Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Ramadhan Tanpa Ayah
Bulan suci Ramadhan menjadi bulan yang paling dinanti dan dirindukan oleh umat muslim di seluruh dunia. Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa diantara bulan yang lainnya. Ada banyak keutamaan yang bisa kita raih selama bulan puasa. Salah satunya bulan penuh pengampunan. Dengan berpuasa pada bulan Ramadhan, maka bisa menghapus dosa yang telah kita lakukan. Sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam yang artinya, "barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahuwata'ala, maka diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari dan Muslim)Bulan mulia penuh berkah kali ini merupakan bulan puasa yang ke-7 sejak kepergian Ayah dari gadis sederhana yang berusia 20 tahun itu. Ya, Ayah dari gadis yang memiliki nama lengkap Imna Ramadhani itu telah meninggal sejak 7 tahun yang lalu. Namun ia seakan merasa baru kemarin kejadian naas itu menimpa ia dan keluarganya.Meski sudah beberapa tahun ia menjalani bulan puasa tanpa Ayah tercinta, namun tahun ini gadis itu merasa sangat merindukan sosok Ayah untuk menemaninya melewati hari-hari di bulan mulia penuh berkah ini.Ia tahu keinginannya itu mustahil untuk menjadi kenyataan. Karena ia yakin sang Ayah pasti sudah tenang di alam sana. Keinginan yang menggebu dari dalam hatinya harus ia redam sebelum berlarut dalam kesedihan.Sebelum memasuki bulan Ramadhan, ia kembali teringat kenangan masa lalu saat ia, Ibu dan Ayah sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang saat itu ternyata menjadi Ramadhan terakhirnya bersama Ayah tercinta.Imna yang saat itu sibuk memilah pakaian yang akan digunakan selama bulan Ramadhan. Mukenah pemberian Ibu tahun lalu sepertinya masih sangat layak pakai. Ia lalu menyatukan mukenah itu dengan beberapa sejadah yang sudah ia siapkan untuk kemudian dicuci lalu diberi wewangian.Sementara Ayah bersiap untuk memotong ayam kampung yang akan dijadikan lauk di hari pertama sahur. Beberapa tahun terakhir memang selalu seperti itu. Selesai penyembelihan, ayam itu berpindah alih ke tangan Ibu yang selanjutnya akan diolah menjadi lauk yang lezat.Selesai shalat magrib, Ibu kembali melanjutkan rutinitas memasaknya yang tadi tertunda. Sementara Ayah sedang menonton siaran langsung berjalannya sidang isbat yang akan menentukan hari pertama puasa. Imna yang ikut membantu Ibu sesekali menoleh ke layar televisi yang tak jauh dari ruang dapur. Namun ia dengan sigap saat ditegur Ibu agar lebih cepat membersihkan segala peralatan dapur yang sudah terpakai. Ibu tidak ingin melihat semuanya masih berantakan sebelum berangkat ke Masjid untuk melaksanakan shalat tarawih berjama'ah."Ibu, Imna, penentuan puasa pertama jatuh pada esok hari. Segera bersiap untuk shalat tarawih berjama'ah di Masjid," dengan suara yang sedikit berteriak Ayah memberitahukan bahwa malam pertama shalat tarawih jatuh pada malam ini.Ibu bergegas mengambil air wudhu setelah mendengar murottal Al-Qur'an yang berasal dari Masjid sudah berbunyi. Imna menyusul kemudian Ayah yang terakhir.Mereka berangkat lebih awal karena perjalanan akan memakan waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Menggunakan senter untuk menerangi perjalanan sudah Ayah persiapkan beberapa hari sebelumnya. Dengan pelan Ibu berjalan, disusul Imna dan Ayah. Mereka melangkah menyusuri jalan menuju Masjid.Di tengah perjalanan, mereka dikagetkan dengan suara anjing yang tiba-tiba menggonggong dari salah satu halaman rumah warga."Astaghfirullahal'adzim..." sontak Imna langsung mengucap istighfar dengan suara yang sedikit keras. "Ih, serem, bikin aku merinding," lanjut Imna."Kata orang kalau ada anjing yang menggonggong itu tandanya anjing itu sedang melihat makhluk ghaib. Bener nggak sih, Yah?" dengan perasaan takut Imna memeluk diri sendiri."Bisa jadi itu benar. Tapi Imna nggak usah takut, kan Imna nggak sendiri. Ada Ayah dan Ibu di sini, nggak ada yang perlu ditakutkan. Ada Allah juga yang selalu menjaga kita." Ayah mencoba menenangkan suasana. Sementara Ibu masih terus berjalan tanpa mengucap sepatah kata pun."Imnaaa..." teriakan Ibu sontak membuat Imna kaget dan membuyarkan ingatan itu yang tampak nyata dalam bayangan fikiran Imna."Iya, bu..." sedikit berteriak Imna menjawab panggilan Ibu."Segera bersiap untuk shalat tarawih berjama'ah di Masjid." Ibu yang sibuk membereskan peralatan dapur kali ini memelankan suaranya ketika melihat Imna mendekat.Hari pertama bulan puasa Ramadhan tahun ini jatuh pada esok hari. Imna yang selesai mengambil air wudhu bergegas menuju ke kamar untuk mempersiapkan diri."Aku rindu Ayah! Aku ingin ada Ayah di sini. Menemani aku dan Ibu seperti dulu. Aku tahu ini mustahil untuk menjadi kenyataan. Tapi rasa rindu ini sangat sulit untuk kupendam. Entah bagaimana caranya agar rasa rindu ini bisa redam dan... menghilang!" Lirih Imna sambil memandangi foto Ayah yang tersenyum merekah. Bersama air mata ia melangkah membawa rindu yang membuncah.
Maafkan Aku
Aku Lara seorang gadis yang tidak pernah membayangkan akan menjalani hidup serumit ini. Ibuku sudah lama meninggal. Aku tinggal bersama kakak dan Ayahku. Ayah jarang tinggal di rumah. Aku tidak tahu persis mengapa Ayah meninggalkan anak-anaknya.Keluarga kami sederhana, tidak kaya juga tidak miskin. Alhamdulillah, selama aku hidup, aku merasa tidak pernah kekurangan kebutuhan hidup. Seperti gadis remaja lainnya, aku juga menuntut ilmu di salah satu SMAN yang ada di kota ini.“Kak, aku berangkat ke sekolah dulu.” Kataku agak sedikit berteriak.“Oke,, hati-hati di jalan.” Kata kakak yang baru keluar dari kamar dan masih kelihatan mengantuk.Beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai di sekolah. Bel berbunyi saat aku masih di pintu gerbang sekolah. Aku berlari secepat mungkin agar bisa berada di dalam kelas sebelum guru masuk mengajar. Karena satu detik saja siswa terlambat datang saat guru sudah ada di dalam kelas, siswa tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran tersebut.Setelah selesai berdoa, kini giliran guru yang berbicara.“Sekarang kumpul tugas kalian.” Kata Ibu guru.'Astagfirullah!! Ternyata ada tugas yang belum aku kerjakan.' Gumamku dalam hati.“Bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas, silahkan maju ke depan.” Ucap Ibu guru setelah semua buku terkumpul. Aku segera maju ke depan bersama teman-teman yang lain, tapi mereka semua laki-laki, hanya aku yang perempuan.“Apa alasan kalian tidak mengerjakan PR?” tanya Ibu guru.“Saya lupa Bu’.” Kataku. Dan semua alasan kami sama.“Berarti kalian sekarang ketahuan, tidak pernah belajar di rumah, ya kan?” tanyanya lagi.“Mmm,,, Bisa dikatakan seperti itu Bu’.” Jawab teman yang ada di sampingku.“Ouw,, jadi seperti itu. Kalau begitu kalian lari keliling lapangan sampai jam pelajaran Ibu selesai. Keluar sekarang!!” Katanya agak sedikit membentak. Kami semua segera keluar dan mulai berlari.Sudah hampir satu jam kami berlari, terasa kaki ini mau patah. Namun bel belum juga berbunyi.“Ah,,, ampun deh…” kataku sambil menjatuhkan tubuhku di pinggir lapangan. Teman-teman yang lain masih semangat berlari.“Ra… bangun sebelum ketahuan. Tinggal sebentar lagi bel akan berbunyi.” Kata Imran setelah melihatku duduk di pinggir lapangan.“Iya Ra, jangan menyerah!! jangan putus asa!! Sebentar lagi kita akan segera sampai ke garis finis. Kalau kamu menyerah sekarang, hukumannya akan tambah parah!!” Kata Ifand menyemangatiku. Segera ku bangkit dengan tenaga yang tersisa.Tak lama kemudian bel berbunyi. Kulihat Ifand dan Imran berhenti di depan kelas dan Ibu guru sedang berdiri di depan mereka.“Oke, sekarang tulis surat pernyataan bahwa kalian tidak akan mengulanginya lagi. Kumpul sebelum bel masuk berbunyi.” Kata Ibu guru seakan tidak tahu apa yang sedang kami rasakan. Kami segera menulis surat permintaan maaf itu lalu menyetornya.***Hari-hari kujalani, hingga tak terasa sudah 4 bulan semenjak kejadian itu. Aku mendengar kabar dari kakak bahwa sebentar lagi dia akan segera menikah. Betapa senangnya hatiku. Sebelum hari pernikahan kakakku, Ayah datang ke rumah dan mengatakan bahwa dia menyetujui pernikahan tersebut dan menyerahkan rumah ini kepada kakak. Aku jadi bingung, kenapa Ayah menyerahkan rumah ini pada kakak?Pada hari pernikahan kakakku, perasaanku bercampur baur antara senang, sedih, dan takut. Senang melihat kakak sedang bersanding dengan wanita pujaannya. Sedih melihat keluarga baru Ayah yang terlihat begitu bahagia. Ternyata alasan Ayah memberikan rumah ini untuk kakak karena dia sudah punya tempat lain untuk pulang selain di rumah ini. Entah sejak kapan Ayah menikah lagi. Dia bahkan tidak pernah menceritakan padaku kalau dia sudah punya keluarga baru. Seperti inilah kehidupanku. Sangat jarang berkomunikasi dengan Ayah. Sampai-sampai Ayah sudah menikah lagi pun aku tidak mengetahuinya. Entah mengapa kali ini aku sedih melihat Ayah bahagia. Dan yang membuatku takut adalah ketika nanti aku harus hidup dengan ayah, ibu tiri dan saudara tiri.Aku bingung perasaan yang bagaimana harus aku tampakkan kepada orang lain saat ini. Haruskah aku tersenyum walau hatiku sedih. Aku benar-benar bingung.Beberapa saat kemudian Ayah datang mendekatiku.“Ra, untuk sementara kamu tinggal di sini dulu. Ayah yakin kamu belum siap untuk berpisah dengan kakakmu. Nanti Ayah jemput kalau sudah waktunya.” Kata Ayah."Hanya itu yang ingin Ayah sampaikan?" tanyaku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja."Maksud kamu?" Ayah bertanya balik."Keluarga baru Ayah. Apa Ayah tidak ingin mengenalkanku pada mereka atau menceritakan tentang mereka padaku?" mataku mulai berkaca-kaca sekarang.Ayah terlihat heran."Apa kamu tidak mengetahuinya? Dulu waktu Ayah menikah kakakmu datang dan mengatakan kalau kamu tidak ikut karena sibuk dengan sekolahmu. Ayah pikir kamu sudah mengetahuinya dari kakakmu?" kata Ayah sambil melihat kakakku yang sedang berfoto bersama teman-temannya."Tidak, kakak tidak pernah mengatakan kalau Ayah sudah menikah." kataku dengan air mata yang sudah mengalir di pipi. Ayah memelukku dan mencoba untuk menenangkan aku agar berhenti menangis di tengah keramaian.***Beberapa bulan aku jalani kehidupanku bersama rumah tangga baru kakakku. Semuanya baik-baik saja, sampai suatu waktu kakak keluar kota beberapa hari untuk urusan bisnis. Kini hanya ada aku dan kakak ipar yang tinggal di rumah. Kakak iparku seorang guru dan akhir-akhir ini dia kebanyakan mengalami stress. Dan dia selalu melampiaskan stressnya padaku meskipun aku tidak melakukan kesalahan. Hingga suatu waktu sepulang dari sekolah.“Lara!! Kenapa pulangnya terlambat?” tanyanya marah-marah.“Maaf kak, tadi ada masalah di sekolah dan aku ikut terlibat.” Kataku.“Kalau begitu, cepat bereskan semua ruangan.” Katanya lagi.“Baik kak,” Kataku.Beberapa jam kemudian.“Lara! Sekarang sudah jam setengah enam, kenapa belum selesai juga?” tanyanya masih terus marah.“Tunggu sebentar lagi kak.” Aku masih terus mengepel lantai.“Ingat ya, setelah pekerjaanmu selesai, kamu harus pergi dari rumah ini!! Jangan pernah kembali, Aku bosan melihat mukamu!!” Katanya terus melototiku.“Tapi kak, aku harus ke mana?” tanyaku mulai sedikit takut.“Terserah kamu mau ke mana. Yang jelas, jangan di rumah ini.” Katanya lagi.“Kalau kakak bosan melihat mukaku, aku akan masuk ke dalam kamar. Akan lebih baik seperti itu daripada keluar rumah.” Kataku memohon pada kakak ipar sambil menangis.“Tidak!! Pokoknya kamu tidak boleh tinggal di rumah ini!” sepertinya dia tidak bisa menahan stess dan melampiaskannya padaku.Beberapa menit kemudian, dia menyeretku keluar rumah.“Aku salah apa kak? Maafkan aku kalau aku salah. Kak izinkan aku bermalam di sini untuk malam ini. Aku janji akan pergi dari rumah ini, tapi jangan malam ini kak.” Kataku sambil menangis. Tapi apa boleh buat, dia sudah menutup pintunya bahkan dia mungkin menguncinya. Aku segera bangkit dan meninggalkan rumah.Beberapa menit kemudian, aku berhenti di depan sebuah Masjid dan ikut shalat berjamaah. Setelah selesai shalat, aku duduk di teras Masjid. Aku tidak tahu harus ke mana. Tanpa kusadari air mataku kembali menetes. Tak lama kemudian, ada dua gadis cilik berjilbab merah mendekatiku.“Assalamu’alaikum kak.” Mereka serempak mengucap salam.“Wa’alaikummussalam.” Jawabku.“Kakak kenapa nangis?” tanya salah satu gadis cilik itu.“Mm,, kakak diusir dari rumah dan kakak tidak tau harus ke mana.” Kataku masih terus menangis.“Oo,, gitu. Kak kenalin kami dari panti asuhan An-Nur nama saya Lala dan ini teman saya Rara.” Katanya sambil mengulurkan tangan.“Namaku Lara, dik.” Kataku sambil menyambut uluran tangannya satu per satu.“Tadi kakak bilang tidak punya tempat tujuan, kan?” Tanya Lala. Aku hanya mengangguk.“Kalau begitu kakak ikut dengan kami ke panti, daripada tinggal semalaman di sini, sendiri lagi.” Kata Rara sambil melihat di sekeliling lalu bergidik.Aku sangat senang saat itu, aku fikir inilah malaikat kecil yang dikirim Allah Ta’ala untuk menyelamatkan hidupku. Akhirnya kami berangkat bersama-sama menuju panti.Keesokan harinya Ayah datang untuk menjemputku dan meminta maaf atas kesalahannya karena tidak pernah peduli padaku selama ini. Setelah Ayah berbincang sebentar dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu pengurus panti, kami segera pamit meninggalkan panti.Hari-hari kujalani bersama keluarga baru Ayah, namun tidak seperti yang Aku bayangkan dulu. Mereka semua baik padaku. Maafkan Aku yang telah suudzhan kepada kalian semua.
Kasih Sayang Untukmu
Namaku Mutia. Biasa di panggil Tia. Aku adalah seorang gadis yang tinggal di desa. Ayahku bernama Hasan. Dia seorang petani biasa. Dan Ibuku bernama Syarifah. Dia adalah seorang Ibu rumah tangga yang begitu lembut dan penyabar. Mereka hendak menyekolahkanku di kota.Di sebuah sekolah negeri terkenal akan siswanya yang cerdas, di situlah tempatku menuntut ilmu dan melanjutkan pendidikan dari SMPN ke SMAN. Pada hari pertama, suasana masih terlihat sangat asing.Teman-temanku saat SMP tidak ada lagi yang kutemui di sini, kami semua terpisah. Sebagian besar teman-temanku saat SMP melanjutkan sekolahnya di tingkatan kecamatan, sedangkan aku di kota.Sebenarnya sekolah di kota memang keinginanku sejak sekolah di SD dulu. Karena di saat aku SD dulu, aku pernah ikut bersama Ayah dan Ibu ke kota untuk berkunjung ke rumah kakak aku yang sudah menikah. Saat itulah aku sangat suka suasana berada di kota. Tiap hari kita melihat mobil yang lewat di depan rumah, begitu juga pemandangannya yang sangat indah. Di saat itulah aku berfikir bahwa betapa senangnya kita tinggal di kota. Tidak seperti di desa, hanya pepohonan yang rindang yang terlihat. Kebetulan rumah kakakku bertingkat, jadi aku bisa melihat pantai dari kejauhan. Aku bisa menikmati pemandangan di ketinggian yang tidak pernah ku dapatkan di desaku.Setiap hari aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena jarak sekolahku dan rumah kakak dekat. Sekolahku yang sekarang sangat jauh berbeda dengan sekolahku di desa, yang bangunannya sangat sederhana dan fasilitasnya pun tidak lengkap. Sementara sekolahku yang sekarang bangunannya begitu megah dan fasilitasnya sangat memadai.Di sekolah inilah aku menemukan yang namanya sahabat. Namanya Dewi, dia adalah satu-satunya sahabatku yang mengerti akan diriku. Setiap hari kami selalu bersama, ngobrol, curhat dan menceritakan pengalaman yang telah kami lalui.Suatu hari, di hari yang cerah. Setelah bel istirahat berbunyi, siswa-siswi dengan girang meninggalkan ruang kelas, ada yang menuju kantin dan ada yang memilih ke perpustakaan. Seperti biasanya, Aku dan Dewi mencari tempat yang sejuk.''Kita ke sana yuk, di bawah pohon, kelihatannya di sana banyak angin.'' Kata Dewi.''Oke, yuk.''Jawabku.Setelah sampai di bawah pohon, seperti biasa, kami mencari tempat duduk yang nyaman.''Tia, menurutku pelajaran tadi sangat menyenangkan, kalau menurut kamu gimana?'' tanya Dewi.''Ya,, kamu benar. Pelajaran tadi memang benar-benar menyenangkan. Pak guru mengajak kita untuk belajar dengan sungguh-sungguh, agar cita-cita kita bisa tercapai.'' Jawabku.''Bukan itu maksudku, maksudku kita diajak untuk bermimpi, walau setinggi langit, dan kita juga harus berusaha untuk meraihnya."''Ooh,, yang itu. Aku setuju dengan omongan pak guru.'' Kataku singkat.''Mmm, kelihatannya kamu sudah mengerti tentang mimpi!''''Ya iyalah,,, Tia gitu loh.'' Kataku dengan penuh semangat.''Kamu serius?'' Tanya-nya lagi."Seriuslah!'' Kataku.Tiba-tiba dia mendekat kepadaku lalu berbisik ,''mimpi kamu apa?''''Mmm, sebelum berangkat ke kota, aku menatap wajah kedua orangtuaku dengan harapan, aku ngga' akan mengecewakan mereka. Sejak saat itulah aku mulai bermimpi, ingin meraih prestasi di sekolah dan membuat orangtuaku bangga dan aku ingin membalas kasih sayang yang mereka berikan untukku selama ini. Bagaimana dengan mimpi kamu?'' tanyaku padanya.''Aku ngga' pernah memikirkan tentang mimpi, apalagi sampai bermimpi.'' Jawabnya.''Wi', ngga' boleh begitu, setidaknya kita bisa membuat orang tua kita bangga, okey,,,'' Kataku.''Tia, aku ngga' lagi sama orangtuaku, mereka sudah bercerai sejak aku SD. Waktu itu, aku tinggal bersama Ayahku. Mungkin karna Ayahku sudah tidak bisa lagi merawatku, akhirnya dia membawaku ke panti asuhan. Aku bingung, bagaimana caranya membuat kedua orangtuaku bangga?'' Katanya dengan air mata yang tidak bisa tertahankan.Aku pun ikut terharu.Sekarang sudah memasuki semester dua. Ada banyak peluang yang bisa membuat aku dan Dewi bisa berprestasi. Akhirnya, tanpa ragu aku dan Dewi mendaftar ikut olimpiade. Aku memilih mata pelajaran Matematika dan Dewi pelajaran IPA.Dua hari sebelum acara dimulai, tanpa memberi tahu Dewi, aku mencari tau tahu tentang keberadaan orangtuanya Dewi. Akhirnya aku menemukan nomor handphone orangtuanya, lalu aku mengirimkan pesan kepada kedua orangtuanya.''Ayah, Ibu, mengapa kalian mengabaikan tanggungjawab kalian sebagai orangtua, aku selalu menanti kehadiran Ayah dan Ibu, aku juga ingin seperti yang lainnya. Jadi, kali ini aku mohon penuhilah keinginanku. Aku ingin Ayah dan Ibu datang ke acara sekolahku besok lusa. Aku mohon sama Ayah dan Ibu!'' Dari Dewi. Aku sengaja menggunakan nama Dewi, karena aku ingin mereka mengingat Dewi.Pada hari pengumuman, kami tidak menduga kalau ternyata kami bisa dapat juara. Aku dapat juara II umum dan Dewi juara III umum.Alhamdulillah.Beberapa saat kemudian, kami dipanggil untuk naik ke panggung untuk menerima piala. Semua orangtua siswa juga dipanggil untuk mendampingi putra-putrinya. Orangtuaku pun dengan perasaan bangga saat menuju ke panggung. Dan Aku terharu saat melihat kedua orangtua Dewi dengan bergandengan tangan menuju ke arah Dewi. Sepertinya mereka sudah rujuk kembali. Melihat ekspresi Dewi, kelihatannya dia tidak begitu yakin dengan kenyataan yang dia hadapi.Aku pun mengatakan kepada orangtuaku, ''Ayah, Ibu, inilah yang bisa aku persembahkan untuk membalas semua kebaikan Ayah dan Ibu.'' Lalu Aku dan Dewi berjabat tangan dan memeluk mereka.
Dia Pasti Setia
Gerimis turun perlahan, disertai angin kencang yang menggoyangkan dedaunan, hingga berguguran satu per satu. Aku dan Ibu berjalan menuju ke sebuah bangunan kumuh untuk berteduh. Meskipun bangunan tersebut terlihat kumuh, namun cukup membuat aku dan Ibu tidak basah akibat air hujan yang sudah mulai deras. Kami buru-buru mendekati bangunan tersebut.Kami benar-benar tidak menyangka kalau hari ini akan turun hujan, pasalnya tadi saat di bus, cuaca terlihat sangat cerah. Bahkan tak segelintir pun awan yang berani mendekati matahari. Ini membuktikan bahwa perubahan dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat sekalipun.Dua langkah aku mendahului ibu menuju ke bangunan tersebut. Habis, ibu jalannya lelet! Selalunya begitu! Aku paling nggak suka jalan sama ibu. Tapi aku harus bagaimana lagi? aku tak sanggup pisah dari ibu."Hujan kok tiba-tiba turun ya? Tanpa permisi! Kalau tau begini, tadi ibu siapkan payung sebelum berangkat!" Ibu mengomel.Aku menoleh kearah Ibu. "Maksud Ibu apa?""Maksud Ibu, tanda-tanda sebelum hujan turun." Jawabnya tanpa menoleh kearahku.Beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah belakang, aku menoleh. Kulihat seorang anak perempuan yang seusia denganku dengan berpakaian lusuh. Ibu pun ikut menoleh, ikut menyaksikan apa yang aku saksikan. Kami ngobrol dengannya. Katanya namanya Nina. Dia selalu datang ke tempat ini bila hujan turun dan bila malam sudah menjelang. Dia tinggal sendiri selama beberapa hari terakhir ini, tanpa perasaan takut sama sekali. Nina lari dari panti, setelah teman-teman di panti sering membully dia. Meskipun dia tidak tahu harus pergi kemana. Ibu tidak tega melihat keadaan Nina yang begitu memprihatinkan. Akhirnya Ibu mengangkatnya sebagai anak angkat.***Sembilan tahun kemudian. Aku dan Nina sekarang duduk di kelas XII. Aku senang punya saudara perempuan, meskipun saudara angkat. Namun, ada satu hal yang aku tidak suka dalam diri Nina. Nina selalu menceramahiku. Katanya suatu hari padaku saat aku sedang main game."Min, aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan marah, ya?""Ngomong apaan?""Tapi, janji jangan marah, oke?" tanyanya."Oke". Jawabku singkat."Aku pengen kamu nggak pacaran. Pacaran itu dilarang, dan yang jelas pacaran itu hanya akan menambah pundi-pundi dosa yang akan mengantar ke Neraka." Ujarnya sambil menatapku.Aku terdiam sejenak."Niin, aku terlanjur jatuh cinta. Bagiku melupakan itu susah. Apalagi Ayah dan Ibu jarang di rumah. Jarang memberikan kita kasih sayang yang sebenarnya sangat kita butuhkan. Kamu tahu itu, kan?" tanyaku kepadanya."Ayah dan Ibu jarang di rumah karena mereka kerja. Mereka kerja untuk kita, untuk masa depan kita." Katanya membela Ayah dan Ibu yang menurutku tak pantas untuk dibela. Ayah dan Ibu mengabaikan tanggung jawab dalam keluarga. Mereka lebih mementingkan kerja daripada meluangkan waktu untuk anak-anaknya.***Bel berbunyi tanda istirahat. Siswa dan siswi dengan girang meninggalkan ruang kelas. Ada yang menuju kantin, perpustakaan dan ada pula yang menuju lapangan sepak bola. Meskipun bukan pelajaran olahraga, mereka selalu bermain sepakbola. Aku dan Nina memilih ngobrol di depan kelas."Hay, boleh ikut ngobrol?" tanya Ifand, ketua kelas XII C. Orangnya gagah dan cukup disiplin."Ee, boleh. Silahkan." Kataku mempersilahkan dia duduk di dekat kami.Kami akhirnya ngobrol bareng, berbagi canda tawa. Tiba-tiba Ifand beralih topic."Min, kamu cantik. Aku suka kamu. Dari dulu aku menyimpan perasaan ini, namun baru sekarang aku berani mengungkapkannya. Bagaimana denganmu?" tanya Ifand. Mukanya serius kali ini.Aku dan Nina saling pandang. Nina mengangkat kedua keningnya. Kubalas dengan mengangkat kedua bahuku."Mm,, gimana ya?" tanyaku. Nina mencoba memberikan pendapatnya."Min, jangan mudah percaya dengan kata-katanya kalau kau tidak ingin sakit hati. Sudah berapa kali aku bilang pacaran itu dilarang." Kata Nina berharap aku bisa mendengarnya dan mengikuti arahannya kali ini. Aku hanya diam. Namun, lelaki itu tetap bersikeras mengeluarkan segala rayuan yang dia miliki."Min, aku janji padamu, aku akan selalu setia mencintaimu, kapan pun dan di mana pun itu. Percayalah!" Kata Ifand merayu.Aku mulai sedikit tertarik dengan rayuannya. Namun aku tetap diam."Kalau kamu nggak bisa jawab sekarang, nggak apa-apa. Kamu bisa jawab kapan aja. Aku duluan, ya." Ucap lelaki tersebut lalu pergi."Jangan percaya kata-katanya, Min." Kata Nina sekali lagi, memberikanku solusi. Nina tak ingin aku sakit hati."Tapi, kamu dengar sendiri kan, dia berjanji untuk setia. Aku yakin, dia pasti setia." Ucapku tanpa mempertimbangkan kata-katanya.***Bel tanda pulang telah berdentang. Kami diperingatkan oleh staff untuk langsung pulang ke rumah, kecuali siswa yang mengikuti organisasi. Di perjalanan pulang, aku nggak nyangka kejadian ini akan terjadi. Awalnya aku dan Nina berjalan di belakang mereka. Kami mengikuti jejak langkah mereka. Kami mendengar semua perbincangannya mulai dari awal hingga akhir. Ada yang aneh! Kata-kata yang dikeluarkan lelaki tersebut sama persis dengan kata-kata yang diucapkan Ifand pagi tadi di hadapan kami.Dengan perasaan yang menggebu-gebu, aku melangkah mendahului mereka. Aku pengen memastikan siapakah lelaki itu yang meng-copy-paste dengan sempurna kata-kata yang aku dengar pagi tadi? Aku melihatnya dari arah depan. Daaan......DDOORR!!!Bagai tembakan pistol yang 99,99% hampir mengenai batinku. Seperti itulah perasaanku saat ini."Ifand! Kamukah ini? Kamu yang berjanji untuk setia pada setiap perempuan?" ucapku tanpa mengedipkan mata. Nina hanya berdiri mematung di sampingku. Nina tak tahu harus berbuat apa. Sementara Ifand kaget, melihatku yang tiba-tiba muncul di depannya."Mina, aku hanya...""Hanya apa? Hanya berjanji pada perempuan itu untuk setia padanya, lalu pergi mencari mangsa lain, iya? Tega kamu Fand! Fand, kamu fikir hanya kamu yang punya perasaan, aku juga punya perasaan Fand! Punya perasaan!!" kataku sambil terus menatapnya.Ifand diam kali ini. Tak tahu harus ngomong apa. Beberapa menit hening. Hanya suara kendaraan yang lalu lalang terdengar. Nina tiba-tiba menarik lenganku, mengajak untuk pergi."Mina, mungkin ini adalah teguran yang Allah subhanahuwata'ala berikan padamu. Aku ingin kau menyadarinya! Aku ingin kau berubah! Aku ingin kita sama-sama menjaga agama Allah, bukan malah mengotorinya." Kata Nina mengingatkanku untuk yang kesekian kalinya.Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku tertarik dengan kata-katanya kali ini. Berubah!! Ya, aku ingin berubah, berubah agar tak mudah jatuh cinta.Waktu terus berlalu, tak terasa kami sudah di penghujung kelas menengah atas. Ujian nasional sudah di depan mata. Kali ini aku serius belajar, tak ada lagi kata pacaran dalam hidupku. Tak ada lagi bujuk rayuan yang pernah aku dengar. Sekarang aku benar-benar serius untuk berubah dalam menjalani hidup yang penuh makna.
KLINIK
"Lo gapapa sendirian?""Gapapa gue bisa sendiri kok, lu balik kekelas sana.""Yaudah deh gws ya sayyy.."***Pagi ini gue kebangun dengan kondisi ga fit meriang-meriang gajelas. Tapi nyokap maksa sekolah dengan alasan kemaren gue udah bolos gegara bantu-bantu dikawinan sodara.Seperti biasa gue nebeng sama sohib gue Carla. Biasanya gue yang bawa motor berhubung gue lagi ga enak badan ya terpaksa dia yang badannya lebih kecil bawa motornya.Sampe disekolah gue cuma tiduran dibangku sampe ketiduran beneran, akhirnya guru yang ngajar pas itu Pak Widya guru sejarah ganteng nyaranin gue buat istirahat di klinik sekolah.Carla sudi nganterin dan disinilah gue sekarang. Terbaring lemas tak berdaya sendirian.Gue berusaha untuk tidur dan mulai memejamkan mata. Beberapa menit kemudian...Kriettttt~Pintu klinik terbuka gue masih nutup mata dan denger suara cowok-cowok entah berapa orang masuk sambil ketawa-ketawa."Eh nyet aus ga? Gue bawa kopi saset nih..""Emang pinter lu sob. Seduh gihh."Sekilas percakapanan mereka.Mampus galon airnya kan disebelah ranjang gue!Gue langsung berakting seakan-akan sedang tertidur pulas.Bener aja ada aura-aura seseorang mendekat dan bunyi air dituang kegelas.Kemudian hening, gue memberanikan diri buat ngintip.Sosok anak laki-laki tinggi membelakangi gue dan tengah asik ngaduk-ngaduk kopi digelas.Punggungnya bidang banget kayak atlet renang, siapa nih? Belum pernah liat anak SMA gue kayak begini bentukannya.Saat ia berbalik gue merem lagi. Obrolan mereka berlanjut hingga jam pergantian pelajaran dan entah gimana ceritanya gue ketiduran.Pas gue bangun mereka udah ga ada. Sekarang gue bisa bernafas lega.Gue beranjak kekamar mandi klinik yang terkenal kebersihannya. Setelah selesai dan hendak keluar gue denger lagi suara cowok yang tadi."Yahhh udah ilang sob.""Yaudah sih gue balik ah gabut dimari.""Lahh jangan dong ni handphone nya aja masih dikasur paling juga tu cewek balik lagi.""Elahh ga peduli gue."Gue masih dikamar mandi nyimak apa yang terjadi dan sepertinya mereka sudah pergi.Pas gue balik ada secarik kertas dikasur tempat gue tidur tadi.Id line gueEldomh_Lain kali jangan ngumpet disana nanti pingsan kehabisan nafas :DSyittttt dia tau gue tadi dikamar mandi. Jangan-jangan dia juga tau tadi gue pura-pura tidur.Carla jenguk gue pas istirahat dan gue cerita panjang lebar sama dia. Carla maksa-maksa gue buat add tu id line. Tapi gimana ya..Ga ada salahnya sih, akhirnya gue add dan langsung di chat.Personal chatEldo : hai kelas mana?Anjuu ngegasssAira : hai juga 3ipa8 lu?Eldo : lah 3ipa? Gue 3ipsYamaklum disekolah gue kayak ada batas antara anak ipa dan ips.Aira : ohh oke salkenEldo : iye salken juga wkwk ga welkam2 juga ni?Aira : paan si dikira grupchatEldo : wkwk lu masih sakit?Aira : hm masih, lu tadi bolos?Eldo : kagak emang lagi ga ada guru aja. Btw gws ya demam lo tinggi banget mending izin pulang dehhLoh kok dia tau gue demam?Aira : tau dari mana?E ldo : abisnya tadi pas gue cek panas lo 39 gue buru-buru cari es kekanti pas balik lu nya ngilang.Yalord tadi gue diapain pas tidur?!Aira : iye gue dikamar mandi. Lu cek panas gue pake thermometer kan?E ldo : gue emang anak ips tapi yang begituan otak gue masih nyampe kaliAira : bukan gituu maksud gue lo cuma cek panas gue aja kan ga ngapa-ngapain?!Eldo : tenang sekali lagi gue emang anak ips tapi tetep sopan. Gue ceknya dijidat doang lu udah 39 apalagi gue cek diketek.Lahhh dia ceknya ditempel dijidat gue semprulllAira : kenapa ga panggil pmr?( * ) pertolongan pertama pada demam memang sudah benar dengan cara di kompres, tapi bukan dengan air dingin atau es ya. Melainkan air hangat, guna untuk membantu menstimulasi agar otak menurun kan suhu tubuh kita. Gitu kurang lebih, kalo salah ya maap. Authornya anak ke-broadcast-an bukan anak ke-dokter-an.E ldo : haha gue panik plus ga kenal anak pmr jugaGue lupa di ips ga ada yang ikut pmr.Aira : yaudah thanks ya udah repot -repot nyari es batu segala. Ni es nya gue pake.Pake minum ahahahahahhahaaaaEldo : anytime . Btw lo kalo tidur cantik.What??????Eldo : gue ada guru nih. Nanti chat lagi ya. Bye Aira cepet sembuhhRead 11.35//blush//*pip pip*//ngambil thermometer diketek//DEMI APA 40 DERAJATT!!!!!"Sayyyyy astaga muke lu kayak yuyu rebus!!" Carla panik banget.Iya gue rasa juga ini pala udah keluar asep.***Keesokan harinya gue bolos karena sakit dan orang rumah ngijinin, karena sikon gue emang sangad memprihatinkan!Baru sehari ditinggal Carla cerita bahwa akan ada pertempuran terbesar dan terbringas abad ini, karena menyangkut seluruh angkatan dari masing-masing kubu ipa dan ips.Masalah awalnya ya gini simak baik-baik yaa....Ada cewek dari angkatan 1bahasa yang digebet sama angkatan 2ipsternyata si cewek itu udah punya pacar anak angkatan 1ipadan si cowok yang mau gebet itu punya abang anak angkatan 3ipsLantas pacar cewek itu punya abang juga anak angkatan 3ipaKalo gue jadi si cewek sih langsung adopsi abang juga, biar komplit mereka buat boyband.Kira-kira empat kali dengerin baru gue paham sama silsilah perkelahian ini.Emang deh ya cewek-cewek bahasa suka jadi perebutan. Apa daya cewek ipa yang kalo lewat suka di ejekin, "suntik dong bu dokter enjus enjus enjus..."Emangnya semua orang yang jurusan ipa mau masuk kedokteran?Enjus-enjus pala lu peang, boneka susan kalik!Ya gue sempet lewat di deretan kelas ips dan berencana mengintip memastikan hari ini si Eldo itu sekolah apa engga.Antara iya dan tidak sih soalnya..Gue harap tidak sehingga dia ga ikut perang.Gue harap iya sehingga gue bisa ketemu dia hari ini.Jawabannya dia tidak ada dikelas yang sedang ada guru nya itu. Apa dia bolos?Entah apa yang menggerakan kaki gue melangkah dengan sendirinya bukan ke kelas yang sudah ada guru sejak 15 menit yang lalu.Kaki gue mengarah ke tongkrongan anak ips bahkan klinik dan dia tetap ga ada. Kayaknya bener-bener ga masuk, well nice lah..Walau sedikit kecewa, gue bersyukur.Besoknya...Besoknya...Besoknya...Dia tak kunjung keliatan batang hidung nya. Apa dia semacam penunggu klinik?Should i text him?
Bang My Head
Dia agent yang terluka menyelinap masuk jendela terbuka kamarku. Bercak darahnya tertinggal di horden putih lemasku.Terdengar desahannya saat merapikan lukanya dikamar mandi mungilku.Melakukan semua misinya tanpa kesalahan namun kali ini ia membuat kesalahan yang fatal yaitu tertidur disofa baca ku.Awalnya aku tak tau siapa pria ini, aku hanya memindahkan tubuhnya kekasurku dan menjahit lukanya. Untungnya aku pernah belajar pertolongan pertama diklub mendaki.Keesokan harinya ia terbangun dengan demam yang cukup tinggi, ia segera mengemasi barang-barangnya lalu membuka jendela hendak melarikan diri."Tunggu, demam mu sangat tinggi." Kataku dari balik punggungnya. Ia sangat terkejut dan menodongkan senjata api kearahku. Sontak aku mengangkat kedua tanganku keudara."Kau bisa saja pingsan ditengah jalan." Lanjutku. Ia tetap kekeh, lalu lukannya yang masih basah mengalami pendarahan lagi. Pria itu langsung jatuh berlutut menahan rasa sakit.Aku bergegas mengambil peralatan dan membaringkan tubuhnya dilantai. "Kau tidak boleh banyak bergerak, kau sangat beruntung itu hanya wadcutters. " Ia hanya menatapku dengan terus mengeluarkan keringat."Kau tau macam peluru?" Tanyanya, suaranya sangat berat namun tipis. Seperti rudal yang membisik."Yeah selain tenaga medis diklub mendaki, ayahku penjual senjata berlesensi resmi.""Ouch!" Rintihnya. "Tahan sebentar lagi, aku akan menyelesaikannya dalam 5 detik."Ia menarik tanganku ketika hendak beranjak, "siapa kau?" Tanyanya. "Aku yang seharusnya bertanya siapa kau? Dari sekian banyak rumah, kenapa rumahku?""Karena hanya rumahmu yang jendelanya terbuka." Jawabnya singkat dan melepaskan cengkramannya."Aku sudah selesai, kau boleh pergi sekarang."Ia melangkah kejendelaku dan kemudian berhenti. Tiba-tiba berbalik dan menyudutkanku. Wajahnya begitu dekat, aku bisa melihat bekas-bekas luka serpihan kaca."Why you help me?""Because u cute?" Kataku sambil berdehem, sekedar bercanda.Tangannya yang kuat memelukku, garis dagunya tampak jelas dengan jarak sedekat ini, ia menciumku dibibir dengan sangat lembut."Kau tidak bisa membayar nyawamu dengan ciuman bodoh." Kataku sesaat ia melepas ciumannya."Apa yang kau inginkan?""Sebuah nama.""Scott William Batch, mau menikah denganku?"Sepertinya demamnya sudah tahap halusinasi"Baiklah tuan Batch, mengapa kau tidak minta bantuan pangkalanmu untuk menjemput?""Tidak itu akan membahayakanmu, dia akan tau kau yang menyelamatkanku." Ia membelai pipiku.Siapa yang ia maksud 'dia' ?"Sebuah nama sudah lebih dari sekedar nyawa, pergilah." Aku melepaskan tangannya, membiarkan ia berjalan mendekati jendelaku. Kemudian hilang diantara kilauan cahaya matahari.Dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan.Ia yang datang ditengah malam dan ia yang pergi diawal pagi.Menyelinap masuk melalui jendela lalu menyelinap keluar melalui jendela yang sama.Seperti peterpan saja.
Tales of Tales : Creature under the sea
Saat umurku 8 tahun, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupku. Aku bangkit dari kematian.Suatu malam aku hilang dan seluruh desa membantu untuk mencariku, keesokan paginya aku ditemukan terkapar ditepi danau kecil tengah hutan.Tabib desa memeriksaku dan ia menyatakan bahwa aku telah tiada. Namun kemudian terdengar nyanyian nan merdu memikat hati.Seketika aku menyemburkan air yang terperangkap diparu-paruku dan kembali bernafas. Jika tidak dibangunkan dengan nyanyian itu bisa saja aku tidak ada disini.Disini dikota yang berkembang dan padat jalan-jalan kini dipenuhi dengan kereta-kereta yang ditarik dengan kuda. Pakaian orang-orang sudah mulai menunjukan kastanya.Setelah 5 tahun merantau, kini aku siap kembali kekampung halamanku untuk menata desaku sebagai utusan dari pemerintahan kota.Ibu sudah menyambutku diujung desa dengan wajah yang sumbringah tak kuasa menitikkan airmata menyaksikan putra satu-satunya kembali pulang kepangkuannya.Desa sudah banyak berubah kecuali hutan itu, masih sama seperti dulu. Gelap dan berkabut, tak seorangpun berani masuk kecuali keluarga pemburu.Malam itu aku pergi ke bar untuk bertemu dengan sahabat-sahabat kecilku. Evan adalah salah satunya, dan ia keluarga pemburu.Evan menceritakan semua kejadian yang selama ini ia saksikan di hutan tepi desaku."Saat itu aku masih belajar menentukan arah mata angin dengan memperhatikan arah tumbuh lumut. Aku terpisah dengan ayahku dan seperti yang tetua katakan, jika kau mendengar nyanyiannya itu artinya kau tersesat.""Nyanyiannya?" Tanyaku."Nyanyian makhluk penjaga danau kecil ditengah hutan.""Seberapa besar danau itu?""Hey kau merusak ceritanya! Bukan itu bagian serunya, aku akan menceritakan bagaimana aku keluar dari hutan itu bukannya mengukur diameter danau."Kemudian Evan melanjutkan ceritanya namun aku tak terlalu memperhatiakn karena kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan apa itu danau yang sama dimana aku ditemukan 15 tahun yang lalu? Dan apa itu nyanyian yang sama yang menyelamatkanku juga Evan?Beberapa minggu telah berlalu, aku mulai menikmati kebiasaan-kebiasaan di desa. Tapi rasa penasaranku semakin menjadi-jadi akhirnya aku mengajak Evan si sulung dari keluarga pemburu untuk mencari danau mistis itu.Awalnya Evan menolak tapi aku tau kelemahannya, pujian."Tanpa keturunan pemburu yang gagah berani dan mempunyai sifat alami, bagaimana aku bisa mencarinya sendiri?" Ujarku memelas.Seketika Evan setuju dan malam itupun kami berangkat. Mengapa malam hari? Karena dipagi hari penjaga makam akan mencegah kami."Kau yakin?" Tanya Evan sesaat sebelum kami masuk. Aku hanya mengangguk dengan tampang serius.Beberapa menit menyusuri hutan yang gelap, hanya dengan pencahayaan lentera seadanya Evan berjalan cukup lincah sedangkan aku masih terbata-bata.Akhirnya ketakutan terbesarku terjadi, aku terpisah darinya.Tuhanku tolong aku!Doaku dalam hati, hawa terasa dingin dan tengkukku mulai merinding. Mulai terdengar sayup-sayup lantunan lagu, lagu yang semakin aku penasaran semakin keras suaranya.Aku mengikuti nyanyian itu, dan sampailah aku di danau yang aku cari-cari.Tidak tampak seperti danau karena sangat kecil diameternya, lebih tampak seperti genangan air.Aku meraih ranting panjang lalu mencelupkannya kedalam danau itu, dasarnya belum sampai tampaknya sangat dalam.Kemudian aku melihat tanah yang kuinjak berkilauan, ternyata banyak sekali mutiara yang bertebaran ditanah dekat danau itu.Tempat apa ini sebenarnya?Aku baru sadar bahwa nyanyian itu sudah hilang, berganti dengan suara jangkrik dan serangga-serangga lain yang bersahutan.Aku harus segera mencari Evan, "kawan!" Seru Evan dari balik kabut, sedikit berlari menghampiriku."Lihat Evan aku menemukannya!""Kita harus segera kembali, penjaga makam menyadari ada yang memasuki hutan."Aku hanya merasa tak rela, setelah menemukan danau dan mendengar kembali nyanyian yang menyelamatkanku. Aku meninggalkannya begitu saja sendirian."Hey tunggu apa lagi, cepatlah kawan!" Evan mendorong tubuhku, dan kami pun menyusuri hutan kembali.Sejak malam itu, setiap malam aku mulai bermimpi tentang danau dan nyanyian itu, juga sosok yang belum pernah aku lihat. Sosok yang meringkuk dalam kegelapan hanya ditemani kabut, ia tampak sangat menderita.Aku menceritakannya ke Evan dan ia mulai membual, "kau terlalu banyak membaca buku, ayo bersenang-senang." Kemudia Evan mengajakku kepesta salah satu temannya didesa sebelah.Jujur dikota aku tak pernah ikut pesta, Evan tampak sangat menikmatinya ia minum banyak sekali arak atau sejenisnya."Hey kau temen Evan?" Tanya seorang wanita disebelahku."Ya." Jawabku singkat."Aku Esstel, kau punya pekerjaan yang besar malam ini yaitu membawa Evan pulang.""Yeah, aku bukan teman yang jahat.""Itu bagus untukmu." Wanita ini sangat agresif, ia meraih bahuku dan menciumiku.Aku melepas cengkramannya dan menghela nafas, "sepertinya aku harus melakukan tugasku sekarang."Menggendong Evan pulang bukan hal yang mudah, aku hanya kelelahan dan menurunkannya sejenak.Padang rumput yang luas dan hijau, tapi tidak terlihat hijau saat malam. Hanya bintang kerlap-kerlip dilangit.Siapa wanita itu?Tiba-tiba wanita dalam mimpiku terlintas dalam pikiran. Malam mulai dingin, angin-angin rasanya bisa menusuk menembus bajuku. Aku kembali mengangkat Evan ke desa.Malam hari berikutnyaApa yang aku lakukan disini?Bertanya-tanya pada diri sendiri, ketika mendapati aku sudah berdiri ditepi danau dalam hutan.Tanpa alas kaki aku bisa merasakan bulir-bulir mutiara berserakan dikakiku. Dinginnya malam memeluk dan kabut yang membutakanku. Aku kembali mendengar nyanyian itu, dan terlihat sosok samar-samar dihadapanku terduduk meringkuk sendirian ditepi danau."Siapa kau?!" Seruku.Ia hanya diam dan meneruskan nyanyiannya yang sekarang berubah menjadi isakan. Ajaibnya aku melihat air matanya jatuh ketanah dengan jelas lalu bersinar sejenak.Aku berjalan mendekatinya dan kini wajahnya terlihat, seperti wajah perempuan biasa hanya saja begitu sembap dan pucat."Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku.Ia hanya menatapku dan seakan katanya mengisyaratkan, ia dalam kesusahan dan amat menderita."Aku akan membantumu." Ujarku.Ia tersenyum dalam kesedihannya dan berusaha meraih tanganku, aku menjulurkan tanganku.Tiba-tiba ia menarikku kedalam air, aku panik dan meronta-ronta dalam air. Namun kemudian ia menciumku lalu aku mulai tenang.Kembali kesadaranku, aku bisa bernafas dalam air. Aku menatapnya dengan mata yang hampir melompat keluar, perempuan ini tidak punya kaki melainkan ekor. Ekor yang indah dibawah cahaya rembulan."Sekarang aku bisa bicara." Katanya, suaranya sangat merdu seperti nyanyiannya."Kau ini sebenarnya apa?" Tanyaku, kami hanya berenang memutar-mutar agar tak tenggelam."Aku bangsa duyung, penghuni laut lepas yang paling dalam. Kau anak Adam, balaslah budimu."Budi apa?"Apa kau yang menyelamatkanku 15 tahun yang lalu?" Tanyaku."Sama seperti 15 tahun yang lalu, kau berjalan sendiri dialam bawah sadarmu menghampiri jiwa-jiwa yang butuh pertolongan."Apa yang dibicarakan duyung ini? Apa sekarang aku sedang bermimpi??"Kau punya roh yang tulus, itu merupakan anugrah dari leluhurmu. Didaratan aku hanya bisa bernyanyi, aku menarik perhatian orang-orang sepertimu untuk datang dan menolongku. Namun dia tak menyukainya!" Lanjutnya.Dia?"Jadi aku bisa bantu apa?" Tanyaku."Bantu aku kembali kelautan." Permintaan itu sangat mudah namun dengan ukuran duyung itu akan sangat sulit.Aku berjanji padanya akan memikirkan caranya dan sesegera mungkin mengabarinya.Ibu terkejut karena aku mengetuk pintu depan yang terkunci dan kembali dengan baju yang basah kuyup. Ia sangat cemas dan aku hanya menjawab dengan alasan selogis mungkin, "aku tidur berjalan lagi."Mungkin hanya Evan, teman yang dapat ku percayai didunia ini.Aku menceritakan semua padanya, awalnya ia hanya tertawa karena mengangap itu sebuah lelucon tapi dengan bukti air mata duyung ia kemudian percaya.Air mata duyung akan berubah menjadi mutiara dengan kualitas yang sangat luar biasa, mengalahkan tiram diseluruh dunia.Aku mendapat ide untuk membuat wadah membawa duyung itu kembali kelautan. Yaitu sebuah peti yang biasanya keluarga pemburu bawa, peti besar untuk membawa hasil buruan yang banyak.Didalam peti itu ada peti lagi yang didalamnya berisi air untuk temoat duyung itu. Peti yang berisi duyung akan ditutupi dengan hasil buruan Evan nanti.Hari eksekusi"Kau sudah hafal dialog mu, kawan?" Tanya Evan padaku. Aku mengangguk yakin dan kami mendorong peti itu keluar hutan dengan duyung didalamnya.Seperti biasa penjaga makam akan menyapa kami dan aku harus terlihat semeyakinkan mungkin.Namu hari itu ia tak seperti biasanya, penjaga makam menghampiri kami dan berkata, "apa yang dilakukan keluarga terpelajar disini?"Sesuai rencana ia akan menanyakan itu. "Ah aku hanya membantu keluarga pemburu, karena saudara-saudara Evan sakit." Jawabku tenang.Evan sudah panik saat penjaga makam menyuruhnya membuka peti itu. Penjaga makam kemudian percaya saat melihat beberapa rusa dan kelinci juga hewan-hewan kecil lainnya didalam.Kami melanjutkan perjalanan yang kira-kira memakan waktu 2 hari 1 malam.Sebelumnya kami mampir kerumah Evan untuk menganti isi peti dengan tumbuh-tumbuhan dan akar-akar herbal.Malam hariKami beristirahat dibawah pohon besar dan aku membuka peti duyung itu, ia bangun dan menguap lebar.Ia menarik kerahku lalu menciumku, aku sadar ia melakukannya karena ingin bicara padaku dalam air."Apa kau mengantuk?" Tanyaku."Tidak aku baru saja bangun, aku tak pernah sejauh ini berjalan sebelumnya.""Bagaimana caramu bisa masuk kedalam danau dihutan?""Sebenarnya dibawah hutan itu ada gua yang menghubungkannya kelaut. Aku bermain dengan teman-temanku dekat sana dan terbawa arus. Lalu aku tak ingat lagi, aku sudah terperangakap disana untuk waktu yang cukup lama. Jalan keluarnya sudah tertutup dengan batu besar, dan aku ditemukan oleh dia. Dia si penjaga makam saat ia masih muda, ia berjanji menolongku. Setiap hari ia membawakan makanan ringan dan mainan air agar aku tidak bosan. Aku sangat senang ia selalu datang, namun kemudian aku sadar. Bahwa yang ia lakukan adalah menahanku lebih lama disini dan tak akan pernah menolongku."Penjaga makam itu sudah menyembunyikan duyung ini dari penduduk desa, sampai sekarang? Astaga. Kakek tua itu!Penjelasan itu sudah lebih dari cukup untukku yang harus kulakukan sektang hanya membawa duyung ini pulang kerumahnya.Dibibir pantaiAku dan Evan mengangkat duyung itu dan ia mulai berenang dipantai yang dalamnya sepinggangku."Apa ia tidak akan mengucapkan selamat tinggal?" Tanya Evan. Aku hanya tersenyum menatap duyung itu yang berenang semakin jauh."Ayo kita pulang." Aku berbalik dan menepuk pundak Evan.Kemudian aku mendengar nyanyian itu lagi, nyanyian yang sama hanya saja dengan rasa yang berbeda.Ini bukan nyanyian kesepian yang ku dengar dihutan, nyanyian ini nyanyian lebih dari satu duyung yang bernyanyi dengan bahagianya.Aku berlari keujung karang besar dan mendongak kebawah, muncuk kepala duyung itu lalu tersenyum. Ia berusaha meraih tanganku dan aku menjulurkannya lagi.Ia menarikku seperti dihutan dulu, terdengar suara Evan berteriak namun tak kuhiraukan.Duyung itu kembali menciumku agar aku bisa bernafas didalam air dan bicara padaku."Aku sangat berterimakasih padamu, anak Adam." Aku bisa melihat dengan jelas raut wajah bahagianya begitu indah terlukis.Ia memberikanku sesuatu, itu sisik. Ia memberikanku sisiknya sebagai kenang-kenangan.Aku memeluknya sebagai ucapan perpisahan, "suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi." Kata duyung itu.Kemuadian ia berenang menjauh bersama kawanannya, aku hanya melambaikan tangan dan berenang kepermukaan."Hey kawan!! Kau membuatku jantungan, cepat kembali! Aku kira kau sudah dimakan duyung itu tadi!!" Evan tampak sangat marah. Aku hanya tersenyum bahagian melambaikan tangan kearahnya.Aku tidak akan pernah melupakan pengalaman hidup ini.End
Suicide Love
Aku tak pernah memperhatikannya sampai ia membuat kegaduhan di rumahku. Rumah kecil berlantai 3 yang ku huni bersama ibuku saja, lantai 1 untuk cafe, lantai 2 adalah rumah kami dan lantai 3 adalah atap terbuka dengan taman kecil.Siang itu, siang yang sangat panas. Membuatku hanya ingin minum segelas lemon dibawah pohon.Seorang pria memesan expresso dan beberapa cemilan. Dari penampilannya ia hanya pria biasa namun anehnya semenjak saat itu ia tak pernah absen untuk datang ke cafe.Bahkan mendaftar menjadi anggota member yang notabene didominasi perempuan.Ibu sangat akrab dengannya, namun aku tak pernah ingin menyinggung apapun tentang pria itu.Keakraban mereka semakin parah dan kali ini aku sangat jengkel, karena ibu mengajaknya kelantai 2. Apa mungkin? Ah.. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin punya ayah baru yang seumuran.Beberapa saat mereka berdua naik bersama, hanya ibu yang kembali turun. Dimana pria itu? Aku penasaran dan memutuskan untuk memeriksa.Dilantai dua tidak ada tanda-tanda dari pria itu, kamar mandi, ruang tamu, kamarku, kamar ibu, dimana pun.Sinar matahari yang menyilaukan menyapa mataku, sehingga aku harus sedikit menyipit dan menghalangi sinarnya dengan tanganku.Pria itu berdiri sendirian diujung atap dengan tangan terbuka seperti mencicipi kenikmatan mentari.Apa yang ia lakukan disini sendirian? Perlahan ia melangkah kedepan dan semakin kepinggir saja. Apa ia akan bunuh diri?Tidak ini tidak bisa terjadi! Tidak di rumahku dan cafe ku!"Hey stop!!!" Terlambat, seruanku keluar besamaan dengan tubuhnya yang jatuh dengan lembut dan mendarat dengan kasar dibelakang cafe.Seakan tak percaya aku terkejap beberapa detik memandangi tubuh pria itu tergeletak jauh ditanah.Aku segera turun dan melihat ibuku sedang dikasir untuk menghitung uang. Melihat ekspresiku, ia menyadari sesuatu sedang terjadi dan mengikutiku berlari kebelakang cafe.Ibu terkejut dan terduduk ditanah sedangkan aku langsung memeluk tubuh lemas pria itu untuk merasakan detaknya, aku sangat panik sampai detak jantungku lebih keras. Aku masih bisa merasakan denyut nadi di lehernya."Ibu cepat telfon ambulance!" Kataku dan ibu segera menekan dengan panik handphone nya.Aku tak memindahkannya karena takut bisa saja ada tulang yang retak. Sesaat kemudian ambulance datang dengan cepat. Aku menutup cafe dan mengambil syal juga beberapa jumlah uang.Ibu terus saja menegangi tangan pria itu, sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka?Aneh ia tak membawa dompet atau identitas apapun saat tenaga medis memeriksanya. Tapi ibu dengan lancar menulis administrasinya."Rossie, ibu harus menelfon seseorang. Kau tunggu dokter untuk memberitahu keadaannya ya." Kata ibu aku hanya mengangguk dan ia pergi.Ibu pergi lama sekali sampai dokter selesai mengoperasi pria itu dan memindahkannya ke ICU.Aku mengirimi ibu pesan dimana pria itu dipindahkan, sepertinya ibu tidak membacanya. Aku hanya duduk dan bersandar ditemani suara alat-alat yang terus saja berdebip juga suara pompa.Aku sangat penasaran dengan pria ini, sungguh rasanya ingin mengguncang tubuhnya dan meminta penjelasan. Tapi sekarang ia masih tak sadarkan diri dengan perban yang membalut dadanya.Bahunya terlihat tangguh dari jauh, aku mendekatinya mataku tak bisa berhenti memperhatikan bulu matanya yang terpapar uap pelembab ruangan.Dari dekat pria ini terlihat sangat polos, tanganku menyentuh rambut depannya yang sedikit berantakan dan merapikannya. Dari balik alat pernapasan itu aku bisa melihat luka ditepi bibirnya, sepertinya ia suka berkelahi.Ia mengerutkan dahi dan berusaha membuka mata, jari-jari tangannya terus bergerak. Segera aku memanggil perawat dan dokter juga ikut berlari.Bersamaan ibu dengan seorang bibi yang tampak sedih mendekatiku, "bagaimana keadaannya?" Tanya bibi itu. Aku hanya menjawab seadanya, dan ia memeluku lalu berkata, "syukurlah aku sangat berterimakasih pada tuhan dan kau Rossie."Bibi ini tau namaku, dan ia juga tampak dekat dengan ibuku. Sebenarnya siapa orang-orang ini?Perjalanan pulang kami naik taxi, dalam taxi kami tak banyak bicara. Karena sampai rumah aku akan langsung bertanya pada ibu tentang apa yang sebenarnya terjadi."Ibu bisa kau jelaskan semuanya? Pria itu? Bibi itu? Hubungan kalian, semuanya!" Kataku sedikit membentak."Kau sudah besar saatnya mencari calon suami untukmu." Jawab ibu. Jangan bilang ia mencoba menjodohkanku dengan pria itu."Dan meninggalkan ibu sendirian?" Kataku melemah. Aku belum berencana menikah karena tak akan bisa melihat ibu sendirian setelah ditinggal ayah. Aku ingin ibu bersama seseorang terlebih dahulu."Jangan pikirkan aku, hiduplah seperti wanita pada umumnya.""Ibu aku tidak akan bisa hidup jika melihat ibu sendirian.""Aku tidak akan menikah lagi! Kau yang harusnya menikah!" Ibu menutup pintu kamarnya dengan keras.Malam itu kepalaku hanya dipenuhi dengan pria itu. Selama ini aku tak pernah memperhatikannya, apa ia selalu memperhatikanku?Keesokan harinya ibu belum juga keluar kamar, ia membuatku cemas saja. Membuka pintunya perlahan dan melihatnya masih terbaring ditempat tidur. Tubuhnya hangat, sepertinya ia demam musim panas atau terlalu banyak berpikir.Aku lupa ia sudah mulai renta, ini semua salahku membuatnya mengkawatirkan masa depanku.2 hari cafe ku tutup karena fokus merawat ibu. Sejenak aku melupakan pria itu, diam-diam setiap pagi selama dua hari ini aku mengintip dari atap untuk memeriksa apa pria itu datang. Nyatanya ia tak pernah datang.Apa perjodohan ini dibatalkan? Aku sangat lega sekaligus merasa sedikit kecewa juga.Malam itu aku hanya duduk didean komputerku untuk mencari informasi universitas. Lalu teringat pria itu dan mencari data membernya.Namanya Alex dan pesanan terbanyaknya expresso. Beberapa info yang tak penting juga terdata. Aku belum pernah melihat senyumnya, ini pertama kalinya aku melihat senyumnya dalam foto member.*ting*Ada email masuk, dari alex_brooks》hey:)《 hi》Rossie?《 ya.》cafe tutup selama 2 hari, ada apa?《 ibu sakit, kau datang?》ya setiap hariAneh sekali aku tak pernah melihatnya. Sepertinya ia sudah baik-baik saja. Apa ia tak ingat apa-apa?Dari caranya membalas percakapan kami yang mulai memanjang, ia benar-benar tak ingat.》sampaikan salam ku padanya dan semoga ibu mu cepat sembuh.《 baiklah terimakasih.》goodnight:)《 night:)Sepertinya perjodohan itu benar-benar dibatalkan.Yang benar saja Alex benar-benar dataang dengan stelan jas kantor, menyodorkan kartu membernya. Aku langsung menyerukan "Expresso In!" Ibu segera menyiapkannya. Ini kedua kalinya melihat Alex tersenyum, ia duduk ditempatnya seperti biasa. Membaca koran, majalah, atau hanya iseng memainkan handphone nya. Tepat pukul 08.00 ia akan meninggalkan cafe dan berangkat kerja.Tapi kali ini tak seperti biasanya, pukul 18.00 ia datang memasuki cafe dengan terburu-buru. Lalu menghampiriku yang sedang membersihkan meja."Rossie aku ingin bicara.""Baiklah katakan saja.""Ini sedikit personal."Sepertinya ia ingin membicarakan perjodohan yang dibatalkan. Aku menyuruhnya mengikutiku kelantai dua. Karena lantai tiga pasti akan terasa dingin.Aku duduk dikasur hangatku sedangkan ia duduk dikursi komputerku yang sedikit reot."Aku langsung saja.." katanya sesaat setelah duduk."Maukah kau menikah denganku?" Lanjutnya. Perkiraanku salah. Benar-benar salah semuanya.Aku mengira ia akan membicarakan pembatalan perjodohan, dan ia bunuh diri karena perjodohan ini.Nyatanya ia ingin menikahiku dan percobaan bunuh dirinya karena tidak ada restu ibunya."Alex u such a mess!" Ia mencoba bunuh diri karena itu, bagaimana jika nantinya ada masalah yang lebih besar. Apa ia akan bunuh diri lagi?"Maafkan aku, aku begitu kekanak-kanakan. Aku berjanji pada tuhan padamu akan menjadi manusia yang lebih baik manusia yang menghargai sebuah kehidupan.""Aku bahkan tak mengenalmu."Alex berdiri dan berjalan ke rak-rak buku ku lalu menarik sebuah album foto tebal."Kau ingat anak ini?" Ia membuka dan menunjuk satu foto dimana aku mencium anak laki-laki yang tampak bahagia saat umur kami 5 tahun."Mika? Ia teman masa kecilku saat di Florida.""Ya Mika, Mikaela pindah kekota ini saat umur 15 tahun karena kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Diadopsi oleh keluarga Brooks yang kaya tanpa pewaris.""Tidak mungkin. Kau sahabatku yang hilang?!""Ini lah aku sekarang dengan nama baru Alexander Mikaela Brooks."Sontak aku langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Ia sahabat ku dan saudaraku yang hilang selama ini. Tanpanya aku merasa kehidupan ini sangat semu. Bahkan menunda kuliah ku karena ingin mencari tau dimana Mika.. maksudku Alex kuliah. Namun usaha itu sia-sia karena ia tak terdaftar dimana pun."Merindukanku?" Alex melepas pelukanku dan membelai rambutku. Aku hanya tersenyum dan betapa bahagianya aku.Aku mencium pipi Alex dengan bahagianya sama seperti saat kami kecil dulu. Alex tersenyum malu kenudian mendekatkan wajahnya. Seperti aku tau apa yang akan datang, aku menutup mataku dan menerima semua kasih sayangnya.Malam itu hanya ada kami berdua dengan sejuta cerita yang belum terucap. Kisah remaja saat kami terpisah.Keesokan harinya aku menemaninya bertemu ibu angkatnya yang pernah kutemui dirumah sakit."Kalian sudah datang." Berbeda dengan cerita Alex, ibu angkatnya tanpak sangat jauh lebih bahagia sekarang.Kami berbincang banyak dan ibu angkat Alex setuju dengan pernikahan kami, ia sekarang sadar apa yang Alex perlukan dalam hidupnya.Kami mulai merencanakan pernikahan bersama, hanya satu yang masih tertambat dalam hati, ibu.Alex sangat pengertian dan memutuskan setelah menikah akan tinggal dirumahku. Aku sangat menyayanginya!Andai saat hari pertama kamu datang padaku, aku sudah tau itu kamu. Kamu yang dulu salalu bersamaku. Kamu yang selalu mengerti aku. Kamu yang mengisi kekosongan hatiku. Kamu yang mewarnai kisahku. Kamu yang aku sayangi dan kasihi. Kamu sahabatku dan kini kamu belahan jiwaku.Yang telah hilang kini datang kembali.TAMAT
Terima Kasih Telah Mencintaiku
Bekali-kali kulihat layar ponsel dan layar itu tak menunjukkan tanda-tanda akan berbunyi. Sudah kurang lebih satu bulan dia tak menghubungiku. Dia yang selalu mengejar cintaku, dia yang selalu mengirimkan kata-kata indah, dan dia yang rela tak berstatus demi mendapatkanku. Sekarang aku adalah gadis 17 tahun dan dia menyukaiku sejak kami masih berseragam putih biru. Ya, sekolah menengah pertama.Aku tak tahu kapan persisnya yang jelas kala itu aku tak pernah menanggapi responnya. Malah aku selalu meledeknya dengan salah seorang sahabatku yang menyukainya. Yang membuatku heran adalah dia tak pernah marah ataupun membalasku, hanya tersenyum memandangku sebentar kemudian pergi. Memang dia tak pernah mengungkapkan kalau dia mencintaiku tapi aku tahu dari caranya yang tak biasa menatapku.Kelulusan yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba dan ini saatnya aku dan dia harus berpisah, aku mendapatkan sekolah terbaik di kotaku sedangkan dia hanya bersekolah di sekolah yang baru saja selesai dibangun. Prinsipku adalah lebih baik menjadi orang bodoh di kalangan orang pintar daripada harus menjadi orang pintar di antara orang biasa-biasa saja. Dan benar saja, karena SMP kami adalah SMP terpandang jadilah dia ikut dalam segala keorganisasian di sekolahnya. Sedang aku just ordinary girl yang yaaa mungkin bisa dibilang pelengkap penderitaan.Perlahan tapi pasti, pupuk-pupuk itu menumbuhkan tanaman yang bernama cinta tanpa aku sadari. Hubungan kami tak pernah putus karena dia selalu mengirim pesan-pesan singkat. Saat itu kami berumur 15 tahun. Dan semenjak kelulusan itu untuk pertama kalinya kami bertemu. Awalnya agak kagok juga tapi lama kelamaan pembicaraan mengalir begitu saja.“Kapan aku bisa jadi pacarmu? Aku capek gini terus, aku nggak bisa nolak cewek-cewek yang suka sama aku tanpa alasan yang jelas.”“Terima aja, gampang kan,” jawabku pendek.Kulihat dia menghembuskan napas panjang, menata hati kemudian berbicara lagi, “Aku memang gak pernah bisa ngerti kamu. Hatimu tak pernah bisa kutebak. Mengertilah aku sedikit.”“Ribet banget sih, yang penting kita udah saling tahu kalau kita cinta satu sama lain,” kaliku nadaku agak meninggi. Terus terang aku gak suka komitmen, aku gak suka status. “Aku pengen langsung nikah, aku pengen nikah muda, lulus kuliah langsung nikah,” lanjutku.“Tapi kita kan masih SMA, kuliah masih lama. Dan aku gak mau buru-buru nikah, terlalu muda, Din.”“Kalo kamu gak mau juga gak apa, aku mau cari laki-laki matang yang berpikiran dewasa yang bisa ngemong aku.”Dan itu menjadi sebuah awal yang buruk dari hubungan kami. Meski dia masih terus menghubungiku. Hipokrit sebenarnya bila aku menolaknya, karena aku pun mulai mencintainya. Mencintai cara dia mencintaiku.“Apa? Jadi dari lahir lo belum pernah pacaran? Gilee, tahan banget. Adek gue aja ni yang masih SD udah pacaran tiga kali,” gelak tawa Lita.Aku agak tersinggung. Masa aku disamain sama adeknya yang masih SD? Aku udah SMA. Kata mamaku juga aku gak jelek-jelek amat. Mungkin nasib belum berpihak. Atau mungkin aku terlalu baik sampai hanya punya teman-teman kucel yang kerjanya belajar dan belajar. Dia, dia pasti mau jadi pacarku.Daripada diledek Lita terus, mending aku segera berubah status. Tapi gak mungkin, aku udah bertekad gak mau berkomitmen sama dia.Doni—nama yang tak pernah kusebut pada Lita—sudah sebulan lebih tak ada kabar. Aku malu untuk memulai menghubunginya duluan. Aku sadar aku perempuan.Akhirnya, dengan menyimpan malu, aku mencoba mengirim pesan padanya: “Heii, apa kabar? Sibuk ya? :D”“Baik. Iya ni sibuk sekarang,” balasnya singkat. Tuhan, aku malu sekali. Seharusnya aku tak mengirim pesan itu. Mulai saat itu aku berjanji tak menghubunginya lagi. Dia harus memulai. Dia lelaki.Aku rasa dia masih mencintaiku, karena saat umurku genap 17 tahun dia mengirimku kata-kata indah. Yang aku sesalkan adalah kata-kata terakhir—dia menuliskan namanya di akhir kalimat. Ganjil. Tanpa itu pun aku tahu itu darinya.Sejak itu aku selalu berasumsi buruk. Bahwa dia mulai bosan padaku. Bahwa dia butuh cinta yang selalu ada di dekatnya. Bahwa dia sibuk dengan hal-hal membosankannya. Bahwa dia sudah punya pacar.Asumsi-asumsi itu membuatku setengah gila. Hidupku pincang. Semua terasa hambar.Ketika aku mulai menyukai caranya merayuku… dia hilang. Ketika aku mulai nyaman… dia pergi. Sekadar membalas pesanku saja menjadi hal berat baginya.Padahal aku berjanji tak memulai, tapi hatikulah yang menghianatiku. Aku hanya ingin mengirim pesan say hello.Benar kata Sheila On 7: "Kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki hingga nanti kau kehilangan." Dan kini aku benar-benar kehilangan.Untuk pertama kali, aku merasa menjadi pecundang.Aku menatap kosong keluar jendela. Hujan menyisakan pelangi sebagai penghias langit. Ah, indah. Tapi tak seindah hatiku kini.Aku masih berjuang menghapus sisa kenangan. Membuang jauh-jauh perasaan ini. Mungkin lebih baik sendiri. Karena yang selalu kutakutkan adalah—ditinggalkan.Dia kini lelaki hebat. Ketua OSIS. Aku tak pantas untuknya.Rindu itu tetap ada, bahkan setelah tahu dia sudah menjalin hubungan dengan rekan organisasinya.Biarlah aku yang merasa sakit sendiri. Biarlah aku yang menangis sendiri. Sampai saat ini tak ada yang bisa menggantikannya.Bahagia pernah menjadi sepotong cerita masa laluku. Meski aku menyesal mencintainya.Beberapa bulan lagi kami akan berpisah. Kota impian kami berbeda. Misi hidup kami berbeda. Dia sudah menjadi milik orang lain.Aku ingin kuliah di kotaku, Depok. Dulu saat kami masih dekat, dia ingin ke Jogja menjadi wartawan.Beberapa bulan ke depan mungkin menjadi saat terberat untukku. Tapi aku tak mau kalah. Aku tak mau sakit lagi. Aku tak mau menangis lagi.Beberapa bulan ini akan membuatku lebih kuat untuk melangkah sebagai remaja yang siap meraih semua impiannya.Semoga.TAMAT
Kau Rumah ku
" bunda. " rengek Bima, Anak sulung ku seraya berjalan cepat ke arah ku yang tengah duduk bersantai di gazebo yang berada di dekat kolam renang di belakang rumah kami. Dirinya pun memeluk tubuh ku cepat bahkan sebelum aku bertanya ada apa dengannya." Ada apa abang? Kok lari – lari? " Tanya ku sembari mengusap puncak kepala Bima." Ayah nyebelin. " adu nya dan membuat ku terkekeh." ayah kenapa memang? Kok nyebelin? " Tanya ku lembut.Derap langkah yang begitu ku kenal mulai mendekati aku juga Bima. Dan tak lama sosok yang bicarakan Bima pun muncul dengan memakai baju berwarna gelap dan berkacamata. Sepertinya dirinya sedang ada yang di kerjakan sebelum ke belakang menyusul aku dan Bima. Sembari menggendong putra bungsu kami dan menuntun putri kecil kami." ayah kenapa? Sampe anaknya mau nangis gini. " Tanya ku pada suami ku yang kini semakin mendekati ku dan membuat putri kami langsung berlari ke arah ku dan Bima." ayah jahat sama abang. " adu putri kami yang bernama Kaira sembari memeluk ku dari samping. Yang memang berusia dua tahun lebih muda di bandingkan Bima yang kini berusia delapan tahun." Ayah? " panggil ku meminta penjelasan sembari memandang dirinya yang bingung harus menjelaskan apa.Dan sebelum suami ku ini buka suara, dirinya sudah terlebih dulu mengecup puncak kepala ku dengan lembut dan duduk di gazebo bersama ku, Bima dan Kiara sembari dirinya menggendong Tara, putra bungsu kami yang baru berusia dua tahun." ayah gak ngapa – ngapain bun. " Beritahu suami ku dan membuat Bima juga Kiara menggeleng kuat." enggak. "" ayah bohong. "" terus? Ini kenapa Bima sampe ngerengek gini? Sampe Kiara juga nyalahin ayah. " Tanya ku. Dan belum sempat suami ku membalas ucapan ku dan menceritakan semuanya. Bima langsung menyambar ucapan ku." ayah bohong. Ayah ingkar janji. " ucap nya." ingkar janji? " tanya ku memastikan sekali lagi. Karena aku masih belum paham konteks kemarahan anak sulung ku ini pada mas Arjuna, suami ku." ayah kemarin janji mau ngajak abang berenang. Tapi sampai sore begini ayah masih sibuk sendiri. Ayah bahkan masih bisa becanda sama Tara. Ayah gak sayang lagi sama abang. " ujar Bima mulai menangis terisak sembari memeluk ku erat. Membuat ku balas memeluk tubuh mungil nya yang kini duduk di pangkuan ku. Mengertilah aku apa yang menjadi pokok masalah antara dua pria ini*****" abang. Boleh bunda beritahu abang? " tanya ku pelan sembari mengajak Bima untuk bicara dan mencoba untuk meredakan isakannya ini. Aku mencoba mengajak nya bicara setelah ku biarkan dirinya menangis cukup lama.Bima pun mengangguk pelan dan mencoba sekuat tenaga untuk menghentikan tangis nya. Tapi tetap dengan dirinya yang memeluk ku." maaf ya kalau ayah terkesan gak nepatin janji ayah untuk ngajak abang berenang hari ini. Abang tahu gak, kalau hari ini, bunda baru dapet tamu bulanan? " tanya ku pada dirinya dan membuat Bima menghela pelukan kami berdua." bunda lagi datang bulan? " tanya Bima sembari menyeka matanya dengan cepan seraya memandang ku lekat dan membuat ku menganggukkan kepala." iya. Baru tadi subuh bunda dapet tamu. " jawab ku mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Bima ini." maka dari itu, Hari ini ayah mengambil alih beberapa kerjaan rumah yang biasa bunda kerjain. Termasuk jagain Tara. Abang tahu kan kalau Tara sekarang lagi aktif - aktifnya. Suka lari ke sana ke mari? " tanya ku tersenyum sembari mengusap puncak kepala Bima.Pertanyaan ku ini berhasil membuat Bima menganggukkan kepala. Tak hanya Bima, Kiara pun juga ikut mengiyakan ucapan ku ini. Dan ucapan ku ini juga berhasil membuat mas Arjuna tersenyum tipis.Dirinya tahu benar bagaimana cara ku memberi ilmu dan nasehat kepada ketiga anak kami. Dan jujur saja, dirinya menyukai bagaimana cara yang aku untuk menasehati mereka bertiga." hari ini, ayah berniat bantu bunda buat jaga Tara. Karena abang dan kakak lebih besar dari Tara, bunda sama ayah bisa ngelepas abang sama kakak main berdua tanpa was - was. Tapi, ternyata gara - gara bunda minta tolong sama ayah, ayah jadi nya ingkar janji ya sama abang? Maaf ya abang? " ucap ku pelan dan langsung membuat Bima menggeleng." enggak bunda. Enggak gitu. " ucap Bima kembali memeluk ku erat. Bersama dengan Kiara yang juga memeluk ku dari samping.Mereka berdua merasa bersalah karena sudah marah dan menyalahkan ayahnya. Menyebut ayahnya ingkar janji. Padahal tanpa mereka ketahui, justru sang ayah tengah mencoba untuk membantu ku karena aku sedang tak enak badan. Terlebih Bima yang sudah mengatakan yang tidak - tidak mengenai pria kebanggaannya ini." maafin Bima, bunda. "" maafin Kiara juga bunda. "Bergantian mereka berdua meminta maaf pada ku dan merasa bersalah karena sudah marah pada ayah mereka. Bahkan sampai sekesal ini pada ayah mereka sendiri." kok minta maaf nya sama bunda? Kan bukan bunda. Kalau abang sama kakak mau minta maaf, sama ayah ya? Kan ayah yang abang sama kakak tegur tadi. " Ujar ku mengelus puncak kepala ke dua anak tertua ku ini.Perkataan ku ini membuat Bima juga Kiara melepas pelukan mereka berdua pada ku. Dan mereka berdua langsung memeluk mas Arjuna yang tengah duduk di samping ku sembari memangku Tara yang diam saja semenjak tadi.Kini bisa ku lihat suami yang sudah ku nikahi selama sepuluh tahun ini mulai kesusahan karena di kerubungi oleh ketiga anak kami. Membuat ku terkekeh pelan sebelum aku berinisiatif mengambil Tara dari pangkuan Mas Arjuna. Agar dirinya bisa lebih leluasa memeluk Kiara dan Bima.*****" maafin Bima, ayah. "" maafin Kiara juga ayah. "Ujar kedua anak ku sambil memeluk mas Arjuna dari samping kiri dan samping kanan. Membuat mas Arjuna mengelus masing - masing kepala mereka berdua." kenapa minta maaf sama ayah kids? Hm? " tanya mas Arjuna.Aku dan mas Arjuna memang mencoba untuk membiasakan anak - anak kami agar mengetahui apa kesalahan mereka agar mereka tahu di mana letak kesalahan mereka itu. Tapi jika mereka tidak tahu pun, aku dan mas Arjuna akan mencoba untuk menjelaskan di mana bagian yang kurang tepat yang di lakukan mereka." abang udah jahat sama ayah. Udah menuduh ayah jahat dan gak sayang sama abang. Abang juga udah bilang ayah ingkar janji sama abang. Abang iri sama Tara. Padahal Tara adik abang sendiri. Sampai abang gangguin istirahat bunda sambil nangis - nangis. " beritahu Bima. Mencoba untuk menggali apa kesalahan nya kali ini." kakak juga minta maaf ayah. Kakak udah ikut marah sama ayah. Padahal ayah lagi bantuin bunda. Maaf ayah. " ujar Kiara menambahkan ucapan dari abang nya ini. Dan ucapan mereka berdua ini jujur saja membuat aku dan mas Arjuna saling berpandangan dan tersenyum simpul.*****" gak papa nak. Ayah yang salah sama abang. Kan ayah udah janji ya kemarin ya? Ngajak abang berenang. Ayah bener - bener lupa sayang. Tadi pagi, setelah ayah tahu bunda lagi datang bulan, ayah langsung nyuruh bunda untuk istirahat dan gak ngerjain apa - apa. Karena apa? Karena ayah tahu, bunda perutnya lagi gak enak. Makanya ayah berinisiatif untuk jagain Tara. Tapi ternyata ayah tanpa sengaja bikin abang iri ya sama adek? Maaf ya abang ya? " tanya mas Arjuna pada Bima sembari mengusap puncak kepala Bima dengan perasaan sayang." buat Kiara, ayah berterima kasih sama kakak karena udah seperhatian itu sama abang. Tapi, kakak harus tahu dulu permasalahannya ya? Jangan langsung ikut marah juga. Boleh kakak? " tanya Suami ku ini pada Kiara dan langsung membuat Kiara mengangguk cepat." maafin Bima ya ayah. "" maafin Kiara juga ayah. "" stt... Gak papa. Udah ya gak usah di fikirin lagi. Ayah gak papa kok nak. " ucap suami ku mencoba untuk menenangkan ke dua anak kami ini." ya udah, sekarang ayah mending temenin Bima berenang sama Kiara. Gih siap - siap. " ujar ku dan membuat mereka bertiga menoleh pada ku." tapi bunda. "" tapi adek? "" Tara siapa yang jaga sayang? "" udah, Tara biar sama bunda. Tara juga baru selesai makan kan. Udah tidur juga tadi. Jadi gak bakal rewel. Bunda bisa kok. " jawab ku mencoba meyakinkan mereka semua." tapi kamu kecapean nanti. " sergah mas Arjuna. Dan membuat ku mengelus pipi kenyal milik suami ku." gak akan ayah. Ayah yang kecapean kan. Seharian ini ngurusin segala macem. Jadi abis ini ayah istirahat. Berenang sambil main sama anak - anak. Gih. Mumpung masih sore ini. Matahari nya gak terlalu terik. " ucap ku sekali lagi meyakinkan semua.Dan mau tak mau akhirnya membuat mas Arjuna, Bima dan Kiara mengangguk. Mereka pun beranjak menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan aku masih duduk bersantai bersama dengan Tara yang cukup tenang kali ini.*****" kak? Ayo turun. Katanya mau berenang sama ayah sama abang? " tanya mas Arjuna yang menggunakan kaos putih dan celana hitam pendek pada Kiara yang masih berdiri diam di di pinggir kolam renang.Sedangkan Bima sudah terlebih dahulu bercebur bersama suami ku. Dan kini dirinya tengah belajar berenang dari ujung dinding yang satu ke dinding di seberangnya." Kiara takut yah. " jawab Kiara sesekali memandang ke arah mas Arjuna dan sesekali ke arah ku." kalau kakak takut, jangan di paksa kak. Pelan - pelan aja. " ujar ku mencoba menenangkan Kiara." iya. Pelan - pelan aja kak. Ayah ada di sini kok. " tambah mas Arjuna mencoba meyakinkan Kiara." ayah tangkap Kiara ya? Ayah jangan lepasin Kiara nanti di kolam. " pinta putri kecil ku ini yang terlihat menggemaskan di mata ku. Dan rupanya mas Arjuna pun sepaham dengan ku. Karena dirinya juga tertawa melihat tingkah Kiara sebelum akhirnya dirinya mengiyakan permintaan Kiara ini." iya. Ayah tangkap. Pelan - pelan sini sama ayah. " ujar mas Arjuna.Dengan perlahan dirinya pun membantu dan mengarahkan Kiara untuk masuk ke dalam kolam renang menyusul dirinya dan Bima yang memang sudah terlebih dulu masuk ke dalam kolam renang.*****" kenapa yah? Kok ngeliatin bunda begitu? " tanya ku karena semenjak tadi mas Arjuna memandang ku dengan tatapan nya yang dalam dan intens dalam diam. Dengan ke dua tangannya yang sibuk mengajari Kiara menyelam." bunda duduk di pinggir kolam deh. Ajak Tara sekalian ke sini. " pinta mas Arjuna dan membuat ku geleng - geleng kepala dengan permintaannya ini." ngapain yah? " tanya ku aneh." udah bun. Sini deh. Duduk di sini. " ujar mas Arjuna setengah memaksa.Sembari dirinya menepuk - nepuk lantai marmer yang berada di pinggir kolam yang memang kering sehingga bisa aku duduki dengan sebelah tangannya setelah dirinya memberikan Kiara pelampung.Aku pun akhirnya mengiyakan keinginan mas Arjuna yang aneh ini sembari berjalan dan menggendong Tara yang berteriak kesenangan karena mendekati kolam renang." kenapa yah? Ini anaknya berontak mau nyebur lho gara - gara makin dekat sama kolam. " ujar ku setelah duduk di pinggir kolam renang dan memasukkan ke dua kaki ku ke dalam kolam. Dengan Tara yang mulai berontak di dalam gendongan ku." pantas celana pendek ayah habis bun. Bunda pakai terus. " ujar mas Arjuna memperhatikan celana yang ku pakai adalah miliknya." jadi gak boleh nih bunda pakai celana ayah? " tanya ku menggodanya dan membuat dirinya terkekeh sembari mengelengkan kepalanya." gak papa bun. Jangan ambekan bunda. " ujarnya dan membuat kami tertawa bersama.*****" adek mau berenang ya? " tanya Bima mendekat ke arah ku yang menggendong Tara yang masih begitu antusias melihat air di dalam kolam." bunda gak boleh berenang ya? " tanya Bima sekali lagi begitu dirinya sampai di depan ku dan membuat ku mengangguk." iya. Bunda lagi gak boleh berenang. Jadi abang sama kakak berenangnya sama ayah aja dulu ya. " ujar ku." adek juga ikut berenang ya bunda. " pinta Bima sembari mengajak bercanda Tara dan membuat Tara berteriak kegirangan." enggak dulu ya abang. Ayah nanti malah gak fokus jagain abang sama kakak berenang kalau adek ikut berenang. " ujar ku seraya sesekali melihat ke arah mas Arjuna yang tengah sibuk mengajari Kiara tak jauh dari kami bertiga." gak papa bunda. Abang nanti bantu ayah jagain adek. Ya? Boleh ya? " tanya Bima setengah memelas mencoba untuk merayu ku dan membuat Mas Arjuna yang mendengar rayuan Bima pada ku ini pun mendekat ke arah kami bersama dengan Kiara." ada apa bun? Abang? " tanya Mas Arjuna." abang mau ngajak adek berenang. " ucap Bima dan membuat mas Arjuna mengecup pipi gembul Tara dan membuat dirinya berteriak kegirangan." ya udah sini. Adek sama ayah. " ujar mas Arjuna." ayah bisa memang jagain adek juga? " tanya ku sanksi." aman bun. Lagian abang sama kakak udah cukup lancar kok berenangnya. " ujar Mas Arjuna menenangkan.Dan membuat ku akhirnya menganggukkan kepala ku. Membiarkan suami ku ini mengambil alih Tara dan mengajak putra bungsu kami itu mulai masuk ke dalam kolam renang. Ulah suami ku ini yang membawa Tara ke dalam kolam renang membuat Bima juga Kiara ikut bermain dengan mas Arjuna dan Tara.Aku yang hanya bisa menyeburkan ke dua kaki ku ke dalam kolam pun hanya melihat kelakuan mereka berempat dengan senyum dan sesekali tertawa karena melihat ulah mereka.*****" mas. " ujar ku memanggil dirinya saat masuk ke dalam kamar.Aku justru menemukan dirinya sudah terlelap tidur menghadap ke arah pintu kamar yang baru ku buka. Sepertinya dirinya terlalu lelah bermain bersama ketiga anak kami hingga tertidur secepat ini.Padahal aku baru saja menidurkan ketiga anak ku di kamar mereka masing - masing. Dan langsung masuk ke dalam kamar ku dan mas Juna. Ternyata dirinya sudah lebih dahulu terlelap. Aku pun dengan perlahan mulai mendekat ke arahnya dan berbaring di sampingnya sembari memandang wajahnya dengan lekat." capek banget ya mas? " tanya ku mengusap pipinya perlahan tak ingin menganggu tidurnya." mmh, Bun. " ucap mas Arjuna serak sembari membuka matanya dengan perlahan. Sepertinya dirinya terganggu dengan kedatangan ku." bunda ganggu tidur ayah ya? " tanya ku lembut dan membuat dirinya menggeleng pelan sembari mengusap wajahnya dengan sebelah tangan." bunda dari mana? Anak - anak mana? " tanya mas Arjuna seraya mencoba mengumpulkan sisa - sisa nyawanya." anak - anak udah tidur. Tadi waktu bunda buka pintu ayah udah tidur. Eh malah bunda jadinya bangunin ayah. Maaf ya yah. " ujar ku semakin mendekat ke arahnya dan menyandarkan tubuh ku pada tubuhnya.Dan ulah ku ini membuat Mas Arjuna memeluk ku. Sesekali dirinya mengelus punggung ku dengan perlahan dan membuat ku semakin nyaman di dalam pelukannya ini." gak papa. Tadi ayah nunggu bunda. Ternyata malah ayah yang ketiduran. " jawab Mas Arjuna." tidur lagi ayah. Besok kerja kan. " ujar ku mengubur wajah ku di dadanya dan menghirup aroma tubuhnya yang selama sepuluh tahun ini menjadi aroma favorit ku dan selalu berhasil menenangkan ku." iya. Bunda tidur juga. Perutnya masih gak enak kan. Istirahat ya bunda. " ucap Mas Arjuna yang sesekali memijat lembut pinggul ku dan membuat ku semakin nyaman.Dan tak perlu waktu lama aku langsung tertidur di dalam pelukan mas Arjuna dengan tangannya yang tak lepas dari kegiatan memijat pinggul juga pinggang ku dengan perlahan." mimpi indah, bunda. Ayah sayang sama bunda sama anak - anak. Tetap jadi rumah ayah ya. Tempat ayah dan anak - anak pulang. Tempat ayah dan anak - anak beristirahat. " ujar Mas Arjuna berbisik sembari menyamankan posisi ku di dalam pelukannya. Cukup lama sampai akhirnya dirinya ikut ke alam mimpi bersama ku dengan tetap memeluk tubuh ku erat.
Senja: Indah atau Luka?
Waktu sudah menunjukkan pukul 16:42 WIB. Namun, aku juga belum beranjak dari tempat ini. Tempat di mana terakhir kali aku melihatmu. Tempat di mana kamu memintaku untuk terus menunggumu di sini. Aku selalu berharap Tuhan mempertemukan kita bukan hanya untuk sekedar bertemu, tetapi saling melengkapi dan bersama di dalam hubungan ikatan suci pernikahan.Beberapa orang mulai meninggalkan tempat ini, hari semakin sore dan cuaca hari ini juga sedang tidak bagus. Langit semakin gelap, dan aku masih enggan untuk beranjak dari tempat ini. Setiap aku kembali ke tempat ini, aku selalu berharap aku akan bertemu denganmu lagi. Perlahan, aku kembali mengingat hari-hari di mana kita sebelum berpisah.FLASHBACK, Juni 2010“Reinaaa! Reii!” suara itu sampai terdengar ke kamarku.“Reii, itu ada tamu. Buka pintunya gih nak, masakan mama gak bisa ditinggal nih.” seru mama dari dapur.“Iya mah,” jawabku malas.“Siapa sih yang datang siang-siang begini?” gerutuku pelan sambil berjalan ke arah pintu. Sebelum aku membuka pintu, aku melihat dari jendela siapa yang datang. Dan ternyata…“APAH? AZIZ?” aku terkejut mendapati fakta bahwa orang yang bertamu adalah Aziz. Aku pusing tujuh keliling.Aku tidak tahu harus apa, “Kenapa dia gak SMS atau nelepon dulu kalau mau ke sini, biar aku bisa siap-siap,” gerutuku pelan.Setelah beberapa lama kemudian, dengan hati yang harus siap aku membuka pintunya. Perlahan terlihat wajah tampan dan senyum manis yang dibalik pintu itu.“Hai Rei,” sapanya.“A.. aa..hh, hai. Ada a..apa ziz?” tanyaku terbata-bata.“Kamu sibuk? Mama kamu di rumah Rei?” tanyanya.“Eeeh? Mama?” aku tidak percaya apa yang ia katakan. Sejenak aku terdiam.Dia tertawa kecil melihat ekspresi kaget dariku. “Cute,” ucapnya pelan.“Siapa yang datang, Rei? Kok gak disuruh masuk tamunya?” tanya mama sambil berjalan ke arah pintu.“Aaahh ini mah teman Rei datang,” jawabku.“Assalamualaikum bu, saya Aziz teman sekelas Reina, saya mau ngajak Reina ke pesta ulang tahun teman kita Yola bu. Boleh?” tanpa basa-basi Aziz langsung mengatakan tujuannya pada mama.Aku tertegun mendengar ia bicara dengan mama, padahal yang aku tahu selama ini, ia jarang sekali bicara dan datang ke rumah wanita. Bahkan menurut penuturan temannya sejak kecil, ia bahkan tidak pernah naik motor berdua dengan wanita selain ibunya. Ia juga bertanya pada mama apakah aku boleh ikut atau tidak.Mama awalnya ragu memberi izin, namun mama ingat ia adalah salah satu siswa populer dan berprestasi di sekolah. Jadi mama mempercayakan aku padanya. Lalu, mama menyuruhku untuk siap-siap sedangkan Aziz dan mama bicara berdua di ruang tamu.15 menit kemudian…“Reii, kenapa belum siap juga? Nanti kalian telat ke acaranya. Kasihan tuh Aziz nunggu lama,” tanya mama.“Iya mah, ini udah selesai,” jawabku.Aku melihat Aziz yang menatap ke arahku, dia seolah terheran melihatku. Dan aku pun mulai merasa salah kostum. Sebelum pergi, aku sempat bertanya pada mama bagaimana penampilanku. Mama bilang bagus dan cantik. Setelah berpamitan dengan mama, kami langsung pergi ke tempat tujuan kami.Sepanjang jalan, tidak satu pun dari kami yang membuka pembicaraan, sampai pada akhirnya aku merasa ada sesuatu yang aneh…“Ziz, ini kan bukan jalan ke rumah Yola?” tanyaku.“Memang bukan,” jawabnya santai.“Lalu ini mau ke mana? Apa rumah Yola sudah pindah?” tanyaku lagi.“Enggak juga,” jawabnya tetap santai.Aku memilih berhenti bertanya, meskipun hatiku terus bertanya—akan ke mana Aziz membawaku.Tak lama kemudian, aku melihat papan bertuliskan SELAMAT DATANG DI PANTAI BUNGA, BATU BARA.“Acara Yola di pantai ya, Ziz?” tanyaku penasaran.“Eengh? Enggak,” jawabnya.“Lalu kita ke sini ngapain?” tanyaku lagi.“………….”Ia tidak menjawab pertanyaanku. Kami masuk ke area pantai. Setelah memarkirkan motornya, kami menuju tempat berteduh dekat pantai, di mana dari tempat itu kami bisa menikmati angin sepoi-sepoi dan melihat laut terbentang luas tanpa penghalang.Ketika aku menikmati pemandangan pantai, dia mengambil fotoku tanpa izin. Terdengar suara klik, aku langsung menoleh.“Ya! Apa yang kamu lakukan?” kataku sambil merebut smartphonenya.“Kamu cantik hari ini. Aku suka,” jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku.“Aku rasa semua wanita cantik. Kamu juga menyukai mereka?” tanyaku lagi.“Aku gak bilang mereka. Aku bilang kamu. R E I N A,” jawabnya sambil mengeja namaku.“Udah ah.” Jawabku sambil tersenyum kecil.Lalu ia mengajakku berjalan ke arah barat, untuk melihat senja. Ya, dia penyuka senja.“Setidaknya sebelum hari itu tiba, aku sudah melihat senja bersamamu,” ucapnya pelan sekali, sambil melihat ke arahku.“Haa? Kamu bilang apa?” tanyaku.“Aku bilang, selain indah, senja itu juga baik. Kenapa? Karena senja tahu cara berpamitan ketika ia akan pergi. Ia seakan-akan tersenyum ke arah kita dan mengucapkan selamat tinggal.”“Meskipun indah, ia tetap tenggelam dan hilang,” jawabku.“Kamu benar!” katanya.Ia terus menatap senja dengan penuh perasaan. Saat itu aku menyadari, ada sebagian dari dirinya yang ikut tenggelam bersama senja. Ia seperti memikirkan sesuatu.Kemudian…“Kamu akan menungguku, kan?” tanyanya tiba-tiba sambil menatapku dalam-dalam.“Haaa?” aku terpaku.“Jika kamu mau menungguku, kembalilah ke tempat ini 7 tahun lagi. Pergilah ke tempat di mana kita berteduh,” jawabnya sambil menunjuk tempat teduh tadi.“Tetapi jika tidak, tetaplah datang ke tempat ini dan perkenalkan aku dengan lelaki yang membuat luluh hatimu. Aku ingin mengenalnya,” lanjutnya sambil tersenyum.Aku terdiam. Hatinya seperti akan pergi jauh. Aku melihat matanya berkaca-kaca.FLASHBACK ENDSejak hari itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Kami tidak pernah berkomunikasi, bukan karena aku tidak memulainya, tetapi karena aku sudah kehilangan kontak dengannya. Saat itu ia mengganti nomor ponsel dan segala kontak yang sebelumnya kami miliki.Aku tidak tahu apa itu disengaja atau tidak. Aku tidak tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. Jika aku tahu lebih awal, aku tidak akan membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia.Kini sudah 7 tahun sejak hari itu. Aku menyesal tidak menjawab bahwa aku akan menunggunya.Sejak ia pergi, aku masih ke tempat ini. Menunggu. Melihat senja. Merasakan hadirmu, dan terus berharap.Kini pukul 18:12. Hari semakin gelap, orang-orang mulai pulang. Aku bangkit dengan putus asa. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku mengambil foto senja untuk terakhir kalinya hari ini.Aku berjalan dengan penuh rasa putus asa. Aku masih berharap dia akan datang. Aku masih menunggunya. Aku masih ingin menemui senjaku yang hilang.Namun kenyataannya: SENJAKU TIDAK KEMBALI.Selesai.
Negeri Cinta
Pernahkah kau merasakan hasrat yang begitu besar untuk memiliki suatu hal yang sangat kau inginkan? Menginginkan sesuatu yang begitu sulit diraih padahal terletak tepat di depan mata? Seperti ingin meraih matahari dan bulan lalu membawanya ke dalam genggaman?Aku pun merasakan hal itu. Hasrat ini terlalu kuat sampai-sampai terkadang aku tak bisa menahan diri untuk memilikinya. Bahkan dia sangat lancang karena dengan beraninya dia selalu datang dan mendiamiku di dalam pikiranku tanpa permisi.Berulang kali aku mencoba mengusirnya dari pikiranku yang telah terkontaminasi oleh virus cintanya. Namun mengapa tatapan matanya—yang bak hamparan samudra itu—selalu berhasil membiusku? Begitu dalam dan begitu luas. Bahkan ikan-ikan pun akan sangat nyaman bermuara di sana.Hidungnya yang tajam bahkan menyaingi runcingnya bambu yang digunakan untuk melawan penjajah. Semua itu sangat memikatku.Dan bibirnya… Ya Tuhan. Lekukan indah itu tergambar begitu jelas di bibir menawannya. Bibir merahnya seperti strawberry matang yang siap dilahap.Terkadang aku curiga. Apakah ini yang disebut malaikat? Jika benar, bawalah aku terbang menuju tempat bernama Negeri Cinta.Negeri yang hanya ada kita berdua di dalamnya. Langit yang menampakkan senja merah, hamparan laut luas, gunung-gunung menjulang tinggi, bulan dan matahari yang berganti tanpa jeda. Biarkan semuanya menjadi saksi bisu cinta kita berdua.Namun semua itu hanya khayalan. Seperti layang-layang putus yang terbang begitu jauh hingga tak mungkin kembali.Aku harus belajar untuk tidak memaksakan kehendak. Aku berusaha melawan semua amukan iblis di dalam diriku yang terus mempengaruhiku untuk memilikinya secara paksa.Tapi cinta bukan soal memaksa. Cinta adalah perasaan yang tumbuh tanpa paksaan. Namun sampai kapan aku harus menahan semua ini? Aku lelah. Aku bukan air yang selalu mengalir tenang. Aku bukan api yang selalu membara. Aku hanyalah manusia biasa.Namun bahkan aku yang biasa ini tetap ingin melantunkan isi hatiku…Kau begitu sempurna. Di mataku, kau begitu indah. Kau membuatku selalu ingin memujamu.Dalam setiap langkahku, ku selalu memikirkan dirimu. Tak bisa kubayangkan hidupku tanpamu. Jangan tinggalkan aku. Aku takkan mampu menghadapi dunia ini tanpa dirimu. Hanya bersamamu aku bisa.Kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku… melengkapi diriku.Sayangku, kau begitu sempurna.Ya, dia memang sempurna—untuk ukuran manusia. Karena kesempurnaan yang sesungguhnya hanya milik Tuhan.Oh Tuhan… apakah ini ciptaan-Mu yang paling menakjubkan? Suara, tawanya, kedipan mata indahnya—semua itu terlalu memanjakan mata dan telingaku.Dan kau tahu apa yang paling kusukai darinya? Cara dia minum. Gerakan jakunnya, tetes peluh yang mengalir di pelipisnya… semuanya membuatku tak mampu berkedip.Meski hanya bisa melihat dari kejauhan, itu sudah cukup bagiku.Lalu suatu malam, ia datang menghampiriku dengan setangkai mawar merah. Aroma bunga itu sangat memabukkan.Oh Tuhan… beginikah rasa cinta yang terbalas? Ini jauh lebih indah daripada memenangkan sebuah lotre rumah mewah.Dan yang lebih mengejutkan… dia berlutut di hadapanku. Di tangannya, sebuah cincin putih berpermata yang memantulkan cahaya bulan.Aku tak mampu berkata apa-apa. Airmata mengalir begitu deras. Lalu ia berkata:“Aku bukanlah sosok yang sempurna. Tapi izinkan aku mengisi dan memiliki hatimu sepenuhnya. Aku ingin menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini bersamamu. Maukah kau menjadi pendampingku, ibu dari anak-anakku, dan masa depanku? Sudikah kau menerima aku sebagai imam dan pemimpin keluargamu kelak?”Ya Tuhan… suara itu. Aku tak sanggup lagi. Aku hanya mengangguk sambil menangis bahagia.Dia menarikku ke dalam pelukannya. Hangat. Aroma tubuhnya memabukkan dan menenangkan seluruh indraku.“Tidak akan pergi, meski kau meminta,” katanya sambil memelukku lebih erat.Kebahagiaan ini terlalu sempurna. Teramat sempurna.Tuhan… terima kasih.Aku merasa seperti terbang menembus langit menuju Negeri Cinta. Negeri di mana hanya ada kita berdua. Negeri yang kutahu tidak akan pernah abadi—karena keabadian hanya milik Tuhan—tetapi aku berjanji menjaga semua pemberian-Nya ini.Aku ingin hati itu, senyuman itu, tatapan penuh cinta itu… menjadi milikku selamanya. Ya, selamanya.
Kado Untuk Indah
"Bang!! bang bangun udah siang." Mutia adik perempuanku membangunkanku.Aku terbangun dan melihat jam yang tergantung di dinding."Telat...." teriakku sambil berlari menuju kamar mandi.Hari ini merupakan hari pertamaku sekolah setelah naik kelas XI. Aku merasa sangat cemas dan gugup apalagi aku memilih jurusan IPA yang menurutku adalah jurusan yang sulit.Kenalkan namaku Kelvin. Aku merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Aku sudahi perkenalan tentang diriku.Kini aku akan perkenalkan kalian pada gadis yang berhasil menggetarkan hatiku sejak setahun yang lalu tiap kali aku melihatnya. Parasnya yang ayu disertai senyuman yang sangat menawan dengan balutan jilbab yang menutupi kepalanya.Dia memiliki suara yang sangat-sangat indah dalam melantunkan ayat-ayat Allah. Dia diciptakan seakan tanpa kekurangan dimataku. Namanya sangat tepat dengan kepribadianya, Indah.Sesampai di sekolah aku langsung menuju mading disana telah ditempelkan kertas daftar nama siswa di kelas yang baru. Aku sangat senang mengetahui bahwa Indah akan ditempatkan sekelas denganku." Tidak sia-sia aku mengambil jurusan IPA." Lirihku tersenyum bahagia, memang aku mengambil jurusan IPA dengan harapan dapat sekelas dengan Indah. Akhirnya impianku tercapai juga.Karena ini merupakan hari pertama di kelas XI kami sepakat membersihkan ruangan kelas hari ini. Aku hanya duduk di pojokan memandangi sesosok wanita yang belakangan ini tak pernah bisa pergi dari pikiranku."Ndah kaca itu gak akan bersih jika hanya dibersihkan dengan air." kata Suci yang tengah membersihkan kaca bersama Indah. Percakapan mereka itupun tak luput dari penglihatanku."Terus bagaimana?" tanya Indah meminta pendapat."Sebaiknya kita menggunakan pembersih kaca." jawab Suci."Baiklah tapi siapa yang akan pergi beli? Minimarketkan lumayan jauh dari sini." tanya Indah lagi."Tentu saja kamu Ndah, kan rumah kamu di daerah sini jadi kamu yang paling tau.""Aku? Tapi bagaimana tempatnya lumayan jauh dari sini.""Kalau begitu tunggu sebentar." Kata Suci.Kulihat Suci setengah berlari menghampiriku lalu dia memintaku untuk mengantarkan Indah dengan motorku.Tentu saja aku terkejut mendengar permintaan Suci tapi jujur aku merasa sangat senang. Aku tertegun beberapa saat mendengar permintaan Suci."Gimana bisa atau tidak? Kalau gak bisa aku minta tolong sama yang lain nih.""Iya bisa kok." jawabku singkatTanpa pikir panjang Suci menarik tanganku menuju Indah yang tampak heran melihat kehadiranku.Dia menarik tangan Suci dan menjauh dariku, dia mengatakan sesuatu pada Suci tapi aku tak dapat mendengarnya karena mereka bicara sambil berbisik.Aku rasa dia kaberatan diantar olehku. Aku sendiri paham atas keberatannya itu, bagaimana pun Indah adalah seorang wanita yang sangat religius tentu saja dia merasa keberatan dibonceng oleh seorang pria apalagi dia belum mengenal orang tersebut dengan baik. Namun Suci terus saja mendesak sampai akhirnya Indah pun bersedia untuk diantar olehku.Sepanjang perjalanan aku tak dapat mengucapkan sepatah kata pun karena terlalu gugup. Begitupun sebaliknya tapi aku tak tau apa alasan ia tak berbicara.Aku sempat melihat wajahnya begitu murung dan tertunduk serta entah apa yang dibacanya yang membuat mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra."Apa yang sedang kamu ucapkan?" tanyaku memecah keheningan sambil menatap wajahnya dari spion."Aku sedang membaca doa semoga Tuhan mengampuniku hari ini." jawabnya terus menundukkan kepala lalu meneruskan bacaan yang sempat terhenti karena menjawab pertanyaanku barusan.Aku merasa bersalah pada Indah karena telah menuruti perintah Suci yang membuatnya begitu berdosa hari ini, tapi dibalik rasa bersalahku aku harus berterima kasih pada Suci karena berkat dirinya aku dan Indah bisa bersama hari ini.Hari ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku dan aku takkan pernah melupakan hari ini.Seiring berjalannya waktu aku dan Indah pun semakin dekat, ya meskipun kedekatan kami tak lebih dari seorang teman tapi aku merasa sangat bahagia bisa menjadi bagian hidup seseorang yang aku sayangi.Kini Indah tak komat-kamit lagi saat aku boncengi meskipun wajah anggunnya tetap tertunduk, bahkan aku sering mengantarnya pulang sekolah karena aku tak tega melihatnya harus menunggu angkot dan kadang pulang jalan kaki."Ndah nanti malam aku boleh kerumahmu?" tanyaku pada Indah saat pulang sekolah."Mau ngapain kamu kerumahku?" tanya Indah nampak ragu, ia masih menundukkan kepalanya tak mau menatap langsung wajahku.Hal itu membuatku makin menyukai wanita di hadapanku ini ia senantiasa menjaga pandangannya. Sungguh calon istri idaman bukan. Hehe aku ngayal ketinggian yah."Aku mau diajarin tugas kimia yang kemarin soalnya aku gak ngerti, sekalian nanti aku ajak Suci sama Koko. Bolehkan?" tanyaku meminta persetujuan.Indah hanya mengangguk tanda setuju dengan rencanaku. Aku tersenyum bahagia. Bahagia banget malah.Sebenarnya selain untuk mengerjakan tugas aku ingin mengenal keluarga Indah. Seperti kata pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Hehe modus...Malam hari aku, Suci dan Koko datang ke rumah Indah. Ayah Indah menyambut kami dengan ramah sementara Indah dan ibunya membuatkan minuman untuk kami bertiga.Ayah Indah adalah seorang yang sangat baik dia juga sangat lucu. Setelah beberapa jam mengerjakan tugas kimia yang meskipun sudah dijelaskan Indah berulang kali aku belum benar-benar memahami.Akhirnya aku, Suci dan Koko berpamitan pulang karena tugas kami sudah selesai ditambah malam semakin larut.***"Sebentar lagi kita akan ujian kenaikan kelas bagaimana kalau kita belajar kelompok?" tanyaku pada Suci dan Koko dua bulan sebelum ujian kenaikan kelas."Itu ide yang bagus". jawab Suci menyetujui ideku."Bagus apanya? Kemampuan kita bertiga itu hampir sama siapa yang bisa kita harapkan dalam kelompok ini?" sambung Koko.Aku dan Suci saling berpandangan mendengar ucapan Koko yang sangat tepat. Hehe memeng kita bertiga gak ada yang masuk sepuluh besar. Memalukan!"Bagaimana kalau kita belajar kelompok di rumah Indah? Pasti Indah gak akan keberatan." Usul Suci.Aku dan Koko hanya mengangguk setuju akan usul Suci. Karena indah adalah siswa yang pintar bahkan ia selalu menjadi juara satu setiap tahun. Berbeda jauh denganku yang nilai pas-pasan. Akhirnya aku, Suci dan Koko memutuskan untuk belajar kelompok bersama Indah.Ujian pun tiba. Aku akan seperti biasa kasak kusuk gak karuan karena tidak paham dan tidak mengerti, bukannya aku tidak belajar namun meskipun aku belajar aku tetap tidak mengerti saat ujian berlangsung.Berbeda dengan Indah. Ia akan mengerjakan ujian dengan tenang karena dia sudah memahami dan dia seperti biasa akan selesai paling awal. Memang bertolak belakang denganku.Beberapa minggu kemudian hasil ujian pun kaluar, waktunya penerimaan rafor dan pengumuman juara.Untuk kesekian kalinya Indah menjadi juara pertama sekaligus juara umum dengan nilai paling tinggi di sekolah. Kami semua dinyatakan naik ke kelas XII.Di kelas XII ini tak ada perombakan, itu artinya aku akan tetap sekelas dengan Indah hingga lulus nanti. Dan itu membuatku merasa bahagia dan lega. Minggu depan merupakan hari yang istimewa bagi Indah yaitu hari ulang tahunnya yang ke-17.Aku bingung memberi hadiah apa untuknya, aku juga tidak tau apa benda kesukaannya. Aku harus memberinya sesuatu yang istimewa yang tak kan pernah ia lupakan. Ya kali aku mau dilupakan oleh Indah.Hari yang ditunggu pun tiba. Hari ini adalah hari ulang tahun Indah. Aku sudah menyiapkan sebuah kado istimewa untuk orang yang istimewa yang aku persiapkan dari seminggu yang lalu.Hari ini kelas XII IPA sangaja memberinya kejutan, Indah terlihat sangat bahagia itu terlihat jelas di wajahnya. Indah sangat terkejut saat kami membawa sebuah kue ulang tahun dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.Satu hal yang membuatku sangat sangat bahagia hari ini adalah dia memberikan potongan pertama kue ulang tahunnya kepadaku dan menyuapiku dengan tangannya sendiri ya meskipun dia harus dipaksa oleh teman-teman sekelasku yang mengetahui bahwa aku menyukai Indah. Tapi tetap saja aku merasa menjadi orang paling bahagia dimuka bumi hari ini. Lebay...Sepulang sekolah setelah sekolah sepi aku menghampiri Indah. Tujuanku sudah pasti ingin mengucapkan selamat secara pribadi tak lupa memberikan hadiah ulang tahun untuknya."Ndah selamat ulang tahun ya. Semoga sehat selalu dan panjang umur." kataku sambil mengulurkan tanganku ke arah Indah."Ya, terima kasih Vin."jawabnya menjabat uluran tanganku."Ini kado untukmu, hanya kado sederhana ini yang dapat aku berikan padamu Ndah, ku harap kamu menyukainya." Kataku sambil memberikan sebuah kado yang dibungkus rapi."Terima kasih Vin." Dia menerima kado itu dengan senyuman yang berhasil membuat jantungku memompa lebih cepat dari biasanya."Ya sama-sama. Karena hari ini adalah ulang tahunmu maka aku akan mengantarmu pulang.""Baiklah kalau begitu." jawabnya dan naik ke motorku.Aku merasa bahagia walaupun aku hanya menjadi teman bagi Indah. Aku harap dia menyukai kado yang aku berikan padanya sebagai tanda bahwa aku benar-benar menyayanginya.Aku menghadiahi Indah sebuah jam tangan berwarna cokelat dan sebuah Al-Qur'an serta sebuah surat yang ku tulis khusus untuknya. Dalam surat itu aku mengungkapkan segala isi hatiku.Hadiah itu bermakna bahwa aku menyukainya setiap waktu dan karena Allah. Isi surat itu sendiri biarlah akan menjadi rahasia antara aku dan dia.Meskipun pada akhirnya aku tak mengetahui bagaimana perasaan Indah kepadaku yang sesungguhnya, aku sudah sangat bahagia pernah hadir dalam hidup Indah dan sempat mengungkapkan isi hatiku meskipun hanya lewat sebuah surat.Aku senang dia bisa mengetaui isi hatiku meskipun bukan untuk dibalas tapi biarkanlah aku terus memujanya hingga nanti. Hingga Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya dengan membukakan pintu hati Indah untukku atau membukakan pintu hatiku untuk orang lain.TAMAT
Ramalan Cinta Untuk Langit
Alarm jam di kamar ku sudah berulang kali berbunyi, tapi rasa hangatnya selimut yang membalut tubuh ku dari tadi malam sungguh sulit untuk ku gantikan dengan seragam sekolah, apalagi jika ku ingat pelajaran pada jam pertama adalah pelajaran dengan guru terganas di sekolah ku.Kenalkan namaku Bulan Purnama, ibuku memberikan nama yang sangat indah untukku. Ibuku mengatakan aku dilahirkan pada malam bulan purnama, jadi dia memberiku nama Bulan.Aku adalah sosok yang sangat pendiam. Bahkan di sekolah aku tidak memiliki seorang teman pun. Aku lebih senang menyendiri di taman saat jam istirahat berlangsung.Satu lagi keanehan yang aku miliki yaitu aku dapat meramal. Entah dari mana kemampuan aneh ini aku dapati, tapi aku benar-benar bisa meramal seseorang, namun aku selalu ingin menyembunyikan keanehanku ini.Karena itu pulalah tak seorang pun yang mau berteman denganku di sekolah. Mereka semua menjauhiku semenjak mereka tau aku memiliki keanehan. Ada pula yang takut dengan diriku, ketika aku mendekat mereka semua akan pergi menjauh.Aku benar-benar merasa kesepian meskipun aku sekolah di sekolah favorit yang memiliki banyak siswa. Banyak juga dari mereka yang memanggilku dukun. Ah entahlah!!Aku merasa kesepian dan ingin hidup normal seperti mereka semua, tanpa ada yang takut padaku. Hari ini aku memiliki firasat yang aneh tapi aku tak dapat memahaminya. Aku tak mengerti dengan perasaanku hari ini.“Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari Bandung.” Jelas Pak Agus pagi ini. Aku hanya tertunduk di kursiku dan bahkan tak melihat ke arah pak Agus yang tengah bicara di depan kelas.“Silahkan perkenalkan dirimu.” Kata pak Agus lagi, pasti pada anak baru yang barusan disebutkannya.“Namaku Langit Shaputra.” Aku mengangkat wajahku dan pandanganku beradu dengan seorang pemuda tampan yang tengah berdiri di depan kelas.“Kalian dapat memanggilku Langit.” Sambungnya.Aku tetap saja tak mengalihkan pandanganku darinya. Entah ada apa pada diriku, aku sungguh terhipnotis oleh anak baru ini. Seperti ada daya magnet yang sangat kuat pada sosoknya yang membuatku tak dapat memalingkan wajahku darinya. Ada hal aneh yang menyelubungi hatiku, aku tak tahu apakah itu tapi rasanya sungguh aneh.Anak baru itu berjalan kearahku. Aku seketika menjadi gugup. Apa yang terjadi pada diriku? Setelah sampai di depanku pemuda itu tersenyum sangat manis membuatku jadi salah tingkah memandangi senyuman itu.“Aku boleh duduk disini?” tanyanya ramah menunjuk kursi kosong di sebelahku. Hatiku bergetar mendengar suara itu.“Boleh aku duduk disini?” ulang pemuda yang mengenalkan dirinya Langit itu.“Oh eh bo boleh. silahkan.” Jawabku gugup.Dia kembali tersenyum sangat indah kearahku, aku hanya menunduk tak berani beradu pandang dengan mata indah pemuda ini, matanya berwarna coklat bening dan tatapannya tajam.“Langit.” Kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan.Aku masih menunduk tak berani menatap mata pemuda yang ada di sampingku sekarang ini.“Bulan.” Jawabku pelan tapi cukup bisa didengar olehnya.“Namamu cantik seperti orangnya.” Lagi lagi dia tersenyum manis. Aku makin menundukkan kepalaku mendengar pujian itu.Bel istirahat pun akhirnya berbunyi. Semua anak berlarian menuju kantin kecuali aku. Dan Langit? Dia juga gak pergi ke kantin, dia masih setia duduk di sebelahku. Namun itu hanya berlangsung beberapa detik saja.“Lang.” Panggil seseorang dan orang itu adalah Andi.“Lo ngapain disini sama dukun ini?” Andi memang selalu memanggilku dengan julukan itu hingga anak-anak lain akhirnya juga memanggil demikian.“Dukun? Maksud lo dia?” tanya Langit menunjukku dengan telunjuknya.“Iya Lang. Dia yang sebelumnya gue ceritain, Lo harus hati-hati sama dia.” Kata Andi. Perkataan itu sungguh menyayat hatiku, aku segera beranjak meninggalkan tempat itu dengan genangan air mata yang tertahan di pelupuk matakAku merasa sedih, aku tak mengerti mengapa Tuhan memberiku kemampuan ini yang hanya membuatku terlihat aneh dimata teman-temanku. Aku menangis dibawah sebuah pohon, aku tak sanggup kalau harus begini terus.“Udah jangan nangis. Nanti gak cantik lagi.” sebuah suara mengagetkan ku an menyerahkan selembar tisyu, aku menoleh ke arah suara itu dan mendapati Langit tengah berjongkok di hadapanku.“Kamu ngapain disini?” tanyaku, dan kini aku beranikan diri untuk menatap matanya.“Aku minta maaf atas sikap Andi tadi, dia orangnya memang begitu.” Aku tak mengerti dengan pria ini, kenapa dia begitu peduli padahal dia tak mengenalku.“Udah kamu jangan sedih lagi nanti aku juga ikut sedih.” Katanya lagi sambil tersenyum.Dia menceritakan bahwa ia pernah berjanji kepada mendiang ibunya, ia tak akan membuat air mata seorang perempuan terjatuh di hadapannya.Ceritanya membuat aku bersimpati padanya. Pantas saja tampak sekali raut kesedihan di wajah tampannya.Sejak hari itu Langit terus bersikap baik padaku. Dia tak pernah menjauhiku seperti teman-teman yang lain meskipun Andi berulangkali mempengaruhinya untuk menjauh dariku namun tampaknya Langit tak pernah menghiraukan kata-kata Andi.“Heh dukun! Lo mantrain Langit ya? Sampai-sampai dia gak mau dengerin gue sama sekali.” Andi menghadangku ketika aku hendak ke kelas pagi ini.“Maksud kamu apa sih Ndi? Aku gak ngerti.” Jawabku bingung.“Udahlah Lo gak usah pura-pura gak bersalah gitu, sekarang balikin Langit kayak dulu lagi.” Kini nada Andi makin keras saja.“Tapi aku benar-benar gak ngerti apa maksud kamu.” Aku terus membela diri karena aku gak ngerti apa yang tengah dimaksud Andi.“Lo pasti udah guna-guna Langitkan?” aku terkejut mendengar tuduhan itu. Guna-guna? Itu tuduhan yang menyakitkan. Sungguh! Memangnya dia pikir aku penyihir apa yang menggunakan mantra yang tak jelas.Jujur aku tak pernah percaya dengan mantra-mantra itu dan sekarang aku malah di tuduh mantrain seseorang? Kemampuanku tak setinggi itu, aku hanya bisa melihat gambaran-gambaran masa depan seseorang saat aku menyentuhnya, itu pun hanya bayangan hitam yang tak jelas.Aku tak pernah mengasah kemampuanku karena aku sangat membenci kemampuan ini, kalau bisa aku ingin sekali menghilangkannya. Aku merasa kemampuan ini bagaikan kutukan yang membuat semua orang membenci dan menjauhiku. Kini aku dituduh guna-guna seseorang? Ya Tuhan, sabarkan lah hati hambamu ini.“Sumpah Ndi, aku gak mungkin guna-guna Langit. Aku bukan dukun.” Andi makin marah mendengar jawabanku.“Gue gak percaya sama Lo, gue yakin Lo pasti udah mantrain Langit karena Lo suka sama dia iyakan?”“Sumpah Ndi tolong percaya sama aku.” Andi terus saja menuduhku dia membentak bahkan dia hampir menamparku namun teriakan seseorang berhasil menghentikan gerakan tangan Andi.“ANDI!!” teriak seseorang dari arah belakang saat aku menoleh ternyata orang itu adalah Langit.“Dia gak pernah guna-guna apalagi mantrain gue. Gue yang mau berteman sama dia.” Langit berusaha menjelaskan.“Lo itu udah di guna-guna jadi Lo gak mungkin sadar Lang.” ujar Andi, Langit menatapku sejenak seakan dia mempercayai ucapan Andi barusan. Aku yang menerima tatapan itu merasa sangat sedih, hatiku bagai tengah di hujami oleh jarum tak kasat mata.Aku segera pergi meninggalkan tempat itu, aku gak sanggup hidup lagi kalau harus di perlakukan gak adik seperti ini. Ternyata Langit mengikuti langkahku dari belakang.“Lan maafin Andi ya? Kamu jangan dengerin kata-kata Andi.” Aku diam tak menjawab malah ku percepat langkahku meninggalkan Langit.“Lan tolong maafin ucapan Andi yang keterlaluan.” Langit terus mengikutiku.“Kamu bisa gak berhenti ngikutin aku? Aku gak apa-apa kok.” Kataku menahan lelehan air mataku.“Tapi Lan...” belum selesai kalimat itu aku sudah menyatukan kedua tanganku memohon padanya.“Aku mohon jangan ganggu aku, aku gak apa-apa. Tolong tinggalin aku sendiri.”“Gue gak bakalan ninggalin lo sendirian, terserah kalau lo mau marah sama gue, lo nampar gue juga silahkan tapi jangan minta gue buat pergi.”“Sebenarnya mau kamu itu apa sih?” kini air mata sudah bercucuran tak dapat ku tahan lagi.“gue hanya ingin berteman sama lo.” Kini dia malah tersenyum. Senyuman manis yang membuat jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan.“Tapi aku gak butuh teman, aku bahagia kok meskipun selama ini aku gak punya teman.” Jawabku lirih.“Gue yang butuh teman kayak lo. Lo itu unik.” Lagi-lagi dia tersenyum. Gak jelas banget nih anak, yang lain pada sibuk jauhin aku dia malah pengen jadi teman aku.“Kenapa? kamu gak takut sama aku?” tanyaku penasaran kini tangisku sudah hilang.“Gak papa pengen aja punya teman yang bisa ngeramal. Jadi kalau mau diramal gak perlu jauh-jauh pergi ke dukun. Lagian kenapa harus takut sih? Lo kan gak makan orang juga.” Jawabannya membuatku tersenyum.“Gitu donk! Kalau senyum lo itu tambah manis loh.” Sungguh orang yang aneh.“Aneh.” Kataku“Aneh kenapa?” matanya kini mengerling nakal ke arahku, aku kembali hanya tersenyum melihat tingkah anehnya.“Kalau gitu kita berteman mulai sekarang. Ok?” aku hanya mengangguk, Langit begitu senang aku juga tak tau apa sebabnya padahal aku hanya menerima dia sebagai teman bukan pacar tapi dia senang bukan kepalang. Sungguh orang yang aneh bathinku.Kini aku mempunyai seorang teman kalau di sekolah, dimana ada aku dia pasti juga ada disitu. Tapi ada perasaan aneh yang kini tumbuh dihatiku saat bersama dengan Langit.Entah perasaan macam apa itu tapi aku merasa nyaman saat aku bersama dengan Langit. Mungkinkah ini cinta? Tapi aku berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh.Aku meyakinkan diriku kalau Langit hanyalah teman saja tidak boleh ada perasaan lebih. Sungguh sulit untuk menghilangkan perasaan ini, tapi aku akan terus berusaha.“Lan tolong ramal gue dong.” Langit tiba-tiba meminta diramal olehku, membuatku menoleh memerhatikan wajah tampannya. Aku hanya ingin memastikan dia sedang bercanda seperti biasa atau tidak.“Kenapa? Kok minta di ramal segala?” tanyaku heran dengan permintaanya setelah aku melihat raut wajahnya yang begitu serius.“Gue lagi suka sama seseorang Lan, gue mau tau apa dia juga suka sama gue atau gak.” Balas Langit.Mendengar itu hatiku terasa begitu nyeri. Oh apakah ini rasanya patah hati. Kenapa hatiku sangat sakit karena kenyataan ini. Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum.“Oh ya? Siapa tuh cewek yang beruntung bisa bikin kamu jatuh hati?” tanyaku mencoba bersikap wajar meski sulit.“Nanti lo juga bakal tau sendiri.” Jawabnya tersenyum manis. Aku membalas senyuman itu meskipun dalam hati terasa perih.“Ya udah siniian tangan kamu biar aku lihat.” Kataku.Dia memberikan tangan kanannya padaku. Aku memperhatikan telapak tangannya dan aku bertambah sedih mengetahui kenyataan bahwa cewek itu juga menyukainya.Haruskah aku berbohong dan mengatakan cewek itu tak menyukainya? Tapi Langit adalah satu-satunya orang yang mau menjadi temanku, aku tak mungkin membuatnya sedih dengan berbohong dan mengatakan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.Aku jadi semakin galau sekarang. Kalau aku berkata jujur aku akan menyakiti diriku sendiri dan kalau aku berbohong aku akan menyakiti orang yang aku sayang. Aku harus bagaimana?“Gimana Lan?” Langit tak sabar mendengar jawabanku.“Maaf Lang.” Wajah Langit berubah murung mendengar jawabanku.“Maaf Lang dia juga suka sama kamu.” Lanjutku.Wajahnya yang tadi murung kini jadi berseri-seri sebuah senyuman mengembang di bibirnya.“Benarkah Lan?” tanya Langit memastikan. Aku hanya mengangguk, sebenarnya sakit mengetahui semua ini tapi mau bagaimana lagi aku gak mungkin bohong sama Langit.Langit memelukku erat, ada rasa bahagia saat dia memelukku tapi aku menyadari hati ini telah terluka dan aku harus siap menanggungnya.“Lan gue senang banget Lan. Trus kapan waktu yang tepat buat gue nembak dia Lan?” tanya Langit setelah melepas pelukannya. Wajahnya tampak berseri-seri karena saking bahagia.“Tanganmu.” Ujarku.Dia memberikan tangan kanannya lagi, aku memperhatikan telapak tangan Langit. Sebenarnya Langit bisa membak dia kapan saja karena mereka memang sudah saling menyukai satu sama lain tapi aku masih belum rela melihat Langit bersatu dengan wanita pujaannya secepat itu jadi aku berbohong pada Langit.“Sebaiknya jangan minggu ini, karena kurang baik untuk memulai suatu hubungan. Sebaiknya kamu nembak dia hari minggu minggu depan.” Jelasku pada Langit."Gue sangat senang Lan. Gue udah suka sama dia sejak pandangan pertama Lan. Makasih ya Lan.” Ujar Langit bahagia, saking bahagianya secara tak sadar dia memeluk tubuhku. Aku membeku dalam pelukannya, saat dia tersadar kembali ia hanya mengucapkan kata maaf tapi entah mengapa hal itu membuat aku sedih.Aku tersenyum ‘aku juga menyukaimu sejak pertama melihatmu Lang’ kataku dalam hati.“Kalian adalah pasangan yang cocok. Aku yakin kamu dan dia akan langgeng.”“Gue juga harap juga gitu Lan.” Langit tampak sangat sangat bahagia hari ini. Tapi aku malah ngerasa sedih, andaikan kamu tau Lang kalau aku menyayangimu lebih dari seorang teman.Saat pulang sekolah aku melihat Langit memboncengi seorang cewek, namanya Bela. Dia adalah siswa kelas X, setahun di bawahku. Aku yakin Bela adalah wanita yang disukai oleh Langit.Bela memang cantik dia juga terkenal di sekolah karena Bela cukup aktif dalam organisasi sekolah. Kamu memang lebih cocok sama Bela Lang, bukan sama aku. Harusnya aku sadar dari awal, tak seharusnya aku menyimpan perasaan lebih padamu. Maafkan aku Lang aku gak bisa jadi teman yang baik, aku gak bisa ikut bahagia atas kebahagiaan kamu. Aku minta maaf.Semangatku benar benar hilang sejak aku melihat Langit bersama Bela. Hingga kini semangatku belum juga kembali, aku merasa berantakan hari ini. Rasanya aku tak ingin pergi ke sekolah karena tak sanggup kalau harus bertemu sama Langit.Aku menyeret kakiku yang terasa enggan melangkah menuju kelasku. Aku berusaha bersikap wajar pada Langit agar dia tak tau kalau aku rapuh saat ini. Aku tak ingin dia tau kalau aku sedang sedih karena kebahagiaannya.Waktu berjalan dengan cepat. Hari ini adalah hari minggu dimana hari yang aku sarankan pada Langit untuk menyatakan cintanya pada Bela. Aku hanya uring-uringan sejak pagi, mungkin sekarang Langit udah jadian sama Bela. Mungkin memang takdirku hanya menjadi pengagum semata yang harus memendam perasaanku.Drrr...Drrrr...Drrrr...telponku bergetar, dari nomornya tak aku kenali.“Halo!” kata seseorang di seberang sana.“Iya halo, ini siapa?” tanyaku.“Gue Andi.” Aku kaget setelah tau siapa yang nelpon.“Andi? Ada apa ya Ndi?” tanyaku penasaran. Setahuku Andi sangat tidak menyukaiku kenapa tiba-tiba dia menelponku?“Gue pengen ketemu sama Lo Lan.” Kata Andi.“Temui gue di taman dekat sekolah. Penting! ” Dan tanpa mendengarkan jawabanku terlebih dahulu dia langsung menutup telponnya. Aku bingung kenapa tiba tiba Andi pengen ketemu sama aku.Karena penasaran akhirnya aku datang juga ke taman dekat sekolah seperti yang dikatakan Andi lewat telpon. Sampai di taman aku tak menemukan Andi disana yang ada hanya Langit yang tengah duduk di sebuah kursi di bawah pohon yang cukup rindang.Sepertinya dia tengah menunggu seseorang. Jangan-jangan dia lagi nunggu Bela. Aku hendak beranjak meninggalkan tempat itu namun sebuah tangan menarik tanganku. Aku menoleh dan ternyata yang narik tanganku adalah Langit.“Lo ngapain disini Lan?” tanya Langit padaku.“Aku lagi nunggu Andi. Kamu sendiri?” pertanyaan bodoh bathinku.“Gue juga lagi nunggu dia Lan.” Langit tersenyum, aku membalas senyuman itu dengan hati tersayat.Kenapa aku harus datang ke taman ini dan kenapa Andi pengen ketemunya di taman ini? Trus orangnya mana lagi? Aku merasa sangat kesal atau Andi hanya ingin mengerjaiku supaya aku melihat Langit nyatain perasaannya sama Bela? Sial banget sih aku hari ini.“Kalau gitu aku pergi aja deh Lang. Kayaknya Andi ngerjain aku deh.” Kataku.“Lo disini aja Lan, Lo maukan jadi saksi saat nanti gue nyatain perasaan sama dia.” Kata Langit.“Apa?” aku kaget. Jadi saksi? yang benar saja bagaimana mungkin bisa aku menyaksikan orang yang aku sayangi menyatakan perasaannya pada wanita lain itu sama saja kau ingin membunuhku Lang.“Tapi aku harus pulang Lang.” Jawabku.“Ayolah Lan demi gue.”“Tapi Lang...”“Plisss...” langit terus saja memaksaku, tapi bagaimana mungkin Lang kau tak mengerti perasaanku Lang.“Lan gue gugup banget, menurut lo dia bakal terima cinta gue?” Tanya Langit. Pertanyaan bodoh.“Pasti Lang. Dia juga suka sama kamu, itu yang aku lihat.” Kataku mencoba menegarkan hatiku sendiri.“Ok. Nanti pas jam 10 gue akan nembak dia.” Kata Langit.Aku melirik jam biru yang melingkar di pergelangan tanganku 10 menit lagi batinku. Tapi aku belum melihat kehadiran Bela apa mungkin dia terlambat? Sampai 7 menit berlalu Bela belum datang juga. Apa mungkin terjadi sesuatu padanya? aku jadi semakin bingung.Ku lirik Langit dia tampak begitu tenang, kenapa dia tidak merasa panik sampai tiga menit lagi dia akan menyatakan perasaannya Bela belum datang juga. Hanya ada aku dan dia di taman ini.Tepat jam sepuluh. Aku ngelirak lirik ke sekeliling taman manun aku tak melihat Bela bahkan bayangannya saja tak tampak. Langit masih duduk di sebelahku, dia tampak sangat tenang sedangkan aku mulai panik. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bela?“Lan.” Aku terkejut saat tangan Langit menggenggam tanganku. Aku hanya diam tak menyahut. Apa yang terjadi sebenarnya.“Lang kenapa Bela belum datang?” tanyaku sambil menarik tanganku dari genggaman Langit.“Bela? Kenapa lo nyariin Bela?” tanya Langit heran. Aneh! Bukannya dia yang sedang nunggu Bela.“Bukannya kamu lagi nunggu Bela?” tanyaku.“Kok Bela sih?” aku semakin keheranan.“Bukannya kamu mau nembak Bela?” kini wajah Langit makin heran, aku jauh lebih heran dari dia.“Bukan Lan.”“Trus siapa dong kalau bukan Bela?” tanyaku keheranan.“Elo.” Jawab Langit singkat, padat dan jelas.“Hah? A.. aku?” kini aku benar-benar keheranan.“Iya lo. Gue suka sama lo Lan. Gue jatuh cinta sama lo sejak pertama kali gue ketemu sama lo. Dan berkat lo juga gue jadi tau kalau sebenarnya lo juga suka sama gue.” Jelas Langit.“J.. jadi yang waktu itu aku ramal itu aku sendiri?” tanyaku keheranan.“Yap. masak lo gak sadar sih?” Langit tertawa lepas melihat ekspresi heranku yang kini sudah memuncak.“Jadi selama ini kamu ngerjain aku?” tawa langit makin menjadi-jadi saja.“Terus telpon dari Andi itu juga rencana kamu?” tanyaku memandang lekat wajah tampan milik Langit dia hanya mengangguk masih dalam tawanya.“Kamu jahat ya Lang.” Kataku akhirnya.“Jahat?” tawa langit langsung berhenti mendengar ucapanku barusan.“Iya kamu jahat. Kamu tau gak gimana sakitnya aku saat tau kamu suka sama seseorang? Kamu tau gak penderitaan yang harus aku jalani setiap hari? Kamu tau gak betapa sakitnya hatiku?” aku menangis mengingat perihnya hatiku saat itu.“Maaf Lan.” Langit mendekapku dalam pelukannya.“Maafin gue Lan. Gue emang gak tau, tapi gue sungguh-sungguh sayang sama lo.” Wajahnya terlihat begitu bersalah.Aku melepaskan diriku dari pelukannya dan berdiri dari kursi yang kami duduki. Ku lihat wajah Langit tampak sangat bersalah.“Gue minta maaf Lan.” Kata Langit lagi.Aku tertawa tak kuasa melihat wajah bersalahnya. Langit jadi keheranan memandang ke arahku.“Jadi lo ngerjain gue?” Katanya hendak menangkapku namun aku berlari menghindar dari tangkapannya.“Kamu pikir Cuma kamu yang bisa ngerjain orang.” Kataku dan berlari karena dia sudah sangat kesal dan siap menangkapku.“Aku cinta sama kamu Lan. Kamu mau kan jadi pacarku?” tanya Langit menggenggam tanganku erat.Aku tak menjawab dengan kata-kata aku hanya menganggukkan kepalaku dan langsung memeluk Langit seakan tak ingin melepaskannya lagi.Akhirnya aku mengerti dan kini aku tak pernah menyalahkan kemampuanku lagi. Karena kemampuan anehku inilah aku bertemu dengan Langit, orang yang sangat aku cintai dan mencintaiku. Kini aku sudah memiliki Langit, dan takkan pernah kesepian lagi. Bulan kini telah menemukan Langitnya.THE END
Jenika & Reyna
memukuli ku ketika Reyna bersekolah. Berusaha mengingat ucapan Reyna dan terus bersabar. Selama kesabaran ku masih ada aku bertahan. Namun ketika aku memutuskan berjalan lurus ke sisi Tuhan.. ibu tiri ku tak terima dan kembali memukuli ku bahkan ia menarik-narik kerudung ku.Cukup! Aku memandang nya dengan tatapan melotot dengan ketidaksukaan."Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Kamu mau melawan saya, hah!! Kamu mau marah karena saya telah melepas kerudung mu itu?" Ucapnya dengan sinis."Ya!!" Bentak ku dengan air mata."Kau!""Kenapa? Sudah cukup kau terus menghajar ku, Bu!. Bahkan dengan bibir ku saja keluh memanggil mu ibu. Ayah memang membiarkan mu bebas di rumah ini tapi tidak dengan kekuasaan mu. Walaupun aku mati, harta tak akan berpindah ke tangan mu." Ucap ku dengan dada berdebar."Sudahi pukulan mu sekarang giliran ku."Ini lah diri ku sekarang, air mata yang kering. Hati yang sudah rapuh, ditambah terbelah menjadi dua. Dengan langkah pelan dengan menggenggam pisau perlahan berjalan ke arah nya. Ia mundur dan ia berteriak kepada ku. Dann..Jlebb!Aku menusuk diri ku sendiri di depannya. Tepat ketika Reyna datang."Jenika!!!" Teriak Reyna melotot ke arah ku…Bruk! Aku terjatuh dengan tatapan keluh, menunggu ajal ku tiba. Reyna melepaskan tas nya dan berlari ke arah ku. "Jen.. bangun!!" Reyna memukul pipi ku pelan. "Tak ada harapan lagi untuk mu, Rey." Reyna menangis dengan histeris menatapku. "Maafkan aku yang tidak bisa bersabar.."Reyna menggeleng. "Ini semua salah mama." "Bukan salah mama! Dia menusuk dirinya sendiri! Kau melihatnya kan?" "Ia! Aku melihatnya, dia bunuh diri karena mama!"Deg!"Jika ada apa-apa dengan Jenika, mama tidak akan tenang aku buat." Reyna memapah Jenika keluar.3 hari kemudian Reyna berhenti sekolah dan memilih belajar kedokteran. Ia ingin menjadi psikolog agar bisa membantu anak kecil yang tersiksa seperti Jenika. Orang tua Jenika dihukum seumur hidup karena terbukti menyiksa. Reyna dan ayah Jenika hidup bersama sampai tua. Sesekali, ibu Jenika menyusul Reyna untuk sekadar menanyakan kabar.
FRIEND BECAME GIRLFRIEND
Siang ini matahari tertutup awan, tetapi tidak hujan. Abigail melenguh bosan. Dipandanginya barisan ikan mas yang hilir mudik tanpa kenal lelah di dalam kolam belakang kampus.Sesekali ia melirik jam tangan mungil yang melingkar di pergelangan tangannya."Hallo Abi cantik," sapa seseorang sembari menepuk ringan bahunya.Abi menoleh tersenyum. Adelio Reynand teman seangkatannya berdiri sambil tersenyum manis ke arahnya."Kenapa sendirian aja?" tanya Adelio masih memasang senyum manisnya."Eh, Adelio. Biasa, nungguin Marcel," sahut Abi malas."Marcel? Marcello Evarado?" tanya Adelio memastikan."Iya, siapa lagi?"tanya Abi mengerutkan dahinya."Nama Marcel di kampus kita kan ada tiga," ujar Adelio membela diri.Tiba-tiba smartphone ku berbunyi."Hallo?" aku membalas sapaan yang memanggil namaku di ujung sana."......""Kenapa lo gak ngabarin gue? Setidaknya gue gak perlu nungguin lo sampe karatan gini!""......"" Iya iya! Udah ah, gue mau pulang! Capek tau!" Abi dengan ketus menyudahi pembicaraannya.Kemudian ia tersadar bahwa sedari tadi Adelio memandanginya yang sedang marah-marah dengan ekspresi geli." Kamu kalo marah-marah begitu, lucu ya? Tambah cantik!" gumamnya yang didengar jelas oleh Abi."Ish apaan sih lo?" Abi mengelak jengah."Jangan suka marah-marah, nanti tambah cantik lho!" Abi tersedak mendengar ucapan Adelio.Perempuan mana yang tidak tersanjung dengan pujian dan perhatian Adelio, seseorang yang menjadi idola di kampus ini? Banyak gadis-gadis yang berharap bisa dekat dengan laki-laki itu. Dan sekarang, Adelio menyapanya, memanggil namanya dan memujinya cantik."Abi? Abigail? Abigail Claretta?" Adelio menggoyangkan tangannya di muka Abi, membuat gadis itu tersentak dan tersipu."Uhm, sorry," Abi salah tingkah."Kenapa dengan Marcel?" dahi Adelio bertaut."Marcel sedang ada perlu. Penting katanya. Gak bisa antar gue pulang," sahut Abi malas."Ya udah, kamu pulang sama aku aja. Gimana? Gak apa-apa kan?" mata Abi melebar. Seorang Adelio Reynand menawarinya pulang bersamanya?"Tapi tidak apa-apa lo nganter gue pulang?" tanya Abi gugup."Ya gak apa-apa, Abi cantik. Yuk, aku antar kamu pulang," ujar Adelio yang masih ngotot ber aku kamu.Abi tertegun melihat senyum Adelio yang mengembang dengan manisnya. Terlebih saat Adelio meraih jemarinya dan menggandengnya menuju ke mobil sport Adelio.Berani taruhan, Abi yakin banyak gadis yang saat ini tengah melihatnya digandeng Adelio dengan tatapan iri.=====£=====Malam belum larut benar. Abi membenarkan duduknya berselonjor di atas gazebo halaman samping rumahnya.Abi tengah larut dengan novel yang dibacanya ketika tepukan seseorang membuatnya berjingkat kaget dan refleks menoleh."Marcel? Lo ngapain kemari?" Abi menatap galak pada laki-laki yang berdiri didepan nya dengan cengiran kudanya. Ia masih kesal dengan polah Marcel yang sudah membuatnya menunggu di kampus siang tadi."Gue mau minta maaf sama lo. Sorry banget ya Bi.""Ya udah. Gak apa-apa," Abigail masih menjawab dengan ketus meskipun Marcel sudah meminta maaf padanya. Ya, Abi masih kesal."Gak apa-apa kok masih cemberut sih?" goda Marcel menowel pipi Abi."Ish apaan sih lo? Memang ada apa sih?" tanya Abi mengerutkan keningnya."Aku harus ke perpustakaan Bi. Buku itu cuma satu. Kata penjaga perpus nya kemarin buku itu balik. Jadi gue nungguin buku itu di balikin sama yang minjem," jawab Marcel dengan raut kesal mengingat ia harus menunggu lama gara-gara cewek yang meminjam buku itu ngaret datangnya."Penting banget ya?" tanya Abi."Iya Bi. Kalo gak penting banget, gue pilih nganterin lo pulang,"sahut Marcel tersenyum melihat Abi sudah tidak jutek lagi."Ya udah. Gak apa-apa. Lagian gue kemarin dianterin pulang sama Adelio kok, "ujar Abigail tersenyum - senyum jengah."Adelio?"Abi mengangguk. Senyumnya masih terkembang manis, membuat jantung Marcel serasa berhenti berdetak."Iya, Adelio. Dia baik banget ya Cel. Seandainya...""Seandainya apa, Bi?" potong Marcel cepat. Perasaannya mengatakan ini adalah hal buruk yang akan ia dengar."Seandainya saja Adelio suka sama gue...""Lo suka sama Adelio, Bi?" potong Marcel lagi. Perasaannya benar-benar tidak nyaman melihat Abigail menyunggingkan senyum seperti seorang yang sedang jatuh cinta.Abi menoleh tersenyum, lalu mengangguk perlahan.Jantung Marcel serasa berhenti berdetak. Ia merasa seolah ada batu besar menghantam dadanya." Eh, sorry Bi, gue lupa ada tugas dari Miss Farah yang belum gue kerjakan. Gue cabut dulu ya Bi, " ujar Marcel dengan hati patah.Ia berbalik dan bergegas berlalu dari hadapan Abi.Abi menatap kepergian Marcel dengan bingung. Tapi sesaat kemudian ia mengedikkan bahunya, lalu kembali menekuri novel di tangannya.=====£=====MARCELLO EVARADO POVSudah hampir sebulan aku fokus pada skripsi ku. Profesor Hino sudah menyetujui skripsi yang kuajukan. Aku tinggal fokus pada ujian skripsi ku saja. Sebenarnya semua yang kulakukan ini karena aku tidak tau lagi harus melakukan apa agar aku bisa melupakan kenyataan bahwa Abigail sahabatku, gadis yang dekat denganku dan bahkan diam-diam kucintai amat sangat itu ternyata menyukai Adelio.Yah, siapa sih yang tidak menyukai seorang Adelio Reynand? Teman seangkatan Abigail itu sangat populer. Aku tidak mungkin bisa menyaingi Adelio. Aku bukan apa-apa dibandingkan dengan Adelio.Adelio yang tampan, Adelio yang ramah, Adelio yang baik dan sopan, kaya raya, pintar, tidak sombong, dan masih banyak lagi alasan kenapa para gadis di kampusku bahkan mungkin semua gadis yang mengenalnya akan menyukainya.Aku menghela nafas panjang, mencoba mengurangi rasa sesak yang muncul setiap kali melihat kedekatan Abi dengan Adelio yang makin hari makin lengket.Aku harus menjauh dari Abi dan memfokuskan diriku pada skripsiku. Aku tidak bisa melihat kebersamaan Abi dengan orang lain. Hatiku sakit. Tapi bisa apa aku? Statusku hanyalah sahabat buat Abi. Dan buatku, yang terpenting adalah Abi senang dan bahagia. Itu sudah cukup buatku meskipun aku tidak akan tahan melihatnya bersama laki-laki lain. Karena itu aku memutuskan untuk mengambil S2 ku di Jerman. Papa dan Mama sempat curiga dengan keputusan yang kuambil karena mereka tau pasti bahwa aku tidak bisa jauh-jauh dari Abigail. Tapi menurutku, keputusan ini sudah tepat."Melamun lagi?" aku menoleh melihat ke arah orang yang menepuk bahuku. Devian mengambil duduk di sebelahku. Aku menunduk lagi, mencoba untuk kembali fokus pada bacaanku."Gue mau ke Jerman. Munster tepatnya," gumamku membuat Devian menoleh cepat kearahku." Jauh amat? Lo mau nerusin S2 atau mau melarikan diri? " Devian menatapku tajam."Ya nerusin S2 lah Sob," aku tersenyum pahit membalas tatapan tajamnya."Kenapa perasaan gue bilang sebaliknya ya? Lo sudah bilang ke Abi soal rencana lo ini?" tanya Devian membuatku menghela nafas lagi."Gak. Belum.""Kenapa lo gak bilang aja terus terang sama Abi kalo lo suka sama dia?""Gue belum ketemu Abi lagi setelah kita ketemu dia di cafe dua minggu lalu," Marcel menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas nya."Menurut gue, sebaiknya lo ungkapin perasaan lo ke Abi. Paling nggak lo tau gimana perasaan Abi ke elo. Paling nggak lo sudah nyata in perasaan lo. Paling nggak lo jujur sama diri lo sendiri. Paling nggak...""Stop! Stop! Cukup Dev. Gue tambah pusing dengerin lo," potong Marcel cepat."Terserah lo lah Sob. Hidup hidup lo. Lo yang jalanin. Lo yang ngerasain. Gue cuma bisa berharap, lo gak nyesel dengan keputusan yang lo ambil," Devian menepuk pundakku pelan dan beranjak meninggalkanku."Lo mau kemana?" tanyaku setengah berteriak bertanya pada Devian yang mulai berjalan menjauh. Ia tidak menjawab, hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh padaku.Aku menggeleng pelan sambil tersenyum getir. Hanya Devian lah yang tau semua rahasia perasaanku terhadap Abi."Marcello," sebuah suara bariton terdengar ditelingaku membuatku menoleh. Kudapati Profesor Hino berdiri menjulang dibelakangku."Ya Prof?" bergegas aku bangkit berdiri."Kamu ikut saya. Ada yang harus di bicarakan mengenai keberangkatanmu ke Munster," Profesor Hino berbalik setelah memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.=====£=====ABIGAIL CLARETTA POVAku menatap Adelio dari kejauhan. Tanpa sadar aku tersenyum. Sudah dua bulan kedekatanku dengan Adelio. Ia tetap baik dan perhatian. Senyumnya tetap mengembang dengan manisnya. Tapi aku tau, itu dilakukan dandiberikannya untuk semua orang. Seperti saat ini. Apa yang kulihat di hadapanku adalah Adelio tengah tersenyum manis pada Cilla, membantunya membawa setumpuk buku ke perpustakaan. Sebelumnya, aku melihatnya mengantar Kania ke toko buku. Lalu kemarinnya lagi aku melihatnya tergesa-gesa menuju ruang kesehatan ketika mendengar Una terluka saat basket. Dan masih banyak lagi yang tidak mungkin bisa kusebut satu persatu.Adelio memang sangat baik.Aku tidak sakit hati. Bahkan aku tidak patah hati. Dulu kupikir aku punya perasaan khusus dengannya. Tapi setelah mengetahui semua ini, aku sadar bahwa aku hanya kagum pada kharisma Adelio. Dan aku kini yakin, itu bukanlah perasaan cinta!"Abigail!" suara seseorang memanggilku membuatku memutar leherku."Jen? Kenapa ngos-ngosan gitu?" kulihat Jeny terengah-engah menghampiriku dan duduk di sampingku."Sudah dengar kabar gembira?" Jeny melempar senyum padaku."Kabar gembira? Kabar gembira apa?" tanyaku mengerutkan kening."Akhirnya Marcel lolos beasiswa ke Jerman," Jen memekik antusias."Marcel? Ke Jerman?" aku tercenung."Lo belum dengar kalau Marcel lolos beasiswa ke Jerman?" tanya Jen yang bingung dengan reaksiku.Aku menggeleng pelan."Lo tau dari siapa?" aku menjerit tertahan. Aku sama sekali tidak tau menau dengan rencana Marcel.Sedetik kemudian aku terhenyak. Dua bulan terakhir ini aku sudah mengabaikan Marcel. Aku terlalu sibuk dengan perhatian Adelio yang salah kuartikan. Marcel sahabatku, yang selalu ada setiap aku membutuhkan. Yang selalu mendengarkan semua keluh kesahku. Yang menemaniku saat aku jenuh dengan rutinitas. Sahabat macam apa aku yang tidak tau apa-apa tentang kepergian Marcel ke Jerman?"Jen, gue pergi dulu," aku buru-buru berdiri dan setengah berlari menuju ke parkiran."Woi Bi! Lo gak ikut kuliah Pak Tara?" teriak Jeny melihatku berlari seperti dikejar setan."Gue nitip absen aja sama lo!" teriakku hampir menjerit. Aku harus menemui Marcel. Aku harus menanyakan kebenaran berita ini pada Marcel. Juga menanyakan kenapa Marcel tidak menberitahukanku tentang rencana kepergiannya.=====£=====Marcel masih menelusuri rangkaian huruf di hadapannya ketika Devian datang dan duduk di sebelahnya."Urusan administrasi lo udah beres?" tanya Devian melirik buku yang sedang dibaca Marcel."Udah. Begitu lulus ujian skripsi, gue tinggal prepare buat ke Munster. Katanya sih ada pelatihan bahasa dulu," Marcel menutup bukunya dan memasukkan ke dalam tas nya."Lo tetep gak mau ngomong ke Abi soal kepergian lo ini?" gerakan Marcel terhenti.Ia tercenung, melihat ke arah Devian, lalu menggeleng pelan."Gue gak ngerti sama lo Sob. Kalo lo memang cinta sama Abi, ngapain lo takut nyatain? Lo takut dengan pikiran lo sendiri," cibir Devian geram dengan kekeras kepalaanku.Wajah geram Devian berganti senyum lebar ketika pandangannya terarah pada sesosok gadis dengan rambut panjangnya yang di ikat ekor kuda."Hai Yang, udah selesai kuliahnya?" sambut Devian memeluk dan mencium puncak kepala gadisnya yang menghambur kepadanya.Gadis itu mengangguk sambil tersenyum manja."Ckckck... pantas aja anak-anak kampus menjuluki kalian pasangan ter-romantis sepanjang masa," Marcel mencibir sambil menggelengkan kepalanya."Sirik aja lo!" cetus Jeny balas mencibir."Maklum, Yang. Dia kan jomblo," Devian terkekeh menggoda Marcel yang langsung meringis mendengarnya."Kampret lo!" sembur Marcel."Makanya kalo suka bilang suka. Sana cepetan ngomong! Keburu di sambar orang lain, lo gigit jari deh," omel Devian sambil cengengesan."Huh! Dosa apa gue punya temen kaya lo gini?" keluh Marcel memasang raut muka menyesal yang langsung di sambut tawa geli Devian, sementara Jeny menatap keduanya bergantian dengan bingung."Kalian ngomongin apa sih? Marcel suka sama siapa? Gue kenal sama orangnya gak? Apa perlu bantuan dicomblangin? Siapa sih target lo?" Devian tertawa keras mendengar kata-kata kekasihnya yang membuat Marcel melotot kesal padanya."Lo berdua memang cocok! Gue cabut dulu. Jangan berduaan mulu! Awas setan lewat," ejek Marcel."LO SETAN NYA!" teriak Devian dan Jeny barengan.Marcel tertawa meninggalkan keduanya.=====£=====Marcel menghentikan langkahnya. Ia menatap lurus pada gadis mungil yang menghadangnya."Abi?""Lo hutang penjelasan ke gue, Cel!" gadis itu berkacak pinggang di hadapan Marcel."Ada apa, Bi?" Marcel memandang wajah cantik Abi lurus-lurus. Hatinya berdebar."Lo tega ninggalin gue? Kenapa lo gak ngabarin gue? Kenapa lo gak bilang kalo lo mau nerusin kuliah di Jerman? Apa lo udah gak nganggep gue sahabat lo lagi? Apa salah gue? Lo jahat, Cel! Kalo gue ada salah sama lo, lo ngomong ke gue. Bukan gini caranya. Gue salah apa? Sampai-sampai lo gak mau cerita ke gue soal kepergian lo ambil S2 ke Jerman?" Abi meluapkan emosinya, kemarahannya menyadari bahwa ia mengetahui kepergian Marcel dari orang lain."Maaf, Bi," bisik Marcel."Kenapa lo gak bilang kalo lo mau nerusin S2 ke Jerman?" Abi terisak. Bulir-bulir air mata menetes di pipi Abi. Hati Marcel serasa tersayat. Abi menangis. Biasanya ia yang akan menenangkan Abi. Tapi kali ini dia penyebabnya."Bukan seperti itu maksud gue, Bi.Lo sangat penting buat gue," Marcel mengusap wajahnya frustrasi."Nggak! Gue nggak penting buat lo! Persahabatan kita selama ini ternyata gak penting buat lo! Gue bukan apa-apa buat lo! Selama ini lo selalu menjadi orang pertama yang tau setiap masalah atau apapun tentang gue. Tapi gak dengan lo!" sembur Abi sambil mengusap air matanya kasar.Perlahan Marcel mendekati Abi, merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukannya."Bi, lo penting banget buat gue. Lo sahabat terbaik gue. Maaf, gue gak bisa jadi sahabat lo lagi. Gue harus pergi. Selamat tinggal Abigail, " Marcel melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipi Abi dengan sayang, lalu mengecup pucuk kepala Abi dengan lembut sebelum ia melangkah meninggalkan Abi yang masih terpaku dengan debaran jantungnya yang semakin keras menerima pelukan dan kecupan Abi di puncak kepalanya.=====£=====University of Munster, Jerman.Marcel memandang kampus tempatnya menimba pengetahuan selama dua tahun ini. Gedung yang berdiri kokoh, menjulang dengan arsitektur yang melambangkan kemegahan dan nama besar universitas itu.Universitas yang terletak di kota Munster, Rhine-Westphalia Utara, Jerman. Universitas yang berbasis riset dan menjadi salah satu universitas terbesar di Jerman.Sudah dua tahun Marcel menjadi salah satu mahasiswa di sini. Hari-harinya disibukkan dengan belajar, belajar dan belajar."Wie viele Kurse heute? (Berapa mata kuliah hari ini?) " Marcel menoleh saat merasa bahunya ditepuk seseorang.Dilihatnya Audric, teman seangkatannya berdiri di sampingnya dengan cengiran khas nya."Drei (tiga) ," jawab Marcel tersenyum.Audric mengangguk, menepuk ringan bahu Marcel dan berjalan mendahuluinya.Marcel mengedarkan pandangannya menyapu halaman kampus.Sesekali dibalasnya sapaan teman-teman nya dengan senyum lebar."Leider konnten administrative Raum zu zeigen? (Maaf, bisa tunjukkan ruang administrasi?) " Marcel menghentikan langkahnya. Di hadapannya berdiri seorang gadis sedang menunduk sambil membawa berkas-berkas administrasi."Natürlich. Sie neu hier? (Tentu saja. Kamu baru di sini?) " tanya Marcel agak membungkuk, mencoba melihat wajah gadis di hadapannya.Gadis itu mendongak dan tersenyum padanya."ABI?" mata Marcel membeliak takjub antara percaya dan tidak.Bagaimana tidak jika gadis yang berdiri di hadapannya sekarang adalah Abigail Claretta, sahabatnya yang sangat dicintainya?"Hai," sapa Abi dengan senyum manisnya."Bagaimana lo bisa ada di sini?" tanya Marcel pelan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya."Melanjutkan kuliah tentu saja," sahut Abi tanpa melepaskan senyumnya."Tapi bagaimana bisa? Ini beneran lo kan, Bi? Ini bukan halusinasi gue kan?" Marcel mengerjapkan matanya berkali-kali."Memang siapa lagi? Gue kan gak punya sodara kembar," jawab Abigail meringis.Marcel menelan ludah. Dicubitnya lengannya sendiri. Sakit! Ia tidak bermimpi. Ini nyata. Ada Abigail di hadapannya sekarang. Gadis yang tidak pernah bisa beranjak dari hati dan pikirannya barang sedetikpun.=====£=====Marcel menyandarkan sepedanya pada batang sebuah pohon yang cukup rindang di sebuah taman dekat apartemen tempat ia tinggal.Penduduk di Munster memang lebih suka naik sepeda."Ceritakan sama gue, bagaimana lo bisa berada di sini dan tinggal di apartemen yang satu gedung sama gue!" tuntut Marcel setelah ia dan Abi duduk bersebelahan di bangku taman."Devian," ucap Abi. Satu nama yang mewakili ratusan kata atas jawaban dari pertanyaan yang akan dilontarkan Marcel."Huh! Dasar kaleng rombeng!" dengus Marcel kesal. Memang selama ini hanya Devian satu-satunya teman yang tau dengan pasti dimana dia berada."Kenapa lo gak mau bilang ke gue?" tanya Abi setelah sesaat mereka terdiam."Bilang apa? Oh... soal kepergian gue? Gue cuma gak mau liat lo sedih dan membuat gue membatalkan beasiswa yang sudah susah payah gue dapet," sahut Marcel membuang muka."Itu bukan alasan utama lo kan?" tanya Abi lagi menohok perasaan Marcel."Lo mau alasan yang mana? Itu memang alasan gue," jawab Marcel pelan."Kenapa lo gak mau jujur sama gue? Tentang isi hati lo, perasaan lo, alasan lo pergi, juga alasan kenapa lo gak bisa jadi sahabat gue lagi," kejar Abi menatap Marcel dalam-dalam.Marcel memandang wajah cantik di depannya dengan pias. Apa yang sudah Devian ceritakan pada Abi? Apakah Abi marah? Apakah ia akan kehilangan Abi selamanya?"Apa yang sudah Devian bilang ke lo?" Marcel menekan suaranya."Semuanya," sahut Abi masih tidak melepaskan tatapannya dari wajah pucat sahabatnya."Lalu? Apalagi yang mau lo dengar dari gue? Bukannya Devian sudah mengatakan semuanya?" Marcel menunduk, mengais rumput dengan ujung sepatunya."Kenapa gue selalu dengar dari orang lain? Gue mau memastikan kebenarannya dari mulut lo sendiri," ujar Abi mantap.Marcel menelan ludahnya susah payah.Baiklah kalau ini mau-mu, Bi, bisiknya dalam hati, menyerah dan pasrah apa yang akan terjadi."Gue gak bisa jadi sahabat lo lagi karena... karena gue...gue bukan sahabat yang baik buat lo. Seorang sahabat akan selalu mendukung dan men-support sahabatnya. Tapi itu tidak terjadi sama gue. Gue gak suka lo dekat dengan orang lain, pria lain. Gue bukan sahabat yang baik karena gue punya perasaan lain sama lo. Gue suka sama lo. Gue cinta sama lo. Dan gue gak mau perasaan gue menghalangi kebahagiaan lo. Itu sebabnya gue berusaha keras memperoleh beasiswa ini," Marcel melepaskan seluruh beban yang selama ini menghimpitnya. Ada perasaan lega dalam rongga dadanya, namun sebagian hatinya merasa takut dan was was dengan reaksi Abi.Ragu-ragu ia melirik pada Abi. Dilihatnya gadis itu menunduk diam."Bi, maafin gue. Gue salah. Gak seharusnya gue punya perasaan seperti itu. Tapi Bi, gue gak bisa ngilangin perasaan itu. Maka dari itu gue pergi," Marcel menunduk." Ich liebe dich, Marcello Evarado," Marcel menoleh cepat menatap Abi yang juga tengah menatapnya dengan pipi merona merah."Können Sie das wiederholen? (Bisakah kamu ulangi?)" Marcel menggumam lirih."Marcello Evarado, Ich liebe dich, so wie du mich liebst," Marcel mengedip sekali, tatapannya lekat pada bibir gadis mungil yang baru saja mengatakan cinta padanya."Jangan mengejek, Abi! Gue tau lo cuma bercanda kan?""Gue gak pernah seserius ini,Cel."Marcel mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mencari kesungguhan Abi. Dan ia menemukannya di mata bening Abigail."Katakan kalo gue gak sedang bermimpi, Bi," bisik Marcel masih dengan ketakjubannya."Lo gak mimpi, Marcel," Abi tertawa lirih.Mendadak Marcel berdiri, lalu berteriak sambil melompat-lompat, lalu berlari mengitari bangku tempat Abi duduk."Akhirnya! Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi!" Abi tertawa melihat kegilaan yang dilakukan Marcel.Ia terus tertawa hingga Marcel kembali duduk di sisinya."Jadi kita gak sahabatan lagi dong," goda Abi melihat Marcel yang mengusap-usap tengkuknya salah tingkah."Iya, sekarang kita pacaran," jawab Marcel tertawa bahagia."Kita? Pacaran?" Abi masih menggoda Marcel."Iya! Gue sama lo pacaran," cengir Marcel."Kalo pacar masa panggilnya lo gue?"Marcel tertegun menatap lekat wajah Abi. Sedetik kemudian ia tertawa. Di rengkuhnya tubuh mungil di hadapannya."Aku cinta mati sama kamu, Bi," ujarnya pelan di telinga Abi.Abi tersenyum, memejamkan matanya sesaat menikmati dekapan hangat Marcel."Aku juga cinta mati sama kamu, Cel."Marcel melepaskan pelukannya, menarik tangan Abi agar berdiri. Lalu di gendongnya gadis itu dan mereka berputar-putar sambil tertawa sarat dengan kebahagiaan.SELESAI.
HIS FIRST LOVE
Aku mempercepat langkah kakiku. Hari ini cukup melelahkan untukku. Untung saja Profesor Harold berbaik hati menerima skripsiku setelah berpuluh-puluh kali aku harus melakukan revisi dan pengkajian ulang.Setelah ini aku tinggal mempersiapkan ujian skripsiku dan wisuda di depan mata.Rencanaku untuk mengambil S2 sebentar lagi terwujud.Dengan langkah ringan, aku melompati beberapa genangan air.Mungkin karena terlalu bersemangat dan fomus pada langkahku menghindari genangan - genangan air itu, aku tidak waspada dengan jalan di depanku.BRUKK!Benar saja, aku menubruk seseorang. Seketika tubuhku oleng dan nyaris terbanting ke tanah jika seseorang tidak menahan tubuhku dan menarikku berdiri."Eh maaf...maaf..." aku mendongak melihat orang itu."Kalo jalan hati-hati. Lihat depan!" ujarnya setengah menggerutu."Ah iya, sekali lagi maaf. Dan terimakasih udah nolongin," duh, kalo aja aku bisa menyembunyikan wajahku, pasti sudah akan kusembunyikan dari tatapan tajam laki-laki yang kini, berdiri dihadapanku ini."It's okay," ujarnya menatapku dengan mata menyipit."Eh kalau begitu, aku permisi duluan," kataku sambil membetulkan tasku yang melorot dari pundakku."Tunggu!" laki-laki itu mencekal lenganku. Duh, apalagi ini.Aku menghentikan kakiku yang baru saja selangkah. Kupandang laki-laki itu dengan pandangan bertanya."Siapa namamu?" tanyanya menatap tajam ke arahku.Aduh! Mau apa sih nanya-nanya namaku segala?Apa dia gak tau kalau aku bisa meleleh kalau dia memegang tanganku terus seperti ini?Gimana gak meleleh kalo tanganku digenggam oleh cowok yang wajahnya tampan luar biasa dengan tubuh tegap dan bidang begini? Duh mama, Pia gak sanggup!"Heh! Ditanya malah bengong!" sekarang laki-laki itu menjentikkan jarinya didepan wajahku. Aku gelagapan."Oh... eh... tadi bapak nanya apa ya?" tanyaku dengan oon nya."Nama kamu siapa?" ulangnya sambil menarik nafas panjang. Apa dia kesal padaku ya? Duh, maaf deh. Soalnya kalo aku ngadepin orang cakep memang suka begini bawaannya."Eh namaku? Aku Steviana, Pak," jawabku tanpa menjabat tangannya. Ya bagaimana mau jabat tangan kalo dari tadi lenganku masih dicekalnya."Steviana," ulangnya manggut-manggut."Eh, maaf Pak, bisa tolong lepasin tangan saya?" tanyaku hati-hati. Pasalnya tidak ada tanda-tanda ia mau melepas pegangan tangan nya."Oh ya, bisa tidak kamu tidak panggil saya bapak? Saya kan bukan bapak kamu?" kudengar ia mendengus kesal."Baiklah Oom," kulihat ia mendelik melihatku. Duh, salah lagi kayaknya."Saya bukan Oom kamu!" ujarnya galak."Lalu saya harus panggil apa Paman?" tanyaku lagi menatap mata abu-abunya yang sekarang kembali melotot melihatku. Haisss... susah ngomong sama orang satu nih. Mana tanganku belum juga di lepas."Namaku Dion. Dan jangan panggil paman karena aku bukan pamanmu!" ujarnya sewot."Iya deh, terserah. Aku udah boleh pergi kan?" tanyaku melihat tanganku yang masih belum dilepasnya."Eh iya, sorry," dilepaskannya lenganku."Ya sudah, aku duluan. Bye," aku segera berlari kecil menuju parkiran, mengambil si mungil Brio milikku, hadiah dari papa dan mama saat aku berulang tahun kemarin.======♡======"Piaaaa," suara mama terdengar melengking tinggi."Iya Ma, sebentar. Sudah hampir selesai kok," sahutku tak kalah melengking.Malam ini Papa dan Mama kedatangan sahabat lamanya. Sahabat sejak mereka masih SD dulu. Mereka pisah waktu Papa memperoleh beasiswa dan harus meneruskan sekolah di Melbourne.Aku meneruskan mematut diri di depan cermin. Oke, sudah cantik. Ooops... kenapa aku merasa ada yang kurang ya? Kuteliti lagi penampilanku.Astaga! Duh, mama.... anakmu hampir saja nempermalukanmu!Aku masih mengenakan celana pendek baby doll ku yang warnanya sudah absurd banget.Cepat-cepat kuganti dengan rok model A di atas lutut dan bergegas turun. Mamaku sudah memanggilku kembali dan memberitahu bahwa tamu mereka sudah datang."Naaah... Ini lho anakku. Namanya Steviana. Ayo Pia, kasih salam sama Om David dan Tante Vela. Dan ini anak Om David. Namanya Albert Alvadion Wijaya," aku menyalami mereka satu persatu, dan OMG, bukannya ini cowok yang tadi siang ketemu di kampus?"Lho Om? Eh, Pak? Eh?" aku tidak menyangka ternyata dia anak Om David dan Tante Vela?"Lho kalian sudah kenal?" tanya Tante Vela takjub."Wah, kalo gini urusan jadi gampang kan Vid?" kata papa tertawa yang langsung disambut kekehan tawa Om David, Tante Vela dan Mama.Aku tidak mengerti dengan mereka. Ada apa sih sebenarnya?Aku menoleh pada anak Om David. Eh, dia malah cengar cengir gak jelas. Ada apa sih?"Sini Pia sayang," panggil Papa menepuk-nepuk sofa disebelahnya. Aku menurut."Begini Pia, Om David ini kan sahabat lama Papa, dan kami sudah sepakat untuk menjadikan persahabatan kami menjadi persaudaraan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan Dion. Lagipula Dion juga sudah setuju," sahut Papa diangguki seluruh yang hadir kecuali aku dan Si Om yang hanya menatapku penuh intimidasi.Aku menelan ludah dengan susah payah. Mana mungkin? Oke, aku memang belum punya pacar. Tapi aku kan lagi pedekate dengan kakak seniorku yang sekarang sedang mempersiapkan skripsi sama denganku.Ya meskipun umurku dibawahnya dua tahun karena otakku yang lumayan cespleng sehingga aku bisa menyelesaikan kuliahku lebih cepat. Sehingga di usiaku yang ke 20 ini aku sudah bisa mengajukan skripsi."Jadi besok kita bisa mulai mempersiapkan pernikahannya. Dan Pia, besok kamu ikut mama untuk memilih model gaun pengantinnya," bahkan mereka tidak menanyakan kesediaanku sama sekali."Ma," aku ingin protes."Tenang saja, Pia. Mama sama Tante Vela yang akan mengurus semuanya. Mama tau kamu lagi fokus dengan ujian skripsi kamu. Semua biar kami yang atur," kata Mama antusias.Aku menatap Mama dan Papa bergantian dengan sebal."Maaf Tante, Om, Pa, Ma. Bisa aku ngobrol berdua dengan Pia?" idih si Om kenapa sok akrab memanggilku Pia? Kecuali Papa dan Mama tidak ada yang memanggilku Pia."Wah udah pengen berduaan aja si Dion?" goda Tante Vela tertawa sumringah membuat wajah si Om sedikit memerah."Tuh Pia, temenin Dion nya," mama menarik-narik tanganku agar berdiri, sementara papa mendorong-dorong punggungku. Kedua orang tuaku benar-benar kompak kalau begini.Dengan memasang muka malas aku mengikuti Dion ke taman disamping rumah, menuju gazebo yang biasa kugunakan saat teman-temanku main ke rumahku.Ia duduk di gazebo itu sementara aku duduk di ayunan di depannya."Kenapa disitu? Jauh amat? Sini dong," si Om melambai menyuruhku duduk di dekatnya."Mau ngobrol apaan sih Om? Kenapa gak ngomong di dalam aja?" tanyaku sebal. Tanpa kupedulikan tatapan tajamnya, aku mulai mengayun ayunan yang kududuki pelan."Aku sudah bilang jangan panggil aku Om! Memang aku setua itu apa?" gerutunya galak."Aku harus panggil apa? Bapak? Paman?" ujarku tak peduli pelototannya."Panggil namaku aja bisa kan?" pintanya."Gak mau ah! Gak sopan panggil nama aja ke orang yang lebih tua," tolakku tanpa melihat kearahnya."Kalau begitu, panggil aku Kakak! Atau Mas juga boleh," tawarnya mengedipkan sebelah matanya.Aku tertawa geli."Enak juga panggil Om. Lebih pas dan enak dilidah," sahutku enteng.Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di hadapanku menghentikan ayunan yang kududuki.Tubuhnya membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan wajahku.Aku panik. Bagaimana tidak. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku sehingga aku dapat merasakan hangat nafasnya di wajahku."Baiklah, kita buktikan. Apa benar panggilanmu terhadapku enak dilidah?" tanpa aba-aba, ia sudah mencium bibirku dengan tangannya yang satu menekan tengkukku agar wajahku tetap menghadapnya, dan tangannya yang sebelah lagi memegang tanganku yang masih berpegangan pada besi ayunan.Tubuhku kaku tidak bisa bergerak. Keterkejutanku membuatku seperti manekin yang diam saja saat ia makin memperdalam ciumannya dengan menggigit kecil bibir bawahku.Huaaaaaaaa mamaaaa...... ia mengambil first kiss ku!Cukup lama ia mengulum bibirku hingga aku tak bisa bernafas. Perlahan ia melepaskan ciumannya dan sedikit menjauhkan wajahnya. Catat ya, hanya sedikit! Bibirnya hanya berjarak sesenti dari bibirku. Sedikit saja aku bergerak, sudah pasti langsung nempel ke bibirnya lagi."Bagaimana? Enak dilidah?" tanyanya pelan dengan suara serak.Aku melotot menatapnya. Ih, kenapa ia mesum sekali? Tapi, kenapa jantungku dag dig dug begini?"Mau lagi?" tanyanya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.Aku menggeleng pelan dengan wajah yang bisa kupastikan merah padam.Ia tersenyum penuh kemenangan, lalu menegakkan tubuhnya, menarikku agar ikut berdiri bersamanya."Jadi Pia, jangan sekali-kali berani menolak perjodohan ini, mengerti?" suara si Om terdengar penuh ancaman. Aku bergidik mendengarnya."Tapi Om, eh..."Belum selesai aku bicara, si Om sudah mendekat padaku lagi. Dan aku kesal dengan keadaanku. Bagaimana tidak, aku tidak bisa mundur karena dibelakangku ada ayunan. Kedua lengannya mengunci tubuhku. Nafasnya menyapu wajahku."Kenapa? Mau menolak?" desisnya kembali mengancamku.Aku menggeleng takut-takut. Kenapa Mama dan Papa tidak ada satupun yang keluar menolongku? Kenapa mereka menjodohkanku dengan laki-laki ini? Cakep sih, tapi aku kan belum mengenalnya. Aku sama sekali asing dengannya, tapi kenapa dia sudah berani menciumku? Parahnya lagi, ia mengambil first kiss ku!Ia terkekeh senang, lalu menarikku menuju ke tempat di mana papa, mama dan kedua orang tuanya berada."Nah, ini mereka. Bagaimana Dion? Kalian sudah tentukan harinya?" tanya Om David tersenyum melihat kami berdua. Tepatnya melihatku tidak berdaya dengan cekalan tangan si Om mesum di lenganku."Sudah Pa. Pernikahan kami bulan depan. Dan minggu depan Pia maunya kita tunangan dulu," ujarnya santai.Heh? Apa-apaan ini? Kenapa jadi aku? Dan apa yang dia bilang? Tunangan? Nikah? Kenapa dia seenaknya memutuskan semuanya tanpa persetujuanku terlebih dulu?"Wah, jadi kamu sudah setuju Pia?" kali ini Mama dengan senyum bahagianya memandangku.Tidak! Aku tidak mau! Ini hidupku! Mereka tidak berhak menentukan hidupku! Ya, aku harus menolak!"Tentu saja Pia setuju, Tante. Ya kan sayang?" si Om menarikku ke dalam pelukannya dan menatapku dengan pandangan mengancam. Sementara tangannya masih mengunci erat tubuhku."Baiklah. Karena Pia sudah setuju, kita bisa segera mempersiapkan semuanya," kudengar Tante Vela tertawa lega.Kenapa jadi seperti ini?Bahkan ketika pertemuan itu selesai, Mama dan Papa malah ikut keluar bersama keluarga si Om mesum dan meninggalkanku sendiri di rumah. Bahkan aku tidak tau jam berapa mereka pulang.======♡======Setelah kejadian itu, keesokan harinya, si Om mesum Dion itu pagi-pagi sudah standby di rumahku sebelum aku bangun. Bayangkan! Bagaimana bisa dia dengan tidak sopannya berkeliaran di rumahku seolah-olah rumahnya sendiri.Dan sepertinya Papa dan Mama senang senang saja melihatnya.Aku sama sekali tidak berkesempatan untuk menyuarakan protesku pada mereka.Seperti sekarang ini, dengan seenaknya si Om mesum Dion itu membawaku ke kantornya, hanya untuk menjadi pajangan ruangannya.Bagaimana tidak, setelah acara fitting baju pengantin, ia menyeretku untuk ikut dengannya. Dan disinilah aku sekarang. Hampir mati kebosanan menunggunya memeriksa laporan yang bertumpuk di meja besarnya."Om, kenapa Om ngajak aku kesini? Bosen Om. Mendingan Om kerja yang bener, aku mau pulang," ujarku kesal. Emang enak dijadikan pajangan gini?Si Om mengangkat wajahnya dari lembaran-lembaran berkas yang bertebaran di mejanya dan menoleh kearahku."Kamu bosan? Sini, kamu gak akan bosan kalau di sini," ia menepuk-nepuk pahanya sambil senyum - senyum aneh.Apalagi ini? Dia nyuruh aku duduk di pangkuannya? Emangnya aku cewek apaan? Atau dia sudah terbiasa ya kayak gitu dengan cewek-cewek?Aduh Maaaaa.... gimana nasibku nanti?"Pia? Katanya bosan? Sini, aku jamin kamu bakal keenakan deh," katanya langsung kuhadiahi pelototan garang."Aku mau pulang!" cetusku lalu berjalan keluar tanpa mempedulikannya.Tidak kugubris teriakannya yang memanggilku. Setengah berlari aku masuk lift dan menuju ke lobby, lalu bergegas keluar dari kantor si Om Dion.Baru saja aku hendak memanggil taksi yang lewat, kurasakan lenganku ditarik dan diseret masuk ke sebuah mobil yang berhenti di dekatku entah sejak kapan."Jalan Pak!" perintah suara berat yang akhir-akhir ini akrab ditelingaku. Aku menatapnya sewot.Ya, siapa lagi kalau bukan Dion si Om mesum itu."Apa sih mau Om sebenarnya? Kenapa Om mau aja dijodohkan? Bukannya kita gak saling kenal sebelumnya?" cecarku dengan emosi yang meluap-luap. Bagaimana tidak kalau dia selalu semena-mena."Terus saja kamu panggil Om," desisnya galak. Ia bergeser hingga kami duduk berhimpitan."Ish, sempit nih," aku mendorong-dorong tubuhnya yang sama sekali tidak bergeser sesenti pun."Jangan bilang aku tidak pernah memperingatkanmu, Pia! Atau memang kamu sengaja ingin kucium?" suaranya terdengar ditelingaku disertai hembusan nafasnya.Aku menggeleng kuat-kuat. Tubuhku bergidik, memejamkan mataku takut. Jantungku berulah.Kurasakan tanganku ditarik dan diseret lagi. Duh, sebenarnya aku mau dibawa kemana sih?Astaga! Astaga! Astaga! Bukannya ini Apartemen? Tapi apartemen siapa?Dion membuka pintu dan mendorongku masuk."Om mau ngapain? Jangan macam-macam Om!" aku benar-benar panik. Apalagi melihatnya Perlahan-lahan maju mendekatiku yang terus mundur hingga membentur pinggiran sofa dan kehilangan keseimbanganku.Tak ayal lagi aku jatuh telentang di atas sofa hitam milik Dion.Dion tersenyum miring. Perlahan ia terus mendekat hingga tubuhnya sekarang berada di atasku."Bagaimana? Mau diteruskan?" tanyanya dengan mata berkilat."Jangan Om eh Pak eh Di...Dion.." aku berusaha mendorong tubuhnya."Panggil aku dengan mesra dulu! Baru kamu kulepaskan, Pia," ujarnya masih dengan senyum miringnya."Eh...mesra? Seperti apa?""Ya mesra. Sayang? Honey? Sweetheart? Terserah kamu manggilnya apa?"Duh, apa ya? Otakku benar-benar buntu!"Ayo cepat!" wajahnya makin dekat, membuatku makin panik."Eh i...iya... Kak Dion," sahutku cepat.Gerakannya terhenti sejenak. Lalu ia menyeringai."Kak Dion? Hmm...aku suka!" huuuufftt leganya...."Tapi gak! Kurang mesra!" Nah lo! Aduh pusing 'pala Barbie niiihhh."I...iya... Hon... Honey," kataku terbata-bata.Tiba-tiba ia terkekeh, mengacak poniku dan mengecup singkat pipiku, lalu menarikku hingga aku duduk di pangkuannya. Ia mengusap-usap punggungku dengan sebelah tangannya, dan tangannya yang lain menggenggam tanganku yang diletakkannya di atas pahaku."Bagus! Ingat ya Pia, kalau kamu memanggilku dengan sebutan Pak atau Om lagi, kamu akan kucium habis-habisan !" ancamnya membuatku mengangguk pasrah. Dadaku berdebar dan wajahku terasa panas menyadari betapa intimnya posisi kami sekarang.======♡======Aku memandang ke tengah ruangan. Mama, Papa, Om David dan Tante Vela tampak tertawa bahagia. Mereka asyik bercengkerama dengan para tamu undangan.Wajah mereka tampak gembira dan lega. Hari ini aku menikah. Pernikahan tanpa cinta. Hmm... cinta? Aku tidak tau bagaimana perasaanku. Hanya saja setiap Dion mendekat, jantungku selalu berdetak kencang. Atau ada yang salah dengan jantungku?Para undangan masih saja mengular mengantri memberi selamat padaku dan Dion."Waaah pinter juga lo nyembunyiin cewek secantik ini. Pantas aja lo nolak Alika," suara berat seseorang membuatku menoleh.Kulihat seorang laki-laki gagah tengah memeluk Dion."Kenalin dong," laki-laki itu menyikut lengan Dion sambil menaik-naikkan sebelah alis tebalnya."Hahaha...kenalin ini istri gue, Steviana. Sayang, kenalin ini sahabat aku, Mario," aku tersenyum menyambut uluran tangan Mario yang tersenyum manis padaku. Apa dia bilang? Sayang?"Ish! Jangan lama-lama pegangannya!" Dion menepis tangan Mario sambil melotot galak."Ya ampun Dion, santai aja Bro! Gue gak mungkin nikung sahabat sendiri," Mario terkekeh melihat wajah garang Dion."By the way, selamat buat kalian ya. Dan Stev, hati-hati sama Dion! Fans nya banyak! Hahaha..." Mario mengerling padaku, lalu menepuk bahuku sekilas sebelum melenggang turun bergabung dengan tamu yang lain."Diooon, Ih.... kamu kok nikah duluan sih? Kamu kan tau aku nungguin kamu,"nada cempreng itu membuatku refleks mencari sumber suara.Cewek ganjen itu melekat erat di tubuh Dion. Lengannya dilingkarkan ke lengan Dion.Kulirik Dion yang terlihat risih dan tidak nyaman.Aku mencibir kesal. Apa-apaan ini? Sudah tau ada aku disini, beraninya cewek itu nempel-nempel Dion.Dan hei? Kenapa aku jadi sewot dan merasa tidak suka melihat cewek itu gelendotan di lengan Dion?"Pelukannya bisa ditunda nanti aja gak? Tuh yang dibelakang udah pada ngantri," kataku ketus sambil menunjuk antrian di belakang cewek ganjen itu dengan daguku."Eh, iya tuh San. Lo mending gabung sama yang lain deh,"ujar Dion melepaskan pelukan cewek ganjen itu."Ya udah deh, Sani kesana dulu ya Dion, nanti kita ketemu lagi," cewek bernama Sani itu tersenyum pada Dion dan melengos saat melewatiku.Huh! Emang lo penting apa? Aku menggerutu dalam hati."Dioooooonn, kok kamu tega sih ninggalin Sasya," nah, mahluk apa lagi nih?"Eh, Sasya? Kamu dateng juga?" kudengar Dion bertanya heran.Heh? Apa maksudnya tuh?"Sasya pasti dateng dong, Dion. Sasya pengen liat seperti apa sih istri Dion? Cantik mana sama Sasya? Eh, ternyata cuma anak kecil gini! Kok lo mau sih sama anak kecil gitu, Baby?" Hadeeeeh... kayaknya bakalan makan ati nih kalo gini. Tadi Sani, sekarang Sasya. Setelah ini siapa lagi?"Bebeb Diooon, gak pa pa deh lo nikah, yang penting gue tetep cinta sama Bebeb," nih satu lagi fans si Om. Lama-lama kesel juga! Hatiku sudah mendidih. Tinggal dicampur kopi deh. Lho? Maksudnya tinggal disiramin ke muka si Om mesum aja!======♡======Sengaja aku berlama-lama di kamar mandi. Aku masih kesal dengan Dion dan antrian fans ganjennya. Kenapa barisan ceweknya diundang semua sih? Apa dia mau nunjukin kalo dia laku? Apa dia mau pamer kalo aku gak ada apa-apa nya sama deretan cewek-cewek nya itu?Kalo memang dia punya segudang cewek, kenapa dia menyetujui perjodohan ini? Dia kan bisa menolak! Tapi kenapa malah dia melarangku untuk menolak?Suara ketukan pada pintu kamar mandi berubah menjadi gedoran saat kuabaikan.Dengan kesal aku membuka pintu."Kenapa sih? Aku nggak tuli, Om!" semburku galak."Kamu panggil aku apa?" tanya nya menatapku tajam.Ups! Aku lupa kalau dia gak mau kupanggil Om. Tapi masa bodoh lah. Dia sudah membuat mood ku hancur."Kalo iya kenapa? Bukannya Om memang sudah tua ya?" jawabku ketus."Umurku baru dua puluh tujuh, Pia. Aku belum tua. Sepertinya kamu ingin merasakan ciumanku ya?" Dion mulai mengancamku lagi. Kali ini aku tidak takut. Aku benar-benar kesal dan marah padanya."Jangan coba-coba, Om! Aku gak mau punya suami yang pacarnya banyak! Jadi jauh-jauh dari aku!" hardikku marah."Siapa yang pacarnya banyak? Maksudmu aku?" ia menunjuk hidungnya sendiri."Helloooooowh.... disini siapa yang punya pacar banyak?" seruku gusar. Apa gak ngerasa dia?"Kenapa kamu jadi nuduh aku begitu?" si Om Dion tercengang. Ia seperti berpikir keras. Lalu tiba-tiba ia tersenyum miring."Kamu cemburu ya, Sayang?" tanya nya menjengkelkan."Ish, siapa yang cemburu? Enak aja!" sergahku kesal. Eh, tapi apa benar aku cemburu?"Kamu marah sama aku karena cewek-cewek tadi?" tanya Dion tertawa geli."Gak ada yang lucu ya, Om! Kenapa Om mau dijodohin kalo Om punya banyak cewek yang lebih segala-galanya dari aku?" aku sudah tidak bisa mengontrol kata-kataku. Mataku terasa panas."Astaga Pia, Sayang. Mereka bukan siapa-siapaku. Memang sih banyak yang ngejar-ngejar aku. Ya maklumlah, suami kamu ini kan ganteng banget," katanya membuatku makin kesal. Ih, pede banget dia!"Om bohong! Om jahat! Aku benci sama Om! Huuhuhuuuu," tangisku meledak sudah. Kemarahanku tidak bisa kutahan. Rasanya sesak.Tiba-tiba Dion meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Rasanya hangat dan nyaman. Tapi airmataku tidak mau berhenti."Pia sayang, udah dong nangisnya. Mereka bukan siapa-siapaku. Aku nggak cinta sama mereka. Kalo gak percaya tanya deh sama Mario, Papa atau Mama. Aku tuh cintanya sama kamu," Om Dion sibuk mengusap punggungku dan mengecupi pucuk kepalaku."Kalau bukan siapa-siapa kenapa mereka bersikap kayak gitu sama Om? Eh, apa Om bilang? Om cinta sama aku?" tangisku berhenti mendadak mendengar ucapannya."Iya Pia sayang. Awalnya aku menolak saat Papa bilang aku akan dijodohkan. Tapi Papa bukan orang yang mudah dibantah. Karenanya aku bertanya dengan siapa aku dijodohkan. Papa memberitahuku siapa namamu dan kamu kuliah dimana. Waktu kita ketemu di kampusmu dulu, itu aku sedang mencarimu. Aku ingin kamu juga menolak perjodohan itu. Tapi ternyata aku malah jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada pandangan pertama," si Om eh Kak Dion menjelaskan padaku sambil tak henti-hentinya mengusap bahu dan punggungku.Aku mengerjapkan mataku takjub dengan penjelasannya."Kakak gak bohong? Lalu cewek-cewek itu?" tanpa sadar aku sudah mengganti panggilanku terhadapnya dan Dion menyadarinya. Ia tersenyum lembut padaku."Aku kan sudah bilang, mereka bukan siapa-siapaku. Mungkin mereka memang suka padaku, tapi sepanjang hidupku, aku hanya jatuh cinta sekali, dan itu denganmu, Pia," katanya lalu mengecup dahiku lembut. Duh mama.... kenapa jantungku kambuh paradenya?"Jadi? Kamu percaya padaku kan sayang?" aku mengangguk kecil, dan kudengar helaan nafas lega Dion."Berarti kita jadi malam pertama kan?" duh, kenapa pertanyaannya seperti ini?"Aku...aku..." aku benar-benar gugup sekarang."Pia sayang, gimana? Kamu mau kan?" tanya Dion lalu mulai menciumku dengan sangat lembut, membuatku serasa melayang.Tanpa kusadari, ia sudah berada di atasku dan aku tidak mampu menghentikannya.Dan malam ini menjadi malam pertama yang indah buat kami berdua.Aku menyadari satu hal. Ya, tanpa sadar aku juga sudah jatuh cinta padanya.SELESAI
Saudara Tiri
Plak! Bruk! Bugh, bugh, bugh!Namaku Jenika Santosa. Hidup dalam keluarga kaya bukan berarti aku harus menghadapi kehidupan yang bahagia, bukan? Aku terlahir dari ibu yang berbeda dari saudara tiriku. Bisa dibilang ini adalah kehidupan antara dua ibu yang bersaing mendapatkan cinta ayah. Ayah merantau jauh dari negara yang kutempati ini. Ibu tiri memukuliku ketika ibu sedang rapat. Ia tak menyukaiku yang selalu mendapatkan perhatian dari ayah. Di balik sibuknya ibu di perusahaan ayah, ia tidak peduli dengan kondisi Rasya—anak ibu tiri. Hal ini membuatku hanya bisa pasrah dengan kedua orang tuaku yang tidak mempedulikanku.“Pergilah ke kamarmu! Jangan sampai kau keluar dengan darah di mana-mana.”Ia melemparkan tongkat baseball ketika Reyna pulang. Aku menghindar dan keluar lewat pintu belakang dapur. Sedikit berlari kecil karena aku dilarang memberi tahu Reyna. Aku lega ketika Reyna tak melihatku dan langsung mengunci pintu. Bergegas aku melepas pakaianku dan membasuh darah dengan air hangat.“Sshhh… sakit…” ucapku meringis.Tok tok tok! Reyna memanggil namaku dari luar. Aku pun menyimpan pakaianku dan memakai baju baru lalu merapikan wajahku. Aku membuka pintu, ia tersenyum dan memelukku. Tanpa sadar ia melihat ke sekeliling, lalu melepaskan pelukannya.Ia mengajakku masuk ke kamar. Setelah aku duduk, ia berjalan dan mengambil baju yang kusembunyikan di bawah meja. Ia berdiri di sebelah baskom dan menatapku dengan mata menyipit.“Kau salah karena berbohong mengenai kondisi mu, Jen. Aku tidak bisa dibohongi, ini ulah mama kan?” ucap Reyna.Aku menunduk tanpa berkata. Reyna memegang tanganku, “Aku akan menjagamu. Bertahanlah. Kelak ketika aku besar, tak akan ada yang berani mengganggumu.”Aku mengangguk dan kami saling berpelukan. Sudah hampir sepuluh tahun aku terus berdamai diri ketika ibu tiri terus memukuliku. Aku berusaha mengingat kata-kata Reyna dan terus bersabar. Selama sabar itu masih ada, aku bertahan. Namun ketika aku memutuskan berjalan lurus ke sisi Tuhan, ibu tiriku tak terima dan kembali memukuliku, bahkan menarik-narik kerudungku.Cukup! Aku memandangnya dengan tatapan melotot tidak suka.“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu mau melawan saya? Hah! Kamu marah karena saya telah melepas kerudungmu itu?” katanya sinis.“Ya!!” bentakku sambil menangis.“Kau!”“Kenapa? Sudah cukup kau terus menghajarku, Bu! Bahkan dengan bibirmu saja kau keluhkan bahwa aku memanggilmu ibu. Ayah memang membiarkanku bebas di rumah ini tapi tidak dengan kekuasaanmu. Walaupun aku mati, harta takkan berpindah ke tanganmu!” ucapku dengan dada berdebar.“Sudahi pukulanmu, sekarang giliran ku.”Ini diriku sekarang—air mata kering, hati rapuh yang terbelah menjadi dua. Dengan langkah pelan sambil menggenggam pisau, aku berjalan ke arahnya. Ia mundur sambil berteriak. Lalu…Jlebbb!Aku menusuk diriku sendiri tepat ketika Reyna datang.“Jenika!!!” Reyna menjerit dan berlari ke arahku.Bruk! Aku terjatuh dengan napas tersengal, menunggu ajal. Reyna meletakkan tasnya dan memelukku.“Jen… bangun!!” Reyna memukul pipiku pelan.“Tak ada harapan lagi untukku, Rey…” jawabku lirih.Reyna menangis histeris.“Maafkan aku yang tidak sabar…” Aku merosot dan menutup mata perlahan.Reyna mengguncang tubuhku. “Ini semua salah mama!” Ia menoleh pada ibu tiriku yang berdiri kaku.“Bukan salah mama! Dia menusuk dirinya sendiri, kau lihat kan?” ujar ibu tiri.“Ia! Aku lihat, dia bunuh diri karena mama! Mama tahu? Ia kena kanker ginjal karena tongkat baseball mama!” Reyna berteriak.Deg!“Jika ada apa-apa dengan Jenika, mama takkan tenang. Mama akan hidup dalam rasa bersalah selamanya,” ucap Reyna sambil memapahku keluar.“I-ini semua bukan salahku…” ibu tiri mundur.Reyna terus memanggil-manggilku. Nafasku semakin pendek di perjalanannya.Aku merosot dengan kepala di pangkuan Reyna. Bibirku memutih.Deg… deg… deg…“Ini tak mungkin! Jenika!! Bangun hey! Aku sudah besar! Aku akan melindungi mu! Aku bersalah! Jenika bangun… aku akan menuruti semua permintaanmu!” Reyna histeris.Harapanku hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari seseorang di sekelilingku. Sejak kecil aku tidak punya teman selain Reyna. Aku tidak membencinya, aku menyayanginya. Ia selalu menolongku ketika ibunya jahat. Reyna adalah wanita pertama dan terakhir yang menyayangiku.Tiga hari kemudian Reyna memutuskan berhenti sekolah. Ia fokus belajar kedokteran. Ia ingin menjadi dokter psikiater anak. Baginya semua berawal dari kondisi psikologi anak kecil—ketika anak bahagia, dunia akan lebih damai.Sedangkan orang tuaku… Istri pertama ayah (ibu Reyna) dan ibu tiriku dipenjara karena terbukti melakukan penyiksaan terhadap anak kecil. Hukuman seumur hidup. Tertinggallah ibu tiri Reyna dengan ayah Jenika. Reyna memilih bekerja keras daripada tinggal bersama mereka yang membuatnya sakit setiap hari. Namun ia selalu menyempatkan datang menemuiku. Ketika aku sembuh, ibu Jenika sering mengunjungi Reyna sekedar menanyakan kabar.
JEALOUSY
Aku menatapnya dari kejauhan. Dia cantik. Sangat cantik! Dan aku mencintainya dengan teramat sangat.Aku ingat saat awal aku mendekatinya. Namanya Veanna Angelica Sanjaya. Dia sangat populer. Ada perasaan takut diabaikan.Nekat aku minta pin bb nya dari teman dekatnya yang ku tau sering bersamanya. Lalu dengan hati berdebar, ku invite dia.Demi Poseidon sang penguasa lautan, aku berjingkrak kegirangan saat dia menerima undangan pertemananku. Tapi aku bingung akan memulai dari mana.Kucoba mengetik sesuatu, namun segera kuhapus. Kuketikkan lagi sebuah kalimat pembuka, kuhapus lagi. Terus begitu berulang-ulang.Hingga sahabatku hilang kesabaran melihat tingkahku. Diambilnya ponselku, dan ia mengetikkan sesuatu di sana. Lalu diserahkannya kembali ponselku.Kubaca dalam hati dan tegang menunggu balasan darinya.Aku : Hai .Vea : Hai jugaAku membelalak dengan jantung berdegub kencang. Dia membalas chat ku!Tapi sedetik kemudian aku kembali bingung. Aku harus membalasnya apa lagi?Kupandangi layar ponselku hampir tak berkedip.Rupanya sahabatku mengetahui kegugupanku. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kembali ponselku dan mengetikkan sesuatu kembali di sana.Aku : Boleh kenalan? Namaku Andi.Ponselku sudah kugenggam kembali. Mataku melotot menunggu balasan ya kembali.Vea : Aku tau. Kamu Andi yang kapten basket itu kan? Yang juga pengurus osis sie bidang olahraga?HAH? Dia tau aku? Hatiku mengembang. DIA MENGENALKU!Aku : Betul. Kok kamu tau?Vea : Siapa yang tidak tau Kapten Basket SMA Bintang Timur?Aku : masa sih aku sepopuler itu? Masih populer kamu kali.Vea : Kata siapa? Aku kan cuma siswi biasa.Aku : Siswi biasa yang cantik dan populer.Vea : Nggak ah. Biasa aja kok.Aku tersenyum senang. Kulanjutkan chat ku yang selalu ditanggapinya.Selama berhari-hari, aku dan dia terus chatting melalui bbm. Bahkan pembicaraan kami sudah meningkat menjadi semakin akrab.Aku bahkan berani terang terangan menunjukkan rasa sukaku terhadapnya. Perlahan aku mendekatinya di sekolah.Aku semakin akrab dan dekat hingga tanpa terasa tiga bulan sudah aku dekat dengannya.Aku bahkan sudah mengatakan kalau aku menyukainya, bahkan mencintainya.Ya, meskipun ia tidak pernah mengiyakan pernyataan sukaku padanya, tapi dari tingkah laku dan kata-katanya saat chatting denganku, aku bisa menyimpulkan bahwa ia juga menyukaiku.Semakin lama, aku semakin menyayanginya, mencintainya.Aku teringat saat pertama kali menemuinya di kantin sekolah. Ia tampak tersipu malu-malu. Sangat menggemaskan, membuatku semakin ingin memilikinya, menjadikannya satu-satunya ratu dihatiku.Aku tidak mengerti dengan diriku yang begitu ingin menjadikannya milikku. Aku begitu cemburu melihatnya dekat dengan teman laki-laki dikelasnya. Bahkan aku cemburu dengan setiap lelaki yang berada di dekatnya.Jujur, aku benar-benar tersiksa dengan perasaanku yang begitu posesif terhadapnya.Aku berusaha menekan kecemburuanku setiap kali ia dekat dengan teman-teman lelakinya. Aku takut kehilangannya.Melihatnya bercanda dan tertawa bersama Andreas teman seangkatannya, sudah membuatku kalang kabut dan merajuk melalui chat ku di bbm dengannya.Belum lagi saat ia bertaruh dalam game online dengan Pandu dan Ernest, membuatku seperti kebakaran jenggot.Entah kenapa, banyak sekali teman dekatnya yang berjenis kelamin cowok.Hmm, aku ingin membuatnya melihat kepadaku saja. Aku yakin ia juga mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Toh selama ini dia terus membalas chat ku dan mengimbangi ungkapan sayangku padanya, meskipun ia selalu mengelak saat aku mengatakan bahwa aku mencintainya dengan mengatakan bahwa ia masih ingin bebas berteman. Tapi ia tidak keberatan dengan semua perhatianku, bahkan ia tampak begitu malu-malu dan menggemaskan saat aku menggodanya.Lima hari lagi ia berulang tahun yang ke 17. Aku ingin memberinya sesuatu yang berkesan untuknya.Teman-teman nya mengatakan bahwa gadis cantikku akan mengadakan pesta di sebuah hotel berbintang. Undangan sudah berada ditanganku. Ya, ia mengundangku.Dengan panik aku mulai mencari hadiah yang pantas dan berkesan untuknya. Seperti orang gila, aku mencari kado special untuknya. Setiap toko kumasuki hanya untuk mencari sesuatu yang pantas untuk kuberikan pada gadis cantikku."Sebenarnya lo mau ngasih kado apa sih?" kudengar pertanyaan bernada jengkel dari sahabatku, Steven."Gue masih belum menemukan yang pas untuk Vea, Stev. Lo ada ide gak?" aku balik bertanya."Boneka? Tas? Cincin? Kalung? Bunga? Baju? Sepatu? Jam tangan?" dengan malas Steven menyebut semua barang yang ada di otaknya."Aaaarrgh...aku bingung!" kuacak rambutku dengan kesal.Steven menoleh ke arahku lalu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah ajaibku.======(*)======Aku mengacak-acak isi lemari bajuku. Mencari yang terbaik yang aku punya. Buru-buru kukenakan dan kesemprotkan parfum hadiah ulang tahunku tahun kemarin dari Mama.Bergegas aku berlari menuju ruang tamu di mana Steven dan Bryan menunggu."Wangi amat Sob? Udah kayak peri aja lo!" kuabaikan ledekan Bryan.Kami bertiga segera meluncur ke tempat acara.Kurang dari setengah jam, aku tiba di hotel yang sudah tertulis pada undangan.Bertiga aku, Steven dan Bryan setengah berlari menuju ballroom tempat acara diadakan.Ruangan sudah penuh. Acara baru saja di mulai. Syukurlah, aku tidak begitu terlambat.Kuletakkan kado yang kubawa di tempat yang sudah disediakan,lalu aku bergabung dengan undangan yang lain.Terdengar MC mengumumkan bahwa Veanna Angelica Sanjaya akan segera masuk ke dalam ruang pesta.Semua undangan bersiap merapat membentuk barisan sepanjang karpet merah yang digelar mulai depan pintu hingga tempat yang sudah disediakan.Vea memasuki ballroom didampingi kedua orang tua nya dan dua orang laki-laki tampan yang kuduga sebagai saudaranya.Ia tampak sangat cantik dengan balutan dress warna putih dipadu dengan konbinasi warna baby pink. Ia seperti bidadari yang turun ke bumi menebar cinta untukku.Mataku tak pernah lepas darinya. Ia membiusku begitu dalam hingga membuatku mabuk kepayang.Sekarang ia sedang memotong kue taart nya. Dengan hati berdebar, aku menunggu. Ia akan memberikan potongan kue pertamanya. Untuk siapa?Aah...Untuk kedua orang tuanya. Potongan berikutnya? Haaaa.... untuk kakaknya yang tadi mengawalnya. Dan potongan berikutnya... berikutnya... berikutnya... hingga semua mendapatkan potongan roti.Saat aku menikmati potongan roti, kudengar riuh tepuk tangan di depan. Ada apa? Apa yang terjadi di depan sana?Kulihat seorang teman lelaki sekelasnya sedang menyanyikan sebuah lagu untuknya. Tapi, ada yang janggal dengan penampilannya. Kenapa ia nampak serasi dengan Vea-ku? Dan lagunya?It's undeniable that we should be togetherIt's unbelievable how I used to say that I'd fall neverThe basis is need to know, if you don't know just how I feelThen let me show you now that I'm for realIf all things in time, time will reveal, yeahOne, you're like a dream come trueTwo, just wanna be with youThree, girl, it's plain to seeThat you're the only one for meAnd four, repeat steps one through threeFive, make you fall in love with meIf ever I believe my work is doneThen I'll start back at one, yeah yeahMataku membelalak melihat pemandangan di depan sana. Joshua nampak berlutut sambil sebelah tangannya menggenggam jemari Vea.It's so incredible, the way things work themselves outAnd all emotional once you know what it's all about, heyAnd undesirable for us to be apartI never would've made it very far'Cause you know you got the keys to my heart'CauseOne, you're like a dream come trueTwo, just wanna be with youThree, girl, it's plain to seeThat you're the only one for meAnd four, repeat steps one through threeFive, make you fall in love with meIf ever I believe my work is doneThen I'll start back at one, yeah yeahKini Joshua berdiri. Sebelah tangannya masih menggenggam erat jemari Vea. Dan Vea masih dengan senyum manisnya membalas tatapan mesra Joshua.Say farewell to the dark of nightI see the coming of the sunI feel like a little childWhose life has just begunYou came and breathed new lifeInto this lonely heart of mineYou threw out the lifeline just in the nick of timeOne, you're like a dream come trueTwo, just wanna be with youThree, girl, it's plain to seeThat you're the only one for meAnd four, repeat steps one through threeFive, make you fall in love with meIf ever I believe my work is doneThen I'll start back at one, yeah yeahSuara tepuk tangan riuh mengiringi akhir dari lagu yang membuatku sakit kepala.Apa yang kulihat begitu menyakitkan mata dan hatiku. Bagaimana mesranya mereka berdua, begitu dekat, pegangan tangan itu tak juga lepas. Senyum diwajah Vea tampak sangat menggambarkan perasaannya. Ya, ia pasti sangat bahagia. Apalagi teman-teman nya yang selalu bersorak meneriakkan betapa serasinya mereka berdua.Aku sakit. Kutahan perasaanku yang ingin segera pergi dari tempat itu.Kuketikkan sesuatu melalui bbm pada Vea. Ini benar-benar tak dapat kutahan.Apalagi kulihat teman laki-lakinya yang ku tau bernama Joshua Anggara itu benar-benar terus menempel pada Vea.Malam itu aku pulang dengan perasaan yang amat sangat sakit. Baru kali ini aku merasakan hatiku seperti diremas-remas.Dengan segera kulihat layar smartphone ku saat kudengar notifikasi bbm.Itu dari Vea! Apa yang akan dikatakannya? Bagaimana sebenarnya perasaannya padaku?Kulihat jawaban Vea atas bbm ku sebelumnya.Aku : kamu sangat cantik malam ini. Tapi aku gak nyangka kalau aku harus melihat adegan yang bikin aku sakit hati.Vea : Maaf, itu cuma nyanyi aja kok. Jangan marah ya.Bagaimana aku tidak marah melihat semua itu didepan mataku? Kubalas bbm Vea.Aku : Tidak apa. Aku sadar aku tidak bisa membuatmu sebahagia tadi.Vea : Bukan seperti itu.Aku : Aku sadar kok siapa aku. Aku gak akan pernah bisa membuat kamu tersenyum seperti tadi.Vea : Kamu juga sudah bikin aku senyum kok.Aku : Kamu gak perlu bohong buat bikin aku senang.Vea : Aku gak bohong.Aku : Joshua pasti bikin kamu senang banget ya malam ini.Vea : Biasa aja kok.Aku : Kalian berdua cocok kok.Vea : Masa?Aku : Bener kok. Serasi banget.Aku mengetik semua itu dengan hati yang benar-benar hancur. Apalagi setelah itu Vea tidak lagi membalas chat ku.Aku benar-benar kelimpungan karena perasaan cemburu yang menguasaiku. Semalaman aku tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan Vea yang sedang digenggam tangannya oleh Joshua yang berlutut di hadapannya terus menerus menggangguku.======(*)======Ini sudah dua minggu sejak kejadian itu. Berkali-kali aku mencoba kembali chat dengan Vea, namun ia tidak lagi seperti dulu. Ia sudah tidak lagi menganggap chat ku.Perlahan-lahan ia makin mengabaikanku.Aku pasrah sudah. Sejak awal Vea memang tidak pernah mengiyakan pernyataan sukaku terhadapnya.Di sekolah pun ia tidak lagi menatap malu-malu sambil tersenyum padaku.Ia lebih suka menghindariku.Ia juga makin dekat dengan Joshua.Laki-laki itu mampu mengambil hati Vea-ku dengan sejuta pesona yang dipunyainya.Sekarang aku hanya bisa menatap wajah cantik Vea dari jauh. Menatap senyumnya yang selalu mengembang manis untuk siapapun yang dekat dengannya.Aku sudah kehilangan Vea. Ia sudah bukan lagi Vea-ku.Dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan dalam kesendirian dan keterpurukanku.SELESAI .
Ilmu Pengetahuan
Seperti yang diketahui bahwasannya ilmu adalah syariat yang bisa kita bawa sampai ke langit nanti. Banyak orang yang menganggap ilmu hanyalah sebuah dongeng dan membosankan. Tapi bagi orang bijak, ilmu pengetahuan adalah segala sesuatu yang membawa kebaikan. Dengan ilmu pengetahuan derajat kota tinggi di antara orang-orang. Rajinlah mengangkat ilmu dan mencari ilmu di mana saja. Ilmu mudah dicari, lebih singkatnya ilmu bisa digapai jika kita mempelajari sebuah hal baru. Mudah, bukan? Yuk mencari ilmu.Suatu ketika di sebuah desa A, terdapat kejadian yang mengharukan beberapa tetangga. Karena anak dari Bu Titin hendak merantau jauh dari ibunya karena ingin mendapatkan ilmu di negeri seberang. Mereka saling berpelukan, melepas rindu yang cukup lama bagi mereka berdua. Ayah dari Teo, anak Bu Titin ini sudah tiada semenjak kecelakaan dua tahun yang lalu. Gagal ginjal membuat pria tua itu meninggal pada hari kedua setelah dioperasi, meninggalkan keluarga kecilnya lebih dahulu. Setelah kejadian itu, Bu Titin menjadikan dirinya sebagai kepala keluarga dan menjadi ibu bagi Teo yang saat itu baru berusia 12 tahun.Hari ini, di awal tahun, anak yang masih muda harus merantau jauh dari ibunya mengikuti pamannya untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Walaupun sangat sedih, Teo dan Bu Titin harus bersabar demi masa depan mereka masing-masing. Teo melambaikan tangannya kepada ibu ketika ia sudah menaiki mobil milik sang paman. Dengan menangis terisak-isak, Bu Titin melambaikan tangannya kepada Teo hingga mobil itu tak lagi terlihat.Tangis wanita itu pecah menatap kepergian anak semata wayangnya. Berhari-hari kemudian, dengan masih murung karena ditinggal anaknya, datanglah seorang tetangga baru di samping rumahnya. Ia menyapa para tetangga dengan membuatkan makanan sederhana sebagai bentuk perkenalan. Ia cukup ramah, selalu mengantarkan makanan itu sampai ujung gangnya. Namun setelah itu ia kembali ke rumah untuk beristirahat karena memakan waktu banyak untuk berjalan ke ujung gang.Bu Titin masih penasaran dengan tetangga barunya itu. Ketika ia menyapa, wanita itu terlihat tidak suka kepadanya. Ia mulai mencari informasi mengapa tetangganya itu tak pernah keluar rumah walau pernah terlihat sekilas. Hingga tanpa terasa, satu bulan berlalu dan Bu Warni mulai terkenal di gang itu. Perubahan sifat wanita itu membuat para tetangga bertanya-tanya. Ternyata Bu Warni itu sikapnya memang kurang sopan; hanya baik di awal. Ia sekarang sering berkata sombong, bahkan menjadi ibu-ibu penggosip nomor satu di sana.Yang paling ia gosipkan adalah Bu Titin yang terkenal baik walau kurang mampu. Suka menolong dan bahkan tanpa sungkan memberikan sesuatu yang ia punya. Walau jarang terlihat, sesekali ia mengobrol singkat dengan tetangga hanya untuk menanyakan kabar. Tetangga tahu Bu Warni itu tukang gosip dan tak suka kepadanya. Mereka pun menghindar, bahkan jika bertemu hanya basa-basi sebentar sebelum mencari alasan untuk menjauh.Kejadian itu bertahun-tahun masih saja Bu Warni lakukan, bahkan Bu Titin tahu bahwa Bu Warni tidak suka kepadanya karena kurang berbaju wangi dan kurang dalam penampilan. Namun Bu Titin tidak pernah membalas, ia hanya berdoa agar suatu hari kebaikan menjadi miliknya.Delapan tahun berlalu. Selama itu Bu Titin selalu berkomunikasi dengan anaknya melalui ponsel yang diberikan pamannya. Tapi sudah dua hari ini Teo tidak memberi kabar, membuat Bu Titin khawatir. Karena selama ini Teo tak pernah lupa memberi kabar. Tiba-tiba adzan berkumandang, Bu Titin melaksanakan salat dan lupa sejenak pada kekhawatirannya. Walau terdengar kegaduhan di depan rumah, ia tetap melanjutkan salat sampai selesai.Hingga ia mendengar pintu diketuk. Setelah membersihkan mukanya, ia berjalan ke pintu. Ia membuka pintu dan terkejut melihat seorang pria dengan setelan tuxedo. Dengan gugup ia meraih wajah pria itu, mengelusnya perlahan sambil berlinang air mata.“Teo…” ucap Bu Titin pertama kali ketika melihat wajah tampan itu. Ia memeluknya, dan Teo pun memeluk ibunya dengan sangat erat melepaskan rindu yang hanya terlampiaskan lewat suara selama bertahun-tahun. Bu Titin tahu dari firasat seorang ibu bahwa pria itu adalah Teo. Terlebih lagi ketika ia melihat suaminya tersenyum dari arah belakang, seolah berhasil mengantar keluarganya kembali bersatu.Teo masuk dan bercerita banyak mengenai kehidupannya selama tinggal dengan pamannya. Bu Titin hanya mampu menangis haru mendengarnya. Teo sudah bekerja keras, dan kejutan besarnya adalah ia membawa ibunya menuju rumahnya yang baru sekarang. Rumah itu besar—enam kali lipat dari rumah Bu Titin. Ia membawanya masuk, memperkenalkan setiap ruangan, dan berkata, “Ibu tidak perlu bekerja keras lagi. Mulai hari ini ibu tinggal bersamaku.”Sementara itu, hidup Bu Warni yang sepanjang hidupnya digunakan untuk bergosip akhirnya berubah. Semua aset berharganya dijual karena terlilit utang. Saudara-saudaranya tidak mau membantu karena sikapnya dulu. Setiap hari ia menerima gunjingan karena sering berjalan sendirian seperti orang hilang arah. Namun begitu, Bu Warni tetap bertahan hingga ajal menjemputnya.Kebaikan seperti berpindah ke kehidupan Bu Titin—ibu yang sabar, ikhlas, dan selalu berbuat baik. Semua kebaikan seolah terbalas oleh Tuhan dengan kehidupan yang lebih baik bersama anaknya.
Digantung Perasaan
Awal mula aku dekat dengan dia karena ada tugas IPS yang membuat TTS. Dia mengerjakan TTS ku bersama temannya. Pada malam harinya dia mengechatku“Eh kalau kamu mengoreksi kerjaanku nanti kalau ada yang salah benarkan ya, salah kan 8 atau 7,” ucap dia kepadaku. “Loh tidak boleh seperti itu, harus sportif,” ucapku. “Tidak apa apa sesekali,” ucap dia kepadaku. Setelah itu saat dia mengechatku lagi aku hiraukan tidak kurespon. Karena hal tersebut tidak baik untuk dilakukan.Keesokan harinya ada mapel olahraga, pada hari juma’t kelas 9f berolahraga bersama kelas 9b. Pada saat itu ada penilaian perkelas untuk lari bersama, saat di jalan dia menyapaku dengan nama orangtuaku, di pertemanan kelas 9f memanggil nama kita dengan nama orangtua itu sudah biasa. Saat sudah sampai di kelas ternyata dia sudah tiba di kelas terlebih dahulu, saat aku berada di kelas hanya ada anak laki-laki, anak perempuannya hanya ada 4 anak. Masih sama dia memanggil namaku dengan nama orangtuaku tapi dia hanya tau nama ayahku saja tidak dengan nama ibuku, tetapi aku sudah tahu nama kedua orangtuannya dari teman sekelasku.Saat dia ada di kantin dia sedang bertanya kepada teman sedesaku, dia bertanya siapa nama ibuku, untung saja temanku tersebut mendadak lupa akan nama ibuku. “Eh nama ibunya Laras siapa?” tanyanya pada temanku. “Siapa ya, aku mendadak lupa, nanti saja kalau aku sudah ingat nanti aku beritahu,” ucap temanku kepada dia.Selesai itu kembali ke kelas masing masing, dan bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa pun bergegas pulang menuju ke gerbang sekolah. Pada pukul 19.00 sedang membicarakan tentang PR di group sekolah yang tidak ada gurunya, karena teman-teman membuat group tersebut untuk bertanya-tanya jika ada info yang kurang jelas dan lain-lain. Pada saat itu dia membalas chat saya di group tersebut menggunakan nama orangtua saya, saya langsung membalas chat tersebut secara pribadi.“Eh maksud kamu apa?, manggil nama orangtuaku,” ucapku. “Loh kenapa?” ucap dia kepadaku. “Kenapa, kenapa itu di group maksudnya apa manggil-manggil nama orangtuaku,” ucapku pada dia. “Bercanda,” ucapnya pada ku. Setelah itu aku tidak membahas hal tersebut melainkan membahas hal random dengan dia.Keesokan harinya seperti biasa berangkat sekolah untuk belajar dan bertemu teman-teman. Sesampai di sekolah aku bertemu dia, dia duduk didepan kelas 9f bersama teman-temannya dari kelas lain. Aku langsung menundukkan kepala ke bawah, karena aku malu ada dia dan teman-temannya. Saat aku lewat didepannya dia memanggilku dengan nama orangtuaku, aku tidak menghiraukan perkataannya. Aku langsung bergegas menuju kelas 9f.Saat pelajaran dimulai ternyata dia memandangi aku, aku tidak tahu jika dia memandangiku, aku diberitahu oleh teman sekelompokku, waktu itu dalam satu kelompok perempuan dan laki-laki terpisah. Waktu itu saat temanku memberitahu tentang hal tersebut. “Eh kamu sadar apa tidak, dari tadi kamu dilihat terus menerus dengan dia,” ucap temanku. “Yang benar saja kamu,” ucapku Pada saat itu juga aku membalikkan badanku dan melihat dia, karena tempat duduknya tepat di belakang tempat kelompokku, ternyata dia juga sedang melihatku. Dia mengalihkan pandangannya dengan cara dia mengajak berbicara teman sebelahnya.Bel istirahat berbunyi, saat aku ingin keluar kelas untuk menuju ke kantin dia memanggilku dengan nama orangtuaku. Aku juga membalasnya dengan memanggil dia dengan nama orangtuanya, tetapi aku bingung dari mana dia bisa tau nama orangtuaku karena awal kelas 9 aku tidak pernah sakit, dan masuk sekolah setiap hari, jadi tidak pernah membuat surat yang bertuliskan nama orangtuaku.Saat bel masuk berbunyi pada jam kedua ada mapel MATEMATIKA, saat guru tersebut memasuki kelas, guru tersebut langsung berbicara “Anak-anak mulai saat ini satu kelompok harus terdiri atas anggota laki-laki dan perempuan, ini saya acak apa pindah sendiri,” ucap guru tersebut. “Pindah sendiri aja bu,” ucap teman satu kelasku. “Baik, saya tunggu saat ini juga” ucap guru tersebut.Teman-teman langsung bergegas untuk mencari kelompok masing-masing. Aku hanya terdiam karena bingung, pada saat itu aku tertuju kepada dia, dan dia juga melihatku. Guru tersebut melihat aku dan dia belum ada kelompok. “Kalian berdua, satu kelompok saja,” ucap guru tersebut. “Baik bu,” ucap dia.Dia langsung menghampiriku bersama satu temannya. Dia duduk di depanku. Saat itu juga guru tersebut berbicara “Eh jangan lupa duduknya laki-laki sama perempuan bersebelahan.” Ucap guru tersebut. “Baik bu,” ucap teman sekelas.Selang bel pelajaran berbunyi, semua siswa mengeluarkan buku dan belajar seperti biasa. Pada waktu itu pelajaran MATEMATIKA hanya 2 jam, pada jam terakhir satu persatu siswa kelas 9f bergiliran maju untuk mengerjakan soal di papan kelas. Pada saat itu hanya sampai absen 14 saja yang maju, karena waktunya tidak cukup, dan diselesaikan minggu depan.Saat jam ketiga, ada mapel B.JAWA. Ada tugas kelompok tentang membuat makalah dari cerita KETHOPRAK. Pada jam ketiga, disuruh berkelompok untuk tugas tersebut, kelompoknya diacak, teman-teman menemukan ide dengan cara membuat sobekan kertas yang berisikan angka 1-7. Satu anak mengambil satu kertas dengan secara acak, selesai mengambil kertas tersebut berkumpul ke kelompoknya masing-masing.Dia bertanya kepadaku “Aku berharap kita satu kelompok,” ucapnya kepadaku. “Semoga saja kita satu kelompok,” ucapku.Semua siswa membuka kertas tersebut secara bersamaan, ternyata aku dan dia mendapatkan angka yang sama, yaitu angka 3 yang berarti kita berdua satu kelompok. Pada jam keempat masih ada jam pelajaran Bahasa JAWA, pada waktu itu hanya di beri penjelasan dan disuruh mencari materi dan membuat makalah menurut kelompok yang diberikan oleh guru tersebut, karena setiap kelompok tugasnya berbeda-beda, ada yang kebagian tentang drama moderen, wayang wong, ludruk, dan kethoprak.Pada jam terakhir ada mapel Bahasa INDONESIA, seperti biasa di suruh ke Lab komputer untuk membuat cerita. Membuat cerita sendiri-sendiri yang terdiri atas satu cerita harus ada 1000 kata atau lebih dari 1000 kata. Semua berjalan lancer seperti biasa dan tinggal menunggu bel pulang berbunyi.Pada hari sabtu tanggal 29 Oktober kemarin Cuma ada 2 mapel, yaitu mapel Bahasa INDONESIA dan IPA. Pada mapel Bahasa INDONESIA seperti biasa pergi ke lab komputer dan saat di lab komputer di larang menghidupkan wifi, dan hanya melanjutkan cerpen yang belum selesai. Karena larangan tersebut satu persatu siswa kelas 9f keluar dari lab komputer, alasan keluar dari lab komputer tersebut karena bosan tidak ada hiburan, ada juga yang sudah menyelesaikan cerpennya. Karena hal tersebut satu persatu keluar dan ada yang masuk kelas dan ada yang ke kantin, tetapi siswa kelas 9f keluar dari ruangan lab komputer pada jam kedua.Pada saat jam istirahat walikelas 9f memasukki kelas 9f, teman-teman kaget akan hal itu karena saat itu tidak ada mapel Bahasa INGGRIS. Guru tersebut memasuki kelas dan menyampaikan akan hal yang keluar lab komputer pada saat jam pelajaran belum selesai, hanya ada beberapa saja yang masih di ruang lab komputer. Sebagai hukuman atas berbuatan tersebut semua siswa yang keluar pada saat jam pelajaran disuruh membuat surat perjanjian tidak akan mengulangi hal tersebut yang disertai tanda tangan orang tua dan pada hari selasa disuruh mengumpulkan surat tersebut ke walikelas 9f“Saya dapat laporan dari guru Bahasa Indonesia bahwa kalian tidak mengikuti pelajaran tersebut sampai jam pelajaran selesai, hukumannya kalian harus membuat surat perjanjian tidak akan mengulangi hal tersebut dan harus ada tanda tangan orangtua, saat pengambilan rapot nanti akan saya tanyakan apa benar ini tanda tangan orangtua kalian apa kalian sendiri yang menandatangani surat tersebut, dan akan saya share di group walimurid,” ucap guru walikelas 9f.Saat selesai berbicara guru tersebut langsung pergi. Semua siswa langsung kaget akan hal itu, selama ini yang teman-teman tahu guru Bahasa Indonesia hanyalah guru yang paling enak saat mengajar, tetapi tidak seperti itu. Bahwa malah sebaliknya diam-diam mematikan.Keesokan harinya semua siswa mengumpulkan surat pernyataan yang ditanda tangani orangtua, banyak yang lupa menandatangani surat tersebut. Hanya beberapa saja yang terkumpul, yang lainnya menyusul, ada juga yang ditanda tangani sendiri, Karena takut akan kena marah.Dia juga sama, membuat surat pernyataan tetapi tanpa tanda tangan orangtua melainkan tanda tangan temannya. Karena ia lupa untuk memberitahu akan hal itu.Setiap hari hubungan kami semakin baik terkadang ada sedihnya dan juga ada senangnya. “Mencintai teman sekelas sama dengan mennyakiti diri sendiri”
Strict Parents
Ika memiliki orangtua dengan gaya pengasuhan yang ketat. Orangtua Ika adalah tipe orangtua yang mengatur anaknya sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa menghargai perasaan dan mempertanyakan pendapat Ika.Ika saat ini menginjak kelas 3 SMP dan sekarang saatnya Ika menentukan mau melanjutkan SMA maupun SMK di sekolah pilihan Ika. Waktu ada mata pelajaran BK, guru yang mengajar memberi pertanyaan tentang “Setelah lulus smp, saya melanjutkan sekolah di?” dan tugas tersebut harus disertai dengan tanda tangan orangtua.Ketika Ika sudah sampai di rumah dan saat Ika meminta tanda tangan orangtuanya, Wanto ayah Ika berbicara “Ngapain kamu sekolah jauh jauh” Ucap ayah Ika “Ika ingin menambah wawasan yang lebih banyak yah” Sahut Ika “Di sini lho ada sekolah yang lebih dekat, sekolahnya juga nggak kalah baik dari sekolah pilihan kamu” Ucap ayah Ika “Tapi lho yah, sekali ini saja izinin Ika ya?” Ucap Ika sambil matanya mulai berkaca-kaca “Udah sekolah di sini saja jangan jauh-jauh, jadi anak nggak pernah nurut” Ucap ayah Ika dengan nada kerasnya“Nggak nurut gimana yah? Ika selama ini udah sabar ngelakuin semua hal, semua perintah dari ayah sama bunda, sekarang gantian dong turutin satu kali ini aja Ika mau sekolah di sekolah yang Ika mau” Ucap Ika sambil meneteskan air mata Ayah Ika langsung pergi meninggalkan Ika dan kertas putih itu.Keesokan harinya Ika tidak mengumpulkan kertas tersebut dan Ika mendapatkan konsekuensi dari guru BK untuk mengumpulkan besok pagi.Di rumah Ika pun berdebat lagi dengan ayahnya dan pada akhirnya Ika yang harus menuruti keinginan orangtuanya. “Ya udah, Ika mau sekolah di sekolah pilihan ayah sama bunda” Ucap Ika “Ayah kemarin kan udah bilang nurut aja” Ucap ayah Ika sambil melontarkan senyuman tipis “Tapi ayah sama bunda ngerti nggak sih perasaan Ika, Ika ini ca…. ” “Ssstttt nggak usah membantah lagi” Ucap Anggun bunda Ika yang memotong omongan Ika Dan akhirnya Ika belajar menerima apa yang telah menjadi keputusan kedua orangtuanya.*Bebaskan anak-anak kalian selagi mereka melakukan hal-hal positif, berilah mereka kepercayaan untuk menjadi diri mereka sendiri. Ketika udah diberi kepercayaan oleh orangtua kalian, pliss jangan hancurkan kepercayaan itu, karena kesempatan tidak datang dia kali jika ada itu berbeda*
Daerah Terlarang
Di sebuah tempat terdapat daerah terlarang (Gunung) yang terkenal sejak dulu, daerah tersebut dikenal dengan kemistisannya. Kalau ada yang memasuki kawasan tersebut pasti tidak akan pernah kembali lagi.Daerah tersebut pun masuk berita, Toni yang sedang menonton berita tersebut lalu bertanya-tanya kenapa daerah tersebut disebut kawasan yang dilarang untuk dikunjungi. Lalu Toni ingin memasuki daerah terlarang tersebut dengan kawan kawannya Joni, Totok dan Andre. Mereka berencana akan berangkat bersama sama pada Jumat malam.Sebelum berangkat mereka teleponan dulu akan bertemu dimana “Ketemuan dimana ini?” tanya Toni. “Kalian sudah siap semua?” kata Totok. “Sudah nih, tinggal beli persediaan makan buat kita menuju ke sana!” jawab Joni. “Beli di toko seberang jalan aja,“ saran Andre.Mereka pun berangkat dan bertemu di toko seberang jalan tersebut. Setelah mereka belanja persediaan untuk menuju gunung itu. Mereka Toni, Joni, Totok dan Andre akhirnya berangkat menuju gunung yang disebut daerah terlarang tersebut.Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai juga di kaki gunung tersebut. Mereka bersiap-siap akan mendaki gurung yang terlarang tesebut. Gunung tersebut terlihat sangat angker. Aslinya mereka takut untuk mendaki gunung tersebut tapi karena mereka penasaran akhirnya dengan semangat yang membara mereka berani mendaki gunung tersebut.Baru saja beberapa menit mendaki kejanggalan mulai dirasakan mereka, Joni tiba tiba terjatuh lalu kesurupan. Toni, Andre dan Totok langsung berusaha menyadarkan Joni tiba tiba Joni berbicara saat kesurupan“Siapa kalian yang berani memasuki kawasanku!” ucap Joni yang sedang kesurupan. Totok berusaha menyadarkan Joni yang sedang kesurupan menggunakan air, dan akhirnya Joni sadar kembali. Mereka sangat kaget dengan kejadian tersebut. “Baru aja mendaki beberapa menit ada aja kejadian aneh mendatangi kita,” kata Toni.Hari pun mulai gelap, mereka memutuskan bermalam dahulu, mereka membagi tugas agar lebih cepat mempersiapkan tenda dan bara api untuk mereka menghangatkan badan.Dan akhirnya mereka selesai juga mempersiapkan tenda dan bara api, setelah itu mereka memasak makanan untuk mereka makan. Masakan matang juga, mereka menyantapnya dengan lahap, saat mereka sedang makan Joni bertanya. “Kok bisa ya aku tadi kesurupan?” tanya Joni. “Mungkin kamu lagi melamun jadinya kamu gampang kemasukan roh ghaib,” ucap Totok. “Hari semakin malam nih sebaiknya kita istirahat dahulu agar besok pagi kita bisa melanjutkan perjalanan,” kata Andre. “Sebaiknya kita bergantian menjaga agar tidak ada hal yang tidak kita inginkan datang!” kata Toni. “Baiklah kalau begitu aku saja yang pertama jaga,” kata Andre. “Kamu berani jaga sendirian ndre?” tanya Totok. “Berani dong masa gak berani,” balas Andre. “Yaudah kalau gitu,” kata Toni.Mereka semua akhirnya tidur kecuali Andre sendirian yang menjaga tenda, hari mulai gelap banyak hewan hewan malam yang mulai keluar mencari mangsa suara sekitar yang sangat hening dan gelap membuat bulu kuduk Andre berdiri.Kelelawar berkeliaran, berterbangan di setiap arah burung hantu sedang mengintai di atas pohon. Setelah beberapa jam berjaga sendirian Andre akhirnya Toni bangun dan menggantikan Andre yang sudah berjaga dari tadi.“Ndre ganti aku yang jaga kamu istirahat aja,” ucap Toni. “Baiklah kalau begitu, aku juga sudah sangat mengantuk,” balas Andre. Andre pun tidur di dalam tenda, hari semakin malam. Sejauh ini Toni berjaga aman aman saja tidak ada hal aneh yang terjadi.Tiba-tiba ada babi hutan yang melewati tenda mereka. Toni yang melihat babi itu langsung terkejut dan membangunkan teman-temannya yang sedang tidur. “Bangun bangun ada babi hutan barusan lewat” kata Toni. “Dimana babinya?” tanya Totok. “Langsung hilang waktu aku melihatnya” balas Toni. “Gimana kalau kita buru babi itu?” ajak Joni. “Kamu mau mencari masalah ni? Itu babi hutan bukan babi biasa!!” balas Toni. “Kan lumayan kalo kita buru lalu kita masak,” kata Joni. “Ide bagus juga, kan kita juga lagi di alam liar jadi harus mencoba hal baru,” balas Totok. “Tapi bukannya berbahaya kita memburu babi hutan?” tanya Toni. “Ya kita harus hati hati,” kata Totok. “Baiklah kalau begitu siapkan senjata kalian teman teman kita akan memburu babi hutan itu,” kata Toni.Mereka pun bersiap siap akan memburu babi itu, mereka berangkat mencari babi itu, mereka melihat babi itu sedang sembunyi di semak semak, dengan hati hati mereka mendekati babi itu tanpa terdengar. Dengan mudah mereka menangkap babi hutan itu setelah tertangkap babi itu dibawa ke kemah mereka yang tidak jauh dari lokasi babi itu ditangkap. Mereka menyimpan babi yang sudah diburu itu untuk dimasak keesokan harinya.“Baiklah sekarang aku yang berjaga,” kata Totok. Toni, Andre, dan Joni mereka melanjutkan tidurnya setelah berburu babi hutan itu.Matahari telah terbit dari arah timur mereka berempat telah bangun dan bersiap siap akan memasak babi yang mereka buru tadi malam.Setelah memasak dan memakan babi hasil buruan. Mereka lalu bersiap siap akan melanjutkan perjalanan mendaki gunung itu. Setelah mereka mendaki selama 5 jam lamanya akhirnya mereka sampai di puncak gunung yang disebut angker itu.“Padahal gunungnya biasa aja tapi kok di bilang angker,” Kata Toni. “Nah itu mungkin agar gunung ini tetap terjaga keasriannya,” balas Joni. “Yaa mungkin saja,” balas Andre.“Pemandangannya bagus juga ya,” kata Totok. “Memang indah pemandangan alam sekitar yang belum terkena tangan manusia,” balas Toni.Mereka pun menikmati menikmati pemandangan di puncak gunung tersebut. Memang di gunung tersebut tidak ada hal yang angker tapi gunung itu dikenal dengan gunung yang sangat angker oleh orang orang sekitar yang tinggal di kaki gunung itu.Itu merupakan salah satu pengalaman mereka pertama kali saat mendaki gunung. Setelah itu mereka pun kembali ke rumah mereka masing masing dengan selamat dan tidak akan melupakan pengalaman itu.
Sahara Bella
Sahara Bella namanya, dia mempunyai seorang kakak bernama Laura Bella. Mereka mempunyai nama belakang yang sama, terkadang orang-orang menganggap mereka anak konglomerat karena menggunakan marga ‘Bella’. Padahal itu hanya pelengkap nama yang Ibu beri agar nama mereka tidak terlalu pendek.Sahara dan Laura beda satu tahun. Laura sang kakak sudah memasuki semester awal perkuliahan sedangkan Sahara masih duduk di bangku SMA kelas 3.Menurut Sahara, kakaknya itu sangat pintar. Terbukti dari dia yang masuk kuliah lewat jalur beasiswa. Sejak SMA Kakaknya menjadi siswa kebanggaan sekolah. Sebab, dia sering dipilih untuk mewakili sekolahannya untuk mengikuti lomba cerdas cermat, MIPA, dan perlombaan yang hanya mampu diikuti oleh orang berotak cerdas seperti Laura. Dia selalu membawa piagam atau piala setelah lomba. Jika tidak juara 1 pasti 2.Tapi karena itu pula hidup Sahara penuh aturan seperti sekarang. Bundanya yang terobsesi dengan nilai memaksa dia untuk mengikuti semua les yang ia siapkan. Bundanya juga selalu menuntut dia untuk belajar, belajar dan belajar. Bunda ingin Sahara seperti Laura. Sahara selalu menolak, akademik bukan kemampuannya. Dia lebih memilih mendekam diri di kamar dan menulis naskah-naskah di blog pribadinya lewat laptop.Seperti sekarang, Sahara sedang berkutat dengan laptop pemberian sang Kakak saat ulang tahunnya yang ke-14 tahun. Laura tau jika kemampuan Sahara ada di Sastra. Dia tau adiknya suka membuat atau mengarang cerita. Dia mendukung adiknya, berbeda dengan sang Bunda.“Hey buka pintunya! Bunda sudah menyiapkan uang untuk membayar les matematikamu! Cepat keluar dan pergi ke tempat les yang sudah Bunda kasih tau!” Dari depan pintu kamar, Bunda berteriak. Tangannya itu memukul keras pintu jati itu.Sahara bergeming, dia menulikan pendengarannya. Otaknya hanya fokus menulis karangan cerita yang akan dia publish di aplikasi pembuat cerita.“Berhenti membuat tulisan-tulisan tak berguna itu Sahara! Cepat keluar dan pergi les!” Bundanya itu kenapa sih? Kenapa tidak mendukung Sahara untuk menjadi dirinya sendiri?! Dia hanya ingin tumbuh dewasa menjadi dirinya sendiri. Mengejar mimpinya dengan caranya sendiri. Tanpa harus kekangan atau aturan dari orang lain, termasuk Bundanya sendiri!Dengan kesal dia melepas earphonenya. Menatap datar pintu yang bergetar karena pukulan dari luar. Dengan malas dia berjalan kearah pintu. Mendekatkan wajahnya kemudian berkata, “Dari pada menyakiti tangan sendiri mending Bunda fokus ke diri sendiri. Sampai kapan pun Sahara gak akan mau ikutin omongan Bunda. Ini hidup Sahara, Sahara mau ikutin kemauan sendiri.”Bilang saja Sahara anak durhaka. Dia juga tidak mengelak itu. Tapi, bisakah kalian mengerti betapa frustasinya dia sekarang? Bundanya tidak tau perasaan Sahara. Mati-matian dia menahan emosi ketika mimpinya dihina oleh orang yang melahirkannya itu. Apa salahnya ingin mengikuti keinginan sendiri?Besoknya, seperti biasa. Wanita berusia 40 tahunan itu mendiamkan Sahara. Dia bahkan tidak meliriknya sama sekali saat sedang makan bersama. Laura tau, ada masalah sebelum dia pulang.Laura lebih memilih tinggal di kost-an yang dekat dengan Universitasnya. Selain agar jarak tempuh yang dekat, dia juga ingin menyatukan adik dan Bundanya itu.“Kakak sudah kirim uang ke rekening kamu. Cukup-cukupin, ya.” Suara Laura memecahkan keheningan ruang makan ini. Pandangan Bunda teralih ke anak sulungnya itu, dia memandang tak suka Laura.“Ngapain kamu ngasih uang ke anak itu? Lebih baik uangnya kamu tabung untuk keperluan kuliah kamu.” ucap Bunda dengan nada suara yang tak suka. Jelas, dia kesal dengan anak bontotnya yang tidak mau mengikuti ucapannya.Laura tersenyum, gadis itu menatap Sahara yang lebih memilih diam. “Itu aku kasih bukan cuma-cuma, Bun. Aku membayar utang aku kepada Sahara bulan lalu. Dia meminjamkan aku uang untuk membeli stetoskop baru.” jawab Laura.“Dapet uang dari mana kamu? Kerjaannya aja nyumpel di kamar. Kamu ngepet? atau jangan-jangan ambil uang simpenan Bunda? Iya?” tuduh Bunda menunjuk wajah Sahara.Diam-diam Sahara mengepalkan tangannya dibawah meja makan. Dia menatap nyalang Bundanya yang dengan seenak hati menuduh dirinya sebagai pencuri.“Jaga omongan Bunda!” Emosi, Sahara tak sadar jika nada bicaranya meninggi. Nafasnya memburu, dadanya naik turun karena emosi. Sungguh, dia tidak tahan dengan semua ini.Tersulut emosi, Bunda menggebrak meja hingga lauk yang berada di piring tumpah. “Beraninya kamu membentak Bunda?! Saya ini orang yang telah melahirkan kamu! Sopan sedikit bisa tidak?! Dimana kesopanan kamu?! Saya tidak pernah mengajarkan kamu untuk seperti ini!”Sahara tergelak. Ketawanya itu mengundang kemarahan Laura, “Sopan sedikit Sahara. Dia bundamu, tidak sepatutnya kamu membentak dia seperti tadi.”Sahara terkekeh, “Udah?”Keduanya terdiam. Sahara tertawa lagi, satu detik setelahnya tatapan dia menjadi dingin dan datar. Matanya menatap Laura dan Bundanya tajam.“Selama ini aku sabar sama sikap Bunda. Bunda bilang apa? Sopan? Haha! Bunda bahkan gak pernah ngajarin aku buat sopan. Yang ada dipikiran Bunda cuma les, les, dan les. Bunda terlalu terobsesi dengan apa yang udah Kak Laura dapat sampai Bunda pengin aku jadi kaya dia!”Menjeda sejenak hanya untuk mengatur emosinya. Dia tidak ingin berkata kasar yang nantinya akan menyakiti hati orang didepannya itu. Dia masih menyayangi Bundanya.“Inget, Bun! Kami beda orang! Kak Laura ya Kak Laura, aku ya aku. Gak bisa disamain! Kita punya kemampuan sendiri-sendiri. Kak Laura pinter di akademik, nilainya yang bagus Sampai bisa masuk Fakultas Kedokteran di UI itu sebuah kebanggaan buat Bunda kan? Terus Bunda pengin aku jadi seperti kakak? Gak akan bisa! Kemampuan aku ada di Sastra! dan selamanya akan seperti itu. Mau sampai ratusan materi yang masuk kalo takdir aku udah di Sastra, ya gak akan bisa! Jadi stop kekang aku buat jadi kak Laura. Karena sekali lagi, kita beda! Kita memang sedarah, tapi bukan berarti takdir kita sama! Tuhan memberi kemampuan kepada hambanya berbeda-beda! Aku capek Bun!” Panjang kali lebar, Sahara harap Bundanya sadar. Sahara harap Bundanya introspeksi diri.“Dan Bunda nuduh aku pencuri? Sakit, Nda.. Sakit.. anak mana yang tega nyuri uang Bundanya sendiri? Dan Bunda mana yang tega nuduh anaknya pencuri?” Tersenyum kecut, Sahara menghapus paksa air mata yang keluar membasahi pipinya.“Ra..” Laura sama dengannya, gadis itu bahkan sudah terisak.“Diem, Kak. Aku iri sama kakak. Kakak dibangga-banggakan sama Bunda karena kakak bisa masuk fakultas yang dimimpikan banyak orang di Universitas ternama di Indonesia. Gak pernah sedikitpun Bunda hina mimpi kakak yang pengin jadi dokter, tapi kenapa sama aku beda kak? Bunda hina mimpi aku yang pengin jadi penulis.”Laura terdiam, begitupun Bunda. Dia menunduk, mencerna semua ucapan anaknya yang malang itu.“Aku berdiam diri di kamar bukan untuk rebahan dan leha-leha doang, Bun. Aku nulis naskah atau cerita di blog, kalo sekiranya bagus dan aku butuh uang, aku jual karya tulis aku ke website online. Pas pertama nyoba gagal, cerita aku ditolak karena ga sesuai kriteria admin. Aku jadi gak punya tekad buat kirim cerita aku lagi, ditambah kekangan Bunda yang nyuruh aku buat ikutin kemampuan Bunda dan hina mimpi aku. Itu bikin aku overthinking. Tapi, aku gak nyerah, aku coba terus dan sampai salah satu admin nerima karya tulis aku. Aku dapet uang dari situ, Bun. aku jual karya tulis aku dan honornya lumayan. Aku kumpulin buat persiapan masuk Universitas.” lanjut Sahara menyadarkan sang Bunda.“Kalo lewat tulis menulis aku bahagia dan bisa menjadi pribadi yang dewasa, kenapa Bunda ngelarang aku? Sekarang aku udah pasrah. Terserah Bunda mau masukin aku ke les mana, aku gak akan bantah lagi. Toh Bunda akan selamanya begitu kan?” Sahara menyeka air matanya. Ucapannya bukan semata-mata, dia benar-benar sudah lelah dengan semua itu. Lebih baik dia mengikuti kemauan Bunda kan? Karena, mau sebisa apa kamu, kalo tidak ada restu dari orangtua, maka akan sia-sia.Bunda mendongak, menatap sendu anaknya yang ternyata rapuh. Dia perlahan mendekati Sahara, memeluk tubuh anaknya itu. Menyandarkan kepala Sahara di dadanya.“Maafin Bunda, Nak.. Bunda gak tau mimpi kamu sepenting ini. Maafin Bunda yang selama ini nuntut kamu buat seperti Kakak.. Bunda minta maaf. Mulai sekarang Bunda akan dukung kamu buat raih mimpi kamu. Terserah kamu mau jadi apa, asalkan tetap jadi anak Bunda ya? Bunda bakal berhenti ngatur kamu, Bunda bakal bebasin kamu buat gapai cita-citamu sendiri..” bisik Bunda tepat di telinga kiri Sahara.Sahara tertegun, dia kemudian membalas pelukan sanga Bunda. “Bener, Bun?” Bunda mengangguk, mengecup puncak kepala Sahara, “Bener sayang.. Maafin Bunda ya ..”Sahara mengangguk. Dia sangat senang, Bundanya sudah merestui dirinya untuk menjadi dirinya sendiri. Sekarang, tidak ada lagi teriakan Bunda yang memaksanya untuk berangkat les. Sekarang tidak ada yang memukul-mukul pintu kamarnya. Sekarang Bundanya sudah berubah.Laura ikut bergabung. Dia memeluk dua perempuan yang sangat dia sayangi. Laura terharu, perjuangan Sahara untuk mendapat restu dari Bunda tidak mudah. Berkali-kali wanita tua itu mematahkan semangatnya, namun tidak membuat keputusan Sahara goyah. Dia bangga mempunyai adik seperti Sahara, gadis yang kuat dan mandiri. Dia sangat menyayangi keluarganya yang sederhana ini.