Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
HOROR GADIS TETANGGA SEBELAH RUMAH
Horror
07 Dec 2025

HOROR GADIS TETANGGA SEBELAH RUMAH

Hari ini aku dan ayah sedang siap - siap membereskan perabotan di rumah baruku, mobil pick up juga sudah membawa perabotan - perabotan kami, ibu sedang menyiapkan makan siang untuk kami semua dengan membelinya di rumah makan yang tak jauh dari rumah, hari ini adalah hari pertama aku pindahan ke desa Meninjo di wilayah Yogyakarta , sebelumnya kami tinggal di Jakarta, ayahku bernama Baskoro dan ibuku bernama Mila, dan aku sendiri bernama Damayanti, semua temanku memanggil aku Yanti, mungkin bagiku ini adalah perasaan yang aneh karena aku baru pertama kali datang ke Yogyakarta, kami harus pindah ke sini karena ayah mendapatkan tugas dari kantornya untuk membuka cabang baru di daerah Yogyakarta.Ayahku sudah mempersiapkan semuanya, bahkan ayah sudah jauh hari meminta rekan kantornya untuk mencarikan rumah yang tidak jauh dari kantor cabang yang akan dibuka, bahkan ayah sudah mempersiapkan tempat aku bersekolah saat kita tinggal disini. Setelah selesai membereskan perabotan yang ada, aku merasa sangat lelah, sehingga aku memutuskan untuk keluar sebentar, hari sudah mulai senja, agak asing didesa ini sepertinya suasana sangat senyap, berbeda dengan saat aku di Jakarta bahkan tengah malam pun akan terasa ramai. Tiba - tiba aku merasa ada yang memperhatikanku tepatnya dari rumah sebelah, saat aku tengok lalu bayangan itu akan hilang, tapi begitu aku menatap ke atas langit sepertinya orang yang memperhatikanku akan melihat ke arahku lagi, dan benar saja ketika aku menoleh pasti bayangan itu hilang lagi, karena penasaran aku pun mendekatinya, rumah sebelahku rumah mungil yang terbuat dari bambu, disini banyak ditanami rumput dan bunga yang indah, walaupun rumah itu kecil tapi yang memiliki rumah tersebut sangat apik, pelan - pelan aku menuju jendela yang kuihat ada bayangan disana, saat kudekati kulihat itu adalah sebuah kamar tetapi kosong tidak ada siapapun disana, lalu aku memutuskan untuk kembali ke rumah.Ibu sedang menyiapkan hidangan makan malam di meja, suasana pedesaan yang khas dengan suara jangkrik menambah kesan yang menambah kesunyian pada malam hari ini, ayah sepertinya sangat lelah dan ayah segera menuju ke kamar, sedangkan ibu masih mengelap perabotan yang ada di ruang tamu. Bagiku ini terasa sangat membosankan, kalau aku boleh jujur aku berharap ayah bisa kembali ke Jakarta tanpa harus pindah ke daerah seperti ini.Akhirnya pagi hari pun datang, aku mendengar suara ibu memanggil namaku..."Yanti bangun nak, sudah siang" teriak ibuAku masih mengucek mataku, merasa masih sangat lelah dan mengantuk, aku pun berdiri mendekati ibu"Jam berapa bu?""Jam enam, sayang" jawab ibu"kenapa tadi ibu bilang sudah siang, ini kan baru jam enam" lirihku kepada ibu"Iya, udaranya sangat segar, ibu ingin kamu melihat pemandangan desa yang sangat cantik di pagi hari ini" ucap ibu bersemangat.Akupun pergi ke depan rumah, aku lihat suasana pepohonan dan pemandangan yang cantik, dan udara yang sangat bersih, benar saja ini benar - benar luar biasa. Aku melihat ada pohon Jati disana, aku pun mendekatinya dan aku duduk disana sampai aku merasa, ada yang menyolek pundakku."Hai..." sapanyaagak sedikit kaget aku menoleh ke samping dan aku melihat gadis seusiaku berumur sepuluh tahun berambut pendek dengan poni depan menyolek pundakku"Hai..." jawabku "Kamu siapa?""Aku Amel, kamu siapa?" tanyanya"Aku Yanti" jawabku "Kamu tinggal dimana Amel?" tanyaku kembali"Aku tinggal disamping rumahmu, itu rumahku" sambil menunjuk ke rumah mungil kemarin"Oh... jangan - jangan kamu yang memperhatikanku kemarin ya Mel?" tanyaku"Iya, aku senang kamu pindah kesini, sebelumnya aku sangat kesepian" jawab Amel"Lho memangnya disini kamu tidak punya teman?" tanyaku"Tidak ada, anak yang seumuran dengan ku, aku tidak punya teman main" jawabnya menunduk"Kamu sekolah dimana?" tanyaku bersemangat"Aku tidak bersekolah yan, aku harus membantu orang tuaku di sawah" ucapnya"Lho kok, kamu harus sekolah, sebentar lagi aku mau masuk sekolah disini, mungkin kamu bisa ikut sekolah bersamaku" jawabku penuh semangat."Sudah dulu yan, nanti bapak mencari aku, sekarang aku harus ke sawah" jawab Amel terburu - buru sambil meninggalkan aku sendirian.Aku masuk kembali ke dalam rumah, dan aku lihat sudah ada nasi goreng lezat dimeja makan."Ayu makan Yan, ibu sudah masak untuk kamu" ucap ibu"Ayah kemana bu?" tanyaku"Ayah sudah berangkat ke kantornya, untuk mengawasi renovasi kantor barunya" jawab ibuAda sekitar tujuh hari aku menikmati masa liburanku sebelum mulai bersekolah, dan aku sering bertemu Amel, saat pagi hari ataupun sore hari di tempat yang sama Pohon Jati didepan rumah, aku banyak diajarkan permainan khas tradisional disana, aku menikmati kepindahanku disini berkat Amel.Hari pertama sekolah, ayah menungguku di mobil, aku belum sempat bertemu dengan Amel, karena aku harus datang pagi ke sekolah baruku, jarak rumah dan sekolah cukup jauh menempuh setengah jam perjalanan dengan mobil, dan aku diperkenalkan oleh ibu guru dikelas, semua anak - anak disekolah menyambutku dengan baik, mungkin memang budaya di sini semua orang sangat ramah dan baik hati.Semenjak aku sekolah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan Amel, saat aku duduk di pohon jati itu Amel tidak datang - datang, mungkin dia juga sedang sibuk, fikirku. Aku merasa kesepian saat dirumah jika tidak ada Amel menajdi teman bermainku."Ibu, lihat Amel tidak?" tanyaku"Amel siapa nak?" tanya ibu"Tetangga sebelah, anak yang biasa main denganku""Tidak, ibu seharian hanya dirumah saja sayang" jawab ibukuSetelah beberapa bulan sekolah, ayah menyuruh aku untuk belajar mandiri, aku harus naik angkot dijalan depan desa untuk sampai ke sekolahku, karena proyek ayah juga sudah sangat menghabiskan waktunya sehingga, ayah tidak ada waktu untuk menjemputku.Hari ini hujan turun lebat disekolah, aku terpaksa menunggu sampai agak sore untuk pulang ke rumah, ayah sudah coba aku telepon, tetapi tidak diangkat, akhirnya setelah hujan agak reda aku mulai berani menaiki angkot ke rumah, sudah hampir jam tujuh malam sekarang, angkot yang kunaiki sedikit ada masalah ban bocor, aku mendengar saat ada anak sekolah lain diangkotku mereka bercerita tentang pembunuhan anak sekolah yang tidak ditemukan pembunuhnya sampai saat ini, ceritanya anak - anak tersebut hantunya masih sering menampakkan diri saat kita berjalan melewati jalan tersebut, saat aku menghentikan angkotku, anak - anak itu melihat ku dengan aneh"kamu turun disini?" tanya salah satu anak perempuan tadi"Iya, rumahku disini" jawabku"Hati - hati ya kamu sendirian kan?""iya" jawabku"Banyak orang jahat" ucap anak tadiKarena ucapan anak itu aku merasa agak sedikit takut dengan kondisi jalan yang kulewati, ternyata jalan didesa ini sangat gelap kalau sudah lewat maghrib, dan hampir kita tidak bisa melihat kedepan jalan, dan aku merasa seperti ada yang menarik tasku dari belakang.Saat aku lihat ke belakang, ada dua sosok pemuda menarik tasku, wajah mereka sangat menyeramkan"wuidih, ayu tenan kanu dik, mau kemana ayu mas anter ke rumahmu" ucap salah satu pemuda tadi sedangkan pemuda lainnya hanya tertawaAku merasa takut tetapi disini sangat sepi, aku tidak tahu harus bagaimana, aku pun langsung menendang sekeras m- kerasnya kaki orang yang menarik tasku, dan diapun merintih kesakitan, distulah aku mulai berlari dan menjauhi mereka.Aku hampir tidak bisa melihat kemana aku berlari, dan mereka mengejarku dengan tenaga dua kali lipat dari kecepatan ku, dan aku tersandung batu, lalu akupun terjatuh.Mereka tertawa menyeringai, merasa mereka telah menang, aku takut sungguh aku sangat ketakutan aku berharap ada ayahku saat ini, saat mereka bersiap untuk menarikku menaiki motornya, tiba - tiba ada cahaya, cahaya aneh... aku melihat Amel....Amel hanya menyeringai dan memelototi mereka..."Amel tolong aku..." ucapku merintih"Kamu... kamu sudah mati...." ucap dua pemuda tadi,,,,, kamu tidak mungkinDan pemuda itu melemparkanku ke jalan, dan melarikan motornya dengan kecepatan tinggi.Amel melihatku sambil tersenyum, aku samar - samar melihatnya sebelum aku kehilangan kesadarankuAku membuka mataku"Ibu...." aku melihat bayangan ibu"Yanti... kamu sudah sadar nak, Alhamdulillah" jawab ibuku"Aku dimana bu?""dirumah nak""Ada orang jahat bu, dia ingin menculikku" ucapku lirih"Iya nak, ibu tahu, ibu sangat khawatir kamu belum pulang sampai malam, ibu meminta pak Mardi tetangga sebelah untuk mencarimu, karena Ayah belum pulang kerumah, untungnya pa Mardi menemukanmu saat di depan jalan tadi nak" ucap ibu menangis."Amel, bagaimana bu?" tanyaku"Amel?" tiba - tiba ada lelaki berada dihadapanku"Kamu kenal Amel dimana nak?" tanya bapak tadi"Dia tetanggaku pak, aku sering bermain bersamanya, dan dia yang menyelamatkanku dari dua orang jahat tadi"Amel itu anakku nak" ucap bapak tua itu sedih "Dan Amel sudah meninggal enam bulan yang lalu sebelum kamu pindah ke rumah ini" jawab Bapak tadi"Maksud bapak? yang main bersamaku selama ini siapa pak?" tanyaku bingung"enam bulan yang lalu amel juga pulang sekolah sama sepertimu, menunggu hujan dan amel pulang sendiri, bapak waktu itu sakit tidak bisa menjemputnya, lalu ada kejadian seperti yang kamu alami, Amel di jahati dan dibunuh, mayatnya dibuang begitu saja, menurut polisi orang yang hampir menculikmu adalah orang yang membunuh Amel, saat malam tadi motornya ditemukan sudah hamir masuk ke dalam jurang, dan mereka sudah meninggal nak" cerita Pak Mardi bapak Amel.Lalu aku melihat di pojok rumah wajah Amel samar - samar tersenyum melihatku, sepertinya dia sudah tenang"Terimakasih Amel..." ucapku dia telah menyelamatkan nyawakudan aku mengingat Amel sebagai teman dan sahabat yang baik, semnejak hari itu ayah meminta untuk kembali ke Jakarta karena menurut ayah, kejadian tersebut membuatnya sangat trauma dan takut, dai tiak ingin itu terjadi lagi, dan kami semua berpamitan dengan Pak MArdi untuk kembali Jakarta.

HOROR DIWAHANA RUMAH HANTU
Horror
07 Dec 2025

HOROR DIWAHANA RUMAH HANTU

Fina datang terlambat hari ini ke sekolah, akibatnya pintu gerbang telah ditutup, sehingga otomatis Fina harus lapor ke guru piket dan diberikan hukuman, tetapi Fina memutuskan untuk tidak masuk sekolah, dia justru ingin menuju mall yang tak jauh dari sekolah.Mall Pain Village, berdiri baru setengah bulan, Mall nya tidak terlalu besar dan masih banyak kios yang masih kosong, tetapi karena ini masih terlalu pagi jam 08.30 Jam Operasional masih belum buka.Vina pun memutuskan untuk ke arah toko pakaian yang berada di depan Mall tersebut, karena dia menggunakan seragam, otomatis dia tidak akan diperbolehkan untuk masuk ke dalam Mall nanti.Dia membeli sepasang rok dan kaus, yang sedang diobral di toko tersebut, maka dia langsung menuju ke ruang fitting room, dan mengganti baju sekolahnya dengan pakaian tersebut.Setelah Fina memakai baju baru tersebut, dia memutuskan untuk makan dan minum di kedai sederhana disamping toko pakaian sambil menunggu Mall buka.Akhirnya jam menunjukkan pukul sepuluh, Fina pun menjadi pengunjung pertama yang masuk kesana, tiba - tiba Fina dikagetkan suara laki - laki paruh baya yang memakai pakaian security."Selamat datang di Mall kami" sapa bapak itu ramah"Iya pak" jawab Fina santai"Maaf mba, ini ada brosur buat mba, kita ada pembukaan wahana permainan rumah hantu baru, tepatnya ada di lantai atas gedung ini" ucap Bapak tadi sambil memberikan brosur kepada Fina."Terima Kasih pak" jawab FinaFina pun berkeliling - keliling Mall, melihat - lihat semua area yang berada di sana, Fina agak kecewa. Kondisi Mall yang masih sepi membuat Mall tersebut kelihatan tidak menarik.Hampir saja memutuskan untuk keluar Mall, Fina melihat brosur yang ada di tangannya."HOROR WAHANA RUMAH HANTU" dengan gambar Hantu Indonesia seperti suster ngesot dan pocong, berada di background gambarnya."Menarik" fikir FinaLalu Fina pun memutuskan untuk menaiki lift untuk meuju ke area Wahana permainan tersebut.Ternyata benar, area Wahana tersebut sangat besar, Lantai ini benar - benar dipergunakan untuk area tersebut, belum lagi dekorasi yang menyeramkan, membuat bulu kudu langsung menggigil ketika berada disana."Selamat datang kak" sapa gadis berambut pendek sebahu degan seragam gadis desa berpakaian kebaya dengan rok batik"Pagi mbak, mau tanya harga tiket nontonnya berapa ya?" tanya Fina"Karena kakak pengunjung pertama kami ada promosi gratis untuk kakak, ini tiketnya" jawab gadis itu"Asyik" dalam hati Fina kegirangan karena mendapat tiket gratis hari itu.Fina pun mulai memasuki area Wahana, area pertama mulai masuk seperti ke pintu gua, saat berada di pintu lainnya, suasana sangat gelap, dan bau yang berada di ruangan juga sangat menyengat."Keren banget, dramatis" fikir FinaFina terus melangkah, tiba - tiba dikejauhan dia melihat ada kursi goyang yang bergerak sendiri."Krek... krek,,,," bunyi kursi taditapi tidak ada siapapun dikursi tersebut"Keren" fikir Fina sekali lagi, dan dia terus berjalanSampai dia memasuki zona yang berbeda seperti hutan rimba, dan ada sosok laki-laki setengah badan bertelanjang dada dan setengah lagi seperti ekor buaya"Waw" fikir Fina kagumdia terus berjalan ke Zona yang berbeda lagi, tampak seperti kuburan massal, suara teriakan dan lengkingan terdengar jelas, bahkan ada jari - jari yang bergerak dari bawah tanah, dan ada manusia seperti tengkorak yang berjalan menuju ke arah Fina.Fina pun agak sedikit berlari, menghindari mausia tengkorak tersebut.Dan Fina memasuki Zona rumah tua, ada ruang keluarga dengan kursi sofa, dan ada Bapak, ibu anak laki - laki dan anak perempuan sedang duduk, tetapi yang mengherankan mereka duduk dengan tubuh tanpa kepala.Adrenalin Fina sangat diuji di wahana ini, tetapi Fina menilai atraksi semua pengisi acara di wahana ini sangat total, bahkan terlihat seperti sungguhan, Fina terus mencari, dimana pintu keluar wahana ini, sampai Fina melihat cahaya terang, ada bayangan seorang gadis berambut panjang dengan pakaian putih mendekatinya."keluar... keluar" ucap gadis berbaju putih tersebut, sambil menunjukkan arah pintu keluar"keluar... keluar" kata gadis tersebut sekali lagi, tiba - tiba Fina merasa ada yang berusaha mencekik lehernya, tangan besar dan kuat, saat Fina melihat ke belakang, Wajah laki - laki botak penuh darah memelototinya...Fina berusaha melepas cekikan tersebut, dan keluar ke arah pintu dan cahaya.Saat keluar Fina jatuh, dan membuat dia tidak sadarkan diri.beberapa menit kemudian Fina sadar, dan dia melihat bapak security muda sudah berada disampingnya."Neng sudah sadar?" tanya bapak tadi"iya pak, kepalaku pusing" jawab Fina"Eneng kenapa main sendirian ke atas?" tanya bapak itu"Saya kan mau lihat wahana permainan rumah hantu pak" jawab Fina"Rumah Hantu? Rumah Hantu apa? ini Mall baru neng, kita belum punya wahana" jawab security tadi"Maksudnya? bapak tua security tadi yang kasih brosurnya ke saya" jawab Fina sambil melihat brosur yang ada di tangannya sudah tidak ada"Bapak tua? security? disini yang jadi security tidak boleh orangtua ada batasan umurnya hanya sampai usia 40 saja" kata bapak tersebut"Maksudnya? jadi bapak tua dan wahana rumah hantu itu tidak ada?" lalu Fina pun menoleh ke belakang, memang yang terlihat hanya ruangan kosong saja.Fina langsung merinding, dia berharap itu semua tidak terjadi dan hanya imajinasinya saja.Tetapi tiba - tiba di pojok ruangan dia melihat gadis berbaju putih sedang tersenyum kepadanya.Fina pun berjanji setelah hari ini, dia tidak akan pernah bolos sekolah lagi.

Finally, I Meet You!
Fantasy
07 Dec 2025

Finally, I Meet You!

Zhifa hanya menatap kosong ponselnya. Sudah berbulan-bulan cowok yang menetap di hatinya itu menghilang. Memutuskan komunikasi mereka tanpa akhir yang jelas. Denis hanya hilang. Tidak terlihat lagi dihari-hari berikutnya.Zhifa memilih mengambil ponselnya. Mengirim chat pada Indah, teman dekatnya yang dikenal dari media sosial.Zhifa : Ndah ☹️Indah : Kenapa lo, Fa ?Zhifa : Kangen Denis 😭Indah : Idih masih belum move on lo ya?Zhifa : Kangen Denis 😭Indah : Kan udah gue bilang, lo jangan baper ke dia. Mampus udah.Zhifa : Ih kok jahat ☹️Indah : Lo sih gue bilangin nggak mau. Ngeyel.Zhifa meletakkan ponselnya tanpa membalas chat dari Indah. Ia cemberut kesal. Memang begitu hasilnya kalau curhat ke Indah, tidak akan mendukungnya jika mengenai tentang Denis."Ih Denis brengsek monyet babi! Kangen gue sama lo!" Zhifa memukul bonekanya seakan ia sedang memukul Denis.Zhifa dan Denis memang hanya kenal di media sosial. Mereka berpacaranpun juga lewat media sosial. Panjang ceritanya bagaimana perkenalan awal mereka. Yang terpenting hampir dua bulan mereka pacaran secara online , Zhifa begitu nyaman bersama Denis. Ia bahkan tidak bisa menyukai cowok lain lagi selain cowok yang dikenalnya dari media sosial itu.Zhifa pernah menyeritakan tentang Denis pada teman dekatnya di sekolah. Tetapi tanggapan mereka sungguh tidak sesuai dengan harapan Zhifa. Teman-temannya malah meledek dan menertawainya.Gila lo ya bisa suka sama orang yang ketemu aja lo nggak pernah .Itu tanggapan mereka. Zhifa merespon dengan cemberut. Selanjutnya teman-teman Zhifa hanya tertawa. Sejak saat itu Zhifa tidak mau lagi menyeritakan tentang Denis pada teman-teman sekolahnya. Hanya pada Indah. Meski respon Indah juga tidak begitu bagus, tapi setidaknya Indah sedikit mengerti.Ting!Zhifa tersentak begitu bunyi ponsel menghentikan lamunannya. Zhifa meraih ponselnya dan menatap heran layar ponsel. Telpon dari nomor yang tidak dikenal."Angkat nggak ya?" Zhifa ragu. Pasalnya cewek itu tidak suka mengangkat telpon dari nomor tidak jelas. Dulu saja ada yang iseng menelponnya entah siapa tapi lebih mirip seperti diteror. Akhinya Zhifa memblokir nomor itu hingga tidak bisa menghubunginya lagi.Ponsel Zhifa berhenti berdering. Baru saja Zhifa menghela napas lega, ponselnya kembali berdering."Angkat aja kali ya. Kayaknya penting. Siapa tau abang yang mau ngantar paket," gumam Zhifa pada dirinya sendiri."Halo?" sapa Zhifa ragu saat mengangkat telpon." Halo, " balas orang itu. Zhifa mengernyit heran. Merasa tidak mengenal siapa orang dibalik suara itu. Atau lebih tepatnya ia lupa."Ini siapa?"" Ini gue."" Ha? Siapa? Gue lupa deh kayaknya. Maaf," ringis Zhifa merasa tidak enak. Ia memang sepelupa itu." Nggak inget gue sama sekali , Jipa ? "Zhifa terbelalak kaget begitu mendengar panggilan itu. Yang memanggilnya Jipa hanya satu orang. Denis."Denis?" panggil Zhifa dengan suara bergetar. Akhirnya cowok itu kembali muncul, setelah sekian lama menghilang." Iya, Yang. Ini gue. Denis , " kekeh Denis disebrang sana. Mata Zhifa mulai berkaca-kaca. Denisnya kembali." Eets sebelum lo nangis, mending lo ke bandara dulu. Jemput pacar ganteng lo ini. ""Bandara?"" Iya Sayang. Bandara. Bandar udara di kota lo. ""Lo di kota gue?"" Duh banyak nanya bener pacar gue ini. Gue tau lo pasti kangen sama guekan? Ya udah sini cepet. Gue tunggu di bandara. Bye, Sayang."Sambungan telepon mati. Zhifa bergegas bersiap untuk segera menyusul Denis ke bandara."Tan, Zhifa pergi dulu ya. Ada janji sama temen," pamit Zhifa pada Tantenya. Zhifa memang tinggal berbeda kota dari orang tuanya. Ia tinggal bersama keluarga Tantenya yang kebetulan berada di kota yang sama dengan universitasnya."Jangan kemalaman ya pulangnya," pesan sang Tante. Zhifa hanya mengangguk. Ia terlalu bersemangat menemui Denis hingga tidak terlalu mendengar pesan sang Tante. Dengan terburu ia menuju mobilnya dan mengendarai secepat ia bisa."Jangan macet please, jangan macet," rapal Zhifa berulang kali. Sayangnya keinginan Zhifa tidak terkabul. Ia terjebak kemacetan tengah kota karena ini keluar saat sedang jam makan siang seperti ini."Duh pake macet segala. Denis pasti nunggu lama." Zhifa mulai gusar. Jarak dari rumah tantenya ke bandara itu sudah lebih dari setengah jam. Apalagi dia terjebak macet seperti ini. Bisa lebih dari satu jam dia membuat Denis menunggu.Zhifa mengotak-atik ponselnya. Ia berusaha menelpon Denis." Ya, Yang?""Lo masih di bandara? Gue kejebak macet nih," keluh Zhifa begitu mendengar suara Denis." Santai aja. Gue tungguin lo sampai lo datang. Lo kesini make apa? ""Mobil. Gue bawa mobil."" Ya udah. Jangan ngebut ya. Tetap perhatiin keselamatan lo. Nggak usah pikirin berapa lama gue nunggu. Gue bakal tetap nunggu lo ," kata Denis penuh perhatian. Mata Zhifa mulai berkaca-kaca. Meski selama berpacaran mereka tidak pernah bertemu dan Denis selalu bertingkah laku menyebalkan, tapi Denis sangat perhatian pada Zhifa. Cowok itu tidak suka Zhifa terlambat makan, tidur terlalu malam ataupun kelelahan. Perhatian sekali."Iya. Tunggu gue," balas Zhifa serak." See you soon, Sayang. Nggak sabar untuk ketemu lo. "" Me too ," gumam Zhifa. Setelah itu sambungan telepon terputus. Zhifa kembali fokus pada jalanan di depannya. Ia harus selamat dan sampai secepat mungkin dihadapan Zhifa.Satu jam kemudian, barulah Zhifa lepas dari kemacetan. Tidak butuh waktu lebih lama lagi, dalam waktu dua puluh menit, Zhifa sudah berada di parkiran bandara."Duh telpon Denis dulu," gumam Zhifa. Ia kembali menghubungi pacarnya itu. Eh apakah Denis masih bisa dikatakan sebagai pacarnya?"Halo, Yang. Gue udah di bandara. Lo dimana?" Serbu Zhifa begitu Denis mengangkat panggilannya." Ets sabar, Sayang. Jangan buru-buru gitu. Gue di dekat pintu kedatangan. Gue make jaket levis biru muda sama bawa koper kecil warna hitam. Ingat jangan lari-lari kesini. Jalan aja. Gue nggak mau lo sampai jatuh, " peringat Denis. Mengingat Zhifa yang kadang ceroboh jika sedang terburu-buru."Iya. Jangan pindah kemana-mana ya. Gue jalan kesana." Zhifa mematikan sambungan telepon lalu berjalan cepat ke arah pintu kedatangan. Denis hanya menyuruhnya untuk tidak berlari bukan?Begitu tiba di dekat pintu kedatangan, mata Zhifa liar mencari keadaan Denis. Keadaan bandara cukup padat siang ini hingga membuat Zhifa agak susah menemukan Denis."Gue telpon aja deh." Lalu Zhifa mencoba menelpon Denis. Selagi menunggu Denis mengangkat teleponnya, mata Zhifa tetap liar mencari keberadaan Denis. Lalu tiba-tiba penglihatannya berhenti di satu titik. Ke arah cowok yang berdiri tidak jauh di depannya, dengan posisi membelakanginya. Tepat disaat itu pula Denis mengangkat telponnya. Dan cowok itu juga sedang mengangkat telepon." Ya, Sayang. Lo dimana?""Tepat di belakang lo," lirih Zhifa. Denis segera berbalik dan tersenyum kecil. Sedangkan Zhifa, tubuh cewek itu tiba-tiba kaku. Akhirnya, akhirnya ia bertemu dengan cowok yang dikenalnya hanya dari media sosial saja.Denis berjalan ke arah Zhifa. Meski ia belum pernah bertemu Zhifa sebelumnya, ia yakin cewek yang sedang menatapnya tanpa berkedip itu adalah Zhifa. Hatinya mampu merasakan desiran halus begitu melihat Zhifa. Ah, akhirnya..."Hai." Denis berdiri dengan jarak selangkah di hadapan Zhifa. Cowok itu menunduk, karena perbedaan tingginya dengan Zhifa. Di mata Denis, Zhifa terlihat begitu mungil dan kecil. "Sampai kapan mau bengong liatin gue kayak gitu?""JAHAT." Tiba-tiba Zhifa menghambur memeluk Denis. Denis yang tidak siap hampir saja terjungkal kebelakang jika ia tidak segera menyeimbangkan dirinya. Tangannya terlepas dari pegangan koper, bergerak melilit tubuh mungil gadisnya.Denis mulai mendengar suara tangisan Zhifa. Cowok itu makin mempererat pelukannya. Tidak peduli bahwa saat ini mereka sedang berada di bandara. " I'm so sorry .""Lo jahat, Den. Lo ninggalin gue gitu aja. Nggak ada kabar. Berbulan-bulan. Tapi sekarang, lo malah muncul dihadapan gue dengan senyum sialan lo itu. Gue benci sama lo," isak Zhifa. Ia memukul punggung Denis. Perasaannya saat ini campur aduk. Senang dan kesal dalam waktu bersamaan."Maaf, Fa. Gue tau kalau gue nyakitin lo. Tapi gue punya alasan. Gue nggak bermaksud ninggalin lo gitu aja," lirih Denis. Suaranya teredam dibalik helaian rambut Zhifa karena cowok itu menumpukan kepalanya di atas kepala Zhifa."Jelasin kalau gitu." Zhifa menjauhkan kepalanya dari dada Denis. Matanya menatap mata cowok pujaannya itu. "Lo nggak tau betapa bahagianya gue bisa ketemu lo.""Gue juga. Bahkan lebih dari itu."***Zhifa dan Denis memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu karena perut Denis yang meronta meminta makan. Zhifa membawa Denis ke restoran yang berada di salah satu mall."Pesan apa?" Tanya Zhifa. Denis membolak balik buku menu dengan serius, seakan buku menu tersebut merupakan hal yang sangat penting. Senyum Zhifa mengembang melihat wajah cowok yang ia cintai itu. Akhirnya mereka bertemu. Akhirnya Denis kembali padanya." Chicken katsu, french fries, mac n cheese terus minumnya ice lemon tea ," jawab Denis kemudian. Zhifa terpana mendengar pesanan cowok itu yang lumayan banyak."Lo yakin mau makan semua?""Gue laper." Denis memamerkan senyum tengilnya. Zhifa hanya tersenyum lalu ikut memesan makanan ke pelayan yang berada di hadapan mereka."Saya pesan spaghetti carbonara sama milkshake strawberry ." Setelah itu si pelayan menyatat pesanan mereka lalu berlalu dari hadapan mereka berdua.Lima belas menit kemudian, pelayan tadi kembali membawa pesanan mereka. Denis terlihat makan dengan lahap, membuat Zhifa tertawa melihat kelakuan pacarnya itu."Jadi, mau dimulai darimana?" tanya Denis tiba-tiba membuat Zhifa mengerutkan keningnya heran. Makanan mereka baru saja habis."Mulai apa?""Nggak penasaran gue kemana aja?" Denis menaikkan sebelah alisnya serta tersenyum jahil. Refleks Zhifa menyubit punggung tangan Denis. "Aw! Sakit, Yang.""Suka banget senyum jail kayak gitu," gerutu Zhifa seraya berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. Ntah kenapa hanya melihat senyum cowok itu, Zhifa merasa sangat bahagia."Ganteng ya gue senyum kayak gitu? Sampai merah nih pipinya." Tangan Denis terulur menyubit pipi Zhifa yang sedikit tembam."Ih sakit," cemberut Zhifa. Denis tergelak lalu mengelus pipi yang ia cubit tadi sayang."Uh kasian pacar gue kesakitan." Zhifa tersenyum malu mendengarnya. Pacar. Ya, ia masih pacar Denis."Ayo cerita. Kenapa lo ninggalin gue nggak ada kabar berbulan-bulan? Dikira enak apa ditinggal gitu aja. Nunggu nggak jelas, nggak pasti gini," gerutu Zhifa kesal. Tapi Denis tahu, cewek itu sedang menahan tangisnya agar tidak pecah dihadapan umum seperti ini." I''m so sorry . Gue tau gue salah. Gue pergi gitu aja. Nggak ngehubungin lo. Nggak bilang apa-apa. Padahal terakhir kali kita chat , gue bilang bakal setiakan? Gue emang sebrengsek itu, Fa. Nggak bisa nepatin apa yang gue janjiin ke lo. Tapi, makasih karena lo masih mau nunggu gue. Meski dengan semua ketidak jelasan ini," kata Denis. Cowok itu meraih tangan Zhifa untuk ia genggam. Lalu ia kecup sebentar."Gue sayang sama lo, banget. Gimana caranya gue bisa lupain lo gitu aja? Gue udah pernah nyoba. Tapi nggak pernah berhasil. Jadi yang bisa gue lakuin cuma nunggu dan... gue nggak munafik mau buka hati untuk cowok lain disaat lo di hati gue mulai memudar. Tapi sampai sekarang, gue belum bisa hapusin bahkan untuk mudarin sayang rasa sayang gue ke lo. Gimana gue mau pindah hati?" Suara Zhifa terdengar lirih. Denis segera berpindah posisi duduk disebelah gadisnya. Memeluk gadis kesayangannya erat tanpa peduli beberapa pengunjung mulai menatap mereka."Maafin gue. Salah gue bikin lo harus nunggu gue. Salah gue bikin lo sedih begini," bisik Denis di puncak kepala Zhifa."Kenapa lo lakuin ini ke gue?" Zhifa melepas pelukannya. Matanya menatap Denis dalam, dibalas hal serupa oleh cowok itu."Gue akan cerita. Semuanya. Terserah setelah ini lo mau respon gimana. Gue sadar ini salah gue, Fa.""Cerita dulu. Gue nggak bakal ngerti kalau lo bilang kayak gitu aja," desak Zhifa. Denis terdiam. Dari awal keinginannya menyusul Zhifa ke kota ini, Denis memang berniat akan menyeritakan semuanya pada Zhifa. Ia hanya ingin jujur pada cewek yang menetap di hatinya hampir setahun ini. Tapi entah kenapa, disaat ia dihadapkan pada masanya, Denis merasa takut untuk mengatakannya. Takut Zhifa marah, bahkan meninggalkannya. Sungguh, Denis sudah berada di kota yang bahkan sekalipun belum pernah dia kunjungi. Hanya demi Zhifa."Awalnya, lo taukan kita baik-baik aja? Nggak ada masalah ataupun berantem? Palingan yang menghalangi itu kesibukan gue sama bengkel," kata Denis. Zhifa mengangguk kecil. Denis benar. Mereka merupakan pasangan yang cukup jarang bertengkar. Pernah sekali bertengkar, dan langsung putus. Tapi besoknya mereka sudah kembali bersama lagi."Nggak lama setelah chat terakhir kita itu. Gue mulai berpikiran buruk sama hubungan kita. Gue mikir, kenapa gue bisa sayang banget sama lo yang bahkan ketemu pun gue nggak pernah. Kenapa gue bisa nyaman sama lo hanya dari chat dan teleponan kita tiap hari? Kenapa gue nggak bisa ngerasain hal yang sama ke cewek lain, yang lebih nyata untuk gue, yang ada dihadapan gue? Ditambah, teman-teman gue yang ikut meracuni pikiran gue. Bilang kalau hubungan kita nggak logis. Terlalu aneh dan nggak nyata. Karena itu... karena itu gue jauhin lo. Gue pergi gitu aja tanpa pamit. Gue takut kalau gue pamit ke lo, semua rencana gue gagal total. Gue tau gue brengsek, Fa. Gue mau lupain lo. Gue mau dapat hubungan yang lebih nyata dan jelas. Gue mau lakuin sesuai yang teman-teman gue bilang. Tapi hasilnya lo tau apa? Gue nggak berhasil. Nggak ada seharipun gue lewatin tanpa mikirin lo. Gue bahkan udah berusaha pacaran sama cewek lain. Tapi rasanya hambar. Nggak sama kayak waktu gue sama lo. Berbulan-bulan gue lakuin segala cara buat hapusin lo dari hati gue. Gue bahkan udah macarin lima belas cewek cuma buat buang rasa sayang gue ke lo. Tapi tetap nggak berhasil. Akhirnya gue sadar. Kalau yang gue lakuin selama ini bodoh. Gue udah bikin kesalahan. Gue nggak akan pernah bisa ngapusin lo dari hati gue. Lalu kenapa gue masih berusaha? Harusnya yang gue lakuin dari dulu itu, ini. Nemuin lo secara langsung, bikin hubungan ini makin nyata. Nggak masalah jika nantinya kita akan ldr . Yang penting gue udah liat secara nyata, gimana gadis kesayangan gue ini."Gue kesini itu modal nekat dan sayang ke lo doang. Gue bahkan nggak mikir resiko kalau gue nggak bisa sama sekali ngehubungin lo, ketemu lo saat gue udah menginjakkan kaki di kota ini. Yang gue pikirin, gue harus nyusul lo. Segera. Bahkan gue rela untuk nyari lo ke seluruh penjuru kota."Mata Zhifa berkaca-kaca mendengar penjelasan yang keluar dari mulut Denis. Ia marah. Tentu saja. Tapi dibalik itu, ada rasa bahagia yang ntah datang darimana. Jika berpikir logis, hubungan mereka yang dulu hanya lewat ponsel, memang sungguh seperti mainan. Manusia mana yang tahan dengan hubungan sebatas ponsel? Semua orang pasti ingin bertemu dengan pacarnya, saling menghabiskan waktu bersama. Zhifa cukup memaklumi pemikiran Denis yang seperti itu. Walau rasa kesal dan marah itu masih ada karena Denis meninggalkannya begitu saja."Harusnya ini yang lo lakuin sebelum ninggalin gue, Den. Kasih gue penjelasan. Setidaknya gue nggak nunggu lo kayak orang bodoh karena nyatanya lo sendiri berusaha lupain gue. Tapi gue cukup ngerti. Nggak papa," lirih Zhifa serak. Denis segera mengenggam tangan gadis itu."Maafin gue. Gue tau gue bodoh. Gue tau gue salah. Gue mohon, maafin gue. Gue sekarang sadar sama perasaan gue, Fa. Gue nggak mau lepasin lo. Gue mau sama lo. Oleh karena itu, gue ada disini. Mau buktiin kesungguhan gue ke lo. I love you, so much. Gue mau lo tetap jadi pacar gue, gadis kesayangan gue. Lo masih maukan jalin hubungan sama cowok brengsek ini?" Denis menatap Zhifa penuh harap. Dari matanya terpancar kecemasan. Ia takut Zhifa menolaknya, tidak ingin bersamanya lagi. Hal ini bukan karena kedatangannya yang sia-sia jika Zhifa menolak, tapi betapa menyesalnya ia meninggalkan Zhifa dulu hingga cewek itu tidak mau lagi kembali bersamanya."Gue sebenarnya mau nolak. Gue sebenarnya nggak mau. Tapi... gue masih cinta sama lo, Den. Jadi gimana caranya gue bisa nolak?" Senyuman Denis terbit. Ia segera membawa Zhifa masuk ke dalaman pelukannya."Makasih. Makasih Sayang. Gue janji akan berusaha nggak nyakitin lo lagi. Gue nggak bakal raguin hubungan kita lagi." Denis mencium puncak kepala Zhifa lama. Cowok itu senang, sangat. Begitupun Zhifa. Akhirnya penantiannya terbayar tidak sia-sia. Denisnya kembali. Bahkan muncul dihadapannya dengan perasaan yang sama dengannya.

Farel & Naurin
Fantasy
07 Dec 2025

Farel & Naurin

Aku tersenyum di balik bukuku saat mendapatinya memasuki ruangan kelas. Ia berjalan ke arah sudut kelas lalu menghampiri gerombolan temannya. Sapaan khas cowok dilontarkannya lalu tos dengan semua temannya. Senyumku makin mengembang saat mendengar tawanya di sudut sana. Aku makin menenggelamkan diriku di balik buku, meredakan jantungku yang berdegup cepat hanya karena mendengar tawanya."Nau," tepukan Tiara di bahuku membuatku cepat bangkit dari balik buku. Aku menoleh ke belakang, mendapati sahabatku yang sedang memandang ku heran."Apaan sih Tir, masih pagi juga," omelku. Semoga Tiara tidak sadar akan perilaku anehku pagi ini."Lo kenapa pagi-pagi udah sembunyi di balik buku? Sakit?" tuhkan, Tiara sadar! Aku harus jawab apa?"Ng-nggak kenapa-napa. Kepo lo," kilahku cepat. Semoga Tiara percaya. Kan malu kalau ketahuan liatin dia pagi-pagi, meskipun itu Tiara yang mengetahuinya."Emm," Tiara bergumam panjang dan menatapku tidak percaya. Entah kenapa ia malah melihat sekeliling lalu kembali memandangku dengan kerlingan jahilnya. Tuhkan, Tiara tau!"Pasti karena ngeliatan Farel ya?" goda Tiara tepat sasaran. Aku enggan menjawab dan memilih kembali menenggelamkan wajahku di buku."Ya deh yang nggak mau ngaku. Tapi hati-hati ya. Jangan sampai tu mupeng ketahuan sama Farel." Tiara tertawa sendiri setelah puas menggodaku. Aku menggeram kesal melihat tingkahnya. Huh, untung sahabat. Kalau tidak, udah aku pites dia dari tadi."Idih, jijik gue," seruan Farel membuatku kembali menatap ke arah sudut kelas. Farel terlihat terpingkal bersama yang lain entah karena apa. Dia makin ganteng kalau tertawa seperti itu.***"Naurin, buku PR kamu yang ketinggalan kemarin saya letakkan di meja guru," kata bu Retno sebelum keluar dari kelasku. Aku mengangguk dan tersenyum pada guru berbadan gempal itu. Segera aku ke meja guru dan mengambil bukuku. Tapi tunggu, kenapa ada dua buku?"Farel Jonathan," gumamku saat membaca nama sang pemilik buku. Farel? Tiba-tiba wajahku memerah. Aku megang buku Farel?"Woi Nau! Bengong aja lo. Kantin yuk," ajak Tiara yang tiba-tiba datang."I-iya. Gue ambil buku dulu.""Buku PR lo ada dua Nau?" tanya Tiara. Aku menggeleng."Satu lagi punya Farel," jawabku terkesan lirih."Wih, dapat rejeki lo. Balikin sana sama orangnya, sekalian modus." Tiara menaikkan kedua alis mata tebalnya."Lo yakin? Nanti gimana kalau...""Kan lo cuma mau balikin buku dia. Niat lo baik. Tenang aja." Tiara menyokongku terus agar mau mengembalikan buku ini pada Farel yang kelihatan sibuk sendiri di kursinya."Iya deh. Gue balikin.""Jangan sampai liatin mupeng lo ke dia ya!""Sialan lo." aku melangkah ragu mendekati Farel. Sebenarnya aku takut dan malu. Tapi aku juga mau berbicara dengannya."Rel," panggilku lirih saat aku tepat berada di depan mejanya. Tidak ada respon."Farel," panggilku lagi. Tapi tetap saja, tidak ada respon."Farel Jonathan," kini aku memanggilnya sedikit keras dan yak... berhasil membuatnya melihat padaku. Meski dengan wajah datar."Ini buku lo. Tadi ketinggalan di meja guru," aku menyodorkan buku padanya. Farel memandangku sekilas lalu ke buku. Kemudian ia mengambil bukunya cepat dan kembali asik sendiri.Aku meneguk air liurku pahit melihat respon buruknya padaku. Ya harusnya aku memang tak perlu berharap akan mendapat respon baik dari cowok ini. Alasannya? Ah, sungguh menyakitkan."Ka-kalau gitu gue duluan ya, Rel," kataku serak menahan sesak di dadaku. Farel tetap diam hingga aku melesat cepat dari hadapannya. Aku akan menangis jika masih disana."Udah?" tanya Tiara saat aku menghampirinya yang menungguku di depan kelas. Aku hanya mengangguk singkat dengan ekspresi menahan sakit."Dia nyakitin lo?" tanya Tiara saat aku menariknya ke kantin. Aku tidak menjawab. Toh, tanpa harus menjawab, Tiara pasti tahu. "Jangan sedih, Nau.""Udah biasa, Tir. Udah ah, jangan bahas dia. Mending kita makan. Gue laper," aku cepat mengalihkan topik pembicaraan karen aku tahu, akan terlalu menyakitkan jika terus membahas dia."Lo mau pesan apa? Biar gue pesanin sekalian," tanya Tiara."Samain aja sama lo," jawabku. Tiara mengangguk lalu pergi memesan makanan. Aku menyandarkan diriku di sandaran kursi. Kantin tampak penuh sekali saat ini. Maklum lah, jam istirahat.Sembari menunggu Tiara, mataku asik menjelajahi setiap penjuru kantin. Pandanganku terhenti tiba-tiba saat melihat Farel memasuki kantin dengan Kanaya."Kanaya? Sejak kapan Farel dekat sama dia?" batinku selama ini, aku tidak pernah tahu jika Farel dan Kanaya berteman. Maksudku, aku tidak pernah melihat mereka saling berbicara. Kenapa sekarang tiba-tiba mereka bisa jalan bersama?"Nau, nih pesanan lo," kedatangan Tiara membuatku berhenti menatap Faren dan Kanaya. Sahabatku itu muncul bersama pesanan kami."Wah, bakso nih. Tau aja kesukaan gue," sahutku girang saat semangkuk bakso dengan asap mengepul di atasnya berada di hadapanku."Kesukaan kita," koreksi Tiara. Ya soal makanan, aku dan Tiara memiliki selera yang sama."Traktir nggak nih?" godaku seraya memakan bakso. Tiara memutar kedua bola matanya."Gratis mulu isi tu otak," aku terpingkal mendengar jawaba Tiara lalu kembali memakan baksoku. Uhm, ini nikmat. Setidaknya semangkuk bakso ini mampu mengalihkan sedikit perhatianku dari Farel dan Kanaya.***"Mami, Naurin cantik pulang!" seruku heboh saat memasuki rumah. Aku pastikan Mami pasti menggerutu mendengar suara toaku ini."Nau, harus berapa kali sih Mami bilang kalau masuk rumah jangan teriak-teriak? Kamu pikir rumah ini hutan?" tuhkan aku benar! Mami datang dengan omelannya untuk menyambut anaknya yang baru pulang dari sebuah perjuangan besar *read:bersekolah." Assalammualaikum Mami kesayangan Naurin," aku mencium tangan Mami tanpa peduli omelan Mami."Omongan kamu kayak kamu punya banyak Mami aja. Gimana sekolah?" tanya Mami. Aku nyengir mendengarnya."Baik, kayak biasa. Ya walaupun sama, masih sangat melelahkan. Huh, kapan sih penderitaan ini berhenti?" keluhku lalu bergelayut manja di lengan Mami."Kamu kan udah kelas tiga. Bentar lagi juga lulus. Udah ah, Mami mau lanjut masak dulu," Mami melepaskan tanganku lalu melenggang ke dapur tersayangnya. Aku menggidikkan bahuku cuek saat melihat Mami lalu beranjak menuju kamarku. Ah my lovely, I'm coming!Berada di kamar adalah hal yang paling aku sukai. Aku melempar tas sembarang lalu menjatuhkan diriku di atas kasur. Aih, nyamannya."Hm," aku bergumam sendiri sembari menutup mata. Ini merupakan kebiasaanku yang aku akui cukup aneh, tapi aku tetap melakukannya. Setelah puas bergumam seperti itu, aku membuka mata lalu menoleh ke arah pintu kaca yang langsung menuju balkon. Samar-samar aku bisa melihat balkon seberang yang letaknya tidak begitu jauh dari kamarku. Balkon kamar milik Farel.Aku duduk di atas kasur lalu menatap kamar di seberang kamarku lama. Pintunya tertutup walau tirai di pintu kaca itu terbuka. Perlahan, mataku memanas. Semua tentang Farel kembali memenuhi kepalaku. Aku merindukan Farel. Aku tahu, aku sudah begitu bodoh di masa lalu. Pengakuanku membuatnya meninggalkanku. Aku kehilangan sahabat kecilku."Rel, lo ada kegiatan nggak sore ini?" tanyaku pada Farel. Farel yang sedang asik dengan rubiknya hanya menggeleng singkat tanpa mau menatapku."Ih, kalau gue ngomong liat ke gue dong. Nggak sopan banget," kesalku. Ku rebut rubiknya secara paksa lalu menyembunyikannya di balik tubuhku."Rin, lo apa-apaan sih. Balikin rubik gue," Farel yang kesal melihat ulahku berusaha menjangkau rubiknya. Aku langsung mengelak dan membuang rubik Farel jauh. "Rin!""Gue nggak suka dicuekin," aku mencebik kesal. Aku menatap Farel kesal dengan bibir yang dimajukan."Keluar lagi deh childish-nya," Farel mendesah berat. "Iya deh, nggak gue cuekin lagi. Lo mau apa, hm?""Temenin gue ke pantai nanti sore," senyumku kembali mendapati Farelku yang kembali perhatian. Farel adalah hal terbaik yang pernah ku miliki di dunia ini."Ngapain?""Kepo. Pokoknya lo harus mau," paksaku."Iya, gue mau. Apapun untuk sahabat gue ini."Sorenya aku dan Farel ke pantai. Kami duduk dia atas pasir seraya memandang jauh ke arah matahari yang mulai tinggal setengah."Rel," panggilku. Farel menoleh padaku dengan senyum manisnya."Apa?""Gue mau bilang sesuatu," kataku sedikit gugup."Bilang apa? Bilang aja kali, Rin. Tumben baget lo pakai permisi gini," ledek Farel."Ih, gue serius. Gue mau bilang sesuatu," aku memukul lengan Farel kesal."Aduh, jangan pakai pukul dong. Suka banget liat gue tersiksa. Lo mau bilang apa?""Gue sayang sama lo," kataku cepat lalu menunduk."Gue juga sayang sama lo," balas Farel enteng. Aku mendongak cepat, melihat wajahnya yang biasa-biasa saja."Bukan gitu, Rel. Maksud gue, gue sayang sama lo. Tapi bukan sebagai sahabat, sebagai cewek," ungkapku. Aku ingin Farel mengerti bahwa perasaanku untuknya telah berubah dan tumbuh dengan cepat."Ma-maksud lo?" Farel terkejut mendegar pengakuanku. Matanya bahkan melebar, seperti tidak percaya."Gue cinta sama lo, Farel Jonathan," tekanku agar ia yakin."Nggak mungkin, Rin. Kita itu sahabatan. Lo nggak mungkin dan nggak boleh suka sama gue," Farel menggelengkan kepalanya pertanda sebuah penolakan. Dadaku tiba-tiba terasa nyeri karena penolakan Farel."Kenapa nggak boleh? Gue rasa wajar kalau gue suka sama lo. Kita udah bertahun-tahun selalu bareng, Rel. Lo bikin gue selalu nyaman dan gue mau kita lebih dari sahabat.""Lo masih tanya kenapa? Kita itu sahabatan, Naurin Zaskia! Lo nggak seharusnya suka sama gue. Gue sahabat lo, dari kecil," suara Farel meninggi. Aku takut sebenarnya, namun aku tidak akan menyerah untuk memperjuangkan perasaanku."Gue nggak peduli sama status persahabatan kita. Apa salanya sih Rel kalau sahabat jadi cinta? Toh banyak yang kayak gitu," aku menatap mata yang dipenuhi kilat emosi itu. Apa segitu marahnya Farel akan pengakuanku."Gue nggak bisa, Rin. Gue nggak mau," Farel beranjak berdiri meninggalkanku. Aku ikut berdiri menyusulnya."Tapi Rel...""Gue nggak mau Rin. Jangan paksa gue."Air mataku menetes saat mengingat kejadian menyakitkan tiga tahun lalu itu. Sejak saat itu, Farel menjauhiku. Ia mendiamkanku dan meninggalkanku. Hubunganku dan Farel resmi merenggang hanya karena satu kalimat bodohku. Aku kehilangan Farel, selamanya."Rin, Mami mau ke rumah tante Rena. Kamu jaga rumah," teriakan Mami dari luar membuatku tersentak."Iya Mi," balasku. Sebisa mungkin aku menutupi suara serakku karena menangis.Mami sepertinya sudah pergi. Aku menghelas napas lega. Untung tidak ketahuan. Selama ini, orang tuaku dan orang tua Farel tidak tahu jika aku dan Farel tidak lagi dekat seperti dahulu. Saat mereka bertanya, aku cepat memberi alasan yang masuk akal pada mereka. Untungnya mereka langsung percaya.Aku beranjak dari kasur lalu menuju meja belajarku. Aku meraih pigura foto disana lalu duduk di kursi. Perlahan, aku mengelus pigura foto itu. Itu fotoku dan Farel saat pembagian rapor tiga tahun lalu. Aku dan Farel mendapat juara saat itu. Orang tua kami begitu senang hingga mereka memotret kami berdua. Kenang-kenangan katanya.Kini saat seperti itu tidak lagi ada. Aku dan Farel yang sekarang bagaikan dua orag yang tidak pernah saling mengenal. Farel tidak pernah mau berbicara padaku. Jikapun ada, itupun terpaksa dan terlalu singkat. Lebih baik dia diam daripada seperti itu."Rel, lo kenapa kayak gini sih? Kenapa jauhin gue? Apa sebegitu besar salah gue sampai lo tega giniin gue? Maafin gue, Rel. Maaf kalau perasaan gue bikin lo terganggu. Gue nggak maksud sama sekali. Lo tau Rel, gue kangen sama lo. Gue kangen sama persahabatan kita dari kecil. Dari kita cuma pakai popok doang. I miss you so much , Farel," aku mencium foto itu tepat di wajah Farel. Kaca pelindungnya basah karena air mataku. Aku tersenyum miris lalu membawa pigura foto itu ke dalam dekapanku. Aku ingin tidur. Rasanya lelah sekali menangis seperti ini. Aku ingin Farel disini, menghiburku ketika aku sedih, seperti apa yang selalu dilakukannya dahulu. Aku rindu mendengar dia memanggilku dengan panggilan kesayangannya, Rin. Tapi aku tahu itu semua sia-sia. Farel tidak mungkin ada, yang ada hanya fotonya. Semoga foto Farel ini mampu menenangkanku. Seperti yang selalu Farel lakukan. Walau hanya sedikit.***Aku berdiri sendiri di depan gerbang sekolah. Aku sedang menunggu pak Parjo, supir Papi yang selalu mengantar-jemputku ke sekolah. Ini sudah lebih dari lima belas meit aku menunggu. Kemana sih pak Parjo? Tidak biasanya dia terlambat seperti ini."Belum pulang, Nau?" tiba-tiba Weno, teman sekelasku sekaligus sahabat Farel muncul dengan motornya."Belum No. Masih nunggu jemputan. Kayaknya kejebak macet," jawabku."Mau pulang bareng gue?" tawarnya."Nggak usah, No. Makasih. Palingan bentar lagi supir gue dateng," tolakku halus. Aku bukannya tidak tahu jika Weno menyukaiku. Akhir-akhir ini ia rajin sekali mendekatiku. Ia juga sering menghubungiku. Tapi maaf-maaf saja, aku masih belum bisa membuka hatiku. Farel masih ada disana."Serius? Gue nggak keberatan kok nganterin lo.""Serius. Udah pulang sana. Nanti Emak lo nyariin lagi," tolakku. Semoga Weno tidak lagi memaksa."Lo pikir gue anak SD yang selalu dikhawatirin emaknya? Enggaklah. Ya udah deh, gue pulang dulu. Lo hati-hati ya," Weno menutup kaca helmnya lalu meninggalkanku. Huh, untunglah.Hingga lima belas menit kemudian, pak Parjo masih belum datang. Aku tidak bisa menghubunginya karena aku lupa membawa ponselku. Apa aku pulang sendiri saja?Saat aku masih berpikir, suara tawa mengalihkanku. Disana, di parkiran sekolah, aku melihat Farel dan Kanaya sedang bersama. Mereka tertawa ketika Farel memberikan helm kepada Kanaya. Kemudian kedua orang itu sudah berada di atas motor Farel. Mereka pulang bersama.Aku segera menolehkan kepalaku saat mereka mendekati gerbang. Jantungku berdebar hebat. Hingga Farel dan Kanaya melewatiku, aku menahan napas. Farel tidak ,menghiraukanku yang sedang berdiri sendirian seperti orang bodoh disini. Ada rasa sesak yang ku rasakan saat melihat Farel dekat dengan gadis lain selain aku. Ya aku tahu, ini memang bukan yag pertama kalinya. Tapi entah kenapa sakitnya selalu sama. Perasaaku kepadanya terlalu kuat, hingga sakit yang ku rasakan juga begitu.***Istirahat membuat kelasku sepi seketika. Hanya ada beberapa orang yang bertahan, termasuk aku dan Farel. Tiara sudah menuju kantin duluan karena tidak tahan menahan perutnya yang begitu lapar. Ia tidak sempat sarapan tadi pagi.Aku menoleh ke arah Farel yang asik dengan bukunya. Ku tebak, ia sedang menggambar. Farel memang jago dalam menggambar."Samperin nggak ya?" batinku. Aku ragu untuk ke Farel memberi bekal makanan dari Mami. Tadi pagi entah kenapa Mami tiba-tiba memberiku dua kotak makanan. Untukku dan Farel, kata Mami.Aku memutuskan kesana. Setidaknya ini keinginan Mami, bukan aku. Jadi Farel tidak akan merasa terganggu."Farel," panggilku ketika berdiri di sampingnya. Farel diam, tidak merespon. Aku menghela napasku berat lalu meletakkan kotak makanan itu ke atas mejanya."Dari Mami. Dia mau lo makan ini," lirihku. Farel menghentikan gerakan tangannya lalu meraih kotak makan itu. Tidak ada satu kalimatpun keluar dari mulutnya. Lebih baik aku pergi saja."Makasih. Ke Mami," suaranya menghentikan langkahku. Sudah lama rasanya aku tidak mendengar ia berbicara padaku. Aku membalik badanku lalu menatapnya yang sedang makan makanan dari Mami. Apa sebegitu bencinya Farel kepadaku hingga karena Mami, ia baru mau berbicara padaku? Tidak adakah kesempatan bagiku untuk kembali dekat dengannya?"Sama-sama," jawabku lirih. Aku berlari cepat ke arah toilet. Semua ini terlalu menyakitkan bagiku. Tiga tahun ini aku selalu merasakan penolakan Farel. Terlalu sakit merasakannya selama itu.Aku menangis sendirian di toilet yang kebetulan sepi. Aku menumpahkan kesedihanku. Aku tahu, aku salah. Tapi kenapa Farel harus menghukumku dengan cara seperti ini? Kenapa ia tidak mau berbicara saja padaku dan menjelaskannya dengan baik-baik? Toh jika dia menolakku, itu tak apa bagiku. Aku tak apa menjadi sahabatnya lagi dari pada harus merasakan kehilangannya. Kehilangan Farel terlalu menyakitkan. Selama ini aku selalu bergantung padanya. Apapun yang ku lakukan, Farel yang akan selalu ada untukku. Aku tidak pernah terbiasa tanpa kehadirannya dan aku tidak pernah bisa. Aku membutuhkan Farel sebesar itu."Nau, lo kenapa nangis?" tiba-tiba Tiara datang. Aku segera memeluk Tiara erat dan kembali menangis. Setelah kehilangan Farel di tahun terakhir SMP, Tiara adalah satu-satunya sahabatku sejak awal masuk SMA. Ia tahu semua ceritaku dengan Farel. Ia yang selalu mendukungku selama ini jika aku terlalu lemah karena Farel."Nau, jangan nangisin dia lagi. Lo harus kuat, Nau," Tiara mengelus punggungku lembut."Tapi ini terlalu sakit, Tir. Tiga tahun ini, dia selalu nolak apapun interaksi yang gue lakuin ke dia. Apa kesalahan gue terlalu besar? Gue cuma mau minta maaf dan memperbaiki semuanya. Tapi dia nggak pernah mau dengerin gue," isakku."Nau, lo harus kuat. Naurin yang gue kenal nggak pernah selemah ini. Lo haus yakin, akan selalu ada pelangi setelah hujan," aku tidak membalas perkataan Tiara. Aku hanya menangis dalam pelukan sahabatku. Aku hanya ingin menumpahkan sakit ini.***Malam ini aku sendirian berada di rumah. Mami dan Papi sedang pergi ke acara kantor Papi yang diantar pak Parjo. Pelayan yang bekerja di rumahku sedang pulang kampung karena anaknya sedang sakit. Hanya ada aku dan satpam di depan rumah. Tapi aku tidak yakin jika pak Yono sedang berjaga di tempatnya sekarang. Palingan ia sudah ketiduran di pos.Aku duduk sendirian di atas kasurku. Aku bosan, tidak tahu harus apa. Dulu, biasanya, Farel selalu menemaniku jika Papi dan Mami sedang pergi. Farel tinggal melompat dari balkon kamarnya ke balkon kamarku. Ia akan berada disini hingga Papi dan Mami datang. Kami akan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Sayangnya kini Farel tidak disini dan tidak mungkin mau datang kesini lagi.Saat aku sedag asik melamun, tiba-tiba listrik mati. Aku berjengkit ketakutan. Aku memiliki phobia terhadap tempat gelap dan sempit. Ya walaupun kamarku tidak sempit, tapi tetap saja gelap.Aku meraba kasur, mencari keberadaan ponselku. Aku menghubungi pak Yono agar beliau bisa mencari penerangan. Sayangnya, telponku tak diangkat. Haduh, kemana sih pak Yono?Kemudian aku mencoba menelpon Papi dan Mami. Hasilnya sama, tidak diangkat. Apa yang harus ku lakukan? Aku sudah terlalu takut saat ini. Aku tidak mungkin menelpon Tiara. Rumahnya jauh dari rumahku. Aku tidak mau merepotkan sahabatku malam-malam begini.Bajuku mulai basah karena keringat dingin yang mengalir di sekujur tubuhku. Sudah setengah jam aku bertahan dengan keadaan seperti ini dan aku sudah terlalu takut. Aku meringkuk di atas kasur. Mataku memanas dan aku menangis. Aku takut. Apa tidak ada yang bisa menolongku?Aku kembali mengacak kontak di ponselku, mencari siapa yang bisa membantuku. Tinggal satu nama yang belum ku minta tolong. Farel. Tapi apa dia mau?Dengan modal nekat dan karena sudah terlalu takut, aku menghubungi Farel. Panggilan pertama, Farel tidak mengangkat telponku. Panggilan kedua juga tidak. Di panggilan ketiga, saat aku mulai putus asa, dia mengangkatnya."Rel, to-tolongin gue," kataku bergetar."Listrik rumah gue padam dan gue sendiri di rumah. Gue takut, Rel. Tolongin gue.""Nggak bisa," Farel menolakku secara dingin. Hatiku terluka mendengarnya. Farel tahu jika aku phobia, tapi ia tetap tak mau membantuku."Please, gue mohon. Gue takut, Rel. Nggak ada yang bisa nolongin gue. Sekali ini aja, gue mohon Rel," aku terisak memohon padanya. Takut dan sakit bercampur saat ini."Nggak bisa. Gue lagi di luar sama Kanaya. Jangan ganggu gue," kemudian Farel mematikan sambungannya secara sepihak. Aku menenggelamkan diriku di balik lutut seraya terisak hebat. Aku tersakiti, sungguh. Farel terlalu membenciku hingga disaat darurat seperti ini, ia tidak mau menolongku.Hingga satu jam kemudian, aku memilih menuju pos satpam. Aku yakin pak Yono ketiduran. Dengan tenaga yang tersisa karena habis menangis tadi, aku berjalan keluar rumah. Berbekal penerangan dari ponsel dan sedikit keberanian, aku menuju pos satpam. Mataku mulai berkunang-kunang saat aku keluar kamar. Tapi aku tetap memaksakan diri keluar. Hingga saat berjalan di tangga, pusing yang hebat menderaku. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku selain badanku yang begitu sakit karena berguling dari tangga dan mataku menutup.***Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, mencoba beradaptasi dengan suasana terang. Hidungku mencium bau obat-obatan dan alkohol yag begitu kental. Samar, aku melihat Tiara yang menatapku senang."Tir," panggilku denga suara serak. Tenggorokanku kering sekali rasanya."Akhirnya lo sadar. Tunggu, gue panggil dokter dulu," Tiara melesat meninggalkanku. Aku menatapnya bingung. Dokter? Apa aku di rumah sakit?Tak lama kemudian Tiara datang bersama seorang dokter dan suster. Dokter mengecek keadaanku dan mengatakan kondisiku mulai stabil. Tapi aku masih harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Setelah itu, dokter dan suster meninggalkan aku dan Tiara."Akhirnya lo sadar, Nau. Semua orang udah frustasi karena nungguin lo nggak sadar-sadar," cerocos Tiara. Ia tampak begitu lega melihatku bangun."Emang gue kenapa?" tanyaku bingung."Lo jatuh dari tangga rumah lo dua hari yang lalu. Semua orang panik pas tau lo jatuh. Lo kenapa bisa kayak gini?" aku mengernyitkan keningku, berusaha mengingat apa yang terjadi padaku sebelum aku seperti ini. Ah iya, listrik mati, takut dan jatuh dari tangga."Waktu itu listrik mati dan gue sendirian di rumah. Lo tau gue takut gelap. Udah hampir dua jam gue nunggu, tapi listrik nggak hidup juga. Akhirnya gue nekat ke pos satpam tempat pak Yono. Terus pas di tangga, eh gue malah jatuh," terangku."Lo kenapa nggak ngubungin gue, orang tua lo atau yang lain sih? Kenapa sok-sok berani. Udah tau lo itu phobia. Ginikan jadinya," omel Tiara. Aku tahu dia terlalu khawatir dengan kondisiku."Gue udah telpon Papi, Mami, dan pak Yono. Tapi nggak diangkat. Kalau lo, gue nggak enak. Rumah lo kan jauh dari rumah gue," jawabku."Kenapa nggak ngubungin tetangga sebelah? Setau gue, lo lumayan akrab sama tetangga lo.""Gue udah telpon Farel, tapi dia nolak. Dia nggak mau nemuin gue," jawabku lirih. Penolakan Farel menjadi cambuk besar bagi hatiku. Aku sadar sepenuhnya sekarang. Ia memang tak ingin aku ada lagi dihidupnya. Buktinya saja, di saat aku dalam keadaan darurat, ia masih menolakku."Fa-Farel?""Iya. Farelkan tetangga gue. Malam itu gue juga nelpon dia. Gue nekat. Pas gue telpon minta tolong, dia malah nggak mau. Gue udah mohon-mohon, dia tetap nggak mau. Dia lagi di luar sama Kanaya. Terus dia matiin telponnya. Gue sadar setelah itu Tir, gue emang udah nggak berarti lagi dihidupnya. Dia udah benci sama gue yang udah ngerusakin persahabatan kami," jelasku dengan suara serak. Sial, aku tidak mau menangis lagi."Nau...""Mulai sekarang, gue nggak mau mikirin dia lagi. Gue bakal berusaha lupain dia, lupain semua kenangan kami. Gue tau itu nggak akan mudah. Tapi apa salahnya gue coba. Farel aja bisa, masa gue enggak? Gue bakal berusaha hilangin nama Farel Jonathan dari hidup gue," tekadku. Aku akan melakukan hal itu agar hidupku tak lagi tersiksa. Ini ku lakukan juga untuk Farel. Ia pasti senang dengan aku yang berusaha melupakannya."Naurin, lo nggak harus kayak gini," geleng Tiara. Ia menatapku iba."Gue harus and I'm okay . Lo nggak usah khawatir. By the way , Mami sama Papi mana?"***Aku terbangun dari tidur siangku. Aku meringis saat merasakan perih di keningku. Sudah seminggu sejak aku keluar dari rumah sakit, tapi perih di keningku masih tetap saja terasa. Aku juga masih menggunakan perban kecil untuk menutupi luka di keningku."Udah sore aja. Saatnya beli muffin," gumamku. Memang kebiasaanku dari dulu pergi ke toko kue di ujung komplek pada sore hari pada hari sabtu. Aku juga sudah mengenal pemilik toka kue itu. Paman Fian. Ia seorang duda beranak dua yang menjalankan usaha itu sejak sepuluh tahun yang lalu. Meski tokonya kecil, tapi setiap hari selalu dipenuhi pengunjung. Aku cepat-cepat membersihkan diriku agar tidak kehabisan muffin coklat kesukaanku.Aku menggunakan sepede ke toko paman Fian. Tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Namun aku mengernyit heran saat mendapati tokonya sepi. Tumben sekali. Apa tutup ya?Aku turun dari sepeda untuk memastikan apakah tokonya tutup atau tidak. Disana, aku mendapati paman Fian di balik etalase."Eh ada Naurin. Masuk Nau," suruh paman Fian ramah. Aku memasuki tokonya dan celingak-celinguk heran."Kenapa tokonya sepi, Paman? Tutup ya?" tanyaku."Enggak kok. Kamu pasti mau beli muffinkan? Tunggu, Paman siapin dulu," tanpa menunggu jawabanku, paman Fian melesat menuju dapur tokonya. Paman memang tahu sekali kebiasaanku.Aku menelisik ruangan toko ini. Dulu, aku selalu kesini dengan Farel. Jadwalnya juga seperti saat ini. Aku dan Farel suka makan kue disini dan terkadang membantu paman Fian.Ah, kenapa aku memikirkan Farel lagi?! Akukan sudah bertekad untuk melupakannya, ya walau tak mudah. Tapi aku yakin aku bisa."Paman mana ya? Kok lama?" gumamku sendiri. Paman Fian tak kunjung datang dari tadi. Padahalkan hanya mengambil muffin. Kenapa la...Aku melotot terkejut saat mendapati diriku dipeluk oleh seseorang dari belakang. Aku hampir saja berteriak heboh jika aku tak sadar siapa orang ini. Bau tubuhnya sungguh aku kenali, meski sudah lama tak ku rasakan lagi."Maafin gue," lirih Farel. Ya, yang memelukku adalah Farel."Fa-Farel," kataku gelagapan. Tidak menyangka dia ada disini dan memelukku."Gue minta maaf, Rin. Gue tau gue salah. Gue udah terlalu jahat sama lo. Selalu nyakitin lo. Maafin gue," suara Farel kembali terdengar, namun serak."Rel," aku membalikkan tubuhku. Farel menatapku dengan sendu. Tangannya masih betah melingkar di pinggangku."Maafin gue. Gue tau, gue terlalu bodoh. Gue bodoh nyakitin lo tiga tahun ini. Maafin gue," sesalnya. Mataku memanas seketika. Aku sudah lama tak mendapati keadaan seperti ini. Berbicara sedekat ini dan merasakan kembali pelukan hangat Farel."Lo nggak salah. Gue yang salah. Pengakuan gue hari itu ngancurin persahabatan kita. Maafin gue," aku menatapnya penuh penyesalan. Dia tidak salah, aku yang salah."Lo nggak salah. Gue yang salah. Gue terlalu kalut saat itu. Perasaan lo ke gue nggak pernah salah, Rin," katanya yang membuatku bingung."Maksud lo?""Lo nggak salah karena suka ke gue," jawabnya."Tapi lo marah dan ngindarin gue sampai tiga tahun, Rel. Jelas itu salah.""Naurin," Farel menghela napasnya berat. Ia menatapku, tepat di maniknya. "Lo salah paham. Keadaan yang sebenarnya bukan kayak gitu. Sebenarnya, pas lo bilang suka sama gue, gue kaget. Gue bilang nggak boleh karena suatu alasan. Gue nggak mau kehilangan lo. Bagi gue, seandainya kita pacaran, hubungan kita bisa berakhir kapan aja. Gue nggak sanggup kehilangan lo. Karena itu gue kalang kabut pas dengar pengakuan lo. Bodohnya gue malah jauhin lo dan seakan nggak mau lo ada di hidup gue lagi. Gue tau gue bodoh lakuin itu semua. Awalnya gue jauhin lo cuma mau lo bisa hilangin perasaan lo ke gue. Tapi gue malah melakukannya bertahun-tahun. Gue malah benar-benar kehilangan lo, tanpa pacaran. Gue nyesel, Rin. Gue bodoh. Gue udah berusaha cuek sama lo selama ini, nyatanya gue nggak bisa. Lo terlalu berpengaruh di hidup gue. Lo maukan maafin gue?"Aku terpaku mendengar semuanya. Jadi, Farel tidak membenciku?"Rin, jangan nangis. Gue tau gue udah terlalu terlambat. Apa nggak ada maaf lagi untuk gue? Apa lo benci sama gue? Perasaan ke gue udah hilang?""Nggak Rel. Lo salah," gelengku. "Lo nggak perlu minta maaf karena lo nggak salah. Gue nggak pernah benci sama lo. Perasaan untuk lo masih ada sampai saat ini," jawabku. Farel tersenyum senang lalu memelukku erat. Air mataku kembali tumpah saat aku mendapati diriku kembali barada di dekapan hangat Farel. Aku balas memeluknya erat. Aku sangat merindukannya."Maafin gue, Rin. Gara-gara gue nggak datang pas listrik mati, lo malah jatuh dari tangga dan masuk rumah sakit. Maafin gue. Harusnya gue datang saat itu," kata Farel di atas kepalaku."Bukan salah lo. Ini salah gue sendiri karena nggak hati-hati.""Mulai sekarang," Farel melepas pelukan kami. Ia membingkai wajahku dengan tangannya. "Gue akan selalu ada untuk lo. Lo harus bergantung ke gue lagi, kayak dulu. Gue mau jadi orang yag paling lo butuhin lagi. Ngerti?""Ngerti," anggukku."Dan satu lagi, gue sayang sama lo. Bukan sebagai sahabat, tapi perasaan cowok ke cewek. Lo mau jadi pacar gue?" mataku melebar mendengar pernyataannya. Ia menyukaiku? Membalas perasaanku?"Rel, lo nggak harus kayak gini. Jadi sahabat lo lagi aja gue udah bersyukur," kataku pada akhirnya. Aku berusaha melepas tangannya di wajahku, tapi tidak bisa."Bukan gitu. Lo salah, Rin. Sebenarnya gue udah lama sayang sama lo. Pas lo bilang suka dulu, gue juga ngerasain perasaan yag sama. Tapi sayangnya, dulu ketakutan gue untuk kehilangan lo terlalu besar. Sekarang udah nggak lagi. Kenapa? Karena gue nggak akan biarin diri gue kehilangan lo. Lo maukan jadi pacar gue?" Farel menatapku lekat. Apa ini benar? Ku tatap matanya, berusaha mencari hal yan mampu membuatku yakin."Yakin, Rel? Kanaya gimana?""Gue nggak pernah seyakin ini," jawabnya mantap. "Gue juga nggak pernah pacaran sama Kanaya. Kami cuma temenan.""Gue mau," anggukku yang mampu membuat Farel terlonjak kegirangan. Ia memelukku erat."Aku sayang kamu," katanya."Aku lebih sayang kamu.""Akhirnya baikan juga," tiba-tiba paman Fian datang."Paman?!" seruku. Aku lupa jika kami masih di toko kue paman Fian."Nggak sia-sia Farel nyewa toko Paman sore ini. Rencana kamu sukses besar, Rel," paman Fian memberi dua jempolnya yang dibalas cengiran oleh Farel."Maksudnya apa sih, Rel?" tanyaku bingung."Udah, nggak perlu tau. Yang penting aku sukses," jawabnya penuh misteris. Oh, sepertinya aku tahu.***Setelah dari toko kue paman Fian, Farel membawaku ke pantai. Kini kami sedang duduk berdua menunggu matahari terbenam. Sudah lama kami tidak seperti ini. Yang terakhir adalah tiga tahun yang lalu, saat aku mengungkapkan perasaanku padanya."Ke pantai terus nunggu sunset . Aku jadi ingat tiga tahun lalu," kataku. Aku nyandarkan diriku di bahu Farel. Tangannya melingkar di pinggangku."Jangan ingat itu lagi, Sayang. Aku jadi merasa bersalah," melasnya."Biasa aja kali," aku memencet hidungnya hingga memerah yang membuatnya meringis."Besok aku mau bilang makasih sama sahabat kamu. Tiara," kata Farel disela-sela ringisannya."Makasih? Untuk apa?""Karena udah nyadarin aku," jawabnya."Maksudnya?"Farel sedang asik menggambar saat Tiara tiba-tiba datang."Farel, gue mau ngomong sama lo," kata Tiara tajam."Ngomong aja," balas Farel cuek."Nggak disini. Kita ke belakang sekolah," Tiara menarik tangan Farel tiba-tiba. Ia membawa cowok itu ke belakang sekolah yang sepi."Mau lo apa bawa gue kesini?""Gue benci sama lo, Rel. Gara-gara lo, Naurin masuk rumah sakit. Dia jatuh dari tangga pas listrik padam tiga hari yang lalu," kesal Tiara."Naurin masuk rumah sakit? Gara-gara gue? Gue nggak salah apa-apa perasaan," kata Farel enteng. Tiara mengepalkan tangannya, menahan emosinya. Dia tidak habis pikir, kenapa Naurin bisa cinta mati sama cowok tidakk berperasaan seperti Farel."Salah lo karena lo nggak mau nolongin dia! Dia uda minta totlong tapi lo nggak mau. Lo taukan dia itu punya phobia sama tempat gelap? Kenapa lo nggak mau nolongin dia hah?" emosi Tiara sudah sampai di ubun-ubun."Dia bukan urusan gue.""Kenapa lo jahat baget sama dia? Lo benci gara-gara dia suka sama lo? Lo kekanakan banget! Gue nggak nyangka ini Farel yang katanya sahabat Naurin sejak mereka masih pakai popok. Otak lo dimana bego?! Kenapa lo setega itu sama Naurin? Kenapa lo nyakitin dia terus? Kenapa lo harus milih sama Kanaya malam itu dari pada nolongin Naurin? Lo orang terjahat yang pernah gue temui!" Tiara menunjuk-nunjuk wajah Farel. Ingin sekali rasaya ia menampar cowok itu."Lo nggak ngerti apa-apa!" Farel mulai terpancing emosinya. Ia tidak rela dihakimi oleh Tiara."Anggap gue nggak tau apa-apa. Tapi gue nggak rela sahabat gue lo gituin! Lo nggak tau betapa tersiksanya Naurin! Lo nggak tau dia sakit pas lo selalu cuek ke dia! Lo nggak tau dia selalu sedih karena lo seakan udah buang dia dari hidup lo! Lo nggak tau betapa sayangnya dia sama lo! Selama ini Naurin nggak pernah pacaran karena apa? Karena dia terlalu sayang sama lo, bego! Bagi Naurin, cuma satu cowok yang selalu ada di hatinya. Sayangnya itu cowok terlalu bego karena udah nyia-nyiain Naurin," Tiara melontarkan semuanya dengan emosi. Ia hanya ingin Farel tahu dengan semua penyiksaan yang dialami Naurin."Naurin..." Farel menggantungkan kata-katanya."Naurin tersiksa tapi dia masih mau bertahan. Gue disini cuma mau nyampein unek-unek Naurin untuk lo. Gue harap lo sadar setelah ini," setelah itu Tiara pergi meninggalkan Farel yang mematung sendirian."Tiara ngelakuin itu semua?" tanyaku tidak percaya setelah mendengar cerita Farel. Tiara benar-benar sahabat terbaikku."Iya. Kamu beruntung punya sahabat kayak dia," Farel mencium puncak kepalaku."Kamu jadian sama aku bukan karena kasihan sama akukan?" entah kenapa pikiran negatif itu terlintas di kepalaku."Bukan. Aku jadian sama kamu karena aku memang sayang. Anggap aja perkataan Tiara kemarin yag bikin aku sadar sama semuanya. Kamu jangan pernah berpikir kalau aku cuma kasihan sama kamu. Kamu taukan aku nggak pernah main-main kalau tentang perasaan?" Farel menatapku. Aku tersenyum kepadanya lalu memeluknya dari samping."Makasih udah balas perasaan aku, Rel.""Aku harusnya yang berterima kasih sama kamu. Makasih udah mau jadiin aku satu-satunya cowok dihati kamu, Yang. Aku beruntung miliki kamu. Aku sayang kamu, Naurin Zaskia.""Aku sayang kamu, Farel Jonathan."***Lucky I'm in love with my best friendLucky to have been where I have beenLucky to be coming home again

Sayap Patah
Fantasy
07 Dec 2025

Sayap Patah

Aku tersenyum kecil begitu mendapati ia mengernyitkan kening. Lucu. Matanya menyipit keheranan. Sedetik kemudian ekspresi itu berubah, kini tak ada lagi kernyitan di keningnya. Wajahnya kembali serius dan datar menekuni buku di hadapannya. Aku masih tersenyum memperhatikan wajahnya itu.Memperhatikannya dari jauh sudah menjadi kebiasaanku sebulan kebelakangan ini. Sejak pertama kali aku melihatnya sebagai siswa pindahan di kantor tata usaha. Kedatangannya cukup menggemparkan sekolah. Ia menjadi buah bibir dimana-mana pada minggu pertamanya. Semua siswa mengangumi sosoknya yang rupawan, termasuk aku. Aku mengaguminya saat pertama kali aku melihatnya. Seperti ada debaran aneh yang ku rasa pada saat itu. Seperti cinta pada pandangan pertama, mungkin.Aku seperti mendapat lotre saat mengetahui ia berada di kelas yang sama denganku. Jantungku berdetak tak karuan saat ia memperkenalkan namanya di depan kelas. Suaranya begitu menenangkan. Saat ia melangkah menuju kursinya, mataku tetap mengawasinya. Sayangnya ia terlalu peka. Ia menyadari jika aku memperhatikannya. Aku segera membuang muka. Wajahku pasti merah saat itu. Tidak, dia tak boleh tahu jika aku menyukainya. Karena itu tak ada gunanya sama sekali. Tak akan pernah ada kesempatan bagi gadis cupu berkacamata tebal ini."Bel?" aku tersentak saat Ghina menepuk pundakku. Aku segera menormalkan wajahku yang memerah karena lamunanku tadi."Kamu ngelamun ya?""Ah, enggak. Aku cuman lagi mikirin gimana cara ngerjain soal yang ini." Aku menunjuk buku di hadapanku. Untunglah buku ini terbuka. Kalau tidak, Ghina bisa berpikiran yang lain."Aku kira kamu ngelamun. Bel, aku pinjam pena. Pena aku macet," pinta Ghina. Aku memberikan pena berwarna hitam kepadanya."Nih.""Makasih Bel." Aku hanya mengangguk. Ghina merupakan sahabat dan temanku, satu-satunya. Selama ini hanya Ghina yang mau berteman denganku. Dia selalu ngotot ingin bersamaku sejak dulu, meski aku sudah mengatakan ia tidak pantas berteman denganku. Ghina itu gadis yang cantik dan modis, sangat berbanding terbalik denganku.Ghina memelukkan singkat, salah satu kebiasaanya berterima kasih padaku, lalu kembali ke kursinya. Saat memperhatikan Ghina, tanpa sengaja mataku dan mata seseorang bertabrakan. Itu mata dia. Matanya indah. Bola matanya berwarna hitam pekat. Aku menyunggingkan senyumku, kecil. Sayangnya, ia malah melongos tak peduli membuang muka tanpa mau repo-repot membalas snyumku. Aku meringis saat merasakan sakit di dadaku. Dia sudah terang-terangan menolakku, bahkan sebelum sempat aku mendekat. Bagaimana bisa aku dengan bodohnya masih menyukainya? Bagaimana bisa aku menyukai seseorang yang hanya untuk membalas senyumku saja ia tak mau ? Aku tahu, aku bodoh. Sangat bodoh.💔💔💔Aku duduk di pinggir lapangan dengan napas tersengal. Jam olahraga baru saja berakhir dan kami semua diizinkan beristirahat. Aku melepas kacamataku yang berembun, lalu membersihkannya dengan kain khusus yang selalu ku bawa."Bel." Suara bariton khas lelaki menyapaku. Aku membeku seketika saat mendengar suara yag sangatku kenal. Itu suaranya!"Bel," panggilnya lagi. Aku segera memakai kaca mataku, lalu menoleh ke arahnya. Mataku langsung disuguhkan dengan senyumannya. SENYUMANNYA! Ini senyuman pertamanya."Y-ya," jawabku gelagapan. Jantungku yang mulanya mulai normal detaknya kembali berdetak kencang. Seperti beribu gendang ditabuh dengan begitu semangat. Tuhan, semoga ia tak menyadari debaran ini."Kamu sakit? Wajahmu merah." Matanya tampak khawatir. Aku menggeleng cepat. Kenapa wajahku harus memerah begini?"Ng-ngak. Aku nggak sakit. Mungkin efek baru selesai olah raga," bohongku. Ia mengangguk, percaya begitu saja. Syukurlah."Bel, pulang sekolah ini kamu sibuk?" tanyanya. Aku hanya menggeleng. "Boleh aku ke rumahmu? Masih ada beberapa materi fisika yang belum aku mengerti. Mau mengajarkanku?""Aku mau," seruku terlampau bersemangat. Dia tersenyum senang, menampilkan lesung pipinya."Baiklah. Terima kasih, Bel. Sampai jumpa nanti sore." Ia melambaikan tangannya, lalu berlari menjauh. Aku memperhatikannya yang mulai menjauh dengan senyum terkembang. Apa kejadian ini nyata? Ia tiba-tiba menghampiriku, tersenyum padaku, mengajakku berbicara dan ingin belajar bersamaku. Ia melakukan semua hal yang tak pernah dilakukannya padaku. Aku kira selama ini ia menganggapku tak ada.Ini seperti mimpi menjadi nyata. My dream comes true .💔💔💔Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, tapi aku masih berkutat dengan soal matematika yang begitu memusingkan kepala. Suasana kelas sepi karena semua orang lebih menyukai kantin dari pada kelas. Sangat berbanding terbalik denganku. Aku lebih menyukai tempat yang sunyi dan tenang daripada keramaian. Aku membenci keramaian.Alunan musik klasik menemaniku dengan setia. Meskipun aku terkenal sebagai gadis cupu dan kutu buku, aku sangat menyukai musik. Menurutku musik adalah hasil karya manusia yang menjadi media terbaik dalam menyampaikan perasaan. Senang, sedih, marah, bahagia ataupun menangis, semuanya mampu diluapkan melalui musik.Soal terakhir sudah selesai ku kerjakan. Aku membali-balikkan bukuku, mencari soal lain yang mungkin bisa ku kerjakan. Tapi aku merasakan suatu pergerakan disampingku. Aku melihat ke arah kanan, penasaran siapa yang datang, yang pasti tidak mungkin Ghina. Sahabatku sedang sakit."Nggak ke kantin, Bel?" ternyata itu dia. Dia menarik kursi lalu duduk di sebelahku. Jantungku kembali berdetak tak karuan jika sudah berada dalam jarak sedikit dengannya."Nggak. Lagi malas," gelengku."Nih makanan untukmu. Sengaja aku beliin." Ia menyodorkan sebungkus roti dan sekotak susu. Aku memerah karena perhatiannya. Sejak insiden kami berbicara seminggu lalu, aku dan dia memang semakin dekat. Sering kali ia mengajakku untuk sekedar main maupun belajar bersama. Dalam waktu bersamaan ia juga membuatku makin jatuh padanya. Jatuh terlalu dalam hingga aku tak mampu naik ke permukaan."Makasih," lirihku malu."Sama-sama. Oh ya, Ghina mana? Aku nggak liat dia dari pagi," tanyanya."Ghina lagi sakit. Jadi dia nggak masuk.""Oh gitu. Titip salam ya sama dia. Semoga cepat sembu." Aku mengacungkan jempolku. Ia kembali tersenyum. Senyuman yang sangat manis. Senyuman kesukaanku.💔💔💔Aku menunggunya di salah satu kafe langganan kami. Siang ini ia ingin mengajakku ke suatu tempat, entah kemana. Ia tak mau menyebutkannya. Aku hanya mengangguk menurutinya. Lagi pula, sejak kapan aku mampu menolaknya?Jantung kembali berdetak tak karuan saat mengingat akan pergi bersama, berdua saja. Harus ku akui, aku sudah sering pergi bersamanya. Sialnya jantungku masih saja berdetak tak normal dan wajahku selalu memerah saat berdekatan dengannya. Aku masih belum bisa mengontrol perasaanku dengan baik." Sorry telat Bel, tadi kejebak macet." Ia tiba dihadapanku dengan penampilannya yang selalu sempurna dimataku. Aku hanya tersenyum tipis. Aku menyodorkan buku menu padanya."Mau pesan apa ?""Seperti biasa aja, kamu taukan?" aku mengangguk. Tentu saja aku tahu. Banyak hal tentang dirinya yang ku ketahui. Hampir semuanya, mungkin."Oke." aku memanggil pelayan, lalu memesan makanan kami. Aku permisi ke toilet sebentar, membiarkannya menunggu pesanan kami sendirian."Bel, duduk disini." Ia menepuk-nepuk kursi disebelahnya saat aku kembali dari toilet. Mengisyaratkan agar aku duduk disebelahnya. Lihat apa yang dia lakukan! Bukankah itu sangat romatis? Bagaimana caranya aku tak memerah jika ia berlaku seperti ini terus? Siapapun, tolong beri tahu aku!Ia menyodorkan piring makananku. Aku menggumamkan terima kasih lalu menyantap makananku."Kayaknya makanan kamu enak deh, Bel." Ia merebut sendok dari tanganku tiba-tiba, lalu menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia makan dengan sendokku? Astaga!"Enak. Lain kali aku bakal mesan ini." Dengan santainya ia mengembalikan sendokku. Apa ia tak sadar akan apa yang dilakukannya ?"Setelah ini, kita mau kemana?" tanyaku."Kamu bakal tahu nanti," jawabnya penuh misterius. Aku mendesah pasrah. Terserah dia sajalah."Kamu nggak malu apa jalan sama aku ?" tanyaku lirih. Sebenarnya aku sudah sering menanyakan hal ini padanya. Dan reaksi yang diberikannya selalu sama. Ia marah. Ia tak suka aku bertanya seperti itu."Jangan mulai, Bel," katanya datar. Aku menunduk dalam. Jujur saja, kedekatan kami ini masih terasa seperti mimpi, logikaku tak bisa mencapai bahwa si gadis cupu ini mampu berdekatan dengannya. Aku merasa tidak cocok."Aku hanya merasa tak enak padamu. Aku ini cuma...""Bel, sudah ku katakana aku tak suka mendengarnya. Aku suka berteman denganmu. Kamu itu baik, lucu dan pintar. Aku nyaman sama kamu," potongnya. "Lagi pula jika soal penampilan, sebenarnya kamu itu cantik. Jika ini di lepas,"Tiba-tiba saja ia menarik kacamataku. Aku mengerjap kaget. Apa yang ia lakukan? Kenapa berani sekali?"Ini juga harus dilepas." Kali ini ia menarik ikat rambutku hingga rambutku tergerai begitu saja. Tangannya dengan cekatan merapikan rambutku."Kalau beginikan cantik," pujinya dengan senyuman yang tampak buram olehku. Tentu saja, aku sedang tak memakai kacamata."Penampilanmu selanjutnya harus seperti ini ya, Bel. Hanya tinggal dipolesi sedikit make up aja, kamu pasti cantik banget. Soal kacamata, aku saranin kamu pakai soft lens . Aku akan bantu merubah penampilanmu." Ia menawarkan dirinya sendiri. Entah mantra apa yang terkandung dari setiap kalimatnya, aku hanya mengangguk patuh menuruti kemauannya."Kamu... kenapa sebaik ini sama aku ?""Aku hanya mau menolongmu. Kamu itu temanku, Bel. Lagi pula aku ingin kamu sadar akan kelebihan yang selalu kamu tutupi dengan kacamata besar itu. Kamu itu cantik Bel, sangat cantik," pujinya berhasil membuatku melayang. Kenapa ia selalu berhasil melakukan hal ini padaku?💔💔💔Sejak ia memintaku merubah penampilan, hidupku ikut berubah. Semua orang terkejut saat menyadari perubahanku. Salah satu contohnya adalah Ghina yang memekik girang saat melihatku yang saat ini. Sialnya Ghina tak berhenti berterima kasih padanya karena berhasil mengubahku. Sebenarnya dari dulu Ghina sudah membujukku untuk mengubah penampilanku sayangnya Ghina tak pernah berhasil. Hanya ia yang bisa.Berbulan-bulan terlewati begitu saja. Kini aku sudah yakin dengan perasaanku padanya. Aku menyayanginya, bukan hanya suka atau kagum. Aku benar-benar telah jatuh padanya. Rasa minderku padanya juga mulai memudar. Penampilan baruku tak membuatku merasa tak paantas lagi."Ada apa?" Aku bertanya padanya. Kami sedang berada di kafe langganan kami dengan minuman hangat di tangan masing-masing. Di luar, rintik-rintik hujan membasahi bumi."Ada apa?" tanyaku lagi karena ia tak menjawab pertanyaanku sebelumnya. Ia masih tetap diam, terlihat ragu," Bicaralah. Aku tahu kamu ingin mengatakan sesuatu," desakku. Aku benar-benar penasaran."Bel, sebenarnya aku udah mendam ini dari lama. Aku cuma takut bilangnya ke kamu. Sebenarnya aku...." Kalimatnya tergantung. Jantungku berdegup kencang. Apa sebenarnya yang ingin ia katakana? Apa ia...?"Aku menyukai... Ghina, Bel." Saat itu aku merasakan duniaku runtuh seketika. Aku membeku bagaitersanbar petir. Apa aku tak salah dengar? Ia menyukai Ghina?"Aku suka sama Ghina sejak aku liat dia petama kali di kelas. Kamu mau bantu aku untuk dapatin dia?" pintanya penuh harap. Aku terdiam. Dadaku terasa begitu sesak, walau hanya untuk bernapas. Ini seperti ditusuk ribuan pisau lalu dicabik-cabik dengan kasar. Sakit sekali."Bel, kenapa diam? Kamu nggak mau?" Ia menatapku kecewa. Tidak, jangan beri tatapan itu padaku. Aku tak pernah tahan jika tatapan seperti itu. Aku mohon, jangan."Y-ya. Aku mau." Akhirnya aku menemukan suaraku yang sempat hilang. Ia tersenyum sumringan tanpa tahu betapa hancurnya aku saat ini. Ia memelukku ringan tanpa sadar bahwa disaat yang bersamaan ia juga memenusukkan pisau ke dalam diriku."Terima kasih, Bel," gumamnya dipelukku. Aku berusaha mengelus punggungnya dengan tanganku yang terasa begitu berat. Mati-matian aku berusaha menahan tangisku agar tidak pecah. Jika aku menangis, ia akan langsung tahu tentang perasaanku padanya, aku tidak mau itu terjadi."Sama-sama."💔💔💔Aku meringkuk lemah di kasurku. Sudah berjam-jamku habiskan untuk menangisi dia. Ini terlalu pedih bagiku. Terlalu menyakitkan. Aku sangat menyayanginya. Aku sudah melakukan segalanya untuknya. Tapi kenapa balasan seperti ini yang ku dapat? Kenapa sakit ini yang harus aku terima?Aku kira semua yang kami lalui selama ini adalah jalan bagi kami. Sayangnya pada kenyataan tidak. Ia malah menyukai Ghina, sahabatku. Apa Ghina yang membuatnya mau dekat denganku?Aku tahu Ghina lebih baik dariku, jauh lebih baik. Tapi apa aku memang tak pantas untuknya? Apa ia masih menganggapku gadis cupu yang tak menarik? Apa tak ada artinya kedekatan kami selama ini? Apa gunanya aku berubah seperti ini jika ia masih tak tertarik. Lebih baik aku kembali seperti dulu saja.Aldan. Lelaki yang selam ini membuatku jatuh cinta dan ia juga yang menyakitiku hingga aku hancur berkeping-keping. Aldan, siswa pindahan dari luar kota yang ternyata menyukai sahabatku. Aldan, sang pematah sayap harapanku.💔💔💔Apa cerita hidupku bagaikan serial drama picisan yang sering muncul di televisi? Sebutlah ini berlebihan atau apa, tapi ini memang sangat menyakitkan bagiku. Aku berkorban untuknya. Aku mengorbankan perasaan tulusku, hanya untuknya.Sesuai janjiku, aku memang membantu Aldan untuk mendapatkan Ghina. Dan Aldan berhasil. Dia mendapatkan Ghina. Aku bodoh, memang. Aku biarkan diriku terus disakiti saat melihat kedekatan mereka. Aku mana bisa menolak permintaannya. Jadi ini semua ku lakukan untuknya. Walaupun perasaanku yang menjadi korbannya, biarlah.Dulu, aku selalu membayangkan ia adalah malaikat yang datang padaku. Mengajakku terbang bersama, dengan sayap harapan yang ia berikan padaku. Sayangnya, ia mematahkan sayap itu. Meninggalkanku di dasar bumi, sendiri.Love,Vand 🦋

Kehilanganmu
Romance
06 Dec 2025

Kehilanganmu

Oh, begini rasanya kehilangan dirimu, kekasihTak pernah 'ku bayangkan sakitnya akan seperti iniKau telah pergi dari hidupkuOh, mengapakah kau tinggalkan aku seperti ini?Saat aku masih berharapCinta ini masih bertahan untuk kitaOh, mengapakah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu?Kini berakhir untuk selamanya🎵 Judika - Tak Mungkin Bersama 🎵💔💔💔Aku meraih pigura foto yang terletak di atas nakas. Pigura berukuran sedang itu menampilkan sosok rupawan dengan senyum manis terukir di wajahnya. Perlahan, jariku menyusuri wajah di pigura foto itu. Bergerak lambat, seakan wajahmu yang aku elus saat ini.Mataku terpaku melihat senyummu yang begitu lebar. Senyum yang sampai hingga ke mata, membuktikan betapa tulus dan bahagianya senyuman ini. Senyuman yang selalu aku rindukan." I miss you so much. Kenapa kamu tega ngelakuin ini semua ke aku, Ben?""Sayang, air rebusan kamu udah mendidih nih," teriak Beni, suamiku. Aku yang sedang mencari buku anakku yang ntah terletak dimana berdecak kesal."Masukin mienya, Ben. Aku lagi bantu Rudi nyari bukunya," balasku juga berteriak. Tidak ku dengar lagi balasannya darinya. Mungkin dia sudah melakukannya. Aku kembali fokus mencari buku anakku yang ntah nyempil dimana."Bukunya kamu taruh dimana sih?" Tanyaku pada Rudi. Rudi menggeleng polos."Rudi lupa, Bu." Aku menghela napas pelan. Anakku ini sangat pelupa, persis seperti ayahnya. Dia bisa lupa dimana meletakkan buku yang tadi dia pakai, sama seperti Beni yang suka lupa dimana letak pensilnya setelah menggambar desain bangunan padahal pensil itu terselip antara kepala dan telinganya."Coba liat di bawah meja belajarnya. Siapa tahu jatuh." Rudi mengangguk lalu menundukkan tubuh kecilnya agar bisa masuk ke kolong meja. Saat aku hendak menyusul Rudi, Beni muncul dengan cengiran khasnya."Sayang.""Kenapa, Ben? Mienya udah masak?" Beni memasuki kamar Rudi lalu menatapku polos. Aku heran melihat tingkah anehnya ini. "Kenapa?""Masakin mie dong.""Lah kan udah. Mienya udah kamu rebuskan?" Beni menggeleng. Aku membelalak melihat gelengannya itu. Bukankah tadi aku menyuruhnya memasukan mie ke air yang sudah mendidih?"Kompornya aku matiin. Mienya belum aku masukin.""Loh loh. Katanya kamu mau makan mie," kataku heran."Iya. Tapi buatan kamu," renggutnya. Astaga suamiku ini."Kan udah aku buatin, Ben. Kamu cuma masukin mienya ke air karena aku lagi bantu Rudi," kataku gemas. Beni tetap menggeleng. Lalu dia memelukku manja, menempatkan dagunya di bahuku."Maunya kamu yang masakin dari awal sampai akhir. Harus kamu doang. Nggak boleh orang lain apalagi aku," katanya manja. Aku mendesah pelan. Suamiku ini kadang memang kelewatan manjanya. Semua harus aku, tidak boleh orang lain."Tapikan aku lagi bantu Rudi, Ben," kataku pelan. Aku mengelus lengannya yang melingkar di tubuhku. Aku bisa merasakan Beni menggeleng."Ibu, bukunya ketemu!" Seruan Rudi membuyarkan fokusku pada Beni. Aku sampai lupa harus membantu putraku. "Ih Ayah kok peluk-peluk Ibu?""Ayahkan sayang sama Ibu makanya Ayah peluk Ibu. Emangnya Rudi yang nggak sayang sama Ibu," cibir Beni bercanda yang mendapat teriakan dari Rudi."Rudi sayang sama Ibu." Rudi menyerbu memelukku. Lengan kecilnya memeluk pahaku."Iya iya. Ibu juga sayang sama Rudi sama Ayah."Air mataku yang sudah bersusah payahku tahan sejak tadi akhirnya merembes keluar saat mengingat kenangan yang kami miliki. Setitik demi setitik, kelamaan makin deras hingga membasahi kaca pelindung pigura ini. Aku bergegas menyeka pipiku yang makin basah karena aku tahu dia tidak suka melihatku menangis. Tapi apa daya, air mata ini terlalu deras hingga aku sendiri tidak sanggup lagi untuk menyekanya."Sayang, maaf. Aku nggak bisa nepatin janjiku. Aku nggak bisa nggak nangis ketika kamu pergi," lirihku pilu. Pigura itu ku peluk erat di dadaku. Tangisku kian mengencang seiring dengan sesak yang makin menyiksa di dadaku ini.Aku selalu begini. Selalu menangis pilu jika mengingat sosoknya. Apalagi ketika kejadian malam terakhir itu terlintas di otakku. Aku tidak bisa menahan tangisku.Hujan deras mengguyur kota kelahiranku sejak tadi sore. Hingga malam menjemput, hujan ini tidak kunjung reda. Petir masih setia menyambar membuatku takut menghidupkan barang elektronik.Rudi baru saja tertidur karena anakku itu memang gampang mengantuk jika cuaca dingin seperti ini. Sedangkan Beni sedang asik selonjoran di kasur dengan buku di tangannya."Baca apa sih?" Tanyaku penasaran. Aku mendekatinya. Beni yang selalu memprioritaskanku diatas apapun segera meletakan bukunya di nakas lalu meraupku dalam pelukannya."Aku jawabpun kamu nggak akan paham," ledeknya. Dia mengusel-usel hidungnya di puncak kepalaku, kebiasannya dari dulu."Ih jahat banget ngatain istrinya bodoh." Aku memukul pelan dadanya yang disambut kekehan oleh Beni."Rudi udah tidur?""Udah. Anak kamu itukan gampang banget tidur kalau hujan gini. Dikira suara hujan itu lullaby tidurnya kali.""Bagus dong. Dari pada dia ketakutan.""Hm." Aku berdehem membenarkan. Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. Meresapi kenyamanan yang selalu dia suguhkan."Yang, aku mau nanya.""Biasanya juga langsung nanya tanpa minta izin," cibirku. Beni terkekeh. "Mau nanya apa? Serius banget kayaknya sampai minta izin gitu?"Aku mendongak menatap wajah tampannya. Tapi Beni segera menarik kepalaku agar menempel kembali dengan dadanya. "Senderan aja. Jangan jauh-jauh.""Suka banget sih aku templokin." Lagi-lagi Beni terkekeh. Tangannya bergerak lembut membelai punggungku, membuatku semakin nyaman."Kamu jangan nangis ya kalau aku pergi suatu saat nanti." Aku terkejut mendengar perkataannya. Beni tidak pernah mengatakan hal mengerikan seperti ini sebelumnya. Aku hendak melepaskan pelukanku padanya dan protes pada kalimatnya itu. Tapi Beni segera mengunciku dalam pelukannya."Dibilang senderan aja.""Kamu ngomong apa sih? Aku nggak suka.""Aku cuma bilang aja, Sayang. Kamu tahu sendiri kalau aku paling nggak suka lihat kamu nangis, apalagi karena aku. Jadi kamu harus janji nggak akan nangis jika suatu saat aku pergi." Beni mencium puncak kepalaku. Tiba-tiba aku diserang ketakutan. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana hidupku tanpa Beni dan tidak pernah mau merasakannya."Kamu nggak boleh kemana-mana. Kamu harus selalu disini. Nemenin aku sama Rudi," kataku. Aku mengeratkan pelukanku pada tubuhnya. Berusaha mencari ketenangan karena rasa takut menyelimuti hatiku. Beni tidak mengatakan apapun. Dia hanya terus-terusan mencium puncak kepalaku dan mengelus punggungku. Tanpa sadar aku jatuh tertidur dalam pelukannya karena usapan lembutnya di punggungku ditambah cuaca dingin seperti ini.Aku tidak tahu pukul berapa ketika Beni membangunkanku pelan. Dia izin ingin menuju kantornya yang katanya kemalingan malam itu."Besok aja, Ben. Udah malam banget. Di luar masih hujan pula. Aku yakin udah banyak yang kesana," larangku. Aku terlalu khawatir membiarkannya pergi malam ini. Entah karena faktor perkataan Beni sebelum aku tidur tadi atau ada yang lain. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tidak ingin melepasnya malam ini."Nggak enak, Sayang. Aku harus tetap cek. Sandi sama Wildan udah disana." Beni mendirikan perusahaan arsitektur bersama dua sahabatnya di bangku perkuliahan. Mereka merintis perusahaan itu dari nol hingga sukses seperti sekarang. Aku maklum jika Beni sekhawatir ini ketika kantornya kemalingan. Tapi ini sudah terlalu larut malam dan hujan deras masih mengguyur di luar sana. Aku yakin d ua sahabat Beni sudah bisa menyelesaikan urusan ini tanpa Beni."Jangan pergi, Ben. Besok aja. Aku mohon." Mataku berkaca-kaca, berharap ini bisa menahannya. Tapi nyatanya Beni tidak bisa dibantah. Dia tetap ngotot pergi dengan segala bujuk rayunya. Akhirnya aku mengiyakan karena tidak bisa lagi melarangnya. Dadaku terasa begitu sesak melihatnya menukar pakaian.Sebelum pergi, Beni menyempatkan menuju kamar Rudi. Dia mencium lama dahi anak kami lalu mengelus rambutnya lembut. Tidak biasanya Beni seperti ini. Aku semakin khawatir."Aku pergi dulu, ya. Pintu jangan lupa di kunci. Aku bawa kunci duplikat," pesannya."Jangan lama-lama. Cepat pulang ya," kataku. Aku memegang erat lengannya. Tidak rela melepasnya pergi."Iya. Kamu sama Rudi baik-baik disini ya. Jaga diri. Aku sayang sama kalian." Beni mencium dahiku lama. Aku meremas kuat jaket yang dia pakai, berusaha menahan air mata yang ntah kenapa ingin meluncur. "Bye Sayang."Aku tidak pernah tahu jika Bye Sayang yang diucapkan Beni merupakan kalimat sekaligus perpisahan terakhir yang dia ucapkan padaku. Aku tidak pernah tahu jika malam itu saat terakhir dia mencium dahiku dan Rudi. Aku tidak pernah tahu jika malam itu saat terakhir aku merasakan pelukannya. Aku tidak pernah tahu...Jika aku tahu malam itu dia akan meninggalkanku dan Rudi selamanya, aku tidak akan pernah mengizinkannya keluar dari apartemen kami. Aku akan menahannya di kamar, kalau perlu mengikatnya agar dia tidak bisa pergi kemana-mana. Sayangnya itu hanya pengandaian. Nyatanya malam itu Beni tetap pergi dan meninggalkan aku dan Rudi.Beni mengalami kecelakaan pada malam ditemani hujan lebat itu. Kata polisi yang menghubungiku, mobil Beni tergelincir jalanan yang licin saat dia menghindari lobang besar yang sedang diperbaiki dan malah menabrak truk yang melaju dari arah berlawanan. Mobilnya hancur mengakibatkan Beni harus meregang nyawa pada saat itu juga. Hanya itu yang aku tahu karena aku tidak sanggup mendengar penjelasan lainnya. Hidupku rasanya hancur saat melihat tubuh kaku Beni yang diselimuti kain putih di bankar rumah sakit.Kepergian Beni merupakan luka besar di hidupku. Berhari-hari aku menangisi kepergiannya hingga jatuh pingsan. Saat pemakamannya aku bahkan hampir saja meloncat ingin ikut masuk jika saja tidak ditahan oleh abangku. Kewarasanku memang sudah hilang seiring dengan menghilangnya sosok Beni di hidupku."Aku mau ikut Beni. Aku mau sama Beni," rontaku dipelukan bang Yuda. Aku ingin lepas dari pelukannya dan masuk ke dalam pelukan Beni. Aku ingin menamani Beni didalam sana. Dia pasti akan kesepian jika tidak aku temani. Aku tidak mau membiarkan Beni sendirian. Beni tidak pernah suka tanpa aku."Istighfar, Dek. Kamu nggak boleh gini. Beni nggak akan suka lihat kamu yang kayak gini," lirih bang Yuda dengan suara tercekat. Aku memukul dadanya, tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Aku hanya ingin bersama Beni. Aku tidak ingin dipisahkan dengan suamiku."Lepasin aku, Bang. Aku mau suamiku. Aku mau Beni. Lepas!" Bentakku. Aku berusaha mendorong badannya namun tidak berhasil karena aku tidak ada tenaga sama sekali. Akhirnya yang aku bisa hanya menangis pilu di dada abangku itu."Mending kita pulang kalau kamu kayak gini terus," kata bang Yuda. Aku menggeleng tidak mau. Aku mau bersama Beni."Nggak mau. Aku mau sama Beni. Aku mau liat Beni," rintihku pilu."Kalau kamu masih mau disini, jangan lakuin tindakan bodoh. Beni nggak suka kamu yang kayak gini, Dek." Akhirnya aku tidak meronta lagi tapi bang Yuda tetap memelukku. Aku terus menangis seiring tubuh suamiku dikebumikan."Ben, jangan tinggalin aku.""Ibu." Aku tersentak begitu merasakan elusan lembut di bahuku. Aku menoleh ke belakang, mendapati Rudi yang menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Ibu kangen sama Ayah ya?""Harusnya ayahmu ada disini. Dia nemenin kamu pengajian malam ini sebelum besok melihatmu menikah dengan Diana," kataku tercekat. Malam ini adalah malam pengajian sebelum akad nikah anak semata wayang kami besok. Momen sakral seperti ini yang selalu membuatku mengingat Beni terlalu dalam walaupun sudah belasan tahun berlalu."Rudi juga kangen Ayah. Rudi juga pengen Ayah ada disini sekarang. Ngeliat Rudi nikah dengan Diana besok." Rudi ikut mengelus pigura foto yang menampilkan wajah tampan Beni disana. "Tapi Rudi tahu, Rudi harus ikhlas ngejalanin semua ini tanpa Ayah. Rudi tahu Ayah akan sangat sedih di atas sana jika melihat kita bersedih seperti ini."Rudi membawaku masuk ke dalam pelukannya. Tangisku kembali pecah dalam pelukan anakku. Pelukan Rudi mengingatkanku pada pelukan Beni. Hangat dan membuat nyaman."Ibu jangan sedih lagi. Kita udah janji bakal bahagia sama Ayah, walaupun nggak bakal sebahagia kalau ada Ayah disini. Rudi akan merasa sangat bersalah sama Ayah kalau biarin Ibu nangis terus. Rudi udah janji di makam Ayah akan selalu bahagiain Ibu."Ben, anak kita sekarang udah besar. Dia udah mau nikah. Dia juga udah tahu cara bagaimana cara menghiburku setiap kali aku sedih pas ingat kamu. Dia udah jadi sosok yang dewasa, Ben. Dia udah jadi sosok yang persis seperti kamu.Ben, aku kangen banget sama kamu. Belasan tahun tidak akan pernah bisa nyembuhin luka yang aku rasain karena kehilangan kamu. Belasan tahun tidak juga membuatku tidak menangis ketika mengingat kamu. Air mata ini selalu bebas meluncur ketika aku mengingat kamu.Ben, maafin aku yang nggak bisa nepatin banyak janjiku sama kamu. Maafin aku yang selalu nangis ketika ingat kamu. Maafin aku yang nggak bisa jadi orang yang kuat setelah kamu tinggalkan. Maafin aku yang sampai saat ini masih butuh kamu. Maafin aku, Ben.Ben, tunggu aku disana ya. Aku bakal nyusulin kamu disana. Meskipun tidak tahu kapan, aku bakal menemani kamu. Aku tahu kamu pasti kesepian tanpa aku. Aku tahu kamu juga rindu aku, persis seperti aku yang selalu rindu sama kamu.Beni, I love you so much .

A Necklace
Fantasy
06 Dec 2025

A Necklace

Aku terbangun dari tidurku. Rasanya tubuhku begitu ringan, bahkan tak sedikit pun kelelahan, padahal kemarin aku sibuk membantu acara pernikahan adik perempuanku yang berjalan selama tiga hari berturut-turut.Meskipun aku anak sulung dan kedua adikku sudah menikah semua, aku masih tak memikirkan itu. Selain bekerja dan menikmati uang banyak untuk keliling dunia, tak ada lagi yang ingin kulakukan. Apalagi, rasanya tubuhku sangat mendukung untuk perjalanan selanjutnya.Aku menyingkirkan selimut yang menutup tubuhku, mataku masih terasa sedikit perih dan kupaksa buka sedikit demi sedikit. Aku menggeser kakiku ke kanan hingga turun dari ranjang, begitu pula dengan tubuhku mengikuti.Bruk! Tubuhku basah kuyup."Apa ini?" tanyaku setengah berteriak entah pada siapa. Mataku telah terbuka sepenuhnya.Mataku seolah berkeliling memperhatikan setiap sudut ruangan. Tunggu, ini bukan ruangan. Aku berada di sebuah tempat asing dan tubuhku sepenuhnya terduduk di sebuah kolam yang berbentuk lingkaran, di bagian tengah terdapat air mancur.Kau tahu? Aku seperti berada di sebuah tempat yang pernah kulihat sebelumnya, tapi kali ini tampak nyata, sebuah negeri dongeng.Aku memaksakan diriku bangkit, tubuhku kali ini terasa berat, bagaimana pun karena sesuatu yang menempel di tubuhku, sebuah gaun berwarna putih dengan segala pernak-pernik yang membuatnya tampak mewah."Kau baik-baik saja, Tuan Putri?" tanya seorang lelaki yang baru saja turun dari kuda putihnya, kuda itu bertanduk atau lebih cocok disebut cula. Kalian mungkin terbiasa menyebutnya, unicorn.Aku menghela napas panjang. Tubuhku kedinginan, bibirku kelu, namun yang lebih parah dari itu, semua ototku kaku. Dia? Aku mengenalnya."Aku sudah mencarimu sepuluh tahun belakangan. Bahkan, aku tahu semua yang kau lakukan, tapi baru sekarang aku dapat menemuimu," ujarnya seraya membawaku keluar dari sisi kolam air mancur.Aku masih memikirkan sesuatu, sosok yang sedang berbicara di hadapanku ini tentu aku sangat mengenalnya."Maafkan aku, karena aku pergi tanpa pamit," lanjutnya tanpa mempersilakan aku bertanya apapun. Namun, aku memang sulit berkata-kata.Ia merogoh jas atau mantel yang tampak seperti pangeran-pangeran kerajaan, semuanya serba putih. Aku masih meniti satu persatu detail wajahnya."Ada sesuatu yang tak sempat kuberikan dulu."Sebuah kotak kecil berwarna hitam legam sekarang berada di tangannya, ia mengapit dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan, sementara tangan kiri membukanya. Sebuah kalung permata berwarna putih mengilap dikeluarkan, kemudian mengalungkannya padaku."Kau tampak cantik dengan ini. Seharusnya, aku memberikannya lebih cepat," ujarnya. Setelah selesai mengaitkan kalung itu di lingkar leherku.Aku tersenyum, entah mengapa semuanya menjadi terasa hangat. Begitu pula sikapnya."Mada?" tanyaku hati-hati, ini kata pertama yang keluar dari mulutku setelah lidahku terasa kaku sejak tadi."Maafkan aku pergi di hari pernikahan kita sepuluh tahun lalu," sahutnya seraya tersenyum, sebuah bulir bening muncul di sudut matanya."Kau di sini?" tanyaku lagi."Pulang lah!" pintanya sedikit memohon."Kenapa? Bukankah kita perlu saling bicara?" tanyaku lagi, kesekian kalinya menunggu jawabnya.Ia menghela napas, sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Tiba-tiba semuanya gelap, seakan membutakan mataku, tak ada yang dapat kulihat. Namun, aku bisa mendengar sesuatu."Kau dapat menemuiku jika ingin."Tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat terang membuat mataku terpejam dalam lalu kupaksakan untuk menatap cahaya itu. Semuanya berubah secepat kilat, ruangan yang sama sebelum aku jatuh tertidur. Ternyata, semua itu hanya mimpi."Kau tidak berangkat kerja?" suara wanita paruh baya membangunkanku dari tidur panjang."Ternyata aku hanya bermimpi," ujarku seraya menertawakan diriku sendiri. Wanita paruh baya itu pergi keluar kamar, meninggalkan aku sendiri.Aku bangkit dari ranjang, ketika aku baru berjalan dua langkah untuk keluar kamar, langkahku terhenti. Aku melihat bayanganku di sebuah cermin besar di meja rias. Bayangku. Tak ada yang aneh, kecuali sebuah benda berkilau melingkar di leherku."Mada?" tanyaku pada bayangan itu.

Magic
Fantasy
06 Dec 2025

Magic

Dari balkon kamarnya di lantai dua, pohon sakura terlihat cantik di pandang. Dia bisa melihat langsung dan berhadapan dengan senja kemerahan. Hidupnya tampak tidak menarik sama sekali. Bahkan tidak tahu apa hidup yang sebenarnya.Apa yang kau pikirkan ketika kau tahu apa yang terjadi esok? Bahkan tak ada kejutan sama sekali yang membuatnya menerka-nerka. Dia tahu cara pikir semua orang di sekitarnya. Dan, dengan mudah dia bisa membedakan teman yang tulus atau sekedar memanfaatkannya. Bukan hanya itu, dia bisa menghentikan waktu sesaat. Tidak. Dia jarang melakukan itu, setelah dia menghentikan waktu, dia harus tidur selama seminggu penuh untuk memulihkan tenaganya. Dia sekali melakukannya dan tidak berencana melakukannya. Dua lagi. Dia bisa memindahkan benda tanpa tersentuh oleh tangannya. Dan satu hal dari semuanya yang satu-satunya menyebalkan. Dia tidak pernah merasakan sakit dan sedih. Baik sakit tubuh yang terluka atau sedih perasaan. Jangan pernah bercerita kesedihanmu padanya dia tak pernah mengerti. Yang diketahui hanya rasa bahagia luar biasa setiap harinya.Aisawa Tsukinami percaya bahwa dirinya adalah putri sang dewa. Namun dalam hati kecilnya dia tak menginginkan itu semua. Dia ingin menjadi manusia normal. Bisa merasakan cinta dan tentunya akan merasakan sakit hati. Tak ada dorongan lain selain kekuatannya untuk bahagia. Bahkan seberapa banyak temannya. Tidak ada satu pun yang benar-benar membuatnya bahagia. Dia tampak asing dari mereka dan lebih memilih sendirian. Meskipun dia tak merasa sedih saat itu."Kau harus mencarinya. Kau harus mencarinya untuk menyempurnakan hidup. Kau harus mencarinya untuk menjadi manusia seutuhnya." Suara itu lagi. Aisawa tidak menggubris seperti biasanya. Dia termenung membayangkan orang yang selama ini dikatakan oleh suara sang dewa. Tapi, dia tak mengenal siapa pun.Dia bosan. Dia tidak merasakan sebuah petualangan dalam hidup. Dia merasa dirinya paling tahu, paling kuat, paling bisa dan paling-paling yang lainnya. Matanya yang bening bahkan sudah tak terlihat indah lagi. Dia tak pernah sekali pun menangis. Entah ketika pertama kali dia dilahirkan. Apakah dia menangis? Tidak. Dia bahkan tak tahu apakah dia benar-benar dilahirkan atau diturunkan dewa dari langit. Yang dia tahu, dia dirawat sepasang suami istri yang sudah tua. Dan, mereka meninggal ketika Aisawa belum sempat bertanya siapa kedua orangtua kandungnya.Aisawa memandangi kelopak bunga sakura yang merah muda. Satu persatunya berhamburan hanya dengan perlakuan Aisawa yang menggerak-gerakkan jari telunjuk seolah mengomandoi setiap kelopaknya turun. Tiba-tiba saja semua itu berhenti seketika. Dia mencoba lagi dan lagi. Namun, sia-sia. Jemarinya tak berfungsi. Pikirannya juga kacau. Tak ada pandangan untuk esok. Hatinya pun serasa aneh tidak seperti biasanya dia segelisah ini. Bahkan dia belum tahu apa itu gelisah. Ini sangat aneh."Ada apa ini?!" tanyanya pada diri sendiri.Seketika pandangan membunuhnya terhenti pada seorang lelaki yang sedang mengobrol lewat telepon dengan sangat ceria. Bahkan dia sama sekali tak punya kekuatan. Dia tidak bisa membaca pikiran lelaki itu, masa depan, menggerakkan benda, atau bahkan menghentikan waktu. Hatinya benar-benar aneh sekarang. Dengan cepat dia menuruni anak tangga turun ke lantai satu dan keluar pagar rumah. Dia bertemu lelaki itu sekarang. Lelaki yang membuatnya tidak bisa apa-apa.Lelaki itu melirik sebentar ke arah Aisawa. Alisnya mengangkat tanda tidak mengerti mengapa gadis itu keluar dari rumah dengan terengah-engah. Dia tersenyum ramah sementara itu Aisawa menatap tajam kepadanya. Kali ini lelaki berwajah sangat Jepang itu mengerutkan kening tanda lebih bingung. Dia melirik sekitar tapi tak ada siapa pun di trotoar itu. Hanya dia. Dan tatapan itu memang untuknya."Apa saya mengganggumu, Nona?" tanyanya ramah. Benar-benar ramah. Bibir merah gelapnya tersenyum sangat manis. Seketika Aisawa takjub dan entah mengapa emosinya mereda. Meski masih lemas karena berlari menuruni tangga terburu-buru."Tidak." Ujar Aisawa masih berusaha sinis dan meninggalkan lelaki itu.Dia memasuki rumah meninggalkan lelaki itu dengan wajah bingung sekaligus menyejukkannya. Aisawa merasakan itu. Perasaan yang tak biasa. Perasaan yang belum pernah dirasakannya. Perasaan lain selain bahagia yang tak pernah menjeda dalam hidupnya. Siapa dia? Siapa dia? Siapa dia? Satu pertanyaan itu memburu pikirannya dengan berentetan seolah banyak pertanyaan. Namun hanya satu. Dia ingin tahu lelaki itu. Bagaimana pun dia penasaran. Perasaan yang pertama kalinya ia rasakan di dalam hidupnya. Betapa menyenangkan merasakan sebuah penasaran. Sesuatu yang belum diketahui sebelumnya. Apa ini yang disebut kejutan?☆☆☆☆☆Sejak lulus SMA dia sungkan melanjutkan kuliah. Apa pentingnya melakukan itu semua? Bahkan dia tidak pernah punya alasan untuk SMA atau pun hidup.Pikirannya menggantung tepat di atas kepalanya. Belum sampai ke otaknya. Dan, klakson mobil membuatnya tersadar. Teriakan demi teriakan. Dia baru sadar ada keramaian di sini. Keramaian yang biasanya dilewati namun tidak pernah diingat-ingat sama sekali. Seolah berlalu begitu saja."Minggirlah! Kau mau mati?!" teriakan itu seketika membuat hatinya tersentak. Satu lagi perasaan aneh. Dia tak pernah tersinggung sebelumnya.Akhirnya Aisawa buru-buru menuju trotoar dan meninggalkan zebra cross dimana lampu merah sudah berwarna hijau. Suara dewa pernah berkata bahwa yang membuat dia menjadi manusia sungguhan adalah seseorang yang tanpa sengaja membuatnya kehilangan kekuatan. Jika dekat dengan orang tersebut dia tak merasakan kekuatan apa pun. Dan, dia di sini sekarang.BRUK! Seseorang menabraknya dari belakang. Seorang gadis cantik lebih tua dua tahun darinya. Rambutnya yang hitam sepinggang dikepang satu ke belakang dengan diikat pita putih di bagian ujung. Matanya tidak begitu sipit. Sangat cantik!"Maafkan aku." Ujar gadis itu menundukkan kepala beberapa kali dengan rasa bersalah. Aisawa mengangguk tanpa senyum sedikit pun.Tiba-tiba dia merasakan sakit. Punggung tangannya tergores. Ternyata mengenai gelang kerang yang dipakai gadis itu. Aisawa tidak mempermasalahkan hal itu, tapi dia baru pertama kalinya terluka seumur hidupnya. Rasa sakit yang luar biasa. Apa begini menjadi manusia? Sangat tidak menyenangkan. Jika begini, dia akan berhenti mengejar mimpinya untuk menjadi manusia. Dia lebih suka kekuatannya kembali.Ketika berusaha menahan sakit yang luar biasa baginya itu, ekor matanya bisa melihat jelas gadis tadi bersama lelaki yang pernah ditemui beberapa waktu yang lalu. Pantas saja kekuatannya tidak berfungsi. Dia begitu dekat dengan lelaki itu. Tiba-tiba rasa sakit yang sulit digambarkan bahkan lebih parah dari lukanya sekarang memburu dan hampir membuatnya menyerah. Hatinya. Ya. Dia baru mengenal apa itu hati. Lelaki tampan itu menatap gadis yang menabraknya dengan perasaan penuh cinta. Lidahnya kelu seketika. Ada apa dengan hatinya? Dia tidak mungkin jatuh cinta. Dia baru dua kali melihatnya dan jatuh cinta? Itu tidak mungkin! Batinnya menegur.Tak disadari. Langkahnya mendekat. Sepasang kekasih yang tampak serasi itu tak sadar. Tentu saja, mereka berdua tak mengenal Aisawa."Sayang, tak bisakah kau duduk sebentar. Aku lelah menunggumu hampir satu jam. Tapi, entah mengapa aku menyukai apa pun tentangmu meskipun membosankan." Ujar lelaki itu manis sekali. Aisawa merasakan sentuhan lembut meskipun kalimat manis itu bukan untuknya. Lelaki yang tahu menghargai dan menyenangkan wanita."Jangan berkata seperti itu Mada-kun. Aku malu." Gadis itu menampakkan wajah memerah di pipinya yang putih. "Oh ya, kuharap kau benar-benar menghafal namaku. Namaku, Kirei Kabayashi. Dan namamu, Madara Sanada. Ingatlah!" ujar gadis itu sedikit manja namun bijak. Manis sekali.Kirei mengambil alih air isotonik dalam botol milik Madara yang digenggam pria itu sedari tadi. Madara tersenyum manis. Tiba-tiba senyumnya berubah lebih sumringah ketika tahu Aisawa sedang memerhatikan sedari tadi. Kirei sama-sama menoleh dan tersenyum. Keduanya sama-sama ramah, sama-sama tampan dan cantik, sama-sama manis, sama-sama sopan dan sama-sama menatapnya penuh tanda tanya."Kau nona pemilik rumah ini, bukan?" tanya Madara sembari menunjuk rumah besar di belakangnya. Kirei mengeryit. Aisawa mengangguk. Ingin menjawab namun bimbang. "Namaku Sanada Madara. Ini Kabayashi Kirei, kekasihku." Tegas Madara membuat pipi Kirei menjadi memerah seketika."Tsukinami Aisawa." Ujar Aisawa akhirnya. Madara dan Kirei senyum bersama."Senang bisa berkenalan denganmu, Ai-chan." Ujar Kirei sumringah. Dia sangat tulus dan begitu manis. Meskipun saat ini Aisawa tidak bisa membaca pikiran gadis itu.Aisawa lebih banyak diam. Tersenyum canggung dan masih berpikir mengapa kekuatannya melemah. Bahkan tidak berfungsi sama sekali. Dia masih menatap kedua manusia itu, mereka tampak menawan, mengesankan dan membuatnya iri. Itu sangat mengganggu pikirannya juga hatinya yang entah mengapa bergejolak tanpa ampun. Aisawa menggigil memikirkan keraguannya sendiri. Ini bukan dia."Kami harus pamit. Sampai jumpa, Ai-chan." Ujar Kirei dijawab anggukan oleh Aisawa. Madara lebih memilih diam meskipun tak lupa tersenyum. Seolah Madara memberi kesempatan untuk wanita berbicara meski didominasi Kirei yang ramai.Hatinya tiba-tiba merasa keanehan. Dia menginginkan lelaki itu sangat ingin, tapi dia pun merasa terharu dengan hubungan manis keduanya. Aisawa tetap dalam diam memerhatikan sepasang manusia yang sangat serasi itu dari kejauhan. Hingga mereka benar-benar menghilang dan membawanya masuk rumah. Ketika memasuki halaman yang luas dia merasakan pulih. Telunjuknya diarahkan ke arah pintu. Tak perlu lima detik, pintu itu terbuka lebar seolah menerima Aisawa dengan lapang dada. Ketika dia masuk pun, hal sama dilakukannya.Dia manusia biasa. Dia merasakan itu. Hanya saja dia punya banyak kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Apakah dia akan menjadi setega itu?☆☆☆☆☆Aisawa baru ingin keluar untuk berolahraga kecil. Sebenarnya dia butuh keluar untuk melepas kebosanan. Dia tak merasakan berbeda tentang kekuatannya. Ya, Madara tidak ada di sini. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat seorang gadis cantik yang muncul tiba-tiba di hadapannya. Wajah yang sesuai dengan namanya, Kirei."Hai!" sapa Kirei ramah sekaligus riang. Aisawa hanya tersenyum. "Kau mau kemana? Bolehkah aku main ke rumahmu? Sepertinya rumahmu menarik." Ujar Kirei sambil melirik lantai dua yang terlihat dari gerbang kayu tinggi.Rumah itu sangat tertutup. Matanya mengambang memerhatikan pohon sakura yang tampak menyentuh atap lantai dua. Siapa pun yang berada di balkon kamar itu akan sangat senang memerhatikan berseminya sakura. Sangat indah. Senyum manis nan tulus merangkai bibir Kirei dengan pesona luar biasa. Aisawa merasakan itu. Senyum yang benar-benar tulus dan bahagia. Tak ada sikap jahat yang ada dipikiran Kirei tentangnya. Perlukah dia menerimanya menjadi teman setelah sekian banyak waktu yang digunakannya untuk sendirian?"Baiklah jika tidak boleh. Aku akan pulang." Ujar Kirei mengerucutkan bibirnya. Aisawa hampir tertawa melihat tingkah bidadari ini. Bahagia yang selalu menjumpainya berbeda dengan bahagia kali ini. Apa ini tanda-tanda dia akan menjadi manusia?"Silakan masuk." Ujar Aisawa menjentikkan jarinya membuat gerbang kayu tinggi itu menjadi terbuka sebagian. Kirei takjub sekaligus heran. Aisawa lupa seharusnya dia tak melakukan itu. Dia mengutuk dirinya sendiri. "Ini pintu otomatis. Arsitek mendesain sedemikan rupa dan bisa terbuka otomatis dengan suaraku. Silakan masuk. Membuatku lebih mudah membuka tanpa bersusah payah." Aisawa mengeryit bingung. Dia tak yakin kalau Kirei akan percaya. Namun, dia percaya."Menakjubkan! Hebat sekali." Sahutnya senang. Dia melangkah masuk berlari kecil meninggalkan Aisawa yang ada di belakangnya. "Apa pintu itu bisa dibuka manual, Ai-chan?" tanyanya kemudian seperti ingin tahu. Aisawa mengangguk.Kali ini mereka berjalan bersama saling berjajar. Kirei tampak antusias melirik ke sana kemari memerhatikan rumah yang tidak terawat meskipun sebenarnya sangat indah. Dia tak menemui siapa pun sedari tadi. Ya. Tak ada satu pun selain dirinya dan Aisawa, pemilik rumah. Apa Aisawa tinggal sendiri?"Aku tinggal sendirian. Sebatangkara." Tegas Aisawa membuat Kirei terkejut. Dia tak menemukan wajah sedih sedikit pun di wajah Aisawa. Tentunya dia menganggap Aisawa berusaha tegar. Pantas saja Aisawa pendiam.Tidak. Aisawa membantah habis-habisan dalam hatinya tentang pemikiran Kirei. Dia sama sekali tidak memikirkan kesedihan. Bahkan dia belum tahu apa definisi dari kata itu. Mungkin dia akan merasakannya nanti jika bertemu dengan Madara. Seperti tidak bisa membaca pikiran siapa pun ketika ada Madara, tidak bisa menggerakkan telunjuknya jika ada Madara, tidak bisa merasa rileks dan bahagia seperti biasanya saat ada Madara dan semua hal jika dekat dengan Madara.Kali ini, Aisawa tidak ingin membuat Kirei curiga. Dia mendorong pintu rumah pelan membuka lebar. Ini bukan rumah Jepang kebanyakan. Lebih terkesan Asia Tenggara atau Eropa, mungkin. Tampak mewah dan elegan."Kau tidak bersama kekasihmu?" tanya Aisawa akhirnya ketika membaca pikiran Kirei yang menyebutnya aneh karena sejak tadi diam. Itu bisa diketahui dengan mudah."Oh, Madara? Ya. Madara selalu sibuk kuliah jam segini. Mungkin dia akan kesini menjemputku. Aku sudah mengirim pesan bahwa aku di rumahmu." Ujar Kirei sambil tersenyum manis. Aisawa tidak terkejut. Tentunya dia lebih tahu apa yang akan dikatakan oleh Kirei. Membosankan sekali, bukan?"Aku akan membuat secangkir teh putih hangat." Ujar Aisawa sambil berlalu meninggalkan Kirei yang tanpa henti merasakan ingin tahunya pada rumah itu."Apa aku boleh ke kamarmu?" tanya Kirei kemudian.Aisawa mengangguk. Tak ada yang penting di setiap detail rumah ini. Apa yang perlu dicatat jika otaknya berfungsi sangat baik. Dia sudah mencatat nama orang yang membuat kekuatannya tidak berfungsi, bahkan sebelum Aisawa tahu kalau orang itu benar-benar ada. Suara dalam kegelapan itu yang memberitahunya. Dia mencatat apa pun diingatannya. Tentang teman-temannya yang tidak pernah tulus. Tentang pertama kalinya dia menggunakan jemarinya untuk menjahili orang-orang jahat. Tentang suatu waktu dia menghentikan waktu dan membuatnya koma di Rumah Sakit selama satu minggu. Tentang hal-hal lainnya. Itu sangat jelas diingatannya."Dia musuhmu. Kenapa kau memperlakukannya dengan baik?" pertanyaan itu milik suara dalam kegelapan. Aisawa jadi ragu apakah itu dewa? Bukankah dewa suatu hal yang baik? Aisawa memilih diam dan mengaduk teh dengan jari telunjuk yang mengaduk otomatis. Sendok itu berputar-putar dengan ritme yang konstan di dalam gelas. Tampak menarik untuk dilihat. "Apa kau memasukkan racun di dalamnya?" suara itu terdengar terkekeh. Suara itu benar-benar memancingnya."Tak bisakah kau diam dan pergi dari sini!" bentak Aisawa dengan lantang. Dia hampir saja kelepasan. Emosinya entah mengapa tidak stabil.Aisawa mengarahkan jari telunjuknya lagi ketika suara itu sudah diam dan pergi meninggalkannya. Gelas terangkat dan Aisawa meletakkannya ke nampan yang sudah dibuat melayang terlebih dahulu. Namun, tiba-tiba saja semuanya jatuh dan pecah seketika. PRANG! Suara itu membuat Kirei yang ada di atas langsung turun dan datang menemui Aisawa. Kirei tampak bingung mengapa nampan kemarik dan gelas kaca itu pecah hancur berkeping-keping. Mungkin, Aisawa tidak sengaja."Ada apa, Ai-chan? Kau tadi membentak seseorang dan sekarang gelas itu pecah. Siapa yang mengganggumu?" tanya Kirei khawatir. Aisawa menatapnya tajam. Kirei ketakutan menatap mata itu. Mata yang ingin memakannya bulat-bulat."Maafkan aku, Kirei. Sebaiknya kau membukakan gerbang. Seseorang menunggu di sana. Aku akan membuatkanmu teh yang baru." Ujar Aisawa berusaha mengontrol emosinya. Kirei mulai tersenyum meskipun masih dalam keadaan waspada. "Sepertinya Madara datang." Tegasnya membuat Kirei benar-benar tersenyum dan mengangguk.Kirei sudah berlalu. Sementara itu, Aisawa setengah emosi. Dia tak tahu mengapa perasaannya aneh. Dia pertama kalinya merasakan jatuh cinta, pertama kalinya merasa terharu, pertama kalinya merasa sebuah bahagia yang berbeda dan kali ini pertama kalinya dia merasakan sebuah emosi yang luar biasa berbeda. Sangat besar. Dia ingin membunuh gadis itu dan ingin memiliki Madara. Apa sedemikian rumitnya menjadi manusia normal? Tapi dia tidak ingin menjadi dirinya yang membosankan!"Kau ingin memiliki lelaki itu, Aisa? Kau sudah jatuh cinta padanya. Kau sudah tergila-gila. Bukankah dia sangat tampan?" suara itu lagi.Aisawa berusaha tetap diam dan enggan menjawab apa pun. Dia mengaduk teh dengan tangannya sendiri. Dia tak bisa menggunakan kekuatannya. Tiga cangkir teh putih untuknya, untuk Kirei dan tentunya untuk Madara."Aku bisa melihat nafsumu itu. Kau benar-benar ingin memilikinya. Dia yang membuatmu merasa aneh, bukan? Dia yang membuatmu sangat lemah. Aku ragu bahwa itu cinta. Kau sangat menginginkannya. Aku tahu kau membenci kekasihnya. Itu nafsu! Lihatlah dirimu. Kau tidak berdaya!" kata-kata dari kegelapan itu merasuki pikirannya. Dia menjadi lebih emosi sekarang. Hati kecilnya berusaha meredakan."Jangan memerintahku!" teriakan ini lebih lantang dari sebelumnya.Suara itu tak bersuara. Namun, Aisawa bisa mendengar pekikan tajam dan tawa yang menggema. Sangat mengganggunya. Sangat mengerikan sekaligus membuatnya berpikir ulang tentang memiliki lelaki itu. Mungkin ini hanya nafsu. Tapi dia tak peduli. Dia benar-benar ingin memiliki lelaki itu. Tapi bagaimana jika dia benar-benar memiliki Madara? Dia hanya seorang wanita lemah. Dia tidak akan bisa menggunakan kekuatan yang dimilikinya. Dia. Dia meragu. Apakah dia siap?☆☆☆☆☆Kirei dan Madara duduk di ruang tamu. Rumah mereka yang tidak begitu mewah sekaligus mempunyai rumah yang sangat Jepang terasa canggung duduk di sofa mewah di sebuah ruangan yang bergaya Eropa kelas atas. Lukisan-lukisan negeri-negeri di Eropa seperti menara Eifeel di Prancis, Kincir Angin di Belanda, Liberty di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa-Amerika lainnya pada sebuah lukisan besar yang begitu indah. Keduanya saling pandang ketika Aisawa datang.Teriakan sekaligus jeritan tadi membuat keduanya bingung. Namun, dia tidak ingin ikut campur. Kali ini, Aisawa tidak bisa membaca pikiran Kirei lagi. Ada Madara di dekatnya membuat kekuatannya tidak berfungsi. Kenapa harus ke semua orang? Dia mengumpat dalam hati. Dan, kenapa dia mulai menginginkan laki-laki yang akan membuatnya tidak memiliki kekuatan selamanya?"Ada apa?" tanya Aisawa menyerah. Dia tidak enak melihat pandangan Kirei dan Madara seolah-olah menyelidik. Aisawa berusaha tenang."Tidak ada apa-apa." Jawab Kirei, Madara tidak berani menjawab. Aisawa hanya mengangguk. "Apa kau tidak kesepian di sini sendiri? Kau tidak mencari pembantu atau mengangkat seorang adik dari panti asuhan? Tentunya akan begitu menyenangkan, bukan?" Kirei memberi usul. Madara dan Aisawa sama-sama tertegun."Kadang-kadang memang membuatku merasa kesepian. Tapi aku menikmatinya. Aku sudah terbiasa." Sahut Aisawa berbohong. Kirei dan Madara mengangguk.Sebelum bertemu Madara, Aisawa tidak pernah merasakan apa kesepian. Dia selalu merasa bahagia. Meskipun bahagia yang membosankan. Selain bahagia dia hanya tahu marah dan bosan. Itu saja. Tak ada yang lain. Namun, kedatangan Madara berhasil mengubah semuanya. Dia merasakan bahagia yang berbeda, marah yang berbeda dan bosan yang berbeda. Tentunya perasaan yang baru dikenalinya, jatuh cinta, terharu, tenang, cemburu dan emosi yang meledak-ledak.Semua itu ia kira akan hilang ketika Madara menjauh. Namun, terus membekas dan masih ada meskipun kekuatannya sudah kembali. Dia masih merasakan jatuh cinta pada Madara, bahkan berusaha untuk memiliki lelaki itu. Terharu. Tenang. Dan, yang dia benci dari semuanya adalah cemburu dan emosi. Dia takut kalau suatu saat dia dan Kirei sedang berdua tanpa Madara, dia akan sangat marah. Tentunya dia yang memiliki kekuatan bisa membuat Kirei tak berdaya dengan mudah. Atau mungkin dia akan membunuh wanita itu? Membunuh? Kalau Kirei mati, dia akan memiliki Madara tanpa penghalang. Dia memiliki Madara seutuhnya. Sepertinya menyenangkan.☆☆☆☆☆Bangun tidur matanya memerah. Bibirnya pecah-pecah, matanya hampir kering dan daerah sekitar matanya menghitam. Tidak pernah dia seperti ini, bahkan sekali pun tidak pernah di seumur hidupnya. Entah mengapa lelaki yang tak banyak omong itu terus-terusan masuk dalam mimpinya. Dia tak pernah seburuk ini. Dia ingin mengaduh pada siapa kalau sudah begini? Dia hanya mengira kalau jauh dari lelaki itu semuanya seperti mula. Namun, tidak. Dia memang mendapatkan kekuatannya kembali sekaligus membawa perasaan aneh yang terus memburunya."Apa enaknya menjadi manusia normal kalau begini? Terasa menyakitkan." Ujar Aisawa menatap wajahnya yang tampak berbeda di cermin."Kau hanya harus belajar." Tiba-tiba sebuah suara menyahutinya. Itu bukan suara yang biasa dia dengar. Suaranya lebih halus dan seperti suara lelaki. "Belajar. Hanya itu yang kau perlu." Ujar lelaki itu lagi.Aisawa mulai mencari asal suara. Tiba-tiba, pandangannya terhenti pada pintu kamar yang terbuka. Seorang pria yang tampak tampan, bahkan lebih tampan dari Madara. Wajah campuran Jepang dan Eropa ada di sana. Mata abu-abu, kulit putih seperti orang Jepang kebanyakan, rambut cokelat terang dan tubuh tinggi dengan dada bidang. Kemeja hitamnya menempel pas pada tubuh membuat lelaki itu bertambah tampan dibalut dengan jaket tebal berbulu. Tampan sekali!Namun, sesaat Aisawa harus waspada. Dia tak mengenal lelaki itu. Lalu mengapa lelaki itu bisa ada di kamarnya? Lebih tepatnya di rumahnya. Karena, kamarnya selalu dibuka. Dia pasti sudah masuk rumahnya terlebih dahulu. Bagaimana bisa?"Aku melewati jendela itu. Sejak tadi malam aku berada di sini. Tidur di kamar ini juga, bersamamu." Ujar lelaki tampan itu. Dia setengah bersandar di ambang pintu. Memerhatikan Aisawa yang hanya diam. Dia tersenyum. "Aku sungguh-sungguh lewat jendela itu!" tunjuknya pada jendela kamar yang sedikit terbuka. Aisawa memang butuh udara setiap malamnya. "Baiklah akan aku tunjukkan." Lanjutnya.Aisawa berusaha tenang meskipun pikirannya sudah kacau. Sepertinya lelaki itu bisa membaca dengan jelas apa yang dipikirkan Aisawa. Tiba-tiba, Aisawa takjub melihat lelaki itu bergerak dengan cepat melewatinya. Seperti tokoh Edward yang menyelamatkan Bella dalam film Twilight Saga."Kau tidak mungkin takjub, bukan? Bahkan kekuatanmu lebih dari yang kumiliki kan, Ai-chan?" lelaki itu sudah kembali ke tempat semula dan berjalan pelan menuju Aisawa yang masih terdiam kaku. Kali ini mereka berhadapan."Kau siapa? Apa yang sedang kau bicarakan?!" Aisawa belum mengubah posisi. Dia menatap tajam seolah mengancam lelaki itu. Namun, lelaki itu masih tersenyum. Aisawa tidak bisa membaca pikirannya. Tidak. Dia tidak seperti Madara. Dia tidak membuat kekuatannya hilang, hanya saja dia menghalangi pikirannya dengan kekuatan yang dimiliki. Tentunya Aisawa pun melakukan hal sama.Kali ini lelaki itu melangkah sekali lagi dan mereka sangat dekat. Dada mereka bersentuhan. Aisawa harus mendongak sedikit menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu. Kilatan di mata sang lelaki tak membuatnya takut sama sekali."Peter Kawahara." Jawabnya singkat. Keduanya tak ada yang mengubah posisi. "Kurasa kau tahu apa yang kubicarakan, bukan?" lelaki itu tersenyum sinis. Tapi, Aisawa masih tidak bisa menemukan sesuatu dari pikirannya."Apa yang kau inginkan dariku?!" tanya Aisawa kemudian.Lelaki itu tak menjawab. Dia masih tersenyum, menatap Aisawa penuh tanda tanya. Begitu sebaliknya. Hingga menurunkan kepalanya, mengecup pelan bibir Aisawa. Gadis itu terbelalak kaget, namun tak menolak. Ketika sadar bahwa Aisawa tak menolak, maka Peter terus menciumnya lama. Mata mereka masih berpandangan. Sebuah mata terkejut dari Aisawa dan mata tersenyum milik Peter. Tiba-tiba Aisawa tersadar dan memundurkan tubuhnya dari Peter. Bibir Peter sudah lepas dari bibirnya. Ada napas terengah-engah dari keduanya. Namun, Peter masih tersenyum tanpa ekspresi lain."Hanya itu yang kuinginkan." Ujar Peter sambil menjilat bibirnya yang tampak kemerahan. Aisawa hampir saja tak bisa mengontrol emosinya.Namun, emosinya melemah. Tubuhnya melemah. Semuanya tampak abu-abu. Pria bernama Peter itu tiba-tiba mendekatinya lagi. Namun, ada wajah khawatir di sana. Aisawa sudah jatuh terduduk setengah sadar. Peter buru-buru membopongnya ke atas ranjang. Sebuah mata yang berbeda. Tak ada kilatan berbahaya lagi di sana. Dia justru terlihat khawatir dan kebingungan. Setelah meletakkan tubuh Aisawa yang setengah tersadar ke ranjang, Peter buru-buru turun dengan cepat dan mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk membuat Aisawa tersadar.☆☆☆☆☆Sejam kemudian Aisawa tersadar. Suara orang yang bercakap-cakap di luar kamarnya membuat dia bangkit dan penasaran. Tubuhnya sudah membaik. Namun, dia merasakan kekuatannya tak terasa. Apa ada Madara di sini?Ketika bangkit dia menemukan wajahnya di cermin. Ditatapnya lama-lama. Bibir bekas ciuman Peter membuatnya takut bertemu lelaki itu lagi. Tapi dari wajah khawatir Peter dia tahu, lelaki itu tak tahu kalau melakukan hal itu energinya akan berkurang. Dan, Aisawa pingsan karena melakukan itu. Tidak! Bagaimana mungkin Peter tidak tahu tentang itu? Bahkan dia mempunyai kekuatan yang hampir sama sepertinya."Kau baik-baik saja, Ai-chan?" suara khas itu membuat Aisawa memalingkan wajah dari cermin dan menoleh ke sumber suara. Kirei. Aisawa hanya mengangguk.Setiap detik menatap Kirei, tubuhnya memanas, emosinya meledak-ledak. Dia ingin memakan gadis itu mentah-mentah. Sekedar membunuhnya saja mungkin sangat menyenangkan. Namun, bagaimana dengan Madara? Tidak. Dia memang menginginkan Madara. Dan, selama ada Kirei, dia tak akan memiliki Madara."Kekasihmu bilang kalau kau baik-baik saja. Aku jadi tenang." Ujar Kirei tampak santai dan tidak mengerti kebingungan Aisawa."Kekasihku?" Aisawa memastikan."Ya. Kawahara Peter. Dia sangat tampan. Dia bilang kalau dia kekasihmu. Kalian berdua cocok sekali. Kau sangat beruntung mempunyai kekasih seperhatian dia. Bahkan dia menunggumu sakit semalaman. Tidak seperti Madara. Dia begitu manis namun cuek." Ujar Kirei sedih. Aisawa terdiam.Cerita apa yang dikarang Peter? Kekasih? Menunggu semalaman? Astaga! Dan, dari semua pernyataan itu dia membenci tidak seperti Madara. Lelaki itu memang tidak seperti Madara. Madara yang manis dan pendiam. Dan, Aisawa harus memilikinya. Lalu, bagaimana bisa Kirei tidak menyukuri itu semua? Aisawa benar-benar geram. Ingin membunuh wanita itu sekarang juga. Namun, sepertinya kehendaknya terhenti ketika Madara dan Peter memutuskan masuk. Keempatnya berdiri saling diam. Tentu saja, percakapan dimulai lagi dengan obrolan milik Kirei.Aisawa terdiam memerhatikan Peter yang sejak tadi menatapnya penuh jahil dari belakang Madara. Pria itu menggigit bibirnya seolah memberi petunjuk sekaligus ledekan pada Aisawa tentang pagi tadi."Kita bisa mengobrol di ruang tamu." Ujar Aisawa tiba-tiba.Mereka bertiga diam. Kemudian Kirei dan Madara mengangguk setuju. Hingga mereka turun dan meninggalkan Aisawa bersama Peter. Lelaki itu tampak menyebalkan namun jahil. Bukan tentang itu, yang Aisawa rasakan, lelaki itu membuatnya muak. Aisawa berusaha tak peduli. Gadis itu hendak keluar, namun Peter berusaha berdiri di tengah ambang pintu untuk menghalangi."Kau ingin membunuhnya?" tanya Peter sinis. Sebelah tangannya mencengkeram rahang Aisawa. Namun, dia diam saja."Bukan urusanmu!" Aisawa mendengus. Peter tertawa sinis."Kau menginginkannya lagi? Bibirku?" goda Peter membuat Aisawa bergidik. Dia tak tahu ada lelaki segila itu. Aisawa berusaha tenang dalam diam. Dia akan kalah jika melawan. Dia tidak berkekuatan sekarang. Tangan sebelahnya lagi melingkar di pinggang Aisawa membuat gadis itu kaget setengah mati.Mereka sangat dekat, lebih dekat dari tadi pagi. Peter memeluk Aisawa dengan erat tak membiarkan gadis itu lepas dari pelukannya. Bibirnya mencium bibir Aisawa dengan nafsu dan gairah. Aisawa berusaha bergerak. Namun, tidak ada ruang baginya untuk bergerak. Lelaki itu sudah gila! Tangan yang memeluk pinggang Aisawa terus dieratkan ketika Aisawa berusaha keluar dari pelukannya. Ciumannya belum juga dilepas. Aisawa benar-benar merasakan kekonyolan luar biasa! Namun, dia tak merasa kalau energinya habis. Dia tampak biasa saja."Lelaki itu melindungimu." Ujar Peter melepas ciumannya. Namun, tidak untuk pelukannya. Setelahnya, dia mencium pipi kanan Aisawa dan melepaskan gadis itu. "Meskipun kau tidak mempunyai kekuatanmu sekarang. Tapi, dia membuatmu terlindungi dan tak pingsan seperti tadi." Peter terkekeh. "Sayangnya, kau ingin membunuh kekasihnya. Madara yang malang." Peter masih tertawa. Sinis."Ketika mereka pergi. Aku akan membunuhmu lebih dulu!" tegas Aisawa tajam. Gadis itu menuruni tangga meninggalkan Peter yang mendengus kesal.☆☆☆☆☆Sejak kejadian itu, Aisawa tak menemukan Peter dimana pun. Mungkin Peter ketakutan dengan ancamannya. Berhari-hari setelahnya, dia tak menemukan Madara atau pun Kirei. Perasaannya bergejolak tak beraturan. Dia menyukai Madara, ingin memiliki Madara. Namun, rasa penasarannya tentang Peter membuatnya bingung dan enggan menghabisi Kirei. Apa dia begitu jahat? Dia tak tahu harus melakukan apa."Aku menghilang beberapa hari ini untuk mencari tahu tentang Kawahara Peter, Aisawa." Ujar suara kegelapan yang sudah hilang dan membuatnya rindu beberapa hari. Aisawa mendengarkan intens. "Sebelumnya akan saya jelaskan tentang kekuatan itu. Di Jepang ada tujuh orang yang memiliki kekuatan sepertimu. Dua di antaranya kau dan Peter. Ambisi Peter yang besar menginginkan kekuatan itu dimilikinya sendiri. Namun, dari semuanya, kekuatanmu yang paling besar. Peter sudah mengambil empat kekuatan dan dia sedang mencari satu orang lagi. Jika dia mendapatkan satu orang itu, maka dia memiliki kekuatan seimbang denganmu. Dia akan mengambil milikmu juga. Kau harus berhati-hati. Waktu itu kau hampir terkecoh." Jelas suara itu membuat Aisawa terkejut dan mengutuk dirinya sendiri dengan bingung luar biasa."Aku ingin menjadi manusia normal. Bukankah tidak apa-apa memberikan ini padanya. Toh, aku akan kehilangan juga." Ujar Aisawa akhirnya."Dia akan menggunakannya dengan tidak bermanfaat." Tegas suara itu lagi."Saat ada Madara. Dan, dia menciumku. Itu tidak berpengaruh sama sekali. Bagaimana bisa?" tanya Aisawa benar-benar bingung. Suara langkah menyusuri tangga membuatnya resah. Pasti Peter!"Madara melindungimu. Meskipun kau kehilangan kekuatanmu, tak ada yang menyakitimu meskipun itu kekuatan besar sekali pun." Tegas suara itu hingga menjadi sayup-sayup. Dan, semakin lama semakin menghilang.Aisawa mulai melangkah dan membuka pintu kamar. Di sana ia menemukan Peter. Lelaki yang dengan sengaja membuatnya pingsan. Peter menatap Aisawa dengan senyuman yang biasanya, senyuman manis dan menggoda. Sebenarnya, Peter sudah tahu kalau Aisawa mengetahui semua rahasia itu. Namun, dia tak ingin membahasnya."Hai Sayang." Ujar Peter sembari mendekatkan wajah ingin mencium Aisawa. Dia dengan cepat menghindar dan menuruni tangga. Dengan lebih cepat, Peter sudah berada di bawah sana. "Kau kenapa menghindariku? Bukankah kau menikmati saat aku menciummu?" ujar Peter tepat di hadapan Aisawa. Gadis itu tak bisa menghindar lagi. Peter mendorong tubuh Aisawa ke dinding dan membuatnya tidak bisa bergerak."Selama kau belum mendapatkan kekuatan kelima. Kau tidak akan bisa menang dariku." Aisawa mencibir. Matanya menajam.Yang tak di duga, Peter melepas cengkeramannya. Dia membalik tubuh dan turun tanpa menggunakan kekuatannya. Sepertinya, kata-kata Aisawa berhasil membuat Peter ketakutan atau pura-pura ketakutan?☆☆☆☆☆Sejak saat itu Peter benar-benar menghilang. Sebenarnya itu membuat Aisawa tenang. Namun, dia tetap harus waspada. Kemungkinan, Peter sudah memiliki apa yang sedang dicarinya. Kebosanan melingkupi perasaannya. Ia juga ingin bertemu dengan Madara. Dia merasakan rindu luar biasa. Entah karena cinta atau nafsu memilikinya.Jari telunjuknya tak berfungsi dengan baik membuka gerbang. Gerbang itu menjadi gebrak-gebrak tak beraturan. Mungkin karena ada Madara di sekitar sini. Pikir Aisawa. Akhirnya, dia keluar dengan mendorong pelan gerbang kayu yang tinggi itu. Dan, benar saja. Dia menemukan lelaki Jepang itu duduk di bangku besi panjang di depan rumah sekaligus sepanjang trotoar. Lelaki itu setengah tertidur. Tubuhnya bersandar pada punggung bangku sementara kepalanya tertunduk.Dengan hati-hati, Aisawa mendekatinya dan duduk di sampingnya. Suasana sepagi itu membuat jalanan masih lenggang. Tiba-tiba, kepala Madara jatuh ke samping dan berada tepat di bahu Aisawa. Jantung Aisawa meledak-ledak dengan gejolak aneh. Hatinya entah mengapa merasa berbunga-bunga. Bibirnya merekah tersenyum."Aisawa?" ujar Madara memastikan ketika mendapati gadis itu berada di sisinya. "Kenapa kau disini?" tanya Madara akhirnya."Aku melihatmu ketiduran. Kau kenapa berada di sini?" tanya Aisawa akhirnya. Mukanya sudah memerah karena malu. Dia tertangkap basah meminjamkan bahunya untuk tidur Madara. Pria itu tampak letih."Kirei. Dia sudah janji menemuiku dua hari yang lalu di sini. Tapi dia tidak ada dimana pun. Aku sudah bertanya ke rumah dan teman-temannya. Dia sudah hilang, Ai-chan. Aku semalaman mencarinya. Dan, tak sengaja tidur di sini. Aku sangat khawatir padanya. Aku sangat mencintainya." Kalimat terakhir adalah hantaman hebat yang meluluh-lantahkan bunga-bunga yang baru saja terkembang di hatinya.Aisawa terdiam. Antara sakit hati dan sama khawatirnya. Dia melihat wajah sedih Madara yang sedih sekaligus ketakutan. Meskipun dia tidak bisa membaca apa yang dipikirkan Madara, dia tahu betul kalau lelaki itu sangat kehilangan kekasihnya. Apa dia perlu membantu? Kalau tidak ada Kirei. Dia bisa memiliki Madara seutuhnya. Tapi, dia tidak bisa melakukan itu. Melihat Madara sedih, itu lebih sakit dari apa pun."Kau tetap di sini. Aku akan mencarinya." Ujar Aisawa membuat Madara tertegun dan mengeryit. Aisawa masih berpikir keras."Aku tidak mungkin diam saja. Kita cari Kirei bersama-sama." Ujar Madara akhirnya. Aisawa terdiam. Dia tidak mungkin bisa mendeteksi Kirei jika ada Madara. Dia pun tidak mungkin menyuruh Madara tetap diam. Andai saja dia bisa menggunakan kekuatannya bersama Madara yang ada di sisinya."Tetaplah di sini. Aku akan membeli beberapa minuman dan sarapan untukmu. Kau tidak akan berpikir jernih kalau tidak makan, Madara-kun. Sepuluh menit lagi aku akan kembali. Aku pinjam sepedamu." Ujar Aisawa dengan cepat tanpa mengizinkan Madara menjawabnya. Gadis itu sudah pergi."Aku tidak mungkin makan. Bahkan aku tak bisa membayangkan apa Kirei bisa makan di sana." Ujar Madara lirih. Air matanya menetes begitu saja.☆☆☆☆☆Dia tidak benar-benar ke supermarket. Dia memilih tempat yang jauh dari Madara untuk menggunakan kekuatannya. Membaca pikiran Kirei dan membaca masa depan yang akan terjadi. Dia terus berusaha keras. Hingga benar-benar menjauh dari Madara. Bahkan dia tidak tahu, sudah berapa lama dia mengayuh sepeda. Sepuluh menit rasanya tidak cukup jika tak bisa berlari secepat Peter.Tunggu. Peter?Tiba-tiba bayangan demi bayangan masuk ke penglihatannya. Dan di sana dia melihat Kirei. Tubuhnya diikat dengan tali dan didudukkan pada sebuah kursi kayu kecil. Mulutnya diplester dan matanya sudah sangat lama menangis. Dia tahu tempat itu. Beberapa orang berada di sana sama-sama diikat dan diplester di bagian mulut. Kirei tak seperti biasanya yang ceria, ramah dan murah senyum. Dia tampat sangat marah.☆☆☆☆☆Aisawa dan Madara di sini sekarang. Aisawa tidak tahu harus melakukan apa. Dia ingin terus bersama Madara, memiliki lelaki itu dan dia pun mencintainya. Membiarkan Kirei hilang selama-lamanya dan memandangnya. Nafsu dan cinta itu beda tipis hanya dibatasi selaput tipis yang bahkan mungkin tak bisa dilihat oleh mikroskop. Kau tahu, mengikhlaskan sesuatu tidak semudah yang dibayangkan siapa pun. Dan, Aisawa pun tidak sebaik itu. Bahkan dia baru pertama kali mengenal rasa lain selain bahagia."Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu." Ujar Aisawa sambil menahan tangan Madara yang hendak masuk ke sebuah gedung."Heh?" hanya itu jawaban dari Madara. Lelaki itu memandang pintu utama gedung sekaligus berganti menatap Aisawa yang masih diam di tempat. Madara melihat setitik air mata menetes di sudut mata Aisawa.Aisawa buru-buru menghapusnya. Menenangkan hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Ketika dia ingin melanjutkan masuk menuju gedung. Seseorang yang cukup dikenalnya berjalan cepat dan kali ini sudah berada di hadapannya, begitu dekat atau bahkan tanpa jarang sekali pun. Aisawa menatap lelaki itu dengan tatapan penuh amarah. Tentu saja dia tahu siapa di balik penculikan Kirei. Aisawa tak sempat melihat wajah terkejut, kaget dan ketakutan yang ada di wajah milik Madara."Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Aisawa setengah berbisik. Madara tak mendengar jelas obrolan keduanya. Peter tersenyum kecut."Aku mencintaimu. Aku menginginkanmu!" ujar Peter meledek dan mengulang kata-kata yang diucapkan Aisawa pada Madara. Madara mendelik ke arah keduanya. "Aku hanya mempermudah kau memiliki dia." Lanjut Peter dengan nada lebih lirih dan menggoda. Nada bicaranya begitu mesra dan membuat Aisawa jijik."Kau tidak membunuhnya, bukan?" kali ini Aisawa ketakutan dan khawatir. "Kau lihat Kirei di dalam!" perintah Aisawa pada Madara. Madara menurut saja."Kau serahkan semua kekuatanmu maka aku akan membuat mereka baik-baik saja. Mudah, bukan? Dan, kau akan mati dengan tenang." Ujar Peter berusaha setenang mungkin. Jantungnya bergejolak tak tentu arah. Sepertinya Aisawa mulai menyadari sesuatu yang beda pada tatapan Peter.Napas Peter terengah-engah. Dia berusaha tenang dan terus tenang, matanya terus menatap Aisawa yang seolah menantang menatapnya penuh kebencian. Keduanya sama-sama berpandangan tak seorang pun pindah dari posisinya. Aisawa tersenyum sinis dengan tatapan mencibir seolah tidak takut kematian atau keadaan rekan-rekannya. Peter mengeraskan rahang dan mulai stabil. Dia tersenyum jahil sambil terkikik kecil. Aisawa kali ini mengeryit."Kau tak menjawab. Apa berarti kau ingin kubunuh tanpa perlawanan?" bisik Peter pada telinga Aisawa. Bibirnya menempel pada telinga Aisawa. Membuat Aisawa merasakan dingin pada telinganya. Peter menegakkan tubuhnya lagi."Aku tidak yakin kau akan melakukan itu padanya." Seseorang melangkah dan mendekati keduanya. Keduanya menoleh dan hampir saja bertabrakan karena begitu spontan. Peter terkejut begitu pula Aisawa. Namun, Aisawa mengenal suara ini."Kenapa kau tidak yakin? Aku bisa membunuhnya dengan mudah kalau aku mau. Lelaki konyol itu sudah pergi menjemput kekasihnya. Dia tak akan menolong gadis ini." Tegas Peter membuat Aisawa mendelik tajam namun masih tak bicara.Aisawa menerka-nerka siapa suara itu. Justru baginya ocehan Peter sudah tidak menarik lagi. Dia lebih tertarik pada lelaki setengah baya dengan pakaian adat Jepang serba hitam. Matanya membelok tajam ke arah Peter dan Aisawa. Bergantian menatap kedua makhluk setengah manusia itu satu persatu."Aku tahu, kau mencintainya, bukan?" lelaki itu memastikan pada Peter. Aisawa mendelik kaget, begitu pula Peter. Hanya saja ada wajah terkejut yang berbeda. "Kau tahu bahwa mendapatkan kekuatan dari Aisawa yang begitu tak banyak omong adalah mudah, bukan? Bahkan kau bisa melakukannya sekarang juga. Tapi, apa?" lelaki itu bicara lagi. Namun, Peter masih terdiam. "Tanpa perlu menculik Kirei. Kau bisa dengan mudah melakukannya. Kau bermain perasaan dalam misimu!" tegas lelaki itu membuat Peter memanas dan meledak-ledak. Pasir di bawah kakinya berhamburan.Kali ini, Aisawa sudah mendapatkan jawaban siapa suara itu. Suara kegelapan yang selalu memberitahu apa yang dibutuhkannya. Namun, Aisawa sudah melupakan tentang itu. Dia menatap Peter yang emosi dan detik berikutnya entah pergi kemana.☆☆☆☆☆Ketika Aisawa masuk gedung bersama lelaki yang baru dikenalnya meskipun dia tahu sebenarnya, Ikogi Hatake, dia sedang mendapati Madara memeluk Kirei dengan penuh cinta. Beberapa orang yang sama-sama dikurung semua seusia dengannya. Dan, kelima yang lain tampak berbincang meninggalkan Madara dan Kirei di sudut ruangan. Kirei menangis, Madara menghapus air mata gadis itu penuh cinta. Mereka berbincang kecil dan membuat tawa yang Aisawa inginkan. Tak disadari, dia menangis.Berusaha baik-baik saja, gadis itu menghampiri Kirei yang bersama Madara. Dia berusaha menahan gejolak hatinya yang terasa pedih dan teriris. Dia tidak mempunyai kekuatan apa-apa sekarang. Ketika menyadari Aisawa mendekat, Kirei melepaskan pelukannya dari Madara. Gadis menatap Aisawa penuh ketakutan."Apa kau baik-baik saja?" tanya Aisawa yang sebenarnya hanya formalitas. Dia melihat ada ketakutan luar biasa di mata Kirei. Kirei atau Madara hanya saling pandang tanpa berani menjawab apa pun. "Lelaki brengsek itu pasti mengatakan sesuatu yang tidak-tidak, Kirei-chan?" ini kali pertama Aisawa menyebut nama gadis itu. Kirei diam kemudian mendongak dan mengangguk."Dia bilang, kau ingin membunuhku." Ujar Kirei lirih. Madara menggenggam erat tangan Kirei berusaha menguatkan. Ada pedih yang dalam di hati Aisawa."Pasti kau lebih tahu siapa yang sedang berbohong saat ini." Ujar Aisawa tegas. Bukan hanya Kirei dan Madara yang mendelik. Lima orang yang tidak dikenal Aisawa dan Ikogi pun mendelik. "Aku tidak memaksamu mempercayaiku. Kurasa kau lebih tahu kenyataannya." Lanjut Aisawa seraya pergi dengan tatapan tak bisa ditebak.Bersamaan dengan itu, semuanya bangkit dan meninggalkan tempat mengerikan yang bisa saja Peter sedang bersembunyi di salah sudutnya. Apakah ini sakit hati? Sakit yang begitu pedih dan menyesakkan. Jika sakit hati seperti ini, dia lebih memilih tidak berperasaan, tidak jatuh cinta, tidak tersenyum untuk orang lain dan tidak merasakan apa pun. Dia lebih menyukai kehampaan sekaligus bahagia yang biasa-biasa saja.☆☆☆☆☆Sejak dua hari yang lalu, Aisawa mengurung diri. Dia tidak ingin menemui Kirei atau pun Madara. Itu adalah sumber penyakitnya yang luar biasa pedih. Lagipula dia lebih menyukai kesendiriannya seperti sebelum-sebelumnya. Namun, semua itu tampak berbeda. Dia bukan dia yang dulu. Dia masih merasakan gundah, sedih, terkekang, bosan dan semua yang sebelum bertemu dengan Madara tidak pernah dirasakannya. Dia tampak putus asa untuk kembali ke kehidupan semulanya yang bahagia, melakukan apa pun sesukanya. Dia tak menyangka dia sudah menjadi manusia normal meskipun kekuatannya tidak hilang. Malam ini dia benar-benar tidak bisa tidur. Lebih tepatnya dua malam berturut-turut dan itu melelahkan sekali."Apa kabar, Sayang?" pertanyaan itu membuat Aisawa sontak bergerak waspada. Dia duduk di tepi ranjang, dengan cepat Peter duduk di samping gadis itu."Apa yang kau inginkan dariku?" pertanyaan itu begitu saja keluar dari Aisawa tanpa ingin menjawab pertanyaan yang diajukan Peter lebih dulu. Aisawa bangkit dari tepi ranjang dan buru-buru tangannya ditarik Peter agar tetap duduk. Dia menurut."Tidak ada keinginan apa pun selain ingin dirimu." Ujar Peter singkat.Peter melepaskan genggamannya dan bangkit ingin meninggalkan Aisawa. Mata abu-abunya tampak sedih dan tidak bersemangat. Tubuhnya pun terlihat begitu lemah. Apa benar Peter menyayanginya dengan tulus? Aisawa membuang semua pikiran itu. Lelaki itu yang membawa hidupnya pada masalah-masalah baru. Dia tidak harus percaya dan tidak harus membencinya juga. Peter yang memunggungi Aisawa akhirnya menoleh dan menatap gadis itu lembut, tidak seperti biasanya."Ada apa?" tanya Aisawa sinis. Gadis itu menatap Peter penuh kebencian. Peter membalas tatapan Aisawa dengan wajah murung kemudian tersenyum. Senyum yang jelas-jelas dibuat-buat. Peter menghela napas kecewa."Tidak ada apa-apa. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Jawab Peter lirih. Dia kembali membalik tubuhnya, kali ini Aisawa yang tampak sedih.Entah apa yang dirasakan Aisawa saat ini. Hatinya bergejolak tak keruan. Bibir kelu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, hatinya menolak kepergian Peter. Ketika Peter ingin melangkah keluar dengan cekatan Aisawa menggerakkan jari telunjuknya dan membuat pintu tertutup dengan gebrakan keras. Kali ini, Peter menoleh dan menatap Aisawa tak mengerti. Lelaki itu jelas-jelas tak menampakkan perasaan bahagia sama sekali. Namun, tiba-tiba saja Aisawa merasakan sesuatu yang aneh. Dia bisa membaca pikiran Peter. Pemikiran yang rasanya amat mustahil.Keduanya sama-sama diam di tempat. Saling menatap dan terus begitu beberapa saat. Peter mencintainya? Bahkan sejak awal dia berencana ingin memiliki kekuatan Aisawa, Peter sudah menghapus mimpi-mimpinya. Peter benar-benar bodoh! Dia menculik Kirei hanya untuk membuat Aisawa memilih Madara. Peter ingin melihat Aisawa bahagia. Ancaman bahwa dia akan membunuh Aisawa pun hanya bohong. Aisawa tidak mempercayai bacaannya. Ini benar-benar konyol."Kau bodoh!" ujar Aisawa sinis. Membuat Peter menatap lebih tajam."Aku memang bodoh. Kenapa kau menahan orang bodoh ini? Aku ingin pergi." Ujar Peter lirih. Pria itu memasukkan kedua tangannya di kantung jaket tebalnya. Dingin musim dingin memang mulai dirasakan belakangan ini."Kau bodoh!" ulang Aisawa masih sinis.Peter menatap Aisawa dalam diam. Ada kemarahan yang begitu besar di mata itu. Aisawa merasakan gejolak di hatinya tidak keruan. Bukan hanya rasa ingin memiliki yang dirasakannya pada Madara. Ini berbeda. Benar-benar berbeda. Dia tidak tahu perasaan apa. Dia ingin memiliki sekaligus menginginkan lelaki itu tetap tinggal."Kau bodoh!" ujarnya sekali lagi. Peter masih diam di tempat. "Kau sangat bodoh! Sangat bodoh!" hardik Aisawa dengan volume lebih tinggi.Tanpa diduga, pria itu dengan cepat duduk di samping Aisawa. Gadis itu kaget dan hampir saja terjatuh, namun Peter mencengkeram bahunya. Detik berikutnya pria itu mencium bibir Aisawa pelan. Lelaki itu menutup mata, begitu pula Aisawa. Namun, tiba-tiba saja, Aisawa merasakan tak ada lagi dingin di bibirnya. Ketika membuka mata, Peter menatapnya dengan wajah sedih. Ada penyesalan yang sangat besar. Dan, detik selanjutnya, yang Aisawa ketahui hanya samar dan abu-abu. Tubuhnya lemas dan setengah sadar tubuhnya terjatuh ke belakang. Peter tampak kebingungan.Peter mengangkat kedua kaki Aisawa hingga tubuh keseluruhannya berbaring di ranjang. Setiap menyentuh Aisawa, itu sama saja mengambil energi Aisawa. Meskipun tidak keseluruhan energi tercabut. Dan, dia tidak ingin melakukan itu lagi."Kau bodoh, Peter." Ujar Aisawa lirih. Matanya setengah terbuka. Lelaki itu diam, namun melirik ke arah Aisawa dengan konstan.Hingga akhirnya, Peter bangkit dan hendak pergi. Namun, pergelangannya digenggam erat oleh Aisawa. Ketika dia membalik tubuhnya, genggamannya makin lemah dan beberapa detik kemudian terlepas. Kedua mata gadis itu tertutup rapat, napas yang semula konstan menjadi lemah. Peter benar-benar kebingungan. Memang sebuah larangan jika bersentuhan dengan seseorang yang berkekuatan. Siapa yang hatinya lebih lemah, energinya akan tertarik dengan mudah meskipun kenyataannya memiliki kekuatan luar biasa. Dan, Aisawa begitu lemah."Dewa, berikan dia kehidupan lagi. Aku rela menukarnya dengan nyawaku!" teriak Peter sejadinya. Tangis pecah dan mengucurkan banyak air mata di sana.Entah mengapa dia bisa selemah ini. Dia tak pernah tahu mencintai Aisawa begitu dalam. Semula dia ingin berbuat jahat dan mengambil semua kekuatan gadis lemah itu. Namun, dengan mudah pula gadis itu membuatnya jatuh cinta. Dia adalah orang bodoh yang pernah ada. Mencintai namun menyakiti. Bahkan untuk Madara yang tidak pernah mencintainya pun, Madara selalu melindungi Aisawa.☆☆☆☆☆Sudah lebih dari sebulan lamanya tak ada kabar dari Peter. Aisawa duduk diam memerhatikan salju yang turun dengan cantik. Putih dan tampak menyejukkan. Sudah sekian lama dia menunggu Peter datang, namun lelaki itu tak pernah hadir. Aisawa melangkah dengan cepat menuju ranjang kamarnya. Dia tak tahu mengapa bisa mendapatkan ilmu kecepatan milik Peter. Dia tidak ambil pusing.Tubuhnya ia baringkan pada tempat tidur yang empuk. Udara dingin yang masuk dari jendela membuatnya menggerakkan ujung telunjuk untuk menutupnya. Tertutup dan terkancing dengan sempurna. Selanjutnya, dia mulai menarik selimut ingin tidur."Dia...," suara Ikogi membuat Aisawa mengurungkan diri untuk tidur. Sejak saat kemunculan perdananya, Aisawa tak bertemu dengan Ikogi sekaligus mendengar suara lelaki setengah baya itu lagi. Ini pertama kalinya. "Dia mengorbankan dirinya agar kau tetap hidup. Dan, dewa mengabulkan. Dia sudah tidak ada di dunia sekarang." Lanjut Ikogi membuat Aisawa mengeryit tanpa tak mengerti."Dia? Siapa?" tanya Aisawa."Kawahara Peter. Dia telah membuatmu pingsan waktu itu. Kau menggenggam erat tangannya begitu erat, itu membuatmu kehilangan banyak energi. Kau tahu bukan kalau bersentuhan dengan orang jenis kalian, maka salah satu di antara kalian yang memiliki hati bersedih akan kehilangan energi. Dan, dia tak sengaja membuatmu seperti itu. Dia merasa sangat bersalah. Dia meminta dewa agar menghidupkanmu lagi. Dan, dia terima jika dia yang harus mati." Jelas Ikogi membuat Aisawa hampir menangis karena tak percaya. "Sebenarnya aku tidak percaya dia begitu mencintaimu. Saat pertama kali dia datang ke sini saat kau bangun tidur, saat dia menciummu dan membuatmu hampir pingsan, dia sangat merasa bersalah. Aku tahu, saat itu dia sudah mencintaimu." Tegas Ikogi. "Dia menculik dan berniat membunuh Kirei hanya agar kau bahagia dengan Madara. Ternyata kau mengetahui keberadaan Kirei. Akhirnya, dia pura-pura marah dan mengancammu. Dia itu sangat konyol, Aisawa." Lanjut Ikogi."Sudah cukup aku mendengarnya! Aku ingin keluar sebentar!" bentak Aisawa emosi. Dia menghapus air matanya yang sudah bercucuran deras.☆☆☆☆☆Udara malam yang dingin ditambah musim salju menjadi dingin yang luar biasa. Aisawa menyusuri jalan setapak berusaha mencari-cari sesuatu yang membuatnya tidak merasa bosan dan merindukan Peter. Namun, itu begitu sulit. Hingga langkahnya terhenti ketika melihat seseorang sedang berdiri memeluk tubuh dengan kedua tangan yang masing-masing mengenakan kaus tangan hangat. Uap putih keluar dengan cantik dari mulutnya. Aisawa terdiam masih memerhatikan, hingga seseorang di sana sadar telah diperhatikan. Aisawa mendekat dengan cepat tanpa langkah berarti."Astaga!" teriaknya refleks. Aisawa hampir tertawa dibuatnya.Lelaki itu mundur satu langkah tampak ketakutan. Kali ini, Aisawa yang terdiam sekaligus menatap penuh tanda tanya. Mengapa orang itu takut padanya. Aisawa melangkah satu kali ke depan. Membuat orang itu mundur sekali lagi hingga akhirnya dia menyerah ketika tahu tubuhnya sudah menempel di dinding. Aisawa tersenyum jahil dengan tatapan menggoda."Apa kau hantu? Kau bisa melakukan seperti tadi." Ujarnya terbata-bata.Aisawa mulai sangat kebingungan. Lelaki itu setengah gemetar, mungkin karena efek langkah Aisawa yang begitu cepat. Aisawa menjadi kesal dan tidak sabaran. Dia menjinjitkan kaki dan mencium bibir lelaki itu dengan susah payah. Lelaki itu terdiam dengan mata terbelalak kaget. Bibir basah Aisawa masih menyentuh bibirnya dengan lembut, Aisawa belum melepaskannya. Sangat lama seolah menikmatinya ketika Aisawa menyadari bahwa energi dalam tubuhnya baik-baik saja."Apa yang kau lakukan? Bahkan kita belum pernah mengenal!" teriak lelaki itu tak terima. Napasnya terengah-engah. Pipinya panas. Aisawa sama-sama terengah-engahnya. Dia tak menyangka melakukan hal bodoh seperti yang dilakukan Peter padanya dulu. Aisawa masih merapatkan tubuhnya dengan tubuh lelaki itu."Bukankah aku kekasihmu? Ini aku, Peter!" tegas Aisawa geram.Wajah itu benar-benar sama persis. Sebenarnya dia yakin kalau lelaki itu Peter. Namun, lelaki itu memang sedikit berubah, lebih lembut dan culun. Namun, masih tampan dan membuatnya rindu seperti sebelumnya. Aisawa menatap lelaki itu tanpa berkedip sekali pun melihat kebenaran yang ada di matanya. Dia sudah membaca hal yang ada di pikirannya. Lelaki itu sedang berpura-pura. Hingga akhirnya, Peter tersenyum dan tangan kanannya meraih pinggang Aisawa ke pelukannya. Tangan kiri meraih leher Aisawa dan membenamkannya ke dadanya yang bidang. Terasa hangat."Aku mencintaimu, Aisawa. Meskipun aku sudah tak punya kekuatan apa pun. Aku akan melindungimu dengan seluruh ragaku." Ujar Peter sembari mengeratkan pelukannya. Tak ada yang dilakukan. Aisawa membalas pelukan hangat Peter. Mungkin itu sudah jawaban lebih atas ucapan Peter. Peter tersenyum.

Kartini yang Salah
Fantasy
06 Dec 2025

Kartini yang Salah

Langkah berisik dari badan jalan benar-benar mengganggu. Bau rokok di mana-mana, tatapan mata yang menghujani lorong-lorong sempit perumahan kumuh. Aku marah, kesal dan segala jenis peluapan emosi negatif. Negeri ini amat busuk, sampah-sampah berserakan di jajaran lantai panggung. Panggung akademik, sosial, budaya hingga politik. Tak adakah kata yang lebih dari sarkastis lagi?Telepon genggamku berdering. Tampilan layar berubah, tertulis sebuah nama di sana. Aku langsung menjawab. "Ada apa?" pertanyaanku tak disambut.Sang penelepon menghujaniku dengan kalimat perintah. "Tak bisakah kau memulai dengan ucapan Assalamualaikum ?" aku tak menganggap itu pertanyaan. Jelas-jelas adalah sebuah kalimat perintah.Aku melakukan perintahnya. Lalu dia menjawab, " waalaikumsalam ." Aku menghela napas lega.Segala tentang konflik dan pertikaian aku selalu menghindarinya. Menjadi orang yang memiliki beberapa teman, tidak begitu pendiam dan tidak begitu mencolok adalah pilihan yang tepat. Aku ingin masa-masa sekolahku tak bermasalah. Hanya itu."Besok aku ke rumahmu. Dan aku harap kau sedikitnya menyingkirkan barang-barang menyeramkan yang menutup semua ventilasi udara," perintahnya sekali lagi. Jelas dia berucap tenang dan tidak memerintah, namun aku sangat peka terhadap ucapannya. Perintah lagi.Entah apa yang membuatnya menjadi begitu ikut campur akan tentangku.Aku menggeretakkan gigi-gigiku. Kesal. Rahangku bertautan. "Jangan memerintahku. Kau tidak paham tentang kesukaanku!"Percakapanku berlanjut dengan debat kecil tak bermakna. Entah bagaimana aku meladeni orang sepertinya. Merepotkan. Dan aku sampai di depan rumahku. Rumah biasa yang tidak istimewa. Gerbang kecil yang hanya cukup jalan untuk sebuah motor, taman dengan ukuran empat kali sepuluh meter dan selain itu tidak ada yang istimewa. Rumah tua dengan dinding terkelupas berwarna biru kusam hampir putih kecokelatan."Barang-barang menyeramkan yang menutup ventilasi udara? Ha! Yang benar saja!" gerutuku memerhatikan jejeran lukisan, foto dan beberapa jenis bingkai foto yang seluruhnya adalah tentang Raden Ajeng Kartini. Aku tersenyum. Aku mengaguminya.Purnama yang kelam lama-lama pudar dipunggungi oleh fajar. Fajar yang merah keperakan mengintip dari balik celah-celah jendela. Matanya riuh menerpa gorden. Silau. Aku perlu membersihkan diri, tindakan jaga-jaga kalau benar gadis itu datang. Rana. Ajeng Kirana. Teman kelasku itu tak pernah jera. Aku tak membencinya. Namun, aku hanya tidak ingin ada yang terlalu memedulikanku, aku tak cukup mampu menampung beberapa kebisingan dalam duniaku lagi."Saat di kelas sepuluh kau tidak seperti ini. Berjalan beriringan dengan teman-teman, membicarakan tentang pelajaran dengan antusias dan lebih ceria. Bukankah begitu?"Rana bicara terus. Benar-benar gadis yang tidak mau menyerah, bukan?Aku diam. Memerhatikan secangkir teh yang baru saja aku buat. Tak ada yang bisa menyuguhkan hidangan selain aku sendiri. Ayah telah lama meninggal dan ibu selalu bekerja pagi dan pulang larut malam. Setiap hari aku sendirian. Bahkan untuk hari Minggu seperti ini. Ya, selalu seperti. Seperti yang kubilang, tak ada yang istimewa. Kecuali rumah tua bersama bingkai-bingkai menawanku."Ini hidup bukan permainan Kartini-Kartini-an, Ni!" selalu seperti ini. Sikapnya yang sok dewasa. Aku lama-lama kesal."Dengarkan aku! Kapan aku bilang ini permainan? Aku hanya memberi pelajaran pada wanita-wanita busuk yang tidak pernah menghargai Ibu Kartini! Emansipasi yang bertahun-tahun diperjuangkannya, pendidikan yang diraihnya mati-matian dan kesetaraan derajat dengan lelaki dicampuradukkan seenaknya! Mereka pikir hidup mereka akan seperti apa tanpa Ibu Kartini yang dulu? Ha?!" suaraku parau. Napasku tersengal-sengal. Aku tahu dia tidak akan paham.Sepasang bola mata yang terfokus pada tatapanku terlihat berbinar, bulir bening menetes perlahan mendobrak pertahanan yang selama ini dibendung. Aku tidak bisa menyakiti sahabat baikku itu. Dia pertama yang kukenal di SMA, dia pun yang selalu menemaniku ketika yang lain acuh. Namun, aku telah menyakiti perasaannya. Kau tahu? Nada tinggi tidak akan menyelesaikan masalah. Dan, benar."Dengan pulang malam dan meneror teman-teman kita seperti itu?" kali ini Rana benar-benar mengajukan pertanyaan. Pertanyaan atau pernyataan? Aku hampir tak bisa membedakannya. Ironis.Aku tersenyum sinis. "Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup sendiri. Menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula."Rana bangkit dari kursinya. Dia tersenyum. Senyum yang tidak aku kenal. Sebuah senyum dipaksakan.Kursi rotan itu kini kosong. Tak ada yang tertinggal di sana. Hanya mataku yang masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah muram dan mata indahnya meneteskan air mata. Tak ada ingatan lain selain itu. Tak ada. Cukup rasa bersalah yang membuatku ingin tenggelam lebih dalam atas kebencianku.Seperti malam biasanya, bising dan bau-bau khas. Selalu ada wanita-wanita busuk yang membuat negeri ini menjadi penuh tumpukan sampah. Ucapan-ucapan yang berbisa dan lebih beracun dari bisa ular kobra. Lidah yang tajam menusuk-nusuk hingga menghancurkan tulang-tulang. Sikap yang kotor, bau busuk dan tak mampu dibersihkan meskipun berbulan-bulan. Negeri ini akan hancur. Terlalu sarkasme memang."Benar-benar konyol. Kalau saja tidak ada Kartini di masa lalu, aku tidak akan melihat lembar soal ini! Benar-benar menyebalkan. Aku benci sekolah!" Ucapan dari salah seorang gadis di kelas, memulai riuh tawa di tengah-tengah ujian.Aku mendapati lirikan Rana kepadaku. Dia benar-benar tak bisa berhenti mencampuri urusanku. Aku memalingkan pandanganku. Berusaha tenang dan mengendalikan emosiku. Bagaimana kau menahan emosimu ketika seseorang mencemooh idolamu? Aku sungguh tak mampu.Dunia yang busuk. Seharusnya dia berpikir, bagaimana hidupnya sekarang tanpa Ibu Kartini. Apa dia akan mampu melangkahkan kaki keluar rumah? Ha! Aku selesai memberinya pelajaran. Kuharap dunia akan lebih baik."Apa yang kau lakukan kali ini? Apa dia benar-benar keterlaluan? Dia hanya bercanda!" sudah kuduga, dia memerhatikanku. Dia tidak benar-benar pulang sekolah.Aku tersenyum sinis. "Menguntit? Aku hanya ingin menolongmu." Dia benar-benar Rana yang selalu ikut campur.Headset kupautkan pada kedua lubang telingaku. Mengenakan tas punggung dan kemudian berlalu pulang seperti biasanya. Sangat biasa dan tak ada yang spesial. Suara dengungan dari musik yang aku putar terus menggema di telingaku. Mataku menatap jalanan yang selalu ingin kupalingkan. Namun, ini negeriku. Aku tak bisa keluar atau harus pindah. Ke mana? Aku hanya harus membersihkan sampah-sampah yang bertumpuk dan lama-lama mungkin akan menyebarkan banyak penyakit."Menyontek? Apa kau pikir orang tuamu menyekolahkanmu hanya untuk ini? Mereka mencari uang siang dan malam hanya untuk membuatmu belajar dan tahu banyak hal! Dan yang membawamu ke sini. Raden Ajeng Kartini. Aku rasa dia akan malu, memperjuangkan kaum untuk bisa menuntut ilmu namun menyalahgunakannya. Kaum yang diperjuangkannya seperti sampah busuk yang harusnya dibuang!" seisi kelas menjadi riuh dan bising. Jelas aku gagal menjadi gadis biasa yang tidak mencolok.Wanita di hadapanku bersungut-sungut. "Ha! Lelucon macam apa ini?!" teriaknya tepat di depan wajahku. Ada beberapa percik air yang mengguyur wajahku."Ucapanmu benar-benar kasar! Untuk seorang yang sangat mencintai Kartini, apakah pantas menyakiti perasaan kaum wanita yang lain?" Rana menimpaliku.Sesaat semuanya gelap, tak ada suara aneh selain sorakan dan hardikan. Aku hanya bisa berlari dan meninggalkan kelas. Pengalaman mengesankan. Jika ini adalah sebuah panggung teater, kurasa banyak yang akan berdiri dan bertepuk tangan.Ingatan itu muncul kembali.Sejak kejadian itu, aku tak memiliki teman satu pun. Semuanya menganggapku aneh, kasar dan psikopat. Meskipun anggapan mereka tidak salah. Aku duduk di ruang baca Perpustakaan. Tak ada yang mendekatiku. Untuk sebuah sekolah khusus wanita, tentu wajar untuk perjalanan gosip yang lebih cepat dari kecepatan cahaya. Meskipun itu bukan gosip, jelas-jelas adalah fakta."Apa kau tahu rasanya dicambuk berdarah-darah? Itulah harga dari pelecehan atas sikap terpuji Kartini." Suara itu kubuat berulang dengan nada suara berbeda. Musik pengiring pun aku sisipkan dengan lagu-lagu penyiksaan. Membayangkannya saja aku sudah ngeri. Aku tak ingin memutarnya ulang. Kemudian aku kirim ke pembuat masalah.Esok paginya sudah bisa kubayangkan. Tak ada kabar beredar. Ancamanku sempurna. Seusai dipermalukan, pengumuman bahwa sang pembuat masalah itu pindah sekolah adalah kabar bahagia bagi kami. Lebih tepatnya bagiku. Untuk membuat sebuah negeri bebas sampah, harus dimulai dari lingkungan yang kupijak dahulu. Aku yakin, aku berhasil. Agar benar-benar bersih, kau harus membuangnya satu persatu terlebih dahulu."Nanti malam aku akan berdandan paling cantik. Aku yakin, dia akan meninggalkan kekasihnya yang buruk rupa itu! Bagaimana bisa dia menolakku dan memilih seorang gadis buruk rupa?!" dunia benar-benar busuk.Mataku memejam sesaat kemudian kutemukan ide bagus. Aku melanjutkan membaca bukuku. Tak akan ada lagi sampah yang berserakan. Sampah harus dibuang pada tempatnya.Purnama berada di pusat langit. Tampak berbintang dan menyilaukan. Sangat indah. Aku menyukai keadaan ini. Seperti diperhatikan oleh banyak hal, walaupun itu hanya alam. Jika alam mendukung, bagaimana manusia-manusianya tidak? Aku hidup di masa dalam asa yang tak kunjung nyata. Angan-angan itu selalu memburuku, membuatku terus bekerja keras menyapu bersih deretan sampah-sampah. Aku pun membenci ibuku. Untuk seorang wanita yang emansipasinya diperjuangkan Ibu Kartini, mengapa dia melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu? Menghabiskan waktunya untuk berhura-hura.Bagaimana pun aku paham, pekerjaannya tak selarut yang aku lihat. Banyak sampah di mana-mana. Aku perlu menyingkirkannya. Darahku mendidih, menyumbat paru-paru bersama tekanan darah yang terus berpacu dengan cepat. Aku marah. Kesal. Kecewa."Dia di Rumah Sakit, wajahnya iritasi. Kata dokter, make up yang dia pakai mengandung obat-obatan berbahaya." Kabar bahagia sekali lagi. Dan, topik ini membawa aku pada harapan yang lain. Kadang ujian adalah hal yang dapat membuat orang sadar. Kurasa inilah balasan untuk orang-orang yang tidak menghargai perjuangan Ibu Kartini.Bangku itu masih kosong sejak kepergian Rana dengan meninggalkanku bersama ucapan terakhir kalimat Kartini yang ditulis pada suratnya.Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup sendiri. Menolong diri sendiri. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.Tak seperti aku, dia hanya tahu dan tak begitu mencintai Kartini. Kehidupan nyaman, hedonis dan bersama jutaan spekulasi kemanusiaannya yang salah. Kemanusiaan macam apa yang mendukung wanita-wanita berbuat salah? Dan dari semua hal, dia tak pernah paham atas pemikiranku.Alasan aku memasang bingkai-bingkai di dinding-dinding rumah. Aku hanya sekedar membuat ibuku paham. Bisakah ia menjadi seorang wanita seperti Kartini yang berbudi luhur dan mencintai keluarganya.Suara-suara deru mesin kendaraan begitu khas. Suara bising hilir mudik bersama bunyi-bunyi klakson mobil dan motor. Seperti biasa. Maka, seperti biasa pula aku melangkahkan kaki menuju sekolah setiap jam enam hingga sampai ke sekolah jam enam tiga puluh pagi. Lagi-lagi tak ada yang istimewa, karena semuanya dapat melakukan apa yang kulakukan.Sebuah kelas yang monoton dan tak menyenangkan. Namun, aku sedang menunggu kabar kemarin. Sesuatu yang aku letakkan di dalam laci meja wanita yang dengan beraninya melecehkan Kartini. Sedikitnya ini akan memberikan sesuatu yang menarik untuk hari ini."Seperti bau bangkai tikus." Ucapan salah seorang teman kelasku membuatku memalingkan wajah ke arah mereka karena penasaran. Rana. Lagi.Sang pemilik meja hanya menggeleng seolah tak mencium bau apa pun. Aku benar-benar gagal. Akan kucoba lain kali. Atau aku perlu menyingkirkan sang pengganggu terlebih dahulu? Aku ingin melakukannya. Aku tak akan dapat membuang sampah ketika tempat sampah tertutup rapat dengan penutupnya."Aku harus menolongmu." Ucapannya setengah berbisik ketika jam pelajaran berlangsung, suaranya tergantung di kerongkongan. Matanya terlihat tulus. Namun, aku tidak sedang membutuhkan bantuan. "Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri." Dia mulai bersikap bak pujangga. Ocehan yang menyebalkan.Riuh suasana kelas lebih ramai setelah bunyi bel berdentang. Aku tersenyum sinis. "Kau benar-benar pengkritik sekaligus penguntit." Aku bangkit dari tempat dudukku, memasukkan buku dan beberapa alat tulis di dalam tas."Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang. Atas dua kalimat ini, aku perlu membersihkan hal-hal buruk itu," ujarnya. Setelah kalimat itu, tak ada lagi yang perlu dibicarakan.Bola lampu kamarku berkedip-kedip, setelah beberapa lama terulang, lampu kamar padam. Benar-benar gelap total. Cahaya satu-satunya yang muncul adalah dari layar telepon genggam samping ranjangku. Kali ini sebuah nomor tidak dikenal."Apa?!" teriakanku menggema di seisi rumah beserta diikuti rasa dingin dari pipiku, terasa lembab dan basah. Kali pertama aku menangis bukan karena Kartini.Jalanan koridor rumah sakit terasa lenggang. Tak banyak orang-orang yang berada di depan kamar inap. Jantungku berdegup dengan cepat, pipiku panas sekaligus dingin seiring air mata yang membanjiri. Peredaran darahku serasa tidak normal, jemariku gemetar bersamaan dengan gigi-gigi yang bergemeretak. Duduk di depan ruang IGD sedikit mengganggu, namun setelah itu aku merasa nyaman." Assalamualaikum , Anak Baik." Sebuah suara halus bersama jemari yang lembut membelai rambutku dengan sangat nyaman. Senyum yang selalu kurindukan, wajah yang selalu kuimpikan, mata bening yang meneduhkan dan pelukan yang menenangkan.Bibirku bungkam. Mataku berkaca-kaca karena bahagia. Wanita di sampingku kini, benar-benar sangat menawan. Aku benar-benar menyayanginya." Assalamualaikum , Anak Baik." Dia mengulang kalimatnya seolah menegaskan sekali lagi. Benar-benar suara merdu bak kicauan burung gereja di pagi hari.Bibirku membentuk bulan sabit kecil. Aku benar-benar merasa sebagai orang paling beruntung di dunia seketika." Waalaikumsalam , Bu," ujar wanita itu.Wanita itu kembali membelai rambutku yang kusam. Tangan halusnya merambah hingga akar-akar rambut seolah memberikan energi positif pada akar-akar rambut, saraf-saraf rambut hingga ke otak. Sihir apa yang digunakannya?"Dulu aku seperti kamu. Membenci mata yang melihat tak seronok, membenci badan yang dijajakan, membenci kaki yang salah berpijak dan membenci bibir yang bau busuk," ujarnya dengan suara-suara lembutnya.Aku mendengarkan dengan saksama. Nada bicaranya tenang dan menenangkan. Aku masih mendengarkan tak mengalihkan pandangan sedikit pun."Kemudian aku sadar. Apa gunanya meminta orang lain menjadi berlian ketika aku sendiri hanya sebongkah besi berkarat?" dia berhenti bicara sebentar. "Apa gunanya meminta orang lain naik undakan ke lantai tujuh menggapai langit ketika aku sendiri merobohkan lantai-lantainya?" lanjutnya.Mataku berbinar. Bukan terharu. Hanya menjadi sedikit sadar atas segala sikapku yang telah menyimpang terlalu jauh. Bahkan air mata ini pun seakan tak berguna lagi."Apa gunanya meminta orang lain membuat pelangi indah setelah hujan ketika aku sendiri menjadi mendung yang datang bersama petir menggelegar?" ucapannya yang halus dan sinis membuatku kembali terdiam dan membuat bulir bening turun perlahan.Kurasakan belaiannya sekali lagi. Mata sayu yang membuatku rindu. Suara merdu yang merengkuh kalbu. Bibir merah membiru yang membuat rasaku haru."Ketika kau sangat mengagumiku, maka dekatlah denganku. Semut akan bergaul dengan semut, ular akan bergaul dengan ular dan kupu-kupu akan bergaul dengan kupu-kupu. Maka, di antaranya seharusnya tidak berkhianat. Kala kau mengagumiku, maka dekatlah denganku. Jangan membuat sikap yang membuatmu jauh," ujarnya lagi membuat air mataku deras membasahi pipi, entah berapa sudah berapa lama aku menangis.Abu-abu. Semuanya menjadi pudar dan samar-samar. Mata sayu telah hilang dibawa kelam, suara merdu tak lagi terdengar dan pelukan hangat samar-samar direngkuh oleh gelap kemudian tenggelam. Wajah yang kurindukan kini hilang. Meninggalkanku bersama secercah harapan yang hampir tak tertinggal. Sebuah cahaya membangunkanku dari lelapku. Terlalu nyata untuk sebuah mimpi."Ibumu telah sadar dari pingsan. Tak seperti yang kau lihat. Perusahaan bos ibumu telah bangkrut setahun lalu. Ibumu kemudian menganggur dan bekerja dari pagi sampai malam di restoran ayahku. Dia memintaku tak membicarakan ini denganmu. Dia terlalu peduli padamu, tidak ingin membuatmu sedih kemudian memikirkan masalahnya. Dia hanya ingin kau terus bersekolah. Kau tahu? Dia sangat mencintai Kartini. Dia mengabadikannya pada namamu. Sempurna bukan?" Ucapan Rana membuatku bungkam.Air mataku semakin deras mengucur. Tak mampu kutahan lagi bendungannya."Kurasa ucapanku tetap tak akan kau gubris. Hanya Kartini yang akan membuatmu sadar. Wanita itu cantik, bukan?" ucapan Rana membuatku terbelalak kaget, kemudian aku memeluk gadis itu erat.Sepertinya tak ada yang perlu aku bahas lagi. Aku tak ingin berhenti. Akan kulanjutkan perjuangan Kartini. Bukan hanya kulanjutkan perjuangan Kartini, namun akan kulindungi harta berharganya, wanita Indonesia.

Utopis
Fantasy
06 Dec 2025

Utopis

Seperti biasanya aku menyukai sudut kamar ini. Sebuah kursi kayu tua dipernis sedemikian rupa hingga mengilap. Aku sedang duduk di atasnya. Seraya itu aku melirik sebuah jam dinding kuno yang besar di kamar apartemen ini menunjukkan pukul 2 dini hari. Dan dari tempat aku berada ini, aku memerhatikan mantan kekasihku. Kami putus hubungan tiga tahun yang lalu. Dia sudah memiliki kekasih baru. Berbeda dengan janji yang pernah diucapkannya dulu akan setia padaku. Bullshit!Lelaki berusia dua puluh lima tahun itu menarik selimutnya hingga menutup seluruh bagian tubuh kecuali wajah. Lampu kamar dimatikan. Hanya lampu tidur redup dengan cahaya remang-remang yang menyala. Namun, wajah tampannya masih terlihat sangat jelas di mataku. Dia seperti tiga tahun yang lalu saat kami sama-sama masih duduk di bangku kuliah. Tidak ada yang berubah, bahkan kamar apartemen ini sekali pun. Hanya saja mungkin hatinya telah berubah. Ia sudah menyerahkan hatinya yang selalu kudambakan pada wanita lain. Entah aku harus sedih atau bahagia.Aku tidak bisa tidur semalaman. Sejak aku kembali ke tempat ini, aku melupakan rasanya memejamkan mata. Tentu saja karena aku lebih menyukai wajah tampannya ketika dia tertidur. Mungkin aku masih mencintainya. Ya, kurasa sangat mencintainya.Waktu berlalu begitu cepat. Kali ini menunjukkan pukul 6 pagi. Ketika dia bangun dan menuju kamar mandi, aku buru-buru ke dapur. Membuka lemari makan dan mencari sesuatu yang bisa dimasak dan dimakan untuk sarapannya. Aku tidak menemukan apa pun kecuali stoples gula dan stoples garam. Akhirnya aku menuju ke kulkas dan menemukan beberapa roti tawar dengan pelengkap untuk membuat sandwich . Ya, dia sangat menyukai sandwich , aku sering membawakannya sandwich setiap pagi ke kamar apartemennya sebelum kami berangkat kuliah bersama.Aku memanaskan mentega pada wajan, kemudian menggoreng telur setengah matang. Selanjutnya memanaskan roti tawar pada panggangan. Ketika roti terlihat sudah kecokelatan, aku meletakkannya pada piring dan menyusunnya. Dimulai dari satu lembar roti bakar, kemudian daun selada, potongan tomat dan tanpa potongan mentimun. Dia tidak menyukai mentimun. Kemudian setelah potongan tomat, aku meletakkan telur yang sudah digoreng sebelumnya, menuangkan saus manis, saus pedas, mayonnaise , taburan sedikit keju dan menutup dengan selembar roti tawar. Sangat lengkap.Terbilang cukup lengkap untuk membuat sandwich , bagaimana pun ia memang hanya butuh makanan itu selama beberapa bulan belakangan. Selanjutnya, aku meninggalkan sebuah catatan kecil. Aku harap dia menyukainya seperti dulu.Aku tidak kembali pada tempatku. Aku memilih ke ruang tamu, karena bersamaan dengan selesainya dia berganti pakaian setelah mandi, seseorang menekan bel kamar. Aku memerhatikan wajahnya dari layar belakang pintu. Penampakan yang sering aku lihat, seseorang di sana adalah orang yang foto-fotonya banyak dipajang di berbagai ruangan di kamar ini. Aku sudah menelusuri semuanya. Mulai dari kamar ada dua buah foto, ruang tamu ada sebuah foto besar, dan dapur hanya memiliki satu foto kecil. Lebih tepatnya, ia mengganti semua foto-fotoku sebelumnya."Sebentar!" teriak mantan kekasihku dengan tegas. Dia buru-buru berhambur keluar kamar dan menuju pintu apartemen. Dia sudah lengkap dengan pakaian kerjanya, hanya saja rambutnya yang basah masih bertopikan handuk.Pintu dibuka. Seorang wanita seumuran denganku masuk tanpa dipersilakan. Pria dengan rambut ditutup handuk itu menutup pintu, kemudian kembali menuju balkon untuk menjemur handuk. Setelah itu dia hendak menuju ruang tamu lagi, menikmati sarapan yang dibawa kekasihnya, namun dia terhenti di dapur. Mungkin, aroma sandwich buatanku mulai memasuki rongga-rongga ruang penapasannya.Dia terkejut ketika memerhatikan catatan kecil di sebelah piring sandwich , suara teriakannya yang tidak terlalu lantang tetap membuat kekasihnya datang ke arahnya."Ada apa, Lex?" tanya wanita itu tanpa panggilan sayang. Membuatku menjadi ingat ketika kita masih menjadi sepasang kekasih, Alex memang tidak suka dipanggil sayang atau semacamnya. Sebagai bukti, wanita itu memanggil kekasihnya hanya dengan sebutan nama, Alex. Telapak tangan kanan bagian kanannya, menyentuh bahu Alex."Kau membawakanku sandwich ?" Alex balik tanya. Kekasihnya menggeleng. "Lalu, siapa yang meletakkan ini di sini? Apa seseorang yang ingin menyebarkan teror?!"Alex menunjuk sandwich buatanku. Sesaat dia mampu membuatku sakit hati, hati ini teriris begitu saja dengan mudahnya, membuatku menangis dengan tertahan. Walaupun sebenarnya aku tahu, suaraku tak bisa didengarnya."Helena?" wanita itu membaca catatan kecil yang kubuat. Lebih tepatnya pada bagian bawah catatan, sebuah nama pengirim, namaku. "Apa maksudnya ini? Helena? Kekasihmu yang mati kecelakaan itu? Orang konyol macam apa yang mempermainkan permainan bodoh seperti ini? Ha! Mana ada orang mati gentayangan! Pasti dia lagi sibuk disiksa di neraka!" wanita itu tertawa seenaknya. Aku geram. Namun, aku tidak bisa melawan. Namun, kudapati wajah Alex sama marahnya."Jangan berkata sembarangan tentang Helena!" Alex berteriak lantang di depan wajah kekasihnya. "Aku memang tidak percaya dengan hal semacam ini. Tapi, aku lebih tidak suka mendengar seseorang menjelek-jelekkannya! Dia adalah hal yang paling berharga di dunia ini. Melebihi siapa pun!" kata-kata Alex masih bernada tinggi, namun mampu membuatku sekaligus kekasihnya terdiam.Selama kematianku, bahkan dia masih sangat mencintaiku. Aku melangkah mendekatinya, membelai rambutnya yang hitam legam, meskipun itu hanya menembus saja. Aku mencium pipinya dan hal yang sama terjadi. Ini adalah hal paling utopis. Aku tidak bisa menggapainya bahkan ketika aku bisa melakukan apa pun."Helena?" suara Alex terdengar lirih. Apa dia bisa merasakan keberadaanku?Kekasihnya terdiam. "Kau sudah benar-benar gila, Lex! Hubungan kita berakhir di sini! Aku tidak sudi diselingkuhi olehmu hanya karena setan gentayangan!" wanita itu berhambur pergi, mengambil bekal makanan dan juga tas jinjingnya.Alex tak mendengar ucapan marah dari kekasihnya.Dia memanggilku kembali. "Helena?" suaranya masih sama-sama lirih seperti tadi.Aku bingung harus melakukan apa, namun Alex benar-benar menyadari keberadaanku. Akhirnya, kuambil sebuah buku catatan di ruang tamu dan kembali. Kuterbangkan sebuah catatan di hadapannya. Catatan itu berisi tulisan.Aku di sini, Lex. Apa kau baru menyadari kalau aku selama tiga tahun ini berada di sampingmu?Alex membaca perlahan catatan itu, dia selalu takut dengan hantu dan aku sadar aku telah membuatnya takut. Namun, ada secercah senyum di bibir manisnya."Kenapa baru sekarang datang? Kenapa tidak sejak dulu? Kenapa kau biarkan aku mengkhianatimu dengan seorang wanita sialan sepertinya! Aku tidak pernah mencintai wanita itu! Aku hanya mencintaimu, Helena!" teriakan dengan deru napas dan diiringi tangis yang mengucur di sudut matanya menampakkan cahaya kemilau yang sangat terang. Hingga aku pun silau melihatnya.Semenit kemudian, aku bisa melihat Alex dengan jelas. Bahkan, senyum yang lebih manis ada di bibirnya. Aku merindukan senyum yang entah berapa lama tak pernah aku lihat lagi. Tidak. Ini bukan senyum yang seperti kubayangkan. Dia sedang tersenyum padaku. Dan, dia mampu memelukku dengan erat.Apakah ini mimpi? Namun, sebagai hantu gentayangan, aku tidak mungkin bisa tertidur apalagi bermimpi? Lalu, apakah ini kenyataan? Bagaimana bisa? Entah ekspresi apa yang harus kusuguhkan.Aku benar-benar senang merasakan pelukan dari seseorang yang sangat kucintai ini. Karena ini benar-benar nyata. Bukan angan seperti biasanya. Utopiskah? Absolut.***Wajah Alex terlihat penuh senyum bahagia setiap harinya setelah kedatanganku sebulan yang lalu. Ya, sebulan penuh dia sangat bahagia. Dia selalu berkata bahwa penantiannya selama tiga tahun tidak sia-sia. Bahwa pengharapan dan keteguhan hatinya yang tetap mempertahankan cintanya untukku tidak pernah sia-sia. Sebenarnya, aku tahu betul bukti itu, karena selama tiga tahun aku bersamanya, meski hanya menjadi sebuah penonton yang sedang menonton aktor memainkan skenarionya."Siapa yang sedang kau perhatikan, Lex?" pertanyaan itu milik, Matthew, dia adalah teman Alex sejak SD. Aku cukup mengenalnya.Mendengar pertanyaan itu, Alex hanya senyum-senyum sambil memandangiku penuh rasa bahagia. Rasanya, dia mulai benar-benar gila, seperti apa yang dikatakan Matthew. Aku memerhatikan Alex sambil tertawa."Apa sebulan putus dengan Evelyn membuatmu gila?" Alex masih tidak menjawab. "Habiskanlah makananmu. Waktu makan siang kita hampir habis. Bos akan marah besar jika kita telat masuk kantor." Ujar Matthew lagi. Dia begitu cerewet."Aku tidak lapar. Pergilah lebih dulu." Alex mendorong sepiring Taco padaku yang berada tepat di hadapannya. Matthew yang duduk di sebelahnya hanya bingung.Ketika Alex menatapku untuk menghabiskan makanan di hadapannya, aku langsung bergegas memenuhi perintahnya. Matthew sedang mengalihkan pandangan, ketika bersamaan. Piring itu kudorong hingga ke depan Alex. Agar terlihat Alex yang menghabiskannya. Permainan kecil ini membuatku senang. Namun, tak akan kulakukan lagi di depan umum, aku takut banyak orang yang menjauhi Alex."Akhirnya kau menghabiskannya juga. Sangat cepat dan bersih."Matthew bangkit dan berlalu meninggalkan Alex yang belum juga bangkit dari tempat duduknya. Lelaki berambut pirang itu sudah meninggalkan Alex.Aku tersenyum memerhatikan tingkat kedua sahabat ini. Mereka sering sekali bertengkar, meskipun hanya pertikaian kecil yang mereka sukai."Kau itu bukan hantu. Masih seperti bidadari yang sama sejak tujuh tahun yang lalu aku mengenalmu. Dan, kali ini aku beruntung. Hanya aku yang bisa melihat kecantikanmu. Mereka tidak berhak melihatmu."

Menyekap Rasa
Romance
06 Dec 2025

Menyekap Rasa

Aku duduk pada sebuah sofa single pada ruang tamu yang cukup luas ini, dengan suguhan secangkir teh yang asapnya masih mengepul juga setoples kue kering yang sengaja di buat oleh ibunda dari orang yang ku cintai, Roki.Aku sudah disini terhitung sejak dua puluh menit yang lalu, tapi rasanya sudah seperti berabad-abad, pacarku tercinta itu sedang keluar sebentar mengantar berkas untuk ayahnya yang katanya tertinggal. Niat pacarku itu baik, ingin mengenalkan aku pada keluarganya dengan niat ingin serius padaku tentu saja aku senang tapi aku rasa aku yang terlalu memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.Oh ayolah, hubungan kami memang masih 9 bulan lamanya namun aku merasa sudah seperti bertahun-tahun dengannya. Sebenarnya aku juga sudah beberapa kali berkunjung kerumahnya. Namun suasana ini selalu saja ku benci.Bagaimana tidak benci jika ketika kamu berkunjung ke rumah calon mertua tapi ada perempuan beratas namakan mantan pacar kekasihmu ada disana?Bahkan ia sok asik sekali dengan calon mertuaku. Bolehkah aku marah? Ketika aku masih bertamu disini tapi mereka mengobrol dengan penuh keseruan canda tawa"Di minum tehnya, Tasya" ucap ibunda Roki dengan lembut.Bibirku yang telah ku poles dengan lipstik berwarna rose tersenyum sambil menjawab "Iya tante""Kuenya juga di makan, kemarin tante buat sama Caca itu" tambahnya lagi yang rasanya hatiku seperti di remas."Iya, Sya. Cobain deh enak." Caca selaku mantannya ikut menimpali dengan sok akrab.Aku hanya mampu tersenyum seraya mengangguk canggung berada disini. Padahal kesini juga aku membawa oleh-oleh buatanku bernama puding tapi langsung dimasukkan kulkas.Apakah kalian bisa membayangkannya?Aku selalu merasa sakit hati jika berada di posisi ini. Aku juga sudah mulai berlapang dada saat ini. Karena mungkin memang mereka sedekat itu, Caca adalah anak dari teman bundanya Roki.Bukan aku tidak pernah mengungkapkan isi hatiku mengenai mantan dan bundanya, tapi Roki selalu saja berhasil menenangkan hatiku dari kekalutan ini. Bahkan aku tidak tahu alasan mereka berpisah karena apa. Aku hanya meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.Sambil memandang mereka, aku mulai menyesap tehku yang mungkin sudah hampir dingin."Seru banget ceritanya" ucap Roki saat telah tiba di rumah langsung mengecup keningku, yang ku yakini terlihat Caca sedikit memalingkan wajahnya tak ingin menatap kami.Biarkan saja. Agar ia tahu, Roki mencintaiku. Boleh aku tertawa untuk sedikit menekan ketakutanku."Ini si Caca cerita kemarin dia ikut lomba masak lawannya ada yang salah gitu, mau masukin gula malah garam banyak pula." Jawab bundanyaRoki menatapku sekilas, kurasa ia mengerti perasaanku."Sudah mulai sore, Kita pulang saja ya. Biar bisa jalan-jalan bentar nanti." Ucap Roki padaku.Belum sempat ku buka mulut menjawab bundanya langsung berkata "Antar Caca sekalian ya, Ki.""Eh tidak usah. Aku pulang sendiri saja" jawab Caca"Sudahlah Caca ikut Roki saja, sekalian" sahut bundanya lagi"Tapi.." ucapan Roki terpotong"Bolehkan, Sya? Jika sekalian bareng sama Caca." Ucap bunda Roki padakuMemangnya aku memiliki jawaban apa lagi selain iya? Ku lihat juga Roki diam saja sambil menatapku. Dengan terpaksa aku menjawab "Iya boleh, tante"Lalu segera aku berpamit pada orang tuanya dan mulai berlalu.Roki membukakan pintu mobil untukku duduk di depan tapi dengan cepat Caca mendahuluiku dengan cepat di depan mengundang protes dari Roki."Kamu tahukan aku tidak suka duduk di belakang?" Ucap Caca"Baiklah, kamu menyetir biar aku di belakang sama Tasya" balas Roki tak mau kalah. Aku terlalu lelah jika menghadapi mereka yang selalu seperti ini jika sudah bersama."Tapikan aku..""Sudahlah, tidak apa-apa. Aku di belakang saja" ucapku mengalah, tidak ingin memperpanjang situasi. Lagipula kami hanya perlu mengantarkannya saja pulang setelah itu selesai.Saat di jalan, Caca selalu mengajak Roki berbincang yang di balas Roki hanya deheman atau bahkan diam saja. Ku lihat Roki melirikku dari kaca depan, tanpa kata aku hanya memalingkan wajahku ke arah samping jendela mobil."Sayang.." ucap Roki padaku dengan tatapan masih pada kacaDiluar dugaanku, Caca maupun aku, kami sama-sama menjawab "Iya" secara bersamaan. Aku berdecih, Caca langsung salah tingkah lalu berkata "Sorry.. aku lupa."Apakah itu jawaban?Ku lihat Roki memandangku dengan tatapan meminta maaf. Aku sudah tidak peduli.Usai dengan mengantar Caca kerumahnya, ia sempat menawarkan kami untuk singgah yang langsung di tolak oleh Roki. Syukurlah, karena jika ia mau, aku akan langsung pulang naik apk online warna hijau itu.Jangan berharap ada drama, begitu Caca turun akupun langsung pindah ke depan disamping pengemudi."Maaf yaa" ucap Roki padaku yang hanya ku balas deheman, memangnya aku harus jawab apa lagi"Kamu tahukan..""Iya aku tahu, Caca sudah seperti anak bundamu, bukan? Atau juga seperti saudari untukmu" ku potong ucapannya dengan kalimat yang selalu ia katakan padaku."Sayang, kita makan di tempat lamongan yang pernah kamu tunjukin itu ya. Aku suka, sambalnya mantap sekali"Ya aku tahu ia tidak ingin memperpanjangnya sehingga ia mengalihkan pembicaraan. Ku tarik nafas untuk menetralisir emosiku.Kami memesan makanan, sesekali ia menyuapiku. Aku mengunyah makanan sambil memperhatikan wajahnya, sungguh aku mencintainya. Tak ada sedikitpun meragukan cintanya tapi kedatangan masa lalunya yang berturut-turut dalam hidupku yang menekanku untuk meragukan dia.Aku ingat kala pertemuan awal dengannya, saat itu kami bertemu di toserba mengantri untuk membayar belanjaan tapi aku lupa membawa dompet, lebih tepatnya tertinggal di mobil mungkin karena usai membayar bensin sehingga lupa memasukkan kembali di tas. Sungguh memalukan, jumlah yang ku beli juga sekitar dua ratusan ribu.Aku membalikkan badan, Roki yang di belakangku tersenyum lalu langsung membayarkan tagihanku."Sekalian sama yang ini, mbak" ucapnyaSuaranya yang maskulin juga aroma parfum menyeruak di hatiku membuatku terpesona. Usai membayar aku menunggunya dan berjalan keluar bersama."Terima kasih. Sebentar aku ambil uang dulu" ucapkuTapi ia langsung dengan cepat menggeleng dan mengatakan "Kamu boleh membayarnya lain kali ketika kita bertemu lagi"Aku mengerutkan keningku, kenapa harus bertemu lagi bukan? Ayolah kami tidak saling mengenal.Ia menaikkan tangannya "Aku Roki"Aku tersenyum membalasnya "Tasya"Ia memberikan ponselnya, "Tuliskan nomor ponselmu aku akan menghubungimu untuk tagihan itu"Aku tertawa sebelum menjawab "Kamu perayu ulung ternyata" tapi juga ku tuliskan nomorku disana.Ia balas tertawa dan mengatakan "Aku akan menghubungimu nanti" ucapnya yang ku angguki dan aku masuk ke dalam mobilku.Selang beberapa waktu tepatnya dua bulan kemudian dia menelponku untuk bertemu di suatu kafe, waktu yang cukup lama membuatku hampir lupa.Bahkan ku tebak pertemuan kami saat itu, ketika ia sedang patah hati. Ia tidak mengatakan dengan jelas alasannya dan akupun juga tak ingin tahu. Namun dari sinilah kami mulai dekat hingga akhirnya menjalin hubungan.Tunggu, apakah aku hanya pelarian?Uhukk.. uhukk..Aku tersedak akibat pikiranku, dengan cekatan dia mengambilkan minum untukku juga menepuk pelan punggungku sambil mengatakan "Sudah enakan?" Yang ku balas anggukan juga senyuman kecil.Seusai makan kami berkeliling kota sebentar, tangannya tak lepas dari menggenggam tanganku.Setelah itu ia mengantarkanku pulang, sebelum turun dari mobil ia menahanku dan berkata "Ku mohon bersabarlah.. Aku akan selalu menjaga jarak padanya. Kamu harus percaya bahwa aku mencintaimu, sangat." Ucapnya padaku.Aku tersenyum, dia menarikku ke dalam pelukannya juga mengusap pelan punggungku. Menenangkanku.Setelah itu aku turun, ia juga turun untuk pamit pada bundaku di dalam sebelum pulang."Roki" panggilku sebelum ia beranjak masuk mobilIa membalikkan badannya menatapku penuh tanya "Boleh aku tahu kenapa kalian berpisah?"Ia mengerutkan keningnya penuh tanya. "Aku sudah pernah mengatakan alasannya, bukan?""Tidak cocok?" Aku menghela nafas "Bagaimana jika suatu saat kita tidak cocok? Kamu akan melepaskanku juga bukan"Ia menggeleng cepat "Sayang, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku pamit pulang dulu" balasnya lalu mengecup keningku pergi dengan rasa bingungku.Selalu begini. Tidak tahu bagaimana ujungnya, rasanya hubunganku dengan Roki masih berjalan di tempat.---Jam telah menunjukkan angka 4 artinya aku bisa pulang setelah hampir seharian bekerja apalagi tidak ada kerjaan tambahan. Renal selaku teman kantor sekaligus teman yang baik untukku sedari aku kecil mengajakku pulang bersama.Tentu saja aku tidak menolak, aku tidak menolak karena tadi pagi aku ke kantor di antar Roki sehingga tidak membawa kendaraan juga rumah kami yang searah.Begitu aku masuk ke dalam mobilnya, Renal mulai menjalankannya perlahan."Makan dulu ya, Sya. Laper juga ni biar sampai rumah bisa langsung tidur""Boleh deh. Kamu gak bareng Ani btw"Dia tertawa singkat "Kamu ngejek aku kan. Si Ani aja yang GR cuma di tolongin bayar tagihan di toserba karena dia lupa bawa dompet"Aku tertawa singkat karena mengingatkanku kisahku dengan Roki."Halah.. kemarin juga pulang bareng" balaskuDia makin tertawa keras "Dia ngekorin mulu, Sya. Kasian"Dan ku balas tawa, Renal sudah sangat dekat dengannku. Jangan salah paham, kami hanya berteman yang kebetulan kami satu kantor juga."Nah kita makan disitu ya. Lagi Hits ini tempat. Biar cuma kaki lima tapi kualitas bintang lima" ucapnya yang membuatku tertawa"Sudah kayak sales kamu, Ren"Kamipun turun, ia memesankan makanan disini. Aku bahkan tidak boleh mengucapkan pesananku karena dia berkata aku tidak akan menyesal menikmati menu dia. Aku hanya mengucapkan minuman es teh manis sebagai pelengkap.Tempat makan disini memang menarik, stand kaki lima berjejeran namun pemandangannya begitu asri karena terdapat taman-taman.Pesananpun datang kami mulai menikmatinya perlahan. Mataku berbinar kala makanan yang berbahan dasar udang ini masuk ke dalam mulutku."Makasih Renal. Seriusan ini enak" ucapku tulus"Benarkan?" Ucapnya yang langsung ku angguki semangat."Hubungan kamu sama Roki gimana?" Tanya RenalAku menghendikan bahu tidak tahu, kami memang masih tetap berkomunikasi tapi aku tidak tahu jika kedepannya bagaimana."Ayo.. kamu harus coba ini tau."Tiba-tiba suara yang tak asing membuatku menoleh, terlihat disana ada Caca. Aku tidak peduli jika itu hanya Caca, tapi ia juga bersama dengan Roki.Kami saling menatap, Roki langsung menghampiriku dengan sekilas mengecup keningku. Tentu saja Roki sudah mengenal Renal sehingga tak perlu ada drama berlebihan."Kenapa disini?" Tanyanya padaku setelah mendudukkan diri disampingku juga diikuti Caca di depanku bersebelahan dengan Renal"Harusnya aku yang bertanya" tukasku karena tadi ia mengatakan tidak bisa menjemputku karena ada urusan."Bunda menyuruh Roki mengantarkanku, Sya. Lalu aku mengajak Roki singgah sebentar kesini" bukan Roki, tapi Caca yang menjawab.Aku cukup menganggukkan kepalaku tanda aku sudah paham. Artinya, urusannya adalah mengantar Caca.Ku suapkan Roki dengan potongan udang, aku tahu Roki belum pernah kesini, pesanan pilihan Renal memang terbaik. Namun saat Roki membuka mulutnya untuk menerima suapanku, tanganku langsung dipukul menjauh oleh Caca sehingga suapan tersebut terlempar jatuh ke bawah."Kamu gila ya, Sya! Roki alergi udang. Dia bisa mati karena sulit bernafas. Kamukan pacarnya, itu saja tidak tahu. Harusnya aku tidak pernah melepaskan Roki untukmu!" Teriak Caca padakuDia bilang apa? Tidak akan melepaskan Roki untukku.Aku tidak salah dengarkan? Oh aku syok sekali.Ku lihat, Caca meneliti kondisi Roki kemudian kembali menatapku dengan sorot mata yang benar-benar tidak bersahabat."Ca..""Diam kamu!" Potong Caca pada ucapan Roki"Kamu tahu tidak? Roki itu pernah hampir mati karena udang. Sepertinya kamu bukan perempuan baik ya betapa tidak pedulinya kamu terhadap Roki. Itu yang kamu sebut dengan cinta?" Ucapnya padakuHah.. Dia sungguh keterlaluan.Dengan segera aku meminum es teh manisku berharap dapat mendinginkan pikiran juga hatiku.Aku berdecih sebelum menjawab "Sungguh mantan yang menyedihkan! Dulu Roki memang alergi tapi berkatku ia jadi tidak alergi lagi terhadap udang.""Sayang, maaf ya""Dan lagi, jangan melepaskan Roki jika kamu masih mencintainya" ucapku pada Caca tanpa menghiraukan Roki.Lalu aku menatap Roki dengan serius "Roki, sepertinya aku gak bisa lanjutin hubungan kita kalau kamu masih terjebak masa lalu kamu" Sudah cukup sudah, aku lelah."Ha? Yang, kamu becandakan? Gak. Aku gak mau""Renal, kamu uda selesaikan? Ayo. Aku tunggu di mobil"Renal dengan cepat bangkit sebelum meminum es teh manisnya juga dengan cepat "Yauda aku bayar dulu" ucap pria itu kemudian.Aku berjalan dengan cepat, kenapa rasanya sakit sekali Tuhan?Apa begini rasanya jika berhubungan dengan orang yang belum move on dari masa lalunya."Sayang, ku mohon.. Jangan tinggalkan aku" tiba-tiba Roki sudah di sampingku sambil menarik tanganku"Aku lelah, Roki. Aku sudah gak bisa sama kamu lagi, kamu bahkan belum move on dari masa lalu kamu""Kamu salah, Sayang. Aku cintanya sama kamu. Aku sudah move on dari masa lalu"Aku menatapnya lamat "Roki, apakah aku cuma pelarianmu?" Tanyaku yang kini sudah penasaran akan hubungannya dengan mantannya."Demi Tuhan, sayang. Aku tidak pernah melakukan itu padamu. Tolong jangan tinggalkan aku""Jika begitu, nikahi aku" balasku dengan ide gila. Lagipula apa yang harus ditunggu bukan? Usia kami sudah dewasa juga kami yang saling mencintai.Ia terdiam sejenak, "Sayang, aku sudah pernah mengatakannya, aku belum siap untuk ini. Masih ada beberapa yang harus ku selesaikan. Kamu tahukan?"Ya aku tahu jelas, ia ingin aku menunggunya tapi ini semua mengusikku. Katakan saja, ia mencintaiku? Namun bagaimana jika waktulah yang menghianatiku.Aku menggeleng "Lebih baik kamu selesaikan dulu dengannya. Aku juga harus berpikir untuk ini. Untuk kebaikan kita bersama" ucapku lalu memasuki mobil Renal.Renal segera menyusul masuk ke kursi kemudi. Ia diam tak mengatakan apapun.Dari kaca spion mobil Renal aku melihat Caca menghampiri Roki memegang lengannya yang disentak keras oleh Roki.Tapi aku jadi tidak enak dengan Renal, pasti Renal masih lapar."Maaf ya karena aku jadi udahan makannya. Pasti gak kenyang"Renal mengusap kepalaku lembut "Tidak apa, aku ngerti kok.""Lain kali kita kesana lagi ya"Renal hanya mengangguk sambil tersenyum, jeda beberapa saat ia mengatakan "Sya, apa kamu bahagia dengan Roki?"Aku menatapnya, pandangannya hanya lurus pada jalanan."Sebenarnya aku bahagia tapi masa lalunya yang membuatku bimbang" jawabku jujurRenal memegang sebelah tanganku "Kalau kamu tidak bahagia, bilang aku ya" jawab Roki yang ku dengan ambigu di telingaAku tak menjawab hanya sekedar membalas genggaman tangannya, ia cukup menguatkanku.Begitu sampai di rumah, Renal menarikku ke pelukannya aku bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba. Apa dia sedang patah hati?"Kamu kenapa, Ren?" Tanyaku"Biarin gini dulu. Sebentar saja"Kemudian ia melepaskan pelukannya, dan menatap lekat mataku "Sya, kamu sayang tidak denganku?"Aku tertawa "Kamu ngaco banget deh. Ya sayanglah. Kamu sudah ada dari dulu nemenin aku sampe sekarang cuma kamu yang tinggal disisiku"Ia mengangguk "Aku tahu mungkin ini waktu yang tidak tepat. Tapi aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya, aku suka sama kamu, Sya. Bukan sekedar suka karena sahabat atau apapun tapi cinta."Aku terdiam, kejutan apalagi ini Tuhan?"Sejak kapan?" Hanya itu kalimat yang muncul di kepalaku"Sejak dulu. Tapi lebih tepatnya aku yakin sejak SMA"Aku memijit keningku, tidak percaya atas pernyataannya padaku "Kenapa kamu tidak pernah mengatakan itu, Ren?"Aku menghela nafas "Kamu bahkan dengan sabar selalu dengerin curhatanku tentang mantanku" tambahku"Aku terlalu takut kamu menolak dan menjauhiku, Sya.""Ren, aku.."Ia mengangguk "Aku ngerti, Sya. Ini bukan waktu yang tepat tapi ku mohon coba pikirkan. Kita sudah lama mengenal. Aku juga ingin langsung melamarmu nanti, jika kamu ingin"Aku menggigit bibirku, dia dengan cepat mengecup sudut bibirku membuatku terkejut."Baiklah, Ren. Beri aku waktu. Apapun keputusanku nanti semoga kamu bisa menghargainya ya" tutupku lalu keluar dari mobilnyaSebenarnya aku bingung, masalahku dengan Rokipun belum usai tapi Renal sudah mendesakku untuk urusan perasaannya padaku. Jujur, dulu aku menyukainya hanya ku kira ia menyukai wanita lain saat itu.---Beberapa hari ini Roki tak hentinya menghubungiku, aku berusaha menghindarinya bahkan saat ia mencoba untuk menemuiku di kantor.Ku suapkan sesendok es krim ke mulutku, sensasi dingin dengan rasa coklat mengisi mulut juga tenggorokan.Kira-kira Roki sedang apa ya? Apakah ia bersama Caca"Sya.. Oh Tasya" ucap seorang disebelahku sambil mengibaskan tangannya "Ngelamun" tambahnya"Eh, maaf, Ren. Aku tidak dengar. Apa tadi?" TanyakuAku bahkan melupakan keberadaanku saat ini, tadi sepulang kantor Renal memang mengajakku untuk berjalan-jalan. Setidaknya aku bisa berpikir jernih katanya.Aku menatap Renal, aku memang menyayanginya tapi untuk mencintainya, aku juga tidak tahu.Aku berdiri ketika melihat Roki dengan Caca berjalan di mall yang sama denganku. Ku lihat langkah Roki malas-malasan dengan Caca yang semangat bercerita.Aku tertawa miris dalam hati."Sya.." tegur Renal di sampingku sambil memegang tanganku" Sorry , Ren. Bisa kita pulang?" Meski ia terdiam sejenak, ia tetap menganggukiKami berjalan ke area parkir, saat memasuki mobil tanganku di cekal "Kita perlu bicara, Sya."Aku menatap terlihat Roki yang menatapku penuh harap, di belakangnya ada Caca yang berdiri mematung menatap kami.Ku alihkan tatapanku ke arah Renal, tampak ia memandangku lalu menganggukkan kepalanya "Aku tunggu di mobil ya"Saat aku ingin menjawab namun suara Caca lebih dahulu terdengar "Roki, ayo cepat kita harus mencari cincin pertunangan kita."Aku menatapnya tidak percaya, inikah akhirnya?Ia menggeleng padaku "Sya, Kamu tahukan kalau aku menya..""Jadi kamu ingin bertunangan dengan Caca?" Potongku"Sya, maaf. Semua keinginan orang tuaku. Tapi sungguh aku benar-benar mencintaimu.""Selama ini aku juga bingung, semua terasa salah dan sesak. Aku gak mungkin melawan bundaku. Tapi aku juga gak bisa tegas, itu sebabnya aku memintamu menungguku, Sya. Tapi tetap saja." tambahnya"Ki, aku juga gak mungkin bilang batalin kalau itu permintaan bunda kamu. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita berdua""Aku sudah dewasa, aku juga ingin menentukan pilihanku. Dan itu kamu."Aku menganggukkan kepalaku, benar memang "Roki, kamu sudah dewasa harusnya bisa menentukan pilihan untuk masa depanmu. Aku tahu, kamu harus patuh sama orang tuamu. Aku mengerti" Tak terasa air mataku menetes yang kuusap secara kasar "Harusnya dari dulu aku sadar jika hubungan ini gak akan berhasil."Roki memeluk tubuhku sambil mengusap kepalaku "Maafin aku, Sya. Aku salah. Maafin aku yang gak bisa tegas. Aku sayang kamu tapi aku juga gak bisa bilang tidak sama bunda"Aku menarik diri tertawa miris meski air mata masih perlahan mengalir "Pantas saja jika selalu menyinggung pernikahan kamu selalu mengalihkannya. Tidak sia-sia kita tidak berkomunikasi ya."Ia memegang tanganku, kemudian aku mengangguk, "Tidak apa. Jangan merasa bersalah. Aku melepaskanmu Roki."Lalu aku mendekat pada Caca yang masih melihat kami, "Maaf selama ini menjadi penghalang untuk kalian. Aku tahu, kamu sangat menyayanginya. Kapan pertunangannya?" Tanyaku"Minggu depan"Ku ulurkan tanganku padanya "Selamat atas pertunangan kalian."Ia menatap sejenak tapi juga menyambutnya, "Terima kasih, Tasya."Aku memasuki mobil Renal masih menahan tangis dan Renalpun langsung menjalankan mobilnya. Mendengarku yang mulai sesenggukan ia menghentikan mobilnya, menarikku ke dalam dekapannya.Aku menangis sejadi-jadinya, aku pikir aku bisa dan aku kuat tapi kenapa ini terlalu menyakitkan?Kurasakan tepukan pelan di bahuku "Tidak apa, menangislah. Besok semua akan berlalu"Usai drama tangisku, kami langsung kembali. Aku masih diam saja begitupun Renal hingga tiba di rumah.Renal ikut turun dari mobil mengantarkanku sampai depan pintu, aku menahan tangannya saat ia hendak kembali memasuki mobilnya"Renal, aku sudah memikirkannya. Maaf aku tidak bisa menerimamu, mungkin saat ini atau entah sampai kapan. Maafkan aku, aku tidak ingin kamu merasa menjadi pelarianku atau apapun itu, aku hanya ingin menenangkan diriku setidaknya untuk saat ini""Sya.."Aku menggeleng memotong ucapannya "Ku harap sampai kapanpun kita masih bisa berteman sama seperti ini. Tolong maafin aku" ucapku dengan memohon"Sya, aku ngerti kok. Aku juga berpikir untuk tidak tiba-tiba menjalani hubungan kita. Kamu bisa memulihkan hatimu dulu, melihat kalian tadi, aku merasa kalian teramat saling mencintai"Aku tidak tahu ingin berkata apa lagi, tapi terima kasih Tuhan telah mempertemukan aku dengan Renal."Terima kasih, Renal" ia mengangguk dan mengelus kepalaku dan pergi meninggalkanku dengan kesunyian ini.Ya beginilah akhirnya mungkin, tidak tahu kedepannya apa. Dan mungkin begini lebih baik. Aku memang sangat mencintai Roki tapi juga menyayangi Renal.Atau bisa saja Roki meninggalkan Caca dan kembali padaku atau bisa saja Renal memang jodohku. Biarlah, untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan apapun.Yang aku tahu kita semua berhak bahagia, meski itu akan tiba waktunya.Terima kasih, Roki sudah hadir dihidupku semoga kita bisa bersama dikehidupan selanjutnya.Terima kasih, Renal. Semoga kamu mendapat wanita yang lebih baik dariku.End

KELELAWAR YANG PENGECUT
Fantasy
06 Dec 2025

KELELAWAR YANG PENGECUT

Di sebuah padang rumput di Afrika, seekor Singa sedang menyantap makanan. Tiba-tiba seekor burung elang terbang rendah dan menyambar makanan kepunyaan Singa.“Kurang ajar”, kata singa.Sang Raja hutan itu sangat marah sehingga memerintahkan seluruh binatang untuk berkumpul dan menyatakan perang terhadap bangsa burung.“Mulai sekarang segala jenis burung adalah musuh kita, usir mereka semua, jangan disisakan!” kata Singa. Binatang lain setuju karena mereka pun telah diperlakukan demikian oleh bangsa burung. Ketika malam mulai tiba, bangsa burung kembali ke sarangnya. Kesempatan itu digunakan oleh para Singa dan anak buahnya untuk menyerang. Burung-burung kocar-kacir melarikan diri. Untung masih ada burung hantu yang dapat melihat dengan jelas di malam hari sehingga mereka semua bisa lolos dari serangan singa dan anak buahnya.Melihat bangsa burung kalah, sang kelelawar merasa cemas, sehingga ia bergegas menemui sang raja hutan. Kelelawar berkata, “Sebenarnya aku termasuk bangsa tikus, walaupun aku mempunyai sayap. Maka izinkan aku untuk bergabung dengan kelompokmu. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk bertempur melawan burung-burung itu.” Tanpa berpikir panjang singa pun menyetujui kelelawar masuk dalam kelompoknya. Malam berikutnya kelompok yang dipimpin singa kembali menyerang kelompok burung dan berhasil mengusirnya.Keesokan harinya, manakala matahari mulai menyinari permukaan bumi, disaat kawanan Singa tengah beristirahat, tiba-tiba gerombolan burung melancarkan serangan balasan. Mereka menghujani kelompok singa dengan lemparan batu dan kacang-kacangan. Serangan mendadak ini membuat para singa panik dan berhamburan, masig-masing menyelamatkan diri.“Awas hujan batu, lekas menghidar. Selamatkan diri masing-masing...!” teriak pemimpin kelompok singa memberi komando pada kawanannya, sambil ia menyelamatkan diri.Sang kelelawar yang melihat kejadian itu mulai berfikir, “Nampaknya bangsa burung lebih hebat daripada bangsa singa,” bisiknya dalam hati. “Aku akan selamat jika berada dalam perlindungan bangsa burung.” Demikian kelelawar memutuskan. Segera saja kelelawar terbang menuju tempat dimana sang pemimpin bangsa burung berada.Setelah beberapa lama mengitari bukit-bukit batu, akhirnya ia menemukan lokasi sang pemimpin burung. yaitu burung Elang.Dengan memasang mimik layaknya sedang bersedih kelelawar menghadap sang Elang. “Lihatlah sayapku, Aku ini seekor burung seperti kalian.” katanya menghiba. “Siapakah lagi yang dapat menyelamatkan hamba dari buasnya alam ini kalau bukan dari bangsa sendiri, duhai Raja burung yang bijaksana?” lirih sang kelelawar. “Baiklah, engkau kini dalam perlindunganku, wahai saudaraku kelelawar.” Ucap sang Elang. Hari si kelelawar melonjak kegirangan. Pertempuran antara bangsa burung dengan bangsa singa berlanjut, kera-kera menunggang gajah atau badak sambil memegang busur dan anak panah. Kepala mereka dilindungi dengan topi tempurung kelapa sebagai perisai dari lemparang batu ataupun kacang-kacangan. Pertempuran antara keduanya begitu sengit. Mereka saling serang, saling melempar. Waktu terus berlalu, pagi ke siang. Siang ke sore. perperangan sudah mulai menampakan siapa pemenangnya. Bangsa burung satu-persatu meninggalkan gelanggang pertempuran. Kelompok singa menang!Apa yang dilakukan kelelawar? Ya, kini kelelawar kembali meminta perlindungan kepada kelopmpok singa. Namun sifat kelelawar yang tidak pernah memiliki pendirian tetap telah diketahui oleh kalangan singan, maupun kalangan burung-burung. Ini merupakan sifat pengecut! Bersyukur dengan kejadian itu bangsa burung dan bangsa binatang lainnya sudah saling dapat memahami. Dan mereka memutuskan untuk hidup berdampingan dengandamai.Adapun kelelawar pun telah menyadari betapa sikapnya yang tidak memiliki pendirian itu sangatlah memalukan. Kelelawar menyingkir dari lingkungan binatang lainnya. Kini ia memutuskan untuk menghindari dari bertemu dengan binatang lainnya. Kelelawar hanya beraktifitas dikala bangsa singa, bangsa burung serta binatang lainya tengah tertidur, yaitu dimalam hari.

Lobo Solitario
Romance
05 Dec 2025

Lobo Solitario

Based on true story, tapi namanya gua samarin. Jadi ini salah satu chapter dalam hidup gua, dimana pada akhirnya gua ngalamin yang namanya moment ter-Wattpad. Like ohhhh sh!t jadi gini rasanya.***Oke kita mulai aja. Kisah ini terjadi akhir tahun 2020 yang penuh dengan tragedi. Mulai dari tragedi coped 19, sampai ke kisah percintaan gua yang bener-bener tragis bin sadis. Gua bakal ceritain kisah cinta 2020 gua di next chapter yaSo, gua dapet tawaran jadi MUA Wardrobe web series gitu, disaat gua lagi butuh duid banget ya langsung gas lah gua. Tanpa pikir panjang pokoknya, karena gua udah semster akhir dan harus cipta karya yang kisarannya bisa sampe berjuta-juta perorang. Gua niatnya ini duid gaji bakal di tabung.Setelah deal - dealan fee gua pun melancarkan pra produksi dengan lancar, mulai dari ngelist kebutuhan, buat breakdown makeup dan kostumenya ini artis-artis. Gua kalo udah kerja suka ga sadar diri, jadi kadang bisa lupa sama hal lain kalo udah prioritasin kerjaan. Dari hal kecil kayak misal lupa makan sampe ke lupa pacar gara - gara terlalu terlarut di pekerjaan.Artis nya ada yang dari ibukota ada yang dari daerah, buat kostum dan makeupnya sedniri simple banget yang jadi PR adalah pindah - pindah lokasinya dan banyak yang harus jalan kaki karena cerita web seriesnya banyak yang traveling.Gua ga sendirian, ada chief gua itu temen gua sendiri. Dan kita bagi tugas buat fokus ke satu artis. Akhirnya gua kebagian artis cowoknya, kita sebut saja namanya Mika. Jadi gua Wa ini si Mika. Salah gua sih ga nyari tau dulu ini Mika artis ape, gua chat aja kayak biasanya dengan sopan dan baik tentu pake emot smile gemes biar kesannya ga jutek. Tapi balesannya jutek banget, udah ngeduga sih gua pasti anaknya alot nih atau bahkan mungkin pas ketemu besok bakal sombong.Gua minta tolong dia bawa sepatu, jujur pas baca data diri dia gua agak mikir karena ukuran panjang dan segala hitungan tubuhnya itu unik. Maksudnya gua liat foto sambil bandingin angka - angka itu kayak "ini dia ukurannya L tapi panjangnya XL, tapi kalo diliat M juga bisa" bingung ga lauuuuDatanglah hari dimana gua ketemu ama Mika, dia reading terus lanjut sorenya fitting baju. Mata gua rasanya kayak dibasuh Holy Water pake Water Canon, SUUUEEEGGERRRR banget liat dia. Kulitnya putih, badannya tinggi, bahunya bidang, pinggangnya ramping, kakinya panjang, rambutnya rapi, brewon dan kumisnya memalingkan dunia ku pokoknya. DAN WANGI. Ini penting wkwkwk wangi.Oke pas kenalan, doi cool banget tapi lebih ke cold sih gua ampe kedinginan. Cuek dan jutek gitu, gua ama chief ama dia di toilet buat fitting. Sepengalaman gua jadi wardrobe udah bentuk gua liat dari yang buncir sampe abs oppa korea gua udah pernah liat, jadi gua lebih ke b aja. Sering ditanyain ama temen - temen gimana rasanya, pas awal ya deg - degan aja kalo nemenin cowok ganti baju atau bantuin cowok ganti baju apa lagi ganteng. Gua cuma takut mimisan aja, cuma setelah itu karena terlalu fokus sama kerjaan gua jadi suka ga kepikiran aja menikmati karya ciptaan Tuhan yang terpampang nyata dihadapan gua.Lucu aja kalo gua ketemu temen lama, misal temen alumni SMA gua terus mereka kayak nanya minta diceritain cerita-cerita syutingan gua (btw sori ya ga konsisten tadi gue sekarang gua) kayak anak kecil minta diceritain cerita penjara ama mantan napi, "bang cerita penjara bang."Pas fitting kita ga terlalu banyak ngobrol, gua cuma basa basi kayak "kapan sampe sini kak?" "nginep dimana kak?" doi juga jawab alakadarnya. Kesimpulan fittingnya adalah bajunya ngatung semua, celananya juag ngatung tapi ga parah. Makanya gua bingung ukurannya L tapi panjangnya XL, dimana gua bisa nyari baju kemeja yang kayak gitu. Karena mas tampan ini maunya kemeja yang fit jangan oversize. Baiklah ini dia struggle pertama gua dimulai.Si Mika ini dia ganti baju lagi kan ke baju dia yang asli, terus dia nanya "kalian asli sini?" terus gua jawab "engga kak aku asli Bali." terus doi langsung nyeletuk "Bali ne dije?*" lahhh bisa bahasa bali dia lengkap ama logatnya.*balinya di mana?Akhirnya privilege gua sebagai orang Bali terpakai juga, walau dinding es diantara gua ama Mika belom cair ya seengganya gua tau apa interest dia ke gua. Jadi gua ga sekedar angin lalu buat dia, kenapa hal ini penting buat gua? Mari saya jelaskan!Jadi dulu pas gua SMA gua pernah les bahasa inggris sama tour guide, dimana les ini beda banget metodenya. Kita bener-bener langsung praktek ngobrol ama bule yang ga bisa bahasa indo sedikit pun. Ga jarang bahkan sering obrolan kita berujung jadi obrolan manusia purba, jadi kayak gagagugu sambil nunjuk-nunjuk barang. Disini gua belajar personal branding, dimana kalo gua ga bisa kasi kesan pertama yang menarik atau ga ada hal yang beda dari temen gua yang lain, gua jamin ini bule bakal lupa nama gua walau kita udah ngobrol bahasa purba selama berjam-jam.Berusaha sebeda mungkin atau seunik mungkin pas perkenalan atau pas diobrolan pertama itu penting, first impression itu penting. Pasti banyak yang setuju kan? Nah itu dia kenapa gua berusaha biar si Mika ini at least inget sesuatu tentang gua, karena naman gua rada pasaran apalagi muka gua. Bali itu dia kata kuncinya.Sejauh ini masih intro tapi engsel sendi jari-jari gua udah seret, udah lama ga ngetik wattpad. Ngetik proposal skripsi sih tapi ga bisa sekenceng ngetik wattpad karena kebanyak mikirnya wkwkwkSetelah melewati kesulitan pra produksi, sampailah gua ke Day 1. Hari pertama gua take nya di jalanan hutan-hutan sawah-sawah gitu, pagi - pagi seger banget udaranya masih berembun gitu si Mika lagi ngopi dimobil belakang yang dibuka."Pagi kak." Sapa gua. Doi jawab cool abis, "Pagi." singkat padat n jelas. "Ganti baju yuk kak." bales gua. Dan seperti jawaban artis pada umumnya pasti gini "emang udah selesai ngeset ya?" dan jawaban paling ampuh adalah "iya kak sudah dipanggil astrada untuk ke set." Karena walau belum selesai ngeset, tapi kalo udah dipanggil astrada itu artinya kita harus udah siap, dan gua udah memperkirakan waktu dimana ini artis bakal lama ganti baju karena sambil ngobrol bareng asisten dan driver dan teman-temannya.Baru pake celana doi gantungin lagi itu kemeja karena mau dipake nanti kalo sekarang takut lecek. Terus gua balik ke astrada lagi buat nanyain udah kelar set apa belom. Dan ternyata udah, akhirnya Mika gua minta buat pake kemejanya. Walau belom full dress, doai masuk set karena ini scene nya dalem mobil yang ditake dari luar semua. Jadi ga terlalu detai keliatan.Ga dimakeupin samsek aja itu muka mulus bener, cakep pokoknya. Gada kata-kata lagi, ya kayak lu liat oppa korena tanpa makeup aja. Natural banget bund tampannya.Masih di day 1, kita pindah lokasi kedataran tinggi gitu bukan gunung tapi lebih ke tembing yang banyak goa nya. Jadi dini ngambil scene dalem mobil. Oke gua mulai makeup in tuh. Pas doi sampe ke basecamp makeup langsung nanya gini, "punya itu ga? Apa namanya yang semprotan?" bingung kan gua maksud dia ape, "setting spray kak? atau face mist?" gua ngangkat botol mineral botanica"itu merknya apa? Boleh deh sini." Kata dia. Yaudah gua kasi aja kan, dia semprot - semprot gitu terus dikasi ke gua lagi. "Dah." Kata dia. Lah dalem hati gua. Loh muka gua. Disana ada astrada 2 nya juga ikut diem nyimak. "Ga dimakeup kak?" tanya gua. "Gausah gini aja, cukup kan?" Kata dia.yuyur kakak lebih dari cukup kak, kalo kakak dateng kerumah aku buat lamar aku. Aku yakin mama aku pasti bakal marah sama aku, "KAMU MAIN PELET YA!"Karena astradanya juga ga ada komentar yaudah gua mah iya - iya aja, gaji buta deh gua. Lalu si Mika pergi gatau kemana, terus gua nyeletuk "gantengnya ya tuhan." Astrada gua tawa - tawa doang, terus si Mika lewat lagi. Dipanggil ama astrada gua terus dia bilang gini masa, "Mika, kamu dibilang ganteng sama Natsu." (nama gua Natsu ya disini)Gua ga boleh jaim, karena jaim menyebabkan menebalnya dinding es. Akhirnya gua cuma kasi jempol aja ke si Mika, terus dia malah ngasi jempol balik sambil wink terus jalan kemobilnya buat ngadem.Oke gua mimisan dalem hati.Ditengah - tengah ngeset scene berikutnya, gua duduk diantara 2 artis utama series ini barengan sama telkonya. Gua sambil ngipasin mereka terus ga mungkin gua diemin kan, karena telkonya juga lagi sibuk sama artis ceweknya yang pas itu lagi PMS. Akhirnya gua ngobrollah sama si Mika ini, mulai dari industri perfilman pertelevisian yang umum - umum gitu. Ga lupa juga gua ajak interaksi silang artis ceweknya, biar menimbulkan obrolan dua arah antara artis cewek dan cowoknya. Biar ga gua doang yang ngelempar pertanyaan doi yang nangkep, tapi agak susah bund konsep kominikasi massa ini. Soalnya gua suka main hp pas ini matkul.Jangan dicari itu interaksi silang apaan karena gua cuma ngarang, intinya gua pengen mereka juga saling ngobrol. Ga gua yang kesannya ngobrolnya gantian abis ke Mika ke ceweknya. Udah kayak talkshow aja.Lokasi terkahir syuting kita ada di pantai pasih putih gitu. Disaat semua orang lagi sibuk ngeset dan ngobrol ketawa-ketawa ada yang foto-foto juga termasuk gua. Karena sunsetnya lagi indah banget cerah dan orange pink ungu, ada serigala dingin yang duduk sendirian dibatu karang bibir pantai sambil menatap kosong deburan ombak. Gua lama mandangin Mika duduk sendirian jauh dari kerumunan crew, beberapa kali dia foto sunsetnya dan menaruh hpnya di pasir untuk merekam ombak."Samperin ga ya?" Tanya gua dalem hati. Tapi gua masih belum berani buat nembus dinding itu, mungkin besok bakal gua coba. Gua ada firasat atau perasaan gitu, intuisi gua bilang kalo dia kesepian. Karena crew jarang banget ngobrol sama dia paling basa basi doang, di set atau istirahat pasti dia sama asistennya. Semua sungkan sama dia, yang emang kadang nyebelin sih anaknya tapi kok hati gua bilang dia ga cuma sekedar dari itu ya. Kayak ada kehangatan dalam matanya.Setelah wrap, malem gua lagi makan di mobil sama chief dan pacar gua yang salah satu crew juga kita disamperin sama astrada gua nih. Doi langsung nepok gua "Weyyy Natsuu keren banget, masa tadi pas rapihin baju Mika berani banget."Jadi ada scene yang bajunya berantakan terus ke bajunya rapi, dan itu jedanya sedikit jadi gua harus lari dan buru-buru. Pas gua lurusin gulungan lengannya, dia lagi masukin baju kan, gua reflek nurunin gulungan celananya. Karena kalo dia bungkuk lagi nanti kemejanya keluar lagi. Ngerti kan? ya gitu lah pokoknya."Looo apa salahnya mas, kan emang gitu.""Masa Natsu benerin gulungan celananya sambil megang - megang pahanya.""Ngawurrrr kamu mas, jangan hiperbola!" Pacar aku masih ketawa - ketawa doang tuh.Okey Day 1 berakhir dengan keadaan dinding es sudah mencair dikit tapi masih ada dinding dimana gua belom berani ngejokes atau bercandaan. Jadi gua harus liat dulu nih level bercandaan seseorang itu seberapa dulu baru gua bisa becandain ni orang. Karena bakal fatal banget kalo misal salah bercanda.***Masuk ke Day 2, diawali dengan indahnya pemandangan didataran tinggi yang berbeda dengan kemarin. Dataran tinggi ini ada kebun tehnya dan lebih lepas karena kalo kita teriak suaranya bakal mantul dan itu berlangsung lama jadi pasti luas banget. Kenapa gua ngomong gitu, karena ini ketutupan kabut gua ga bisa ngeliat jelas dataran tinggi ini setinggi apa.Jalan masuk ke setnya juga off road, kita naik jeep dan agak serem kayak naik wahana tapi seru. Selesai gua nempatin basecamp, Mika dateng dengan mood yang kurang baik. Mungkin doi bete karena jalannya off road, walau ada jalan setapaknya juga itu lumayan jauh jalannya. Gua maklum banget kalo artis bete kayak gini, dan gua harus bisa bikin doi good mood lagi. Caranya gimana, masih belom tau yang pasti sekarang doi harus ganti baju."kak Mika ganti baju yuk." Tanya gua. "Gua baru sampe, gua mau ngopi dulu." Jawab dia ketus. Oke gua salah seharusnya gua biarin dia narik nafas dulu, dan kita sebagai pihak yang salah ini jangan kasi jawaban yang berbau kalimat negatif. Gua jawab gini, "okey kak nanti habis ngopi kita ganti baju yah."Setelah doi ngopi - ngopi bareng asistennya, gua samperin tuh sambil bawa bajunya. "kak mau ganti baju di basecamp atau ditoilet?" sebenernya gua udah tau jawaban dia pasti, "disini aja." tapi kali ini beda, "gamau." singkat padat dan jelas.Lagi - lagi jangan pakai kalimat negatif atau nyerah, ayo kamu pasti bisa. Gua jawab aja, "ayo kak ganti baju sekarang, yuk kak celananya dulu deh." Akhirnya doi mau tuh pake celananya. Kemejanya masih gua pegang terus gua disuruh duduk disana sambil nunggu dia ngopi.Mulai lah gua buka obrolan tuh basa basi, terus gua tanya "kapan ke Bali lagi kak?" terus dia jawab "abis kelar ini gua ke Bali." terus gua tanya-tanya kayak biasanya nginep diamna, kemana aja, dan masih banyak yang lainnya. Doi nampaknya lumayan sering ke Bali dan punya banyak temen Bali karena logatnya aja doi bisa niruin persis. Akhirnya obrolan itu berakhir di Mika manggil gua dengan sebutan "gek." sebutan buat anak perempuan di bali, kayak "mbak" atau "nok" kalo di jawa.Setelah beberapa kali take dan ganti set, Mika lagi istirahat nih. Gua juga lagi selow, terus gua lagi mau isi ulang botol minum kan. Cuma tali sepatu gua copot karena gua males ngiketnya gua jalannya kayak agak nendang - nendang kaki gitu. Terus si Mika manggil gua, "gek, sini. Duduk sini." Gua masukin itu tali sepatu ga gua iket, terus gua duduk dibasecamp dia. "ada apa kak?" Tanya gua."duduk sini, ngapain kamu bolak balik kayak gitu." Kata dia. Hmmmm gua diem aja sambil iket tali sepatu. Terus gua bingung kan, akhirnya gua cari alesan "Kak aku ke basecamp dulu ya mau beres-beres kalo ada apa-apa panggil aku aja ya." Terus gua buru-buru ke basecamp padahal mah udah pada beres.Break dan ganti set, ada jeda waktu yang cukup panjang. All talent berkumpul bareng gua, telko, sama chief gua kita ngobrol - ngobrol bercanda bareng. Ya walau agak kaku - kaku dikit seengganya udah ada perkembangan dari hari sebelumnya.Pokoknya kita lagi ngejokes tentang tahilalat yang ada didekat bibir gua. Terus di Mika nanya "tahilalat kamu ada berapa?""satu kayaknya." Jawab gua, karena gua emang ga ngitungin anjir gua punya berapa."salah, ada enam. itu sama yang dileher juga." Jawab dia. Gua langsung nelen ludah. Shiiiiittttttt lahhhhhh salting banget bangkekkk.Abis itu gua ngeluarin sampoerna mild tuh, terus si Mika nyeletuk "Lu ngerokok itu?""iya kak, kenapa?" Tanya gua. Terus dia ngeluarin rokok dia juga, "lah samaan, cheers dulu dong." Kata gua. Terus dia ketawa, lagi asik - asik ketawa juga eh dia narik tali sepatu gua. Dua - duanya ditarik. "Ih kak kok dilepas?""Lagian ngiket ga bener, gua lepasi aja sekalian. Dari tadi lepas terus kan? Iket yang bener yang kenceng." Kata dia. Yang lain cuma diem bengong mencerna apa yang terjadi, termasuk gua.Keheningan kita dipecah sama astrada yang dateng buat brief scene selanjutnya, sambil dia brief gua mau tacap kan. Terus gua semprotin itu facemist, eh si Mika malah menghindar gitu kekanan. Gua semprot kekanan dia kekiri, astrada gua sampe diem bengong ngeliat kita.Gua bilang, "Ih kakkk diem dong." terus si Mika minta facemist nya "mana? sini. Kurang nih."Pas gua kasih, dia malah ambil tanagn gua kayak dibuka gitu terus semprotin ke tangan gua. Astrada gua makin bengong itu. "Lah dikata hensenitaizer?" Kata gua. Dia megang tangan gua terus kek diliatin gitu di bolak balikin, mungkin dia bingung kali ya kok ini tangan buluk banget berbulu dan ada belang.Oke astrada gua akhirnya lanjut ngomong lagi, terus gua juga beres - beresin kemeja dia, sisirin rambut, dan ngeliat semua detai kayak nametag, lengan baju, bahkan nih brewoknya aja gua sisir.Lanjut next scene gua standby aja sambil ngeliatin dia akting, terus dia out frame jalan ke arah belakang gua. Gua masih fokus ngeliatin artis lain lanjutin dialog. Tau ga dia apain gua??????Susah nih jelasinnya, pokoknya gini. Gua kan lagi berdiri nopangnya pake kaki kanan, nah sama dia ditekuk gitu jadi kaki gua lemes. Ngerti kan? Kayak mainan kita jaman sekolah. Terus gua kaget kan untung ga teriak itu bisa disemprot anak audio. Gua reflek pegang lengan atas dia kayak gemes gitu semi mencubit sih, "jail banget e kamu kak." Kata gua gitu. Anjim kok gua malu sendiri ya ahahahahahahah.Pas lagi unistall karena mau pindah lokasi, astrada gua berjulid lagi. Dia ngomong ke produser gua kayak gini,"Tau ga sekarang Natsu udah deket banget ama si Mika.""Loh iya toh?" Ini si produser sok-sok gatau. Gua diem aja nyimak."Iyaa, masa lagi di brief dia main semprot - semprotan untung bukan yang lain itu yang nyemprot. Aku kan ganggu ga enak ya mesra banget soalnya bercandanya, tapi kalo ga di stop kapan aku briefingnya."Anjim, itu pacar aku denger langsung bete dan diem lalu buang muka.Lokasi selanjutnya dihamparan sawah gitu, sore yang cerah walau anginnya agak kenceng tapi itu chill banget. Gua samperin mobil si Mika buat ganti baju kan, gua ketok tuh jendela depan tempat asistennya. tok tok paket wkwk ga deng."Halo kak Mikanya mana?" Kata gua. "noh orang nye." Kata asistennya sambil nunjuk kebelakang. Ada seonggok manusia tampan pake kaca mata hitam, terus dia ngulet gitu. "Morning." Sapa gua. Terus dia diem. "Ganti baju yuk kak." Kata gua. Tau ga jawabannya apa??????"Masuk." Singkat Padat Jelas dan seketika gua merinding. Like serius iniiiiii??????? WKkwkwkwkwk untung pake masker jir, jadi salting gua ga keliatan banget lah ya.Dalem mobil gua cuma diem karena dia bilang mau ganti baju kalo set cameranya udah jadi. Dia rebahan lagi terus senderan gitu kan, kalo gua ikut senderan kayak deket banget gua jadi takut. Takut jatuh cinta ahay. Gua duduk tegang banget sambil megang baju dia.Terus dia nanya "Lu udah makan?""udah.""kalo minum udah?""udah juga.""nih ciki mau ga?" Dia ngambil plastik indomart gitu terus gua dikasi bengbeng mini, Gua ambil satu terus gua simpen.Dia karaoke - karaoke, sambil snapgram, sambil ngobrol sama gua, sampe gua udah ngerasa terlalu lama disana. Gua minta bantuan chief gua buat nyamperin sok - sok ngeburu-buruin gitu.Akhirnya setelah set nya jadi, dia ganti baju dalem mobil. IYA GUA MASIH DISEBELAH DIA. Terus dia keluar mobil masuk set dan akhirnya gua bisa break. Gua duduk di meja panjang tempat DIT sama sebelahnya ada petinggi - petinggi lagi duduk ngomongin masalah produksi. Gua yang lagi enak - enak minum nutrisari yang disediain PU itu tiba - tiba ditanyain sama asisten produser"Gimana Nat?""Apanya mas?""Hubungan kamu sama Mika, ini mumpung ada orang dalem lom. Mau dikenalin ga?"Maksud orang dalem itu adalah si executive produser yang merupakan teman baik si Mika."Hahhhhhhhh, apaan deh. Udah kenal kali.""Oiya deng udah kenal, orang udah main - main ke mobilnya kok. Hati - hati nanti masuk lambe turah lo kamu."Anjim wkwkwkwkw lucu kali ya kalo gua masuk lambe turah, pencapaian luar biasa sih kalo itu. Emak gua pasti bangga sih.Pokoknya gua di ceng - cengin deh, abis - abisan. Padahal disitu ada pacar gua, cuma ya namanya kerja asal masih batas wajar dan profesional mah seharusnya ga gimana - gimana.Setelah wrap Mika dipanggil disuruh duduk bareng gitu, biasanya dia gamau tapi karena ada temennya dia mau tuh ngerokok bareng ada gua juga. Terus salah satu dari mereka ngomong gini, "Ngobrol dong Mik, ada Natsu nih disini."Faggggggggggg!! Mau salting apa gimana ya enaknya, terus gua cuma bilang "Ngobrolin apa juga kan ga ada topik."Lu tau gua seharian day 2 ini didiemin ama pacar gua. AHAHHAHAHA ngambek dia.***Day 3 hari terakhir ini syutingan, gua udah mulai akrab sama crew nya juga dan si Mika tentunya. Tapi sama pacar gua agak buruk karena malemnya gua ketemu dia gua ajak ngobrol ga ketemu titik tengahnya, gua simpulkan pokoknya gua pengen tetep profesional dan menjalani keakraban dengan semua orang karena gua gamau dicap sombong atau gamau bergaul. Terserah dia mau marah kek, di set gua bakal tetep sapa dan perhatian sama dia kayak biasanya. Cerita detailnya mungkin bakal gua bikin chapter sendiri, tungguin aja.Tidak berjalan lancar, gua sempet kena marah sama astrada 1 gua didepan si Mika. Dan lu tau dia bilang apa??????????"Udah lu sana selesaiin dulu, daripada lu disini dimarahin. Gua bisa sendiri kok."Gua bersyukur banget, gua ga malu atau down sedikit pun. Gua malah jadi tambah semangat karena dia ngomong kayak gitu. Bayangin orang sejutek Mika ngomong seperhatian itu kegua yang bikan siapa - siapa ini.Kerjaan yang belum kelar langsung gua backup gua beresin, dan akhirnya lancar sampe akhir. Dilokasi terakhir udah magrib, gua pengen banget foto sama dia tapi bareng - bareng all cast. Karena foto berdua udah banyak di BTS nya mana fotonya tatap - tatapan mulu awwww. Ini foto pengen gua cetak deh terus gua pajang.Sebenernya gua ada rasa sedikit ngarep dan ada sedih nya juga mau pisah ama ni serigala kesepian. Yang selalu menyendiri gamau gabung di basecamp talent, kadang suka cabut duluan kadang suka jalan keliling sendirian. Dan crew jarang ada yang ngobrol sama dia paling basa basi doang.nomor WA dia sih gua udah punya ahahahah tapi ga mungkin ig gua di follback jadi gua milih buat ga follow dia atau snapgram bareng dia. Selain web seriesnya belum tayang juga sih, sampe skrng.Setelah kita foto bareng semuanya, gua jabat tangan sama dia bilang makasih dan maaf semoga bisa ketemu lagi diproject yang lain kayak gitu deh. Terus doi masuk mobil, gua juga ke mobil gua buat beres - beres.Beberapa saat kemudian gua kira dia udah balik kan ternyata belom, pas gua lagi sibuk rapi - rapi. Ada mobil lewat terus Mika buka kaca teriak, "Natsu aku duluan ya, dadah.""Iya kak dadahh hati - hati dijalan ya."Itu pertemuan terkahir kita, dijalan pulang ke basecamp syutingan gua merem sambil mikir. Suatu saat nanti gua bisa ketemu dia lagi ga ya? Atau ketemu di Bali deh mungkin kebetulan gitu. Ahhh apaansi malah ngayal gini.Pas sampe sebelum gua pulang ke kos, gua ngobrol - ngobrol sama crew yang lain. Dibahas lah lagi kedekatan gua dengan si Mika ini, ternyata semua crew ya merasakan dan melihat kedekatan kita ahahahGua mau bersyukur aja, karena ketika si Mika badmood gua bisa ngehibur dia dan bikin dia jadi mood lagi nemenin dia kalo lagi sendirian. Karena telkonya sendiri ga punya temen buat jagain ini artis - artis, jadi gua mintain tolong buat khusus menjaga ini si Mika. Karena itu juga mungkin gua jadi cepet akrab ama si Mika.***Sekian salah satu cerita ter wattpad dalam hidupku, cerita syutingan emang gada habisnya sih dari yang suka duka baper sampe yang emosi dan nangis tu ada. Mungkin kalo ada cerita yang menarik dan gua ga males ngetiknya bakal gua ceritain lagi.Ga yakin juga ada yang baca ini, tapi buat arsip gua aja. Siapa tau suatu hari nanti dia ga sengaja nemu ini tulisan terus tau apa yang gua rasain wkwk gua cuma mau bilang "GUA BAPER SALTING TOLOL LU GITUIN NYET."

Ramadhan Tanpa Ayah
Teen
05 Dec 2025

Ramadhan Tanpa Ayah

Bulan suci Ramadhan menjadi bulan yang paling dinanti dan dirindukan oleh umat muslim di seluruh dunia. Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa diantara bulan yang lainnya. Ada banyak keutamaan yang bisa kita raih selama bulan puasa. Salah satunya bulan penuh pengampunan. Dengan berpuasa pada bulan Ramadhan, maka bisa menghapus dosa yang telah kita lakukan. Sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Shallallahu'alaihiwasallam yang artinya, "barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahuwata'ala, maka diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari dan Muslim)Bulan mulia penuh berkah kali ini merupakan bulan puasa yang ke-7 sejak kepergian Ayah dari gadis sederhana yang berusia 20 tahun itu. Ya, Ayah dari gadis yang memiliki nama lengkap Imna Ramadhani itu telah meninggal sejak 7 tahun yang lalu. Namun ia seakan merasa baru kemarin kejadian naas itu menimpa ia dan keluarganya.Meski sudah beberapa tahun ia menjalani bulan puasa tanpa Ayah tercinta, namun tahun ini gadis itu merasa sangat merindukan sosok Ayah untuk menemaninya melewati hari-hari di bulan mulia penuh berkah ini.Ia tahu keinginannya itu mustahil untuk menjadi kenyataan. Karena ia yakin sang Ayah pasti sudah tenang di alam sana. Keinginan yang menggebu dari dalam hatinya harus ia redam sebelum berlarut dalam kesedihan.Sebelum memasuki bulan Ramadhan, ia kembali teringat kenangan masa lalu saat ia, Ibu dan Ayah sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang saat itu ternyata menjadi Ramadhan terakhirnya bersama Ayah tercinta.Imna yang saat itu sibuk memilah pakaian yang akan digunakan selama bulan Ramadhan. Mukenah pemberian Ibu tahun lalu sepertinya masih sangat layak pakai. Ia lalu menyatukan mukenah itu dengan beberapa sejadah yang sudah ia siapkan untuk kemudian dicuci lalu diberi wewangian.Sementara Ayah bersiap untuk memotong ayam kampung yang akan dijadikan lauk di hari pertama sahur. Beberapa tahun terakhir memang selalu seperti itu. Selesai penyembelihan, ayam itu berpindah alih ke tangan Ibu yang selanjutnya akan diolah menjadi lauk yang lezat.Selesai shalat magrib, Ibu kembali melanjutkan rutinitas memasaknya yang tadi tertunda. Sementara Ayah sedang menonton siaran langsung berjalannya sidang isbat yang akan menentukan hari pertama puasa. Imna yang ikut membantu Ibu sesekali menoleh ke layar televisi yang tak jauh dari ruang dapur. Namun ia dengan sigap saat ditegur Ibu agar lebih cepat membersihkan segala peralatan dapur yang sudah terpakai. Ibu tidak ingin melihat semuanya masih berantakan sebelum berangkat ke Masjid untuk melaksanakan shalat tarawih berjama'ah."Ibu, Imna, penentuan puasa pertama jatuh pada esok hari. Segera bersiap untuk shalat tarawih berjama'ah di Masjid," dengan suara yang sedikit berteriak Ayah memberitahukan bahwa malam pertama shalat tarawih jatuh pada malam ini.Ibu bergegas mengambil air wudhu setelah mendengar murottal Al-Qur'an yang berasal dari Masjid sudah berbunyi. Imna menyusul kemudian Ayah yang terakhir.Mereka berangkat lebih awal karena perjalanan akan memakan waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Menggunakan senter untuk menerangi perjalanan sudah Ayah persiapkan beberapa hari sebelumnya. Dengan pelan Ibu berjalan, disusul Imna dan Ayah. Mereka melangkah menyusuri jalan menuju Masjid.Di tengah perjalanan, mereka dikagetkan dengan suara anjing yang tiba-tiba menggonggong dari salah satu halaman rumah warga."Astaghfirullahal'adzim..." sontak Imna langsung mengucap istighfar dengan suara yang sedikit keras. "Ih, serem, bikin aku merinding," lanjut Imna."Kata orang kalau ada anjing yang menggonggong itu tandanya anjing itu sedang melihat makhluk ghaib. Bener nggak sih, Yah?" dengan perasaan takut Imna memeluk diri sendiri."Bisa jadi itu benar. Tapi Imna nggak usah takut, kan Imna nggak sendiri. Ada Ayah dan Ibu di sini, nggak ada yang perlu ditakutkan. Ada Allah juga yang selalu menjaga kita." Ayah mencoba menenangkan suasana. Sementara Ibu masih terus berjalan tanpa mengucap sepatah kata pun."Imnaaa..." teriakan Ibu sontak membuat Imna kaget dan membuyarkan ingatan itu yang tampak nyata dalam bayangan fikiran Imna."Iya, bu..." sedikit berteriak Imna menjawab panggilan Ibu."Segera bersiap untuk shalat tarawih berjama'ah di Masjid." Ibu yang sibuk membereskan peralatan dapur kali ini memelankan suaranya ketika melihat Imna mendekat.Hari pertama bulan puasa Ramadhan tahun ini jatuh pada esok hari. Imna yang selesai mengambil air wudhu bergegas menuju ke kamar untuk mempersiapkan diri."Aku rindu Ayah! Aku ingin ada Ayah di sini. Menemani aku dan Ibu seperti dulu. Aku tahu ini mustahil untuk menjadi kenyataan. Tapi rasa rindu ini sangat sulit untuk kupendam. Entah bagaimana caranya agar rasa rindu ini bisa redam dan... menghilang!" Lirih Imna sambil memandangi foto Ayah yang tersenyum merekah. Bersama air mata ia melangkah membawa rindu yang membuncah.

Maafkan Aku
Teen
05 Dec 2025

Maafkan Aku

Aku Lara seorang gadis yang tidak pernah membayangkan akan menjalani hidup serumit ini. Ibuku sudah lama meninggal. Aku tinggal bersama kakak dan Ayahku. Ayah jarang tinggal di rumah. Aku tidak tahu persis mengapa Ayah meninggalkan anak-anaknya.Keluarga kami sederhana, tidak kaya juga tidak miskin. Alhamdulillah, selama aku hidup, aku merasa tidak pernah kekurangan kebutuhan hidup. Seperti gadis remaja lainnya, aku juga menuntut ilmu di salah satu SMAN yang ada di kota ini.“Kak, aku berangkat ke sekolah dulu.” Kataku agak sedikit berteriak.“Oke,, hati-hati di jalan.” Kata kakak yang baru keluar dari kamar dan masih kelihatan mengantuk.Beberapa menit kemudian, akhirnya aku sampai di sekolah. Bel berbunyi saat aku masih di pintu gerbang sekolah. Aku berlari secepat mungkin agar bisa berada di dalam kelas sebelum guru masuk mengajar. Karena satu detik saja siswa terlambat datang saat guru sudah ada di dalam kelas, siswa tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran tersebut.Setelah selesai berdoa, kini giliran guru yang berbicara.“Sekarang kumpul tugas kalian.” Kata Ibu guru.'Astagfirullah!! Ternyata ada tugas yang belum aku kerjakan.' Gumamku dalam hati.“Bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas, silahkan maju ke depan.” Ucap Ibu guru setelah semua buku terkumpul. Aku segera maju ke depan bersama teman-teman yang lain, tapi mereka semua laki-laki, hanya aku yang perempuan.“Apa alasan kalian tidak mengerjakan PR?” tanya Ibu guru.“Saya lupa Bu’.” Kataku. Dan semua alasan kami sama.“Berarti kalian sekarang ketahuan, tidak pernah belajar di rumah, ya kan?” tanyanya lagi.“Mmm,,, Bisa dikatakan seperti itu Bu’.” Jawab teman yang ada di sampingku.“Ouw,, jadi seperti itu. Kalau begitu kalian lari keliling lapangan sampai jam pelajaran Ibu selesai. Keluar sekarang!!” Katanya agak sedikit membentak. Kami semua segera keluar dan mulai berlari.Sudah hampir satu jam kami berlari, terasa kaki ini mau patah. Namun bel belum juga berbunyi.“Ah,,, ampun deh…” kataku sambil menjatuhkan tubuhku di pinggir lapangan. Teman-teman yang lain masih semangat berlari.“Ra… bangun sebelum ketahuan. Tinggal sebentar lagi bel akan berbunyi.” Kata Imran setelah melihatku duduk di pinggir lapangan.“Iya Ra, jangan menyerah!! jangan putus asa!! Sebentar lagi kita akan segera sampai ke garis finis. Kalau kamu menyerah sekarang, hukumannya akan tambah parah!!” Kata Ifand menyemangatiku. Segera ku bangkit dengan tenaga yang tersisa.Tak lama kemudian bel berbunyi. Kulihat Ifand dan Imran berhenti di depan kelas dan Ibu guru sedang berdiri di depan mereka.“Oke, sekarang tulis surat pernyataan bahwa kalian tidak akan mengulanginya lagi. Kumpul sebelum bel masuk berbunyi.” Kata Ibu guru seakan tidak tahu apa yang sedang kami rasakan. Kami segera menulis surat permintaan maaf itu lalu menyetornya.***Hari-hari kujalani, hingga tak terasa sudah 4 bulan semenjak kejadian itu. Aku mendengar kabar dari kakak bahwa sebentar lagi dia akan segera menikah. Betapa senangnya hatiku. Sebelum hari pernikahan kakakku, Ayah datang ke rumah dan mengatakan bahwa dia menyetujui pernikahan tersebut dan menyerahkan rumah ini kepada kakak. Aku jadi bingung, kenapa Ayah menyerahkan rumah ini pada kakak?Pada hari pernikahan kakakku, perasaanku bercampur baur antara senang, sedih, dan takut. Senang melihat kakak sedang bersanding dengan wanita pujaannya. Sedih melihat keluarga baru Ayah yang terlihat begitu bahagia. Ternyata alasan Ayah memberikan rumah ini untuk kakak karena dia sudah punya tempat lain untuk pulang selain di rumah ini. Entah sejak kapan Ayah menikah lagi. Dia bahkan tidak pernah menceritakan padaku kalau dia sudah punya keluarga baru. Seperti inilah kehidupanku. Sangat jarang berkomunikasi dengan Ayah. Sampai-sampai Ayah sudah menikah lagi pun aku tidak mengetahuinya. Entah mengapa kali ini aku sedih melihat Ayah bahagia. Dan yang membuatku takut adalah ketika nanti aku harus hidup dengan ayah, ibu tiri dan saudara tiri.Aku bingung perasaan yang bagaimana harus aku tampakkan kepada orang lain saat ini. Haruskah aku tersenyum walau hatiku sedih. Aku benar-benar bingung.Beberapa saat kemudian Ayah datang mendekatiku.“Ra, untuk sementara kamu tinggal di sini dulu. Ayah yakin kamu belum siap untuk berpisah dengan kakakmu. Nanti Ayah jemput kalau sudah waktunya.” Kata Ayah."Hanya itu yang ingin Ayah sampaikan?" tanyaku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja."Maksud kamu?" Ayah bertanya balik."Keluarga baru Ayah. Apa Ayah tidak ingin mengenalkanku pada mereka atau menceritakan tentang mereka padaku?" mataku mulai berkaca-kaca sekarang.Ayah terlihat heran."Apa kamu tidak mengetahuinya? Dulu waktu Ayah menikah kakakmu datang dan mengatakan kalau kamu tidak ikut karena sibuk dengan sekolahmu. Ayah pikir kamu sudah mengetahuinya dari kakakmu?" kata Ayah sambil melihat kakakku yang sedang berfoto bersama teman-temannya."Tidak, kakak tidak pernah mengatakan kalau Ayah sudah menikah." kataku dengan air mata yang sudah mengalir di pipi. Ayah memelukku dan mencoba untuk menenangkan aku agar berhenti menangis di tengah keramaian.***Beberapa bulan aku jalani kehidupanku bersama rumah tangga baru kakakku. Semuanya baik-baik saja, sampai suatu waktu kakak keluar kota beberapa hari untuk urusan bisnis. Kini hanya ada aku dan kakak ipar yang tinggal di rumah. Kakak iparku seorang guru dan akhir-akhir ini dia kebanyakan mengalami stress. Dan dia selalu melampiaskan stressnya padaku meskipun aku tidak melakukan kesalahan. Hingga suatu waktu sepulang dari sekolah.“Lara!! Kenapa pulangnya terlambat?” tanyanya marah-marah.“Maaf kak, tadi ada masalah di sekolah dan aku ikut terlibat.” Kataku.“Kalau begitu, cepat bereskan semua ruangan.” Katanya lagi.“Baik kak,” Kataku.Beberapa jam kemudian.“Lara! Sekarang sudah jam setengah enam, kenapa belum selesai juga?” tanyanya masih terus marah.“Tunggu sebentar lagi kak.” Aku masih terus mengepel lantai.“Ingat ya, setelah pekerjaanmu selesai, kamu harus pergi dari rumah ini!! Jangan pernah kembali, Aku bosan melihat mukamu!!” Katanya terus melototiku.“Tapi kak, aku harus ke mana?” tanyaku mulai sedikit takut.“Terserah kamu mau ke mana. Yang jelas, jangan di rumah ini.” Katanya lagi.“Kalau kakak bosan melihat mukaku, aku akan masuk ke dalam kamar. Akan lebih baik seperti itu daripada keluar rumah.” Kataku memohon pada kakak ipar sambil menangis.“Tidak!! Pokoknya kamu tidak boleh tinggal di rumah ini!” sepertinya dia tidak bisa menahan stess dan melampiaskannya padaku.Beberapa menit kemudian, dia menyeretku keluar rumah.“Aku salah apa kak? Maafkan aku kalau aku salah. Kak izinkan aku bermalam di sini untuk malam ini. Aku janji akan pergi dari rumah ini, tapi jangan malam ini kak.” Kataku sambil menangis. Tapi apa boleh buat, dia sudah menutup pintunya bahkan dia mungkin menguncinya. Aku segera bangkit dan meninggalkan rumah.Beberapa menit kemudian, aku berhenti di depan sebuah Masjid dan ikut shalat berjamaah. Setelah selesai shalat, aku duduk di teras Masjid. Aku tidak tahu harus ke mana. Tanpa kusadari air mataku kembali menetes. Tak lama kemudian, ada dua gadis cilik berjilbab merah mendekatiku.“Assalamu’alaikum kak.” Mereka serempak mengucap salam.“Wa’alaikummussalam.” Jawabku.“Kakak kenapa nangis?” tanya salah satu gadis cilik itu.“Mm,, kakak diusir dari rumah dan kakak tidak tau harus ke mana.” Kataku masih terus menangis.“Oo,, gitu. Kak kenalin kami dari panti asuhan An-Nur nama saya Lala dan ini teman saya Rara.” Katanya sambil mengulurkan tangan.“Namaku Lara, dik.” Kataku sambil menyambut uluran tangannya satu per satu.“Tadi kakak bilang tidak punya tempat tujuan, kan?” Tanya Lala. Aku hanya mengangguk.“Kalau begitu kakak ikut dengan kami ke panti, daripada tinggal semalaman di sini, sendiri lagi.” Kata Rara sambil melihat di sekeliling lalu bergidik.Aku sangat senang saat itu, aku fikir inilah malaikat kecil yang dikirim Allah Ta’ala untuk menyelamatkan hidupku. Akhirnya kami berangkat bersama-sama menuju panti.Keesokan harinya Ayah datang untuk menjemputku dan meminta maaf atas kesalahannya karena tidak pernah peduli padaku selama ini. Setelah Ayah berbincang sebentar dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu pengurus panti, kami segera pamit meninggalkan panti.Hari-hari kujalani bersama keluarga baru Ayah, namun tidak seperti yang Aku bayangkan dulu. Mereka semua baik padaku. Maafkan Aku yang telah suudzhan kepada kalian semua.

Kasih Sayang Untukmu
Teen
05 Dec 2025

Kasih Sayang Untukmu

Namaku Mutia. Biasa di panggil Tia. Aku adalah seorang gadis yang tinggal di desa. Ayahku bernama Hasan. Dia seorang petani biasa. Dan Ibuku bernama Syarifah. Dia adalah seorang Ibu rumah tangga yang begitu lembut dan penyabar. Mereka hendak menyekolahkanku di kota.Di sebuah sekolah negeri terkenal akan siswanya yang cerdas, di situlah tempatku menuntut ilmu dan melanjutkan pendidikan dari SMPN ke SMAN. Pada hari pertama, suasana masih terlihat sangat asing.Teman-temanku saat SMP tidak ada lagi yang kutemui di sini, kami semua terpisah. Sebagian besar teman-temanku saat SMP melanjutkan sekolahnya di tingkatan kecamatan, sedangkan aku di kota.Sebenarnya sekolah di kota memang keinginanku sejak sekolah di SD dulu. Karena di saat aku SD dulu, aku pernah ikut bersama Ayah dan Ibu ke kota untuk berkunjung ke rumah kakak aku yang sudah menikah. Saat itulah aku sangat suka suasana berada di kota. Tiap hari kita melihat mobil yang lewat di depan rumah, begitu juga pemandangannya yang sangat indah. Di saat itulah aku berfikir bahwa betapa senangnya kita tinggal di kota. Tidak seperti di desa, hanya pepohonan yang rindang yang terlihat. Kebetulan rumah kakakku bertingkat, jadi aku bisa melihat pantai dari kejauhan. Aku bisa menikmati pemandangan di ketinggian yang tidak pernah ku dapatkan di desaku.Setiap hari aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, karena jarak sekolahku dan rumah kakak dekat. Sekolahku yang sekarang sangat jauh berbeda dengan sekolahku di desa, yang bangunannya sangat sederhana dan fasilitasnya pun tidak lengkap. Sementara sekolahku yang sekarang bangunannya begitu megah dan fasilitasnya sangat memadai.Di sekolah inilah aku menemukan yang namanya sahabat. Namanya Dewi, dia adalah satu-satunya sahabatku yang mengerti akan diriku. Setiap hari kami selalu bersama, ngobrol, curhat dan menceritakan pengalaman yang telah kami lalui.Suatu hari, di hari yang cerah. Setelah bel istirahat berbunyi, siswa-siswi dengan girang meninggalkan ruang kelas, ada yang menuju kantin dan ada yang memilih ke perpustakaan. Seperti biasanya, Aku dan Dewi mencari tempat yang sejuk.''Kita ke sana yuk, di bawah pohon, kelihatannya di sana banyak angin.'' Kata Dewi.''Oke, yuk.''Jawabku.Setelah sampai di bawah pohon, seperti biasa, kami mencari tempat duduk yang nyaman.''Tia, menurutku pelajaran tadi sangat menyenangkan, kalau menurut kamu gimana?'' tanya Dewi.''Ya,, kamu benar. Pelajaran tadi memang benar-benar menyenangkan. Pak guru mengajak kita untuk belajar dengan sungguh-sungguh, agar cita-cita kita bisa tercapai.'' Jawabku.''Bukan itu maksudku, maksudku kita diajak untuk bermimpi, walau setinggi langit, dan kita juga harus berusaha untuk meraihnya."''Ooh,, yang itu. Aku setuju dengan omongan pak guru.'' Kataku singkat.''Mmm, kelihatannya kamu sudah mengerti tentang mimpi!''''Ya iyalah,,, Tia gitu loh.'' Kataku dengan penuh semangat.''Kamu serius?'' Tanya-nya lagi."Seriuslah!'' Kataku.Tiba-tiba dia mendekat kepadaku lalu berbisik ,''mimpi kamu apa?''''Mmm, sebelum berangkat ke kota, aku menatap wajah kedua orangtuaku dengan harapan, aku ngga' akan mengecewakan mereka. Sejak saat itulah aku mulai bermimpi, ingin meraih prestasi di sekolah dan membuat orangtuaku bangga dan aku ingin membalas kasih sayang yang mereka berikan untukku selama ini. Bagaimana dengan mimpi kamu?'' tanyaku padanya.''Aku ngga' pernah memikirkan tentang mimpi, apalagi sampai bermimpi.'' Jawabnya.''Wi', ngga' boleh begitu, setidaknya kita bisa membuat orang tua kita bangga, okey,,,'' Kataku.''Tia, aku ngga' lagi sama orangtuaku, mereka sudah bercerai sejak aku SD. Waktu itu, aku tinggal bersama Ayahku. Mungkin karna Ayahku sudah tidak bisa lagi merawatku, akhirnya dia membawaku ke panti asuhan. Aku bingung, bagaimana caranya membuat kedua orangtuaku bangga?'' Katanya dengan air mata yang tidak bisa tertahankan.Aku pun ikut terharu.Sekarang sudah memasuki semester dua. Ada banyak peluang yang bisa membuat aku dan Dewi bisa berprestasi. Akhirnya, tanpa ragu aku dan Dewi mendaftar ikut olimpiade. Aku memilih mata pelajaran Matematika dan Dewi pelajaran IPA.Dua hari sebelum acara dimulai, tanpa memberi tahu Dewi, aku mencari tau tahu tentang keberadaan orangtuanya Dewi. Akhirnya aku menemukan nomor handphone orangtuanya, lalu aku mengirimkan pesan kepada kedua orangtuanya.''Ayah, Ibu, mengapa kalian mengabaikan tanggungjawab kalian sebagai orangtua, aku selalu menanti kehadiran Ayah dan Ibu, aku juga ingin seperti yang lainnya. Jadi, kali ini aku mohon penuhilah keinginanku. Aku ingin Ayah dan Ibu datang ke acara sekolahku besok lusa. Aku mohon sama Ayah dan Ibu!'' Dari Dewi. Aku sengaja menggunakan nama Dewi, karena aku ingin mereka mengingat Dewi.Pada hari pengumuman, kami tidak menduga kalau ternyata kami bisa dapat juara. Aku dapat juara II umum dan Dewi juara III umum.Alhamdulillah.Beberapa saat kemudian, kami dipanggil untuk naik ke panggung untuk menerima piala. Semua orangtua siswa juga dipanggil untuk mendampingi putra-putrinya. Orangtuaku pun dengan perasaan bangga saat menuju ke panggung. Dan Aku terharu saat melihat kedua orangtua Dewi dengan bergandengan tangan menuju ke arah Dewi. Sepertinya mereka sudah rujuk kembali. Melihat ekspresi Dewi, kelihatannya dia tidak begitu yakin dengan kenyataan yang dia hadapi.Aku pun mengatakan kepada orangtuaku, ''Ayah, Ibu, inilah yang bisa aku persembahkan untuk membalas semua kebaikan Ayah dan Ibu.'' Lalu Aku dan Dewi berjabat tangan dan memeluk mereka.

Sederhana, Namun Mempesona!
Romance
05 Dec 2025

Sederhana, Namun Mempesona!

Sebuah gedung yang mengarah ke jalan raya dengan tulisan Madrasah Aliyah Negeri yang terpampang jelas di bagian depan gedung itu tampak sunyi. Hanya suara guru yang sedang mengajar terdengar sekilas. Wardah dan seorang staf berjalan pelan menuju ruang kelas XI C yang akan menjadi tempat baru bagi Wardah untuk menuntut ilmu, setelah kemarin seharian mengurus surat pindah di sekolahnya yang dulu.Tidak ada yang salah dengan sekolah Wardah yang dulu. Hanya saja Ayah Wardah yang pindah bekerja ke kota yang di juluki kota idaman itu. Sehingga mengharuskan Wardah ikut pindah ke kota itu juga. Wardah merasa berat hati meninggalkan sekolahnya yang dulu. Meninggalkan teman-teman seperjuangannya dan juga para guru yang dengan ikhlas membagi ilmu dengannya. Namun apalah daya, Wardah hanyalah seorang anak yang ikut kemana orang tuanya pergi.Kebetulan pagi ini yang mengajar di kelas XI C adalah pak Jarno selaku wali kelas. Jadi sekalian Wardah bisa memperkenalkan diri di hadapan pak Jarno dan teman-teman sekelasnya. Menurut Wardah, siswa-siswi di sini cukup baik, hanya satu dua orang yang menjengkelkan. Baru beberapa menit mereka berkenalan dengan Wardah, mereka dengan spontan mengikuti logat bicara Wardah. Membuat Wardah terlihat sedikit jengkel.Beberapa saat setelah Wardah memperkenalkan diri, salah seorang siswi menyarankan Wardah untuk duduk sebangku dengannya. Kebetulan teman sebangkunya sudah berhenti sekolah.Setelah pelajaran pertama selesai. Dengan penasaran Wardah bertanya tentang Kamila, siswi yang baru berhenti sekolah beberapa minggu yang lalu itu."Mm... ngomong-ngomong kenapa Kamila berhenti sekolah?" Tanya Wardah ke teman-teman yang sedang berkerumun di dekatnya. Maklum, mereka ingin tahu banyak tentang identitas Wardah.Salah seorang di antara mereka menjawab pertanyaan Wardah,"Kamila dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya."Mendengar jawaban itu, Wardah langsung terdiam. 'Bagaimana jika Ayah yang berbuat seperti itu padaku? Itu pasti sangat menyakitkan.' Wardah bermonolog.Wardah ikut prihatin setelah mendengar banyak hal tentang Kamila. Siswi nomor satu di kelas itu yang memiliki wajah cantik harus rela memendam semua cita-cita mulianya, demi untuk menunaikan bakti kepada ayahnya tercinta.Beberapa hari kemudian. Pernikahan Kamila pun dilangsungkan. Teman sekelasnya semua diundang tanpa terkecuali. Namun hanya beberapa yang bisa hadir. Wardah benar-benar terpesona saat melihat wajah cantik Kamila. Apalagi tentang perilakunya yang luar biasa mulia. Dengan senyuman indah yang selalu hadir di setiap saat. Seakan menunjukkan bahwa tidak ada masalah yang terjadi dalam hidupnya."Terima kasih ya, teman-temanku semuanya sudah menyempatkan waktu untuk hadir di hari pernikahanku ini." Begitu kata Kamila sambil memeluk satu per satu teman-temannya. Termasuk Wardah yang baru pertama kali Kamila lihat."Oh ya, kenalin ini Wardah teman baru kita yang baru pindah beberapa hari yang lalu." Tasya mengenalkan Wardah pada Kamila saat Wardah ikut menjabat tangan dan memeluk Kamila."Selamat ya, atas pernikahannya. Semoga SAMAWA." Ucap Wardah sesaat setelah melepas pelukan dari Kamila."Aamiin. Terima kasih." Kata Kamila sambil tersenyum.Wardah melihat penampilan Kamila begitu sederhana. Namun di sisi lain Kamila terlihat begitu mempesona. Mungkin karena kecantikan yang di milikinya, sehingga siapa pun yang melihatnya akan terpesona dengan penampilannya.***Sebulan berlalu setelah mengadiri pernikahan Kamila, Wardah memutuskan untuk mengikuti rohis bersama temannya yang lain. Barangkali dengan keikutsertaan Wardah dalam organisasi rohis tersebut, Wardah bisa mengikuti jejak Kamila yang memiliki perilaku yang mulia. Di sana juga banyak ilmu yang bisa Wardah dapat. Termasuk ilmu tentang menutup aurat. Sebagai seorang perempuan yang paling diutamakan adalah menutup aurat. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur'an surah An-Nur ayat 31.Dan saat itulah Wardah memutuskan untuk memakai kerudung panjang yang menutupi kepala hingga bagian lutut. Meski yang di perintahkan adalah menutup kepala hingga bagian dada saja, namun Wardah merasa lebih tenang bila memakai kerudung panjang yang menutupi setengah bagian dari tubuhnya. Wardah merasa dirinya terlindungi dengan pakaian kerudung yang ia kenakan. Begitu juga dengan teman-teman Wardah yang lain. Ada yang mengambil keputusan memakai kerudung panjang sama seperti Wardah, namun ada juga yang masih stay dengan kerudung yang menutupi kepala hingga bagian dada saja seperti yang diperintahkan dalam agama.Seperti biasa setiap hari rabu siswa kelas XI C belajar penjaskes. Semua siswa berbaris di lapangan lima menit setelah bel berbunyi. Bagi yang terlambat hukumannya adalah lari keliling lapangan sebanyak lima kali untuk laki-laki dan tiga kali untuk perempuan. Terkadang siswa yang terlambat terlihat mendesah karena harus menjalani hukuman. Namun hukuman ini adalah pelajaran bagi mereka yang terlambat agar selanjutnya bisa disiplin dan mematuhi peraturan.Selesai pemanasan, ketua kelas mengarahkan para siswa menuju ke lapangan lompat jauh. Karena Hari ini praktek, setelah minggu lalu pak guru menjelaskan materi tentang lompat jauh.Praktek hari ini berjalan dengan lancar. Hampir semua siswa menguasai materi yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pak guru terlihat puas dengan pencapaian para siswanya. Hanya memberi sedikit saran bagi siswa yang memiliki badan yang gemuk."Bagi yang merasa dirinya gemuk, besok-besok diet ya, supaya pas pengambilan nilai minggu depan hasil lompatannya bisa lebih memuaskan dari hari ini." Kata pak guru sedikit meledek."Paling dietnya cuma bisa sehari doang, setelah itu pasti makannya lebih lahap dari biasanya." Andri ikut meledek di ikuti gelak tawa sebagian siswa laki-laki."Ih, apaan sih." Kata Siska sambil melempar kerikil ke arah Andri dengan pelan. Siska yang memiliki badan gemuk itu merasa tersinggung."Ya sudah kalau begitu. Kalau memang nggak bisa diet, diusahain ya minggu depan hasilnya bisa lebih baik dari hari ini." Kata pak guru."Siap, pak." Kata Siska diikuti beberapa siswa lainnya."Untuk praktek hari ini cukup sampai di sini. Sekarang kalian boleh istirahat." Kata pak Jaka guru olahraga yang ditugaskan untuk mengajar khusus kelas XI itu menutup materi pelajaran hari ini lalu beranjak meninggalkan lapangan lompat jauh.***Seminggu kemudian...Para siswa sudah bersiap di lapangan lompar jauh menunggu aba-aba dari sang guru. Pak Jaka memberikan aba-aba kepada para siswa agar menempati posisi masing-masing berdasarkan urutan absen kelas, namun siswa laki-laki dan perempuan dipisah saat melakukan praktek lompat jauh. Para siswa laki-laki disarankan melakukan lompatan terlebih dahulu oleh pak Jaka. Agar menjadi contoh kepada siswa perempuan. Karena siswa laki-laki rata-rata sudah melakukan lompatan yang sempurna pada saat praktek minggu kemarin.Satu per satu siswa laki-laki melakukan lompatan. Memperlihatkan kemampuan yang mereka miliki. Mengambil ancang-ancang dari kejauhan lalu kemudian berlari secepat mungkin. Kemudian melakukan tumpuan pada papan kecil dengan salah satu kaki terkuat mereka lalu melakukan lompatan sejauh mungkin dengan pedaratan yang harus sempurna sesuai dengan materi yang sudah pak Jaka sampaikan minggu lalu.Kini giliran siswa perempuan yang akan menunjukkan kebolehannya. Wardah menjadi siswa kedua dari terakhir yang akan melakukan lompatan. Namun ada yang beda saat Wardah akan melakukan lompatan. Wardah tetap memakai kaos kaki. Hal ini yang menyebabkan ia dipanggil oleh pak Jaka."Wardah, tolong kaos kakinya di lepas. Peraturan lompat jauh tidak diperbolehkan memakai kaos kaki." Pinta pak Jaka."Tapi pak, kaki saya termasuk aurat. Jadi, saya harus tetap memakai kaos kaki ini." Kata Wardah."Dalam peraturan lompat jauh, tidak diperbolehkan memakai alas kaki meskipun itu hanya kaos kaki." Sekali lagi pak Jaka memberi penjelasan kepada Wardah. Selanjutnya pak Jaka memanggil siswa terakhir.Wardah terlihat menunduk. Ada rasa kecewa sekaligus sedih yang terlihat di wajahnya. Ia beranjak dari hadapan pak Jaka lalu melangkah menuju kelas setelah sebelumnya ia mengambil sepatu. Teman-temannya mengikuti langkah Wardah. Tasya terlihat merangkul Wardah sampai ke dalam ruang kelas.Tangis Wardah pecah saat tiba di ruang kelas. Ia duduk di kursi lalu menundukkan kepalanya ke atas meja. Tasya terlihat mengusap pundak sahabatnya itu seraya menenangkan Wardah dari tangisnya."Wardah yang sabar ya, jangan menangis lagi. Nanti kita bicara dengan pak Jaka. Semoga pak Jaka bisa mengerti apa yang kita sampaikan." Kata Tasya.Setelah jam istirahat tiba, Wardah bersama beberapa temannya menuju ke kantor untuk menemui pak Jaka. Mereka meminta ke pak Jaka agar memberikan keringanan untuk Wardah agar dia tetap mendapat nilai untuk materi lompat jauh. Alhasil, mereka berhasil membujuk pak Jaka. Wardah diberi tugas berupa soal-soal yang harus ia kerjakan dalam Waktu seminggu. Wardah harus menyetor tugas itu tepat waktu, agar Wardah bisa mendapat nilai sama seperti teman-temannya yang lain.

Hadiah
Romance
04 Dec 2025

Hadiah

Rini berjalan pelan menuju ke ruang perpustakaan sekolah bersama Nindi sahabatnya. Mereka termasuk siswa yang pandai memanfaatkan waktu luang. Saat jam istirahat tiba, mereka memanfaatkannya untuk membaca buku di perpustakaan.Nindi terlihat membawa sebuah buku yang dipinjamnya dari perpustakaan seminggu yang lalu. Dan waktu pengembaliannya adalah hari ini. Jika ditunda, maka ia akan terkena denda. Meski Nindi belum selesai membaca buku itu, ia tetap harus mengembalikannya. Jika masih ingin membacanya, maka ia harus memperpanjang masa pinjamannya selama seminggu ke depan.Mereka berjalan beriringan memasuki ruang perpustakaan. Rak-rak buku berjejer rapi, begitu pun buku-buku yang tersusun terlihat begitu memanjakan mata. Ruang perpus itu begitu luas, hingga bisa menampung banyak orang juga dilengkapi dengan pendingin ruangan, sehingga siapa pun yang berada di ruangan itu akan merasa adem dan nyaman.Nindi terus berjalan menuju meja staf untuk memperpanjang masa pinjaman buku yang dipinjamnya. Sementara Rini mencari buku yang menarik untuk dibaca. Dia terlihat membaca satu per satu judul buku yang tersusun rapi itu. Menurut Rini, buku yang menarik untuk dibaca itu bisa dilihat dari judulnya. Jika judulnya menarik, maka besar kemungkinan isi dari buku tersebut juga menarik untuk dibaca.Mulut Rini terlihat komat-kamit membaca judul buku yang ada di depannya. Sepertinya judul buku yang dibaca itu membuatnya tertarik. Diambilnya dengan pelan buku itu agar buku yang lainnya tidak berserakan. Lalu ia melangkah menuju ke salah satu kursi yang berjejer memanjang dan mulai membaca buku. Nindi yang sudah selesai memperpanjang bukunya berjalan ke arah Rini lalu duduk di sampingnya."Nin, kamu sudah selesai?" tanya Rini setelah ia menyadari kalau Nindi sudah duduk di sampingnya."Sudah. Tapi jam istirahat masih lama. Aku mau lanjut baca buku." Nindi membuka buku dan mulai membacanya."Yaa masih lama sih. Tapi barusan Andi kirim pesan katanya dia mau bagi hadiah lagi. Seperti tahun lalu. Libur semester kemarin dia liburan ke AS. Memangnya kamu nggak baca pesan di grup?" tanya Rini menunjukkan pesan yang ada di handphonenya ke Nindi."Nggak." Nindi menggelengkan kepalanya.Mereka segera berjalan menuju kantin. Kantin yang selalu terlihat bersih setiap saat itu merupakan salah satu kantin yang diminati para siswa di setiap jam istirahat. Aneka jajanan ringan terlihat memenuhi ruang bagian depan kantin. Membuat siswa puas memilih jajanan yang mereka suka. Termasuk Rini dan Nindi, coklat belgia tebal yang menjadi kesukaan mereka. Mereka segera membeli makanan kesukaannya itu setelah akhirnya pandangan mereka tertuju ke arah Andi yang sedang ngobrol bareng sahabat-sahabatnya di kantin sebelah, yang khusus untuk makanan berat seperti bakso, mie goreng, nasi goreng dll.​"Rin, kamu yakin mau gabung bareng mereka? Di sana kebanyakan cowok. Nanti aja ke sananya, ya." Nindi merasa tidak nyaman bila di sekitarnya kebanyakan cowok."Yakin lah. Ngapain harus malu. Kamu kayak nggak tau aja, paling sebentar lagi para siswi berdatangan." Kata Rini."Aku memang nggak tahu kok. Kamu kan nggak pernah ngajakin aku kalau si Andi siswa paling kaya itu bagi-bagi hadiah." Nindi terlihat kesal."Terus, sekarang aku nggak ngajakin kamu, gitu?""Tapi kan, baru kali ini." Nindi masih terlihat sedikit kesal.Rini tak menghiraukan sahabatnya itu. Dia langsung melangkah ke arah kantin sebelah. Disusul Nindi."Good morning, guys." Sapa Rini sesaat setelah tiba di dekat Andi yang sedang menikmati semangkuk bakso."Good morning too, guys." Sapa Riska and the geng tak kalah hebohnya."Tumben Rin, kamu barengan sama mereka?" tanya Andi setelah menelan bakso yang baru saja dia kunyah."Siapa yang barengan, aku yang tiba lebih dulu kalii..." Rini terlihat tak mau kalah dari Riska and the geng."Sebenarnya ada apa sih Rin? Kok jadi debat kayak gini?" tanya Nindi heran."Kamu tau kan, kalau si Andi orang tajir?" tanya Rini"Tau, terus?" Nindi terlihat mengangguk."Hari ini dia mau bagi hadiah lagi seperti yang aku bilang tadi. Kalau tahun lalu hadiahnya berupa gantungan kunci dari paris katanya. Tapi, yang dapat hadiahnya tergantung siapa yang beruntung. Tahun lalu aku nggak beruntung. Semua hadiahnya Riska and the geng yang dapat. Makanya kali ini aku nggak boleh kalah dari mereka." Rini agak berbisik ke arah Nindi."Maksudnya?" tanya Nindi."Pakai peraturan.""Kali ini peraturannya beda, ya. Karena hadiahnya mewah. Peraturannya adalah tes kekompakan. Satu tim terdiri dari dua orang. Setiap tim diberi kesempatan satu kali main. Jawabannya harus kompak, ya. Biar bisa dapat hadiah." Andi menjelaskan peraturan untuk mendapat hadiah darinya."Nin, bareng aku ya. Please! Aku mau banget dapat hadiah itu." Bujuk Rini. Nindi hanya mengangguk. Sementara Andi terlihat membagikan brosur kepada siswa."Di brosur ini ada tiga pertanyaan. Jawabannya harus kompak dengan partnernya, ya. Tapi, tidak boleh nyontek. Pengumuman siapa yang berhasil dapat hadiah akan diumumin besok." Kata Andi sambil terus membagikan brosur."Kenapa harus pakai peraturan sih? Kalau mau bagi-bagi hadiah, bagi sama rata aja kali." Nindi berbisik ke telinga Rini."Biar kelihatan lebih seru gitu. Soalnya hadiahnya terbatas. Kalau dibagikan satu persatu kan nggak seru." Kata Rini.Nindi berdengus.Mereka segera duduk di kursi yang sedikit berjauhan."Nin, ingat, jawabannya harus kompak." Kata Rini agak berbisik ke Nindi yang sudah bersiap mencontreng jawaban pilihannya."Mana aku tau jawaban kamu apa." Nindi jadi bingung."Pakai feeling, pakai feeling." Rini menyentuh kepalanya menggunakan jari telunjuk."Ssstt, dilarang bisik-bisik." Kata Rio teman Andi yang menjadi pengawas.Keesokan harinya.Rini dan Nindi serta beberapa siswa yang ikutan bagi-bagi hadiah kemarin terlihat cemas menanti pengumuman siapa yang akan dapat hadiah kali ini. Mereka berharap bisa pulang membawa hadiah yang mereka inginkan. Alhasil, mereka yang beruntung berhasil membawa pulang hadiah mewah berupa jam tangan dari AS. Termasuk Rini dan Nindi. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Andi. Meski pun Andi orang kaya, namun ia tidak sombong. Justru ia suka berbagi hadiah kepada orang lain.

Pengalaman Pertama
Romance
04 Dec 2025

Pengalaman Pertama

Menjadi penulis adalah keinginan terbesar dalam hidupku. Dan menjadi penulis adalah salah satu cara menyampaikan kebaikan tanpa bertemu secara langsung dengan orang lain. Maklum, aku orangnya tidak pd-an, menyampaikan kebaikan secara langsung kepada orang lain aku rasa itu sulit. Aku merasa minder untuk bicara di depan orang.Menjadi seperti ini bukanlah pilihanku. Namun, takdir telah membawaku ke tahap ini. Sakit rasanya bila ingin merasakan hidup bebas seperti yang lainnya, punya teman ngobrol, berbagi cerita dan bercanda bersama, pasti menyenangkan. Namun takdir berkata lain.Aku berada di tempat sepi. Tidak banyak orang yang sering ku temui. Hanya kehampaan yang selalu hadir di lembaran hidup ini. Menjelang sholat isya, aku diberikan tiket untuk acara bedah buku yang akan di diadakan di gedung pemuda. Aku rasa ini adalah momen langka yang terjadi padaku.Di malam yang sepi ini, kupandangi cahaya rembulan dari balik jendela kamarku. Sejenak aku terkesima mengagumi ciptaan Tuhan yang indah ini. Di sekeliling rembulan, ada ribuan bahkan jutaan bintang yang tak kalah menarik untuk dikagumi. Betapa Maha Kuasa Tuhan dalam mengatur segala yang ada di dunia ini. Tak seorang pun yang mampu menandingi kekuasaan-Nya.Kualihkan pandanganku ke arah meja belajar yang terbuat dari kayu jati yang dibuat sendiri oleh Ayahku. Rindu rasanya bila aku teringat dengan Ayah yang telah pergi untuk selamanya beberapa tahun yang lalu. Begitu banyak kenangan yang terlintas di memori ingatanku tentang Ayah. Tak terkecuali foto keluarga kecil yang dipotret saat lebaran terakhir bersama Ayah yang terbingkai indah di atas meja sana.Tanpa kusadari ada air mata yang mengalir di pipiku, juga ada rasa rindu yang begitu menggebu di dalam hatiku. Rindu akan sosok Ayah yang selalu memberi motivasi dan mengajariku cara bersyukur atas segala sesuatu yang Tuhan berikan.Malam semakin larut, kuhapus sisa air mata di pipiku lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kata Ayah "berwudhulah sebelum tidur, agar malaikat ada di dekatmu dan menjagamu hingga kamu terbangun."Keesokan harinya saat di gedung pemuda.Hidangan es campur yang ada di hadapan kami memang sangat cocok disaat cuaca panas seperti saat ini, aku dan beberapa peserta mulai menyantapnya. Beberapa peserta lain mulai berdatangan dan tersenyum ke arah kami.Sementara di dalam ruangan panitia terlihat sibuk menyiapkan segala keperluan acara mulai dari mendekorasi ruangan sampai menyiapkan kursi untuk peserta.Peserta yang datang kebanyakan dari kalangan remaja. Maklum temanya tentang cinta. Bicara tentang cinta tak akan pernah ada habisnya. Karena sejatinya cintalah yang bisa membuat bahagia. Mungkin hal ini yang membuat mereka tertarik untuk mengikuti acara ini."Assalamu'alaikum..." seorang peserta memberi salam saat tiba di dekat kami."Wa'alaikumsalam..." jawab kami kompak.Dia lalu ikut bergabung bersama kami. Usianya kira-kira masih belasan tahun. Kerudung berwarna biru toska yang menutupi kepala hingga bagian dadanya tampak serasi dengan jilbab yang ia pakai. Membuatnya terlihat seperti muslimah salehah yang mempesona."Eee, nama Kakak siapa?" tanyanya dengan mata yang tertuju padaku. Dia membuka pembicaraan denganku karena melihat yang lain pada sibuk dengan hpnya masing-masing. Sementara aku hanya sibuk memainkan renda-renda yang menempel di lengan bajuku."Rini." Jawabu singkat."Saya Sinta, Kak." Lanjutnya sambil mengulurkan tangan. Kuterima uluran tangannya yang terasa begitu lembut dan hangat. Aku hanya tersenyum tipis.Beberapa saat setelahnya, kakak panitia memanggil seluruh peserta untuk masuk ke dalam ruangan karena sebentar lagi acaranya akan dimulai."Ini Kak, tiketnya." Sinta yang ada di depanku menyodorkan selembar tiket kepada Kakak panitia."Silahkan ditulis dulu namanya siapa dan tinggal di mana." Kakak panitia memberikan sebuah pulpen dan selembar kertas setelah mengambil tiket dari Sinta. Begitupun denganku. Setelah selesai menulis nama dan alamat, aku bingung mau duduk di mana. Di tempat ini sangat ramai. Aku merasa takut berada di tengah keramaian ini. Baru pertama kali aku mengalami kejadian seperti ini."Duduk sama aku, yuk." Sinta mengajakku ke tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari hadapan kami. Aku mengikuti langkahnya dari belakang.Semua peserta terlihat antusias mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh pemateri. Begitu juga denganku. Ini adalah pengalaman pertama yang begitu mengesankan bagiku.

Dia Pasti Setia
Teen
04 Dec 2025

Dia Pasti Setia

Gerimis turun perlahan, disertai angin kencang yang menggoyangkan dedaunan, hingga berguguran satu per satu. Aku dan Ibu berjalan menuju ke sebuah bangunan kumuh untuk berteduh. Meskipun bangunan tersebut terlihat kumuh, namun cukup membuat aku dan Ibu tidak basah akibat air hujan yang sudah mulai deras. Kami buru-buru mendekati bangunan tersebut.Kami benar-benar tidak menyangka kalau hari ini akan turun hujan, pasalnya tadi saat di bus, cuaca terlihat sangat cerah. Bahkan tak segelintir pun awan yang berani mendekati matahari. Ini membuktikan bahwa perubahan dapat terjadi dalam waktu yang sangat singkat sekalipun.Dua langkah aku mendahului ibu menuju ke bangunan tersebut. Habis, ibu jalannya lelet! Selalunya begitu! Aku paling nggak suka jalan sama ibu. Tapi aku harus bagaimana lagi? aku tak sanggup pisah dari ibu."Hujan kok tiba-tiba turun ya? Tanpa permisi! Kalau tau begini, tadi ibu siapkan payung sebelum berangkat!" Ibu mengomel.Aku menoleh kearah Ibu. "Maksud Ibu apa?""Maksud Ibu, tanda-tanda sebelum hujan turun." Jawabnya tanpa menoleh kearahku.Beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah belakang, aku menoleh. Kulihat seorang anak perempuan yang seusia denganku dengan berpakaian lusuh. Ibu pun ikut menoleh, ikut menyaksikan apa yang aku saksikan. Kami ngobrol dengannya. Katanya namanya Nina. Dia selalu datang ke tempat ini bila hujan turun dan bila malam sudah menjelang. Dia tinggal sendiri selama beberapa hari terakhir ini, tanpa perasaan takut sama sekali. Nina lari dari panti, setelah teman-teman di panti sering membully dia. Meskipun dia tidak tahu harus pergi kemana. Ibu tidak tega melihat keadaan Nina yang begitu memprihatinkan. Akhirnya Ibu mengangkatnya sebagai anak angkat.***Sembilan tahun kemudian. Aku dan Nina sekarang duduk di kelas XII. Aku senang punya saudara perempuan, meskipun saudara angkat. Namun, ada satu hal yang aku tidak suka dalam diri Nina. Nina selalu menceramahiku. Katanya suatu hari padaku saat aku sedang main game."Min, aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan marah, ya?""Ngomong apaan?""Tapi, janji jangan marah, oke?" tanyanya."Oke". Jawabku singkat."Aku pengen kamu nggak pacaran. Pacaran itu dilarang, dan yang jelas pacaran itu hanya akan menambah pundi-pundi dosa yang akan mengantar ke Neraka." Ujarnya sambil menatapku.Aku terdiam sejenak."Niin, aku terlanjur jatuh cinta. Bagiku melupakan itu susah. Apalagi Ayah dan Ibu jarang di rumah. Jarang memberikan kita kasih sayang yang sebenarnya sangat kita butuhkan. Kamu tahu itu, kan?" tanyaku kepadanya."Ayah dan Ibu jarang di rumah karena mereka kerja. Mereka kerja untuk kita, untuk masa depan kita." Katanya membela Ayah dan Ibu yang menurutku tak pantas untuk dibela. Ayah dan Ibu mengabaikan tanggung jawab dalam keluarga. Mereka lebih mementingkan kerja daripada meluangkan waktu untuk anak-anaknya.***Bel berbunyi tanda istirahat. Siswa dan siswi dengan girang meninggalkan ruang kelas. Ada yang menuju kantin, perpustakaan dan ada pula yang menuju lapangan sepak bola. Meskipun bukan pelajaran olahraga, mereka selalu bermain sepakbola. Aku dan Nina memilih ngobrol di depan kelas."Hay, boleh ikut ngobrol?" tanya Ifand, ketua kelas XII C. Orangnya gagah dan cukup disiplin."Ee, boleh. Silahkan." Kataku mempersilahkan dia duduk di dekat kami.Kami akhirnya ngobrol bareng, berbagi canda tawa. Tiba-tiba Ifand beralih topic."Min, kamu cantik. Aku suka kamu. Dari dulu aku menyimpan perasaan ini, namun baru sekarang aku berani mengungkapkannya. Bagaimana denganmu?" tanya Ifand. Mukanya serius kali ini.Aku dan Nina saling pandang. Nina mengangkat kedua keningnya. Kubalas dengan mengangkat kedua bahuku."Mm,, gimana ya?" tanyaku. Nina mencoba memberikan pendapatnya."Min, jangan mudah percaya dengan kata-katanya kalau kau tidak ingin sakit hati. Sudah berapa kali aku bilang pacaran itu dilarang." Kata Nina berharap aku bisa mendengarnya dan mengikuti arahannya kali ini. Aku hanya diam. Namun, lelaki itu tetap bersikeras mengeluarkan segala rayuan yang dia miliki."Min, aku janji padamu, aku akan selalu setia mencintaimu, kapan pun dan di mana pun itu. Percayalah!" Kata Ifand merayu.Aku mulai sedikit tertarik dengan rayuannya. Namun aku tetap diam."Kalau kamu nggak bisa jawab sekarang, nggak apa-apa. Kamu bisa jawab kapan aja. Aku duluan, ya." Ucap lelaki tersebut lalu pergi."Jangan percaya kata-katanya, Min." Kata Nina sekali lagi, memberikanku solusi. Nina tak ingin aku sakit hati."Tapi, kamu dengar sendiri kan, dia berjanji untuk setia. Aku yakin, dia pasti setia." Ucapku tanpa mempertimbangkan kata-katanya.***Bel tanda pulang telah berdentang. Kami diperingatkan oleh staff untuk langsung pulang ke rumah, kecuali siswa yang mengikuti organisasi. Di perjalanan pulang, aku nggak nyangka kejadian ini akan terjadi. Awalnya aku dan Nina berjalan di belakang mereka. Kami mengikuti jejak langkah mereka. Kami mendengar semua perbincangannya mulai dari awal hingga akhir. Ada yang aneh! Kata-kata yang dikeluarkan lelaki tersebut sama persis dengan kata-kata yang diucapkan Ifand pagi tadi di hadapan kami.Dengan perasaan yang menggebu-gebu, aku melangkah mendahului mereka. Aku pengen memastikan siapakah lelaki itu yang meng-copy-paste dengan sempurna kata-kata yang aku dengar pagi tadi? Aku melihatnya dari arah depan. Daaan......DDOORR!!!Bagai tembakan pistol yang 99,99% hampir mengenai batinku. Seperti itulah perasaanku saat ini."Ifand! Kamukah ini? Kamu yang berjanji untuk setia pada setiap perempuan?" ucapku tanpa mengedipkan mata. Nina hanya berdiri mematung di sampingku. Nina tak tahu harus berbuat apa. Sementara Ifand kaget, melihatku yang tiba-tiba muncul di depannya."Mina, aku hanya...""Hanya apa? Hanya berjanji pada perempuan itu untuk setia padanya, lalu pergi mencari mangsa lain, iya? Tega kamu Fand! Fand, kamu fikir hanya kamu yang punya perasaan, aku juga punya perasaan Fand! Punya perasaan!!" kataku sambil terus menatapnya.Ifand diam kali ini. Tak tahu harus ngomong apa. Beberapa menit hening. Hanya suara kendaraan yang lalu lalang terdengar. Nina tiba-tiba menarik lenganku, mengajak untuk pergi."Mina, mungkin ini adalah teguran yang Allah subhanahuwata'ala berikan padamu. Aku ingin kau menyadarinya! Aku ingin kau berubah! Aku ingin kita sama-sama menjaga agama Allah, bukan malah mengotorinya." Kata Nina mengingatkanku untuk yang kesekian kalinya.Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku tertarik dengan kata-katanya kali ini. Berubah!! Ya, aku ingin berubah, berubah agar tak mudah jatuh cinta.Waktu terus berlalu, tak terasa kami sudah di penghujung kelas menengah atas. Ujian nasional sudah di depan mata. Kali ini aku serius belajar, tak ada lagi kata pacaran dalam hidupku. Tak ada lagi bujuk rayuan yang pernah aku dengar. Sekarang aku benar-benar serius untuk berubah dalam menjalani hidup yang penuh makna.

Rifki & Rifka
Romance
03 Dec 2025

Rifki & Rifka

Waktu menunjukkan pukul 17:30. Seorang anak berjalan terseok-seok menuju ke sebuah rumah gubuk. Sepertinya dia mengalami cedera di bagian kaki, sehingga tak mampu untuk berjalan dengan sempurna. Dia adalah Rifki, seorang anak yang berusia 10 tahun yang bekerja sebagai seorang pemulung. Penghasilannya dalam sehari pun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.Dia hidup bersama dengan Ibundanya tercinta dan seorang adik perempuannya yang berusia 8 tahun. Ayahnya sudah lama meninggalkan mereka. Mereka dicampakkan begitu saja.Ibunya lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Saat Rifki berangkat kerja, adik perempuannya-lah yang merawat Ibunya, memandikan dan memakaikan baju untuknya. Mereka sama sekali tak pernah mengeluh dengan kehidupan yang serba terbatas. Justru mereka selalu istiqamah di jalan Allah Subhanahuwata'ala."Assalamu'alaikum..." kata Rifki sambil mengetuk pintu.Adiknya segera berlari dari ruang dapur menuju ke pintu luar."Wa'alaikummussalam..." adiknya menjawab salam sambil membuka pintu. Adiknya bernama Rifka."Ikka, Ibu di mana?" tanya Rifki yang terlihat sedikit sumringah."Ibu di kamar ka'. Ada apa?" tanya Rifka.Tanpa menjawab pertanyaan adiknya, Rifki segera melangkah menuju ke kamar di tempat di mana Ibunya berada."Ibu, lihat apa yang aku bawa." Kata Rifki sambil memperlihatkan sebuah kantongan besar yang berisi berbagai macam makanan."Ikki, darimana kamu mendapatkan semua makanan ini?" tanya Ibunya yang terlihat heran."Begini bu', tadi Aku jatuh saat hendak mengambil botol bekas di sungai. Dan ada seseorang yang menolongku. Dia bertanya kenapa aku bisa jatuh ke sungai, lalu kujelaskan sesuai kronologi yang terjadi." Kata Rifki panjang lebar."Terus apa hubungannya dengan makanan ini?" Tanya Ibu yang terlihat penasaran."Setelah orang tersebut mendengarkan ceritaku, mungkin Dia merasa kasihan padaku. Lalu orang tersebut mengajakku ke suatu tempat. Nah, di tempat itulah aku puas memilih makanan yang aku suka. Dia orang kaya bu', punya mobil mewah lagi." Kata Rifki sambil mengeluarkan satu per satu makanan yang ada di kantongan plastik."Terus apa yang terjadi selanjutnya? Ngga' mungkin kan kakak pergi begitu saja setelah mendapat makanan darinya." tanya Rifka yang sudah duluan menikmati makanan."Aku mengucapkan terima kasih banyak kepadanya. Kemudian Dia membawaku kembali ke tempat pertama kami ketemu. Kemudian Dia berpesan 'jangan pernah kamu meninggalkan Ibumu, dalam keadaan apapun itu. Kalau kamu membutuhkan bantuan, langsung saja kamu telepon Om.' Katanya sambil memberikan sebuah hp kepadaku." Kata Rifki memperlihatkan hp tersebut. Ibu dan adiknya hanya diam, tak berkomentar apa-apa.Beberapa hari telah berlalu, Rifki tidak lagi bersusah payah mencari botol bekas, karena persediaan makanan masih banyak.Suatu hari, di hari yang cerah. Ada sekelompok anak yang sebaya dengan Rifki datang berkunjung ke rumahnya. Mereka adalah teman Rifki yang pernah ia jumpai beberapa waktu lalu. Mereka bermaksud mengajak Rifki untuk bermain bola. Setelah pamit dengan Ibu, Rifki pun berangkat bersama dengan teman-temannya.Ditengah asyiknya mereka bermain bola, tiba-tiba Rifka datang menghampiri kakaknya."Kak,, Ibu,,, Ibu,, kak" Kata Rifka yang masih terlihat terengah-engah."Ikka, ada apa? Ibu kenapa?" tanya Rifki."Ibu,, Ibu,,, pingsan kak." Kata Rifka sambil menangis. Keduanya pun segera berlari pulang."Ibu, bangun bu'." Kata Rifki. "Ikka apa yang terjadi sebelum Ibu pingsan?" tanya Rifki sambil terus memegangi tangan Ibunya."Tadi Ibu merasakan sakit di bagian kaki, setelah itu Ibu langsung pingsan. Apa yang harus kita lakukan sekarang kak?" tanya Ikka masih terus menangis."Telefon Om, sekarang." Kata Rifki.Rifka segera menelfon Om itu. Panggilan pertama tidak di jawab. Beberapa saat kemudian Om menelfon."Halo, Assalamu'alaikum,, Ada apa Rifki?" tanya Om di seberang sana."Om Ibu pingsan. Rifki harus bagaimana? Ini pertama kalinya Ibu pingsan." Kata Rifki dengan nada sedih."Rifki kamu tenang dulu. Begini, Om akan datang menjemput kalian. Siapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, oke,,," kata Om.Rifki kemudian menyiapkan gerobak yang akan digunakan untuk membawa Ibunya ke pinggir jalan raya."Ikka, kamu bisa kan, bantu kakak?" tanya Rifki. Rifka hanya mengangguk. Setelah semuanya siap, kedua kakak beradik tersebut segera mendorong Ibunya menggunakan gerobak yang sudah disiapkan tadi menuju ke pinggir jalan raya.Mereka tidak peduli dengan rasa lelah yang mereka rasakan. Yang mereka inginkan sekarang adalah Ibunya segera sadar. Mereka tiba di pinggir jalan.Beberapa menit kemudian, Om datang dan mereka langsung menuju ke rumah sakit."Dokter, pasien darurat." Kata Om sambil menggedong Ibu masuk ke ruangan. Rifki dan Rifka mengikuti Om dari belakang.Beberapa menit kemudian."Apa yang akan terjadi dengan Ibu, Om?" tanya Rifka yang duduk di pangkuan Om."Ikka yang sabar ya, Ibu pasti akan segera sadar." Kata Om menenangkan Rifka yang masih menangis. Rifki hanya menunduk menatap lantai yang putih bersih.Beberapa menit hening. Hanya menyisakan isak tangis Rifka. Sesaat kemudian dokter keluar dari ruangan."Dok, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Rifki."Apa Ibu sudah sadar?" pertanyaan Rifka menyusul.Lama Dokter tidak menjawab."Apa yang terjadi dengan Ibu, Dok?" kini Om yang bertanya."Kami minta maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi pasien tidak dapat diselamatkan. Penyakitnya sangat parah." Kata Dokter.Rifki dan Rifka segera berlari menuju ke ruangan Ibunya."Ibu,, bangun Bu'." Rifki tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis bersedu-sedu."Ibu,, jangan pergi bu', jangan tinggalin Ikka." Kata Rifka sambil menangis tersedu-sedu."Ikki, Ikka, yang sabar ya. Doakan semoga Ibu diterima disisi-Nya. " kata Om mencoba untuk menenangkan mereka."Ibu ngga' boleh pergi. Om bangunin Ibu." Kata Rifka sambil menatap Ibu. Om hanya menunduk. Tak bisa berbuat apa-apa.Beberapa menit kemudian, jenazah Ibu pun dimandikan, dikafankan, dishalatkan, dan terakhir dikuburkan. Selama proses tersebut, kedua kakak beradik tersebut tak pernah berpisah sedetikpun dengan Ibundanya tercinta. Barulah setelah Ibu dikuburkan, keduanya pun harus rela berpisah dengan Ibu selama-lamanya.4 tahun kemudian, tak terasa kedua kakak beradik tersebut tumbuh dengan cepat. Mereka sekarang tinggal bersama Om baik hati.Di suatu pagi, saat hendak sarapan."Om, mau nanya nih, boleh ngga'?" tanya Rifka."Boleh. Mau nanya apa?" tanya Om yang sudah mulai sarapan."Sebenarnya,, Siapa sih nama Om?" tanya Rifka."Memangnya kak Rifki ngga' pernah beritahu soal nama Om?" pertanyaan Rifka tidak dijawab, Om justru balik nanya."Loh,, kak Rifki tahu soal nama Om?" tanyanya masih heran."Ikka,,, Ikka,, sudah 4 tahun kita bersama Om. Kamu masih belum tahu siapa nama Om yang sebenarnya." Kata Rifki tersenyum.Rifka menggeleng."Soalnya selama ini hanya sebutan Om yang sering Ikka dengar." Kata Rifka."Oke,, kalau begitu perkenalkan nama Om, Rafli." Kata Om sambil mengulurkan tangannya. Rifka menyambut uluran tangan tersebut."Ohh,, Om Rafli. Unik ya Om, dalam satu rumah nama penghuninya mirip-mirip. Rafli, Rifki, Rifka." Kata Rifka dengan senyum manisnya. Rifki dan Om Rafli ikut tersenyum.

Rindu Merindu
Romance
03 Dec 2025

Rindu Merindu

Seorang wanita bule duduk di sampingku sambil memandangi suasana pantai. Ia terlihat begitu menikmati panorama alam yang indah ini.Beberapa menit kemudian."Hello! What is your name?" tanyanya dengan pandangan yang mengarah padaku.Aku merasa sedang syuting film Hollywood saat mendengarnya bertanya seperti itu padaku. Dan aku juga teringat saat itu ..."Hello! My teacher and my friends. My name is Alma Saputri. My nick name is Alma but my family call me Rindu. My Hobby is reading and writing. My ambition is a writer. I think that is all. Thank you." Seperti itulah susana perkenalan diriku saat pelajaran bahasa Inggris berlangsung. Satu persatu kami siswa-siswi maju dan memperkenalkan diri dihadapan guru dan teman-teman dengan menggunakan bahasa Inggris.Beberapa menit sebelumnya, kami diberikan kesempatan untuk latihan terlebih dahulu bersama teman sebangku. Agar saat kita tampil tidak perlu berfikir tentang apa yang akan disampaikan nantinya.Alhasil, Sembilan puluh persen siswa-siswi mampu melakukannya dengan baik, hanya beberapa yang masih belum lancar menggunakan bahasa inggris."Helloo!!!" katanya lagi sambil memetikkan jarinya di depan wajahku yang baru saja tersentak dari lamunan."Yes, I'm sorry. What did you said?" tanyaku. Aku benar-benar lupa apa yang dikatakannya tadi."What is your name?" dia bertanya dengan jelas kali ini."Mm my name is Alma Saputri, but my family call me Rindu," kuperjelas jawabanku. Dan kami saling berjabat tangan. Tangannya begitu lembut dan agak lembab."And you?" tanyaku balik. Aku juga penasaran, siapa sih bule yang berambut panjang, pirang dan berkulit putih kemerah-merahan ini? Aku memang beberapa kali bertemu dengan orang bule sepertinya. Tapi, baru kali ini ada yang menyapaku."Me Angel. Everyone call me Angel except my mom call my darling." Dia tersenyum lepas melihat pemandangan indah dihadapan kami.Kami ngobrol banyak tentang pengalaman hidup kami. Terkadang bahasaku bercampur antara Inggris-Indonesia. Dan dia tidak mempermasalahkan hal itu. Dia juga sesekali menggunakan bahasa Indonesia.Ada satu hal yang membuatku terkesima tentang kepribadian dirinya. Ia begitu kagum pada Islam. ia bercerita bahwa satu tahun terakhir ini ia belajar tentang Islam lewat internet. Banyak hal yang membuatnya jatuh hati pada Islam, terutama pada wanita muslimah yang kehormatannya begitu dijunjung tinggi dalam Islam."Kamu pasti sangat bersyukur terlahir dari keluarga yang beragam Islam. Dalam Islam wanita sangat dihormati, bahkan dalam hal berpakaian sekalipun kalian dianjurkan berpakaian tertutup saat berada di luar. Bukan begitu?" tanyanya. Ia ingin mendengar pendapatku."I'm sorry, aku tidak tahu itu. Aku hanya menggunakan kerudung ini karena perintah mama. Sepertinya pengetahuan Anda tentang agama aku lebih luas dari diri aku sendiri. Aku merasa begitu rendah saat non muslim lebih mengerti aturan agamaku dibanding diriku sendiri." Kataku tertunduk malu dihadapannya."Come on. Jangan seperti itu. Aku tahu semua itu karena aku begitu kagum dengan Islam dan berusaha untuk belajar lewat internet secara diam-diam, karena orang tuaku tidak suka aku belajar Islam," dia curhat padaku.Aku dengan polosnya bertanya,"kakak kenapa tidak masuk Islam saja?" Kutatap wajahnya yang sedang tertunduk."Mama papa tidak setuju kalau aku masuk Islam." dia menatapku kali ini."tapi kan ini hidup kakak, ini pilihan kakak, kenapa harus minta persetujuan orang tua?""Aku tidak ingin menyakiti perasaan orang tuaku. Bagaimanapun merekalah yang membesarkanku sampai bisa seperti sekarang ini." Ia menghela nafas panjang. Aku hanya diam tak tahu harus ngomong apa.Beberapa menit berlalu."Sudahlah. Mungkin inilah yang dikehendaki Tuhan." Ia beranjak dari tempat duduknya."Aku duluan ya. Hari sudah semakin sore." Ia menunduk, melihatku yang masih duduk.Suara adikku mengagetkanku. Dan ya, aku baru tersadar, ternyata aku hanya mengingat momen yang indah itu. Kenangan itu terjadi tiga tahun yang lalu. Setelah pertemuan saat itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya.Tanpa kusadari, ada gejolak rindu yang mendalam hadir dalam jiwaku. Rindu. Ya rindu dengan sosok wanita yang menginspirasiku dalam melakukan perubahan. Aku belajar Islam lebih mendalam setelah pertemuan itu. Dan kini pengetahuan ku tentang Islam semakin bertambah berkat inspirasi darinya."Kak Rindu, ayo cepat siap-siap. Kita udah mau berangkat nih." Kata Adikku."Ke mana?" tanyaku heran."Ke pantai." Adikku kegirangan sambil melompat."Ke pantai..." gumamku dalam hati. Rasa rinduku semakin menggebu saat mendengar kata itu.Perjalanan ke pantai cukup jauh. Namun, pemandangan yang kami lewati begitu indah, sehingga membuat perjalanan kami serasa singkat. Aku menikmati suasana yang indah ini. Begitu banyak kenangan yang terlintas dipikiranku saat ini. Tiba-tiba..."Assalamu 'alaikum... ini Rindu, kan?" seorang wanita dengan balutan jilbab merah yang melekat ditubuhnya menyapaku."Wa'alaikum salam... siapa ya?" Tanyaku heran."Oh my God. Rindu, ini aku Angel." Katanya sambil memelukku.Kulepas pelukannya. Aku menatapnya mulai dari kepala hingga ujung kaki. Aku tidak percaya."Tapi, kan...""Sudahlah. Ceritanya panjang." Ujarnya."Rindu, tidakkah kau merasa rindu padaku?" tanyanya."Ya Allah. Kak Angel masuk Islam." Sekarang aku yang memeluknya lebih erat dari pelukannya tadi.Setelah pertemuan mengharukan itu, kak Angel menceritakan semuanya. Tentang bagaimana caranya ia begitu gigih meminta restu kedua orang tuanya untuk masuk Islam. Dan yah, kak Angel telah menemukan lelaki pasangan hidupnya, yang akan membimbingnya di dunia hingga menuju Jannah-Nya.

SERIGALA YANG BODOH
Fantasy
03 Dec 2025

SERIGALA YANG BODOH

Kisah ini terjadi ketika Sang Elang Tua memerintah menjadi raja hutan yang bijaksana.Pada suatu hari, seekor serigalabernama Woli datang pada Elang Tua. Ia membungkuk dengan hormat, lalu mengeluh, “Rajaku yang Mulia, aku sangat kelaparan sampai-sampai aku ingin menangis! Tolong berikan aku sedikit makanan.”“Kenapa aku harus memberimu makanan? Sebagai serigala, kau bisa memburu makanan untuk dirimu sendiri!” kata Elang Tua tegas.“Tapi aku tidak tahu harus berburu apa. Tolonglah aku, Raja. Berikanlah aku saran. Apa yang harus aku makan...” mohon Woli Serigala.“Kamu lihat seekor anak kuda di padang rumput itu? Pergi, dan makanlah dia!” perintah Sang Elang Tua.Woli berterimakasih kepada Sang Elang Tua, lalu berlari ke padang rumput dan mendekati seekor anak kuda yang sedang merumput.“Anak kuda yang malang, aku akan menelanmu bulat-bulat!”“Eh... mengapa kau berkata begitu, PakSerigala?” tanya anak kuda itu ketakutan.“Raja memerintahkanku untuk memakanmu!”“Tidak mungkin! Aku ini kuda milik kerajaan. Tidak mungkin dibiarkan menjadi makanan serigala. Lihatlah! Aku mempunyai cap kerajaan pemberian Raja Elang Tua sendiri!” ujar anak kuda.“Di mana cap itu?” tanya Woli Serigala.“Di kaki belakangku,” kata si anak kuda.Woli segera melangkah ke dekat kaki belakang anak kuda. Ia lalu memeriksanya. Ketika wajah Woli mendekat ke kaki kuda, anak kuda itu langsung menendang wajah si serigala. DHUK!“AAA...” jerit Woli kaget dan kesakitan. Sementara, anak kuda itu telah melarikan diri.Woli kembali kepada Sang Elang Tua. “Rajaku yang Agung, aku sangat kelaparan, aku benar-benar ingin menangis! Berikanlah sesuatu untuk kumakan. Anak kuda tadi menendang wajahku dan melarikan diri...““Mmmm... kalau begitu, lahaplah kambing gunung. Dia pasti ada di atas bukit batu,” perintah Sang Elang Tua.Woli berterimakasih kepada Elang Tua, lalu segera lari menuju ke bukit batu dan memanjatnya. Di sana, ia bertemu kambing gunung.“Hei, kambing gunung, aku akan menelanmu hidup-hidup!” teriak Woli.“Mengapa engkau sangat ingin menelanku?”“Raja memerintahkanku untuk memakanmu!”“Kalau itu memang perintah Raja, baiklah, aku akan menurut. Bagian mana yang ingin kau telan lebih dulu? Mulai dari kepala, atau dari ekor?” tanya kambing gunung.“Aku tidak peduli. Menurutmu, dari mana aku harus mulai?”“Lebih baik kau memulai dari kepalaku. Sekarang, berdirilah tepat di depanku. Lalu buka mulutmu. Aku akan segera masuk ke dalam mulutmu!” ujar kambing gunung.Woli lalu berdiri tepat di depan kambing gunung dan membuka mulutnya. Kambing gunung itu mengambil ancang-ancang, lalu berlari dengan sangat kencang ke arah woli. DHUKK! Ia menyeruduk Woli dengan tanduknya. Woli terpental dan jatuh menggelinding dari bukit.Karena terjatuh dari atas, Woli pingsan. Ketika ia sadar, si kambing gunung sudah berlari jauh. Woli akhirnya kembali menghadap Sang Elang Tua dan mengadu.“Rajaku yang Mulia, aku sangat sangat kelaparan! Tolong, berikanlah aku sedikit makanan!”“Tapi, aku sudah mengizinkanmu untuk memakan kambing gunung itu,” ujar Sang Elang Tua.”memerintahkan Singa, kepala keamanan hutan ini, untuk memenjarakanmu!”Woli sekali lagi berterimakasih kepada Sang Elang Tua. Ia pun berlari ke tepi hutan, menemui Pak Talor penjahit di gubuknya.“Pak Talor, aku akan menelanmu bulat-bulat!” teriak Woli.“Mengapa kau mau menelanku?” kata Pak Talor penjahit.“Raja Elang Tua yang memerintahkanku.”“Baiklah. Kalau begitu, mendekatlah, anjing pudel kecil. Coba telanlah aku!”“Hey, aku bukan anjing pudel kecil. Akuserigala!” teriak Woli marah.“Benarkah? Aku tidak tahu kalau kau seekor serigala. Ukuran tubuhmu sangat kecil sebagai seekor serigala. Coba lebih mendekat lagi. Pandanganku rabun. Aku ingin lihat, kau serigala atau anjing pudel kecil!” ujar Pak Talor.Woli segera melangkah mendekati Pak Talor. Penjahit itu lalu berjalan mengelilingi Woli, dari depan ke belakang.“Aneh sekali! Kenapa ekormu ada di sini? Tidak cocok samasekali! Biarkan aku mengguntingnya!”Sebelum Woli sempat bergerak, dengan cepat Pak Talor memotong ekor Woli dengan gunting. CREK! Pak Talor lalu berlari secepatnya masuk ke dalam hutan.Woli sangat marah dan mulai melolong. Namun, kemana ia harus pergi sekarang? Ia tak berani masuk ke dalam hutan dan bertemu Sang Elang Tua lagi. Bisa-bisa, Singa akan memasukkannya ke dalam penjara hutan.Woli lalu menemui saudaranya.“Di mana ekormu, saudaraku?”“Pak Talor penjahit menipuku dan memotong ekorku.”Saudara Woli jadi ikut marah. Mereka berdua lalu mengejar Pak Talor ke dalam hutan. Ketika Pak Talor melihat keduaserigala itu, ia berlari, lalu memanjat ke atas pohon. Kedua serigala itu berlari mengejar Pak Talor. Mereka berdiri di bawah pohon tempat Pak Talor sembunyi.“Turunlah kamu, Pak Talor! Kami akan menelanmu hidup-hidup, karena kamu telah memotong ekor saudaraku!” teriak saudara Woli.“Tidak, aku tidak akan turun! Kalianlah yang harus naik ke atas bila ingin menangkapku!” teriak Pak Talor.Kedua serigala itu melompat setinggi-tingginya dan mencoba memanjat pohon itu, namun usaha mereka sia-sia.“Aku punya ide, saudaraku. Kamu berdirilah di bawah pohon. Kita akan bergantian menaikki punggung satu sama lain, sehingga bisa sampai ke dahan pohon dan menangkap penjahit itu!” kata saudara Woli.Mereka lalu menjalankan rencana mereka. Saudara Woli mulai menaiki punggung Woli, dan Woli lalu menaiki punggung saudaranya. Ketika mereka sudah mencapai dahan tempat Pak Talor sembunyi, si penjahit itu berseru,“Mendekatlah padaku, serigala yang lucu. Aku ingin melihat, bagian tubuhmu yang mana yang letaknya kurang pas. Wah, sepertinya telingamu harus dipindahkan ke atas sedikit...” goda Pak Talor.Mendengar hal itu, Woli merinding ketakutan, karena Pak Talor telah berhasil menghilangkan ekornya. Ia tak tahu kehilangan telinganya sekarang. Maka, Woli langsung melompat menjauh dari Pak Talor. Ia lupa kalau ia sedang menopang saudaranya yang ada di atasnya. Akibatnya, saudara Woli jatuh dari dahan pohon.Saudara Woli jadi sangat marah pada Woli. Ia langsung mengejar Woli sambil membawa ranting pohon untuk memukul Woli. Pak Talor tertawa terbahak-bahak sendiri. Ia lalu pulang dengan hati lega.Begitulah nasib Woli, si serigala tanpa ekor. Ia berjalan, dan berjalan tanpa ekor. Ia tidak berani melapor pada Sang Elang Tua, karena ia tidak tahu bagaimana harus menceritakan kejadian itu.

TERJEBAK DI MASA DEPAN
Fantasy
03 Dec 2025

TERJEBAK DI MASA DEPAN

"ini adalah sebuah kisah tentang lima orang yang terjebak di masa depan.mereka berjuang agar dapat kembali ke asal mereka.jika kalian ingin mengetahui awal petualangan mereka yang menggetarkan hati ini,maka dengarkanlah..."Tiara,Lulu,Cici,Rizka dan Efrida mengetuk pintu laboratorium Profesor Rayhan.sebagai asisten termuda Profesor Rayhan mereka selalu datang setiap pulang sekolah.mereka dan Profesor Rayhan sedang mengerjakan mesin waktu.sekarang mesin waktu itu masih setengah jadi.oke,mungkin Profesor Rayhan agak kesal dibantu oleh lima orang anak kecil itu.mereka mungkin pintar dan rajin,tapi mereka juga ceroboh.mereka sering merusak kembali barang-barang yang baru saja selesai dibuat.Lima orang itu masuk ke laboratorium Profesor Rayhan.kedua anak laki-laki Profesor Rayhan,Irfan dan Adam,menyambut kedatangan mereka.entah kenapa hari ini Profesor Rayhan membawa anak-anaknya ke lab-nya.Mereka memutuskan untuk bertemu Profesor Rayhan dulu sebelum memulai kerjaan mereka.mereka menghampiri Profesor Rayhan yang dari tadi menulis di papan tulis.saat berjalan,tanpa sengaja mata Cici melihat mesin waktu yang masih setengah jadi itu.dalam hati dia merasakan semangat untuk segera menyelesaikan mesin itu.Profesor Rayhan masih menulis tanpa menyadari kelima anak itu disebelahnya,"apa yang kau lakukan?" tanya Rizka penasaran."mencari cara agar mesin itu bekerja.dan sepertinya aku menemukannya" jawab Profesor Rayhan semangat lalu mulai menjelaskan caranya.kelima anak itu mendengarkan dengan muka bodoh mereka.mereka sama sekali tidak tertarik dengan penjelasan.Akhirnya setelah bekerja hingga tengah malam,mesin itupun selesai dikerjakan.mereka menatap puas hasil kerja mereka.lima orang anak itu tiba-tiba menjadi sangat senang dan mulai loncat-loncat kegirangan di dalam mesin itu.tapi karena kebodohan Efrida,mereka semua terjatuh.salah satu dari mereka tanpa sengaja memencet tombol mulai dan mesin itu mulai menutup dan bergetar.mereka panik dan mulai menggedor-gedor pintu dengan keras.tapi semua itu percuma,waktu di dalam mesin bukan lagi tertulis tahun 2014 melainkan tahun 2032,masa depan.Pintu mesin itu terbuka otomatis.kelima anak itu keluar dari mesin dengan canggung,"ini bukan lab profesor" kata Tiara."memang bukan" sahut Cici sambil menunjuk angka 2032 yang tertera di mesin itu.jalanan dibawah memang sepi tapi, jika kalian melihat keatas,disanalah kemacetan terjadi.mobil-mobil terbang.anak-anak yang pasti sangat tidak gaul dimasa depan itu hanya bisa menganga.terlebih lagi mereka melihat nama dan foto Cici saat dewasa di pinggir jalan.Cici menjadi caleg tahun 2032,mengejutkan."bagaimana kalau kita kunjungi Cici di masa ini dan bertanya cara kembali?" usul Rizka.usul Rizka yang sebenarnya aneh itu tetap disetujui oleh keempat sahabantnya.Setelah bertanya dengan beberapa orang,mereka akhirnya mendapatkan alamat Cici.mereka dengan semangat pergi kesana.setelah sampai,Cici muda mengetuk rumahnya dimasa depan.yang membuka adalah seorang anak kecil yang berwajah mirip dengan Cici,"ini rumahnya Bu Zen Nisa,kan?" tanya Lulu sambil menyebutkan nama lengkap Cici,Zen Nisa."Ma!ada yang nyariin" panggil anak itu lalu dia pergi meninggalkan pintu depan.seorang wanita berbaju model cewek kantoran warna ungu berjalan kearah pintu.setelah melihat siapa tamunya dia histeris lalu pingsan.anak-anak itu menggotongnya kedalam rumah.Cici muda menampar wajah dewasanya sendiri.Cici dewasa bangun,"mau apa kalian?!" bentaknya."kami hanya ingin mengetahui cara kembali kemasa kami" jawab Tiara."tunggu,sebelum itu,mana aku,Tiara,Lulu dan Efrida saat dewasa?" tanya Rizka.Cici dewasa menghela nafas,"Rizka melanjutkan kerjaan Profesor Rayhan di Australia,Tiara menjadi fotografer dan tinggal di Swiss,Lulu menjadi dosen di Inggris,lalu Efrida sudah meninggal dua tahun lalu" jawabnya santai.Efrida shock."kau menjadi caleg?" tanya Cici muda.Cici dewasa mengangguk.lalu dia tersadar dengan apa yang terjadi,"ini bukan saatnya mengurusi itu! kalian harus pulang kalau tidak kalian akan mengacaukan waktu! aku punya peta dimana ada portal waktu kalian bisa pulang melewati itu" bentak Cici dewasa.dia memberikan sebuah peta ketangannya saat muda."pergilah.." usirnya halus."ayo!" ajak Rizka."pertama caranya ke portal waktu kita harus terbang" baca Cici.mereka bingung.tiba-tiba Efrida menjentikkan jari,"kalian ingat kartun Peter Pan? yang diperluka manusia untuk terbang itu hanya kepercayaan,keberanian dan serbuk Pixie" kata Efrida.keempat kawannya terlihat kurang yakin namun mereka tetap mengatakan itu,"kepercayaan,keberanian dan serbuk Pixie!" lalu datanglah ratusan peri.satu diantaranya adalah Tinker Bell.mereka mengerubuni anak-anak itu dan anak-anak itu mulai terbang.Saat terbang,Cici membacakan isi peta,"jika kau melihat kucing bersayap itu artinya kau harus belok kiri" bacanya."maksudmu itu?" tanya Tiara sambil menunjuk sebuah kucing bersayap merah muda.Cici mengangguk dan mereka semua berbelok ke kiri."selanjutnya,jika kalian melihat gunung terbalik berarti kelian terbang dalam posisi terbalik.putar badan kalian!" baca Cici.yang dikatakannya benar,didepan mereka tiba-tiba ada gunug terbalik.mereka memutar badannya dan Lulu melihat lubang berwana merah muda,"apa itu portal ajaibnya?" tanya Lulu."sepertinya.." jawab Cici dan Efrida kompak.mereka akhirnya memutuskan untuk turun.Saat di tanah,mereka dihadang oleh dua orang laki-laki berotot.satu orang berambut pirang dan satunya lagi berambut dan berjenggot putih,"aku Zeus,ini adikku,Poseidon.jika kalian mau melewati portal ini kalian harus menghadapi kami dulu" tantang Zeus.kelima orang itu ketakutan,siapa yang bisa melawan dewa? tapi Tiara teringat sesuatu,"aku tahu para dewa paling takut dengan tikus!" kata Tiara."KENAPA TIKUS??!!"tanya keempat teman lainnya."karena dewa sangat elit dan tikus sangat tidak elit" jawab Tiara.ditangannya tiba-tiba sudah ada empat ekor tikus.Tiara melepasnya dan tikus itu langsung memburu para dewa.karena takut para dewa langsung lari meninggalkan portal waktu sendiri."Ayo,kita harus pulang" ajak Rizka.mereka berpandang-pandangan sebentar sebelum masuk kedalam portal itu.untuk sementara semua terlihat seperti kaleidoskop,bewarna-warni.mereka jatuh didepan lab Profesor Rayhan.semua seperti semula.tanggal di HP mereka masih menunjukkan tahun 2014.mereka kembali tepat saat mesin waktu setengah jadi.mereka semua berjanji merahasiakan itu dari siapapun termasuk Profesor Rayhan.

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 21 dari 35
Menampilkan 24 cerita