Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
The Ryou-ei-maru Incident
Pada 31 Oktober 1927 di Pulau Vancouver pesisir selatan Kanada, sebuah kapal barang Amerika bernama Margaret Dollar baru saja kembali dari pelabuhan Seattle di Washington saat kapal itu berpapasan dengan sebuah perahu nelayan kecil yang dikabarkan hilang. Nama perahu itu adalah "Ryou-ei-maru".Bangkai Perahu DitemukanPerahu ikan itu dalam keadaan mengerikan. Lambung kapal robek dan sisa-sisa mayat, tulang-tulang tubuh, dan jenazah tanpa kaki bertebaran di dek. Bau busuk kematian yang kuat melayang di udara.Di kabin, ada bangkai, kerangka tubuh dengan tengkorak yang retak. Dinding-dinding kabin ditutupi oleh noda darah. Di ruang dapur, bulu-bulu putih burung camar bertebaran menyebar di lantai. Beberapa kaleng minyak berada di atas kompor dan satu diantaranya berisi lengan manusia. Tidak ada makanan atau minuman di atas papan. Mesin kapal berkarat dan rusak seluruhnya.Namun demikian, tiga buku catatan berwarna kuning ditemukan di dalam kamar kapten. Buku-buku catatan itu berisi laporan yang rusak tentang apa yang terjadi pada Ryou-ei-maru. Sangat sulit dipercaya. Berikut informasi yang terdapat pada buku-buku catatan tersebut:Perahu Ikan yang Tidak Beruntung5 Desember 1926: Ryou-ei-maru menyiapkan pelayaran dari Pelabuhan Misaki di Prefektur Kanagawa dengan jumlah anggota sebanyak 12 orang. Pemiliknya adalah Fujii Sanshiro, sang kapten adalah Miki Tokizo, dan Hosoi Denjiro adalah kepala mesinnya. Perahu itu memiliki tiang kapal tunggal dan berat 9 ton.6 Desember: Kami pergi mencari ikan tuna di pesisir Choisi di Prefektur Chiba. Kondisi cuaca sangat buruk dan mesin membunyikan suara yang aneh. Kami memasuki Pelabuhan Choisi untuk mengecek mesin, tetapi tidak ada masalah yang ditemukan. Kami berlayar lagi dan menepi di pesisir Choisi yang memiliki sekumpulan ikan tuna dalam jumlah besar, tetapi kami dihantam badai sehingga sulit untuk mengemudikan perahu tersebut. Beberapa hari kemudian, perahu telah berada lebih dari 1000 mill dari pesisir Choisi.15 Desember: Kami melihat perahu lain muncul dari cakrawala. Perahu itu bernama Kishu. Walaupun kami telah mengirim sinyal dan berteriak sekuat tenaga saat kapal itu lewat, mereka tidak merespon. Kapten Miki memutuskan untuk mengemudikan kapal mengikuti perahu itu. Hanya ada makanan yang cukup untuk berlayar selama 4 bulan.16 Desember: Perahu lain bernama Oriental Steamer melewati kami. Kami memberi sinyal dan berteriak, tetapi lagi-lagi tak ada respon. Akhirnya, kami mencoba kembali ke Jepang. Tetapi apa pun yang kami lakukan, kami dipaksa berlayar ke arah yang berlawanan. Anggota kapal mulai putus asa. Apa yang dapat kami lakukan ialah menunggu sampai kapal uap lain lewat. Kapten memutuskan untuk mengikuti arah angin guna membantu kapal berlayar ke Amerika. Namun demikian, ia berkata bahwa sebuah perahu ikan untuk berlayar ke timur laut lebih sulit daripada perjalanan Christopher Columbus untuk menemukan Amerika.27 Desember: Kami menangkap ikan.27 Januari: Kami menaruh ember-ember untuk mengumpulkan air hujan. Kami berharap air itu bisa digunakan untuk minum, tapi air hujan hanya sedikit.17 Februari: Bahan makanan kami benar-benar menipis.6 Maret: Persediaan makanan sudah hampir habis. Hanya tinggal ikan. Rasa amat lapar datang berangsur-angsur.7 Maret: Kepala mesin, Hosoi Denjiro mati. Ia mati sambil merintih, "Aku ingin menyentuh tanah Jepang lagi... Aku ingin melihatnya kembali... walaupun hanya sekilas."Kami mengubur mayatnya di laut.9 Maret: Kami berhasil menangkap seekor hiu yang besar, tetapi Naoe Tsunetsugi sudah tidak memiliki kekuatan untuk memakannya. Ia mati dengan tubuh kurus. Kami mengubur mayatnya di laut.15 Maret: Izawa Satsugi yang menjaga buku harian, mati dalam keadaan sakit. Matsumoto Gennosuke mengambil alih posisinya. Kami mengubur Izawa di laut. Hanya tinggal menunggu waktu sampai kami semua tewas. Kami semua berwajah pucat dengan jenggot panjang, berjalan tidak mantap mengitari perahu seperti hantu yang bersedih.27 Maret: Dua orang -Yokota Yoshinosuke dan Terada Hatsuzo- tiba-tiba menjadi gila dan berteriak-teriak, "Hei! Kita di Amerika! Aku bisa melihat pelangi!"Benar-benar gila. Mereka mulai menggigit dan menggerogoti papan kayu. Lubang neraka paling buruk akhirnya tertutup.29 Maret: Yoshida Fujiyoshi menangkap seekor ikan tuna besar. Mitani Toeakichi tiba-tiba menjadi gila. Ia menyambar sebuah kapak dan melayangkan kapak itu pada kepala Yoshida Fujiyoshi. Itu hal yang mengerikan, tapi tidak ada dari kami yang memiliki tenaga untuk berdiri dan menghentikannya. Kami hanya melihat dalam diam. Beberapa dari kami menderita penyakit kudis karena kekurangan sayuran dan ada darah di gigi-gigi kami. Kami terlihat seperti monster. Oh Budha, tolonglah kami!4 April: Kapten Miki menangkap seekor burung yang terbang rendah di atas dek. Ia mencapai dan menyambar burung itu dengan kecepatan seperti seekor ular. Semua orang berkumpul di sekitarnya seperti semut, mencabuti bulu-bulu burung itu, dan memakannya hidup-hidup. Mulut kami meneteskan darah dan daging mentah. Tidak ada yang lebih enak. Ini bagaimana manusia berubah menjadi monster.6 April: Tsujimon Ryoji mati dengan meludah dan memuntahkan darah.14 April: Sawamura Kanjuro berubah menjadi luar biasa gila dan bengis. Ia mulai mencacah mayat dan memakan daging manusia. Bukankah menjijikkan?19 April: Dua orang -Kazuo Toyama dan Sawamura Kanjuro- berkelahi merebutkan daging manusia di dapur. Mereka seperti iblis yang keluar dari neraka. Saat beristirahat, kami hanya berharap bisa bertahan hidup untuk melihat Jepang kembali. Malam itu, dua orang lelaki mati jatuh terguling di atas lantai yang dilapisi darah.6 Mei: Kapten Miki dan aku sendiri hanya dua orang yang bertahan hidup dari 12 orang dalam kapal layar ini. Kami berdua sangat sakit dengan beri-beri dan tidak dapat melangkah setapak pun. Kami juga mengalami dehidrasi sampai tidak bisa buang air kecil.11 Mei: Angin kuat berhembus dari barat laut. Angin itu membawa awan mendung. Barat dan selatan, perahu ini terombang-ambing oleh angin. Tidak ada gunung yang terlihat. Tidak ada pula daratan yang bisa dilihat. Tidak ada kapal-kapal lain. Hanya ada bau busuk kematian serta bau amis daging dan darah dari mayat-mayat teman kami. Tubuh-tubuh mereka kurus tinggal tulang. Kami seperti sudah mengalami kiamat.Catatan itu berakhir di sini.Fakta-fakta yang aneh.Namun demikian, saat kau memperbaiki piringan hitam, fakta yang ajaib muncul seperti cahaya. Saat anggota kapal ikan menyatakan mereka tidak menemukan kapal lain dan tidak ada seorang pun yang merespon sinyal mereka, itu tidak benar. Juga Ryou-ei-maru menyeberangi Laut Pasifik dan menyatakan mereka tidak menemukan satu pulau pun, bagaimana mungkin?Hal paling aneh dari semuanya ialah pernyataan yang dibuat oleh Kapten Richard Healy dari kapal barang US West Aeson:"23 Desember 1926, kami menemukan sebuah kapal kayu yang berlayar di Laut Pasifik sekitar 1000 km dari Seattle. Walaupun kapal itu ditutup, tidak ada balasan dari sinyal pertolongan kami. Nama kapal itu adalah Ryou-ei-maru. Sekitar 10 nelayan berdiri di dek sambil menatap kami, tapi tidak ada seorang pun dari mereka yang membalas panggilan kami."Tetapi, pertemuan ini tidak disebutkan dalam catatan dari Ryou-ei-maru. Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?
Kanbari-Nyudo
Suatu malam, laki-laki botak pergi dari rumah ke rumah, mengintip jendela di kamar mandi dan melihat saat orang-orang duduk di toilet, mandi, atau melepas pakaian. Ia seorang lelaki tua, orang Jepang dengan wajah yang terlihat menakutkan, dan ia mencukur kepalanya. Laki-laki gundul itu akan mengintip melalui jendela dan meneteskan air liur di mulutnya saat sedang mengintaimu, berharap bisa menangkapmu dalam keadaan telanjang.Beberapa tahun yang lalu, ada seorang laki-laki tua yang terobsesi melihat gadis-gadis muda telanjang. Orang yang menyeramkan dan tidak bermoral ini mengintai jalanan di desanya pada malam hari, mengintip dari jendela-jendela, berharap bisa menangkap sekilas kulit telanjang.Saat keluarganya mengetahui kelakuan menjijikkan laki-laki tua itu, mereka merasa malu dan menolak untuk membantu pria itu. Sebagai hukuman, mereka mencukur kepalanya dan membuangnya dari desa.Pria gundul itu membangun sendiri sebuah gubuk di gunung dan hidup di sana sebagai pertapa. Ia melakukan usaha terbaiknya untuk berhenti memikirkan tentang gadis-gadis yang telanjang, tetapi itu tidak berguna. Dorongan jahat mengalahkannya dan ia tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Akhirnya, ia terpaksa kembali pada kebiasaan anehnya. Suatu malam, ia bergerak pelan ke desa dan menculik seorang gadis muda. Ia membawa gadis itu ke gubuknya. Diikatnya gadis muda itu dan melakukan hal yang sangat buruk padanya.Suatu hari, saat lelaki gundul pergi, seorang pencuri memasuki gubuk yang tidak dijaga itu dan memutuskan untuk mencuri barang-barang berharga milik lelaki itu. Saat si pencuri masuk ke dalam, ia menemukan gadis muda yang diculik. Merasa kasihan pada gadis yang malang itu, ia melepaskan ikatannya. Baru saja ia akan membantu gadis itu melarikan diri, si pria botak kembali. Terjadilah pertarungan besar, tetapi pada akhirnya si pencuri berhasil membunuh pria botak dan membawanya kembali pada orang tuanya.Setelah itu, si pria botak menjadi hantu dan mulai muncul di luar rumah si gadis. Ia mengenakan kimono berwarna putih dan memandang dengan tajam melalui jendela pada malam hari, menakuti setiap orang di dalamnya. Orang tua gadis itu cemas jika hantu itu berusaha menculik anak mereka lagi, jadi mereka menyembunyikannya. Sejak saat itu, lelaki botak itu pergi dari rumah ke rumah, mengintip jendela toilet, kamar mandi, dan kamar tidur mencari dengan putus asa gadis muda itu.Mereka mengatakan jika kau menyanyikan "Kanbari Nyudo" di dalam kamar mandi, kepala botaknya kadang-kadang akan berguling di toilet. Jika kau menyanyi "Ganbari Nyudo, si gila" di dalam kamar mandi pada malam tahun baru, maka lelaki gundul itu tidak akan mengganggumu lagi.Pada salah satu cerita, seorang gadis muda sedang ke kamar mandi pada larut malam. Ia berdiri dan meraih kertas toilet saat ia mendengar suara tawa kecil di belakangnya. Ia berputar dan melihat sebuah wajah menekan permukaan kaca di jendela kamar mandinya. Ia bisa melihat wajah lelaki tua gundul yang sedang mengintipnya. Lelaki gundul itu tertawa dengan pelan pada dirinya sendiri. Sisi lain jendela itu tertutupi oleh air liur.Gadis muda itu sangat ketakutan dan berlari keluar dari kamar mandi dengan celananya melorot sampai pergelangan kaki sambil berteriak pada orang tuanya. Saat ia menceritakan pada ayahnya apa yang ia lihat, sang ayah berlari keluar dalam kemarahan untuk menghajar si lelaki tua menjijikkan. Namun demikian, saat ia berhasil mencapai gang kecil di belakang rumahnya, ia tidak menemukan apa pun.Kemudian, sang ayah melihat ke jendela kamar mandi. Ada batang besi yang melintang di jendela dan ada jarak 10 cm diantara besi dan kaca. Tidak ada jalan bagi siapa pun yang dapat menekan wajah mereka ke arah kaca. Rasa dingin mengalir di urat nadinya saat ia menyadari apa pun yang mengintip putrinya saat ia di toilet sudah pasti bukan manusia.Pada cerita yang lain, ada seorang gadis muda Jepang yang sangat malu karena tubuhnya. Suatu malam, ia sedang bermain bola voli dengan sekumpulan gadis lain. Setelah bermain, ia harus mandi, tetapi ia terlalu malu membiarkan orang lain melihatnya telanjang. Akhirnya, ia menunggu sampai semua gadis selesai mandi kemudian pergi mandi sendiri.Sendirian di dalam kamar mandi yang bercahaya suram, ia menjatuhkan handuknya dan menghidupnya shower. Tekanan air terlihat lemah karena keluar dari tetesan air yang pelan. Ia berusaha membasuh dirinya dengan aliran kecil air tersebut. Setengah bersih, ia mendengar suara tawa yang menyeramkan."Hehehe..."Suara itu seperti tawa kecil seorang laki-laki tua. Ia melihat sekeliling, tetapi ia tidak melihat siapa pun. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mencari asal suara aneh tersebut tetapi yang ia dengar hanya keheningan. Gadis itu melanjutkan mandi, sampai ia mendengar suara tawa lagi."Hehehe..."Kali ini, suara itu menjadi lebih keras."Hei orang aneh!" teriak gadis itu. "Jangan pikir aku tidak bisa mendengarmu!"Gadis itu merasa mudah diserang dengan berdiri telanjang di bawah pancuran, jadi ia memutuskan untuk cepat menyelesaikan mandinya. Baru saja ia akan pergi, ia mendengar suara tawa lagi."Hehehe..."Kali ini, suara itu sangat keras seperti berasal dari atas. Gadis itu mendongak ke atas pancuran dan melihat sesuatu yang membuat gadis itu menjerit kencang.Bukannya melihat pancuran air, ia malah melihat kepala seorang lelaki tua menjulur dari dinding. Lelaki tua itu menatap ke bawah, menyeringai dengan menakutkan dan meneteskan air liur padanya.
The School at Night
Sekolah di Malam Hari merupakan sebuah urban legend Jepang tentang sekolah yang angker. Biasa disebut juga "Gakkou no Kaidan" atau "School Ghost Stories". Urban legend ini juga kadangkala dikenal dengan nama "Seven Wonders of the School".Bertahun-tahun yang lalu di Jepang, pernah ada kejadian mendesak tentang pembuatan sekolah baru. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa pemerintah memerlukan tanah yang murah sehingga mereka bisa membangun sekolah. Jadi, mereka membangun sekolah itu di tempat bekas pemakaman tua. Hal ini memunculkan rumor dan gosip diantara anak-anak jika sekolah mereka berhantu.Mereka mengatakan jika kau pergi ke sekolah pada tengah malam, kau akan melihat dan mendengar banyak hal aneh, seperti sebuah lilin yang melayang melewati halaman sekolah, gema suara langkah kaki tanpa tubuh menyusuri aula, dan patung-patung yang matanya bergerak mengikuti langkahmu. Di kelas sains, rangka anatomi menjadi hidup, kau akan mendengar suara bola tak terlihat yang terpelanting di ruang gym, dan bahkan kau juga bisa melihat hantu terpenggal yang kepalanya terbang mengitari kelas.Jika kau berjalan menyeberangi halaman sekolah, tangan pucat akan muncul dari bawah untuk mencoba menarikmu agar terjatuh. Jika kau menggali halaman sekolah, kau akan menemukan tulang tengkorak dan batu nisan. Jika kau pergi berenang di kolam renang, tangan pucat akan menangkap kakimu dan mencoba untuk menenggelamkanmu. Bangunan-bangunan tua muncul di halaman sekolah dan ada tangga yang akan membimbingmu ke antah berantah. Jika kau berjalan menaikinya, kau akan lenyap. Mereka bilang toilet juga berhantu dan jika kau memasukinya, sebuah tali akan jatuh dari langit-langit dan membentuk sebuah simpul.Di sebuah kota kecil di Jepang, ada sekelompok remaja laki-laki yang telah mendengar desas-desus tentang sekolah mereka. Menurut legenda, jika kau pergi ke sekolah saat tengah malam pada hari kelima belas dalam sebulan, sesuatu yang aneh akan terjadi.Ada sebuah patung yang berdiri di jalan setapak yang menuntun kalian ke sekolah. Menurut dugaan, matanya akan mengikuti seiring langkah kakimu. Jika kau berjalan ke tangga utama, jumlah anak tangga akan berubah saat kau menuruninya. Jika kau menghidupkan keran di laboratorium sains, darah akan mengalir keluar, bukannya air. Dan jika ada orang yang berani memasuki bilik toilet terakhir di lantai dasar, orang itu tidak akan terlihat lagi.Anak-anak lelaki itu memutuskan untuk pergi ke sekolah pada malam hari guna menguji apakah legenda itu benar atau hanya cerita saja. Pada hari kelima belas bulan itu, mereka menyelinap keluar dari rumah dan bertemu tepat saat tengah malam. Mereka semua berempat, Shinichi, Mikio, Takashi, dan Hiro.Saat mereka berjalan melewati gerbang sekolah dan naik ke jalan setapak, anak-anak itu melihat patung. Mereka menunggu sesuatu terjadi. Mata patung itu melihat ke kiri dan bahkan saat anak-anak itu lewat, mata itu tidak berpindah satu inchi pun."Legenda yang bodohnya keterlaluan," salah satu anak tertawa kecil.Mereka memasuki bangunan sekolah dan berjalan hati-hati menaiki tangga, menghitung langkah demi langkah. Satu, dua, tiga... Totalnya ada tiga belas anak tangga. Saat mereka berjalan turun, anak tangga masih berjumlah tiga belas buah."Dongeng tak masuk akal lainnya," kata salah seorang anak.Mereka berjalan menyusuri koridor ke laboratorium sains dan menghidupkan semua keran. Bukan darah, semua keran itu hanya memancarkan air. Mereka mengeluh dalam kekecewaan."Aku tahu," kata salah satu anak. "Kita ke sini hanya sia-sia saja."Mereka memutuskan untuk menguji satu legenda lagi sebelum mereka pulang. Kemudian, mereka pergi ke toilet di lantai dasar. Namun demikian, saat mereka sampai di depan pintu toilet, beberapa anak lelaki itu kehilangan keberanian. Bukannya berbicara dengan gembira, tidak ada satu pun dari mereka yang mau membuka bilik berhantu itu.Akhirnya, salah seorang anak yakni Shinichi melangkah ke depan dan memberitahu teman-temannya bahwa ia tidak takut apa pun. Ia mendorong pintu agar membuka dan masuk ke dalam toilet, sedangkan teman-temannya menunggu di luar. Anak-anak itu melihat jam. Saat itu tepat pukul satu pagi.Beberapa menit kemudian, Shinichi keluar dari toilet dengan seringai lebar di wajahnya."Tak ada!" katanya. "Itu hanya sekumpulan cerita dan dongeng untuk anak-anak!"Anak-anak itu tertawa dan berjalan pergi. Ketika mereka keluar dari sekolah, mereka kembali menyusuri jalan setapak. Sebelum pergi, mereka melihat terakhir kali pada patung, tetapi matanya masih menatap ke kiri."Legenda bodoh," bisik salah satu anak dengan sinis dan mereka semua pulang ke rumah.Pagi berikutnya, setiap anak menerima sebuah telepon bernada khawatir dari ibu Shinichi."Apakah tadi malam Shinichi bersamamu?" tuntut ibunya. "Ia tidak di kamarnya saat aku mengeceknya di sana pagi ini. Ia pergi diam-diam dan masih belum pulang ke rumah. Dimana dia?"Anak-anak itu merasa ada sesuatu yang salah. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk memberitahu orang tua mereka tentang trip pendek yang mereka lakukan malam sebelumnya. Orang tua mereka menelepon kepala sekolah. Dan segera, kepala sekolah mengumpulkan orang tua dan anak-anak itu di luar sekolah."Apa yang kau katakan?" tanya kepala sekolah. "Kau menceritakan patung di luar sekolah? Mata patung itu selalu melihat ke kanan.""Tapi saat kami ke sana tadi malam, matanya melihat ke kiri!" jelas salah satu anak.Memasuki gerbang, mereka terkejut melihat mata patung itu sungguh-sungguh melihat ke kanan."Tapi bagaimana tentang anak tangga di tangga utama?" teriak salah satu anak.Mereka dengan cepat berlari ke tangga utama dan mulai menghitung jumlah anak tangganya."Satu, dua, tiga... DUA BELAS?!""Ya," sahut kepala sekolah. "Tangga utama selalu memiliki dua belas anak tangga. Saat dibangun, arsiteknya membuat kesalahan dengan rancangannya. Itu seharusnya memiliki tiga belas anak tangga.""Tidak mungkin!" salah satu anak berteriak. "Tapi bagaimana dengan keran-keran di laboratorium?"Memasuki laboratorium sains, mereka semua melihat ke bak cuci. Setiap keran dilapisi noda merah hitam. Anak-anak itu kaku dengan ketakutan."Tapi... Tapi... Bagaimana dengan Shinichi?" salah satu anak berkomat-kamit. "Ia masuk ke toilet...""Ayo pergi dan lihat," kata kepala sekolah dengan suara keras.Mereka semua berkumpul di luar toilet. Anak-anak dan orang tua mereka melihat satu sama lain dengan cemas. Kepala sekolah menarik napas dalam, meraih gagang pintu dan mendorong pintu toilet agar terbuka.Darah ibu Shinichi serasa membeku. Ia berteriak dan jatuh pingsan, yang lainnya melompat mundur dalam ketakutan. Beberapa dari mereka tidak bisa menahan muntah dan muntah mengotori lantai.Mayat teman mereka, yaitu Shinichi, tergantung di langit-langit dengan tali yang melilit lehernya. Wajahnya pucat dan matanya terbuka lebar, membeku dalam ketakutan. Tenggorokannya disayat dari telinga ke telinga dan darahnya diperas keluar dari tubuh sehingga memenuhi lantai bak dengan warna hitam gelap. Organ dalam dan ususnya telah diambil. Kemudian, ditumpuk dengan rapi di atas kloset.Salah satu anak berdiri dalam keadaan linglung. Ia menatap tidak berkedip pada jam tangan Shinichi. Benda itu berhenti tepat pukul satu pagi.***
Dream School
Ada seorang anak lelaki Jepang bernama K yang mengalami sebuah mimpi aneh. Dalam mimpinya, ia menemukan dirinya berkeliaran di sebuah sekolah. Itu bukan sekolahnya. Itu adalah sekolah yang tidak ia kenali.Saat itu malam hari dan sekolah tersebut tertutup dalam kegelapan. Suara langkah kaki terdengar di lorong yang kosong. Itu sangat menakutkan. Ia mencoba membuka pintu-pintu dan jendela-jendela, tapi semuanya terkunci. Ia mencoba memukul pintu dan jendela itu sekeras yang ia bisa, tapi kacanya tetap tidak mau pecah.Sekolah itu besar dan rumit seperti sebuah labirin. Benar-benar tak masuk akal. Berjalan menyusuri koridor akan membawanya kembali ke tempat sebelumnya. Hal itu sangat aneh, seolah-olah dimensi waktu dan tempat tidak berlaku.K mulai ketakutan. Ia mulai berlari sepanjang lorong. Koridor terentang terus dan terus tanpa akhir dan tidak ada jalan keluar. Setelah berlari dan kembali ke ruang kelas yang sama selama beberapa kali, K memperhatikan sesuatu yang aneh. Koridor tidak memiliki jalan kekuar. Bagaimana pun ia berlari menyusurinya, ia pasti menemukan dirinya kembali lagi ke posisinya semula.K memutuskan untuk mencoba rute yang baru. Ia berlari menyusuri lorong kanan, kemudian berbelok ke kiri dan ke kiri lagi. Ia memasuki ruang kelas ekonomi dan saat ia keluar dari pintu di sisi lain, ia menemukan dirinya sendiri di lorong yang lain. Ia memasuki ruang kesenian dan keluar dari pintu di sisi lain. Kadang, ia membawa dirinya ke lantai tiga, bersebelahan dengan toilet wanita.Ia masuk melalui ruang musik dan berlari menyusuri lorong, melewati beberapa kelas. Ia mendatangi anak tangga dan mendudukinya. Ia terus menerus berkeluyuran. Malam seperti tak akan berakhir dan fajar seperti tak akan pernah datang.Ding... Ding... Ding... Ding...K mendengar bunyi lonceng jam. Saat ia menoleh, ia melihat sebuah jam. Jarumnya bergerak bolak-balik seperti sebuah pendulum.Tap... Tap... Tap... Tap...K mendengar gema suara langkah kaki yang berat memburunya. Ia terlalu takut untuk menoleh ke belakang. Dengan perasaan putus asa, ia melarikan diri. Ia berlari ke sekumpulan tangga yang seharusnya membawanya ke lantai empat, malahan ia menemukan dirinya sendiri di lantai pertama di luar ruang audio visual.Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap...Langkah kaki mulai semakin cepat dan cepat. Ia berlari menyusuri koridor dan berbelok ke kiri, kiri lagi, kanan, dan kiri lagi. Ia keluar dari sekumpulan ruang kelas. Di ujung lorong, ada sebuah pintu keluar darurat. Ada kotak kaca rusak yang menyimpan kunci dan kuncinya hilang. Ada sebuah catatan di dalamnya yang berisi bahwa kunci ada di kelas 108.Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap...Langkah kaki semakin mendekat. K berlari menuruni tangga. Ia berbelok ke kiri, berlari sepanjang lorong, kemudian berbelok ke kanan dan kanan lagi. Ia menemukan dirinya sendiri di luar sebuah ruang kelas. Di pintunya terdapat tanda yang bisa dibaca, "108". K mencoba membuka pintu itu. Ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.Ruang kelas itu gelap dan ia tidak bisa melihat dengan jelas. K menekan tombol saklar, tapi benda itu tidak bekerja. Ruang kelas itu diisi dengan meja-meja dan ada tas punggung tergantung di belakang setiap kursi. K mulai mencari di setiap tas, mencari di setiap laci.Sejenak, ia bisa mendengar langkah kaki datang dari lorong.Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap... Tap...Tak lama, ia mendengar sesuatu menabrak pintu ruang kelas dengan keras.Brak! Brak! Brak! Brak! Brak!K masih belum menemukan kunci yang ia cari. Ia menarik laci-laci keluar dari meja dan menjatuhkannya ke lantai. Ia membuka tas-tas dan mulai mengeluarkan isinya ke lantai.Brak! Brak! Brak! Brak! Brak! Brak!Suara sesuatu yang menabrak pintu semakin lama semakin keras. Pintu terlihat seperti akan copot dari engselnya. Ia mencari dengan putus asa, tetapi ia tetap tidak menemukan kuncinya.Baru saja, ketukan di pintu tiba-tiba berhenti. Ada keheningan yang mencekam. K berdiri dengan gemetar, menunggu sambil menahan napas. Ia berdiri dalam kegelapan ruang kelas, takut untuk bergerak sedikit pun.Setelah beberapa waktu, ia masih tidak bisa mendengar apa pun sehingga ia berjalan menuju pintu. Ia mencoba meraih pintu, memutar gagang pintu, kemudian membukanya dengan perlahan dan menatap keluar koridor.Apa yang ia lihat membuatnya ketakutan, tetapi teriakan seperti tertahan di tenggorokannya.Ada anak laki-laki dan anak perempuan yang tak terhitung jumlahnya. Mereka terpotong-potong. Kepala, lengan, dan kaki mereka terpisah dari batang tubuh. Lantai dibanjiri dengan darah dan mereka menari... menyentak ke depan dan belakang... bagian tubuh mereka tersentak ke depan dan belakang dalam sebuah tarian kematian.K tertarik ke dalam dunia mimpi. Tubuhnya tetap tertidur. Ia tak pernah bisa bangun. Bahkan sekarang, dalam pikirannya ia masih berkeliaran di sekolah.Sekarang setelah kau membaca kisah ini, tolong coba lupakan. Jika kau tidak melupakan cerita ini dalam seminggu, kau akan mengalami mimpi yang sama dimana kau akan menemukan dirimu sendiri berkeliaran di sekitar sekolah. Kau harus menemukan kunci dan melarikan diri melalui jalan keluar darurat sebelum kau melewati potongan-potongan tubuh anak laki-laki dan anak perempuan yang menari, atau kau akan tertarik ke dalam mimpi.***
Away
Suara radio yang menyala, tak mampu menghilangkan bayangan terakhir yang diingatnya tentang terkasihnya. Suaranya masih terngiang-ngiang di telinganya, walaupun kini lagu rock and roll berputar menemani perjalanan pulangnya dari rumah duka.“Aku pasti akan ada di sampingmu, kapanpun kamu membutuhkanku!”Bohong. Itu kebohongan besar yang dikatakannya.Mengapa memberikan janji yang tidak mampu ditepatinya?“ Namamu Alvis, ya ?”Suaranya terdengar lagi.Pakaian hitam yang samar-samar masih menguar aroma dupa masih tercium jelas. Alvis juga yakin, ada abu yang bersembunyi di sela rambutnya.Menyedihkan, memang.Kakinya menekan pegas tanpa sadar. Kecepatan kendaranya bertambah, diselipnya mobil-mobil di depannya, membalap entah mengejar apa. Alvis tidak mengerti, apa yang tengah ditargetkannya, apa yang membuatnya terlihat terburu-buru saat ini.“ Apakah ini yang benar-benar keinginanmu ?”“ Bagaimana kalau keinginanku sudah pasti tidak akan pernah terwujud lagi? ” tanya Alvis, bergumam seorang diri.“ Apa kamu tidak bisa mengganti keinginanmu ?” Itu jawaban yang selalu ditanya balik olehnya, di setiap pertanyaan Alvis. “ Apa kamu tidak bisa berhenti berpikir bahwa hidupmu telah berakhir? Memangnya, kamu pikir bunuh diri itu jalan ?”“ Kamu tidak tahu apapun ,” lirih Alvis saat itu.“ Jangan melakukan ini, jangan membuat orang di sekitarmu sedih .”“ Semua keluargaku telah meninggal, Papa, Mama, dan semua saudaraku. Memangnya siapa yang akan sedih? Lagipula kalau aku mati, tidak akan ada pengaruh apapun dengan dunia ini. Bumi akan terus berputar, matahari akan terus bersinar, tata surya akan tetap berlangsu —”Lalu, Alvis mendapatkan tamparan yang panas.“ Mengapa kamu menamparku ?!”Namanya Sifa, dia bukan gadis yang manis.Pertemuan pertama mereka bukanlah pertemuan yang romantis. Di atap rumah sakit. Saat itu adalah masa yang berat untuk Alvis.Lelaki itu bangun dari tidurnya setelah kecelakaan beruntun di perjalanan pulang habis tamasya.Dia bangun sendirian, tanpa ada seorangpun yang menunggunya di sisi tempat tidur, tanpa ada yang memeluknya dan mengucapkan kata syukur karena dia selamat dari maut.Kabar lain datang; hanya dia yang selamat dari kecelakaan itu.Papa, Mama, dan ketiga adiknya tewas di tempat. Hanya dia yang selamat.Otomatis, yang dipikirkan oleh Alvis hanyalah menyusul mereka secepatnya.Sangat tertekan dan putus asa, Alvis berdiri di atap rumah sakit. Entah darimana dia mendapatkan kunci untuk membuka akses pagar. Sifa saat itu memang sudah di atap, menjemur dirinya karena dia merindukan cahaya matahari yang menyelimuti dirinya.Berikutnya, hampir seluruh perawat di rumah sakit mengetahui tentang kucing dan tikus yang selalu cekcok bila bertemu.Sifa adalah gadis bar-bar, matanya selalu melotot marah bila bertemu dengan Alvis.“ Aku nggak suka cowok lemah ,” ucapnya dengan sengaja, saat Alvis melewatinya bersama perawat yang mendorong kursi rodanya.Alvis yang merasa sedang dibicarakan, langsung emosi.“ Siapa juga yang mau disukai oleh gadis bar-bar sepertimu ?!”“ Mengapa malah kamu yang marah? Merasa lemah?” tanya Sifa balik, dengan nada-nada penuh kemenangan.Dia memang gadis yang menyebalkan.Namun pada akhirnya, terlalu banyaknya kebetulan di antara pertemuan mereka berdua membuat mereka berdua secara tidak sadar menjadi teman bicara. Walaupun masih diselimuti duka, pelan-pelan Alvis mulai bangkit dari keterpurukannya.“ Pernah merasa konyol tidak, karena hampir bunuh diri ?” Sifa bertanya.“ Jangan diingetin ,” keluh Alvis.“ Habisnya, setiap aku melihatmu, aku selalu ingat ekspresi bodohmu waktu kamu bilang mau mati .”Alvis memutar bola matanya kesal, “ Dasar bar-bar .”Sering adanya interaksi dari keduanya, akhirnya membuat Alvis ingin tahu lebih banyak tentang Sifa. Alvis mulai bertanya-tanya mengapa Sifa ada di rumah sakit, walaupun dia sama sekali tidak kelihatan sakit. Namun, Alvis tidak berani bertanya.Sepertinya Sifa memang benar, dia hanya lelaki yang lemah.Lama merenungi kenangannya bersama Sifa, Alvis baru tersadar bahwa ringtone HP-nya berbunyi sedaritadi. Alvis mengangkatnya, lalu menekan lambang speaker dari ponselnya.“Halo, Vis. Kamu di mana?” tanya suara dari seberang sana.“Pulang,” balas Alvis dengan nada serendah-rendahnya.“Sendirian?”“Iya.”“Oh.”Jeda selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia bertanya lagi.“Kamu nggak berniat melakukan hal aneh, kan?”Alvis tertawa hambar, “Hal aneh gimana, maksudmu?”“Tidak apa-apa.” Ada helaan napas lega dari seberang sana. “Kalau kamu udah sampai rumahmu, hubungi aku lagi, ya.”Usai memutus sambungan, Alvis pikir dia bisa segera melupakan pikirannya yang sempat larut dalam kenangan lama yang panjang bersama Sifa. Rupanya, semua kenangan itu seolah mendekapnya kembali.There are times you'll want to cry, we can just be together.When you can't find the words, can't we just be together?You don’t have to be alone.Alvis kembali mengingat Sifa.“ Ini apaan ?” tanya Alvis saat Sifa menyerahkan sebuah tape recorder lama kepadanya.“ Lagu .”Alvis menekan tombol yang dia yakini adalah play , lalu mendengarkan lagu itu dengan seksama.“ Aku pernah dengar lagu ini, tapi suaranya nggak sejelek ini ,” celetuk Alvis.Sifa melengkungkan alisnya cemberut, “ Nggak usah bilang jelek, kali. Namanya juga usaha .”“ Kenapa ngasih beginian ?”Sifa mengelus tengkuk, lalu menatap Alvis dengan tatapan serius, “ Karena menurutku, kamu butuh .”“ Butuh lagu ?”“ Butuh teman !” balas Sifa, nyaris berteriak. “ Aku mau jadi temanmu, kalau kamu butuh .”Alvis punya banyak teman. Sayangnya, baru pertama kali dia merasa sesenang ini saat ada yang mengajaknya berteman.Whenever you miss me, we can just be together.Although words are hard to find, can't we just be together?You don’t have to be alone anymore.Alunan biola dan piano dalam musik itu membuat Alvis semakin emosional. Kecepatan laju mobil yang dibawanya semakin tidak wajar.Tempat yang dilewatinya bukan lagi tempat yang familiar. Langit senja, tiang listrik dan awan-awan yang mengambang di langit, semuanya terlihat sama saja.“ Aku senang, kamu sudah mulai terlihat bersemangat untuk hidup lagi .”Batu yang mengukir nama lengkap Sifa kembali masuk dalam bayangannya. Rasanya baru beberapa saat yang lalu dia mengelus batu itu dengan perasaan tidak percaya, sekarang tangannya memegang setir mobil yang melaju dengan kecepatan penuh di jalanan panjang tanpa tujuan.Ini jelas bukan jalan pulang ke rumahnya.Ada setengah hatinya yang berbisik memintanya untuk berhenti melakukan hal bodoh dan mengikhlaskan segalanya. Sifa dan semua keluarganya di surga, tidak akan menyukai keadaan Alvis saat ini.Karena itulah, saat Alvis menemukan tanah kosong di pinggir jalan dari kejauhan, Alvis memutuskan untuk menurunkan kecepatan lajunya agar bisa segera memutar arah dari arah dia datang.Namun, kecepatan mobilnya tidak segera melambat, sekuat apapun Alvis menginjak rem.Kepanikan tidak dapat terelakkan. Meskipun Alvis berusaha tetap tenang dan mulai memanfaatkan rem tangan pada mobilnya, kecepatan mobil tetap tidak turun.Alvis tidak percaya bahwa dia akan mati dengan cara yang sama seperti semua keluarganya.“ Setelah aku sembuh nanti, ayo kita menikah !”“ Karena itu, tetaplah hidup .”Keduanya mengingkar tanpa sengaja.***END***
Frost Village
Langkahku melemah, rasanya kakiku tak mampu lagi menahan bobot tubuhku. Salju tebal yang menumpuk membuatku makin lelah. Badai salju di depan mata dan sekelilingku yang penuh dengan pepohonan kering yang rantingnya saling bergesekan menambah rasa nyilu di pendengaranku.Kuabaikan tubuhku yang mulai mati rasa, langkahku yang semakin berat karena harus berjalan di tumpukan salju yang tingginya sudah di atas lututku.Sial, sial!Seharusnya aku tak pernah mengikuti ajakan bodoh Angelos. Dia yang membuatku seperti ini, dua hari tanpa makanan di atas gunung es yang membeku.Aku akan mati bila tidak segera mencari pertolongan . But come on, man ! Tidak ada orang segila itu yang akan berkeliaran di salah satu puncak Himalaya yang jalur pendakiannya bukan jalur favorit para pecinta gunung.Dan di sini aku dipaksa untuk selalu merasa bersyukur. Maksudku, aku masih di sini, di pegunungan es, dengan perlengkapan pendakian yang masih lengkap.Aku benar-benar tidak bisa berpikir lagi kalau aku diterlantarkan seperti ini di gurun Sahara. Kehausan, kelaparan, dan apalagi yang paling menyedihkan dari semua itu? Terik matahari yang membakar? Kurasa tidak, aku benar-benar ingin merasakan terik matahari saat ini.Baiklah, tenang.At least , aku hanya perlu mengunyah salju untuk mengurangi dahaga (Bohong sih, ini sangat tidak disarankan, kecuali kalau sangat darurat dan kau siap merasakan nyilu berat di gigimu). Kalau di sini ... sial! Di sini benar-benar sangat dingin!Badai semakin kencang, beberapa kali tubuhku hampir roboh dan berbaring pada tumpukan salju yang selembut ranjang kamarku yang hangat di rumahku.Ah, tidak, tidak. Aku tidak boleh begini terus, aku benar-benar akan mati jika terus-terusan begini. Sebaiknya aku terus berjalan, mengabaikan rasa kantuk ini. Aku tahu wajahku sudah sangat buruk karena sudah nyaris tak tidur dua hari, tapi ayolah, tidak ada siapapun yang akan melihat wajahmu di sini. Kalaupun ada, harusnya aku bersyukur, mungkin aku mendapat pertolongan.Badai masih berlangsung, aku mulai bingung dengan langkah yang kujalani. Apa karena badai aku jadi kehilangan arah? Apa mungkin aku berbalik ke jalan yang tadi? Ya ampun, bagaimana aku mengetahuinya?"Sial," umpatku sambil menggosokan dua sarung tanganku yang basah. Membuangnya pun sayang karena aku ingat berapa USD yang kuhabiskan untuk sarung ini, 200 USD. Melepaskannya pun bodoh, karena salju yang amat dingin siap mendarat kapanpun di telapak tanganku.Ransel beratku yang berisi pelengkapan mendakiku masih utuh dan tentu saja berat. Tambang sepuluh meter yang membawaku ke tempat terkutuk ini masih kusimpan sebagai kenang-kenangan—sebenarnya aku menyimpannya karena bisa saja sewaktu-waktu aku menemukan jalan turun yang terjal.Jalan mulai menurun dan aku mencoba berhati-hati, aku berpegangan pada dahan yang kuat, dengan bantuan tumpukan salju yang ada, aku memanfaatkannya sebagai penahan kakiku agar tidak terseret ke bawah.Melupakan ketidakberdayaan diriku, aku akhirnya jatuh ke bawah dalam keadaan yang sangat buruk. Sangat! Aku terjatuh dengan tidak elite, lebih mirip bayi yang baru belajar berjalan daripada orang keren yang berusaha menyelamatkan dirinya dari dataran terjal.Setelah menguatkan diriku, aku pun bangkit pelan-pelan, kutarik napas panjang dan memperhatikan uap yang keluar dari mulutku. Ah, sialan, aku masih bernapas, huh?Pandanganku beralih ke depan, mataku membulat lalu mengerjap beberapa kali. Batu-batu yang disusun dengan sangat rapi, papan besi yang memperlihatkan embun tebal, rumah-rumah sederhana yang terlihat simetris dari sini, membuat tenagaku yang sudah merosot drastis setelah jatuh tadi, langsung berkumpul kembali.Akhirnya! Akhirnya aku selamat!Namun langkahku terhenti, entah mengapa, disaat seperti ini pikiranku bereaksi dengan cepat. Aku ingat betul istilah fatamorgana diciptakan disaat seperti ini, ya kuakui ini hanyalah sebuah desa sederhana, tapi ini sangat indah saat ini.Dengan penuh harap-harap, aku melangkah di depan papan besi itu, sekarang aku merasa beruntung tak membuang sarung tangan beku ini, dengan itu aku mengusap embun di papan itu. Hanya dalam sekali usap saja, aku menemukan tulisan disana, yang membuat senyumanku melebar." Frost Village , huh?" Suaraku yang mulai terasa serak pun kukeluarkan untuk pertama kalinya, setelah dua hari aku melangkah tanpa arah, tentunya.Dengan langkah terseret-seret, aku berusaha mencapai bangunan yang terbuat dari batu itu, bentuknya mirip kubah dan pintunya dari kayu. Tidak ada siapapun di luar—ya, tentu saja. Semua bangunannya memiliki bentuk yang sama, membosankan. Ah, kuharap mereka punya makanan hangat dan minuman panas. Aku masih punya dollar lebih di dompetku, kurasa memberikan setengahnya tidak akan membuatku mati.Aku mengetuk pintu berkali-kali, tak punya kekuatan sedikitpun untuk mengucapkan apapun. Dengan sedikit kecewa, aku bermaksud untuk berpindah ke rumah yang lain. Aku harus optimis, pasti ada seseorang disini yang bisa menolongku.Pintu tiba-tiba saja terbuka, menampakkan seseorang perempuan muda yang membukanya dengan sedikit ragu. Ya ampun, sungguh, gadis ini cantik sekali.Dia memakai pakaian tebal—selimut yang membungkusnya sedikit tersikap—syal di lehernya yang terlihat melilit lehernya dan juga napas gadis itu membuatku tersadar bahwa bisa saja gadis ini juga kedinginan."A-aku tersesat, bisakah kau tolong aku?" tanyaku dengan gugup.Kulit tangannya yang putih pucat itu mendorong pintu kayu, membuka pintunya sedikit lebih lebar dan membuatku tanpa sadar tersenyum, dia mengizinkanku masuk."Jadi, sudah berapa lama tuan tersesat?" tanyanya sewaktu aku sedang meneliti sudut ke sudut ruangannya, ukuran ruangan ini kira-kira...4x5 meter, tempat ini lebih hangat daripada diluar sana, ada lentera minyak dengan api kecil yang sedikit redup di sana. Aku tidak dapat menebak apakah gadis ini kehabisan sumbu atau minyak.Gadis itu memberikan padaku segelas cangkir yang terasa hangat di tanganku. Mungkin air ini bukan air yang baru dimasak, tapi tak apalah."Te-rima kasih," Aku menengak dahulu air putih itu untuk memulihkan suaraku. "Aku datang di puncak ini tiga hari yang lalu dengan temanku, tapi aku kehilangan kontak dengannya karena cuaca ekstrem. Selama dua hari aku berjalan tanpa arah," terangku.Gadis itu menatapku dengan tatapan tidak tega, "kalau begitu, Tuan pasti belum makan. Tunggu sebentar, aku ingat masih punya sisa kemarin ...."Aku mengeryitkan keningku. Sisa? Yang benar saja ? Tapi tentu saja aku akan mengutuk diriku sendiri sebagai orang yang tak tahu untung ! Gadis itu rela memberikan makanan satu-satunya untukmu, bodoh !"Apa tidak ada orang lain di sini?"Gadis itu menolehkan setengah kepalanya, menatapku lewat ekor matanya, "Tidak, Tuan. Desa ini kosong sejak seminggu yang lalu, saat makhluk itu datang."Aku menenggak kembali minumanku, "Makhluk?"Gadis itu berbalik, menyerahkan sebuah piring dengan beberapa 'makanan' yang bahkan tak kumengerti apa itu. Benda ini lebih mirip jelly dengan warna merah, aku tak berani berkomentar setelah kebaikannya memberikan makanan itu kepadaku."Benar. Sebenarnya ...," Gadis itu menyandar di satu sisi dinding, rambut hitam panjangnya nampak sangat kontras dengan dinding berwarna putih abu itu. "Sebenarnya sudah dari dulu, warga kami mengetahui tentang keberadaan makhluk itu."Aku masih tak mengerti penjelasannya, aku mulai mencicipi 'makanan' itu tanpa sendok, rasanya dingin, kucoba meresapi rasanya yang hambar dan terasa sangat kenyal. Uh, sungguh, apa ini bisa dimakan ?"Kami menyebutnya Frost , tidak ada siapapun yang tahu bentuk dan wujudnya sampai seminggu yang lalu," gadis itu memejamkan matanya. "Bahkan aku juga melihatnya..."Aku menggunakan kesempatan itu untuk memuntahkan apa yang kukunyah selama beberapa detik itu ke sarung tanganku. Ew, wujudnya sungguh menjijikan dan tak pantas diceritakan. Selanjutnya aku buru-buru memasukkan 'makanan sisa' itu ke saku jaket tebalku. Tanpa membuka sarung tanganku, aku bahkan tahu betapa menggelikannya benda itu."Lalu, Tuan ..." gadis itu tiba-tiba membuka matanya dan mendekat ke arahku, membuatku gelagapan dan bertanya-tanya apakah dia melihat tindakanku barusan. "Apa selama dua hari itu, Anda bertemu dengan Frost ?"Aku menenggak saliva-ku, ya ampun, dia membuatku terkejut. Disaat seperti itu, aku mencoba tenang dengan tatapannya.Aku berdeham pelan, "Aku bahkan belum tahu bagaimana wujudnya, bagaimana mungkin aku tahu apakah aku sudah menemuinya atau belum."Konyol sih, seharusnya gadis itu tidak perlu bertanya seperti itu kan, kalau aku bertemu seseorang, aku pasti akan meminta bantuannya terlebih dahulu sebelum sampai kemari. Bukankah aku sudah menceritakan kronologisnya?"Tingginya dua meter, tubuhnya dipenuhi oleh bulu putih, kepalanya bertanduk..." Caranya menerangkan semakin lambat dan tentu saja membuatku bergidik, makhluk apa itu? "Dia memiliki cakar yang tajam, matanya tak terlihat karena dihalangi oleh bulu putihnya ..., ekornya..."Gadis itu terdiam tiba-tiba."Ekornya kenapa?" tanyaku penasaran.Dengan bibir bergetar, gadis itu menjawab dengan pelan. "Sebenarnya, aku tidak tahu apakah yang ini sungguhan atau bukan. Tapi katanya, benda apapun yang menyentuh ekornya akan berubah menjadi es."Hanya satu pemikiranku, mungkin saja gadis ini berfatamorgana, astaga, dalam usia sebelia ini... sungguh kasihan."Lalu, apa yang Frost lakukan? Mengapa semua orang menghilang?"Gadis itu menjawab semakin pelan, "Dia ... dia menyerang semua warga."Aku mendorong pelan piring itu ke depan, tanda telah menyelesaikan makanku—meski masih ada sisa di sana, "dan terima kasih makanannya, aku sudah kenyang, cukup membantu," ucapku berusaha mengatakannya setulus mungkin."Sama-sama, Tuan," balasnya sambil mengambil piring itu dan meletakannya kembali ke tempat dia membawanya tadi.Aku penasaran, apakah makhluk itu benar-benar ada? Maka dari itu aku bertanya lagi pada gadis itu. "Lalu, kemana semua warga?"Gadis itu melakukan hal yang sama, membalikkan setengah kepalanya, menatapku lewat ekor matanya, "Di dalam perutnya."...baiklah, ini tidak lucu."Omong-omong ...," Aku berusaha mengubah topik. "kira-kira kapan cuaca ekstrem ini akan berakhir?"" Frost Village belum pernah sekalipun kelihatan tanahnya. Singkatnya, tempat ini selalu ditutupi salju.""Lalu, bagaimana kalian makan?"Gadis itu duduk di posisinya yang tadi lagi, "Kami berburu, Tuan. Yang tadi anda makan adalah hati rusa yang Ayahku tangkap dari tempat yang jauh ...."Aku merinding, sungguh. Apalagi mengingat salah satu bagiannya ada di dalam saku jaketku ..., dan mulutku telah menggigit hancur hati rusa, lalu, cairan yang keluar dari sana ... ya ampun, berhenti memikirkannya! Sungguh menjijikkan!"Apa kau tahu cara turun dari puncak ini?" tanyaku berusaha melupakan semua rasa jijik ini.Gadis itu menggeleng, "Aku belum pernah sekalipun turun dari puncak, Tuan ...."Aku mulai sibuk memeriksa ranselku, berharap peta yang diberikan Angelos masih ada padaku, tapi demi apapun yang ada dunia ini, aku merutuk menyadari bahwa benda itu telah hilang, tidak ada di sana.Tambang, besi dengan ujung runcing—yang tadinya kami rencanakan untuk membuat tempat pemancingan pribadi di atas es (kami menyebutnya alat pemecah es, karena memang itu fungsinya saat kami berniat membawanya), pemantik api, koyo penghangat, satu botol alkohol yang telah kosong, tali pancing, sebotol kecil pengait, pisau, tenda, dan sisanya beban tak berguna yang membuat ranselku berat.Baru saja aku menutup tasku setelah memeriksanya, gadis itu sudah berada di depanku. Matanya melotot, sebelah tangannya mencengkram syalku, tangannya yang lain tiba-tiba saja mengarahkan pisau ke arah mataku.Aku refleks menghindar, butuh beberapa milisecond untuk mencerna apa yang terjadi saat ini.Gadis itu menyerangku sekali lagi, kali ini mengarahkan pisau itu ke arah perutku. Aku berputar, cepat-cepat bangkit dari dudukku dan segera berlari menuju pintu. Gadis itu muncul dari samping dan lagi-lagi mencoba menyerangku dengan pisaunya. Aku meraih pergelangan tangannya, menahan pergerakannya dan berusaha mungkin menjauhkan pisau itu darinya."Anda kurus, Tuan. Tapi tidak masalah, mungkin aku bisa bertahan selama dua minggu."Gila. Gadis ini positif gila! Dia berniat memakanku? Apa-apaan itu? Aku yang akan membunuhnya kalau dia berani macam-macam!"Dengar, gadis gila! Aku juga tidak bodoh untuk menduga bahwa monster yang kau sebut Frost itu benar-benar ada! Kau gila!"Gadis itu tersenyum meremehkan, "Sayang sekali, Tuan. Frost memang ada."Aku membalas dengan geram, "Kalaupun ada, KAU-lah monsternya!"Aku mengeluarkan alat pemecah yang es dari tasku, aku yakin tidak akan kalah dari monster ini setelah melihat perbandingan senjata kami. Dia hanya punya sebilah pisau yang panjangnya bahkan tak sejengkal ukuran tanganku. Dan alat pemecah esku? Ujungnya tajam dan panjang, mudah untuk dibawa kemana-mana.Karena itulah aku optimis akan memanangkan ini.Apa yang kutebak benar, senyumku melebar saat aku berhasil menusuk tepat di perut gadis itu. Bahkan sampai menembus ke belakang. Aku bersorak dalam hati, ada rasa bangga tersendiri karena berhasil menyelamatkan diri dari monster sepertinya.Tubuh gadis itu meluluh turun, dirinya terduduk, kulit tangannya yang putih pucat kini telah dibalut oleh darah. Pisau yang dipegangnya terjatuh. Bahkan sebelum ajal kematian menjemputnya, gadis itu menyempatkan diri menatapku, seolah menyalahkanku. Tatapan balas dendamnya itu seolah berpesan padaku bahwa dia akan membalasnya di kehidupan lain."Kau yang memulainya, Nona," ujarku tak terima.Aku mencabut pemecah esku—yang kini kuanggap sebagai senjata—dari perut gadis itu. Gadis itu masih menatapku tajam, napasnya naik turun berusaha menahan persetan yang dia rasakan. Aku tidak peduli."A-anda ju-ga akan mati sebentar lagi, Tuan..." Gadis itu tersenyum, jika dalam keadaan normal dan tidak seperti ini, senyumannya benar-benar memikat dan akan kusetarakan dengan senyuman bidadari. Tapi tidak, aku menebak bahwa senyuman itu ditujukan kepada malaikat maut yang kini ada di sekitar sini, entah dimana.Aku mendesis, "Kalau begitu, bermimpilah di neraka."Gadis itu sudah tidak bergerak lagi, napasnya berhenti dan tangannya tergeletak di lantai begitu saja. Matanya masih dalam keadaan terbuka, ini aneh, seharusnya dia memejamkan matanya karena dia tidak mati penasaran, kan? Tapi ah, sudahlah, masa bodoh. Aku bisa bertahan hidup di sini sekitar...sepuluh hari, mungkin. Sepertinya dagingnya banyak, terutama di bagian kakinya.Aku keluar dari rumah itu, bukan, aku bukan ingin pergi, aku hanya mencari kayu bakar. Tentu saja tidak, tidak dengan masuk ke hutan terdekat disana. Tidak ada kayu bakar yang kering kan, di sana?Tiba-tiba mataku terasa berat, pandanganku berkunang-kunang, langkahku menjadi oleng dan aku terpeleset saat menginjak salju. Sialnya, kepalaku terbentur tembok luar rumah yang keras, itu membuat kepalaku terasa terbuka lebar dan salju yang turun di atasnya, seolah berlomba-lomba masuk ke dalam sana.Jantungku berdebar, aku menggertakkan gigiku, sialan, pasti dia meletakan sesuatu di minumanku .Aku berusaha menarik diri untuk masuk kembali ke rumah itu, namun tubuhku tak mau menurutiku sedikitpun. Aku berada dalam posisi itu hampir selama beberapa menit. Tubuhku kedinginan, terutama di bagian kepalaku, dan itu benar-benar tersiksa.Mataku masih terbuka lebar, hanya tubuhku yang mendadak kaku seolah sejak awal aku diciptakan sebagai patung. Aku mencoba bernapas pelan-pelan karena ada rasa tertekan di bagian dadaku saat setiap aku mencobanya.Samar tapi jelas, aku mendengar suara salju yang terinjak, semakin lama semakin dekat. Aku ingin melihat siapa yang datang, tapi kepalaku tak mampu menoleh. Kuharap itu bukan orangtua gadis itu, kalaupun iya, aku tinggal menjawab pembelaan diri. Dia ingin membunuhku, dan yang harus kulakukan adalah melindungi diri. Yah, meski aku tidak yakin mereka sewaras diriku.Tapi semua persepsi itu berakhir begitu saja, saat aku melihat Angelos. Matanya menatapku dengan mata melebar.Astaga, Angelos! Aku tidak mampu berteriak, meski aku ingin.Kepala Angelos ada dalam genggaman makhluk itu! Makhluk berbulu putih, bertanduk, memiliki tinggi dua meter, cakar tajam, dan gigi tajam yang kini tengah memainkan lengan Angelos. Darahnya sudah membeku.Astaga! Itu benar-benar tangan Angelos! Tangan yang penuh dengan tatto itu!Makhluk ini Frost , dan keberadaannya benar-benar nyata. Aku terkejut, tapi tetap saja tubuhku yang seharusnya sudah berlari jauh tanpa mempedulikan ranselku di dalam sana ... tidak bisa bergerak sedikitpun!Frost melempar kepala Angelos di sampingku, senyumannya melebar dan dia memamerkan deretan gigi tajamnya tanpa malu. Cakarnya meraih kepalaku......Dingin dan mati rasa, namun aku bisa merasakan semuanya.***END***
Mabuk CEO
Hidup adalah tentang menyenangkan semua orang. – Hani***Bekerja di Jakarta itu berat. Selain jam kerja yang panjang, karyawan harus berhadapan dengan kemacetan Jakarta yang disebut sebagai salah satu yang terburuk di dunia.Pulang melewati jam kantor demi menghindari macet dan tiba di rumah larut malam. Keesokan paginya, harus bangun lebih cepat dari seekor ayam jago agar tiba di kantor tepat waktu.Tergopoh-gopoh memakai sepatu, menyambar tas dan merapikan pakaian yang kusut setelah berdesakan di dalam bis, dilakukan hampir semua karyawan di kota metropolitan itu. Termasuk Hani.Permisi—permisi, maaf .... Hani memiringkan tubuhnya melewati celah himpitan tubuh-tubuh manusia yang belum tiba di tujuan. Dengan satu lompatan, ia sudah menjejak tepi jalan raya.Sedikit melompat-lompat menghindari trotoar yang tak rata, Hani merogoh kantong jasnya. Ponselnya bergetar sejak tadi. Pasti urusan yang sama, umpatnya dalam hati.Han! Kopi ya. Semua varian kayak biasa. Dan kayak biasa juga, pake duit lo dulu, entar diganti. Thank you in advance.Doni yang hobi menyuruh-nyuruh junior tak pernah lupa menyampaikan titipannya pagi itu. Dulu Hani merasa luar biasa keren setelah diterima di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Di antara penghuni jajaran lantai satu kos-nya, Hani dianggap paling sukses. Wanita karir sejati. Padahal ....Hani mengetikkan balasan untuk pesan Doni, Siap, Mas. Ia langsung mempercepat langkah kakinya menuju kedai kopi mahal yang seolah sudah menjadi kewajiban untuk menampilkan urban lifestyle.Dua orang karyawati yang menggandeng anak kecil masuk tergopoh menuju lobi. Hani meringis menoleh sekilas. Ibu-ibu itu pasti menuju tempat penitipan anak yang berada di lantai dasar.Untuk kesekian kalinya, Hani mensyukuri bahwa ia belum menikah. Perkantoran Jakarta, ia nilai terlalu berat untuk ibu bekerja. Mereka pasti bangun jauh sebelum matahari terbit menyiapkan sarapan bagi keluarga. Atau setidaknya, persiapan untuk dirinya sendiri menuju kantor. Lantas mereka harus menitipkan anak kepada pengasuh atau orang tua mereka kalau di kantornya tak ada fasilitas penitipan. Ditambah lagi dengan menjejalkan diri ke dalam transportasi umum. Hani bergidik.Betapa pun kerasnya usaha para perempuan itu, pada akhirnya, mereka terpaksa harus berhenti bekerja karena tingginya biaya yang harus ditanggung, sebuah fakta yang ditemukan dalam riset-riset.Dengan kacamata yang melorot sampai ke ujung hidungnya, Hani menenteng empat paper cup berbagai ukuran di tangan kirinya.Lagi-lagi ia harus menyebut mantra yang sama. "Permisi—permisi, maaf ...."Sepuluh menit lagi menjelang waktu yang ditolerir mesin finger print . Hani mendatangi tiap kubikel dan meletakkan pesanan masing-masing rekan di timnya. Beres dengan semua pesanan itu, Hani meletakkan ibu jarinya pada mesin finger print hingga bunyi bip terdengar."Han! Tolong ke ruangan saya!" seru Bu Curry saat melintas di depan kubikelnya.Ya, Tuhan . Apa berkas yang kemarin salah lagi?Hani langsung gelisah dan mual seperti biasa."Eh, lo dipanggil, tuh! Minum kopi dulu biar tenang. Sampe keringetan gitu." Dini satu-satunya karyawan lama yang sering mengajak Hani berbicara menghampiri kubikel."Gue nggak beli kopi," jawab Hani."Kebiasaan lo emang. Jangan terlalu pelit untuk diri sendiri, Beb!" Dini berlalu menuju ruang fotokopi di sebelah pantry.Ya, memang sudah menjadi kebiasaan Hani. Terlalu pelit dengan diri sendiri. Mati-matian mengencangkan ikat pinggang demi menumpuk pundi rupiah di tabungan demi mencapai kebebasan finansial di usia muda seperti impian banyak orang.Semua buku tentang kepribadian dan cara menghadapi atasan, seketika tak berguna saat berhadapan dengan Bu Curry. Wanita karir berparas tegas dan menikah dengan seorang pria asing itu adalah legal manager. Dan Hani adalah seorang legal staff. Ya. Lulus dengan nilai IPK bergelar summa cumlaude tak membuat Hani cepat diangkat menjadi legal coordinator. Bekerja selama empat tahun, Hani masih menjadi pesuruh di timnya.Dan sekarang, Bu Curry memanggilnya ke ruangan yang sudah bisa dipastikannya untuk urusan apa. Pekerjaan Doni si legal coordinator yang dilimpahkan padanya pasti ada kekeliruan.Hani meneguk air putih hangat dari tumbler-nya. Setelah merapikan rambut dan letak kacamatanya, ia menyeret langkahnya menuju ruangan Bu Curry."Pasti kamu yang mengerjakan update regulasi nasional ini, kan?" Bu Curry setengah mencampakkan beberapa lembar kertas yang disisipi paper clip ke meja."Iya, Bu. Benar. Saya yang mengerjakannya karena—""Sudah berapa tahun kerja, sih? Masa yang begini aja kamu nggak becus. Di bawah itu memang tanda tangan Doni, tapi kalau kamu yang diminta bantu mengeceknya, harusnya bisa lebih bener. Sudah dua orang yang ngerjain, masih bisa salah!""Maaf, Bu," sahut Hani dengan gugup memasukkan lembaran rambutnya ke belakang telinga. Perutnya semakin mual dan rasa-rasanya ia bisa muntah di tempat itu.Please, jangan ngomel panjang lebar. Jangan sampe abis diomelin aku harus bersihin muntahku di ruangan ini."Memangnya kamu nggak pernah belajar dari senior-senior? Dalam beberapa tahun ini, apa yang kamu pelajari?" sergah Bu Curry.Hani menunduk memandangi tanda pengenal yang menampilkan foto cantiknya tengah tersenyum. Dalam pasfoto itu ia terlihat bahagia sekali. Foto awal diterima bekerja di sebuah perusahaan besar farmasi yang bergerak di bidang manufaktur.Apa yang udah aku pelajari? Memerintah junior seenak jidat? Enggak pernah melibatkan junior dalam setiap project yang melibatkan kompetensi saat rekan sejawat lain diikutsertakan? Khawatir akan kemampuan junior yang lebih unggul? Menegur di depan orang ramai? Mencemooh? Kritikan terus-menerus? Menekan dan mengintimidasi? Atau yang paling parah, mengambinghitamkan junior yang belum memiliki wewenang apa pun? Gimana kerjaan si Doni tolol itu? Banyak keliru, kan? Ternyata masuk ke sebuah kantor besar karena relasi erat dengan direksi nggak bikin tambah pinter. Yang ada malah makin goblok!Hani memaki-maki di dalam pikirannya. Mengatakan semua hal yang tak bisa ia katakan langsung pada orang lain. Di dalam pikirannya ia bebas mengatakan apapun tanpa khawatir siapa pun tersinggung."Hani ... kamu denger?" tegur Bu Curry.Hani mendongak dan mengerjapkan mata. Ia sedang berusaha keluar dari kubangan pikiran yang sedang berusaha menghiburnya. "Maaf, Bu. Saya akan perbaiki secepatnya. Besok pagi saya serahkan lagi ke Mas Doni untuk ditandatangani lebih dulu. Sekali lagi maaf, Bu" Hani sedikit menunduk, kemudian maju selangkah untuk mengambil berkas dari atas meja.Meski selalu mual karena hardikan Bu Curry, Hani selalu puas jika mendapati pekerjaan seniornya tak diterima. Bu Curry seperti biasa. Tak menjawab sepatah pun. Perempuan itu hanya mengibaskan tangan mengusirnya dari sana.Sebentar lagi masuk waktu makan siang. Dan Hani masih mengerjakan perbaikan soal regulasi nasional yang diminta atasannya. Ternyata Doni tak memperbarui tentang dimensi penataan regulasi nasional yang baru ditetapkan pemerintah."Han, gimana? Revisinya kalo bisa jangan sampe sore, ya. Gue mau pulang lebih awal. Besok gue nggak masuk. Udah ngambil cuti sehari doang. Jadi, kalo bisa lo kerjain secepatnya," ujar Doni menumpukan sikunya di atas kubikel.Jangan sampai sore nenek moyangmu, Don! Aku udah ngelewatin makan siang demi mengerjakan sesuatu yang harusnya jadi urusanmu. Harusnya kertas-kertas ini aku jejalkan ke mulutmu biar kamu ngerti cara kerja yang benar!Hani ingin mengatakan hal itu. Tapi sayangnya yang keluar dari mulutnya hanya, "Baik Mas, paling lama gue siapin sejam lagi.""Sip! Hani memang selalu keren," ucap Doni kemudian pergi sambil bersiul-siul.Kalau saja dulu Hani tahu bahwa Doni yang dinilainya paling berengsek di antara para senior berengsek di kantor itu seumuran dengannya, ia tak akan sudi memanggil laki-laki itu dengan sebutan Mas. Sayangnya semua sudah terlambat. Doni sudah telanjur besar kepala dengan senioritasnya.Sejam kemudian, Hani yang selalu berhasil menepati janjinya sudah memegang sebuntalan kertas menuju meja Doni. Seperti biasa Doni menandatangani semua kolom bagiannya dengan wajah puas dan senyum menjengkelkan.Pukul delapan malam, Hani membereskan mejanya. Semua pekerjaannya hari itu berhasil ia selesaikan tepat waktu. Besok pagi ia tinggal menyerahkan pada Bu Curry. Dini satu-satunya manusia di kantor yang mau berbicara selain hal pekerjaan padanya, sudah pulang sejak tadi.Ponsel yang terletak di atas meja bergetar pendek-pendek. Kantor yang lengang dan kubikel kosong membuat suara getaran ponsel itu sedikit mengejutkan Hani. Ia cepat-cepat membuka aplikasi pesan. Benar dugaannya, pesan dari Indra.Lo masih di kantor? Gue baru selesai meeting di pusat. Makan dulu, yuk.Tak perlu berpikir dua kali, Hani langsung menyambar ponsel dan tasnya, lalu tergesa menuju lift. Sebagian lampu ruangan telah dipadamkan menuruti kampanye hemat energi demi menutupi efisiensi perusahaan. Sama sekali tak memikirkan nasib karyawan over time yang merinding tiap harus menyusuri ruangan gelap menuju lift."Gue di mini market biasa! Makan onigiri. Buruan!" Hani kembali memasukkan ponselnya ke saku jas.Dengan kresek putih di tangannya berisi empat onigiri dan dua botol air mineral, ia menarik kursi besi berat di salah satu pojok teras mini market.Mini market itu menempati dua buah bangunan lantai dasar gedung perkantoran. Tempatnya di sisi luar mengarah jalan yang masih berada dalam lingkungan tiga tower gedung yang berdampingan. Bagi Hani, mini market itu aman sebagai tempat mengumpat dan melepaskan penat."Onigiri lagi? Gak ada bosennya. Ckckck." Indra baru tiba dan langsung berdecak seraya menarik kursi besi."Lo mau nambahin omelan ke gue lagi?" Hani langsung melahap setengah onigiri dengan satu gigitan. Pandangannya lurus ke depan. Tak menoleh pada Indra yang sudah duduk di sisi kanannya.Indra menunduk sekilas untuk menggeser kursinya sedikit maju. "Sepatu lo ganti, udah butut banget. Kasi kado buat diri sendiri," ujar Indra yang ternyata benar-benar menambahkan omelannya."Tabungan gue masih jauh dari kata cukup untuk pelesir ke Machu Picchu," sahut Hani menyodorkan botol air mineral pada Indra. Sahabat pertama dan satu-satunya sejak ia menangis pertama kali di salah satu kursi teras mini market itu.Indra memutar tutup botol lalu menyodorkannya kembali pada Hani. "Gimana kantor?""Si Curry sehat walafiat. Masih buta ama bawahan langsungnya. Dan tim gue, tetap cuma judulnya aja yang tim. Yang kerja sebagian besar masih gue sendiri.""Gue udah capek nyuruh lo resign , tukas Indra mengambil sebuah onigiri dari dalam kresek mini market dan membuka botol air mineral untuknya sendiri."Gue takut bakal susah cari kerja. Bisa pingsan emak gue di kampung kalo tiba-tiba gue pulang jadi pengangguran.""Gue juga udah capek bilang ke lo jangan resign dulu sebelum keterima di perusahaan lain Hani . Jakarta ini luas. Enggak ada tempat untuk manusia-manusia lembek. Lo khawatir nggak dapet kerja yang berurusan dengan bidang hukum? Sampe kapan mau kerja yang posisinya sesuai ama gelar lo?" Indra kembali mendaratkan omelan yang sama untuk ratusan kalinya.Dan jawaban Hani selalu sama. "Gue nggak pede, Ndra. Gue rikuh kalo harus mulai semuanya dari awal lagi. Enggak bakal sanggup gue," ucap Hani.Indra menoleh iba pada perempuan di sebelahnya. Stephanie, nama yang terkesan kota namun tak menyiratkan hal itu di kelakuannya. Alih-alih dipanggil dengan sebutan Stefie bak bintang film. Di kampungnya, ia dipanggil dengan sebutan Hani yang melekat sampai di ibukota.DRRRTT DRRRTTPonsel Hani bergetar panjang di atas meja. Hanya sederetan angka. Tak merasa punya hutang dan keharusan menghindar dari debt collector, Hani menjawab telepon itu."Ya?" jawabnya malas-malasan."Han, ini Ayu! Kamu, kok, keluar dari grup besar SMA sih? Inget ini tahun berapa? Reuni akbaaar," teriak Ayu dari seberang telepon."Hah? Ayu? Reuni ak—bar?" Dua kata yang menyadarkan Hani malam itu. Dagunya yang tadi bertumpu di atas meja, kini tegak. Suara Ayu yang ceria di telepon, belum apa-apa sudah membuatnya insecure. Ia keluar dari grup SMA dan menghilang dari dua sahabatnya yang sama-sama merantau ke ibukota, bukan tanpa alasan.Hani minder. Grup SMA terasa mencekiknya. Yang dibicarakan semua orang hanya pencapaian dan pencapaian. Suami, istri, anak, harta, karir, dan kalimat-kalimat menyombongkan diri yang dibalut keluhan. Merendah untuk melambung tinggi."Han! Kita harus ketemu. Inget, reuninya tiga bulan lagi. Inget juga janji kita dulu. Kamu, aku, Tika. Kita harus ketemu. Bawa suami atau pacar kamu. Aku pengen liat pasangannya primadona SMA Membalong kayak apa. Info reuni aku kirim lewat chat. Aku panitianya. Semua orang pada nyariin kamu. Dasar!" pekik Ayu dengan girangnya.Seperti apa? Primadona SMA? Primadona itu sudah lama mati. Kalau saja ia mendapat suami seorang politisi muda seperti Ayu, atau Tika yang bersuamikan dokter sukses, ia mungkin tak akan capek-capek menghilang.Dua wanita dari desa dengan pendidikan sarjana sepertinya tapi memiliki pencapaian luar biasa. Tak perlu kerja keras membanting tulang, tapi bisa kaya dan cantik mentereng. Dua wanita itu hanya perlu menjadi seorang istri laki-laki hebat.Pembicaraan sudah berakhir. Hani diam menunduk memandang heels kusamnya. Heels yang sudah dijahit dan dilem empat kali."Kenapa?" tanya Indra."Reuni akbar SMA Membalong.""Terus?"" Fixed gue enggak dateng. Gue enggak mau cari penyakit," lirih Hani."Hei, stupid ... lo harus dateng," ucap Indra."Kalo di kota, gue wanita karier. Kalo di kampung, gue perawan tua." – Hani***"Gue mo balik," kata Hani seraya bangkit menggeser kursi."Sendirian di kos-kosan? Mending ke apartemen gue. Kita main kartu kayak kemarin. Yuk, ah," ajak Indra ikut berdiri dan menyeret lengan Hani.Indra merangkul pundak Hani menuju taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Malam itu, kemungkinan besar mereka akan kembali menikmati waktu semalam suntuk untuk mengeluh dan mencerca atasan di kantor."Kerja di sektor swasta yang dinamis, sebenarnya bisa jadi media yang bagus untuk mengembangkan diri dan kompetensi," gumam Hani dari jok belakang taksi."Hmmm ...," lirih Indra tanpa menoleh. Pandangan mereka sama-sama lurus ke depan. Indra kembali mendengar cerita yang sudah diulang puluhan kali oleh sahabatnya."Harusnya bisa saling tukar pikiran, brain storming sehat dan persaingan sportif. Demi memajukan perusahaan dan memajukan karier tentunya.""Nyatanya?""Nyatanya komunitas nggak sehat itu dianggap normal. Gue yang dasarnya susah deket dengan orang baru, sekarang malah makin parah. Cuma Machu Picchu yang bikin gue tahan, nggak turn over .""Dan itu nggak cuma lo aja. Di awal jabatan gue jadi marcom manager , gue kelimpungan Han .... Mana yang biasa nempatin posisi itu tiba-tiba ngundurin diri. Gue belajar semuanya dari nol lagi. Promotion , awareness , branding , semua. Apalagi lo tau brand perhiasan perusahaan gue udah tinggi banget. Hampir semua orang kaya di Indonesia punya berlian dari perusahaan gue kerja. Lain lagi kalo gue harus ke kota lain untuk ngurus pembukaan boutique store baru. Ribet, sampe kadang gue lupa istirahat. Tapi gue happy , gue menikmati. Menurut gue, level kebahagiaan tiap orang itu, nggak cuma mentok cuma soal nikah. Untuk sekarang, gue lagi happy sendirian. Menikmati perkembangan karier gue.""Lo sih enak ...," ucap Hani."Gue ngomong gitu bukan mau manas-manasin lo. Gue cuma mau lo bisa milih sesuatu yang bisa lo jalani dengan happy, tanpa ngeluh. Kerja kalo nggak ikhlas capeknya double.""Lo langsung berhadapan dengan klien lo yang kaya-kaya. Enggak kayak gue yang cuma jadi kacung.""Kan, lo idealis. Cuma mau kerja yang sesuai latar pendidikan lo aja. Padahal sayang banget ngabisin empat tahun dengan mengeluh," tukas Indra setengah bangkit melihat taksi yang sudah masuk lingkungan apartemen."Oke, Pak. Berenti di sini aja." Indra mengambil tas laptopnya dari jok dan membuka pintu mobil bersamaan dengan Hani."Apa gue harus jadi kacung lo aja?" tanya Hani tertawa melangkahkan kaki masuk ke lobi apartemen."Kenal banyak klien kaya itu enak lho ...." Indra mendahului Hani untuk men-tap kartu akses di sensor lift."Enak? Jangan-jangan lo ...." Hani menoleh pada sahabatnya yang tengah tersenyum mengangkat alis."Gue dikasi wine lagi. Ayo kita buka," ajak Indra mengalungkan tangannya di bahu mungil Hani dan berjalan keluar lift."Besok masih ngantor. Sinting ...," gerutu Hani."Enggak apa-apa sinting, ketimbang pusing. Baju lo masih ada di tempat gue."Indra merasa malam itu mereka harus melakukan ritual mengeluh semalam suntuk. Menurutnya, Hani sudah terlampau rajin untuk ukuran seorang staf. Tak pernah terlambat ke kantor dan selalu berhasil mengerjakan tugasnya dengan memuaskan.Namun sampai detik itu, Hani belum mendapat reward apapun dari kantornya. Bukan berupa benda atau uang, setidaknya Hani pasti membutuhkan pujian yang bisa memotivasinya. Sayang Indra belum bisa membujuk sahabatnya itu untuk lebih 'membebaskan' dirinya sendiri.Indra mengerti apa yang dirasakan sahabatnya. Beberapa tahun yang lalu, ia sempat mengalami fase yang sedang dijalani Hani sekarang. Bedanya, ia lebih berani mengambil keputusan. Hani pintar. Tapi sayangnya, di dunia pekerjaan pintar saja tidak cukup.Dua jam tiba di kamar Indra dan duduk beralaskan permadani tebal di depan televisi sudah membuat Hani cekikikan. Wajahnya memerah karena dua gelas wine. Di hadapan mereka terbentang mainan ular tangga. Mereka selalu menganggap itu sebagai hal lucu karena sesuai dengan hidup mereka. Naik tangga yang tinggi, dan sekejab bisa meluncur turun karena salah melangkah. Atau biasa mereka sebutkan sebagai permainan takdir."Lo tau nggak?" Hani mengangkat gelas wine-nya ke arah Indra.Indra yang sudah setengah mabuk menggeleng-geleng karena tak mengerti maksud Hani."Oke, lo nggak tau. Jadi gue kasi tau." Hani menarik napas dan mengembuskannya perlahan."Dulu, Ayu geblek banget di kelas. Semua-semuanya nyontek dari cowo-cowo yang bisa dia manfaatin. Makanya gue nggak heran kalo dia bisa dapet suami kaya." Hani terbahak-bahak sambil melayangkan pukulan ke bahu Indra."Artinya dia yang dulu lebih pinter dari lo. Terbukti, kompetensinya teruji sejak di bangku sekolah." Indra ikut terbahak-bahak. Tawa Indra mampu membuat Hani bungkam."Gue ... nggak suka dibanding-bandingkan, Ndra! Gue nggak suka!" pekik Hani yang sudah benar-benar mabuk."Ba-gus!" Indra mencondongkan gelas wine-nya dan mengadunya dengan gelas di tangan Hani."Apalagi si Tika! Beuuuhh ... lemot banget! Tapi dia pinter memelas. Dulu cowo-cowo kasian ama dia. Bener-bener dia cuma modal tampang doang." Hani menghabiskan sedikit wine yang tersisa dari gelasnya."Tambah lageee ...," ujar Indra kembali membuka sumbatan botol wine dan membagi semua sisanya ke gelas mereka berdua. Bukan gelas wine. Mereka meminum wine itu menggunakan mug yang biasa dipakai untuk minum kopi."Gue cantik nggak?" Hani berdiri dan memutar tubuhnya di depan Indra."Cantik—cantik. Lo cantik, tapi geblek. Pelit, nggak modis, old fashioned ." Indra terkekeh-kekeh."Sialan! Temen sialan." Hani mengulangi ucapannya kemudian mengembuskan napas. Sering mual tiap berhadapan dengan Bu Curry, tapi entah kenapa lambungnya baik-baik saja tiap dimasuki alkohol. Indra bilang, mualnya berkaitan dengan kondisi psikis. Bukan kesehatan tubuhnya saja."Makanya gue saranin, lo harus dateng ke reuni itu. Bawa laki-laki ganteng, kaya, dan ter-ke-nal. Temen-temen lo bakal ternganga.""Siapa? Laki-laki kaya mana yang mau ama gembel kayak gue," ratap Hani kembali meneguk wine-nya."Kan, Ayu sendiri yang bilang lo dulu primadona. Berubah lagi Han ... lo juga bisa cantik. Duit lo udah banyak. Dipake dong ....""Emang! Gue dulu pernah jadi primadona. Jaman SMA, tuh, gue cakep, pinter, bokap gue berduit. Nah, sekarang?" Hani kembali meneguk wine-nya. "Sekarang gue diwanti-wanti berhemat karena seluruh harta bokap gue, udah habis untuk menjadikan adik-adik gue PNS." Hani kembali tertawa. Kali ini tawanya terdengar sumbang."Laki-laki idaman lo yang kayak apa?" tanya Indra dengan raut serius namun terlihat tolol karena sebotol red wine yang sudah kandas mereka bagi rata."Untuk dibawa ke reuni?" tanya Hani. Indra mengangguk-angguk sambil menutup mulutnya seakan menahan muntah."CEO!" pekik Hani dengan mata setengah terpejam."Kenapa harus CEO?" tanya Indra."Ha-rus! Seandainya gue jadi pergi, laki-laki yang gue bawa ke reuni harus CEO yang terkenal! Harus ganteng! Harus ... single tentunya. Temen-temen gue pasti pada browsing nyari nama CEO itu. Grup alumni SMA yang gue tinggalkan bakal geger. Gue bakal dikenal sebagai Hani si wanita karir yang kekasihnya CEO." Hani tertawa terbahak-bahak sambil memegang gelas wine-nya."Sebentar ...," kata Indra meletakkan gelas wine-nya dan merangkak menuju laci meja televisi."Oke, gue ambil ini." Indra mengangkat sebuah kotak berisi segepok kartu nama klien Infinity Jewelry yang bertahun-tahun menjadi langganan jaringan butik perhiasan itu."Terserah lo—terserah lo," sela Hani terkikik-kikik."Trus ... gue sortir. Trus gue acak dulu ... terus ... lo pilih satu. Buat nama yang terpilih, lo harus deketin dia dengan berbagai cara. Abisin tabungan lo untuk ubah penampilan. Soal hasil belakangan. Yang penting lo udah nyoba. Biar hidup lo nggak cuma tentang ngumpulin duit," kata Indra dengan wajah merah."Oke-oke, mana ... mana? Gue mau ambil kartunya." Hani mengusap dahinya dan membenarkan letak kacamata."Janji?" tanya Indra memastikan."Janji ...," ulang Hani."Deketin siapapun CEO yang kepilih?""Deketin CEO yang kepilih ... siapapun ...," ulang Hani lagi dengan mata mengantuk karena gelas wine ketiga yang diminumnya."Oke, ambil!" Indra menyodorkan sepuluh kartu nama CEO yang dibalik.Hani tergelak sesaat namun kemudian wajahnya berubah serius seakan berpikir keras. Telunjuknya di depan mulut dengan dahi mengernyit.Kemudian ...."Yang ma-na-yang-ku-pi-lih!" ucap Hani dengan mata setengah memejam. Jari telunjuknya berpindah-pindah di atas deretan kartu nama yang tengah direntangkan Indra. Ia lalu menarik sebuah kartu nama dan langsung membalikkan kartu untuk melihat hasil pilihannya.Hani mencoba melebarkan mata. Pandangannya tak fokus karena pengaruh alkohol. Ia lalu mengangkat kacamata hingga ke dahi.Tak sabar melihat hal itu, Indra merampas kartu itu dari tangan sahabatnya. "Nicholas Cipta Dalmiro. Presiden Direktur Grup Dalmiro.""Ok-ke!" Hani mengacungkan jempolnya ke arah Indra lalu terkekeh."Nicholas ini single tapi ....""Kenapa lagi? Cepet! Ak-ku ngantuk ...." Hani merebahkan tubuhnya di sofa."Tapi udah tunangan." Indra meringis meletakkan kartu nama itu di depan mulutnya."Bodo amat." Hani kembali menegakkan tubuhnya. "Gue nggak akan mundur. Mana kartunya? Gue bakal telfon sekarang." Hani mengulurkan tangan meminta kartu nama." No—no ... jangan telfon. Udah malem. Gimana kalo kita chat aja? Pake nomor lo. Lebih mesra ...." Indra meraih ponsel Hani yang terletak di dekat ular tangga."Ngomong apa—ngomong apa?" tanya Hani antusias."Kita cari dulu tipe perempuan dia tuh kayak apa—" Indra meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu di kolom pencarian."Yang gimana?" tanya Hani sambil mengetikkan sederet nomor ponsel dan menyimpannya. "Gue bikin siapa namanya? Hmm ... Mas Nicho?""Iya—iya, itu aja. Lebih mesra. Mas Nicho," sambut Indra terkikik-kikik."Oke, udah gue save. Jadi, gue ngomong apa nih?" Hani menyeka dahinya yang sudah mulai berkeringat. Banyaknya alkohol yang masuk ke tubuh membuatnya kepanasan."Artikel di sini, katanya ... dia nggak punya tipe wanita tertentu. Yang penting nyambung. Apa, ya, maksudnya ...," gumam Indra yang mendadak bodoh karena alkohol."Nyambung ... trus apalagi?" tanya Hani tak sabar."Menurut artikelnya, 'Manja dan menggemaskan pasti akan disukai setiap pria. Mengingat karakter pria yang ingin selalu dibutuhkan.' Gitu Han ...," sambung Indra lagi."Hueeek ... kok, gue jadi jijik? Man-ja dan menggemaskan. Ge-mas." Hani berpikir-pikir kemudian menunduk mengetikkan pesan. Bibirnya menyunggingkan senyum."Lo bilang apa? Jangan bilang lo cuma kacung di perusahaan lo!" Indra berseru mengingatkan."Tenang—tenang. Gue bakal ngegantiin posisi Bu Curry sementara. Hahaha." Hani kembali tertawa."Iya ... iya ... bagus. Gue udah ngantuk banget by ... the ... way ...." Indra menjatuhkan dirinya di permadani dan berguling membelakangi Hani memeluk bantal sofa.Hani masih mengetikkan pesan panjang di ponselnya dengan raut bahagia luar biasa. Setelah puas dengan hal yang diketiknya, Hani mencampakkan ponsel dan ikut merebahkan tubuhnya di atas permadani.Sebelum menutup mata, ia melirik jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Tak akan ada pria baik-baik yang membalas pesan di jam itu. Alam mimpi perlahan merangkak memasuki tidurnya.Wine selalu bisa membuat Hani tertidur pulas tanpa mimpi buruk sampai pagi. Dan seperti acara mabuk-mabukan sebelumnya, pagi berikutnya selalu diwarnai dengan kegaduhan."Mampus! Gue harus ngasi kerjaan yang kemarin ke Bu Curry. Gue udah bilang, jangan ajak gue mabok. Lo udah manager, gaji lo nggak akan dipotong dan lo nggak bakal dapet SP kalo telat." Hani terburu-buru menyisir rambutnya di depan sebuah kaca tinggi di dekat pintu."Ndra! Bikinin gue teh, please ... perut gue agak mual karena inget si Curry ayam. Buruan!" pinta Hani.Indra yang sudah selesai berpakaian langsung menuju mini bar dan membuatkan segelas teh untuk sahabatnya."Ini! Cepet minum." Indra menyodorkan secangkir teh hangat langsung ke mulut Hani.Hani mencampakkan sisirnya dan meraih cangkir teh untuk segera menuntaskan isinya."Gue berangkat!" pekik Hani dari depan pintu seraya buru-buru memasukkan kakinya ke sepatu."Eh, hape lo—hape!" Indra menyambar ponsel Hani yang masih berada di atas permadani."Hampir aja! Untung si Curry ayam nggak nelfon gue. Atau jangan-jangan gue udah dititipin kopi pagi ini?" Hani mengusap layar ponselnya.Sedetik, dua detik, mata Hani kian terbelalak."Ya, Tuhan ... Ndra! Mati gue, mati! Kali ini gue pasti mati. Ya, Tuhan ... wine terkutuk." Hani membekap mulutnya."Bilang apa lagi si Curry ayam? Liat sini!" Indra menyambar ponsel dari tangan Hani yang masih membekap mulutnya.Ternyata pesan itu bukan dari Bu Curry. Tapi dari seseorang yang dini hari tadi dinamai Hani dengan sebutan 'Mas Nicho'.Isi pesannya, 'Siang ini saya ada urusan di Escape Tower. Jadi penasaran dengan legal manager yang katanya bisa manja dan menggemaskan. Oke. See you Stefie ...'Indra membelalakkan matanya. "Anjiir ... Stefie. Emangnya lo ngirim pesan apa Stef?"Ternyata selain kecantikan dan otak encer, perempuan itu juga perlu nyali. – Hani***'Siang ini saya ada urusan di Escape Tower. Jadi penasaran dengan legal manager yang katanya bisa manja dan menggemaskan. Oke. See you Stefie.'Hani mencampakkan tasnya ke lantai dan menyeret Indra ke sofa. Saat ini ia tak terlalu mengkhawatirkan Bu Curry. Ia lebih mengkhawatirkan apa saja yang sudah dikatakannya pada Presdir Grup Dalmiro dini hari tadi. Setelah beberapa saat mencengkeram erat tangan Indra, Hani menghirup napas dalam-dalam dan menyodorkan ponselnya."Ndra, gue nggak berani scroll pesan itu. Lo aja! Liat apa yang udah gue ketik ke Mas Nicho itu. Gue nggak berani—gue nggak berani. Ya, Tuhan legal manager di perkantoran Escape Tower. Stefie. Oh, shit!" Hani membungkam mulutnya."Oke, kita liat sama-sama." Indra menyambar ponsel dan langsung membuka aplikasi pesan.Hani menggigit bibirnya."Kita mulai dari paling bawah." Indra melirik Hani yang sudah menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata dan mengangguk-angguk lemah. "Oh God" – Indra menegakkan duduknya – "gue bacain sekarang.""Nicholas Cipta Dalmiro, gimana rasanya jadi orang kaya? Pasti asik. Setidaknya harta bisa menyelamatkan tampang kamu yang biasa-biasa aja." Indra menatap Hani yang sekarang membekap mulutnya dengan mata memejam. Indra kembali melanjutkan."Kaya berkat orang tua, ya? Aku curiga kamu sebenarnya nggak bisa apa-apa. Dan sekarang, udah tunangan. Tunangan kamu pasti cantik, dengan warisan berlimpah dan isi kepala pas-pasan. Kamu tersinggung? Wajar. Karena yang aku katakan, semuanya pasti bener." Indra melirik reaksi Hani."Wine terkutuk," desis Hani."Kalo cuma cari wanita yang bisa manja dan menggemaskan, seorang legal manager di Escape Tower juga bisa. Bisa jadi aku jauh lebih cantik dan jenius dibanding tunangan kamu. Lingkaran pernikahan orang kaya omong kosong. Yang kaya kawin ama yang kaya biar hartanya nggak ke mana-mana. Mengabaikan perasaan dan milih dijodohin cuma karena duit. Sound disgusting!" Suara Indra ikut meninggi seiring dengan pesan teks Hani yang dibacanya."Ibu," ratap Hani."Takut miskin? Hidup di kota besar pemikiran, kok, kampungan!""Oh, no ...." Hani memutar tubuhnya dan membungkuk di pegangan tangan sofa."Pemilik perusahaan seperti kalian sebenarnya nggak kerja. Yang banting tulang itu para bawahan. Kalian juga nggak pernah ngecek keadaan karyawan kalian gimana. Betah atau tidak? Sejahtera atau tidak? Lingkungan kerjanya baik atau tidak. Yang kalian pikirkan cuma profit , profit , profiiit terus." Indra membacakan pesan itu dengan berapi-api yang membuat Hani semakin tersiksa.Hani tersengal-sengal meremas bagian dada kemeja satinnya. "Cukup—cukup. Gue nggak sanggup lagi."Ada dikit lagi, "Wanita manja dan menggemaskan? Mesum banget." Indra menutup aplikasi pesan. "Gimana?" Indra memandang sahabatnya.Selama hidup di dunia ini, Hani merasa tak pernah membuat satu pun kekacauan. Hidupnya selalu lurus-lurus saja. Jadi anak manis dan pintar, jadi siswi baik, mahasiswi baik, bahkan karyawati yang saking baiknya malah selalu dimanfaatkan. Hani bangkit dari sofa dan memungut tas tangan yang tadi dicampakkannya begitu saja.Dan kemarin malam, Hani menumpahkan segala unek-uneknya pada seorang presdir. Ia tak mengenal siapa Nicholas. Melihatnya saja tak pernah. Hidupnya sudah terlalu sibuk pergi subuh dan pulang larut malam. Bukannya mencaci maki Bu Curry, Doni atau rekan-rekan kerja yang selalu merendahkannya, Hani malah mengumpat hidup orang lain."Gue mau pulang aja. Enggak masuk kerja hari ini. Gue mo nyiapin surat resign ," ucap Hani merampas ponselnya dari tangan Indra. Gue pasti dituntut. Hate speech , penghinaan, perbuatan tidak menyenangkan, dan gue pasti disomasi untuk minta maaf di depan khalayak ramai. Gue pasti harus memposting video permintaan maaf di semua sosial media yang gue miliki. Gue nggak pernah posting apa-apa. Sekalinya posting, malah video nangis-nangis minta maaf. Sebelum itu terjadi, gue kayaknya harus nyari orang itu buat minta maaf." Bahunya terkulai dan Hani menyeret kakinya yang lemas ke arah pintu."Eh, tunggu dulu—tunggu dulu. Kita harus ngomongin ini dengan kepala dingin. Kita analisa isi pesan si Mas Nicho. Gue rasa, kalo dia mau nuntut lo secara hukum, dia nggak perlu capek-capek bales pesan lo itu. Sekretaris pribadinya langsung laporin lo, dan tiba-tiba lo dapet surat panggilan kepolisian.""Masa, sih?" tanya Hani tak yakin. Tapi rautnya sedikit mengendur."Nyari lo itu mudah. Dia malah repot-repot bales pesan. Menurut gue, dia kesel. Marah. Tapi pengen meluapkannya langsung ke lo." Wajah Indra kembali serius.Hani kembali mencampakkan tasnya dan duduk di sofa. "Jadi, nasib gue gimana?""Sebentar—sebentar, jangan buru-buru. Gue malah nggak bisa mikir kalo diburu-buru. Gue baca lagi pesannya." Indra kembali merampas ponsel sahabatnya dan kembali menekuni pesan pendek Nicholas."Its like confessions." Indra bergumam mengatakan bahwa Hani seperti sedang membuat pengakuan."Enggak tau, gue nggak tau." Hani merebahkan tubuhnya di permadani. "Gue nggak tau harus gimana ini. Sinting banget gue, sinting!" Hani berguling memeluk bantal sofa dan memukul permadani berkali-kali."Tapi ...," gumam Indra."Apa?" Hani mengangkat wajahnya memandang Indra."Kalo cuma ngirim itu aja, nggak apa-apa. Masih aman, kecuali kalo lo ada ngetik nama perusahaan. Gue baca lagi, lo nggak ada ngomong apa-apa selain nama Escape Tower. Cuekin aja mungkin laki-laki itu cuma kesal sesaat waktu bales pesan lo. Dia orang terkenal, pasti sering nerima pesan teror." Indra duduk di sofa masih menggenggam ponsel"Sering nerima pesan teror, tapi mungkin nggak ada nerima pesan mencela kayak gue. Haduuh ...," ratap Hani kembali berguling."Tapi dia nggak ada bales lagi, kok. See ?" Indra mengangkat ponsel Hani dengan senyum percaya diri."Jadi, diabaikan aja?" tanya Hani meyakinkan diri."Abaikan aja. Lagian dia itu presdir, pasti sibuk. Enggak ada waktu untuk ngurusin hal receh kayak gini." Indra mencampakkan ponsel ke permadani tebal.Namun, seperti mendengar akan hal yang sedang mereka bicarakan, ponsel Hani bergetar dan menyala sebegitunya menyentuh permadani. Sebuah notifikasi pesan menyembul keluar.Hani dan Indra saling berpandangan. Indra turun dari sofa dan kembali memungut ponsel. Hani duduk menegakkan diri sedang bersiap dengan kabar terburuk."Siapa?" Suara Hani sedikit bergetar. Kabar dari siapapun tak ingin didengarnya. Bu Curry, Doni, atau ayahnya di kampung halaman. Hani tak mau. Untuk saat ini Hani tak ingin menerima kabar dari siapapun."Han ...," bisik Indra dengan suara yang membuat kuduk merinding. Hani mengangguk pelan mempersilakan sahabatnya merilis berita. "Liat ini," ucap Indra menyodorkan pesan terbaru dari Nicholas.'Hai Stefie, status pesan saya sudah terbaca, tapi sepertinya Anda abaikan. Saya tunggu klarifikasi Anda di kedai kopi lantai dasar Escape Tower pukul satu siang ini. Kalau Anda tidak datang, tiga jam berikutnya akan ada orang yang datang mencari Anda.'"Dia kayak denger lagi diomongin," ucap Hani. "Gue dateng Ndra, gue datengin aja. Gue minta maaf, jujur kalo gue lagi mabuk dan terlibat permainan konyol. Thats it. Gimana?"Indra yang tadinya telah rapi dengan seluruh rambutnya tersisir rapi ke belakang dengan aroma minyak rambut segar, kini sedikit berantakan. Beberapa rambutnya turun dan ia terlihat gelisah memikirkan nasib sahabatnya."Ini karena gue. Gue yang mulai nantangin lo. Lo udah pasti kena damprat ama Curry ayam, pasti dihina-hina si Doni karena hari ini nggak masuk. Lo pasti ditinggal makan siang dengan setumpuk kerjaan yang dititipin mereka. Dan sekarang, lo dateng cuma minta maaf kayak pecundang. Gue nggak rela, Han .... Nicholas manusia sibuk. Gue sering ketemu dengan manusia kayak dia. Mereka akan menghargai orang yang sama levelnya dengan mereka. Atau setidaknya yang dia nilai intelektualitasnya lebih tinggi. Kalo lo datengin Presdir itu dengan dandanan segembel ini, lo juga bisa jadi korban amarah dia di depan umum." Indra menggeleng tak setuju."Dan itu kedai kopi Escape Tower, Ndra .... Tempat gue hilir mudik tiap hari buat beli titipan temen-temen gue." Hani melemparkan tatapan resah. "Jadi gue harus gimana?" tanya Hani putus asa."Gue juga mau nambahin ...," kata Indra."Ya, Tuhan .... Apalagi?" Hani berdecak frustasi."Kalimat lo yang bilang ke dia setidaknya harta bisa nyelamatin wajah kamu yang pas-pasan. Gue nggak nyangka lo bisa sebego itu. Lo nggak pernah liat berita atau majalah-majalah pria?" tanya Indra.Hani menggeleng. "Gue terlalu sibuk hidup di kantor," lirih Hani. "Memangnya tampangnya si Nicholas ini gimana, sih?" Hani mengambil ponselnya bermaksud untuk browsing."Enggak usah. Udah telanjur." Indra menghela napas panjang."Jadi gue harus gimana?" Hani kembali mencampakkan ponselnya dengan kesal. "Tadi gue mo minta maaf, lo bilang nggak usah. Orang semarah apapun kalo ada yang minta maaf dengan tulus, mustahil nggak dimaafin. Setidaknya gue terlihat tulus," sergah Hani."Lo pilih yang mana? Laki-laki ganteng minta maaf ke lo, atau laki-laki yang biasa banget minta maaf ke lo?" tanya Indra dengan satu alisnya dinaikkan. "Mana yang bikin lo ngerasa lebih keren?""Ada orang ganteng minta maaf ama gue. Jelas gitu.""Nah, kita kembali ke rencana semula. Lo harus buat presdir itu nggak jadi marah." Indra duduk di permadani menyilangkan dadanya."Caranya?" Hani menaikkan kacamata dan menghembus helaian rambut yang menghalangi pandangannya."Sebentar," ucap Indra merogoh ponsel di kantongnya dan mengetikkan sesuatu dengan cepat di sana. "Kita langsung berangkat. Ini udah mau jam sepuluh pagi. Gue bolos juga hari ini. Ayo berangkat! Gue jelasin di jalan rencananya."Indra menyeret Hani yang masih terlihat bimbang mengikuti ajakannya. Langkah Hani tersandung-sandung mengikuti langkah kaki sahabat dekatnya itu."Oke, ucap Indra. Lo jangan potong ucapan gue, cukup dengerin dan jawab ya atau tidak. Kita nggak banyak waktu.""Ya," sahut Hani langsung."Belum dimulai, Nyong." Indra melengos menoleh Hani yang kadang bisa begitu naif."Kita beli pakaian. Setidaknya, satu set jas terbaik yang biasa dipakai eksekutif muda pasti dipakai oleh seorang legal manager ." Indra menoleh pada Hani meminta persetujuan."Ya," jawab Hani."Dan lo tau jas itu pasti mahal. Lo yang bayar," sambung Indra melambaikan tangan memanggil taksi yang melintas baru saja menurunkan penumpang di depan lobi apartemen."Tidak," sahut Hani. Indra menoleh dan menyipitkan matanya."Ya," ralat Hani kemudian mengikuti Indra masuk ke taksi."Sepatu lo itu, buang." Indra memandang tajam Hani di sebelahnya."Ya." Hani mengangguk. Mungkin sudah saatnya ia berpisah dengan sepatu butut yang sudah membersamai langkahnya selama empat tahun terakhir."Trus kita ke salon," ucap Indra. Tampilan lo nggak banget. Dan gue nyesel baru bilang itu sekarang," sambungnya lagi."Sialan ...," desis Hani.Perlu waktu dua jam buat Hani memutuskan setelan jas yang akan dibelinya. Bukan perkara model, tapi masalah harganya. Setelah diskusi yang panjang dan alot, akhirnya Hani melepas kartu debitnya untuk digesek mesin EDC sebuah outlet brand high end . Indra tersenyum puas keluar dari outlet itu. Dan Hani tentu saja berjalan bak raga tak bernyawa. Jas, sepatu dan sebuah tas baru menghabiskan dua bulan gajinya. Buat Hani, itu jumlah yang sangat besar.Sejam berikutnya mereka habiskan di sebuah salon mal itu. Hani lagi-lagi kembali ragu saat memutuskan rambutnya harus diapakan. Dan Indra harus berdebat beberapa saat soal mode terbaru yang belakangan dianut oleh para wanita."Buruan ganti pakaian di belakang aja," pinta Indra menyodorkan sebuah paper bag pada sahabatnya."Oke,"jawab Hani segera bangkit dan mematut wajahnya sekilas di cermin salon. Kacamatanya telah tanggal dan berganti dengan sepasang soft lense berwarna hazelnut. Sesaat tadi ia tak menyangka bahwa dengan sentuhan sederhana pada mata dan rambutnya bisa membuat tampilannya begitu berbeda.Selama Hani berganti pakaian, Indra menyibukkan dirinya dengan membaca-baca berita soal Nicholas. Ia tak ingin Hani diam tanpa bahan pembicaraan dengan pria itu. Permintaan maaf ini harus elegan, pikirnya. Kesan pertama harus benar-benar baik. Hani harus angkuh, sombong, berkelas, dan mahal. Nicholas tak boleh meremehkannya.Dan saat Hani melangkah keluar dari bagian belakang salon, Indra mendongak terperangah."Gimana?" tanya Hani memutar tubuhnya. Sepasang sepatu bertumit sepuluh senti dan rok span di atas lutut, membuat kaki jenjangnya terlihat."Lo cantik banget ...," ucap Indra."Makasi ...," sambut Hani."Sama-sama. Selama lo diem aja, lo cantik banget," tegas Indra."Tetep sialan seperti biasa," umpat Hani.Sudah lewat dari waktu yang dijanjikan Nicholas. Mereka terjebak macet dalam perjalanan kembali ke Escape Tower. Indra menyeret-nyeret Hani agar bisa berjalan lebih cepat dengan heels barunya. Pukul 13.15 mereka baru tiba di depan kedai kopi."Sabar, kaki gue udah lecet ini kayanya," keluh Hani."Han ... si Nicholas beneran dateng," bisik Indra menunjuk sosok pria berjas yang duduk membelakangi dinding kaca. "Cepet masuk, inget yang udah gue ajarin selama di jalan tadi." Indra mendorong pintu kaca dengan satu tangannya menggenggam tangan Hani.Sesaat mereka berdua berpandangan, lalu Indra mengangguk. Hani menarik napas dalam-dalam."Doain," bisik Hani, melepaskan genggaman tangan sahabatnya."Pasti," bisik Indra. "Pasti gue doain.""Satu kebohongan akan mengikuti kebohongan lainnya." -Hani***Langit masih tersungkup awan gelap saat Nicholas bangun tidur setiap hari. Tak ada kata begadang. Kecuali untuk urusan-urusan penting yang melibatkan bisnisnya. Lebih tepatnya, bisnis keluarga yang ia kelola.Ayahnya adalah pemilik gurita bisnis properti asal Indonesia, Grup Dalmiro. Diambil dari nama keluarga yang turun temurun menekuni bisnis itu dimulai dari sederet bangunan pertokoan puluhan tahun yang lalu.Bulan sebelumnya, Nicholas baru meneken sale and purchase agreement , sebagai pengembang utama Signature Tower senilai 2,43 triliun yang akan menjadi landmark baru di Kuala Lumpur. Sebuah proyek prestisius dan investasi besar Grup Dalmiro di negara tetangga. Yang lumayan mengejutkan lantaran, bukan sikap seorang Nicholas Cipta Dalmiro mau muncul di depan publik.Grup Dalmiro memiliki properti yang terdiri dari sekitar 21 perusahaan sebagai bisnis utama, bidang jasa sebanyak lima perusahaan, perusahaan investasi dan keuangan sebanyak dua perusahaan di luar negeri, serta enam perusahaan di sektor manufaktur seperti kaca dan keramik yang bertempat di dalam negeri dan Singapura.Terdengar sangat 'wah' di telinga siapa saja. Kakek buyutnya sangat berhasil membuat keturunannya bisa hidup lapang dan berbalut kemewahan.Namun, hal yang terlihat sempurna itu tak membuat hidup Nicholas mulus. Ayahnya telah menikah lagi dan tinggal bersama istri sirinya di Singapura. Sedangkan ibunya, tinggal di sebuah rumah mewah dan bertahan untuk tak menggugat cerai karena khawatir akan masa depan putra satu-satunya.Ayahnya pergi meninggalkan mereka dan sekarang memiliki putra-putri lain. Meski dari istri kedua, ayah Nicholas mengusahakan harta peninggalan untuk anak-anak hasil perkawinan keduanya.Setiap hari, urusan Nicholas tak hanya mengurusi perusahaan kakeknya yang bisa diambil kapan saja untuk dibagi. Meski secara hukum yang tertulis sekarang, ia merupakan CEO dari semua itu, ia masih merasa bahwa kedudukannya lemah.Ibu tirinya, sebut saja begitu. Setiap saat mengirimkan bujukan-bujukan, ancaman atau peringatan bahwa semua harta itu tak sepenuhnya milik ia dan ibunya.Dan Nicholas, tak rela kalau ibunya harus menyerah dan kembali berbagi sesuatu yang memang menjadi hak mereka. Bukan soal harta, tapi itu semua soal harga dirinya.Nicholas bangkit keluar kamar dan pergi menuju dinding kaca. Ia menyibak tirai apartemen yang berada di lantai 40. Langit mulai menyemburat merah pertanda matahari sesaat lagi akan keluar.Terbayang lagi percakapan bersama ibunya kemarin malam."Kamu nggak harus nikah sama Tari cuma demi menguatkan posisi kamu di perusahaan. Mama nggak apa-apa," ucap ibunya."Mama lebih sayang kalo kamu harus ngabisin hidup dengan perempuan yang nggak kamu cinta. Harusnya kamu bisa jadiin hidup Mama sebagai contoh. "Kemarin malam ia dan ibunya berdiri bersisian menghadap hamparan gedung pencakar langit dan bergumul dengan pikiran mereka masing-masing sambil sesekali berdebat."Nich, Mama nggak apa-apa." Ibunya menoleh, mencengkeram erat lengannya demi meyakinkan isi perkataan barusan."Kamu nggak harus kasian dengan Mama yang bertahan dalam rumah tangga di atas kertas ini. Papa dan Mama pernah saling cinta. Mama yang mau bertahan demi kamu. Bagaimana pun, kamu putra sulung."Kemarin malam, Nicholas hanya diam. Ia hanya ingin membebaskan ibunya dari rumah tangga toxic . Ia menyanggupi untuk menikahi Tari karena orangtua wanita itu bersedia memberikan dukungan penuh untuknya di jajaran direksi. Jika suatu saat adik tirinya masuk ke perusahaan, posisinya sudah kuat. Ibunya bisa melenggang mengurus perceraian dan menikah dengan pria yang mungkin bisa mendampingi masa tuanya. Ia hanya tak mau ibunya merasa kesepian."Jangan Nich ... Mama nggak niat menikah lagi. Mama nggak apa-apa. Mama masih cinta Papa kamu. Anak Mama terlalu keren untuk perempuan seperti Tari. Mama kurang suka," tambah ibunya.Nicholas mengembuskan napas kasar. Baginya menikah dengan siapa saja tak ada bedanya. Tari cukup cantik dan sangat berpendidikan. Jabatannya di perusahaan keluarga mereka sangat bagus. Setidaknya, anak-anak mereka nanti memiliki masa depan cemerlang.Meski pembicaraan mereka terkesan sangat serius, tapi ibunya turun dari lantai 40 itu dengan wajah riang. Ibunya hanya berpesan untuk mengabaikan pesan teror dari wanita yang mengambil suaminya.Matahari memancarkan cahaya dari sela-sela gedung pencakar langit. Pagi yang baru, pikirnya. Pikirannya berat, egonya sedang bertempur untuk tak menyerah begitu saja. Tapi pembicaraan bersama sang ibu selalu menjadi siraman semangat untuk menyusun keputusannya.Sudah dua hari Nicholas tak mendapat pesan teror dari perempuan yang mengiba pembagian harta padanya. Untuk itu, dia berterima kasih pada sang kakek yang begitu cerdas membuat wasiat. Walau setiap saat ayahnya bisa memberikan jabatan dan mengalihkan sebagian saham pada anak laki-lakinya yang lain.Seiring matahari menerpa wajahnya, Nicholas tersenyum. Sedikit lagi, pikirnya. Ia berjalan menjauhi jendela menuju ponsel yang terletak di atas lempengan charger wireless .Nicholas menyalakan ponsel dengan harapan harinya bakal lebih menenangkan tanpa pesan-pesan itu lagi. Semoga ... pikirnya.Ponselnya berkedip sekali kemudian menyala seluruhnya. Tanpa suara, ponsel itu bergetar tak henti-henti menandakan banyaknya berbagai notifikasi yang masuk.Aplikasi pesan selalu menjadi tujuan pertama jarinya. Mulai dari atas, pesan dari sekretaris, dari ibunya, dari seorang sahabatnya dan berbagai grup yang kadang tak sempat ia toleh. Jemarinya terus menggeser mencari pesan aneh dari nomor telepon negara tetangga.Bibirnya baru saja mengukir senyum karena tak melihat pesan yang membuatnya naik darah. Tapi ternyata, paginya belum bisa menenangkan. Sebuah pesan dari nomor telepon yang tak dikenalnya mengirimkan pesan panjang lebar yang berisi hinaan bertubi-tubi. Dadanya sampai sesak karena isi tulisan itu benar-benar menggambarkan keadaannya."Stefi? Legal manager ?" desisnya. Rahangnya kembali mengeras. Bahkan ia belum meneguk teh pagi itu."Dikirim dini hari. Perempuan gila mana ini?" gumam Nicholas, lalu mengetikkan balasan.***Nicholas melirik jam di pergelangan tangannya, lalu memandang ke luar jendela, sudah terlambat 15 menit dari waktu yang disepakati. Di luar kedai kopi itu orang lalu lalang namun tak terlihat satu pun yang memiliki gelagat akan datang menemuinya ke dalam.Nicholas sengaja memilih sebuah sofa yang membelakangi pintu masuk. Ia tak ingin terlihat begitu menunggu. Pesan-pesan itu belum dihapusnya. Seperti ingin kembali membakar emosinya, Nicholas kembali menunduk memandang ponsel membaca deret hinaan yang ditujukan padanya.Bodoh sekali pikirnya. Nomor telepon yang sangat mudah dilacak sekejab saja. Ia memang tak berniat memanjang-manjangkan masalah ini. Andai publik tahu isi pesan yang dikirimkan padanya, hal itu malah bisa membuatnya malu. Dia hanya ingin memastikan alasan perempuan tak beretika itu menghinanya. Apa ia pernah berbuat kesalahan di masa lalu yang bahkan tak diingatnya?Saat Nicholas tengah menunduk, suara langkah sepatu terdengar semakin jelas mendekat. Suara yang ia sering dengar saat sekretaris datang membawa berkas ke mejanya. Entah kenapa ia sedikit menahan napas. Kepalanya masih menunduk saat sudut matanya menangkap sepasang kaki berbalut sepatu tinggi tengah berdiri di hadapannya.Betisnya bagus ....Nicholas perlahan mengangkat kepala. Sedikit kesal dengan isi pikirannya barusan. Ia menatap wanita dengan dandanan kelas atas yang melemparkan tatapan angkuh padanya.Sudah berbuat salah, bukannya memasang wajah memelas tapi malah sesombong itu. Percuma cantik kalau tak beretika."Excuse me," sapa Hani. "Mr. Dalmiro?" tanyanya lagi. Hani menelengkan kepalanya ke kiri untuk memindahkan rambutnya ke sisi itu.Pandangan Nicholas langsung tertuju pada leher jenjang yang seperti sengaja dipertontonkan padanya. Stefi. Inilah wanita yang bekerja sebagai legal manager dan memaki-makinya dini hari tadi."Hmmm-" sahut Nicholas kemudian. "Stefi?" tanyanya meyakinkan diri." Yes , saya Stefi. Boleh saya duduk? Atau saya cukup meminta maaf sambil berdiri?" Hani berharap makhluk di depannya tak mendengar nada suaranya yang sedikit bergetar.Benar-benar sombong. Legal manager katanya ....Hani merasa harus segera duduk. Kakinya lecet dan sepatu mahal yang dirasanya sangat tinggi itu sudah membuat betisnya menegang."Duduk," pinta Nicholas melirik sofa kosong di hadapannya.Tak sadar Hani langsung menghempaskan dirinya dan berseru, "Ahh ...." Kemudian ia langsung diam mencoba menguasai dirinya lagi. Ia sadar Nicholas sedang meneliti penampilannya.Hani menegakkan bahu dan menyilangkan kaki seperti yang diajarkan Indra tadi. Dengan mulut sedikit mengerucut, ia membelai permukaan buku menu dengan jemarinya.Harus konsep manja dan menggemaskan. Konsep wanita tolol yang disukai pria-pria munafik. Tak perlu otak. Cukup bergelayut manja. Menjijikkan!"Langsung saja, kamu sadar nggak kalo kamu bisa dituntut atas isi pesan kamu itu?" Nicholas duduk bersandar menyilangkan satu kakinya dengan elegan dan kedua tangannya berada di pegangan sofa tunggal.Hani tak berani memandang Nicholas, sedikit panik ia membalik-balikkan buku menu yang kini sudah berada di pangkuannya."Boleh saya pesan minum lebih dulu?" tanya Hani dengan mata masih tertuju pada buku menu."Bisa jawab saya?" Nada suara Nicholas sedikit meninggi."Oh, ya-ya. Tentu saja," potong Hani cepat. Ia gugup sekali. Kepalanya langsung terangkat dan tangannya refleks memeluk buku menu. Pandangan mereka kini beradu.Ya, Tuhan. Harusnya kemarin aku browsing dulu soal si Dalmiro ini .... Terlalu ganteng untuk dimaki-maki. Bodohnya aku ....Pandangan Hani benar-benar terpaku. Hani membelai wajah Nicholas dengan tatapannya. Wajah dan penampilan Nicholas benar-benar jauh dari bayangannya."Beri saya alasan untuk nggak ngelaporin kamu," kata Nicholas."Silakan aja laporin," sahut Hani langsung. Dagunya sedikit terangkat saat mengatakan hal itu.Semoga ilmu sesat ini berhasil. Semoga .... Ya, Tuhan .... Aku bersumpah nggak akan minum alkohol lagi.Nicholas menaikkan alis dan melemparkan tatapan tajam ke arah Hani."Kamu nantangin saya?" tanya Nicholas dengan nada rendah nyaris berbisik."Nggak mungkin saya nantangin anggota keluarga Dalmiro yang kaya dan berjasa untuk kemajuan negara ini." Hani menarik senyum sinis dan mengerjapkan matanya sekali.Entah penelitian mana yang udah ngebuktiin kalo mengerjap bisa meluluhkan hati orang lain. Indra sinting ... Indra sinting .... Dan aku lebih sinting lagi karena nuruti semuanya.Nicholas mengubah duduknya. Kedua tangan yang tadinya berada di pegangan sofa, kini menyatu di atas pahanya."Isi pesan kamu itu nggak mencerminkan kalo kamu legal manager . Kamu tau konsekuensinya apa. Kamu ada dendam apa dengan saya?""Ok, wait ...." Hani menatap berkeliling. "Saya perlu minum. Tenggorokan saya rasanya kering banget." Hani meletakkan menu dan berjalan melewati Nicholas seanggun mungkin.Belai pegangan sofa si Dalmiro dengan ujung jari kalo berjalan melintasinya. Ilmu sesat yang baru. Kenapa harus pegangan sofanya, Ndra?Kasir kedai kopi hampir saja meneriaki Hani saat melihatnya berdiri dengan tampilan yang sepenuhnya berubah."Kak Hani ... ternyata Kak Hani yang duduk di depan Mas Ganteng itu. Cantik banget. Kenapa nggak gini setiap hari? Barusan Mas Doni dari sini beli kopi. Pake acara ngomel karena Kak Hani nggak masuk. Kayak nggak punya kaki untuk jalan aja." Kasir muda yang mengomel itu bernama Tati. Hani kenal baik karena hampir setiap hari Tati menghiburnya dengan ikut mengata-ngatai Doni."Psst ... buruan. Aku nggak bisa lama." Hani melirik gelisah pada punggung lebar Nicholas di kejauhan."Ya, udah, nanti dianter. Sana!" usir Tati."Kamu yang anter, ya. Jangan berisik." Hani meletakkan telunjuk di bibirnya. Tati masih oke dalam hal menahan omongan. Asal jangan pegawai lain yang sering mengatakan, 'Ganbatte!' Untuk menyemangati kerja rodinya. Bisa porak poranda skrip yang sudah disusun tadi.Hani berjalan kembali ke sofanya.Doni berengsek. Apa aku pantesnya cuma jadi jongosnya aja? Dasar mulut ember. Bangga banget punya anak buah yang bisa disuruh kayak kacung.Hani mengepalkan tangannya dan kembali duduk di hadapan Nicholas. Laki-laki itu langsung mendongak dan menarik napas untuk berbicara."Jadi- ""Maaf. I'm so sorry . Aku nggak sengaja. Aku dan temenku minum wine dan buat permainan konyol. Menghubungi orang dengan kartu nama orang lain secara acak. Yang kepilih, nama kamu. Aku minta maaf ...." Hani mengubah tatapan matanya seolah sedang memohon perpanjangan deadline pada Bu Curry. Ia menyebutnya sebagai tatapan tanggal tua.Nicholas terpaku sesaat. Tak menyangka wanita yang awalnya tadi begitu angkuh sekarang terlihat memelas.Enak aja. Terlalu mudah Kalau dimaafin sekarang. Permainan konyol dan nggak bertanggung jawab sampai melibatkan orang asing. Oh no ... kamu kira kamu berurusan dengan siapa?"Udah berapa tahun kamu jadi legal manager ?" tanya Nicholas memastikan."Empat. Kurang lebih," jawab Hani mengedikkan bahunya dengan anggun. "Kenapa?""Pasti kamu sering main golf dengan perkumpulan advokat. Ya, kan?""Of course , golf ... terlalu sering malah.""Cocok kalo gitu." Nicholas tersenyum puas."Maksudnya?" Hani mulai cemas dengan kata cocok yang baru saja ia dengar.Cocok apa? Cocok apa miskaaahh? Cocok jadi Caddy? Atau jadi stick-nya?Buktikan di lapangan golf Sabtu nanti. Tempat dan waktunya akan diinfo. Nicholas berdiri kemudian mengancingkan jasnya. Saya permisi dulu. Kamu juga pasti sibuk karena ini masih jam kerja. Jangan biarkan bawahan kamu yang ngerjain semua.Nicholas mengibas bagian depan jasnya kemudian berbalik dan menuju pintu. Hani mengikutinya dengan pandangan.Di luar pintu kaca, Indra sedang berusaha tak menarik perhatian Nicholas dengan menempelkan tubuhnya pada dinding kaca."Orang berlomba memakai barang branded hanya demi terlihat hebat di mata orang lain. Bukan untuk dirinya sendiri." - Hani***Indra masih berdiri merapatkan tubuhnya di dinding luar kedai kopi dengan mata tak lepas memandang Nicholas yang menghilang ke dalam sedan mewah berwarna hitam.Hani tertatih-tatih berjalan keluar setelah mengambil kopinya yang baru saja selesai dibuatkan."Nih, buat lo. Kalo tau ketemunya cuma sebentar, gue nggak akan pake acara akting beli kopi. Rugi," ketus Hani menyerahkan caramel macchiato berukuran sedang.Indra masih terperangah dengan mulut setengah ternganga."Heh!" teriak Hani."Iya gue denger, ck." Indra menyambar gelas kopi dengan wajah sebal."Ngeliatin apa, sih?" tanya Hani melihat ke arah tempat di mana mobil Nicholas baru saja pergi."Gue nggak nyangka. Aslinya seganteng itu. Kakeknya berdarah Jerman. Pantes idungnya tinggi kayak Monas." Indra masih berdecak."Ndra, kayaknya gue nggak bakal sanggup deh ... barusan gue salah ngomong lagi kayaknya." Hani menghentakkan kakinya yang semakin terasa pegal saat ia berdiri."Apa lagi? Lo bilang apa lagi?" Indra menyeret Hani yang menghalangi pintu masuk kedai kopi."Gue laper, kita ke mini market." Hani gantian menyeret lengan Indra untuk menuruni undakan anak tangga dan pergi menyeberang ke tower lain.Setelah membayar tak lebih dari lima puluh ribu, Hani keluar mini market menenteng belanjaannya. Indra sudah duduk di kursi teras tempat mereka biasa duduk. Siang itu tak ada orang di sana selain mereka berdua."Jadi?" tanya Indra tak sabar. "Ganteng, kan?" Indra menaikkan alisnya menunggu Hani memuji Nicholas."Awalnya, gue speechless . Lo harusnya menyiapkan batin gue untuk hal itu. Mana gue sempet bilang mukanya pas-pasan ck. Enggak akan sanggup kalo lama-lama ngobrol ama dia. Gue nggak tahan ama cara dia natap gue. Hii-" Hani bergidik."Tapi lo udah minta maaf, kan?" Indra memastikan."Udah-udah. Malah karena gue minta maaf itu jadi timbul masalah baru." Hani menarik napas berat."Apa?""Gue minum dulu." Hani memutar tutup botol dan meneguk setengah botol air putih dengan satu napas."Sabar-gue sabar," jawab Indra ikut menusukkan sedotan pada caramel macchiato yang sejak tadi dipegangnya."Sebelumnya gue mau ngomong. Gue emang belum pernah ngeliat wujud asli si Nicholas ini secara langsung. Liat berita aja gue hampir nggak pernah. Tapi menurut gue dia terlalu artifisial. Dari ujung kaki sampe ujung rambut, semuanya branded . Penampilannya itu kayak hasil cuci otak kaum kapitalis yang berhasil menjual produknya ke dia. Si Nicho ini, make sesuatu yang mahal untuk ngebentuk pribadi buatannya itu. Biar keren diliat orang lain. Bukan demi dirinya sendiri." Hani meletakkan botol air mineral dan meraih onigiri yang ia letakkan di atas ponselnya."Lo yang milih bawa tumbler berisi air anget tiap hari ketimbang beli kopi, gak akan pernah ngerti soal itu. Semua bukan soal branded dan kaum kapitalis yang lo sebut tadi. Merek-merek itu, mahal karena menghargai perancangnya. Masa lo udah kuliah designer mahal-mahal, tapi lo nggak pengen balik modal. Buat lo yang beli tas 300 ribuan mata tau rasanya pake tas mahal. Mungkin ini kali pertama lo beli tas harga empat juta. Itu juga pasti udah mahal banget buat lo ," sinis Indra menatap hani yang langsung mengambil tisu dan mengelap tas barunya."Eh, ini masukin ke paper bag -nya lagi dong ... gue nggak mau naik bis pake ini." Hani mengeluarkan semua isi tas yang baru sejam dipakainya.Indra melengos lalu mengambil paper bag yang ia letakkan di atas kursi sebelah kirinya. "Lo nggak usah ngomongin soal kapitalis selain ama gue. Entar kalo banyak duit, lo nggak akan ngomong kayak gitu lagi. Jangan sampe lo menjilat ludah lo sendiri." Indra mengeluarkan tas butut dan mencampakkannya ke pangkuan hani.Hani terkekeh-kekeh saat memasukkan kembali isi tasnya yang berserakan di atas meja. "Setidaknya gue nggak ngikut arus. Enggak mati-matian nyicil kartu kredit setiap bulannya cuma demi beli barang branded . Gue lebih milih pake barang lokal yang asli. Gue nggak mau jadi budak gaya hidup. Setidaknya, meski saat ini gue masih jadi pecundang di kantor, gue masih punya jati diri." Hani tersenyum jumawa dengan sudut bibirnya berselemak saus mayo."Doyan banget nyimpen struk mini market." Indra meraup struk dari dua mini market langganan Hani. Satu dari mini market di tempat mereka duduk, satunya lagi struk dari mini market yang terletak di simpang jalan kos-kosan sahabatnya itu."Jangan dibuang ... ini belum sempet gue itung jumlahnya berapa. Gue harus tau udah ngabisin berapa tiap bulan hanya untuk jajan aja. Lo jangan malu punya temen kayak gue. Yang penting, gue jadi diri sendiri." Hani merampas struk yang akan dibuang Indra. Setelah mengancing tas bututnya, Hani kembali mengambil onigiri dan menyobek sebungkus saus mayo sachet dengan giginya."Jangan lupa jati diri lo sebagai legal manager ," tukas Indra santai mengingatkan.Hani mendelik saat mendengar ucapan Indra barusan. Ia langsung meletakkan onigiri dan menyeka mulutnya dengan asal.'Ndra ... golf-golf." Hani mengguncang lengan kanan Indra yang bertumpu di atas meja."Apa sih?" Indra menoleh lengan kemejanya. Ia tahu tangan Hani baru saja menyeka mulutnya yang belepotan saus mayo. Indra mengambil tisu dan mengelap ujung lengan kemejanya.Sementara Hani mengibaskan mulutnya seperti orang kepedasan. Ia berusaha menyusun kata-kata yang sulit keluar karena rasa panik yang menyerangnya barusan."Gue- legal manager . Kata si Nicholas, para legal manager yang tergabung di persatuan atau perkumpulan advokat sering main golf. Gue bilang gue sering main golf ...." Hani terdengar mencicit di akhir kalimatnya. Ia meraup rambut panjangnya yang tadi dibentuk ikal cantik, untuk menutupi seluruh wajahnya."Ha? Trus?" Indra meletakkan gelas kopinya."Dia nantangin gue main golf hari Sabtu nanti ... gue salah jawab-gue salah jawab. Harusnya gue emang jujur aja dari awal. Gue nggak mungkin dateng hari Sabtu buat main golf. Gue nggak ngerti orang ngapain mukul bola jauh-jauh terus sibuk dicari-cari di lapangan seluas itu. Gue nggak ngerti .... Liat stik golf langsung aja gue nggak pernah. Kali ini gue nggak mungkin dateng ...." Hani membenamkan wajahnya di lipatan tangan.Indra masih terdiam mencermati ratapan Hani yang membabi buta. Sesaat terdiam, Ia membelalak dan memancarkan cahaya cemerlang di matanya."Eh, perempuan! Lo diem dulu. Dengerin gue." Indra mengambil bekas sedotan kopinya dan menusuk kepala Hani berkali-kali."Apa?!" Hani bangkit mengusap-usap kepalanya yang terasa sedikit basah terkena tetesan sisa kopi dari ujung sedotan."Lo masih belum lupa tujuan kita ngacak kartu nama malem itu, kan? Nyari CEO Han! Gue udah bilang ke lo bolak-balik, Nicholas itu orang sibuk. Dia nggak akan buang waktu cuma untuk nemuin orang yang ngirim pesan nggak jelas ke dia. Bisa jadi dia dapet bisikan gaib kalo dia harus nemuin lo .... Nah sekarang, lo liat sendiri. Dia malah nantangin lo main golf, hari Sabtu pula. Kalo nggak karena ada feeling ke lo, gak mungkin dia mau buang-buang waktu. Mending dia ngapel tunangannya." Indra kembali menyilangkan tangan di depan dada.Hani mulai merasa gelisah tiap Indra melakukan gesture yang satu itu. Hani selalu merasa terintimidasi."Masa, sih ," gumam Hani tak yakin. "Tapi gue nggak punya peralatan golf ... mahal. Gue juga nggak punya seragam golf, gue harus beli lagi-duit lagi ... aaargghh," pekik Hani kembali meraup rambutnya untuk menutupi wajah."Gue cariin peralatan golfnya. Kalo kita sewa, kesannya nggak eksklusif. Gue pinjem ke Bu Erni atasan gue, doi pasti ngasi. Lo tinggal beli baju, sepatu, sarung tangan ama topi biar keliatan keren dan profesional. Gimana?" Indra mencengkeram lengan Hani deng
My Posesif CEO
Seorang wanita paruh baya berjalan menaiki tangga menuju lantai dua untuk menuju ke kamar anak semata wayangnya itu. Dan tibalah dia di depan pintu kamar anaknya."Diatttttt bangun udah pagiiiiii" ucap Mommy diat, yaa wanita paruh baya itu adalah Mommy diat (Tiara Wijaya).Karna merasa tidak ada jawaban dari dalam Mommy diat pun masuk ke dalam yang ternyata pintunya tidak di kunci. Mommy diat pun berjalan kearah tempat tidur dimana sang anak tertidur, dengan sangat kesal karna sang anak tidak bangun juga akhir mommy diat menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu."Bangun diat udah pagiii....katanya kamu ada pembukaan pasar yang baru jadi" ucap Mommy diat"Hm. 5 minutes mom" ucap diat antara sadar dan setengah sadar."Udah cepetan bangun gak ada 5 menit 5 menitan" ucap mommy diat dengan kesal."Oke mom" ucap diat dan langsung bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di kamarnya."Yaudh cepetan mommy tunggu di bawah yaa" teriak mommy diat kepada diat takut tidak kedengeran."Iya mom" balas diat dengan teriak juga.-----Dengan langkah cepatnya diat menuruni tangga dengan terburu-buru karna takut telat."Kamu kenapa kok buru-buru gitu sih diat" ucap mommy diat yang melihat anak terburu-buru itu."Aku udah telat mom, yaudah kalo gitu aku berangkat yaa" ucap diat.Dan diat pun sedikit berlari menuju pintu utama rumah dan setibanya di luar mobilnya sudah siap karna sudah di siapkan oleh supir di rumahnya.Selama perjalan diat hanya fokus pada jalan saja. Tetapi disaat diat sedang fokus handphone diat berbunyi tanda panggilan masuk.Alex call......"Halo""Lu dimana gua sama yang lain udah sampe nih""Gua masih dijalan bentar lagi juga sampe. Kenapa emang?""Udah gece lu ini pasar udah mau di buka tapi karna lu belum dateng yaa jadi belum lah, gimana sih?""Iya, 5 menit lagi gua sampe""Oke"Diat pun memutuskan sambungan telponnya dan fokus kembali pada jalan. Dan pada akhirnya diat sampai 5 menit di pasar pun diat langsung memakirkan mobilnya itu. Tidak jauh dari mobil juga terdapat 4 mobil berbeda dari mobilnya yang sudah pasti dia tau siapa pemilik dari mobil tersebut."Akhirnya sampe juga lu gua kira lu bakal kesasar" ucap Loen dengan nada bercanda."Iya" ucap Diat singkat."Yaelah yat masih dingin ae lagi nih orang" ucap Leon kesal."Udah jangan ngomong lagi deh lu Loen, mending sekarang kita ke tempat pembukaannya aja udah di tungguin nih" ucap Gerlad karna sudah tidak tahan dengan temannya satu itu."Yaudah ayo" ucap kenan berjalan mendahului yang lain.Dan di susul yang lain juga, dan tepat di tengah jalan mereka melihat cewe-cewe atau pacar Mereka lebih tepatnya pacar alex, leon, gerlad, dan kenan. Yapp pacar mereka ikut karna mereka ingin mencicipi makanan yang ada di pasar tersebut."Kalian mau kemana???" tanya Kalila pada cowo-cowo."Kita mau ketempat pembukaan, kenapa?" balas alex."Kita boleh ikut gak?" ucap clara"Yaudah" ucap kenan.Dan akhirnya mereka bersembilan jalan dengan beriringan dengan diat di paling depan karna dia sendiri alias tidak memiliki pacar, dan disusul oleh alex-kalila, kenan-putri, leon-natasya, dan gerlad-clara.Mereka pun berjalan menuju tempat pembukaan yang sudah di siapkan oleh karyawan kantor pasar."Dengan ini saya nyatakan pasar Vanda di buka" ucap diat singkat.Dan salah satu pegawai kantor pasar memberikannya gunting untuk mengunting pita nya itu."Udah di bukakan mending sekarang kita jalan-jalan aja sambil liat-liat pasarnya gimana guy s?" ucap kenan pada teman-temannya dan pacarnya itu."Ide bagus sekalian kita cari makan yaa kan, mumpung lagi di pasar kan pasti banyak makanan tuh udah gitu murah meriah lagi" ucap leon.Dan mereka pun berkeliling pasar sambil membeli beberapa makanan yang menurut mereka enak.mereka pun memutuskan untuk pulang karna matahari sudah mulai terik. Mereka pun sampai di parkiran tapi tidak dengan diat karna dia memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu, tapi saat dia berjalan dia tidak terlalu memperhatikan jalan jadi lah dia menabrak seseorang.BrukkSuara orang terjatuh tapi orang itu bukan diat tetapi orang itu seorang yang memakai hijab baru saja keluar dari toilet."Heh kalo jalan itu liat-liat. Gimana sih?" bentak diat saat melihat siapa yang dia tabrak."Maaf, tapi kan kamu yang tabrak aku kenapa kamu malah salahin aku" ucap gadis tersebut."Ah banyak omong lo udah minggir" bentak diat pada gadis itu.Akhirnya gadis itu pun pergi menjauh dengan mata yang sudah berkaca-kaca karna gadis itu baru pertama kali di bentak oleh orang bahkan orang tuanya sekalipun tidak pernah membentaknya.Disaat gadis tersebut pergi diat dibuat keheranan kenapa gadis itu tidak seperti gadis lain yang biasanya jika bertemu dengannya akan mulai menggodanya atau merayunya.Diat pun memutuskan tidak mau ambil pusing dan pergi menuju toilet.Dan saat diat tiba di parkiran dia melihat gadis itu ternyata gadis itu adalah seorang penjaga toko pakaian anak-anak.Diat terus memperhatikan gadis tersebut tanpa sadar dia tersenyum saat melihat gadis itu sedang berbicara pada orang lain.Didalam benaknya dia sudah mengklaim gadis tersebut sebagai miliknya dan tidak ada yang boleh menyentuhnya selain dirinya.Diat mengambil handphone miliknya di saku celananya dan dia membuka aplikasi kamera dia pun mengarahkan handphonenya kearah gadis tersebut untuk di foto.Setelah dia mengambil gambar gadis itu ia pun langsung menelpon anak buahnya untuk membawa gadis itu ke mansionnya."Halo""............""Aku ingin kau membawa gadis yang ada digambar yang sudah aku kirimkan""..........................""Dan cari tau tentangnya""......................"Diat pun memutuskan sambungan telpon secara sepihak kepada orang kepercayaannya."Kau akan menjadi milikku dan aku tidak akan orang mana pun menyentuh mu selain aku" batin diat sambil menatap kearah gadis itu.Karna hari ini ada acara pembukaan pasar jadi aku harus lebih pagi membuka tokonya. Huh semoga banyak yang beli aminn."Dek makan dulu nih sama nasi goreng" ucap mama ku sembari memberikan sepiring nasi goreng."Iya mah" balas ku sembari menerima nasi goreng tersebut."Dek kamu mau berangkat jam berapa kepasarnya?" tanya mamaku."Abis makan mah langsung berangkat" balas ku."Kok pagi banget biasanya kamu jalan jam 7.20 kan sekarang baru jam 6.40 loh" ucap mamaku."Iya kan mama tau sendiri kalo sekarang ada acara pembukaan pasar nah pasti banyak dong yang bakal liat yaudah aku berangkat pagi aja siapa tau banyak yang beli kan" ucap ku."Oh yaudah kamu makan buruan nanti mama anterin ke pasarnya biar cepet" ucap mamaku."Iya mah" ucap ku.Setelah aku mengngobrol dengan mama aku langsung memakan nasi goreng ku.Setelah selesai makan aku langsung membawa piringnya kebelakang dan langsung mencucinya, setelah selesai mencuci piring aku langsung menghampiri mama ku yang berada di depan rumah."Mah ayo berangkat" ucap ku."Iya, yaudah kamu tunggu depan sana" ucap mamaku.Dan aku pun langsung memakai sandal dan berjalan kedepan gang rumahku."Ayo naik" ucap mama ketika sudah di samping ku dan menyuruh ku untuk naik ke motor.Aku pun langsung naik dan setelah aku naik mama mulai menjalankan motornya.Selama perjalan aku maupun mama sama-sama diam."Udah mah (namakamu) turun disini aja" ucap ku pada mama saat sudah sampai pasar tersebut."Yaudah yang bener jual bajunya yaa" ucap mama menasehatiku."Iya mah" ucap ku.Setelah aku pamit ke mama aku langsung masuk kedalam pasar dan setelah tiba di depan toko aku langsung mengambil kunci di dalam tas lalu aku buka pintu tersebut dengan menariknya keatas.Sehabis membuka pintu toko aku langsung menarik brangkar baju keluar dan patungnya. Setelah itu aku langsung mulai menyapu dan mengepel lantai yang kotor.----Di siang hari yang lumayan panas aku ingin ketoilet lalu aku keluar toko dan berjalan kearah toko sebelah untuk menitipkan toko ku."Teh (namakamu) nitip toko yaa mau ke toilet dulu udh kebelet nih" ucap ku."iya (nama kamu)" ucap teh Wanni.Setelah itu aku langsung lari kearah toilet tapi saat di pertengahan jalan tidak sengaja orang menabrak ku karna dia yang fokus ke handphonenya itu."Heh kalo jalan itu liat-liat. Gimana sih?" bentak orang itu saat melihat siapa yang dia tabrak."Maaf, tapi kan kamu yang tabrak aku kenapa kamu malah salahin aku" ucap ku tersebut."Ah banyak omong lo udah minggir" bentak orang itu pada aku.Dan setelah itu aku langsung ke toilet karna udh ke belet. Setelah selesai aku keluar dari bilik kamar mandi lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan, setelah selesai aku melihat Kearah cermin yang ada di kamar mandi."Padahalkan tadi dia yang nabrak aku kenapa malah dia yang marah, yaudah lah ya (nama kamu) ngalah aja sama orang kaya gitu mah" guman ku.Setelah dari toilet aku langsung kembali ke toko takut ada yang beli pakaian. Selama aku menjaga toko aku merasa ada yang memperhatikan ku tapi aku hiraukan saja mungkin hanya orang iseng saja.Tepat jam 2 siang aku langsung membereskan barang-barang masuk kedalam toko untuk aku tutup tokonya.Author povSetelah selesai ia pun langsung mengunci toko tersebut dan berjalan pulang kerumah. Tapi, di pertengahan jalan ada mobil yang berhenti mungkin ingin menanyakan arah jalan.Lalu keluar 3 orang yang tidak (nama kamu) kenal salah satu dari mereka langsung mendekap mulut serta hidung (namakamu) dengan sapu tangan yang sudah di berikan obat tidur.Tidak lama kemudian (nama kamu) jatuh tak sadar kan diri karna pengaruh obat tersebut.Setelah itu mereka membawa (namakamu) ke mansion tuan mereka.Selama menempuh perjalanan yang lumayan jauh akhirnya orang yang membawa seorang gadis yang tak sadar kan diri akhirnya sampai di sebuah mansion yang cukup mewah dengan berbagai fasilitas yang modern dan canggih.Sekarang aku sedang berada di ruang kerja mansion ku sambil membaca berkas tentang gadisku itu, ah memikirnya saja sudah membuat ku rindu akan wajah gadis itu walau aku sempat membentaknya tadi dan sekarang aku merasa bersalah karna sudah membentaknya mungkin aku harus minta maaf saat gadisku sudah sampai nanti.Tidak lama setelah itu aku mendengar suara mobil yang memasuki teras mansion dan aku pun bangkit dari kursi meja kerja ku untuk melihat keluar siapa yang datang.Dan ternyata yang datang adalah anak buah ku yang aku tugaskan untuk membawa gadisku kemari. Dan aku langsung menyuruh mereka membawa gadisku ke kamar yang sudah aku siapkan untuknya.Setelah itu aku menyuruh mereka semua keluar dari kamar gadisku. Dan hanya menyiksakan aku dan gadisku saja melihatnya tidur saja sudah membuat aku ingin memeluknya.Author POVSetelah itu diat keluar dari kamar gadis itu karna dia tidak ingin mengganggu gadis itu yang sedang tidur walau karna pengaruh obat tidur yang di berikan oleh orang suruhannya.Setelah keluar dari kamar gadis itu diat mulai menghubungi anak buahnya untuk menjaga rumahnya lebih ketat lagi agar gadis itu tidak bisa kabur.
Terpaksa menikah dengan seorang CEO Kaya Raya
Suatu hari, Seorang pria cantik harus menikah dengan seorang CEO yang kaya raya, Karna CEO itu menginginkan dirinya.Ya namanya adalah NAKAHARA CHUUYA.Data diri:- NAKAHARA CHUUYA:* Umur = 20 tahun* Status = omega* Seorang pelayan di sebuah cafe.* Memiliki seorang kakak yang bernama = yosano akiko.Data diri:- YOSANO AKIKO:* Umur = 23 tahun* Status = alpha* Seorang pengusaha* Memiliki seorang adik yang bernama = nakahara chuuya.🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋Jadi suatu hari, kantor yosano mengalami kebangkrutan dan di saat saat kritis ini , yosano di bantu oleh seorang CEO kaya yang terkenal. Dia memberikan uang kepada yosano sebesar 100 triliun.Baginya itu sedikit, dia memberikan uang sebesar itu pada yosano agar dia bisa mengembangkan perusahaan nya lagi .Akan tetapi dia juga meminta sebuah keinginan.Yosano tidak bisa menolak keinginan itu Karna ia juga berhutang Budi padanya Karna telah di bantu.Lalu yosano menyetujui nya tanpa meminta keputusan kepada chuuya terlebih dahulu, dan dia menunjukkan foto sekaligus semua data tentang adiknya itu padanya." Pft.... walaupun dia laki laki, tapi dia cantik juga ya....... Aku jadi ingin memiliki nya secepatnya " - kata dazai.Ya, CEO kaya itu adalah dazai, DAZAI OSAMU. Tuan DAZAI OSAMU.Data diri:- DAZAI OSAMU:*Umur = 22 tahun* Status = Alpha* Tinggal sendirian, orang tuanya telah pergi meninggalkan nya saat kecil dan dia di besarkan oleh pamannya , tetapi pamannya telah tiada dua tahun yang lalu.* Seorang CEO terkaya di dunia.5 hari sebelum pernikahan:" Chuuya adikku..... "-yosanoChuuya yang di panggil pun menoleh menatap kakaknya." Ada apa kak? "-tanya chuuya" Adikku, sebenarnya.........."-yosano" Sebenarnya kenapa kak? Apa kakak ada masalah lagi? "- tanya chuuya lagi." Kakak telah menjodohkan mu dengan seseorang. "-yosanoChuuya seketika terkaget dan dia mulai bertanya lagi kepada kakaknya itu." Apa maksudnya kak? Ini bercanda Kan, kak, kakak tau kan kalau aku sudah memiliki kekasih, dan kami saling mencintai, lalu kenapa kakak tiba tiba menjodohkan ku begitu saja tanpa memberitahu ku " - omel chuuya." Kakak tau chuuya, maafkan kakak jika kakak tidak memberitahu mu terlebih dahulu, tetapi kakak mempunyai hutang Budi kepada seseorang. Dia ingin menikah denganmu, jika kau menolaknya maka perusahaan akan bangkrut dan kita akan jatuh miskin chuuya.Kakak mohon padamu............... terimalah pernikahan ini " - yosano.Chuuya terdiam sejenak, dan memikirkan permintaan kakaknya itu.Chuuya juga memikirkan apa arti balas Budi, dan kali ini dengan berat hati........CHUUYA MENERIMA NYA." Kakak, dengan berat hati, aku menerima pernikahan ini "-chuuya" Baiklah adikku, kakak menghargai perasaan mu "-yosanoChuuya mengangguk, ia sebenarnya tak siap untuk menikah akan tetapi ini demi balas Budi kakaknya dan perusahaan nya.Setelah kejadian itu, chuuya memutuskan untuk menemui Fyodor.Data diri- FYODOR DOSTOEVSKY* Umur = 22 tahun* Status = Alpha* Seorang karyawan kantor di perusahaan kakanya chuuya.Chuuya dan Fyodor sudah berpacaran selama 3 tahun, ya........ perjuangan mereka selama 3 tahun itu akan sia sia.Chuuya mendatangi Fyodor di kantor nya, dan langsung berhadapan dengan nya." Eh , sayang kenapa kau tiba tiba kesini? Aku kan masih bekerja "-fyodor" Fyodor..............aku ingin berbicara padamu " -chuuya" Ingin bicara apa? " -tanya Fyodor" Jangan disini, lebih baik di taman belakang kantor " -ajak chuuya" Baiklah sayang, kau ke sanalah dulu aku akan membereskan berkas" ini ya "-fyodor" Baiklah "-chuuya.Chuuya segera menuruti perintah dari kekasih nya itu dan dia menunggu kekasihnya di taman belakang kantor kakaknya.Dan selang beberapa menit Fyodor datang dan mulai menanyakan apa yang ingin chuuya bicarakan." Ada perlu apa sayang, sampai sampai kau ingin berbicara berdua dengan ku "-tanya Fyodor.Chuuya gugup untuk memberitahu kepada Fyodor, bahwa dia sudah di jodohkan bahkan akan menikah. Dan dia memberanikan diri untuk berbicara pada kekasihnya itu." Hubungan k-kita cukup sampai sini saja "-jawab chuuyaFyodor seketika kaget, dia tak menyangka bahwa kekasihnya akan mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan 3 tahun ini." K- kenapa sayang? Apa aku punya salah? Jika iya maafkan aku jangan putus ya, aku gak mau, aku masih mencintaimu, aku gak mau kita putus sayang...... "-fyodor" Maaf, semua ini terjadi karena aku sudah di jodohkan dengan orang lain oleh kakakku "-jawab chuuya nunduk." Kenapa? Bukankah kakakmu sudah tau bahwa aku adalah pacar mu dan sebentar lagi kita akaj menikah,aku akan melamarmu " -jelas Fyodor." Ini semua karna hutang Budi kakakku pada seseorang, dan orang itu menginginkan diriku sebagai ganti balas budinya, jadi.............aku harus menikah dengannya "-jelas chuuya.Setelah kejadian itu, chuuya mulai bersiap untuk bertemu dengan calon suaminya.Sekarang ia sedang berdandan dan memakai baju yang sangat cantik.Hari ini dia akan menemani calon suaminya itu untuk memailih baju pernikahan dan cincin pernikahan.Ya walaupun chuuya belum mengenalnya tapi ia tetap di paksa ikut oleh kakaknya, ya mau gimana lagi , chuuya tidak bisa melawan keinginan kakaknya itu.Ia pun sekarang sedang di depan rumah untuk menunggu calon suaminya datang. Dan selang beberapa menit......Tin.....Tin....Tin.......Mobil yang di tunggu chuuya pun akhirnya datang dan akhirnya dazai keluar dari mobilnya." Hallo sayangku~ "-dazai" Ih, gak usah sok akrab ,kita baru kenal "-ketus chuuya.Dazai pun tersenyum." Kau memang cantik ya, tak salah aku memilih mu sebagai calon istriku "-dazai" Bisakah kita berangkat sekarang,gak usah basa basi deh "-ketus chuuya lagi .Dazai membukakan pintu mobil untuk chuuya dan Chuuya masuk ke dalam mobil.Akan tetapi saat Dazai masuk ke mobil dan duduk di samping chuuya, chuuya menggeser tempat duduknya itu dan agak jauh dari dazai.Tapi dazai tak tinggal diam, dia menggeser dirinya sampai dekat dengan chuuya.Chuuya pun menggeser tempat duduknya lagi dan lagi, lagi dazai menggeser tempat duduknya hingga dekat dengan chuuya lagi.Sampai sampai chuuya terpojok dan dazai akhirnya senyum kemenangan.Lalu iya memegang pipi Chuuya yang lembut itu." Pipimu halus juga, aku jadi tak sabar untuk memakan mu, atau mungkin tubuhmu lebih mulus dari pipimu ini "-goda dazai.Chuuya menepis tangan dazai." Jangan sentuh diriku "-jawab chuuya." Kenapa sayang? Kau akan menjadi milikku sebentar lagi~ , jadi menurutlah padaku atau aku akan membuatmu mengeluarkan suara" indahmu itu di malam hari "-dazai.Chuuya malu akan jawaban dazai, akan tetapi dia menahan rasa malunya itu dengan memalingkan mukanya ke arah luar jendela mobil.Dazai tau kalau chuuya malu, jadi dia memegang dagu chuuya dan mengarahkan wajah chuuya padanya, Karna ia tak mau melewatkan kesempatan untuk melihat wajah cantik calon istrinya itu." ada apa sayangku, apa kau malu Hem? '-goda dazai." Lepaskan! Jangan sentuh diriku "-chuuya.Chuuya menepis tangan dazai yang tengah memegang dagunya itu." Astaga, kau ini memang cantik tapi suaramu sangat lantang sekali ya "-goda dazai." Cih, membosankan "-keluh chuuya.Dazai yang mendengar keluh chuuya pun mendapat kan suatu ide yang bisa di bilang sangat buruk, yaitu ia ingin menyetubuhi chuuya.Orang yang belum sah menjadi istrinya itu." Sopir, kita ke hotel pribadi saya "-perintah dazai." Baik tuan "-pak sopirChuuya kaget, kenapa tujuan mereka tiba tiba ke hotel padahal tujuan awal mereka kan ke cafe untuk makan malam, lalu knp ini di hotel." T-tunggu, kenapa kita ke hotel, bukankah tujuan kita ke cafe, kenapa sekarang ke hotel? "-tanya chuuya heran." Kita akan makan malam di sana sayang~"-jawab dazai.Ya......Bukan mereka yang makan, hanya dazai. Iya. Hanya DAZAI.Sesampainya di hotel...." Chuuya ayo turun "-perintah dazai.Ia sedang membuka kan pintu mobil untuk Chuuya keluar.Chuuya menurut saja Karna ia penasaran, kenapa mereka kencan di hotel, apa sebenarnya tujuan dazai.Saat chuuya baru turun dari mobil, ia kaget karna dazai langsung menggendong nya ala bride style dan membawanya masuk ke hotel pribadinya." Kenapa harus di hotel kencan nya? Dan makan malamnya bagaimana? "-tanya chuuya." Kau akan tau sayang, jadi diamlah, dan kau pasti akan menikmati nya nanti "-jawab dazai dengan senyuman seakan serigala telah menemukan dombanya.Chuuya menurut dan diam saja sampai ia dan dazai tiba di kamar 102 di hotel pribadi milik dazai.Dazai membuka pintu kamar hotel dan masuk dengan masih menggendong chuuya ala bride style.Saat sudah di dalam kamar, dazai langsung mengunci pintu kamar hotel dan membanting chuuya ke kasur yang besar itu.Chuuya pun kaget." Ah....a-ada apa?! Dan Kenapa kau membanting ku?! "-tanya chuuya tegas." Sudah ku bilang,kita akan makan malam bersama sayang ~"-dazai.Dazai mulai mendekati chuuya dan melepas dasi yang ia kenakan, untuk mengikat kedua tangan chuuya menggunakan dasinya tersebut.Chuuya kaget Karna tangannya juga di ikat oleh dazai, dia ingin memberontak tapi tubuhnya telah di tindihi oleh tubuh besar dazai, ya kan dazai seorang Alpha dan chuuya seorang omega." A-apa yang ingin kau lakukan?! Lepaskan aku!? "-berontak chuuya." Tidak, sebelum kau hamil anakku "-jawab dazai." lepaskan aku! "-tegas chuuya." Enggak akan sayang, aku akan mencicipi tubuh mu terlebih dahulu dan bermain dengan hole mu itu "-goda dazai.Lalu dazai membuka semua baju chuuya bahkan bajunya sendiri, sehingga sekarang mereka berdua telanjang.Chuuya yang melihat milik dazai itu pun membulatkan matanya, ia tak menyangka bahwa ia akan di nodai oleh dazai sebelum mereka menikah." Apa kau suka milikku yang besar ini sayang?"-dazai.Chuuya menelan ludahnya sendiri, ia tak bisa membayangkan betapa sakitnya, lubangnya saat di masuki milik dazai nanti." Aku akan pemanasan dulu sayang~"-dazai.Dazai mulai mencium chuuya, dan memasukkan obat perangsang ke dalam mulut chuuya melalui mulutnya itu.Sebenarnya, tadi saat di mobil, dazai sudah memakan obat perangsang itu dan menyembunyikan nya ke dalam bawah lidahnya.Dan kini ,obat itu telah masuk ke dalam mulut chuuya, akan tetapi dazai masih tetap mencium chuuya.Merasakan bibir chuuya yang lembut dan manis itu.Bagi dazai.Chuuya yang bingung, dengan apa tadi yang masuk ke dalam mulutnya,ia tak sengaja menelannya dan tiba tiba tubuhnya memanas." D-dazai......hng.......panas...."-keluh chuuya.Saat mendengar perkataan chuuya ini, dazai menyeringai lebar, ia tak menyangka, obat perangsang nya akan bekerja secepat ini.Dan dia pun langsung memulai nafsunya itu." Ada apa sayang?"-tanya dazai.Walaupun dazau bertanya, ia sudah tau Karna ini ulahnya.Jari tengah dazai mulai masuk ke dalam hole hangat chuuya tersebut.Kegiatan dazai itu membuat chuuya menggerang kesakitan, Karna ia baru pertama kali hole nya di masuki oleh jari dazai, apalagi milik dazai nanti." Ah.....hngg........da- ah...."-chuuya." Hem.......kau ingin lagi ya sayang?"-goda dazai."Hngg...ah......sak-.......ah.....kit...hng..."-chuuya.Setelah itu dazai langsung menambahkan dua jari lagi, di dalam hole chuuya, sekarang ada 3 jari dazai yang ada di dalam hole chuuya yang bergerak naik turun dan itu membuat chuuya menggerang kesakitan lagi walaupun di campur oleh rasa kenikmatan juga."Akh......ah!.....lepas-.......hng.....ah...."-chuuya." Nikmati saja sayang~"-dazai." L-lepaskan tangan- akh! Ah! .....hnggg.....lepas- ah! "-chuuya.Dazai pun melepaskan jarinya dari hole chuuya.Itu membuat chuuya merasa sedikit lega, akan tetapi......JLEB!!!!!" Akh! Ah! "-teriak chuuya." lepaskan! Akh! Ah!! Ah........ah...akh....."-chuuya." Keluar kan suara indahmu itu sayang "-dazai.Dazai terus menggenjot lubang chuuya dengan tempo yang cepat.Chuuya ingin memberontak, tapi apa dayanya , tubuhnya lemas dan rasa sakit yang ada di lubangnya saat di masuki oleh milik dazai yang besar itu.Dan akhirnya....." Akh!!!!! Ah!!!! "-chuuya.Chuuya berteriak saat milik dazai mengenai titik prostat nya dan di saat itulah dazai keluar hingga memenuhi rahim chuuya.Bahkan chuuya juga sempat keluar hingga cum nya mengotori perut dazai dan seprai kasur.Tubuh chuuya melemas, dia lelah dan juga mengantuk.Dazai tau akan keadaan chuuya yang sekarang mengantuk, tapi dia tetap tak berhenti.Dia tetap terus menggenjot lubang chuuya hingga si empu nya berteriak lagi dan tak jadi tidur." Ah! Sakit...hiks....akh!! Ahn! Lepas- akh! Hiks, ah...ah...ah.....akh....ah..."-chuuya.Mereka melakukan kegiatan itu sampai jam 3 pagi, dan di jam 2 pagi chuuya sudah pingsan,tetapi dazai terus menggenjot nya sampai jam 3 pagi baru dia tertidur.Ntah apa yang akan terjadi pada chuuya.Tubuhnya sekarang mati rasa Karna dazai.Dia telah mengambil keperawanan chuuya dalam semalam.Posisi dazai tidur , dia tidur di belakangi oleh chuuya dan tangannya memeluk chuuya. Tetapi dia belum melepas milik nya yang ada di dalam hole chuuya.Keesokan harinya...." Hngg...... "-chuuya.Chuuya terbangun dari tidur nyenyak nya itu Karna di ganggu oleh sinar mentari pagi.Dan chuuya menyadari bahwa dazai sudah tidak ada di samping nya dan dia juga mengamati hole nya yang masih mengalir sperma milik dazai yang tadi malam sempat memenuhi rahimnya." Hiks......apa yang aku lakukan semalam, hiks ....... Aku tak mau menikah dengan nya! Kenapa harus seperti ini!!! "-chuuya.Chuuya menangis dan berteriak, tetapi teriakan dan tangisan itu tidak berarti.Semua sudah terjadi.Dia hanya bisa menangis dan mengingat apa yang telah dia lakukan semalam dengan dazai.Dan seketika itu ,dazai kembali ke kamar chuuya." Eh chuuya kenapa kau menangis?"-dazai." Ini semua salah mu, kau menghilang keperawanan ku tadi malam, sehingga aku tak suci lagi sekarang, huaaa...."-chuuya." Hei, untuk apa kau menangis? Ya kau memang sudah tak perawan,tapi keperawanan itu aku yang mengambilnya kan, dan kita sudah di jodohkan kan "-jawab dazai." Tapi aku tak menerima perjodohan ini?!!"-chuuya." Kau akan menerimanya, dengan adanya benih ku di dalam rahim mu itu sayang "-dazai.Dazai duduk di samping chuuya dan memeluk chuuya.Dia mengelus-elus rambut chuuya berusaha untuk menenangkannya.Ntah itu sihir atau apa , chuuya nyaman dengan pelukan dan elusan itu, dia mulai ngantuk lagi dan akhirnya dia tertidur di pelukan seorang dazai Osamu." Kau sangat cantik, aku tak salah memilih mu chuuya. Liatlah sebentar lagi kita akan punya bayi dan besok adalah hari pernikahan kita "-dazai.Dazai memeluk chuuya erat, dan dia menggendong chuuya untuk ia mandikan Karna tubuh chuuya lengket Karna sperma nya dan chuuya.Dazai membawa chuuya ke kamar mandi dan mulai memandikan nya, saat di mandikan chuuya tak bangun, dia malah tetap tidur pulas, sesekali ia bergerak saat dazai membersihkan area kemaluan nya dan lubangnya itu.Setelah selesai mandi, datai memakaikan pakaian ke chuuya dan menaruhnya di sofa untuk sementara waktu, lalu dia mengganti seprie kasur nya dengan yang baru dan membuang seprei yang lama itu ke tong sampah.Ya, sampai jam dinding menunjukkan pukul 11 barulah chuuya terbangun dari tidurnya.Saat dia bangun, dia sudah tak melihat dazai lagi, dia kira dazai sudah di kantor, tetapi dia masih memastikan nya dengan melihat meja kerja pribadi dazai, dan jika ada berkas di sana berarti dazai belum ke kantor,tapi kali ini gak ada berkas ,jadi dazai sudah pasti ke kantor.Chuuya senang, Karna....Dia bisa melakukan pekerjaan nya." Heii cantik kemarilah "-panggil seorang" Haik "-chuuya" Tuang kan aku segelas bir , ya cantik, oh ya, apakah aku boleh meniduri mu malam ini ? "-kata orang itu" Maaf tuan, saya hanya bisa melayani minuman anda, bukan nafsu anda "-kata chuuya, sambil menuangkan bir ke gelas pelanggan tersebu" Oh, apa kau takut dengan Tunangan mu itu ya? "-jawab orang itu." Bagaimana kau tau kalau aku akan bertunangan? "-tanya chuuy" Aku adalah teman nya dazai "-jawab Fyodor" Oh.... "-jawab chuuya" Apa kau tak takut jika kau kepergok dazai bekerja di sebuah bar? "-tanya Fyodor" Aku tak peduli padanya,untuk apa takut padanya? "-jawab chuuy" Oh....jadi kau tak puas dengan apa yang aku lakukan kemarin malam , sayang? "Chuuya kaget" Ohh dazai..........liatlah aku sedang di layani oleh Tunangan mu ini "-sombong Fyodor." Kau mulai nakal sayang, kau bekerja di bar tanpa meminta izin dariku, Hem? "-dazai." Terserah ku lah, apa urusannya dengan mu? "-jawab ketus chuuy" Kau memang belum puas ya , yang kemarin malam "-dazai" Eh... "-chuuya" Kalau begitu, kita pulang ya sayang "-dazai.
TRANSMIGRASI ISTRI CEO DINGIN
Saat ini Aera berada di salah satu clubs yang terkenal untuk merayakan hari kelulusan sendiri, bayangkan seorang gadis berada di club tanpa pendamping apa lagi ia baru legal.Aera menari sambil membawa gelas berisi alkohol di antara pemuda pemudi yang sedang berjoget ria itu, ia bahkan melenggak-lenggokan tubuhnya tanpa rasa canggungSetelah merasa lelah Aera berhenti menari dan mencari tempat nyaman untuk duduk dan pilihan jatuh pada meja yang berada di pojok karena hanya meja itu yang terlihat sepi dan tidak terlalu bising, ia meminum alkohol yang sedari tadi ia pegang dan meminumnya berkali-kali hingga habis 4 botol, gadis ini sangat gila!!..Jam menunjukkan 01:21 Setelah di rasa kesadarannya tinggal sedikit ia pun memilih untuk pulang ke rumahnya mengendarai mobil sendiri dengan keadaan setengah sadar, kalau tanya di mana orang tuanya??, kenapa gadis sepertinya di biarkan keluar malam???....Jawabannya orang tua Aera sudah berpisah satu tahun yang lalu itu sebabnya ia berkepribadian yang keras dan berandal karena tidak ada perhatian dari orang tua, keluarga nya pecah sebab adanya pelakor olehKerena itu ia sangat membenci yang namanya pelakor Hingga ia sedikit trauma dengan asmara.Karena memikirkan keadaan keluarganya yang terpecah belah juga pengaruh alkohol Aera tidak fokus dalam menyetir ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh untung Saja hari sudah larut hingga jarang ada pengendara lain.Namun saat di tikungan ada mobil yang sedang berhenti di pinggir jalan karena Aera masih dalam pengaruh alkohol ia pun menabrak mobil itu dan kejadiannya sangat cepat hingga Aera tidak ada waktu untuk menghindari dan terjadi lah tabrakan, Aera dinyatakan tewas di tempat karena mobil bagian depannya hancur.Inilah akhir kehidupan Aera namun sebenarnya inilah awal dari kisah sebenarnya seorang Aera Sanjaya namun dalam tubuh yang berbeda.Di dalam kamar yang mewah terdapat gadis berusia 21 yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba sang empu terbangun dan langsung duduk memasang muka bingung menoleh ke sana-sini." Ini dimana " tanyanya lirih kepada diri sendiri karena keadaan kamar dengan nuansa dark itu kosong tanpa ada seseorang pun kecuali dirinya." Auww Sthh...." ringisnya ketika ingatan asing tiba-tiba muncul di pikiran nya berputar-putar seperti kaset rusak." Ja..jadi gue bertransmigrasi ke tubuh istri CEO dingin yang gak dianggap bernama BRIANA WIJAYA DREKSMIAN atau Riana... " MonologAera" Dan parahnya lagi suami Riana ini gak pernah peduli bahkan selalu mengabaikan keberadaan pemilik tubuh, ya meskipun Riana bersikap seperti jalang karena selalu berpenampilan menor dan selalu menempelinya tapi kan itu semua ia lakukan agar mendapatkan perhatian dari nya, dia itu suami atau apa sih kesel gue " lanjut Aera kesal" Riana juga udah tau sifat suaminya kaya gimana masih aja di deketin, dengan cara murahan lagi, harusnya Lo jadi cewek itu berkelas dan jual mahal dikit lah aduh capek gue, apa lagi sekarang jiwa gue berada di tubuh ni cewek "" Mulai sekarang karena gue ada di tubuh Lo, gue akan merubah pandangan orang lain terhadap Lo, gue akan bersikap cuek dan menghindar dari suami cuek Lo itu, siapa ya namanya.. " kata Aera sambil mengingat-ingat nama suami Riana" Nah iya, namanya DOLARREN DREKSMIAN keren juga sih, pantesan orang kaya namanya aja ada unsur uang nya " ucap Aera setelah mengingat nama suami pemilik tubuh( kita panggil Aera jadi Riana ya )Riana bangun dari ranjang berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya alangkah terkejutnya nya dia saat melihat desain interior kamar mandi yang mewah, bahkan sangat mewah meskipun saat ia masih ada di tubuh aslinya dulu orang kaya, tapi rumahnya tidak semewah ini.Setelah selesai mandi ia keluar dengan memakai handuk yang melilit tubuhnya dan berjalan ke arah bathroom untuk ganti baju dan lagi lagi ia di buat terkejut melihat kemewahan walk in kloset yang lengkap dengan baju, tas, sepatu dan aksesoris yang mahal tengah tertata rapi.Setelah berganti pakaian dengan piama merah muda ia melangkah ke meja rias yang ada di dekat ranjang,mengeringkan rambut dan memakai skincare untuk menjaga agar kulit tetap cerah, Riana hanya bisa berdecak kagum melihat banyaknya alat kosmetik milik Riana yang lengkap dan pastinya mahal tidak Abal-Abal seperti milik kalian...ya pantas sih karena Riana ini tipe kal wanita modis sama seperti dirinya dulu meskipun ia tidak terlalu berlebih seperti Riana karena selalu memakai baju kurung bahan hanya untuk mencari perhatian suaminya bukanya tertarik tapi yang ada sang suami semakin ilfil padanya ( ingatkan Riana untuk membeli baju baru nantinya), kalau Aera ia lebih suka memakai gaun sebatas lutut atau atasnya yang sederhana namun terkesan elegan dan menawan.Setelah di rasa penampilan nya rapi tanpa make up yang tebal seperti biasanya namun ia jauh terlihat cantik dan imut tanpa menggunakan makeup, Riana turun ke bawah untuk makan malam mengingat sudah waktunya untuk makan malam, kamar Riana itu berada di lantai 2 sedangkan kamar sang suami berada di lantai 3, ya Riana dan Dollareen pisah kamar atas perintah sang suami.Kini Riana telah duduk di meja makan menunggu maid menyiapkan makanan, selama ia berada di tubuh Riana, ia belum melihat ke keberadaan suami Riana atau sekarang sudah menjadi suaminya juga, ia belum melihat wajah rupawan Dollareen seperti apa.Cukup lama ia menunggu kedatangan Dollareen bahkan sekarang Riana merasa dirinya akan mati kelaparan jika harus menunggu Dollareen lebih lama lagi.Makanan sudah di hidangkan di hadapan nya, tertata rapi dengan menu yang menggugah seleranya yang menahan lapar Sedari tadi."Ehh iya ya ngapain gue nungguin titisan tembok itu sampai kelaparan!!, gue kan bukan Riana yang harus nunggu titisan tembok Dateng baru makan, jadi sikat aja laaah~"karena terlalu lapar tanpa menunggu lagi Riana mulai mengambil makanan dengan porsi banyak Tidak peduli dengan sekitar Riana langsung melahapnya tanpa memperhatikan etika, ingat!! dia itu Aera gadis brandal tanpa memperdulikan apapun jika sudah kelaparan tidak seperti Riana yang selalu menjaga etikanya meskipun dengan terpaksa" Persetan dengan etika"Batin Rianakarena porsi makan Riana yang terlalu banyak dan cara makannya yang cukup buruk mengundang tatapan aneh dari para maid karena biasanya Riana ini akan menunggu Dollareen terlebih dahulu agar dapat makan bersamaDan Riana selalu menjaga etika dan pola makannya jadi jangan heran jika banyak maid yang terkejut melihat istri dari tuannya itu makan dengan porsi melebihi orang yang berpuasa.Riana melahap dengan penuh kenikmatan makanan nya yang sudah nambah 2 kali sangking asyiknya ia tidak menyadari bahwa Dollareen sudah duduk di kursi paling ujung yang memandang dingin dirinya." Cih, seperti babi !!" Batin Dollareen melihat cara makan Riana yang tidak seperti biasanya.Dollareen sedikit bingung melihat penampilan Riana yang tidak menggunakan make up berlebihan meskipun masih menggunakan baju kurang bahan namun sedikit tertutup dari biasanya dan juga cara makan nya seperti orang kelaparan,Sebelumnya Riana selalu menjaga etika nya ketika berhadapan dengan Dollareen, selalu berperilaku sok anggun dan berpakaian secara berlebihan hingga membuat pria dingin itu risih dan tak nyaman."Eeeek" Riana sendawa setelah menyelesaikan acara makan nya dan sedetik kemudian matanya membola melihat keberadaan Dollareen di kursi paling ujung dengan menatap nya jijik"Apa Lo liat-liat?, mau gue colok tuh mata" ucap Riana dengan berdiri mengacungkan garpu di tangan nya dan menatap nyalang pada Dollareen yang tersentak beberapa saat karena mendengar ucapan Riana kemudian mengatur ekspresi wajahnya seperti semula.Dollareen sedikit terkejut dengan perubahan kelakuan dan penampilan gadis didepannya yang menyandang status sebagai istri nya tapi ia lebih terkejut lagi melihat sikap Riana yang berbeda bahkan berani berkata kasar kepadanya."mencari perhatian hehh!!" Perkataan dingin Dollareen mengundang emosi Riana"Siapa juga yang mau cari perhatian sama Lo!!, Kurang kerjaan aja." Ucap Riana tenang meletakkan kembali garpu ke meja makan dengan kuat hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring" Riana!! " Sentak Dollareen dingin, ia sangat membenci sikap Riana yang seakan-akan tidak menghormati nya sebagai seorang suamiYa meskipun selama ini ia risih dan selalu bersikap dingin nan cuek ke pada Riana tapi dia'kan tetap seorang suami yang semestinya di hormati dan juga sudah menjadi tugas istri untuk berperilaku sopan kepada suaminya."Apa hah? mending Lo diem deh jadi orang enek gue denger suara Lo yang kaya orang nahan boker"Setelah itu Riana meninggal kan marvel sendirian di meja makan dengan keadaan bingung melihat sikap nya yang berbeda~ ya iya lah beda orang jiwanya aja Aera bukan Riana asli yang Spek lon* te
Aozukin
Zaman dahulu kala, hiduplah seorang pendeta Budha bernama Kaian Zenji yang selalu mengenakan jubah biru. Ia menghabiskan hari-harinya dengan bepergian mengelilingi Jepang, bermeditasi, berdo'a, dan mencoba membantu siapa pun yang membutuhkan. Suatu malam, ia tiba di sebuah desa bernama Tomita.Orang-orang menatap Kaian, kemudian mereka mulai menjerit dan memekik. Wanita dan anak-anak berlarian, berteriak dan meraung, jatuh bertindihan satu sama lain dalam upaya untuk kabur. Para lelaki mendekap senjata mereka dan datang berlarian padanya."Bunuh dia!" mereka menjerit ketakutan. "Bunuh dia sebelum dia membunuh kita!""Apa yang terjadi?" tanya Kaian sambil menutup kepalanya dengan tangan. "Kalian tidak perlu takut padaku. Aku tidak bermaksud melukai kalian."Saat para lelaki itu melihat wajah Kaian yang ketakutan, mereka menurunkan senjata dan tertawa dengan gugup."Maaf," kata seorang laki-laki. "Kami kira kau orang lain.""Ya, kami minta maaf atas kekacauan ini," kata yang lainnya dengan malu-malu."Itu karena jubahmu yang berwarna biru," kata yang lainnya lagi.Salah satu laki-laki itu mengenalkan diri dan mengundang Kaian untuk tinggal semalam di rumahnya. Ia berkata bahwa ia adalah tukang pandai besi dan menawarkan Kaian makan serta minum."Saat kami melihatmu datang, kami kira kau adalah iblis," ia menjelaskan."Mengapa kalian berpikir begitu?" tanya Kaian. "Apakah aku terlihat seperti iblis?""Yah, itu cerita yang mengerikan," jawab si pandai besi. "Tapi aku akan menceritakannya padamu. Di gunung tepat di atas desa, ada sebuah kuil dan pendeta yang tinggal di sana mengenakan jubah biru sepertimu. Sang pendeta dulunya memiliki reputasi yang baik, karena ia sangat pandai dan baik hati. Orang-orang percaya padanya. Semuanya berubah musim semi yang lalu. Sang pendeta pergi ke desa lain untuk melakukan pembabtisan. Saat ia kembali, ia membawa seorang anak lelaki bersamanya. Ia adalah anak lelaki yang sangat tampan, kira-kira umurnya 12 atau 13 tahun. Pendeta itu menghabiskan seluruh waktunya dengan si anak lelaki dan bahkan sang pendeta jatuh cinta padanya. Semua orang berpendapat itu hal yang sangat aneh. Kemudian, anak laki-laki itu terserang penyakit. Kondisinya semakin serius dan dokter dari kota datang untuk merawatnya. Sayangnya, hal itu tidak berguna dan anak laki-laki itu akhirnya mati. Sang pendeta menangis terus menerus sampai ia tidak bisa menangis lagi. Ia memekik dan memekik sampai suaranya hilang. Satu hal yang paling aneh, ia menolak tubuh anak laki-laki itu dibakar atau dikremasi. Malahan, ia menggendong mayat itu di lengannya dan mengusap pipinya seakan-akan anak lelaki itu masih hidup. Kami tidak menyadari saat itu, tetapi sang pendeta meracau marah dengan keras. Suatu pagi, beberapa penduduk desa mengunjungi kuil dan apa yang mereka lihat membuat mereka kabur melarikan diri sambil berteriak ketakutan. Sang pendeta sedang memakan daging dan menjilati tulang anak lelaki itu. Mereka bilang sang pendeta berubah menjadi iblis. Sejak saat itu, sang pendeta meneror desa kami. Ia menuruni gunung malam demi malam dan menggali kuburan untuk mencari lebih banyak mayat. Saat ia menemukan mayat yang masih segar, ia akan memakannya. Kami semua mendengar dongeng kuno tentang iblis dan orang-orang hidup dalam ketakutan. Setiap rumah dipasangi papan yang kuat saat senja karena cerita tersebut telah menyebar di sini. Orang-orang tidak mau lagi datang kemari. Kau bisa melihat mengapa kami salah mengira kau adalah dia. Apa yang dapat kami lakukan untuk menghentikannya?""Hal-hal aneh terjadi di dunia ini," seru Kaian. "Ada beberapa orang yang dilahirkan sebagai manusia, tetapi terjadi sesuatu yang salah dan mereka melakukan perbuatan yang jahat dan tidak bermoral. Ini menyebabkan mereka berubah menjadi iblis. Hal itu bahkan terjadi sejak dulu. Dalam sebuah kasus yang kutahu, seorang wanita berubah menjadi ular. Kasus lainnya, seorang ibu lelaki menjadi sesosok setan kubur. Aku tahu lelaki lain yang menyukai daging dan diam-diam menculik anak-anak untuk memasak dan menghidangkan mereka sebagai makanan. Temanku yang seorang biarawan berjalan melewati sebuah desa dan ia tinggal semalam di gubuk milik seorang wanita tua. Saat itu hujan dan angin angin berderu kencang. Ia berbaring tanpa pencahayaan untuk menyamankan diri dari kesendirian. Saat malam semakin larut, ia mengira mendengar suara seekor kambing mengembik. Segera setelah itu, sesuatu mengendus sekitarnya untuk mengetahui ia masih tidur atau sudah bangun. Secepat kilat, ia memukulkan tongkatnya dengan keras. Makhluk itu berteriak dan roboh di lantai. Wanita tua mendengar keributan titu dan datang dengan lampu pelita. Mereka menemukan seorang gadis muda terbaring pingsan di lantai. Wanita tua memohon padanya untuk tidak membunuh gadis itu karena ia adalah anak perempuannya. Apa yang bisa ia lakukan? Ia pergi. Tetapi setelah itu, saat ia kembali ke desa tersebut, orang-orang sedang berkumpul untuk melihat sesuatu. Saat ia bertanya pada mereka apa yang terjadi, mereka memberitahunya jika mereka telah menangkap seorang gadis muda penyihir dan mereka akan membakarnya hidup-hidup.""Jadi, bagaimana pendapatmu tentang pendeta kami?" tanya si tukang pandai besi."Menurutku, ada sesuatu yang dilakukan pada anak lelaki itu," balas Kaian. "Tingkah pendeta yang aneh dan tidak alami melekat pada anak laki-laki itu dan membuatnya berubah menjadi setan kubur. Apa yang kuketahui sekarang ialah kita menghadapi iblis. Aku mungkin saja bisa membantumu dan membersihkan desamu dari iblis celaka ini.""Jika kau dapat melakukannya untuk kami, semua orang di sini akan sangat berterima kasih," kata si tukang pandai besi."Aku hanya membutuhkan satu hal," kata Kaian. "Sebuah tongkat kayu yang panjang dengan mata pisau yang tajam di dalamnya."Jadi, si tukang pandai besi bekerja keras sepanjang hari. Akhirnya, ia memberikan senjata khusus yang dipesan oleh Kaian. Benda itu hanya terlihat seperti tongkat kayu biasa, tetapi saat kau memutarnya ke atas dan mendorongnya, ia akan memunculkan mata pisau yang tajam.Dengan tongkat di tangan, Kaian pergi melakukan misinya. Ia memanjat puncak gunung sampai matahari tenggelam. Kuil itu terlihat sepi dan gerbangnya dikelilingi duri. Laba-laba memintal jaring-jaring pada patung-patung dan altar ditutupi oleh lumut dan kotoran burung. Seluruh tempat itu memancarkan perasaan hancur dan membuat mual.Kaian berjalan ke depan dan mengetuk pintu. Dalam waktu yang lama hanya ada keheningan. Dari kegelapan, seorang laki-laki muncul sambil menggertakkan giginya."Mengapa kau datang ke sini?" teriaknya dengan suara parau.Kaian menoleh dengan hati-hati, menjaga jaraknya agar tetap aman antara dirinya sendiri dan si setan kubur."Kuil ini sepi dan orang-orang pergi," katanya. "Di tempat gersang seperti ini, beberapa hal bisa terjadi. Orang-orang memberitahuku hal ini terjadi karena kau berubah menjadi iblis. Mereka bilang setiap malam, kau turun ke desa dan berpesta dengan daging manusia. Tidak ada seorang pun yang merasa hidupnya aman.Sang pendeta maju ke arahnya, menggeram seperti anjing gila. Air liur menetes dari janggutnya dan ia terlihat sangat lapar. Tubuh Kaian tetap membelakanginya."Apa yang mereka katakan itu benar," gertak sang pendeta. "Daging manusia adalah makananku. Malam ini, aku akan menggunakan dagingmu untuk mengisi perutku.""Bagaimana kalau aku memberitahumu ada sebuah obat untuk menyembuhkanmu?" kata Kaian.Sang pendeta terkejut, "Sebuah obat?" tanyanya, ia melihat Kaian dengan curiga. "Jika kau tahu obat itu, cepat katakan padaku sekarang supaya aku dapat melarikan diri dari nasibku yang mengerikan ini."Kaian melepas jubah birunya dan melemparkannya kepada pendeta yang busuk dan kejam."Pakai itu," katanya.Sang pendeta menangkap jubah itu dengan cepat, kemudian ia duduk di batu pipih di depan kuil dan memakai jubah itu melalui kepalanya."Jangan coba menipuku," raung sang pendeta. "Aku masih bisa melihatmu, jadi jaga jarakmu. Jika tidak, aku akan mengunyah tulangmu sampai subuh.""Pecahkan teka-teki berikut dan kau akan bebas dari kesengsaraanmu," kata Kaian. "Dengarkan baik-baik..."Ia mulai mengatakan teka-teki tersebut:Di atas air bulan bersinar,diantara pohon-pohon angin bertiup dengan kencang,dan mengapa tidak ada yang tahu?Sang pendeta merenungkan kata-kata itu sejenak."Dapatkah kau memberiku sebuah petunjuk?" tanyanya."Tidak ada petunjuk," kata Kaian. "Kau harus berkonsentrasi dengan keras dan bersemedi, tak masalah berapa lama. Akhirnya, kau akan mengerti maknanya dan menemukan kebebasan dari kengerian ini."Menit dan jam berlalu, sang pendeta masih duduk sambil terus berpikir, Kaian mulai mendekat sedikit demi sedikit. Ia bergerak tanpa kelihatan, memindahkan berat badannya dari kaki satu ke kakinya yang lain, dan menggeser setiap kaki semakin dekat ke tempat dimana sang pendeta duduk.Malam berakhir dan sebuah cahaya abu-abu menyebar di langit sampai fajar menyingsing. Sang pendeta duduk tanpa bergerak di atas batu, berbisik tanpa suara, tidak lebih keras dari dengung nyamuk."Di atas air bulan bersinar,diantara pohon-pohon angin bertiup dengan kencang,dan mengapa tidak ada yang tahu?"Kaian menonton dalam diam, tangannya menggenggam kuat-kuat ujung tongkatnya. Ia semakin dekat sampai sang pendeta menjauhkan diri.Ia mendengar ayam jantan berkokok di kejauhan."Jadi, apakah kau sudah bisa memecahkan teka-teki itu?" tanya Kaian."Belum," jawab sang pendeta."Itu karena tak ada seorang pun yang bisa," kata Kaian sambil mengayunkan mata pisau tajam itu sekuat yang ia bisa.Mata pisau yang tajam menusuk leher sang pendeta seperti pisau panas menyentuh keju, memotong kepalanya sampai menggelinding ke sisi gunung. Tubuhnya terjatuh, terbaring tak berdaya diantara rumput liar.Kaian membersihkan mata pisaunya dan memasukkannya kembali ke dalam tongkat. Kemudian, ia mulai menuruni gunung untuk memberitahu warga desa bahwa mimpi buruk mereka sudah berakhir.
Tsurara Onna
Ada seorang laki-laki yang tidak pernah menikah. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah kecil di hutan belantara Jepang. Ia merasa sangat kesepian dan berharap ada seseorang yang mau menghabiskan hidup bersamanya.Suatu pagi di musim dingin, ia sedang memandang keluar dari jendela saat memperhatikan beberapa tetes air yang membeku bergantung di bagian bawah atap rumahnya.Ia berkata pada dirinya sendiri, "Aku berharap aku memiliki seorang istri secantik tetesan-tetesan air yang membeku itu."Malam itu, ada ketukan di depan pintu rumah si lelaki. Saat si lelaki menjawab, ia melihat seorang wanita cantik berdiri di depan pintu. Tubuhnya sangat tinggi dan ramping, wajahnya sepucat salju. Laki-laki itu mengundangnya masuk agar bebas dari udara luar yang dingin.Selama waktu berjalan, wanita itu tak pernah pergi dan keduanya saling jatuh cinta. Mereka memutuskan untuk hidup sebagai pasangan suami dan istri. Hanya ada satu masalah kecil. Laki-laki itu memperhatikan jika istrinya yang cantik tidak pernah mandi. Kapan pun si lelaki mencoba berbicara pada istrinya tentang hal itu, sang istri menolak untuk mendiskusikannya.Suatu hari, sang suami merasa muak. Ia menangkap istrinya dan menyeretnya ke kamar mandi. Teriakan dan jeritan terdengar dari mulut sang istri. Ia terus mencoba meronta dari suaminya. Sang suami melemparnya ke dalam pipa-pipa berisi air panas, kemudian meninggalkannya di sana. Sang suami membanting pintu di belakangnya dengan keras.Satu jam berlalu dan laki-laki itu tidak mendengar apa pun. Tidak ada suara kecipak air yang berasal dari kamar mandi. Berpikir hal tersebut aneh, ia membuka pintu kamar mandi dan melihat ke dalam.Kosong. Istrinya telah pergi. Satu-satunya hal yang bisa ia lihat hanya sisir rambut istrinya yang selalu ia pakai, mengambang di air.Laki-laki itu patah hati. Ia menduga istrinya telah meninggalkannya dan kabur darinya. Ia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya. Beberapa bulan kemudian, ia bertemu dengan seorang wanita dan mereka saling jatuh cinta. Wanita itu datang untuk hidup bersamanya dan mereka melalui bulan demi bulan bahagia bersama sampai musim dingin kembali datang.Setelah semalaman hujan salju dengan deras, laki-laki itu melihat keluar jendela dan memperhatikan sebuah tetesan air membeku yang besar di bagian bawah atap rumahnya. Ia pergi keluar untuk menjatuhkan tetesan air membeku itu, tetapi ada seorang wanita yang berdiri di luar rumah. Laki-laki itu mengenalnya. Itu adalah istrinya.Dari dalam rumah, istrinya yang baru mendengar sebuah pekikan yang sangat menderita. Ia berlari keluar dan menemukan suaminya tergeletak di atas salju. Ia telah mati dan darah berceceran di sekitar kepalanya hingga membasahi salju. Sebuah tetesan air yang besar menusuk tepat pada matanya dan menembus otaknya.
Tenome
Ada seorang lelaki tua buta yang diserang oleh perampok. Mereka memukul lelaki tua itu dengan kejam dan meninggalkannya sendiri agar mati di ladang. Saat lelaki tua yang buta itu terbaring sekarat, ia menangis keras dalam frustasi dan kemarahan."Kalau saja aku bisa melihat wajah mereka! Tapi mataku tidak bisa melihat! Jika saja aku memiliki mata di telapak tanganku!"Karena ia mati dalam keadaan marah dan menderita, sang lelaki buta berubah menjadi sesosok hantu bernama Tenome. Hasratnya untuk membalas dendam sangat besar sehingga matanya yang buta hilang dan muncul sepasang mata baru di kedua telapak tangannya.Sekarang Tenome menjelajahi kota-kota dan desa-desa, mencari para perampok yang membunuhnya. Ia bisa melihat dengan menahan tangannya di depan tubuh. Tetapi Tenome tidak pernah melihat penyerangnya, jadi ia dengan enteng membunuh siapa pun yang ia temui. Walaupun ia memiliki mata di tangannya, ibaratnya ia masih dibutakan oleh kemarahannya.Suatu malam, seorang anak lelaki Jepang ditantang oleh teman-temannya untuk masuk ke halaman pemakaman dan menguji keberaniannya. Saat si anak lelaki berjalan sepanjang pemakaman, ia tiba-tiba melihat seorang pria tua muncul dari kegelapan. Saat sosok itu semakin dekat, ia memperhatikan jika lelaki tua itu buta dan bola matanya berada di telapak tangan.Anak lelaki yang ketakutan mencoba melarikan diri secepat yang ia bisa. Ia berlari ke kuil dan memohon pada pendeta untuk menolongnya. Sang pendeta memberitahunya untuk bersembunyi dalam sebuah peti dan ikut menyembunyikan diri.Saat Tenome memasuki kuil, ia berjalan berkeliling dengan tangan terangkat di depannya, mencari mangsanya. Anak lelaki itu meringkuk di dalam peti, tidak berani bernapas saat ia mendengar suara langkah kaki datang semakin dekat dan semakin dekat ke tempat persembunyiannya. Langkah kaki itu berhenti tepat di sebelahnya dan ia mendengar sebuah suara mengisap yang aneh.Slurp! Slurp! Slurp!Pada pagi harinya, sang pendeta keluar dari tempat persembunyian. Ia membuka peti untuk membiarkan anak lelaki itu keluar. Tetapi ketika ia melihat ke dalam, ia menjadi sangat ketakutan. Anak muda itu telah tewas. Tenome telah mengisap keluar semua darah dan tulang dari tubuh anak lelaki itu, tanpa meninggalkan apa pun kecuali kulitnya yang kendor dan lemas.
Kagome Kagome
Salah satu kisah tragis yang terkait dengan lagu ini adalah kisah anak-anak panti asuhan di Jepang yang menjadi objek eksperimen berbahaya para ilmuwan Nazi (Jerman). Kisah ini terjadi saat dan setelah perang dunia ke-2 berakhir. Di sebuah bukit daerah Shimane, dekat dengan area Hiroshima. Banyak ilmuwan Nazi gila yang melakukan eksperimen yang tidak bisa diterima oleh akal sehat. Ilmuwan-ilmuwan ini (Nazi) dikenal sebagai ilmuwan yang sering melakukan eksperimen aneh dan selalu tersembunyi di bawah radar. Dan kali ini, mereka ingin meneliti sebuah 'keabadaian'. Mereka beranggapan, di dalam otak terdapat 'tombol kematian universal' yang aktif setelah otak manusia berkembang dan tombol inilah yang mengatur kematian seseorang. Para ilmuwan gila ini mengemukakan bahwa mereka bisa mengangkat 'tombol' tersebut dan memberikan manusia sebuah keabadian dan eksperimen ini pun berlangsung pada tahun 1942. Mereka memilih sebuah panti asuhan di Jepang sebagai tempat eksperimen mereka dan objek penelitian mereka adalah anak-anak yang tinggal di panti asuhan tersebut.Sebelum anak-anak tersebut diteliti, mereka akan melalui tes psikologi dan mendapat banyak imunisasi agar terhindar dari cacat. Dan saat itu, mereka memulai eksperimen mereka dengan membedah salah satu staf panti tersebut untuk mencari tahu perbedaan antara otak manusia dewasa dan anak-anak. Sambil mencari 'tombol kematian' tersebut agar dapat memulai eksperimen gila mereka. Korban pertama eksperimen tersebut adalah anak yang paling tinggi di antara semua anak di panti tersebut. Mereka mulai membelah kepala anak itu dan mengangkat 'tombol kematian'nya. Namun naas, saat kepalanya di tutup, anak ini kemudian tewas dan mayatnya dibuang begitu saja di hutan belakang panti asuhan tersebut.Setelah mendapat banyak peralatan baru dan menggunakan metode-metode yang berbeda di setiap penelitiannya, para ilmuwan ini akhirnya berhasil mengangkat 'tombol kematian' tersebut dan membangunkan banyak pasien mereka dan pada tahun 1943. Mereka sukses mengangkat 'tombol kematian' seorang gadis termuda di panti tersebut, namun sayangnya gadis kecil ini kehilangan kemampuan untuk berkeringat. Para ilmuwan ini merasa begitu senang dan berpesta pora dan akhirnya mereka beristirahat untuk sementara waktu.Namun, keesokan paginya anak ini tidak bangun dari tidurnya dan mengalami koma. Sayang, para ilmuwan ini tidak menyerah begitu saja, beberapa saat kemudian entah dengan metode apa, mereka berhasil membangunkannya kembali dan eksperimen ini pun berlanjut.Kali ini, eksperimen yang berbeda lagi. Mereka berencana untuk mengamputasi tangan dari salah satu anak dan menggantinya dengan tangan buatan yang rencananya akan di kirim dari Moskow, Rusia. Mereka memilih salah satu anak perempuan dan mengamputasi tangannya begitu saja. Tetapi, tangan buatan tersebut tak kunjung datang dan anak perempuan itu pun hidup dengan satu tangan saja.Salah satu anak panti yang tidak menyukai eksperimen tersebut mulai memberontak. Ia mencuri dan menghancurkan catatan, peralatan dan merusak ruangan penelitian mereka. Dibandingkan umurnya yang masih 8 tahun, ia mengakibatkan banyak kerusakan yang tak sesuai dengan ukurannya. Ilmuwan senior begitu memandang hina dirinya namun mereka tak melakukan apa pun agar tak menimbulkan kecurigaan. Mereka malah menyuruh tentara Nazi untuk menghabisinya. Bocah kecil tersebut secara brutal dipenggal oleh bayonet tumpul dan mayatnya tidak dikubur. Ia dibuang begitu saja di hutan belakang panti asuhan tersebut dan para tentara mengatakan kepada penjaga anak-anak bahwa ia telah menemukan keluarga yang baru.Para ilmuwan tersebut melanjutkan eksperimen mereka dengan anak-anak yang sudah dibedah sebelumnya untuk mencoba metode baru mereka. Menyedihkan, tak ada satu pun dari mereka yang selamat. Pada beberapa anak, ada yang kehilangan dahinya, dagu dan lidahnya diangkat, dan ada yang setengah kepalanya hilang. Tragisnya, semua percobaan ini tanpa menggunakan obat anastetik saat anak-anak malang ini dibedah (tanpa dibius terlebih dahulu agar tidak merasakan sakit). Bayangkan saja bagaimana rasa sakit yang dialaminya dan bagaimana jeritan mereka?Para ilmuwan ini malah berpendapat bahwa eksperimen ini tidak bekerja pada anak-anak. Sehingga, mereka pun memilih beberapa penjaga anak-anak (dewasa) untuk dibedah. Dan mengejutkannya mereka semua selamat dan bertahan. Saat eksperimen itu sedang berjalan, beberapa ilmuwan diperintahkan untuk melihat kondisi dan sikap anak-anak yang masih bertahan. Disinilah hal-hal aneh mulai terjadi. Di jurnal salah seorang ilmuwan tertulis:Awalnya mereka terlihat normal-normal saja seperti anak-anak lainnya. Bermain dengan ceria, belajar dengan normal tapi jika mereka terpisah dengan kelompoknya, mereka seperti... hilang... mereka mondar-mandir tidak jelas, dengan senyum kosong di wajah mereka, mereka selalu menatap langsung kepadamu. Jika didekati dari belakang, mereka akan berbalik secepat kilat dan beberapa saat, kau dapat melihat ekspresi yang jahat di wajah mereka dan akan membuatmu gemetar. Namun kemudian kau akan sadar mereka hanya sedang membuat senyuman manis di wajah mereka lagi.Hal lain yang rasanya seperti mengikuti kami, hanya pada saat kami sendiri. Setelah selesai dengan ketikanku dan menuju ruanganku, seringkali aku dikejutkan oleh salah satu anak yang berdiri beberapa meter di lorong yang gelap dan memandangiku. Ketika aku beranjak menuju ruanganku, ia mengikutiku dan aku pun langsung menutup pintuku, mengganjalnya dengan kursi dan kemudian aku tidur dengan tenang. Rasanya mereka seperti hantu di malam hari. Dan hal yang lucu terjadi, aku sering melihat salah satu anak dengan rambut yang sedikit kemerahan. Namun saat aku bertanya pada penjaga, mereka menjawab bahwa tidak ada anak yang seperti itu disini.Mereka juga sering bermain bahkan sebelum kami datang. Aku tidak memiliki banyak pengetahuan tentang Jepang, tapi nama permainan itu sepertinya 'kagome kagome' berdasarkan jawaban salah satu translator kami. Beberapa anak mengelilingi salah satu anak yang duduk di tengah sendirian, bersama mereka berpengangan tangan dan mulai berjalan mengelilinginya dengan wajah yang menakutkan sambil bernyanyi lagu yang aneh, kau akan kalah jika kau curang. Setelah berbicara dengan mereka, aku melihat sepertinya mereka lebih banyak melamun, pelupa dan terkadang pandangan mereka kosong, seolah-olah eksperimen itu menghapus memori mereka. Tapi sepertinya bukan jenis lamunan yang polos, namun lebih jahat. Mereka akan melihatmu dengan pandangan mata yang lebar dan bertanya padamu pertanyaan yang sepertinya telah mereka ketahui sebelumnya.Salah satunya pernah bertanya "Kapan nenekmu mati, apa benar dia meninggalkanmu sebuah jam tangan berlapis emas?"Rasanya gila, tapi aku menjawabnya dengan jujur, "Iya..."Pada awal tahun 1945 saat Hiroshima dibombardir musuh dan Jerman terkena denda, eksperimen itu dihentikan. Orang-orang Jerman itu mulai membereskan alat-alat mereka, sebagian dari mereka sudah ada yang pulang dikarenakan mental mereka yang hampir gila karena menghadapi sikap anak-anak tersebut hingga hanya tersisa empat ilmuwan.Setelah mengirim peralatan mereka yang terakhir, para ilmuwan itu menganggap mereka harus berpamitan dengan para penjaga anak-anak tersebut dan mereka pun melakukannya.Dan yang membuat salah satu ilmuwan ketakutan dan mengejutkan ilmuwan lainnya, kepala penjaga tersebut mengatakan dalam bahasa Jerman yang fasih, "Maukah kalian bermain satu permainan terakhir dengan kami?"Tiga dari mereka setuju dan mereka memulai permainan tersebut. Para ilmuwan itu mulai menutup mata mereka dan anak-anak beserta penjaganya mulai mengelilingi mereka."Sekarang... Jika kau curang, kau kalah..."Satu-satunya ilmuwan yang tersisa lari ketakutan menuju truk terakhir tanpa melihat ke belakang lagi.Kisah ini dikatakan benar-benar terjadi dan telah dituangkan dalam sebuah video dan lagu (vocaloid).***
One Gloomy Day
NICO memincingkan matanya, begitu melihat keadaan di taman bermain dari kejauhan. Tidak ada yang mengayun di ayunan, meluncur di perosotan terowongan, atau bermain pasir bersama semut atau cacing yang ... hii, menjijikan itu.Kosong. Taman bermain di komplek rumah yang biasanya menjadi rebutan para bocah komplek, tidak ada di sana. Tidak ada keberadaan sepeda, tidak ada Abang Tukang Es Krim, atau siapapun di sana.“Hiih! Sebal! Gara-gara Ibu nih, minta aku keluar segala,” omel Nico seorang diri.Dirinya sama sekali tidak antusias dengan keberadaan taman bermain—yang biasa disebut Nirvana—oleh anak-anak seusianya. Hal ini dikarenakan dia masih ingin bermesraan dengan gadget di rumahnya, pemberian papanya. Nico lebih suka di rumah, tanpa ada keberadaan ibunya.Nico tentu saja ingat apa kata ibunya sebelum dia keluar dari rumahnya.“Anak sehat itu main di luar! Kena matahari! Nico mau jadi vampir di rumah? Dan Nico belum punya teman kan, sejak kita pindah kemari beberapa hari yang lalu? Ayo cari teman.”Dan sekarang Nico bagaikan anak terbuang yang dilepaskan ke alam liar.Pada akhirnya, Nico duduk di salah satu ayunan, mengayunkan sedikit agar bergerak. Diperhatikannya kumpulan semut yang berbaris menuju rumah mereka. Sedikit iri juga, rasanya. Dia merasa diusir, padahal ibunya hanya memintanya bermain di luar.“Kau sedang apa di sana, Dik?”Nico berhenti menunduk. Dia langsung melihat seorang wanita yang mengapit payung merah di depannya. Wanita itu memperhatikannya kiri dan kanan dengan gelisah, lalu dihampirinya Nico dengan sedikit tergesa-gesa.“Main,” jawab Nico, malas.“Mengapa main? Kan sudah mau hujan,” ucap wanita itu sambil mendongak menatap langit, “dan tidak ada yang bermain di sini. Kau tidak mau pulang saja?”“Ibu maunya Nico main,” jawab Nico lagi, “padahal, Nico lebih suka di rumah.”“Eh? Benarkah? Padahal gadis-gadis kecilku lebih suka bermain di luar.”Diperhatikannya seekor bekicot yang diam di besi tiang ayunan yang telah berkarat, tak bergerak.“Jadi siput enak, ya. Rumah mereka mengikuti mereka kemanapun. Mereka bisa pulang kapan saja.”“Itu bekicot, Nico.” Wanita itu tertawa, “lagipula, kau tidak tahu, kan? Siapa tahu sebenarnya mereka sangat ingin berpisah dengan rumah mereka?”Nico memiringkan kepalanya, tidak mengerti.“Ibumu pasti tidak tahu kalau belakangan ini komplek ini tidak aman. Katanya ada yang suka menculik anak-anak,” ucap wanita itu sambil mengulurkan tangan, “alamatmu di mana? Biar Tante antarkan.”“Di blok F, Tante.”“Blok F? Padahal aku juga tinggal di sana, tapi tidak pernah melihatmu.”Itu pasti karena Nico jarang bermain di luar. Oh dan tentu saja, karena dia baru pindah.Setelah Tante itu mengantarkan Nico kembali ke rumahnya dengan payung merahnya, Wanita itu menunjuk sudut persimpangan di dekat rumah Nico.“Itu rumah Tante. Kapan-kapan, main ya.”Setelah Wanita itu pergi, Nico buru-buru masuk ke dalam rumahnya, tak mengindahkan ucapan ibunya yang mempertanyakan sosok wanita yang menjemputnya.Suara jeritan anak-anak perempuan yang berasal dari rumah itu, tetap tidak dapat teredam oleh guyuran air hujan.***
Favor
Lupakan surat dalam botol, karena Rey sudah lelah menunggu balasan.Semua suratnya memiliki isi yang sama.Kira-kira begini;“Hai, namaku Rey dan aku berumur 15 tahun. Aku tinggal di Pulau Timur. Setiap aku menonton televisi, aku selalu mendengar kabar tentang bencana di luar sana. Aku sudah membantu, tapi merasa belum cukup. Maukah kau berteman denganku? Ini alamat rumahku di Pulau Timur....”Karena sudah mengirimkan surat dalam botol di lautan lepas hampir selama 4 bulan dan tak kunjung mendapat balasan, Rey memikirkan cara lain.Dengan sebuah balon.“Rey masih belum menyerah?” tanya Essy sambil menopang dagu.“Belum, sampai ada yang membalas,” jawab Rey sambil terus menulis. “Bukankah akan sangat lucu kalau aku bisa menjalin hubungan dengan seseorang yang tak kukenal lewat surat?”“Akan lebih lucu lagi kalau yang mendapatkan suratmu itu laki-laki.”Rey tertawa. “Aku hanya bercanda. Aku benar-benar ingin berteman.”Tentu saja dia hanya bercanda. Dia sudah punya seseorang yang spesial di hatinya.Essy menatapnya sambil mengangkat alis. “Punya aku tidak cukup?”Jantungnya berdesir selama beberapa saat.“Cukup, kok, cukup. Tapi kata ibuku, sebaiknya aku mencari teman selain di sekolah.” Rey mengalihkan topik dan tetap menulis. “Sebaiknya kulepaskan saat pagi, siang, sore, atau malam?”Essy mengendikkan bahu, lalu beranjak dari duduknya. “Ya sudah, aku pulang dulu, ya.”“Eh, bukannya kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” tanya Rey.Essy tersenyum. “Tidak jadi, lain kali saja.”Rey berpikir, Essy mungkin ingin membicarakan sesuatu soal ayahnya yang terbaring sakit di Pulau Barat.Keesokan harinya, saat Rey pulang dari sekolah, dia tak lagi menemukan rumah Essy. Rumahnya sudah dihancurkan. Tiba-tiba. Itu cukup mengejutkan Rey, mengingat bahwa rumah yang nyaris rubuh itu memiliki kenangan tersendiri untuknya.“Essy mana?” tanya Rey pada ibunya dengan cemas.“Mereka sekeluarga pindah ke Pulau Barat. Ayahnya Essy meninggal kemarin malam,” jawab ibunya, mencoba menenangkan putranya.“Penyakitnya tidak bisa sembuh?” tanya Rey.Ibunya hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.Hari itu, Rey tidak tahu harus menyesal atau meratapi semuanya.Terlambat. Jelas. Dia jelas terlambat. Essy tidak pernah tahu dan dia tidak pernah memberitahukannya pada Essy.Dan dia tidak pernah melepaskan balon yang telah disiapkannya.*“Rey, ada pesan untukmu.”Rey buru-buru keluar dari kamarnya dan hampir terjatuh kala menuruni tangga. Diterimanya sepucuk surat lusuh dengan hati-hati. “Dari Pulau Barat?”“Baca saja,” ucap ibunya sambil tersenyum.“Halo, Rey. Ini aku, Essy. Kupikir akan ada keajaiban saat aku pindah ke Pulau Barat dan menemukan botol suratmu. Kurasa itu adalah pemikiran paling bodoh yang pernah kulakukan. Kau sudah melepaskan balonmu? Kalau kau mendapatkan teman, aku harap kau mau mengenalkanku padanya. Terlebih kalau dia adalah laki-laki, hehehe.Di sini tak seburuk yang kita dengar di televisi, tak seburuk yang pernah kau katakan. Aku baik-baik saja di sini. Semoga kita bisa bertemu lagi!Salam sayang, Essy.”Rey bersandar di dinding sambil tersenyum lega. “Salam sayang balik juga,” ucapnya seorang diri.***
Gadis PMR
"Bahkan jika pedang tajam sekalipun merobek kulitku, rasa sakitnya tidak akan terasa jika bersama orang yang kucintai,"Suasana sekolah SMA Cendrawana hari ini sangatlah ramai, karena saat ini adalah jam istirahat dimana semua murid akan mengisi perut kosong mereka dengan makanan tetapi berbeda dengan Rangga Suryantara selaku ketua tim basket disekolah SMA Cendrawana, dirinya memanfaatkan jam istirahat dengan bermain basket bersama dengan teman-temannya.Rangga sendiri tengah asik mendribbling bola lalu mulai mengoper bola tersebut kepada teman-temannya, hingga bola sekarang beralih kepada JunaKini bola beralih pada Juna dia mendribbling bola dengan segenap kemampuannya setelah puas memantulkan bola ketanah Juna bermaksud ingin mencetak poin, tetapi lemparan bolanya meleset dan mengenai pelipis Rangga, hal itu sontak membuat teman-teman Rangga kahwatir lalu menghampiri-nya yang tengah terduduk sambil memegangi pelipisnya"lo nggak kenapa kan Rang?" tanya Juna terlihat kahwatir dengan keadaan Rangga terlihat jelas bagian pelipis Rangga robek dan mengeluarkan darah akibat ulahnya yang teledor."maaf rang gue bener-bener gak sengaja," sesal Juna pada Rangga"udah gak papa lagian ini cuman luka kecil," Rangga beranjak dari duduknya. "gue mau ke UKS ngobatin luka gue,""sekalian lo ngebucin kan?" tanya Devan disertai ledekan."tau aja lo udah lah kalian lanjut aja main nya gue cabut dulu," ucap Rangga lalu pergi meinggalkan lapangan basket dan pergi menuju UKS"DASAR BUCIN!!" ucapan Devan membuat teman-temannya tertawa geli" Bilang aja lo iri kann makanya cari pacar sono, ngejomblo mulu lo!""sialan lo Rangga!" Rangga tidak menghiraukan teriakan Devan dirinya memilih untuk melanjutkan jalannya menuju UKS*****Sesampainya diUKS, Rangga melihat seorang perempuan berambut panjang sepinggang lengkap dengan bando merah muda menjadi pelengkap penampilannya sehingga menambah kesan manis pada dirinya, tanpa Rangga amati lebih lanjut pun dia sudah bisa mengenali bahwa gadis itu adalah pacarnya yaitu Nori HanaswariRangga maju melangkah lalu mengahampiri gadis yang menjadi pacarnya itu"ekhemm!" panggil Rangga tersenyum manis , Nori terperanjat kaget, lalu menoleh kebelakang dan melihat Rangga pacarnya tersenyum memperlihatkan deretan gigi nya"Rangga ishh! kamu ini kebiasaan banget ngagetin orang!" Nori memukul lengan Rangga dengan keras, tapi bukannya sakit Rangga malah tersenyum lalu tertawa kecil melihat pacaranya yang bertingkah menggemaskan"ngapain kamu disini?" tanya Nori yang tidak peka dengan keadaan Rangga karena dirinya sibuk merapikan obat-obatan yang berada dilemari, sifat Nori yang tidak peka membuat Rangga menjadi kesal"pacar sendiri luka gak diobat in gitu?"Hah!? Kamu luka kok bisa?" tanya Nori lalu melihat keadaan Rangga, dan benar saja Nori melihat keadaan pelipis Rangga yang terluka memperlihatkan darah kering disana"hmm, aku abis latihan basket," kata Rangga jujur"kok latihan basket sampek luka gitu sih! duduk dulu sana, bentar aku obat in mau ambil Ethanol sama Kapas dulu,"Rangga duduk dipinggir ranjang UKS menuruti apa yang dikatakan sang pacar, Nori pun mengambil kotak PK3 yang berada diatas meja mengambil Ethanol dan kapas seperlunya nya lalu dia menghampiri Rangga dan duduk tepat disebelahnya, Nori mulai mengobati sang pacar dengan hati-hati"makanya main basket itu hati-hati, gini kan jadinya," nada bicara Nori terdengar kahwatir terlihat juga dari sorot matanya memancarkan rasa kahwatirRangga yang melihat Nori perhatian padanya tertawa kecil sambil menatap wajah pacarnya dengan intens"ngapain kamu ketawa?" Nori sudah selesai mengobati luka Rangga tapi tangannya masih berada dipelipis Rangga"suka aja liat kamu kahwatir kayak gitu," jawab Rangga sambil menahan senyum"aku itu khawatir kamu malah ketawa ketawa gak jelas!" Nori memencet luka Rangga dan membuat sang empu mengaduh kesakitan"ehh Nor! sakit tauk aduhh!" omel Rangga menahan sakit"biarin aja kamu ngeselin sih!""ngeselin gini tapi ngangenin kan?" Nori melotot menatap Rangga tajam setelah mendengar apa yang dikatakan Rangga." GEER KAMU IHH!" ucap Nori pada Rangga lalu beranjak dari pinggir ranjang UKS"aku laper kantin yok, kamu pasti belum makan," ajak Rangga menarik tangan Nori." ehh Rangga aku kan belum laper ihh!" Nori menolak ajakan Rangga untuk makan padahal perut nya sudah meronta untuk di isi makanan cuman karena gengsi Nori menolak ajakan Rangga"mulut kamu bilang gak laper tapi perut kamu itu gak bisa bohong, udahh aku gak terima penolakan!" tegas Rangga dengan ucapannyaDengan wajah merah menahan malu Nori pun setuju dengan ajakan Rangga lalu pergi menuju kantin*****Rangga dan Nori telah sampai dikantin, suasana kantin sangat lah ramai, semua murid tengah santai memakan makanan yang berada didepan mereka hingga Rangga mengajak Nori untuk duduk dibangku paling belakang"kamu mau pesen apa? biar aku pesenin," tanya Rangga menanyakan apa yang di inginkan sang pacar"aku pesen batagor sama es jeruk aja," jawab Nori memberitahu pesanannya, Rangga lalu beranjak untuk pergi ke stan makanan untuk memesan15 Menit kemudian Rangga datang sambil membawa nampan pesanan dirinya dan Nori"nih buat tuan putri," ucap Rangga tersenyum, Nori merasa malu dibuat oleh perlakuan manis Rangga pada dirinyaNori bermaksud untuk makan tapi sesuatu menganjal pikirannya." kamu kok gak makan?" tanya Nori pada Rangga."aku pengen disuapin hihi," ucap Rangga lalu tersenyum"manja banget kamu, kan kamu punya tangan manfaatkan tangannya," jelas Nori menolak permintaan Rangga."yaudah kalok gitu aku gak mau makan","ehh! kok gitu gak baik makanannya dibuang Rangga!" tagas Nori." pokoknya suapin baru aku mau makan!" Rangga menunjukan puppy eyes nya dan itu membuat Nori tidak tega mau tidak mau dirinya harus menyuapi Rangga."yaudah iya sini piringnya," Rangga meyerahkan piring yang berisi mekanan pada NoriKini Nori mulai menyuapi Rangga walaupun pacarnya terkesan menyebalkan tapi itu mebuat dirinya menjadi makin menyayanginya"aku beruntung banget punya kamu pokoknya aku gak bakal bikin kamu kecewa!" ucap Rangga disela-sela makannya."aku kalok lukasebanyak apapun kalok obatnya kamu pasti aku cepet sembuh"Nori mendengar kata demi kata yang diucapkan Rangga, kata itu membuat dirinya merasa beruntung memiliki sosok Rangga yang selalu perhatian dan begitu menyayanginya"aku juga beruntung punya kamu," ucap Nori tulus lalu menyuapi Rangga lagi, Rangga yang mendengar kalimat itu dari Nori mampu membuatnya yakin dan bertekad tidak akan mengecewakan gadis yang berada didepannya. Gadis PMR yang akan selalu menjadi obatnya untuk sekarang, besok atau pun selamanya.[ E N D ]
Gara-gara Bikin KTP
Selasa, 8 september 2020 tanggal dimana Lora dilahirkan, tepat 17 tahun usianya. _sweet seventeen_ usia yang menurutnya sangat penting. Usia spesial, usia dimana masuk dunia remaja.Tepat pukul 00.00 banyak sekali yang mengucapkan ucapan untuknya. Yang pertama orang tuannya. Mereka tidak pernah lupa hari istimewa anaknya ini. Papanya memberi kado sebuah gitar, papanya memang tau keinginan Lora. Lora memiliki hobbi berkebun, maka dari itu ibunya membelikannya kado tanaman sukulen 20 pot. Betapa bahagiannya dia.Kemudian ucapan dari Saudara-sepupunya, tak lupa sahabat terdekatnya, dari teman Paud, SD, SMP sampai SMA nya membanjiri kolom _chat whatsapp_ nya. Oh ya, mantan Lora. Jangan sampai tertinggal, dia pun ikut serta mengucapkan doa-doa yang siap diaminkan Lora.___Pukul 05.00 Lora bangun dari tidurnya, mengecek isi hp nya dari mulai _whatsapp, telegram sampai instagram_-nya banyak sekali yang mengucapkan doa. Lora membalas doa mereka dengan kalimat _'aamiin, terimakasih banyak'_ kalimat yang mewakili seluruh perasaannya saat ini. Harapannya semua doa-doa dari mereka terkabul, aamiin.Kemudian Lora bergegas mandi dan mengerjakan sholat, memanjatkan syukur atas apa yang telah Allah berikan selama 17 tahun ini. Tak lupa menyiapkan seragam sekolahnya karna hari ini jadwal kelas 11 Luring.Sampai disekolah, Lora langsung disambut oleh guru dan teman-temannya. Mereka semua mengucapkan Selamat Ulang Tahun saat bertemu di jalan menuju kelasnya.Namun Lora sedikit kecewa, karena ke-3 sahabatnya memang benar-benar lupa hari ulang tahunnya. Mereka benar-benar cuek. Padahal mereka tau semua orang yang bertemu Lora mengucapkan Selamat untuknya.Dikelas pun mereka acuh, bertanya ketika pelajaran berlangsung, namun tidak peka apa yang Lora mau dari mereka. Sedih? Sangat sedih, apa mereka yang disebut sahabat.___Pulang sekolah, Lora pulang dalam keadaan lesu karna hal yang menurutnya sepele tadi. Namun tidak di sangka, ternyata sahabatnya datang kerumah dan membawakan kue dan kado. Lora terharu, mereka menyembunyikan ini semua tadi disekolah. Salsa, Cici, Dini memang sahabat terbaik.___Memang hari ini hari bahagia Lora, namun tak berangsur lama, adik dari kakeknya meninggal dunia pada hari itu juga. Astaga, gimana jadi Lora? Dia baru saja merasakan bahagia tapi bahagiannya sementara. Kenapa Allah memberikan ujian seberat ini. Paginya dia bersenang-senang memang, namun sorenya? Oh astaga. Kenapa harus bareng sih?Malam hari dia langsung ke rumah kakek, melayat, membantu mempersiapkan segala keperluan, tak lupa mendoakannya. Memang itu yang bisa dilakukan Lora. Sedih? Memang. Namun Lora tidak mau berlarut dalam kesedihan itu. Cukup! Hari ini memang hari yang ... Ah ... gak tau gimana jelasinnya.___5 hari berlalu, tepat 17 tahun 5 hari umur Lora. Lora berencana akan membuat KTP masal bersama sepupunya. Mereka mempersiapkan dokumen-dokumen untuk dibawa ke Kantor Camat.Sesampainya di Kantor Camat, Lora segera berantri untuk mendapatkan giliran lebih awal, namun keduluan orang lain. Cowok seumuran Lora, tetapi Lora tidak mengenalnya."Ih apaan sih lo? Gua duluan tadi," kesal Lora."Siapa cepat dia dapat dong!" jawab cowok itu."Tapi gua duluan tadi yang maju, ih nyebelin banget sih lo. Tau ah sebel gua." Lora memutuskan keluar dari antrian dan duduk dikursi tunggu."Loh mbak kok duduk doang, ayo buruan antri, ntar kuotanya habis lo! Kurang 1 orang doang katanya si bapak botak itu," ucap Fingkan-adik sepupu Lora."Iya iya, kok lo udah selesai duluan sih. Jangan ninggalin gua lo ya!" ucap Lora."Tinggal nunggu panggilan buat foto KTP sih, masih rame tuh, mau benerin kerudung dulu di toilet, duluan ya." Fingkan meninggalkan Lora.Lora memutuskan untuk antri lagi, tepat dibelakang cowok tadi. Antrian cukup cepat, kini giliran cowok di depan Lora yang maju duluan."Devanio Adji Wiraganda" Cowok itu maju. Sekarang Lora tahu nama cowo nyebelin tadi. Lora memperhatikan punggung cowok itu, seraya menyumpah serapahnya."Kalo gua duluan tadi, ga mungkin gua yang terakhir," dumel Lora. Cowok itu telah selesai dan mundur dari barisan, namun tak sengaja menabrak pundak kiri Lora, alhasil berkas-berkas yang dibawa Lora bejatuhan."Ih kalo jalan tuh pake mata dong! Jatuh semua kan!" Marah Lora."Ya sorry dong, lu aja yang kurang minggir. Dan 1 lagi, jalan tuh pake Kaki, mata itu buat ngeliat," elak Devan."Eh adik-adik jangan berantem, ini tempat umum, jangan lupa jaga jarak," lerai petugas administrasi.Lora dan Devan balas dengan nyengir doang._'Emang gabisa sopan nih 2 bocah,'_ batin petugas tadi."Kurang minggir gimana? Jelas-jelas jalan tuh masih lebar tuh, kenapa mepet-mepet gua sih? Modus ya lo?" tuduh Lora."Enak aja klo ngomong, yaudahlah terserah lu, gua duluan, bay!" Devan pergi meninggalkan Lora."Dasar cowo nyebelin, gak ada akhlak!" teriak Lora membuat semua orang menatap Lora bingung."Emilda Putri Fafialora Modista" panggil petugas administrasi. Lora menyerahkan semua dokumennya."Oke lengkap, Silahkan tunggu panggilan buat foto ya," ucap petugas tadi, yang dibalas anggukan kepala Lora.Lora duduk dikursi tunggu, sesuai nomor antrain, dan tak lupa jaga jarak 1 kursi. Dan ya, dia bersebelahan dengan Devan.Devan melirik Lora, dia berkeinginan untuk berkenalan. Dengan berat hati dan tingkat ke kepoan Devan, akhirnya dia memutuskan untuk mengulurkan tangannya ke arah Lora."Gua Devan, sorry buat yang tadi," ucap Devan sedikit gengsi."Gua Lora! Ya. Sorry social distancing," jawab Lora tanpa membalas uluran tangan Devan. Devan menepuk jidatnya lupa kalau harus menjaga jarak."Lu bikin KTP juga disini?" tanya Devan."Enggak, antri sembako! " dusta Lora."Ya iyalah bikin KTP, jelas-jelas tadi antri di antrian administrasinya KTP," sinis Lora."Ya santuy aja dong jangan ngegas, cuma nanya doang, gua kira antri bpjs." Dibalas tawa Devan. Namun tak dibalas Lora.Akhirnya mereka pun selesai berfoto dan keluar dari kantor ini. Lora dan Fingkan berencana mampir di warung bakso untuk mengganjar perutnya. Tak disangka ternyata Devan juga mampir di warung itu juga."Loh lo kok disini juga, lo buntutin gua ya? Mau apa sih lo?" cerocos Lora."Dih, ga usah ge-er gua mau makan disini. Bakso ini kan favorit gua," jawab Devan membuat malu Lora.Mereka menikmati makanannya. Pandangan tak luput dari Lora yang makan dengan lahabnya, Devan pikir, Lora emang belum makan 1 tahun kayaknya. Wkwk.Lora sadar kalau Devan menatapnya pun, menegur Devan."Kenapa lo liatin gua? Suka?" tanya Lora dengan pede-nya."Idih jadi orang tuh jangan ke ge-eran deh, tuh cape nyepil di gigi lo!" Disambut dengan tawa Fingkan. Astaga, Lora jadi malu sendiri."Ih apaan sih? Udah diem lo!" tunjuk Lora ke arah Devan. Makanpun selesai. Lora dan Fingkan mampir di minimarker buat beli minyak goreng pesanan mama Fingkan. Dan lagi, Devan juga sama. Mereka bertemu lagi."Lo lagi Lo lagi, kenapa sih ketemu terus, lo ngikut mulu? Mau apa? Minta no wa?" Lora sebal, diikuti terus oleh Devan."Gua mau beli cemilan ga usah ge-er, boleh deh kalo dikasih!" ucap Devan sambil memberikan hpnya."Ya karna gua baik, oke gua kasih! Jangan disebarin, inget lo." Lora mengetikkan no wa nya di hp Devan."Tunggu chat dari gua," balas Devan.Mulai saat itu mereka dekat, malam hari selalu chatan, berangkat sekolah Lora selalu dijemput Devan karena mereka memang satu sekolah. Sering ngecafe berdua. Entah hubungan mereka itu sahabat atau lebih, yang jelas lebih dari teman, biar mereka berdua yang tahu.Pertemuan mereka memang menyebalkan menurut Lora, tapi siapa sangka mereka malah jadi dekat karena membuat KTP.[ E N D ]
Ini yang Terbaik
“ Kadang , pertemuan dan perpisahaan terjadi terlalu cepat . Tapi , kenangan dan perasaan tinggal terlalu lama .”— Nisya Maheera•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••“Hm, kamu mau melanjutkan sekolah dimana?” tanya seseorang yang tak lain adalah sahabatku dari awal masuk sekolah smp ini, panggil saja Naura.“entahlah, aku masih bingung dengan keputusanku ini,” jawabku seadanya. Aku pun meninggalkan sahabatku yang super bawel ini sendirian di dalam kelas.Kini aku duduk di sebuah bangku taman belakang sekolah yang jarang dilalui oleh para murid-murid di sekolah ini. Kutatap awan berkapas putih yang cerah, dan membiarkan kerudungku terombang-ambing oleh semilir angin. Disela ku duduk sendiri dan hanya menatap langit biru, ada seseorang memanggilku.“Nisya!” suara yang sangat familiar di telingaku. Aku yang dipanggil hanya terdiam tak bergeming sedikit pun."Nis,kok kamu ninggalin aku di dalam kelas sendirian? Dan sekarang kenapa kamu duduk sendiri disini? Apa kamu marah denganku?” Pertanyaan bertubi-tubi dari sahabatku yang super bawel.Hufft, kutarik nafas untuk berbicara langsung sesuai isi hatiku, namun sepertinya sulit mengungkapkan, tak kurasa air bening keluar dari mata coklatku membuat sahabatku ini menoleh dan menatapku tajam. Kami selalu meluangkan waktu untuk berbagi cerita saat senang maupun sedih.“Nis, kalau punya masalah cerita aja, aku bakalan dengerin. Jangan buat aku jadi khawatir”.“Hiks.. Aku”. Entah kenapa hati dan mulut sulit untuk disatukan dalam pengucapan.“ya udah kalau begitu. jika kamu ingin menceritakan masalahmu, ceritakan padaku saja, aku akan menjadi pendengar yang baik hanya dengan sahabatku tersayang.“makasi Nau,” kata itu mengakhiri pembicaraan kita.Tak sadar matahari telah terbenam dan terganti oleh langit senja. Kini aku sudah berada di dalam rumah. Aku termenung sambil melihat pemandangan di luar jendela dan sesekali aku berpikir.“mungkin, lebih baik aku tidur daripada berpikir keras yang bahkan membuatku pusing”.Jarum jam berjalan dengan cepat, berjalan melewati ruang tiap detiknya. Pagi yang cerah dengan kicauan burung yang terdengar merdu setiap paginya membuatku bangun dan mempersiapkan diri pergi ke sekolah setiap harinya.Saat istirahat, aku dan Naura datang ke tempat ini, beralaskan rumput hijau dan bernuansa sejuk dengan dikelilingi tumbuhan segar yang baru dibasahi oleh tetesan air hujan. Tempat seperti kemarin, di belakang taman sekolah.“Nis, kemarin aku belum tau penyebab kamu nangis tiba-tiba”.“hm itu, aku mau cerita tentang perpisahan tahun depan, padahal baru kemarin kita masuk dan belajar di sekolah ini, waktu terlalu singkat untuk dinikmati, jujur aku tidak sanggup berpisah dengan guru, teman, apalagi kamu. Kamu selalu ada saat aku membutuhkan dan akupun sebaliknya. Kejadian di sekolah ini sulit tuk dikenang, raut wajah canda, tawa, senang, sedih, galau menghiasi hari-hariku. Dan aku bingung ingin melanjutkan sekolah dimana, sungguh ini semua bikin aku frustasi,”Tanpa kurasa air mata ini jatuh lagi ke pipi chubby ku, Naura yang melihat ini, langsung memelukku.“Nisya, aku tau perasaanmu saat ini, tapi kita memang akan berpisah, berpisah bukan berarti berpisah untuk selamanya. Mungkin aku, kamu, bahkan yang lain juga pasti akan bertemu lagi di suatu tempat, entah di SMA, kuliah, atau tempat kerja. Semua orang pasti ingin sukses demi cita-cita dan membahagiakan kedua orangtuanya. Aku bahkan menganggap kamu melebihi sahabat, yaitu seperti adik kandungku sendiri. Sebenarnya, aku juga tidak ingin hidup ini diawali dengan perkenalan kemudian perpisahan, kata itu membuat sakit hati tersendiri, tapi tidak semua ucapan seperti itu.""Kita harus mengikhlaskan waktu yang terbuang sia-sia.Karena aku percaya akan indah pada waktunya. Jadi kamu jangan bersedih lagi” aku mendengar kata yang keluar dari mulut sahabatku ini menjadikanku bangkit dan berhenti menangis lalu aku tersenyum.Esok paginya, seperti biasa tak bosan aku dan sahabatku Naura datang ke suatu tempat yang beralaskan rumput dengan sinar dari lampu taman dan dihiasi oleh tanaman bunga di sisi kursi taman, lalu kami duduk diantara tanaman bunga itu, yang selalu diam di tempat itu.“sepertinya aku sudah mengerti ini semua,”“iya memang harus, karena kita tidak selamanya akan belajar di SMP, kita bakalan tumbuh besar dan menjadi dewasa, begitu pun dengan adik kelas kita, mereka akan merasakan belajar di tingkat smp seperti kita. Jadi, kita semua harus berusaha bangkit dan menjadi yang terbaik untuk kedepannya”.Ada kala sahabat yang selalu cerewet, bisa berkata bijak.“Ya dari sekarang, aku harus bisa melewati hari-hari ini dengan penuh semangat walaupun mungkin kita tidak bisa bercanda tawa, curhat bareng, bahkan bertemu lagi di sekolah”.“Nisya, aku pun juga tidak mau berpisah denganmu. Tapi mau tidak mau, itu harus. Bagaimana pun aku akan selalu mengingat kenangan bersama sahabatku tersayang dan terbaper ini saat melihat drakor di laptopku”. Ucapan terakhir membuat kami tertawa sejenak.“Bagaimana jika tempat ini, menjadi tempat pertemuan kita saat merasa ingin bertemu satu sama lain?” Disela sedang tertawa kubertanya.“Ya, mungkin suatu saat nanti tempat ini akan menjadi tempat pertemuan saat kita merindukan satu sama lain dan menjadi tempat memori yang tak terlupakan”Terlihat senyuman manis yang tak pudar dari bibir kedua sahabat itu dengan pelukan hangat dimusim gugur dan tak lupa setetes air yang keluar dari bola mata.***“ Setiap ada pertemuan pasti ada juga perpisahan , tetapi dengan perpisahan tersebut bukan menjadi alasan untuk kita saling melupakan .”— Naura Fathiya[ E N D ]
Kitsune
Kitsune adalah sebutan untuk binatang rubah dalam bahasa Jepang. Dalam cerita rakyat Jepang, rubah sering ditampilkan dalam berbagai cerita sebagai makhluk cerdas dengan kemampuan sihirnya yang semakin sempurna sejalan dengan semakin bijak dan semakin tua rubah tersebut. Selain itu, rubah mampu berubah bentuk menjadi manusia.Dalam legenda, rubah sering diceritakan sebagai penjaga yang setia, teman, kekasih, atau istri, walaupun sering terdapat kisah rubah menipu manusia. Di zaman Jepang kuno, rubah dan manusia hidup saling berdekatan sehingga legenda tentang Kitsune muncul dari persahabatan antara manusia dan rubah. Dalam kepercayaan Shinto, Kitsune disebut Inari yang bertugas sebagai pembawa pesan dari Kami. Semakin banyak ekor yang dimiliki Kitsune (Kitsune bisa memiliki sampai 9 ekor), maka semakin tua, semakin bijak, dan semakin kuat pula Kitsune tersebut. Sebagian orang memberi persembahan untuk Kitsune karena dianggap memiliki kekuatan gaib.Mitos Kitsune sering menjadi bahan perdebatan, karena seluruhnya mungkin berasal dari sumber asing atau bisa juga merupakan konsep asli Jepang yang berkembang pada abad ke-5 SM. Sebagian mitos tentang rubah di Jepang bisa ditelusur hingga ke cerita rakyat Tiongkok, Korea, atau India. Cerita paling tua tentang Kitsune berasal dari Konjaku Monogatari yang berisi koleksi cerita Jepang, India, dan Tiongkok yang berasal dari abad ke-11.Cerita rakyat Tiongkok mengisahkan makhluk huli jing (arwah rubah) yang mirip Kitsune dan bisa memiliki ekor hingga sembilan. Di Korea, makhluk yang disebut kumiho (rubah berekor sembilan) merupakan makhluk mistik yang telah berumur lebih dari seribu tahun. Rubah di Tiongkok dan Korea digambarkan berbeda dengan rubah di Jepang. Tidak seperti di Jepang, rubah kumiho di Korea selalu digambarkan sebagai makhluk jahat. Walaupun demikian, ilmuwan seperti Ugo A. Casal berpendapat bahwa persamaan dalam cerita tentang rubah menunjukkan bahwa mitos Kitsune berasal kitab India seperti. Hitopadesha yang menyebar ke Tiongkok dan Korea, hingga akhirnya sampai ke Jepang.Sebaliknya, ahli cerita rakyat Jepang, Nozaki Kiyoshi, berargumentasi bahwa Kitsune sudah dianggap sebagai sahabat orang Jepang sejak abad ke-4 dan unsur-unsur yang diimpor dari Tiongkok dan Korea hanyalah sifat-sifat jelek kitsune. Nozaki menyatakan bahwa dalam naskah Nihon Ryakki asal abad ke-16, terdapat cerita tentang rubah dan manusia yang hidup berdampingan pada zaman kuno Jepang, sehingga menurut Nozaki merupakan latar belakang timbulnya legenda asli Jepang tentang Kitsune.Peneliti Inari bernama Karen Smyers berpendapat bahwa ide rubah sebagai penggoda manusia, serta hubungan mitos rubah dengan agama Buddha diperkenalkan ke dalam cerita rakyat Jepang melalui cerita serupa asal Tiongkok, namun Smyers mengatakan beberapa cerita berisi unsur-unsur cerita yang khas Jepang.Menurut Nozaki, kata "Kitsune" berasal dari onomatope. Kata "Kitsune" berasal dari suara salakan rubah yang menurut pendengaran orang Jepang berbunyi "kitsu", sedangkan akhiran "ne" digunakan untuk menunjukkan rasa kasih sayang. Asal-usul kata kitsune juga digunakan Nozaki untuk menunjukkan bukti lebih lanjut bahwa kisah rubah baik hati dalam cerita rakyat Jepang adalah produk dalam negeri dan bukan kisah impor. Bunyi "kitsu" sebagai suara rubah menyalak sudah tidak dikenal orang pada zaman sekarang. Dalam bahasa Jepang modern, suara rubah ditulis sebagai "kon kon" atau"gon gon". Asal-usul nama "Kitsune" dikisahkan dalam dongeng tertua yang hingga sekarang masih sering diceritakan orang, tapi mengandung penjelasan etimologi yang sekarang dianggap tidak benar.Berbeda dengan sebagian besar dongeng yang menceritakan Kitsune bisa berubah wujud menjadi wanita dan menikah dengan manusia, dongeng berikut ini tidak berakhir tragis:Pria bernama Ono asal Mino (menurut legenda kuno Jepang tahun 545), menghabiskan musim demi musim berkhayal tentang wanita cantik yang sesuai dengan seleranya. Di suatu senja, Ono bertemu dengan wanita idealnya di padang rumput yang luas dan mereka berdua akhirnya menikah. Bersamaan dengan kelahiran putra pertama mereka, anjing yang dipelihara Ono juga melahirkan. Anak anjing yang dilahirkan tumbuh sebagai anjing yang semakin hari semakin galak terhadap istri Ono. Permohonan sang istri untuk membunuh anjing galak tersebut ditolak Ono. Pada akhirnya di suatu hari, si anjing galak tersebut menyerang istri Ono dengan ganas. Istri Ono begitu ketakutan hingga berubah bentuk menjadi rubah, meloncat pagar, dan kabur."Istriku, kau mungkin seekor rubah," begitu Ono memanggil-manggil istrinya agar pulang, "tapi kau tetap ibu dari anakku dan aku cinta padamu. Pulanglah bila kau berkenan, aku selalu menunggumu."Sang istri akhirnya pulang ke rumah di setiap senja, dan tidur di pelukan Ono.Istilah "Kitsune" merupakan sebutan untuk siluman rubah yang pulang ke rumah suami sebagai wanita di senja hari, tapi pergi di pagi hari sebagai rubah. Dalam bahasa Jepang kuna, kata "Kitsu-ne" berarti "datang dan tidur", sedangkan kata"Ki-tsune" berarti "selalu datang".Kitsune dipercaya memiliki kecerdasan super, kekuatan sihir, dan panjang umur. Sebagai sejenis yokai atau makhluk halus, Kitsune sering dijelaskan sebagai "arwah rubah" tapi bukan hantu, dan bentuk fisiknya tidak berbeda dengan rubah biasa. Semua rubah yang panjang umur juga dipercaya memiliki kemampuan supranatural.Kitsune digolongkan menjadi dua kelompok besar. Kelompok zenko yang terdiri dari rubah baik hati yang bersifat kedewaan (sering disebut rubah Inari), dan kelompok rubah padang rumput (yako) yang suka mempermainkan manusia dan bahkan bersifat jahat. Tradisi berbagai daerah di Jepang juga masih mengelompokkan Kitsune lebih jauh lagi. Arwah rubah tak kasat mata yang disebut ninko misalnya, hanya bisa dilihat manusia yang sedang kerasukan ninko. Tradisi lain mengelompokkan Kitsune ke dalam salah satu dari 13 jenis Kitsune berdasarkan kemampuan supranatural yang dimiliki.Secara fisik, Kitsune dipercaya bisa memiliki hingga 9 ekor. Jumlah ekor yang semakin banyak biasanya menunjukkan rubah yang makin tua tapi semakin kuat. Beberapa cerita rakyat bahkan mengatakan ekor rubah hanya tumbuh kalau rubah tersebut sudah berumur 1.000 tahun. Dalam cerita rakyat, Kitsune sering digambarkan berekor satu, lima, tujuh, atau sembilan. Ketika Kitsune mendapatkan ekornya yang ke-9, bulu Kitsune menjadi berwarna putih atau emas. Kitsune jenis ini disebutk Yūbi no Kitsune (Kitsune berekor sembilan) dan memiliki kemampuan untuk mendengar dan melihat segala peristiwa yang terjadi di dunia. Dongeng lain menggambarkan mereka sebagai makhluk super bijak dan serba tahuKitsune bisa berubah wujud menjadi manusia dan kemampuan ini baru didapat setelah Kitsune mencapai usia tertentu (biasanya 100 tahun), walaupun beberapa cerita mengatakan 50 tahun. Siluman rubah harus meletakkan sejenis tanaman alang-alang yang tumbuh di dekat air, daun yang lebar, atau tengkorak di atas kepalanya sebagai syarat perubahan wujud. Rubah bisa berubah wujud menjadi wanita cantik, anak perempuan, atau lelaki tua. Perubahan wujud ini tidak dibatasi umur atau jenis kelamin rubah dan Kitsune dapat menjadi kembaran dari sosok orang tertentu. Rubah sangat terkenal dengan kemampuan berubah wujud sebagai wanita cantik. Pada abad pertengahan, orang Jepang percaya kalau ada wanita yang sedang berada sendirian pada saat senja atau malam hari, kemungkinan adalah seekor rubah.Dalam beberapa cerita, Kitsune memiliki kesulitan dalam menyembunyikan ekornya ketika sedang menyamar menjadi manusia. Kitsune sering ketahuan sedang mencari-cari ekornya, mungkin kalau rubah sedang mabuk atau kurang hati-hati. Kelemahan ini bisa digunakan untuk memastikan manusia yang sedang dilihat adalah siluman Kitsune. Berbagai variasi cerita mengisahkan Kitsune sebagai makhluk yang masih mempertahankan ciri-ciri khas rubah, seperti tubuh yang bermantelkan bulu-bulu halus, bayangan siluman Kitsune yang sama seperti bayangan rubah, atau siluman Kitsune yang terlihat sebagai rubah ketika sedang berkaca. Istilah "Kitsune-gao" (muka Kitsune) digunakan di Jepang untuk menyebut wanita yang berwajah sempit, mata yang berdekatan, alis mata yang tipis, dan tulang pipi yang tinggi. Di zaman dulu, wanita bermuka Kitsune-gao dianggap cantik dan dipercaya sebagai rubah yang sedang berubah wujud sebagai wanita dalam beberapa dongeng.Kitsune takut dan sangat benci pada anjing, bahkan ketika sedang berubah wujud sebagai manusia. Sebagian Kitsune bahkan gemetaran kalau melihat anjing, kembali berubah wujud menjadi rubah dan lari pontang-panting. Orang yang taat dan berbakti kabarnya gampang mengenali siluman rubah. Salah satu cerita rakyat mengisahkan ketidaksempurnaan perubahan wujud seekor Kitsune yang sedang menjadi manusia bernama Koan.Menurut cerita, Koan yang bijak dan memiliki kekuatan sihir sedang mau mandi di rumah salah seorang muridnya. Air mandi ternyata dimasak terlalu panas dan kaki Koan melepuh ketika masuk ke bak mandi. Koan yang sedang kesakitan, lari keluar dari kamar mandi dengan tubuh telanjang. Orang-orang di rumah yang melihatnya terkejut. Sekujur badan Koan ternyata ditumbuhi bulu seperti mantel, berikut ekor dari seekor rubah. Koan lalu berubah wujud di hadapan murid-muridnya menjadi seekor rubah tua dan melarikan diri.Kemampuan supranatural lain yang dimiliki Kitsune, antara lain mulut dan ekor yang bisa mengeluarkan api atau petir (dikenal sebagai Kitsune-biyang secara harafiah berarti "api Kitsune"), membuat manusia kerasukan, memberi pesan di dalam mimpi orang agar melakukan sesuatu, terbang, tak kasat mata, dan menciptakan ilusi yang begitu mendetail hingga tidak bisa dibedakan dari kenyataan. Pada beberapa cerita, Kitsune bahkan memiliki kekuatan yang lebih besar lagi, sampai bisa mengubah ruang dan waktu, membuat orang menjadi marah, atau berubah menjadi bentuk-bentuk yang fantastis, seperti pohon yang sangat tinggi atau sebagai bulan kedua di langit. Kitsune lainnya memiliki ciri-ciri yang mengingatkan orang pada vampir atau succubus dan memangsa roh manusia, biasanya melalui kontak seks.Istilah kitsunetsuki secara harafiah berarti kerasukan Kitsune. Korban biasanya wanita muda yang kemasukan Kitsune dari bagian kuku jari atau melalui bagian buah dada. Pada beberapa kasus, wajah korban konon berubah sedemikian rupa hingga menyerupai rubah. Menurut tradisi di Jepang, kalau orang Jepang yang buta huruf sedang kerasukan Kitsune, orang tersebut bisa melek huruf untuk sementara waktu. Ahli cerita rakyat Lafcadio Hearn mengisahkan peristiwa kerasukan Kitsune dalam volume pertama buku karyanya, Glimpses of Unfamiliar Japan: Aneh memang kegilaan orang yang dirasuki iblis rubah. Kadang-kadang mereka berlarian telanjang sambil berteriak-teriak di jalanan. Kadang-kadang mereka tidur-tiduran dengan mulut berbuih dan menyalak seperti rubah. Dan di bagian tubuh orang yang kerasukan, terlihat benjolan yang bergerak-gerak di bawah kulit yang kelihatannya memiliki nyawa sendiri. Bila ditusuk dengan jarum, benjolan tersebut langsung berpindah ke tempat lain. Benjolan tidak bisa dicengkeram, lepas bila ditekan dengan tangan yang kuat dan lolos dari jari-jari. Orang yang sedang kerasukan kabarnya bisa berbicara dan menulis bahasa yang mereka tidak kuasai sebelum kerasukan. Mereka hanya memakan makanan yang dipercaya disenangi rubah, seperti -tahu, aburagé, azukimeshi, dan lain lain. Mereka juga makan banyak sekali dan membela diri bahwa yang sedang makan itu bukan mereka, tapi arwah rubah. Lafcadio Hearn menambahkan bahwa orang yang sudah terbebas dari kerasukan Kitsune bakal tidak doyan lagi makan tahu aburage, azukimeshi, atau makanan lain yang digemari rubah. Upacara mengusir setan dilakukan di kuil-kuil Inari untuk membujuk Kitsune agar mau keluar dari tubuh orang yang sedang dimasukinya. Di zaman dulu, kalau usaha lemah lembut membujuk rubah tidak berhasil atau pendeta kebetulan tidak ada, korban Kitsunetsuki dipukuli atau dibakar sampai terluka parah agar Kitsune mau keluar. Kalau ada seorang anggota keluarga yang kerasukan, seluruh anggota keluarga korban diasingkan oleh masyarakat. Di Jepang, kerasukan Kitsune (Kitsunetsuki) sudah dianggap sebagai penyakit sejak zaman Heian dan merupakan diagnosis umum untuk gejala penyakit mental hingga di awal abad ke-20. Kerasukan digunakan sebagai penjelasan kelakuan abnormal dari penderita. Di akhir abad ke-19, Dr. Shunichi Shimamura mencatat beberapa gejala penyakit yang disebabkan demam sering dianggap sebagai Kitsunetsuki. Dalam istilah kedokteran, kerasukan Kitsune merupakan gejala penyakit mental yang khas dalam kebudayaan Jepang. Pasien percaya dirinya sedang dirasuki rubah. Gejala kerasukan Kitsune di antaranya selalu ingin makan nasi atau kacang azuki, bengong, gelisah, dan menghindari tatapan mata orang lain. Penyakit kerasukan Kitsune mirip tapi berbeda jauh dari lycanthropy (manusia serigala).Penggambaran Kitsune dan korbannya sering mengikutsertakan benda putih yang disebut "bola bintang" (hoshi no tama) berbentuk bulat atau seperti bawang. Dalam dongeng, permatahoshi no tama berselimutkan api disebut Kitsune-bi (api rubah) Di dalam sebagian cerita, hoshino tama digambarkan sebagai mutiara atau permata yang memiliki kekuatan sihir. Ketika sedang tidak berubah wujud menjadi manusia atau merasuki manusia, Kitsune menggigit hoshi no tama atau membawanya di bagian ekor. Permata merupakan simbol yang lazim ditemukan pada Inari dan rubah suci Inari sangat jarang digambarkan tidak memiliki permata. Sebagian orang percaya, sebagian kekuatan Kitsune berada di dalam permata "bola bintang" ketika Kitsune berubah wujud. Cerita lain menggambarkan mutiara sebagai perlambang nyawa Kitsune. Kitsune akan mati jika terlalu lama terpisah dari mutiaranya. Orang yang berhasil mengambil bola Kitsune, kabarnya bisa menukar bola tersebut dengan kekuatan sihir yang dimiliki Kitsune. Dalam dongeng abad ke-12, seorang laki-laki berhasil mengambil bola Kitsune dan mendapat imbalan ketika mengembalikannya:"Kau terkutuk!" maki sang rubah. "Kembalikan bolaku!"Tapi laki-laki itu mengabaikan permohonan Kitsune, hingga Kitsune berkata sambil menangis, "Baiklah, kau boleh ambil bolaku, tapi bola tersebut tidak ada gunanya untukmu, kalau kau tidak tahu cara menggunakannya. Bagiku, bola itu adalah segala-galanya. Aku peringatkan, kalau kau tidak mau mengembalikannya, kau akan jadi musuhku selamanya. Tapi bila kau mau mengembalikannya, aku akan terus mendampingimu bagaikan dewa pelindung."Nyawa laki-laki tersebut kemudian diselamatkan sang rubah yang membantunya melawan gerombolan bandit.Dalam kepercayaan Shinto, Kitsune sering dikaitkan dengan Inari. Hubungan antara Inari dan Kitsune makin memperkuat kedudukan Kitsune dalam dunia supranatural. Kitsune mulanya merupakan pembawa pesan yang bertugas bagi dewa Inari, tapi garis pemisah antara Inari dan Kitsune makin kabur sehingga Inari digambarkan sebagai seekor rubah. Kuil Shinto yang memuliakan Inari disebut kuil Inari, tempat orang memberikan sesajen. Kitsune kabarnya suka sekali makan potongan tahu goreng aburage. Kitsune makan aburage yang biasa diletakkan di atas masakan mie Jepang yang disebut Kitsune Udon dan Kitsune Soba. Sejenis sushi yang dimasukkan di dalam kantong dari aburage disebut Inari-zushi. Ahli cerita rakyat sering berspekulasi tentang keberadaan kepercayaan rubah yang lain, karena rubah sejak dulu sudah dipuja sebagai. Kami. Kitsune di kuil Inari berwarna putih yang merupakan warna pertanda baik. Mereka dipercaya memiliki kekuatan untuk menangkal iblis dan kadang-kadang bertugas sebagai pelindung arwah. Selain berjaga-jaga di kuil Inari, Kitsune diminta agar melindungi penduduk setempat dari rubah liar (nogitsune) yang suka membuat keonaran. Sama seperti Kitsune berwarna putih, Kitsune berwarna hitam dan Kitsune berekor sembilan juga dianggap pertanda baik. Menurut kepercayaan yang berasal dari feng shui, rubah memiliki kekuatan luar biasa melawan iblis, sehingga patung Kitsune konon bisa mengusir hawa kimon atau energi yang mengalir arah timur laut. Kuil Inari seperti kuil Fushimi Inari di Kyoto sering memiliki koleksi patung Kitsune yang banyak sekali.Kitsune sering digambarkan sebagai penipu dengan motif yang bervariasi, mulai dari sekadar ingin berbuat nakal hingga merugikan manusia. Kitsune dikisahkan senang mempermainkan samurai yang sombong, saudagar rakus, dan rakyat biasa yang suka pamer. Kitsune yang lebih kejam konon suka mengerjai pedagang miskin, petani, dan biksu yang saleh. Korban Kitsune biasa laki-laki, sedangkan perempuan hanya bisa kerasukan Kitsune. Kitsune misalnya, dipercaya menggunakan bola api Kitsune-bise waktu membantu pelancong yang tersesat. Taktik lain Kitsune adalah mengelabui korban dengan ilusi dan tipuan mata. Kitsune memperdaya manusia dengan maksud merayu, mencuri makanan, memberi pelajaran untuk orang yang sombong, atau membalas dendam sesudah dicederai. Permainan tradisional Kitsune-ken merupakan salah satu jenis permainan Batu-Gunting-Kertas dengan tiga bentuk telapak tangan dan jari-jari yang melambangkan rubah, pemburu, dan kepala kampung. Pemburu kalah dari kepala kampung, dan sebaliknya pemburu menang atas rubah, tapi rubah bisa memperdaya kepala kampung Kitsune digambarkan suka membuat onar ditambah reputasi suka membalas dendam. Akibatnya, orang berusaha mengungkap motif tersembunyi di balik tindakan rubah. Toyotomi Hideyoshi pernah menulis surat kepada Inari. Di dalam suratnya, Hideyoshi melaporkan keonaran yang dibuat salah seekor rubah terhadap para pelayan dan memohon agar rubah-rubah diselidiki dan ditindaklanjuti. Kalau insiden ini tidak ditanggapi, Hideyoshi mengancam akan memburu semua rubah yang ada.Kitsune dikenal suka menepati janji dan berusaha keras untuk bisa membalas budi. Kitsune kadang-kadang membuat onar seperti yang dikisahkan sebuah cerita asal abad ke-12. Ancaman pemilik rumah untuk membinasakan semua rubah berhasil meyakinkan kawanan rubah untuk mengubah kelakuan. Kepala keluarga kawanan rubah hadir dalam mimpi pemilik rumah untuk mohon pengampunan dari pemilik rumah, sekaligus berjanji untuk berkelakuan baik dan membalas budi dengan menjadi pelindung keluarga. Sebagian Kitsune menggunakan sihir untuk menguntungkan manusia yang dianggap teman atau majikan. Sebagai golongan Yokai, ia tidak memiliki tata krama seperti manusia. Kitsune bisa mencuri uang dari rumah tetangga untuk diberikan kepada majikan atau mencuri uang majikan sendiri. Di zaman dulu, pemilik rumah yang memelihara Kitsune selalu dicurigai tetangga. Dalam cerita rakyat sering dikisahkan tentang pembayaran atas barang atau jasa yang dilakukan Kitsune. Kitsune bisa menipu penglihatan orang yang menerima pembayaran dari Kitsune dengan sihir. Emas, uang, atau batu permata yang diterima dari Kitsune sebenarnya hanya kertas bekas, daun-daunan, cabang dan ranting, batu, atau benda-benda sejenis. Hadiah yang benar-benar diberikan Kitsune kepada manusia biasanya berupa benda-benda yang tak berwujud, seperti perlindungan, pengetahuan, dan umur panjang.Kitsune sering digambarkan sebagai wanita penggoda dalam cerita yang melibatkan laki-laki muda. Walaupun Kitsune berperan sebagai wanita penggoda, cerita biasanya bersifat romantis. Dalam cerita, laki-laki sering menikahi wanita cantik yang merahasiakan bahwa dirinya adalah seekor rubah. Ketika rahasia terbongkar, sang istri terpaksa meninggalkan suami. Pada sebagian cerita, laki-laki yang menikahi siluman rubah bagaikan bangun dari mimpi, kebingungan, berada jauh dari rumah, dan harus kembali ke rumah yang ditinggalinya dulu dengan membawa malu. Beberapa cerita mengisahkan siluman rubah yang dijadikan istri melahirkan anak manusia. Anak-anak yang dilahirkan memiliki kemampuan fisik dan bakat supranatural melebihi orang biasa. Bakat ini juga diturunkan ke anak cucu bila manusia keturunan rubah kembali melahirkan anak. Seorang ahli kosmologi (onmyōji) Jepang bernama Abe no Seimei dikatakan memiliki kekuatan sihir luar biasa karena keturunan Kitsune. Kitsune sering dikisahkan menikahi sesama Kitsune. Dalam bahasa Jepang, hujan lebat yang turun tiba-tiba ketika langit sedang cerah (hujan panas) disebut Kitsune no yomeiriatau "pernikahan Kitsune". Istilah tersebut berasal dari legenda yang mengisahkan kondisi cuaca pada saat upacara pernikahan Kitsune. Peristiwa pernikahan Kitsune dianggap sebagai pertanda baik, tapi Kitsune akan marah bila hadir tamu yang tidak diundang. Cerita fiksi Kitsune tampil dalam berbagai seni budaya Jepang. Sandiwara tradisional Jepang seperti noh, kyogen, bunraku, dan kabuki sering mengisahkan legenda Kitsune. Begitu pula halnya dengan budaya kontemporer seperti manga dan permainan video. Pengarang fiksi dari Barat juga mulai menulis cerita yang diilhami legenda Kitsune. Penggambaran Kitsune menurut orang Barat biasanya tidak berbeda jauh dengan cerita asli Kitsune. Ibu Abe no Seimei yang bernama Kuzunoha merupakan tokoh Jitsune yang dikenal luas dalam seni teater tradisional Jepang. Kuzunoha ditampilkan dalam cerita sandiwara bunraku dan kabuki Ashiya Dōman Ōuchi Kagami (Kaca di Ashiya Dōman and Ōuchi) yang terdiri dari lima bagian. Bagian ke-4 yang berjudul Kuzunoha atau Rubah dari Hutan Shinoda sering dipentaskan secara terpisah. Bagian ini menceritakan terbongkarnya rahasia Kuzunoha sebagai siluman rubah dan adegan saat harus meninggalkan suami dan anaknya. Tamamo-no-Mae adalah tokoh fiksi yang menjadi tema drama noh berjudul Sesshoseki (Batu Kematian), dan sandiwara kabuki/kyogen berjudul Tamamonomae (Penyihir Rubah yang Cantik). Tamamo-no-Mae berbuat banyak kejahatan di India, Tiongkok, dan Jepang, tapi rahasianya terbongkar dan tewas. Arwahnya menjadi sesshoseki (batu kematian). Arwah Tamamo-no-Mae akhirnya dibebaskan biksu bernama Gennō. Genkurō adalah seekor Kitsune yang dikenal berbakti kepada orangtua. Dalam cerita bunraku dan kabuki berjudul Yoshitsune Sembon Zakura (Yoshitsune dan Seribu Pohon Sakura), kekasih Yoshitsune yang bernamaPutri Shizuka memili Kitsuzumi (gendang kecil) yang dibuat dari kulit rubah orangtua Genkurō. Dalam penyamarannya sebagai Satō Tadanobu, Genkurō berhasil menyelamatkan Putri Shizuka dari Minamoto no Yoritomo. Namun identitas Genkurō sebagai siluman rubah terbongkar karena Satō Tadanobu yang asli muncul. Genkurō mengatakan suara kedua orangtuanya terdengar setiap kali gendang tsuzumi yang dimiliki Shizuka dipukul. Yoshitsune dan Shizuka akhirnya memberikan tsuzumi tersebut kepada Genkurō. Sebagai imbalannya, Genkurō memberi perlindungan sihir untuk Yoshitsune.
Oiwa
Oiwa merupakan salah satu cerita hantu Jepang yang paling terkenal yang pernah ditulis. Di Jepang, ia juga dikenal sebagai "Yotsuya Kaidan". Ceritanya tentang seorang wanita yang diracuni oleh suaminya yang tidak setia dan hantunya kembali dari kematian untuk membalas dendam.Oiwa - Yotsuya KaidanOiwa adalah seorang wanita muda yang sangat cantik dan tinggal di sebuah kota kecil di Jepang. Nama pacarnya adala Hiemon. Meskipun ia tidak punya banyak uang, Oiwa sangat mencintai pacarnya tersebut.Dia sangat gembira ketika kekasih masa kecilnya memintanya untuk menikah dengannya. Setelah pernikahan, mereka pindah bersama-sama dan pasangan bahagia ini sangat mengharapkan lahirnya seorang bayi.Selang tak berapa lama perkawinan mereka, Hiemon menjadi membenci istrinya dan mulai berselingkuh dengan seorang wanita muda yang kaya bernama Oume. Dia sudah mnjalin hubungan dengan wanita itu selama berbulan-bulan dan akhirnya ia jatuh cinta dengan Oume. Meskipun faktanya dia sudah menikah.Suatu hari, ayah Oume datang untuk melihat Hiemon. Hiemon mengatakan bahwa ia sudah menikah. Tapi karena anak perempuannya sangat mencintai lelaki itu, ayah Oume kemudian memberikan semua cara yang ia bisa dilakukan untuk menceraikan istrinya tersebut dan memastikan kesuksesan anaknya di masa depan. Hiemon pun mendengarkan dengan penuh perhatian.Hiemon menghabiskan banyak waktu untuk berpikir tentang kata-kata ayah Oume kepadanya. Sebuah rencana jahat mulai terbentuk dalam pikirannya. Dia memutuskan bahwa satu-satunya cara dia bisa menikahi Oume adalah entah bagaimana menyingkirkan Oiwa dan anaknya yang belum lahir. Dia berpikir bahwa cara termudah untuk melakukannya adalah diam-diam meracuni Oiwa dan membuatnya seperti meninggal tanpa sebab secara alamiah.Oiwa yang tidak tahu tentang rencana pembunuhan suaminya, tidak menyadari nasib buruk yang akan menimpa dirinya. Dia terus bahagia mempersiapkan kelahiran bayi mereka.Suatu malam, ketika Oiwa dan Hiemon sedang duduk di meja makan untuk makan malam, Oiwa melihat suaminya aneh dan gugup. Hiemon menyuruh Oiwa untuk makan malam, tapi Hiemon tidak menyentuh makanannya. Dia berteriak pada Oiwa dan menyuruhnya berhenti mengeluh dan segera makan makanan sendiri. Dia harus menjadi kuat untuk bayi, katanya.Oiwa akhirnya berhenti untuk tidak memakasa Hiemon makan dan mulai memakan makan malamnya sendiri. Tidak lama kemudian, setelah makan malam itu ia merasa sangat sakit. Hiemon mengawasinya, melihat Oiwa yang sakit karena efek racun. Hiemon tidak menawarkan istrinya bantuan sama sekali.Namun Oiwa tidak segera mati. Wajahnya yang cantik menjadi cacat dari racun yang pertama. Lalu ia menjadi tidak sadarkan diri. Tampaknya Hiemon telah menyelesaikan pekerjaannya, Oiwa sudah menjadi tubuh tak bernyawa di tempat tidur.Tapi akhirnya Oiwa terbangun dari komanya, karena efek dari racun tersebut. Dia telah kehilangan bayinya dan wajahnya menjadi jelek dan mengerikan. Tapi hebatnya, Oiwa masih hidup. Hiemon putus asa. Ia mencari cara lain untuk melepaskan diri dari istrinya tersebut.Suatu malam ia mengajak Oiwa untuk berjalan-jalan keluar. Hiemon mengajak istrinya tersebut jalan-jalan ke tebing, dan Hiemon melihat sekeliling untuk memastikan apakah ada orang di dekatnya. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Hiemon dengan niat jahatnya kemudian mendorong Oiwa yang sedang melangkah di tepi tebing tersebut.Singkat cerita, Hiemon sekarang merencanakan pernikahan dengan Oume. Malam sebelum pernikahan itu berlangsung, Hiemon melihat lampu di samping tempat tidurnya meredup. Dia melihat hal itu dan dengan penasaran. Wajah cacat dari Oiwa tiba-tiba menggantikan lampu, tumbuh lebih besar dan lebih besar di dalam ruangan."Pengkhianat!" begitulah katanya.Hiemon meraih tongkat dan mengayunkan ke wajah hantu Oiwa, tapi Oiwa menghilang. Tongkat itu hanya mengenai lampu dan pecah, kemudian jatuh ke lantai. Hiemon merasa mendengar tawa samar seorang wanita dari luar. Dalam keadaan Terguncang, Hiemon meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya halusinasinya karena terlalu banyak minum alkohol di awal malam hari, lalu dia pergi tidur.Keesokan harinya, Hiemon lupa semua tentang hantu Oiwa tadi malam. Dia dan Oume sudah menikah. Ketika ia mengangkat tangan istri barunya, tiba-tiba wajah muda cantik Oume diganti dengan wajah mengerikan Oiwa."Pengkhianat!" desisnya.Hiemon mengambil pedangnya dan mengayunkannya pada penampakan hantu itu, memotong kepala hantu Oiwa. Kepalanya terputus, bergulir menyusuri lorong gereja. Tetapi ketika kepala itu berhenti menggelinding, dia melihat itu adalah wajah Oume dan bukan Oiwa seperti sebelumnya. Dia mendengar suara samar tawa lagi.Hiemon lari ke rumah kecilnya, mencari tempat untuk bersembunyi. Ada suara bergetar di pintu dan itu adalah kakek Oume yang datang menuntut dan Hiemon untuk membukakan pintu. Ketika Hiemon membuka pintu ia melihat lagi Oiwa berdiri di sana."Pengkhianat!" desisnya.Sekali lagi, Iemon mencoba memancung dia, tetapi ketika ia selesai mengayunkan pedangnya, itu adalah kakek Oume yang sudah terbaring mati. Hiemon berlari ke tebing, tawa Oiwa mengikutinya. Dia berhenti di tepi tebing dan melihat ke bawah. Ia pikir ia harus segera mengakhiri teror ini.
Plester Cinta
Bola basket sedang memantul kesana-kemari mengikuti arahan tangan remaja yang sedang asik berebut dan berlari. Sorak-sorak gembira dan histeris terdengar dari bangku penonton.Walaupun hari ini adalah pertandingan basket remaja putri tetap saja tidak kalah seru saat remaja putra yang bermain. Semua itu karena memang mereka sudah cukup jago dan mampu membuat siapapun terkagum-kagum.Seorang wanita dengan rambut panjang terikat sedang berusaha membawa bola menuju Ring lawan namun hadangan terus terjadi. Hingga akhirnya bola mampu masuk ring namun membuat wanita bertubuh jangkung tersebut jatuh tersungkur karena melawan arus lawan.Priiiit~suara wasit meniupkan peluit menggema.“Medis! Friska luka tolong,” ucap wasit.Seorang pria bertubuh mungil datang berlari dengan membawa kotak P3K. Pertandingan mau tidak mau akhirnya dijeda terlebih dahulu.Friska telah dibawa ke pinggir lapangan dan pertandingan mulai berjalan kembali.“Aku enggak kenapa-kenapa Dho,” ucap Tania pada Ridho yang sedang mengobati lukanya.“Iya aku tau, kamu harus hati-hati dong Fris. Kamu cewek masa banyak lecet di mana-mana.”Friska cemberut. “Terus kalau aku penuh luka kamu enggak suka aku lagi gitu?” tanya tania.Ridho menempelkan plester pada dagu dan lutut Friska setelah itu Ridho mengacak-acak rambut Friska. “Aku bakal terus jadi plester kamu,” ucap Ridho.“Kalau sudah selesai diobatin bisa kalian pacarannya nanti dulu, kita akan melanjutkan pertandingan penting ini,” ucap seorang pemain yang melipir sedikit ke pinggir lapangan.Friska berlari dan mendekati wasit menandakan dirinya sudah siap bertanding. Ridho dan Friska jelas berbeda bahkan banyak yang meledek pasangan ini. Bagaimana tidak mereka memiliki tinggi badan yang berbeda dan Ridho lah yang pendek disini.Namun Ridho sudah bertekad, bahkan saat ia memutuskan untuk masuk ekskul PMR, itu semua untuk Friska. Agar Ridho dapat mendukung Friska selalu.Dari sini dapat kita simpulkan bahwa cinta tak harus memandang fisik seseorang hanya dari sebelah sisi saja. Berhentilah mencintai orang lain dan cintai lah ia yang mencintai mu dengan tulus.[ E N D ]
Madoka-Chan
Kisah nyata di Jepang pada tahun 1997 ini bercerita tentang seorang gadis bernama Madoka-chan. Seorang gadis kecil yang suatu hari menghilang secara misterius.Di sore hari yang agak cerah, Madoka-chan berjalan-jalan dengan ibunya di suatu taman. Saat di taman, ibunya melihat temannya yang juga sedang berjalan-jalan bersama seorang putrinya di taman itu. Keduanya lalu bertemu dan bercakap-cakap, sementara Madoka-chan pergi bermain dengan putri teman ibunya.Beberapa menit kemudian, ibu Madoka melihat sekeliling dan tidak dapat menemukan putrinya di sekitarnya. Ibunya mulai panik dan langsung menuju ke anak gadis yang tadi bermain bersama putrinya.Dia bertanya kepada anak tersebut, "Dimana Madoka?""Aku tidak tahu," jawab anak itu.Ibu Madoka mulai panik, dia mencari Madoka di sekitar taman namun tetap saja Madoka tidak ketemu. Akhirnya orang tua Madoka melaporkan hal itu ke polisi, berharap Madoka cepat ditemukan. Polisi memeriksa tempat dimana Madoka hilang, namun tidak ada tanda-tanda kehilangan Madoka. Setelah beberapa bulan, Madoka tetap saja tidak ketemu. Polisi berusaha meyakinkan orang tua Madoka bahwa mereka akan tetap berusaha mencari putrinya itu.Sudah setahun Madoka hilang, hingga polisi mendatangi orang tua madoka dan meminta maaf tidak dapat meneruskan pencarian. Kemudian memasukan kasus tersebut ke dalam daftar kasus yang tidak terpecahkan.Namun, orang tua Madoka tidak putus asa, mereka tetap berusaha mencari Madoka. Akhirnya, orang tua Madoka menyewa seorang paranormal untuk mengetahui keberadaan Madoka. Paranormal itu datang dan memeriksa kamar Madoka. Dia memejamkan matanya sambil memegang benda-benda di kamar Madoka."Dia masih hidup," kata paranormal itu.Orang tua Madoka merasa senang mendengar kabar tersebut."Dia hidup. Jantungnya masih berdetak, paru-parunya masih berfungsi," kata sang paranormal."Iya kami tahu. Dimana dia sekarang?"tanya sang ibu bersemangat."Dia sedang menatap barang-barang mahal dan rumah mewah, perutnya hanya diisi makanan-makanan yang nikmat dan mahal."Orang tua Madoka bernafas lega. "Sekarang dia dimana?" tanya mereka lagi.Sebenarnya, apa yang terjadi pada Madoka?
Uba Yo Sare
Di sebuah daerah pinggiran kota di Jepang, hiduplah seorang pria yang tinggal sendirian di rumah warisan keluarganya. Rumah itu sudah tua, dengan dinding kayu yang sering berderit ketika malam semakin larut. Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, pria tersebut terbangun karena rasa ingin buang air yang sudah tidak tertahankan.Dengan mata setengah terpejam, ia bangkit dari tempat tidurnya. Rumah itu sunyi—terlalu sunyi. Tak ada suara serangga, tak ada angin yang menyusup lewat jendela. Hanya detak jam dinding di ruang tamu yang terdengar samar.Ia berjalan pelan, meraba-raba dinding menuju kamar mandi. Lampu kamar mandi tidak dinyalakan, karena ia yakin hanya sebentar saja. Ia membuka pintu kamar mandi sedikit, membiarkan cahaya bulan purnama yang terang masuk dan menerangi ruangan dengan cahaya pucat kebiruan.Saat ia sedang buang air, matanya menangkap sesuatu yang bergerak di luar pintu kamar mandi.Bayangan.Awalnya hanya samar—seperti siluet seseorang yang berdiri di ujung lorong. Ia berpikir mungkin hanya bayangannya sendiri, atau pantulan cahaya bulan. Namun bayangan itu tidak diam. Ia bergerak. Perlahan. Mendekat.Jantung pria itu mulai berdegup lebih cepat.Bayangan itu semakin jelas, hingga akhirnya ia bisa melihat sosok seorang wanita berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Wanita itu mengenakan kimono lama yang warnanya sudah memudar, penuh noda dan terlihat sangat kotor, seolah telah lama terkubur tanah. Tubuhnya tinggi—tidak wajar—kepalanya hampir menyentuh kusen pintu.Wajahnya… tidak bisa dikenali.Bukan karena gelap, tetapi karena wajah itu seperti tertutup sesuatu—entah rambut, entah kain, entah sesuatu yang lain. Tidak ada mata yang terlihat jelas. Tidak ada ekspresi. Hanya kehampaan.Wanita itu berdiri diam, membisu.Dengan suara bergetar, pria itu berkata, “Apa yang sedang kau lakukan di sini? Cepat pergi!”Tidak ada jawaban.Udara di kamar mandi terasa mendadak dingin. Pria itu merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia ingin bergerak, ingin berlari, tetapi kakinya terasa berat, seolah menancap ke lantai.Wanita itu melangkah maju satu langkah.Dan satu langkah lagi.Kimono itu terdengar bergesek dengan lantai, seperti kain basah diseret perlahan.Pria itu menjerit—namun suaranya seperti tertelan oleh rumah itu sendiri.Keesokan paginya, keluarga dan tetangga pria tersebut mencarinya ke seluruh rumah. Pintu-pintu terkunci dari dalam. Tidak ada tanda perampokan. Tidak ada darah. Tidak ada kerusakan.Pria itu menghilang.Satu-satunya hal aneh yang ditemukan adalah jejak kaki basah di lantai kayu. Jejak itu tidak seperti kaki manusia biasa—bentuknya menyeret, panjang, dan tidak seimbang. Jejak itu berjalan dari kamar mandi… menuju dinding ruang tamu.Dan berhenti di sana.Tidak menembus dinding. Tidak berbelok. Hanya berhenti, seolah sesuatu telah masuk ke dalam dinding itu sendiri.Sejak saat itu, legenda tentang wanita berkimono mulai menyebar.Konon, siapa pun yang mengetahui kisah ini berisiko didatangi olehnya.Ia akan datang dalam waktu tiga hari, tepat di tengah malam.Jika kalian terbangun dan mendengar tiga ketukan pelan dari luar pintu kamar mandi… jangan membukanya.Sebaliknya, ucapkan kalimat ini dengan suara tegas, sebanyak tiga kali:“Uba Yo Sare.”Itulah namanya.Dan hanya dengan menyebut namanya, wanita berkimono itu akan pergi… menjauh dari kamar mandi kalian.Jika tidak—tidak akan ada yang tersisa, selain jejak kaki yang berakhir di dinding rumah.