Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
HOROR HALLOWEEN PARTY
Adisha hari ini sedang mencari bahan kain untuk pesanannya, Adisha bekerja menjahit dan sudah cukup terkenal dikalangan teman - teman dan lingkungan perumahannya, karena jahitan Adisha sangat halus dan rapih, dan bulan ini adalah bulan dengan banyak pesta perayaan, termasuk pesta Halloween dilingkungan kantor dan sekolah, dan banyak sekali pesanan baju haloween yang datang ke Adisha, sambil melihat - lihat toko kain di Tanah abang, Adisha melihat satu toko kecil di pojok yang lokasi tokonya hampir tidak terlihat."Pagi pak" sapa Adisha kepada bapak bapak tua dengan kacamata yang sedang duduk sambil memejamkan matanya, dan ketika mendengar suara Adisha Bapak tadi kaget dan hampir terjatuh dari tempat duduknya."Pagi dek, silahkan lihat masuk kedalam" sapa Bapak tua tadi saat melihat Adisha"Iya Pak" jawab AdishaAdisha berkeliling toko kain tersebut, dan benar sekali bahan - bahan aneh dan unik ada di Toko kain ini, contohnya kain berbulu, cocok dengan monster - monster di film Halloween, atau ada bahan kulit hitam yang unik untuk baju nenek sihir, dan masih banyak lagi bahan kain yang akan sangat spekatakuler untuk dijadikan baju halloween, akhirnya Adisha mengambil beberapa kain yang cocok untuk dijadikan kostum untuk dijahitnya, dan membawanya ke Bapak tua itu untuk dibayar."Saya beli ini ya pak, semuanya" kata Adisha"waw.. pilihan kamu sangat baik, pasti kamu akan menjahit baju - baju dengan tema unik" kata Bapak tua tadi"iya pak, banyak yang pesan buat hallowee party" kata Adisha"Iya, dan kamu tidak salah pilih dengan toko ini, semua jahitan mu akan menjadi spektakuler dan tidak akan terlupakn" ucap Bapak tadi sambil melihat ke mata Adisha dan tersenyum dengan misterius.Adisha keluar toko setelah membayar semua kain yang dipesannya, tetapi saat Adisha keluar anehnya Adisha merasa bahan yang dibelinya jadi lebih banyak dari yang dia ambil, begitu Adisha menengok ke belakang, anehnya toko Bapak tua tadi sudah tidak ada, yang ada hanya tangga di pojok gedung, tapi Adisha yakin dia hanya baru melangkah sebentar, dan toko tadi memang dipojok."Ah sudahlah" fikir Adisha karena Adisha sudah terlalu lelah kalau harus mencari lagi.Sampai dirumah, Adisha mulai taruh kain - kain di ruang jahitnya, dan dia langsung menuju kamar dan berisitirahat.Tidak lama Adisha akhirnya terbangun, karena suara adik kecilnya, Bayu membangunkannya, dan Adisha melihat Bayu mengeluarkan suara seperti monster dan mengangkat kain gorilanya. Adisha pun langsung terbangun, dan mengambil kain itu dari tangan Bayu"Bayu ini kain kakak buat pesanan jangan buat mainan" ucap Adisha kesal"Ih kakak pelit banget, Bayu kan cuma pinjem buat main monster - monsteran" jawab Bayu kesal"Sudah sana, main sendiri dikamar, kakak lagi banyak kerjaan ini" ucap Adisha kepada adik kecilnyaLalu Adisha pergi untuk cuci muka dan menuju ke ruang jahit, disana Adisha seperti mendapat energi untuk mengerjakan semua pesanannya, dan membuat kostum yang unik yang ada di kepalanya.Tanpa terasa Adisha sudah menjahit dari sore hingga malam, dan tidak terasa semua kain yang dibelinya sudah menjadi kostum yang unik dan meyeramkan.Bahkan melihat hasilnya, Adisha memeberikan nama untuk semua kostum yang dibuatnya, ada Kostum Monster Bigfoot, Monster Seadark, Monster Night Creeper, Monster Dark Vampire, Monster Creepy Witch, dan Monster lainnya.Dan Adisha segera menghubungi semua pelanggannya yang sudah memesan kostum tersebut. Sebelum tidur Adisha melihat kembali kostum tersebut, dan ada rasa kepuasan yang besar berkecamuk didadanya melihat karya - karya yang dihsailkannya, dan akhirnya Adisha tidak tahan untuk mencoba salah satu kostumm yang dia buat, yaitu Monster Creepy Witch, kostum nenek sihir berwarna hitam dengan topi hitam dan dia memakainya dan melihatnya ke cermin, dan disitu Adisha melihat Kostumnya sngat pas sekali dengan badannya.Tanpa terasa Adisha tertidur dengan menggunakan kostumnya, dan terbangun saat mendengan suara -suara disekelilingnya,"Arrggghh.....arrggghhh" suara terdengar jelas ditelinga Adisha, dan betapa kagetnya ternyata semua monster yang dijahit Adisha menjadi hidup, belum lagi saat Adisha melihat dirinya sendiri, dia sudah memiliki hidung yang panjang seperti nenek sihir sungguhan, dan itu sungguh nyata, Adisha tidak dapat melepasnya, dan sepertinya ruangan jahitnya berubah menjadi ruangan pesta monster yang besar dengan banyak lampu kelap - kelip disana."Wooow.... creepy witch..." sapa Monster Sea Dark kepadanya, dan banyak sekali monster yang menyapanya malam itu."Maaf, ini apa ya?" tanya Adisha"Kamu bercanda? kamu masa lupa, kalau ini adalah perayaan kita dimana manusia - manusia juga ikut merayakannya, ini adalah Halloween Party, dan tugas kita saat ini adalah untuk bisa ke dunia manusia dan bergabung dengan mereka, karena mereka juga menggunakan kostum seperti kita" ucap Monster Sea Dark."Maksud kamu, kostum ini sangat nyata?" tanya Adisha kembali"Iya, kita adalah monster yang keren" ucap Monster Sea Dark padanya.Adisha melihat ke sekeliling ruangan, ada Monster Big foot sedang berjoget di lantai dansa dengan Monster Nght Creeper, ada juga Monster Scary princess dengan kepala bergelantungan dan memakai baju ballerina.Adisha seperti merasa dia masuk ke dunia monster"kamu tahu Witch" sapa Dark Vampire kepadanya"Tidak, aku tidak tahu apa - apa" jawab Adisha"Sebentar lagi jumlah kita akan terus bertambah, apalai kalau kostum yang dijahit oleh manusia ini dipergunakan sampai tengah malam, maka manusia - manusia itu akan menjadi monster seperti kita" ucap Dark Vampire"Maksudmu, kostum yang tadi dijahit" tanya Adisha"iya betul sekali" jawab Dark VampireAdisha tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sepertinya toko bapak tua tadi adalah toko kutukan yang bisa memberikan hal - hal buruk kepada orang yang memakai kostumnya."Bagaimana cara menghentikannya?" tanya Adisha"Maksudmu?" tanya Dark Vampire"Bagaimana caranya aku menghentikan semuanya, supaya manusia itu tidak menjadi monster seperti kita" tanya Adisha"Ya jangan pernah memakai kostumnya" jawab Dark Vampire singkat.Dan tiba -tiba Adisha merasa ada yang menarik tangannya untuk berdansa, "ayolah witch kita berdansa dimalam ini" dan Adisha melihat monster night creeper sedang menariknya ke lantai dansa."maaf aku tidak bisa berdansa" jawab Adisha"Tidak mungkin, kamu adalah juara setiap tahunnya" ucap nght creeper kepadanyaDan Adisha berusaha menarik tangannya dari Monster Night Creeper, dan seetlah itu Adisha segera berlari menjauh dari arena dansa tersebut, dan keluar ruangan tersebut, tiba - tiba dia kaki Adisha tersangkut batu besar dan terjatuhSampai detik itu Adisha belum sadarkan diri, sampai terdengar sayup - sayup suara memanggil nama Adisha"Adisha...adisha..." dan suara ibu akahirnya menyadarkan Adisha"Ibu" ucap Adisha"Iya nak, tadi kamu pingsan saat terjatuh didepan pintu kamar mandi, kamu harus cepat bangun, pelanggan kamu sudah banyak yang datang untuk mengambil jahitannya"Adisha mulai duduk dan terbangun dari tempat tidur dikamarnya, dan pelan - pelan mulai berjalan menuruni tangga dan melihat banyak orang yang sudah menunggu untuk mengambil kostumnya.Dan Adisha masuk ruangan jahitnya, dan dia melihat semua kostum yang diciptakannya melihat kepadanya seolah - olah kejadian tadi benar - benar nyata, dan Adisha segera menutup kembali pintu tersebut."Maaf ya semuanya, kostumnya da yang rusak sehingga tidak bisa diambil, maaf sekali lagi, mungkin untuk kostum Halloween saat ini saya tidak bisa menjahitnya" ucap Adisha"Yah mbak Adisha kok dadakan banget bilangnya, katanya sudah selesai" ucap salah satu pelanggannya"Iya sekalli lagi maaf" kata AdishaAkhirnya pelanggannya pergi dengan rasa kecewa, dan Adisha pun sangat sedih, khawatir kalau mereka tidak akan mau menjahit lagi kepadanya, tetapi saat ini Adisha tidak ingin mencelakakan mereka semua, dan itu lebih penting dari segalanya.Dan malam itu Adisha segera membakar semua kostum yang dijahitnya, "saat ini dan kedepannya aku berjanji tidak akan mau menjahit baju Halloween lagi" ucap Adisha dalam hatinya.
HOROR OJEK PENGKOLAN
Hari ini Sita buru - buru untuk berangkat ke kantor, ada presentasi penting yang harus dihadiri hari itu dikantornya"Sita, kok gak sarapan?" tanya ibu"nanti aja bu dikantor, lagi buru - buru" jawab Sita"Ya sudah hati hati ya" ucap ibu"Iya bu, berangkat ya, Assalamualaikum" sambil menutup kembali pintu rumahnyaSita menengok kanan kiri, biasanya banyak tukang ojek sekitar sini, karena Sita buru - buru akhirnya diapun berjalan ke gang depan, disana banyak tukang ojek pengkolan.Dan ternyata hari itu lumayan ramai tukang ojek yang mangkal disana"Bang ojek bang" ucap Sita"Man... man giliran lo tuh" kata Bang Pei, ojek senior disana"Iya bang" kata Rahman "Ayu Neng" kata Bang Rahman kepada Sita"Ayu Bang, kantor Rajawali di kuningan ya bang, saya buru buru nih" ucap Sita"Oh gitu neng, ya udah karena jauh pakai helm dulu neng" kata Bang RahmanKebetulan Sita lumayan akrab dengan tukang ojek disana, sehingga tukang ojek tidak akan memberi tarif tinggi kepada Sita"Neng Sita, ngapaian jam segini buru - buru ke kantor?" tanya Bang Rahman sambil membawa motornya sedikit kencang"Iya bang, saya mau ada tamu , buat presentasi" jawab Sita"Presentasi? ngapain tuh neng?" tanya bang Rahman polos"Hemm... Presentasi itu ngobrolin kerjaan bang, kalau sampai goal, saya kan dapat bunus bang" Jawab Sita sambil bercanda"Wah neng Sita mah keren, udah cantik terus pinter lagi" ucap Bang RahmanDan akhirnya kantor Sita sudah terlihat didepan matanya, Bang Rahman memang ojek yang cekatan, dia bisa membuat Sita sampai kekantor tepat pada waktunya."makasih ya bang" ucap Sita sambil memberikan uang lima puluh ribuan"Ya neng, masih pagi, abang belum ada kembalian" kata Bang Rahman"Gak Usah dikembaliin bang, nanti bang Rahman jemput aku lagi aja ya jam satu siang" kata Sita"Oh Gitu neng, oke deh, siapppp" kata Bang Rahman sambil tersenyum kepada Sita"Selamat pagi mba" sapa Pak Satpam kantor kepada Sita"Pagi juga pak" kata Sita "Pak Bowo sudah datang pak?" tanya Sita"Baru saja mbak, sebelum mba Sita datang" ujarnyaDan Sita masuk kekantornya, mengarah ke meja dan mempersiapkan segalanya untuk presentasinya nanti."Sita, kamu sudah datang?" tanya Pak Bowo dari depan pintu"Sudah pak, semua materi presentasi sudah siap pak" jawab Sita"Bagus" jawab Pak BowoDan akhirnya pertemuan hari itu berjalan dengan lancar PT. Kharisma Tiara tertarik dengan presentasi yang Sita ajukan dan Pak Bowo sangat puas dengan hasil tersebut."Pak Bowo, saya izin pulang siang ya pak" ucap Sita"Oh begitu, baiklah Sit silahkan, oh iya terima kasih ya kamu sangat baik presentasi hari ini" ucap Pak Bowo memuji.Sita pun mengarah keluar gedung, dia sudah mencoba menelepon Bang Rahman, bahwa dia menunggu ditempat tadi, tapi beberapa kali misscall tidak diangkat - angkat"Apa Bang Rahman lupa?" fikir SitaDan Sita pun mencoba sms Bang Rahman untuk mengingatkan lagiTidak berapa lama, sms Sita pun dibalas"Ya, tunggu saja" sesimple itu balasan bang Rahmandan ternyata benar saja, tidak lama dari sms tersebut Bang Rahman sudah sampai didepan Sita"Bang Rahman lupa ya?" tanya Sita "kok lama datangnya" gerutu Sita sambil cemberutBang Rahman hanya diam saja tidak menjawab apa - apa, akhirnya malah Sita yang merasa bersalah, khawatir bang Rahman tersinggung dengan perkataannya"Bang Rahman hari ini aku sukses, presentasiku berhasil" ucap Sita membuka pembicaraanTapi bang Rahman tetap diam saja"Bang Rahman kita makan yuk di depan ada Restaurant sunda, nanti bang Rahman aku traktir" ucap Sitabang Rahman juga hanya terdiam saja, dan memberhentikan motornya di depan restauran tersebutAcara makan siang itu sangat aneh, karena bang Rahman hanya diam saja, sama sekali tidak bersuara, Sita merasa sedikit aneh, tapi mungkin itu hanya perasaan Sita saja.Akhirnya Sita pun pulang dan sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam saja. Dan sampailah Sita didepan rumahnya."Makasih ya bang" ucap Sitatetapi Bang Rahman hanya diam dan pergi begitu saja"Assalamualaikum bu" Ucap Sitatetapi tidak ada jawaban dirumah, ibu tidak terlihat dan karena Sita sangat lelah jadi Sita langsung masuk kekamarnya, dan tidak terasa Sita bangun setelah sore."Sita kamu sudah pulang dari tadi" tanya ibu didepan pintu kamar"Iya bu, dari tadi sudah sampai kok" jawab Sitalalu Sita bangun dari kasur dan menuju ke ruang makan"Ibu kemana tadi, kok gak ada pas aku pulang" tanya Sita"Ibu habis melayat" jawab Ibu"Melayat? siapa yang meninggal bu?" tanya Sita"Itu lho Sit, Bang Rahman tukang ojek pengkolan didepan, tadi pagi dia kecelakaan sama mobil truk didepan jalan besar sebelum komplek sini" jawab IbuSita yang sedang menelan tempe, langsung tersedak"Bang Rahman?" tanya Sita"Iya" jawab Ibu"bang Rahman tukang ojek bu" tanya SIta lagi meyakinkan"Iya, bang Rahman siapa lagi yang jadi ojek kan cuma satu" jawab ibu sdikit kesal"Tapi gak mungkin bu" jawab Sita"Lho kok gak mungkin, gak boleh gitu Sita, itu namanya takdir apapun mungkin" jawab Ibu"Tapi bu, tadi pagi aku diantar bang Rahman kekantor dan siangnya juga aku dijemput sama bang rahman" ucap Sita bingung dan panik"Lho kok bisa, gak mungkin Sita, Bang Rahman meninggalnya jam sembilan pagi, atau mungkin dia kecelakaan setelah mengantarmu pagi tadi" jawab Ibu"Tapi siangnya aku dijemput lagi bu, malahan aku ajak dia makan di restoran dulu" ucap Sita sambil mengingat kejadian tadi siang"Tapi....""Tapi apa SIta?" tanya ibu"Tapi Bang Rahman pas siang tadi memang aneh bu, dia hanya diam saja, gak bersuara sama sekali, tapi ih,,,, ibu aku jadi takut" ucap Sita"Astagfirullah, coba kamu cepat wudhu dan sholat Sita, ibu juga jadi merinding" ucap IbuDan Sita kembali kekamar untuk sholat, sebelum sholat dia melihat kembali handphonenya, disitu dia melihat sms balasan Bang Rahman tepat pukul 2 siang tadi.____________________******************____________________________________
HOROR KEKASIH BAYANGAN
Prada hari ini sedang menuju ke sekolah, dengan motor vespa bututnya, dia menyusuri jalan kota Jakarta menuju ke sekolahnya, Prada berkhayal dengan kejombloannya yang sudah tingkat akut, dan belum pernah merasakan pacaran sekalipun, dia sangat menginginkan memiliki pacar yang cantik, dan pengertian seperti kebanyakan anak - anak lainnya.Dia berkhayal, pacarnya nanti memiliki rambut panjang, kulit putih dan hidung yang mancung dengan tubuh semampai, karena khayalannya Prada tidak menyadari kalau ada orang yang mau menyebrang jalan lewat didepannya, dan seketika itu pula khayalannya hilang dan Prada mengerem motornya dengan sekuat tenaga, tapi sayang walaupun Prada berhenti tepat pada waktunya tetapi orang yang ditabrak nya jatuh karena kaget terkena ban depan motornya.Prada langsung mematikan motornya, dan turun untuk melihat kondisi orang yang ditabraknya."Maaf, kamu tidak apa - apa" tanya PradaTernyata seorang gadis, dan gadis itu diam saja tidak berbicaraPrada membalikkan gadis yang ditabraknya ke depan, betapa kagetnya Prada ternyata wajah gadis itu sama persis seperti gadis yang dikhayalkannya"mba.. bangun mba.. "Prada menepuk - nepuk pipi gadis itudan perlahan - lahan gadis itu pun terbangun"Aduh sakit" jawab Gadis itu"Maaf ya mba, saya bener - bener gak sengaja, mba gak apa apa?" tanya Prada sekali lagi"Iya.. gak apa apa kok, cuma sedikit pusing aja" jawab Gadis itu"Mau saya bawa ke RS mba?" tanya Prada bingung"Gak Usah mas, aku baik - baik saja kok" jawab Gadis itu"Oh ya sudah, kamu mau aku antar ke rumah?" tanya Prada lagi"Jangan mas, saya harus ke sekolah, ini hari pertama saya ke sekolah" jawab Gadis itu"Oh baik, nanti saya antar, kamu sekolah dimana?" tanya Prada"SMU Insan Mandiri Mas" jawab Gadis itu"serius, itu kan sekolah saya mba, mba kelas berapa?" tanya Prada"Kelas 2 7 mas, ini hari pertama saya masuk sekolah, saya baru pindah dari Bandung" jawab Gadis itu"Oh kebetulan sekali mbak, ayu bareng saya, saya juga kelas 2 7 kita nanti akan sekelas bareng mba" ucap Prada"Oh iya... boleh mas, maaf ya aku yang ceroboh gak hati - hati" ucap gadis itu"Justru saya yang lagi bengong mba, maaf sekali lagi, oh iya nama saya Prada" sambil memberikan tangannya untuk salaman"Says Inggrid" Ucap gadis ituDan mereka menaiki motor vespa butut prada dan segera berangkat ke sekolah.Ada rasa senang melihat Inggrid, karena sepertinya bukan suatu kebetulan gadis yang diimpikannya bertemu dengannya hari ini.Saat tiba disekolah Prada mengajak Inggrid kekelasnya, beberapa teman melihat mereka berdua dengan pandangan aneh"Dasar orang sirik, gak boleh memang aku jalan sama cewek cantik kaya Inggrid" fikir pradaInggrid termasuk anak yang pemalu, seharian itu dia hanya mau menempel kepada Prada, kekantin, ke perpustakaan dia tidak mau berbaur dengan anak - anak lainnya, justru dengan sikap Inggrid yang seperti itu membuat Prada merasa dibutuhkan, dan ingin melindungi Inggrid.'Keesokannya Prada berjanji pada Inggrid akan menjemputnya ditempat kemarin mereka bertemu, dan berangkat ke sekolah bersama.hampir satu minggu Inggrid masuk disekolah, dan kedekatannya ke prada semakin bertambah, Prada merasa dia dan Inggrid seperti tidak dapat terpisahkan.Suatu Hari Prada disuruh Bu Guru, untuk ikut classmeeting setelah sekolah, Prada bagus sekali bermain bola Volli, dan Prada meminta kepada Inggrid apakah tidak keberatan menunggunya sebentar untuk ikt perlombaan.Dan Inggridpun senang menunggu Prada bermain, dia duduk sendiri dipojok lapangan sambil menunggu Prada bermain, Prada jadi bersemangat, dai melihat ke sisi Inggrid dan tersenyum, dan Inggrid balas senyum padanya, inilah rasanya punya pacar, ada yang memperhatikan fikir prada, dan Prada sudah berniat saat pulang akan menembak Inggrid untuk menjadi pacarnya.Dan setelah lomba tim sekolah mereka menjadi juaranya, Prada berganti pakaian dan menghampiri Inggrid di sisi lapangan, Inggrid memberikan minuman untuk Prada yang sangat haus selepas bertanding, dan Prada duduk disebelah Inggrid.Beberapa kali Prada melihat temannya menghampirinya dan mengajaknya pulang bareng."Iya kamu duluan aja" ucap Prada "gue lagi ada urusan"Lalu Prada melihat ke arah Inggrid"Grid, makasih ya kamu sudah mau nungguin aku, dan udah semangatin aku" ucap Prada"Sama sama Prad, aku seneng kok lihat kamu ikut lomba" jawab Inggrid"Grid, aku mau tanya sesuatu boleh nggak?" ucap Prada"Boleh kok, ada apa?" jawab Inggrid"Kamu ngerasa gak sih, kita udah deket banget akhir - akhir ini, aku seneng banget sama kebersamaan kita, kamu udah bisa buat aku nyaman" ucap Prada"Maksud kamu?" tanya Inggrid"Aku mau kita lebih dari teman" jawab Prada"Maksud kamu?" tanya Inggrid sekali lagi"Iya kamu mau gak jadi pacar aku?" tanya Prada"Kamu serius?" tanya Inggrid"Iya serius" jawab Prada deg degan"Aku mau kok" jawab Inggrid sambil tersenyum"Horeee.... aku gak jomblo lagi" teriak PradaTiba - tiba Bu Inge mendekati Prada"Prada bisa ikut ibu ke ruangan ibu sebentar" ucap bu Inge"Ada apa ya bu?" tanya Prada"Ibu mau bicarakan sesuatu hal kepada kamu" jawab Ibu Inge"Tapi..." belum selesai Prada berbicara"Sudah kamu ikut saja" jawab Inggrid"Serius kamu gapapa nunggu aku lagi?" tanya PradaDan Inggrid mengangguk tanda setujuLalu Prada mengikuti Bu Inge ke ruangan"Silahkan duduk Prada" ucap Bu Inge"Iya bu" jawab Prada"Kamu ada yang mau diceritakan kepada ibu" tanya Bu Inge"Tidak ada bu, saya baik baik saja" jawab Prada"Begini Prada, teman - teman kamu sudah banyak cerita sama ibu, tentang keanehan kamu, dan awalnya ibutidak menyadarinya, tapi hari ini ibu melihat langsung kamu sangat aneh" ucap Bu Inge"Aneh? kenapa saya aneh bu?" tanya Prada " Itu mah teman - teman saja yang iri sama saya bu, karena sekarang saya sudah punya pacar cantik" ucap Prada"Pacar?" tanya Bu Inge "Kamu sudah punya pacar?""Iya bu, Inggrid, anak baru di kelas, yang tadi nungguin saya dilapangan" jawab Prada sambil tersenyumBu Inge mengingat kelakuan Prada, dikelas dia sering berbicara sendirian, dan tadi dilapangan juga tidak ada siapa - siapa, tetapi memnag Prada seperti berbicara sendiri, memang ini sangat aneh"Prada, kelas kita tidak ada anak baru" jawab Bu Inge pelan"Dan tadi di lapangan tidak ada siapa - siapa kecuali kamu sendiri, justru itu yang ingin ibu biacarakan, kamu sangat aneh Prada akhir - akhir ini, kamu sering bicara sendiri, tertawa sendiri, bahkan kamu menjauhi teman - temanmu" kat a Bu Inge"Maksud Ibu, saya selalu bareng sama INggrid kok bu" ucap Prada"Inggrid? dikelas kita tidak ada yang bernama Inggrid Prada" Bu Inge sangat bingung"Iya bu Inggrid itu pacar saya anak baru disini" jawab Prada bingungBu Inge sangat khawatir, dan meminta Prada menceritakan semuanya, setelah mendengar cerita Prada, Bu Inge menelepon Orang Tua Prada dan meminta menjemputnya ke sekolah, dan menyarankan Prada dibawa kepada psikiater untuk membicarakan masalah Prada.Saat Prada ingin naik mobil bersama orang tuanya, dari kejauhan dia melihat Inggrid masih diposisi yang sama di lapangan tersenyum padanya, dan itulah terakhir Prada melihat kekasih bayangannya.
HOROR ISTANA HANTU
Hari ini aku dan sahabatku Eva sedang menunggu di stasiun, kami masih menunggu Sari dan Devi yang masih belum tampak batang hidungnya, kami berempat hari ini janjian akan travelling ke Jogja, dengan modal seadanya atau backpacker, kami sudah memesan tiket kereta api, dan juga sudah membawa ransel untuk keperluan kami disana.Namaku Ana, kami semua teman satu kelas di sekolah di SMU Kencana, dan saat ini masa liburan sekolah kami, karena kami sudah naik kekelas tiga, dan karena kami aktif diOrganisasi jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk meyakinkan orang tua kami perihal petualangan yang akan kami lakukan tanpa kehadiran orang tua.Karena ini perjalanan pertama tentu kami semua sangat antusias, apalahi Jogja terkenal dengan daerah yang seru dan ramah, terutama dengan makanan dan tempat tinggal yang tidak terlalu mahal untuk ukuran kantong kami, sehingga kami mulai merencanakan kemana saja kami akan berpetualang saat di Jogja nanti.Tentunya kami juga sudah mendapat referensi dari internet, tentang obyek - obyek wisata yang ada disana, sehingga kami tidak akan terlalu mengalami kendala yang berarti saat kami sudah sampai di tujuan.Akhirnya Sari dan Devi terlihat berlari kecil ke arah kami, sambil membawa tas ransel mereka"Maaf Ya terlambat, tadi supir angkotnya lelet banget" ucap Devi"Aduh kalian buat aku khawatir aja sih, takut ketinggalan kereta tau" jawabku"Iya iya maaf, sekali lagi" kata SariDan benar saja tidak berapa lama kereta kami sudah memasuki stasiun, dan kami langsung naik untuk meuju ke Jogja."Ih... seneng banget ya, akhirnya kita bisa jalan bareng berempat" ucapku antusias"Iya, bagaimana Sar, kamu kan bagian konsumsi, bekel makanan kita udah cukup kan" tanyaku"udah kok An, aku sudah masukin smeua di ranselku" ucap sar"Jadi nanti pas tiba di stasiun, pertama kali kita cari hostel murah dulu" ucapku"Yang Deket Malioboro ya Na, soalnya aku malam mau jalan - jalan disana, kan katanya macet kalau jauh - jauh" ucap Eva"Iya, nanti kita langsung ketujuan, kalau dari sini sih ada Pondok Kencana, tempatnya asri kalau dari foto - fotonya, dan budgetnya masuk banget, sehari hanya Rp. 50.000""Wah asyik tuh, kita akan berpetualang di Jogya teman - teman" Ucap EvaDan tibalah kami di stasiun, kami menaiki taksi yang berada disana untuk sampai ke hostel tersebutKesan pertama saat melihat Hostel Pondok Kencana, tempatnya sangat nyaman, asri karena masih banyak pepohonan dan juga lokasinya sangat strategis, bahkan kata penjaga hotel tersebut kami bisa berjalan kaki untuk sampai ke Malioboro.Kami memesan dua kamar, aku dan eva, sedangkan Sari satu kamar dengan Devi.Saat mau menaiki tangga, kami melewati area khusus dimana banyak sesajen disana dan gambar - gambar hiasan Nyi Roro Kidul"Wah pasti yang memiliki tempat ini sangat menyukai budaya dan Mitos" FikirkuSetelah beristirahat cukup lama, malam ini kami memutuskan untuk mengunjungi Malioboro terlebih dahulu, suasananya sangat hidup pada saat malam hari, dan kami semua mengikuti petunjuk jalan yang diberikan oleh Pak Yitno, penjaga Hotel.Dan benar sekali tidak sampai lima belas menit kami sudah melihat Malioboro dan keramaiannya, kemacetan terjadi sepanjang jalan karena jalan dan parkiran kendaraan yang banyak pada hari itu.Kami disana sangat menikmati foto - foto, berburu kuliner JOgja, banyak souvenir khusus dan juga atraksi - atraksi yang menarik, makanan khas Jogya dengan suasana pengamen jalanan betul - betul embawa kita seperti lagu KLA Project yang akan membuat kami kangen dengan suasana seperti ini.Dan tidak terasa dengan banyaknya kegiatan yang kami lakukan di Malioboro, ternyata waktu sudah menunjukkan jam satu malam, dan kondisi Malioboro tetap ramai"yuk pulang yuk, aku sudah ngantuk" ucap Sari"Iya, sebentar lagi, aku beli baju tidur dulu ya" jawab Eva"Dev, kamu inget kan jalan yang kita lalui tadi" Tanyaku"Hmmm kayanya deket deh na, gampang lah itu" jawab Devi sedikit sombongDan akhirnya Eva pun menemukan baju tidur yang diinginkannya, dan kami akan kembali pulang ke hostelSepertinya kami melewati jalan yang sama seperti yang kami lewati saat berangkat kesini, tapi kenapa sepertinya waktu lebih lama dan kami masih belum bisa tiba di hostelSuasana semakin gelap dan juga semakin sepi"Kok kita gak sampai - sampai sih na?" ucap Sari getir"Apa kita salah jalan ya?" tanya Eva"Aku juga gak tahu" ucapku"Tapi aku yakin ini jalan yang sama kok" kata Devi"tapi... kok jadi gelap dan sepi begini ya" ucap Devi kembaliTiba - tiba seperti ada semilir angin menerpa kami, lembut tapi membuat bulu kuduk kami merinding"Apa yang kalian lakukan disini" tanya seorang gadis berpakaian jawa kuno yang ternyata ada di belakang kami"Hmm.. maaf mba kami sepertinya tersesat, kami mau kembali ke hotel tapi kok jalannya salah ya" ucap Devi"Kalian seharusnya tidak berada disini" ucap gadis itu lagi"iya mba, bisa tolong kasih tahu hotel tempat kami" ucap sari"Ikut aku" jawab gadis itu dan dia berjalan didepan kamiakhirnya kami pun mengekornya karena tidak banyak yang dapat kami lakukan kecuali percaya kepada diaTiba - tiba kami melihat tempat yang sangat megah, seperti istana tepatnya terbuat dari emas dengan banyak lampu dan juga dekorasi yang sangat indah"Maaf, kita mau kemana ya?" tanyaku kepada gadis ituTapi dia hanya diam dan terus berjalan ke arah koridirSepanjang koridor kami hanya melihat warna emas dan hijau, semua orang yang kami temui juga memakai pakaian adat Jawa yang kental seperti prajurit.dan tibalah kami di pintu yang sangat besar dan terbuat dari emas"Masuk" jawab gadis ituDan kami pun menurutinya dengan masuk ke pintu tersebutDisana kami melihat ada singgasana yang sangat besar dengan warna emas dan hijau, ruangannya tertata apik dan juga terkesan mistis."Kami ada dimana ya?" tanyaku"Kalia telah berani untuk masuk ke dunia kami, jadi kalian harus bvertemu dengan Ratu kami, sehingga nasib kalian ada di tangan Ratu kami" ucap gadis itu"MaksudnyA?" tanyakuTiba - tiba dari sudut ruangan keluarlah wanita berparas sangat cantik dengan rambut hitam sampai ke mata kaki dan berpakaian kebangsaan jawa dengan mahkota dikepalanya"Siapa ini, Sri?" tanya wanita itu"Mereka manusia yang masuk ke dunia kita ratu" ucap gadis itu yang ternyata bernama sri"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Ratu"maaf Ratu, kami tidak bermaksud apa - apa, kami hanya mencari jalan untuk kembali pulang ke hotel tempat kami menginap" jawab eva"Kalian pasti melanggar atau berbuat hal yang salah samapi kalian terbawa ke alam kami: ucap ratu"salah?" kami semua melihat satu sama lain"Coba kalian ingat, karena selama kalian bekum bisa mengingat kesalahan kalian maka saya juga tidak bisa membantu kalian untuk kembali, dan jika sampai Fajr kalian belum bisa kembali maka kalian akan selamanya menjadi penghuni alam ini" ucap ratuUcapan Ratu membuat kami tertohok, kami memandang satu sama lain, apa yang kami lakukan sehingga kami bisa sampai disini.Walaupun ratu sangat baik dan cantik begitu juga dengan pengikutnya, tapi sepertinya aura yang menyeramkan sangat kental disini, kami pun mulai berdekatan dan mulai berdiskusi."Coba kita ingat - ingat lagi" tanyaku"Apa saja yang tadi kita lakukan?" ucap Eva"Apa kita tadi menyakiti orang atau binatang?" tanyaku"sepertinya tidak, kita makan, berbelanja, dan juga berfoto, dan ...." ucap Sari mengingat"apa karena kita foto - foto disembarang tempat, coba kita lihat lagi" ucapkudan kami melihat kamera yang kami gunakan sama sekali tidak ada tempat sakral atau tempat mistis yang kami gunakan untuk berfoto"Tidak ada yang aneh" ucapku"Lalu Eva belanja baju daster, dan...." aku berfikir sejenak"Oiya aku tahu...." ucapku"Apa... Apa" jawab teman teman"Kamu inget gak dev, tadi kan aku tanya kamu, Dev kamu inget jalan pulang kan?""iya" kata Devi"Lalu kamu inget jawaban kamu?" tanyaku"aku bilang.... gampang" dan Devi pun terkaget"Ya ampun maaf ya jawaban aku sombong ya..." kata Devi "jadi buat kita susah begini" devi mulai mengeluarkan air mata"ratu, kami sudah mengetahui kesalahan kami, maafkan kami karena sudah bersikap sombong di kampung halaman orang lain" jawabku"Untunglah kalian menyadarinya, kalian tahu sifat sombong itu adalah sifat yang dimiliki para iblis dan pasukannya, dan itu membuat manusia banyak menjadi buta dan merasa benar dengan dirinya sendiri, jangan pernah kalian ulangi lagi, banyak merendahkan diri dan selalu ingat dengan Tuhan kalian" ucap Ratu itu bijaksana"Baik ratu, mohon kemablikan kami" ucapku"Kalian silahkan ikuti Sri kembali ke jalan yang tadi kalian lewati, Sri akan mengantar kalian kesana" ucap RatuDan akhirnya kami mengikuti Sri ke tempat dimana kami bertemu tadi"Kalian jalan lurus saja, jangan pernah menengok ke belakang apapun suara yang akan kalian dengar, terus saja berjalan lurus" uacp Sri kepada kami dengan wajah tegasDan kami mengikuti ucapan SriTerdengar Petir menggelegar, suara auman binatang buas seperti ingin menerkam kami, tapi kami semua mengingat kata - kata Sri tadi kami tidak boleh melihat ke belakang dan terus berjalan lurus, dan akhirnya kami melihat lampu dan pondok yang kami inginkan"Akhirnya" Ucapku"Alhamdulillah" ucap kami serentakdan kami saling berpandangan ke arah satu sama lain"Liburan kali ini petualangan kami sangat luar biasa" ucap kami bersamaan
HOROR MANTAN PACAR
Delisa sangat gelisah hari itu, dia bersiap - siap berganti - ganti baju, bolak balik dicocokkan ke badannya, dan masih saja belum menemukan baju yang pas untuk dipakainya ke acara reuni sekolah SMAnya.Saat ini sudah hampir sepuluh tahun Delisa lulus dari SMA dan saat ini dia sudah bekerja di salah satu perusahaan Advertising di Jakarta, Delisa sangat antusias banyak sekali kenangan pada saat di SMA, terutama dengan teman yang sudah lama tidak dijumpainya.Gedung Assel, adalah gedung pertemuan acara REuni SMA Cakra angkatan 2007 dan diacara ini dibuat tema, prince and princess Reunion, jadi harus memakai baju pesta yang glamour dan yang pria memakai jas atau tuxedo, pasti acara akan sangat meriah fikir Delisa.Delisa menggunakan Taxi menuju kesana, karena beberapa temannya Angel dan Debi juga berangkat dari tempat yang berbeda jadi nanti mereka langsung janjian pada saat acara, dan saat Delisa tiba suasana sudah cukup ramai dengan banyaknya teman - teman yang sudah hadir, dan Delisa pun turun dari Taxi dan menyapa orang - orang yang ditemuinya."Hai Del, apa kabar?" ucap Rina"Hi Rin, kabar baik, kamu juga apa kabar?"sapa Delisa berbasa - basihampir beberapa wajah yang dikenalnya tapi tidak terlalu akrab disapanya dengan kalimat standar tadi, dan akhirnya dia menemukan wajah - wajah yang dicarinya."ANgel.... Debi..."teriak Delisa sari jauh"Delisaaaaaaa" ucap angel dan Debi berbarengan"Ya ampunnnnn lama banget ya kita gak ketemu, miss you" ucap Delisa sambil berpelukan dan cium pipi kanan dan kiri:Delisa, apa kabar lo? gimana dah ada cowok sekarang? apa masih jomblo? " Tanya Angel nyerocos tidak berhenti"Aish... lo ya, lama ga ketemu malah ngatain gue jomblo" jawab Delisha dengan nada manja"Tau nih Angel, kaya lo punya cowok aja" ejek Debi ke AngelDan saat itu mereka bercerita banyak hal, tentang kehidupan mereka masing - masingTiba - tiba ada satu wajah yang menarik perhatian Delisa"Eh lihat deh, itu Bowo bukan sih?" tanya Delisa"Bowo siapa? Bowo mantan lo ya?" tanya ANgel"Bowo item, kok sekarang bersih" ucap Debi heran"Iya itu Bowo, sekarang udah rapih dia, kayanya udah sukses deh jadi bisa ngerawat diri" ucap Angel lagiDelisa tidak dapat berkata - kata matanya hanya tertuju pada Bowo dan mengagumi Bowo dari kejauhan, tabi tiba - tiba sosok itu mendekat."Hi Del" sapa Bowo"HI juga wo" jawab Delisa"Seneng bisa ketemu lo di acara ini" ucap Bowo dengan jas hitamnya"Eh iya, gak nyangka ya, bisa ketemu lo lagi"jawab Delisa gugup"Apa kabar? kerja dimana sekarang?" tanya Bowo mencairkan suasanaDan akhirnya mereka bertukar cerita berdua, dan sepertinya mereka larut dalam kenangan masa lalu mereka.Keesokan harinya setelah acara Delisa mulai sering komunikasi kembali dengan BowoBiar bagaimanapun rasa cinta ke Bowo masih ada, itulah yang Delisa rasakan dan sulit untuk melupakannya.Dan Bowo mulai sering main kerumah Delisa, menjemputnya atau sekedar makan siang.Satu sore saat Delisa makan dengan Bowo di sebuah Kafe, Delisa melihat ada yang aneh dengan Bowo dia seperti terlihat ketakutan."Kamu kenapa wo?" tanya Delisa"Maksudnya?" jawab Bowo"Kamu gemetaran, seperti ada yang kamu takuti" ucap Delisa"Tidak ada apa - apa" jawab Bowodan mereka tidak membahas hal itu lagi, hanya melanjutkan makan sajaSaat Bowo menurunkan Delisa dirumahnya, tiba - tiba saat Delisa dadah ke Bowo, dia melihat ada bayangan wanita dibelakang mobil Bowo dan dia melihat ke arah DelisaSeingat Delisa, tadi hanya dia dan Bowo saja berdua di mobil, wanita itu siapa? fikir Delisa, dan Delisa menjadi gemetar memikirkannya.Keesokannya Bowo datang lagi menjemputnya untuk nonton, saat di mobil Delisa menanyakan kejadian aneh tersebut ke Bowo"Kemarin aku lihat ada wanita di belakang mobil kamu" ucap Delisa"Wanita? kan kamu tahu kemarin kita hanya berdua saja" ucap Bowo."Iya, Justru itu, wanita itu jelas sekali melihat ke arah ku" ucap Delisa"Sudahlah mungkin itu hanya fikiran km saja" ucap Bowo menenangkanHari itu bioskop tidak terlalu ramai, jadi Delisa dan Bowo mendapatkan tempat yang cukup sepi di baris ketiga, dan saat film tengah berlangsung tiba - tiba Delisa melihat ke samping ke arah Bowo, dan sekali lagi Delisa melihat wanita itu ada disebelah Bowo dan mata wanita itu menatap Delisa lagi.Delisa memegang tangan Bowo pelan - pelan"Bow, coba km lihat sebelah kiri kamu deh" ucap Delisa"Kenapa?" kata Bowo sambil melihat sebelah kirinya"Tidak ada apa - apa" ucap Bowo hanya bangku kosong sajaDelisa tahu sepertinya hanya dia yang bisa melihat hantu itu, dan seakan hantu itu ingin memberitahunya sesuatu.Saat pulang Delisa melihat ke kaca spion, dan Delisa sangat kaget hantu wanita itu lagi sedang duduk dan menatapnya."Bowo, kamu kenal gak sama cewek rambut sebahu, kulitnya putih dan ada tahi lalat di matanya" tanya DelisaTiba - tiba Bowo memberhentikan mobilnya, dan melihat ke arah Delisa"Maksud kamu, kamu kenal dengan Santi?" tanya BowoDelisa kaget melihat perubahan Bowo"Apa yang kamu ketahui tentang Santi?" tanya bowo sekali lagi sambil memegang wajah Delisa dengan kasar"Aku.. aku tidak tahu, tapi wanita itulah yang mengikuti kamu terus dari kemarin" ucap Delisa ketakutan"Benarkah, omong kosong, pasti kamu tahu kalau aku sudah membunuh Santi, iya kan?" ucap Delisa"Membunuh... maksudmu.." Delisa sangat ketakutan"Iya, Santi adalah mantan aku saat SMP, kemarin aku juga bertemu dengannya di acara reuni, dan kami mulai berhubungan lagi, tetapi dia marah saat mengetahui aku sudah memiliki istri, dan dia mengancam akan memberitahu istriku apa yang terjadi, dan aku membununhnya di mobil ini, sama seperti kamu, yang terpaksa harus aku akhiri saat ini juga" ucap Bowo dengan wajah kejamnya"Istri... maksud kamu, kamu sudah beristri, lalu buat apa kamu mendekatiku Bow?" tanya Delisa sambil menangis"Ya karena aku tahu kamu masih menyimpan rasa kepadaku, dan aku tidak akan membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja" ucap Bowo menyeringai"Bowo... tolong jangan sakiti aku, aku tidak akan marah kepadamu" ucap Delisa"Tidak bisa, kamu sudah mengetahui perbuatanku kepada Santi, aku tidak akan mau dipenjara" ucap Bowo kasar, sambil mencekik Delisa.."Arggh..." Tolong lepaskan teriak Delisa"Bowo mencekik semakin kencang"Tolong..." Teriak Delisa dan Delisa merasakan lehernya tercekik dan pernafasannya mulai sulitTiba - tiba, setir mobil bergerak sendiri, Bowo kaget dan melepaskan cekikannya kepada DelisaDisitu Delisa melihat ada kesempatan emas untuk melarikan diri, dan disana dia langsung menendang kaki Bowo, dan segera melarikan diri dari mobil nyaDelisa berlari dan akhirnya melihat ada taxi yang lewat, dan menyetopnyaBersyukur Delisa selamat dari kekejaman Bowo, sang mantan pacar. Delisa langsung menceritakan semua kejadiannya kepada orang tuanya saat sampai dirumahdan tidak lama berselang polisi segera menangkap Bowo di rumahnya, dengan barang bukti yang ada dalam kasus pembunuhan Santi.Sore itu saat Delisa nonton di depan TV, ada bunyi notif dari handphonenya"Reuni Kampus Heksa... ayu datang dan ramaikan""Reuni??" fikir Delisa
HOROR FOTO SELFIE
Amara adalah seorang gadis berusia 14 thn, kulitnya yang putih dengan rambut panjang ikal dan postur tubuh yang tinggi, memang tidak sulit membuat dia menjadi idola di sekolah, bahkan cukup banyak teman cowoknya yang naksir dengan Amara.Amara sebenarnya gadis yang supel, dia ramah kepada siapa saja, jadi tidak heran jika Amara disenangi oleh teman - temannya, bahkan dia sering masuk ke dalam majalah sekolah untuk cover dan juga prestasi sekolahnya.Saat ini Amara sedang menikmati masa ABG nya, dan salah satu hobinya adalah mengikuti semua media sosial dengan aktif, seperti facebook, instagram dan media sosial yang sedang tren saat ini, tapi semua isi dalam post sosial medianya selalu dpenuhi foto - foto selfie cantiknya, banyak komentar yang memuji dan melike fotonya.Seolah - olah Amara merasa terobsesi dengan dirinya sendiri, dia menjadi semakin narsis dari hari ke hari, bahkan dia bisa mempost 40 foto dalam sehari, dan dia selalu merasa harus memamerkan wajah cantik yang dia miliki.Tapi ada kejadian aneh hari ini Pagi itu Amara bangun, dan langsung membuka handphonenya saat masih berbaring di tempat tidur, dan ternyata sudah banyak notif yang masuk ke handphonenya."Kak Amara kok mukanya blur gitu, ga kaya biasanya cantik dan segar" salah satu komen di instagramnya"Kak Amara, salah post ya, kok foto jelek gitu" ucap satu followernya"Kak.. itu Foto kakak atau foto...... hiiiiii serem" komen yang lainnyadan semua isi komen hari itu mempertanyakan foto yang Amara pasang"Saat Amara membuka foto yang dia post, memang wajah Amara terlihat sangat mengerikan, dan sepertinya itu bukan foto yang dia upload kemarinbulu kudu Amara langsung berdiri, dia tidak percaya kalau semua orang melihat dia denagn gambar seperti itu sangat menakutkan.Amara pun langsung menghapus foto tadi, dan bergegas ke kamar mandi"Mah.. Pah... Amara terlambat ga bisa ikut sarapan" ucap Amara sambil mencium pipi mamah dan papahnya"Amara ini kamu bawa saja rotinya" ucap Mamah sambil mendekati Amara dan menyerahkan bekal rotinya.Sesampai di sekolah, Amara duduk di bangku kelasnya dan Karyn teman sebangkunya datang menghampirinya."Ra, kamu lihat komentar foto kamu semalem ga?" ucap Karyn"Iya Ryn tadi pagi aku shock lihatnya, tapi aneh ryn sebelum tidur aku sumpah ga pasang foto itu, foto nya bagus kok, kenapa tiba - tiba jadi seperti itu" ucap Amara"Serius kamu? yakin fotonya bukan foto itu" ucap Karyn bingung"Nih kalau gak percaya, kamu lihat foto yang ada di handphoneku" ucap AmaraSetelah melihat dan membandingkan dengan foto yang di instagram dan foto yang ada di handphone Amara, karyn semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi, kenapa foto Amara sangat mengerikan seperti itu"Apa ada orang iseng yang hack foto aku ya?" tanya Amara"Oh iya, bisa jadi Ra, ada yang ga suka sama kamu kali, dan pernah sakit hati sama kamu" ucap Karyn menimpali"Iya lah Ryn, paling orang iseng aja ya" ucap Amara menenangkan dirinya sendiriSiang itu seperti biasa Amara istirahat sambil main dengan handphonenya, dan dia berfoto selfie disamping koridor sekolahnya dan post..."Tiba - tiba terdengar suara notif banyak yang masuk, dan Amara segera membukanya"Kak... itu dibelakang kakak serem banget""Ya ampun ada kunti..... kunti.... hiiiii""Kayanya kamu ada yg ikutin deh mba, dr kmrn foto horor terus"Dan masih bayak lagi komen lainnyaDan Amara langsung melihat kembali foto selfienyaDan ternyata benar ada sosok wanita dibelakang Amara dengan rambut panjang terjuntai dan memakai pakaian warna putih, dan sepertinya tangannya mengangkat ke arah Amara"Karyn.... karyn.. km sudah lihat foto aku" ucap Amara"Belum ra, aku lagi kerjain PR belum sempet lihat Instagram, kenapa Ra?""Ini ryn lihat deh, serem lagi" ucap Amara terbata bataKaryn memperhatikan dengan seksama foto itu dan dia langsung melihat ke arah Amara"Ra... kayanya kamu diikutin setan deh" ucapnya getir"Ryn terus aku harus gimana? aku takut" ucap Amara"Coba Ra kamu foto sama aku sekarang terus km post" ucap KarynDan Amara melakukannya dan dipostTiba - tiba semua notif masuk dan benar sajamereka ketakutan dengan gambar ituternyata ada bayangan hitam besar dengan wajah menyeramkan seperti genderuwo ada di belakang mereka berdua"Tuh kan Ra, aku bilang juga apa kamu banyak diikutin oleh mahluk gaib": ucap Karyn ketakutan dan melihat ke belakang yang tampak kosong tidak ada apa - apaMereka berdua langsung berlari ke ruang guru dan bertemu dengan Pak Gozali, guru agama mereka"Pak Gozali, tolongin saya" kata Amara"Ada apa ra?" ucap Pak Guru"Saya diikutin mahluk gaib pak, foto - foto saya selalu ada penampakan mereka" ucap AMara sambil memperlihatkan foto - foto instagramnya"Astagfirullah" ucap Pak Gozali saat melihat foto - foto ituLalu Pak Gozali membacakan ayat - ayat Al quran, sambil menyuruh Amara untuk pergi wudhu"Kamu sholat kan Ra?" tanya Pak Gozali"Jarang pak, malah hampir tidak pernah pak" ucap Amara"Sekarang, kamu harus rajin wudhu baca surat dan sholat, itu cara menjauhkan mahluk ini dari kamu, karena mereka tahu kamu lemah" ucap Pak Gozali "belum lagi hobi kamu foto selfie, ini juga tidak baik rasa suka yang berlebihan terhadap diri sendir bisa menjadikan kita orang yang sombong" kata Pak Gozali"kalaupun ingin berbagi moment sewajarnya saja" ucap Pak Gozali bijaksana"Iya Pak, Insyaallah saya mau berubah, saya juga tidak mau mereka mengganggu saya terus" ucap AmaraDan setelah sholat Amara dan Karyn merasa lebih tenang.Pulang sekolah hari itu, Amara ingin sekali memposting dirinya yang sedang di halte menunggu bus, tapi dia ingat kata pak Gozali dan mengurungkan niatnya."Aku ga boleh narsis lagi" ungkap Amara dalam hatinya.
Arasa
Aku sungguh mencintai pria itu, Yovan. Mati-matian aku menahan hatiku setelah mempertemukan mereka.Aku ingat sekali saat dimana aku dan sahabat terbaikku, Kalila janji bertemu di cafe melakukan rutinitas yang kami lakukan sebulan sekali sekaligus memperkenalkan calon suamiku kepadanya, benar kami memang dijodohkan tapi aku jatuh cinta sejak pertemuan pertama kami.Aku mengamati ekspresi Kalila dengan Yovan ada kilatan terkejut di dalam manik mata mereka, aku pikir itu hanya perasaanku saja. Hingga kejadian puncaknya adalah fakta bahwa mereka memang berkencan di belakangku.Aku membenci mereka tapi malam itu aku mendengar percakapan antara Yovan dan ibuku, satu sisi aku tidak terima namun sisi lain hatiku berkata cinta tidak bisa dipaksa bukan?Aku sangat menyayangi Kalila tapi aku juga begitu sangat mencintai Yovan. Tapi ternyata aku lebih menyayangi Kalila daripada Yovan sehingga memilih untuk membatalkan perjodohan dan merelakannya untuk Kalila.Aku juga tahu, Kalila sangat menyayangiku terlihat ketika dia frustasi saat aku tak berniat untuk menemuinya. Jujur aku memang tidak sanggup untuk bertemu dengannya dalam waktu dekat, jadi setelah aku mengatakan pada ibuku, aku menulis surat untuknya.Tadinya aku ingin sekali menghukum Kalila dengan perasaan bersalahnya hingga rasanya ia akan mati dengan rasa bersalah itu. Aku takkan membunuhnya karena aku masih memiliki rasa kasih kepadanya.Melihatnya menangis dan tampak kacau dibandara dengan pelukan hangat dari Yovan adalah pilihan yang tepat saat itu, aku senang melihatnya lega ketika ia membaca surat dariku, aku tak bebohong aku sungguh menyayanginya.Benar, aku melihatnya di bandara. Kata pamit ke London tak benar-benar ku lakukan, aku hanya berangkat pergi ke negara tetangga yang dekat yaitu Malaysia. Tidak buruk, karena memang aku butuh menenangkan hatiku yang tak baik-baik saja saat itu. Aku terlalu takut untuk pergi terlalu jauh.Jika ditanya bagaimana perasaanku saat ini maka jawabannya adalah aku baik-baik saja, sangat.Kata orang, obat terampuh dalam menyembuhkan luka hati adalah jatuh hati. Sebenarnya bahkan perasaanku sudah tak ada pada Yovan.Tapi kepada siapa hatiku harus berlabuh?Aku menghela nafas, memandangi pemandangan malam kota malaysia dari atap cafe. Tak ada yang istimewa, kecuali coklat panas ini.Mengingat beberapa kenangan masa lalu sembari memainkan jari diujung cangkir."Boleh bergabung?" tanya suara berat disampingku, aku menoleh pada pria itu lalu mengedarkan pandangan sekelilingku"Masih banyak tempat yang kosong" jawabku acuh.Pria itu tersenyum, mendudukkan tubuhnya di sampingku. Kenapa dia bertanya jika begitu.Aku hanya diam, kemudian menyesap coklat panasku perlahan. Ini sudah bulan ke 11 aku di negara ini, kira-kira Kalila apa kabar ya? Aku sungguh rindu padanya.Sekarang aku benar-benar menyadari hanya dia teman yang ku punya. Bahkan dengan keluargaku, aku lebih dekat dengannya."Apa kabar Cindy?" ucap suara pria itu, aku menoleh menaikkan alisku, bukan masalah tahu dari mana ia namaku, bukan.. Bukan karena aku tidak tahu siapa pria ini tapi kami sudah beberapa kali bertemu bahkan jalan bersama akhir-akhir ini tapi ada apa ia malam ini. Kemana sikap manisnya padaku beberapa minggu ini.Seakan mengerti pria itu tersenyum kepadaku lalu berucap "Teo. Aku pernah menghadiri acaramu bersama Kalila" jelasnya, aku memutar bola mataku dengan jengah.Ya, akhir-akhir ini aku memang dekat dengan pria ini, tapi beberapa hari tak bertemu dengannya membuat ia berubah malam ini.Aku berfikir sejenak berupaya mengimbanginya, dengan ekspresi, ya ampun dunia sesempit ini ya "Ah kau ternyata" balasku seadanya karena sikapnya seperti baru bertemu."Sebulan yang lalu mereka menikah, kau tahu?" tanyanya yang ku balas anggukan, nah apa karena hal ini dia begituAku tahu mereka menikah dan Kalila berharap aku datang namun aku masih enggan. Bukan karena aku belum memaafkan hanya saja aku masih belum ingin menemui mereka."Kau tidak hadir?""Kau sedang apa disini?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya aku malas membahas itu.Untuk kesekian kalinya, Teo tersenyum. Sungguh ia pria yang tampan aku akui itu."Tidak ada, hanya ada sedikit urusan"Setelah itupun hening, tak ada percakapan antara kami hingga suara Teo kembali terdengar "Besok malam ada acara?""Tidak ada""Kalau boleh, bisa temanin aku ke suatu acara?" ajaknya, nah kan ia selalu menemuiku kalau ada maunya setidaknya hanya itu kami bertemu. Aku tampak berpikir tapi kurasa boleh juga lagipula aku bosan sendiri melulu, dan aku juga mengenalnya. Setidaknya Teo pria yang baik, itu yang dikatakan Kalila saat itu.Aku mengangguk "Boleh. Pukul berapa?" jawabkuIa mengambil ponselku yang tergeletak di samping cangkir lalu mengambil jariku untuk membukanya, mengetikkan sesuatu dan tak lama ponsel di sakunya berdering kemudian dia berucap "Nanti aku hubungi, tapi besok harus berpenampilan cantik" ucapnya lalu tertawa, seakan tertular akupun tertawa mendengarnya.Ya aku baru ingat meskipun kami pernah beberapa jalan bersama di negara ini tapi faktanya kami saling tak menyimpan nomor ponsel. Lucu sekali.Kami juga bertemu tak sengaja lalu inisiatif pergi bersama seperti yang di lakukan Teo malam ini, bedanya ia ingat meminta nomor ponsel.Seperti ucapannya kemarin malam, malam ini aku sudah berada di suatu acara yang ternyata adalah suatu perayaan rekan kerjanya. Mungkin karena ini ia berada di sini.Sebenarnya aku tidak betah disini, bagaimana tidak pria diseberang sana terus saja memerhatikanku dengan tatapannya yang tak senonoh, aku tidak suka dilihat dengan pandangan demikian.Teo memegang tanganku sedikit merapatkan tubuhku padanya, aku melirik sedikit ke wajahnya yang sepertinya Teo mengerti keadaanku yang dipandang oleh orang itu." Are you okay? " tanyanya yang ku angguki.Tak lama ada seorang perempuan cantik, sungguh cantik sekali. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa minder, wajahnya bukan asli indonesia."Hai, Teo" sapanya sambil mencium pipi kanan kiri Teo yang ku lihat Teo sedikit risih."Hai, Jessi" balas Teo singkatNamun entah bagimana, tatapan wanita bernama Jessi itu padaku tidak terlihat menyenangkan. Ah mungkin hanya perasaanku. Lalu Teo mengenalkanku padanya."Mm.. Teo aku ke toilet sebentar ya""Mau aku antar?" tawarnya dan aku menggeleng setelah mengucapkapkan itu aku berjalan ke toilet.Ini sebenarnya hanya pelarian saja, aku membenahi riasan sedikit."Kamu pacarnya?" ucap wanita bernama Jessi yang datang langsung menanyaiku disini."Tidak" balasku singkat"Kalau begitu pulanglah. Teo akan pulang bersamaku" ucapnya sambil menajamkan tatapannya.Huh! Dikira aku takut. Aku ingat moment seperti ini, jika Kalila pasti sudah takut tapi aku tidak. Tidak sampai dia mengucapkan kata-kata sadisnya."Dibayar berapa dengan Teo?""Kau perempuan Psiko" balaskuDia mengangkat bahunya tanpa ingin mendengar kelanjutan ucapannya aku pergi meninggalkannya, malas meladeninya.Aku berhenti mengambil minuman yang di bawa pelayan itu dan menyesapnya perlahan, aku mengalihkan pandanganku menatap Teo di sana tangannya dilingkari mesra oleh Jessi. Ah kenapa mendadak rasanya di sini gerah sekali.Ini bagaimana ya? Aku pulang langsung begitu. Ah bodolah. Aku pergi saja.Aku mulai melangkahkan kakiku menuju keluar gedung ini, ini bukan negaraku mana aku tahu jalanan ini karena aku memang belum pernah menjajaki tempat ini.Mengikuti naluri aku berjalan perlahan baruku sadari ternyata tempat ini jauh dari keramaian.Tak lama aku berjalan ada dua orang lelaki yang sedang bercakap-cakap namun tak jelas, ragu aku melangkah.Namun ternyata pria ini mabuk, aku takut. Tidak hanya di Indonesia disini juga ada yang suka mabuk aku bergidik ngeri.Semakin mendekat, tatapan pria itu seperti menelanjangi tubuhku. Mama aku takut.Seketika aku tersentak kala sebuah tangan merangkulku "Diamlah.. Ini bukan negara kita" bisiknya aku menatap wajah itu.Ah Teo ternyata.Eh? Kok dia bisa tahu ya"Bagai..""Diamlah" ucapnya lalu ia mengajakku berlangkah cepat menuju ke mobil yang terparkir di gedung itu."Kenapa pergi tidak bilang?" ucapnya, aku hanya diam, rasanya lidahku kelu untuk berucap."Cindy, harusnya kamu bilang. Tidak meninggalkanku begitu saja. Coba saja aku tidak datang tadi."Baiklah.. Kenapa sekarang aku merasa seperti dimarahin pacarku ya. Tapi mendengar ia memarahiku sedikit dari sudut hatiku menghangat. Sedikit ini loh yaa.. Aku tidak berani mendeskripsikan lebih."Aku hanya..""Jessi?" potongnya dengan cepat, tanpa kata aku mengangguk.Menghela nafas, Ia mendekatkan tubuhnya padaku, sejenak tatapan mata kami bertemu. Mendadak jantungku berdetak lebih cepat dan hatiku berdesir kala melihat tatapan matanya.KlikBunyi selt belt terdengar membuatku menghela nafas yang tanpa sadar tadi aku sedang menahan nafas.Terdengar kekehan kecil dari bibir Teo, ia mengusap lembut puncak kepalaku yang menambah hatiku semakin berdesir. Lalu tangannya menyalakan mobil dan mulai melajukannya.Ah lama sekali aku tidak diperlakukan begini dengan pria. Apa karena alasan ini hatiku seketika berdesir?Kulay begitu ya, alias kurang belay.Rasa-rasanya terakhir kali aku diperlakukan begini sekitar empat atau lima tahun yang lalu bersama mantanku, itu juga aku tidak terlalu mencintainya.Yovan? Bahkan ia tidak pernah begitu, hubungan kami layak disebut teman mengingat hanya aku yang jatuh cinta saat itu.Beberapa minggu menghabiskan waktu bersama Teo tanpa diduga tidak terlalu buruk untukku. Aku bahkan sudah melupakan Yovan. Seperti imitasi ternyata perasaanku terhadap Yovan. Dan mungkin saja itu hanya obsesi semataku.Entahlah.."Besok aku kembali ke Indonesia. Ingin ikut?" tanya Teo sambil memegang kemudinya.Aku menimbang "Mungkin... Ah aku belum tau""Apakah kau akan menghubungiku nantinya?" tambahku dengan pertanyaan aneh iniTeo mengangguk sebelum menjawab "Tentu. Dan aku akan menunggumu di Indonesia" balas Teo sambil menghentikan mobilnya yang ternyata sudah sampai di hotelku."Terima kasih" ucapku mulai melepaskan selt belt dan keluar tapi tangan Teo menghentikan pergerakanku.Ia menarikku ke dalam pelukannya tanpa sepatah katapun ia mengusap rambutku dengan lembut.Hatiku semakin berdesir, tidak aku tidak boleh membawa perasaan begitu saja."Terima kasih sudah menemaniku disini" suaranya sedikit serak dipendengaranku, aku hanya mengangguk dengan irama jantung yang terus berdetak."Aku sungguh bahagia menghabiskan waktu denganmu" lalu melepaskan pelukannya padaku setelah mengecup puncak kepalaku.Aku terdiam dan ia tersenyum "Masuklah. Selamat malam, Cindy."Aku yang masih bingung hanya mengangguk dan bergegas turun melangkah menuju kamarku.Sudah seminggu semenjak kembalinya Teo ke Indonesia, ah kenapa aku menjadi tidak betah disini.Teo mengatakan akan menghubungiku tapi sudah seminggu kepulangannya kenapa ia tak juga kunjung menghubungiku?Rasanya aku merindukannya.. Atau karena aku terbiasa bersamanya.Aku kembali membaringkan tubuhku, biasanya aku juga sendiri tapi biasa saja kenapa sejak malam ini aku jadi terus ingin bertemu dengan Teo.Ku lihat jam yang terletak di atas nakas, sudah pukul 7 malam waktu setempat.Kacau.. Ini sungguh kacau.Aku mengambil ponsel, memesan tiket pada suatu aplikasi online untuk keberangkatan pulang ke Indonesia besok. Aku bangkit membereskan pakaian serta perlengkapanku.----Akhirnya aku sudah sampai di bandara Soekarno Hatta. Dari sini, aku tidak ingin langsung pulang ke rumah melainkan aku akan ke cafe sebentar.Hingga sampai di cafe, aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang amat kurindukan.Tangan seseorang di ujung sana melambai membuat aku tersenyum lebar. Benar, waktu dapat memperbaiki segalanya. Itulah yang terjadi padaku."Kalila..." ucapku sambil memeluknya erat. Ya tadi pagi aku menghubunginya dan meminta pertemuan ini."Maafin aku, Cindy""Kau bicara apa sih? Aku tidak ingat" melepaskan pelukan, dan balasanku pura-pura lupa apa yang terjadi. Well aku memang sudah melupakan kejadian yang lalu."Hai.." sapaan kaku pria itu, mantan calon suamiku, Yovan.Aku tersenyum lalu memeluknya singkat terdengar pria itu protes tapi ku abaikan, biarin saja Kalila marah.Kamipun akhirnya duduk, memesan makanan dan berbincang sesekali tertawa. Aku memandang mereka, keputusan yang ku ambil sangatlah tepat.Ah aku jadi ingin segera menemui Teo nantinya, tadi malam setelah merenung aku menemukan satu jawaban, bahwa aku mencintainya."Apa kau sedang dekat dengan seseorang?" tanya selidik Kalila padaku."Benarkah? Apa terlalu terlihat ya" balasku malu"Anak kecil juga tahu jika kau sedang jatuh cinta" balas Yovan ketus padaku yang langsung lengannya di senggol Kalila. Ah sepertinya dia agak kesal karena aku memeluknya tadi. Tapi memang begitu sih dia dari dulu padaku.Aku meletakkan pisau dan garpuku lalu menangkupkan kedua tangan di pipiku dan berucap "Sepertinya aku jatuh cinta sama Teo"Pisau dan garpu Kalila dan Yovan sama terhenti memotong steak. Bahkan terdengar Yovan mengumpat tertahan sedangkan Kalila terdiam dengan ekspresinya.Ada apa ini?"Kenapa?" tanyaku tapi mereka hanya diam, oh ayolah jangan begini."Ada apa? Ayo ceritakan" tuntutku pada Kalila "Kitakan sahabatan ayo ceritakan padaku" tambahku lagiKalilah menghela nafas, tampak ragu "Saat di Malaysia.. Kau bertemu dengannya, benar?" tanya Kalila ragu dan aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.Perasaanku mendadak melilit tidak enak "Aku tidak berhak menceritakannya tapi yang pasti, Teo akan menikah dua minggu lagi" jelas Kalila.Tanganku terkulai lemas mendengar penjelasan itu, bahkan lidahku rasanya kelu ingin menjawab apa. Aku baru saja jatuh cinta tetapi kenapa sudah begini lagi.Apa aku tidak pantas bahagia?Apa arti kata ia menungguku kembali dan apa juga artinya ia begitu manis padaku. Ahh aku ingat saat malam sebelum ke pesta, sikapnya memang berubah saat itu."Cindy.." panggil Kalila menyadarkanku, aku menyeka air mataku yang tak terasa turun."Kalila, bisa beritahuku alamat Teo" Kalila awalnya ragu tapi mengangguk dan memberikan alamat itu padaku, yang ternyata kami tinggal di apartemen yang sama dengan lantai yang berbeda.----Keesokan malam tiba, dengan ragu aku berdiri di depan apartemennya. Setelah ku pikir memang ada baiknya kami berbicara. Aku akan mengungkapkan bahwa aku mencintainya setidaknya aku berusaha, apapun keputusannya.Menekan bel beberapa saat, dan pintu terbuka menampilkan Teo dengan eskpresi sebal dan kalimat "Ada apa lagi sih Cla.." kalimatnya terhenti, ia menatapku dengan lekat-lekat lalu berkata "Eh.. Maaf Cindy""Hai.. Teo" balasku tersenyum dan ia juga tersenyum, mempersilahkanku masuk ke dalam apartemennya.Aku memperhatikan sekelilingku, apartemen dengan interior modern dilengkapi furniture yang membuat apartemen ini terlihat menawan dan nyaman, aku suka itu.Teo kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh "Kapan sampai?" tanyanya"Kemarin" balasku seadanya sambil menyesap teh itu mendadak tenggorokanku kering, aku ingin sekali mengungkapkannya tapi kenapa tiba-tiba perasaan aneh ini menyergapku, aku menautkan jari-jariku. Menimbang apa yang ingin ku katakan padanya."Aku baru tahu ternyata kita tinggal di apartemen yang sama"Aku mengangguk "hanya beda satu lantai" akuku padanya "Tapi saat ini aku tinggal di rumah mama" tambahku dan mulai memikirkan apa yang hendak ku katakan padanya. Aku bingung mengungkapkannya."Katakan saja, Cindy" ungkapnya seakan mengerti keinginanku.Aku sudah mulai mengatakannya tapi seketika aku menatap miniatur kincir angin di atas tv.Ya aku ingat kincir angin itu yang kami beli di Malaysia, saat itu ia membelikan aku yang kicirnya berwarna putih dan ia berwarna hitam. Menghiburku seraya berkata "Hidup itu seperti kincir angin ini, meskipun banyak terpaan angin tapi ia tetap berputar. Karena memang beginilah kehidupan kita, akan terus berputar" saat itu ekspresiku hanya memutar bola mata jengah karena kata picisannya.Tapi saat ini aku tersenyum menatap miniatur itu. Kurasakan tangan Teo menyentuh bahuku "Cindy, ada apa?"Mungkin ini saatnya, apapun yang terjadi seperti kincir itu kehidupanku akan terus melaju."Teo, aku mencintaimu" ucapku sambil menatap matanya, tapi pria itu hanya diam menatapku.Beberapa saat hening ia tersenyum dan mengusap puncak kepalaku tanpa jawaban, apa ini artinya dia tidak mencintaiku juga. Aku menggigit bibirku dengan gugup, mataku mulai memanas."Hei.. Jangan menangis" tuturnya dengan lembut."Maaf.. Seharusnya aku tak mengatakan ini padamu, aku tahu kau akan menikah bukan?" air mataku turun tanpa dicegah, "Aku pamit" baiklah aku mulai bangkit dan keluar dari apartemennya. Meninggalkannya tanpa kata, menghiraukan panggilan darinya.Saat ini memang tinggal di rumah mamaku lebih menyenangkan, setidaknya aku bisa memeluk mama nanti.Aku terus merutuki kebodohanku kenapa bisa aku mengatakan itu padanya, aku takut. Bagaimana ini.Sudah seminggu ini juga aku di rumah mamaku, sedikit menyesal mengatakan itu pada Teo. Satu minggu lagi pria itu akan menjadi milik orang lain. Aku menghela nafas.Pintuku diketuk, mamaku masuk ke dalam kamarku. Sambil membawa gaun berwarna biru donker."Nanti malam pakai ini ya. Dandan yang cantik. Ingat! Awas kalau tidak cantik" ucap ibukuAku merasa dejavu, ini seperti saat aku dijodohkan pada Yovan dulu. Aduh.. Bagaimana ini? Aku tuh maunya Teo."Maa... Jangan bilang ini perjodohan sialan lagi" rengekkuMamaku tersenyum "Ini hanya makan malam bersama keluarga rekan kerja papamu. Sekalian sih, jika kau tak suka pria itu jadi suamimu ya tidak masalah, mungkin tidak jodoh" jelas mamaku dan keluar dari kamarku.Oh baiklah ini terjadi lagi, masalah hati dengan Teo saja tak urung selesai dari hatiku, aku tidur beberapa saat sebelum bertemu dengan siapapun nantinya.Malampun tiba, akupun siap dan segera turun menemui mereka yang katanya sudah tiba.Terdengar suara mereka berbincang "Nah.. Ini anak saya, Cindy" kenal Papaku terhadap mereka"Wah.. Cantik sekali" jawab ibu itu dan aku tersenyum sambil menyaliminya tapi sungguh aku tak melihat pria muda atau anak mereka."Anak tante sebentar lagi sampai katanya" jelas tante Ningsih menjelaskanku"Assalamualaikum" suara bariton memasuki indera pendengaranku dan aku membelalak kaget melihatnya, ia tersenyum jenaka padaku"Teo" lirihku, aku bingung ada apa ini sebenarnya.Tanpa menghiraukan sekelilingku, aku menarik Teo menuju ke taman belakang."Coba bisa jelaskan padaku maksud semuanya" ucapku dengan tegas saat tiba di taman sambil menghentak tangannya dan aku duduk di bangku taman.Ia mengikutiku "Yang pertama, benar aku akan menikah...." ucapnya melihatku, ah ini aku sudah tahu "Tapi denganmu" aku menoleh dengan cepat"Maksudmu apa Teo? Kalila mengatakan kau akan menikah...""Dengarkan dulu.. Benar saat itu orang tuaku memang menyuruhku menikah dengan Clara, dan aku ke Malaysia juga sebenarnya mencari Clara yang kabur karena ia tak mau di jodohkan denganku. Lalu bertemu denganmu tanpa sengaja, menghabiskan waktu bersamamu sungguh membuatku bahagia. Aku akui, Awalnya aku menerima saja menikah dengannya sebelum aku tahu fakta kamu juga mencintaiku""Aku tidak mengerti" balaskuIa menghela nafas sebal "Intinya malam ini aku ingin melamarmu"Aku terkikik geli "Jadi Clara itu?" tanyaku"Aku sudah mengatakan padanya bahkan ia sangat senang untuk keputusanku" jelasnya lagi"Aku mencintaimu, Cindy. Minggu depan kita menikah""Huh? Kau baru saja melamarku atau membeli kerupuk enak banget ngomongnya" sungutkuIa tertawa lalu memelukku "Aku heran kenapa Yovan menyia-nyiakanmu tapi Kalila juga perempuan yang luar biasa sih"Aku mendengkus melepaskan pelukannya dan memukul lengannya "Kau baru saja memujiku atau menghinaku?" ucapku dengan sebal yang dibalas tawanya"Maaf.. Maaf.. Kamu perempuan yang hebat. Sampai aku kalah start mengungkapkan cinta" ucapnya sambil tertawa lagi yang membuatku malu dan ia menarikku ke dalam pelukannya"Teoo" rengekku"Iya.. Iya minggu depan kita menikah" godanya lagi padaku.Sesaat kemudian, ia melepaskan pelukannya padaku. Menatapku lamat-lamat, wajahnya perlahan mendekat ke arahku bahkan aroma mint sudah menguar yang membuatku refleks memejamkan mataku, nyaris saja bersentuhan sampai terdengar deheman dan ucapan ayah Teo berkata "Iya.. Iya minggu depan menikah" lalu mereka tertawa dan menghilang di balik pintu meninggalkanku dengan rasa malu dan Teo yang menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.End
Rana & Ray
"Pergi jauh kamu dari anakku""Kamu menghancurkan masa depannya""Kamu menghancurkan harapan kami""Saya mohon, saya akan berlutut di kaki kamu agar kamu meninggalkan Raydan, Kirana"Mimpi buruk itu masih terus datang, meskipun sudah tujuh tahun berselang, dan rasa sesak juga sakitnya tak pernah berkurang apalagi menghilang.Mereka tidak sadar bukan hanya anaknya yang kehilangan masa depan, bukan hanya anaknya saja yang hancur, dirinya kehilangan lebih daripada siapapun.Di tampar sang ibu dan di usir sang ayah, malam itu ia hendak mengadu pada Raydan, tentang bayinya tentang pengusirannya, namun yang ia dapat ternyata lebih pedih daripada keluarganya, bukan Raydan yang ia temukan namun pengusiran dan penghinaan kembali yang ia peroleh.Gadis 18 tahun yang kehilangan segalanya karena mengandung bayi berusia 5 minggu, kesalahan karena terlalu bebas berpacaran, terlena karena rayuan hingga akhirnya dia ditinggalkan."Mami... Bangun mami."Sebuah gedoran terdengar di pintu kamarnya, melihat jam di nakas baru pukul 05.30 pagi tapi pasti si kecil Kimi tengah menagih susu hangatnya di pagi ini.Kimora, gadis kecil berusia 6 tahun yang baru memasuki sekolah dasar, gadis kecil yang tujuh tahun lalu orang-orang meminta untuk melenyapkannya, malu katanya, mencoreng nama baik keluarga, dan menghancurkan masa depan."Anak mami masih pagi udah berisik aja.""Ayam udah berkokok mami, matahari juga sudah mau keluar." Rengeknya dengan wajah cemberut lucu membuat Kirana tak tahan untuk menghujami wajah kecilnya dengan ciuman. "Mami berhenti, kalau enggak aku ngambek."Kirana tertawa mendengar ancamannya, entah bagaimana jika ia tujuh tahun lalu menuruti orang-orang untuk menggugurkannya, karena Kimi saat ini adalah dunianya, sumber kebahagiaannya, segalanya."Kimi mandi dulu ya, mami siapin susu cokelat sama sarapan pagi buat Kimi, oke!""Siap mami, Kimi sayaaaaang mami."Begitulah ia mengawali harinya, teriakan Kimi adalah penyemangatnya untuk berkutat dengan bakery yang telah dikelolanya selama tiga tahun, toko kue yang mengedepankan pesanan khusus kue-kue untuk pesta."Mbak Kiran, Bu Andini mengundang anda langsung untuk hadir dalam acara ulang tahun keponakanya.""Oke, berarti yang nganterin langsung saya aja ya Li, biar kamu gak bolak-balik.""Apa Kimi akan ikut?""Enggak, Kimi gak saya bawa, di rumah ada Omnya saya titip ke dia, lagi pula saya gak akan lama, saya datang hanya untuk menghormati undangan Bu Andini saja, diakan pelanggan tetap Bakery kita, setelah saya berangkat kamu langsung pulang aja Li."Hello Bakery, adalah toko kue yang dikelola Kirana, milik seorang nenek baik hati yang hidup sebatang kara, toko kue yang sepi pembeli sebelum Kirana bekerja disana, hingga sang nenek mewariskan toko padanya sebelum dia meninggal.Kirana sampai di tempat acara pukul tiga sore, sengaja dia datang lebih awal untuk memastikan kuenya terpajang sempurna, perayaan ulang tahun ke 3 seorang anak perempuan yang bernama Sheika Ramia Alezander, dia tahu karena Kirana sendiri yang menulis nama itu dalam kue ulang tahunnya, satu nama terakhir membuatnya berdesir merasakan sakit yang masih sama sesaknya. Hanya sebuah nama yang sama pikirnya. Namun semua tidak hanya sebuah nama saat Andini mengenalkannya pada Tuan yang punya acara."Kiran, makasih ya udah mau datang, sini aku kenalin sama yang punya acara, mana ya..." Andini mengedarkan pandangannya menyapu ruangan mencari keberadaan seseorang. "Ray... Ray... sini!"Sebuah nama yang membuat Kirana membeku, ngilu, dan rasa yang sudah lama ia berusaha kubur selama tujuh tahun kini seolah percuma, memohon pada tuhan supaya dia bukanlah orang yang sama, berdoa sekuat hati agar hanya namanya saja yang sama, ia tak ingin bertemu lagi dengan sumber kedukaan dan kehancurannya, ia sekuat tenaga memohon namun ia tau tuhan tak mengabulkannya kali ini saat yang datang menghampirinya benar adalah dia, Raydan Bright Alezander. Pangerannya, hidupnya, planetnya, kebahagiaanya, dulu.Dia masih sama, tinggi, tampan dan sorot matanya yang selalu bisa meluluhkan siapapun, dia baik-baik saja, tentu saja dia baik-baik saja, hidupnya sempurna, tak seperti dirinya yang harus terlunta-lunta di jalan mencari perlindungan, tak seperti dirinya yang harus memulai hidup dari titik minus bahkan hingga dia bisa berdiri lagi saat ini."Ray ini Kiran, dan Kiran ini Raydan adik ipar aku."Suara Andini seolah mengilang, beku semuanya beku. Raydan terpaku memandang seseorang didepannya, seseorang yang tak pernah dilihatnya selama tujuh tahun, meskipun ia telah berusaha setengah mati untuk menemukannya, seratus kali ia menyerah dan seratus satu kali lagi ia terus kembali mencobanya. Kini ia di hadapannya, Kirananya baik-baik saja, dia cantik dan semakin dewasa, sungguh ia setengah mati merindukan wanita ini, wanita yang terpaku dengan mata berkaca-kaca, tapi bukan sorot mata bahagia melainkan terluka."Ray, Shei mau potong kue sama kamu katanya." Seorang wanita paruh baya menghentikan apapun yang sedang merajai pikiran mereka, Ibunya Raydan dengan Sheika, gadis kecil di gendongannya.Wanita itu, yang memohon agar ia pergi meninggalkan Raydan, ia yang juga terlihat pias melihat wanita dihadapannya, wajah tuanya terlihat sedih, terpaku melihat Kirana. Rengekan Sheika, teguran Andini tak ada yang bisa menyadarkan mereka, mereka menatap wanita yang sama, Kirana.Satu tetes air mata jatuh dipipi Kirana, membuatnya tersadar bahwa ia harus segera pergi dari sana, melihat kebahagian mereka, kesempurnaan hidup Rayden membuat semuanya terasa semakin sakit, hanya ia yang berjuang sendirian, hanya ia yang terluka sendirian. Ia berlari sekuat tenaga, keluar dari venue acara tanpa menghiraukan seruan Andini yang kebingaungan, ia hanya ingin pergi, harus pergi jauh lagi.Raydan tersadar, saat Kirana yang dipandanginya pergi dari hadapannya, namun ia seperti tersihir dengan airmata mengalir dipipinya."Ma... Dia Kirana kan, dia Ranakan? Dia Rananya Ray kan Ma."Ibunya Tiara memeluknya, sama-sama menangis. "Ia Ray, dia Rana, Rana nya kamu, maafin mama sayang, maafin mama." Ia tersedu sedan penuh penyesalan, kesalahan yang ia lakukan telah merenggut kebahagiaan Raydan, ia telah kehilangan putranya meskipun Raydan ada dihadapannya. "Kejar dia sayang, kejar dia, jangan sampai dia pergi lagi."Seolah tersadar, ia berlari mengejar Kirana, memanggil namanya, berteriak seperti kesetanan, namun apakah ia terlambat lagi seperti waktu itu, tidak ia tidak akan terlambat untuk kedua kalinya, ia akan menemukannya, ia harus menemukannya."Kirana! Diamana kamu Kirana, Rana."Raydan terduduk, menangis, begitupun Kirana, ia tersedu di balik pilar, mereka sama-sama menangis membiarkan kesakitan menguasai mereka, mencoba melepaskan semua duka, tangis yang sama-sama mereka pendam selama tujuh tahun, kini jebol seolah mewakilkan semua rasa mereka, sakit, luka, cinta, rindu semua menyatu.***Kirana tau cepat atau lambat Raydan akan menemukannya, hanya tentang waktu. Ia memeluk Kimi erat, seakan tak ada hari esok."Mami kenapa, kenapa mami terlihat sedih?"Mata hitamnya adalah mata Rayden, rambut cokelatnya adalah rambut Rayden, hidung bangirnya adalah hidung Rayden, dia memang anak Rayden terlihat dari sekali pandang. Namun, bagaimana kalau Rayden juga sudah memiliki keluarga, bahkan seorang putri juga."Gak apa-apa sayang, mami hanya sedang ingat papa kamu.""Papa? Bukannya papa sedang pergi jauh? Kata mami kalau Kimi rindu papa, Kimi hanya harus berdoa pada tuhan agar papa datang dalam mimpi Kimi.""Ia sayang, apa papa suka datang dalam mimpi Kimi?"Kimi tersenyum sumringah. "Ia mami, kalau Kimi merindukan papa, terus Kimi berdoa sama tuhan, maka papa akan datang dalam mimpi Kimi dan memeluk Kimi tidur, tapi..." wajahnya berubah sedih. "Tapi begitu Kimi bangun papa sudah gak ada."Kirana memeluk erat Kimi, menciumnya bertubi. "Mami minta maaf, maafin mami.""Kenapa mami minta maaf, mami gak ada salah sama Kimi."Demi Kimi setidaknya Raydan harus tau kalau Kimi ada, meski nanti seperti apa status mereka setidaknya ia harus mempertemukan mereka. Namun apa ia akan kuat bertemu lagi dengan Raydan, memperkenalkan Kimi sebagai anaknya, bagaimana jika ia mengabaikan Kimi, bagaimana jika Kiminya tak diinginkan, bagaimana... Ia pasti akan merasakan sakit yang lebih parah, dan Kimi ia tak ingin membuat Kimi kecewa, hal terakhir yang ia inginkan adalah melihat kesedihan Kimi, ia tak ingin membuat Kiminya kecewa.***Hello Bekery milik Kirana, begitu yang ia tau dari Andini, ternyata begitu dekatnya ia dengan Kirana tapi ia tak dapat menemukannya, padahal setiap perayaan di keluarganya, Andini selalu memesannya kue dari sana. Kini ia berdiri di depan Hello Bakery, hanya tinggal selangkah lagi ia bisa menemui Rananya, namun kini ia merasa takut, ia gemetar, ia gentar setelah tujuh tahun penantiannya ia merasa sangat takut, takut Kirana lari, takut Kirananya pergi lagi."Om mau beli kue?"Seorang gadis kecil berseragam putih merah dengan kuncir kuda membuyarkan lamunannya, ia terpaku, ia kembali membeku melihat anak kecil dihadapannya."Masuk Om, Om mau beli kue maminya Kimi?"Mata bulatnya, bibir tipisnya mengingatkannya pada seseorang di dalam sana, tapi bukan hanya itu melainkan kenapa anak kecil ini sangat mirip dirinya."Lho kenapa Om nangis? Kemarin mami Kimi yang nangis, sekarang Om juga nangis, ayo Om masuk, Kimi kasih gratis deh kue maminya Kimi biar Om gak nangis lagi, biasanya mami kalau Kimi nangis selalu bikinin kue kesukaan Kimi."Kimi menarik jemari Raydan, membuatnya tersentak, seperti ada aliran listrik, mengejutkan jantungnya, menghangatkan hatinya. Kimi menariknya masuk mempersilahkannya duduk di kursi dekat jendela."Ini meja favorit Kimi, Kimi biasanya bermain dan belajar disini." Kimi tersenyum pada Raydan memperlihatkan senyum yang mirip Kirana dan lesung pipit seperti miliknya."Nama Om siapa? Nama aku Kimi eh Kimberly tapi mami memanggilku Kimi yang artinya kuat, kalau sudah besar nanti Kimi akan kuat jagain mami."Raydan mengusap airmatanya, menerima uluran tangan gadis kecil di hadapannya, tangannya mungil sehingga tenggelam dalam genggaman tangan kekarnya."Nama Om Ray, Kimi."Raydan sangat enggan melepaskan genggaman tangannya pada Kimi, 'Kimi' menyebutkan namanya membuat hatinya menghangat, ia merasa bahagia, sesuatu yang terasa jauh darinya selama ini."Om Ray kenapa nangis, apa Om lapar, Kimi kalau lapar suka nangis.""I..iya...""Tunggu sebentar ya Kimi minta kue ke mami, Kimi traktir."Genggaman itu terlepas, membuat Raydan merasa kehilangan, gadis kecil itu berlari menuju pintu bertuliskan "Kitchen Area", dan tubuh kecilnya menghilang disana."Mami, Kimi boleh minta kuenya? Buat temen baru Kimi dia lagi nangis di depan."Kirana yang sedang menghias kue mengalihakn pandangannya pada Kimi."Anak mami sudah pulang? Cium dulu dong maminya."Kecupan mendarat di pipi Kirana. "Ia, dijemput Om Reyhan, tapi Om Reyhannya pulang, mana mami kuenya?""Minta sama tante Oli sayang kuenya, temen barunya Kimi gak di kenalin ke mami?""Ayo ikut Kimi kedepan kalau mami mau kenalan." Kimi berlalu dengan empat potong kue yang ia dapatkan dari Oli, karyawan Hello Bakery.Kirana kembali tenggelam dalam pekerjaannya, setelah urusannya selesai ia segera mencari Kimi untuk mengganti seragamnya, namun apa yang dia lihat membuatnya terdiam, terenyuh, terharu.Bagaimana bisa ia melihat pemandangan seindah ini, Raydan sedang menyuapi Kimi, mengelap cream yang menempel di bibir Kimi.Kirana kembali menangis, setelah semalaman ia hampir tak tidur karena menangis."Mamiiii...."Kimi turun dari kursinya berlari menghampiri Kirana, Kirana berjongkok menyambut Kimi dan memeluknya, menangis lagi. Raydan begitu iri melihat pemandangan didepannya, ia ingin bergabung disana, ia ingin memeluk mereka, ingin memeluk Rana dan Kimi.Raydan turun dari kursinya, mengahampiri mereka dengan perasaan berkecamuk, ia ragu, ia takut."Ran...."Kirana hanya mengangguk sebagai jawaban.
Aluna dan Wasiat
Seorang gadis cantik berambut gelombang, berkemeja putih dengan bawahan jins berwarna donker melekat di tubuhnya, bunyi suara ketukan stileto berbentur terdengar. Sesekali bibirnya bersenandung kecil menghasilkan nada Bang-Bang dengan penyanyi Ariana Grande beserta teman-temannya sedangkan tangan kanannya memutar-mutar kunci mobilnya.Gadis cantik ini seperti biasa, baru saja pulang dari berkumpul bersama teman-temannya.Aluna, gadis yang akrab di sapa Luna ini merupakan gadis yang gemar berfoya-foya.Langkahnya terhenti kala menatap dokter pribadi keluarga mereka keluar dari kamar papanya."Loh? Kok dokter. Papa saya kenapa dok?"Dokter itu menghela nafas "Sebaiknya kamu menemui Pak Satria, beliau sedari tadi menunggu kamu"Melihat dari raut wajah dokter itu perasaan Luna itu mulai tidak enak menyergap di dadanya. Ada apa ini?Segera ia melangkahkan kakinya menuju kamar papanya."Pa?" sapanya sambil menggenggam tangan papanya, papanya tersenyum lemah."Ada yang ingin papa sampaikan. Papa selalu lupa menyampaikannya"Alis Luna bertaut menunggu kelanjutan cerita papanya itu."Kamu ingatkan Kevin anak om Surya, sahabat papa. Menikahlah dengannya"Mata Aluna mengerjab seakan memastikan bukan mimpi."Tapi Aluna masih..""Kecil? Kamu sudah 24 tahun" suara papanya makin melemah, ia terbatuk.Belum sempat Aluna mengajukan protesnya tiba-tiba tubuh papanya mengejang. Luna panik segera memanggil dokter Gunawan, dokter itu memeriksa papanya lalu menolehkan wajahnya ke Luna dan menggeleng.Nafas Luna seakan tercekat, ia tertawa pilu. Tidak mungkin racaunya."Pa.. Papa..." ia menangis sejadinya. "Pa, Luna bagaimana?" ia terduduk lemas di lantai.Bahkan saat papanya dikebumikan pun ia masih terisak, seingatnya papanya itu sehat namun ternyata papanya memiliki penyakit yang disembunyikan dari Luna.Ia sempat menyesal tidak memerhatikan papanya dengan baik.Setibanya di rumah pengacara dan tantenya, adik papa Luna, Mira menunggunya di ruang tamu."Duduk, sayang" ucap tantenya lalu mengusap bahu Luna"Baiklah, langsung saja karena semua sudah hadir. Jadi, pak Satria membuat wasiat bahwa seluruh kekayaan asetnya ini akan jatuh di tangan anak semata wayangnya yaitu Aluna.""Alhamdulillah.." ucap tantenya."Yang kuat ya sayang. Tante pasti bantu kamu" ucap Tantenya menguatkan."Tapi Aluna akan mendapatkan seluruh aset ini hanya jika ia telah menikah, dan ia harus menikah dengan anak sahabat papanya itu, Kevin." ucap Pak Anto selaku pengacara pribadi mereka"Dalam waktu satu bulan. Jika tidak, seluruh aset ini akan di sumbangkan ke panti asuhan" tambahnya"Apa tidak salah, pak? Bagaimanapun Aluna masih kemalangan begini, pak?" Mira menanggapi, lalu menggenggan tangan keponakannya itu.Aluna menggeram "Demi Tuhan, bahkan pemakaman papaku belum mengering""Saya paham, nona. Dan wasiat ini sudah diperbaharui sejak seminggu yang lalu"Aluna menangis, bagaimana ia akan menghadapi ini semua? Papanya sudah merencanakan ini semua. Ia menyesal tak meluangkan waktunya sejenak untuk papanya."Baiklah, dimana alamat Kevin itu?" tanya MiraAluna langsung menoleh "Tantee" protesnyaAluna menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan alasannya hingga ia bisa berada di apartemen ini. Kedua tangannya mengepal disisi tubuh, ragu menyelimutinya.Ia menaikkan tangannya berusaha mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali lalu ia tertawa "Kenapa aku mengetuk? Kan ada bel." gumamnyaLalu ia segera menekan bel tersebut juga sebanyak tiga kali, itu anjuran agama kan? Mengetuk atau memanggil sebanyak tiga kali jika tidak ada yang menjawab maka kita harus pulang.Meskipun Luna gemar berfoya-foya setidaknya ia paham sedikit mengenai agama, huh ia bersyukur tidak pernah bolos di jam pelajaran agamanya.Tangannya semakin terkepal disisi tubuhnya, ia takut. Bagaimana jika calon suaminya itu hitam, jelek dan dekil? Uh.. Belum lagi bagaimana jika calon suaminya itu perutnya buncit. Yang ia dengar dari pak Anto bahwa calon suaminya ini sangat baik. Haha baik saja tidak cukup, harus juga tampan.Setidaknya jika tampan, akan memiliki gen yang baik untuk keturunannya.Diam beberapa saat tak ada yang membuka pintu, Luna membalik badan mungkin besok saja akan ia temui. Badannya sedikit lemas.Bunyi pintu terbuka, "Hei" suara itu menyapa telinga Luna,Dari suara sih oke. Batin Luna, ia membalik badan ke arah pintu lagi. Lalu tangan kanan yang masih terkepal ia naikkan dan ia buka sambil tersenyum sangat manis dan berkata "Hallo"Pria di hadapannya memerhatikan penampilan Luna, kemeja berwarna merah muda yang setengah dimasukkan kedalam celana hitam, sepatu heels berwarna coklat dengan mementeng tas jinjing kecilnya.Ia mengingat seingatku aku tak kenal dengannya batinnya.Tak jauh berbeda dengan pria di depan, Luna juga memerhatikannya pria ini tampan, dengan wajah aristokrat, mata indah, alis tebal hidung mancung dibingkai rahang tegas. Uh jangan lupakan badannya yang atletis.Luna tersenyum dalam hati, pilihan papanya tidak buruk namun ia belum boleh senang dulu.Tiba-tiba ia merasa sangat pusing menghantam di kepalanya, ia kehilangan pijakan sehingga tubuhnya limbung.Mungkin ini efek selama dua minggu ini ia mengurung dirinya di kamar, memastikan ini bukan mimpi. Dan tantenya menyuruh menemui Kevin, ia tak ingin usaha kakaknya diserahkan ke orang lain.Dengan sigap pria di hadapannya, Kevin menangkapnya "Eh, nona kenapa?"Kevin membantunya masuk ke dalam apartemennya, mendudukkan Luna di sofanya lalu ke dapur membuatkan teh dan menyerahkannya.Luna meminumnya perlahan, "Terima kasih, apa kau memiliki makanan?" ucap Luna, ia sungguh lapar.Pria di hadapannya tertawa "Aku tidak mengenalmu. Tapi sebagai bentuk rasa sosial. Aku akan memberikannya. Ayo aku juga belum makan""Kau sungguh baik. Dan apartemenmu bagus, terlihat nyaman" jawab Luna sambil memerhatikan sekitar.Kevin hanya menggelengkan kepalanya, mengajak gadis itu ke meja pantry dan mengambilkan nasi goreng yang tadi sempat ia buat sebelum bel berbunyi. Mereka memakannya bersama, ini sudah pukul 10 pagi sarapan yang cukup terlambat.Luna langsung saja memakannya lahap "Enak sekali. Kau yang memasak?""Tentu""Pak Surya kemana?"Kunyahan Kevin terhenti, ia merenung sebentar. Merasa tak ada jawaban Luna menatapnya"Pak surya papa kamukan?" tambahnya"Papaku sudah meninggal beberapa tahun lalu. Tapi kamu mengenal papaku?"Luna diam sejenak, ia tak perlu menjelaskan sekarang bukan? Bahkan mereka belum berkenalan "Maaf aku tidak tahu. Btw aku Aluna, kamu?" ucapnya sambil mengulurkan tangannyaKevin menerima uluran itu "Kevin" jawabnya, Lalu mereka kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut mereka."Jadi ada apa kamu kesini?" tanya KevinLuna menutup sendoknya mengakhiri makannya, ia sudah kenyang. Calon suaminya ternyata pintar masak. Lalu bagaimana dengannya? Sedikit."Kevin, ayo kita menikah." ucap Luna"Hah?""Aku serius. Ayo kita menikah. Aku mencintai kamu" Dari ucapan pak Anto, Kevin tidak akan menikah dengan orang hanya karena harta. Maka dengan ini Luna yakin pasti Kevin mau.Lalu pria itu terbahak "Kamu perempuan gila ya. Kita bahkan tidak saling mengenal. Sudahlah sekarang kamu pulang" ucap pria itu sambil menggeret Luna keluar."Calon suami kok kasar sih, pake seret aku begini" protesnya"Sudahlah. Kita baru kenal tak lebih dari 24 jam. Dan kamu ingin aku menikahimu?"Luna berpegangan sofa karena Kevin terus menariknya, ia yakin tangannya pasti akan memerah.Bagaimana ini? Dua minggu lagi."Kau harus menikahiku""Tidak akan" jawabnya lagi masih sambil aksi tarik menarik.Hingga Kevin menyentak tangan Luna menyebabkan sofanya berjungkit dan tubuh Luna limbung, keningnya berbentur meja kecil di pinggiran sudut sofa."Aaaa" ringisnya lalu terduduk "Sakit""Maaf. Tapi itu takkan terjadi jika kau tak begitu"Luna mendengkus "Ingat Kevin, aku akan pergi tapi nanti aku akan kembali. Dan kita akan menikah" ucap Luna pada Kevin dan beranjak memegangi keningnya yang membiru.Selepas kepergian perempuan itu, Kevin duduk memijat pangkal hidungnya. Weekend yang menyebalkan, bagaimana tidak ia baru saja bertemu dengan perempuan gila itu.Kevin membuka kaosnya, ia merasa gerah. Bahkan ruangan berserakan itu belum ia bereskan. Nanti saja, ia akan merebahkan tubuhnya beberapa jam saja hingga makan siang.Kevin Artasesurya, seorang pria berusia 27 tahun bekerja sebagai Dosen agrobisnis. Kehilangan ibu di waktu kecil dan ayah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Sungguh malang hari liburnya diganggu dengan kehadiran gadis gila itu.Selang beberapa saat bel berbunyi membangunkan Kevin, ia mendengus lalu bangkit. Ayolah siapa lagi yang mengganggu. Ia berjalan membuka pintu apartemennya, dan betapa terkejutnya ia melihat gadis bernama Aluna tadi menggunakan kemeja sobek-sobek, rambutnya acak-acakan menampilkan dahinya sedikit membiru, juga ada satpam dan beberapa orang lainnya."Benar dia nona?" tanya satpam, yang ku ketahui bernama Andi."Iya pak" isaknyaTunggu ada apa ini? Tanyamya dalam hati."Hei. Kau harus bertanggung jawab. Kenapa kau melakukan gadis semanis ini" ucap salah satu ibu-ibu."Bertanggung jawab apa?" tanya Kevin"Hei! Lihatlah kau sudah melecehkannya""Lihat bu. Dia bahkan belum menggunakan bajunya dan ruangannya masih tampak berserakan" ucap Luna yang membuat Kevin kebelakang dan cepat menoleh ke arahnya. Ah sial.Luna mengerling nakal pada Kevin "Ini salah paham, pak, bu" ucap Kevin."Sudah ayo kalian segera menikah. Coba kau pikirkan masa depan gadis ini""Lalu apa kalian tidak memikirkan masa depanku?" ucapnya yang sama sekali tak dihiraukan orang-orang itu dan malah semakin menggiring ke salah satu rumah warga terdekat dan merekapun menikah.Maafkan aku, papa. Ini demi papa juga batinnya.Mimpi apa aku tadi malam batin Kevin.-----Kini mereka sudah sah menjadi suami dan istri, mereka sudah berada di apartemen Kevin. Dan ini sudah pukul 7 malam."Seingatku ada dua kamar disini. Ah yang itu kamarmu, bukan?" ucap Luna sambil menunjuk salah satu bilik yang ia yakini bukan kamar yang dihuni Kevin. "Nah pasti yang ini kamarku" tambahnyaIa segera membuka pintu kamar itu tanpa memedulikan Kevin yang mulai berapi-api. Ah ia lega saat melihat kamarnya tertata rapi, ia membersihkan tubuhnya setelah sebelumnya membuka sebuah aplikasi.Kevin di buat melongo dan terheran, perempuan itu sangat ingin dinikahi tapi setelah menikah bahkan perempuan itu minta tidur sendirian.Sepertinya ia harus berbicara nanti dengan wanita ini. Entah kerasukan apa.Dunia Kevin kehilangan keseimbangan dalam waktu kuran dari 24 jam. Ia masuk ke dalam kamarnya membersihkan tubuh dan pikirannya.Setelah ia selesai dengan urusannya ternyata sudah ada gadis bernama Aluna yang menunggunya dengan makanan yang tertata di atas meja.Baru saja Kevin hendak membuka mulut, Luna sudah mendahuluinya "Makan dulu"Dan merekapun makan dalam diam, sesekali mereka saling menatap. Dengan tatapan berbeda-beda.Ada sedikit kekaguman dalam hati Luna saat menatap pria itu, ia sangat yakin pria di hadapannya ini pasti akan mengamuk layaknya singa, oleh sebab itu ia menyuruhnya makan dahulu. Setidaknya perutnya akan kenyang jika pria itu marah.Apa hubungannya? Entahlah.Setelah mereka menghabiskan makanannya, Luna membuka suara "Kamu kerja apa?" tanyanya"Apa itu penting buatmu? Bukankah tujuanmu sudah tercapai" balasnyaLuna berdecih "Memangnya ada yang salah jika istri menanyakan hal itu pada suaminya?""Tidak, aktingmu bagus tadi"Luna tertawa, dan menampilkan ekspresi bangganya "Tentu saja, aku hanya perlu merobek beberapa bagian saja tadi."Kevin berdecih, ia tidak boleh kalah. Terlintas ide konyol untuk mengerjai gadis di hadapannya ini. Selagi ini masih berlibur ia akan mengajak gadis ini ke suatu desa masa kecilnya di vilanya, dan ia hafal dari apa yang dilihatnya bahwa Luna adalah anak yang manja."Jadi kita sudah menjadi suami istri, bukan?" tanya Kevin dengan senyum culas, Luna bergidik melihatnya."Lalu?""Bukankah kita harus melakukan honeymoon, mungkin?" tanyanya"Ah apakah itu perlu?" tanya Luna was was dan di balas anggukan dan senyumam penuh misteri dari Kevin."Kau pasti sangat menyukainya nanti" balas Kevin dengan seringaiannya-----"Aaa.. Mama, Papa" rengeknya untuk kesekian kalinya saat heelsnya masuk ke dalam kubangan lumpur."Kevin, tolong" ucapnya sambil menyerahkan tas ranselnya, berniat akan menggulung celananya yang sudah kena beberapa percikan lumpur"Ayo cepat jalan. Jangan manja!" teriak Kevin beberapa meter di depan Luna.Luna terus saja menggerutu, bagaimana tidak. Janjinya itu Kevin akan membahagiakannya untuk 3 hari ke depan mulai dari keluar pintu apartemennya tadi pagi.Namun Kevin malah mengajaknya naik angkutan umum, Luna sudah menawarkan mobilnya namun Kevin menolak.Dan mereka sudah menaiki angkutan umum sekali, mobil pick up mengangkut sayur sekali, kemudian melewati beberapa pepohonan rimbun dan kini melewati jalanan sawah.Rasanya Luna ingin menangis, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Kakinya seperti akan patah, jauh sekali perjalanannya ini. Sebenarnya kebahagiaan apa yang akan ditawarkan oleh Kevin padanya?Sementara itu, Kevin terus tertawa kecil dan senang di depan sana.Nikmati saja waktumu selama menjadi istriku batin Kevin sambil tertawa senang."Kevin..." rengeknya lagi.Kevin menghela nafas "Baiklah. Sini" ucapnya sambil membawakan ransel Luna. Mereka kembali berjalan lagi. Kini langkah Luna sudah sejajar dengan Kevin."Hah? Buntu?" teriak Luna "Kita sudah jalan jauh dan malah buntu" tambahnya saat melihat tebing tinggi di hadapannya.Kevin menoleh pada Luna "Lihat disana ada tali. Kita akan memanjatnya" ya Kevin sudah menyiapkan ini semua, ia menyuruh temannya memasangkan tali itu tadi pagi.Dan perkataan itu sukses membuat Luna berteriak "Demi Tuhan, Kevin. Aku memakai heels dan kalau aku mati bagaimana? Kau akan menjadi duda." gerutunya lagiKevin melihat ke arah Luna, mengamati penampilannya. Syukurlah Luna menggunakan Kemeja donker dan jins putih meski berubah menjadi sedikit kecoklatan akibat perjalanan mereka.Tapi ia tidak tega juga, baiklah ia akan memilih jalur alternatif "Kamu lihat tangga disana?" tanya Kevin sambil menunjuk sisi kanan tebingTerlihat disana tapakan anak tangga dari tebing terdapat pijakan kayu disana agar memudahkan menaiki tebing itu sehingga takkan terpeleset.Luna mengangguk "Kita naik dari sana" jawabnya dan berlalu dari hadapan Luna yang membuat Luna nyaris memotong leher pria itu.Kalau ada jalan yang mudah kenapa harus memanjat dengan tali?Dengan perlahan Luna menaikinya, sambil mencopot heelsnya tentu saja. Bajunya sudah kotor, apalagi jinsnya yang berwarna putih.Kevin sudah sampai di atas menunggu Luna sambil berdiri dengan senyum sumringah, ketika Luna sampai di atas dengan senyuman khasnya pria itu berucap bahagia "Selamat datang di Villa kita, Aluna artasesurya.." sambil merentangkan tangan seolah mempersembahkan sesuatu.Aluna melongo, ia terpanah akan keadaan yang ada. Tempat ini indah, ia akui itu. Sangat indah malahan. Terlalu indah sampai Ia terduduk di tanah.Pemandangannya sungguh indah, dan disana ada jalanan raya. Lalu mengapa pria dihadapannya mengajaknya naik turun melewati gunung dan lewati lembah seperti ninja hatori?Lemas melanda seluruh tubuhnya, melihat keadaan ia tak mampu berkata-kata dan berjanji akan membalas pria yang sedang tertawa senang itu nanti.Pria itu mengerjainya, Luna tak bisa berkata apa-apa. Ia menangis menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya.Kevin yang melihat itu kelimpungan, bagaimana ini? Ia tidak pernah membujuk wanita menangis. Ia bahkan belum pernah berpacaran.Ia memberikan tas pada penjaga villanya dan kembali mendekati Luna."Sudah ya jangan menangis" ucapnya"Kau jahat sekali" lirihnya "Kakiku sakit" tambahnya lagi dengan menangis"Itu salahmu kenapa pakai heels""Disana ada jalan raya kenapa harus naik turun begitu!" omelnya menatap Kevin dengan mata sembab.Kevin tertegun, ia melihat tumit Luna sedikit terluka. Ia bangkit ke dalam villa mengambil P3K. Dan menarik kaki Luna ke pangkuannya membersihkan lukanya dan menempelkan plaster disana."Sudah, ayo" ajaknya, namun Luna hanya diam menatapnya"Apa lagi?" tanyanya jengah"Gendong aku!""Kau merepotkan.""Tapi aku istrimu" dengan menghela nafas Lalu ia menggendong Luna, dan Luna tersenyum digendongannya. Luna juga mengusap cairan hidungnya di kemeja yang digunakan Kevin yang membuat Kevin berteriak heboh dan Luna tertawa.-----Setelah makan malam berlangsung, tanpa mengucap sepatah katapun Luna memasuki kamarnya. Kakinya juga terasa sakit mungkin ini efek perjalanan tadi.Ia menarik selimut hingga sebatas lehernya, disini cukup dingin.Kevin yang memasuki kamar tersebut menatap Luna, ia berpikir apakah ia sudah keterlaluan.Sebenarnya ia tidak tega, tapi ini juga salahnya karena perempuan itu yang menjebaknya sehingga mereka menjadi sepasang suami istri.Kevin heran, kenapa bisa perempuan ini ingin menikah dengannya bahkan sampai menghalalkan segala cara.Ia bahkan hanya tinggal di apartemen sederhana dan bekerja menjadi dosen itu yang selalu ia tampilkan di depan semua orang. Rasanya Kevin sudah ingin sekali bertanya alasan perempuan itu namun harus ia urungkan menjadi besok melihat Luna terlelap akibat ulahnya.Keesokan paginya, ia menarik paksa selimut yang dipakai Luna sehingga mengusik tidur Luna.Luna melenguh karena tidurnya terganggu sedangkan Kevin berdecak sebal ini sudah pukul 8 dan dia belum bagun."Ayo bangun. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat"Luna mengucek matanya "Kemana?""Rahasia. Aku menunggumu di depan" ucap Kevin dengan seringaiannya meninggalkan Luna yang masih membersihkan kotoran matanya.Setelah 45 menit lamanya Luna belum ke depan, ia masuk ke dalam melihat Luna yang sudah rapi namun duduk di hadapan rak sepatu miliknya."Kau sudah sarapan?" tanya Kevin yang langsung di angguki oleh Luna"Ya sudah. Ayo" ajaknya namun Luna masih diam "Ada apa?" tanya Kevin lagi karena bingung apa yang dilakukan Luna, kenapa ia tidak beranjak juga"Aku bingung mau pakai sepatu yang mana" jawab Luna yang membuat Kevin menepuk jidatnya."Kau tidak memberitahuku akan kemana. Kakiku akan sakit jika kau mengajakku seperti semalam" tambahnya menatap Kevin dengan sendu membuat Kevin tidak tega."Aku heran, kenapa perempuan senang menyiksa dirinya sendiri" ia beranjak mengambil sepatu kets berwarna abu-abu memberinya di hadapan Luna.Mereka mulai berjalan menelusuri pepohonan, refleks Luna melingkari lengan Kevin ia takut akan ditinggalkan oleh lelaki itu, ia juga tahu lelaki ini masih sebal akan tingkahnya tempo hari yang lalu.Tapi biarkan saja, yang penting semua berjalan aman, ia juga sudah menghubungi Pak Anto.Luna mengingat ucapan Kevin membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di tempat tujuan "Btw, kamu kerja apa sih?" tanya Luna memecah kediaman mereka untuk membunuh waktu"Dosen. Aku hanya dosen di sebuah universitas""Aku tidak yakin mampu membiayai gaya hidupmu yang seperti ini" Kevin sengaja mengatakan itu namun diluar ekspektasinya, Luna malah tertawa"Aku senang punya suami dosen""Kau tahu, sebenarnya aku sudah punya calon istri dan berniat melamarnya bulan depan" aku Kevin.Luna memberhentikan langkahnya, benarkah ? Apa aku terlalu egoi s . Batinnya. Ia menimbang dan memikirkan kedepannya."Ayo jalan lagi""Kev...." panggilnya sambil menatap Kevin menanyakan sesuatu"Hmm"Luna menghela nafasnya, menguhah topik yang ingin ditanyakan "Masih jauh?""Sedikit lagi,," jawab Kevin lalu berjalan kembali kali ini ia yang menarik dan menggenggam tangan Luna.Hingga mereka sampai di sungai kecil yang cukup dangkal, terdapat beberapa pijakan batu disana. Mereka menyebrangi sungai itu, Kevin berjalan lebih dulu dan diikuti Luna yang sesekali dibantu Kevin. Mereka sedikit melupakan masalahnya.Setelah itu barulah mereka sampai di sebuah air terjun. Mata Luna berbinar "Indah sekali" ucapnya dengan takjub "Kalau beginikan tidak sia-sia aku berjalan jauh" ia menjedanya dan melihat arlojinya "Bahkan kita berjalan selama satu jam" tambahnya.Ia melihat Kevin duduk beralaskan batu di dekat sana lalu diikuti dengan Luna "mmm terima kasih mengajakku kesini""Kau lapar?" tanyanya saat mendengar bunyi perut Luna, ia meringis dan tertawa lalu sedetiknya mengangguk. Tadi pagi Luna memang tidak sarapan hanya meneguk segelas susu hangat.Kevin mendengkus membuka isi tasnya mengeluarkan bekal mereka "Wah.. Kau tanggap sekali"Kevin membuka bekal tersebut yang hanya terdiri dua kotak bekal, satu kotak bekak diberikan kepada Luna."Nasi goreng hongkong?" tanyanya "Tidak ada yang lain?""Sudahlah makan saja, aku tidak enak menyuruh bi Tuti tadi pagi"Menghembuskan nafas Luna menerimanya, dengan perlahan ia memisahkan nasi dengan wortelnya."Kau tidak menyukai wortel?" tanya Kevin"Tidak, seperti kelinci saja memakan wortel" balasnya acuh.Kevin tertawa, meliha Luna mengingatkan seseorang."Kenapa tertawa?""Kau mengingatkanku pada seseorang, yang akan ku nikahi nanti" ucapnya sambil menatap ke arah bekalnya "Tapi tidak jadi" tambahnya sambil menatap Luna.Luna menghentikan gerakan memisahkan nasi pada wortelnya. Ia terdiam beberapa saat. Menimbang ucapan yang mungkin akan menjadi solusi."Maaf. Baiklah mungkin kita bisa bercerai beberapa bulan atau minggu mungkin. Tapi kau sudah memberitahukan wanitamukan?""Kau tahu, Luna? Bahkan aku tidak tahu dimana wanita itu"Alis Luna mengernyit, "Aku tidak mengerti""Sebenarnya, wanita itu teman masa kecilku. Aku tahu sejak kecil aku akan menikah dengannya, setidaknya itu kata ayahku. Tapi seiring berjalannya waktu kami tak pernah bertemu" Kevin tak mengerti mengapa ia menjelaskannya tapi ia hanya merasa ingin menjelaskan itu pada, mm istrinya. Ya istrinya."Lalu bagaimana?""Sejak dulu papaku mengingatkanku untuk segera bertemu dan menikah dengannya tapi aku tidak siap, aku berkilah untuk bekerja, menjadi orang yang lebih baik dan papaku mengizinkannya. Puncaknya 2 tahun yang lalu saat papaku meninggal, tapi aku merasa belum siap. Harusnya saat itu aku langsung menemuinya tapi aku tidak bisa. Hingga bulan depan harusnya aku datang melamarnya tapi kau datang terlebih dahulu" jelasnya panjang lebar."Perceraian bukan list dalam keinginanku" tambahnya lalu menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.Aluna menautkan jarinya, memegang sendok sedikit kuat. Ia takut, tapi harus bagaimana. Mengontrol emosi, ia akan mencari tahu terlebih dahulu."Siapa nama wanita itu?"Kevin menggeleng, "Aku hanya mengingat nama ayahnya, bernama Satria""Na...na. Nana. Iya mungkin namanya Nana" tambahnyaLuna menatapnya lamat-lamat "Apakah nama lengkapnya Satria Pramuaji?" tanyanya memastikanKevin mendongak membalas tatapan Luna dengan kening bertaut "Bagaimana kau tahu?"Luna menghela nafas, ia tertawa lalu memeluk Kevin "Syukurlah, aku tidak akan menjadi janda" ucapnya saat melepaskan pelukan itu."Huh?""Aku anaknya pak Satria. Nama ayahmu Pak Surya, kan? Aku lega"Kevin masih bingung akan pernyataan Luna."Tapi namanya Nana, bukan Aluna""Saat kecil aku memang dipanggil Nana, Aluna, akhiran NA, nana." TegasnyaLalu tak lupa Aluna menceritakannya segalanya sampai akhirnya ia menikahi Kevin."Sepertinya papa kita sudah merencanakan ini semua" ucapnya setelah beberapa saat.Ia menghela nafas, bangkit dari duduknya dan Luna memandangnya "Maaf mungkin caraku salah""Harusnya aku yang melamarmu" jawabnya lagi.Luna bangkit "Sudahlah semuanya sudah berlalu. Setidaknya sudah terungkap" balasnyaKevin mengulurkan tangannya layaknya mengajak dansa lalu berucap "Mau memulainya dari awal?"Luna tersenyum dan mengangguk menerima uluran tangannya "Tentu""Okay. Ayo kita pulang. Kita makan di villa, meminta bi Tuti memasak enak""Tunggu, kita makan bekal dulu yaa. Aku lapar sekali. Akan membutuhkan waktu sejam sampai di Villa""Hanya sepuluh menit""Huh?"Kevin menggaruk tengkuknya "Sebenarnya ini dibelakang Villa. Kita memutar rute sehingga menempuh satu jam""Huh?" mata Luna membulat lalu ia memukul Kevin,"Kau jahat sekali!" makinya yang di balas Kevin dengan tertawa.END
Wanita Kedua
Aku kembali menghela nafas, menatap rinai yang masih turun membasuh permukaan bumi.Saat ini aku duduk di dalam mobil bersama seseorang yang saat inipun ia masih enggan membuka suara, karena terhitung satu jam lamanya kami berdiam.Menghadap arah jendela, ku mainkan jari-jariku di kaca membentuk kata akibat embun dari hujan.Setelah tadi ia menarikku ke dalam mobil ini dan jawabanku yang masih sama seperti sebelumnya, sehingga ia menepikan mobilnya di tepi jalanan dengan hujan dan kilatan petir sebagai bentuk protes dari pernyataanku.Pria yang membuatku jatuh cinta sejak awal pertemuan kami, setahun yang lalu. Pertemuan untuk pertama kalinya, Bali. Aku ingat saat moment itu, kami menaiki pesawat dan duduk bersebelahan.Saat itu aku ke bali untuk menenangkan pikiran akibat aku baru saja putus dari kekasihku, lalu bertemu dengan pria ini. Pria yang awalnya menyebalkan namun kami menghabiskan waktu bersama di Bali selama satu minggu.Dan sejak itu kami berhubungan, dan untuk pertama kalinya duniaku kembali hancur saat Cindy mengenalkan kekasihnya di cafe, yang ternyata adalah Yovan."Sayang.." panggil pria di balik kemudi itu, namun aku masih diam.Ia memegang tanganku "Jangan tinggalkan aku""Yovan, sadarlah kita tidak mungkin bersama.""Apa yang tidak mungkin?" Balasnya menatap tajam mataku, tatapan yang sangat mengintimidasi.Ku tarik tangannya lalu berkata "Lihat di jarimu. Kamu sudah bertunangan."Ia ingin menjawabnya, jawaban yang lagi-lagi sama dan dengan cepat aku menyelanya "Demi Tuhan Yovan, Tunanganmu adalah temanku. Aku tidak bisa melakukan ini lagi" teriakku dengan frustasi.Aku kembali menghela nafas "Sekarang ayo kita kembali kesana." ucapku, ia hanya diam tampak berpikir.Tadi kami masih berkumpul di acara Cindy, tunangannya dan temanku. Saat aku hadir bersama Teo, yang tak lain adalah anak teman ayahku, ia langsung menarikku.Ku lirik Yovan menghela nafasnya dan melajukan mobilnya, tapi bukan ke arah tujuan yang ku perintahkan."Kita mau kemana?" tanyaku yang tak dijawab olehnya. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Dengan segera aku mengirim pesan pada Teo bahwa aku pulang duluan karena ada meeting mendadak, syukurlah Teo mengerti dan tak banyak bertanya.Setelah menempuh kurang lebih satu jam kami sampai di sebuah pantai, aku tahu pantai ini.Tak ingin berdebat aku langsung turun dari mobilnya, malam ini hujan turun namun sudah reda, ia malah mengajakku ke pantai disaat malam begini.Aku melangkahkan kakiku sedikit mendekat menuju bibir pantai. Menggosok-gosokkan tanganku mencari kehangatan.Kurasakan seseorang memeluk tubuhku dari belakang, nafasnya menghembus tengkukku menciptakan sensasi aneh di tubuhku. Aku memejamkan mataku menikmati pelukan dari orang yang ku cintai serta menerima hembusan angin yang turut membelai wajahku, biarlah untuk malam ini."Ku mohon, jangan menikah dengannya" ucapnya serak di telingaku.Ya, aku akan segera menikah dengan Teo. Tapi belum di tentukan kapan tepatnya karena saat ini kami masih tahap pendekatan, syukurnya orang tua kami tak mempermasalahkan itu, mereka membebaskan pilihan kami.Teo, Lelaki pilihan orang tuaku karena sampai saat ini aku belum membawa kekasihku sejak putusnya aku dengan mantanku setahun yang lalu.Aku juga terpaksa menerimanya karena ingin mengakhiri kisah cinta yang tidak baik ini. Cindy adalah temanku sejak di bangku perkuliahan, dia sangat baik padaku rasanya sungguh tidak adil jika aku terus menerus bermain dengan kekasihnya yang sudah dua bulan ini menjadi tunangannya.Cindy selalu menceritakan kekasihnya yang diluar negeri, bodohnya aku yang ternyata Yovan adalah lelaki yang diceritakannya sejak 2 tahun yang lalu. Dan dihari wisuda aku mendapati kekasihku tidak setia dan bertemu dengan Yovan saat pergi ke Bali.Aku juga ingat momen yang membuat Cindy curiga pada kami, dan itu pula yang membuat aku menerima Teo dan mengatakan akan menikah dengannya agar Cindy tak berprasangka buruk padaku.Oh pantaskah aku berbicara begini?Saat itu, tepatnya tiga bulan yang lalu aku meminta Cindy menemaniku mencari beberapa novel, minimal sebulan sekali kami selalu rutin hangout bersama.Aku menunggunya di cafe yang ada di mall tersebut, tak lama Yovan datang dan langsung mengecup dahiku. Tentu aku terkejut dan menegurnya namun dengan santainya ia berkata "Cindy akan menyusul karena menemani ibunya sebentar dan aku disuruh menemanimu"Aku tidak mengerti kenapa ada wanita sebaik Cindy. Tanganku di genggamnya yang masih aku diamkan saja namun saat Cindy datang aku dengan cepat menarik tanganku dari genggamannya.Cindy tersenyum dan memeluk singkat padaku yang membuat hatiku diremas perasaan bersalah."Makan dulu ya. Aku lapar ni tadi sama mama belum makan karena sudah janji mau ketemu Kalila." ucapnya"Sayang, tidak buru-burukan? Temani aku dan Kalila dulu ya" tambahnya pada Yovan yang di balas anggukan.Kami segera memesan dan tak lama pesanan kami datang, aku memesan beef steak namun entah itu salah di pisau atau bagaimana rasanya sulit untuk di potong. Dengan cekatan Yovan mengambilnya dan membantunya memotong kemudian menyerahkannya kembali padaku."Sayang, punyaku tidak? Aku juga mau" ucap Cindy pada Yovan, ku lihat ia sedikit mengerutkan dahinya menatap kami dan menatapku dengan tatapan berbeda.Aku merutuki Yovan kali itu, bagaimana ia bisa lepas kontrol begitu di hadapan Cindy. Dan saat itu ia juga mengambil alih milik Cindy dan memotongkannya dengan cepat ia berkata "Aku serasa memiliki dua bayi"Aku tahu, ungkapannya hanya untuk memoles kecurigaan kekasihnya dan aku bersyukur untuk itu."Sayang, sepertinya aku sudah siap untuk melepaskan Cindy" ucap Yovan menarikku dari lamunanku beberapa waktu lalu.Aku memutar tubuhku ke arahnya "Tapi aku tidak bisa melanjutkan ini lagi" lirihku"Cindy gadis yang baik, aku tidak mungkin mengkhianatinya." tambahku dengan memelas padanya"Lalu bagaimana perasaanku, Kalila?""Kamu sudah bersamanya selama dua tahun lebih tidak mungkin tak ada cinta, Yovan" balaskuIa menggeleng dengan tegas "Hubunganku sedari awal dengannya hanya karena semata aku menyayangi orang tuaku dan terpaksa menerima permintaan mereka. Aku sungguh mencintaimu""Pikirkan aku, kita. Perasaan aku dan kamu, Kalila." tambahnya lagiAku mengangguk "Baik. Anggaplah begitu. Lalu bagaimana dengan orang tuamu. Apakah mereka menerimaku nantinya?""Dan apakah kau pernah berpikir bagaimana hubunganku dengan Cindy nanti? Aku tak ingin kehilangannya" tambahku lagi.Yovan terdiam, matanya menatapku lekat dan ku balas tatapannya"Apapun itu Kalila. Asal aku bersamamu" ucapnya setelah beberapa menit terdiam, tangannya menarik tubuhku."Apa kita harus kawin lari?" bisiknya padaku"Aku tidak ingin seperti itu, tolong pikirkan keluargaku juga" suaraku teredam pelukanyaAku menangis, membenamkan wajahku lebih dalam di dekapannya. Sungguh aku mencintai pria ini, sangat."Aku tidak bisa menjadi perempuan seperti itu, Yovan" isakku dan ia semakin mengeratkan pelukannya dan ku balas tak kalah erat.Tuhan, bisakah aku memiliki pria ini? Dan mengapa aku bertemu dengannya jika pada akhirnya hubungan ini akan menyakiti banyak pihak nantinya.---Sinar mentari pagi menerpa wajahku, mengusik ketenangan tidurku. Aku bangkit bersandar pada kepala ranjang. Ku lihat pria yang kucintai masih tertidur dengan meringkuk di sofa itu.Tadi malam kami memutuskan tidur di penginapan yang tak jauh dari pantai ini dan hanya tersisa satu kamar sehingga ia tidur di sofa.Sebenarnya aku tidak tega karena itu pasti tidak nyaman dan akan membuat tubuhnya terasa sakit, aku juga sempat menyarankan untuk tidur bersama dengan arti tidur sebenar-benarnya tapi ia menolak takut khilat katanya. Dan sisi itu yang membuat aku jatuh cinta lagi terhadapnya.Ia menggeliat "Morning, sayang" suara paraunya bangun tidur yang terdengar seksi di indera pendengaranku.Aku tersenyum membalasnya "Morning""Kiss nya mana?" godanya padaku"Pukul mau?" balasku cepat dan membuatnya terbahak.Ku lihat ia bangkit memberikanku paper bag "Ganti pakai kaus ini ya. Cuma ini yang ada di toko bawah tadi malam"Aku bahkan tidak tahu kapan ia keluar, karena tadi malam aku sangat lelah sekali jadi begitu sampai penginapan langsung tertidur.Aku mengangguk "Terima kasih"Lalu akupun bangkit untuk membersihkan diri.Saat ini kami sedang berkeliling di tepi pantai baik aku maupun Yovan, kami enggan untuk pulang. Setelah sarapan tadi kami berkeliling disini bahkan Yovan mengajakku untuk ke puncak namun aku tolak.Bagiku di pantai ini saja sudah lebih dari cukup."Yovan, ayo foto" ajakku yang langsung ia iyakan, dan memposisikan tubuhnya di sampingku untuk memudahkan potret selfie.Beberapa pose kami lakukan, setelah lelah ia meminum sebotol air mineral yang sempat kami beli tadi. Dengan iseng aku mendorong botol itu saat ia menenggaknya menyebabkan bajunya basah dan ia memekik membuatku tertawa kencang dan segera berlari."Kalila!!" Teriaknya dan aku tertawa sambil berlari, ia yang tak mau kalah mengejarku dan menangkapku lalu menggelitiku perutku, ini kelemahanku."Aa... Sudah. Yovan.. Geli" rengekkuDia masih terus menggelitikku "Rasakan.. Ampun tidak?" ucapnyaAku masih terus tertawa dan mengucapkan kata ampun tapi dia berbohong karena masih terus menggelitikku hingga aksi kami terhenti kala mendengar suara yang kami kenali.."Kalila..." ucapnya, kami sama-sama menoleh dan terdiam.Aku menggigit bibirku, bingung harus menjawab apa. Kurasakan Yovan menggenggan tanganku menyalurkan rasa bahwa semua akan baik-baik saja."Bisa kita bicara?" ucap Yovan dan diangguki Teo, ya orang itu adalah Teo. Bagaimana bisa ia berada disini."Maafkan aku Teo." Ucapku padanya sambil menunduk saat kami sudah duduk di tempat makan dipinggir pantai ini dan setelah aku juga Yovan memberikan penjelasan.Dia mengangguk "Aku sudah tahu semuanya, Kalila" jawaban yang membuatku terkejut dan langsung mendongakkan wajahku."Tapi sungguh Teo, aku sama sekali tak ada niatan untuk mempermainkanmu.""Tidak apa, Kalila. Aku mengerti. Cinta tak bisa dipaksakan, bukan?"Aku tersenyum lalu mengangguk, pria ini sungguh bijak tak heran jika ayahku membanggakannya untuk menjadi calon suamiku."Sejak kapan kau tahu?" tanya Yovan"Dua minggu yang lalu aku melihat kalian bersama. Perasaan kalian itu terlihat jelas, bahkan tadi malam semakin membuatku yakin." jelasnya"Lalu bagaimana keputusan perjodohan kita?" tanyaku hati-hati tak ingin menyakiti banyak pihak.Ia tersenyum "Jangan pikirkan, nanti kita bicarakan""Kamu pria yang baik, Teo""Boleh aku memelukmu? Bisa dikatakan untuk salam perpisahan, mungkin" usulnyaKu lihat Yovan melebarkan matanya menatapku tapi aku mengangguk padanya dan mengatakan "Boleh" pada Teo.Ia bangkit dan memelukku dan membisikkan kata "Jika kau tak bahagia dengannya, datanglah padaku" lalu melepaskan pelukannya.Aku tersenyum padanya lalu ia memegang pipiku dan beranjak dari hadapan kami."Terima kasih, Kalila" ucap suara di sebelahku. "Aku juga akan segera mengatakan pada Cindy nantinya"Aku hanya menatapnya, karena jujur aku belum siap jika harus mengatakan apapun pada Cindy nantinya.---Seminggu telah berlalu setelah kejadian itu, dan kami belum bertemu sama sekali. Yovan disibukkan pekerjaannya dan waktu luang dihabiskan bersama Cindy, aku tak keberatan karena itu haknya bahkan aku menyuruh Yovan untuk menuruti kemauan Cindy daripada bertemu denganku. Meskipun aku tahu Yovan kesal denganku.Hari ini adalah weekend, hari minggu lebih tepatnya. Aku diliburkan aktivitas menatap monitor di kantorku. Dan hari ini aku ada janji bertemu dengan Cindy, ya aktivitas bulanan yang harus kami laksanakanSore ini kami akan bertemu di taman kota, sepertinya aku akan mengajaknya nonton saja karena ada film seru yang tayang.Setelah bersiap aku segera memesan taksi online untuk bertemu dengannya, aku sedang malas mengemudi.Setelah sampai di taman kota aku langsung berjalan ke arah tujuan titik temu kami. Aku melihat Cindy, tapi ia bersama seorang lelaki dan mereka berdiri saling menghadap dengan pria itu membelakangiku.Dari punggung itu, sangat familiar. Yovan? Ah itu Yovan. Kenapa bersama Cindy, atau Cindy mengajaknya atau malah Yovan yang ingin ikut dengan kami seperti biasanya terkadang memang begitu.Masih berjalan perlahan aku menghampiri Cindy, tapi tatapan Cindy berbeda kali ini. Ada kilatan sesuatu di matanya tapi aku tepis.Berusaha tersenyum meskipun penasaran hingga beberapa langkah aku mendekatinya dan kulihat ia juga melangkah ke arahkuTersenyum dan berucap "Hai Cind..."Plakk"Kamu pantas mendapatkan itu, Kalila!" teriaknya disertai geraman. Yovan melangkah mendekatiku.Aku terdiam, memegang pipiku yang berdenyut nyeri. Ah apakah ini sudah saatnya? Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi tapi haruskah secepat ini?Aku mendongak menatap Yovan sejenak dan pria itu menggeleng, apa itu artinya Yovan belum mengatakannya.Aku menatap Cindy "Cindy, aku..""Apa? Terkejut huh? Aku tidak menyangka ini. Aku pikir kita adalah teman Kalila" potongnya dengan cepatSetetes air mataku sudah berjatuhan, aku tahu dan aku sadar tidak akan ada kalimat pembelaan yang tepat untukku, aku sadar bahwa aku salah."Cindy, tenangkan dirimu dulu. Kita bicara" ucap YovanCindy menatap dengan sorotan tajam ke arah kami."Kau tahu, Kalila? Kemarin Yovan berkunjung kerumahku, aku penasaran kenapa Yovan memainkan ponselnya terus. Dan terdapat notifikasi chat terakhir bernama 'Kalila' aku penasaran, saat Yovan izin ke toilet aku dengan cepat membukanya, kau tau apa yang ku temukan? Passcode ponselnya tanggal lahirmu" ia menangis dan menjeda ucapannya "Awalnya aku sudah curiga tapi aku menepisnya karena aku berpikir kau teman baikku tidak ada salahnya kau juga dekat dengan calon suamiku." ia menyeka air matanya "Selama ini aku juga percaya padamu, tak mungkin kamu begitu"Ia masih terisak menahannya aku sudah tak sanggup berkata-kata "Aku yang tak berani membuka room chat beralih ke galeri menemukan foto kalian bermesraan. Aku bingung harus bagaimana, aku menahannya hingga hari ini" tambahnyaAku menangis, aku menyesal dan tak ingin kehilangan Cindy tapi juga tak ingin kehilangan Yovan. Katakan aku egois memang."Cindy, kumohon maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya""Kenapa Kalila? Kenapa? Aku salah apa padamu sehingga kau tega melakukan ini padaku""Cindy, aku bisa jelaskan. Kau ingatkan pria yang ku ceritakan sewaktu di Bali it..""Stop it, Kalila. Aku pikir kau teman baikku, merangkul dan memelukku untuk menenangkan namun aku salah. Kau memeluk hanya untuk memastikan pisau yang kau tancapkan semakin dalam.""Dan Aku membencimu!" teriaknya frustasi"Dan kau Yovan, aku tidak akan membatalkan perjodohan kita" tambahnya lagi, mengusap air matanya dan ia pergi begitu saja meninggalkan aku dan rasa sakit yang kian bercokol di hatiku.Tubuhku luruh ke bawah, Yovan berusaha membantuku namun ku tepis "Sudah cukup, Yovan." isakkuDia memelukku yang masih terduduk di bawah, ia meletakkan dagunya di puncak kepalaku. "Bagaimana ini Yovan? Cindy membenciku" isakku berulang-ulang kali.Setelah kejadian itu aku langsung beranjak menyusul Cindy ke apartemennya untuk memohon permintaan maaf darinya namun tidak ada.Sudah seminggu ia sulit dihubungi bahkan nomorku di blokir olehnya. Ia benar-benar membenciku yang membuat seminggu ini aku gelisah.Aku mengingat, hanya rumah orang tuanya yang belum aku kunjungi. Aku begegas kesana dengan cepat.Dengan memesan ojek online agar lebih cepat sampai dan lebih baik untuk bertemu dengannya.Tak membutuhkan waktu lama, aku sampai di rumahnya yang ternyata disana aku melihat Yovan yang baru saja turun dari mobilnya."Kalila.." ucapnya menghampiriku langsung memelukku dan ku dorong perlahan.Semenjak kejadian di taman itu aku memang menghindarinya, aku cukup takut dan perasaan bersalah menggerogotiku yang kian hari semakin membesar.Aku beranjak mendekati pintu yang diikuti oleh Yovan kemudian memencet bel, yang dibukakan oleh ibunda Cindy, tante Novi."Assalamualaikum, Tante" sapaku dan menyalim tangannya"Eh Kalilah, loh ada Yovan juga" lalu diikuti Yovan menyalim tangan tante Novi."Masuk dulu ayo" ajaknya yang ku tolak halus"Mm tante, Cindy nya ada?" tanyaku to the point. Tante Novi mengajakku duduk di teras."Ada apa Tante?" tanyaku lagi setelah duduk melihat rautnya yang muram."Cindy tak mengatakan apapun pada kalian?" aku menggelengkan kepalaTante Novi menghela nafas "Sebelumnya tante minta maaf pada kalian yaa. Kalau saja tante tidak menjodohkan Cindy pasti tidak akan begini kejadiannya"Aku yang mulai mengerti apa yang disampaikan tante Novi kini memegang tangannya. Mungkin Cindy sudah bercerita pada ibunya."Tante.. Aku minta maaf" Ujarku karena kekacauan iniTante Novi menggeleng "Yovan sudah menjelaskannya kemarin pada tante. Kalian tidak sepenuhnya salah""Tante pikir saat beberapa hari yang lalu Cindy ke rumah ini ia rindu atau apapun namun ia mengurung diri di kamarnya, beberapa hari kemudian ia keluar kamar tapi ternyata ia hanya berkata bahwa perjodohannya di batalkan dan tidak bisa dilanjutkan, tante ingin bertanya meskipun tante sudah mendengar dari Yovan, setelah malamnya mengatakan itu ia pamit pergi"Aku yang panik sontak berdiri "Pergi.. Pergi kemana tante?""London. Ia berangkat sebentar lagi. Mungkin sudah sampai di bandara""Baiklah tante.. Kalila pamit mau menyusulnya" ucapku yang bergegas namun ditahan tante Novi"Tunggu, nak. Cindy menitipkan surat untukmumu" lalu ia masuk ke dalam dan keluar menyodorkannya padaku.Aku pamit pada tante Novi mulai berjalan keluar dan ditarik masuk ke dalam mobil oleh Yovan "Aku antar""Bagaimana ini Yovan. Cindy membenciku""Ayo cepat nanti ia sudah berangkat" tuturku lagiTak membutuhkan waktu lama kami telah tiba di bandara dan penerbangan ke London pun sudah berangkat beberapa waktu yang lalu."Yovan.. Cindy membenciku" racauku padanya, ia memelukkuSeakan teringat sesuatu aku mengambil titipan Cindy, membuka surat itu yang bertuliskan tinta berwarna hitam. Lelehan air mata menghiasi wajahkuHallo, Kalila.Maaf tidak pamit secara langsung. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kau tidak sepenuhnya bersalah.Sebenarnya aku tahu kau menjalin hubungan dengan Yovan, namun egoku menentang itu. Cintaku membutakan untuk tidak memperdulikan itu, hingga acara tempo hari lalu Yovan menarikmu pergi. Puncaknya aku melihat foto mesra kalian di ponsel.Awalnya aku tetap ingin melangsungkan pernikahan itu tapi setelah mendengar percakapan Yovan dengan ibuku, aku sadar bahwa aku terlalu egois.Jangan khawatirkan aku, waktu akan memperbaikinya.Tetaplah bersamanya, aku menyayangimu, Kalila. Sampaikan salamku padanya.Sampai bertemu lagi nanti.Dari sahabat cantikmu, Cindy Antika.Aku menangis tersedu-sedu, rasanya kakiku tidak bisa menapak dan tubuhku luruh ke lantai. Tak perduli orang berlalu lalang memandang aneh, rasanya aku ingin memeluk Cindy saat ini.Kurasakan Yovan memelukku"Cindy tidak membenciku""Cindy menyayangiku, Van" racauku lagi.Kurasakan sebelah tangannya menarik surat dari genggamam tanganku. Beberapa saat kemudian kurasakan ia kembali memelukku dan mengecup puncak kepalaku.."Iyaa.. Cindy amat menyayangimu" ucap Yovan lagi masih dengan memelukku.THE END
7 Days
"What! Kok aku sih?" pekikku histeris kala mendengar ocehan salah seorang gadis yang duduk di seberang kursiku, Lala.Dua orang gadis dan satu pria duduk menghadap dihadapanku dengan kalimat yang membuatku rasanya ingin terbakar."Ayolah, Dita. Cuma rencana untuk party" balasnya dengan raut memohon padaku.Saat ini aku sedang duduk di kantin kampus sambil menunggu jam kuliah berikutnya yang akan dimulai satu jam lagi dan mereka datang di depanku.Aku yang mendengkus tidak suka mendengar usulan itu, lalu menyeruput ice coffe hingga berbunyi menandakan habis dari cupnya."Kalian gila?" tanyaku lagi masih tidak percaya.Mereka menggeleng dengan tegas, kecuali pria itu, bagaimana tidak? Salah satu teman dari teman mereka akan berulang tahun sebulan lagi. Dan mereka mengajakku turut membantu rencana yang telah mereka susun.Tidak ada yang aneh sampai disana. Yang aneh adalah aku disuruh menjadi perempuan penggoda untuk menggoda pacar dari lelaki gadis yang akan berulang tahun itu.Lebih tepatnya, pacar pura-para pria dihadapanku ini, Maxim. Ide gila.Setidaknya aku punya harga diri, tahu! Bagaimana pemikiran orang lain. Aku akan disebut pelakor, begitukah?"Bantulah kami. Hanya kau perempuan yang tepat" bujuk mereka"Aku punya pacar, bagaimana ka..""Halah.. Pacarmu tidak disini" potong gadis rambut pendek bernama Aira itu, dia memang gadis yang galak."Kalian juga gak bisa maksa dong, hanya karena aku tidak mudah untuk di tindas bukan berarti aku akan melakukannya"Lala memegang tanganku "Kami juga ingin tahu, Maxim setia atau tidak." bisiknya yang membuatku sepontan menatap pria itu yang kini juga menatapku dengan alis terangkat.Aku akui, dia sungguh tampan."Lalu bagaimana jika Maxim baper sama aku, aku tidak bisa mempertanggung jawabkan perasaannya. Aku sudah punya pacar" jelaskuMereka kompak mengangguk kecuali Maxim yang ku dengar berdecih "Hanya seminggu, Dita. Ayolah" timpal Aira."Okay. Seminggu. See you" ucap Maxim datarMemang aku mengatakan setuju? Tidak adakan.Maxim adalah senior kami, dia seorang presma. Sosok wajahnya yang rupawan dan juga berkantung tebal membuat perempuan mana saja akan suka rela mencintainya, setidaknya itu yang aku tahu.Aku tidak pernah berharap akan mendapatkan hatinya, huh kalau bukan karena ucapan yang cukup menggoyahkanku.Aku ingin tahu , apakah Angel mencintaiku . Bisik Maxim saat itu yang membuatku berteriak bodo amat, tentu hanya dalam hati. Mana berani aku, tatapannya saja tajam mengintimidasi.Ia menjauhkan wajahnya sambil menyeringai, yang mana kata-kata selanjutnya yang membuatku pasrah dan terjebak di tempat ini bersamanya.Satu minggu 50 juta , semudah itu hanya dengan dekat denganku .Saat ini aku duduk diluar ruangan saat presma beserta teamnya sedang rapat. Lagipula apa hubungannya sih. Seharian aku disuruh menunggunya, tidak ada kegiatan apapun.Ia keluar ruangan "Beliin air mineral gih" titahnya sambil menyerahkan uang seratus ribu."Kok aku merasa jadi kacung ya?" protesku dihiraukan saat ia tanpa perasaan meninggalkanku masuk ke dalam ruangan itu lagi.Seharian ini harusnya aku rebahan, karena tidak ada jadwal kuliah. Mulutku ini sih berkhianat harus setuju saat itu.Bahkan hari ini aku sudah 5 kali bersamaan ia menyuruhku membeli minum ini. Dari mulai fotocopy, membeli spidol, membeli kopi, mencari kuota dan terakhir membeli air mineral. Aku yakin dia pasti sedang mengerjaiku.Iyalah, mana mungkin ia dengan cuma-cuma memberiku 50 juta begitu saja, iyakan?Ini masih hari pertama, segera aku membeli air mineral di kantin kampus dan kembali ke ruangan ituAku masuk memberikan sebotol air mineral tanpa memberikan kembalian itu."Ini sudah sore banget sebentar lagi malam, Max. Sorry. Aku balik duluan" ucapku menahan amarah.Ia menahan lenganku, "Besok aku jemput jam 10 pagi" ucapnya.Sialan! Kirain nahan lengan bakalan mau nganterin pulang. Ternyata besok ada lanjutannya. Mendengkus aku meninggalkannya.---Tidak sesuai dugaan, aku masih baru selesai mandi dan dia sudah mengetuk pintu kamarku, ku lihat jam yang menggantung di dinding. Ini masih pukul 9, kenapa dia tidak sabaran sekali sih.Aku tidak heran kenapa dia bisa mengetuk pintu kamarku dan menyerukan namaku, karena aku hanya tinggal dengan ART di rumah ini, papa dan mama sedang perjalanan bisnis atau malah honey moon untuk yang kesekian kali.Tapi Aku jadi memikirkan Angel, kasihan gadis itu. Biarpun dia sungguh menyebalkan tapi tetap saja aku merasa kasihan padanya.Mungkin karena kami mantan teman. Oh adakah sebutan lain untuk itu? Ini juga yang membuatku ada ketertarikan untuk membantu misi mereka. Sesekali jahat bolehkah?Menghela nafas, hanya seminggu, semangat Dita. 50 juta dalam seminggu. Kapan lagi?Dan kini aku sedang di toko perhiasan membantunya mencari hadiah, ia menggenggam tanganku. Aku berusaha menariknya tapi ia malah mempererat genggamannya.Bukan apa-apa aku hanya takut aku goyah."Yang mana?" tanyanya padaku, kali ini ia melepaskan genggamannya dan menunjuk 2 kalung yang bagus untuk Angel, satu bermainan mawar dan infinity.Mataku berbinar saat melihat kalung berbandul infinity tapi posisinya ini saran untuk Angel, bukan aku."Mm.. Ini, Angelkan suka sekali dengan mawar jadi lebih baik yang ini" saranku sambil menunjuk berbandul mawar, aku tahu Angel itu perempuan cantik yang glamor, gaya hidup setara dengan kekayaan orang tuanya."Sepertinya kau sangat mengenal Angel" balasnya dengan fokus menatap kalung ituAku menghendikan bahu "Kebetulan saja"Maxim mengangguk singkat. "Kau boleh menunggu di restoran seberang sana. Kita makan dulu" perintahnya yang membuat aku mendengkus.Sabar Anandita yang cantik, demi 50 juta.Aku menghela nafas lalu keluar menuju restoran yang di depan sana. Aku masuk langsung memanggil waitres s memesan pesananku tanpa menunggu pria menyebalkan itu.Sekarang aku mengerti, Maxim dan Angel mereka memiliki karakter yang sama. Sama-sama menyebalkan.Tak lama pesananku datang, aku langsung memotong steak tersebut. Baru saja aku menyuapkan potongan pertama, Maxim datang"Kenapa tidak menungguku?"Aku hanya diam saja, malas ah jawabnya. Masih dengan santai aku mengunyah dan memotong steak tersebut"Akukan menyuruhmu menungguku disini, maksudnya kita makan bersama"Aku menyodorkan potongan steakku padanya, sungguh dia cerewet sekali, diluar dugaan ia malah menerima suapan dariku."Enak" jawabnya ringan, kulihat ia mengangkat tangan memesan menu yang ku pilih ini. Aku tahu restoran ini, sering kukunjungi bersama Angel.Uhuk..uhuk..Aku tersedak. Aku baru saja memikirkan Angel tapi gadis itu panjang umur sudah muncul begitu saja.Maxim mengangsurkan minuman padaku dan langsung ku terima.Bagaimana ini jika aku disebut perusak hubungannya?Tidak.. Bukankah aku dibayar untuk itu? Baiklah sepertinya aku harus memulai adegan itu sekarang.Maxim memegang tanganku mungkin aku terlihat pucat kali ya. Ku lihat Angel tidak menatap ke arahku, tapi tidak apa-apa mana tau ia melihat.Kamu pasti bisa Dita."Hei. Are you okay?" aku membalas genggaman tangannya sepertinya dia terkejut akan perlakuanku iniAku tersenyum dan mengangguk, tapi senyumanku luntur kala Angel keluar dari restoran ini. Itu artinya gagalkan?Aku menarik tanganku, mengubah ekspresiku menjadi datar kembali. Aku sudah selesai makan, sepertinya jalan-jalan ke wahana bermain akan seru.Ia melemparkan paper bag ke arahku, aku mengenyit menatapnya yang melahap makanannya dengan tenang.Aku membuka paper bag itu dan aku melihatnya dengan binar kebahagiaan."Max.. Kok tahu?""Aku sedang tidak menggombal" sahutnyaAku terkikik atas jawabannya, benar juga. Kata-kata itu sering digunakan sebagai balasan ketika pria menanyakan pertanyaan bermaksud menggombalin wanita.Aku tersenyum manis ke arahnya, "Terima kasih, Max" ucapku tulus yang di balas deheman olehnya.Tidak dapat ku pungkiri, aku senang menerima kalung ini."Kamu tahu, Max? Kalung infinity ini memiliki makna" tuturku seraya memerhatikan kalung ini dengan lekat.Ia menyudahi makanannya dan beralih menatapku, aku membalas tatapannya sebelum berucap"Kalung ini bermakna Abadi" kami masih saling menatap menyelami manik masing-masing.Aku takut, karena biar bagaimanapun aku... Aku pernah menyukainya.Aku yang saat itu maba, pada masa perpeloncoan, aku nyaris terlambat akibat kemacetan.Saat aku dengan tergesa memasuki kampus, topi terbuat dari kertas kartoon yang dirancang khusus masa maba terbang. Aku kelimpungan, masih menunduk malah tas terbuat dari karungku juga turut jatuh.Saat aku mulai mengutip peralatanku perlahan, ada seseorang yang membantuku.Awalnya ia tanpa ekspresi memberikan topi itu padaku, hingga detik berikutnya ia tersenyum. Manis sekali, bukan hanya itu namun sangat meneduhkan jiwa.Aku menerima topi itu lalu ia berkata "Remember me?" tukasnya saat itu, aku yang masih terpana belum mengucap apapun, ia tertawa dan berlalu begitu saja.Sejak saat itu, aku menyukainya."Apa pacarmu tidak pernah membelikan apapun?" tanyanya yang menarikku dari kisah itu.Aku menghendikan bahuku tanda acuh, "Lagipula ia sedang sibuk studi di luar nege..." ucapanku tertahan karena sosok yang amat ku kenali masuk ke dalam resto tempatku makan ini.Maxim menaikkan alisnya tanda bertanya kenapa aku berhenti.Aku masih menatap ke arah sepasang kekasih duduk di sudut sana. Bahkan ku lihat perempuan itu mengecup singkat pipi lelaki di sampingnya.Aku bangkit, menghiraukan perkataan Maxim. Melangkah mendekati meja sudut tersebut.Aku duduk di hadapan mereka, tampak wajah pria itu amat terkejut."Bisa jelaskan padaku, Tuan Leano?"Ia terdiam, gadis itu menatap heran ke arahku. Aku tersenyum sambil berucap "Terima kasih atas waktunya, aku.. Ah sudahlah. Sampai jumpa" ucapku lagi, aku berusaha kuat.Aku mulai bangkit, ia menarikku ke arah tempat yang sedikit tidak ramai "Maafkan aku. Aku.. Khilaf. Aku tidak bermaksud begi..."Plak!!Satu tamparan yang mungkin belum memuaskan hatiku yang bercokol karena perlakuannya tapi sudahlah."Kita sampai disini saja" namun ia menggeleng dengan tegas.Aku tertawa hambar sebelum berucap "Kamu tidak akan bisa berdiri di atas dua perahu sekaligus""Aku akan memutuskan Laila"Aku mengangguk singkat "Namanya Laila. Tapi aku tidak bisa melanjutkan ini"Lalu beranjak keluar restoran, hingga sampai di luar restoran tanganku ditarik, "Ayo aku antar pulang" ucap MaximAku yang sudah tidak memiliki tenaga karena takut tumpah ruah air mataku langsung ikut masuk kedalam mobilnyaSampai dalam mobil tangisku pecah tak lagi mampu membendung air mataku biar bagaimanapun kami sudah menjalin hubungan hampir dua tahun lamanyaKurasakan ada sebuah pelukan yang memeluk tubuhku sambil mengucapkan "it's okay"Apa yang membuat dia selingkuh di belakangku, aku sungguh memepercayainya. Ia berkata melanjutkan pendidikan di luar beberapa bulan yang lalu tapi aku salah.Maxim mengusap bahuku "Percayalah, dia akan menyesalinya nanti"Aku semakin menenggelamkan wajahku di dadanya, seolah mencari ketenangan dan perlindungan.Maafkan aku Angel, hari ini saja aku memeluknya.Aku bahkan merasakan ia mengecup puncak kepalaku. Lalu ia mengurai pelukannya, "Maaf" lirihkuIa mengambil sesuatu dari sakunya, ku sadari itu adalah kalung pemberiannya yang mungkin aku lupa membawanya tadi.Lalu ia memakaikannya padaku seraya tersenyum, aku masih menatapnya dalam diam."Makna kalung ini, abadi bukan?" tanyanya yang ku balas anggukan"Kalau begitu jadilah pribadi yang ceria dan kuat yang akan tetap abadi" tambahnya---Selanghari itu, kini sudah hari keempat, semalam seharian penuh aku di rumah tak ingin keluar.Bukan karena meratapi kesedihan melainkan ingin menenangkan hati saja. Karena sebenarnya aku tidak terlalu mencintainya hanya nyaman, pacaran kami hanyalah jalur atau langkah awal perjodohan yang akan berlangsung.Sebenarnya tidak sepenuhnya juga salahnya, aku mengerti. Kalimat apapun yang diungkapkan khilaf baginya menurutku tidak salah, aku hanya sedikit kecewa karena memercayai ucapan bahwa ia mencintaiku namun berjalan dengan wanita lain.Aku juga sudah menceritakan ayahku lewat telepon tentunya, beliau mengehela nafas dan menyerahkan keputusan penuh pada diriku kerena kekhilafan itu.Aku cukup senang akan kebijakan ayahku kali ini.Kali ini aku sudah berjalan memasuki pelataran kampusku, seingatku jam kelas berlangsung 45 menit lagi. Aku akan menghabiskannya di kantin.Tak lama ada yang merangkul bahuku yang membuatku monolehkan, sedang ia masih berjalan tenang sambil tersenyum hangat padaku" Better ?""Tentu" jawabku singkat "Bisa tidak jangan merangkul begini?" tambahku acuh"Kamu kan pacarku""Pura-pura" balasku cepat.Hingga sampai di kantin ia baru melepaskan rangkulannya dan pergi memesankan minuman atas perintahku.Tunggu.. Kok dia jadi senrimo begitu?Aku tahu bagaimana keseharian Maxim, sedikit tak percaya ia mau saja ku suruh padahal aku mengusirnya secara halus karena tatapan para pengunjung kantin ini.Beberapa saat ku lihat Maxim berjalan ke arahku sambil membawa nampan. Untuk kesekian kalinya ia tersenyum, seakan tertular akupun tersenyum sesaatPlakk!"Bitch" umpatnyaIni seperti de javu bagikuAku mendengkus kesal, ku lihat ternyata itu Angel. Aku tertawa miris sedikit melupakan peranku dan terhanyut oleh Maxim."Kau tahukan Maxim berpacaran denganku? Oh ayolah Dita, tidak cukupkah Fero bersamamu saat itu"Aku menggelengkan kepala, ku lihat Lala dan Aira menatapku khawatir juga beberapa sorot pasang mata menatapku seperti menghina?Dan aku tahu siapa itu Fero, pria yang dicintainya semasa SMA dahulu dan itu membuat hubungan persahabatan kami retak. Ia salah paham terhadapku, itu lebih tepatnya.Oh Tuhan.. Aku sudah membayangkan hal seperti ini akan terjadi tapi kenapa secepat ini dan terasa sakit yaa.Aku diam sesaat, sepertinya rencana mereka sukses! Ya, mempermalukan aku.Aku bangkit dari kursiku tak memerdulikan ucapan Maxim. Berjalan secepat mungkin, ini tak seperti ekpetasiku.Aku mulai melangkahkan kaki keluar karena tatapan mereka yang tampak menghina, tidak seperti ini perjanjiannya yang aku ingat.Bahkan sampai diluar gedung kampus, hal yang tak terduga adalah aku diguyur air oleh beberapa orang yang sepertinya fans Angel.Mantan sahabatku itu memang terkenal, ia adalah model.Aku tertawa miris memerhatikan diriku ini, Maxim datang menarik tanganku melindungiku di belakang tubuhnya"I hate you, Max!" umpatkuMax menoleh ke arah belakang ingin menjawabku tapi keduluan dengan suara lain"Hei, Maxim. Kau berselingkuh dengannya?" ucap Angel tertawa menyebalkan "Kau sungguh jahat. Beberapa hari lagi aku berulang tahun dan kau memberi kejutan ini?" sarkasnya lagi"Dan kau! Mantan sahabat tidak cukupkah kau mengambil pria itu dahulu padaku?" tanyanya dengan pandangan meremehkan.Aku melongokkan kepalaku ke depan, menatapnya lalu berujar "Fero tak pernah mencintaimu! Dia takkan mencintai gadis bar-bar" ucapku dengan lantang.Sudah terlanjur jadi pusat perhatian maka aku melangkah maju, akan mulai melanjutkan penjelasan yang sempat tertunda "Kau salah paham padaku, dan aku... Aaaa" teriakku kala ia menjambak rambut saat aku belum selesai memberinya penjelasan yang belum usai.Terserahlah! Aku sudah tidak peduli akan ia salah paham atau tidaknya. Angel memang keras kepala.Dan langsung ku balas dengan jambakan kembali di rambutnya, kami saling menjambak dan melempar caci.Maxim berusaha memisahkan kami yang saling memaki dan hingga akhirnya ia berhasil menyentak tangan kami, tubuhku yang limbung langsung terjatuh dengan tubuh yang setengah basah akibat diguyur air dan rambut yang acak-acakan.Mataku berkaca-kaca, kenapa Max sampai mendorongku? Aku malu.Tentu saja, ia mana mungkin sampai mendorong Angel. Aku sadar aku salah mengambil pilihan ini.Maxim berucap "Maaf" dan berusaha membantuku tapi langsung ku tepis.Dengan sisa keberanianku ku tatap tajam matanya, "Jangan pernah temuiku lagi""Tapi Dit..""Lupakan perjanjian itu" aku bangkit dan mulai pergi dari sana sambil memeluk tubuhku sendiri.Yaa aku sudah tidak peduli uang itu. Harga diriku lebih penting.Kamu jahat Maxim, kenapa aku dahulu menyukaimu. Sangat. Bahkan tak menampik aku juga masih menyukaimu saat ini.Sejak hari itu mereka tidak pernah lagi menemuiku, lebih tepatnya aku menghindari mereka. Maxim berulang kali datang kerumahku tapi selalu ku katakan aku tidak ada di rumah.Ini sudah malam dan hari ke 10, itu artinya hari ulang tahun Angel sudah lewat. Aku tersenyum mengingat kenangan dahulu namun hanya karena Fero, kami jadi saling memusuhi. Padahal aku sama sekali tak menyukainya hanya sebatas teman.Dan malam ini aku sedang berdiri di jembatan taman yang berhias kemerlap lampu, tempat favoritku dan Angel jika sedang dalam masalah, sebenarnya ini adalah hari anniversary pertemananku dengan Angel. Meskipun terlihat saling membenci aku sayang padanya dan ini juga menjadi alasanku untuk menyetujui rencana itu, terlepas dari Maxim. Aku menginginkan Angel bersama dengan orang yang tepat.Aku tersenyum miris, lagi-lagi ia berlaku demikian padaku. Angel tidakkah kamu tahu itu adalah hal kedua yang pernah kau lakukan padaku?Dahulu, tepatnya tiga tahun yang lalu saat di kantin sekolah semasa SMA dan kini di kantin kampus."Kau tahu tidak ada hal yang paling menyebalkan dari orang yangku cintai ternyata tak mencintaiku?" ucap seorang gadis di sebelahku.Aku menolehkan kepalaku menghadap ke arahnya, bahkan aku sudah ingin menangis saat ini.Ia menghela nafas menatap ke arahku "Seorang sahabat yang tak pernah memahami perasaan sahabat lainnya" Jawabnya, matanya juga sudah berkaca-kaca"Maafin aku, Dita" paraunya lalu meneteskan air matanya, aku menggeleng. Segera ku peluk tubuhnya."Harusnya aku tidak menamparmu, baik saat kemarin maupun saat 3 tahun yang lalu. Aku kelepasan. Maafin aku sudah membuatmu memilih perjodohan itu dan meninggalkan Fero hanya demi keegoisanku waktu itu. Karena aku kau harus bertemu dengan pria brengsek yang menyelingkuhimu"Aku mengurai pelukan "Kau tahu dari mana?" tanyaku yang bingung kenapa dia begini"Kemarin aku bertemu dengan Fero, dia menjelaskan semuanya ditambah penjelasan Maxim. Aku wanita jahat" ucapnya"Ayo pukul aku" perintahnya sambil menarik tanganku"No, Angel. Berhenti kekanakan. Yang sudah berlalu biarlah berlalu""Maafin aku ya?" pintanya yang ku balas anggukan. Begini akan lebih baik. Melupakan yang telah terjadi.Ia memberikan aku secup es krim yang entah dari mana lalu berkata "Suapin aku es krim biar aku percaya" aku tertawa ini adalah kebiasaan kami sejak dahulu, jika ada yang salah dan cara memperbaikinya adalah menyuapkan es krim. Itu artinya sudah memaafkan.Aku langsung membuka cup dan menyuapinya ia tersenyum, kamipun duduk di bangku yang tak jauh dari jembatan."Sebenarnya..." lirih Angel"Ada apa?""Sebenarnya itu skenario kami" aku menautkan glabelaku arti tak mengerti arah pembicaraan kami"Kau tahu? Aku sama Maxim dijodohkan hanya saja hati kami sudah menetapkan pilihan masing-masing. Maxim hanya tidak tahu cara mengungkapkannya padamu. Makanya ulang tahunku jadi alasan untuk mendekatimu." ia menghela nafas sejenakTunggu apa itu artinya Maxim? Ah tidak..tidak."Dan aku minta maaf, untuk tamparan dan hujatan itu diluar rencana. Aku hanya teringat saat SMA dan..""Itu salah paham" potongku"I know, Dita. Dan Maxim akan melamarmu saat ulang tahunku. Itu seharusnya" balasnya lagi"Kau mencintainyakan?" tanyanyaAku terdiam sebentar lalu berjalan ke arah jembatan itu lagi "Iya, aku mencintainya" sambil menatap lurus menghadap hamparan pemandangan di jembatan ini.Tak lama sebuah lengan melingkari perutku, memelukku dari belakang"Aku juga mencintaimu, sangat. My Anand" ucap pria itu.Anand? Ah aku ingat. Jadi Maxim itu adalah tetangga gendutku itu? Pantas saat bertemu saat itu ia bertanya 'Remember Me?' kok dia bisa jadi tampan begini"Kamu bocah gendut tetanggaku dulu?" tanyaku tak percayaAku menoleh pada mereka, Maxim membalasku dengan mengecup pipiku dan Angel meringis meminta maaf sambil mengangkat tangan.Kurangajar aku kena dua kali!.POV MaximSejak ikut pindah orang tuaku ke kota Medan kelas 6 SD lalu. Dan saat ini aku Kembali dan kuliah di Jakarta kembali. Berharap menemukan sosok teman kecil yang selalu menemaniku, saat aku pindah kembali ke rumah lamaku itu, tetanggaku sudah ganti bukan ia lagi, Anandita.Setahun belakangan ini aku mencarinya, meskipun aku mengikuti Instagramnya tetap saja aku bukan lelaki pengumbar rayuan yang mudah dekat dengan wanita.Tapi di gerbang itu saat aku membantu gadis yang barangnya berjatuhan aku melihatnya.Hatiku bersorak " Remember me ?" ucapku namun dia hanya diam saja, sedikit menyebalkan namun dari matanya, aku menyadari bahwa aku jatuh cinta.Dan ternyata ia juga dijodohkan, pada lelaki bernama Leano. Aku sempat frustasi.Sambil memikirkan strategi untuk mendekatinya, orang tuaku mengadakan perjodohan dengan Angel, tentu aku marah. Dan kami sepakat untuk melakukan rencana pada Dita dengan kilah ulang tahun Angel. Karena Angle memiliki kekasih. Dan rencana ini semakin mudah saat aku menerima fakta Leano berselingkuh.Ku akui aku sempat mengerjainya karena ia tak kunjung mengingatku.Namun saat Angel menamparnya dan bertengkar pada Dita itu membuatku bingung sekaligus marah karena itu tak sesuai dengan skenario yang kami buat. Namun Angel bilang dia khilaf.Hingga pada hari ulang tahun Angel aku sudah menyiapkan segalanya, termasuk cincin lamaran itu. Orang tua kami juga sepakat membebaskan kami untuk memilih, mereka hanya ingin yang terbaik untuk kami.Lagi, aku marah pada Angel namun ia berjanji akan membantuku. Dan 3 hari kemudian Angel mengajakku untuk ikut ke tempat favoritnya dengan Dita. Aku tahu hubungan mereka karena Angel sempat menceritkannya.Aku melihat Dita disana, rasanya aku ingin segera memeluknya. Namun Angel menahanku, "Bersabarlah, aku perlu meminta maaf padanya. Aku juga perlu memperbaiki hubungan kami" ucap Angel yang ku angguki.Ku lihar mereka berbicara, lalu saling memeluk bahkan kantungan yang sempat ku lihat di bawa Angel tadi di sodorkan dan mereka saling menyuap.Tak tahan, rasanya aku ingin memeluknya, aku mulai berjalan perlahan sampai ucapan Angel membuatku menahan nafas"Kau mencintainyakan?" tanya Angel yang kudengar. Dan kulihat Dita bangkit dan melangkah.Dengan lamban akupun ikut melangkah ingin mendengar jawabannya. Jawaban yang membuat akhir dari skenario yang kami buat"Iya, aku mencintainya" jawabnya aku tersenyum atas jawabannya.Merasa tak tahan lagi, aku langsung menyerbunya dengan memeluknya dari belakang dan berucap "Aku juga mencintaimu, sangat. My Anand"Kurasakan ia terkejut akankah ia mengingatnya."Kamu bocah gendut tetanggaku?" tanyanya dengan kaget sambil menatapku dan Angel disana. Lagi aku bersorak senang, ia mengingatku. Eksperesi terkejutnya sangat menggemaskan di mataku.Ku lihat Angel meringis sambil mengangkat tangan dan aku membalasnya dengan mengecup pipinya, kurasa itu cukup.Saat Angel meninggalkan kamipun aku masih tetap memeluknya, nanti akan ku ceritakan semuanya.Kecuali, rencana saat Dita memergoki Leano berkencan dengan selingkuhannya itu. Itu adalah rencanaku mengajak Dita datang ke restoran itu. Dan perihal Angel yang masuk ke dalam restoran itupun memang ku sengaja.Biarlah itu tetap ku simpan.End
Nikah yuk, Om!
Selain voment, boleh banget kalau mau follow akun ini. Anggap aja rasa menghargai, gratis pastinya.Dan boleh banget kalau mau recomended cerita ini sama teman yang lain yaa . Hihi TerimakasihMaaf jika cerita tidak menarikHappy ReadingAku duduk melamun di depan toko yang menyediakan bangku, bukan melamunkan apa-apa melainkan aku teringat kekasihku.Huh! Sudah setahun lamanya ia meninggalkanku bukan karena berselingkuh namun meninggalkanku ke alam yang berbeda.Dan aku juga tahu, obat terampuh dalam menyembuhkan ini adalah pasangan baru. Tapi aku belum sanggup, aku sungguh mencintainya.Ipta Antasena, senior di kampus yang begitu mempesona. Lelaki pekerja keras yang cerdas dan mampu membolak balik hatiku. Banyak kisah yang kami lalui, dia banyak mengajarkanku untuk menjadi wanita yang kuat namun feminim juga manja.Ya sedikit rahasia, aku ini dulu tomboy. Itu dulu sebelum masuk kuliah sekarang sudah feminim dan manja, sedikit.Ipta Antasena, lelaki pertama yang mengajarkanku arti cinta. Namun dia lebih memilih meninggalkanku dengan cinta yang kian hari membesar.Ia yang selalu mengingatkanku kalau harus selalu memberi kabar walau sesibuk apapun, ia juga yang selalu memberiku semangat ditengah-tengah dosen killer dengan setumpuk tugas.Ah Ipta....Aku menatap orang berlalu lalang tampak begitu bahagia tapi aku tidak bisa begini terus.Temanku, Ariska selalu mengingatkanku untuk mencari pasangan baru dan meyakinkanku bahwa Ipta akan bangga jika aku mampu melalui ini semua.Aku mohon Ipta, jika kamu merestuiku berikan aku satu lelaki yang memang pantas untuk ku temui.Hari ini juga Ipta...Aku memejamkan mataku, merapalkan kalimat Ipta, jika kamu mengizinkan dan atas restu Tuhan juga ketika aku membuka mata nanti hadirkan satu lelaki yang harus ku miliki ya, Ipta.Aku menghela nafas, perlahan membuka mata. Lalu menahan nafas.Ipta, apakah itu dia?Di penglihatanku, terdapat pria tinggi berparas tampan. Tangan kiri memegang gelas kopi khas merk tertentu dan tangan kanannya membaca tab nya, fokus matanya di tab tersebut.Tapi jika dilihat dia lebih dewasa daripada aku.Oh.. Ipta, itukah yang kamu pilih menggantikanmu?Baiklah, aku akan menghampirinya lalu mulai bangkit perlahan menghampirinya.BRUKKBukan, ini bukan adegan dimana kalian jatuh saling tatap layaknya film, bukan pula adegan romansa yang jatuh saling sentuhan tangan hingga bertatapan.Tapi ini ini benar-benar bertabrakan akibat aku berhenti di depannya sedangkan ia tetap lanjut berjalan dengan mata fokus pada layar tabnya, akibatnya aku sedikit terhuyung sedangkan ia, kopinya jatuh tumpah dan tab nya ikut jatuh."Ma.. Maaf, pak" cicitku karena ia masih memungut tab dan mulai mengeceknya kembali, gerakannya terhenti lalu mendongak menatapku."Pak?" tanyanya dengan ekspresi tak percaya"Eh, om" ralatku cepat"Om?" tanyanya lagi dengan alis terangkat membuatku tergagap seketika."Saya tidak sengaja, om. Om sih jalan tidak lihat-lihat ke depan" kilahku mulai membela diriIa tampak menghembuskan nafasnya perlahan "Okay, lupakan saya buru-buru" lanjutnya sambil berlalu meninggalkanku.Namun bukan berhenti aku mulai mengikutinya berjalan, "Saya Karina, Om siapa?" tanyaku sambil menyejajarkan langkah kakiku padanyaIa menghentikan langkahnya yang otomatis langkahku juga terhenti."Ngapain?" tanyanya"Apa?" jawabku polosDia mendecakkan lidahnya "Ngapain kamu ngikutin saya?"Aku meringis "Nama om siapa?""Zein, sekarang silahkan pergi jangan ikutin saya" ketusnya lalu pergi begitu saja.Aku tertawa pelan dengan berujar, Oh Ipta.. Dia lucu deh. Aku suka.Aku menghendikan bahu berjalan pulang ke rumah. Sepertinya besok aku akan kembali ke tempat ini dan semoga menemukan dia, siapa tadi namanya?Ah iya, Zein.Keesokan harinya aku kembali ke tempat semalam, menunggu selama beberapa jam sepulang dari kampus setelah menemui dosen untuk bimbingan skripsi namun tak menemukannya kembali.Ah andai Ipta masih ada, pasti dia akan membantuku membuat skripsi ini.Aku berulang kali ke tempat saat bertemu dengan Om Zein itu, namun sudah sebulan ini tapi tetap tak membuahkan hasil.Lihat saja, jika aku bertemu kembali aku akan mengajaknya menikah. Aku tertawa kecil lalu bergumam, bolehkan, Ipta?Menghela nafas aku berbalik menuju cafe yang memiliki wifi untuk membantuku mengerjakan revisi skripsi mencari beberapa jurnal untuk referensi, rasanya bosan jika harus selalu mengerjakannya di rumah.Aku duduk di salah satu kursi yang ternyata sudah ada Ariska disana, ya ini cafe tempat favorit kami."Hey, zeyengku." sapaku kelewat ceria saat sudah duduk di hadapannya.Iapun tak kalah kelewatan dalam membalas sapaanku "Uy, zeyengcu" lalu kami tertawa sebentar"Bentar, tumben bahagia sekali? Ada apa gerangan" tanyanya sambil mengetikAku membuka laptopku dan menjawab "Sepertinya aku jatuh cinta""Uh.. Akhirnya. Siapa pria tidak beruntung itu?""Sialan." makiku"Okay. Maaf. Siapa pria itu yang berhasil meruntuhkan Ipta di dalam hati?" tanyanya kembali kali ini dengan serius karena ia menghentikan ketikannya dan juga menatapku."Tidak meruntuhkan Ipta juga, malahan sepertinya Ipta yang sedang menuntunku ke arahnya atas seizin Tuhan juga pastinya" balasku menggebu-gebu"Yeee" ucapnya sambil mendorong kepalaku dengan jari telunjuknya.Kami melanjutkan aktivitas kembali, mengetik naskah skripsi.Dentingan lonceng yang ada di pintu menandakan adanya pelanggan masuk, membuatku otomatis menolehkan kepalaku karena bosan menatap monitor yang tak terasa sudah 2 jam lamanya."Om Zein" lirihkuKurasakan tanganku di senggol oleh Ariska, "Please, jangan om-om" bisiknya"Om yang ini beda" Jawabku sambil tertawa lalu segera bergegas membereskan barang-barangku dan mulai menghampiri Zein menghiraukan panggiln Ariska."Hallo, om" sapaku setelah duduk di depannya, ia mengernyitkan alisnya sepertinya dia lupa, tak apa aku akan bersabar."Karina, kalau om lupa""Bisa tidak, jangan manggil om. Saya tidak nikah sama tante kamu" balasnya cuek. Aku terkikik geli atas jawabannya.Baru saja aku akan membuka suara tapi ternyata suara lain menghentikanku dan membuat aku terbatuk seketika,"Ayah..." teriak gadis kecil yang menggemaskan tapi membuatku membulatkan mata."Sayangnya ayah, gimana jalan-jalannya sama mama Rara?" ucapnya sambil mengangkat gadis itu ke pangkuannya."Huh? Mama?" lirihku terkikuk, jadi dia punya istri, aku terdiam disitu menatap interaksi ayah dan anak itu."Seruu banget, yah." ucap gadis itu sambil berekspresi terlihat senang.Lalu ku lihat ia mendekati telinga ayahnya bermaksud berbisik tapi bisikannya kuat sehingga aku mendengarnya "Yah, kakak itu siapa?"Ah aku punya ide dengan senyuman manis, aku berucap "Hallo, sayang. Kakak calon mama kamu" ucapku yang membuat Zein itu terkejut. Uh lucu sekali, boleh juga mengerjainya.Tapi gadis itu malah menggeleng yang membuat Zein tertawa dan aku mendengkus sebal."Mama aku ya mama Rara" jawabnya"Zein" sapa wanita cantik sekali dan suaranya itu merdu dan manja natural, aku yakin wanita itu tidak tahu kalau ia mempesona."Hai, Ra." Zein bangkit lalu sekilas memeluknya"Lama banget, Ra. Dari mana aja?" tanya Zein ketika wanita itu duduk di sampingku, aku yakin pasti wanita ini bernama Rara mengingat Zein memanggil penggalan namanya dan gadis kecil itu langsung berhambur pada wanita itu.Duh. Kok aku jadi terjebak di kisah asmara mereka sih?Ipta... Gimana ni? Aku uda mulai tertarik sama pria itu."Teman kamu ya, Zein atau siapa?" tanyanya aku memutar bola mata, kemana aja baru tahu."Kamu gak ke kantor?" tanya Zein Mengalihkannya. Aku sih diam aja mau merhatikan dulu, dan aku juga gak berniat beranjak dari sini. Aku melirik Ariska dan ternyata ia sudah tidak duduk di sana mungkin sudah pulang."Enggak, aku malas." ucap wanita itu sambil tertawa, ah manis sekali beda sekali denganku. Bahkan untuk tertawa saja ia terlihat anggun."Ah iya, kenalin. Aku Lyra, tapi mereka panggil aku Rara jadi jangan bingung" ucapnya padaku sambil mengulurkan tangan, akhirnya aku di anggap juga.Ku balas uluran tangannya dan menjawab "Aku Karina, mm...""Kakak, sepertinya aku lebih tua" balasnya sambil tersenyum membuatku tertular akan senyumannya."Ma, nanti kita main sama papa Rey, ya?" yang du balas anggukan dan kecupan di pipi gadis kecil itu oleh Lyra.Eh tunggu kok dia sebut papa Rey, aku tidak salah dengarkan? Apa jangan-jangan mereka bercerai atau gimana sih. Tidak asing namanya yaTapi bodo amatlah, siapa peduli. Lagipula anaknya juga gemesin dan Zein ini mukanya ganteng pake banget. Aku terkekeh geli akan ingatanku ini."Pacar kamu lucu deh, Zein. Aku setuju""Jangan mulai, Ra" balas ZeinPerkataan itu artinya Zein jomblo dong yaa. Yes!"Mm.. Kakak bukan istrinya Om Zein?" tanyaku polos, aku sungguh gatal ingin menanyakan hal ini sedari tadi.Tapi wanita bernama Lyra itu malah terbahak "Rencananya sih dulu begitu"Jawaban apa itu, ambigu sekali. Tapi lagi-lagi suaraku tertahan karena ada suara lain yang menambah pusing akan ada apa ini."Lama ya, sayang?" ucapnya sambil mengecup kening Lyra dan menyapa Zein dan mengusap kepala gadis kecil itu dan berucap "Hallo, Feya" dan dibalas pelukan oleh gadis kecil yang baru ku ketahui namanya Feya."Loh, Ina bukan?" tanyanya setelah duduk di hadapan Lyra.Ya ampun sempit sekali dunia ini "Kak Reyhan" ucapku antusias."Kamu kenal, kak?" tanya Lyra"Ini Ina loh sayang, masak kamu lupa sih. Ini dulu waktu kamu SMP kita pernah main ke rumahnya bentar sih cuma antar titipan mamaku aja" jawabnyaYa ampun sungguh dunia ini sempit sekali dan aku juga lupa maklumlah ya kan sudah lama."Wah.. Kamu makin cantik. Maaf ya aku gak tahu cuma sekali atau dua kali gitu sih jumpa kamu" balas Lyra"Iyaa aku juga lupa, kak." ringisku lalu menatap ke Reyhan "Jadi dia kakak ipar aku, kak?" tanyaku dengan binar bahagia, ada peluang dong ya. Di balas anggukan oleh kak Reyhan, jawaban yang memuaskan untuk saat ini.Aku kembali menghadap Lyra "Maaf, setahun yang lalu saat pernikahan kalian aku tidak hadir, karena ada duka" ucapku dengan tatapan meminta maaf, setahun lalu Ipta, ah sudahlah.."Jadi kamu kemarin nelpon aku ngomongin laki-laki ini?" goda kak Reyhan yang memang benar. Seminggu yang lalu aku menelponnya menanyakan pria ini tapi aku tidak sebutkan namanya.Aku ini sepupu kak Reyhan, anak dari adik ibunya hanya jarang bertemu mungkin karena usia terpaut lumayan jauh dan aku akan menghubunginya jika ada keperluan selebihnya aku banyak melupakannya. HeheLalu kak Reyhan juga istrinya itu yang baru aku ketahui hari ini beranjak dari cafe, bisa-bisanya aku tidak ingat. Andai saja kak Reyhan tidak datang mungkin aku akan selalu bertanya-tanya.Tapi sepulang ini aku akan mencecar kak Reyhan untuk menanyakan pria ini.Kini tinggallah kami bertiga, Zein tampak sibuk menyuapi puding pada Feya."Om" panggilku"Ck. Aku bukan om kamu" balasnya"Jadi panggil apa dong? Sayang boleh?" godaku lagi"Kakak" singkatnya"Okay. Kak, nikah yuk?" ajakku yang sudah malas berpacaran aku tidak peduli dia punya buntut, toh Ipta yang mengenalkannya."Sudah gila emang" sahutnya menggeleng"Mm.. Tapi Feya mau kok punya bunda kayak kakak itu, yah"Wah lampu hijau dari anaknya yang membuatku tersenyum penuh kemenangan----Hari ini aku sudah berada di depan kantornya, Kak Zein. Tentu saja, setelah aku membombardir Kak Reyhan itu sampai istrinya gemas sendiri denganku.Biarlah! Aku akan memintanya untuk menikahiku, bodo amat dia bilang aku gila.Lagipula ayah dan ibuku sudah membolehkan aku menikah jugakan.Sambil menenteng paper bag yang berisikan makanan yang tentunya favorit kak Zein, aku melangkah.Oh jangan tanyakan aku tahu dari mana, sudah jelas dari kak Lyra. Sebenarnya aku penasaran bagaimana hubungan Kak Lyra dengan Kak Zein itu tapi seolah mereka menutup rapat dariku baik kak Reyhan maunpun Kak LyraSudahlah, bukan itu fokusku. Persetan dengan hubungan mereka yang penting aku padamu, kak Zein.Aku melangkahkan kaki ke dalam kantor Kak Zein dengan kartu akses milik Kak Lyra tentu saja, dengan begitu aku tidak perlu banyak dipertanyakan di resepsionis.Setelah aku menunjukkan akses dan beberapa kata aku langsung di antarkan ke ruangan Kak Zein, tanpa mengetuk aku langsung masuk saja.Ketika ku buka pintu tersebut terlihat Kak Zein sedang berkutat di depan mejanya dengan setumpuk berkas dan secangkir kopi disana.Aku meletakkan paper bag dan juga tasku ke sofa yang ada di ruangan itu. Dan mulai melangkahkan kaki mulai menyapanya."Hallo calon suami" sapaku, ku lihat ia menghentikan gerakannya lalu menatapku, menopangkan dagu lalu berkata "Lain kali ketuk pintu""Akukan calon istrimu" jawabku cepat dia mendengkus"Apa aku ada menyetujuinya?" tanyanya menghunus ke mataku sambil berjalan ke arahku, aku gelagapan ditatap begini."Mm.. Aku.. Iyaa" sial aku terbata,"Yasudah, Nikah yuk, Om?" godaku lagi berusaha menahan gugupku. Namun ia tetap melangkah ke arahku semakin mendekat.Ia mengangguk singkat saat sudah beberapa langkah di hadapanku, "Oke, jadi calon istriku..." ucapnya menggantungkan kata, berjalan ke arahku hingga tak terasa punggungku sudah menempel di pintu.Aduh Ya Allah, Ipta.. Bagaimana ini?Biar bagaimanapun aku masih perawan tahu, jadi aku sedikit takut.Ia semakin merapatkan tubuhnya ke arahku, nafasnya bahkan sudah berhembus ke wajahku aroma mint begitu kentara.Ia meniup telingaku membuatku bergidik. Seketika itu tanpa sadar aku menahan nafasku."Relax, Karina. Bukankah aku sudah menyatakan iya" ucapnya dengan seringaian.Aku memilin ujung bajuku, tangannya terangkat mengurung diriku, memenjarakan tubuhku.Tanpa aba-aba ia mendekatkan wajahnya ke wajahku membuatku menundukkan wajah.Namun kejadian selanjutnya membuatku membulatkan mataku seketika, ia mengecup bibirku. Hanya sebuah kecupan, kecupan yang berujung aku menamparnya.Ya aku menamparnya, mungkin itu cukup kencang.Rasanya aku seperti dilecehkan! Aku tahu mungkin aku sedikit agresif tapi bukan berarti aku, ah sudahlah..Segera ku dorong tubuhnya, mengambil tas yang sempat aku letakkan di sofa itu, bergegas keluar sebelum aku mengucapkan"Saya kesini hanya mengantarkan makan siang untuk, Om. Bukan untuk diperlakukan seperti ini" lalu aku pergi begitu saja tanpa ingin melihatnya maupun mendengar responnya.---Sejak kejadian itu, tepatnya sudah 6 bulan berlalu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Anehnya aku selalu merindukannya hingga rasanya sesak. Apakah ini namanya cinta?Bahkan jujur, aku tidak tahu jelas apa perasaanku saat ini.Aku bimbang.Bukan, lebih tepatnya aku tidak mengerti perasaan apa ini yang jelas saat itu aku meminta izin pada Ipta dan Tuhan untuk mendapati penggantinya ketika buka mata dan dia pria yang ku lihat.Dan lebih tepatnya lagi, tidak ada yang bisa menggantikan Ipta karena dia sudah memiliki posisinya sendiri.Banyak melamun, pintu kamarku diketuk seperti bunda akan mengomeliku karena belum berpakaian rapi mengingat enam puluh menit yang lalu beliau memintaku sedikit berdandan.Huh! Lucu sekali.Nenekku sedang di bawah, sudah sebulan ini dia menerorku untuk membawa pacar dengan ancaman apabila tidak ada maka ia akan mengenalkan seseorang menjadi pendampingku.Demi Tuhan, aku baru wisuda sebulan yang lalu!"Inaa.. Cepat keluar. Tamunya sudah hadir"Tamu? Siapa? Aku tidak salah dengar kan ya."Iyaa, Bunda. Sebentar" teriakku lalu bergegas berpakaian rapi dan momoles sedikit make up di wajahku, daripada kena sembur sama bunda dan nenek nantinya.Akupun keluar dan mulai melangkahkan kaki menuju bawah, kulihat ada pria di bawah sana berkumpul bersama keluargaku.Wajahnya tak terlihat karena ia membelakangiku, baiklah mungkin ini adalah pria yang dipilihkan nenekku untukku karena aku tak kunjung membawa pria lain kehadapan mereka.Itu sih pemikiranku, faktanya kala ia membalikkan tubuhnya aku mematung bahkan kaki ini rasanya sulit digerakkan, nafasku seakan tercekat dan mataku turut terbelalak tanpa kusadari.Pria itu tersenyum teduh yang menghangatkan hatiku.Tapi untuk apa dia kesini? Aku menetralisirkan perasaan ini dan mulai melangkahkan kaki kembali.Ayahku tersenyum lalu mengusap puncak kepalaku seraya berkata "Kamu sudah besar, sayang""Ayo lebih baik kita makan malam dahulu" instruksi ayahku lagi. Dan kami menurutinya."Jadi Bagaimana, pak?" ucap pria itu pada ayahku yang kini kami sudah selesai makan dan duduk di ruang keluarga."Kalau saya bagaimana Karinanya saja, nak Zein""Bagaimana, Ina?" tanya Ayahku mengalihkan fokus mataku pada tautan tanganIyaa, pria itu adalah Zein, huh aku gugup, dilema bagaimana ini?Apakah aku bisa menerimanya? Bukan, lebih tepatnya apa aku sudah mulai mencintainya? Banyak sekali uraian pertanyaan yang harus ku temukan jawabannya.Ku lihat kak Zein menatapku dalam sebelum berucap"Saya tahu, umur saya 29 tahun kita memang terpaut 6 tahun, saya juga seorang duda beranak satu yang umurnya sudah 4 tahun. Dan mungkin akan ada lelaki yang lebih baik dari saya tentunya namun saya tidak dapat membohongi perasaan saya lebih jauh, jadi maukah kamu...""Bisa kita berbicara berdua terlebih dahulu, sudah lama tidak bertemu" potongku dengan cepat, ia menatap ayahku dan ayahku tersenyum lalu mengangguk.Akupun langsung berdiri dan menuju taman belakang rumahku."Sebenarnya apa maksud kedatangan, Om?" tanyaku saat ia sudah duduk di sampingku"Ah tidak maksudku, apa yang mengubah pikiran kakak untuk kerumahku dan melamarku bukankah saat itu kakak menolak?" ralatku dengan cepat karena panggilan om terhadapnya dan rasa ingin tahu yang menghantarkan ia kesini setelah 6 bulan yang lamanya tak bertemuIa mengangguk singkat "Sebenarnya aku sudah lama ingin melamarmu tapi sepupumu yang bernama Reyhan itu menyebalkan ia menyuruhku menunggumu wisuda. Dan saat itu aku tidak menolakmu, awalnya aku menolak. Terlebih setelah kamu menamparku, aku sadar aku sudah tertarik padamu" jelasnya"Benar? Bukan rasa bersalah" tanyaku, bisa sajakan setelah insiden itu ia jadi begini karena rasa bersalah. Aku tidak menginginkan rasa kasihan itu.Ia menggeleng dengan tegas " Tidak. Aku mencintaimu" tegasnyaAku menautkan tanganku, menggigit bibir bawahku. Bagaimana ini? Aku harus jawab apa yaaaAlih-alih ingin menyanggah tapi bibirku seakan berkhianat malah mengucapkan kalimat "Nikah yuk, om?"Ia tertawa "Meskipun kamu pernah berkata begitu namun harusnya malam ini itu kalimatku" ucapnyaBaiklah, aku kalah."Jadi?" tanyaku lagi dengan polosIa mengacak singkat rambutku "Iyaa tentu saja kita akan menikah. Itu tujuanku ke sini. Artinya kamu setujukan?"Aku mendengkus akan perbincangan ini, tentu saja akukan sudah berucap begitu sedangkan ia memelukku dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.Nafasnya mulai menerpa kulit wajahku, aroma mint. Refleks aku menutup mata kala hidungnya nyaris menyentuh hidungku"Wah, sepertinya harus segera dilangsungkan pernikahannya"Itu suara Ayahku, mati!Dengan cepat aku menjauhkan tubuhku darinya dan menatap ayah dengan malu.Ku lihat Zein menggaruk tengkuknya dan tersenyum cangguh ke ayahku, ia mengalihkan pandangannya padaku dan mengedipkan matanya.Dasar mesum!End
Asal Mula Kota Singapura
Dahulu ada seorang raja bernama Nila Utama. Raja Nila Utama memiliki kegemaran berburu binatang. Ia juga sangat menyukai daerah dengan pemandangan alam indah. Raja Nila Utama mendengar keindahan alam di pulau Tanjung Bentam. Raja kemudian memutuskan untuk berburu di pulau Tanjung Bentam.Panglima kerajaan bercerita kepada raja, bahwa ada seekor rusa sangat besar di pulau Tanjung Bentam. “Sampai saat ini belum ada yang berhasil menangkap rusa besar itu, Raja.” kata panglima kerajaan.“Baiklah, besok kita berangkat berburu rusa di pulau Tanjung Bentam. Siapkan perbekalan dan para pengawal.” kata Raja.Keesokan harinya, Raja Nila Utama pergi ke pulau Tanjung Bentam menaiki kapal besar. Setibanya di pulau, Raja segera pergi menuju hutan untuk berburu. Saat di hutan, rombongan raja melihat seekor rusa sangat besar berlari. Raja Nila Utama beserta rombongan segera mengejar rusa tersebut. Namun sayang, rusa belari sangat cepat, kemudian menghilang ke dalam hutan.Raja kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak di atas bukit. Dari atas bukit tersebut, Raja Nila Utama melihat ada sebuah pulau sangat indah di seberang pulau Tanjung Bentam. Raja kemudian memutuskan untuk berlayar ke pulau tersebut.Setibanya di pulau indah, Raja berjalan-jalan mengitari pulau. Hingga mata Raja tertuju pada seekor hewan gagah. Raja Nila Utama belum pernah dilihatnya.“Binatang apakah itu?” tanya raja pada para pengawalnya.“Itu adalah singa, Yang Mulia. Ia memang terlihat cantik, namun ia adalah binatang buas. Raja harus berhati-hati jangan sampai mendekatinya.” jawab Panglima kerajaan.Raja Nila Utama merasa senang dengan keindahan pulau tersebut. Ia memutuskan untuk tinggal di pulau tersebut. “Aku ingin tinggal di pulau indah ini. Kalian bangunlah sebuah kota di pulau ini untuk kita tinggali. Karena ada binatang singa, Aku akan menamakan kota ini dengan nama Singa Pura.” kata raja , Pura berarti kota. Jadi Singapura memiliki arti kota singa.
Asal Usul Burung Cendrawasih
Di daerah Fak-fak, tepatnya di daerah pegunungan Bumberi, hiduplah seorang perempuan tua bersama seekor anjing betina. Perempuan tua bersama anjing betina itu mendapatkan makanan dari hutan berupa buah-buahan dan kuskus. Hutan adalah ibu mereka yang menyediakan makanan untuk hidup. Mereka berdua hidup bebas dan bahagia di alam.Suatu ketika, seperti biasanya mereka berdua ke hutan untuk mencari makan. Perjalanan yang cukup memakan waktu lama telah mereka tempuh, namun mereka belum juga mendapatkan makanan. Anjing itu merasa lelah karena kehabisan tenaga. Pada keadaan yang demikian tibalah mereka berdua pada suatu tempat yang ditumbuhi pohon pandan yang penuh dengan buah.Perempuan tua itu serta merta memungut buah itu dan menyuguhkannya kepada anjing betina yang sedang kelaparan. Dengan senang hati, anjing betina itu melahap suguhan segar itu. Anjing betina itu merasa segar dan kenyang.Namun, anjing itu mulai merasakan hal-hal aneh diperutnya. Perut anjing itu mulai membesar. Perempuan tua itu mulai memeriksanya dan merasa yakin bahwa sahabatnya (anjing betina) itu bunting. Tidak lama kemudian lahirlah seekor anak anjing. Melihat keanehan itu, si Perempuan tua segera memungut buah pandan untuk dimakannya, lalu ia pun mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh sahabatnya.Perempuan tua itu melahirkan seorang anak laki-laki. Keduanya lalu memelihara anak mereka masing-masing dengan penuh kasih sayang. Anak laki-laki tersebut diberinya nama KweiyaSetelah Kweiya menjadi besar dan dewasa, ia mulai membuka hutan dan membuat kebun untuk menanam aneka bahan makanan dan sayuran. Alat yang dipakai untuk menebang pohon hanyalah sebuah pahat (bentuk kapak batu), karenanya Kweiya hanya dapat menebang satu pohon setiap harinya. Ibunya ikut membantu dengan membakar daun-daun dari pohon yang telah rebah untuk membersihkan tempat itu sehingga asap tebal mengepul ke langit. Keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah menarik perhatian orang dengan adanya kepulan asap itu.Konon ada seorang Pria Tua yang sedang mengail di tengah laut terpaku melihat suatu tiang asap yang mengepul tinggi ke langit seolah-olah menghubungi hutan belantara dengan langit. Ia tertegun memikirkan bagaimana dan siapakah gerangan pembuat asap misterius itu. Rasa penasaran mendorongnya untuk pergi mencari tempat di mana asap itu terjadi. Lalu ia pun segera menyiapkan diri dengan bekal secukupnya dan dengan bersenjatakan sebuah kapak besi, ia pun segera berangkat bersama seekor kuskus yang dipeliharanya sejak lama. Perjalanannya ternyata cukup memakan waktu. Setelah seminggu berjalan kaki akhirnya ia mencapai tempat di mana asap itu terjadi.Setibanya di tempat itu, ternyata yang ditemui adalah seorang pria tampan yang sedang membanting tulang menebang pohon di bawah terik panas matahari dengan menggunakan sebuah kapak batu berbentuk pahat. Melihat itu, ia menghampiri lalu memberi salam : “weing weinggiha pohi” (artinya, “selamat siang”), sambil memberikan kapak besi kepada Kweiya untuk menebang pohon-pohon di hutan rimba itu. Sejak itu pohon-pohon pun berjatuhan bertubi-tubi. Ibu Kweiya yang beristirahat di pondoknya menjadi heran. Ia menanyakan hal itu kepada Kweiya, dengan alat apa ia menebang pohon itu sehingga dapat rebah dengan begitu cepat.Kweiya nampaknya ingin merahasiakan tamu baru yang datang itu. Kemudian ia menjawab bahwa kebetulan pada hari itu satu tangannya terlalu ringan untuk dapat menebang begitu banyak pohon dalam waktu yang sangat singkat. Ibunya yang belum sempat lihat pria itu percaya bahwa apa yang diceritakan oleh anaknya Kweiya memang benar.Karena Kweiya minta disiapkan makanan, ibunya segera menyiapkan makanan sebanyak mungkin. Setelah makanan siap dipanggilnya Kweiya untuk pulang makan. Kweiya bermaksud mengajak pria tadi untuk ikut makan ke rumah mereka dengan maksud memperkenalkannya kepada ibunya sehingga dapat diterima sebagai teman hidupnya.Dalam perjalanan menuju rumah, Kweiya memotong sejumlah tebu yang lengkap dengan daunnya untuk membungkus pria tua itu. Lalu setibanya di dekat rumah, Kweiya meletakkan “bungkusan tebu” itu di luar rumah. Di dalam rumah, Kweiya pura-pura merasa haus dan memohon kepada ibunya untuk mengambilkan sebatang tebu untuk dimakannya sebagai penawar dahaga. Ibunya memenuhi permintaan anaknya lalu keluar hendak mengambil sebatang tebu. Tetapi ketika ibunya membuka bungkusan tebu tadi, terkejutlah ia karena melihat seorang pria yang berada di dalam bungkusan itu. Sera merta ibunya menjerit ketakutan, tetapi Kweiya berusaha menenangkannya sambil menjelaskan bahwa dialah yang mengakali ibunya dengan cara itu. Ia berharap agar ibunya mau menerima pria tersebut sebagai teman hidupnya, karena pria itu telah berbuat baik terhadap mereka. Ia telah memberikan sebuah kapak yang sangat berguna dalam hidup mereka nanti. Sang ibu serta merta menerima usul anak tersebut, dan sejak itu mereka bertiga tinggal bersama-sama.Setelah beberapa waktu, lahirlah beberapa anak di tengah-tengah keluarga kecil tadi, dan kedua orang tua itu menganggap Kweiya sebagai anak sulung mereka. Sedang anak-anak yang lahir kemudian dianggap sebagai adik-adik kandung dari Kweiya. Namun dalam perkembangan selanjutnya, hubungan persaudaraan di antara mereka semakin memburuk karena adik-adik tiri Kweiya merasa iri terhadap Kweiya.Pada suatu hari, sewaktu orang tua mereka sedang mencari ikan, kedua adiknya bersepakat untuk mengeroyok Kweiya serta mengiris tubuhnya hingga luka-luka. Karena merasa kesal atas tindakan kedua adiknya itu, Kweiya menyembunyikan diri disalah satu sudut rumah sambil memintal tali dari kulit pohon “Pogak Ngggein” (genemo) sebanyak mungkin. Sewaktu kedua orang tua mereka pulang, mereka bertanya dimana Kweiya berada, tetapi kedua adik tirinya tidak berani menceritakan di mana Kweiya. Lalu adik bungsu mereka, yaitu seorang anak perempuan yang sempat menyaksikan peristiwa perkelahian itu menceritakannya kepada kedua orang tua mereka. Mendengar certa itu. Si ibu tua merasa iba terhadap anak kandungnya. Ia berusaha memanggil-manggil Kweiya agar datang. Tetapi yang datang bukannya Kweiya melainkan suara yang berbunyi : “Eek..ek,ek,ek,ek!” sambil menyahut, Kweiya menyisipkan benang pintalannya pada kakinya lalu meloncat-loncat di atas bubungan rumah dan seterusnya berpindah ke atas salah satu dahan pohon di dekat rumah mereka.Ibunya yang melihat keadaan itu lalu menangis tersedu- sedu sambil bertanya-tanya apakah ada bagian untuknya. Kweiya yang telah berubah diri menjadi burung ajaib itu menyahut bahwa, bagian untuk ibunya ada dan disisipkan pada koba-koba (payung tikar) yang terletak di sudut rumah. Ibu tua itu lalu segera mencari koba-koba kemudian benang pintalannya itu disisipkan pada ketiaknya lalu menyusul anaknya Kweiya ke atas dahan sebuah pohon yang tinggi di hutan rumah mereka. Keduanya bertengkar di atas pohon sambil berkicau dengan suara : wong,wong,wong,wong,ko,ko,ko,wo-wik!!Sejak saat itulah burung cendrawasih muncul di permukaan bumi. Terdapat perbedaan antara burung cendrawasih jantan dan betina, burung cendrawasih yang buluhnya panjang disebut “siangga” sedangkan burung cendrawasih betina disebut “hanggam tombor” yang berarti perempuan atau betina. Keduanya berasal dari bahasa Iha di daerah Onin, Fak-fak.Adik-adik Kweiya yang menyaksikan peristiwa ajaib itu merasa menyesal lalu saling menuduh siapa yang salah sehingga ditinggalkan oleh ibu dan kakak mereka. Akhirnya mereka saling melempari satu sama lain dengan abu tungku perapian sehingga wajah mereka ada yang menjadi kelabu hitam, ada yang abu-abu dan ada juga yang merah-merah, lalu mereka pun berubah menjadi burung-burung. Mereka terbang meninggalkan rumah mereka menuju ke hutan rimba dengan warnanya masing-masing. Sejak itu hutan dipenuhi oleh aneka burung yang umumnya kurang menarik dibandingkan dengan cendrawasih.Ayah mereka memanggil Kweiya dan istrinya dan menyuruh mengganti warna bulu, namun mereka tidak mau. Ayah mereka khawatir bulu yang indah itu justru mendatangkan malapetaka bagi mereka. Ia berpikir suatu ketika orang akan memburu mereka, termasuk ketiga anaknya yang lain. Ayah merasa kecewa karena mereka tidak mengindahkan permintaan mereka untuk berubah bulu. Kini ayahnya kesepian dan sedih, ia melipat kedua kaki lalu menceburkan dirinya ke dalam laut dan menjadi penguasa laut “Katdundur”.
Alladin
Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak..." tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. "Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir. "Tidak, aku takut turun ke sana", jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. "Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu", kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. "Cepat berikan lampunya !", seru penyihir. "Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar", jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. "Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !", ucap Aladin.Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah peri cincin kata raksasa itu. "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan."Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. "Sebutkanlah perintah Nyonya", kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,"kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami". Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu", kata si peri lampu.Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku".Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. "Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku", seru Aladin. "Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. "Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir", ujar sang Putri. "Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang", jawab Aladin.Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. "Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.
Putri Pandan berduri
Alkisah pada jaman dulu di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, hiduplah orang orang Suku Laut yang dipimpin oleh Batin Lagoi. Pemimpin Suku Laut ini merupakan seorang yang santun dan memimpin dengan adil. Tutur katanya yang lemah lembut terhadap siapa saja membuat masyarakat Suku Laut sangat mencintai pemimpin mereka itu.Guna mengetahui keadaan rakyatnya, Batin Lagoi senantiasa berkeliling. Pada suatu hari, Batin Lagoi berjalan menyusuri pantai yang disekitarnya penuh ditumbuhi semak pandan. Sayup sayup telinga Batin Lagoi menangkap suara tangisan bayi.“Anak siapa itu yang menangis di tempat seperti ini ?” pikirnya heran sambil memandang sekeliling. Karena ia tak melihat seorangpun, Batin Lagoi meneruskan langkahnya.Baru beberapa langkah, Batin Lagoi kembali mendengar suara tangisan bayi yang kini semakin jelas. Batin Lagoi kembali memandang sekeliling, namun ia tak jua melihat seorangpun disana. Karena penasaran, Batin Lagoi mengikuti asal suara tangisan yang membawanya ke semak semak pandan. Batin Lagoi menginjak semak semak itu dengan hati hati. Suara tangisan bayi terdengar semakin keras. Batin Lagoi tercengang melihat seorang bayi perempuan yang diletakkan di atas dedaunan yang kini berada di depannya.Rasa heran kembali menyergap Batin Lagoi. ‘Siapa gerangan yang meletakkan bayinya disini ?’, gumamnya pelan. Batin Lagoi terdiam sejenak. Setelah memastikan tak ada orang di sekitar situ, Batin Lagoi memutuskan untuk membawa pulang bayi perempuan yang cantik itu. Sang bayipun berhenti menangis ketika Batin Lagoi menggendongnya.Batin Lagoi merawat bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang bak anaknya sendiri. Terkadang ia merasa bayi itu memang diberikan Tuhan untuknya. Bayi perempuan yang diberinya nama Putri Pandan Berduri itu sungguh membawa kebahagiaan bagi Batin Lagoi yang selama ini hidup sendiri.Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Putri Pandan Berduri telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Bukan hanya parasnya yang menawan, Putri Pandan Berduri juga memiliki sikap yang sangat anggun dan santun layaknya seorang putri. Tutur katanya yang lembut membuat masyarakat Suku Laut mencintainya.Banyak pemuda yang terpikat akan kecantikan Putri Pandan Berduri. Meski demikian tak seorangpun berani meminangnya. Batin Lagoi memang berharap agar putrinya itu berjodoh dengan anak seorang raja atau pemimpin suatu daerah.Tersebutlah seorang pemimpin di Pulau Galang yang memiliki dua orang putera bernama Julela dan Jenang Perkasa. Sedari kecil kakak beradik itu hidup rukun. Kerukunan itu sirna ketika sang ayah mengatakan bahwa sebagai anak tertua, Julela akan menggantikan dirinya sebagai pemimpin di Pulau Galang kelak. Sejak itu, Julela berubah perangai menjadi angkuh. Ia bahkan mengancam Jenang Perkasa agar selalu mengikuti setiap perkataannya sebagai calon pemimpin.Jenang Perkasa sungguh kecewa akan sikap kakaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Pulau Galang. Berhari hari ia berlayar tanpa mengetahui arah tujuan hingga tiba di Pulau Bintan. Jenang Perkasa tak pernah mengaku sebagai anak pemimpin Pulau Galang. Sehari hari ia bekerja sebagai pedagang seperti orang kebanyakan.Sebagai seorang pendatang, Jenang Perkasa cepat menyesuaikan diri. Sikapnya yang sopan dan gaya bahasanya yang halus membuat kagum setiap orang. Mereka tak habis pikir bagaimana seorang pemuda biasa memiliki sifat seperti itu. Akibatnya Jenang Perkasa menjadi bahan pembicaraan di seluruh pulau.Cerita tentang Jenang Perkasa sampai juga di telinga Batin Lagoi. Ia sangat penasaran untuk mengenal pemuda itu secara langsung. Agar tak mencolok, Batin Lagoi menyelenggarakan acara makan malam dengan mengundang seluruh tokoh terkemuka di Pulau Bintan. Ia juga mengundang Jenang Perkasa dalam acara itu.Jenang Perkasa yang sebenarnya heran mengapa dirinya diundang Batin Lagoi, datang memenuhi undangan. Sejak kedatangannya, Batin Lagoi senantiasa memperhatikan gerak gerik Jenang Perkasa. Caranya bersikap, berbicara, bahkan sampai caranya bersantap diamati Batin Lagoi diam diam. Tak dapat dimungkiri, Batin Lagoi sangat terkesan terhadap Jenang Perkasa. Terbersit dihatinya untuk menjodohkan Jenang Perkasa dengan Putri Pandan Berduri. Batin Lagoi sepertinya lupa akan keinginannya untuk menikahkan putrinya dengan seorang pangeran atau calon pemimpin.Tak mau membuang kesempatan, Batin Lagoi segera menghampiri Jenang Perkasa.‘Wahai anak muda, sudah lama aku mendengar kehalusan budi pekertimu..’, katanya membuka percakapan. Jenang Perkasa hanya tersenyum sopan mendengar kata kata pemimpin Pulau Bintan itu.“Malam ini aku telah membuktikkannya sendiri’, lanjut Batin Lagoi sambil menatap Jenang Perkasa yang menunduk malu mendengar pujian Batin Lagoi.“Aku pikir, alangkah senangnya hatiku jika kau bersedia kunikahkan dengan putriku..’.Jenang Perkasa sungguh terkejut mendengar tawaran Batin Lagoi. Ia mengusap usap lengannya untuk memastikan dirinya tak sedang bermimpi. Ia sama sekali tak menyangka ayah seorang perempuan cantik bernama Putri Pandan Berduri meminta kesediaan dirinya untuk dijadikan menantu. Jenang Perkasa tentu saja tak mau membuang kesempatan emas itu. Ia segera mengangguk setuju sambil tersenyum memandang Batin Lagoi.Beberapa hari kemudian Batin Lagoi menikahkan Putri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa. Pesta besar digelar untuk merayakan pernikahan putri semata wayangnya itu. Seluruh warga Pulau Bintan diundang untuk hadir. Para undangan merasa senang melihat Putri Pandan Berduri bersanding dengan Jenang Perkasa yang terlihat sangat serasi.Putri Pandan Berduri hidup bahagia dengan Jenang Perkasa. Apalagi tak lama kemudian, Batin Lagoi yang merasa sudah tua mengangkat menantunya itu untuk menggantikan dirinya menjadi pemimpin di Pulau Bintan. Jenang Perkasa yang memang anak seorang pemimpin itu rupanya mewarisi bakat kepemimpinan ayahnya. Ia mampu menjadi pemimpin yang disegani sekaligus dicintai rakyatnya. Ia juga menolak untuk kembali ketika warga Pulau Galang yang mendengar cerita tentang dirinya memintanya untuk menggantikan kakaknya.Pernikahan Putri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa dikaruniai tiga orang anak yang diberi nama dengan adat kesukuan. Batin Mantang menjadi kepala suku di utara Pulau Bintan, Batin Mapoi menjadi kepala suku di barat Pulau Bintan, dan Kelong menjadi kepala suku di timur Pulau Bintan. Adapun adat suku asal mereka yaitu Suku Laut tetap menjadi pedoman bagi mereka. Hingga kini Putri Pandan Berduri dan Jenang Perkasa yang telah lama tiada masih tetap dikenang oleh Suku Laut di perairan Pulau Bintan.
HOROR FANS PSIKOPAT
Hari ini hari yang membahagiakan bagi Wilda, karena dia baru saja diterima di pabrik tekstil daerah Tangerang, maklum saja Wilda baru lulus SMA beberapa hari yang lalu dan tidak seperti teman - temannya Wilda sudah dipanggil di pabrik yang cukup jauh dari rumahnya di Bogor, dan saat ini keluarga Wilda sangat bergantung kepadanya untuk dapat membantu biaya sekolah adik - adiknya.Wilda mulai menepati kost - kostannya yang tidak terlalu jauh dari lokasi kerjanya, dan saat ini dia sudah mendapatkan teman baru bernama Rani, dan Rani juga kost di tempat yang sama."Wilda, gimana kamu betah ga kerja di pabrik?""Lumayan Ran, Alhamdulillah bisa bantu orang tua""Kamu tahu gak, kamu dapet salam dari Adam, anak operasional yang di bagian depan" kata Rani"Adam? aku gak kenal Ran, waalaikumsalam deh Ran" jawab Wilda sambil TersenyumDan benar saja keesokan harinya Rani mengenalkan Wilda pada Adam"hai namaku Adam""Iya saya wilda"Adam suka Wilda sejak pertama kali melihatnya, kulit wilda yang putih dengan wajah polos khas Sundanya membuat parasnya sangat mudah membuat lelaki jatuh cintaDan Adam memulainya disaat yang tepat, Wilda pun menyambut cinta AdamSudah hampir berjalan enam bulan Wilda berpacaran dengan Adam, tidak ada masalah yang terlalu berarti, Adam sangat membantunya di perantauan, Adam suka mentraktir makan, Adam juga suka antar jemput Wilda pulang membuat Wilda merasa ada orang yang mengasihinya walaupun jauh dari kedua orang tuanya.Cerita cinta Adam dan Wilda akhirnya harus sampai dititik ini, dimana Adam diterima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dari pabrik tempat dia bekerja, dengan prestasinya Adam dipromosikan untuk ke Jepang selam enam bulan ke depan.wilda sangat sedih, tapi dia harus mengikhlaskan Adam karena jika Adam sukses maka itu semua juga demi Wilda, dan Adam terus meyakinkan wilda bahwa hanya dia yang ada dihatinya.Dan akhirnya Adam pun berangkat, dan sekarang wilda merasa sendiri di kostannya, bahkan semangat bekerja pun menurun tanpa kehadiran Adam, tiba - tiba saat pulang ada yang menghampirinya seorang laki - laki remaja"Hai, boleh kenalan gak?" ucapnya sambil mengikuti langkah wilda"Maaf, saya duluan" ucap Wilda sambil mempercepat langkah kakinya"Huh, sok kecakepan, sombong... belagu banget masih buruh pabrik aja" ucap laki - laki ituEntah kenapa sejak kejadian hari itu, Wilda merasa hari - hari dia ada yang mengikutinya, tapi setiap Wilda menengok ke belakang tidak ada siapa - siapa."Ran aku boleh cerita gak?" ucap Wilda"Kenapa Wil?""Akhir - akhir ini aku merasa ada yang mengikuti aku, terakhir sih ada cowok yang mengajak kenalan, tapi aku menolaknya didekat tempat kost kita Ran" ucap Wilda"Ciri - cirinya seperti apa Wil?""Masih muda sepertinya lebih muda dari kita, kulitnya coklat, rambutunya gondrong sebahu dan tato sebelah tangannya ada gambar tengkoralnya Ran""Oh aku kenal Wil, itu namanya Tito, dia supir angkot yang mengontrak di depan tempat kost kita, dia memang agak aneh Wil, kadang dia seperti suka memperhatikan tempat kost kita dari jauh, kadang saat aku lihat lagi dia bals melihatku dengan tajam" ucap RaniWilda merasa was - was dengan cerita Rani, karena sepertinya Tito bukan orang yang ramah, dan cenderung anehHari itu hujan, Wilda turun dari angkot dan jalan ke kostannya dengan tergesa - gesa dan dia merasa tangannya ditarik seseorang, saat dia melihatnya dia melihat Tito menarik tangannya dengan membawa payung.Seketika itu juga Wilda langsung melepaskan tangannya dan berlari ke kostannya tanpa menghiraukan Titodan dia mendengar Tito mengomel dari kejauhan"Sok Cantik lo" ucap Titosaat sampai dikamar Degup jantung Wilda berdetak sangat kencang, dan dai mengintip sedikit dari jendela, dan dia melihat Tito masih melihat ke arah kamar kostnyaEsok paginya Wilda pun menceritakan kejadian itu pada Rani"Ya ampun, dasa Tito brengsek, apa yang ingin dia lakukan sama kamu Wil" ucap Rani marah"Apa kita harus lapor ke pemilik kostan ya Ran?" tanya wilda"Gak bisa Wil, mereka lagi pergi haji selama sebulan gak ada orang dirumahnya" ucap RaniHari itu Wilda bengong saja di angkutan umum, ketakutan Wilda tambah besar setiap kali dia sudah mau sampai di kostan, Rani hari ini lembur, jadi dia tidak akan pulang ke kostannya, tambah takut lagi Wilda dibuatnya.Malam itu Wilda tidur larut karena terus memikirkan Tito, seakan matanya tidak dapat terpejam, begitu Wilda baru saja mulai dapat tertidur lelap, Wilda mendengar ada suara pintu yang terbuka,"kreeekkkkk""Siapa itu?" tanya Wildalalu Wilda mendengar langkah kaki orang memasuki kamar kostannya"Siapa?" tany a wilda sambil bangun dari kasurnyadan tiba - tiba Wilda melihat orang memakai topeng ada dihadapannya.."Kamu siapa? kamu mau apa" Tanya Wilda bersiap - siap untuk berteriaktetai orang tersebut sangat kuat dan memegang tubuhnya dan mendekap mulut Wildadan Wilda hampir lemah tidak berdaya"Kamu pasti Tito" ucap Wilda"Aku adalah penggemar berat kamu, aku itu selalu cemburu setiap kali kamu berjalan bersama Adam, kamu tidak boleh dimiliki oleh prang lain kamu hanya boleh dimiliki oleh aku" ucap pria itu"Tolong jangan sakiti aku" ucap WildaTiba - tiba pria itu mendorong wilda kekasurnya"malam ini kamu akan sepenuhnya jadi milik aku" ucap pria itu"Tolong..." teriak wilda"Tolong... tolong..." wilda berteriak sekencang - kencangnya tapi Wilda akhirnya sadar bahwa tidak akan ada orang yang mendengarnya.Tiba tiba saat pria itu mendekat dan melepaskan celananya dan menuju ke arah Wilda, tiba tiba ada suara"Plak.."Pria itu terjatuh seketikadan disitulah Wilda melihat...."Tito..." ucap Wilda kaget"Maaf ya wil, aku langsung masuk kamar kamu aku denger suara kamu teriak minta tolong tadi" ucap TitoSeketika itu Wilda langsung memeluk Tito"maaf ya Tito, saya sudah jahat berfikir jelek sama kamu" ucap WildaJadi kalau ini bukan kamu, ini siapa?" tanya Wilda"jadi kamu mikir aku mau jahatin kamu?" tanya Tito bingung"memang sih saya suka sama kamu, tapi saya tahu diri, saya cuma mau jadi temen kamu, tapi kamu sombong banget" kata Tito sambil mencoba melepaskan topeng pria tadi"Pak Soman" ucap Wilda kaget"Siapa dia?" tanya Tito"Pak Soman, security pabrik aku To" dan Wilda pun mengingat bahwa selama ini ternyata pak Soman yang mengikuti dia, terkadang wajah pak Soman sedang pura - pura melengos ataupun sedang berteduh dimanaBayangan itu membuat bulu kuduk Wilda berdiri, hampir saja malam ini dia di perkosa oleh pak Soman, dan Tito yang selama ini Wilda fikir akan menjahatinya ternyata malah orang yang menolong Wilda.Hari itu juga Pak Soman di bawa ke kantor polisi dan diamankan, keesokan harinya Adam datang ke kostan dengan keluarga Wilda begitu mendengar apa yang menimpa Wilda, semua mengucapkan terimakasih pada Tito karena sudah menjadi pahlawan hari itu.Ternyata informasi dari polisi dalam penyelidikan Pak Soman memang seorang pembunuh berdarah dingin, dan dia sudah membunuh beberapa karyawati pabrik yang disukainya, dan menguburkan mayat korbannya di tanah kosong dekat pabrik, dan biasanya karyawati yang hilang itu akan dibuat seolah - olah pulang kampung dan tidak bekerja di pabrik lagi.'Setelah dibongkar tanah kubur korban, sudah banyak yang tinggal tulang belulang dan diindikasi sudah meninggal lama, mungkin Pak Soman melakukan pembunuhan itu sudah semenjak usia muda, ungkap pak Polisi.Wilda sangat bersyukur karena dia terselamatkan dari kejadian itu.
Black Shadow
"Fely....." teriak salah satu pria dijalan sana."Fely.. Aku cinta kamu"Aku menoleh ke sumber suara namun masih sama, aku masih tidak menemukan satu orangpun disana yang berulang kali meneriaki namaku.Aku merapatkan jaketku, seraya mempercepat laju jalanku menelusuri malam yang kian larut. Semilir angin turun membelai helaian rambutku yang terurai, ditambah malam ini usia hujan.Dibelakang sana, ku rasakan ada yang mengikutiku berjalan, aku menoleh ke belakang tetap sama tak ada satupun orang ku dapati disana.Suara teriakan semakin terasa kuat di indra pendengaranku, peluh berjatuhan karena rasa debaran semakin kencang.Sekali lagi aku menoleh ke belakang memastikan tak ada yang mengikutiku. Namun ketika aku menghadap depan, terlihat seorang pria bertubuh tegap menghadangku pria itu berhalut kaus hitam dan celana hitam, disertai kaca mata hitamnya.Kalau diperhatikan, ia tampan. Tapi aku merutuki pikiranku kali ini disaat genting malah imanku melemah kala melihat pria tampan ini.Aku memekik tertahan kala di belakang tubuhnya ada orang berjubah hitam sambil menggeret samurainya, wajahnya tak nampak karena jubah yang ia kenakan cukup menenggelamkan tubuhnya.Pria itu berjalan semakn dekat, kearah ku yang mana di depanku masih berdiri pria itu. Suara decitan samurai dengan aspal yang dibawa pria berjubah hitam itu terdengar namun suaraku tertahan, tenggorokanku tercekat tak bisa menggumamkan kata apapun.Hingga pada jarak beberapa meter pria berjubah itu berlari seraya mengangkat samurainya ke arah pria di hadapanku. Dari samping kami tak lama ada sebuah truk yang berkecepatan penuh menabrak tubuhku dan pria di hadapanku."Aaaaaaa.." teriakku sambil terduduk. Nafasku tersenggal-senggal, peluh membanjiri tubuhku.Sial! Mimpi ini lagi. Dalam dua bulan terakhir ini sudah terhitung 9 kali lebih memimpikan pria itu selalu hadir dalam mimpiku. Kenapa harus tampan sih? Dan malam ini adalah yang kedua mimpi buruk itu menyapa.Lagi, imanku goyah kalau sudah menyangkut pria tampan meski ia hanya hadir di mimpiku.Dan aku menyebutnya dengan Black Shadow, klise memang hanya karena ia menggunakan busana serba hitam aku malah menyebutnya begitu.Anehnya, pria itu selalu ada di dalam mimpiku, memimpikan pria yang sama dengan berbagai potongan adegan dalam mimpi. Apakah itu normal?Namun bolehkah aku berharap ia membuka kaca matanya barang sebentar saja untuk memastikan bahwa ia memang tampan sungguhan. Aku terkikik geli kala mengingat imanku yang lemah ini.Ku tatap jam yang bertengger manis di dinding, jarumnya masih mengarah di angka dua. Baiklah aku akan tidur lagi beberapa jam sebelum berangkat bekerja.Pagi ini aku berangkat bekerja di perusahaan yang selama 2 tahun ini gajinya dapat memenuhi kebutuhan biaya hidupku seperti skincare.Aku di Jakarta hidup sendirian sedangkan orang tuaku di Bandung. Masih satu pulau hanya saja, selama dua tahun ini aku lebih nyaman berada di kota ini dan memutuskan untuk bekerja di perusahaan ini, entah apa yang menuntunku nyaman berada di sini. Yang aku tahu, Ayahku juga memiliki perusahaan cukup besar.Sesampai aku di kantor seluruh karyawan telah berkumpul, aku mengerutkan dahi. Apakah aku ketinggalan gosip?Aku ini memang payah dalam urusan gosip, bersyukur di divisi keuangan ada mbak Sella yang selalu melancarkan berita terbarunya.Aku menghampiri mbak Sella yang sudah memasang telinga disertai wajah yang cukup serius."Mbak, ada apa sih?""Fely.. CEO kita pensiun dan akan di gantikan sama anaknya yang super uhuy" ucapnya dengan antusias.Tuhkan dia biang gosip."Mbak tahu dari mana kalau anaknya uhuy?" tanyaku lagi, dikehidupan realistis jangan terlalu bermimpi nanti jatuh sakit.Lalu kami di hela oleh orang asisten CEO yang ada disini, untuk menuju aula.Sesampainya kami di aula, masuklah 3 orang. Antaranya 2 orang lelaki dan 1 orang wanita yang tak lain adalah istri tercinta sang CEO yang kabarnya akan pensiun.Aku masih tak melihat wajah dari pengganti itu, setelah sampai di atas podium ia berbalik.Pria itu sungguh tidaklah asing, setelan jasnya hitam dan kaca matanya hitam. Ia tampan, dan dimana aku pernah melihatnya.Ah aku menutup mulutku karena pria itu ternyata orang yang mirip di mimpiku, lagi-lagi aku kebanyakan mimpi.Pria itu membuka kaca matanya dengan gerakan seksi lalu mengenalkan dirinya pada kami semua sebagai CEO yang baru.Sungguh rasanya de javu"Hallo.. Saya Dewangga Pradipta, CEO baru kalian yang menggantikan papa saya. Dan semoga kita bisa bekerja sama dengan baik"Namun entah mengapa netra hitamnya selalu memperhatikanku lekat-lekat.Ia kembali berkata "Dan hari ini aku akan mencari sekretaris pribadi untukku""Saat ini juga" tambahnyaSeluruh suara mendadak ricuh mempercantik diri agar terpilih. Tentu ini karena paras yang tampan dan kekayaan Dewa.Dewa berjalan ke arahku, namun wanita disebelahku berkata "Jangan bilang ia mau pilih aku."Namun ia malah berhenti tepat di bangkuku, aku yang masih syok begitu pasrah di tariknya menuju podium."Dia, Felycia Ningtias. Yang akan menjadi sekretaris saya" ucapnya tegas tak terbantahkan.Aku masih ingin membuka suara menanyakan dari mana ia tahu namaku? Namun ku urungkan kala ingat bagaimana tugasku di divisi keuangan.Ia berjalan dengan menarik tanganku seolah aku akan kabur, aku sempat melirik ke arah orang tua Dewa. Dan mereka hanya tersenyum? EntahlahSesampainya di ruangannya aku langsung mengeluarkan protesku."Maaf sebelumnya, pak. Bagaimana tugas saya di divisi keuangan?"Ia menatap netraku dengan lekat, entah mengapa saat aku menatap bola matanya seakan aku tenggelam dalam pusaran itu. Seperti mengingatkanku akan sesuatu hal."Buatkan aku kopi, gulanya satu sendok" pria itu mengabaikan pertanyaanku. Sial sekali"Tapi...""10 menit dari sekarang"Aku mendengkus sebal dan berbalik menuju meja pantry untuk membuatkannya kopi.Lalu aku menyerahkannya kopi tersebut, matanya masih fokus pada layar seraya menyesap kopi itu lalu ia berkata "Terlalu manis, sendok apa?"Lah pertanyaan ambigu sekali ya"Sendok makan" jawabku dengan bingung."Seharusnya sendok teh saja."Tunggu sepertinya aku pernah mengalami hal ini. Tapi apa?"Aku heran kenapa kamu harus lupa" gumamnya yang masih ku dengar."Maaf, bagaimana, pak?" tanyaku"Tidak. Kamu boleh keluar. Tapi tidak di divisi keuangan. Dan diluar ruangan ini ada meja kamu" ucapnya sambil tetap fokus ke arah monitornya.Aku lantas mengangguk patuh meskipun dalam hati keadaan berkecamuk. Bagaimana tidak, dalam sehari pekerjaanku berubah begitu saja.Hari ini aku lalui dengan baik karena Pak Arkan, asisten CEO yang lama banyak mengajariku mengenai urusan yang tentunya bukan urusanku.Aku berjalan menapaki tangga apartemen tempatku bernaung selama dua tahun ini, ketika aku membuka pintunya aku sudah dihadapkan dengan seorang lelaki berbaju hitam dan berkaca mata hitam sambil menggenggam sebuket bunga.Pria itu, membuka kaca matanya, sungguh pria yang tampan dan ia tersenyum lalu berkata "Happy Anniversarry, sayang"Ia merentangkan tangannya lalu aku berlari memeluknya, menghirup aroma tubuhnya yang beraroma mint seakan mencari kenyamanan yang sangat ku sukai.Pria itu lantas mencecap bibirku, dan semuanya seakan gelap.Aku terperanjat, nafasku memburu disertai degup jantung yang tak beraturan.Mimpi aneh ini lagi, dan mimpi kali ini pria itu membuka kaca matanya.Aku mengingat wajah pria tampan di mimpi itu sungguh tidak asing, yaa wajahnya mengingatkanku pada CEO baru di kantorku, Dewangga Pradipta.Ku lihat jam di nakas, ternyata sudah pukul 5 pagi. Aku bergegas bersiap untuk ke kantor, yang aku ketahui tidak ada tolerir untuk keterlambatan.Sesampainya aku di kantor aku langsung membuatkan kopi untuk Pak Dewa, dengan takaran gula satu sendok teh.Pria itu lantas tersenyum manis sekali setelah menyesap kopinya. Aku tidak tahu, mengapa pertemuanku dengan Dewa ini membuat sudut hatiku berbeda apalagi setelah melihat senyumannya. Seperti Warm and joy, maybe?Aku ikut tersenyum melihatnya tersenyum, dia menatapku dengan intens."Apa kamu mengingat sesuatu?" tanyanyaBelum sempat aku menjawabnya seorang gadis yang sangat menawan masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu, mungkin ia pacarnya.Aku segera undur diri tidak ingin mengganggu aktivitas sepasang kekasih ini.Namun ketika aku ingin membuka pintu, wanita itu berkata dengan lantangnya."Hei. Kenapa keluar begitu saja? Kau tidak merindukan aku"Aw! Pekik gadis itu sepertinya ia dipukul pak Dewa.Aku berbalik, menautkan alisku sarat akan kebingungan. Tak mengerti maksud dari gadis itu.Ia mendekat mengulurkan tangannya "Aku Dwina" sambil tersenyum manis padaku.Aku balas uluran tangannya "Felycia""Oke, Felycia. Kita akan sering bertemu dan nanti siang kau harus menemaniku berjalan-jalan" ucapnya lagi, aku menatap Pak Dewa seakan menanyakan bagaimana ini dan di balas anggukan dan senyuman khas pak Dewa."Baiklah, nona" ucapku sopan pada Dwina."Hei, biasa kau memanggilku in..""Ekhem. Ada apa kau kemari sepagi ini?" ucap Pak Dewa memotong perkataan Dwina."Panggil aku Dwina saja" ucapnya sambil berlalu menghampiri pak Dewa dan aku segera pamit keluar.Seperti ucapannya gadis bernama Dwina itu, kini aku duduk berhadapan dengannya di cafe yang tak jauh dari kantor. Ia berkata bahwa harus mengisi tangki terlebih dahulu baru bisa berjalan.Entahlah, perkataannya seperti de javu.Tiba-tiba ia menggebrak meja yang membuat aku terkejut Bahkan pelayan yang sedang mencatat menu kamipun terkejut dan bingungDwina tersenyum lebar menampilkam deretan giginya yang rapi, "Tidak ada, aku minta teh madu namun dicampur dengan lemon" ucapnya.Teh madu dengan lemon, aku suka!Sebuah suara dikepalaku muncul. Suara apa itu? Ya Tuhan, ada apa dengan diriku."Maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanyaku.Dwina memegang tanganku dengan wajah berbinar "Apa kau mengingat aku atau sesuatu?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaankuAku menggeleng "Aku seperti pernah mengalami ini tapi mungkin perasaanku saja" jawabku."Coba ingat sekali lagi" desaknya. Apa sih maksud dia. Aku benar-benar tidak mengerti.Dari arah belakangku Dewa datang mengecup puncak kepala Dwina dan duduk di sampingnya. Mengabaikan Dewa, ia kembali mendesakku dengan pertanyaan konyolnya "Coba kau pandang wajahku juga wajah Mas Dewa, barangkali itu membantumu" ucapnya misterius.Aku mengikuti sarannya, memandang wajah mereka bergantian. Ya aku ingat wajah Dewa ada di mimpiku bahkan tadi malam ia menciumku.Aku mengingat dengan keras namun yang ku dapatkan tak ada, semakin lama kepalaku sakit dan pusing."Aw!" ringisku kala sakit itu menyerang di kepalaku"Cukup" ucap Dewa padaku"Jangan terlalu memaksanya" ucapnya lagi pada Dwina"Tapi mas..." Dewa menggeleng.Kepalaku cukup pusing memikirkan ini, mengapa Dwina berbicara begitu. Ada apa sebenarnya padaku?Demi Tuhan, aku baru beberapa hari pindah posisi menjadi sekretaris tapi kejadian aneh selalu hadir, entah itu melalui mimpi atau seperti kali ini, Dwina. Jika dia memanglah kekasih Dewa, mengapa dia bertanya begitu.Aku meminta izin untuk pamit duluan, sepertinya aku butuh istirahat dan mereka mengizinkanku.Aku merebahkan tubuhku di kamarku, mungkin tidur adalah pilihan yang baik.Namun baru saja aku memejamkan mata, kilasan seperti potongan adegan terangkum di kepalaku.Oh Tuhan... Ada apa ini? Siapa yang bisa memberi penjelasan ini padaku.Satu nama muncul di kepalaku, Dwina. Iya, mungkin dia akan memberitahukan kejadian itu. Lalu kemana aku harus menemuinya.Aku segera bersiap, lalu memesan ojol agar lebih efisien sampai di kantor.Begitu sampai di kantor, aku berlari bahkan masuk ke dalam ruangan CEO menghilangkan rasa sopan santunku. Membuka pintu tanpa mengetuk memperlihatkan dua manusia berbeda jenis menghentikan aksi pelukannya.Aku menghela nafas lega, melihat Dwina masih disana. Dewa menaikkan alisnya tanda bertanya namun tak satupun ucapan yang keluar dari mulut mereka atas kelancanganku ini.Aku tidak memedulikan itu, karena langkahku kali ini mendekat pada Dwina lalu memeluknya dengan erat."Inaa..." isakkuAku tahu Dwina pasti bingung namun ia tetap menepuk punggunggu, satu isakan lolos dari bibirku.Karena potongan adegan tadi mengingatkan masa-masa indahku bersama Ina, dan satu hal yang paling ku ingat bahwa Ina adalah Adikku juga Adik Dewa."Tak apa, menangislah" ucapnya lirih.Setelah cukup tenang, mereka menuntunku duduk di sofa yang ada di ruang itu."Apa kau mengingat sesuatu?" ucap Dwina padaku"Siapa kalian sebenarnya?" hanya itu yang mampu ku katakan setelah potongan kilas balik di kepalaku muncul.Dewa membuang nafas dalam-dalam dan beralih duduk di kursi kebesarannya lalu memijat pelipisnya."Kau siap mendengarkan semuanya?""Apapun itu." ucapku dengan mantap"Dewa adalah suamimu" satu kalimat keluar dari mulut Dwina yang semakin membuat aku pusing."Bagaimana bisa?"Dwina menghela nafas "Sebenarnya aku tu gemes, mau bilang itu tapi Mas Dewa selalu melarangku. Ia mengatakan tidak baik untuk kesehatanmu, kakak ipar.""Ina.." suara Dewa mengintrupsi."Cukup, mas! Aku tahu seberapa besar cinta mas ke mbak Fely" jawabnya"Kalian menikah sekitar 4 tahun yang lalu. Dan 3 tahun lalu mbak salah paham terhadap Dewa, malam itu mbak mengira mas Dewa sama Sulis berselingkuh padahal sama sekali tidak. Terus mbak melarikan diri dan mas Dewa berusaha mengejar mbak. Saat mas Dewa berhasil menghadang mbak kalian malah tertabrak truk." jelas Dwina dengan menggebu-gebu.Aku menutup mulutku tak percaya akan fakta ini. Akhir cerita Dwina mengingatkanku pada mimpi, dimana aku tertabrak."Sebaiknya mas Dewa yang menjelaskan ini. Aku akan keluar" ucap Dwina sambil bangkit dan menatap tajam Dewa.Dewa mendekat ke arahku, ia duduk di sampingku dan merangkum tanganku."Benar kamu suamiku?" tanyaku, ia mengangguk"Saat itu kita tertabrak?" ia kembali mengangguk"Benar saat itu aku salah paham?" tanyaku lagi dan aku benci saat dia menganggukAku menangis tersedu-sedu kala fakta ini terungkap. Ia bangkit membuka laci dan mengeluarkan album foto."Ini foto pernikahan kita" ucapnya.Aku membukanya dan aku kembali menangis, ia memelukku erat."Bagaimana bisa?" suaraku teredam akan tangisku"Saat itu, kita sama-sama terancam karena musuh ayahku. Ditambah perusahaan yang terpuruk. Kamu salah paham dengan Sulis, dan lari begitu saja tanpa penjelasan hingga berhari-hari. Dan akhirnya pada malam itu kita tertabrak truk"Ia menghela nafasnya "Karena kita kurang biaya aku menyetujui ucapan Ibumu yang memisahkan kita, ibumu marah padaku karena ia juga salah paham atas tindakanku pada Sulis. Dan rencana itu sempurna ketika kamu juga amnesia.""Lalu pria itu?" kulihat Dewa menautkan alisnya"Pria apa?" tanyanya"Aku mimpi buruk mengenai kita tertabrak yang dibelakangmu ada pria berjubah hitam membawa pedang" jelaskuDia membisu "Kamu melihatnya?" tanyanya dan aku sontak mengangguk"Dia Will, Wilangga saudara kembarku yang juga mencintaimu"Aku menutup mulutku "Maafkan aku, aku tidak tahu jika jadinya begini""Aku yang meminta maaf karena baru belakangan ini berani menemuimu. Aku sangat senang saat 2 tahun lalu itu kau melamar kerja di perusahaan ini."Tapi aku tidak bisa mengingat banyak" ucapkuDia menggeleng "Aku akan berusaha untuk membantumu mengingatku lagi. Asal kamu juga berjanji akan selalu berada di sisiku" ucapnya dengan mantap."Lalu ibuku?" tanyaku yang pasti aku akan meyakininya nanti. Karena dia adalah Dewa, suamiku. Pantas saja aku merasa nyaman disini."Ayo kita berjuang untuk kedua kalinya, sayang"Aku tersenyum "Memang ada yang pertama?" tanyaku lagiDia menganggukkan kepalanya "Tentu. Kamu dulu susah sekali dihadapi. Sekalinya kita menikah kamu malah salah paham"Aku tertawa melihat sikapnya "Maafkan aku" ucapku tulus dan ia memelukku lagi dengan erat dan mencium keningku.End
DI RUMAH SAKIT
"Feb..." panggil Risa"Iya Ris" jawab Febi"Kok muka lo pucat, lo gapapa kan? kita kan harus tanding basket jam 10 nanti" ucap Risa"iya Ris, gw siap kok, gapapa cuma agak lemes aja"Lalu mereka berdua siap - siap ke lapangan karena upacara baru saja akan dimulaiTeeettttt... bel tanda lomba basket sudah dimulai, dan Febi harus bersiap - siap ganti kaus dan masuk ke lapanganDan giliran tim Febi pun dimulai, semua masuk ke lapangan, dan permainan juga terlihat seru, karena kedua tim sama kuatnyasorak dan sorai para pendukung tim pun, tidak kalah semangat dan seru, tiba - tiba bola dioper ke tangan Feb, tetapi tiba - tiba Febi merasa pusing, dia melihat semua orang terlihat buram dan tidak jelas, dan sepertinya semua berputar, dan akhirnya.... Brakkkkkk... Febi pun terkapar tidak berdaya dan pingsanBunyi sirene ambulan samar terdengar, mata Febi pun pelan - pelan terbuka.."Aku dimana?" tanya Febi saat melihat Risa"Kita mau ke rumah sakit Feb, kamu pingsan, ini aku sama Pak Gino mau mengantar kamu ke RS Intan tidak jauh dari sekolah ini Feb" ucap Risa"Iya Feb, kamu harus istirahat, kamu pingsan agak lama" Ucap Pak Gino menimpali"Mama dan Papaku tahu aku sakit Ris?" tanya FebiSudah kami telepon, justru mama mu yang minta tolong kamu segera dibawa ke RS" jawab Risa "Nanti mereka akan menunggu kamu disana"Tiba - tiba supir ambulan pun memberhentikan mobilnya, dan pintu terbuka Febi melihat beberapa suster sudah menyambutnya dan membawakan kursi roda, dari kejauhan Febi melihat mama sedang mengurus di meja administrasi, dan Papa sedang mendekati ke arah Febi"Feb, kamu tidak apa - apa nak?" tanya papa "papa sangat khawatir"Tidak apa - apa kok pah, cuma sedikit pusing, sepertinya badanku sangat lemasMama pun ternyata sudah didepan Febi"Aduh Febi mama khawatir banget, mama takut kamu kenapa -kenapa" ucap Mama dengan nada khawatir "Terimakasih banyak ya Pak Guru dan Risa sudah mau mengantar Febi ke RS"Sama - sama bu" ucap Pak GinoAkhirnya setelah diperiksa dokter, Febi diputuskan harus di rawat Inap dulu di Rumah sakit, karena tekanan darah Febi yang Rendah dan masih harus dilakukan pemeriksaan dengan hasil lab yang harus ditunggu"Kira - kira jam setengah lima sore, Febi akhirnya mendapatkan kamar, karena Asuransi Papa menjamin Febi mendapat kamar di kelas satu maka pihak perawat pun mengantar Febi ke kamar.Dikamar Febi melihat ada dua ranjang yang kosong, dan Febi memilih kamar yangdipojok dekat kamar mandi, supaya jika dia ingin kekamar kecil, dia tidak harus berjalan jauhHari pertama dan hari kedua mama dan papa setia menemani Febi, tapi sayangnya di hari ketiga ini Papa harus mulai bekerja lagi, dan kebetulan karena pekerjaan yang menumpuk kemarin, papa harus lembur dikantor dan tidak bisa menemani Febi di RSBegitupun Mama, karena sudah hampir tiga hari di RS, maka stok baju yang mama bawa mulai kehabisan, maka mama izin sebentar kepada perawat untuk pulang ke rumah mengambil pakaian dan juga keperluan lainnya untuk Febi di RSSuasana di kamar cukup sepi, sampai Febi mendengar suara derit roda masuk kekamarnya dan suara - suara mengantar seseorang di kamar tersebutKarena tirai yang tertutup, Febi tidak bisa melihat ke arah sebelahnya, tetapi Febi bersyukur setidaknya Febi tidak sendirian.Akhirnya suara roda kembali terdengar pergi dan suasana sepi kembali"Hi... namaku Dita, aku baru masuk hari ini" suara terdengar dari sebelah ranjang Febi"Hi juga" jawab Febi "iya aku senang kok kamu disini, setidaknya aku tidak sendirian" jawab Febi"Kamu sudah lama disini?""Sudah hampir tiga hari, dan itu terasa membosankan" jawab Febi"Kamu sakit apa?" tanyanya"Sakit Darah rendah, tapi aku harus menunggu hasil lab, masih belum jelas jenis penyakitku" ucap febi "Kamu sendiri kenapa?" tanya Febi"Aku juga tidak tahu, tetapi aku merasa aku sangat pucat" jawab Dita"Sama dong, aku juga, mungkin kita kekurangan darah jadi terlihat pucat" ucap Febi"Iya, aku mungkin juga tidak punya darah" jawab Dita sambil tertawaFebi pun ikut tertawa "kamu lucu Dit, sakit saja masih bisa melucu" jawab febi""Tidak usah terlalu difikirkan, lebih baik kita saling mengenal satu sama lain saja" ucap Dita"Iya Dit anggap saja kita lagi istirahat, malah enak ga usah sekolah" jawab Febi "kamu sekolah dimana Dit?""Aku sudah lulus sekolah Feb""Keluarga kamu tidak ada yang menunggu Dit?" tanya Febi"Tidak" jawab Dita "mereka semua sedang sibuk""Oiya..... hari ini juga aku sendiri" jawab Febidan tidak terasa tiga jam lebih Febi berbicara dengan Dita, dan tiba - tiba suara pintu terbuka"Maaf ya feb, mama agak lama, tadi jalanan macet" ucap Mama yang baru tiba di kamar"gapapa kok ma, aku juga ga sendirian kok, kan aku sudah ada teman sekamar namanya Dita dan baru masuk hari ini, dia ada di ranjang sebelah" jawab Febi sambil menerima makanan yang mama bawa dari supermarket"Teman? sebelah? mama masuk sepi kok, disebelah kamu ranjangnya masih kosong" ucap mama bingung"Apa???? mama pasti bercanda, coba mah buka gordennya, aku mau lihatDan mama membuka gordennya, dan Febi melihat ranjang itu memang kosong dan dalam kondisi sangat rapih, belum ada yang mengisi ranjang itu"Tapi mah,,, tadi aku berbicara dengan dia namanya Dita, dan kalau ranjang ini kosong berarti aku tadi berbicara dengan siapa????" tanya Febi bingungDan dalam kondisi takut dan panik mama meminta perawat untuk datang, dan menceritakan kejadian yang dialamai Febi, dan mama meminta Febi untuk pindah ke ruang lainnya.Akhirnya Rumah sakit pun menuruti keinginan Mama dan mencarikan kamar baru untuk Febi, saat masuk kekamar baru, Febi mendengar perawat berbicara sambil berbisik kepada perawat lainnya"Iya, Dita yang kemarin meninggal di ruang itu, sepertinya arwahnya masih gentayangan karena tadi pasien kamar tersebut minta pindah kekamar lain dan membuat pasien tersebut ketakutanTernyata Dita sudah meninggal fikir Febi, untung dia sudah minta tukar kamar baru"Feb mama lapar, mama mau cari makan sebentar ya kekantin" ucap Mama"iya ma, gapapa, jangan lama - lama ya" jawab FebiDan suasana kembali sepi, Febi pun melanjutkan membaca buku yang sedang dibacanya"Hai, namaku DIta" terdengar suara dari ranjang sebelahTiba - tiba sekujur bulu kudu Febi berdiri"MAMAAAAAAAAAA"
SAAT KETIDURAN
Pagi ini Sheryl kesiangan lagi bangunnya, karena kebiasaan Sheryl yang sering tidur kemalaman akibat nonton drama korea yang dia sukai setiap hari, bahkan mamah sudah sangat bosan mengingatkan Sheryl akan kebiasaannya, tetap saja Sheryl tidak mendengarnya.Akhirnya seperti biasa, Sheryl dihukum lagi oleh pak Adam, guru piket hari ini, Sheryl disuruh lari keliling lapangan selama 10 putaran, kadang pak Adam juga merasa lelah sepertinya Sheryl tidak akan kapok dengan hukuman ini."Sher kamu terlambat lagi?" tanya Mona teman Sheryl di kelas sebelah"Iya Mon, tadi aku kesiangan lagi bangunnya" jawab Sheryl"Kenapa sih, kamu masih saja nonton film drama koreanya sampai selesai" Ujar Mona"Bagaimana ya Mon, abis ceritanya seru, kalau nontonnya setengah - setengah itu gak enak" ucap Sherly masih keras kepala dengan kebiasaannya.Sore ini, Sheryl pulang ke rumah dengan sangat lelah, Sheryl pun masuk langsung ke kamarnya."Sheryl, kamu sudah pulang" tanya Mama"Sudah mah..." jawab Sheryl sambil teriak dari kamarnya"Mandi dulu Sher, jangan langsung tidur, sebentar lagi maghrib" Ujar Mama ke Sheryl"Iya ma....." jawab Sheryl singkatTidak lama Sheryl langsung berbaring di kasur, sambil mendengarkan lagu dari handphonenya, tidak lama matanya pun terlelap dan langsung tertidur pulas.Suara lolongan anjing membangunkan Sheryl,"Auuuuuuuuuuuu..... Auuuuuuuuuuuu...." beberapa kali...Sheryl berfikir aneh, biasanya tidak pernah ada suara lolongan Anjing yang terdengar dari rumahnya.Sheryl membuka matanya, dia melihat jendela kamarnya ternyata sudah gelap gulita, bahkan mama tidak menyalakan lampu kamarnya.Lalu Sheryl pun bergegas menutup jendela kamarnya"Sreeekkkk....... sreeeeek....." sepertinya dia mendengar suara dari semak - semak, tetapi dia tidak melihat ada yang aneh dengan taman di depan rumahnya.Perutnya Sheryl keroncongan, akhirnya Sheryl memutuskan untuk keluar dari kamarnya"Mah.... Sheryl lapar, mamah dimana?" teriak sheryl sambil sesekali menengok ke kanan dan kiri untuk mencari mamahnya, tapi suara mamah tidak menjawab sama sekali."Mah.... " teriak Sheryl lagi, lalu karena kelaparan Sheryl langsung menuju meja makan, dia melihat didalam penutup saji sudah banyak makanan yang tersedia, dan semuanya menggiurkan, Sheryl langsung melahap dan menghabiskannya...Tiba - tiba Sheryl mendengar suara pintu depan terbuka,"kreeekkk....."Sheryl pun langsung berjalan menuju pintu, karena dia berfikir pasti mamahnya sudah pulang ke rumah, tetapi saat melihat ke arah pintu, wajah Sheryl sangat ketakutan, dia mengumpet dibalik tembok ruang tamu.Ada dua orang dengan wajah menyeramkan, masuk kedalam rumah, mereka berbicara satu dengan yang lain, dan wajah mereka hancur berantakan, mereka seperti... seperti.... setannnnnTubuh sheryl menggigil, saat ini orang - oran tersebut mendekat ke arah Sheryl, dan pasti mereka tahu dan degup jantung Sheryl berdegup sangat kencang.Wushhh..... ternyata badan mereka menembus tubuh Sheryl yang saat ini mengambil posisi didepan mereka, sepertinya mereka tidak dapat melihat Sheryl.mereka memiliki rambut panjang, wajah berantakan dengan bola mata keluar, bibir hanya terlihat tulang dan daging pada wajah mereka tersayat - sayat, mereka sungguh mahluk yang menyeramkan.Mereka langsung menuju meja makan, dan tetap saling berbicara, mungkin mereka mengira ada sesuatu yang aneh, karena piring di meja sudah berantakan, salah satu mahluk tersebut memanggil dan berteriak, tidak lama ada mahluk yang lebih kecil turun dengan penampilan hampir sama dengan wajah mereka, dan sepertinya dia dimarahi karena difikirnya dialah yang menghabiskan makanan di meja tersebut.Sherly berusaha lari, dia keluar dari rumah tersebut, tapi saat Sheryl berada di jalan, rumah itu adalah rumahnya, dimana mamahnya? dimana papah? kenapa mereka tinggal di rumah Sheryl, apakah mereka membunuh orang tuanya sheryl, fikiran Sheryl campur aduk, dan akhirnya Sheryl menuju rumah sahabatnya Mila diujung jalan, saat Sheryl melihat kedalam jendela ternyata Mila juga tidak berada di rumahnya, yang Sheryl lihat adalah mahluk hitam dan tinggi besar sedang berbicara dengan mahluk hitam lainnya."Ya Allah, kenapa saya ada disini?" fikir SherylSeketika itu juga Sheryl membacakan ayat - ayat suci dan istigfar"Sher.... sher..." panggil mama"Istigfar Sher" suara mama sayup sayup terdengarSheryl pun berusaha membuka matanya perlahan - lahan karena terasa sangat berat"Mamah... tolong Sherly mah" ucap Sheryl gemetar"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak, mamah sangat khawatir" ucap mama dengan nada lemas"Ada apa mah, kok badan Sheryl lemes sekali" jawab Sheryl"Kamu tadi kemasukan nak, kamu berbicara sendiri, mamah sangat khawatir, untung ada pak ustad yang membantu sampai kamu sadar kembaliLalu mata sheryl pun melihat ke arah pak ustad."Kamu baik - baik saja?" tanya pak ustad"Tadi saya melihat mahluk -mahluk menyeramkan pak, ada di seluruh rumah, dan juga rumah Mila, mereka sama seperti kita memiliki kehidupan" jelas Sheryl"Makanya kamu jangan membiasakan diri tidur maghrib - maghrib, pamali kalau kata orang dulu" ujar pak ustad "karena pada waktu maghrib dunia jin dan dunia manusia bisa saling terbuka, dan roh kamu bisa berbahaya" ucap pak ustad sekali lagi"iya pak, saya betul - betul kapok, saya tidak akan melakukan lagi hal seperti ini" ucap Sheryl sadar akan kebiasaan jeleknya.Dan wajah mamah mengguratkan rasa lega karena Sheryl sudah baik - baik saja.
GADIS ONLINE
Rangga adalah salah satu cowok yang tergolong genius di kampusnya, tetapi dia memiliki penampilan yang culun atau bisa dibilang kutu buku, sehingga dia pun belum pernah merasakan yang namanya berpacaran sampai sekarang.Bahkan Beni temannya dengan perawakan tubuh gendut saja saat ini sudah memiliki pacar bernama Vera, dan yang biasanya Beni main dengan Rangga, sekarang Beni lebih banyak menghabiskan waktu dengan Vera kekasihnya, dan saat ini Rangga memutuskan untuk mencari jodoh melalui situs online yang didapatnya dari beberapa temannya.www.jodohkumanis.com itulah salah satu situs online yang sedang dicoba oleh Rangga, karena ketidak percayaan dirinya membuat Rangga memasang foto gambar orang lain yang bukan dirinya, tiba - tiba banyak chat yang masuk ke profilnya, dan beragam pilihan type wanita yang memilih untuk chatting dengan Rangga, ada yang anak ABG, anak kuliah bahkan sampai yang berstatus janda dan tante - tante kesepian pun memilih chat dengannya, karena Rangga baru dalam hal ini maka dia memilih untuk berbicara dengan kesemuanya, tiba - tiba ada gambar wanita ayu dan manis bernama tantri masuk ke dalam chatnya, kira - kira usianya hampir sama denagn Rangga."Hai... boleh kenalan" ucap Tantri di chat"Hai.. juga, boleh kok, aku malah senang kamu masuk ke chat aku" tulis Rangga"Oh iya, memang kenapa? bukannya pasti banyak yang masuk ke chat kamu" ucap Tantri"Iya Tantri, tetapi banyak yang aneh" tulis Rangga"Kamu tinggal dimana Rangga?" tanya Tantri"Aku di Jakarta Selatan Tan, di Pasar Minggu" jawab Rangga"Wah dekat ya, aku di warung buncit Rangga" ucap Tantri antusias"Iya dekat sekali itu, kapan - kapan kita janjian ya" ucap Rangga semangat"Boleh, oh iya kamu kuliah dimana Rangga?" tanya Tantri kembali"Di Universitas Mercu Suar, kamu dimana?" jawab Rangga"Aku di Guna Bangsa" jawab TantriDan akhirnya mereka pun melanjutkan perbincangan semakin dekat, mereka merasa cocok satu sama lain, dan itu pun berlanjut semakin akrab ke minggu - minggu berikutnya, bahkan Rangga pun mengabaikan chat yang lain, baginya yang dia tunggu hanya chat dari Tantri dan Rangga yakin, Tantri lah calon jodoh baginya."Tantri besok kita ketemuan yuk?" tulis Rangga"Boleh, kamu mau ketemuannya di mana, di kampusku atau ke rumah?" tanya Tantri"DIkampus kamu saja ya, nanti aku jemput kesana, sore hari ya setelah aku selesai mata kuliah terakhir" kata Rangga"Boleh, kebetulan aku juga ada kuliah sore" jawab TantriAkhirnya keesokan harinya tiba, saat tiba di kampus, Rangga lebih dahulu mengabarkan Tantri melalui sms bahwa dirinya sudah sampai, ada perasaan deg - degan bagaimana, kalau nanti Tantri melihat wajah aslinya apakah dia akan menolak cinta Rangga?" fikir Rangga"Tantri aku sudah sampai dikampus kamu ya, aku di gerbang depan" tulis Rangga"Iya tunggu sebentar ya, aku nanti kesana, aku lagi ada urusan sebentar" jawab TantriHampir tiga jam lebih, bahkan sekarang sudah jam tujuh malam, Tantri tidak kelihatan, Rangga pun sudah mulai gelisah, dan akhirnya dia bertanya kepada satpam di depan kampus Tantri"Permisi pak, bapak kenal sama mahasiswi disini yang bernama Tantri, lalu Ranggapun memperlihatkan foto Tantri di handphonenya.Tiba - tiba Pak Satpam itupun terlihat kaget, dengan foto tersebut"Ade, kenal dimana?" tanya pak satpam"Ini teman chat online saya pak, saya disuruh tunggu disini untuk ketemuan" jawab Rangga "tapi kok, orangnya belum datang ya?" ucap Rangga lagi."Ade, ikut saya ke pos dulu ya" ucap Pak Satpam itu hati - hati"Kenapa ya pak?" tanya Rangga setelah sampai ke pos"Ade sejak kapan chatting sama Tantri?" tanya satpam itu penasaran"sejak seminggu yang lalu, memangnya kenapa ya pak?" tanya Rangga penasaran"Mba Tantri itu sudah meninggal de, tepatnya bunuh diri dikampus ini, sudah hampir sebulan lebih, karena mba Tantri di tolak oleh cowok yang disukainya, namanya Rangga hampir sama dengan nama Ade" ucap Pak Satpam itu menjelaskan."Apa?? Bapak jangan bercanda ya, tidak mungkin pak, ini saya perlihatkan bukti chatnya" lalu di lihatlah chat mereka selama ini, dan yang membuat pak satpam itu ketakutan, foto itu benar - benar Tantri.Tiba - tiba ada chat yang masuk"Rangga aku sudah di pos satpam" tulis TantriDan tiba - tiba Rangga dan pak satpam melihat sekeliling dan tidak melihat ada siapa - siapa disana, tiba - tiba bulu kuduk mereka merinding seketika dan mereka segera lari sekencang - kencangnya.
Bunda, Dengerin Curhatku!
Sifat orang tua akan menurun pada anak. Jadi, jangan salahkan anak jika dia memiliki sifat yang tidak orang tua sukai. Barangkali itu adalah sifat turunan. Terutama dari Ibu.Seperti yang dialami Nana. Seorang gadis yang berparas cantik, berkulit putih, hidung mancung serta mata yang sedikit sipit dan selalu mengenakan kerudung penutup aurat jika berada di luar rumah. Ia tidak pernah menyangka akan menjalani kehidupan yang langka. Yaa, setidaknya itu menurut keluarga besarnya. Karena dalam keluarga besarnya, tidak ada seorang pun yang memiliki sifat sepertinya. Jika keluarga besar berkumpul, Nana tidak pernah lepas dari sorotan mereka.Seperti saat ini, keluarga di luar sana sedang membicarakan dirinya. Nana hanya bisa mendengarkan dari dalam kamar, tanpa berani menampakkan diri. Hajatan keluarganya memang sudah selesai sejak kemarin. Namun, beberapa keluarga masih berada di rumahnya. Ia sama sekali tak pernah keluar dari dalam kamar selama beberapa hari ini. Makan pun ia enggan. Kalau ditanya kenapa tidak mau makan? Jawabannya cuma satu, MALU! Ia hanya mengisi perutnya dengan air dan roti yang memang sudah ia persiapkan sebelum hajatan. Dan beruntungnya ia, kamar mandi terhubung langsung dengan kamarnya. Jadi, ia tidak perlu keluar kamar untuk mandi ataupun berwudhu.Nana seorang gadis pendiam dan pemalu. Jarang berinteraksi dengan orang lain, kecuali orang terdekat. Bukan tanpa alasan ia seperti itu, melainkan karena ia memiliki sifat turunan dari Bundanya. Bundanya pernah mengatakan kalau dirinya juga pernah mengalami hal seperti yang dialami Nana.Pukul 13:00 Nana memilih tadarusan di dalam kamar dari pada harus keluar untuk berkumpul bersama keluarganya. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya. Nana segera membuka pintu itu yang memang sengaja ia kunci, agar tidak sembarang orang masuk ke dalam kamarnya."Dek, yuk makan dulu. Makannya bareng-bareng sama keluarga di meja makan. Mereka semua udah mau makan di sana. Tinggal nunggu adek aja, yuk!" ajak Bunda setelah Nana membuka pintu."Bund, kan udah berkali-kali adek ngomong, kalau adek tuh malu ketemu sama mereka. Apalagi sampai makan bareng. Adek merasa nggak nyaman Bund. Udah yah, Bunda aja yang gabung sama mereka. Lagian adek nggak laper kok, udah makan roti tadi. Oh ya Bund, adek ijin ke pantai sore ini, boleh ya?" Nana memang sering pergi ke pantai. Tapi, biasanya bareng Bunda dan Ayah atau saudaranya yang lain."Ya sudah, kalau itu mau kamu. Tapi, pulangnya jangan menjelang magrib." Bunda memberi ijin lalu melangkah menuju meja makan meninggalkan Nana yang terlihat sangat senang karena mendapat ijin untuk pergi ke pantai.***Sore hari cuaca tampak mendung. Mungkin akan turun hujan. Tapi, tak masalah bagi Nana yang sedang menyusuri pantai, toh hujan belum turun, kan? Suasana pantai juga sudah mulai ramai. Alasan Nana tidak malu saat berada di tempat ramai seperti ini adalah orang-orang di sekelilingnya tidak mengenalinya. Dan yang pasti dirinya tidak menjadi pusat perhatian. Nana merasa bebas jika berada di tempat seperti ini.Dari kejauhan Nana melihat om Budi yang sedang memasang payung pantai untuk seorang wanita bule yang tampak antusias memperhatikannya. Om Budi adalah adik dari Bundanya. Pekerjaannya berjualan berbagai peralatan pantai dan membantu pelanggan menyiapkan peralatan yang mereka butuhkan.Selain keluarganya, Nana sering bertegur sapa hanya dengan keluarga om Budi. Nana cukup terbuka dengan mereka. Apalagi jika sudah bersama bang Jirwan anak bontot om Budi, Nana pasti banyak ngomong. Entahlah, mengapa Nana bisa merasa nyaman ngomong dengan sepupunya itu?"Assalamu'alaikum, sore om." sapa Nana lalu salim dengan om Budi. Diciumnya tangan kekar itu."Eh, wa'alaikumsalam, sore Na. Udah keluar dari kandang? Sejak kapan?" Om Budi sedikit kaget melihat kehadiran Nana."Keluar dari kandang? Emang Nana binatang, om? Om samain Nana dengan binatang? Om tega banget sih!" Nana terlihat memonyongkan bibirnya, sedikit ngambek."Hahahah, om bercanda, maaf ya?" Om Budi tertawa melihat ekspresi Nana yang menggemaskan."Permintaan maaf om diterima. Nana baru aja keluar, bosen tinggal di kandang yang om bilang tadi heheh. Oh ya om, papan selancar adek mana? Om tidak menyewakan papan selancar adek ke orang lain, kan?" tanya Nana sambil memicingkan matanya ke sekeliling, kali aja penglihatannya tertuju pada papan selancar kesayangannya itu."Ya, nggak lah. Mana om tega menyewakan barang kesayangan adek ke orang lain. Sana gih, tanya abang kamu, kayaknya dia yang simpan deh." Om budi menunjuk ke arah toko, menyuruh Nana mencari benda kesayangannya di sana. Keluarga om Budi memang sering memanggil Nana 'adek'. Mungkin karena keseringan mendengar keluarganya kali ya, jadi ikutan juga memanggil Nana 'adek'.Nana melangkah meninggalkan om Budi menuju ke tempat yang dimaksudnya tadi. Dari kejauhan Nana dapat melihat bang Jirwan yang sedang bersantai di kursi samping toko."Assalamu'alaikum,,, bang Jir." sapa Nana begitu sampai di samping Jirwan."Wa'alaikumsalam... Eh ada adek Nanah." Jirwan juga terlihat sedikit kaget melihat kehadiran Nana."Nanah, Nanah, bang Jir kan tahu kalau namaku Nana, enggak pakai H." Nana tak terima namanya diubah."Yaa, siapa suruh manggil aku bang Jir. Namaku kan Jirwan. Di mana-mana orang manggil aku Jirwan. No bangjir-bangjir." Jirwan terlihat sewot."Oke bang JIRWAN. Puas?" Tanya Nana."Nah gitu dong, jadi anak yang penurut." Jirwan mengusap pelan kepala Nana."Don't touch me." Nana menyingkirkan tangan Jirwan dari kepalanya."Dih, sok inggris lu.""Biarin! Mm, bang Jirwan ada liat papan selancar nana, nggak?" tanya Nana mengalihkan topik pembicaraan."Ada, itu di samping pintu." Tunjuk Jirwan ke arah papan selancar Nana. "memangnya adek mau selancaran hari ini. Bentar lagi hujan loh." lanjutnya."Kan bentar lagi, artinya belum hujan, kan?" Tanya Nana sambil berjalan ke arah papan selancarnya. "Bang Jirwan mau nemenin Nana selancaran nggak? Temenin ya, please!" Pinta Nana."Nggak ah, mending aku main game. Yaa, kok lowbat sih." Jirwan sebel hpnya mengeluarkan peringatan baterai lemah. "Dek, aku pinjam hp kamu ya, hp aku lowbat.""Boleh, tapi temenin selancar dulu. Kalau nggak mau, ya udah nggak jadi juga pinjamin hpnya." Nana memberi syarat."Oke. Tapi, nemeninnya di pinggir aja ya. Kan, sambil main game." Ujar Jirwan mengulurkan tangan untuk mengambil hp milik Nana."Ya udah deh, kalau nggak mau ikut selancar. Nih. Tapi, cuman main game, kan?" tanya Nana."Iya, iya. Bawel banget sih." Jirwan kembali mengusap kepala Nana.Keduanya berjalan beriringan menuju pantai. Suasana pantai sudah sangat ramai. Ada yang selancaran, main pasir, juga berfoto ria. Nana memilih tempat tak jauh dari pinggir pantai untuk selancaran. Karena tidak ada yang menemaninya, jadi ia memilih tidak terlalu jauh ke tengah. Nana memang lumayan pandai berselancar. Selain ayahnya, om Budi dan bang Jirwan juga sering mengajarinya.Jirwan terlihat serius memandangi layar hp milik Nana yang menampilkan sebuah voice note yang bertuliskan "Bunda, dengerin curhatku." Jirwan jadi penasaran, ia ingin mendengarkan isi dari voice note tersebut. Namun, sebelum ia memutar voice note itu, gerimis mulai turun. Ia terlihat kelimpungan mencari tempat berteduh. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat payung yang kosong ditinggalkan pemiliknya. Ia segera berlari-lari kecil menuju ke tempat itu.Sementara itu, walau gerimis sudah mulai turun, Nana tetap asyik berselancar. Ia terlihat lihai mengikuti arus ombak dengan papan selancarnya. Ia tak peduli walau gerimis mulai sedikit deras. Namun, ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari papan selancarnya.***Voice note : Bunda, dengerin curhatkuSebuah Kata Maaf:Bunda, adek minta maaf jika selama ini adek jarang menuruti perintah Bunda. Apalagi jika mengharuskan adek bersosialisasi dengan orang. Adek tidak bisa! Adek tidak tahu harus bagaimana lagi? Adek udah berusaha, tapi tetap aja tidak bisa. Bunda pernah bilang bahwa Bunda juga pernah mengalami hal yang seperti adek alami. Jadi, Bunda pasti paham kan, apa yang adek rasakan? Perasaan adek tuh seperti yang Bunda rasain dulu. Sekali lagi adek minta maaf ya, Bunda! Adek nggak bisa seperti anak-anak Bunda yang lain. Maaf, Bunda!Dan Terima kasih:Bunda, terima kasih karena telah berjuang mengandung adek selama sembilan bulan lebih, berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan adek ke dunia. Terima kasih atas kasih sayang dan perhatian Bunda, sejak kecil hingga sekarang Bunda sudah merawat dan menjaga adek, menjadi madrasatul 'ula buat adek. Hidup memang tak selalu indah. Tapi, bersama Bunda adek merasa bahagia. Bunda, terima kasih sudah menjadi orang yang sangat luar biasa. Bunda adalah yang terhebat di dunia. Semoga Bunda selalu sehat dan bahagia, di dunia dan akhirat. Aamiin.Jirwan terlihat berkaca-kaca setelah mendengar voice note dari hp Nana. Ia jadi heran, mengapa dengan orang lain Nana malu untuk ngobrol/berbicara sedangkan dengan dirinya Nana sangat bawel. Bahkan kata bundanya, Nana kalau di rumah juga jarang ngomong. Dia ngomong seperlunya saja. Jirwan jadi curiga, jangan-jangan voice note ini belum disampaikan langsung ke bundanya."Oh iya, apa aku nanya ke Nana aja ya, soal voice note ini udah disampaikan secara langsung ke bundanya atau belum?" Jirwan tampak berpikir. Ia baru tersadar, ternyata gerimis sudah berubah jadi hujan yang lumayan deras. Ia mengedarkan pandangan mencari Nana. "Kok tidak ada, ya. Apa dia udah balik. Tapi nggak mungkin juga sih dia balik nggak ngomong-ngomong." ia bergumam.Jirwan akhirnya menerobos hujan yang semakin deras. Dia tidak peduli dengan dirinya yang sudah basah akibat air hujan. Yang ada di fikirannya sekarang adalah bertemu dengan Nana."Nanaaa,,, dek kamu di mana?" Jirwan teriak memanggil Nana. Namun, tak ada respon yang ia dengar. Ia mulai khawatir. Ia benar-benar ceroboh karena tidak memperhatikan adik sepupunya itu. "Bagaimana kalau dia terjatuh lalu tenggelam?" pikiran negatif mulai muncul di kepalanya. "Tapi, nggak mungkin, dia kan pintar berenang." lanjutnya mencoba menenangkan diri.Jirwan masih terus mencari keberadaan Nana. Pandangannya tertuju ke arah barat, ia melihat ada beberapa orang di sana. Segera ia berjalan mendekat."Tadi ee tangannya dia e angkat seperti ini." seorang bule perempuan tampak menjelaskan kejadian yang dia lihat. "Aku pikir e dia berenang. Karena papan selancarnya e ada di dekatnya. Tapi, lama-lama e tangannya perlahan menghilang. Saat itu aku e langsung datang untuk menolongnya." bule perempuan yang sempat berpapasan dengan Nana saat baru sampai di pantai tadi terdengar belum lancar berbahasa Indonesia.Jirwan yang ikut mendengar penjelasan perempuan tadi mengalihkan pandangannya ke arah perempuan berkerudung yang tergeletak di atas pasir. Ia terlihat kesulitan bernafas."Nana!" sedikit berteriak, Jirwan mendekat ke samping Nana yang mencoba bangun dengan kondisi tubuh sedikit lemah. Orang yang ada di sekitarnya mulai meninggalkan mereka setelah melihat Nana baik-baik saja."Bang Jirwan, hiks hiks, Nana takut banget." Nana menangis sambil memeluk lengan kanan Jirwan."Tenang, oke. Sekarang adek baik-baik aja kan? Atau ada yang sakit?" Jirwan mencoba menenangkan Nana sambil mengusap pelan punggungnya."Nggak ada yang sakit kok, cuman takut aja." Nana menggeleng. "Bang Jirwan janji jangan bilang ke Bunda, oke?" tanyanya dengan mengangkat jari kelingking."Janji nggak bilang soal apa? Soal voice note?" Jirwan menaik-turunkan alisnya menjahili Nana yang terlihat melotot setelah mendengar kalimat yang dikatakan Jirwan."Bang Jirwan dengerin voice note itu? Katanya tadi mau main game. Bang Jir jahat banget sih!" Nana memukul pelan lengan Jirwan."Tadi, niatnya sih mau main game. Tapi pas liat layar langsung tertuju ke voice note itu, kan aku jadi penasaran, terus aku dengerin deh. Tapi, seriusan nggak mau kasih tahu langsung ke Bunda?" tanya Jirwan."Nggak. Nana malu tau kalau ngomong langsung ke Bunda. Kejadian tadi juga, jangan sampai bunda tahu. Bisa kena marah aku kalau bunda sampai tahu." Nana menutup wajahnya menggunakan telapak tangan."Ya udah, beri tau pakai voice note ini aja. Masa tulisannya 'Bunda, dengerin curhatku' tapi Bunda nggak diberi tau. Bunda mana bisa dengerin sih, dek." Jirwan di buat geleng-geleng dengan kelakuan Nana.Nana mengambil ponselnya dari tangan Jirwan kemudian berdiri. Jirwan ikut berdiri."Kan, Nana nggak pernah mau beri tau voice note ini ke orang lain. Biar Nana aja yang tau sendiri, tapi abang malah dengerin. Sedih banget aku tuh! Aku nggak mau Bunda tau.""Tau tentang apa?" Bunda yang memakai payung tiba-tiba muncul dari belakang mereka. Hujan sudah reda, namun masih menyisakan gerimis."Eh, Bunda." Nana kaget melihat kehadiran Bundanya."Adek kenapa nggak pulang? Kan tadi hujannya deras banget. Dan tadi, apa yang nggak boleh Bunda tau?" Bunda menginterogasi.Nana yang takut kena marah mencoba berlindung di belakang Jirwan."Adek?" Panggil Bunda pada Nana."Anu, tadi adek main hujan, iya main hujan bareng bang Jirwan. Iya kan, bang?" Nana mendongak melihat wajah Jirwan berharap ia mau membantunya."Ee, iya tante. Tante jangan marah sama Nana ya." Jirwan memposisikan Nana ke sampingnya."Iya, Bunda nggak marah kok. Tapi, jangan sering-sering ya main hujannya, nanti bisa demam loh. Terus, yang nggak boleh Bunda tau apa?" tanya Bunda penasaran."Kan, nggak boleh Bunda tau, berarti nggak boleh dikasih tau dong. Bunda gimana sih." Nana mencari alasan agar voice note itu tidak sampai ke telinga Bundanya. Tapi..."Ini nih tante, dengerin deh." Jirwan malah merebut ponsel milik Nana dan langsung memutar voice note itu dengan volume yang tinggi. Nana yang tidak siap dengan kejadian ini, langsung kembali mundur ke belakang Jirwan.Sepanjang voice note itu terputar, Nana hanya bisa memilin ujung kerudung sambil menunduk. Ia malu! Ia tidak tau harus bersikap bagaimana sekarang. Setelah voice note itu berakhir, Jirwan langsung memposisikan Nana tepat di hadapan Bundanya. Sementara Nana masih menunduk."Bunda menerima ucapan rasa terima kasih juga permintaan maaf dari adek. Adek, Bunda juga mau minta maaf ya, karena selama ini Bunda selalu ngebandingin adek dengan orang lain. Adek mau kan, maafin Bunda?" Bunda mengusap pelan pundak Nana."Adek juga udah maafin Bunda. Sekali lagi terima kasih Bunda atas segalanya." Nana meraih tangan Bundanya lalu menciumnya.Bunda memeluk Nana dan Jirwan sambil berbisik, "kalian nikah aja, ya?""HAH." Suara histeris itu berasal dari mereka berdua. Sontak keduanya langsung melepaskan pelukan dari Bunda.
Jadi Keren Tanpa Boyfriend
Iis melangkah terburu-buru menuju gerbang sekolah yang sebentar lagi akan ditutup oleh satpam. Iis tidak mau membuat sejarah terlambat datang ke sekolah hanya karena ia tidak punya kendaraan. Iis masih punya ke dua kakinya yang bisa ia gunakan untuk berjalan ataupun berlari demi sampai di sekolah.Beberapa meter sebelum Iis sampai, satpam sudah terlihat berdiri bersiap untuk menggeser pagar sekolah. Iis segera berlari-lari kecil sebelum pagar itu digeser. Namun, ada motor yang tiba-tiba melesat dengan cepat di sampingnya yang membuat hembusan angin menerpa wajahnya dan menggoyang-goyangkan kerudungnya. Iis menebak, itu pasti si Melati dan boyfriendnya. Melati, teman sekelasnya yang pernah mengatakan kalau punya boyfriend itu keren."Memang keren sih, setiap hari diantar-jemput ke sekolah pakai Moge." Kata Iis pelan setelah melihat Melati dan boyfriendnya memasuki gerbang sekolah. "Aish, mikir apa sih aku, punya boyfriend kan sama sekali nggak keren." Iis menggelengkan kepalanya agar pikiran negatif itu menghilang.Sementara di tempat lain, Tika dan Wulan sudah menunggu Iis sedari tadi. Sudah menjadi kebiasaan mereka saling menunggu sebelum masuk ke kelas."Assalamu'alaikum guys,,," sapa Iis setelah sampai di dekat sahabatnya."Wa'alaikumsalam,,," jawab Tika dan Wulan bersamaan."Is, telat lagi?" tanya Melati. Iis hanya diam melihat Melati yang menunggu boyfriendnya yang sedang memarkir motor."Makanya, buruan punya boyfriend, biar ada yang antar ke sekolah." Melati memberi saran untuk Iis."Pertama, terima kasih atas sarannya. Kedua, maaf aku nggak tertarik saran dari kamu." Ucap Iis lalu mengajak kedua sahabatnya untuk pergi dari hadapan Melati."Kenapa? Bukannya kalian sudah aku beri tahu ya, kalau punya boyfriend itu keren? Kalian nggak percaya?" tanya Melati yang membuat langkah ketiga teman sekelasnya itu berhenti, lalu dengan cepat Melati melangkah mendekat ke arah mereka. "Atauu, jangan bilang kalian nggak tahu lagi, gimana caranya menaklukkan hati cowok." Melati tersenyum smirk."Apaan sih." Tika merasa kesal dengan sikap Melati."Nggak tahu tuh, isi pikirannya cowok mulu. Belajar gih, bentar lagi ujian." Wulan menggandeng tangan Iis dan Tika lalu melangkah pergi meninggalkan Melati yang terlihat kesal dengan ucapan Wulan."Ngomong-ngomong guys, kalian ada yang tahu nggak gimana caranya jadi keren tanpa boyfriend?" tanya Iis saat mereka berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke kelas."Sebenarnya banyak sih. Salah satunya menjadi siswa yang berprestasi. Apalagi kalau bisa masuk universitas tanpa melakukan test. Asli, itu keren banget sih!!!" Tika menyampaikan pendapatnya dengan penuh semangat."Atau dapat beasiswa kuliah ke luar negeri. wah, itu lebih keren lagi!" Wulan juga terlihat bersemangat saat membahas tentang kuliah ke luar negeri."Lan, memangnya kamu mau kuliah ke luar negeri?" tanya Iis. Wulan mengangguk lalu tersenyum."Yaa wajar sih, kalau Wulan mau kuliah ke luar negeri. Kan, kita semua tahu kalau Wulan sahabat kita yang tercinta adalah sang juara di sekolah ini. Peringkat satu selalu ia dapat di setiap kenaikan kelas. Pasti akan mudah untuk dapat beasiswa ke luar negeri." Tika memuji Wulan, siswa sekaligus sahabatnya yang selalu mendapat nilai tertinggi di antara siswa yang lain."No, jangan memuji kayak gitu dong." Wulan memang tidak suka dipuji seperti itu. Namun, nyatanya pujianlah yang selalu ia dengar baik dari keluarga, guru ataupun teman-temannya. Bukannya Wulan tidak bersyukur saat dipuji, dia hanya tidak ingin dirinya besar kepala saat mendengar pujian itu."Kalau Wulan lanjut kuliah ke luar negeri, berarti kita pisah dong. Padahal, aku ingin kuliah bareng kalian." Iis merasa sedih jika nanti ia harus berpisah dengan sahabat-sahabatnya."Gimana kalau kita berusaha dapat nilai yang tinggi di ujian nanti, dengan begitu kita bisa dapat beasiswanya bareng-bareng." Usul Tika."Tapi, apa aku bisa dapat nilai tinggi dengan otak standar yang kumiliki? Sepertinya itu mustahil sih!" Iis merasa putus asa bila membahas masalah nilai. Karena di antara mereka bertiga, Iis-lah yang memiliki nilai terendah."Ayolah, jangan putus asa gitu. Kan, masih ada kesempatan untuk meraih nilai yang tinggi. Mungkin mustahil bagi manusia, tapi bagi Allah subhanahuwata'ala itu mudah. Kuncinya cuman belajar, belajar dan jangan lupa berdoa, agar diberi kemudahan dalam memahami pelajaran." Wulan tampak memberi wejangan untuk sahabat-sahabatnya dan terutama untuk dirinya sendiri.Ada semangat yang muncul dalam diri Iis setelah mendengar perkataan Wulan. Mulai sekarang Iis harus belajar lebih giat lagi, agar keinginannya untuk kuliah bersama sahabat-sahabatnya bisa Terwujud.Kini ujian telah mereka lewati. Ada perasaan lega yang mereka rasakan. Namun, rasa penasaran akan hasil kerja keras merekalah yang mendominasi perasaan itu. Tepat di hari pengumuman kelulusan sekaligus penerimaan beasiswa ke luar negeri, Iis, Tika dan Wulan saling berpegangan tangan mendengarkan pengumuman itu."Sepertinya, tahun ini persaingan untuk mendapatkan beasiswa sangat ketat. Ada beberapa siswa yang nilainya meningkat drastis. Ada yang memiliki nilai yang sama. Namun, tentu penilaian tidak hanya dilihat dari nilai yang tinggi. Tetapi perilaku selama di sekolah juga menjadi salah satu penilaian yang terpenting. Baiklah, sekarang saatnya pengumuman peraih nilai tertinggi sekaligus lima orang yang berhasil meraih beasiswa ke luar negeri." Kepala sekolah kembali ke tempat duduk sambil mempersilahkan moderator untuk mengumumkan siapakah peraih nilai tertinggi di tahun ini."Sekarang tibalah saatnya kita semua akan mengetahui siapakah lima siswa peraih nilai tertinggi." Moderator terlihat bersemangat diiringi tepukan gemuruh dari seluruh siswa maupun para guru yang hadir di aula tersebut."Untuk peraih nilai tertinggi sekaligus siswa pertama yang mendapat beasiswa adalah... Wulaaan! Untuk saudari Wulan dipersilahkan untuk maju ke depan." Moderator memanggil Wulan untuk maju ke atas panggung diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Tika dan Iis memberikan ucapan selamat kepada Wulan sebelum Wulan melepas gandengan tangan mereka. Wulan terlihat bahagia dan mendoakan agar ke dua sahabatnya juga mendapat nilai tertinggi.Siswa dengan nilai tertinggi kedua dan ketiga diraih oleh Salman dan Azizah."Untuk peraih nilai tertinggi keempat diraih oleh... Tika." Ucap moderator. Tika langsung memeluk Iis ketika mendengar namanya disebut."Selamat." Iis membalas pelukan Tika."Optimis, yang terakhir harus nama kamu, sih." Tika melepas pelukan Iis."Optimis sih optimis. Tapi, jangan ada kata 'harus' juga kali. Terdengar seperti pemaksaan itu, hahaha..." Iis tertawa kecil."Iya juga ya, hahah..." Tika geleng-geleng kepala lalu melangkah maju ke depan."Dan terakhir, peraih nilai tertinggi urutan kelima diraih oleh... Iis." Moderator terdengar menyebut nama Iis.Mendengar namanya disebut, Iis mengucap hamdalah dan dia terlihat terharu. Akhirnya perjuangan yang ia usahakan mendapat hasil yang maksimal. Impian yang ia inginkan terwujud. Dan harapannya untuk kuliah bersama kedua sahabatnya juga terwujud.Di atas panggung terlihat kepala sekolah memberikan selamat kepada siswa peraih beasiswa. Mereka terlihat sangat bahagia. Terakhir, mereka diberi kesempatan untuk memberikan pesan dan kesan yang ingin mereka sampaikan kepada teman-teman seperjuangan mereka juga kepada adik-adik yang masih berjuang menuntut ilmu di sekolah tersebut.Secara bergantian mereka maju ke depan untuk menyampaikan rasa syukur sekaligus berterima kasih kepada para guru yang selama ini dengan sabar dan ikhlas telah membagi ilmu pengetahuan dan memberikan pelajaran yang berharga untuk para siswanya, agar kelak mereka bisa menjadi penerus dalam menyampaikan kebenaran dan menyebarkan kebaikan.Kini giliran Iis yang maju untuk menyampaikan pesan dan kesannya selama menuntut ilmu di sekolah tersebut."Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, terima kasih kepada Allah Subhanahuwata'ala yang telah melimpahkan nikmat kepada kita semua terutama saya yang awalnya merasa mustahil untuk berada di posisi ini. Namun, perkataan teman saya Wulan yang mengatakan bahwa 'Mungkin mustahil bagi manusia, tapi bagi Allah Subhanahuwata'ala itu mudah' kini benar-benar menjadi kenyataan. Allah Subhanahuwata'ala benar-benar punya kekuasaan yang begitu luas. Sehingga kemustahilan di mata manusia pun dapat Allah Subhanahuwata'ala ubah menjadi kemudahan sesuai dengan kehendak-Nya. Terima kasih juga kepada para guru yang selama ini dengan sabar dan ikhlas telah membagi ilmu pengetahuannya kepada kami semua. Mengajari kami sehingga bisa berada di posisi saat ini. Kepada teman-teman seangkatan, kalian dan saya juga telah berusaha semaksimal mungkin dalam belajar, dan inilah hasil dari kerja keras kita. Dan untuk adik-adik, selalu semangat dalam belajar agar kalian bisa mencapai apa yang kalian inginkan." Kalimat panjang yang Iis sampaikan mendapat tepuk tangan yang meriah."Untuk kesan yang saya dapat selama sekolah di sini itu beragam. Namun, salah satu yang paling berkesan adalah ketika ada teman kami yang mengatakan bahwa punya boyfriend itu keren. Nyatanya itu salah. Punya boyfriend sama sekali tidak keren. Waktu itu saya bertanya kepada sahabat saya tentang bagaimana caranya jadi keren tanpa boyfriend? Karena, punya boyfriend itu hanya membuang waktu berharga kita yang seharusnya kita gunakan untuk belajar. Dan jawaban sahabat-sahabat saya adalah menjadi siswa yang berprestasi itu jauh lebih keren. Karena hal itulah kami ingin membuktikan bahwa jadi keren tanpa boyfriend itu nyata adanya. Kami berada di posisi saat ini, bukan kah ini keren? Bukannya ingin menyombongkan diri, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa disombongkan di dunia ini. Saya hanya ingin mengajak teman-teman, mari manfaatkan waktu yang kita punya untuk melakukan kebaikan. No boyfriend itu keren! Sekian dari saya, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Iis kembali ke tempat diiringi dengan tepuk tangan yang meriah. Ia lalu memeluk kedua sahabatnya dengan penuh rasa bahagia.
The Millenial Squad
Awali pagi dengan senyuman. Barangkali itu bisa membuat harimu menjadi lebih menyenangkan. Meski banyak rintangan kehidupan yang akan kau dapatkan, setidaknya dengan tersenyum bisa membuatmu merasa lebih nyaman.Sama seperti persahabatan Tasya, Kamila, Sari dan Fadhil. Meski persahabatan mereka sudah terjalin selama kurang dari 3 tahun, tapi tak membuat mereka jenuh satu sama lain. Mereka selalu kompak dalam segala hal. Termasuk dalam hal melakukan kebaikan.Karena yang menjadi prinsip mereka adalah sebuah hadist yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni). Kalimat itulah yang selalu mereka ingat. Ketika salah satu dari mereka melakukan kesalahan, maka yang lain saling memberikan arahan agar sang sahabat tidak terperangkap dalam lubang kehinaan.Pagi ini, Tasya datang ke sekolah lebih awal dari biasanya. Dia harus segera bertemu dengan Fadhil dan membahas tentang storynya yang diposting pagi ini. Dia merasa Fadhil telah mengingkari kesepakatan yang mereka buat seminggu yang lalu. Pasalnya, story yang diposting beberapa menit yang lalu itu sangat bertentangan dengan kesepakatan yang telah mereka buat.Saat tiba di sekolah, ternyata kedua sahabatnya, Kamila dan Sari sudah sampai lebih dulu. Kamila yang memakai kerudung abu-abu dan memakai tas ransel hitam itu tak berhenti memandangi layar handphonenya. Begitu pun dengan Sari. Mereka membaca berulang-ulang story yang terpampang nyata di handphone mereka. Dengan langkah terburu-buru, Tasya menghampiri kedua sahabatnya yang terlihat cemas."Assalamu'alaikum... Kamila, Sari, udah pada liat, kan?" dengan hebohnya Tasya bertanya pada kedua sahabatnya. Keduanya terlihat sedikit kaget. Tapi kemudian meresponnya dengan kehebohan yang sama."Wa'alaikumsalam..." Jawab Kamila dan Sari bersamaan."Udah. Fadhil benar-benar keterlaluan, ya." Kamila terlihat begitu kesal."Benar banget. Dasar laki-laki tidak bisa dipercaya!!!" Sari menimpali."Tapi, tidak kah kita terlalu berlebihan?" tanya Tasya."Maksudmu?" Sari balik bertanya."Yaa aku merasa sedikit berlebihan aja, sih. Apa yang aku lakukan hari ini terlalu lebay nggak, sih? Kalian nggak ngerasa gitu?" Tasya terlihat bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba over protektif terhadap sahabatnya."Ya nggak lah. Apa yang kita lakukan tuh demi menyelamatkan Fadhil, agar dia nggak salah arah dalam melangkah. Kita kan udah sepakat untuk saling mengingatkan." Kamila justru lebih santai dibanding Tasya yang bingung sendiri dengan sikapnya.***Di era modern seperti saat ini, sangat mudah bagi kita untuk berinteraksi dengan banyak orang. Kebaikan bisa kita lakukan di mana pun dan kapan pun kita mau melalui media sosial. Setiap hari, media sosial menjadi menu utama bagi penduduk bumi. Bahkan kita bisa mengetahui kejadian apa saja yang terjadi di berbagai belahan bumi.Jam istirahat tiba. Tasya, Kamila, dan Sari terlihat asyik ngobrol di kantin. Mereka ngobrol tentang hal yang lumrah terjadi di kalangan remaja saat ini. Ya,,, tentang pacaran!!! Zaman sekarang, jarang kita menemukan remaja yang tidak pacaran. Hubungan mereka yang pacaran semakin erat dengan adanya media sosial. Mereka setiap hari saling mengabari satu sama lain. Mereka seakan tidak peduli dengan hubungan yang mereka jalani. Dalam islam dijelaskan bahwa "janganlah kamu mendekati zina..." (QS. Al Isra' Ayat:32). Sedangkan pacaran itu jelas termasuk zina, seperti zina mata yaitu memandang lawan jenis yang jelas bukan muhrimnya.Sementara di tempat lain, seorang siswa dengan pakaian yang terlihat rapi, memakai topi dan jam tangan yang melekat di lengan kirinya terlihat keren dan memukau beberapa pasang mata yang mengarah padanya. Ia adalah Fadhil. Siswa yang terkenal dengan kehebatannya dalam bermain basket. Beberapa penghargaan yang pernah Fadhil dkk raih dalam berbagai perlombaan. Salah satunya lomba basket antar sekolah sekabupaten yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu. Mereka mendapat juara satu dan membawa pulang piala kejuaraan. Hal itu tak membuat Fadhil mengumbar-umbar kehebatannya (sombong). Justru hal itu membuatnya bertambah semangat dan terus berlatih agar kemampuan yang dimilikinya tetap terjaga."Wan, ke kantin yuk,,," Ajak Fadhil saat berpapasan dengan Ridwan dalam perjalanan ke kantin."Yuk." Jawaban singkat Ridwan tak membuat mereka ngobrol lebih lama.Mereka terus melangkah menyusuri jalan menuju ke kantin yang selalu ramai oleh para siswa dan siswi. Dari kejauhan penglihatan Fadhil langsung tertuju ke arah sahabatnya Tasya, Kamila dan Sari."Assalamu'alaikum... guys." Sapa Fadhil saat sampai di dekat sahabat-sahabatnya itu."Wa'alaikumsalam..." jawab mereka kompak."Kok tadi aku nggak di ajak ke kantin?" tanya Fadhil ke mereka dengan nada yang sedikit kesal."Tadi sih mau ngajak, tapi nggak jadi." Jawab Kamila singkat."Alasannya?""Yaa, nggak jadi aja." Kamila iseng mengulangi kata-katanya."Alasannya nggak jadi itu, kenapa?" Fadhil menjitak pelan kepala Kamila dengan sedikit emosi."aaa,,," Kamila kaget dan sedikit terganggu."Nggak usah emosi juga kali." Sari memakan potongan coklat yang masih tersisa di tangannya."Sya, ada apa sih?" Fadhil beralih ke Tasya yang tampak diam menyaksikan perdebatan mereka."Tadi kamu nggak ada di kelas. Jadi kami duluan ke kantin." Tasya memberi penjelasan."Dhil, aku balik ke kelas duluan, ya." Kata Ridwan setelah membeli air mineral."Ke sini dulu, kita ngobrol bareng." Ajak Fadhil ke Ridwan."Nggak ah, duluan ya." Ridwan melenggang pergi."Guys, perasaan tadi aku di kelas kok. Please!!! Jangan bohong, ada apa sih?" Fadhil tetap ngotot pengen tau kenapa sikap sahabat-sahabatnya jadi kaku begini."Kamu beneran nggak tau?" tanya Sari. Fadhil menggelengkan kepala."Nih,,," Tasya menyodorkan sebuah handphone ke Fadil."Maksud dari postingan kamu itu apa? Kamu pacaran sekarang? Bukannya minggu lalu kamu bilang nggak akan pernah pacaran?" Kamila mengingatkan kalimat yang pernah Fadhil katakan."Aku nggak pacaran, kok. Siapa bilang aku pacaran? Aku hanya iseng aja. Kebetulan kata-kata yang terlintas dalam fikiran aku ya kayak gini." Fadhil menjelaskan maksud dari postingannya."Dinginnya pagi ini, sedingin sikapmu padaku,,, #ea. Apa ini hanya iseng? Setiap postingan tuh punya makna tau." Kata Sari membaca ulang teks yang tertulis dalam postingan tersebut."Dan apa kamu tau makna dari kata-kata itu?" Sambung Tasya. Fadhil hanya menggeleng. Ia merasa sedang di interogasi saat ini."Maksud dari postingan ini tuh, seseorang yang sedang galau dengan sikap pacarnya. Tau nggak sih, kamu?" Kamila menjelaskan."Oke, oke. Kalian sudah selesai ngomong? Kalian kalau mencari makna dari sebuah postingan tuh, dibaca dan dimaknain dari awal kata sampai kata yang terakhir. Jangan memaknainnya hanya setengah-setengah. Faham!?" Kini giliran Fadhil yang mengeluarkan unek-uneknya."Maksud kamu?" Tanya Kamila, Sari dan Tasya kompak."Kalimat terakhir tuh ada #ea. Kalian tau makna dari kata itu? Makna #ea menunjukkan kalau kalimat sebelumnya itu hanya iseng saja." Fadhil menjelaskan makna postingan yang sudah menyebar luas di media sosial.Ketiga sahabatnya tampak diam."Kenapa diam? Kalau kalian merasa risih dengan postingan itu, biar aku hapus saja." Fadhil mengambil handphone dari tangan Tasya."Nggak usah dihapus." Kata Kamila"Lagian sudah menyebar luas, kan?" Sambung Sari.Setahun yang lalu, mereka sepakat untuk membuat satu akun yang dimana mereka semua bisa mengakses dan membuat story di akun tersebut. Mereka berharap postingan mereka bisa bermanfaat bagi banyak orang.Karena waktu istirahat masih ada, mereka memutuskan untuk live."Karena sudah terlanjur menyebar, kita live saja mumpung jam istirahat masih ada. Sekalian kita beri klarifikasi tentang postingan itu, agar tidak ada yang salah faham." Ajak Tasya sambil membuka akun mereka."Oke." Kata Kamila dan Sari. Fadhil hanya mengangguk.Akun mereka memiliki followers yang lumayan banyak. The Millenial Squad adalah nama grup mereka. Mereka bersyukur bisa berbagi ilmu juga motivasi bagi banyak orang. Kebolehan mereka dalam menjawab persoalan hidup, terutama masalah remaja millenial seperti saat ini. Membuat mereka di sukai banyak orang. Tak jarang mereka diajak untuk kolaborasi dengan motivator terkenal untuk menyampaikan kebaikan.