Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Get The Wind Up
Fantasy
07 Jan 2026

Get The Wind Up

“Tapi, Ma, kuota Armel sudah habis.”Mama menyergah pembicaraanku dari seberang telepon, “ Salah kamu sendiri. Siapa suruh kamu nge-kos jauh-jauh? Sudah Mama bilang kan, kemarin? Kuliahnya di tempat yang deket rumah aja. Kamu sih, ngeyel, nggak mau dengerin .”Aku memutar bola mataku malas. “Ya udah deh.”Usai Mama menutup telepon, aku menjerit kesal. Mama-ku benar-benar pelit dan tidak mengerti keadaanku sebagai mahasiswi. Aku sudah berulang kali menjelaskan padanya kalau kami—mahasiswa—selalu membuat tugas pada detik-detik terakhir. Besok tugas ini sudah harus dikumpulkan dan kuota midnight -ku baru saja habis saat aku mencari artikel terkait.Sepertinya Mama tidak percaya kalau aku benar-benar serius kuliah di sini.Berbekal artikel terakhir yang kubuka barusan, aku mulai membaca setiap katanya dengan hati-hati, agar aku tak melewatkan bagian penting yang ada. Kalau hari ini aku tidak dapat menyelesaikannya, mungkin besok pagi aku harus benar-benar membuatnya dengan cepat.Dan karena aku mengharapkan kebaikan hati dari jaringan wifi dot id, aku melakukan scanning hingga berkali-kali. Apapun koneksi gratis yang masuk, aku benar-benar ...TRING.Sebuah jaringan terkunci dengan nama ‘ Passwordnya KECOAK ’ mulai mencuri perhatianku.Semula, kupikir itu hanyalah kelakuan orang iseng di samping kamarku, namun saat aku mencobanya, aku benar-benar bisa masuk ke dalam jaringan itu. Passwordnya benar-benar adalah KECOAK.Dengan keajaiban terakhir itulah, akhirnya aku memanfaatkannya untuk membuat tugasku.Pagi itu aku mengisi kuotaku dan tidak pernah mengingat soal keberadaan jaringan itu, atau mencoba mencari tahu soal siapapun yang meminjamkannya untukku.Malam ini, saat aku tengah bermain Facebook, jaringanku dialihkan ke jaringan orang lain. Nama jaringannya adalah ‘hai’.Belum sempat aku berpikir apapun, nama jaringan itu berganti lagi.‘ Hai, Armel. Kamu cantik ’.Aku mulai berpikir bahwa itu adalah perbuatan iseng salah satu penghuni kos di sana. Langsunglah aku beranjak dari dudukku, lalu mengetuk satu persatu kamar yang ada di antara kamarku. Tapi, saat aku ingat bahwa mereka semua tidak berada di sana, aku langsung pucat pasi.Untuk memastikan bahwa pemikiranku benar, aku mengecek sepatu mereka. Dan yang benar saja, mereka sedang tidak ada di tempat.Aku kembali ke kamarku dengan wajah pucat.Nama jaringan itu berganti lagi.‘ Wajahmu benar-benar cantik saat ini ’.Tak menunggu lama, aku langsung keluar dari kosan-ku sambil membawa laptop dan ponselku.Kurasa mendengar saran Mama untuk tidak menetap di kos adalah hal yang tepat.

FLASHBACK - Just Me and You"Anne, panggil Zeffrey kemari ya."  Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di ke
Fantasy
07 Jan 2026

FLASHBACK - Just Me and You"Anne, panggil Zeffrey kemari ya." Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di ke

"Anne, panggil Zeffrey kemari ya."Guru olahraga di sekolah kami yang bernama Pak Suhendra itu lagi-lagi membuatku kesal untuk kesekian kalinya, tadi manggil-manggil dari kelas sampai meminta anak sebelah buat panggil aku di kelas, sekarang, ketika aku sudah sampai di mejanya, eh, malah disuruh panggil si Zeff."Kok saya, Pak?" tanyaku yang terdengar sedikit tidak senang. Sebenarnya aku bukan tidak senang karena diminta memanggil Zeff, tapi karena sifat Pak Suhendra yang suka semena-mena itu."Bapak mau bicarain soal tour Sudirman Cup , team kita akan melawan team dari sekolah Garuda Putih, kamu tahu kan, betapa unggulnya mereka?"Dari minggu kemarin juga, kami sudah tahu kalau team basket sekolah kami akan melawan Garuda Putih yang benar-benar terkenal karena permainan basketnya yang ahli, tidak ada siapapun yang tak mengenal Garuda Putih, apalagi katanya captain -nya ganteng.Eh, eh, salkus-salkus. Tapi William emang keren ya~Oke, makin ngaco.Dan ya, aku harus siap diperbudak oleh Pak Suhendra yang kadang suka semena-mena memperlakukan murid layaknya pembawa pesan. Sebagai ketua tim basket putri, aku harus berbangga hati karena tidak ada team dari sekolah manapun yang bisa melawan team kami. Tapi, jadi cewek ya gitu, pertandingannya benar-benar dianggap remeh sama dunia.Aku memperhatikan Zeff yang sedang latihan sangat serius dengan team -nya. Kali ini mereka benar-benar ambisius untuk memenangkan pertandingan kali ini.Loncatan, passing, dribble dan shoot .Zeff seharusnya bisa menyaingi William, baik dari tampang maupun permainan basketnya. Tapi entah mengapa fans William yang bejibun dan seolah dimana-mana itu kadang membuatku ngeri juga. Kadang aku mensyukuri Zeff yang tidak setenar William meskipun dia juga terkenal....Zeff keren banget kalau lagi fokus shoot ."Annely!" seru Zeff yang membuat kesadaranku kembali, aku yang menyadari bayangan sebuah bola mendekat pun refleks memajukan langkahku beberapa langkah, bola basket itu memantul tepat di area yang kupijak tadi."Iih, Zeff nggak hati-hati, nih. Tadi kalau kena gue, terus gue amnesia, gimana?"Zeff menatapku datar, lalu melemparkan bola yang dipungutnya ke arahku, "Jangan lebay, lah. Lagian, lo ngapain di sini? Mending lo belajar bagus-bagus buat try out .""Gue kemari juga karena disuruh Pak Hendra, kali. Disuruh ke kantor, mau diskusiin soal pertandingan."Zeff menghela nafas lelah, "Bakalan sampe maghrib nih, kalo diskusi sama pak Hendra."Zeff memantulkan bola basketnya ke lapangan, memberi arahan pada anggota-anggotanya untuk latihan tanpanya. Sedangkan aku diam-diam tersenyum juga karena aku menyadari bahwa aku akan menghabiskan waktu dengan Zeff.Ya, meski ada Pak Suhendra sih, tapi nggak masalah.*"Gila, capek banget debat sama Pak Hendra," keluhnya kesal, aku mengangguk setuju, padahal bukan aku yang sedang berdebat, tapi aku ikut kesal karenanya.Pak Suhendra mengatakan bahwa beliau kurang menyukai susunan formasi yang diterapkan Zeff cs, dan menyarankan mereka untuk mengganti formasi yang lain."Lo sih enak ya, cewek, kemana bola pergi, di situ cewek-cewek berkumpul. Tanpa formasi yang jelas pun, kalian bisa menang."Aku memutar bola mataku kesal, "Kalau enak, lo tukaran aja sama gue, lo jadi cewek dan gue jadi cowok. Lo cuman gatau, saking gampangnya sampai terlalu membosankan. Kadang gue ingin bermain bersama team lo, tapi lo-nya ngga ngizinin mulu dengan alasan klasik karena gue cewek.""Kan lo emang cewek?"Aku kesal dengan perbedaan itu. Perbedaan yang membuat semuanya menjadi amat jauh berbeda. Kenyataannya kami sama, makan nasi, bernafas dan sama-sama manusia, tapi apa?"Gue capek sebenarnya jadi captain ," ungkap Zeff."Sama, gue juga capek," balasku malas."Mau makan nggak? Gue traktir deh."Aku menggeleng, "Nggak deh, gue lagi diet."Aku diet bukan karena ada pakaian kesempitan yang sedang ingin kupakai, tapi hanya agar tubuhku lebih ringan dan loncatanku lebih tinggi. Oh, dan sebenarnya juga merasa berat badanku sudah sedikit over dari kebanyakan cewek. Sedikit doang, kok, sumpah."Siang tadi emang lo sempat makan?"Aku tersenyum, "Ihh, Zezef kok tau? Perhatian banget," aku tertawa mengejek, sebenarnya hanya akal-akalan agar Zeff tak membahas apapun yang berhubungan dengan permintaan memintaku makan atau apapun itu.Padahal sebenarnya tadi siang itu banyak PR dan kami sekelas nggak ada yang keluar dari kelas karena itu. Zeff tentu saja tahu karena itu. Dasar miris."Annely....""Hm?" Aku membalikkan kepalaku, sedikit terdiam juga dengan perubahan ekspresinya yang begitu cepat itu. Seharusnya aku sudah menyeberang karena rambu lalu lintas masih menunjukan warna hijau, namun aku tak melakukannya.Zeff serius sekali, sih?"Lo bakal kuliah di mana?"Aku terdiam untuk beberapa saat, "Ih, kok Zezef kepo tiba-tiba?" tanyaku iseng, wajah mengerut milik Zeff benar-benar membuatku gemas, ingin memonopoli keberadaannya seorang diri. Bahaya."Serius, Anne, lo mau kemana?" tanyanya lagi.Aku menarik nafas, "Gue mau ke Pulau Jawa, gue denger universitas di sana bagus-bagus semua. Lo sendiri mau kemana?" tanyaku meringis pelan saat menyadari bahwa rambu kembali merah. Tapi nggak masalah, selama ada Zeff di sini, aku siap nunggu lebih lama lagi."Kenapa mesti jauh-jauh sih?" tanyanya malas. "Gue stay di provinsi ini, tapi bakal keluar kota. Secara, lo tau kan kalau kota kecil kita nggak punya satu bangunan universitas pun?"Aku mengangguk mengiyakan."Terus , pulangnya kapan?""Kalo libur, gue usahain pulang. Tapi tiket pesawat mahal, nih. Doain aja gue-nya cepet sukses."Keheningan berlangsung selama beberapa menit, hingga akhirnya rambu berubah hijau, membuatku sontak melangkah menuruni trotoar. Di sinilah kami berpisah biasanya setiap pulang, Zeff tetap di sana dan aku diseberang sana."Anne!" serunya yang membuatku berbalik lagi ke arahnya, namun yang kulihat bukanlah lambaian tangan yang biasanya ia lakukan. Zeff sudah berada di sampingku.Di belakang Zeff, aku bisa melihat sebuah truk melaju dengan kecepatan sedang, namun tak bisa kami hindarkan lagi. Truk jelas muncul dari perbelokan tajam dari belakang sana.Jeritan klakson terdengar begitu tajam.BRAKKK!!!...Zeff,Zeff...Aku ingin bersama denganmu .*Mataku terbuka secara tiba-tiba, cahaya putih terlihat jelas di atasku. Semuanya putih. Ah, apa ini sudah di surga?Saat menolehkan kepalaku ke samping, aku langsung berusaha menjauhkan diriku, pasalnya Zeff berada sangat dekat denganku. Hanya beberapa centi. Namun tubuhku tertahan, dan tak kunjung menjauh darinya meski aku sudah berupaya keras menarik diri. Aku memperhatikan tubuhku yang tak mau menurut....Kakiku.Kakiku dimana?D-dan mengapa tubuhku menyatu dengan tubuh Zeff?"Zeff...Zeff! Zeffrey, bangun!"Mata Zeff terbuka, dia langsung menolehkan wajahnya ke arahku. "...Annely?" tanyanya tak percaya, "Kapan datangnya?""Apa yang lo maks-"Tangannya yang terulur ke arah kepalaku, sukses membuat bola mataku membulat sempurna. Mengapa bisa?! Mengapa bisa tangannya melewati kepalaku?!"Z-Zeff, apa gue kehilangan kepala atas juga?" tanyaku hampir menangis, sudah cukup aku kehilangan kakiku. Basket bukan segalanya dihidupku, kehilangan kaki memang menakutkan, tapi lebih menakutkan lagi tidak punya kepala."Kepala lo baik-baik aja, tapi kayaknya jiwa lo keluar dari tubuh lo," balasnya mencoba menjelaskan dengan pelan, Zeff sendiri terlihat tak percaya dengan apa yang terjadi. "Tubuh lo masih di ICU, sudah hampir tiga jam belum ada kabar apa-apa.""Gue nggak mau mati, Zeff!" seruku frustasi.Zeff menatapku dalam, "Sama!" serunya yang membuatku terpana beberapa saat, "Gue juga nggak mau lo mati."Aku terdiam. Di saat seperti ini, kupikir wajar bagi Zeff untuk mengatakan itu. Aku benar-benar menyesali hal yang terjadi, meskipun itu bukanlah kesalahanku. Tapi, aku manusia, setelah mengetahui diriku kemungkinan meninggal, hal yang ingin kulakukan hanyalah meminta maaf sebanyak-banyaknya pada siapapun yang sempat kuminta maaf."Boleh lo bawa gue ke Bokap-nyokap gue? Gue pengen lo titipin pesan ke mereka sebelum aku-""Nggak! Lo nggak bakal mati, Anne!" gumamnya tegas. "Gue nggak bakal nerima satupun pesan lo kalau lo nggak hidup!"" Please , Zeff...." sahutku memelas, "Gue masih berantem sama nyokap gue tadi pagi.""ANNELY! Lo nggak bakal dan nggak boleh mati!" bentaknya yang membuat tubuhku tersentak, air mata yang berada di sudut kelopakku turun dengan sendirinya. " Please, Anne, stay alive ."Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka, menampakan Dokter berpakaian serba putih yang datang terburu-buru bersama streoskopnya. "Ada apa?"Matanya yang menatap lurus ke arah Zeff membuatku putus asa, aku bisa langsung yakin bahwa sosokku tak bisa terlihat olehnya. Ini benar-benar membuatku ingin menjerit putus asa."...Teman saya yang di ICU, bagaimana keadaannya?" tanya Zeff."Anda tenang saja ya, nak. Kami akan berusaha semampu kami."... Mom, maafkan aku .Ini pasti kutukan buatku karena sudah melawan Mom tadi pagi. Mom memintaku untuk tidak bermain basket lagi sejak dulu. Aku paham, Mom hanya takut sifatku yang kasar itu semakin tak terkendali, dan aku paham benar kekhawatiran setiap orangtua terhadap anaknya.Aku yang salah.Zeff turun dari ranjangnya, meraih tongkat yang berada di sisi nakas dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa. Dokter di belakang kami hanya melangkah mengikuti kami, lalu berbalik lagi ke arah lain begitu Zeff sampai di depan yang bertuliskan ICU.Aku bisa melihat Mom sedang menangis di sana, sedangkan Dad nampak serius berbicara dibalik telepon, dengan air muka yang jelas amat emosi."Orang yang menabrak tadi sepertinya mabuk," gumam Zeff yang membuatku menggertakan gigiku."Gue pengen bunuh dia!"Zeff menatapku dalam, lalu menarik nafas panjang. "Gue pengen banget, meluk lo, tau?""Huh?" Aku mengerjapkan mataku, "Maksud lo?""Jangan sedih, please , Anne. Gue nggak tau gimana caranya nenangin lo."...jangan baik begini, Zeff. Aku bisa terjatuh makin dalam.Aku termenung untuk pertama kalinya setelah bangun barusan.Mungkinkah gara-gara itu?Aku ingin bersama denganmu ....Permintaanku terkabul...?Apa ini yang namanya permintaan terakhir saat hidup?"Anne, lo udah tenang?" tanya Zeff dengan hati-hati.Aku mengangguk dan mencoba tenang, "Duduk di samping bokap nyokap gue, tenangin mereka dulu, please .""Anne..."" Please , Zeff, ini permintaan sekali seumur hidup gue. Please ."Tubuhku mulai menghilang dan aku menangis semakin keras, Zeff yang tidak tahan langsung menghampiri orangtuaku dan duduk di samping mereka, dia memeluk Dad dan Mom yang kini meratap ke lantai dengan tatapan kosong. Keduanya hanya terdiam. Zeff membisikkan sesuatu di telinga mereka berdua.Aku mulai mendengar suara yang terdengar makin cepat. Lalu suara dokter dan suster yang terdengar bergerak semakin cepat. Aku memeluk kedua orangtuaku meski mereka berdua tak mampu melihat keberadaanku."Mom, Dad, Anne sayang kalian..." bisikku.Suara mesin tiba-tiba memanjang, aku hanya sempat melihat tanganku menghilang sebelum akhirnya tubuhku terasa tertarik dengan begitu cepat. Aku bisa melihat sekilas seorang dokter menggosokan dua buah alat bersamaan, lalu menekan duanya bersamaan di tubuhku.Aku semakin merasakan tarikan itu, alat kejut jantung itu sepertinya bisa..., sepertinya bisa menyelamatkanku."Coba lagi."Sekali lagi, aku bisa melihat tubuhku tersentak, mataku masih terpejam erat tak rela terbuka. Aku menangisi keadaanku saat ini. Kuharap Zeff benar-benar menghibur kedua orangtuaku.Aku bukan anak yang baik, aku hanya menyusahkan kalian selama ini. Tapi aku tahu, kalau mereka kehilanganku, mereka akan sedih."...Sekali lagi."Mom, Dad, maafkan Anne tidak bisa menjadi anak yang baik.Alat itu kembali menyetrum diriku, tubuhku terasa ditarik oleh sesuatu yang kencang, tubuhku tiba-tiba saja merasa lemah, pelan-pelan aku bisa mendengar suara pelan dari mesin di sampingku. Aku membuka mataku pelan-pelan dan melihat para dokter menatapku sangat lega."...Pasien kecelakaan barusan, berhasil diselamatkan," gumam salah satu dokter tadi entah kepada siapa.*"Sudah gue bilang kan, lo bakalan selamat..." Zeff mendorong kursi rodaku sambil menghela nafas lelah. "Malah nyuruh gue hibur orangtua lo... Lo beneran bikin orang cemas, tau nggak?"Aku menunduk dalam, " Sorry , Zeff. Gara-gara lo nyelamatin gue, lo ga bisa ikutan tour ya?""Sudahlah, nggak apa-apa. Nanti gue langsung ajak William tanding saja tanpa perlu ada pertandingan resmi. Gue kenal dia kok, gue punya kontaknya."Aku langsung bersemangat, "Serius? Lo punya kontaknya William? Gue boleh minta tidak?" Asyikk, nambah kontak cogan di hapeku.Zeff menatapku datar, "Nggak bakal gue kasih," ucapnya jengkel."Ih, Zefferey pelit, ih." Aku pura-pura merajuk. Mana mungkin aku merajuk gara-gara Zeff tidak memberikan kontak William. Orang aku sukanya ke Zeff kok, bukan William."...Anne,""Hm?"Tubuhnya menunduk, aku bisa merasakan leherku kini tengah dipeluk olehnya, aku benar-benar...benar-benar kaget setengah mati."Z-Zeff, lo ngapain?!""Meluk lo, lah, masak nggak tau?"Aku makin tergagap mendengar jawaban santainya, yaampun, selamatkanlah aku dari apapun namanya ini. Jantungku sudah bekerja lebih maksimal dari biasanya. Aku bisa mati, sepertinya."Iya, ngapain lo meluk gue?!"Dan Zeff berbisik amat pelan, "Gue sayang lo, Annely."

Menghargai Kejujuran
Teen
06 Jan 2026

Menghargai Kejujuran

Perasaan resah menyelimuti seorang gadis yang sedang berjalan sendirian masih lengkap dengan seragam sekolahnya.Vanya sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Ia takut jika ibunya akan memarahinya mengingat ia pulang selama ini. Saat ia hendak mengetuk pintu, tak disangka pintu itu terbuka dan menampilkan sosok ibunya dengan kilatan marahnya."Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang, inget rumah kamu?" tanya sang ibu dengan nada ketus."Maaf Bu, tadi Vanya abis dari rumah teman Vanya," jawab Vanya dengan menunduk takut.Plakkk..Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Vanya, sangat terlihat kemarahan dari ibunya."Bagus kamu ya, anak gadis pulang malam-malam. Bilangnya dari rumah teman," sarkasme sang ibu."Iya Bu benar, Vanya habis dari rumah Vina dan nggak sengaja ketiduran disana," jawab Vanya yang tak kuasa menahan bulir air matanya seraya memegangi pipinya yang memerah."Gak usah nangis segala, seharusnya kamu sadar kalau kamu salah. Pulang sekolah harusnya langsung pulang, ini malah main. Bagus begitu Vanya?!" bentak sang ibu tak kuasa menahan amarahnya."Maaf Bu," jawab Vanya meraih tangan ibunya dan segera mencium punggung tangannya.***Sehabis ia dimarahi tadi, Vanya memasuki kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam bathtub.Terlahir dengan tidak ada ayah adalah mimpi terburuk Vanya yang harus menjadi kenyataan. Mempunyai ibu pun serasa tak punya, selama ini ia benar-benar belum mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Mengingat ibunya seorang pekerja disebuah restoran 24 jam, membuat wanita paruh baya itu tak bisa membagi waktu antara kerja dan anak.Vanya akui dirinya memang salah, harusnya ia pulang kerumah atau izin dulu pada ibunya. Namun kejadian pulang sekolah tadi harus membuat dia segera kerumah Vina, sahabatnya itu.Dimana dirinya dan Vina harus menjaga adiknya Vina yang masih balita dan sangat aktif sekali hingga membuat mereka kelelahan dan tertidur tak ingat waktu sampai berakhir seperti tadi."Apasih Vanya, kamu cengeng banget," monolog Vanya seraya menghapus air matanya kasar.***"Vanya dicariin kak Daniel tuh di lapangan," ujar Vina yang baru saja datang membawa minuman taro kesukaannya."Kak Daniel? Cari aku?" tanya Vanya tak percaya."Iya cari lo, buru gih kesana. Apa mau gue temenin?" tanya Vina."Boleh deh Vin, aku penasaran kenapa kak Daniel nyariin aku ya?" ucap Vanya hendak keluar kelas diikuti oleh Vina."Kalo itu gue gak tau, coba aja nanti lo tanya," mereka pun berjalan menuju lapangan, dan terlihat sangat ramai disana. Namun pandangannya jatuh pada lelaki yang sedang berdiri di tengah sana. Vanya mendekat pada lelaki bernama Daniel itu, dan tiba-tiba saja Daniel berlutut dihadapan Vanya."Eh kak Daniel? Ngapain?" tanya Vanya yang terkejut dengan tindakan kakak kelasnya ini."Vanya? Mungkin ini tiba-tiba banget buat lo. Tapi ini semua udah gue rencanain dari lama. Jadi temen emang menyenangkan, tapi bakal lebih mengesankan lagi kalau lebih dari itu," ujar Daniel."Maksudnya apa kak? Aku nggak ngerti," ujar Vanya."Ketika Hawa tercipta buat Adam, begitu indahnya kehidupan mereka. That way, let me Daniel Abian, be the Adam for you because I very love you,"Entah ada bujukan dari mana, Vanya mengangguk. Dan itu berarti Vanya baru saja menerima Daniel, dan mereka resmi berpacaran.***Sebulan berlalu, hubungan Vanya dengan Daniel sudah membaik layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Dan saat ini Daniel mengajak Vanya untuk pergi berkumpul dengan teman-temannya.Dapat dideskripsikan tempat ini di dominasi oleh para lelaki, dan Vanya paling tidak suka berada di tempat yang banyak asap rokok seperti ini."Wihh Daniel udah bawa yang baru aja, mangsa baru bos?" tanya seorang pemuda kepada Daniel yang hanya tersenyum."Kak Daniel, aku belum izin sama ibu," ujar Vanya dengan pelan."Hmm ya udah izin dulu di telpon aja, mau pake handphone aku?" tanya Daniel."Nggak usah kak," ujar Vanya lalu menjauh dari situ untuk menghubungi ibunya."Halo Bu?"" ... ""Ehmm, Vanya izin pulang terlambat ya Bu"" ... ""Vanya ... Vanya ada kelas tambahan Bu," alibi Vanya." ... ""Iya Bu," panggilan itu terputus, dan Vanya menghela nafasnya lega sebab ibunya dapat percaya dengan perkataannya.***Dalam keadaan seperti ini mengharuskan Vanya untuk berbohong lagi kepada ibunya. Terjebak hujan di apartemen Daniel, dan kini mereka hanya berdua.Vanya disuguhi teh yang Daniel buat, dengan segera Vanya minum. Namun sehabis minum itu, kepalanya menjadi sangat pusing dan mengantuk alhasil ia tertidur di sofa itu.Pagi telah tiba, Vanya terkejut ia tidak berada di sofa tadi melainkan di kasur. Dengan cepat ia bergegas menuju rumahnya tanpa menemui Daniel dahulu.Kali ini ia berbohong pada ibunya kalau tadi malam ia menginap di rumah Vina.Dua bulan berlalu semenjak kejadian itu, kini Vanya sedang berada di rumah Vina."Eh Nya, lo lagi dapet gak?" tanya Vina dibalas gelengan oleh Vanya."Bukannya kita selalu bareng ya? Terus kok gue rada aneh sama lo, tadi pas olahraga tiba-tiba pala lo sakit terus muntah aneh banget, lo kenapa?" tanya Vina."Aku juga gak tau, dan gak cuma di sekolah tadi. Di rumah juga aku kek gitu Vin," ucap Vanya."Eh Vanya, dari semua keanehan lo yang gue ucapin tadi. Gue baru sadar itu tanda-tanda--"ujar Vina menggantungkan kalimatnya."Jangan bilang lo..?" sambung Vina menutup mulutnya tak percaya."Sebentar Nya," ujar Vina lalu berlari keluar kamarnya untuk mengambil sesuatu dan kembali lagi dengan barang yang bisa disebut testpack.Dengan segera Vanya mencoba alat itu, dan mereka berdua terkejut bukan main saat melihat hasilnya positif. Vanya menangis tersedu-sedu, dan Vina mencoba menenangkannya seraya meminta Vanya menceritakannya. Dan Vanya baru ingat detik-detik dirinya ternodai saat ia berada di apartemen Daniel. Ia pikir itu hanya mimpi.Vani membujuk Vanya agar segera bicara pada ibunya, namun Vanya menolak. Ia takut jika ibunya marah, semua yang ibunya lakukan untuk membiayai dirinya hanya sia-sia. Namun setelah di semangati oleh Vani, akhirnya Vanya mau memberitahu ibunya.Perasaan sang ibu setelah mendengar itu, kaget tentunya. Ia tak menyangka semuanya terjadi. Ia harus merelakan masa depan anaknya yang hancur akibat kelalaiannya.Dari sini Vanya mengerti, komunikasi antara orang tua dan anak memang penting, dan juga para wanita harus pandai menjaga dirinya dari pergaulan bebas diluar sana. Yang lebih penting lagi, Vanya pasti belajar dari kesalahan ibunya yaitu ia akan menghargai setiap kejujuran.[ E N D ]

Memoria : "Reminiscence"
Teen
06 Jan 2026

Memoria : "Reminiscence"

Boston , Amerika Serikat , 14.39 PM .Kali ini gerimis turun menggantikan hujan. Kedua telinga yang tersumpal earphone yang volume musiknya disetting penuh, jelas saja membuatnya tuli akan keadaan di sekitarnya sore itu.Kameja kerja berwarna putih dengan rok span sepanjang setengah lutut tersebut agak sedikit basah akibat terkena air hujan yang turun tak terlalu kentara itu.Rimma Ernestella, itulah nama yang terpampang jelas di buku bigboss yang berada di genggaman tangannya.Gadis yang baru memasuki usia 22 tahun tersebut begitu lusuh. Rambut hitam bergelombangnya berkibar ditempur angin sore.Fuuh... waktu berlalu begitu cepat sehingga membuat cuaca yang tadinya gelap dan dingin malah berubah menjadi hangat akan kehadiran matahari yang tak lagi menyembunyikan diri di balik awan kegelapan.Rimma mengembuskan napasnya lelah.Tidakkah orang-orang yang berada nun jauh di seberang sana—yang tengah berlari-lari ria seusai bekerja maupun belajar seharian—lelah?Ah ... Ia tahu, begitulah dirinya dahulu. Ketika 'dia' dan dirinya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh keempat anak SMA yang baru saja berlari melewatinya itu.Rimma lantas menoleh, melihat figur keempat siswa dan siswi itu dari belakang. Ingatannya mengalir dalam sekejap, mengingat momen lima tahun yang lalu ketika dirinya masih berada di bangku sekolah menengah atas, persis dengan keempat figur yang kian menjauh itu.Rimma tersenyum getir. Ia pun membalikkan tubuhnya ke depan dan kembali berjalan. Kenangan itu begitu pahit sehingga membuatnya tak bisa menghapus ingatan itu. Rimma mencoba tuk melupakan segalanya. Melupakan dia.Dia yang telah membuat garis takdirnya berubah.***"We were just kids when we fallin' love..."Lagu Perfect yang dibawakan oleh Ed Sheeran keluar dari bibir tipis itu. Earphone yang menempel di kedua cuping telinganya tengah memperdengarkan lagu yang barusan dinyanyikan dengan suara pelan itu.Matanya terpejam, menikmati alunan lagu yang sudah memasuki bagian-bagian akhir itu dengan tenang tanpa menghiraukan hiruk pikuk di sekitarnya.Diliriknya arloji yang sudah menunjukkan pukul 14.40 PM. Laki-laki itu kemudian beranjak dari bench untuk pulang. Hal tak disangka-sangkanya tiba-tiba terjadi.Tepat saat ia hendak membelokkan tubuhnya, matanya menangkap seorang berpakaian hitam yang ia duga perampok atau sejenisnya tengah melakukan aksi tarik-tarikan dengan seorang gadis berkameja putih.Ia, dengan segenap rasa malasnya pun mulai melangkahkan kakinya santai. Sang gadis berteriak kepadanya ketika tubuh mereka sejajar."Help me!" ujar sang gadis sembari menarik-narik tasnya.Langkah kaki laki-laki itu terhenti. Ia pun melepas earphonenya sebelah dengan gerakan malas, lalu memutar bola matanya jengah ke arah sang gadis.Lama ia terdiam. Sang gadis beserta sang perampok bahkan sudah melakukan beberapa aksi tarik-tarikan atau apalah itu."Help me now!" seru sang gadis lagi, tentunya dengan nada yang lebih ditinggikan sekitar satu oktaf."Are you deaf, huh?!"Lagi, sang gadis berteriak.Laki-laki itu masih pada tempatnya."Oh, gosh!" seru sang gadis.Sang laki-laki tetap diam.Ia meneleng di balik matanya dengan sebal. Abaikan atau bantu?Bantu.Abaikan.Bantu.Abaikan.Baiklah, abaikan saja.Ia langkahkan kakinya meninggalkan kedua penjahat dan calon korban itu.Namun belum beberapa langkah, teriakan-teriakan gadis itu membuatnya gagal berkonsentrasi."Noooo!!! Don't take my bag!""Don'ttt!!! Don't take my bag! Help!! Helpp!!! Hellpppp!!!!!""Shit." Alhasil, laki-laki itu mengumpat."Don't take my ba—"Get your dirty hands out of that bag right now!" teriak sang laki-laki seraya memutar tubuhnya ke belakang dan tangan kanannya menodongkan pistol ke arah sang penjahat.Kedua insan itu—gadis itu dan sang perampok—melotot."D-don't shoot me. O-okay, I'll let go," kata si perampok sembari mengangkat tangannya lalu pergi perlahan dan berlari sekencang-kencangnya.Sang gadis buru-buru merebut tas miliknya dan memeluknya dengan erat.Sementara sang laki-laki langsung menyatukan pistolnya ke dalam jaket kulitnya seraya memasang kembali earphone yang terlepas.Iapun kembali melangkah."H-hei," panggil sang gadis.Namun yang dipanggil tak menoleh."Thank you. What's your name, Sir?""Sir?" tanya laki-laki itu kaget dan membalikkan tubuhnya."O-ouh. So... then... I call you—" Kacau, bahasa Inggrisnya benar-benar kacau.Sang laki-laki mendelik sebal lalu kembali berjalan."By the way," kata sang gadis, Rimma, seraya menyejajarkan tubuhnya dengan laki-laki tak diketahui namanya itu."Are you... ehm... mahasiswa... apa ya bahasa Inggrisnya mahasiswa," gumamnya seraya mencoba berpikir keras."Ya. Gue mahasiswa."Sang gadis melotot."Lo orang Indonesia?!"Sang laki-laki mengatupkan bibir."Seriusan?!"Muak. Ia hembuskan napasnya pelan dengan penuh kesabaran."Iya... Gue. Orang. Indonesia!" Laki-laki itu menyeru, dengan tekanan di setiap katanya."Aah... asal mana? Kali aja kita sekota, maybe.""Jakarta.""Jakarta? Gue juga di sana. Dari gaya penampilan lo sih, gue tebak lo udah lulus strata satu?""Hm.""Gue juga. Rencananya mau lanjut S2 atau kerja? Kalo gue sih kerja. Ini lagi cari-cari. Makanya tadi gue takut banget tas gue dicuri orang, soalnya di dalem sana ada resume buat daftar kerja hehe. Bukannya apa sih, tapi gue susah editnya. Dan juga... ada benda penting di dalam sini yang nggak boleh ilang."Rimma mendadak sedih. Ekspresinya berubah suram. "Ada kenang-kenangan yang nggak boleh gue hilangkan. Kenang-kenangan dari orang yang gue sayang."Sang laki-laki menoleh sembari terhenti. Namun sedetik kemudian ia kembali melengos dan berjalan kembali."Hadish.""Eh?"Rimma sontak terkejut ketika laki-laki itu mengulurkan tangan ke arahnya."R-Rimma.""Lo LDR-an sama pemilik benda itu?" tanya Hadish."Enggak, kok."Ia coba tuk menatap laki-laki bernama Hadish itu dan menatapnya terang-terangan.Rimma pun memberhentikan kakinya. Yang sontak membuat Hadish ikut berhenti juga."Dia udah nggak ada." Sekilas, Rimma menggigit bibirnya, menahan tangis."Sorry.""Iya nggak papa."Saat Rimma menoleh dan Hadish menoleh, pandangan mereka bertemu. Dalam sepersekian detik, mata Rimma membelalak."A-A... Ajun..." sebutnya, terperangah.Hadish memiringkan kepalanya."Ajun. Lo Ajun, kan?!" seru Rimma sembari memegang lengan Hadish.Hadish melotot tak kentara"Ini gue Rimma, pacar lo, Jun!" lanjutnya dengan mata berkunang-kunang.Kenapa ia lupa? Kenapa ia tak sadar bahwa sedaritadi ia sedang mengobrol dengan Ajun?Hadish menarik tangannya risih."Nggak. Nggak mungkin, Rim. A-Ajun kan udah nggak ada..." gumam Rimma mencoba berpikir jernih."Ta-tapi lo persis...""Apa?" Laki-laki berwajah tampan dengan lesung pipi di kedua pipinya itu lantas menukikkan alisnya, bingung."Nggak, nggak. Sekarang, lo siapa? Lo siapa!!"***Hadish datang dengan membawa minuman isotonik lalu diletakkan di atas meja.Saat ini keduanya tengah berada di depan minimart."Dia kecelakaan dulu sama dua sahabat gue yang lain. Ineska sama Bayudha. Kebetulan gue nggak ikut karena lagi marahan sama Ajun." Rimma mulai bercerita."Kejadiannya waktu kelas dua SMA. Dia coba bujuk gue dengan segala cara supaya ikut dan maafin dia, tapi gue juga nolak dengan segala cara yang gue bisa." Rimma tersenyum getir."Akhirnya mereka berangkat tanpa gue.""Mau ke mana emang?""Ke Amerika, Ajun sama Ineska berhasil lolos olimpiade Matematika. Sementara Bayudha jadi supporter mereka.""Jadi kenapa lo marahan?""Karena Ajun sama Ineska deket banget.""Jadi lo orangnya posesif, ya?"Rimma menunduk."Gue juga nggak tahu. Hari itu bakal jadi hari terakhir gue ketemu sama mereka, dan juga Ajun." Rimma terisak."Jam 3 sore, gue dikabarin sama Mamanya Ineska kalo pesawat yang ditumpangi Ajun, Ineska sama Bayudha jatuh. Nggak ada yang selamat. Jujur, gue shock."Kali ini isakan Rimma semakin terdengar jelas. Hadish mencoba tersenyum seraya menepuk punggung Rimma dan berkata, "Nangis aja. Jangan ditahan."Tangis Rimma semakin menjadi."Mereka udah tenang, kok. Sekarang mereka minta doa lo."Ajun menarik kepala Rima tuk bersandar di dada bidangnya."Kalo lo ketemu Ajun, kata apa yang pertama kali lo pengen denger dari dia?"Rimma terisak, tapi kali ini sudah sedikit mereda."Gue pengen dia sebut nama lengkap gue," jawab Rimma sambil terisak."Really?"Rimma mengangguk, tak kentara."Rim."Rima menjauhkan telinganya dari dada bidang itu."Rimma Ernestella Frisandira.""Jun?" panggil Rimma sembari benar-benar menjauhkan kepalanya dari dada bidang Hadish.Hadish menatapnya dengan tatapan penuh arti."I miss you, Rimma.""Ajun, lo?""Yes. This is me."Rimma masih menunjukkan ekspresi tak percayanya."Tunggu... A-Ajun udah...""Gue masih hidup, Rim."Rimma membuka mulutnya, namun tak ada sepatah katapun yang mampu keluar."H-harusnya..."Hadish. Bukan, Ajun—tersenyum tulus."Cuma 5 orang yang berhasil selamat, Rim, termasuk gue. Sengaja nggak diberitakan karena—"Rimma segera memeluk tubuh laki-laki itu. Erat. Ia tenggelamkan wajahnya di balik dada yang terbalut kaos putih tersebut.Ajun tersenyum lagi."Lo ke mana aja, Ajun... Gue kangen sama lo..." lirih Rimma sembari menangis."Gue ngejalani terapi psikologis. Waktu itu mental gue nggak stabil banget setelah kecelakaan itu. Gue berada di dalam masa yang sangat terpuruk, Rim."Rima tak bersuara, hanya ada suara cegukan yang terdengar."Gue dibawa ke sini dalam keadaan sekarat. Dokter bilang gue nggak ada harapan lagi, tapi Ayah sama Bunda tetep pertahanin gue. Dan alhasil sekarang." Rimma tak bersuara"Rim?""Gue kangen wanginya Ajun."Ajun tersenyum. "Padahal lima tahun lalu gue mau bawa lo ke Ayah Bunda."Rimma masih menenggelamkan wajahnya."Udah lima tahun. Gue nggak mau kehilangan lo lagi, Jun.""Gue juga, Rim.""Kok lo tadi nggak ngenali gue sih?" tanya Rimma, tiba-tiba menarik wajahnya dari dada Ajun dan menatap laki-laki itu intens."Gue nggak kenal.""Apa?""Karena muka lo udah berubah, jadi makin cantik.""Jun, plis.""Haha. Serius, Rim. Kalo seandainya lo nggak sebut nama gue juga, gue nggak bakalan inget.""Terus pas udah tahu, lo pura-pura jutek dan nggak kenal gue?"Ajun tersenyum manis."Parah lo. Oh ya, kok lo tadi bawa pistol?" Dan sekarang, Rimma takut."Ini?" tanya Ajun sembari mengeluarka pistol tadi dari dalam saku dalaman jaketnya."Iya itu!""Ini mainan kok.""Dari mana gue bisa tahu itu mainan?"Ajun segera menarik pelatuknya, dan benar, sebuah kelereng kecil keluar. Tapi kalau kena badan juga bakalan sakit."Ih, childish.""Haha.""Lalu Hadish?""Lupa nama gue, Rim?""Oh iya. Hadish Rajendra.""Kan?""Iya, Jun, iya. Coba lihat." Rimma merogoh tasnta dan mengangkat sebuah gantungan berbentuk angka 8, infinity."Btw, ayo kita keliling Boston.""Ayo."Sore itu, Ajun dan Rimma berjalan, menelusuri sudut kota. Langit mulai berubah jingga dan kedua insan yang lama terpisah itupun akhirnya dipertemukan kembali di bawah naungan langit kota Boston.[ E N D ]

INSOMNIA Again
Fantasy
06 Jan 2026

INSOMNIA Again

27th Desember 2016, Tue***Sebelum kau terlelap dalam mimpi yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, pastikan kau telah membersihkan dirimu sepenuhnya. Jangan lupa mencuci kakimu, menggosok gigimu dan memanjatkan doa sebelum tidur.Hei, mau kuceritakan cerita yang menarik sebelum kau akan beranjak tidur malam ini?Kau tahu? Bed covermu mungkin sudah harus kau ganti. Ah, maksudku, kau tidak akan tahu ada berapa makhluk kecil yang tak terlihat selalu mengulurkan tangan mereka untuk menunggumu berbaring disana. Mereka bisa sepuasnya menguasai dirimu saat kau terlelap, memasuki organ tubuhmu yang hampir selalu terbuka setiap waktu.Ah, kita bukan ingin membahas itu, tenanglah. Ya, aku tahu itu menjijikan, aku pun sebenarnya ragu untuk menceritakan ini padamu. Aku takut tidurmu akan terganggu hari ini, jadi kalau kau merasa tak sanggup, jangan lanjutkan! Karena aku tidak akan bisa bertanggung jawab.Omong-omong, hei, aku akan melanjutkan topik ini. Kalau terganggu, tutuplah dan lupakan apa yang kusampaikan hari ini.Pertama, posisikan bantalmu agar kepalamu sejajar dengan tubuhmu. Atau lebih singkatnya, posisikan dirimu yang paling nyaman di atas kasurmu, tidurlah dalam keadaan lurus, tangan di sisi tubuhmu. Pastikan lututmu tak terangkat, aku bisa jelaskan mengapa kau harus benar-benar santai saat tidur. Percayalah.Jika kau terbiasa menggunakan selimut, kenakanlah, malam ini mungkin akan dingin. Kalau kau terbiasa memeluk guling, peluklah, kau juga boleh berada dalam posisi miring dan dalam keadaan meringkuk (asal kau tidak berbaring lurus dan bagian kakimu tidak membentuk /\ ).Nah, aku akan ceritakan apa yang kualami sejak dulu, kalau kau mengangkat lututmu dan telapak kakimu berada di atas kasur, ada beberapa kemungkinan. Kau mimpi indah, mimpi buruk, atau mungkin bermimpi (tapi kau tidak akan mengingatnya). Kalau kau mimpi indah, kau pasti tidak bisa terbang bebas di sana, dan kalau kau mimpi buruk, kau tak akan bisa lari dari kejaran- nya . Begini, akan kuceritakan sesingkatnya saja, kalau kau melakukan itu saat tidur, kau tidak akan bisa berjalan saat di mimpimu.Kalau tanganmu berada di kedua sisi kepalamu, kau biasanya tidak akan ingat mimpi yang kau alami. Tenang, itu bukan hal yang buruk. Nah, dan itu adalah biasanya , bukan berarti kau tidak akan ingat. Karena ada beberapa cerita lain di sana.Hey, apa kau pernah merasakan takut saat tidur? Oh, tidak, kau hanya memejamkan matamu, sebenarnya. Kesadaranmu masih utuh, tapi seluruh organ tubuhmu tidak ingin mengikuti perintah otakmu.Ah, selamat! Mungkin kau sedang tertindih!Biar kuberitahu soal masalah ketindihan, ini bukan hal yang langka dan jarang terjadi. Kebanyakan orang sudah pernah merasakannya, aku pun pernah, haha. Eh, itu bukan sesuatu yang perlu ditakutkan, biar kuceritakan langkah aman yang mungkin harus kau tahu.Yang harus kau lakukan saat ketindihan adalah membaca doa sesuai kepercayaanmu. Setelah bait doamu selesai, kau boleh mencoba menggerakan jari telunjukmu. Kalau gagal, ulangi sekali lagi. Kalau masih gagal, kau boleh mencoba untuk menggerakan kakimu atau mungkin kepalamu. Kalau kau berhasil melakukannya tapi matamu tetap tidak bisa terbuka, cobalah menggeser tubuhmu menjauh dari pinggir kasur, itu akan membantumu sedikit. Kalau sudah, baca doa sekali lagi dan tidurlah. Besoknya kau akan kembali seperti semula.Hei, itu hanya ketindihan. Aku bahkan pernah mengalami yang lebih dari itu. Aku pernah menghadapi mimpi dimana aku mengira bahwa aku baru terbangun dari mimpi dan rupanya aku masih bermimpi. Ah, bahasaku aneh sekali, biar kuperjelas di bawah.Begini, bayangkanlah kau baru terbangun dari sebuah mimpi buruk. Kau sangat lega karena berasumsi bahwa itu hanyalah mimpi dan semuanya telah berakhir. Kau bangun dan melakukan aktivitas biasamu, namun kau tiba-tiba melihat kejadian aneh disekitarmu. Kau menyadari bahwa itu hanya mimpi dan mencoba untuk bangun.Kau bangun, bersyukur bahwa itu hanyalah mimpi. Kau mencoba mengingat mimpi burukmu barusan. Kau melakukan aktivitas dan lagi-lagi melihat kejadian aneh di depanmu. Kau lagi-lagi berusaha bangun.Kau bangun lagi, mencurigai bahwa kau masih bermimpi. Kau mencubit dirimu dan tak merasakan sakit. Kau mencoba bangun lagi.Berulang-ulang sampai kau tak bisa membedakan dunia nyata dan dunia mimpi.Ketahuilah bahwa saat itu, sebenarnya kau sedang menggantikan dirimu yang juga terlelap. Maksudku, dirimu yang lain, dirimu yang ada di dunia lain, dirimu yang juga mengira bahwa hanya ada satu dunia di semesta ini.Kau lagi-lagi bangun, namun kali ini kau mengalami ketindihan dalam mimpimu. Kau masih sadar sepenuhnya dan masih mengira-ngira apakah ketindihan ini terjadi di dunia nyata atau dunia mimpimu. Kau tidak bisa menyimpulkan. Kau hanya melihat gelap, dan kau bisa merasakan seluruh tubuhmu mati rasa dan tak bisa kau kendalikan.Begini, kalau kau mengalami kejadian seperti itu, kusarankan kau untuk tidur saja atau menunggu seseorang dari dunia nyata untuk membangunkanmu.Karena kalau kau bangun, ada dua kemungkinan.Yang pertama; kau benar-benar terbangun.Atau yang kedua; matamu terbuka dan kau akan langsung bersitatap dengan seseorang yang di atasmu.Biar kuberitahu, ini cara yang beresiko. Ini akan membuka indra keenammu selama beberapa saat. Setelah itu wujud diatasmu akan menghilang tanpa kau sempat menjerit, karena kau bahkan tak bisa mengeluarkan suaramu.Kau akan tertidur secara otomatis dan terbangun keesokan harinya, mengingat semua mimpi buruk itu.Tapi, setelah itu, jika kejadian tadi berulang kembali, apa kau akan berpikir untuk terbangun dari situasi seperti itu lagi?

Lilyon
Fantasy
06 Jan 2026

Lilyon

"Woi, Lyon! Udah pagi!" seruku sambil memukuli Lyon dengan bantal.Enak aja dia malah enak-enakan tidur di sini. Berasa dayangnya, tau gak sih. Bangun pagi-pagi harus aku yang lakuin, diberlakuin kayak cowok sama Lyon sialan ini. Masak iya aku disuruh manjat ke jendela kamar dia? Iya, aku emang udah kebiasa manjat-manjat di jendela kamar dia, tapi kalau diperintahin langsung rasanya engga banget.Namaku Lily, aku udah SMA 3. Namaku cantik banget ya? Sayangnya orangnya nggak secantik namanya. Cowok yang tidur kayak kebo itu namanya Lyon. Dia childhood friend -ku sejak kami kecil, gatau deh dari kapan."Lyon! Kalau masih tidur, aku tinggalin nih!"Tetap aja dia masih tidur."Lyon!"Dan kesabaranku yang memang limit pun habis terkikis oleh ulah Lyon yang tak bergerak sedikitpun. Dia memang bakalan jadi mayat kalau udah tidur."AKU PERGI!" seruku sambil membanting pintu kamarnya keras-keras, lalu turun ke lantai bawah untuk menyapa Tante."Lho, Lily manjat lagi?" tanya Tante begitu melihatku turun ditangga. "Aduh, padahal kan kalau kamu menekan bel, pasti dibukain," ujarnya tak enak hati.Aku tidak bilang pada Tante bahwa Putra kedua-nya lah yang memintaku memanjat dan membangunkannya pagi-pagi. Habisnya kalau aku nekan bel, Tante pasti nyuruh aku nunggu di sofa yang ada di ruang keluarga, terus naik ke kamar sendiri buat bangunin Lyon. Kata Lyon, cara Tante bangunin dia itu TSADEST pake banget. Ya, aku mengakuinya, soalnya aku pernah lihat Tante membangunkan Lyon dengan cara berteriak, " KEBAKARAN !" atau " ADA KECOAK TERBANG !" Tapi reaksi Lyon lucu deh, dia ngeloncat dari tidurnya tiba-tiba gitu."Lyon-nya belum bangun?" tanya Tante sambil mencoba ngintip-ngintip dari bawah.Aku cuman ngangkat bahu. Harapannya sih, Tante naik sendiri dan bangun Lyon dengan salah satu jurus TSADESTnya, ini gara-gara aku udah kesal sampai pengen banget loncat-loncatin tubuhnya bak trampoline .Tapi Lyon sedikit beruntung pagi ini, soalnya pas Tante mau naik, dia udah keluar kamar sambil bawa handuk. Rambut-nya acak-acakan kayak singa, wajah dia kusut bak pakaian kusut. Heran aja akunya, kok banyak sih cewek yang suka sama dia?Aku dipaksa Tante untuk sarapan bersama keluarganya lagi . Di sana Kak Leo sudah makan roti isi selai kacangnya dengan nikmat, sedangkan Lyon sedang menggosok giginya di depan cermin berwastafel dengan malas-malasan."Lily nggak makan?" tegur Kak Leo memergokiku sedang memperhatikan Lyon mengusap wajahnya sendiri dengan mimik wajah yang lucu."Eh. Aku udah makan di rumah tadi.""Makan aja lagi, kamu kurus banget kayak lidi," balas Lyon terdengar mengejek. Aku menatapnya dengan tatapan tajam, bahkan sampai dia duduk bergabung di meja makan bersama. "Lily kurus kayak lidi," ulangnya dengan kening berkerut. "Wah, mirip! Aku memang jenius!""Hush, Lyon," tegur Kak Leo dengan bijak.Omong-omong, kak Leo memang bijak, keren, dan sangat-sangat berbeda dengan Lyon yang pencicilan. Ah, sudahlah, aku lelah membandingkan mereka berdua.Entah bagaimana ceritanya, selang beberapa menit setelah Lyon bahkan sudah menyelesaikan sarapannya, Tante tiba-tiba saja menjerit histeris. Aku yakin bukan cuma aku yang terkaget saking tiba-tibanya itu. Kak Leo dan Lyon juga ikut tersentak dan menoleh horror ke sang Ibu."Iih! Mama kok gitu sih?" tanya Lyon dengan nada tidak senang.Tante langsung berdiri menghampiriku dan menjabat tanganku dengan gerakan yang amat cepat, "Ya ampun, Lily sayang, Tante hampir lupa! Selamat ulangtahun ya, sayang. Semoga panjang umur, makin sehat, makin cantik, makin manis, makin makin deh, pokoknya!"Senyumanku melebar saat aku menyadari hal itu, ah, benar juga . Aku sendiri hampir melupakan fakta itu sampai Tante mengingatkannya."Terima kasih, Tante," balasku sambil tersenyum lebar."Duh ...," Tante mengelus kepalaku, "Kok masih manggil Tante, sih? Manggil Mama kenapa? Lily kan sudah lama bareng Lyon."Aku tertawa kecil. "Iya deh, iya. Mama sayang.""Ini kamu sudah tujuh belas kan? Aduh, Mama pengen deh kalian cepat-cepat married !" pekiknya sambil memelukku erat."Maa," tegur Lyon saat menyadari sifat over-antusias yang dirasakan Tante saat ini."Selamat ulang tahun ya, Lily." Kak Leo menjabat tanganku, melemparkan senyuman khasnya yang membuatku membalas jabatannya dengan salam yang sama."Hehe, makasih kak Leo."Lyon mengintrupsi. "Udah ah, udah. Kami mau ke sekolah, udah telat. Ada try out .""Yeeh, kamunya yang bikin telat." Aku memutar bola mataku malas."Pergi dulu ya, Kak, Ma."Usai Lyon memberi salim, aku melakukan hal yang sama dan langsung keluar dari rumah Lyon sebelum Tante over-reacted dan membuat kami makin terlambat hari ini."Eh, kita naik itu? Gamau naik angkot aja?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku.Lyon menepuk bangku kosong di belakang sepedanya sambil tersenyum lebar. "Naik angkot mulu, mau jadi Nyonya angkot, apa? Sesekali Bang Lyon bonceng, dong. Sini."Aku pun duduk di bangku itu dalam keadaan menyamping. Meski sebenarnya aku lebih suka duduk dalam keadaan normal, tapi tentu saja aku harus ingat kalau aku sedang memakai rok."Nih." Lyon menyerahkan jaket kainnya untuk kuikat di pinggangku. "Oh ya, Selamat ulang tahun Lily, maaf telat, hehe."Aku memutar bola mataku bosan, "Udah biasa kok, kamu telat kayak gini. Jadi aku sama sekali nggak ngarep kaca jendela kamar dilempari kerikil, terus kamu-nya di bawah main gitar sambil bawa kue.""Gimana ceritanya, coba?" Lyon tertawa ringan. Bagian ini selalu menjadi favoritku. Selalu.Saat Lyon mulai menjalankan sepedanya, aku memeluk tasnya yang digantung di bahunya. "...Lyon, kapan kamu mau lurusin masalah ini ke Mama-mu?" tanyaku sambil menghela nafas. "Sudah berapa tahun mereka mengira kita jadian?""Boleh nggak usah lurusin, nggak sih? Toh kita sudah nyaman."Aku lagi-lagi menghela nafas, "Iya, tapi kan-"...Jadian karena omongan dan perasaan itu, beda kan?Aku sudah nyaman sama Lyon. Bukan sebagai sahabat .Ya Tuhan, bangunkan aku jika ini memang hanya keindahan sesaat.Lyon memang mengumbarkan kepada dunia bahwa aku adalah pacarnya sejak dia telah terlanjur mengatakannya pada Ibunya. Dunia tahu bahwa aku dan Lyon memiliki hubungan. Tapi, hanya aku seorang yang tahu tentang perasaan ini.Aku memejamkan mataku, memeluk erat tas Lyon yang jelas memiliki aroma khas Lyon. Semoga saja aku bisa melupakanmu saat kamu melepaskanku."Lily...."Aku tak berani membalas, takut pikiranku kacau dan salah mengungkap lagi."Apa aku terlihat tak seserius itu?"Ya. Tapi, suaramu tak terdengar seperti itu."Tidak," balasku pada akhirnya. "Bukan begitu.""Jadi?"Aku menarik nafas, "Aku hanya terlalu nyaman denganmu, sampai-sampai aku takut terlalu bergantung padamu. Seandainya suatu hari kamu menemukan gadis lain, apa yang harus kulakukan?"Lyon tertawa pelan, "Waw, sepertinya kita memang berjodoh. Kita punya kekhawatiran yang sama.""Jangan menganggapnya lelucon, Lyon," balasku malas."Tenang saja, Lily, aku belum pernah sekalipun menganggap hubungan kita lelucon. Aku bisa menjamin bahwa dimasa depan sekalipun, aku akan berpikir begitu."Omongan Lyon manis sekali, ya ampun.Terlalu manis sampai aku sangat takut."Aku sayang kamu."Tiga kata itu membuat semuanya pergi. Kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan. Mengundang hal-hal menyenangkan lain yang membuatku terlupa akan segalanya yang kurasakan kini. Aku lupa segalanya, lupa bernafas adalah salah satunya."Lily, bernafaslah!" Lyon memberi arahan sekalipun matanya kni fokus menatap jalanan kota besar, dan ia masih sempat mengingatkanku sebelum aku benar-benar terlupa lebih lama dan kehilangan diriku. "Sudah bernafas?""Sudah," balasku jengkel, darimana coba dia tahu kalau aku menahan nafas tadi?"Kalau kamu?" Aku bisa merasakan Lyon mempercepat laju sepedanya. "Sayang aku, tidak?"Aku tersenyum dan berhenti memeluk tasnya, beralih menyentuh bahunya."Sayang, kok."Laju sepedanya yang melambat membuatku tahu bahwa dia bisa mendengarkan ucapanku tadi. itu benar-benar membuatku menghela nafas lega.Lega dengan semua ini."Ulangi lagi kata-katamu tadi saat kita pulang ya? Aku tidak bisa mendengarmu."Aku memukul pelan bahunya, "Aku tahu kau mendengarnya!"Entahlah, ini hadiah termanis yang pernah diberikan oleh seorang Lyon padaku. Semoga saja semua ini bertahan lama, lebih dari selamanya.

Kune Kune
Folklore
06 Jan 2026

Kune Kune

Twister/angin puyuh adalah sebuah urban legend yang berasal dari Jepang mengenai sebuah penampakan misterius yang terkadang terlihat di pedesaan. Orang Jepang memanggilnya "kune kune" yang artinya sesuatu yang berkelok-kelok, bergoyang atau berputar dan bergulung. Mereka berkata, jangan pernah kamu melihat secara langsung ke arahnya, atau ia akan membuatmu gila.Kune kune digambarkan seperti sesuatu yang berwarna putih tak diketahui bentuknya namun terlihat berbelok-belok, bergerak maju dan mundur di kejauhan. Tak ada yang tahu persis seperti apa ia terlihat karena siapapun yang melihatnya telah kehilangan akal mereka. Seorang pria Jepang menceritakan pertemuannya dengan sang angin puyuh (kune kune) ketika ia masih kecil.Ketika aku masih kecil, orang tuaku membawa kakak laki-lakiku dan aku untuk mengunjungi kakek dan nenekku. Kami tak terlalu sering bertemu nenek karena ia tinggal jauh di luar pedesaan, Akita. Segera setelah kami tiba dirumah kakek-nenek kami, kakakku dan aku pergi keluar untuk bermain. Udara jauh lebih segar dan lebih bersih daripada di kota. Kami berjalan melewati persawahan, menikmati ruang yang terbuka lebar. Matahari sudah naik di atas langit dan tak ada angin. Rasa panas mulai menyesakkan dan setelah beberapa saat, aku mulai lelah. Kemudian, kakakku berhenti tiba-tiba. Dia sedang menatap sesuatu di kejauhan."Kau sedang melihat apa?" tanyaku."Sesuatu di sana," jawabnya.Sawah terbentang sejauh mata memandang dan di sana benar-benar sepi. Aku memicingkan mataku, tapi aku tidak bisa mengetahui benda apa itu. Jauh di sana, di seberang sawah, ada sesuatu yang putih, seukuran manusia. Ia bergerak dan menggeliat seolah-olah ia berkibar tertiup angin."Mungkin itu adalah orang-orangan sawah," jawabku."Itu bukan orang-orangan sawah," jawab kakakku. "Orang-orangan sawah tidak bergerak seperti itu.""Mungkin itu sebuah seprai," kataku."Bukan, itu bukan sebuah seprai," jawabnya."Tidak ada rumah lain di sekitar sini. Lagipula, di sini tidak ada angin tapi ia tetap bergerak dan menggeliat. Benda apa sih itu?"Aku punya perasaan aneh dan tidak enak pada perutku. Kakakku berlari pulang ke rumah dan ketika ia kembali, ia membawa sepasang teropong."Oh! Boleh aku lihat?" tanyaku, dengan semangat.Aku hendak mengambil teropong tersebut, namun ia mendorongku kembali."Tidak, aku duluan!" katanya sambil tertawa kecil. "Aku yang lebih tua. Kau boleh melihatnya ketika aku selesai."Segera setelah kakakku menempatkan teropong di matanya, aku menyadari ekspresinya mendadak berubah. Wajahnya menjadi pucat dan ia berkeringat. Dia menjatuhkan teropongnya ke tanah dan aku dapat melihat ketakutan di matanya."Apa itu?" tanyaku gugup."Ada itu... Ada itu... Ada itu..."Itu bukan suara kakakku. Tanpa banyak bicara, ia berbalik dan mulai berjalan kembali ke rumah. Sesuatu terasa tidak benar. Dengan tangan gemetar, aku membungkuk dan mengambil teropong, namun aku terlalu takut untuk melihatnya melalui benda ini. Di kejauhan, objek putih itu masih berputar dan bergulung. Saat itu, kakekku datang berlarian."Apa yang kau lakukan dengan teropong itu?" tanyanya."Tak ada," jawabku. "Hanya melihat-lihat benda putih di seberang sana.""Apa?!" teriaknya. "Kau tidak seharusnya melihatnya." Ia merebut teropong tersebut dari genggamanku. "Apa kau melihatnya?" tanyanya marah. "Apa kau melihatnya lewat teropong ini?""Tidak," kataku dengan suara lemah. "Belum..."Kakekku menghela nafas lega."Bagus," katanya. "Itu bagus..."Tanpa tahu kenapa, aku dikirim kembali ke rumah. Ketika aku berjalan masuk ke dapur, semua orang sedang menangis. Kakakku sedang berguling-guling di bawah, tertawa seperti orang gila. Dia berbaring dan tubuhnya menggeliat dan berputar... seperti benda putih di kejauhan tadi. Aku tak dapat memahami apa yang sedang terjadi. Mengerikan melihatnya seperti itu. Aku menangis. Dia bukan kakakku lagi. Dia telah benar-benar kehilangan akalnya. Hari berikutnya, orang tuaku memutuskan untuk membawa kami pulang. Nenek dan kakekku berdiri di teras mereka, melambai sedih pada kami ketika mobil berjalan. Aku duduk di kursi belakang bersama kakakku, menyapu air mata di mataku. Kakakku masih tetap tertawa seperti pasien rumah sakit jiwa. Mereka mengikatnya supaya dapat menghentikannya bergerak-gerak. Mimik wajahnya menunjukkan sebuah senyuman yang lebar. Ia terlihat sedang bahagia, namun ketika aku melihat matanya, aku menyadari bahwa ia sedang menangis. Pipinya basah oleh air mata tapi ia tetap tertawa dan tertawa... Ayahku menepi ke pinggir jalan dan keluar dari mobil. Ia membawa teropong itu keluar dan dengan marah melemparnya ke jalanan. Lalu, tanpa berkata apa pun, ia kembali ke dalam mobil dan terus mengemudi.***Pria Jepang lainnya menceritakan pengalamannya dengan sang Angin Puyuh (Kune Kune) ketika ia masih anak-anak.Ketika aku masih seorang bocah kecil, aku tinggal di sebuah kota kecil di pinggir laut prefektur di Chiba. Suatu sore, pamanku membawaku untuk berjalan-jalan di pantai. Ketika kami sedang berjalan-jalan, aku melihat ke laut dan melihat sesuatu yang putih di kejauhan. Benda itu panjang dan bergoyang maju-mundur. Aku bertanya-tanya apakah itu."Benda apa itu yang ada di laut?" Aku menanyai pamanku.Dia menatapnya dan aku melihat matanya menjadi lebar dan wajahnya berubah pucat. Ada ketakutan di matanya. Dia tak dapat berhenti menatapnya."Larilah untuk hidupmu!" Tteriaknya panik.Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi aku takut, jadi aku berlari pulang ke rumah dan memberitahu kakekku. Dia menjadi pucat."Itu Kune Kune," katanya. "Kau beruntung bisa menjauh darinya. Kau tidak boleh melihat langsung ke arahnya. Dimana pamanmu?""Dia masih di tepi laut." jawabku, suaraku bergetar."Aku harus menyelamatkan putraku," ujar kakekku dan dia pergi secepat mungkin menuju tepi laut.Aku mengikuti dekat di belakangnya dengan cemas dan ketakutan. Dari kejauhan, aku bisa melihat pamanku masih berdiri di pantai. Seolah-olah ia membeku di tempatnya berdiri, menatap benda putih yang berkelok-kelok jauh di laut sana. Kakekku mematahkan salah satu ranting pohon dan menghampiri pamanku, menggumamkan semacam doa-doa. Ia menjaga matanya tetap melihat ke bawah, berhati-hati untuk tidak menatap benda putih tersebut. Kakekku berhasil menyeret pamanku pergi dan membawanya pulang. Meskipun pamanku diselamatkan, ia menderita penyakit kejiwaan selama sisa hidupnya. Semenjak hal itu terjadi, dia telah keluar masuk rumah sakit jiwa berkali-kali. Dia tak pernah sama lagi semenjak itu.***

Hitori Kakurenbo
Folklore
06 Jan 2026

Hitori Kakurenbo

Petak umpet adalah permainan sejak kita kecil dimana salah satu dari teman yang kita ajak bermain memejamkan mata dan sisanya mencari tempat persembunyian untuk ditemukan oleh teman yang menutup mata. Bagi sebagian orang petak umpet ini masih dilakukan oleh anak-anak kecil jaman sekarang. Bagaimana dengan orang yang sudah dewasa?Di Jepang terdapat permainan petak umpet untuk orang dewasa yang disebut Hitori Kakurenbo. Namun permainan ini dikatakan sangat seram karena yang diajak bermain adalah hantu.Ritual Hitori Kakurenbo ini sebenarnya digunakan di Jepang untuk berkomunikasi dengan roh yang bergentayangan untuk berbagai keperluan. Dan boneka digunakan sebagai pengganti tubuh manusia sebagai media. Di Indonesia mungkin ini yang disebut Jelangkung.Tetapi menurut berbagai sumber, ternyata ada perbedaan dimana disebutkan bahwa Hitori Kakurenbo ini membuat bonekanya bisa bergerak dan menimbulkan suara-suara, sangat mengerikan. Beberapa orang percaya bahwa permainanini sebenarnya adalah ritual untuk memanggil keberadaan roh jahat ke dalam ruma.Apa yang sebenarnya Anda panggil tergantung sumbernya. Ada yang berpendapat bahwa permainan ini memanggil beberapa iblis. Beberapa yang lain mengatakan Anda memanggil arwah yang terperangkap di bumi. Sementara yang lain lagi berkata bahwa itu adalah arwah seseorang yang dikutuk untuk melawan Anda.Cara untuk memainkan petak umpet dengan hantu ini juga bervariasi, tapi berikut ini sedikit rangkumannya:Pertama-tama pemain harus menyiapkan sebuah boneka, benang merah, potongan kuku atau tetes darah, pisau atau alat tajam lainnya, beras, gelas berisi air garam, dan rumah kosong. Rumah kosong di sini maksudnya bukan rumah yang tidak ditinggali ya, tapi rumah yang hanya diisi oleh orang yang ingin bermain. Jadi orang yang tidak ingin bermain tidak boleh ada di situ. Tutup semua pintu, jendela, dan tirai. Matikan semua lampu. Boleh menyalakan TV tapi atur agar hanya dalam mode statis atau layar semut.Sayat boneka dan keluarkan kapasnya untuk memasukkan beras dan potongan kuku atau darah ke dalamnya. Namakan boneka tersebut. Jahit sayatan dengan benang merah. Benang ini dipercaya dalam budaya Jepang sebagai perlambang nadi manusia.Isi bak mandi atau wastafel dengan air. Katakan "(nama Anda) jadi yang jaga pertama!" sebanyak tiga kali lalu lemparkan boneka ke dalam air. Lalu pergilah keluar kamar mandi. Setelah menunggu beberapa saat, kembalilah menemui boneka itu lalu tusuk-tusukan pisau pada badan boneka yang telah Anda isi beras, potongan kuku atau darah tadi lalu katakan "Ketemu! Ketemu! Aku menang!"Nah di sinilah cerita horor mulai terjadi. Selama Anda menunggu, anda akan mendengar suara-suara di luar tempat persembunyian Anda. Suara-suara tersebut biasanya berupa langkah kaki yang berat, suara TV yang berpindah-pindah saluran, suara furnitur digeser, dan lain-lain. Dalam beberapa kisah juga dapat didengar suara orang tertawa, mengancam, dan mengundang untuk keluar dari persembunyian. Berbagai sumber mengingatkan untuk TIDAK keluar dari persembunyian!Di sini Anda harus benar-benar bermain petak umpet secara serius, jangan mengintip apalagi melongok keluar. Dikatakan bahwa apabila makhluk halus tersebut berhasil menemukan Anda, maka dia akan menusuk Anda dengan pisau yang Anda gunakan sebelumnya untuk menusuk boneka tersebut.Beberapa sumber menyarankan untuk tidak menggunakan pisau dalam permainan ini, tapi jarum atau pensil yang tajam agar apabila anda ditemukan luka yang anda derita tidak fatal. Meskipun begitu beberapa sumber mengatakan bukan luka tusukan yang harus Anda khawatirkan. Apabila Anda berhasil ditemukan maka, tubuh Anda akan diambil alih oleh makhluk tersebut.Apabila anda merasa permainan sudah mulai berbahaya, jangan sekali-kali menghentikan permainan dengan semena-mena! Permainan harus diselesaikan. Segera masukkan air garam ke dalam mulut Anda dan bawa sisanya yang masih ada di dalam gelas bersama Anda menuju tempat boneka tersebut.Beberapa orang mengatakan tunggu sampai tidak ada suara yang terdengar atau suara yang Anda dengar berada jauh dari Anda. Intinya, pastikan suara tersebut tidak berada antara Anda dan tempat boneka Anda. Hati-hati, boneka seringkali sudah berpindah tempat, jadi Anda harus mencarinya. Ingat untuk selalu menjaga agar air garam tidak tertumpah atau tertelan.Begitu Anda menemukan boneka yang Anda pakaiz segera semburkan air garam di mulut Anda dan yang ada di dalam gelas ke boneka tersebut dan berteriak, "Aku menang!" sebanyak 3 kali.Potong benang merah pada boneka tersebut dan bakar bonekanya sampai habis. Permainan selesai.Di sebuah LiveJournal dipaparkan beberapa alasan untuk tidak bermain Hitori Kakurenbo. Satu dari tiga pemain pertama permainan ini menghilang, sementara dua lainnya dikabarkan mengalami hal yang benar-benar 'aneh'. Seorang pemain dihantui oleh arwah tersebut. Ketika temannya membawanya ke kuil, pendeta disana berbicara dengan hantu tersebut.Hantunya meraung: "Orang ini memanggilku dan bermain denganku secara brutal! Dia menikamku!"Seperti yang Anda ketahui, ini bukanlah pengalaman yang menyenangkan bagi si hantu juga. Permainan ini dapat membuat pikiran Anda ketakutan setengah mati dan permainan ini adalah campuran dari voodoo Barat dan kutukan Jepang.

Yuki-Onna
Horror
06 Jan 2026

Yuki-Onna

Yuki-onna muncul ketika salju turun, ia berwujud wanita tinggi yang anggun dan cantik dengan rambut hitam panjang dan bibir biru. Kulitnya putih pucat. Terkadang ia memakai kimono putih, tetapi legenda lainnya menggambarkan dia tak memakai sehelai benang pun.Meskipun kecantikannya sangat mempesona, pandangan matanya bisa memancarkan ketakutan kepada orang yang menatapnya. Dia selalu melayang di atas salju, tidak meninggalkan jejak kaki (beberapa cerita mengatakan ia tidak memiliki kaki). Dan dia bisa berubah menjadi awan kabut atau salju.Sampai abad ke-18, beberapa legenda mengatakan Yuki-onna adalah roh seorang wanita yang tewas akibat badai salju. Yuki-onna selalu digambarkan sebagai wanita yang tenang dan lembut, namun ia sangat tidak suka kalau ada orang yang menggodanya, ia akan langsung membunuh orang tersebut.Yuki-onna muncul jika melihat ada orang terjebak di badai salju, ia akan berpura-pura untuk minta tolong. Karena ia sangat cantik, banyak orang yang terlena dengan kecantikannya. Jika orang tersebut menggodanya dan ingin berbuat jahat kepadanya, maka ia akan menghembuskan napas esnya untuk membuat tubuh orang tersebut menjadi biru dan kaku. Tetapi jika orang tersebut mempunyai niat baik dan tulus untuk menolong, maka badai salju akan segera berhenti dan tubuh Yuki-Onna akan mencair.Kisah Yuki-Onna (Wanita Salju) Merupakan salah satu kisah hantu klasik di Jepang yang sudah sering diangkat dalam bentuk opera, bahkan pernah dibuat dalam bentuk film klasik. Kisah hantu yang bukan klasik ditandai dengan adegan berdarah-darah, namun lebih merupakan cerita yang diisi tokoh manusia dan hantu yang melibatkan percintaan, kesedihan yang dalam, dan tragedi.Cerita dimulai dari dua orang penebang kayu bernama Mosaku dan Minokichi yang hidup di daerah provinsi Musashi (terletak di antara Tokyo dan Saitama). Mosaku adalah seorang pria yang berada di usia senja, sementara muridnya, Minokichi adalah seorang pemuda tegap berumur 18 tahun. Setiap hari mereka berangkat pagi-pagi sekali ke sebuah hutan yang jaraknya 5 mil dari desa mereka. Di antara desa mereka dan hutan yang dituju ada sebuah sungai besar yang beraliran deras. Begitu derasnya arus sungai tersebut sehingga tidak ada jembatan yang kuat menahan arus (jembatan yang ada selalu rusak akibat terjangan arus deras). Siapa pun yang ingin menyebrangi sungai harus melewatinya dengan bantuan kapal penyebrang kecil.Suatu hari Mosaku dan Minokichi sedang dalam perjalan pulang. Ketika itu cuaca begitu dingin dan mulai turun badai salju. Saat sampai di tepi sungai, mereka menemukan bahwa si pengayuh perahu yang menyeberangkan mereka telah pulang ke rumah dan meninggalkan perahunya karena cuaca buruk. Sadar bahwa mereka tidak mungkin menyeberangi sungai, mereka memutuskan bermalam sementara di pondok si pengayuh perahu. Pondok itu benar-benar sederhana, hanya terdiri dari sebuah ruangan tanpa jendela yang berisi dua buah Tatami, tanpa perabotan apa pun.Mosaku dan Minokichi yang sudah lelah segera menutup pintu agar salju tidak masuk ke dalam pondok, kemudian beristirahat. Mereka merasa cukup hangat dan nyaman sehingga Mosaku yang sudah lanjut usia tak lama berbaring langsung tertidur pulas, sementara Minokichi yang masih muda termenung mendengar suara angin yang menderu yang disertai arus sungai yang bertambah deras. Badai tidak mereda dan udara malah bertambah dingin, namun setelah bersusah payah akhirnya Minokichi tertidur juga.Entah telah berapa lama Minokichi tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena merasakan butir-butir salju yang lembut di wajahnya. Ternyata pintu pondok yang mereka diami telah terbuka dengan paksa. Minokichi melihat seorang wanita dalam pondok, wanita yang putih seperti salju dan memancarkan cahaya seperti salju (Yuki-Akari) sedang membungkuk diatas Mosaku. Ia tengah meniupkan nafasnya yang dingin menyerupai asap putih kepada Mosaku. Minokichi benar-benar terkejut dan ketakutan, ia ingin menjerit namun tak ada sebuah suara pun yang keluar dari mulutnya. Saat itulah sang wanita misterius itu beradu pandang dengannya, ia mendekatkan wajahnya pada Minokichi. Dalam ketakutan yang amat sangat, Minokichi merasakan bahwa wanita yang berada di hadapannya adalah seorang wanita yang amat cantik, walaupun sorot matanya membuat tubuhnya gemetar dalam ketakutan.Wanita itu terus menatap Minokichi dan tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Aku ingin memperlakukanmu sama seperti orang lain, tapi aku kasihan padamu. Kau masih muda, begitu tampan, Minokichi. Aku tidak akan menyakitimu, tapi jika kau memberitahu siapa pun termasuk ibumu tentang apa yang terjadi malam ini... maka aku akan membunuhmu! Ingat apa yang telah kukatakan ini."Seusai wanita salju itu berkata seperti itu, ia meninggalkan Minokichi sendirian. Mengira bahwa itu hanyalah mimpi, Minokichi segera bangun dan melihat keluar namun ia tidak melihat siapa pun atau apa pun. Sambil menutup pintu ia bertanya-tanya apakah bukan angin yang membuka pintu pondok tadi. Ia memanggil Mosaku namun tidak ada jawaban. Minokichi mengulurkan tangan untuk menyentuh Mosaku dan tanpa sengaja ia menyentuh wajah Mosaku, dan ternyata wajahnya telah membeku. Mosaku telah meninggal.Ketika fajar tiba, badai pun berakhir dan si pengayuh perahu menemukan Minokichi yang tergeletak pingsan di samping Mosaku yang telah meninggal. Ia membawa keduanya menyeberang, lalu menguburkan jenazah Mosaku. Sementara Minokichi dibawa pulang ke rumahnya. Setelah sembuh, Minokichi tidak dapat langsung melupakan kejadian yang telah ia alami. Ia dihantui oleh kematian Mosaku, namun ia bersikeras untuk tidak menceritakan kejadian itu pada siapa pun, karena ia tidak ingin kehilangan nyawanya.Lama berselang, Minokichi baru berani kembali pada pekerjaan sehari-harinya, menebang kayu, membelahnya menjadi potongan-potongan kecil, lalu menjual kayu tersebut ke pasar dengan bantuan ibunya. Pada musim dingin tahun berikutnya, Minokichi sedang berada dalam perjalanan pulang melalui jalan setapak di hutan, saat ia berpapasan dengan seorang gadis yang amat cantik, berkulit putih indah yang hendak melalui jalan yang sama. Minokichi pun menyapa gadis itu dan tanpa disangka gadis itu menjawab dengan suara yang menurut Minokichi adalah suara yang paling merdu yang pernah didengarnya. Mereka pun mulai berjalan bersama dan bercakap-cakap. Si gadis menceritakan bahwa ia bernama O-Yuki, ia telah kehilangan kedua orangtua, dan untuk menyambung hidupnya ia akan pergi ke Yedo (Edo atau Tokyo) untuk mencari kerabatnya agar dapat membantu mencarikannya pekerjaan sebagai pelayan.Entah apa yang dirasakan Minokichi, namun rasanya gadis itu nampaknya makin cantik di matanya. Minokichi pun mulai merasa suka pada gadis itu, sehingga ia memberanikan diri untuk bertanya apakah gadis itu sudah memiliki pasangan. Gadis itu tertawa sambil mengatakan bahwa ia belum memiliki pasangan atau kekasih. Ia pun balik bertanya apakah Minokichi telah memiliki pasangan, dan Minokichi menjawab bahwa ia pun belum memilikinya. Setelah pernyataan ini, maka kedua muda-mudi ini tidak berbicara lagi sampai mereka tiba di desa tempat tinggal Minokichi. Namun dalam hati masing-masing telah tumbuh rasa saling menyukai. Maka Minokichi mengundang O-Yuki untuk singgah dan beristirahat di rumahnya. O-Yuki ternyata bukan hanya gadis cantik, namun juga berkelakuan baik. Ibu Minokichi pun tak butuh waktu lama untuk menyukainya. Sampai ia membujuk agar O-Yuki mau menunda perjalanannya ke Yedo. Pada akhirnya O-Yuki tidak pernah melanjutkan perjalanannya ke Yedo, melainkan menetap di desa itu dan tinggal bersama Minokichi dan ibunya, sebagai istri dan menantu.Lima tahun kemudian ibu Minokichi meninggal, O-Yuki tetap bersama-sama Minokichi, bahkan ia telah melahirkan 10 orang anak lelaki dan perempuan bagi Minokichi. Semuanya tampan dan cantik, serta memiliki kulit putih seindah ibunya. Banyak penduduk desa yang mengagumi O-Yuki. Kebanyakan petani tampak tua setelah melahirkan anak, namun O-Yuki yang telah menjadi ibu 10 anak tetap terlihat cantik. Secantik saat pertama kedatangannya di desa, mereka. Suatu malam setelah anak-anak tidur, O-Yuki menjahit dibantu dengan sebuah cahaya dari lampu kertas.Minokichi yang sedang menatapnya, tiba-tiba berkata, "Melihat kau menjahit dengan pantulan cahaya di wajahmu, aku teringat suatu hal aneh yang terjadi saat aku masih berusia 18 tahun. Kala itu aku melihat seorang wanita yang secantik dan seputih dirimu... dan ia memang mirip denganmu..."Tanpa menghentikan pekerjaannya, O-Yuki bertanya, "Ceritakanlah padaku, dimana kau bertemu dengannya?"Lalu Minokichi mulai bercerita tentang Mosaku dan pengalamannya di pondok pengayuh perahu. "Entah itu sebuah mimpi atau bukan,tapi saat-saat itulah aku pernah melihat orang secantik engkau. Tentu saja ia pasti bukan manusia dan aku sangat takut padanya. Hingga sekarang pun aku tidak yakin apakah yang aku lihat itu mimpi atau memang benar-benar seorang wanita salju."O-Yuki langsung melemparkan jahitannya. Ia mendekati suaminya dan berseru, "Itu adalah aku! Bukankah aku telah mengatakan bahwa aku akan membunuhmu jika cerita itu pernah keluar dari mulutmu. Sekarang, demi anak-anak kita..." O-Yuki tetap berteriak namun suaranya menjadi penuh kesedihan, "Jagalah anak-anak kita, karena jika kamu tidak melakukannya, maka aku akan melakukan hal yang pernah aku katakan padamu..."Minokichi tidak sempat berkata apa-apa. O-Yuki mulai tidak terlihat dan kemudian menguap menjadi butir-butir salju yang halus, yang menghilang melalui cerobong asap. sejak saat itu, ia tidak pernah terlihat lagi.------------------------------------------------------

Hachishakusama
Horror
06 Jan 2026

Hachishakusama

Hachishakusama adalah legenda urban Jepang tentang seorang wanita tinggi yang menculik anak-anak. Dia memiliki tinggi 8 kaki, mengenakan gaun putih panjang dan membuat suara seperti, "Po... po... po... po... po..."Kisah tentang Hachishakusama-------Kakek dan nenekku tinggal di Jepang. Setiap musim panas, orang tuaku membawaku ke sana pada hari libur untuk mengunjungi mereka. Mereka tinggal di sebuah desa kecil dan mereka memiliki halaman belakang yang luas. Aku senang bermain di sana selama musim panas. Ketika kami tiba, kakek dan nenek selalu menyambutku dengan tangan terbuka. Hanya aku cucu mereka, sehingga aku merasa dimanjakan.Terakhir kali aku melihat mereka adalah musim panas ketika umurku 8 tahun. Seperti biasa, orang tuaku memesan penerbangan ke Jepang dan kami melaju dari bandara ke rumah kakek-nenek. Mereka senang melihatku dan mereka memiliki banyak hadiah kecil untuk diberikan. Orang tuaku ingin memiliki beberapa waktu sendiri, sehingga setelah beberapa hari, mereka mengambil perjalanan ke bagian lain dari Jepang, meninggalkanku dalam perawatan nenek dan kakek.Suatu hari, aku sedang bermain di halaman belakang. Kakek-nenek berada di dalam rumah. Itu adalah hari musim panas yang panas dan aku berbaring di rumput untuk beristirahat. Aku menatap awan dan menikmati perasaan sinar lembut matahari dan angin lembut. Ketika aku hendak bangun, aku mendengar suara aneh."Po... po... po... po... po... po... po..."Aku tidak tahu apa itu dan sulit untuk mencari tahu di mana suara tersebut berasal. Kedengarannya hampir seperti seseorang sedang membuat kebisingan sendiri... seolah-olah mereka hanya mengatakan, "Po... po... po..." berulang-ulang.Aku melihat sekeliling, mencari sumber kebisingan ketika tiba-tiba aku melihat sesuatu di atas pagar tinggi yang tertutup halaman belakang itu seperti topi jerami. Di situlah suara itu berasal."Po... po... po... po... po... po... po..."Kemudian, topi itu mulai bergerak, seolah-olah seseorang sedang memakainya. Topi tersebut berhenti di sebuah celah kecil di pagar tanaman dan aku bisa melihat wajah mengintip melalui celah. Itu adalah seorang wanita setinggi pagar yang tingginya hampir 8 kaki.Aku terkejut melihat seberapa tinggi wanita itu. Aku bertanya-tanya apakah dia memakai egrang atau semacam sepatu bertumit tinggi besar. Sekian detik kemudian, ia berjalan pergi dan suara aneh menghilang, memudar dari kejauhan.Bingung, aku berjalan kembali ke dalam rumah. Kakek-nenekku berada di dapur, mereka sedang minum teh. Aku duduk di meja dan setelah beberapa saat, aku mengatakan kepada kakek-nenek tentang apa yang kulihat. Mereka tidak benar-benar memperhatikanku, sampai aku menyebutkan bahwa ia memiliki suara khas, "Po... po... po... po... po... po... po..."Begitu aku mengatakan bahwa wanita tinggi itu bersuara aneh, keduanya tiba-tiba diam. Mata nenek melebar dan dia menutup mulutnya dengan tangannya. Wajah Kakek menjadi sangat serius dan ia meraih lenganku."Ini sangat penting," katanya, dengan suara yang serius. "Kamu harus memberitahu kami persis seperti apa dia... Berapa tingginya kira-kira?""Setinggi pagar taman," jawabku, mulai merasa takut.Aku dibombardir kakek dengan pertanyaan, "Di mana dia berdiri? Ketika kejadian tadi terjadi? Apa yang kamu lakukan? Apakah dia melihatmu?"Aku mencoba untuk menjawab semua pertanyaan itu sebaik mungkin. Tiba-tiba ia bergegas keluar ke lorong dan melakukan phonecall. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Aku memandang nene dan dia gemetar. Kakek datang menerobos kembali ke dalam ruangan dan berbicara dengan nenek."Aku harus pergi keluar untuk sementara waktu," katanya. "Nenek tinggal di sini.""Apa yang terjadi, Kakek?" teriakku.Dia menatapku dengan ekspresi sedih di matanya dan berkata, "Kau sudah disukai oleh Hachishakusama."Dengan berkata seperti itu, ia bergegas keluar, masuk ke truk dan melaju pergi. Aku berbalik untuk nenekku dan hati-hati bertanya, "Siapa Hachishakusama?""Jangan khawatir," jawabnya dengan suara gemetar. "Kakek akan melakukan sesuatu. Tidak perlu khawatir."Ketika kami duduk gelisah di dapur menunggu kakek datang kembali, dia menjelaskan apa yang terjadi. Dia mengatakan kepadaku ada hal yang berbahaya yang menghantui daerah kami. Mereka menyebutnya Hachishakusama karena tingginya. Dalam bahasa Jepang, "Hachishakusama" berarti "Delapan Kaki". Terakhir kali ia muncul adalah 15 tahun yang lalu. Nenek mengatakan bahwa siapa pun yang melihat Hachishakusama (Delapan Kaki) ditakdirkan untuk mati dalam beberapa hari.Semuanya terdengar begitu gila, aku tidak yakin apa yang harus kupercaya. Ketika Kakek kembali, ada seorang wanita tua yang datang bersamanya. Dia memperkenalkan dirinya sebagaiK-san dan menyerahkan sepotong kusut perkamenkecil (sejenis jimat), mengatakan, "Ini, ambil ini dan tahan."Lalu, ia dan kakek pergi ke lantai atas untuk melakukan sesuatu. Aku ditinggalkan sendirian di dapur dengan nenek lagi. Aku harus pergi ke toilet. Nenek mengikutiku ke kamar mandi dan tidak akan membiarkanku menutup pintu. Aku mulai mendapatiku benar-benar takut dengan semua ini.Setelah beberapa saat, kakek dan K-san membawaku ke atas, ke dalam kamar. Jendela ditutup dengan surat kabar dan banyak rune kuno telah ditulis. Ada mangkuk kecil garam di keempat sudut ruangan dan tokoh Buddha kecil yang ditempatkan di tengah ruang di atas kotak kayu. Ada juga ember biru cerah."Ember ini untuk apa?" aku bertanya."Itu untuk kencing dan buangkotoran," jawab Kakek.K-san menyuruhku duduk di tempat tidur dan berkata, "Matahari akan segera terbenam, sehingga kau harus mendengarkan dengan seksama. Kau harus tinggal di ruangan ini sampai besok pagi. Kau tidak boleh keluar dalam keadaan apa pun sampai jam 7 besok pagi. Nenek dan kakekmu tidak akan berbicara denganmu atau menghubungimu sampai saat itu. Ingat, tidak meninggalkan ruang untuk alasan apa pun sampai saat 7 besok pagi. Aky akan memberitahu orang tuamu tentang apa yang sedang terjadi."Dia berbicara dengan nada serius, yang bisa kulakukan hanya diam mengangguk."Kau harus mengikuti instruksi K-san," kata Kakek. "Dan jika terjadi sesuatu, berdoa kepada Buddha. Dan pastikan kau mengunci pintu ini ketika kami pergi nanti."Mereka berjalan ke lorong dan setelah mengucapkan selamat tinggal kepada mereka, aku menutup pintu kamar dan menguncinya. Aku menyalakan TV dan mencoba untuk menonton, tapi aku begitu gugup, aku merasa mual. Nenek telah meninggalkan beberapa makanan ringan dan nasi untukku, tapi aku tidak bisa makan. Aku merasa seperti berada di penjara dan aku mrasa sangat tertekan dan takut. Aku berbaring di tempat tidur dan menunggu, kemudian aku tertidur.Ketika aku terbangun, itu adalah pkul 1 pagi. Tiba-tiba, aku menyadari bahwa ada sesuatu yang mengetuk jendela."Tap, tap, tap, tap, tap..."Aku merasakan darah mengalir dari wajah dan jantungku berdetak kencang. Aku berusaha keras untuk menenangkan diri, mengatakan pada diri sendiri itu hanya angin bermain trik atau mungkin cabang-cabang pohon. Aku keraskan volume pada TV untuk meredam kebisingan tersebut. Tapi suara itu tetap tudak berhenti sama sekali. Saat itulah aku mendengar kakek memanggilku."Apakah Kamu baik-baik saja di sana?" tanyanya. "Jika kau takut, kau tidak harus tinggal di sana sendirian. Kakek bisa datang dan menemanimu."Aku tersenyum dan bergegas untuk membuka pintu, tapi kemudian, aku berhenti. Seluruh tubuhku merinding. Kedengarannya seperti suara kakek, tapi entah bagaimana, itu berbeda. Aku tidak tahu apakah itu benar-benar kakek."Apa yang kau lakukan?" tanya kakek." Kau dapat membuka pintu sekarang."Aku melirik ke kiri dan tulang belakangku terasa sangat dingin . Garam dalam mangkuk perlahan berubah hitam. Aku mundur dari pintu. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Aku jatuh berlutut di depan patung Buddha dan mencengkeram bagian perkamen erat di tanganku. Aku mulai putus asa, berdoa meminta bantuan."Tolong selamatkan aku dari Hachishakusama," aku meratap.Kemudian, aku mendengar suara di luar pintu, "Po... po... po... po... po... po... po..."Suara pada jendela mulai lagi. Untuk mengatasi rasa takut dengan berjongkok di depan patung Buddha, setengah menangis setengah berdoa untuk sisa malam. Aku merasa ini seperti tidak akan pernah berakhir, tapi akhirnya pagi juga. Garam di semua keempat mangkuk itu berubah menjadi gelap gulita. Aku melihat jam. Sudah pukul 7:30. Aku hati-hati membuka pintu. Nenek dan K-san berdiri di luar menungguku. Ketika dia melihat wajahku, Nenek menangis."Aku sangat senang kau masih hidup," katanya.Aku turun dan terkejut melihat ayah dan ibuku duduk di dapur.Kakek datang dan berkata, "Cepat! Kita harus pergi."Kami pergi ke pintu depan dan ada van hitam besar menunggu di jalan masuk. Beberapa orang dari desa itu berdiri di sekitar van itu, menunjuk ke arahku dan berbisik, "Itu anaknya."Van tersub bermuatan sembilan orang dan mereka menempatkanku di tengah, dikelilingi oleh delapan orang. K-san berada di kursi pengemudi.Pria di sebelah kiriku, menatapku dan berkata, "Aku tahu kau mungkin khawatir, tapi tutup matamu. Kami tidak bisa melihatnya, tapi kau bisa. Jangan membuka matamu sampai kami katakan kau aman di sini."Mobil kakek melaju di depan dan mobil ayahku mengikuti di belakang. Ketika semua orang sudah siap, konvoi kecil kami mulai bergerak. Kami cukup lambat... sekitar 20 km/jam atau mungkin kurang.Setelah beberapa saat, K-san mengatakan, "Ini adalah saat di mana itu akan sulit," dan mulai menggumamkan doa di bawah napas. Saat itulah aku mendengar suara itu."Po... po... po... po... po... po... po..."Aku mencengkeram perkamen yang telah diberikan K-san padaku, kupegang erat di tangan. Aku terus menunduk, tapi tanpa sengaja aku mengintip ke luar. Aku melihat sosok gaun putih berkibar oleh angin. Dan bergerak bersama dengan van. Itu adalah Hachishakusama (Delapan Kaki). Dia berada di luar jendela, tapi ia menjaga kecepatan agar sama dengan kami. Lalu, tiba-tiba ia membungkuk dan mengintip ke dalam van."Tidak!" Aku terkejut.Pria sampingku berteriak, "TUTUP MATAMU!"Aku segera menutup mata sekeras mungkin dan memperketat cengkeraman pada sepotong perkamen. Kemudian teror dimulai."Tap, tap, tap, tap, tap..."Suara menjadi lebih keras. "Po... po... po... po... po... po... po..."Ada yang mengetuk jendela di sekitar mobil kami. Semua orang di dalam van yang terkejut dan gelisah, gugup bergumam kepada diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa melihat Hachishakusama (Delapan Kaki) dan mereka tidak bisa mendengar suaranya, tapi mereka bisa mendengarnya mengetuk jendela. K-san mulai berdoa lebih keras dan lebih keras sampai ia hampir berteriak. Ketegangan dalam van itu tak tertahankan. Setelah beberapa saa teror berhenti dan suara menghilang.K-san kembali menatap kami dan berkata, "Kupikir kita aman sekarang."Semua orang di sekitarku menarik napas lega. Van menepi ke sisi jalan dan orang-orang keluar. Mereka memindahkanku ke mobil ayah. Ibuku memelukku erat dan air mata mengalir di pipinya. Kakek dan ayahku membungkuk kepada orang-orang dan mereka melanjutkan perjalanan mereka. K-san datang ke jendela dan memintaku untuk menunjukkan potongan perkamen yang telah ia memberikan padaku. Ketika aku membuka tangan, aku melihat bahwa jimat sudah benar-benar hitam."KUpikir kau akan baik-baik saja sekarang," katanya. "Tapi hanya untuk memastikan, pegang ini untuk sementara waktu."Dia menyerahkan sepotong perkamen baru. Setelah itu, kami melaju langsung ke bandara dan kakek dapat melihat kami telah aman di pesawat. Ketika kami berangkat, orang tuaku menarik napas lega. Sebelumnya. Tahun lalu, anaj temannya juga telah disukai oleh Hachishakusama (Delapan Kaki). Anak itu menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.Ayahku mengatakan ada orang lain yang telah disukai oleh dia dan hidup untuk menceritakan tentang hal itu. Mereka semua harus meninggalkan Jepang dan menetap di luar negeri. Mereka tidak pernah bisa kembali ke tanah air mereka. Dia selalu memilih anak-anak sebagai korbannya. Mereka mengatakan itu karena anak-anak tergantung pada orang tua mereka dan anggota keluarga. Hal ini membuat mereka lebih mudah untuk ditipu apalagi ketika dia bertindak sebagai kerabat mereka.Ayah mengatakan orang-orang di dalam van adalah kerabat sedarah, dan itulah sebabnya mereka duduk di sekitarku dan kenapa kakek mengemudi di depan dan ayah di belakang. Itu semua dilakukan untuk mencoba dan membingungkan Hachishakusama. Butuh beberapa saat untuk menghubungi kerabat sedarah, jadi itu sebabnya aku harus dikurung di kamar sepanjang malam. Ayah mengatakan kepadku bahwa salah satu patung Jizo kecil (yang dimaksudkan untuk menjagaku supaya dia terjebak) telah rusak dan entah bagaimana dia lolos. Ini membuat saya menggigil. Saya sangat senang ketika kami akhirnya kembali ke rumah.Semua ini terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Aku sudah tidak melihat kakek-nenek sejak saat itu. Aku belum mampu menginjakkan kaki kembali ke sana. Tapi aku selalu berbicara di telepon dengan kakek dan nenek tiap minggu. Selama bertahun-tahun, aku mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya sebuah urban legend, bahwa segala sesuatu yang terjadi hanya beberapa lelucon yang rumit. Tapi kadang-kadang, aku tidak begitu yakin.Kakekku meninggal dua tahun lalu. Ketika ia sakit, ia tidak mengizinkanku untuk mengunjungi dia dan dia meninggalkan petunjuk ketat dalam wasiatnya bahwa aku tidak boleh menghadiri pemakamannya. Itu semua membuatku sangat sedih. Nenekku memberi kabar beberapa hari yang lalu. Dia mengatakan bahwa dia telah didiagnosa terkena kanker. Dia merindukanku, dia sangat ingin melihatku untuk terakhir kalinya sebelum dia meninggal.Pada percakapan telepon itu saya bertanya, "Apakah Nenek yakin, Nenek?" Saya bertanya, "Apakah aman?""Sudah 10 tahun," katanya. "Semua yang terjadi sudah sangat lama. Ini semua sudah dilupakan. Kau sudah dewasa sekarang. Saya yakin tidak akan ada masalah. ""Tapi... tapi... bagaimana dengan Hachishakusama?" Kataku.Untuk sesaat, ada keheningan di ujung telepon tersebut. Kemudian, tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi dalam telepon mengatakan, "Po... po... po... po... po... po... po..."

Model Cantik Dan CEO Manja
Romance
06 Jan 2026

Model Cantik Dan CEO Manja

Seorang gadis cantik yang selalu bersikap ramah, baik, manja dan tidak sombong. Karena daddy and mommy nya tidak mengajarkan anaknya untuk menyombongkan apa yang ada di dirinya. P rilly Queen brocklyn , ia itulah nama gadis yang masih terlelap dari tidur cantik nya.( Kamar prilly)Di america" Prilly Queen brocklyn bangunn"ucap Dua wanita cantik, siapa lagi kalau bukan jessica mila sellon dan Dahlia cris poland yang sedang berusaha membangunkan sahabat manja nya itu."Hmmm" guman prilly yang terusik oleh suara mereka."Ohmygood, prilly cepetan bangun. Bukannya kita mau ke indonesia" geram jessica terhadap sahabat cantik nya itu."Iya pril cepetan bangun. Kita cuman punya waktu 3 jam seperempat nihh, kalau kita telat gimana coba" lanjut sahabat satu lagi nya dengan nada kesal, siapa lagi kalau bukan dahlia cris poland.Prilly yang merasa terusik oleh suara mereka pun, akhirnya terbangun dari tidur cantiknya."Hoaammm.. Berisik banget sih kalian, iyaiya nih gue bangun" kata prilly yang masih mengumpulkan nyawa nya."Cepetannn!! dan lo sekarang buruan mandi. Lo gak mau kan nanti kita telat"ucap jessica"Iyaiya bawel" kata prilly sambil menuju ke kamar mandi nya.#skipMereka pun sudah sampai di bandara indonesia. Dan banyak sekali wartawan yang menunggu kehadiran mereka serta ada juga fans yang melihat kedatangan mereka ke negara kelahirannya tersebut.Prilly..Jessica..Dahlia..Teriak para fans yang melihat kedatangan mereka.Dan hanya dibalas senyuman manis oleh sang idolanya."Haiii prilly, jessica, dahlia. How are you? boleh minta waktu nya sebentar?" ucap salah satu wartawan kepada mereka."Haii, we are fine. Boleh ko"kata prilly mewakili sahabatnya."Apa tujuan kalian datang ke indonesia?Apa ada project di indonesia?Liburan kah?" ucap para awak media kepada mereka."Kita datang ke indonesia karena ada project baru. Liburan? bisa juga sih dibilang liburan karena kita juga udah kangen banget sama suasana di indonesia. Jadi bisa dibilang juga kerja sambil disisipi liburan.." Kata prilly dengan ramah."Dan apakah benar ada seseorang spesial yang ingin kalian temui?" lanjut salah satu wartawan."Eummm, kalau itu kita no coment yah" ucap prillly dan dibalas senyuman oleh jessica and dahlia."Ohh okey, no problem" kata awak media."Dan makasih juga kepada kalian karena sudah menyempatkan waktunya untuk di wawancara" lanjut para awak media kepada sang model cantik tersebut."Iya sama-sama" ucap mereka kepada awak media.....Selesai diwawancara,mereka berselfi ria sambil menunggu jemputan yang akan membawa mereka kerumah masing-masing yang ada di indonesia."Jemputan gue belum datang nih" ucap prilly kepada temannya."Iya sama, jemputan kita juga belum datang"kata teman prilly"Nahh. Itu dia dateng, baru juga kita omongin. Itu yang di belakang mobil gue, mobil kalian bukan sih?" tanya prilly sambil menunjuk kearah mobilnya dan mobil yang ada dibelakangnya.(Mobil prilly)Mobil ini cuma di produksi 3 unit didunia dengan mesin V12 berkapasitas 6, 5 liter.dapat melesat dari 0-100 km/jam kurang waktu dibawah tiga detik.Untuk kecepatan optimal, supercar ini dapat melesat sampai 355 km/jam.di bandrol dengan harga US$5, 6 juta atau setara Rp72, 5miliar."Eumm, iya itu mobil gue" kata jessica(Mobil jessica)Sportcar ini mempunyai mesinV12 berkapasitas 6, 5 liter yang dapat menyemburkan tenaga sampai 740 HP.dapat melesat dari posisi diam sampai kecepatan 100 km/jam cuma dalam tempo 2, 8 detik.Dengan transmisi 7-percepatan semi-otomatis, mobil seharga US$5, 3juta atau seputar Rp68 miliar ini dapat dibawa lari sampai kecepatan puncak 354 km/jam."Iya itu juga mobil gue, ko bisa barengan gitu yahh" timbal dahlia(Mobil dahlia)Sportcar ini diciptakan dengan membawa mesin tipeV10 yang berkapasitas 5,2 liter. Mobil model ini di jual dengan harga kira-kira US$ 3 juta atau sebanding dengan Rp. 39 miliar."Mungkin mobil gue sama mobil kalian jodoh kali" canda prilly yang mengumbar gelak tawa mereka."Haha,bisa aja lo pril" kata mereka sambil ketawa."Yaudah, gue balik dulu ya. Nanti kalian main aja kerumah gue" kata prilly kepada mereka."Iya pril" jawab mereka.Ada satu orang pemuda yang baru saja sampai disuatu tempat kantor lebih tepat nya di perusahaan Rawles Company , yaitu salah satu perusahaan terbesar didunia. yaa siapa lagi kalo bukan Aliando King Rawles , CEO sekaligus pemilik perusahaan Rawles Company.Rawles companyTerkenal dengan Sifat nya yang dingin, tegas dan angkuh terhadap orang lain, tidak akan pernah mengurangi ketampanannya yang seperti bak pangeran tampan. Banyak sekali yang kagum bahkan tertarik kepadanya, tapi tidak ada satupun orang yang dia pilih untuk menjadi tambatan hati nya, entah apa alasannya. Yang ada dipikirannya hanya kerja, kerja dan kerja.Yaa dibalik sifat nya yang dingin itu dia adalah lelaki yang sangat manja, yang hanya akan ditunjukan kepada orang yang dia cintai ingat hanya orang yang dia cintai ....."Selamat pagi pak..?" Ucap salah satu karyawan yang melihat kehadiran Boss nya itu."Hmm.." Balas sang CEO dengan datarAli memasuki kantor dengan wajah datar nya, banyak sekali karyawan yang menyapanya tapi hanya dibalas dengan deheman dan anggukan saja.lalu dia berjalan menaiki lift dan sampailah dia diruangannya, terlihat banyak sekali berkas yang menumpuk dimeja kerjanya.Ruangan Ali"Hufffhh.." Helaan nafas sang CEO tampan ini dan tanpa basa basi dia langsung mengerjakannya.sudah 1 jam dia berkutat dengan berkasnya terdengar ada suara ketukan diluar ruangannya.Tok..tok..tokk.."Masuk.." Ucapnya"Permisi pak.. ini laporan hari ini. ini data produk yang belum kita keluarkan pak, semuanya sudah lengkap dan tinggal hanya mempromosikannya saja pak." Ucap sang sekretaris dengan jelas."Iya bagus." Balasnya sambil melihat laporan yang dikasih sekretaris nya itu."Tolong kamu carikan orang atau model yang ingin bekerja sama dengan perusahaan saya, carikan model yang bagus dan profesional. Saya tidak mau brand saya jelek atau hancur, dan jangan sampai hal buruk terjadi diperusahaan saya. Paham?!" ucap lagi sang ceo dengan tegas"Paham pak.." balasnya sekretaris sambil mengangguk"Jangan kecewakan saya!""Baik pak.. Terimakasih, Saya permisi dulu" ucap sekretaris itu sambil meninggalkan ruangan boss nya...Setelah pertemuan nya dengan sang CEO, Reno yang menjabat sebagai sekretaris CEO tampan itu sedang menunjukkan raut wajah kebingungan."Cari model yang bener dimana yaa" gumam reno sang sekretarisKetika reno sedang kebingungan, ada salah satu karyawan datang menghampirinya."Kenapa lo?" Ucap karyawan itu"Bingung gue jen." Balas reno dengan wajah melasYaa orang yang dipanggil jen itu adalah jeni temennya reno salah satu karyawan didevisi keuangan."Lah bingung kenapa, bukan nya tadi lo abis dari ruangan boss ya? Lo dimarahin?" tanya jeni"Bukan dimarahin, boss nyuruh gue cari model buat produk baru diperusahaan kita." Ujar reno"Yaampun ren dikira gue apaan, cuma cari model doang apa susahnya sih. Model banyak kali.." Ucap jeni"Bukan gitu, gue tau banyak banget model.. tapi permasalahannya lo tau sendirikan boss orang nya kek gimana? Kalo gue ngelakuin kesalahan sedikit aja boss bakal marah besar banget ke gue." balas reno dengan raut cemasReno tau banyak model didunia ini, cuma dia ingin mencari model yang benar-benar bisa diajak bekerja sama dengan perusahaannya. Karena reno tau sang CEO tampan itu tipe orang yang tidak ingin ada kesalahan sedikitpun dalam pekerjaannya."Iya juga sih.." Ujar jeni"Ahhh gue tau nih, model yang cocok buat perusahaan kita.." ujar jeni lagi dengan wajah sumringah"Serius? siapa?" tanya reno"Itu model yang baru pulang dari luar negeri, idola gue banget. Udah cantik, baik, ramah yaampun paket komplit banget deh itu model. Hmm..pengen banget jadi temennya dia deh gapapa gajadi temen nya juga jadi pembantunya aja gue mauuu.." ucap jeni dengan sumringah sambil membayangkan model yang menjadi idolanya itu."Apaan sih lo jen, kalo ngomong yang jelas dong. Model siapa? Yang mana? Jangan bikin gue nambah bingung deh" kata reno dengan raut kesal"Itu model yang baru balik kesini, masa lo ga tau sih ren yaampun kudet banget sih lo!!" Ujar jeni"Siapa sih, lo tinggal nyebut namanya apa susahnya sih..""Oke oke tenang dulu. Jadi model yang gue maksud adalah....."Siapaaaa??? Ucap reno tidak sabar.........."Prilly Queen Brocklyn"Yaa jeni mengajukan idolanya yaitu prilly sebagai model diperusahaannya. Bukan karena dia mengidolakan sang model cantik itu bukan..Yaa ngefans juga sih hehe, tapi jeni tau prilly adalah orang yang cocok untuk bekerjasama dengan perusahaan ini. Tidak ada sama sekali pemberitaan buruk terhadap model cantik itu, dan jeni sangat mengidolakannya."Hahh diaa, bukannya ada di amerika ya?" Kata reno"Kan tadi gue udah bilang dia baru balik ke indo renoooo gimana sih lo.." Balas jeni"Oke-oke trus lu tau kontaknya ga?" Tanya reno"Engga.." Jawab jeni sambil cengengesan"Trus gimana jeniii, sama aja dong kalo gada kontaknya mah..""Hmm bentar.. perasaan ada deh dibio instagramnya prilly kontak manager nya, lo hubungin aja lewat situ." kata jeni"oh okey, thanks ya jen. Sumpah kalo gada lo gue gatau harus gimana." jawab reno dengan muka yng sangat senang dan lega"yuu santai, gue cabut dulu ya. Masih ada yang gue kerjain." Kata jeni"Iya jen, sekali lagi thanks yaa.." Balas reno lagi...Setelah kepergian jeni, reno lansung membuka handphone nya lalu mencari instagramnya prilly and finallyyy dia menemukan kontak managernya. Langsung saja reno menghubunginya.#skipReno sudah menghubunginya, dia hanya tinggal menunggu jawaban sang manager itu. Karena manager nya ingin berbicara dulu sama model cantik nya."Semoga setuju deh, gue gatau harus cari model kemana lagi kalo yang ini gamau." Guman renoAuthor povOkey kita alihkan dulu CEO tampannya dan kita beralih ke model yang sangat cantik ini, tidak lupakan dia siapa yaa dia adalah Prilly Queen Brocklyn.gadis cantik yang baru saja pulang dari luar negeri ini sedang beristirahat dikamarnya Sambil bermain ponsel.kemudian dia menggunggah salah satu fotonya yang sedang dibandara yang tadi difotokan oleh temannya.PrillyQBrocklyn598.465 likesPrillyQBrocklyn : Hi indonesia❤View all 68.752 comments ..Banyak sekali komenan yang menyapa atas kedatangan nya ke tanah kelahiran nya ini, prilly sangat senang kedatangan nya disambut dengan baik oleh mereka.Ketika sedang asik dengan gadget nya terdengar suara ketuka pintu diluar kamarnya.Tok..tok..tok..Prill.."masuk aja kak" ucap prilly dari dalam kamar"Hei lagi ngapain? Maaf ya kakak ganggu istirahatnya" ucap orang itu dengan sedikit bersalah"Iya kak gapapa ko, kek ama siapa aja deh.. Emang ada apa kak?" Tanya prilly"Ini kamu ada tawaran kontrak sama perusahaan besar, katanya mereka lagi butuh model buat promosiin brand nya gitu. Kamu mau ambil apa engga? Kakak ga maksa sih itu terserah kamu.." Ucap nyaYaa yang dipanggil kakak itu adalah manager prilly, namanya caca. Caca yang menghandle semua pekerjaan gadis cantik itu, dan prilly sudah menganggap caca sebagi kakak nya sendiri jadi tidak ada kecanggungan diantara mereka."Hmm ambil aja kak" ucap prilly"Kamu yakin? Kamu kan baru pulang dari luar negri, takut nya kamu capek pril.." Kata caca dengan raut cemas"Yaampun kak gapapa kali, aku malah seneng kalo ada kerjaan. jadi gak bosen dirumah terus tau" balas gadis cantik itu sedikit merengek"Okey okey nanti kakak kabarin lagi ya sama orang nya, soalnya kakak tadi minta waktu dulu buat bilang ini ke kamu takut nya kamu masih cape kan. Jadi kamu setuju yaa?" Ucap caca"Iyaa kakak sayanggg.." kata gadis yang cantik ituSetelah dapet persetujuan dari prilly, caca langsung menghubungi lagi orang yang menawarkan kontrak itu."Halo pak, pihak saya sudah setuju." Jawab caca..............."Baik pak terimakasih.."..............."Senang juga bisa bekerja sama dengan anda" Ucap cacaSudah 1 jam reno menunggu kabar dari orang tersebut tapi sama sekali belum ada tanda-tanda orang itu menghubunginya."Haduh gimana nih udah sejam gue nunggu tapi belum ada kabar juga, si boss udah nanyain lagi." Gumam reno dengan cemasKetika dia sedang cemas, tiba-tiba handphone nya berbunyi dan ternyata orang yang dia tunggu-tunggu menghubunginya. Tanpa basa basi reno langsung mengangkat dan menanyakannya."Halo Bagaimana..?" Ucap reno langsung......................"Oke baik, nanti akan saya atur jadwal pertemuannya ya? Sampai ketemu nanti." Balas reno lagi........................"Senang bisa bekerja sama dengan anda." Ujar reno....Setelah berbincang-bincang reno dengan pihak model tersebut, tanpa menunggu lama reno langsung menghubungi boss nya itu, ia sangat senang tugas 1 nya selesai. Semoga semuanya berjalan dengan lancar, harap reno.(jadi guyss reno ga ngasih tau ali ya model nya siapa, reno cuma bilang dia udah dapetin model aja)......(Dipercepat).....Author PovSudah waktu nya pulang jam kerja, CEO tampan itu langsung siap-siap bergegas untuk pulang kerumah nya. Tapi sebelum itu terjadi ada suara panggilan dari handphone nya."Kenapa?" Tanya ali"Wih santai dong boss, lo udah selesai tugas kantor kan?""Iya.""Sebelum balik kita kumpul dulu yaa dicafe biasa.""Sekarang?""Engga taun depan, ya sekarang lahh. Pokonya lo harus dateng, kita udah lama ga kumpul karena kesibukan masing-masing.""Iya.""Pokonya lo harus dateng, awas aja kalo engga. Gue tunggu.""Iya kevin!"Yaa orang yang menelpon ali adalah kevin julio alexander pemilik perusahaan alexander company .Dan tanpa menunggu lama ali langsung pergi menuju parkiran dan memasuki mobil mewahnya. Kemudian bergegas pergi menuju cafe yang biasa ali dan teman-temannya menongkrong itu.Mobil AliSampailah ali ditempat itu, dia langsung memasuki cafe dan menuju ruang VVIP yang biasa ditempatin mereka.Ruang VVIPTenyata disana sudah ada teman-teman bobroknya siapa lagi kalo bukan kevin dan Ricky . Oh iya ali juga punya teman bernama Ricky gio harun pemilik perusahaan harun company, dia juga punya panggilan khusus yaitu kirun .Tibalah ali ditempat temannya kumpul dan dia langsung menduduki bangku tersebut."wih boss tampan udah dateng, pakabar bro?" Tanya kevin"Baik.""Gimana li?" Tanya kirun"Apa?""Masih jomblo aja haha." becanda kirun"Dihh kek lu ga jomblo aja run." Timpal kevinBerbincang-bincang lah mereka author juga gatau mereka bincangin apa hahaha.....Satu sisi ada 3 perempuan cantik yang memasuki cafe mewah tersebut dan menuju ruangan VVIP juga. Siapakah mereka????.......Yaa orang itu adalah 3 model cantik go internasioanal siapa lagi kalo bukan...Prilly, jessica dan Dahlia.kemudian mereka masuk, dan tanpa disadari salah satu dari mereka sedang bersitatap dengan salah satu 3 CEO tampan itu."Kita mau duduk dimana? Balkon apa didalem?" tanya jessica"Balkon aja deh." Jawab dahlia"Pril dibalkon mau?""Prilll..""Prillyyy..""Hah apa, t-tadi lo ngomong apa?" Tanya prilly"Lo liatin apasi, dari tadi kita ngomong ga didenger yaa.." Ucap jessica sedikit cemberut"Ehh e-engga ko ga liatin apa-apa, sorry yaa ga fokus tadi gue hehe, oh iya tadi kalian ngomong apa?""Kita duduknya dibalkon mau ga?""Mau ko ayo disana aja." jawab prillyTanpa disadari prilly sedang bergelut dengan hatinya. " Siapa cowo itu, kenapa jangtung gue berdetak kencang ketika melihat dia." (ujar prilly dalam hati)...Back to CEO tampan"Iya ga li.""Lii..""Aliii..""Aliando king rawles!""Hah apa?""Lo kenapa sih? Dari tadi kita panggil ga nyaut nyaut, liatin siapa sih lo?"Ga, ga liatin siapa-siapa."Ali sekali-kali masih liatin cewe yang sedang berbincang dan tertawa dibalkon itu."Siapa dia. Kenapa hati gue ga karuan hanya liat mata indah nya, gue ga pernah ngerasain kek gini sama orang. Tapi sama dia aaghhh fuckk." (Ucap ali dalam hati)"Tuhkan lo bengong lagi lii, apasih lo lagi liatin apaa?" Tanya kevin"Lo liatin cewe-cewe itu ya?" timpal kirun. karena kirun sadari tadi melihat ali yang sedang menatap salah satu cewe itu, dan bener dugaannya kirun liat ali sedang ngeliatin cewe cantik itu Lagi."Apaansi.""Siapa? yang mana? Yang pake dress biru? Merah? Ato yang bunga-bunga?" ledek kirun kepada aliDeggg..Pas kirun bilang pakai dress bunga-bungga hati nya kembali bergetar. Iya sebenernya ali lagi ngeliatin cewe yang memakai dress bunga-bunga sedari tadi."Hah a-apaan sih lo, sotau" jawab ali ngelak dan gugup"Tuhkan lo gugup, benar kan dugaan gue lo lagi liatin cewe-cewe itu. Tapi gue perhatiin lo kek nya lagi liatin cewe yang pake dress bunga-bunga deh." Ujar kirun lagi"engga apaan sih lo run.""Alahh ngelak aja lu bisanya li.""Ehh b-bentar kek nya gue tau deh mereka siapa." Ucap kevin yang sedari tadi hanya mendengar celotehan teman-temannya."Siapa emang?" Kata kirun"Bentar gue inget-inget dulu, hmm.. Kek nya itu model yang internasional itu deh, yang kemarin baru balik ke indo. I-iya gue yakin itu mereka." Jawab kevin"Hah serius?" Tanya kirun"Iyaa, yakali gue becanda.""Itu yang pake dress biru namanya jessica, yang merah dahlia dan yang bunga-bunga itu prilly." Jawab kevin lagi.kevin ga sekudet dua temen nya ini dia tau kalo 3 cewe itu adalah model yang banyak disukai oleh orang-orang termasuk mamah nya, mamahnya kevin suka sekali sama 3 model cantik itu."Tuh li yang dress bunga namanya prilly cantik yaa. Pengen deh gue jadi pacarnya." Ucap kirun kepada aliDress prillyKirun sebenarnya hanya menggoda ali, kirun rasa ali tertarik dengan cewe itu. Karena kirun belum pernah ngeliat ali segini nya sama orang, dan kirun hanya mengetes bener apa tidak nya temennya ini ada rasa sama model itu.Dan terbukti ketika kirun bilang seperti itu Ali langsung menatap tajam kirun karena milik-Nya disebut dan disukain oleh temennya. (Milik-Nya) ya ali sudah mengklaim bahwa prilly adalah milik-Nya."Yaelah li s-santai aja kali, jangan natap gue kek gitu. Gue cuma becanda doang tadi." kata kirun aga sedikit takut"Hmm, udah-udah mending kita makan lagi masih banyak tu makanan. Abisin biar cepet balik." Kata kevinSemuanya balik normal lagi tapi ali masih bergelut dengan pemikirannya."Oh jadi namanya prilly. Nama yang cantik seperti orangnya, mata yang indah, pinggang yang sangat ramping yang ingin sekali ku dekap dalam pelukanku dan bibir yang sangat menggoda untuk dikecup. Aku harap kita bertemu lagi baby ..........." Because... you're mine!" (ucap ali dalam hati sambil melihat prilly dengan tajam)Dan tanpa mereka sadari, ternyata takdir sudah mempersiapkan sesuatu hal yang besar yang akan menjadikan mereka semakin terikat.Hari yang dinanti nantikan telah tiba yaitu setelah pertemuan kemarin dengan pihak masing-masing tibalah sekarang dimana antar kerja sama akan dimulai.Tok tok tok.."Prill..?""Masuk aja kak""Udah siap?""Udah kak, tinggal pakai lipstik bentar. Oh iya barang- barang nya udah siap semua kan?" Tanya prilly"Udah siap semua ko, tinggal cuss berangkat.""Okey, selesai.. Yuu kak berangkat." Ucap prillyMereka berangkat diantar oleh pak danang-- supir pribadi prilly yang sudah lama sekali bekerja menjadi supir gadis cantik itu."Oh iya kak, kita kerjasama diperusahaan mana?" Tanya prilly"Di Rawles Company prill.." Jawab caca"Ohh.. Kek ga asing namanya""Ya masa kamu gatau itukan perusahaan terbesar didunia""Oh pantes." Gumam prilly"Dan kamu tau prill, CEO Rawles Company katanya ganteng banget bak pangeran tampan yang jatuh dari langit" ucap caca penuh histeris"Haha.. Apasih kak lebaiii deh." balasnya"Iya beneran tau, dan-- Kek nya cocok deh kalo disandingin sama kamu." Goda caca"Ihh apaansi kak ca, aku kenal aja engga.""Nanti juga kenal hahaha."Setelah berbincang- bincang didalam mobil yang penuh candaan tibalah mereka diperusaan Rawles Company.Rawles companyMereka turun dan banyak sekali karyawan yang takjub atas kedatangan model cantik tersebut, mereka tidak menyangka akan melihat gadis cantik itu secara langsung. Sungguh keajaiban buat mereka."Wahh.. Cantik banget.""Itu p-prilly Queen Brocklyn kan, gilaaa cantik bangett.""Bidadari..""Mimpi apa gue ketemu dia agghh.""Sumpah itu p-prilly kan gilaa gilaa cantik banget aslinya."Outfit PrillyBanyak sekali karyawan yang tercengang, berbisik-bisik, bahkan ada juga yang sedang berjalan lalu tertabrak tembok karena tidak kuat melihat kecantikan model itu. Kemudian sampailah mereka ditempat receptionist."Permisi.." Ucap caca"Y-ya ada yang b-bisa saya b-bantu?" Ucap receptionist dengan gugup karena melihat prilly sedekat ini."Saya ingin bertemu pak reno, kami sudah membuat janji. Dimana ya ruangannya?'"aahh pak reno, dia ada dilantai 30 bu. N-nanti teman saya yang mengantarkannya.""Oh okey makasih yaa." Ucap caca dan prilly sambil tersenyum."I-iya sama-sama." ucap receptionist itu"G-gillaaa p-rilly senyum ke gue sumpah cantik bangett woii mimpi apa gue semalem." ucap receptionits lagi dengan histeris sambil memukul temannya yang disebelah.#SkipSampailah mereka diruangan yang telah ditunjukkan dan terlihat ruangan yang sudah didesain untuk pemotretan brand keluaran terbaru diperusahaan mereka itu."Hai sudah sampai? Ayo silahkan duduk dulu. Maaf yaa tadi saya tidak mengantar kalian kesini, banyak yang saya urus soalnya." Ucap reno dengan sesal"Hai.. It's okey. Tadi kita sudah diantar oleh pihak pak reno ko, jadi ga masalah" Jawab caca"Oh iya dengan nona prilly?" Tanya reno dengan mata yang tertuju kepada gadis cantik itu"Ahh iya saya prilly." Jawabnya"Hai Nice to meet you.""Nice to meet you too.""Your soo beautiful.""Haha Thank you."Reno tercengang melihat model cantik itu, dia tidak salah pilih. Pasti Tuan nya langsung suka melihat kecantikan sang model tersebut."Cantik banget, gue yakin Tuan ali bakal suka sama dia." Ucap reno dalam hati"Oh iya pak kapan ini akan segara dimulai?" Tanya caca"Oh iya-- sebentar lagi ya, CEO kami sedang menuju kesini. Tapi kalian bisa bersiap-siap diruang ganti yaa pakaiannya sudah disiapkan disana" Ucap renoKetika sang model sedang bersiap-siap, datanglah sang CEO tampan itu dan langsung menghampiri assistentnya yaitu Reno.Dia datang karena ingin melihat kinerja karyawannya, apakah sesuai yang telah ia inginkan atau sebaliknya, Karena kalian harus tau bahwa dia adalah orang yang sangat perfectionist, ia tidak ingin ada kesalahan satupun apa yang sudah ia perintahkan."Bagaimana?" Tanya ali"Semuanya sudah siap Tuan""Tidak ada kendalakan?""Tidak ada Tuan, semuanya terselesaikan dengan baik.""Bagus.""Model untuk produk saya sudah ada kan? Ingat yaa, saya tidak mau ada satu kesalahanpun yang membuat brand saya hancur.""Sudah ada Tuan, ia sedang mengganti pakaian terlebih dahulu.""--- dan anda tenang saja, saya tidak akan pernah mengecewakan anda Tuan"Setelah penbincangannya dengan Reno, Ali selaku CEO tampan itu sedang duduk dan fokus terhadap handphone nya. Tidak tau apa yang sedang ia lihat.Tidak lama kemudian datanglah sang model cantik itu ,prilly. Dia sangatlah cantik, sangat sangat cantik dengan dress yang sedang ia kenakan saat ini. Apakah ia masih pantas disebut manusia-- ah tidak dia seperti bidadari yang sedang jatuh dari langit. Berlebihan memang-- tetapi itu adalah fakta. Dia memang sangat cantik."Tuan model nya sudah siap" ucap reno kepada Tuannya yang sedang fokus terhadap handphone nya."Iya baik" ucapnya sambil bergegas berdiri dan memasuki benda yang sedang ia pakai sejak tadi kepada sakunya.Ketika sang Ceo tampan itu menoleh matanya langsung bersitubruk dengan model cantik itu. Kaget-- yaa ekspresi itulah yang sedang ditunjukkan oleh mereka berdua."Ini model nya yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita tuan, Prilly-- Namanya Prilly Queen Brockly n" Ucap reno"Dia.."Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan dipertemukan lagi dalam kondisi seperti ini.Raut bahagia terpancar dari salah satu manusia yang sebentar lagi akan terikat oleh ikatan cinta. Siapa lagi kalau bukan Ceo tampan itu-- Aliando king Rawles. yaa laki-laki itu sangat bahagia sekarang, ternyata apa yang ia tunggu- tunggu datang dengan sendirinya."Akhirnya kita bertemu lagi, Baby. Sesuai dengan ucapanku dulu, aku tidak akan melepaskanmu prilly Queen brocklyn ""-- karena sebentar lagi kamu akan menjadi milikku sayang ." Ucapnya dalam hati dengan penuh obsesi terhadap wanita cantik itu."H-hai Tuan, saya prilly. Nice to meet you" ucap prilly sedikit gugup sambil mengulurkan tangannya kepada aliprilly merasa aneh dengan dirinya semenjak dia bersitatap dengan CEO tampan ini ia terlihat gugup bahkan hatinya tidak bisa berhenti berdegup kencang-- tidak biasanya dia seperti ini."Hai saya ali--CEO disini. Nice to meet you too""--- baby " Jawab ali yaa ali membalas ucapan model cantik itu tapi tidak dengan sebutan sayang yang diutarakan di dalam hatinya, ali tidak ingin gegabah dan membuat takut gadis-Nya."Apa bisa dimulai sekarang tuan?" ucap reno kepada ali, tapi ucapannya tidak digubris olehnya-- dia terlalu fokus terhadap gadis yang masih digenggam tangannya itu."Tuan?""Tuan ali?""Ahh iyaa, sorry" ucapnya tersadar"Bisa kita mulai tuan?""Ya bisa, silahkan"...CekrekCekrekkCekrekkk"Angkat dagunya sedikit keatas nona, yaa oke good" ucap sang kameramen kepada model cantik itu."-- good job nona prilly, your soo beautiful" ucapnya kepada prilly"Hahaha Thaks you, Jangan panggil aku nona. Panggil aja prilly kak" balas prilly dengan senyuman manisnya"Ahh okey, kita break dulu bentar yaa untuk pakaian kedua" lanjut si kameramen itu.Outfit 1 pemotretan prillyDilain tempat yaitu disebuah sofa tempat pemontretan, ada satu sosok yang menatap ke arah mereka. Matanya tidak bisa lepas untuk tidak menatap 2 orang yang sedang melakukan pemotretan itu, terlebih matanya hanya fokus terhadap gadis cantik itu-- prilly. Yaa laki laki itu menatap prilly dengan tajam, seakan- akan tidak ingin melepas tatapannya seincipun.Ada balutan amarah ketika dia menatap gadis-Nya itu, dia tidak suka miliknya tersenyum kepada orang lain apalagi sekarang dia memakai dress yang sedikit terbuka.Dia ingin sekali merengkuh gadis-Nya kepelukan dan Ingin mengurungnya kemudian menguncinya didalam kamar. Agar tidak ada satupun orang yang melihat gadis-Nya itu dalam balutan baju yang sedikit terbuka apalagi mengambil miliknya, sebagaimana kalian tau-- Ali adalah orang yang tidak akan pernah melepas apa yang sudah menjadi miliknya."Aaghh shitt, gue ga tahan pengen peluk dia dan jadiin dia milik gue" gumam aliKetika sedang asik melamun, reno datang dan menghampiri Ceo tampan itu."Permisi Tuan..""Kami butuh Tuan ali untuk melakukan pemotretan bersama dengan nona prilly. karena kita akan melakukan percoveran dimedia agar terlihat menarik dan banyak diminati untuk brand kita Tuan, apa Tuan bersedia?" Ucap reno" Wah bagus kesempatan buat gue " ucap ali dalam hati, dia senang ketika reno mengatan itu. Karena ini kesempatan yang bagus agar ia lebih dekat dengan gadis-Nya"Ya saya mau" ucapnyaCekrek..Cekrek...Cekrekk...Kamera itu menyoroti dua insan yang sedang melakukan pemotretan, terlihat sangat romantis memang. Mungkin sebagian orang mengira bahwa mereka seperti akan melakukan photo preweding, padahal ternyata hanya dua insan yang sedang melakukan perjalanan bisnis saja."Lebih mendekat tuan dan rengkuh pinggang nona prilly--- yaa seperti itu"Tanpa sadar rengkuhan itu sangat erat sampai tidak ada jarak seincipun, siapa lagi kalo bukan tuan muda ali yang mencari kesempatan untuk memeluk pujaannya.Visualisasi Ali PrillyBeberapa foto dan gaya sudah mereka lakukan, sudah saatnya mengakhiri pekerjaan yang melelahkan tapi juga menyenangkan ini."So perpect!!!! Kalian sangat serasi tuan, ini akan menjadi kerjasama yang akan sukses."Tetapi dua insan ini yang sedari tadi masih bersitatap masih dengan posisi yang sama, dan tangan yang masih merengkuh model cantik itu. mereka tidak bergeming sama sekali, dengan perasaan yang berkecamuk dan nyaman berada didekat nya masing-masing. sampai tidak menyadari jika acaranya sudah berakhir.semua staff yang melihat mereka sangat heran dan juga kagum. Dua kombinasi yang sangat perpect terlihat didepan matanya. Tampan dan juga cantik. Mereka sangat serasi, CEO dan Model itu sangat serasi dimata semua yang ada diruangan ini.Ali masih menatap prilly dengan dalam dan juga lembut. "Cantik!! kamu sangat cantik.. baby."Yaa terlontar sudah ucapan yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia tidak bisa menahannya lagi, tidak bisa. Dia tidak ingin berlama lama untuk mengklaim gadis ini menjadi miliknya-- hanya miliknya."T-tuan .. Hmm m-mak.." belum selesai prilly berbicara, ali sudah menyelanya."Ikut aku!!" Ali langsung mencekal lengan prilly dan membawanya pergi dari ruangan itu.Para staff dan juga assisten yang melihat mereka terlihat bingung dan juga bertanya tanya. Mau kemana perginya pasangan itu.Assisten prilly yang melihat modelnya dibawa oleh Ceo tampan itu sedikit khawatir dan akan menyusul prilly. Tapi belum sempat menyusul tangan nya sudah dicekal oleh sekretaris ceo tampan itu--reno."I'ts oke, dia akan baik baik saja.""T-tapi pak..""Tidak perlu khawatir, dia akan aman bersama Tuan saya."Reno tau apa maksud dari tuannya membawa gadis cantik itu. Tuan-nya sedang jatuh cinta....Banyak pasang mata yang melihat mereka tapi tidak dihiraukan olehnya, ali langsung membawa prilly memasuki lift pribadinya."T-tuan kita mau kemana?!" ucap prilly sedikit takut kepada ali yang sedari tadi masih mencekal lengannya dengan erat."Ikut saja baby!!"Sampailah mereka didalam ruangan itu, ruangan yang sangat megah dan juga terlihat nyaman--yaa ali membawa prilly keruangannya. Dia tidak ingin diganggu saat ini, tidak ingin banyak pasang mata yang melihat mereka. Ali hanya ingin berdua dengan gadisnya--prilly. Hanya berdua.Ali langsung menubrukan tubuhnya kepada gadis cantik itu, memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya diceruk leher prilly."You're mine baby!!" Ucap ali dengan tegas kepada gadis itu dan masih memeluknya dengan erat."T-tuan...""kamu milikku, sampai kapanpun. Ga ada yang boleh miliki kamu kecuali aku."Prilly bingung dengan keadaannya sekarang, ada apa dengan lelaki yang memeluknya dengan erat ini, kenapa dia mengklaim bahwa dirinya milik laki-laki itu.Dan tapi kenapa.. dirinya menyukai apa yang CEO tampan itu lakukan sekarang."T-tuan maaf.. Bisa lepas dulu pelukannya?" Ucap prilly kepada ali sambil berusaha melepaskan pelukan pria itu.Bukannya dilepas tetapi pelukan itu malah semakin erat, ali tidak mau melepaskannya. "Tuan bagaimana saya mau berbicara jika tuan m-memeluk sa.." omongan itu terpotong"No baby!!! Aku gamau!!" ucap ali seakan tidak ingin dibantah"Okey terserah tuan. Hmm saya sebenarnya gatau mau berbicara apa, saya bingung. Saya bingung Kenapa tuan membawa saya kesini, kenapa tuan memeluk saya, dan tuan mengklaim bahwa saya milik anda. Apa bisa dijelaskan? saya benar-benar bingung." ucapnya bertubi tubi kepada CEO tampan ituAli sedikit merenggangkan pelukannya dan tangan kirinya menangkup pipi prilly dengan lembut, sedangkan tangan satunya masih memeluk pinggang ramping prilly dengan erat. Tidak ada jarak, bahkan hanya 5cm saja jarak itu untuk berbicara."I love you. I really love you!!"" ---Saat pertama kali aku ngeliat kamu gatau kenapa aku langsung jatuh cinta sama kamu, aku gamau kehilangan kamu. Aku mau kamu jadi milik aku, satu-satunya milik aku dihidupku." ucapnya dengan lantang dan menatap gadisnya sangat dalam sambil tangannya masih mengelus pipi mulus itu."T-tuan k-kenapa bisa.." kaget prilly sangat kaget dengan ucapan pria ini"Aku gatau, mungkin ini takdir. Jadi milikku mau? Jawabannya hanya yes or yes --- dan tidak ada penolakan baby"Bohong jika prilly tidak tertarik kepada CEO tampan itu, dia juga menyukainya. Tapi apakah secepat ini."T-tuan tapi kita baru kenal, bahkan tuan baru bertemu saya. Ga mungkin tuan menyukai saya kan?"Yaa rasanya tak mungkin jika CEO tampan ini menyukai dirinya. prilly meragukan hal itu, bahkan dia meragukan dirinya sendiri kenapa CEO itu menyukai dirinya.Apakah dia tidak sadar bahwa dirinya sangat cantik seperti dewi aphrodite, pria mana yang tidak langsung menyukai dirinya. Jelas jika semua pria pasti menginginkan dirinya untuk dijadikan kekasih.Tapi sayang model cantik itu hanya milik CEO tampan manja ini hihihi"Heii listen baby, ga ada yang ga mungkin. Mau kita belum kenal dekat atau udah kenal dekat sekalipun aku ga peduli. Aku cinta sama kamu, aku gamau kehilangan kamu --I want you to be my home, aku mau kamu jadi rumahku dikala aku capek. Jadi milikku yaa.." Ucap ali dengan penuh keyakinanMasih dengan posisi yang sama, tangan nya masih memeluk gadisnya dan masih mengelus pipi itu dengan lembut. Menatapnya dalam tersirat beribu arti dan keyakinan kepada gadisnya.Ali telak jatuh kepada model cantik itu."---oke kalo kamu masih ragu, atau kamu belum cinta sama aku. Tapi kamu maukan belajar ---belajar mencintai aku dan menjadi milik aku sepenuhnya." Lanjut ali dengan lirihPrilly menatap ali penuh isyarat, menatapnya dalam apakah pria ini serius atau membohonginya. Tapi sayang tidak ada kebohongan dimata Pria itu.Dan tanpa ragu prilly menjawab."Iya... Aku mau.""---aku mau jadi milik kamu." Ucap prilly kepada ali yang masih tidak percaya bahwa gadisnya menerima dia"Kamu serius??!!! Aggghhh thank you baby. I love you so muchh." Ucap ali dengan girang dan langsung memeluk prilly dengan erat dan dibalas pelukannya oleh gadisnya itu."Tapi ingat jangan kecewain aku ya.""Siapp My Queen, aku janji ga akan pernah ngecewain kamu. Pegang kata-kata aku."And then.. prilly telak jatuh kepada CEO tampan itu.Pelukan itu melonggar tapi dengan posisi yang masih berpelukan, Ali memindahkan tangan prilly ke lehernya, menatapnya dalam penuh makna.Semakin mendekatkan kepalanya, bahkan hembusan nafasnya sudah tercium oleh keduanya, semakin dekat tidak ada jarak sama sekali.Cuppdan yaa bibir itu menempel dengan manis dibibir gadisnya.Masih menempel dengan mata terpejamMembawa gadisnya lebih masuk kepelukannya dan menekan tengkuknya agar lebih dalam mencium gadisnya itu.Melumatnya dengan penuh cinta dan nafsu, memainkan rongga rongga mulut gadisnya dengan lidahnya itu. Mereka Berperang lidah dan melumatnya lagi dengan penuh kelembutan."Agghh.." Desahan keluar dari mulut gadis cantiknyadan mereka masih tetap melanjutkan ciuman yang penuh akan gairah itu.

MY BEAUTIFUL CEO
Romance
06 Jan 2026

MY BEAUTIFUL CEO

Thailand"Tungguuuuuuuu~"Lisa berteriak saat pintu boarding akan ditutup oleh petugas bandara, dengan ransel besar yang ia gendong di punggungnya, ia lari terbirit-birit seperti baru saja di kejar hantu."Hah..ini."Setelah selesai dengan berbagai macam urusan ia kembali berlari untuk masuk kedalam pesawat. Di dalam pesawat Lisa berjalan cepat tanpa peduli ranselnya menyenggol orang lain, ia terus berjalan menuju kelas bisnis untuk mencari tempat duduknya.Bugh~"Aww!"Lisa tercengang saat mendengar jeritan seorang wanita saat dia berbalik untuk mencari nomor tempat duduknya, ia kembali berbalik dan seorang gadis sedang menatapnya tajam seraya mengelus kepalanya."Nona, apa kau baik-baik saja?" Lisa bertanya dengan polosnya.Gadis itu menggeram dan mengangkat tangan seperti kucing hendak mencakar, "rawrr… Ransel sialanmu mengenai kepala ku!" Omelnya.Lisa tercengang dan reflek mengangkat kedua tangan seolah dia di todong sebuah pistol, "Maaf, maafkan saya. Saya tidak sengaja."Gadis itu hanya memutar bola matanya, ia menggeser tubuh Lisa secara kasar lalu duduk di tempat duduknya yang ternyata bersebelahan dengan Lisa. Setelah Lisa menaruh ranselnya kedalam bagasi yang ada di atas kepalanya, ia duduk di tempat duduknya."Nona, siapa namamu?"Gadis yang di tanya hanya diam termangu, Lisa menggunakan bahasa Thailand yang tidak di mengerti oleh si gadis. Sadar dirinya salah, Lisa menyengir kuda seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Ah, maksudku siapa namamu Nona?" Tanya Lisa menggunakan bahasa inggris.Lisa adalah seorang mantan atlet, ia sudah berkeliling ke beberapa negara jadi dia tidak kesulitan dalam berbicara bahasa asing karena dia pintar berbahasa Inggris, Korea, China, Prancis dan Thailand tentunya karna dia berasal dari Thailand."Tidak.perlu.tau!" Jawab sinis si gadis tersebut lalu ia memakai kacamata hitamnya.Lisa mengerucutkan bibirnya kedepan namun ia memilih diam dan tidak lagi bertanya, ia memasang sabuk pengaman setelah mendengar pengumuman jika pesawat akan segera take off. 15 menit kemudian, pesawat berhasil mengudara. Lisa melepas sabuk pengamannya lalu memasang headphone nya, mendengarkan lagu K-Pop seraya menggerak-gerakkan tangannya seolah ia sedang menari.Plak~Lisa terbelalak karena tanpa sengaja tangannya mengenai bahkan menampar gadis yang duduk disebelah nya tadi, dia menelan ludah secara kasar saat gadis itu membuka kacamatanya dan kembali menatap tajam padanya. Ia tercekikik canggung dan mengangkat kedua jari tangannya ✌️."Hihi.. Nona cantik, matamu indah seperti mata kucing, pipimu lucu seperti mandu, hidungmu mancung dan kau sangaaaaaaaaaaat cantik tapi…. Kau akan jauh lebih cantik jika kau tidak marah hihi~“ Rayu Lisa, “Maaf, aku tidak sengaja." Lanjutnya."Akkkhhh~"Lisa berteriak saat poni kesayangannya di tarik oleh gadis di hadapannya karena dia duduk menyamping menghadap pada di gadis, karena kesal jadi tanpa segan dia menggeram lalu mencubit gemas kedua pipi si gadis."Don't touch my Bangs!" Geram Lisa."Aw.. Aw.. Aw."Lisa melepas cubitannya secara kasar setelah gadis itu memekik kesakitan, ia mendengus sebal lalu kembali memasang kembali headphone nya.“Maaf nona.. nona.. Jangan membuat keributan, kalian mengganggu kenyamanan penumpang yang lainnya.“ Tegur pramugari.Lisa mengangguk dan segera menyalakan kembali musik yang ia dengar sebelumnya, sementara si gadis Kembali memasang kacamata hitamnya dan memilih memejamkan mata."Bisnis trip yang memuakkan!" Gumam kesal si gadis.Incheon Internasional Airport, Korea Selatan.Lisa tersenyum lebar saat ia keluar dari gerbang kedatangan di bandara Incheon, ia senang karena akhirnya bisa merantau ke negeri orang untuk mecoba peruntungan di hobinya yang lain. Orang tua yang selalu mendukung apapun yang ia inginkan, itu yang membuat Lisa berani untuk mencoba mencari peruntungan di negeri orang.Lisa tersenyum pada orang-orang yang menyapanya, ada beberapa orang yang mengenalinya karena memang dulu dia atlet terkenal top 1 di Thailand. Setelah merasa cukup menikmati udara Korea Selatan, dia bergegas melanjutkan langkahnya untuk memberhentikan taksi yang akan membawanya kesebuah unit apartment yang sudah ia beli sebelumnya.Saat tiba di tepi jalan Lisa mengerutkan kening, dua mobil mewah berhenti di hadapannya dan tiba-tiba turun dua pria berbadan besar, lengkap dengan setelan seorang bodyguard elit dan beberapa detik kemudian mata Lisa berbinar saat melihat seorang gadis turun dari salah satu mobil mewah tersebut."Woahhh.. Bidadari." Seru Lisa tanpa berkedip."Permisi, jangan menghalangi jalan nona." Usir seorang pria berbadan besar seraya menyingkirkan tubuh Lisa .Kekuatan yang Lisa punya membuat tubuh Lisa tidak bergeser sedikit pun, ia tetap diam di tempat dan terus memandang gadis yang diam berdiri di dekat pintu mobil, sedikit berjinjit dan menoleh ke sana kemari seperti mencari kehadiran seseorang."Tolong minggir nona." Usir tegas seorang pria berbadan besar.Lisa tersadar, ia menoleh menatap pria itu lalu mendengus kesal, "Jangan suka mengganggu kebahagiaan orang ahjussi.""Awas!"Lisa terhuyung dan hampir jatuh saat ada seorang gadis menggeser tubuhnya dari sisi kiri karena Lisa memang menghalangi jalannya, ia menganga saat tahu gadis yang ada didalam pesawat tadi lah yang menggeser tubuhnya, si gadis bermata kucing yang duduk berdampingan dengannya."Nona, kau kasar." Sebal Lisa.Gadis itu menoleh, "Maaf.. apa kita saling kenal?"Lisa mencebikkan bibirnya tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum lebar, menyodorkan tangan untuk berjabat tangan."Hi.. Lisa, Lalisa Manoban." Ucapnya riang.Gadis yang diajak berkenalan oleh Lisa sedikit menurunkan kacamata hitamnya, ia menatap Lisa dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas lalu ia bersmirk dan menggelengkan kepala."Presiden Kim, selamat datang kembali di Korea. Ayo masuk, Tuan sudah menunggu."Gadis yang di panggil presiden Kim itu mengangguk lalu masuk kedalam mobil, mengabaikan tangan Lisa yang masih terulur untuk berjabat tangan. Gadis yang tadi Lisa tatap tersenyum, ia menjabat tangan Lisa."Hi.. Bae Joohyun tapi kau bisa memanggilku Irene, sekertaris presiden Kim."Lisa tersenyum bodoh, ia mejulurkan sedikit lidahnya. Rasa kesalnya pada presiden Kim hilang karna gadis cantik lainnya menjabat tangannya."Lisa, Lalisa Manoban. Senang berkenalan denganmu, jika kau membutuhkan fotografer kau bisa menghubungiku." Ucap Lisa lalu ia memberi wink pada Irene tanpa melepaskan jabat tangan mereka.Irene tersenyum dan mengangguk, namun saat ia akan membuka mulut untuk meminta kartu nama Lisa, ia memekik kesakitan karena sang presiden tiba-tiba mengeluarkan kepalanya saja dari dalam mobil, tangannya terulur ke arah Irene dan ia menjewer telinga Irene begitu saja."Sekertaris genit, ayo!" Tegas presiden Kim."Aw.. Aw.. Yak, Jennie Kim... Sakit bodoh!!" Geram Irene seraya mengusap telinganya dan melepas jabat tangannya dengan Lisa."Oh namanya Jennie Kim." Gumam Lisa seraya mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum.Tanpa pamit Irene masuk kedalam mobil, tidak berselang lama dua unit mobil mewah itu melaku meninggalkan area bandara. Lisa pun bergegas memberhentikan taksi untuk segera pergi ke unit nya dan beristirahat.Di dalam mobil Jennie...Jennie terus diam dan menatap keluar jendela sementara Irene terus tersenyum seperti orang idiot, ia terus terngiang senyum Lisa, beberapa kali ia mencium aroma parfum Lisa yang menepel di tangannya kemudian ia terkikik sendirian."Aku hanya meninggalkanmu tiga hari ke Thailand, kenapa saat aku pulang kau jadi gila?"Ledek Jennie.Irene memutar bola matanya malas, "Lisa.. Lisa.. Lisa.., Jennie, apa kau satu pesawat dengan gadis tadi?" Tanya Irene antusias."Bahkan duduk berdampingan." Jawab Jennie seraya memeriksa kuku-kuku tangannya."Woah.. Jinjja? Apa kau tidak sadar dia sangat cantik tapi dia tampan juga, dia juga wangi Jennie... astaga~" Seru Irene lalu ia kembali mencium tangannnya.Jennie menoleh pada Irene seraya mengerutkan kening, "sewangi apapun dia, setampan apapun dia, bukankah tetap saja dia seorang wanita? Hell.. Irene apakah kau tidak normal sekarang?" Tanyanya menatap tidak percaya pada Irene."Omo.. Omo.. Mulutmu ini jahat sekali, tentu saja aku masih normal tapi jika Lisa mau padaku, aku rela menjadi tidak normal untuknya." Irene memekik kegirangan.Tuinggg~Jennie mendorong kepala bagian kanan Irene menggunakan jari telunjuknya hingga kepala bagian kiri Irene terbentur kaca jendela mobil."Kau benar-benar tidak waras, Bae Joohyun." Jennie menggelengkan kepala seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.Irene terkekeh sambil mengusap kepalanya, "Aku rela di ledek tidak waras asal Lisa milikku, ya Tuhan.. pertemukan kami kembali." Ucapnya seraya menatap langit-langit mobil dan kedua tangan ia satukan 🙏.Jennie Kembali menoleh pada sekertarisnya, dia menggerakan jari telunjuk di kening seolah mencoret keningnya setelah melihat tingkah sekertarisnya, tapi setelah itu dia kembali menggeleng dan menoleh keluar jendela tanpa mengatakan apapun lagi.••Karena rasa lapar yang luar biasa , sebelum masuk ke kawasan unit apartment nya Lisa memutuskan untuk makan terlebih dahulu, dia memilih makan di resto bintang 3 yang tidak jauh dari unitnya . Soal keadaan ekonomi Lisa , bisa di bilang dia orang kaya. Selain hasil dia menjadi atlet selama ini yang selalu ia tabung, orang tuanya adalah seorang Chef internasional yang memiliki beberapa cabang resto bintang 5 di Asia dan Eropa, tapi dia lebih senang menggunakan hasil kerja sendiri untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari kecuali jika ada keperluan mendadak barulah dia akan lari pada orang tuanya. Seperti unit nya di Seoul, orang tuanya lah yang membelikan unit itu untuk Lisa."Lumayan." gumam Lisa seraya mengangguk-anggukan kepala setelah satu suap makanan khas Korea itu masuk ke dalam mulutnya.Lisa melanjutkan makannya seraya menatap jalanan yang cukup padat malam ini, dia pintar beradaptasi jadi menyesuaikan perbedaan waktu antara Seoul dan Thailand tentu itu bukanlah hal yang sulit untuknya. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, bola matanya tidak berhenti bergulir dan sesekali ia tersenyum melihat pemandangan lucu yang ia lihat di luar resto.15 menit kemudian acara makan malamnya selesai, Lisa memanggil pelayan untuk membayar bill dan setelah semua selesai dia mengeluarkan kameranya lalu ia gantung di lehernya , ia menggendong kembali ranselnya di punggung lalu keluar dari resto tersebut. Selalin menjadi atlet tapi dunia fotografer adalah hobinya."Spring day."Lisa tersenyum saat sadar ini adalah awal musim semi, awal maret memang hawa masih terasa dingin karena musim dingin baru saja berlalu dan musim panas baru akan tiba. Lisa berjalan pelan di trotoar jalan, beberapa kali ia memotret hal yang menurutnya unik dan layak untuk di foto. Ia tersenyum setiap kali melihat hasil fotonya cukup memuaskan, tapi setelah itu ia kembali membidik ke arah seorang pria paruh baya yang hendak menyebrang namun matanya terbelalak karena di belakang pria itu ada seseorang yang memakai pakaian serba hitam, memakai masker juga topi hitam, memegang sebuah pisau yang siap di arahkan ke kepala pria paruh baya yang hendak menyebrang itu.Tanpa menunda Lisa berlari sekncang yang ia bisa, tepat saat pisau itu akan di tancapkan ke kepala pria paruh baya tersebut Lisa melompat , ia memutar tubuhnya dengan kaki kanan yang ia angkat lalu ia ayunkan ke arah pria berpakaian hitam tadi dan..Bugh! Prak!!Side kick berhasil Lisa lakukan, tendangan mendarat sempurna di dada lawan hingga lawan terpental dan pisau yang di genggam pun jatuh di atas trotoar."Tuan, anda baik-baik saja? Maaf .. Dia akan menusuk kepala anda dengan pisau." Ucap Lisa pada pria paruh baya yang hendak menyebrang itu, dia menggunakan bahasa korea fasih seolah sudah sangat lama dia di Korea."Ah.. Saya baik-baik saja, nak. Terima kasih banyak." Balas si pria paruh baya.Tepat setelah pria paru baya itu seslai berbicara, sudut mata Lisa kembali menangkap pergerakan, ia menarik kasar tubuh pria paruh baya itu lalu ia sembunyikan di balik tubuhnya dan benar saja, pria berpakaian serba hitam itu kembali memegang pisau dan hendak menusuk si pria paruh baya kembali.Lisa kembali menendang tangan pria itu hingga pisau kembali terlempar , saat si pria lengah Lisa memberi pukulan mentah di wajah si pria hingga perkelahian terjadi, Lisa terus menepis dan saat lawan lengah ia sedikit melompat lalu memberikan axe kick , kaki Lisa yang berbalut sepatu booth mendarat sempurna di kepala si pria hingga akhirnya pria itu jatuh tidak sadarkan diri.Pria paruh baya di belakang Lisa tercengang melihat perkelahian yang terjadi sementara Lisa diam berdiri seraya mengatur nafasnya yang terengah-engah, ia menghapus keringat menggunakan punggung tangannya lalu meludah tepat mengenai wajah si pria yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri."Hah .. Beraninya main belakang." Gerutu Lisa."Tuan, anda baik - baik saja?"Lisa menoleh ke belakang saat mendengar suara pria asing lainnya, dia mengangkat sebelah alis saat melihat ada seorang pria berbadan besar dengan setelan rapih menghampiri pria yang dia tolong, tanpa menunda dia berbalik lalu berjalan menghampiri pria paruh baya itu dan menepuk bahunya karena pria itu hanya diam dan terlihat shock."Tuan, anda baik - baik saja kan?"Pria paruh baya tersadar, ia mengangguk lalu menatap Lisa, " Nak, kau asli korea?"Lisa menggelengkan kepala dan tersenyum, " tidak, ah bukan maksud saya. Saya dari Thailand dan baru sampai di Korea beberapa jam yang lalu.""Apa kau kuliah, bekerja atau?"Lisa kembali tersenyum, "Saya sedang mencari pekerjaan, Tuan.""Bisakah kau ikut denganku? Sebagai tanda terima kasih, aku akan memberimu pekerjaan." Balas si pria"Tuan Kim, anda yakin? Kita saja baru bertemu dengannya." Ucap si pria berbadan besar."Aku percaya padanya," Jawab si pria paruh baya seraya menoleh pada pria berbadan besar lalu ia kembali menoleh pada Lisa, "kau mau, kan?"Mata Lisa berbinar , ia mengangguk antusias dan rasa lelahnya hilang begitu saja. Siapa sangka niat menolong tanpa sengaja malah membantu dia untuk mendapat pekerjaan di hari pertama ia tiba di korea? Karena sudah setuju untuk bekerja pada pria yang ia tolong, ia ikut masuk ke dalam sebuah mobil mercedez maybach hitam yang menjemput pria paruh baya itu tanpa pulang ke unit nya terlebih dahulu, tasnya ia peluk di pangkuannya dan sepanjang perjalanan keduanya berbincang. Dari perbincangan itulah si pria paruh baya tau jika Lisa adalah mantan atlet bela diri, tidak heran Lisa bisa bahkan pandai berkelahi.___Keesokan harinya...Karena malam semakin larut dan tidak membawa kendaraan, terpaksa Lisa menginap di sebuah mansion mewah milik pria paruh baya yang ia tolong tadi malam. Saat ini dia baru saja terbangun dari tidurnya, ia menggeliat lalu duduk di atas tempat tidur, tanpa membuka mata dia bergerak merapihkan poni kesayangannya. Di rasa poni nya cukup rapih dan sudah menutupi jidatnya Lisa membuka mata dan tersenyum seraya melihat sekeliling kamar luas itu, furniture mahal jelas mengisi hampir setiap sudut kamar tersebut membuatnya terkagum-kagum.Puas melihat sekeliling kamar itu dia segera turun dari atas tempat tidur lalu dia berjalan ke arah balkon. View kolam renang juga taman belakang mansion itulah yang menjadi pemandangan yang menyegarkan mata Lisa pagi ini tapi beberapa saat kemudian senyum Lisa luntur saat ia melihat seorang gadis di tepi kolam.Lisa membeku tanpa berkedip karena melihat gadis itu membuka bathrobenya, apa yang si gadis lakukan sukses membuat mulut Lisa menganga dan matanya terbuka lebar."Oh my gosh!" Gumam Lisa, dia menjilat bibirnya seraya berpegangan pada pagar balkon tanpa mengalihkan perhatiannya.Lisa yakin gadis itu akan berenang karena si gadis hanya memakai bikini saja setelah bathrobe terlepas. Bokong dan payudara sintal si gadis membuat Lisa meneteskan air liur tanpa ia sadari, dia terus memperhatikan si gadis dan matanya masih saja tidak berkedip saat melihat gadis itu sedang melakukan stretching di pinggir kolam.Di bawah Lisa tepatnya di area kolam renang, gadis itu mengibas-ngibaskan rambutnya yang dia urai begitu saja, tapi saat dia akan menceburkan diri ke kolam dia mengerutkan kening seraya menaruh kedua tangannya di pinggang."Kenapa rasanya seperti ada yang memperhatikanku?" Gumam si gadis seraya menoleh ke sembarang arah, tepat saat ia mengangkat kepala dan melihat ke arah balkon yang ada di lantai 2, matanya terbelalak karena melihat kehadiran Lisa disana, "YAK!!" Teriaknya.Lisa masih diam dan semakin menganga karena gadis itu menghadap padanya, perut rata dan tubuh ideal gadis cantik menjadi pemandangan paginya hari ini. Gadis itu geram melihat wajah mesum Lisa, ia menunduk dan mencari sesuatu hingga akhirnya ia menemukan batu kerikil. Dia menyeringai lalu ia membungkuk dan mengambil kerikil tersebut, setelah berdiari kembali dia melempar kerikil itu sekuat tenaga ke arah Lisa.Wushh~ Tuk!!Lisa memekik kesakitan seraya menutup area selangkangan nya, batu itu masuk ke celah pagar balkon dan mendarat sempurna di atas selangkangan Lisa. Lisa menangis karena miliknya sedang ereksi sempurna lalu terkena lemparan batu, rasa sakitnya membuat kaki Lisa lemas bukan main ."Oh Kintamaku." Lirih Lisa seraya terus mengelus miliknya.Si gadis menggeram di bawah, ia meraih dan memakai bathrobenya seraya melangkah ke arah pintu untuk masuk ke dalam rumah karena dia berniat menemui Lisa di atas sana.Dengan langkah tergesa gadis itu masuk ke dalam mansion seraya mengikat kembali tali bathrobenya, ia terus menggeram dan mengumpat karena merasa sangat kesal, dia merasa di intip secara diam-diam oleh orang asing yang entahlah kenapa ada di mansionnya.“Hey, young princess .. Kenapa?”“Jennie .. Apa yang terjadi?”Dua pertanyaan itu keluar dari mulut seorang pria paruh baya dan seorang gadis yang sedang bersantai di living room. Jennie tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang ada dia terus langkah tergesa hingga akhirnya ia menaiki tangga membuat dua orang yang bertanya padanya terheran-heran karena Jennie tidak pernah sekali pun menggunakan tangga, meski hanya naik ke lantai 2 biasanya dia selalu memakai lift di mansion tersebut.Tidak berselang lama Jennie tiba di depan pintu kamar tamu dimana kamar itu memang di isi oleh Lisa, dengan bantuan seorang maid Jennie berhasil membuka pintu tersebut. Ia masuk dan menatap tajam pada Lisa yang sedang menangis, berlutut sedikit membungkuk dan menutup selangkangan nya, bahkan Lisa masih berada di balkon kamar tamu mansion megah keluarga Kim.“Siapa yang mengizinkan mu tidur di kamar ini?” Tanya Jennie marah seraya melangkah mendekati Lisa, kedua tangannya kembali ia taruh di pinggang.Lisa mengangkat kepala menatap Jennie, “tuan Kim.” Jawabnya apa adanya.“Kenapa kau mengintip, hah? Tidak sopan sekali!” Ketus Jennie.“Hiks .. Aku tidak mengintip nona. jangan salahkan aku, salahkan mataku yang tidak bisa menyianyiakan kesempatan untuk melihat pemandangan indah.” jawab Lisa di sela tangisnya.Jennie menganga mendengar jawaban Lisa, ia menggeram lalu menjambak rambut Lisa, memukuli bahu Lisa sekencang yang ia bisa, tampang gemas dan kesal terlihat menghiasi raut wajah cantik Jennie.“Aw .. Aw! Yak! Aduhh~”Lisa merangkak untuk menghindari Jennie hingga akhirnya dia berhasil masuk ke dalam kamar. Setelah berhasil menghindar Lisa berdiri lalu dia berlari, keduanya berlarian di dalam kamar tamu itu. Jennie terus berlari dan berusaha memukul Lisa, sedangkan Lisa berlari untuk menghindar dari amukan Jennie.“Tidak kena .. Wlee~”Lisa sedikit menungging lalu menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan seraya menaruh jempol tangan kanan di telinga kanan dan jempol tangan kiri di telinga kiri, dia menoleh menatap Jennie sambil menjulurkan lidah meledek. Apa yang Lisa lakukan jelas membuat Jennie semakin kesal, ia mengepalkan kedua tangannya sekilas lalu ia meraih guci kecil yang menjadi pajangan di kamar itu. Lisa terbelalak, ia berlari menghindar namun tepat saat Jennie akan melempar guci tersebut pintu kamar terbuka dari luar hingga membuat Jennie menghentikan aksinya.“Ada apa ini?” Tanya seorang pria paruh baya.Jennie mendengus kesal lalu memeluk guci yang tadi sudah siap untuk ia lempar, “siapa dia dad? Kenapa makhluk menyebalkan itu ada disini, dia mengintip ku di kolam renang.” Adunya.“Aku tidak sengaja tuan, aku baru saja bangun tidur lalu melihat pemandangan dari balkon. Balkon mengarah ke kolam renang, tidak salah kan?” Elak Lisa.“Tapi kenapa kau terus menatapku dengan tampang menjijikanmu itu?” Kesal Jennie.“Mwo? Menjijikan katamu? Ck .. I'm so hot." Balas Lisa percaya diri.“Hot? Hot lubang hidungmu." Geram Jennie lalu ia kembali mengangkat guci yang ia peluk untuk ia lempar ke arah Lisa.Guci terlempar namun karena Lisa memiliki refleks yang bagus, dengan mudah dia menangkap lalu memeluk guci tersebut.Lisa menyeringai, "mweheheh .. Apa? Mau melempar apalagi? Ayo." TantangnyaDemi segala dewa di dunia, Jennie merasa sangat kesal pada Lisa. Ia menghentak-hentak kaki kelantai seraya mengepalkan kedua tangannya.“Sudah, Jennie kau mandi dan daddy tunggu di ruang makan," Ucap si pria paruh baya lalu ia menoleh pada Lisa, "dan kau, mandi .. Saya tunggu di ruang makan.”Jennie mendengus kesal dan pergi begitu saja dari kamar tamu tersebut di ikuti oleh sang daddy, Lisa pun segera menaruh guci di tempat asalnya, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk segera mandi dan memeriksa miliknya.20 menit kemudian....“Jadi.. namanya Lisa, Lalisa Manoban. Dia berasal Thailand, semalam dia menolong daddy dari orang suruhan pesaing kita yang berniat menyingkirkan daddy, ia datang ke Korea untuk mencoba peruntungan di negara kita dan dia adalah mantan atlet bela diri yang ingin mencari pekerjaan baru di Seoul, dia sudah bercerita pekerjaan apa yang dia cari tapi karena dia memiliki keahlian lain daddy menyarankan untuk menjadi bodyguard dan asisten pribadi mu saja.”Uhuk ~ uhuk ~Jennie tersedak makanan yang sedang ia kunyah setelah mendengar ucapan sang ayah, mereka memang sedang sarapan bersama setelah Lisa dan Jennie turun dari kamar masing-masing. Lisa sigap memberikan air minum pada Jennie, setelah batuk nya mereda, Jennie menatap tidak percaya pada sang ayah.“Are u sure, dad? Oh C'mon, masih ada Jackson yang menjagaku.” Keluh Jennie.“Jackson akan menjaga kakakmu Jisoo, karena sebentar lagi dia akan menjadi CEO di perusahaan kita yang bergerak di bidang lain.” Ucap sang daddy.Jennie dan Jisoo adalah kakak beradik, mereka anak korban brokenhome. Kedua orang tuanya bercerai karena sebuah masalah besar yang keduanya pun tidak tahu apa masalahnya, Jisoo ikut sang ibu di Auckland dan Jennie ikut dengan sang ayah di Korea. Kedua orang tuanya akur meski bercerai jadi hubungan mereka baik-baik saja, namun karena sang ibu menikah lagi dan Jisoo tidak nyaman harus tinggal dengan ayah sambungnya, Jisoo memilih kembali ke Korea dan tinggal bersama adik dan ayah kandungnya.Jennie hanya bisa mendengus kesal karena ia tau jika sang ayah sudah membuat peraturan dia tidak bisa menolak aturan itu. Meski dia kesal pada Lisa, mau tidak mau dia harus pasrah dengan keputusan sang ayah. Semalam Lisa sudah menyetujui tawaran pekerjaan dari ayah Jennie jadi mulai hari ini dia akan bekerja menjadi bodyguard dan asisten pribadi Jennie, jauh melenceng dari niat awalnya datang ke Seoul, ia ingin menjadi fotografer tapi ujungnya dia malah menjadi bodyguard. Tidak masalah bagi Lisa apapun pekerjaannya, apalagi gaji yang di tawarkan oleh tuan Kim sangat menggiurkan dan terpenting, pekerjaannya Halal.“Dan Lisa .. Namaku Kim Woo Bin, semalam kau hanya tahu dan memanggilku Tuan Kim saja.”Lisa tersenyum dan mengangguk, “Nde tuan.”“Kau asli Thailand?” Tanya Jisoo.Lisa kembali mengangguk, “Nde presiden, saya asli Thailand. Mau berlibur ke sana?” Ajaknya.Jisoo terkekeh, “kita atur jadwalnya nanti.”Lisa hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun, mereka kembali melanjutkan sarapan dalam kondisi hening. Sesekali Jennie melirik Lisa dan ia sadar apa yang Irene katakan benar. Lisa cantik dan tampan tapi tingkah Lisa sangat menyebalkan.___Kim CompanyMobil mercedez Maybach itu melaju perlahan di pelataran sebuah gedung perusahaan, tidak berselang lama mobil berhenti tepat di depan pintu utama gedung perusahaan itu. Beberapa detik kemudian Lisa turun dari pintu pengemudi, dia berbalik lalu membukakan pintu penumpang dan detik berikutnya Jennie turun dari dalam mobil.Pekerjaan Lisa benar-benar berbeda dari pekerjaan yang dia harapkan sebelumnya, selain menjadi bodyguard peribadi tapi dia merangkap menjadi sopir dan asisten pribadi Jennie juga, tapi karena itu pilihannya jadi dia menerima semua pekerjaan yang Woo Bin percayakan padanya.Di dalam lobby ada seseorang yang terlihat berbinar melihat kehadiran Lisa, orang itu tidak lain adalah Irene. Irene sedang menanti kedatangan Jennie di lobby perusahaan karena memang seperti itu biasanya. Setelah turun dari mobil Jennie berjalan anggun namun berwibawa dengan setelan CEO-nya dan masuk ke gedung perusahaan tersebut.Irene menyambut hangat namun ia terus curi pandang pada Lisa yang berjalan mengikuti Jennie, melihat gelagat Irene membuat Jennie menggelengkan kepala. Lisa membuat Irene tidak fokus bahkan dia lupa menyapa Jennie karena sibuk curi pandang pada Lisa, sementara Lisa hanya tersenyum manis seraya terus berjalan mengikuti Jennie.Melihat Lisa semakin menjauh membuat Irene tersadar, ia terbelalak dan berlari mengikuti Jennie. Larinya semakin kencang saat melihat Jennie sudah masuk ke dalam lift, Jennie sudah berdiri di dalam lift menunggu Lisa dan Irene masuk, tapi tepat saat Lisa akan masuk Irene yang berlari kesulitan menghentikan larinya, ia menabrak punggung Lisa hingga akhirnya Lisa terhuyung ke depan dan menabrak Jennie yang berdiri di hadapannya.Dorongan yang Irene lakukan membuat Jennie mundur, punggungnya membentur dinding lift dan tubuh nya terhimpit oleh Lisa yang juga terdorong oleh Irene. Entah itu sebuah kesialan atau justru keberuntungan, bibir Lisa mendarat sempurna di bibir Jennie . Pintu lift tertutup dan kondisi di dalam lift hening, tangan Jennie berada di dada Lisa sedangkan kedua tangan Lisa ada di dinding lift tepat di kedua sisi bahu Jennie dan tangan Irene memeluk pinggang Lisa.Mata Jennie dan Lisa terus bertemu, keduanya diam dan lift terus hening. Lisa terbawa suasana, kedua payudara Irene menempel di punggungnya dan bibir nya menempel di bibir Jennie, tanpa merasa bersalah ia malah mencoba melumat bibir Jennie, jantung keduanya berdetak kencang seolah tidak ada siapapun lagi di sana. Lisa memejamkan mata menikmati kenyal dan lembutnya bibir Jennie, melihat Lisa memejamkan mata membuat Jennie tersadar, dia mendorong kasar tubuh Lisa hingga Lisa terhuyung ke belakang dan mendorong tubuh Irene.Plak!“KURANG AJAR!” Teriak Jennie marah setelah memberi tamparan di pipi Lisa Lisa.Karena kehilangan keseimbangan Lisa terhuyung ke belakang hingga akhirnya punggung Lisa menghimpit tubuh Irene di pintu lift. Irene memekik kesakitan karena kepala nya terbentur pintu lift, mendengar pekikan Irene akhirnya Lisa tersadar dia segera berdiri tegak, dengan segala kerepotan yang ada di tangannya, ia membantu Irene berdiri.“Maaf presiden Kim, selamat pagi.” Sapa Irene kikuk.Jennie mendengus kesal, ia mendelik pada Lisa lalu dia mengangkat tangan dan menunjukan jari tengahnya pada Lisa membuat Lisa tercengang lalu membungkuk berkali-kali.“Maaf presiden Kim, maaf. Saya terbawa suasana.” Cicit Lisa.Jennie mendengus sebal, ”Maaf, maaf. Belum ada 24 jam aku bersamamu tapi sudah dua kali kau memancing emosiku, Lalisa!!” Omelnya.“Ya karena aku tidak boleh memancing nafsu birahi mu, kan?” Celetuk Lisa.Mendengar jawaban Lisa membuat Jennie menganga, tanpa mengatakan apapun ia kembali memukuli Lisa. Irene hanya menatap bingung kedua orang di hadapan nya, dalam benaknya ia bertanya-tanya; ‘kenapa Jennie bisa bersama Lisa? Dua kali memancing emosi, itu artinya Lisa bersama Jennie sudah dari waktu yang lama. Kapan Jennie bertemu dengan Lisa lagi?’Ting!Pintu lift terbuka tepat di lantai 40 gedung perusahaan tersebut tapi karena Irene sedang bersandar di lift hampir saja dia terjengkang ke belakang tapi karena Lisa melihat itu jadi dia refleks memeluk pinggang Irene. Keduanya diam saling bertatapan tanpa peduli ada Jennie di sana.Apa yang terjadi di hadapannya membuat Jennie semakin kesal, ia menendang kaki Lisa membuat Lisa dan Irene tersadar dan gelagapan. Irene merasa debaran jantungnya berbeda saat dia menatap mata Lisa, sementara Lisa? Entah kenapa dia merasa terpergok berselingkuh oleh Jennie.“Maaf presiden.” Cicit Lisa dan Irene bersamaan.Jennie memutar bola matanya jengah, “Maaf .. maaf saja yang bisa kalian ucapkan dari tadi, aku bosan mendengarnya." Ketusnya, selesai berbicara ia segera keluar dari dalam lift seraya menyenggol bahu Lisa.Melihat kepergian Jennie membuat Irene dan Lisa merasa takut, tanpa menunda mereka bergegas mengikuti Jennie. Tanpa peduli Jennie akan mengamuk lagi Lisa berlari lebih kencang lalu sepatunya berseluncur di lantai hingga tiba di depan sebuah pintu yang memiliki tulisan;Chief Executive Officer Room“Silahkan, presiden Kim.” Ucap Lisa sesaat setelah dia membukakn pintu untuk Jennie.Jennie hanya mengangguk lalu masuk ke dalam, ia memberi kode oleh jari telunjuknya agar Lisa mengikutinya. Lisa mengangguk patuh dan mengikuti Jennie ke dalam, setelah menutup pintu ruangan atasannya dia berjalan ke arah meja kerja Jennie, tiba di samping meja dia menaruh tas dan botol minum Jennie di meja lalu mengaitkan coat di sandaran kursi kebanggaan Jennie. Melihat Jennie hanya berdiri dan diam di sebelahnya dengan tergesa Lisa menarikan kursi untuk Jennie.“Silahkan duduk, tuan putri.”Jennie menoleh secara kasar pada Lisa, “what?”Lisa menyengir kuda, “ah maksud saya .. silahkan duduk, presiden.”Tanpa berkata apapun Jennie duduk di kursi kerjannya, jari lentiknya menekan tombol on pada iMac yang ada di hadapannya lalu ia memutar kursi kerjanya menghadap pada Lisa yang masih setia berdiri di dekat kursi kerjanya.“Bisakah kau merubah penampilan? Aku tidak suka kau memakai Jeans seperti ini, tidak rapih sekali.” Ucap Jennie.Lisa mengangguk, “Tentu saja bisa, bagaimana peraturannya dan penampilan seperti apa yang anda suka, presiden?" Jawabnya.Jennie mengangkat sebelah alis lalu memutar kursi kerjanya, ia mengetik kata kunci di situs web-nya lalu muncul beberapa foto penampilan bodyguard elit, ia mengangguk-anggukan kepala lalu menoleh pada Lisa.“Jika kau mengantarku ke acara resmi seperti pergelaran busana, meeting penting atau acara resmi lainnya kau harus memakai pakaian rapih, pakailah kemeja, dasi, jas atau blazer mungkin, yaaa seperti penampilan bodyguard Elite pada umumnya dan pakai selalu interkom yang terhubung denganku." Jawab Jennie.Lisa mengangguk, “Roger presiden, lalu?”“Jika sedang mengantarku bekerja di perusahaan seperti sekarang, semi formal pun tidak apa, boleh memakai Jeans tapi jangan berwarna terang seperti ini, tetap pakai kemeja dan intinya harus terlihat rapih, bersih dan wangi." Lanjut Jennie.Lisa kembali mengangguk, “hanya itu?”Jennie menggelengkan kepala, “tidak, jika kau sedang mengantarku liburan, shopping atau hang out. Pakailah setelan cassual sesukamu, sesuai usiamu tapi ya harus rapih dan wangi juga, yaa.. Anggap saja sedang mengantar teman, jangan menunjukan kau bodyguardku. Mau memakai dress pun tidak apa.”Lisa tercengang, “aku tidak mau memakai dress karena tidak leluasa berjalan, nanti dressnya terbang-terbang presiden Kim lalu si Panbes Kintama terlihat orang.”“Kau wanita Lisa, kenapa tidak mau memakai dress? Dan siapa itu, siapa? Panbes apa?” Tanya Jennie bingung.“Saya wanita super karena saya punya ini presiden,” Lisa terkikik seraya menunjuk selangkangannya, “saya seorang Intersex.”Jennie terbelalak dan langsung berdiri, “are u sure?”“Iya, saya serius. Apa tuan Kim tidak memberitahu?” Tanya Lisa.“Tidak, aihh daddy~” Gerutu Jennie seraya menepuk keningnya.“Anda menyakitinya tadi pagi presiden Kim.” Cicit Lisa, ia menunduk seraya memaninkan jari tangannya.“Menyakiti siapa?” Tanya Jennie bingung.“Panbes Kintama.” Tunjuk Lisa pada selangkangannya.Jennie tertawa seraya menampar pelan pipi Lisa, “apa kau tidak memiliki nama lain? Astaga .. Nama apa itu?“Itu ada artinya, presiden.” Sombong Lisa seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.Jennie mengangguk-anggukan kepala seraya ikut melipat kedua tangannya di bawah dada, “oh benarkah? Apa arti singkatan apa itu?” Jawabnya di sela kekehannya.“Panbes Kintama = PANjang BESar Kuat Imut daN TAhan laMA.”Jennie tercengang setelah mendengar jawaban Lisa tapi beberapa saat kemudian ia tertawa terbahak–bahak, ia membungkuk lalu duduk secara kasar di kursi kerjanya seraya memegang perutnya. Lisa ikut terkekeh karena melihat tawa lepas Jennie, ia tidak menyangka di balik sinis, galak dan juteknya Jennie ternyata Jennie wanita baik dan tidak segalak yang dia pikirkan.Jarum jam sudah menunjuk angka 12 yang itu artinya waktu istirahat dan makan siang akhirnya tiba. Di saat orang lain sudah bersiap untuk pergi ke kafetaria atau resto untuk menyantap makan siang mereka tapi Jennie masih sibuk meeting. Meskipun sudah merasa lapar Lisa setia menunggu Jennie di depan pintu ruang meeting, dia duduk bersandar dan bertumpang kaki di sofa yang tidak jauh dengan pintu seraya memainkan ponselnya untuk bertukar kabar dengan sang ibu di Thailand.Lisa menceritakan pekerjaan apa yang dia dapat, sang ibu merasa tidak enak karena anak tunggalnya harus menjadi seorang asisten tapi Lisa menjelaskan jika menjadi asisten pun bukan asisten rumah tangga, melainkan asisten CEO dari perusahaan terbesar se-Asia, Eropa dan Amerika. Dia juga menjelaskan jika dia merangkap menjadi seorang bodyguard dan gajinya menjanjikan, rencananya nanti Lisa akan membuka studio foto di Thailand dan Korea dari hasil tabungan dia bekerja menjadi asisten saat ini.25 menit menunggu akhirnya Jennie keluar dari ruangan meeting , Lisa langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Jennie. Jennie hanya mengangguk dan memberi kode dengan lambaian tangan agar Lisa mengikutinya karena dia sendiri masih berbincang dengan clientnya . Lisa mengikuti langkah Jennie, ia berjalan tepat di belakang Jennie dan berdampingan dengan Irene, irene terus mencuri pandang pada Lisa sementara Lisa sendiri sedang asyik memperhatikan Jennie dari belakang, wajah Jennie terlihat luar biasa cantik jika ia sedang berbincang serius, sesekali gummy smilenya muncul membuat Lisa memekik gemas dalam hati.“Oke Mr.Alex, senang bisa bekerja sama dengan anda. Mungkin nanti saya akan turun langsung ke Daegu untuk melihat pabrik di sana.” Ucap Jennie.Pria bernama Alex yang tidak lain adalah client dari Paris mengangguk, “Oke. Thanks presiden, saya senang bisa bekerja sama dengan anda dan perusahaan sebesar Kim Company. Nice to meet you, presiden.” Ucapnya seraya memeluk pinggang Jennie dan bercipika cipiki membuat Lisa menganga apalagi melihat Jennie memegang bahu pria tersebut dan membalas dengan senang hati.“Kau terkejut?” Bisik Irene.Lisa menoleh dan mengangguk, “Yeah, lumayan.” Jawabnya jujur.“Itu sudah biasa jika bersama client dari luar Lisa, apalagi tuan Alex memang client lama.” Ungkap Irene.Lisa mengangguk-anggukan kepala tapi dia tidak mengatakan apapun. Setelah mr Alex masuk ke dalam lift umum, Lisa segera menekan tombol up di lift pribadi Jennie. Melihat Jennie seperti sedang membersihkan tangannya, dengan sigap Lisa mengeluarkan kemasan tissue basah kecil dari saku celananya, pintu lift terbuka Lisa , Jennie dan Irene masuk terlebih dahulu ke dalam lift.“Biar saya bersihkan tangannya, presiden.” Ucap Lisa.Jennie tersenyum tipis seraya menyodorkan telapak tangannya pada Lisa, dengan senang hati Lisa memegang tangan Jennie lalu membersihkan telapak tangan Jennie menggunakan tissue basah, setelah kedua tangan Jennie dia lap menggunakan tissue basah Lisa memberikan setitik cairan gel antiseptik di tangan Jennie yang langsung Jennie ratakan. Irene mengerucutkan bibirnya melihat pemandangan itu, ia cemburu tapi mau bagaimana lagi?“Mau makan di luar, di cafetaria perusahaan atau di ruangan anda, presiden?” Tanya Lisa.Ting!Jennie keluar dari lift seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, “uhm miss Bae, apa masih ada pekerjaan atau meeting lagi?” Tanyanya.Sambil melangkah Irene memeriksa jadwal Jennie di iPad-nya, “masih ada meeting tapi nanti sore, client masih dalam penerbangan.”Jennie mengangguk-anggukan kepala, “baiklah, saya akan pergi makan siang di luar dulu. Anda mau ikut?" Tanyanya di akhir kalimat.“Tentu, jika gratis mana mungkin menolak?” Jawab Irene.Jennie memutar bola matanya malas tanpa mengatakan apa pun, karena pintu ruangan sudah di buka oleh Lisa jadi ia segera masuk ke dalam . Irene adalah sahabat Jennie jadi interaksi mereka kadang profesional sebagaimana Bos dan anak buah, kadang seperti sahabat pada umumnya.Saat masuk ke dalam ruangan, Jennie terbelalak karena melihat kehadiran seseorang. Diaa berseru dan langsung menghampiri orang tersebut di mana memang orang itu sudah berdiri menyambut Jennie, keduanya berpelukan sekilas sebelum akhirnya mereka berdiri berhadapan. Lisa tersenyum kecut dan memilih diam di luar lalu menutup pintu ruangan Jennie.“Kapan kau pulang, oppa?” Tanya Jennie.Seseorang yang Jennie panggil oppa itu tersenyum, “aku baru mendarat dan aku merindukanmu, jadi aku langsung kesini saja.”“Uuu~ i miss you too, lama sekali di Aussie.” Rengek Jennie sebal.“Maaf sayang, sekarang aku sudah pulang kan? kita akan sering bertemu . Ayo makan siang Bersama” Ajaknya.Jennie mengangguk lalu berjalan ke arah kursi meja kerjanya, dia mengambil tas dan coat nya lalu dia kembali menghampiri seseorang itu, Jennie menggandeng lengan pria tersebut lalu keduanya keluar dari ruangan. Di luar ruangan, Irene dan Lisa sudah siap untuk pergi. Jennie menyerahkan tas dan coatnya pada Lisa yang langsung Lisa terima.“Oh iya, oppa .. Ini Lisa, asisten dan bodyguard pribadiku,” Jennie memperkenalkan Lisa pada pria tersebut lalu ia menoleh pada Lisa, “dan Lisa, ini Kim Taehyung ... Kekasihku.”Lisa menghela nafas dan memaksakan senyumnya, ia mengulurkan tangan yang langsung Tae terima“Lisa, Lalisa Manoban.” Ucap Lisa.Tae tersenyum, “Kim Taehyung, Tae atau V.”Lisa mengangguk dan tersenyum , keduanya melepas jabat tangan lalu Lisa segera berjalan menuju lift pribadi Jennie untuk menekankan tombol pintu lift untuk Jennie. Setelah pintu lift terbuka keempatnya masuk ke dalam lift, Lisa menjadi murung apalagi melihat Jennie dan Tae terus bergandengan tangan, berbincang dan terkikik bersama.___“Dia itu first love Jennie, mereka sudah menjalin hubungan semenjak masa kuliah dulu. Tapi aku tidak suka pada pria itu.” Ungkap Irene.Lisa mengangguk-anggukan kepala, “kenapa tidak suka?”“Sudah berkali-kali aku dan sahabatku yang lain memergoki di sedang bersama wanita lain tapi Jennie di buta kan oleh cinta jadi dia tidak percaya pada kami jika kami memberitahunya dengan alasan karena Jennie tidak pernah memergoki sendiri.” Jawab Irene.“Cinta memang bisa membuat orang buta, saking butanya tidak bisa melihat mana toyota camry dan mana lamborghini.” Ucap Lisa seraya menggeleng-gelengkan kepala tapi detik berikutnya dia menyuapkan makanan ke mulutnya.Lisa dan Irene satu meja sedikit berjauhan dengan meja Jennie dan Tae. Lisa terus mencuri pandang pada Jennie, berusaha sigap memperhatikan Jennie .“Lisa, kau memiliki kekasih?” Tanya Irene.Lisa tersenyum, “Tidak, aku trauma pacaran.” ia terkekeh begitupun Irene.“Kenapa trauma? Apa kau di perkosa?”Lisa tertawa hingga hampir tersedak , ia melambai - lambaikan tangan cepat lalu minum terlebih dahulu, selesai minum Lisa kembali berbicara.“Tentu saja tidak, aku atlet dulu jadi aku sering pergi keliling beberapa negara. Saat aku pulang pertandingan, aku memergoki dia sedang bercumbu dengan orang lain padahal dia my First Love, sakitnya sampai ke tulang.” Ungkap Lisa dan ia semakin murung.Irene tersenyum lalu meraih dan menggenggam tangan Lisa yang ada di atas meja, “nanti kau akan menemukan penggantinya, first love memang tidak selalu indah.”Lisa tersenyum lalu melirik pada Jennie, “aku sudah menemukan penggantinya.” Jawabnya.“Yaaa semoga kau bahagia setelah itu, jangan terpuruk karena masa lalu.”Lisa mengangguk, “tentu saja, untuk apa aku terpuruk karena cinta yang menyakitkan? Ck .. Dunia masih berputar, masih banyak cinta yang lebih indah.”Lisa menarik tangannya dari genggaman tangan Irene, irene hanya bisa menghela nafas dan mengikuti Lisa untuk melanjutkan makan siang mereka.___Kim Company - 18.15 pm KSTJennie baru keluar dari ruang meeting saat matahari sudah tenggelam, karena seperti yang Irene bilang jika sore tadi Jennie ada meeting kembali dan meeting baru selesai saat matahari sudah terbenam. Lisa kembali menyambut Jennie, keduanya berjalan bersama untuk menuju lift yang akan membawa ke lantai 40 dimana ruangan Jennie berada.“Aku dengar kau hobi fotografi?” Tanya Jennie saat mereka sudah berada di dalam lift.Lisa mengangguk, “Yeah .. Saya senang mengabadikan momen-momen tertentu lewat hasil jepretan kamera.”Jennie mengangguk-anggukan kepala, “jika begitu bolehkah saya meminta tolong untuk memotret sebuah produk yang akan launching dari Kim Company? saya akan membayarmu nanti di luar gaji yang daddy berikan untukmu.”“Dengan senang hati, presiden.”“Baik, jika begitu besok bawa kameramu ke perusahaan. Akan ada dua sesi, yang pertama parfum dan yang kedua pakaian. Perusahaan kita bergerak di bidang Fashion , kosmetik dan perhiasan jadi ya jika suatu saat nanti ada Job memotret lagi, saya tidak akan sulit mencari fotografer, itu pun jika hasil memotretmu besok memuaskanku.” Ucap Jennie.“Saya yakin bisa memuaskan anda, presiden. Mau berapa sesi pun saya kuat, Kintama.”Jennie menoleh, “itu beda konteks Lalisa!” Dia tertawa seraya memukul kepala Lisa, Lisa pun ikut tertawa sedangkan Irene hanya diam dan terlihat bingung karena tidak mengerti dengan pembahasan Jennie dan Lisa.“Apa itu Kintama?” Tanya Irene tapi Lisa dan Jennie malah saling memandang , bukan menjawab pertanyaan irene keduanya malah tertawa terbahak-bahak terlebih Jennie, “Kalian Gila!” Gerutunya.Irene sudah tahu kenapa Lisa bisa bekerja dengan Jennie, apa posisi Lisa selain asisten dan sejak kapan Lisa bekerja dengan Jennie. Dia senang karena itu artinya dia akan sering bertemu dengan Lisa.Tiba di ruangan Jennie , Lisa langsung menyambar Tas , botol minum dan coat milik Jennie sedangkan Jennie sendiri membereskan meja kerja nya. Setelah semua siap, mereka bergegas keluar lagi dari ruangan Jennie untuk pulang karena malam sudah tiba dan pekerjaan sudah selesai.Tidak berselang lama Lisa dan Jennie sudah tiba di lobby, merasa udara sedikit dingin Lisa segera memasangkan Coat yang ia bawa di bahu Jennie sebelum akhirnya ia membukakan pintu mobil untuk Jennie, setelah Jennie masuk dan duduk nyaman Lisa segera menutup pintu penumpang belakang lalu dia segera menyusul masuk ke dalam mobil. Tidak berselang lama , mercedez maybach yang Lisa kemudikan melaju membelah jalanan kota Seoul.Sepanjang perjalanan keduanya diam , hanya suara alunan lagu yang Lisa putar yang terdengar di dalam mobil. Tiba di persimpangan Lisa menghentikan mobilnya karena traffic light berubah merah, dia melirik Jennie dari spion yang ada di dalam mobil, tanpa sadar dia tersenyum saat melihat Jennie sedang asyik melihat keluar jendela.Sedang asyik menunggu lampu berubah hijau tiba-tiba saja ada sebuah bmw berwarna putih berhenti di sebelah mobil mereka, Jennie menegakkan duduknya karena dia mengenali mobil tersebut, beberapa saat kemudian ia menegang karena benar saja , di dalam mobil itu ada Tae dengan seorang wanita , tampak mesra bahkan dengan mata kepalanya sendiri Jennie melihat Tae mencium pipi si wanita yang duduk di sebelah Tae.“Fuck!” Umpat Jennie.Lisa mengerutkan kening setselah mendengar umpatan atasannya, dia kembali mengintip Jennie dari spion tapi karena dia melihat Jennie menangis sambil menatap keluar jendela Lisa segera mengikuti arah pandang Jennie, melihat Tae sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil Lisa meremas kencang stir mobil dan merasa marah meski ia tidak tahu apa sebabnya.“Lisa.” Rengek Jennie.Lisa tersenyum, “kemarilah, pindah duduk di sampingku.”Jennie mengangguk lalu ia membuka stilettonya dan pindah ke kursi penumpang depan, masih ada waktu 90 detik sebelum traffic light berubah hijau jadi tidak sulit bagi Jennie untu pindah tempat duduk.“Gunakan bahuku , kemarilah. Aku siap menjadi teman mu.”Tanpa menunda atau mengatakan apapun Jennie langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Lisa, memeluk pinggang Lisa lalu menangis terisak di bahu Lisa. Lisa diam saat Jennie meremas kemeja bagian depannya, tanpa canggung dia mengelus kepala Jennie dan membiarkan Jennie menangis di bahu nya. Entah kenapa keduanya sama-sama tidak merasa canggung meski pertemuan pertama di dalam pesawat dan pertemuan kedua di mansion mereka memiliki kesan menyebalkan tapi Jennie sama sekali tidak canggung pada Lisa padahal tau jika Lisa bukan wanita seutuhnya, mungkin karena tengil dan easy going nya Lisa atau cara Lisa bekerja membuat Jennie nyaman? Entahlah.“Sssttt .. Buatlah janji untuk bertemu, aku sudah memotretnya dan minta penjelasan padanya. Jangan asal menuduh, arraseo?”Jennie mengangguk seperti anak kecil, “malam ini kau akan pulang?”“Iya, aku harus ke unit ku menyimpan tas dulu.”“Aku ikut, jika kau tidak lelah.. Ayo pergi ke Bar, aku butuh alkohol.”“Baiklah presiden Kim yang cantik jelita, kesayangannya Kintama.”Jennie memukul kencang perut Lisa, dia menegakan duduknya lalu dia tertawa seraya menghapus air matanya seperti anak kecil. Lisa ikut terkekeh dan membantu Jennie menghapus air matanya.__Octagon BarLisa , Jennie , Irene dan Jisoo sedang berada di sebuah Bar. Bar itu adalah Bar Elite yang tidak bisa sembarangan kalangan masuk ke sana. Biasanya Bar tersebut di penuhi oleh para pengusaha meski sering kali beberapa idol, aktris atau aktor korea juga datang ke Bar tersebut. Jennie terus minum, dia melampiaskan emosinya pada minuman dan mereka membiarkan itu karena Lisa sudah menceritakan apa yang terjadi , mereka mengerti meski masih tetap saja Jennie menyebut-nyebut nama Tae.“Babe.”Semua menoleh ke arah suara, muncul seseorang yang langsung menghampiri meja mereka dan mengecup bibir Jisoo. Dia tidak sendiri karena dia membawa seseorang yang tidak lain adalah sahabatnya.“Lisa, ini kekasihku .. Park Chaeyoung atau kau bisa Rosé.”“Hi .. Lisa, Lalisa Manoban.”Lisa dan Rosé berjabat tangan seraya berbincang kecil sebelum akhirnya dia mengenalkan seseorang yang dia bawa.“Guys .. Ini sahabatku, Kang Seulgi.”“Hi .. Ugi, Kang Seulgi.”Setelah berkenalan mereka bergabung dan berbincang bersama dalam satu meja, meski Lisa terus memperhatikan dan mengontrol alkohol yang Jennie minum. Dari perbincangan itu Lisa tahu jika Rosé adalah pengacara yang bekerja sebagai kuasa hukum di Kim Ent. Kim Ent adalah bisnis agensi yang di kelola oleh Jisoo. Sementara Seulgi adalah sahabat sekaligus sekertaris Rosé dan dari situ Lisa juga tahu jika Rosé dan Seulgi sama dengannya, sama-sama memiliki makhluk imut.Suara hentakan musik masih menggema membuat jantung terasa berdebar, kerlap-kerlip lampu membuat kepala yang sudah pusing terasa semakin pusing. Suara tawa lepas dan suara musik terdengar menyatu dan berbaur, kepulan asap rokok dan aroma alkohol membuat hidung terasa pengap namun itu tidak membuat orang-orang tidak betah di sana.Malam semakin larut, jalanan pun sudah terlihat lengang namun di dance floor sebuah bar, orang-orang masih terlihat penuh dan asyik menggoyangkan tubuh mengikuti hentakan irama musik yang seorang dj mainkan. Jennie dan Lisa ada dalamnya, Jennie ingin menari dan karena Lisa khawatir terpaksa dia menemani atasannya.Milik Lisa terasa sudah sangat sesak karena Jennie terus meliuk-liukan tubuhnya secara sensual di hadapan Lisa, pakaian yang extra sexy bahkan perut rata Jennie pun di biarkan terbuka membuat pikiran Lisa jauh melayang, dia berkhayal hal yang tidak-tidak tentang dirinya dan Jennie. Beberapa kali pria-pria asing mencoba menyentuh Jennie dan berkali-kali juga Lisa setia melindungi Jennie.“Ayo pulang, sudah malam.” Ucap Lisa.Jennie mengerucutkan bibirnya, di tengah kesadaran nya yang sudah menipis karena pengaruh alkohol ia menggelengkan kepala, “Masih ramai Lisa, kenapa buru - buru sekali?”“Besok kau ada meeting presiden, jangan sampai kau terlambat.” Ucap Lisa.“Jangan memanggilku presiden jika sedang di luar, panggil Jennie saja,” ucapnya membuat Lisa tersenyum dan mengangguk, “soal besok, tenang saja. Aku tidak akan terlambat.”Lisa hanya bisa menghela nafas dan mengangguk, dia hanya minum sedikit karena dia harus tetap sadar untuk melindungi Jennie. Keduanya kembali menari, Jennie membelakangi Lisa dan menggerak-gerakkan pinggulnya hingga bokong sintalnya mengenai selangkangan Lisa, Lisa mendesis seraya memeluk perut Jennie.“Dia bangun?” Goda Jennie.Lisa tersenyum, “ Kau sexy dan kau terus menggodanya.”Jennie terkekeh dan semakin menekan bokongnya di milik Lisa yang sudah sangat mengeras, terbawa suasana Lisa memeluk erat perut Jennie lalu ikut menekan pinggul nya ke arah bokong Jennie. Jennie kembali terkekeh, tangannya terulur ke belakang lalu memeluk kepala Lisa, meremas dan menjambak pelan tanpa menghentikang tariannya.“Kau membuat ku gila, Jennie Kim.” Bisik Lisa di telinga Jennie.Jennie tidak menjawab ucapan Lisa, dia benar-benar sudah tidak sadar karena pengaruh alkohol. Karena semakin terbawa suasana dia menoleh dan mengklaim bibir Lisa begitu saja, keduanya berciuman panas tanpa peduli dengan orang-orang di sana yang menganggap Jennie berciuman dengan sesama wanita.Lisa mendorong Jennie, keduanya berjalan ke arah lorong gelap menuju VIP room. Tanpa peduli apa yang akan terjadi besok Lisa membalik posisi Jennie agar menghadap padanya, dia menghimpit Jennie di dinding lalu dia kembali mengklaim bibir Jennie. Kepala mereka terus miring ke kiri dan ke kanan, ciuman semakin dalam bahkan air liur mereka menetes ke dagu tapi mereka tidak peduli.“Enghhhh~”Jennie melenguh di balik ciuman panasnya dengan Lisa saat Lisa kembali menekan pinggulnya ke arah selangkangannya, tidak jauh dari sana ada Irene yang memperhatikan keduanya bercumbu panas, ia tersenyum lalu menggelengkan kepala dan memilih untuk berlalu tapi tepat saat ia berbalik ada seulgi di sana membuatnya tersentak. Tanpa memberi waktu untuk berontak Seulgi langsung menghimpit Irene di dinding, keduanya bertatapan tanpa canggung Seulgi mengelus pipi Irene membuat Irene menelan ludah secara kasar.“Miss Bae, kau cantik.”Belum sempat Irene menjawab, Seulgi langsung mengklaim bibir Irene begitu saja membuat Irene terbelalak, dia tahu Seulgi mabuk begitupu dengannya tapi jelas saja dia masih sadar. Dia bingung harus bagaimana, mau melepas tapi ciuman yang Seulgi berikan terasa lembut dan nikmat alhasil dia membalas ciuman yang Seulgi lakukan.Di sisi mereka Jennie dan Lisa terus saling mendominasi ciuman mereka, tangan Lisa tidak diam, dia terus mengelus dan meremas bokong sintal Jennie, terus menekan agar selangkangan Jennie menekan dan menggesek miliknya. Tangan Jennie pun tidak diam, tangan kirinya terus meremas rambut Lisa dan tangan kanan mengelus dan kadang meremas punggung Lisa.“I want you.” Bisik Jennie di depan bibir Lisa.Meski nafsu sudah di ubun-ubun, tetap saja Lisa tercengang mendengar permintaan Jennie, “are u sure?”“Yeah .. Ayo ke mobil.” Jawab Jennie.Dengan langkah sempoyongan Jennie menarik tangan Lisa, dia berjalan tergesa ke arah mobil. Saat melewati table mereka Lisa bisa melihat jika Jisoo sudah ada di pangkuan Rosé, dia tersenyum karena melihat keduasejoli itu pun sedang bercumbu panas tapi dia membiarkan dan tidak berniat untu mengganggu.Beberapa saat kemudian, Jennie dan Lisa sudah tiba di mobil, saat kunci mobil terbuka Jennie segera membuka pintu penumpang belakang, ia menarik Lisa untuk masuk ke dalam mobil. Lisa duduk di jok dan Jennie duduk di pangkuan Lisa.“Oh my Gosh.” Erang Jennie seraya menggerakkan pinggulnya membuat milik mereka bergesekan dari luar celana yang mereka pakai, Jennie menelan ludah saat melihat bibir Lisa sedikit terbuka, ia memajukan kepala mengikis jarak wajah mereka, tapi tepat saat Lisa membuka mulutnya untuk menerima lidah Jennie tiba-tiba…Huekss!Jennie muntah kedalam mulut Lisa. Cukup banyak dan sangat bau membuat Lisa sangat mual, dengan tergesa dia membuka pintu mobil, keduanya muntah Bersama di samping mobil.“Sialan!” Umpat Lisa kesal.Huekss!!Jennie terus muntah begitupun Lisa, jika Jennie muntah karena alkohol yang dia minum berbeda dengan Lisa, dia muntah karena melihat dan mencium aroma muntahan Jennie.___Keesokan paginya …Jennie meringis saat terbangun dari tidurnya, dia duduk di atas tempat tidur seraya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Dia duduk bersila lalu dia membungkuk seraya menaruh kedua sikutnya di area lutut, dia menunduk dan menyanggah kepalanya dengan kedua tangan.“Gila, berapa botol minuman yang aku minum semalam?”Jennie terus diam namun beberapa menit kemudian ia mengerutkan kening, dia menunduk melihat bajunya. Dia tertegun karena dia sudah memakai piyama, dia mengangkat kepala melihat sekeliling ruangan dan raut wajahnya terlihat sangat kebingungan karena dia sudah berada di kamarnya.“Shit! Apa asisten mesum itu menelanjangiku?” Gumam Jennie lalu ia menegakan duduknya dan meremas kerah piyamanya menggunakan kedua tangan, lalu dia menekan-nekan selangkangannya menggunakan tumit kaki, “Tapi tidak sakit, orang-orang bilang jika pertama akan sakit. Aman, aku masih perawan tapi .... Jika Lisa yang menelanjangiku? OMG ... Awas saja, Lisa!” Erangnya kesal.Setelah mengerang kesal Jennie menoleh ke arah meja samping tempat tidurnya, dia menghela nafas lega saat melihat jam masih menunjuk ke angka 6. Tapi dia mengangkat alisnya saat melihat ada 1 gelas air minum dan dua butir obat di atas kertas, ia menggeser duduknya lalu membaca tulisan tangan di atas kertas itu.Eat me, presiden :)Jennie mengigit bibir bawahnya lalu tersenyum, tanpa basi-basi dia meraih dan segera meminum dua butir obat yang dia yakini itu obat penghilang pengar dan sakit kepala, dengan bantuan segelas air putih Jennie berhasil menelan dua butir obat tersebut.Ceklek ~Tepat setelah obat tertelan pintu kamar terbuka dari luar, Jennie menoleh ke arah pintu, dia mengangkat sebelah alis saat melihat Lisa masuk ke dalam kamarnya dan sudah berpakaian rapih, tapi dia merasa heran karena dia melihat wajah Lisa di tekuk dan ia membawa piring berisi roti panggang di tangannya.“Isi dulu perut anda baru mandi. Saya tunggu di bawah.” Ucap Lisa ketus seraya menaruh piring itu di atas kasur tepat di hadapan Jennie.Selesai berbicara Lisa berbalik dan melahkah ke arah pintu, detik berikutnya dia keluar dari kamar atasannya begitu saja membuat Jennie tertegun dan merasa heran dengan gelagat Lisa pagi ini.“Ada apa dengan manusia mesum itu? Apa aku punya salah?”Setelah pintu kamar Kembali tertutup dari luar Jennie mengangkat kedua bahunya acuh, dia segera meraih dan memakan roti panggang yang tadi Lisa bawakan seraya memainkan ponsel karena ia sedang bertukar pesan dengan Tae. Tapi setelah selesai mengisi perutnya, dia bergegas pergi ke kamar mandi.Setelah kurang lebih 1 jam Lisa menunggu akhirnya suara pintu lift terbuka terdengar. Lisa yang sedang duduk santai di ruang tamu segera berdiri dan merapihkan pakaiannya, dia memakai celana jeans biru tua dan kemeja oversize berwarna putih, bagian depan di masukan tapi bagian belakang di biarkan begitu saja, kedua lengan kemeja dia lipat hingga ke lengan dan di bawah ia memakai sepatu boots berwarna coklat tua.Jennie mengangguk-anggukan kepala saat melihat penampilan Lisa, dia menyerahkan tas dan blazernya pada Lisa lalu dia berlalu menuju ruang makan.“Morning dad , morning Jisoonie.” Sapa Jennie seraya menyambar segelas susu yang sudah siap di atas meja makan.“Tidak sarapan dulu?” Tanya Jisoo.“Sudah, jadi .. Aku berangkat dulu. Bye.” Pamit Jennie sesaat ia setelah menghabiskan segelas susu yang sengaja di siapkan untuknya.Jennie pergi begitu saja dari ruang makan tanpa mengatakan apapun lagi, melihat itu Lisa segera membungkuk pada Jisoo dan tuan Kim lalu berlalu mengikuti Jennie. Di depan mansion, Lisa bergegas membuka kan pintu mobil untuk Jennie seperti biasanya, merasa Jennie sudah duduk nyaman dia segera menutup pintu mobil lalu dia pun masuk ke dalam mobil.Beberapa saat kemudian mobil berwarna hitam itu sudah melaju, Lisa masih terus diam membuat Jennie heran, Ia menggeser duduknya ke depan lalu mencondongkan kepalanya ke depan dan menoleh mengintip Lisa.“Kau yang menggantikan aku baju?”Lisa menggelengkan kepala, “kepala maid.”Jennie mengangguk-anggukan kepala, “kau kenapa?”“Kenapa apanya?” Balas Lisa tanpa menoleh dan terus fokus pada kemudinya.“Tumben kau berkamuflase menjadi pendiam.” Ledek Jennie.“Sedang sebal.” Jawab Lisa jujur.“Apa aku punya salah?” Tanya Jennie ingin tahu.“Salah besar!” Kesal Lisa penuh penekanan.Jennie menganga, “mwo? Ada dua pasal yang harus kau tau, pasal pertama : Presiden Kim tidak pernah salah . Pasal kedua : Jika Presiden Kim salah balik ke pasal pertama.”“Kau muntah di mulutku presiden Kim yang terhormat!” Kesal Lisa seraya menoleh ke belakang secara kasar karena traffic light berubah merah.“Jinjja?” Tanya Jennie tidak percaya.“Kau tidak ingat apa yang kita lakukan semalam?” Tanya Lisa tapi Jennie hanya menggeleng sebagai jawban, “sedikitpun?” Lanjutnya dan Jennie mengangguk.“Kau, kita aaaarrhhh! sudah lah. Intinya kau muntah di mulutku.” Kesal Lisa seraya kembali membetulkan posisi duduknya dan menghadap ke depan.Jennie mengerucutkan bibirnya ke depan lalu menusuk-nusuk pipi Lisa, “Maaf .. Aku tidak sadar jadi yaa.. itu tidak sengaja, kan?”“Hmm.”“Apa yang kita lakukan semalam?” Tanya Jennie.Lisa menggelengkan kepala dan memilih tidak menjawab pertanyaan Jennie. saat traffic light berubah hijau, Lisa menginjak pedal gas cukup dalam hingga mobil melesat begitu saja dan Jennie terjengkang ke belakang.“Asisten kurang ajar!" Pekik Jennie seraya mengelus kepala bagian belakangnya namun Lisa tidak peduli dan terus fokus pada kemudinya.Semalam Lisa sadar meski dia pun meminum alkohol, cumbuan panas mereka membuat Lisa yakin jika dia menyukai Jennie tapi Jennie tidak ingat? Hah .. Dia hanya bisa diam.___Jennie dan Tae duduk berhadapan sedangkan Lisa duduk di tempat duduk yang ada di belakang Jennie, dia membelakangi Jennie dan terhalang oleh dua meja. Ini jam makan siang dan Jennie sengaja menggunakan jam makan siang untuk membuat janji bertemu dengan Tae, ia sedang mengintrogasi Tae soal kejadian kemarin bahkan Jennie sudah menunjukan foto saat Tae mengecup pipi wanita di sebelahnya.“Kau cemburu? Dia sepupuku sayang, astaga.” Ucap Tae seraya menggenggam tangan Jennie yang ada di atas meja.“Sepupu yang mana? Aku baru melihatnya.” Ketus Jennie tanpa menatap Tae.Tae tersenyum seraya menghela nafas, “dia sepupuku dari Swiss, kami baru bertemu lagi karena dia baru saja kembali ke Korea, kami dekat jadi ya memang aku dan dia begitu. Mencium pipi sepupu, bukan kah itu hal wajar?”“Aku cemburu!” Bentak Jennie kesal.“Apa-apaan itu? Sejak kapan kau berani membentakku?” Kesal Tae.Jennie menggenggam erat tangan Tae, “maaf .. Aku cemburu, oppa. Mengertilah.” Rengek Jennie.Tae Kembali menghela nafas, “sayang, kita menjalin hubungan sudah lama. Sudah hampir 5 tahun kita bersama dan kau masih tidak percaya padaku? Kau boleh dan berhak cemburu tapi jangan sampai membentak seperti itu, aku tidak suka. Percayalah Jennie, kau satu - satunya sayang, aku sangat mencintaimu.”“Sungguh?” Tanya Jennie menatap Tae dan matanya berkaca-kaca.“Aku serius Jennie, hanya kau kekasihku. Percaya hum?” Rayu Tae lembut.“Aku percaya oppa, jangan berpaling dariku. I love you.” Balas Jennie.Tae mengangguk dan tersenyum, ia terus menggenggam tangan Jennie tapi genggaman tangan itu terlepas karena pesanan mereka tiba, jadi keduanya memilih untuk menyantap makan siang bersama. Di belakang Jennie, Lisa tersenyum dan ia menyesap santai kopi nya.“Sayang, boleh kah aku meminjam uang? Aku berencana memperluas bisnisku, aku ingin menambah cabang studio musicku tapi aku kekurangan modal, kau tahu kan aku juga harus membiayai adikku kuliah dan ibuku yang terkena struk.” Ucap Tae seraya menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Jennie.“Berapa?” Tanya Jennie sebelum ia membuka mulut untuk menerima suapan dari Tae.“Tidak banyak, hanya 30 juta won. Biaya pembangunan dan membeli tanah cukup mahal, kau tau aku tidak mau menyewa tempat, aku lebih suka jika membangun lebih awal.”Jennie terbelalak, “30 juta won?”Tae tersenyum dan menunduk, “iya, tidak apa jika kau tidak mau meminjamkan, aku akan menjual mobil saja.”“Tidak .. Tidak .. Mobil itu hadiah ulang tahun dariku, enak saja kau mau menjualnya. Nanti aku transfer hum?” Ucap Jennie seraya mengelus tangan Tae yang ada di atas meja.Tae tersenyum lebar, “Terima kasih sayang, kau selalu menjadi pendukung segala hal yang aku lakukan.”“Selama itu positif, aku akan selalu mendukung mu.” Jawab Jennie.keduanya saling melempar senyum, tapi setelah itu mereka menghentikan perbincangan dan memilih menikmati santapan siang mereka .‘Bodoh!‘ - Batin Tae.__Lisa menghela nafas lemah karena di dalam mobil terasa sepi meski ia mendengarkan musik. Setelah makan siang, Jennie pergi Bersama Tae dan menyuruhnya pulang sendiri, itulah yang membuatnya merasa kesepian.Drrrt~Getaran ponsel membuat Lisa memilih m

CEO WITH BENEFIT
Romance
06 Jan 2026

CEO WITH BENEFIT

Raline segera menaiki trans jakarta, suasana yang sangat berdesakan membuat siapapun yang menaiki ingin berteriak.Bayangkan saja bus ini hanya sepi di hari minggu dan hari lebaran, selain hari itu? Benar - benar berlebih muatan nya.Raline turun dari bus setelah dia sampai di halte taman anggrek, dengan langkah cepat ia menekan kartu multitrip nya ke pintu keluar dan segera menyebrang ke kantor di tempat nya bekerja."Aduhh semoga ga telat deh."Memang, Raline belum pernah terlambat, hanya saja Raline ingin menghindar dari bos nya yang sangat menyebalkan.Apakah bos itu tua?Tidak.Lalu?Masih sangat muda, umurnya saja baru 26 tahun.Entahlah apa yang membuat Raline tidak suka, yang ia pikirkan jangan sampai bertemu dengan bos nya."Aline kenapa loe? Kayak orang kesetanan?""Gapapa kok gue.""Yang bener? Kok lari - larian gini?""Iya bri gue males nanti ketemu temen loe tuh""Yaelah, udah sana absen cepetan."Abrio sedikit terkejut dengan tingkah laku Raline yang seperti dikejar setan, tetapi karena sudah menhetahui alasan nya, Abrio tidak asing.*"Aline loe mau makan siang gaaaa?""Mau sih tapi gue masih ada kerjaan""Yaudah loe mau gue beliin apaa?""Gausah raa gue bawa bekel kokkk""Yaudah gue makan sama brio yah , jangan lupa makan.""Iyea Araaa "Ara teman kantor Raline sekaligus penghuni kubikel sebrang Raline meninggalkan nya dan mengajak Abrio ke kantin yang berada di paling bawah gedung kantornya."Aish gila ya emang CEO macam apa coba yang ngasih gue kerjaan beda dari karyawan yg lain."Raline mengecek segala data yang ada di atas kertas - kertas tebal dan Raline sebari membuka kotak bekal nya. Hari ini Raline hanya membawa sayur kangkung dan telur cabai. Sederhana karna Raline hanya mementingkan gizi dan kenyang nya saja."Ehm, Raline data - data yang saya berikan apa sudah semua kamu cek?"Raline yang sedang mengunyah makananya terpaksa menelan nya walau belum saatnya. Raline bangun dari kursinya dan menatap bos nya."Maaf pak, sedikit lagi tinggal data pemasukan saja.""Bagus.""Boleh saya duduk disini melihat dokumen yang sudah kamu cek?""Silahkan pak."Bos Raline mengambil kursi tempat duduk Ara dan menyeretnya ke meja Raline, duduk tepat di sisi samping meja Raline."Lanjutkan saja makan siangnya""Baik pak."Raline melanjutkan makan siangnya dan mengecek segala data - data yang tersisa, pemasukan perusahaan yang terbilang wow.Arbiaz POVGue melihat - lihat dokumen yang telah di periksa oleh Raline , hmm lumayan juga kerja seorang Raline, gue kira manusia yang sederhana ini kerja nya gak bener.Dan dari muka nya ternyata cantik gini gak males kerja nya, biasanya muka cantik tapi penipu."Woy ngapain loe di meja Raline?" Abrio mengagetkan Biaz."Menurut loe gw ngapain hah?""Loe liat dong Raline ketakutan lu duduk disini""Yaelah emang gue setan?""Nah bagus sadar.""Aish.. jangan sampe gue potong gaji loe ""Ya jangan dong, gue kan mau kawin.""Kawin kawin, gak ... Gue dulu lah yang kawin.""Apaan sih loe berdua ngomongin kawin jam istirahat udah beres." Pecah Ara"Iyee iyee." Arbiaz pun mengalah"Jangan sampe gue bilangin nyokap lo.""IYA ARA GUE PERGI, Raline kalau sudah selesai tolong bawa ke ruangan saya ya.""Baik pak."***"Akhirnya selesai jugaa."Raline meregangkan tangannya keatas dan kepalanya, Raline segera mengecek jam di tangannya.Jam 3.30"Wah gila satu jam lagi pulang yassh.""Line, jangan lupa ke ruangannya pa Biaz.""Oh iyaa, sippp makasiii Ara ku."****Raline pergi ke toilet didekat kubikel kubikel kantor, ia merapikan baju dan rambut nya, ya Raline memang sedikit acak - acak an bila sedang bekerja, bahkan Abrio terkadang mengatain nya Gembel rajin, dikarenakan rambutnya yang acak - acakan ketika bekerja.Raline mengambil setumpuk dokumen nya dan berjalan ke arah ruangan Arbiaz, Raline menemui sekretaris pribadi Arbiaz, Olivie untuk mengecek apakah ada tamu di dalam ruangan Arbiaz."Ol, ada agenda ga pa biaz? Mau anter dokumen nih.""Bentar diliat dulu yah.""Hmmm ga ada kok, udah semua agenda penting nya dia kosong sampe pulang.""Okee gue masuk yaaa.""Iyah kerja lembur bagai kuda."Raline masuk ke dalam ruangan Arbiaz, Olivie menutup pintu ruangan nya kembali."Permisi, Pak Arbiaz, saya mau mengantarkan dokumen yang sudah saya cek.""Oh,masuk sini.""Hmm ini sudah, ini sudah, ini juga, okay.""Oh iya sebentar ada satu lagi"Arbiaz mengambil sebuah map dari rak, dan menyerahkan map itu kepada Raline diatas meja nya."Saya mau ini kamu selesaikan ini di rumah karena besok mau saya pakai presentasi di jam 2 siang, saya harap kamu besok lagi sudah menaruh nya di meja saya.""Ohh okay baik pak."Arbiaz bangun dari tempat duduknya berjalan ke tempat duduk Raline, mendekati Raline."Malam ini saya mau konfirmasi nya melalui chat."Dan Arbiaz mengizinkan Raline pergi.Pintu kamar apartemen kecil Raline terbuka, Raline memasuki kamar nya dan merebahkan badan nya diatas ranjang membentuk bintang laut."Kenapa yah sampe harus bawa kerjaan ke rumah."Tinngg tong tingSuara ponsel Raline berbunyi,segera Raline membuka aplikasi chat dan menemukan pesan masuk baru.Yang terlihat hanya nomor saja tidak ada namanya.Raline segera membuka foto profil, dan dia menemukan wajah Arbiaz, bos nya."Malam, mbak Raline, apakah sudah selesai file presentasi saya?"Raline langsung terbangun dari ranjang nya dia segera membuka laptop dan folder presentasi itu dan langsung bekerja serta mendiamkan pesan bos nya.*****Raline to Pak Arbiaz"Mohon maaf saya baru melihat pesan bapak, saya sudah selesai pak, besok pagi saya taruh di meja pak Biaz.""Terima kasih."Raline segera mengambil piring untuk nya makan malam, sambil menonton acara televisi kesukaannya untuk menghilangkan penat pekerjaan yang menekan nya.***Raline bergegas ke kantor Arbiaz, ditemui nya Arbiaz yang sedang mengecek presentasi menggunakan proyektor nya."Permisi pak, ini file yang bapak minta.""Silahkan duduk""Oke saya cek sebentar.""Oke sudah lengkap semua, terima kasih."Baru saja Raline ingin meninggalkan ruangan Arbiaz, Raline terpanggil."Raline.""Iya pak.""Bisa nanti jam 4.15 ke ruangan saya? Mungkin saja ada yang harus saya evaluasi.""Oke pak."Raline meninggalkan ruangan Arbiaz, dan menutup pintu ruangan tersebut. Raline menyenderkan tubuhnya ke tembok dengan kaki gemetar."Gila sih ya udah ngasih kerjaan banyak, terus tar sore evaluasi, jadi qudha beneran gue lama lama."***"Aline mau bareng ga nih pulang? Loe udah selsai kan? Hari ini jumat nih besok weekend gak ada kerjaan lagi kan?" ajak Brio."Duluan aja briii gue masih ada urusan sama Pak Arbiaz.""Ohhh gituu okay."Abrio mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar, sebelum keluar Brio mendekati Raline dan membisikan sesuatu."Hati-hati yah sama Arbiaz."Kemudian Brio meninggalkan Raline.*****Raline membawa tas nya dan berjalan ke ruangan Arbiaz, Olivie saja sudah tidak ada di meja nya, Raline memberanikan mengetuk pintu dan membuka pintu secara perlahan memasuki ruangan Arbiaz."Silahkan masuk Raline, have a seat."Raline duduk di kursi yang berhadapan dengan Arbiaz."Hmm mengenai hasil kerja kamu saya cukup terkesan, kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan baik."Arbiaz bangun dari kursinya dan membereskan telepon genggam dan laptop nya ke dalam tas dan mendorong kursi nya."Saya juga suka dengan presentasinya, terimakasih ya.""Hmm saya mau keluar karna besok weekend, kamu mau nemenin saya makan ga?""Maksud nya pak?"Arbiaz memutar kursi Raline ke samping dan menarik tangan Raline membawa Raline keluar dari ruangan nya, menuju parkiran mobil dan membawa Raline pergi.****"Kamu mau pesan apa?""Hmm duluan aja pak.""Pelayan!""Iya, bisa dibantu mau pesan apa?""Steak sapi, kematanganya sempurna ya""Mbak nya mau pesen apa?""Steak ayam.""Minuman nya?""Saya Don't forget me aja.""Mbak nya?""Di sama in aja.""Oke sebentar , pesanan akan diantarkan 20 menit."Pelayan pun meninggalkan mereka berdua, Raline menatap keluar jendela, orang - orang berlalu lalang, banyak juga pasangan yang berjalan di derasnya hujan.Raline kapan?Uhhh tak usah ditanya.***Pesanan pun datang, asap steak yang baru keluar dari pemanggangan tercium baunya membuat siapapun tergoda dengan aroma nya, ditambah dengan perut Raline yang keroncongan."Selamat menikmati." sahut si pelayan"Silakan dimakan Raline."Raline mecoba memotong steak nya dengan perlahan, dengan hati - hati agar steak nya tidak terpental."Kamu asli mana?""Saya asli Bandung.""Bapak asli mana?""Saya asli Magelang.""Ohh magelang yang banyak candi nya itu yah?""Iyah Raline, kamu sering ke sana?""Hmm nggak, saya udah pernah kesana aja 3 kali waktu saya sekolah dulu.""Haha study tour ya." Balas Raline sambil tersenyum.***"Raline, saya antar pulang ya.""Tidak terimakasih pak ,saya bisa pulang sendiri.""Udah gapapa, saya cuman anter kamu sampe depan kokk."Arbiaz membuka pintu untuk Raline dan menutup nya. Arbiaz mengendarain mobil nya."Terim kasih pak, maaf merepotkan.""Selaw aja, umur saya ga beda jauh sama kamu.""Iya pak, saya duluan yah."Baru saja Raline ingin membuka pintu mobil, Biaz menarik tangan Raline dan memanggil nya."Aline, kamu mau gak jadi lebih dari temen kantor?"Seminggu berlalu Raline bekerja, dan belum menjawab tawaran Arbiaz, tetapi seminggu ini juga Biaz mengantar Raline pulang, hanya mengantar dikarenakan sebentar lagi libur panjang dan banyak pekerjaan yang ingin dikejar."Ara loe kan sepupu Pak Biaz, Pak Biaz itu orang nya gimana?""Napa loe nanya - nanya? Biasanya benci bangedds.""Nanya doang elahhh.""Hehehe candaa, biaz tu orang nya dingin, tapi kalo orang nya udah deket dia ga kokk.""Ohh gitu.""Kenapa lu di ajak pacaran ya sama dia?""Nggakk, gue gak mau sama dia, dingin gitu kaku, banyak perintah tepat waktu.""Alaahh wkwkw masih gue liatin line.""Ckkk kalo CEO kan cwek nya banyak males gue.""Whahaha Biaz mah engga kok dia ga se haus itu.""Gue duluan ya Linee, ati ati ya.""Hati - hati raaa."Raline mengecek halaman terakhir di map terakhir pekerjaannya, akhirnya."Raline, gimana sudah selesai?"Raline terkejut dengan hadirnya Arbiaz secara tiba - tiba dan langsung mengambil kursi Ara dan duduk di samping Raline."Eehmm tinggal ini pa terakhir.""Oke karena Olivie sudah pulang dan Abrio juga sudah tidak ada, ruangan saya terasa sepi, jadi saya boleh disini?""Silahkan pak.""Lanjutkan."Arbiaz membuka ponsel nya mengecek beberapa email masuk, sambil memandangi Raline, dengan rambut berantakan, sekeras ini kah Raline? Pikir Biaz dalam hati. maaf ya bila saya membuatmu agak tersiksa."Ini pak sudah selsai.""Oke saya cek disini saja ya.""Ini sudah,hmm oke, oke, oke.""Oke selesai semua, terima kasih Raline.""Iya sama - sama pak.""Hmm ini saya taruh di meja kamu dulu yah, besok pagi saya minta olivie membawa ke ruangan saya.""Iya pak tidak apa - apa."Arbiaz berdiri dari kursi nya dan mengembalikan kursi Ara ke tempatnya, Raline membereskan laptop dan iphone nya ke dalam tas ,dan merapihkan kursinya."Raline ikut saya yah..."Raline mengikuti langkah Arbiaz, entah dibawa kemana dirinya, Raline terus mengikuti arah Arbiaz berjalan.Raline menaiki elevator bersama Biaz, ditekan nya tombol angka pada lift tersebut, lantai 35. Lantai teratas gedung ini." Astaga ngapain ke lantai paling atas, semoga aja dia ga ngebunuh gue."Raline tetap diam sambil memainkan jari tanganya, gugup takut semuanya mencapur aduk jadi satu, entah apa yang Biaz pikirkan dan apa yang akan Biaz lakukan kepadanya."Oke kita sudah sampai."Arbiaz keluar dari lift diikuti Raline, lorong yang sangat remang-remang, tempat yang jarang sekali dilewati orang, sedikit cctv yang dipasang di sini, mungkin bila ada perayaan-perayaan tertentu saja yang membuat lantai teratas ini dipakai. Kalau hari biasa? hanya petugas kebersihan dan satpam mungkin.Arbiaz membuka pintu berwarna hijau besar, menggengam tangan Raline dan mengajak nya keluar dari gedung itu, dengan langkah hati - hati Biaz menggiring Raline agar tidak mengenai genangan - genangan air."Duduk sini gapapa kan?""Iya gapapa." Angguk Raline ragu.Arbiaz membuka jas nya dan memakai kan pada Raline, diingatnya hari ini adalah hari Jumat semua karyawan boleh mengenakan kemeja bebas, dan Raline mengenakan kemeja berlengan pendek."Emm, maaf ya gue harus bawa loe ke tempat ber angin kenceng kayak gini.""Iya gapapa pak.""Gak usah formal, jam kantor sudah abis jadi selow aja."Angin berhembus semakin kencang, Raline semakin memeluk dirinya agar tubuhnya tetap hangat, tidak dengan Arbiaz yang sedari tadi biasa saja, rasanya angin hanya bergerak melewati dirinya saja tanpa mengubah sesuatu."Dingin ya?""Iya.""Sini biar gak dingin."Arbiaz memeluk Raline dengan erat, Raline tidak bisa bergerak dan dia pun tidak bisa menolak. Oke Arbiaz menang banyak. Mereka kini menatap langit yang penuh dengan bintang dan lampu - lampu gedung pencakar langit yang menyala ditengah sore menjelang malam."Kayaknya gue gak mau biarin karyawan gue sakit, jadi mending kita turun aja."Arbiaz merangkul Raline bangun dari tempat duduk besi itu, tanpa melepaskan jas yang diberikan Arbiaz. Berjalan masuk ke lorong remang - remang, menuju elevator untuk segera sampai ke parkiran.Lift pun berbunyi Arbiaz dan Raline masuk ke dalam lift. Arbiaz memandang Raline dengan dalam, Biaz mendorong lembut tubuh Raline ke sisi lift, memegang wajah Raline dan meraup bibir Raline dengan lembut.Rasanya Raline ingin melepaskan diri dari Biaz tapi genggaman erat Biaz tidak bisa di lumpuhkan."Ehmm pak."Arbiaz menghentikan aksi nya karena lift telah sampai ke lantai terbawah, tempat parkir. Tangan Raline di genggam kembali oleh Biaz menuntun Raline masuk ke dalam mobilnya."Karena besok weekend, jadi gue pinjem loe untuk nemenin gue."Arbiaz memasangkan sabuk pengaman pada kursi Raline,dan memasangkan kursi nya, Arbiaz menyalakan mobil dan membawa mobilnya keluar dari gedung.*Sampai lah mereka di Apartemen yang Arbiaz tempati, Apartemen yang terbilang desain nya dari luar gedung saja sudah sangat mewah. Raline tidak bisa berkata- kata dan hanya memasang wajah melongo sedari tadi memasuki lobi, dan anehnya Raline tidak berupaya kabur.Arbiaz menekan tombol elevator , lantai 18, didalam lift hanya terdapat mereka berdua, Arbiaz terus menggengam tangan Raline layaknya Raline akan terjatuh bila dilepaskan."Oke kita udah sampai."Arbiaz menekan kartu masuk ke pintu apartemen nya, membukakan pintu untuk Raline mempersilahkan Raline masuk terlebih dahulu.Dan kembali Raline melongo melihat isi apartemen Biaz, pantas saja Arbiaz memilih tinggal di lantai yang bisa dibilang ketinggian nya cukup tinggi, terpampang gelapnya kota dihiasi lampu - lampu gedung pencakar langit."Have a seat Aline."Raline mendaratkan bokong nya di salah satu sofa panjang dan Arbiaz membuat segelas minuman untuk tamunya itu. Rasanya Raline ingin mengeluarkan ponsel nya dan mengambil gambar pemandangan yang oh Tuhan bagus sekali."Bagus banget.""Bagus ya? yaa ini baru lantai 18 , mungkin kalau diatasnya lebih bagus lagi""Apartemen gue sangat jauh berbeda pemandangannya." Ucap Raline tragis."Gw tahu, di dekat tanah yang sedang ada pembangunan kan?""Ah benar." Jawab Raline tersipu malu."Silahkan diminum minumannya, gue mau ke kamar dulu."Raline menerawang minuman yang dibuat Arbiaz kali saja ada obat yang tidak ia inginkan. Setelah menerawang, sepertinya tidak ada bau apapun. Arbiaz keluar dari kamar nya memakai kaos oblong berwarna putih dan celana pendek, tidak terlalu pendek sedang saja."Tenang aja gue gak masukin apapun ke dalam situ, cuman sirup dan air, sirupnya merk *** kalau loe mau tau."Akhirnya Raline meminum minuman tersebut dan Arbiaz pun duduk di samping Raline, Raline meneguk minuman nya, dan Arbiaz? memandangi Raline yang sedang menjaga image dengan minum peralahan - lahan layaknya model iklan."Btw loe udah makan belom?""Belum""Oke gue bakal masak buat kita berdua"Arbiaz melangkahkan kakinya ke dapur. Raline mengikutinya, mungkin ingin membantu. Raline duduk di sebuah kursi tinggi dan memandangi Arbiaz mengeluarkan bahan - bahan dapur dari kulkas, lengan nya yang kokoh membuat hanya memegang sayur saja terliha seksi, cahaya yang berasal dari atas meja tempat Raline duduk membuat hanya dada Arbiaz yang terkena cahaya, dan itu membuat kaos yang tipis semakin memperlihatkan isinya, tidak terlalu jelas tetapi tampak jelas bayangan kotak - kotak berasal dari dada dan perutnya. Oh tidak Raline siapa yang mengajarkan mu berpikir seperti itu.***Selama 15 menit Arbiaz memasak dan voilaa akhirnya makanan itu selesai dimasak. Raline membantu Biaz membawa makanan ke meja yang tadi Raline tempati, mereka mendaratkan bokong nya masing-masing, berdoa terlebih dahulu dan menyantap makanan mereka."Besok loe ada acara kemana?""Umm, gak ada, gak kemana - mana""Ohh okay."Yang mereka lakukan hanya menyantap makanan mereka dalam diam."Umm biar saya saja yang cuci, pak Biaz sudah masak.""Serius?""Iya.""Oke terimakasi ya, maaf merepotkan mu."TING TONG"Sepertinya ada orang diluar, cepat buka pintunya pak.""Hih jangan memanggil gue pak.""Sudah bukakan dulu saja pintu nya."Arbiaz meninggalkan Raline, dan Raline memasukan piring - piring ke dalam tempat pencucian piring , kecuali wajan, mungkin Raline lebih yakin bila menggunakan tangan nya sendiri. Oke selesai, Raline tinggal menaruhnya diatas rak piring.Raline kembali ke ruang tamu duduk di sofa dan memandangi isi ruang tamu tersebut, terdapat beberapa foto ia dan keluarganya, terdapat juga Ara sepupunya."Sudah selesai cuci piring nya?""Udah."Arbiaz menghampiri Raline dan duduk di sebelah nya, tiba - tiba saja Raline dipeluk oleh Biaz, Raline yang terkejut hanya bisa diam dan menerima pelukan tersebut tanpa membalasnya, rambut Arbiaz yang basah dan harum sabun membuat nafas Raline lebih santai."Bersih - bersih, lo harus nemenin gue malam ini.""Maaf tapi gue harus pulang.""Nih."Arbiaz menyodorkan sebuah kantong kertaa berwarna cokelat dan Raline hanya bisa mengeluarkan ekspresi tanya."Pilih yang cocok dan nyaman."Raline hanya mengiya kan perintah Arbiaz, pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.Selesai Raline membersihkan diri ia keluar dari kamar mandi dan pakaian yang ia kenakan terbilang biasa saja tetapi atasan piyama yanng berbentuk V itu terlalu turun dan sedikit memperlihatkan belahan dada nya.Raline duduk kembali di sofa, secara gesit ia mengambil bantal dan menutupi dadanya, rambut Raline yang basah membuat Arbiaz gatal ingin mengeringkan nya."Udah malem dan loe keramas?""Iyah emang kenapa?""Basah tau ga ga bisa tidur kalo gini nanti pusing."Arbiaz mengambil hairdry dari laci dan mengeringkan rambut Raline, tanpa ada penolakan. Biaz bekerja dengan baik sampai-sampai Raline terbengong.Di tengah lamunan Raline, Arbiaz tidak sengaja melihat belahan dada yang dipampangkan oleh baju piama itu, ugh memang bawahan Arbiaz iseng nya tidak tanggung -tanggung.Arbiaz segera menyelesaikan mengeringkan rambut Raline, dan Raline belum terbangun dari lamunannya, Arbiaz menyisir rambut Raline dengan perlahan."Sudah selesai.Dan Raline belum terbangun dari lamunanya.Arbiaz dengan hati - hati mengangkat tubuh Raline dan akhirnya Raline terkejut."Astaga nanti gue jatuh.""Lagian keenakan banget, gue sampe dicuek in."Arbiaz membawa Raline ke sofa mendudukan nya dan Biaz juga ikut duduk. Namun yang mereka lakukan sekarang hanya diam satu sama lain memandangi kota."Karna udah malem gue tutup ya tirai nya."Arbiaz menutup tirai jendela dan kembali ke tempat semula. Raline memandang Arbiaz di tempat duduk nya begitu pun sebaliknya.Arbiaz memegang kedua tangan Raline mengusap - usap keduanya dan mencium keduanya."Dingin banget tangannya.""Gue angetin yah.""Hmm gausah nanti juga hangat sendiri.""Gapapa, ini jg gara- gara gue."Arbiaz langsung menarik tangan Raline dan Raline terjatuh di dada bidang milik Arbiaz, Arbiaz memeluk Raline dengan erat sehingga Raline tidak bisa kabur dari hadapan nya."Tapi hangetinya gak cuman peluk doang."Raline terbangun dari tidurnya dan segera mematikan alarm yang sangat berisik. Segera ia menyiapkan pakaian kerja dan peralatan kerja nya, membersihkan diri , memasak sarapan dan bekal, dan beranjak keluar.ARA ☆"Wher ar u line, wut time is it huh, i dun wanna make your enemy angry to me"Pesan muncul di layar hape Raline , dari Ara tentu saja dikarenakan hari ini ada jadwal pertemuan , dan Raline harus ikut dengan Arbiaz untuk membawa beberapa perlengkapan materi presentasi Arbiaz.Dan tentunya semua itu rencana Biaz.Raline segera menekan tempat sidik jari untuk absen dan berlari secepat yang ia bisa tanpa membuat kebisingan. Tentunya untuk menghindari amarah Biaz."Sorry for late, saya sudah siap dengan semua yang anda butuhkan."Arbiaz memasang wajah datar sambil memegang segelas kopi nya melihat Raline yang sangat terburu - buru."Okay, i forgive u, btw pertemuan nya diundur satu jam lagi, saya harap kamu bisa memperbaiki diri kamu.""Baik pa""Satu lagi."Raline memasang wajah was - was akan kata - kata Arbiaz."Saya harap kamu sudah sarapan, saya tidak mau kamu salah fokus.""Baik pa."Arbiaz meninggalkan Raline dan masuk kembali ke dalam ruangan nya , Raline menyandarkan tubuhnya di dinding dan menghela nafas lega.****"Silahkan masuk ke dalam mobil saya.""Iya terimakasih pa."Arbiaz membukakan pintu untuk karyawan nya, hal baru yang Biaz lakukan, membukakan pintu untuk karyawan nya. Siapa lagi kalau bukan Raline.Arbiaz menyalakan mesin nya dan menjalankan mobil sport hitam keluaran tahun lalu, ugh sepertinya Raline merasa seperti orang ber uang seketika."Okay, jadi semua perlengkapan nya sudah siap?""Iya pa sudah siap.""Okay kerja bagus."Arbiaz menyalakan radio untuk memcah kecanggungan diantara mereka. Tetapi hasilnya sama saja , Raline tetap diam dan meratapi jalan."Raline?""Ya pa?""Hmm, i just wanna ask something, but there is no relation with our work, may I?""Sure.""Hmm aku harap kamu ga lupa sama yang udah kita lewatin."Namun Raline hanya diam."And, do u wanna be my FWB?"Raline mencengkram tas hitam dipangkuan nya, ah tidak yang benar saja , Raline harus merelakan semuanya untuk CEO yang dia tidak suka, termasuk yang ia jaga hingga kini.Raline hanya diam , hingga sampailah mereka ke gedung tempat pertemuan para CEO dan pengusaha - pengusaha. Kalau dilihat -lihat memang populasi CEO atau pengusaha muda yang tampan sangat sedikit."Okay Raline, jangan ada yang terlewat ya.""Baik pa."Raline mengecek semua bahan , dan ya tidak ada yang terlewat sedikitpun. Arbiaz memulai presentasi nya dan tanya jawab antar CEO, ah mengapa Arbiaz begitu terlihat berkarisma, mungkin saja bila Raline tidak berada di dalam rapat, dia akan berkata "Sisain satu ya Tuhan"Jadwal pertemuan pun selesai, Raline dan Arbiaz harus kembali ke kantor mereka. Arbiaz kembali membukakan pintu untuk Raline dan sekarang ditambah lagi memasangkan sabuk pengaman untuk Raline."Oke kita pergi."Arbiaz kembali menjalankan mobil nya, dengan sedikit melirik dari ekor matanya , ia dapat melihat Raline dengan pesona nya, wajahnya yang tidak terbalut make up tebal, blazer yang membuat d**a nya semakin maju, oh tidak Arbiaz kau sedang menyetir. Entah lah apakah Raline tidak mempunyai kemeja yang lebih longgar, jujur saja ini mengganggu penglihatan Arvbiaz."Raline""Iya mas? Eh maksudnya...""Saya merasa baju yang kamu kenakan agak..."Arbiaz ingin mengatakan nya tapi tidak sanggup, takut membuat rendah perasaan Raline."Ada yang salah Pa?""Hmm gimana ya saya ucapin nya.'Raline segera merapatkan blazer nya , mengetahui apa yang Arbiaz maksud.Oh tidak, rasanya Raline ingin mengutuki dirinya sendiri.***Ting tongBel pintu apartemen Raline berbunyi, seorang pengantar paket memberikan sebuah paket kepada Raline, tidak besar.SAYA HARAP INI BISA BERGUNA, DAN SAYA HARAP KAMU MEMAKAINYARaline membuka paketnya, dan mengeluarkan isinya, oke, kemeja , blouse dan pakaian kerja lainnya yang berukuran satu tingkat lebih besar dari yang ia punya.Tidak terlalu besar tidak terlalu kecil, dan ini bisa menyamarkan apa yang Arbiaz maksud kemarin.TING TONG TING Satu pesan masuk berbunyi dan berasal dari Arbiaz."Saya tidak akan mengambil apa yang kamu jaga."Dia seperti peramal saja, tahu saja apa yang Raline pikirkan.Entah apa yang Raline akan lakukan, kini ia berpikir sedikit keras untuk lebih menghindari bos nya itu.

My Childish Ceo
Romance
05 Jan 2026

My Childish Ceo

Flashback on6 tahun yang lalu......."Gwen..." ucap seorang pria remaja kepada seorang wanita di hadapannya"Iyaa,ada apa vier kenapa kamu menjadi tegang seperti ini?"ucap seorang wanita yang duduk di depan Xavier,ya benar dia adalah Gwen crystallyn Alexis"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Gwen""Ada apa ? Katakan lah Xavier"ucap Gwen sambil tersenyum manis.Xavier yang melihat senyum Gwen pun sempat terhipnotis tapi dia cepat kembali sadar karena ingat tujuannya untik mengungkapkan isi hatinyaXavier pun menarik nafas sebelum mengucapkan kata yang akan dia sampaikan" huuhh ,,,Gwen sebenarnya aku mencintaimu sudah lama dan aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku padamu.aku mencinta mu Gwen ,maukah kamu menjadi pacarku"ucap Xavier dengan mantap sambil menatap Gwen dengan seriusGwen menutup mulutnya tak percaya tapi walau bagaimana pun Gwen juga mencintai Xavier walaupun dia memiliki sifat yang Childish tapi Gwen tetap menyukainya menurutnya Xavier jika seperti itu maka berkesan imut"Iyaa aku mau menjadi pacarmu vier "ucap Gwen sambil tersenyum:)Flashback off__________________________________ ____Xavier tersenyum melihat jarinya yang terpasang cincin tunangannya sambil mengingat bagaimana dulu dia meminta Gwen menjadi pacarnya"Kamu milikku Gwen ,you're mine always mine"batin Xavier sambil tersenyum miring.Ceklek ....Pintu terbuka menampilkan seorang wanita cantik dengan setelan kerjanya sambil membawa map."Gwennn..."ucap Xavier dengan mata berbinarnya."Iyaa, ada apa baby"ucap Gwen lembut sambil mengelus kepala Xavier dengan lembut setelah menaruh map yang di bawanya di atas meja kerja Xavier"Kenapa kamu lama sekali datangnya Gwen,padahal aku sudah memanggilmu sejak tadi"ucap Xavier dengan matanya yang berkaca-kaca."Hei baby liat Gwen"Xavier pun melihat Gwen sambil menahan air matanya agar tidak jatuh "aku tadi sedang menyelesaikan pekerjaan ku yang belum selesai,jadi tolong jangan menangis ya baby"Gwen pun menghapus air mata Xavier dengan tangannya lalu membawa nya kedalam dekapa nya "Baby kok masih menangis kan Gwen sudah ada di sini ""Baby pusing Gwen " lirih Xavier sambil menatap kearah Gwen dengan sendu"Mau aku pijit hmm?""Mau tapi nanti di rumah sekarang aku mau pulang Gwen" rengek Xavier sambil mempout bibirnya dan itu sangat menggemaskan bagi Gwen ."Tapi sekarang belum waktunya pulang"ucap Gwen menasehati Xavier."Lalu apa masalahnya Gwen ini kan kantorku jadi bebas aku mau pulang kapan pun sesukaku,lagipula tidak akan ada yang berani menegurku. Ayolah Gwen,,,pliss"Gwen Pun menghela nafas. Sungguh berdebat dengan Xavier tidak ada gunanya dia sangat keras kepala mau bagaimana pun keinginannya harus fi turuti kalau tidak ia akan menangis dan itu akan membuat kepala Gwen pusing."Baiklah ayo kita pulang baby"ucap Gwen sambil tersenyum manis kepada Xavier.Xavier yang mendengar nya pun menjadi sangat senang "uya ayo kita pulang Gwen "Skipp (Dalam mobil)...Saat ini mereka berdua sedang duduk di kursi belakang karna memang saat ini Xavier enggan membawa mobil dia lebih suka bermanja manja dengan Gwen di kursi penumpang."Gwen"panggil Xavier"Ada apa baby"tanya Gwen sambil menundukan kepalanya sebab saat ini Xavier sedang bersandar dibahunya."Baby mengantuk Gwen ingin tidur nanti kalau sampai rumah Gwen bangunin baby yaa"ucap Gwen dengan matanya yang sayu."Baiklah,sekarang tidurlah baby"ucap Gwen sambil mengelus kepala dan juga punggung Xavier agar ia cepat tidur.Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang berasal dari Xavier dan Gwen pun hanya tersenyum gemas melihat wajah Xavier ketika tidur."I love you baby"ucap Gwen sambil mengecup dahi pria itu.Kringg,,,,kringg,,,,kringgDering ponselpun terdengar membuat sang pemilik nya terpaksa bangun dari tidur lelapnya,sebelum dia mengangkat telpon nya ia melihat jam yang berada di atas nakasnya 'jam 05.30' gumam nya.Dering ponselpun tak henti hentinya berdering membuat ia melihat siapa yang menelponRupanya yang menelponnya saat ini adalah Angeline Pratama yaa dia adalah mommy tunangannya .Tumben sekali mommy menelponnya sepagi ini tanpa berlama lama pun ia kembali mengangkat telpon nya itu"Assalamualaikum ,mom. Ada apa ? Tumben sekali mommy menelponnya sepagi ini?"tanya Gwen dengan suara lembut khasnya.ia memang memanggil mommy nya Xavier mommy begitu pun dengan deddy nya karena itu adalah permintaan dari orang tau Xavier sendiri,Xavier pun memanggil orang tau juga sama Seperi ia memanggilnya juga yaitu ayah dan bunda."Waalaikumussalam sayang,maaf mommy menelponmu sepagi ini karena Xavier sedang sakit sejak semalam dan terus memanggil nama kamu nak" jawab mommy dengan nada yang terdengar khawatirGwen pun yang mendengarnya membulatkan matanya terkejut"Apa mom Xavier sakit?baiklah aku akan segera kesana mom""Iya tolong cepat ya sayang karna mommy tidak tega melihatnya,sekali lagi mom minta maaf ya karna mengganggu mu sayang " ucap mommy merasa bersalah"Tidak apa apa mom aku mengerti,yasudah aku siap-siap mom""Iya terima kasih ya sayang ""Sama sama mom,wasalamualaikum""Waalaikumussalam"Dan setelah telon terputus ia segera bersiap siap untuk pergi ke rumah kediaman Pratama itu .Skipp (rumah Xavier)" Assalamualaikum " ucap Gwen sambil menekan bell"Waalaikumussalam,,,eh Gwen kamu sudah sampai sayang?""Sudah mom"Gwen berkata sambil menyalami tangan angeline a.k.a mommy Xavier"Yasudah sayang ayo kita masuk ke dalam ,Xavier sudah menunggumu "Gwen pun hanya menganggukkan kepalanya dan berkata "baik mom"Setelah mereka masuk Gwen pun bertanya kepada mommy Xavier "mom apakah vier sudah makan?""Belum sayang dia belum mau makan padahal sudah mommy paksa tetap saja tidak mau sungguh keras kepala sama seperti ayahnya"dan mereka berdua pun sama sama tertawa"Mom bolehkah aku membuat bubur untuk vier?" Gwen bertanya karna dirasa tidak sopan jika langsung memasak di rumah itu"Tentu saja boleh sayang ,nanti kalau kamu mau memberi makan anak itu langsung saja masuk ke kamarnya,kamarnya tidak di kunci kok" ucap mommy memberi tahu"Iyaa mom""Gwen sepertinya mommy harus pergi karna ada arisan mungkin nanti setelah mommy selesai arisan mommy akan langsung pergi ke kantor Deddy""Apakah kamu tidak keberatan menjaga Xavier sendirian ?" lanjut mommy"Tidak apa apa kok mom aku justru senang bisa merawat bayi besar ku "ucap Gwen di sertai dengan kekehan"Baiklah kalau seperti mommy pergi dulu ya ,assalamualaikum"Mommy berujar sambil mencium pipi gwen"Waalaikumussalam"Setelah mommy pergi Gwen pun melanjutkan langkahnya untuk ke dapur membuatkan Xavier bubur."Eh ada non Gwen " ucap bi siti "ada apa non ke dapur""Ini aku mau membuat bubur untuk Xavier bii""apakah ingin bibi bantu non?"bi siti pun menawarkan bantuan"Tidak apa apa bii,aku bisa melakukannya sendiri kok"ucap Gwen sambil tersenyum manis kepada bi siti"Yasudah kalau begitu bibi izin kebelakang ya non mau melanjutkan menyiram tanaman yang belum selesai""Iya silahkan bii"Setelah bi siti pergi Gwen pun segera berkutat dengan alat memasaknya untuk membuat bubur.30 menit kemudian..."Yey selesai juga membuat bubur nya"ujar Gwen dengan senyum yang mengembang di wajahnya .CeklekGwen pun langsung membuka pintu kamar Xavier dan ia melihat Xavier sedang berbaring membelakanginya dengan selimut sebatas lehernya"Mom aku sudah bilang aku tidak mau makan atau pun meminum obat kalau Gwen tidak ada disini hiks"ucap Xavier dengan punggung yang bergetar sudah di pastikan oleh Gwen bahwa laki laki itu sedang menahan tangisnyaGwen pun meletakan nampan yang berisi bubur di atas nakas dan ia mulai Duduk di kasur Xavier dengan laki laki itu yang masih membelakangi Gwen.Gwen pun mengelus punggung Xavier"Baby hei ini aku sayang" ucap Gwen dengan lembutnya.Xavier yang mendengar suara Gwen pun langsung membalikkan badannya"Gwen" Lirih Xavier dengan mata yang sudah berkaca kaca."Hei kenapa tidak mau makan dan minum obat hmm"Gwen bertanya kepada Xavier"Karna aku ingin kamu yang kesini Gwen " ujar Xavier sambil memeluk Gwen dengan erat dan menenggelamkan wajahnya ke perut rata Gwen"Yasudah sekarang aku kan sudah di sini jadi kamu sekarang makan dulu setelah itu minum obatnya yaa""Gamau Gwen mau peluk Gwen aja hiks""Baby kalau ga makan nanti lama sembuhnya emang kamu ga mau cepet sembuh hm?atau gamau makan makanan yang aku buat ya padahal aku buatnya dengan susah payah loh buat kamu"ucap Gwen yang di akhir katanya di sedih sedih kan agar Xavier mau makan .dan yap berhasil!"Gwen jangan sedih baby mau kok makan buatan Gwen .Maaf ya baby nyusahin Gwen"ucap Xavier yang sudah duduk dengan menundukan kepalanya"Iya gapapa ,sekarang kamu makan ya.mau makan sendiri atau aku suapi?""Suapin "rengek XavierGwen pun menyuapi Xavier dengan telaten walaupun sesekali Xavier menolak dengan alasan mulutnya pahit walaupun begitu Gwen tetap memaksa Xavier menghabiskan makanannya"Ayoo cepat baby 1 suap lagi"Xavier pun dengan terpaksa membuka mulutnya"Yey sudah habis sekarang kamu minum obat nya yaa"Xavier yang mendengarkan ucapan Gwen pun sontak menggeleng karena Xavier tidak suka obat,menurutnya Obat itu pahit sekali dan Xavier tidak menyukai yang pahit sebab Gwen itu manis"Baby kok gitu sih kan nanti kalau baby udah sembuh bisa jalan jalan sama Gwen,baby ga mau jalan jalan nih sama Gwen " ujar Gwen dengan nada yang menyedihkan"Baby mau kok jalan jalan sama Gwen kemana pun Gwen mau "ucap Xavier dengan cepat karena tidak mau melihat Gwen nya itu bersedih"Kalau begitu baby mau kan minum obatnya"ucap Gwen dengan puppy eyes nyaXavier yang melihat Gwen seperti itu pun tidak tega dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya.setelah minum obat Gwen pun menyuruh Xavier untuk tidur"Tapi nanti kalau baby tidur Gwen akan pergi hiks" ucap Xavier dengan isakannya"Aku ga akan pergi baby ,sudah sekarang kamu tidur yaa"ucap Gwen dengan senyum yang menenangkan"Janji"ucap Xavier dengan menjulurkan jari kelingking nya"Janji"ucap Gwen sambil mengusap punggung Xavier agar lelaki itu cepat tidurSetelah lelaki itu tidur tak lama kemudian Gwen pun ikut menyusulnya ke alam mimpi.Seorang gadis mengerejapkan matanya sambil mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.setelah semua nyawanya kumpul ia menolehkan kepalanya ke samping dan melihat seorang pria yang sangat dia cintai .iya dia adalah XavierPuas sudah memandangi wajah kekasihnya itu ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajah nya .setelah selesai ia keluar dan masih melihat Xavier tidur dengan sangat nyenyak .Gwen tidak tega membangunkan Xavier ia pun hendak pergi,namun sebelum itu Gwen mengecek suhu tubuh Xavier yang ternyata sudah normal"Morning mom"sapa Gwen ketika sudah berada di dapur dan melihat mommy sedang memasak untuk sarapan"Morning too sayang""Mom,mommy sedang memasak apa?""Ini mom sedang memasak ayam goreng setelah itu baru memasak nasi goreng untuk kita sarapan nanti ""Mom aku juga ingin membantu"ucap Gwen yang tampak sangat antusias"Boleh kamu potong potong sayuran sama sosis dan baso nya aja yaa ""Okee baik mom"Gwen pun langsung mencuci sayuran nya setelah bersih ia memotong sayuran itu dengan sosis juga baso seperti yang di perintahkan oleh mommy"Sayang apakah Xavier sudah lebih baik kondisinya?"tanya mommy setelah sadar kalau putra satu satunya itu sakit"Tadi pagi aku sudah mengecek suhu tubuhnya mom dan ternyata sudah turun ". ucap Gwen menenangkan mommy"Oh syukurlah kalau seperti itu,terima kasih ya Gwen kamu sudah mau mengurusi Xavier yang sangat manja itu""Sama sama mom.lagi pula aku juga menyayangi Xavier jadi aku tidak masalah jika harus merawatnya" ucap Gwen dengan senyum tulus di wajahnyaGwen dan juga mommy hampir selesai menyiapkan makanan untuk sarapan tetapi tak lam terdengar teriakan juga barang pecah dari lantai atas"HUAAAA GWENNN KAMU DI MANA HIKS HIKS"terdengar suara teriakan Xavier dari lantai atasPrang... .."Gwen sebaiknya kamu ke lantai atas Xavier sepertinya sedang marah besar " ucap mommy memberitahu""Baiklah mom aku ke atas dulu ya"pamit Gwen dan di balas anggukkan Oleh mommyGwenpun berlari cepat ke lantai atas agar Xavier tidak semakin marah ,setibanya Gwen di depan kamar Xavier ia langsung masuk dan melihat bagitu banyak pecahan kaca pada lantaiGwen berjalan hati hati agar pecahan tersebut tidak melukai kakinya dan saat sudah sampai ia di belakang Xavier dengan Xavier yang sedang duduk dan menghadap tembok Gwen pun segera jongkok dan memeluk Xavier dari belakang"Gwen hiks hiks"ucap Xavier karna tau yang memeluknya adalah Gwen"Iyaa baby ini aku kenapa bisa Seperti ini sayang "ucap Gwen sambil kembalikan badan Xavier agar menghadapnya"Aku hiks pikir Gwen pergi hiks hiks " ucapnya di sertai dengan air mata yang masih mengalir"Hei lain kali jangan seperti ini ya ,kamu kan bisa mencari ku dulu atau bertanya jangan langsung membuat kekacauan seperti ini"Ucap Gwen menasehati"Iyaa Gwen maafin baby ya "ucap Xavier"Iya gapapa sekarang ayo kita turun dulu kamu harus sarapan sayang" dan di balas anggukkan imut oleh Xavier"Hati hati banyak pecahan kaca "Gwen memperingati Xavier agar pria itu tidak terluka oleh serpihan kacaSetibanya mereka di ruang makan Gwen tak melihat kehadiran daddy .setelah Gwen dan Xavier duduk pun Gwen baru bertanya kepada mommy"Mom daddy kemana ?""oh kemarin daddy mengatakan jika ia harus segera pergi ke Canada karena di sana ia akan membangun sebuah proyek" jelas mommy kepada Gwen'Oh begitu' ucap Gwen dalam hati"Ayo sekarang kita sarapan " ucap mommyDan segelas itu pun tidak ada yang membuka suaranya karena memang jika di keluarga Xavier ataupun gwen tidak di perbolehkan makan sambil mengobrol ataupun bersuara hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piringMereka telah menyelesaikan sarapannya dan sekarang Gwen dan Xavier sedang menonton kartun di ruang keluargaSebenarnya bukan mereka tapi hanya Gwen saja sedangkan Xavier sedang menikmati usapan lembut di kepalanya yang terbaring di atas paha Gwen .mommy juga tadi keluar untuk pergi ke butiknya"Gwen "panggil Xavier yang hanya fi balas deheman oleh Gwen karna asyik menonton kartun 2 bocah botak itu"Gwen nanti kalau kita nikah Gwen mau punya anak berapa? Mau tinggal di mana? Konsep pernikahannya kayak gimana?" sederet pertanyaan pun keluar dengan mulus dari bibir Xavier dan di balas dengan dengusan oleh Gwen"Baby aku sudah mengatakannya berkali kali kepadamu jika aku belum sanggup untuk menikah saat ini jadi aku minta sama kamu untuk mengerti situasi aku saat ini ya"Gwen berucap karna ia memang benar benar belum siap untuk menikah menurutnya masih banyak yang harus di perbaiki oleh dirinyaXavier yang mendengar jawaban Gwen pun hanya bisa mengumpat dalam hati karna sebal dengan Gwen"Gwen kenapa ga mau menikah dengan baby ?apakah baby terlalu manja? " ucap Xavier dengan suara lirihnya"Hei kok baby ngomongnya gitu sih ,Gwen ga mau nikah bukan karna itu kok tapi karna Gwen benar benar belum siap. jadi baby tolong yah ngertiin Gwen ,baby juga mau kan menunggu Gwen?" ucap Gwen sambil mengelus rahang Xavier dengan lembut"Iya baby mau kok Gwen asalkan Gwen mau nikah sama baby ya""Iya Gwen mau kok .makasih ya baby sudah mau menunggu Gwen untuk siap. Gwen sayang baby""Baby juga sayang Gwen" ucap Xavier dengan memeluk Gwen dengan erat seakan akan kalau ia melonggarkan pelukannya sedikit saja Gwen nya akan pergiTing..Suara pesan masuk pun terdengar dari posel milik Gwen. Gwen pun segera melihat siapa kah yang mengiriminya pesan itu'Andra?' batin GwenAndraHai Gwen,gw mau balik nih ke Indonesia buat pesta yang meriah ye buat gw😂GwenSerius loe ndra?"Itu siapa Gwen?" tanya Xavier sambil melirik ponsel milik Gwen itu"Oh ini Andra sahabatku sewaktu smp aku tapi dia harus pindah ke london karena pekerjaan ayahnya" jelas Gwen kepada Xavier agar pria itu mengerti."Terus kenapa dia menghubungimu lagi Gwen? Apakah kamu ada main sama dia" ucap Xavier sambil memincingkan matanya curiga"Hei baby tenanglah ia hanya sahabatku, kamu ga usah cemas seperti itu""Tapi kan tetap saja ia bisa mengambil mu dari ku Gwen " ucap Xavier dengan tegas"Aku akan slalu ada di samping mu jadi kamu, kamu harus percaya sama aku kalau aku ga akan pernah ninggalin kamu baby karna aku sangat menyayangi mu" ucap Gwen meyakinkan Xavier yang saat ini tengah cemburu"Baiklah aku percaya padamu tapi kamu harus menepati janjimu untuk slalu bersamaku dan tidak akan pernah pergi dariku Gwen" ucap Xavier dengan ekspresi wajah yang sangat lucu di mata Gwen"Tentu saja baby" ucap Gwen dengan kembali mendekap tubuh kekasih cengengnya itu'Aku tidak akan pernah melepaskan mu ataupun membiarkanmu pergi dari ku Gwen karna kamu adalah milikku sekarang ataupun selamanya, jika ada yang berani mengambil mu dariku maka ia siap untuk mati' batin Xavier sambil tersenyum devilTak terasa hari pun semakin sore bahkan hampir menjelang malam dan mommy masih belum juga pulang dari butiknya sekarang ia dan juga Xavier sedang berada di taman belakang"Xavier aku pulang sekarang ya kan besok kita harus ke kantor aku j7ga belum melihat jadwal kamu" ucap Gwen"Hiks kok kamu gitu sih hiks Gwen aku kan ga mau di tinggal hiks mommy juga belum pulang""Yaudah aku ngga pulang sekarang tapi nanti saat mommy datang dan kamu ga boleh ngelarang aku lagi" ucap Gwen memperingati XavierXavier yang mendengarkan ucapan Gwen pun hanya mengerucutkan bibirnya dengan terpaksa menganggukan kepalanya.Dari pada Gwen pergi sekarang? Begitu fikir nya"Xavier kita ke ruang tengah aja yu aku ingin menonton film""Yaudah ayo Gwen" ucap Xavier yang langsung menarik tangan Gwen. Gwen yang melihatnya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekasihnya ituSesampainya di ruang tengah Gwen langsung menyalakan televisinya dan menonton film yang dia inginkan dengan khusu sedangkan Xavier saat ini sedang memakan kripik di sampingnyaSaat sedang asik asiknya nonton tiba tiba terdengar suara bel dan tak lama. kemudian mommy pun datang dengan membawa beberapa bahan makanan"Eh, mommy sudah pulang?" tanya Gwen sambil menyalami tangan mommy atau ibunya Xavier itu, berbeda dengan Gwen yang menyambut kepulangan mommy dengan ramah Xavier justru acuh tak acuh karena jika mommy sudah pulang maka Gwen akan segera pergi meninggalkannya'Sungguh menyebalkan' batin Xavier dengan terus mendumal"Iya sayang ga tau kenapa hari ini butik lumayan ramai jadinya mommy pulang sampai malam seperti ini. Apakah kamu tidak pulang nak? Atau mau menginap lagi biar mommy yang meminta izin kepada bunda kamu itu" ucap mommy karna ia sangat senang jika Gwen ada di rumahnya"Gausah kok mom lagi pula aku juga akan segera pulang banyak pekerjaan aku yang terbengkalai. Aku juga sengaja belum pulang karna menunggu mommy, Xavier ga mau di tinggal kalau mommy belum datang""Halah itu palingan juga cuman modusnya anak itu aja sayang jangan di percaya"Mereka berdua pun tertawa bersama samaXavier yang mendengar tawa mereka pun geram akhirnya ia mengeluarkan suaranya"Jika mom sudah tau kenapa mom harus segala pulang sih kan kalau mommy tidak pulang aku bisa terus sama Gwen" Xavier berucap sambil berdecak" Heh kamu ngomong sama orang tua ga ada sopan sopan nya ya, mommy kutuk baru tau rasa kamu"Xavier yang malas berdebat dengan mommy nya pun langsing pergi ke kamarnya namun harus melewati kekasihnya dan juga bundanyaSetelah sampai di tengah tengah Gwen dan juga mommy nya Xavier langsung dengan secepat kilat mengecup pipi Gwen dan berlari ke kamarnya"EH KAMU XAVIER DASAR ANAK KURANG NGAJAR YA KAMU" ucap mommy sambil teriak"Hahaha, udahlah mom gapapa aku pamit pulang ya mom"pamit Gwen"Iya sayang hati hati ya""Siap mom"Skippp (sampai rumah)..."ASSALAMUALAIKUM GWEN CANTIK PULANG TANPA ADA LUKA SEDIKITPUN" teriak Gwen ketika memasuki mansion nya itu"Waalaikumussalam sayang kamu kalau dateng jangan teriak teriak nanti tenggorokan kamu bisa sakit loh" ucap Sella Putri Alexis Atau bunda Gwen"Hehehe maaf ya bun janji ga lagi" ucap Gwen dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya tanda damaiBunda Gwen yang melihat itu pun hanya tersenyum melihat tingkah laku putrinya itu"Eh iya bun ayah kemana ya kok ga keliatan?" tanya Gwen karna menyadari tidak melihat sosok pahlawan dalam hidupnya"Ayah ada kok lagi di ruang kerjanya paling nanti makan malam ia akan turun""Ohhh yaudah deh Gwen langsing ke kamar aja ya bun""Ia sayang jangan lupa mandi nanti jika waktunya makan malam mommy akan segera panggilkan kamu dan juga ayah" ucap bunda"Siapp bun" ucap Gwen yang saat ini sudah berada di pertengahan tanggaSetibanya di kamar nya Gwen segera memasuki kamar mandi dan melaksanakan ritual nyaCeklek ....Terlihat di depan pintu kamar mandi Gwen sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk karna menurut Gwen jika memakai hairdair hanya aka merusak rambutnyaGwen berjalan melangkah ke depan meja rias nya lalu mulai menyisir rambutnya sendiri setelah selesai ia pun membaringkan badannya di kasur"Gwen sayang ayo kita makan malam bersama ayah sudah menunggu di sana" ucap bunda yang sudah berdiri di depan pintu kamar Gwen"Iya baik bun" jawab Gwen.............."Ayahh" Gwen berujar sambil memeluk Atmaja Alexis yaitu ayah Gwen dari belakang"hei hallo sayang kenapa kamu dan bunda lama sekali ayah sudah kelaparan nih""Hehehe maaf ya yah yaudah ayo kita makan""Sudah lengkap semua"ucap bunda memerhatikan apa saja yang ada di atas meja makanSkipp (ruang keluarga)" Gwen gimana hubungan kamu dengan Xavier apakah baik baik saja?" tanya ayah kepada Gwen"Iya hubunganku dengan Xavier baim baik saja cuma Xavier sempat salah paham yah""Salah paham apa sayang" ucap bunda"Kemarin Andra mengabariku kalau dia akan kembali pulang kesini dan Xavier melihat pesan yang andra kirimkan untukku bun, jadi ia sempat salah paham padahal andra itu sudah seperti abang bagiku" ucap Gwen desertai kekehan juga"Yah kamu maklumi aja kan memang ia sifatnya seperti itu" ucap ayah"Ia seperti itu Karena ia tak mau kehilangan kamu sayang ia sangat menyayangimu""Iya bunda aku mengerti"Karena Gwen sudah mengantuk lantas ia pun pamit kepada ayah dan bundanya untuk memasuki kamarnya. Saat telah sampai di kamar ia melihat ponselnya yang tak berhenti bergetar di atas kasurGwen pun mengambil ponselnya itu dan melihat ada notifikasi apa. Dan setelah tau kenapa ponselnya bisa terus bergetar pun Gwen hanya mengukir senyum tipisBaby vier 🐼❤GwenGwen kenapa kamu tidak mengangkat telpon kuIsh balas dong Gwen hiksAtau kamu sedang sama lelaki yang menarin menghubungi mu itu?Aku akan sangat marah jika kamu benar benar sedang sibuk dengan dia dan melupakan aku!Gwen yang membaca pesan pesan dari Xavier hanya terkekeh sebab membayangkan bagaimana lucunya ekspresi mukanya ketika mengirimi pesan ituGwenHei baby aku tadi sedang makan malam dengan ayah dan juga bundaBaby vier 🐼❤Oh baiklah Gwen.Gwen aku kangenn :(GwenAstaga sayang kita baru aja ketemu dan kamu bilang kangen?Baby vier 🐼❤Ish tapikan aku kangen kamu Gwen😭GwenHahaha baiklah besokan kita ketemuBaby vier 🐼❤Mmm tapi besok aku yang menjemputmu tidak ada penolakan!GwenIya baby sekarang kamu tidur yaHave a nice dream :*Baby vier 🐼❤Have a nice dream tooGwennya Xavier :")Gwen tidak membalas pesan dari Xavier ia segera meletakan handphone nya di balas dan memejamkan matanya menyambut hari esok yang cerahMalam pun telah berlalu kini terganti oleh pagi yang cerah. Terlihat di dalam sebuah kamar yang bernuansa biru laut itu masih terbaring sosok gadis yang masih berada di alam mimpinya tanpa terusik dengan sinar matahari yang masih malu malu menampakkan dirinyaTapi ternyata dewi Fortuna tidak berpihak kepada"Gwen astaga kamu masih tidur hah?! Itu Xavier sudah menunggumu Gwen!! Aneh sekali bos menunggu karyawan" ucap bunda dengan suaranya yang menggelegarMendengar ucapan sang ratu pun mau tak mau ia terpaksa bangun dari mimpi indahnya"Apaan sih bun, aku masih ngantuk tau" ucap Gwen sambil menarik selimutnya menutupi sebagian wajahnya"Astaga ni anak, Gwen itu Xavier sudah menunggumu sejak 1 jam yang lalu dan kamu masih tidur? Memangnya kamu mau di pecat oleh Xavier"Mendengar kata pecat Gwen pun segera bangkit dari kasur nya dan menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor bersama XavierCeklek ...Gwen sudah keluar dari kamar mandi dengan setelan kantornya namun masih ada handuk yang melilit di kepalanya.iapun segera menuju meja riasnya dan mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basahSetelah rambutnya di tata dengan rapi ia memoleskan make up tipis di wajahnya karna jika terlalu mencolok maka ia tidak akan di izinkan pergi bekerja oleh XavierSetelah Gwen selesai dengan make up nya ia pun menatap pantulan dirinya sendiri di kaca full body' Perfect ' ucapnya dalam hatiIa pun segera turun untuk menemui Xavier"Morning all" ucap Gwen saat sampai di meja makan yang hanya terisi dengan bundanya dan juga Xavier"Morning too sayang" ucap bunda dan juga Xavier"Kalau kamu pertanyaan di mana ayah dia sudah pergi karna ada meeting pagi ini" ucap bunda seolah tau apa yang akan putrinya tanyakanGwen yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya singkat sambil mulutnya membentuk huruf 'O'Sarapan pagi pun berjalan dengan mulus tanpa ada lagi yang bersuara. Gwen dan juga Xavier yang melihat jam tangannya pun berpamitan agar tidak terlambat pergi ke kantor"Bun aku dan Gwen pergi dulu ya" pamit Xavier mewakili Gwen lalu mereka pun menyalami tangan bunda dan langsung pergi menuju kantorSetibanya mereka di kantor Gwen dan juga Xavier menuju ruangannya masing masing yang hanya terpisah oleh satu tembok"Sayang aku masuk dulu ya" ucap Gwen kepada Xavier yang menganggukkan kepalanyanamun sebelum Gwen benar benar pergi Xavier membalikkan tubuh Gwen dan mengecup singkat dahi Gwen yang membuat pipi Gwen langsung merona"Semangat kerjanya nyonya pratama" Xavier berucap dengan di sertai kekehan"Ih apaan sih udah sana kamu pergi ke ruanganmu" perintah GwenXavier pun pergi menuju ke ruangannya dengan masih tawa kacil menyertainya11.00CeklekGwen yang mendengar suara itu pun menoleh ke arah pintu dan di lihatnya Xavier berjalan dari arah sana menuju meja kerja Gwen"Ada apa tumben sekali kau yang kesini biasanya kan kamu yang memintaku untuk ke ruangan mu""Tak apa namun kayaknya aku ada meeting mendadak kali ini dan mungkin kita tidak akan bisa lunch bersama, apakah kau tak apa?" tanya Xavier sebab takut Gwen merasa kesepian"Aku tak apa vier kamu pergilah meeting kalau begitu" ucap Gwen meyakinkan Xavier"Baiklah kalu begitu aku pergi dulu ya sayang" ucap Xavier dengan mengecup puncak kepala Gwen sebelum ia pergiGwen yang melihat Xavier keluar dari ruangannya pun hanya bisa menghela nafas dan kembali melanjutkan pekerjaannya yanv tertunda ituGwen masih fokus mengerjakan pekerjaannya yang belum juga selesai namun sebelum Gwen benar benar menyelesaikan pekerjaannya harus terganggu karna ponselnya berderingDan saat melihat siapa penelfon nya pun Gwen segera mengangkatnya" Hallo Gwen,kamu apa kabar? Aku sudah kembali" ucap seorang penelfon di sebrang sana" Hallo juga ndra,aku baik baik saja kok.hah? Seriusan kamu udh pulang?" tanya Gwen tidak yakinJadi kalian sudah tau kan siapa yang menelpon Gwen yang tak lain dan tak bukan adalah Andra" Aku serius Gwen dan rencananya aku ingin mengajakmu makan siang hari ini apakah kamu sedang tidak sibuk?" tanya AndraGwen pun sedang berfikir sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan dari Andra"Ia aku sedang tidak sibuk kok"" Baguslah, aku akan mengirimkan alamat kafenya kepadamu dan jangan telat""Ya ya ya okee" jawab Gwen malasSetelah itu ia pun melihat alamat yang di kirimkan oleh Andra dan langsung pergi menuju kafe tersebutTingg ...Bunyi bell terdengar artinya ada orang yang memasuki kafe dan orang itu adalah Gwen yang melangkahkan kakinya menuju ke tempat Andra yang sudah melambaikan tangannya ketika ia masuk tadi"Kau mau pesen apa pesan lah aku yang akan mentraktir mu" ucap Andra ketika Gwen sudah duduk di hadapannyaSetelah memesan makanan dan makanannya pun sudah hadir di meja itu Andra segera membuka suaranya"Gwen kamu apa kabar""Ya yang seperti kamu lihatlah aku baik baik saja, dan bagaimana dirimu sendiri disana?" tanya Gwen"Aku juga baik kok Gwen""Bagaiman dengan kekasihmu"Gwen juga menanyakan utu karena ia juga tau kalau Andra itu sudah memiliki kekasih yang ternyata adik tingkat Andra sendiri sewaktu kuliah di saba"Hahaha dia baik baik saja tapi mungkin sekarang dia masih sedang sibuk sibuk nya menyiapkan skripsi untuk kuliahnya" ucap Andra sambil tersenyum karna ia juga merindukan gadis kecilnya itu"Lalu kenapa kau kembali bukannya membantunya untuk menyelesaikan tugasnya""Aku juga maunya seperti itu Gwen namun ia menolak justru ia menyuruhku pulang karna ia tau kalau aku belum pulang ke indonesia selama ini""Waw ternya gadisku itu sangat baik ya" ucap Gwen merasa kagum kepada kekasih nya Andra itu"Ya bagitulah ia sebelas dua belas lah denganmu Gwen yang berhati malaikat" ucap Andra yang langsung mengundang tawa mereka berduaSaat sedang fokus mengobrol sambil sesekali tertawa mereka tidak tau kalau di pojok kafe tersebut ada seseorang yang melihat mereka dengan tatapan tajam miliknya'Sial berani beraninya kau tertawa bersama gwenku, milikku, kesasihku' ucap Xavier dalam hati"Oke mungkin segitunsaja tuan pratama mungkin untuk lebih jelas lagi ya bisa kita bicarakan pada meeting selanjutnya" ucap klien nya Xavier ituDan setelah itu mereka bersalaman dan klien nya pun meninggalkan kafe tersebut sedangkan Xavier pergi menuju ke meja yang terdapat kekasih-nya itu"ahmmm" Xavier berdehem seraya mengeraskan suaranya agar Gwen mau membalikkan tubuhnyaDan benar saja Gwen membalikkan tubuhnya dengan mata yang melotot karna melihat Xavier di siniSedangkan Xavier yang melihat itu hanya tersenyum miring'Ya tuhan apalagi ini? kenapa Xavier bisa ada di sini? Habislah aku' batin Gwen berujar'Kau berani sekali pergi bersama pria lain tanpa bertanya kepadaku dulu Gwen' batin Xavier'Siapa orang ini? Dan kenapa Gwen menatapnya Seperi itu? Dan dari mana aura menyeramkan ini datang' batin Andra terus bertanya.Saat ini aku sedang meeting bersama dengan klien ku di sebuah kafe yang letaknya tidk terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh dari kantorkuSaat sedang meeting aku tak sengaja melihat kekasihku duduk bersama seorang pria, wait PRIA?!Aku terus saja memperhatikan kekasihku dari tempatku berada sampai sebuah suara dari klien ku menyadarkan ku dan mengatakan bahwa meeting telah selesaiSetelah itu aku berjabat tangan dengannya dan ia pun keluar dari kafe tempat meeting kita ini sedangkan aku pergi menuju meja kekasihku berada yang terlihat ia masih saja tertawa dengan pria ituAku sengaja berdeham dengan suara yang di besarkan agar ia berbalik dan benar saja ia berbalik dengan wajah terkejut nyaBugh ,,, bughh" Kenapa loe deketin cewek gua anjing?!!! Loe mau ngambil Gwen dari gua hah?! Dan gua peringatin loe jangan deket deket sama cewek gua lagi!!!!BughAku sungguh tak tahan dan segera menghajar pria yabg bersama dengan kekasihku membabi buta sampai pada saat aku merasakan tubuhku di peluk oleh seseorang dari arah belakang dan aku pun mematung di tempat"Baby sudah jangan Seperi ini, ia bukan siapa siapa aku ia hanya temanku Andra. Tolong jangan memukulinya lagi" ucap Gwen menghentikan aksikuTapi tunggu dulu ada yang janggal Andra? Ohh rupanya ia yang mengirimi kekasihku itu pesanAku yang mendengar pembelaan dari kekasihku untuk pria yang katanya HANYA temannya itu pun langsung menarik tangan Gwen tanpa memperdulikan lelaki yang saat ini sedang mengusap sudut bibirnya yang terdapat bercak darah sampai aku merasa Gwen menghentikan langkahnya dan aku pun berbalik"mmm vier apa Leih baik kita menghantar Andra ke rumah sakit terlebih dahulu kasihan pasti dia sangat lah kesakitan" ucap GwenAku tak memperdulikan ucapan Gwen aku langsung saja menariknya namun sebelum ia itu aku melihat Gwen menatap lelaki itu dengan tatapan bersalahnya dan ddi balas senyuman kecil lelaki ituAuthor POV"Gila pacarnya si Gwen posessive amat dah ampe bonyok ni muka ganteng gua buset dah"Lalu ia beranjak untuk pergi dari kafe tersebutDi lain sisi ada seorang pria yang tengah menarik tangan kekasihnya menuju ke parkiranSaat sampai di depan mobil ku. Aku segera mendorong Gwen masuk je dalam dan menutup pintu mobil dengan kerasBrak'Ya tuhan tamatlah aku kali ini' batin Gwen berujarAku segera masuk dan mengemudikan mobilku dengan kecepatan di atas rata rataAuthor POVSetibanya mereka di apartemen milik Xavier, Xavier segera menarik tangan Gwen menuju apartemen miliknya lalu menghempaskan tubuh Gwen ke atas kasur agar perempuan itu tidak terlukaAku yang terlanjur panas pun melepaskan jas, dasi dan kemejaku menyisakan kaos berwana putih yang sangat ketat di tubuh perposional ku"Kenapa Gwen?! Kenapa?! Jawab Gwen!!" ucap Xavier murka"A-akku..."Baru saja Gwen ingin berbicara namun Xavier langsung membanting vas bunga juga barang barang yang terbuat dari kaca di dalam kamar ituPrank .... prank ....Hal itu membuat Gwen tidak berani membuka mulutnya lagi"Kenapa kau pergi bersama pria lain ke kafe itu Gwen?! Apakah kau ingin berselingkuh dengannya saat status kita ini sudah bertunangan?! apa benar??!!"Gwen tidak berani menjawab pertanyaan Xavier ia hanya menutup mulutnya sambil menggeleng kuat menandakan semua yang di ucapkan Xavier itu tidak benar"A-aakku tidd-dak ber sel-lingkuh vi vier" Gwen mencoba membuka suaranya walaupun sangat sulit karena ia benar benar sudah sangat ketakutan melihat Xavier jika sudah seperti ini"Lantas jika tidak KENAPA KAU PERGI KE KAFE BERSAMANYA DAN TIDAK MAMBERI TAHUKU? kau tau kan AKU SANGAT TIDAK SUKA!!!!" ungkap Xavier sambil menatap Gwen dengan pandangan yang tersirat marah, sedih, dan juga yang paling besar adalah kecewaGwen hanya menunjukan kepalanya semakin dalanXavier yang melihat potongan potongan kaca itu langsung berjongkok dan mengukir nama 'Gwen' di tangannyaGwen yang tidak mendengar suara Xavier lagi sontak mendongakkan kepalanya melihat apa yang di lakukan pria ituSaat melihatnya Gwen langsung memeluk Xavier sambil menangis kencang"Hiks hiks vier jangan hiks sepeti ini,,Jangan lukain hiks dirimu sendiri hik hiks maaf kan aku hiks yang membuatmu marah hiks" ucap gwenXavier yang mendengar Gwen menangis membalikkan badannya dan memeluk Gwen erat dan juga tak lama air mata pun mengalir dari mata indahnya itu"Hiks Gwen kenapa bersama pria itu hiks hiks Gwen? Apa karena baby terlalu manja jadi Gwen ga suka dan sayang lagi hiks sama baby dan lebih memilih pria itu hiks""Engga baby dengerin Gwen yah Gwen itu sayang banget sama baby dan ga mungkin Gwen memilih pria lain selain baby" sambil menghapus air mata di matanya juga di mata Xavier"Maafin Gwen yah,,, baby mau kan maafin Gwen?" lanjut Gwen"Iyah baby maafin Gwen tapi Gwen ga boleh pergi bersama pria lain selain baby juga keluarga Gwen""Iya kamu tenang aja aku ga lagi kayak gitu""Yaudah aku bersihin luka kamu dulu " ucap Gwen langsung pergi mengambil kotak p3k untuk mengobati Xavier yang saat ini sedang duduk di atas kasurTak lama Gwen pun kembali lagi dengan membawa kotak p3k juga baskom beserta air dan juga handuk kecil untuk Xavier sebelum memberikannya obatSelesai dengan membersihkan luka Xavier dengan air hangat Gwen langsing mengambil kapas dan juga obat merah untuk mengobati Xavier"Aww shhh" ucap Xavier sesekali merintis merasakan tangannya linu"Tahan baby sebentar lagi selesai kok" ucap Gwen sambil tersenyum manis kepada XavierXavier menganggukkan kepalanya sambil menatap lukanya yang sedang di perbam oleh GwenSehabis itu mereka berbaring dengan posisi berpelukkan(Abaikan saja wajahnya ya😂)" Baby lebih baik kita tidur saja sekarang aku tau kamu pasti sangat lelah" ucap Gwen kepada Xavier"Mm baiklah aku juga sudah mengantuk, dan aku juga sudah izin kepada ayah kalau kamu tidak pulang dan menginap di apartemen ku"Gwen yang mendengarnya mengangguk di dalam dekapan Xavier ituMemang keluarga dari Gwen sudah sangat percaya bahwa Gwen dan Xavier tidak akan macam macam karena Xavier juga ingin menjaga Gwen dan bukan merusak nya"Gwen aku mencintaimu jadi tolong jangan pernah pergi dari bidpku karna aku tau kalau aku ga akan sanggup untuk itu" ucap Xavier sebelum memejamkan matanya ituGwen yang mendengar ucapan Xavier hanya tersenyum tipis sebelum berkata"Aku juga sangat menyayangi mu vier, i love you baby" ucap Gwen sebelum menyusul Xavier ke alam mimpi.Malam sudah berlalu dan pagi ini pun terlihat sepasang kekasih yang masih terlihat nyenyak tanpa peduli kalau sinar matahari telah semakin bersinarSampai ada salah satu dari mereka yang membuka matanya dan kemudian bangkit perlahan bersandar di kepala king bad ituDia adalah Gwen, Gwen yang sudah sadar pun menengok ke arah sebelahnya yang terdapat kekasihnya itu masih tertidur dengan nyenyak nyaSebelum ia membangunkan Xavier ia pergi ke kamar mandi terlebih dahulu agar setelah ia selesai Xavier bisa langsung bersiap siapCeklek....Gwen membuka pintu kamar mandi yang langsung terhubung dengan walk in closed itu, fan Gwen tampak cantik dengan make up naturalnya ituGwen yang melihat Xavier masih tertidur lantas membangunkan Xavier"Hei baby bangun lah kalau tidak kita akan terlambat pergi ke kantor hari ini" ucap Gwen sambil menepuk pipi Xavier pelanXavier yang pipinya di tepuk pelan pun merasa terganggu dan membuka matanya dengan perlahan"Gwen aku masih sangat mengantuk, kita bolos kerja saja hari ini" ucap Xavier dengan suara serak khas bangun tidurnya itu"Ih kok gitu sih, masa kamu malas malasan aku ga suka ya punya tunangan yang malas" ucap Gwen pura pura agar Xavier mau bangunDan benar saja tak lama Xavier bangun dan langsung duduk melihat ke arah Gwen"Ngga kok Gwen aku mau kok pergi ke kantor tadi aku hanya bercanda saja tolong jangan katakan seperti itu. Aku masih tunangan mu kan?" ucap Xavier dengan nada takut juga khawatir"Yaudah kalau begitu sekarang pergi ke kamar mandi dan segera bersiap a ku akan menyiapkan sarapan untuk kita dulu nanti kamu langsung ke bawah aja yaa"Mendengar ucapan Gwen Xavier hanya menganggukkan kepalanya saja dan segera pergi ke kamar mandi untuk segera bersih bersihGwen yang tengah menyiapkan makanan untuk sarapan mereka nanti pun harus terhenti karena ada sepasang tangan yang melingkar di perutnyaTanpa harus melihat pun ia sudah tau kalau itu adalah Xavier"Hai aku sedang menyiapkan makanan untuk kita jadi kamu lebih baik tunggu saja di meja sana"Xavier yang mendengarkan Gwen berujar seperti itu hanya berjalan ke arah yang di tunjuk oleh Gwen dengan menghentak hentakan kakinyaGwen hanya acuh dengan dengan tingkah Xavier lalu menaruh nasi goreng buatannya ke piring Xavier juga piring nya dan membawa piring itu kemeja lalu kembali lagi ke dapur untuk mengambil air minum"Sudah mukanya jangan di tekuk seperti itu baby""Hmmmm" hanya itu saja jawaban dari XavierXavier hanya mengaduk ngaduk makanannya tanpa minat untuk memakannya walaupun sebenarnya ia juga lapar karena kemarin tidak sempat makanGwen sudah menyelesaikan sarapannya dan kini menatap Xavier heran tumben sekali ia tidak memakan masakannya biasanya jika ia yang masak Xavier akan langsung melahapnyaJadi Gwen memutuskan untuk bertanya saja ada apa dengan Xavier ini"Hei baby kok ga di makan sih makanannya? Apa kurang enak? Atau kau ingin makan makanan yang lain? kayaknya kalau pun aku memasak lagi tidak akan membuat kita terlambat"Xavier yang mendengarkan sederet pertanyaan Gwen pun masih enggan untuk membuka mulutnya itu hadi ia hanya menggelengkan kepalanya saja'Ish Gwen ini kenapa ia tidak peka peka kan aku ingin ia yang menyuapiku' batin Xavier mencebik kesal"Lalu kenapa makanannya hanya di aduk aduk saja baby?" tanya Gwen masih heran dengan sikap Xavier itu"Ih Gwen mh ga peka kan aku ingin kamu yang menyuapiku Gwennn" ucap Xavier sambil merengek kepada GwenGwen yang mendengar itu hanya mampu menahan tawanya yang akan meledak"Hei kenapa kamu tidak mengatakannya saja jika kamu ingin aku menyuapimu, aku kan tidak bisa membaca fikiranmu" ucap Gwen"Emang pada dasarnya saja Gwen memang tidak peka" ucap Xavier kesal"Yasudah aku yang salah dan aku minta maaf, sini aku suapi kamu" ucap GwenGwen menyuapi Xavier dengan sabar sampai sarapannya benar benar habis lalu Gwen memberikan minum kepada XavierGwen beranjak dari meja makan menuju wastafel untuk membersihkan piring bekas mereka makan agar cucian piring kotor tidak menumpukSehabis mencuci piring Gwen segera beranjak dan ia menghentikan langkahnya di saat ia melihat Xavier masih berada di meja makan sambil melihat grafik saham dari ipad nya ituGwen menepuk bahu Xavier pelan agar menyadarkan lelaku itu akan kehadirannya" hey ayo kita berangkat kau bisa melanjutkannya nanti saat kita sudah sampai perusahaan" ucap Gwen"Baiklah" Xavier menurut apa yang di katakan GwenGwen dan Xavier pun memasuki mobil milik Xavier dan mereka berdua duduk di kursi penumpangKarena Xavier sedang malas untuk menyetir jadi ia memutuskan untuk memanggil sopir yang ada di mansion nya untuk datang ke apartemennya dan mengantarkan mereka ke kantorDi sepanjang jalan menuju kantor keadaan di dalam mobil itu hening karena sopir sedang menatap fokus ke arah jalan, Xavier sedang asik memeluk Gwen, Dan Gwen sendiri sedang asik menatap pemandangan dari kaca mobil ituSetibanya mereka di loby kantor mereka (Xavier dan Gwen) segera menuju ke ruangan mereka. Di sepanjang jalan menuju ruangan banyak sekali para karyawan yang meyapa atau pun melirik Xavier tapi di acuhkan olehnyaSaat mereka memasuki lift keadaan lift itu hening sampai ada yang memecahkan keadaan lift itu yaitu suara notifikasi pesan dari handphone milik Gwen dan itu juga mengalihkan atensi XavierAndraGwen bisakah kita bertemu saat kau pulang bekerja? Aku mohon:(Gwen sempat berfikir tidak ada salahnya juga kan toh ia juga ingin meminta maaf secara langsung kepada Andra tentang kejadian yang kemarin saat Xavier memukulnya. Dan Gwen pun membalas pesan dari AndraGwenBaiklah. Di mana kita akan bertemu?AndraBagaimana jika di taman komplek mu saja aku rumah baruku juga hanya berbeda blok denganmuGwenBaiklahSetelah itu tak ada lagi balasan dari Andra dan Gwen segera memasukan handphone nya je saku bajunya"Siapa?" tanya Xavier dengan nada dinginnyaGwen yang mendengar ucapan dari Xavier hanya membungkam mulutnya"Aku bilang siapa Gwen Crystallyn Alexis" ucap Xavier menyebutkan nama lengkap Gwen'matilah aku ia menyebutkan nama panjang ku artinya ia benar benar marah. Apakah aku harus memberi tahu ia apa yang terjadi sebenarnya? Ah tidak tidak aku tak ingin Andra mendapatkan pukulan lagi darinya" batin GwenTinggSuara itu lift pun menyadarkan keduanya dan Gwen langsung beranjak dari sanaNamun baru beberapa langkah Xavier langsung menarik Gwen dam menyandarkannya di dinding samping liftGwen mencoba mengangkat wajahnya untuk menatap mata tajam bak elang milik Xavier itu'kau harus tenang Gwen agar ia tak curiga' ucap batin GwenLalu Gwen melihat ke arah mata Xavier sambil mengelus rahang pemuda itu yang mengeras dengan lembut"Benar benar Tidak ada apa baby, percaya denganku. Sudah ya aku masih harus mengerjakan tugas tugasku yang sudah menumpuk"Ucap Gwen melenggang pergi saat tubuh Xavier sedikit menjauh"Huhh selamat aku" ucap Gwen pelan sambil mengelus dadanya'Sebenarnya apa yang kau sembunyikan Gwen?' batin Xavier bertanyaLalu Xavier merogoh saku celananya dan segera menelpon seseorang"Tolong kau awasi kekasihku apapun yang di lakukan nya kau harus melapor kepadaku" Xavier segera mematikan sambungan telponnya saat ada balasan dari orang suruhannya ituGwen POVHari ini jam kantor telah selesai dan pekerjaanku pun hampir selesai semua. Namun saat aku membereskan barang barang ku Xavier telah sampai ke ruangan ku dan mengajak aku pulang bersama"Gwen ayo kita pulang" ucap Xavier dengan senyuman manisnyaAwalnya aku ingin mengiyakan ajakannya tetapi aku ingat saat ini aku harus bertemu dengan Andra jikalau nanti aku melewati taman komplek dan Andra ada di sana pasti Xavier berpikiran yang tidak tidak"Mmm vier mungkin hari ini aku akan pulang sendiri" ucap Gwen"Tapi kenapa bukan kah biasanya kau slalu pulang bersamaku?" tanya Xavier heran dengan tingkah Gwen"Aku aku ingin menemui teman la aku dulu vier""Siapakah temanmu? Apakah ia seorang pria?" tanya Xavier memastikan kalau kekasihnya tidak akan pergi dengan pria lain"Tidak ia seorang wanita namanya bella teman kita dulu""Oh bela baiklah, apakah kamu ingin aku mengantarmu menemuinya? Sepertinya aku juga ingin menemuinya karena suaminya kan rekan Bisnisku juga""Oh tidak usah kar-karna hari ini itu khusus wanita saja, jadi kau tidak boleh ikut""Lalu kau akan pergi dengan siapa aku khawatir kalau kau kenapa napa di jalan Gwen" ucap Xavier mengelus pipi Gwen dengan lembut juga sorot matanya berubah sendu"Aku akan pergi naik taksi, kau tidak usah khawatir lagi pula aku sudah besar baby" ucap Gwen dengan menyentuh telapak tangan Xavier yang berada di pipinyaXavier menghembuskan nafasnya kasar "baiklah jika itu mau mu, hati hati ya sayang" ucap Xavier dan meninggalkan Gwen karena ia harus segera menemui kliennya yang baru datang dari amerika'Syukurlah jika ia percaya' ucap batin Gwen menghela napas legaAndraGwen kamu di mana kenapa lama sekali,,,cepatlah darurat ini🙀GwenBersabarlah aku segera membereskan barang barang kuAndraBaiklah.Gwen langsung mengemas barang barangnya dengan cepat karna takut andra memarahinya tanpa henti.sungguh menyebalkanGwen keluar dari perusahaan beruntung saat keluar ia langsung menemukan taksi jadi tidak perlu menunggu terlalu lama lagi......."Hei kenapa kau sangat lama sekali Gwen aku menunggu mu bahkan seperti hampir lumutan" Ucap Andra ketika melihat Gwen turun dari taksi dan menghampiri nyaGwen yang mendengar ocehan Andra hanya memutar bola matanya malas. Andra memang terkadang ia akan menjadi sangat cerewet di keadaan keadaan tertentu"Yang penting saat ini kan aku sudah ada di sini. Cepat katakan apa sebenarnya tujuanmu mengajakku untuk bertemu" ucap Gwen to the poin karna ia merasa akan terjadi sesuatuBahkan Gwen lupa untuk meminta maaf karna perlakuan Xavier kemarin

APPLE
Fantasy
05 Jan 2026

APPLE

Menyicip apel yang telah dipotong kecil sebelum memberikannya pada para bangsawan tentu saja adalah hal yang biasa kulakukan sebagai seorang pelayan, terlebih lagi setelah ramalan buruk itu muncul, bahwa di antara banyaknya apel yang terbentuk setiap waktu, ada satu buah apel yang mengandung racun.Ramalan itu baru muncul beberapa waktu yang lalu, saat pihak kerajaan menghabisi penyihir terakhir yang ada karena merasa terancam dengan keberadaan mereka.Aku tak bisa berbohong bahwa aku selalu mengambil keuntungan dari ramalan itu, pelayan seperti kami sangat jarang memakan buah yang segar.Kami bahkan boleh memakan apel yang ada di dalam karung setelah mereka mengambil apel yang paling berkualitas.Ramalan buruk datang tidak selalu membawa hal yang buruk, karena berkat ramalan itu, para manusia yang kelaparan di luar sana pun mendapatkan apel yang dibagi cuma-cuma."Hei, bagaimana bisa kau makan apel itu dengan tenangnya?" tanya temanku yang juga merupakan seorang pelayan dengan cemas, "Kau tidak takut akan memakan racun?""Satu dari sekian banyaknya orang, aku percaya bahwa bukan aku yang akan memakannya."Temanku itu hanya mengendikan bahunya tanpa membalas perkataanku sedikitpun. Aku merasa dia iri padaku, karena ibunya tidak akan pernah mengizinkannya memakan apel dan yang dia lakukan hanyalah melihatku memakan buah itu setiap harinya.Lihat saja tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang kasar itu, terlihat jelas kalau dia kurang asupan gizi. Padahal, dia itu pelayan yang mengurus kebersihan kastil, bagaimana mungkin dia bisa melakukannya dengan tubuh kurus itu?Pokoknya, aku masih percaya dengan kata-kata pelayan di dapur, bahwa bekerja sebagai pelayan dapur adalah pekerjaan yang paling menyenangkan di kerajaan ini.*Aku tetap tidak bisa terlelap meskipun sudah berulang kali mencari posisi nyaman, rasanya tubuhku begitu gelisah tanpa tahu dan mengerti apa yang terjadi. Punggungku terasa panas-dingin, kuabaikan itu karena itu bukanlah hal yang tidak wajar.Keringat dingin mulai mengalir di pelipisku, jari-jariku terasa begitu gatal jika tidak digerakan, kakiku terasa lemas, dan rasanya nyeri di bagian jantungku tak terelakkan.Kepalaku mulai pusing dan mataku mulai begitu berat. Penglihatanku berkunang-kunang, nafasku mulai tersenggal karena sesak, dan lidahku terlalu kelu untuk menjerit memohon pertolongan.Akhirnya aku pasrah, mempercayakan apapun pyang akan terjadi kepada diriku terhadap kenyataan...Namaku terpanggil berulang kali oleh beberapa orang yang berbeda. Suara pintu yang dibuka-tutup terdengar lebih keras dari biasanya.Setelah memaksakan diri, akhirnya aku membuka mataku perlahan.Orang-orang masih memanggilku dan terus lalu-lalang tanpa mempedulikanku yang duduk termenung di depan mereka.Aku meratapi diriku sendiri.Aku percaya bahwa aku telah memakan racun itu.Karena jika tidak, tidak mungkin aku berubah menjadi makhluk kerdil dengan sayap transparan dibelakang punggungku.Bagaimana bisa aku menjadi orang tersial itu ?*Berita tentang diriku yang telah menghilang berhari-hari, membuatku begitu marah. Dalam sosokku yang tak berdaya, aku bertanya-tanya mengapa tidak ada siapapun yang mencariku.Mereka memang mencariku pagi itu, tapi hanya sebentar saja.Aku sangat bingung, mengapa mereka malah mengadakan pesta yang megah nan mewah, entah menyambut siapa atau mengadakan acara apa.Ayah dan ibuku bahkan tak mencariku, malahan mereka diberi banyak koin emas dan benda berharga lainnya oleh pihak kerajaan. Senyuman lebar mereka yang terlihat begitu senang mendapatkan benda-benda mewah itu membuatku tak mengerti.Aku tidak mengerti.Sampai akhirnya aku mendengar perbincangan mereka mengenai perihal itu...Dan aku sadar ..., pesta itu, kesenangan itu, dan semua imbalan itu adalah bentuk suka cita yang mereka perlihatkan karena satu-satunya apel beracun itu, kini telah lenyap termakan olehku.Tapi aku dikejutkan kembali dengan seringai Ayah yang mengerikan, lalu melambaikan tangan di depanku seolah dapat melihatku, aku menghilangkan keraguanku."Mereka itu bodoh ya?"Aku memiringkan kepalaku bingung, namun aku masih melihat mata Ayah yang menatapku fokus."Tunggulah beberapa hari lagi, kau bisa berubah menjadi manusia lagi setelah kita pindah ke kerajaan lain."Aku melongo. "Bagaimana dengan ramalannya?""Putri-ku yang lugu, haruskah aku menjawabmu?" Ibu mengelus kepalaku dengan telunjuknya. "Tentu saja apel itu masih ada, tunggu saja sampai ada manusia sial yang memakannya."Ayah memberikan sebuah cairan kepada Ibu. "Berikan dia minum, agar dia tak mengingatnya lagi nanti," bisik Ayah yang terdengar amat jelas di pendengaranku."Minum ini, biar kau lebih cepat menjadi manusia."Aku menelan saliva-ku tertahan, meski tahu bahwa cairan itu akan membuatku kehilangan ingatanku tentang ini, aku tetap saja meminumnya. Aku percaya pada Ayah dan Ibu.Kegelapan menuntunku untuk kembali terlelap.*Menyicip pir yang telah dipotong kecil sebelum memberikannya pada para bangsawan tentu saja adalah hal yang biasa kulakukan sebagai seorang pelayan, terlebih lagi setelah ramalan buruk itu muncul, bahwa di antara banyaknya pir yang terbentuk setiap waktu, ada satu buah pir yang mengandung racun.Ramalan itu baru muncul beberapa waktu yang lalu, saat pihak kerajaan menghabisi penyihir terakhir yang ada karena merasa terancam dengan keberadaan mereka.Aku tak bisa berbohong bahwa aku selalu mengambil keuntungan dari ramalan itu, pelayan seperti kami sangat jarang memakan buah yang segar.Kami bahkan boleh memakan pir yang ada di dalam karung setelah mereka mengambil pir yang paling berkualitas.Ramalan buruk datang tidak selalu membawa hal yang buruk, karena berkat ramalan itu, para manusia yang kelaparan di luar sana pun mendapatkan pir yang dibagi cuma-cuma.

I Hate You
Fantasy
05 Jan 2026

I Hate You

"Cepet banget ya, kita kelas enam... bentar lagi ujian, habis itu perpisahan. Terus, kita semua mencar," gumamku sedih kepada kedua sahabatku."Hm," jawab mereka berdua dengan sama sedihnya."Cepet banget kita kelas enamnya, padahal dulu awal ketemu itu kita kelas satu SD... masih kecil banget kita," lirihku lagi, dan dibalas anggukan oleh mereka."Hanya ada satu hal yang tak berubah..." Aku menaikkan kepalaku, ingin mengatakan 'Persahabatan' guna membuat kedua sahabatku ini menangis terisak, sebelum akhirnya dia datang dan mengacaukan segalanya. "Persaha-""Yeah, tinggi badanmu."Tanganku seolah tercipta hanya untuk mencubit tangannya, sebab pemadangan dimana aku mencubitnya dan dia mengaduh kesakitan itu seperti sudah menjadi sarapan untuk seisi kelas--sudah biasa."AW!" Dia mengaduh kesakitan. "Apaan sih, kan aku bilang kenyataan!""Iya, gausah frontal kayak gitu juga dong!" makiku tanpa berhenti mencubitinya."Mesra amat, ciyeee," goda sahabat baiknya, yang membuatku memanas dan akhirnya memutuskan untuk menjauh dari mereka."Capek tau nggak sih, berantem mulu sama kamu! Sifatmu masih aja kayak anak-anak, padahal kita udah mau lulus SD!" seruku dengan berapi-api."Ye, kamu-nya juga kayak anak-anak, diledekin dikit langsung meledak," ucapnya dengan penuh dengan tatapan mengejek. Tangannya yang berada disisi tubuhnya tiba-tiba terangkat dan ditaruhnya di puncak kepalaku sebelum akhirnya menariknya kembali ke lehernya. "Tinggimu juga kayak anak-anak."Dan aku benar-benar meledak."AKU BENCI KAMU!"***Pada kenyataannya, setelah selesai ujian dan kami mengadakan acara perpisahan, melewati semuanya dengan begitu normal, aku tidak tahu bagaimana bisa aku masih bingung dengan diriku sendiri yang tak kunjung meminta maaf dengannya, meskipun aku tidak pernah merasa bahwa aku yang salah, karena yang diledekin itu aku, bukan dia.Aku masih marah dengannya sampai akhirnya salah satu temanku mengabarkan padaku tentang apa yang terjadi padanya setelah seminggu acara perpisahan kami terlewat."Hah?"Aku mengerjapkan mataku tak percaya. Dibalik telepon, perkataan mereka terdengar terlalu serius untuk kucerna. Aku sempat berpikir bahwa aku tengah di prank call atau mungkin ini usaha yang dilakukan oleh teman sekelasku yang tahu bahwa hubungan kami tak dalam keadaan baik-baik saja setelah aku membentaknya di depan kelas dan di hadapan semua orang, namun nada yang serius itu membuatku mau tak mau harus mempercayai perkataannya." Iya... Nanti kita mau jenguk dia, mau ikutan ?"Terdengar penuh dengan bualan dan dusta, namun aku tak percaya bahwa aku mempercayainya, dan dengan perasaan cemas dan penuh keyakinan, aku menjawab, "Iya, aku ikut."...Dan mataku tak bisa berhenti menatapnya--sama seperti teman-temanku yang lain, semuanya menatapnya iba. Matanya menatap kami semua dengan sorot bingung, sebelum akhirnya sahabat mainnya menunjuk dirinya sendiri dan berbicara dengan sedikit ragu."...Kau ingat aku kan?"Hening, kamar itu hening, semua orang dalam kamar menatap ke arahnya dengan penuh keingintahuan. Kami semua menghela nafas panjang saat dia menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan."Kamu benar-benar amnesia ya?" tanya salah satu temanku yang mendapatkan perlototan tajam dari kami semua, orang yang ada di sampingnya pun menyikut sikunya dengan amat kesal."...Apa aku pernah mengenal kalian sebelumnya?"Dan perkataannya itu sontak membuat seisi manusia dalam ruangan terdiam. Akupun tanpa sadar menahan nafas, tak percaya dengan apapun yang sebenarnya terjadi.Katanya, saat pendaftaran di salah satu sekolah ternama di kota kami, salah satu tiang listrik tak sengaja roboh. Tampaknya kepalanya terbentur kuat dengan batu kala ia mencoba menghindar. Siapapun pasti tahu mengenai robohnya tiang listrik yang membuat seluruh kota harus mengalami mati lampu selama semalaman, aku pun tahu. Aku hanya tidak tahu, kalau korban yang kami dengar itu ternyata...dia.Setelah agak lama mulai mengobrol dan memperkenalkan diri, juga setelah mencoba membantunya mengorek ingatannya dulu--meskipun tak sekalipun berhasil, beberapa orang pun memutuskan kembali.Aku masih duduk terdiam di tempatku, tak bergerak sedikitpun sampai akhirnya aku melihatnya menghampiriku dengan tongkat yang membantunya bangkit."Kamu belum pulang?"Aku menggelengkan kepalaku dan mengepalkan tanganku erat sekali, berusaha agar aku tak menangis di depannya. "Kamu ingat denganku?"Dia mengernyitkan keningnya, sedetik kemudian menggelengkan kepalanya pasrah. "Maaf, aku tidak ingat."Bahkan sifatnya yang berubah drastis itu, membuatku berpikir bahwa dia punya maksud terselubung--seperti yang biasanya dilakukannya."Kamu ...," Dia mendekatkan wajahnya, menatap mataku dalam. "Kamu terlihat tidak asing ..., uh, ya, mungkin karena kita memang pernah bertemu sebelumnya?""Ya," jawabku sangat pelan. "Aku sangat membencimu."Dirinya menatapku bingung, butuh beberapa saat bagiku untuk menarik nafas dan tersadar dari keheningan itu. "Aku minta maaf."...Kata-kata itu bukanlah yang kuharapkan akan keluar dari mulutnya."Kamu dimaafkan," ucapku sebelum akhirnya bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pintu keluar."Kamu mau kemana?""Aku sudah menjengukmu, ini sudah malam. Aku tidak mau ketinggalan bus pagi besok." Aku memincingkan mataku, menatap matanya yang kini menatapku bingung--atau memang sedaritadi menatapku bingung. Dan saat itu aku sadar, dia benar-benar kehilangan ingatannya. "Kuharap ingatanmu cepat pulih, kudengar dari dokter, kamu akan mendapatkan ingatanmu kembali dalam waktu singkat ini.""...Kamu mau pergi?""Yah," balasku singkat. "Sejauh-jauhnya, menjauhimu."Aku membuka pintu dan menutupnya tanpa berkata apa-apa lagi.*Sepuluh tahun kemudian ...Rasanya aku patut ditertawakan nantinya. Maksudku kebanyakan teman-temanku sudah menyelesaikan tugas akhir mereka dan terbebas dari kutukan maut itu, sementara aku? Dosen pembimbingku sepertinya tak menyukaiku. Dia mencibirku terang-terangan, semua hal yang kuajukan ditolak dengan alasan tak manusiawi.Kemarin lusa mungkin adalah hal yang kebetulan. Sebab aku tak biasanya membuka sosial media disaat aku memiliki tugas. Salah satu temanku mengirimkan undangan tentang reuni SD kami, dan acaranya akan berlangsung nanti malam.Yeah, karena itulah aku lesu sedari kemarin. Mungkin saja kebanyakan mereka sudah menyelesaikan skripsi mereka--seperti teman-teman angkatanku?Kutarik koperku dengan sedikit malas, ini terdengar gila, namun Ibuku menyarankan agar aku mengunjungi kota kelahiranku selama seminggu ini. Mungkin saja beliau tahu betapa gila-nya aku setiap pulang kuliah dan menghadapi dosen itu.Dan bye! Melupakannya memang saat terbaik saat ini!Rumahku memang terletak di tempat yang lumayan strategis, karena jauh dari jalan besar namun di sekitarnya sangat banyak perumahan. Meskipun lahan hijaunya tak lagi sebanyak dulu, tapi tetap saja tempat ini masih sangat segar berapa kalipun kau mengunjunginya. Kota besar tempat aku menaung ilmu sekarang, tentu saja lebih minim lahan hijau daripada di sini.Di depan rumah, Bi Surti telah menyambutku dengan senyum sumirgah, aku pun membalasnya dengan senyuman lebar. Bi Surti diberi kepercayaan oleh Ibuku untuk menjaga rumah kami di kota kelahiran ini. Melihat fisik rumahku hanya dari taman dan pohon-pohon yang digunting rapi, aku percaya bahwa dia melakukan tugasnya dengan baik.Sudah sepuluh tahun aku meninggalkan kota kelahiranku ini. Masa SMP dan SMA di kota besar benar-benar berbeda dengan di sini. Di sana, kita mengikuti gaya kehidupan mereka. Aku tidak membandingkan, tapi memang di sana dan di sini sangatlah berbeda.Tidak ada yang berubah di sini, begitupun kenangan dulu.*Dan di sinilah aku, di cafe yang 'lumayan' ternama di kota ini. Bersama beberapa orang yang kurang kukenal, namun mereka berbicara dengan sangat akrab kepadaku. Padahal, aku sama sekali tidak merasa kenal dengan mereka, tapi biarlah, daripada aku sendiri di sini, kan?Orang-orang yang datang belum terlalu ramai, karena aku memang datang lebih awal daripada jadwal yang telah ditentukan--begitupun orang-orang disini. Kukira saat reuni, aku hanya akan mengobrol dengan orang yang kukenal dan sekelas denganku saja, rupanya perkiraanku salah.Karena pakaian wajib di acara ini adalah dress, aku mengenakan dress pastel tanpa lengan selutut yang kubalut dengan cardigan putih. Selama diperjalanan tadi aku amat panik dan hampir berbalik pulang saat aku membayangkan mereka semua datang dengan dress formal yang biasanya digunakan saat acara-acara yang formal pula, untungnya dugaanku salah.Saat orang-orang mulai berdatangan, aku berpencar dengan orang-orang tadi (yang tadi kusebut ramah), sepertinya mereka juga sibuk untuk bertemu dan bersapa ria dengan teman-temannya dulu. Aku pun bertemu dengan beberapa teman sekelasku. Tidak ramai yang menggunakan dress informal, itu benar-benar membuatku canggung.Tadinya aku memilih untuk tak menyesal, sebelum akhirnya aku merutuki diriku sendiri karena lupa dengan pakaian wajib pria yang diharuskan memakai jas. Ini benar-benar canggung. Jadi, aku memutuskan untuk melepas cardiganku dan menyimpannya dalam tas. Untunglah karena ini, aku tak terlihat aneh seperti tadi."Eh, lihat!" Temanku menunjuk keberadaan pintu yang membuatku ikut menoleh ke sana.Dan aku melihatnya.Dia sedang berbincang dengan teman-temannya yang lain. Jas hitam yang dikenakannya benar-benar pantas di tubuhnya. Aku hanya bisa berbalik kembali dan bertanya pada teman yang tadi menunjuknya."Ingatannya udah balik?"Temanku itu hanya mengangguk mengiyakan, lalu mengambil gelas berisi minuman berwarna merah yang aku tidak tahu apa namanya. "Hm, beberapa hari setelah kamu pindah, ingatannya kembali."Aku menghela nafas panjang. "Sudah kubilang kalau ingatannya itu akan segera kemba-""Hei." Seseorang menepuk bahuku membuatku merinding. Temanku itu langsung ngacir pergi begitu melihat siapa yang berbicara, sedangkan aku enggan berbalik ke belakang. "Kamu tidak dengar, aku memanggilmu?"Dengan berat hati, aku berbalik ke belakang, "Oh, hei...""Gimana kabarmu?""Baik," balasku canggung. "Uhm, kabarmu?""Aku juga baik," Lalu dia memperhatikanku dari atas hingga bawah. "Wah, kukira tinggimu bakalan segitu terus."Dia tetap menyebalkan!"Kukira kamu berubah, kamu masih menyebalkan!" hardikku sambil membuang muka."Kamu masih membenciku?" tanyanya dengan nada seperti tengah menggoda dan meledekku."Tentu saja!"Pembicaraan terhenti saat salah satu temanku--yang aku lupa namanya--naik ke atas panggung dan mempersilahkan kami semua untuk duduk. Mataku tak henti-hentinya menatap pria di sampingku dengan tajam."Kamu ngapain ikutin aku?" tanyaku tak terima.Dan aku berani bertaruh, jawabannya pasti bisa membuatku jengkel."Memangnya acara ini punya kamu?" balasnya santai, membuatku ingin mencungkil matanya keluar. Baiklah, kurasa aku harus berhenti membaca cerita psycho.Aku memilih tempat duduk yang berada di paling ujung, dan aku hanya bisa menatapnya kesal karena dia mengambil tempat di sampingku.Saat acara dimulai dengan pertunjukan sulap, nyanyi dari teman-teman angkatanku itu, aku mulai bosan dan bangkit menuju meja tempat dimana makanan dan minuman dihidangkan. Kulihat sebotol vodka tersedia di atas meja, dan aku tanpa ragu menuangkannya di dalam gelasku."Kamu yakin minum itu?" Terdengar suaranya di belakangku, membuatku berbalik dan menatapnya bosan."Aku bukan tipe yang tidak tahan minum," balasku santai. "Aku hanya minum sedikit," lanjutku saat kulihat wajahnya menegang. Kupikir dia bukan tipe pria yang bisa minum, entahlah."Kalau begitu...," Dia juga menuangkan vodka ke dalam gelas kosong, dan tanpa persetujuanku dia bersulang padaku. "Bersulang!"*Aku kewalahan.Sialnya, aku benar. Dia benar-benar bukan tipe pria yang tahan minum.Dia sudah menyandarkan punggungnya di sandaran bangku dan sesekali meracau entah mengatakan apa. Padahal, acara sudah selesai dan foto reuni sudah dilaksanakan tadi. Banyak orang-orang yang sudah pulang, tapi karenanya, aku harus tetap berada di sini."Kau pulang saja, deh." Temannya mengingatkanku."Maunya juga gitu sih, tapi ...," Aku meratapinya yang kini tidur terlelap tanpa mengatakan apa-apa seperti tadi."Tenang saja, nanti kami bawa dia pulang," balas temannya yang membuatku menghela nafas lega. Baru saja aku bangkit, temannya bertanya lagi. "Kau pulang sendiri?""Aku bawa mobil," balasku singkat. "Tolong ya, urusin anak satu ini. Aku duluan.""Ya, hati-hati."Baru saja aku hendak pergi meninggalkan tempat itu, aku mendengar suara keras di belakang sana, yang membuatku reflek berbalik lagi memastikan keadaan.Ah, dia sudah bangun."Kamu mau kemana?" tanyanya dengan mata sayu dan suara serak khas baru saja bangun. Aku hanya bisa mengerutkan kening bingung, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan langkahku keluar. "Tunggu!"Aku memekik saat merasakan tangannya menahan pundakku. Dengan sedikit kesal, aku berbalik ke belakang. "Aku mau pulang."Teman-temannya ikut menahannya saat menyadari kekesalanku. "Sudahlah, dia mau pulang. Kau-""Aku ikut kamu pulang ya?"Aku melotot galak, lalu menggeleng cepat."Ya?""Enggak boleh!" balasku tegas."Kalau gitu, ayo kita ngobrol sebentar." Dia menarik pergelangan tanganku, lagi-lagi sukses membuat mataku membulat. Aku menatap ke arah teman-temannya yang hanya bisa menggeleng-geleng seolah memintaku pasrah saja."Kita kan sudah ngobrol tadi!""Tapi belum selesai," balasnya.Aku melotot lagi, "Kalau begitu, cepat selesaikan!""Kok buru-buru? Kamu mau kemana?""Aku mau pulang!" jeritku tak terbendung. Inilah mengapa aku kesal setengah mati bicara dengan orang mabuk."Kamu, jangan jauh-jauh dari aku ya!" pintanya layaknya anak-anak, namun sukses membuatku melongo. "Aku nggak bisa...""Kamu ngomong apaan sih?" tanyaku kebingungan. Dia nanya apa, aku jawab apa, dia entah ngomong apa.Ekspresinya berubah cemberut. "Jangan benci aku. Sedaridulu aku ingin memberitahumu langsung seperti ini.""Telat, aku udah benci kamu," balasku enteng. "Udah? Udah ya?""Terus ...," dia menjeda selama tiga detik. "Terus kalau aku suka kamu, gimana?"Hening.Aku berusaha mencerna perkataannya."Huh?"Itu jawaban terbodoh yang pernah kujawab di sepanjang pertanyaan yang ada. Bahkan saat guru bertanya dan aku tak bisa menjawabnya, setidaknya bukan jawaban bodoh itu yang keluar dari mulutku. Atau saat aku diskakmat oleh dosen pembimbingku, aku masih bisa menjawab pertanyaan lain.Sudah kubilang itu jawaban terbodoh yang pernah kujawab."Kamu ngerti aku bilang apa," balasnya dengan suara kecil. "Kamu bukan anak-anak lagi kayak dulu. Kamu pasti ngerti."Tunggu.Tunggu dulu.Sekilas, tatapannya yang menatapku dalam itu, kembali membuatku teringat dengan kejadian dulu. Yeah.Sudah sangat lama.Kala itu, kami berdua masih dalam masa sekolah dasar kelas lima SD.Dan dia mengatakan hal yang sama." Aku lebih suka padamu daripada dia. " Dia membandingkanku dengan salah satu temanku.Tapi saat itu aku masih terlalu polos untuk mengerti maksudnya. " Kamu nggak boleh gitu. Dia kan juga baik ."Maksudku saat itu, dia tidak boleh membanding-bandingkan teman.Tapi sepertinya aku salah.Dan yang aku ingat, setelah kejadian itu, dia sering meledekku 'pendek', 'kurang tinggi', 'tumbuh ke samping' dan lain-lain (pokoknya yang bisa bikin aku kesal)."Aku sedih saat tahu kamu akan pindah," gumamnya. "Makanya, aku bermaksud menemuimu setelah selesai mendaftar."Aku masih diam--masih tak percaya apa yang sedang terjadi sekarang."Tapi aku tidak bisa bertemu denganmu. Saat kita bertemu untuk terakhir kalinya, aku malah nggak ingat kamu," ucapnya panjang-lebar. "Setelah kamu pergi, aku baru bisa mengingatmu. Kamu bilang mau pergi sejauh mungkin dari aku, jadi kukira kamu masih membenciku.""Aku... memang membencimu," jawabku pendek. "Aku hanya bercanda," ucapku cepat saat kulihat ekspresinya kian berubah. "Aku sama sekali tidak membencimu.""Benarkah?""Tapi aku juga tidak memikirkanmu selama aku pindah." Aku melipat kedua tanganku. "Oke, hanya beberapa kali, mungkin.""...Lalu?""Kukira aku mengkhawatirkanmu.""Maafkan aku."Aku berdengus kesal. "Aneh sekali mendengarmu minta maaf. Baiklah-baiklah, aku memaafkanmu.""Ugh... lalu bagaimana? Kamu... mau?""Mau apa?" tanyaku bingung. Hanya butuh sedetik untuk mencerna kata-katanya. "Oh... itu...""Ngomong-ngomong aku serius dengan kata-kataku dari dulu," ujarnya tegas. "Kecuali saat aku bilang kamu pendek.""Kamu memulainya lagi!" kataku tak terima. "Baiklah."Aku membulatkan mataku saat merasakan tubuhnya memeluk tubuhku, sebelum akhirnya melepaskanku dan melemparkan senyuman tipis. "Terima kasih."Aku hanya bisa tertawa kecil, "sama-sama."***

Jangan Sedih, Cha!
Teen
05 Jan 2026

Jangan Sedih, Cha!

"Pokoknya Caca mau yang itu!" bentak Caca sontak membuat Dio geleng-geleng kepala, merasa pusing dengan tingkah Caca tersebut."Gabisa Ca, Bunda Rara ga bakal kasih izin lo pelihara kucing," sahut Dio membuat Caca mengkerucutkan bibirnya sebal, seraya berjalan mendekat pada kucing persia bewarna putih itu."Mau ini hiks," kata Caca terisak pelan.Dio tercegang, sedetik kemudian menatap mata Caca tajam."Ca, ayo pulang. Jangan ngada-ngada deh, lo nangis begini dikira gw yang nangisin tauk!" tukas Dio agak ketus.Caca menoleh, kakinya spontan malah menginjak sepatu Dio keras."Berisik! Dio jahat banget sih sama Caca," balas Caca menatap Dio tajam, seraya melangkah pergi dengan kaki yang terus-menerus bersuara."Buru, katanya mau pulang, gimana sih?" tanya Caca menarik lengan Dio paksa.Dio terkekeh, jemarinya dengan lihai menoyor kening Caca sekilas."Galak," balas Dio mendapat decihan pelan Caca padanya.Caca dan Dio adalah dua orang yang bersama sedari mereka kecil, Caca adalah seorang anak yatim piatu, yang dititipkan oleh seseorang _enam belas tahun_ lalu pada sebuah panti asuhan.Sedangkan Dio, keluarganya adalah donatur besar pada panti asuhan yang Caca tinggali tersebut."Ca, mau es krim nggak?" tawar Dio sedikit manis.Caca menggeleng cepat. "Maunya kucing," balas Caca terdengar singkat.Dio menghela nafasnya gusar, perlahan merangkul Caca spontan. "Nanti gw tanya Mami deh soal itu," kata Dio tersenyum.Caca menoleh, menatap Dio dengan sangat girangnya. "S-serius?" sahut Caca dengan raut wajahnya yang berbinar."Boong deh tapi," kekeh Dio memalingkan wajahnya puas."Dio ih!" marah Caca menepuk-nepuk pundak Dio kesal.*TRING TRING*Caca dan Dio tercegang, tatkala melihat sebuah mobil bewarna putih tengah mengklakson mereka saat ini dengan sangat kencangnya."Siapa sih," gumam Dio menarik Caca ke belakang tubuh miliknya."Dio!" panggil seseorang mendekat, Dio mengangkat wajahnya cepat, mendapati seseorang yang memiliki wajah familiar baginya."Loh, Arin?" gumam Dio menyipitkan matanya samar."Siapa Dio?" tanya Caca amat pelan.Dio tersenyum, menarik kembali tubuh Caca keluar. "Dia anak sahabatnya Mami, temen kecil gw Ca," sahut Dio nampak senang.Caca ber oh ria, belum sempat Caca ingin bertanya. Arin sudah lebih dulu memeluk Dio dengan sangat eratnya, menyisakan Caca yang terdiam diri karena tak mengenali seseorang bernama Arin itu."Dio, parah! Lo tinggi banget sekarang," tutur Arin memuji.Dio terkekeh. "Iya dong Rin, btw, lo sama siapa kesini?" tanya Dio nampak bingung."Sama Tante Intan, Mami lo." Arin berkata bangga, membuat Caca yang kini berada diantara mereka, merasa terkucilkan dan tidak sepantasnya berada pada situasi tersebut."Dio..," panggil Caca pelan.Dio menoleh, ketika mendapati Caca yang malah menunduk sayu, dirinya mendekat, berusaha menenangkan Caca dengan mengelus lembut punggung gadis tersebut."Kenapa Ca? Oh ya—ini Arin, Rin ini Caca sahabat gw," ungkap Dio berniat memperkenalkan satu sama lainnya."Oh, ya. Gw Arin, salam kenal," pungkas Arin tersenyum.Caca mendonggakan wajahnya sekilas, mendapati Arin yang tersenyum padanya, dengan sesegera mungkin juga ia membalasnya. "Caca," sahut Caca agak gemetar."Caca itu, yang anak yatim piatu ya? Yang pantinya selalu dikasih uang sama Tante Intan setiap bulannya," kata Arin blak-blakan.Dio menoleh cepat, begitu juga dengan Caca. Ketika mendapati Arin berbicara seperti itu pada Caca, Dio kini merasa sedikit kesal. "Arin, ga seharusnya lo ngomong kaya gitu," timpal Dio tak terima."Gapapa," sahut Caca disela-sela pembicaraan mereka. "Caca emang anak yatim piatu, gak punya Ayah dan Ibu kaya Dio dan Arin. Maaf ya, kayanya Caca salah ada diantara kalian sekarang," lanjut Caca menunduk, perlahan berbalik badan untuk segera berlari."Ca!" panggil Dio hendak menyusul, namun terhenti karena Arin telah mencekal pergelangan lengan Dio dengan sangat sigap."Apaan sih Dio, lo ga seneng ya gw kesini? Kenapa malah ngurusin orang lain sih," ketus Arin mengomel.Dio menggeleng lemah. "Gw bukan ga seneng Rin, tapi lo—udah keterlaluan sama Caca," balas Dio mendengus sebal."Dio, Arin. Ayo pulang Nak," teriak Intan yang berada didalam mobil.Arin tersenyum, spontan menarik lengan Dio cepat. "Ayo," ajak Arin sontak mendapat tepisan telak Dio padanya."Gw harus ngejar Caca sekarang, kita ketemu di rumah gw aja ya Rin, maaf," tutur Dio singkat, sukses membuat Arin yang tertinggal malah menganga lebar tak percaya.*"Caca!" teriak Dio memanggil-manggil nama Caca khawatir.Yang dipanggil selalu tak membalas, membuat Dio kini semakin ketakutan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Caca."S-sakit..," lirih seseorang terdengar parau.Dio terhenti berusaha fokus mendengarkan suara tersebut, perlahan ia berlari kencang, ketika tau bahwa Caca lah yang tengah kesakitan itu."Caca!" teriak Dio lagi terdengar lebih kencang.Caca menoleh, menatap Dio dengan tatapan sendunya. "Dio, hiks... Caca takut," isak Caca menangis lirih.Dio mendekat, memeriksa tubuh Caca yang kini terlihat sedikit terluka sekarang. "Ini kenapa Ca, ini juga, lo kenapa?" tanya Dio bertubi-tubi.Caca tersenyum. "Caca ditabrak sama Mobil tadi," tutur Caca menghela nafas jengah."Ha?! Mobil? Terus gimana, mana orangnya?" teriak Dio dengan sangat lantangnya."Udah pergi. Caca kabur waktu kejadian itu, Caca gamau ke rumah sakit Dio, takut disuntik sama dokter," sahut Caca malah terkekeh pelan.Dio agak tercegang, sesaat kemudian dia tersenyum, dengan jemarinya yang mulai memeluk tubuh mungil milik Caca erat."Jangan pergi lagi Ca, Dio janji bakal selalu ada buat Caca mulai hari ini," tutur Dio memejamkan matanya tulus.Caca terkekeh. "Mulai hari ini, berarti kemarin-kemarin Dio kemana aja?""Kemaren Cacanya galak, gw gamau berhadapan sama versi lo yang galak, serem soalnya Ca," balas Dio meledek."Makasih ya Dio. Caca juga sayang deh sama Dio, cuma kalo Dionya baik, kalo Dionya jahat Caca sukanya liat Dio tersakiti."Dio mendelik. "Sadis lo Ca!" tutur Dio geleng-geleng kepala.Keduanya kini tertawa bersama, Dio kembali mengajak Caca pulang bersama dengan cara menggendong tubuh Caca. Sedangkan reaksi Caca, kalian tau sendiri, Caca adalah orang yang selalu menerima rezeki, apalagi itu adalah tumpangan gratis dari Dio, tentu saja Caca mau."Jangan sedih, Cha!"Kata terakhir Dio, sebelum akhirnya mereka kembali melangkah untuk kembali pulang pada kenyataan yang sebenarnya.[ E N D ]

Mantan
Teen
05 Jan 2026

Mantan

"Sayang, tungguin dong!" teriak Kailendra dari belakang tubuh seorang gadis yang ia panggil sayang. Kanaya, gadis yang dipanggil sayang tersebut hanya memutar bola matanya malas.Kanaya menengok kebelakang," Sayang gundulmu! Ngintilin gue mulu kaya kuman. Jauh-jauh sana!" usir Kanaya semakin nemepercepat langkahnya.Beruntung saja SMA Nusantara sedang tidak ramai, karena ini masih pagi. Jadi, Kanaya tidak harus menanggung malu menanggapi kegesrekan Kevan.Namun, usaha Kanaya sia-sia karena Kevan dengan cepat mengejarnya dan merangkul pundak Kanaya dengan santai."Ish apasih lo?! Lepas ga! Lo sama gue itu cuma mantan, jadi gausah rangkul-rangkul gue segala!" sungut Kanaya berusaha melepaskan rangkulan Kevan. Namun Kevan malah memepererat rangkulannya."Makanya kita balikan yuk, baru deh gue bebas rangkul elo," ajak Kevan dengan senyum menggoda.Kanaya pun melotot mendengarnya, ia melepaskan rangkulan Kevan dipundaknya lalu menatap horor Kevan."Benerin otak dulu sana! Gue ga mau punya pacar stress kaya lo!" selesai mengucapkan itu, Kanaya langsung pergi meninggalkan Kevan sendiri."OKE, NANTI GUE KEBENGKEL NAY, BUAT BENERIN OTAK!" teriak Kevan yang masih terdengar ditelinga Kanaya. Salah apa Kanaya hingga mampu mempunyai mantan yang gesrek nya akut seperti itu.Pagi berikutnya, Kanaya bertemu lagi dengan si mantan berotak miring yang selalu mengganggunya. Sudah jadi mantan, masih ajah ganggu. Memang perlu dibasmi spesies mantan itu."Hallo mantan," sapa Kevan dengan cengirannya. Ia sudah berada tepat didepan Kanaya."Hallo juga setan," balas Kanaya dengan senyum sekilas lalu memunculkan wajah datarnya."Njir, gue ganteng gini dibilang setan," sahut Kevan dengan nada narsis."Van, mau gue ambilin kaca ga?" tanya Kanaya dengan nada sinis."Ga perlu Nay, gue udah ganteng maksimal, jadi ga perlu pake kaca untuk melihat kegantengan gue yang alami ini," cerocos Kevan dengan pedenya."Dih, pede banget lo! Sinting!" balas Kanaya."Gapapa deh gue dibilang sinting, tapi lo mau kan balikan sama gue?" tanya Kevan dengan alis yang dinaikkan menggoda Kanaya."Maap-maap ajah nih ya, gue masih suka yang waras dibanding yang sinting," balas Kanaya kesal menghadapi Kevan. Akhirnya Kanaya pergi meninggalkan Kevan."Lo ga takut gue diambil orang Nay? Lo udah ga perduli sama gue? Apa segitu besar luka yang udah gue ciptain buat lo Nay, sampe lo selalu nolak setiap gue ajak balikan,""Enggak. Gue udah ga perduli sama lo. Gue rasa, lo ga usah ganggu gue lagi Van. Kita udah mantan. Jadi tolong jangan bikin gue galmov karena lo deket-deket sama gue terus," balas Kanaya, lalu melanjutkan langkahnya."Tunggu gue Nay, pulang sekolah gue mau kebengkel lagi biar otak gue waras!" ucap Kevan sedikit menaikkan suaranya agar Kanaya bisa mendengar suaranya.Keesokannya, Kanaya pergi kesekolah dengan Ferdi, Ketua Osis Sma Nusantara. Dari dahulu, Ferdi memang menyukai Kanaya. Kenapa mereka bisa bersama? Karena Ferdi memaksa untuk menjemput Kanaya, Kanaya yang tidak enak pun akhirnya menerima ajakan Ferdi."Thanks," ucap Kanaya saat mereka sudah sampai disekolah."Sama-sama, yuk aku anter kamu kekelas," ajak Ferdi dan tanpa izin mengamit tangan Kanaya. Kanaya sudah mencoba untuk melepaskan tangannya, tapi Ferdi malah mengeratkan gengamannya. Alhasil Kanaya hanya bisa pasrah digandeng oleh Ferdi. Mereka pun berjalan dikoridor dengan tatapan aneh para penghuni sekolah.Dari kejauhan, Kevan melihat Kanaya dan Ferdi yang sedang berjalan dikoridor. Tiba-tiba Kevan terserang api cemburu yang begitu menyesakkan. Kevan yang sedang memegang sebuah minuman kaleng ditangannya pun meremas kuat hingga kaleng itu tak berbentuk dan menimbulkam bunyi yang keras. Setelahnya ia mengambil tasnya yang berada disampingnya. Ia berencana untuk bolos sekarang. Moodnya sedang tidak baik sekarang. Ia butuh pelampiasan.Saat istirahat, Kanaya dan teman-temannya sedang berada dikantin. Mereka sedang mengisi perutnya yang lapar."Kanaya! Kevan ngamuk Nay!" teriak Andi yang tiba-tiba datang entah darimana.Kanaya yang baru saja meminum jusnya langsung tersedak mendengar berita yang dibawa oleh Andi. Setelah selesai dengan acara tersedak Kanaya langsung menengok kearah Andi."Dimana?" tanya Kanaya dengan mimik wajah panik."Digedung belakang Nay, lu ikut gue deh sekarang!" ucap Andi yang langsung menarik tangan Kanaya. Kanaya pun hanya pasrah dibawa oleh Andi. Ia berharap semoga Kevan tidak terluka parah."Kevan stop!" teriak Kanaya saat melihat Kevan yang mulai kalap.Kevan hanya menengok sekilas kearahKanaya dengan tatapan dingin. Ia tetap terus memukul tembok didepannya sampai tangannya berdarah dan memar."Udah Kevan udah!" teriak Kanaya dengan air mata yang mulai merembes dari pipinya. Ia tak tega melihat tangan Kevan yang penuh darah. Selama ini ia bohong, ia perduli terhadap Kevan, ia sayang sama Kevan. Tapi ia hanya perlu menata hatinya untuk menerima Kevan kembali."Kenapa?! Kenapa lo perduli sama gue Nay?! Bahkan disaat gue sama lo enggak ada hubungan apa-apa. Kenapa Nay?! Gue sadar, gue emang bukan yang terbaik buat lo, gue mencoba untuk memahami luka lo, lewat cara ini Nay. Luka yang gue toreh udah terlalu banyak ke elo Nay," ucap Kevan yang semakin memelankan suaranya.Kanaya yang sudah tidak tahan pun segera memeluk Kevan dengan erat. Ia mencoba untuk membuat Kevan tenang. Ia mengelus-ngelus punggung tegap itu. Berharap agar Kevan tenang dan mulai menormalkan emosinya.Setelah dirasa nafas Kevan mulai teratur, Kanaya menangkup pipi Kevan. Menatap lekat mata yang selalu menjadi incaran banyak gadis disekolahnya."Kamu tau, aku ga pernah marah sama kamu. Aku ga pernah benci sama kamu Van. Aku cuma kecewa. Kecewa karena kamu lebih mentingin orang lain dibanding aku. Selama ini, aku masih sayang sama kamu, aku masih perduli sama kamu. Dua tahun bukan waktu yang pendek untuk ngelupain semuanya, aku cuma perlu waktu buat aku bisa menata dan menerima kamu seutuhnya," jelas Kanaya panjang, berharap Kevan mengerti ucapannya. Mereka berpisah karena Kevan yang lebih mementingkan sahabatnya Mega dibanding Kanaya. Karena kesal, Kanaya pun memutuskan Kevan. Dan berakhir seperyi ini, Kevan yang selalu mengejar Kanaya. Bahkan Kevan tak lagi bermain kerumah Mega karena Kanaya."Maaf," ucap Kevan lirih. Sementara Kanaya hanya tersenyum kecil."Aku mohon, jangan tinggalin aku Nay. Aku ga sanggup liat kamu sama cowok lain Nay. Jadi, will you comeback?" tanya Kecan seraya menggenggam kedua tangan Kanaya yang berada dipipinya.Kanaya menghela nafasnya, ia sadar bahwa ia bukan anak kecil lagi. Mungkin sekarang, saatnya ia menerima Kevan kembali dan menjalin kisah lama yang sempat tertunda."Iya Van. I'm comeback ," jawab Natasya dengan senyum manisnya.Kevan yang senang pun segera menarik Kanaya kepelukannya."Makasih," ucapnya.Dan akhirnya, Kanaya dan Kevan kembali marajut kisah lama yang sempat terputus dengan kisah baru. Mereka berharap, semoga kali ini kisahnya tak pernah ada kata putus sampai jenjang akhir.[ E N D ]

Jimenken
Folklore
05 Jan 2026

Jimenken

Jinmenken adalah anjing dengan wajah manusia yang diyakini muncul pada malam hari di area pemukiman di Jepang dan berlari menyusuri jalan raya dengan kecepatan luar biasa. Jinmenken juga dapat berbicara, namun konon mereka akan berbicara kasar atau meminta agar dibiarkan sendiri.Tidak seperti kebanyakan legenda urban Jepang, anjing berwajah manusia tidak dikenal sebagai pembunuh orang yang berjumpa dengannya, meskipun konon mereka adalah hasil penelitian ilmiah yang berhasil kabur atau hantu dari para korban kecelakaan di jalan.Menurut salah satu cerita, Jinmeken adalah arwah korban kecelakaan dimana korbannya yaitu seorang pria dengan anjing kesayangannya, mereka berdua tewas bersamaan di dalam mobil.Bebeberapa orang juga mengatakan bahwa Jinmeken sebenarnya baik, dia akan pergi ketika melihatmu tersenyum kepadanya. Tetapi jangan pernah untuk mencoba lari, melemparinya dengan batu atau mengajaknya mengobrol karena dia akan memakanmu atau mengubahmu menjadi bagian dari kelompoknya.Dalam beberapa laporan, mereka terlihat di luar rumah penduduk atau di tempat sampah. Laporan lainnya, mereka melihatnya mengejar mobil Expressway dan membuat pengemudinya ketakutan.Dalam satu cerita, ada sebuah restoran yang sampahnya dibuang di luar pintu belakang. Suatu malam, koki melihat anjing liar mengobrak-abrik sampah itu untuk mencari makanan. Dia pergi keluar untuk menyingkirkan anjing itu. Tetapi ketika ia mencoba untuk mengejar anjing itu, ia kemudian melihat anjing itu kembali dan berkata, "Tinggalkan aku sendiri."Dalam cerita lain, seorang laki-laki sedang mengemudi di jalan raya dan melihat anjing di kaca spionnya. Dan makhluk itu seperti mengejar mobilnya saat ia melaju dengan kecepatan lebih dari 100 mil per jam. Anjing itu berlari begitu cepat sehingga pada satu titik, anjing itu berdampingan dengan mobilnya. Sopir menoleh dan terkejut melihat bahwa hewan itu memiliki wajah manusia dan berkata, "Jangan lihat aku." Sopir itu begitu heran bahwa dia telah menyimpang dari jalan dan mengalami kecelakaan yang mengerikan.Di Jepang, anjing-anjing berwajah manusia biasanya dianggap sebagai pertanda buruk yang akan datang dan sering disalahkan dalam sebuah kecelakaan dan bencana. Antara tahun 1989 dan 1990, adalah puncak hebohnya tentang Jinmenken di Jepang. Orang-orang memanggil polisi dan menuntut mereka untuk segera menyingkirkan anjing berwajah manusia itu dari lingkungan mereka. Kecelakaan mobil yang melibatkan penampakan dari Jinmenken begitu sering dan polisi harus menyelidiki kemungkinan bahwa makhluk benar-benar ada.Orang yang percaya bahwa anjing berwajah manusia adalah roh dari korban kecelakaan lalu lintas yang telah bereinkarnasi sebagai anjing. Yang lain juga percaya bahwa mereka adalah anjing yang dimiliki oleh roh-roh jahat. Beberapa bahkan mengatakan bahwa Jinmenken adalah hibrida manusia-anjing yang diciptakan dalam percobaan biologi rahasia dan berhasil melarikan diri dari laboratorium.Ada spekulasi bahwa saksi mata yang mengaku telah melihat Jinmenken sesungguhnya bertemu dengan monyet Jepang, yang tampak seperti berjalan dengan empat kaki, berbulu seperti anjing, berwajah, dan hidung mirip manusia yang mungkin diduga sebagai Jinmenken.

Satoru-Kun
Folklore
05 Jan 2026

Satoru-Kun

Satoru-kun adalah sosok misterius dalam legenda urban Jepang. Ia dipercaya sebagai sosok (seperti Bloody Mary) yang mengetahui masa lalu, sekarang, dan masa depan. Satoru-kun merupakan permainan yang dimainkan untuk mencari tahu jawaban atas segala pertanyaan apapun. Jika kamu punya pertanyaan yang membutuhkan sebuah jawaban, Satoru-kun dapat membantu.Menurut legenda, Satoru-kun adalah roh hantu Jepang atau setan yang muncul dalam bentuk seorang anak muda. Dia tahu segala sesuatu tentang masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Satoru-kun dapat menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan. Kamu hanya perlu melakukan ritual untuk memanggil dia. Namun, dengan menghubungi Satoru-kun, kamu sedang bermain permainan yang cukup berbahaya.Satoru-kun dipanggil dengan cara menghubungi nomor telepon genggam sendiri melalui telepon umum. Saat terhubung, penelepon diminta untuk memohon sebagai berikut."Satoru-kun, Satoru-kun, datanglah kemari. Satoru-kun, Satoru-kun, tunjukanlah dirimu. Satoru-kun, Satoru-kun, jawablah bila kau ada di sana."Setelah itu telepon ditutup. Dalam 24 jam, Satoru-kun akan menghubungi nomor telepon genggam dari orang yang telah memanggilnya (meneleponnya). Bahkan meskipun telepon dimatikan, panggilan akan tetap diterima.Satoru-kun akan berkata bahwa ia sedang menuju ke tempat si penelepon, sampai akhirnya ia berkata bahwa ia sudah berada tepat di belakang si penelepon. Orang yang sudah memanggilnya harus segera mengutarakan apa pertanyaan yang ingin diajukannya kepada Satoru-kun, dengan syarat tidak boleh memandang Satoru-kun. Bila dilanggar, maka Satoru-kun akan menyeret orang tersebut ke neraka.Untuk memanggil Satoru-kun, kamu memerlukan beberapa koin dan telepon koin umum yang masih berfungsi.Petunjuk:* Langkah 1: Masukkan koin di telepon koin publik. Angkat gagang telepon seperti biasa.* Langkah 2: Ulangi nyanyian berikut, "Satoru-kun, Satoru-kun, silakan datang ke sini. Satoru, Satoru, tolong tunjukkan dirimu. Satoru, Satoru, tolong jawab aku jika kamu berada di sana.* Langkah 3: Setelah itu, tutup telepon umum tersebut.Jika kamu melakukan segalanya dengan benar, kamu akan menerima panggilan telepon dari Satoru-kun dalam waktu 24 jam. Dia akan meneleponmu melalui telepon umum atau ponsel terdekat darimu. Ketika pertama kali menelepon, Satoru-kun akan memberitahumu di mana dia berada. Lalu ia akan menutup telepon. Dia akan menghubungimu beberapa kali dan setiap kali, ia akan lebih dekat dan lebih dekat ke tempatmu berada.Terakhir kali menelepon, ia akan berkata, "Aku di belakangmu sekarang."Ini adalah waktu untuk cepat mengajukan pertanyaan Anda.Aturan:1: Jangan berbalik atau mencoba untuk menatapnya.2: Jangan mencoba menyentuhnya.3: Jangan memanggilnya jika kamu tidak memiliki pertanyaan untuk ditanyakan.4: Ketika ia berada di belakangmu, jangan buang-buang waktu. Ajukan pertanyaan segera.Jika kamu melanggar salah satu aturan, kamu akan mati dan Satoru-kun akan menyeretmu ke neraka. Jadi, mempersiapkan pertanyaan akan menjadi ide yang baik untuk memainkan permainan itu

 Red Robe
Horror
05 Jan 2026

Red Robe

Seorang wanita Jepang sedang berlibur di Amerika dan memutuskan menginap di sebuah hotel murah untuk menghemat uangnya. Saat ia tiba di kamarnya, ia menyadari bahwa ia berada di kamar 66 di lantai ke-6. Secara teknis, kamarnya bernomor 666. Ia bergidik ngeri. Namun ia berpikir, ini semua pasti kebetulan. Ia pun tak terlalu memikirkannya dan pergi mandi.Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia keluar dari kamar mandinya dan mengenakan jubah mandi putih bertudung yang sudah disiapkan di hotel tersebut bagi tamunya. Ia membuka kamarnya, namun tak ada seorang pun di luar kamarnya. Iapun menutup kembali kamarnya dan berganti pakaian.Kembali terdengar ketukan di pintu kamarnya. Ia membuka kamarnya dan melihat seorang gadis kecil memakai jubah mandi bertudung yang sama persis seperti yang tadi ia pakai. Hanya warnanya merah."Ada yang bisa saya bantu? Dimana orang tuamu?"Ia melihat bahwa gadis kecil bertudung merah itu tampak habis menangis."Saya terkunci di luar kamar. Anda bisa membantu saya?"Wanita itu memutuskan untuk membawa gadis itu ke resepsionis. Kasihan, pikirnya. Gadis itu tampak kebingungan.Dalam perjalanan ke resepsionis, ia bercakap-cakap dengan gadis itu, "Siapa namamu?"Gadis itu tak menjawab. Mungkin gadis ini sudah diajari oleh orangtuanya untuk tidak bercakap-cakap dengan orang asing, pikir wanita itu.Ia bertanya lagi, "Dimana orang tuamu?""Tidak tahu.""Apa kamarmu di lantai ini juga?"Gadis itu mengangguk. Akhirnya mereka sampai di depan meja resepsionis."Bisa Anda bantu gadis kecil ini? Ia terkunci di luar kamarnya."Resepsionis itu melongok, "Gadis yang mana?""Gadis berjubah merah ini ..."Namun ketika wanita itu menoleh, tak ada seorang pun di sana."Aneh, ia tadi di sini. Katanya ia menginap di lantai 6, sama seperti saya.""Lantai 6?" resepsionis itu tampak heran, "Namun hanya Anda tamu yang menginap di lantai 6.""Tapi tadi ada gadis yang memakai jubah mandi bertudung warna merah ..."Resepsionis itu menghela napas, "Anda sudah bertemu 'dia' rupanya.""Dia siapa?""Dahulu pernah terjadi sebuah tragedi di hotel ini. Kami tak suka membicarakannya, namun karena Anda sudah melihat 'dia', apa boleh buat. Dahulu ada sepasang suami istri menginap di lantai 6 bersama anak perempuannya. Mereka menginap di kamar 66, sama seperti Anda. Namun, mereka berdua bertengkar dan sang suami menembak istrinya. Ia lalu membunuh anaknya sendiri. Saat itu, anak itu memakai jubah mandi putih yang langsung berwarna merah karena terkena darahnya. Tapi pria itu tetap tak puas. Ia mengisi senjatanya dan mulai menembaki semua orang di hotel ini, karyawan, dan para tamunya."Napas wanita itu terasa terhenti karena ketakutan. Namun cerita sang resepsionis ternyata belumlah selesai. Resepsionis itu lalu berbalik dan menunjukkan lubang merah di punggungnya."Lihat, di sini ia menembakku."

Rokurokubi
Horror
05 Jan 2026

Rokurokubi

Rokurokubi adalah salah satu hantu yang dipercaya oleh masyarakat Jepang. Rokurokubi merupakan sosok hantu wanita yang memiliki leher yang sangat panjang. Hantu ini juga digambarkan mengenakan kimono Jepang, dan rambutnya yang terikat sanggul.Cerita hantu Rokurokubi bermula dari mitos yang berkembang pada zaman Edo. Pada saat itu masyarakat Jepang masih berada dalam keadaan yang masih kental dengan tingkat ketradisionalannya, dimana para masyarakatnya belum tersentuh oleh berbagai kebudayaan asing.Seperti halnya yang sudah kita ketahui secara umum bahwa Jepang dulu merupakan bentuk negara yang sangat tertutup terutama dari segi politiknya, karena pada dasarnya mereka sangatlah mementingkan tingkat tradisi dari negaranya tersebut.Hantu Rokurokubi adalah hantu wanita yang memiliki leher yang sangat panjang, hantu ini dipercaya sebagi sosok perempuan cantik yang telah melakukan pelanggaran terhadap aturan yang terdapat dalam agama Budha (agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Jepang, yaitu agama Sitto). Oleh sebab itu lah perempuan tersebut dikutuk oleh Budha hingga pada akhirnya memiliki leher yang amat panjang.Masyarakat Jepang pada dasarnya mempercayai bahwa pada siang hari hantu ini dapat berubah wujud menjadi manusia biasa, sehingga tidak dapat dibedakan dengan masyarakat pada umumnya. Bahkan masyarakat Jepang juga percaya bahwa pada siang hari hantu Rokurokubi ikut berbaur dengan masyarakat lainnya. Ia hidup normal dan melakukan berbagai aktivitas seperti manusia biasa dalam kesehariannya.Namun jika malam datang, hantu Rokurokubi langsung berubah bentuk dengan memanjangkan lehernya, terutama pada waktu tengah malam. Begitulah yang dipercaya oleh masyarakat Jepang.Untuk memanjangkan lehernya tersebut, biasanya hantu Rokurokubi akan keluar dari rumahnya untuk menghindari keluarganya, agar ketika lehernya berubah menjadi panjang hal tersebut tetap tidak diketahui oleh para keluarganya.Menurut masyarakat Jepang, hantu ini juga sangat senang menakut-nakuti orang-orang dengan lehernya yang panjang tersebut. Ia biasanya digambarkan berjalan seorang diri ketika tengah malam. Dan ia sangat senang menakut-nakuti orang yang tengah mabuk dan juga tengah tertidur pulas. Hantu Rokurokubi juga dipercaya memiliki kebiasaan menghisap darah. Hingga pagi menjelang, barulah lehernya kembali secara normal.Seperti yang sudah disebutkan pada bagian atas bahwa hantu Rokurokubi sangat senang untuk mengganggu orang-orang di malam hari. Hantu ini selain dikenal sangat menyeramkan oleh masyarakat Jepang, ia juga dikenal sebagai hantu yang sangat usil. Sebagian orang Jepang mempercayai bahwa hantu Rokurokubi tidaklah jahat, melainkan hanya usil saja karena ia sering menjahili manusia di kala malam hari.Orang Jepang juga percaya bahwa hantu Rokurokubi merupakan satu bentuk siluman yang terkadang lupa dengan jati dirinya sendiri. Oleh sebab itulah dalam penggambaran di atas hantu Rokurokubi disebutkan dapat melakukan aktivitas seperti manusia normal lainnya di malam hari. Bahkan dalam beberapa cerita, juga dikisahkan bahwa hantu Rokurokubi ada yang sampai menikah dengan manusia biasa. Hal ini dikarenakan mereka lupa akan jati diri mereka yang sebenarnya sebagi seorang hantu atau bahkan siluman.Mereka juga terkadang lupa, bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memanjangkan leher mereka, sehingga tampak menyeramkan bagi masyarakat Jepang yang melihatnya. Akan tetapi jika dilihat dari kebiasaanya yang usil, masyarakat Jepang percaya bahwa hantu Rokurokubi tidaklah jahat melainkan hanya usil saja. Namun, apabila tingkat keusilan yang dilakukan mereka sudah berlebihan, maka saat itulah mereka dikatakan jahat.Seperti halnya penggambaran di atas yang menyebutkan bahwa terkadang hantu Rokurokubi juga menghisap darah. Oleh karena itu, meskipun hantu Rokurokubi dipercaya tidak jahat, tetapi banyak masyarakat Jepang yang mulai mewaspadai terhadap keadaannya. Karena tindakan usil yang hantu tersebut lakukan juga dapat membahayakan masyarakat Jepang itu sendiri.

Mata Seorang Remaja
Fantasy
04 Jan 2026

Mata Seorang Remaja

Sebuah sungai terbentuk di wajah sayu Bunda: panjang, amat panjang. Tidak ada yang dapat menghentikannya dan memang tidak sepantasnya dihentikan; Bunda ingin menikmati dingin airnya bersama harum bunga kamboja yang jatuh di pusara Rian."Rian, kamu cerdas, pantas untuk menjadi dokter seperti kami."Masih basah; dan Bunda berharap dapat kembali mendengar kisah-kisah menakjubkan Rian-pecinta sains sekaligus seni rupa, putranya yang santun dan selalu tersenyum, permatanya-sebagaimana dahulu ia mendengar tangis Rian di dunia. Masih sama; bahkan kisah terakhir Rian tentang kunjungan ke tempat yang terkena wabah tetaplah bersemangat serta menggugah.Pelukan itu masihlah Rian yang ia kenal.Oleh karena itu, pantaslah jika sungai terbentuk dan urung hancur ketika permatanya, anak semata wayangnya, tertidur bersama lautan darah dari nadi yang telah terluka parah. Sebanding dengan duka, Bunda justru bertanya: mengapa bisa demikian?"Rian, kamu selalu tersenyum dan menceritakan banyak hal hebat pada Bunda, termasuk kamu yang ikut serta dalam kelompok peneliti khusus tahun ini. Kamu tidak pernah mengeluh, lalu apa yang salah?"Tidak ada yang sanggup menjawab, sedangkan suara itu, pelukan itu, kisah-kisah menakjubkan itu... Menyiksanya secara perlahan.*Wajah Bunda masih mendung ketika ia memasuki kamar itu (yang tertata rapi meskipun empunya telah pergi). Tidak ada lipatan di seprai biru dan komputer sempurna mendingin dengan partikel debu di sekitarnya, ibarat tempat itu telah lama ditinggalkan (dan akan begitu kodratnya)."Apa ini?"Ia tengah menyusuri ruang memori ketika menemukan tumpukan kertas berkerut. Sebuah surat-catatan, mungkin, sebab wujudnya menyerupai kertas lusuh-yang amat santun, tulus, dan menohok di saat bersamaan.Tuhan, maukah Engkau membaca suratku untuk kesekian kalinya?Bunda, aku ingin berkata bahwa aku amat menyayangimu, tetapi kata itu selalu habis di tenggorokan: sama seperti saat aku berkata jurusan ini bukanlah keinginanku dan prestasiku tidak secemerlang bayangan Bunda. Aku ingin menjadi desainer grafis, tetapi amat sulit percaya bahwa aku bisa (aku tidak akan bisa secemerlang Bunda ataupun Ayah). Aku tidak pernah yakin pada cita-citaku, aku berusaha pasrah pada permintaan Bunda tapi rasanya amat menyesakkan.Aku sekarat, tolong aku, Bunda... Benda itu bahkan menjadi momok menakutkan bagiku.Bunda , rasanya ingin mati... tapi aku akan bertahan sampai keinginanmu terwujud.Bunda tercekat lama. Amat lama.Hari itu, hujan turun memenuhi sungai Bunda-deras, amat deras-bersamaan dengan ditemukannya banyak coretan kasar yang terselip di buku catatan, di kertas sampah, di meja kayu yang tidak lagi mulus, di ponsel yang tidak pernah terkunci-lalu, barangkali, akan butuh banyak waktu bagi Bunda untuk berhenti menangis menganak sungai serta memaafkan dirinya yang gagal menjadi orang tua.*Dunia kami sangat liar serta penuh permainan tipu-tipuan; karena itu, para orangtua, lekaslah pergi ke kamar anakmu dan renungkan hal ini sembari memandang wajahnya yang terkadang gelisah: apakah anakmu baik-baik saja? (*)

Kadar Kemanusiaan
Fantasy
04 Jan 2026

Kadar Kemanusiaan

Kendati telah bekerja di Departemen Kesehatan Nasional, Silla selalu mengingat potongan dongeng yang Ibu ceritakan: " Tempat tujuan mereka adalah sebuah tempat yang bahkan lebih sulit diimajinasikan oleh kebanyakan dari kita daripada untuk membayangkan kota kebahagiaan ". Orang-orang Omelas, demikian Silla menyebutnya, adalah gambaran betapa manusia telah diperbudak oleh nurani dan kemanusiaan itu sendiri.Setelah perang nuklir terjadi, dunia diselimuti oleh ketakutan akan dampak radiasi. Bunga matahari dibudidayakan, banker-banker dibuat, pemeriksaan barang yang berpotensi terkena dampak radiasi diperketat. Limabelas hari setelah kiamat, negara-negara yang selamat menerbitkan undang-undang perihal suntik mati atas korban paparan radiasi tingkat menengah hingga atas. Kebijakan tersebut diambil untuk meminimalisir pasokan makanan korban selamat dan sepenuhnya dibebankan pada Departemen Kesehatan.Sialnya, Silla lah salah satu dewa kematian tersebut. Maka, tidak heran bila ia dihadapkan oleh banyak nyawa sekarat tiap harinya. Baju anti-radiasinya pengap, tetapi pikirannya sesak oleh pertanyaan monoton: apa itu kemanusiaan di era serbarasional seperti ini?Pertanyaan itu meliar hari demi hari, menghantui layaknya kegilaan negara adikuasa; dan, ketika wanita yang terpapar radiasi 3 Gy itu datang, Silla tidak kuasa menahan gemetar.Rambut wanita itu rontok dan epidermis kulitnya tidak berhenti mengeluarkan darah—tetapi bukan keadaan mengerikan itu yang menjatuhkan pertahanan Silla, melainkan fakta bahwa tanpa bersitatap pun, Silla dapat membayangkan senyuman wanita tersebut.Apa itu kemanusiaan? Apa dan siapa itu "manusia"?Pertanyaan itu menguat ketika Silla mendekat, memperhatikan wajah merah yang matanya ditutup oleh kain hitam.Kala itu, seketika, kisah orang-orang Omelas bergaung membabi buta; bercampur dengan pernyataan gila dari dua negara adikuasa yang melantakkan mimpinya, mimpi banyak orang, mimpi umat manusia.Silla menahan napas, memandangi sosok itu dengan sayu.Ibu, pantaskah kita—aku—disebut manusia?Butuh banyak waktu untuk menjawab pertanyaan kosmik tersebut, tetapi hanya sedetik bagi Silla untuk menyadari, mengingat, betapa manusia di ruangan itu dipenuhi oleh derita, rasa sakit oleh dampak permanen nuklir, serta keputusasaan... yang menghantui, menyakiti, sampai mati.Semisal, masa tigapuluh hari terlewati dengan selamat dan mereka berhasil hidup dengan membawa partikel radioaktif dalam tubuh mereka, penyiksaan mental (hinaan serta fakta mereka hanya akan hidup di atas ranjang ruang isolasi) tetap menghantui; dan itu membuat Silla bertanya: Apakah membiarkan seseorang menderita selama sisa hidupnya ... adalah hal manusiawi?Silla terdiam. Pikirannya bermutasi.a melanggar prosedur suntik mati dan membisikkan sesuatu ke telinga yang tidak berhenti mengeluarkan darah tersebut, "Ibu," Tubuh wanita itu menegang, "aku menyayangimu. Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan. Aku harus mengakhiri semua ini."Hening untuk waktu yang lama."Ibu mengerti, 'kan?"Yang dimaksud menarik bibirnya; dan langkah-langkah itu terdengar jelas di telinga.Silla menyuntikkan potasium klorida pada lengan beruam ibunya ... atas nama kebejatan negara tetangga, atas nama dunia yang tidak lagi ramah, atas nama kemanusiaan yang diperjuangkan orang-orang Omelas ... bahwa kemanusiaan masih ada di dunia.*Beberapa sesepuh idealis berkata bahwa inilah zaman rasionalitas, di mana kemanusiaan dibuang untuk membentuk keturunan-bebas-radiasi; tetapi, Silla, dengan tegas menyatakan bahwa kadar kemanusiaan mereka bukan berkurang, melainkan mengalami resistensi ... sebuah evolusi.Kemanusiaan adalah hal yang dilakukan untuk membahagiakan orang-orang—membebaskan mereka dari rasa sakit duniawi—'kan? Jadi, bukankah dengan membebaskan orang-orang itu dari rasa sakit ... sama saja dengan memelihara rasa kemanusiaan dalam diri kita? (*)

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 8 dari 35
Menampilkan 24 cerita