Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
HOROR KOTA MATI
Horror
03 Dec 2025

HOROR KOTA MATI

Isabel hari ini sedang menyiapkan semua pakaiannya untuk pergi ke rumah neneknya di Malang, Akomodasi tiket sudah disiapkan untuk perjalanannya kali ini, karena dia hanya berdua saja dengan Rai teman sekosnya, mereka merencanakan liburan kali ini harus berpetualang ke tempat kelahirannya di Malang.Satu Jam Isabel menunggu tetapi Rai masih belum datang, akhirnya Isabel memutuskan untuk naik bus berikutnya kali ini, kalau tidak dia bisa ketinggalan kereta api, hampir saja Isabel mengangkat kakinya, tiba-tiba terdengar suara Rai"Isabel tunggu... tunggu..." ucap Rai ternegah engah"Aduh Rai, untung saja hampir saja terlambat sedetik lagi" ucap Isabel geram dengan kebiasaan Rai yang jam karet"Maaf Bel aku kesiangan" ucap Rai"Terus kalau kamu ga jadi ikut, aku sendirian kenapa coba ga pasang alarm saja" ucap Isabel kesal"Iya maaf... maaf..." ucap Rai"Sudah sekarang kita fokus ke perjalanan kita saja, kamu gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Isabel"Sepertinya gak kok, aku sudah siapin sejak malam" jawab Rai bersemangatAkhirnya mereka berdua sampai di stasiun, tidak berapa lama kereta yang mereka naiki sudah tiba"Wah pas sekali, coba kalau aku masih nungguin kamu, bisa gak jadi pergi kita kali ini" ucap Isabel menyindir Rai"Kenapa sih masih bahas itu aja, yang penting kan kita sudah naik kereta tepat waktunya" ucap Rai bernada cuek"Rumah nenek ku itu masih Asri banget Rai, rumahnya ada di tengah hutan Pinus, yang pemandangannya sangat indah saat siang, tetapi cukup mengerikan kalau kamu berjalan sendirian malam hari" cerita Isabel"Serius Rai, terus kita kesananya naik apa?" tanya Rai"Naik angkot sampai depan taman kota, terus kita lanjutkan naik ojeg sampai di pintu pegunungannya" ucap Isabel"Langsung sampai dirumah nenekmu?" tanya Rai"Ya belum lah masih jauh lagi jadi kita nanti jalan kaki masuk ke hutan pibus, kira-kira sampai sorelah kita di rumah nenek ku Rai" ucap Isabel"wah benar-benar berpetualang banget ya Rai, tapi kamu gak mungkin nyasar kan?" tanya Rai"Ya gak mungkinlah itukan kampung halaman nenekku" ucap Isabel sombongLalu mereka kan mulai menaiki angkot menuju ke tempat yang dituju, tidak terasa hari sudah mulai sore saat mereka tiba, jalanan sangat macet kondisinya, dan mereka sudah mulai keringatan saat sampai di angkot tersebut, lalu tibalah mereka dipangkalan ojek, Isabel dan Rai harus naik ojeg yang berbeda, menuju pintu gunung pinus yang dituju."Isabel jangan buru-buru bilangin tukang ojeknya, aku takut nyasar" ujar Rai"Iya bawel, aku kan sudah bilang ke tukang ojek kamu berhenti di pintu gunung pinusnya" ucap IsabelSekitar 30 menit lewat jalan rusak dan berkelok-kelok, akhirnya samapi juga mereka berdua di pintu gunung pinus tersebut"nenek kamu gak takut tinggal di Gunung bel?" tanya Rai penasaran setelah melihat lokasi yang sangat jauh dari perkotaan"Gak lah Rai, kalau kamu sampai juga kamu pasti akan sangat senang dengan pemandangannya sangat damai sekali" ucap Isabel bersemangat mengingat rumah neneknya yang sangat dirindukannya"Terus besok kita kemana?" tanya Rai"Besok kita baru jalan jalan ke Bromo, ke kota Malangnya sekalian kita wisata kuliner" ucap Isabel"Baik lah siap, sekarang kita istirahat dulu di rumah nenekmu kan?" tanya Rai"Iya dong, aku kan kangen sama nenekku" ucap Isabelmereka melanjutkan perjalanannya, tidak terasa hari mulai malam, dan sepertinya suasana mulai terasa mencekam, bahkan Isabel mulai merasa ragu dengan jalan yang ditapakinya, beberapa kali Isabel menelepon nenek, tidak ada sinyal yang didapatnya."Bel, kok belum sampai aku sudah capek, dan sepertinya kita sudah berjalan jauh sekali" ucap Rai"Iya tapi aku yakin ini jalannya Rai, sabar ya" ucap Isabel menenangkanHampir jam tujuh malam jam ISabel menunjukkan mereka sudah berjalan selama tiga jam lebih, dan biasanya untuk mencapai rumah nenek hanya sekitar satu setengah jam saja."Maaf ya Rai sepertinya aku benar-benar kehilangan jejak, kita tersasar" ucap Isabel jujur ditengah-tengah hutan pinus"Isabel kok bisa? terus suasananya seram banget lagi, terus kita bagaimana?" ucap Rai panik"Kita menginap disini dulu ya sampai besok pagi, aku tidak berani jalan lebih jauh lagi" ucap Isabel sambil memandangi sekeliling tetapi tiba-tiba secercah harapan datang, didepan mereka terlihat ada pemukiman yang terang dengan banyak cahaya lampu"Rai lihat" ucap Isabel"Apa bel?" jawab Rai lelah"itu ada pemukiman, mungkin malam ini kita kan menginap disana dulu" ucap Isabel"Baiklah terserah kamu saja" ucap Rai pasrahMereka berjalan masuk ke gerbang kota sekelilingnya masih terlihat ramai orang berlalu lalang"Maaf pak, boleh kami numpang menginap disini?" tanya ISabel kepada seorang bapak tua yang berjalan didepannyaBapak tadi hanya melihat saja tanpa menjawab pertanyaan Isabel, tetapi tangannya meminta mereka berdua untuk mengikutinyaBerjalan sebentar, akhirnya Isabel dan Rai sampai ke rumah gaya klasik jawa, mereka masuk kedalam ruangan yang gelap hanya ditemani lampu lilin saja."Terimakasih ya pak, kami sudah boleh menginap disini" ucap Isabel melihat kebaikan bapak tua tadi kepada merekatapi seperti biasa bapak tua itu hanya tersenyum saja dan tidak berbicara sama sekali"Tidak menyangka ya di tengah hutan begini ada kota juga ya Bel" ucap Rai"Iya Rai, tapi anehnya setiap aku kesini aku belum pernah melihat kota ini" ucap ISabel bingung"Tapi tidak apa-apa deh ini saja sudah lumayan, daripada kita menginap di hutan sendirian" ucap RaiSetelah masuk kekamar kecil yang ditunjukan oleh si Bapak tua tadi Isabel dan Rai menaruh tas yang dibawa mereka, mereka sudah bersiap-siap untuk tidur karena rasa lelah yang dijalani hari ini.Baru saja Rai dan ISabel mau rebahan, tiba-tiba terdengar suara ramai banyak sekali orang didepan rumah, mereka mengintip dari jendela kamarAda Api Unggun besar, dikelilingi hampir semua warga, sepertinya ada upacara yang berlangsung dan mereka terlihat sangat gembira, si Bapak TUa tadi juga terlihat seperti memimpin upacara.Isabel dan Rai hanya melihat satu sama lain"Rai aku sudah ngantuk tidur saja yuk, biarin saja mereka sedang upacara" ucap Isabel"Iya Bel, aku juga tidak mau melihat acara itu, mending aku tidur saja"Dan akhirnya mereka terlelapIsabel tersentak terbangun merasa ada yang aneh dia membuka matanya, ternyata Dia dan Rai sudah diikat di papan kayu dekat api unggun."Loh kok kami dibawa kesini?" tanya Isabel "Rai.. bangun.. Rai bangun" teriak ISabel kepada RaiTetapi itulah Rai dia adalah anak yang pelor, tidak mudah untuk dibangunkan, sangat tidak mungkin untuk Rai bangun mendengar suara yang ramai seperti ini.Bapak tua tadi hanya melihat ISabel sambil tersenyum dan melanjutkan upacara nya kali ini.Isabel merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia merasa semua warga disini memiliki wajah yang pucat dan sangat kaku, bahkan banyak beberapa wajah yang memiliki wajah yang cacat seperti luka bakar, dan penuh darah."Tolong....tolong..... " teriak Isabel tetapi sepertinya saat ini tidak akan ada seorangpun yang akan menolongnya.Tiba-tiba warga membawa papan kayu Isabel dan Rai ke tengah-tengah api unggun"Tidaaakkkkkk.... tolong.... tolong kasihani kami" teriak Isabeldan mereka masuk kedalam api unggun Isabel berteriak sekencang mungkin"Tolongggggggggggggggggggggggg nenekkkkkk" teriak ISabelTIba-tiba Isabel melihat semua warga dan bapak tua tadi menghilang yang ada hanya hutan pinus kosong dengan banyak reruntuhan rumah dan kuburan yang ada didalam hutan pinus tadi"Rai... bangun... Rai" teriak Isabelmatahari sudah mulai terbit, dan Suasana menjadi lebih terang"Kenapa sih Bel? kamu teriak teriak gitu, pusing tau aku mendengarnya" ucap Rai sambil membuka matanya"Syukurlah kamu akhirnya bangun juga Rai" sapa Isabel lega"Kok kita ada di sini? rumah bapak tua tadi mana? dan kenapa kita tidur ditanah seperti ini?" banyak pertanyaan yang diajukan Rai"Nanti aku ceritakan, sekarang kita harus ke rumah nenek dulu" jawab Isabel"iya" ucap RaiSetelah 30 menit mereka berjalan akhirnya mereka berdua menemukan rumah nenek Isabel, dan sampai disana akhirnya Isabel menceritakan semua yang terjadi kepada nenek, dan Rai sangat ketakutan ketika mendengarnya."Iya dulu ada perkotaan di gunung ini yang dijadikan perumahan seperti vila, dan banyak yang sudah menghuni dan tinggal disana, tetapi pada suatu malam terjadi kebakaran yang sangat hebat semua vila disana terbakar habis dan semua penduduk disana meninggal semua" cerita nenek"Ya ampun, hampir saja kita jadi korban dari warga dikota mati tersebut" ucap Rai dengan nada ketakutandan saat melewati hutan pinus tersebut, tiba-tiba dikejauhan Isabel melihat bapak tua tadi melihatnya dari pohon pinus diatas bukit._____________________________

HOROR HANTU TANPA MUKA
Horror Wattpad
03 Dec 2025

HOROR HANTU TANPA MUKA

James saat ini mulai memasuki koridor loby yang panjang, dia akan memulai hari barunya sebagai staf Akuntan di Bondan Law and Firm, kantornya sangat bonafid terletak di area strategis di wilayah Sudirman, gedung tinggi menjulang sampai 78 lantai, dan James melihat banyak profesional dengan pakaian yang sangat elegan hilir mudik di perkantoran tersebut.Dan James memasuki Lift menuju Lantai 13 kantor barunya berlokasi disana, saat pintu lift terbuka, James melihat koridor sepi lagi yang ada disana, dan James pun berjalan melewati koridor hingga sampai di ruangan dengan pintu bening dan disana sudah ada resepsionis yang menyambut James dengan ramah, dan saat James menunjukkan surat penugasannya, Resepsionis itu mengantarkan James ke ruangan HRD."Silahkan Pak James, ini ruangan Pak Andrew Manager Akuntan disini" ucap Lisa sang Resepsionis"Baik Terimakasih mbak" ucap James sopanPak Andrew menyambut kedatangan James dengan ramah"Silahkan duduk James, selamat saya ucapkan lebih dahulu atas keberhasilan bapak sudah bergabung diperusahaan kami" ucap Pak Andrew"Terima kasih pak, saya harap saya dapat memberi kontribusi yang baik pada perusahaan ini" jawab james"Pasti, saya sangat menyambut kamu dengan baik, karena memang saya kehilangan staf saya beberapa bulan ke belakang dan banyak pekerjaan yang menumpuk dan butuh diselesaikan" ucap Pak Andrew menaruh harapan kepada James untuk membantunya."Baik Pak" ucap james bersemangatDan Pak Andrew mengantrakan James ke ruangannya yang terletak di pojok sudut gedung, sambil memperkenalkan rekan-rekan lainnya.Dan hari itu dilewati James dengan cukup baik, rekan-rekan sekantornya cukup ramah dan banyak membantunya dalam mempelajari ruang kerja barunya. Dan betul kata Pak Andrew James harus sudah siap dengan banyaknya laporan yang belum terselesaikan.Tidak terasa jam sudah menunjukkan jam 5 sore, semua karyawan bersiap-siap untuk pulang, dan James masih melihat banyaknya kertas yang menumpuk di mejanya sehingga dia urungkan untuk pulang tepat waktu seperti mereka."james ayu pulang" sapa Mira rekan kerjanya yang duduk di seberang James"Nanti saja Mir, sebentar lagi aku selesaikan pekerjaan hari ini dulu" ucap James sambil tersenyum"Santai sajalah hari ini hari pertama kamu, jangan terlalu keras" ucap Mira menghampiri James"Iya mir tidak apa-apa kok" jawab James sambil tersenyum lagi"James, kamu masih baru, kamu belum tahu ada apa saja dikantor ini, sebaiknya kamu pulang jangan terlalu malam nanti" ucap Mira dengan nada khawatir"Baik Mir, aku usahakan sebelum gelap aku sudah pulang" ucap James bersemangatEntah mengapa hampir semua rekan-rekan James menatap James aneh dan mendekati Mira dan mereka sepertinya membicarakan James kepada rekan lainnya."Apakah aku terlalu bekerja keras, mungkin aku terlalu terlihat aneh saat ini" fikir James"Hai James" sapa Pak Andrew"Iya pak" jawan James"Aku lihat kamu sangat bersemangat, aku senang sekali dengan energi baru seperti kamu" ucap Pak Andrew"Iya pak, emang benar kata Bapak banyak sekali pekerjaan yang tertumpuk" ucap James"Semangat kamu James aku sangat menyukainya, lanjutkan ya, tapi hari ini aku sangat tidak fit jadi aku harus pulang sekarang" ucap Pak Andrew"Baik pak hati-hati" ucap James"Justru kamu yang harus hati-hati" ucap Pak Andew dengan nada misterius"Baik pak" entah mengapa sepertinya kata-kata hati-hati itu menjadi nada yang ditekankan oleh Pak AndrewWaktu sudah menunujukkan jam 9 malam, sebentar lagi laporan tersebut akan selesai.Tiba-tiba mesin fotokopi menyala sendiridan ruangan Pak Andrew nyala tiba-tiba, James merasa ada yang tidak beres disini, dia mulai berjalan ke arah koridor dan melewati ruangan ke arah mesin foto kopi.Dan tiba-tiba dia melihat di tempat mesin foto kopi ada seorang gadis sedang mengahadap mesin foto kopi, James lega berrarti dia tidak sendiri di ruangan ini, dan masih memiliki teman, dan James menghampirinya."Mbak, maaf kamu lembur juga ya?" tanya JamesTiba-tiba gadis itu menghadap ke arah James dan yang membuat James kaget adalah gadis itu tidak memiliki muka smeua polos.James langsung lari ke arah ruangannya, badannya sangat gemetar dan keringat dingin pun mengucur, dan James mengambil tasnya dan lari ke arah pintu, dan menuju liftnya.Tiba-tiba gadis tanpa muka itu sudah ada didalam lift saat pintu lift terbuka"Kamu... mau apa?" tanya JamesGadis itu hanya diam menatap James dan tiba-tiba tubuh James tertarik untuk masuk kedalam Lift"Tolong jangan ganggu aku" ucap James ketakutanDan gadis itu membuat lift terasa sangat ringan dan membawa James kembali ke ruangannya dengan gadis itu, James melihat ada gadis yang berpakaian sama sedang memfoto kopi tapi gadis ini memiliki wajah yang cantik, dia hanya seorang diri sepertinya teman yang lain sudah pulang.Tiba-tiba ada empat orang mendekati dia diantaranya Mira"Bela, kamu itu selalu cari muka sama atasan dengan lembur seperti ini, kamu tahu gara-gara kamu sekarang kami tidak bisa pulang tepat waktu" ucap Mira"Tapi aku hanya ingin menyelesaikan tugasku" ucap Bela dengan wajah ketakutan"Tidak apa-apa kalau itu tidak merugikan kita, tapi kelakuan kamu itu membuat kita semua sekarang harus ikut lembur seperti kamu" ucap Roy laki-laki dengan tubuh gempal"Lalu kenapa kalian menyalahkan aku?" tanya Bela"memang ini semua salahmu" ucap mereka beramai-ramai, dan tanpa sadar Mira membenturkan wajah Bela ke mesin foto kopi sampai Bela tidak sadarkan diri"Bagaimana ini" tanya Mira"Kalau dia lapor Pak Andrew kita pasti dikeluarkan" ucap Roykita bersihkan darahnya, dan kita harus membawa dia ke tempat lain, dan mereka segera ergi membawa Bela ke taman belakang gedung, dan dengan teganya mereka memukul wajah Bela sampai wajah Bela hancur dan Bela tidak bernafas lagi.mereka menguburkan Bela di taman belakang itu, dan sampai saat ini tidak ada yang tahu apa yang diperbuat oleh mereka."Hai James, kamu pulang jam berapa tadi malam?" tanya Mira ke James pagi iniJames melihat Mira ketakutan "Aku... aku hanya sampai sore saja kok mbak Mira" ucap James gugup"Oh baiklah bagus, awas saja" ucap Mira tidak menyelesaikan kalimatnya seperti ada nada ancamanSeharian ini James tidak tenang mengetahui dia bekerja dengan rekan-rekan yang telah membunuh Bela karena kesalah pahaman.Ada niat James untuk memberitahu Pak Andrew tentang masalah ini, saat James berjalan ke ruangan Pak Andrew tiba-tiba dia melihat Mira ada disana"Dia berbohong sayang, pasti dia juga karyawan yang cari muka, masa dia bilang dia pulang sore padahal di CCTV dia pulang hampir jam sembilan malam" ucap Mira"Jangan sampai bos besar tahu tentang hal ini" ucap Pak Andrew"Lalu bagaimana jika kita berbuat hal yang sama seperti kepada Bella kalau dia macam-macam" ucap Pak Andrew"Coba kita lihat malam ini" ucap MiraTiba-tiba James shock mendengar apa saja yang baru saja dibicarakanDia berjalan kembali ke mejanya, dan disitu dia melihat kertas sudah bertumpuk kembali di mejanya dengan note : besok di kumpulkanJames kehilangan akalnya bagaimana bisa Pak Andrew terlibat hal seperti iniWaktu sudah menunjukkan jam 5 sore, semua rekan - rekan pamit dan James mulai ditinggalkan sendirian, keringat bulir James mengucur deras, tapi dia mengalihkan semua ketakutan kepada pekerjaannya.Dan kejadian itu terulang, mesin foto kopi yang menyala sendiri, dan juga lampu ruangan pak Andrew yang berkedap -kedip, James mulai membayangkan Bela ada di mesin foto kopitetapi tiba-tiba lampu gelap gulita, semua mati total tidak ada yang menyalaAda seberkas cahaya terlihat, seperti sinar dari handphone"Siapa... siapa kamu?" tanya JamesAda dua orang bertopeng mendatanginya, "James kami sangat benci dengan orang yang cari muka" ucap suara wanita yang dikenalnya seperti suara Mira"Aku tidak cari muka, tapi aku hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan ku" ucap James"Dasar orang-orang seperti kamulah yang membuat karir saya tidak bisa naik, hanya diam ditempat saja" ucap suara laki-laki yang James kenal suara Pak ANdrewTapi tiba-tiba listrik menyala, pak Andrew dan Mira sangat kaget, ternyata mereka membawa senjata tajam ditangannyaDan tiba-tiba Mira terpental jauh ke sudutPak Andrew sangat kaget dibuatnya"Kamu... kamu bagaimana kamu ada disini" ucap Pak AndrewDan disitulah James melihat Bela di Hantu tanpa muka ada disana"Kalian memang orang jahat" ucap Bela dengan wajah amarah yang membabi butaPak Andrew pun terlempar jauh ke sudut ruangan"Ampun Bela" ucap Mira"Kami tidak bermaksud seperti itu" ucap MiraTetapi Bela semakin menjadi murka "Kalian harus bertanggung jawab, muka kalian harus sebagai ganti untuk mukaku""Jangan Bela, Jangan tolong jangan kamu balas dendam kepada kami" ucap Mira bersuara ketakutanDan tiba- tiba mereka berdua terlempar ke jendela dan jatuh ke lobi bawah gedung.James sangat kaget dan ketakutan melihat kejadian tersebut, dia benar - benar tidak bia menggerakkan tubuhnya, sehingga datang security kantor yang menghampirinya, dan setelah itu James menjadi saksi kepada polisi atas apa yang terjadi hari itu.Saat semua polisi sudah menginterogasi JAmes, James pun keluar dan menuju koridor kantornya dan menuju lift, dan ternyata di dalam lift, ada HAntu bela tapi kali ini dia sudah memiliki wajah Mira.___________________________________________

Daratan Kenangan
Folklore Wattpad
03 Dec 2025

Daratan Kenangan

Dia mengangkat beban seluruh dunia ini seorang diri. Memang ia awalnya terlihat mampu, tapi pada akhirnya, semua orang tahu, bahwa dia pasti akan menyerah. Namun, bukan berarti ia akan kehilangan keyakinannya.Di bawah langit malam, gadis kecil berpakaian lecek itu melangkah dengan ragu menyusuri daratan rumput itu. Di sekitarnya, ada banyak pepohonan yang tampak amat indah dan istimewa. Pasalnya, semua pohon yang tumbuh di sana, memiliki daun yang menyala terang, yang memancarkan warna merah muda yang sangat serasi dengan kegelapan malam kala itu. Umat manusia menyebut tempat ini sebagai Daratan Kenangan.Rasanya... dunia ini... sudah tidak memiliki harapan lagi...Berbagai pemikiran yang tidak menyenangkan mulai merasuk ke dalam gadis itu. Pandangannya yang kosong menatap lurus ke depan, seakan-akan dia sama sekali tidak peduli lagi dengan nasib dunia ini.Namun, selain si gadis, rerumputan, kegelapan, dan pepohonan bersinar itu, di sana juga ada ribuan manusia lainnya, yang berpakaian kotor dan tidak terurus sama seperti gadis itu, yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya.Semua orang memberikan jalan agar gadis mungil itu bisa lewat.Gadis itu terus berjalan, sementara orang-orang di sekitarnya malah menatap dirinya dengan tatapan sedih, heran, dan takut.Selang beberapa waktu kemudian, gadis itu pun berhenti melangkah. Di depannya kini ada suatu danau yang cukup lebar, yang hanya berjarak satu jengkal saja dari kaki telanjangnya yang penuh luka.Tuhan... mengapa dunia ini sangat senyap?Gadis kecil itu mengambil nafas dalam, lalu dengan perlahan dan pasti, dia mulai melangkahkan kakinya ke dalam air yang terasa amat dingin itu, dan berjalan menuju ke tengah-tengah danau. Semakin dalam dan semakin dalam, sampai-sampai setengah dari tubuhnya sudah tenggelam, dan hanya bagian perut ke atas saja yang terlihat darinya.Tuhan... mungkinkah ini adalah bayaran atas dosa-dosaku di masa lalu?Air di danau itu sangat tenang dan tidak beriak sama sekali, seakan-akan, danau itu terlihat seperti membeku, sama seperti gadis itu yang kini hanya berdiri diam di tengah danau.Sekarang suasananya menjadi lebih hening—sangat hening.Ada banyak orang yang melihat ke arah gadis itu dengan tatapan yang menyiratkan rasa putus asa yang sangat dalam. Sampai-sampai kau merasa seolah bisa melihat jurang tanpa dasar di dalam pandangan mereka. Sebagian orang di sana juga ada yang mulai menangis terisak, dan sebagian lagi gemetar hebat dan berkeringat dingin.Tuhan... Tolong dengarlah suaraku...Namun, tiba-tiba ada satu suara yang memecah keheningan malam.Jauh di kiri gadis itu, ada seorang wanita yang baru turun ke air dan tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu juga menggendong bayinya bersamanya. Meski begitu, wanita itu adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak terlihat takut, sedih, ataupun putus asa. Dia hanya tersenyum kecil sambil memastikan bayinya tetap tertidur dalam dekapannya. Sementara jauh di belakang wanita itu, tampak pula seorang pria yang bertekuk lutut dan menangis layaknya seorang balita. Seolah-olah dia akan kehilangan wanita itu.Dalam perjalanannya, wanita itu berbisik pada bayinya; "Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada Ibu." Suaranya yang pelan sungguh menenangkan.Puluhan langkah telah berlalu, dan wanita itu akhirnya sampai di hadapan si gadis di tengah-tengah danau. Wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangannya yang lemah kepada si gadis, tapi, gadis kecil itu malah menggigit bibirnya sendiri dengan sangat keras, dan tubuhnya juga ikut gemetar."Jangan takut, Nak Riveria..." Kata wanita itu sambil tersenyum simpul.Dia tahu, bahwa wanita yang berdiri di depannya itu sebenarnya sudah sangat siap. Tapi, kenyataannya, satu-satunya orang yang belum siap di sini, kemungkinan adalah dirinya sendiri—Riveria Agnisia.Walau begitu, pada akhirnya, gadis kecil itu—Riveria—mau tak mau harus menerima uluran tangan wanita itu, lalu kemudian wanita itu dengan perlahan membungkukkan tubuhnya sampai dia benar-benar tenggelam ke dalam air.Jemari Riveria bergetar hebat, sampai-sampai dia kesulitan untuk melepaskan tangan wanita itu. Tapi, sungguh, hati kecil Riveria terus berteriak dan memberitahunya untuk tidak melepaskan tangannya.Seketika, tubuh Riveria menjadi lemas bukan main entah karena apa.Namun, saat tangan mereka telah bercerai, sesuatu yang gaib kembali terjadi.Ada banyak titik-titik cahaya hijau terang yang mulai timbul dari tempat si wanita tadi tenggelam. Cahaya itu sejatinya terlihat sangat ajaib, tapi sayangnya, apa yang terpancar dari mata Riveria yang kala itu bergetar hebat bukanlah rasa kagum, melainkan rasa takut yang tiada tara.Lambat laun, cahaya itu perlahan-lahan terangkat dari air dan naik ke udara, hingga lenyap begitu saja dari pandangan—dari dunia ini. Semua orang yang ada di sana hanya bisa terdiam melihat pemandangan itu. Dan dunia ini sekarang telah menjadi lebih senyap dari sebelumnya.Riveria lalu menatap telapak tangannya dengan pandangan hampa. Suatu memori terlintas di dalam benaknya. Tapi, ingatan itu bukanlah miliknya, kenangan itu adalah milik wanita yang telah pergi sebelumnya.Walau hanya sekilas, Riveria bisa melihat hampir semua kenangan itu dengan amat jelas. Namun, berdasarkan semua ingatan itu, Riveria hanya mampu menangkap dua ingatan saja yang memberikan kebahagiaan pada wanita itu, yaitu saat wanita itu menikah dengan pria yang tengah menangis di sana, dan yang kedua adalah waktu dia melahirkan anaknya. Sementara sisanya, adalah ingatan-ingatan yang pahit dan mengerikan."Bagaikan ribuan bintang di langit, tapi hanya dua bintang saja yang bersinar...."Detik demi detik berlalu, dan kesenyapan itu tiba-tiba lenyap diiringi derap langkah kaki ratusan orang yang memutuskan untuk turun ke air dan menggapai Riveria di tengah danau.Mereka adalah orang-orang yang telah siap untuk pergi meninggalkan kehidupan, sama seperti wanita tadi. Tapi bukan berarti mereka pergi ke surga atau pula ke neraka, karena saat ini, semua manusia tahu, bahwa gerbang di kedua tempat itu telah tertutup rapat.Saat ini, semua manusia sudah menjadi makhluk yang abadi, dan tak akan bisa mati. Walau begitu, bukan berarti Tuhan benar-benar meninggalkan manusia.Seribu tahun lalu, suara Tuhan yang menggelegar di langit menyatakan bahwa Ia akan menurunkan Sepuluh Keajaiban Terakhir untuk umat manusia. Dan salah satu dari keajaiban itu, adalah Riveria, dia diberikan kemampuan untuk mengirim manusia ke dalam kematian yang hampa—dia diberikan hak untuk mengantarkan manusia ke dalam peristirahatan yang terakhir dari yang terakhir.Kedengarannya tidak masuk akal, bukan? Namun sayangnya, sudah jelas kalau seribu tahun lalu, Tuhan sendirilah yang memberitahukan kebenaran itu pada manusia. jadi, semua orang hanya bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada.Akan tetapi, jika masih ada orang yang mencoba untuk menyangkal kenyataan itu, mereka bisa bertanya pada Riveria secara langsung, mengingat dia adalah salah satu dari segelintir makhluk yang telah hidup sejak seribu tahun lalu—sejak dunia ini masih dikuasai oleh manusia.Suara percikkan air, tangisan, teriakkan, dan keputusasaan terdengar makin membahana memenuhi tempat itu, seolah-olah ada upacara pemakaman massal yang tengah diadakan di Daratan Kenangan ini.Lalu, saat pagi telah datang, Riveria pun pulang ke rumahnya untuk beristirahat.Riveria berdiri sendirian di atas tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi bak bukit. Rambut pendeknya yang terurai ke leher memancarkan warna merah mengkilap layaknya api membara. Tatapan matanya yang sebiru langit tengah memandang kosong pada cakrawala yang terbentang di depannya. Kenyataannya, di dunia yang sudah hampir mati ini, hanya gadis mungil itu sajalah yang bisa menyelamatkan orang-orang.Hanya dia.Seorang gadis kecil nan rapuh yang dianggap terkutuk oleh manusia lainnya."Harus seberapa keras aku berteriak agar Engkau bisa mendengar suaraku... Tuhan."Riveria bertanya pada hati kecilnya. Entah kenapa kala itu Riveria seakan ingin menangis. Dia merasa bahwa dunia ini sudah bertindak terlalu berlebihan. Tapi, air matanya telah lama kering, menyisahkan tatapannya yang tanpa arti."Kenapa aku nggak memiliki perasaan lagi?" Tangan kiri Riveria bergerak meraba dada kirinya. "Kumohon... Tuhan, dengarlah suaraku untuk kali ini saja." Suara Riveria terdengar layu dan malas.Matahari sebentar lagi akan menampakkan dirinya, menandakan bahwa dunia ini masih bertahan dan memilih untuk terus melangkah, dan juga memutuskan untuk terus menyiksa umat manusia.Riveria tetap berdiri di puncak bukit batu itu, menunggu datangnya sinar mentari.Suara angin yang berhembus melalui jendela dan pintu gedung-gedung yang telah lama hancur dan tertutupi oleh debu yang amat tebal, seakan membawa suara jeritan ke telinga Riveria. Kendaraan, jalan raya, lampu lalu lintas, serta segala yang telah dibangun manusia di kota ini—semuanya telah lama mati.Dunia ini berhasil bertahan melalui suatu malapetaka—kiamat.Saat ini, hanya alam yang berkuasa atas bumi. Dan manusia? Manusia hidup dengan mengikuti aturan yang telah dibuat oleh alam. Tak ada lagi hukum manusia.Di manakah sebenarnya engkau, Tuhan?Akhirnya mata Riveria bisa menangkap sinar keemasan yang bersinar dari ufuk timur. Cahayanya begitu terang dan hangat, menembus pakaian kotor Riveria, dan seolah-olah cahaya itu tengah memeluk dirinya. Tubuh Riveria yang tadinya sangat kaku karena terkena angin malam, sekarang sudah terasa jauh lebih baik.Waktu itu, meski hanya sesaat, Riveria bisa merasakan sesuatu yang disebut dengan kedamaian. Untuk sesaat—hanya sesaat saja—Riveria bisa melihat sesuatu yang disebut sebagai... Harapan.Sungguh pemandangan yang amat megah, sekaligus perasaan yang luar biasa. Akan tetapi, terbitnya matahari adalah penanda waktu bagi Riveria untuk tidur.Namun, karena sinar mentari itu juga, Riveria jadi teringat kembali dengan kejadian kemarin malam. Semua kenangan-kenangan yang diterimanya dari orang-orang yang telah pergi, sekarang telah lenyap dari kepalanya. Ia sudah tak merasa pusing lagi. Tapi, bukan berarti ia bisa melupakan kengerian yang dirasakannya saat berdiri di danau itu."Aku lelah banget... Hoam ..." Mulut Riveria membuka lebar, ia menguap karena saking mengantuknya. Kemudian setelah melemaskan tubuhnya sedikit, Riveria pun mulai berbaring, dan dia pun terlelap begitu saja.Hanya di puncak bukit batu itu sajalah, Riveria bisa tertidur pulas untuk melepas penat setelah semalaman menunaikan kewajibannya. Meski tak ada bantal yang empuk, atau alas yang lembut, bagi Riveria, tumpukkan bebatuan yang menjulang tinggi ini, adalah tempat yang bisa disebutnya sebagai rumah.Jika memang Engkau sudah meninggalkan kami... akan lebih baik jika kami juga Kau musnahkan sekalian, agar kami tidak perlu lagi merasakan semua rasa sakit ini...

Sahabat Sang Merapi
Folklore
03 Dec 2025

Sahabat Sang Merapi

Satriya terbangun saat mencium bau hangus tajam yang menusuk hidungnya. Seluruh hutan terbakar habis, dan entah kenapa Satriya sendiri tidak sadar sudah tertidur berapa lama. Hanya pohon beringin tempatnya bernaung saja yang masih kokoh, hijau dan rimbun.Satriya lalu memutuskan untuk memanjat pohon itu sampai di puncak rantingnya.Dari kejauhan, Satriya bisa melihat asap yang membumbung tinggi dari Gunung Merapi, serta lelehan lahar berwarna merah pijar yang masih mengalir di ceruk lekukan gunung."Apa... yang sebenarnya terjadi?" Tanya anak berkulit kecoklatan itu bertanya pada dirinya sendiri. Rambut gondrongnya yang hitam legam ditiup oleh angin yang terasa panas.Satriya berusaha mengumpulkan kepingan memori, juga alasan kenapa dia bisa terbangun di tempat ini.Namun, tiba-tiba Dada Satriya mulai terasa sesak, abu yang berterbangan dari tanah masuk ke paru-parunya. Satriya menutup hidung dengan baju. Tanpa alas kaki, dia berniat menapak tumpukan abu yang masih panas mengepul.Di pikirannya hanya ada satu yang terpikirkan: keluar dari sini untuk mencari pertolongan.Akan tetapi, saat kakinya menapak, ternyata ada angin yang menahannya, dedaunan dari pohon beringin itu rontok dan berterbangan membentuk suatu wujud. Wanita dari dedaunan."Satriya, apa kamu baik baik saja?""Eh... siapa kamu? Apa yang sebenarnya terjadi?""Hah... Mau bagaimana lagi... " Sosok itu mengambil nafas dalam. Entah dia punya hidung atau tidak. "Aku Centini. Aku ini adalah orang tua spiritual yang sudah merawatmu dari bayi. Sayangnya aku tidak bisa menjelaskan semua yang terjadi, kamu sudah lihat sendiri bencana alam ini, ini semua memang proses untuk membersihkan apa yang jahat dan menggantikannya dengan hal baru.""Orang tua spiritual?" Satriya termangut-mangut, "berarti kamu ini ibuku, dong?""Ya, aku memang ibumu." Satriya seakan bisa melihat senyuman yang terbentuk di wajah sosok itu."Tapi, dimana orang tuaku yang asli? Dan kenapa aku bisa disini? Dan... kepalaku terasa sakit banget.""Kurang asem... " Bisik Centini yang terdengar agak jengkel. "Mantra itu benar-benar sirna di saat yang tidak tepat, dan malah membuat ingatanmu jadi berantakan.""Mantra? apa maksud Ibu?" Tanya Satriya keheranan."Sudah terlambat untuk menjelaskan semuanya sekarang. Yang penting saat ini kamu harus pergi dari sini secepat mungkin.""Hah? Tapi bagaimana caranya? Aku saja nggak tahu lagi berada di mana."Centini bersiul dengan keras, memanggil seekor naga putih yang muncul dari entah mana. Naga itu melesat ke angkasa, membumbung di atas awan. Naga yang sisiknya terdapat bulu-bulu lembut itu lantas melingkari badan Satriya dan membuatnya merasa nyaman."Nagapathi, bisakah kamu membawa Satriya ke tempat yang aman?" pinta Centini.Naga itu mematuhi perintah Centini, dan dibawanya Satriya langsung ke tengkuk lehernya dengan kibasan ekornya."Terima kasih, dan sampai jumpa lagi... ibu." Satriya melambaikan tangan."Ya, sampai jumpa... putraku."Centini tersenyum, lalu dirinya berubah menjadi sekumpulan daun yang hangus terbakar. Pohon beringin yang tadi kokoh berubah menjadi abu.Nagapathi membawa Satriya ke atas langit, menembus awan kelabu. Satriya bisa merasakan angin yang berhembus kencang. Dia berpegangan pada bulu di leher Nagapathi agar tidak tertiup. Awan di bawah mulai jarang terlihat, ada beberapa pemukiman warga yang hancur, ada juga yang terkubur abu."Merapi sepertinya murka pada manusia, ya. Sebenarnya apa salah mereka sampai hal ini terjadi?" Satriya bergumam.Lalu setelah pemukiman warga, terlihat juga beberapa tenda yang jaraknya tidak terlalu jauh. Rupanya disana berkumpul orang-orang yang masih berusaha untuk mengambil harta benda yang tersisa. Entah bagaimana bisa, mata Satriya bisa melihat mereka semua dengan sangat jelas.Satriya menarik bulu Nagapathi.Ingin sekali Satriya membantu manusia-manusia itu, karena mungkin saja mereka bisa memberitahu Satriya tentang mencari jati dirinya. Namun Nagapathi nampaknya menolak, dia hanya terbang lurus entah kemana.Lalu, cukup jauh di sana, ada juga pepohonan yang masih berdiri kokoh, meskipun daunnya kering. Lalu ada sekawanan orang yang mengendarai sepeda motor dan mobil. Mereka tampak terburu-buru, takut gunung itu akan meletus lagi. Satriya teringat kalau lahar masih saja meleleh dari kawahnya.Nagapathi mulai terbang rendah, dia mencari sebuah tempat untuk mendarat. Dia memilih sebuah rumah kosong di pinggir hutan bambu. Dengan lihai dia mengalihkan perhatian menggunakan hembusan awan dari hidungnya, lalu menyelimuti seluruh badannya.Satriya turun di rumah itu, lalu Nagapathi menghilang begitu saja tanpa jejak."Lho... aku, kan, belum mengucapkan terima kasih... " Kata Satriya kecewa sambil berusaha mencari keberadaan Nagapathi di sekitarnya. Tapi, anehnya naga itu sama sekali tidak terlihat dimanapun.Satriya melangkah menuju ke rumah itu, lalu membuka pintunya yang sudah lapuk, atap rumah itu sudah ambles sebagian, bahkan ada yang jebol. Daun-daun berserakan dalam rumah. Ada dua ruang tidur serta satu tempat tidur bambu yang masih utuh, juga dapur yang dipenuhi kendhil berserakan, serta kamar mandi yang masih menggunakan air dari sumur.Entah kenapa, kepingan memori Satriya terbuka disini. Satriya mengambil salah satu kendhil dan mengamati isinya yang ternyata adalah makanan.Tiba-tiba, Satriya teringat dengan sosok seorang gadis kecil yang dulu pernah menjadi teman mainnya. Tapi dia tidak bisa mengingat namanya. Hanya wajahnya yang cantik serta rambutnya yang kuning panjang saja yang masih terbayang jelas dalam benaknya."Sebenarnya siapa aku ini sebelumnya?"Satriya duduk di kasur bambu, berharap ada sekelebat memori yang terbuka lagi. Namun, setelah beberapa saat, tidak ada yang terjadi, hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu.Melihat arah matahari yang agak condong ke barat, Satriya menyadari kalau dia harus mencari tempat perlindungan yang lebih layak. Dia berusaha mengingat-ingat ke arah mana kerumunan orang tadi.Menyusuri hutan bambu, mencari jalan setapak, melewati sungai kecil, dan ia akhirnya berhasil keluar dari hutan dan tengah menuju ke suatu daerah pemukiman. Disana ada beberapa tenda yang berdiri di lapangan desa. Beberapa perawat memasang posko darurat, lantas dia mendatangi mereka.Mereka tertegun melihat keadaan Satriya. Dia langsung dirawat oleh mereka, diberi obat-obatan, luka-lukanya juga dibersihkan dan dibalut dengan perban. Dia lalu digiring ke salah satu tenda yang penuh dengan orang-orang yang tengah tertidur dan beristirahat.Akan tetapi, orang-orang di sana menatap Satriya dengan tatapan aneh. Mereka melihat Satriya seolah-olah dia itu bukan manusia. Namun, Satriya menghiraukan mereka dan memilih untuk tidur di tempat yang tidak terlalu sesak, yang hanya beralaskan tikar.Satriya bertanya-tanya dalam hati, apakah dia bisa bertemu lagi dengan Centini dan Nagapathi suatu saat nanti? Rasanya terlalu menyakitkan jika Satriya harus berpisah dengan orang yang merawatnya selama ini tanpa membawa kenangan apa-apa. Rasanya sangat hambar dan kosong.Sekitar pukul sembilan malam, Satriya dibangunkan oleh seorang anak kecil yang terus menusuk-nusuk pipi Satriya dengan jemarinya."Hey, dia sudah bangun!" Anak lelaki itu memberitahu seseorang begitu Satriya membuka matanya lebar-lebar. Satriya memandang berkeliling kala itu, dan mendapati tenda yang sudah hampir kosong melompong dan hanya diterangi oleh lampu yang juga tidak terlalu terang.Setelah teman perempuannya datang, anak yang membangunkan Satriya langsung melontarkan pertanyaan yang terdengar sedikit menyebalkan, sampai membuat wajah Satriya berubah masam."Nama Kakak siapa? Dan kenapa mata Kakak berwarna kuning? Kakak dari mana? Kayaknya Kakak nggak berasal dari sini, deh.""Eh... Aku Satriya... " Satriya menjawab, tapi entah kenapa rasanya hanya itu saja yang mampu dia katakan."Oh, Kak Satriya, ya." Tanggap anak lelaki itu seraya menarik tangan Satriya dan mengajaknya keluar dari tenda. "Ayo, Kak, mereka sedang membagikan makanan sekarang. Kalau nggak cepat-cepat, nanti makanannya bisa habis!"Anak itu berjalan dengan cepat di atas kaki mungilnya, sementara si anak perempuan itu mengikuti mereka berdua dari belakang. Jika dilihat dari tinggi badan mereka, kedua anak ini mungkin masih berusia enam atau tujuh tahun.Kegelapan malam, juga suara teriakkan yang lantang dan gagah, serta suara-suara dari mesin yang entah apa langsung menyambut mereka saat tiba di luar, dan tampak pula orang-orang yang sedang mengantri di depan sebuah mobil truk yang membagikan bungkusan berisi makanan.Jujur, Satriyas sebenarnya sangat senang karena bisa berada ditengah-tengah keramaian seperti ini. Meski ingatannya tentang hari-hari sebelumnya masih buram, Satriya yakin kalau hanya Centini dan Nagapathi saja yang menemaninya sejak dia lahir. Hanya mereka berdua yang tahu tentang keberadaan Satriya.Akan tetapi, Satriya merasa seakan tidak mampu memasang senyuman di bibirnya setelah dia melihat wajah orang-orang yang ada di sana. Nestapa, rasa takut, kekecewaan, dan keputusasaan menghiasi wajah seluruh warga pengungsi.Malam sudah semakin larut ketika Satriya dan kedua anak itu berhasil mendapatkan makanan. Satriya membuka bungkusan itu dan memandang nasi dan juga sayur tumis serta tempe tahu goreng yang ada di dalamnya."Ngomong-ngomong siapa nama kalian?" Tanya Satriya yang masih menatap makanannya dengan tatapan kosong."Ah, aku Jaka, Kak, dan ini Kiki." Jawab anak lelaki yang bernama Jaka itu. "Kami kembar lho.""Yah, terlihat jelas, kok." Jawab Satriya sambil tersenyum masam, sementara matanya tengah mengamati luka-luka yang ada di sekujur tubuh kedua anak itu.Kedua anak itu makan dengan lahap. Dan yang paling mengejutkan lagi, mereka berdua tetap tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Setelah mengantri cukup lama, Satriya memang menyadari bahwa hampir semua anak-anak yang ada di sini masih tidak kehilangan senyum mereka.Saat Satriya mengarahkan pandangannya ke arah Kiki, mata Satriya tanpa sengaja menangkap pemandangan lain yang berada tak jauh di belakang gadis kecil itu; yaitu setangkai bunga dengan kelopak berwarna putih yang tumbuh subur sendirian di antara rerumputan, di tengah-tengah lautan manusia."Oh iya, kalau dipikir-pikir, kok, kalian nggak makan bersama dengan ayah dan ibu kalian?" Tanya Satriya yang juga mulai melahap makanannya.Setelah mendengar pertanyaan itu, senyum Jaka dan Kiki seketika raib begitu saja dan mereka lalu diam bagaikan patung. Namun, tak sampai hitungan detik, tiba-tiba senyum mereka kembali terbentuk di bibir, dan malahan sekarang senyum mereka lebih lebar dibanding sebelumnya."Ibu kami meninggal waktu kami masih kecil, Kak. Dan ayah jatuh ke dalam tanah saat Merapi meletus tadi pagi." Jelas Jaka."Jatuh ke dalam tanah?""Iya, Kak! Waktu itu, tanah di bawah kami tiba-tiba terbelah dan terbuka seperti mulut yang mau makan, Kak!" Ujar Kiki heboh."Dan kami bertiga hampir jatuh tadi, tapi untungnya ayah mendorong kami dan dia juga sempat berteriak menyuruh kami pergi jauh-jauh dari sana." Jaka mengakhiri ceritanya dan kembali makan."Saat kami sampai di sini dan menceritakannya pada polisi-polisi itu, mereka malahan menyuruh kami masuk ke tenda dan beristirahat." Tambah Kiki. "Oh! Tadi Kakak ingat, kan? Dengan polisi perempuan yang memeluk kita waktu kita mau masuk ke tenda?""Ah, aku ingat, kok." Kata Jaka. "Mbak polisi itu tadi menangis, nggak tau kenapa."Polwan yang mereka bahas pasti menangis karena mendengar cerita Jaka dan Kiki, pikir Satriya. Sungguh kenyataan yang mengenaskan. Mata Satriya sampai terbelalak lebar karena saking terkejutnya. Tapi, fakta bahwa kedua anak ini masih bisa tertawa riang seakan tidak terjadi apa-apa, malah membuat Satriya jadi tambah bingung."Tolong... "Suatu suara tiba-tiba terdengar dalam benak Satriya. Gambaran anak gadis berambut pirang yang ada dalam ingatannya pun ikut muncul bersamaan dengan datangnya bisikan yang lembut itu. Suara lemah seorang gadis kecil yang menggema dalam diri Satriya."BERHENTI!" Teriak Satriya membahana hingga membuat dunia di sekitarnya menjadi hening seketika. Semua mata yang kebingungan kini tertuju padanya.Satriya bangkit berdiri dengan perlahan, lalu dia mulai melangkah melewati Kiki dan Jaka. Dia terus melangkah, di tengah-tengah kesunyian itu, sampai akhirnya dia berhenti di hadapan seorang tentara, yang sebelah kakinya masih dalam posisi terangkat."Kenapa Paman ingin menginjak bunga ini?" Tanya Satriya dengan nada mengancam.Pria berseragam loreng dan berwajah garang itu tentu saja terkejut dengan tindakkan Satriya. "Apa katamu—""Kutanya sekali lagi." Suara Satriya terdengar semakin tajam. "Kenapa Paman ingin menginjak bunga ini? Kupikir suaraku sangat jelas."Pria itu tampak sangat marah sekarang. Dia kemudian menurunkan kakinya ke tanah, tapi jarak sepatunya dan bunga itu sangat dekat."Apa kau tidak pernah diajari sopan santun, bocah tengik!" Pria itu langsung melayangkan tinjunya tepat ke arah wajah Satriya, namun, tiba-tiba saja daratan mulai berguncang hebat sebelum tangan pria itu menyentuh kulit wajah Satriya. Jeritan ketakutan seketika terdengar dari segala penjuru, dan semua orang langsung terjatuh di atas pantat mereka pada saat itu juga."Cih... gara-gara orang-orang seperti pamanlah, sang Gunung jadi murka!"Gempa itu bahkan berhenti sedetik kemudian. Dan satu-satunya manusia yang masih berdiri di sana hanyalah Satriya seorang. Dia masih berdiri kokoh dan menatap geram pada tentara itu."Ugh!" Satriya jatuh berlutut. Kepalanya tiba-tiba terasa sangat nyeri bukan kepalang. Rasanya seperti kepala Satriya baru saja dilempar batu berkali-kali. Dia mencengkram kepalanya dengan keras. "Sakit banget! Ada apa ini! Argh!""Kak Satriya! Kakak kenapa!?" Jaka dan Kiki langsung menghampiri Satriya yang masih meringkuk di tanah."Anak ini...! Gempa tadi terjadi gara-gara anak ini!" Teriak si tentara yang kini sudah kembali bangkit berdiri. Dia terlalu panik hingga membuat pikirannya menjadi tak jernih. "Semua pasukan! Tangkap anak ini!""Hah!? Itu nggak mungkin!" Jaka berusaha melindungi Satriya."Iya... mungkin saja itu benar... " Bisik seorang warga."Gempa yang tadi itu bukan gempa yang seperti biasanya... ""Anak itu pasti menggunakan ilmu hitam... "Semua warga pengungsi serta pasukan-pasukan keamanan yang ada di sana ternyata menelan bulat-bulat kebohongan pria itu. Mereka menaruh keyakinan pada hal yang jelas-jelas tidak masuk akal dan terlalu jauh dari nalar manusia.Para polisi dan tentara langsung mengambil langkah seribu untuk mengepung Satriya, Jaka dan Kiki. Mereka mengarahkan senjata mereka ke arah ketiga anak itu tanpa ragu."Hey! Kalian nggak boleh melukai Kak Satriya!" Teriak Kiki ketakutan. Air matanya mengalir deras di pipinya."Menyingkir dari situ! Atau kalian juga akan kami tembak!" Raung seorang polisi."Cepat laporkan semuanya pada Komandan!""Aku sudah menduganya! sejak awal aku memang sudah curiga pada anak itu! Dia bahkan memiliki mata kuning yang kelihatan bersinar!""Yang benar!?""Segera laporkan!"Rasa nyeri yang dirasakan Satriya tiba-tiba lenyap begitu saja. Matanya yang kuning kini berpendar dan terpaku pada bunga putih yang berada tepat di bawahnya. Tapi, di saat itu pula, ada satu kepingan ingatan yang muncul dalam pandangan Satriya.Di dalam kenangan itu, Satriya melihat sosok Centini yang tengah melangkah ke arahnya bersama dengan seorang gadis kecil berambut pirang, panjang dan amat lebat, sampai-sampai Satriya bisa merasakan kelembutannya hanya dengan melihatnya."Satriya, kemarilah. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, nih." Panggil Centini. "Satriya, perkenalkan, anak ini adalah Merapi. Dia adalah jiwa dari gunung ini.""Hay, Satriya! Salam kenal, ya! Seperti kata Mbak Centini, namaku Merapi. Tapi kamu boleh memanggilku Mera, kok." Ujar anak yang periang itu. "Oh iya! Kamu mau nggak jadi temanku?" Gadis itu tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya ke arah Satriya."Ya, tentu saja." Tangan Satriya perlahan menyambut uluran tangan gadis itu.Saat jemari Satriya bertaut dengan jari Mera, sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi, dan bayang-bayang masa lalu itu pun akhirnya pudar. Satriya ditarik kembali ke kenyataan masa kini. Namun, anehnya Satriya bisa mendengar satu suara yang berasal dari bunga mungil itu."Panggil namaku jika kamu membutuhkanku, Satriya... "Suara itu, perkataan itu, seketika melenyapkan semua perasaan benci yang ada di dalam diri Satriya. Kebenciannya pada manusia telah hilang begitu saja. Satriya tidak tahu apakah perasaan bencinya terhadap manusia hanya hilang untuk sementara atau selamanya, tapi yang pasti, tubuh, pikiran, dan hatinya saat ini sudah terasa lebih baik dari sebelumnya.Satria membulatkan tekadnya, kemudian dia berbisik pelan. "Baiklah... Jawablah panggilanku, Merapi.""TEMBAK!""TIDAK!"Sekonyong-konyong, timbul hembusan, atau mungkin ledakan angin yang amat kencang, sampai menghempaskan banyak orang ke belakang, termasuk para pasukan itu. Angin kencang itu berasal dari arah Satriya, seakan-akan dialah yang membuat hal itu terjadi.Satriya bangkit berdiri.Tanah di bawah Satriya tiba-tiba berguncang, dan tak lama kemudian tanah itu mulai terangkat ke atas membawa serta merta Satriya, Jaka, dan Kiki di atasnya. Tanah itu terus naik sangat tinggi ke langit, hingga terlihat seperti sebuah pilar atau batang pohon yang teramat sangat panjang.Orang-orang yang ada di sana terperangah melihat pemandangan itu. Kejadian yang terlalu mustahil untuk terjadi dan tak dapat dicerna oleh akal orang biasa. Dari pada disebut malapetaka, pemandangan itu malah lebih terlihat seperti suatu keajaiban.Setelah beberapa saat, pilar tanah itu akhirnya berhenti naik. Mungkin tingginya kira-kira dua ratus meter di atas permukaan tanah."A-apa yang terjadi, Kak!?" Jerit Jaka yang tampak sangat panik, sementara wajah Kiki dibanjiri oleh air mata. Kedua anak itu memeluk erat pinggang Satriya, karena tanah tempat mereka berpijak tidak bisa dibilang lebar."Kak! A-aku takut!" Cicit Kiki."Kalian tenang saja, aku akan melindungi kalian, kok." Kata Satriya."Halo, Satriya."Seorang gadis berambut pirang keemasan tiba-tiba muncul di depan Satriya. Dia melayang di udara. Senyuman terbentuk di bibir menghiasi wajahnya yang cantik jelita.Satriya melirik ke arah Jaka dan Kiki. Mata mereka tertutup rapat karena saking takutnya, sampai-sampai mereka tidak menyadari kedatangan gadis itu."Mera... " Wajah Satriya menjadi tenang. Dia benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa bertemu dengan sahabatnya lagi setelah sekian lama. Dan, Satriya juga baru sadar kalau ingatannya ternyata telah kembali seperti semula. "Bagaimana kabarmu, Mera—"Padahal Satriya berniat berbincang-bincang sebentar dengan Mera, tapi gadis itu langsung memotong perkataan Satriya."Aku senang karena kamu membutuhkanku, Satriya. Dan aku juga senang karena kamu telah memanggilku. Sudah lama banget, yah? Tapi... untuk saat ini, akan lebih baik kalau kita menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu, oke?""Ya... Aku paham..." Wajah Satriya berubah murung. "Aku juga baru kehilangan ingatanku tadi pagi, cuma sekarang ingatanku sudah kembali lagi. Tapi... rasanya... sangat lama... seolah-olah ingatanku memang sudah hilang selama bertahun-tahun... dan—""Setelah ini selesai, aku janji, aku tidak akan meninggalkanmu lagi seperti dulu." Kata Mera penuh tekad. "Hidupmu baru dimulai hari ini, Satriya. Kau masih ingat, kan? janji yang kita buat hari itu?"Satriya menganggukan kepala pada pertanyaan Mera. "Kita akan mencari tempat baru untuk hidup bersama-sama seperti orang biasa. Aku, kamu, Centini, dan Nagapathi. Kita berempat... dan juga mereka yang membutuhkan kehidupan.""Nah, karena waktumu sudah diulang kembali hari ini, jadi, ayo kita laksanakan rencana itu sesegera mungkin!"Satriya tersenyum lega. "Baiklah kalau begitu. Ayo kita selesaikan dengan cepat."Mera turun dari udara dan berpijak di tanah tempat Satriya berada.Satriya menghentakan kakinya dengan pelan, dan pada saat itu pula pilar tanah itu langsung bergerak turun mengantarkan mereka kembali ke tempat semula. Orang-orang semakin terkejut karena mereka mendapati keberadaan Mera yang berdiri di samping Satriya."TEMBAK! TEMBAK! TEMBAK!" Teriakan barbar itu terdengar lagi, dan rentetan hujan peluru dalam sekejap menyerbu dari segala arah.Namun, Mera mengangkat tangannya ke depan, dan tanah di sekitar mereka terangkat ke atas dan menangkis peluru-peluru itu."Sungguh manusia yang tak tahu diuntung." Mera mengibaskan tangannya, dan bersamaan dengan itu, dari dalam tanah muncul tanaman-tanaman sulur yang terlihat hidup. Sulur-sulur itu menyerang para tentara dan polisi yang menembak tadi. Satu per satu mereka dihempaskan dengan sekali pukulan, hingga pingsan."Sudah lebih ratusan tahun aku terus bertahan menghadapi siksaan kalian para manusia. Kalian membakarku, menebangku, dan menghancurkanku. Ya, aku memang hanya sebuah gunung. Tapi, kalian kadang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa orang paling sabar sekalipun memiliki amarah dalam diri mereka. Dan seperti kata pepatah, malapetaka adalah nama lain dari murka orang yang sabar. Oh, maaf, maksudku gunung yang sabar." Mera tersenyum kecil.Orang-orang di sekitar mereka diam bagai patung setelah melihat apa yang bisa dilakukan oleh gadis yang berdiri di samping Satriya. Mata mereka semakin terbuka lebar, dan beberapa bahkan jatuh berlutut.Untuk sesaat suasana menjadi senyap setelahnya, namun keheningan dengan cepat dipecah oleh suara yang berasal dari angkasa. Jauh di langit, terlihat ada banyak helikopter yang sedang menuju ke tempat mereka."Hmm... sepertinya kau agak keterlaluan, Mera." Kata Satriya yang tersenyum pahit."Yah aku juga terpaksa." Jawab Mera seraya berbalik menatap para warga di sekitar. "Tapi sepertinya berita tentang hal-hal aneh yang terjadi di sini sudah sampai di telinga Pak Presiden, jadi situasinya mungkin bakal agak lebih panas sekarang.""Hmm... Yah baiklah." Satriya masih mengamati keberadaan helikopter yang semakin dekat. "Tapi, tolong jangan bunuh mereka, Mera.""Kamu tenang saja. Sudah terlalu banyak nyawa manusia yang melayang hari ini, dan semua itu karena ulahku. Lagi pula, aku juga nggak mau berurusan dengan Dewan." Jelas Mera. "Setelah tertidur selama sepuluh abad, aku akhirnya terbangun karena merasakan kedatanganmu. Namun, setelah kita bertemu, aku malah tertidur lagi karena ikatan itu. Benar-benar membosankan."Satriya bertanya dalam benaknya, bagaimana rasanya tidur selama itu?Mera menarik nafas dalam-dalam lalu dia pun menjelaskan banyak hal pada orang-orang. Mulai dari penjelasan mengenai dirinya sendiri yang merupakan jiwa dari Gunung Merapi, dan juga tentang bencana hari ini yang terjadi karena murkanya pada manusia.Banyak yang memasang wajah bingung saat mendengar penjelasan Mera, tapi tampaknya mereka berusaha untuk menerima kenyataan itu setelah semua yang terjadi di beberapa menit terakhir. Kekuatan-kekuatan aneh yang ditunjukkan Satriya dan Mera rupanya sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai bukti.Kemudian, Mera memerintahkan pada semua orang untuk pergi sejauh mungkin dari daerah Gunung Merapi. Dia bahkan terang-terangan menyatakan kepada mereka kalau sebentar lagi akan terjadi perang di sini.Namun, tanpa keraguan sedikitpun, orang-orang langsung segera bersiap-siap untuk meninggalkan gunung ini. Para polisi dan tentara yang cukup waras juga membantu melancarkan proses evakuasi itu dan memastikan tak ada satupun orang yang tertinggal, termasuk orang-orang yang dibuat pingsan oleh Mera."Untuk saat ini, lebih baik jika kalian mengikuti mereka." Pinta Satriya pada Jaka dan Kiki."Tapi, Kak, kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi... " Bisik Jaka sedih."Kami nggak punya keluarga di kota." Tambah Kiki.Satriya bersyukur bisa bertemu dengan kedua anak ini. Meski baru beberapa jam saja, tapi Satriya merasa bahwa dia bisa menganggap kedua anak ini lebih dari hanya sekedar kenalan."Dengarkan aku kalian berdua." Satriya berusaha meyakinkan mereka. "Besok pagi aku berencana pergi bersama Ibuku dan juga Mera untuk memulai kehidupan yang baru, dan aku juga berniat untuk mengajak kalian berdua bersamaku."Mata Jaka dan Kiki terbuka lebar mendengarnya."Jadi? Nanti kalian mau ikut denganku, kan?"Jaka dan Kiki bertukar pandang, lalu berkata dengan mantap, "Kami mau, Kak!"Mobil-mobil truk itu perlahan melaju pergi meninggalkan Satriya dan Mera sendirian di tengah lapangan. Namun, Satriya masih bisa melihat dengan jelas sosok Jaka dan Kiki yang berdiri sambil melambaikan tangan."Jadi, kau berniat menjalin ikatan dengan kedua anak itu?" Tanya Mera yang tersenyum simpul."Yah... besok mereka berdua resmi menjadi keluargaku," Satriya menoleh menatap Mera. "Dan juga keluargamu tentu saja.""Baguslah kalau begitu. Lebih banyak orang artinya lebih seru, bukan? Jadi petualangan kita juga nggak akan membosankan." Mera dan Satriya bersama-sama mengalihkan pandangan ke arah kumpulan helikopter yang kini telah berada di atas mereka. "Petualangan untuk menemukan kehidupan yang lebih baik.""Yah, kehidupan yang lebih baik." Bisik Satriya. Mata kuningnya menyala terang."Baiklah. Aku menjawab panggilanmu, Satriya." Tiba-tiba saja, seluruh tubuh Mera memancarkan cahaya yang amat terang benderang hingga berhasil mengusir kegelapan malam.Sosok itu memiliki tubuh yang sangat besar hingga menjulang tinggi ke angkasa. Sosok raksasa yang bangkit dan lahir dari tanah itu bahkan menyerang kendaraan-kendaraan yang melayang di udara dengan membabi buta. Yah, pada dasarnya, raksasa itu baru mulai mengamuk setelah dihujani bom oleh helikopter-helikopter milik pasukan militer itu.Semua penumpang di truk tak mampu berkata-kata saat melihat pemandangan yang ajaib sekaligus amat mengerikan itu. Mata semua orang terbuka lebar. Namun, untung saja mereka sekarang sudah berada cukup dari daerah Gunung Merapi, jadi seharusnya tak ada apapun yang perlu dikhawatirkan lagi untuk saat ini.Tapi anehnya, di antara semua penumpang itu, hanya Jaka dan Kiki saja yang tidak terlihat risau atau tegang. Mereka berdua tersenyum, dan tampak cahaya harapan dalam pandangan mata mereka.Ingatan tentang saat-saat dimana Satriya mengajak mereka untuk hidup bersama masih berputar dalam benak mereka berdua. Setelah sekian lama, mimpi mereka untuk bebas akhirnya terwujud.Kenyataannya, Jaka dan Kiki benar-benar sangat membenci ayahnya, karena setelah ibu mereka meninggal, ayah mereka menjadi agak sinting dan selalu menyiksa mereka serta menyalahkan mereka berdua atas tragedi yang menimpa ibu mereka."Tapi, Kak, kok rasanya aku kayak sudah nggak membenci Ayah lagi, ya?" Kiki tiba-tiba angkat bicara.Perkataan sang Adik malah membuat Jaka teringat kembali dengan saat-saat dimana Ayahnya mendorong mereka berdua waktu tanah terbuka dan hampir menelan mereka. Jaka ingat betul wajah marah ayahnya saat menyuruh mereka lari. Tapi, meski begitu, Jaka juga tidak bisa menyangkal, kalau bukan karena ayahnya mereka berdua pasti sudah tidak akan hidup lagi sampai detik ini."Yah, aku nggak terlalu mengerti, sih. Tapi... aku juga sudah nggak membenci Ayah lagi, kok." Jaka tersenyum lebar. "Entah kenapa aku merasa sangat bahagia sekarang. Kita hidup..."

KLINIK
Teen
03 Dec 2025

KLINIK

"Lo gapapa sendirian?""Gapapa gue bisa sendiri kok, lu balik kekelas sana.""Yaudah deh gws ya sayyy.."***Pagi ini gue kebangun dengan kondisi ga fit meriang-meriang gajelas. Tapi nyokap maksa sekolah dengan alasan kemaren gue udah bolos gegara bantu-bantu dikawinan sodara.Seperti biasa gue nebeng sama sohib gue Carla. Biasanya gue yang bawa motor berhubung gue lagi ga enak badan ya terpaksa dia yang badannya lebih kecil bawa motornya.Sampe disekolah gue cuma tiduran dibangku sampe ketiduran beneran, akhirnya guru yang ngajar pas itu Pak Widya guru sejarah ganteng nyaranin gue buat istirahat di klinik sekolah.Carla sudi nganterin dan disinilah gue sekarang. Terbaring lemas tak berdaya sendirian.Gue berusaha untuk tidur dan mulai memejamkan mata. Beberapa menit kemudian...Kriettttt~Pintu klinik terbuka gue masih nutup mata dan denger suara cowok-cowok entah berapa orang masuk sambil ketawa-ketawa."Eh nyet aus ga? Gue bawa kopi saset nih..""Emang pinter lu sob. Seduh gihh."Sekilas percakapanan mereka.Mampus galon airnya kan disebelah ranjang gue!Gue langsung berakting seakan-akan sedang tertidur pulas.Bener aja ada aura-aura seseorang mendekat dan bunyi air dituang kegelas.Kemudian hening, gue memberanikan diri buat ngintip.Sosok anak laki-laki tinggi membelakangi gue dan tengah asik ngaduk-ngaduk kopi digelas.Punggungnya bidang banget kayak atlet renang, siapa nih? Belum pernah liat anak SMA gue kayak begini bentukannya.Saat ia berbalik gue merem lagi. Obrolan mereka berlanjut hingga jam pergantian pelajaran dan entah gimana ceritanya gue ketiduran.Pas gue bangun mereka udah ga ada. Sekarang gue bisa bernafas lega.Gue beranjak kekamar mandi klinik yang terkenal kebersihannya. Setelah selesai dan hendak keluar gue denger lagi suara cowok yang tadi."Yahhh udah ilang sob.""Yaudah sih gue balik ah gabut dimari.""Lahh jangan dong ni handphone nya aja masih dikasur paling juga tu cewek balik lagi.""Elahh ga peduli gue."Gue masih dikamar mandi nyimak apa yang terjadi dan sepertinya mereka sudah pergi.Pas gue balik ada secarik kertas dikasur tempat gue tidur tadi.Id line gueEldomh_Lain kali jangan ngumpet disana nanti pingsan kehabisan nafas :DSyittttt dia tau gue tadi dikamar mandi. Jangan-jangan dia juga tau tadi gue pura-pura tidur.Carla jenguk gue pas istirahat dan gue cerita panjang lebar sama dia. Carla maksa-maksa gue buat add tu id line. Tapi gimana ya..Ga ada salahnya sih, akhirnya gue add dan langsung di chat.Personal chatEldo : hai kelas mana?Anjuu ngegasssAira : hai juga 3ipa8 lu?Eldo : lah 3ipa? Gue 3ipsYamaklum disekolah gue kayak ada batas antara anak ipa dan ips.Aira : ohh oke salkenEldo : iye salken juga wkwk ga welkam2 juga ni?Aira : paan si dikira grupchatEldo : wkwk lu masih sakit?Aira : hm masih, lu tadi bolos?Eldo : kagak emang lagi ga ada guru aja. Btw gws ya demam lo tinggi banget mending izin pulang dehhLoh kok dia tau gue demam?Aira : tau dari mana?E ldo : abisnya tadi pas gue cek panas lo 39 gue buru-buru cari es kekanti pas balik lu nya ngilang.Yalord tadi gue diapain pas tidur?!Aira : iye gue dikamar mandi. Lu cek panas gue pake thermometer kan?E ldo : gue emang anak ips tapi yang begituan otak gue masih nyampe kaliAira : bukan gituu maksud gue lo cuma cek panas gue aja kan ga ngapa-ngapain?!Eldo : tenang sekali lagi gue emang anak ips tapi tetep sopan. Gue ceknya dijidat doang lu udah 39 apalagi gue cek diketek.Lahhh dia ceknya ditempel dijidat gue semprulllAira : kenapa ga panggil pmr?( * ) pertolongan pertama pada demam memang sudah benar dengan cara di kompres, tapi bukan dengan air dingin atau es ya. Melainkan air hangat, guna untuk membantu menstimulasi agar otak menurun kan suhu tubuh kita. Gitu kurang lebih, kalo salah ya maap. Authornya anak ke-broadcast-an bukan anak ke-dokter-an.E ldo : haha gue panik plus ga kenal anak pmr jugaGue lupa di ips ga ada yang ikut pmr.Aira : yaudah thanks ya udah repot -repot nyari es batu segala. Ni es nya gue pake.Pake minum ahahahahahhahaaaaEldo : anytime . Btw lo kalo tidur cantik.What??????Eldo : gue ada guru nih. Nanti chat lagi ya. Bye Aira cepet sembuhhRead 11.35//blush//*pip pip*//ngambil thermometer diketek//DEMI APA 40 DERAJATT!!!!!"Sayyyyy astaga muke lu kayak yuyu rebus!!" Carla panik banget.Iya gue rasa juga ini pala udah keluar asep.***Keesokan harinya gue bolos karena sakit dan orang rumah ngijinin, karena sikon gue emang sangad memprihatinkan!Baru sehari ditinggal Carla cerita bahwa akan ada pertempuran terbesar dan terbringas abad ini, karena menyangkut seluruh angkatan dari masing-masing kubu ipa dan ips.Masalah awalnya ya gini simak baik-baik yaa....Ada cewek dari angkatan 1bahasa yang digebet sama angkatan 2ipsternyata si cewek itu udah punya pacar anak angkatan 1ipadan si cowok yang mau gebet itu punya abang anak angkatan 3ipsLantas pacar cewek itu punya abang juga anak angkatan 3ipaKalo gue jadi si cewek sih langsung adopsi abang juga, biar komplit mereka buat boyband.Kira-kira empat kali dengerin baru gue paham sama silsilah perkelahian ini.Emang deh ya cewek-cewek bahasa suka jadi perebutan. Apa daya cewek ipa yang kalo lewat suka di ejekin, "suntik dong bu dokter enjus enjus enjus..."Emangnya semua orang yang jurusan ipa mau masuk kedokteran?Enjus-enjus pala lu peang, boneka susan kalik!Ya gue sempet lewat di deretan kelas ips dan berencana mengintip memastikan hari ini si Eldo itu sekolah apa engga.Antara iya dan tidak sih soalnya..Gue harap tidak sehingga dia ga ikut perang.Gue harap iya sehingga gue bisa ketemu dia hari ini.Jawabannya dia tidak ada dikelas yang sedang ada guru nya itu. Apa dia bolos?Entah apa yang menggerakan kaki gue melangkah dengan sendirinya bukan ke kelas yang sudah ada guru sejak 15 menit yang lalu.Kaki gue mengarah ke tongkrongan anak ips bahkan klinik dan dia tetap ga ada. Kayaknya bener-bener ga masuk, well nice lah..Walau sedikit kecewa, gue bersyukur.Besoknya...Besoknya...Besoknya...Dia tak kunjung keliatan batang hidung nya. Apa dia semacam penunggu klinik?Should i text him?

Bang My Head
Teen
03 Dec 2025

Bang My Head

Dia agent yang terluka menyelinap masuk jendela terbuka kamarku. Bercak darahnya tertinggal di horden putih lemasku.Terdengar desahannya saat merapikan lukanya dikamar mandi mungilku.Melakukan semua misinya tanpa kesalahan namun kali ini ia membuat kesalahan yang fatal yaitu tertidur disofa baca ku.Awalnya aku tak tau siapa pria ini, aku hanya memindahkan tubuhnya kekasurku dan menjahit lukanya. Untungnya aku pernah belajar pertolongan pertama diklub mendaki.Keesokan harinya ia terbangun dengan demam yang cukup tinggi, ia segera mengemasi barang-barangnya lalu membuka jendela hendak melarikan diri."Tunggu, demam mu sangat tinggi." Kataku dari balik punggungnya. Ia sangat terkejut dan menodongkan senjata api kearahku. Sontak aku mengangkat kedua tanganku keudara."Kau bisa saja pingsan ditengah jalan." Lanjutku. Ia tetap kekeh, lalu lukannya yang masih basah mengalami pendarahan lagi. Pria itu langsung jatuh berlutut menahan rasa sakit.Aku bergegas mengambil peralatan dan membaringkan tubuhnya dilantai. "Kau tidak boleh banyak bergerak, kau sangat beruntung itu hanya wadcutters. " Ia hanya menatapku dengan terus mengeluarkan keringat."Kau tau macam peluru?" Tanyanya, suaranya sangat berat namun tipis. Seperti rudal yang membisik."Yeah selain tenaga medis diklub mendaki, ayahku penjual senjata berlesensi resmi.""Ouch!" Rintihnya. "Tahan sebentar lagi, aku akan menyelesaikannya dalam 5 detik."Ia menarik tanganku ketika hendak beranjak, "siapa kau?" Tanyanya. "Aku yang seharusnya bertanya siapa kau? Dari sekian banyak rumah, kenapa rumahku?""Karena hanya rumahmu yang jendelanya terbuka." Jawabnya singkat dan melepaskan cengkramannya."Aku sudah selesai, kau boleh pergi sekarang."Ia melangkah kejendelaku dan kemudian berhenti. Tiba-tiba berbalik dan menyudutkanku. Wajahnya begitu dekat, aku bisa melihat bekas-bekas luka serpihan kaca."Why you help me?""Because u cute?" Kataku sambil berdehem, sekedar bercanda.Tangannya yang kuat memelukku, garis dagunya tampak jelas dengan jarak sedekat ini, ia menciumku dibibir dengan sangat lembut."Kau tidak bisa membayar nyawamu dengan ciuman bodoh." Kataku sesaat ia melepas ciumannya."Apa yang kau inginkan?""Sebuah nama.""Scott William Batch, mau menikah denganku?"Sepertinya demamnya sudah tahap halusinasi"Baiklah tuan Batch, mengapa kau tidak minta bantuan pangkalanmu untuk menjemput?""Tidak itu akan membahayakanmu, dia akan tau kau yang menyelamatkanku." Ia membelai pipiku.Siapa yang ia maksud 'dia' ?"Sebuah nama sudah lebih dari sekedar nyawa, pergilah." Aku melepaskan tangannya, membiarkan ia berjalan mendekati jendelaku. Kemudian hilang diantara kilauan cahaya matahari.Dimana ada pertemuan disitu ada perpisahan.Ia yang datang ditengah malam dan ia yang pergi diawal pagi.Menyelinap masuk melalui jendela lalu menyelinap keluar melalui jendela yang sama.Seperti peterpan saja.

Tales of Tales : Creature under the sea
Teen Wattpad
02 Dec 2025

Tales of Tales : Creature under the sea

Saat umurku 8 tahun, sebuah keajaiban terjadi dalam hidupku. Aku bangkit dari kematian.Suatu malam aku hilang dan seluruh desa membantu untuk mencariku, keesokan paginya aku ditemukan terkapar ditepi danau kecil tengah hutan.Tabib desa memeriksaku dan ia menyatakan bahwa aku telah tiada. Namun kemudian terdengar nyanyian nan merdu memikat hati.Seketika aku menyemburkan air yang terperangkap diparu-paruku dan kembali bernafas. Jika tidak dibangunkan dengan nyanyian itu bisa saja aku tidak ada disini.Disini dikota yang berkembang dan padat jalan-jalan kini dipenuhi dengan kereta-kereta yang ditarik dengan kuda. Pakaian orang-orang sudah mulai menunjukan kastanya.Setelah 5 tahun merantau, kini aku siap kembali kekampung halamanku untuk menata desaku sebagai utusan dari pemerintahan kota.Ibu sudah menyambutku diujung desa dengan wajah yang sumbringah tak kuasa menitikkan airmata menyaksikan putra satu-satunya kembali pulang kepangkuannya.Desa sudah banyak berubah kecuali hutan itu, masih sama seperti dulu. Gelap dan berkabut, tak seorangpun berani masuk kecuali keluarga pemburu.Malam itu aku pergi ke bar untuk bertemu dengan sahabat-sahabat kecilku. Evan adalah salah satunya, dan ia keluarga pemburu.Evan menceritakan semua kejadian yang selama ini ia saksikan di hutan tepi desaku."Saat itu aku masih belajar menentukan arah mata angin dengan memperhatikan arah tumbuh lumut. Aku terpisah dengan ayahku dan seperti yang tetua katakan, jika kau mendengar nyanyiannya itu artinya kau tersesat.""Nyanyiannya?" Tanyaku."Nyanyian makhluk penjaga danau kecil ditengah hutan.""Seberapa besar danau itu?""Hey kau merusak ceritanya! Bukan itu bagian serunya, aku akan menceritakan bagaimana aku keluar dari hutan itu bukannya mengukur diameter danau."Kemudian Evan melanjutkan ceritanya namun aku tak terlalu memperhatiakn karena kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan apa itu danau yang sama dimana aku ditemukan 15 tahun yang lalu? Dan apa itu nyanyian yang sama yang menyelamatkanku juga Evan?Beberapa minggu telah berlalu, aku mulai menikmati kebiasaan-kebiasaan di desa. Tapi rasa penasaranku semakin menjadi-jadi akhirnya aku mengajak Evan si sulung dari keluarga pemburu untuk mencari danau mistis itu.Awalnya Evan menolak tapi aku tau kelemahannya, pujian."Tanpa keturunan pemburu yang gagah berani dan mempunyai sifat alami, bagaimana aku bisa mencarinya sendiri?" Ujarku memelas.Seketika Evan setuju dan malam itupun kami berangkat. Mengapa malam hari? Karena dipagi hari penjaga makam akan mencegah kami."Kau yakin?" Tanya Evan sesaat sebelum kami masuk. Aku hanya mengangguk dengan tampang serius.Beberapa menit menyusuri hutan yang gelap, hanya dengan pencahayaan lentera seadanya Evan berjalan cukup lincah sedangkan aku masih terbata-bata.Akhirnya ketakutan terbesarku terjadi, aku terpisah darinya.Tuhanku tolong aku!Doaku dalam hati, hawa terasa dingin dan tengkukku mulai merinding. Mulai terdengar sayup-sayup lantunan lagu, lagu yang semakin aku penasaran semakin keras suaranya.Aku mengikuti nyanyian itu, dan sampailah aku di danau yang aku cari-cari.Tidak tampak seperti danau karena sangat kecil diameternya, lebih tampak seperti genangan air.Aku meraih ranting panjang lalu mencelupkannya kedalam danau itu, dasarnya belum sampai tampaknya sangat dalam.Kemudian aku melihat tanah yang kuinjak berkilauan, ternyata banyak sekali mutiara yang bertebaran ditanah dekat danau itu.Tempat apa ini sebenarnya?Aku baru sadar bahwa nyanyian itu sudah hilang, berganti dengan suara jangkrik dan serangga-serangga lain yang bersahutan.Aku harus segera mencari Evan, "kawan!" Seru Evan dari balik kabut, sedikit berlari menghampiriku."Lihat Evan aku menemukannya!""Kita harus segera kembali, penjaga makam menyadari ada yang memasuki hutan."Aku hanya merasa tak rela, setelah menemukan danau dan mendengar kembali nyanyian yang menyelamatkanku. Aku meninggalkannya begitu saja sendirian."Hey tunggu apa lagi, cepatlah kawan!" Evan mendorong tubuhku, dan kami pun menyusuri hutan kembali.Sejak malam itu, setiap malam aku mulai bermimpi tentang danau dan nyanyian itu, juga sosok yang belum pernah aku lihat. Sosok yang meringkuk dalam kegelapan hanya ditemani kabut, ia tampak sangat menderita.Aku menceritakannya ke Evan dan ia mulai membual, "kau terlalu banyak membaca buku, ayo bersenang-senang." Kemudia Evan mengajakku kepesta salah satu temannya didesa sebelah.Jujur dikota aku tak pernah ikut pesta, Evan tampak sangat menikmatinya ia minum banyak sekali arak atau sejenisnya."Hey kau temen Evan?" Tanya seorang wanita disebelahku."Ya." Jawabku singkat."Aku Esstel, kau punya pekerjaan yang besar malam ini yaitu membawa Evan pulang.""Yeah, aku bukan teman yang jahat.""Itu bagus untukmu." Wanita ini sangat agresif, ia meraih bahuku dan menciumiku.Aku melepas cengkramannya dan menghela nafas, "sepertinya aku harus melakukan tugasku sekarang."Menggendong Evan pulang bukan hal yang mudah, aku hanya kelelahan dan menurunkannya sejenak.Padang rumput yang luas dan hijau, tapi tidak terlihat hijau saat malam. Hanya bintang kerlap-kerlip dilangit.Siapa wanita itu?Tiba-tiba wanita dalam mimpiku terlintas dalam pikiran. Malam mulai dingin, angin-angin rasanya bisa menusuk menembus bajuku. Aku kembali mengangkat Evan ke desa.Malam hari berikutnyaApa yang aku lakukan disini?Bertanya-tanya pada diri sendiri, ketika mendapati aku sudah berdiri ditepi danau dalam hutan.Tanpa alas kaki aku bisa merasakan bulir-bulir mutiara berserakan dikakiku. Dinginnya malam memeluk dan kabut yang membutakanku. Aku kembali mendengar nyanyian itu, dan terlihat sosok samar-samar dihadapanku terduduk meringkuk sendirian ditepi danau."Siapa kau?!" Seruku.Ia hanya diam dan meneruskan nyanyiannya yang sekarang berubah menjadi isakan. Ajaibnya aku melihat air matanya jatuh ketanah dengan jelas lalu bersinar sejenak.Aku berjalan mendekatinya dan kini wajahnya terlihat, seperti wajah perempuan biasa hanya saja begitu sembap dan pucat."Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku.Ia hanya menatapku dan seakan katanya mengisyaratkan, ia dalam kesusahan dan amat menderita."Aku akan membantumu." Ujarku.Ia tersenyum dalam kesedihannya dan berusaha meraih tanganku, aku menjulurkan tanganku.Tiba-tiba ia menarikku kedalam air, aku panik dan meronta-ronta dalam air. Namun kemudian ia menciumku lalu aku mulai tenang.Kembali kesadaranku, aku bisa bernafas dalam air. Aku menatapnya dengan mata yang hampir melompat keluar, perempuan ini tidak punya kaki melainkan ekor. Ekor yang indah dibawah cahaya rembulan."Sekarang aku bisa bicara." Katanya, suaranya sangat merdu seperti nyanyiannya."Kau ini sebenarnya apa?" Tanyaku, kami hanya berenang memutar-mutar agar tak tenggelam."Aku bangsa duyung, penghuni laut lepas yang paling dalam. Kau anak Adam, balaslah budimu."Budi apa?"Apa kau yang menyelamatkanku 15 tahun yang lalu?" Tanyaku."Sama seperti 15 tahun yang lalu, kau berjalan sendiri dialam bawah sadarmu menghampiri jiwa-jiwa yang butuh pertolongan."Apa yang dibicarakan duyung ini? Apa sekarang aku sedang bermimpi??"Kau punya roh yang tulus, itu merupakan anugrah dari leluhurmu. Didaratan aku hanya bisa bernyanyi, aku menarik perhatian orang-orang sepertimu untuk datang dan menolongku. Namun dia tak menyukainya!" Lanjutnya.Dia?"Jadi aku bisa bantu apa?" Tanyaku."Bantu aku kembali kelautan." Permintaan itu sangat mudah namun dengan ukuran duyung itu akan sangat sulit.Aku berjanji padanya akan memikirkan caranya dan sesegera mungkin mengabarinya.Ibu terkejut karena aku mengetuk pintu depan yang terkunci dan kembali dengan baju yang basah kuyup. Ia sangat cemas dan aku hanya menjawab dengan alasan selogis mungkin, "aku tidur berjalan lagi."Mungkin hanya Evan, teman yang dapat ku percayai didunia ini.Aku menceritakan semua padanya, awalnya ia hanya tertawa karena mengangap itu sebuah lelucon tapi dengan bukti air mata duyung ia kemudian percaya.Air mata duyung akan berubah menjadi mutiara dengan kualitas yang sangat luar biasa, mengalahkan tiram diseluruh dunia.Aku mendapat ide untuk membuat wadah membawa duyung itu kembali kelautan. Yaitu sebuah peti yang biasanya keluarga pemburu bawa, peti besar untuk membawa hasil buruan yang banyak.Didalam peti itu ada peti lagi yang didalamnya berisi air untuk temoat duyung itu. Peti yang berisi duyung akan ditutupi dengan hasil buruan Evan nanti.Hari eksekusi"Kau sudah hafal dialog mu, kawan?" Tanya Evan padaku. Aku mengangguk yakin dan kami mendorong peti itu keluar hutan dengan duyung didalamnya.Seperti biasa penjaga makam akan menyapa kami dan aku harus terlihat semeyakinkan mungkin.Namu hari itu ia tak seperti biasanya, penjaga makam menghampiri kami dan berkata, "apa yang dilakukan keluarga terpelajar disini?"Sesuai rencana ia akan menanyakan itu. "Ah aku hanya membantu keluarga pemburu, karena saudara-saudara Evan sakit." Jawabku tenang.Evan sudah panik saat penjaga makam menyuruhnya membuka peti itu. Penjaga makam kemudian percaya saat melihat beberapa rusa dan kelinci juga hewan-hewan kecil lainnya didalam.Kami melanjutkan perjalanan yang kira-kira memakan waktu 2 hari 1 malam.Sebelumnya kami mampir kerumah Evan untuk menganti isi peti dengan tumbuh-tumbuhan dan akar-akar herbal.Malam hariKami beristirahat dibawah pohon besar dan aku membuka peti duyung itu, ia bangun dan menguap lebar.Ia menarik kerahku lalu menciumku, aku sadar ia melakukannya karena ingin bicara padaku dalam air."Apa kau mengantuk?" Tanyaku."Tidak aku baru saja bangun, aku tak pernah sejauh ini berjalan sebelumnya.""Bagaimana caramu bisa masuk kedalam danau dihutan?""Sebenarnya dibawah hutan itu ada gua yang menghubungkannya kelaut. Aku bermain dengan teman-temanku dekat sana dan terbawa arus. Lalu aku tak ingat lagi, aku sudah terperangakap disana untuk waktu yang cukup lama. Jalan keluarnya sudah tertutup dengan batu besar, dan aku ditemukan oleh dia. Dia si penjaga makam saat ia masih muda, ia berjanji menolongku. Setiap hari ia membawakan makanan ringan dan mainan air agar aku tidak bosan. Aku sangat senang ia selalu datang, namun kemudian aku sadar. Bahwa yang ia lakukan adalah menahanku lebih lama disini dan tak akan pernah menolongku."Penjaga makam itu sudah menyembunyikan duyung ini dari penduduk desa, sampai sekarang? Astaga. Kakek tua itu!Penjelasan itu sudah lebih dari cukup untukku yang harus kulakukan sektang hanya membawa duyung ini pulang kerumahnya.Dibibir pantaiAku dan Evan mengangkat duyung itu dan ia mulai berenang dipantai yang dalamnya sepinggangku."Apa ia tidak akan mengucapkan selamat tinggal?" Tanya Evan. Aku hanya tersenyum menatap duyung itu yang berenang semakin jauh."Ayo kita pulang." Aku berbalik dan menepuk pundak Evan.Kemudian aku mendengar nyanyian itu lagi, nyanyian yang sama hanya saja dengan rasa yang berbeda.Ini bukan nyanyian kesepian yang ku dengar dihutan, nyanyian ini nyanyian lebih dari satu duyung yang bernyanyi dengan bahagianya.Aku berlari keujung karang besar dan mendongak kebawah, muncuk kepala duyung itu lalu tersenyum. Ia berusaha meraih tanganku dan aku menjulurkannya lagi.Ia menarikku seperti dihutan dulu, terdengar suara Evan berteriak namun tak kuhiraukan.Duyung itu kembali menciumku agar aku bisa bernafas didalam air dan bicara padaku."Aku sangat berterimakasih padamu, anak Adam." Aku bisa melihat dengan jelas raut wajah bahagianya begitu indah terlukis.Ia memberikanku sesuatu, itu sisik. Ia memberikanku sisiknya sebagai kenang-kenangan.Aku memeluknya sebagai ucapan perpisahan, "suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi." Kata duyung itu.Kemuadian ia berenang menjauh bersama kawanannya, aku hanya melambaikan tangan dan berenang kepermukaan."Hey kawan!! Kau membuatku jantungan, cepat kembali! Aku kira kau sudah dimakan duyung itu tadi!!" Evan tampak sangat marah. Aku hanya tersenyum bahagian melambaikan tangan kearahnya.Aku tidak akan pernah melupakan pengalaman hidup ini.End

Suicide Love
Teen Wattpad
02 Dec 2025

Suicide Love

Aku tak pernah memperhatikannya sampai ia membuat kegaduhan di rumahku. Rumah kecil berlantai 3 yang ku huni bersama ibuku saja, lantai 1 untuk cafe, lantai 2 adalah rumah kami dan lantai 3 adalah atap terbuka dengan taman kecil.Siang itu, siang yang sangat panas. Membuatku hanya ingin minum segelas lemon dibawah pohon.Seorang pria memesan expresso dan beberapa cemilan. Dari penampilannya ia hanya pria biasa namun anehnya semenjak saat itu ia tak pernah absen untuk datang ke cafe.Bahkan mendaftar menjadi anggota member yang notabene didominasi perempuan.Ibu sangat akrab dengannya, namun aku tak pernah ingin menyinggung apapun tentang pria itu.Keakraban mereka semakin parah dan kali ini aku sangat jengkel, karena ibu mengajaknya kelantai 2. Apa mungkin? Ah.. Tidak mungkin. Aku tidak mungkin punya ayah baru yang seumuran.Beberapa saat mereka berdua naik bersama, hanya ibu yang kembali turun. Dimana pria itu? Aku penasaran dan memutuskan untuk memeriksa.Dilantai dua tidak ada tanda-tanda dari pria itu, kamar mandi, ruang tamu, kamarku, kamar ibu, dimana pun.Sinar matahari yang menyilaukan menyapa mataku, sehingga aku harus sedikit menyipit dan menghalangi sinarnya dengan tanganku.Pria itu berdiri sendirian diujung atap dengan tangan terbuka seperti mencicipi kenikmatan mentari.Apa yang ia lakukan disini sendirian? Perlahan ia melangkah kedepan dan semakin kepinggir saja. Apa ia akan bunuh diri?Tidak ini tidak bisa terjadi! Tidak di rumahku dan cafe ku!"Hey stop!!!" Terlambat, seruanku keluar besamaan dengan tubuhnya yang jatuh dengan lembut dan mendarat dengan kasar dibelakang cafe.Seakan tak percaya aku terkejap beberapa detik memandangi tubuh pria itu tergeletak jauh ditanah.Aku segera turun dan melihat ibuku sedang dikasir untuk menghitung uang. Melihat ekspresiku, ia menyadari sesuatu sedang terjadi dan mengikutiku berlari kebelakang cafe.Ibu terkejut dan terduduk ditanah sedangkan aku langsung memeluk tubuh lemas pria itu untuk merasakan detaknya, aku sangat panik sampai detak jantungku lebih keras. Aku masih bisa merasakan denyut nadi di lehernya."Ibu cepat telfon ambulance!" Kataku dan ibu segera menekan dengan panik handphone nya.Aku tak memindahkannya karena takut bisa saja ada tulang yang retak. Sesaat kemudian ambulance datang dengan cepat. Aku menutup cafe dan mengambil syal juga beberapa jumlah uang.Ibu terus saja menegangi tangan pria itu, sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka?Aneh ia tak membawa dompet atau identitas apapun saat tenaga medis memeriksanya. Tapi ibu dengan lancar menulis administrasinya."Rossie, ibu harus menelfon seseorang. Kau tunggu dokter untuk memberitahu keadaannya ya." Kata ibu aku hanya mengangguk dan ia pergi.Ibu pergi lama sekali sampai dokter selesai mengoperasi pria itu dan memindahkannya ke ICU.Aku mengirimi ibu pesan dimana pria itu dipindahkan, sepertinya ibu tidak membacanya. Aku hanya duduk dan bersandar ditemani suara alat-alat yang terus saja berdebip juga suara pompa.Aku sangat penasaran dengan pria ini, sungguh rasanya ingin mengguncang tubuhnya dan meminta penjelasan. Tapi sekarang ia masih tak sadarkan diri dengan perban yang membalut dadanya.Bahunya terlihat tangguh dari jauh, aku mendekatinya mataku tak bisa berhenti memperhatikan bulu matanya yang terpapar uap pelembab ruangan.Dari dekat pria ini terlihat sangat polos, tanganku menyentuh rambut depannya yang sedikit berantakan dan merapikannya. Dari balik alat pernapasan itu aku bisa melihat luka ditepi bibirnya, sepertinya ia suka berkelahi.Ia mengerutkan dahi dan berusaha membuka mata, jari-jari tangannya terus bergerak. Segera aku memanggil perawat dan dokter juga ikut berlari.Bersamaan ibu dengan seorang bibi yang tampak sedih mendekatiku, "bagaimana keadaannya?" Tanya bibi itu. Aku hanya menjawab seadanya, dan ia memeluku lalu berkata, "syukurlah aku sangat berterimakasih pada tuhan dan kau Rossie."Bibi ini tau namaku, dan ia juga tampak dekat dengan ibuku. Sebenarnya siapa orang-orang ini?Perjalanan pulang kami naik taxi, dalam taxi kami tak banyak bicara. Karena sampai rumah aku akan langsung bertanya pada ibu tentang apa yang sebenarnya terjadi."Ibu bisa kau jelaskan semuanya? Pria itu? Bibi itu? Hubungan kalian, semuanya!" Kataku sedikit membentak."Kau sudah besar saatnya mencari calon suami untukmu." Jawab ibu. Jangan bilang ia mencoba menjodohkanku dengan pria itu."Dan meninggalkan ibu sendirian?" Kataku melemah. Aku belum berencana menikah karena tak akan bisa melihat ibu sendirian setelah ditinggal ayah. Aku ingin ibu bersama seseorang terlebih dahulu."Jangan pikirkan aku, hiduplah seperti wanita pada umumnya.""Ibu aku tidak akan bisa hidup jika melihat ibu sendirian.""Aku tidak akan menikah lagi! Kau yang harusnya menikah!" Ibu menutup pintu kamarnya dengan keras.Malam itu kepalaku hanya dipenuhi dengan pria itu. Selama ini aku tak pernah memperhatikannya, apa ia selalu memperhatikanku?Keesokan harinya ibu belum juga keluar kamar, ia membuatku cemas saja. Membuka pintunya perlahan dan melihatnya masih terbaring ditempat tidur. Tubuhnya hangat, sepertinya ia demam musim panas atau terlalu banyak berpikir.Aku lupa ia sudah mulai renta, ini semua salahku membuatnya mengkawatirkan masa depanku.2 hari cafe ku tutup karena fokus merawat ibu. Sejenak aku melupakan pria itu, diam-diam setiap pagi selama dua hari ini aku mengintip dari atap untuk memeriksa apa pria itu datang. Nyatanya ia tak pernah datang.Apa perjodohan ini dibatalkan? Aku sangat lega sekaligus merasa sedikit kecewa juga.Malam itu aku hanya duduk didean komputerku untuk mencari informasi universitas. Lalu teringat pria itu dan mencari data membernya.Namanya Alex dan pesanan terbanyaknya expresso. Beberapa info yang tak penting juga terdata. Aku belum pernah melihat senyumnya, ini pertama kalinya aku melihat senyumnya dalam foto member.*ting*Ada email masuk, dari alex_brooks》hey:)《 hi》Rossie?《 ya.》cafe tutup selama 2 hari, ada apa?《 ibu sakit, kau datang?》ya setiap hariAneh sekali aku tak pernah melihatnya. Sepertinya ia sudah baik-baik saja. Apa ia tak ingat apa-apa?Dari caranya membalas percakapan kami yang mulai memanjang, ia benar-benar tak ingat.》sampaikan salam ku padanya dan semoga ibu mu cepat sembuh.《 baiklah terimakasih.》goodnight:)《 night:)Sepertinya perjodohan itu benar-benar dibatalkan.Yang benar saja Alex benar-benar dataang dengan stelan jas kantor, menyodorkan kartu membernya. Aku langsung menyerukan "Expresso In!" Ibu segera menyiapkannya. Ini kedua kalinya melihat Alex tersenyum, ia duduk ditempatnya seperti biasa. Membaca koran, majalah, atau hanya iseng memainkan handphone nya. Tepat pukul 08.00 ia akan meninggalkan cafe dan berangkat kerja.Tapi kali ini tak seperti biasanya, pukul 18.00 ia datang memasuki cafe dengan terburu-buru. Lalu menghampiriku yang sedang membersihkan meja."Rossie aku ingin bicara.""Baiklah katakan saja.""Ini sedikit personal."Sepertinya ia ingin membicarakan perjodohan yang dibatalkan. Aku menyuruhnya mengikutiku kelantai dua. Karena lantai tiga pasti akan terasa dingin.Aku duduk dikasur hangatku sedangkan ia duduk dikursi komputerku yang sedikit reot."Aku langsung saja.." katanya sesaat setelah duduk."Maukah kau menikah denganku?" Lanjutnya. Perkiraanku salah. Benar-benar salah semuanya.Aku mengira ia akan membicarakan pembatalan perjodohan, dan ia bunuh diri karena perjodohan ini.Nyatanya ia ingin menikahiku dan percobaan bunuh dirinya karena tidak ada restu ibunya."Alex u such a mess!" Ia mencoba bunuh diri karena itu, bagaimana jika nantinya ada masalah yang lebih besar. Apa ia akan bunuh diri lagi?"Maafkan aku, aku begitu kekanak-kanakan. Aku berjanji pada tuhan padamu akan menjadi manusia yang lebih baik manusia yang menghargai sebuah kehidupan.""Aku bahkan tak mengenalmu."Alex berdiri dan berjalan ke rak-rak buku ku lalu menarik sebuah album foto tebal."Kau ingat anak ini?" Ia membuka dan menunjuk satu foto dimana aku mencium anak laki-laki yang tampak bahagia saat umur kami 5 tahun."Mika? Ia teman masa kecilku saat di Florida.""Ya Mika, Mikaela pindah kekota ini saat umur 15 tahun karena kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Diadopsi oleh keluarga Brooks yang kaya tanpa pewaris.""Tidak mungkin. Kau sahabatku yang hilang?!""Ini lah aku sekarang dengan nama baru Alexander Mikaela Brooks."Sontak aku langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Ia sahabat ku dan saudaraku yang hilang selama ini. Tanpanya aku merasa kehidupan ini sangat semu. Bahkan menunda kuliah ku karena ingin mencari tau dimana Mika.. maksudku Alex kuliah. Namun usaha itu sia-sia karena ia tak terdaftar dimana pun."Merindukanku?" Alex melepas pelukanku dan membelai rambutku. Aku hanya tersenyum dan betapa bahagianya aku.Aku mencium pipi Alex dengan bahagianya sama seperti saat kami kecil dulu. Alex tersenyum malu kenudian mendekatkan wajahnya. Seperti aku tau apa yang akan datang, aku menutup mataku dan menerima semua kasih sayangnya.Malam itu hanya ada kami berdua dengan sejuta cerita yang belum terucap. Kisah remaja saat kami terpisah.Keesokan harinya aku menemaninya bertemu ibu angkatnya yang pernah kutemui dirumah sakit."Kalian sudah datang." Berbeda dengan cerita Alex, ibu angkatnya tanpak sangat jauh lebih bahagia sekarang.Kami berbincang banyak dan ibu angkat Alex setuju dengan pernikahan kami, ia sekarang sadar apa yang Alex perlukan dalam hidupnya.Kami mulai merencanakan pernikahan bersama, hanya satu yang masih tertambat dalam hati, ibu.Alex sangat pengertian dan memutuskan setelah menikah akan tinggal dirumahku. Aku sangat menyayanginya!Andai saat hari pertama kamu datang padaku, aku sudah tau itu kamu. Kamu yang dulu salalu bersamaku. Kamu yang selalu mengerti aku. Kamu yang mengisi kekosongan hatiku. Kamu yang mewarnai kisahku. Kamu yang aku sayangi dan kasihi. Kamu sahabatku dan kini kamu belahan jiwaku.Yang telah hilang kini datang kembali.TAMAT

Naga Erau dan Putri Karang Melenu
Folklore Wattpad
02 Dec 2025

Naga Erau dan Putri Karang Melenu

Pada zaman dahulu kala di kampung Melanti, Hulu Dusun, berdiamlah sepasang suami istri yakni Petinggi Hulu Dusun dan istrinya yang bernama Babu Jaruma. Usia mereka sudah cukup lanjut dan mereka belum juga mendapatkan keturunan. Mereka selalu memohon kepada Dewata agar dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.Suatu hari, keadaan alam menjadi sangat buruk. Hujan turun dengan sangat lebat selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti diiringi gemuruh guntur dan tiupan angin yang cukup kencang. Tak seorang pun penduduk Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Petinggi Hulu Dusun dan istrinya.Pada hari yang ketujuh, persediaan kayu bakar untuk keperluan memasak keluarga ini sudah habis. Untuk keluar rumah mereka tak berani karena cuaca yang sangat buruk. Akhirnya Petinggi memutuskan untuk mengambil salah satu kasau atap rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.Ketika Petinggi Hulu Dusun membelah kayu kasau, alangkah terkejutnya ia ketika melihat seekor ulat kecil sedang melingkar dan memandang kearahnya dengan matanya yang halus, seakan-akan minta dikasihani dan dipelihara. Pada saat ulat itu diambil Petinggi, keajaiban alam pun terjadi. Hujan yang tadinya lebat disertai guntur dan petir selama tujuh hari tujuh malam, seketika itu juga menjadi reda. Hari kembali cerah seperti sedia kala, dan sang surya pun telah menampakkan dirinya dibalik iringan awan putih. Seluruh penduduk Hulu Dusun bersyukur dan gembira atas perubahan cuaca ini.Ulat kecil tadi dipelihara dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin merawat dan memberikan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ulat itu membesar dengan cepat dan ternyata ia adalah seekor naga.Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita yang merupakan penjelmaan dari naga tersebut. “Ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda.” kata sang putri, “Meskipun ananda sudah besar dan menakutkan orang di desa ini, izinkanlah ananda untuk pergi. Dan buatkanlah sebuah tangga agar dapat meluncur ke bawah.”Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada sang istri. Mereka berdua lalu membuatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu. Ketika naga itu bergerak hendak turun, ia berkata dan suaranya persis seperti suara putri yang didengar dalam mimpi Petinggi semalam.“Bilamana ananda telah turun ke tanah, maka hendaknya ayah dan bunda mengikuti kemana saja ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam serta taburi tubuh ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan telah masuk kedalam air, maka iringilah buih yang muncul di permukaan sungai.”Sang naga pun merayap menuruni tangga itu sampai ke tanah dan selanjutnya menuju ke sungai dengan diiringi oleh Petinggi dan isterinya. Setelah sampai di sungai, berenanglah sang naga berturut-turut 7 kali ke hulu dan 7 kali ke hilir dan kemudian berenang ke Tepian Batu. Di Tepian Batu, sang naga berenang ke kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali dan akhirnya ia menyelam.Di saat sang naga menyelam, timbullah angin topan yang dahsyat, air bergelombang, hujan, guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi petinggi pun didayung ke tepian. Kemudian seketika keadaan menjadi tenang kembali, matahari muncul kembali dengan disertai hujan rintik-rintik. Petinggi dan isterinya menjadi heran. Mereka mengamati permukaan sungai Mahakam, mencari-cari dimana sang naga berada.Tiba-tiba mereka melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpukkan warna-warninya ke tempat buih yang meninggi di permukaan air tersebut. Babu Jaruma melihat seperti ada kumala yang bercahaya berkilau-kilauan. Mereka pun mendekati gelembung buih yang bercahaya tadi, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di gelembung buih itu terdapat seorang bayi perempuan sedang terbaring didalam sebuah gong. Gong itu kemudian meninggi dan tampaklah naga yang menghilang tadi sedang menjunjung gong tersebut. Semakin gong dan naga tadi meninggi naik ke atas permukaan air, nampaklah oleh mereka binatang aneh sedang menjunjung sang naga dan gong tersebut. Petinggi dan istrinya ketakutan melihat kemunculan binatang aneh yang tak lain adalah Lembu Swana, dengan segera petinggi mendayung perahunya ke tepian batu.Tak lama kemudian, perlahan-lahan Lembu Swana dan sang naga tenggelam ke dalam sungai, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah gong yang berisi bayi dari khayangan itu. Gong dan bayi itu segera diambil oleh Babu Jaruma dan dibawanya pulang. Petinggi dan istrinya sangat bahagia mendapat karunia berupa seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu lalu dipelihara mereka, dan sesuai dengan mimpi yang ditujukan kepada mereka maka bayi itu diberi nama Puteri Karang Melenu. Bayi perempuan inilah kelak akan menjadi istri raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.Demikianlah mitologi Kutai mengenai asal mula Naga Erau yang menghantarkan Putri Junjung Buih atau Putri Karang Melenu, ibu suri dari raja-raja Kutai Kartanegara.

Shh.. Its Secret
Romance Wattpad
02 Dec 2025

Shh.. Its Secret

Dita Sylan, seorang gadis berumur 16 tahun sangat populer disekolahnya, ibunya bilang asal kata namanya dari Aphrodite yaitu dewa kecantikan. Seperti arti namanya ia cantik, ceria, dan memiliki senyum yang manis.Dia jatuh hati pada seorang cowok bernama Jo Yusuf Anwar atau akrabnya Jya. Jya seumuran dengan Dita, ia berperawakan tinggi, badan atletis, berkacamata, dan memiliki sorot mata yang tegas. Jya juga populer di kalangan cewek-cewek sekolahnya. Awal pertemuan mereka setahun yang lalu saat masa orientasi siswa atau MOS.Saat itu Dita yang alergi debu bersin-bersin tak henti-hentinya di barisan belakang. Tiba-tiba Jya muncul menghampirinya dan berkata, "gini cara berhentiin bersin." Sambil menahan hidung Dita dengan telunjuknya. Dita hanya bisa terpaku menatap sosok Jya yang begitu tampan dan baik hati."Tu yang dibelakang ngapain pacaran?!" Teriak senior mereka. Sontak membuat keduanya terkejut. "Maaf kak kami ga pacaran." Jawab Jya ketika senior mereka menghampiri. "Ga usah bohong, kalo ga pacaran terus ngapain tadi?!" Kata senior mereka dengan nada nyolot. "Kak tadi saya bersih-bersih dia cuma bantuin saya." Jawab Dita mencoba membela diri. "Gue ga mau tau, kalian bedua pushup 25 kali sekarang!" Jawab senior lainnya."Tapi kak saya alergi debu, tolong hukumannya yang lain kak." Kata Dita dengan wajah memelas berharap kemurahan hati senior mereka. "Alasan aja lu, 25 kali atau gue tambahin!" Bentak senior mereka. Mau tidak mau Dita menuruti perintah senior mereka, saat mengambil ancang-ancang untuk pushup.Tangan Jya menghalangi badan Dita mengisyaratkan untuk berhenti. "Kak biar saya aja yang pushup." Kata Jya dengan tegas. "Oh lu mau sok pahlawan depan cewek lu?! Okay! Lu pushup 50kali!" Jawab senior mereka. "Kamu?!" Dita hanya bisa terkejut, ia bahkan tak tau namanya. Kenapa cowok ini sangat baik padanya?Dari situlah Dita mulai menyukai sosok Jya. Setelah MOS ternyata mereka beda kelas. Dita terus saja memperhatikan Jya, yang sesekali saling bertukar senyum saat berpapasan. Setahun kemudian kenaikan kelas 2 SMA, ada rolling kelas. Dita sangat bahagia saat mendapati dirinya sekelas dengan orang yang ia sukai selama ini, Jya!***Hari ini, hari pertama Dita dikelas 2 SMA kelas dimana ia akan menghabiskan masa mudanya sekelas dengan Jya sang pujaan hati. Awalnya Dita sangat gugup bahkan semalam ia tak bisa tidur saking menantikannya hari ini."Pagi Dit!" Sapa temannya dikelas 1 SMA dulu, Hawa. "Pagi Wa!" Kata Dita sambil duduk disebelah gadis yang semalam ia telfon untuk janjian duduk bersama nya dikelas.Mata Dita terus saja menyorot seisi kelas untuk menemukan sosok Jya. Beberapa menit kemudian yang ditunggu-tunggu tiba. Jya memakai jaket kain, sepatu adidas, headset ditelinga dan menggendong tas dengan satu tali saja. Gaya khas anak populer. Hampir semua cowok dikelas menyapanya dengan highfive. Tampaknya Jya tak hanya populer dikalangan cewek saja.***Saat istirahat meja Jya dipenuhi cewek-cewek yang ngantri ngajak dia buat makan bareng atau ke kantin bareng. Pemandangan itu membuat Dita jengkel karena tak bisa berbuat apa-apa. Ternyata saingannya banyak sekali. Ia sedikit lega karena Jya lebih milih buat pergi kekantin sendiri ketimbang gandeng cewek-cewek ganjen itu.***Hari-hari berlalu kegiatan Dita masih segitu-segitu aja, mentok jadi penguntitnya Jya. "Eh kita kan belum nentuin pengurus kelas." Kata Hawa pada Dita."Iya juga ya, aku sih males terlibat kayak gitu. Cuma buang-buang waktu." Jawabku. "Aku mau jadi ketua kelas!" Teriak Jya dari bangku nya.Sontak membuat Dita berdiri dan mengacungkan tangan, "A-aku mau jadi wakil ketua.""Lah katanya males-__-" kata Hawa. Dita cuma bisa nyengir-nyengir ga jelas. Akhirnya ditentukan Jya ketua kelas dan Dita sebagai wakilnya.***"Bapak dengar kalian sudah menentukan pengurus kelas, jadi ini tugas pertama kalian." Kata pak Bambang wali kelas mereka. Jya langsung berdiri dan diikuti Dita dibelakangnya. Tugas pertama mereka adalah membuat data seputar kelas dari daftar nama, fasilitas kelas dan pemilihan sisa pengurus kelas."Kita rapat kan pulang sekolah." Bisik Jya. Dita hanya bisa mengangguk gugup. "Muka kamu kok merah? Sakit?" Kata Hawa saat Dita kembali duduk. "Engh.. ga papa kok." Jawab Dita, rapat berdua bersama Jya? Astaga bagaimana jika ia membuat kesan pertama yang salah.***Pulang sekolah hanya mereka berdua dikelas, Dita tak sanggup menatap mata Jya yang tegas. "Nih kamu data fasilitas kelas.""Ba-baik." Jawab Dita gugup. Ia segera mendata fasilitas kelas seperti unit bangku dan kursi, papan tulis, lcd, dan lain-lainnya."Jo aku udah selesai, ni datanya." Kata Dita menyerahkan selembar kertas itu pada Jya yang tampak pusing memilih pengurus kelas. "Hm." Jawabnya."Engh.. Jo aku boleh panggil kamu Jya ga? Biar kayak anak-anak yang lain." Tanya Dita sambil duduk didepan Jya. "Hm." Lagi-lagi Jya hanya bergumam."boleh ya? Ya? Ya? Ya?" Kata Dita dengan suara manis yang dibuat-buat. "Serah lu dah bawel amat." Jawab Jya, ini pertama kalinya Dita melihat Jya begitu kasar. Seketika Dita terdiam dan hanya terpelongo."Kalo udah selesai taruh di meja pak Bambang. Gue mau cabut." Jya beranjak pergi meninggalkan Dita yang masih saja tak bergeming.***Setelah menaruh data kelas di meja pak Bambang, Dita berjalan dengan lemas ke parkiran sepeda disamping ruang olahraga. Langkah kaki kecil nya terhenti ketika melihat Jya masuk ke ruang olahraga. Kira-kira apa yang akan ia lakukan? Dita bersembunyi dibalik pilar besar penyangga lorong.Beberapa menit kemudian Jya keluar dengan bola basket di tangan nya. Dita baru ingat saat MOS Jya mewakili kontingennya untuk tanding basket.Dita hanya memandangi Jya dari kejauhan dan menghela nafas panjang. "Jya kenapa kamu jutek banget? Mana sosokmu yang ramah itu?" Batinnya. "Mungkin dia lagi banyak pikiran, makanya jadi dingin. Besok aku harus berusaha akrab sama dia!" Kini semangatnya sudah memuncak lagi ia berlari menuju parkiran dan mengendarai sepedanya dengan cepat, ia berharap esok akan lebih akrab dengan Jya.***Keesokan harinya Dita berusaha untuk lebih dekat. "Jo kantin yuk." Ajak Dita. "Aku udah makan." Jawab Jya ketus. "Yaudah deh kalo gitu." Jadi gini rasanya cewek-cewek yang tiap hari ngantri buat ngajak Jya ke kantin? Tapi ditolak, benar-benar menyedihkan."Dit cepetan belanja nya!" Teriak Hawa yang telah lama menunggu Dita diluar kantin. Dita masih bingung mau belanja apa, ia sebenarnya tidak terlalu suka belanja di kantin. "Yuk ke kelas!" Kata Dita sambil menepuk pundak Hawa."Lama amat sih.""Hehe sori-sori abis aku bingung makanannya ada banyak.""Eh Jo sendiri aja, fans nya pada kemana?" Mendengar kata Hawa yang menyapa seseorang membuatnya terbelalak.Katanya dia tadi sudah makan? Lalu apa yang ia lakukan disini?!Dita yang naik pitam memilih untuk jalan cepat meninggalkan Hawa yang masih tegur sapa dengan Jya."Kok lu tinggal sih tadi?" Tanya Hawa sesampainya dikelas."Jo itu aneh ya tadi gue tawarin kekantin katanya udah makan. Eh nyatanya? Ga ngerti deh gue!""Elah lu kayak ga tau Jo aja. Dia kan emang dingin sama cewek, sampe-sampe ada gosip kalo dia maho, ngeri sih tapi kayaknya ga mungkin buktinya dia punya mantan.""Ma-mantan?!""Lah lu ga tau? Itu kakak kelas ips, namanya Nina kalo ga salah." Bagaimana cara Nina sampai bisa mencairkan hati Jya yang beku? Harus diselidiki!***Hasil penyelidikan Dita,Nama Kynina Rut biasa dipanggil Nina. Selain cantik ia sangat cerdas. Walau pun anak ips ia sangat berprestasi mungkin itu salah satu daya tariknya. Jika diukur dari kecerdasan Dita jauh dibawah Nina. Beberapa kali Dita berpapasan dengan Nina dan terasa jelas Dita mencium bau parfum Nina. Itu dia! Jya suka cewek yang wangi. (Yaiyalah)***"Aku pake parfum dua kali lebih banyak dari biasanya, pasti kecium sama hidungnya!" Ujar Dita dalam hati."Kenapa lu? Pagi-pagi nyengir-nyengir sendiri?" Tanya Hawa bingung."Engga kok cuma lagi seneng aja, hihi." Beberapa saat kemudian Jya masuk kelas dengan style kekiniannya. Segera Dita menghampirinya dan mencegahnya duduk dibangku yang dikerumbuni cewek-cewek ganjen, bisa-bisa bau parfum nya ga kecium lagi."Pagi Jo! Ada tugas buat wakil ga hari ini?" Sambut Dita dengan ramah."Engga ada." Jya melewati Dita begitu saja!"Tunggu-" kata Jya dan berbalik. Ha! Ia pasti menyadari bau parfum Dita."Ya???" Mata Dita bersinar menunggu."Kamu pake parfum apa sih? Menyengat sekali! Kalo kayak gitu terus ozon bumi bisa benar-benar rusak tau." Kata Jya berlalu meninggalkan Dita yang masih terpaku mendengar respon Jya.***"Aku baru tau Jya ternyata begitu dingin tapi jadi begini rasanya di komentar pedas oleh orang yang kau suka? Rasanya sama seperti dicampakan! Bagaimana bisa ia menyukai Nina, tapi tidak menyukaiku? Okay Nina ya Nina. Aku ya aku. Mungkin ga seharusnya aku ngikutin Nina. Aku jadi males sama Jya, rasa suka ku ke dia mungkin cuma sebatas gara-gara dia pernah baik aja sama aku." Sore itu Dita habiskan dengan hobinya manjat tembok dan merenung sembari menatap langit jingga yang ditaburi kapas-kapas tipis.***Esoknya, esoknya, dan esoknya lagi Jya semakin dingin. Sepertinya ada yang salah dengannya. Mungkin sebenarnya ia sosok yang hangat, namun saat kecil kepalanya pernah terbentur jadi kepribadiannya berbalik. "Dit beritahu pengurus yang lain ada rapat kelas pulang sekolah." Tiba-tiba pak Bambang muncul, mengejutkan saja. "Si-siap pak.""Jo pak bambang suruh kasi tau pengurus yang lain pulang sekolah ada rapat." Kata Dita saat bertemu Jya dikelas."Kamu kasi tau aja sendiri. Kan kamu yang disuruh." Apa-apaan ketua kelas ini?! Mentang-mentang jabatannya diatas ku! Dita sangat kesal, ia hanya bisa meremas roknya dan pergi untuk memberitahu pengurus yang lain.***"Bapak cuma mau kasi tau 2 bulan lagi ada festival. Jadi kelas kita harus buat sesuatu, emang sih masih lama. Bapak kasi tau sekarang biar punya banyak waktu buat mikirin idenya." Jelas pak Bambang."Gimana kalo cafe saja!" Ujar Dita semangat."Cafe sudah mainstream, orang-orang pasti bosan ke cafe anak SMA." Seperti biasa tanggapan Jya pada Dita selalu saja dingin, sampai-sampai Dita mulai terbiasa dengan komentarnya yang sangat pedas."Oke kalian diskusi nya lanjut saja, bapak ada urusan dirumah." Pak bambang meninggalkan kami setelah berpamitan. Aku yakin pak bambang tak sungguhan punya urusan penting dirumahnya, ia hanya tak ingin terlibat perdebatan anak kecil.Hampir 2 jam kami tepatnya aku dan Jya habiskan dengan berdebat. Kami sama-sama punya ide dan prinsip yang kuat. Aku dengan ide cafe sedangkan Jya dengan ide pertunjukan akustiknya. "Apa bagusnya akustik? Yang ada nanti orang-orang tertidur!" Kataku sambil menyilangkan tangan."Sudah-sudah kita lanjutkan esok saja." Kata sekretaris kelas, Aditya."Bener kata Adit lanjutin aja besok ngocehnya." Ujar Jya."Yang ngoceh siapa?! Kamu juga dari tadi komen-komen ga jelas!" Dita semakin jengkel tapi ia tetap memasang senyuman.***"Jadi cowok kok gitu banget, ngidam apa tuh emaknya. Sok-sokan nama disingkat jadi Jya. Idih ganteng juga engga!" Perjalanan ke parkiran sepeda Dita habiskan dengan mengata-ngatai musuhnya Jya."Bukan aku yang kasi nama itu, tapi anak-anak yang nyingkat." Suara ini, Jya! Dita cepat-cepat menoleh, orang yang ia caci maki ada dibelakangnya."Se-sejak kapan?""Dari tadi." Kata Jya dan berlalu begitu saja melewati Dita. Jadi Jya dengar semuanya?"Jo! Aku bisa jelasin, tadi aku bukan ngomongin kamu. Aku cuma.. engh..." Dita mencegat Jya dan berusaha mencari alasan."Cerewet banget sih! Dasar cewek centil." Apaaaa katanya?!!!?!"Yang lu panggil cewek centil siapa?!""Siapa lagi kalo bukan lu?" Jya menyentuh pundak Dita dengan telunjuknya dan pergi begitu saja."Gue?! Bener-bener lu ya! Dasar engh.. Robot! Ya, dasar Robot!" Dita hanya bisa meneriaki Jya yang sudah berjalan menjauh.***"Apa-apaan tu cewek, berani-berani nya ngata-ngatain orang didepan orang nya langsung. Ga punya otak tu, ga punya malu, dasar! Atau dia sengaja? Kenapa gue ngatain dia ya tadi? Arrggggg bodo amat!" Pinta Jya dalam hatinya sambil mengayuh sepeda sportnya."Aku pulang~" Jya membuka pintu dan membuang tas nya begitu saja lalu beranjak ke dapur."Jya udah pulang? Aduh kok tasnya ditaro disini rapikan lah." Kata kakak Jya yang frustasi melihat tingkah adiknya.Jya hanya tinggal berdua bersama kakak laki-lakinya yang bernama Adam. Orangtua mereka tinggal diluar negeri dan hanya menengok beberapa tahun sekali. Adam sangat memanjakan Jya namun Jya sedikit acuh pada kakaknya."Gimana sekolahnya? Belakangan ini kamu pulangnya agak telat terus." Tanya Adam saat makan malam."Biasa-biasa saja, sebentar lagi akan ada festival jadi sedikit sibuk." Jawab Jya sambil mengunyah makanannya."Wahh festival ya? Pasti akan sangat meriah. Hey jangan terlalu fokus pada pekerjaanmu bisa-bisa nanti sakit. Sebentar-sebentar bermain lah bersama sebayamu, dengan pacarmu mungkin?" Adam berusaha menggoda adik kecilnya yang manis."Pacaran hanya buang-buang waktu. Seharusnya kakak sadar kenapa kuliahnya ga kelar-kelar, itu kan karena kakak terlalu banyak membuang-buang waktu hanya untuk pacaran.""Engh... ahahaha ter-ternyata adik kecilku sudah dewasa.." Adam sedikit terpojokkan dengan kata-kata adiknya.***Keesokan harinya mereka masih belum ketemu titik terang untuk festival sedangkan waktu terus berjalan. Jya makin frustasi saja ketika kakaknya tiba-tiba menelfon dan mengabari bahwa orangtua mereka berencana akan berkunjung dalam waktu dekat."Pokoknya kita pakai akustik." Kali ini Jya ga mau ngalah."Eh entar dulu yang lain kan belum tentu setuju.." kata Aditya."Bener kata Adit kita harus menyesuaikan juga sama keuangan." Kata bendahara kelas mereka."Waktunya tinggal beberapa minggu lagi kalo sampe sekarang ga tau mau buat apa yang ada nanti kita keteteran." Pernyataan Jya sedikit memancing amarah Dita."Terus lu mau kita nurutin gitu aja tanpa mempertimbangkan plus minus nya?" Jawab Dita tenang."Menurut gue ide cafe juga bagus tuh, secara keuntungannya udah pasti." Kata Aditya sambil tersenyum kearah Dita."Nyiahaha asik gue dapet pendukung." Ujar Dita dalam hati."Tapi kan akustik juga bagus." Kata anggota pengurus yang lain."Pasti deh mereka udah disogok sama Jya buat dukung dia, cih licik!" Ujar Dita lagi dalam hati."Kalo gitu gimana kalo kita gabung? Cafe dan live akustik kan belum pernah di SMA kita." Cetus Aditya"Engga engga engga gue ga setuju! Akustik ya akustik. Cafe ya cafe." Respon Jya sangat mengejutkan ia tiba-tiba berdiri dan sedikit berteriak."Ih sante dong jangan nge-gas. Yang mau idenya digabung juga siapa?" Jawab Dita sambil menyilangkan tangan."Terserah deh sama kalian pokoknya gue tetep akustik!" Jya pergi begitu saja meninggalkan anggotanya yang kebingungan."Idih lebay banget deh.." kata pengurus-pengurus yang lain."Udah-udah kita bubar aja deh mending, mungkin Jya lagi banyak masalah." Tutur Aditya."Iya lagi PMS tu anak." Celetuk Dita yang membuat semuanya tertawa.***"Kalo dipikir-pikir emang aneh sih. Kenapa Jya kekeh banget sama idenya emang yang main akustik nya siapa?" Ujar Dita dalam hati.Dita berjalan kearah parkiran sepeda dengan hati yang terasa hampa dulu rasanya tak begini. Apakah ia masih menyukai Jya? "Tentu saja tidak! Siapa yang mau sama cowok robot kayak gitu!" Kata Dita sambil menghentak-hentakkan kakinya.Beberapa menit kemudian titik-titik air jatuh dari langit, hujan gerimis dan disusul hujan deras yang memaksa Dita berteduh diemperan ruang olahraga."Hadeh ga bawa payung lagi, sial." Gerutu Dita sambil membersihkan bintik-bintik air di seragamnya.Tiba-tiba suara sesuatu jatuh ke lantai dari ruang olahraga yang membuat jantung Dita rasanya mau copot."Ha-halo apa ada orang?" Suara Dita bergetar karena ketakutan. Tidak ada jawaban, Dita pun memberanikan diri membuka perlahan pintu ruang olahraga yang besar.*krieeetttttt*Sangat gelap dan tiba-tiba sesosok manusia keluar dan berlari sangat kencangnya menerobos hujan deras. "Orang itu pasti benar-benar gila menerobos hujan deras seperti ini, dasar idiot." Kata Dita.Tapi apa yang orang itu lakukan diruang olahraga, karena penasaran Dita menyalakan lampunya. Tidak ada yang aneh, tapi ada payung tergeletak dilantai. "Mungkin orang itu menjatuhkannya, tapi kenapa ia lebih memilih menerobos hujan dari pada menggunakan payung itu, benar-benar idiot!" Kata Dita sambil menghela nafas.Ia memutuskan untuk menggunakan payung itu untuk pulang dan akan mengembalikan nya keesokan harinya.Saat perjalanan pulang Dita tak henti-hentinya memikirkan sosok misterius itu, payung yang ia jatuhkan ukurannya hanya cukup untuk satu orang, berwarna terang dan bertuliskan huruf asing sepertinya huruf jepang. Dita tak bisa membacanya, mungkin pemiliknya adalah seorang otaku .***Keesokan harinya Dita sudah memutuskan untuk melupakan perasaannya pada Jya ia lebih memilih hidup tenang dari pada harus menyukai orang seperti Jya yang susah ditebak.Hari itu berjalan cepat Dita bahkan tidak sadar kalau Jya tidak masuk karena sakit, pak Bambang menugaskan Dita untuk mengantarkan tugas dan pr kerumah Jya sebagai wakil ketua kelas yang bertanggungjawab ia sanggup mengemban tugas ini sendiri walau itu memaksanya kerumah musuhnya."Si robot itu pasti hujan-hujan an kemarin, seperti orang yang meninggalkan payung ini hanya untuk menerobos hujan. Mereka sama-sama bodoh!" Kata Dita sambil berjalan di lorong kearah ruang olahraga."Eh Dita kamu mau ke ruang olahraga?" Sapa Aditya yang berlari dari arah belakang Dita dan kini mereka sejajar."Oh ini mau balik in payung orang, kamu tau ga ini punya siapa?" Tanya Dita sambil menunjukan payung otaku itu."Oh ini sepertinya punya Jya, aku melihatnya membawa payung ini beberapa kali."Dita sedikit terkejut jadi orang bodoh itu si robot! "Okay makasi dit!" Dita langsung berlari begitu saja meninggalkan Aditya."Baik lurus sedikit lagi, rumah nya nomor 14.." Dita memperhatikan denah rumah Jya yang diberikan pak Bambang dengan seksama."Ah ketemu!" Seru nya ketika menemukan rumah sedang bernomor 14 dengan tulisan 'ANWAR' dibawah nomor rumahnya.Dita mengetuk beberapa kali pintu coklat rumah Jya. "Sebentar..." suara pria dewasa dari balik pintu membuat Dita sedikit terkejut."Halo ada yang bisa dibantu?" Sosok pria berusia kisaran 20-an membuka pintu dengan senyuman yang familiar."E-e.. ini mau bawain tugas buat Jo." Dita sedikit gugup."Wah jarang sekali teman perempuannya kerumah, masuklah." Dalam hati Dita bertanya-tanya siapa pria ini? Ia sangat ramah berbeda dengan Jya.Dita masuk dan membuka sepatunya dan menatapnya dengan rapi."Aku kakak Jya, panggil saja Adam. Naik aja langsung Jya ada dikamarnya." Dita sedikit tidak percaya kalau pria ini adalah kakak kandung Jya si robot."Ba-baiklah." Apa tidak apa-apa perempuan masuk ke kamar seorang anak laki-laki?Sampailah Dita didepan pintu dengan stiker basket dan poster pemain basket yang besar, ia sangat yakin itu kamar Jya. Dita mengetuk beberapa kali namun tak ada jawaban, "jangan-jangan Jya pingsan didalam tapi ga ada yang tau?!" Ujar Dita dalam hati karena ia tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu kamar Jya.Betapa terkejutnya ia melihat kamar laki-laki itu, ekspektasi nya sangat berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia lihat. Kamar Jya sangat rapi dan bersih bahkan kamarnya kalah rapi. Didominasi warna putih membuat kamarnya begitu terang dan menyegarkan.*tingnongggg""He? Suara apaitu?" Gumam Dita. "kayaknya dari sini." Lanjutnya, Dita menghampiri laptop yang masih hidup dengan tanda notifikasi di layarnya bertuliskan ' anda mendapat pesan 'Dengan polosnya Dita membuka pesan itu, dan sepertinya pesan itu mengantarkannya pada sebuah dinding akun didunia maya. "Akun apa ini?" Dita memeriksa akun itu beberapa saat dan menemukan ID nya. "Hm ini akun bahas apa ya? Ga ngerti." Akhirnya Dita menyerah dan memilih untuk meninggalkan laptop itu.Dita beranjak dan sibuk melihat-lihat, kini ia berada ditengah-tengah kamar seorang laki-laki yang ia benci, jujur ia merasa sedikit kalah. Ia sangat semua interior nya namun ada satu objek yang mengganggu matanya, sebuah rak buku dengan warna mencolok yang bahkan Dita pun tak tau warna apa itu karena susah di deskripsi kan.Dita berjalan mendekati rak buku besar itu, isinya sangat full bahkan tak sedikit bukunya yang melimpah ruah dibawah dekat rak itu. "Sepertinya ia begitu menyukai buku ini." Dita menarik satu buku itu dan membukanya, dan ternyata itu sebuah komik. "Bagaimana bisa robot itu ternyata seorang kolektor komik. Eh? Apa ini?" Katanya dan menemukan kertas terselip di komik itu, bertuliskan 'aku sangat suka adegan ini, sampai-sampai terbawa mimpi. Aku harap kelanjutannya sesuai ekspektasi ku, i <3 shoujo manga'Dita tak bisa menahan tawanya saat sadar kalau itu adalah tulisan Jya! "Buset lucu banget!! Harus diabadikan ini." Dita memotret beberapa foto dengan hpnya sambil menahan tawa.Tiba-tiba terdengar suara orang membuka kunci pintu, Dita segera menoleh. Sosok itu membuat matanya terbelalak, itu Jya! Ia hanya menggunakan handuk untuk membalut bagian tubuh bawahnya."Astaga!" Dita cepat-cepat menutup matanya, ini sangat memalukan."Apa yang kau lakukan di kamar ku?!" Bentak Jya."A-aku hanya mengantar tugas tapi kakak mu menyuruhku ke kamar mu." Kata Dita masih menutup matanya dengan tangannya."Kenapa tak tunggu diluar saja!" Jya cepat-cepat mengambil baju semacam kimono untuk mandi dan memakainya lalu menghampiri Dita."Abis nya kamu ga jawab sih aku kira kamu kenapa-napa di dalem jadi aku masuk buat mastiin!" Dita tak menutup matanya lagi dan sedikit kaget karena mendapati Jya sudah berdiri di depan nya. Bisa dibilang sangat dekat karena Dita bisa mencium bau shampoo Jya dengan jelas."Apa yang kau lakukan dengan itu?" Suara Jya sedikit menakutkan walau pelan, ia juga menunjuk komik yang Dita pegang. Sontak Dita meletakkan nya kembali dan mengunci layar hpnya."Kamu habis ngapain tadi pake hp?" Tanya Jya lagi. Dita sangat benci nada suaranya terdengar sangat mengerikan."Bu-bukan apa-apa." Dita menyembunyikan hpnya dibelakang punggung nya."Jangan bohong kemarikan hp mu." Tangan Jya yang panjang hampir sanggup menggapai hp Dita. Dita cepat-cepat berkelit namun Jya semakin lincah saja mengikuti gerakan Dita."Jya hentikan!" Tiba-tiba Dita tersandung dan tak dapat menahan keseimbangan, ia jatuh ke belakang dan Jya yang mengejarnya tak bisa berhenti tiba-tiba akibatnya ia pun terjatuh juga.Mereka berdua terdiam di posisi yang sangat canggung ini, Dita tergeletak dilantai kamar Jya dan Jya menahan tubuhnya diatas Dita dengan kedua tangannya berusaha sekeras mungkin untuk tak menindih Dita.*tok tok*"Kenapa kalian ga turun-turun?" Suara itu! Adam membuka pintu setelah mengetuk nya dan hanya terdiam saja mendapati adiknya yang pertama kali dapat kunjungan dari seorang perempuan, adik kecilnya yang kini sudah benar-benar dewasa."Maaf sepertinya aku mengganggu, si-silahkan lanjutkan. Hehe-" Adam menutup pintunya perlahan. Jya langsung bangun dan keluar kamar dengan membanting pintu."Astaga tuhan apa yang baru saja terjadi, jantung kuberdetak sangat kencang, perutku rasanya aneh, dadaku sangat sesak. Aku kenapa??" Dita memegangi pipinya yang merah padam.Beberapa saat setelah menenangkan diri Dita berusaha menuruni anak tangga dengan lemas. Ia mendapati Adam dan Jya saling berhadapan dengan wajah serius mereka, "aku akan kena masalah besar!" Batin Dita. Jya berbalik dan melewati Dita begitu saja."Nama kamu Dita kan? Pasti kamu syok banget, maaf tadi aku sedikit salah paham. Tapi tenang Jya udah jelasin semuanya kok." Jelas Adam dengan senyuman yang sangat familiar."Iya kak, aku pamit pulang ya." Dita tak punya apa-apa untuk dijelaskan ia hanya ingin pulang."Eh? Padahal aku sudah masak banyak, tinggalah untuk makan malam ya sebagai permintaan maaf ku." Adam membuat ekspresi kecewa yang membuat Dita semakin tidak enak, akhirnya ia setuju untuk makan malam disana.***"Wah hebat ya Dita jadi wakil ketua!" Puji Adam saat makan malam. Jya tak banyak bicara ia hanya diam dan mengunyah makanan ya dengan tenang."Ah biasa aja kak." Dita masih sedikit tak percaya kalau Jya dan kak Adam itu saudara kandung."Kamu lahir tanggal berapa?" Tanya kak Adam."Tanggal 24 Desember" jawab Dita."Pas sekali kamu lebih besar dari pada Jya." Mendengar kata kakaknya Jya sedikit terkejut dan berhenti mengunyah."Maksud kakak?" Tanya Dita heran."Jadi waktu kecil Jya kira aku ini perempuan karena saat aku SD rambutku sedikit panjang dan mama suka jepit rambut ku. Saat beranjak ke SMP aku harus memotong rapi rambutku, tapi tiba-tiba saja Jya menangis dan tak mengenaliku. Rasanya sangat sedih melihat wajah manisnya yang berlinang air mata, ia bahkan memaksaku menggunakan rok saat dirumah. Apa boleh buat? Aku sangat sayang adik kecilku jadi aku menurutinya. Tapi sekarang sudah ada Dita yang bisa Jya anggap kakak perempuan sungguhan. Haha-" mendengarnya Dita hanya bisa terdiam dan tak menyangka Jya yang begitu dingin dan dewasa ternyata begitu manis."Kakak hentikan kau membuatku malu!" Jya tampak marah karena ia berdiri dan langsung pergi ke kamar nya."Haahhh.. Jya memang seperti itu, susah diajak bercanda. Tapi sebenarnya ia orangnya sangat perhatian. Kata Adam. Dita jadi ingat kejadian kemarin Jya meninggalkan payungnya diruang olahraga begitu saja atau sengaja meninggalkan nya untuk Dita?***Setelah membantu beres-beres sedikit Dita pun pamit namun Adam menyuruh Jya untuk mengantar Dita karena sudah malam.Hampir sampai rumah Dita, mereka berdua tak bicara sama sekali. Jelas ini sangat mengganggu Dita apalagi mengingat apa yang terjadi dikamar Jya membuat jantungnya berdetak kencang lagi."makasi udah nganter aku pulang." Kata Dita didepan rumahnya."Hm." Jya hanya menjawabnya dengan gumaman dan pergi.***"Astaga kepala ku rasanya mau meledak!" Kata Jya sambil mengacak-acak rambutnya saat perjalanan pulang. Ia sangat frustasi ketika tiba-tiba muncul sosok Dita di pikirannya. Terlebih lagi kejadian di kamar nya.Jya sedikit memperlambat langkahnya saat melewati sebuah cafe kecil didekat rumahnya. Melihat pengunjung yang terus berdatangan dan pelayan-pelayan yang sibuk. Orang-orang tertawa bersama dan berbincang dengan asiknya didepan secangkir minuman dan beberapa kue kecil. "Mungkin ide cafe tak terlalu buruk.." ujar Jya dalam hati. Ia kembali melanjutkan langkah nya.***Keesokan harinya Dita menghampiri Jya yang sedang duduk sendiri di bangku nya sambil mendengarkan lagu dari hpnya."Bisa kita bicara diatap sekarang?" Kata Dita setelah membuka paksa headset Jya dari telinganya dan kemudian pergi begitu saja."Apa-apaan dia?!" Ujar Jya dalam hati sambil menghela nafas kesal. Jya pun menyusul Dita ke atap gedung sekolah.Sesampainnya terlihat sosok Dita bediri dan melihat kearah langit yang sangat cerah hari itu. "Kenapa?" Tanya Jya."Aku mau buat perjanjian." Jawab Dita. Ia punya rencana yang sudah dipikirkannya semalam suntuk."Perjanjian apa?""Ingat ini?" Dita menunjukan foto di hpnya. Itu foto catatan kecil dikomik Jya."Cepat hapus itu!" Jya mulai gelisah."Tenang aja aku ga akan sebar, asal kamu mau jadi budakku selama SMA. Gimana?" Dita kini tersenyum, senyuman itu senyum kemenangan."Kamu gila ya?! Sini in hp kamu sekarang!""Eittts.. kalo kamu berontak aku siap sebar kegrup kelas sekarang. Kamu ga mau kan?" Kata-kata Dita ada benarnya."Budak?! Aku ga mau jadi budakmu!""kamu cuma perlu nurutin apa yang aku mau aja kok, susah amat ya? Pertama ini masalah ide festival, aku mau kamu setuju pake ide cafe. Kedua kamu ga boleh dingin sama aku. Ketiga... aku belum pikirin pokoknya kalo ngebantah aku sebar aib kamu." Jelas Dita. Jya sangat bingung apa yang harus ia lakukan? Jadi budak? Yang benar saja! Tentu saja tidak. Tapi bagaimana dengan foto catatannya itu?Jya menarik nafasnya dalam-dalam dan memegangi kepalanya yang berkeringat lalu berkata, "baiklah.""Wah?! Serius?? Asik!! Okay pokoknya sekarang aku panggil kamu Jya. Karena kita sudah deal, dan tanpa sepengetahuan mu aku udah rekam sejak tadi. Kita resmi jadi budak dan majikan. Ayo kita balik kekelas! Hahaha-" Dita tampak sangat puas dan sepanjang jalan kekelas ia hanya tertawa sedangkan Jya berusaha menyusun rencana untuk mencuri hp Dita, tapi mustahil karena Dita menaruhnya disaku bajunya.***Bel istirahat terdengar seperti angin segar ditelinga siang itu, tapi tidak begitu pada Jya. Ia sangat sibuk mengurus data pengumpulan tugas teman-temannya."Jya kantin yuk?" Ajak teman akrab Jya, Doni."Ga bisa, ada urusan." Jawab Jya tenang."Oke deh."Kemudian Doni meninggalkan Jya sendirian."Aneh si Jya tumben ga mao gue ajak ke kantin, apa dia marah sama gue? Atau jangan-jangan dia punya temen baru?" Batin Doni seperjalanan ke kantin sendirian.Semantara itu dikelas, Dita menghampiri Jya dan berkata, "Jyaaa? Kantin yuk!""Gue ga bisa, lagi sibuk." Jawabnya ketus. Dita udah tau Jya bakal lupa kalo dia budaknya sekarang jadi Dita udah siapin kejutan buat Jya."Anterin atau gue sebar?" Dita mengeluarkan sesuatu dari sakunya, bukan hp melainkan sebuah foto."Lu niat banget ya sampe dicetak segala. Lu pikir gue bakal takut?""Oh kamu mau aku sebar? Okay, ehhh... semua wakil ketua punya pengu-" Sorak Dita.Sontak membuat Jya panik dan menutup mulut Dita dengan tangan besarnya. "Oke gue anter ke kantin." Ujar Jya pelan kemudian melepas tangannya."gitu dong dari tadi." Dita berhasil menyeret Jya ke kantin bersamanya. Di perjalanan Dita tertawa puas melihat ekspresi fans-fans Jya yang kecewa, dan banyak juga cowok-cowok yang naksir Dita seketika mundur setelah menyimpulkan bahwa saingan mereka adalah seorang Jya.***Pulang sekolah mereka berdua menghadiri rapat pengurus untuk menentukan ide festival beberapa minggu lagi. "Aku tetep cafe, ketua kelas gimana?" Kata Dita sambil mengedipkan mata pada Jya."Baiklah kita gunakan ide Aditya saja." Jawab Jya. Karena itu satu-satunya cara untuk menegakan keadilan.Akhirnya konsep festival sudah diputuskan.***Lama kelamaan Jya mulai terbiasa dengan rutinitasnya bersama Dita. "Pr Kimia belum buat lagi, astaga!" Kata Dita sambil menepuk jidatnya. "Lu sibuk banget ya sama rencana festivalnya?" Respon Hawa."Ya gitu deh, tapi gue tenang tinggal suruh Jya aja yang ngerjain nyiahaha." Jawab Dita sambil mencari buku Pr nya ditas."Eh! Buku Pr gue kemana?! Lu ada ngambil ga?" Tanya Dita sambil mengguncang bahu Hawa."Eh buset Dit. Cari yang bener dulu baru nuduh.""Eh sumpah ga lucu ya Wa!""Gue ga ada ngambil tau!"Beberapa saat kemudian Jya datang menghampiri Dita dan Hawa yang sibuk celingak-celinguk mencari-cari sesuatu."Kalian ngapain?" Tanya Jya sambil membenahi posisi kacamatanya dengan telunjuk."Jya... buku pr gue ilang." Kata Dita dengan ekspresi sedih.Jya memukul pelan kepala Dita dengan sebuah buku tipis dan berkata, "nih buku lu.""wah bener! Makasi ya Jya! Lu emang penyelamat gue!" Jawab Dita girang sedangkan Hawa yang merasa dirugikan pergi meninggalkan mereka berdua."Sekalian kerjain Prnya dong. Oiya lu ketemu dimana?" Lanjut Dita."Gue ambil ditas lo tadi. Udah gue kerjain kok." Jya menepuk kepala Dita pelan dan kemudian berlalu."tumben-tumbennya dia ada inisiatif, biasanya juga disuruh dulu baru dikerjain. Tapi gapapa, ya lumayan hemat tenaga." Ujar Dita dalam hati.***Sepulang sekolah Jya langsung mengantar Dita pulang dan kembali lagi kesekolah untuk bermain basket bersama rekan satu tim nya. Kebetulan Doni juga rekan satu timnya dibasket."Lu belakangan ini sibuk banget ya?" Tanya Doni sambil mengipas-ngipas tubuhnya yang berkeringat."Gara-gara festival udah deket.""Festival aja?""Maksudnya?""Ya siapa tau ada hal lain yang buat lu sibuk. Cewek mungkin?""Gue lagi ga pengen nyari cewek Don.""Apa?! Lu lagi pengen nyari cowok dong? Plis jangan gue!""Paan sih!? Maksudnya gue lagi ga pengen pacaran.""Oh gue kirain mau banting stir.""Yagalah gue masih normal ga kayak lo menyimpang." Jya langsung berdiri dan merebut bola dari pemain lain lalu melakukan shoot three poin nya."Entah kenapa gue makin curiga." Batin Doni.***"Jyaaaa bangun!!" Adam berusaha membangunkan adiknya yang masih tertidur pulas."Kak ini hari minggu!" Bentak Jya setelah beberapa saat sebelumnya tarik menarik selimut dengan Adam."Kamu dicariin tuh sama Dita, cepet cuci muka sana.""Mau apa lagi tuh cewek?!" Ujar Jya dalam hati nya yang panas pagi itu. Jya berdiri kemudian beranjak kekamar mandi. Sedangkan Adam membereskan tempat tidur adik kesayangannya."Mau apa?" Tanya Jya pada Dita yang terduduk dibangku taman belakang."Pagi Jya!" Dita menoleh kebelakang dan tersenyum. Jya tampak terpelongo melihat senyuman Dita, mungkin karena ini pertama kalinya Jya melihat Dita benar-benar tersenyum kearahnya."Lu mau apa kesini?" Kata Jya setelah hening beberapa saat."Pagi?" Dita memiringkan kepalanya kekanan dengan ekspresi yang sangat manis."Iya-iya pagi. Kenapa pagi-pagi kesini?""Hihi engga cuma mau ngajak kamu jalan-jalan aja kok. Belakangan ini aku liat kamu kayaknya kecapekan banget.""Kamu seharusnya tau kenapa aku capek.""Aku tau kok festival udah deket. Tapi kamu juga perlu yang namanya refreshing."Jya berjalan pelan mendekati Dita dan duduk disebelahnya. Menatap Dita dengan tajam dan menepuk kedua pundaknya dan berkata, "dasar ga tau diri.""A-apa?" Wajah Dita memerah karena Jya yang sangat tidak terduga."Akh.. emang nya kamu mau ajak aku kemana?" Jya melepas tangannya lalu berdiri dan sedikit melakukan peregangan pada tangannya."Tadi maunya aku ajak kamu ke cafe sekalian nyari referensi dekor festival nanti. Tapi kalo kamu ga bisa gapapa kok." Dita akhirnya sadar sebenarnya yang membuat Jya lelah bukan hanya pekerjaannya sebagai ketua kelas melainkan permintaannya selama ini.Mungkin ia sedikit kejam selama ini, bayangkan saja hanya karena cinta tak dibalas. Dita sampai-sampai mengancam Jya dengan barang pribadinya sendiri."Aku free kok." Jya menatap Dita dengan senyuman, mata mereka bertemu dan seakaan ada sihir yang membuat Dita enggan melepas pandangannya pada bola mata Jya yang sedikit terhalang biasan cahaya kaca matanya.***"Aku mau pulang." Kata Jya setelah melihat antrean pengunjung didepan sebuat cafe terkenal."Ehh? Baru aja sampe.""Kalo sepanjang ini, kapan masuknya? Cari cafe lain saja." Jya meninggalkan barisannya dan Dita yang tampak kesal."Kita mau kemana sih?" Keluh Dita yang tertinggal dibelakang Jya yang berjalan sangat cepat."Ga usah banyak omong, ikutin aja." Seperti biasa Jya sedikit kasar pada Dita.Mereka akhirnya sampai disebuah cafe kecil dekat rumah Jya. Interiornya sangat sederhana dan ringan, walau sangat sederhana namun terkesan classic. Sangat cocok dengan tema cafe mereka kali ini.Dita memesan pake lunch dan Jya hanya memesan ocha. Dita baru tau ternyata Jya tidak terlalu suka makan diluar. Ia sangat menghargai kakaknya yang setiap hari memasak untuknya.Selagi menunggu pesanan mereka datang, Jya membicarakan seputar akustik band yang akan tampil saat festival nanti.Tanpa disengaja Doni lewat didepan cafe itu dan melihat Jya sedang asik mengobrol dengan seorang perempuan.Doni yang hendak kerumah Jya, jelas mengurungkan niatnya dan berencana memata-matai mereka. Doni memasuki cafe itu dan duduk agak jauh dari Jya namun ia masih bisa melihat jelas sahabatnya itu."Tu kan bener Jya punya kecengan." Ujar Doni."Selamat siang mau pesan apa?" Seorang pelayan menghampiri Doni dengan ramah."Mbak itu pelanggan yang disana mereka pacaran ya?" Entah apa yang Doni pikirkan. Ia hanya penasaran setengah mati."Engh.. saya rasa begitu.""Apa mereka sering kesini?" Gerak-gerik Doni sudah seperti seorang detektif saja."Saya kurang tau, jadi mau pesan apa?""Nanti saja.." Pelayan itu tampak kecewa lalu beranjak.***"Wahh ini enak sekali!" Kata Dita setelah mencicipi pesanannya. Jya nampak sangat menikmati teh nya, sedangkan Doni masih memata-matai mereka berdua dan sesekali berpindah tempat."Jya kamu harus coba ini.""Iya kapan-kapan.""Nih coba deh dikit." Dita menyendok makanannya dan hendak menyuapi Jya."Engga usah.""Dikit aja, ayo aaa.."Jya akhirnya menyuapnya dan mengunyah dengan sangat pelan. "Gimana enak kan?""Hm enak sekali." Dita bisa melihat jelas raut wajah Jya yang malu-malu tapi mau untuk mengungkapkan jika makanan ini memang enak.Doni tampak sangat tak percaya apa yang ia lihat barusan. Doni kemudian ingat Jya pernah bilang bahwa ia sedang tak ingin pacaran. "Dasar munafik!!" Kata Doni yang sedang menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya."Apakah anda ingin memesan sekarang?" Pelayan yang tadi datang lagi menghampiri Doni yang berpindah-pindah tempat."Enggak!" Bentak Doni kemudian pergi keluar cafe itu.***Doni terduduk sendirian disebuah taman dekat kompleks rumahnya. "Gue ga nyangka Jya udah pinter boong sekarang." Mulai terdengar isakan Doni, ia merasa sangat dihianati oleh sahabatnya."Padahal kalo gue ada apa-apa, pasti ceritanya kedia. Kenapa dia engga? Jangan-jangan dia ga anggep gue sabagai sahabatnya dari dulu." Doni mengusap air matanya dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.Sementara itu..Dita dan Jya sudah selesai dengan urusannya di cafe itu, dan memutuskan untuk pulang. Jya mengantar Dita sampai didepan rumahnya."Makasi ya udah nganterin." Kata Dita dengan senyuman."Hm."Dita berbalik dan membuka pintu rumahnya, namun ia tak kunjung masuk. Jya masih menunggunya untuk masuk kerumah. Dita menutup kembali pintu rumahnya dan kembali menatap Jya."Hei.. menurut kamu aku itu gimana sih?" Dita memberanikan dirinya untuk menatap Jya."Eng-""Stop! Ga usah dijawab, ga jadi!" Cegat Dita kemudian ia berbalik, masuk kedalam rumah dengan terburu-buru, dan membanting pintu.Jya hanya terdiam dan melangkahkan kakinya menjauhi rumah Dita.***Keesokan harinya saat pulang sekolah Jya sudah standby didepan kelas menunggu Dita yang masih beres-beres didalam kelas."Eh sebelum pulang aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Kata Dita saat mereka sudah berjalan berdampingan."Ngomong apa?""Kita ke atap yuk.""Yaudah."Akhirnya mereka berdua berjalan ke atap tanpa berbicara sepatah kata pun. Sesampainya disana mereka berdiri berhadap-hadapan, tampak jelas ekspresi gugup diwajah Dita. Jya hanya bersender malas pada pintu atap."Emm.. Jya pertama gue mau minta maaf. Gue sadar selama ini gue terlalu kekanak-kanakan. Ga seharusnya gue ngancem-ngancem lo kayak gini, gue bener-bener minta maaf. Gue harap lo mau maafin gue, gue juga bakal hapus semua aib lo. Sebenernya dari dulu gue pengen akrab sama lo, gue-"Belum selesai Dita mengungkapkan semuanya, tiba-tiba Jya menarik tangannya dan menekan bahu Dita, mengarahkannya kepintu atap. Kini mereka bertukar posisi.Jya menatap mata Dita sekejap lalu dengan cepat mencium bibir tipis Dita. Ciuman mereka hanya bertahan beberapa detik, karena Dita mendorong Jya menjauh.Wajah Dita memerah dan ia tampak terkejut setengah mati, Dita hanya menutupi mulutnya dengan tangan lalu membuka pintu atap dan bergegas menuruni anak tangga."Kenapa Jya cium gue?! Kenapa dia udah berani cium gue?! Dasar cowok bejat! Dasar!" Ujar Dita dalam hati, ia berlari sekuat-kuatnya sekencang-kencangnya. Ia tak ingin ada yang melihatnya menangis.Sementara itu Jya yang melihat ekspresi Dita langsung terduduk lemas. "Tadi kenapa gue cium dia?" Jya memegangi kepalanya kemudian kembali bangkit dan berusaha agar tidak pingsan saat menuruni anak tangga.***Kak aku pulang.." kata Jya saat sampai dirumah."Jya cepet sini kakak lagi skype-an sama mama." Jawab Adam dari ruang tamu."Kakak aja aku lagi capek." Jya melempar tasnya kelantai dan berjalan sempoyongan menuju kamarnya.Adam segera mengakhiri panggilannya dan memeriksa adiknya yang terdengar sangat lesu. "Astaga Jya! Kamu kenapa!" Adam mendapati adiknya terduduk didepan pintu kamarnya dengan wajah pucat."Aku gapapa kok.""Ga papa apanya? Kenapa kamu lemes gini sih?" Adam membantu adiknya berdiri dan masuk kekamar."Aku juga ga tau sebenernya aku kenapa.""Gimana bisa ga tau kan kamu yang bawa badannya. Disekolah kamu main basket sama superman?" Adam menggoda adiknya yang berusaha mengganti bajunya."Kak aku bener-bener ga tau. Intinya aku capek banget hari ini." Jya menyerah membuka kancing bajunya karena kepalanya sudah pusing dan matanya kunang-kunang. Ia terduduk lemas dikasurnya.Adam kemudian duduk disebelahnya dan membukakan kancing baju adiknya dan berkata, "kakak udah sering bilang jangan capek-capek. Sekali-sekali kamu tu harus istirahat, besok kamu jangan sekolah aja ya? Papa mama juga mau pulang besok. Kita sekeluarga dirumah aja, oiya gimana kalo kita undang Dita buat makan malam lagi?""Engga!" Jya mencengkram tangan kakaknya yang sedang membuka kancing baju sekolahnya. "Maksudku jangan dulu kak, Dita pasti punya kesibukan juga." lanjut Jya yang cengkramannya mulai melemas."kalian berantem ya?" Tanya Adam yang awalnya sangat terkejut."Enggak lah."Setelah membuka semua kancing baju adiknya, Adam menatap Jya lalu tersenyum dan mengusap rambut adiknya. "Kalian lucu banget." Lalu berjalan keluar kamar Jya.***"Dit kok lu diem aja dari tadi pagi?" Tanya Hawa yang merasa janggal dengan sikap temannya."Wa, kalo ada cowok yang cium kamu tanpa alasan itu artinya apa?""Hah?! Lu ciuman sama siapa?!""Engga bukan gue, kan cuma nanya.""Oke deh oke. Menurut gue tu cowok nafsuan.""Nafsu???""Eh engga deh becanda, pasti ada alasannya ga mungkin banget tiba-tiba nyium tapi ga tau kenapa.""Kira-kira kenapa ya?""Nah itu nafsu mungkin salah satunya.""Hawa!""Ahahaha becanda-becanda. Terus abis dicium reaksi lu gimana?""Gue langsung dorong dia.""Tukan lu yang ciuman, lol."Dita menutup mulutnya dengan tangan dan menatap Hawa yang berhasil membongkar semuanya. Hawa tersenyum jahat dan mau tidak mau Dita menceritakan semuanya."Oke gue ambil kesimpulan dari cerita dramatis dan bertele-tele tadi. Ada dua kemungkinan, pertama dia suka sama lo yang kedua dia nafsu sama lo.""Gue ga abis pikir deh, dan sekarang orangnya malah ga masuk. Dasar ga gentle.""Jadi sekarang lu maunya apa? Lanjutin ciuman yang tertunda itu?""Apaan sih ya engga lah. Dia harus minta maaf.""Abisnya lu kayaknya nyariin dia banget, tadi gue nanya Doni katanya Jya izin soalnya nyokap bokapnya mau pulang.""Bodoamat deh Wa, yang penting tu robot harus minta maaf sama gue!""Bilangnya ga peduli tapi dicariin, hadehhh." Ujar Hawa dalam hatinya.***Jya hanya berbaring dikasur panjangnya yang terbalut sprai putih bersih, dikelilingi bantal-bantal kecil yang membuatnya nyaman sementara kakaknya sibuk membersihkan rumah dan menyiapkan makan siang.Jya terus saja ingat kejadian kemarin, ciuman pertamanya yang sangat memalukan. Bagaimana tidak memalukan? Ciuman pertamanya ditolak dan itu membuatnya demam sekarang. Ditambah lagi, entah apa yang mengerakkannya kemarin sehingga mencium bibir Dita cewek centil yang telah memperbudaknya. Sangat tidak masuk akal.Jya tak tahan lagi dan memutuskan untuk curhat pada Doni, ia meminta Doni datang kerumahnya pulang sekolah.Dengan tangan kecilnya Doni mengetuk pintu rumah Jya, Adam segera membukanya dan mempersilahkan Doni untuk masuk."Bukannya bantuin kak Ad, lu malah males-malesan dimari." Celetuk Doni sambil ikut berbaring dikasur Jya."Gue ga enak badan.""Terus yang jemput nyokap bokap lu siapa?""Mereka naik taksi, entar malem sampenya. Eh Don gue mau cerita sesuatu, tapi lu jangan manfaatin gue ya.""Maksudnya manfaatin lu apa?""Ya misal gue udah ceritain ni, lu malah pake buat bahan anceman terus meres gue.""Ni cerita pasti lucu banget.""Ga lucu banget sih cuma agak 18+""Wah lu mimpi basahnya parah ya tadi malem makanya sampe ga masuk? Siapa ceweknya? Siapa?" Doni mulai bersemangat."Engga bukan, ini bukan mimpi. Janji dulu ga cerita ke siapa-siapa.""Iye-iye janji, cowok sejati tak ingkar janji."Jya menceritakan semuanya pada Doni yang sangat fokus menyimak setiap penggalan cerita Jya dan sesekali membayangkannya."Menurut analisis dan sedikit pengalaman gue sama cewek. Kalo reaksi Dita kayak gitu, ada dua kemungkinan. Pertama nafas lu bau, kedua dia malu soalnya lu bego banget ga bisa nyari timing yang pas. Segitu nafsunya lu sama dia.""Gue lagi stres, bisa ga stop ceramahin gue. Oke-oke gue yang salah, tapi gue bener-bener ga tau kenapa gue cium Dita pa-" belum selesai Jya berbicara tiba-tiba Adam masuk dan berteriak, "apaaaaa?! Kamu cium Dita?!"Sontak membuat Doni dan Jya terkejut dan saling tatap-tatapan, kemudian Doni langsung berdiri dan pamit meninggalkan Jya dan Adam."Coba jelasin ke kakak sebenernya apa yang terjadi diantara kalian?""Ga ada apa-apa kak, aku cuma-" lagi-lagi kalimat Jya dipotong"Apa? Cuma apa? Siapa yang ngajarin kamu cium-cium anak orang? Inget kamu itu masih kecil!" Mungkin ini kali pertamanya Jya melihat kakaknya begitu marah padanya."Aku tau, aku sadar, iya aku salah aku minta maaf. Tapi kakak masak ga pernah nyium cewek tanpa alasan?""Jangan kamu lempar pertanyaan sama kakak, itu memang salah kamu. Kamu harus minta maaf tapi bukan sama kakak tapi sama Dita." Adam keluar kamar Jya dengan sedikit membanting pintu.Jya memutuskan untuk meminta maaf pada Dita sore itu juga, ia bergegas bersiap-siap dan keluar rumah lewat akses rahasia nya yaitu keluar lewat jendela kamarnya dan berjalan perlahan diatas genteng rumahnya dan melompat bebas dihalaman samping lalu memanjat tembok untuk keluar.Ia berlari dengan kencang ditemani dinginnya udara senja. Sesampainya didepan rumah Dita, Jya menarik nafas panjang dan meneriakkan nama Dita. Beberapa detik kemudian jendela lantai dua sebelah kanan terbuka, itu Dita dengan ekspresi terkejut melihat Jya didepan rumahnya melambaikan tangan dengan keringat yang tumpah ruah. Dita segera turun dan menemui Jya."Kamu ngapain disini?!""Aku mau ketemu kamu." Nafas Jya masih gak beraturan"Iya mau ngapain? Mau mesum lagi?""Iya masalah mesum itu, aku bener-bener minta maaf. Aku ga bermaksud, aku tau pasti kamu sekarang berfikir kalo aku ini brengsek bejat atau apalah. Aku berani sumpah, aku juga ga tau kenapa aku pas itu cium kamu. Maaf ya?""Kamu pikir aku bakal langsung maafin kamu setelah apa yang terjadi kemaren dan kamu baru sekarang minta maafnya?""Kamu mau aku jadi budak kamu lagi aku gapapa, please Dita maafin aku.""Jya aku ga ngerti sekarang sama kamu, dulu kamu tu kayaknya benci banget sama aku sekarang kamu malah mohon-mohon. Aku kira km cium aku cuma buat ngancurin harga diri aku ternyata kamu bener-bener pengen ciuman ya pas itu."Jya hanya terdiam mendengar kata-kata Dita. Memang benar apa yang Dita katakan, itu semua seharusnya benar namun ada bagian yang keliru masalah menciumnya untuk menghancurkan harga diri semata.Dita meraih lengan baju kanan Jya dan berkata, "Jya kamu suka ya sama aku?"Rasanya seperti ada sebuah panah yang menusuk hati Jya, entah apa jawabannya tapi perasaannya menyatakan itu lah yang selama ini ia rasakan. Mengapa ia baru sadar sekarang?Dita cewek berparas cantik itu sebenarnya sudah menarik perhatiannya saat MOS namun perasaannya terkikis sedikit demi sedikit karena melihat saingannya yang begiu banyak dan ternyata sifat Dita yang sangat centil."Hey jawab.." lanjut Dita sambil menarik-narik lengan baju Jya."Aku...Suka sama kamu.""Iya aku suka sama kamu dari dulu, maaf baru bisa bilang sekarang, maaf selama ini aku bersikap seolah-olah benci sama kamu. Kamu mau kan maafin aku?"Dita tersenyum lebar dan tanpa ia sadari, Dita menangis tersedu-sedu dan berkata, "iya aku maafin kamu, walaupun kamu jahat banget sama aku selama ini."Jya menarik Dita untuk jatuh kepelukannya, mereka berpelukan diudara sore yang dingin dan tidak menghiraukan yang terjadi disekitar mereka. Dunia serasa milik berdua...........Berusaha untuk tenang itu sangat sulit, bagaimana tidak sulit? Orang yang sangat-sangat kau sukai menyatakan cinta padamu bahkan sekarang ia ada didepanmu dengan wajah yang sendu hampir menangis meminta maaf padamu.Jya aku benar- benar menyukai mu, bahkan sampai sekarang. Setelah semuanya yang kau lakukan padaku, kini aku sadar ciuman mu waktu itu mungkin saja mengisyaratkan sesuatu.Maaf kan aku juga terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Yang bisa ku lakukan sekarang hanya berusaha tenang dan membalah pernyataanmu..................................................................................................................*Stt...* It's Secret(Bagian dua)"Hari ini aku ga mau pulang!" Kata Dita semangat. Pegangan tangan mereka tak putus-putus dari kelas hingga parkiran sepeda."Lah kenapa?" Tanya Jya heran dan sontak menghentikan langkahnya dan mempererat genggaman tangannya."Aku mau nonton kamu main basket aja, abis bosan dirumah.""Eh ga boleh gitu dong nanti mama kamu curiga." Entah sejak kapan tepatnya namun sikap Jya mulai berubah sedikit demi sedikit. Dita pikir sikap dingin Jya memang bawaan dari lahir, ternyata tidak."Kalo gitu aku mau main dirumahmu aja, sekalian ketemu kak Dam.""Engga bisa Ditaku, mama papa aku lagi dirumah sekarang. Kalo kamu dateng nanti pasti ditanya macem-macem." Jya mencubit pipi Dita dan menjelaskannya secara detail, Jya belum siap memperkenalkan Dita dengan orangtuanya karena hubungan mereka belum berlangsung lama.Dita hanya cemberut dan mereka melanjutkan peejalanan. Tiba-tiba handphone Jya berdering dan itu panggilan dari Adam."Kenapa kak?.... Oh..... Apaaa?!?! Ga bisa gitu dong! Apa-apaan sih!...... Tapikan....... okedeh." Jya tampak kesal dan kebingungan."Dari kak Dam? Apa katanya? Kepo nihh." Dita berusaha menggali informasi."Iya kak Adam tadi yang nelfon, dan katanya papa mau aku ngenalin kamu ini terkait tradisi keluarga." Jya berusaha menjelaskannya dengan tenang, walau sebelumnya ia tampak sangat emosi."Tradisi keluarga? Apakah itu semacam pemujaan?""Engga-engga. Ini tradisi konyol keluaragaku sampai-sampai kak Adam sempat kabur dari rumah dan membawaku bersamanya. Tapi kalau dipikir-pikir tradisi itu ada benarnya juga.""Heyy cepat jelaskan tradisi macam apa itu? Kau membuatku ketakutan sekarang.""Kau akan tau ketika kau sampai. Percayalah bersiap-siap untuk tertawa."...Dita tampak canggung dan anggun pada saat yang bersamaan. Dengan turtle neck long dress dan rambut yang terurai ia menghadiri makan malam formal dihotel bintang lima. Di lobby seorang pria dengan jas menyambutnya, "Dita Sylan?" Tanya pria itu. Dita balas dengan anggukan pelan, "ikut saya.." perlahan langkahnya mengikuti pria itu kesebuah ruang privat.Disana tampak sepasang suami istri dan dua anak laki-lakinya tersenyum ke arah Dita seakan-akan ia lah bintang tamu yang sudah ditunggu-tunggu."Malam nona sylan." Kata pria yang terlalu muda untuk disebut ayah itu dibarengi sambutan tangan yang kokoh."Malam pak." Dita hanya membalas jabatan tangannya dan menjawab salam walau ia tak terlalu yakin memanghil ayah Jya dengan sebutan apa."Dita duduk sini ya, biar hadap-hadapan sana Jya." Kata wanita yang juga tampak muda, bahkan lebih muda sedikit dari ibu Dita.Dita duduk ditengah diantara ibu Jya dan kursi kosong disisi kirinya, kursi kosong itu akan diisi ibu Dita yang sedang dalam perjalanan. Ia akan datang terlambat karena ada urusan dikantornya.Beberapa menit mereka hanya mengobrol dan lebih mengenal satu sama lain, ayah Jya mendominasi peecakapan sedangkan Jya tak banyak bicara, tampaknya ia sama gugupnya dengan Dita.Ini acara formal pertama Dita dan terlebih lagi pertama kalinya ia makan malam bersama dengan keluarga pacarnya, Dita hanya berdoa agar semuanya berjalan lancar dan ibunya segera datang."Wah Dita ini bener-bener tipe om deh, ga salah Jya milih kamu dari beribu cewek yang om tawarin." Untuk panggilan om terasa sangat aneh."Permisi, maaf menunggu lama. Saya ibunya Dita, salam kenal." Akhirnya ibu Dita datang dan memperkenalkan diri juga meminta maaf dengan sedikit bungkukan. Berjalan dengan tenang kearah kursi kosong dan merapikan tatanannya. Kemudian tersenyum kearah yang lain, namun tidak pada ayah Jya.Mereka saling menatap untuk beberapa selang lalu kemudian ibu Dita kembali berdiri dan menarik tangan Dita, "ma ngapain narik aku?!" Kata Dita yang diseret kekuar ruangan, meninggalkan Jya dan yang lain kebingungan."Mama ga mau liat kamu sama mereka lagi!" Mereka memasuki taxi dan pergi meninggalkan hotel.Sementara itu, "Jya kamu ga bisa sama Dita lagi." Kata ayah Jya tenang."Loh kenapa pa?!""Pokoknya jangan! Sepertinya rencana papa harus dimajukan, besok kamu ikut papa ke luar negeri!""Papa ni kenapa sih! Tadi bilang suka sama Dita sekarang aku malah disuruh ikut papa sama mama!" Jya yang emosi pun berdiri, tampak Adam berusaha menenangkan Jya."Gausah membantah kamu, kalau papa bilang pergi ya pergi!" Kini ayah Jya juga emosi dan berdiri menunjuk-nunjuk anaknya."Papa jelasin ke aku sebenernya ada apa?! Aku ini bukan boneka papa yang harus nurutin segalanya! Nikah mudalah, tradisi lah, atau apalah itu!""Dita itu saudari kamu! Dita itu anak haram papa! Puas kamu?!""Apa pa?! Anak haram? Jadi dulu papa selingkuh?! Papa benar-benar keterlaluan, aku ga sudi punya papa kayak papa!!!" Kini sebuah rahasia telah terkuak, Adam pun tampak sangat terkejut dan terpukul. Namun berbeda dengan ibu Jya, mungkin ia sudah tau kebenaran itu jadi ibu Jya hanya bersikap tenang."Kurang ajar kamu!" Sebuah tamparan keras melayang dipipi kiri Jya. Seisi ruangan hening sesaat, lalu Jya tanpa sepatah kata pun pergi dari ruangan itu dan menghilang semalaman....Keesokan harinya Dita yang tidak tau apa yang terjadi hanya bisa meratapi makan malamnya berantakan karena ibunya yang tiba-tiba saja menyeretnya.Lama Dita menunggu sosok Jya datang, ia hendak meminta maaf atas kekacauan kemarin. Namun tampaknya hari itu Jya tidak sekolah.Sepulang sekolah Dita, Hawa dan Doni mencari kerumah Jya namun tampak kosong dan papan nama ditembok depannya hilang. Apa mungkin Jya pindah rumah begitu saja karena kejadian kemarin? Apa ia sangat marah pada Dita dan ibunya?Dita terus menghubungi Jya namun nihil, tak satupun bisa dihubungi. Dita hanya bisa menerima keadaannya sekarang, dimana mentarinya menghilang dan menyisakan awan mendung dihari-harinya....(12 tahun kemudian)Sepatu mengkilat dengan setelan jas rapi dan tak ketinggalan rambut klimisnya Jya disambut kakak tercintanya bersama anak dan istrinya ditanah air."Gimana perjalanannya?" Tanya Adam sambil mengacak-ngacak rambut adik kesayangannya."Sedikit melelahkan, namun tak semelelahkan penantian panjangku untuk kembali ke Indonesia. Aku akan segera menemui pujaan hatiku, kakak bawa saja barang-barangku. Aku akan pakai taxi." Jya dengan semangat berlari kecil menghampiri sederet taxi-taxi yang menunggu penumpang."Baiklah hati-hati dijalan, kami akan menunggu dirumah!" Teriak Adam.Jya tumbuh dengan baik dan sekarang ia sudah mapan, dan mantap menikah dengan satu-satunya kekasi pemilik hatinya, Dita. Ia hanya berharap Dita masih ada dikotanya, setelah bertahun-tahun berlalu mungkin saja ia sudah pindah rumah.Tapi bagaimana dengan status keluarga? Ternyata selama diluar negeri Jya juga mengurusi status kekuarganya, penantian panjangnya berbuah manis. Akhirnya ia terlepas dari kekuarganya dan tidak menyandang status ayahnya lagi, selain tercoret dari daftar pewaris ia juga harus sedikit mengganti namanya dari Jo Yusuf Anwar menjadi Jonnatan Yusuf saja, namun julukan Jya masih ia pakai.Kira-kira setengah jam berlalu ia kini sampai dirumah Dita, rumah yang merupakan saksi bisu pernyataan cinta Jya pada Dita dulu. Perlahan namun pasti Jya melangkahkan kakinya kedepan pintu dan menekan bel.Beberapa saat kemudian seseorang membuka pintu, dan ia lah yang sedang ditunggu-tunggu. Jya masih dapat mengenalinya, dari matanya garis bibirnya persis seperti dulu. Kini pujaan hatinya sudah besar sama sepertinya, inilah saatnya Jya menyatakan semuanya.Dita tampak terkejut dan hanya diam saja menatap tak percaya cinta masa SMA nya kembali menemuinya, persis saat ia ada dirumah. "J-jya?" Tanya Dita ragu."Iya ini Jya, aku sangat merindukanmu!" Bahasa keduanya menjadi baku karena sudah lama tak bertemu, Jya meraih tangan kekasihnya dan mengecupnya perlahan."Dita aku kembali kesini untuk menjemputmu, ikutlah bersamaku. Kini aku sudah memiliki semuanya, bahkan aku sudah membuang marga kekuargaku agar kita bisa bersama. Maukah kau-" belum selesai Jya mengucapkan kalimat pelamaran. Tiba-tiba seorang anak kecil menyelinap diantara kedua kaki Dita dan menatap tajam Jya."Mama, dia siapa?" Tanya anak itu, dan ia memanggil Dita dengan sebutan mama. Sontak Jya menatap Dita yang beraut wajah sedih. Perlahan Jya melepas genggamannya, dan berlutut agar ia sejajar dengan anak itu.Air mata yang hangat mengalir perlahan dipipi Jya, ia tersenyum. Tersenyum sangat lebar dan mengusap kepala anak manis itu dan berkata,"nak aku paman mu."-The End-

Dear You My Imagination
Romance Wattpad
02 Dec 2025

Dear You My Imagination

Sebuah omong kosong tentang harapan dibalik takdir yang mempertemukanku***"Spaghetti Bolognaise dua porsi dan daging asam manis satu porsi!" Teriakku pada seorang priayang sedang memasak didapur restauranku, restauran kecil yang baru saja ku dirikan dengan mengusung tema classic dan ditambah dekorasi lukisan dari galeriku. Inilah jalan yang kupilih bersama pria itu. Siapa dia? Akan ku ceritakan bagaimana kami bertemu bahkan jauh sebelumnya.***Sejak umurku 4 tahun, kedua orangtuaku sudah memperkenalkanku dengan dunia seni khususnya lukis, mereka adalah duet pelukis yang memiliki galeri besar dipinggir kota. Darah seniman sudah mengalir dan berdenyut dalam tubuhku seakan membuat suatu ikatan yang erat.Aku kerap memenangkan lomba-lomba yang memuluskan perjalanan ku menempuh jenjang perguruan tinggi di universitas ayah ku dulu.Setelah lulus aku jatuh cinta pada seni menggambar manga atau komik terbitan dan terjun kedalamnya. Setelah debut pertamaku, aku mampu membuat galeriku sendiri dipusat kota yang padat.Orangtuaku memutuskan untuk pensiun, galeri mereka dijual lalu diamalkan kini mereka menikmati masa tua dikampung halamanku.Namaku semakin melambung dan menjadi perbincangan orang-orang, mereka bahkan menjulukikusang pesulap.Entah apa yang publik rasakan terhadap karyaku, tapi aku tetap menghargainya.Aku punya rumah sendiri, galeriku sendiri, penggemar karyaku, orangtua yang bahagia dan bangga, sahabat yang selalu mendukungku, bahkan uang untuk sedikit bersenang-senang. Hidup ini sangat sempurna.Sampai semuanya terenggut oleh pergelangan tangan kananku yang remuk akibat terjatuh dari tangga, saat menyesaikan lukisanku setinggi 3 meter digaleriku.Awalnya aku tak menyadari ada yang janggal dengan tanganku. Aku bahkan masih bisa menyelaikan sisa deadline dan beraktivitas seperti biasa.Setelah itu ditengah malam aku terbangun dengan sakit yang terangat sangat di tangan kananku. Aku sangat terkejut ketika mengetahui behwa tanganku sudah patah dan dokter seakan tak percaya setelah terjatuh dari tangga aku tak merasakan apa-apa.Aku terpaksa cuti dan hanya berdiam diri dirumah, itu sangat-sangat membuatku muak bahkan aku tak bisa memegang pensil dengan benar membuatku sakit hati.Stres ini membuatku kerap bermimpi buruk, rasanya tangan kananku mengeluarkan darah sangat banyak hingga aku tenggelam dalamnya. Aku terbangun dengan keringat dingin dan tangan yang gemetar.Orangtuaku pasti akan sedih mendengar keadaanku. Namun aku tak sendirian, Celin sahabatku ia selalu menemaniku dikala ku terpuruk.Aku terus mencoba untuk pulih, tapi sia-sia usaha ku berakhir dengan pisau yang merobek-robek kanvas yang ku gambar.Entah sudah berapa lama aku tak tampil dipublik atau mengeluarkan karya baru. Walau gips ditanganku sudah dilepas, aku masih tak bisa menggambar dengan benar.Untuk merayakan lepasnya parasit ditangan kananku, Celin mengajakku ke toko buku legendaris dipinggir kota.Toko itu berasa ditempat yang terpencil dan terlihat sangat tua. Legendaris? Lebih terlihat toko buku tua.Saat kami masuk, loncemg yang nyafing menyambut namun tak ada orang. Celin dengan semangat menjelajahi rak buku dengan debu dimana-mana. Sedangkan aku lebih memilih menunggunya dimeja kasir.Tiba-tiba aku merasakan sentuhan punggungku, saat aku menoleh seorang anak laki-laki tersenyum manis kearahku. "Kakak mencari sesuatu?" Tanyanya ramah."Ahh tidak aku hanya mengantar teman saja."Aku belum terbiasa, berbicara pada oranglain selain Celin dan kedua orangtuaku belakangan ini."Apa yang terjadi pada tanganmu?" Anak itu menunjuk tangan kananku, sepertinya ia menyadari perbedaan warna kulitku."Aku baru saja melepas gipsnya.""Apa yang kau lakukan sehingga tanganmu harus di gips?" Oke aku menyadari mengapa orang-orang enggan memiliki anak banyak."Aku bekerja terlalu keras.""Cobalah untuk memotong lingkaran dengan sebuah gambaran." Anak itu beranjak dari kirsi kasir dan mendekatiku."Gambaran?" Oke anak ini mulai aneh."Tidak, tidak maksudku sebuah khayalan. Khayalan yang melampaui batas kenyataanmu. Siapa namamu?" Selain aneh ia mulai berbicara seperti orang dewasa saja."Farren Lee." Jawabku singkat."Apa?! FL? Kau sang pesulap itu? Boleh aku minta tanda tanganmu?" Ia langsung menyodoriku kertas, aku mencari-cari alat tulis dan mataku menangkap sebuah pensil yang tergeletak dilantai.Hanya sebuah tanda tangan tidak akan menyakiti hati, perlahan-lahan aku membuat tanda tangan khas seorang seniman walau tak semuanya begitu. Lugas, tegas, dan sekali jalan berbeda dengan tanda tangan di ID ku sangat kekanak-kanakan dan ragu.Kalau dilihat-lihat tulisan tanganku tak pernah sebagus ini, pensil ini sangat nyaman digunakan. Sepertinya kenampakan ini memberikanku efek tenang."Berapa harga pensil ini." Tanyaku sambil menyerahkan kertasku."Untuk kakak gratis, ambil saja." Kata anak itu sambil beranjak dengan gembiranya."Hey nak benarkah? Siapa namamu?" Tanyaku seakan tidak percaya."Caled, itu namaku. Seperti panggilan kan?" Lalu ia hilang dibalik pintu.Wah anak itu benar-benar aneh, Caled ya?"Ayo nyonya Lee, kita minum kopi. Buku yang ku cari tidak ada, kita bisa kembali besok." Kata Celin muncul dari debu-debu yang berterbangan.Minum kopi di sore hari yang dingin, sambil memandangi pensil unik ini cukup untuk mengalihkan perhatianku terhadap sekeliling cafe yang terus saja menatapku.Mereka pasti tak mengira seorang FL yang telah lama tak muncul akhirnya keluar dengan rambut acak-acakan baju kaos legging boots dan coat tebal nan panjang, lebih mirip seperti homeless dari pada seniman yang cuti.Sesampainya dirumah aku segera meraih kanvasku, kali ini ku yakin tanganku akan sembuh.Dengan ambisius aku menggoreskan pensil unik itu,berharap akan tercipta sesuatu. Namun sia-sia kanvas itu berakhir dengan lubang besar berkat pisau dapur yang ku tancapkan.Mengapa tanganku tetap sama? Tidak kaku lagi namun tetap sama saja!Aku mematahkan pensil itu dan melemparnya kesudut ruangan, minum beer dingin dan menatap langit malam dispot favorite ku itu yang aku perlukan.Saat malam udara terkesan sedikit lebih hangat, aku duduk sendiri diatap rumahku tampaknya malam ini aku ditemani bintang-bintang. Duduk dan diam menatap mereka bersinar, seakan minta bantuan untuk dihitung.Aku terbangun dengan wajah yang kacau, nampaknya aku berjalan sendiri kekasur dengan keadaan mabuk. Membereskan penampilan kemudian memasak sarapan, aku terus saja teringat anak kecil itu. Caled ya?Betapa terkejutnya aku ketika melihat pensil yang sebelumnya ku patahkan kini ada dimeja kerjaku dengan keadaan utuh, aku benci ini.Menjadi penakut bukan pilihanku, sepertinya ada yang aneh dengan rumah ini. Atau mungkin aku sudah mabuk semalam, seakan-akan aku mematahkannya.Celin menjemputku dan aku menceritakan keanehan rumahku pagi ini padanya, tapi ia hanya tertawa dan menyuruhku tidak minum alkohol lagi.Lonceng pintu masuk toko berbunyi nyaring ketika kami memasukinya. Seorang kakek yang asing menyambut kami, "selamat datang ada yang bisa pak tua ini bantu?" Katanya ramah.Celin menjelaskan buku yang ia cari, dan kakek itu menunjukan jalannya. Aku menunggu dikasir berharap akan bertemu Caled lagi, karena aku akan mengadukannya pada kakeknya karena ia seharusnya menjaga toko tapi malah memberi barang gratis pada pembeli.Kakek itu berjalan tertatih-tatih ke arah kasir dan duduk dibalik meja. "Kek apa Caled ada?" Tanya ku.Kakek itu diam sebentar kemudian menjawabku, "apa aku mengenal Caled?" Okay ini aneh."Seorang anak kecil yang aku temui kemarin ditoko ini." Jelasku."Tidak ada siapapun kemarin, hanya ada aku dan istriku. Apa benar toko ini yang kau kunjungi kemarin?" Aku hanya terdiam mendengar penjelasan kakek pemilik toko. Celin membayar buku yang ia beli, segera aku menyeretnya keluar."Hey-hey Fallen ada apa?" Tanya nya heran."Toko ini, toko ini sangat-sangat sakit. Kita harus pergi dari sini, ayo cepatt!""Tunggu-tunggu kita memang harus segera pergi, bukan karena toko ini yang sakit. Kau lah yang sakit, lihat kau memakai kaos terbalik!" Aku baru menyadari, setelah berkeliling kota dengan baju terbalik. Memalukan!Karena terburu-buru aku jadi lupa mengembalikan pensil ini, tapi kalau dipikir-pikir aku cukup konyol juga mengira rumahku berhantu. Aku pun memutuskan untuk menyimpannya.Kemana perginya Caled? Jika kakek pemilik toko bilang tidak ada yang bernama Caled, lantas siapa yang aku temui itu? Apa aku harus melapor kepolisi? Mungkin lebih masuk akal aku melapor ke psikiater."Aku benar-benar sudah gila, bahkan wajah anak itu masih kuingat jelas." Aku mulai menggambar diatas kanvas, membuat sket wajah Caled jika ia seumuran denganku.Wajahnya kurang lebih seperti ini, ah seketika aku merindukan kampung halamanku. Kemudian aku membayangkan musim semi dirumah orangtuaku, kehangatan mereka mampu mengusir dinginnya udara musim semi.Aku sangat mengantuk, tapi sket ini lumayan juga walau belum aku warnai. Sebaiknya aku segera tidur sekarang, aku menggantung kanvas itu disudut ruang kerjaku.Aku mulai bermimpi lagi! Kali ini mimpi buruk apa yang akan muncul? Aku berdiri disebuah ruangan serba putih dengan meja makan yang sangat panjang hingga aku tak bisa melihat ujungnya diantara kabut yang melayang-layang.Satu persatu hidangan bermunculan memenuhi meja makan, aroma yang super menggiurkan membuatku ingin mendekat, tapi bisa saja makanan ini beracun. Tapi aroma ini sangat nyata, seperti masakan rumahan. Perlahan aku membuka mata dan terbangun.Ternyata benar aroma ini nyata! Tapi siapa yang sedang memasak didapur? Orangtuaku tidak akan datang tanpa mengabari, suara wajan yang bersahutan membuatku semakin yakin seseorang tengah memasak didapur rumahku. Siapa?!Aku memegang tongkat baseball ku untuk perlindungan diri, nafasku semakin tak beraturan karena ketakutan. Mengintip dibalik tembok, aku melihat sosok pria menggunakan afronku.Perlahan mendekatinya dari belakang tampak jelas garis punggungnya yang kokoh. Menyentuhnya sedikit dengan ujung tongkat baseball ku, pria itu berhenti dan menoleh. Betapa terkejutnya aku sampai-sampai membuatku lemas dan aku tak ingat apa-apa lagi!Akh.. kepalaku pusing sekali, berusaha membuka mata dan terbangun dari mimpi aneh barusan. "Wah kau sudah bangun!" Suara asing ini yang menyambutku. Seorang pria duduk disampingku, rupanya aku masih dalam mimpi. Tidak mungkin seorang pria asing tau password rumahku, kecuali ia stalker!Seketika aku bangun dan menjauh, "ada apa? Apa aku mengejutkanmu? Makan lah dulu, aku sudah memasak sarapan untukmu. Sepertinya kau sangat lemas sehingga tadi pingsan." Pria ini berbicara padaku, ternyata ini bukan mimpi.Apa yang hasur kulakukan? Ada orang asing dirumahku! Meraih benda terdekat dan melemparnya dengan membabi buta."Pergi dari rumahku kau orang asing!!" Seruku sambil terus melemparinya."Hey aku tak bermaksud jahat, tolong hentikan kau menyakitiku." Tunggu sebentar, aku berhenti dan mendekatinya. Wajah ini sangat familiar! Mungkin ia bagian dari ingatanku, aku benar-benar sudah gila. Kini aku mulai berhalusinasi.Menelfon Celin adalah satu-satunya pilihan yang ku punya, ia pun setuju membawaku ke psikolog. "Kau sudah siap?" Tanya Celin sesampainya ia dirumahku."Aku benar-benar ketakutan, cepat antar aku!!""Baiklah-baiklah kau memang selalu seperti ini, tapi siapa pria manis ini?" Celin menunjuk halusinasikuAku menarik kerah Celin dengan kasar, "kau juga bisa melihat halusinasiku?!""Fallen Lee lepaskan aku, kau bisa membunuhku." Aku melepaskannya dan mulai berpikir, semua ini tidak masuk akal"Kau memang memerlukan dokter Will sekarang." Lanjut Celin. Dokter William adalah dokterku, walau aku tidak terlalu merasakan efeknya tapi hanya ia yang kupercaya."FL! Kali ini apa keluhanmu?" Dokter Will tampak tak terkejut dengan kedatanganku."Ini semakin parah aku berhalusinasi! Namun anehnya Celin juga bisa melihatnya, benar-benar tak masuk akal.""Kau sudah cek? Kali ini kau tidak demam musim semi kan?" Tanyanya tenang."Apa demam musim semi bisa membuatku berhalusinasi?" Oke kata-katanya sedikit membuatku lega, rupanya ini bisa saja hanya demam."Tentu saja!" Ia tersenyum kearah Celin dan mengedipkan matanya, dibalas dengan jempol oleh Celin. Mereka sukses menenangkanku."Tapi siapa pria ini? Ini pertama kalinya kau mengajak pria ke praktekku, nona Lee." Apa???!! Doker Will juga bisa melihatnya?"Dokter Will tampaknya juga demam musim semi.""Hm baiklah seperti tidak usah diperiksa, ini aku memberimu obat penenang. Kau gelisah lagi rupanya."Hanya itu saja yang dapat dikatakan dokter Will. Celin mengantarku pulang dan halusinasiku tetap mengikuti."Aku akan sembuh jadi menghilang lah." Ujarku saat akan membuka pintu rumah.Halusinasi itu hanya diam, aku berbalik dan menatapnya tajam. "Aku bilang pergi sana! Aku lelah, bisakah kau hilang saja?! Aku akan sembuh."Tiba-tiba ia mendorong tubuhku kepintu dan menatapku dalam-dalam sepertinya ia akan menciumku karena wajahnya terus mendekat."Kau tidak demam." Katanya, ia menempelkan dahinya di dahiku."Kau bisa melihatku, kau bisa merasakanku, kau bisa bicara padaku. Aku bukan sekedar halusinasimu." Lanjutnya dengan nada yang tenang, matanya berkaca-kaca tampaknya ia menahan air matanya untuk jatuh terlalu awal.Ekspresi ini, ekspresi yang sangat manis."Baiklah kau boleh menginap, tapi jangan macam-macam karena aku akan telfon polisi." Aku membuka pintu dan membiarkannya masuk.Ia hanya duduk dilantai dan menatap jendela besar yang mengarah langsung kesebuah pemandangan bukit disore hari."Ngomong-ngomong kau dari mana?" Tanyaku sambil membereskan kekacauan tadi pagi."Entahlah sepertinya dari sana." Ia menunjuk kanvas kosong yang gambarnya telah hilang.Ini semakin ajaib saja, aku mengambil pensil aneh itu dan meraih secarik kertas.Menggambar sketsa anjing kecil yang enah ras apa. Aku dan pria itu terkejut dengan sinar yang keluar dari kertas itu. Sinar yang sangat menyilaukan dan hampir membuat ku buta.Membuka mataku perlahan dan masih terlihat samar-samar.*barks*Terdengar gonggongan anjing. Kertasnya kosong! Dan seperti dugaanku ada anak anjing sungguhan dikamarku. Ini memang pensil ajaib, aku harus menjaga rahasia ini. Karena dengan pensil ini aku bisa menciptakan dunia.Aku hanya berjanji memberikannya inapan 1 malam tapi untuk menjaga rahasia pensil itu aku menahannya dalam rumahku. Iya lebih tampak seperti orang yang kelewat bahagia daripada seorang tahanan.Pasalnya ia selalu menungguku didepan pintu seperti anak anjing yang ku berinama Choco.Oiya pria itu belum punya nama. Malam itu sangat dingin kami hanya duduk di atap dan meminum beer. "Choco.. bagaimana?" Tanyaku memecah keheningan. Aku sudah kembali bekerja dan jarang dirumah."Dia semakin nakal saja, aku sampai lelah." Jawabnya, sambil meminum coklat panas."Bagaimana dengan mu? Kau ingin punya nama?" Tanyaku canggung."Nama? Itu ide yang bagus. Kau punya nama untukku?""Hm bagaimana kalau Cale?""Ya aku suka itu! Makasi Fall." Senyumannya seperti senyuman musim semi yang sejuk.Keesokan harinya aku sudah hampir terlambat, aku tak sempat makan sarapan yang Cale buat."Fallen makan dulu sarapannya." Cale menarik lenganku. "Apa kau gila aku akan terlambat!" Aku berjalan terburu-buru dan mencari sepatuku."Akhh dimana sepatuku?!""Fallennn...." teriak Cale dari ruang tengah."Apa??!" Bentaku. Cale berlari menghampiriku. "Choco hilang aku tak menemukannya dimana pun.""Ah sudah biarkan saja. Aku bisa buat Choco lainnya. Sudah ya aku pergi dulu." Aku berjalan dan memegang gagang pintu namun aneh Cale tidak meresponku. Aku berbalik dan mendapatinya menangis."Apa kau juga akan menggantikanku jika aku hilang?" Kata-kata itu keluar dari bibir tipis Cale.Ahh.. aku kejam sekali. "Bu-bukan begitu maksudku. Choco mungkin tidak hilang ia hanya bersembunya. Jika nanti lapar juga pasti akan keluar. Cup.. cup.. maafkan aku Cale aku tidak bermaksud." Kataku pada Cale yang menangis seperti anak kecil. Aku jadi merasa bersalah dan memeluknya. Aduh manisnyaaaa><Jika dikira-kira usia Cale sedikit lebih muda dari pada aku. Tingkah lakunya juga masih seperti anak-anak tapi wajahnya... cukup membuatku mimisan.*barks* *barks*Choco yang dicari-cari akhirnya keluar. Cale sangat senang dan mengendong Choco. Aku hanya memandangi mereka dan tersenyum sampai aku ingat kalau aku sudah terlambat ke rapat saham.Dan akhirnya aku benar-benar terlambat. Saham yang aku incar tidak jadi aku beli.Aku memutuskan untuk berhenti dari dunia seni dan beralih kedunia bisnis. Aku menjual galeriku dan mendirikan sebuah resto kecil bergaya eropa.Dengan koki kesayanganku Cale dan inilah akhir kisahku yang bahagia setelah mengalami banyak kesulitan sebelum bertemu Cale.

Kisah Putri Mawar Dan Burung Emas
Folklore Wattpad
02 Dec 2025

Kisah Putri Mawar Dan Burung Emas

Zaman dahulu kala, di negeri yang amat jauh hiduplah seorang putri cantik yang bernama Putri Mawar. Ia dipanggil begitu karena memiliki rambut panjang berwarna merah yang menyerupai bunga mawar.Setiap malam, ia selalu berdiri di depan balkon istana dan menepuk tangannya. Kemudian, datanglah burung kecil berwarna emas dan hinggap di bahunya. Setiap si burung datang, secara ajaib rambut Putri Mawar mengeluarkan cahaya kemerahan yang amat indah.Burung emas lalu bersenandung nada-nada indah, Putri Mawar mengikutinya dan bernyanyi bersama. Nyanyian mereka, membuat satu kerjaan tidur lelap, nyenyak, dan bermimpi indah. Mereka lakukan hal itu setiap malam.Nyanyian sang putri yang memberi mimpi indah membuat penyihir jahat iri hati. Ia kemudian memberikan sang putri mantra kutukan, “Bim salabim abrakadabra…. hilanglah warna sang mawar!” mantra itu membuat rambut merah sang putri berubah menjadi hitam kelam.Saat malam berikutnya, putri dan burung emas kembali bernyanyi. Namun kali ini, satu kerajaan mengalami mimpi buruk yang amat seram. Sang putri amat bersedih, “Wahai burung emas, katakanlah, apa yang harus kulakukan agar rakyatku kembali bermimpi indah?” ujarnya.Burung emas menjawab, “Putri, rendam rambutmu dalam air mawar.”Putri Mawar menuruti perkataan burung emas. Ajaib, rambutnya kembali berubah menjadi warna merah! Rakyatpun bisa kembali bermimpi indah.Hal ini membuat penyihir semakin marah. Ia kembali memantrai sang putri namun kali ini, ia sekaligus melenyapkan seluruh kelopak mawar yang ada di penjuru negeri.Putri Mawar kembali kebingungan. Ia tidak bisa lagi berendam di air mawar seperti saran burung emas. Ia kemudian berjalan menuju balkon istana dan menangis.Tanpa ia duga, seorang pangeran tampan datang membawa kotak berisi rambut merah. Tanpa sengaja, kotak tersebut terkena tetesan air mata putri yang jatuh. Ajaibnya, air mata sang putri merubah isi kotak tersebut menjadi kelopak mawar yang amat indah.Putri Mawar segera merendam rambutnya dengan air mawar dan ia bisa kembali memberikan mimpi indah bagi seluruh kerjaan.Putri Mawar kemudian menikah dan hidup bahagia selama-lamanya dengan sang pangeran. Sementara si penyihir jahat, akibat tidak bisa menahan amarahnya, ia musnah dan hancur berkeping-keping.

Book Of Nina Diary
Horror Noveltoon
02 Dec 2025

Book Of Nina Diary

Hari kamis telah tiba, seperti biasa malam ini kita akan menelusuri suatu rumah kosong yang terkenal cukup angker di pinggir kota. “Bella, Tiara, seperti biasa nanti malam kita menelusuri rumah angker di pinggir kota." kata Vanya. “Siap.” sahut Bella dan Tiara.Malam pun tiba, mereka sampai di rumah tersebut. Satu per satu mereka telusuri kamar yang berada di rumah tersebut. Pada akhirnya, mereka sampai di kamar Nina. Nina adalah salah satu anak dari pemilik rumah ini. Rumah ini tidak ditempati karena ada kasus pembunuhan Nina, yang pada saat itu dibunuh di kamarnya. Namun sayangnya, belum diketahui pelaku atas pembunuhan Nina.Saat memasuki kamar Nina, mata Vanya tertuju pada sebuah buku yang bertuliskan “Nina Diary”. Lalu Vanya mengambil buku itu dan berkata, “Nina Diary, kisah tentang Nina mungkin semuanya ada di sini.”Satu per satu halaman tersebut dibuka, namun belum dibaca, sampai pada akhirnya ia melihat tulisan di akhir halaman buku itu. Tulisan tersebut adalah: “Jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya.”Vanya, Bella, dan Tiara membaca tulisan di akhir halaman itu.Vanya berkata, “Sudah, ayo kita pergi dari tempat ini dan ambil buku ini.” Bella menjawab, “Bukankah kita tidak diperbolehkan untuk mengambil buku ini? Mengapa kau ambil buku ini?” Tiara berkata, “Kembalikan bukunya, Vanya! Jika terjadi sesuatu pada kita atau salah satu dari kita, bagaimana?” “Ck, gitu aja dipercayai. Dah lah pulang yu,”Bella dan Tiara hanya bisa saling tatap-tatapan dengan wajah ketakutan dan cemas tentang hal ini. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing.Saat sampai di rumah, Vanya membaca sebagian buku Diary Nina. Lalu Vanya sampai pada halaman tepat 1 hari sebelum Nina dibunuh. Vanya membaca halaman tersebut, yang bertuliskan:“Hari ini kucingku Miaw mati. Miaw kucing yang lucu dan pintar. Miaw memiliki bulu berwarna hitam, mempunyai mata merah, dan telinga yang besar.”Sampai pada akhirnya, Vanya membaca tepat saat hari pembunuhan Nina. Di buku Diary itu Nina menulis:“Hari ini aku mimpi, bahwa kucingku Miaw mati. Pada saat itu aku melihat jam menunjukkan pukul 23:47. Lalu aku merasa seperti ada seseorang di depan pintu. Saat itu hatiku sangat penasaran untuk melihat siapa yang di situ. Maka kubuka pintu itu dan tiba-tiba aku melihat teman papaku. Dan dengan cepat menusukkan sesuatu yang sangat tajam di tubuhku."Aku terbangun sangat kaget pada saat itu. Aku melihat sekarang adalah jam 21:29, aku takut jika terjadi apa-apa maka aku putuskan untuk tidak tidur untuk semalaman, lagian besok juga libur.”Vanya membalikkan halaman Diary selanjutnya. Vanya pun melanjutkan membaca cerita yang dituliskan Nina:“Jam pun menunjukkan 23:47, aku benar-benar merasa bahwa ada seseorang di depan pintu. Aku takut membuka pintu itu, dan aku lupa mengunci pintu itu. Aku takut bahwa ada orang jahat, maka sekarang aku sedang sembunyi di selimut. Orang itu pun membuka pintuku, dia berkata ‘Keluar Nina’ berkali-kali. Aku melihat dia membawa senjata tajam, tolong dia sudah menemukanku.”Vanya yang membaca cerita itu langsung merinding ketakutan. Ia langsung membuang buku itu ke arah meja belajarnya.Tiga hari pun berlalu, Vanya ingin bersantai di depan rumah sekaligus mencari udara segar. Tiba-tiba ada 1 ekor kucing lucu, berwarna hitam, memiliki mata warna merah, dan telinga yang besar.Vanya pun ingin memelihara kucing tersebut, “Sekarang namamu Nia yaa, ayo masuk ke dalam rumahku, Nia.”Kucing tersebut diberi nama Nia, dia sangat begitu sayang dengan Nia. Saat malam, Nia tertidur di samping Vanya. Vanya tidak mengetahui bahwa kucing itu adalah Nina. Iya, kucing berwarna hitam, memiliki mata merah, dan telinga yang besar adalah ciri dari Miaw, kucing Nina.Saat Vanya tertidur, kucing tersebut berubah menjadi Nina, dan menaruh buku Diary Nina di bawah kolong kasur.Vanya terbangun karena terdapat suara di bawah kolong kasur. Vanya segera melihat apa yang ada di bawah kolong kasur. Saat melihat apa yang di bawah kasur, dia melihat Nina yang sembari memegang buku Diary-nya.Vanya melihat itu lari ketakutan memojok di sudut kamarnya. Nina mulai berjalan ke arah Vanya, lalu berkata:“Sudah kubilang jangan ambil buku ini, jangan baca buku ini, atau kamu akan merasakan akibatnya.”Vanya tidak bisa berkata dan bergerak, sampai pada akhirnya Vanya melihat Nina membawa senjata tajam, dan…“… Tolongg…”

HOROR SUMUR TUA DI SEKOLAH
Horror Wattpad
02 Dec 2025

HOROR SUMUR TUA DI SEKOLAH

Karin, hari itu sangat sedih, dia bercerita pada Nita teman sebangkunya bahwa Marcell memutuskan hubungan mereka hari ini."Sudahlah Rin, lupakan aja cowok kaya gitu gak akan pantas buat kamu, dasar playboy" ucap Nita membela temannya"Tapi Nit dia itu pacar pertamaku. aku sudah terlanjur cinta sama dia. Kenapa sih dia tega banget sama aku" ucap Karin"Terus kamu mau ngemis - ngemis sama dia buat minta balikan?" tanya Nita dengan suara agak kencang"Tidak Nit, aku gak mau berbuat itu, aku berharap dia yang minta balik duluan sama aku""Kamu bodoh rin, kalau masih mau nerima cowok brengsek kaya begitu, dia itu jelas - jelas playboy bajingan, banyak cewek yang sudah diperdaya sama dia, termasuk Andrea yang katanya kabur dari rumah dan gak pernah pulang, gara - gara sakit hati sama dia" ucap Nita"Tapi kamu gak tahu Nit rasanya, Marcel itu sangat romatis dan dia benar-benar baik dan tahu cara memperlakukanku dengan baik" tangisan Karin membuat NIta menjadi diam"percuma berbicara dengan orang yang sedang sakit hati" fikir NitaKeesokan harinya, Karin datang ke sekolah dengan mata bengkak dan sembab, karena sepanjang malam dia menangisi Marcel saat dikamar, bahkan Karin hampir tidak bisa makan dan minum, tetapi dia tetap memaksakan ke sekolah supaya dia dapat kesemptan bertemu dengan Marcell lagi."Marcel" panggil Karin"Hai Rin, kamu gak apa - apa, sepertinya kamu kurang sehat?" tanya Marcell sambil tangannya memegang jidat Karin"Gak apa - apa Cell, aku cuma sedih, aku gak bisa menerima kalau kita sudah putus, aku.... aku masih sayang sama kamu Cell" Ucap Karin"Karin, kemarin kita sudah membahas ini. kamu itu terlalu baik kepadaku, dan aku tidak bisa memberikan perhatian kepadamu lebih dari saat ini" jawab Marcell"Tidak Cell, aku mau mencoba, aku mau mencoba" jawab KarinTiba - tiba Angela adik kelas mendatangi Marcell, dan langsung memeluk Marcell."Bagaimana Cell, kita jadi nonton siang ini kan?" ucapnya manja"Jadi... jadi kok sayang" jawab Marcell agak kikuk..... di depan Karin ternyata Angela mendekatinya"Jadi ini.... jadi ini kan yang membuatmu memutuskan aku" ucap Karin dengan suara yang kencang"Karin... pelan - pelan gak usah teriak - teriak" jawab Marcell"Kamu brengsek Cell, betul yang Nita bilang semua ini terjadi karena ada perempuan lain kan" suara Karin tambah kencang"Iya aku memang brengsek" lalu Marcell pun meninggalkan Karin sendirian.Kejadian tersebut membuat Karin shock, dia pun segera menuju ke halaman belakang sekolah untuk menenagkan fikirannya, dia melihat ada sumur kecil disana, Karin berfikir untuk bersembunyi disana sambil menangis sejadi - jadinya.Tiba - tiba Karin melihat sesosok wanita berambut panjang mendekatinya dan Karin tidak mampu untuk bergerak, disana Karin juga melihat wanita tersebut kebasahan, tubuhnya dipenuhi air serta matanya kosong dan sekarang wanita itu berada di depan hadapannya persis.Dan sedetik itu Karin tidak tersadarkan.Pak Halim, penjaga sekolah menemukan Karin disana, dan dia segera membawanya ke ruang UKS, dan menidurkan Karin disana, tapi tiba - tiba....Karin berteriak kencang dan bangun dari tempat tidur dan berlari sekencangnya dari UKS ke lapangan"Brengsekkkk..... laki - laki brengsek" teriak Karin sambil berlari - lari mengelilingi lapangansemua murid dan guru yang sedang belajar dikelas keluar seketika, karena teriakan tersebut, dan mereka melihat Karin seperti orang gila, berlari sambil berteriak sekencang - kencangnya seolah - olah ada yang aneh disana.Pak Halim, Pak Mul guru olahraga segera mengejar Karin dan berusaha memegangnya, tetapi kekuatan Karin sangat besar, seperti tenaga yang besar dan melempar kedua orang tersebut.Tapi Karin terus berteriak sekencang - kencangnya, bahkan sekarang dia mulai menarik roknya ke atas, sehingga membuat celana dalamnya terlihat, ini jelas sudah diluar kewajaran, dan Karinpun menjadi tontonan semua orang disekolah.Pa Mul akhirnya memanggil ustad terdekat untuk datang, dan Pak Ustadpun mendekati Karin dengan bacaan - bacaan Al Qur'an, tiba - tiba Karin jatuh lunglai, seketika itu juga Pak Mul dan Pak Halim menggotong Karin ke UKS.Ada setengah jam Karin tidak sadarkan diri, dan pak Ustad persis disebelah Karin sambil terus membaca ayat kursi, tiba - tiba mata Karin melotot dan mulai merintih kesakitan."Panas....panas.... Hentikan" ucap KarinTangan Karin menggenggam kasur dengan keras dan hampir membuat selimut yang berada disana robek."Apa mau kamu?" kata pak Ustad " keluarlah dari tubuh gadis ini" ucap Pak Ustad"Tidak........" Teriak Karin "Aku harus membalas dendam" teriaknya kembali"Jangan dendammu kau gunakan gadis ini untuk membalasnya" jawab Pak Ustad"Marcell.............. aku mau dia...." ucap Karin"Apa ada yang bernama Marcel disekolah ini?" tanya pak Ustad ke pak Mul"Ada pak, dia murid disini, dan dia pacarnya Karin" jawab Pak Mul"Tolong bawa dia kesini, kemungkinan dia bisa membuat Karin sadar kembali" kata pak Ustad"Baik Pak" jawab pak MulLima belas menit kemudian Pak Mul sudah datang bersama Marcelldan tiba - tiba Karin bangkit dari tempat tidur dan hampir mencakar Marcell, sebelum dihentikan pak Ustad"Kurang ajar.... lelaki bajingan....." ucap Karin berulang ulangwajah Marcell sangat ketakutan, dia hampir meninggalkan ruangan UKS, tetapi ditahan oleh pak Ustad"Tolong tunggu sebentar... gadis ini menyebut namamu, pasti kamu ada hubungannya dengan peristiwa ini" ucap pak Ustad"maaf pak, mungkin dia stress karena saya putusin kemarin" jawab Marcelldan tiba - tiba Karin mencekik Marcell"Kamu membunuh saya" ucap Karin kencang sekali."membunuh..... apa maksudnya ini.... kamu pasti sudah gila" jawab Marcel terbata - batapak Mul dan pak Ustad berusaha menarik tangan Karin dari leher Marcell, dan tiba - tiba Karin kembali pingsan.Dia melihat gambaran Marcel berada di halaman belakang dengan seorang gadis, ya gadis itu Andrea. Andrea menangis memohon untuk MArcel tidak meninggalkannya, bahkan Andrea menahan Marcell untuk jangan menjauhinya."Aku hamil Cell" ucap Andrea"Apa, kamu pasti sudah gila, itu pasti alasan kamu supaya aku tidak meninggalkanmu kan?" jawab Marcell"Tolong Cell, aku takut" jawab Andrea sambil memeluk tubuh Marcel sambil menangiskondisi hari itu sudah malam, sekolah sudah sepi dan tidak ada orangtapi tiba - tiba Marcell, mendorong Andrea dengan keras sehingga menyebabkan Andrea masuk kedalam sumur dibelakang sekolah."Andrea...." teriak Marcell tapi tidak ada suara yang menjawab sama sekaliMarcell ketakutan, dia langsung mengambil mobilnya dan pulang kerumah, disaat itulah dia merasa sangat bersalah dan panik, dia menuliskan surat palsu untuk orang tua Andrea bahwa Andrea sudah tidak tahan dengan kondisi rumah dan memutuskan untuk pergi dari rumah.Itu kejadian sudah setahun yang lalu, dan perbuatan Marcell sama sekali tidak diketahui oleh siapapun, tiba - tiba mata Karin pun terbuka lagi"Kamu membunuh andrea Cell?" ucap KArin ketakutan"Apa maksudmu?" jawab Marcell"Aku melihatnya Cell, Andrea memberitahuku, dia berada didalam sumur dan meninggal dengan bayi yang dikandungnya dan itu semua akibat perbuatanmu" ucap Karin gemetarMendengar kata - kata Karin, Marcell bermaksud melarikan diri, tetapi Pak Mul dan Pak Halim berhasil menahannya."Coba kita periksa didalam sumur" kata pak UstadSetelah setengah jam lebih, Pak Halim ke bawah sumur yang cukup dalam dia menemukan jasad Andrea terbaring disana.Marcell pun ditangkap karena perbuatannya, Karin pun merasa Marcell orang paling brengsek dan tidak bertanggung jawab yang pernah ditemuinya, dan dia bersyukur dengan kejadian tersebut, Tuhan memberi jalan baginya untuk bisa melanjutkan hidupnya dengan lebih baik._____________________^^^^^^^^______________________THE END

Mereka Yang Terpilih & Mereka Yang Tak Terlihat
Fantasy Noveltoon
02 Dec 2025

Mereka Yang Terpilih & Mereka Yang Tak Terlihat

Langkah Afdan terhenti ketika dia sampai di depan pintu warung kopi andalannya yang terletak di suatu perempatan. Di bawah hujan yang amat deras, Afdan mematung menatap seorang gadis kecil yang duduk di pinggir jalan sambil berlindung dalam naungan payung mungil.Apa yang harus dilakukannya? Tanya Afdan dalam hati.Sudah tiga tahun lamanya Afdan menetap di negara sakura ini, Jepang. Tapi malangnya nasib Afdan malah semakin memburuk seiring bergantinya hari. Warung kopi yang didirikannya sama sekali tidak memberikan untung apapun untuknya. Malahan, dia sendiri lebih senang pergi ke kafe lain. Isi dompetnya juga semakin menipis. Entah apa yang akan dilakukannya jika tabungannya sudah habis, tapi Afdan yakin kalau sang Pencipta pasti masih memiliki jalan untuk Afdan. Yah, dia adalah seorang penganut katolik yang taat.Namun, semua itu tidak penting untuk saat ini.Wajah gadis kecil gelandangan itu membuat Afdan terdiam seribu bahasa. Matanya memancarkan kehampaan yang mengerikan, dan raut mukanya kosong dan sepucat lembaran kertas, tapi, wajahnya — wajah anak itu, adalah wajah orang berkebangsaan Indonesia.Afdan tidak tahu persis bagaimana bisa anak itu sampai di sini dan menjadi gelandangan, tapi dia percaya kalau itu bukan salahnya. Anak itu jelas-jelas tak berdosa.Sungguh pemandangan yang menyakitkan untuk dilihat. Afdan ingin menolongnya, tapi situasinya juga sedang berada diujung tanduk.Benar-benar tak adil dunia ini, pikir Afdan sambil melangkah masuk ke dalam kafe."Ya, dunia ini tidak adil, kan?" Ujar seseorang yang berdiri tepat di depan Afdan.Afdan sangat terkejut saat menyadari kehadiran orang itu, atau tepatnya anak itu. Ini sangat aneh karena anak itu tahu apa yang tengah dipikirkan Afdan. Bahkan dia berdiri di situ seakan-akan dia memang menantikan kedatangannya.Awalnya akal Afdan sempat menolak untuk mempercayai kejadian yang dialaminya saat ini, tapi sayangnya kenyataan berkata lain, karena Afdan sendiri sangat mengenal bocah ini. Anak yang berdiri di hadapannya saat ini adalah seorang yang sangat luar biasa. Seorang Pahlawan dengan kekuatan super yang amat mengagumkan.Dia dikenal sebagai Odin sang Pembebas. Seorang anak bertubuh kecil dengan wajah polos, serta memiliki rambut biru gondrong yang rapi, dengan pupil mata yang sewarna darah. Di kalangan para Pahlawan, Odin adalah satu-satunya orang yang selalu berpakaian layaknya gelandangan, dan tak pernah mengenakan alas kaki. Padahal, dia sendiri adalah salah satu dari jejeran para Pahlawan terkuat yang ada di dunia ini. Tepatnya, dia berada di peringkat enam.Yah, meski tampangnya hanya seperti seorang bocah yang aneh, namun kekuatan yang dimilikinya tidak main-main. Selain karena bisa bergerak sangat cepat, terbang, dan memiliki fisik yang super kuat, dia juga memiliki kekuatan yang berhubungan dengan lautan."Bisakah kau berhenti mengagumiku?" Kata anak itu sambil memandang jijik Afdan."Ah... maaf, maaf."Ngomong-ngomong soal Pahlawan — ya, Pahlawan, mereka benar-benar ada dan nyata di dunia ini, dan semuanya bermula pada Tahun 2012 lalu, waktu di mana ada suatu pulau yang muncul tiba-tiba di angkasa, lalu tak lama setelah kemunculannya, pulau itu mulai runtuh dan lenyap tanpa jejak.Kejadian itu benar-benar menghina akal sehat sampai habis.Tak ada korban jiwa dari peristiwa itu, tapi para peneliti menyatakan bahwa ada sebuah energi yang tersebar ke seluruh dunia saat pulau itu hancur, dan orang-orang yang tercemar oleh energi itu akhirnya berakhir dengan memiliki suatu kekuatan yang aneh, layaknya para pahlawan super dalam cerita-cerita."Yah, nggak masalah, sih... " Kata Odin sambil berjalan menuju ke salah satu meja yang terletak di samping jendela.Akan tetapi, suasana menjadi semakin canggung waktu Odin meminta Afdan untuk duduk bersamanya. Odin bahkan dengan lantang menyebut nama Afdan, hingga membuat seisi kafe menoleh ke arahnya dengan pandangan heran setengah mati.Odin langsung angkat bicara begitu Afdan duduk."Hidup dan mati anak itu tergantung pada jawaban terakhirmu, Afdan." Kata Odin tiba-tiba. Dia memandang ke arah gadis kecil gelandangan yang duduk di pinggir jalan dari balik jendela. "Dia sudah terlalu menderita... ""Eh...?" Afdan semakin keheranan. Matanya terbuka lebar. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya. "A-apa maksudmu!?" Bisik Afdan panik. Suara pemuda jangkung dan berkacamata itu bergetar karena syok."Apa yang kamu ketahui tentang anak itu, Afdan?" Tanya Odin. "Kau ada di sini kan waktu itu?"Mata Afdan mulai bergetar karena saking paniknya, tapi dia berusaha untuk menjernihkan pikirannya demi menjawab pertanyaan Odin tanpa kesalahan apapun."Y-ya, aku memang ada di sini saat itu, karena para polisi mencari orang yang bisa berbahasa indonesia, dan pemilik kafe ini juga kebetulan tahu kalau aku orang Indonesia." Afdan mulai menjelaskan dengan singkat. "Setahuku, anak itu muncul begitu saja di perempatan ini dalam keadaan tak sadarkan diri bulan desember tahun lalu. Dan ketika ia bangun dia mengaku kalau dia sama sekali tidak mengingat apa-apa. Ha-hanya itu saja yang aku tahu..."Setelah selesai menjelaskan, tiba-tiba muncul sebuah bola air tepat di udara di samping Odin, dan di dalam bola air itu ada seekor ikan hidup."Apa kau tahu? Hidup ini ini bagaikan gula yang yang rasanya teramat sangat pahit, sedangkan kematian itu bagaikan sebuah batu besar yang keras namun memiliki cita rasa yang amat manis. Jadi, kau sadar kan? kalau dunia ini sangatlah menyedihkan... "Perkataan Odin memiliki makna yang terkesan sangat gelap, tapi Afdan yang mengetahuinya memilih untuk bungkam. Apa maksudnya coba mengatakan hal sekelam itu?"Y-yah... mungkin kau benar." Kata Afdan sambil memasang senyuman kecut. "Ngomong-ngomong, apa sebenarnya tujuanmu datang jauh-jauh dari Indonesia ke sini? Maksudku, nggak mungkin kan kau datang ke sini hanya untuk membahas soal anak itu?""Yah, memang itu tujuanku datang ke sini." Ungkap Odin yang terlihat ragu. "Tapi bisa dibilang juga bukan itu. Soalnya... tadi waktu aku sedang mengamati Gunung Bromo, tiba-tiba saja aku sangat ingin datang ke sini, tepat ke tempat ini. Sumpah, tadi itu benar-benar perasaan yang sangat aneh, dan aku sama sekali nggak bisa melawannya..""Hmm... itu aneh.""Ngomong-ngomong, kamu pesan saja dulu apa yang kau mau pesan, baru aku akan jelaskan semuanya. Oh, dan tenang saja, aku yang akan membayarnya."Gerakan Afdan jadi lambat karena kebingungan. Dia kemudian pergi memesan secangkir kopi yang diyakininya tidak seenak racikannya, dan juga omelet. Lalu, setelah beberapa menit, seorang pelayan akhirnya datang membawa pesanan Afdan. Namun, tubuh pelayan itu gemetaran karena melihat Odin."Begini." Odin mulai menjelaskan. "Sejak zaman kuno, kami Rakyat Dunia Lain percaya, kalau ada dua jenis manusia yang ada di dunia ini. Yang pertama adalah Mereka Yang Tak Terlihat. Mereka Yang Tak Terlihat adalah orang-orang yang memiliki kesempatan untuk menggenggam keajaiban dengan tangan mereka sendiri, atau mudahnya, mereka memiliki kekuatan untuk membuat mukjizat. Orang-orang yang sangat spesial di antara yang spesial.""Rakyat Dunia Lain? Tunggu... Jadi kau bukan makhluk dari dunia ini?"Afdan kehabisan kata-kata. Dia tidak habis pikir kalau dia akan mendengar kebenaran semacam itu sekarang. Jantungnya berdetak terlalu kencang, dan otaknya juga terus mengolah informasi-informasi dari Odin dengan cepat.Masalah ini, sudah melenceng terlalu jauh dari kenyataan dunia ini.Ini bukan lagi soal Pahlawan. Bahkan, dengan Odin yang menyatakan bahwa dirinya adalah Rakyat Dunia Lain, itu artinya dia sendiri bukanlah Pahlawan yang menerima kekuatan dari kejadian di tahun 2012 lalu."Yap, tapi itu tidak penting." Ujarnya sembari kembali menjelaskan. "Lalu, jenis manusia yang kedua adalah Mereka Yang Terpilih—Jenis manusia yang ini adalah orang-orang yang ditunjuk sang Pencipta untuk menjadi saksi mata atas keberadaan Mereka Yang Tak Terlihat. Dan lumrahnya, orang Yang Terpilih dan Yang Tak Terlihat adalah orang yang ditakdirkan untuk bertemu."Afdan memetik sesuatu dari penjelasan Odin. Hatinya berdebar kencang dan senyuman terbentuk di bibirnya. "Jadi, kau mau bilang kalau aku adalah Yang Terpilih?""Ya, memang, tapi bukan itu intinya. Masalahnya di sini adalah orang Yang Tak Terlihat yang harus kau saksikan sebenarnya adalah gadis kecil yang di sana itu." Odin menunjuk ke arah gadis gelandangan di luar yang masih berlindung dari hujan menggunakan payung mungil. "Dia sudah melakukan kesalahan besar, padahal maksud dari tindakannya itu adalah demi kebaikan. Tapi... Tuhan selalu menentukan takdir dengan cara yang tidak biasa."Saat memandang ke arah gadis itu, Afdan menyadari kalau mata gadis itu bergetar. Tapi, matanya bukan gemetar karena takut atau panik, melainkan karena pemandangan yang tengah dilihatnya kala itu.Ada seorang pria di seberang jalan yang tengah berjalan bersama seorang bocah kecil yang pastinya adalah anaknya. Meski payung yang mereka gunakan tidak cukup lebar untuk melindungi mereka dari hujan, tapi mereka tampak bahagia saat itu. Si ayah dan sang Anak tertawa bersama di bawah hujan yang amat deras.Pasti pemandangan itulah yang membuat gadis itu menangis."Jadi... "Afdan merasa sangat kesakitan begitu melihat air mata gadis itu mengalir."Jadi, kau akan menjalani bagiannya agar kisah anak itu terselesaikan. Kau harus menjadi Yang Terpilih dan Yang Tak Terlihat di waktu yang sama." Ujar Odin sambil menuangkan sedikit tehnya ke atas bola air berisi ikan yang masih melayang di sampingnya."Tapi... apa maksudmu soal tadi? Tentang jawabanku yang akan menentukan hidup dan mati anak itu?""Ya, persis seperti itu. Nanti jawabanmu lah yang akan menentukan nasibnya. Menyelamatkannya, atau membiarkannya tetap duduk di perempatan itu untuk selamanya. Semua itu tergantung pada jawabanmu nanti." Jelas Odin. "Oh, dia itu makhluk abadi, lho.""Nanti? Tapi kapan?"Odin bertukar pandang dengan ikan yang mengambang sampingnya, lalu kemudian ikan itu melirik arloji yang muncul di depannya yang entah muncul dari mana. Sungguh, Afdan mulai sangat keheranan dengan keberadaan ikan itu."Sekarang, kisahmu untuk menjadi Yang Terpilih akan segera dimulai. Nah, cepat pegang tanganku erat-erat."Setelah Afdan memegang tangan mungil Odin dengan sangat erat, Odin pun mengucapkan kata-kata yang aneh."Geminus, Triplici, Altum, Omnia, Lucendi, Ictus, dan... Lubuntur Defuid."Diiringi dengan suara guntur yang membahana tiba-tiba saja muncul cahaya hijau yang amat menyilaukan dari langit-langit, membuat pandangan Afdan menjadi putih dan kemudian menjadi gelap, dan Afdan tidak tahu lagi apa yang sebenarnya terjadi.Akan tetapi, setelah mengedipkan matanya hampir ratusan kali, akhirnya Afdan berhasil mendapatkan pandangannya kembali, dan dia pun sadar kalau dirinya sudah tidak berada di kafe lagi.Mereka tiba di suatu gua yang ukurannya sangat luas seperti stadion lapangan sepak bola. Tapi, saat Afdan memandang berkeliling, Afdan juga mendapati ada hamparan rerumputan yang tumbuh di sana. Rerumputan itu berpendar memancarkan cahaya putih terang untuk menerangi gua ini.Jauh di depan mereka ada satu gerbang baja seukuran gedung bertingkat lima yang masih terbuka, dan ada dua bongkah batu kristal menyala yang melayang di sisi kiri dan kanan gerbang itu."Selamat datang di lantai sembilan puluh sembilan dalam Menara Yenos." Jelas Odin sambil berjalan ke arah gerbang besar itu, sementara Afdan mengikut di belakang."Menara Yenos?""Ya, Menara Yenos adalah tempat di mana keturunan langsung para Dewa menjalani ujian mereka demi mendapatkan hak untuk menyandang gelar Dewa.""Dewa...? Jadi, maksudmu Dewa itu nyata!?""Mungkin akan lebih baik kalau kau berhenti terkejut, soalnya lama-lama mataku jadi terasa aneh kalau melihat matamu selalu terbuka terlalu lebar... Tapi, seperti itulah. Dan gadis kecil itu... adalah salah satu dari mereka."Afdan baru menyadari sesuatu. Nama Odin sendiri berasal dari nama dewa tertinggi dalam mitologi Nordik. Namun, Odin yang ini tidak memiliki kekuatan yang sama dengan Odin dalam legenda itu. Jadi, kenapa dia menggunakan nama Odin? Padahal kekuatan terkuat yang dimilikinya adalah mengendalikan lautan."Odin... " Afdan berbisik."Aku tahu apa yang kau pikirkan, Afdan." Anak berambut biru itu tersenyum kecil. "Tapi aku menggunakan nama Odin karena kebetulan dia adalah temanku.""Teman — ""Kumohon, berhentilah melebarkan matamu... " Tukas Odin kesal."Oh, iya, maaf." Kata Afdan sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan gelisah. "Lalu, bagaimana dengan gadis kecil itu?""Yah, seperti yang kukatakan, dia adalah Dewa." Odin tersenyum kecil. "Dia adalah satu-satunya Dewa Baru yang lahir dari manusia yang murni.""Tunggu... maksudmu, awalnya dia itu manusia? Tapi dia berubah menjadi Dewa?""Yap, persis seperti itu. Demi menolong teman-temannya, dia rela menembus batasan tertinggi kekuatannya, dan berubah menjadi makhluk dewata. Namun, karena tubuh manusianya tak mampu menahan kekuatan itu, akhirnya dia berakhir menjadi seperti sekarang ini." Odin mendongak ke atas sedikit, seakan-akan dia tengah membayangkan masa lalunya. "Yah... pada akhirnya mereka semua tidak selamat... sungguh menyedihkan... "Afdan melihat jelas air mata yang tertahan di pelupuk mata Odin. Entah apa yang sebenarnya tengah dibayangkan oleh anak itu sampai dia jadi seperti sekarang ini."Kau... mengenalnya, kan?" Tanya Afdan."Namanya adalah Amalia, dulu kami itu teman seperjalanan, dan dia adalah manusia paling kuat yang pernah kutemui... Amalia memiliki kemampuan yang membuatnya berkuasa atas kekuatan itu sendiri. Yah, itulah sebabnya dia sangat tangguh sebagai seorang gadis.""Maksudmu?""Oke, sudah cukup basa-basinya. Sekarang, masuklah ke sana, dan pancinglah makhluk itu ke sini, biar aku bisa memusnahkannya, lalu kau bisa mengambil benda yang kita butuhkan untuk menolong gadis itu." Jelas Odin."Tunggu, apa!? Kau menyuruhku masuk ke sana sendirian!? Kau lihat sendiri bagaimana besarnya gerbang ini! Apapun yang ada di dalam sana pasti seukuran dengan gerbang ini! Dan kau menyuruhku masuk ke sana sendirian!?""Yah... maka dari itu aku menyuruhmu untuk memancing makhluk itu ke tempatku... aku nggak bisa masuk ke sana karena aku memiliki nama Odin.""Tapi... aku hanya manusia biasa...""Tenang saja, kau itu adalah Yang Terpilih. Selama takdir itu masih melekat padamu, maka kujamin kau tidak akan mati konyol." Ujar anak berambut biru itu sambil membentuk senyuman penuh ketulusan di bibirnya."Yah... baiklah kalau begitu." Afdan dengan ragu mulai melangkah masuk melalui gerbang itu."Kau adalah Yang Terpilih sekaligus Yang Tak Terlihat! Jadi, camkan ini! saat semuanya selesai, maka kau tidak akan sama lagi!" Sahut Odin.Afdan tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan Odin. Mengingat dirinya juga sudah terlanjur mengetahui semua rahasia-rahasia itu. Akan tetapi, walau Afdan juga telah mengetahui tentang takdir hebat yang mengikat dirinya, entah kenapa dia tetap tak merasa senang atau apa. Dia hanya merasa ganjil.Jika benar tindakannya saat ini bisa berguna bagi gadis malang itu, maka Afdan juga tidak akan keberatan. Toh, Afdan sendiri memang berniat untuk menolongnya sejak awal."Tapi... aku harap dia akan memberikanku sesuatu saat ini selesai... " Gumam Afdan.Lalu, dalam perjalanannya menyusuri terowongan yang besar dan panjang itu, Afdan juga mendapati gambar-gambar aneh yang terukir rapi di sepanjang dinding gua.Afdan tertawa pelan. "Rasanya kayak lagi di dunia game saja, deh."Gambar itu tampaknya menceritakan tentang kisah suatu makhluk raksasa berkaki empat dengan bentuk tubuh yang tidak jelas, yang ditugaskan untuk menjaga sebuah gerbang. Tapi, di gambar selanjutnya dijelaskan kalau makhluk itu tiba-tiba saja malah menyerang gerbang itu, hingga akhirnya ada seseorang yang datang menghukum makhluk itu dan mengurungnya ke dalam menara ini.Namun, saat tiba di ujung lorong itu, mata Afdan tiba-tiba terbuka lebar. Dia menyadari sesuatu, dan itu membuat wajahnya berubah menjadi sangat pucat.Afdan memang tidak paham dengan maksud cerita pada gambar itu, tapi dia tadi jelas-jelas melihat bagaimana besar dan megahnya gambar makhluk itu, sementara gambar sosok orang yang mengusir makhluk itu saja tidak lebih besar dari pada kuku kaki makhluk itu.Yah, itu kabar buruk. Benar-benar kabar yang sangat buruk.Ruangan yang berada di depannya masih dipenuhi kegelapan, tapi Afdan tahu kalau dia melangkahkan kakinya lebih jauh lagi, pasti Afdan akan melihat wujud sebenarnya dari makhluk yang ada di gambar itu dengan mata kepalanya sendiri."Apa yang harus kulakukan... "Namun, semuanya sudah terlambat."Eh...?"Afdan sama sekali tidak tahu kalau suaranya ternyata malah membuat cahaya yang ada di tempat itu menjadi menyala.Afdan berusaha menggerakkan lehernya yang kaku dan memandang lurus ke atas. Ada suatu bongkahan permata raksasa berbentuk bunga yang menempel pada langit-langit dan menyinari tempat ini dengan cahaya putih terang."Tuhan... tolong aku... " Bisik Afdan dengan suara gemetar.Afdan menjerit dalam hati.Dia sengaja mengarahkan pandangan matanya ke arah langit-langit karena Afdan sadar betul akan keberadaan sesosok makhluk yang tengah berdiri di depannya. Makhluk itu benar-benar sangat-sangat-sangat besar dan lebar layaknya sebuah pulau.Perasaan yang mengerikan merasuk ke dalam diri Afdan. Nafasnya tertahan, jantungnya berdegup kencang, seluruh tubuhnya gemetar, dan keringatnya mengalir sangat deras sampai-sampai bajunya basah dalam sekejap mata.Sekali lagi, Afdan berusaha untuk tidak menatap makhluk itu, dan mengarahkan pandangannya lurus ke depan melalui bagian bawah makhluk itu. Namun di saat itulah, Afdan melihat sesuatu yang lain. Sesuatu yang berhasil mengusir semua perasaan mengerikan dalam diri Afdan begitu saja hingga lenyap tanpa sisa."Gerbang... emas?"Pandangan Afdan tertuju pada gerbang itu — gerbang besar dan mengkilap yang tampaknya terbuat dari emas sungguhan. Apapun yang ada di balik gerbang itu, pastilah sesuatu yang sangat berharga.Namun, makhluk raksasa berkaki empat, berbentuk abstrak dan berkulit abu-abu itu tiba-tiba saja mulai menjerit sangat keras hingga membuat dunia di sekitar Afdan terasa berguncang hebat."Apa-apaan!"Afdan langsung mengambil langkah seribu begitu makhluk itu selesai menjerit, dan pada saat itu pula, keempat kaki makhluk itu mulai bergerak mengejar Afdan."Ini gila! ini sangat gila!"Makhluk itu masih mengejar Afdan dari belakang. Yah, setidaknya, gerakan makhluk itu tidak terlalu cepat, jadi Afdan masih memiliki peluang untuk selamat. Tapi, Afdan tidak mampu membayangkan jika dirinya diinjak oleh makhluk itu. Entah akan jadi seperti apa bentuk tubuhnya."Cepat ke sini!"Afdan mendengar sahutan Odin dari ujung terowongan, tapi dia tidak melihat sosok anak itu."Ah! Persetan!"Afdan terus berlari, berlari, dan berlari, hingga akhirnya dia berhasil keluar dari terowongan. Nafasnya terengah-engah, dan matanya dengan liar mencari-cari keberadaan Odin."Sialan! kau dimana, Odin!?""Hey! Aku di sini!" Teriak Odin yang ternyata sedang berada di udara."Syukurlah — "Namun, mata Afdan langsung terbuka sangat lebar waktu dia mendongak ke atas dan mendapati pemandangan yang amat mengerikan sekaligus menakjubkan.Inilah wujud dari kekuatan sejati Odin sang Pembebas.Odin melayang di udara dan tangan kanannya terangkat ke atas seolah dia sedang menahan sesuatu. Yah, dia memang sedang menahan sesuatu dengan lengan mungilnya, dan sesuatu itu adalah lautan. Di atas sana, air membentang dan menutupi seluruh langit-langit gua, dan sumber dari lautan itu adalah telapak tangan kanan Odin.Odin mengacungkan tangan kirinya ke arah Afdan seraya mengucap kalimat-kalimat aneh, "Ictus! Flovugite Aer!""Loh!?" Tiba-tiba tubuh Afdan mulai terangkat ke udara begitu saja, lalu tiupan angin menggerakkannya dan mengantarkan Afdan ke sisi Odin. "A-aku melayang! Aku benar-benar terbang!""Kisah anak itu sebentar lagi akan selesai." Odin angkat bicara. "Dan waktumu untuk memberikan jawaban yang terakhir sudah dekat, jadi bersiaplah, Afdan.""Yah... tentu saja." Jawab Afdan santai.Langkah kaki makhluk raksasa itu semakin dekat, dan suara bongkahan-bongkahan batu yang berjatuhan juga terdengar dari dalam terowongan. Entah makhluk apa itu sebenarnya, tapi warna tubuhnya sama seperti abu dari kayu bakar, dan postur tubuhnya juga tampak seperti hewan berkaki empat pada umumnya, namun jika dilihat sekilas, makhluk itu malah hampir sama seperti alien atau sejenis serangga."Kau tahu, Afdan? Kau itu manusia yang sangat unik." Ujar Odin tiba-tiba."Hah?""Kau adalah penerima, Afdan. Tapi, kau menerima segalanya dengan berlebihan, sampai-sampai kau tidak memikirkan dirimu sendiri. Sungguh, kau orang yang sangat aneh, dan manusia paling unik yang pernah kutemui.""Eh... ngomong-ngomong, bisakah kau urus itu dulu?"Diiringi suara teriakan yang melengking dan menggetarkan dunia, makhluk besar itu akhirnya berhasil keluar dari terowongan. Gerbangnya terhempas jauh karena hentakkan yang kuat, dan kedua kristal lampu itu melayang pergi menyelamatkan diri."Wah! Akhirnya kita bertemu lagi! sang Penjaga Gerbang Pohon Keabadian, Jerikho!" Bisik Odin sambil menatap tajam pada makhluk itu, dan begitu pula sebaliknya. Makhluk itu terlihat geram waktu menyadari keberadaan Odin.Makhluk itu, Jerikho menjerit keras setelah mendengar ucapan Odin."Baiklah, aku tidak bisa berlama-lama lagi. Aku akan menyelesaikan ini sekarang juga!" Odin menurunkan tangan kanannya ke bawah, dan di saat yang bersamaan, lautan yang mengambang di langit-langit akhirnya jatuh dan membuat gua hampir penuh dengan air.Dari atas sana Afdan dan Odin menonton Jerikho yang tengah dilumat oleh lautan. Seakan sedang terjadi badai hebat di bawah sana, dan Jerikho yang terombang-ambing oleh ombak hanya bisa meraung tak karuan."Cepat kembali ke dalam sarang Jerikho dan buka gerbang emas itu!" Perintah Odin. "Sihir yang kuberikan padamu akan melindungimu dari lautan! Cepatlah!"Afdan mengangguk mantap, kemudian ia menukik ke bawah dan terbang melesat melalui terowongan, hingga dia akhirnya tiba di depan gerbang emas itu.Afdan memandang telapak tangannya dengan ragu-ragu, tapi, tekadnya sudah bulat. Dia akan menyelamatkan gadis itu apapun yang terjadi. Lalu setelah Afdan berhasil mengalahkan keraguannya, dia pun mendorong gerbang itu dengan kedua tangannya, dan pada saat itu pula, pancaran sinar yang amat terang yang berasal dari balik gerbang memaksa Afdan menutup matanya."Eh...?" Tetesan air yang jatuh di atas kepalanya membuat Afdan tersadar kembali.Hujan.Afdan memandang ke segala arah. Ternyata mereka sudah kembali ke perempatan itu, tepat di tengah jalan bersama Odin. Namun, Afdan merasa aneh. Dia seakan tidak bisa mendengar apa-apa. Dunia ini terasa sangat senyap sekarang.Di sana ada banyak orang yang keheranan dengan kemunculan mereka berdua. Polisi mulai berdatangan, dan begitu pula orang-orang dari saluran berita. Kilatan-kilatan menyilaukan dari kamera timbul tiada henti hingga membuat mata Afdan menjadi sedikit perih."Kita sudah kembali...?" Tanya Afdan pada Odin yang masih berdiri di sampingnya."Ya." Jawab Odin singkat. "Semuanya sudah selesai... "Dia mengarahkan pandangannya pada sesuatu yang ada tangannya; itu adalah buah apel yang seluruhnya berwarna emas. Tapi, anehnya Afdan sama sekali tidak tahu bagaimana ia mendapatkan apel ini. "Apa?""Gerbang emas itu adalah hadiah terakhir dari Menara Yenos. Gerbang itu akan memberikanmu sesuatu yang paling kau butuhkan dalam kehidupanmu. Entah itu uang, kekuatan, status, atau apapun. Tapi... apel ini adalah bentuk hadiah tertinggi dari gerbang itu. Dan jujur saja, aku bahkan masih nggak percaya kalau kau ternyata berhasil mendapatkan apel ini." Jelas Odin. "Sepertinya kau memang benar-benar ingin menyelamatkan gadis ini..." Odin menunduk memandang gadis berwajah kosong yang duduk di depan mereka.Afdan sama sekali tidak menyadari keberadaan gadis malang itu."Baiklah, ini pertanyaan terakhirnya." Kata Odin dingin.Afdan menjadi tegang, dan jantungnya berdegup kencang."Apa kau ingin menyelamatkan gadis ini, atau membiarkannya. Jika kau ingin menyelamatkannya, maka berikan apel itu padanya. Tapi, jika kau tidak ingin menolongnya, maka buanglah apel itu."Pemikiran Afdan sempat berhenti sebentar setelah mendengar pertanyaan itu. Afdan tidak tahu apa-apa tentang apel ini. Jika dia memberikannya pada gadis itu, itu artinya dia akan selamat, tapi Afdan tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Namun, jika Afdan membuang apel itu, maka semua usahanya tadi akan sia-sia, dan nasib gadis ini tidak akan berubah."Kesempatanmu hanya satu. Tugasmu sebagai Yang Terpilih akan berakhir, tapi tugasmu untuk menggantikannya sebagai Yang Tak Terlihat akan ditentukan setelah kau menentukan pilihanmu. Jadi bagaimana?"Afdan tersenyum kecil. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin ketawa sekarang."Tentu saja akun akan menyelamatkannya." Afdan berlutut satu kaki di depan gadis itu dan membuat kilatan-kilatan kamera menjadi semakin heboh. Lalu dia pun mengulurkan apel itu pada si gadis. "Kamu lapar, nggak?"Anak itu hanya mengangguk pelan untuk menanggapi pertanyaan Afdan."Apa kau mau apel ini? Aku juga nggak tahu rasanya sih, tapi aku jamin, rasanya pasti sangat enak." Afdan membentuk senyuman manis di bibirnya. Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya, dia akhirnya bisa berbuat sesuatu untuk menolong gadis ini.Lambat laun, tangan gadis kecil itu mulai bergerak, dan ia menggapai apel yang ada di tangan Afdan. Dengan satu tarikan nafas yang terdengar sangat berat dan menyakitkan, gadis itu pun menggigit apel itu dan mengunyahnya tanpa suara."Selamat, Afdan, kau mewarisi Bakat Jiwanya sebagai Tuan Atas Kekuatan." Kata Odin.Di depan matanya sendiri, Afdan menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan itu dengan kedua matanya. Waktu itu, rasanya seperti ada seribu tombak yang menghujam tubuhnya di saat yang bersamaan.Suatu rasa sakit yang tak terbayangkan.Nafas Afdan tertahan, dia merasa tercekik, dan jantungnya seakan berhenti berdetak."Sampai jumpa... Amalia... kawanku." Bisik Odin teramat sangat pelan sembari melangkah pergi meninggalkan Afdan yang mematung.Gadis mungil itu — seseorang yang selama ini Afdan ingin selamatkan — perlahan mulai lenyap. Ia berubah menjadi debu-debu cahaya emas yang kemudian berhamburan ke langit malam dan lenyap tanpa sisa bersama dengan apel emas itu."Ti-TIDAK!!!"Teriakan keputusasaan Afdan malam itu mengakhiri kisah gadis kecil itu.

Pelukan & Sayatan Masa Depan
Fantasy Wattpad
02 Dec 2025

Pelukan & Sayatan Masa Depan

Pernah melihat seekor banteng bertanduk besar berjalan dengan boneka porselen yang mungil? Seperti itulah rupa Jaka dan Ratna saat mereka sedang menghabiskan waktu malam minggu mereka di pekan raya.Mereka berdua begitu berbeda, bukan hanya dari penampilan, tapi juga latar belakang. Ratna adalah seorang akuntan di sebuah perusahaan bisnis ternama, penampilannya rapi, dan badannya tidak tinggi. Sementara Jaka adalah seorang preman.Bukan hanya seorang preman biasa, tapi ketua preman di Gang Girang. Jaka ditakuti oleh orang-orang sekitar dengan perawakannya yang besar dan amarahnya yang tidak kalah besarnya. Sumbunya juga sependek rambutnya yang dipotong cepak, potongan yang dia pilih karena anak buahnya mengatakan itu modis—dan dia sudah menjitak dengan keras mereka yang mengatakan sebaliknya.Sebelum bertemu dengan Ratna, malam Minggu Jaka dimulai dengan mengamankan daerah kekuasaannya dari ancaman-ancaman geng saingan, sekaligus mengumpulkan uang dari toko-toko sekitar yang berterima kasih banyak—tanpa paksaan atau ancaman apapun, kata Jaka—karena sudah mengamankan toko mereka dari bahaya kekerasan dan perampokan.Lalu ketika itu semua selesai, dia akan pergi ke warung langganannya untuk memikirkan tujuan hidupnya yang cukup sederhana, yang terakhir setelah harta dan tahta, yaitu wanita.Ketika Jaka masih menjadi ajudan ketua geng yang sebelumnya, dia pernah bertanya apa yang diperlukan lelaki sejati seperti dirinya agar bisa dianggap sukses dalam hidupnya. Sang ketua menjawab kalau dia harus memiliki ketiga hal tersebut, karena hidup harus dinikmati semaksimal mungkin karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok harinya.Jaka sangat menganggap serius pesan dari sang ketua, saking seriusnya sampai dia melengserkannya dan membuat sang "mantan" ketua harus dirawat inap di rumah sakit luar kota demi keselamatannya.Sebagai ketua yang baru, Jaka sudah memiliki harta dan tahta. Sekarang, tinggal wanita saja. Bagi Jaka yang sering membajak TV warung untuk memutar sinetron-sinetron romansa favoritnya, dia tahu kalau wanita tidak bisa dibeli begitu saja dengan uang, karena itu bukanlah cinta yang tulus. Seorang wanita harus bisa didapatkan dengan menggunakan usaha dan pesonanya sendiri sebagai seorang laki-laki sejati. Lebih dari satu wanita sudah berusaha mendekatinya karena posisi dan statusnya, tapi tidak ada satupun yang Jaka terima karena dia bisa merasakan kalau mereka tidak tulus kepadanya.Hal ini membuat Jaka gundah, yang bisa dilihat jelas oleh orang sekitarnya ketika dia menghabiskan minimal tujuh gelas soda gembira di warung dan menonton sinetron dengan tatapan murung. Terkadang dia memejamkan matanya dan membayangkan dirinya sedang mencium seorang wanita saat sebuah adegan romansa sedang berlangsung, terus berharap dalam hatinya kalau suatu saat akan datang wanita yang dia idamkan selama ini."Heh! Ngapain kalian lihat-lihat?!"Itulah saat Jaka pertama kali mendengar suara Ratna, yang langsung tersentak keluar dari fantasinya untuk melihat apa gerangan yang terjadi di luar warung."Sini dong cantik...""Ayo mbak, ikut sama kita..."Begitulah kata Bang dan Sat, kedua anak buah Jaka yang duduk di depan warung dan sedang berusaha memikat hati seorang wanita yang lewat di hadapan mereka, Ratna. Tidak seperti wanita lainnya yang biasanya mempercepat langkah dan mengabaikan mereka, Ratna menunjukkan kekesalannya dengan mengucapkan berbagai sumpah serapah kepada mereka berdua. Beberapa kata-kata yang diucapkannya bahkan belum pernah Jaka dengar sebelumnya, membuatnya begitu penasaran, sementara Bang dan Sat hanya tertawa mendengar makiannya.Jaka mulai berpikir, apakah ini wanita yang dicarinya selama ini? Bang dan Sat mengincarnya, jadi sudah pasti wanita ini berbeda dari wanita yang biasanya. Lalu dia menunjukkan perlawanan, yang artinya menunjukkan kalau dia seorang pemberani, cocok untuk pasangan seorang ketua preman sepertinya. Untuk rupa, wanita ini juga terlihat cukup menawan, setidaknya untuk selera Jaka.Tapi apa yang Jaka dapat katakan untuk menarik perhatiannya? Apa mungkin dimulai dengan yang sopan seperti bertanya siapa namanya? Atau langsung mendatanginya? Atau mungkin...Apapun yang Jaka pikirkan, Bang, Sat, dan Ratna hanya melihat responnya."Grrr..."Geraman itu saja yang Jaka dapat keluarkan karena saking bingungnya dia untuk menentukan apa yang dia dapat katakan.Bang dan Sat yang tunduk kepada bos mereka, segera pergi tanpa berkata apapun, mengira kalau mood Jaka sedang buruk. Sementara Ratna mengucapkan kata-kata yang Jaka tidak sangka sama sekali."Terima kasih!" sahut Ratna dengan lega sambil berjalan ke arah Jaka, "Kukira aku akan terus diganggu sama dua orang itu, untung saja anda muncul.""Hmm," gumam Jaka yang masih tidak bisa merangkai kalimat karena suasana hatinya yang gembira."Siapa namamu?"Begitulah cerita bagaimana Jaka bertemu dengan Ratna, yang kemudian saling mengenalkan nama mereka dan berjanji untuk bertemu lagi di lain waktu.Tapi seperti yang Jaka tahu, dari pengalamannya sebagai ketua, mendapatkan daerah kekuasaan itu tidak sulit. Mempertahankannya, itu lain cerita, dan Jaka mulai merasa kalau mempertahankan Ratna akan lebih sulit dibanding saat mendapatkannya. Hal ini terus Jaka pikirkan saat dia terus berjalan bersama Ratna di pekan raya, wajahnya tetap diam membatu."Ada apa, Jaka?""N-Nggak kenapa-napa kok, Rat..." kata Jaka dengan nada ragu yang pasti akan membuat orang sekitarnya menoleh dan bertanya-tanya kenapa lelaki perkasa sepertinya bisa dibuat grogi dengan sebuah pertanyaan yang sederhana."Kalau ada masalah mending kamu cerita sama aku," Ratna berkata dengan senyuman manis, "Aku pendengar yang baik lho."Jaka mengangguk mendengarnya, dan mencoba tersenyum ke Ratna dengan senyuman yang bisa membuat anak kecil menangis. Untungnya Ratna bukan anak kecil, dan dia menganggapnya manis karena tertawa melihat usaha Jaka."Begini... sebenarnya sudah tiga hari ini aku mendapatkan mimpi itu. Mimpi yang sangat aneh... ""Hmm? Mimpi seperti apa? Coba kamu jelaskan semuanya." Ujar Ratna tampak tertarik."Di mimpiku... aku seperti sedang berada di tempat yang sangat-sangat gelap, tapi anehnya aku bisa melihat dengan jelas. Dan ada seseorang di tempat gelap itu. Dia seorang wanita yang sangat cantik deh pokoknya... dan sangat... sempurna.""Heh...?" Ratna memasang senyuman yang aneh saat mendengar penjelasan Jaka.Jaka yang mengerti maksud dari senyuman itu buru-buru melanjutkan ceritanya, agar Kekasihnya itu tidak salah kaprah."A-ah! Tapi, aku tidak peduli dengan kecantikannya kok!" Celetuk Jaka takut-takut.Ratna tertawa pelan. "Nggak usah panik begitu dong." Kata Ratna. "Tapi, yah mimpimu memang sangat aneh sih menurutku.""I-iya... Sudah tiga malam aku memimpikan tentang gadis itu. Di tempat yang gelap itu, gadis itu duduk di udara, dan dia terus memandangku dengan tatapan tajam. Hingga akhirnya, tadi malam, gadis itu berhenti menatapku dengan tatapan sinisnya, dan turun dari kursinya yang tak terlihat. Kemudian... dia berjalan ke arahku.""Hah!? Terus!? Apa yang terjadi!?" Pekik Ratna yang semakin penasaran."Dia berkata kalau dia memilihku... Dan dia akan mencobaiku terlebih dahulu... Lalu, saat dia selesai bicara, aku langsung terbangun karena panik.""Lho... Gitu doang?" Tanya Ratna yang kini keheranan. "Aku nggak paham... ""Iya... aku juga sama kok—""Aku yang duluan!""Nggak, aku!""Enak saja!"Sebuah keributan tiba-tiba dapat mereka dengar, yang berasal dari kios es krim. Mereka berdua segera menoleh dan melihat Bang dan Sat sedang bergumul di tanah tanpa peduli atau tahu kalau mereka sekarang menjadi pusat perhatian."Dasar tukang nyerobot!""Salahnya sendiri pergi duluan!""Sudah kubilang jagain tempatku!"Melihat ini, Jaka membuat catatan ke dirinya untuk segera menjitak dengan keras kedua bawahannya itu saat mereka bertemu lagi di warung karena telah membuatnya malu di depan wanita yang disukainya."Huh, dasar preman-preman kasar," kata Ratna dengan ketus, membuat Jaka langsung menoleh ke arahnya dan melihat Ratna menatap mereka seperti bagaimana seseorang melihat gundukan sampah yang bau, "Aku benci orang-orang seperti itu."Secepat jentikan jari, Ratna menoleh ke Jaka dengan senyuman manis yang harusnya bisa melelehkan hati Jaka, "Tapi untung saja kamu tidak seperti mereka. Ya kan, Jaka?"Namun Jaka terlalu terhenyak mendengar kata-kata Ratna yang sebelumnya untuk menikmati senyuman itu. Kalau sampai Ratna tahu Jaka seorang preman, apalagi kalau tahu amarahnya serupa dengan amarah banteng saat melihat warna merah, habislah hubungan mereka."Hngh," hanyalah kata yang Jaka dapat ucapkan dan Ratna menganggapnya sebagai tanda dia setuju."Yuk, kita cari wahana yang lain saja!" kata Ratna dengan semangat sambil menarik tangan Jaka.Sebuah pergumulan juga sedang terjadi di pikiran Jaka, apa yang dia harus katakan kepada Ratna? Jaka tidak mau berhenti begitu saja menjadi preman, ini adalah hidupnya, dia tidak tahu apa yang dia harus lakukan kalau seandainya dia tiba-tiba berhenti. Apa mungkin kalau dia harus menyembunyikan pekerjaan premanismenya—kalau itu sebuah pekerjaan atau bahkan kata yang sah—untuk seterusnya? Atau Jaka harus mengambil keputusan yang paling sederhana, tapi juga yang tersulit, yaitu jujur saja kepada Ratna?Tiba-tiba mata Jaka tertuju ke sebuah tenda kecil yang terletak agak jauh dari keramaian, rupanya terlihat mencolok karena kainnya yang berwarna putih bersih. Sebuah papan kayu terpasang di depan tenda itu dengan tulisan serapi sebuah kaligrafi yang berkata "RAMALAN MASA DEPAN: GRATIS".Tidak ada manusia yang tidak suka dengan kata gratis—dengan beberapa pengecualian—termasuk Jaka. Mungkin ini kesempatan baginya untuk mengetahui keputusan apa yang dia harus ambil untuk menjaga hubungannya dengan Ratna."Ratna, kita ke situ saja yuk," ajak Jaka sambil menunjuk ke tenda itu, "Sepertinya menarik.""Wah, boleh tuh! Yuk!"Ketika memasuki tenda itu, entah kenapa Jaka merasa kalau dirinya seakan sedang berada di dunia lain, dan itu bukan kiasan belaka. Selain udara yang terasa lebih dingin, cahaya terang yang masuk lewat jendela-jendela yang tinggi dan anggun membuatnya seakan berada di siang hari yang cerah dan bukan lagi di malam pekan raya. Tidak mungkin tenda yang terlihat sebesar warung di Gang Girang bisa menampung sebuah aula yang seluas lapangan sepak bola di dekat rumahnya dan setinggi gedung kantor Ratna.Keduanya mendongak ke atas dengan keheranan."Kayaknya ada yang nggak beres deh... Tapi tempat ini keren banget deh kalau dipikir-pikir." Gumam Ratna. Kekaguman terpancar di wajahnya yang cantik."Ada yang bisa saya bantu?"Suara perempuan berlogat asing itu mengejutkan Jaka dan Ratna, yang seakan muncul begitu saja di belakang mereka dengan badan yang tinggi dan tegap seperti seorang pelayan yang terlatih.Mempertajam matanya, Jaka mulai mengamati perempuan itu sambil memosisikan tangannya di depan Ratna untuk menjaganya. Perempuan itu juga menatapnya dengan mata yang tajam dan terlihat licik seperti seekor rubah yang mengamati mangsanya. Jaka juga menganggapnya seperti rubah, dengan rambut panjang berwarna jingga kemerahan dan sosoknya yang ramping mengenakan pakaian formal bagaikan pelayan.Tapi rupa pelayan ini begitu kontras dengan rupa aula tempat mereka berada, yang memiliki langit-langit yang tinggi dan ditopang oleh pilar-pilar batu yang kokoh, begitu juga dengan tangga-tangga ukiran yang mengarah ke bawah mereka. Dalam tenda ini—kalau masih bisa dibilang begitu—malah seperti aula sebuah katedral lama yang Jaka sering lihat dikunjungi oleh turis."Kami ingin melihat masa depan," jawab Ratna dengan polos, membuat Jaka merasa kalau Ratna sepertinya mengabaikan keanehan tempat ini."Silahkan duduk terlebih dahulu," kata sang pelayan yang menunjuk ke kursi-kursi yang mengitari sebuah meja kecil bertaplak putih yang terlihat begitu kecil dibandingkan dengan luasnya aula. "Saya akan memanggil orang yang anda cari."Jaka masih terus menatap tajam pelayan itu, memberinya tatapan yang selama ini dia gunakan setiap kali sedang menagih hutang ke para pemilik toko setempat. Tapi pelayan itu tidak bergeming, sampai Jaka merasa kalau mata sang pelayan bahkan tidak berkedip dari tadi."Ayo Jaka, sini duduk.""Ah—oke," jawab Jaka yang sesaat menoleh memandang kekasihnya, dan kemudian sempat mengalami serangan jantung kecil ketika melihat kalau sang pelayan telah menghilang dari hadapannya ketika dia menoleh ke Ratna. Bulu kuduknya mulai berdiri, dan sang preman Gang Girang mulai mengakui di dalam hatinya kalau dia merasa takut.Demi Ratna, dia tetap memasang wajah tegar. Tapi Ratna sepertinya tahu tentang itu."Kamu kok pucat? Ada apa?""Nggak ada apa-apa kok," jawab Jaka dengan datar sambil mengusap keringat dingin di dahinya, "Kayaknya di sini terlalu panas, aku jadi nggak nyaman.""Hahaha, masa sih? Tempat ini dingin lho, kayak saat kamu ngajak aku pergi ke puncak," Ratna tersenyum dengan manis, mengingat momen-momen menyenangkan yang mereka habiskan bersama di tempat itu, "Pasti tempat ini pakai banyak AC supaya bisa bikin suasana dingin ini."Jaka hanya mengiyakan kata-kata Ratna, tidak berani mengatakan kalau hawa dingin ini malah terlalu mirip dengan hawa pegunungan. Apapun yang perempuan aneh itu akan lakukan, Jaka akan melindungi kekasihnya."Selamat datang," kata satu suara lelaki dengan logat yang sama asingnya bagi Jaka, "Maaf membuat kalian berdua menunggu."Pelayan itu kembali muncul dari tangga yang mengarah ke bawah tanah sambil menuntun orang yang Jaka anggap sebagai sang peramal. Jaka yakin dia seorang laki-laki karena suaranya, meski penampilannya terlihat feminin baginya, dengan rambut putih panjang yang mencapai pundaknya, begitu pula dengan wajahnya yang terlihat halus serta kulitnya yang sepucat jubah putih yang dia kenakan. Jelas kalau sang peramal ini juga buta, karena sebuah kain sutra putih menutupi matanya—atau mungkin seperti itulah."Jadi," kata sang sang peramal yang dibantu duduk oleh sang pelayan, "Siapa yang ingin melakukannya terlebih dahulu?""Aku!" jawab Ratna dengan penuh semangat, "Tapi boleh aku bertanya dulu?""Silahkan.""Kenapa gratis? Bukannya melihat masa depan itu membutuhkan kemampuan yang khusus ya? Jadi harusnya ada..." Ratna diam beberapa saat selagi memikirkan kata-kata yang tepat sebelum melanjutkan kalimatnya, "Bayarannya, bukan?""Sebelum saya mendapatkan anugerah ini, saya juga memikirkan hal yang sama," jawab sang peramal dengan tenang, "Tapi ternyata orang-orang tidak ingin mendengar masa depan mereka sendiri karena mereka takut kalau masa depan itu tidak mereka sukai dan tidak dapat dihindari. Lagipula saya juga tidak membutuhkan uang, saya hanya ingin mencoba melihat masa depan orang lain selain raja-raja dan para penguasa yang sering berusaha mencari saya."Jaka mendengus mendengar penjelasan sang peramal, ini pasti sekedar skenario akal-akalan supaya dia dapat terdengar lebih menyakinkan. Tapi sebuah suara kecil di dalam dirinya merasa kalau semua yang peramal itu katakan memang benar, dan dari nadanya menjelaskan, bisa jadi dia jauh lebih tua dari rupanya."Oh begitu rupanya. Terima kasih atas penjelasannya, tuan peramal," kata Ratna dengan sopan, "Kalau begitu saya tidak usah dilihat masa depannya, mungkin apa yang anda bilang memang benar. Biar saja masa depanku menjadi kejutan, kayaknya nggak seru deh kalau tahu apa yang akan terjadi nantinya, hahaha!"Sang peramal hanya tersenyum mendengarnya, seakan Ratna telah mengambil keputusan yang bijak, atau karena sang peramal memang memiliki pribadi yang lembut."Peramal," kata Jaka dengan nada tinggi, "Baca masa depanku.""Baik, apa mungkin anda ada permintaan yang lebih spesifik?""Soal asmara.""Letakkan tangan anda di sini," kata sang peramal yang mengulurkan telapak tangannya ke Jaka, "Dan saya akan lihat."Tangan sang peramal terasa begitu mulus dan dingin, tapi Jaka tidak begitu memikirkannya dan menoleh ke Ratna sambil memberikannya senyum yang penuh percaya diri. Baginya, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan keberaniannya di depan Ratna, kalau dia tidak takut dengan masa depannya."Terima kasih," kata Sang peramal sambil menarik lagi tangannya, membuat Jaka terkejut karena dia hanya membutuhkan beberapa detik untuk melihat masa depan, "Jadi apa anda mau saya berbohong atau jujur saja?""Hah!? Apa maksudmu?!" sahut Jaka dengan bingung, mengejutkan Ratna yang tidak pernah mendengar Jaka menggunakan suara sekeras itu, suara yang Jaka sering gunakan untuk mengintimidasi lawannya sebelum melakukan tawuran."Saya rasa kejujuran adalah kebijakan yang terbaik, Karena itu saya tidak akan menyembunyikan apapun," jawab sang peramal dengan polosnya, "Tapi banyak orang hebat sekalipun yang tidak puas mendengar ramalan saya yang sejujurnya, jadi saya bisa memberikan ramalan bohong yang sangat enak untuk didengar.""Bohong seperti apa?!""Seperti, 'hubungan dengan pasangan anda akan berjalan mulus tanpa hambatan apapun'."Kata-kata sang peramal membuat Jaka naik pitam, dan Ratna tidak pernah melihat wajah sebuas itu sejak dia melihat dokumenter tentang serudukan banteng di Spanyol."Lalu ramalan yang sebenarnya akan seperti apa?!""Yah, kalian akan putus malam ini juga."Biasanya orang-orang yang mendengar kejujuran sang peramal segera pergi dengan penuh amarah tanpa berkata apapun, atau menyangkal sang peramal.Namun, Jaka tidak seperti mereka. Dengan satu pukulan yang perkasa, sang peramal terpental ke belakang dan pelayannya langsung berlari menghampirinya. Sebuah kepuasan bagi Jaka untuk melihatnya terkapar lemas di lantai setelah mendengarnya mengatakan hal yang dia tidak ingin dengar.Tapi sebuah langkah kaki yang semakin menjauh darinya membuat Jaka sadar dari amarahnya. Ketika dia menoleh, dia hanya melihat Ratna yang berjalan keluar menjauh dari dirinya. Sebuah kata-kata permohonan dan maaf segera terucap dari mulutnya yang tidak didengarkan oleh Ratna.Sekarang Jaka sadar betapa bahayanya mengetahui masa depan, dan ketika Ratna pulang dengan sendirinya, Jaka berusaha mencari tenda kecil milik sang peramal, tapi dia tidak menemukannya.Untuk pertama kalinya bagi Bang dan Sat yang melihat Jaka dari kejauhan, mereka melihat sang ketua preman Gang Girang menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.Mungkin Jaka harus bersiap mempertahankan kedudukannya dari kedua bawahannya yang menganggap kalau dia sudah melunak.Mungkin Jaka tidak sadar dengan pepatah yang mengatakan kalau cinta sejati tidak akan selalu berjalan dengan mulus, dan sang peramal hanya mengatakan kalau malam itu mereka akan putus.Mungkin saja kalau Jaka dan Ratna dapat kembali berbaikan suatu saat. Mungkin.Karena masa depan hanyalah sebuah harapan, bukan sesuatu yang dijanjikan."Apa jadinya kalau Tuhan itu tidak ada? Aku tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa dunia ini jika sang Takdir yang berkuasa atas kehidupan. Pasti dunia ini akan dipenuhi oleh suara tangisan yang mengerikan." sang Peramal itu melirik kepada pelayannya, dan pelayannya itu menunduk. "Tapi yah, syukurlah sang Takdir telah mendapatkan mainan barunya... Korban kedua puluh tiga..."Lalu, sang peramal pun menutup tendanya, dan pada saat itu pula, tenda itu pun lenyap begitu saja dari pandangan.

Shut Up! Im Here
Romance Wattpad
01 Dec 2025

Shut Up! Im Here

Nama gue Dean Winata Onet, 18 tahun temen-temen gue biasa nyingkat jadi Dewo. Hari ini gue graduation, tapi sampai sekarang gue masih aja cuma bisa mandangin dia dari jauh. Ya, dia cewek yang gue taksir dari kelas 1 SMA. Namanya Anna, 16 tahun. Dia murid akselerasi. Dia sebahu gue, body nya kurus, hobinya gambar, kulitnya sawo, rambutnya hitam sepunggung, sedikit tomboy dan menurut gue dia cantik, apa lagi Anna orangnya humoris.Gue bakal lupa gimana pertemuan pertama kita yang tak terduga. Emang pas upacara penerimaan gue gak ketemu dia sama sekali. Tapi besok nya, pas daftar pembagian kelas sudah ditempel dipapan pengumuman sekolah, gue sengaja bangun pagi supaya gak rebutan liatnya sama siswa yang lain.Mengayuh sepeda dengan semangat ditemani kicauan burung di pagi yang cerah, mood gue baik banget hari itu. Setelah sampai, gue parkir sepeda ditempat yang sudah disediakan sekolah dan gue jalan kaki melewati parkiran mobil. Gue gugup banget, sepanjang jalan gue deg-degan, lama kelamaan perasaan gue jadi gak enak.Tiba-tiba, "dug!" gue nabrak pintu mobil yang dibuka sama penumpangnya. Gue jatuh tersungkur, hidung gue sakit banget dan kayaknya mimisan. Walau bukan gue yang salah tapi rasanya malu banget dan gue mesti buru-buru mau ngeliat daftar kelas sebelum sekolah rame. Akhirnya gue berusaha berdiri dan lari, tapi terlambat seseorang sudah megang pundak gue dengan erat. Perlahan gue noleh dan itu lah pertama kali gue liat Anna.Anna nganter gue ke klinik sekolah sebagai permintaan maaf, lalu meninggalkan gue begitu saja di klinik yang katanya angker. Padahal kami belum kenalan. "Ni cewek kejem banget." ujar gue dalem hati.Setelah mengobati hidung yang mimisan, gue memutuskan untuk liat daftar kelas namun lautan manusia sudah memadati papan pengumuman. Akhirnya gue cuma bisa menghela nafas dan menunggu hingga sepi.Kurang lebih tiga puluh menit sebelum bel masuk kelas berbunyi akhirnya gue berhasil nyelip dan sampai didepan papan, dengan cermat nyari nama gue. Tulisannya kecil-kecil bikin mata sakit, setelah lama mencari nama gue ketemu. Gue kelas X-8, tapi gak ada nama yang gue kenal. Sebagian besar temen SMP gue nyari SMA di kota sebelah. Pikiran gue makin negatif sepanjang jalan ke kelas, jangan sampe gue jadi anti sosial gara-gara gak kenal siapa-siapa.Tangan gue sedikit gemetar dan ragu saat akan membuka pintu kelas yang tertutup rapat, namun suara riuh terdengar dari dalam. Pasti rame banget dan ketika gue buka pintu tiba-tiba, pasti semua bakal melototin gue. Astaga gue gerogi banget. Ya tuhan tolong hambamu.Dengan mengucap nama dewa, gue pun membuka pintu kelas, dan benar saja kelas sangat ramai. Semua orang ngeliatin gue, gue cuma bisa diam mematung. Tiba-tiba seseorang nepuk pundak gue, cowok yang tingginya hampir se gue. "Bro duduk sama gue aja dibelakang." Ujar cowok itu. Astaga cowok ini sok kenal banget. Bro? Cih.Tu cowok narik tangan gue layaknya sepasang kekasih. Untung yang lain pada sibuk sama obrolan mereka. Gue duduk dibangku paling belakang deket speaker kelas dan musik dj yang diputer keras banget."Nama gue Dean Winata Onet. Panggil aja Dean." Ujar gue ke cowok sok kenal tadi."Apa?!" Nampaknya suara musik hacep ngalahin suara bass gue."Nama gue Dean!" Teriak gue balik."Oh! Gue Fauzan Nurul. Panggil aja Fahrul!" Gue ngerasa kayak lagi ada di club malam kalo ngomong mesti teriak-teriak."Eh keluar yok!" Lanjut Fahrul. Mungkin dia juga ngerasa risih sama musiknya tapi dari tadi selama kami ngobrol dia asik joget-joget."Nama lu sapa tadi?" Tanya Fahrul ketika kami sampai diluar kelas."Dean Winata Owen." Jawab gue singkat. Fahrul diam saja, mungkin otaknya sedang loading."Nama lu terlalu bule. Gimana kalo gue panggil Dewo aja." Ujarnya sambil nepuk pundak gue. Kayak guru yang ngasi petuah ke muridnya. Tapi kalo dipikir-pikir keren juga punya nama singkatan. Akhirnya gue setuju dan dari sana lah asal mula nama Dewo.Rupanya gue sama Fahrul lumayan nyambung jadi kami ngobrol didepan kelas, mata gue sibuk nyariin sosok Anna. Gue pun sedikit gak fokus sama topik pembicaraan Fahrul."Eh lu dengerin gue ga sih?" Kata Fahrul sambil melambaikan tangannya depan muka gue."Gue lagi nyari cewek cantik, yang tadi pagi kejem banget pas baru ketemu." Fahrul tampak bingung mendengar penjelasan gue."Lu baru aja sekolah udah nyari cewek. Kalo dia kejem berarti dia gak suka sama lu atau dia udah punya pacar. Ati-ati lu, kalo sampe pacarnya itu senior dan tau lu gebet pacarnya bisa abis lu." Jelas Fahrul.Bener juga sih kata Fahrul. Tapi saat itu, entah apa yang membuat gue pengen banget kenal sama Anna. Inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?Akhirnya gue memutuskan untuk ke kantin bareng Fahrul kali aja ketemu Anna, dan benar saja sosok yang dari tadi gue cariin lewat. Gue langsung nepok-nepok pundak Fahrul mengisyaratkan untuk berhenti, gue gagap sambil nunjuk-nunjuk Anna dari jauh."Oh Anna. Iya emang cantik, dia temen gue di les pas SMP." Jawab Fahrul datar."Itu cewek yang kejem sama gue tadi pagi!" Teriak gue."Wah jodoh bener lu. Dia sekelas sama kita, terus duduk depan kita." Ujar Fahrul.Mata gue berbinar dan tersenyum lebar. "Eh wok, ni kita jadi ke kantin ga sih?" Fahrul melambaikan tangannya didepan muka gue lagi."Ga jadi rul! Kita balik ke kelas sekarang. Gue pengen kenalan sama Anna." Jawab gue sambil narik kerah belakang baju Fahrul. "Pan lu dah tau namanya." Ujar Fahrul yang pasrah gue seret.Perkenalan kami dikelas terbilang normal, walaupun gue singgung masalah tadi pagi. Anna tampak cuek dan cuma merespon sekedarnya. Emang ni cewek bener-bener kejam.Gue sama Fahrul jadi sahabat dan Anna sama Popi temen duduknya juga jadi sahabat. Kami berempat sering ngobrol bareng dan ke kantin bareng.Anna orang nya pinter banget, jadi gue sering modusin dia pura-pura nanya soal padahal gue udah ngerti. Sayang nya yang modus kayak gue, gak cuma satu dua orang tapi hampir semua cowok dikelas bahkan ada yang dari kelas lain juga sering modusin Anna. Sempet buat gue minder dan memilih untuk jadi penonton saja. Namun karena sifat Anna yang super kejem dan ga peka satu persatu pesaing gue gugur.Naik kelas 2 SMA dikelas ga ada lagi yang modusin Anna, tapi dari kelas lain ada 2 cowok yang buat gue sedikit minder. Yaitu Coki dari kelas XI Ipa 1 dan Reyhan dari kelas XI Ipa 4. Coki orangnya jago gambar dan satu ekstrakulikuler sama Anna. Sedangkan Reyhan sering ikut lomba bareng sama Anna. Nah gue, cuma temen kelas nya dia. Gue sering curhat ke Fahrul, dan dia terus nyemangatin gue. Tapi gue sadar, gue tau diri kalo gue bukan siapa-siapa. Gak ada yang bisa dibanggain.Dikelas Anna cuma akrab ke beberapa orang termasuk gue. Gue bela-belain nonton youtuber kesukaan Anna, baca novel online yang dia suka, bahkan belajar gambar walaupun ga sebagus gambarannya dia. Pas pelajaran pak Suep guru super ngebosenin, kita sering tukeran gambar. "Walau hanya dianggap teman, gue udah bahagia kok." Itu ungkapan yang menggambarkan gue saat itu. Popi sering ngomongin cowok yang dia taksir ke Anna dan Anna selalu menjawab, "sayang tipe gue susah dicari, sekalinya ada dianya cuma nganggep gue temen."Dia susah-susah ngejar cowok yang gak suka sama dia sedangkan gue ada di hadapan nya gak pernah dia liat. "Ahk! Shut up! Im here." Ujar gue dalam hati.Anna mulai memberi lampu hijau kepada Coki dan Reyhan. Dan beberapa minggu kemudian Anna pacaran sama Coki. Pupus sudah harapan gue.Gue coba untuk move on dari Anna dengan mendekati Mika anak kelas X-7. Tapi ya hati gue masih buat Anna jadi gue melepas Mika begitu saja. Mental gue drop banget, gue jadi gak semangat sekolah, gue jadi lebih pendiam dan jarang ngomong sama Anna.Empat bulan kemudian gue denger kalo Anna putus sama Coki, dan besoknya Coki langsung pacaran sama orang lain. Gue seneng banget sekaligus ngerasa kasian sama Anna, Coki emang cowok berengsek.Akhirnya hubungan gue sama Anna kembali seperti dulu, akrab namun tak ada perkembangan. Rasanya seperti berlari disebuah roda, sampai sekarang. Melelahkan bukan?(Flashback end)"Selamat ya wok lu lulus Universitas di Australia. Gue jadi terharu." Fahrul nangis sambil meluk gue."Lebay deh lo, gimana bisnis clothing-an nya bakal lanjut?" Tanya gue sambil melepas pelukan Fahrul."Gua udah bertekad bakal nerusin tu usaha dan gak kuliah sebelum bisa bayar biayanya sendiri." Jawab Fahrul berapi-api. Kami pun tertawa bersama.Malamnya ada acara Prom Night dihotel besar dekat sekolah. Awalnya gue gak pengen dateng soalnya gue tau Fahrul pasti jadiin gue obat nyamuk, tapi karena Anna dateng gue pengen liat dia sekali lagi sebelum keberangkatan gue besok."Lu ga mau kasi Anna salam perpisahan?" Kata Fahrul sambil membuka cola kaleng di tangan nya. Gue cuma bisa menggeleng lemas dengan senyuman yang dibuat-buat."Wok, later can be never. Kalo ga sekarang kapan lagi? Nunggu Anna punya suami, lu baru mau nyatain perasaan?!" Tak biasanya Fahrul begitu serius. Kata-katanya sedikit menggerakkan hati. Akhirnya gue memutuskan untuk berbicara dengan Anna.Malam itu Anna tampak cantik dengan dress hitam selutut dengan sepatu talinya, seperti biasa ia sangat tomboy. "Anna gue mau ngomong sama lu." Kata gue tanpa basa-basi."Ngomong apa wok?" Jawab Anna singkat."Sini ikut gue." Gue narik tangan mungil Anna dan membawanya jauh dari keramaian."Mau ngomong apa sih?" Kata Anna sambil melipat tangannya."Jadi gini, gue besok mau berangkat. Gue pengen ngucapin salam perpisahan sama lu. Terus... e.. " suara gue terhenti, gue gak tau mau gimana ngomongnya.Anna tampak menunggu kelanjutannya tapi lidah gue kaku dan tangan gue gemetar. "Itu aja." lanjut gue. Gue bener-bener pengecut. Nangis aja deh."Iya deh wok, sukses ya disana. Sering-sering kabarin gue." Ekspresi Anna menjadi sedih sekarang."Lu juga jangan lupain gue ya." Kali ini gue memberanikan diri buat megang tangan Anna."Iya wok, tangan lo dingin banget. Kedalem yuk." Kata Anna tersenyum kecil. Sebelum Anna melangkah jauh gue mengumpulkan keberanian dan menarik tangannya, Anna yang terkejut jatuh diperlukan gue."Wok kalo dingin di dalem aja." Anna membalas pelukan gue. Tangannya merangkul punggung gue."Rusuk gue bakal selalu dingin tanpa pelukan lo. Tangan gue bakal selalu dingin tanpa genggaman lo. Hari gue bakal selalu dingin tanpa senyuman lo, Anna.""Wok, gue bakal kangen banget sama lo." Anna tak menghiraukan kata-kata gue. Emang bener-bener kejem. Padahal gue udah jelas-jelas nunjukin perasaan gue."Wok kita cuma temen ya?" Anna melepas pelukannya.Gue ngangguk lemes, gue sadar gak ada waktu lagi buat nembak Anna. Anna berjinjit dan gue balas sedikit menunduk. Ia berbisik ditelinga kanan gue, "I want more."Entah energi apa yang menggerakkan kami, wajah kami semakin dekat...Lima jari...Empat jari...Tiga jari...Dua jari...Anna menutup matanya, gue bisa merasakan nafas Anna lembut menyapa pipi gue. Bibir kami bersentuhan, rasa gugupku lenyap terhanyut bersama kenikmatan ciuman kami. Kedua tanganku menggait pipi Anna yang halus mengisyaratkan aku tak ingin mengakhiri ciuman ini. Tangan Anna merangkul leherku dengan erat. Kami berdua tersesat dalam ciuman pertama kami.Setelah berciuman cukup lama, kami terengah-engah dan melepas ciuman kami. Pipi Anna tampak merah merona, suasana menjadi canggung. Anna kembali memelukku dan kali ini aku mengelus-elus rambut hitamnya. "Wok, dari dulu gue suka sama lo, dan dari dulu lo cuma anggep gue sebatas teman. Tapi sekarang, gue bener-bener gak ngerti sama jalan pikiran cowok." Kata Anna dalam pelukan gue.Pernyataannya sontak buat gue kaget gak ketulungan dan mencoba melepas pelukannya. "Wok, please bentar lagi. Jangan dilepas ya." Anna malah makin erat meluk gue. Suaranya bergetar."Gue ga tau mesti ngomong apa. Selama ini gue kira, gue bukan tipe lu.""Kenapa lo ga nembak gue sekarang?""Anna ga ada waktu lagi, besok gue mesti berangkat ngurusin kuliah gue."Anna mulai terisak, dan meremas jas gue. Kemudian melemas dan melepas pelukannya. Gue cuma bisa diam melihatnya menangis. "Anna.." kata gue sambil merapikan poninya."Wok! Gue suka sama lo, dari dulu. Tapi lo cuma anggep gue sebatas temen. Sekarang lo nyatain perasaan dan saat gue pengen bales, lo malah pergi ninggalin gue. Dewo lo jahat! Jahat! Jahat!" Kata Anna dalam tangisannya sambil mukul-mukul dada gue dengan tangannya yang mungil.Gue meluk dia lagi, gue juga gak bisa nahan air mata lagi. Malam itu Anna menangis tersedu-sedu dipelukan gue, cowok yang ngejer cewek yang dia kira super duper ga peka padahal sebenernya dari dulu tu cewek ngasi lampu hijau cuma gue aja yang terlalu sibuk sama kekurangan gue dan gak berani buat memulai segalanya.Keesokan harinya dibandara Anna gak dateng buat melambaikan tangannya dan tersenyum kearah gue yang akan berangkat kenegara tetangga. Gue cuma nitipin surat buat Anna ke Fahrul yang nangis karena sahabatnya pergi dan entah kapan kembali.Untuk Anna.Anna andai lo bisa denger kata hati gue. Mungkin aja dari dulu, kita udah pacaran. Bukannya gue gak mau LDR an, gue cuma gak mau lo terpaksa selingkuh kalo ketemu yang lebih dari pada gue. Maafin gue, gue cuma bisa ngomong sendiri di dalem hati. Gue terlalu takut buat ngomong langsung. Gue pengecut. Gue jahat. Gue bodoh. Anna, gue harap lo bahagia sama cowok lain, cowok yang gak kayak gue. Entah kapan gue bisa ketemu lo lagi. Yang pasti gue bakal selalu inget lo. Makasi buat kenangannya. Sayonara.Dewo.

Terima Kasih Telah Mencintaiku
Teen Wattpad
01 Dec 2025

Terima Kasih Telah Mencintaiku

Bekali-kali kulihat layar ponsel dan layar itu tak menunjukkan tanda-tanda akan berbunyi. Sudah kurang lebih satu bulan dia tak menghubungiku. Dia yang selalu mengejar cintaku, dia yang selalu mengirimkan kata-kata indah, dan dia yang rela tak berstatus demi mendapatkanku. Sekarang aku adalah gadis 17 tahun dan dia menyukaiku sejak kami masih berseragam putih biru. Ya, sekolah menengah pertama.Aku tak tahu kapan persisnya yang jelas kala itu aku tak pernah menanggapi responnya. Malah aku selalu meledeknya dengan salah seorang sahabatku yang menyukainya. Yang membuatku heran adalah dia tak pernah marah ataupun membalasku, hanya tersenyum memandangku sebentar kemudian pergi. Memang dia tak pernah mengungkapkan kalau dia mencintaiku tapi aku tahu dari caranya yang tak biasa menatapku.Kelulusan yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba dan ini saatnya aku dan dia harus berpisah, aku mendapatkan sekolah terbaik di kotaku sedangkan dia hanya bersekolah di sekolah yang baru saja selesai dibangun. Prinsipku adalah lebih baik menjadi orang bodoh di kalangan orang pintar daripada harus menjadi orang pintar di antara orang biasa-biasa saja. Dan benar saja, karena SMP kami adalah SMP terpandang jadilah dia ikut dalam segala keorganisasian di sekolahnya. Sedang aku just ordinary girl yang yaaa mungkin bisa dibilang pelengkap penderitaan.Perlahan tapi pasti, pupuk-pupuk itu menumbuhkan tanaman yang bernama cinta tanpa aku sadari. Hubungan kami tak pernah putus karena dia selalu mengirim pesan-pesan singkat. Saat itu kami berumur 15 tahun. Dan semenjak kelulusan itu untuk pertama kalinya kami bertemu. Awalnya agak kagok juga tapi lama kelamaan pembicaraan mengalir begitu saja.“Kapan aku bisa jadi pacarmu? Aku capek gini terus, aku nggak bisa nolak cewek-cewek yang suka sama aku tanpa alasan yang jelas.”“Terima aja, gampang kan,” jawabku pendek.Kulihat dia menghembuskan napas panjang, menata hati kemudian berbicara lagi, “Aku memang gak pernah bisa ngerti kamu. Hatimu tak pernah bisa kutebak. Mengertilah aku sedikit.”“Ribet banget sih, yang penting kita udah saling tahu kalau kita cinta satu sama lain,” kaliku nadaku agak meninggi. Terus terang aku gak suka komitmen, aku gak suka status. “Aku pengen langsung nikah, aku pengen nikah muda, lulus kuliah langsung nikah,” lanjutku.“Tapi kita kan masih SMA, kuliah masih lama. Dan aku gak mau buru-buru nikah, terlalu muda, Din.”“Kalo kamu gak mau juga gak apa, aku mau cari laki-laki matang yang berpikiran dewasa yang bisa ngemong aku.”Dan itu menjadi sebuah awal yang buruk dari hubungan kami. Meski dia masih terus menghubungiku. Hipokrit sebenarnya bila aku menolaknya, karena aku pun mulai mencintainya. Mencintai cara dia mencintaiku.“Apa? Jadi dari lahir lo belum pernah pacaran? Gilee, tahan banget. Adek gue aja ni yang masih SD udah pacaran tiga kali,” gelak tawa Lita.Aku agak tersinggung. Masa aku disamain sama adeknya yang masih SD? Aku udah SMA. Kata mamaku juga aku gak jelek-jelek amat. Mungkin nasib belum berpihak. Atau mungkin aku terlalu baik sampai hanya punya teman-teman kucel yang kerjanya belajar dan belajar. Dia, dia pasti mau jadi pacarku.Daripada diledek Lita terus, mending aku segera berubah status. Tapi gak mungkin, aku udah bertekad gak mau berkomitmen sama dia.Doni—nama yang tak pernah kusebut pada Lita—sudah sebulan lebih tak ada kabar. Aku malu untuk memulai menghubunginya duluan. Aku sadar aku perempuan.Akhirnya, dengan menyimpan malu, aku mencoba mengirim pesan padanya: “Heii, apa kabar? Sibuk ya? :D”“Baik. Iya ni sibuk sekarang,” balasnya singkat. Tuhan, aku malu sekali. Seharusnya aku tak mengirim pesan itu. Mulai saat itu aku berjanji tak menghubunginya lagi. Dia harus memulai. Dia lelaki.Aku rasa dia masih mencintaiku, karena saat umurku genap 17 tahun dia mengirimku kata-kata indah. Yang aku sesalkan adalah kata-kata terakhir—dia menuliskan namanya di akhir kalimat. Ganjil. Tanpa itu pun aku tahu itu darinya.Sejak itu aku selalu berasumsi buruk. Bahwa dia mulai bosan padaku. Bahwa dia butuh cinta yang selalu ada di dekatnya. Bahwa dia sibuk dengan hal-hal membosankannya. Bahwa dia sudah punya pacar.Asumsi-asumsi itu membuatku setengah gila. Hidupku pincang. Semua terasa hambar.Ketika aku mulai menyukai caranya merayuku… dia hilang. Ketika aku mulai nyaman… dia pergi. Sekadar membalas pesanku saja menjadi hal berat baginya.Padahal aku berjanji tak memulai, tapi hatikulah yang menghianatiku. Aku hanya ingin mengirim pesan say hello.Benar kata Sheila On 7: "Kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki hingga nanti kau kehilangan." Dan kini aku benar-benar kehilangan.Untuk pertama kali, aku merasa menjadi pecundang.Aku menatap kosong keluar jendela. Hujan menyisakan pelangi sebagai penghias langit. Ah, indah. Tapi tak seindah hatiku kini.Aku masih berjuang menghapus sisa kenangan. Membuang jauh-jauh perasaan ini. Mungkin lebih baik sendiri. Karena yang selalu kutakutkan adalah—ditinggalkan.Dia kini lelaki hebat. Ketua OSIS. Aku tak pantas untuknya.Rindu itu tetap ada, bahkan setelah tahu dia sudah menjalin hubungan dengan rekan organisasinya.Biarlah aku yang merasa sakit sendiri. Biarlah aku yang menangis sendiri. Sampai saat ini tak ada yang bisa menggantikannya.Bahagia pernah menjadi sepotong cerita masa laluku. Meski aku menyesal mencintainya.Beberapa bulan lagi kami akan berpisah. Kota impian kami berbeda. Misi hidup kami berbeda. Dia sudah menjadi milik orang lain.Aku ingin kuliah di kotaku, Depok. Dulu saat kami masih dekat, dia ingin ke Jogja menjadi wartawan.Beberapa bulan ke depan mungkin menjadi saat terberat untukku. Tapi aku tak mau kalah. Aku tak mau sakit lagi. Aku tak mau menangis lagi.Beberapa bulan ini akan membuatku lebih kuat untuk melangkah sebagai remaja yang siap meraih semua impiannya.Semoga.TAMAT

Kau Rumah ku
Teen Wattpad
01 Dec 2025

Kau Rumah ku

" bunda. " rengek Bima, Anak sulung ku seraya berjalan cepat ke arah ku yang tengah duduk bersantai di gazebo yang berada di dekat kolam renang di belakang rumah kami. Dirinya pun memeluk tubuh ku cepat bahkan sebelum aku bertanya ada apa dengannya." Ada apa abang? Kok lari – lari? " Tanya ku sembari mengusap puncak kepala Bima." Ayah nyebelin. " adu nya dan membuat ku terkekeh." ayah kenapa memang? Kok nyebelin? " Tanya ku lembut.Derap langkah yang begitu ku kenal mulai mendekati aku juga Bima. Dan tak lama sosok yang bicarakan Bima pun muncul dengan memakai baju berwarna gelap dan berkacamata. Sepertinya dirinya sedang ada yang di kerjakan sebelum ke belakang menyusul aku dan Bima. Sembari menggendong putra bungsu kami dan menuntun putri kecil kami." ayah kenapa? Sampe anaknya mau nangis gini. " Tanya ku pada suami ku yang kini semakin mendekati ku dan membuat putri kami langsung berlari ke arah ku dan Bima." ayah jahat sama abang. " adu putri kami yang bernama Kaira sembari memeluk ku dari samping. Yang memang berusia dua tahun lebih muda di bandingkan Bima yang kini berusia delapan tahun." Ayah? " panggil ku meminta penjelasan sembari memandang dirinya yang bingung harus menjelaskan apa.Dan sebelum suami ku ini buka suara, dirinya sudah terlebih dulu mengecup puncak kepala ku dengan lembut dan duduk di gazebo bersama ku, Bima dan Kiara sembari dirinya menggendong Tara, putra bungsu kami yang baru berusia dua tahun." ayah gak ngapa – ngapain bun. " Beritahu suami ku dan membuat Bima juga Kiara menggeleng kuat." enggak. "" ayah bohong. "" terus? Ini kenapa Bima sampe ngerengek gini? Sampe Kiara juga nyalahin ayah. " Tanya ku. Dan belum sempat suami ku membalas ucapan ku dan menceritakan semuanya. Bima langsung menyambar ucapan ku." ayah bohong. Ayah ingkar janji. " ucap nya." ingkar janji? " tanya ku memastikan sekali lagi. Karena aku masih belum paham konteks kemarahan anak sulung ku ini pada mas Arjuna, suami ku." ayah kemarin janji mau ngajak abang berenang. Tapi sampai sore begini ayah masih sibuk sendiri. Ayah bahkan masih bisa becanda sama Tara. Ayah gak sayang lagi sama abang. " ujar Bima mulai menangis terisak sembari memeluk ku erat. Membuat ku balas memeluk tubuh mungil nya yang kini duduk di pangkuan ku. Mengertilah aku apa yang menjadi pokok masalah antara dua pria ini*****" abang. Boleh bunda beritahu abang? " tanya ku pelan sembari mengajak Bima untuk bicara dan mencoba untuk meredakan isakannya ini. Aku mencoba mengajak nya bicara setelah ku biarkan dirinya menangis cukup lama.Bima pun mengangguk pelan dan mencoba sekuat tenaga untuk menghentikan tangis nya. Tapi tetap dengan dirinya yang memeluk ku." maaf ya kalau ayah terkesan gak nepatin janji ayah untuk ngajak abang berenang hari ini. Abang tahu gak, kalau hari ini, bunda baru dapet tamu bulanan? " tanya ku pada dirinya dan membuat Bima menghela pelukan kami berdua." bunda lagi datang bulan? " tanya Bima sembari menyeka matanya dengan cepan seraya memandang ku lekat dan membuat ku menganggukkan kepala." iya. Baru tadi subuh bunda dapet tamu. " jawab ku mengangguk. Mengiyakan pertanyaan Bima ini." maka dari itu, Hari ini ayah mengambil alih beberapa kerjaan rumah yang biasa bunda kerjain. Termasuk jagain Tara. Abang tahu kan kalau Tara sekarang lagi aktif - aktifnya. Suka lari ke sana ke mari? " tanya ku tersenyum sembari mengusap puncak kepala Bima.Pertanyaan ku ini berhasil membuat Bima menganggukkan kepala. Tak hanya Bima, Kiara pun juga ikut mengiyakan ucapan ku ini. Dan ucapan ku ini juga berhasil membuat mas Arjuna tersenyum tipis.Dirinya tahu benar bagaimana cara ku memberi ilmu dan nasehat kepada ketiga anak kami. Dan jujur saja, dirinya menyukai bagaimana cara yang aku untuk menasehati mereka bertiga." hari ini, ayah berniat bantu bunda buat jaga Tara. Karena abang dan kakak lebih besar dari Tara, bunda sama ayah bisa ngelepas abang sama kakak main berdua tanpa was - was. Tapi, ternyata gara - gara bunda minta tolong sama ayah, ayah jadi nya ingkar janji ya sama abang? Maaf ya abang? " ucap ku pelan dan langsung membuat Bima menggeleng." enggak bunda. Enggak gitu. " ucap Bima kembali memeluk ku erat. Bersama dengan Kiara yang juga memeluk ku dari samping.Mereka berdua merasa bersalah karena sudah marah dan menyalahkan ayahnya. Menyebut ayahnya ingkar janji. Padahal tanpa mereka ketahui, justru sang ayah tengah mencoba untuk membantu ku karena aku sedang tak enak badan. Terlebih Bima yang sudah mengatakan yang tidak - tidak mengenai pria kebanggaannya ini." maafin Bima, bunda. "" maafin Kiara juga bunda. "Bergantian mereka berdua meminta maaf pada ku dan merasa bersalah karena sudah marah pada ayah mereka. Bahkan sampai sekesal ini pada ayah mereka sendiri." kok minta maaf nya sama bunda? Kan bukan bunda. Kalau abang sama kakak mau minta maaf, sama ayah ya? Kan ayah yang abang sama kakak tegur tadi. " Ujar ku mengelus puncak kepala ke dua anak tertua ku ini.Perkataan ku ini membuat Bima juga Kiara melepas pelukan mereka berdua pada ku. Dan mereka berdua langsung memeluk mas Arjuna yang tengah duduk di samping ku sembari memangku Tara yang diam saja semenjak tadi.Kini bisa ku lihat suami yang sudah ku nikahi selama sepuluh tahun ini mulai kesusahan karena di kerubungi oleh ketiga anak kami. Membuat ku terkekeh pelan sebelum aku berinisiatif mengambil Tara dari pangkuan Mas Arjuna. Agar dirinya bisa lebih leluasa memeluk Kiara dan Bima.*****" maafin Bima, ayah. "" maafin Kiara juga ayah. "Ujar kedua anak ku sambil memeluk mas Arjuna dari samping kiri dan samping kanan. Membuat mas Arjuna mengelus masing - masing kepala mereka berdua." kenapa minta maaf sama ayah kids? Hm? " tanya mas Arjuna.Aku dan mas Arjuna memang mencoba untuk membiasakan anak - anak kami agar mengetahui apa kesalahan mereka agar mereka tahu di mana letak kesalahan mereka itu. Tapi jika mereka tidak tahu pun, aku dan mas Arjuna akan mencoba untuk menjelaskan di mana bagian yang kurang tepat yang di lakukan mereka." abang udah jahat sama ayah. Udah menuduh ayah jahat dan gak sayang sama abang. Abang juga udah bilang ayah ingkar janji sama abang. Abang iri sama Tara. Padahal Tara adik abang sendiri. Sampai abang gangguin istirahat bunda sambil nangis - nangis. " beritahu Bima. Mencoba untuk menggali apa kesalahan nya kali ini." kakak juga minta maaf ayah. Kakak udah ikut marah sama ayah. Padahal ayah lagi bantuin bunda. Maaf ayah. " ujar Kiara menambahkan ucapan dari abang nya ini. Dan ucapan mereka berdua ini jujur saja membuat aku dan mas Arjuna saling berpandangan dan tersenyum simpul.*****" gak papa nak. Ayah yang salah sama abang. Kan ayah udah janji ya kemarin ya? Ngajak abang berenang. Ayah bener - bener lupa sayang. Tadi pagi, setelah ayah tahu bunda lagi datang bulan, ayah langsung nyuruh bunda untuk istirahat dan gak ngerjain apa - apa. Karena apa? Karena ayah tahu, bunda perutnya lagi gak enak. Makanya ayah berinisiatif untuk jagain Tara. Tapi ternyata ayah tanpa sengaja bikin abang iri ya sama adek? Maaf ya abang ya? " tanya mas Arjuna pada Bima sembari mengusap puncak kepala Bima dengan perasaan sayang." buat Kiara, ayah berterima kasih sama kakak karena udah seperhatian itu sama abang. Tapi, kakak harus tahu dulu permasalahannya ya? Jangan langsung ikut marah juga. Boleh kakak? " tanya Suami ku ini pada Kiara dan langsung membuat Kiara mengangguk cepat." maafin Bima ya ayah. "" maafin Kiara juga ayah. "" stt... Gak papa. Udah ya gak usah di fikirin lagi. Ayah gak papa kok nak. " ucap suami ku mencoba untuk menenangkan ke dua anak kami ini." ya udah, sekarang ayah mending temenin Bima berenang sama Kiara. Gih siap - siap. " ujar ku dan membuat mereka bertiga menoleh pada ku." tapi bunda. "" tapi adek? "" Tara siapa yang jaga sayang? "" udah, Tara biar sama bunda. Tara juga baru selesai makan kan. Udah tidur juga tadi. Jadi gak bakal rewel. Bunda bisa kok. " jawab ku mencoba meyakinkan mereka semua." tapi kamu kecapean nanti. " sergah mas Arjuna. Dan membuat ku mengelus pipi kenyal milik suami ku." gak akan ayah. Ayah yang kecapean kan. Seharian ini ngurusin segala macem. Jadi abis ini ayah istirahat. Berenang sambil main sama anak - anak. Gih. Mumpung masih sore ini. Matahari nya gak terlalu terik. " ucap ku sekali lagi meyakinkan semua.Dan mau tak mau akhirnya membuat mas Arjuna, Bima dan Kiara mengangguk. Mereka pun beranjak menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan aku masih duduk bersantai bersama dengan Tara yang cukup tenang kali ini.*****" kak? Ayo turun. Katanya mau berenang sama ayah sama abang? " tanya mas Arjuna yang menggunakan kaos putih dan celana hitam pendek pada Kiara yang masih berdiri diam di di pinggir kolam renang.Sedangkan Bima sudah terlebih dahulu bercebur bersama suami ku. Dan kini dirinya tengah belajar berenang dari ujung dinding yang satu ke dinding di seberangnya." Kiara takut yah. " jawab Kiara sesekali memandang ke arah mas Arjuna dan sesekali ke arah ku." kalau kakak takut, jangan di paksa kak. Pelan - pelan aja. " ujar ku mencoba menenangkan Kiara." iya. Pelan - pelan aja kak. Ayah ada di sini kok. " tambah mas Arjuna mencoba meyakinkan Kiara." ayah tangkap Kiara ya? Ayah jangan lepasin Kiara nanti di kolam. " pinta putri kecil ku ini yang terlihat menggemaskan di mata ku. Dan rupanya mas Arjuna pun sepaham dengan ku. Karena dirinya juga tertawa melihat tingkah Kiara sebelum akhirnya dirinya mengiyakan permintaan Kiara ini." iya. Ayah tangkap. Pelan - pelan sini sama ayah. " ujar mas Arjuna.Dengan perlahan dirinya pun membantu dan mengarahkan Kiara untuk masuk ke dalam kolam renang menyusul dirinya dan Bima yang memang sudah terlebih dulu masuk ke dalam kolam renang.*****" kenapa yah? Kok ngeliatin bunda begitu? " tanya ku karena semenjak tadi mas Arjuna memandang ku dengan tatapan nya yang dalam dan intens dalam diam. Dengan ke dua tangannya yang sibuk mengajari Kiara menyelam." bunda duduk di pinggir kolam deh. Ajak Tara sekalian ke sini. " pinta mas Arjuna dan membuat ku geleng - geleng kepala dengan permintaannya ini." ngapain yah? " tanya ku aneh." udah bun. Sini deh. Duduk di sini. " ujar mas Arjuna setengah memaksa.Sembari dirinya menepuk - nepuk lantai marmer yang berada di pinggir kolam yang memang kering sehingga bisa aku duduki dengan sebelah tangannya setelah dirinya memberikan Kiara pelampung.Aku pun akhirnya mengiyakan keinginan mas Arjuna yang aneh ini sembari berjalan dan menggendong Tara yang berteriak kesenangan karena mendekati kolam renang." kenapa yah? Ini anaknya berontak mau nyebur lho gara - gara makin dekat sama kolam. " ujar ku setelah duduk di pinggir kolam renang dan memasukkan ke dua kaki ku ke dalam kolam. Dengan Tara yang mulai berontak di dalam gendongan ku." pantas celana pendek ayah habis bun. Bunda pakai terus. " ujar mas Arjuna memperhatikan celana yang ku pakai adalah miliknya." jadi gak boleh nih bunda pakai celana ayah? " tanya ku menggodanya dan membuat dirinya terkekeh sembari mengelengkan kepalanya." gak papa bun. Jangan ambekan bunda. " ujarnya dan membuat kami tertawa bersama.*****" adek mau berenang ya? " tanya Bima mendekat ke arah ku yang menggendong Tara yang masih begitu antusias melihat air di dalam kolam." bunda gak boleh berenang ya? " tanya Bima sekali lagi begitu dirinya sampai di depan ku dan membuat ku mengangguk." iya. Bunda lagi gak boleh berenang. Jadi abang sama kakak berenangnya sama ayah aja dulu ya. " ujar ku." adek juga ikut berenang ya bunda. " pinta Bima sembari mengajak bercanda Tara dan membuat Tara berteriak kegirangan." enggak dulu ya abang. Ayah nanti malah gak fokus jagain abang sama kakak berenang kalau adek ikut berenang. " ujar ku seraya sesekali melihat ke arah mas Arjuna yang tengah sibuk mengajari Kiara tak jauh dari kami bertiga." gak papa bunda. Abang nanti bantu ayah jagain adek. Ya? Boleh ya? " tanya Bima setengah memelas mencoba untuk merayu ku dan membuat Mas Arjuna yang mendengar rayuan Bima pada ku ini pun mendekat ke arah kami bersama dengan Kiara." ada apa bun? Abang? " tanya Mas Arjuna." abang mau ngajak adek berenang. " ucap Bima dan membuat mas Arjuna mengecup pipi gembul Tara dan membuat dirinya berteriak kegirangan." ya udah sini. Adek sama ayah. " ujar mas Arjuna." ayah bisa memang jagain adek juga? " tanya ku sanksi." aman bun. Lagian abang sama kakak udah cukup lancar kok berenangnya. " ujar Mas Arjuna menenangkan.Dan membuat ku akhirnya menganggukkan kepala ku. Membiarkan suami ku ini mengambil alih Tara dan mengajak putra bungsu kami itu mulai masuk ke dalam kolam renang. Ulah suami ku ini yang membawa Tara ke dalam kolam renang membuat Bima juga Kiara ikut bermain dengan mas Arjuna dan Tara.Aku yang hanya bisa menyeburkan ke dua kaki ku ke dalam kolam pun hanya melihat kelakuan mereka berempat dengan senyum dan sesekali tertawa karena melihat ulah mereka.*****" mas. " ujar ku memanggil dirinya saat masuk ke dalam kamar.Aku justru menemukan dirinya sudah terlelap tidur menghadap ke arah pintu kamar yang baru ku buka. Sepertinya dirinya terlalu lelah bermain bersama ketiga anak kami hingga tertidur secepat ini.Padahal aku baru saja menidurkan ketiga anak ku di kamar mereka masing - masing. Dan langsung masuk ke dalam kamar ku dan mas Juna. Ternyata dirinya sudah lebih dahulu terlelap. Aku pun dengan perlahan mulai mendekat ke arahnya dan berbaring di sampingnya sembari memandang wajahnya dengan lekat." capek banget ya mas? " tanya ku mengusap pipinya perlahan tak ingin menganggu tidurnya." mmh, Bun. " ucap mas Arjuna serak sembari membuka matanya dengan perlahan. Sepertinya dirinya terganggu dengan kedatangan ku." bunda ganggu tidur ayah ya? " tanya ku lembut dan membuat dirinya menggeleng pelan sembari mengusap wajahnya dengan sebelah tangan." bunda dari mana? Anak - anak mana? " tanya mas Arjuna seraya mencoba mengumpulkan sisa - sisa nyawanya." anak - anak udah tidur. Tadi waktu bunda buka pintu ayah udah tidur. Eh malah bunda jadinya bangunin ayah. Maaf ya yah. " ujar ku semakin mendekat ke arahnya dan menyandarkan tubuh ku pada tubuhnya.Dan ulah ku ini membuat Mas Arjuna memeluk ku. Sesekali dirinya mengelus punggung ku dengan perlahan dan membuat ku semakin nyaman di dalam pelukannya ini." gak papa. Tadi ayah nunggu bunda. Ternyata malah ayah yang ketiduran. " jawab Mas Arjuna." tidur lagi ayah. Besok kerja kan. " ujar ku mengubur wajah ku di dadanya dan menghirup aroma tubuhnya yang selama sepuluh tahun ini menjadi aroma favorit ku dan selalu berhasil menenangkan ku." iya. Bunda tidur juga. Perutnya masih gak enak kan. Istirahat ya bunda. " ucap Mas Arjuna yang sesekali memijat lembut pinggul ku dan membuat ku semakin nyaman.Dan tak perlu waktu lama aku langsung tertidur di dalam pelukan mas Arjuna dengan tangannya yang tak lepas dari kegiatan memijat pinggul juga pinggang ku dengan perlahan." mimpi indah, bunda. Ayah sayang sama bunda sama anak - anak. Tetap jadi rumah ayah ya. Tempat ayah dan anak - anak pulang. Tempat ayah dan anak - anak beristirahat. " ujar Mas Arjuna berbisik sembari menyamankan posisi ku di dalam pelukannya. Cukup lama sampai akhirnya dirinya ikut ke alam mimpi bersama ku dengan tetap memeluk tubuh ku erat.

Pohon Kecil Yang Kesepian
Folklore Wattpad
01 Dec 2025

Pohon Kecil Yang Kesepian

Seekor burung gereja menemukan pohon yang sarat dengan buah-buahan mungil berwarna merah hati. Beberapa buah yang matang jatuh dan pecah di bebatuan dekat akar pohon itu. Tampaklah daging buah yang berair dan berbau harum. Burung itu mematuk buah yang sudah ranum. Ia teringat telur-telurnya yang baru menetas tadi malam. Tentulah anak-anaknya sangat kelaparan. Burung itu membawa beberapa buah yang matang sebagai makan siang bagi anak-anaknya.Tidak mudah bagi seekor burung untuk terbang dan membawa buah-buahan di mulutnya. Maka jatuhlah sebutir buah dari mulutnya dan jatuh di permukaan tanah yang lembab di tepi jalan. Buah itu pecah dan bijji-bijinya yang berwarna kuning keemasan sehalus pasir berserakkan di atas tanah. Tanah hitam yang subur dengan senang hati menerima biji-biji itu. Biji-biji itu mendapatkan air dan makanan dari dalam tanah. Namun, hanya sebutir biji yang berhasil tumbuh menjadi tanaman kecil. Mula-mula ia tampak seperti tumbuhan liar yang lemah. Lama kelamaan ia tumbuh tegak, batangnya berkayu dan daun-daunnya yang kasar tumbuh satu per satu.Pohon kecil itu tak punya kawan. Siang dan malam, ia tumbuh sendirian. Ia hanya bisa melihat anak-anak bermain layang-layang di lapangan. Ia ingin punya teman seperti pepohonan lainnya. Dari jauh dilihatnya sekumpulan bamboo yang berkumpul, tumbuh bersama-sama, berbisik dan bercerita seiring angin yang berhembus. Kawanan pohon pisang dengan tunas-tunas kecilnya tampak gembira, bercanda tawa. Ia ingin seperti mereka.Siang itu seekor burung hinggap di batangnya yang rapuh. “Burung yang cantik, maukah kau menjadi kawanku? Kau bisa membuat sarangmu di dahanku sehingga kita dapat bercakap-cakap setiap hari?” sapanya lembut. “Tidak, dahanmu terlalu kecil dan rapuh. Kau tak akan kuat menopang sarangku,’ katanya sambil beranjak pergi. Pohon itu sedih sekali mendengarnya.Pada suatu malam yang dingin, ia melihat sebuah bayangan berkelebat di sekitar tubuhnya. Ia agak gemetar entah karena takut atau kedinginan. Ternyata bayangan itu adalah seekor kelelawar. Ia memberanikan diri menyapanya, “Tuan kelelawar yang baik, maukah kau menjadi temanku? Kau bisa tidur di dahanku di siang hari dan memakan daun-daunku di malam hari.” “Tidak,” jawab kelelawar. “Dedaunan bukanlah makananku. Aku makan buah-buahan yang manis dan berair,”katanya dengan tegas.Ketika embun sejuk mulai menguap terkena sinar matahari, seekor kucing mengeong lembut di dekat akar pohon kecil itu. Pohon kecil ingin sekali berteman dengan kucing berbulu halus itu. “Kucing kecil yang lucu, maukah kau berteman denganku? Kau bisa tidur di bawah naunganku waktu matahari tepat berada di atas kepalamu,” ajaknya.”Maaf, pohon kecil, daun-daunmu tidak akan mampu memberi keteduhan. Mereka tidak cukup rapat untuk memayungiku,” jawabnya dengan sopan. Pohon kecil itu tertunduk lesu.Pohon kecil itu tidak putus asa. Ia malah berusaha untuk tumbuh lebih kuat, besar dan berbuah banyak. Dihirupnya udara sebanyak-banyaknya, dihisapnya air dengan akar-akarnya dan dibiarkannya matahari menyinari dedaunanya. Akhirnya ia tumbuh besar dan tinggi. Di suatu pagi yang cerah muncullah bunga-bunga cantik berkelopak halus berwarna putih di sela-sela daun-daunnya. Pohon kecil girang bukan kepalang. Datanglah kumbang dan kupu-kupu menyapanya. Kaki-kaki kumbang dan kupu-kupu yang mungil membawa serbuk sari berwarna kekuningan ke kepala putik. Ketika angin bertiup kencang, serbuk sari melayang-layang di udara membawa bau harum mengundang makin banyak serangga datang.Serbuk sari membuahi kepala putik. Dalam beberapa hari, bunga-bunga putih berubah menjadi buah muda berwarna hijau. Semakin lama buah hijau membesar dan berubah warna dari hijau menjadi kekuningan, merah muda dan akhirnya menjadi merah hati. Pohon yang dulu kecil telah berubah menjadi besar dengan cabang-cabang yang kuat dan lebar. Daun-daunnya berjajar rapat, memberi keteduhan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya.Ketika ia sedang tertidur lelap, ia merasakan ada cakar-cakar kecil mencengkeram rantingnya . ternyata Tuan kelelawar sedang memakan buah-buah merah hatinya. “Ehm, selamat malam, Tuan Kelelawar,”katanya pelan-pelan. “Uh, oh, selamat malam, eh, nyam..nyamm!” jawab Tuan Kelelawar dengan mulut penuh. ”Bolehkah aku menumpang tidur di cabangmu malam ini? Buah-buahmu sangat lezat. Aku tidak bisa berhenti memakannya,” lanjutnya. “Oh, tentu saja Tuan Kelelawar. Aku bahkan berterimakasih kau mau menemaniku sepanjang malam.” Tuan Kelelawar terus mengunjunginya sepanjang tahun karena pohon itu tidak pernah berhenti berbuah.Burung-burung mulai datang membawa ranting-ranting, jerami kering dan membangun sarang yang nyaman di dahannya. Dahan pohon itu berkembang menjadi dahan yang kokoh untuk menopang sarang-sarang burung. “Pohon yang kuat, bolehkah aku membangun sarang di dahanmu? Sebentar lagi waktunya bertelur. Aku harus menyiapkan tempat yang hangat untuk telur-telurku,” kata seekor burung gereja . “Tentu, saja kau boleh tinggal di sini, bahkan kau pun boleh memakan buah-buahku kalau kau mau,” jawab pohon itu.Di siang hari yang terik, datanglah binatang-binatang lainnya. Seekor kucing, seekor kadal berekor panjang dan barisan semut-semut kecil berwarna hitam beristirahat di bawah keteduhan daun-daunnya yang rimbun. Bahkan anak-anak kecil yang sudah lelah bermain mulai berteduh dan berusaha meraih buah-buahnya yang manis menyegarkan. Tidak ada yang lebih membuat pohon itu bahagia selain mendapatkan banyak teman dan menolong mereka. Malam ini ia tidur dengan nyenyak dan bahagia.

Si Lancang
Folklore Wattpad
01 Dec 2025

Si Lancang

Konon, jauh sebelum waktu mengenal namamu, hiduplah seorang perempuan renta di sebuah gubuk yang hampir menyerah pada usianya. Ia hanya ditemani seorang anak laki-laki—satu-satunya cahaya yang pernah dimilikinya. Anak itu, Lancang, tumbuh dengan tangan yang tak pernah berhenti bekerja, namun hatinya selalu ingin terbang lebih jauh dari tanah kelahirannya.Pada suatu hari, keinginan itu pecah menjadi kata. Ia meminta izin untuk pergi, meninggalkan pelukan ibunya, mengejar dunia yang lebih luas. Sang ibu, meski hatinya remuk, hanya mampu melepas dengan doa—bahwa anaknya takkan melupakan akar yang membesarkannya.Lancang pun pergi. Hari berganti tahun, dan tahun berubah menjadi gemintang yang berulang. Di negeri jauh, ia menjadi orang besar—hartanya bertumpuk, kapalnya pulang-pergi membawa kekayaan, dan perempuan-perempuan cantik memanggilnya suami.Namun di kampungnya, sang ibu tetap hidup sederhana, menua dalam sepi, menggantungkan harapan pada kepulangan yang tak pernah pasti.Suatu ketika, kapal megah itu kembali. Orang-orang berkumpul, memandangi lengkung emas yang menghiasinya. Kabar itu sampai pada si ibu—bahwa anaknya telah pulang. Dengan tenaga yang tersisa, ia berjalan, langkahnya goyah tapi hatinya penuh rindu.Namun setibanya di pelabuhan, ia hanya disambut tatapan asing. Lancang berdiri di atas geladak, dikelilingi istri-istrinya, wajahnya dingin seperti tak pernah mengenal perempuan yang melahirkannya.“Dia bukan ibuku,” katanya. Dan seketika dunia sang ibu runtuh tanpa suara.Perempuan renta itu pulang dengan hati yang patah, hanya ditemani hujan yang seperti ikut bersedih. Di rumahnya, ia meraih lesung pusaka—benda tua yang hanya disentuh saat doa tak lagi mampu menahan luka. Dengan air mata yang tak bisa ia sembunyikan, ia memohon agar Tuhan menunjukkan kebenaran kepada anak yang ia besarkan dengan kasih paling dalam.Saat doa itu terucap, angin mendadak berubah arah. Badai lahir dari langit yang kelam, menyambar kapal megah itu. Suara petir menggulung namanya, dan kapal Lancang hancur diterjang gelombang Sungai Kampar. Jeritan penyesalan terdengar samar di antara debur air.Setelah badai reda, hanya sisa-sisa kapal yang terdampar di berbagai penjuru: kain sutra yang menjadi lipatan tanah, gong yang berubah menjadi batu legenda, dan danau yang menjadi penanda kisah itu.Sejak hari itu, orang-orang Kampar percaya bahwa luapan sungai bukan sekadar karena hujan, tetapi karena jejak kesedihan Lancang yang tak pernah tuntas—penyesalan seorang anak yang terlambat mengenali cintanya sendiri.

Kekuatan Yang Patut Disyukuri
Fantasy Wattpad
01 Dec 2025

Kekuatan Yang Patut Disyukuri

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Galang sampai tidak bisa tidur semalaman hanya karena suatu buku cerita. Yah, cerita dalam buku itu memang menarik, jadi bukankah itu wajar? Ditambah lagi, bukunya juga lumayan tipis.Buku itu menceritakan kisah tentang dua orang yang disebut sebagai Yang Terpilih dan Yang Tak Terlihat, yang berkelana menyusuri suatu dunia yang penuh sihir dan keajaiban, demi menemukan jalan menuju ke dunia manusia.Di buku itu diceritakan kalau kedua orang itu sebenarnya sangat mendambakan kehidupan yang normal dan biasa-biasa saja, tapi karena kenyataan dunia mereka sangatlah berbeda, akhirnya mereka berdua pun memulai perjalanan yang mengharuskan mereka untuk melawan takdir demi menggapai mimpi itu.Benar-benar kisah yang sangat menarik, dan Galang juga sudah hampir sampai di bagian akhir dari cerita itu. Hatinya berdebar-debar karena membayangkan akhir dari cerita itu."Hah... " Anak bertubuh agak gemuk, berkulit putih cerah dan berambut gondrong rapi itu mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas, ke arah jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar. Meski waktu sudah menunjukkan pukul lima dini hari, anehnya Galang sama sekali tidak merasa lelah, padahal dia belum beristirahat sejak tiba di sini.Galang mengucek-ucek matanya sambil mengedarkan pandangannya menyusuri kamarnya yang masih lumayan gelap.Kamar yang sangat luas itu dilengkapi dengan berbagai perabotan lengkap dan tampak masih baru. Bahkan ranjang tempat tidurnya pun seharusnya muat untuk empat orang atau lebih. Yah, gampangnya, bisa dikatakan kalau kamar ini sangatlah mewah, atau tepatnya rumah ini."Eh... Liel?"Galang memanggil nama itu dan berharap ada yang menanggapinya, tapi dia sadar kalau pemilik nama itu jelas masih belum bangun saat ini.Galang turun dari ranjang, dan dengan langkah yang ringan dan senyap, dia berjalan menghampiri sofa panjang yang terletak di samping pintu. Di sofa itu terbaring seorang remaja bertubuh lumayan gemuk yang berbalut jaket berwarna abu-abu gelap.Entah kenapa Galang merasa sangat aneh waktu memandang wajah orang itu.Faktanya, Galang sebenarnya tidak mengenal remaja ini sama sekali. Bahkan Galang memang hampir tidak mengingat apa-apa. Ingatannya menjadi kacau, dan tiap kali dia berusaha untuk menelusuri memorinya, kepalanya malah langsung terasa sangat sakit dan serasa akan meledak kapan saja.Kemarin, tepat pukul enam sore, Galang terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya sudah berada di suatu tempat yang asing dengan kepala yang terasa berdenyut-denyut. Tapi. satu-satunya yang ada di sini waktu itu adalah remaja bertubuh gemuk ini. Orang yang memiliki kekuatan sihir yang nyata.Mungkin Galang seharusnya mengamuk, panik, atau menangis, karena kejadian gaib yang dialaminya sekarang. Namun, untuk saat ini Galang lebih memilih tetap bertahan di sini karena suatu alasan."Kau mewarisi bakat dan berkatnya, Galang." Kata Liel kemarin sore saat kondisi Galang sudah agak membaik. "Kau mewarisi Bakat Jiwa- nya untuk menjadi penguasa kegelapan, dan juga berkat miliknya yaitu, Seni Dunia: Salju Hitam . Itulah sebabnya aku membawamu kesini, karena aku ingin membantumu menguasai kekuatan itu. Aku akan mengajarimu di sini selama tujuh hari. Dan, kalau semuanya sudah selesai, aku akan mengantarmu kembali ke tempat asalmu, oke?"Kekuatan, itulah alasan yang membuat Galang memutuskan untuk tinggal di sini. Perkataan Liel jelas-jelas menyatakan kalau Galang memiliki kekuatan dalam dirinya. Meski Galang masih belum mendapatkan kembali ingatan masa lalunya—ingatan tentang siapa dirinya sebenarnya—tapi dia tetap memiliki ingatan tentang dunia asalnya, yaitu dunia manusia. Dunia yang tidak memiliki keajaiban setitikpun.Yah, mungkin itulah yang terjadi pada Galang sekarang.Sama seperti orang Yang Terpilih dalam buku cerita yang dibaca Galang. Yang Terpilih sebenarnya hanyalah manusia biasa, maka dari itu Tuhan membawanya ke dunia lain agar dia bisa menikmati keajaiban tangan Tuhan dan menjalani takdirnya sebagai Yang Terpilih."Yah... setidaknya aku masih ingat namaku sendiri... " Bisik Galang sambil tersenyum kecut, sampai-sampai pipinya jadi terlihat lebih tembem dari sebelumnya.Lagi pula, Liel juga telah menjelaskan hal-hal penting yang harus diketahui Galang kemarin sore, termasuk fakta kalau mereka berdua sebenarnya sudah saling mengenal sebelumnya, juga kenyataan bahwa dialah yang membuat ingatan Galang menjadi kacau."Sihir... ya?" Tanya Galang pada dirinya sendiri. Semua keanehan ini, jelas-jelas karena sihir.Namun, ada hal lain yang harus Galang lakukan saat ini. Sudah seharian dia menahannya dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengeluarkannya. Apa yang dibutuhkannya sekarang adalah, toilet."Tapi... rumah ini kayaknya besar banget, deh..." Beberapa menit telah berlalu sejak Galang meninggalkan kamarnya untuk mencari toilet. Dia telah melewati banyak ruangan seperti ruang keluarga, ruang yang penuh dengan rak buku, juga ruang yang dihiasi dengan senjata-senjata yang tergantung di dinding, dan berbagai ruangan lainnya. Namun, pada akhirnya dia tetap tidak menemukan toilet dan malah berakhir di dapur.Lampu langsung menyala begitu Galang melangkahkan kakinya memasuki dapur. Tapi, betapa terkejutnya Galang waktu dia mendapati keberadaan orang lain di situ."Oh? Dik Galang, ya?" Tanya gadis berhijab oranye itu. Dia mungkin sudah berada di sini sejak tadi. Gadis itu tengah menikmati secangkir kopi hangat sambil mengamati pemandangan melalui jendela yang berada di antara kabinet. Dari tampangnya, gadis ini pastilah seorang mahasiswi yang masih duduk di bangku kuliah."Eh... " Galang yang tak mengenal gadis itu ikut mengarahkan pandangannya ke arah jendela. Di luar sana masih gelap, dan langitnya yang suram memancarkan warna kelabu dan membuat pemandangannya terkesan terasa dingin menusuk."Namaku Afizah, tapi aku lebih suka dipanggil Afi," katanya seraya meletakkan cangkirnya di meja."Ugh!" Perasaan yang tidak menyenangkan itu akhirnya muncul lagi di dalam diri Galang. Dia sudah berada di ujung tanduk dan tak mampu menahannya lebih lama lagi. "K-kak... kalau boleh tahu, to-toiletnya ada di mana, ya? Soalnya a-aku mau pipis." Tanya Galang. Wajahnya pucat pasi."Wajahmu benar-benar lucu, loh, Dik." Afizah yang menyadari situasi Galang saat ini, langsung tersenyum sambil menunjuk ke arah pintu kuning yang berada di seberang ruangan, tepat di depan Galang. "Tuh.""Ah! Terima kasih, Kak!" Ucap Galang ketus sambil melesat masuk ke dalam kamar mandi.Setelah Galang menyelesaikan urusannya dengan toilet hingga tuntas, dia pun keluar dari kamar mandi dan berniat kembali ke kamar untuk menyelesaikan buku cerita itu. Akan tetapi, ketika Galang melangkahkan kakinya melewati ambang pintu kamar mandi, tiba-tiba saja, Afizah langsung menyodorkan satu pertanyaan kepada Galang."Kenapa kau membaca buku itu?""Ah... Karena sampulnya menarik, kurasa." Galang terlihat bingung."Yah, karena sampulnya menarik." Afizah terlihat sedang berusaha untuk menahan tawanya saat mengulangi kata-kata Galang. "Sebenarnya sudah menjadi tugas Liel untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi, aku yakin dia lelah karena semua persiapan itu, jadi aku akan mengambil sedikit bagiannya.""Maksud Kakak?""Sebenarnya, buku yang sedang kau baca dikamar itu disebut sebagai, Kitab Tragedi .""Hah? Kitab Tragedi ?" Tanya Galang tak percaya. Pipinya terlihat agak memerah karena suhu dingin kala itu."Yah, sebenarnya kitab itu bisa membangkitkan kekuatan tersembunyi yang ada dalam dirimu secara paksa. Jadi kau tak perlu latihan atau melakukan apapun. Tepat setelah kau membaca huruf pertama dalam lembar pertama buku itu, maka kekuatan yang ada di dalam jiwamu bisa dipastikan sudah bangun.""Jadi... itu artinya aku benar-benar punya kekuatan sungguhan, kan?"Siapapun bisa melihat betapa bahagianya Galang sekarang hanya dari tatapan matanya. Kebenaran itu, kenyataan itu, adalah hal yang sudah Galang nanti-nantikan sejak masih kecil. Dia selalu berpikir akan betapa hebatnya jika dirinya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki orang lain, dan sekarang dia tahu kalau dia memiliki kekuatan itu."Ja-jadi! Bagaimana caranya menggunakan kekuatan itu, Kak!?" Tanya Galang dengan semangat yang berapi-api."Liel berkata kalau kau memiliki dua macam kekuatan, dan kedua kekuatan itu berhubungan dengan unsur kegelapan, jadi coba kamu bayangkan sesuatu, misalnya membuat sebuah pedang dari kegelapan?"Anak itu tanpa basa-basi langsung mengikuti instruksi Afizah. Dia berusaha untuk fokus dan mencoba untuk membuat sesuatu dari unsur kegelapan. Galang menjerit-jerit dalam hati akan betapa mengagumkannya nasibnya saat ini.Keringat mulai mengalir dari pelipis Galang dan tubuhnya sedikit bergetar. Anak itu mengeraskan badannya. Galang terus membayangkan untuk membuat sesuatu di tangannya."Aku bisa!"Mata Galang terbuka sangat-sangat lebar waktu menyadari keberadaan sesuatu seperti api membara berwarna hitam yang muncul di atas telapak tangannya. Galang merasakannya. Dia merasa seperti sedang memegang sesuatu di tangannya. Namun di saat yang sama, entah kenapa dia juga merasa seolah-olah dia sedang mengangkat batu yang sangat besar dan amat berat."Lihat! Lihat ini, Kak! Aku bisa menggunakan sihir!" Pekik Galang yang sebenarnya sangat ingin melompat-lompat karena saking senangnya."Aku lihat, kok." Kata Afizah sambil tersenyum kecil.Akan tetapi, tepat ketika Galang merayakan keberhasilannya, pada saat itu pula api hitam itu lenyap dari tangannya, dan beban yang berat itu pun ikut hilang."Loh! Kok begitu, sih?" Kekecewaan yang besar terpancar dari wajah Galang waktu itu. Tapi, dia tidak menyerah. Dia kembali mencoba untuk memunculkan api hitam itu dengan cara yang sama seperti yang sebelumnya. Meski begitu, beberapa menit telah berlalu, dan tidak ada tanda-tanda bahwa api hitam itu akan muncul lagi. Lalu, dia memutuskan untuk mencoba dengan cara lain, seperti mengatur nafasnya atau membuat badannya menjadi lebih keras. Akan tetapi, pada akhirnya, api hitam itu tetap tak keluar."Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?"Waktu Galang memandang sekitarnya, ternyata tanpa dia sadari dunia ini sudah menjadi lebih terang dibanding beberapa saat lalu. Matahari hampir menunjukkan dirinya di ufuk timur, dan atmosfernya juga sudah tidak sedingin sebelumnya. Entah berapa lama waktu yang digunakan Galang dalam percobaannya tadi, sampai-sampai dia tidak sadar kalau pagi sudah berada di depan mata.Afizah sedang memasak sesuatu saat itu."Minum dulu tehnya." Afizah menyuruh Galang untuk meminum teh yang sudah dia siapkan di atas meja. "Sekarang kau santai saja dulu. Mending tunggu sampai Liel bangun, baru dia akan mengajarkanmu cara menggunakan kekuatan itu."Galang menjatuhkan dirinya ke kursi, kemudian ia minum teh itu dengan perlahan. Tehnya masih hangat, membuatnya merasa nyaman dan tenang. Rasa lelahnya bahkan hilang begitu saja ketika teh itu mengalir masuk ke dalam kerongkongannya."Hah... " Nafas Galang mengepul di udara, memisahkan diri dari hawa dingin di sekitar. "Oh, iya, kalau boleh tahu kekuatan seperti apa yang Kakak miliki?" Tanya Galang yang tampak sangat tertarik."Kalau aku sih nggak punya kekuatan. lagi pula aku juga nggak terlalu memerlukan sihir-sihir semacam itu." Afizah menjawab dengan santai."Loh! Kok begitu, sih?""Yah, waktu masih kecil dulu, aku juga sebenarnya ingin memiliki kekuatan sihir seperti itu. Tapi... karena aku tidak pernah mendapatkannya, jadi aku terpaksa menjalani masa laluku, dengan diriku sendiri. Dan lihat, akhirnya aku berhasil melaluinya. Sekarang aku sudah tiba di masa depan, bersama dengan diriku yang dulu." Jelas Afizah."Eh... aku nggak paham, Kak." Jawab Galang yang sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Afizah."Yah, aku sudah menduganya... lagi pula kau masih SMP." Ujar Afizah sambil tersenyum kecut. "Tapi, intinya jangan berhenti berusaha. Teruslah hidup dan teruslah melangkah, percaya deh, kau pasti akan bertahan sampai akhir walau nggak punya kekuatan sihir."Galang terdiam seribu bahasa mendengar nasehat Afizah. Dia tidak tahu harus menjawab apa.Afizah mematikan kompornya, lalu dia pun mulai menata berbagai jenis makanan di atas meja. Aroma yang harum menyeruak masuk menembus hidung Galang. Seluruh ruangan dipenuhi oleh wangi dari masakan Afizah."Hmm... kenapa Liel membawaku kesini, Kak?" Tanya Galang tiba-tiba.Afizah terhenti seketika waktu mendengar pertanyaan Galang. Namun, setelah dia selesai menghidangkan semua makanan itu, gadis itu pun ikut duduk di samping Galang."Liel... adalah orang yang dikutuk untuk menderita, Galang." Ujar Afizah.Walau Galang tidak terlalu mengerti maksud dari perkataannya, namun Galang tahu kalau maksudnya itu adalah sesuatu yang sangat buruk."Gampangnya, Liel akan terus merasakan rasa sakit selama dia masih hidup dan bernafas. Dia akan terus menderita setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi.""Hah...? Kok kedengaranya dia seperti hidup di neraka, ya?""Yah, memang seperti itulah kehidupan Liel." Afizah memegang cangkir kopinya dengan erat. "Dunia ini... tidak... kehidupan ini, baginya adalah sebuah neraka tanpa akhir."Galang merinding mendengarnya."Hanya ada segelintir orang di dunia yang ini diizinkan Tuhan untuk menjalani takdir menyedihkan semacam itu. Orang-orang yang dikutuk untuk menderita. Tapi anehnya mereka malah tetap memilih untuk terus hidup. Apa kau tahu kenapa? Ya, karena mereka semua tahu akan betapa mahalnya harga dari nafas kehidupan.""Eh... Tapi, aku masih tidak mengerti alasan dia membawaku kemari.""Yah, karena kamu sebenarnya sangat mirip dengan almarhum adiknya yang sudah meninggal bertahun-tahun silam. Bahkan, kau mewarisi kekuatannya. Maka dari itu dia membawamu ke sini. Dia menganggapmu sebagai adiknya. Dia menganggapmu sebagai bagian dari kehidupannya.""Hah? Tapi—""Dia tidak akan peduli meskipun kamu tidak mau menganggapnya sebagai seorang Kakak." Afizah menjelaskan sembari bangkit berdiri. "Permintaanku hanya satu; turuti saja segala permintaannya. Sudah lama aku ingin melihat dia bahagia. Meskipun hanya sedetik, itu tidak akan jadi masalah. Asalkan, dia tahu bagaimana rasanya kebahagiaan itu. Kumohon... jadilah jejaknya... Kumohon... jadilah keluarganya...""Jejak...?""Ya, jejak... Kau adalah bukti bahwa Liel pernah hidup." Ujarnya. "Ya sudah, aku mau siap-siap dulu buat ke kampus. Tunggu sampai Liel bangun, baru kalian makan, oke?" Gadis itu kemudian pergi meninggalkan Galang sendirian di meja makan.Galang meletakkan tangan kanannya di atas meja, lalu membuka telapak tangannya lebar-lebar sambil membayangkan api hitam hitam muncul di situ. "Atau tepatnya... Salju Hitam."Galang sama sekali tidak mengerti dengan situasinya saat ini. Rasanya mengerikan dan menyedihkan. Dia tetap tidak mengerti. Meskipun kini ada bola-bola berwarna hitam pekat yang melayang di atas telapak tangannya, anak itu tetap tak merasakan apa-apa lagi. Yang ada dalam dirinya saat ini, hanyalah ketidakpastian."Lho, Afi kemana?" Tanya Liel yang tiba-tiba saja sudah muncul di belakang Galang. Pemuda gemuk itu mengalihkan pandangannya ke arah meja yang sudah dihiasi oleh makanan.Galang langsung tersentak karena kaget. "A-ah! Liel, Kak Afizah katanya mau bersiap-siap buat ke kampus sekarang." Galang memberitahu dengan gelisah."Oh? Begitu, ya?" Kata Liel sambil berjalan ke arah kursi yang berada di sisi lain meja, yang berhadapan dengan Galang. "Ngomong-ngomong gimana tidurmu semalam?" Liel menjentikkan jarinya, dan pada saat itu pula lemari yang ada di belakang Liel tiba-tiba terbuka, dan beberapa alat makan langsung melayang keluar dengan sendirinya. Dua piring, dua sendok dan dua garpu mendarat dengan pelan masing-masing di depan Liel dan Galang."Ah... Biasa saja, kok." Jawab Galang yang tampak sedikit takjub dengan apa yang baru saja terjadi."Yah, baguslah kalau begitu. Tapi, Galang, tolong ya jangan gunakan kekuatanmu kalau aku lagi nggak ada, soalnya di pulau ini kadar energi Animanya terlalu tinggi. Jadi, ada kemungkinan kalau kekuatanmu bisa lepas kendali." Liel mengingatkan sambil tersenyum kecil."Tunggu... kita berada pulau?""Yah, pulau buatanku. Pulau Avalon II."Galang hanya bisa menunduk setelah mendengar penjelasan itu. Kenyataan itu terdengar sangat mengagumkan. Bagaimana bisa dia menciptakan sebuah pulau? Bukankah itu sudah terlalu tidak masuk di akal? Tapi sayangnya bukan itu yang membuatnya masih merasa bingung.Saat ini, Galang harus membuat suatu keputusan.Anak itu mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan sambil memantapkan keyakinannya. Lagi pula dia sudah tahu mana pilihan yang akan membuatnya rugi dan mana pilihan yang akan menguntungkannya. Dan, satu-satunya yang dibutuhkannya sekarang, adalah keberanian untuk berbicara."Eh... sebenarnya kekuatanmu... tidak, maksudku, kekuatan Kakak itu sebenarnya apa?" Tanya Galang dengan ekspresi yang sedikit panik.Seulas senyuman terbentuk di bibir Liel kala itu."Jadi kamu sudah tahu, ya?" Tanya Liel."Iya... K-kak... ""Sulit, bukan?""Maksud Kakak...?""Setelah mendengar cerita menyedihkan tentang diriku, kamu jadi merasa kasihan padaku dan malah memaksa dirimu sendiri untuk memanggilku dengan sebutan itu.""H-hah?" Galang terkejut. "A-aku nggak bermaksud seperti itu, kok!" Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam karena saking paniknya."Ya, aku tahu kok." Liel bangkit berdiri lalu mengambil piring milik Galang, dan mengisinya dengan nasi dan berbagai macam lauk pauk hingga piring itu hampir penuh. "Kamu terlalu baik, Galang, dan apapun yang berlebihan itu bukan sesuatu yang baik. Tapi, aku memakluminya sih, soalnya kamu juga masih muda." Liel akhirnya mengembalikan piring Galang."Ah... terima kasih, Kak... " Jawab Galang ragu-ragu. Entah kenapa dia kini merasa telah melakukan kesalahan. Padahal, dia hanya berusaha."Tidak, aku yang harusnya berterima kasih padamu." Ujar Liel.Galang yang bisa merasakan kebaikan dari perkataan Liel langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah pemuda itu dengan heran."A-apa...?""Rasa kasihan itu bukan sesuatu yang buruk kok, Galang. aku malah senang karena kamu sudah berusaha untuk menganggapku sebagai seorang Kakak,. Kenyataannya, aku ini hanya orang asing, lho. Meski begitu, kau berhasil menggunakan rasa kasihanmu itu untuk membuat suatu kemungkinan, dan kemungkinan yang kau hasilkan sekarang adalah sesuatu yang baik, dan aku sangat berterima kasih atas kebaikan itu."Galang tidak mengerti maksud perkataan Liel. Dia sama sekali tidak mengerti."Kau benar-benar orang yang baik, Galang. Terima kasih, sudah mau menjadi jejakku." Liel kembali memasang senyuman di bibirnya. Tapi, senyumannya kali ini adalah senyuman yang sangat hangat dan tulus. "Ya sudah, makan dulu yuk.""I-iya, Kak." Jawab Galang yang juga kembali tersenyum dengan gembira.TAMAT

Malapetaka dari Bintang Jatuh
Fantasy Noveltoon
01 Dec 2025

Malapetaka dari Bintang Jatuh

Pagi itu Linda tak terbangun di rumahnya. Ia dan ratusan penghuni pulau Kecubung lainnya menempati tenda-tenda pengungsian. Beberapa orang mulai sakit akibat dingin dan hujan deras semalam. Anggota Badan Nasional Penanggulangan Bencana sedang membagi-bagikan bantuan sembako serta pakaian bersih. Prajurit TNI juga ramai memenuhi tempat tersebut, tapi mereka lebih fokus mengawasi objek raksasa yang saat ini berdiri kaku bagai gunung di atas Pulau Kecubung—bekas rumah Linda dan ratusan orang lainnya."Sialan... Aku nggak menyangka kalau bajingan itu akan berani datang ke tempatku seperti ini... " Gadis berparas cantik dan berperawakan tomboy itu kini mengamati kedua telapak tangannya lamat-lamat. "Kalau sudah begini, ya berarti aku juga harus meninggalkan kehidupanku yang lama deh... "Semua bermula kemarin sore. Langit yang tenang tiba-tiba dilintasi garis cahaya benderang. Awalnya semua mengira itu adalah bintang jatuh biasa. Namun, semakin lama tampak jelas benda itu bergerak menuju pulau mereka. Perangkat desa segera menyerukan agar penduduk berlindung di rumahnya masing-masing.Kemudian bintang jatuh itu menghantam pulau disertai dentuman luar biasa. Seluruh daratan bergetar. Tanah, pasir, dan batuan beterbangan. Gelombang kejutnya menghantam rumah-rumah warga hingga luluh-lantak. Seolah dalam sekejap mata kiamat sedang terjadi. Malam itu menjadi malam yang kacau.Baru keesokan paginya kapal dari pulau seberang datang untuk mengevakuasi korban selamat. Tapi mereka harus menunggu hingga bantuan dari pulau utama tiba, sebab tempat tinggal mereka berada jauh di perbatasan negara yang menghadap Samudra Hindia.Kesedihan meliputi hati semua orang, terlebih bagi yang kehilangan keluarga maupun orang-orang tersayang.Itu juga yang dirasakan Linda. Namun, kemarahannya jauh melampaui kesedihan. Gadis itu berjalan sendirian ke tepi pulau, lalu memperhatikan objek raksasa yang menghancurkan rumahnya. Wujudnya menjulang dengan bagian-bagian seperti kepala, tangan, sayap, dan kaki. Wajahnya mengerikan, tatapannya mengancam, bahkan meski jarak mereka terpaut lautan. Mengingatkan Linda pada patung Garuda Wisnu Kencana di Pulau Bali, namun yang ini ukurannya jauh lebih dahsyat.Banyak yang berspekulasi. Ada yang bilang bahwa benda itu cuma batu meteor yang kebetulan menyerupai makhluk hidup. Ada juga yang bilang kalau itu adalah alien yang sedang berhibernasi—meski saat ini cuma diam, suatu saat ia akan bergerak. Yang paling liar, bahwa itu adalah malaikat yang hendak meniupkan sangkakala kiamat.Apapun itu, entah mengapa Linda merasa tahu mengenai patung tersebut. Ia tahu namanya. Deus Dorogon. Dan ia harus ke sana untuk menghancurkannya. Memang tidak masuk akal, bagaimana caranya menghancurkan sesuatu yang sebesar itu? Pasti butuh sesuatu dengan kekuatan ledak yang dahsyat seperti bom nuklir.Tetapi Linda merasakan tubuhnya sangat kuat. Darahnya membara. Kepalannya begitu keras, hingga ia yakin bisa menghancurkan batu dengan tinju tersebut. Cahaya merah bersinar dari sana."Ya, tugasku di sini sudah selesai." Linda berbisik pada hati kecilnya. "Keajaiban memang selalu terlihat sebagai sesuatu yang tampak murni dan tak bercela, tapi bukan berarti itu adalah hal yang baik. Karena semua orang tahu... kalau kegelapan selalu bisa muncul dari cahaya yang paling terang sekalipun.""Hei, kamu ngapain disitu?!"Linda spontan meredupkan cahaya di tangannya, lalu berbalik. Sekelompok prajurit TNI berjalan ke arahnya."Di sini berbahaya," ucap salah satu dari mereka. "Sana kembali ke tenda. Ada pembagian makan malam.""Eh... oke." Kata Linda kalem. Tapi, entah kenapa saat dia menoleh ke arah Deus Dorogon, tiba-tiba saja Linda merasa sangat kesal dan mendidih. Gadis itu menggigit bibir seakan berusaha menahan emosinya. "Kunyuk... ! Tunggu saja kau keparat! Akan ku remukkan ginjalmu!" Pekiknya sepelan mungkin.Linda kembali ke pengungsian. Sesampainya di sana, ibu dan adiknya langsung memanggil. Gadis itu bergabung dengan mereka dan berusaha menyembunyikan keanehan yang timbul dalam dirinya.Esoknya, sebelum mentari fajar terbit, Linda sudah bersiap-siap pergi. Ia bergerak pelan-pelan agar tak membangunkan siapapun di dalam tenda, lalu berjingkat keluar.Sesampainya di tepi pantai, tiba-tiba ada suara sahutan yang mencegat Linda."Diam di tempat!"Satu lusin pucuk senapan terarah padanya oleh barisan prajurit TNI. Linda dapat mengenali wajah-wajah itu, yakni anggota yang memergokinya kemarin."Kau mau ke mana?" hardik pemimpin mereka."Ya ke pulau dong, Pak," jawab Linda jengkel."Sudah kuduga, gadis ini ada kaitannya dengan patung raksasa itu!" seru sang TNI.Linda segera membantah dengan pandangan tak percaya. Matanya membelalak. "Tunggu! Hey! Aku ini mau ke sana untuk menghancurkan monster itu!""Monster? Apa maksudnya? Apa kau juga adalah monster?!""Manusia-manusia gila... " Linda pun putus asa. Ia merasa bicara tak ada gunanya. Ia menghentakkan kaki, lalu melesat dengan kecepatan tinggi.Seorang prajurit mengarahkan senapannya, lalu melepas tembakan. Sang gadis yang khawatir tembakan itu mengenai penduduk segera berhenti. Kedua tangannya menyala merah, lalu menangkap tiap peluru yang dimuntahkan ke arahnya. Tak hanya itu, ia menyentil peluru-peluru tersebut hingga berbalik melesat ke arah para prajurit. Sebuah aksi yang mustahil dilakukan manusia biasa.Satu persatu prajurit TNI berjatuhan karena pahanya tertembak.Pemimpin mereka yang menyadari bahwa senapan tak berfungsi segera mengeluarkan belati, kemudian menerjang. Ia menghujamkan senjata tersebut. Namun, Linda menangkap bilahnya hanya menggunakan tangan kosong. Lalu gadis itu meremasnya hingga hancur seperti kaca."Minggir!"Linda menapak perut sang prajurit, dan pria besar itu terhempas bermeter-meter ke belakang."Satu hal yang perlu kalian tahu, aku berada di pihak manusia!" serunya menggema. Kini para penduduk yang tadinya terlelap juga sudah bangun akibat keributan. "Aku akan menyerang Deus Dorogon. Doakan saja aku berhasil. Karena kalau tidak... yah, aku juga nggak tau sih."Lalu ia melangkah. Tiap jengkal tanah yang ia pijak bagai meleleh. Sinar di tangannya menyala makin terang, memancarkan hawa panas yang membuat para prajurit TNI tak berani mendekat. Tatapan gadis itu begitu mantap dan tajam, sehingga siapapun yang tertatap merasa bola matanya seperti mencair. Matanya pun ikut berpendar merah.Ia terus bergerak meninggalkan pulau, lalu masuk ke air. Dan ajaib, ia berjalan di atas permukaannya. Sementara uap tebal mengepul menyamarkan tubuhnya. Seolah lautan mendidih.Sang monster yang semula hanya diam pun kini mulai bergerak. Terdengar suara derak keras hanya ketika ia memutar tubuh. Makhluk itu menatap Linda."Aku datang, keajaiban sialan... Deus Dorogon. Mati kau bajingan..." Bisik Linda sambil memasang senyuman kecut. Urat-urat di pelipisnya timbul. Dia benar-benar jengkel sekarang.

HOROR DI MEJA POJOK
Horror Wattpad
01 Dec 2025

HOROR DI MEJA POJOK

PUKUL 22.00 WIBAngel sedang duduk menatap komputer, fikirannya masih terfokus untuk membuat presentasi untuk rapat penting besok pagi.PUKUL 18.00 WIBPa Anwar sudah menelepon berkali - kali saat Angel sedang dalam perjalanan pulang, karena ada jadwal dadakan untuk rapat besok dengan calon investor penting.Angel akhirnya mengangkat telpon itu"Halo""Angel, kamu sudah sampai rumah?" tanya pak Anwar"Belum pak, masih terkena macet didaerah cawang" jawab AngelKebetulan kantor Angel berada dipusat kota di JL. Jenderal Sudirman dan itu memang rute office hour yang paling macet"Maaf Angel kamu harus kembali ke kantor sekarang"ucap pak Anwar"Ada apa ya Pak?""Besok ada Investor penting mau datang, dan dia mau melihat laporan keuangan perusahaan sampai hari ini, Saya sekarang masih di Semarang, tidak mungkin bisa membuat laporan tersebut, jadi saya minta sama kamu untuk mempersiapkan semuanya" ucap pak AnwarPak Anwar memang sosok atasan yang menyebalkan,maunya hanya terima beres saja, dan suka menunda - nunda pekerjaan, dan jika ada keperluan mendadak seperti ini pasti dia akan selalu mengorbankan Angel"Tapi pak..." sebelum Angel menjawabnya"Pokoknya tidak ada tapi, kamu kembali kekantor sekarang"lalu telepon pun terputusAngel sebenarnya sudah muak dengan situasi ini, tapi bagaimanapun Pak Anwar tetap atasannya dan dia harus menuruti perintahnya.PUKUL 19.00 WIBAngel tiba di Kantornya di Gedung Jasmine, dia memberi informasi ke security di pos depan bahwa dia akan lembur hari ini.Dan ia pun langsung mnuju ke lift untuk menuju ruangannya di lantai 17 .Angel masih melihat beberapa orang hilir mudik, suasana di kantornya masih cukup ramai,karena banyak restaurant yang buka disekeliling kantor tersebut.Dan akhirnya ia pun tiba, diruangannya, Angel langsung mengambil posisi duduk didepan komputernya, dan dia mulai mengerjakan tugas yang diberikan pak Anwar.Tidak terasa Angel sudah hampir dua jam Angel bekerja, ia mulai merasa lapar, jadi ia memutuskan untuk pergi ke lobby bawah dan mencari makanan.Saat berjalan di koridor ruangannya, terasa sangat sepi, dan ia baru menyadari bahwa hanya ia yang bekerja lembur disini, dan ia memencet tombol turun di liftnya, saat pintu lift terbuka di lobby, suasana sudah sangat berbeda dengan yang dilihat sebelumya, sepi sekali, hanya terlihat dipojok meja security seorang security yang tertidur sambil menaruh kepalanya di meja.Angelpun terus bejalan ke area Eight Corner yang buka dua puluh empat jam, Angel memesan burger dan coca cola ditambah kentang, dia makan sebentar di tempat tersebut sampai makanannya habis.Setelah itu Angel kembali ke ruangannya tadi untuk kembali mengerjakan laporan terakhirnya, hanya tinggal beberapa halaman saja.PUKUL 22.00 WIBAngel sedang duduk menatap komputer, fikirannya masih terfokus untuk membuat presentasi untuk rapat penting besok pagi. Saat sedang mengerjakan bagian laporan terakhir, Angel mendengar dari meja pojok mas Bimo ada suara ketikan yang terdengar jelas sedang mengerjakan laporan nya, sama seperti Angel, Angel merasa lega karena berarti Mas Bimo juga harus lembur seperti dia.Sudah hampir selesai, Angel pun mulai istirahat sejenak dan menuju pantry, sekedar iseng Agel menuju meja pojok yang mas Bimo tempati, tetapi kondisi mejanya kosong tidak ada mas Bimo disitu."mungkin Mas Bimo cari makanan" fikir Angel, lalu Angel pun kembali ke mejanya dan menyelesaikan pekerjaannya, dan suara ketikan itu pun terdengar lagi."Mas Bimo sudah kembali lagi" fikir Angeldan akhirnya tugas Angelpun selesai, dia agak lega karena dia bisa pulang ke rumah, tetapi tidak lupa Angel menuju meja pojok mas Bimo untuk pamitan."Mas, aku......"belum sempat Angel menyelesaikan ucapannya, dia sangat kaget, karena tidak ada siapapun yang duduk di meja pojok tersebut, tetapi suara ketikan di meja tetap terdengar dan makin jelas.Angelpun sempat tertegun sesaat sebelum dia menyadari keanehan ini, suara ketikan itu tidak biasa, pasti dari dunia yang berbeda, tanpa pikir panjang Angel langsung mengambil tasnya kebawah dan pergi secepat mungkin dari ruangannya.Keesokan paginya, Angel datang agak terlambat, mungkin karena dia kurang tidur dari semalam, saat tiba dikantor, semua manager sudah berkumpul diruang konfrensi kantor, dan Angel pun masih merasa agak trauma dengan kejadian semalam.Setelah menaruh tasnya di meja, Angel pun menuju ke meja pojok , dan melihat mas Bimo ada disana."Mas Bimo, kamu suka merasa aneh gak sih duduk disitu?" tanya Angel"Kenapa memang?" tanya Mas Bimo"Kemarin aku disuruh pak Anwar lembur mas, sampai jam sebelas malam" ucap Angel"Lalu?" tanya Bimo"Aku mendengar ada suara orang yang sedang mengetik dimeja mas Bimo, aku fikir mas Bimo, tapi terakhir saat aku mau pamitan pulang mejanya kosong mas dan suaranya tetap terdengar" ucap Angel bersemangat"Oh... suara ketikan"kata mas Bimo "itu sudah sering Angel, banyak karyawan yang kerja malam mendengar suara ketikan itu, tidak apa - apa, mungkin itu adalah jam kantor dari dunia yang berbeda" jawab mas Bimo sangat sederhana."Kamu jangan takut mereka hanya ingin memberi informasi bahwa mereka ada, tetapi mereka tidak akan mengganggu kita, karena kita dari alam yang berbeda" ucap mas Bimo kembali dengan bijaksana.Dan Angel pun menyadari secara positif suara itu membuat Angel lebih tenang karena merasa ada yang menemaninya.TAMAT________________________________***********___________________________

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 22 dari 35
Menampilkan 24 cerita