Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Masa Lalu Membuatku Galau
Pagi yang indah bersama mentari yang menghangatkan jiwa. Bahagia! Seperti itulah gambaran yang kami rasakan saat ini. Berbaris rapi di tengah lapangan, menunggu aba-aba dari sang komandan. Aku tidak tahu persis mengapa mereka menyebutku sebagai komandan? Padahal usia kami sama, 15 tahun. Yang membedakan hanyalah statusku sebagai ketua kelas bagi mereka. Mungkin itulah alasan mereka memanggilku komandan. Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai gurauan mereka.Seperti biasanya, setiap hari sabtu jadwal mata pelajaran kami adalah olahraga. Banyak siswa yang menggemari pelajaran olahraga, termasuk aku. Bisa dikatakan aku hampir menguasai semua materi tentang olahraga yang sudah pernah guru ajarkan. Termasuk hari ini, materi tentang bela diri adalah materi yang paling aku sukai.Hari ini kami belajar tentang bagaimana cara kita tetap bisa berdiri tegap disaat orang-orang berusaha untuk menjatuhkan kita. Yah! Walaupun kita pernah melakukan kesalahan, setidaknya berusahalah untuk belajar dari kesalahan yang pernah kita perbuat. Percayalah bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Sehebat apapun diri mereka.Sekarang giliranku untuk menunjukkan kebolehanku dalam ilmu seni bela diri. Yang harus aku lakukan adalah fokus dan konsentrasi. Daaan pertarungan dimulai.Hiyaaakk!!Uhh!! Awal yang bagus. Lawanku menggunakan kekuatan lengan untuk menyerangku. Kucoba untuk menangkisnya. Alhasil lawanku kembali ke posisi semula dan tidak berhasil menjatuhkanku.Memasuki tahap kedua, kini giliranku untuk menyerang. Meskipun lawan yang kuhadapi saat ini adalah sahabatku sendiri, tapi di posisi saat ini dia adalah lawanku. Di permainan ini lawan punya tiga pilihan, mengalah, bertahan dan mengalahkan lawan. Strategi yang kugunakan adalah menggunakan kedua lengan dan satu kakiku untuk menyerang. Alhasil, dia tak mampu untuk bertahan. Permainan telah usai. Tapi, Tiba-tiba dia kembali menyerangku dengan meninju bagian wajahku. Aku yang tidak siap dengan serangan itu dengan spontan menutup wajahku menggunakan telapak tangan, lalu pamit ke guru olahraga kami. Mereka semua tidak boleh tahu tentang kelemahanku.Bel istirahat telah berbunyi. Sementara aku masih di ruang ganti. Aku sama sekali tidak berani untuk keluar dari tempat ini. Darah segar masih saja terus mengalir dari kedua lubang hidungku. Yah, inilah kelemahanku, selalu mimisan disaat hidungku dipukul, apalagi saat ditonjok seperti tadi. Uhh! Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa? Yang tahu dan yang selalu memahamiku di saat situasi seperti ini adalah Kevin. Yah, sahabatku yang tadi menonjokku. Entah mengapa hari ini dia berubah.Sebelum teman-teman datang ke ruangan ini, aku harus keluar ke tempat yang sepi. Di mana lagi kalau bukan di toilet. Sekalian untuk membersihkan darah yang terus mengalir dari kedua lubang hidungku. Di saat aku sedang membersihkan darah di bawah hidung, di saat itu pula aku teringat semua kenangan bersama Kevin. Kevinlah yang selama ini selalu menjadi partnerku dalam hal apapun selama di sekolah.Beberapa menit berselang, aku mendengar suara beberapa orang yang sedang ngobrol. Sepertinya suara itu tidak asing lagi di telingaku. Itu sepertinya suara dari orang yang aku kenal. Ternyata dugaanku benar. Dia adalah Ronald kelas IX A. Ronald terkenal dengan kemampuannya yang jago bela diri. Namun, dipertandingan beladiri antar kelas tahun lalu aku mampu mengalahkannya. Raut kekesalan di wajahnya pun tampak jelas saat aku mengalahkannya di depan banyak orang kala itu. Dan sampai saat ini kekesalan dan dendamlah yang selalu ia tampakkan di kala ia berjumpa denganku.Darah telah berhenti mengalir dari ke dua lubang hidungku dan Alhamdulillah perasaanku sudah agak enakan. Namun, setelah aku keluar dari toilet, Ronald dan kawan-kawan sudah berdiri rapi tepat di hadapanku. Entah mereka sengaja menghampiriku atau cuma kebetulan. Yang jelas akhir-akhir ini mereka selalu menatapku dengan ekspresi penuh dendam.“Hai, Fadhil. How are you?” Sapa Ronald dengan wajah yang agak menakutkan menurutku.“Hai, …” Jawabku sedikit gemetaran. Aku takut mereka akan melampiaskan kekesalan dan dendam yang sudah setahun mereka pendam. Kini tak ada lagi Kevin yang menemaniku.“Hei, come on, jangan gemetar gitu, santai aja.” Katanya lagi sambil merangkul pundakku.“Oh ya, aku dengar –dengar tadi kamu membuat kehebohan di luar sana. Kamu mempermalukan sahabatmu sendiri di hadapan teman-teman kamu? Bahkan di hadapan guru? Ya kan?’’ Tanyanya melotot padaku.Aku harus berusaha pergi sebelum mereka memukuliku.“Ee,,,, tadi itu praktek. Guru memberi nilai. Jadi, aku melakukan apa yang aku bisa." Jawabku.“Ooh,,, jadi karena masalah nilai kamu melakukan semua itu pada sahabatmu sendiri.“ Ungkap teman yang ada di sampingnya."Mm maaf, aku permisi." Kataku lalu beranjak pergi.Tapi sepertinya mereka tidak membiarkanku pergi. Dengan paksa Ronald menarik kerah bajuku lalu memukuliku hingga terjatuh di hadapan mereka."Hey, jangan lari dari masalah, kamu!" Kata Ronald melotot padaku.Aku menutup kedua mataku. Aku tak mampu melihatnya yang terus melotot. Jujur, aku paling tidak suka melihat ada orang yang melotot, apalagi orang itu melihat ke arahku. Hal itu membuatku teringat masa lalu.Aku sebenarnya tidak tega melihat diriku seperti ini. Aku merasa aku kembali ke masa lalu dimana saat aku dibentak oleh papa.Dulu papa sangat tidak manusiawi dalam memperlakukan kami sebagai keluarganya. Kerjaannya main judi dan terus memeras mama. Jika mama tak punya uang, maka papa akan membentak mama bahkan sampai memukulinya. Aku yang menyaksikan mama disakiti, tidak tega rasanya bila hanya tinggal diam. Kala itu aku membela mama yang tidak mampu melakukan apa-apa. Aku mengatakan pada papa bahwa semua ini bukan salah mama. Mama tidak melakukan kesalahan sama sekali. Justru yang salah itu papa, yang terus menerus memeras mama. Tapi papa bukannya menyadari kesalahannya, malah aku yang ikut dibentak dan dipukuli. Akhirnya mama tidak tahan dengan keadaan yang terus membuatnya tersiksa dan minta cerai ke papa. Saat papa mendengar mama minta diceraikan, disitulah papa baru menyadari kesalahannya dan minta maaf pada mama. Tapi, apa boleh buat, mama terlanjur kecewa dan sakit hati karena perlakuan buruk papa. Dan pada akhirnya mereka bercerai.Itulah alasan mengapa aku ingin menguasai ilmu bela diri dan selalu ingin menjadi juara di setiap perlombaan yang aku ikuti. Karena aku ingin melindungi mama di saat papa atau orang lain menyakiti mama. Aku ingin menjadi orang pertama yang melindungi mama. Aku tidak ingin melihat mama menderita lagi seperti dulu."Hey,,, jangan melamun kamu. Ayo lawan kami semua kalau kamu memang jagoan." Kata Ronald membuyarkan lamunanku.Aku berdiri perlahan dan mencoba untuk menahan emosi."Maaf, bukannya tahun lalu aku sudah menunjukkan pada kalian kalau aku juga bisa menang melawan kalian? Maaf lagi nih, ya, bukannya aku sombong, tapi seharusnya kan masalahnya sudah selesai tahun lalu. Kalau memang kalian mau balas semua kekalahan kalian, kenapa harus ditunda sampai tahun ini, sih? Kenapa nggak menunjukkan kehebatan kalian pada perlombaan tahun lalu? Atau meminta perlombaan diulangi jika kalian tidak mau menerima kekalahan?" tanyaku dengan nafas yang terengah-engah.Sinar mentari di luar sana begitu membara. Sama seperti emosi yang terlihat pada diri Ronald. Emosi yang terlihat pada dirinya mengingatkanku pada papa yang emosi ketika mama tak memenuhi keinginannya."Ahh,,, banyak tanya kamu!!! Kamu jangan bawa masa lalu. Tidak ada gunanya!!!" Bentak Ronald dengan wajah yang terlihat semakin emosi."Loh, kenapa? Bukannya rasa dendam yang kamu miliki berawal dari masa lalu?" tanyaku santai meskipun sedikit grogi."Jangan banyak omong kamu!!!" Ronald meluapkan emosinya dengan meninju wajahku. Aku hanya bisa pasrah. Apalagi ditambah teman-temannya yang lain ikut memukuliku. Lengkap sudah penderitaan hidupku.Tak ada seorang pun yang melihatku di sini. Bel berbunyi 5 menit yang lalu, namun tak mampu rasanya aku beranjak dari tempat ini. Air mataku dengan spontan menetes begitu saja. Aku memang lelaki, namun bila menghadapi masalah yang seperti ini, aku terlihat seperti perempuan yang tak mampu untuk mengendalikan perasaan.Aku kembali teringat dengan masa laluku. Ini benar-benar membuatku galau."Fadhil, kok masih di sini? Kenapa tidak masuk belajar?" suara pak satpam mengagetkanku.Aku mengarahkan pandangan ke arahnya."Fadhil, kamu kenapa? Kok bisa berdarah begini? Ini juga, kok bisa lebam?" tanya pak satpam sambil menyentuh pipiku."Aku habis ditojok, pak. Bapak sih, datangnya telat, jadinya begini deh." kataku sambil memegangi pipiku yang terasa perih."Kok malah nyalahin saya, sih?""Heheh, bercanda kok pak.""Di saat kondisi seperti ini kamu masih bisa bercanda?""Maaf, pak""Ya, sudah. Kalau begitu ikut bapak ke UKS." Katanya lagi sambil membantuku berdiri."Terima kasih, pak.""Sama-sama."Setelah beberapa menit berobat di UKS, aku memutuskan untuk tetap mengikuti mata pelajaran yang sedang berlangsung di kelas. Meski aku telat, pak guru tetap mengizinkanku untuk mengikuti pelajaran yang sudah berlangsung 15 menit yang lalu.***Bel pulang telah berbunyi. Suasana di luar ruangan yang tadinya senyap, kini berubah menjadi ramai oleh sorak-sorai para siswa. Meski mereka berusia belasan tahun, namun mereka masih tetap seperti murid SD yang kegirangan saat bel berbunyi.Saat aku beranjak meninggalkan ruang kelas, Kevin datang menghampiriku."Komandan, maafkan aku. Tadi aku dengan spontan memukulmu. Jujur saat emosiku memuncak, pasti ada saja hal spontan yang sulit aku kendalikan. Aku benar-benar minta maaf!" Ucapnya dengan wajah yang terlihat penuh sesal."Hmm, nggak apa-apa kok. Aku juga minta maaf kalau tindakanku tadi membuatmu emosi. Satu lagi nih, lain kali kalau mau menonjokku dengan spontan lagi, jangan terlalu keras, ya. Jangan sampai gigiku copot, heheh,,," Aku berusaha membuat suasana lebih santai."Ah, kamu bisa aja. Semoga saja hal seperti ini tidak terulang lagi. Sekali lagi aku minta maaf." Mukanya terlihat santai kali ini.Aku hanya mengangguk."Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu dan teman-teman yang lain selalu memanggilku komandan? Padahal menurutku gelar itu sama sekali tidak cocok untukku.""Yaa, itu karena kamu adalah pemimpin kami. Biasanya yang selalu memimpin kan dipanggil komandan. Dan itu adalah kesepakatan kami semua." Ucapnya.Beberapa saat kemudian aku dipanggil untuk menghadap ke kantor. Saat tiba di sana, aku melihat Ronald dan kawan-kawan yang sedang berhadapan dengan kepala sekolah. Sepertinya pak satpam melaporkan kejadian tadi ke kepala sekolah. Sungguh kejadian yang sangat memalukan.Kepala sekolah meminta kepada Ronald dan kawan-kawan untuk minta maaf kepadaku dan menskorsnya selama 3 hari. Karena telah melakukan perkelahian di wilayah sekolah. Ini sebagai hukuman bagi mereka. Aku mengatakan ke kepala sekolah bahwa mereka tidak perlu diskors. Cukup mereka minta maaf dan menyesali perbuatannya saja. Tapi, kata kepala sekolah ini sudah menjadi peraturan sekolah dan tidak bisa dilanggar.
Best Friend's
Mentari pagi mengiringi kami menuju ke sekolah hari ini. Aku Anna, orang yang paling pendiam di antara teman-teman yang lain. Aku bicara saat ditanya saja atau teman yang lain meminta pendapat dariku. Selebihnya aku hanya diam.Aku patut bersyukur, karena mereka tak pernah membiarkanku sendiri. Ke manapun mereka pergi, mereka selalu mengajakku. Meskipun aku hanya diam di saat mereka bercengkerama, namun mereka tetap menghargai keberadaanku."Na, tugas matematika kamu sudah selesai, belum? Semalam aku kesulitan menyelesaikan soal bagian lima. Apa kamu berhasil mendapat jawabannya?" Amel bertanya sambil sesekali menoleh ke arahku yang berada di belakangnya."Sudah. Tapi, aku tidak terlalu yakin dengan jawabannya." Jawabku mengikuti arah laju sepedanya. Aku heran, kenapa Amel bertanya padaku? Padahal kan di sini ada teman yang lain juga. Seharusnya pertanyaan itu ditujukan untuk semuanya."Mel, kenapa kamu tidak tanya ke aku juga, sih? Kan, aku juga butuh perhatian dari kamu." Sari yang mengendarai sepeda warna biru muda dengan mengenakan tas ransel hitamnya merasa dicuekin."Kan, kalau nanyanya ke kamu jawabannya sudah pasti seperti ini nih, -belum, nanti aku liat punya kamu, ya-" Riadi yang berada di tengah mencoba mengikuti gaya bicara Sari. Ia memang terkenal dengan sifat jailnya."Enak aja kamu kalau ngomong!!! Memangnya punya kamu sudah selesai? Pasti belum juga, kan?""Tapi, setidaknya...""Ah,,, sudahlah. Bilang saja kalau tugas kamu juga belum selesai." Sari merasa jengkel dijailin Riadi."Santai aja kali, cuman bercanda kok. Yaa maaf kalau candaanku berlebihan." Riadi merasa bersalah. Ia tidak ingin Sari marah hanya karena candaannya."Makanya, kalau bercanda itu yang lucu. Bukan malah menyinggung perasaan orang." Sari melihat ke arah Riadi."Maaf." Kata Riadi."Kalian bagaimana, sih? Pagi-pagi kok udah bertengkar aja. Bukannya membicarakan hal yang baik-baik." Giliran Maulana yang mengeluarkan suara."Benar banget tuh." Bagas menimpali.Selama tiga puluh menit mengendarai sepeda ke sekolah, akhirnya kami sampai juga. Kami memarkir sepeda di samping sekolah yang berdekatan dengan kantin tempat kami jajan atau sarapan setiap pagi jika tidak sempat sarapan di rumah sebelum berangkat ke sekolah.Kami berjalan beriringan menuju ke kelas. Kali ini tidak ada yang mampir ke kantin. Entah ada apa? Mungkin mereka sudah pada sarapan. Karena biasanya, jika belum sarapan, mereka langsung menuju ke kantin dan saling berebutan tempat duduk meski banyak tempat duduk yang kosong. Mereka terlihat iseng. Aku hanya bisa menyaksikan tingkah mereka.Rasanya aku juga ingin berbaur dengan mereka. Tapi aku merasa minder. Kepercayaan diriku hilang saat bersama mereka. Aku juga tidak berani keluar dari zona nyaman.Kemarin ada siswa kelas sebelah datang ke kelas kami. Lalu dia menggangguku. Dia mengatakan aku cantik lalu menyentuh pipiku dengan tangannya. Aku hanya menunduk dan tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sangat takut waktu itu. Baru kali ini ada orang yang menyentuhku selain kedua orang tuaku.Saat itu hanya beberapa siswi yang ada di dalam kelas. Amel dan teman-temanku yang lain berada di luar ruangan. Mereka mengajakku. Tapi, aku merasa tidak ingin kemana-mana saat itu."Hay, aku boleh duduk di sini, nggak?" tanya siswa yang tadi menyentuh pipiku. Rasanya aku ingin memukulinya. Tapi, apa aku bisa melakukan semua itu? Itu konyol. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.Aku berusaha untuk beranjak pergi. Namun, saat aku berdiri dari tempat duduk dia langsung menarikku untuk duduk kembali. Seketika tubuhku gemetaran. Untung teman-temanku datang tepat waktu dan langsung menyuruh mereka pergi. Kalau tidak, habislah aku."Na, kamu nggak apa-apa, kan?" Amel berjalan mendekatiku. Ia terlihat begitu mengkhawatirkanku."Iya, aku nggak apa-apa kok. Makasih yah udah nolongin aku.""Sama-sama. Sudah seharusnya kami melakukan ini, bukan? Saling tolong menolong dan memberikan bantuan bagi siapa pun yang membutuhkan. Tugas manusia kan memang seperti itu." Kata Maulana. Ia terlihat bijak.Masih teringat dengan jelas dipikiranku kejadian buruk itu. Bahkan aku sudah berusaha untuk melupakannya, namun susah untuk dilupakan."Na, ada apa? Kok berhenti di depan pintu?" Amel yang sudah duduk di kursi, menatapku heran."Iya, ada apa sih? Dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus di sepanjang jalan ke kelas. Apa kamu sakit?" tanya Sari yang duduk di samping Amel."Aku nggak apa-apa kok." Aku melangkah menuju ke tempat duduk."Tenang aja, Na. Nanti kalau mereka datang mengganggumu lagi, kami pasti ada untuk melindungimu. Kami tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Anggap saja kami sebagai sahabat pelindungmu." Lagi-lagi Maulana mengeluarkan kata-kata bijaknya."Kalau mereka datang untuk mengganggumu lagi, kami pasti akan memberikan mereka pelajaran." Riadi tak mau kalah memberikan pendapatnya kali ini."Pelajaran apa, Di? Pelajaran kimia atau matematika?" Kata Sari meledek Riadi. Beberapa teman yang lain langsung tertawa mendengar perkataan Sari."Mmm, pelajaran agar mereka tidak mengganggu siapapun lagi, lah. Lagian kalau mereka diberi pelajaran matematika, mana mungkin aku bisa mengajarinya. Aku saja tidak faham soal pelajaran matematika." Kata Riadi. Teman-teman yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala."Ee, Na. Aku boleh lihat jawaban tugas kamu, nggak, yang bagian nomor lima? Soalnya aku benar-benar tidak menemukan jawabannya." Amel terlihat sangat berharap padaku."Boleh. Tapi, jangan salahkan aku kalau jawabannya salah." Aku memberi peringatan."Aku mau liat juga, dong." Sari tidak mau ketinggalan soal menyelesaikan tugas. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Mereka selalu bekerja sama dalam segala hal.Siswa yang baik adalah siswa yang saling menghargai satu sama lain. Sama seperti mereka teman-teman seperjuanganku dalam menuntut ilmu. Mereka adalah teman-teman terbaik yang kumiliki saat ini. Semoga pertemanan ini terus terjaga dan jangan sampai ada kata benci di antara kita.
Lomba Lari
Aku Nana. Seorang siswi yang cukup pendiam jika dibandingkan dengan teman-temanku yang hebohnya minta ampun. Ingin rasanya seperti mereka yang seakan tak ada beban hidup yang terlintas dalam pikirannya. Namun, rasa tidak pd berlebihan yang kumiliki memaksaku hanya terdiam menyaksikan keseruan mereka.Aku terkadang ingin memaksakan diri berbaur bersama mereka, namun ada rasa takut yang aku rasakan. Rasa takut bila nanti mereka mengabaikanku disaat aku berbicara, rasa takut bila mereka tidak nyaman dengan keberadaanku. Selalu itu yang terlintas dalam pikiranku. Hal inilah yang membuatku selalu menyendiri di dalam kelas.Hari ini kami siswa/i kelas VIIIA akan melakukan praktek olahraga lari yang nantinya akan dinilai oleh guru olahraga kami. Aku dan teman-teman berjalan menuju ke lapangan olahraga. Kemudian memulainya dengan pemanasan untuk merenggangkan otot-otot lalu dilanjutkan lari mengelilingi lapangan. Cukup menguras energi memang, namun inilah peraturan yang harus dilakukan sebelum melakukan olahraga inti.Pemanasan pertama dimulai dengan posisi kedua tangan diangkat ke atas dilanjutkan dengan pemanasan berikutnya. Aku mengikuti pemanasan ini dengan sungguh-sungguh. Agar nanti saat praktek dan pengambilan nilai hasilnya bisa maksimal. Pak Ikmal selaku guru olahraga memulai praktek dengan mengabsen satu persatu siswa yang akan mengikuti olahraga lari ini.Praktek kali ini sekaligus merupakan lomba. Pelari tercepat akan mendapatkan nilai tertinggi. Meskipun badanku pendek dan kecil, namun kecepatan lariku lumayanlah, heheh...Kartika, siswi yang berbadan tinggi dan sedikit kurus itu menjadi lawanku. Kalau dilihat dari segi postur sih, memang tidak sebanding. Tapi, aku harus berusaha melakukannya dengan maksimal.Aku dan Kartika berada di tempat yang sejajar dengan posisi jongkok."Bersedia, siap, priiitt!" Aba-aba dan suara pluit pak Ikmal berbunyi bersamaan dengan itu aku dan Kartika berlari sekuat tenaga, sekitar sepuluh meter dari garis star, aku dan Kartika masih berada pada posisi yang sejajar. Namun, setelah itu Kartika tiba-tiba melesat dengan cepat meninggalkanku yang mulai ngos-ngosan. Aku terus berlari, meski dalam hati mulai pasrah.Alhasil, aku harus mengakui keunggulan Kartika yang tampak tersenyum penuh kemenangan. Sementara aku masih berusaha mengatur nafas yang masih ngos-ngosan. Ya sudahlah, mungkin ini bukan keberuntunganku.Tapi, ini bukan hasil akhir, masih ada kesempatan kedua untuk menjadi yang terbaik kedua. Siswa yang menang akan melawan siswa yang menang lainnya untuk memperebutkan posisi pertama. Sementara siswa yang kalah akan memperebutkan posisi pelari tercepat kedua. Kesempatan yang bisa aku raih adalah menjadi pelari tercepat urutan kedua. Semua siswa yang kalah mengambil posisi star secara bersamaan.Saat ini aku berada di posisi kedua dari depan. Yap! Aku harus berusaha melewati Sari yang berada sekitar lima langkah dari hadapanku jika aku ingin menjadi pelari tercepat dengan nilai tertinggi kedua ini terwujud.Garis finis sudah semakin dekat. Sekitar dua langkah lagi aku bisa sejajar dengan Sari."Sari, percepat larimu..." Teriak salah seorang kakak kelas saat menyaksikan kami yang sedang berjuang mencapai garis finis. Kulihat sekilas, ternyata kakak kelas itu adalah tetangga Sari sekaligus teman akrabnya. Tanpa menoleh, Sari langsung mempercepat larinya setelah tahu aku sudah ada di dekatnya.Aku yang tidak pernah menyangka akan ada kejadian yang seperti ini tiba-tiba merasa lemas, semangat juangku hilang seketika. Lenyap sudah kesempatanku meraih posisi pelari tercepat kedua.Sari berhasil sampai ke garis finis dan otomatis meraih posisi kedua pelari tercepat dan mendapat nilai tertinggi kedua. Lalu, bagamana denganku? Entahlah! Aku juga tidak tahu. Yang ada dalam fikiranku saat ini adalah aku sudah gagal dalam perjuangan yang sudah aku lakukan dengan semaksimal mungkin, namun hasilnya yang tidak maksimal.Meski aku kalah, tak apa. Jangan menyerah! Jangan putus asa! Semangat untukku.
CEO dan Secret
Aleta adalah seorang karyawan biasa di perusahaan penerbitan majalah ini. Lebih tepatnya mungkin ia seorang editor, genap setahun ia bekerja di kantor ini.Ia duduk di kubikelnya dengan tangan menggenggam pena yang menari-nari di atas kertas."Ta, ayo kita rapat. Uda di tungguin pak bos" ucap Rani"Oke" Aleta langsung berjalan menuju ruang rapat.Dalam ruang rapat ini tak menyediakan meja besar nanpanjang seperti rapat biasanya melainkan sebuah kursi seperti di kampus dengan susunan melingkar.Di depan sana, sang direktur mengoreksi ide-ide yang akan dicantumkan di majalah mereka.Sedangkan CEO hanya memerhatikan aktivitas bawahannya karena ia belum ingin menanggapi apa yang dikemukakan mereka."Bagaimana kalau kita membuat konsep beauty and The beast?" kali ini Rani yang mengangkat tangan dan menyalurkan idenyaSang direktur tampak berpikir atas ide barusan."Kamu yang diujung" ucap sang CEO yang sambil menunjuk ke arah Aleta, "Saya lihat kamu diam saja, coba sampaikan ide apa yang kamu punya?" tambahnyaAleta terkesiap, ia tak memiliki ide apapun kali ini. Karena beberapa hari ini banyak mengoreksi artikel yang akan terbit dan itu menghabiskan waktunya."Iya, pak?" ucapnya"Apa ide kamu?"Aleta mengumpat dalam hati karena sikap semena-mena CEO yang sialnya tampan ini, namun kabarnya sudah memiliki istri.Ia juga bingung harus menyumbangsih ide apa karena sedari minggu lalu pekerjaannya menumpuk, ia mulai memutar otaknya."Bagaimana kalau kita membuat konsep Bintang di kegelapan" tuturnyaCEO dan juga direktur mendengarkan ide Aleta dengan seksama."Coba jelaskan konsep kamu" ucap direktur, Pak Anta seperti tertarik"Konsep saya itu menyorot orang-orang yang telah bekerja keras dibalik layar. Bukankah selama ini kita hanya mengulik kisah bintang besar serta kehidupannya? Yang padahal mereka bisa mendapatkan nama besar itu dari kerja keras kita juga" jelas Aleta"Jadi maksud kamu, dengan kata lain kita akan membawa konsep bahwa tanpa kita mereka takkan menjadi apa-apa begitu?" tanya CEO itu."Iya, tepat sekali, Pak Arsen" jawab Aleta, ia bersyukur idenya muncul di saat yang tepat. Tadinya ia hanya asal ucap karena takut kena sembur Pak Arsen, CEO yang sialnya tampan.Pak Arsen ini jarang sekali ke kantor penerbitan ini. Dia lebih sering ke kantor yang bergerak di Properti. Namun dalam waktu dekat ini ia selalu rajin menyempatkan diri ke kantor ini.Holang kaya mah Bebas!"Iya benar, selama ini bahkan kita tidak tidur demi menyelesaikan artikel" ucap KarinDirektur mengangguk-anggukkan kepalanya "Saya setuju akan ide Aleta"Semua menghela nafas lega disana, lega karena direktur yang super ribet ini menjengkelkan jika tidak sesuai dengan keinginannya."Oke. Itu artinya tabloid kita akan menggunakan konsep milik Aleta.""Rapat ini selesai, 2 hari kita akan rapat kembali membahas apa yang sesuai" tambah Pak Anta mengakhiri sesi Rapat itu.Semua karyawan keluar bahkan ini sudah jam makan siang beberapa dari mereka keluar mengisi perutnya, namun Aleta kembali ke kubikelnya pekerjaannya benar-benar menumpuk.Saat Aleta masih terus fokus di cerita yang dikoreksinya, pak Anta datang memberikan sekotak nasi padanya."Makanlah" ucapnya"Terima Kasih, pak. Dalam rangka apa?" ucap Aleta yang bingung karena Anta ini jarang sekali mau berbincang pada bawahannya.Terlebih lagi, akhir-akhir ini Anta selalu mengajaknya berbincang bahkan beberapa kali mengajaknya makan siang. Namun Aleta tampaknya tak ingin mengerti atau bahkan memberinya kesempatan."Tidak ada. Kamu sudah bekerja keras. Jadi makanlah" lalu di angguki oleh AletaSetelah itu Anta pergi dari kubikel Aleta kembali menekuri pekerjaannya.Lalu CEOnya datang mengambil kotak nasi yang diberikan oleh Anta, menggantinya dengan kotak nasi yang dibawanya."Huh?" Aleta menampilkan ekspresi bingung"Kita bertukar makanan ya. Saya rasa makanan kamu lebih enak" ucapnya dengan tanpa dosa lalu pergi ke ruangannya.Ia heran tahu dari mana Arsen kalau isinya lebih enak. Bahkan Aleta saja belum sempat melihat isinya.Aleta manatap terdapat sticky note di atas kotak tersebutMakan yang banyak, honey.Aleta meremas sticky notenya, ia takut orang lain melihatnya."Dapat makanan dari pak bos lagi? Serius?" ucap Karin sang kepo di kantor ini, Aleta tahu benar bahwa Karin ini berbahaya seperti muka dua.Karin selalu saja memperhatikan gerak-gerik Aleta, karena akhir-akhir ini memanglah Arsen sang CEO itu sedang gencar sekali mendekati Aleta. Dan ini bukan yang pertama kalinya, Karin melihat Arsen memberikan makan siang pada Aleta.Aleta mengangkat bahunya tanda tidak tahu atas tanggapan Karin."Aku cuma mau memberi tahu saja, pak bos kita sudah beristri" ucapnya dengan ketus dan berlalu begitu saja.Aleta hanya mengangguk dia juga bukan wanita murahan yang mau mengganggu rumah tangga orang lain.Tak ingin ambil pusing, ia membuka kotak nasi itu dan mulai memakannya, lauknya sangat lezat. Ia tahu dimana lelaki itu membelinya karena ia sangat hafal dan menggemari makanan ini. Tak urung senyumannya terbit."Ck. Dasar pelakor" dengusan kecil terdengar dari mulut Karin.Tak terasa siang berganti dengan malam, Aleta ingin segera pulang. Tubuhnya seperti remuk, ia sangat lelah hari ini.Ia berjalan keluar dari perusahaan, memesan taksi online sepertinya pilihan yang baik, namun baru saja ia mengeluarkan ponselnya seseorang merebut ponselnya dengan paksa lalu merengkuhnya.Aleta ingin marah juga berteriak pada lelaki ini namun rasanya sangat sia-sia."Ada apa, Pak Arsen? Bukankah jam kantor telah usai" hanya itu yang mampu ia ucapkanArsen mengangguk "Iya, karena itu kamu juga harus bersikap biasa saja""Ayo pulang bersamaku" tambahnya sambil menggiring Aleta ke dalam mobilnya."Saya gak enak sama karyawan lain""Oh ayolah, sayang" bujuknya"Tapi?""Tidak akan ada yang tahu" tegasnyaAleta mengalah dan mengikuti kemauan Arsen.Namun mereka tidak tahu bahwa ada seorang yang melihat mereka dari balik pilar diujung sana. Dengan ekspresi menghina.Pagi telah tiba, keadaan di kantor masih sama saja. Bahkan lebih sibuk dari biasanya. Hal ini bersebab deadline menumpuk, belum lagi koreksian Aleta juga bertambah.Ia berjalan menuju meja pantry sepertinya membuat kopi merupakan pilihan yang baik, karena hari ini dia sangat mengantuk. Dan ia harus menyalahkan Arsen karena pria itu terus saja mengganggunya."Semalam pulang dengan nyaman, huh?" celetukan dari Karin saat gadis itu juga membuat kopi di pantry.Aleta melihatnya hanya tersenyum tipis, ia tahu takkan ada pembelaan untuknya. Seperti sudah tertangkap basah."Wajar kok, aku juga menyukai Pak Arsen dulu. Namun ketika mendengar kabar sudah memiliki istri aku cukup tahu diri meskipun masih tersisa niat untuk merebutnya" ucap Karin pada Aleta"Hei, Ta. Dicariin Pak Arsen suruh buat kopi katanya" Rani muncul di pantry menghampiri Aleta"Sepertinya pak bos naksir, hati-hati ya dia dia sudah memiliki istri" bisik Rani dan berlalu ke kubikelnyaAleta mendengus, apa maksud Arsen ini? Apakah agar terlihat jelas Aleta seperti pelakor begitu. Sepertinya Aleta harus memberi sedikit hukuman pada pria hidung belang itu.Iya, harus!Aleta berjalan pelan memasuki ruangan pak bosnya itu sambil membawa secangkir kopi, mendapati seorang pria muda disana yang diyakininya sebagai sekretaris Arsen, ia mengetuk pintu dan mendengar suara "Masuk" barulah ia melangkahkan kakinya ke dalam.Sampai di dalam ruangan itu ia melihat Arsen yang sedang fokus pada komputernya, tampaknya ada berkas penting disana."Ini kopinya, pak" ucap Aleta sambil meletakkan kopinya di mejaPria itu mendongak lalu tersenyum hangat pada Aleta "Hanya kita berdua disini, sayang"Arsen menyesap kopinya "Aku selalu menyukai kopi buatanmu" tambahnya"Tapi aku bekerja sebagai editor disini" rajuknyaArsen tertawa "Iya, di kantor bukan di luar kantor"Aleta duduk di salah satu sofa yang ada disana yang disusul oleh Arsen disebelahnya.Arsen merangkulnya, kemudian mengecup pipinya "Jangan cemberut, okay? Katakan ingin membeli apa?"Aleta menggeleng "Aku ingin berjalan-jalan" ucap AletaArsen mengangkat Aleta mendudukkannya di atas pangkuannya, tangannya melingkari tubuh Aleta."Ini di kantor, pak Arsen" ucap AletaArsen mengangkat bahunya acuh "Siapa yang peduli?""Lagi pula tak mungkin ada yang berani masuk ke dalam ruang ini bukan?"Aleta menghembuskan nafasnya tangannya terulur melingkar di leher pria itu. Baru saja mereka saling mendekatkan wajah mereka, pintu di buka paksaBRAKK"Eh? Maaf, pak" ujar seorang gadis itu dengan seringaian yang menjengkelkan melihat posisi Aleta dan Arsen yang begitu intimAleta kelabakan segera turun dari pangkuan Arsen sedangkan Arsen tidak peduli."Apa kau tak bisa mengetuk pintu?" ucap Arsen dengan dingin"Maaf, pak. Saya pikir terjadi sesuatu sehingga Aleta lama sekali keluarnya dan...""Benar terjadi sesuatu" lanjutnya menatap AletaAleta tahu pasti ini akan terjadi, sejak awal Karin memang tidak menyukainya. Ia sadar itu."Tapi bukankah bapak tidak takut pada istri, bapak?"Arsen mengangkat alisnya "Tahu apa kamu tentang istri saya?"Aleta menyikut sikunya, bentuk tanda protes jika diberitakan akan berbahaya bukan?"Baiklah, kamu butuh berapa? Asal tidak ada yang tahu maka kamu ingin berapa?" ucap Arsen lagiKarin tertawa "Gaji tiga kali lipat boleh juga, pak".Arsen menatap Aleta dengan tatapan meminta persetujuan, Aleta mengangguk tanda setuju saja."Baiklah. Keluar!" usirnyaLalu Karin memandang remeh pada Aleta, dan iapun keluar dari ruangan itu."Bagaimana ini?" tanyanya pada Arsen dengan raut khawatir"Tenanglah. Biarkan saja, aku tidak peduli lagi"Selepas kejadian Karin memergoki Aleta di ruangan itu dengan Arsen dan sudah dua bulan lamanya berlalu. Karin selalu saja memandangnya dengan tatapan hina bahkan ia tak sungkan mengatakan bitch pada Aleta.Aleta mendiamkannya saja selama semua orang tak ada yang tahu rahasia itu. Namun pagi ini Aleta terus saja menggerutu karena keras kepalanya Arsen. Bahkan ia memaksanya untuk pergi saja ke kantornya yang lain namun Arsen juga bersikeras tidak mau.Sedari turun dari mobil berangkat bersama ke kantornya ia menggenggam erat tangan Aleta seakan-akan tak ingin hilang.Seluruh karyawan melihatnya dengan tatapan aneh. Mereka tahu, Arsen sudah memiliki istri namun mengapa selingkuh dengan Aleta?Apakah istrinya tak cantik sehingga membuat Arsen berselingkuh?Anta menatap mereka dengan tatapan tak terbaca namun tetap menegur atasannya"Selamat pagi, pak" ucapnya dan dibalas anggukan"Selamat pagi, Leta" ucapnya lagi dengan tersenyum hangat dan di balas senyuman oleh Aleta"Mm... Boleh bicara sebentar, Leta?" tambahnyaBelum Aleta membuka mulut namun Arsen sudah membuka suaranya"Tidak bisa. Aleta sibuk" dan menariknya pergi ke ruangan Arsen meninggalkan segala bisik-bisik disana."Bukankah kita sudah sepakat?" tanyanya saat mereka sudah sampai di ruang Arsen"Dan membiarkan Anta mendekatimu? Aku tidak bisa"Aleta mendesah pasrah, "Lalu kamu mau bagaimana?""Segera akhiri semuanya" ucapnya tegas"Tapi..""Tidak ada tapi-tapian, sekarang keluarlah!" usirnya"Kamu mengusirku?" Aleta menatap Arsen dengan tatapan tak percayaArsen langsung memeluk Aleta "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu, sayang"Aleta mengangguk dalam dekapan pria ini, pria yang mengisi hatinya selama beberapa tahun.Karin masuk ke dalam ruangan itu dengan sesukanya, mengangganggu aktivitas mereka. Ya semenjak ia tahu Arsen bermain dengan Aleta ia bersikap sesuka dan Arsen membiarkannya karena Aleta. Demi keinginan Aleta."Wah.. Lihatlah siapa ini?""Apa kau tidak pernah di ajari sopan santun?" sarkas Arsen pada KarinKarin tertawa "Sopan pada lelaki sepertimu. Bagaimana nasib istrimu ya? Ah apa aku adukan saja"Arsen tertawa "Dengan senang hati" tantangnya "Dan jangan lupa aku bisa memecatmu kapan saja"Karin mendengus "Aku hanya ingin menyerahkan dokumen ini" lalu ia keluar dari sana.Arsen dan Aleta saling bertatapan, mereka tertawa bersama "Apa kau tidak takut istrimu, Pak?"Arsen mendengus "Tentu, takut tidak diberi olahraga malam" candanya"Wah.. Kau sungguh serakah. Ingin padaku juga istrimu"Arsen tak menjawab ia hanya mengecup kening Aleta dan berujar "Apapun yang terjadi, berjanjilah takkan meninggalkanku"Aleta tersenyum lalu mengangguk, dan ia pamit keluar dari ruang itu menuju kubikelnya. Mulai mengerjakan pekerjaannya.Namun ia tak bisa berkonsentrasi akibat tatapan seluruh karyawan kantor ini. Ia menghela nafasnya dalam-dalam ketika untuk kesekian kalinya Karin berujar"Dasar perempuan tidak tahu malu""Pantas saja pak Arsen tidak pernah membawa istrinya keluar karena ia memiliki wanita lain" nah kalau ini bisik-bisik karyawan lain karena ulah Karin.Jam kantor telah usai ia bersiap membereskan perlengkapannya untuk pulang, namun lagi dan lagi Karin terus saja menghujatnya dengan kata sarkasnya.Hingga puncaknya sore ini Karin mengerjainya dengan tepung dan telur "Pelakor harus malu" itulah ucapannyaAleta menangis tergugu dengan ini semua, Anta datang membantunya berdiri berniat memapahnya namun Arsen langsung datang dan menepis tangan Anta yang bertengger di bahu Aleta."Siapa yang melakukan ini?" rahangnya sudah mengeras"Mencoba bermain-main dengan saya, huh?"Seluruh karyawan menatap Karin, Karin menunduk takut"Kamu. Saya pecat!" ucap Arsen"Dan kalian..." nafas Arsen memburu ia benar-benar marah dan tak terimaAleta menatap Arsen dan mengusap lengannya "Mass" ucapnya lalu menggelengArsen memijat pelipisnya, "Ayo pulang" ajaknya dengan merangkul Aleta meninggalkan Karin yang terdiam dan para karyawan yang berbisik.-Sudah Satu bulan setelah aksi Aleta dipermalukan di lobi saat itu. Dan semenjak saat itu, baik Aleta maupun Arsen tak ada yang menampakkan diri lagi di kantor penerbitan itu.Arsen larut dalam kantornya yang lain dan Aleta juga larut dalam mengikuti Arsen, itu karena Arsen yang memaksanya.Pagi ini mobil hitam Arsen tidak berhenti di kantornya yang bergerak properti melainkan di kantor penerbitan itu.Aleta menaikkan alisnya tanda tak mengerti, bukankan pria ini yang tidak mengizinkannya untuk kembali ke Kantor ini? Apakah dia berubah pikiran dan membiarkannya kembali dihujat."Apa kamu lupa hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan serta syukuran karena mendapat penghargaan?" tanya Arsen mengerti kebingungan AletaAleta menepuk jidatnya "Bagaimana bisa aku melupakannya?" Arsen tertawa"Ayo" ajaknyaMereka turun dalam diam, menaiki lift menuju lantai teratas tempat diadakannya acara itu.Ketika mereka memasuki aula banyak yang berbisik namun mereka abaikan.Hingga Arsen menaiki podium untuk menyampaikan prakatanya"Saya Arsen Axcelio berdiri disini ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan karena telah bekerja keras. Seorang pemimpin takkan bisa menjadi pemimpin tanpa ada orang yang dipimpin. Dan saya bukanlah apa-apa tanpa kalian.Juga istri saya yang hadir, terima kasih sudah menemani dan mendukung saya beberapa tahun ini meskipun keberadaannya tidak pernah diketahui orang" tuturnya, ia mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruang menemukan perempuan yang tersenyum teduh menatapnya.Arsen turun lalu menarik Aleta ke atas panggung tersebut.Seraya merangkulnya ia berucap "Aleta Faylin Axcelio, adalah istri saya. Sedikit klarifikasi, keberadaannya sebagai istri saya jarang diketahui orang lain dan bahkan ia menolak keras untuk dipublikasi. Kami menikah sudah 2 tahun dan memiliki putra kecil berusia setahun. Namun ia sedang di rumah." Arsen menjeda ucapannya menarik nafasnya "Namun kejadian beberapa waktu lalu membuat saya marah dan harus segera mengakhiri drama yang diciptakan sendiri oleh istri saya"Banyak tatapan aneh disana, tatapan lebih terkejut bahwa Aleta Faylin adalah istri dari Arsen.Arsen melihat tatapan Anta pada mereka dengan kecewa?Arsen tertawa sinis, lalu mendekap Aleta dan mencium kening Aleta disana lalu turun meninggalkan kerumunan itu."Sudah puas dengan rahasiamu yang terbongkar, tuan?" tanya Aleta"Ya, rahasia terbesar istriku sendiri yang menjadi selingkuhanku" jawabnya"Ayo pulang temui Axel. Aku merindukannya""Me too" balas ArsenMerekapun tertawa bersamaEnd
Si Ketus Tampan
Aku baru saja berjalan memasuki kelasku menuju bangku yang akan hari ini aku tempati sebagai siswa kelas 3 SMA.Bangkuku berada di pojok kanan paling belakang, bahkan lebih tepatnya bangku terakhir yang akan aku tempati setelah semua bangku sudah terisi penuh.Aku menghela nafas, mengatur emosi kala si ketus yang sialnya tampan itu duduk di bangku itu. Tak ada pilihan lain selain duduk bersamanya, karena hanya itu bangku yang tersisa.Tapi mau bagaimana lagi? Aku ini seorang gadis biasa, tak ada yang namanya teman dekat. Aku bukan antisosial hanya saja sulit untuk mendekatkan diri pada teman. Akan lebih baik mendekatkan diri pada sang pencipta, bukan?Raihan Prambudi, pria ketus yang tampan. Ia most wanted, ketua tim basket disekolah dan pernah menjabat sebagai ketua osis. Aku heran, kenapa dia bisa terpilih jadi ketua osis ya?"Lambat banget sih lo datang" ucap pria itu lalu bangkit"Lo yang diujung" tambahnyaAku hanya diam malas untuk menanggapinya, karena kata-katanya selalu sukses membuat hatiku tertusuk."Ck. Jadi perempuan yang rapi dikit dong, dasipun gak dipakai" ocehnya dengan sarkas.Demi Tuhan, ini baru hari pertama aku duduk di bangku kelas 3 namun dia sudah memulai ucapan ketusnya itu.Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya, mengambil dari tas dan membuka buku novel yang masih sebagianku baca, novel yang berjudulkan Surat Kecil Untuk Tuhan.Menit awal ia masih diam, hinggal menit ke lima ia membuka suara"Itu seru novelnya" aku hanya diam tak merespon."Nayla, Ada gak temen nyata yang begitu?" lanjutnya yang tak urungku balas"Endingnya meninggal dia kena penyakit Ka...""Bisa diam gak?" jawabku yang kesal.Jika dia memberi tahukan endingnya, untuk apa lagi aku membacanya? Dan ini bukan yang pertama kalinya. Sudah lebih dari 7 novel yang dia lakukan dengan memberitahukan endingnya ini."Niat gue baik kali" gerutunya lalu menelungkupkan wajahnya di meja.Aku kembali diam tak ingin merusak hari pertama aku memasuki kelas 3 ini. Tak lama gurupun masuk menjelaskan materi yang singkat. Mungkin karena ini hari pertama jadi kami masih diberi kebebasan.Keesokan harinya tak ada yang berubah, aku hanya gadis biasa yang bisa dikatakan rajin. Berangkat sekolah, hari ini aku berpenampilan rapi seperti memakai dasi. Kemarin dasiku memanglah tertinggal itu disebabkan aku kesiangan.Aku turun dari sepeda motorku, membuka bagasi untuk mengambil beberapa buku paket pelajaran yang berat jika aku masukkan dalam tas.Aku berjalan perlahan memasuki kelas tak lama langkahku hampir terhenti kala mendengar ocehan dibelakangku."Ck. Lambat bener sih jadi perempuan" decaknya yang sungguh menyebalkan.Ia berjalan melewatiku sambil mengambil buku yang ku bawa"Sudah kurus bawaannya berat" decaknya lagi sambil berlalu mendahuluiku, ingin ku tarik buku itu ditangannya tapi itu akan percuma. Jadiku biarkan saja ia membawakan bukuku ke kelas.Tapi kali ini aku tersenyum entah karena apa, bilang saja ia ingin membantuku kenapa harus menggerutu begitu. Raihan selalu begitu, dari dulu ia selalu membantu tentu dengan kata ketus sebagai khasnya.Itulah Raihan, aku tahu sebenarnya dia itu baik. Tapi ucapannya itu yang membuatku nyaris menangis sakit hati ketika berbicara.Pelajaran hari ini selesai, aku ingin makan es krim di toko dekat komplek rumahku ini. Tentu saja masih seorang diri, aku tidak punya teman ingat?Aku memesan satu cup ukuran besar untukku dengan rasa coklat dan strawberry. Lalu duduk di dekat pinggir agar mendapat pemandangan karena cafe ini di sebagian dindingnya adalah kaca.Aku masih menyuapkan dua sendok es krim ke mulutku namun lelaki ini datang dan duduk di depanku.Aku mendengkus "Ngapain? Pindah gih" ucapku"Penuh" jawabnyaAku mengedarkan pandanganku, itu tidaklah benar. Masih ada beberapa bangku yang kosong.Masih aku ingin membuka mulut ingin protes, ia mengulurkan novel di depanku, meletakkan di hadapanku sambil berkata "Gue beli novel ini ternyata tidak menarik"Aku mengernyitkan alis tanda tidak mengerti, lalu aku harus bilang wow gitu?"Untuk lo aja""Ha?""Ternyata selain kurus dan jelek, lo juga budek ya" sarkasnyaTukan aku bilang juga apa dia kalau ngomong itu nyelekit. Aku mengangkat bahuku tanda tak acuh."Lo harus membacanya, dan..."Ia menggantungkan ucapannya yang membuatku bingung menunggu kelanjutannya"Dan?" tanyaku"Gue minta maaf" ucapnyaWhat? Dia bilang apa tadi. Dia ini kenapa?"Eh, kenapa?""Ah es krimnya di sini enak""Lo kenapa sih?" tanyaku setelah diam beberapa menit"Gak kenapa-napa""Mm.. Gue boleh nanya?""Lo uda nanya, Nay" jawabnyaAku meringis menampilkan deretan gigiku "Lo sama Nia pacaran ya?" tanyaku yang kepo. Karena gosip ini selalu beredar namun anehnya Raihan tak pernah menanggapi hal ini.Di sekolah aku jarang berbicara sama dia, kalaupun berbicara hanya seperlunya. Bisa habis dibully kalau aku lama-lama bersama Raihan. Dan ini pertama kalinya aku berbicara santai dengannya, meskipun masih ada kata-kata pedasnya. Setidaknya aku merasa nyaman. Eh? Tidak maksudku setidaknya aku memiliki teman.Raihan menggeleng "Sebenernya gue bukan suka sama dia. Itu salah paham"Iya bener juga sih. Bisa jadi Raihan sukanya sama adiknya Nia ya, adiknya itu lebih kalem dibanding Nia yang terkenal suka ngebully gitu."Bukannya dia selalu bilang bahwa kalian pacaran ya? Kalau lo gak suka, kenapa diam dan gak menyangkalnya" desakku.Dia mencondongkan wajahnya ke arahku, semakin dekat aku yang penasaran hanya diam pasti dia akan membisikkan rahasia.Hingga wajahnya berada di depanku"Kepo!" ucapnya lalu ia tertawa lebar.Aku menghela nafasku, dia makan apa sih tadi dan yang benar saja, itu sama sekali tidak lucu.Tapi untuk pertama kalinya melihat dia tertawa dengan lepas begitu, ada sesuatu yang menghangat di dalam diriku. Tak sadar aku tersenyum.Dia berdehem menetralkan tawanya, lalu mengusap sudut bibirku"Ck. Nay, umur lo berapa sih?" tanyanyaAku mengernyitkan keningku karena tak mengerti maksud perkataannya.Dan ia mengusap keningku "Ni kening jangan kebanyakan mikir deh. Lo itu uda besarkan? Kenapa makan kayak anak kecil, belepotan" ucapnya sambil mengelap sudut bibirku terkena es krim.Aku menampilkan deretan gigiku dan mengambil tissu untuk membersihkan sisa es krim. Dia paling bisa menjatuhkanku ya.Tapi Raihan kenapa aneh sekali. Selama awal masuk sekolah aku selalu duduk di bangku yang sama dengannya namun baru kali ini dia sedikit berbaik hati. Hari ini dia aneh.Sudah 2 bulan semenjak kejadian itu, entah bagaimana Raihan sedikit berbaik hati meskipun ia takkan bisa menghilangkan perkataan ketusnya. Sepertinya itu sudah mendarah daging.Seperti saat ini, aku dihukum membersihkan perpustakaan karena datang terlambat. Bahkan kini sudah jam istirahat aku lapar karena belum sarapan tapi hukuman ini tak urung selesai.Aku duduk di bangku perpustakaan untuk istirahat sejenak dan mengusap peluhku.Raihan masuk membawa bekal nasi, lalu melemparkan pelan kehadapanku."Gue tadi dibawakin bekal sama nyokap gue. Buat lo aja, gue gak suka lauknya"Aku menatapnya dengan kesal, kenapa sih selalu jutek sama aku. Tentu hanya di hati saja."Nih. Gue tadi juga beli es tapi ternyata juga gak enak. Buat lo aja semua" sambil menyerahkan jus jeruk itu.Aku yang biasanya akan balas memarahinya jika dia selalu seperti ini tapi tidak untuk kali ini. Aku membalasnya dengan senyuman manis."Rai, makasih ya. Lo baik deh" ucapku dengan tulus"Apaan? Gue bilang gasuka makanya kasih ke lo""Gue tau kok. Lo itu emang baik banget""CK. Gausah GR!"Aku memegang ujung lengan bajunya lalu menggoyang-goyangkannya "Makasih uda mau jadi temen gue" ucapku lagiDia mendengkus "Kita bukan teman!" ucapnya dengan sarkas tapi sesaat kemudian dia tersenyum, senyum yang meneduhkan."Guee...." ucapnya tertahan."Ck. Lo ngerepotin ya, Nay." lalu membuka bekal itu dan menyuapkannya padaku.Aku membuka mulut menerima suapannya lalu ia berkata "Lo itu punya sakit maag jadi jangan telat makan" ucapnya dengan lembut.Demi apa Raihan Prambudi bertutur lemah lembut begini?Aku lagi-lagi tersenyum, kupu-kupu beterbangan memenuhi diperutku.Ia mengusap kepalaku "Dihabiskan" lalu ia berlalu begitu saja.Semenjak saat itu ia tak pernah dekat denganku lagi. Kami memanglah duduk berdampingan namun pembicaraan hanya seadanya.Aku yang terbiasa dekat dengannya selama beberapa bulan ini sedikit merasa kehilangan.Karena biar bagaimanapun, sepanjang sisa kehidupan ini aku tak banyak mendapatkan perhatian.Oke, ini berlebihan.Sudah berbulan-bulan lamanya, hari ini adalah hari kelulusanku. Seluruh siswa melihat nama-nama yang ada di papan bukti dari kelulusan.Nayla Lesyata tercetak jelas namaku disana menandakan bahwa aku lulus.Seluruh siswa kelas XII berkumpul dilapangan sekolah bukan untuk berbaris seperti kegiatan upacara atau lainnya melainkan untuk bercorat-coret, berfoto ria dan lain sebagainya menandakan kami resmi meninggalkan sekolah ini.Raihan datang padaku, membalikkan badanku tanpa berkata ia membuat tanda tangannya di balik punggungku. Lalu ia menyerahkan spidol itu padaku, aku tersenyum tanda mengerti maksudnya langsung ku ambil dan ku tanda tangan di balik punggungnya.Lalu ia mengarahkan ponselnya ke arahku bermaksud selfie, aku yang kaget tentu tak menampilkan senyum disana."Tidak buruk. Lo cantik" ucapnya lalu beralih ke kumpulan yang lain.Aku hanya menggelengkan kepalaku dan memilih untuk pulang karena aku diterima di salah satu universitas terbaik yang ada di Yogyakarta.Aku segera pulang dan mengemasi barang-barangku untuk dibawa kesana, disanapun aku akan tinggal dengan budeku, kakak dari ayahku.Selama 4 tahunku habiskan waktuku di Yogyakarta, rasanya malas untuk ke Jakarta hanya sesekali ayah dan ibuku berkunjung kesini.Lagipula disana tak ada kenangan menarik. Namun di Yogyakarta, aku lebih banyak kenangan seperti pertemanan. Hal yang aku tak pernah merasakannya.Saat aku masih duduk bersantai dengan budeku saat ini, ponselku berdering dengan tak sabaran menanti sang empunya menggeser tombol hijau."Hallo, bu." ucapku kala mengangkat."Segeralah pulang, bukankah hanya menunggu wisuda saja?""Tapi...""Ibu 1tidak mau tahu, pokoknya besok siang kau harus sudah berada dirumah. Itu jika kau masih menganggap aku ibumu"Tut tut tutAku melongo seketika, apa-apan ini. Mengapa ibu tiba-tiba menelepon dengan seperti itu.Its oke! Aku memanglah tidak pernah kembali ke Jakarta. Tapi aku juga tidak melupakan ibu dan juga ayahku.Alya, sepupuku berjalan ke arah kami dengan sebuket bunga yang sesekali ia hirup aromanya. Wah dia sangat terkenal, ia juga berparas cantik namun pada saat di depanku ia malah memberiku bunga itu.Aku mengernyit tak mengerti "Ini untukmu. Tadi kata mas-mas di depan untuk Nayla" ucapnya"Siapa?"Alya mengendikan bahunya "Dia cuma bilang untuk Nayla"Lalu ia melenggang pergi begitu saja dengan wajah murung. Ada apa sih? Aku melihat note yang tertulis di buket itu.Bunga ini indah, seperti kamu. Semoga kita segera bertemu besok.Aku tersenyum kecil, siapa yang iseng begini. Apa jangan-jangan Aksa ya diakan lagi dekat denganku, tapi tidak mungkin karena kemarin sudah ku tolak.Aku teringat akan Alya yang mukanya murung setelah memberi buket padaku, karena sore tadi ia masih bersemangat. Merasa tak enak hati akupun berjalan ke kamarnya.Tanpa mengetuk aku masuk langsung merebahkan diri di sampingnya."Al," panggilku yang hanya dibalas deheman olehnya. Usia kami ini sama hanya terpaut beberapa bulan saja."Kenapa? Ingin cerita?" tawarkuIa bangkit terduduk dari kasurnya yang langsungku ikuti."Nay, lo taukan?""Enggak""Ck. Listen to me" dengan gayanya yang berlebihan itu, aku hanya memutar bola mata dengan jengah"Yang ngirimin lo bunga orangnya ganteng pake banget. Nah gue uda berseri-seri tapi ternyata dia bilang buat lo"Aku hanya diam tak ingin menimpali takut salah bicara yang ada dia makin marah."Terus gue bilang 'Buat saya aja ya mas, saya jomblo ni'. Dan lo tau dia bilang apa, Nay?" teriak dia dengan heboh di akhir kalimatnya. Aku menunggu jawaban Alya."Only, Nayla. Terima kasih" dengan menirukan gaya bicara orang tadi dan gaya angkuhnya"Angkuh bangetkan dia? Gagal suka gue untung ganteng tu orang" lanjutnyaAku hanya tertawa kecil menanggapinya karena ekspresi yang diperagakan Alya mengingatkanku pada sosok pria lain."Al, gue besok mau ke Jakarta. Ibu gue, tante lo itu ngancem gue harus uda ada dirumah besok. Lo mau ikut gak?" ajakkuIa tampak berfikir "Boleh deh. Sekalian liburan"Keesokan harinya, pukul tiga sore kami sudah sampai dirumah. Ibuku dan beberapa asisten rumah tangga ku lihat sibuk menyiapkan masakan."Ada acara apa, bu?" tanyaku.Ibu memelukku lalu bergantian memeluk Alya "Sudah kalian tidur dulu sana. Nanti malam Nayla pakai baju yang bagus ya, kamu juga Alya dandan."Aku dan Alya saling melempar pandang dan kami hanya mengangguk lalu naik ke atas.Seperti ucapan ibuku kamipun berdandan entah untuk apa tujuannya.Alya sudah turun duluan katanya ia ingin mencari cemilan namun ia masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa cup cake."OMG, Nayla. Demi apa gue uda jauh-jauh kesini. Tapi cowo itu ada disini" ucapnya dengan tersenggal-senggal"Cowo siapa?" tanyaku sambil memoles sedikit pelembab bibir."Cowo yang ngasih lo bungalah""Ha?""Kumat deh lo kan. Ayo deh turun, mama gue juga ada di bawah. Heran gue ada apaan."Kamipun turun bersama, karena aku juga bingung ada apa."Nah itu Nayla" ucap ayahku. Ku lihat wajah mereka berseri-seri. Aku juga melihat pria yang membelakangiku dengan tubuh tegap, sandarable banget. Aduh pikiran!Pria itu menghadapku "Long time no see, Nayla" ucapnya tersenyum dengan lebarDeg."Sebentar ini ada apa sih?" tanyaku yang bingung."Jadi nak Raihan katanya sudah lama mengenal kamu dan ia berniat melamar kamu malam ini" jelas ibuku"Ha?" ucapku yang memang bingungRasanya aku tidak tahu ingin berbicara apa lagi"Wahh.. Selamat, Nay" ucap Alya memelukku"Tapi bagaimana bisa kalian tidak memberitahukan aku""Maaf, Nay. Mungkin ini mendadak tapi aku akan menjelaskan semuanya setelah kamu menjawabnya" ucap RaihanBaiklah! Dia tidak berubah tetap saja semaunya"Bahkan jika jawabanku tidak, kamu akan tetap menjelaskannya?" tanyaku dengan menyeringai"Tentu. Tapi aku berharap kamu menerimanya. So?"Aku mengulum senyum, tak bisa kupungkiri. Aku masih menyukainya. Pria ketus yang sialnya tampan ini, dan lihatlah setelah empat tahunpun tak bertemu ia semakin terlihat tampan."Nay" tegur ayahku aku terbangun dari khayalankuAku menghembuskan nafasku "Nayla terima lamaran Raihan"Semua orang tampak tersenyum senang disana, dan Raihan langsung berdiri menarikku ke taman belakang. Masih terdengar suara Alya di belakangku"Uww.. Agresif yaa. Awas jangan kesemak-semak" ucap Alya sambil tertawa lalu mengaduh akibat mamanya menjawilnyaDisinilah aku duduk bersama Raihan di taman belakang rumahku.Dia tersenyum melihatku yang dahulu ia jarang tersenyum seperti ini."Terima kasih, Nay.""Kamu hutang pejelasan" ucapkuIa tertawa "Cie yang panggilannya berubah" ejeknya. Aku ingat dulu kami saling lo-gue dalam memanggil.Aku mengulum senyum lalu ia merangkum tanganku"Dari dulu aku suka sama kamu, Nay. Kamu gak sadar ya? Sedari dulu kita duduk bareng itu sengaja. Aku sudah mengaturnya. Lalu..""Wait. Tapi kamu dulu waktu kelulusan jauhin aku" sela aku tak terima"Ah iya, lalu Nia?" tanyaku lagi yang ingat akan penasarankuIa kembali tersenyum "Mau dilanjutkan, tidak?""Oke" jawabku"Jadi dulu waktu aku mau memantapkan hati mengutarakan padamu tentang perasaan ini, Ayahku melarangku untuk berpacaran. Beliau bilang aku harus langsung melamarmu namun aku belum memiliki keberanian itu. Dan maaf baru sekarang berani menemuimu"Ia menghela nafas "Sebenarnya aku selalu memantaumu. Kamu tentu kenal dengan Aksa, ia aku suruh memantaumu namun sialnya ia malah menyukaimu. Aku beryukur kamu menolaknya""Dan mengenai Nia, dia aja yang terlalu baper waktu aku nolongin dia dari preman di jalan." jelasnya lagi.Aku terkejut dengan fakta ini, aku teringat akan sesuatu "Lalu bunga itu?"Untuk kesekian kalinya ia tersenyum "Dari aku""Eh tapi kalau misalnya aku dulu terima Aksa, gimana?" tanyaku dengan pongahRaihan tertawa "Apa lagi selain memaksamu untuk menerimaku. Tidak ada penolakan" tegasnyaAku tidak tahu lagi harus berkata apa lalu ia memelukku sambil berkata "I Love You, Nayla Lesyata""Love you too, Raihan Prambudi"End
Negosiasi
"Kak, kau dimana? Kenta, Aku takut" gumamku yang lirih namun ternyata cukup didengar oleh pria berbadan kekar itu.Aku takut, takut sekali. Jika saja tadi aku tidak menolak ketika Kenta ingin mengantarku pulang pasti aku tidak akan berada di sini. Dan aku juga tidak akan berada disini jika saja aku mengiyakan ucapan kakakku saat ia ingin menjemputku.Aku tidak akan disekap di gedung tua kumuh serta jelek ini. Tadi aku marah pada Kenta, ya dia adalah pacarku. Tidak sengaja aku melihatnya berpelukan dengan sahabatku, ia berkata salah paham tapi aku cukup keras untuk tak mudah mempercayainya.Pria berbadan kekar tadi ini berjalan mendekat ke arahku, melemparkan sebungkus nasi untukku.Cih mereka menyekapku tapi memberiku makan, untuk apa?"Ingin aku hidup, huh?" sarkasku.Tangan dan kakiku memanglah terikat tapi tidak dengan mulutku."Diam! Dan makanlah. Jangan buat aku marah" ucap pria itu yang ku kedengar dari percakapan dengan temannya namanya Jeck."Cih! Bagaimana aku bisa makan jika tanganku terikat, bodoh!" pekikku.Sebenarnya aku takut, tapi ini adalah cara dari ayahku untuk melawan mereka dan jangan memperlihatkan ketakutan kita, jika kita ingin menang. Dan kali ini akan aku lakukan. Terima kasih, Ayah! Kau memang cinta pertama tiada tara.Author POVDi sisi lain, seorang pria menghubungi bawahannya untuk mencari adik tercintanya."Aku tidak ingin mendengar apapun! Sudah 2 hari adikku hilang. Cepat lacak keberadaannya" lalu mematikan sambungan teleponnya.Andai adiknya itu sedikit menurut, tidak terlalu keras kepala maka tidak akan begini kejadiannya."Kenta" geramnyaApa ini karena pria itu? Pikir Calvin karena Kenta karena terakhir kali ia bertemu dengan Kenta di cafe dekat kantornya.Masih saja Calvin ingin menghubungi Kenta, namun tampaknya mereka memiliki insting yang sama. Sehingga Calvin tak perlu repot untuk menghubungi Kenta karena Kenta sudah datang menemuinya."Bagaimana? Kau sudah menemukan Aleta." ucap Kenta dengan raut wajah yang panik.Tanpa diduga Calvin menonjok muka tampan Kenta hingga Kenta terjatuh karena tak siap menerima pukulan itu "Dengar, Kenta! Kau memang temanku tapi aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu yang buruk pada adikku."Kenta meringis menahan sakit lalu berujar "Mana mungkin aku membiarkan Aleta menghadapi sesuatu yang buruk. Kau tahu bahwa aku sangat mencintai Aleta!" teriak frustasi Kenta.Kenta hanya tak ingin sang pujaan hatinya dalam situasi buruk terlepas dari kesalahpahamannya. Sudah 2 hari gadis itu hilang dan belum ditemukan.Kemarin sebelum Aleta diculik mereka berjanji bertemu di cafe dekat kantor Calvin. Namun ketika Kenta masih membaca menu sambil menunggu Aleta datang, seorang wanita bernama Mika memeluknya dari belakang dengan erat sehingga lengan Mika melingkar erat di leher Kenta. Kenta tahu bahwa Mika ini adalah sahabat Aleta dan juga menyimpan perasaan padanya. Sedangkan Aleta tak tahu bahwa Mika menyukai Kenta itulah yang ada dipikiran Kenta karena selama ini Aleta bersikap baik pada Mika.Saat Mika memeluknya, Aleta masuk ke dalam cafe itu. Ia terkejut saat melihat posisi tersebut ditambah Kenta memegang lengan Mika, ia berfikir itu adalah Aleta.Namun ketika mata Kenta menatap pintu ia melihat Aleta yang berdiri mematung dan menyadari bahwa yang memeluknya adalah Mika bukan Aleta ia langsung menyentakkan lengan itu dari lehernya.Namun yang Aleta lakukan bukan kabur melainkan duduk di depan Kenta dengan tatapan sinis dan Kenta berusaha menjelaskan.Bukan Aleta namanya jika langsung percaya, ia gadis yang keras kepala. Usai menampar Mika, Aleta bangkit dan pergi ingin pulang. Namun Kenta menahan ingin mengantarkannya.Ia juga menelepon kakaknya mengatakan tidak akan kembali ke kantor hari ini bahkan kakaknya ingin mengantar tapi juga ia tolak."Apa yang kalian lakukan?" tanya pria parubaya yang melihat dua pemuda itu."Apa dengan kau menonjoknya adikmu akan pulang?" tambah pria parubaya itu bernama Niko"Dan kau! Kau bilang cinta pada Aleta maka kau harus menemukannya" ucap pria itu pada Kenta"Aku sudah menyuruh mereka mencarinya tapi tetap tidak ketemu, pa!" jawab Calvin pada ayahnya"Aku juga, om" balas Kenta"Ck. Apa perlu pria tua ini yang harus turun tangan" ucap Niko dengan sarkas."Ayo kita berangkat. Aku sudah tahu dimana Aleta" ucap pria Niko pada Calvin dan Kenta"Apa? Papa sudah tahu kenapa tidak mengatakannya" Dengus Calvin"Tunggu!" ucap Kenta"Kita harus membuat rencana agar Aleta juga aman" lanjutnya"Kalian hanya perlu mengikuti skenario yang telahku susun" ucap Niko dengan seringaiannya.Kepala Aleta ditutup kain hitam, ia di dudukkan disebuah kursi yang dihadapannya terdapat meja. Dengan di atasnya tersedia lampu kecil menggantung sehingga menciptakan cahaya remang.Tadi Aleta digiring ke sudut ruangan lain yang masih ada di dalam gedung itu hanya beda lantai saja.Aleta masih meronta, namun pria bernama Jeck itu menarik kepala Aleta hingga rasanya rambutnya ingin lepas.Pria itu membuka kain penutup kepala Aleta. Sinar lampu dari depan tubuhnya sudah menyala, ia mengerjabkan mata karena silau saat sorot lampu menyorot tepat di wajahnya.Bau anyir menusuk hidungnya. Sebenarnya tempat apa ini?Suara tepukan dibelakang lampu menyadarkan Aleta, ia mengernyit."Kau ingat suaraku?" tanya pria itu.Sial! Aleta tak dapat melihat wajahnya akibat sorotan lampu.Aleta memasang wajah angkuhnya, jangan tanyakan ia dapat ini dari mana. Sekali lagi! Ini dari ayahnya"Apa maumu?" desisnya"Aw.. Aku? Tentu dirimu, nona."Aleta tertawa mengejek "Sebegitu terpesonanya padaku, tuan?" masih dengan tatapan angkuh dan tenang namun tetap saja hatinya takut."Tidak takut padaku, nona?"Namun Jeck menjambak rambut Aleta hingga Aleta nyaris membungkuk ke belakang, ia meringis merasakan sakitnya."Tunggu sampai papa dan kakakku datang! Kalian akan menyesal" teriaknya lagiPria di depan sana tertawa mengejek "Uh.. Aku menantinya, Nona." ucap pria di depan tadi sambil mengarahkan pistol pada kepala Aleta.Bahaya, Aleta memutar otaknya agar mengulur waktu. Ia yakin kakak dan ayahnya pasti menolongnya, juga pacarnya mungkin."Ada kata-kata terakhir, Nona?""Tunggu! Setidaknya kau harus memberikanku alasan kenapa kau membunuhku?" ucapnyaPria itu menyeringai, memasang ekspresi yang sangat menyebalkan bagi Aleta. Tak sampai disitu, pria itu juga menurunkan pistolnya. Aleta tersenyum dalam hatinya."Apa keuntungan untukku jika memberitahukannya padamu?" tanyanya sambil menautkan alisnya"Setidaknya aku tidak menjadi arwah penasaran, mungkin"Pria itu mematikan lampunya sehingga nampak jelas raut wajahnya. Ia tertawa atas jawaban Aleta. Lalu ia duduk di atas meja yang ada di hadapan Aleta."Remember me?" Tanya pria itu"Ronal" ucap Aleta"Ya, kau terbaik dalam mengingat.""Jadi apa maumu? Maksudku, beri tahu aku kenapa kau ingin membunuhku""Cinta mungkin" jawabnya"Kau harus membebaskanku jika kau ingin aku cintai" jawab angkuh AletaSeperti biasa, Wanita ini cerdas pikir pria itu."Kau mencoba bernegosiasi terhadapku untuk mengulur waktu sehingga ayahmu akan menemukan aku. Bukankah begitu, Nona?"Sial! Pria ini tahu.Mata Aleta menangkap sesuatu dilaci bawah meja itu, terdapat pistol disana. Yaa Aleta akan mengambilnya, lalu bagaimana caranya sedangkan Ronal masih duduk di atas meja hadapannya.Aleta mengangkat dagunya, masih menunjukkan keangkuhannya tak peduli akan ketakutan yang ia alami."Ayolah, Ronal. Kau ini sungguh tampan. Aku bisa jatuh cinta padamu""Harusnya itu yang kau katakan padaku 3 bulan lalu""Hei, bukankah kau tahu aku memiliki kekasih?""Dan kekasihmu kemarin bermesraan dengan sahabatmu di cafe, kalau kau lupa" balas Ronal"Shiitt" Aleta mengumpat kala ingat momen ituRonal mendekat tangannya mencengkram pipi Aleta "Bibir ini tidak boleh mengumpat, sayang"Kesempatan baik, Aleta mengambil pistol yang ada di laci bawah meja lalu mengarahkan pistol itu tepat pada kepala Ronal.Ronal tertawa "You are smart, honey"Aleta menekankan pistol itu "Bersabarlah, kau akan mencintaiku bukan jika aku membebaskanmu" ucap Ronal dengan santai"In your dream!"Aleta menarik kuat platuknya danDor...Dor...DorSuara tembakanpun terjadi namun bukan dari pistol Aleta melainkan dari luar.Ronal lagi-lagi tertawa pada Aleta dan berkata "Kau memanglah pintar tapi aku lebih pintar. Kau pikir, siapa yang meletakkan pistol itu di bawah sana?" sarkasnyaSuara tembakan dan hantaman yang berasal dari luar semakin memekakan gendang telinga."Oh Shitt.. Jeck periksa luar"Jeckpun segera keluar memeriksa kekacauan yang ada sedangkan Ronal melihat situasi dari jendela samping yang ada di ruangan itu."Menarik" gumamnyaAleta tersenyum sinis "Lihat! Papaku pasti datang.""Lalu?"Aleta berdecihSuara berdentum semakin besar diluar sana. Jeck kembali dengan peluh diwajahnya"Tuan, ada kekacauan di luar sana"Ronal mendengus dan meminta Jeck menjaga Aleta di ruangan itu.Dengan langkah lebarnya ia keluar dari ruangan itu, ia melihat dua lelaki dengan cekatan menghajar anak buahnya.Ronal menepuk tangannya melihat kejadian itu "Wow.. Siapakah pahlawan yang datang ini?" ucap RonalSeketika gerakan Calvin dan Kenta terhenti, mata tajam mereka menghunus manik Ronal. Namun tampaknya pria itu cukup tenang disana.Calvin dan Kenta saling tatap seakan memberi kode lalu keduanya serempak ingin menghajar Ronal. Namun masih 2 langkah mereka berjalan Ronal kembali berujar"Santai, man " ia memutar matanya jengah "Jeck, bawa kekasih cantikku itu!" tambahnya sedikit berteriak.Tak lama Aleta sudah ada dihadapan mereka dengan kungkungan Ronal. Satu tangan Ronal memegang tangan Aleta sedang tangan kanannya memegang pistol yang mengarahkan pada kepala Aleta."Brengsek!" pekik Calvin"Apa maumu?" Desis Kenta"Wah.. Lihatlah tuan selingkuh ini menanyakan padaku"Aleta terlihat mendengkus sebenarnya ia tidak marah pada Kenta, ia hanya sedikit sebal karena tingkah Mika pada Kenta itu meskipun ia tahu bahwa Kenta sangatlah mencintai Aleta. Ia tahu akan hal itu."Dia setia" ujar Aleta protesAleta melihat binar bahagia di mata Kenta."Diamlah!" sentak Ronal."Your mine, Aleta. Jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak akan ada yang bisa memilikimu" desis RonalCalvin berjalan perlahan untuk menjangkau Aleta dan pergerakan itu terbaca oleh Ronal.Pria itu menekankan pistol itu pada Aleta lalu berkata "Maju selangkah maka aku akan menembaknya"Mereka mematung disana, Kenta dan Calvin saling melempar tatapan seakan membuat strategi.Namun dimenit berikutnya seorang pria berjaket hitam dengan segala keahliannya yang melompat dari luar ke gedung itu dan dengan sigap menarik Aleta dari kungkungan Ronal.Calvin dan Kenta menghela nafas dalam-dalam. Mereka tahu pria yang sialnya adalah Ayah Calvin juga Aleta yang pasti melakukannya."Target sudah saya amankan" ujar pria itu melalui telepon yang tersambung pada telinganya.Aleta sudah berpindah alih, Calvin dan Kenta dapat menyerang Ronal kalau begitu. Takkan perlu khawatir mereka akan menyakiti Aleta. Namun pikiran itu terhenti akibat melihat tangan Ronal yang mengambil sebuah tombol dari saku celananya.Shitt!Umpatan serta merta keluar mulus dari bibir mereka berdua, mereka sangatlah tahu benda apa yang kini sedang berada di tangan Ronal. menyaksikan itu Ronal tertawa mengejek."Kalian pikir aku bodoh?" ucapnya dengan seringaian "Aku hanya perlu menekannya sedikit, dan kita akan blusshhh" ucapnya"Kau gila? Kita akan mati bersama, bodoh" rutuk Aleta"Oh sayang. Aku gila karenamu""Psiko!" maki Calvin"Kau pasti hanya mengancam bukan?" dengus Kenta"Barangkali dia akting" gerutu pria yang menyelamatkan Aleta"Jadi kalian tidak percaya" Wajahnya menyeringaiDan detik selanjutnya, semua orang disana memekik kala Ronal benar-benar menekan tombol itu.Semuanya kelimpungan, suara berdebum begitu nyaring hingga meruntuhkan apa saja yang ada disana.Suara dentuam disertai suara jeritan para makhluk yang berada disana memenuhi bangunan tua. Bangunan itu bergetar nyaris runtuh, puing-puing bangunan sempat berserak memenuhi sekitar. Seluruh manusia terangkat dari pijakan bangunan dan terjatuh dalam posisi telentang hingga telungkup. Aroma darahpun turut bercampur. Seketika hening melanda.Semua para manusia itupun bangkit, berdiri dengan posisi beriring. Lalu tangan mereka saling menggenggam, menaikkan tangannya dan membungkukkan tubuh sebagai tanda penghormatan.Tirai merahpun tertutup tanda berakhirnya cerita tersebut. Riuh tepukan terdengar menghiasi seluruh ruangan itu."What!! Apa-apaan ini?" suara pekikan seorang gadis tak terimaNamun seorang lelaki disebelahnya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya"Ayo kita pulang, sayang""Rasanya aku ingin menuntut pemilik teater ini" ucapnya dengan menggebu-gebu"Ini namanya seni, sayang. Dan aku pemiliknya kalau kamu lupa""Harusnya kamu gak menayangkan cerita seperti itu dong. Kita selama 3 jam menyaksikan adegan yang menggantung gitu saja?""Kan endingnya jelas, semuanya mati""Tapi tetap saja aku tuh, uh sakit hati"Laki-laki itu tertawa terbahak menyaksikan ekspresi kekasihnya ini."Ih.. Adrian. Tahu gini aku gak mau kamu ajak nonton ini, akan lebih baik jika kita ke pantai tadi" gerutu gadis itu."Suruh siapa tadi gak mau bernegosiasi. Langsung mengangguk dengar ideku"Gadis itu memasang ekspresi cemberut tanda ketidakpuasan akan drama teater tersebut.Lalu lelaki bernama Adrian itu, mengacak rambut gadis itu lalu merangkulnya "Ayo, Amel sayang, aku antar pulang. Nanti kita makan es krim"Kemudian terlihat binar bahagia dimata gadis itu setelah Adrian mengucapkan kata es krim."Ayo deh, kalau maksa"Tamat
Pasrah
Tamala melangkah menuju ke ruang kelas VlllB dengan senyuman yang merekah. Ia merasa lega karena tugas sekolahnya untuk hari ini sudah ia persiapkan. Tamala merupakan siswi yang disiplin. Termasuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Selalu memberikan bantuan kepada temannya yang sedang kesusahan, menjadi salah satu alasan mengapa ia disukai banyak orang. Bukan hanya di lingkungan sekolahnya, ia juga dikenal sangat ramah di lingkungan tempat tinggalnya.Bahkan tak jarang ia berbagi rezeki kepada orang yang membutuhkan. Meski hidupnya sederhana, namun berbagi tetaplah menjadi hal yang utama. Tamala selalu mengingat pesan Ibunya, "meski kita hidup sederhana, berbagi harus tetap kita lakukan selagi kita masih punya." Ibunya menyampaikan pesan itu saat dia berusia 6 tahun. Saat itu, ia dan Ibunya beranjak pulang dari pasar. Diperjalanan pulang mereka bertemu dengan anak jalanan yang terlihat kelaparan. Setelah ditanya perihal mengapa mereka kelaparan, jawaban dari kedua kakak beradik itu sungguh menyayat hati. Mereka ternyata belum makan selama dua hari. Dengan penuh iba, Tamala dan Ibu membawa kedua anak itu ke salah satu warung makan yang tak jauh dari pasar. Kedua anak itu tampak begitu lahap menyantap makanan yang telah disajikan oleh pemilik warung. Bahkan salah satu diantara kedua anak itu meneteskan air mata."Adek kenapa? Kok nangis?" Ibu Tamala mengusap rambut gadis kecil itu yang berusia 3 tahun lebih tua dari Tamala. Sedangkan adiknya berusia setahun lebih mudah dari gadis itu."Nggak apa-apa kok, tante. Saya merasa bersyukur aja, saya dan adik bisa makan setelah dua hari menahan lapar, terima kasih banyak ya tante sudah memberi kami makan." Ucap gadis kecil itu bersedu-sedu. Sementara adiknya masih terlihat lahap menyantap makanannya."Sama-sama sayang." Ibu Tamala tersenyum sambil memeluk gadis kecil itu. Sementara Tamala hanya tersenyum menyaksikan momen yang mengharukan itu. Saat itulah ibu Tamala menyampaikan pesan yang selalu Tamala ingat hingga saat ini.***Hari ini kelas VlllB seperti biasa, di jam pertama di hari rabu akan ada mata pelajaran IPS yang selalu on time. Jadi, kalau ada yang mengerjakan PR di sekolah bakal ketahuan. Mereka yang ketahuan mengerjakan PR di sekolah tidak diizinkan untuk mengikuti pelajaran tersebut. Hal ini dilakukan untuk melatih siswa/i agar disiplin dalam mengerjakan tugas yang diembankan oleh bu' Tini selaku guru IPS.Tugas yang diberikan bu' Tini minggu lalu ialah semua siswa/i diwajibkan menfoto-copy buku pelajaran IPS dikarenakan buku IPS di sekolah hanya ada satu saja. Hal itu dilakukan bu' Tini agar bisa mengajar dengan mudah.Berhubung karena hari ini pemeriksaan tugas, jadi bu' Tini menggabungkan antara kelas VlllA dan VlllB, agar ia mudah memeriksa tugas para siswa/i. Bu' Tini melakukan pertukaran jam pelajaran kepada pak Toni selaku guru yang mengajar jam pertama di kelas VlllA.Semua siswa/i kelas VlllB bergabung di ruang kelas VlllA. Bu' Tini sudah bersiap di meja guru sembari menunggu semua siswa berkumpul. Setelah semuanya berkumpul, bu' Tini segera memanggil 1/1 nama siswa, di mulai dari kelas VlllA. Semua siswa tampak tenang selama masa pemeriksaan tugas berlangsung.Kini giliran kelas VlllB. Siswa bergiliran maju ke depan bu' Tini sambil membawa buku foto-copy masing-masing."Tamala,,," Suara bu' Tini terdengar memanggil siswa berikutnya.Tamala segera mengambil buku foto-copy miliknya lalu melangkah menuju ke hadapan bu' Tini. Setelah pemeriksaan buku selesai, Tamala kembali ke tempat duduk. Tamala langsung meletakkan buku foto-copy itu di atas meja. Namun, sesaat setelahnya..."Mala, aku pinjam buku foto-copy kamu, ya. Soalnya aku lupa untuk foto-copy buku IPS." Izza yang terlihat panik sedari tadi, kini merasa sedikit lega setelah memegang buku foto-copy milik Tamala, meski Tamala belum mengatakan apa-apa."Tapi kan, bukunya sudah ditandatangani sama bu' Tini, nanti kalau ketahuan, gimana?" kini giliran Tamala yang terlihat panik."Nggak bakal ketahuan kok,,," Meski Izza mengatakan hal itu, namun ia terlihat sedikit khawatir. Tamala terlihat pasrah.Setelah nama Izza dipanggil, ia melangkah ke depan dengan penuh percaya diri, actingnya benar-benar sempurna. Tapi..."Bu', buku foto-copy itu bukan punya Izza." Ikka yang duduk di belakang Tamala dan Izza tiba-tiba bersuara setelah menyaksikan kejadian tadi."Izza meminjam buku Tamala supaya bisa dapat nilai, bu'." Tanpa berfikir panjang, Ikka membocorkan semuanya."Benar begitu Izza, Tamala?" tanya bu' Tini."Benar, bu'." Jawab Tamala dan Izza hampir bersamaan."Kalian berani bohong sama Ibu?" Tanya bu' Tini."Maaf, bu'." Kata Izza menunduk menyesali perbuatannya."Ya sudah, kalau begitu kamu foto-copy buku itu sekarang, setelah selesai di foto-copy, perlihatkan ke Ibu, setelah itu Ibu akan memberikan nilai." Kata bu' Tini.Izza kembali ke tempat duduk dengan perasaan kecewa."Kamu kenapa sih, kka? Sibuk ngurusin orang lain aja!!!" Izza terlihat sebel sambil menyimpan buku foto-copy itu di depan Tamala."Loh, aku kan cuma berkata jujur, apa salahnya, sih?" Ikka membela diri."Sudah, sudah,,, Setiap perbuatan itu pasti ada konsekuensinya. Jadi, dari pada kalian saling menyalahkan yang nggak ada manfaatnya sama sekali, lebih baik buku ini segera difoto-copy deh, sebelum bu' Tini selesai mengajar." Tamala menyodorkan buku foto-copy miliknya ke Izza."Tapi, temenin ya, La. Please!!!" Izza memohon ke Tamala untuk menemaninya ke tempat foto-copy yang berada tak jauh dari sekolah."Iya,,," Tamala segera menemani Izza setelah sebelumnya meminta izin pada bu' Tini.Tamala menyadari bahwa hari ini ia telah berbuat salah. Di satu sisi, ia ingin membantu temannya yang sedang membutuhkan bantuannya. Namun, di sisi lain ia harus ikut berbohong. Tapi, seperti itulah kehidupan, cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap.
Tak Seindah Pelangi
Semua keperluan sekolahku untuk hari ini sudah siap. Baju dan rok sudah kupakai sedari tadi. Kini tinggal memakai kerudung berwarna putih simpel yang tergantung di samping cermin lemari pakaianku.Meski terlihat simpel, namun kerudung ini telah memenuhi syarat dan ketentuan dalam menutup aurat. Hingga membuat hatiku tenang. Setidaknya bertambah satu kewajiban yang kulaksanakan sebagai umat muslim.Setelah semuanya siap, kulangkahkan kaki menuju ruang tengah. Di sana kulihat papa mondar-mandir, sepertinya dia mencari sesuatu. Aku yang keponya sudah berada di tingkat paling tinggi langsung melempar pertanyaan padanya yang kuanggap sebagai cinta pertama dalam hidupku."Pa,,, lagi nyari apa, sih? Kok mukanya kaya' panik gitu? Ah, Rani tau, Papa pasti nyembunyiin sesuatu dari Mama, ya kan? Makanya muka Papa panik, kaya' orang linglung gitu, heheh,,," Aku tertawa kecil melihat gerak-gerik Papa."Nyembunyiin apaan? Tidak tuh! Papa tidak nyembunyiin apa-apa!!" Jawab Papa tanpa menoleh ke arahku. Dia tetap sibuk mencari sesuatu yang tidak kuketahui itu."Terus, Papa nyari apa?" tanyaku lagi."Ini, Papa lagi nyari kunci mobil. Perasaan tadi Papa simpan di atas sofa. Kok sekarang nggak ada, ya?" kata Papa yang masih terlihat kebingungan dengan kejadian kunci mobil itu yang tiba-tiba hilang."Maaf ya, Pa, Rani nggak bisa bantuin cari. Soalnya Rani sudah mau berangkat ke sekolah sekarang, takut nanti telat. Semoga kuncinya segera ketemu ya, Pa. Semangat Papaa,, Assalamu'alaikum..." Aku benar-benar tidak bisa bantuin Papa mencari kunci mobil itu. Aku hanya bisa mendoakan dan memberikan semangat ke Papa."Wa'alaikumsalam..." jawab Papa.Langit yang terbentang luas terlihat cerah hari ini. Betapa Maha Kuasa-Nya Allah Subhanahuwata'ala dalam menciptakan keindahan-keindahan yang kulihat saat ini. Tak henti kumengagumi kekuasaan-Nya. Yang bahkan tak seorang pun mampu menandingi kekuasaan itu. Ini menandakan, sebagai manusia atau khalifah di muka bumi seharusnya kita bersyukur dan tidak perlu mengaku sok berkuasa. Karena hanya Allah-lah Sang Penguasa Kekuasaan yang sesungguhnya.Setelah beberapa menit melewati perjalanan menuju ke sekolah, akhirnya aku sampai juga. Kulangkahkan kaki melewati gerbang sekolah lalu menuju ke ruang kelas xb. Kelas tempatku menuntut ilmu sejak pertama kali aku masuk ke sekolah ini.Meski baru sekitar setengah tahun belajar di sini, tapi begitu banyak cerita yang telah kami lewati. Termasuk aku. Aku selalu menganggap bahwa kehidupan yang kujalani adalah bagian dari takdir yang telah Allah Subhanahuwata'ala tentukan untukku. Meski terkadang yang terjadi tidak sesuai dengan keinginanku. Namun, hidup akan terus berlanjut. Sekeras apapun aku menentang takdir hidupku, itu tak akan merubah apa pun dari hidup yang kujalani. Sebab, takdir seseorang sudah ditentukan jauh sebelum seseorang itu dilahirkan ke dunia ini.Aku terus melangkah. Dari kejauhan aku melihat Vinda dengan langkah terburu-buru memasuki ruang kelas. Jujur, Vinda adalah teman terbaik yang kumiliki sejak SMP dulu. Dan, sampai sekarang Vinda masih tetap teman yang selalu setia menemaniku.Tapi, ada satu hal yang tidak aku sukai darinya. Vinda pacaran!!! Meski seringkali aku sampaikan padanya bahwa pacaran itu tidak boleh. Namun, kalimat yang kusampaikan seakan tak ada gunanya. Vinda tidak pernah peduli tentang apa yang aku sampaikan padanya.Kuikuti langkah Vinda yang menuju ke kursi di pojokan paling belakang. Kulihat dia menangis. Baru kali ini aku melihatnya sesedih itu."Vin, ada apa? Kamu kenapa nangis?" tanyaku sambil mengusap pundaknya. Kurasakan ada getaran dahsyat yang terjadi pada dirinya. Ia tampak begitu ketakutan. Dan,,, seketika ia berdiri lalu memelukku dengan erat."Aku takut banget!!! Sebelumnya dia nggak pernah bersikap seperti itu." Vinda bersedu-sedu menjawab pertanyaan dariku."Dia siapa? Bersikap seperti apa yang kamu maksud?" tanyaku penasaran. Aku tidak tahu siapa lagi yang sedang ia cintai saat ini. Kulepas dengan pelan pelukannya. Ia terlihat menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan."Pratama. Awalnya kami ngobrol seperti biasa. Tapi, tiba-tiba ia memegang tanganku. Saat itu aku benar-benar gemetar bercampur rasa takut. Aku tidak tahu kenapa ia bersikap seperti itu." Cerita Vinda dengan wajah yang masih terlihat ketakutan."Terus?""Aku melepas tangannya lalu pergi begitu saja.""Reaksinya?""Aku tidak tau. Yang kupikirkan saat itu adalah menjauh darinya.""Vin, itulah alasannya mengapa aku sering menyampaikan padamu untuk tidak pacaran. Sekarang kamu sudah tau kan akibatnya?" Aku lagi-lagi menyampaikan hal yang sama kepadanya."Bahkan bukan hanya ketakutan seperti yang kamu alami. Tapi yang paling buruk adalah dosa yang terus mengalir selama hubungan itu tetap berlanjut!!! Vin, bukannya aku sok suci. Tapi, aku hanya berusaha menyampaikan kebaikan kepadamu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka." Lanjutku."Dulu, aku mengira pacaran itu seindah pelangi. Yang mampu memberikan warna-warni yang indah di setiap kehadirannya. Tapi, aku salah. Pacaran itu sama sekali tidak seindah pelangi. Sebaliknya, ia memberikan warna yang begitu kelam. Maaf ya Ran, selama ini aku tidak pernah mendengarkan kata-katamu." Vinda kembali memelukku erat.Aku merasa bersyukur, Vinda mau berubah setelah mendengar kata-kata yang kusampaikan. Vinda bahkan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah kembali ke lubang yang sama seperti yang terjadi pada dirinya selama ini. Dan aku bersyukur karena telah berhasil membuat Vinda berubah ke arah yang lebih baik.
Danke, Barista!
Aku duduk di sudut cafe bergaya klasik ditemani secangkir coklat hangat, ku lihat diluar sana sedang rintik padahal waktu masih menunjukkan pukul 1 siang. Di cafe ini, menu andalannya adalah kopi. Ya begitulah, ku alihkan pandangku pada sang barista yang dengan gerakan seksi meracik kopinya.Lamat-lamat ku pandangi wajahnya,Matanya yang tajam bak elang, hidung yang mancung dibingkai dengan rahang yang tegas. Ditambah kulit yang putih, tinggi dan tubuh yang atletis. Aku yakin Tuhan sedang bahagia saat menciptakannya.Ini merupakan kegiatan rutin yang kulakukan setiap 2 kali dalam seminggu, pada hari kamis dan hari minggu. Dan tebak ini hari apa? Ini adalah hari minggu karena itulah aku berada di cafe ini.Lama aku memandangnya, ia menyerahkan kopi hasil racikannya pada pelayannya lalu tatapannya teralih padaku manik mata kami bertemu, ia tersenyum menenangkan.Oh senyumannya sungguh memabukkan. Sudah lama aku menyukai barista ini, namun tampaknya ia tak pernah peduli padaku. Pernah sekali aku agresif padanya mengatakan bahwa aku adalah pacarnya kepada teman dekat wanitanya namun ia menepisnya dengan kata bahwa aku adalah adik sepupunya.Oh! Sungguh beruntung sekali yang mendapatkannya. Tidak hanya tampan, ia berkarisma dan juga mandiri. Sebenarnya usaha ini yang membiayai ayahnya.Ku alihkan tatapanku pada band lokal di depan sana, setiap hari minggu akan ada band lokal yang manggung di cafe ini. Tiba-tiba seorang lelaki datang langsung duduk di hadapanku"Hai, Keyra!" Ucapnya dengan senyumanAku mendengus kenapa harus lelaki ini yang duduk dihadapanku, kenapa tidak dia saja? Ah itu tidak mungkin."Kembalilah pada teman-temanmu, Sen" acuhkuAku tahu pria ini memiliki perasaan padaku, ia juga tahu bahwa aku akan ke cafe ini setiap minggunya."Aku tidak bersama temanku" jawabnya sambil mengedarkan pandangan "Aku kesini hanya untuk menemuimu""Baiklah, lakukan semaumu tapi jangan berisik" ketuskuKu alihkan tatapanku pada barista tadi tapi ku lihat ia sudah tidak ada. Ah kemana dia?"Apa kau tidak lelah, Key" ucap Arsen"Maksudmu?""Aku tahu kau menyukai barista itukan? Tapi bahkan ia tidak pernah peduli padamu"Benar, ucapan Arsen menohok sekali. Aku sudah menyukainya sejak lama dan sudah 3 bulan lamanya aku mencoba mengejarnya, jangankan untuk diacuhkan, ia bahkan saat itu pernah menyuruhku pulang. Atas dasar itu, aku hanya berani memandanginya dibalik meja sudut ini.Semua rasa itu berawal dari aku pertama kali masuk universitas, dia adalah Mahasiswa tingkat akhir yang sedang bimbingan kala itu. Aku yang dulu adalah gadis cupu, dia membantuku membebaskanku dari bahan bully. Dan lagi ia yang membantuku berubah menjadi gadis seperti ini, gadis yang bergaya modern juga percaya diri. Hanya sebulan memang, waktu yang cukup singkat namun mau bagaimana jika perasaan itu tumbuh.Awalnya aku memang tidak berani, jangankan untuk berbicara banyak,memandang wajahnya saja aku tidak berani karena jantung ini seperti mau terbang. Dan Lambat laun aku mulai berani untuk mengejar cintanya karena saat itu, tepatnya 3 bulan yang lalu ia putus dengan pacarnya. Aku terus mengejarnya karena seperti ucapan pepatah jawa yang mengatakan bahwa Witing Tresno Jalaran Suko Kulino."Key, aku bisa membantumu" lanjut Arsen menarikku dari pusaran khayalan.Aku manaikkan alisku tanda bertanya "Apa maksudnya?""Ayo kita pacaran!" ucap Arsen dengan lantangAku tertawa "Jangan bercanda, Arsen. Kau ini mengajak aku pacaran atau mengajak aku membeli kerupuk"Arsen menjambak rambutnya tampak frustasi "Ayolah, Keyra. Bukankah kau tahu aku sudah berulang kali menyatakan cinta padamu"Aku menghela nafas dalam-dalam, beginilah semenjak pria barista itu mengubah penampilanku banyak pria yang mengejarku namun mau bagaimana jika hatiku hanya terpaku padanya.Kalau dilihat Arsen ini juga tampan, dan mau sampai kapan aku mengejar pria yang bahkan menoleh saja tidak. Ia hanya menganggapku seorang adik perempuan, ia memang sering tersenyum padaku. Aku akui hal itu namun untuk lebih sama sekali tidak.Aku rasa tak ada perkembangan di hubungan kami ini. Dan apakah ini pantas disebut dengan hubungan?"Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku" Ucap Arsen sambil memegang tangankuSeorang pria berjalan lalu berdehem di sampingku lalu melepaskan tautan tanganku pada Arsen."Keyra sudah punya janji dengan saya" ucap pria iniAku mendongak melihat suara yang familiar ditelingaku. Sungguh keajaiban, aku mengingat apakah aku memang ada janji dengan pria ini. Rasa-rasanya aku tidak memiliki janji apapun padanya atau pada siapapun. Tapi siapa yang peduli, seketika aku tertawa jahat dalam hati."Ayo" ajak pria ini"Eh, tunggu tapi, kak?" gantian dong ya. Biasanya dia yang selalu begitu"Ayo, Keyra!" tekannya lalu menarik tanganku mengikuti langkah lebarnya aku yakin pasti ini akan memerahnya."Arsen aku duluan ya" ucapku sambil berlalu. Aku sempat melihat Arsen akan protes namun ia urungkan kala melihat pria yang menarikku ini.Pria ini membukakan pintu mobilnya dan menyuruhkan masuk ke mobilnya. Aku heran, tentu saja. Ia makan apa sih tadi? Kok mendadak seperti ini. Ini kali pertamanya ia begini padaku. Aku mengusap pergelangan tanganku yang memerah akibat tarikannya tadi.Ia masuk ke dalam mobil lalu berkata "Kemana kita, Key?' tanyanya datarAku tak menjawab masih mengusap pergelangan tanganku yang memerah.Pria ini menghela nafas, menarik pergelangan tanganku lalu dikecupnya "Maaf" ucapnyaAku membeku seketika, tapi aku mendadak jadi takut. Ada 3 pilihan atas perubahan sikapnya yang pertama, dia mulai sadar bahwa ia mencintaiku tapi sepertinya ini cukup mustahil mengingat ia yang ketus sekaligus manis bersamaa. Yang kedua,dia punya sakit parah jadi dia berbuat kebaikan tapi jika dilihat ia sehat dan terakhir dia iseng karena banyak waktu luang dan merasa bosan."Melamun huh?" tanyanya dengan ketusAku tersenyum kikuk, nah ini baru dia yang ku kenal ketus dan galak "Mau jalan atau aku balik masuk ni?" lanjutnya"Eh iya, kak Arga. Sabar dong kan aku lagi berpikir mau kemana. Coba kasih pilihan" ini momen langka tidak boleh di sia-siakan dong"Nonton atau makan?""Nonton, selesai itu kita makan." jawabku cepat.Ia mendengus "Ck. Kebiasaan!"Bodo amat kak, bodo amat yang penting aku happy.Ia mendekat kearahku, bahkan wajahnya hanya beberapa inci dengan wajahku. Aku menahan nafas kala nafasnya juga turut menerpa wajahkuKlik"Kamu mikir jorok, ya?" ucap Arga memicingkan matanya dan ia juga mulai menjalankan mobilnya.Aku tersadar ternyata arti dari kata kebiasaan yang ia ucapkan itu karena aku lupa memakai sabuk pengaman."Enggak, kak" jawabku sekenanya sambil menahan malu"Laki-laki tadi?" tanyanya dengan tatapan fokus ke jalan"Dia Arsen dan teman sefakultas kalau kakak lupa""Jauhin, aku tidak suka.""Kenapa?""Pokoknya tidak suka!"Aku lebih baik diam tak ingin menjawabnya, takut ia memutar setir mobik ke arah cafenya lagi. Biar bagaimanapun selama 3 bulan ini baru kali ini dia mengajakku jalan.Terakhir kali ya dulu ketika aku masih cupu dan tidak percaya diri, itu juga dia mengajakku untuk membenahi diri seperti pergi ke salon salah satunya.Ia yang dulu selalu berkata "Kamu itu cantik, jangan hanya karena ucapan orang kamu langsung minder," "Kecantikan akan hadir ketika kamu punya rasa percaya diri" Dan kata terakhirnya adalah "Dan jika kamu sudah percaya diri, maka kamu juga harus cerdas"Makanya sekarang aku berubah percaya diri begini, kelewatan malah sampai berani mengejar lelaki ini."Kamu mau di mobil aja?" tanyanya dengan sarkas. Aku bakan tidak sadar bahwa telah sampai.Aku menggeleng dan langsung keluar dari mobilnya, ku dengar ia tertawa kecil melihat tingkahku. Beginilah kak Arga, dia itu ketus tapi hatinya hangat. Ah aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada pria ini.Selepas turun ia mengaitkan tanganku dengan tangannya sambil berjalan menuju ke bioskop.Aku menatap tangannya yang menggandeng tanganku. Mimpi apa tadi malam aku Tuhan? Oh atau jangan-jangan ini mimpi ya."Ini tidak mimpi, Keyra." ucapnya lembut selembut sutra sambil tersenyum.Oh Tuhan! Apakah pria ini cenayan yang bisa membaca pikiranku? Aku jadi bergidik ngeri."Mau nonton apa?" ucapnya ketika tiba di bioskop."Apa saja. Tapi Jeritan malam, boleh?" ucapkuDia tertawa "Baiklah" lalu kamipun menonton film jeritan malam ini. Aku suka filmnya, film yang diadaptasi dari kisah nyata.Selepas menonton film, kamipun makan. Dan suprisenya lagi ia memesankan makanan kesukaanku tanpa bertanya padaku.Boleh tidak aku baper?Makananpun datang dan Kak arga berkata "Makan yang banyak, kamu kurusan"Ah aku jadi curiga kalau begini, barangkali ia mendadak begini karena kasihan melihatku yang kurusan begini.Tak sadar aku memasang duck face ulah ucapannya "Aku tidak ingin kamu kurus""Dan kamu jelek pasang ekspresi begitu" lanjutnya sambil menumpukan tangan di meja."Arsen pasti tidak akan keberatan menerimaku jika aku kurus" ucapku dengan sebal."Jangan bicarakan pria brengsek itu lagi" ucap kak Arga penuh dengan tekananAku masih ingin membantah ucapannya, setidaknya Arsen yang paling keras memperjuangkan aku. Tidak seperti pria ini, yang diperjuangkan tapi tidak mengerti.Aku yang sudah merangkai kata-kata ingin menyangkal tiba-tiba ada suara lain yang menyapa telingaku"Arga..""Tania" ucap Arga"Pacar kamu?" tanya wanita bernama Tania ituKu lihat kak Arga menatapku, aku juga penasaran apa yang akan dikatakan kak Arga pada wanita ini "Dia.. Adik.." jawab Kak Arga"Ingin bergabung" tambah kak Arga dan langsung disepakati oleh TaniaAku tertawa mengejek, hilang sudah nafsu makanku serta menguap sudah bahagiaku sesaat kencan hari ini. Aku bahkan tidak yakin apakah ini kencan?Baiklah aku sudah muak, aku memilih mundur. Aku tidak tahu siapa Tania ini tapi seketika aku menbencinya dan aku juga marah pada Kak Arga ternyata ia hanya menganggapku Adiknya.Aku beranjak dari tempat itu meninggalkan mereka, ku dengar kak Arga memanggilku tapi tak ku hiraukan. Hati ini terlanjur patah terlalu dalam, harusnya aku sadar dari dulu kalau inilah yang terjadi.Harusnya aku sadar kalau kak Arga hanya kasihan pada gadis sepertiku. Aku terus merutuki kebodohanku hingga sampai pada apartemenku.Aku memang tinggal sendiri di kota ini, ayahku membelikan apartemen ini untukku karena aku kuliah di kota ini tentunya dan agar aku nyaman dan aman.Aku masuk kamar dan aku menangis, tapi aku tidak boleh jatuh karena pria itu. Aku harus bangkit dan buktikan padanya bahwa aku bisa move on.Walaupun aku tidak yakin!Keesokan harinya aku duduk termenung di kantin kampus menghabiskan sarapanku sembari menunggu jam masuk kelas.Setangkai mawar merah mengacung di wajahku. Ah pria ini lagi, maunya apa sih? Kenapa dia harus repot-repot mengunjungiku di sini.Aku beranjak dari tempat itu, sudah lelah. Hey aku juga wanita yang ingin dimengerti.Namun sepertinya pria ini tidak puas akan penolakan, ia menarik tanganku."Ada apa lagi, kak Arga?" tanyaku menatap tajam sorot matanya"Aku mau masuk kelas" lanjutku ketus"Sebentar""5 detik" ucapku namun dia menatap mataku dengan lekat tanpa sepatah katapun.Aku mulai menghitung"1""2""3""4" ku lihat ia masih menatapku dengan tenang"5""Okay. Waktu habis!" ucapku lalu mulai melangkahkan kaki."Aku mencintaimu!" ucapnya dengan lantangEh bagaimana? Apa katanyaAku segera berbalik menatapnya seakan tak percaya akan ucapannyaDia menarikku ke dalam pelukannya lalu mengatakan "Aku mencintaimu, Keyra. Gadis cupu yang berubah jadi liar" ucapnya yang diakhiri dengan tawa renyahnya."Tapi kakak bilang aku cuma adik, itu kalau lupa" cibirkuDia melepaskan pelukan kami lalu berkata "Makanya jangan salah sangka duluan, maksudku adik. Kamu adik ipar untuk Tania" kak Arga tersenyum manis sekaliAku masih memikirkan maksud dari ucapannya. Tania itu wanita kemarin yang aku temui itukan?Dia mendorong kepalaku dengan telunjuknya "Wanita kemarin yang bernama Tania itu kakakku, Keyra."
Cyro
Sera mengernyit dalam tidurnya. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu merasakan beban berat disekitar pinggangnya. Ada apa ini? Apa ada barang-barang di kamarnya yang tiba-tiba jatuh dan menimpanya? Makin lama, Sera merasakan benda itu makin membelit tubuhnya. Sudah pasti ini bukan barang-barang di kamarnya. Sera lantas segera membuka matanya. Takut jika yang membelit tubuhnya saat ini ada ular.Namun ketika gadis itu membuka mata, hal pertama yang dia dapati adalah wajah seorang laki-laki. Otomatis Sera berteriak dan menendang laki-laki itu hingga jatuh dari kasurnya."Aw!" Ringis laki-laki itu seraya mengusap kepalanya. Sera menarik cepat selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, hanya kepalanya saja yang terlihat."Si... siapa kamu?" Tanya Sera bergetar dan takut. Siapa yang tidak takut jika tengah malam begini mendapati orang asing sedang tidur di kasur yang sama kita? Mana orang asing itu terlihat aneh!"Kamu yang siapa? Kenapa kamu berada di..." Ucapan laki-laki itu terhenti. Matanya menjelajahi kamar Sera dengan liar. Lalu tiba-tiba wajah laki-laki itu terlihat pucat dan kaget."Astaga! Aku lupa," kata laki-laki itu seraya menepuk dahinya. Sera yang sedari tadi diam, mulai keluar dari selimut dan menuju saklar lampu. Gadis itu menekan saklar lampu dan membuat kamar seluas 9 meter kuadrat itu terang seketika. Sera dapat melihat jelas laki-laki yang terduduk di lantai kamarnya. Matanya menatap setiap jengkal orang asing yang menyusup ke kamarnya itu.Mata Sera melebar ketika menyadari keanehan pada penyusup itu. Laki- laki itu berpakaian aneh. Pakaiannya seperti jumpsuit yang pas badan berwarna hitam. Ada sebuah benda kecil seperti lampu berwarna kuning di bagian dadanya. Bagian kepala laki-laki itu juga aneh. Laki-laki itu memiliki telinga yang panjang, gigi-gigi yang runcing, rambut berwarna kuning serta ada dua tanduk kecil di kepalanya. Sebenarnya makhluk apa yang menyusup ke kamar Sera? Silumankah?"Makh... makhluk apa kamu? Kenapa bisa ada di kamarku?" Sera menjangkau sapu yang ada didekatnya, bersiap hendak menyerang makhluk aneh itu."Jangan pukul aku! Aku nggak ada maksud berbuat jahat sama kamu," cegah laki-laki itu panik. Laki-laki itu membuat gerakan menahan dengan tangannya. Perlahan Sera menurunkan sapunya, tapi tidak dengan tingkat kewaspadaannya."Kamu siapa? Kenapa kamu bisa ada di kamarku?""Aku Cyro. Aku berasal dari planet Hiuna, planet yang letaknya sangat jauh dari planetmu karena planet kita berada di galaksi yang berbeda. Aku dan kakakku sedang melarikan diri dari penjahat yang berniat membunuh kami dengan lubang hitam. Sebenarnya planet yang kami tuju bukan ini. Tapi dalam perjalanan, terjadi sesuatu di lubang hitam. Aku dan kakakku terpisah dan aku malah terdampar disini. Aku minta maaf karena sudah masuk sembarangan dan tidur di kasurmu," jelas laki-laki bernama Cyro itu. Sera terkejut mendengar penjelasannya. Jadi Cyro itu alien?"Kamu alien?""Ck bukan! Kami menyebut diri kami sebagai gerda. Seperti manusia bagi kalian," kata Cyro."Hah?""Jangan memasang wajah bodoh seperti itu. Di planetku, kami mempelajari tentang makhluk-makhluk dari planet lain. Salah satunya kalian. Aku sedikit banyak tahu tentang kalian."Sera ber-oh ria. Lalu gadis itu duduk di atas kasurnya. Perlahan ketakutannya pada Cyro menghilang setelah sedikit berbincang dengan laki-laki itu. Meskipun Sera masih belum bisa ada alien... maksudnya gerda di kamarnya, tapi kemunculan Cyro dengan tampilan anehnya membuat Sera mau tidak mau percaya jika saat ini ada makhluk asing di hadapannya."Ah ya, namaku Sera.""Senang berkenalan denganmu, Sera," kata Cyro manis. Sera mengulum senyumnya."Lalu bagaimana caranya agar kamu bisa bertemu dengan kakakmu kembali?""Aku nggak tahu. Hanya kakakku yang bisa membuat portal untuk membuka lubang hitam. Aku tidak bisa. Sepertinya aku harus menunggu sampai kakakku menjemputku. Tapi aku sudah mengirim pesan telepati padanya. Semoga pesannya sampai," kata Cyro."Pesan telepati? Lewat ponsel?""Bukan. Kami bisa saling mengirimkan telepati untuk saling menghubungi. Tidak perlu menggunakan benda seperti kalian. Kami menggunakan ini untuk menangkap dan mengirimnya." Cyro menyentuh tanduk kecil yang ada di kepalanya. Sera makin kagum melihat makhluk asing yang ada dihadapannya saat ini."Berarti saat lubang hitam rusak, kamu langsung terlempar di kamarku?""Tidak. Di halaman lebih tepatnya. Aku takut ketahuan makanya aku memutuskan untuk masuk. Maaf sudah membuatmu ketakutan.""Hah? Kamu masuk lewat mana? Jendela?"Cyro menggeleng. Lalu laki-laki itu menunjuk dinding. "Lewat sana.""Dinding?""Iya," angguk Cyro. "Aku menembusnya."" WHAT?! Kamu bisa menembus dinding?" Tanya Sera heboh. Cyro segera membekap mulut gadis itu karena takut memancing kehebohan."Kecilkan suaramu," desis Cyro. Sera menganguk-anggukkan kepalanya. Cyro lalu melepaskan bekapan tangannya di mulut Sera."Jadi kamu menembus dinding?""Iya. Gerda bisa menembus benda padat dan membuat benda melayang. Mau lihat?"Sera mengangguk mau. Dia penasaran seperti apa makhluk yang disebut gerda ini. Mereka mempunyai kemampuan yang berada diluar akal manusia.Cyro lalu memusatkan perhatiannya pada sebuah buku yang tergeletak di lantai. Matanya menatap buku itu dengan serius. Lalu tak lama kemudian, perlahan, buku itu terangkat dan melayang di udara. Hal itu mengundang decakan dari Sera."Woah, hebat sekali," decak Sera kagum. Cyro tersenyum tipis lalu kembali meletakkan buku itu ke atas lantai."Bagaimana dengan menembus dinding? Aku juga mau lihat," pinta Sera. Cyro menggeleng, lalu ikut duduk di samping Sera di atas kasur."Akan ku perlihatkan besok pagi." Setelah itu Cyro merebahkan tubuhnya di kasur Sera dan segera terlelap. Sera menatap terkejut pada laki-laki itu. Cyro tidur dikasurnya? Mereka akan tidur di kasur yang sama? WHAT?!***Sera terbangun begitu mendengar suara gaduh dari luar kamarnya. Sera mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dua menit kemudian, begitu kesadarannya terkumpul penuh, Sera menuju dapur rumah kontrakannya. Tempat dimana suara gaduh itu berasal. Betapa kagetnya Sera begitu mendapati dapurnya dipenuhi dengan benda-benda melayang dan seorang laki-laki yang berdiri di tengahnya."Pagi Sera," sapa Cyro. Sera masih melongo sehingga tidak membalas sapaan Cyro."Kenapa semua benda-benda ini melayang?""Aku mau merapikannya tadi. Semua sudah ku cuci bersih tapi aku nggak tahu dimana harus meletakkannya. Jadi benda-benda ini masih melayang seraya aku berpikir dimana tempat untuk meletakkannya," kata Cyro polos. Sera berdecak lalu segera menunjukkan dimana saja alat-alat dapurnya. Cyro segera meletakkan alar-alat dapur itu sesuai instruksi Sera, dengan keadaan melayang pastinya."Terima kasih sudah membantuku, Cyro. Aku akhir-akhir ini sibuk sampai nggak ada waktu buat beres-beres," kata Sera tulus dan malu. Tentu saja dia malu. Peralatan di rumahnya dibersihkan oleh orang lain."Sama-sama. Aku senang bisa membantu. Anggap saja sebagai permintaan maafku.""Eh..."Tiba-tiba saja tanduk kecil di kepala Cyro mengeluarkan cahaya dan berkedip beberapa kali. Senyum Cyro mengembang seketika. Pesannya dibalas oleh sang kakak! Segera Cyro memegang tanduknya dan menutup mata.Cyro, aku terlempar ke planet Dura. Bumi dan Dura lumayan jauh karena berbeda galaksi. Tapi aku akan segera menyusulmu. Aku akan mencoba membuka lubang hitam dan menuju bumi. Kamu jaga diri. Tutup kepalamu, jangan sampai memancing perhatian. Aku takut para penjahat itu bisa mendeteksimu disana.Setelah itu Cyro membuka matanya dan melepaskan tangannya dari tanduknya. Hal pertama yang Cyro lihat yaitu wajah kebingungan Sera."Kakakku sudah memberi pesan. Dia akan menyusulku kesini," jelas Cyro tanpa ditanya."Syukurlah. Semoga kakakmu segera datang.""Um Sera.""Ya?""Bolehkah aku tinggal disini sampai kakakku datang?" Tanya Cyro penuh harap. Sera langsung mengangguk setuju. Gadis itu hanya tinggal sendiri di rumah kontrakan kecil ini. Jika ada tetangga yang bertanya, dia akan mengakui Cyro sebagai sepupunya.Sera tidak tahu kenapa dia bisa secepat ini percaya pada makhluk asing yang tiba-tiba muncul di kamarnya. Padahal bisa saja sebenarnya Cyro berniat. Tapi ntah kenapa, Sera yakin jika Cyro ada orang baik. Maka dari itu dia membolehlan Cyro tinggal untuk sementara waktu di rumahnya."Terima kasih, Sera." Cyro tiba-tiba saja memeluk Sera, membuat gadis itu tersentak kaget. Selama ini belum ada laki-laki yang pernah memeluknya selain anggota keluarganya. Mantannya terdahulu hanya pernah menggenggam tangannya saja. Sera termasuk orang yang kolot jika berpacaran."Sa...sama-sama." Perlahan Sera berusaha melepaskan Cyro dari tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang sekali. "Aku mau mandi dulu. Aku harus segera bekerja."***Semua pegawai yang mempunyai shift pagi ini di toko kopi terkejut melihat Sera datang bersama laki-laki yang menutupi kepalanya dengan hoodie . Ya, Cyro ikut Sera bekerja karena laki-laki itu tidak mau ditinggal sendiri. Dia bilang lebih baik dia ikut Sera bekerja daripada bosan hanya menunggu di rumah. Akhirnya Sera mengalah dan membolehkan Cyro untuk ikut dengannya, dengan catatan laki-laki itu tidak boleh membuat keributan."Bareng siapa, Ser? Pegawai baru?" Tanya salah satu teman Sera. Sera menggeleng."Sepupuku. Dia ikut karena nggak mau sendirian di rumah. Nggak papakan? Aku janji dia nggak akan macam-macam.""Aku rasa sih nggak papa. Lagian bos hari ini nggak masuk. Aman aja sih keliatannya."Sera mendesah lega mendengarnya. Gadis itu segera menarik Cyro untuk duduk di kursi paling pojok."Kamu tunggu aku disini. Kalau bosan, kamu boleh keluar. Tapi jangan sampai nyasar. Nih aku kasih kamu uang kalau butuh sesuatu." Sera meletakkan uang seratus ribu ke tangan Cyro."Kalau aku mau bantu, boleh nggak?""Jangan, Ro. Bisa heboh nanti. Kamu duduk disini aja atau keluar juga boleh. Aku mau kerja dulu."Sera segera pergi meninggalkan Cyro untuk segera memulai pekerjaannya. Cyro yang ditinggal mendesah kecewa. Jika seperti ini, lebih baik dia menunggu di rumah saja.***Mata Cyro menatap Sera yang terlihat sangat sibuk. Gadis itu mondar-mandir mengantarkan pesanan, membersihkan meja, dan mencatat pesanan para pelanggan. Cyro kasihan melihat Sera yang sepertinya mulai lelah tapi pelanggan masih saja ramai. Cyro rasanya ingin menolong, tapi dia sudah diwanti-wanti oleh Sera untuk tidak melakukan apapun. Ah andaikan ini di Hiuna, semua pesanan itu pasti sudah melayang ke meja masing-masing pemesannya tapi perlu capek-capek untuk diantarkan."Kamu nggak kerja, Ta? Bantuin Sera." Sayup-sayup Cyro mendengar percakapan dua orang pegawai perempuan yang berdiri tidak jauh darinya."Nggak ah. Capek. Biarin aja Sera yang ngerjain. Tadi aku bilang ke dia kalau aku nggak enak badan. Padahal lagi males aja," kata salah satu dari mereka lalu tertawa. Cyro menggeram kesal. Bisa-bisanya mereka memanfaatkan Sera demi kepentingan mereka sendiri. Lihat saja, akan Cyro beri pelajaran."Mbak!" Cyro mengangkat tangannya, memanggil dua pegawai yang sedang mengobrol tadi. Salah satu dari mereka menoleh lalu menuju meja Cyro malas-malasan. Untungnya yang mendatangi Cyro adalah orang yang jahat pada Sera."Kenapa, Mas?" Tanya pelayan perempuan itu jutek."Saya mau mesan minuman yang baru. Es kopi susu. Ah ya, tolong minuman saya ini dibuang aja. Saya nggak minat lagi." Cyro mengangsurkan gelas berisi coklat dingin pada gadis itu. Mau tidak mau pelayan perempuan itu menerimanya dan mengatakan akan segera mengantarkan pesanan Cyro.Senyum Cyro mengembang ketika pelayan perempuan itu menjauhinya. Cyro segera memfokuskan matanya pada gelas berisi coklat dingin itu dan tidak lama kemudian... byur!!! Gelas berisi coklat dingin itu sedikit terangkat dan isinya membasahi pakaian pelayanan perempuan itu dan sedikit wajahnya. Semua orang di toko kopi itu terkejut melihatnya, berbeda dengan Cyro. Laki-laki itu malah terkekeh kecil dan berseru senang dalam hati.Rasakan itu!!!***Jam kerja Sera berakhir pada pukul lima sore. Gadis itu segera mengganti pakaiannya dan mengajak Cyro yang setia duduk di kursi pojok untuk pulang. Sera yakin, Cyro pasti bosan meskipun tadi dia sempat meminjamkan ponselnya pada Cyro."Kamu bosan ya? Besok mendingan tunggu di rumah aja," kata Sera di tengah perjalanan pulang."Nggak kok. Kalau bosan, aku udah keluar dari tadi. Aku besok ikut kamu lagi. Seru liat kamu kerja.""Seru liat aku atau seru isengin temanku?" Sera tahu jika insiden salah satu temannya mandi coklat dingin tadi siang itu adalah kerjaan Cyro. Sera sempat melihat Cyro menatap ke arah temannya itu sebelum temannya tersiram coklat dingin."Aku cuma ngasih pelajaran ke dia. Dia licik. Dia biarin kamu kerja sendirian sedangkan dia pura-pura sakit.""Tapi kamu harusnya ingat perkataan kakak kamu. Jangan bikin keributan. Kamu mau ketahuan?""Tapi aku nggak ketahuankan? Orang-orang mikirnya dia nggak sengaja nyiramin coklat dingin itu ke badannya. Aku lakuin itu semua demi kamu, Sera."Sera mendesah pelan. Tidak bisa melawan Cyro karena laki-laki itu selalu saja bisa menjawabnya."Terserah kamulah."***Sudah dua minggu lebih Cyro tinggal bersama Sera. Sera mulai terbiasa dengan kehadiran laki-laki bertanduk itu. Sejak kehadiran Cyro, hidup Sera yang datar terasa lebih berwarna. Semua yang dilakukan Cyro memberi perubahan dihidupnya."Ser."Sera tersentak ketika Cyro tiba-tiba muncul dari balik dinding. Laki-laki itu memang hobi sekali menembus dinding daripada membuka pintu dan melewatinya seperti manusia normal. Ah Sera lupa. Cyro bukan manusia. Dia gerda."Jangan suka ngagetin gitu, Ro," tegur Sera kesal. Cyro menampilkan cengirannya lalu tiba-tiba memeluk Sera."Tadi aku dapat pesan dari kakakku. Dia udah bisa buka lubang hitam yang menuju bumi. Dia bakal jemput aku," kata Cyro bahagia.Deg! Sera merasakan hal yang berbeda di hatinya. Ntah kenapa dia merasa tidak rela mendengar bahwa Cyro akan segera pergi."Be... benarkah? Kapan kakakmu akan sampai?""Nggak tahu. Tapi katanya nggak akan lama. Ah, akhirnya aku bisa ketemu kakakku lagi. Aku senang banget," kata Cyro berseri-seri. Cyro melepaskan pelukannya. Tapi laki-laki itu mengernyit bingung melihat wajah Sera yang murung."Kenapa? Kok kamu murung?""Nggak. Aku cuma sedih bakal nggak bisa ketemu kamu lagi," jawab Sera jujur. Tidak ada gunanya berbohong. Toh, sebentar lagi Cyro akan meninggalkannya."Aku juga sedih nggak bisa ketemu kamu lagi." Cyro merangkum wajah Sera dengan tangannya. "Aku janji bakal belajar supaya bisa buka lubang hitam dan mengunjungi kamu. Tunggu aku ya."Sera tersenyum mendengar janji Cyro. Meskipun dia tidak tahu apakah Cyro akan menepati janjinya atau tidak, tapi setidaknya laki-laki itu berniat menemuinya kembali suatu saat."Sebelum aku pergi, ayo kita habiskan waktu bersama."Cyro menggandeng tangan Sera lalu berjalan lurus ke arah dinding. Langkah Cyro terhenti karena teriakan Sera saat setengah tubuhnya sudah menembus dinding."Aku nggak bisa nembus dinding, Cyro!"
Mentiko Betuah
Dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang makmur dan sejahtera di negeri Semeulue yang dipimpin oleh seorang Raja yang kaya raya dan baik hati. Namun Raja dan permaisurinya itu selalu merasa hampa dalam hidupnya, karena mereka belum mempunyai anak.Suatu hari, Raja itu pun pergi bersama permaisurinya ke hulu sungai yang tempatnya sangat jauh untuk berlimau atau mandi keramas dan bernazar agar dikaruniai seorang anak yang akan menjadi penerus kerajaannya kelak.Untuk menuju ke hulu sungai itu, mereka harus melewati hutan belantara, menyeberangi sungai-sungai, mendaki gunung, menghadapi binatang buas dan berbagai rintangan lainnya. Sesampainya di sana mereka segera berlimau dan bernazar lalu berdoa tanpa lelah, agar mereka dikaruniai seorang anak.Waktu terus berlalu, akhirnya doa-doa mereka terkabul, sang permaisuri mengandung dan sembilan bulan kemudian melahirkan seorang anak laki-laki tampan dan diberi nama Rohib. Raja mengadakan pesta yang amat meriah untuk merayakan kelahiran anaknya itu.Rohib tumbuh menjadi anak yang sangat manja, karena Ayah dan Bundanya terlalu memanjakannya sejak kecil hingga dewasa. Rohib kemudian dikirim ke kota untuk belajar di sebuah perguruan, Raja dan permaisuri berharap anaknya mampu menyelesaikan pelajarannya dengan cepat."Anakku, belajarlah dengan tekun, jadilah penerusku yang bijaksana," pesan Raja sebelum Rohib berangkat ke kota.Namun sudah beberapa tahun Rohib belajar di kota, ia belum mampu juga untuk menyelesaikan sekolahnya. Sang Raja sangat marah dan kecewa melihatnya."Rohib! Kau ini anak seorang raja, kau terlalu hidup enak dan manja di istana sehingga sekolahmu tak juga selesai!" seru Raja merasa kesal. "Anak macam apa kau ini?! Tak pernah mau mendengar nasihat orang tua, kau harus ku hukum!"Rohib menunduk, ia tak berani menatap Ayahnya yang sedang marah, sedangkan sang permaisuri menatap Rohib penuh iba."Kau! Aku usir dari istana ini! pergi!!" teriak Raja marah.Sang permaisuri terkejut mendengar ucapan Raja, ia segera memohon, "Kanda, tolong jangan usir anak kita, dia anak kita satu-satunya. Dinda mohon...." ucap permaisuri sambil menangis."Tapi Dinda, Kanda sudah sangat benci melihat wajah anak ini!" Raja tetap bersikeras. Namun sang permaisuri tak kehabisan akal, ia terus mencari cara agar bisa menolong anaknya yang terancam terusir dari istana."Baiklah, Kanda boleh mengusir anak kita asal dengan syarat. Kakanda harus bersedia memberinya uang sebagai bekal dan modal untuknya berdagang," usul permaisuri.Sang Raja terlihat berpikir, lalu ia berkata, "Baiklah aku bersedia memberikannya uang asalkan Rohib tidak boleh menghabiskan uang itu kecuali untuk berdagang! Apakah kau sanggup Rohib?" tanya sang Raja sambil menatap tajam anaknya.Rohib mengangguk cepat, "Aku sanggup, aku berjanji tidak akan melanggar perintah Ayahanda lagi," jawab Rohib yakin.Setelah itu berangkatlah Rohib ke kampung-kampung untuk memulai dagangnya, namun di perjalanan ia melihat sekelompok anak kampung sedang menyiksa dan menembaki burung dengan ketapel."Hei kalian! Mengapa kalian menganiaya burung itu? Burung-burung itu juga makhluk Tuhan!" Rohib berkata lantang.Anak-anak kampung itu menatap tajam, "Siapa kau?! Berani sekali rnelarang kami!" bantah mereka."Berhentilah menembaki burung itu, maka aku akan memberi kalian uang, “ kata Rohib yang langsung disetujui oleh anak-anak kampung itu, lalu Rohib memberikan uang kepada mereka dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju kampung yang lain.Rohib kembali menemukan orang-orang kampung sedang memukuli seekor ular, ia kemudian memberikan uang kepada orang-orang kampung itu dengan syarat mereka harus berhenti menganiaya ular.Selama dalam perjalanannya, ia selalu memberi uang kepada orang-orang yang menganiaya binatang, sehingga tanpa disadarinya uang yang seharusnya dijadikan modal berdagang itu habis. Rohib mulai gelisah, ia sangat takut Ayahnya akan sangat marah dan menghukumnya.Rohib menangis karena takut hukuman Ayahnya, namun tiba-tiba seekor ular besar mendekatinya, "Jangan takut, aku adalah Raja Ular di hutan ini. Mengapa kamu terlihat bersedih?" tanya ular itu ramah.Lalu Rohib menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya."Kamu adalah anak yang baik, karena kamu telah melindungi hewan- hewan di hutan ini dari orang-orang kampung yang menganiayanya, aku akan memberimu hadiah," ucap ular itu setelah mendengarkan cerita Rohib. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari mulutnya."Benda apa ini?" tanya Rohib sambil mengamati benda di depannya."lni adalah benda ajaib, namanya Mentiko Betuah. Apapun yang kamu minta, pasti akan dikabulkan," jelas ular itu sambil berlalu pergi.Berbekal Mentiko Betuah itu, Rohib kembali ke istana menghadap Ayahnya. Namun, sebelum sampai di istana, ia memohon kepada Mentiko Betuah agar memberinya uang yang banyak untuk menggantikan modalnya. Ketika ia sampai ke istana, Ayahnya sangat senang dan menyambutnya yang telah membawa uang banyak dari hasil dagangannya. Rohib terbebas dari hukuman, itu semua berkat Mentiko Betuah.Kemudian ia berpikir bagaimana cara untuk menyimpan Mentiko Betuahnya itu agar tidak hilang. Rohib ingin menempa atau mengubahnya menjadi sebuah cincin. Lalu dibawanya Mentiko Betuah itu kepada seorang tukang emas. Namun ternyata tukang emas itu menipunya dengan membawa lari benda itu.Rohib segera meminta bantuan para hewan, "Bantulah aku menemukan tukang emas yang telah mencuri Mentiko Betuah yang sudah menjadi cincin itu, duhai sahabat-sahabatku," pintanya.Kemudian tikus, kucing dan anjing pun bersedia menolongnya. Anjing dengan penciumannya yang tajam berhasil menemukan jejak si tukang emas yang telah melarikan diri ke seberang sungai. Giliran kucing dan tikus mengambil cincin itu yang disimpan di dalam mulut tukang emas. Maka di tengah malam, tikus memasukkan ekornya ke dalam lubang hidung si Tukang Emas yang sedang tertidur. Lalu si Tukang Emas itu bersin, hingga Mentiko Betuah terlempar keluar dari mulutnya.Tikus segera mengambil benda itu. Namun, ketika Mentiko Betuah itu akan diserahkan kembali kepada Rohib, tikus menipu kucing dan anjing, ia mengatakan bahwa Mentiko Betuah terjatuh ke dalam sungai, ia lalu meminta kucing dan anjing untuk mencarinya ke sungai, padahal sebenarnya benda itu ada di dalam mulutnya. Saat kedua temannya mencari benda itu ke dasar sungai, Tikus segera menghadap kepada Rohib."Terima kasih sahabatku tikus, kau telah berhasil menemukan Mentiko Betuah ini, kau memang pahlawanku!" kata Rohib setelah menerima cincin dari tikus.Sementara itu, kucing dan anjing kemudian mengetahui bahwa Mentiko Betuah milik Rohib telah ditemukan dan dibawa oleh tikus, maka yakinlah kucing dan anjing bahwa tikus telah berbuat curang. Akhirnya sampai saat ini menurut masyarakat setempat berawal dari kisah inilah asal mula mengapa tikus amat dibenci oleh kuncing dan anjing.
Halibu , Si Pemburu yang baik
Pada jaman dahulu, di dataran padang rumput Mongolia, hiduplah seorang pemburu yang baik hati yang bernama Hailibu. Tiap selesai berburu, dia akan selalu membagikan daging-daging tersebut untuk penduduk desa yang lain dan dia hanya menyisakan sedikit bagian untuk dirinya sendiri. Perhatiannya un-tuk orang lain membuat dia begitu dihargai di desa itu.Suatu hari, saat sedang berburu di dalam hutan, Hailibu mendengar suara tangisan dari langit. Sambil menatap ke atas, dia melihat seekor makhluk kecil yang ditangkap oleh seekor burung Hering yang amat besar. Dengan cepat, dia mengarahkan busur panahnya ke arah predator tersebut. Karena terkena bidikan panah tersebut, si burung raksasa melepaskan mangsanya.Hailibu menatap ke arah makhluk aneh tersebut yang memiliki tubuh menyerupai seekor ular. Dan berkata,"Makhluk yang menyedihkan (kasihan), cepat pulanglah." Makhluk itu menjawab, "Wahai pemburu yang baik, saya sangat berterima kasih karena anda telah menyelamatkan nyawaku. Sebenarnya, saya adalah putri raja Naga, dan saya yakin ayahku akan memberikan anda hadiah sebagai ucapan terima kasih. Beliau mempunyai banyak harta benda yang dapat anda miliki. Tetapi jika tiada satu pun harta benda yang berkenan bagimu, anda dapat meminta batu ajaib yang beliau simpan di dalam mulutnya. Siapapun yang memiliki batu ajaib itu, dia akan memahami semua bahasa hewan."Hailibu si pemburu tidak tertarik dengan segala harta benda, tetapi kemampuan untuk dapat memahami berbagai macam bahasa hewan membuatnya sangat tertarik. Kemudian, dia bertanya kepada si Putri Naga, "Apakah itu benar-benar batu ajaib?" Si putri menjawab, "Benar. Tetapi apapun yang anda dengar dari hewan-hewan tersebut, anda harus menyimpannya untuk diri anda sendiri. Jika anda memberitahukan kepada orang lain, maka anda akan berubah menjadi batu."Lalu, si Putri Naga itu membawa Hailibu ke pinggir laut. Saat mereka mendekati laut, tiba-tiba air terbelah dengan cepat, sehingga Hailibu dapat berjalan seperti saat berada di jalan yang amat lebar. Tak lama kemudian, tampaklah sebuah istana yang berkilau, di mana tempat tinggal si raja Naga.Raja Naga amat bahagia saat mendengar Hailibu telah menyelamatkan putrinya, dan dia kemudian menawarkan segala harta benda yang Hailibu inginkan dari istananya. Setelah terdiam beberapa saat, Hailibu menjawab, "Jika Baginda ingin memberi saya sesuatu sebagai hadiah, bolehkah saya meminta batu ajaib yang ada di mulut Baginda raja?"Raja Naga menurunkan kepalanya, berpikir sejenak. Kemudian, dia mengeluarkan batu tersebut dari mulutnya dan memberikannya kepada Hailibu.Saat akan berpisah, si Putri Naga mengulangi kembali pesannya untuk Hailibu, "Pemburu yang baik, hendaklah anda ingat untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang apapun yang dikatakan oleh para hewan, jika tidak, anda akan langsung berubah menjadi batu."Setelah memiliki batu ajaib di mulutnya, Hailibu semakin menikmati perburuannya di hutan. Dia mengerti semua bahasa hewan, dan dia juga dapat mengetahui hewan apa saja yang dapat ia buru, beserta lokasi di mana hewan tersebut berada. Dengan kemampuan ini, dia menghasilkan lebih banyak lagi daging hewan buruannya dan ia dapat membagikannya kepada para penduduk desa.Beberapa tahun kemudian....Pada suatu hari, saat sedang berada di gunung, Hailibu mendengar sekumpulan burung sedang bercakap-cakap tentang sesuatu hal yang amat penting. Dia mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Sang pemimpin berkata, "Kita harus cepat-cepat pindah ke daerah lain. Malam ini, gunung akan meletus dan banjir akan menggenangi seluruh daerah ini. Banyak manusia yang akan mati"Hailibu amat kaget mendengar hal ini. Dengan tergesesa-gesa, dia lari pulang ke rumahnya, dan menyebarkan berita ini kepada penduduk desa. "Kita harus pergi dari daerah ini secepatnya, Kita tidak dapat tetap tinggal di sini lagi.!" Tentunya, penduduk desa bingung dan kaget,"Tidak ada yang salah selama kita tinggal di sini,lalu kenapa kita harus pindah?". Hailibu tetap berkeras untuk menyampaikan berita ini, tapi tidak ada seorangpun yang percaya. Dengan menangis, Hailibu menjelaskan, "Tolong dengarkan saya, saya dapat bersumpah bahwa apa yang saya katakan itu benar. Percayalah saya, kita harus pergi sekarang sebelum semuanya terlambat"Seorang tetua mencoba untuk menenangkan Hailibu, "Engkau adalah pemuda yang baik dan selama ini engkau tidak pernah berdusta. Kami sudah menetap di sini dalam kurun waktu yang lama, tapi sekarang engkau meminta kami untuk pindah. Untuk pindah dari tempat ini bukanlah perkara mudah, karena itu engkau harus memberitahukan kepada kami apa alasanmu,anak muda?"Hailibu merasa putus asa dan tidak menemukan cara lain untuk menyelamatkan penduduk desa. Lalu, dia mencoba menenangkan diri sejenak. Dengan kesungguhan hati, dia berkata kepada penduduk desa. "Malam ini, gunung akan meletus dan sebuah banjir besar akan melanda tempat ini. Kalian dapat lihat sendiri, burungburung telah terbang meninggalkan daerah ini." Kemudian Hailibu menjelaskan perihal bagaimana dia mendapatkan batu ajaib, yang membuatnya mengerti semua bahasa hewan, tapi seharusnya dia harus menyimpannya itu sebagai rahasia, jika tidak, dia akan berubah menjadi batu.Saat Hailibu bercerita, bagian bawah tubuhnya, mulai dari telapak kaki perlahan-lahan berubah menjadi batu. Setelah dia menyelesaikan seluruh cerita, dia berubah menjadi batu seutuhnya.Para penduduk desa amat kaget dan merasa amat kehilangan. Mereka menangis, mencurahkan kesedihan mereka yang sedalam-dalamnya, mereka menyesal mengapa tidak mempercayai Hailibu dari awal. Akhir-nya, dengan membawa barang-barang penting mereka dan persediaan makanan, semua penduduk desa (termasuk para tetua dan anak-anak), mereka berjalan dan meninggalkan daerah itu. Mereka terus berjalan hingga malam hari, tiba-tiba awan tebal menyelimuti langit dan angin telah bersiap untuk menderu. Tak lama, turunlah hujan yang amat sangat deras. Dari arah desa, mereka mendengar suara gemuruh dari letusan gunung......Sudah beberapa generasi telah berlalu, namun para nenek moyang dari desa tersebut tetap dapat mengingat Hailibu, si pemburu yang baik hati. Mereka juga tetap berusaha untuk mencari batu Hailibu.
Monyet dan Buaya
Dahulu kala hiduplah seekor monyet di sebatang pohon jamblang di tepi sungai. Ia bahagia walaupun tinggal sendiri . Pohon itu mempunyai banyak buah yang manis dan memberinya tempat berteduh pada saat hari panas atau hujan.Pada suatu hari seekor buaya naik ke tepian sungai dan beristirahat di bawah pohon. Sang monyet yang ramah menyapanya, "Halo.""Halo," jawab buaya. "Apakah kau tahu dimana aku dapat menemukan makanan? Tampaknya sudah tidak ada ikan lagi di sungai ini.""Aku tidak tahu dimana ada ikan Namun aku mempunyai banyak buah jamblang yang masak di pohon ini. Ini, cobalah!" kata monyet sambil memetik beberapa buah jamblang dan melemparkannya kepada buaya.Buaya memakan semua buah yang diberikan monyet.Iasuka rasanya yang manis. Ia minta monyet memetik buah jamblang lagi untuknya.Sejak saat itu buaya datang setiap hari. Mereka pun menjadi sahabat. Mereka mengobrol sambil makan buah jamblang.Pada suatu hari buaya bercerita tentang isteri dan keluarganya."Mengapa baru sekarang kau bilang bahwa kau punya isteri? Bawalah jamblang ini untuk isterimu."Isteri buaya menyukai buah jamblang. Ia belum pernah makan sesuatu yang begitu manis. Ia berpikir betapa manisnya daging monyet yang sepanjang hidupnya makan buah jamblang setiap hari. Air liurnya menetes."Suamiku," kata isteri buaya, "ajaklah monyet kemari untuk makan malam. Lalu kita makan dia. Pasti dagungnya lezat dan manis."Buaya terperanjat. Bagaimana ia dapat memakan sahabatnya? Ia menjelaskan kepada isterinya, "Monyet satu-satunya temanku, " katanya. Sang buaya tetap menolak membawa monyet kepada isterinya. Sementara isterinya pun tetap membujuknya.Ketika buaya tetap tidak mau menuruti keinginannya, isteri buaya pura-pura sakit keras. "Suamiku," katanya, "Hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkanku. Kalau kau mencintaiku, kau ajak monyet temanmu kemari. Setelah makan jantungnya aku pasti segera sembuh."Buaya kebingungan, di satu sisi monyet adalah sahabatnya yang baik hati. Namun di sisi lain, bila isterinya tidak memakan jantung monyet, mungkin ia akan meninggal.Akhirnya, ia memutuskan untuk membawa monyet kepada isterinya untuk dijadikan obat."Teman," kata buaya kepada monyet. "Isteriku sangat berterima kasih dengan buah jamblang yang kaukirimkan tiap hari. Sekarang ia ingin mengundangmu makan malam.Ikutlah denganku ke rumah kami."Monyet sangat gembira dengan undangan itu namun ia berkata bahwa ia tak mungkin ikut karena ia tak dapat berenang. "Aku akan menggendongmu di atas punggungku. Kau tak usah khawatir," kata buaya.Monyet pun melompat ke punggung buaya dan berangkatlah mereka.Ketika mereka sudah cukup jauh dari pohon jamblang, buaya berkata,"Isteriku sakit parah, hanya jantung monyet yang dapat menyembuhkannya."Monyet ketakutan. Ia berpikir keras, bagaimana ia dapat menyelamatkan diri. "Buaya temanku, kasihan isterimu. Namun kau tak perlu cemas. Aku senang bisa menolong isterimu dengan jantungku. Masalahnya, aku tadi meninggalkan jantungku di atas dahan pohon jamblang. Ayo kita kembali dan mengambilnya."Buaya percaya kepada monyet. Ia berbalik dan berenang kembali ke pohon jamblang. Monyet segera melompat turun dari punggung buaya dan segera naik ke dahan pohon."Temanku yang bodoh. Tidak tahukah kau, bahwa kita selalu membawa-bawa jantung kita? Aku tak akan mempercayaimu lagi. Pergilah dan jangan pernah kembali ke sini lagi."Monyet pun membalikkan badannya, tak mau lagi melihat sang buaya.Buaya sangat menyesal. Ia kehilangan satu-satunya sahabatnya. Ia juga tak akan dapat makan buah jamblang yang manis itu lagi.Monyet lolos dari bahaya karena berpikir dengan cepat dan cerdik. Ia menyadari bahwa monyet dan buaya tidak mungkin berteman. Buaya lebih suka makan monyet daripada berteman dengannya.
Putri Tikus
Raja Jingga sangat gembira karena Ratu Kuning melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi itu adalah putri ketiga mereka. Ratu memakaikan baju berwarna merah yang dirajutnya sendiri. Ratu lalu menamakannya Putri Merah.Raja Jingga mengadakan pesta besar untuk merayakan kelahiran puteri ketiganya itu. Ratu memakaikan baju warna merah yang baru untuk Putri Merah. Tamu-tamu undangan pesta semua datang membawa hadiah. Semua bergembira. Kecuali, Penyihir Hitam dan adik perempuannya yang tidak diundang oleh Raja.Adik perempuan Penyihir Hitam dijuluki si Pucat. Wajahnya tirus dan pucat. Hampir seumur hidupnya ia tidak pernah tertawa.Penyihir Hitam marah karena ia dan adiknya merasa dilupakan. Ia lalu menyihir Puteri Merah menjadi seekor tikus.“Puteri Merah akan menjadi manusia lagi jika adikku, Si Pucat, bisa tertawa,” kata Penyijir Hitam.Raja Jingga dan Ratu Kuning sangat sedih dan panik. Mereka mengumpulkan semua badut dan pelawak di negeri itu. Mereka disuruh melucu di depan si Pucat. Namun sayangnya, adik Penyihir Hitam itu tetap tidak bisa tertawa. Bahkan tersenyum pun tidak.Raja Jingga tidak punya cara lain untuk melindungi putri bungsunya. Ia lalu memerintahkan para prajurid untuk menangkap semua kucing di kerajaan itu. Lalu melepaskan kucing-kucing itu ke wilayah lain di luar kerajaan. Raja Jingga khawatir jika Putri Merah diserang oleh kucing.Tahun demi tahun berlalu. Putri Merah tumbuh dewasa tetapi dalam wujud tikus.Pada suatu hari, Raja Jingga mengadakan pesta ulang tahun Ratu Kuning. Kedua kakak Putri Merah memakai gaun mereka yang terindah ke pesta itu. Pangeran Aldo dari kerajaan tetangga, juga datang ke pesta itu.Putri Merah biasanya tidak mau datang ke pesta. Namun hari itu, ia ingin melihat Pangeran Aldo yang terkenal tampan dan gagah. Maka ia pun memakai gaun merahnya dan naik ke punggung seekor ayam jantan sahabatnya. Putri Merah mengikat sehelai pita merah di leher ayam itu sebagai tali kekang. Ia lalu pergi ke pesta ulang tahun ibunya.Kali ini, Raja Jingga tidak lupa mengundang Penyihir Hitam dan adiknya, si Pucat. Ketika akan mengambil makanan pesta, si Pucat melihat Putri Merah masuk ke ruangan pesta. Si Pucat terdiam sejenak. Tiba-tiba ia merasa geli. Betapa lucunya melihat seekor tikus bergaun putri menunggangi ayam jantan, dengan tali kekang dari pita.“Ha ha ha…”Si Pucat tertawa terbahak-bahak. Wajahnya yang pucat berubah kemerahan cerah. Ia tertawa sampai tak bisa berhenti. Ia terus tertawa sampai terguling-guling di lantai.Di saat yang sama, wujud Putri Merah pun kembali seperti semula. Ia ternyata telah tumbuh menjadi putri yang sangat cantik jelita. Betapa bahagianya Raja Jingga, Ratu Kuning, dan kedua kakak Putri Merah. Putri Merah pun sangat bahagia, karena ia bisa berkenalan dengan Pangeran Aldo.
Legenda Buah Semangka
Beberapa abad yang lalu, Vietnam dipimpin oleh Raja Hung Vuong Ketiga. Ia adalah raja yang sangat disegani rakyatnya. Ia juga sangat terkenal akan kebaikan dan kemurahan hatinya. Raja dan Permaisuri hanya mempunyai seorang anak perempuan. Maka mereka mengangkat anak laki-laki untuk menjadi pemimpin Kerajaan. Anak laki-laki itu diberi nama An Tiem.Raja dan Permaisuri merawat An Tiem seperti merawat anak kandung mereka sendiri. An Tiem pun tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dan berbudi pekerti baik. Semakin dewasa ia tumbuh menjadi anak muda yang bijaksana.Ketika An Tiem dan Putri Raja telah dewasa dan saling mencintai, Sang Raja menikahkan keduanya. Pesta pernikahan mereka berlangsung sangat meriah. Semua rakyat ikut menyaksikan pernikahan calon pemimpin mereka dengan gembira.Setelah menikah An Tiem dan Sang Putri memiliki dua anak. Sebagai penerus tahta kerajaan An Tiem dididik sangat keras oleh Sang Raja. Namun Sang Raja tidak lupa untuk menasihati keduanya agar kelak selalu memerhatikan kehidupan rakyatnya. An Tiem pun mengikuti nasihat dan perintah Sang Raja. Ia juga mengikuti setiap kegiatan Sang Raja supaya ia siap menggantikannya saat turun tahta kelak.Semakin lama An Tiem berubah menjadi calon pengganti Raja yang sangat berwibawa. Semua rakyat dan para penghuni Istana semakin memuji dan mengagumi An Tiem. Mereka berharap An Tiem akan menjadi pemimpin yang tidak kalah baiknya dengan Sang Raja.An Tiem terus melatih diri dengan serius. Ia tidak ingin mengecewakan harapan rakyat dan penghuni Istana. Dia telah bertekad untuk menjadi calon raja yang bisa melindungi rakyatnya. Ketekunan An Tiem dalam belajar dan melatih diri membuat Raja semakin menyayanginya. Akan tetapi tidak semua penghuni Istana menyukai An Tiem. Beberapa prajurit merasa tidak senang dengan perhatian dan kasih sayang Raja kepada An Tiem, anak angkatnya.Suatu pagi An Tiem telah siap mengikuti Sang Raja pergi ke beberapa desa untuk melihat keadaan rakyatnya. Mereka segera memulai perjalanan dengan dikawal oleh beberapa prajurit. Sementara itu beberapa prajurit yang tidak menyukai An Tiem sedang berkumpul di istana, membuat rencana untuk menyingkirkan An Tiem. Mereka iri karena An Tiem, yang hanya seorang anak angkat, mendapat perhatian yang lebih dari Raja.Akhirnya para prajurit yang iri sepakat untuk mengarang cerita bohong tentang An Tiem. Secara diam-diam beberapa prajurit yang iri tersebut menghadap Raja yang baru kembali ke Istana pada sore harinya. Mereka mengatakan beberapa kebohongan tentang An Tiem. Lalu untuk lebih meyakinkan Sang Raja, mereka berkata bahwa An Tiem telah memerintahkan prajurit di Istana untuk melakukan pengkhianatan dan merebut kekuasaan Sang Raja.“Wahai, Raja, An Tiem hanyalah seorang anak angkat. Dia tidak mungkin memikirkan masa depan Kerajaan ini,” kata seorang prajurit berapi-api.Sang Raja termenung dalam hati dan mulai memikirkan kebenaran perkataan prajurit-prajuritnya.“Benar Raja! An Tiem hanya ingin menjadi raja dan hanya memikirkan kehidupannya sendiri. Ia bahkan telah menghasut dan menjelek-jelekkan Raja di hadapan Tuan Putri,” seorang prajurit ikut menimpali agar Raja semakin yakin dengan perkataan mereka.Para prajurit itu tidak menyerah. Setiap hari mereka selalu mengatakan cerita kebohongan tentang An Tiem kepada Raja. Raja pun mulai terhasut dengan perkataan para prajurit itu. Ia lalu memutuskan untuk mengusir An Tiem dan keluarganya dari Istana. An Tiem, istri, dan anaknya pun dibawa ke sebuah pulau yang sangat terpencil di seberang lautan tanpa bekal apa pun.Meski diusir dari Istana dan harus hidup di tempat yang tak berpenghuni, An Tiem tidak berkecil hati dan mengeluh sedikit pun. Ia memutuskan untuk hidup mandiri bersama anak dan istrinya. Ia bertekad mengubah tempat tinggalnya yang baru menjadi lebih baik untuk hidup keluarganya.Setelah mempunyai tempat tinggal sementara, di antara pepohonan yang sangat lebat, An Tiem mulai melihat-lihat tempat di sekitarnya. Saat berkeliling An Tiem menemukan sebuah ladang yang sangat luas. Ketika ia sedang menyusuri ladang itu, An Tiem melihat segerombolan burung yang mengelilingi sebuah tanaman. Dia melihat burung-burung itu memakan biji-biji kecil yang sangat banyak.An Tiem termangu sejenak dan terus memerhatikan burung-burung yang sedang makan. Setelah gerombolan burung itu terbang, An Tiem mendekati tanaman berbiji itu. Ia melihat sebuah tanaman menjalar dengan buah bulat berwarna hijau. Sebagian buah itu telah terkoyak hingga An Tiem bisa melihat bagian dalamnya yang berwarna merah dan berbiji banyak. An Tiem pun memutuskan untuk membawa biji-biji tersebut pulang dan menanamnya di ladang.Beberapa hari kemudian An Tiem menaburi ladangnya dengan biji tanaman berbuah bulat. Setiap hari ia merawat ladangnya dengan sangat tekun. Bulan demi bulan berlalu, ladang An Tiem kini dipenuhi tanaman berbuah bulat berkat ketekunan dan kegigihannya dalam merawat tanaman itu. An Tiem lalu memetik satu buah dan membelahnya. Di dalamnya terlihat warna merah yang berair dan berbiji banyak. Karena merasa penasaran, An Tiem pun memakan buah itu. Rasanya sangat enak, manis, dan menyegarkan. An Tiem kemudian memetik beberapa buah untuk anak istrinya di rumah.Di tengah kegembiraannya memanen dan menikmati buah itu, diam-diam An Tiem sangat merindukan keluarganya di Istana. Setiap hari ia merenung di pinggir laut. Ia ingin sekali bertemu dengan Sang Raja dan orang-orang di Istana. Ketika sedang merenung, ia mendapatkan sebuah ide. Ia mengambil beberapa buah di ladangnya dan membawanya ke laut. An Tiem kemudian menulis namanya di buah-buah itu dan menghanyutkannya. An Tiem berharap suatu saat buah itu akan sampai kepada Sang Raja dan menyampaikan rasa rindunya.An Tiem melakukan hal itu berulang-ulang. Hampir setiap hari ia menghanyutkan buah, yang bertuliskan namanya, di laut. Dan, usahanya tidak sia-sia. Beberapa nelayan yang sedang melaut menemukan buah yang bertuliskan namanya. Buah itu pun menjadi perbincangan di antara para nelayan. Mereka mencoba mencari tahu asal mula buah bernama. Akhirnya mereka menemukan pulau tempat An Tiem dan keluarganya tinggal.Setelah itu banyak nelayan yang memutuskan untuk tinggal di pulau itu. Semakin lama pulau itu menjadi ramai dan tidak sepi seperti dahulu. An Tiem sangat gembira. Ia dan orang-orang yang ikut tinggal di pulau itu bertekad untuk membangun pulau tempat tinggal mereka menjadi lebih baik. Orang-orang yang melihat kebijaksanaan An Tiem pun memintanya untuk menjadi pemimpin mereka. An Tiem membangun pulau itu dengan kesungguhan hati karena tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah percaya kepadanya. Pulau itu pun semakin terkenal dan didatangi oleh banyak orang.Kabar tentang An Tiem yang membangun dan memimpin pulau itu segera menyebar ke seluruh negeri. Sang Raja pun mendengar kabar itu. Ia sangat ingin membuktikan apakah orang yang dimaksud adalah anak angkatnya, yang pernah dia usir dari Istana.Raja kemudian berlayar menuju pulau tempat tinggal An Tiem. Ketika Sang Raja dan anak buahnya sampai di pulau tersebut, mereka sangat terkejut. Sang Raja melihat sebuah pulau yang sangat berbeda dari yang ia lihat dahulu. Sang Raja merasa sangat menyesal telah mengusir An Tiem karena hasutan anak buahnya. Ia pun bergegas menemui An Tiem dan keluarganya.Saat bertemu dengan An Tiem dan keluarganya, Sang Raja meminta maaf kepada mereka. Ia lalu meminta An Tiem untuk kembali ke Istana. An Tiem dan keluarganya sangat gembira karena mereka bisa berjumpa dan berkumpul kembali dengan Sang Raja. Mereka pun kembali ke Istana dan membawa banyak buah yang telah ditanam oleh An Tiem.Beberapa tahun kemudian An Tiem menjadi raja menggantikan Sang Raja Hung Vuong Ketiga yang telah wafat. Meskipun telah menjadi raja, An Tiem tak pernah lupa mengunjungi orang-orang di pulau. Setiap kali An Tiem kembali dari pulau, ia selalu membawa buah bulat berbiji, yang kini lebih dikenal dengan nama buah semangka. Dari cerita itu, orang Vietnam menganggap buah ini sebagai buah keberuntungan, yang telah mempertemukan kembali sebuah keluarga yang terpisah. Oleh karena itu, sampai saat ini, orang Vietnam sering membawa buah semangka saat berkunjung ke rumah kerabat atau keluarga.
12 Perempuan
Alkisah ada seorang keluarga yang kaya raya, mereka mencoba memiliki keturunan seorang anak laki-laki. Namun setiap mereka mencoba punya anak, sang ibu selalu melahirkan anak perempuan. Sang ibu mengatakan untuk selalu berusaha melahirkan anak laki-laki, namun ternyata hingga 12 kali mengandung istri tersebut tetap melahirkan anak perempuan. Pada saat itu kondisi keluarga itu juga semakin hari mengalami kebangkrutan walaupun ia mencoba membuat bisnis baru, keluarga ini tetap semakin miskin.Keadaan tersebut menurut sang ayah menyusahkan hidup mereka karena harus memberi banyak makanan kepada 12 anaknya, ibu, dan ayah sendiri. Akhirnya sang ayah ini ingin membuang semua anaknya di hutan. namun ide jahatnya ini diketahui oleh anaknya yang paling kecil, Phao. setelah dibawa ke hutan ayah ini pergi dan tidak kembali. semua saudara Phao begitu panik, namun akhirnya bisa kembali pulang ke rumah karena Phao membuat penunjuk arah pulang. setelah pulang ke rumah tentu ayah ini terkejut 12 anaknya bisa kembali. Tak kehabisan akal, ayah ini membawanya pergi ke hutan dan kali ini 12 anaknya tidak bisa kembali. 12 saudara ini semakin tersesat di hutan hingga akhirnya menemukan sebuah danau. semua saudara ini menangkap ikan dan mencoblos kedua mata ikan tersebut dengan ranting tajam, sedangkan Phao hanya menusuk satu mata ikan tersebutAkhirnya 12 saudara tiba di kerajaan yaksha, di mana raksasa wanita bernama Santhumala melihat gadis-gadis kelelahan dan kurus beristirahat di bawah pohon dan memutuskan untukmengadopsi mereka. wanita raksasa mengubah diri menjadi manusia, seorang wanita cantik dan membawa dua belas saudara ke rumahnya. Selama bertahun-tahun dia memperlakukan mereka sebagai anak sendiri dan di bawah asuhannya dua belas gadis tumbuh menjadi wanita muda yang cantik.Suatu hari, Santhumala sedang berburu jauh, dua belas saudara bertemu dengan seorang tua yang mengatakan kepada mereka bahwa Santhumala bukanlahmanusia, melainkan seorang raksasa yang suka makan wanita muda seperti mereka. Sehingga 12 saudara tersebutmelarikan diri dari kerajaan raksasa dan berjalan selama berhari-hari sampai mereka tiba ke sungai di mana mereka mandi. Raja lokal melihat dua belas wanita bermain air dan jatuh cintadengan mereka. Jadi dia membawa mereka ke istananya dan menikah dengan dua belas bersaudara.Ketika Santhumala kembali dan melihat anak asuhnya telah pergi, ia begitu marah. Santhumala mencari mereka hingga ke kerajaan lokal. Santhumala menjelma menjadi wanita yang lebih cantik dari 12 saudara tersebut. sang raja terpikat dan akhirnya menikahi Santhumala dan menjadikannya seorang ratu. Balas dendam tak sampai disitu, Santhumala berpura-pura sakit karena perlakuan 12 saudara dan cara menyembuhkannya adalah sari-sari dari mata 12 saudara tersebut.Akhirnya sang raja mematuhi permintaan Santhumala dan mencabut 12 mata saudara tersebut, kecuali Phao hanya tercabut 1 mata. 12 saudara dibuang ke gua dan dibiarkan kelaparan. Pada saat itu juga, 12 saudara tersebut sedang hamil namun nasib naas semua anak mereka meninggal saat melahirkan. untuk bertahan hidup, bayi yang meninggal dijadikan santapan untuk saudara tersebut. Namun Phao, melahirkan bayi yang sehat dan hidup. Phao mengatakan bahwa bayi nya telah meninggal namun ia merawatnya dengan baik dengan anaknya laki-laki bernama, Pra Rothasen (Prarot).Prarot tumbuh menjadi pria dewasa dan hidup menyambung ayam. Ia mendapatkan uang dan membelikan makanan bagi ibu dan bibi-bibinya.Ketika raja mendengar tentang Prarot, dia mengundangnya ke istana di mana ia bermain dadu dengan raja menampilkan keahlian.Santhumala mengetahui bahwa 12 saudara masih hidup dan dia marah. Sekali lagi Santhumala pura-pura sakit dan mengatakan kepada raja bahwa hanya buah tertentu yang tumbuh di kerajaannya bisa menyembuhkannya. Dia juga mengatakan kepada raja bahwa hanya Prarot akan mampu untuk mengambilnya. Jadi dia menulis surat berikut kepada anak angkatnya, Mery, dalam bahasa raksasa: "Jika pemuda ini tiba ke kerajaan kami di pagi hari, makan dia di pagi hari, tetapi jika ia tiba di malam hari, makan dia di malam hari."Saat perjalanan, Prarot bertemu dengan seorang pertapa yang memberikan kuda dan ramah tamah. Prarot pun selama perjalanan tertidur dan tidak sadar bahwa surat yang tertera pun berganti dari kata "memakan" menjadi "menikahi".Saat tiba di kerajaan raksasa Prarot langsung pergi ke Mery dan menunjukkan surat itu padanya. Meriterkejut dan senang saat melihat pemuda yang tampan dan Mery jatuh cintadengan Prarot, Mereka akhirnya merayakan pernikahannya dengan seperti yang diarahkan.Meri adalah seorang wanita yang baik hati dan Phra Rothasen tinggal bersamanya sangat bahagia, tapi ia ingat ibunya yang buta dan bibi yang masih tinggal di gua yang gelap. Berada di istana raksasa, Meri telah memberitahu Prarot tentang obat-obatan sihir tertentu disimpan di ruang terkunci termasuk mata milik ibu Prarot dan bibinya.Kemudian Prarot berencana untuk membuat Meri tertidur dengan minum anggur dan mengambil mata untuk ibu dan bibinya.Setelah Meri sedang tidur, Prarot mencuri banyak obat-obatan dan mata dari ruang terkunci. Meri bangun dan mencari suaminya tapi dia melihat Prarot menunggang kuda terbangnya. Mery tiba-tiba berubah menjadi raksasa dan mengikuti Prarot sambil menangis dan memanggilnya dengan suara nyaring.Untuk menghentikannya, Prarot melemparkan sebuah tongkat yang mengubah jarak antara mereka menjadi danau dan gunung. Melihat suaminya melarikan diri dari Mery dia meratap putus asa, meminta Prarot untuk berhenti. Prarot tergerak oleh jeritan sedih dan menjawab bahwa dia akan kembali setelah ia menyelesaikan misi yang mendesak. Kemudian Prarot terbang dan meninggalkan Mery dengan patah hati menangis pahit di tepi danau.Prarot kembali ke kotanya dan membunuh Santhumala dengan sihir. Prarot kemudian pergi ke gua yang gelap dalam dan menyembuhkan mata ibunyadan bibi dengan sihir khusus. ibu danbibinya meninggalkan gua mereka dalam dan kembali dengan raja. 12 saudara mengundang Prarot untuk tinggal di istana lagi tapi Prarot mengatakan bahwa Prarot harus kembali dengan Meri yang menunggunya.Tapi sementara itu Mery telah meninggal. Selama menunggu lama Mery telah menumpahkan begitu banyak air matabahwa sampai menjadi buta. Sebelum Mery meninggal, dia bersumpah akan mengikuti Prarot di setiap reinkarnasi masa depan. Kemudian dia meninggaldengan neneknya menangis di sisinya dan dikelilingi oleh pelayannya.Ketika Prarot tiba di kerajaan raksasa ia menyadari itu sudah terlambat. Prarot mendengar tentang sumpahnya danmembawa tubuh istrinya. Prarot akhirnya meninggal sambil membawa istrinya dalam pelukan. Akhirnya, roh mereka terbang bersama-sama untukreinkarnasi berikutnya di mana mereka akan bergabung lagi.
Gajah Putih Thailand
Ratusan tahun ke belakang di negeri Thailand yang terkenal sebagai negeri Gajah Putih ini, sebelumnya wilayah ini tidak mempunyai binatang yang namanya Gajah. Di hutan-hutan negeri tersebut tidak ada hewan tersebut. Gajah pada zaman itu di Thailand hanya sebuah binatang yang di anggap sebuah legenda dongeng saja.Sampai akhirnya sang Maharaja negeri itu mengutus abdi kepercayaannya untuk pergi ke negeri lain, hanya untuk membeli binatang atau hewan yang namanya Gajah ini, agar seluruh rakyat dan para pembesar negeri ini tahu bahwa Gajah itu memang ada. Bukan hanya sekedar kabar isapan jempol saja."Belikanlah aku sejodoh atau sepasang Gajah dan bawalah binatang dari negeri nun jauh disana, ke negeri kita tercinta ini." Titah sang Maharaja Thailand.Maka berangkatlah utusan sang Maharaja itu ke negeri seberang, memikul tugas yang diperintahkan kerajaan zaman itu. [Dari sinilah ternyata cikal bakalnya Thailand menjadi negara yang terkenal dengan sebutan: negara Gajah Putih].Demikianlah perjalanan untuk membeli sepasang Gajah itu di mulai, dengan melepas sauh berlayarlah kapal laut itu menuju negeri di seberang sana.Berhari-hari berlalu apa yang di tunggu-tunggu Maharaja dan seluruh rakyat negeri Thailand itu datang juga.Sepasang atau sejodoh Gajah yang gemuk dan sehat telah datang di negeri ini, Thailand. Namun kedatangan Sang Gajah terjadi pada malam hari atau sudah larut malam, gajah-gajah itu tidak langsung di pamerkan kepada seluruh rakyat."Besok hari baru kalian bawa sepasang gajah itu untuk dipertontonkan kepada seluruh khalayak negeri." Perintah sang Maharaja."Tetapi aku ingin seluruh abdi negeri para pembesar negeri ini duluan yang melihat malam ini juga, biar seluruh rakyat negeri ini tahu bahwa kita semua adalah orang yang berpengetahuan lebih banyak dari seluruh khalayak ramai." Inilah titah atau perintah sang Maharaja, ditujukan untuk para menteri dan pembesar negeri untuk lebih dulu melihat binatang ini.Berkumpullah para pembesar serta para menteri atas perintah sang Maharaja. Karena situasi malam yang begitu gelap-gulita maka para pembesar itu memerintahkan untuk dibuatkan obor-obor atau pelita untuk penerangan kala melihat sang Gajah itu.Tetapi perintah itu di tolak oleh pawang Gajah dengan alasan yang mereka kemukan, bahwa Gajah akan mengamuk bila di kagetkan oleh cahaya yang tiba-tiba terang. Gajah adalah binatang raksasa yang begitu besar tenaganya, bila mengamuk pasti akan menghancurkan kandangnya. Itulah alasan sang pawang itu ketika didesak untuk dinyalakan pelita dilokasi kandang Gajah tersebut.Sampailah seluruh pembesar kerajaan itu di tempat kandang Gajah yang di buat begitu kokoh dengan balok-balaok besar yang kuat untuk menjaga Gajah tersebut lepas dari kandangannya. Namun keadaan yang begitu gelap itulah yang akhirnya semua pejabat itu hanya dapat memegang bagian-bagian tubuh saja, mereka semua tidak bisa melihat Gajah tersebut.Pejabat kerajaan yang dari bagian negeri sebelah utara yang pertama memegang bagian dari kaki paha Gajah tersebut, "Tidak salah lagi apa yang di katakan orang selama ini, memang benar Gajah itu besar sampai tanganku saja tidak sanggup memeluknya" pikir pejabat itu dalam hatinya.Pejabat kerajaan yang dari bagian negeri sebelah selatan maju dan memasukan tanganya kedalam kandang Gajah tersebut untuk memegangnya, "Ternyata kabar tersebut bohong adanya, Gajah hanyalah binatang yang kecil namun sekeras tulang." Karena pejabat iut memegang gading Gajah tersebut, sehingga hatinya berpikir binatang Gajah tidak besar hanya keras saja.Maka majulah pejabat dari bagian negeri barat, dan mengikuti langkah pejabat yang lain. "Wah besar sekali ini binatang Gajah, sampai tanganku ini tidak bisa menemukan ujung binatang ini." Teriakan pejabat ini, dan ternyata sang pejabat memegang perut dari Gajah itu.Terakhir giliran pejabat dari timur, melangkah sang pejabat ini terus meraba-rabanya. Ternyata dia hanya bisa meraba bagian dari ekor binatang itu, "Wah semua rekan pejabatku tidak ada yang benar kalau bicara" gerutunya dalam hati, Gajah tidak besar juga tidak pula keras.Setelah semua pejabat itu mendapat gilirannya, maka pulang para pembesar. Sesampainya dirumah masing-masing, mereka telah di tunggu oleh khalayak yang tidak sabar ingin mengetahui tentang bagaimana kabarnya bitanang tersebut dari pejabat tersebut.Semua masyarakat sudah tidak sabar ingin mengetahuai bagaimana bentuk dan rupanya dari Gajah yang menjadi idaman negeri Thailand kala zaman tersebut berlangsung. Maka berpidatolah sang pembesar para menteri dan pejabat kerajaan itu di daerah jabatan masing-masing. Mereka berpidato dengan kenyakinan dari apa yang mereka pikirkan tentang Gajah yang hanya dirabanya saja, bukan melihat atau mengenal sebelumnya binatang tersebut.Semua pejabat dengan pengetahuan yang sedikit itu akhiranya menimbulkan salah paham antar rakyat. Rakyat yang berada dari belahan utara menceritakan Gajah yang menurut pejabatnya demikian. Sementara rakyat dari belahan negeri selatan mencerita Gajah menurut pejabatnya bukan begitu. Juga dari barat dan timur juga berbeda, tidak ada kesamaan dari seluruh pejabat yang memberi tahu rakyatnya tantang sang Gajah. Maka timbullah bentrokan antar rakyat seluruh negeri membela keterangan yang telah disampaikan pembesar dari daerah masing-masing.Maharajapun akhirnya turun tangan untuk menyesaikan masalah yang sedang berlangsung malam itu. Disuruhnya seluruh Khalayak ramai rakyat negeri Thailand untuk berkumpul keesokan harinya di depam pendopo istana alun-alun kerajaan negeri.Tak hanya itu sang Maharajapun memerintahkan seluruh pembesar, pejabat dan abdi kerajaan untuk mempersiapkan acara besok harinya.Pagi-pagi buta sekali berbondong-bondong seluruh rakyat negeri kerajaan saat itu menuju pendopo istana untuk menyaksikan sepasang Gajah yang di beli dari negeri seberang lautan nun jauh disana. Berkumandanglah perintah sang Maharaja untuk membuka kandang Gajah. Semua khalayak rakyat negeri dapat melihat sang Gajah binatang yang sangat besar dan gagah tersebut dengan mata kepala sendiri, bukan kabar dari sang pembesar daerahnya yang bohong itu. Yang semalam mereka bela keterangan mengenai Gajah tersebut, Semua rakyat sangat kecewa terhadap pembesar-pembesar itu.Dan akhirnya Maharajapun memecat seluruh pejabat yang sok pintar, yang pengetahuannya sedikit tetapi mengaku pintar dari pada yang lain."Mulai saat ini rawatlah sepasang Gajah ini. Kembang biakkan menjadi banyak dan terus banyak, memenuhi seluruh negeri ini". Titah sang Maharaja kepada seluruh khalayak rakyat kerajaan saat itu.Dan Maharaja pun berpesan supaya menjaga kedamaian antar sesama rakyat Thailand, jangan terjadi keributan antar saudara senegeri gara-gara berita dari pejabat yang tidak bertanggung jawab.Semenjak dari saat itu negeri Thailand menjadi negeri kerajaan yang damai aman sentosa tak terdengar lagi keributan antar daerah satu negeri. Serta pada akhiranya kita mengenal Thailand sekarang dengan sebutan negeri Gajah Putih.
Kampung Talawid dan Mahuneni Siau Barat Selatan
Pada zaman dahulu Kampung Talawid konon ceritanya orang Talawid berasal dari Eneraha yang sekarang Lindongan 4 Kampung Mahuneni. Pada zaman itu ada seorang Belanda yang hidup bersama dengan mereka, suatu waktu datang musim kemarau yang panjang dan penduduk sulit mendapatkan air. Kemudian muncul seorang yang biasa pekerjaannya sebagai pemburu mengatakan bahwa ia bertemu dengan mata air yang ada di Bulude. Secara serentak masyarakat langsung datang ke tempat yang ada mata air itu.Dalam perjalanan yang panjang, mereka melalui lereng-lereng gunung yang terkadang naik atau turun serta di samping kiri-kanan jurang dan tebing yang silih berganti. Seorang yang berasal dari Negara Belanda ikut bersama-sama mereka. Karena begitu jauh perjalanan menuju ke mata air itu, seorang Belanda yang bersama-sama dengan penduduk kampung itu berkata : " Tala - Awi " yang berarti: Tidak Bisa Naik .Suatu hari mereka sepakat pindah tempat untuk mendekati mata air itu, sebagian tinggal di bawah gunung itu dan sebagian naik ke Bulude, untuk dengan air.Ketika mereka telah menatap dan tinggal di Bulude ada seorang yang melihat suatu dataran pantai yang indah, maka ia langsung menelusurinya, dan karena terlihat baik untuk tinggal disitu ia pun menatap di pantai itu.Penduduk yang ada di Bulude itupun melihat itupun melihat dan mendengar bahwa ada pantai yang panjang dan lebar, maka dengan secara berangsur mereka pun turun di pantai karena begitu panjang dan lebar pantai itu maka mereka menyebut: Mahuene; yang berarti banyak pasir.Mereka hidup dan membentuk masyarakat kecil dengan peradaban mereka, karena susah dan derita yang pernah dialami maka teringat peristiwa yang sangat sulit kala itu. Mereka satu sama lain selalu menyebut Tala Awi suatu pertanda bahwa tidak bisa naik lagi.Dalam perkembangannya kemudian mereka membentuk adat istiadat dan menyebut tempat mereka Tala Awi .Adapun terjadi nama lain atau sebutan lain Kampung Talaawi saat itu adalah karena dikenal dengan pantainya yang lebar dan panjang sehingga tercapai kata: Mahuene (banyak pasir).Pada suatu ketika Kampung ini ditimpa penyakit (Demam Berdarah) karena banyaknya Nyamuk yang muncul dan tersebar di seluruh penjuru Kampung, masyarakat saat itu menyebut " Matenni " ( Mahuneni ). Sebutan itu masyarakat dan sampai sekarang orang tetap menyebut kampung ini Mahuneni atau Matenni.Sehingga pada satu sisi harus diakui Talaawi yang menjadi Talawid menurut Sejarah dan Matenni yang menjadi Mahuneni adalah bagian dari sebutan pemahaman orang tua dulu.Kemudian oleh Pemerintah Sangihe dalam rangka persiapan Otonomisasi Daerah menuju Kabupaten "Sitaro" Kampung Talawid dimekarkan menjadi dua :1.Kampung Talawid2.Kampung Mahuneni Tahun 2006
DI TIKUNGAN CILENDEU
Pagi ini, Aksa mulai merapihkan semua perabotan dan bajunya di rumah baru yang dia tinggali, karena Aksa mulai tinggal di perumahan Ksatria Bima desa Cilendeu di Bogor, kebetulan Akses rumah ke kantornya sekarang cukup dekat tidak jauh lagi seperti waktu Aksa tinggal di Jakarta.Jarak kantornya dari rumah mungkin hanya sekitar lima belas menit saja, Aksa adalah seorang pria yang sudah cukup mapan, masih single dan dia adalah Manager Pemasaran diperusahaan Otomotif kendaraan roda dua di Cabang Bogor, karena terkadang dia harus mengejar target untuk pameran dan closing akhir bulan, biasanya di tanggal - tanggal ini dia akan mulai sibuk menyusun laporan dan rencana kerja untuk target di bulan berikutnya.Seperti hari ini, Aksa terpaksa pulang dari kantor pada jam 1.00 malam, setelah dari pameran Aksa dikantor menyelesaikan laporan penjualan keseluruhan pada bulan ini untuk dipresentasikan esok hari.Malam sudah sangat gelap, Aksa sudah di ajak untuk bareng dengan mobil kantor, tetapi karena dia membawa motor dan merasa jarak rumahnya juga tidak terlalu jauh maka Aksa menolaknya, dan akhirnya dia pun menaiki motor tigernya.Mata Aksa sudah mulai merasakan lelah, belum lagi angin malam yang dingin menusuk, membuat Aksa terkadang tidak bisa terlalu fokus melihat jalan, tiba - tiba saat motor Aksa menikung ada sesuatu yang terjadi."Bruk...." suara itu sangat kencangAksa terkaget, sepertinya dia menubruk sesuatuAksa pun segera turun dari motornya, dia menghampiri sesuatu yang ditubruknya, ternyata itu adalah perempuan berbaju merah, dia terkapar, Aksa sangat ketakutan, dia takut dia membunuh perempuan ini akibat keteledorannya."Mba... " panggil Aksa sambil mendekati perempuan tersebut, dan badannya yang pucat terlihat sangat lemah tetapi tidak ada luka darah di tubuh perempuan ini, seketika itu juga perempuan itu terbangun."Mba.. mba tidak apa - apa?" tanya Aksa"Kepalau sakit mas" ujar perempuan tadi"Maaf mba, saya tadi tidak lihat, dan tidak sengaja" ucap Aksa"Maaf mas, bisa bantu saya berdiri, saya sangat lemah" ucap perempuan tadiWajah perempuan ini cukup cantik, riasannya pun sederhan, pakaian yang dikenakannya seperti pakaian pesta, cukup menarik fikir Aksa, apa yang dilakukannya di tengah malam seperti ini, fikri AksaSetelah Aksa bantu perempuan tadi berdiri, Aksa pun memperkenalkan dirinya"Saya Aksa mba, mba sendirian saja?" tanyanya"Iya mas, saya sendiri, saya mau pulang, mas bisa antarkan saya, saya tidak kuat mau berjalan mas" pinta perempuan tadi "Oh iya nama saya Linda" jawab nya"Baik, mba nanti saya antarkan, alamatnya dimana ya mba?" tanya Aksa"Dekat kok mas, dibalik pohon beringin itu" jawab Linda sambil menunjuk pohon beringin yang berada tepat di samping Tikungan."Baik mba" ucap Aksa sambil memapah Linda berjalan ke arah rumahnyaKurang lebih sekitar sepuluh menit, ada terlihat kota dengan banyak rumah dengan lampu temaran, Aksa pun menemukan jalan setapak menuju kota tersebut, kehidupan malam di kota ini sangat ramai, bahkan Aksa tidak menyangka bahwa ada kehidupan yang ramai seperti ini dibelakang pohon Beringin tikungan Cilendeu itu."Itu rumah saya" ucap Linda sambil menunjuk rumah dengan pagar kayu, dan kemudian, Linda pun mengetuk rumahnya, dan keluarlah spasang suami isteri yang sudah tua membukakan pintu."Kamu darimana saja Linda?" kata si ibu"Maaf nek, Linda tadi main sebentar" jawab Linda"Kenapa kamu membawa orang asing?" tanya kakek"Pria ini tadi menabrak Linda, dan membantu Linda pulang kek" ucap LindaMereka pun melihat Aksa penuh rasa curiga"Maaf Lin, saya izin pamit pulang dulu ya" ucap Aksa"Jangan" ucap Linda "kamu kan sudah menolong saya, setidaknya izinkan saya menjamu kamu dulu" ucap Linda kembali"Tidak usah repot - repot lin" jawab Aksa"saya memaksa" ucap Linda tegas"Baiklah, tapi sebentar saja ya Lin" jawab Aksa tidak enak dengan situasi iniLinda pun segera ke dapur untuk membuat minuman, dan orang tua tadi hanya diam dan menatap Aksa penuh rasa tidak suka, entah kenapa, lalu sang nenek mendekati Aksa"kamu harus segera pulang" ucap nenek ituTiba - tiba Linda sudah ada dihadapannya membawa minuman "silahkan diminum dulu" ucap Linda ramahBarus aja Aksa ingin menyeruput kopi buatan Linda, tiba - tiba ada burung gagak yang menyenggol kopi tersebut dan membuatnya tumpah, Linda menjadi sangat marah dan ingin menangkap burung gagak itu, sang kakek dan nenek pergi meninggalkan Linda dan menyuruh Aksa untuk melarikan diri, Aksa tidak mengerti tetapi dia langsung meninggalkan rumah tersebut, dia pun melihat Linda mengejarnya di belakang.Tiba - tiba Aksa terkena batu dan terjatuh, setelah itu dia tidak sadaar beberapa saat.Sampai dia merasa ada lampu yang menyorotnya cukup tajam, saat dia membuka mata, ternyata dia sedang berada di rumah sakit"Mas Aksa" ucap Lintang sekretaris di kantornya"Aku dimana lin?" tanya Aksa"di RS Graha pesona mas, mas sudah pingsan selama dua hari" jawab Lintang"Apa? dua hari? kok bisa?" tanya Aksa bingung"Mas Aksa, jatuh dari motor di tikungan Cileundeu, warga setempat menemukan Mas Aksa, dan meneleponku dari hape mas Aksa, lalu aku langsung bawa mas Aksa kesini" ucap Lintang"Tapi aku menabrak seorang gadis Lin, aku gak mungkin pingsan" jawab Aksa"Maksudnya?" tanya LintangLalu AKsa pun menceritakan kejadian yang dia alami, kepada Lintang tentang semua hal yang terjadi, tentang kota dibalik pohon beringin, dan juga tentang Linda dan rumahnya, lalu Lintang pun terlihat cukup pucat mendengarkan kisah AKsa"Mas AKsa tahu dibalik pohon beringin itu sebenarnya ada apa?" kata Lintang, kebetulan Lintang adalah penduduk asli setempat Cilendeu jadi dia betul - betul mengetahu seluk beluk daerah tersebut"Apa?" tanya Aksa"Itu adlah kuburan mas, tempat semua orang dusun Cilendeu di makamkan mas, dan Kalau mas Aksa cerita ketemu sama Linda, dia itu kakakku mas, mba Linda sudah dua tahun lalu meninggal bunuh diri, karena saat hari pernikahannya, Mas Ujang calon suaminya kecelakaan di tikungan Cilendeu ini, sedangkan semua tamu dan undangan sudah hadir, akhirny amba Linda tidak tahan dengan rasa malu yang dideritanya, dan langsung menggantungkan diri dibelakang pohon beringin Cilendeu itu mas" cerita Lintang sedih, sambil menitikkan air matanya mengingat kembali kejadian itu"Astgafirullah" jawab Aksa, berarti kemarin aku dibawa ke dimensi lain dari mahluk - mahluk gaib itu Lintang.Setelah keluar dari rumah sakit, Aksa pun ditemani Lintang langsung berziarah ke makam Linda dan membacakan doa untuknya, semoga saat ini Linda bisa mendapakan ketenangan disana, doa Aksa untuknya.
PENANTIAN BAYI
Danar dan Hesta adalah pasangan yang telah menikah 5 tahun tetapi belum dikaruniai momongan, padahal mereka berdua sudah memiliki kondisi yang cukup mapan untuk sebuah keluarga, mereka memiliki rumah mewah, kendaraan dan karir yang cemerlang, sudah beberapa kali mereka memeriksakan kondisi kandungan ke dokter, tetapi setelah di cek dokter mereka dipastikan dalam kondisi yang prima. Bahkan mereka sepakat mengikuti terapi yang disarankan oleh dokter kandungan mereka di Rumah sakit ternama.Suatu hari di kantor, Hesta sedang merapihkan materi presentasi yang dilakukan hari ini, tiba - tiba ada seorang Office girl mendekati dia."Maaf bu, kalau saya kurang sopan, dengar - dengar ibu belum memiliki keturunan ya?" tanya Office girl tersebut polosHampir merah wajah Hesta, seorang office girl berani bertanya hal pribadi seperti itu."Apa urusanmu, menanyakan hal pribadi saya" jawab hesta ketus"Maaf bu, kalau saya kurang sopan, saya hanya ingin membantu" ucap Office girl tersebut sambil tertunduk malu, dan baru saja ia mau meninggalkan ruangan lalu Hesta pun memanggilnya."Mba... maaf, saya seharusnya tidak marah - marah, boleh kesini sebentar" ucap Hesta"Iya bu, maaf" ucap wanita itu sekali lagi"Maksud ibu bisa membantu itu bagaimana ya?" Kata Hasta"Begini bu, saya ada kenal orang pintar didaerah saya, dia bisa mengobati penyakit apapun termasuk memperoleh keturunan bu, sudah banyak orang yang berobat disana" kata Office girl tersebutSebenarnya Hasta adalah orang yang modern, dia tidak percaya terhadap hal - hal gaib seperti itu, tetapi setelah di fikir - fikir lagi, mungkin tidak ada salahnya juga mengambil jalan alternatif, fikir Hasta."Boleh mba, dimana ya rumah orang tersebut?" kata Hasta"Boleh mba, kalau mba mau, nanti ikut saya pulang saja mbak" jawab Wanita itu dengan raut wajah serius.Siang itu Hasta mengajak office girl yang ternyata bernama Ratna pulang ke rumahnya, sekaligus mengantarkannya ke tempat Mbah Dujon , orang pintar yang dimaksud Ratna tadi"Assalamualaikum" ucap Hastatiba - tiba pintu terbuka lebarsuasana rumah yang gelap menjadi sangat misterius, belum lagi bau menyan yang kuat, benar - benar sangat menyengat."Masuk" suara parau laki - laki setengah baya menyambut kedatangan mereka berduaLalu Hasta dan Ratna mendekati mbah tersebut"Kamu mau apa kesini?" ucap mbah Dujon"Mmmm... begini mbah saya mau punya keturunan" belum selesai Hasta berbicara, Mbah Dujon langsung memotong pembicaraannya"Kamu bisa mendapatkan anak, tapi kamu siap dengan resikonya?" kata Mbah Dujon"Maksudnya resiko mbah?" tanya hasta"Syaratnya berat" kata Mbah Dujon "Kamu harus sediakan ayam kampung hitam dan kamu bawa kesini besok"Baik mbah nanti saya cari" jawab HastaMalam itu Hasta galau antara menceritakan usahanya ke mbah Dujon atau tidak kepada Danar, kalau Hasta ceritakan pasti Danar akan marah, karena dia sangat tidak meyukai hal - hal mistis seperti ini. Akhirnya Hasta pun memutuskan untuk menutup mulutnya saja.Keesokan paginya, Hasta pergi kepasar untuk mencari ayam kampung hitam seperti yang disuruh oleh Mbah Dujon, dan walaupun agak susah akhirnya ia pun mendapatkannya.Dan siang itu Hasta pun kembali ke tempat Mbah Dujon sambil membawa ayam hitam tersebut.Dan seperti biasa pintu rumah Mbah Dujon pun terbuka secara otomatis, saat hasta datang."Apakah kamu sudah membawa persyaratan saya?" ucap Mbah Dujon"Sudah mbah" ucap HastaLalu Ayam itu digeletakkan di sesajen mbah dujon sambil diikat, dan mulut mbah Dujon pun komat - kamit tidak jelas terdengar oleh Hasta.Tiba - tiba mata mbah Dujon yang tadinya tertutup lalu terbuka dan menatap Hasta."Kamu sudah siap?" ucap Mbah Dujon"Siap apa ya mbah?" jawab Hasta bingung"Kamu harus makan ayam ini hidup - hidup dan harus habis" ucap Mbah Dujon"Apa??" ucap Hasta bingung dia sepertinya tidak akan sanggup melakukannya"Aku tidak bisa mbah" jawab hasta"Berarti kamu tidak akan memiliki keturunan" kata Mbah DujonHasta pun memikirkan kembali perintah Mbah Dujon, dan dia mulai berfikir keras dengan keinginan kuatnya untuk menanti pemberian anak tersebut.Akhirnya Hasta pun melakukannya, dia mencoba memakan ayam hidup itu sampai habis.Dan setelah satu gigitan lagi, tiba - tiba Hasta merasakan rasa mual yang luar biasa, dan akhirnya tidak tertahankan untuk memuntahkan semua daging ayam yang telah dimuntahkan untuknya."Kamu gagal" ucap Mbah Dujon "tapi kamu tetap akan mendapatkan anak itu" ucap mbah Dujon dengan kata - kata yang misterius.Entah mengapa setelah pulang dari tempat mbah Dujon, Hasta merasa sangat gelisah, dan Hasta menjadi merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya, Hasta langsung istigfar mengingat Allah dan meminta ampun.Malam itu jantung Hasta terus deg - deg an, entah ini pertanda apa, tiba - tiba suara telepon rumah berbunyi."kring...kring...kring..." dan Hasta pun langsung menjawabnya"Halo, apakah ini dengan ibu Hasta?" ucap pria di telepon"Betul, dengan saya sendiri pak" jawab Hasta"Saya dari kepolisian bu, suami ibu Bapak Danar sedang berada di kantor polisi saat ini" ucap polisi tersebut"Kantor polisi? ada apa ya pak?" ucap Hasta getir"Suami ibu menabrak orang dan mengakibatkan korban meninggal dunia" ucap polisi tersebut"Astagfirullah" Hasta pun segera menutup teleponnya dan menuju ke lokasi kantor polisi tersebutSaat Hasta sampai disana, dia melihat Danar dalam kondisi shock, dan pucat pasi, saat Danar melihat Hasta ia pun langsung memeluknya."Maafkan aku sayang" ucapnya"Iya tidak apa - apa, kamu sabar ya, coba ceritakan kejadiannya" ucap Hasta lembut untuk menenangkan perasaan Danar"Aku tidak tahu sayang, kejadiannya begitu cepat, tiba - tiba motor itu ada tepat di depan mobilku sayang" cerita DanarDan tiba - tiba terdengan suara bayi "oe..oe...oe""kasian sekali bayi ini, bayi ini korban kecelakaan suami ibu, orang tuanya langsung meninggal dunia di tempat, tapi anehnya bayi ini sama sekali dalam kondisi sehat, tidak ada luka sedikitpun" ucap pak polisi itu "bayi ini masih berusia sepuluh hari""boleh saya gendong bayi ini pak?" ucap HastaTiba - tiba Hasta mengerti, inilah yang dimaksud Mbah Dujon dia tetap akan memiliki anak, tetapi bukan anak yang berasal dari rahimnya, dan akhirnya Hasta pun pasrah dan ikhlas menerima kenyataan semua ini, Danar pun ditetapkan untuk masuk penjara selama dua tahun, dan Hasta menadopsi bayi ini untuk nya.Pelajaran yang dia peroleh, jangan sekali - kali dia meminta pertolongan kepada manusia, karena hanya Tuhanlah yang memiliki rencana, dan kuasa segala - galanya.
DI RUANG MEETING
Bayu adalah seorang CEO muda di Perusahaan terkemuka di Jakarta, masih single dan dengan wajah yang cukup rupawan, banyak gadis yang ingin mengambil hati Bayu, tapi sayang sosok Bayu sangat sombong, dia suka memperlakukan karyawannya dengan tidak sopan, bahkan cenderung sering berkata kasar, dan banyak juga gadis yang sering dipermainkan, setelah Bayu bosan akan ditinggal.Hari ini Andrea mulai bekerja di perusahaan Bayu hari ini, sebagai karyawan fresh graduate dia ditempatkan di bagian staff administrasi untuk membantu pembukuan perusahaan, Andrea sangat senang sekali, terutama saat interview kemarin dia sangat terpesona melihat ketampanan Bayu sebagai bos diperusahaan tersebut.Bayu cukup tertarik dengan Andrea, selain karena Andrea masih berusia muda, wajahnya pun terlihat cantik walaupun polos tanpa riasan wajah, dan Bayu merasa tertantang untuk mendapatkan Andrea sebagai calon wanita yang akan dikencaninya, walaupun semua dikantor semua tahu kebiasaan Bayu yang akan segera mencampakkann wanita yang dipacarinya setelah bosan dengan wanita tersebut.Wati satu bagian dengan Andrea melihat gelagat Bayu yang sering mendekati Andrea, untuk mengajaknya makan siang, kadang menawarkan diri untuk mengantarnya pulang."Andrea hati - hati ya, Bayu itu bukan orang baik" ucap Wati"Masa sih mba wati? kalau sama aku mas Bayu sangat baik" jawab andrea"Itu karena dia ingin mendapatkan dirimu Andrea" ucap Wati kembali"Hmm... tapi aku suka juga sama Mas Bayu mba" jawab Andrea polos"Baiklah, terserah kamu saja, aku hanya ingin mengingatkanmu saja" ucap Wati kembaliSudah Hampir seminggu Bayu mendekati Andrea dengan gencar, Andrea tinggal di kos - kosan, Bayu bahkan menawarinya untuk pindah ke apartemen milikinya, dan Andrea sangat terpesona dengan hal tersebut"Ini apartemenku sayang, kamu bias tinggal disini" ucap Bayu"Wah, ini indah sekali mas, aku tidak pernah melihat tempat seindah ini" ucap Andrea polos"Iya kalau kamu mau jadi pacarku, kamu boleh tinggal disini" ucap Bayu"Aku mau mas Bayu, aku mencintaimu" ucap AndreaHampir enam bulan berjalan Bayu dan Andrea sudah jadi gosip santer di kantornya, kemanapun Bayu pergi selalu mengajak Andrea pergi, padahal Andrea bukan sekretaris pribadinya Bayu, bahkan Anita sang sekretaris pun tidak pernah diajak kemana - mana oleh Bayu.Tiba - tiba sudah beberapa hari ini, Andrea tidak masuk, semua bertanya pada Bayu."Mas Bayu, kok Andrea tidak masuk" tanya Wati saat melihat Bayu masuk keruangan administrasi"Berani sekali kamu menanyakan Andrea kepada saya, memang saya bapaknya" ucap Bayu kesal"Maaf, pak" jawab Wati sambil tertundukDan akhirnya sudah genap hampir sebulan lebih Andrea meninggalkan kantor tanpa kabar, dan Bayu membuat berita bahwa Abndrea patah hati di putuskan oleh Bayu dan langsung pulang kekampungnya, bahkan saat ini Bayu sudah menggandeng Paula, anak magang baru dikantor yang masih berstatus anak kuliah, seakan - akan Andrea sudah tidak penting lagi dalam hidup Bayu.Hari ini presentasi penting bagi perusahaan Bayu, semua CEO dari seluruh asia akan datang, dan juga investor penting perusahaan, semua berkumpul untuk rapat tahunan guna membahas target dan kinerja perusahaan untuk tahun ke depan.Bayu dikenal memang sangat pintar untuk melakukan presentasi, bahkan semua ucapan Bayu akan membuat semua direktur dan investor juga pemimpin dari kota lainnya akan sangat kagum dan puas pada hasil kerjanya.Saat di tengah - tengah presentasi, hampir semua orang mendengarkan Bayu dengan serius, tiba - tiba Bayu terlihat pucat dengan mata melotot, dan menggigil seakan - akan Bayu melihat sesuatu yang sangat menakutkan dan dia terdiam dan tidak bergerak sama sekali."Pak Bayu apakah anda baik - baik saja" tanya pak ThomasTapi Bayu tidak menjawab sama sekali, hanya meilhat dan tidak bergerak.Tiba - tiba Bayu teriak...."Andrea.. maafkan aku..." Teriak BayuBayu melihat sosok Andrea berdiri di tengah ruang meeting itu, menatapnya tajam"Andrea.. kau... kau sudah mati...." jawab BayuSemua orang melihat kejadian ini dengan aneh.Tiba - tiba lampu ruang meeting langsung gelap gulitadan layar presentasi mati dan kembali menyala, tetapi aneh gambar yang ditampilkan di layar langsung memutar suatu gambar, seperti video.Dalam gambar tersebut, terlihat wajah bahagia Andrea saat Bayu masuk ke apartemennya, dia langsung menyambut Bayu dengan ciuman di pipi kanan dan kirinya, Bayu pun terlihat memeluk Andrea, dan Andrea membisikkan sesuatu di kuping Bayu."Apa... kamu Hamil" teriak Bayu sambil melepaskan pelukan Andrea"Iya, sayang, kenapa kamu marah, harusnya kamu kan merasa bahagia, kita harus segera menikah" tuntu Andrea"Menikah, kamu fikir kamu siapa? aku seorang CEO, kamu tidak pantas menjadi istri aku, harusnya kamu pintar, kenapa kamu bisa melakukan hal sebodoh ini sampai kamu hamil" ucap Bayu."Apa?bodoh? jadi kamu mempermainkan aku selama ini Bayu, aku benar - benar mencintaimu Bayu" ucap Andrea"Cinta, kamu benar - benar bodoh, Andrea, sekarang kamu harus menggugurkan kandungan itu" ucap Bayu kencang"Tidak" jawab Andrea"Kamu harus" ucap Bayu sambil mendorong Andrea dengan keras, dan tiba - tiba kepala Anrea terkena ujung meja di apartemennyaTiba - Tiba Andrea pun tidak sadarkan diri, Bayu memeriksa kondisi tubuh Andrea, masih bernafas, dan Bayu mengambil bantal dari ruangan kamar dan kembali ke meja tersebut, di tekan bantal itu ke wajah Andrea, dan Andrea sempat sadar dan berontak, tetapi tiba - tiba kesadaran Andrea pun hilang dan dia merasa lemas, sampai akhirnya Andrea pun menghembuskan nafas terakhirnya.Sontak, semua orang yang berada di ruang meeting tersebut, diam menyaksikan adegan tersebut, mereka tidak percaya bahwa Bayu CEO perusahaan mereka bisa berbuat sekejam itu.Saat sadar, Bayu segera ingin melarikan diri dari ruang meeting tersebut, tetapi pak Thomas segera menahan supaya Bayu tidak dapat pergi kemana - mana."Tidak... itu tidak benar.. itu tidak benar.."Baik.. nanti kamu bisa jelaskan di kantor polisi saja, ucap Pak Thomas geram, dengan kelakuan CEO nya tersebut.
DIMENSI LAIN
Pagi ini Sonya sangat merasa kelelahan, Sakura anaknya yang baru berumur 4 tahun selalu menangis dan terbangun setiap tengah malam, setiap Sonya tanya, dia tidak bisa menjawab hanya bisa menangis. Sonya sudah menceritakan masalah ini kepada Adi suaminya, tetapi Adi merasa itu adalah hal yang biasa, bahwa Sakura hanya ingin mencari perhatian saja.Anehnya setiap pagi sampai malam Sakura selalu tenang dan bersikap biasa, dan hal tersebut akan muncul lagi pada tengah malam harinya, Sakura akan menangis dan baru bisa tidur pada jam 4 dini hari."Adi sepertinya, Sakura menangis setiap tengah malam bukan hal yang wajar" ucap Sonya kepada Adi"Aku tahu kamu lelah, sayang. Tapi aku rasa itu biasa terjadi pada anak - anak, bisa jadi karena dia manja, atau dia merasa kelaparan, apakah kamu sudah menanyakan kepada Sakura apa yang dia rasakan?" jawab Adi"Sudah, sayang. dia hanya diam saja" jawab Sonya kesal"Baiklah biar aku yang tanya Sakura sekarang" jawab Adi sambil berdiri dan mendekati Sakura yang sedang bermain didepan televisi."Halo cantik, kamu sedang main apa?" tanya Adi pada Sakura"Main boneka barbie, ayah" ucap Sakura sambil tersenyum"Kamu kenapa nak, sekarang kamu susah tidur dan sering terbangun pada tengah malam, Sakura?" tanya Adi"Aku tidak boleh tidur, ayah" jawab Sakura polos"Tidak boleh tidur? oleh siapa?" tanya Adi lagi"Oleh Banyu teman ku yang baru ayah dan teman - temanku yang lainnya juga melarangku tidur?" jawab Sakura polos kembali"Teman? teman siapa? kan kamu dikamar sendirian sayang?" tanya Adi sabar"Banyak pah, papah juga banyak temannya, begitu juga mamah... " tapi teman - temanku lebih banyak" jawab Sakura sambil tersenyumTiba - tiba Adi merasa merinding, bulu kuduk nya langsung berdiri entah mengapa, yang dikatakan Sakura membuat Adi merasa ketakutan, bahwa Sakura memiliki bakat lain... dia dapat melihat dimensi lain.Dan saat itu juga Adi langsung mendekati Sonya, dan membicarakan masalah yang dialami Sakura kepada isterinya tersebut.Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk memanggil H. Soleh, yang kata masyarakat setempat bisa mengusir hal - hal gaib seperti itu."Tok... tok... tok..." suara pintu rumah diketuk"Assalamualaikum" sapa H. Soleh yang baru datang"Waalaikumsalam" jawab Sonya"Silahkan masuk pak haji" jawab Sonya ramah. lalu pak haji segera duduk, dan Sonya pun menjelaskan kejadian tentang Sakura, yang aneh padanya beberapa minggu terakhir ini.Pak Soleh pun mengangguk, lalu dia berdiri dan melihat - lihat sekeliling rumah Sonya"Kamar Sakura dimana?" tanya H. Soleh"Di kamar atas pak, silahkan" lalau mereka berdua menaiki tangga bersama - samaSaat H. Soleh membuka pintu kamar Sakura, wajah H. SOleh tiba - tiba ketakutan dan menutup pintunya kembali"Astagfirullah" jawab H. Soleh"Sebelum kejadian apa yang kalian lakukan, atau kalian pergi kemana?" tanya H. SolehLalu Sonya pun mengingat - ingat kembali."Kami pergi berlibur ke Vila di dekat Pantai Parang tritis pak" jawab Sonya"Apakah kalian mengambil sesuatu dari tempat itu?" tanya H. Soleh"sepertinya tidak ya pak" jawab Sonya"Coba kamu tanya Sakura dulu?" jawab H. SolehLalu mereka berdua turun lagi ke bawah dan menemui Sakura yang sedang bermain sepeda di pekarangan"Sakura, sini sayang" ucap Sonya"Ada apa ibu?" jawab Sakura"Sakura, apa kamu mengambil sesuatu dari tempat liburan kita kemarin, sayang?" tanya SonyaLalu Sakura pun melihat ibunya, sambil berfikir "hmmm... apa ya bu? aku cuma ambil boneka yang tergeletak di dekat pantai saja ibu, selain itu tidak ada lagi bu" jawab Sakura spontan"Boneka apa sayang? ibu boleh lihat?" tanya Sonya kembalilalu Sakura pun masuk ke dalam rumah dan beberapa menit kemudian, dengan boneka gadis kecil dengan pakaian kebaya yang lucu"cuma ini bu, aku ambil dari pinggir pantai, kasian dia meminta aku mengambilnya" kata Sakura polos"Baiklah nak, kamu boleh main lagi" ucap SonyaSetelah sakura pergi pak Haji Soleh melihat boneka yang diambil Sakura dari pantai, dan tiba - tiba tubuh H. Soleh bergetar sangat kencang, bahkan H. Solehpun tidak dapat mengendalikannya, lalu tiba - tiba boneka itu terlempar keluar dari tangan H. Soleh"Maaf bu Sonya, saya harus panggil teman - teman saya, karena saya tidak sanggup untuk menghadapinya sendirian, ini terlalu banyak yang mengikuti boneka ini, dan kekuatan mereka terlalu besar" penjelasan dari H. SolehSonya dan Adi masih menunggu sore itu janji dari pak H. Soleh untuk datang lagi ke rumahnya, tiba - tiba ada suara ketukan pintu dan mereka pun segera bergegas kedepan"Assalamualaikum" jawab H. Soleh diikuti beberapa teman - teman pengajiannya"Waalaikumsalam pak Haji" jawab AdiBaiklah saya butuh untuk mengajikan kamar Sakura, bapak dan ibu juga mohon untuk mengaji disana" jawab H. solehAdi dan Sonya segera berganti baju dan mengambil air wudhu, mereka pun melakukan hal yang sama pada Sakura, dan mereka segera menyusul pergi ke kamar Sakura.Dan pengajian pun dilakukan, lima belas menit pertama suasana tenang menyelimuti ruangan kamar, tetapi tiba - tiba salah satu anak pengajian pak Soleh terkapar, dengan tubuh menggigil dan saat akan dibantu oleh Adi, pak Soleh melarang, "jangan pak, biarkan saja, kita tetap lanjutkan pengajian ini apapun yang terjadi" ucap H. soleh.Lalu satu persatu, anak pengajian mulai terkapar juga, Sonya hampir tidak tahan melihat situasi tersebut. dia hampir ingin keluar dari ruangan tersebut, tetapi pak haji menahannya"sebentar lagi, kamu harus sabar" kata pak hajitiba - tiba ada salah satu anak pengajian yg sudah terkapar duduk kembali, tetapi dia berbicara dengan bahasa yang aneh, lama kelamaan terdengar jelas apa yang dikatakannya"Siapa kamu?" kata pak haji"Aku Rona" jawab orang tersebut sambil melotot kembali"Mengapa kamu dan teman - temanmu berada di rumah ini" kata pak haji kembali"aku ingin bermain dengan dia" sambil menunjuk Sakura"kalian dari dimensi yang berbeda, pulanglah" kata pak haji"tidak mau" jawabnya"Harus mau" lalu pak haji membacakan kembali ayat - ayat suci dan menanyakan sekali lagi " kamu harus pergi dari rumah ini" kata pak haji"Tidak mau" lalu pak haji membacakan kembali ayat - ayat suci, dan itu terus terjadi hampir sekitar setengah jam dan terus menerus seperti itu... tiba - tiba orang tersebut terkapar lagi, dan terjadi pada orang yang lainnya dengan kondisi yang lama mereka tidak mau untuk pulang.Tiba - tiba Sakura langsung berdiri dan menuju ke tempat tidur, dia mengambil boneka yang ditemukannya, dan dia berbicara dengan boneka tersebut"Berhenti... jangan diteruskan, kamu harus pulang, aku tidak mau ada yang terluka" kata SakuraSonya langsung mendekati Sakura secepat mungkin, Sonya takut terjadi apa - apa pada Sakura, dan Sonya langsung memeluk Sakura saat itu juga.Lalu Pak haji pun mengambil boneka tersebut, dan membacakan ayat - ayat suci kembali, semua Roh - roh yang ikut bersama boeneka ini harus kembali ke dimensi kalian sendiri, begitu ucap pak haji, tiba -tiba angin kkencang di dalam ruangan berhembus terasa sangat mengenai kulit, dan merasa bahwa ada suatu energi yang berkumpul dalam ruangan tersebut dan menjadi satu dan terlihat bayangan tersebut, masuk kembali kedalam boneka yang ditemukan Sakura di pantai tersebut."Alhamdulillah, sudah aman" ucap Pak Haji"Alhamdulillah" ucap Sonya dan Adi berbarengan"ayah, ibu teman - teman Sakura sudah pulang" ucap SakuraDan akhirnya mereka dapat menjalani kehidupan seperti biasa lagi, dan tidak lupa pak Haji menaruh kembali boneka tersebut ke tempat asalnya, karena memang dimensi itu berada disana....Beberapa minggu kemudian ada sekeluarga yang sedang berlibur kembali dipantai tersebut,"Sasha jangan main dekat - dekat pantai.." kata mama"Iya ma" saat Sasha ingin beranjak pulang tiba - tiba dia melihat boneka lucu yang berbicara padanya..."Aku mau ikut kamu" kata boneka itu"Baik, nanti kamu main dirumah aku ya" kata Sasha, dan diambilnya boneka tersebut.......
DANAU RANJAU
Mita dan Boy adalah pasangan yang baru menikah, mereka berdua sama - sama memutuskan setelah menikah, mereka harus mulai untuk memiliki rumah sendiri, jadi beberapa hari belakangan ini, mereka sibuk untuk mensurvei beberapa area perumahan yang dekat dengan lokasi kerja mereka berdua, banyak penawaran menarik yang mereka dapatkan, tidak terkecuali model - model rumah mungil minimalis menjadi salah satu favorit mereka, karena mereka memang memiliki sifat yang simple dan tidak ingin terlalu ribet.Akhirnya mereka sampai ke perumahan Diamond Sky Residence, dari tampak depan gerbang perumahan ini memiliki desain yang unik dan menarik, sehingga mereka berdua tampak kagum dengan kesan pertama memasuki area perumahan tersebut. Dan mereka pun mulai memarkirkan kendaraan mereka ke area parkir kantor pemasaran di perumahan tersebut."Selamat pagi Bapak dan Ibu ada yang bisa saya bantu?" sahut resepsionis di bagian depan ramah"Iya mbak, saya mau tanya - tanya rumah" jawab Mita"Baik ibu silahkan duduk terlebih dahulu, nanti marketing kami akan datang membantu ibu" jawab resepsionis tersebuttidak berapa lama, keluarlah bapak - bapak berkepala botak dengan kulit putih menuju ke meja Mita dan Boy"Selamat Pagi Bapak dan Ibu perkenalkan nama saya Eko, saya marketing perumahan Diamond Residence, saya siap untuk membantu Bapak dan Ibu disini"Lalu Pak Eko pun duduk dan menjelaskan semua produk yang ada di Diamond Sky Residence, ada satu cluster istimewa dimana memiliki keunggulan view danau... pak Eko menjelaskan, view danau tersebut amat bagus dan menarik dengan taman - taman di area pinggir danau dan arena permainan anak, type rumah minimalis, dan Mita merasa inilah rumah idaman yang dia inginkan, tanpa ragu dia pun langsung menyetujui proses pembelian rumah tersebut, dan Boy pun tidak kuasa untuk menolaknya.Satu tahun sudah Mia dan Boy sudah mendiami rumah baru mereka di Perumahan Diamond Sky, saat ini Mita bahkan sudah hamil dengan usia kandungan 3 bulan, Boy dan Mita sangat berbahagia dengan keadaan tersebut.Satu Malam, Mita sedang duduk memandangi bulan di teras rumahnya, Boy sedang menonton siaran bola di Televisi, Anehnya Mita seperti melihat banyak bayangan didanau seperti banyak keramaian dan tiba - tiba suara gaduh timbul...."Dooorrrrrrrrrrr.............." seperti ada sesuatu yang meledak, Mita kaget dan masuk ke dalam rumah"Boy apakah kamu mendengar suara itu?" tanya Mita"Suara apa sayang?" jawab Boy "Aku sedang menonton siaran bola, tidak mendengar suara apapun"Mita berfikir, mungkin perasaan aku saja, lalu Mita pun kembali ke teras... sepi bayangan tersebut telah hilangMita tidak bisa tidur, Dia bermimpi aneh, seperti masa peperangan, suara bom dimana - mana, penuh suara bising senapan dan juga bom silih berganti, Mita melihat darah... banyak manusia terkapar,,,, dan Mita melihat sendiri gambaran tersebut, dia menangis..... dan terisak."Sayang bangun" ucap Boy.... "Kamu mengigau Mita"Mata Mita pun mulai terbuka, dia melihat wajah Boy, dan dia merasa sangat ketakutan"Aku melihat banyak darah, seperti peperangan, sangat menakutkan" ucap Mita"Sabar sayang, itu hanya bunga tidur kamu saja itu hanya mimpi""Tapi seperti bayangan yang kulihat di danau semalam Boy"Pagi ini, Mita berolahraga sambil berlari mengitari komplek perumahannya, dia melihat seorang nenek - nenek tukang sapu tua yang sedang menyapu di jalan,"Selamat pagi bu" sapa Mita"Pagi neng" jawab nenek tua tadi"Maaf bu, ibu orang asli daerah ini?""Iya neng, saya teh dari kampung ranjau di sebelah komplek ini" jawab si Nenek"Kampung Ranjau?" kalau komplek ini dulunya apa ya nek?""Oh disini juga sebenarnya bagian kampung ranjau teh, sebelum dibeli oleh perumahan ini, dulu rumah nenek gak jauh dari danau ranjau disana" sambil menunjuk danau tempat rumah Mita"Danau Ranjau? namanya aneh ya nek?" kata Mita"Iya teh, dulu di daerah ini adalah tempat lokasi perang teh, disini lapangan bebas dan hutan, lalu di zaman tersebut banyak mayat yang meninggal karena korban peperangan, tepatnya di danau ranjau tersebut, itulah asal muasal nama desa kami dan nama danau tersebut, pada saat itu masih banyak sisa ranjau dari hasil peperangan, lalu untuk membuat kuburan masal tersebut, maka beberapa ketua desa memiliki inisiatif untuk meledakkan ranjau hingga kedalaman yang cukup dalam, lalu melempar semua mayat - mayat tersebut disana, anehnya setelah kejadian tersebut langsung turun hujan dan tidak berhenti, tiba - tiba dalam beberapa minggu saja hasil lobang ranjau sudah tertutupi dengan air dipermukaannya, dan sejak saat itulah Danau tersebut disebut danau ranjau, dan kampung ini disebut kampung ranjau" jawab si nenek tua tadi menjelaskan dengan terperinci"Mita langsung berfikir tentang bayangan dan mimpinya" Mita merasa banyak hal yang bisa dilihat dan juga difikirkan banyak kesamaan dengan apa yang dijelaskan nenek tua ini"Terimakasih ya nek" sapa Mita"Sama sama teh" ucap si Nenek lalu kembali menyapuMita masih memikirkan perkataan nenek tadi, sambil melihat air danau di area taman danau tersebut, tiba - tiba Mita seperti melihat bayangan mayat orang - orang yang meminta pertolongan dan hampir saja Mita merasa tangan itu mencoba menariknya, tiba - tiba dia merasa ada yang menahnnya"Sayang hati - hati, jangan terlalu dekat dengan air, nanti kamu bisa jatuh" ucap Boydan itu menyadarkan Mita, bahwa dia hampir saja masuk ke dalam air danau tersebutDi rumah Mita membicarakan pertemuannya dengan nenek tua tadi pagi"sudahlah sayang kamu jangan terlalu berlebihan, itu kan seperti cerita dongeng untuk masyarakat dikampung ini saja" jawab Boy santai"Tapi, tadi aku merasa mayat - mayat itu hampir menarikku ke air" ucap Mita"Sabar ya sayang, kamu jangan terlalu banyak fikiran, kasian anak aku nanti didalam perut" jawab Boy sambil memegang perut Mita yang mulai besarMalam jum'at ini Mita hanya dirumah seorang diri, Boy kebetulan ada Meeting Bisnis diluar kota, dan akhirnya Mita memutuskan untuk tidur lebih awal, dia merasa lelah, tiba - tiba terdengar suara tersebut, suara tembakan, suara bom, dan suara keramaian orang yang seperti sedang berperang, Mita sangat ketakutan suara itu sekarang terdengar jelas, Mita seperti mengalami kembali masa peperangan tersebut.Akhirnya setelah Boy pulang, maka Mita memutuskan untuk datang kembali ke management perumahan Diamond Sky, di sana Mita meminta pihak Managemen untuk mencoba mencari tahu ada apakah di dalam danau ranjau yang membuat Mita tidak dapat hidup nyaman dan merasa khawatir.Karena Managemen Perumahan Diamond Sky cukup profesional dan peka, maka mereka menjanjikan akan coba mengeruk danau ranjau tersebut dan melihat apa yang ada didalam danau tersbut.Hari itu mobil pengeruk pun tiba, semua sudah disiapkan banyak warga kampung dan warga perumahan yang ikut menonton, karena banyak yang ingin menyaksikan apa benar cerita yang selama ini mereka dengar.Dan ternyata benar, mobil pengeruk itu mulai mengeruk, mayat - mayat yang berada di dalam danau, dan yang aneh, mayat tersebut tidak ada yang rusak, semua bagian tubuh nya dapat dilihat secara utuh, ini membuat kaget banyak orang yang melihatHampir Seratus mayat ditemukan dari danau ranjau tersebut, dan saat ini Managemen memberikan lahan untuk pemakaman mereka semua untuk dikuburkan secara layak, dan saat pemakaman tiba, Mita melihat banyak bayangan yang tersenyum padanya, dan Mita yakin mereka sekarang sudah lebih tenang.
INTERVIEW DENGAN HANTU
Hari ini Ani merasa pusing, supir kantornya yang baru masuk dua minggu, sudah berhenti secara mendadak, entah karena alasan apa, Ani merasa sedikit lelah, karena bukan hal yang mudah mendapatkan supir yang baru, sehingga Ani sebgai HRD Manager harus mulai menyebarkan kembali lowongan pekerjaan dan melakukan penyeleksian kembali dengan memuat lowongan di internet dan surat kabar, tetapi dengan kondisi operasional perusahaan yang mengharuskan banyak perjalanan bisnis setiap harinya, membuat Ani kewalahan.Surat Kabar Newbie sudah mulai menerbitakan lowongan kerja supir yang Ani pesan, dan juga situs job terbesar www. jobme.com juga sudah menerbitkan lowongan tersebut, Ani mulai menerima berbagai macam CV yang berkaitan dengan supir tersebut, gaji yang perusahaan Ani sudah distandarkan dengan UMR, sehingga banyak juga supir yang tertarik, tetapi saat mereka mulai masuk kerja dan merasakan aktivitas yang sangat padat dan bisa sampai larut malam, biasanya akan membuat supir tersebut berhenti dan mengundurkan diri.Ada salah satu foto yang menarik Ani, wajahnya tampan seperti bintang film dan model, dari CV yang diterima, dia lulusan SMU dan belum pernah bekerja, sepertinya calon ini bagus untuk dia interview, karena dia pasti membutuhkan pekerjaan ini untuk pengalam kerjanya, Ani langsung menelepon ke nomor HP nya."Halo bisa bicara dengan Andre? saya Ani dari PT. Subur Kelana" ucap Ani"Iya betul bu, dengan saya sendiri" jawab pria di telepon tersebut"Anda kemarin mengirim lamaran CV ke Kantor kami untuk lowongan sebagai supir ya pak?""Betul bu" jawabnya"Mohon datang ke kantor kami besok ya pak, di alamat Jl. Maritim 2 No 18 Jakarta Utara, nanti bertemu dengan saya Ani ya pak""Baik bu, jam berapa ya bu?""Jam 2 siang pak""Baik terimakasih bu" dan telepon pun terputusKeesokan hari, selain Andre ada beberapa calon lain yang dijadwalkan untuk di tes juga oleh Ani, Ani datang agak pagi dan menjadwalkan hari ini dengan jadwal interview tadi.Mulai dari jam 9 sudah ada beberapa calon yang sudah di panggil Ani untuk Interview, dan akhirnya tibalah Andre, saat Andre memasuki ruang interview, Ani agak terpesona dengan wajah Andre yang bahkan terlihat lebih tampan dari foto yang Ani lihat, bahkan Andre memiliki postur badan yang tegap, membuatnya semakin terlihat keren, lebih cocok sebagai model ketimbang menjadi supir, fikir Ani."Siang bu, boleh saya duduk" sapa Andre"Silahkan" jawab Ani " Nama anda Andre kan ya? coba jelaskan tentang diri anda" ucap AniAndre pun menjelaskan latar belakangnya seperti di CV kmrn"Mengapa anda mau menjadi supir?" tanya Ani kembali"Menurut saya itu pekerjaan yang halal bu, saya tamatan SMA belum punya pengalaman, yang saya inginkan adalah membantu ibu saya untuk meringankan bebannya dengan gaji bulanan saya" jawab Andre pasti"Wah sudah ganteng patuh pada orangtua lagi" fikir Ani"Apa anda tidak malu, anda masih muda dan mungkin teman - teman yang lain akan mengejek anda dengan pekerjaan baru anda""Tidak bu, bagi saya jika saya mencuri atau saya korupsi baru itu akan membuat saya malu, jika pekerjaan ini halal saya akan bangga bu" jawab AndreSetelah mengajukan beberapa pertanyaan lainnya, akhirnya Ani pun menyelesaikan interviewnya, ada yang berbeda disini Andre terlihat sangat bersemangat dan membutuhkan pekerjaan ini, dibandingkan dengan calon - calon lainnya.Setelah menimbang dan melihat kriteria calon lainnya, maka Ani memutuskan untuk mengundang kembali Andre untuk interview, kali ini lebih untuk menegosiasikan gaji yang akan diterimanya"Halo, dengan bapak Andre?""Iya saya sendiri?""Selamat ya pak Andre anda terpilih untuk menjadi supir di perusahaan kami, tetapi bapak masih harus datang ke kantor besok, untuk membahas perjanjian, kewajiban dan tata tertib pak?" jawab Ani dengan bahasa formal"Baik bu pasti saya datang"Sudah beberapa jam bahkan mendekati jam 4 sore, Andre belum datang, Ani merasa Andre tidak serius dengan pekerjaan ini, bahkan jika dia tidak datang 10 menit lagi, maka Ani akan mencoret nama Andre dari calon supir tersebut, dan saat Ani mulai merapihkan berkas dimejanya, tiba - tiba Andre muncul dihadapannya."Selamat sore bu Ani"Ani melihat ke wajah Andre, ada yang aneh, wajah Andre terlihat muram dan juga sedikit pucat, sepertinya dia habis berjalan jauh atau dia seperti kelelahan"Silahkan masuk Andre, saya fikir kamu tidak datang" jawab Ani"Maaf bu, tadi motor saya jatuh dijalan, saya terpaksa berjalan kaki, saya pasti datang karena saya membutuhkan pekerjaan ini" jawab AndreSetelah menjelaskan tata tertib dan juga menandatangani perjanjian, dan menjelaskan hak dan kewajiban karyawan, Ani merasa penjelasannya sudah sangat lengkap, dan menyuruh untuk Andre menandatangani perjanjian diatas kertas"Baiklah Andre sekarang sudah selesai, dan kamu resmi menjadi karyawan di perusahaan kami" jawab Ani jujur"Apakah saya juga akan mendapat asuransi jiwa bu?" tanya Andre"Sudah mulai hari ini kamu sudah dicover asuransi jiwa oleh perusahaan" jawab Ani tegas"Terima kasih bu" jawab Andre dan segera meninggalkan ruanganMalam hari ini, Ani tidak dapat tidur, entah mengapa wajah Andre selalu membayangi dirinya, dan juga tangisan, banyak suara tangisan dan teriakan, Ani tidak mengerti, mengapa dia menjadi seperti ini, mungkin karena dia terlalu banyak memikirkanpekerjaan dan lelah, fikir Ani.Keesokan harinya, dikantor, Ani merasa sangat kesal, Andre tidak masuk kekantor, baru hari pertama dia sudah seperti ini benar - benar tidak profesional, fikir Ani kesal, Ani berusaha menghubungi HP nya Andre, tetapi tidak ada jawaban juga, dan Ani merasa benar - benar dipermainkan, lalu dia mencari kembali berkas Andre dan melihat KTPnya, Pak Muin security kantor, diminta Ani untuk mengantarkannya ke alamat Andre sesuai dengan KTP.Tibalah Ani, dialamat tersebut Jl. Gagak No 2 Jakarta timur, dengan suasana jalanan yang macet, membuat Ani sampai agak lama ke tempat tersebut, dan Ani merasa ada yang aneh bahkan bulu kuduk Ani juga merinding, didepan jalan Ani melihat ada bendera kuning, Ani pun terus berjalan dan bertanya pada orang sekitar dimana alamat rumah Andre, tiba di alamat yang dituju ada tenda di depan rumah tersebut, dengan banyak orang yang sedang berkumpul."Maaf apakah ini rumah Andre?" tanya Ani"Betul bu" jawab salah seorang pria berkacamata dengan peci hitam"Andrenya ada pak?" tanya Ani sekali lagiTiba - tiba pria itu melihat Ani "Anda siapanya Andre?" tanya pria itu"Saya Ani pak, HRD di kantor barunya" jawab AniMaaf bu, Andre hari ini kecelakaan dan dia sudah wafat, rencananya sehabis ashar ini akan dikuburkan bu" jawab pria ituAni sangat kaget mendengar berita tersebut, hampir saja Ani teringat mimpinya dan pingsan, tetapi Ani merasa dia harus bertemu keluarga AndreMasuk kerumah kontrakan sempit dengan dua kamar, Ani melihat Ibunya Andre sedang mengaji, dan disana ada dua anak kecil yang mendampingi satu seperti anak SD dan satu lagi anak balita"Maaf bu, say Ani HRD tempat Andre bekerja" ucap Ani membuka pembicaraanIbu Andre melihat ke wajah Ani, "Iya bu, Andre senang sekali diterima bekerja oleh ibu, maka itu dia membawa motornya sangat kencang karena takut terlambat, dan terjadilah kecelakaan itu bu" jawab ibu Andre terisak -isak"Iya bu, sabar ya bu" jawab AniTiba - tiba Ani mengingat pertanyaan Andre, tentang Asuransi jiwa yang akan diperolehnya, sepertinya dia sudah memberikan pesan kepada Ani"maaf ya bu saya pulang dulu" lalu Ani pun memberikan sejumlah uang sebagai tanda belasungkawa kepada Ibu AndreTiba dikantor, Ani mengecek kembali berkasnya, untung saja semua berkas sudah dikirim langsung olehnya, dia menelepon Asuransi nya, dan menjelaskan kronologisnya, dan setelah Ani tanya secara mendetail, maka Andre berhak untuk mendapatkan uang asuransi jiwa yang harus dia peroleh, Ani pun segera melengkapi berkasnya, dan juga memprosesnya kepada pimpinan dikantor menjelaskan tentang kronologisnya, dan akhirnya keluarlah sejumlah uang asuransi Jiwa yang Andre peroleh.Ani pun dengan managemen langsung menyerahkan ke rumah ibu Andre, ibunya sma sekali tidak menyangka dengan jumlah yang diperolehnya, dia merasa Andre adalah anak yang baik bahkan saat dia meninggalpun dia masih memerikan rezeki pada keluarganya.Dan Ani melihat ada bayangan Andre yang tersenyum di depan pintu kamar, mungkin itulah arti mimpi Ani, Andre memintanya untuk meneruskan pesan ini dan meninggalkan keluarganya dengan tenang.