Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Mungkin
Teen
11 Jan 2026

Mungkin

Di suatu pagi di sekolah, datanglah seorang pelajar bernama Rangga. Dia datang dengan senyumnya yang manis sembari bersalaman dengan para staff dan guru yang ia lewati.Rangga adalah seorang Ketua Osis baru di sekolahnya. Ia sangat di sukai oleh semua orang, dari para murid, guru, hingga staff-staff karena tutur katanya yang lembut tetapi tegas, ramah kepada semua orang, dan ia tidak mengenal _'Senioritas'_ . Semua orang mengenal Rangga karena sifat-sifat baiknya itu, orang-orang pun seakan-akan tidak mengetahui apa kelemahan atau kekurangan dari sosok Rangga ini.Tetapi, Rangga sebenarnya memiliki sebuah kelemahan, yaitu senyuman wanita idamannya. Wanita itu bernama Bella. Ia merupakan adik kelas Rangga, ia terkenal sangat cantik di angkatannya dan langsung menjadi primadona di sekolahnya, Rangga pun sudah memperhatikan Bella semenjak Bella mengikuti MOS di sekolahnya. Meskipun Rangga terkenal akan keramahannya terhadap semua orang ia tetap tidak sanggup untuk berbicara kepada Bella.Dan di suatu ketika, Bella digoda di Lorong ujung sekolah dekat gudang oleh seorang lelaki yang dimana lorong itu sangat sepi dan sunyi dan yang menggoda Bella adalah teman seangkatan dari Rangga yang bernama Jonathan, Jonathan terkenal playboy dan terkenal sangat bandel di sekolahnya. Dan sekarang Laki – laki itu sedang mencoba menggoda pujaan hati Rangga.“Ih apaansih kak! Jangan ganggu Bella deh,” ucap Bella dengan nada kesal.“Emangnya gue ngapain elu sih? Gue kan Cuma mau minta nomor WA lo doang! Gosah lebay deh lo!” balas Jonathan dengan berteriak.“Yakan aku gamau ngasih kak. Orang tua Bella bilang gaboleh ngasih nomor WA ke sembarang orang!Jadi lo bilang kakak kelas lo ini orang asing iya? Gitu maksud lo? HAH?!” teriak Jonathan sambil mendorong tubuh Bella dengan kasar kearah tembok.“Kak sakit kak ... emang bener ya kata temen Bella kalo kak Jonathan itu orangnya berandalan," sahut Bella dengan menahan sakit serta menahan tangisnya.“Lo kalo jadi adek kelas bisa sopan dikit gak sama kakak kelas? Hah?! Bangs*t lo!” Ia berteriak kearah Bella sembari mengarahkan tangannya kearah Bella, Dan Rangga pun dengan sigap menangkap tangan Jonathan.“Udah Jo udah, jangan main kasar gitu ke Bella," ucap Rangga sambil menekan tangan Jonathan dengan keras.“Ra ... Rangga? Lo ... lo ngapain kesini? Bukannya lo ada urusan di ruang Osis?” ucap Jonathan dengan gugup.“Iya emang gua ada urusan di ruang osis. Tapi ada yang mau gua ambil di gudang, nih kuncinya," ucap Rangga sambil menujukkan kunci ruang gudang kepada Jonathan."Nah sekarang kamu udah gaada urusan disini kan Bel? Mending kamu pergi dulu ya," ucap Rangga lagi kepada Bella.“Eh tunggu! Urusan gue sama Bella belum selesai Rang," timpal Jonathan yang sembari melepaskan cengkraman tangan Rangga.“Oh ya?” Lalu rangga menoleh kearah Bella. “Emang Bella masih punya urusan sama dia?” Sambil menujuk Jonathan.“Eng ... engga kak," jawab Bella dengan takut."LO BENER BENER BANGS--" Belum sempat Jonathan mengumpat Rangga langsung memasukkan kunci ruang gudang ke mulut Jonathan.“Mulut lo busuk banget Jo baunya, dikunyah dulu itu kuncinya. Oiya Bel, udah sana kamu pergi. Si Jonathan biar disini dulu sama aku ya hahaha," ucap Rangga sambil memegang kedua tangan Jonathan yang berusaha melarang Bella pergi.Bella pun pergi meninggalkan mereka berdua. Di perjalanan Bella berbicara dalam hati _"Sweet banget kak Rangga oh my god. Mungkin gak orang sesweet itu jadi pacar gue? aaaahh."Jonathan pun melepaskan diri dari Rangga. “Apaansih lo rang! Gajelas, hueekk." Sambil membuang kunci dari mulutnya."Lagian lo ngapain gangguin cewe kayak gitu? Gua kan udah bilang, kalo gua gaakan negur soal pakaian lo, asalkan lo gak gangguin cewek-cewek," ucap Rangga dengan santai sambil mengambil kunci yang Jonathan jatuhkan itu.“Yaudah lo pergi sana Jo, gua ada urusan di gudang, awas aja sampe keulang lagi. Gua laporin ke kepsek biar langsung di tegur lo."“Iya-iya gue cabut, tapi jangan di laporin yang barusan ke kepsek!” ucap Jonathan sembari melangkahkan kaki pergi.Lalu rangga pun sudah mengambil barang yang ia butuhkan dari gudang, di perjalanan ke ruang osis ia berbicara sendiri. "Ini obrolan pertama gua sama Bella, sayang banget obrolan pertama kita kayak gitu. Mungkin gak ya obrolan kita di lain hari bakalan beda? Hahaha”Keesokan harinya ketika jam istirahat berbunyi, tiba-tiba Bella datang kedepan kelas Rangga sambil membawa sebuah bingkisan di tangannya.“RANGGA, ada yang nyariin lo nih!” ucap salah satu temannya.“Ohh iyakah? Siapa?” ucap rangga sambil membereskan buku pelajaran yang ada di mejanya.“BELLA KAK," ucap Bella dengan berteriak.Rangga yang mendengar itu pun kaget bukan main. “Be ... Bella? IYA Sebentar!” ucap Rangga grogi.Lalu Rangga pun menemui Bella di depan kelasnya.“Iya Bel, ada apa nyari aku?”“Kak Rangga kita ngobrol di taman sekolah aja yuk ... mau gak? Aku sambil mau ngasih ini," ucap Bella malu-malu sembari menunjukkan bingkisan yang ia bawa itu.“Oh oke ayo," jawab tegas tetapi dalam hati ia sungguh grogi bukan main.Sesampainya di taman, rangga dan Bella pun duduk di kursi taman tersebut dan Rangga pun membuka obrolan.“Jadi ap...,”“Jadi gin...,"Mereka berdua pun berbicara secara bersamaan.“Ehm, kakak dulu deh.”“Oh ngga ngga, kamu aja dulu Bel."“Ngga mau, kakak duluan.”“lho kan kamu yang ngajak ketemuan disini," ucap Rangga pelan.“Yaudah kak Bella duluan, jadi gini. Bella mau berterima kasih banget sama bantuan kakak kemarin yang udah belain Bella waktu Bella diganggu sama kak Jonathan, jadi...,"“Jadi apa Bel?” tanya Rangga."Jadi Bella mau kasih hadiah ini buat kak Rangga," ucap Bella sambil memberikan bingkisan yang dia pegang sedari tadi.“Oh? Terima kasih Bella, aku buka ya?” Bella hanya mengangguk tanda setuju.Ketika dibuka, Rangga pun dibuat kaget dengan apa yang ada di dalem bingkisan itu, di dalam bingkisan itu ada sepotong kue berbentuk hati dan terdapat surat di samping kue tersebut yang bertuliskan_*Kak Rangga, maafin bella karena baru bilang suka ke kak Rangga sekarang. Bella sudah lama suka sama kak Rangga bahkan sebelum Kak Rangga jadi Ketua osis sekolah kita. Bella selalu memperhatikan Kak Rangga, dari sampai sekolah hingga pulang sekolah. Lalu, apakah mungkin Bella bisa menjadi seseorang yang spesial untuk Kak Rangga?*_Lalu dengan tegas Rangga menjawab “Itu sungguh mungkin Bella. Karena aku juga punya perasaan yang sama”[ E N D ]

Hurt
Teen
11 Jan 2026

Hurt

Sekitar tiga tahun yang lalu. Bertepatan dengan hari terakhir ujian nasional dilangsungkan. Syafira Putri Angelista sudah siap dengan pakaian putih birunya tidak lupa kerudung putih sebagai peutup auratnya. Dengan pikiran kalut jikalau nanti ia tidak bisa mengerjakan nya bagaimana? Namun dengan tekad yang kuat mengalahkan perasaan kalut yang hinggap di otak cantiknya. Dengan riangnya ia keluar dari kamarnya sambil menenteng tas dipundaknya dan memegang satu buku yang berada Didekapannya.Matanya tiba-tiba berbinar melihat makanan yang tersaji dengan rapih di meja makan, coba saja ia masih mempunyai waktu yang lebih dengan senang hati ia akan menghabiskan makanan itu. Rasanya waktu seakan tidak bisa memberikan ketenangan untuknya. Mengehela nafasnya sejenak. Kaki nya mulai melangkah mendekati ke dua orang tuanya."Pagi," sapanya."Too sayang," ucap serentak kedua orang tuanya."Aku langsung berangkat ya, Nanti sarapannya di sekolah aja bareng Tasya." Syafira mencoba menjelaskan, ia sebenenya merasa bersalah karena tidak menghargai Mamanya."Gapapa ko sayang." Rania, mamanya mengelus kepala Syafira."Yaudah aku berangkat," ucap nya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya."Hati-hati nak semoga segala urusan mu Dimudahkan oleh Allah Swt." Riko, papanya mengecup kening Syafira dengan lembut."Amin, Assalamualaikum." Syafira Melangkahkan kaki nya keluar rumah."Waalaikumsalam," jawab kedua orang tuanya.Setibanya di kelas 9i suasana sudah sangat ramai untung saja ia tidak telat bisa celaka nantinya.Syafira menghampiri Tasya putri Salah satu sahabat yang sangat baik dan selalu ada untuk nya.Sambil menunggu Bel masuk mereka habisnya waktu nya untuk mengobrol seputar pelajaran.Perasaan penat, pusing bercampur menjadi satu ujian sudah berlangsung sejak 45 menit yang lalu masih ada waktu 15 menit untuk mereka mengerjakan nya.Ujian nasional telah selesai dilangsungkan semua nya segera berucap syukur ada senang nya karena mereka akan menempuh sekolah menengah atas namun ada sedih nya karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah bersama selama 3 tahun."Syafira semoga lo kedepan nya jadi lebih baik dan bisa langgeng sama si kapten basket," ucap Tasya."Amin lo juga ya, terimakasih Tasya udah jadi sahabat terbaik gue, btw si kapten basket itu Arsya Putra fernando, Tasya," ucap syafira gregetan selalu saja Tasya menyebut nya tanpa embel-embel Nama."Sabodolah yang penting eta weh.""Huft yaudah gue mau ke Arsya dulu ya." Tanpa menunggu jawaban sahabat nya ia melenggang pergi menuju kekasih nya.Mata nya menangkap sosok cowok yang sedang tertawa bebas bersama teman-teman nya. Syafira mulai Mendakati sang kekasih."Arsya," panggilnya.Semua teman-teman arsya pergi meninggalkan dua sejoli yang sedang dilanda kasmaran."Hai sini duduk." Arsya menepuk-nepuk kursi yang tepat disamping nya."Eh iya." Syafira pun duduk seraya menatap muka tampan yang status nya menjadi kekasih nya."Aku tau aku tampan tapi jangan diliatin mulu sayang." Arsya mengusap wajah Syafira yang membuat si empu merasa malu."Ihkk kamu mah," rajuk Syafira."Uluhh pacar aku lagi ngambek nih." Dengan gerakan cepat Arsya memeluk Syafira.Waktu singkat mereka habis kan untuk mengobrol bersama serasa dunia milik berdua yang lain cuman ngontrak."Gue yang duluan suka sama lo, kenapa harus sahabat gue yang dapetin sial!" ucap seseorang yang masih menatap dua sepasang kekasih yang nampak sangat bahagia.Sepulang sekolah Syafira menghabiskan waktu nya dikamar saja rasanya ia sangat lelah dan memutuskan untuk tidur.Dilain sisi dua sosok laki-laki dilanda kerisauan antara bingung mempertahankan atau mengikhlaskan."Lo tau kan gue duluan yang suka sama syafira,tapi kenapa dengan jahatnya lo ambil dia dari gue," ucap Alfian sandres." Iya gue tau tapi gue sangat cinta sama Syafira dan gak mungkin gue lepasin dia buat Sahabat gue, mengertilah Alfian."Dengan susah payah Arsya menjelaskan namun Alfian enggan mendengarkan apakah harus Arsya mengalah namun ia pasti yakin Syafira akan marah padanya."Gue gak perduli. Cih! ternyata lo sahabat yang suka nya nusuk dari belakang ya.""Stop Alfian gue buka orang kayak gitu.""Oke gue akan mengikhlaskan Syafira buat lo," lanjutnya.Malam telah tiba. Bulan menerangi langit menggantikan matahari untuk sejenak. Tidak lupa bintang yang bertaburan sebagai pelengkap. Syafira Putri Angelista kini tengah bersiap-bersiap menemui sosok yang sangat ia cintai setelah ayahnya. Tanpa berlama-lama lagi ia sudah siap, entah mengapa perasaan takut hinggap dihatinya. Pikiran kalut seakan-akan menerornya. Pasokan udara sekaan menipis dan hawa dingin menyelimuti raganya. Syafira menghela nafasnya saat matanya bertemu dengan sosok cowok bertubuh tinggi yang sedang membelakanginya."Arsya," panggil Syafira, merasa namanya terpanggil cowok itu memutar balik tubuhnya menghadap Syafira."Ada yang ingin ku sampaikan," ucap Arsya."Baiklah"."Syafira Putri Angelista maaf dengan ini Arsya Putra Fernando harus memutuskan hubungan kita secara sepihak".Bagai tersambar petir di siang bolong, Syafira nampak terkejut akan ucapan kekasihnya."Kenapa harus putus?" tanya Syafira dengan suara serak menahan tangis."Sahabatku mencintaimu, dan aku akan melepaskan mu untuk nya. Kumohon terimalah ia dan berikan hati mu untuk nya"."Kau egois Arsya apa kau pernah mementingkan perasaanku? Aku tau Alfian suka padaku, apa kau tega menumbalkan perasaan ku untuknya?""Sejauh apapun kau memaksaku, jika hatiku berpihak padamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.""Untuk apa kita putus, jika kita saling mencintai?"Syafira pergi dengan perasaan hancur berkeping-keping kisah cintanya harus kandas dengan cara seperti ini. Menangis dan berteriak sekencangnya adalah hal tak terduga yang berasal dari dirinya.Taman awal tempat kisah cinta berlabuh kini terasa menyeramkan untuk syafira awal kesedihan dah kepedihan bersatu dan menjadi tempat bersejarah saat mengenang dia.Mencintaimu adalah Anugerah terindahMemilikimu adalah bonus tuhan tersembunyi.Jika tidak bisa bersama,mengapa kamu menawarkan hati ini untuk orang lain.Perasaan bukan lah ajang bergengsi, jika mencintai mu aku bahagia mengapa kamu menawarkan hati yang baru untuk singgah. Cinta memang aneh datang dengan proses dan pergi begitu saja.[ E N D ]

Kisah Cinta Pertamaku
Teen
10 Jan 2026

Kisah Cinta Pertamaku

Perkenalkan terlebih dahulu nama saya Dwi Rahmawati, biasa dipanggil Dwi. Juli 2016, ya saat itu aku baru memasuki sekolah menengah kejuruan. Cukup senang menjadi siswi SMK. Sekolah yang sebagian orang menyatakan bahwa kita akan memulai cerita baru, awal yang indah dan mengukir cerita cerita yang akan dijalani bersama teman baru. Pada waktu itu usiaku masih 15 tahun. Kurasa aku belum siap untuk merasakan apa itu cinta.Seiring berjalannya waktu, ada seseorang yang hadir di hidupku. Awalnya aku sama sekali tak mengenalnya. Dia bernama Khasan Munawir, walau dia alumni smp yang sama sepertiku. Tapi aku mengenalnya saat sudah lulus. Menurutku dia orangnya kurus, agak tinggi, item tapi manis. Ya jujur aku suka orang yang item manis. Kita menjadi akrab karena sering chatingan via bbm. Namun kita tak bersekolah di tempat yang sama. Awalnya aku bingung dengan sikapnya yang perhatian padaku.Aku takut dia cuma ingin mempermainkanku seperti halnya orang bilang banyak cowok yang cuma bisanya mainin perasaan cewek. Ya kata kata itu membuatku takut untuk mengenalnya lebih jauh.Waktu kurasa sangat singkat, sekitar 1 bulan aku mengenalnya. Entah perasaan apa itu? apa mungkin itu cinta? aku terus bertanya-tanya.Tepat tanggal 26 Agustus 2016 dia menembakku, tapi sayangnya via bbm. waktu itu aku sangat bingung, harus menerima atau tidak. Ya mungkin karena aku takut pacaran. Tapi aku telah jatuh cinta padanya, jadi aku mencoba untuk menjalin hubungan dengannya. Ya, dia cinta pertamaku, dan aku cinta pertamanya juga.Berbulan-bulan sudah sejak hadirnya dia di hidupku, aku merasa bahagia, merasa ada yang beda dari hidupku. Hidupku jadi lebih berwarna. Waktu itu aku memiliki sosok penyemangat dalam hidupku. Walau kita jarang bertemu, tapi aku bahagia bisa memilikinya.Pada saat itu kita bertemu di smp untuk mengambil SKHUN. Aku bahagia bisa bertemu dengannya. Tapi entah kenapa aku merasa malu dengannya. Pada waktu bertemu dia memanggilku _'sayang'_ . Jantungku berdebar-debar. Tetapi aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ya kita sering memanggil sayang tetapi tidak secara langsung, tapi hari itu dia memanggiku sayang. Namanya juga baru pacaran pertama kali jadi ya masih malu-malu. Kita berdua duduk di depan sekolah, ya hanya beberapa kali bercakap. Lebih seringnya tersenyum satu sama lain.Waktu terus berputar maju, hubunganku dengannya masih manis, dan kita juga sering bertemu. Rasanya pun tak canggung lagi. Ya walaupun banyak masalah datang, entah itu PHO dan yang lain. Tapi kita bisa menghadapinya.Menyedihkan pada waktu itu dia menghilang seminggu lebih, aku tak tau mengapa dia hilang. Padahal waktu itu aku sedang membutuhkannya untuk memberiku semangat, karena aku lagi UKK. Menghilangnya dia membuatku tak fokus belajar, pikiranku kacau karenanya. Dan pada saat aku ultah, dia pun msih menghilang. Padahal aku berharap dia ngucapin atau ngasih surprise. ehh ternyata nggak. Hatiku terus bertanya-tanya ke manakah dia? Mengapa dia menghindar dariku? Aku salah ap? Pikiranku dipenuhi dengan semua pertanyaan itu.Liburan semester 1 tiba, dan aku berharap banyak waktu untuk bisa bertemu dengannya. Tapi ternyata tidak. Saat itu dia akan pindah sekolah dan mondok di Banyuwangi. Saat kita bertemu, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya."Kamu sebenernya mau ke mana sih?, kok status facebook kamu gitu," tanyaku."Aku mau pindah yang, aku mau mondok," balasnya."Mondok di mana?""Di Banyuwangi."Aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa diam. Dan pikiranku mulai kacau, _"mengapa dia harus pergi meninggalkan?"_ batinku.Aku menangis setiap harinya. ya kita bakal jarang ketemu atau bahkan tak bisa lagi ketemu.Disaat mendekat hari dia akan pergi. Aku memintanya bertemu, tapi dia selalu tak mau, alasannya karena sedang sibuk.Tapi sehari sebelum dia pergi, kita sempat bertemu. Dan mungkin untuk terakhir kalinya.Kita bertemu di stasiun, ya aku hanya diam dan merasa sebal dengannya. Aku tak berani berbicara, entah kenapa. Mungkin dia marah denganku, karena aku meminta untuk bertemu. Tak ada obrolan yang serius, padahal aku ingin bertemu untuk bicara soal dia pindah. Tapi aku tak berani.Ehh tiba-tiba ada polisi datangin kita."Dek, lagi ngapain di sini? Pacaran kok di sini. Sana pulang," kata polisi."Iya pak." Aku dan Khasan pun pulang.Menyebalkan sekali belum bicara apa-apa udah disuruh pulang aja. Untung saja hp dia ketinggal di aku, aku bingung harus mengembalikan atau membiarkan dia menemuiku. Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumahnya. Tapi tidak sendiri, aku minta temenin temenku. Ya waktu itu aku belum tau tepat rumahnya, tapi aku tau daerah dan arahnya.Di rumah dia, aku disuruh masuk. Tapi aku tidak mau. Aku cuma di samping rumahnya. Ya itu menjadi terakhir kali kita bertemu. Sedih sih, tapi aku tak berani menunjukkan kesedihanku. Ya untuk kenangan aku memberinya jam tangan, couple sama aku. Berbicang-bicanglah aku dengannya."Sayang, i love you," ucap Khasan sambil menciup tanganku.Aku hanya diam dan tersenyum. Baru pertama dia bilang i love you secara langsung, dan mungkin juga yang terakhir kalinya. Dia juga berkata padaku, "sayang, jika kita memang berjodoh, pasti kita dipertemukan kembali.""Amin yang."Hari semakin sore dan aku memutuskan untuk pulang."Hati-hati di jalan yah sayang," kata Khasan."Iya," balasku.Hari itu takkan bisa kulupakan. Hari dimana kita bertemu untuk terakhir kalinya. Dan hari hari berikutnya kita berpisah. Bukan berpisah hubungan, tapi terpisah oleh jarak dan waktu. Membiasakan Hari-hariku tanpa adanya Khasan di sampingku. Menjalin kisah LDR, bagiku berat untuk kujalani. Tapi dengan komitmen dan saling setia, juga saling percaya satu sama lain mungkin kita bisa njalanin hubungan ini. Ya aku tak tau apa hubungan kita akan berjalan mulus atau tidak. Aku hanya bisa berdoa kelak kita berjodoh dan dipertemukan kembali.[ E N D ]

Hurt
Teen
10 Jan 2026

Hurt

Sekitar tiga tahun yang lalu. Bertepatan dengan hari terakhir ujian nasional dilangsungkan. Syafira Putri Angelista sudah siap dengan pakaian putih birunya tidak lupa kerudung putih sebagai peutup auratnya. Dengan pikiran kalut jikalau nanti ia tidak bisa mengerjakan nya bagaimana? Namun dengan tekad yang kuat mengalahkan perasaan kalut yang hinggap di otak cantiknya. Dengan riangnya ia keluar dari kamarnya sambil menenteng tas dipundaknya dan memegang satu buku yang berada Didekapannya.Matanya tiba-tiba berbinar melihat makanan yang tersaji dengan rapih di meja makan, coba saja ia masih mempunyai waktu yang lebih dengan senang hati ia akan menghabiskan makanan itu. Rasanya waktu seakan tidak bisa memberikan ketenangan untuknya. Mengehela nafasnya sejenak. Kaki nya mulai melangkah mendekati ke dua orang tuanya."Pagi," sapanya."Too sayang," ucap serentak kedua orang tuanya."Aku langsung berangkat ya, Nanti sarapannya di sekolah aja bareng Tasya." Syafira mencoba menjelaskan, ia sebenenya merasa bersalah karena tidak menghargai Mamanya."Gapapa ko sayang." Rania, mamanya mengelus kepala Syafira."Yaudah aku berangkat," ucap nya sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya."Hati-hati nak semoga segala urusan mu Dimudahkan oleh Allah Swt." Riko, papanya mengecup kening Syafira dengan lembut."Amin, Assalamualaikum." Syafira Melangkahkan kaki nya keluar rumah."Waalaikumsalam," jawab kedua orang tuanya.Setibanya di kelas 9i suasana sudah sangat ramai untung saja ia tidak telat bisa celaka nantinya.Syafira menghampiri Tasya putri Salah satu sahabat yang sangat baik dan selalu ada untuk nya.Sambil menunggu Bel masuk mereka habisnya waktu nya untuk mengobrol seputar pelajaran.Perasaan penat, pusing bercampur menjadi satu ujian sudah berlangsung sejak 45 menit yang lalu masih ada waktu 15 menit untuk mereka mengerjakan nya.Ujian nasional telah selesai dilangsungkan semua nya segera berucap syukur ada senang nya karena mereka akan menempuh sekolah menengah atas namun ada sedih nya karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah bersama selama 3 tahun."Syafira semoga lo kedepan nya jadi lebih baik dan bisa langgeng sama si kapten basket," ucap Tasya."Amin lo juga ya, terimakasih Tasya udah jadi sahabat terbaik gue, btw si kapten basket itu Arsya Putra fernando, Tasya," ucap syafira gregetan selalu saja Tasya menyebut nya tanpa embel-embel Nama."Sabodolah yang penting eta weh.""Huft yaudah gue mau ke Arsya dulu ya." Tanpa menunggu jawaban sahabat nya ia melenggang pergi menuju kekasih nya.Mata nya menangkap sosok cowok yang sedang tertawa bebas bersama teman-teman nya. Syafira mulai Mendakati sang kekasih."Arsya," panggilnya.Semua teman-teman arsya pergi meninggalkan dua sejoli yang sedang dilanda kasmaran."Hai sini duduk." Arsya menepuk-nepuk kursi yang tepat disamping nya."Eh iya." Syafira pun duduk seraya menatap muka tampan yang status nya menjadi kekasih nya."Aku tau aku tampan tapi jangan diliatin mulu sayang." Arsya mengusap wajah Syafira yang membuat si empu merasa malu."Ihkk kamu mah," rajuk Syafira."Uluhh pacar aku lagi ngambek nih." Dengan gerakan cepat Arsya memeluk Syafira.Waktu singkat mereka habis kan untuk mengobrol bersama serasa dunia milik berdua yang lain cuman ngontrak."Gue yang duluan suka sama lo, kenapa harus sahabat gue yang dapetin sial!" ucap seseorang yang masih menatap dua sepasang kekasih yang nampak sangat bahagia.Sepulang sekolah Syafira menghabiskan waktu nya dikamar saja rasanya ia sangat lelah dan memutuskan untuk tidur.Dilain sisi dua sosok laki-laki dilanda kerisauan antara bingung mempertahankan atau mengikhlaskan."Lo tau kan gue duluan yang suka sama syafira,tapi kenapa dengan jahatnya lo ambil dia dari gue," ucap Alfian sandres." Iya gue tau tapi gue sangat cinta sama Syafira dan gak mungkin gue lepasin dia buat Sahabat gue, mengertilah Alfian."Dengan susah payah Arsya menjelaskan namun Alfian enggan mendengarkan apakah harus Arsya mengalah namun ia pasti yakin Syafira akan marah padanya."Gue gak perduli. Cih! ternyata lo sahabat yang suka nya nusuk dari belakang ya.""Stop Alfian gue buka orang kayak gitu.""Oke gue akan mengikhlaskan Syafira buat lo," lanjutnya.Malam telah tiba. Bulan menerangi langit menggantikan matahari untuk sejenak. Tidak lupa bintang yang bertaburan sebagai pelengkap. Syafira Putri Angelista kini tengah bersiap-bersiap menemui sosok yang sangat ia cintai setelah ayahnya. Tanpa berlama-lama lagi ia sudah siap, entah mengapa perasaan takut hinggap dihatinya. Pikiran kalut seakan-akan menerornya. Pasokan udara sekaan menipis dan hawa dingin menyelimuti raganya. Syafira menghela nafasnya saat matanya bertemu dengan sosok cowok bertubuh tinggi yang sedang membelakanginya."Arsya," panggil Syafira, merasa namanya terpanggil cowok itu memutar balik tubuhnya menghadap Syafira."Ada yang ingin ku sampaikan," ucap Arsya."Baiklah"."Syafira Putri Angelista maaf dengan ini Arsya Putra Fernando harus memutuskan hubungan kita secara sepihak".Bagai tersambar petir di siang bolong, Syafira nampak terkejut akan ucapan kekasihnya."Kenapa harus putus?" tanya Syafira dengan suara serak menahan tangis."Sahabatku mencintaimu, dan aku akan melepaskan mu untuk nya. Kumohon terimalah ia dan berikan hati mu untuk nya"."Kau egois Arsya apa kau pernah mementingkan perasaanku? Aku tau Alfian suka padaku, apa kau tega menumbalkan perasaan ku untuknya?""Sejauh apapun kau memaksaku, jika hatiku berpihak padamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.""Untuk apa kita putus, jika kita saling mencintai?"Syafira pergi dengan perasaan hancur berkeping-keping kisah cintanya harus kandas dengan cara seperti ini. Menangis dan berteriak sekencangnya adalah hal tak terduga yang berasal dari dirinya.Taman awal tempat kisah cinta berlabuh kini terasa menyeramkan untuk syafira awal kesedihan dah kepedihan bersatu dan menjadi tempat bersejarah saat mengenang dia.Mencintaimu adalah Anugerah terindahMemilikimu adalah bonus tuhan tersembunyi.Jika tidak bisa bersama,mengapa kamu menawarkan hati ini untuk orang lain.Perasaan bukan lah ajang bergengsi, jika mencintai mu aku bahagia mengapa kamu menawarkan hati yang baru untuk singgah. Cinta memang aneh datang dengan proses dan pergi begitu saja.[ E N D ]

Over Jou
Teen
09 Jan 2026

Over Jou

Saudara ya?Saat mendengar itu, aku langsung teringat kakakku. Dia benar benar orang yang kuat.Sejak kami masih kecil, dia terus melindungiku. Rela dipukul Ayah demi menutupi kesalahanku, rela dicaci Ibu agar cacian Ibu tidak ditujukan untukku.Tapi bukan berarti Ibu dan Ayah akan selalu memujiku. Kami sama sama tidak disukai mereka. Dan kami tidak tahu apa salah kami. Apakah karena kami terlahir ke dunia ini, atau karena kami hanya membebani mereka.Kakak memutuskan untuk membawaku pergi dari rumah, dengan harapan agar kami terlepas dari siksaan ayah dan ibu. Tapi tak ada bedanya walau kami keluar dari rumah.Ayah menyewa preman untuk membawa kami pulang, kami dihajar habis habisan dan diseret pulang. Lalu kami kabur lagi. Seperti itu terus berulang.Sampai kami berhasil keluar kota tanpa meninggalkan jejak untuk para preman itu.Kakak sangat memikirkanku. Di tengah malam saat kakak sudah tertidur lelap, aku menangis tanpa suara. Dia sangat menderita, dan itu hanya untuk melindungiku. Aku ingin membantunya, aku ingin meringankan bebannya. Tapi dia selalu menolak, dan akan memarahiku saat aku nekat menolongnya.Dia bahkan berhenti sekolah untuk terus membiayai sekolahku, bekerja dari pagi sampai malam setiap hari dengan gaji yang pas pasan.Aku pernah mendatangi kakak saat dia bekerja, dan pemandangan tak mengenakan yang terlihat olehku. Lagi lagi kakak mendapatkan cacian dari orang sekitarnya. Dari teman serekannya, managernya, bahkan pelanggannya.Dan bodohnya aku, aku hanya bisa terdiam dengan air mata yang mengalir, lalu lekas bersembunyi saat kakak hampir melihatku.Setiap makan malam aku bertanya padanya "apa kakak benar benar tidak mau aku membantumu?"Dan dia hanya tersenyum manis sambil mengusap kepalaku "kamu tidak perlu mengkhawatirkan kakak, semua ini tidak berat untuk kakak"Dia tertawa, membuatku juga menarik tawaku dengan hati yang sakit.Suatu hari saat kakak akan berangkat bekerja aku mengatakan suatu hal padanya "kakak, kamu tidak perlu menanggung beban yang berat sendirian. Aku ada disini, disisimu"Kakak tersenyum dan mengusap kepalaku. Tapi siapa yang sangka kalu itu adalah senyuman dan usapan terakhir darinya?Aku diberitahukan bahwa kakakku telah tewas terbunuh akibat peluru tanpa arah.Hahhhh... Mengesalkan!Bagaimana bisa selama 17 tahun aku hidup dan aku tidak pernah melihat kakakku menangis?Dua hari setelah kematian kakak, bos ditempat kerjanya menghampiriku dan memberikan sebuah amplop. Di dalam amplop itu terdapat sebuah surat dan uang. Kata bos, uang itu adalah tabungan kakakku yang dititipkan padanya.Bahkan dari suratnya, tidak ada satu katapun yang menjelaskan betapa kesusahannya dia. Dia hanya mengkhawatirkanku, dan berkata aku harus hidup lebih baik.Hei kak! Apa bahkan kau tidak bisa meluapkan kesedihanmu bahkan setelah kau tiada?!Aku meremas kesal surat itu. Kalimat terakhirnya mengatakan dengan jelas apa yang dia rasakan selama ini.'Yahh... Kamu tidak akan tau kapan kamu pergi ya hahaha.. Kakak tidak mau membuatmu sedih, semua cacian, pukulan, hinaan, ejekan, atau apapun itu tidak lebih berat daripada melihatmu merasa sedih, kamu harus bahagia, Shou'Waktu yang kuhabiskan diseluruh tengah malamku adalah bersedih kak. Apa kamu keberatan saat aku mengkhawatirkanmu? Sebegitu kamu tidak maunya melibatkanku dalam masalahmu?!Hufff ... Setelah 3 tahun kematian kakak, ayah menemukan keberadaanku. Dia marah, sangat sangat marah. Tapi juga tersirat kesedihan dalam matanya.Ternyata selama kami kabur dari rumah dan tak pernah kembali lagi, ibu mulai sakit sakitan. Ayah bilang, semua malam ibu dihabiskan untuk menangis dan meminta maaf pada aku dan kakak dengan menyebut nama kami.Aku tidak harus memberikan reaksi seperti apa, karena aku tidak merasa senang atau pun sedih dengan kabar itu.Saat ayah menyadari bahwa kakakku tidak terlihat, aku mengatakan dengan mata berkaca bahwa kakak sudah meninggal 3 tahun lalu.Ayah tidak bereaksi, duduknya yang awalnya tegap, mulai merosot lemah. Matanya menyiratkan penyesalan. Tapi kami tidak bisa berbuat apapun.Setelah 3 hari ayah menginap di rumahku, ia membujukku untuk pulang menemui ibu dengan lembut. Tapi yang terlintas dalam benakku adalah _'itu sudah terlambat kan?'_Aku menolaknya, dengan alasan aku bekerja. Dan berjanji akan menemui ibu kapan kapan. Tapi dalam hati pun aku ragu, apa aku sanggup pulang kerumah? Rumah dimana awal semua beban kakak tertimbun, rumah dari rasa sedih, kesal, marah, dan benci kakak yang tertimbun dengan dedaunan gugur.Aku ingin berkunjung sekali, tapi aku takut melihat bayanganku saat kecil yang tidak bisa apa apa dan hanya memberatkan kakak.Tapi bertahun tahun kemudian waktu berlalu, aku sudah bisa berdamai dengan masa lalu."Kak, lihatlah keponakanmu yang lucu ini, mereka hidup lebih bahagia daripada kita kak. Ayah dan ibu juga memperlakukan mereka dengan baik. Mereka kakek dan nenek yang baik. Apa kau bahagia melihat ini kak? Apa bebanmu mulai runtuh?Entah bagaimana, buku diari dan surat terakhir kakak benar benar terwujud. Kakak menaruh impian yang sangat besar kepadaku. Dia mengabaikan kebahagiaannya demi kesuksesanku, dia merawat mentalku dari cacian orang orang.Kak, kamu adalah seorang anak yang luar biasa. Kamu adalah pahlawan yang menyelamatkan hidupku walau masa remajamu terlewatkan.Aku harap dikehidupan berikutnya, kamu bisa hidup dengan penuh kebahagiaan tanpa ada rasa yang tertimbun lagi.Dari adikmu, Shou.[ E N D ]

Gara-gara Bikin KTP
Teen
09 Jan 2026

Gara-gara Bikin KTP

Selasa, 8 september 2020 tanggal dimana Lora dilahirkan, tepat 17 tahun usianya. _sweet seventeen_ usia yang menurutnya sangat penting. Usia spesial, usia dimana masuk dunia remaja.Tepat pukul 00.00 banyak sekali yang mengucapkan ucapan untuknya. Yang pertama orang tuannya. Mereka tidak pernah lupa hari istimewa anaknya ini. Papanya memberi kado sebuah gitar, papanya memang tau keinginan Lora. Lora memiliki hobbi berkebun, maka dari itu ibunya membelikannya kado tanaman sukulen 20 pot. Betapa bahagiannya dia.Kemudian ucapan dari Saudara-sepupunya, tak lupa sahabat terdekatnya, dari teman Paud, SD, SMP sampai SMA nya membanjiri kolom _chat whatsapp_ nya. Oh ya, mantan Lora. Jangan sampai tertinggal, dia pun ikut serta mengucapkan doa-doa yang siap diaminkan Lora.___Pukul 05.00 Lora bangun dari tidurnya, mengecek isi hp nya dari mulai _whatsapp, telegram sampai instagram_-nya banyak sekali yang mengucapkan doa. Lora membalas doa mereka dengan kalimat _'aamiin, terimakasih banyak'_ kalimat yang mewakili seluruh perasaannya saat ini. Harapannya semua doa-doa dari mereka terkabul, aamiin.Kemudian Lora bergegas mandi dan mengerjakan sholat, memanjatkan syukur atas apa yang telah Allah berikan selama 17 tahun ini. Tak lupa menyiapkan seragam sekolahnya karna hari ini jadwal kelas 11 Luring.Sampai disekolah, Lora langsung disambut oleh guru dan teman-temannya. Mereka semua mengucapkan Selamat Ulang Tahun saat bertemu di jalan menuju kelasnya.Namun Lora sedikit kecewa, karena ke-3 sahabatnya memang benar-benar lupa hari ulang tahunnya. Mereka benar-benar cuek. Padahal mereka tau semua orang yang bertemu Lora mengucapkan Selamat untuknya.Dikelas pun mereka acuh, bertanya ketika pelajaran berlangsung, namun tidak peka apa yang Lora mau dari mereka. Sedih? Sangat sedih, apa mereka yang disebut sahabat.___Pulang sekolah, Lora pulang dalam keadaan lesu karna hal yang menurutnya sepele tadi. Namun tidak di sangka, ternyata sahabatnya datang kerumah dan membawakan kue dan kado. Lora terharu, mereka menyembunyikan ini semua tadi disekolah. Salsa, Cici, Dini memang sahabat terbaik.___Memang hari ini hari bahagia Lora, namun tak berangsur lama, adik dari kakeknya meninggal dunia pada hari itu juga. Astaga, gimana jadi Lora? Dia baru saja merasakan bahagia tapi bahagiannya sementara. Kenapa Allah memberikan ujian seberat ini. Paginya dia bersenang-senang memang, namun sorenya? Oh astaga. Kenapa harus bareng sih?Malam hari dia langsung ke rumah kakek, melayat, membantu mempersiapkan segala keperluan, tak lupa mendoakannya. Memang itu yang bisa dilakukan Lora. Sedih? Memang. Namun Lora tidak mau berlarut dalam kesedihan itu. Cukup! Hari ini memang hari yang ... Ah ... gak tau gimana jelasinnya.___5 hari berlalu, tepat 17 tahun 5 hari umur Lora. Lora berencana akan membuat KTP masal bersama sepupunya. Mereka mempersiapkan dokumen-dokumen untuk dibawa ke Kantor Camat.Sesampainya di Kantor Camat, Lora segera berantri untuk mendapatkan giliran lebih awal, namun keduluan orang lain. Cowok seumuran Lora, tetapi Lora tidak mengenalnya."Ih apaan sih lo? Gua duluan tadi," kesal Lora."Siapa cepat dia dapat dong!" jawab cowok itu."Tapi gua duluan tadi yang maju, ih nyebelin banget sih lo. Tau ah sebel gua." Lora memutuskan keluar dari antrian dan duduk dikursi tunggu."Loh mbak kok duduk doang, ayo buruan antri, ntar kuotanya habis lo! Kurang 1 orang doang katanya si bapak botak itu," ucap Fingkan-adik sepupu Lora."Iya iya, kok lo udah selesai duluan sih. Jangan ninggalin gua lo ya!" ucap Lora."Tinggal nunggu panggilan buat foto KTP sih, masih rame tuh, mau benerin kerudung dulu di toilet, duluan ya." Fingkan meninggalkan Lora.Lora memutuskan untuk antri lagi, tepat dibelakang cowok tadi. Antrian cukup cepat, kini giliran cowok di depan Lora yang maju duluan."Devanio Adji Wiraganda" Cowok itu maju. Sekarang Lora tahu nama cowo nyebelin tadi. Lora memperhatikan punggung cowok itu, seraya menyumpah serapahnya."Kalo gua duluan tadi, ga mungkin gua yang terakhir," dumel Lora. Cowok itu telah selesai dan mundur dari barisan, namun tak sengaja menabrak pundak kiri Lora, alhasil berkas-berkas yang dibawa Lora bejatuhan."Ih kalo jalan tuh pake mata dong! Jatuh semua kan!" Marah Lora."Ya sorry dong, lu aja yang kurang minggir. Dan 1 lagi, jalan tuh pake Kaki, mata itu buat ngeliat," elak Devan."Eh adik-adik jangan berantem, ini tempat umum, jangan lupa jaga jarak," lerai petugas administrasi.Lora dan Devan balas dengan nyengir doang._'Emang gabisa sopan nih 2 bocah,'_ batin petugas tadi."Kurang minggir gimana? Jelas-jelas jalan tuh masih lebar tuh, kenapa mepet-mepet gua sih? Modus ya lo?" tuduh Lora."Enak aja klo ngomong, yaudahlah terserah lu, gua duluan, bay!" Devan pergi meninggalkan Lora."Dasar cowo nyebelin, gak ada akhlak!" teriak Lora membuat semua orang menatap Lora bingung."Emilda Putri Fafialora Modista" panggil petugas administrasi. Lora menyerahkan semua dokumennya."Oke lengkap, Silahkan tunggu panggilan buat foto ya," ucap petugas tadi, yang dibalas anggukan kepala Lora.Lora duduk dikursi tunggu, sesuai nomor antrain, dan tak lupa jaga jarak 1 kursi. Dan ya, dia bersebelahan dengan Devan.Devan melirik Lora, dia berkeinginan untuk berkenalan. Dengan berat hati dan tingkat ke kepoan Devan, akhirnya dia memutuskan untuk mengulurkan tangannya ke arah Lora."Gua Devan, sorry buat yang tadi," ucap Devan sedikit gengsi."Gua Lora! Ya. Sorry social distancing," jawab Lora tanpa membalas uluran tangan Devan. Devan menepuk jidatnya lupa kalau harus menjaga jarak."Lu bikin KTP juga disini?" tanya Devan."Enggak, antri sembako! " dusta Lora."Ya iyalah bikin KTP, jelas-jelas tadi antri di antrian administrasinya KTP," sinis Lora."Ya santuy aja dong jangan ngegas, cuma nanya doang, gua kira antri bpjs." Dibalas tawa Devan. Namun tak dibalas Lora.Akhirnya mereka pun selesai berfoto dan keluar dari kantor ini. Lora dan Fingkan berencana mampir di warung bakso untuk mengganjar perutnya. Tak disangka ternyata Devan juga mampir di warung itu juga."Loh lo kok disini juga, lo buntutin gua ya? Mau apa sih lo?" cerocos Lora."Dih, ga usah ge-er gua mau makan disini. Bakso ini kan favorit gua," jawab Devan membuat malu Lora.Mereka menikmati makanannya. Pandangan tak luput dari Lora yang makan dengan lahabnya, Devan pikir, Lora emang belum makan 1 tahun kayaknya. Wkwk.Lora sadar kalau Devan menatapnya pun, menegur Devan."Kenapa lo liatin gua? Suka?" tanya Lora dengan pede-nya."Idih jadi orang tuh jangan ke ge-eran deh, tuh cape nyepil di gigi lo!" Disambut dengan tawa Fingkan. Astaga, Lora jadi malu sendiri."Ih apaan sih? Udah diem lo!" tunjuk Lora ke arah Devan. Makanpun selesai. Lora dan Fingkan mampir di minimarker buat beli minyak goreng pesanan mama Fingkan. Dan lagi, Devan juga sama. Mereka bertemu lagi."Lo lagi Lo lagi, kenapa sih ketemu terus, lo ngikut mulu? Mau apa? Minta no wa?" Lora sebal, diikuti terus oleh Devan."Gua mau beli cemilan ga usah ge-er, boleh deh kalo dikasih!" ucap Devan sambil memberikan hpnya."Ya karna gua baik, oke gua kasih! Jangan disebarin, inget lo." Lora mengetikkan no wa nya di hp Devan."Tunggu chat dari gua," balas Devan.Mulai saat itu mereka dekat, malam hari selalu chatan, berangkat sekolah Lora selalu dijemput Devan karena mereka memang satu sekolah. Sering ngecafe berdua. Entah hubungan mereka itu sahabat atau lebih, yang jelas lebih dari teman, biar mereka berdua yang tahu.Pertemuan mereka memang menyebalkan menurut Lora, tapi siapa sangka mereka malah jadi dekat karena membuat KTP.[ E N D ]

Gadis PMR
Teen
07 Jan 2026

Gadis PMR

"Bahkan jika pedang tajam sekalipun merobek kulitku, rasa sakitnya tidak akan terasa jika bersama orang yang kucintai,"Suasana sekolah SMA Cendrawana hari ini sangatlah ramai, karena saat ini adalah jam istirahat dimana semua murid akan mengisi perut kosong mereka dengan makanan tetapi berbeda dengan Rangga Suryantara selaku ketua tim basket disekolah SMA Cendrawana, dirinya memanfaatkan jam istirahat dengan bermain basket bersama dengan teman-temannya.Rangga sendiri tengah asik mendribbling bola lalu mulai mengoper bola tersebut kepada teman-temannya, hingga bola sekarang beralih kepada JunaKini bola beralih pada Juna dia mendribbling bola dengan segenap kemampuannya setelah puas memantulkan bola ketanah Juna bermaksud ingin mencetak poin, tetapi lemparan bolanya meleset dan mengenai pelipis Rangga, hal itu sontak membuat teman-teman Rangga kahwatir lalu menghampiri-nya yang tengah terduduk sambil memegangi pelipisnya"lo nggak kenapa kan Rang?" tanya Juna terlihat kahwatir dengan keadaan Rangga terlihat jelas bagian pelipis Rangga robek dan mengeluarkan darah akibat ulahnya yang teledor."maaf rang gue bener-bener gak sengaja," sesal Juna pada Rangga"udah gak papa lagian ini cuman luka kecil," Rangga beranjak dari duduknya. "gue mau ke UKS ngobatin luka gue,""sekalian lo ngebucin kan?" tanya Devan disertai ledekan."tau aja lo udah lah kalian lanjut aja main nya gue cabut dulu," ucap Rangga lalu pergi meinggalkan lapangan basket dan pergi menuju UKS"DASAR BUCIN!!" ucapan Devan membuat teman-temannya tertawa geli" Bilang aja lo iri kann makanya cari pacar sono, ngejomblo mulu lo!""sialan lo Rangga!" Rangga tidak menghiraukan teriakan Devan dirinya memilih untuk melanjutkan jalannya menuju UKS*****Sesampainya diUKS, Rangga melihat seorang perempuan berambut panjang sepinggang lengkap dengan bando merah muda menjadi pelengkap penampilannya sehingga menambah kesan manis pada dirinya, tanpa Rangga amati lebih lanjut pun dia sudah bisa mengenali bahwa gadis itu adalah pacarnya yaitu Nori HanaswariRangga maju melangkah lalu mengahampiri gadis yang menjadi pacarnya itu"ekhemm!" panggil Rangga tersenyum manis , Nori terperanjat kaget, lalu menoleh kebelakang dan melihat Rangga pacarnya tersenyum memperlihatkan deretan gigi nya"Rangga ishh! kamu ini kebiasaan banget ngagetin orang!" Nori memukul lengan Rangga dengan keras, tapi bukannya sakit Rangga malah tersenyum lalu tertawa kecil melihat pacaranya yang bertingkah menggemaskan"ngapain kamu disini?" tanya Nori yang tidak peka dengan keadaan Rangga karena dirinya sibuk merapikan obat-obatan yang berada dilemari, sifat Nori yang tidak peka membuat Rangga menjadi kesal"pacar sendiri luka gak diobat in gitu?"Hah!? Kamu luka kok bisa?" tanya Nori lalu melihat keadaan Rangga, dan benar saja Nori melihat keadaan pelipis Rangga yang terluka memperlihatkan darah kering disana"hmm, aku abis latihan basket," kata Rangga jujur"kok latihan basket sampek luka gitu sih! duduk dulu sana, bentar aku obat in mau ambil Ethanol sama Kapas dulu,"Rangga duduk dipinggir ranjang UKS menuruti apa yang dikatakan sang pacar, Nori pun mengambil kotak PK3 yang berada diatas meja mengambil Ethanol dan kapas seperlunya nya lalu dia menghampiri Rangga dan duduk tepat disebelahnya, Nori mulai mengobati sang pacar dengan hati-hati"makanya main basket itu hati-hati, gini kan jadinya," nada bicara Nori terdengar kahwatir terlihat juga dari sorot matanya memancarkan rasa kahwatirRangga yang melihat Nori perhatian padanya tertawa kecil sambil menatap wajah pacarnya dengan intens"ngapain kamu ketawa?" Nori sudah selesai mengobati luka Rangga tapi tangannya masih berada dipelipis Rangga"suka aja liat kamu kahwatir kayak gitu," jawab Rangga sambil menahan senyum"aku itu khawatir kamu malah ketawa ketawa gak jelas!" Nori memencet luka Rangga dan membuat sang empu mengaduh kesakitan"ehh Nor! sakit tauk aduhh!" omel Rangga menahan sakit"biarin aja kamu ngeselin sih!""ngeselin gini tapi ngangenin kan?" Nori melotot menatap Rangga tajam setelah mendengar apa yang dikatakan Rangga." GEER KAMU IHH!" ucap Nori pada Rangga lalu beranjak dari pinggir ranjang UKS"aku laper kantin yok, kamu pasti belum makan," ajak Rangga menarik tangan Nori." ehh Rangga aku kan belum laper ihh!" Nori menolak ajakan Rangga untuk makan padahal perut nya sudah meronta untuk di isi makanan cuman karena gengsi Nori menolak ajakan Rangga"mulut kamu bilang gak laper tapi perut kamu itu gak bisa bohong, udahh aku gak terima penolakan!" tegas Rangga dengan ucapannyaDengan wajah merah menahan malu Nori pun setuju dengan ajakan Rangga lalu pergi menuju kantin*****Rangga dan Nori telah sampai dikantin, suasana kantin sangat lah ramai, semua murid tengah santai memakan makanan yang berada didepan mereka hingga Rangga mengajak Nori untuk duduk dibangku paling belakang"kamu mau pesen apa? biar aku pesenin," tanya Rangga menanyakan apa yang di inginkan sang pacar"aku pesen batagor sama es jeruk aja," jawab Nori memberitahu pesanannya, Rangga lalu beranjak untuk pergi ke stan makanan untuk memesan15 Menit kemudian Rangga datang sambil membawa nampan pesanan dirinya dan Nori"nih buat tuan putri," ucap Rangga tersenyum, Nori merasa malu dibuat oleh perlakuan manis Rangga pada dirinyaNori bermaksud untuk makan tapi sesuatu menganjal pikirannya." kamu kok gak makan?" tanya Nori pada Rangga."aku pengen disuapin hihi," ucap Rangga lalu tersenyum"manja banget kamu, kan kamu punya tangan manfaatkan tangannya," jelas Nori menolak permintaan Rangga."yaudah kalok gitu aku gak mau makan","ehh! kok gitu gak baik makanannya dibuang Rangga!" tagas Nori." pokoknya suapin baru aku mau makan!" Rangga menunjukan puppy eyes nya dan itu membuat Nori tidak tega mau tidak mau dirinya harus menyuapi Rangga."yaudah iya sini piringnya," Rangga meyerahkan piring yang berisi mekanan pada NoriKini Nori mulai menyuapi Rangga walaupun pacarnya terkesan menyebalkan tapi itu mebuat dirinya menjadi makin menyayanginya"aku beruntung banget punya kamu pokoknya aku gak bakal bikin kamu kecewa!" ucap Rangga disela-sela makannya."aku kalok lukasebanyak apapun kalok obatnya kamu pasti aku cepet sembuh"Nori mendengar kata demi kata yang diucapkan Rangga, kata itu membuat dirinya merasa beruntung memiliki sosok Rangga yang selalu perhatian dan begitu menyayanginya"aku juga beruntung punya kamu," ucap Nori tulus lalu menyuapi Rangga lagi, Rangga yang mendengar kalimat itu dari Nori mampu membuatnya yakin dan bertekad tidak akan mengecewakan gadis yang berada didepannya. Gadis PMR yang akan selalu menjadi obatnya untuk sekarang, besok atau pun selamanya.[ E N D ]

Gara-gara Bikin KTP
Teen
07 Jan 2026

Gara-gara Bikin KTP

Selasa, 8 september 2020 tanggal dimana Lora dilahirkan, tepat 17 tahun usianya. _sweet seventeen_ usia yang menurutnya sangat penting. Usia spesial, usia dimana masuk dunia remaja.Tepat pukul 00.00 banyak sekali yang mengucapkan ucapan untuknya. Yang pertama orang tuannya. Mereka tidak pernah lupa hari istimewa anaknya ini. Papanya memberi kado sebuah gitar, papanya memang tau keinginan Lora. Lora memiliki hobbi berkebun, maka dari itu ibunya membelikannya kado tanaman sukulen 20 pot. Betapa bahagiannya dia.Kemudian ucapan dari Saudara-sepupunya, tak lupa sahabat terdekatnya, dari teman Paud, SD, SMP sampai SMA nya membanjiri kolom _chat whatsapp_ nya. Oh ya, mantan Lora. Jangan sampai tertinggal, dia pun ikut serta mengucapkan doa-doa yang siap diaminkan Lora.___Pukul 05.00 Lora bangun dari tidurnya, mengecek isi hp nya dari mulai _whatsapp, telegram sampai instagram_-nya banyak sekali yang mengucapkan doa. Lora membalas doa mereka dengan kalimat _'aamiin, terimakasih banyak'_ kalimat yang mewakili seluruh perasaannya saat ini. Harapannya semua doa-doa dari mereka terkabul, aamiin.Kemudian Lora bergegas mandi dan mengerjakan sholat, memanjatkan syukur atas apa yang telah Allah berikan selama 17 tahun ini. Tak lupa menyiapkan seragam sekolahnya karna hari ini jadwal kelas 11 Luring.Sampai disekolah, Lora langsung disambut oleh guru dan teman-temannya. Mereka semua mengucapkan Selamat Ulang Tahun saat bertemu di jalan menuju kelasnya.Namun Lora sedikit kecewa, karena ke-3 sahabatnya memang benar-benar lupa hari ulang tahunnya. Mereka benar-benar cuek. Padahal mereka tau semua orang yang bertemu Lora mengucapkan Selamat untuknya.Dikelas pun mereka acuh, bertanya ketika pelajaran berlangsung, namun tidak peka apa yang Lora mau dari mereka. Sedih? Sangat sedih, apa mereka yang disebut sahabat.___Pulang sekolah, Lora pulang dalam keadaan lesu karna hal yang menurutnya sepele tadi. Namun tidak di sangka, ternyata sahabatnya datang kerumah dan membawakan kue dan kado. Lora terharu, mereka menyembunyikan ini semua tadi disekolah. Salsa, Cici, Dini memang sahabat terbaik.___Memang hari ini hari bahagia Lora, namun tak berangsur lama, adik dari kakeknya meninggal dunia pada hari itu juga. Astaga, gimana jadi Lora? Dia baru saja merasakan bahagia tapi bahagiannya sementara. Kenapa Allah memberikan ujian seberat ini. Paginya dia bersenang-senang memang, namun sorenya? Oh astaga. Kenapa harus bareng sih?Malam hari dia langsung ke rumah kakek, melayat, membantu mempersiapkan segala keperluan, tak lupa mendoakannya. Memang itu yang bisa dilakukan Lora. Sedih? Memang. Namun Lora tidak mau berlarut dalam kesedihan itu. Cukup! Hari ini memang hari yang ... Ah ... gak tau gimana jelasinnya.___5 hari berlalu, tepat 17 tahun 5 hari umur Lora. Lora berencana akan membuat KTP masal bersama sepupunya. Mereka mempersiapkan dokumen-dokumen untuk dibawa ke Kantor Camat.Sesampainya di Kantor Camat, Lora segera berantri untuk mendapatkan giliran lebih awal, namun keduluan orang lain. Cowok seumuran Lora, tetapi Lora tidak mengenalnya."Ih apaan sih lo? Gua duluan tadi," kesal Lora."Siapa cepat dia dapat dong!" jawab cowok itu."Tapi gua duluan tadi yang maju, ih nyebelin banget sih lo. Tau ah sebel gua." Lora memutuskan keluar dari antrian dan duduk dikursi tunggu."Loh mbak kok duduk doang, ayo buruan antri, ntar kuotanya habis lo! Kurang 1 orang doang katanya si bapak botak itu," ucap Fingkan-adik sepupu Lora."Iya iya, kok lo udah selesai duluan sih. Jangan ninggalin gua lo ya!" ucap Lora."Tinggal nunggu panggilan buat foto KTP sih, masih rame tuh, mau benerin kerudung dulu di toilet, duluan ya." Fingkan meninggalkan Lora.Lora memutuskan untuk antri lagi, tepat dibelakang cowok tadi. Antrian cukup cepat, kini giliran cowok di depan Lora yang maju duluan."Devanio Adji Wiraganda" Cowok itu maju. Sekarang Lora tahu nama cowo nyebelin tadi. Lora memperhatikan punggung cowok itu, seraya menyumpah serapahnya."Kalo gua duluan tadi, ga mungkin gua yang terakhir," dumel Lora. Cowok itu telah selesai dan mundur dari barisan, namun tak sengaja menabrak pundak kiri Lora, alhasil berkas-berkas yang dibawa Lora bejatuhan."Ih kalo jalan tuh pake mata dong! Jatuh semua kan!" Marah Lora."Ya sorry dong, lu aja yang kurang minggir. Dan 1 lagi, jalan tuh pake Kaki, mata itu buat ngeliat," elak Devan."Eh adik-adik jangan berantem, ini tempat umum, jangan lupa jaga jarak," lerai petugas administrasi.Lora dan Devan balas dengan nyengir doang._'Emang gabisa sopan nih 2 bocah,'_ batin petugas tadi."Kurang minggir gimana? Jelas-jelas jalan tuh masih lebar tuh, kenapa mepet-mepet gua sih? Modus ya lo?" tuduh Lora."Enak aja klo ngomong, yaudahlah terserah lu, gua duluan, bay!" Devan pergi meninggalkan Lora."Dasar cowo nyebelin, gak ada akhlak!" teriak Lora membuat semua orang menatap Lora bingung."Emilda Putri Fafialora Modista" panggil petugas administrasi. Lora menyerahkan semua dokumennya."Oke lengkap, Silahkan tunggu panggilan buat foto ya," ucap petugas tadi, yang dibalas anggukan kepala Lora.Lora duduk dikursi tunggu, sesuai nomor antrain, dan tak lupa jaga jarak 1 kursi. Dan ya, dia bersebelahan dengan Devan.Devan melirik Lora, dia berkeinginan untuk berkenalan. Dengan berat hati dan tingkat ke kepoan Devan, akhirnya dia memutuskan untuk mengulurkan tangannya ke arah Lora."Gua Devan, sorry buat yang tadi," ucap Devan sedikit gengsi."Gua Lora! Ya. Sorry social distancing," jawab Lora tanpa membalas uluran tangan Devan. Devan menepuk jidatnya lupa kalau harus menjaga jarak."Lu bikin KTP juga disini?" tanya Devan."Enggak, antri sembako! " dusta Lora."Ya iyalah bikin KTP, jelas-jelas tadi antri di antrian administrasinya KTP," sinis Lora."Ya santuy aja dong jangan ngegas, cuma nanya doang, gua kira antri bpjs." Dibalas tawa Devan. Namun tak dibalas Lora.Akhirnya mereka pun selesai berfoto dan keluar dari kantor ini. Lora dan Fingkan berencana mampir di warung bakso untuk mengganjar perutnya. Tak disangka ternyata Devan juga mampir di warung itu juga."Loh lo kok disini juga, lo buntutin gua ya? Mau apa sih lo?" cerocos Lora."Dih, ga usah ge-er gua mau makan disini. Bakso ini kan favorit gua," jawab Devan membuat malu Lora.Mereka menikmati makanannya. Pandangan tak luput dari Lora yang makan dengan lahabnya, Devan pikir, Lora emang belum makan 1 tahun kayaknya. Wkwk.Lora sadar kalau Devan menatapnya pun, menegur Devan."Kenapa lo liatin gua? Suka?" tanya Lora dengan pede-nya."Idih jadi orang tuh jangan ke ge-eran deh, tuh cape nyepil di gigi lo!" Disambut dengan tawa Fingkan. Astaga, Lora jadi malu sendiri."Ih apaan sih? Udah diem lo!" tunjuk Lora ke arah Devan. Makanpun selesai. Lora dan Fingkan mampir di minimarker buat beli minyak goreng pesanan mama Fingkan. Dan lagi, Devan juga sama. Mereka bertemu lagi."Lo lagi Lo lagi, kenapa sih ketemu terus, lo ngikut mulu? Mau apa? Minta no wa?" Lora sebal, diikuti terus oleh Devan."Gua mau beli cemilan ga usah ge-er, boleh deh kalo dikasih!" ucap Devan sambil memberikan hpnya."Ya karna gua baik, oke gua kasih! Jangan disebarin, inget lo." Lora mengetikkan no wa nya di hp Devan."Tunggu chat dari gua," balas Devan.Mulai saat itu mereka dekat, malam hari selalu chatan, berangkat sekolah Lora selalu dijemput Devan karena mereka memang satu sekolah. Sering ngecafe berdua. Entah hubungan mereka itu sahabat atau lebih, yang jelas lebih dari teman, biar mereka berdua yang tahu.Pertemuan mereka memang menyebalkan menurut Lora, tapi siapa sangka mereka malah jadi dekat karena membuat KTP.[ E N D ]

Ini yang Terbaik
Teen
07 Jan 2026

Ini yang Terbaik

“ Kadang , pertemuan dan perpisahaan terjadi terlalu cepat . Tapi , kenangan dan perasaan tinggal terlalu lama .”— Nisya Maheera•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••“Hm, kamu mau melanjutkan sekolah dimana?” tanya seseorang yang tak lain adalah sahabatku dari awal masuk sekolah smp ini, panggil saja Naura.“entahlah, aku masih bingung dengan keputusanku ini,” jawabku seadanya. Aku pun meninggalkan sahabatku yang super bawel ini sendirian di dalam kelas.Kini aku duduk di sebuah bangku taman belakang sekolah yang jarang dilalui oleh para murid-murid di sekolah ini. Kutatap awan berkapas putih yang cerah, dan membiarkan kerudungku terombang-ambing oleh semilir angin. Disela ku duduk sendiri dan hanya menatap langit biru, ada seseorang memanggilku.“Nisya!” suara yang sangat familiar di telingaku. Aku yang dipanggil hanya terdiam tak bergeming sedikit pun."Nis,kok kamu ninggalin aku di dalam kelas sendirian? Dan sekarang kenapa kamu duduk sendiri disini? Apa kamu marah denganku?” Pertanyaan bertubi-tubi dari sahabatku yang super bawel.Hufft, kutarik nafas untuk berbicara langsung sesuai isi hatiku, namun sepertinya sulit mengungkapkan, tak kurasa air bening keluar dari mata coklatku membuat sahabatku ini menoleh dan menatapku tajam. Kami selalu meluangkan waktu untuk berbagi cerita saat senang maupun sedih.“Nis, kalau punya masalah cerita aja, aku bakalan dengerin. Jangan buat aku jadi khawatir”.“Hiks.. Aku”. Entah kenapa hati dan mulut sulit untuk disatukan dalam pengucapan.“ya udah kalau begitu. jika kamu ingin menceritakan masalahmu, ceritakan padaku saja, aku akan menjadi pendengar yang baik hanya dengan sahabatku tersayang.“makasi Nau,” kata itu mengakhiri pembicaraan kita.Tak sadar matahari telah terbenam dan terganti oleh langit senja. Kini aku sudah berada di dalam rumah. Aku termenung sambil melihat pemandangan di luar jendela dan sesekali aku berpikir.“mungkin, lebih baik aku tidur daripada berpikir keras yang bahkan membuatku pusing”.Jarum jam berjalan dengan cepat, berjalan melewati ruang tiap detiknya. Pagi yang cerah dengan kicauan burung yang terdengar merdu setiap paginya membuatku bangun dan mempersiapkan diri pergi ke sekolah setiap harinya.Saat istirahat, aku dan Naura datang ke tempat ini, beralaskan rumput hijau dan bernuansa sejuk dengan dikelilingi tumbuhan segar yang baru dibasahi oleh tetesan air hujan. Tempat seperti kemarin, di belakang taman sekolah.“Nis, kemarin aku belum tau penyebab kamu nangis tiba-tiba”.“hm itu, aku mau cerita tentang perpisahan tahun depan, padahal baru kemarin kita masuk dan belajar di sekolah ini, waktu terlalu singkat untuk dinikmati, jujur aku tidak sanggup berpisah dengan guru, teman, apalagi kamu. Kamu selalu ada saat aku membutuhkan dan akupun sebaliknya. Kejadian di sekolah ini sulit tuk dikenang, raut wajah canda, tawa, senang, sedih, galau menghiasi hari-hariku. Dan aku bingung ingin melanjutkan sekolah dimana, sungguh ini semua bikin aku frustasi,”Tanpa kurasa air mata ini jatuh lagi ke pipi chubby ku, Naura yang melihat ini, langsung memelukku.“Nisya, aku tau perasaanmu saat ini, tapi kita memang akan berpisah, berpisah bukan berarti berpisah untuk selamanya. Mungkin aku, kamu, bahkan yang lain juga pasti akan bertemu lagi di suatu tempat, entah di SMA, kuliah, atau tempat kerja. Semua orang pasti ingin sukses demi cita-cita dan membahagiakan kedua orangtuanya. Aku bahkan menganggap kamu melebihi sahabat, yaitu seperti adik kandungku sendiri. Sebenarnya, aku juga tidak ingin hidup ini diawali dengan perkenalan kemudian perpisahan, kata itu membuat sakit hati tersendiri, tapi tidak semua ucapan seperti itu.""Kita harus mengikhlaskan waktu yang terbuang sia-sia.Karena aku percaya akan indah pada waktunya. Jadi kamu jangan bersedih lagi” aku mendengar kata yang keluar dari mulut sahabatku ini menjadikanku bangkit dan berhenti menangis lalu aku tersenyum.Esok paginya, seperti biasa tak bosan aku dan sahabatku Naura datang ke suatu tempat yang beralaskan rumput dengan sinar dari lampu taman dan dihiasi oleh tanaman bunga di sisi kursi taman, lalu kami duduk diantara tanaman bunga itu, yang selalu diam di tempat itu.“sepertinya aku sudah mengerti ini semua,”“iya memang harus, karena kita tidak selamanya akan belajar di SMP, kita bakalan tumbuh besar dan menjadi dewasa, begitu pun dengan adik kelas kita, mereka akan merasakan belajar di tingkat smp seperti kita. Jadi, kita semua harus berusaha bangkit dan menjadi yang terbaik untuk kedepannya”.Ada kala sahabat yang selalu cerewet, bisa berkata bijak.“Ya dari sekarang, aku harus bisa melewati hari-hari ini dengan penuh semangat walaupun mungkin kita tidak bisa bercanda tawa, curhat bareng, bahkan bertemu lagi di sekolah”.“Nisya, aku pun juga tidak mau berpisah denganmu. Tapi mau tidak mau, itu harus. Bagaimana pun aku akan selalu mengingat kenangan bersama sahabatku tersayang dan terbaper ini saat melihat drakor di laptopku”. Ucapan terakhir membuat kami tertawa sejenak.“Bagaimana jika tempat ini, menjadi tempat pertemuan kita saat merasa ingin bertemu satu sama lain?” Disela sedang tertawa kubertanya.“Ya, mungkin suatu saat nanti tempat ini akan menjadi tempat pertemuan saat kita merindukan satu sama lain dan menjadi tempat memori yang tak terlupakan”Terlihat senyuman manis yang tak pudar dari bibir kedua sahabat itu dengan pelukan hangat dimusim gugur dan tak lupa setetes air yang keluar dari bola mata.***“ Setiap ada pertemuan pasti ada juga perpisahan , tetapi dengan perpisahan tersebut bukan menjadi alasan untuk kita saling melupakan .”— Naura Fathiya[ E N D ]

Plester Cinta
Teen
07 Jan 2026

Plester Cinta

Bola basket sedang memantul kesana-kemari mengikuti arahan tangan remaja yang sedang asik berebut dan berlari. Sorak-sorak gembira dan histeris terdengar dari bangku penonton.Walaupun hari ini adalah pertandingan basket remaja putri tetap saja tidak kalah seru saat remaja putra yang bermain. Semua itu karena memang mereka sudah cukup jago dan mampu membuat siapapun terkagum-kagum.Seorang wanita dengan rambut panjang terikat sedang berusaha membawa bola menuju Ring lawan namun hadangan terus terjadi. Hingga akhirnya bola mampu masuk ring namun membuat wanita bertubuh jangkung tersebut jatuh tersungkur karena melawan arus lawan.Priiiit~suara wasit meniupkan peluit menggema.“Medis! Friska luka tolong,” ucap wasit.Seorang pria bertubuh mungil datang berlari dengan membawa kotak P3K. Pertandingan mau tidak mau akhirnya dijeda terlebih dahulu.Friska telah dibawa ke pinggir lapangan dan pertandingan mulai berjalan kembali.“Aku enggak kenapa-kenapa Dho,” ucap Tania pada Ridho yang sedang mengobati lukanya.“Iya aku tau, kamu harus hati-hati dong Fris. Kamu cewek masa banyak lecet di mana-mana.”Friska cemberut. “Terus kalau aku penuh luka kamu enggak suka aku lagi gitu?” tanya tania.Ridho menempelkan plester pada dagu dan lutut Friska setelah itu Ridho mengacak-acak rambut Friska. “Aku bakal terus jadi plester kamu,” ucap Ridho.“Kalau sudah selesai diobatin bisa kalian pacarannya nanti dulu, kita akan melanjutkan pertandingan penting ini,” ucap seorang pemain yang melipir sedikit ke pinggir lapangan.Friska berlari dan mendekati wasit menandakan dirinya sudah siap bertanding. Ridho dan Friska jelas berbeda bahkan banyak yang meledek pasangan ini. Bagaimana tidak mereka memiliki tinggi badan yang berbeda dan Ridho lah yang pendek disini.Namun Ridho sudah bertekad, bahkan saat ia memutuskan untuk masuk ekskul PMR, itu semua untuk Friska. Agar Ridho dapat mendukung Friska selalu.Dari sini dapat kita simpulkan bahwa cinta tak harus memandang fisik seseorang hanya dari sebelah sisi saja. Berhentilah mencintai orang lain dan cintai lah ia yang mencintai mu dengan tulus.[ E N D ]

Menghargai Kejujuran
Teen
06 Jan 2026

Menghargai Kejujuran

Perasaan resah menyelimuti seorang gadis yang sedang berjalan sendirian masih lengkap dengan seragam sekolahnya.Vanya sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Ia takut jika ibunya akan memarahinya mengingat ia pulang selama ini. Saat ia hendak mengetuk pintu, tak disangka pintu itu terbuka dan menampilkan sosok ibunya dengan kilatan marahnya."Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang, inget rumah kamu?" tanya sang ibu dengan nada ketus."Maaf Bu, tadi Vanya abis dari rumah teman Vanya," jawab Vanya dengan menunduk takut.Plakkk..Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Vanya, sangat terlihat kemarahan dari ibunya."Bagus kamu ya, anak gadis pulang malam-malam. Bilangnya dari rumah teman," sarkasme sang ibu."Iya Bu benar, Vanya habis dari rumah Vina dan nggak sengaja ketiduran disana," jawab Vanya yang tak kuasa menahan bulir air matanya seraya memegangi pipinya yang memerah."Gak usah nangis segala, seharusnya kamu sadar kalau kamu salah. Pulang sekolah harusnya langsung pulang, ini malah main. Bagus begitu Vanya?!" bentak sang ibu tak kuasa menahan amarahnya."Maaf Bu," jawab Vanya meraih tangan ibunya dan segera mencium punggung tangannya.***Sehabis ia dimarahi tadi, Vanya memasuki kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam bathtub.Terlahir dengan tidak ada ayah adalah mimpi terburuk Vanya yang harus menjadi kenyataan. Mempunyai ibu pun serasa tak punya, selama ini ia benar-benar belum mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Mengingat ibunya seorang pekerja disebuah restoran 24 jam, membuat wanita paruh baya itu tak bisa membagi waktu antara kerja dan anak.Vanya akui dirinya memang salah, harusnya ia pulang kerumah atau izin dulu pada ibunya. Namun kejadian pulang sekolah tadi harus membuat dia segera kerumah Vina, sahabatnya itu.Dimana dirinya dan Vina harus menjaga adiknya Vina yang masih balita dan sangat aktif sekali hingga membuat mereka kelelahan dan tertidur tak ingat waktu sampai berakhir seperti tadi."Apasih Vanya, kamu cengeng banget," monolog Vanya seraya menghapus air matanya kasar.***"Vanya dicariin kak Daniel tuh di lapangan," ujar Vina yang baru saja datang membawa minuman taro kesukaannya."Kak Daniel? Cari aku?" tanya Vanya tak percaya."Iya cari lo, buru gih kesana. Apa mau gue temenin?" tanya Vina."Boleh deh Vin, aku penasaran kenapa kak Daniel nyariin aku ya?" ucap Vanya hendak keluar kelas diikuti oleh Vina."Kalo itu gue gak tau, coba aja nanti lo tanya," mereka pun berjalan menuju lapangan, dan terlihat sangat ramai disana. Namun pandangannya jatuh pada lelaki yang sedang berdiri di tengah sana. Vanya mendekat pada lelaki bernama Daniel itu, dan tiba-tiba saja Daniel berlutut dihadapan Vanya."Eh kak Daniel? Ngapain?" tanya Vanya yang terkejut dengan tindakan kakak kelasnya ini."Vanya? Mungkin ini tiba-tiba banget buat lo. Tapi ini semua udah gue rencanain dari lama. Jadi temen emang menyenangkan, tapi bakal lebih mengesankan lagi kalau lebih dari itu," ujar Daniel."Maksudnya apa kak? Aku nggak ngerti," ujar Vanya."Ketika Hawa tercipta buat Adam, begitu indahnya kehidupan mereka. That way, let me Daniel Abian, be the Adam for you because I very love you,"Entah ada bujukan dari mana, Vanya mengangguk. Dan itu berarti Vanya baru saja menerima Daniel, dan mereka resmi berpacaran.***Sebulan berlalu, hubungan Vanya dengan Daniel sudah membaik layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Dan saat ini Daniel mengajak Vanya untuk pergi berkumpul dengan teman-temannya.Dapat dideskripsikan tempat ini di dominasi oleh para lelaki, dan Vanya paling tidak suka berada di tempat yang banyak asap rokok seperti ini."Wihh Daniel udah bawa yang baru aja, mangsa baru bos?" tanya seorang pemuda kepada Daniel yang hanya tersenyum."Kak Daniel, aku belum izin sama ibu," ujar Vanya dengan pelan."Hmm ya udah izin dulu di telpon aja, mau pake handphone aku?" tanya Daniel."Nggak usah kak," ujar Vanya lalu menjauh dari situ untuk menghubungi ibunya."Halo Bu?"" ... ""Ehmm, Vanya izin pulang terlambat ya Bu"" ... ""Vanya ... Vanya ada kelas tambahan Bu," alibi Vanya." ... ""Iya Bu," panggilan itu terputus, dan Vanya menghela nafasnya lega sebab ibunya dapat percaya dengan perkataannya.***Dalam keadaan seperti ini mengharuskan Vanya untuk berbohong lagi kepada ibunya. Terjebak hujan di apartemen Daniel, dan kini mereka hanya berdua.Vanya disuguhi teh yang Daniel buat, dengan segera Vanya minum. Namun sehabis minum itu, kepalanya menjadi sangat pusing dan mengantuk alhasil ia tertidur di sofa itu.Pagi telah tiba, Vanya terkejut ia tidak berada di sofa tadi melainkan di kasur. Dengan cepat ia bergegas menuju rumahnya tanpa menemui Daniel dahulu.Kali ini ia berbohong pada ibunya kalau tadi malam ia menginap di rumah Vina.Dua bulan berlalu semenjak kejadian itu, kini Vanya sedang berada di rumah Vina."Eh Nya, lo lagi dapet gak?" tanya Vina dibalas gelengan oleh Vanya."Bukannya kita selalu bareng ya? Terus kok gue rada aneh sama lo, tadi pas olahraga tiba-tiba pala lo sakit terus muntah aneh banget, lo kenapa?" tanya Vina."Aku juga gak tau, dan gak cuma di sekolah tadi. Di rumah juga aku kek gitu Vin," ucap Vanya."Eh Vanya, dari semua keanehan lo yang gue ucapin tadi. Gue baru sadar itu tanda-tanda--"ujar Vina menggantungkan kalimatnya."Jangan bilang lo..?" sambung Vina menutup mulutnya tak percaya."Sebentar Nya," ujar Vina lalu berlari keluar kamarnya untuk mengambil sesuatu dan kembali lagi dengan barang yang bisa disebut testpack.Dengan segera Vanya mencoba alat itu, dan mereka berdua terkejut bukan main saat melihat hasilnya positif. Vanya menangis tersedu-sedu, dan Vina mencoba menenangkannya seraya meminta Vanya menceritakannya. Dan Vanya baru ingat detik-detik dirinya ternodai saat ia berada di apartemen Daniel. Ia pikir itu hanya mimpi.Vani membujuk Vanya agar segera bicara pada ibunya, namun Vanya menolak. Ia takut jika ibunya marah, semua yang ibunya lakukan untuk membiayai dirinya hanya sia-sia. Namun setelah di semangati oleh Vani, akhirnya Vanya mau memberitahu ibunya.Perasaan sang ibu setelah mendengar itu, kaget tentunya. Ia tak menyangka semuanya terjadi. Ia harus merelakan masa depan anaknya yang hancur akibat kelalaiannya.Dari sini Vanya mengerti, komunikasi antara orang tua dan anak memang penting, dan juga para wanita harus pandai menjaga dirinya dari pergaulan bebas diluar sana. Yang lebih penting lagi, Vanya pasti belajar dari kesalahan ibunya yaitu ia akan menghargai setiap kejujuran.[ E N D ]

Memoria : "Reminiscence"
Teen
06 Jan 2026

Memoria : "Reminiscence"

Boston , Amerika Serikat , 14.39 PM .Kali ini gerimis turun menggantikan hujan. Kedua telinga yang tersumpal earphone yang volume musiknya disetting penuh, jelas saja membuatnya tuli akan keadaan di sekitarnya sore itu.Kameja kerja berwarna putih dengan rok span sepanjang setengah lutut tersebut agak sedikit basah akibat terkena air hujan yang turun tak terlalu kentara itu.Rimma Ernestella, itulah nama yang terpampang jelas di buku bigboss yang berada di genggaman tangannya.Gadis yang baru memasuki usia 22 tahun tersebut begitu lusuh. Rambut hitam bergelombangnya berkibar ditempur angin sore.Fuuh... waktu berlalu begitu cepat sehingga membuat cuaca yang tadinya gelap dan dingin malah berubah menjadi hangat akan kehadiran matahari yang tak lagi menyembunyikan diri di balik awan kegelapan.Rimma mengembuskan napasnya lelah.Tidakkah orang-orang yang berada nun jauh di seberang sana—yang tengah berlari-lari ria seusai bekerja maupun belajar seharian—lelah?Ah ... Ia tahu, begitulah dirinya dahulu. Ketika 'dia' dan dirinya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh keempat anak SMA yang baru saja berlari melewatinya itu.Rimma lantas menoleh, melihat figur keempat siswa dan siswi itu dari belakang. Ingatannya mengalir dalam sekejap, mengingat momen lima tahun yang lalu ketika dirinya masih berada di bangku sekolah menengah atas, persis dengan keempat figur yang kian menjauh itu.Rimma tersenyum getir. Ia pun membalikkan tubuhnya ke depan dan kembali berjalan. Kenangan itu begitu pahit sehingga membuatnya tak bisa menghapus ingatan itu. Rimma mencoba tuk melupakan segalanya. Melupakan dia.Dia yang telah membuat garis takdirnya berubah.***"We were just kids when we fallin' love..."Lagu Perfect yang dibawakan oleh Ed Sheeran keluar dari bibir tipis itu. Earphone yang menempel di kedua cuping telinganya tengah memperdengarkan lagu yang barusan dinyanyikan dengan suara pelan itu.Matanya terpejam, menikmati alunan lagu yang sudah memasuki bagian-bagian akhir itu dengan tenang tanpa menghiraukan hiruk pikuk di sekitarnya.Diliriknya arloji yang sudah menunjukkan pukul 14.40 PM. Laki-laki itu kemudian beranjak dari bench untuk pulang. Hal tak disangka-sangkanya tiba-tiba terjadi.Tepat saat ia hendak membelokkan tubuhnya, matanya menangkap seorang berpakaian hitam yang ia duga perampok atau sejenisnya tengah melakukan aksi tarik-tarikan dengan seorang gadis berkameja putih.Ia, dengan segenap rasa malasnya pun mulai melangkahkan kakinya santai. Sang gadis berteriak kepadanya ketika tubuh mereka sejajar."Help me!" ujar sang gadis sembari menarik-narik tasnya.Langkah kaki laki-laki itu terhenti. Ia pun melepas earphonenya sebelah dengan gerakan malas, lalu memutar bola matanya jengah ke arah sang gadis.Lama ia terdiam. Sang gadis beserta sang perampok bahkan sudah melakukan beberapa aksi tarik-tarikan atau apalah itu."Help me now!" seru sang gadis lagi, tentunya dengan nada yang lebih ditinggikan sekitar satu oktaf."Are you deaf, huh?!"Lagi, sang gadis berteriak.Laki-laki itu masih pada tempatnya."Oh, gosh!" seru sang gadis.Sang laki-laki tetap diam.Ia meneleng di balik matanya dengan sebal. Abaikan atau bantu?Bantu.Abaikan.Bantu.Abaikan.Baiklah, abaikan saja.Ia langkahkan kakinya meninggalkan kedua penjahat dan calon korban itu.Namun belum beberapa langkah, teriakan-teriakan gadis itu membuatnya gagal berkonsentrasi."Noooo!!! Don't take my bag!""Don'ttt!!! Don't take my bag! Help!! Helpp!!! Hellpppp!!!!!""Shit." Alhasil, laki-laki itu mengumpat."Don't take my ba—"Get your dirty hands out of that bag right now!" teriak sang laki-laki seraya memutar tubuhnya ke belakang dan tangan kanannya menodongkan pistol ke arah sang penjahat.Kedua insan itu—gadis itu dan sang perampok—melotot."D-don't shoot me. O-okay, I'll let go," kata si perampok sembari mengangkat tangannya lalu pergi perlahan dan berlari sekencang-kencangnya.Sang gadis buru-buru merebut tas miliknya dan memeluknya dengan erat.Sementara sang laki-laki langsung menyatukan pistolnya ke dalam jaket kulitnya seraya memasang kembali earphone yang terlepas.Iapun kembali melangkah."H-hei," panggil sang gadis.Namun yang dipanggil tak menoleh."Thank you. What's your name, Sir?""Sir?" tanya laki-laki itu kaget dan membalikkan tubuhnya."O-ouh. So... then... I call you—" Kacau, bahasa Inggrisnya benar-benar kacau.Sang laki-laki mendelik sebal lalu kembali berjalan."By the way," kata sang gadis, Rimma, seraya menyejajarkan tubuhnya dengan laki-laki tak diketahui namanya itu."Are you... ehm... mahasiswa... apa ya bahasa Inggrisnya mahasiswa," gumamnya seraya mencoba berpikir keras."Ya. Gue mahasiswa."Sang gadis melotot."Lo orang Indonesia?!"Sang laki-laki mengatupkan bibir."Seriusan?!"Muak. Ia hembuskan napasnya pelan dengan penuh kesabaran."Iya... Gue. Orang. Indonesia!" Laki-laki itu menyeru, dengan tekanan di setiap katanya."Aah... asal mana? Kali aja kita sekota, maybe.""Jakarta.""Jakarta? Gue juga di sana. Dari gaya penampilan lo sih, gue tebak lo udah lulus strata satu?""Hm.""Gue juga. Rencananya mau lanjut S2 atau kerja? Kalo gue sih kerja. Ini lagi cari-cari. Makanya tadi gue takut banget tas gue dicuri orang, soalnya di dalem sana ada resume buat daftar kerja hehe. Bukannya apa sih, tapi gue susah editnya. Dan juga... ada benda penting di dalam sini yang nggak boleh ilang."Rimma mendadak sedih. Ekspresinya berubah suram. "Ada kenang-kenangan yang nggak boleh gue hilangkan. Kenang-kenangan dari orang yang gue sayang."Sang laki-laki menoleh sembari terhenti. Namun sedetik kemudian ia kembali melengos dan berjalan kembali."Hadish.""Eh?"Rimma sontak terkejut ketika laki-laki itu mengulurkan tangan ke arahnya."R-Rimma.""Lo LDR-an sama pemilik benda itu?" tanya Hadish."Enggak, kok."Ia coba tuk menatap laki-laki bernama Hadish itu dan menatapnya terang-terangan.Rimma pun memberhentikan kakinya. Yang sontak membuat Hadish ikut berhenti juga."Dia udah nggak ada." Sekilas, Rimma menggigit bibirnya, menahan tangis."Sorry.""Iya nggak papa."Saat Rimma menoleh dan Hadish menoleh, pandangan mereka bertemu. Dalam sepersekian detik, mata Rimma membelalak."A-A... Ajun..." sebutnya, terperangah.Hadish memiringkan kepalanya."Ajun. Lo Ajun, kan?!" seru Rimma sembari memegang lengan Hadish.Hadish melotot tak kentara"Ini gue Rimma, pacar lo, Jun!" lanjutnya dengan mata berkunang-kunang.Kenapa ia lupa? Kenapa ia tak sadar bahwa sedaritadi ia sedang mengobrol dengan Ajun?Hadish menarik tangannya risih."Nggak. Nggak mungkin, Rim. A-Ajun kan udah nggak ada..." gumam Rimma mencoba berpikir jernih."Ta-tapi lo persis...""Apa?" Laki-laki berwajah tampan dengan lesung pipi di kedua pipinya itu lantas menukikkan alisnya, bingung."Nggak, nggak. Sekarang, lo siapa? Lo siapa!!"***Hadish datang dengan membawa minuman isotonik lalu diletakkan di atas meja.Saat ini keduanya tengah berada di depan minimart."Dia kecelakaan dulu sama dua sahabat gue yang lain. Ineska sama Bayudha. Kebetulan gue nggak ikut karena lagi marahan sama Ajun." Rimma mulai bercerita."Kejadiannya waktu kelas dua SMA. Dia coba bujuk gue dengan segala cara supaya ikut dan maafin dia, tapi gue juga nolak dengan segala cara yang gue bisa." Rimma tersenyum getir."Akhirnya mereka berangkat tanpa gue.""Mau ke mana emang?""Ke Amerika, Ajun sama Ineska berhasil lolos olimpiade Matematika. Sementara Bayudha jadi supporter mereka.""Jadi kenapa lo marahan?""Karena Ajun sama Ineska deket banget.""Jadi lo orangnya posesif, ya?"Rimma menunduk."Gue juga nggak tahu. Hari itu bakal jadi hari terakhir gue ketemu sama mereka, dan juga Ajun." Rimma terisak."Jam 3 sore, gue dikabarin sama Mamanya Ineska kalo pesawat yang ditumpangi Ajun, Ineska sama Bayudha jatuh. Nggak ada yang selamat. Jujur, gue shock."Kali ini isakan Rimma semakin terdengar jelas. Hadish mencoba tersenyum seraya menepuk punggung Rimma dan berkata, "Nangis aja. Jangan ditahan."Tangis Rimma semakin menjadi."Mereka udah tenang, kok. Sekarang mereka minta doa lo."Ajun menarik kepala Rima tuk bersandar di dada bidangnya."Kalo lo ketemu Ajun, kata apa yang pertama kali lo pengen denger dari dia?"Rimma terisak, tapi kali ini sudah sedikit mereda."Gue pengen dia sebut nama lengkap gue," jawab Rimma sambil terisak."Really?"Rimma mengangguk, tak kentara."Rim."Rima menjauhkan telinganya dari dada bidang itu."Rimma Ernestella Frisandira.""Jun?" panggil Rimma sembari benar-benar menjauhkan kepalanya dari dada bidang Hadish.Hadish menatapnya dengan tatapan penuh arti."I miss you, Rimma.""Ajun, lo?""Yes. This is me."Rimma masih menunjukkan ekspresi tak percayanya."Tunggu... A-Ajun udah...""Gue masih hidup, Rim."Rimma membuka mulutnya, namun tak ada sepatah katapun yang mampu keluar."H-harusnya..."Hadish. Bukan, Ajun—tersenyum tulus."Cuma 5 orang yang berhasil selamat, Rim, termasuk gue. Sengaja nggak diberitakan karena—"Rimma segera memeluk tubuh laki-laki itu. Erat. Ia tenggelamkan wajahnya di balik dada yang terbalut kaos putih tersebut.Ajun tersenyum lagi."Lo ke mana aja, Ajun... Gue kangen sama lo..." lirih Rimma sembari menangis."Gue ngejalani terapi psikologis. Waktu itu mental gue nggak stabil banget setelah kecelakaan itu. Gue berada di dalam masa yang sangat terpuruk, Rim."Rima tak bersuara, hanya ada suara cegukan yang terdengar."Gue dibawa ke sini dalam keadaan sekarat. Dokter bilang gue nggak ada harapan lagi, tapi Ayah sama Bunda tetep pertahanin gue. Dan alhasil sekarang." Rimma tak bersuara"Rim?""Gue kangen wanginya Ajun."Ajun tersenyum. "Padahal lima tahun lalu gue mau bawa lo ke Ayah Bunda."Rimma masih menenggelamkan wajahnya."Udah lima tahun. Gue nggak mau kehilangan lo lagi, Jun.""Gue juga, Rim.""Kok lo tadi nggak ngenali gue sih?" tanya Rimma, tiba-tiba menarik wajahnya dari dada Ajun dan menatap laki-laki itu intens."Gue nggak kenal.""Apa?""Karena muka lo udah berubah, jadi makin cantik.""Jun, plis.""Haha. Serius, Rim. Kalo seandainya lo nggak sebut nama gue juga, gue nggak bakalan inget.""Terus pas udah tahu, lo pura-pura jutek dan nggak kenal gue?"Ajun tersenyum manis."Parah lo. Oh ya, kok lo tadi bawa pistol?" Dan sekarang, Rimma takut."Ini?" tanya Ajun sembari mengeluarka pistol tadi dari dalam saku dalaman jaketnya."Iya itu!""Ini mainan kok.""Dari mana gue bisa tahu itu mainan?"Ajun segera menarik pelatuknya, dan benar, sebuah kelereng kecil keluar. Tapi kalau kena badan juga bakalan sakit."Ih, childish.""Haha.""Lalu Hadish?""Lupa nama gue, Rim?""Oh iya. Hadish Rajendra.""Kan?""Iya, Jun, iya. Coba lihat." Rimma merogoh tasnta dan mengangkat sebuah gantungan berbentuk angka 8, infinity."Btw, ayo kita keliling Boston.""Ayo."Sore itu, Ajun dan Rimma berjalan, menelusuri sudut kota. Langit mulai berubah jingga dan kedua insan yang lama terpisah itupun akhirnya dipertemukan kembali di bawah naungan langit kota Boston.[ E N D ]

Jangan Sedih, Cha!
Teen
05 Jan 2026

Jangan Sedih, Cha!

"Pokoknya Caca mau yang itu!" bentak Caca sontak membuat Dio geleng-geleng kepala, merasa pusing dengan tingkah Caca tersebut."Gabisa Ca, Bunda Rara ga bakal kasih izin lo pelihara kucing," sahut Dio membuat Caca mengkerucutkan bibirnya sebal, seraya berjalan mendekat pada kucing persia bewarna putih itu."Mau ini hiks," kata Caca terisak pelan.Dio tercegang, sedetik kemudian menatap mata Caca tajam."Ca, ayo pulang. Jangan ngada-ngada deh, lo nangis begini dikira gw yang nangisin tauk!" tukas Dio agak ketus.Caca menoleh, kakinya spontan malah menginjak sepatu Dio keras."Berisik! Dio jahat banget sih sama Caca," balas Caca menatap Dio tajam, seraya melangkah pergi dengan kaki yang terus-menerus bersuara."Buru, katanya mau pulang, gimana sih?" tanya Caca menarik lengan Dio paksa.Dio terkekeh, jemarinya dengan lihai menoyor kening Caca sekilas."Galak," balas Dio mendapat decihan pelan Caca padanya.Caca dan Dio adalah dua orang yang bersama sedari mereka kecil, Caca adalah seorang anak yatim piatu, yang dititipkan oleh seseorang _enam belas tahun_ lalu pada sebuah panti asuhan.Sedangkan Dio, keluarganya adalah donatur besar pada panti asuhan yang Caca tinggali tersebut."Ca, mau es krim nggak?" tawar Dio sedikit manis.Caca menggeleng cepat. "Maunya kucing," balas Caca terdengar singkat.Dio menghela nafasnya gusar, perlahan merangkul Caca spontan. "Nanti gw tanya Mami deh soal itu," kata Dio tersenyum.Caca menoleh, menatap Dio dengan sangat girangnya. "S-serius?" sahut Caca dengan raut wajahnya yang berbinar."Boong deh tapi," kekeh Dio memalingkan wajahnya puas."Dio ih!" marah Caca menepuk-nepuk pundak Dio kesal.*TRING TRING*Caca dan Dio tercegang, tatkala melihat sebuah mobil bewarna putih tengah mengklakson mereka saat ini dengan sangat kencangnya."Siapa sih," gumam Dio menarik Caca ke belakang tubuh miliknya."Dio!" panggil seseorang mendekat, Dio mengangkat wajahnya cepat, mendapati seseorang yang memiliki wajah familiar baginya."Loh, Arin?" gumam Dio menyipitkan matanya samar."Siapa Dio?" tanya Caca amat pelan.Dio tersenyum, menarik kembali tubuh Caca keluar. "Dia anak sahabatnya Mami, temen kecil gw Ca," sahut Dio nampak senang.Caca ber oh ria, belum sempat Caca ingin bertanya. Arin sudah lebih dulu memeluk Dio dengan sangat eratnya, menyisakan Caca yang terdiam diri karena tak mengenali seseorang bernama Arin itu."Dio, parah! Lo tinggi banget sekarang," tutur Arin memuji.Dio terkekeh. "Iya dong Rin, btw, lo sama siapa kesini?" tanya Dio nampak bingung."Sama Tante Intan, Mami lo." Arin berkata bangga, membuat Caca yang kini berada diantara mereka, merasa terkucilkan dan tidak sepantasnya berada pada situasi tersebut."Dio..," panggil Caca pelan.Dio menoleh, ketika mendapati Caca yang malah menunduk sayu, dirinya mendekat, berusaha menenangkan Caca dengan mengelus lembut punggung gadis tersebut."Kenapa Ca? Oh ya—ini Arin, Rin ini Caca sahabat gw," ungkap Dio berniat memperkenalkan satu sama lainnya."Oh, ya. Gw Arin, salam kenal," pungkas Arin tersenyum.Caca mendonggakan wajahnya sekilas, mendapati Arin yang tersenyum padanya, dengan sesegera mungkin juga ia membalasnya. "Caca," sahut Caca agak gemetar."Caca itu, yang anak yatim piatu ya? Yang pantinya selalu dikasih uang sama Tante Intan setiap bulannya," kata Arin blak-blakan.Dio menoleh cepat, begitu juga dengan Caca. Ketika mendapati Arin berbicara seperti itu pada Caca, Dio kini merasa sedikit kesal. "Arin, ga seharusnya lo ngomong kaya gitu," timpal Dio tak terima."Gapapa," sahut Caca disela-sela pembicaraan mereka. "Caca emang anak yatim piatu, gak punya Ayah dan Ibu kaya Dio dan Arin. Maaf ya, kayanya Caca salah ada diantara kalian sekarang," lanjut Caca menunduk, perlahan berbalik badan untuk segera berlari."Ca!" panggil Dio hendak menyusul, namun terhenti karena Arin telah mencekal pergelangan lengan Dio dengan sangat sigap."Apaan sih Dio, lo ga seneng ya gw kesini? Kenapa malah ngurusin orang lain sih," ketus Arin mengomel.Dio menggeleng lemah. "Gw bukan ga seneng Rin, tapi lo—udah keterlaluan sama Caca," balas Dio mendengus sebal."Dio, Arin. Ayo pulang Nak," teriak Intan yang berada didalam mobil.Arin tersenyum, spontan menarik lengan Dio cepat. "Ayo," ajak Arin sontak mendapat tepisan telak Dio padanya."Gw harus ngejar Caca sekarang, kita ketemu di rumah gw aja ya Rin, maaf," tutur Dio singkat, sukses membuat Arin yang tertinggal malah menganga lebar tak percaya.*"Caca!" teriak Dio memanggil-manggil nama Caca khawatir.Yang dipanggil selalu tak membalas, membuat Dio kini semakin ketakutan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Caca."S-sakit..," lirih seseorang terdengar parau.Dio terhenti berusaha fokus mendengarkan suara tersebut, perlahan ia berlari kencang, ketika tau bahwa Caca lah yang tengah kesakitan itu."Caca!" teriak Dio lagi terdengar lebih kencang.Caca menoleh, menatap Dio dengan tatapan sendunya. "Dio, hiks... Caca takut," isak Caca menangis lirih.Dio mendekat, memeriksa tubuh Caca yang kini terlihat sedikit terluka sekarang. "Ini kenapa Ca, ini juga, lo kenapa?" tanya Dio bertubi-tubi.Caca tersenyum. "Caca ditabrak sama Mobil tadi," tutur Caca menghela nafas jengah."Ha?! Mobil? Terus gimana, mana orangnya?" teriak Dio dengan sangat lantangnya."Udah pergi. Caca kabur waktu kejadian itu, Caca gamau ke rumah sakit Dio, takut disuntik sama dokter," sahut Caca malah terkekeh pelan.Dio agak tercegang, sesaat kemudian dia tersenyum, dengan jemarinya yang mulai memeluk tubuh mungil milik Caca erat."Jangan pergi lagi Ca, Dio janji bakal selalu ada buat Caca mulai hari ini," tutur Dio memejamkan matanya tulus.Caca terkekeh. "Mulai hari ini, berarti kemarin-kemarin Dio kemana aja?""Kemaren Cacanya galak, gw gamau berhadapan sama versi lo yang galak, serem soalnya Ca," balas Dio meledek."Makasih ya Dio. Caca juga sayang deh sama Dio, cuma kalo Dionya baik, kalo Dionya jahat Caca sukanya liat Dio tersakiti."Dio mendelik. "Sadis lo Ca!" tutur Dio geleng-geleng kepala.Keduanya kini tertawa bersama, Dio kembali mengajak Caca pulang bersama dengan cara menggendong tubuh Caca. Sedangkan reaksi Caca, kalian tau sendiri, Caca adalah orang yang selalu menerima rezeki, apalagi itu adalah tumpangan gratis dari Dio, tentu saja Caca mau."Jangan sedih, Cha!"Kata terakhir Dio, sebelum akhirnya mereka kembali melangkah untuk kembali pulang pada kenyataan yang sebenarnya.[ E N D ]

Mantan
Teen
05 Jan 2026

Mantan

"Sayang, tungguin dong!" teriak Kailendra dari belakang tubuh seorang gadis yang ia panggil sayang. Kanaya, gadis yang dipanggil sayang tersebut hanya memutar bola matanya malas.Kanaya menengok kebelakang," Sayang gundulmu! Ngintilin gue mulu kaya kuman. Jauh-jauh sana!" usir Kanaya semakin nemepercepat langkahnya.Beruntung saja SMA Nusantara sedang tidak ramai, karena ini masih pagi. Jadi, Kanaya tidak harus menanggung malu menanggapi kegesrekan Kevan.Namun, usaha Kanaya sia-sia karena Kevan dengan cepat mengejarnya dan merangkul pundak Kanaya dengan santai."Ish apasih lo?! Lepas ga! Lo sama gue itu cuma mantan, jadi gausah rangkul-rangkul gue segala!" sungut Kanaya berusaha melepaskan rangkulan Kevan. Namun Kevan malah memepererat rangkulannya."Makanya kita balikan yuk, baru deh gue bebas rangkul elo," ajak Kevan dengan senyum menggoda.Kanaya pun melotot mendengarnya, ia melepaskan rangkulan Kevan dipundaknya lalu menatap horor Kevan."Benerin otak dulu sana! Gue ga mau punya pacar stress kaya lo!" selesai mengucapkan itu, Kanaya langsung pergi meninggalkan Kevan sendiri."OKE, NANTI GUE KEBENGKEL NAY, BUAT BENERIN OTAK!" teriak Kevan yang masih terdengar ditelinga Kanaya. Salah apa Kanaya hingga mampu mempunyai mantan yang gesrek nya akut seperti itu.Pagi berikutnya, Kanaya bertemu lagi dengan si mantan berotak miring yang selalu mengganggunya. Sudah jadi mantan, masih ajah ganggu. Memang perlu dibasmi spesies mantan itu."Hallo mantan," sapa Kevan dengan cengirannya. Ia sudah berada tepat didepan Kanaya."Hallo juga setan," balas Kanaya dengan senyum sekilas lalu memunculkan wajah datarnya."Njir, gue ganteng gini dibilang setan," sahut Kevan dengan nada narsis."Van, mau gue ambilin kaca ga?" tanya Kanaya dengan nada sinis."Ga perlu Nay, gue udah ganteng maksimal, jadi ga perlu pake kaca untuk melihat kegantengan gue yang alami ini," cerocos Kevan dengan pedenya."Dih, pede banget lo! Sinting!" balas Kanaya."Gapapa deh gue dibilang sinting, tapi lo mau kan balikan sama gue?" tanya Kevan dengan alis yang dinaikkan menggoda Kanaya."Maap-maap ajah nih ya, gue masih suka yang waras dibanding yang sinting," balas Kanaya kesal menghadapi Kevan. Akhirnya Kanaya pergi meninggalkan Kevan."Lo ga takut gue diambil orang Nay? Lo udah ga perduli sama gue? Apa segitu besar luka yang udah gue ciptain buat lo Nay, sampe lo selalu nolak setiap gue ajak balikan,""Enggak. Gue udah ga perduli sama lo. Gue rasa, lo ga usah ganggu gue lagi Van. Kita udah mantan. Jadi tolong jangan bikin gue galmov karena lo deket-deket sama gue terus," balas Kanaya, lalu melanjutkan langkahnya."Tunggu gue Nay, pulang sekolah gue mau kebengkel lagi biar otak gue waras!" ucap Kevan sedikit menaikkan suaranya agar Kanaya bisa mendengar suaranya.Keesokannya, Kanaya pergi kesekolah dengan Ferdi, Ketua Osis Sma Nusantara. Dari dahulu, Ferdi memang menyukai Kanaya. Kenapa mereka bisa bersama? Karena Ferdi memaksa untuk menjemput Kanaya, Kanaya yang tidak enak pun akhirnya menerima ajakan Ferdi."Thanks," ucap Kanaya saat mereka sudah sampai disekolah."Sama-sama, yuk aku anter kamu kekelas," ajak Ferdi dan tanpa izin mengamit tangan Kanaya. Kanaya sudah mencoba untuk melepaskan tangannya, tapi Ferdi malah mengeratkan gengamannya. Alhasil Kanaya hanya bisa pasrah digandeng oleh Ferdi. Mereka pun berjalan dikoridor dengan tatapan aneh para penghuni sekolah.Dari kejauhan, Kevan melihat Kanaya dan Ferdi yang sedang berjalan dikoridor. Tiba-tiba Kevan terserang api cemburu yang begitu menyesakkan. Kevan yang sedang memegang sebuah minuman kaleng ditangannya pun meremas kuat hingga kaleng itu tak berbentuk dan menimbulkam bunyi yang keras. Setelahnya ia mengambil tasnya yang berada disampingnya. Ia berencana untuk bolos sekarang. Moodnya sedang tidak baik sekarang. Ia butuh pelampiasan.Saat istirahat, Kanaya dan teman-temannya sedang berada dikantin. Mereka sedang mengisi perutnya yang lapar."Kanaya! Kevan ngamuk Nay!" teriak Andi yang tiba-tiba datang entah darimana.Kanaya yang baru saja meminum jusnya langsung tersedak mendengar berita yang dibawa oleh Andi. Setelah selesai dengan acara tersedak Kanaya langsung menengok kearah Andi."Dimana?" tanya Kanaya dengan mimik wajah panik."Digedung belakang Nay, lu ikut gue deh sekarang!" ucap Andi yang langsung menarik tangan Kanaya. Kanaya pun hanya pasrah dibawa oleh Andi. Ia berharap semoga Kevan tidak terluka parah."Kevan stop!" teriak Kanaya saat melihat Kevan yang mulai kalap.Kevan hanya menengok sekilas kearahKanaya dengan tatapan dingin. Ia tetap terus memukul tembok didepannya sampai tangannya berdarah dan memar."Udah Kevan udah!" teriak Kanaya dengan air mata yang mulai merembes dari pipinya. Ia tak tega melihat tangan Kevan yang penuh darah. Selama ini ia bohong, ia perduli terhadap Kevan, ia sayang sama Kevan. Tapi ia hanya perlu menata hatinya untuk menerima Kevan kembali."Kenapa?! Kenapa lo perduli sama gue Nay?! Bahkan disaat gue sama lo enggak ada hubungan apa-apa. Kenapa Nay?! Gue sadar, gue emang bukan yang terbaik buat lo, gue mencoba untuk memahami luka lo, lewat cara ini Nay. Luka yang gue toreh udah terlalu banyak ke elo Nay," ucap Kevan yang semakin memelankan suaranya.Kanaya yang sudah tidak tahan pun segera memeluk Kevan dengan erat. Ia mencoba untuk membuat Kevan tenang. Ia mengelus-ngelus punggung tegap itu. Berharap agar Kevan tenang dan mulai menormalkan emosinya.Setelah dirasa nafas Kevan mulai teratur, Kanaya menangkup pipi Kevan. Menatap lekat mata yang selalu menjadi incaran banyak gadis disekolahnya."Kamu tau, aku ga pernah marah sama kamu. Aku ga pernah benci sama kamu Van. Aku cuma kecewa. Kecewa karena kamu lebih mentingin orang lain dibanding aku. Selama ini, aku masih sayang sama kamu, aku masih perduli sama kamu. Dua tahun bukan waktu yang pendek untuk ngelupain semuanya, aku cuma perlu waktu buat aku bisa menata dan menerima kamu seutuhnya," jelas Kanaya panjang, berharap Kevan mengerti ucapannya. Mereka berpisah karena Kevan yang lebih mementingkan sahabatnya Mega dibanding Kanaya. Karena kesal, Kanaya pun memutuskan Kevan. Dan berakhir seperyi ini, Kevan yang selalu mengejar Kanaya. Bahkan Kevan tak lagi bermain kerumah Mega karena Kanaya."Maaf," ucap Kevan lirih. Sementara Kanaya hanya tersenyum kecil."Aku mohon, jangan tinggalin aku Nay. Aku ga sanggup liat kamu sama cowok lain Nay. Jadi, will you comeback?" tanya Kecan seraya menggenggam kedua tangan Kanaya yang berada dipipinya.Kanaya menghela nafasnya, ia sadar bahwa ia bukan anak kecil lagi. Mungkin sekarang, saatnya ia menerima Kevan kembali dan menjalin kisah lama yang sempat tertunda."Iya Van. I'm comeback ," jawab Natasya dengan senyum manisnya.Kevan yang senang pun segera menarik Kanaya kepelukannya."Makasih," ucapnya.Dan akhirnya, Kanaya dan Kevan kembali marajut kisah lama yang sempat terputus dengan kisah baru. Mereka berharap, semoga kali ini kisahnya tak pernah ada kata putus sampai jenjang akhir.[ E N D ]

Jeda Cerita
Teen
04 Jan 2026

Jeda Cerita

Dia Qilla, lengkapnya Valerie Syaqilla. Cewek tomboy penyuka jengkol garis keras. Anak bapak Baim dan momi Paula. 'Badgirl' julukan yang dia dapat di sekolah, pasti dipikiran kalian sekarang menggambarkan sosok cewek dengan seragam ketat, rambut warna -warni kek anak ayam depan SD. Terus songong, seenaknya sendiri. Tapi Qila jauh dari semua itu, baju yang dia kenakan gak ketat gak kebesaran, pas dan nyaman. Rambutnya warna hitam lumayan lebat yang selalu dia kuncir asal menggunakan jarinya. Terus kalo di sekolah dia juga diem terkesan dingin. Tapi itu sama yang gak dikenal sih, kalo sama yang dikenal mah keluar sifat aslinya.Jail, petakilan, banyaklah pokoknya. Kata Qila sih gini 'Sifatku tergantung fikiranmu' azekkkk.Karena gini, disaat kita berbuat baik tapi difikiran orang lain kita terkesan sok baik, terus bisa apa? sama aja, disaat kita berbuat suatu 'kejahatan' dan langsung dipandang hina, tanpa tau sebabnya kita bisa apa? tau memang gak ada api kalo gak ada asap. Tapi fikiran orang kan mana tau? Paham 'kan? kalo gak paham yaudah, dadah.Qilla punya satu orang sahabat teman-teman, dia Cavan Hadrian. Anak dari bapak Rey dan ibu Dinda. Sahabat Qilla dari kelas 1 Sd sampai sekarang kelas 11. Hadrian itu gans parah, Qilla akui itu tapi jangan bilang doi kalo Qilla bilang ganteng. Entar gede palanya bahaya. Sifatnya kalem, tenang, murah senyum.Softboy-softboy gitulah dia (mohon maaf kalo salah tulisanya ye), hampir semua cewek disekolah kelepek-klepek kalo depan dia. Dia itu kalo sama Qilla, perhatian sama manjanya masya allah. Suka jail tapi gagal karna selalu balik dia yang dijailin.Hadrian itu penyuka daging, gak bisa makan kalo gak ada daging. Udah gitu aja jangan banyak banyak. Mottonya gini 'Hidupku ya sakarep-ku."Tak jarang banyak yang mengira bahwa mereka itu sepasang ayang beb, padahal mah cuma sahabat. Masa kalo cewek-cowok 'selalu bareng' dikira pacaran. Malah mereka mendapatkan banyak julukan zone dari temen-temen mereka. Dari friendzone, adikkakakzone, itu zone, anu zone, banyaklah pokoknya.Tapi bener sih emang, kebanyakan cewek sama cowok kalo sahabatan itu akan menimbulkan sebuah rasa, asek kek judul lagu. Kalo gak si cowok yang suka duluan ya si cewek. Terus melabui rasa itu dengan sebutan 'Kita Sahabat' hilihh gede gengsi. Bener gak sih? meski mereka sama-sama ada rasa tapi gengsi ngungkapinnya, takut ngerusak 'persahabatan' mereka terus akhirnya dipendem sendiri. Buset sok tau saya.Hadrian memasuki rumah sederhana milik Qilla, sore-sore gini emang enak kalo gangguin sahabatnya itu."Assalamualaikum," salamnya lalu menutup pintu.Cowok tampan itu berjalan menuju dapur,"Assalamualaikum, bun." Hadrian menyalami bunda Qilla yang sedang berkutat di dapur."Waalaikumusalam, eh kamu!" jawab bunda yang nampaknya sedikit terkejut."Serius amat bun, aku dateng sampek gak tau." ucap Hadrian sambil mencomot kue yang dibuat bunda."Biasa bunda lagi nyobain resep baru, gimana enak gak?" Hadrian merespon dengan menunjukan kedua jempolnya, pertanda enak.Bunda tersenyum dan mengacak rambut Hadrian gemas."Yaudah sana ke Qilla, habis entar kuenya kamu cemilin terus," ucap bunda bercanda.Hadrian mengecup pipi bunda lalu tanganya kembali mencomot kue dan langsung melesat sebelum diomelin bunda.Saat udah didepan kamar Qilla, Hadrian membuka pintu dan melihat sang empu sedang terlentang sambil membaca buku dikasurnya.Hadrian menempatkan diri duduk disamping Qilla yang terlentang dengan satu tangan ke atas membawa novel yang sedang dibacanya."Baca yang bener!" ucapnya setelah menyenggol tangan Qilla yang sedang membawa novel, alhasil novel itu jatuh mengenai wajah Qilla.Qilla berdecak sebal lalu memindahkan kepalanya pada pangkuan Hadrian dan kembali membaca. Sedangkan Hadrian terkekeh melihat ekspresi Qilla.Ingat kalo dia membawa kue coklat yang dia ambil tadi, lalu dia menyuapkannya pada Qilla. Sedangkan Qilla menerima dengan senang hati.***Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaring, sorak gembira memenuhi koridor sekolah. Akhirnya mereka bisa bebas dari segala macam materi yang bikin otak nyut-nyutan.Qilla keluar kelas dengan Hadrian dibelakangnya yang sedang mendorong kedua bahunya."Sya," ucap Hadrian yang sekarang merangkul leher Qilla."Hmm," jawab Qilla acuh."Besok jam 6.""Ogah, sekejul gua padet!""Gaya lo!""Bodo amat.""Terserah, pokoknya jam 6 lo harus siap. Kalo gua dateng lo belom siap, gua seret lo!""Gua teriaklah!""Gak ngurus lah!""Ck, kemana sih? weekend-weekend tuh waktunya santaii... tidur... mimpi indah... bisa rebahan sepuasnya... gagal rencana gua gara-gara lu!""Entar juga tau,""Cih, sok misterius."Entah kenapa, Hadrian jadi rada aneh. Biasanya kalo mau kemana gitu dia pasti bilang tempatnya. Kalo weekend juga jarang ngajakin keluar, pasti dia yang kerumah mengganggu sleeping beauty Qilla, setelah itu seharian kita bermain perminan konyol, abis itu curhat-curhat, eksperimen buat sesuatu yang endingnya dimarahin bunda soalnya rumah jadi kek kapal pecah.Hmmm... Qilla jadi penasaran.Esoknya Hadrian beneran ke rumah Qilla, Qilla yang masih tidur langsung diseret paksa ke kamar mandi, gak berperasaan emang. Karna tidak mendengar gemricik air, Hadrian inisiatif membuka pintu kamu. Benar saja, dengan kurang ajarnya Qilla malah melanjutkan tidurnya diatas kloset.Dengan santai Hadrian mengambil air segayung dan menyiramkan diatas kepala Qilla dengan muka lempeng. Sontak Qilla membuka matanya terkejut, mulutnya yang hendak mengomel urung setelah mendengar ucapan Hedrian."Cepet mandi, lima menit belom selesai gua yang mandiin."Mendelik, Qilla lansung mendorong Hadrian keluar. Masalahnya Hadrian kalo ngomong gak main-main.Sekarang mereka sudah berada di taman, yap Hadrian membawa Qilla ke taman saat weekend yang otomatis rame banyak orang pacaran. Pagi-pagi udah sepet mata Qilla."Sya," ucap Hadrian di sela keheningan."Apa?!" jawab Qilla sewot, abisnya tadi dia diseret dipaksa ikut lari. Mana nariknya gak ada lembut-lembutnya lagi.Eh iya, for your information gaes. Hadrian kalo manggil Qilla itu 'Syasa' sedangkan Qilla kalo manggil Hadrian itu 'Afan'. Itu panggilan kesayangan mereka sih."Kok sewot.""Habisnya lo, bikin kesel.""Lo kalo gak di gituin gak gerak.""Ya ... bisa pakek cara halus 'kan? gak usah diseret-seret kek gitu! berasa kambing gua.""Emang nurut?""Nggaklah!""Dasar,"Hadrian terkekeh mendengar jawaban sahabatnya itu, jadi makin-makin cinta deh. Abis nge-gemesin dia tuh. Eh?!Hadrian menghembuskan nafas sebelum melanjutkan ucapannya, " Pendapat lo tentang 'LDR' gimana, Sya?" tanyanya tiba-tiba."Lah, kesambet apaan lu nanya begituan?" Qilla terkekeh mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol jika Hadrian yang ucap."Tanya aja," jawab Hadrian santai."Hemm... menurut gua ya Fan, LDR itu susah-susah gampang." Qilla menatap langit seperti menerawang."Disaat dua insan yang saling mencintai terpisah oleh jarak, tempat dan waktu... mereka yang awalnya bersama menjadi berjarak.""Peresentase nya ni ya, fifty-fifty. Seimbang gitu, masalahnya LDR gak segampang itu. Kita harus memberikan kepercayaan sama pasangan, kalo gak bisa percaya ya bakal nimbul pikiran-pikiran negatif yang berimbas pada hubungan. Sebaliknya kepercayaan yang dikasih juga harus dijaga. Kalo percaya pasti jujur, terus sama komunikasi sih. Kalo mereka yang bisa mengerti itu sih gampang aja, tapi gak tau yang gak bisa.""Mereka yang berhasil dalam LDR itu karna punya 'kepercayaan' yang kuat, dan mereka yang gagal itu yang tidak mempu menahan kesabaran, kepercayaan dan kerinduan. Gitu sih menurut gua, gua gak seberapa paham soalnya belom ngalamin sendiri." Hadrian mengangguk mendengar pendapat Qilla. Dia paling seneng melihat Qilla yang banyak bicara seperti ini, perempuan itu terlihat semakin... cantik?"Menurut lo, saat mengalami LDR itu lo di pihak gagal atau berhasil?" celetuk Hadrian tanpa mengalihkan tatapan dari wajah ayu Qilla yang terpapar sinar matahari."Kalo gua... gua gak tau," jawab Qilla pelan."Percaya gak, kalo rasa sayang untuk sahabat ini berubah jadi rasa cinta," ucap Hadrian lembut."Hmm?" Qilla spontan menoleh,Untuk sesaat tatapan mereks terkunci, Hadrian mendekatkan wajahnya."Mau tau rahasia nggak?" wajah mereka hanya berjarak satu dengkal."Apa?""I love you, Valerie Syaqilla." bisik Hadrian ditelinga Qilla.Qilla menerjapkan matanya, tadi Hadrian bilang apa? Qilla sedikit terkejut, asli.Hadrian menjauhkan kembali wajah nya, "Besok gua pergi ke Aussie, nyokap sakit. Dan kayaknya gua... agak lama disana."What?!Ni bocah ngeselin ya,Tadi bilang cinta, sekarang pamit mau pergi."Jadi karna ini lo basa-basi tentang LDR." Qilla terkekeh."Apa kita bisa dalam pihak LDR yang berhasil, Sya?"Qilla diam tak merespon, dia masih bingung dengan perasaanya. Dan keadaan kembali hening."Huhh..." Qilla menghembuskan nafas panjang."Gue masih gak tau Fan, lo pinter banget kalo ngomong dadakan. Ya sih gua juga punya persaan yang sama kayak lo. Tapi ... gua ragu. 10 tahun lebih kita bareng dan mesti pisah kek gini. Gua gak bakal ngelarang kepergian lo, tapi kenapa gua gak rela? menurut gue ... biar waktu yang jawab. Karna kita gak tau kedepannya gimana. Dan ... see you. "Qilla tidak tahu jawabanya karna ini sebuah jeda dari cerita mereka. Kepergian Hadrian adalah sebuah jeda. Bukan akhir, ini baru awalan dan cerita mereka akan dimulai dari sekarang. Kita tidak tau apakah nanti akhir cerita mereka akan bersama kembali atau tidak. Karna kita boleh berekspetasi, namun jangan lupakan takdir.[ E N D ]

Hujan & Bintang
Teen
04 Jan 2026

Hujan & Bintang

Malam semakin larut, disertai dengan hawa dingin angin malam yang kian menusuk kulit, tak ada bulan dan bintang yang menyinari langit malam hanya ada awan hujan yang sewaktu waktu akan menumpahkan tangisnya kebumi."Hujannya sebentar lagi turun," ucapku menatap langit mendung yang banyak menyimpan kenangan disetiap rintik hujannya, jika semua orang banyak membenci hujan tidak dengan Arcel Dirgantara gadis penyuka hujan ini akan selalu menunggu hujan meski dirinya sering mengeluh tapi rasa suka terhadap hujan tak menyurutkan semangatnya. Hingga hujan yang ia tunggu datang membuyarkan lamunanku dan sebaliknya rasa kantukku yang kian memberatkan mata."Selamat pagi Anak anak, siapkan kertas dan alat tulis yang diperlukan dan masukkan semua buku kita akan ulangan materi minggu lalu," titah bu Erika. Seketika semua siswa kalang kabut mendengar kata ulangan mendadak dari guru fisikaku.Sampai ketukan pintu kelas mengalihkan fokus siswa, bu Erika segera melihat siapa gerangan yang mencarinya. Cukup lama Bu Erika berada diluar kelas, entah apa yang mereka bicarakan sepertinya sangat penting, hingga Bu Erika datang bersama seorang siswa yang aku tak tau siapa siswa itu."Anak anak kita kedatangan teman baru pindahan dari Bandung, silakan perkenalan diri," ucap Bu Erika. Seisi kelas menjadi riuh, apalagi siswi perempuan, mereka terus saja berbisik bisik membuat kelas semakin tidak kondusif, aku hanya berdecak sebal karena mereka diriku tak fokus pada soal yang ada dihadapanku."Seganteng apasih dia, paling kalo emang ganteng, tajir, udah fiks playboy dah lah bodo amat," gumamku acuh.Selang beberapa detik, "Perkenalan nama saya Yudha Mega pindahan dari Bandung," ucapnya dengan senyum khasnya. Saat itu puka suasana kelas yang sudah tak terkontrol menambah semakin kacau."Arcel.. Cel woi coba liat, dia ganteng banget," ujar Anya teman sebangkuku sambil berdecak kagum pada siswa baru itu."Terserah kamu," ucapku memberikan sedikit senyum tipis, sambil terus berfokus pada lembar jawaban."Arcel liat itu cel nanti kamu nyesel," ujar Melly dengan muka tak sabaran untuk menyampaikan sesuatu, ia merebut paksa lembar jawaban yang tengah ku isi."Jangan gini dong, itu ulangan yang harus dikerjain ah, kamu mah," tanpa sengaja manik mataku bertemu dengan manik mata milik siswa itu.Jam istirahat kehabiskan hanya diperpustakaan meski perutku terus berbunyi tak mengurangi tekadku untuk menghabiskan bacaanku, sampai seorang siswa berdiri dihadapanku, aku mendongkah tuk melihat siapa siswa tersebut dan benar saja itu Yudha dengan senyum ramahnya."Boleh duduk disini?" tanyanya."Boleh," ucapku canggung. Tak ada obrolan sedikit pun kecanggungan terasa sangat pekat diantara kami. Sampai Yudha-lah yang membuka obrolan."Mm btw kamu suka hujan ya?" tanyanya sambil melirik buku novel yang ku baca."Iya suka, emang kenapa?""Enggak papa, heran aja sih kebanyakan orang suka hal hal yang lagi populer," jelasnya pada ku."Karena setiap berbeda, jadi jika kamu nanya kenapa aku suka hujan. Karena hujan bagiku, ia selalu membawa kenangan disetiap hal yang kita alami, selain itu juga hujan sangat penting kalo ga hujan bisa kekeringan jadi menurutku hujan itu penting," ucapku panjang lebar pada Yudha."Btw kamu suka hal yang berbau astronomi?" tanyaku pada Yudha yang membawa buku astonomi dan tata surya."Owh ini?, iya aku suka hal yang berbau astonomi apalagi bintang, cahaya pijarnya menyatakan bahwa banyak hal yang terjadi di atas langit sana yang belum diketahui semua orang awam termasuk aku hehe," ucapnya sambil tertawa.Semenjak kejadian diperpustakaan hubungan pertemanan ku dengan Yudha sudah hampir 6 bulan. Aku dan Yudha semakin akrab, dugaanku tentang dirinya seorang playboy salah besar ternyata dia orang yang humoris, perhatian dan suka melawak terkadang lawakannya terdengar jayus haha lucu sekali dia saat menampilkan tinggkah imutnya, tetapi akhir akhir ini ia terlihat sedikit menjauh entahlah ini perasaanku saja atau bukan.Dan selama 6 bulan ini pula, Cellina menatapku dengan tatapan membenci, aku tak tau apa ada masalah diantara kami atau tidak, dia seperti muak melihatku tapi aku tak terlalu mananggapinya mungkin saja ia salah paham.Siang ini adalah persiapan camping yang diadakan pihak Osis, semua siswa dipulangkan lebih awal untuk menyiapkan keperluan camping. Saat aku berjalan dikoridor, tanpa sengaja aku melihat Yudha tengah mengobrol dengan Vio, aku mendengar beberapa percakapan mereka yang seperti menyebutkan namaku hal tersebut membuat ku penasaran."Yud, lo kayaknya makin hari makin deket sma cel itu, lo suka sma dia?""Hah, mana mungkin gue suka sama dia, gue hanya nganggap dia temen aja ga lebih, lagian dia bukan tipe gue," seperti petir menyambar disiang hari, air mataku langsung jatuh tanpa ijin, sakit memang sangat sakit aku berlari meninggalkan sekolah setelah mendengar hal tersebut.Camping berjalan dengan penuh canda tawa dan kebahagiaan dari semua siswa tapi tidak denganku, pikiran ku terus berkecamuk mendengar pernyataan Yudha siang itu. Aku duduk didepan tenda sambil menatap langit tanpa sadar air mataku kembali jatuh. Seseorang memberiku saput tangannya dan segera ku ambil tanpa melihat yang memberinya."Kamu kenapa nangis?" tanyanya padaku."Aku tak papa" alibiku terus menunduk."Hey, liat aku kamu kanapa? Cerita sama aku Arcel," ucap Yudha mengguncang bahuku."Aku tau kamu denger percakapanku dengan Vio siang tadi tapi itu terjadi secara kebetulan," lanjutnya."Ah.. mm a-aku ngga denger apa," alibiku."Denger aku dulu Arcel""Ngga ada yang perlu dijelaskan lagi kok hehe aku tau semuanya jika kamu butuh bantuan aku akan membantumu," ucapku tersenyum tapi air mataku terus jatuh. Yudha menghapus jejak air mataku."Arcel jangan nangis lagi aku sakit liat kamu nangis, kamu salah paham yang aku bicarain itu bukan kamu tapi Cellina, aku tau dia suka aku, tapi aku takut kamu bakalan disakitin sama Cellina makanya aku menjauh untuk sementara agar Cellina tak menyakitimu, dan aku ga suka sama Cellina yang aku suka sekarang ada didepanku," ucapnya tersenyum sambil memelukku dan aku tak menolak pelukan hangatnya."Arcel kamu mau jadi pacarku?" Tanyanya padaku yang masih menangis dipelukannya sesekali ia mengusap lembut rambutku untuk menyalurkan sedikit energi, aku hanya mengangguk sebagai jawaban.Dibawah Bintang dan Rembulan merekalah yang menjadi saksi bisuku dan Yudha.[ E N D ]

Belajar Kelompok Persiapan Presentasi
Teen
03 Jan 2026

Belajar Kelompok Persiapan Presentasi

Hari ini, ada sekitar 4 orang remaja yang sedang mendiskusikan sesuatu untuk sebuah masalah yang sedang mereka berempat hadapi.Mereka berempat adalah Erlang, Rafa, Bintang, dan Bulan. Dilihat dari ekspresi keempatnya, sepertinya mereka sedang benar-benar mendiskusikan sebuah masalah yang lumayan rumit untuk dipecahkan.Ada juga beberapa dari mereka yang sempat beradu argumen satu sama lain karena perbedaan pendapat, namun salah satu diantara mereka pun melerai keduanya yang sedang beradu argumen."Jika kita menggunakan susunan kalimat tersebut dalam presentasi nanti, itu tidak akan terlihat atau kelihatan 'Wow '," ujar Rafa berujar dengan serius.Ck.Terdengar sebuah decakan dari bibir Bulan, karena sudah jengah dengan semua alasan yang diberikan oleh cowok yang bernama Rafa itu. Kesabarannya sudah benar-benar habis."Rafa, kita sudah mendiskusikan untuk menggunakan beberapa kalimat yang pantas untuk presentasi besok, tapi pilihan beberapa kalimat yang kami ajukan seakan semuanya tidak pas di pemikiranmu." Bulan pun mengeluarkan semua unek-unek yang sedari tadi ia tahan."Benar apa yang dikatakan Bulan, Rafa! Sekarang gue mau nanya sama lo? Lo mau apa sekarang? Sekarang mau lo apa? Karena presentasinya tinggal besok," timpal Erlang."Hm, bukan begitu maksud gue teman-teman. Tapi gue ada keinginan di presentasi kita kali ini, kita menggunakan bahasa atau kalimat yang benar-benar berbeda dari yang lain," jawab Rafa.Bintang, si gadis pendiam itu pun akhirnya angkat suara. "Kalau seperti ini terus, masalah ini tidak akan selesai-selesai," ujarnya."Oke! Gue ada solusinya." Erlang, Rafa, Bulan pun sontak mengalihkan pandangannya kepada Bintang sepenuhnya, si gadis pendiam."Apa?" tanya mereka serempak.Bintang menghela napasnya sebelum benar-benar kembali membuka suaranya."Jadi, beberapa pilihan kalimat tadi kita gabung jadi satu, terus kita ambil kalimat yang penting-penting aja gimana? Setuju?" tanya Bintang.Mereka bertiga diam sejenak. Mereka berpikir, kenapa sedari tadi mereka tidak berpikir sampai kesitu ya. Wah! Gadis pendiam seperti Bintang, sekali mengeluarkan pendapatnya selalu tepat sasaran dan memberikan solusi."Oke! Kita setujuuu!" jawab mereka bertiga kompak.Setelah mendapatkan solusi dari Bintang, mereka ber-empat pun kembali akhirnya mereka pun menyusun beberapa gabungan kalimat tadi dan diambil yang penting-penting saja, kemudian kalimat yang penting-penting itu pun mereka susun agar menjadi kalimat yang baik dan bagus.Setelah selesai dengan gaya kalimatnya, sekarang giliran mereka ber-empat untuk melakukan pembagian tugas dalam presentasi."Jadi sekarang, kita membutuhkan penanggung jawab, moderator, dan Narasumber 1 dan 2," kata Bintang."Siapa yang mau jadi moderator?" tanya Erlang."Gue aja." Bulan pun mengajukan diri."Narasumber 1?" tanya Erlang lagi."Gue." Bintang pun menimpali."Narasumber dua?" tanya Erlang lagi."Gue." Rafa pun menimpali."Oke, jadi gue yang jadi penanggung jawabnya,""Terus, bahan materi apa yang akan kita sampaikan dalam presentasi? Kan temanya kepenulisan, jadi kita harus ngambil bahan materi sesuai tema." Rafa pun berkata."Hm, gimana kalau kita membawakan bahan materi dengan judul 'Dialog Tag'?" usul Bulan."Oke," jawab mereka serempak.Setelah menentukan semuanya, mereka pun menyusun sedikit demi sedikit bahan materi mereka. Semuanya nampak bekerja sama, tidak ada yang bersantai-santai diantara mereka. Semuanya terlibat dalam presentasi ini.Setelah semuanya selesai, mereka pun akhirnya memutuskan untuk berbincang-bincang, karena hari ternyata masih siang."Guys, gue mau nanya dong!" seru Bulan."Apa?" tanya Rafa mewakili yang lain."Diantara kalian ada yang suka nulis sama baca nggak?" tanya Bulan."Gue suka," jawab Erlang dan Bintang bersamaan."Kalau lo, Raf?" tanya Bulan."Kalau gue lebih suka main basket, karena itu menjadi sebuah hobi tersendiri buat gue, kalau lo sendiri?""Kalau gue lebih suka nge-batik sih," jawab Bulan."Eh iya, lo sama Erlang kenapa bisa suka nulis dan baca?" tanya Rafa penasaran."Kalau gue pribadi sih, gue dari kecil udah suka nulis sama baca, kalau lagi ada waktu luang, gue suka nulis atau baca, kadang kalo gue lagi bingung mau ngapain, gue suka nulis puisi, quotes, cerpen, atau apapun itu, terus semua buku gue baca, termasuk buku pelajaran sih," jawab Bintang."Kalau gue sendiri sih, gue suka nulis itu karena gue kalau lagi marah atau kesel, gue selalu melampiaskan semuanya sama buku, gue nulis apa aja yang penting rasa marah atau kesel gue ilang. Kalo masalah gue suka baca itu, karena emang gue suka baca dari kecil, jadi gue suka baca buku apapun itu dari kecil," timpal Erlang."Kalau lo sendiri? Kenapa bisa suka banget sama basket?" tanya Bintang."Karena, dari kecil gue selalu dilatih untuk terus bisa menguasai yang namanya permainan basket. Gue disuruh orang tua gue, awalnya gue nolak, tapi semakin kesini, akhirnya gue jadi suka basket dan gue menjadikan basket sebagai hobi gue," kata Rafa."Kalau lo sendiri, Bul? Kenapa bisa suka ama nge-batik?" tanya Erlang."Dulu itu Mama gue suka banget nge-batik, sampai gue penasaran, kenapa mama gue bisa buat batik dengan mudah. Akhirnya gue minta mama gue buat ajarin gue nge-batik, awalnya sih susah banget, tapi gue terus nyoba hingga akhirnya bisa ngehasilin satu batik. Terus gue ingin buat batik terus, ya jadinya itu menjadi hobi gue sekarang," kata Bulan.Wah! Ternyata itu alasan mereka menyukai hobi yang mereka suka.Tak terasa mereka sudah berbincang-bincang banyak hal, dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan akan bertemu esok hari.[ E N D ]

Penghujung Kata
Teen
03 Jan 2026

Penghujung Kata

Hingar bingar dentingkan suara- suara tak beraturan menghantam gendang telinga tanpa aba-aba, rasanya jika aku sudah kehilangan kewarasan mungkin yang ku lakukan sekarang adalah berjalan mengelilingi kelas dan mengetok satu persatu kepala teman-temanku yang umpati handphone sedemikian rupa, menjerit hampir seperti orang gila hanya karena game online yang tidak membuat kepintaran bertambah.Dan jangan lupa sekempulan cowok berseragam putih abu yang kegerahan sibuk memukul kaca jendela agar pecah, mereka selalu ingin menjadi trending topik sekolah. Jujur aku kesal sekali Saat ini, tapi malas juga untuk membuat masalah karena eksistensi ku tidak lebih seperti butiran pasir di padang gurun, aku pendiam, dan hanya miliki, mungkin satu teman yang benar-benar bisa kusebut teman, padahal jumlah seluruh siswa di sekolah ini hampir lima ribuan.Aku bukannya tidak mau berteman tapi agaknya semua orang enggan duluan untuk mengajak berteman karena banyak yang bilang aku itu bau badan. Entahlah siapa yang membuat rumor seperti itu.Rasanya aku tidak dianggap ada entah itu di kelas atau se-SMA. Aku hanya segelintir dari jutaan orang bernama yang seolah tidak pernah dianggap ada, entah dari mana hukum good looking itu ada membuat orang-orang sepertiku hanya dianggap seperti barang gagal yang tercipta.Sulit mendapat teman setia, sulit mendapat eksintensi di depan semuanya. Aku menghela nafas pelan kenapa juga aku memusingkan hal semacam itu buang-buang waktu saja, aku memilih melanjutkan mencacat meski fokus sulit sekali terjaga."Weii, lo yang lagi nyetet."Mungkin aku perlu memasang name tag sebesar papan tulis agar mereka bisa tahu namaku. Aku bahkan tidak habis pikir sebenarnya apa yang mereka tahu dariku jika selama satu tahun ini mereka tidak bisa menyebutkan satu kata lima huruf yang kelewat singkat itu, dan aku tidak perlu repot-repot menoleh atau menjawab panggilan tadi lagi pula mereka hanya ingin membuat guyonan dengan cara merendahkan orang lain.Asap rokok, dari bangku paling belakang membuat ruangan kelas penuh dengan aroma nikotin, kadang aku heran teman-temanku yang kelewat brandal apa guru-guru yang tidak andal. Ah entahlah.Jika semenit aku bisa tenang diruangan kelas itu adalah sebuah kemustahilan, jelas sekali karena baru saja aku ingin kembali fokus dentingan kaca-kaca jendela yang dipukul sudah mendengung nyaring di gendang telingaku, lengkingan suara gadis-gadis kurang kerjaan di sudut kelas dengan berbagai macam pembicaraan, gosip misalnya, seolah masa depan bukanlah hal yang perlu dipikirkan.Aku memilih untuk beranjak dari bangku kayu yang segala sisinya penuh dengan karya coretan tipe x. Aku lapar, tapi tujuan ku bukan kantin bukan karena aku tidak membawa uang jajan, aku lebih memilih menyimpannya untuk hal yang lebih ku butuhkan. Lagi pula mengganjal perut dengan roti hijau penuh coklat harga seribuan dengan botol air mineral yang ku bawa dari rumah juga sudah sangat membuat perut kenyang.Aku duduk didepan kelas, suara bising tidak terlalu memekakakn telinga disini, dan lagi aku tidak ingin tersedak roti dan berakhir jadi bahan tertawaan seisi kelas. Itu pernah terjadi, aku bahkan tidak hanya tersedak bukannya malah membaik saat meminum air mineral aku malah memuntahkan makanan yang sudah bersemayam semalaman diperut dan mengotori lantai kelas, ah memalukan sekali."Assalamu'alaikum, Put. Mau aku temenin gak?"Roti yang hampir ku gigit kutarik kembali lantas aku mengangguk dan tersenyum, Ah aku hampir lupa bahwa masih ada orang yang begitu baik, namamya Mentari. Gadis berhijab lebar dan dia satu dari orang yang kusebut teman dia juga teman sekelasku."Waalaikumussalam," jawabku ketika Tari sudah duduk tepat disebelahku."Besok kamu ikut kemah akbar, gak?"Aku sedang mengunyah saat Tari bertanya cepat-cepat aku menelan roti sebelum berkata, "Ah mungkin gak deh, lagian biayanya mahal." Sebenarnya aku punya uang dan itu mencukupi untuk ikut kemah besok, jika aku pikir lagi uang 250 ribu itu mending ku gunakan untuk membeli beras.Walaupun aku harus tertinggal acara tahunan yang katanya sangat menyenangkan. Kemah juga diadakan tiga hari pasti menguras banyak tenaga sedangkan aku mudah sekali merasa lelah, nanti malah menyusahkan.Tari mengangguk mengerti, ia berkata lagi setelah aku menghabiskan rotiku."Kalau kamu mau ikut, gak apa-apa nanti aku bantu bayar, gimana?" Tari terlihat begitu berharap aku pergi tapi entah kenapa perasaanku tidak enak yah. Beberapa saat aku hanya terdiam sampai Tari kembali mengulang perkataan yang sama membuatku hanya bisa mengangguk patah-patah, ini titik dimana aku ingin mengutuk ketidak singkronan otak dan hatiku, otakku memikirkan bagaimana keadaanku nantinya sedangkan hati tidak ingin melewatkan acara tahunan.Malam harinya setelah memberanikan diri untuk memberitahu Ibu, aku menyiapkan barang dan baju yang nanti aku butuhkan saat berkemah nanti, mungkin kegiatan berkemasku agak berisik sampai membangunkan adik kecilku yang baru menginjak empat tahun."Kak Putli ngapain," ucapnya sembari mengusak matanya perlahan, ia bahkan masih memejamkan mata saat mendekat kearahku."Lagi lipat baju, Nara keganggu yah?" Aku terkekeh saat Nara mengangguk pelan lalu memelukku dengan lengan mungilnya."Kak putli mau pelgi kemana, jauh yah, belapa lama, nanti Nala tidul sama siapa?" Ah, rasanya aku tidak tega meninggalkan Nara namun aku juga merasa tidak enak kepada Tari."Gak lama kok, kan ada Ibu sama Bang Tama." Tidak kunjung mendapat respon, aku melirik kearah Nara yang ternyata kembali terlelap dengan keadaan memeluk pinggang ku, ia bahkan mendengkur pelan. Aku membiarkan Nara terlelap dengan keadaaan seperti itu, sedangkan aku melanjutkan mengemas barang yang akan aku bawa, sebenarnya tidak banyak hanya ada empat buah baju dan rok dan sebuah sweater milik Kak Tama.Setelah semuanya selesai aku melirik jam kecil yang sudah retak di segala sisinya dan untugnya jam itu masih bisa memberitahuku bahwa aku harus tidur sekarang.Dengan hati-hati aku mengangkat Nara ke atas karpet dan aku ikut berbaring di dekatnya, ada kebiasaan yang kulakukan setiap kali ingin tidur, semasa Ayah masih hidup ia selalu ingatkan bahwa aku harus melalukannya. Aku mulai berzikir dengan mata yang berkelana memperhatikan setiap inci rumahku, tidak ada sekat berarti antara ruangan dan barang yang bisa membuat mata menjadi berbinar karena semuanya barang bekas.Keadaan dimana seberapa kuat apapun Ibu dan Bang Tama bekerja keras, keadaan kami tidak pernah beranjak dari titik kemiskinan, sedangkan yang aku lihat orang diluaran sana hanya memangku tangan malah bergelimang kekayaan. Tapi ibu selalu berkata bahwa tidak apa-apa hidup seperti ini, harta juga tidak dibawa mati. Bisa makan sama ibu selalu menjarkan untuk bersyukur.Tidak sadar aku terlelap dan rotasi bumi mungkin sangat cepat hingga tidak terasa aku sudah berdiri di depan gerbang dimana banyak sekali siswa-siswi yang menenteng barang bawaan mereka. Semua mengenakan baju bebas hari dan membuatku mengerti kenapa baju seragam itu sangat perlu untuk meredam kesenjangan sosial. Bagaimana tidak hari ini saja perbedaan stratat hidup dibedakan hanya dengan jenis pakaian apa yang digunakan.Aku menghembuskan nafas pelan, bersamaan dengan Tari yang melambai kearahku setelah turun dari mobil yang membawanya, aku tersenyum kecil kearahnya."Udah banyak orang ternyata, oh iya Put, kita sebangku yah di bus." Tari berkata demikian setelah benar-benar berada didepanku aku hanya mengangguk, bukanya ingin terlihat irit bicara namun aku tidak tahu ingin merespon apa.Satu jam kemudian bus datang dan aku hampir saja meloloskan satu pekikan karena tertabrak kerumunan siswi kelas 12 yang berlari ke arah bus pertama. Jika saja Tari tidak sigap menariku untuk menepi mungkin aku akan menjadi bahan tertawaan lagi."Istigfar dulu Put, kamu ngelamun mulu sih," ucap Tari sambil terkekeh.Lagi-lagi aku hanya merespon dengan senyuman.Kami akhirnya berjalan kearah bus kedua yang baru tiba, bus wisata yang sangat besar yang bisa menampung mungkin tiga puluhan siswa. Aku dan Tari mengambil tempat paling depan dekat sopir. Agar mudah menunrunkan barang nantinya.Saat semua siswa kelas 11 ips sudah dipastikan menenuhi bus. Bus akhirnya melaju dan entah kenapa sepanjang perjalanan perasaanku tidak enak. Perjalanan yang ditempuh rasanya sangat jauh sampai semua yang ada di bus terlelap kecuali aku dan Tari dan tentu saja pak sopir.Setelah menutup mushaf kecil yang Tari baca seoanjang jalan, ia menatapku lekat, lantas berkata satu hal yang membuat perasaanku makin tidak enak. "Rasanya seperti akhir hari yah Put," ucapnya tersenyum, aku hanya mengangguk.Tepat satu jam setelah perkataan Tari dibelokan menuju tanjakan sebuah mobil truk bermuatan kayu menghantam bagian depan bus sangat kencang, sampai membuat bus tergelincir kearah jurang.Ya Allah jika ini menjadi akhir kisahku, semoga kekuargaku hidup dengan baik. Nara maaf kakak ternyata pergi jauh.Suara pekikan dimana-mana, terakhir aku hanya merasakan genggaman tangan Tari yang begitu erat padaku serta satu ucapan terbata-bata yang sangat sulit aku ikuti darinya sebelum semuanya mati rasa.La ilaha illallah .[ E N D ]

Teruntuk Sahabatku
Teen
02 Jan 2026

Teruntuk Sahabatku

Baru saja lima menit yang lalu gadis ini merasakan nyamannya tidur suara berisik menginterupsikan dirinya untuk bangun. Suara berisik itu berasal dari Ibu nya yang kini tengah memanggil namanya untuk segera turun ke bawah.Dengan malas gadis ini pun turun dari kasurnya dan beranjak untuk keluar dari kamarnya. Terlihat sang Ibu dan juga Ayahnya yang tengah duduk dengan wajah cemas. Dan lebih cemas lagi ketika melihat gadis itu keluar.Di sana juga terdapat sang Kakak yang tengah berdiri dan langsung berlari untuk memeluk gadis itu. "Ca, kamu harus kuat ya Ca!" seru sang Kakak yang sedang memeluk dirinya."Ada apa sih Kak? Aca baru bangun tidur ini," tanya gadis yang memanggil dirinya Aca itu."Khansa, Mama tau kamu anak yang kuat. Kita ke rumah sakit sekarang ya, " kata sang Ibu yang sudah berdiri di hadapan gadis bernama Khansa itu dan mengelus pelan tangan gadis itu."Tunggu, ke rumah sakit? Ngapain Ma?" Khansa semakin bingung. Untuk apa ke rumah sakit jika tidak ada yang sakit. Dirinya baik-baik saja. Dan jika di lihat semuanya juga baik-baik saja."Ayo Ca! Nanti kamu juga tau. Kakak gak tega jelasinnya sekarang." Sang Kakak dengan cepat menarik Khansa menuju mobil disusul oleh sang Ibu dan juga sang Ayah.Khansa pasrah. Gadis itu masih bingung dengan tingkah orang tua dan juga Kakaknya. Dan mengapa mereka harus ke rumah sakit? Ada apa dengan rumah sakit?Tak ada yang berbicara selama perjalanan hingga mereka sampai di rumah sakit bahkan tak ada yang berbicara. Mereka menuju ke ruang gawat darurat. Di sana sudah banyak teman-teman Khansa dengan wajah sedih. Bahkan sudah ada yang menangis.Sekarang jam menunjukkan pukul dua malam. Mata Khansa menelusuri semua orang yang ada di sana. Sepasang suami istri yang tengah bersedih. Dengan sang istri yang menangis tersedu-sedu. Itu orang yang paling Khansa kenal.Orang itu, kenapa? Tapi tunggu, ada apa maksudnya ini? Khansa tak melihat orang yang dua jam lalu ia telepon. Semua teman-temannya ada di sini. Kenapa dia tidak?"Bunda? Ayah?" Khansa mendekati sepasang suami istri itu.Melihat Khansa yang datang mendekati mereka sang istri langsung berlari menghampiri Khansa dan memeluk gadis itu. Menumpahkan semua kesedihannya kepada gadis itu.Khansa yang hampir paham dengan situasi ini belum ingin mempercayai dirinya sebelum ada kejelasan. Ia tak ingin menduga-duga."Aja mana Bun?" Pertanyaan gadis itu semakin membuat wanita yang sedang memeluk dirinya itu menangis tersedu-sedu."Lepasin Aca, Bun. Aca mau lihat Aja, mana Bun?!" tanya Gadis itu lagi. Ia memberontak untuk di lepaskan dari pelukan hingga ia hampir saja tersungkur dan untung ada sang Kakak yang sigap menahan dirinya.Dengan kasar gadis itu menatap temannya satu persatu. Air mata yang tak dapat ia tahan sejak tadi pun sudah tumpah mengalir membasahi pipinya."Gak mungkin kan?! AJA GAK MUNGKIN NINGGALIN GUE! Dia udah janji sama gue!" kata gadis itu karena tak ada satupun yang berani melihat tatapannya.Pintu terbuka, dan bersamaan seorang dokter juga beberapa perawat mendorong sebuah ranjang yang terdapat seseorang berbaring dengan seluruh badan tertutup oleh kain putih. Terdapat beberapa bercak darah di atas kasur dan juga baju putih sang dokter."Tunggu!" Khansa mendekati ranjang itu dan dengan ragu membuka kain yang menutupi wajah seseorang yang tengah berbaring itu.Sekujur tubuhnya membeku. Ia melihat seseorang dengan wajah pucat dengan wajah yang sudah babak belur. Tubuh orang itu sudah membeku dan dingin. Benar-benar sudah tidak ada detak jantung untuk di rasakan."Ja ... Aja ... AJA BANGUN!!!" Teriak Khansa sambil mengguncang-guncangkan tubuh orang yang di panggilnya Aja itu."JA ... LO BILANG GAK MAU NINGGALIN GUE JA! BANGUN JA, BUKA MATA LO SEKARANG!" Teriak gadis itu semakin menjadi dan akhirnya jatuh ke lantai karena tak sanggup lagi untuk berdiri. Kakinya sudah begitu lemas."Jaa ... KHANSA DIERA!" Teriak gadis itu sebelum akhirnya ia pingsan.***Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya. Namun, gadis cantik ini masih saja tak berkutik dari kamarnya. Air matanya tak berhenti mengalir. Hanya ada bunyi gesekan kuku dan gigi.Di luar semua orang sibuk merapikan rumah. Membentang karpet dan juga meletakkan yasin. Sebentar lagi jenazah akan sampai. Semua warga sudah berkumpul untuk melakukan sholat, dan mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.Khansa Diera, laki-laki itu sudah tak ada lagi. Dengan begitu cepat. Tanpa firasat apapun. Tanpa ucapan terakhir sama sekali. Laki-laki itu pergi dengan tampang mengerikan. Dengan kejadian yang mengenaskan.Tak akan ada yang percaya tentang semua kejadian itu. Tapi, nyatanya begitu. Laki-laki itu benar-benar mati mengenaskan.Dengan wajah mengerikan Khansa, gadis itu keluar. Jempolnya dan juga bibirnya berdarah akibat gigitan dari jempolnya yang membuat kukunya patah.Mata sembab di tambah cekungan hitam membuat gadis itu tampak begitu mengerikan."Aja udah datang Bun?" tanya Khansa menghampiri wanita paruh baya yang tengah duduk bersebelahan dengan Mama gadis itu."Khansa, sini sayang." Wanita itu merentangkan tangannya hendak memeluk Khansa. Dan dengan cepat gadis itu berlari menjatuhkan dirinya di pelukan wanita paruh baya yang ia panggil Bunda itu.Tangisnya benar-benar pecah. Ia tak perduli dengan beberapa ibu-ibu yang tengah melihatnya kasihan. Gadis itu tak tahu harus bagaimana saat ini juga. Setengah dunianya telah hancur. Entah apa lagi yang harus ia lakukan tanpa setengah dari dirinya."Aja, Bun ... Aja ninggalin Aca, Bun," kata gadis itu dalam tangisnya.Wanita paruh baya itu hanya bisa mengelus-elus pelan punggung gadis itu yang bergetar hebat.Tak lama suara ambulance berbunyi diiringi dengan suara segerombolan motor mendekati area depan rumah. Laki-laki yang sejak tadi berjaga di luar mulai berdiri menghampiri mobil ambulance yang sudah memasuki area pekarangan rumah."Aca gak bisa anterin Aja, Bun. Aca mau ke kamar dulu." Gadis itu pun pergi meninggalkan ruangan tamu menuju kamar yang ia pakai tadi.Gadis itu, Khansa melihat dari jendela kerumunan orang yang tengah membawa keranda mayat menunju masuk ke dalam rumah."Tuhan jahat Ja, dia ambil kamu tepat di hari yang dulunya begitu spesial di hidup aku. Selamat jalan Aja dan selamat ulang tahun Aca."***Dear Khansa .Aku rindu, aku di sini baik. Sejak hari itu, aku berhenti untuk membuka diri. Aku masih mengikuti kata-kata mu. Menjadi bahagia. Dan aku bahagia saat ini. Tak banyak yang berubah dari diriku ini. Aku, tetaplah Khansa yang kamu kenal.Ada kalanya aku ingin pergi ke tempat kamu berada saat ini karena begitu merindukan mu. Namun, jika aku menemui artinya aku tak akan kembali lagi ke dunia ini. Dan aku tak akan bisa melanjutkan 1311 misi kita.Aku bertahan untuk itu. Walaupun sakit, aku akan bertahan Ja. Datang ke mimpiku. Aku akan bercerita banyak. Sungguh aku merindukan mu, Khansa.Khansa Muthiah.[ E N D ]

Ayana dan Mesir
Teen
02 Jan 2026

Ayana dan Mesir

Ayana adalah anak kedua dari keluarga yang terbilang sederhana. Ia tinggal bersama Ayah, Ibu dan Kakaknya. Ia anak yang cerdas dengan segudang pengetahuannya apalagi dalam ilmu agama.Bulan ini adalah bulan dimana ia harus mengkuti ujian nasional untuk menentukan kelulusan, Ayana harus belajar mati-matian demi mendapatkan nilai yang bagus.Ada satu hal yang Ayana inginkan setelah ia lulus SMA, ia ingin kuliah di Kairo, Mesir. Ayana memiliki keinginan itu karena ia pernah mendengar Bibinya bercerita bahwa kuliah di Kairo sangat berkesan apalagi disana mendalami ilmu agama. Bibinya bercerita seperti itu karena Bibinya juga seorang sarjana dari Universitas Al-Azhar di Kairo.“Ibu, boleh Ayana minta sesuatu?” Ia bertanya pada ibunya sebelum berangkat sekolah untuk mengikuti ujian nasional.“Boleh, memang Aya mau minta apa?” kata ibunya."Mm ... ga jadi deh Bu, nanti aja pulang sekolah Ayana kasih tau hehe. Sekarang Ayana berangkat dulu takut kesiangan.”Ayana rasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan kenginannya, terlebih lagi harus berangkat sekolah rasanya tidak enak jika harus kesiangan di hari pertama Ujian Nasional. Soal ujian Ayana kerjakan dengan jujur dalam artian tidak mencotek, mungkin setelah pulang sekolah ia akan berbicara pada ibunya soal keiinginannya.***“Assalamualaikum Ibu, Ayana pulang,” seru Ayana setelah masuk dalam rumah."Sini Ibu sudah masak, makan dulu!”Ayana kira tidak ada siapa-siapa dirumah ternyata ada Ibunya. Setelah selesai makan, Ayana dan Ibunya menonton televisi diruang tamu, ini waktu yang tepat untuk memberitahu Ibu, pikir Ayana.“Bu, soal keinginan Ayana, umm ...Ayana ingin minta izin sama ibu dan Ayah untuk kuliah di Kairo, apa ibu mengizinkan?”Ayana berbicara sambil menunduk.“Punya uang dari mana ibu? Untuk makan saja sudah kurang.” Sepertinya Ibu Ayana tidak mengizinkan, Ibunya masuk ke kamar tanpa menghiraukan Maida.Ibu Maida keluar kamar setelah memikirkan keinginan anaknya, Ibunya pikir akan lebih baik jika mendengarkan dulu penjelasan Ayana. Ayana yang kini sedang menatap layar televisi tidak menyadari Ibunya keluar dari kamar, ia baru menyadari ketika ibunya memanggilnya."Ayana, untuk yang tadi coba jelaskan lebih lanjut pada Ibu," pinta ibunya.“Jadi begini Bu, Ayana ini minta izin sama Ibu dan Ayah untuk mengikuti beasiswa kuliah di universitas Al-Azhar seperti Bibi dulu,” jelas Ayana.“Ohhh.” Ibunya hanya ber oh ria.“Jadi gimana Bu? Ibu izinkan?”“Kalau begitu Ibu mengizinkan tapi Ibu tidak tahu Ayah mengizinkan atau tidak,” jelas ibunya. Ayana senang Ibunya mengizinkan, untuk Ayahnya Ayana akan bertanya setelah Ayahnya pulang bekerja.Ayah Ayana pulang bekerja sekitar pukul 19.00, setelah Ayahnya membersihkan badan dan makan, Ayana pun mengajak Ayahnya ke ruang tamu dan menjelaskan panjang lebar. Hingga akhirnya Ayahnya juga mengizinkan, tapi tidak segampang itu sebelumnya Ayahnya mempertimbangkan dulu.Sehari kemudian Ayana mengikuti tes beasiswa, Ayana tinggal menunggu hasilnya saja mungkin pengumumannya setelah kelulusan 3 hari lagi Ayana akan menerima apa pun itu hasilnya. Bibinya datang kerumah mengantarkan buku-buku bekas ia kuliah dulu.“Bi Meli ini untuk siapa?” Maida bingung kenapa Bibinya membawa buku bekas ke rumahnya.“Ih Mai, ini kan buat kamu! Ini buku bekas Bibi kuliah dulu,” jelas Bibinya.“Ya Allah Bibi aku kan belum tentu dapat beasiswanya,” Maida heran Bibinya antusias sekali.“Bibi yakin Mai, Mai pasti dapat beasiswanya.”“Yasudahlah.” Percuma mengelak Bibinya, Maida mengambil bukunya dan disimpan di dalam kamar.Setelah tiga hari kelulusan, Ayana dinyatakan lulus, pengumuman beasiswa hari ini Ayana datang bersama kakaknya yang bernama Hakim.Pengumumanya akan di sampaikan dan yang mendapatkan beasiswanya adalah tiga orang yang disebut pertama kali adalah Ayana, rasanya senang sekali, Ayana merasa terharu hingga Ayana menangis haru dan memeluk Kakaknya. Alangkah bahagianya saat ini.Ayana pulang membawa kabar gembira pada keluarganya yang menanti Ayana, semua keluarga Ayana senang mendengar Ayana berhasil mencapai keinginannya. Mungkin keberangkatannya sekitar dua hari lagi, waktu yang sangat singkat jika untuk menyiapkan barang-barang bawaannya.Hari selasa Ayana mengemas barang yang akan dibawa besok ia dibantu Bibi dan Kakaknya."Ay, buku yang bibi berikan disimpan dimana?” tanya Bi Meli.“Aya simpan di kamar Bi, ambil aja,”Ayana mengemas beberapa baju kedalam koper, tak terasa ia sudah dewasa dan akan meninggalkan orang tuanya untuk kuliah ditambah lagi bukan kuliah di tempat yang dekat dengan rumahnya.Hari ini hari keberangkatan Ayana ke Mesir."Ibu, Ayah..kakak..bibi..,terima kasih,berkat doa dan dukungan dari kalian,Ayana bisa sampe sejauh ini" ucap Ayana yang sudah tak kuasa membendung air matanya."Ini juga berkat usaha kamu nak,kamu harus bangga"lalu ibu Ayana memeluknya dengan sangat erat.Ayana pun masuk kedalam pesawat dan tak lupa melambaikan tangan nya.Berkat kesabaran dan ikhtiarnya akhirnya ia bisa menginjakan kakinya di negeri para nabi, Allah memang Maha Menghendaki segala sesuatu. Beberapa jam duduk didalam pesawat dan mendarat dengan selamat kini Ayana akan mulai menapa jejak di Kairo, Mesir. Ayah, ibu, kakak dan bibinya menyuruh Ayana mengabari mereka jika sudah sampai, lalu ayana mengabari dan memberitahu bahwa ia sudah sampai, Ayana berjanji akan belajar disini dengan sungguh-sungguh."Percayalah,usaha Takan pernah mengkhianati hasil, teruslah berikhtiar,berdoa dan memohon pada yang kuasa dengan sungguh-sungguh.Tanamkan niatan yang baik,rencana yang baik,dan hasilpun Takan kalah baik.Bersinarlah tanpa memadamkan sinar yang lain"[ E N D ]

Sahabat Kecil
Teen
01 Jan 2026

Sahabat Kecil

Silvia Farannisa Yasmin adalah sahabat kecil dari seorang Alaska Bumi Ranendra, mereka bersahabat sudah dari umur kelas 1 sekolah dasar sampai kelas XI SMA, sudah lumayan lama juga."Aska balikin gak pulpen gue!" teriak Silvia atau biasa dipanggil Silvi."Wleek! Ambil kalo bisa," ejek Alaska. Silvi dari kecil selalu memanggil namanya dengan sebutan Aska."Awas lo ya, kalau ke tangkap gue sleding dari Indonesia sampe Amerika," ujar Silvi masih terus berlari mengejar Aska."Sini ambil nih ambil ayo," ejek lagi Aska.Alaska atau Aska ini adalah seorang lelaki tampan di sekolahnya yang membuat kaum hawa menjerit ketika melihat. Tapi bagi Silvi Aska itu biasa aja."Hosh, hosh, hosh. Aska udah ah gue capek mau ke kantin beli minum," ucap Silvi langsung berbalik arah ke kantin."Ikut Sil," teriak Aska."Ayo," balas Silvi.Sepanjang jalan mereka menuju kantin banyak para murid menatap dua sejoli sahabat itu dengan iri. Bagaimana tidak? Dengan paras Silvia yang cantik dan paras seorang Alaska juga sangat menawan.Hey! Banyak di SMA Wijaya ini yang menatapnya kagum. Selain cantik dan tampan dua sejoli Sahabat itu juga sering mengikuti olimpiade di berbagai sekolah maupun kota.Katakanlah mereka itu sempurna. Tapi yang membuat silvia kesal karena dari dulu sampai sekarang sifat seorang Alaska itu tak pernah berubah dengan yang namanya 'menjalihi' sahabatnya itu Silvia.Kata Alaska ' Gak ada kata gak jahilin l o setiap hari atau setiap detik pun '."Aska bisa diem gak sih lo, gue lagi makan tau!" geram Silvia ketika acara makannya diganggu oleh Aska."Gak bisa, gimana dong?" tanya Aksa dengan tampang bodohnya."Tau ah, percuma juga." Kesal Silvia langsung melahap makanannya sedangkan Aska menarik-narik ujung rambut Silvia sehingga kadang Silvia meringis kesakitan.Bagi Aska rambut Silvia itu candu baginya. Katakanlah Alaska itu lebay.Tapi Silvia beruntung mendapatkan sahabat seorang Alaska Bumi Ranendra. Ya walaupun kadang ngesilin sih.Tapi tanpa sepengetahuan mereka berdua ada satu siswi yang membenci mereka berdua, yaitu Naomi Shinta Areska siswi baru yang berlaga sok manis padahal di balik sikapnya ia memendam rasa benci pada Silvia. Sejak pandangan pertama Naomi sudah suka dengan Aska.Tapi Naomi ingin bermain secara lembut dengan Silvia. Hey licik sekali Naomi."Ska sini bola nya," panggil Silvi, saat ini mereka berdua sedang bermain basket di lapangan sekolah."Tangkap ya."Hap!Bola itu langsung di tangkap mulus sama Silvia."Aww sshh," ringis Silvia ketika ada batu yang entah dari mana menghantam kepalanya yang membuat kepalanya mengeluarkan sedikit darah."Lo kenapa Sil?" tanya Aska cemas"Gak apa-apa.""Gak apa-apa gimana? Liat kening lo berdarah tuh!" ujar Aska."Udah cuma luka kecil, anterin gue ke UKS aja yuk," ajak Silvia. Dari pada ia dan Aska akan bertengkar nanti.Di rooftop seorang gadis licik yang menyamar sebagai gadis polos tersenyum menyeringai. Kalian pasti tau siapa dia. Ya dia adalah Naomi si gadis lugu berubah jadi licik yang tadi melempar batu ke arah silvia."Ini baru awal permainan," gumam Naomi tersenyum miring.[ E N D ]

Patah Hati Cinta Online
Teen
01 Jan 2026

Patah Hati Cinta Online

Hari itu ... tepatnya pada malam Sabtu, dia yang memulai chat duluan dengan gombalan kata manis. Dengan menggunakan nomor adik sepupunya, ia mulai mengetikkan pesan."Malam.""Lagi apa?" ucapnya pada pesan tersebut. Seketika keningku mengkerut, apakah Araa yang mengirimiku pesan seperti ini? Ah ... tapi rasanya sangat mustahil.Akhirnya, kuputuskan untuk membalas pesan tadi. "Malam juga, maaf ini siapa?" Lalu langsung ku kirim. Awalnya aku biasa saja, dan tidak terlalu memperdulikannya. Namun lama kelamaan dia semakin menjadi! Gombalan manis serta bualan ia lontarkan padaku. Aku, yang hanya wanita biasa yang dapat merasakan ‘bawa perasaan’ semakin menjerit girang. Apa-apaan sih, dia ini. Bagaimana jika anak orang naksir padanya? Apakah ia mau bertanggung jawab?!Yang awalnya hanya chat biasa, saling curhat, namun sekarang sangat akrab. Dan bahasa yang kami gunakan -dalam chat pun sudah mulai ngelantur. Dia yang terus memanggilku dengan sebutan “Sayang.”Dan aku yang terus baper, salting, bahkan sampai menggigit bantal gulingku! Oh ayolah ... pasti kalian tahu 'kan seberapa besar efek ‘gombalan manis buaya’?Dan sekarang aku benar-benar sudah tidak waras!Keakraban kami di chat WhatsApp , tentunya membuat kami berdua juga semakin dekat. Hal itu membuat rasa penasaranku tentang dirinya semakin memuncak. Ah apakah kalian belum tahu? Memang dari awal kami berdua chattingan , aku sama sekali tidak mengetahui identitasnya, Yah ... kecuali namanya saja! Rupa wajah, umur, sekolah, dan sebagainya aku sama sekali belum tahu!Perlahan mulai ku caritahu lebih dalam tentang identitasnya. Bersyukurlah karena ia mau memberitahukan identitasnya padaku. Yah ... setidaknya aku tidak berharap dengan sesama jenis, haha.Setiap hari libur ia selalu mengirimiku pesan, kebanyakan dia lebih sering menjadikanku sebagai pendengar ‘dari semua isi curhatannya’. Yaa ... aku terima-terima saja, toh, aku juga gabut tidak ada yang chat.Seiring berjalannya waktu, tanpa kusadari ternyata ia menaruh perasaan padaku. Dia ... menyukaiku! Bahkan dengan terang-terangan ia menyatakan rasa sayang dan suka secara langsung lewat chat. Aduh ... bagaimana ini? Aku baper ish! Dia meminta jawaban tentang pernyataannya, namun aku memintanya untuk menunggu sebentar karena aku harus berpikir.Setiap malam selalu senyum-senyum sendiri, susah tidur akibat pernyataannya, dan sampai di bilang tidak waras oleh orang tuaku. Tepat pada malam Minggu, salah satu teman hangout- nya mengirimiku sebuah pesan.“Eh, lo doinya si **** ya?”Aku kaget! Bagaimana bisa dia tahu tentang itu?! Tidak mau membuatnya salah paham, akhirnya aku membalas pesan, “Bukan kok. Baru deket aja.” “Anjir! Tapi ... si **** bilang lo pacarnya.” Tepat saat itu juga pipiku merona dan jantungku berdebar, memacu lebih cepat.Karena sudah tidak tahan, aku menyuruh temannya yang mengambil alih handphone- nya untuk dikembalikan kepada si pemilik. Lalu langsung kutanyakan apa maksud dari ucapan temannya barusan?! Dan dia bilang bahwa dia sudah sayang dan cinta mati padaku, ditambah lagi status dia yang sekarang jomblo. Membuat dirinya secara berlebihan menghalu memiliki pacar sepertiku.Aku sangat senang, namun risau. Disatu sisi, aku mulai menaruh hati padanya, namun di sisi lain, orang tuaku mengajarkanku untuk tidak memikirkan lelaki terlalu dalam. Apalagi berpacaran!Saat ini kami berdua tengah dilanda oleh kesibukan. Aku yang baru kelas 9 dan harus mempersiapkan bekal untuk ujian, begitupun dengannya yang kelas 12 dan sibuk dengan segala kegiatan organisasi yang diikutinya. Sekarang tidak sedekat dulu, ditambah dengan perbedaan jarak. Aku di Jakarta, sedangkan dia di Bandung.Yah ... aku paham, dan aku juga mengerti. Kedekatan ini hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Dan jika suatu saat nanti dia memiliki kekasih 'nyata' di sana, aku juga akan senang. Toh, itu hak dia. Atau mungkin dia sudah melupakanku? Tidak apa-apa, aku ikhlas. Ini semua telah ditentukan oleh takdir. Yang awalnya sangat dekat atau akrab, tidak selamanya begitu. Begitupun dengan yang saling sayang, bisa saja takdir memutar keadaan membuat kalian saling membenci pada akhirnya.Ini, skenario tuhan. Semua sudah ada jalannya masing-masing. Tinggal kita saja yang memainkan peran sebagai tokoh utama.Dari kejadian ini aku belajar bahwa, mengharapkan sesuatu yang berlebihan itu sangatlah tidak baik. ‘Apalagi yang bukan pada tempatnya’. Dan juga semua yang berbau online tidak semuanya 'nyata', atau bahkan ada juga yang bersifat 'rekayasa'.“Hidup itu yang pasti-pasti aja. Selama kita melangkah ke jalan yang benar, dan berbuat baik kepada semua orang. Percayalah, maka Allah SWT juga akan membimbingmu kepada kehidupan yang lebih layak dan penuh kenikmatan.”– Liyara ✨[ E N D ]

Possesive Andra
Teen
01 Jan 2026

Possesive Andra

Suara langkah kaki dari ujung koridor membuat seorang gadis mempercepat langkahnya, bahkan kini ia mulai berlari untuk menghindari orang yang baru saja membuat keributan itu."Gisel!"Gisel seolah menulikan telinganya, ia lelah, lelah dengan Andra yang masih berstatus sebagai pacarnya itu.Grep!Andra berhasil memegang lengan Gisel dan menghentikan cewek itu, mereka terengah-engah.Saat di rasa sudah cukup untuk terdiam, Gisel membalikkan badan, menatap Andra dengan wajah galaknya."Kamu marah sama aku cuma karena cowok itu?" tanya Andra, rahangnya mengeras, pertanda ia marah besar, tetapi bukan Gisel namanya kalau menurut dengan Andra."Andra, aku sama dia cuma temen. Dia baik sama aku karena dia udah bantuin aku nyelesain proposal buat event sekolah.""Kan masih ada anak OSIS yang lain, kenapa harus cowok? Ini nih yang aku nggak suka kalo kamu ikut organisasi kaya gitu.""Anak OSIS lain juga pada sibuk ngurus seksi yang dia urus, masih untung aku di kasih bantuan, lagian mau aku ikut organisasi atau nggak ya itu urusanku!"Andra menggeram, ia marah dan kesal karena semakin hari Gisel semakin berani melawannya dan membantah setiap ucapannya."Aku nggak suka ya kamu ngelawan aku kayak gini," ucap Andra. Menekankan setiap kalimat yang terucap dari bibirnya."Aku juga nggak suka kamu buat keributan kayak tadi sampe mukul Rian!" sentak Gisel, menyebut nama cowok yang menjadi inti dari permasalahan mereka."Sebut namanya sekali lagi!""Rian! Rian! Rian!" Gisel mengangkat wajahnya dengan angkuh, seolah berkata, 'mau apa lo?' dengan sangar.Andra menarik Gisel menuju parkiran sekolah, membuat cewek itu kelabakan sendiri."Andra! Ngapain ke parkiran? Bentar lagi aku ada kuis dari Bu Lidia!" Di antara semua hal, Gisel paling tidak suka melewatkan nilai tambahan atau apapun yang dapat mengurangi nilainya, itu sebabnya Gisel selalu menjadi murid teladan, kesayangan para guru.Gisel terus meronta tetapi tenaga Andra lebih besar dari dirinya, hingga mereka sampai di depan mobil mewah milik Andra.Tanpa banyak bicara, Andra memaksa Gisel untuk masuk ke dalam mobilnya, diikuti dengan Andra."Aku mau turun! Aku nggak mau jadi urakan dan sering bolos kayak kamu ya Andra!" jerit Gisel."Orang yang kamu sebut urakan dan sering bolos itu pacar kamu," desis Andra. Ia melajukan mobilnya, menyogok Pak satpam dengan beberapa lembaran merah di dalam dompetnya.Gisel mendengus kesal saat mereka sudah berhasil keluar dari kawasan sekolah mereka, rasanya ia ingin mengumpat keras-keras.Bukan salahnya memilih Andra, salah kan Andra yang dulu sangat manis hingga ia menerimanya menjadi pacar. Tetapi entah kenapa, semakin ke sini, Andra malah semakin possessive dan pencemburu.Gisel benci di kekang seperti ini, jika saja ia tau akhirnya akan seperti ini, mungkin ia akan memilih tidak mengenal Andra.Mobil Andra berhenti di jalan yang sepi, membuat Gisel sedikit ketakutan, ia kemudian menatap Andra dengan horor."Kita ngapain berhenti disini?! Kalau kamu nggak mau nganter aku balik ke sekolah, yaudah. Aku bisa sendiri kok." Gisel hendak membuka pintu mobil itu tetapi dengan cepat Andra menahan pergerakannya.Napas Andra terasa di leher Gisel karena saking dekatnya wajah mereka, Gisel tau seperti apa Andra jika sedang marah, cowok itu seperti orang yang kesetanan, melampiaskannya pada siapa saja termasuk Rian, salah satu anggota OSIS yang paling dekat dengan Gisel."Udah berapa kali aku bilang, turutin aku, kamu aman," ucap Andra tepat di telinga Gisel, membuat gadis itu sedikit meremang.Gisel mendorong Andra dengan kasar."Cukup ya, selama ini aku udah ngalah buat keegoisan kamu, aku juga udah sabar sama sikap posesif kamu, tapi sekarang aku muak, aku benci di kekang!"Gisel pikir Andra akan melakukan sesuatu yang lebih jauh mengingat sikap cowok itu, tetapi ia salah."Oke, kalau kamu ngerasa aku ngekang kamu lebih baik kita ... putus."Andra memejamkan matanya, menahan hujaman rasa sakit yang ada di hatinya, sedangkan Gisel terbelalak, tak menyangka jika Andra semudah ini memutuskan hubungan mereka."Ndra, ka-kamu serius?"Memang ini yang Gisel inginkan, putus dari Andra dan mendapatkan kebebasannya kembali, tapi ia tak menyangka keinginannya akan terkabul semudah ini.Kenapa sakit ya?Gisel dan Andra sama-sama terdiam setelahnya, tak ada yang berbicara, bahkan Gisel pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil itu.Andra menghela napas, ia menyenderkan kepalanya, enggan menatap Gisel yang kini sedang kebingungan."Ndra, kamu ... serius?""Kamu mau turun kan? Yaudah turun," ucap Andra, tanpa melihat ke arah Gisel, takut jika pertahanannya runtuh seketika.Gisel menggeleng tak percaya, kemudian ia keluar dari mobil Andra dengan perasaan campur aduk, kenapa? Kenapa ia tak rela?***Satu minggu kemudian .Gisel termenung di kamarnya, sejak ia putus dengan Andra entah kenapa ia merasakan kehilangan yang amat sangat besar.Dulu, Gisel tak pernah suka di kekang oleh Andra. Andra yang possessive , cemburuan, dan egois membuat Gisel ingin putus darinya, lalu kenapa sekarang ....Pandangan Gisel beralih pada sebuah surat berwarna biru yang berada di atas nakasnya.Surat itu adalah pemberian dari Andra tiga hari sebelum mereka putus, Andra bilang bahwa ia tak boleh membuka surat itu sebelum mereka putus, aneh memang, tetapi itulah Andra, penuh dengan teka-teki.Setelah mengumpulkan keberaniannya, Gisel mengambil surat itu dan membukanya hingga nampak kalimat yang tersusun rapih dengan tinta hitam.Hai, Giselove.Aku Andra, pacarmu atau mungkin udah mantan (?) Aku nggak tau apa yang akan terjadi kedepannya.Aku ingin kamu tau Gisel, Aku sayang kamu.Saat kamu nerima aku buat jadi pacar kamu hari itu, aku senang, sangat malah. Sampe rasanya aku pengen bilang kalau kamu itu pacarku.Tapi, takdir berkata lain, dua bulan setelah kita pacaran, aku punya kelainan jantung. Dokter memvonis aku kalau umurku udah nggak lama lagi.Kamu tau? Bolosnya aku selama ini karena aku lagi berobat buat menyembuhkan penyakitku. Aku nggak ingin kamu tau, karena aku nggak mau kamu khawatir.Sayangnya, dokter bilang kalau usiaku tinggal menghitung hari, aku takut, takut kehilanganmu.Karena itu aku possessive sama kamu, karena aku ingin menggenggam kamu, sampai aku nggak mampu lagi untuk menjaga kamu.Maaf ya kalo kamu ngga nyaman.Sekarang, aku udah nggak mampu lagi buat ngejaga dan mempertahanin kamu, kamu berhak lepas dari aku.Kamu boleh cari pangganti aku, tapi aku mohon.Jangan lupain aku, karena aku pernah mengisi kebahagian kamu.Dari : Andranya Giselove[ E N D ]

Tunangan
Teen
01 Jan 2026

Tunangan

Aku telah berada di sini. Berdiri diantara 2 tiang penyangga sebuah café yang cukup besar. Padahal seingatku kemarin, aku mati matian menolak untuk datang. Tapi aku telah berada di sini sekarang. Apa temanku memasukkan sesuatu ke kepalaku hingga tanpa sadar aku pergi kemari? Sepertinya tidak, aku datang untuk melihat orang ku sukai sekali lagi. Dengan sangat berat hati sekali kulangkahkan kakiku memasuki ruang tempat acara di gelar. Ruang yang dipenuhi bunga kebahagiaan di mana mana. Seharusnya aku membawa bunga duka cita sebagai hiasan kecil. Namun hatiku yang berduka tak akan sebanding dengan kebahagiaan setiap orang yang menginginkan pasangan itu. Atau lebih tepatnya, menginginkan makanan dari pasangan itu. Mataku berkeliling mencari tempat duduk. Sepertinya semua telah dipenuhi oleh orang-orang yang kelaparan. Aku pun memutuskan untuk berdiri di sudut. Berharap air mata di sudut mataku tak akan tergelincir saat melihat mereka nanti.Suara riuh mulai terdengar saat 2 pasang kaki keluar dari sebuah ruangan. Mereka terlihat sangat menawan dengan setelan jas dan gaun berwarna putih. Salah satu dari mereka melihat ke arahku. Tersenyum penuh arti. Maksudnya, itu berarti senyum yang terakhir untukku. Kuyakinkan hatiku untuk membalas senyum itu. Tapi ia menolehkan wajahnya ke arah yang lain. Jika ini hari biasanya, sepatu yang kupakai pasti telah lepas dengan sendirinya dan terbang ke wajah pria itu. Tapi yang luar biasanya, ia bahkan tak mengucap sepatah katapun untuk mengucapkan selamat tinggal padaku.Acara bodoh ini membuang 2 jam waktuku. Kaki kaki jenjangku terus meronta untuk keluar. Namun perutku yang keriput terus berteriak memintaku untuk mengisinya. Makanan dari pasangan menyebalkan itu? Tidak, aku tak akan tega memakannya. Lagipula, gadis itu lebih kurus dariku, ia pasti membutuhkan lebih banyak makanan agar tetap terlihat cantik di depan pasangannya. Aku tak pernah meminta tanganku untuk mengambil makanan, tapi piring kosong di depanku tadi telah terisi penuh dengan makanan. Sepertinya tanganku lebih pandai dari hatiku sekarang. Kuselesaikan makanku secepatnya dan bergegas pulang. Namun baru beberapa langkah mendekati pintu, suara lembut itu memanggil namaku. Sahabat lamaku, Jelita. Sepertinya ia baru menyadari kehadiranku beberapa detik yang lalu."Viola, kau mau kemana? Acara baru saja dimulai." Jelita tersenyum manis, seperti tak ada sesuatu yang terjadi."Baru saja dimulai, pantatku. 2 jam dan kau bilang baru saja dimulai? Kau mau mengakhirinya sampai kapan? 2 hari 2 malam?" Jawabku dengan nada kesal, seperti biasanya."Mengakhiri apa?" Tanya Jelita sedikit terkejut."Oh, apa aku terlalu banyak bicara?" Tanyaku dalam hati. "Mengakhiri acaranya, tentu saja. Kau pikir?""Aku tau kau tak sejahat itu dan mendoakan hubunganku dan Zelo segera berakhir." Jelita tersenyum. Menampakkan kebahagiaan di setiap sudut wajahnya. "Oh iya, aku pikir yang kau katakan tentang ramuan, itu semua benar." Ia kembali tersenyum."Ramuan?" Aku bertanya dalam hati.*Flashback*"Jelita! Apa yang aku katakan tentang jangan terlalu dekat dengan Zelo? Bagaimana kalau ia memakai ramuan yang membuatmu jatuh cinta di setiap sentuhan tangannya?" Bentakku."kau yang seharusnya menjauhi Jelita! Kenapa kau membuatnya begitu buruk sampai ia tak memiliki kekasih sampai sekarang?!" Zelo balik membentakku."Bagaimana bisa aku melepaskannya yang begitu lemah? Bagaimana kalau sesuatu terjadi saat aku membiarkannya bersama orang lain?""Memang kau ini siapanya? Ibu? Saudara? Atau jangan jangan, kau benar benar meyukai Jelita dan berencana untuk menjadikannya..." Zelo belum selesai bicara."Plak.."Sepatuku mendarat tepat di pipi kanannya. Dia, pria di depanku yang menyebarkan rumor tentangku yang menyukai sesama perempuan. Aku memang tak punya perasaan dan aku tak pernah peduli dengan gossip. Tapi bukan berarti seluruh keluargaku sama sepertiku. Bagaimana kalau mereka tau? Bagaimanapun, hidupku bukan sebuah sinetron dimana aku bisa bunuh diri seenaknya karna hal semacam itu.*Flashback end*"Oh, kau begitu lucu setiap kali bersama Zelo. Tak pernah terpikirkan olehku kalian akan berpisah secepat ini. aku tau hidup Zelo tak akan berwarna tanpamu." Oceh Jelita."Kalau kau tau hidupnya tak akan berwarna tanpaku, kenapa kau tak menyerahkannya saja untuk menjadi kekasihku?" Tanyaku dalam hati. "Cih, kau terlalu berlebihan, Jelita. Kau yang membuatnya tersenyum. Sedangkan aku hanya membuatnya marah setiap hari.""Sebenarnya, kau lebih sering membuatnya tertawa daripada marah. Bahkan ia tak pernah benar benar marah terhadapmu."*Flashback*"Kau harus mengerjakannya. Aku terlalu sibuk untuk menghafalkan tugas sebanyak itu." Zelo membanting buku tugas di depanku."Apa kau bilang? Kau pikir aku ini siapamu? Ibumu? Kakakmu? Kekasihmu?" Bentakku menatap matanya yang indah, mungkin."Kenapa kau tiba-tiba mengatakan tentang kekasih? Apa kau menyukaiku? Jadi jika kau mengerjakannya untukku, aku harus menjadi kekasihmu?" Tanya Zelo semakin berani."Kekasih, pantatku. Mata ku tak seburuk mantan mantanmu. Mataku masih bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk.""Dan aku termasuk?""Kau termasuk setan dengan wajah terburuk." Jawabku dengan wajah tanpa dosa."Untung saja kau masih meiliki wajah seperti manusia. Coba kalau wajahmu sudah menjadi bentuk aslinya, aku tak akan segan melemparkan hatiku dari kejauhan.""Apa kau bilang?!"Tanpa aba aba lagi kulemparkan injakan mautku ke kakinya yang sebesar monster.Sedetik, 2 detik, 3 detik, ia terlihat biasa saja. Detik berikutnya, ia meronta meronta agar kulepaskan. Tentu saja tak semudah itu. Saat ia bersiap memukulku, aku telah berlari sejauh mungkin. Dengan tawa yang meledak. Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada menyiksa Zelo memang. Setiap ekspresi kesakitannya adalah sebuah kebahagiaan bagiku. Aku tak akan pernah bertemu orang dengan otak keledai sepertinya. Selalu masuk keperangkapku meski telah ribuan kali ku pancing.*Flashback end*"Sesaat setelah kau keluar dari kelas, ia berkata "Kau selalu lucu setiap kali marah. Aku tak akan pernah bisa marah pada tingkahmu. Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada mengganggumu memang. Setiap ekspresi kekesalanmu adalah sebuah kebahagiaan bagiku. Aku tak akan pernah bertemu orang dengan otak keledai sepertimu. Selalu masuk keperangkapku meski telah ribuan kali ku pancing." Bukankah itu lucu?" Kata Jelita."Apakah semenyangkan itu melihatku dan Zelo ribut? Sepertinya semua orang melihatku seperti hiburan gratis tiap harinya." Kataku dengan wajah kesal."Kenapa kalian bicara sangat lama? Aku menahan diriku untuk menghampiri kalian, tapi perasaanku terus memaksaku untuk menemui musuh bebuyutanku ini." Zelo mengacak rambutku lembut. Aku tak ingin menyukainya lebih lama. Aku tak ingin air di sudut mataku keluar sekarang."Aku harus pergi." Kataku melepaskan tangan Zelo."Eeei, kau mau kemana? Apa kau tak mau melihat kami bertukar cincin?" Zelo menahan lenganku. Perasaanku hampir meledak karenanya."Lakukanlah sendiri. Kalau mau menukarkan cincin, tukarkan sendiri ke tokonya.""Apa kau benar benar wanita? Kau bahkan tak tau arti bertunangan sesungguhnya. Aku bahkan ragu kalau kau pernah menyukai seorang pria." Zelo menatapku."Pria yang kusukai itu kau! Bodoh!" Aku berteriak dalam hati. "Katakan sekali lagi, dan kau tak akan bisa melihat mentari esok." Kataku dengan tatapan menyeramkan, seperti biasanya."Zelo, sekali saja jangan membuat keributan saat bertemu Viola." Kata Jelita lembut.Mungkin kelembutan itu yang membuat Zelo jatuh cinta padanya. Kelembutan yang tak kumiliki. Tak akan pernah bisa kumiliki. Mungkin kekasaranku yang membuat Zelo tak pernah bisa berbalik ke arahku."Tentu saja aku tak akan merusak hari kebahagiaan kita. Oh iya, Viola, apa kau ingat doamu? Aku berterima kasih, sebab doamu benar benar terkabul sekarang." Kata Zelo tersenyum mengejek.*Flashback*Tanganku belum juga selesai menari sejak tadi. Aku tak akan lelah menulis sajak indah di dalam buku kesayanganku. Keramaian di sekitarku sedikit mengganggu memang. Namun tak ada yang lebih mengganggu dibanding suara Zelo. Aku serasa ingin mencincangnya sekarang juga tanpa ampun."Zelo! Kau ini manusia atau hanya jelmaannya? Saat aku bilang jangan ganggu Jelita, itu berarti kau sama sekali tak boleh menyentuhnya!" Teriakku."Sebenarnya aku tak menyentuhnya. Aku hanya meminta selembar bukunya tetapi ia malah mengejarku sejak tadi." Zelo terus berlari dengan Jelita di belakangnya."Kalau kalian terus ribut, kalian bisa benar-benar jadian nantinya." Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibirku."Baguslah, aku akan terus mengajak ribut Jelita agar ia bisa jadian denganku."Seperti kilat yang menyambar langsung ke hatiku tanpa ampun. Bukan hancur, hangus tak bersisa rasanya perasaanku. Aku tak pernah mengerti, tak pernah bisa mengerti. Kenapa ia memberi harapan besar padaku, dan menghancurkannya begitu saja setelah terbangun megah di hatiku. Sekian lama aku membuat perasaanku padanya terlihat indah, dan ia meremukkannya dalam sedetik. Semua perasaanku berbaring di sini menantinya. Tapi ia tak pernah kembali ke tempatku. I can't stop loving you. I can't stop loving you tonight.Aku terlalu bodoh menyukai orang sepertimu. Sikapmu tak berbeda pada orang lain. Aku terlalu bodoh jika berpikir kau juga mencintaiku. Cintamu mencekikku semakin dalam dan dalam. Membuatku menderita agar aku pergi dan meninggalkan semua yang tlah kuperjuangkan. Tapi aku tak akan pergi. Meski api telah membakar seluruh tubuhkku. Aku tak akan pergi selama kau tak memintaku. Cintamu menjeratku. Membuatku tak bisa bergerak dari keadaan yang menyiksa. Tak ada tempat untukku kembali. Aku tak akan pernah bisa kembali dari keadaan yang menyiksa ini. Tak sadarkah kau bibirku bergetar saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir indahmu? Itu menyakitkan. Hatiku ikut bergetar hebat karenanya. Kau menyesatkanku dengan cintamu. Tak pernah membiarkanku melihat cinta yang lain.*Flashback end*"Lanjutkan acaranya. Aku harus pergi sekarang." Aku merasa sesuatu menyesakkan mataku. Bulir bulir bening mengaburkan pandanganku."Semoga kau bertemu seorang yang mencintaimu dengan tulus." Bisik Zelo sebelum kakiku melangkah.Aku membawamu terlalu jauh kedalam hatiku. Hingga ku tak mampu lagi menggapaimu untuk keluar. Aku begitu tersiksa menatapmu seperti ini. Seseorang yang tak pernah membalas tatapan mataku. Mata indahmu terlalu berharga untuk melihatku. Terlalu berharga untuk menatap jauh ke dalam hatiku. Dapatkah hatiku benar benar tenang saat kau tak berada di depan mataku?. Berikan aku waktu sedikit saja untuk menyukaimu. Izinkan aku menyukaimu sebentar saja. Izinkan aku berharap kau dapat membalas perasaanku. Bukankah kita menatap langit yang sama. Meski bukan ditempat yang sama. Mata kita masih bisa saling bertautan dan memandang. Kebahagiaan yang sesungguhnya hanya datang pada pemeran utama jika itu dalam drama. Untuk sebuah kehidupan, aku tak akan mampu menjadi pemeran utama. Pemeran utama yang lemah dan disukai banyak pria. Aku, hanya aku yang kasar dan menyebabkan masalah.

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 2 dari 7
Menampilkan 24 cerita