu dengan gesit mengambil alih Abrizio dari mutan."Mau bawa kemana, eh?""Terserah gue dong, kan ini pacar gue." Ujarnya lalu melangkah keluar club.Mutan mendengus kasar sambil mendumel ala emak emak sampai bahunya terasa di tepuk oleh sebuah tangan."Abrizio mana?" Zen menyipitkan matanya melihat mutan yang masih memasang muka jutek."Temen gue mana?!" Karena suara musik yang terlalu keras Zen pikir suaranya tidak terdengar oleh Mutan."Dibawa cewek. Puas!" Teriaknya lalu meninggalkan Zen yang mematung di tempatnya."Njir! Kok gue di bentak sih." Setelah memastikan sekali lagi kalau Abrizio tidak ada di dalam club, Zen pun berjalan keluar club sambil menggaruk kepalanya yang pusing dengan hilangnya Abrizio.Zen lupa dia punya ponsel, lalu apa guna ponsel itu sendiri kalau pemiliknya goblog? Tapi tidak masalah yang penting TAMPAN nice."Bego! Gue kan bawa handphone." Kesalnya. Setelah mendial nomor Abrizio yang tak kunjung tersambung akhirnya ia baru sadar kalau kondisi Abrizio sedang mabuk dan sekarang yang harus digoblogkan siapa!💔💔💔"Cowok bandel. Padahal kan tadi gue udah chat dia banyak banyak supaya nggak ke club lagi ...""Untung aja nyokap gue lagi nggak dirumah." Iya, Ardania membawa Abrizio ke rumahnya. Hanya ada dia dan Abrizio saja di sana."Zio, kok lo ganteng sih?" Parahnya Ardana membawa Abrizio ke dalam kamarnya."Bau lo alkohol, lepas baju ya. Pake baju papa gue." Setelah bermonolog Ardania mendekatkan dirinya kepada Abrizio untuk melepas Hoodie hitam yang dikenakannya setelah Hoodie nya lolos, hanya tersisa kaos oblong putih. Kaos yang mirip dikenakannya pertama kali mereka bertemu.Senyum Ardania mengembang mendengar Abrizio meracau, meski kurang jelas tapi cukup untuk di dengar."Ardamia ... Ardamia ... Ardamia.""Kenapa?" Jawab Ardania pelan sambil memajukan wajahnya ke wajah Abrizio."Ardamia .... Arh.""Shit!" Umpat Ardania ketika tangan kekar Abrizio dengan lancang memeluk pinggangnya erat."Zio, Zio, lepas.""Love you." Bisik Abrizio setengah sadar tepat di telinga Ardania. Mau tidak mau Ardania tetap tersenyum, pertama kali dalam sejarah hidupnya seorang Abrizio mengatakan cinta padanya."Love you to." Perlahan Ardania melepaskan tangan Abrizio di pinggangnya, setelah usaha beratnya setelah beberapa kali tidak sengaja jatuh ke pelukan Abrizio berkali-kali ia akhirnya lolos.Ardania berdiri tegak sambil mengelap peluhnya yang sudah sebesar jagung karena menahan nafas. Ia tidak bisa melihat human sesempurna ini!"Abrizio bangun, bangun Zio.""Lo nggak sekolah?""Abrizio!"Bulu mata lentik Abrizio bergerak gerak sebelum akhirnya matanya terbuka, ia langsung melotot ketika rentina matanya menangkap sosok Ardania."Morning!" Sapa Ardania yang sudah mengenakan seragam sekolah."Lo ngapain disini!" Abrizio menggelengkan kepalanya seolah kehadiran Ardania sangat mustahil."Lah, ini kan kamar gue." Bola mata Abrizio hampir lolos dari tempatnya. Ia mengedarkan pandangannya menyapu bersih setiap sudut ruangan dengan warna dominan pink."Lo gila!" Abrizio segera bangkit lalu keluar dari kamar Ardania."Zio, kita berangkat sekolah bareng.""Nggak.""Kenapa kita kan searah.""Gue bilang enggak ya enggak!" Ardania tertegun efek dari bentakan keras Abrizio namun ia tidak mundur begitu saja."Zio tunggu!" Meskipun Abrizio tidak membawa mobil tetapi ia menaiki taksi."Zio!" Langkah kecilnya tertinggal jauh dengan langkah besar Abrizio yang bahkan sekarang sudah masuk kedalam taksi."Abrizio tungguin gue!!" Teriaknya lagi dengan nafas memburu, bahkan setetes bening sempat mengalir di kedua pipinya.Ia memegangi perutnya yang terasa sakit hingga suara klakson mobil berbunyi nyaring.Hingga"Aaaaaaaaaaaaaaaaa ....!!!!"Abrizio menoleh kebelakang melihat lewat lewat kaca mobil. Ia segera menyuruh sopir taksinya berhenti. Ia terkejut luar biasa melihat gadis yang dihindarinya sekarang terpelanting ke sisi jalan. Bahkan mobil yang menabraknya sama sekali tidak bertanggung jawab memilih tancap gas."Ardania!" Teriak Abrizio yang tidak sabar, ia keluar dari mobil lalu berlari sekuat tenaga."Ardania, lo nggak papa kan?" Abrizio berjongkok mengangkat kepala Ardania ya bersimbahan darah akibat menghantam pembatas jalan.Abrizio ketakutan melihat banyaknya darah yang mengalir di kepala Ardania, ia menduga kepala Ardania bocor.Ardania masih sadar meski matanya hanya terbuka sayu."Zio mmm ...." Rintihnya menahan sakit."Lo nggak papa, lo akan baik baik aja.""Ayo kita ke dokter." Ardania tersenyum samar. Air matanya mengalir. Ia melihat ketulusan seorang Abrizio, ia melihat ketakutan seorang Abrizio, ia melihat kekhawatiran seorang Abrizio, Ardania melihatnya!"Abrizio ..." Ardania ingin berbicara tapi mulutnya kelu, ia hanya pasrah ketika Abrizio menggendongnya ala bridal style.💔💔💔Bau antiseptik yang begitu menyengat membuat mual siapa saja yang benci dengan bau obat-obatan. Persetan dengan bau obat-obatan, Abrizio gelisah menunggu Ardania yang sedang di tangani oleh dokter."Bro! Gimana keadaannya." Zen menepuk keras bahu Abrizio yang membelakanginya, Zen sendiri baru datang setelah tadi dikabari oleh Abrizio."Ck cepet amat lo datangnya, gue ngabarin lo baru 5 menit yang lalu."Zen menyengir kuda "Gue tadi lompat gerbang belakang kek biasanya, untung aja ada mobil Reno yang parkir di luar. Ya gue embat lah." Katanya menyombongkan diri."Oh."Abrizio tidak tertarik lagi untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan Zen sebelumnya. Karen keinginannya saat ini hanya satu yakni melihat Ardania baik-baik saja."Bagaimana keadaan Ardania Dok?" Tanya Abrizio tepat setelah dokter berperawakan tinggi itu keluar dari ruangan Ardania."Bisa saya berbicara dengan orang tua atau saudaranya." Abrizio menoleh ke samping, ia bahkan tidak mengabari orang tua Ardania lagi pula dirinya sama sekali tidak tahu menahu soal keluarga gadis itu."Dia tunangannya, Dok." Zen menunjuk Abrizio yang masih menatapnya, Abrizio ingin menggeleng namun urung."Jadi anda tunangannya, baiklah mari ikut saya."Tidak sampai 30 menit Abrizio sudah selesai berbicara dengan dokter, dokter mengatakan bahwa Ardania kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan donor darah, untungnya rumah sakit memiliki kantung darah golongan B. Goresan goresan di sekitar tangan tidak terlalu parah hanya saja kali Ardania harus di amputasi karena Kaki kirinya mengalami patah tulang.Abrizio mengacak rambutnya frustasi melihat gadis mungil yang selalu menganggu hidupnya tengah terbaring lemas. Ia bingung harus mengatakan apa kepada orang tua Ardania dan lagi bagaimana dia memberitahu Ardania jika kakinya akan diangkat sebelah."Kasian Ardania, cantik dan sekarang harus cacat karena lo."Abrizio tidak mengelak ia bahkan mengangguk setuju. "Gue emang brengsek, Zen." Zen mengelus punggung Abrizio menenangkan."Semua akan baik-baik saja asalkan lo mau bertanggung jawab.""Gue takut Ardania akan benci sama gue.""Karena gue dia jadi kehilangan kakinya, karena gue dia jadi kehilangan banyak darah, karena gue dia jadi kaya gini ..."Dua hari berikutnya hanya senyap, Zen memberikan waktu kepada Abrizio untuk berdua saja dengan Ardania yang baru saja sadar."Zio ..." Nama itu yang pertama kali ia sebut setelah 48 jam tertidur. Bibirnya pucat."Gue disini Dania." Lirih Abrizio seraya menggenggam lembut jemari Ardania."Gue panggil dokter dulu ya." Abrizio hendak bangkit berdiri namun Ardania mencegahnya."Please, jangan ...""Jangan tinggalin gue ..." Suaranya seringan bulu membuat siapa saja yang mendengarnya akan luluh begitu saja."Ya udah gue di sini aja." Abrizio ingin menekan interkom lagi lagi Ardania menggeleng keras kepala."Jangan .... Jangan panggil dokter.""Tapi kamu harus di periksa dulu." Senyuman tipis terbit di bibir pucat Ardania mendengar Abrizio menggunakan kata aku-kamu.Abrizio menoleh menatap Ardania yah masih tersenyum, rasa bersalah semakin bergumul di dalam hatinya. Ia ingin mengucapkan kata maaf tetapi sepertinya itu saja tidaklah cukup untuk membayar apa yang sudah ia lakukan kepadanya.Kening Ardania berkerut merasakan sesuatu di kaki kirinya. Ia mencoba menggerakkan kakinya tetapi nihil meski ia telah berusaha sekuat tenaga."Kaki gu .... E ke ... Napa susah di ... Gerakin."Abrizio menelan ludahnya pahit, ia bingung harus berkata apa. Tadi Abrizio sudah menghubungi keluarga Ardania, Ayah dan ibu Ardania mungkin sebentar lagi sampai dan yang ia takutkan akan terjadi dibenci gadis yang dahulu mengejarnya, Ia akan di bayangi oleh rasa bersalah."Kita harus panggil dokter dulu ya." Kata Abrizio lembut, ia berjanji kepada dirinya sendiri kalau ia yang akan mengatakan sendiri tentang aputasi di kaki Ardania.Ardania kembali tersenyum merasakan jemari ramping Abrizio mengelus rambut poninya.Abrizio menekan interkom dua kali, tidak sampai tiga menit dokter yang menangani Ardania datang ke ruangannya.Orang tua ardania datang bersamaan dengan keluarnya dokter yang menangani Ardania. Abrizio menengguk ludah menatap sendu dua orang pasangan yang berjalan kearahnya dengan raut wajah cemas."Anak saya dimana?" Wanita berumur akhir tiga puluhan bertanya kepada Abrizio dan dokternya."Ibu orang tua dari saudari Ardania rifda?" Wanita itu mengangguk."Anak ibu sudah sadar dan kondisinya mulai membaik namun kakinya harus segera di amputasi karena kalau tidak tulangnya yang hancur akan membusuk." Mata ibu Ardania sudah berlinangan air mata, ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Tanpa pikir panjang keduanya langsung masuk ke dalam untuk menemui Ardania."Ardania ....""Sayang ...." Ibu Ardania langsung menubruk tubuh Ardania."Mama, Papa." Ardania ikut menangis."Ardania bakalan nggak punya kaki Ma, Pa." Tutur Ardania. Sementara itu Abrizio hanya terdiam membisu bersandar di samping pintu, ia lebih hancur lagi ketika mendengar suara pilu Ardania.Ayah Ardania keluar dari ruangan dengan wajah dingin. Abrizio menoleh dan balik menatap ayah Ardania sendu."Kamu laki-laki yang menyebabkan anak saya menjadi cacat?" Abrizio mengangguk."Kamu laki laki yang di cintai anak saya?" Abrizio kembali mengangguk."Brengsek!" Ayah Ardania meninju tembok di samping Abrizio yang menutup matanya pasrah. Keduanya tampak tidak baik-baik saja sekarang."Maaf Om.""Maaf?!""Saya akan melakukan apapun agar Om mau memaafkan saya.""Saya tidak mau apapun dari kamu. Pergi sekarang dan jangan temui Ardania." Abrizio menggeleng."Saya tidak bisa jauh dari Ardania om.""Kenapa?! Bukannya kamu senang sudah bisa lepas dari anak saya?""Baiklah kalau itu yang Om mau, tapi izinkan saya bertemu dengan Ardania sekali saja.""Baiklah." Setelah menghela nafas panjang akhirnya ia mengiayakan."Ardania." Ardania melengoskan kepalanya menghindari kontak mata dengan Abrizio."Maafin gue," Abrizio mendekati Ardania mencoba meraih jemarinya namun Ardania menepisnya kasar."Ar ...""Apalagi! Lo puas kan sekarang.""Ardania dengerin gue, gue cuma mau bilang.""Bilang apa! Nggak cukup selama ini pengorbanan gue ngejar ngejar Lo?!""Pergi sekarang gue nggak butuh cowok berhati ...""I love you.""I love you, Ardania." Satu kalimat itu membuat Ardania bungkam. Ia mencoba membuka mulutnya namun gagal.Rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya menghilang entah kemana yang timbul sekarang malah perasaan bahagia yang teramat sangat."Gue nggak akan pergi kemanapun, meskipun bokap lo nyuruh gue pergi sejauh-jauhnya dari lo.""Gue baru sadar kalo gue jatuh cinta sama lo Ardania."Ardania hanya mampu tersenyum manis sembari menganggukkan kepalanya.End

Takdir Cinta
Romance
18 Dec 2025

Takdir Cinta

Ponselku berdering berulang kali, aku belum sempat mengangkat sebab aku sedang berusaha membopong temanku, Nayla ke rumahnya karena ia terjatuh."Hallo" ucapku mengangkat panggilan itu namun tak ada suara"Hallo" ucapku kembali"Hallo, pak... Are you okay? " Ucapku kembali dengan nada sejenaka mungkin"Gea" jawab suara diseberang dengan lesuAku langsung menegakkan badanku dan menjawab dengan nada khawatir "Kamu dimana?" Sambil berjalan keluar rumah mengambil kunci mobil di dalam tas dengan tergesa memasuki mobil"Gea" ucap suara itu kembali"Iya.. Kamu dimana?" Aku mulai melajukan mobilku ke apartementnyaTanpa menjawab panggilan terputus, bukan apa-apa aku hanya takut dia melakukan hal yang tidak diinginkan. Usai kebanyakan nonton film menghasilkan cemasku berlebih. Dan dia juga pernah menyiksa dirinya sendiri hanya karena kesalahan yang bukan dirinya lakukan. Orang tuanya.Sialan kamu Arman, gimana sih?Memakan perjalanan 15 menit sampai disana, aku berjalan tergesa ke unitnya memencet bel berulang kali tanpa jawaban. Persetan tidak ada jawaban aku langsung memencet sandinya namun di dalam tak ku temukan siapapun."Arman kamu dimana?" PanggilkuSeketika aku mengingat tempat yang sering dikunjunginya apalagi saat dia ingin mencari udara segar.Aku bergegas kembali menaiki lift disana menuju lantai paling atas, kembali bergegas jalan dengan tergesa menaiki undakan tangga menuju rooftop.Aku bernafas lega menemukannya di sudut sambil menekuk lututnya, menetralkan nafas yang tak beraturan.Kemudian aku mendekat ke arahnya, berdiri tepat di depannya."Gea" ucapnya parau, kemejanya yang biasa rapi kini 2 kancingnya sudah terbuka, lengan kemeja di gulung hingga siku. Rambutnya yang biasa di tata dengan rapi kini juga terurai berantakan.Tapi sungguh, Arman tetap terlihat tampan dan em... Seksi. Ah maksudku bagaimanapun dia tampan."Aku tahu, pasti kamu menemukanku. Lagi"Aku menghela nafas sejenak, kemudian ikut berjongkok dan memeluknya yang ia balas tak kalah erat memelukku."Ge.. Hatiku sakit melihat mama sedih. Papa Ge, akhirnya papa kembali."Aku menepuk mengusap-usapnya perlahan "Semua pasti akan baik-baik saja"Dia menggeleng di dalam pelukanku "Akan lebih baik dia gak kembalikan daripada mengusik kehidupanku dengan mama yang sudah tentram"Aku hanya berusaha menenangkannya karena kehidupannya sudah pelik. Dulu sekali ia pernah menyayat lengannya dengan silet hanya karena tidak tahu harus bagaimana saat melihat ibunya seperti ingin bunuh diri.Papanya yang suka marah tanpa tentu arah."Mama kamu pasti sekarang sudah lebih kuatkan, buktinya mama kamu berusaha kuat meski di depan kamu. Tidak histeris seperti dulu"Ia mengangguk kemudian mengangkat wajahnya "Terima kasih""Tadinya rasanya tidak nyaman, tapi lihat kamu disini jadi lebih baik" ucapnya lagi.Aku tersenyum lalu mengangguk "Oke sekarang gimana? Betah banget peluk aku terus ni?" Tanyaku dengan meledekIa terkekeh geli "Yasudah usap ni air matanya" ucapku sambil mengusap air matanya dengan ibu jariku.Arman yang sekarangku kenalkan berbeda, sekarang dia lebih ke galak gak sih? Karena mengingat dia sedang jadi dosen di kampusku. Salah satu kampus ternama di kotaku.Dia juga adalah pimpinan di perusahaan, milik mamanya. Aku tahu ini dari dia yang bercerita, yah sepertinya dia ingin pamer padaku.Kalau begini aku jadi ingat awal pertemuan kami, dimana saat itu ia sedang berdiri di pinggir jembatan saat malam hari. Aku yang kebetulan pulang dari rumah Eriska teman SMP ku melewati jembatan itu melihatnya sedang berdiri dengan posisi kaki naik ke pembatas.Spontanitasku sebagus itu dan menghentikan laju mobil dengan segera ku tarik dan ku dekap sambil berkata "Mas... Please mas.. jangan gegabah. Hidup ini memang berat tapi semua pasti ada hikmahnya""Ha?" Jawabnya"Iya, mas. Percaya deh. Aku gak bohong. Dengan mas bunuh diri bukan berarti masalah mas selesai. Ih gak tau aja ntar di akhirat serem loh mas."Tapi jawabannya malah tertawa "Kamu mikir saya mau bunuh diri?"Aku mengangguk "Iya, jangan ya mas ya. Setidaknya jangan ada saya bunuh dirinya. Kan jadi pertanggungjawaban saya juga di akhirat nanti""Ntar malaikat nanya gini, heh kamu kenapa gak mencoba menolongnya gitu gimana dong?" TambahkuDia semakin tertawa dengan keras "Kamu kebanyakan nonton tv deh, korban sinetron. Saya gak mau bunuh diri."Aku tertawa kecil mengingat awal pertemuan kami itu yang berlanjut bertemu sebagai dosen yang kini dia mengajar di kampusku. Saat bertemu bukannya tidak syok, aku sengaja menghindar awalnya tapi dia mulai merecokiku dengan mengingatkan kejadian itu. Hih.. gemes. Lama-lama ntah bagaimana kami jadi dekat. Mungkin juga karena sering terpergokku kala ia sedang dalam masa sulit."Kamu mikir apa sih?" Tanya Arman menarikku dari ingatan masa lalu, kini kami sudah berada di unitnya dengan teh hangat.Aku menggeleng sambil tersenyum "Ingat dulu lucu aja. Aku kira kamu bakalan bunuh diri""Enggaklah. Gak sependek itu juga""Lah terus dulu pernah...""Kan gak bunuh diri." Potongnya"Tapi nyakitin diri sendiri tau gak" balasku ketus"Kan sudah berubah" jawabnya kalemTanganku terangkat merapikan rambutnya, yang terasa halus di jemariku. Lalu ku usap pipinya perlahan tangannya juga merangkum tanganku di pipinya."Semua pasti akan baik-baik saja." Ucapku lalu ku tarik tanganku lalu ia mengangguk"Oke, aku balik dulu ya kalau gitu dah malam ini""Karena itu, menginap disini saja""Besok akutuh ada kuliah pagi""Dosennya aku juga"Aku memang beberapa kali pernah menginap disini salah satunya saat ia begini tapi jangan salah paham loh ya, kamar kan gak cuma satu."Bajunya kan di kos. Gak bawa baju" kilahku"Perasaan kamu selalu bawa persediaan baju deh di mobil"Aku tertawa, bangkit dari kursi setelah sebelumnya melempar bantal sofa ke arahnya yang di balas dengan tawanya juga."Duh.. Aku ngantuk banget deh" berjalan memasuki kamar ke dua di unit apartemen milih Arman.----------"Ngeliatin apa sih Ge?" Suara Nayla mengingatkanku, saat ini kami sedang di kantin kampus.Aku menggaruk tengkukku "Enggak, lihat Kevin gak muncul ya" kilahkuPadahal di depan sana aku melihat Arman sedang berbincang dengan bu Rani. Sepertinya seru sekali.Mendadak makanannya jadi gak enak.Tak lama ponselku berdenting, pesan dari Arman mengajakku nonton bioskop.Mas ArmanNtar ketemu di parkiran, kita nonton bioskop ada yang mau aku lihat bareng kamuWah... Asik nih nonton dan makan gratis. Ku tatap ia yang duduk di depan sana yang ternyata juga menatapku sambil tersenyum. Ku peringatkan, nama Mas Arman di ponsel, dialah yang memberi nama itu."Demi apa coba? Pak Arman senyum coy" pekikan Nayla heboh "Dan sama lo senyumnya"Aku tertawa kecil menanggapinya"Seriusan gue kepo, lo gak pacaran sama pak Arman?""Enggak" balasku"Gila ya.. sedekat itu bisa gak jadian""Emang gimana sih?" Balasku tak ramah"Ya gimana ya, Ge. Saling berbagi kasih tapi kek gada apa-apa gitu. Pahamlah maksudnya ya""Ya jalanin aja sih, Nay. Belum mau nikah cepat juga""Gaya lo. Lo bilang mau nikah muda. Makanya dipepet Kevin mau aja. Tapi Kevin juga ganteng dan kaya sih. Cocok buat lo yang banyak maunya""Kakak gue kan belum menikah""Gampanglah. Langkahin aja. Dah gak zaman bahela ini. Lengkapin permintaannya yang minta emas 24 karat itukan? Halah.. bisa di aturlah itu" papar Nayla panjang lebarTapi masalahnya, aku gak cinta sama Kevin. Dia memang baik tapi hati gak bisa di paksakan.Ponselku kembali berdering menampilkan nama kak Ayasha"Ya hallo kak"" Dek jadi pulangkan minggu depan?""Kenapa kak?"" Kan sudah janji. Libur semester pulang ""Iya kak. Aku pulang kok. Sampaikan salam sama mama papa ya kak."" Telpon dong mereka ""Nanti aku di introgasi pacar mana pacar mana kak. Ah bosan"Kak ayasha tertawa " Ya sudah, kakak cuma mau mengingatkan saja "Dan sambungannya terputus, aku mendesah pelan."Kenapa sih?" Desak Nayla"Lo taukan, Nay. Salah satu alasan gue kuliah jauh karena kak Ayasha juga. Gue gak tega kak Ayasha di pojokkan selalu harus cepat menikah lalu ujungnya ke gue, karena gue belum punya pasangan kak Ayasha jadi bersantai dengan pasangannya karena karir mereka"Kak Ayasha memang sedang bagus-bagusnya berkarir. Dia baru saja di angkat menjadi manajer pemasaran di perusahaan ternama, memang usianya hanya terpaut 4 tahun dariku. Saat ini usiaku 22 tahun."Lagipula kak Ayasha masih 26 tahun ya kenapa di buru nikah terus sih?""Sebenarnya bukan itu pokok permasalahnnya, Nay. Karena Mas Brendon sudah 2 tahun belum pulang dari London. Mama cuma gak mau kakak di gantungin gitu"Aku mengerti maksud orang tuaku, mereka memang berhubungan dengan serius tapi bisa sajakan waktu yang berkhianat.Misal ni mereka saling cinta tapi tiba-tiba mas Brendon dijodohkan mamanya. Seperti di novel yang pernah kita baca. Orang tuaku hanya tidak ingin kak Ayasha mendapat harapan palsu yang berujung patah hati.Mengenai tunangan? Mas Brendon tidak ingin ada lamaran, ia ingin langsung menikah saja.Nayla mengangguk-angguk "Sebenernya alasan lo aja kan libur semester, kita juga cuma nyusun skripsian doang ini. Yah kalau mau kabur bisa aja" balas Nayla sambil tertawa kecil.---------"Ya ampun pak Arman romantis syekali ya" ucapku kemudian setelah keluar dari bioskop dan membelokkan langkah ke tempat makan, masih di mall yang sama tempat kami menonton film.Bagaimana tidak? Aku itu penakutkan, katanya tadi mau lihat film romantis, eh taunya malah film horor, sepanjang film aku sibuk menutup mata dan Arman sibuk dengan tawa nya menertawakan aku."Serukan filmnya? Teman-temanku banyak bilang ini seru makanya aku mengajakmu""Bodo amat, pak.""Yasudah pesan, mau apa?" Dia menyodorkan menunya padaku"Mm.. yang paling mahal ya" balasku dengan tawa kecil tapi aku hanya bercanda, nyatanya aku hanya pesan nasi goreng pataya dengan segelas lemon tea saja.Tak lama pesanan kami datang dan mulai memakannya perlahan."Akhir pekan mau kemana?""Pulang ke Bandung, mama nyuruh pulang""Kenapa? Mau di jodohkan"Aku mengangkat bahu, "Kakakku kan belum menikah. Masih menunggu pacarnya. Gak yakin juga jodohku bisa nyanggupin permintaannya ketika di langkahin kan" jelasku sambil menyuapkan sesendok nasiArman mengangguk-angguk lalu berkata "Tapi aku bisa nyanggupin permintaannya kalau cuma perihal materi""Iya iyaa orang kaya mah bebas ya" balasku sambil meledeknya. Jangan baper, ini sudah biasa terjadi.Ia melihat ponselnya sebentar sebelum kembali berkata padaku "Wah. Kebetulan dong, aku juga mau kesana. Bareng aja bagaimana?""Kemana?" Tanyaku"Semarang""Jangan deh, merepotkan gak sih""Enggak kok""Nanti aku pikir-pikir dulu""Ge, kayaknya aku lagi tertarik deh sama seseorang"Aku mengangkat wajahku ke arahnya "Siapa?" Balasku"Nanti aku beritahu, mungkin karena nyaman bicara aja sih. Aku ketemu dia saat ke Semarang bulan lalu, ketemuannya juga gak sengaja ternyata dia bekerja di kantor....""Oh jadi nanti ke Semarang sekalian mau bertemu dengannya?" Potongku"Tidak juga. Mama barusan kabarin aku disuruh mengecek ke sana, jadi yasudah sekalian ajakan. Kamu juga mau ke Semarang."Aku mengangguk, "Iya sih" tapi aku masih penasaran sih "Kamu... Suka sama perempuan itu?" Tambahku"Gak bisa dikatakan begitu juga." Aku hanya diam sambil menganggukkan kepala."Sudah selesaikan? Kamu ikut aku dulu ya. Aku ambil berkas di rumah dulu ada yang tertinggal. Sekalian ketemu sama mama. Aku belum pernah ajak kamu ketemu langsungkan?""Wah.. gak bisa berkata-kata akutuh sama pak Arman." Balasku tapi dia hanya tertawaLalu kamipun keluar menuju perjalanan ke rumahnya. Hanya perasaanku saja atau bagaimana ya, ia terus memegang tanganku. Aku menatapnya lamat-lamat.Ku perhatikan wajahnya saat fokus mengemudi lalu beralih ke tangannya yang memegang tanganku.Bolehkah aku jatuh hati padanya Tuhan?Bahkan sebelum meminta izin aku sudah jatuh hati duluan padanya tanpa ku sadari. Ya mau bagaimana jika keseharianku selalu banyak diisi oleh kehadirannya."Kenapa sih?" Tanyanya padaku"Ha? Tidak apa-apa" balasku sambil menarik tanganku darinya"Ohiya mama kamu galak gak?" TambahkuDia tertawa "Mungkin lebih ke cerewet kali ya"Tiba di rumahnya kami berjalan mulai memasuki rumah, tiba di pintu utama ia terdiam aku yang di belakangnya bingung.Menyentuh lengannya aku bertanya "Arman, ada apa?" Dia diam menatapku lalu menatap ke dalam. Ku ikuti arah pandangnya terdapat pria paruhbaya yang sedang menatapnya juga. Yang kuyakini itu adalah papanya."Ayo" ajaknya"Mm.. Arman, aku tunggu di sini saja ya"Ia menaikkan alis tanda tak mengerti. Maksudnya gimana ya aku juga bingung, kayak akutuh orang lain. Gak enak aja gitu.Ia menarik tanganku membimbingku masuk ke dalam rumahnya yang besar, wah ku ralat ini besar sekali.Aku menganggukkan kepalaku saat melewati papanya Arman dan beliau tersenyum ramah padaku."Kamu tunggu di sini dulu ya" ia menyuruhku duduk di ruang tamunya dan aku mengangguk. Memangnya mau kemana lagi?Lalu papa Arman tiba-tiba datang, "Kamu kekasih Arman?""Ah? Bukan, om. Hanya teman"Papa Arman tersenyum "Saya berharap kamu yang mendampinginya." Lalu ia pergi dari sanaTak lama seorang wanita yang ku yakini adalah mama Arman masuk berjalan ke arahku, dengan segera aku bangkit."Hallo, tante. Aku temannya Arman"Ia menatapku sekilas tersenyum lalu pergi menyusul Arman ke suatu ruangan yang dimasuki Arman tadi. Tampak terburu-buru.Aku menghela nafas, meminum jus jeruk yang di buatkan oleh ART.Lalu tak lama Arman keluar dari ruangan itu diikuti mamanya."Arman" ucap papanyaJadi kini situasinya aku sedang menyaksikan drama keluarga ini. Pahamkan maksudnya bagaimana? Tentu tidak enakTerlihat Arman menghela nafas sejenak, lalu mengangguk mengikuti langkah papanya.Mamanya datang duduk di sebelahku "Kamu Gea, kan?"Aku tersenyum "Iya, tante""Arman banyak cerita soal kamu. Tante senang" Mama Arman memegang tanganku "Terima kasih sudah bersama Arman selama tiga tahun terakhir ini, tante berharap kamu terus bersamanya""Mm... Tante, aku sama Arman gak punya hubungan apa-apa kok" jawabku kalemIa tertawa "Arman sama seperti papanya. Ia hanya belum menyadari mungkin. Mengenai hubungan kami, pasti Arman banyak cerita sama Gea. Tapi sebenarnya papa Arman baik. Mungkin lebih tepatnya sudah berubah menjadi lebih baik"Aku tidak tahu seperti apa wanita di hadapanku ini tapi dia sungguh baik sekali. Bisa berbijaksana memaafkan keadaan yang sudah-sudah.Perasaan Arman yang tak menyadari aku tidak ingin berharap, karena Arman baru saja mengatakan tertarik pada seseorang.Juga... Aku tidak ingin mengakui perasaanku padanya.Aku dan mama Arman berbincang kecil tak jarang kami tertawa, rasanya baru sebentar saja kami sudah terlihat akrab. Mama Arman sungguh ramah dan terlihat hangat padaku."Kalian bicarakan apa?" Arman datang lalu duduk di sebelahku."Ah rahasia ya, Ge" balas mamanya "Sudah bicara pada papa?" Tanyanya lagiArman mengangguk singkat"Mama harap, semoga bisa mengubah pandanganmu, nak. Papa tidak seperti yang kamu pikirkan"Arman menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu, aku menggenggam tangannya lembut dan ia mendongak. Tersenyum padaku lalu mengangguk."Kalian mau kemana? Makan malam disini aja bagaimana" tawar mamanya"Tidak, ma. Kami mau pulang saja. Gea juga sibuk. Iyakan?"Aku mengerutkan kening tapi mengangguk juga.Mama Arman tertawa "Kamu posesif sekali, Arman""Ayo" ajaknya padaku. Akupun mengikutinya setelah sebelumnya berpamitan pada orang tuanya.Arman melajukan mobilnya perlahan keluar dari komplek perumahan itu."Ke apartemenku ya, Ge?""Mm.. lain kali ya. Aku mau berkemas. Besok aku mau ke Semarang""Bukannya akhir pekan ya?" Tanyanya"Tadinya. Tapi orang tuaku menyuruh segera. Katanya mereka kangen"Arman diam sebentar sebelum menjawab "Oke. Kalau begitu, minggu depan setelah aku tiba disana. Aku akan menemuimu lalu kita jalan-jalan"Aku tersenyum lalu mengangguk ke arahnya "aye.. aye, Capten!"Tiba Arman menghentikan laju mobilnya, aku melirik sekitar tidak ada apa-apa hanta jalanan biasa. Tadinya aku pikir ia ingin membeli sesuatu.Ia menarik tubuhku, memeluknya menyandarkan kepalanya pada bahuku."Ge.. ""Ya?""Ternyata selama ini aku salah paham. Aku pikir papa dengan sengaja beberapa tahun belakangan ini menyakiti mama. Tapi ternyata papa punya misi khusus"Sungguh aku tidak mengerti maksudnya tapi karena dia membutuhkan pelukan maka akan kuberikan, padahal jika ia meminta ciuman manis pasti aku akan berikan juga.Aduhh.. pikiran kotorku ini. Mungkin efek cuaca yang mendadak turun rintik ya"Ge""Ya?""Sekarang tugas papaku sudah selesai, misi yang dikatakannya sudah selesai dengan baik. Dia sengaja melakukan itu demi melindungi kami. Bahkan mamaku yang seperti berniat membunuh diri diluar kendali papa. Intinya adalah papa begini demi pekerjaannya""Aku gak mengerti kamu bicarakan apa. Misi atau apapun itu. Tapi, Ar. Bukankah papa kamu bekerja sebagai Arsitektur""Yang orang tahu" balasnya "Sebenarnya papa juga anggota BIN"" Whatt !" Pekikku lalu melepaskan pelukan darinya kemudian menatapnya "Beneran?"Dia merengut sebal melihatku lalu kembali memelukku."Beneran?" Tanyaku lagi, ia mengangguk "Aku cuma cerita ini ke kamu""Oke. Tapi aku gak ngerti kenapa bisa begitu" aku mendesah kesal bercampur tidak percaya lalu berkata "Lihat apa yang kamu dan mama kamu laluin selama ini"Arnan mengangguk "Tapi aku bersyukur juga. Ternyata pandanganku terhadap papaku tidak seburuk itu."Aku ikut mengangguk, mengusap rambutnya dengan lembut "Hikmahnya, kamu sudah jadi yang terbaik untuk mama kamu""Ah, Arman!" Protesku, bagaimana tidak jika ia mengecup leherku. Mendadak begini membuatku aneh.Lalu tangannya mengusap pipiku perlahan "Ge, boleh aku cium kamu?"Ha? Apa aku tidak salah dengar. Ini untuk pertama kalinya, sungguh.Belum sempat aku melayangkan jawaban tapi dia sudah membungkamku dengan ciumannya. Awalnya hanya diam sejenak lalu perlahan bibirnya bergerak, aroma mint dan rasa manis dari bibirnya menyapaku dan kegilaan dari mana akupun membalasnya. Membalas ciuman manisnya.Ia menarik diri membuatku merasa kehilangan, ia menyatukan kening kami memberi jeda mengambil nafas karena terengah. Tapi nyatanya belum usai, ia kembali menyatukan bibirnya padaku mencecap kembali melumat hingga sebagian akalku hilang di telan cecapan manisnya padaku.Ia menarik diri mengusapkan wajahnya yang nampak frustasi atas apa yang dia lakukan padaku. Aku membuang wajah ke arah luar. Menghindarinya.Menunduk dan memegang kemudi lalu menjalankan kembali mobilnya.Tangannya menggemgam tanganku melirikku singkat lalu berkata" Sorry , Ge. Tapi aku gak menyesal uda cium kamu"---------Sudah seminggu ini aku di Semarang tapi kejadian tempo lalu yang terjadi padaku dengan Arman masih terasa manis. Entahlah, harusnya tidak boleh beginikan.Aku ingat ketika turun dari mobil yang mengantarkan aku ke kos-kosan saat itu. Ia berkata " Aku ingin sekali mengantarmu besok. Tapi pekerjaanku tidak bisa tinggal begitu saja. Jadi, sampai bertemu di Semarang, Ge." Ucapnya padaku lalu mengusap rambutku.Aku berguling-guling di tempat tidurku, sudah mandi dan rapi tapi yang ku lakukan seminggu ini memang hanya di rumah saja. Hanya beberapa kali menyapa tetangga dan teman dekat di sekitar. Tidak ada kegiatan khusus.Aku memekik perlahan ketika mendapati Arman menelponku."Halo"" Ge, tebak aku dimana?"Aku diam seperti berpikir sejenak "Di kampus?" BalaskuDia tertawa " Salah. Aku di Semarang""Wahh beneran, pak?"" Sudah 4 hari yang lalu tapi aku belum bisa menemuimu. Banyak sekali yang harus aku cek disini "Aku mengangguk paham "Mau aku yang kesana menemuimu?" Ucapku" Ini bukan di Jakarta, Ge ." Balasnya ambigu tapi memang benar, dia punya pekerjaan di Semarang tapi tidak pernah terlibat langsung padaku atau main ke rumahku, misalnya. Kami juga baru kali ini bisa di Semarang secara bersamaan. Itupun lagi-lagi karena pekerjaannya."Iya deh "" Kamu kira-kira kapan balik ke Jakarta?""Hari kamis rencanya sih"" 4 hari lagi. Oke aku usahakan segera selesai kerjaanku .""Memangnya mau kemana? Kalau gak bisa ketemu, di Jakartakan juga bertemu."" Mana bisa begitu, Ah iya, Ge, nanti aku hubungi lagi. Aku sudah tiba di kantor ni""Sebentar" ucapku cepat" Ya ?""Kamu sudah bertemu dengan cewe itu?" Tanyaku raguArman tertawa sebelum menjawab " Sudah "" Tapi aku lebih gak sabar bertemu kamu sih" tambahnya. Lalu panggilan terputus, aku menatap ponselku lalu tersenyum."Seneng banget kayaknya anak mama" celetukan khas suara mamaku yang super kepo menyapa indraku, aku menoleh langsung berkata"Iya dong""Pacar kamu?"Aku terkekeh kecil "Belum sih, ma"Mamaku duduk di atas ranjang bersebelahan denganku "Ayo ceritakan sama mama"Aku nampak berpikir tapi kami berdua tertawa "Dia dosen di kampus, ma. Tapi juga mengurus perusahaan.""Sudah tua dong?""Ih, mama.. ya gak gitu juga. Beda... 6 tahun gak terlalu tua kan?"Mama mengangguk "Memangnya dia sudah bilang suka sama kamu? Sampai kamu sesenang ini"Ah aku melupakan fakta, bukankah dia mengatakan padaku tertarik dengan seseorang. Di Semarang apa dia juga bertemu dengan perempuan itu.Melihat ekspresiku agak murung, mama memegang pergelangan tanganku. "Tidak apa-apa. Kita boleh berharap tapi jangan terlalu ya, nak. Mama khawatir kamu patah hati. Sama seperti mama khawatir terhadap kak Ayasha, dia setia sekali dengan Brendon.""Iya, ma"Begitulah mamaku....Usai berbincang sedikit dengan mamaku, ia keluar dari kamarku. Aku memainkan ponsel di kamar, hanya sekedar lihat-lihat medsos.Ku lirik jam dinding menunjukkan pukul 4. Tidak tahu mau melakukan apa, berjalan menuju pekarangan depan lalu menghidupkan keran air untuk menyiram bunga-bunga milih mamaku yang tersusun rapi di pekarangan.Seingatku pagi tadi tidak di siramkan? Cuaca juga lumayan terik jadi lumayan kerjaan untuk menghilangkan kebosananku.Ku lihat ada mobil berhenti, kak Ayasha turun dari mobil itu. Ah mungkin dia naik taksi online, tapi berikutnya melihat yang turun membuatku mengumpat tertahan. Mematikan keran, aku berbalik ingin menyapa tapi keberadaan kak Ayasha ditengah-tengah membuatku kembali bungkam.Aku menatap penuh minat pada Arman, tapi..."Mm... Mas kenalin. Ini adik aku, Gea. Dan Gea, ini Arman." oke, mas. Kata yang disematkan kak Ayasha membuatku bingungDia tersenyum canggung, menaikkan tangannya "Hallo. Aku Arman."Aku mendengus tidak percaya tapi juga menjabat tangannya "Gea" ucapkuTHE END

Dia, Rio.
Romance
18 Dec 2025

Dia, Rio.

Aku melihat tangan kami yang saling menggenggam memberikan kehangatan melalui genggaman, berjalan mengelilingi pantai dengan senyum yang tak lepas dari bibir kami. Sesekali kami saling pandang mencurahkan isi hati melalui tatapan mata kami.Untuk kali ini biarkan kami menikmati keindahannya.Untuk kali ini biarkan kami melepaskan gejolak kami.Sekali lagi, untuk kali ini biarkan kami menjadi satu tanpa ada yang lain."Ih, Rio gimana sih? Aku lapar tahu" aduku karena sedari tadi ia terus menggandengku berputar-putar.Ia mengusap keningku, "Lapar ya makan" jawabnya acuhAku tahu, tapi bagaimana mau makan jika ia terus menarikku berkeliling terus."Kamu tahukan besok kita pulang?"Aku menghela nafas lalu mengangguk "Bisa rubah keputusan yang sejak awal kedatangan kita?"Aku bimbang, ini terasa memabukkan tapi juga terasa tidak nyata. Akhirnya aku hanya diam."Maksudku, bisakan kita disini hanya berlibur tanpa bekerja atau lainnya?" LanjutnyaAku tertawa kecil lalu mengangguk.Rio menggiringku duduk di tempat makan yang ada di dekat pantai ini, tak lupa memesankan makanan kesukaanku."Terima kasih" ucapku padanyaIa menggeleng, "Harusnya aku, terima kasih untuk kesempatan ini"Aku menyenderkan kepalaku pada bahu kekarnya, ia balas memelukku. Nyaman sekali.Menikmati hembusan angin bersama seorang lelaki, Rio. Namanya sudah ku kenal dari jaman putih biru.Benar, tidak salah putih biru, SMP.Lucu sekali saat itu. Kami yang saling pandang. Aku tahu dia tertarik padaku tapi aku berpikir jika masa itu hanya terkesan cinta monyet.Saat berada di kantin, matanya juga selalu menatapku yang selalu ku balas dengan senyuman.Iseng, aku mengikutinya dengan masuk ekskul pramuka di sekolahku. Saat itu permainan game petunjuk jadi tiap tim terdiri dari 3 orang. 1 menutup mata sedangkan 2 orang lainnya memberi arahan.Aku tahu, Rio adalah orang yang paling bersemangat dan itu hal yang menarik yang paling ku sukai darinya.Ia sebagai pihak penutup mata yang diberikan petunjuk, entah bagaimana yang memberi arahan salah atau bagaimana berakhir dia tertabrak tembok menyebabkan keningnya bengkak. Sontak permainan dihentikan memusatkan perhatian padanya.Tapi ia menatapku dalam diam, aku tersenyum dan ia balas pula dengan senyuman konyolnya. Melalui tatapan mata dan senyumnya menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.Bodoh.Itu pasti sangat menyakitkan."Sayang, boleh malam ini aku menginap di kamarmu?" Tanyanya menarikku dari potongan ingatan masa SMP kami yang lucu.Aku tertawa kecil "Bukankah tadi malam juga menginap."Ia tertawa geli "Satu minggu ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin" ucapnya mengulang kataku saat kami pertama kali menginjakkan kaki di pulau dewata.Aku mengangguk "Menurutmu, Kenapa laki-laki dan perempuan bisa menikah?" Tanyaku sambil menggambar abstrak di lengannya.Ia mengernyit heran atas pertanyaanku tapi juga menjawab "Karena cinta, mungkin""Apakah cinta saja cukup? Bukankah banyak pertengkaran karena ekonomi""Benar, tapi ekonomi bisa dicari dan tergantung perempuannya bagaimana kan. Bertahan atau meninggalkan""Lalu menurutmu aku bagaimana?"Ia mencubit gemas hidungku "Itu adalah ujian dari rumah tangga, Mey. Dan aku percaya kamu gak akan goyah hanya karna perekonomian"Aku tersenyum "Lalu jika karena pria, apakah aku bisa goyah?"Dia menatapku cukup lama lalu mengatakan "Entahlah, aku harap tidak""Jika tidak ada cinta, tidak mungkinkan akan bersatu dalam pernikahan" tambahnya"Lalu kita?""Bukankah kita juga saling mencintai" balasnya"Apakah cinta bisa bertahan jika tidak ada kepercayaan?" Tanyaku lagiDia menghela nafas, "Berputar-putar. Apa yang ingin kamu ketahui, sayang?"Aku mengangguk, "Jika kamu diberi kesempatan mengulang waktu, apakah kamu menyesali bertemu denganku?"Ia menatapku dalam, memegang erat tanganku, "Aku menyesal baru menemuimu sekarang. Harusnya aku lebih berani sejak dulu" balasnya yakin."Bahkan sekalipun kita tidak bertemu?""Aku yang akan mencarimu.""Baiklah, buka mulut. Aku ingin menyuapimu"Ia berdecak tapi juga mengikuti kemauanku"Meysa, aku mencintaimu" ucapnya disela kunyahannya ku balas senyuman.Benar, ia dulu terlalu pengecut menurutku. Jika dulu ia suka kenapa hanya saling curi pandang saja. Yaya masa SMP tapikan bisa dimulai dari berteman.Biar begini, akukan perempuan. Gengsi dong. Gimana sih!Haripun menjelang sore kami kembali ke kamar kami masing-masing, untuk mandi dan beristirahat.Rio juga kembali ke kamarnya untuk mandi dan pergi bergegas menemuiku lagi.Aku menatap pemandangan pantai dari balkon kamarku sambil memandang cincin di jari manisku, tangan melingkar di perutku menambah sensasi kehangatan.Mengecup pipku lalu berkata "Kita seperti bulan madu ya" ucap Rio sambil tertawaAku tersenyum "Tidak ada bulan madu yang kamarnya terpisah, sayang""Tapi setiap malam kita selalu bersama""Mau berenang bersama?" Tanyaku mengambil bikini di dalam koperku"Kamu membawa bikini?""Tentu saja, aku belum memiliki kesempatan menggunakannya""Kalau begitu jangan"Aku mengernyitkan dahiku, dia mengusapnya lalu berkata "Aku takut khilaf"Setelah itu ia menempelkan bibirnya padaku, melumatnya perlahan tapi memabukkan, tanganku ku kalungkan di lehernya, ia memperdalam ciuman kami yang ku balas dengan senang hati. Lalu melepasnya menempelkan kening kami sembari menghirup oksigen."Tapi ini sudah khilaf" ucapku, dia melarangku menggunakan bikini tapi juga menciumku."Kamu terlalu sayang untuk dilewatkan" jawabnya dengan tawa"Aku lapar""Perasaan kamu lapar mulu""Aku ingin dimasakkan sama kamu" balasku manja yang kini sudah memeluknyaIa melepaskan pelukannya, " Okay , aku masakkan nasi goreng saja ya. Katanya nasi goreng buatanku bisa meluluhkan hati wanita."Aku tersenyum yang sudah entah keberapa kalinya "Tapi aku sudah luluh, Rio""Menikahlah denganku jika begitu""Nanti akan aku pikirkan" ucapku sambil mengedipkan mata jahilTak lama ponselnya berdering, ia hanya menatapnya tanpa berniat mengangkat.Ia menghela nafas lalu pergi ke dapur yang kebetulan ada di dalam kamar ini, tidak luas tapi lumayan, tak lama ia kembali padaku. Pasti disana tidak ada apa-apa."Aku akan membeli beberapa bahan. Tunggu disini ya" ucapnya seraya mengecup keningku lalu pergi keluar.Sembari menunggunya aku jadi ingat saat dulu, ia selalu menungguku di depan kelasnya. Kelas kami berbeda, dia sebagai siswa pintar di kelas A, unggulan tentu letaknya di depan sedangkan aku kelasnya di nomor 2 akhir dari 8 kelas masa itu, jangan salah biar begini aku tetap dapat peringkat 1."Si Rio perasaan liatin kamu terus deh" ucap Devi membisikku saat kami melewati kelasnya, saat itu ia duduk di depan kelasnya. Ah membuatku salah tingkah di jaman putih biru kelas 2 saat itu.Melewatinya, kami saling tersenyum."Demi apa, dia ganteng banget" kata Devi"Hai, Mey" sapa Alfer di kelas yang sama dengan Rio."Oh hai, tumben cepat datang" balaskuIa mengangguk "Iya pengen liat kamu"Aku tertawa lalu melanjutkan langkahkau, Alfer ini dari kelas 1 sudah mendekatiku. Berbeda dengan Rio yang tidak punya nyali untuk berdekatan denganku padahal aku sudah memberikan sinyal. Meskipun Alfer ini ku ketahui menyukaiku tapi dia tak kunjung menyatakannya, aku cukup bersyukur karena aku hanya menganggapnya teman. Dan kedekatan kami ini bahkan berlanjut sampai aku kuliah, mungkin sekitar semester 4 kami lepas kontak.Begitulah kisahku dengan Rio hingga tamat SMP tidak ada saling kata hanya penyampaian lewat mata dan senyum.Saat SMA, aku mulai berpacaran dengan beberapa pria. Kami hanya saling menyapa lewat media sosial itupun hanya dengan mengklik tanda suka atau love. Tidak lebih dari itu, tak ada kata sedikitpun, seakan sekedar menyapa bahwa kami pernah saling mengenal.Tak lama dari itu, tepatnya 4 tahun usai lulus dari SMP aku berpacaran dengan teman sekelasnya SMP dulu, Afsyah. Dia lelaki yang cukup rumit hanya bertahan 2 tahun. Usai putus dengannya, dia menanyakannya lewat media sosial. Percakapan awal kami. Aku tahu dari media sosialnya, ia sudah cukup sukses untuk karirnya."Hai, kamu beneran putus sama Afsyah?" Chatnya kala itu, untuk pertama kalinya.Aku hanya menjawab, "Hehe kenapa?"Dia menjawab, "Tidak ada, hanya bertanya" balasnya di chat itu yang hanya ku baca saja.Tak lama dari itu, aku memposting foto terbaruku dengan kekasihku, dia mengomentarinya "Baru, wak?"Ku balas "Hehe.. Iya ni"Lalu ia membalas lagi "Kenapa bisa putus?"Akupun hanya menjawab seadanya "Gak jodoh"Dia membalasnya lagi tapi ku hiraukan.Aroma masakan tercium, tak sadar Rio sudah kembali dan memasak disana, segera ku hampiri dan memeluk tubuhnya dari belakang dan ia membalas sambil memegang tanganku yang melingkar di perutnya."Kenapa?" Tanyanya, aku menggelengIa mengusap tanganku perlahan masih terus memasak."Dari aromanya sih, enak."Dia tertawa kecil "Kamu akan luluh setelah memakannya""Aku sudah luluh, gimana dong?"Dia balas tertawa lagi, "Yasudah, ayo kita makan""Enak sekali..." Pekikku ketika kurasakan masakannya"Kan sudah ku katakan" jawabnya sombong sambil mengakhiri acara makannya.Aku berdecih tapi ada yang hampir terlupa kutanyakan "Rio, kenapa sih dulu gak pernah deketin aku. Bukannya gimana ya, saat SMP kan kamu terlihat gimana gitu ke aku"Dia sedikit tertawa "Jangan GR kamu""Aku gak GR tapikan memang iya, terus bisa jelasin arti curi pandang kamu ke aku?" Tanyaku lagi tak mau kalahDia tertawa mengusap kepalaku "Lucu banget sih, aku akuin, aku takut dekatin kamu. Ya gimana, yang deketin kamu kebanyakan tampangnya lumayan.""Tapikan kamu juga ganteng" ucapku kalem"Makasih.." jawabnya dengan senyum dan mencuri satu kecupan di pipi "Tapi saat itukan pikiran SMP tu ya malu, kamu SMA, aku pilih SMK nah disitu aku juga belum berniat dekatin kamu karena kamu terlanjur jadian sama mas-mas kantor pemerintahan itu""Aku baru sadar, kamu update banget ya soal aku." Jawabku terkikikDia mendengus "Terus giliran aku mau deketin lagi kamu malah pacaran sama temen satu kelasku. Kejutan apalagi coba? Setelah putus, kamu malah cepat langsung jadian. Aku jadi mikir, apa sebegitunya aku gak punya kesempatan? Putus bentar langsung disambar aja"Aku terbahak "Ya gimana, kamu juga gak gerak cepat. Akukan suka yang sat set sat set""Seneng banget kayaknya" ucapnya padaku lalu melangkahkan kaki ke arahku, mengelap sudut bibirku.Matanya menatap mataku, mempersempit jarak kami. Bibirnya menempel ke bibirku, awalnya hanya menempel kemudian ia memberi kecupan.Dari kecupan menjadi lumatan dan semakin liar, tangan kanannya meraih tengkukku memperdalam sedang satunya merengkuh pinggangku. Tanganku bergerak meremas rambutnya.Badanku di angkat ke pangkuannya menambah keintiman kami, masih saling menempel.Tak lama ia mengangkatku menuju ranjang, dihempaskan perlahan dengan cepat ia memposisikan di atas tubuhku, kembali memberikan ciuman panas, dari bibir turun ke leherku memberi sensasi remang padaku.Tangannya tak henti memberi usapan-usapan pada tubuhku "ahh" sebuah lenguhan lolos dari bibirku dan bibirnyaIa mencium telingaku kembali merambat ke leher dan membuka kancing kemeja atas, memberikan pijatan disana sambil menciumnya.Kembali aku melenguh dengan sensasi dahsyat ini. Tangannya turun mengusap bagian bawahku yang masih tertutup celana pendekku."Ah.. Ri.o""Mm.. Meysa..""Cukup" ucapku tak ingin dibantah"Meysa, aku gak tahan" balasnya dengan mata yang dipenuhi kabut gairahAku menggeleng tegas, "Maaf, Rio. Aku ingin memberikannya hanya pada suamiku""Tapi..""Kita belum menikah" tukasku.Ia menghela nafas, memegang pelipisnya lalu bangkit dari atas tubuhku, menjambak rambutnya. " Sorry , Mey. Aku kelepasan"Lalu ia berlalu pergi ke kamar mandi, entahlah apa yang dia lakukan. Biarkan saja. Saat ini aku ingin tidur saja, menarik selimut menutupi tubuhku.Tak lama ku rasakan ranjangku bergerak, Rio datang masuk ke dalam selimutku memeluk tubuhku. Aroma sabun menyeruak dalam indra penciumanku, aku yakin dia usai mandi."Rio, kamu..""Diam, Mey. Aku ngantuk. Tidur saja ya" ucapnya parau, aku hanya membalasnya mengangguk.Saat ini kami telah tiba di bandara ngurah rai. Waktu seminggu full ku habiskan bersama Rio, sebenarnya 2 minggu tapi 1 minggu adalah waktu yang menakjubkan bagiku dan Rio.Tangan kami masih saling bertaut. Bersama menaiki pesawat ini duduk bersebelahan, sama seperti halnya pertama kali kami datang.Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, dia membalas mengusap kepalaku."Apakah memang sudah tidak ada kesempatan untukku, Mey?""Aku sudah memberimu kesempatan, Yo. Maafkan aku""Aku rela meninggalkan segalanya demi kamu"Aku menggeleng "Maafkan aku, Rio. Aku tidak bisa""Apa waktu kita bersama tidak berharga untukmu?" Tanyanya menatapkuKu bingkai wajahnya dengan tanganku "Ini sangat berharga, Rio. Aku menikmati hari-hari kita. Tapi ini juga sudah terlambat. Aku tidak bisa menjadi egois""Tapi egois untuk diri sendiri juga tidak apa, Mey. Untuk masa depan kita" balasnya tak terima dengan memegang tangankuKu tarik tanganku dari genggamannya, "Harusnya kita sadar sedari awal, Rio. Kalau aku sama kamu, sudah tidak bisa bersama. Kita sudah memiliki tujuan sendiri."Rio menggeleng dengan tegas. "Kata siapa? Kamu yang menyimpulkan itu. Sedari awal aku sudah mengatakan jika aku mau bersama kamu."Aku menghela nafas, "Maafkan aku, mungkin di kehidupan selanjutnya kita akan dipertemukan."Ia diam, tidak menjawab. Memilih menutup mata dan mengeratkan genggaman tangan kami.Tak terasa kami sudah tiba di Jakarta, masih saling menggengam tanganku ia bertanya, "Kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Mey? Aku siap meninggalkannya demi kamu" tatapannya lurus kedepan tanpa menolehku."Maafkan aku, Yo" balasku"Baiklah.. Itu artinya hubungan kita akan seperti dulu" balasnya yang aku akan tahu pada intinya.Di depan sana terlihat lelaki yang dua minggu ini ku hindari tersenyum senang menatapku."Kamu mencintainya?" Tanyanya lagi masih dengan tatapan lurus.Aku mengangguk "Sangat" balaskuPerlahan genggaman kami mengendur dan terlepas begitu saja, Aku memperlambat langkahku dibelakangnya.Lelaki disana, Janu. Memandangku dengan binar bahagia. Maafkan aku, maafkan aku. Bisikku perlahan, aku menuduhmu tapi aku malah terlena meski sesaat.Di belakang tubuh Janu tampak berjalan dengan tergesa seorang wanita dengan teriakan "Rio..."Dan menubruk pada tubuh Rio, memeluknya dengan erat "Aku rindu sekali. Kenapa tidak memberiku kabar" ku lihat Rio tak menjawab hanya mengusap punggungnyaJanu merentangkan tangannya memberi pelukan padaku, yang ku balas dengan pelukan erat."Terima kasih sudah kembali, Sayang. Maafkan aku. Aku mencintaimu, sangat."Aku mengangguk dalam pelukannya, "Aku mencintaimu. Maafkan aku, maafkan aku" rapalku.Dia mengurai pelukannya, "Maafkan aku juga. Tapi sungguh tidak ada yang lain. Kamu salah paham""Aku tahu. Kamu cuma mencintaiku. Persiapannya sudah semuakan?" Tanyaku dengan senyuman manisku dan dia mengangguk antusiasTuhan, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan lelaki sebaik ini. Aku tak ingin kehilangannya, pernikahan kami akan segera berlangsung.Dia menarik jemari manisku dan tersenyum lega, aku mengernyit heran "Syukurlah, kamu memakainya. Jangan berani melepaskan cincin itu"Aku tertawa, "Nanti aku mau cincin 24 karat ya, Janu""Iya, sayang. Apapun" balasnya seraya mengambil alih koper di sampingku."Ayo, Rio. Kita pulang. Lama banget kamu dinasnya dua minggu. Biasa juga cuma seminggu, mana tanpa kabar" tutur wanita bersama Rio ku dengar.Aku meliriknya ia hanya patuh berjalan mengikuti wanita itu. Setelah menatapku sesaat."Kamu sudah menghukumku dua minggu ini. Jadi, sudah puaskan? Ayo kita pulang"Aku sontak menatapnya, apakah Janu tahu kelakuan dua mingguku ini dengan Rio? Tapi ungkapan selanjutnya membuat hatiku tenang, sungguh aku mencintainya, tak ingin kehilangannya. Aku khilaf."Jangan meninggalkanku lagi, apalagi tak memberiku kabar. Aku uring-uringan disini. Ingin menyusul tapi kamu sudah mengancamku di awal"Benar, saat itu terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Janu. Mantan Janu menemuinya untuk kembali tapi Janu menolak, adegan mantannya memeluk Janu untuk terakhir kalinya, aku melihatnya membuatku terbakar api cemburu.Dan aku bilang sebelum menikah dengannya, aku ingin dua minggu berjauhan dengannya karena aku marah. Dan tak ingin ia menyusul, karena aku pasti akan kembali. Aku sudah berjanji padanya.Lalu bertemu dengan Rio, mengiming-imingku dengan segala keindahan, memporak-porandakan hatiku. "Berikan aku kesempatan untuk semua moment yang sudah kita lewatkan. Meski pada akhirnya kamu akan tetap memilihnya" ucapnya kala itu yang tanpa sadar, ku iyakan dan terjadilah, aku khilaf."Ayo" ucap Janu merangkulku, meninggalkan bandara.Tiga bulan kemudian kamipun menikah, semua berjalan dengan baik. Maafkan aku Janu telah berbohong, dan akan selalu ku simpan. Aku tidak mau kehilanganmu.Setahun kemudian, undangan pernikahan Rio datang padaku. Mungkin ini yang terbaik untuk kita, senyumku menatap undangan itu yang ditatap curiga oleh suamiku."Kenapa?" TanyanyaAku menggeleng dengan senyuman "Kamu ingatkan teman SMP aku yang gimana gitu sama aku. Dia nikah" jawabku sambil mengangkat undangannya.Dia hanya tertawa, karena dulu di awal pertunangan, aku pernah bercerita tentang Rio padanya. Jadi aku tak bisa membayangkan bagaimana marahnya Janu jika ia tahu yang aku perbuat di Bali.Katanya, ingin menikah itu banyak Rintangan. Aku sudah rasakan, aku sempat terlena dengan Rio. Janu dengan datangnya mantan padanya.Tapi kami memilih untuk bertahan.Mengingat ucapanku tempo lalu pada Rio, meski dikehidupan selanjutnya aku dipertemukan kembali padanya, aku akan tetap memilih Janu.Rio hanyalah suatu tantangan. Karena nyatanya aku memilih Janu, Suamiku.END

Nyai Anteh sang penunggu bulan
Folklore
18 Dec 2025

Nyai Anteh sang penunggu bulan

Pada jaman dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang sangat subur dan memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai di bawah pimpinan raja yang bijaksana. Di dalam istana ada dua gadis remaja yang sama-sama jelita dan selalu kelihatan sangat rukun. Yang satu bernama Endahwarni dan yang satu lagi bernama Anteh. Raja dan Ratu sangat menyayangi keduanya, meski sebenarnya kedua gadis itu memiliki status sosial yang berbeda. Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sedangkan Nyai Anteh adalah hanya anak seorang dayang kesayangan sang ratu. Karena Nyai Dadap, ibu Nyai Anteh sudah meninggal saat melahirkan Anteh, maka sejak saat itu Nyai Anteh dibesarkan bersama putri Endahwarni yang kebetulan juga baru lahir. Kini setelah Nyai Anteh menginjak remaja, dia pun diangkat menjadi dayang pribadi putri Endahwarni."Kau jangan memanggilku Gusti putri kalau sedang berdua denganku," kata putri. "Bagiku kau tetap adik tercintaku. Tidak perduli satatusmu yang hanya seorang dayang. Ingat sejak bayi kita dibesarkan bersama, maka sampai kapan pun kita akan tetap bersaudara. Awas ya! Kalau lupa lagi kamu akan aku hukum!""Baik Gust.....eh kakak!" jawab Nyai Anteh."Anteh, sebenarnya aku iri padamu," kata putri."Ah, iri kenapa kak. Saya tidak punya sesuatu yang bisa membuat orang lain iri," kata Anteh heran."Apa kau tidak tahu bahwa kamu lebih cantik dariku. Jika kamu seorang putri, pasti sudah banyak pangeran yang meminangmu," ujar putri sambil tersenyum."Ha ha ha.. kakak bisa saja. Mana bisa wajah jelek seperti ini dibilang cantik. Yang cantik tuh kak Endah, kemarin saja waktu pangeran dari kerajaan sebrang datang, dia sampai terpesona melihat kakak. Iya kan kak???" jawab Anteh dengan semangat."Ah kamu bisa saja. Itu karena waktu itu kau memilihkan baju yang cocok untukku. O ya kau buat di penjahit mana baju itu?" tanya putri."Eeee...itu...itu...saya yang jahit sendiri kak." jawab Anteh."Benarkah? Wah aku tidak menyangka kau pandai menjahit. Kalau begitu lain kali kau harus membuatkan baju untukku lagi ya. Hmmmm...mungkin baju pengantinku?" seru putri."Aduh mana berani saya membuat baju untuk pernikahan kakak. Kalau jelek, saya pasti akan dimarahi rakyat," kata Anteh ketakutan."Tidak akan gagal! Kemarin baju pesta saja bisa...jadi baju pengantin pun pasti bisa," kata putri tegas.Suatu malam ratu memanggil putri Endahwarni dan Nyai Anteh ke kamarnya."Endah putriku, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan," kata ratu."Ya ibu," jawab putri."Endah, kau adalah anakku satu-satunya. Kelak kau akan menjadi ratu menggantikan ayahmu memimpin rakyat Pakuan," ujar ratu. "Sesuai ketentuan keraton kau harus memiliki pendamping hidup sebelum bisa diangkat menjadi ratu.""Maksud ibu, Endah harus segera menikah?" tanya putri."ya nak, dan ibu juga ayahmu sudah berunding dan sepakat bahwa calon pendamping yang cocok untukmu adalah Anantakusuma, anak adipati dari kadipaten wetan. Dia pemuda yang baik dan terlebih lagi dia gagah dan tampan. Kau pasti akan bahagia bersamanya," kata ratu. "Dan kau Anteh, tugasmu adalah menjaga dan menyediakan keperluan kakakmu supaya tidak terjadi apa-apa padanya.""Baik gusti ratu," jawab Anteh.Malam itu putri Endahwarni meminta Nyai Anteh untuk menemaninya."Aku takut sekali Anteh," kata putri dengan sedih. "Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?""Kakak jangan berpikiran buruk dulu," hibur Anteh. "Saya yakin gusti Raja dan Ratu tidak akan sembarangan memilih jodoh buat kakak. Dan pemuda mana yang tidak akan jatuh hati melihat kecantikan kakak. Ah sudahlah, kakak tenang dan berdoa saja. Semoga semuanya berjalan lancar."Suatu pagi yang cerah, Anteh sedang mengumpulkan bunga melati untuk menghias sanggul putri Endahwarni. Anteh senang menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu saling berebut bunga. Dia mulai bersenandung dengan gembira. Suara Anteh yang merdu terbang tertiup angin melewati tembok istana. Saat itu seorang pemuda tampan sedang melintas di balik tembok taman istana. Dia tepesona mendengar suara yang begitu merdu. Ternyata pemuda itu adalah Anantakusuma. Dia sangat sakti, maka tembok istana yang begitu tinggi dengan mudah dilompatinya. Dia bersembunyi di balik gerumbulan bunga, dan tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik. Anantakusuma merasakan dadanya bergetar, "alangkah cantiknya dia, apakah dia putri Endahwarni calon istriku?" batinnya. Anantakusuma keluar dari persembunyiannya. Anteh terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya muncul pemuda yang tidak dikenalnya."Siapa tuan?" tanya Anteh."Aku Anantakusuma. Apakah kau....."Belum sempat Anantakusuma bertanya seseorang memanggil Anteh. "Anteh!!! Cepat!!! Putri memanggilmu!" kata seorang dayang."Ya. Saya segera datang. Maaf tuan saya harus pergi," kata Anteh yang langsung lari meninggalkan Anantakusuma. "Dia ternyata bukan Endahwarni," pikir Anantakusuma. "Dan aku jatuh cinta padanya. Aku ingin dialah yang jadi istriku."Beberapa hari kemudian, di istana terlihat kesibukan yang lain daripada biasanya. Hari ini Adipati wetan akan datang bersama anaknya, Anantakusuma, untuk melamar putri Endahwarni secara resmi. Raja dan Ratu menjamu tamunya dengan sukacita. Putri Endahwarni juga tampak senang melihat calon suaminya yang sangat gagah dan tampan. Lain halnya dengan Anantakusuma yang terlihat tidak semangat. Dia kecewa karena ternyata bukan gadis impiannya yang akan dinikahinya.Tibalah saat perjamuan. Anteh dan beberapa dayang istana lainnya masuk ke ruangan dengan membawa nampan-nampan berisi makanan."Silahkan mencicipi makanan istimewa istana ini," kata Anteh dengan hormat."Terima kasih Anteh, silahkan langsung dicicipi," kata Raja kepada para tamunya.Anantakusuma tertegun melihat gadis impiannya kini ada di hadapannya. Kerongkongannya terasa kering dan matanya tak mau lepas dari Nyai Anteh yang saat itu sibuk mengatur hidangan. Kejadian itu tidak luput dari perhatian putri Endahwarni. Pahamlah ia bahwa calon suaminya telah menaruh hati pada gasis lain, dan gadis itu adalah Anteh. Putri Endahwarni merasa cemburu, kecewa dan sakit hati. Timbul dendam di hatinya pada Anteh. Dia merasa Antehlah yang bersalah sehinggga Anantakusuma tidak mencintainya.Setelah perjamuan selesai dan putri kembali ke kamarnya, Anteh menemui sang putri."Bagaimana kak? Kakak senang kan sudah melihat calon suami kakak? Wah ternyata dia sangat tampan ya?" kata Anteh.Hati putri Endahwarni terasa terbakar mendengar kata-kata Anteh. Dia teringat kembali bagaimana Anantakusuma memandang Anteh dengan penuh cinta."Anteh, mulai saat ini kau tidak usah melayaniku. Aku juga tidak mau kau ada di dekatku. Aku tidak mau melihat wajahmu," kata putri Endahwarni."A..apa kesalahanku kak? Kenapa kakak tiba-tiba marah begitu?" tanya Anteh kaget."Pokoknya aku sebal melihat mukamu!" bentak putri. "Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku lagi...Tidak! Aku tidak mau kau ada di istana ini. Kau harus pergi dari sini hari ini juga!""Tapi kenapa kak? Setidaknya katakanlah apa kesalahanku?" tangis Anteh."Ah jangan banyak tanya. Kau sudah mengkianatiku. Karena kau Anantakusuma tidak mencintaiku. Dia mencintaimu. Aku tahu itu. Dan itu karena dia melihat kau yang lebih cantik dariku. Kau harus pergi dari sini Anteh, biar Anantakusuma bisa melupakanmu!" kata putri."Baiklah kak, aku akan pergi dari sini. Tapi kak, sungguh saya tidak pernah sedikitpun ingin mengkhianati kakak. Tolong sampaikan permohonan maaf dan terima kasih saya pada Gusti Raja dan Ratu."Anteh beranjak pergi dari kamar putri Endahwarni menuju kamarnya lalu mulai mengemasi barang-barangnya. Kepada dayang lainnya dia berpesan untuk menjaga putri Endahwarni dengan baik.Nyai Anteh berjalan keluar dari gerbang istana tanpa tahu apa yang harus dilakukannya di luar istana. Tapi dia memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ibunya. Anteh belum pernah pergi kesana, tapi waktu itu beberapa dayang senior pernah menceritakannya. Ketika hari sudah hampir malam, Anteh tiba di kampung tempat ibunya dilahirkan. Ketika dia sedang termenung memikirkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah berumur menegurnya."Maaf nak, apakah anak bukan orang sini?" tanyanya."Iya paman, saya baru datang!" kata Anteh ketakutan."Oh maaf bukan maksudku menakutimu, tapi wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Wajahmu mirip sekali dengan kakakku Dadap,""Dadap? Nama ibuku juga Dadap. Apakah kakak paman bekerja di istana sebagai dayang?" tanya Anteh."Ya....! Apakah....kau anaknya Dadap?" tanya paman itu."Betul paman!" jawab Anteh."Oh, kalau begitu kau adalah keponakanku. Aku adalah pamanmu Waru, adik ibumu," kata paman Waru dengan mata berkaca-kaca."Benarkah? Oh paman akhirnya aku menemukan keluarga ibuku!" kata Anteh dengan gembira."Sedang apakah kau disini? Bukankah kau juga seorang dayang?" tanya paman Waru."Ceritanya panjang paman. Tapi bolehkah saya minta ijin untuk tinggal di rumah paman. Saya tidak tahu harus kemana," pinta Anteh."Tentu saja nak, kau adalah anakku juga. Tentu kau boleh tinggal di rumahku. Ayo kita pergi!" kata paman Waru.Sejak saat itu Anteh tinggal di rumah pamannya di desa. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Mula-mula Anteh menjahitkan baju-baju tetangga, lama-lama karena jahitannya yang bagus, orang-orang dari desa yang jauh pun ikut menjahitkan baju mereka kepada Anteh. Sehingga ia dan keluarga pamannya bisa hidup cukup dari hasilnya menjahit.Bertahun-tahun telah berlalu. Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Suatu hari di depan rumahnya berhenti sebuah kereta kencana dan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik kereta kencana itu melongokkan kepalanya, Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Putri Endahwarni turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Anteh."Oh Anteh, sudah lama aku mecarimu! Kemana saja kau selama ni? Kenapa tidak sekalipun kau menghubungiku? Apakah aku benar-benar menyakiti hatimu? Maafkan aku Anteh. Waktu itu aku kalap, sehingga aku mengusirmu padahal kau tidak bersalah. Maafkan aku..." tangis putri."Gusti...jangan begitu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu gusar," kata Anteh."Tidak. Akulah yang bersalah. Untuk itu Anteh, kau harus ikut denganku kembali ke istana!" pinta putri."Tapi putri aku sekarang punya suami dan anak. Saya juga bekerja sebagai penjahit. Jika saya pergi, mereka akan kehilangan," jawab Anteh."Suami dan anak-anakmu tentu saja harus kau bawa juga ke istana," kata putri sambil tertawa. "Mengenai pekerjaanmu, kau akan kuangkat sebagai penjahit istana. Bagaimana? Kau tidak boleh menolak, ini perintah!"Akhirnya Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal. Namun Anteh selalu merasa tidak enak setiap bertemu dengan pangeran Anantakusuma, suami putri Endahwarni. Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Anteh telah membuat cintanya yang terkubur bangkit kembali. Mulanya pangeran Anantakusuma mencoba bertahan dengan tidak memperdulikan kehadiran Anteh. Namun semakin lama cintanya semakin menggelora.Hingga suatu malam pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, siapa tahu dia bisa bertemu dengan Anteh. Benar saja. Dilihatnya Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawat, kucing kesayangannya sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Meski kini sudah berumur, namun bagi pangeran Anantakusuma, Anteh masih secantik dulu saat pertama mereka bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Anteh."Anteh!" tegurnya.Anteh terkejut. Dilihatnya pangeran Antakusuma berdiri di hadapannya."Pa..pangeran? kenapa pangeran kemari? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?" tanya Anteh ketakutan."Aku tidak perduli. Yang penting aku bisa bersamamu. Anteh tahukah kau? Bahwa aku sangat mencintaimu. Sejak kita bertemu di taman hingga hari ini, aku tetap mencintaimu," kata pangeran."Pangeran, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau adalah suami putri Endahwarni. Dia adalah kakak yang sangat kucintai. Jika kau menyakitinya, itu sama saja kau menyakitiku," kata Anteh sambil memeluk Candramawat."Aku tidak bisa... Aku tidak bisa melupakanmu! Kau harus menjadi milikku Anteh! Kemarilah biarkan aku memelukmu!" kata pangeran sambil berusaha memegang tangan Anteh.Anteh mundur dengan ketakutan. "Sadarlah pangeran! Kau tidak boleh mengkhianati Gusti putri."Namun pangeran Ananta kusuma tetap mendekati Anteh.Anteh yang ketakutan berusaha melarikan diri. Namun pangeran Anantakusuma tetap mengejarnya."Oh Tuhan, tolonglah hambaMu ini!" doa Anteh, "Berilah hamba kekuatan untuk bisa lepas dari pangeran Anantakusuma. Hamba tahu dia sangat sakti. Karena itu tolonglah Hamba. Jangan biarkan dia menyakiti hamba dan kakak hamba!"Tiba-tiba Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia mendongak dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya. Pangeran Anantakusuma hanya bisa terpana menyaksikan kepergian Anteh yang semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan.Sejak saat itu Nyai Anteh tinggal di bulan, sendirian dan hanya ditemani kucing kesayangannya. Dia tidak bisa kembali ke bumi karena takut pangeran Anantakusuma akan mengejarnya. Jika rindunya pada keluarganya sudah tak dapat ditahan, dia akan menenun kain untuk dijadikan tangga. Tapi sayang tenunannya tidak pernah selesai karena si kucing selalu merusaknya. Kini jika bulan purnama kita bisa melihat bayangan Nyai Anteh duduk menenun ditemani Candramawat.

Asal Mula Cianjur
Folklore
18 Dec 2025

Asal Mula Cianjur

Akisah, dahulu kala di daerah Jawa Barat, hiduplah seorang lelaki kaya raya. Ia adalah pemilik seluruh sawah dan ladang di desanya. Seluruh penduduk desa hanya menjadi buruh tani penggarap sawah dan ladang si lelaki tuan tanah. Ia dikenal sebagai orang kikir. Penduduk desa memanggilnya dengan julukan Pak Kikir. Bahkan terhadap anak lelaki satu-satunya pun dia tetap bersikap pelit. Untunglah sifat kikirnya tidak menular pada anak lelakinya. Anak Pak Kikir memiliki watak baik hati. Sering dia membantu tetangganya yang kesusahan. Tentu saja tanpa sepengetahuan ayahnya.Konon, menurut anggapan dan kepercayaan masyarakat di desa, jika kita menginginkan hasil panen yang baik dan melimpah, maka kita harus mengadakan pesta syukuran. Karena merasa takut jika panen berikutnya gagal, maka Pak Kikir terpaksa mengadakan pesta syukuran. Semua warga desa diundang oleh Pak Kikir untuk menghadiri syukuran. Penduduk desa merasa gembira dengan undangan Pak Kikir. Mereka mengira akan mendapatkan makanan enak dalam acara selamatan itu. Ternyata perkiraan mereka meleset. Pak Kikir hanya menyediakan hidangan ala kadarnya, itupun tidak cukup untuk menjamu seluruh tamu undangan. Banyak diantara undangan yang tidak mendapat makanan. Mereka akhirnya hanya dapat mengelus dada atas sikap Pak Kikir."Memang keterlaluan Pak Kikir. Mengundang orang tapi menyediakan makanan tidak cukup dan tidak layak, sungguh keterlaluan, buat apa hartanya yang segudang itu?" kata seorang warga."Tuhan tidak akan memberikan berkah pada hartanya yang banyak itu." sambung warga lainnya.Demikianlah pergunjingan dari warga yang hadir pada acara selamatan yang diadakan Pak Kikir.Pada saat pesta selamatan sedang berlangsung, tiba-tiba datanglah seorang nenek tua renta meminta sedekah pada Pak Kikir."Tuan... berilah saya sedekah, walau hanya dengan sesuap nasi." seorang nenek tua mengiba."Apa sedekah? Enak sekali kamu tinggal minta sedekah. Untuk mengumpulkan semua hartaku, aku harus berkerja keras, kamu mengerti tidak?" bentak Pak Kikir."Berilah saya sedikit saja dari harta tuan. Harta milik tuan kan berlimpah ruah." kata si nenek tua."Enak saja. Tidak mau! Cepat pergi dari sini, kalau tidak aku akan suruh tukung pukul untuk meghajarmu!" kata Pak Kikir.Nenek itu pun menagis mengeluarkan air mata karena tidak mendapat sedekah tetapi malah diusir secara kasar oleh Pak Kikir. Dia segera meninggalkan rumah Pak Kikir. Melihat kejadian itu putera Pak Kikir merasa sedih. Diam-diam dia mengambil jatah makan siangnya sendiri, lalu dikejarnya nenek itu. Kemudian jatah makan siangnya ia berikan kepada si nenek miskin."Terima kasih nak, semoga hidupmu kelak akan menjadi mulia." kata si nenek tua.Kutukan Nenek TuaSetelah si anak muda itu pergi, si nenek melanjutkan perjalanannya. Sampailah dia di sebuah bukit dekat desa, dia berhenti sejenak. Dari atas bukit, dilihatnya rumah milik Pak Kikir ternyata yang paling besar dan megah di desa. Sementara rumah-rumah penduduk di sekelilingnya terlihat kumuh. Si nenek marah dan berkata, "Ingat-ingatlah Pak Kikir, keserakahan dan kekikiranmu akan menenggelamkan dirimu sendiri. Tuhan akan menimpakan hukuman kepadamu." Nenek tua lalu menancapkan tongkatnya di tanah, lalu dicabutnya lagi. Dari lubang tancapan tongkatnya memancar air sangat deras. Makin lama banjir air itu makin meluas hingga menuju desa.Banjir Besar"Banjir! Banjir!" teriak orang-orang di desa. Mereka panik melihat datangnya air banjir dari atas bukit. Anak Pak Kikir segera menganjurkan orang-orang agar segera meninggalkan desa dengan berlari ke atas bukit. "Cepatlah tinggalkan desa. Larilah ke atas bukit karena lebih aman.""Lalu bagaimana dengan sawah dan binatang ternak milik kita?" tanya seorang penduduk desa."Kalian pilih harta atau jiwa? Sudah tidak ada waktu untuk membawa harta lagi." kata putra Pak Kikir. Anak Pak Kikir yang bijak itu terus berteriak-teriak mengingatkan penduduk desa agar pergi ke atas bukit. Ia juga membujuk ayahnya agar segera keluar rumah."Ayah cepat tinggalkan rumah ini, kita harus segera keluar menyelamatkan diri." kata anak Pak Kikir."Apa? Lari begitu saja meninggalkan hartaku? Kamu dasar anak bodoh! Aku harus mengambil peti hartaku yang kusimpan di dalam tanah." kata Pak Kikir.Karena sudah tidak ada waktu lagi, anak Pak Kikir segera berlari menyelamatkan diri ke atas bukit. Sementara Pak Kikir masih sibuk mengumpulkan harta bendanya. Akhirnya Pak Kikir tenggelam oleh air banjir karena terlambat menyelamatkan diri.Sebagian besar penduduk desa termasuk putera Pak Kikir selamat. Mereka sedih melihat desanya tenggelam. Kemudian mereka memutuskan untuk mencari daerah baru. Mereka mengangkat anak Pak Kikir sebagai pemimpin desa mereka yang baru.Asal Mula CianjurPutera Pak Kikir lalu membagi tanah di desa baru kepada para penduduk secara adil. Ia juga menganjurkan warganya untuk mengolah tanah dengan baik. Pimpinan desa baru itu mengajari penduduk menanam padi dan bagaimana mengairi sawah secara baik. Desa itu kemudian disebut desa Anjuran, karena penduduk desa selalu mematuhi anjuran pemimpinnya. Lama kelamaan desa itu berkembang menjadi kota kecil bernama Cianjur. Ci berarti air. Cianjur berarti daerah yang cukup mengandung air. Anjuran pemimpin desa dijadikan pedoman para petani dalam mengolah sawah. Itulah sebabnya mengapa hingga kini beras Cianjur dikenal sangat enak dan gurih.

Burung dalam Sangkar
Fantasy
18 Dec 2025

Burung dalam Sangkar

Dengan gagah ia bentangkan sayap, membelah langit dengan bangga, selagi menatap ke bawah binatang tak bersayap yang menatapnya kagum. Dengan bulu cokelat yang bersih menghias badannya, membuat ia semakin dikagumi bagi siapa saja yang melihatnya terbang.“Lihatlah dia, terbang bebas di angkasa!”Begitulah pujian yang kerap ia dengar, yang mana membuatnya kian melambung. Semakin tinggi terbangnya, semakin ia merasa bangga. Kadang ia merasa telah menjumpai awan dan menyentuh mentari. Belum lagi ia telah berencana akan mengelilingi dunia dengan sepasang sayap kecilnya yang kokoh. Maka, ia terbang. Semakin tinggi hingga merasa telah melampaui awan dan badai.Itu beberapa tahun silam selama ia berbangga diri melintasi awan dan badai. Hingga pada suatu siang yang terik, tubuhnya terasa letih dan rapuh.Burung yang berbangga akan kekuatannya kini mulai goyah, angin yang biasa menerpanya terasa menyiksa, ditambah napasnya terasa berat kian detik ia hirup.Semua telah berubah, tidak seperti sedia kala. Terbang bebas di langit, hanya itu yang didambakan. Tapi, takdir berkehendak lain ketika sayapnya tidak mampu menopang badannya lagi.Hari ini, dia mulai letih. Di usianya yang entah sudah berapa musim ini, mulai melemah. Bulu yang menghias badannya dengan indah mulai mengikis, sayap yang kokoh mulai rapuh, dan kini ia tidak lain hanya seekor burung yang tidak bisa terbang kembali, seperti hari di mana ia menetas.Ia terjatuh ke tanah, tak berdaya. Begitu membalikkan badan, pemandangan langit biru menyambut seolah merindukan kehadirannya. Di tengah menyapa awan-awan, matanya terasa berat begitu juga napasnya.Hingga tubuhnya menyerah.Badannya terasa dielus angin sementara tanah tampak semakin mendekat ke wajahnya. Ia tidak mampu mengepakkan sayap lagi, dia sudah cukup letih terbang selama beberapa musim yang dilalui. Ketika badannya terasa ringan dan semakin dekat ke tanah, ia hanya bisa membayangkan rasanya tidur setelah sekian lama menjelajahi langit.Ketika raga bertemu tanah, burung kecil itu tidak tahu ke mana ia mendarat, hanya bisa merasakan dari tubuhnya di mana ia berada. Yang diingat hanya tanah hijau yang perlahan berganti warna. Tanah ini terasa aneh. Tidak biasa dia mendarat apalagi jatuh ke tanah yang terasa keras lagi dingin ini.Bukan, ini bukan tanah, melainkan seperti batu. Tapi, ia tidak tahu apa batu bisa semulus ini teksturnya apalagi dengan bentuknya yang rata.Begitu kakinya berhasil menopang badan, ia berdiri dan mengamati sekitar. Sambil membersihkan bulu cokelatnya yang mulai memudar dan kotor, diselidikinya tempat baru ini. Belum pernah ia melihat bentuk taman seaneh ini.Di depan matanya, ternyata ada garis-garis putih yang membatas antara dia dan taman luar sana. Tapi, taman itu terlihat aneh di matanya, seperti ada sesuatu yang menghalangi pula, tapi tidak jelas bentuknya. Ia tatap lagi sekeliling untuk memastikan, barulah dia sadar kalau dirinya berada di tempat yang jauh berbeda.Ia dikelilingi garis pembatas putih laksana disegel. Ketika ia mencoba keluar, hanya sayap dan kaki saja yang bisa menyentuh area luar.Sering kali ia mendengar kabar dari kawanannya tentang makhluk besar yang senang menangkap burung sejenisnya lalu mengurung di tempat ini. Mereka menyebut benda itu sebagai “sangkar.”Burung yang telah berusia beberapa musim ini mulai mengamati sekitar. Hanya ada dirinya, sangkar ini, dan sebuah tempat berisikan benda-benda asing. Tapi, ia tahu betul ini sarang makhluk besar yang kerap menangkap sejenisnya.Menjerit pun percuma, karena yang ada hanya makhluk raksasa itu akan datang dan justru menikmati jeritan penderitaan mereka. Ia hanya burung yang sudah letih, kini telah dipaksa tinggal bersama makhluk yang tidak sudi ia tatap.Ia bukan lagi burung yang bebas terbang di angkasa. Ia bukan lagi burung muda yang bertekad menjelajahi dunia.Ia kini hanya seekor burung tua yang terperangkap. Tanpa teman maupun siapa saja yang menemani seperti sedia kala. Tidak ada lagi awan maupun angin yang senantiasa menyapa. Tiada yang bisa ia lakukan selain merenung, menunggu ajal menjemput.Tamat

Lonte Bulan
Fantasy
18 Dec 2025

Lonte Bulan

Malam terang menemani kesunyianku. Ini sangat syahdu. Aku tengah berbaring dengan cantik di kasur dengan permadani beledu marun dilengkapi dengan parfum khas Kerajaan Sentosa.Aku memalingkan tubuh indahku menghadap jendela yang terbuka lebar agar semua makhluk di semesta bisa menyaksikan keindahanku.Huhuhu ...Huhuhu ...Aku terbangun karena mendengar suara merdu dari balik jendela.Aku kira, itu pertanda musim kawin. Ternyata, itu suara panggilan turun menurun yang terus didoktrin kepada anak-anak.Ibuku pernah bercerita tentang legenda, tapi aku abaikan karena aku spesial.Namaku Astra, tapi aku bukan makhluk astral. Bukan pula anak pajangan yang tinggal di rumah manusia seperti anak-anak lain.Seperti makhluk lain–agak kontradiktif memang–diriku ini menjalani hidup dengan biasa saja. Tidak dibenci, tidak pula disayang. Makan, tidur, ke luar rumah untuk ngelon–berjalan-jalan, sampai akhirnya kembali tidur baru kemudian bangun dan makan lagi.Huhuhu ...Suara itu kembali terdengar. Begitu lembut layaknya rocker . Aku yang penasaran pun lantas menengok ke luar jendela. Maunya sih, menebas tengkuknya pakai sendal sultan impor langsung dari Saturnus. Tapi, lagi-lagi, mana ada orang gila bernyanyi di tengah malam begini.Kukira, itu perbuatan salah satu musangku, tetapi semua peliharaanku berjenis kelamin lelaki dan tidak satu pun bersuara di saat santuy begini.Huhuhu–Suara itu berhenti tepat ketika aku menengok. Begitu menunduk, oh sunguh mengejutkan!Tanah istana kini dipenuhi kopi gemoi!Aku lantas berlari memanggil dayang-dayangku. Mereka biasanya menghibah dari pagi hingga jam penyihir alias jam tiga dini. Dari merekalah aku tahu ternyata aku bukan anak haram tukang sayur seperti yang selir katakan."Oh, dayang-dayangku, kemarilah?" seruku dengan tanda tanya. "Majikanmu membutuhkanmu."Kulihat dayang-dayangku masih bersenda gemoi di harem. Meski tempat itu diperuntukan bagiku dan kedua ayahku. Karena ibuku tidak mungkin bersantai di harem."Wahai, dayang-dayang! Mari bersiap!" seruku lagi. Tapi, tidak digubris.Ternyata, mereka tidak takut akan terjadinya banjir. Karena mereka jelmaan ikan mujair.Sebelum menjelma jadi ikan salmon, aku biasanya memberi mereka makanan. Namun, kali ini tidak ada persiapan sehingga dayang-dayangku pun pergi tanpa makan dan berenang dengan syahdu.Ya, sudahlah, setidaknya mereka bisa cari sendiri dengan melont–meminta dengan kerajaan sebelah.Huft , menyebalkan!Karena istana sudah sepi dan para pengawal pada main kartu Remi di kerajaan sebelah, aku mau tidak mau mencari tahu sendiri penyebabnya.Ternyata, oh, ternyata.Rahasia itu! Doktrin keluarga yang aku abaikan selama seribu purnama!Aku bergegas ke perpustakaan istana sebelum digenangi banjir. Di antara tumpukan buku yang sudah basi, aku berhasil menemukan buku yang dimaksud. Tidak hanya dengan mengetahui umurnya yang tua, aku juga harus mencemoi-cemoi badannya untuk memastikan tekstur yang benar.Unch , lembut!Ternyata, penyebab kopi menggenang di istanaku rupanya air dari bulan. Satu-satunya yang bisa mengendalikan bulan tidak lain adalah si Lonte Bulan.Lonte diambil dari nama serangga Kuwawung atau Lonthe. Serangga gemoi ini memiliki warna cokelat manis, biasa keluar saat senja, memiliki bau harum polos, dan suka gemerlapnya dunia malam.Si Lonte Bulan yang dimaksud bukanlah sosok kumbang atau pria malam. Melainkan ...Huhuhu ...Seorang biduan liar.Aku tidak yakin makhluk macam apa yang berani dengan sosok gemoi seperti aku. Tega benar mereka menganggu tidur manisku.Aku pun mencari barang-barang yang ada. Tapi, pertama-tama, aku harus meraup harta orangtuaku. Tidak jadi karena hanya berupa batu mulia. Di kerajaan ini, hanya aku yang paling missqueen .Sudahlah, kalau memang Lonte ini sedang memikatku, akan kujawab panggilannya.Perjalanan menuju Lonte ini tidaklah sulit. Aku cukup berjalan kaki menuju bulan dengan kekuatan mistisku.Tapi ...Tapi, perjalananku nyaris terhalang akibat para permaisuri ganas yang sedang mencoba memikat Kaisar Rembulan.Huhuhu ...Kaisar Rembulan yang tengah duduk di singgasananya, sedang rock 'n roll selagi para permaisuri ganas itu memainkan kecapi.Kaisar Rembulan tidak ada hubungannya dengan Lonte Bulan karena ia tidak tertarik pada biduan. Untungnya, para permaisuri ganas ini tahu betul selera suami mereka.Aku berhasil menyelipkan tubuh indahku di antara mereka dan berhasil melampaui sang Kaisar menuju bulan. Ah, betapa lelahnya!Tibalah aku di sebuah istana di atas awan lalu menyapa seorang bidadari yang sedang rebahan. Aku kira, dia sedang ngopi, tapi ternyata terkena efek sihir Lonte Bulan tadi.Beberapa langkah aku lalui dengan syahdu, akhirnya tiba di bulan tepat waktu.Kulihat seorang wanita berambut ungu kotor yang duduk tak beradab di singgasana berupa kardus. Dia memiliki kulit putih bagai kapur barus dan suara merdu seperti bidadari kejepit."Mau apa kau ke sini?" tanya biang kerok ini.Duhai, dia benar-benar cantik sampai aku mual.Penampilannya begitu nge-JRENG hingga aku keselek seketika. Kekuatannya jauh melampaui Kaisar Rembulan yang bahkan masih asyik menari bersama para permasuri ganasnya.Lihatlah matanya yang ikemen ini![masukin foto mata Gojo]"Kecantikan tak terbatas!"Dengan sekali jentikan, awan yang kupijak berubah jadi rangkaian bintang. Kini kami berdiri di tengah bulan, agak jauh sedikit dari Kerajaan Sentosa."Hai, Lonte Bulan, jangan banjiri rumahku!" pintaku dengan tulus.Alasan dia disebut demikian mungkin merujuk pada serangga-serangga peliharaannya yang disebut lonthe tadi.Ada yang bilang, makhluk berambut ungu-apalah-itu berasal dari negeri antah berantah dan diciptakan untuk memuaskan nafsu penciptanya yang dikabarkan sebagai anak nolep.Nama Lonte Bulan ini adalah ..."Aku Astra Maraelsa Miz Coraline Keira Rapunzel Star Sirena d'Gemoi!" Dia menjawab tanpa ditanya. "Mau apa kamu ke sini tadi, kamu kenapa copy namaku?"Dia memang cebol, sekitar 120 sentimeter dengan tubuh ramping bagai lidi. Rambutnya dari tadi ungu kotor tapi kemudian dicat putih biar mirip bule. Netra merah muda dengan tatapan penuh keganasan ala anak dakjal.Belum sempat aku menjelaskan, dia langsung menceritakan masa lalunya yang unik itu."Aku dilahirkan dari rahim seorang iblis yandere tapi kemudian keluar dari perut ibuku yang seorang ratu siren di Kerajaan Laut Tsunamiwave." Dia jeda untuk memamerkan belahannya yang terbuat dari pensil Ibisp4in."Tidak ada yang menyayangiku sejak kecil kecuali ibu tiriku, di sekolah aku disayangi semua orang termasuk dua budak kekasihku." Astra meneteskan air mata entah kenapa. "Suatu ketika, aku bingung harus menikahi siapa antara dua budak nafsuku.""Ya, pilih salah satu," sahutku. "Mana ada pasangan bertiga?"Dia mengabaikan pertanyaan itu. "Aku jadi prestasi hingga kampung halamanku, Kerajaan Tsunamiwave, hancur karena Kristal Kehidupan kesenggol adik pajangan kekasihku hingga kerajaan itu runtuh seketika."Astra roboh ke lantai dan menangis sambil mengusap mata dengan permadani."Hidupku benar-benar berat, aku mati bersama salah satu kekasihku yang lututnya tertusuk tusuk gigi hingga jantungnya resign . Anak pajangan kami pun jadi yatim piatu, dia kini hanya mau menggenakan pakaian berwarna hitam menyimbolkan hatinya yang gelap seperti dakinya.""Dengar, aku hanya ingin banjir itu pergi dari rumahku–""Kamu tidak tahu rasanya tidak pernah keluar kamar tapi dikeroyok masyarakat!" bentak Astra. "Satu anak pajanganku kini memakai gelang guci merah dan mondar-mandir mencari laki sebagai pelampiasan!""Kalau kamu tahu, kenapa tidak bimbing anakmu?" sahutku."Aku 'kan mayat!" sahut Astra. "Sekarang, anak pajanganku tinggal bersama suamiku dan adiknya yang juga anak dari suamiku.""Punya berapa suami kamu?" tanyaku."Cuma dua ... Um , satu pacar dan ... Tiga belas?" Dia menghitung-hitung.Tidak habis pikir. "Siapa?""Akan kuceritakan kisah cinta kami yang epik dan bikin kamu ketagihan langsung!" Astra lalu berdiri memamerkan gaunnya yang gemerlap.Kisahnya pun dimulai.Astra memiliki suami dari Kerajaan Waffle karena perutnya yang waffle hingga mengundang syahwat. Selain itu, ia secangkir werewolf yang edgy . Namanya Kazutae Hosee Le Jun-Seo Marcopollo Xalamender.Kazutae ternyata yang membunuh ibu Astra karena sedang badmood dan dia diutus ayah kandungnya untuk membunuh Astra. Namun, kebodohan membuat mereka bersatu dan sekarang jadi pasangan. Tidak ada yang bisa hentikan keduanya, sekarang.Astra dan Kazutae kini mempunyai anak bernama Mikasa Le Jun-Seo Miz Coraline Sirena d'Gemoi. Dia memang rada edgy dan berpotensi menggoyangkan dunia karena seseorang merebut susunya saat masih bayi.Nah, Mikasa yang mengurus anak dari Astra. Anak itu hasil hubungan gelapnya dengan seekor iblis bernama Pedotom Kasuari Edgee Lucidor.Pedotom ini yang mati bersama Astra karena ia hanya kuat saat di ranjang saja. Mereka menghasilkan anak, diberi nama Lusiyana Edgee Lucidor Sirena d'Gemoi. Dialah anak yang selalu memakai pakaian hitam setelah ditelantarkan orangtua.Kedua anak itu memang tidak berguna bagi alur ceritanya, tapi ditambahkan saja biar pembaca peduli."Sekarang, kamu tahu deritaku," ucap Astra lirih."Kamu tetap mengotori rumahku, dasar Mary Sue!" Aku mengumpat sambil melempar sendal mahalku yang diimpor dari Saturnus.CROT!Aku ditembak dengan kekuatan es berair dari Astra hingga terpental dua kilometer. Menghantam dinding lalu terguling."Tidak ada yang menderita di dunia ini selain aku!" seru Astra. "Terima ini, Playing-Victim Blass!"Hisrot!Aku terkurung dalam gelembung gelap dipenuhi foto penuh kesedihan edgy dari keluarga vertebrata ini."Rasakan amukan edgy -ku! Hiyaaat!"Seruan Astra disertai dengan amarah dan lonthe-lonthe yang beterbangan. Hm, wangi.Untungnya, aku tidak terluka akibat gelembung Playing-Victim ini, sehingga kecantikanku masih terawat.Tidak disangka, aku menemukan sebuah kristal yang kuduga sebagai Kristal Kehidupan tadi. Bentuknya memang seperti batang, tapi ujungnya agak bengkok.Saat itulah, jeritan syahdu Astra menganggu kuping. Aku menutup telinga dan berjuang meraih kristal yang bentuknya seperti ... Seperti pedang."Jangan serang Ibu!"Siapa itu? Lusiyana?!Wujudnya memang seperti anak edgy . Serba hitam dilengkapi dengan eyeliners tebal. Muncul petir dan halilintar dari tangannya.Crot! Aku terlempar lagi.Krak! Tidak sengaja, menyebabkan Kristal Kehidupan patah batangnya.Astra terkesiap. "Tidaaak ...!"Dia meninggal."Oh, tidak." Lusiyana berlari ke arah ibunya. Namun, terhalang oleh Mikasa."Ibu kita terbebas sekarang," ujar Mikasa, terkesan bijak. "Ikhlaskan saja.""Argh!" Lusiyana mengeluarkan petir dari segala penjuru badannya. "Aku kecewa!""Auuu ...!"Lolongan serigala menginterupsi drama keluarga ini. Muncul sosok kekar dengan penutup mata layaknya seorang Chūnibyō. Rambutnya berbeda dari punya Mikasa, ia turquoise sementara Mikasa berambut ungu pucat dengan hijau daun. Jangan-jangan ..."Ayah!" panggil Mikasa."Siapa yang membunuh rembulanku?!" bentak pria yang kuduga sebagai Kazutae. Netra kelabunya menatapku tajam.Aku serta merta menjawab, "Kaisar Rembulan!"Kazutae melolong liar. Ia melepas baju dan menampilkan waffle di perutnya. Lantas menjelma jadi anjing puddle dan menyerang ke arah antara awan dan bulan, menuju Kaisar Rembulan.Sebenarnya, Kaisar Rembulan secara de facto yang menguasai bulan. Tapi kekuatan lon–cinta Astra berhasil mengusirnya. Meski Kaisar Rembulan-lah yang duluan mengalah karena ia lebih waras.Aku dan dua anak pajangan Astra berlari menyusul Kazutae yang bahkan tidak berpikir panjang untuk menghabisi sosok penguasa bulan sesungguhnya.Aku dan Mikasa berhasil masuk duluan ke Kekasairan Rembulan, mendahului Lusiyana yang tiba-tiba berhenti untuk menangis karena serangan masa edgy -nya."Kaisar Rembulan!" seruku.Kulihat Kaisar Rembulan sedang breakdance di hadapan para permaisurinya. Ia disoraki lalu kembali menggoyangkan tubuh indahnya depan para wanita itu."Kaisar Rembulan!"Seruanku lantas menghentikan acara seketika.Berbeda dengan Astra yang mengaku-ngaku sebagai penguasa bulan, ia mendekat dengan tatapan seakan aku tidak diundang ke acara ini. "Ya?"Mikasa menyenggolku. "Ratu Rembulan Astra meninggal!"Kaisar Rembulan kembali memakai kacamata lopenya yang merah muda. "Lanjot!"Ia kembali breakdance bersama para permaisurinya."Auuu ...!"Kazutae masuk dari jendela dan menendang salah satu permaisuri ganas Kaisar Rembulan."Kamu membunuh biniku!" Kazutae menarik kerah baju kekaisaran sang Kaisar. Menatapnya tajam."Eh?" Hanya itu balasan sang Kaisar. "Kau punya bini?""Dia sosok terindah yang pernah kutemukan!" Kazutae membentak sang Kaisar.Sang Kaisar berhasil meloloskan diri. " Ew, ih! Dasar mesum!"Tindakan Kazutae ini mengundang amarah dari Kaisar Rembulan.Seketika terjadi guncangan di bulan dan muncul petir entah dari mana.Ternyata, Lusiyana mencoba membunuh Kaisar Rembulan karena dia edgy dan badmoo d , tapi tidak disangka sosok yang diburu masih berdiri dengan tatapan kesal tertuju pada Kazutae.Kaisar Rembulan melepas kacamata lopenya. "Cukup! Kalian merusak suasana!"DUAR!Kaisar Rembulan menggerahkan tenaganya menyerang Kazutae. Semburat cahaya putih yang berhasil memukul mundur anjing jadi-jadian itu."Uhuk!" Kazutae memuntahkan kecap merah."Ayaaah!" seru Lusiyana dan Mikasa, menghampiri gary stu itu.Wujud Kaisar Rembulan kini menjelma jadi sosok kesatria berzirah putih sekarang. Ia menghantamkan palunya ke arah Kazutae."Jangan sakiti Ayah!" seru Mikasa frustrasi. "Ia memiliki masa lalu yang kelam dan sedih, belum lagi sekarang dia memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan!"Mikasa pun menangis selagi mendekap ayahnya yang terbatuk-batuk manja."Bacot!" Kaisar Rembulan menghantam mereka bertiga dengan palunya dan ...BUUUM!Kami semua terlempar.Para tokoh pemuas nafsu itu telah mati gepeng di tangan Kaisar Rembulan.Sementara aku tercebur di kopi gemoi yang pelahan menjelma jadi kasur.Akhirnya aku jadi penguasa bulan setelah Kaisar Rembulan karena itu yang diinginkan author .TAMAT

A bird in the hand
Teen
18 Dec 2025

A bird in the hand

Gimana nggak dag dig dug duar cobak, kalo lu aja sering muncul tiba-tiba kek setan.AzlaPernah nggak sih lo duduk di parkiran sekolah anteng bet, padahal suasana di sekolah masih sepi. Ya pasti nggak pernah lah, kalo nggak ada keperluan-yang mendesak.Nah, sekarang bayangin kalo ada cewek yang berangkatnya subuh selama kurang lebih tiga bulan terakhir dan itu keperluannya, ya, nggak penting penting banget.Hayo tebak lagi ngapain?Lagi pdkt sama satpam sekolah mungkin . No way.Lagi mau jadi duta parkir biar dapet penghargaan murid terdisiplin . No way.Terakhir nih, pasti lagi nunguin kuntilanak lahiran di bawah pohon beringin deket parkiran, kan. Tetapi total salah hayuk rebah lagi...Okee gua kasih tau ya, cewek itu lagi nungguin someone. Dan lu tau cewek yang kalian lagi bayangin itu siapa? Itu gua nying:vGua rela bangun pagi pagi, naek Vespa tanpa helm-salah sendiri ye kan kagak make helm:v cuman buat nungguin someone kalo mau di bilang gebetan ya bukan, mau di bilang pacar apalagi. Jadi, dia itu semacam penyemangat pagi gitu, penyemangat kesayangan ngehhehehe.Someone itu namanya Fadlan. Anak IPA 1 boncengannya temen segeng gua. Pertama liat dia sih B aja, Dua kali liat lumayanlah, Er- kira-kira B+ nilainya, ketiganya nih baru A+ yeahahaha.Nggak tauk kenapa, gua suka aja ngeliat dia turun dari motor KLX nya. Sayang sekali bukan gua yang ada di jok belakangnya, heheu sad.Kenalin ges, gua Azla baru esma kelas 11, Pribadi gua sih normal normal aja, muka? Sans muka gua normal kok contohnya kaya si Lisa black pink ituh.Gua paling pengalah sama yang namanya temen. Gua bakal ngelakuin apapun supaya tali persahabatan gua sama temen-temen gua kagak putus.Paling nggak bisa mendem gemes-mendem tresno juga sih ngehehehe. Dalam artian disini gua gampang over kalo ngeliat cogan yang gua taksir contohnya ya Fadlan. pen ketawa tapi ini kisah sendiri. Paling receh dari kelima temen gua.Gua kenal fadlan dari temen sekelasku yang boncengan sama dia. Anaknya murah senyum, cool gitu tauk-dikit lagi beku. Itu dulu waktu aku belum kenal deket sama dia sekarang mah beuh mit amit hehe. Aku sering nungguin dia dateng ke sekolah modusnya nungguin temen sekelasku itu tapi ternyata ada tai di balik rempelo, oke salah maksudnya ada udang di balik tambak. Duh, apaan sih. Intinya ada anu anu dibalik anu. Sampek sini paham?Singkat cerita, waktu itu hari Jumat ada apel pagi terus gua ngeliat si Fadlan, sumpah ganteng bet, ya otomatis gua jingkrak jingkrak dong gemes sendiri. Temen' gua tuh pada kepo, ya gua sih nggak ada niatan buat ngasih tauk mereka alasannya karena mulut mereka itu super duper comel. Bisa bisa cinta dalam diam gua gagal total.Setiap hari gua nungguin dia lewat depan kelas, yang perlu lu tahu gua paling nggak bisa ngeliat dia terus diem aja. Efek yang ditimbulkan pas ngeliat serpihan surga sih macem-macem kadang gregetan, senyum-senyum sendiri, sampek mukul temenku. Karena itulah mereka akhirnya tau kalo gua suka sama Fadlan. Waktu itu gua panik bet sampek mohon mohon sama dia buat jaga rahasia, dia sih bilang ia ia aja, eh pas besoknya si Fadlan malah berangkat duluan daripada gua. Yang buat gua kaget dia itu tetep stand di parkiran. Gua kira ngapain beh ternyata dia nungguin gua. OMG banyangin lu jadi gua!! Btw kok gua jadi GR ye.Karena jantung udah kagak bisa di ajak kompromi akhirnya gua milih markir motor agak jauhan dari dia, terus pura pura nggak liat karena yang gua tau dia lagi ngeliatin gua! Yaudahlah karena yang biasanya ditunggu dateng duluan, mau nggak mau gau langsung jalan aja ke kelas. Eh enggak taunya dia ngikutin gua dibelakang ialah dibelakang, kalo di depan itu namanya gua yang ngikutin dia. Sumpah rasanya tuh susah bet mau nafas astaga!.Gua yang tadinya jalan ngadep depan sekarang jadi nunduk nahan bibir supaya nggak kelebaran kalo senyum- nanti jadi jenglot kan ngeri. Singkat cerita nih besoknya gua berangkat kayak biasa dan ternyata dia udah berangkat lagi ngeduluin gua sebel sih. Tapi bedanya kali ini dia nggak stand diatas motornya, karena badmood nggak liat dia pagi-pagi gua jadi sensi gitu. Di panggil aja sampek nggak nyaut, pas istirahat temen'ku pada keluar semua dan cuma gua yang di kelas sama didik (temen sekelas yang mirip orang bisu/pendiem) jadi berdua doang. Gua sih fine-fine aja, saking badmoodnya gua milih tiduran di depan kipas pokoknya tingkahku masyallah bet udah lepas jilbab rebahan di lantai pula.Sambil rebahan gua dengerin Dj pong pong unity dari ponsel, tiba-tiba suara Fadlan ngalun gitu di telinga gua pikir gua lagi ngehalu . Tapi ternyata enggak! Itu beneran dia. Karena kaget gua sampe jingkat mana jilbab nggak kepasang di kepala, rambut awut awutan lagi. Sumpah itu perasaan malu pertama kali waktu gua jadi manusia dan rasa malu yang kedua itu pas gua terpaksa nyeritain sepenggal kisah cinta gua ke elo.Otak gua bener bener langsung gesrek. Gua cuma ngeliatin dia doang kaya orang bego. Bukan sulap bukan sihir dia tiba-tiba ngomong di depan gua."Lo Azla kan ya? Bisa ikut gue sebentar nggak?"Mata gua refleks ngeliat Didik yang duduk di kursi diem bae bak patung pancoran dan dia sama sekali nggak tertarik buat nguping pembicaraan gua. Setelah yakin dia nggak bakalan nguping gua langsung iyain aja ye kan mayan rezeki nomplok, padahal ini jantung udah nggak bisa di kontrol lagi detakannya!Dia sabar bet nungguin gua pakek jilbab, pas udah selesai gua dibawa ke kantin malah. Jujur rasanya kaya gimana gitu jalan sama dia soalnya baru pertama kali gua deket sama cowok yang nggak sekelas, kalo sekelas sih alah udah biasa lagian dari seluruh penghuni kelas gua yang cowok pada burik semua. Kalo yang ini war biazah wakakakakak. Oke lanjut.Tepat di pintu masuk kantin gua papasan sama temen-temen segeng gua yang salah satunya jadi boncengannya Fadlan. Semuanya sih pada senyum senyum nggak jelas gitu karena kebiasaan PD ya gua bales senyum kan ya:).Lumayan lama setelah kita mempertemukan bokong pada kursi panjang khas kantin sekolah gua, dia sama sekali nggak berniat buat ngomong apa apa. Selain ngeliatin gua, anying gua yang diliatin rasanya pen tenggelam ke samudra Pasifik rasanya kayak lagi nyalon presiden.Nggak lama baru dia basa basi gitu, cerita cerita soal enak apa enggak jadi anak IPS beuh gua ya langsung nyerocos nanggepin, nggak peduli kalo suara gua ternyata paling kenceng dari seluruh penghuni kantin. Pas udah selesai makan dia ngomong lagi."Lo anaknya seru, gimana kalo kita temenan?"Dalam hati gua udah jingkrak jingkrak gajelass. Eh, tiba-tiba dia nambahin."Temen tapi jadian, gimana?" Bayangin readers bayangin lu digituin sama cowok yang kalen taksir!.Lagi lagi rasanya susah mau napas, tubuh melayang layang ke mars!! Hahaha lebai, itu namanya apa yak? lupa gua.Gua nggak jawab karena masih bingung mau jawab apa, lagian dia itu baru kenal sama gua maksudnya gua baru kenal dia. Eh sama aja yak:vArgh! Efek jatuh ke comberan eit kok comberan seh. Maksudnya tu jatuh cintaaaah.Udah seminggu dia berangkatnya pagi mulu jadi gua radak kecewa gitu. Gua bilang kan sama temenku yang boncengan sama dia panggil aja Titik, kenapa berangkatnya pagi bet. Dia malah ngejekin."biar lo nggak nungguin Fadlan mulu karena menunggu itu membosankan." Ye sok banget kan.Semenjak semingu itu fadlan sering bet nongol ke kelas gua kadang cuma lewat, kadang ikut nimbrung geng gua intinya begitu lah. Sampek besok besoknya gua sengaja berangkat pagi buat nungguin dia eh pas dia udah berangkat, si Titik-boncengannya Fadlan malah kaya orang ngambek gitu terus aku ditinggalin deh. Si Fadlan nyamperin aku cuma minta jawaban dari seminggu yang lalu, biar cepet aku iyain deh hehe 😁 soalnya dia itu spesies berbahaya bagi jantung gua wakakakakak.Lama kelamaan gua sama dia deket gitulah, semuanya udah pada tau kalo gua deket sama dia. Yang buat ganjil temenku yang boncengan sama dia itu kaya menjauh gitu dari gua. Karena bingung gua tanyain kan, eh dia malah bilang.*Ngapain nanya nanya, kalopun lo tau lo nggak bakalan nurutin kemauan gue!" ye ngegad kan yak, jujur sakit hati gua di bentak begjtu:(yaudahlah gua mikir mungkin dia lagi Pms atau lagi ada problem keluarga, sampek gua nggak sengaja liat dia sama Fadlan lagi ngomong berdua.waktu itu gua berangkat ke sekolah buat lompat jauh Intinya gua tau kalo ternyata Titik suka fadlan, dia marah' sama Fadlan bilang kalo dia nggak mau boncengan lagi sama Fadlan pokoknya bla bla bla yang bikin nyesek dia ngomong gini."Lo suka sama Azla karena dia lucu? Nyenengin? Nggak gampang ngambek kaya gue? Oke nggak masalah, mulai sekarang gue sama Azla nggak akan temenan lagi.""Asal lo tau ya Lan, Azla itu nggak ada apa apanya dibandingin gue. Dia terlalu natural, sekali aja liat gue Lan."bla bla bla gua udah males dengerin lagi karena Fadlan sama sekali nggak ngebelain aku, dia diem aja pas temen gua njelek njelekin gua ah bodo amat! Intinya begitulah.Kalo dibandingin gua sama Titik sih jauh bet perbedaannya, dia cantik aku jelek semua yang diomongin sama Titik tentang gua itu bener adanya. Dia stylish sedangkan gua nggak mudeng sama sekali kaya begituan. Pokoknya gua tuh bukan kaya cewek. Ntar gua kasih tau fotonya.Sampek detik ini temen gua masih marah:(Sebulan lebih gua sama Fadlan jadi temen tapi jadian. Udah sebulan pula Titik ngambek sama gua. Padahal gua udah coba bilang kalo gua bakal ngejauhin Fadlan tapi tetep ae dia kagak mau maafin gua, ya sorry sorry aja kalo gua nggak jadi ngejauhin Fadlan soalnya dia sering muncul baik di mimpi gua maupun di dunia nyata, ya mon maap dia ganteng sih.End

Do important is good
Teen
18 Dec 2025

Do important is good

Udara panas di dalam angkot tidak menyurutkan semangat 45 seorang siswi SMA yang baru saja mendapat uang bulanan dari Abang kesayangannya.Di dalam sebuah angkot, gadis berambut cokelat kekuningan itu terus menyunggingkan senyum terbaiknya, meski penumpang di sampingnya adalah seorang pria botak dengan keranjang ayam di pangkuannya yang teramat sangat menyebalkan.Sedangkan di depannya terdapat dua orang ibu-ibu bertubuh gempal yang tengah asyik bercokol satu sama lain, terlihat jelas ibu-ibu itu akan pergi ke sebuah acara karena barang bawaannya yang menyerupai barang belanjaan bulanan emak emak.Gadis itu tidak merasakan sesak ataupun gerah berada di dalam angkot biru itu, dia bahkan terkekeh geli ketika menyadari hanya ialah satu satunya pelajar yang menaiki angkot butut seperti ini."Dek, memang enggak telat sampai di sekolahan?" Tanya seorang ibu di depannya. Ila menggeleng cepat tanpa menyurutkan senyum di bibirnya."Kalau telat memang sudah biasa, Bu. Lagian nih ya kalaupun saya telat, itu enggak masalah yang penting jangan telat bayar SPP." Jawabannya santai.Ibu itu hanya menggeleng pelan tanpa repot menanyainya lagi. Merasa di perhatikan Ila menoleh ke samping kirinya ke tempat pria botak yang memang sedang memperhatikannya."Ada apa, Om?" Tanyanya langsung.Pria botak itu hanya mengernyit heran melihat penampilan gadis di sampingnya itu. "Kamu Siswi SMA kan? Bukan apa apa tapi penampilan kamu enggak lebih dari seorang pemulung di jalan jalan."Ila tetap tersenyum seolah perkataan pria botak itu hal biasa, tentu saja itu sudah menjadi hal biasa yang ia dengar sehari hari. Namun, bagi ke dua ibu-ibu di depannya itu adalah hal yang luar biasa."Baju kamu memang tidak pernah di gosok, Dek?" Tanya ibu di hadapannya hati hati."Pernah, Bu. Tapi cuma sekali, itupun dulu waktu saya masih kelas X.""Lah, memangnya sekarang kamu kelas berapa?" Tanyanya lagi."Kelas XII." Sahut Ila tanpa dosa. Ibu ibu di depannya itu lantas menjadikan Ila bahan gosip bahkan dengan terang terangan. Tapi Ila tidak begitu ambil pusing dengan semua hal yang orang lain lakukan padanya, selama itu tidak mengganggunya secara pribadi seperti Mengganggunya makan, menganggu ia yang tengah BAB, dan menggangunya tidur. Sesimpel itu tetapi masih saja banyak yang iri dengan hidupnya.🌺🌺🌺"Kamu lagi, kamu lagi. Tidak pernah bosankah kamu bertemu saya setiap harinya?""Sekali saja kamu tidak terlambat datang, sekali saja kamu tidak membuat darah saya naik, sekali saja kamu tidak menampakkan wajah dekil kamu itu di depan saya. Bisa?!" Ila menghela nafas panjang sebelum menjawab runtutan pertanyaan dari guru BK yang terkenal kejam itu."Bisa, Bu." Kata Ila seraya menghilangkan beleknya."Kapan!""Nanti kalau saya sudah lulus dari SMA karang bintang ini, Bu." Sahut Ila dengan nada tenang. Guru di hadapannya ini sudah naik pitam pasalnya dari kelas X hanya Ila yang menjadi siswi terbar-bar kasusnya, jika yang lain terkena kasus tentang cara berpakaian yang terlalu ketat atau make up yang terlalu tebal maka Ila terkena kasus tentang dia yang terlalu jorok, makan di dalam kelas saat guru tengah menyampaikan materi, serta terlambat datang ke sekolah.Sejuta cara telah di lakukan oleh sang guru BK agar Ila dapat berubah, mulai dari menghukumnya keliling lapangan futsal 25 kali, membersihkan Lab fisika dan lab kimia, mengepel WC, hingga skorsing. Tapi itu semua hanyalah sia-sia faktanya hingga detik ini ia masih saja sama seperti saat pertama kali ia mendaftar menjadi murid di sekolah itu.Tidak ingin berlama-lama akhirnya Bu Ngian pukul palu. "Terserah kamu saja, sekarang Ibu minta kamu menyapu halaman belakang sekolah."Ila bersorak dalam hati Yeay, hukuman baru. "Baik, Bu. Permisi." Ila keluar dari tempat terkutuk itu dengan nafas panjang karena hukumannya kali ini hampir imbang beratnya dengan membersihkan lab fisika yang baru selesai untuk praktek. Halaman belakang sekolah yang jarang terjamah para siswa karena saking kotornya.Ila melangkah masuk tepat setelah bel istirahat berbunyi, ia sering sekali bolos di pelajaran pertama dan kedua hanya untuk menjalankan hukumannya."What the fuck! Heh lo cewe dekil enak banget baru berangkat jam segini.""Halah, bosen gue liat muka burik lo itu La. Ngapain si lo nggak ngungsi aja ke mars!""Tauk tuh, masih betah aja di sini. Bikin mood ancur." Nada bicara tinggi serta kalimat kasar dari teman temannya bagaikan sudah menjadi alunan musik di telinga Ila."Masalah banget ya? Emang situ pernah tau urusan gue? Oh sok tau urusan gue? Iya dong jelas, kalian itu kan jago banget kalau ngejudge orang.""Sialan lo.""Gue Ila woy, I-L-A. " kata Ila seraya meletakkan tasnya di atas meja."Bodo amat."Ila memang bukan cewek tomboy ataupun cewek nakal. Hanya saja Ila memang tidak pernah update jika soal kecantikan atau hal serupanya. Menurutnya yang penting itu urusan perut dan baik di depan Abangnya itu nomor satu sedangkan yang lain adalah nomor ke seratus sekian setelah jajaran makanan di pikirannya.Ila tidak merasa mendapat tekanan batin karena sikap seluruh temannya kepadanya, sebaliknya ia merasa ringan dengan segala sahutan yang akan ia lontarkan ke seluruh orang yang mencelanya. Meskipun sudah dua tahun ia bersekolah di SMA karang bintang ini ia sama sekali tidak pernah mendapat seorang teman yang bersikap baik padanya. Tidak pernah.So, dia tidak memiliki teman bahkan seantero sekolah pun tau dengan yang namanya Ila. Si cewek dekil. Ila tidak pernah merasa kecil hati jika ada yang dengan terang terangan mengatainya jelek, jorok, bau, dll. Karena memang mungkin saking kebalnya ia menjadi bahan Bullyan. Meskipun di bully Ila juga tidak akan tinggal diam jika teman temannya berani menyentuhnya.Seperti dahulu ketika ia baru kelas X salah satu temannya mengerjainya dengan memasukkan sampah kedalam tasnya. Ila tidak tinggal diam, dia malah memasukkan kodok ke dalam tas seluruh teman temannya yang hasilnya Ila dibuat cekikikan melihat ekspresi wajah teman temannya yang jijik serta ketakutan."Aqila Zahwa, lo satu satunya orang yang nggak dapet kelompok." Yuda-ketua kelas XII IPA 2 memberitahu meski dengan raut wajah malas harus berhadapan dengan cewek satu ini."Kelompok apaan?" Ila mendongak untuk menatap lawan bicaranya yang berdiri menjulang di depannya."Matematika wajib, lah.""Ya udah sih santai. Lo sama siapa?""Gue?" Yuda menunjuk dirinya sendiri."Iye.""Gue sama Caca lah." Jawabnya jutek."Yah, sama gue aja kenapa?" Bujuknya nyaris seperti memohon. Bukan apa-apa dia sudah sangat sering bolos pelajaran matematika wajib padahal gurunya teramat sangat killer."Ogah. Lo sendirian kaya biasanya aja, ok." Yuda segera enyah dari pandangannya, Ila menghela nafas panjang seraya mengedikkan bahunya."Bodo amat dah, serah serah, iss Ila lo kan udah sering alone kenapa sekarang jadi kaya gini sih. Sejak kapan?!" Gumam Ila pada dirinya sendiri. Ia kemudian bangkit menuju kantin. Pelampiasan terakhirnya.Ila berkacak pinggang dengan sebelah alis terangkat, antrean panjang serta suara bising khas siswa yang meraung kelaparan memenuhi penjuru kantin. Ila tidak ingin berlama-lama mengantre seperti ini, dengan gesit ia menyerobot antrian hingga pada barisan ke tiga."Ih apaan sih." Ila menegakkan punggungnya menyadari seseorang di belakangnya menggerutu."Indonesia budayakan mengantri woy!""Cewek dekil, mundur, lo!""Balik, ke belakang enggak?!"Suara suara itu hanya mampu menegakkan punggungnya saja tanpa mampu mengembalikan dirinya kembali ke antrean paling belakang. Sikap acuhnya membuat cowok di belakangnya berdehem."Sorry, lo bisa mundur enggak? Kasian nih cewek gue ngantri dari tadi." Ila tertegun di tempatnya, sebenarnya perkataan laki laki itu sepele namun mampu membuatnya beku di tempat. Pasalnya dialah satu satunya orang yang pernah berbicara pelan padanya."Gagu Lo?!" Ila memutar bola matanya jengah, baru aja gue puji, udah ngegad aja."Sorry, perut gue sakit banget. Maag gue kambuh nih." Ila langsung melancarkan aktingnya membuat cewe di belakang cowo berhoodie itu berdecak kesal."Ya udah buruan!" Ila tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk segera memesan makanan favoritnya. Sebenarnya semua makanan menjadi favoritnya tidak terkecuali.Es susu, sepiring risoles, lima buah pancake, semangkuk mie yang masih mengepul asapnya sudah tergeletak manis di meja Ila. Sedangkan pemiliknya masih sibuk memotret makanannya itu untuk di laporkan pada Abang kesayangannya.To : Bang Bossmakan bang hehe :*Ila segera meletakkan ponselnya lalu melahap risoles yang begitu menggugah selera itu. Dalam waktu kurang dari setengah jam seluruh makanan di atas mejanya sudah ludes pindah ke dalam perutnya yang sekarang masih terasa lapar."Kurang, nih." Ila menyebikkan bibirnya. Tidak jauh dari tempat duduknya ia mendengar sepasang suara yang menarik perhatiannya."Mau makan apa?""Terserah.""Makan soto aja, yuk?" Ila mengerjapkan matanya untuk memeriksa penglihatannya masih normal. Benar saja dugaannya, itu adalah cowok dan cewek yang sama ketika ia tadi menyerobot antrean.Ila mengerutkan keningnya tak mengerti karena dari sudut pandangnya sekarang ini bisa di pastikan kalau si cewek yang Ila tau namanya Nana sedang marah pada sang pacar yang tidak lain adalah Adnan-satu angkatan dengannya, bedanya Adnan masuk kelas IPA 1."Ogah ada kuahnya." Jawab Nana santai."Kalau gitu makan burger?""Nggak mau ntar gendut.""Ya udah sekarang mau makan apa?" Kata Adnan dengan nada sedikit marah."Terserah." Jawab Nana lagi yang hasilnya membuat cowok berhoodie itu geram.Ila membayangkan posisinya berubah menjadi Nana, maka dengan senang hati akan mengiyakan tawaran Adnan. Lumayanlah gratisan dari pacar. Ila tersenyum miris tanpa sadar.🌺🌺🌺From : Bang BossAbang pulangnya agak malem, jadi barista dulu ini:( kamu tidurnya jangan malem malem. Ntar pulang Abang bawain pancake.Ila menghembuskan nafasnya panjang, sudah sering ia melewati malam malam seperti ini dengan kesunyian.Jam menunjukkan pukul setengah dua belas tetapi Aryon-Abangnya Ila belum juga pulang.Ila merebahkan tubuhnya berbantalkan boneka Teddy hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Tujuh belas tahun pula orang tuanya telah meninggalkannya. Jika Ila mengingat-ingat kejadian itu, ia merasa kesal sendiri. Mengapa tidak dia saja yang mati? Kenapa harus kedua orang tuanya?.Waktu itu umur Ila setahun, sedangkan Aryon sudah berumur tujuh tahun. Ia dan keluarganya berniat untuk mengunjungi kampung halamannya yang berada di Jogja. Naas mobil yang di tumpangi oleh satu keluarga itu mengalami kecelakaan besar. Dua orang dewasa dinyatakan tewas sedangkan dua anak berhasil diselamatkan." Aqila Zahwa, Adik kesayangan Abang. Jadi, Aqila enggak boleh nangis terus nanti mama sama papa ikutan sedih di atas sana.""Aqila boleh makan apa saja deh. Asalkan jangan sedih, ok."Sekelebat bayangan Aryon membuat Ila tiba-tiba terharu ingin menangis, bayangkan saja anak berusia sepuluh tahun harus hidup dengan Adik yang berusia tiga tahun hanya dengan seorang nenek yang sudah pensiun.Jujur, Ila sangat menyayangi kakaknya yang selalu memberikan apapun yang ia minta. Bahkan ketika Ila ingin diet Aryonlah yang pertama kali melarangnya. Ia bilang ' buat apa diet? Gue nggak ngizinin lo kurus. Dikira cacingan ntar lo mau?'Biarkan seluruh dunia membencinya asalkan Aryon tetap berada di sisinya, Ila benar benar tidak peduli dengan pujian karena hidupnya penuh dengan celaan.Tok... Tok... Tok..."Aqila, udah tidur?" Suara Aryon membuat Ila segera menghapus jejak air matanya lantas bangkit untuk membukakan pintu."Hai, Abang." Sapa Ila semangat."Gue bilang jangan begadang, siapa suruh lo begadang?" Bukannya menjawab Aryon malah melangkah masuk dengan segala ocehannya."Yaelah Bang, Aqila tuh laper. Di kulkas kosong, mau masak nggak bisa ya udah Aqila nungguin Abang kan bawa pancake." Ila menyengir sedangkan Aryon menggelengkan kepalanya pelan tak pelak ia menyodorkan plastik putih pada Adiknya."Ya udah nih makan, gue mau mandi dulu." Aryon bangkit berdiri lalu menyempatkan diri untuk mengacak rambut Ila yang memang sudah acak-acakan. Toh pemiliknya tidak protes."Gimana di sekolah?" Pertanyaan itu lagi itu lagi tidak bosan apa? Gerutu Ila yang masih menyatap pancake oreonya."B, aja.""Kenapa nggak, A?""Gue maunya B.""Why, B?" Aryon mengambil tempat di sebelah Ila, sebelah tangannya masih sibuk mengeringkan rambut."Because ... do not know.""Aqila.""Hm..." Ila menoleh merasa namanya di sebut."Love you." Aqila tersenyum miring ketika Aryon menyentil keningnya."Udah sana tidur!""Siap! Bang Boss." Tanpa repot repot membereskan bekas makanannya yang berserak di atas meja, Ila langsung menjatuhkan diri ke ranjang dengan sembarang. Siap siap bermimpi.🌺🌺🌺"Abang mau money.""Bang Aryon ganteng, deh, Bang ...""Apa sii?""Money." Mata ila yang mngerjap polos mengamati Aryon yang sibuk mengepel lantai."Kemarin kan Abang udah kasih. Seminggu lagi baru Abang kasih lagi.""Seminggu? What the hell! Perut Aqila enggak sekuat baja Bang buat nahan lapar.""Siapa yang salah?""Aqila.""Makannya disuruh berangkat bareng sama gue aja bandel banget, giliran duit abis buat naik turun angkot gigit jari kan lo." Ila memutar bola matanya. Sebenarnya mau mau saja ia diantar ke sekolah oleh Aryon toh mereka searah, tetapi dia tidak siap jika harus mendengar mulut comel teman seantero sekolahnya.Akhirnya ia terpaksa joging ke sekolah sampai di depan gerbang ia memegangi perutnya, lelah luar biasa. Ila meringis ketika perutnya berbunyi nyaring.Pesanan seperti biasa sudah ada di depan mata tinggal menghitung detik untuk melahapnya, tetapi Ila urung karena bola matanya menangkap sosok laki-laki yang duduk membelakanginya."Kayaknya gue kenal, nih. Aroma parfumnya kok kue sih." Karena rasa penasarannya yang mencuat tinggi akhirnya Ila menghampiri laki laki tersebut."Woy." Ila menyengir ketika yang ia panggil sedikit berjingkat kaget."Lo, Ila? Why?" Katanya dengan sebelah alis terangkat."Boleh numpang duduk enggak?""Bukannya kursi disini masih pada kosong, ya?" Ila menggaruk pelipisnya."Ya maka dari itu berhubung sepi gue boleh duduk di sini kan, lumayan buat temen.""Oke."Secepat kilat Ila segera memindahkan seluruh makanannya ke meja Adnan. Tidak menghiraukan pemuda di hadapannya ia segera melahap seluruh makanannya hingga tuntas."Eeek.""Lo cewek tapi sendawanya kenceng banget." Adnan menggeleng heran."Biarin, lagipula lo dari tadi mendung banget mukanya.""Bukan urusan lo.""Hih Adonan, parfum lo itu ya baunya pancake Oreo tauk.""Masalah buat lo? nama gue Adnan bukan Adonan." Adnan ingin bangkit dari duduknya tetapi suara Ila menghentikannya."Masalah lah, gue jadi keinget sama pancake Oreo buatan bos Abang gue. Karena itu gue jadi pengen gigit lo." Ila mengerucutkan bibirnya lucu."Gigit gue?" Ila mendongak dengan mata mengerling pasalnya Adnan tidak jadi pergi dan duduk kembali ditempatnya."Iya, hehe.""Bisa senyum enggak sih, muka lo serem.""Biar gue tebak, lo broken heart ya ...""Kok lo tauk?" Adnan menatapnya lekat, ia tentu tahu siapa orang yang sedang berbicara dengannya ini."Tauk lah, secara siapa sih yang betah pacaran sama cewek manja kaya gitu. Astaga!""Adnan, lo harus inget ini baik-baik. Enggak selamanya yang berwajah cantik itu bisa diajak susah pun sebaliknya. Jadi buat apalah lo bersedih hati gegara putus sama Nana.""Oh."🌺🌺🌺"Please, deh Bang nggak usah di jemput."...."Gue masih punya duit, sans. Ok"...."Pokoknya sampek Abang jemput Aqila, gue nggak akan ngomong lagi sama bang Aryon."...."Sip. Lope you to."Tin...tin...tinSuara klakson motor mengagetkan Ila dari tempatnya berdiri. Ila menoleh dan melihat Adnan tengah menunggangi kuda mesin berwarna hitam pekat yang ternyata juga melihatnya. Tetapi Ila segera mengalihkan pandangannya ketika Nana menatapnya tidak suka.Dengan langkah seribu ia berlari ke rumahnya, ia tidak menyesal karena harus berpanas-panasan karenanya asalkan bang Aryon yang gantengnya ngelebihin Su Ho itu tidak datang menjemputnya."Rumah lo jauh ya?!" Suara bising motor serta suara laki-laki yang begitu familiar di telinganya membuat Ila mau tak mau harus menoleh."Iya nih jauh bet kaya hubungan kita yang nggak sampai' tahap pendekatan.""Ayo naik." Melihat Adnan berhenti Ila langsung ikut berhenti menunggu Adnan berbicara lagi."Naik, Ila."Di perjalanan Adnan sama sekali tak bersuara pun dengan Ila yang mendadak mendapatkan serangan jantung. Ila membelalakkan matanya ketika Adnan tidak mengantarnya pulang melainkan berbelok di sebuah kafe. Yeah, kafe itu adalah kafe favoritnya. Di kafe itu pula Aryon bekerja."Kok mampir? Tau banget gue lagi laper."Ila menyengir mengekor di belakang Adnan yang sama sekali tak menghiraukannya."Adnan gue mau balik ih, nggak suka ya gue makannya berdua tapi serasa makan sendirian.""Ad ...""Lho, Aqila. Lo kok disini?""Bang Aryon." Ila menyengir begitupun dengan Adnan yang menatap Aryon penuh tanya."Aqila Zahwa adik gue. Lo kenal dia?" Terang Aryon yang kini balik bertanya pada Adnan."Jadi, Aqila adik lo kak Yon?""Adik yang sering lo ceritain ke gue? Adik yang suka makan pancake Oreo buatan gue kak?" Wajah Adnan pucat pasi, menatap Aryon dan Ila bergantian."Eh gimana sih. Gue nggak ngerti." Ila menyela."Iya Adnan dia orangnya. Padahal rencananya gue bakal ngenalin lo sama Ila itu malming.""Ih apaan, sih Bang. Gajelass.""Jadi lo orangnya La?"Ila terkejut karena Adnan tiba tiba mencengkeram kedua bahunya memangkas jarak."Maksud lo?""Gue suka sama lo dari kecil. You know.""Hah.""Ikut gue. Kak Aryon, pinjem Aqila." Aryon hanya menyebikkan bibirnya ketika melihat adiknya di seret masuk ke dalam dapur.🌺🌺🌺Ila hanya ternganga melihat Adnan yang dengan ahli membuat pancake Oreo.Setengah jam kemudian, pancake Oreo spesial sudah matang. Adnan meletakkan pancake Oreo dalam piring saji, untuk menambah penampilan. Ia menyajikan dengan cream vanila serta kucuran cokelat untuk sentuhan terakhir ia menaburkan almond yang sudah di sangrai.Ia Ingin tersenyum ketika Adnan menyodorkan piring tersebut padanya, tetapi urung karena kalimat Adnan yang langsung mencelos hatinya."Sorry, gue udah ngerusak nama baik lo. Gue udah nyebar rumor nggak baik tentang lo." Mata Adnan meredup menatap Ila."Lo ngelakuin itu? Ke gue?" Ila hampir tak percaya."Iya, itu semua ada sebabnya. Dulu waktu pertama kali gue ngeliat lo pas MOS, hati gue udah tertarik sama lo. Tapi gue bekuin itu semua karena yang lebih menarik perhatian gue itu cuma Adiknya kak Aryon. Gue nyebar rumor kaya gitu supaya lo dibenci banyak orang dan berharap hati gue juga membencinya.""Gue salah. Gue salah besar, karena hati gue yang ternyata benar. Lo Adiknya kak Aryon, Adik yang selalu gue buatin pancake Oreo, Adik yang selalu ingin gue temui. Dan ternyata orangnya itu lo.""Aqila Zahwa I'm sorry and I love you so much.""Kalo lo terima pancake ini berarti lo mau maafin kesalahan gue dan resmi jadi pacar gue kalau enggak. Berarti gue coba lagi."Ila menengguk ludahnya berkali-kali di satu sisi ia benar-benar terhipnotis oleh pancake buatan Adnan yang begitu menggoda lidah namun di sisi lain ia ragu untuk memaafkan kesalahan Adnan. Kesalahan yang membuat Ila selama 3 tahun di jauhi oleh semua teman teman sekolahnya. Tapi, tidak bisa dipungkiri rasa yang berbeda kini timbul dihatinya. Ia tidak pernah melihat ketulusan seperti itu dari mata seseorang selain Aryon dan laki laki dihadapannya itu. Adnan.Perlahan Ila mengulurkan tangannya menerima piring yang disodorkan oleh Adnan, ia yakin pilihannya tepat.Adnan langsung menerbitkan senyumnya yang membuat Ila terpaku sejenak."Thanks. Aqila Zahwa i love you." Tanpa permisi Adnan langsung memeluk tubuh tinggi Ila.End

HOROR PESUGIHAN
Horror
18 Dec 2025

HOROR PESUGIHAN

Bambang hari ini pulang kerumah penuh keringat, dan saat duduk di bangku teras depan, badannya serasa lunglai dan hampir mau pingsan."Pak kok sudah pulang masih siang begini" tanya Bu Minah istri pak Bambang"Iya bu, saya lagi kurang sehat, sudah bebrapa kali saya hampir jatuh dan mau pingsan" jawab Pak Bambang"Kenapa pak? sakit ya?" tanya Bu Minah"Iya bu, mungkin saya harus istirahat saja" jawab Pak BambangSudah hampir 10 tahun Pak Bambang berjualan siomay keliling, pak Bambang dan Bu Minah hanya memiliki satu anak yang masih berusia sepuluh tahun bernama Didin.Dan sepertinya beberapa bulan terakhir kondisi kesehatan Pak Bambang sedang kurang baik sering kecapean dan sering sakit kepala, Bu Minah hanya bisa membantu menjadi kuli cuci gosok saja.Didin sudah sekolah kelas 4 SD, dia termasuk anak yang cerdas di sekolah tetapi dia belum dapat membantu orang tuanya untuk mencari nafkah, karena Bu Minah hanya ingin Didin fokus belajar.Kondisi ekonomi mereka makin memprihatinkan, apalagi dua minggu ini Pak Bambang sama sekali tidak menjual siomay berkeliling. Akhirnya Bu Minah terpaksa berhutang ke beberapa warung dekat rumahnya, dan juga SPP Didin belum terbayarkan.Suatu hari Bu Minah menangis di kamarnya, sepertinya dia tidak kuat dengan kondisi yang dialaminya, apalagi melihat Didin menangis karena malu karena tidak boleh ikut ujian karena belum bayar uang sekolah.Malam itu Bu Minah bermimpi, didatangi seorang putri kerajaan cantik dengan baju kerajaan"Kamu bisa keluar dari masalah mu Mina" ucap putri itu"Bagaimana caranya?" jawab Bu Minah"Kamu harus pergi ke Goa Sembur yang terletak di Laut Jawa, disana kamu harus bersemedi dan berpuasa, dan jika kamu berhasil maka nasib baik akan berpihak padamu" ucap Putri kerajaan tadi"Baik putri. aku akan melakukan perintahmu" jawab Bu MinahTiba-tiba mata bu Minah terbuka, dan dia melihat cahaya yang cukup terang"Oh... aku bermimpi, mimpi yang sangat aneh" fikir Bu MinahPagi itu Bu Minah menceritakan mimpinya kepada suaminya, Pak Bambang mendengarkan dengan sekasama"Bagaimana kalau kita mencobanya" jawab Pak Bambang"Maksudmu? kita?" ucap Bu Minah"Iya aku akan mengantarmu kesana" jawab Pak Bambang"Tapi bagaimana dengan Didin, kalau kita berdua kesana?" tanyanya"Kita titip Bu Astuti dulu, bilang saja kita ada keperluan keluarga akan kembali dalam tiga hari" jawab Pak Bambang bersemangat"Kamu yakin?" tanya Bu Minah sekali lagi"Yakin, aku capek dengan nasib kita yang begini - begini saja" jawab Pak BambangAkhirnya Lusa mereka berangkat ke Laut Jawa, setelah sampai disana, anehnya pemandangan Laut sama persis seperti mimpi Bu Minah, bahkan sepertinya tempat ini tidak asing baginya.Dan melihat ke kejauahan Bu MInah mendapatkan Gua yang dicarinya.Dan dia telah sampai disana."Ini tempatnya Pak" ucap Bu Minah"Kamu yakin?" ucap Pak Bambang"Ya sudah pak, kamu jaga didepan ya, aku ke dalam dulu untuk bersemedi" ucap Bu MinahSelama tiga hari dua malam, tidak ada yang aneh terjadi, dan Bu Minah pun masih bertahan dengan semedinya.Tapi dimalam ini ada yang aneh, Bu Minah melihat seekor Singa Putih yang besar berkeliling tempat semedinya, dan mengaum dengan kencang, tapi Bu Minah tidak mau sia-sia, dia tetap bertahan di tempatnya, lalu Singa Putih meninggalkan Bu Minah, dan berganti dengan genderuwo yang mengganggu nya, dan memperlihatkan wajah seramnya, Bu MInah merasakan ketakutan yang luar biasa, tapi dia harus menjalaninya gar berhasil dengan semedinya, dan akhirnya Genderuwo tadi menghilang, dan kembali dengan penampakan putri kerajaan yang dilihat dari mimpinya."Kamu berhasil Mina" ucap putri kerajaan ituBu Minah melihatnya sambil tersenyumLalu tiba- tiba didepannya ada tiga telurTelur besar, sedang dan telur kecil"Kamu harus memakan salah satu dari telur itu dengan mentah" ucap Putri kerajaan tersebutBu Mina melihat ketiga telur tadi, dia merasa telur mentah tidak enak, akhirnya dia memilih yang kecil dan langsung menelannya."Bagus Minah" ucapPutri kerajaan itu"Baik putri" jawab Bu Minah"Kamu boleh pulang dan lanjutkan berjualan, maka kamu akan mendapatkan hasil yang luar biasa, syaratnya setiap jumat malam kamu harus bersemdi dan berpuasa seperti ini, dan memberikan aku sesajen, dan tidak boleh lupa" jawab Putri kerajaan tersebut"Baik putri, tapi bagaimana kalau aku lupa putri?" tanya bu Mina"maka aku akan mengambil salah satu harta mu paling berharga sesuai dengan pilihan telurmu tadi" ucap Putri kerajaanDan akhirnya Bu Minah dan Pak Bambang pulang kerumah. Anehnya Pak Bambang merasa kesehatannya fit kembali dan dia siap untuk berjualan kembali.Dan betul saja dagangan siomaynya hari itu sangat laku keras, dan besoknya juga, besoknya juga, tanpa terasa perekonomian Pak Bambang dan Bu Mina menjadi semakin baik, sekarang dia memiliki gerobak siomay yang banyak dan tinggal menunggu setoran dari pedagang-pedagang.Bu MIna selalu melakukan rutinitas yang diperintahkan oleh Putri Kerajaan dia tidak pernah melewatkan semedinya.Harta, Kaya dan memiliki semuanya kini sudah menjadi nyata, Didin pun bisa bersekolah dengan tenang, bahkan di SMP nanti Didin ditawarkan untuk beasiswa ke Jepang karena hasil nilainya yang memuaskan, baginya sekarang hidup nya lebih indah.Jum'at ini Bu Minah dan Pak Bambang mengantar Didin ke Bandara, karena Pesawatnya akan berangkat hari ini jam 3 sore ini. Bu Mina banyak memberikan nasihat selama Didin berada di Jepang, sering menghubungi dia dan jangan sampai dia pergi terlalu jauh.Setelah Didin menaiki pesawat, Bu Minah dan Pak Bambang pulang kerumah, tapi kondisi hari itu jalanan sangat macet, kabar beritanya ada truk besar yang menabrak marka jalan dan membuat mobil lain tidak dapat lewat jalan tersebut, sampai ada derek yang datang/Bu Minah sudah mulai gelisah, dia baru teringat, kalau hari ini dia belum melakukan ritual semedinya"Pak bagaimana ini, aku tidak mau putri raja marah kalau aku tidak semedi" ucap Bu Minah"Sudahlah jangan dikhawatirkan, sekarang kita kan sudah kaya raya, kita tidak harus melakukan ritual itu lagi" ucap Pak Bambang santai"Tapi pak" ucap Bu MInah. dan dia melihat wajah Pak Bambang yang cuek - cuek saja menyetir mobilnya.Sesampainya dirumah sudah sangat malam, Bu Mina mask ke dalam kamarnya, dan betapa kagetnya ternyat aPutri kerajaan sudah berada di kasurnya"Putri" ucap Bu Minah"Kamu telah melanggar janjimu Minah, maka aku tidak akan membiarkan kamu begitu saja" jawab Putri kerajaan dengan ekspresi yang sangat marah"Maafkan putri saya tadi mengantar anak saya untuk keluar negeri" jawab Bu Minah"Tidak bisa, harus sesuai dengan janji kita pada waktuitu maka saya akan mengambil harta berhargamu yang ada disini, dan akan membawanya bersama aku."tidak bisa, jangan" ucap Bu Minah menaydari kesalahannnya.tiba-tiba putri kerajaan itu menghilangdan tidba-tiba bunyi suara telepon "kring...kring...kring""Halo" angkat Minah"dengan Ibu Minah" jawab suara di seberang"iya" Kami dari Masakapai Cilen Air mau menginformasikan bahwa ada kecelakaan yang terjadi pada penerbangan anak ibu hari ini" suara laki-laki ituSeketika badan Bu Mina lunglai menyadari bahwa sang putri telah merenggut anaknya semata wayang, dialah harta paling berharga yang dimiliki oleh Mina."Didiiiiiiiiiiinnn" ucap Mina menagis sekejar-kejarnya____________________________________

HOROR ANGKOT HANTU
Horror
17 Dec 2025

HOROR ANGKOT HANTU

Hari ini Sandra sedang mengikuti pelatihan Paskibraka disekolahnya, banyak sekali latihan yang harus dipelajari sebelum tampil dalam upacara di Istana negara untuk minggu depan di acara HUT Kemerdekaan.Sandra memang memiliki postur tegap dan tinggi yang membuat dia cocok untuk masuk di tim paskibra, Dina sahabatnya biasanya menunggu Sandra selesai latihan, tapi hari ini Dina tidak bisa, dia harus mengantar ibunya berobat ke dokter.Hari semakin sore, latihan terus dilakukan agar semua gerakan dapat terlaksana dengan sempurna, dan minim kesalahan.Dito datang menghampiri Sandra"San, nanti pulang sama siapa?" tanya Dito"Gak tahu To, kayanya sendiri soalnya si Dina sudah pulang" jawab Sandra"Nanti bareng aku aja San" ucap Dito"Boleh to" Ucap Sandra spontanDan tidak terasa hari sudah mulai malam, suasana sudah mulai gelap dan sepisatu persatu anggota paskibra yang lain sudah mulai pulang, dan sekarang hanya tinggal Sandra yang masih menunggu Dito pulang, Dito masih meeting dengan pembina paskibra yang lain.Dan tidak lama Dito keluar"San, maaf ya kayanya meeting nya masih lama kamu gapapa nunggu aku lebih lama" Ucap Dito"Oh gitu ya To, kayanya aku gak bisa lama lagi To, mamaku sudah teleponin aku dari tadi, ya udah gapapa aku pulang naik angkot saja deh to" ucap Sandra"maaf ya Dra, jadi bikin kamu kemaleman" ucap Dito merasa bersalah kali ini"Iya gapapa To, kan bukan salah kamu" jawab SandraLalu sandrapun meninggalkan sekolah dan menuju ke halteSuasana malam yang gelap dan sepi dan belum ada angkot yang datang sampai saat ini.Tiba-tiba saat Sandra mulai putus asa untuk kembali ke sekolah menemui Dito, ada sinar lampu menyorot ke arah halte.Akhirnya Sandrapun menaiki angkot tersebut, suasana angkot cukup ramai ada sekitar empat orang duduk dibelakang, dua laki-laki dan dua perempuan.dan satu orang duduk dekat supir seorang wanita dengan kerudung, saat Sandra menaiki angkot tersebut suasana sangat hening, mereka melihat Sandra tanpa suara, wajah mereka pucat dan bawah mata mereka memiliki lingkaran hitam, sepertinya ini efek lampu angkot yang membuat kulit menjadi pucat, fikir Sandra.Mobil berjalan perlahan-lahan, supirnya sepertinya menyetir dengan hati-hati dan berjalan terus disepanjang jalan, tapi tiba-tiba Sandra merasa supir salah berbelok, dia malah menuju ke arah kebun yang sepi, apakah supir memotong jalan? fikir Sandra."Maaf pak, rumah saya bukan kearah sini" ucap Sandra kepada pak supirSupir hanya melihat sekilas, dan tidak berkata apapunSandra menjadi gregetan "Pak rumah saya tidak lewat arah sini" ucap Sandra sekali lagiDan kali ini semua penumpang melihat ke arah Sandra dengan tatapan yang anehBulu Kuduk Sandra berdiri, dia merinding entah mengapa situasi ini menjadi sangat aneh"Pak.. pak saya turun disini saja" ucap Sandradan Mobil angkot itupun berhenti dan Sandrapun turun.Angkot yang aneh dan supir yang aneh, fikir Sandra, lalu Sandra pun berjalan ke arah jalan raya, tapi Sandra baru sadar setelah dia menengok ke belakang angkot itu tidak ada, bahkan tidak ada jalan raya disini, hanya ada kebun kosong yang luas dan...Kuburan, banyak kuburan disini Sandra merinding sekali lagi dan berlari menuju jalan yang terdekat.Tiba-tiba ada sinar lampu yang meneranginya"Sandra" ada suara yang memanggilnyaSandra memejamkan matanya, melihat sorot lampu yang sangat meneranginyasaat kondisi mulai jelas, Sandra melihat Dito dan motor vespa hitamnya."Dito" ucap Sandra senang"Aduh San, aku dari tadi berusaha kejar kamu, tapi kok kamu jalannya cepat banget sih" ucap Dito"Maksudmu?" tanya SandraIya aku itu lihat kamu nunggu di Halte, aku sudah panggil kamu tapi kamu gak denger, kamu malah jalan terus, sampai aku kehilangan kamu, kamu aneh banget sih, nagapain coba jalan malam-malam, kenapa gak nungguin aku saja tadi" ucap Dito panjang lebarSandra shock mendengar cerita Dito"Jalan??" tanya Sandra sekali lagi"Iya kamu jalan kaki cepet banget" jawab Dito"Tapi tadi aku naik angkot Dit, dan aku berhenti disini karena dia salah belok, tapi...." Sandra berhenti bicara"Naik angkot? aku gak lihat ada angkot lewat dari tadi San, tapi kenapa?" tanya Dito bingung"Tapi aneh dit, supir dan penumpangnya wajah mereka pucat semua dan mereka berhenti disini, padahal inikan kuburan" ucap Sandra panik"Ya sudah, ayu aku antar pulang, cepat" ucap DitoLalu Sandrapun naik motornya Dito, dan tiba-tiba ditengah jaln ban motor Dito kempes"San, maaf ban motor ku kempes" ucap Dito lirih"Ya Dito, aku gimana pulangnya" ucap Sandra bingung"Itu ada angkot San, sebentar aku berhentiin dulu" ucap Dito sigapdan angkot itu pun berhenti tepat didepan Sandra dan Dito, Sandra melihat supir dan penumpang yang sama."Ditoooooo..........."

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 15 dari 35
Menampilkan 24 cerita