Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Tears
Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Ah, apa yang aku lakukan? Kini aku sendirian. Rintik hujan memberiku nyanyian sebuah lagu sedih. Seharusnya aku tak melepaskannya. Melepaskan pelukan hangat dari seorang gadis sebaik dia."Aku harus ke London." Elena memelukku erat. Air matanya jatuh begitu saja."Lalu? Aku harus bagaimana? Melarangmu? Menahanmu? Aku tak bisa Elena." Mataku tak bisa menatap gadis ini. Seharusnya aku melepaskannya sejak dulu."Elena ingin terus bersama Jerry." Ia memelukku makin erat. Ada jutaan cinta disana."Pergilah." Aku melepaskan Elena. Gadis yang tak seharusnya menjadi milikku.Aku bisa melihat rasa sakit dimatanya. Air matanya berderai menatapku. Ia tarik kopernya semakin menjauh. Aku tau apa yang ia rasakan. Ia bukan gadisku lagi. Elena harus pergi.Pesawat itu menghilang dengan cepat. Lunglai, kukendarai mobilku menuju rumah. Apa aku salah melepas Elena? Aku tak bisa menahan lagi. Kuhentikan mobilku di sudut jalan taman. Sepi. Aku biasa bersama Elena. Aku terlalu terbiasa. Hingga aku sulit melepaskannya. Rintik hujan ini mengingatkanku pada awal pertemuanku dengan Elena.***Gadis baru di kelasku itu sangat ramah. Ia tak sungkan berkenalan dengan semua anak 1 kelas. Termasuk kepadaku."Jangan pria itu. Dia terlalu pendiam. Dia bisa menyakiti perasaanmu." Kata salah satu temannya."Benar, Elena. Sebaiknya kau menjauhi pria itu. Bahkan tak ada satupun dari kami yang pernah berbincang panjang dengannya. Ia lebih banyak diam." Kata temannya yang lain."Kalian tak usah khawatir." Kata Elena menampilkan senyum.Elena menghampiriku. Ia menunjukkan senyum termanis yang menurutku biasa saja. Aku tak terlalu memperdulikannya. Aku membaca komik ku kembali. Gadis ini terus menggangguku. Mencari cara untuk ngobrol denganku. Untuk terakhir kalinya, ia menyingkirkan komik ku. Meletakannya di balik tubuh kecilnya itu."Apa maumu?" Bentak ku. Elena malah memasang wajah tak perduli."Kembalikan komik ku sekarang!" Bentak ku. Ia masih diam."Sebaiknya kau pergi!" Kini ia mau menatapku."Seharusnya kau lebih banyak bersosialisasi dengan kami." Kata Elena. Ia mengembalikan komik ku."Untuk apa?" Tanyaku datar. Ku buka kembali lembaran yang kubaca tadi."Apa kau tidak tidak butuh teman?""Tidak.""Teman bisa mendengar seluruh masalahmu.""Dan membocorkannya pada yang lain?""Mmm, itu bukan teman. Tapi kau bisa percaya padaku.""Trima kasih." Kata ku bangkit.Gadis itu tak punya lelah. Setiap hari ia berusaha mendekatiku. Meski ia tau pasti bagaimana akhirnya. Aku akan meninggalkannya begitu saja. Dia punya lebih banyak akal dari yang pernah ku fikirkan. Bukan hanya mendekatiku di sekolah. Kini dia juga mencari tau alamat rumahku. Mengikutiku sepulang sekolah. Aku sangat terganggu. Tak pernah ada teman sekolahku yang tau alamatku sebelumnya.Istirahat sekolah, ia kembali mengikutiku. Aku sudah mencoba untuk diam. Tapi dia tak berhenti mengganggu. Aku berbaring di atas pohon belakang sekolah. Menutup wajahku dengan buku. Ah, gadis ini terus berteriak dari bawah."Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" Tanyaku jengkel."Berkenalan." Jawabnya dengan penuh kebahgiaan."Kau Elena, dan aku Jerry. Puas?" Bentak ku dari atas."Bukan itu. Apa kita tak bisa lebih dekat lagi?" Tanyanya. Aku melompat dari pohon."Ah, bukan. Maksudku bukan dekat seperti ini. Maksudku, dekat layaknya teman, bisa kan?" Tanya Elena."Tidak." Jawabku memalingkan wajah."Kenapa?""Semakin banyak orang yang dekat denganku, semakin banyak orang yang akan menangis saat aku pergi." Aku menundukkan kepala."Jangan begitu. Aku bisa menjadi temanmu. Aku adalah orang yang kuat. Buktinya, 3 bulan aku mengejarmu, dan aku masih bertahan." Kata Elena menatap wajahku dari bawah.Aku hanya bisa tersenyum menatap wajahnya. Sudah lama, atau aku memang tak pernah menatap wajah seorang gadis. Elena memelukku seketika. Menenangkan. Aku membalas pelukannya.Beberapa bulan berlalu, dan aku masih bersama Elena. Tak ada yang lain. Karna aku memang tak suka bersosialisasi. Aku dan Elena selalu mengerjakan tugas bersama. Hanya dia lah satu satunya orang yang bisa membuatku tertawa. Termasuk pagi ini ketika ia mengajakku berlarian di taman. Tapi mendadak, dadaku sakit, sungguh sakit. Aku hampir tak bisa merasakan getaran jantungku. Tuhan, jangan selesaikan ini sekarang. Jangan di depan Elena. Aku masih ingin merasakan kebahagiaan. Tubuhku tumbang. Aku tak kuat. Ku pegang dadaku sangat erat.Elena menemukanku tengah terkapar. Aku bisa menatap air matanya. Ia terdiam. Aku tau apa yang ia rasakan. Ah, rasa sakit ini kian menghilang. Terima kasih Tuhan. Aku bisa tersenyum menatap Elena."Kenapa?" Tanyaku tersenyum."Kamu.. kamu sakit? Wajahmu pucat. Aku panggilkan ambulan ya?" Kata Elena. Ada kekhawatiran dalam nada bicaranya."Ayo kita bermain lagi!" Kataku bangkit, kemudian duduk di samping Elena."Jujurlah Jerry, aku tau kamu menyembunyikan sesuatu." Kata Elena. Air matanya tak hanya membasahi pipi. Tapi juga bajunya."Inilah alasanku, kenapa aku tak pernah mau punya teman. Aku tak ingin melihat orang lain menangis." Kata ku mengusap pipi Elena dengan ibu jari."Kau orang yang kuat bukan? Tolong jangan menangis di depanku. Aku membencinya. Atau aku akan benar benar meninggalkanmu." Kata ku bersila di depannya."Ah, kalau begitu, kau harus cerita." Kata Elena. Ia terus menatapku."1 thn yang lalu, aku sama sepertimu. Seorang anak baru. Kau tau kenapa aku pindah?" Aku menundukkan kepala."Kenapa?""Aku punya banyak teman di sekolah lama ku. Hingga kemudian, penyakit menyebalkan itu datang. Aku menceritakannya pada salah seorang teman. Dan hal itu, membuatnya terus menangis. Aku tau bagaimana perasaannya mendengar kabar dariku. Padahal, aku telah menyuruhnya untuk diam. Tapi, dia malah menceritakannya pada teman yang lain. Mereka semua. Teman 1 kelas. Mereka menangis. Setiap hari mereka bersandiwara di depanku. Mencoba tersenyum saat melihatku. Aku tak menyukainya. Aku tak suka dikasihani. Aku membencinya." Air mataku menetes."Maafkan aku. Aku tak mengetahuinya." Elena memelukku. Aku bisa merasakan hangat air matanya."Jangan menangis. Atau jantungku akan benar benar berhenti." Kata ku tak membalas pelukannya."Iya, iya. Aku berjanji. Aku tidak akan menangis di depanmu. Aku akan selalu di sampingmu." Kata Elena menyeka air matanya.***Dan kini, ia telah melanggar 2 janjinya padaku. Janji untuk tidak menangis di depanku dan janji untuk tidak meninggalkanku. Tapi, aku bisa apa? Elena hanya teman. Hanya seorang teman. Aku tak pernah memberinya status hubungan yang lebih. Karena lebih dari itu, aku akan lebih sering membuatnya menangis.Aku keluar dari mobil. Berdiri di depannya. Tubuhku kian rapuh. Dingin menusuk tulangku. Ah, jantungku. Rasa sakit itu hadir lagi. Aku tak kuat berdiri. Kaki ku tak kuat lagi menopang tubuh. Tuhan, aku merelakan ini sekarang. Kubiarkan raga ku terjatuh. Terkapar sendirian. Aku merelakannya. Kini aku tak perlu khawatir akan air mata Elena. Ia telah pergi. Tepat sebelum rasa sakit yang luar biasa ini datang. Ku rapatkan kelopak mataku. Mencoba tertidur di tengah hujan. Tidur yang lebih lama. Tuhan, aku telah siap."Jerry..." Seseorang mengelus pipiku lembut.Kehangatan air ini terus menetes. Bukan air hujan. Ini air mata. Orang ini memeluk tubuhku. Aku bisa merasakan kehangatan jaket bulu nya. Elena. Aku yakin ini dia. Tuhan, beri aku kesempatan. Sedikit saja. Aku ingin mengelus pipi lembut Elena untuk yang terakhir. Ku coba membuka mata. Perlahan. Ah, rasa sakit di jantungku kian berat. Sangat sakit."Ha... hai..." Kata ku lemah."Jerry. Maafkan aku. Seharusnya aku selalu berada di sampingmu. Ini janjiku." Air mata Elena mengalir sangat deras."Tapi ini takdirku. Jika ini saatnya, aku akan sangat bahagia telah mengenalmu." Kata ku tersenyum. Mengusap pipi Elena yang lembut."Jangan berbicara seperti itu. Aku panggilkan ambulan ya?" Elena akan beranjak. Namun, aku menahan lengannya."Nggak. Waktuku hanya sebentar. Aku hanya ingin menatap wajahmu. Jangan menangis. Apa kau lupa dengan janjimu?""Jerry, aku mencintaimu. Lebih dari teman. Jangan tinggalkan aku.""Ayolah, jangan menangis. Usap air matamu. Tidak cocok berada di sana.""Hhufft..." Elena menarik nafas dalam. Ia usap air matanya. "Jerry, ini tak akan bertahan lama.""Aku juga tak akan lama melihatmu. Sekarang, katakan. Apa maumu?""Nggak. Seharusnya aku yang bertanya. Apa maumu? Hal apa yang bisa aku lakukan untuk mempertahankanmu?""Nothing. Just... berjanjilah padaku. Saat aku benar benar menutup mata. Jangan berteriak. Aku akan sangat terganggu. Percayalah, ini takdirku.""Jerry..." Aku bisa melihat usaha Elena membendung air matanya."Trima kasih." Ku kecup kening Elena. Untuk yang pertama dan terakhir.Ah, Tuhan, ini sangat menyakitkan. Aku tak bisa merasakan kakiku. Ku genggam tangan Elena. Mencoba menetralisir rasa sakit. Terima kasih Tuhan. Aku melepaskan genggamanku perlahan. Bersamaan dengan kulepaskan raga ku. Bisikan terakhir Elena. Aku masih bisa mendengarnya."Kita akan bertemu di kehidupan berikutnya. Bersama kembali. Dan aku bisa menghilangkan air mataku tanpa bantuanmu lagi."
Letting go
Segelas air es dengan beberapa tetes gula diatasnya sedikit mendinginkan suhu tubuhku yang mulai meninggi. Kulingkarkan jemariku disekitarnya. Mengamati embun yang menetes sedikit demi sedikit meninggalkan kawannya yang lain. Kurebahkan kepalaku di atas meja hijau yang biasa kugunakan untuk membaca buku. Terlihat beberapa helai dedaunan kering yang gugur di luar jendela. Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Hingga sesuatu memaksaku untuk mengistirahatkan kedua bola mata yang belum kutidurkan sejak semalam.Suara denting lonceng di atas pintu kamarku membuyarkan pikiran yang entah sejak kapan tak lagi berada di tempatnya. Kuarahkan pandanganku ke asal suara yang sedikit menganggu perhatianku. Seorang pria dengan surai hitamnya yang lancip tersenyum dari sana. Langkah kakinya membawanya mendekatiku. Kutepuk tepuk ujung tempat tidur lembut. Ia sangat mengerti tentang isyaratku dan mengistirahatkan kakinya sejenak di sana."Jadi bagaimana?" Ia melipat kedua kakinya sesaat setelah ia duduk."Kau bertanya tentang apa? Aku yang harus meninggalkan kota ini besok atau sesuatu yang menyakitkan namun harus kulakukan?" Lagi lagi Kurebahkan kepalaku. Sejujurnya aku malas harus membahas ini dengannya."Kudengar suhu tubuhmu tinggi hari ini, bagaimana kau akan pergi besok?" Ia menyentuh keningku sejenak, menyamakan suhunya dengan keningnya sendiri."Aku tak sakit, hanya terlalu banyak berfikir. Kau tau kan bagaimana perasaanku pada Elena? Apa yang harus kukatakan padanya nanti?" Mataku mulai menerawang, membayangkannya saja terasa menyakitkan."Oh, tentang itu. Kau hanya perlu mengatakan bahwa kau tak bisa bersamanya lagi. Suatu alasan yang tak bisa kau utarakan membuatmu harus memutuskan hubungan itu." Ia memperbaiki caranya duduk, membuatnya lebih santai dengan bersandar pada kedua lengannya."Pantas saja kau tak pernah memiliki kekasih. Aku penasaran bagaimana caranya aku bisa lahir setelah dirimu. Apalagi dari rahim yang sama." Kugeleng gelengkan kepalaku saat menatapnya. Pria itu benar benar tak mengerti tentang sebuah hubungan yang didasari oleh cinta."Dasar." Ia menjitak kepalaku lembut. Kakakku memang orang yang selalu membuatku tersenyum.***Sekarang aku mulai memikirkannya lagi. Udara di ice cream shop ini terasa semakin dingin. Kedua telapak tanganku terasa begitu dingin. Huh, seharusnya aku mendengarkan apa kata kakakku tadi. Seharusnya aku membawa jacket buluku tadi.2 jam telah berlalu. Langit yang tadinya biru cerah telah berubah mendung. Kusandarkan kepalaku di bibir jendela. Tetes demi tetes hujan mulai turun membasahi jalanan yang telah lengang sedari tadi. Kulihat seorang wanita bergaun merah berlarian menembus hujan. Bahkan tas tangan kecil yang ia gunakan untuk menutupi kepalanya telah ikut basah karenanya. Gadis itu berlari dengan senyum yang mengembang. Menggambarkan kebahagiaan di setiap sudut wajahnya. Aku teringat kembali tentang Elena. Apa yang akan terjadi padanya nanti jika hujan terus turun seperti ini?Kutekan beberapa tombol nomor milik Elena. Oh, tentang nomor Elena, aku telah lama menghapusnya. Sejak sebuah kabar gembira serta menyedihkan datang dari sekolah." Nomor yang anda tuju sedang..."Sial.. Ada apa dengan Elena? Apa ia tak ingin menemuiku untuk yang terakhir kali? Apa ia tau apa yang ingin kukatakan?Belum sempat aku berfikir terlalu jauh, sebuah tangan lembut menyentuh pundakku. Elena, ia tersenyum melihatku. Rambutnya yang kecoklatan dengan wangi apel yang khas seakan memberiku pertanda bahwa ia baik baik saja.Elena duduk di depanku. Pakaian, tas, sepatu serta jam tangannya adalah barang barang yang pernah ia beli bersamaku. Oh, ada apa dengannya hari ini?5 menit berlalu, suasana terasa begitu canggung. 10 menit berlalu, kami masih tercekat dalam diam. 15 menit kemudian.."Permisi tuan.. Ini es krimnya.. Selamat menikmati.." Seorang pelayan mengantar pesanan yang entah sudah sejak kapan aku memesannya.Suasana yang bodoh. Bagaimana bisa aku mengajak Elena ke tempat seperti ini saat hujan turun diluar sana? Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Aku tak mau mengatakannya, bukan, aku tak bisa mengatakannya. Elena.. Aku.."Kupikir kau ingin mengatakan sesuatu padaku." Elena mulai memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutnya."Bisakah kita membahas itu nanti? Bagaimana tentang kabar orang tuamu?" Aku mencoba tersenyum ke arah Elena."Mereka baik baik saja. Dan kau tau, bisnis ayahku mulai berkembang pesat." Elena mengatakannya dengan penuh semangat. Dengan senyum yang memenuhi seluruh wajahnya. Bagaimana mungkin aku akan merusaknya sekarang?"Baguslah.." Aku mulai menggaruk tengkukku. Tak tau hal apa lagi yang bisa dibicarakan."Dan tentangmu.. Apa Jerman begitu menyenangkan?"Bagaikan disambar petir ditengah hujan yang teramat deras, seluruh tubuhku terasa amat sakit. Aku tak tau bagaimana aku bisa menjelaskannya pada Elena. Aku tak tau bagaimana cara untuk membuatnya mengerti."Jeremy.." Suara lembut Elena membuyarkan lamunanku."Oh.. Itu.. Tak semenyenangkan saat aku bersamamu." Aku memaksakan senyumku. Entah ia menyadarinya atau tidak."Kau pasti bohong kan? Ada banyak gadis cantik disana. Apalagi kita hanya bisa bertemu beberapa kali dalam sebulan. Kau pasti bosan denganku."Elena menatapku sendu. Aku tau ada kerinduan yang teramat dalam dimatanya.Aku tak tau lagi apa yang bisa kukatakan. Elena sangat mengerti tentangku. Mungkin dialah satu satunya gadis yang bisa mengerti tentang duniaku. 2 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah hubungan untuk dibangun. Apalagi Elena membangunnya dengan penuh kasih sayang dari sikapnya yang lembut. Aku tak akan kuasa untuk menghancurkannya. Aku tak bisa menghancurkannya."Oh iya.. Bagaimana tentang sekolahmu?" Aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.Elena sangat antusias bercerita. Gadis yang saat ini duduk di didepanku dengan matanya yang berbinar terlihat begitu bahagia. Apa aku harus merusak kebahagiaannya sekarang?"Elena.. Bisa aku bertanya tentang sesuatu?" Tanyaku mulai memberanikan diri."Tentang apa?""Apa kau bahagia bersamaku selama ini?"Aku bisa melihat keterkejutan di wajah Elena. Mungkin pertanyaanku memang terlalu mendadak untuk ditanyakan disaat yang seperti ini."Tentu saja aku bahagia. Kalau tidak, kenapa aku harus susah payah bertahan?""Jadi kau bersusah payah untuk bertahan denganku?""Eh, maksudku..""Akhiri perjuanganmu untuk terus bertahan denganku."Aku mengatakannya dengan cepat. Kalimat itu meluncur keluar dari bibirku begitu saja. Tak pernah terfikir olehku akan begini akhirnya.Elena kembali memasang ekspresi terkejutnya selama beberapa detik. Sesaat kemudian air mata pertamanya keluar tepat di depan mataku. Ia hanya diam. Elena menangis dalam diam. Aku tau bagaimana rasa sakitnya. Aku merasakan hal yang sama, atau bahkan lebih menyakitkan karna aku sendiri yang harus mengatakannya."Kenapa? Apa alasanmu menghentikanku?" Elena kembali meneteskan air matanya yang amat berharga."Karna aku ingin melihatmu bahagia bersama orang lain.""Jadi kau menemukan gadis yang lebih baik dariku di Jerman?"Air mata Elena turun semakin deras. Aku ingin memeluknya sekarang. Aku ingin mengusap kepalanya dan menenangkannya. Aku tak ingin melihatnya menangis lagi."Bukan tentang itu. Ini semua tentang.. Beasiswa yang kudapatkan."Tiba tiba saja berkembang senyum di bibir Elena. Ia tersenyum mendengar kejujuranku. Kupikir ia akan merengek dan memintaku untuk membawanya ikut. Tapi aku salah, Elena telah tumbuh dewasa sebelum aku menyadarinya."Selamat Jeremy.""Jadi.. Tentang hubungan kita..""Apa kita tak bisa jika hanya seperti ini?""Aku tak akan kembali kemari hingga aku lulus nanti.""Aku bisa menunggu."Aku tak mau kau menungguku lagi. Sudah cukup kau menyia nyiakan waktumu untuk terus menungguku selama 2 tahun belakangan ini.""Jeremy.. Aku..""Aku juga mencintaimu. Tapi aku tak bisa memberikanmu harapan yang kemungkinan besar tak bisa kutepati. Aku berharap kau akan bahagia bersama pria lain diluar sana. Sikapmu padaku sungguh baik, dan kau akan menemukan kekasih yang lebih baik dariku. Aku tau rasanya sangat menyakitkan sekarang. Tapi rasa sakitnya tak akan bertahan lama, kau akan menemukan pria yang lebih baik.""Bagaimana bisa kau.." Elena terus menangis. Bahkan ia tak mampu lagi meneruskan ucapannya."Aku harus pergi sekarang. Pesawatku terbang besok dan aku belum mengemasi barang barangku." Aku bangkit dari duduk.Aku tersenyum ke arah Elena sebelum akhirnya berbalik ke arah pintu. Bulir bulir bening mulai memenuhi seluruh ruang di dalam mataku. Pandanganku semakin buram di buatnya. Aku tak bisa melepaskan air mata ini sekarang. Masih ada Elena yang melihatku di belakang sana."Aku akan mengambil tes beasiswa ke Jerman semester depan." Suara teriakan Elena menghentikan langkahku.Aku tak bisa menahan kakiku untuk tak berjalan kembali ke arahnya. Aku berhenti tepat di depannya. Membuat wajah kami terlihat begitu jelas satu sama lain. Elena terus menangis sesenggukan. Rasanya teramat sakit melihatnya seperti ini."Kau bisa mengambil tes itu. Tapi jangan membuatku sebagai alasannya. Dan saat kau mendapatkan beasiswa itu dan bisa pergi ke Jerman, aku berharap kau tak akan mengingatku lagi. Jangan pernah mengingat namaku lagi."Kukecup kening Elena cukup lama. Setetes air mataku jatuh begitu saja tanpa kusadari. Perasaanku masih begitu berat untuk melepaskannya. Aku menatapnya sekali lagi. Menikmati keindahan yang mungkin tak akan pernah kudapatkan kembali.Aku beranjak dari hadapan Elena dengan senyuman serta tangis yang kusimpan dalam hati. Kulangkahkan kakiku ke arah pintu dengan air mata yang semakin deras mengalahkan hujan diluar sana. Kusapu semua tanda sakit ini dengan kasar. Aku hanya ingin menunjukkan pada Elena bahwa aku baik baik saja. Aku akan bahagia tanpanya begitupun dirinya tanpaku.***"Sudah kau selesaikan?"Kakakku menyodorkan secangkir kopi hangat kepadaku. Kuhirup aromanya dalam dalam. Setidaknya secangkir kopi ini bisa menghangatkan tubuhku untuk sejenak. Masih ada 30 menit sebelum pesawat kami diberangkatkan."Hhh.." Aku hanya bisa menarik nafas panjang dengan mata yang menerawang entah kemana."Hadiah dari Elena."Sebuah kotak kecil berhiaskan pita berwarna kuning yang diserahkan oleh kakakku kini telah berada di tanganku. Aku membukanya perlahan, tak ingin merusak setiap sudut kertas yang telah dibuat Elena dengan susah payah. Di dalamnya berisi sekotak vitamin dan selembar surat yang ditulis oleh Elena. Bukan surat, lebih tepatnya notes."Semoga lekas sembuh" Hanya itu yang tertulis di sana."Tau darimana dia tentangku yang sedang tak enak badan?" Aku menatap ke arah kakak."Saat kau mencium keningnya. Oh iya, aku yang mengantarkan Elena kemarin.""Hmm." Aku tak peduli dengan ucapan kakak karna memang ia sangat suka mencampuri urusanku."Lelaki mana yang membiarkan gadisnya menangis di depannya seperti kemarin." Kakakku menyilangkan tangannya di depan dada. Aku tau ia sedang mengejekku sekarang."Lelaki yang ada di sampingmu." Jawabku sekenanya."Seharusnya kau menghentikkan air matanya kemarin.""Kau ini benar benar tak mengerti tentang perempuan. Saat mereka menangis, kita tak bisa menghentikannya. Yang harus kita lakukan adalah membiarkannya menangis agar perasaannya lebih lega. Setidaknya harus ada 1 orang yang tau tentang masalahnya.""Bilang saja kau tak bisa menahan tangisannya.""Memang seperti itu." Kataku menahan tawa."Lalu, kenapa kau tak mau Elena mencarimu? Ia sudah susah payah belajar untuk bisa menyusulmu ke Jerman.""Tentang itu.." Aku menahan kalimatku. Mencoba memikirkannya kembali. "Aku melihat seorang gadis yang berlari di tengah hujan kemarin. Ia terlihat bahagia dengan senyumannya. Aku teringat tentang Elena saat itu.""Maksudmu?""Hubungan jarak jauh yang kami jalani 2 tahun belakangan ini, aku tau sangat berat untuk Elena, tapi ia terus tersenyum melawan hujan badai yang terus menentangnya. Orang yang dekat dengannya pasti bisa melihat senyum Elena. Tapi orang tak mengenal Elena dengan baik, pasti akan berfikir kalau dia sedang bersusah payah menjalani hubungan yang tak pasti denganku. Aku tak mau orang lain berfikiran buruk tentang hubungan kami jika dilanjutkan lagi.""Setidaknya biarkan dia mencarimu jika ia bisa sampai ke Jerman nanti.""Karna wanita harusnya dikejar, bukan mengejar. Aku hanya ingin menghargai kodrat Elena sebagai wanita. Jika aku bisa kembali kemari atau Elena yang akan menyusulku, akulah orang pertama yang menemuinya dan ia temui. Aku akan terus mengawasi Elena dari jauh dan tersenyum di atas kebahagiannya nanti. Aku berharap Elena tak akan mengingatku, jadi ia juga tak mengingat kejadian menyakitkan yang dialaminya kemarin, dan kita bisa memulai semuanya dari awal lagi."
Tentang Luka
Luka. Seberapa sering kamu terluka? Seberapa dalam luka yang pernah kamu terima? Seberapa sering kamu melukai orang lain? Seberapa sering kamu melukai orang yang bahkan kamu cintai dan sayangi?Dulu sepertinya duniaku hanya ada warna putih. Aku tidak pernah mengkhawatirkan apapun kecuali nilai akademik di sekolah, karena ketika nilaiku tidak bagus, Bapak akan marah, dan aku seperti di sidang seharian.Dulu kalaupun aku butuh sesuatu, atau kalau aku butuh temen untuk sekedar jalan-jalan, Bapak selalu menjadi orang yang pertama ada. Kasih sayang yang dia berikan sangat cukup. Aku suka mempunyai banyak teman. Aku tidak pilih-pilih teman. Perempuan, laki-laki, kaya, miskin, dan sebagainya bisa menjadi temanku, dan Bapak tidak masalah dengan itu.Pacar? Jelas punya. Dulu kalaupun aku punya pacar, Bapak tahu. Karena tiap di antar pulang aku selalu minta sampai depan rumah, dan ku persilahkan masuk untuk menghadapi Bapakku. Bapakku menilai sendiri. Dulu aku menganggap apa yang dikatakan Bapak tentang mereka, baik dan buruk hanya berdasarkan suka atau ketidaksukaan Bapak saja, ternyata karena Bapak lebih dulu ada dan lebih dulu mengenal karakter banyak orang.Aku merasa tidak kekurangan. Aku punya keluarga utuh, aku peringkat pertama di kelas, temanku banyak, dan yang suka padaku banyak, mungkin itu menjadikanku pribadi egois dan tanpa sadar melukai orang-orang disekitarku.Dan hari itu, sore menjelang magrib, banyak tetangga tiba-tiba datang kerumahku, sibuk memindahkan kursi yang ada di dalam rumah, menggelar karpet, memasang bendera kuning, mereka terlalu sibuk untuk aku yang masih duduk terdiam, mencerna kenyataan, menerima luka yang aku tahu itu tidak akan pernah sembuh. Duniaku seakan hancur, separuh nyawaku serasa hilang. Bapak meninggalkanku selamanya.Semenjak kejadian itu, tidak tahu mengapa, aku merubah hidupku. Tidak tahu disebut "mandiri" atau "dipaksa sendiri". Aku yang saat itu masih kuliah, memaksa mengambil banyak pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang disaat tidak ada jadwal kuliah. Bukan karena butuh uang, Ibuku masih sanggup membiayai semua kebutuhanku. Tapi karena di saat aku sendiri, luka itu muncul lagi. Ibuku adalah wanita karir yang berangkat pagi, pulang malam. Saat itu aku tidak ingin membebani segala hal yang membuatnya sedih, karena aku tahu Ibu juga sedang berjuang menata kesedihannya, hatinya, dan hidupnya.Kisah cintaku setelah Bapak pergi tidak berjalan mulus. Tidak ada lagi saran dan peringatan yang membuatku waspada. Aku tidak bisa menangkap sinyal-sinyal aneh. Sekali lagi, aku terluka. Membuat sifatku keras terhadap diri sendiri.Setelah menikah dan memiliki anak, aku baru mengerti tentang semuanya. Dulu, aku selalu menceritakan kepada teman-teman kalau kehidupan setelah menikah itu indah. Mereka ingin segera menikah, memiliki keluarga utuh dan bahagia. Namun sekarang, aku lebih memilih untuk memberi saran.Menikah itu adalah ibadah terpanjang. Butuh semua aspek dalam hidup yang harus kalian pertaruhkan. Jangan buru-buru menikah kalau memang belum siap, terutama siap secara mental. Karena menikah itu akan indah apabila bertemu orang yang tepat.Menikah itu benar-benar membutuhkan keikhlasan. Ikhlas apabila tidak semua rencana indah yang kita persiapkan, akan mendapat hasil yang indah juga. Ikhlas memaafkan, meskipun kadang kita sendiri belum mendengar kata maaf. Belajar menerima apapun hal baru yang masuk ke dalam hidupmu entah itu hal yang tidak kamu sukai sekalipun.Kepercayaanku hancur. Batinku berperang, isi kepalaku pun berisik. Dan sekali lagi, aku terluka.Bagaimana aku menggabungkan rasa ikhlas dengan segala ketidakpercayaanku? Itu yang sampai saat ini masih aku pelajari.Apapun yang saat ini sedang kalian lalui, masalah yang kalian hadapi, luka yang belum terobati, selalu ingat untuk menghargai diri kalian sendiri terlebih dahulu. Dan kalau kalian sudah sampai di tahap itu, selanjutnya hargailah orang yang kalian sayangi.Dari aku, tentang luka.* * *SELESAI
Yang Tidak Bisa Dimiliki
Setelah terdengar pluit wasit berbunyi, dengan santai gue berjalan ke kursi penonton, dimana banyak temen-temen gue duduk. Gue mengambil botol minum dan meneguk airnya, setelah selesai gue seka dengan punggung tangan gue.Gue melirik rombongan anak-anak cewek yang juga masih satu sekolah dengan gue. Gue kenal dengan beberapa di antata mereka. Ada satu geng yang isinya cantik semua, mereka berempat, dan gue tertarik dengan salah satu dari mereka. Gue melihatnya cukup lama, dia sedang berbincang dengan teman-temannya, senyumnya mampu membuat bibir gue ikutan tersenyum.Sampai akhirnya salah seorang temen gue menepuk pundak gue, "Yang mana, Bas?" tanyanya. Gue hanya menunjuk ke arahnya dengan dagu gue. "Kenny?""Namanya Kenny?"gue memastikan."Iya, dia emang imut sih, ngegemesin."Namanya Kenny, CATET!Keesokan harinya, pas jam istirahat, seperti biasa, gue dan temen-temen gue makan di kantin, tiba-tiba anak basket tim cewek minta ikut gabung satu meja dengan kami. Di depan gue duduk seorang cewek, cantik memang, salah satu dari geng yang isinya cewek cantik yang gue ceritain itu."Hallo, Bas!" sapanya."Hallo." balas gue sekenanya."Kemarin Bastian ini ngeliatin lo terus, Ken, sampe gak kedip, sampe senyum-senyum sendiri." sahut Ian, temen basket gue.Ken? Kenny? Jadi yang namanya Kenny bukan cewek yang gue taksir? SHIT! Salah orang!"Serius, Bas?" tanya Kenny memastikan.Posisi gue sekarang? Kikuk lah! Gue kan harus menjaga harga diri dia. Masa iya gue harus bilang 'Kenny, si Ian salah orang' itu bukan ide yang bagus."Ri! Riri!"Si Kenny ini setengah teriak memanggil nama seseorang, karena cukup mengganggu, gue ikutan nengok kan!Dia! Dia! Itu dia! Riri!"Sini, Ri!" panggil Kenny lagi. Cewek bernama Riri ini datang mendekat. Entah kenapa jantung gue yang biasanya anteng ini mendadak brutal."Apa, Ken?""Kok sendiri?""Yang lain OSIS.""Gabung aja." gue melontarkan saran yang ada di hati gue tanpa sempat di saring otak gue."Eh iya, gabung aja sini, Ri. Daripada sendirian."Setelah mendapat persetujuan dari banyak pihak, Riri setuju untuk gabung. Kenny menggeser posisi duduknya, hingga sekarang Riri duduk di depan gue. Entah kenapa senyaman itu cuma duduk depan-depanan sama Riri.Waktu pun berlalu, setiap hari gue selalu mencari informasi soal Riri. Namanya Arinda, di panggil Riri, anaknya ramah banget, ke semua orang tepatnya. Banyak fansnya, baru putus sama cowoknya, lagi deket sama Kakak Kelas, dan ternyata banyak anak-anak basket yang naksir sama dia termasuk Ian."Ya sebenernya gue udah feeling kalo lo bakalan naksirnya sama Riri, cuma dari pada nambah-nambahin saingan ya gue belokin aja ke Kenny. Tapi gue pikir lo emang sukanya sama Kenny, soalnya selain suka sama Riri, gue juga suka sama Kenny, dia imut banget, tapi kalo gue salah ya maaf, lagian kan sekarang lo jadi deket sama Kenny."Iya, gue emang jadi deket sama Kenny, tapi supaya Riri ngeliat adanya gue di hidup dia. Karena kalo gak karena Kenny, mungkin dia bisa secuek itu ke gue. Sekarang kita sering tegur sapa kalo ketemu, kadang dia juga ketawa kalo gue ajak becanda. Sederhana, tapi bikin bahagia.Malem ini malem minggu, gue dateng ke ulang tahun Megan, anggota tim basket cewek. Penampilan udah gue bikin sekeren mungkin karena gue tau pasti ada Riri. Dan bener aja, dia dateng, sekarang lagi ngobrol sama anak-anak cewek. Seperti biasa, jantung gue selalu brutal tiap ngeliat dia.Pandangan gue yang melihat Riri dari jauh, terhalang Kenny yang sekarang berdiri di depan gue. Dia cantik. Dan tersenyum."Bas, boleh ngomong sebentar?" pintanya pelan. Gue mengangguk. Riri melihat ke arah gue dan melempar senyum, temen-temennya juga.Coba tebak apa yang mau di omongin Kenny ke gue? DIA NEMBAK GUE!Gue terjebak! Dari awal gue emang udah salah langkah!"Tengkyu ya, Ken, udah suka sama gue, udah berani nyatain perasaan, tapi sorry, Ken, gue suka sama cewek lain. Sorryyyy banget gak bisa terima perasaan lo." Gue berusaha untuk mengatur nada bicara gue selembut mungkin supaya Kenny gak marah.Dia diam sesaat. Ekspresinta agak kaget, lalu berusaha tersenyum, matanya berkaca-kaca."Oh? Ya? Uhm, it's okay! Gak apa-apa, Bas, gue ngerti. Yaudah kalo gitu gue gabung sama yang lain dulu ya. Daaah"Kenny berlari ke arah cewek-cewek dimana disitu ada Riri, tanpa di kasih tau, gue yakin mereka sekarang ngeliat ke arah gue dengan tatapan kesal. Gak lama Kenny pergi meninggalkan kumpulan itu, hanya tersisa Riri dan Vina.Acara pesta ulang tahun Megan selesai. Ian mengajak gue nginep di rumahnya, kebetulan kami membawa kendaraan masing-masing, Ian pergi duluan karena gue harus pamit dengan Megan. Ketika gue pamit, masih ada Riri dan Vina."Kebetulan masih ada lo! Bas, anterin Riri pulang ya. Tadi dia kesini bareng Kenny, tapi Kenny pulang duluan. Vina mau nginep di rumah gue""Oh? Ririnya mau?""Ngerepotin gak, Bas?""Engga kok, Ri, santai. Lagian udah malem juga kan."Yes! Akhirnya kesempatan itu datang! Gue bisa berduaan sama Riri. Gue sengaja membawa mobil gue pelan-pelan, supaya bisa lama sama Riri.Awalnya kami berbincang asik. Membahas basket, pelajaran, masa kecil, dan masih banyak. Sampai akhirnya."Kenapa, Bas?""Apanya?""Kenapa nolak Kenny?"Gue diam sesaat, "Karena emang bukan Kenny yang gue suka, Ri.""Bukannya waktu itu lo nitip salam buat Kenny?"SHIT! Pasti Ian!"Sebenernya salah paham, Ri,""Salah paham gimana?""Cewek yang gue suka itu..." kalimat gue terputus, gue takut. Gue takut Riri jadi benci sama gue. Gue menghela nafas, memberanikan diri, "cewek yang gue suka itu lo, Ri!"Riri menoleh. Gue membalas pandangannya, untuk menyakinkan kalau gue gak bohong. Riri mengalihkan pandangannya."Waktu itu yang gue liat lo, tapi Ian mikirnya gue ngeliatin Kenny! Gue bener-bener suka sama lo, Ri!"Riri terdiam. Sejak saat itu, suasana kami menjadi hening. Sampai akhirnya kita sampai di depan rumah Riri."Makasih ya, Bas, udah repot nganterin gue." ucap Riri. Gue mengangguk sambil tersenyum. Riri terlihat kikuk, seperti ingin membicarakan sesuatu, "Uhm, Bas, gue tau situasinya salah paham, gue juga tau lo gak bermaksud untuk nyakitin Kenny, tapi Kenny itu sahabat gue, Bas! Gue sayang sama Kenny!"Kalimat tersirat Riri barusan sudah cukup menjelaskan kalau gue harus memupus harapan gue untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Riri. Ternyata sesakit ini rasanya di tolak meskipun gue tidak meminta apapun dari dia.Dia yang tidak bisa dimiliki, bukan karena gue tidak berusaha, tapi langkah gue yang udah salah di awal. Ternyata bener-bener sesakit ini.Dan sejak malam itu, gue cuma bisa mandangin Riri yang tertawa dengan teman-temannya, sampai terakhir gue melihat dia waktu kami lulus SMA, setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi.Sampai akhirnya, setelah hampir 15 tahun tidak pernah ada kabar tentang dia, Vina merepost postingan Riri...END....* * *
April dan Desember
Kilatan lampu dan suara jepretan kamera wartawan menghiasi salah satu ruangan gedung di kawasan Jakarta Selatan siang itu. Tak lama kemudian, sesosok wanita cantik berumur 35 tahun duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan. Dia masih membiarkan para wartawan untuk memotret, hingga frekuensi kilatan lampu dan suara jepretan pun berkurang.Setelah menjelaskan sedikit tentang karyanya yang berjudul "Dark Desember Suggestion", wanita bernama April itu mempersilahkan sesi tanya jawab untuk para wartawan."Mengapa anda memberi judul Dark Desember Suggestion? Apakah ini terinpirasi dari kisah hidup anda?" tanya salah satu wartawan.April tersenyum, matanya menerawang jauh.Dia cukup ingat bagaimana dahulu dirinya melewati bulan Desember yang sangat ingin ia hindari itu.Semua bermula dari satu kejadian itu, waktu itu umurnya baru menginjak 5 tahun.Flashback...April berlari kegirangan karena dirinya berhasil mendapatkan piala juara menulis di TK-nya. Namun langkahnya terhenti di depan pagar rumahnya, mendengar suara keributan dari dalam, bahkan bunyi pecahan piring dan gelas itu cukup membuat hatinya sakit.Masih berdiri mematung dan air mata yang sedikit demi sedikit keluar dari matanya, Ibunya keluar dari rumah, membuka pagar, dan terkejut melihat putri semata wayangnya ada disitu sambil menangis.April melihat Ibunya yang berantakan, dengan menenteng tas kecil dan koper di kedua tangannya.Ibunya berjongkok, mensejajarkan tinggi mereka, melihat wajah April yang terluka, dia ikut menangis."April, Ibu minta maaf. April jaga diri ya, yang nurut sama Bapak. Ibu pamit pergi. Maafin Ibu ya, Nak."Pesan singkat itu, dan kepergian sosok Ibunya membuat tangis April makin menjadi. Kakinya benar-benar berat untuk mengejar kepergian Ibunya. Karena pertengkaran kedua orang tuanya memang terlalu sering akhir-akhir ini.Dan di tahun berikutnya, bulan Desember saat dirinya berumur 6 tahun, tiba-tiba saja Ibunya mendatanginya di Sekolah Dasar, mengajak April untuk tinggal bersamanya.April dilema. Dia sadar bahwa dia sangat rindu Ibunya. Disaat teman-temannya yang lain di antar Ibunya berangkat sekolah di hari pertama, April di antar Bapaknya. Kadang mereka bertanya "April, Ibunya mana?" dan April tidak tahu harus menjawab apa.April menolak ajakan Ibunya, dan disaat yang sama, Bapaknya yang baru datang ingin menjemputnya, murka melihat Ibunya datang sembunyi-sembunyi untuk membawa April pergi. Ibunya yang panik langsung lari dan tertabrak sebuah truk besar.Di depan matanya, Ibunya yang sangat dia rindukan itu, meninggal di depan matanya.Flashback off..."... saat itu, saya baru sadar kalau bulan Desember itu tidak ramah untuk saya. Karena di bulan-bulan Desember berikutnya, ada saja kejadian yang menimpa saya. Tangan saya tiba-tiba patah saat saya terpilih menjadi perwakilan sekolah untuk ikut lomba menulis, dan masih banyak hal lain yang membuat saya cukup menghindari bulan itu. Rasanya untuk satu bulan itu saya hanya ingin di kamar dan meringkuk sambil menunggu bulan itu berlalu." ucapan April diselingi candaan itu sukses membuat para wartawan dan orang-orang yang berada disitu tertawa kecil."Namun ada satu waktu, saya mengikuti salah satu seminar. Waktu itu temanya adalah sugesti. Saya mendalami kalimat itu, dan mulai mengimplementasikannya ke diri saya. Saya berpikir mungkin selama ini saya terlalu takut pada bulan itu, padahal selama ini mungkin saja itu ketentuan dari Tuhan yang memang tidak dapat saya ubah. Akhirnya saya beranikan diri terus menerus, melewati satu bulan Desember itu dengan sugesti kalau semuanya akan baik-baik saja, saya hanya harus berhati-hati dan berpikir positif. Dan saya baru sadar, kalau bulan itu, adalah hari lahir Bapak saya dan hari pernikahan kedua orang tua saya."Flashback...April menaruh kue sederhana di atas meja di depan Bapaknya. Melihat Bapaknya yang kian hari kian menua. April melihat kedua mata Bapaknya menerawang jauh melihat kue di depan matanya itu, lalu menangis."Bapak gak pernah menyesal menikah sama Ibu. Ibu adalah wanita terbaik menurut Bapak. Ibu adalah wanita paling sabar yang pernah Bapak temuin. Ibu adalah wanita paling cantik yang pernah Bapak milikin. Makanya kamu yang cantik ini mirip Ibu. Bapak yang salah, waktu itu Bapak yang gelap mata. Ibu sudah tahu kalau Bapak suka berjudi dan pernah main perempuan. Ibu sudah sering meminta Bapak untuk berubah, tapi Bapak gak terima. Hari itu, Bapak yang usir dia. Kamu jangan nyalahin Ibu kenapa gak bawa kamu pergi, karena Bapak tahu Ibu tidak punya apa-apa saat keluar dari rumah, jadi Ibu tidak ingin kamu ikut susah. Bapak yang salah, Bapak gagal jadi kepala rumah tangga yang baik buat kalian."Entah kenapa hati April sangat terluka mendengar pengakuan Bapaknya. April tidak bisa menghakimi siapapun saat ini, karena dia tahu hati Bapaknya juga terluka.Bapaknya yang selalu menang berjudi, hingga uangnya banyak dan di lirik perempuan, tidak meninggalkan hutang apapun.Setelah Ibunya pergi dari rumah dan sadar, Bapaknya berhenti berjudi dan meninggalkan dunia kelamnya, itu pilihan terbaiknya. Namun rumah tangga mereka memang sudah tidak bisa di selamatkan.Flashback off..."...karena untuk pertama kalinya, tidak ada hal buruk di bulan Desember. Bapak saya meninggal, tak lama dari itu, bulan Februari. Dan setiap bulan itu saya selalu mensugesti diri saya. Hingga pada bulan Desember, saya bertemu dengan suami saya. Dan bulan Desember berikutnya kami menikah. Lalu bulan Desember berikutnya anak pertama kami lahir. Dan dari situ saya berpikir, tidak selamanya bulan Desember itu kelam. Karena saya selalu ingin membuat kenangan indah di bulan Desember.""Apakah ada kesulitan saat menulis karya anda?" tanya wartawan lainnya."Kesulitan pasti ada. Tapi karena ada keluarga saya yang membuat saya termotivasi, saya tidak terlalu ingin mengingat hal sulit itu. Karena untuk menghasilkan sebuah karya, ada hal sulit tersendiri yang dirasakan si pembuat karyanya.""Lalu kepada siapa anda ingin mempersembahkan karya anda?" sahut wartawan lainnya.April tersenyum, "Saya ingin mempersembahkan karya saya untuk orang-orang yang saat ini tidak percaya dengan dirinya sendiri. Bahwa kalian harus mensugesti diri kalian kalau kalian pasti bisa. Tidak ada yang tidak mungkin selama kalian ada kemauan."Semua memberi tepuk tangan meriah. Sesi tanya jawab pun di tutup, lanjut ke sesi foto dan salam sapa untuk menggemar karya-karya April.Ibu, Bapak, April yakin, dari sana kalian melihat April sambil tersenyum. April bangga punya orang tua seperti kalian. Semoga kalian juga bangga punya anak seperti April. April hanya ingin memberitahu kalian kalau disini April bahagia. Batin April.Masih dengan bibir tersenyum dan menyapa penggemarnya.* * *SELESAI...
Possessive Senior
Jam pelajaran Matematika hari ini telah berakhir setelah terdengar suara bel tanda waktu istirahat di mulai. Nayra masih sibuk membereskan buku dan alat tulisnya, serta peralatan jangkar yang memang tempatnya terpisah dari kotak pensil.Tiba-tiba saja, seorang siswa berlari tergesa-gesa dan berhenti di ambang pintu kelas Nayra."Nay, cowok lu berantem di kantin!" adunya.Tanpa berpikir panjang, Nayra langsung bangkit dan berlari secepat mungkin ke kantin.Sesampainya di kantin, benar saja. Dia melihat Attar, kekasihnya sedang terlibat adu jotos dengan Reno, dari kelas sebelah. Wajah Reno sudah terlihat babak belur sementara Attar hanya terlihat berantakan. Dia memang pandai berkelahi."Kak Attar, berenti!" perintah Nayra.Teriakan Nayra membuat seisi kantin hening. Karena Attar yang baru saja ingin memukul Reno untuk kesekian kalinya tiba-tiba saja berhenti. Dia melepaskan cengkramannya di kerah baju Reno lalu mendorongnya.Sial! Batin Attar. Siapa yang ngadu ke Nayra? Tanyanya dalam hati."Gue peringatin sekali lagi, jangan ganggu cewek gue!" ucap Attar penuh penekanan. "Bubar! Tontonan selesai!"Beberapa siswa lain membantu Reno bangkit, dan sisanya mengikuti perintah Attar karena memang pertunjukkannya sudah selesai. Sementara Attar berjalan santai ke arah Nayra yang masih berdiri di tempat yang sama.Attar tersenyum dan menggandeng Nayra pergi dari kantin seolah tidak terjadi apa-apa."Kak!"Attar berhenti lalu membalikan tubuhnya, menatap Nayra yang kini di depannya. Dia tahu Nayra marah."Kenapa, Nay?" tanyanya lembut."Kenapa? Kenapa mukul Reno?""Kamu gak tau? Atau pura-pura gak tau?" pertanyaan balik Attar yang penuh penekanan sukses membuat Nayra mengerutkan kening. "Kamu beneran gak tau?" Attar bertanya lagi memastikan."Kenapa?""Dia itu lagi ngincer kamu.""Ngincer apa?""Ya ngincer, mau deketin kamu.""Kak Attar salah paham.""Nay, aku cowok, aku tau gerak-gerik cowok yang lagi suka sama cewek. Minggu lalu, dia liatin kamu terus di perpus, abis itu dia tiba-tiba dapet nomor kamu, terus dia chat kamu. Iya, kan?""Tapi dia itu cuma nanya kisi-kisi ulangan matematika, Kak!""Kamu bener-bener polos, Nay! Itu cuma akal-akalan dia aja.""Kak Attar selalu gitu, curigaan. Kak Attar sadar gak sih kalo Kakak tuh posesif banget ke aku? Kalo kayak gini terus lama-lama aku gak punya temen, Kak! Gak ada yang mau temenan sama aku karena takut sama Kakak!"Attar mengambil handphonenya di saku bajunya, lalu menunjukkan bukti chat.Nayra membaca chat itu lalu mengerutkan kening, tidak mengerti."Kemarin dia chat kamu, ngajak jalan." kata Attar santai. "Kebetulan kamu kemarin lagi ambil minum buat aku, aku langsung buka terus langsung aku apus.""Kak, itu kan privasi aku!"Dengan kesal, Nayra meninggalkan Attar menuju kelasnya. Sejujurnya dia sudah lelah dengan Attar. Terlalu mengekang, terlalu posesif.Attar adalah cowok paling tampan di sekolahnya sekaligus Kakak Kelasnya. Nayra yang saat ini kelas 2 sedangkan Attar kelas 3. Selama ini yang Nayra tahu, banyak siswi di sekolahnya yang ingin menjadi pacar Attar. Gimana tidak, Attar pintar, ketua basket, dan misterius. Diantara para siswi yang ingin Attar menjadi pacarnya, Nayra ada disitu.Nayra juga tidak menyangka kalau Attar memilihnya untuk menjadi pacarnya. Saat itu Nayra menjadi cewek populer di sekolahnya. Dan tak jarang banyak cowok yang ingin mengenalnya. Dari situ perkara di mulai.Attar berubah menjadi brutal tiap kali dia mendapati cowok yang ingin mendekati pacarnya. Tanpa basa-basi, Attar melabraknya dengan pukulan. Tak jarang juga Nayra yang harus melerai perkelahian pacarnya itu, karena Attar hanya berhenti kalau ada Nayra.Beberapa kali Nayra mendapati Attar babak belur setelah berhasil menjatuhkan cowok yang mendekati Nayra dan semua teman yang membantunya.Dan karena sudah terkenal seantero sekolah, Nayra tidak punya teman.Telinga Nayra sudah berteman dengan kalimat aduan "Nay, cowok lu berantem!"Karena itu terlalu sering akhir-akhir ini.Sore ini terjadi lagi."Mau pulang, Nay?" tanya seorang siswa yang Nayra tahu itu adalah Kakak Kelasnya, satu angkatan dengan Attar."Iya, Kak.""Gak sama Attar?""Hehehe, enggak, Kak."Gimana mau pulang bareng, tadi abis berantem! Dumalnya dalam hati."Pulang naik apa?""Pesen ojek online, Kak.""Yaudah, gue temenin sampe depan ya. Takut ada cowok-cowok nongkrong yang suka godain cewek lewat."Nayra mengangguk pelan. Beberapa kali memang Nayra mendapati gerombolan cowok, merokok, kadang memalak siswa, kadang menggoda cewek lewat, di depan sekolah mereka."Oh iya, tahun depan lo udah kelas 3 ya, Nay? Udah ada rencana mau lanjut kuliah dimana?""Uhm, rencananya sih di..."Kalimat Nayra terhenti begitu Kakak Kelas di sebelahnya tiba-tiba terjatuh karena seseorang yang menariknya dari belakang. Dan yang menariknya tidak lain dan tidak bukan adalah Attar.Di depan matanya, Nayra melihat Attar memukulnya."Kak, Kak Attar, berenti, Kak!" ucap Nayra sambil berusaha menghentikan tangan Attar yang sudah meninju cowok yang sedang ada di bawahnya."Attar, berenti! Aku udah muak sama kamu!" teriak Nayra. Beberapa siswa yang masih ada di sekolah menoleh, seakan mereka mendapat tontonan bagus.Attar berhenti, lalu bangkit. Menatap Nayra tajam."Apa kamu bilang barusan?!""Aku udah gak sanggup lagi pacaran sama kamu! Kita putus!""Tarik kata-kata kamu sekarang, Nay!""Gak mau! Aku udah capek pacaran sama kamu, Kak! Aku udah gak mau nerusin lagi. Aku takut!" tutur Nayra. Attar terdiam. "Kamu berubah, Kak, aku gak bisa." lanjutnya dengan nada yang lebih rendah. Air matanya menetes. "Mulai sekarang, jangan ganggu aku!" pintanya."Kak, maaf ya. Harusnya tadi Kakak gak usah nemenin aku. Aku bener-bener minta maaf." kali ini ucapan Nayra pada Kakak Kelasnya yang menjadi korban amukan Attar. Setelah itu Nayra berlalu.* * *Beberapa bulan berlalu. Attar yang sudah kelas 3 sibuk mempersiapkan ujian kelulusan. Dan setelah pengumuman kelulusan, mereka mencoret-coret seragam.Attar terdiam. Padahal dari dulu dia menunggu hari ini datang dengan Nayra di sisinya. Sekarang tidak ada Nayra lagi. Gadis itu sudah tidak peduli lagi padanya.Padahal beberapa hari setelah putus dengan Nayra, Attar sengaja memacari teman sekelasnya untuk membuat Nayra cemburu, namun ternyata gadis itu tidak peduli.Attar juga sempat berpikir kalau Nayra akan berpacaran dengan cowok lain, dan membuat dadanya sesak. Namun beberapa kali Attar memergoki Nayra menolak cowok itu dengan sopan.Nayra selalu sendiri semenjak putus dengan Attar. Dia tidak mau ambil resiko untuk berteman selama masih ada Attar di sekolah ini.Saat Nayra tahu Attar sudah mempunyai pacar setelah beberapa hari putus dengannya, hatinya jelas sakit. Tapi mungkin ini adalah konsekuensi yang harus ia ambil agar semuanya lebih tentram. Dia tidak mau ada keributan lagi di depan matanya.Masa-masa libur sekolah. Sebentar lagi dia harus melewati ujian kenaikan kelas, lalu mempersiapkan dirinya untuk lulus. Ujung bibir Nayra tersenyum membayangkan lulus dari sekolah dan memasuki kehidupan barunya.Setelah hari demi hari berlalu, Nayra yang sudah lulus sekolah dan diterima di Universitas Negeri impiannya, hari ini saatnya masa orientasi di mulai. Nayra harus bangun sangat pagi karena jam 6 dirinya sudah harus ada di kampus.Kampusku tercinta. Ucapnya dalam hati ketika melihat suasana kampus di hari pertamanya.Senior perempuan menyuruhnya masuk ke dalam aula dimana semua di kumpulkan. Aula yang besar dan megah."Ada 30 kelompok, 1 kelompok terdiri dari 4 orang, kalian berhitung 1 sampai 30, nanti kelompoknya berdasarkan angka yang kalian sebut. Mulai berhitung." ucap senior dengan lantang.Dan disinilah Nayra dengan ketiga orang lainnya. Saling berkenalan. Mereka cowok semua. Namun tidak terlalu canggung."Selamat pagi, gue mentor kalian untuk hari ini dan seterusnya sampai masa orientasi ini selesai. Perkenalkan nama gue Attar Chatra, biasa di panggil Attar. Kalian bisa manggil gue Kak Attar, atau Bang Attar, senyamannya aja, khusus untuk Nayra, panggil Kak Attar, seperti dulu. Dan karena dia cewek sendiri di kelompok ini, sorry to say gue harus memperlakukan dia dengan khusus."Seperti tersambar petir, Nayra tidak menyangka kalau harus bertemu Attar lagi di kampus yang sangat dia impikan.Attar tersenyum. Selama mereka berpacaran dulu, Nayra memang berulang kali ingin masuk di kampus Negeri, jurusan Manajemen. Dan dengan kepintaran yang dimiliki Attar, cukup mudah buatnya untuk tetap menjadi senior Nayra di kampusnya.Attar mencengkram lengan Nayra agar sedikit menjauh dari ketiga anggotanya lalu berbisik sesuatu."Nay, aku akan bikin kamu tetep jadi milik aku. Aku gak janji akan berubah, tapi aku janji akan lebih mengontrol emosi aku." ucap Attar penuh penekanan.Nayra tidak bisa membayangkan akan seperti apa hari-harinya di kampus yang sudah ia impikan dari dulu. Padahal dia awalnya selalu menginginkan kedamaian tanpa sosok Attar sisinya. Namun sepertinya dia harus memangkas harapannya di hari pertama.Attar, seorang senior yang posesif.* * *SELESAI...
Mine
POV Mario"Hari ini, saya dan keluarga datang kesini dengan niatan untuk melamar anak Ibu dan Bapak, Putri Kiara Feryal. Apakah Bapak dan Ibu dan juga Kiara bersedia menerima lamaran saya?"Nama gue Mario. Damario Abrisam. Umur 29 tahun. Profesi Dokter. Hari ini, gue membawa keluarga gue untuk melamar orang yang gue cintai, Kiara.Hubungan gue dengan Kiara sudah berjalan ya kira-kira setahunan. Menurut gue, Kiara adalah perempuan paling anggun, paling menawan, cerdas, dan sempurna versi gue. Dan gue ngerasa gue adalah orang yang paling beruntung bisa terus ada di sisi Kiara.Gimana gue kenal Kiara?Flashback...Nama gue Mario, umur 26 tahun. Saat ini gue adalah seorang Dokter Umum di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Sedang mengambil spesialis organ dalam. Saat ini gue baru saja selesai memeriksa seorang pasien. Tak lama datang seorang pasien lagi. Seorang perempuan muda, cantik, dia senyum ke gue, senyuman yang paling cantik yang pernah gue temuin. Dan saat itu juga, gue yakin gue jatuh cinta para pandangan pertama."Siang, Dok," sapanya."Siang, Bu Laras." gue dengan sok tahu langsung menyebut namanya sesuai dengan berkas yang diberikan suster ke gue."Siang, Dokter." seseorang dibelakangnya menyapa gue. Seorang Ibu paruh baya.Dan ternyata pasien gue ini adalah Ibunya. Dengan tetep menjaga wibawa gue, gue mempersilahkan mereka berdua duduk di depan gue."Ada keluhan apa, Bu Laras?""Saya agak demam, Dok, terus tenggorokannya gak enak."Sambil tetap fokus mendengarkan keluhan Bu Laras, mata gue sesekali curi pandang ke anaknya yang terlihat khawatir itu. Setelah gue selesai memeriksa, dan mereka berlalu, gue agak menyesal gak memberanikan diri untuk ngajak kenalan. Tapi gue harus tetep menjaga integritas gue, mungkin kalau jodoh pasti bertemu. Yaelah, apaan sih lo!Flashback off...Minggu pagi yang cukup cerah ini gue habiskan untuk menjemput Kiara karena hari ini kami berencana untuk melihat desain undangan. Kebetulan gue punya temen yang punya usaha percetakan, oke punya sih hasilnya!Kiara membuka pintu rumahnya. Seperti biasa, wajah cantiknya, rambut sebahunya, dan kulit putihnya itu sukses membuat gue jatuh cinta lagi. Terlebih dia hari ini tambah bersinar dengan baju putih kasualnya."Yuk!" ajaknya.Gue dengan sigap membukakan pintu penumpang untuknya, dan dia tersenyum menatap gue, "Thank you, My Fiance." ucapnya lembut. Gimana gue gak tambah meleleh."Kamu udah sarapan?" tanyanya sewaktu gue sudah menjalankan mobilnya."Belum.""Kita sarapan dulu yuk! Tapi sebelumnya, boleh gak mampir dulu ke makam Aries?"Permintaannya itu sukses membuat gue terkejut. Tapi tatapannya yang memohon itu tidak bisa gue tolak. Akhirnya gue mengiyakan.Siapa Aries? Dia adalah sahabat gue, sekaligus mantan pacarnya Kiara. Mungkin gue akan flashback lebih panjang kalau harus cerita tentang Aries.Flashback..." Bro!" suara Aries yang mengejutkan itu berhasil membuat gue membuka mata gue yang hampir rapat itu. Padahal gue ngantuk banget, tapi bisa-bisanya ini orang dateng gak diundang dan ganggu waktu tidur gue yang gak seberapa itu."Hmmm?""Gue lupa bilang, minggu lalu cewek gue kesini ya?""Mana gue tau!""Seriusan lo? Orang dia bilang ke Dokter Damario.""Gue gak inget, pasien gue banyak!""Hmm, sombong! Yaudah kalo gak inget. Pagi ini dia mau kesini. Ngajak sarapan bareng. Lo ikut lah! Nanti gue kenalin!""Lo aja lah! Lagian dia kan kesini mau ketemu lo, kenapa lo bawa temen?""Mau ngasih tau kalo gue punya cewek, cantik lagi! Siapa tau Kiara punya temen cewek yang bisa dikenalin ke lo.""Hm, yah, terserah lo deh! Tapi kalo dia bete, gue gak ikutan ya.""Oke! Jangan lupa, sarapan bareng!"Saat itu gue hanya mengiyakan permintaannya supaya dia cepat pergi dan gue bisa tidur di waktu tidur gue yang cuma beberapa jam itu. Sampai akhirnya..."Yo, kenalin, cewek gue, Kiara." ucapan Aries itu membuat gue terkejut. Ternyata perempuan anaknya Bu Laras itu pacarnya Aries.Kiara tersenyum ke gue sambil mengulurkan tangannya. Gue menyambut tangannya yang halus itu."Kiara.""Mario.""Ehm, udah! Lama amat pegang tangan cewek gue!" kata Aries sambil melerai jabatan tangan kami.Kiara hanya tersenyum, akhirnya gue juga senyum sekenanya. Kenapa itu anak feelingnya kuat banget ya?Saat itu gue sadar, kalau Kiara bukan cuma cantik dan anggun, tapi dia pintar. Dia adalah sekretaris direktur utama di sebuah perusahaan besar. Dia di pilih menjadi sekertaris karena menguasai dua bahasa, Inggris dan Mandarin, berarti tiga sama bahasa Indonesia. Wawasannya juga luas."Bi, kamu tau gak, Mario ini masa seneng banget sama film Final Destinition. Sumpah ya, itu film!""Serius, Yo? Aku juga suka film itu, tapi sekarang susah nyarinya.""Coba cari di netflix deh, terakhir gue liat masih ada. Tapi kalo gak ada gue masih ada link buat nontonnya.""Wah, serius? Mau dong!""Simpen nomor gue aja, nanti gue kirim.""Hmm, modus bener! Lewat gue aja share linknya." Aries mencegah."Lo percaya kalo Aries akan ngasih link nya ke lo?" tanya gue pada Kiara setengah berbisik. Kiara setengah tertawa lalu menggeleng.Flashback off...Hingga akhirnya waktu itu gue jadi punya nomor Kiara dan Kiara punya nomor gue. Kadang di sela-sela istirahat, gue chat Kiara untuk membahas teori tentang beberapa film. Ternyata gue dan Kiara satu selera genre film.Kiara menaruh bucket bunga di atas makam Aries. Wajahnya yang cantik itu langsung sedih melihat tumpukan rumput rapi dengan nisan bertuliskan Aries Deronino Bin Ahmad Deronino."Hai, Aries, apa kabar kamu disana? Semoga kamu bahagia ya, karena aku disini juga bahagia." tutur Kiara sebagai kalimat pembukanya. Dia menekankan suaranya, menahan nangisnya. Matanya sudah berkaca-kaca. Padahal sudah 2 tahun Aries pergi, tapi Kiara tetep nangis kalo ke makam Aries. "Aries, aku mau nikah, sama Mario. Kamu pasti ngerestuin kan?" tanyanya yang sudah pasti tidak dijawab.Gue maju selangkah, meraih pundaknya, berusaha menguatkan. "Makasih ya, berkat kamu, aku bisa kenal Mario. Dia baik, sama baiknya kayak kamu."Masih terngiang di ingatan gue gimana Aries meninggal di depan mata gue. Kecelakaan motor waktu kita touring dan meninggal di tempat. Saat itu, posisi motor Aries adalah di depan motor Satria, salah satu teman touring kami. Dan motor gue di belakang motor Satria.Gue juga masih ingat, gimana kedua orang tua Aries dan Kiara datang tergesa-gesa ke rumah sakit karena mendapat kabar duka. Mamanya Aries histeris begitu Dokter memberitahu kalau anak semata wayangnya meninggal di tempat kejadian, sementara Kiara yang ikut mendengarnya hanya terdiam, matanya menerawang jauh, dan langsung terjatuh duduk karena kakinya lemas, kemudian air matanya keluar dengan sendirinya. Saat itu, yang bisa gue lakukan adalah memeluk Kiara yang rapuh dan syok karena pacarnya yang kemarin ditemuinya, sekarang sudah tidak ada lagi di dunia.Hari demi hari berlalu. Dengan gue yang selalu berusaha untuk ada di samping Kiara. Dia serapuh itu tanpa Aries. Dan gue semakin yakin dengan perasaan gue ke dia. Gue mendekati dia dengan perlahan, berusaha memberikan dia perhatian kecil.Seperti waktu ituGue jemput dia untuk pergi ke kantor. Dia buru-buru turun dari mobil dan meninggalkan ponselnya. Gue harus turun dan ngejar dia."Thank you ya, Yo, tumpangannya. Ngebantu banget loh! Soalnya kebetulan aku harus nyiapin dokumen untuk rapat nanti siang. Makasih juga hapenya. Sampe repot-repot turun."Gue menatap dia lalu tersenyum, "Sama-sama. Selamat bekerja, tetap semangat, dan jangan lupa makan, minum juga jangan lupa. Kalo butuh apa-apa jangan segan telfon gue." ujar gue sambil mengacak-acak rambutnya ringan.Dia tersenyum salah tingkah lalu mengangguk. Gue pamit pergi setelah dia mengiyakan ucapan gue barusan.Atau seperti waktu ituDia memberikan sebuah surat yang gue sudah tahu isi di dalam suratnya. Karena surat itu memang dari gue yang dengan sengaja gue selipkan di buku novel thriller yang suka dia baca."Makasih, Yo. Aku suka tulisannya."Tulisan berisi kata-kata motivasi yang gue tulis buat dia. Dan gue seneng karena dia menyukai tulisan motivasi gue buat dia.Atau juga sepertiSetelah gue lulus ambil spesialis, gue datang ke acara yang diselenggarakan jurusan gue. Dan gue memberanikan diri mengajak Kiara dan dia bersedia untuk datang menjadi pendamping gue. Disitu gue terpaksa meninggalkan Kiara sebentar karena temen-temen gue mengajak gue ngobrol. Mata gue gak lepas dari Kiara yang sedang mengambil minum. Kiara yang sadar kalau mata gue gak lepas dari dia kini memandang gue. Dia benar-benar cantik malam ini dengan dress putih, sesuai dengan penampilannya yang anggun. Mata kamu beradu. Gue melempar senyum ke arah dia dan langsung di balas dengan senyuman cantiknya itu.Dan tak lama setelah itu Kiara bersedia menjadi kekasih gue. Dia ada di sisi gue, mendengarkan cerita gue tentang pasien-pasien gue, mendengarkan keluh kesah gue, dan antusias saat gue bercerita tentang sesuatu yang membuat gue senang. Hingga gue memutuskan untuk menjadikan dia seutuhnya milik gue.Setelah selesai menyampaikan maksud dia di makam Aries, dia mengajak gue untuk pergi karena memang kita akan melihat desain undangan.Sambil berjalan ke arah mobil, gue menoleh, melihat makam Aries yang semakin jauh di belakang. Gue tersenyum.* * *POV Author"Ris, lo liat cewek yang pake baju pink itu? Cantik kan? Gue naksir dia dari SMA." ucap Mario sambil melihat gadis cantik berbaju pink dengan penampilan modis. Saat itu mereka sedang makan di kantin kampus."Wih, boleh juga selera lo. Sampe sekarang masih suka?" sahut Aries dengan mulut setengah mengunyah makannya."Masih sih! Tapi udah gak suka-suka banget. Biasa aja. Sekarang gue semacam mengagumi aja. Gak berani mimpu dia mau jadi pacar gue."Aries tertawa, "Kalo gue gaet lo marah gak?" tanyanya setengah bercanda."Kalo dia mau, pacarin aja."Beberapa bulan kemudian...Aries yang tidak pernah absen bermain basket tiba-tiba membatalkan janjinya. Dan dengan terang-terangan dia merangkul Rany, gadis yang disukai Mario dari SMA. Dan entah mengapa kejadian ini terus berlanjut sampai Mario bertemu dengan Kiara.Awalnya Mario hanya suka pada pandangan pertama, namun siapa sangka ternyata gadis yang dia suka pada pandangan pertama pun milik Aries. Dia sadar dia tidak bisa seperti ini terus.Dia harus mencari celah untuk mendapat perhatian Kiara. Dan suatu hari dia menemukan celah itu. Mereka pun semakin dekat. Tentu saja Mario tahu kalau Kiara hanya menganggapnya sebagai temannya Aries. Mario tahu, dari sekian banyak gadis yang pernah di pacari Aries, Kiara adalah gadis yang paling di cintai Aries. Hubungan mereka mulus, tanpa drama, mungkin karena Kiara tidak pernah menuntut apapun dengan Aries.Suatu ketika, ketika mereka sedang touring ke puncak, Aries yang sedang mendahului sebuah mobil di tikungan, menabrak truk dari arah berlawanan. Satria, salah satu teman mereka yang berada tepat di belakang Aries berhasil selamat karena dia menunggu Aries mendahului mobil, baru di belakang Satria adalah motor yang dikendarai Mario.Mario saat itu hanya terkejut melihat tubuh sahabatnya tergeletak, bersimbah darah, dan tidak sadar. Bahkan tanpa sadar di balik masker yang dia pakai, dia tersenyum.Di rumah sakit, Mario melihat kedua orang tua Aries histeris karena anaknya sudah meninggal di tempat. Bahkan Kiara yang saat itu datang, hanya terdiam. Pandangannya kosong, seketika dia jatuh. Kakinya lemas. Tangisnya pecah ketika Mario memeluknya.Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Sejak saat ini, Mario selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di sisi Kiara. Awalnya sebagai teman. Tapi dengan melihat ketulusan Mario, Kiara yakin kalau Mario benar-benar mencintainya.* * *POV MarioSambil berjalan ke arah mobil, gue menoleh, melihat makam Aries yang semakin jauh di belakang. Gue tersenyum.Dan sekarang giliran lo yang ngeliat gue dengan Kiara. Perempuan yang paling gue cintai. Semoga lo tenang disana dan jangan pernah ganggu hidup gue dengan Kiara. Karena sekarang dia benar-benar jadi milik gue."Jadi kita mau sarapan apa?"Lamunan gue buyar, "Ya?""Jadi kita mau sarapan apa?""Kamu lagi mau sarapan apa? Aku ikut aja.""Bubur depan situ enak loh!""Boleh."* * *SELESAI...
Diantara Dua Pilihan
"Kak! Kak Rara! Ada undangan nih!"Saat itu aku yang sedang membaca sebuah novel mendengar suara teriakan Rere, Adik semata wayangku meneriakkan sebuah kalimat yang membuat semangatku menghilang. Sudah berapa undangan pernikahan yang aku hadiri. Nyatanya setiap kali aku menghadirinya, satu-persatu temanku akhirnya membawa Suami atau Istri mereka, atau pacar mereka. Tapi aku hanya datang dengan Rosy, salah satu sahabatku yang sudah mendapat status Janda anak satu karena Suaminya meninggal dua tahun yang lalu.Satu dari sahabatku yang lain Alya. Pribadinya lembut. Berbeda dengan Rosy. Sebenarnya dulu Rosy juga lembut, namun sekitar dua tahun yang lalu, sifatnya mulai berubah, lebih keras dengan dirinya sendiri, karena sadar bahwa dia harus menjadi kuat, agar tetap bisa menjadi seorang Ibu sekaligus Ayah untuk anaknya. Alya adalah seorang Istri dari seorang Tentara Angkatan Udara. Ibu dari dua anak itu sangat baik mengajarkan kedua anaknya, menurutku.Umurku saat ini 28 tahun, statusku masih single tanpa ada seorang pun yang sedang dekat denganku. Kenapa demikian? Karena sejujurnya aku masih belum bisa melupakan seseorang yang pernah menjadi spesial di hatiku, atau tepatnya masih menjadi spesial. Karena setelah selesai dengannya, Rosy mengenalkan beberapa Pria denganku, namun tidak ada yang bisa memperlakukan aku layaknya Dean memperlakukanku. Iya, dia Dean. Orang yang masih menjadi spesial di hatiku, belum ada sesuatu yang membuat dirinya keluar dari hatiku, kecuali satu, karena kita memang harus berpisah."Kak, gue panggilin juga. Ini ada undangan!" Rere tiba-tiba membuka pintu kamarku dan masih berdiri di ambang pintu, menggerutu."Iya, taro aja di meja. Nanti gue liat.""Bilang apa?""Tengkyu.""Udah solat belum?" tanya Rere."Solat apa?""Dzuhur, Kak!" Rere setengah teriak. "Jangan-jangan lo belum mandi ya? Ih, jorok! Ngapain sih lo, Kak? Mandi kek! Solat sana! Inget kata Mama, lo itu belum nikah, selama lo belum nikah, terus lo ninggalin solat, nanti Papa sedih. Lo masih inget kan sama Papa? Bisa kebayang gak kalo Papa sedih disana?"Hanya itu yang bisa membuat rasa malasku menghilang. Iya, Papa. Sosok itu! Sosok yang sudah meninggalkan kami semua dengan kesedihan yang mendalam. Sosok yang selalu mengajarkan kami tentang pentingnya agama di hidup kami. Sosok yang tidak pernah lupa memberi kasih sayangnya yang tak terhingga sehingga setelah kepergiannya yang sudah hampir 10 tahun itu, kata-katanya tetap melekat di ingatan kami.Aku melipat sajadah dan mukenaku setelah selesai solat dan membaca Al-quran dan menaruhnya di kursi. Aku melirik ke sebuah bingkai foto yang berdiri apik di meja kerjaku. Itu adalah foto keluargaku dan masih ada Papa yang tersenyum renyah di dalamnya. Ah, sepertinya aku mengingat sesuatu. Aku mengambil bingkai itu dan membukanya. Ternyata benar, masih ada foto Dean yang aku selipkan di belakang foto keluargaku di dalam bingkai itu. Foto Dean bersamaku waktu kami jalan di suatu akhir pekan.Flashback...Aku menatap sosok itu, Pria tampan yang saat ini duduk di depanku. Memesankan makanan kami. Aku tidak perlu mengkoreksi pesanannya karena dia sudah tahu apa yang aku suka dan yang tidak aku suka hanya dengan sekali ucap. Dean sangat memperhatikanku. Menurutku, dia sosok yang mendekati sempurna. Pria tampan, raut wajah ramah, pintar, dan selalu memperlakukan aku layaknya aku berharga dimatanya. Kalau aku melakukan kesalahan, dia menegur dengan hati-hati tanpa pernah menyinggung perasaanku. Aku tahu banyak Perempuan yang suka padanya, tapi Dean hanya melihat ke arahku. Bersamanya aku tak perlu memikirkan hal yang tidak perlu aku khawatirkan.Setelah selesai makan, kami masih aja jeda beberapa waktu untuk jadwal menonton. Dean menggandeng tanganku sambil tersenyum. Dan kami berhenti di sebuah mushola di dalam mall."Solat dulu gih! Nanti kalo selesai nonton film waktu solatnya udah abis. Aku tunggu sini. Mukenanya udah aku masukin di tas kamu, coba kamu cek!" tuturnya lembut.Dean tidak pernah lupa untuk mengingatkanku menjalankan kewajibanku. Bahkan dia membeli mukena untuk di taruh di mobilnya, khawatir aku tidak bisa solat karena tidak membawa mukena. Dia bahkan tidak lupa untuk menyisipkan mukena itu ke dalam tasku."Yaudah, aku solat dulu ya.""Sini, tasnya biar aku pegang."Setelah memberikan tasku padanya, aku masuk ke mushola dan menjalankan kewajibanku.Begitu aku selesai, aku melihatnya sedang duduk, sambil tersenyum melihat ponsel di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memeluk tasku. Senyumnya semakin mengembang ketika memergokiku yang sedang menatapnya tersenyum."Aku lagi liat-liat foto kita. Gak tau kenapa kamu cantik banget di setiap foto kita. Aku sampe bingung mau ganti wallpaper hape aku jadi yang mana."Aku tersenyum dan mengambil ponselnya. Aku mengunggah aplikasi untuk menyatukan semua foto yang dia suka, menggabungkannya, lalu mengganti wallpaper ponselnya."Aku gak kepikiran buat gabungan ini semua. Makasih ya, Sayang.""Sama-sama.""Yuk, kita langsung ke bioskop aja, kayaknya filmnya udah mau mulai. Kita beli popcorn dulu ya. Caramel aja kan? Minumnya teh java es sedikit." ujarnya. Aku mengangguk. Dia hanya memastikan kalau pesanan aku tidak berbeda dari yang sebelumnya.Flashback off...Andrew Dean Pratama. Anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya juga laki-laki, seumuran denganku. Dean kuliah di salah satu Universitas terkenal di Jakarta dan mengambil Jurusan Hukum. Setelah lulus, Dean mengambil Pascasarjana program studi Kenotariatan. Setelah lulus, dia membuka kantor Notaris sendiri.Kami berdua cocok satu sama lain. Itulah yang aku rasakan. Tidak ada tuntutan berlebih. Prinsip kami berdua menjalani hubungan ini adalah give and give. Saling berbagi. Sebenarnya ini adalah prinsip Dean, dan karena dia telah mengajarkannya padaku tanpa meminta lebih, mau tidak mau aku jadi senang berbagi padanya.Hanya satu. Kami berbeda keyakinan. Aku dan Dean sendiri sebenarnya tidak masalah dengan keyakinan kami masing-masing. Dean tidak masalah kalau aku menjalankan kewajibanku sehari lima kali dan begitu juga sebaliknya. Bahkan Dean pernah menawarkan masa depan bersamaku tanpa harus ada yang berkorban dari salah satunya. Kami bisa menikah di luar negeri, dan lain hal sebagainya, itu katanya.Tapi..."Ra, inget! Agama kita melarang menikah dengan Pria non muslim."Ucapan yang keluar dari Mamanya selalu terbayang di benakku. Ditambah lagi..."Kak, inget, kalo lo nikah gak seagama nanti jatuhnya zina. Coba lo bayangin nanti di akhirat Mama Papa yang udah baik mendidik anak tiba-tiba ada di neraka karena lo?" kata Rere."Ra, inget! Kalo lo mulai suatu hubungan dengan orang yang gak satu agama pilihannya cuma dua, ganti pacar atau ganti keyakinan." tutur Rosy.Dan aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri. Tante Vee, tetangga depan rumahku, yang memiliki anak perempuan semata wayang, seumuran denganku, bahkan kami dulu pergi mengaji bersama, solat di masjid bersama, pindah agama karena mengikuti keyakinan Suaminya. Setiap hari Tante Vee hanya terdiam, termenung, memikirkan anaknya. Itu membuatku berpikir, apakah kalau aku seperti anaknya, Mama akan seperti Tante Vee? Rasanya aku tak sanggup membayangkannya.Pada akhirnya suatu hari itu, aku memutuskan hubunganku dengan Dean. Aku terpaksa. Aku tidak bisa menahan Dean lebih lama. Dia sudah mapan, dan kedua orang tuanya sudah menuntut Dean untuk segera menikah. Tapi aku yang tidak yakin untuk maju atau mundur malah mengajaknya jalan di tempat. Mungkin hari itu adalah hari yang benar-benar berat dalam hidupku setelah hari kepergian Papa. Entah kenapa hati ini kosong. Aku merasa tidak ada yang mengerti kekosongan ini, rasanya tidak enak, aku tidak mau.Bahkan hari itu, aku bertemu dengan Rosy dan Alya. Aku tidak tahu mereka membahas apa, ragaku bersama mereka tetapi tidak jiwaku. Aku merasa jiwaku sebagian pergi bersama sosok Dean yang tidak mungkin bisa aku gapai lagi. Bahkan sampai hari ini, rasa kosong itu masih terasa di hatiku. Belum pernah ada yang bisa menggantikan posisi Dean.Lamunanku buyar mendengar bunyi getaran ponselku. Dari Rosy yang buru-buru mengajakku bertemu. Penting katanya.Dan disinilah kami berada. Di sebuah kafe, duduk berhadapan. Rosy memberiku sebuah undangan pernikahan. Oh, tidak! Bukan Rosy yang ingin menikah, karena aku tahu sekilas desain dan warna undangan ini adalah undangan yang di taruh di atas meja siang tadi oleh Rere. Aku bahkan belum membukanya, baru sekedar meliriknya saja."Apa nih?" tanyaku."Undangan! Lo gak di undang? Atau belum di buka?"Aku nyengir sekenanya, "Belum di buka."Aku melirik Alya yang duduk di sebelahku. Raut wajahnya khawatir."Coba lo buka. Itu undangan pernikahan Fristy.""Fristy? Temen SMA?" tanyaku."Iya! Coba lo liat mempelai prianya!"Aku membuka undangan itu hati-hati. Entah kenapa perasaanku tidak enak. Undangan yang sangat cantik dan terkesan mahal. Aku mulai membuka isi dari undangan itu. Pernikahannya dilaksanakan minggu depan.Mempelai wanitanya Galenka Fristy dan mempelai prianya...Aku terus melihat nama mempelai prianya. Seketika pandanganku kosong. Dan tanpa sadar air mataku keluar. Akhirnya, hari yang aku takutkan tiba. Ketika orang yang kamu cintai, orang yang sangat kamu inginkan berada di sisimu, menjadi masa depanmu, tapi harus kamu relakan untuk bahagia bersama perempuan pilihannya, hari itu hari ini.Alya langsung memelukku yang masih mematung itu. Pelukan Alya itu malah membuatku menangis di pelukannya, tersedu-sedu. Kedua sahabatku hanya diam. Mereka tahu bagaimana selama dua tahun ini aku tidak menginginkan seorang pria pun ada di sisiku, karena Dean. Alya mengelus punggungku dengan sabar."Memang sakit, Ra, tapi gue tau, lo berkorban untuk banyak orang. Untuk orang tua lo, untuk keluarga lo, untuk Dean. Meskipun sekarang lo sakit, hampa. Gue yakin, suatu saat, Allah akan mempertemukan lo dengan orang yang bener-bener lo butuhin untuk ada di sisi lo, bukan orang yang lo inginkan. Lo cuma harus percaya dan yakin."Wejangan Alya, dengan nada bicaranya yang lembut, dan pemilihan kata yang tepat itu akhirnya membuatku berpikir, kalau aku memang harus memilih. Dan aku yakin, pilihan yang aku ambil ini adalah yang terbaik untuk semua. Waktu adalah obat penyembuh hati, suatu hari ini aku yakin kalau semua akan baik-baik saja kalau aku memikirkan apa yang terjadi hari ini.Sudah seharian ini, setiap habis solat, aku selalu berdoa agar ini semua baik-baik saja dan percaya kalau Allah punya rencana yang indah buatku, meskipun selalu menangis, tapi dengan berdoa dan menangis, membuat hatiku terasa lebih ringan."Ra, Mama mau ke rumah Tante Ratna sama Rere ya. Kamu bener gak mau ikut? Yaudah, nanti tolong belanja bulanan ya." pesan Mama sebelum berangkat ke rumah Tante Ratna.Waktu sudah siang dan perutku sudah minta diisi. Jadi aku bergegas keluar untuk makan siang dan belanja bulanan. Ketika selesai mengunci pintu rumah, aku terkejut dengan sosok pria yang sudah berdiri di depan pagar rumahku. Buru-buru aku berlaku membukakan pagar rumahku untuknya."Dean?""Hai, Ra. Apa kabar?""Baik. Kamu gimana?""Baik." jawabnya singkat. "Uhm, Ra, aku mau anter undangan, minggu depan aku mau nikah. Kalo kamu sempet, dateng ya."Aku menerima undangan dari tangannya. Undangan yang telah aku terima sehari sebelum Dean mengantarkannya padaku.Aku tersenyum, "Jadi, kamu akan nikah sama Fristy?" tanyaku pada Dean yang membuat pria itu terkejut. "Aku nerima dua undangan yang sama. Dari Fristy dan dari kamu. Fristy adalah temen SMA aku. Insya Allah aku dateng ke pernikahan kalian minggu depan. Selamat ya atas pernikahan kamu. Akhirnya kamu nemuin jodoh kamu duluan."Aku menangkap suatu sinyal di wajah Dean. Dia ingin berbicara sesuatu tapi tertahan."Bilang aja.""Hah?""Ada sesuatu yang mau kamu bilang kan? Gak apa-apa, bilang aja.""Boleh aku peluk kamu buat yang terakhir kali, Ra?"Aku terdiam. Cukup lama. Hatiku kembali bergejolak, tapi aku tahu aku harus menghadapinya. Dean menunggu jawabanku harap-harap cemas. Aku tersenyum dan memeluknya. Dean memelukku lebih erat. Tubuhnya bergetar. Dia menangis. Membuatku tanpa sengaja menangis juga. Biarlah. Aku harap ini tangisan terakhirku untuknya, karena setelah ini kami harus mulai hidup masing-masing. Dean dengan kebahagiaannya dan aku dengan kebahagiaanku."Aku harap kamu bahagia. Karena disini aku juga harus bahagia. Selamat atas pernikahan kamu. Aku tulus ngucapinnya."Kami melerai pelukan kami. Dean tersenyum dan menghapus sisa air matanya, begitu juga aku."Makasih banyak atas kenangan manis yang kamu tuai ke dalam hidup aku selama ini ya, Ra. Makasih banyak atas ucapan dan doa tulus kamu untuk pernikahan aku.""Sama-sama.""Aku pamit ya, Ra."Saat itu aku sadar, kalau kepergian Dean dari rumahku yang dulu aku pikir berpisah untuk datang kembali, saat ini sudah tidak ada lagi. Itu terakhir kalinya Dean menginjakkan kakinya di rumahku. Karena mulai dari minggu depan dan seterusnya, Dean sudah menjadi milik perempuan lain.* * *Satu tahun kemudian..."Bu, tim dari konsultan IT nya sudah datang dan duduk di ruang rapat. Pak Ganjar sudah meminta Ibu langsung ke ruang rapat.""Baik, makasih Lintang."Namaku Aira Maharani. Panggilan Rara. Hanya Dean yang memanggilku dengan sebutan Aira. Saat ini aku adalah kepala divisi IT di kantorku. Baru saja aku di panggil atasanku untuk rapat dengan tim konsultan IT rekanan perusahaan untuk membahas projek perkembangan digital di kantorku."Perkenalkan saya Ramadhan Prasetya, pimpinan tim konsultan IT..."Saat itu aku tidak tahu kalau tatapan kami yang beradu pertama kali itu akhirnya membawa kami ke suatu hubungan yang pernah Alya bilang sebelumnya. Rama adalah sosok yang Allah kirim untuk menjadi jodohku. Kami seagama, dia taat, baik, pintar, dan tampan. Rama adalah menantu idaman Mama. Rama tidak hanya mampu memimpin tim konsultan IT perusahaan kami, tapi mampu memimpin rumah tangga kami.Dan di umurku yang ke 30 tahun, akhirnya aku dan Rama dikaruniai satu orang anak laki-laki. Wajahnya perpaduan antara diriku dan Rama. Dan Rama adalah sosok Ayah yang mengingatkanku pada Papa.Sampai sini aku tahu, kalau ternyata apa yang menurutku baik belum tentu menurut Allah baik, apa yang menurutku bahagia belum tentu selamanya akan bahagia, tapi apa yang menurut Allah baik dan membuatku bahagia itu sudah pasti jalan terbaik.* * *SELESAI...
Pengirim Surat Misterius
Mencintaimu bagaikan berpegang pada akar yang berduri tajam,Memilih untuk jatuh ke jurang yang dalam,,Atau tetap bertahan dengan perih yang teramat sangat...Kata-kata Itulah yang aku rasakan setiap saat aku mengingatmu. Aku sadar aku takkan pernah bisa menggapaimu karna memang aku tak pantas berada di sebelahmu. Kau begitu sempurna untukku, tapi hatiku tak mampu memahami semua itu. Hatiku tak mampu untuk menyingkirkanmu dari sana, kau memiliki tempat yang sangat luas di dalamnya dan jika kau keluar dari hati ini maka hatiku pasti akan kosong.Namaku Wulandari, aku biasa dipanggil Wulan. Kini aku duduk di kelas 2 SMA favorit di kotaku. Sudah dua tahun belakangan ini aku jatuh cinta pada idola sekolah. namanya Ravid. Dia tampan, Ketua basket, peringkat dua di sekolah, serta status sosial tinggi, membuatnya terkenal di sekolah.Banyak wanita yang menyukainya, tentu saja termasuk aku. Tak sedikit pula yang memberikannya surat cinta atau hadiah karena Kak Ravid yang keren dan hebat. Aku tak tau sejak kapan tepatnya aku mulai menyukai Kak Ravid.Meskipun banyak wanita yang menyukainya tapi kak Ravid tak pernah menjadikan salah satu dari mereka sebagai pelabuhan hatinya. Padahal banyak wanita yang mengejar cintanya bahkan tak jarang mereka secara terang-terangan mengungkapkannya. Namun kak Ravid belum juga melabuhkan hatinya pada salah satu dari mereka.Aku merasa senang dengan semua itu meskipun aku sadar aku takkan pernah menjadi pelabuhan hatinya. Banyak cewek yang lebih cantik dan lebih pintar saja di tolak oleh Kak Ravid apalagi gadis biasa seperti diriku. Tak mungkin dia akan melirikku. Duh jangan mimpi ketinggian kali Lan.“Lan buruan ke lapangan.” Panggil Pak Doni.“Baik Pak.” Jawabku sambil berjalan menuju lapangan basket.Aku memang salah satu pengurus organisasi basket. Aku baru bergabung seminggu yang lalu. Alasanku bergabung dengan club basket sudah jelas karena Kak Ravid. Berada di club basket memang melelahkan apalagi aku adalah satu-satunya anggota perempuan di club ini. Apalagi pekerjaannya cukup berat, membawa bola-bola basket untuk anak-anak latihan dan setelah latihan harus menbereskan bola-bola itu untuk disimpan kembali serta mengurus konsumsi untuk seluruh anggota selama latihan berlangsung, aku juga bertanggung jawab jika ada bola basket yang hilang.“Sini Gue bantu.” Seseorang mengagetkanku. Aku terkejut mengetahui bahwa orang tersebut adalah Kak Ravid.Aku hanya diam karena tak percaya bahwa Kak Ravid mau membantuku. Aku jadi salah tingkah di hadapannya.“Gak usah Kak, ini udah tugas saya.” Kataku dan mengambil kembali keranjang berisi bola yang direbutnya dari tanganku barusan.“Udah biar Gue bantuin aja, lagian itu berat loh.” Lagi-lagi dia merebut keranjang itu.“Ya udah.” Aku berjalan menuju lapangan tanpa menghiraukan Kak Ravid lagi. Aku merasa sangat gugup di depannya barusan. Ku harap dia tak tau kalau aku tadi salting.Setelah club basket selesai latihan aku kembali memunguti bola-bola basket yang tadi mereka pakai untuk latihan dan memasukkan bola-bola itu kembali untuk di simpan di ruang penyimpanan.“Biar Gue aja yang nyimpam bola-bola itu.” Kata seseorang dan orang itu adalah Kak Ravid. Lagi? Ya Tuhan kuatkan lah jantung ini agar tak melompat ke luar.“Gak usah Kak, biar saya saja. Nanti malah ngerepotin Kakak.” Jawabku berusaha mati-matian meredam rasa gugupku.“Gak kok. Sama sekali gak repot. Kunci ruangannya sama kamu kan?” Tanya Kak Ravid.“Iya Kak!” Aku mengangguk, masih merasa gugup berhadapan dengan pemuda tampan yang setiap saat mengisi ruang hatiku.“Ya udah yuk.” Kak Ravid berjalan mendahuluiku. Aku hanya melangkah canggung di belakangnya, mengikutinya seperti anak ayam yang mengikuti induknya.“Nama Lo siapa?”Ya ampun Lan. Dia nanyain nama Lo? Mampus deh Lo sekarang. Apa mungkin Gue lagi mimpi ya sekarang? Makanya Kak Ravid lagi bareng Lo dan ngajak Lo kenalan. Aku mencubit tanganku sendiri sekuat mungkin, untuk memastikan ini mimpi atau bukan.“Aduhhh...” keluhku. Berarti Lo gak lagi mimpi Lan.“Lo kenapa?” Tanya Kak Ravid menyejajari langkahku, aku hanya menggeleng kikuk tak tau bagaimana harus menjelaskan padanya situasiku saat ini.“Oh, gak apa-apa kok Kak.” Jawabku makin gugup, menundukkan kepala dan aku langsung melangkah mendahului Kak Ravid.“Gue tadi tanya nama Lo. Kok gak dijawab sih?” Kak Ravid ikut mempercepat langkahnya mengimbangi langkahku, sehingga lagi-lagi langkah kakiku kalah oleh langkah lebarnya.“Wulan Kak, nama saya Wulandari.”“Oh Wulan, Gue Ravid” jawabnya singkat. Kembali aku mengangguk kikuk, tak menyangka akan mengalami momen seperti saat ini. Berasa lagi syuting sinetron tau gak.“Saya udah tau kok Kak.” Jawabku pelan, sebisa mungkin agar tak terdengar olehnya.“Lo tau dari mana nama gue?” Duh kok dia dengar sih? Padahal tadi aku sudah bicara sepelan mungkin ternyata kak Ravid malah mendengarnya.“Siapa sih Kak yang gak kenal sama kakak, kapten tim basket sekolah ini yang sudah menyumbangkan banyak penghargaan untuk sekolah. Semua orang juga kenal kali sama kakak.” Balasku mencoba tersenyum untuk sedikit menenangkan perasaanku yang gak karuan sejak tadi.“Gak juga lah. Banyak juga kok yang gak kenal sama gue. Lo gak usah muji ketinggian kayak gitu.” Ujarnya tersenyum manis, membuat debar di dadaku meningkat.Kalau tiap hari ngeliat senyum semanis itu bisa-bisa gue diabetes nanti. Terus gue jantungan karena jantung gue gak bisa berdetak normal. Duh mikir apaan sih gue sekarang. Nikmatin aja momen indah lo Lan, gak usah kebanyakan mikir. Nikmati aja.Aku benar-benar gak percaya dengan apa yang aku alami hari ini. Kalau tau akan seperti ini pasti aku akan bergabung dengan club basket sejak lama. Benar-benar berbeda dengan Ravid yang aku lihat selama ini dari kejauhan.Selama ini aku hanya tau bahwa kak Ravid itu orangnya dingin dan terkesan cuek. Bahkan Dara temanku, yang dulu anggota club basket sebelum aku menggantikannya seminggu yang lalu mengatakan bahwa dia sudah tak tahan lagi dengan sikap cuek kak Ravid. Tapi entah kenapa dia membantuku hari ini bahkan menanyakan namaku segala. Iih pokoknya aku merasa senang bangettt hari ini, ingin rasanya aku meneriakkan pada dunia bahwa aku bahagia.Waktu pun berlalu dengan cepat. Kak Ravid pun selalu membantuku setiap saat. Aku merasa senang karena hal itu. Dia selalu membantuku membawakan bola-bola basket. Hari ini dia bilang dia ingin curhat padaku. Dia ingin mengajakku ke kantin istirahat nanti. Aku tanpa pikir panjang langsung menyambut ajakan itu dengan senang hati.DI KANTIN...“Kak Ravid mau ngomong apa?” tanyaku langsung saking penasaran.“Gue mau curhat sama Lo Lan” Katanya.“Mau curhat? Tentang apa kak?” tanyaku penasaran.“Lan sebenarnya gue lagi naksir sama seseorang, tapi gue takut dia gak balas perasaan gue.”Deg!! Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Apa maksudnya bilang gini sama aku? Kenapa aku jadi salting gini?“Sama siapa Kak? Siapa orang yang beruntung itu?” tanyaku pelan. Aku berharap jawabanya adalah aku. Hehe“Gue rasa Lo kenal kok sama dia. Gue udah suka sama dia sejak lama Lan, dan gue mau dia tau apa yang gue rasain” Jawabnya pelan sambil menyesap es teh manis yang tadi di pesannya.Pupus sudah harapanku untuk bersama kak Ravid. Sekarang dia sedang jatuh cinta pada seseorang, siapakah dia? apa mungkin kak Lysa teman sekelas kak Ravid yang mendapat peringkat pertama atau Dara yang sering ngejar-ngejar Kak Ravid. Tapi kenapa hatiku terasa sangat perih, seperti ada yang menusuk hatiku dengan jarum yang sangat banyak dan itu rasanya sangat menyakitkan.Aku mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis di depan kak Ravid, aku tak ingin air mataku jatuh di hadapannya. Setidaknya aku harus terlihat baik-baik saja di depan Kak Ravid, aku tak ingin perasaanku malah akan merusak kebahagiaan yang tengah di rasakan Kak Ravid saat ini.Aku tak ingin Kak Ravid merasa bersalah jika ia tahu bahwa aku menyukainya, bukan! Aku mencintainya. Apalagi jika sampai ia menjauhiku, oh Tuhan jangan sampai hal itu terjadi. Aku sudah cukup bahagia berkesempatan dekat dengan Kak Ravid meski pun aku tak bisa memilikinya. Tak apa.“Kalau gitu selamat ya kak.” Aku berusaha tersenyum dan menahan air mata ini untuk tidak terjatuh di depan kak Ravid.“Apa nya yang selamat Lan? Gue juga belum jadian kok sama dia.” Jawabnya sambil tersenyum. Namun senyumnya itu hanya menambah perih di hatiku.Selera makanku langsung hilang seketika itu. Entah kenapa rasanya aku ingin segera meninggalkan tempat itu secepatnya. Aku tak kuat berlama-lama berada di situ karena mungkin saja air mata yang sejak tadi berusaha aku tahan akan jatuh bercucuran.“Good Luck ya kak. Aku selalu doain yang terbaik buat kakak.” Aku menguatkan diriku dan mencerna kata-kata yang kuucapkan barusan.“ Kalau gitu aku mau ke kelas dulu ya kak. Aku lupa tugasku belum siap.” Ujarku dan tanpa menunggu jawaban darinya aku segera berlari meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sangat hancur.Lalu untuk apa semua kebaikan yang kamu berikan selama ini kalau hanya untuk mempermainkan perasaanku. Untuk apa kak? Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak peduli semua mata telah tertuju kepadaku. Aku sedang merasa terluka dan aku tak peduli dengan orang di sekelilingku aku hanya ingin melepaskan kepedihan ini.Satu minggu kemudian‘ Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya’ Temui aku di cafe ceria jam 4 sore ini.-G-Aku bingung saat menemukan surat itu di dalam tasku, terselip dalam buku catatanku. Bagaimana mungkin surat itu bisa sampai ke dalam tasku. Apa mungkin seseorang salah meletakkan surat ke dalam tasku? Lalu dari siapa surat itu.Siapa itu G? Apa mungkin Galih si cowok nakal adik kelasku itu atau Gilang anak kepala sekolah atau siapa? Aku sungguh dibuat bingung atau jangan-jangan ada yang pengen ngerjain aku. Kupandangi surat yang ditempel dengan huruf-huruf yang diketik sehingga menjadi beberapa kata dan bagaimana bisa masuk ke dalam tasku.Apa aku mendatangi cafe yang tertulis di dalam surat itu saja? tapi bagaimana kalau itu hanya orang iseng yang pengen ngerjain aku atau suratnya salah alamat.Akhirnya karena terlalu penasaran aku tak mempedulikannya dan mendatangi juga cafe itu. Tepat jam 4 sore aku sampai di cafe itu. Aku ngelirak-lirik kesana kemari tapi aku mata ku tak menemukan si pengirim surat misterius itu. Aku hanya mendapati Kak Ravid tengah duduk di kursi dekat pojokan. Dengan spontan aku memanggil namanya.“Kak Ravid?” Orang yang dipanggil menoleh.“Wulan? Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya Kak Ravid.“Oh itu,.. aku lagi nunggu seseorang. Kalau Kak Ravid?”“Gue juga lagi nungguin seseorang.” Kak Ravid tersenyum sangat manis. Aku gak kuat, Oh aku gak boleh terperangkap oleh senyuman itu lagi.“Kalau gitu aku kesana ya kak.” Kataku menunjuk kursi yang masih kosong yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya sekarang.“Lan gimana kalau sambil nunggu mereka datang Lo temanin Gue duduk disini dulu.” Ujar Kak Ravid.Sebenarnya aku ingin menolak tapi gak enak harus ngomong gimana. Padahal kak Ravid gak pernah salah sama aku. Meskipun aku merasa kecewa padanya tapi itu semua bukanlah salah kak Ravid melainkan salahku sendiri yang mengira bahwa dia menyukaiku. Akunya saja yang begitu mengikuti perasaan hingga baper. Padahal kan kak Ravid biasa saja sama aku.Cukup lama kami menunggu tapi tak seorangpun yang aku kenal masuk ke dalam cafe baik seorang lelaki ataupun seorang wanita. Kalau dia seorang lelaki mungkin dialah sang pengirim surat misterius itu dan kalau dia seorang perempuan mungkin dialah yang sedang ditunggu kak Ravid yang katanya aku mengenal orang itu.“Sepertinya dia gak akan datang.” Kata kak Ravid perlahan lebih kepada dirinya sendiri.“Kayaknya yang aku tunggu juga gak akan datang.” Kataku.“Mungkin dia gak suka sama Gue Lan.” Dia senyum tipis lebih seperti dipaksakan.Aku sedikit tertawa mendengar kata-katanya. Hanya orang bodoh saja yang tidak menyukai seorang Ravid. Bahkan orang bodoh pun akan jatuh cinta padanya. Dan hanya orang gila yang akan menolak cintanya.“Kenapa ketawa?” Tanya kak Ravid.“Hanya orang yang tidak waras saja yang akan menolakmu kak.” Kataku masih tertawa kecil.“Memang apa alasan seseorang tidak akan menolakku Lan?” dia bertanya sungguh-sugguh sambil menatapku datar.“Kak Ravid ganteng, kapten basket, kak Ravid juga baik pintar lagi. Pokoknya gak akan ada alasan seorang wanita untuk menolak cinta kakak. Ya kecuali cewek itu gak waras.” Jawabku.Dia menatapku tajam. Aku jadi salah tingkah dibuat olehnya. Tiba-tiba dia menggenggam tanganku lembut. Dia menatap kedua mataku yang membuat aku tertunduk tak sanggup beradu pandang dengannya.Secepat kilat aku menarik tanganku dari genggamannya. Aku takut terjebak lagi oleh perasaanku yang saat ini pun aku sendiri belum bisa keluar dari perasaan itu.Kak Ravid terkekeh. Sungguh pemandangan yang langka dari seorang Ravid. Aku menatapnya tajam mendengar dia tertawa. Apanya yang lucu? Batinku.“Sekarang aku sudah tau siapa orang yang tidak waras itu.” Katanya sambil tertawa kecil.Aku bingung mendengar ucapannya, apa maksudnya? Tunggu barusan dia bilang aku bukan Gue? Masih dalam kebingunganku dia mengatakan sesuatu yang benar-benar membungkam mulutku tak mampu berkata-kata lagi.“Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamulah dunianya.” Aku tersedak mendengar kata-kata itu. Jangan-jangan surat itu...?“Surat itu dari aku. Wulandari aku suka sama kamu. Aku harap kamu adalah orang waras.” Katanya lagi. Kurang ajar berarti selama ini Gue gak baper.Aku tak tau harus bicara apa. Mulutku benar-benar terkunci rapat. Apa mungkin aku masih mimpi? Aku menatap pemuda tampan di hadapanku, apa mungkin dia sedang bercanda. Tapi aku tak berhasil menemukan candaan dari dua mata indah itu.“Apa sekarang kita sudah bisa pacaran?” tanya kak Ravid.Aku lagi lagi tak menjawab pertanyaan itu. Aku masih belum mempercayai semua ini.“Aku tau kamu bingung dengan semua ini, tapi jujur sebenarnya aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Aku juga tau kalau kamu sering memperhatikan aku kalau aku sedang main basket dari kejauhan.” Sekarang kedua pipiku sudah memerah mungkin lebih merah dari kepiting yang sedang ada di depanku mendengar ucapanya barusan.“Gimana apa kamu mau menerima aku jadi pacarmu?” kak Ravid tersenyum sangat manis semanis madu.Sekarang kedua mataku sudah berkaca-kaca dan siap menjatuhkan dua butir bening yang sejak tadi tertahan disana. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan barusan.Dia kembali tersenyum manis sekali dan mengacak rambut hitam milikku, dan aku membiarkan kejadian itu berlangsung. Hari ini adalah hari yang paling indah di dalam hidupku dan sampai mati aku takkan pernah melupakan hari ini.Aku merasa sangat senang hari ini. Tak kusangka kini mimpiku jadi kenyataan. Yah, awalnya aku hanya memiliki kak Ravid dalam mimpi-mimpi malamku tapi sekarang Ravid adalah pacarku. Dia adalah milikku. Dan aku takkan pernah melepaskannya. Ternyata -G- adalah Gusti Ravid, orang yang aku cintai sejak lama. Si pengirim surat misterius.Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya. Dan sekarang duniaku adalah Gusti Ravidku.=TAMAT=
Ketika Senja Bertemu Fajar
Hari senin yang ceria yang mungkin saja menjadi bahagia, dimana tepat hari ini adalah hari pertamaku mengenakan seragam berwarna putih abu-abu, ya di SMA."Ibu, Senja berangkat dulu. Assalamu'alaikum." ucapku sambil mencium tangan ibu."Iya, Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan." Jawab ibu sambil mengantarku sampai depan pintu.Setelah sampai di sekolah,kulangkahkan kakiku sembari melihat papan kelas, setelah cukup lama berjalan akhirnya aku melihat papan kelas bertuliskan "X.c". Ya itu kelasku.Aku memilih duduk paling depan nomor tiga dari barat tepat di depan papan tulis. Aku duduk bersama Pelangi, gadis cantik berambut lurus sebahu dan baik hati pula.Karena hari ini merupakan hari pertama jadi tidak ada pelajaran dan sebagai gantinya adalah perkenalan dan membentuk perangkat kelas.Aku dipercayakan sebagai sekretaris di kelas sedangkan sebagai ketua kelas adalah seorang laki-laki bernama Fajar, Fajar Mahendra.Sebenarnya aku kurang setuju Fajar jadi ketua kelas aku lebih suka pria pendiam yang duduk si belakangku namanya Andre. Tapi saat voting di laksanakan yang terpilih malah Fajar bukan Andre jadi apa boleh buat aku harus menerima keputusan musyawarah.Lagi pula banyak yang memilih Fajar karena wajahnya yang tampan, itu sih gak ngejamin sama sekali buat di jadiin kriteria ketua kelas bathinku.Satu bulan sudah aku sekolah di sekolah ini. Tak ada yang begitu istimewa dalam satu bulan itu. Aku menjalani hari-hari seperti remaja SMA kebanyakan, hanya saja aku lebih sibuk karena tugasku sebagai sekretaris kelas."Senja hari ini pak Lukman gak bisa datang karena beliau ada urusan, dia cuma nyuruh kita mengerjakan tugas. Jadi tolong kamu absen teman-teman kita ya." Perintah Fajar memberikan absen kelas padaku."Kamu aja yang ngabsen, kamu kan ketua kelas." Bantahku mengembalikan absen itu ke tangannya."Iya aku ketua. Kamu itu kan sekretaris jadi kamu harus dengarin kata ketua." Jelasnya membuatku menatap tajam ke arahnya.Enak saja dia main perintah seenaknya, memangnya dia pikir aku ini babunya apa? Trus aku bakal nurut aja gitu sama semua perintahnya? Gak akan."Aku itu sekretaris kelas bukan sekretaris pribadi kamu yang bisa kamu perintah seenaknya." Aku sangat kesal dengan dia yang sok ngebos itu. Padahal di sekolah ini kita sama, sama-sama siswa dan sama-sama nuntut ilmu bukan buat dia perintah seenak jidatnya aja."Ya udah." Dia merebut kembali absen tersebut dari tanganku dengan kasar dan berlalu ke meja guru untuk mengabsen kami satu persatu.Sejak saat itu Fajar tak pernah lagi menghargai aku sebagai sekretaris kelas. Dia mengerjakan semua tugas yang seharusnya aku lakukan tanpa bertanya terlebih dahulu padaku.Sikapnya itu tambah membuatku kesal dengan cowok sok satu itu. Dia menjalani peran ganda sebagai ketua sekaligus sekretaris, trus aku ini di anggap apa Makluk ghoib? Aku merasa sangat kesal terhadapnya. Hari ini aku akan melabrak anak itu, lihat saja nanti."Fajar!" dia menghentikan langkah mendengar panggilanku bahkan dia gak menoleh sedikitpun. Bikin gondok aja nih orang."Ada apa?" tanya Fajar datar seperti tak terjadi apa-apa."Kamu nganggap aku apa selama ini? Hah?" tanya ku dengan nada yang meninggi. Beberapa anak menoleh karena mendengar ucapanku."Maksud kamu?" dia tampak heran mendengar ucapanku. Tampang polosnya malah membuatku semakin dibakar emosi."Kamu ngerjain semua tugas aku sebagai sekretaris kelas maksud kamu apa? Kamu mau buktiin bahwa kamu hebat dan aku ini gak berguna gitu?" tantangku, aku tak menghiraukan lagi anak-anak tengah berbisik di sekeliling kami."Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak mau disuruh-suruh, ya jadi aku pikir aku akan ngerjain sendiri. Lagi pula aku hanya ingin membantu kamu.""Membantu?" aku tersenyum sinis. Aku tau ya nih anak cuma ingin cari perhatian aja, malah sok-sok an polos gak berdosa lagi."Bilang aja kamu mau dibilang hebat dan aku adalah orang yang gak bertanggung jawab. Iyakan?" aku benar-benar emosi berhadapan dengan pria ini. Dia merasa tak melakukan kesalahan apa-apa lagi. Sungguh menyebalkan."Oke oke. Aku minta maaf." Katanya dan berlalu "Dasar cewek pikirannya gak bisa ditebak." Bisik Fajar tapi aku mendengarnya dengan jelas, tentu saja emosiku yang baru mereda kini naik lagi sampai ubun-ubun."APA??"Tanyaku. Fajar terkejut dan membalikkan badannya."aku gak ngomong apa-apa kok." Jawabnya dengan wajah polos sambil tersenyum manis. Aku langsung beranjak meninggalkan tempat itu tanpa membalas senyuman ketua kelasku itu."Dia sangat menyebalkan." Gumamku menghenyakkan tubuhku di kursi."Senja kamu kenapa?" Pelangi menatap heran ke arahku.Beberapa bulan sekolah disini aku dan Pelangi sekarang sudah menjadi sahabat. Aku senang karena Pelangi adalah anak yang sangat baik dan juga perhatian padaku."Tuh ketua kelas nyebelin. Bikin gue kesal aja kerjaannya." Jawabku."Fajar? Kenapa lagi sama dia?""Iya, dia songong banget deh. Masa tugas gue sebagai sekretaris kelas diembat juga. Maunya apa coba? Mau nunjukin kalau dia itu hebat.""Itu tandanya dia perhatian sama kamu, dia gak mau kamu repot Senja sayang." Pelangi menatapku tajam."kenapa?" aku heran dengan tatapan Pelangi"Jangan-jangan Fajar suka sama kamu." Pelangi menyikutku pelan sambil tersenyum menggodaku.Aku menggeleng kuat, tak mungkin hal seperti itu terjadi. Memangnya ini ftv apa dimana dua orang yang saling membenci dan selalu bertengkar selalu berakhir dengan saling jatuh cinta satu sama lain? Ya gak lah. Ini adalah dunia nyata jadi mana ada hal seperti itu."Gak mungkin lah. Aku sama dia itu kayak kucing dan anjing, kayak siang dan malam. Gak mungkin ketemu. Sifat aku dan dia bertolak belakang." Jelasku menyakinkan Pelangi sekaligus diriku sendiri untuk tak terpengaruh oleh ucapan Pelangi barusan."Mungkin itu hanya pendapat kamu saja. Iya sih, dari nama kalian aja udah bertolak belakang. Mana mungkin senja bertemu fajar. Tapi kedua hal itu sama, Sama sama indah.""Sok puitis kamu." Cibirku. Pelangi hanya membalas dengan senyuman yang aku tak mengerti artinya apa.Hari-hari berikutnya aku tak bisa melupakan ucapan Pelangi beberapa waktu lalu, apa mungkin benar Fajar itu menyukaiku? Ah kenapa aku jadi begini sih? Ah Senja kamu gak mungkin suka sama dia kan. Sadar dong, ini bukan ftv.Sejak saat itu pula Fajar bersikap manis padaku seolah aku adalah seseorang yang spesial di kelas dari siswa lain. Hal itu pula lah yang mengawali rasa frustasiku akan hal aneh yang selalu aku rasakan saat sedang bersamanya.Aku sendiri bingung dengan sikap ketua kelasku itu tapi entah kenapa aku malah merasa senang. Malah sekarang aku bersahabat baik dengannya, dia yang awalnya tak aku sukai sekarang jadi temanku sendiri. Dia sangat pengertian melebihi teman perempuan, dia selalu tau apa yang aku suka dan tidak hal itu membuatku merasa nyaman."Senja!" panggil seseorang. aku menghentikan langkahku."Apa itu benar?" tanya Fajar setelah berada beberapa senti dariku."Apa?" tanyaku heran."Kamu jadian sama Tomi?" tanya Fajar serius dan menatap kedua bola mataku, entah kenapa aku jadi gugup dengan tatapan itu."Siapa yang bilang sama kamu?""Jadi benar?""Memang ada apa?" aku menatapnya heran."Tomi itu gak pantas buat kamu." Ujarnya sungguh- sungguh membuatku menundukkan wajah dalam-dalam."Lalu yang pantas siapa?" bisikku masih dengan kepala tertunduk namun tak ada jawaban dari lawan bicaraku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menatapnya, dia hanya diam sambil terus menatapku."Kamu?" lanjutku kini disertai dengan senyuman tipis seperti mengejek.Aku juga bingung dengan apa yang baru saja aku ucapkan dan entah keberanian dari mana aku menatap kedua bola matanya dengan tatapan tak percaya dan menuntut penjelasan."Bukan itu maksudku, Tomi itu playboy dia hanya ingin maiinin kamu.""Lalu kenapa kalau dia memang playboy?" tanyaku masih setia menatap ke arahnya.Fajar menatapku tajam dan aku membalas tatapan itu, namun sesaat kemudian aku menurunkan pandanganku karena tak sanggup menatap tatapan Fajar yang tajam bagai elang. Jantungku tak bisa di ajak bekerja sama di saat seperti ini."Dia hanya ingin menjadikanmu barang taruhan dengan teman-temannya. Dia gak serius sayang sama kamu.""Kenapa kamu peduli Jar?" tanyaku memandangi wajah tampan milik Fajar."Aku gak mau liat kamu sedih Senja.""Kenapa?" aku masih tak mengalihkan pandanganku dari wajah tampannya."Itu karena..." ucapan Fajar terputus.Wajahnya tampak menegang namun aku tau dia mencoba merilekskannya kembali agar tak ketahuan bahwa dia sedang gugup. Aku masih menunggu lanjutan dari kalimat itu."karena, karena aku sayang sama kamu Senja." Fajar menghembuskan nafas lega, wajahnya yang tadi menegang kini kembali rileks."Itu sebabnya aku gak mau kalau kamu jadian sama Tomi, bukan karena aku cemburu tapi karena Tomi bukan lelaki yang tepat buat kamu." Lanjut Fajar.Aku tetap diam menatap pemuda di depanku tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya. Aku bingung harus bagaimana saat ini. Apa yang harus aku ucapkan sekarang."Sebenarnya aku udah suka sama kamu sejak lama Senja, tapi aku gak tau harus bagaimana di depan kamu, aku selalu saja menjadi gugup setiap kali dekat kamu." Aku masih belum bereaksi sama sekali aku sungguh tak percaya dengan yang diucapkan Fajar tentangku."Semuanya terserah kamu aja, aku gak bisa maksa kamu buat mutusin Tomi. Aku hanya ingin kamu mengetahui siapa Tomi sebenarnya. Dan aku minta maaf dengan ucapanku barusan anggap saja aku gak pernah bilang itu semua ke kamu. Dan ya kita akan tetap berteman seperti biasa kok jadi kamu gak perlu kawatir." Jelas Fajar dan beranjak pergi meninggalkanku.Aku masih berdiri di tempatku, aku belum beranjak sejak tadi. Bahkan aku tak sadar kalau Fajar sudah pergi dari tadi. Aku tak menyangka kalau Fajar menyukaiku, kenapa aku tak sadar selama ini? Kenapa aku tak menyadarinya dari awal? Dan Tomi?Oh astaga ternyata ide gila Tomi berhasil membuat Fajar mengungkapkan perasaannya. Tomi adalah sepupuku dan dia memang playboy kelas teri.Dan benar aku pura-pura jadi pacarnya, itu juga terpaksa karena orang tuanya ingin dia fokus pada pelajaran jadi dia mengumumkan bahwa aku adalah kekasihnya supaya tak ada cewek-cewek yang mengganggunya. Sekalian supaya aku bisa mengawasinya dan melaporkan pada ortunya.Aku sungguh tak menyangka rencana gila Tomi yang menjadikan aku pacar statusnya berujung dengan pengakuan cinta Fajar yang sangat tak terduga.Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku mengejar Fajar dan menjelaskan semuanya padanya atau tetap membantu Tomi dengan mengorbankan perasaanku sendiri dan perasaan lelaki yang ku sayang?"Sayankkkk." Teriak Tomi dari kejauhan memecah keramaian."Jangan panggil aku sayang." Omelku setelah dia mendekat."kenapa Lo kan pacar gue." Aku melihat Fajar sekilas, dia hanya melewatiku dan Tomi."Apaan sih Tom." Ujarku menatap punggung Fajar yang berjalan menjauhi kami."Kamu lagi lihat siapa sih Say?""Tom aku mau ngomong sesuatu. Sini deh." Aku menarik tangan Tomi menjauh dari keramaian. Aku masih sempat melihat Fajar menatap aku dan Tomi dari kejauhan._"Beneran? Akhirnya tuh anak punya nyali juga." Kata Tomi setelah mendengar ceritaku."Kamu kenal ya sama Fajar Tom?""Gue pernah sekelas sama dia waktu SMP." Jawab Tomi.Aku hanya mengangguk kecil mendengar jawaban Tomi."Trus Lo jawab apa?" Tanya Tomi penasaran."Aku gak bilang apa apa Tom. Aku bingung mau bilang apa. Hehe." Aku cengengesan mengingat hal itu.Tomi memukul jidatnya sendiri, dia menatapku dengan raut kesal. Aku tau dia sangat kesal dengan sikapku yang lamban tapi aku hanya menampilkan senyuman polosku."Aduh pusing deh gue sama kalian berdua. Fajar udah punya nyali malah Lo nya yang bloon." Omel Tomi padaku."Itu semua juga karena lo Tom." Ujarku tak mau disalahkan begitu saja."Lah kok malah jadi salah gue?" tanya Tomi heran."Sekarangkan gue pacaran sama lo. Kalau gue jujur pada Fajar ketahuan dong kalau selama ini kita Cuma pacaran bohongan." Jawabku membela diri."Lo gak usah sok-sok an mikirin gue. Yang terpenting sekarang Lo bilang sama Fajar gimana perasaan Lo sama dia yang sebenarnya." Ujar Tomi. Aku terdiam mendengar saran Tomi barusan."Udah buruan sana cari Fajar sebelum dia makin salah paham sama Lo." Perintah Tomi.Dia memang kadang nyebelin tapi kadang bisa juga diharapkan. Makasih Tom kamu udah memberi aku saran yang berharga, aku janji gak akan melupakan kebaikan kamu hari ini."OKE." Kataku dan berlalu meninggalkan Tomi untuk mencari Fajar.Aku sudah keliling mencari Fajar tapi yang dicari tak kunjung ku temukan. Akhirnya aku berniat ke taman sekolah untuk melepas lelah setelah mengelilingi sekolah yang cukup luas.Namun langkahku terhenti saat aku melihat Fajar, dia tengah duduk di salah satu kursi di taman. Perlahan aku menghampiri pemuda itu, dia tampak sangat tidak bersemangat tidak seperti tadi pagi saat menghentikan aku."Fajar." Panggilku.Fajar menoleh ku lihat dia terkejut melihat kehadiranku di situ."Boleh aku duduk?" Tanyaku sekedar untuk basa basi sebelum memulai pembicaraan yang serius.Fajar mengangguk dan sedikit menggeser posisi duduknya untuk mempersilakan aku duduk di sampingnya."Ada apa Senja?" tanya Fajar tanpa melihat ke arahku."Ternyata kamu disini. Aku udah nyari kamu keliling sekolah." Ujarku.' bodoh kenapa aku malah mengatakan hal tidak penting itu .' Batinku."Kenapa kamu mencariku?" Fajar tetap tidak menoleh sedikitpun."Ada yang mau aku bicarain sama kamu.""Mengenai apa?""Ini tentang aku dan Tomi." Aku menjadi sangat gugup karena Fajar menatapku setelah aku menyebut nama Tomi."Tidak apa-apa Senja. Aku mengerti dan bisa memahami hubunganmu dan Tomi. Mungkin saja aku yang salah paham pada Tomi. Sebagai teman kamu aku dukung hubungan kamu kok asalkan itu bikin kamu bahagia" Ujarnya kembali mengalihkan pandangan."Iya kamu sudah salah paham Jar. Tapi bukan pada Tomi namun pada hubunganku dengan Tomi." Dia kembali menatapku sekilas namun kemudian mengalihkan pandangannya ke langit entah apa yang istimewa di atas sana."Maksud kamu?""Sebenarnya aku memang pacaran dengan Tomi..." Aku sengaja menggantung kalimatku karena melihat Fajar kini menatapku lekat."Tapi aku dan Tomi hanya pacaran pura-pura." Lanjutku.Wajah Fajar tampak heran dengan kalimatku barusan. Entah apa yang bergelut di pikirannya sekarang."Pura-pura?" tanya Fajar mengulang kata itu. Aku hanya mengangguk pasti."Aku benar-benar tak mengerti Senja. Apa kamu sedang bercanda?""Aku serius jar. Sebenarnya Tomi adalah sepupuku, kamu tau sendiri nilainya kayak gimana makanya orang tua Tomi minta aku buat pura-pura jadi pacar Tomi di sekolah supaya tak ada lagi cewek-cewek yang bakal ganggu dia dan Tomi bisa fokus sama sekolah." Jelasku.Wajah Fajar yang tadi murung kini berubah. Sebuah senyum menghiasi wajah tampan itu sehingga membuatku jadi gugup."Lalu kenapa kamu menceritakan semua ini padaku Senja?" tanya Fajar. Aku jadi bingung mau menjawab apa."Aku gak mau kamu salah paham Jar.""Kenapa?" Fajar menatap lekat kedua mataku membuatku jadi gemetar dan detak jantungku sudah tak karuan lagi."Itu karena... karena aku sayang sama kamu Jar. Aku gak mau liat kamu sedih kayak hari ini." Aku merasa lega menyalesaikan kalimat itu dengan sempurna.Fajar tersenyum sangat manis dan langsung memelukku erat. Aku bahagia berada di sini bersama seseorang yang aku sayangi. Memang benar senja dan fajar tak mungkin bertemu dan datang bersama-sama namun senja dan fajar itu sama, sama sama indah.Kini aku akan menyaksikan senja bersama Fajar dan menyaksikan fajar bersama Fajar. Seseorang yang lebih indah dari senja maupun fajar itu sendiri.THE END
Surat Di Laci Meja
Nama gue Cinta. Sekarang gue duduk di kelas X SMA. Gue lagi naksir sama seseorang, dia senior gue. Namanya Ciko. Gue gak tau kenapa gue bisa suka sama dia.Dia orangnya pendiam banget dan jarang bersosialisasi tapi kekalemannya itulah yang buat gue penasaran sama dia. Banyak juga yang bilang kalau dia itu cupu, ya memang penampilannya kurang menarik tapi sebenarnya dia adalah pemuda yang tampan kalau saja dia mau memperhatikan penampilannya itu. Namun banyak juga yang mengagumi dirinya salah satunya ya gue.'Selamat pagi Cinta, semoga hari ini kamu selalu tersenyum'Ini adalah surat ke-5 yang gue terima. Sejak beberapa minggu belakangan memang setiap pagi gue selalu dapat surat misterius ini. Namun hari ini berbeda dari 4 surat sebelumnya, surat ini tergeletak di laci meja gue ditemani setangkai bunga anggrek putih kesukaan gue. Gue benar-benar penasaran dengan si pengirim surat ini."Dapat surat lagi dari fans Lo Cin?" Santi mengagetkan gue."Aduh, gue kaget tauk. Iya nih San." Kata gue sambil memamerkan kertas kecil yang hanya terdapat beberapa kata itu pada Santi."Lo belum tau juga siapa pengirimnya?"Gue hanya bisa ngangkat bahu menanggapi pertanyaan sahabat gue itu. Padahal gue pengen banget mergokin orang yang naruh surat ini dalam laci gue, tapi gue gak pernah berhasil. Gue selalu kalah cepat sama dia."Udahlah Cin. Siapa tau Cuma orang iseng yang mau ngerjain Lo." Kata Santi."Tapi ini udah hari kelima San. Masak orang ngerjain sampai segitunya?""Ya udah liat aja besok, kalau masih ada surat di laci Lo berarti memang ada yang lagi suka sama Lo." Jelas Santi.Gue masih gak habis sama orang yang naruh surat di laci gue, kenapa dia ngelakuin itu? Gue yakin itu Cuma orang yang pengen ngisengin gue doang. Karena gue Cuma seorang cewek biasa yang gak ada istimewanya untuk di kagumi. Mungkin nama gue memang bagus tapi wajah gue gak sebagus nama gue. Gue juga gak terkenal di sekolah ini, gue hanya siswa biasa yang gak memiliki keistimewaan. Berbeda dengan Ciko, meskipun dia kalem dan jarang bersosialisasi dia adalah siswa yang pintar dan sering dikirim untuk mengikuti berbagai cerdas cermat atau sejenisnya.Gue lagi mengistirahatkan otak gue yang lagi mumet mikirin si pengirim surat misterius sambil terus memandangi pangeran gue. Raja di hati gue, siapa lagi kalau bukan kak Ciko. Dia tengah asyik dangan buku dan beberapa soal di hadapannya. Gue gak habis pikir sama dia, gimana caranya otak dia bisa encer kayak gitu. Gue baru liat soal kayak gitu aja mungkin gue udah pingsan duluan sebelum mulai mengerjakannya. Ah entahlah, gue segera beranjak meninggalkan tempat itu, tempat yang selalu bikin hati gue labih baik saat gue lagi banyak pikiran kayak sekarang ini.Keesokan harinya...Seperti biasa gue datang ke sekolah lebih awal, untuk mencari tau apa ada surat baru di dalam laci meja gue. Setiba di kelas, kelas itu masih kosong. Gue segera mendekati meja gue dan melihat laci meja gue. Ternyata ada surat lagi.'selamat pagi cinta, semoga hari ini kamu selalu tersenyum.'Maaf membuatmu penasaran, tapi tolong bersabar sedikit lagi ya cinta.Begitu isi surat singkat itu. Apa maksudnya bersabar sedikit lagi. Gue benar-benar bingung sekarang. Entah bagaimana surat ini bisa sampai ke dalam laci gue, gue ngerasa ada yang lagi mainin gue sekarang."Selamat pagi." Sebuah suara membuat gue kaget.Dan ternyata pemilik suara itu adalah Ciko, pangeran gue. Gue terpaku sesaat memandangi lelaki tampan ini. Apa mungkin gue lagi mimpi ya?"Dek!! Kenapa?" panggilnya. Lagi-lagi gue kaget."Oh eh, ada apa kak?" tanya gue gugup banget. Tau gak kalian gimana perasaan gue sekarang saat seorang yang kalian sangat kagumi lagi berdiri dihadapan kalian. Duh rasanya gue mau pingsan."Kamu Cinta kan?" duh darimana dia tau nama gue? Jangan-jangan pengirim surat itu dia lagi. Omg gue gak kuat. Apa yang harus gue lakuin sekarang."Dek. Kamu Cinta bukan?" ulangnya."Oh eh i iya kak." Gue benar-benar gugup sekarang."Ini."katanya menyerahkan sebuah amplop.OMG Cinta. Jangan-jangan pengirim surat itu beneran dia lagi?"I ini apa kak?" tanya gue gelagapan karena saking gugupnya."Itu surat, Cerry gak bisa masuk hari ini karena dia lagi sakit. Tolong kasihin ya sama guru yang ngajar nanti." Katanya. Wajah gue langsung berubah, ternyata gue gr."Oh ya kakak tau nama saya dari mana?" tanya gue penasaran." Tuh" Tunjuknya pada nama yang tertera di kemeja sekolah gue.Dengan rasa kecewa gue segera ninggalin tempat itu. Kenapa gue berharap pengirim surat itu kak Ciko, padahal itu gak mungkin terjadi. Gue segera pergi ke taman yang terletak di samping kelas. Gue terus melihat surat yang tengah gue pegang. Sebenarnya ini dari siapa tanya gue dalam hati. Rasa penasaran gue sudah memuncak sekarang, gue benar-benar ingin tau siapa pengirim surat ini.Dari kejauhan gue melihat kak Ciko yang tengah berjalan menuju kelasnya. gue berharap surat ini dari Lo kak. Kata gue dalam hati. Tapi hal yang gue harapkan itu mustahil terjadi meski dalam mimpi sekalipun."Lo kenapa Cin? Pagi-pagi udah ngelamun." Ujar Santi."Gue masih penasaran San sama pengirim surat itu." Jawab gue terus memandang kertas yang tengah gue pegang."Udahlah Cin, pada saatnya nanti dia pasti nemuin Lo." Kata Santi. Santi mungkin benar gue Cuma perlu bersabar.Hari ini sangat menyebalkan buat gue. Motor gue tiba-tiba mogok di tengah jalan yang sepi ditambah lagi hujan turun dengan derasnya. Gue bingung harus gimana hp gue juga low bat.Lengkap sudah penderitaan gue, ditengah guyuran hujan sebuah mobil berhenti tepat di depan gue. Gue jadi ketakutan karena disini sangat sepi. Orang tersebut membuka kaca depan mobilnya dan tampaklah kak Ciko di dalam mobil itu."Motornya kenapa dek?" tanya kak Ciko di tengah guyuran hujan yang makin deras."Gak tau kak, kayaknya mogok." Jawabku ."Ya udah lebih baik kita cari tempat berteduh dulu, nanti kamu bisa sakit kalau terus berdiri di tengah hujan kayak gini." Kata kak Ciko, gue ngerasa senang kak Ciko perhatian sama gue hehe. Hmm dingiinnn!!Dia minta gue masuk ke mobilnya dan membawa gue berteduh ke sebuah halte yang tak terlalu jauh dari tempat mogoknya motor gue. Baju gue udah basah semuanya. Gue kedinginan. Kak Ciko melepas jaket yang membalut badannya dan melingkarkan ke tubuh gue."Biar kamu gak kedinginan." Katanya sambil tersenyum. Maniss banget."Makasih kak." Aku membalas senyuman itu."Mending kamu saya antar pulang kayaknya hujan bakal lama deh." Ujarnya."Tapi kak apa gak ngerepotin kakak?" tanya gue basa basi padahal mah gue gak mungkin nolak kesempatan emas kayak gini. Ternyata ada untungnya juga tuh motor mogok."Gak masalah kok."Sepanjang perjalanan gue terus memperhatikan wajah tampan milik pemuda ini. Merasa diperhatikan dia menatap gue, gue jadi salah tingkah karena ketahuan tengah memperhatikannya."Kenapa kok kamu liatin saya kayak gitu. Apa ada yang aneh sama wajah saya?" tanya kak Ciko."Iya, ganteng banget." Cepat-cepat gue nutup mulut gue. Duh nih mulut sembarangan aja deh kalau ngomong. Liat tempat dulu dong baru ngoceh. Kak Ciko tersenyum melihat tingkah gue."Makasih" ucapnya pelan. Gue terus menunduk gak berani lagi mandang kak Ciko. Gue rasa pipi gue udah memerah karena saking malu."Rumah kamu dimana?" tanya kak Ciko."Di depan sana ada belokan kak rumah aku dekat sana." Jawabku masih menunduk.Mobil kak Ciko berhenti di depan rumah gue. Gue langsung turun dan gak lupa ngupapin makasih sama dia. Kak Ciko langsung balik sesudah ngantar gue pulang. Gue senang banget hari ini.Hari ke-7 gue kembali mendapatkan surat dalam laci meja gue. Perlahan gue baca surat itu isinya masih terdiri dari beberapa kata.'kamu cantik cinta, aku mencintaimu'Semoga hari ini kau terus tersenyum agar duniaku juga tersenyumgue melihat sekeliling berharap gue akan melihat pengirim surat ini namun tak ada siapapun. Gue berbicara cukup lantang " Siapa sih orang pengecut yang hanya berani naruh surat di laci meja gue? Kalau emang suka jangan bikin penasaran orang dong. Temuin langsung dan nyatain kalau suka." gue sengaja bicara cukup keras berharap pengirim surat ini mendengar gue dan keluar dari persembunyiannya. Namun tak terjadi apa-apa. Gue mulai putus asa untuk mencari tau pengirim surat ini. Mungkin ini hanya keisengan seseorang saja.Keesokan harinya.Gue kembali mendapatkan surat misterius. Tapi gue gak berniat untuk membacanya karena gue beranggapan itu hanya orang iseng yang mengirimnya. Gue masukin surat itu ke dalam tas. Awalnya gue ingin membuangnya tapi entah kenapa gue merasa enggan.Gue duduk di kursi taman untuk mengusir kejenuhan ini. Gue tetap penasaran dengan isi surat yang gue terima tadi pagi. Akhirnya gue mengambil surat itu dan membukanya.Maafkan aku cinta, yang hanya berani memandangmu dari kejauhanMaafkan diriku yang terlalu pengecut untuk sekedar menyapamuMaaf aku hanya berani menaruh surat di laci mejamuTapi satu hal yang harus kamu tau, aku telah jatuh cinta padamu.Aku selalu memandangmu ketika kau duduk di tamanAku selalu memandangmu saat kau datang di pagi hari dari tempat persembunyiankuAku menyukai dirimu sejak pertama kali melihatmuAku telah menguatkan dan memantapkan hatikuUntuk menemui dirimu...Datanglah ke mejamu besok aku akan menunggumu.Gue masih menebak-nebak orang yang mungkin menulis surat ini, tapi gue gak tau juga. Gue udah mutusin besok gue akan nemuin orang sok misterius ini, semoga aja orangnya gak lagi ngerjain gue saat ini.Gue sangat penasaran sama pengirim surat cinta ini. Gue gak sabar menanti esok untuk mengetahui pengirim surat ini. Malam terasa panjang buat gue, mata gue sulit untuk terpejam.Pagi sekali gue udah bersiap untuk datang ke sekolah. Mama heran melihat tingkah gue pagi ini karena biasanya di hari minggu seperti ini gue akan bangun terlambat. Tapi pagi ini gue udah stand by untuk berangkat ke sekolah. Setelah pamit sama mama gue segera melaju motor gue ke arah sekolah.Sampai di sekolah gue langsung menuju kelas gue dimana biasanya surat itu gue temuin di meja gue. Tapi gue gak ngeliat ada siapapun disana. Apa gue datang kepagian ya batin gue. Gue ngelirik laci gue, ada sebuah surat lagi disana bersama dengan bunga anggrek kesukaan gue. Gue buka surat itu.Selamat pagi cinta.Terima kasih sudah datang.Aku minta maaf membuatmu penasaran lagi.Sekarang aku sedang menunggumu di tempat aku biasa memperhatikanmu.Gue berpikir sejenak. Tempat aku biasa memperhatikanmu. Gue segera berlari menuju taman yang tak jauh dari kelas gue.Disana seorang pria sedang duduk sambil menulis sesuatu. Tapi gue hanya melihat punggung pria itu. Gue mendekat perlahan pada pria tersebut. Setelah dekat gue terkejut saat tau pria itu adalah kak Ciko. Si pangeran gue."Kak Ciko? Kakak ngapain disini?" tanya gue padanya."Saya sedang nunggu kamu Cinta." Jawaban kak Ciko sungguh membuat gue sangat terkejut."Nunggu aku? memang ada apa Kak?" gue bertanya serius sambil menatap lekat mata kak Ciko.Dia hanya menganguk sambil tersenyum manis sekali."Maaf ya Cin saya begitu pengecut hingga saya hanya berani naruh surat cinta di laci mejamu dan bikin kamu risih akhir-akhir ini." Gue terpaku beberapa saat mencoba mencerna ucapan kak Ciko barusan."Saya takut kamu tidak menyukai saya Cinta. Jadi setiap hari saya duduk di taman ini hanya untuk memperhatikan kamu. Saya hanya sok sibuk mengerjakan sesuatu padahal saya hanya ingin memperhatikannu di taman ini, saya gak tau harus mulai dari mana makanya saya naruh surat itu di laci kamu beberapa hari terakhir." gue sungguh tak percaya apa yang baru saja di ucapkan kak Ciko. Gue memandangnya lekat mencari serat candaan dari kedua mata kak Ciko namun gue tak menemukannya. Hanya ada ketulusan di kedua mata indah itu."Setiap sore saya datang ke sekolah untuk menaruh surat dalam laci mejamu." Gue masih tak percaya dan diam bagai patung."Waktu saya ngantar kamu pulang saya hanya diam itu karena saya terlalu gugup di dekat kamu Cinta. Sekarang saya beranikan diri saya buat cerita ke kamu karena saya takut kehilangan kamu jadi saya mantapkan hati saya buat nemuin kamu dan ceritain semuanya hari ini sama kamu."Dada gue terasa sesak. Gue mencoba menenangkan diri gue, jantung gue udah mau jatoh dari tadi. Untung gak jadi kalau sampai jantung gue jatuh gimana?"Saya cinta sama kamu cinta. Kamu mau jadi pacar saya?" Kata kata itu membuat gue menangis karena terharu, dari dulu gue udah mimpiin saat-saat kayak gini dan akhirnya momen ini terjadi juga.Eh tunggu! Sekarang gue gak lagi mimpi kan? Kalau semua ini hanya mimpi entahlah lebih baik gue mau bunuh diri aja deh.Tangan kak Ciko mengusap air mata gue. Gue bingung kenapa gue malah nangis dapatin kata-kata seindah itu dari seseorang yang gue kagumin sejak lama."Kamu kenapa nangis? Kalau kamu gak suka sama saya gak apa-apa kok. Saya gak marah. Tapi saya gak suka liat orang yang saya sayang nangis karena saya." Kak Ciko menghapus air mata gue yang kembali menetes mendengar ucapanya.Gue memeluk pemuda ini dan kembali menangis dalam pelukannya. Gue gak nyangka aja kalau kak Ciko ternyata juga sering merhatiin gue diam-diam sama kayak yang gue lakuin ke dia. Semuanya terasa seperti mimpi buat gue."Kalau kamu gak suka sama saya gak apa-apa kok cin. Tapi kamu jangan nangis terus, nanti saya juga nangis." Gue tersenyum mendengar kata-katanya barusan."Aku emang gak suka sama kakak. Tapi aku udah jatuh cinta sama kakak." Ucap gue.Dia terpaku tak percaya dengan apa yang gue katakan."Aku juga sering merhatiian kakak di taman ini, aku duduk di taman ini Cuma buat merhatiin kakak. Tapi kakak selalu sibuk dengan kegiatan kakak jadi aku berasumsi kalau kakak gak suka sama aku." Jelas gue padanya.Kak Ciko tersenyum mendengar apa yang gue ucapkan barusan. Dia tampak sangat bahagia. Wajahnya memancarkan aura kebahagiaan yang sangat jelas terlihat."Tapi kenapa kamu nangis barusan?" tanyanya heran."Aku hanya terharu mendengar kakak juga menyukaiku dan memperhatikan ku dari jauh sama seperti apa yang aku lakuin sama kakak selama ini." Jawab gue.Kak Ciko kembali tersenyum sangat indah. Gue membalas senyuman itu."Itu artinya kamu sekarang adalah pacar saya?" tanya kak Ciko.Gue hanya mengangguk menandakan 'iya'. Ternyata pengirim surat cinta di laci meja gue adalah seseorang yang gue harapkan. Gue memeluk kak Ciko dan ada kenyamanan disana. Bersama seseorang yang gue cintai dan mencintai gue dengan tulus.THE END
Untuk seorang Sahabat
Hari ini adalah hari pertama kuliah. Rendi berangkat dengan terburu-buru karena takut terlambat. Setiba di kampus Rendi bertemu dengan seorang gadis cantik yang membuatnya penasaran, Rendi terus memerhatikan gadis itu dari kejauhan. Hingga hari menjelang malam Rendi tak bisa menghilangkan bayangan gadis itu dari benaknya.Keesokan harinya Rendi menanyakan perihal gadis itu pada temannya yang kebetulan sekelas dengan gadis itu. Rendi meminta temannya mengenalkannya pada wanita cantik yang membuatnya penasaran itu. Akhirnya setelah berpikir sekian kali Rendi memberanikan diri untuk menghampiri gadis itu."Hai" sapa Rendi masih ragu.Gadis itu menoleh dan tersenyum pada Rendi yang membuat Rendi ingin pingsan saat itu juga."Ya?" sahut gadis itu keheranan."Boleh kenalan gak? Nama gua Rendi." Ujar Rendi mengulurkan tangannya dan tersenyum manis."Oh, aku Kania. Kamu bisa manggil aku Nia." Jawab gadis bernama Nia itu dan menyambut uluran tangan Rendi."Aku dari fakultas teknik, kamu sebdiri?" Tanya Rendi sambil menyembunyikan kegugupan nya."Aku fakultas pendidikan." Jawab Nia tak lupa dengan senyuman manisnya.Kebetulan fakultas teknik dan pendidikan bersebelahan hanya di batasi sebuah jalan yang mengarah ke gerbang kampus.Sejak perkenalan itu Rendi dan Nia pun sering bertemu. Mereka juga sering jalan bareng untuk mengisi waktu luang atau sekedar jalan-jalan menghirup udara segar.Suatu hari Rendi memberanikan diri menyatakan perasaanya pada Kania."Nia." suara Rendi terdengar lembut bahkan sayup-sayup di pendengaran Nia.Nia menoleh ke arah Rendi yang memandang lekat pada kedua bola mata bening milik Kania. Tiba-tiba jantung Rendi berdegup kencang, ia segera menundukkan pandangan dari tatapan mata Kania."Nia, sebenarnya aku..." kalimat itu terhenti begitu saja."Kamu kenapa Ren?" Kania mencoba menyelami pikiran pemuda tampan di depannya.Rendi memberanikan dirinya untuk menatap mata indah Kania. Tatapan Rendi yang tajam membuat Kania menundukkan kepala tak sanggup beradu pandang dengan mata milik Rendi."Sebenarnya aku suka sama kamu Nia. Aku udah suka sama kamu sejak pertama kali aku melihat kamu." Akhirnya Rendi berhasil mengatakan kalimat itu dengan jelas.Kania terdiam untuk beberapa saat mendengar penuturan Rendi barusan. Sejujurnya Kania senang mendengar kata-kata itu dari Rendi, apalagi Kania juga memiliki perasaan yang sama tapi Kania bingung harus menjawab apa. Dia tau bahwa sahabatnya juga mencintai Rendi.Di satu sisi Kania ingin menerima cinta Rendi karena dia juga memiliki rasa yang sama tapi di sisi lain Kania tak mau melukai hati sahabatnya. Kania bingung harus bagaimana, haruskah dia mengikuti kata hatinya dan melukai hati sahabatnya atau haruskah dia menyakiti hatinya demi sahabatnya sendiri?"Nia. Kamu kenapa?" Rendi menyadarkan Kania dari kutertegunnya."Aku,...." Kania bingung harus menjawab apa."Kalau kamu gak bisa jawab sekarang gak apa-apa kok Nia." Kata Rendi memendam kekecewaannya."Aku juga Ren. Aku juga suka sama kamu sejak lama." Kania tak mampu membohongi dirinya sendiri.Dia hanya mengikuti apa yang hatinya katakan dan hati Kania mengatakan bahwa dia harus menerima Rendi. Bahkan Kania sudah menyukai Rendi sejak perkenalan itu.Mendengar kabar bahwa Rendi dan Kania sudah jadian Caca, sahabat Kania yang juga menyukai Rendi jatuh sakit. Caca memang sudah mengidap penyakit kanker hati.Akhirnya Kania tak tega melihat kondisi sahabatnya itu, meskipun Caca tak pernah marah pada Kania tapi Kania tau betapa terpukulnya Caca mendengar dia sudah jadian dengan Rendi. Kania semakin sedih setelah dokter memvonis bahwa umur Caca hanya satu bulan lagi.Setelah berpikir keras akhirnya Kania membuat sebuah keputusan. Sore ini dia sudah janjian dengan Rendi, kekasihnya."Ada apa yank?" tanya Rendi merangkul Kania dari belakang."Kamu udah kangen ya sama aku?" sambungnya.Kania melepaskan rangkulan Rendi, Rendi heran dengan tingkah kekasihnya itu."Rendi kamu sayangkan sama aku?" Kania bersuara tanpa berani menatap mata kekasihnya."Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku sayang sama kamu." Jawab Rendi dan menggenggam tangan Kania erat."Kalau gitu kamu maukan melakukan sesuatu untukku?" Tanya Kania serius."Apapun akan aku lakukan untukmu sayang. Sebenarnya ada apa? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu." Tanya Rendi sungguh-sungguh sambil menatap mata indah milik kekasihnya itu."Kalau gitu kamu maukan ninggalin aku dan mendampingi Caca?" tanya Kania."Sayang ada apa ini? Apa yang membuat kamu bicara demikian?" tanya Rendi.Dia merasa terluka melihat duka di mata wanita yang ia cintai. Rendi tak tega melihat wajah orang yang dicintainya begitu sedih, tak ada senyuman manis yang selama ini selalu terpatri di sana."Ren apa kamu tau kalau Caca sayang sama kamu? Dia cinta sama kamu Ren. Dan sekarang dia sedang sakit dan membutuhkan kehadiran kamu, Caca sangat membutuhkan dorongan dari orang yang dia sayangi Ren dan orang itu adalah kamu." Jelas Kania dalam derai air matanya."Tapi aku tidak mencintai Caca. Aku hanya mencintai kamu Nia." Rendi ikut kalut, dia tau betapa Nia sangat menyayangi Caca tapi Rendi tak ingin mengorbankan perasaannya yang tulus untuk Nia."Kalau memang kamu cinta sama aku tolong lakukan itu demi aku Ren, lakukan itu demi cinta kamu ke aku. Tolong dampingi Caca di masa sulitnya ini." Kania tak kuat lagi membendung air matanya.Kania terus memohon pada Rendi sambil menangis. Sebenarnya dia merasa bingung apa yang membuatnya menangis entah kasihan melihat kondisi sahabatnya atau rasa takut kehilangan dan melepaskan Rendi.Rendi tak tega melihat Kania terus memohon, akhirnya dia pun menuruti kemauan kekasihnya itu untuk mendampingi dan merawat Caca di rumah sakit.Meski sebenarnya Rendi tak mau melakukan itu tapi demi membuktikan cintanya pada Kania dia lakukan juga.Hari-hari Kania menjadi suram semenjak Rendi merawat Caca. Tak ada lagi kebahagiaan di wajah cantik milik Kania. Apalagi setiap dia mengunjungi rumah sakit dan melihat perhatian yang diberikan Rendi pada Caca yang membuat Kania terluka dan akhirnya menangis lagi."Kenapa harus menangis? Bukankah ini yang Gue inginkan?" tanya Kania pada dirinya sendiri.Meskipun tak tega pada Kania, Rendi tetap menjaga dan merawat Caca dengan penuh perhatian dan kesabaran. Bukankah ini permintaan Kania? Jadi aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar mencintainya.SATU BULAN KEMUDIAN....Kania tak kuasa menahan tetesan air mata yang membasahi kedua pipinya. Akhirnya Caca menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum meninggalkan dunia ini Caca menuliskan sepucuk surat untuk sahabatnya, Kania."Ca kenapa Lo ninggalin Gue secepat ini Ca? Padahal Gue baru lihat Lo bahagia?" Kania terisak.Kania sungguh tak menyangka kebahagiaan sahabatnya begitu cepat berlalu. Kania sangat terluka atas kepergian Caca."Nia, sebelum meninggal Caca menitipkan surat ini buat kamu." Kata Rendi memberikan sepucuk surat pada Kania.Dalam hati Rendi masih sangat mencintai Kania, Rendi pun tak pernah marah pada wanita itu karena dia tau kalau Kania pun terluka dengan semua kejadian ini.Kania menerima surat itu dengan hati remuk. Rendi benar-benar tak tega melihat keadaan Kania. Ingin rasanya Rendi mendekap wanita yang dicintainya itu erat-erat. Hati Rendi sungguh sedih melihat wanita yang ia sangat cintai dalam kondisi yang kacau.Perlahan Kania membuka surat itu. Hanya ada beberapa baris kalimat yang ditulis tangan dan Kania sangat mengenal tulisan tangan itu.Dear Kania ,,S ahabatku yang baik hati ...Nia pas Lo baca surat ini mungkin Gue lagi tersenyum memandang Lo dari atas sana.Nia Gue sangat berterima kasih sama Lo karena telah sempat membagi kebahagiaan Lo sama Gue sebelum Gue tiada.Gue juga minta maaf ya Nia, Gue tau hati Lo pasti hancur banget pas ngeliat orang yang Lo sayang merhatiin Gue. Tapi Rendi melakukan itu semua karena dia sayang sama Lo Nia. Jadi Gue mohon kembalilah pada Rendi.Jangan sia-sia kan dia Nia. Hiduplah bahagia sama Rendi. Dialah cinta sejati Lo Nia.Dari yang mencintaimu...Caca,,Kania kembali terisak setelah membaca surat itu. Dia merasa bersalah pada Rendi sekaligus berterima kasih karena telah membuat sahabatnya bahagia sebelum tiada. Akhirnya Kania memutuskan untuk kembali pada Rendi yang mencintainya dengan tulus dari hati seperti dia mencintai pria itu.=TAMAT=
Pengirim Surat Misterius
Mencintaimu bagaikan berpegang pada akar yang berduri tajam,Memilih untuk jatuh ke jurang yang dalam,,Atau tetap bertahan dengan perih yang teramat sangat...Kata-kata Itulah yang aku rasakan setiap saat aku mengingatmu. Aku sadar aku takkan pernah bisa menggapaimu karna memang aku tak pantas berada di sebelahmu. Kau begitu sempurna untukku, tapi hatiku tak mampu memahami semua itu. Hatiku tak mampu untuk menyingkirkanmu dari sana, kau memiliki tempat yang sangat luas di dalamnya dan jika kau keluar dari hati ini maka hatiku pasti akan kosong.Namaku Wulandari, aku biasa dipanggil Wulan. Kini aku duduk di kelas 2 SMA favorit di kotaku. Sudah dua tahun belakangan ini aku jatuh cinta pada idola sekolah. namanya Ravid. Dia tampan, Ketua basket, peringkat dua di sekolah, serta status sosial tinggi, membuatnya terkenal di sekolah.Banyak wanita yang menyukainya, tentu saja termasuk aku. Tak sedikit pula yang memberikannya surat cinta atau hadiah karena Kak Ravid yang keren dan hebat. Aku tak tau sejak kapan tepatnya aku mulai menyukai Kak Ravid.Meskipun banyak wanita yang menyukainya tapi kak Ravid tak pernah menjadikan salah satu dari mereka sebagai pelabuhan hatinya. Padahal banyak wanita yang mengejar cintanya bahkan tak jarang mereka secara terang-terangan mengungkapkannya. Namun kak Ravid belum juga melabuhkan hatinya pada salah satu dari mereka.Aku merasa senang dengan semua itu meskipun aku sadar aku takkan pernah menjadi pelabuhan hatinya. Banyak cewek yang lebih cantik dan lebih pintar saja di tolak oleh Kak Ravid apalagi gadis biasa seperti diriku. Tak mungkin dia akan melirikku. Duh jangan mimpi ketinggian kali Lan.“Lan buruan ke lapangan.” Panggil Pak Doni.“Baik Pak.” Jawabku sambil berjalan menuju lapangan basket.Aku memang salah satu pengurus organisasi basket. Aku baru bergabung seminggu yang lalu. Alasanku bergabung dengan club basket sudah jelas karena Kak Ravid. Berada di club basket memang melelahkan apalagi aku adalah satu-satunya anggota perempuan di club ini. Apalagi pekerjaannya cukup berat, membawa bola-bola basket untuk anak-anak latihan dan setelah latihan harus menbereskan bola-bola itu untuk disimpan kembali serta mengurus konsumsi untuk seluruh anggota selama latihan berlangsung, aku juga bertanggung jawab jika ada bola basket yang hilang.“Sini Gue bantu.” Seseorang mengagetkanku. Aku terkejut mengetahui bahwa orang tersebut adalah Kak Ravid.Aku hanya diam karena tak percaya bahwa Kak Ravid mau membantuku. Aku jadi salah tingkah di hadapannya.“Gak usah Kak, ini udah tugas saya.” Kataku dan mengambil kembali keranjang berisi bola yang direbutnya dari tanganku barusan.“Udah biar Gue bantuin aja, lagian itu berat loh.” Lagi-lagi dia merebut keranjang itu.“Ya udah.” Aku berjalan menuju lapangan tanpa menghiraukan Kak Ravid lagi. Aku merasa sangat gugup di depannya barusan. Ku harap dia tak tau kalau aku tadi salting.Setelah club basket selesai latihan aku kembali memunguti bola-bola basket yang tadi mereka pakai untuk latihan dan memasukkan bola-bola itu kembali untuk di simpan di ruang penyimpanan.“Biar Gue aja yang nyimpam bola-bola itu.” Kata seseorang dan orang itu adalah Kak Ravid. Lagi? Ya Tuhan kuatkan lah jantung ini agar tak melompat ke luar.“Gak usah Kak, biar saya saja. Nanti malah ngerepotin Kakak.” Jawabku berusaha mati-matian meredam rasa gugupku.“Gak kok. Sama sekali gak repot. Kunci ruangannya sama kamu kan?” Tanya Kak Ravid.“Iya Kak!” Aku mengangguk, masih merasa gugup berhadapan dengan pemuda tampan yang setiap saat mengisi ruang hatiku.“Ya udah yuk.” Kak Ravid berjalan mendahuluiku. Aku hanya melangkah canggung di belakangnya, mengikutinya seperti anak ayam yang mengikuti induknya.“Nama Lo siapa?”Ya ampun Lan. Dia nanyain nama Lo? Mampus deh Lo sekarang. Apa mungkin Gue lagi mimpi ya sekarang? Makanya Kak Ravid lagi bareng Lo dan ngajak Lo kenalan. Aku mencubit tanganku sendiri sekuat mungkin, untuk memastikan ini mimpi atau bukan.“Aduhhh...” keluhku. Berarti Lo gak lagi mimpi Lan.“Lo kenapa?” Tanya Kak Ravid menyejajari langkahku, aku hanya menggeleng kikuk tak tau bagaimana harus menjelaskan padanya situasiku saat ini.“Oh, gak apa-apa kok Kak.” Jawabku makin gugup, menundukkan kepala dan aku langsung melangkah mendahului Kak Ravid.“Gue tadi tanya nama Lo. Kok gak dijawab sih?” Kak Ravid ikut mempercepat langkahnya mengimbangi langkahku, sehingga lagi-lagi langkah kakiku kalah oleh langkah lebarnya.“Wulan Kak, nama saya Wulandari.”“Oh Wulan, Gue Ravid” jawabnya singkat. Kembali aku mengangguk kikuk, tak menyangka akan mengalami momen seperti saat ini. Berasa lagi syuting sinetron tau gak.“Saya udah tau kok Kak.” Jawabku pelan, sebisa mungkin agar tak terdengar olehnya.“Lo tau dari mana nama gue?” Duh kok dia dengar sih? Padahal tadi aku sudah bicara sepelan mungkin ternyata kak Ravid malah mendengarnya.“Siapa sih Kak yang gak kenal sama kakak, kapten tim basket sekolah ini yang sudah menyumbangkan banyak penghargaan untuk sekolah. Semua orang juga kenal kali sama kakak.” Balasku mencoba tersenyum untuk sedikit menenangkan perasaanku yang gak karuan sejak tadi.“Gak juga lah. Banyak juga kok yang gak kenal sama gue. Lo gak usah muji ketinggian kayak gitu.” Ujarnya tersenyum manis, membuat debar di dadaku meningkat.Kalau tiap hari ngeliat senyum semanis itu bisa-bisa gue diabetes nanti. Terus gue jantungan karena jantung gue gak bisa berdetak normal. Duh mikir apaan sih gue sekarang. Nikmatin aja momen indah lo Lan, gak usah kebanyakan mikir. Nikmati aja.Aku benar-benar gak percaya dengan apa yang aku alami hari ini. Kalau tau akan seperti ini pasti aku akan bergabung dengan club basket sejak lama. Benar-benar berbeda dengan Ravid yang aku lihat selama ini dari kejauhan.Selama ini aku hanya tau bahwa kak Ravid itu orangnya dingin dan terkesan cuek. Bahkan Dara temanku, yang dulu anggota club basket sebelum aku menggantikannya seminggu yang lalu mengatakan bahwa dia sudah tak tahan lagi dengan sikap cuek kak Ravid. Tapi entah kenapa dia membantuku hari ini bahkan menanyakan namaku segala. Iih pokoknya aku merasa senang bangettt hari ini, ingin rasanya aku meneriakkan pada dunia bahwa aku bahagia.Waktu pun berlalu dengan cepat. Kak Ravid pun selalu membantuku setiap saat. Aku merasa senang karena hal itu. Dia selalu membantuku membawakan bola-bola basket. Hari ini dia bilang dia ingin curhat padaku. Dia ingin mengajakku ke kantin istirahat nanti. Aku tanpa pikir panjang langsung menyambut ajakan itu dengan senang hati.DI KANTIN...“Kak Ravid mau ngomong apa?” tanyaku langsung saking penasaran.“Gue mau curhat sama Lo Lan” Katanya.“Mau curhat? Tentang apa kak?” tanyaku penasaran.“Lan sebenarnya gue lagi naksir sama seseorang, tapi gue takut dia gak balas perasaan gue.”Deg!! Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Apa maksudnya bilang gini sama aku? Kenapa aku jadi salting gini?“Sama siapa Kak? Siapa orang yang beruntung itu?” tanyaku pelan. Aku berharap jawabanya adalah aku. Hehe“Gue rasa Lo kenal kok sama dia. Gue udah suka sama dia sejak lama Lan, dan gue mau dia tau apa yang gue rasain” Jawabnya pelan sambil menyesap es teh manis yang tadi di pesannya.Pupus sudah harapanku untuk bersama kak Ravid. Sekarang dia sedang jatuh cinta pada seseorang, siapakah dia? apa mungkin kak Lysa teman sekelas kak Ravid yang mendapat peringkat pertama atau Dara yang sering ngejar-ngejar Kak Ravid. Tapi kenapa hatiku terasa sangat perih, seperti ada yang menusuk hatiku dengan jarum yang sangat banyak dan itu rasanya sangat menyakitkan.Aku mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis di depan kak Ravid, aku tak ingin air mataku jatuh di hadapannya. Setidaknya aku harus terlihat baik-baik saja di depan Kak Ravid, aku tak ingin perasaanku malah akan merusak kebahagiaan yang tengah di rasakan Kak Ravid saat ini.Aku tak ingin Kak Ravid merasa bersalah jika ia tahu bahwa aku menyukainya, bukan! Aku mencintainya. Apalagi jika sampai ia menjauhiku, oh Tuhan jangan sampai hal itu terjadi. Aku sudah cukup bahagia berkesempatan dekat dengan Kak Ravid meski pun aku tak bisa memilikinya. Tak apa.“Kalau gitu selamat ya kak.” Aku berusaha tersenyum dan menahan air mata ini untuk tidak terjatuh di depan kak Ravid.“Apa nya yang selamat Lan? Gue juga belum jadian kok sama dia.” Jawabnya sambil tersenyum. Namun senyumnya itu hanya menambah perih di hatiku.Selera makanku langsung hilang seketika itu. Entah kenapa rasanya aku ingin segera meninggalkan tempat itu secepatnya. Aku tak kuat berlama-lama berada di situ karena mungkin saja air mata yang sejak tadi berusaha aku tahan akan jatuh bercucuran.“Good Luck ya kak. Aku selalu doain yang terbaik buat kakak.” Aku menguatkan diriku dan mencerna kata-kata yang kuucapkan barusan.“ Kalau gitu aku mau ke kelas dulu ya kak. Aku lupa tugasku belum siap.” Ujarku dan tanpa menunggu jawaban darinya aku segera berlari meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sangat hancur.Lalu untuk apa semua kebaikan yang kamu berikan selama ini kalau hanya untuk mempermainkan perasaanku. Untuk apa kak? Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak peduli semua mata telah tertuju kepadaku. Aku sedang merasa terluka dan aku tak peduli dengan orang di sekelilingku aku hanya ingin melepaskan kepedihan ini.Satu minggu kemudian‘ Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya’ Temui aku di cafe ceria jam 4 sore ini.-G-Aku bingung saat menemukan surat itu di dalam tasku, terselip dalam buku catatanku. Bagaimana mungkin surat itu bisa sampai ke dalam tasku. Apa mungkin seseorang salah meletakkan surat ke dalam tasku? Lalu dari siapa surat itu.Siapa itu G? Apa mungkin Galih si cowok nakal adik kelasku itu atau Gilang anak kepala sekolah atau siapa? Aku sungguh dibuat bingung atau jangan-jangan ada yang pengen ngerjain aku. Kupandangi surat yang ditempel dengan huruf-huruf yang diketik sehingga menjadi beberapa kata dan bagaimana bisa masuk ke dalam tasku.Apa aku mendatangi cafe yang tertulis di dalam surat itu saja? tapi bagaimana kalau itu hanya orang iseng yang pengen ngerjain aku atau suratnya salah alamat.Akhirnya karena terlalu penasaran aku tak mempedulikannya dan mendatangi juga cafe itu. Tepat jam 4 sore aku sampai di cafe itu. Aku ngelirak-lirik kesana kemari tapi aku mata ku tak menemukan si pengirim surat misterius itu. Aku hanya mendapati Kak Ravid tengah duduk di kursi dekat pojokan. Dengan spontan aku memanggil namanya.“Kak Ravid?” Orang yang dipanggil menoleh.“Wulan? Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya Kak Ravid.“Oh itu,.. aku lagi nunggu seseorang. Kalau Kak Ravid?”“Gue juga lagi nungguin seseorang.” Kak Ravid tersenyum sangat manis. Aku gak kuat, Oh aku gak boleh terperangkap oleh senyuman itu lagi.“Kalau gitu aku kesana ya kak.” Kataku menunjuk kursi yang masih kosong yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya sekarang.“Lan gimana kalau sambil nunggu mereka datang Lo temanin Gue duduk disini dulu.” Ujar Kak Ravid.Sebenarnya aku ingin menolak tapi gak enak harus ngomong gimana. Padahal kak Ravid gak pernah salah sama aku. Meskipun aku merasa kecewa padanya tapi itu semua bukanlah salah kak Ravid melainkan salahku sendiri yang mengira bahwa dia menyukaiku. Akunya saja yang begitu mengikuti perasaan hingga baper. Padahal kan kak Ravid biasa saja sama aku.Cukup lama kami menunggu tapi tak seorangpun yang aku kenal masuk ke dalam cafe baik seorang lelaki ataupun seorang wanita. Kalau dia seorang lelaki mungkin dialah sang pengirim surat misterius itu dan kalau dia seorang perempuan mungkin dialah yang sedang ditunggu kak Ravid yang katanya aku mengenal orang itu.“Sepertinya dia gak akan datang.” Kata kak Ravid perlahan lebih kepada dirinya sendiri.“Kayaknya yang aku tunggu juga gak akan datang.” Kataku.“Mungkin dia gak suka sama Gue Lan.” Dia senyum tipis lebih seperti dipaksakan.Aku sedikit tertawa mendengar kata-katanya. Hanya orang bodoh saja yang tidak menyukai seorang Ravid. Bahkan orang bodoh pun akan jatuh cinta padanya. Dan hanya orang gila yang akan menolak cintanya.“Kenapa ketawa?” Tanya kak Ravid.“Hanya orang yang tidak waras saja yang akan menolakmu kak.” Kataku masih tertawa kecil.“Memang apa alasan seseorang tidak akan menolakku Lan?” dia bertanya sungguh-sugguh sambil menatapku datar.“Kak Ravid ganteng, kapten basket, kak Ravid juga baik pintar lagi. Pokoknya gak akan ada alasan seorang wanita untuk menolak cinta kakak. Ya kecuali cewek itu gak waras.” Jawabku.Dia menatapku tajam. Aku jadi salah tingkah dibuat olehnya. Tiba-tiba dia menggenggam tanganku lembut. Dia menatap kedua mataku yang membuat aku tertunduk tak sanggup beradu pandang dengannya.Secepat kilat aku menarik tanganku dari genggamannya. Aku takut terjebak lagi oleh perasaanku yang saat ini pun aku sendiri belum bisa keluar dari perasaan itu.Kak Ravid terkekeh. Sungguh pemandangan yang langka dari seorang Ravid. Aku menatapnya tajam mendengar dia tertawa. Apanya yang lucu? Batinku.“Sekarang aku sudah tau siapa orang yang tidak waras itu.” Katanya sambil tertawa kecil.Aku bingung mendengar ucapannya, apa maksudnya? Tunggu barusan dia bilang aku bukan Gue? Masih dalam kebingunganku dia mengatakan sesuatu yang benar-benar membungkam mulutku tak mampu berkata-kata lagi.“Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamulah dunianya.” Aku tersedak mendengar kata-kata itu. Jangan-jangan surat itu...?“Surat itu dari aku. Wulandari aku suka sama kamu. Aku harap kamu adalah orang waras.” Katanya lagi. Kurang ajar berarti selama ini Gue gak baper.Aku tak tau harus bicara apa. Mulutku benar-benar terkunci rapat. Apa mungkin aku masih mimpi? Aku menatap pemuda tampan di hadapanku, apa mungkin dia sedang bercanda. Tapi aku tak berhasil menemukan candaan dari dua mata indah itu.“Apa sekarang kita sudah bisa pacaran?” tanya kak Ravid.Aku lagi lagi tak menjawab pertanyaan itu. Aku masih belum mempercayai semua ini.“Aku tau kamu bingung dengan semua ini, tapi jujur sebenarnya aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Aku juga tau kalau kamu sering memperhatikan aku kalau aku sedang main basket dari kejauhan.” Sekarang kedua pipiku sudah memerah mungkin lebih merah dari kepiting yang sedang ada di depanku mendengar ucapanya barusan.“Gimana apa kamu mau menerima aku jadi pacarmu?” kak Ravid tersenyum sangat manis semanis madu.Sekarang kedua mataku sudah berkaca-kaca dan siap menjatuhkan dua butir bening yang sejak tadi tertahan disana. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan barusan.Dia kembali tersenyum manis sekali dan mengacak rambut hitam milikku, dan aku membiarkan kejadian itu berlangsung. Hari ini adalah hari yang paling indah di dalam hidupku dan sampai mati aku takkan pernah melupakan hari ini.Aku merasa sangat senang hari ini. Tak kusangka kini mimpiku jadi kenyataan. Yah, awalnya aku hanya memiliki kak Ravid dalam mimpi-mimpi malamku tapi sekarang Ravid adalah pacarku. Dia adalah milikku. Dan aku takkan pernah melepaskannya. Ternyata -G- adalah Gusti Ravid, orang yang aku cintai sejak lama. Si pengirim surat misterius.Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya. Dan sekarang duniaku adalah Gusti Ravidku.=TAMAT=
Ketika Senja Bertemu Fajar
Hari senin yang ceria yang mungkin saja menjadi bahagia, dimana tepat hari ini adalah hari pertamaku mengenakan seragam berwarna putih abu-abu, ya di SMA."Ibu, Senja berangkat dulu. Assalamu'alaikum." ucapku sambil mencium tangan ibu."Iya, Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan." Jawab ibu sambil mengantarku sampai depan pintu.Setelah sampai di sekolah,kulangkahkan kakiku sembari melihat papan kelas, setelah cukup lama berjalan akhirnya aku melihat papan kelas bertuliskan "X.c". Ya itu kelasku.Aku memilih duduk paling depan nomor tiga dari barat tepat di depan papan tulis. Aku duduk bersama Pelangi, gadis cantik berambut lurus sebahu dan baik hati pula.Karena hari ini merupakan hari pertama jadi tidak ada pelajaran dan sebagai gantinya adalah perkenalan dan membentuk perangkat kelas.Aku dipercayakan sebagai sekretaris di kelas sedangkan sebagai ketua kelas adalah seorang laki-laki bernama Fajar, Fajar Mahendra.Sebenarnya aku kurang setuju Fajar jadi ketua kelas aku lebih suka pria pendiam yang duduk si belakangku namanya Andre. Tapi saat voting di laksanakan yang terpilih malah Fajar bukan Andre jadi apa boleh buat aku harus menerima keputusan musyawarah.Lagi pula banyak yang memilih Fajar karena wajahnya yang tampan, itu sih gak ngejamin sama sekali buat di jadiin kriteria ketua kelas bathinku.Satu bulan sudah aku sekolah di sekolah ini. Tak ada yang begitu istimewa dalam satu bulan itu. Aku menjalani hari-hari seperti remaja SMA kebanyakan, hanya saja aku lebih sibuk karena tugasku sebagai sekretaris kelas."Senja hari ini pak Lukman gak bisa datang karena beliau ada urusan, dia cuma nyuruh kita mengerjakan tugas. Jadi tolong kamu absen teman-teman kita ya." Perintah Fajar memberikan absen kelas padaku."Kamu aja yang ngabsen, kamu kan ketua kelas." Bantahku mengembalikan absen itu ke tangannya."Iya aku ketua. Kamu itu kan sekretaris jadi kamu harus dengarin kata ketua." Jelasnya membuatku menatap tajam ke arahnya.Enak saja dia main perintah seenaknya, memangnya dia pikir aku ini babunya apa? Trus aku bakal nurut aja gitu sama semua perintahnya? Gak akan."Aku itu sekretaris kelas bukan sekretaris pribadi kamu yang bisa kamu perintah seenaknya." Aku sangat kesal dengan dia yang sok ngebos itu. Padahal di sekolah ini kita sama, sama-sama siswa dan sama-sama nuntut ilmu bukan buat dia perintah seenak jidatnya aja."Ya udah." Dia merebut kembali absen tersebut dari tanganku dengan kasar dan berlalu ke meja guru untuk mengabsen kami satu persatu.Sejak saat itu Fajar tak pernah lagi menghargai aku sebagai sekretaris kelas. Dia mengerjakan semua tugas yang seharusnya aku lakukan tanpa bertanya terlebih dahulu padaku.Sikapnya itu tambah membuatku kesal dengan cowok sok satu itu. Dia menjalani peran ganda sebagai ketua sekaligus sekretaris, trus aku ini di anggap apa Makluk ghoib? Aku merasa sangat kesal terhadapnya. Hari ini aku akan melabrak anak itu, lihat saja nanti."Fajar!" dia menghentikan langkah mendengar panggilanku bahkan dia gak menoleh sedikitpun. Bikin gondok aja nih orang."Ada apa?" tanya Fajar datar seperti tak terjadi apa-apa."Kamu nganggap aku apa selama ini? Hah?" tanya ku dengan nada yang meninggi. Beberapa anak menoleh karena mendengar ucapanku."Maksud kamu?" dia tampak heran mendengar ucapanku. Tampang polosnya malah membuatku semakin dibakar emosi."Kamu ngerjain semua tugas aku sebagai sekretaris kelas maksud kamu apa? Kamu mau buktiin bahwa kamu hebat dan aku ini gak berguna gitu?" tantangku, aku tak menghiraukan lagi anak-anak tengah berbisik di sekeliling kami."Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak mau disuruh-suruh, ya jadi aku pikir aku akan ngerjain sendiri. Lagi pula aku hanya ingin membantu kamu.""Membantu?" aku tersenyum sinis. Aku tau ya nih anak cuma ingin cari perhatian aja, malah sok-sok an polos gak berdosa lagi."Bilang aja kamu mau dibilang hebat dan aku adalah orang yang gak bertanggung jawab. Iyakan?" aku benar-benar emosi berhadapan dengan pria ini. Dia merasa tak melakukan kesalahan apa-apa lagi. Sungguh menyebalkan."Oke oke. Aku minta maaf." Katanya dan berlalu "Dasar cewek pikirannya gak bisa ditebak." Bisik Fajar tapi aku mendengarnya dengan jelas, tentu saja emosiku yang baru mereda kini naik lagi sampai ubun-ubun."APA??"Tanyaku. Fajar terkejut dan membalikkan badannya."aku gak ngomong apa-apa kok." Jawabnya dengan wajah polos sambil tersenyum manis. Aku langsung beranjak meninggalkan tempat itu tanpa membalas senyuman ketua kelasku itu."Dia sangat menyebalkan." Gumamku menghenyakkan tubuhku di kursi."Senja kamu kenapa?" Pelangi menatap heran ke arahku.Beberapa bulan sekolah disini aku dan Pelangi sekarang sudah menjadi sahabat. Aku senang karena Pelangi adalah anak yang sangat baik dan juga perhatian padaku."Tuh ketua kelas nyebelin. Bikin gue kesal aja kerjaannya." Jawabku."Fajar? Kenapa lagi sama dia?""Iya, dia songong banget deh. Masa tugas gue sebagai sekretaris kelas diembat juga. Maunya apa coba? Mau nunjukin kalau dia itu hebat.""Itu tandanya dia perhatian sama kamu, dia gak mau kamu repot Senja sayang." Pelangi menatapku tajam."kenapa?" aku heran dengan tatapan Pelangi"Jangan-jangan Fajar suka sama kamu." Pelangi menyikutku pelan sambil tersenyum menggodaku.Aku menggeleng kuat, tak mungkin hal seperti itu terjadi. Memangnya ini ftv apa dimana dua orang yang saling membenci dan selalu bertengkar selalu berakhir dengan saling jatuh cinta satu sama lain? Ya gak lah. Ini adalah dunia nyata jadi mana ada hal seperti itu."Gak mungkin lah. Aku sama dia itu kayak kucing dan anjing, kayak siang dan malam. Gak mungkin ketemu. Sifat aku dan dia bertolak belakang." Jelasku menyakinkan Pelangi sekaligus diriku sendiri untuk tak terpengaruh oleh ucapan Pelangi barusan."Mungkin itu hanya pendapat kamu saja. Iya sih, dari nama kalian aja udah bertolak belakang. Mana mungkin senja bertemu fajar. Tapi kedua hal itu sama, Sama sama indah.""Sok puitis kamu." Cibirku. Pelangi hanya membalas dengan senyuman yang aku tak mengerti artinya apa.Hari-hari berikutnya aku tak bisa melupakan ucapan Pelangi beberapa waktu lalu, apa mungkin benar Fajar itu menyukaiku? Ah kenapa aku jadi begini sih? Ah Senja kamu gak mungkin suka sama dia kan. Sadar dong, ini bukan ftv.Sejak saat itu pula Fajar bersikap manis padaku seolah aku adalah seseorang yang spesial di kelas dari siswa lain. Hal itu pula lah yang mengawali rasa frustasiku akan hal aneh yang selalu aku rasakan saat sedang bersamanya.Aku sendiri bingung dengan sikap ketua kelasku itu tapi entah kenapa aku malah merasa senang. Malah sekarang aku bersahabat baik dengannya, dia yang awalnya tak aku sukai sekarang jadi temanku sendiri. Dia sangat pengertian melebihi teman perempuan, dia selalu tau apa yang aku suka dan tidak hal itu membuatku merasa nyaman."Senja!" panggil seseorang. aku menghentikan langkahku."Apa itu benar?" tanya Fajar setelah berada beberapa senti dariku."Apa?" tanyaku heran."Kamu jadian sama Tomi?" tanya Fajar serius dan menatap kedua bola mataku, entah kenapa aku jadi gugup dengan tatapan itu."Siapa yang bilang sama kamu?""Jadi benar?""Memang ada apa?" aku menatapnya heran."Tomi itu gak pantas buat kamu." Ujarnya sungguh- sungguh membuatku menundukkan wajah dalam-dalam."Lalu yang pantas siapa?" bisikku masih dengan kepala tertunduk namun tak ada jawaban dari lawan bicaraku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menatapnya, dia hanya diam sambil terus menatapku."Kamu?" lanjutku kini disertai dengan senyuman tipis seperti mengejek.Aku juga bingung dengan apa yang baru saja aku ucapkan dan entah keberanian dari mana aku menatap kedua bola matanya dengan tatapan tak percaya dan menuntut penjelasan."Bukan itu maksudku, Tomi itu playboy dia hanya ingin maiinin kamu.""Lalu kenapa kalau dia memang playboy?" tanyaku masih setia menatap ke arahnya.Fajar menatapku tajam dan aku membalas tatapan itu, namun sesaat kemudian aku menurunkan pandanganku karena tak sanggup menatap tatapan Fajar yang tajam bagai elang. Jantungku tak bisa di ajak bekerja sama di saat seperti ini."Dia hanya ingin menjadikanmu barang taruhan dengan teman-temannya. Dia gak serius sayang sama kamu.""Kenapa kamu peduli Jar?" tanyaku memandangi wajah tampan milik Fajar."Aku gak mau liat kamu sedih Senja.""Kenapa?" aku masih tak mengalihkan pandanganku dari wajah tampannya."Itu karena..." ucapan Fajar terputus.Wajahnya tampak menegang namun aku tau dia mencoba merilekskannya kembali agar tak ketahuan bahwa dia sedang gugup. Aku masih menunggu lanjutan dari kalimat itu."karena, karena aku sayang sama kamu Senja." Fajar menghembuskan nafas lega, wajahnya yang tadi menegang kini kembali rileks."Itu sebabnya aku gak mau kalau kamu jadian sama Tomi, bukan karena aku cemburu tapi karena Tomi bukan lelaki yang tepat buat kamu." Lanjut Fajar.Aku tetap diam menatap pemuda di depanku tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya. Aku bingung harus bagaimana saat ini. Apa yang harus aku ucapkan sekarang."Sebenarnya aku udah suka sama kamu sejak lama Senja, tapi aku gak tau harus bagaimana di depan kamu, aku selalu saja menjadi gugup setiap kali dekat kamu." Aku masih belum bereaksi sama sekali aku sungguh tak percaya dengan yang diucapkan Fajar tentangku."Semuanya terserah kamu aja, aku gak bisa maksa kamu buat mutusin Tomi. Aku hanya ingin kamu mengetahui siapa Tomi sebenarnya. Dan aku minta maaf dengan ucapanku barusan anggap saja aku gak pernah bilang itu semua ke kamu. Dan ya kita akan tetap berteman seperti biasa kok jadi kamu gak perlu kawatir." Jelas Fajar dan beranjak pergi meninggalkanku.Aku masih berdiri di tempatku, aku belum beranjak sejak tadi. Bahkan aku tak sadar kalau Fajar sudah pergi dari tadi. Aku tak menyangka kalau Fajar menyukaiku, kenapa aku tak sadar selama ini? Kenapa aku tak menyadarinya dari awal? Dan Tomi?Oh astaga ternyata ide gila Tomi berhasil membuat Fajar mengungkapkan perasaannya. Tomi adalah sepupuku dan dia memang playboy kelas teri.Dan benar aku pura-pura jadi pacarnya, itu juga terpaksa karena orang tuanya ingin dia fokus pada pelajaran jadi dia mengumumkan bahwa aku adalah kekasihnya supaya tak ada cewek-cewek yang mengganggunya. Sekalian supaya aku bisa mengawasinya dan melaporkan pada ortunya.Aku sungguh tak menyangka rencana gila Tomi yang menjadikan aku pacar statusnya berujung dengan pengakuan cinta Fajar yang sangat tak terduga.Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku mengejar Fajar dan menjelaskan semuanya padanya atau tetap membantu Tomi dengan mengorbankan perasaanku sendiri dan perasaan lelaki yang ku sayang?"Sayankkkk." Teriak Tomi dari kejauhan memecah keramaian."Jangan panggil aku sayang." Omelku setelah dia mendekat."kenapa Lo kan pacar gue." Aku melihat Fajar sekilas, dia hanya melewatiku dan Tomi."Apaan sih Tom." Ujarku menatap punggung Fajar yang berjalan menjauhi kami."Kamu lagi lihat siapa sih Say?""Tom aku mau ngomong sesuatu. Sini deh." Aku menarik tangan Tomi menjauh dari keramaian. Aku masih sempat melihat Fajar menatap aku dan Tomi dari kejauhan._"Beneran? Akhirnya tuh anak punya nyali juga." Kata Tomi setelah mendengar ceritaku."Kamu kenal ya sama Fajar Tom?""Gue pernah sekelas sama dia waktu SMP." Jawab Tomi.Aku hanya mengangguk kecil mendengar jawaban Tomi."Trus Lo jawab apa?" Tanya Tomi penasaran."Aku gak bilang apa apa Tom. Aku bingung mau bilang apa. Hehe." Aku cengengesan mengingat hal itu.Tomi memukul jidatnya sendiri, dia menatapku dengan raut kesal. Aku tau dia sangat kesal dengan sikapku yang lamban tapi aku hanya menampilkan senyuman polosku."Aduh pusing deh gue sama kalian berdua. Fajar udah punya nyali malah Lo nya yang bloon." Omel Tomi padaku."Itu semua juga karena lo Tom." Ujarku tak mau disalahkan begitu saja."Lah kok malah jadi salah gue?" tanya Tomi heran."Sekarangkan gue pacaran sama lo. Kalau gue jujur pada Fajar ketahuan dong kalau selama ini kita Cuma pacaran bohongan." Jawabku membela diri."Lo gak usah sok-sok an mikirin gue. Yang terpenting sekarang Lo bilang sama Fajar gimana perasaan Lo sama dia yang sebenarnya." Ujar Tomi. Aku terdiam mendengar saran Tomi barusan."Udah buruan sana cari Fajar sebelum dia makin salah paham sama Lo." Perintah Tomi.Dia memang kadang nyebelin tapi kadang bisa juga diharapkan. Makasih Tom kamu udah memberi aku saran yang berharga, aku janji gak akan melupakan kebaikan kamu hari ini."OKE." Kataku dan berlalu meninggalkan Tomi untuk mencari Fajar.Aku sudah keliling mencari Fajar tapi yang dicari tak kunjung ku temukan. Akhirnya aku berniat ke taman sekolah untuk melepas lelah setelah mengelilingi sekolah yang cukup luas.Namun langkahku terhenti saat aku melihat Fajar, dia tengah duduk di salah satu kursi di taman. Perlahan aku menghampiri pemuda itu, dia tampak sangat tidak bersemangat tidak seperti tadi pagi saat menghentikan aku."Fajar." Panggilku.Fajar menoleh ku lihat dia terkejut melihat kehadiranku di situ."Boleh aku duduk?" Tanyaku sekedar untuk basa basi sebelum memulai pembicaraan yang serius.Fajar mengangguk dan sedikit menggeser posisi duduknya untuk mempersilakan aku duduk di sampingnya."Ada apa Senja?" tanya Fajar tanpa melihat ke arahku."Ternyata kamu disini. Aku udah nyari kamu keliling sekolah." Ujarku.' bodoh kenapa aku malah mengatakan hal tidak penting itu .' Batinku."Kenapa kamu mencariku?" Fajar tetap tidak menoleh sedikitpun."Ada yang mau aku bicarain sama kamu.""Mengenai apa?""Ini tentang aku dan Tomi." Aku menjadi sangat gugup karena Fajar menatapku setelah aku menyebut nama Tomi."Tidak apa-apa Senja. Aku mengerti dan bisa memahami hubunganmu dan Tomi. Mungkin saja aku yang salah paham pada Tomi. Sebagai teman kamu aku dukung hubungan kamu kok asalkan itu bikin kamu bahagia" Ujarnya kembali mengalihkan pandangan."Iya kamu sudah salah paham Jar. Tapi bukan pada Tomi namun pada hubunganku dengan Tomi." Dia kembali menatapku sekilas namun kemudian mengalihkan pandangannya ke langit entah apa yang istimewa di atas sana."Maksud kamu?""Sebenarnya aku memang pacaran dengan Tomi..." Aku sengaja menggantung kalimatku karena melihat Fajar kini menatapku lekat."Tapi aku dan Tomi hanya pacaran pura-pura." Lanjutku.Wajah Fajar tampak heran dengan kalimatku barusan. Entah apa yang bergelut di pikirannya sekarang."Pura-pura?" tanya Fajar mengulang kata itu. Aku hanya mengangguk pasti."Aku benar-benar tak mengerti Senja. Apa kamu sedang bercanda?""Aku serius jar. Sebenarnya Tomi adalah sepupuku, kamu tau sendiri nilainya kayak gimana makanya orang tua Tomi minta aku buat pura-pura jadi pacar Tomi di sekolah supaya tak ada lagi cewek-cewek yang bakal ganggu dia dan Tomi bisa fokus sama sekolah." Jelasku.Wajah Fajar yang tadi murung kini berubah. Sebuah senyum menghiasi wajah tampan itu sehingga membuatku jadi gugup."Lalu kenapa kamu menceritakan semua ini padaku Senja?" tanya Fajar. Aku jadi bingung mau menjawab apa."Aku gak mau kamu salah paham Jar.""Kenapa?" Fajar menatap lekat kedua mataku membuatku jadi gemetar dan detak jantungku sudah tak karuan lagi."Itu karena... karena aku sayang sama kamu Jar. Aku gak mau liat kamu sedih kayak hari ini." Aku merasa lega menyalesaikan kalimat itu dengan sempurna.Fajar tersenyum sangat manis dan langsung memelukku erat. Aku bahagia berada di sini bersama seseorang yang aku sayangi. Memang benar senja dan fajar tak mungkin bertemu dan datang bersama-sama namun senja dan fajar itu sama, sama sama indah.Kini aku akan menyaksikan senja bersama Fajar dan menyaksikan fajar bersama Fajar. Seseorang yang lebih indah dari senja maupun fajar itu sendiri.THE END
Halusinasi Arini Wijaya
Halu Arini WijayaMasalah? Dia selalu hadir di hidup kita. gak pernah lelah, capek, atau apa pun. Ia selalu nongol saat kita tidak menginginkan nya, mengalahkan doi yang hadir hanya sesaat. kapan coba kita terbebas dari dia."Sp lagi sp lagi." ucap Arin keluar dari ruangan BK."Sp lagi Rin?" tanya Hasty sahabat Arin dari SMP, ia sedari tadi menunggu Arin keluar dari ruang BK.Arin membalas pertanyaan hasty dengan senyuman.Ini adalah SP kedua Arin, Arin mendapat surat peringatan yang kedua ini karena ia berkelahi di lapangan dengan Maura, Maura yang cari keributan, Arin yang dapat imbasnya.Arin di fitnah, tidak ada satu pun yang membela dia. Termasuk Hasty sahabat Arin sejak SMP itu hanya bisa tutup mulut saat guru bertanya datang ke TKP.Dengan nama lengkap Arini Wijaya, salah satu siswi di SMA Gemerlang. Dia juga sudah 1 bulan menjabat sebagai Ketua Osis di SMA Gemerlang, itu perdana buat Arin di kehidupannya naik kelas 11 ini. Arin tidak di perlakukan seperti kebanyakan ketos lainnya, yang banyak teman, di segan dan terkenal.Arin sering di bully, dan dijadikan budak atau babu oleh orang orang yang berkuasa disana, dan kadang ia jadi bahan fitnah oleh mereka. Ia di suruh untuk mengerjakan pr dan tugas tugas mereka, mengantarkan makanan dan minuman ke meja mereka, dan kadang Arin di jadikan bahan tawa oleh mereka jika mereka lagi bosan.SMA Gemerlang adalah sekolah yang terfavorit di Jakarta, banyak anak penjabat yang bersekolah disana, dan hanya beberapa anak yang berlatar belakangnya kurang mampu bersekolah disana, termasuk Arini.Walaupun sekolah itu adalah sekolah yang terfavorit, tetapi murid murid disana pada tidak ada yang mau menjabat sebagai ketua osis, termasuk Arin.Karna mereka lebih suka dengan yang namanya kebebasan, tidak ada aturan, makanya mereka memutuskan untuk tidak ada satu pun yang jadi ketua osis. Jika ada, maka orang itu siap siap di hancurkan oleh semuanya, itulah motto Siswa Siswi SMA Gemerlang.Arin menjabat sebagai ketua osis karna paksaan dari kepala sekolah dan guru guru, Arin merupakan anak yang pintar, pandai berdebat, tapi yang guru tidak tau tentang Arin adalah ia tidak pandai membela dirinya jika ia dalam keadaan susah.Dengan ada lagi ketua osis di sekolah itu, hal yang namanya bullying selalu diadakan di sekolah itu. guru dan kepala sekolah tidak tau dengan hal itu. mereka mengandalkan kemampuan Arin untuk memberantas bullying di sekolah itu.Tapi gimana caranya ia memberantas bullying di sekolah itu? Satu satu korban bullying adalah dirinya. Karena ia di pandang sebagai ancaman bagi semua murid di SMA Gemerlang.Setiap hari Senin Arini sibuk dengan kesibukan tugas osis nya, sebelum upacara di mulai, ia harus memastikan semua kelas sudah harus kosong. Berjalan dari ujung ke ujung, berdiri 1 jam untuk upacara, rapat osis 2 jam, mengurus siswa yang bermasalah.Sungguh hari yang melelahkan. Saat pelajaran berlangsung, Arin samar samar mendengar sedikit penjelasan bu guru di depan. Matanya berat, badannya lelah, dari pagi sampai pelajaran ke 3 berlangsung ia bolak balik kesana kesini mengurus urusan yang sudah menjadi kewajibannya."Diketahui Un1 = 8, n1= 3, Un2= 12, n2=5, maka 29 merupakan suku ke...." Guru sedang mengasih contoh soal untuk murid kelas 11mipa3, terpaksa berhenti karena nampak pemandangan yang tidak enak di matanya."ARINI WIJAYA!" Teriak bu guru."Ha Arin bu?" Serentak semuanya madang ke Arin."Rin...Rin...Rin..." Panggil Hasty yang duduk di sebelah Arin. Hasty berusaha membangunkan Arin yang tidur di kelas."Rin bangun dong, bu Ara kesini ntar." Hasty menggoyang - goyangkan bahu Arin, yang sang empu nya tidak terbangun juga.B rak ... .."Eh mamak kau meletup." Latah Arin yang terbangun dari tidurnya karena ngebrakan meja oleh bu Ara."Mamak siapa yang meletup?" Tanya Bu Ara dengan emosi. Arin hanya bisa menundukkan kepalanya."Keluar kamu sekarang Arin." Arin mau tidak mau harus keluar dari kelas. Dengan muka khas baru bangun tidur nya, ia harus berkeliling lagi dari ujung ke ujung menjelajahi sekolah itu.Bosan , satu kata untuk Arin sekarang ini. ya tidak ada yang bisa Arin buat sekarang, tidak ada satupun murid yang sedang berada di luar, kecuali dia."Sepi amat dah." Arin melihat ke kiri ke kanan ke depan dan ke belakang."Aduh mati gue, Pak Mamad lagi di belakang. tau tau aja tu bapak kalau gue lagi di luar, bisa dapat hukuman double ni." Arin mempercepat langkahnya, tanpa ia pikir panjang, ia belok ke arah kiri."Aduh mati gue banyak cowok pulak disana, tapi kalau gue gak kesana bisa kenak hamuk sama pak Mamad." Arin berhenti sekejap untuk berpikir ia harus kemana." Hanya ada satu jalan supaya gue selamat dari hukuman." Arin berlari kearah kumpulan cowok."Woi, gue numpang bersembunyi ya, please." Tanpa ada perkataan dari para cowok cowok itu, Arin langsung berjongkok di belakang pria berbadan gemuk.Arin hanya dengar candaan dari para cowok cowok itu, dengan kehadiran Arin disana tidak mengusik keseruan para cowok cowok itu.Kumpulan cowok cowok di tempat Arin bersembunyi adalah kumpulan cowok berandalan. Yang Arin sendiri tidak tau apakah mereka baik atau jahat, yang terpenting di pikiran Arin sekarang hanyalah selamat dari Pak Mamad.Lama sudah Arin berjongkok disana, ia berdoa semoga Pak Mamad tidak kesini dan menanyakan dirinya dengan para cowok cowok itu. Iya, kalau para cowok itu bisa menyelamatkan dirinya, jika mereka kasih tau kalau Arin disana, kan percuma ia bersembunyi lama lama dari Pak Mamad.Arini mendengar salah satu dari mereka, menyambut kedatangan seseorang, tapi Arin tidak tau siapa, karena pandangannya tertutup oleh pria gemuk."Kok loe baru datang?" Tanya salah satu dari mereka. Yang Arin lihat dari sela sela kecil cowok berambut keriting yang bertanya."Gue tadi lihat Pak Mamad ngarah kesini." Bukan menjawab pertanyaan kawannya, cowok itu malah menjawab lain."Pak Mamad?" Tanya serentak mereka dan saling pandang. Arin yang mendengar penuturan cowok itu langsung tegang di tempat."Dari kalian ada yang buat ulah?" Tanya cowok yang baru datang itu. Semuanya bergeleng serentak dan memandang kearah si gendut."Bukan gue, bukan gue, tapi ni cewek." Si gendut bergeser, menampakan Arin yang nyegir kuda ke cowok yang baru datang itu.Arin berdiri dan merapikan roknya. Arin di tarik oleh cowok yang baru datang itu menjauh dari sana."Aduh...aduh... sakit woi." Arin berusaha melepas genggamannya.Tidak ada tanda tanda kedamaian di mata cowok itu. Arin di dorong ke sudut dinding, ia meringis sikunya tergores dengan dinding yang kasar itu. Kaki Arin sudah bergetar hebat. Ia takut di apa apakan oleh cowok itu. Ia tarik napas, dan keluarkan, mencoba berfikir sehat dengan cowok di depannya."Kenapa sih? Ada apa loe bawa gue kesini?" Tanya Arin bersikap berpikir positif. Tidak ada jawaban dari cowok itu, hanya tatapan datar yang Arin lihat.Datar amat tu muka , batin Arin yang masih megang siku yang terluka itu.Cowok itu tiba tiba menumbuk dinding yang ada di samping Arin. "Loe tau gak, dengan kehadiran loe datang ke markas gue, gue dan teman teman gue merasa gak tenang, karna markas gue sudah di curigai dengan Pak Mamad. Tau gak loe?" Arin yang mendengar bentakan itu langsung terdiam, ia menundukkan kepalanya, yang ia lihat saat ini hanya kakinya yang gak berhenti bergetar.Kumpulan cowok cowok berandalan itu yang melihat Arin di tarik paksa oleh sang ketua mereka, merasakan was was. Sudah terlihat dari tatapan tidak suka sang ketua kepada cewek itu."Gimana ni Far, takut gue Iqbal ngapa ngapain tu cewek." ucap si gendut."Udah tenang semoga ketua tidak berbuat macam macam sama tu cewek, ya walaupun tu orang kalau sudah marah semuanya bisa di hancurkannya sih, ya manataukan si ketua kasih toleransi dengan tu cewek, ya gak gess?" Kata Zafar berusaha membuat teman temannya tenang."Betul tu apa kata Zafar, kita berdoa aja, kalau lama kita samperin mereka." Ucap Bayu.Walaupun mereka berandalan tetapi mereka tidak pernah lepas dari tanggung jawab mereka sebagai orang islam. Sihi calon imam banget dah ni hehe.Perlahan cowok itu maju, semakin lama semakin menipis jarak di antara mereka. Arin bisa merasakan napas bau mint dari cowok di depannya itu. Lama sudah mereka terkunci kontak mata. Arin yang sudah tidak kuat menahan ini, ia memutuskan kontak mata dengan cowok itu."Loe harus tanggung jawab ini semua." Ucap penuh penekanam cowok itu pas di telinga Arin."Maksudnya?" Arin mengarahkan wajahnya ke depan.Cup... ..Arin syock, tak segaja ia mencium pipi cowok itu. Ia kira cowok itu sudah jauh dari nya. Arin mendorong kuat cowok itu sampai terjatuh. Arin membalikan badannya menghadap ke dinding."Iya, loe harus tanggung jawab sebagai babu gue, tidak ada P-E-N-O-L-A-K-A-N." Ucap cowok itu dengan keras. Cowok itu berdiri dan tersenyum miring kepada Arin yang masih di posisi yang sama.Dia adalah Iqbal Prasetyo, si cowok misterius di SMA Gemerlang, ia sebisa mungkin menutup dirinya dengan warga sekolah itu. Dia di sekolah itu menjabat sebagai ketua geng yang bernama The Wolf . Serigala abu abu, yang kapan saja bisa membuat orang di sekitarnya hancur. Apalagi seseorang yang berani menyentuh apa yang sudah menjadi miliki."Loe yakin bal jadikan Arin itu babu loe?" Ucap Zafar, berdecak pinggang."Hmm." Ucap iqbal sesekali melirik jam di tangannya.Sudah 5 menit lewat iqbal menunggu Arin untuk membawakan makanannya, tapi tidak kunjung datang. Teman temannya yang berada disana hanya melihat gerak gerik iqbal yang sudah gelisah."Gelisah amat loe bal, macam nunggu gebetan yang gak kunjung hadir aja." Gurau si rambut keriting, agar mengubah keadaan menjadi normal dan tidak setegang sekarang.Iqbal yang sudah marah besar, ia pergi begitu saja dari markasnya. "Lihat aja loe cupu, habis loe di tangan gue." Gumam iqbal.Saat Arin turun dari tangga ingin menuju ke kantin, tangan nya di tarik oleh seseorang dengan kasar. Ia sudah memberontak, tetapi genggaman itu terlalu kuat untuk di tepisnya."Lepasin." Teriak Arin sambil mengikuti langkah kaki orang itu dan berusaha melepaskan genggaman dari tangan kecil nya.Arin di dorong, dan terjatuh di lantai yang kotor penuh dengar pasir dan kotoran lainnya. Membuat lutut nya berdarah akibat goresan pasir yang kasar, dan hentakan yang kuat membuat kaki nya kaku untuk berdiri."Eh cupu." Jujur Arin tidaklah seperti yang kalian kira, seorang siswi cupu yang memakai kacamata bulat, rambut di kepang 2, dan kutu buku. Julukan itu hanya untuk dirinya yang tidak berani melawan kepada mereka.Arin adalah cewek yang memiliki kulit putih, rambut sepinggang, dan kadang dia memakai make up sedikit.Salah satu dari mereka memegang dagu Arin dan mengangkat nya tinggi tinggi."Kenapa tugas tugas gue salah semua, ha." Teriak cewek berambut panjang yang sering menyampingkan rambutnya.Arin melihat buku yang di lempar ke arah nya dan mengambil buku itu, Arin memandang mereka dengan tatapan sinis, sumpah Arin sudah muak dengan mereka."Licik." batin Arin.Arin mencoba berdiri dan ingin pergi dari sana, tapi pada saat dia sudah setengah berdiri, dia di dorong dengan kuat sampai badan nya terbentur dengan meja di belakang, debu debu mengelilingi nya, membuat dada nya sesak dan sulit menghirup oksigen yang ada."Mau kita apakan ni anak.""Buat dia malu, semalu malunya dari semalam.""Benar tu. Ni udah gue sediain kamera." Mengangkat tinggi tinggi kamera di tangannya. Ucap mereka bergantian, ( Cara, Ratu, Melia. The CaRaMel ).The CaRaMel adalah salah satu musuh terbesar Arin, yang kedua. Yang pertama adalah Maura si tukang fitnah.Arin memang tidak pernah menganggap mereka musuh, tetapi mereka lah yang menganggap Arin musuh terbesarnya. Arin sudah tidak bisa mendengar apa yang mereka omongkan, sesak nafas ini membuat konsetrasi Arin terganggu. Arin menangis sejadi jadi nya di gudang tua itu. Sambil memeluk lutut."Hallo ada orang di dalam." Arin mendengar langkah kaki masuk ke dalam gudang itu dan suara laki laki yang tidak asing baginya. Arin hapus sisa sisa air mata nya dan merangkak kesudut ruangan supaya orang itu tidak mendapatkannya dalam keadaan seperti ini.
Serpihan Memori Singkat
Hujan mengguyur Kota Bandung. Aku berteduh di depan sebuah toko kue yang letaknya tidak jauh dari rumahku berada. Di tengah hujan yang kian menderas, tatapanku tertuju pada seorang lelaki yang ada disebrang jalan. Aku pun mencermati gerak-geriknya. Telah sadar, aku memergoki dirinya sedang memotret diriku dengan kamera yang berada digenggamannya. Lantas, aku segera mengalihkan pandanganku darinya.Tak lama kemudian, aku mendengar suara parau yang berdeham tepat di samping kiriku."Hmm..."suara dehaman itu membuatku menoleh dan menaikkan satu halisku seakan berkata 'Apa?'. Lelaki itu tersenyum kepadaku sambil menyapa "Hai." Lalu ia menutup kembali payung berwarna biru yang ia pakai. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ia pun kembali bertanya "Mau kemana?" "Mau pulang,"jawabku tanpa ingin balik bertanya.Perlahan, hujan mulai mereda namun menyisakan gerimis yang berirama menari-nari di atas permukaan tanah. Lelaki itu kembali menatapku lekat dengan senyuman yang mengembang. Kuakui, lelaki itu memang tampan, manik mata berwarna cokelatnya sangat indah, padahal aku bertemu dengannya baru beberapa menit saja. Aku heran mengapa lelaki yang ku kira lima tahun lebih tua dariku itu menghampiri anak SMA seperti diriku ditengah hujan yang deras.Aku menghembuskan napas pelan. Lamunanku tersadarkan ketika ia bertanya "Nama kamu siapa?" Aku menundukan kepalaku dengan sedikit gugup. Entah mengapa ada perasaan aneh menjalar menuju titik perasaanku. "Namaku Sandrina,"ucapku. Tak sadar aku tersenyum disela-sela ucapanku. Lalu aku mengangguk kepadanya, seakan pertanda bahwa aku akan pamit pulang. Namun, langkahku terhenti saat ia menarik tanganku "Pakai payung aku aja?" "Ah, enggak...rumahku dekat dari sini, terimakasih." Lagi-lagi aku menatap kedua bola mata lelaki itu. Manik mata hitam pekat dengan sorot mata teduh membuatku terpikat. "Yakin?"ia kembali bertanya. Aku hanya mengangguk mengiyakan, setelah itu beranjak pergi dari hadapannya. Satu penyesalanku ketika beranjak pergi, aku lupa menanyakan siapa namanya, mungkin karena aku terlalu gugup.Tiba dirumah, aku termangu sambil menatap ke arah luar jendela. Menikmati angin berhembus mengibarkan rambut panjangku. Melihat pohon rindang seakan melambai-lambaikan tangannya, lalu beberapa helai daunnya jatuh berguguran.Suasana hening membuat pikiranku terbang melayang membayangkan sosok paras. Lelaki dengan tatapan teduh yang kutemui siang tadi membuatku terpikat dan tak mau luput dari benakku. "Nak,"suara seseorang yang tak lagi asing dipendengaranku kini membuka pintu kamarku. Seketika lamunanku buyar. "Ada apa, Ma?" Mamaku mendekat ke arahku "Besok ada acara pernikahan saudara kamu, tidurnya jangan terlalu malam ya!jangan lupa makan juga, mama udah masak." Ucap Mamaku, beliau sangat perhatian padaku. "Iya Ma, sebentar lagi." Aku hanya mengiyakan. Lalu Mamaku kembali beranjak pergi dari kamarku.Keesokkan harinya, aku bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan saudaraku yang bernama Arka. Setiba disana, aku duduk pada bangku yang terletak paling depan. Akad nikah pun dimulai. Pandanganku fokus menuju seorang lelaki yang sedang memotret pernikahan Kak Arka. Aku tertegun, senyumanku kembali mengembang. Ternyata Tuhan kembali mempertemukan aku dengan lelaki yang kutemui kemarin siang.Saat aku sedang menatapnya, ia berbalik menatapku dan mengabadikan potret diriku yang sedang girang karena bertemu dengannya lagi.Setelah acaranya selesai, aku melihat Kak Arka sedang berbincang dengan lelaki itu, hal ini membuat rasa penasaranku semakin menggebu. Ku langkahkan kakiku, mendekat ke arahnya. Namun, tetap saja aku tak dapat mendengar dengan jelas perbincangan mereka yang terlihat begitu bisik-bisik seperti membahas hal yang sangat rahasia."Nak,ayo pulang." Ajak Mamaku ketika aku sedang memperhatikan mereka. Akhirnya aku pun mengiyakan karena aku tak mau Mamaku curiga pada diriku yang sedang mengagumi seorang lelaki.Sampai dirumah, aku merebahkan diriku diatas kasur sambil melihat ponselku. Nampaknya seseorang tanpa nama mengirimku sebuah pesan lewat whatsapp. "Hai, Tiara ya?" Aku pun membalasnya "Jangan panggil Tiara, Sandrina aja." Aku baru sadar, mengapa dia memanggilku Tiara? Sedangkan yang memanggilku Tiara hanya keluargaku saja. Pikirku, seseorang itu memang sudah mencari tahu tentang diriku lewat keluargaku."Kamu siapa?"tanyaku. Seseorang tanpa nama itu kembali menjawab "Aku Gatma, seseorang yang bertemu pertama kalinya denganmu saat hujan."Mataku terbelalak membaca kata demi kata yang tertera. Sungguh, aku sangat senang bisa berbicang kembali dengannya.Sejak saat itu hubungan kami semakin dekat, Kak Gatma jadi sering mengunjungi rumahku. Dia sangat ramah, dia mampu menghargaiku walaupun usiaku lebih muda darinya. Hingga akhirnya, ia menyatakan cintanya kepadaku. Satu kalimat yang selalu teringat dalam benakku, bahwa dia tidak akan pernah pergi meninggalkanku. Dia benar-benar berniat serius dan akan menyayangiku serta menerima segala kekuranganku. Aku mempercayai perkataannya.Suatu hari, aku bertemu dengan Kak Gatma, ia mengajakku untuk jalan-jalan di sekitar Bandung, lalu ia mengantarku pulang ke rumah saat senja muncul dari tempat persembunyiannya. Ada yang berbeda dari perlakuan Kak Gatma, ia sempat memeluk erat diriku sembari berkata "Dah, Sandrina."sambil melambaikan tangannya. Seakan-akan kami tidak akan bertemu lagi. Aku pun membalas lambaian tangannya "Dah, Kak Gatma." sambil memperhatikan Kak Gatma yang sedang mengendarai motor sampai ia benar-benar hilang dari penglihatanku.Hari setelah Kak Gatma mengajakku jalan-jalan di Kota Bandung, sikapnya mulai berubah, perhatian dan pedulinya mulai berkurang bahkan ia tidak pernah menghubungiku lagi.Aku hanya bisa menghela napas dan membatin"Ya Tuhan, aku benar-bernar merasa kehilangannya,"sambil menatap ke arah luar jendela.Mamaku yang melihat diriku seperti dalam gelisah pun akhirnya menghampiri diriku yang sedang menatap ke arah luar jendela "Ada masalah ya?" aku menggeleng pelan "Nggak,"jawabku singkat. "Mama lihat Gatma jarang ke rumah lagi, kenapa?" Pertanyaan itu menggores setitik luka dihatiku, membuat bibirku kelu tak sanggup ucap sepatah kata.Aku menghembuskan napas kasar "Dia lagi sibuk kerja," jawabku agar Mamaku tidak curiga padaku yang memikirkan perubahan sikap Gatma. "Ini hari libur, masa iya hari libur masih sibuk kerja?" tanya Mamaku. Perkataan itu membuatku bepikir, aku semakin curiga ada sesuatu yang menyebabkan Kak Gatma berubah. "Oh iya, aku baru ingat sekarang kan hari minggu." Aku menatap Mamaku sambil berpikir apa yang harus aku lakukan.Tak terasa waktu bergulir cepat, bulan dan bintang nampak menghiasi langit malam. Aku merebahkan diriku diatas kasur sambil memegang ponselku, lalu mencoba menghubungi Kak Gatma. Tak lama menunggu, suara seseorang yang asing dipendengaranku menjawab teleponku, suaranya terdengar seperti seorang perempuan."Halo?""Halo, siapa ya?"tanyaku dalam kebingungan."Kamu yang siapa?"ia malah balik bertanya. Aku terdiam sejenak.Detik berikutnya."Aku pacarnya Kak Gatma,"ucapku dengan sangat yakin.Seseorang itu kembali menjawab"Aku Zephyra, calon istrinya Gatma, kamu ga usah ngaku-ngaku jadi pacarnya Gatma!" pekiknya hingga membuat hatiku teriris.Aku tercengang, mencerna kata demi kata yang terlontar darinya. Air mata yang sudah ku bendung kini membuncah membasahi pipiku. Hujan yang mulai berjatuhan seakan menertawakan nasib malang diriku. Aku masih terdiam, sekujur tubuhku kaku seperti patung, bibirku tak sanggup mengucap sepatah kata, aku tidak percaya Kak Gatma telah mengkhianatiku."Halo?" ucap Zephyra lagi.Dengan sekuat hati aku mulai berbicara dengan kalimat terbata-bata karena isak tangisanku "Ng-gak mungkin...Kak Gatma berjanji, dia mau menikahiku, dia gak akan pernah meninggalkanku."Deru napas kian memburu, seseorang bernama Zephyra itu sepertinya marah padaku"Jangan mengada-ngada dan jangan ganggu hubungan aku lagi karena sebentar lagi kita akan menikah!" ucap Zephyra, lagi-lagi menggoreskan luka dihatiku.Aku menghembuskan napas pasrah,dengan sesak didada"Demi apapun gak bermaksud mengganggu hubungan kalian,"lirihku."Maaf, aku gak tau kalau Kak Gatma sudah jadi milik orang." Ucapku lagi.Lalu aku meminta pada Zephyra untuk memberikan ponselnya pada Kak Gatma, dengan tulus aku berkata "Kak Gatma, terimakasih pernah menjadi bagian cerita dalam hidup Sandrina, sampai kapanpun Sandrina gak akan pernah lupa kebaikan Kak Gatma.Walaupun Kak Gatma pergi. Apapun sebab Kak Gatma seperti itu, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Kakak. Semoga Kak Gatma memilih jalan terbaik dan gak akan pernah melupakan aku, walau hadirku hanya untuk sebatas dikenang. Aku senang pernah mengenal Kakak,walau kenyataanya Allah tidak mengizinkan aku untuk mencintai Kak Gatma selamanya. Maaf Sandrina belum bisa menjadi apa yang Kakak mau, mungkin Zephyra jauh lebih sempurna dari pada aku. Aku ikut senang mendengarnya, selamat berbahagia Kak!""Iya, maaf aku gak bermaksud menyakiti perasaanmu."Detik berikutnya ia kembali berucap "Lupakan saja aku."Perlahan waktu membawanya pergi jauh dari sisiku. Meninggalkan serpihan memori yang membekas dalam ingatan. Kini, aku hanya bisa meratap. Saat langit malam tidak lagi menjadi saksi bisu perbincangan kami, hanya ada kabut menyelimuti kalbu. Jatuh meluruh bersama air mata, serta jerit tangisanku yang membisu.Kenangan itu sering kali melintas dalam benak, aku masih ingat hari saat ia memeluk tubuhku adalah terakhir kalinya, untuk ku dengar suaranya, untuk ku lihat paras wajahnya, untuk ku genggam jemari tangannya seakan ia tak ingin pergi jauh dari sisiku, dan juga untuk menyambut hari-hari penuh rindu. Rindu yang menelusup menuju titik perasaanku kemudian menjalar ke seluruh tubuhku yang kaku, serta mulut yang membisu tak mampu berucap rindu. Sebab, aku tidak punya hak untuk merindu.Mungkin, aku yang keliru akan hadirnya cinta, aku terlalu hanyut terbawa arus dan tatapannya yang memikat. Seharusnya aku sadar, bahwa siapapun mampu mengkianatiku, dan seharusnya tidak ada harapan selain harapan kepada Allah Swt Sang Maha Pencipta."Selamat tinggal kenangan,"batinku sembari memasang senyum keikhlasan. Sebab, bagiku cinta bukan hanya sekedar rasa ingin saling memiliki. Merelakan seseorang memilih kebahagian baru dan jalannya sendiri juga merupakan bagian dari cinta.Tamat
I Love You
Ketika bunga jatuh pada awal bulan April, bulan menunggu untukmerindu. Pada awal bulan April banyak peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan. Bayi menangis pertama kalinya ketika keluar dari perut seorang ibu, seorang pemuda pergi untuk melanjutkan studinya, seorang kakek yangbercanda bersama cucunya diberanda, dan seorang wanita menangis karenakelaparan, dan juga sebuah kematian yang sewaktu – waktu memanggil semua orang di dunia ini. Di suatu kota yang tidak pernah ramai, terdapat berjajar penjual yangmenjual barangnya pada pembeli. Mereka menawarkan suatu benda atau bahkan makanan dengan suara yang lantang. Dan tak lupa juga betapa ramainya tempat tersebut. Tidak pernah sepi akan para pembeli.Di sisi lain tempat, terdapat sebuah toko yang sangat kuno dan sepi. Toko tersebut diapit oleh beberapa toko dan letak toko tersebut sangatlah sulit untuk dicari, letaktempat toko itu berlawanan dengan toko yang lain. Cat dinding yang mengelupas dan juga kaca yang tampak usang termakan waktu.Beberapa orang tidak mengetahui jika ada toko kuno di daerah yangramai akan penjual. Mereka seperti tidak menyadari jika toko tersebut ada.“oii kampret ! tungguin ! ” Teriak seseorang dengan suara kerasnya.“ kampret bener dah gw ditinggalin,” Keluh seseorang tersebut kala diatidak melihat orang yang dia cari.Beberapa orang yang mendengar suara tersebut hanya melirik danmengabaikannya, mereka kembali berjalan dan menghiraukan itu. seseorang yang berteriak itu memandang tempat yang dia lewati, seketika itu dia melototmengetahui jika dia tidak mengenal tempat ini.“ Etdah, ini dimanaaa…,” gerutunya kesal.Dia menghela nafas danberbalik untuk melewati jalan awal ketika dia berangkat bersama seseorang. Dia berjalan dengan pelan dan melihat – lihat sekitar yang terasa ramai akan suara penjual. Matanya menyisir setiap sudut tempat untuk menemukan sesuatu yang dicarinya. Dan ketika dia melangkah, dia menghentikan langkahnya karena di depannya terdapat dua belokan. Dia bingung dan juga dia lupa kemana jalan yang tadi dia lewati.“ gila dah. Jalan yang bener mana?” keluhnya bingung sambilmenggaruk tangannya yang tidak gatal.Dia mencoba melihat sekeliling tempat itu untuk mengingatnya, tetapi dia kembali mendesah jika dia lupa akan jalan yang dia lewati. Dia menunduk merutuki kepalanya yang bodoh ini. Dia melanjutkan jalannya dan semoga dia menemukan hotel yang dia tempati untuk menginap bersama teman – teman sekolahnya. Ketika dia berjalan, dia berhenti ketika di depannya ada 2 jalan. Dia memperhatikan jika jalan yang disebelah kiri sangat banyak pejalan sepertinya, sedangkan sebelahkanan hanya sedikit. Dia berpikir mungkin dia akan mencoba untuk melewati yang kiri terlebih dahulu. Dia pun melangkah dan sedikit merapikan topi yang bertengger diatas kepalanya agar tidak menutupi matanya. Dia melangkah dengan pasti jika yang dia lewati ini benar jalan awal dia kembali ke tempat dia beristirahat. Kakinya pun berjalan melewati setiap toko yang berjejer di kiri jalan, dan tak lupa para pembeli yang memenuhi didalamnya. Dia melihat lurus kedepan dan mencoba untuk mengingatnya. Ketika dia ingin lurus dia melihat sesuatu yang berbeda di jalanan yang dia lewati. Ini bukan jalan yang dia lewati dengan temannya. Dia yakin betul jikajalanan yang tadi lewati tidak ada toko toko yang berdempetan. Diamengerjapkan matanya merasakan jika dingin menusuk kulitnya. Dia ingin segera kembali ke hotel dan bertemu dengan teman yang sialnyameninggalkannya. Ketika dia ingin berbalik melangkah pergi. Tubuhnya terasa terdorong ke depan dan tubuhnya menabrak seseorang.“ aduh ! ” rutuk seseorang yang menabrak punggungnya.Dia yang merasa punggungnya terkena sesuatu berbalik dan melihat jika ada seseorang yang menabraknya. Dia melihat jika orang yang menabraknya itu masih tidak sadar jika dia berbalik. Dia pun memperhatikan seseorang tersebutdan dia merasa bersalah karena dirinya membuat seseorang kesakitan.“ maaf ya. Saya berhenti mendadak. Kamu tidak apa – apa ?” tanyanyadengan memgang pundak orang di depannya.Orang yang ditanya pun mendonggak-kan kepalanya untuk melihatorang yg dia tabrak. Dia membuka mulutnya aneh dan mengerjapkan matanya jika apa yang dia lihat ini benar – benar nyata. Dia mencoba untuk menepuk menepuk pipinya jika apa yang di lihatnya benar – benar nyata dan bukan ilusi.Sedangkan dia memperhatikan orang yang dia tabrak dengan alis terangkat satu.“kamu tidak apa – apa ? apa ada yang sakit ?” tanyanya lagi karena tidakdi respon.Sedangkan seseorang yang ditanyai hanya bengong dan tidak bisaberkata apa – apa. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas.“ lo bangsal bukan ?” ujar orang yang dia tabrak.Dia yang ditanya pun mengernyit bingung kala dia pertanyaan keluardari mulut orang di depannya. Kenapa orang didepannya tahu nama panggilannya di sekolah ?Dia pun melihat orang yang dia tabrak, mencoba mengingat apakahorang didepannya ini temannya sekolah. Ketika dia menatap manik hitam itu, entah mengapa dia merasa pernah melihat orang didepannya. Dia pun mendekati orang tersebut dan mencoba untuk melihat dengan jelas wajah dan rupanya. Sedangkan ia tersenyum dan hanya diam melihat dia mencoba mengingatnya.Dia pun mendekat memperhatikan orang yang memanggilnya bangsaltersebut. Dari wajah dia seperti pernah melihatnya, badannya yang tidak besar dan tidak kecil itu seperti pernah dia lihat, pakaian berwarna hitam dengan jaket jeans yang menutupi tubuhnya. Dia mencoba untuk kembali menatap mataorang didepannya. Dan ketika dia melihat senyuman orang tersebut, dia melotot dan juga dia merasa ingin mati sekarang. Dia tahu siapa orang didepannya, dan juga dia tahu siapa orang yang saat ini tersenyum aneh kepadanya.Shit ! kenapa gw ketemu dia lagi! Double shit ! damn gilaaa! umpatnya dalam hati. Dia kembali melihat orang didepannya dan menyadari jika saat ini diatidak akan bisa hidup dengan tenang.“ sepertinya lo tahu siapa gw,” Ujarnya menahan tawa melihat ekspresi orang didepannya.Sedangkan dia diam tidak tahu harus bicara apa. dia pun melihatsekeliling lingkungannya yang mana dia tidak menyadari jika saat ini, tempat yang dia pijak sangat sepi. Dia melirik melalui ekor matanya merasa jika dia tidak akan bisa selamat. Dia mencoba untuk tenang dan tidak gegabah dalam melangkah. Dia harus berpikir bagaimana caranya dia keluar dari tempat aneh ini dan situasi yang tidak dia suka.“anda siapa ? bangsal ? saya bukan bangsal. Mungkin anda salah orang.Saya permisi dan maaf jika saya berhenti mendadak,” Ungkapnya mantap di depan orang tersebut.Dia membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan tempat ini, dan ketikadia berjalan dengan sedikit cepat, tangannya terasa ditahan oleh seseorang dan itu membuatnya panas dingin. Mendengar perkataan orang yang didepannya membuatnya tersenyum, menyadari jika dia sudah tahu ia siapa. Ia melihat jika orang tersebut ingin pergi dari tempat ini. Ia tersenyum mengetahui sikap orang didepannya, oh tidak semudah itu ferguso ujarnya licik dalam hati.Ia pun memegang tangan itu untuk menghentikan langkahnya. Dan diamerasakan jika tangan yang dia pegang terasa kaku dan dingin. Ia tersenyum puas merasakan bahwa tangan yang ia pegang masih seperti dulu tidak pernahberubah.“ hai kenapa pergi ? tidak ingin bertemu dengan kawan lama hum ?” bisiknya lirih pada telinga orang didepannya.Ia melirik sedikit perubahan padawajah didepannya.Gotcha. I got you. Ujarnya dalam hati.Ia pun melepaskan pegangannya dan melangkah ke depan untuk melihatwajah yang dirindukannya. Langkah kakinya pelan dan ia ingin merasakan perasaan ini kembali. Ia pun sudah ada di depan orang tersebut dan tidak membutuhkan waktu lama, ia pun memeluk orang tersebut dengan erat.“ I got you,” Ucapnya lirih dalam pelukannya.Sedangkan orang yang berada dalam pelukannya menegang dan butirkeringat keluar dari wajahnya. Dia memejamkan matanya merasakan pelukan erat pada tubuhnya. dia mencoba untuk tenang dan tidak menunjukkan bahwadia gemetar. Dia menghela nafas lalu melirik seseorang yang memeluknya. Dia tidak tahu jika orang yang memeluknya sudah berubah sangat jauh. Dia tidak menyadari itu. Dia kira, tidak akan bertemu seseorang yang berasal dari masa lalunya, tetapi tuhan seperti ingin membuatnya merasakannya lagi.” kau tahu, sudah lama aku ingin menemuimu dan berbicara denganmu seperti ini,” Katanya dengan lembut dengan menopangkan kepalanya pada pundak didepannya.Dia menegang mendengar perkataan tersebut. Dia tidak tahu sekarangapa yang harus dilakukannya, dia seperti tidak bisa bergerak dan juga tubuhnya terasa kaku. Dia ingin berlari menjauh dari tempat ini. dia merasa ingin mati saja sekarang.Seseorang yang memeluknya melepaskan pelukannya dan menatapnya teduh. Kedua mata itu menunjukkan jika ia merindukannya dan juga tatapan yang berbeda dari biasanya. Seseorang tersebut mengelus rambutnya dan mengusap sedikit rambutnya seperti takut jika usapannya akan membuat kepalanya sakit. Ia tersenyum menatapnya dengan senyum yang seolah menjadijawaban atas semua yang terjadi dalam hidupnya.Tubuhnya bergetar dan perasaan itu kembali lagi, dia merasa sesak nafas dan tak bisa bergerak. Matanya berkaca – kaca dan kepalanya terasa ingin pecah. Dia menatap mata teduh itu. Mata yang menyimpan beribu – ribu tandaTanya. Dia menegang kala merasakan tatapan itu lagi, tatapan yangmembuatnya tidak bisa keluar walaupun dia mencoba. Dia mencoba untuk mengendalikan tubuhnya agar tetap waras dan tenang. Selama beberapa detik dia dan seseorang di depannya hanya saling menatap satu sama lain. Mencoba menyampaikan seluruh perasaan yang merekapendam . mata hitam itu gelap segelap malam , tidak ada apapun di dalam mata itu dan dia merasakan perasaan yang berbeda saat ini. dia merasa akan terjadi sesuatu padanya. Dia mencoba untuk melirik ke arah lain dan dia melihat sebuah toko tua. Dia menoleh kembali dan tatapan mata itu masih menatapnya.Dia menghela nafas dan mencoba untuk berbicara.“ha ha ha. Loo… oh gw inget sekarang. Lo si tiang itu kan ? yangbiasanya suka nginep di sekolahan ?” tanyanya dengan muka tenang.Ia yang mendapatkan pertanyaan itu merasa ingin tertawa. Dan tanpamenunggu waktu lama suara tawa yang keluar dari mulutnya pun terdengar.“ hahahhahahaaha… lo lucu banget,” Ungkapnya dengan tawa yangmasih berderai keluar, dan melepaskan pelukannya.“ lo tahu, gw nggak tahu jika manusia di dunia ini bener – bener bisamenjadi hebat jika tanpa melakukan sesuatu. Dan gw nggak tahu jika saat ini gw merasa bahagia.” Ungkapan yang keluar dari mulutnya, membuat dia menegang mengingat kalimat itu.“ ekhm. Oke. Gimana kalau lu ikut ama gw ? sekalian kita temu kangen.Dan juga kayaknya lo nggak tahu daerah ini dimana ya ?” tanyanya dengan senyuman misterius.Dia diam karena apa yang ditanyakannya itu memang benar adanya dan juga saat ini tubuhnya teara kaku dan tida bisa bergerak kemana pun. Dia menghembuskan nafas pelan melalui mulutnya agar tidak terlihat bahwa dia merasa was-was akan sesuatu.“ ekhm. Temu kangen ? kayaknya gw nggak bisa deh. Gw harus balik.Gw takut ntar dicariin. dan gw tahu kok daerah ini, cuman tadi agak lupa,” jawabnya sedikit berbohong. Dia tersenyum palsu untuk meyakinkan bahwa apa yang dia ucapkan benar. Tubuhnya gemetar merasakan udara malam dan jugaperasaan was was jika kebohongannya diketahui oleh orang didepannya.Seseorang tersebut tersenyum senang dalam hati, bahwa saat ini dia merasa ingin melakukan sesuatu dan membahagiakan temannya ini.“ oh gitu ya. Tapi kayaknya tubuh lo butuh kehangatan deh. Lu kedinginan dan lu butuh sesuatu untuk menghangatkannya. Mmm.. gimana kalau di toko itu ? disana ada minuman atau makanan hangat yang bisa menghangatkan tubuh,” Katanya dengan senyum misterius.Ia juga menunjukkan toko yang agak kuno itu. Dia yang mendengar kalimat tersebut merasa ingin mencekik orang didepannya ini. dia benar – benar ingin mati saja. Kenapa orang tersebut bisa tahu dengan keadaan tubuhnya dan juga kenapa dia bisa bertemu dengan seseorang yang dulu menjadi musuh terbesarnya dan yang membencinyasetengah mati ini. Dia menoleh kearah toko tersebut dan melihat bahwa toko itu sedikit menyeramkan karena lampunya yang remang – remang dan juga dia sebenarnyasudah merasa ada yang tidak beres dengan lingkungan yang mendadak sepi. Dia kemudian menoleh ke depan dan melihat bahwa orang didepannya masih memperhatikannya. Oke. Kali ini dia tidak bisa untuk menahannya.Dia benar –benar ingin…….“hei, apa kau baik – baik saja ?” Tanya seseorang di depannya.Ia sedikit memiringkan kepalanya memastikan jika dia baik – baik saja. Dan ketika dia menggelengkan kepalanya kaku, membuat ia bahagia.“oke. Mari kita mampir ke toko itu,” Ajaknya dengan senyum menawan.Ia pun menarik tangannya dan membawanya berjalan mendekati toko itu. Dia yang merasa tidak bisa lari pun hanya bisa pasrah ketika tangannya di genggam. Dia sedikit melihat sekeliling lagi untuk memastikan jika jalan yang dia lalui terasa sangat sepi. Dan juga tidak ada seorang pun yang lewat. Ini aneh.Tadi dia melewati jalanan ini dan masih ada banyak pejalan kaki tapimengapa sekarang terasa sangat sepi dan ganjil. Hhh. Dia tidak bisa berpikir sekarang. Tenaganya habis karena terlalu banyak berpikir.Duk !Ketika dia menoleh kedepan, dahinya tertabrak sesuatu yang keras. Diamengelus dahinya dan merasakan jika ada benjolan kecil di sekitar dahi.Huft, kenapa hari ini aku sial terus ? rutunya dalam hati.Dia pun menatap kearah yang ditabraknya dan melihat jika dia sudah sampai di depan pintu toko tua ini. dia bergidik ngeri ketika membayangkan jika ada hal – hal yang tidak diinginkan. Dia mencoba menenangkan diri dan menghela nafas mencoba untuk menghilangkan pikiran – pikiran buruk yangberseliweran di dalam pikirannya. Dan dengan kekuatan penuh dia melangkah dan membuka pintu tua itu.KlontangklontangklontangSuara bel pintu berbunyi ketika dia masuk, dia sedikit menutup matanya dan mengintip isi dari toko tua itu. Dan ketika matanya terbuka sempurna, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia menganga karena apa yang dilihatnya benar – benar diluar akal. Dia melangkah lebih dalam untuk melihatkeadaan toko tersebut.Banyak sekali buku didalamnya dan juga di tengah ruangan terdapat sebuah meja melingkar dan beberapa kursi untuk duduk. Di pinggir – pinggir tembok terdapat meja dan kayu beserta lemari buku yang dia tidak tahu berapa banyak buku di lemari tersebut. Dan jangan lupakan, di pinggir pojok kanan pintu keluar terdapat kolam ikan atau kolam air yang sangat indah beserta airmancur. Dan oh lihat, banyak sekali pelayan – pelayan yang sangat cantik dan ganteng berjalan memberikan sesuatu kepada beberapa orang yang duduk di kursi .Dia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak dia memasuki toko tersebut. Seseorang tersebut menunduk dan tersenyumketika matanya bersitatap dengan seseorang yang berada tepat di depan orang yang di lihat. dia berbalik badan dan pergi ke suatu tempat.“bagaimana ? apakah lo suka ?” tanyanya dengan membalikkantubuhnya menghadap seseorang yang berada di belakangnya.Dia yang ditanya mengalihkan tatapannya dan menatap manik hitam tersebut. Dia pun sedikit melirik suasana toko yang saat ini sedikit ramai dan juga aroma kopi dan buku sangat membuatnya nyaman. Dia kembali menatapmanik hitam itu dan mengangguk. Ia yang melihat anggukannya pun tersenyum dan mengangguk.“sekarang ikuti gw dan jangan sampe nyasar.” Ujarnya tanpa melihatwajahnya.Dia yang mendengarnya mengangguk dan mengikuti kemanapun diapergi. Dia dan seseorang di depannya berjalan lebih dalam memasuki ruangan toko itu. Dia memperhatikan desain ruangan itu. Sangat klasik dan benar –benar hangat, membuatnya sedikit lupa akan ketakutannya. Dia kembali menghadap depan melihat seseorang didepannya memasukipintu berwarna coklat gelap. Dia berhenti mendadak dan ragu jika dia melangkah.“ masuklah. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Teriak seseorangyang sudah masuk ke pintu coklat itu.Dia menghela nafas untuk menetralkan detak jantungnya dan kakinya melangkah untuk memasuki ruangan tersebut. Ketika dia sudah menutup pintu coklat itu, dia melihat sekeliling ruangan yang didominasi warna hitam dan putih itu. Dan ketika dia melihat ke depan, wajahnya pucat, matanya melotot kaget. Dia tak menyangka apa yang dia lihatsaat ini benar – benar membuatnya ingin pergi dari ruangan sialan ini. kakinya bergetar dan refleks bersandar pada belakang pintu.Seseorang di depannya menunduk melihat sepatu hitamnya dan sedikitmenerawang memikirkan masa lalu.“kau tahu. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Semuanya memiliki hargayang harus dibayar. apapun yang telah di rusak tidak akan bisa kembali menjadi sempurna. Dan kamu tahu seseorang akan bertindak wajar ketika ada yang telah merusak barang kesayangan miliknya,” Ucapnya dengan menunduk dengan tubuh yang bergetar.Dia menatap tubuh di depannya dan tak menyangka jika apa yang duluterjadi kini terulang lagi. Tubuhnya bergetar dan keringat membasahitubuhnya. Matanya berkunang – kunang dan dia merasa akan muntah.“kamu tahu jika aku selalu menunggu sesuatu hal yang tak mungkin akubisa dapatkan, dan juga aku selalu merasa jika aku tidak diperbolehkan untuk bahagia di dunia ini. aku merasa ingin mati rasanya dan ingin membunuh seseorang,” Ucapnya dengan senyum menyeramkan tercetak di bibirnya.Matanya berkilat dan ia merasa ingin tertawa dan menangis. Ketika tubuh orang di dipannya berbalik menghadap kearahnya, dia merasa benar – benar hancur. Dia tidak bisa berpikir dan juga tubuuhnyamendadak lumpuh mati rasa. Seseorang di depannya melangkah dengan tenang dan nyaris pelan.TapTapTapLangkah kaki itu berhenti tepat di depannya, dan dia dengan jelas bisamelihat wajahnya. Jantungnya berdebar keras, tubuhnya bergetar, dan pikirannya kosong sesaat ketika melihat dengan jelas siapa orang di depannya. Tubuhnya menegang tat kala merasakan pelukan hangat yang saat ini dilakukan oleh orang di depannya.“kau tahu, aku berharap kita bisa mengulang waktu seperti dulu kala dan juga aku ingin kita bisa bersama lagi temanku. I love you my little life, but I don’t care. Because you know, I was killing your parents. And you know, I’m the person you hated by your friends,” Ucapnya dengan berbisik.Dia mati rasa, dia tidak tahu jika apa yang terjadi dulu dengan hidupnyaberhubungan dengan satu orang dan semua masalah yang terjadi di dalam kehidupannya dikarenakan oleh 1 orang saja, dan itu merupakan orang yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Dan ketika dia menatap manik hitamtersebut, dia merasakan jika dadanya terasa sakit dan itu menjalar kebagian dalam tubuhnya.JlebDia menunduk melihat ada pisau yang menancap tepat di dadanya dan ketika dia mendonggakkan kepalanya, dia tidak tahu jika orang di depannya telah membunuhnya dengan senyuman menakutkan. Dia menunduk dan merasakan jika tubuhnya terasa lelah. Tubuhnya bersandar pada pintu belakangnya dan menunduk jika dia sulit untuk bernafas. Dia tersenyum danmendonggakkan wajahnya menatap orang di depannya.“kau tahu, uhuk uhuk hidup ini hhhh… indah hhhh…. ketika kamu uhuk bisa melihat hhhh… seseorang yang kamu sayangi uhuk uhuk bisa bahagia. Hhh… Dan…. kamu tahu uhuk uuhuk uhukkk jika aku uhukkk akan … te….tap… men..jadi…. uhuk… sahabat…. Mu.. uhuk… teri….ma uhuk ka….sih…..hhhhh…hhhh.. ah...kuu.. juga uhulkkk.. hhhh.. men….cintai….mu…hhhhh… i… uuhuk lohhhve…..hhh.. you…. My lil friend Lingga.”
Bukan Takdirku
Seorang gadis berpenampilan sangat sederhana tengah memasuki kelas barunya, ia adalah murid pindahan sekolah dari Surabaya yang pindah ke Jakarta ke salah satu sma Favorit di sana, salah satunya adalah SMA CAHAYA ABADI salah satu sekolah terkenal di Jakarta.Saat memasuki area parkiran banyak sekali yang menggodanya karena memiliki wajah yang rupawan, baru saja selesai memarkir sepeda motornya sudah banyak sahutan sahutan yang terdengar.Dimisya Alena, nama gadis cantik tersebut namun sifat cueknya tidak sepadan dengan wajah cantiknya. Dengan langkah kesal ia melangkah ke ruangan Kepala Sekolah untuk mengetahui di kelas mana ia di tempatkan, namun langkahnya harus berhenti saat seseorang dengan tidak sengaja menabraknya.Alena terpental ke belakang saat bertubrukan sedangkan lelaki tersebut hanya diam di tempatnya tidak bergerak sedikitpun.Alena nyaris saja mengira ia adalah patung yang sangat kokoh jika saja ia tidak langsung berbicara."Maaf maaf gue ga sengaja gue buru buru tadi," kata seorang lelaki yang menabraknya."Iya gue gapapa ko, lo jangan khawatir," kata Alena menimpali.Karena Alena terburu-buru ingin ke ruang Kepsek, iapun langsung saja pamit ke lelaki tersebut buru buru melangkah pergi."Eh tunggu nama lo siapa? Tanya lelaki tersebut."Nama gue Dimisya Alena, panggil aja Alena," teriak Alena, pasalnya saat mengatakannya jaraknya sudah lumayan jauh dengan laki laki tersebut."Kita pasti bertemu kembali alena," Kata laki-laki itu seraya tersenyum miring.Gadis cuek tersebut mendapat informasi dari Kepsek bahwa ia berada pada kelas 11 IPA 3, langsung saja Alena mencari kelasnya dan menyusuri banyak koridor. Saat di kelas bisa di lihat bahwa teman sekelasnya menerimanya dengan sangat baik,tanpa ada cibiran pedas yang sering aku baca pada cerita Wattpad.Entah mengapa Alena jadi kepikiran dengan seorang lelaki yang menabraknya tadi pagi, ia sendiri aneh dengan pikirannya ini, kenapa ia jadi memikirkan anak itu sih.Saat jam istirahat Alena berniat ingin mengantri bakso karena entah mengapa mendengar kata bakso membuat air liurnya ingin keluar saking sukanya dengan makanan bulat itu.Tiba-tiba ada seorang yang mendekat kearahnya dan ia mengenal siapa orang itu, dia adalah orang yang di tabraknya tadi pagi.Laki laki itu tiba-tiba saja menarik tangan Alena untuk menuju salah satu bangku yang kosong yang terdapat di salah satu pojok kantin."Hay kita ketemu lagi girl," ucap laki laki itu."Ko lo narik gue ke sini sih, gue kan mau pesen bakso" Kesal Alena pada laki-laki yang menabrak ya tadi pagi.Pasalnya Alena sudah tidak tahan ingin mencicipi bakso yang menggiurkan lidah tersebut."Maaf ya nanti aku pesenin deh baksonya," Kata laki-laki itu menenangkan Alena yang kesal karena di tarik duduk.Dan Alena hanya diam saja tidak merespon."Oh ya tadi pagi kan lo belum sempet nanya nama gue kan, jadi gue mau perkenalan dulu sama lo sekarang, nama gue Aditya Satria Bagaskara. Gue ketua basket sekaligus ketos di sekolah ini," kata laki-laki tersebut memperkenalkan diri."Oh," Kata Alena singkat."Et dah singkat amat jawabnya, gue udah ngomong panjang kali lebar dari tadi lo cuma jawab 'oh' doang ckckckck," kata laki-laki di depan gue."Iya mang napa? " kata Alena ketus."huffff" terdengar helaan nafas panjang dari depan. Ternyata dari laki-laki tersebut."Gini ya aku cuma mau kamu jadi temen aku, tapi kenapa kamu ketus banget sama aku,aku ga ada niat buat nyakitin kamu ko tenang aja," kata Bagas laki-laki di depan ku.Aku mengguk saja walaupun di hatiku masih sedikit tidak percaya, dan menerima ajakan pertemanan yang bagas katakan kepadaku.Dan mulai pada hari di mana Bagas memperkenalkan diri padaku hingga sekarang kami menjadi sangat dekat. Aku dan Bagas sering kali jalan bersama, diner romantis serta kemana-mana sering kali bersama sampai orang-orang bilang kami adalah pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta.Aku juga sering berpikiran begitu kadang aku baper sendiri saat di gombalin dia, dan entah mengapa jika berdekatan dengan dia aku merasa jantungku berdetak dengan sangat cepat tidak seperti biasanya. Aku pun mulai merasakan perasaan aneh tersebut sekarang dan aku menyadari aku telah jatuh cinta kepada temanku sendiri.Saat itu kami sedang bergandengan tangan berjalan menuju kelas ku di lantai dua, tiba-tiba saja langkahku dan Bagas di cegat oleh seorang gadis cantik bermata hazel, gadis itu ingin berbicara berdua dengan Bagas dan aku pun membiarkan kedua orang itu berbicara.Aku merasa heran akhir-akhir ini Bagas terkesan menjauhiku, entah hanya perasaan ku saja mungkin. Awalnya aku ingin mengungkapkan perasaan ku pada nya keesokan harinya saat sebelum seorang gadis tempo hari lalu menemui Bagas. Tetapi semenjak hari itu Bagas berlagat seperti menjauhiku jadi rasa ini harus terpendam lagi.Keesokan harinya aku bertemu dengan Bagas di luar kelasnya, akupun menarik tangan nya sebelum benar-benar pergi, dia awalnya kaget melihat kehadiranku mungkin tapi segera mengganti ekspresi wajahnya menjadi datar tidak seperti biasanya yang ceria, aku jadi heran dia kenapa ya? batinku."Kamu kenapa jadi jauhin aku si gas,apa aku punya salah sama kamu?" Tanyaku meminta penjelasan."Kamu ga ada salah,tapi jangan lagi temui aku," Ucapnya datar dan terkesan cuek.Aku terkejut mendengar nada bicaranya sangat dingin barusan, dan aku tersadar dari terkejutanku saat dia berjalan menjauhiku, niatnya aku ingin memanggilnya tetepi aku merutuki mulutku sendiri yang tiba tiba saja tidak bisa berbicara.Di rumah aku pusing memikirkan sikap Bagas yang berubah akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya di rumahnya saja meminta penjelasan sekaligus mengatakan perasaanku yang sebenarnya.Aku pun memutuskan untuk pergi ke rumah Bagas malam ini saja mungkin sekitar jam 07:00. Ku langkahkan kaki ku menuju alamat yang pernah aku terima dari Bagas waktu itu, aku mengeryit saat akan memasuki pagar rumah Bagas saat selesai memarkirkan motor di seberang jalan rumah Bagas.Karena aku penasaran kenapa banyak sekali orang yang berdatangan ke rumah ini, akupun memberanikan diri bertanya kepada satpam yang menjaga di sana."Pak ini ada acara apa ya pak?" tanyaku penasaran pada pria paruh baya di depanku ini."Oh eneng ini temennya Aden kan ya?" tanya satpam itu balik.Aku pun hanya bisa menganggukkan kepala saat di tanya olehnya, kemudian dia berkata yang akan membuatku sesak nafas selanjutnya."Oh Eneng di undang Aden Bagas ke acara tunangannya ya, kok engga langsung masuk aja sih neng," Kata satpam melanjutkan ucapannya.Bagai di sambar petir berita yang ku dapat malam ini sukses membuat hatiku hancur berkeping keping. Rasa yang ku punya untuknya harus kandas bahkan sebelum aku mengatakan padanya. Tuhan kenapa begitu sakit, kenapa harus di pertemukan dengannya jika ujung-ujungnya akan sesakit ini Tuhan. Lebih baik aku tidak pernah bertemu dengannya jika aku tau keadaannya akan seperti ini Tuhan,sakit.,...sakit sekali....,"Batin Alena merintih."Loh Neng kenpa diem doang di situ," Kata satpam itu lagi."Ah maaf Pak nanti saya akan ke sini lagi ada yang ketinggalan Pak" alibi Alena pada satpam tersebut.Satpam itu mengangguk kemudian alena berlari ke seberang jalan kemudian melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata rata.Saat ini Alena tidak tahu harus pergi kemana untuk menenangkan hatinya. Akhirnya dari kejauhan terlihat sebuah taman indah walaupun malam, cukup dengan penerang lampu pinggir jalan dan kedai yang berada di sekitar taman tersebut cukup membuat taman tersebut terlihat.Walaupun sudah malam tetapi taman tersebut masih ramai pada jam segini, bahkan anak-anak beserta orang tua mereka masih sangat asik bercanda ria.Setelah memarkir motornya Alena duduk di sebuah bangku yang ada di sana, memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan hatinya yang sedang tidak baik baik saja, tak terasa air matanya pun menetes dari pelupuk mata indahnya.Iya menyesali hari-harinya bersama pria yang sudah berhasil membuat hatinya terluka,kenapa? Kenapa harus datang kehidupku seolah memberi harapan pada hubungan kita, kalo pada akhirnya sudah ada yang menempati hatinya.Kenapa kamu begitu jahat,Tuhann,.....bisakah hati ini tenang Tuhan...kenapa sesakit ini. Tangis batin Alena.Tak lama kemudian seseorang datang kemudian duduk di samping Alena, dia seorang pria dewasa yang terlihat berwibawa degan tampang di atas rata-rata.Pria itu tiba tiba saja berbica."Hey kamu lagi putus cinta ya?" Tanyanya sok tau.Aku hanya diam saja mendengarkannya."Dengar jika kamu putus cinta bukan berarti kamu harus terus bersedih begini, dia meninggalkan kamu bukan berarti Tuhan telah memberitakun kepadamu sebelum hubungan kalian berlanjut ke hubungan yang lebih serius bahwa dia bukanlah seseorang yang tepat untukmu.""Berterima kasihlah pada Tuhan bahwa telah memberitahumu yang sebenarnya sebelum semuanya terlambat" Nasehat pria tadi.Alena yang mendengar nasehat pria tadi tersadar kenapa harus menyalahkan Tuhan yang telah mempertemukan nya denga pria jahat seperti Bagas, seharusnya dia senang dia tuhan telah memberi tahu yang sebenarnya, bukan malah menyalahkan Tuhan bukan.Dengan segala tekad yang kuat dia harus bangkit tidak boleh terpuruk lagi oleh keadaan ini, Alena harus kuat ya harus kuat. Katanya meyakinkam dalam hatinya yang terdalam.Alena menjadikan pelajaran kisahnya yang tidak berakhir seperti yang tidak di inginkannya, menjadikannya pelajaran paling berharga jika ingin melangkah di masa depan nantinya.Ia pun berterimakasih kepada pria tersebut dan hanya di balas dengan anggukan saja, berpamitan kepada pria tersebut untuk pulang dan menata hidupnya dengan awal yang lebih baik tanpa harus memikirkan masalalunya yang telah membuatnya sakit hati.
Antara Cinta dan Corona
XI IPS 1Gilvan Sanjaya :ASSALAMUALAIKUM WR.WB. SALAM SEJAHTERA DAN SELAMAT SORE. TABIK PUN.KEPADA YTH. BAPAK IBU GURU DAN STAF TU SERTA PESERTA DIDIK KELAS X, XI DAN XII SMAN 1 PENAWARTAMA ATAS DASAR SURAT PETSETUJUAN BELAJAR TATAP MUKA TERSEBUT MAKA MULAI BESOK: SELASA, 4 AGUSTUS 2020. KITA MULAI KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR TATAP MUKA.DENGAN JADWAL NEW NORMAL YANG SUDAH ADA (2 SIP )TERIMA KASIH.Ahul gans : Wanjay gurinjayy ini beneran bosque?Arlan : PRANK nih PRANK! Ya kan @Gilvan Sanjaya?Aksara : @Gilvan Sanjaya @Gilvan Sanjaya tolong dong jangan gantungin dedek:(Ahul : @Aksara NajisunGilvan Sanjaya : Itu Chat dari Pak Suyadi selaku kepala sekolah di SMAnsaSintya : Allhamdulilah uang saku lancar lagi:)Selin : 2 bosen njir di rumah rebahan teros:(Gilvan Sanjaya : Jadwal nanti di share wali kelas masing2. Karena di bagi 2 sesuai nomor absen. Jngan lupa besok pakai masker, bawa handsanitaizer, bawa bekal karena wacananya kantin blm boleh buka, bawa air minum jugaSintya : Siyap sayang @Gilvan SanjayaAhul : Ahsiap pak ketos gans tapi masih gans an gua hahahAksara : sedang mengetik....Ahul : sedang mengetik....Hanya admin yang dapat mengirim pesanHanya admin yang dapat mengirim pesan***Seperti pengumuman yang diberikan Gilvan selaku ketua osis Smansa peta, tahun ajaran baru di mulai hari ini.Ahul in the geng sudah nangkring di parkiran sambil melirik para murid baru yang masuk sif pagi."Adek kelas kita bening-bening banget asli, jadi pengen halalin," gumam Aksara pada ketiga temannya sambil bersiul bahagia."Percuma glowing kalo ga bisa cetik geni," celetuk Arlan."Kalian apaan sih, baru masuk sekolah udah ngegosip aja. Harusnya kalian itu bersyukur di saat yang lain belum di izinkan tatap muka, kita udah bisa face to face kaya gini walaupun harus selalu mematuhi protokol kesehatan.""Sosial distancing minimal satu meter bege!" Ahul kesal karena keempat temannya itu malah berkumpul bagaikan semut mengelilingi gula, Ahul yang jadi gula tentunya."Eh, Van mau kemana?""Kelas.""Buset, dari tadi diem aja giliran mau cabut ga ngajak-ngajak ngerti lagi gua." Ingin rasanya Ahul menenggelamkan wajah gans Gilvan ke comberan saat ini juga."Ah lama." Kedua temannya Aksara dan Arlan sudah berjalan menyusul Gilvan, meninggalkan Ahul yang masih mendumel tidak jelas."Suek! Njir tungguin guee...."Gubrak!"Aish!""Monyet." Ahul menabrak benda hidup!"Kalo jalan liat-liat dong, kak," keluh adik kelas Ahul.Ahul melirik name tag di sisi baju gadis di depannya Chaca ."Sorry, Cha. Buru-buru soalnya telor gue mau netes."Chaca menaikkan sebelah alisnya sebelum akhirnya ia tertawa keras."Telor kakak netes? Huwah congrats kak! Telor apa btw?" Wajah innocent Chaca membuat Ahul menyadari sesuatu."Telor buwung puyuh." Ahul menggaruk tengkuknya. Chaca terkikik di tempatnya."Lo, kenapa ga pake masker?" Gadis di depannya memang berbeda dari kebanyakan murid lainnya yang mematuhi peraturan pemerintah. Memakai masker."Oh, lupa ga kebawa tadi.""Nih, pake punya gue." Ahul segera melepas maskernya lantas memberikannya kepada Chaca."Hidih ogah, bau jigong.""Ahahahaha mana ada, cogan kaya gue bau jigong."Jika di lihat-lihat Ahul memang ga burik-burik amat. Rambutnya berantakan yang malah terkesan sexy, matanya sipit, kulitnya sawo matang ditambah bau parfumnya yang anti badai yang di pake sekali wanginya berhari-hari."Gaje lo kak, dahlah." Tanpa permisi Chaca segera meninggalkan Ahul.Ia baru sadar jika ketiga temannya sudah sampai di kelas membuktikan jika kesetia kawanan mereka lemah!***Sepulang sekolah tadi, Ahul menyeret ketiga temannya untuk mampir ke rumahnya sekedar makan siang katanya."Kalian pernah denger nama Chaca ga di SMAnsa?" Tanya Ahul pada ketiganya."Gak." Gilvan to the point."Sama, gue juga ga pernah denger, gue pernah sih denger tapi yang gini nih. Chaca maricha hehey, Chaca maricha hehey, Chaca maricha ada di kampung baru...."Krik krik..."Anak kelas XI IPA bukan? Satu-satunya Chaca yang gue tau cuma itu," kata Erza tanpa menghiraukan Aksara yang mulai ga waras."Maybe, ciri-cirinya kulitnya putih, putih banget sampe terkesan pucet terus rambutnya pendek.""Iya, bener Chaca anak XI IPA 1.""Kenapa, Hul? Lo naksir?""Enggak, dia yang naksir gue," jawabnya sambil ngupil."Halu tingkat dewa!""Cowok tukang ngupil, siapa yang doyan?" Ketiganya tertawa keras kecuali Ahul. Untung saja ayah dan ibu Ahul tidak sedang berada di rumah kalau ada sudah ribet urusannya.Kampret!***"Len, lo tau kakel kita yang namanya Ahul gak?"Arlen yang tadinya rebah di atas kasur pun langsung bangkit duduk di samping Chaca."Ahul upil maksud lo?" Chaca mengernyit tidak mengerti."Upil apaan?""Kakel kita, anak XI IPS 1.""Ga tau sih.""Wait."Arlen mengotak-atik ponselnya setelah beberapa lama ia menyodorkan layar ponselnya ke arah Chaca."Ini kan?""Nah, iya!"Melihat reaksi Chaca yang begitu berlebihan, Arlen jadi penasaran dong."Kenapa emangnya sama dia?""Ga kenapa-napa, gue tadi di tabrak sama dia. Wanjir wangi banget....""Halah percuma wangi kalo suka ngupil, lagian kak Ahul ga mungkin mau sama cewek bandel kaya lo.""Bandel gapapa yang penting cantik."Arlen memutar bola matanya malas, "BODO AMAT!"***Tidak terasa face to face sudah memasuki bulan ke delapan, dimana kelahiran Indonesia tercipta."Gue peringatin, sebelum Bu Henny bertindak kalian harus sadar diri. Apa susahnya sih make masker di muka kalian?" Gilvan jengah melihat beberapa siswa maupun siswi yang kerap melanggar aturan. Sekali lagi tidak mematuhi anjuran pemerintah."Jangan mentang-mentang kita berada di zona hijau, kita selamat. Belum tentu, siapa tau nanti kamu," Gilvan menunjuk gadis berambut pendek yang berada di depannya."Yang kena covid-19.""Hih, amit-amit." Gadis yang ditunjuk hanya menyaut acuh seperti biasanya."Hukuman buat kalian hari ini adalah ngepel Mushola." Finish. Gilvan berbalik melenggang pergi."Aish, yang kena Corona kan gue, kenapa situ yang repot!" Chaca gadis yang sempat di tunjuk Gilvan kembali mendumel."Bentar lagi 17 Agustus, bakal ada kegiatan apaan Van?""Alah paling cuma daring di rumah," Aksara meremehkan."Semoga aja enggak, bosen weh di rumah terus.""Van, astaga! Gue nanya elu bor. Muka lenturin dikit napa kaku amat kaya kanebo kering." Ahul menyebik."Belum ada.""Lo kenapa sih, Van? Gabut segitunya.""Gue ga gabut. Gue cuma kesel sama anak yang selalu ngelanggar aturan sekolah. New normal ga akan berjalan lancar kalau anak-anak semacam Chaca terus berkeliaran bebas seenaknya.""Urusin tuh, gebetan lo. Ahul upil." Aksara tertawa kecil melihat ekspresi datar Ahul.Memang sekarang Chaca dan Ahul semakin dekat, tapi Ahul belum ada rencana tuh buat nembak Chaca.***"Kak, jalan yuk.""Lah kamu pikir kita ini lagi apa? Ngesot?"Chaca berdecak sebal, "maksud aku jalan-jalan.""Mau kemana?""Pokoknya jalan-jalan. Bosen tau di rumah terus berasa di kurung.""Harusnya emang gitu, oke kita jalan.""Yes!""Kita bakal beli masker dan peralatan lain buat kamu, jangan bandel Cha. Kasian temen aku.""Aku ga bandel, kak Gilvan aja yang galak.""Gue anterin pulang, besok gue jemput jam sepuluh.""Okeee."***Seperti yang di janjikan, Chaca sudah menaiki beat putih milik Ahul. Mereka akan jalan-jalan sekedar melepas bosan, meskipun itu sebenarnya di larang pemerintah karena tidak memiliki kepentingan untuk keluar rumah."Kak," panggil Chaca."Apa, Cha?""Ke pasar yuk.""Gamau.""Ih, kenapa?""Ribet. Banyak orang. Gaboleh.""Aish, ayo dong kak. Bentar aja.""Kamu ga pake masker Cha.""Tapi aku kan pake helm, janji deh helmnya ga aku lepas.""Enggak usah, kita ke Alfamart aja.""Gamau!""Cha.""Gamau, gamau, gamau."Ahul terpaksa menepikan motornya, lantas membuka helm full face nya lalu menoleh ke belakang."Bentar aja," kata Ahul lembut."Huwah, siap makasih kakak sayang."Meskipun berat namun Ahul tetap menuruti kemauan gadis yang telah mencuri perhatiannya itu.Suara bising khas orang yang saling tawar menawar serta ramainya pengunjung pasar membuat Ahul berdecak lantas meraih tangan Chaca.Setelah satu jam berkeliling, mereka akhirnya bergegas kembali ke motor. Chaca sudah repot membawa belanjaannya, dia membeli beberapa plastik sayuran dan makanan. Berbeda dengan Ahul yang langsung menunggangi kuda besinya mengajak Chaca pulang."Kamu tadi romantis banget," kata Chaca ketika mereka sampai di depan rumah Chaca."Romantis kenapa?""Romantis karena tadi pas di pasar kamu megangin tangan aku terus.""Romantis apanya, aku cuma ga mau kamu belok ke toko baju."Seketika Chaca menyebikkan bibirnya."Aku ga suka baju, Ahul. Aku sukanya sayuran, seblak, sama kamu doang.""Iya udah sana masuk, nih maskernya besok sekolah jangan lupa di pake. Love you."***Gilvan berdiri memperhatikan wajah bandel yang sudah sangat ia hapal beberapa bulan lalu."Chaca indira, mana masker lo.""Ketinggalan, kak.""Klasik." Gilvan berdecih."Hari ini cuma lo yang ngelanggar aturan jadi....""Hacih... Maaf kak," kata Chaca dengan suara yang sedikit berbeda. Hidungnya gatal luar biasa."Oke, hukuman lo....""Hacih... Hacih... Maaf kak.""Lo sakit? Kenapa masuk sekolah?" Melihat mata Chaca yang mendadak teduh serta hidungnya yang memerah membuat Gilvan sedikit khawatir."Tadi enggak sak... Uhuk... Uhuk... it kak.""Tapi sekarang Uhuk... Uhuk.... Tenggorokan gue sakit, badan gue juga rasanya demam.""Ada yang nggak beres," gumam Gilvan."Lo tunggu di sini, jangan kemana-mana dan nyentuh apapun di sini."Gilvan segera pergi ke ruang guru dan memberitahu kepada guru BK."Halo, Ahul, cewek lo sakit ke depan kantor sekarang." Setelah menghubungi Ahul, Gilvan segera menyusul Bu Henny yang sudah terlebih dahulu menemui Chaca."Chacha ayo ke UKS." Belum sempat Bu Henny memapah Chaca suara Gilvan membuat Bu Henny mengurungkan niatnya."Kenapa, Van?""Apa ga sebaiknya Chaca di bawa ke dokter langsung aja, takutnya ada sesuatu yang ga diinginkan."Benar juga batin Bu Henny."Ya sudah Chaca ayo ibu antar ke puskesmas.""Tunggu!"Ahul datang tergopoh-gopoh sampai napasnya naik turun tak beraturan."Chaca kamu beneran sakit?" Chaca hanya mengangguk sesekali ia bersin sesekali pula ia batuk-batuk."Gue jadi ngeri, ya," bisik Arlan yang membuntuti Ahul bersama Aksara dan Erzan."Jangan-jangan kena Corona lagi." Suara Aksara membuat Bu Henny, Gilvan, Ahul dan Chaca sendiri menoleh ke arahnya."Hust! Gaboleh ngejudge sembarangan. Ayo Cha." Bu Henny berjalan mendahului Chaca memasuki mobil. Untuk berjaga-jaga, Chaca di tempatkan di bangku tengah seorang diri sedangkan Ahul, Gilvan, Aksara, Erzan, dan Arlan membuntuti di belakang membawa motornya masing-masing.***Dokter yang menangani Chaca mendadak pucat pasi, ia bungkam enggan berbicara. Namun Ahul terus memaksa dokter berperawakan gemuk itu untuk berbicara."Chaca demam biasa, kan Dok?""Dok tegang amat, lemesin dikit dong," keluh Aksara gemas."Dok, gimana hasilnya?" Kali ini Bu Henny yang berbicara."Siswi atas nama Chaca ternyata positif Corona.""Astaghfirullah halazim.""Ya Allah.""Subhanallah."Mendadak suasana mencekam bak sedang menonton film horor."Kita harus segera menangani pasien suapaya yang lain tidak terjangkit, silahkan kalian semua bersih-bersih diri dahulu lalu kita bicarakan ini lagi. Oh, ya, orang tua pasien tolong segera di beritahukan." Dokter tersebut lalu bergegas pergi, ikut membersihkan diri barangkali.Sedangkan Ahul sudah seperti orang gila. Ia ngupil dengan tatapan kosong."Gue mau ketemu Chaca sebentar.""Enak aja! Enggak-enggak, kita harus bersihin diri dulu baru bisa kesini lagi.""Ayo." Bu Henny terlihat lemas pasalnya sudah dapat di pastikan jika sekolah akan di tutup kembali.***"Chaca," bisik Ahul."Kak Ahul, maafin Chaca, ini akibat dari kesalahan yang Chaca buat sendiri. Chaca nganggep Corona ga berbahaya ternyata dia bisa memisahkan kita...." Air mata Chaca mengalir deras. Ia benar benar menyesal namun mau bagaimana lagi nasi sudah jadi rengginang. Chaca harus segera di pindahkan ke rumah sakit khusus penampung pasien corona.Maka dari itu sebelum semuanya terlambat, baik zona hijau, kuning, orsnge, bahkan merah, jangan sampai menyepelekan aturan yang sudah di tetapkan oleh pak Jokowi. Karena itu demi kebaikan dan kebahagiaan bersamaEnd
Bita, bakso dan Arya
"Jatuh cinta itu seperti menancapkan belati ke ulu hati, semakin dalam tusukannya akan semakin dalam lukanya dan akan semakin lama juga pulihnya"Ting ... Ting ... Ting ...Suara sendok yang di ketukkan pada mangkuk terdengar nyaring, seperti biasa Bita gadis berambut Curly langsung berlari keluar rumah untuk menghampiri sesosok tukang bakso bakar langganannya."Pak!" Gadis itu tersenyum dengan mata berbinar ketika melihat bola bola bakso yang sedang ditusuk oleh pak Bolang. Pemilik gerobak bertuliskan BAKSO BOLANG itu langsung dengan sigap menyiapkan pesanan Bita seperti biasanya tanpa bertanya terlebih dahulu.Hidung Bita melebar menghirup dalam-dalam aroma beberapa tusuk bakso yang di panggang."Wah, tumben baksonya jam segini tinggal sedikit, pak." Bita baru menyadari kalau bola bola bakso yang biasanya di tata di balik kaca gerobak menumpuk kini sudah nyaris habis."Allhamdulilah neng Bit, tadi ada pemuda seumuran neng yang borong bakso bolangnya bapak," jawab pak Bolang dengan raut tak kalah ceria."Laris manis tanjung kimpul, bakso bolang abis duit terkumpul!" Tiba-tiba Bita berteriak seolah ialah yang menjual bakso bakar tersebut.Pak Bolang menggeleng sambil tersenyum lantas menyodorkan lima puluh tusuk bakso bakar yang sudah matang."Ini neng bit, baksonya.""Ini pak Bol, uangnya." Keduanya langsung berpisah melanjutkan aktivitasnya masing-masing.***Bita baru selesai mandi, handuk masih melilit tubuhnya namun ia belum ada niatan untuk berganti baju malah berjalan mendekati meja dekat ranjang dimana sepiring bakso bakar miliknya berada."Tanggung, gue abisin dulu deh," gumamnya pada diri sendiri.Di saat ia sedang asyik mengunyah Bita teringat ucapan pak Bolang sore tadi yang sedikit mengganjal."Siapa yang borong bakso bakarnya pak bolang ya? Selain gue mana ada! Gabisa di biarin gue harus cari tau. Kalo ketemu, gue ajak mukbang bakso bakar bolang!!" Serunya ambisius.***Suara riuh di kelas membuat Bita langsung merasa lapar, sayangnya jam istirahat masih kurang satu jam lagi ditambah ia harus mengisi tugas yang di berikan oleh guru matematikanya, karena beliau sedang sakit maka ia hanya mengirimkan segudang tugas untuk para muridnya.Bita mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan tidak ada yang bisa ia andalkan kecuali pemuda yang duduk di bangku pojok kanannya, siswa pindahan beberapa hari lalu. Dia cukup pandai di bidang akademik, tanpa menunggu lama Bita pun menghampirinya."Hei," sapa Bita sedikit ragu.Mata cokelat madu yang tadinya menunduk kini mendongak menatap Bita."Gue boleh nyontek?" Tanyanya to the to the point"Kalo lo bisa ngerjain sendiri kenapa harus bergantung sama orang lain?"Bita mengerutkan dahinya, pasalnya pemuda yang ia kira kalem ternyata memiliki lidah setajam silet."Gue gabisa, makanya gue minta bantuan lo." Ia tidak mau kalah."Bantuan buat lo tambah bodoh?""Arya!" Seru Bita sebal ia tidak terima di katai bodoh, dia tidak bodoh hanya saja ia malas berpikir.Tanpa aba-aba Bita menyerbu Arya dengan pukulan beruntun."Dasar ya lo, cowok belagu! Sok pintar! Rasain, nih!""Sialan!" Arya melindungi wajahnya dari tangan Bita lalu dengan mudahnya ia menangkap kedua tangan gadis itu.Nafas Bita terengah-engah menahan rasa kesalnya, rambut Curly miliknya yang hanya di urai jatuh sebagian di pipi Arya."Lepasin!""Gue enggak berteman sama spesies kaya lo." Setelah mengatakan itu Bita langsung keluar dari kelasnya, tanpa mereka sadari banyak yang diam-diam mengamati kejadian tersebut.***"Lo tadi kenapa bisa ribut sama Bita?""Dia itu cewek aneh, masa dateng-dateng minta contekan.""Kenapa ga lo kasih aja ketimbang bonyok tuh muka.""Alvin, kalo dia doang mah ga ada apa-apanya," ucap Arya meremehkan."Pokoknya lo harus minta maaf daripada lo nyesel. Daripada lo bonyok beneran.""Harus banget?""Terserah lo!" Alvin lalu bangkit meninggalkan Arya sendirian.***Ting ... Ting ... Ting ...Bakso bakar bolang lewat di jam yang sama seperti biasanya. Bita yang memang sedang tidak ada kerjaan sengaja duduk di teras rumahnya menunggu pak Bolang lewat sambil mendengarkan musik."Pak!" Serunya lantas bangkit berlari mendekati gerobak pak bolang."Duh neng, maaf banget baksonya sudah habis." Pak bolang berkata dengan nada sedih begitupun dengan Bita, mata yang tadinya berbinar seketika meredup. Padahal seharusnya pak bolang senang karena dagangannya habis terjual tetapi karena pelanggan setianya menjadi murung ia ikut bersedih."Yah, kok bisa sih. Bisanya juga enggak.""Pemuda yang kemarin borong bakso bolang bapak, tadi dia beli lagi dan di borong deh semuanya," jelas pak Bolang dengan menyebikkan bibir."Yaudah deh pak, gapapa. Makasih." Bita berbalik kembali ke rumahnya sementara itu pak Bolang masih menatap kasihan gadis yang hidup sebatang kara itu setelahnya pak Bolang mendorong gerobak kembali kerumahnya.Bita sudah memegang handle pintu bersiap untuk mendorongnya tetapi sebuah suara familier menginterupsi gerakannya."Bit."Bita menoleh, sedetik kemudian ia menatap tajam kearah pemuda yang memegangi kantong plastik."Ngapain lo kesini?!""Gue mau minta maaf, salah?""Gaperlu." Bita sudah hampir masuk kedalam rumahnya namun di cegah oleh Arya."Maafin gue Bit.""Gamau dan ga akan pernah mau. Gue udah bilang kan, gue enggak temanan sama spesies kaya lo, Minggir!" Ketusnya.Arya mendorong Bita masuk kedalam rumah bersama dirinya."Gue minta maaf, gue nggak akan ngelakuin hal bodoh itu lagi." Arya menatap teduh wajah Bita."Nggak!""Ini, sebagai permintaan maaf gue." Arya menyodorkan bakso bakar yang ia borong tadi kepada Bita."Oh, jadi lo yang udah ngeborong dagangannya pak Bolang.""Nih, buat lo.""Eit, tapi janji lo harus maafin gue." Sambungnya ketika tangan Bita hampir mengambil bakso bakar darinya."Berisik lo!"Bita langsung menyaut lantas memakan tusuk pertusuk bakso bakar favoritnya sedangkan Arya mengamati bagaimana lahapnya gadis itu melahap bakso. Diam-diam ia mengaguminya.Semenjak kejadian itu mereka lebih sering berdua, mukbang bakso berdua, jalan-jalan berdua, bermain berdua sampai akhirnya Arya mengungkapkan perasaannya."Bita, gue enggak tau sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi semenjak ada lo hidup gue lebih berwarna, gue rasa lo harus jadi pacar gue."Bita tersenyum sampai matanya membentuk bulan sabit, "Bahkan cinta pun harus butuh kesepakatan, kalo cuma kamu yang suka bakalan berat sebelah dan bakalan sakit sendiri."Arya menggembungkan pipinya, sangat menggemaskan."Tapi kan lo suka gue?"Bita kembali tersenyum namun kali ini sambil menggeleng."Mungkin iya dan mungkin enggak.""Kenapa? Setelah apa yang terjadi lo nggak ada rasa sama gue?" Arya menatap penuh tanya, terlihat sekali kekhawatiran di wajahnya."Sama sekali enggak ada, kalo dengan berteman bisa menumbuhkan rasa cinta lebih baik kita akhiri ini.""Tapi?""Kita nggak pacaran, kita juga nggak temenan. Kita kembali ke awal yang nggak saling mengenal.""Kenapa Bit?" Arya meraih kedua tangan Bita berharap ini hanya lelucon."Gue cuma nggak mau kita sama-sama sakit. Yah, walaupun gue tau lo sakit sekarang tapi seenggaknya nggak terlalu dalam." Perlahan Bita melepaskan genggaman tangannya dari Arya lalu melenggang pergi.***Arya berjalan seorang diri melewati koridor sekolah yang masih sepi, ia sengaja berangkat awal agar bisa dengan cepat menemui Bita. Ia meyakinkan dirinya jika yang terjadi semalam hanyalah sebuah mimpi.Namun, sampai jam istirahat selesai Bita belum juga muncul. Sampai pak Harto memberikan informasi mengejutkan Arya."Maaf mengganggu waktunya sebentar, mulai hari ini dan seterusnya teman kita Bita cahyani pindah sekolah ke luar kota. Sekian terimakasih."Seluruh murid Xl IPA 1 bertanya-tanya, pasalnya kemarin Bita tidak sedang terjadi apa-apa. Begitupun Arya tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipinya.TAMAT
Sosokmu Anggara
Selasa!Kamis!Sabtu!Ada apa dengan hari itu? Itu hari biasa bukan, namun anehnya ia menjadi luar biasa karna kamu.Iya kamu, seseorang yang hanya bisa kukagumi dalam netraku, tapi tidak pada bibirku.Ia masih tak cukup berani, atau mungkin tak pernah berani.Apakah kamu sadar? Atau tidak? Atau berpura pura tak sadar? Entahlah aku tidak peduli, yang jelas nampakmu dapat terlihat dimataku,Mungkin tidak akan jadi hal yang romantis.Namun aneh, cerita ini, bahkan bukan kisah yang panjang,namun ia singkat tapi berkesan.Bagaimana kau mengartikan ku? Si pengagum rahasia? Ataukah lebih kasarnya sipenguntit?Maaf tapi dua duanya bukanlah aku. aku hanya aku, yang tak sengaja tertarik padamuOh ya aapakah aku berbelit belit?Baiklah baiklah, intinya ini tentangnya yang pernah singgah.pertama tama, biarkan aku memperkanalkan sosoknya pada kalian.Dia itu cowok populer, eh tapi nggak juga sih, gimana yah? sedang sedang tapi nggak sedang banget, emm gimana ngejelasinnya? Akh pokoknya seperti itu.Pertemuan pertama kami memang sangat klasik, persis seperti cerita novel novel pada umumnya. Namun percayalah ini bukan fiksi, namun cerita yang memang pernah ada.Pertemuan pertama kami, dimulai di SMPN Indah Jaya, sekolah di desa yang kecil dan jauh dari kota,aku lupa tepatnya kapan, tanggal berapa, ataupun hari apa, aku benar benar tidak ingat, yang jelas, itu dibulan Desember dihari porseni.Sosoknya bernama Anggara, pria yang telah memberiku kesempatan untuk memiliki kisah cinta seperti anak remaja pada umumnya.Awalnya aku hidup dengan biasa saja, tidak senang dan tidak sedih, lebih tepatnya hampa, tidak ada yang spesial, mungkin karna aku muak dengan hidupku sedari dulu, hingga aku bertemu sosoknya.Anggara .Kami bertemu dilapangan Volly, karna kebetulan dia menjadi pemain inti untuk mewakili kelasnya,awalnya aku tak pernah berniat untuk menonton pertandingan seperti itu,lagipula aku tak mengenal banyak orang disana.Hingga temanku yang bernama Indah mengajakku untuk menontonnya, oh iya,kebetulan, dia adalah sosok manusia pencinta cowo tampan, atau bahasa gaulnya Cogan, dan Anggara masuk dalam listnya.Aku berjalan dengan ekspresi tak minat" aish kenapa juga aku harus mengikuti indah kemari ?"batinku saat melihat banyaknya siswa yang berkumpul dilapangan itu.Oh ayolah, ini adalah sesuatu yang paling kubenci yaitu"keramaian"Oh iya aku hampir lupa memperkenalkan diri,namaku Arenaya Anara Putri, kalian bisa menyebutku Ami, ataupun Am walaupun nama panggilanku meleset dari nama asliku, tapi tak apa, kalian bisa memanggilku apa saja,itu terserah kalian.Sedikit informasi, aku seorang introvet sejati, dan hal seperti ini, adalah hal yang paling kubenci.Tatapan orang kepadaku, kebisingan dan masih banyak lagi.Aku hanya menunduk sedari tadi, nyatanya banyak senior yang mulai mencibir kearahku dan Indah, namun entah kenapa, indah tak peduli sama sekali, ia hanya sibuk berteriak menyebut nama kelas 11 saat itu."Kenapa aku yang malu melihat tingkahnya?"ucapku heran dan terus menunduk, hingga tanpa sadar sebuah bola langsung menggelinding disampingku, tepat disampingku, aku melirik sekilas bola itu.Aku ingin mengambilnya, namun aku tak berani, lagipula bolanya juga sudah diambil, lalu aku memberanikan diri melihat seorang pria yang membawa bolanya, namun anehnya mataku terkunci pada satu netra, yang juga menatap kearahku.Aneh, kenapa ia menatap kearahku,dan hal itu membuat getaran aneh muncul didadaku,Apa ini, mengapa matanya seperti memiliki magnet?.Aku berusaha keras untuk mengalihkan pandanganku namun anehnya tubuh ini menolak, aku merasa manusia manusia disamping kami menghilang begitu saja, dan tersisa hanya aku dan dia.Hingga pemain lain mengagetkan dia,dan akupun refleks memutuskan kontak mata kita"Anggara Lo kenapa bengong? Ayo main!" Ucap temannya membuatnya tersadar mengangguk singkatJadi namanya Anggara?........Setelah hari itu, sosok Anggara membuatku merasakan satu hal yang sebenarnya sangat kubenci, bagaimana aku bisa jatuh cinta dengannya sedangkan aku sangat membenci cinta.Sungguh aku tak ingin mencintai jika harus seperti ibu dan ayah.Hidup mereka memberikan trauma besar kepadaku,walau bukan aku yang merasakannya.Namun entah kenapa, rasa benci terhadap cinta itu seakan menghilang jika aku melihat sosok Anggara disekolah.Ia mengalihkan pikiranku terus menerus. Dan secara tak sadar, aku mulai mengindahkan Anggara. Ketika banyak hal hal konyol yang dilakukannya, justru itu terlihat sangat indah dimataku.Aneh, jika temanku tau, mungkin mereka akan bertanya apa yang kau sukai dari sikap konyolnya itu? Tak ada hal menarik darinya, jadi apa yang membuatku menyukainya?Entahlah, anehnya akupun tidak tau, tapi, hal buruk darinya justru terlihat sangat indah dimataku. Aneh memang, kurasa aku akan gila karnanya, namun ini nenyenangkan..Aku yang dahulunya merasa bahwa setiap hari sangat membosankan,justru beralih bahwa selasa, kamis dan sabtu adalah hal yang paling kutunggu.Karna dihari itu, aku bisa menatapnya setiap saat.Hari hari mulai berlalu, aku merasa setiap detik, cintaku bertambah padanya, ketika pergi dan pulang kesekolah,kami selalu berpas pasan dibawah pohon mangga yang berderet rapi disetiap jalan.Walaupun tidak langsung, aku berjalan kaki dan dia menaiki motornya.Entah kenapa ia terus melambatkan motornya dibelakangku, padahal teman temannya sudah saling balap menuju sekolah.Ia membuat adiknya kesal, karna motornya yang begitu lambat, sampai sampai aku bisa mendengar celotehannya.Namun aku tak mau terlalu pd dengannya, cukup menjadi kisahku saja, aku hanya ingin mengaguminya.Namun, setiap kali aku berusaha untuk tidak pd, ia selalu membuatku merasa benar akan dugaanku caranya menatapku, caranya tersenyum padaku. Semua hal itu yang membutku bimbang untuk tak percaya padanya.Aku selalu bertanya, kenapa disaat kami kelas 7 sedang olahraga, ia selalu bolos dan nongkrong dimotor, sambil melirik kami?.Sungguh aku tidak mau Baper padanya, aku takut jika bertepuk sebelah tangan.Namun kenapa ia selalu memberikanku hal hal manis, walau bukan dengan ucapan?Seperti dia yang memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan, dia yang tersenyum begitu tulus kepadaku, dia yang selalu ingin berada dibarisan dekatku pas upacara, dia yang mengintip kelas kami, sampai kepalanya harus terbentur segala.Aneh, aku tak mau mempercayainya, namun ini benar benar membuat perasaanku makin tinggi padanya.Dan sepertinya iya, hal yang kutakutkan selama ini terjadi juga, aku sadar cintaku bertepuk sebelah tangan, tiba tiba saja aku mendengar kabar bahwa, Anggara berpacaran dengan teman sekelasnya, bertepatan dengan 2 orang sahabatnya, dan sepertinya meraka akan trible date?Akhh, kenapa Anggara membuat hatiku bimbang seperti ini? Apakah pada akhirnya aku yang bersalah?Aku yang selalu terbawa perasaan padanya?Kalau memang iya, aku benar benar kecewa pada diriku sendiri.Harusnya sedari awal, aku tak belajar untuk mengerti sebuah cinta, karna pada akhirnya cinta itu akan berakhir dengan sendirinya.Sial,ini membuatku pusing, dan sejak hari itu pula, aku memilih berhenti, aki tak lagi menatap manik mata indah itu jika berpas pasan, aku tak akan tersenyum padanya, aku tak akan mencari media sosialnya,Aku tak akan mencari apapun tentangnya lagi.Karna memang sedari awal, kita hanyalah orang yang tak saling mengenal, aku tau bahwa aku tak punya hak,untuk memilih pasangan Anggara, karna kalaupun punya, mungkin aku akan memilih diriku sendiri.Aku bahkan tidak tau, Anggara mengetahui namaku atau tidak?Dan sialnya aku malah berhayal bahwa ia juga menyukaiku.Bangunlah Ami! Aku akan mulai membencinya, tidakah cara terbaik melupakan seseorang adalah membencinya? Iya aku akan melakukannya.Namun setelah kulakukan, aku menjadi mengerti akan satu hal.ini adalah fase paling rumit dalam mencintai, yaitu berusaha melupakannya.Mungkin terdengar singkat dan sepele, namun percayalah melupakan itu adalah hal yang punya beribu alasan untuk menjadi sulit.Entah bagaimana hati dan fikiran kita tak bekerja sama, ketika hatiku mantap untuk melupakannya namun aku masih selalu mencari Media sosialnya, menatapnya dari jauh, bahkan mencarinya saat upacara.Satu hal yang kutanyakan pada diriku kenapa ?Kenapa aku seperti ini?Apakah melupakannya adalah hal yang sesulit itu?.....................Setelah sekian lama, waktuku kuhabiskan untuk melupakannya, dan saat kufikir aku telah berhasil, ia malah merusak tembok kokoh yang sudah kubangun begitu saja dengan mudah.Saat kufikir ketika dia lulus, aku tak melihatnya lagi, namun bagaimana bisa aku dipertemukan kembali dengannya.Aku lupa bahwa ia memiliki adik yaitu juniorku.Waktu itu, kami disuruh ke fotocopy Azera untuk mencetak foto kami untuk raport, jadi mau tak mau seluruh anak sekolah harus kesana.Namun ditengah perjalanan ban motor teman yang memboncengku harus meletus ditengah jalan, jadi mereka harus membawanya kebengkel.Aku menatap langit dengan tatapan bosan, hpku mati, ban motor kempes, dan aku harus duduk sendirian disini.Sangat sial!Hingga netraku tak sengaja menangkap sosok ibu ibu yang berjalan kearahku.akh bukan tepatnya kepada pemilik warung yang kutempati singgah, aku tercengang ibu ibu ini ternyata kembar,aku yakin aku tak dapat membedakannya.Aku bersyukur bahwa ibu ibu itu sangat ramah, dan aku bru tau bahwa ia mengenal kakek dan nenekku, aku pun mengobrol singkat dengan mereka.Hingga suara yang begitu kukenang terdengar sangat nyata ditelingaku."Ma"Dia Anggara, sosok yang membuatku belajar mencintai dan terluka secara bersamaan.Ia membiarkan adiknya berbicara kepada mamanya, sedangkan aku dan Anggara hanya saling menatap dan tersenyum,sangat manis, seolah ada segudang kerinduan yang terpancar sangat jelas dimatanya, akupun sama,Aku sangat merindukannya.Saat kami berada difotocopy Azera, ia sama sekali tak melepaskan aku dalam netranya, ada apa sebenarnya dengannya? Ia menatapku seolah mencintaiku, namun ia tak pernah mau mendekatiku.Dan tampa aku sadari, foto yang kucetak untuk raport ku, menjadi kenangan paling indah yang pernah kudapatkan bersamanya, ketika kami tak ingin saling berpisah, namun kami juga tak bisa mengungkapkannya.Foto itu selalu mengingatkanku pada AnggaraAku merasa ini pertemuan terakhir kita untuk selama lamanya, kisah cinta kita akan usai dengan sendirinya.Pada akhirnya, aku dan Anggara tak mau mendekat dan akhirnya pula kita akan menjauh.Kita mempunyai kisah yang tak diselesaikan, ia berakhir tanpa pengenalan.Dan entah kapan aku bisa melihat Anggara kembali, karna 5 tahun lalu, adalah kisah terakhir yang kuukir bersamanya, dan kuharap Anggara bisa bahagia dengan hidupnya.Aku sedikit berharap, dan menyesal secara bersamaan, bahwa aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya, dan aku ingin dia menjawab pertanyaanku selama ini?Tentang apa maksud dari semuanya?Dari netranya, aku melihat banyak binar cinta untukku, namun ia tak mau mengungkapkannya.Aku hanya penasaran Anggara, dan aku berharap kau mejawab rasa penasaranku dengan sosokmu.Karna jika boleh jujur, rasa itu masih ada, walau sudah 5 tahun berlalu namun ia tak tenang, karna kamu tak pernah menjawab pertanyaan nya.Anggara membuat hatiku terus terkunci dengan ribuan pertanyaan untuknya.Sosok Anggara masih menjadi teka teki sekarang
Cinta sejati
Apakah kalian percaya cinta sejati itu?Cinta yang tumbuh dengan ketulusannya, sangat lembut dan menenangkanCinta yang penuh dengan kasih sayang dan kesucian, cinta yang membuat kita merasa bahwa cinta adalah segalanya, cinta yang bisa meredupkan kekurangan kita, dan hanya menyinari keindahan kita.Sebesar apa kekuatan cinta sejati?Lantas bagaimanakah cinta sejati itu?Aku ingin merasakannya ?"Rose! Apa yang kau lakukan disitu?"Rose membuka matanya secara perlahan, dan ia lihat Venny,yaitu kakaknya sedang berjalan kearahnyaAku sedang menikmati angin kak"ucap Roese pada Veny dengan lembut.Aneh, bagaimana bisa kau menikmati angin ditempat seperti ini? Kau tidak takut ada ular disekitar sini?"ucap Venny sambil melihat ngeri,sekeliling yang penuh dengan rerumputan liar disekitarnya.Alih alih menjawab Veny,Rose lebih memilih mengabaikannya,Ia menghampiri pus dan Cherry yang sedang bermain direrumputan.Astaga kau juga membawa pus dan Cherry?!"ucap Venny dengan nada tak percaya.Bisakah kau berhenti mengomel kak? Lihatlah pus dan Cherry menjadi takut"ucap Rose sambil mengelus lembut bulu tebal Kucingnya.Ck, apa yang kau suka dari tempat ini?"ucap Venny sambil duduk mengambil pus.Kak, bukankah pus dan Cherry begitu serasi?"tanya Rose pada Venny, Venny langsung mengamati pus dan Cherry."Emm mereka memang sedikit serasi"ucap Venny dengan ragu.Ah betulkan? Mereka punya cinta sejati, jadi mereka terlihat sangat mencintai"ucap Rose membuat Venny termenung.Kak, bagaimana cinta sejati itu? Apakah itu menyenangkan?"tanya Rose pada Venny.Venny mengalihkan wajahnya, dengan raut yang kurang menyenangkan"berhentilah berkhayal tentang cinta sejati Rose,. Didunia ini tak ada cinta yang benar benar tulus!"tegas Venny dengan nada kesal.Tidak kak, itu karna kakak belum menemukannya"bantah RoseBelum menemukannya? Tidakkah kau belajar Rose, dari ibu dan ayah? Mereka saling mencintai, kata orang mereka punya cinta sejati? Tapi kenapa akhirnya mereka saling menyakiti? Kenapa akhirnya mereka berpisah dan meninggalkan kita? "Teriak Venny membuat Rose membeku.Rose, buka matamu sedikit Rose, didunia ini, cinta sejati itu tidak ada,Ais bisakah kau tidak kembali mengorek luka Rose,akh sudalah, lebih baik kau ke kebun membantu paman memetik bunga, kakak harus kerumah pak kepala"ucap Venny dengan nada tak percaya melihat adiknya,ia melenggang pergi dari hadapan Rose.Sedangkan Rose hanya termenung dan beralih menatap kelangit.Apakah cinta sejati itu memang tidak ada? Apakah semua cinta sejati itu akan berakhir seperti ayah ibu?Rose,ayo!"panggil Venny dari jauhIya kak sabar"Rose lalu beranjak dan pergi kekebun bunga milik pamannya.Kebun yang berisi banyak sekali bunga dengan berbagai jenis.Kau dari mana Rose?"tanya paman Gustin kepadaku.Ah, aku habis mencari angin paman hehe"ucapku sambil terkekeh pada paman.Aish, kau pasti kekebun kosong itu lagi.kenapa kau selalu saja membuat kakakmu marah?"tanya pamanku sambil berdecak pinggang.Aku langsung menghampiri paman dan memegang lengannya"oh ayolah paman, tidakkah paman jahat jika memarahiku juga? Aku akan dimarahi dua kali hari ini"ucap Rose sambil mengurucutkan bibirnya yang terlihat sangat imut.Karna gemas Gustin tak jadi memarahi Rose, justru mala mengelus pelan rambut panjang Rose"Mana mungkin paman bisa memarahi keponakan paman yang cantik ini"ucap paman membuat Rose terkekeh, ia tau pamannya akan luluh padanya.Rose sangat menyayangi Gustin sebagai pengganti ayahnya, dan Gustin pun sebaliknya, ia sedikit kasihan kapada keponakannya, namun ia sedikit beruntung akan itu. Ia jadi dapat merasakan memiliki anak disisinya, dari dulu , ia dan istrinya berusaha sangat keras untuk mendapatkan keturunan, namun sayangnya ada yang bermasalah pada rahim istrinya, maka dari itu sampai kapanpun ia tak bisa memiliki anak.Ia juga tak cukup hati untuk mendapatkan istri baru, karna ia sangat menyayangi istrinya.hingga suatu ketika kakaknya membawakan 2 orang anak perempuan yang sangat manis dan cantik. dia Venny yang saat itu masih berusia 14 tahun dan satunya lagi adalah Rose yang masih berusia 8 tahun .Ia saat itu perihatin melihat kedua anak itu, ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, namun ia hanya bisa bersyukur, berkat kakaknya, ia merasa hidupnya menjadi lengkap karna dua gadis ini.Rose, tuan Hadi memesan bunga Lily untuk diantar jam 4 sore, sedangkan paman harus kerumah pak Budi untuk membahas sesuatu, jadi bisakah kau yang mengantarkannya?"pinta paman Gustin pada Rose.Tentu saja paman, aku akan mengantarnya menggunakan sepedaku"Baiklah hati hati yah.......Hmm jadi kalau menurut alamat,aku harus menyebrang bukan?"ucapku sambil melihat kertas dihadapanku.Hmm lebih baik aku kehalte sebentar, jalur sepeda masih sangat lama"Rose mengayunkan sepedanya kearah halte.Ia duduk dan menatap rintik rintik hujan yang berjatuhan dari pohon pohon sekitar.Bukankah suasana kota sangat indah jika baru saja hujan? Semua terasa sangat segar.Aku beralih pada anak kecil yang ditinggal dihalte sendirian, sepertinya ibunya akan mrmbelikannya es krim, tampa sengaja aku melihat mobil Dengan kecepatan tinggi, aku pun langsung berlari melindungi anak itu.Dan sparasshh.Huwaa baju kakak basah"ucap anak kecil itu sambil menangis, aku tersenyum dan berjongkok.Tidak apa apa girl, ini hanya basah dan kotor sedikit"ucapku sambil mengelus pelan rambutnya.Tapi baju kakak sudah tidak bisa dipakai? Itu gara gara aku?"ucap gadis kecil itu sambil terus terisak.Berhentilah menangis girl, kakak tidak marah, kakak senang menolongmu, bukankah kalau kita baik, santa akan memberi kita hadiah? Makanya kakak berbuat baik, karna sebentar lagi musim salju"ucapku dan membuat anak itu mengangguk paham dan tersenyum.Baiklah kak, aku juga akan berbuat baik, kalau begitu aku pergi dulu, mama udah panggil aku dadah kakak cantik"ucap gadis kecil itu sambil melambai menjauh dari hadapan .Aku tersenyum dan membalas lambaiannya, tampa sadar ternyata ada seseorang yang tersenyum melihat aksiku.Setelah menempuh beberapa menit perjalanan akhirnya aku sampai di sebuah rumah yang sedikit mewah dan besar."Permisi, pak ini ada titipan bunga dari gustina Flower"ucapku kepada pak satpam.Baik non, terima kasih"Aku pulang dengan sangat sial, bisa bisanya hujan menerpaku ditengah jalan, dengan terpaksa aku harus meneduh ke depan halte, ugh sangat dingin dan sepi, hingga mobil berwarna hitam dengan laku yang tak benar berhenti didepan halte, seorang pemuda tampan langsung keluar dari mobil dan berjongkok tepat disampingku, ia meringkuk dan menutup telinganya dengan sangat takut, apakah dia takut hujan?.Dengan ragu, aku memakaikan earphoneku ditelinganya, ia terkejut dan langsung mendonggak bingung.Dari pada menjawab kebingungannya, aku lebih memilih mengambil secarik kertas dari keranjang bungaku, dan menuliskan sesuatu didalamnya, setelahnya aku menaruh tulisan beserta bungaku disampingnya.Dan aku langsung pergi tampa berpamitan dengannya.........Besok harinya.Bagaimana tidurmu Rose?"tanya bibi Tina sambil mengoleskan Roti panggang selai coklat dipiring RoseSangat menyenangkan, bibi aku bermimpi bertemu seorang pria tampan dimimpiku"ucap Rose dengan senang sambil mengambil roti buatan bibi.Benarkan? Itu bisa jadi pertanda baik, biasanya pria dimimpimu adalah jodohmu"ucap bibi membuat Rose berbinarBenarkan?"tanya Roee dan bibi hanya menganggukApa yang kalian bicarakan?"tanya Venny sambil menghampiri Rose dan bibi TinaKami sedang membahas pria tampan"ucap bibi membuat Venny menggeleng kepala, Venny memang tak suka hal hal berbau cinta.Rose, bibi sudah menyiapkan bunga bunga yang akan kau antar pagi ini, kau bisa mengambilnya di gazebo dekat taman"ucap bibi membuat Rose menganggukBaiklah bibi"Setelah makan, Rose mengambil bunga bunga pesanan dan siap untuk mengantarkannya, ditengah hari, tak sengaja ia melihat seseorang yang begitu dirindukannya.Rose tersenyum senang, ia menghampiri seorang pria paruh baya, yang sedang menatap senyum kepada seorang wanita dan dua anak kecil didepannya.Ayah"ucapku membuatnya kagetApa yang kau lakukakn disini?! Bagaimana kalau istriku melihatmu?"ucap ayah sambil menarikku menjauh dari sanaAyah, aku merindukan ayah"ucapku dengan mata yang sudah berkaca kacaRose! Ayah akan menjengukmu, tapi jangan sekali kali menampakan wajahmu didepan keluargaku"ucap ayah membuat hati Rose mencelosKamu disini saja! Istriku akan segera kembali, ayah tidak akan memafkanmu kalau kau menampakkan dirimu seperti tadi"ancam ayah membuatku hanya termenung rapuh.Bagaimana bisa, ayah yang selalu memanjakanku , ayah yang selalu melindungiku , menjadi seperti ini? Dia bukan ayahku !"Rose masih temenung dengan air mata lirih dipipinya, mengabaikan hujan yang terus berjatuhan dan menerpanya, tatapan Rose hanya terpaku pada 1 keluarga yang terlihat harmonis dan melindungi putra dan putrinya dari hujan.Ia sangat membenci ini !Ia terduduk dan menekuk lututnua. Ia menyembunyikan wajahnya dilututnya" Apakah cinta sejati memang tidak ada? Apakah benar cinta sejati akan seperti ayah dan ibu?" ucap Rose lirih dibawah terpaan hujan yang membasahi hampir seluruh tubuhnya.Hingga sebuah kaki berdiri tepat didepannya, dan membuat hujan berhenti mengguyurnya, Rose mendonggak dan ia melihat seorang pemuda yang memayunginya.Kau siapa?"tanya Rose dengan nada terisakJangan berhenti mempercayai cinta sejati, karna cinta sejati akan datang dengan sendirinya"ucap pria itu membuatnya bingung.Pria itu berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Rose tampa melepas payung yang melindungi mereka.Aku Geren, kau memang tidak mengenalku, tapi aku tau semua tentang kamu, kau ingat earphone ini, ini pemberianmu, kalau kau memilih tak percaya lagi dengan cinta sejati, maka aku akan mengajarkanmu hingga kau kembali percaya"
A bird in the hand
Gimana nggak dag dig dug duar cobak, kalo lu aja sering muncul tiba-tiba kek setan.AzlaPernah nggak sih lo duduk di parkiran sekolah anteng bet, padahal suasana di sekolah masih sepi. Ya pasti nggak pernah lah, kalo nggak ada keperluan-yang mendesak.Nah, sekarang bayangin kalo ada cewek yang berangkatnya subuh selama kurang lebih tiga bulan terakhir dan itu keperluannya, ya, nggak penting penting banget.Hayo tebak lagi ngapain?Lagi pdkt sama satpam sekolah mungkin . No way.Lagi mau jadi duta parkir biar dapet penghargaan murid terdisiplin . No way.Terakhir nih, pasti lagi nunguin kuntilanak lahiran di bawah pohon beringin deket parkiran, kan. Tetapi total salah hayuk rebah lagi...Okee gua kasih tau ya, cewek itu lagi nungguin someone. Dan lu tau cewek yang kalian lagi bayangin itu siapa? Itu gua nying:vGua rela bangun pagi pagi, naek Vespa tanpa helm-salah sendiri ye kan kagak make helm:v cuman buat nungguin someone kalo mau di bilang gebetan ya bukan, mau di bilang pacar apalagi. Jadi, dia itu semacam penyemangat pagi gitu, penyemangat kesayangan ngehhehehe.Someone itu namanya Fadlan. Anak IPA 1 boncengannya temen segeng gua. Pertama liat dia sih B aja, Dua kali liat lumayanlah, Er- kira-kira B+ nilainya, ketiganya nih baru A+ yeahahaha.Nggak tauk kenapa, gua suka aja ngeliat dia turun dari motor KLX nya. Sayang sekali bukan gua yang ada di jok belakangnya, heheu sad.Kenalin ges, gua Azla baru esma kelas 11, Pribadi gua sih normal normal aja, muka? Sans muka gua normal kok contohnya kaya si Lisa black pink ituh.Gua paling pengalah sama yang namanya temen. Gua bakal ngelakuin apapun supaya tali persahabatan gua sama temen-temen gua kagak putus.Paling nggak bisa mendem gemes-mendem tresno juga sih ngehehehe. Dalam artian disini gua gampang over kalo ngeliat cogan yang gua taksir contohnya ya Fadlan. pen ketawa tapi ini kisah sendiri. Paling receh dari kelima temen gua.Gua kenal fadlan dari temen sekelasku yang boncengan sama dia. Anaknya murah senyum, cool gitu tauk-dikit lagi beku. Itu dulu waktu aku belum kenal deket sama dia sekarang mah beuh mit amit hehe. Aku sering nungguin dia dateng ke sekolah modusnya nungguin temen sekelasku itu tapi ternyata ada tai di balik rempelo, oke salah maksudnya ada udang di balik tambak. Duh, apaan sih. Intinya ada anu anu dibalik anu. Sampek sini paham?Singkat cerita, waktu itu hari Jumat ada apel pagi terus gua ngeliat si Fadlan, sumpah ganteng bet, ya otomatis gua jingkrak jingkrak dong gemes sendiri. Temen' gua tuh pada kepo, ya gua sih nggak ada niatan buat ngasih tauk mereka alasannya karena mulut mereka itu super duper comel. Bisa bisa cinta dalam diam gua gagal total.Setiap hari gua nungguin dia lewat depan kelas, yang perlu lu tahu gua paling nggak bisa ngeliat dia terus diem aja. Efek yang ditimbulkan pas ngeliat serpihan surga sih macem-macem kadang gregetan, senyum-senyum sendiri, sampek mukul temenku. Karena itulah mereka akhirnya tau kalo gua suka sama Fadlan. Waktu itu gua panik bet sampek mohon mohon sama dia buat jaga rahasia, dia sih bilang ia ia aja, eh pas besoknya si Fadlan malah berangkat duluan daripada gua. Yang buat gua kaget dia itu tetep stand di parkiran. Gua kira ngapain beh ternyata dia nungguin gua. OMG banyangin lu jadi gua!! Btw kok gua jadi GR ye.Karena jantung udah kagak bisa di ajak kompromi akhirnya gua milih markir motor agak jauhan dari dia, terus pura pura nggak liat karena yang gua tau dia lagi ngeliatin gua! Yaudahlah karena yang biasanya ditunggu dateng duluan, mau nggak mau gau langsung jalan aja ke kelas. Eh enggak taunya dia ngikutin gua dibelakang ialah dibelakang, kalo di depan itu namanya gua yang ngikutin dia. Sumpah rasanya tuh susah bet mau nafas astaga!.Gua yang tadinya jalan ngadep depan sekarang jadi nunduk nahan bibir supaya nggak kelebaran kalo senyum- nanti jadi jenglot kan ngeri. Singkat cerita nih besoknya gua berangkat kayak biasa dan ternyata dia udah berangkat lagi ngeduluin gua sebel sih. Tapi bedanya kali ini dia nggak stand diatas motornya, karena badmood nggak liat dia pagi-pagi gua jadi sensi gitu. Di panggil aja sampek nggak nyaut, pas istirahat temen'ku pada keluar semua dan cuma gua yang di kelas sama didik (temen sekelas yang mirip orang bisu/pendiem) jadi berdua doang. Gua sih fine-fine aja, saking badmoodnya gua milih tiduran di depan kipas pokoknya tingkahku masyallah bet udah lepas jilbab rebahan di lantai pula.Sambil rebahan gua dengerin Dj pong pong unity dari ponsel, tiba-tiba suara Fadlan ngalun gitu di telinga gua pikir gua lagi ngehalu . Tapi ternyata enggak! Itu beneran dia. Karena kaget gua sampe jingkat mana jilbab nggak kepasang di kepala, rambut awut awutan lagi. Sumpah itu perasaan malu pertama kali waktu gua jadi manusia dan rasa malu yang kedua itu pas gua terpaksa nyeritain sepenggal kisah cinta gua ke elo.Otak gua bener bener langsung gesrek. Gua cuma ngeliatin dia doang kaya orang bego. Bukan sulap bukan sihir dia tiba-tiba ngomong di depan gua."Lo Azla kan ya? Bisa ikut gue sebentar nggak?"Mata gua refleks ngeliat Didik yang duduk di kursi diem bae bak patung pancoran dan dia sama sekali nggak tertarik buat nguping pembicaraan gua. Setelah yakin dia nggak bakalan nguping gua langsung iyain aja ye kan mayan rezeki nomplok, padahal ini jantung udah nggak bisa di kontrol lagi detakannya!Dia sabar bet nungguin gua pakek jilbab, pas udah selesai gua dibawa ke kantin malah. Jujur rasanya kaya gimana gitu jalan sama dia soalnya baru pertama kali gua deket sama cowok yang nggak sekelas, kalo sekelas sih alah udah biasa lagian dari seluruh penghuni kelas gua yang cowok pada burik semua. Kalo yang ini war biazah wakakakakak. Oke lanjut.Tepat di pintu masuk kantin gua papasan sama temen-temen segeng gua yang salah satunya jadi boncengannya Fadlan. Semuanya sih pada senyum senyum nggak jelas gitu karena kebiasaan PD ya gua bales senyum kan ya:).Lumayan lama setelah kita mempertemukan bokong pada kursi panjang khas kantin sekolah gua, dia sama sekali nggak berniat buat ngomong apa apa. Selain ngeliatin gua, anying gua yang diliatin rasanya pen tenggelam ke samudra Pasifik rasanya kayak lagi nyalon presiden.Nggak lama baru dia basa basi gitu, cerita cerita soal enak apa enggak jadi anak IPS beuh gua ya langsung nyerocos nanggepin, nggak peduli kalo suara gua ternyata paling kenceng dari seluruh penghuni kantin. Pas udah selesai makan dia ngomong lagi."Lo anaknya seru, gimana kalo kita temenan?"Dalam hati gua udah jingkrak jingkrak gajelass. Eh, tiba-tiba dia nambahin."Temen tapi jadian, gimana?" Bayangin readers bayangin lu digituin sama cowok yang kalen taksir!.Lagi lagi rasanya susah mau napas, tubuh melayang layang ke mars!! Hahaha lebai, itu namanya apa yak? lupa gua.Gua nggak jawab karena masih bingung mau jawab apa, lagian dia itu baru kenal sama gua maksudnya gua baru kenal dia. Eh sama aja yak:vArgh! Efek jatuh ke comberan eit kok comberan seh. Maksudnya tu jatuh cintaaaah.Udah seminggu dia berangkatnya pagi mulu jadi gua radak kecewa gitu. Gua bilang kan sama temenku yang boncengan sama dia panggil aja Titik, kenapa berangkatnya pagi bet. Dia malah ngejekin."biar lo nggak nungguin Fadlan mulu karena menunggu itu membosankan." Ye sok banget kan.Semenjak semingu itu fadlan sering bet nongol ke kelas gua kadang cuma lewat, kadang ikut nimbrung geng gua intinya begitu lah. Sampek besok besoknya gua sengaja berangkat pagi buat nungguin dia eh pas dia udah berangkat, si Titik-boncengannya Fadlan malah kaya orang ngambek gitu terus aku ditinggalin deh. Si Fadlan nyamperin aku cuma minta jawaban dari seminggu yang lalu, biar cepet aku iyain deh hehe 😁 soalnya dia itu spesies berbahaya bagi jantung gua wakakakakak.Lama kelamaan gua sama dia deket gitulah, semuanya udah pada tau kalo gua deket sama dia. Yang buat ganjil temenku yang boncengan sama dia itu kaya menjauh gitu dari gua. Karena bingung gua tanyain kan, eh dia malah bilang.*Ngapain nanya nanya, kalopun lo tau lo nggak bakalan nurutin kemauan gue!" ye ngegad kan yak, jujur sakit hati gua di bentak begjtu:(yaudahlah gua mikir mungkin dia lagi Pms atau lagi ada problem keluarga, sampek gua nggak sengaja liat dia sama Fadlan lagi ngomong berdua.waktu itu gua berangkat ke sekolah buat lompat jauh Intinya gua tau kalo ternyata Titik suka fadlan, dia marah' sama Fadlan bilang kalo dia nggak mau boncengan lagi sama Fadlan pokoknya bla bla bla yang bikin nyesek dia ngomong gini."Lo suka sama Azla karena dia lucu? Nyenengin? Nggak gampang ngambek kaya gue? Oke nggak masalah, mulai sekarang gue sama Azla nggak akan temenan lagi.""Asal lo tau ya Lan, Azla itu nggak ada apa apanya dibandingin gue. Dia terlalu natural, sekali aja liat gue Lan."bla bla bla gua udah males dengerin lagi karena Fadlan sama sekali nggak ngebelain aku, dia diem aja pas temen gua njelek njelekin gua ah bodo amat! Intinya begitulah.Kalo dibandingin gua sama Titik sih jauh bet perbedaannya, dia cantik aku jelek semua yang diomongin sama Titik tentang gua itu bener adanya. Dia stylish sedangkan gua nggak mudeng sama sekali kaya begituan. Pokoknya gua tuh bukan kaya cewek. Ntar gua kasih tau fotonya.Sampek detik ini temen gua masih marah:(Sebulan lebih gua sama Fadlan jadi temen tapi jadian. Udah sebulan pula Titik ngambek sama gua. Padahal gua udah coba bilang kalo gua bakal ngejauhin Fadlan tapi tetep ae dia kagak mau maafin gua, ya sorry sorry aja kalo gua nggak jadi ngejauhin Fadlan soalnya dia sering muncul baik di mimpi gua maupun di dunia nyata, ya mon maap dia ganteng sih.End
Do important is good
Udara panas di dalam angkot tidak menyurutkan semangat 45 seorang siswi SMA yang baru saja mendapat uang bulanan dari Abang kesayangannya.Di dalam sebuah angkot, gadis berambut cokelat kekuningan itu terus menyunggingkan senyum terbaiknya, meski penumpang di sampingnya adalah seorang pria botak dengan keranjang ayam di pangkuannya yang teramat sangat menyebalkan.Sedangkan di depannya terdapat dua orang ibu-ibu bertubuh gempal yang tengah asyik bercokol satu sama lain, terlihat jelas ibu-ibu itu akan pergi ke sebuah acara karena barang bawaannya yang menyerupai barang belanjaan bulanan emak emak.Gadis itu tidak merasakan sesak ataupun gerah berada di dalam angkot biru itu, dia bahkan terkekeh geli ketika menyadari hanya ialah satu satunya pelajar yang menaiki angkot butut seperti ini."Dek, memang enggak telat sampai di sekolahan?" Tanya seorang ibu di depannya. Ila menggeleng cepat tanpa menyurutkan senyum di bibirnya."Kalau telat memang sudah biasa, Bu. Lagian nih ya kalaupun saya telat, itu enggak masalah yang penting jangan telat bayar SPP." Jawabannya santai.Ibu itu hanya menggeleng pelan tanpa repot menanyainya lagi. Merasa di perhatikan Ila menoleh ke samping kirinya ke tempat pria botak yang memang sedang memperhatikannya."Ada apa, Om?" Tanyanya langsung.Pria botak itu hanya mengernyit heran melihat penampilan gadis di sampingnya itu. "Kamu Siswi SMA kan? Bukan apa apa tapi penampilan kamu enggak lebih dari seorang pemulung di jalan jalan."Ila tetap tersenyum seolah perkataan pria botak itu hal biasa, tentu saja itu sudah menjadi hal biasa yang ia dengar sehari hari. Namun, bagi ke dua ibu-ibu di depannya itu adalah hal yang luar biasa."Baju kamu memang tidak pernah di gosok, Dek?" Tanya ibu di hadapannya hati hati."Pernah, Bu. Tapi cuma sekali, itupun dulu waktu saya masih kelas X.""Lah, memangnya sekarang kamu kelas berapa?" Tanyanya lagi."Kelas XII." Sahut Ila tanpa dosa. Ibu ibu di depannya itu lantas menjadikan Ila bahan gosip bahkan dengan terang terangan. Tapi Ila tidak begitu ambil pusing dengan semua hal yang orang lain lakukan padanya, selama itu tidak mengganggunya secara pribadi seperti Mengganggunya makan, menganggu ia yang tengah BAB, dan menggangunya tidur. Sesimpel itu tetapi masih saja banyak yang iri dengan hidupnya.🌺🌺🌺"Kamu lagi, kamu lagi. Tidak pernah bosankah kamu bertemu saya setiap harinya?""Sekali saja kamu tidak terlambat datang, sekali saja kamu tidak membuat darah saya naik, sekali saja kamu tidak menampakkan wajah dekil kamu itu di depan saya. Bisa?!" Ila menghela nafas panjang sebelum menjawab runtutan pertanyaan dari guru BK yang terkenal kejam itu."Bisa, Bu." Kata Ila seraya menghilangkan beleknya."Kapan!""Nanti kalau saya sudah lulus dari SMA karang bintang ini, Bu." Sahut Ila dengan nada tenang. Guru di hadapannya ini sudah naik pitam pasalnya dari kelas X hanya Ila yang menjadi siswi terbar-bar kasusnya, jika yang lain terkena kasus tentang cara berpakaian yang terlalu ketat atau make up yang terlalu tebal maka Ila terkena kasus tentang dia yang terlalu jorok, makan di dalam kelas saat guru tengah menyampaikan materi, serta terlambat datang ke sekolah.Sejuta cara telah di lakukan oleh sang guru BK agar Ila dapat berubah, mulai dari menghukumnya keliling lapangan futsal 25 kali, membersihkan Lab fisika dan lab kimia, mengepel WC, hingga skorsing. Tapi itu semua hanyalah sia-sia faktanya hingga detik ini ia masih saja sama seperti saat pertama kali ia mendaftar menjadi murid di sekolah itu.Tidak ingin berlama-lama akhirnya Bu Ngian pukul palu. "Terserah kamu saja, sekarang Ibu minta kamu menyapu halaman belakang sekolah."Ila bersorak dalam hati Yeay, hukuman baru. "Baik, Bu. Permisi." Ila keluar dari tempat terkutuk itu dengan nafas panjang karena hukumannya kali ini hampir imbang beratnya dengan membersihkan lab fisika yang baru selesai untuk praktek. Halaman belakang sekolah yang jarang terjamah para siswa karena saking kotornya.Ila melangkah masuk tepat setelah bel istirahat berbunyi, ia sering sekali bolos di pelajaran pertama dan kedua hanya untuk menjalankan hukumannya."What the fuck! Heh lo cewe dekil enak banget baru berangkat jam segini.""Halah, bosen gue liat muka burik lo itu La. Ngapain si lo nggak ngungsi aja ke mars!""Tauk tuh, masih betah aja di sini. Bikin mood ancur." Nada bicara tinggi serta kalimat kasar dari teman temannya bagaikan sudah menjadi alunan musik di telinga Ila."Masalah banget ya? Emang situ pernah tau urusan gue? Oh sok tau urusan gue? Iya dong jelas, kalian itu kan jago banget kalau ngejudge orang.""Sialan lo.""Gue Ila woy, I-L-A. " kata Ila seraya meletakkan tasnya di atas meja."Bodo amat."Ila memang bukan cewek tomboy ataupun cewek nakal. Hanya saja Ila memang tidak pernah update jika soal kecantikan atau hal serupanya. Menurutnya yang penting itu urusan perut dan baik di depan Abangnya itu nomor satu sedangkan yang lain adalah nomor ke seratus sekian setelah jajaran makanan di pikirannya.Ila tidak merasa mendapat tekanan batin karena sikap seluruh temannya kepadanya, sebaliknya ia merasa ringan dengan segala sahutan yang akan ia lontarkan ke seluruh orang yang mencelanya. Meskipun sudah dua tahun ia bersekolah di SMA karang bintang ini ia sama sekali tidak pernah mendapat seorang teman yang bersikap baik padanya. Tidak pernah.So, dia tidak memiliki teman bahkan seantero sekolah pun tau dengan yang namanya Ila. Si cewek dekil. Ila tidak pernah merasa kecil hati jika ada yang dengan terang terangan mengatainya jelek, jorok, bau, dll. Karena memang mungkin saking kebalnya ia menjadi bahan Bullyan. Meskipun di bully Ila juga tidak akan tinggal diam jika teman temannya berani menyentuhnya.Seperti dahulu ketika ia baru kelas X salah satu temannya mengerjainya dengan memasukkan sampah kedalam tasnya. Ila tidak tinggal diam, dia malah memasukkan kodok ke dalam tas seluruh teman temannya yang hasilnya Ila dibuat cekikikan melihat ekspresi wajah teman temannya yang jijik serta ketakutan."Aqila Zahwa, lo satu satunya orang yang nggak dapet kelompok." Yuda-ketua kelas XII IPA 2 memberitahu meski dengan raut wajah malas harus berhadapan dengan cewek satu ini."Kelompok apaan?" Ila mendongak untuk menatap lawan bicaranya yang berdiri menjulang di depannya."Matematika wajib, lah.""Ya udah sih santai. Lo sama siapa?""Gue?" Yuda menunjuk dirinya sendiri."Iye.""Gue sama Caca lah." Jawabnya jutek."Yah, sama gue aja kenapa?" Bujuknya nyaris seperti memohon. Bukan apa-apa dia sudah sangat sering bolos pelajaran matematika wajib padahal gurunya teramat sangat killer."Ogah. Lo sendirian kaya biasanya aja, ok." Yuda segera enyah dari pandangannya, Ila menghela nafas panjang seraya mengedikkan bahunya."Bodo amat dah, serah serah, iss Ila lo kan udah sering alone kenapa sekarang jadi kaya gini sih. Sejak kapan?!" Gumam Ila pada dirinya sendiri. Ia kemudian bangkit menuju kantin. Pelampiasan terakhirnya.Ila berkacak pinggang dengan sebelah alis terangkat, antrean panjang serta suara bising khas siswa yang meraung kelaparan memenuhi penjuru kantin. Ila tidak ingin berlama-lama mengantre seperti ini, dengan gesit ia menyerobot antrian hingga pada barisan ke tiga."Ih apaan sih." Ila menegakkan punggungnya menyadari seseorang di belakangnya menggerutu."Indonesia budayakan mengantri woy!""Cewek dekil, mundur, lo!""Balik, ke belakang enggak?!"Suara suara itu hanya mampu menegakkan punggungnya saja tanpa mampu mengembalikan dirinya kembali ke antrean paling belakang. Sikap acuhnya membuat cowok di belakangnya berdehem."Sorry, lo bisa mundur enggak? Kasian nih cewek gue ngantri dari tadi." Ila tertegun di tempatnya, sebenarnya perkataan laki laki itu sepele namun mampu membuatnya beku di tempat. Pasalnya dialah satu satunya orang yang pernah berbicara pelan padanya."Gagu Lo?!" Ila memutar bola matanya jengah, baru aja gue puji, udah ngegad aja."Sorry, perut gue sakit banget. Maag gue kambuh nih." Ila langsung melancarkan aktingnya membuat cewe di belakang cowo berhoodie itu berdecak kesal."Ya udah buruan!" Ila tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk segera memesan makanan favoritnya. Sebenarnya semua makanan menjadi favoritnya tidak terkecuali.Es susu, sepiring risoles, lima buah pancake, semangkuk mie yang masih mengepul asapnya sudah tergeletak manis di meja Ila. Sedangkan pemiliknya masih sibuk memotret makanannya itu untuk di laporkan pada Abang kesayangannya.To : Bang Bossmakan bang hehe :*Ila segera meletakkan ponselnya lalu melahap risoles yang begitu menggugah selera itu. Dalam waktu kurang dari setengah jam seluruh makanan di atas mejanya sudah ludes pindah ke dalam perutnya yang sekarang masih terasa lapar."Kurang, nih." Ila menyebikkan bibirnya. Tidak jauh dari tempat duduknya ia mendengar sepasang suara yang menarik perhatiannya."Mau makan apa?""Terserah.""Makan soto aja, yuk?" Ila mengerjapkan matanya untuk memeriksa penglihatannya masih normal. Benar saja dugaannya, itu adalah cowok dan cewek yang sama ketika ia tadi menyerobot antrean.Ila mengerutkan keningnya tak mengerti karena dari sudut pandangnya sekarang ini bisa di pastikan kalau si cewek yang Ila tau namanya Nana sedang marah pada sang pacar yang tidak lain adalah Adnan-satu angkatan dengannya, bedanya Adnan masuk kelas IPA 1."Ogah ada kuahnya." Jawab Nana santai."Kalau gitu makan burger?""Nggak mau ntar gendut.""Ya udah sekarang mau makan apa?" Kata Adnan dengan nada sedikit marah."Terserah." Jawab Nana lagi yang hasilnya membuat cowok berhoodie itu geram.Ila membayangkan posisinya berubah menjadi Nana, maka dengan senang hati akan mengiyakan tawaran Adnan. Lumayanlah gratisan dari pacar. Ila tersenyum miris tanpa sadar.🌺🌺🌺From : Bang BossAbang pulangnya agak malem, jadi barista dulu ini:( kamu tidurnya jangan malem malem. Ntar pulang Abang bawain pancake.Ila menghembuskan nafasnya panjang, sudah sering ia melewati malam malam seperti ini dengan kesunyian.Jam menunjukkan pukul setengah dua belas tetapi Aryon-Abangnya Ila belum juga pulang.Ila merebahkan tubuhnya berbantalkan boneka Teddy hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Tujuh belas tahun pula orang tuanya telah meninggalkannya. Jika Ila mengingat-ingat kejadian itu, ia merasa kesal sendiri. Mengapa tidak dia saja yang mati? Kenapa harus kedua orang tuanya?.Waktu itu umur Ila setahun, sedangkan Aryon sudah berumur tujuh tahun. Ia dan keluarganya berniat untuk mengunjungi kampung halamannya yang berada di Jogja. Naas mobil yang di tumpangi oleh satu keluarga itu mengalami kecelakaan besar. Dua orang dewasa dinyatakan tewas sedangkan dua anak berhasil diselamatkan." Aqila Zahwa, Adik kesayangan Abang. Jadi, Aqila enggak boleh nangis terus nanti mama sama papa ikutan sedih di atas sana.""Aqila boleh makan apa saja deh. Asalkan jangan sedih, ok."Sekelebat bayangan Aryon membuat Ila tiba-tiba terharu ingin menangis, bayangkan saja anak berusia sepuluh tahun harus hidup dengan Adik yang berusia tiga tahun hanya dengan seorang nenek yang sudah pensiun.Jujur, Ila sangat menyayangi kakaknya yang selalu memberikan apapun yang ia minta. Bahkan ketika Ila ingin diet Aryonlah yang pertama kali melarangnya. Ia bilang ' buat apa diet? Gue nggak ngizinin lo kurus. Dikira cacingan ntar lo mau?'Biarkan seluruh dunia membencinya asalkan Aryon tetap berada di sisinya, Ila benar benar tidak peduli dengan pujian karena hidupnya penuh dengan celaan.Tok... Tok... Tok..."Aqila, udah tidur?" Suara Aryon membuat Ila segera menghapus jejak air matanya lantas bangkit untuk membukakan pintu."Hai, Abang." Sapa Ila semangat."Gue bilang jangan begadang, siapa suruh lo begadang?" Bukannya menjawab Aryon malah melangkah masuk dengan segala ocehannya."Yaelah Bang, Aqila tuh laper. Di kulkas kosong, mau masak nggak bisa ya udah Aqila nungguin Abang kan bawa pancake." Ila menyengir sedangkan Aryon menggelengkan kepalanya pelan tak pelak ia menyodorkan plastik putih pada Adiknya."Ya udah nih makan, gue mau mandi dulu." Aryon bangkit berdiri lalu menyempatkan diri untuk mengacak rambut Ila yang memang sudah acak-acakan. Toh pemiliknya tidak protes."Gimana di sekolah?" Pertanyaan itu lagi itu lagi tidak bosan apa? Gerutu Ila yang masih menyatap pancake oreonya."B, aja.""Kenapa nggak, A?""Gue maunya B.""Why, B?" Aryon mengambil tempat di sebelah Ila, sebelah tangannya masih sibuk mengeringkan rambut."Because ... do not know.""Aqila.""Hm..." Ila menoleh merasa namanya di sebut."Love you." Aqila tersenyum miring ketika Aryon menyentil keningnya."Udah sana tidur!""Siap! Bang Boss." Tanpa repot repot membereskan bekas makanannya yang berserak di atas meja, Ila langsung menjatuhkan diri ke ranjang dengan sembarang. Siap siap bermimpi.🌺🌺🌺"Abang mau money.""Bang Aryon ganteng, deh, Bang ...""Apa sii?""Money." Mata ila yang mngerjap polos mengamati Aryon yang sibuk mengepel lantai."Kemarin kan Abang udah kasih. Seminggu lagi baru Abang kasih lagi.""Seminggu? What the hell! Perut Aqila enggak sekuat baja Bang buat nahan lapar.""Siapa yang salah?""Aqila.""Makannya disuruh berangkat bareng sama gue aja bandel banget, giliran duit abis buat naik turun angkot gigit jari kan lo." Ila memutar bola matanya. Sebenarnya mau mau saja ia diantar ke sekolah oleh Aryon toh mereka searah, tetapi dia tidak siap jika harus mendengar mulut comel teman seantero sekolahnya.Akhirnya ia terpaksa joging ke sekolah sampai di depan gerbang ia memegangi perutnya, lelah luar biasa. Ila meringis ketika perutnya berbunyi nyaring.Pesanan seperti biasa sudah ada di depan mata tinggal menghitung detik untuk melahapnya, tetapi Ila urung karena bola matanya menangkap sosok laki-laki yang duduk membelakanginya."Kayaknya gue kenal, nih. Aroma parfumnya kok kue sih." Karena rasa penasarannya yang mencuat tinggi akhirnya Ila menghampiri laki laki tersebut."Woy." Ila menyengir ketika yang ia panggil sedikit berjingkat kaget."Lo, Ila? Why?" Katanya dengan sebelah alis terangkat."Boleh numpang duduk enggak?""Bukannya kursi disini masih pada kosong, ya?" Ila menggaruk pelipisnya."Ya maka dari itu berhubung sepi gue boleh duduk di sini kan, lumayan buat temen.""Oke."Secepat kilat Ila segera memindahkan seluruh makanannya ke meja Adnan. Tidak menghiraukan pemuda di hadapannya ia segera melahap seluruh makanannya hingga tuntas."Eeek.""Lo cewek tapi sendawanya kenceng banget." Adnan menggeleng heran."Biarin, lagipula lo dari tadi mendung banget mukanya.""Bukan urusan lo.""Hih Adonan, parfum lo itu ya baunya pancake Oreo tauk.""Masalah buat lo? nama gue Adnan bukan Adonan." Adnan ingin bangkit dari duduknya tetapi suara Ila menghentikannya."Masalah lah, gue jadi keinget sama pancake Oreo buatan bos Abang gue. Karena itu gue jadi pengen gigit lo." Ila mengerucutkan bibirnya lucu."Gigit gue?" Ila mendongak dengan mata mengerling pasalnya Adnan tidak jadi pergi dan duduk kembali ditempatnya."Iya, hehe.""Bisa senyum enggak sih, muka lo serem.""Biar gue tebak, lo broken heart ya ...""Kok lo tauk?" Adnan menatapnya lekat, ia tentu tahu siapa orang yang sedang berbicara dengannya ini."Tauk lah, secara siapa sih yang betah pacaran sama cewek manja kaya gitu. Astaga!""Adnan, lo harus inget ini baik-baik. Enggak selamanya yang berwajah cantik itu bisa diajak susah pun sebaliknya. Jadi buat apalah lo bersedih hati gegara putus sama Nana.""Oh."🌺🌺🌺"Please, deh Bang nggak usah di jemput."...."Gue masih punya duit, sans. Ok"...."Pokoknya sampek Abang jemput Aqila, gue nggak akan ngomong lagi sama bang Aryon."...."Sip. Lope you to."Tin...tin...tinSuara klakson motor mengagetkan Ila dari tempatnya berdiri. Ila menoleh dan melihat Adnan tengah menunggangi kuda mesin berwarna hitam pekat yang ternyata juga melihatnya. Tetapi Ila segera mengalihkan pandangannya ketika Nana menatapnya tidak suka.Dengan langkah seribu ia berlari ke rumahnya, ia tidak menyesal karena harus berpanas-panasan karenanya asalkan bang Aryon yang gantengnya ngelebihin Su Ho itu tidak datang menjemputnya."Rumah lo jauh ya?!" Suara bising motor serta suara laki-laki yang begitu familiar di telinganya membuat Ila mau tak mau harus menoleh."Iya nih jauh bet kaya hubungan kita yang nggak sampai' tahap pendekatan.""Ayo naik." Melihat Adnan berhenti Ila langsung ikut berhenti menunggu Adnan berbicara lagi."Naik, Ila."Di perjalanan Adnan sama sekali tak bersuara pun dengan Ila yang mendadak mendapatkan serangan jantung. Ila membelalakkan matanya ketika Adnan tidak mengantarnya pulang melainkan berbelok di sebuah kafe. Yeah, kafe itu adalah kafe favoritnya. Di kafe itu pula Aryon bekerja."Kok mampir? Tau banget gue lagi laper."Ila menyengir mengekor di belakang Adnan yang sama sekali tak menghiraukannya."Adnan gue mau balik ih, nggak suka ya gue makannya berdua tapi serasa makan sendirian.""Ad ...""Lho, Aqila. Lo kok disini?""Bang Aryon." Ila menyengir begitupun dengan Adnan yang menatap Aryon penuh tanya."Aqila Zahwa adik gue. Lo kenal dia?" Terang Aryon yang kini balik bertanya pada Adnan."Jadi, Aqila adik lo kak Yon?""Adik yang sering lo ceritain ke gue? Adik yang suka makan pancake Oreo buatan gue kak?" Wajah Adnan pucat pasi, menatap Aryon dan Ila bergantian."Eh gimana sih. Gue nggak ngerti." Ila menyela."Iya Adnan dia orangnya. Padahal rencananya gue bakal ngenalin lo sama Ila itu malming.""Ih apaan, sih Bang. Gajelass.""Jadi lo orangnya La?"Ila terkejut karena Adnan tiba tiba mencengkeram kedua bahunya memangkas jarak."Maksud lo?""Gue suka sama lo dari kecil. You know.""Hah.""Ikut gue. Kak Aryon, pinjem Aqila." Aryon hanya menyebikkan bibirnya ketika melihat adiknya di seret masuk ke dalam dapur.🌺🌺🌺Ila hanya ternganga melihat Adnan yang dengan ahli membuat pancake Oreo.Setengah jam kemudian, pancake Oreo spesial sudah matang. Adnan meletakkan pancake Oreo dalam piring saji, untuk menambah penampilan. Ia menyajikan dengan cream vanila serta kucuran cokelat untuk sentuhan terakhir ia menaburkan almond yang sudah di sangrai.Ia Ingin tersenyum ketika Adnan menyodorkan piring tersebut padanya, tetapi urung karena kalimat Adnan yang langsung mencelos hatinya."Sorry, gue udah ngerusak nama baik lo. Gue udah nyebar rumor nggak baik tentang lo." Mata Adnan meredup menatap Ila."Lo ngelakuin itu? Ke gue?" Ila hampir tak percaya."Iya, itu semua ada sebabnya. Dulu waktu pertama kali gue ngeliat lo pas MOS, hati gue udah tertarik sama lo. Tapi gue bekuin itu semua karena yang lebih menarik perhatian gue itu cuma Adiknya kak Aryon. Gue nyebar rumor kaya gitu supaya lo dibenci banyak orang dan berharap hati gue juga membencinya.""Gue salah. Gue salah besar, karena hati gue yang ternyata benar. Lo Adiknya kak Aryon, Adik yang selalu gue buatin pancake Oreo, Adik yang selalu ingin gue temui. Dan ternyata orangnya itu lo.""Aqila Zahwa I'm sorry and I love you so much.""Kalo lo terima pancake ini berarti lo mau maafin kesalahan gue dan resmi jadi pacar gue kalau enggak. Berarti gue coba lagi."Ila menengguk ludahnya berkali-kali di satu sisi ia benar-benar terhipnotis oleh pancake buatan Adnan yang begitu menggoda lidah namun di sisi lain ia ragu untuk memaafkan kesalahan Adnan. Kesalahan yang membuat Ila selama 3 tahun di jauhi oleh semua teman teman sekolahnya. Tapi, tidak bisa dipungkiri rasa yang berbeda kini timbul dihatinya. Ia tidak pernah melihat ketulusan seperti itu dari mata seseorang selain Aryon dan laki laki dihadapannya itu. Adnan.Perlahan Ila mengulurkan tangannya menerima piring yang disodorkan oleh Adnan, ia yakin pilihannya tepat.Adnan langsung menerbitkan senyumnya yang membuat Ila terpaku sejenak."Thanks. Aqila Zahwa i love you." Tanpa permisi Adnan langsung memeluk tubuh tinggi Ila.End