Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Your Smile
Romance
25 Dec 2025

Your Smile

Ku lihat weker, ternyata jam 5 pagi aku bergegas bangun setelah itu aku sholat, dalam sholat aku berdoa semoga hari ini lebih baik dari kemaren.Kenalkan namaku Annisa. pagi ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan diantar ayahku. Hari senin, kami akan melaksanakan upacara bendera. Upacara adalah momen yang selalu aku nantikan karena saat berbaris di lapangan karena aku dapat melihat seseorang yang aku kagumi.“kamu lagi nyari siapa Ca?” pertanyaan itu membuatku kaget dan menghentikan mataku yang terus mencari seseorang sejak tadi.“Hmm,, gak lagi nyari siapa-siapa kok Din” jawabku cuek.“Masak sih? Kamu jujur aja deh Ca?”“Tapi aku gak lagi nyari siapa-siapa, suer deh”“Iya deh aku percaya.”Aku memang belum menceritakan tentang seseorang yang aku kagumi itu kepada siapapun termasuk si Dinda sahabatku yang mulutnya ember banget. Dia gak bisa menyimpan rahasia dalam satu minggu pun. Aku takut menceritakan pada Dinda tentang pria itu. Bisa-bisa Dinda akan menyebarkannya dalam dua hari saja, dan aku gak mau itu sampai terjadi.Aku selalu memendam perasaanku ini hingga tak seorang pun yang tau.Oh ya aku lupa ada seseorang yang tau, dia adalah sahabatku sewaktu SMP dan sekarang dia sudah berada jauh di luar kota untuk melanjutkan sekolahnya. Terkadang aku merasa sakit dan butuh teman curhat namun rasa takutku dipermalukan jauh lebih besar. Jadi aku lebih memilih menyimpanya rapat-rapat dalam hatiku. Selain temanku waktu SMP tak ada lagi yang tau perasanku selain aku, Tuhan dan diaryku.Pada awalnya aku tak percaya cinta pada pandangan pertama itu ada, mana mungkin seseorang akan jatuh cinta saat dia baru pertama kali melihat seseorang tersebut dan bahkan belum mengenalnya, bagaimana bisa jatuh cinta? Namun semua itu hilang saat kejadian itu.TIGA TAHUN YANG LALU...Hari ini adalah hari pertama sekolah sejak aku naik ke kelas VIII. Karena hari pertama jadi tidak ada pelajaran tapi karena kos ku sagat dekat dengan sekolah aku tetap datang setidaknya untuk melihat siswa kelas VII yang sedang melaksanakan MOS.“Ca temanin ke kelas kak Sri ya?” ajak Tari sahabatku.“Mau ngapain Ri? Nanti pulang sekolah kamu juga ketemu kan?” jawabku. Aku merasa malas harus berjalan siang ini.“Iya tapi aku pengen liat anak-ank yang lagi MOS. Lagian ngapain kita duduk aja dikelas dari tadi.” Dia terus membujuk.“Ya udah deh. Yuk” akhirnya aku tak menolak lagi.Sesampai di kelas kak Sri, Tari langsung menemui kak Sri. Aku hanya menunggu di depan kelas. Karena bosan menunggu aku berjalan menuju kelas di sebelah kelas kak Sri yang merupakan kelas VII yang sedang melaksanakan MOS. Namun karena hari sudah siang mereka sudah istirahat, namun pandanganku tersita oleh sebuah senyuman disana, seseorang yang tengah terenyum pada perempuan yang berdiri di depannya.Aku terpaku karena senyuman itu, jantungku berdegup sangat kencang, lidahku terasa kaku dan keringat membasahi tubuhku seperti hujan. Aku benar-benar tak mengerti apa yang sedang melandaku.“Aku kembali ke kelas ku dulu ya” ujarnya pada perempuan di depannya lagi-lagi tersenyum yang membuatku detak jantungku tak menentu.“Ya, hati-hati” balas perempuan itu.“Kamu disini toh Ca? Aku nyariin tauk.” Tari datang mengejutkanku dan membuyarkan lamunanku barusan.“Eh, udah Ri?” jawabku gugup.“Udah, bagaimana kalau kita keliling dulu liat anak-anak lagi MOS.” Ajak Tari.“Ini kan udah jam istirahat Tar, mereka pasti lagi nyari makan karena habis dikerjain.”“Iya juga ya Ca. Trus kita mau kemana?” tanya Tari.“Terserah kamu.”“Gimana kalau kita ke kantin juga, laper nih.”“Boleh tuh.” Jawabku.Semenjak hari itu aku jadi sering memperhatikan pria yang memiliki senyuman indah itu dari kejauhan, tapi aku tak berani untuk mendekatinya ataupun bertanya tentang dia pada seseorang. Pada awalnya untuk mengetahui namanya saja sangat sulit bagiku yang tak berani menanyakan perihal pria yang membuatku jatuh hati saat pertama melihat senyumannya. Untung saja kakak kos ku adalah sahabat dari kekasih pria itu sehingga darinya lah aku mengetahui nama pria itu.Kakak kos ku selalu menceritakan kisah cinta lelaki itu dengan kekasihnya yang tak lain adalah sahabat kak rani. Aku adalah pendengar yang setia dari perjalan kisah cinta pasangan itu. Meskipun memiliki pacar yang dua tahun lebih tua darinya tapi aku tau dari cerita kak Rani mereka merupakan pasangan yang sangat romantis. Aku makin mengagumi lelaki itu mendengarkan kisah cintanya.Aku benar-benar menikmati sekali cerita kak Rani dengan topik yang sama, bahkan aku selalu menanti- nanti karena dengan mendengarkan cerita kak Rani aku mengetahui banyak hal tentang dirinya meski tanpa mengenal dirinya. Meskipun terbesit rasa cemburu yang sebenarnya tak wajar aku rasakan padanya karena aku hanyalah pengagum rahasia lelaki itu.“Hari ini Yoli mutusin Randi.” Kata kak Rani tampak senang.“Kenapa kak?” aku mendekati kak Rani untuk bertanya lebih jelas.“Entahlah, aku sendiri gak tau apa masalah mereka.”“Tapi bukannya mereka itu pasangan yang romantis kak?” aku masih merasa bingung.“Aku sendiri juga bingung, tapi Yoli bilang dia gak mau pacaran sama anak kecil dan Yoli gak nganggap bahwa dia pernah pacaran sama Randi.” Jelas kak Rani.“Tapi aku merasa sangat senang, karena pasti anak jahil itu lagi patah hati sekarang.” Ucap kak Rani terlihat senang.Perasaanku saat itu campur aduk antara sedih, senang dan kasihan membayangkan orang yang aku kagumi sedang patah hati dan pasti dia dalam suasana hati yang buruk. Tapi dibandingkan rasa senang aku jauh merasa sedih mengetahui hal itu karena aku gak mungkin bisa bahagia atas kesedihannya, karena kesedihannya adalah kesedihanku juga dan melihatnya bahagia akan membuatku jauh lebih bahagia. Apa mungkin ini yang di sebut cinta sejati? Atau cinta buta? Entahlah.Yang jelas semakin hari aku semakin memperhatikan pria itu dari kejauhan tanpa sepengetahuannya dan tanpa sepengetahuan siapapun.Waktu terasa berjalan sangat cepat, kini aku sudah duduk di kelas IX dan sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini. Aku merasa takut tidak bisa melihat Randi lagi, aku takut tak bisa melihat senyuman indahnya lagi aku benar-benar merasa takut.Hari ini aku dan Tari sedang berjalan pulang. Aku dan Tari bertemu dengan Randi yang sedang nongkrong dengan teman-temannya.“Kok pulangnya lama sekali kak?” kata Randi sambil tersenyum ke arah kami. Mungkin itu adalah sapaan pertamanya untukku meskipun bukan khusus untukku.“Masalah buat Lo!” jawab Tari enteng. Sedangkan diriku jangankan untuk menjawab sapaan itu untuk tersenyum saja terasa hambar.“Kamu kenapa Ca?” Tanya Tari setelah kami berlalu darinya.“Gak apa-apa kok.” Jawabku sambil tersenyum pada Tari dan mendelikkan mata.“Jadi dia?” tanya Tari.Aku hanya mengangguk lemah. Tari mungkin melihat pipiku memerah karena sapaan itu atau tubuhku yang gemetar mendengar suaranya.***Hari itu datang juga. Hari kelulusanku, aku merasa bahagia karena aku dinyatakan lulus dari sekolah menengah pertama ini tapi aku juga merasa sedih karena mungkin aku tak bisa lagi melihat senyuman Randi, tak dapat lagi melihat dirinya meski hanya dari kejauhan.Aku merasa sangat sedih untuk meninggalkan semua kenangan yang ku lalui di sekolah ini, aku sedih meninggalkan mimpi-mimpiku, aku sedih meninggalkan cinta pertamaku. Cinta pada pandangan pertamaku. Dan cintaku tertiggal di SMP, aku harap dia akan menyusulku ke SMA yang sama setidaknya untuk melihat senyuman itu lagi.SETAHUN KEMUDIAN...Dalam satu tahun itu aku tak pernah bisa melupakan Randi. Sampai saat ini aku masih mengingat senyuman pertamanya walaupun senyuman itu untuk Yoli tapi sedikitpun aku tak pernah bisa melupakannya. Dan aku masih berharap dia akan menyusulku ke sekolah ini tak mengapa aku hanya menjadi pengagum rahasia seperti dulu asalkan aku dapat melihat senyum itu sekali lagi.Harapanku dikabulkan oleh Tuhan. Randi benar-benar sekolah di sini. Aku tidak sanggup untuk tidak melihat senyuman itu, senyuman pertama yang meninggalkan kesan selamanya dihatiku. Sekarang senyuman itu masih sama seperti tiga tahun yang lalu saat pertama kali aku melihatnya dan senyuman itu masih sama bukanlah untukku melainkan untuk seseorang yang entah siapa.Pemilik senyum itu masih orang yang sama, orang yang tak pernah menganggap keberadaanku,orang yang tak pernah tau perasaanku terhadapnya dan aku juga berharap orang itu tak mengetahui perasaanku saat ini karena aku masih belum benar-benar melupakan dirinya.Aku bahagia karena Tuhan izinkan aku mengenalnya. Aku tak pernah merasa menyesal pernah mengenalnya walaupun aku hanya menjadi pengagum semata. Aku juga tak berniat untuk melupakan Randi begitu saja, aku hanya ingin menghapus rasa cintaku pada Randi yang tak semestinya aku miliki.Terima kasih Randi, kamu membuat aku mengerti arti cinta sesungguhnya. Arti mencintai tanpa harus memiliki seperti aku yang mencintaimu tapi aku tak harus memilikimu dan Aku tak harus memilikimu untuk mencintaimu.Aku hanya berharap suatu saat nanti Randi akan mengerti perasaanku terhadapnya, dia tak perlu membalas perasaan itu, cukup dia mengetahui bahwa dirinya pernah bersemayam sangat lama di hati ini dan merupakan kenangan termanis dalam kisah cintaku semanis senyuman pertamamu.=TAMAT=

Kata Cinta
Romance
25 Dec 2025

Kata Cinta

Pagi ini sangat cerah seperti biasa aku bangun dan bergegas berangkat sekolah. Kenalkan aku Fandy sekarang aku duduk di kelas XI MIPA.Pagi ini aku berangkat sekolah dengan teman yang selalu setia mengantarku kemana saja. Dia adalah sepeda motor. Kendaraan pertama yang dibelikan ayah sebagai hadiah ulang tahun ku.Setiba di sekolah aku pergi ke kantin untuk mengisi perut yang selalu ribut setiap pagi. selesai makan aku menyusuri koridor menuju kelasku. Fikiranku melayang pada kejadian beberapa bulan belakangan ini.Kedua orang tuaku ribut besar dan rumah tangga orang tuaku diambang kehancuran. Kemudian aku merasakan seseorang menubruk tubuhku dari depan yang berhasil membuyarkan lamunanku. Bajuku basah karena minuman yang dibawa seseorang yang menubruk tubuhku barusan."Eh..sorry,sorry" Ujarnya sambil membersihkan bajuku yang basah dengan tangannya."Tidak apa-apa"Balasku sambil menatap wajah bgersalahnya."Tapi baju kamu jadi kotor begini gara-gara aku,aku mintak maaf ya tadi aku tak melihatmu karena aku jalan sambil mendengarkan earphone,sekali lagi aku mintak maaf ya." Katanya lagi penuh penyelasan."Tidak apa-apa aku juga bersalah, tadi aku jalan sambil melamun" Kataku."Kalau begitu aku akan membersihkan bajuku di toilet dulu."Sambungku dan berlalu meninggalkanya, sebelum aku pergi dia sempat meminta maaf sekali lagi.Aku tidak ingin membersihkan bajuku ini, biarlah baju ini menjadi saksi bisu perbincangan ku dengan gadis yang ku puja.Akhir-akhir ini aku sering menjadikan kertas dan pena sebagai teman. Tempat aku mencurahkan segala isi hatiku dan mengembangkan menjadi cerita atau puisi terlebih setelah retaknya rumah tangga orang tuaku."Fan hari ini ada rapat pengurus mading, lo udah tau belum?" Tanya Meli saat aku baru sampai di kelas."Oh ya, Kapan?""Sekarang, barusan sarah telpon katanya disuruh kumpul di ruang OSIS" Jelas Sarah.Akhirnya aku dan Meli memutuskan untuk pergi bersama ke ruang osis.Semenjak aku hobi menulis aku memutuskan bergabung menjadi pengurus mading untuk menyalurkan bakatku.Rapat anggota pengurus mading kali ini dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah. Mading akan menerbitkan artikel tentang berbagai persiapan dan kegiatan apa saja yang akan ditampilkan pada hari ulang tahun sekolah nanti."Fan kamu akan mewawancarai dan meliput persiapan masing-masing ekskul" Kata Kak Arif selaku ketua pengurus mading."Baik Kak" Jawabku yakin.Aku sangat senang bisa mengemban tanggung jawab ini karena salah seorang anak ekskul seni yang aku kagumi sejak lama. Aku sudah tidak sabar untuk memulaitugas ini.Kegiatan pertama yang aku liput persiapanya adalah ekskul keagamaan kemudian ekskul olahraga dilanjutkan dengan pramuka dan paskibraka dan yang terakhir persiapan ekskul seni. Inilah yang sangat aku tunggu-tunggu.Aku berdiri mematung dihadapanya,aku bingung harus memulai wawancara ini. Aku tidak tahu bagaimana memulai wawancaranya.Akhirnya tugasku pun selesai, sekarang hanya tinggal menyusun hasil liputan dan wawancaraku menjadi sebuah artikel untuk diterbitkan di mading. Aku merasa sangat senang hari ini meskipun hanya tanya-jawab biasa saja.***Sepulang sekolah aku langsung menuju kamar,maklumlah semenjak rumah tangga orang tuaku retak ayah sudah tak tinggal di rumah ini. Aku hanya menjadikan kamar sebagai tempat ternyaman. Pulang sekolah aku akan langsung menuju kamar dan hanya akan keluar jika ada perlu saja jika tidak maka aku akan mengurung diri di kamar seharian.Setelah aku mengganti pakaianku aku duduk di meja belajarku. Pikiranku kembali mengingat kejadian tadi siang.Akhirnya aku mengetahui namanya,Bunga. Sesuai dengan namanya dia adalah bunga di hati yang menambah warna di hidupku. Siang itu ditemani oleh pena dan kertas aku menuangkan semua perasaanku pada Bunga dalam sebuah puisi.Pagi ini seperti biasa aku berangkat sekolah. Aku sengaja berangkat lebih awal pagi ini karena hasil wawancaraku kemarin menghilang. Aku rasa kertas tersebut tertinggal di ruang ekskul seni. Dan ternyata benar saja hasil wawancaraku kemarin tertinggal di ruangan itu.Saat aku kembali menuju kelasku aku teringat akan puisi yang kemarin aku tulis sebagai ungkapan isi hatiku pada Bunga. Aku membaca puisi itu sepanjang perjalanan menuju kelasku sampai semua kertas di tanganku berhamburan ke lantai termasuk puisiku karena seseorang menabrak tubuhku."Maaf, aku gak sengaja..Kamu?" ujarnya sambil memunguti kertas yang bertebaran di lantai.Aku tertegun sejenak setelah mengetahui siapa yang menabrak tubuhku barusan."Maafkan aku, aku tidak sengaja."ujarnya lagi"tidak apa-apa""Maaf ya, seharusnya aku tidak mendengarkan earphone sambil jalan hingga menabrakmu sampai dua kali" Sesalnya."Tidak apa-apa kok." Kataku."aku malah merasa senang." kataku dalam hati.Setelah mengambil kertas di tangan Bunga yang tadi dipungutinya akupun berlalu meninggalkanya bersama dengan rasa bersalahnya. Setelah aku menjauh ku dengar dia memanggilku namun aku tak menghiraukan panggilan itu,malah aku mempercepat langkahku meninggalkan gadis cantik itu.Aku terhenyak dikursiku dan mengingat kembali kejadian tadi. Bagaimana mungkin seseorang yang sangat mencintai musik seperti Bunga bisa bersatu denganku yang hanya terfokus pada barisan kata yang rapi dan indah. Munkin kata dan nada memang tak mungkin pernah bersatu."Fan ada yang nyari tuh." Aku tersadar mendengar suara itu."Siapa?""Tuh" Tunjuknya ke arah jendela.Ku lihat seorang gadis tengah duduk disana tapi aku tak melihat wajahnya karena membelakangi jendela. Aku segera menghampiri gadis itu. Aku sangat terkejut ternyata yang mencariku adalah Bunga. Ku lihat dia tersenyum saat aku menghampirinya."Kamu Fandy?" tanya BungaAku hanya mengangguk karena terlalu gugup berhadapan dengan Bunga."Aku kesini mau mintak maaf atas kejadian tadi,...""Oh tidak masalah, lupakan saja" putusku sebelum dia menyelesaikan ucapanya."Bukan bukan itu, sebenarnya aku mencarimu karena ingin mengembalikan ini."ujarnya memperlihatkan sebuah kertas."ini puisimu kan?"tanyanya kemudian.Aku terkejut melihat puisiku berada di tangan Bunga. Aku merasa senang sekaligus malu, aku senang karena puisi yang ku tulis untuk Bunga sekarang ada di tanganya dan aku merasa malu karena menghiraukan panggilanya tadi."Hei kenapa diam? Apa benar ini puisimu?""I..iya""Tadi setelah membaca puisimu aku jatuh cinta dengan kata-katanya,begitu indah seperti ungkapan perasaan seseorang." Aku hanya diam menunggu kalimat berikutnya."Kalau kamu tidak keberatan aku ingin menjadikan puisimu menjadi lirik lagu untuk ku nyanyikan pada acara ulang tahun sekolah nanti"Deg!! Jantung ku berdegup sangat kencang. Aku tak percaya Bunga akan menyanyikan puisi yang ku ciptakan khusus untuknya."Bagaimana, Kamu tidak keberatan kan?""Oh tidak sama sekali, malahan aku merasa sangat terhormat kalau kamu bisa menyanyikan itu di acara ulang tahun sekolah nanti."Semenjak saat itu aku dan Bunga sering betemu. Aku dan Bunga menjadi sahabat. Bunga sering mengatakan bahwa dia menyukai karyaku, aku hanya membalas dengan mengatakan bahwa aku juga mengagumi suara dan kemampuanya bermain musik.Ternyata pemikiranku selama ini salah. Kata dan nada dapat diatukan bahkan mereka tidak dapat terpisahkan. Kata- kata yang indah jika diberikan nada yang bagus akan menjadi sebuah karya seni yang Wow.Acarapun dimulai. Berbagai aksi pun ditampilkan aku turut ambil bagian didalamnya yaitu membacakan sebuah puisi yang berupa ungkapan isi hatiku pada Bunga. Aku sudah menyiapkanya sejak beberapa hari terakhir. Sudah berbagai aksi ditampilkan kini giliran Bunga dan bandnya. Bunga berperan sebagai vokalis. Bunga tampak anggun di atas panggung dan menyanyikan puisi yang kuciptakan khusus untuknya.Aku merasa senang karena Bunga bisa menyanyikan perasaanku padanya yang tak dapat ku ungkapkan secara langsung. Setelah penampilanya Bunga menghampiriku."Fan" sapanya sambil tersenyum. Aku menjadi sangat gugup karena gadis cantik itu berjalan menghampiriku."Makasih ya Fan" ujarnya sambil memeluk tubuhku setelah cukup dekat denganku.Aku sungguh tak percaya sekarang aku berada dalam pelukan gadis yang selama ini hanya bisa ku perhatikan dari kejauhan. Sungguh ini suatu keajaiban untuk diriku. Entah setan apakah yang telah memasuki tubuhku hingga aku membalas pelukan itu dan membisikkan sesuatu ke telinganya tanpa ku sadari."Bunga sebenarnya aku sayaang banget sama kamu, aku udah suka sama kamu saat pertama kali melihatmu." aku sendiri bingung dari mana datangnya kata-kata itu hingga meluncur begitu saja dari mulutku.Aku menjadi sangat gugup dan takut Bunga akan marah dan menjauhiku atau bahkan lebih parah mungkin saja dia akan membenci diriku karena kebodohanku sendiri. Tubuhku terasa bergetar seperti sedang terjadi gempa besar disini dan hanya aku sendiri yang merasakanya."Aku juga sayang sama kamu Fan" Bunga berbisik tepat di telingaku dan mempererat pelukanya padaku.Semuanya terasa seperti mimpi bagiku. Ternyata opiniku benar-benar salah tentang kata dan nada, kata dan nada seperti aku dan bunga tidak dapat dipisahkan itulah kenyataanya.=Selesai=

Jangan Rubah Takdirku
Romance
25 Dec 2025

Jangan Rubah Takdirku

Jangan pernah bilang jika kamu tidak pernah butuh bantuan orang lain. I ngatlah kita ini manusia, ma kh luk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Dan kamu sangat membutuhkan bantuan aku untuk membuat dongeng ini menjadi lebih indah .***Impian adalah sebuah angan-angan yang dimiliki semua orang. Percaya atau tidak, kita adalah manusia hebat. Semenjak kita lahir di dunia, kita sudah termasuk orang-orang yang hebat. Dari dalam rahim Ibu kita, yang dulunya kita adalah kumpulan sperma yang memperebutkan sel telur, tantangan demi tantangan kita lalui dan sampai akhirnya kita tumbuh dan lahir di dunia.Betapa nikmatnya hidup itu, walaupun dalam hidup selalu ada masalah yang terkadang sangat berat, tetapi seberat apa pun itu kita lalui semuanya dengan senyuman. Hidup adalah sebuah proses antara harus memilih melepaskan atau bertahan dengan kondisi apa pun.***Yogi Sandy Pratama. Cowok yang memiliki sejuta impian. Cowok jangkung nan putih itu sering dipanggil dengan nama Sandy. Seorang introver , yang memiliki tatapan dingin.Di keluarganya, Sandy di perlakukan seperti robot. Semua kegiatan ataupun aktivitasnya selalu di atur oleh orang tua Sandy. Jika Sandy melawan atau tetap dengan pendiriannya yang selalu bertentangan dengan isi pikiran orang tuanya, ia akan merasa, telah menyakiti hati mereka.Di sekolah, Sandy selalu membuat masalah. Sejatinya, semua kenakalan yang ia lakukan ada tujuan yang sangat dalam yang ingin Sandy sampaikan.Sandy berjalan di koridor sekolahnya, dengan tangan di masukan ke dalam saku celananya. Lagi dan lagi Sandy bolos dari mata pelajaran yang menurutnya sangat membosankan yaitu otomatisasi perkantoran. Bukan tanpa alasan Sandy tidak menyukai mata pelajaran itu, ia di paksa oleh orang tuanya untuk masuk di jurusan perkantoran, yang sama sekali tidak ia minati. Dengan menggunakan alasan klasik untuk pergi dari kelas, kini Sandy sudah berada di rooftop sekolahan. Ia duduk di pinggir pembatas membiarkan angin meniup rambut nya yang sedikit panjang itu. Melihat langit biru yang begitu cerah, ia tersenyum ngejek pada dirinya sendiri."Mau sampai kapan kau berdrama, San!" ucap Sandy pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia sudah capek dengan semua ini, tapi ia terlalu pengecut untuk menyampaikan semuanya.BrakSuara pintu terbuka dengan keras, Sandy yang duduk di pinggir pembatas itu terkejut dan hampir terjatuh, kalau saja dia tidak memegang pembatas itu. Sandy melihat kearah sumber masalah itu."Apa lo mandang-mandang?" tanya cewek mungil dengan galak, ia menutup pintu yang ia buka tadi dengan kuat. Cewek itu berjalan berlawan arah dari tempat Sandy."Ih, sebel, sebel, sebel, masa iya gue cuman memberi kritikan terus di suruh keluar, tidak boleh ikut pelajaran. Dasar guru aneh!" teriak cewek mungil itu di seberang sana. Sandy benar-benar merasa terganggu dengan teriakan dan hentakan kaki yang cewek itu ciptakan. Sandy berjalan ke arah cewek mungil itu. Cewek itu melihat Sandy dengan tatapan kesel."Eh cowok tukang cabut, jangan ikut campur deh," ucap cewek mungil itu pergi berjauhan dari Sandy. Sandy melihat kepergian cewek itu dengan kebingungan. Cewek mungil itu adalah Rahma teman sekelas Sandy, yang dimana Sandy sendiri tidak mengetahui itu.***Claudia Valen Dinata, cewek sejuta cahaya. Cewek cantik yang sering di panggil Valen itu adalah seorang wanita yang kuat, dan pandai menjaga perasaan pasangannya, dan tidak lupa kalau Valen itu adalah orang yang peka sekali dengan keadaan."Kenapa lagi?" tanya Valen yang duduk di samping Sandy."Gue capek Len, gini terus," ujar Sandy menyadarkan kepalanya di bahu Valen. Valen diam, memberi ruang untuk Sandy agar bertenang dan juga berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Valen tau apa yang membuat Sandy harus berpikir keras dengan keadaannya. Beberapa minggu lagi, Valen dan Sandy akan lulus dari SMK, benar benar hal yang menyenangkan, tapi itu untuk semua orang saja, bukan untuk Sandy yang harus melawan dengan takdir.BrakLagi dan lagi suara pintu di buka dengan keras, oleh pelaku yang sama si Rahma, cewek mungil yang hari-harinya di sekolah selalu kesel dan marah marah."Ih, kalian lagi, kalian lagi, nggak bisa apa, mesra-mesranya di tempat lain. Gue itu mau teriak," ucap Rahma yang masih berdiri di ambang pintu, memandang Valen dan Sandy dengan wajah marah."Ya udah, teriak aja, lo. Sekalian kalau mau lompat, noh, silakan!" Valen menarik Sandy untuk berdiri dan pergi sana.***Di sepanjang perjalanan menuju rumah Sandy, Valen dan Sandy saling berdiam diri, tidak ada yang berani membuka suara. Sampai di depan pagar rumah yang sangat megah itu, Sandy membuka suara dan berkata, "Nanti, kamu jadi diri kamu sendiri, jangan jaga image, bagaimanapun situasinya." Sandy membawa Valen masuk ke dalam rumahnya, yang sudah terdapat orang tua Sandy yang duduk di sofa ruang tamu. Tidak lupa Sandy memberi salam kepada orang tuanya, Sandy membawa Valen duduk di sampingnya."Ma, Pa, Sandy mau bicara sama kalian berdua!" orang tua Sandy sudah memasang wajah tidak bersahabat, saat yang melihat Sandy dari ambang pintu sampai ke tempat mereka berdua. Mama Sandy memberi kode kepada Sandy untuk menjelaskan siapa perempuan yang ada di samping Sandy. Sandy menjelaskan terlebih dahulu siapa Valen dalam hidupnya, dengan menunjukkan ekspresi tenang agar orang tuanya bisa memberi ketenangan kepada tamu yang ia bawa ke rumah. Tapi Sandy salah, orang tuanya malah bertambah tidak suka dengan kehadiran Valen. Valen yang menyadari perubahan sikap orang tua Sandy, ia hanya bisa diam, dan akan berbicara jika ia di perlukan."Bawa dia keluar sekarang!" Perintah Papa Sandy, yang sudah memasang ekspresi datarnya. Ia benar-benar tidak menyetujui Sandy berpacaran dengan Valen."Pa, Ma, jangan pergi dulu!. Bukan itu yang mau Sandy bicarakan dengan kalian berdua." Sandy menghadang orang tuanya untuk pergi, Sandy menundukkan kepalanya, untuk mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki."Maaf Pa, Ma, Sandy untuk kali ini tidak mau ikut perkataan Papa dan Mama. Lebih tepatnya Sandy tidak mau kuliah di luar negeri." Sandy memberanikan dirinya untuk melihat ke arah depan, ia melihat orang tuanya sudah melihat dirinya dengan wajah yang menahan amarah. "Pasti gara gara cewek itu kan?" Papa Sandy menuju Valen yang berada di samping Sandy."Bukan Pa, semua ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Valen," bela Sandy kepada Valen."Alah, jangan banyak alasan kamu, Papa sudah tau, ini semua pasti sudah kamu rencanakan dengan perempuan itu kan! membujuk Papa agar kamu tidak kuliah luar negeri, agar kalian bisa bersama-sama. Pujukan kalian tidak akan mempan buat saya! mau kalian sudah pacaran 1 tahun lebih, ingat! Papa tidak peduli. Dan kamu Sandy putusi segera cewek itu," Papa Sandy pergi dari hadapan Sandy membawa istrinya untuk pergi dari sana."Om, Tante, maaf jika saya lancang berbicara. Disini saya cuman mau membantu Sandy, bukan bermaksud apa apa. Jika Om, Tante tidak menyukai saya, itu wajar, kita baru ketemu 1 kali ini dan di dalam situasi seperti ini, saya maklumin. Tapi tolong kalian dengarin dulu apa alasan Sandy untuk tidak mau kuliah di luar negeri. Dia hanya ingin selalu bersama dengan Om dan Tante. Ia tidak mau pisah dengan kalian, selama ini Sandy membuat kenakalan di sekolah, ia hanya ingin Om dan Tante datang ke sekolahan untuk mendengar apa yang mau Sandy katakan, tapi apa Om dan Tante malah menyuruh Assisten untuk mengurus semua keperluan Sandy sesuai dengan rencana yang sudah kalian buat. Sandy itu ingin bebas dan selalu mau bersama Om dan Tante. Dia bukan robot yang semau Om dan Tante atur semua aktivitasnya dan impian dia. selama belasan tahun ini Sandy sudah bercerita kepada saya kalau dia itu stres dengan semuanya, ia seperti tahanan yang selalu di awasi. Dia hanya mau satu hal, tolong jangan membatasi semua aktivitas yang mau Sandy lakukan. Jika Om dan Tante tidak memperbolehkan Sandy untuk berpacaran, ok saya siap putus dari Sandy, tapi asalkan Om dan Tante mengizinkan Sandy untuk berteman dengan siapa pun, jangan membuat Sandy seorang diri di dunia ini." ucap Valen sangat lantang, membuat orang tua Sandy yang ingin masuk ke dalam kamar, berhenti dan mendengar perkataan Valen. Tanpa ingin membalikan badan ke arah anak satu satunya yaitu Sandy, air mata keduanya mengalir dengan deras mendengar perkataan Valen yang mewakili isi hati Sandy. Sandy hanya diam, menundukkan kepalanya lagi, ia tidak berani melihat ke arah depan."Om, Tante, Valen permisi dulu," pamit Valen kepada orang tua Sandy yang masih dengan posisi yang sama. Valen menepuk bahu Sandy yang masih terdiam itu, Valen memberi senyuman semangat buat Sandy agar dia bisa melanjutkan dengan mulut nya sendiri tanpa di wakilkan oleh orang lain."Valen!" Valen memberhentikan langkahnya, ia melihat Sandy yang mengejar dirinya. "Jangan pergi!" ucap Sandy yang sudah berdiri di depan pintu mobil Valen."Aku memang harus pergi, San. Dalam situasi seperti ini, aku tidak berhak ada di sini. Tenang kita pasti akan berjumpa jika Tuhan mengizinkan, aku tidak apa-apa, dan ingat jangan nangisi orang yang belum tentu menjadi milik mu.""Tante, Om, sekali lagi Valen pamit ya," pamit Valen dengan senyuman, Valen memasuk kedalam mobilnya, melihat dari arah cermin mobilnya Sandy dan kedua orang tuanya berpelukan, Valen tersenyum melihat itu. biarlah dirinya berpisah dari Sandy, asalkan Sandy tidak berpisah dari keluarganya. Valen merasa beruntung mendapatkan Sandy dalam kehidupannya. Benar benar butuh perjuangan ia mendapatkan Sandy yang begitu dingin dengan lawan jenis. Walaupun dengan segala kekurangan yang ada pada diri Sandy, tapi Valen tidak pernah mempersalahkan masalah itu. Ia lebih bahagia jika ia bisa memberi cahaya dan kebahagian pada orang orang yang ia sayangi.TAMAT.

VALENTINE DAY "ALEANGGA"
Romance
25 Dec 2025

VALENTINE DAY "ALEANGGA"

Alea Putri Hendra, anak bungsu dari keluarga Hendra si pengusaha sukses. Alea hanya tinggal bersama sang kakak yang bernama Andrean, orang tua Alea sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Alea merupakan anak baru di SMA Yawira, dan sekarang Alea duduk di bangku kelas XII."Al!" panggil Zaskia kepada Alea yang sudah begitu lemas untuk berdiri."Apaan," ucap Alea dengan tidak semangat."Lihat kedepan," Zaskia menyenggol bahu Alea."Apaan?" tanya Alea yang celingga celinggu tidak tau apa yang harus di lihatnya, padahal di depan hanya ada kepala sekolah yang sedang memberi kata sambutan kepada siswa siswi yang menang lomba olimpiade kimia."Itu tu, cowok yang di tengah, coba deh lo perhatikan baik baik," Zaskia menunjuk cowok yang ia maksud, Alea menajamkan perlihatannya, ia merasa tidak asing dengan wajah cowok itu."Siapa?" tanya Alea menyatukan alisnya."Masa lo lupa?" tanya Zaskia yang tidak percaya, jika sahabatnya ini melupakan sosok cowok itu, "Dia Angga, Al," ucap Zaskia, Alea terkejut mendengar nama itu, ia benar tidak percaya sosok yang di depan itu adalah kawan SMPnya dulu yang begitu jail dan pecicilan pada dirinya."Hahaha canda lo receh Ki," ketawa Alea, tidak percaya dengan perkataan Zaskia."Yang di belakang, kalian berdua, kedepan sekarang!" perintah kepala sekolah dengan suara lantang, Zaskia dan Alea saling mandang, kepala sekolah menunjuk mereka berdua, dengan saling tolak menolak Alea dan Zaskia sudah di depan dengan menundukkan kepalanya, sangat malu di lihat seluruh penghuni sekolah."Baiklah, sampai disini dulu kata sambutan saya, sekali lagi terimakasih kepada ananda Angga, Iqbal, dan juga Naura yang sudah membawa nama baik sekolah kita." Kepala sekolah turun dari podion. "Kalian berdua ikut saya!" ucap kepala sekolah kepada Zaskia dan Alea.***"Al, apes banget sih kita," ngeluh Zaskia, dia memilih duduk di lapangan yang luas dan begitu kotor dengan dedaunan kering berserakan, daripada menjalanin hukumannya.Alea menggeleng gelengkan kepala, melihat tingkah Zaskia yang belum mengerjakan apa apa sudah capek duluan, Alea pergi menjalankan hukumannya sendirian."Eh ada Leale nya, Angga nih," ucap seorang cowok yang datang ntah dari mana. Alea melihat cowok itu, penuh dengan ketelitian."Tidak nyangka ya, kita ketemu lagi," Alea menaikan satu alisnya, dengan gaya bertangan pinggangnya, Alea melihat Zaskia yang asik bermain Handphone."Mau apa lo?""Gue? Gue tidak mau apa apa," jawab Angga meletakkan tangan nya di depan dadanya. "Gue cuman kaget aja jumpa lo lagi, perasaan terakhir kita berjumpa itu pada saat elo pergi ke london," lanjut Angga."Gue rindu lo, Alea," ucap pelan Angga yang masih bisa di dengar oleh Alea."ALEA!" panggil Zaskia yang sudah berlari menghamperi Alea yang asik berdebat argumen dengan Angga."Selamat datang kembali di dunia gue," Angga mencubit pipi tembem Alea, dan langsung pergi sebelum Zaskia sampai di sana, "Sampai jumpa Leale.""Al, lo tidak apa apa kan? Tadi gue lihat, Angga...hmm...itu...hmm...," ucap Zaskia yang tidak bisa berkata kalau ia melihat memegang pipi Alea. Alea menggelengkan kepalanya, "Gue tidak kenapa napa kok," Alea menepuk pelan bahu Zaskia, dan ia menlanjutkan hukumannya lagi.***Alea memasuki kelasnya dengan seribu kelelahan di badannya, ia duduk di bangkunya dengan bersandar dan berkipas kipas karena kepanasan."APA APAAN INI?" teriak Alea yang terkejut di mejanya sudah penuh dengan coret coretan kata "Leale". Alea naik pitam ketika melihat sosok Angga yang lewat di depan kelasnya, buru buru ia keluar dari kelas."Eh Angga paok," Alea menarik kerah baju Angga dari belakang."Woi woi woi," Teman Angga yang jalan bersama Angga tadi, mencoba melepaskan tangga Alea dari baju Angga. "Lepasin tu tangan," teman Angga memukul mukul tangan Alea dan menarik Alea jauh dari sana."Lepas!" teriak Alea tidak terima di tarik dengan kasar."Bal, lepasin!" ucap Angga yang langsung di turuti oleh iqbal melepaskan genggamannya di lengan Alea. Angga mendekat Alea yang memegang tanganya karena kesakitan di genggam oleh Iqbal tadi."Ada apa?" tanya Angga sok cool. Alea tersenyum miring melihat tingkah Angga yang aneh menurut Alea."Tidak berubah ya lo, maksud lo apa? Coret coret di meja gue, lo kira gue minuman? Gue manusia tau," ujar Alea dengan nada tinggi, tidak terima dengan coretan di mejanya."Maksudnya?" ucap Angga pura pura tidak tau."Jangan sok bego deh lo," Alea melihat sekelilingnya, dengan suara lantang Alea yang memanggil Angga, dia sudah mengundang banyak orang untuk berkumpul disana. Alea mendengar siswa siswi lain membisiki dirinya lagi caper kepada Angga."Dasar, P E N C I T R A A N," ucap Alean penuh penekanan di depan wajah Angga, Alea pergi dari sana, ia malu sekali, semua orang menuduhnya kalau dia berbohong dan caper kepada Angga si idola SMA Yawira.***"Ih, Sebel Sebel Sebel," teriak Alea memukul mukul bantal di atas pahanya."Udah deh marahnya, nih angkat dulu telepon dari ayang ebeb lo," Zaskia memberi Handphone Alea yang sengaja ia jauhkan darinya."Lo aja yang angkat, gue lagi gak mood," Zaskia memberi kode "Ok" kepada Alea."Hallo." Ucap Zaskia sok imut."...""Alea nya sudah tidur yan, besok aja lo teleponnya," ucap Zaskia berbohong kepada Adrian pacar jarak jauh Alea."Udah kali marahnya," bujuk Zaskia yang ikut berbaring di samping Alea."Kesel gue Ki, tau gak sih lo, anak anak pada mengira, gue lagi caper sama tu orang, lo tau gak..." ucap Alea terhenti oleh tingkah Zaskia yang buru buru berdiri dan keluar dari kamarnya. Alea cemberut melihat Zaskia, "Tu kan belum juga selesai cerita, udah pergi aja.""Tada, ini dia, makan dulu deh, kasian tu perut asik berbunyi dari tadi," ujar Zaskia membawa mangkok yang berisi seblak, yang tadi sempat ia pesan saat ia selesai bertelepon dengan Adrian.Alea memakan seblak dengan lahap, sampai ia tidak tau kalau Zaskia membuat vidio dirinya lagi makan dan di masukkan di instastory.***Alea yang sedari tadi risih karena Handphone nya terus bergetar, ia tidak bisa bermain Hp disaat jam pelajaran berlangsung, di tambah lagi guru yang sekarang mengajar dirinya merupakan guru killer, dan dirinya tidak mau mengambil resiko jika Hp nya di tangkap oleh sang guru.Bel istirahat pun berbunyi, cepat cepat Alea membuka kunci Hpnya, ia melihat begitu banyak pesan dari Adrian, ia membaca satu per satu pesan tersebut. Entah sejak kapan Air mata Alea keluar dari tempat persembunyiannya.Zaskia yang melihat Alea menangis dalam diam, ia ikut melihat apa yang sedang Alea lihat, Zaskia memeluk bahu Alea, memberi ketenangan buat Alea. Alea menghapus air mata, ia keluar kelas dengan berlari, ia mencari tempat persembunyian untuk meluapkan kesedihannya.Berkali kali Alea menelepon Adrian, tetapi Adrian tidak mengangkatnya juga. Saat ini Alea butuh seseorang di sampingnya, Alea menangis dengan wajahnya di tutup oleh tangannya.Angga yang sedari tadi melihat Alea dari kejauhan, kini ia berjalan mendekati Alea yang masih dengan posisi sama. Angga memanggil Alea dengan pelan, Angga terkejut dengan tingkah Alea yang tiba tiba memeluk dirinya. Angga yang bingung harus bagaimana, ia hanya mengelus punggung Alea, dan membiarkan Alea mengeluarkan semua kesedihannya."Nih minum dulu," ucap Angga memberi air putih kepada Alea."Tidak mau masuk kelas ni?" tanya Angga, karena sudah 10 menit bel masuk berbunyi, tetapi ia melihat Alea tidak mau masuk, dan iya berinisiatif menemani Alea. Alea menggelengkan kepalanya."Nanti malam ada acara tidak?" Angga membuka suara dari suasana keheningan yang mereka ciptakan. Lagi lagi Alea hanya menggelengkan kepalanya."Jalan yuk," tawar Angga. Alea langsung menyetujui itu.Malam harinya Alea bersiap siap pergi bersama Angga, dari pagi tadi dirinya hanya galau karna di putusin oleh Adrian begitu saja tanpa alasan apapun, kini ia harus bersenang senang walau itu dengan teman lamanya.Selama 15 menit Alea bersiap dan menunggu jemputan dari Angga, kini dengan waktu 10 menit saja mereka berdua sudah sampai di pasar malam, Angga mengajak Alea menaik semua permainan disana, tujuan Angga membawa Alea ke pasar malam, ia ingin melihat Alea tersenyum lagi, dan kini tujuan ia terwujud."Naik itu yuk?" Angga menunjuk bialalang yang di penuhi lampu itu. Alea yang sedang makan permen kapan, ia hanya menganggukan kepalanya. Angga pergi ke tempat jual tiket, Angga menyuruh Alea masuk duluan. Angga melihat pemandangan yang bagus sekali dari atas, ia melihat kearah Alea yang sudah bergeteran dan keringat dingin."Le, lo kenapa?", "Lo takut ketinggian?" Angga memegang tangan Alea begitu erat. Alea hanya diam saja, ia begitu takut dengan ketinggian, ia menyesali menyetujui tantangan dari Angga, Alea tidak mau di katakan pengecut oleh Angga."Ga, gue takut," Alea bertambah bergeteran karena dirinya dan Angga berhenti di bagian atas."Hei tidak apa apa, sini sini lihat gue," Angga mengambil wajah Alea yang sedari tadi menunduk."Buka mata nya, lihat gue, Lea." Alea mengikuti perintah Angga, ia melihat Angga yang tersenyum manis. Seketika hati Alea berdeguk dengan kencang. Angga mengusap ucapkan tangan Alea agar tidak bergemeteran lagi."Udah tenang kan?" tanya angga begitu lembut. Alea menganggukan kepalanya lagi."Angga, angga, lo mau apa?" Angga melepaskan tangannya dari genggaman Alea."Suit, lo tenang aja," Angga mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Alea terkejut dengan benda yang ada di tangannya sekarang ini."Happy Valentine, Alea," ucap angga memeluk Alea begitu erat.Dihari special ini, Angga tidak mau melihat sang ratu nya bersedih, walau dengan sederhana seperti ini, Angga mampu mengembalikan senyum seorang Alea Putri Hendra.

Boneka dan Gadis Kecil
Fantasy
24 Dec 2025

Boneka dan Gadis Kecil

Dia sudah pergi. Aku tiada lagi rasa. Jatuh pada tanah di tengah hutan tanpa cahaya bukan sesuatu yang suatu boneka pernah rasakan. Dia yang dulu mendekapku dalam hangatnya pelukan, kini menyatu pada tanah. Aku pandang setiap daun dan hewan-hewan kecil menginjak-injak. Tidak merasakan sakit pada fisik. Meski kapas sudah terlepas dari kain, jahitan telah terlepas sebagian pada tangan, sebelah mata telah lama copot entah di jalanan mana, pandangan kini tersisa kabur dengan tumpukan bekas tanah basah menutupi wajah. Semua itu, aku tetap bisa duduk sejenak memandang. Dalam diri ini dirasa kosong selain angin. Inikah yang terjadi setelah bertahun-tahun dilalui bersama? Aku tidak tahu.Beberapa waktu saja berlalu sejak terakhir dia masih memeluk, masih bermain, tapi semua dirasa pada dunia berbeda. Hangatnya kamar kontras pada hutan tempatku berada. Sementara bunyi deru mesin yang perlahan memelan jadi pengisi suara selain keheningan. bunyi petak pelan terdengar saat sebuah bungkus jatuh di sisiku. Benda yang sama menemaniku beberapa saat itu.Apa ini? Aku tidak yakin. Bahkan jika untuk bergerak melihat sekeliling saja sulit jika tidak ada yang menggenggamku. Dia yang dulu membawaku setiap saat kini entah di mana.“Anika! Kamu di mana?” Suara cempreng kecil yang kurindukan terdengar. Saat itu aku terlempar pada bawah ranjangnya, hanya diam menunggu dia menjemput. Saat kakinya terlihat dari bawah sana, dia membungkuk, bertemunya pandangan kami. “Oh, di sini rupanya!” Dia tarik aku dan bawa diriku berputar-putar pada kamar penuh warna cerah.Dia pandang aku dengan mata coklat yang berbinar, menepuk-nepuk diriku saat debu menempel pada kain dan kapas. Sudah biasa jika dia sering bermain sampai lupa waktu, sampai lupa mainan mana saja yang terlempar dalam kegirangan. Setelah selesai bermain dan pergi sesaat, sudah pasti akan dicarinya lagi kami.“Kamu kotor, nih. Mandi, yuk!” Dia terkikik sembaeri berlari menuju kamar mandi dalam kamarnya. Aku sadar kainku juga selain berdebu, juga ada beberapa semut merayap. Bawah kasur sana memang penuh binatang kecil itu sejak awal dia belajar untuk pesta minum teh bersama. Begitu tiba di kamar mandi, kulihat beberapa semut berhasil merayap pada tangannya. Kudengar suara jerit pelan dari gadis itu sebelum menepuk aku lebih kencang, hingga lega saat mereka telah menyingkir.Dia lalu bawa aku ke baskom warna hijau, membiarkan air menenggelamkan aku. Dia gesek pelan kain menyelimuti diri, mencuci dengan sabun cuci wangi. Cepat-cepat dia kuras saat beberapa semut berhasil mengambang di air. Dia bunga sisa air yang penuh semut tadi ke dalam lubang pembuangan. Begitu saja terus hingga dia yakin makhluk kecil itu sudah minggat. Sudah sering dia bersihkan aku setiap permainan panjang. Entah dia mencoba mainan baru atau hampir melempar dan mengajak makan bersama, meski tahu betul aku tidak butuh itu. Setelah tubuhku penuh air, gadis itu mengangkat dan memeras diriku. Sebelum dia kemudian jemur aku di bawah terik matahari hingga sore tiba. Hingga kami bisa bermain bersama.Aku hanya boneka berbentuk beruang dengan warna toska. Dulu dipajang pada sebuah toko, berdempetan dengan boneka lain. Saat hari itu dia melihatku, senyumnya hari itu terpatri pada hati. Sejak hari itu, kami bersama selalu. Aku selalu jadi mainan kesayangannya, entah untuk dilempar, dipeluk, diajak meminum teh bersama, maupun hanya mengobrol kecil tentang kejadian hari itu. Walau tidak mampu menyahut suara, ucapannya selalu menerangi kekosongan di antara kapas menyelimuti kain padaku. Setelah kering tadi, aku didudukan pada meja kami, berisi juga beberapa boneka di sisi, sementara dia di seberang sana, memegang teko berisi teh.“Nanti pas aku ulang tahun, Anika bakal punya teman baru.” Dia ambil teh dengan cangkir kecil dan menyeruput sedikit. “Kalau warnamu hijau biru begitu, bagusnya temannya warna apa ya?”Aku tidak bisa menjawab. Walau mulut ingin menyahut, meski hanya berupa garis hitam melengkung ke atas. Senyum selalu, apa pun kejadian menimpa. Gadis itu hanya tersenyum, dia tuangkan teh lagi pada cangkirku, meski nyatanya aku bahkan tidak butuh makan apalagi minum. Dia kadang biarkan makanan dan minuman bercecer dekatku, tapi begitu kotor pun segera dia mandikan aku. Selama ibunya tidak datang mengomel, kami anggap semua itu aman.Akulah yang dia punya. Padanya hanya tempatku merasa gembira. Akan tetapi, sembari mengenang semua tadi, suara deru mesin yang kini semakin pelan kembali terdengar, embusan angin dan bunyi kotak dan plastik bertepuk-tepuk mengisi kesunyian.Aku ingat kembali, saat mereka bawa aku ke mobil sang ibu, entah mau pergi ke mana. Dia pasti angkut aku di antara barang lain. Sembari menunggu di antara tumpukan kardus dan bungkusan, aku biarkan bunyi mesin mengisi suasana sore itu.Lalu, suara kecil itu kembali terdengar. “Ma, kalau aku ulang tahun nanti, hadiahnya mainan baru, ya!” Aku senang mendengarnya masih ingin menambah teman untukku. Ibunya hanya mengiakan tanpa banyak kata. Kukira ini jadi hal biasa. Dia beli mainan baru bukan suatu yang aku cemaskan. Asalkan tidak ditinggalkan.Begitu pandanganku berbalik pada gelapnya malam, aku sadar diri ini ditinggalkan. Dengan badan rusak, meski tidak merasa, tapi kehampaan dirasa pada hati yang sebelumnya ada untuknya. Terakhir dilihat hanya pandanganku kabur, diangkat seperti biasa oleh gadis kecil itu, sebelum aku dilempar ke kotak penuh bungkusan lain. Kukira kami akan pindah. Kukira kami akan pergi bersama dan jalani kembali hidup layaknya teman selamanya.Dia tinggalkan aku pada tempat asing. Tidak ada bantal, kasur, apalagi mainan. Hanya dedaunan kering dan tanah basah memenuhi kain. Aku tidak bisa bergerak, apalagi mencoba bangkit dan lari. Jika benar dia telah pergi, aku harus mencari. Tidak boleh meninggalkanku.Dia pernah bilang. “Kamu hadiah terindah, sahabat terbaik.” Nyatanya saat dia bungkus aku dalam kotak penuh bungkusan itu, aku dilempar begitu saja. Aku yang dulu dibersihkan begitu tampak sedikit noda, kini penuh dengannya. Tanpa suara kecil menyebutku kotor dan membersihkan, kini hanya sunyi.Namun, hewan-hewan kecil seperti semut dan lalat beterbangan masih di udara. Sejak tadi menunggu entah apa. Aku memandang, bertanya-tanya apa yang mereka cari pada suatu boneka. Makhluk kecil sama yang sering dikeluhkan sang ibu, juga gadis yang sering mengibas tangan menyingkirkan para binatang itu.“Mereka hanya datang kalau ada yang enak,” ujar sang ibu saat gadis itu menjerit melihat seekor semut merayap pada gelas teh punyaku. “Namanya juga minuman manis, pasti semut suka. Kamu harusnya habiskan sebelum mereka datang.”Aku di pelukan gadis itu, suara masih gemetar saat ceritakan kembali bagaimana hewan kecil itu tiba-tiba saja berada dalam pesta minuman kami. “Padahal tehnya untuk Anika. Kenapa mereka ambil, sih?”Ibunya saat itu tidak menyahut banyak selain menyuruhnya kembali bersihkan sisa pesta minuman kami. “Kalau bawa makanan ke kamar, ya harus dibersihkan. Nanti mereka datang terus. Anika juga tidak butuh minum, adanya nanti semut kira buat mereka.”Hanya dengus pelan dari gadis itu yang kudengar. Sebelum dia gendong aku kembali ke kamar. Saat menutup pintu, hela napasnya kembali didengar. Dia kembali bilang padaku. “Aku tidak mau nanti semut malah gigit aku, atau Anika.” Dia peluk erat aku.Terpaan angin menyapu wajahku, kain yang kini basah penuh lumpur. Tidak sanggup bergerak, mengenang semua yang telah kami lalui. Memperhatikan semut berbaris melewati, aku tahu mereka tidak akan gigit aku seperti yang dia khawatirkan. Sementara lalat berkerumun pada satu tempat.Aku arahkan pandangan, pastikan mata dari plastik tidak memudarkan pandangan. Tumpukan kardus, bungkusan plastik, makan dan minuman berceceran pada sudut lain hutan. Aku terheran-heran, bagaimana bisa mereka tinggalkan juga barang-barang ini? Aku hanya boneka, mereka bisa buang aku jika benar telah bosan, tapi semua yang di mobil... Dibuang juga?Barisan semut tadi melangkah menuntun arah pandangku kian dekat. Barulah jelas apa yang aku lihat. Mereka berkumpul di bawah pohon yang penuh retak kayu dan kaca. Tetesan merah terlihat di antara dahan yang bengkok. Pada bawahnya, aku barulah melihat. Oh, sahabatku...Dia hanya terbaring di sebelah ibunya. Mata terpejam, dengan tubuh sama retaknya sepertiku. Berpelukan mereka di bawah pohon dekat mobil yang kini terpecah depannya. Aku hanya bisa memandang. Jika aku bisa, kupanggil dia seperti dia biasa memanggilku saat hilang. Tidak ada suara keluar dari mulut yang hanya menutup, hanya garis melengkung ke atas. Senyum saja. Apa pun yang terjadi.Saat barisan semut telah merayap di tubuhnya, dia tidak menjerit, ibunya tidak mengeluh. Hanya diam terus memejamkan mata. Aku ingin menepuk-nepuk, menjauhkan hewan yang mereka takuti. Jangan... Dia tidak suka semut menggigitnya.... Sementara mereka terus berkerumun di atas mereka. Suara kecilnya kini berganti sunyi, tatapan mata berbinar telah pudar. Sementara tubuhnya penuh warna merah. Dulu, dia selalu mencuci diriku saat kotor. Bagaimana caraku membersihkannya?Terbaring berseberangan, dengan bunyi degung lalat menyelubungi mereka, mata kian kabur penuh warna cokelat dari tanah. Perlahan diriku pun menyatu pada tanah. Apa aku akan dibersihkan lagi setelahnya? Dia juga? Apa hanya berakhir pada tanah yang akan menutupi kami selamanya?Semut-semut yang tertinggal di barisan belakang mulai mendekatiku. Satu demi satu menggeser boneka ini. Entah karena demi mendorong jauh penghalang jalan mereka atau barangkali sadar boneka itu bukan makanan. Tetaplah aku dikerubungi, terseret kian dekat padanya. Begitu tubuh dia tertempel padaku, tanganku dari sisa kain yang nyaris copot, jahitan kian longgar, melingkari tangan kecil yang kini begitu kaku, dingin .Terbaring bersama kini, aku bersandar pada pipinya, tidak ada lagi pelukan, permainan, apalagi obrolan. Hanya bunyi desir angin terasa. Gelapnya malam selalu jadi rasa takut baginya. Jika aku bisa lakukan sebagai boneka, biarlah aku temani dia. Memeluknya, menjaga dari setiap monster seram dalam kegelapan.Jangan takut. Aku akan menjagamu.Tamat

Fantasy
24 Dec 2025

SURAT DI DALAM BOTOL

Melanjutkan cerita yang dikirimkan penerbit.Sani tersandung sesuatu saat ia berjalan tanpa sandal di atas pasir pantai, itu sebuah botol dengan penutup kayu yang kemudian ia perhatikan ada sesuatu di dalamnya. Sebuah surat. Selembar kertas putih kecokelatan, ia pun mengubur kembali botol itu di tempat semula. Namun, entah mengapa ia merasakan sesuatu, dorongan untuk membuka botol itu dan membaca isi suratnya.Janji tetaplah janji. Begitulah isi surat yang dia baca. Bukan aneh lagi bagi Sani, selama ini dia tumbuh besar di sekitar lautan. Barangkali setelah tiba waktunya dia akan berpulang di dekatnya pula. Berpikir ini hanya cendera mata yang jatuh dan dianggap kini jadi "milik bersama," Sani memungutnya dan mendekapnya ke dada."Kayaknya cantik kalau dijadikan hiasan meja belajar. Enaknya yang santai saja dulu." Dia bicara pada dirinya. Dengan senyum di wajah, dia kembali melangkah dalam rumahnya yang hanya berjarak tidak jauh dari lautan itu.Kayu berderit saat dia buka pintu, mata Sani terbalak melihat rumah yang sejak lama dia tempati. Bunyi gesek. Bukan gesekan pasir seperti setiap langkahnya di pantai. Seperti bunyi decit kulit yang mengesek pada kayu. Dia sendirian sejak lama. Tangannya menggenggam erat botol yang berisi surat itu. Berpikir untuk menghajar siapa saja yang berani menerobos dalam rumahnya."Kamu tidak seharusnya tetap di sini." Bisikan menggelitik leher Sani. "Kamu lupa dari mana asalmu? Dari mana surat itu?"Tubuh Sani bergetar pelan merasakan dingin pada leher. Dia kenal suara itu. Sudah lama tidak terdengar sejak terakhir nyawanya di ujung tanduk.Sani memberanikan diri membalas. "Aku tidak mau lagi kembali."Hening sesaat, tapi entah mengapa Sani dapat dengar bisikan itu lagi. "Kamu telah lama terlena sampai lupa janji. Aku hanya menagih.""Kupikir semua sudah selesai sejak aku menyerahkan nyawa ayam." Sani mencoba untuk tenang meski ucapannya sedikit terbata-bata. "Untuk apa kamu kembali?""Janji tetap janji. Aku menuntut apa yang pantas aku terima." Suara itu membalas. "Kamu sudah terlalu enak hidup jauh, jauh dari segala beban." Masih dengan nada tenang, meski Sani dapat merasakan desis pelan padanya.Sani tidak melihat wujudnya sekarang. Dia masih ingat. Semua hanya terjadi tidak sampai satu dekade. Meski ingatan itu sedikit samar sekarang. Terumbu karang. Air laut memenuhi wajahnya. Sosok kabut mendekat, suara wanita lembut bicara. Dia hanya ingat sampai situ. Walau Sani juga tahu jika dia pasti pernah bicara dengan sosok yang menolongnya. "Aku meminta sesuatu padanya. Tapi, apa ya?" Dia berpikir."Sudah kuduga kamu lupa." Suara itu kini mengambil wujud berupa kabut kelabu. Mengelilingi wajah Sani yang gusar. Sedikit embusan dari kabut pekat, dia sentuh wajah gadis itu. "Kamu sudah melakukannya berkali-kali. Kalah terus begini, kamu akan selamanya terjebak."Sani tepis kabut itu, membuatnya sedikit kabur setelah kena tebas tangannya. "Padahal dulu permintaanku... Aku lupa.""Kamu menukar jiwa agar selamat." Suara itu mengingatkan. "Aku hanya meminta menukar raga agar masih bisa tetap di sini. Begitu juga kamu. Kita sepakat untuk mengambil umpan. Kamu malah keasyikan bermain. Padahal sudah lama sekali.""Sabar sedikit, lah." Sani mundur selangkah, menghindari kabut yang terus dekati wajahnya. Tangannya gemetar, terlepas botol berisi surat itu... Kini jelas siapa penulisnya. "Kamu kira gampang cari orang di tengah pantai begini?""Kamu hidup di tempat wisata. Banyak sekali orang di sana." Suara itu terus menyahut. Tahu betul Sani sengaja tidak membawakan satu jiwa tambahan. "Kalau kamu terus begini, nanti-"Tanpa menunggu lagi, Sani mengibas tangannya. Menyapu habis kabut itu dari pandangan. Tanpa menoleh, dia pacu langkahnya keluar dari rumah kayu kecil yang hatinya sudah terpaut padanya.Langkahnya tergesa-gesa saat menyentuh pasir dengan sendalnya. Napas terburu, berusaha menghirup udara terus selagi kakinya terus bergerak. Tidak boleh tertangkap.Sani melompat pada ombak di sampingnya. Dia tahan napas. Lelah benar. Tidak tahu berapa jauh dia berlari. Riak air kembali berbunyi, ombak mengempas di depannya jauh sana. Sani menatap dalam hening, menatap pada lautan yang perlahan menggelap."Aku aman sekarang." Sani menutup mata. Setidaknya, itu yang dia harap.Dorongan keras terasa pada balik punggungnya. Suara pelan Sani tercekik terdengar. Warna merah memenuhi air sekitarnya, beriringan dengan tubuhnya yang mendadak kaku. Pandangannya kabur. Kepalanya terasa berat. Perut terasa amat pedih. Sani membungkuk. Pedih terasa di perutnya yang terbuka.Tidak. Seharusnya dia selamat sekarang.Suara gerakan terdengar mendekat. Air bergerak beriringan dengan langkahnya. Kabut itu perlahan mengambil wujud. Sosok wanita. Dia dekatkan kakinya pada wajah Sani. Tidak ada lagi senyum seperti sebelumnya.Sani gemetar. Tubuhnya menggigil. Darah memenuhi pandangannya dari bawah perutnya yang kini tidak lagi berisi. Meski tangannya dengan gentar terus memeluk perutnya, berharap sedikit saja bisa menjaga nyawanya agar tidak lari dari raga. Suaranya terputus-putus tapi masih jelas bagi sosok yang sudah mengenalnya. "To... Tolong. Jangan... Aku tidak mau." Belum sempat Sani melanjutkan, bibirnya penuh dengan cairan merah dan air. Terasa sesak di dada, pedih pada lehernya.Wanita itu diam sesaat. Kabut secara samar mengelilingi dirinya. Suaranya tidak lagi samar. Hanya terdengar lebih santai alih-alih marah. "Kamu seharusnya belajar dari kejadian lalu. Ikuti saja syaratnya, kamu tidak akan mengulang kehidupan itu lagi dan lagi."Sani bersuara. Begitu pelan. Begitu halus. Namun, jelas sekali dia berkata dari lubuk hatinya. "Ya."Pandangannya kini dari samar jadi kegelapan. Air laut beriak. Ombak menghempas raganya. Sani terguling di antara air laut. Perlahan, Sani rasakan kembali elusan dari desir pasir dan angin lagi. Matanya terbalak. Dia menarik napas. Memastikan tubuhnya masih utuh. Tidak lagi sakit. Dia selamat, kali ini.Belum sempat Sani menatap ombak yang terempas, dia rasakan sesuatu menggelinding di kakinya. Sebuah botol dengan surat.

Square
Folklore
24 Dec 2025

Square

Alkisah, lima orang pendaki gunung tersesat di tengah pegunungan bersalju (versi lain cerita mengatakan mereka merupakan korban selamat dari suatu kecelakaan pesawat).Karena tidak kuat, salah satu dari kelima pendaki itu akhirnya meninggal. Namun keempat temannya yang lain menolak meninggalkan jenazah teman mereka di tengah gunung dan memutuskan membawanya.Hingga suatu saat di tengah badai salju, mereka menemukan sebuah pondok kayu. Mereka bersyukur dan segera berlindung di dalam pondok kayu itu. Pondok itu berbentuk segiempat. Pondok itu tampak sudah tua, namun masih kokoh.Celakanya, sama sekali tak ada penerangan di dalam pondok itu, sehingga mereka terpaksa menghabiskan malam dalam kondisi gelap gulita.Mereka meletakkan jenazah teman mereka di tengah ruangan yang berbentuk segi empat itu.Mereka mulai bercakap-cakap.“Malam ini kita tidak boleh tidur. Bila kita tidur, bisa-bisa kita tidak bangun lagi.”“Ya, aku tahu. Tapi bagaimana caranya? Bila kita tidak melakukan sesuatu, kita pasti akan tertidur.”“Aku tahu, kita lakukan saja suatu permainan.” Usul salah satu teman mereka, masih dalam kondisi gelap gulita.Mereka sama sekali tak bisa melihat satu sama lain, jadi mereka tak tahu dengan siapa mereka berbicara dan siapa yang mengusulkan permainan itu.“Permainan apa?”“Begini, ruangan ini kan berbentuk kotak. Bagaimana jika masing-masing dari kita berempat berdiri di tiap pojok ruangan. Nah, saat permainan dimulai, salah satu dari kita berlari ke pojok ruangan terdekat dan menepuk punggung temannya yang ada di situ. Lalu ia yang ditepuk punggungnya harus berlari lagi untuk menepuk punggung temannya yang ada di pojok terdekat dengannya. Begitu terus hingga kembali ke orang pertama dan diteruskan sampai fajar tiba.”“Itu ide bagus,” semua orang tampaknya setuju,“Dengan begitu kita akan bergerak semalaman dan tubuh kita akan terasa hangat.”Akhirnya mereka melakukan permainan itu. Masing-masing dari mereka, sebut saja A, B, C, dan D berdiri di pojok ruangan. A mulai berlari ke B dan menepuk pundak B. B kemudian langsung berlari dan menepuk pundak C. C lalu berlari menepuk pundak D. Dan begitu seterusnya, mereka melakukan permainan itu hingga pagi.Saat pagi tiba, mereka mulai merasa lega. Cahaya mulai menerangi seluruh ruangan sehingga mereka bisa melihat seisi ruangan. Salah satu teman mereka rupanya mengenali tempat ini dan tahu jalan keluar dari tempat itu.Namun saat mereka menyadari bentuk ruangan yang mereka tempati sejak semalam, mereka mulai sadar ada yang tidak benar. Lalu mereka mulai ketakutan.Permainan itu ternyata tak sesimpel yang mereka duga.Permainan dimulai ketika A berlari dan menepuk pundak B. B kemudian berlari menepuk pundak C. Lalu C berlari menepuk pundak D. Sampai di sini tak ada masalah. Namun ketika D berlari ke A, semestinya tak ada orang di sana, sebab A sudah berada di B. Benar bukan? Sehingga D harus berlari 2 kali agar dapat menepuk pundak A.Namun saat mereka bermain, tak ada seorang pesertapun yang harus berlari dua kali. Saat tiba di A, D menepuk pundak seseorang yang kemudian berlari menepuk pundak A yang sedang berada di B.Merekapun sadar, permainan ini walaupun dilakukan di ruangan berbentuk segi empat, tak bisa dilakukan oleh empat orang.Permainan ini harus dilakukan oleh lima orang.Namun mereka hanya ada berempat saat mereka melakukan permainan itu. Lalu mereka menatap jenazah teman mereka yang terbujur kaku di tengah ruangan.Ya, mereka tak hanya berempat di dalam ruangan. Mereka berlima.

Brigadoon
Folklore
24 Dec 2025

Brigadoon

Skotlandia selain terkenal dengan legenda Nessie, monster di Danau Lochness, juga memiliki sakibul hikayat yang penuh misteri, yakni kota Brigadoon. Kabarnya, kota ini hanya muncul selama 1 hari saja dalam 100 tahun.Kota kecil ini terletak di dataran tinggi bonny Scotland. Dikisahkan, Brigadoon tiba-tiba hilang di tahun 1754. Anehnya, penduduk di kota ini seolah menjadi panjang umur, karena setiap muncul satu kali dalam seabad, usia mereka hanya bertambah satu hari.Mereka tidur selama 100 tahun - dalam hitungan penduduk Brigadon, waktu tersebut seperti malam hari saja. Bisa diterka, bila seseorang yang tinggal di Brigadoon meninggal pada usia 70 tahun artinya ia hidup selama 25 ribu abad lebih!Siapa pun yang beruntung bisa memasuki Brigadoon pada hari kemunculannya akan merasa begitu gembira, seolah masuk ke taman surga. Sayangnya, hanya bisa tinggal sehari saja karena desa ini kembali tertutup kabut dan menghilang.Ada sebuah cerita yang berkembang dan diyakini menjadi bukti keberadaan Brigadoon. Suatu saat ada dua penggembala sedang mencari ternak mereka di dataran tinggi Skotlandia. Tiba-tiba mereka merasakan hari menjadi cerah, matahari bersinar dengan indahnya. Padahal dataran ini selalu berkabut setiap hari.Saat menikmati cahaya matahari, kambing gembalaan mereka muncul begitu saja. Dua gembala ini pun jadi semakin takjub. Di salah satu sisi lembah, mereka melihat sebuah kota kecil dengan jalan-jalan yang indah laksana dalam lukisan.Mereka pun berbalik arah menuju desa mereka sendiri ingin memberitahu orang-orang. Ketika warga desa berlari mengikuti dua gembala ini, kabut kembali datang dan menelan Brigadoon kembali.Pada tahun 1954, kisah dari Mitos Brigadoon pun diadaptasi dalam sebuah film musikal dengan judul yang sama yaitu Brigadoon. Kini setiap 100 tahun sekali menjadi hari peringatan Brigadoon dengan parade dan tarian.

HOROR WARISAN KELUARGA SUTEDJA
Horror
24 Dec 2025

HOROR WARISAN KELUARGA SUTEDJA

Amira, Fadel dan Isyana saat ini sedang duduk berhadap-hadapan di ruang meja makan, suasana yang hening pada malam hari ini membuat mereka hanya saling menatao kosong, tiba-tiba ada suara jejak kaki yang masuk ke dalam ruangan, berjalan seorang lelaki berusi aempat puluh tahunan sedang membawa tas koper hitam ditangannya, dan mengambil kursi ditengah-tengah mereka."Selamat malam, perkenalkan nama saya adalah Derajat, saya pengacara ayah kalian Bapak Wijaya Sutedja, saya ingin mengucapkan turut berduka cita atas kecelakaan yang menimpa ayah kalian"Mereka hanya memandang wajah Pak Derajat dengan rasa bingung"Silahkan tolong langsung dibacakan saja pak" Ucap Fadel memecah keheninganAmira dan Isyana memandang wajah Fadel dengan tatapan marah"kamu benar-benar keterlaluan ayah baru saja meninggal tadi pagi, tapi kamu malah memikirkan warisannya" ucap Amira marah"Sudahlah kita harus menikhlaskannya, sekarang kita harus fokus ke depan akan hak-hak kita, jujur saja kamu juga membutuhkannya kan?" ucap Fadel kesalMereka bertiga memang sudah ditinggalkan ibu mereka saat kecil, saat Amira masih berusia 10 tahun dan dia anak pertama dari keluarga Sutedja, setelah ibu meninggal ayah yang mengurus mereka semua, tapi Ayah yang berlatar belakang tentara memang mengajarkan mereka dengan cukup keras dan disiplin, bahkan mereka tidak pernah dibolehkan menikmati kekayaan yang ayah mereka miliki, dengan peraturan-peraturan yang amat sangat ketat, tidak heran sikap Fadel yang sepertinya menunggu-nunggu saat ini."Baiklah sesuai permintaan Fadel, saya akan langsung membacakan amanat ayah kalian" Ucap Pak DerajatSuasana hening kembali"Yang Pertama, Amira kamu akan mendapatkan tanah di Bandung seluas 100 hektar dan sepertiga uang simpanan keseluruhan""Yang kedua, Fadel akan mendapatkan perusahaan Susu dan peternakan hewan di Sukabumi dengan luas 120 hektar dan Sepertiga simpanan keseluruhan""Yang Ketiga Isyana, akan mendapatkan rumah dan Tanah di Jakarta dengan luasan 5000 mtr dan sepertiga simpanan keseluruhan""jika dijumlahan dengan uang maka kalian akan mendapatkan jumlah yang sama""Tapi itu akan dicairkan jika kalian terbukti tidak melakukan pembunuhan berencana terhadap ayah kalian, dan siapa yang bisa menemukan pembunuh nya maka kalian akan mendapatkan bagian dari pembunuh tersebut"Wajah mereka tampak kaget"Apa-apaan ini sudah jelas ayah meninggal karena kecelakaan" ucap Fadel marah"Kenapa ayah bisa berfikir kami akan membunuhnya?" tanya Amira"Itu sangat aneh, tidak mungkin salah satu dari kami membunuh ayah kami sendiri" bela Isyana"Tapip ini adalah wasiat dari ayah kalian dan sudah disahkan oleh notaris, jadi polisi akan melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kasus ini, jika kalian bertiga terbukti tidak bersalah maka kalian boleh mendapatkan hak kalian, tapi dalam proses penyelidikan tidak ada dari kalian yang boleh meninggalkan rumah ini.Dan keesokan harinya petugas mulai berdatangan kerumah, menanyakan setiap orang yang berada disana.Dari keterangan Fadel lah yang terkahir bertengkar dengan ayah, dia meminta jatah bulannnya untuk ditambah, karena dia terlibat judi dan kalah, dan ayah jelas-jelas menentangnya.Amira sudah berumah tangga dia hampir jarang pulang ke rumah, tetapi mendekati kematian ayah memang dia sedang mengina di rumah.Isyanalah satu-satunya yang masih tinggal dengan ayah, dia juga yang menjaga ayah di hari tuanya, oleh karena itu mungkin ayah memberiny arumha ini sebagai warisannya.Setelah penyidik mendengar semua keterangan dari pelayan dan orang di rumah, berarti ketiga-tiganya memang berada di rumah ini pada saat ayah mereka meninggal.Tiba-tiba satu penyidik lagi datang dan membisikkan sesuatu ke telinga penyidi berkumis tebal"Baiklah, mobil ayah kalian sudah diperiksa dan ternyata ditemui kabel yang diputus sehingga remnya tidak dapat berfungsi, dan ini memang ada unsur kesengajaan" ucapnya"Apa? maksudmu ayah kami dibunuh?" teriak Isyana"Tidak mungkin, ayah sangat apikk terhadap barang-barangnya apalagi mobilnya" ucap Amira"Mengapa kalian membesar-besarkan masalah ini" ucap Fadel kesal "Ayah mungkin kali ini lalai bisa saja kan"Setelah seminggu berjalan penyelidikan belum membuahkan hasil, masing-masing tetap bersikeras tidak ada yang melakukannya.Tiba-tiba malam itu Bapak Jeremi si penyelidik berkumis tebal baru saja tidur pulas di sofa, dia melihat wajah samar mendekatinya. Dan cahaya bersinar terang sekali dan dia melihat Isyana yang tertidur pulas dikamar, tiba-tiba suara pertengkaran terdengar dari kamar samping"Dasar pria tua pelit, aku tidak meminta semua uangu hanya beberapa ratus juta saja, apa kamu ingin aku dibunuh oleh bandar judi itu" teriak Fadel"Kamu yang berjudi dan kamu minta ayah menggantinya, tidak akan pernah, kapan kamu akan belajar menjadi dewasa"dan pertengkaran hebat terjadi sampai akhirnya Fadel menutup pintu kamarnyaAmira baru saja masuk kekamar Isyana saat pulang dari berbelanja."Kenapa? bertengkar lagi?" tanya Amira"Iya kak, ayah marah karena mas Fadel msih main judi" ucap Isyana"Dasar lelaki tidak tahu diri, Isyana kamu jangan bilang-bilang ayah dulu ya kakak bercerai" pinta Amira"Iya kak, ayah pasti akan sangat marah kalau tahu" jawab Amira lesu"Dan Mas Hendra memenangkan semua perwalian dan harta di pengadilan, kakak hanya diusir dan ditendang, kakak tidak punya apa-apa lagi" ucap Amira menangis"Iya kak""Kakak bingung" jawab Amira"Kenapa kak?" tanya Isyana"Kenapa ayah begitu pelit kita semu asudah dewasa harusnya ayah memberikan kita smeua sedikit modal untuk melanjutkan hidup ini" geram Amira"Mungkin ayah punya tujuan lain" jawab Isyana" Tidak akan, kita hanya harus menunggu dia mati, ISyana" ucap Amira kesal dan langsung tidur kaarena kelelahanHari itu pun tiba, ayah sedang memanaskan mobilnya, isyana memanggil ayah kedalam karena sudah membuatkan sarapan untuk ayah.Ayah pun menuju ke dalam rumah, tetapi Isyana malah berjalan ke arah mobil saat ayah sudah masuk ke dalam, dia mengeluarkan gunting dan dia memotong kabel rem yang ada disana.Pak Jeremi kaget, Isyana anak yang sangat baik berbeda dari kakak-kakaknya kenapa ia melakukan itu, fikir Penyidik itu. Tiba-tiba cahaya mengembalikan dia ke sofa tempat dia tertidur.Keesokannya, Isyana ditangkap oleh Pak Jeremi, setelah 3 jam masa penyidikan akhirnya Isyana mengakui, bahwa dia mendapat ide dari kata-kat Amira, karen saat itu ternyata Isyana sedang hamil dan Rendi pacarnya tidak mau bertanggung jawab dan meninggalkannya, dia tahu sifat ayahnya akan mengusir dia dari rumha jika dia sampai tahu, dan dia tidak mau bayi ini menanggung beban baginya, ketika itulah dia memutuskna untuk membuat ayahnya celaka.Fadel dan Amira sungguh tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti itu, Isyana anak paling penurut dan pendiam, tapi melihat kondisi Isyana mereka berjanji tidak akan mengambil bagian Isyana, dan memberikannya kepada anak Isyana yang akan dirawat oleh Amira.

HOROR PANTAI TELAGA HITAM
Horror
24 Dec 2025

HOROR PANTAI TELAGA HITAM

Adisti dan teman sekampusnya sedang travelling, hari ini mereka baru saja selesai mendaki Gunung, di tengah perjalanan mereka merasa sangat kelelahan dan memutuskan untuk mampir ke warung indomie di pinggir jalan, mereka pun memarkirkan mobil mereka, dan turun karena perut mereka sangat lapar.Saat mereka menunggu pesanan indomie mereka, tiba-tiba Mario salah satu teman Adisti menanyakan kepada pelayan yang sedang memasak indomie."Mas ada pantai gak ya di dekat sini"tanyanya"Ndak ada mas" jawab pelayan itu"Oh begitu pantai yang terdekat dari sini, sekitar berapa menit lagi ya?" tanya Mario lagi"Ini daerah pegunungan mas, tidak ada pantai dekat sini" ucap pelayan tadi dengan tatapan mata sinisSelesai makan mereka kembali ke mobil meneruskan perjalanan mereka. tetapi sebelumnya saat Adisti ingin membayar makanan tadi kepada pelayan tersebut, dia membisikkan sesuatu kepada Adisti"Kalau mbak lihat ada pantai jangan berhenti jalan terus" bisiknyaAdisti bingung dengan ucapan mbak tersebut, katanya tadi tidak ada pantai, tetapi Adisti acuh dan menuju ke mobil.Beberapa kilometer ada tanda perbaikan jalan, dan sepertinya habis ada longsor, jadi jalan buntu, Mario membuka kaca dan bertanya pada beberapa bapak tua yang berada disana"Maaf pak, kalau jalan ini tidak bisa, ada jalan alternatif lain tidak ya?""Ada mas, ambil jalan setapak kecil tapi muat satu mobil di samping kanan jalan, sambil menunjukkan jalan tersebut" ucap Bapak tua tersebut.Dan mereka melanjutkan perjalanan, dari jalan tersebut mereka masuk ke hutan-hutan dan jalan setapak itu menjadi satu-satunya jalan alternatif yang ada.sekitar satu jam mereka masih berada di hutan, sampai akhirnya mereka melihat jalan yang terbuka dan lebar."Akhirnya ketemu jalan besar" ucap AdistiBegitu mereka ke jalan besar mereka melihat pemandangan yang luar biasa, dengan pantai yang indah di sepanjang jalan tersebut."Lho kata mbaknya disini ga ada pantai" protes MarioTiba-tiba Adisti teringat perkataan mba tadi"Asyikkk kita mampir dulu ya, sekalian petualangannya biar seru" jawab Mario antusias, dan diikuti persetujuan Wawan dan Mira"Tunggu, hari sudah mulai malam, lebih baik kita ga usah mampir" jawab Adisti ketakutan mengingat ucapan mbak tadi sangat misterius"Aduh lo ga seru banget si Dis, kita kan punya tenda tinggal nginep disini aja jawab Mario santai"Iya Dis, ayulah pantainya bagus banget" ucap Wawan dan MiraAkhirnya Adisti terpaksa sepakat dengan sahabat-sahabatnya, selain itu pantai nya memang sangat indah berwarna biru jernih dengan pasir putih yang bersih, akhirnya mereka memarkirkan mobilnya."Wihhh... ga rugi tadi jalan kita dialihkan" ucap wawan"Tapi kok pantainya sepi banget ya? padahal kan indah banget pemandangannya" ucap Mira"Iya ya aneh masa gak ada satu orang pun yang kesini" fikir Adisti dalam hati.Tidak terasa hari hampir sore, mereka sudah siapkan tenda dan mulai menyiapkan perbekalan mereka.Suasana sunset juga sangat indah, mereka tidur dipasir yang hangat dan menikmati pemandangan itu sampai akhirnya langit mulai gelap dan mereka membakar api unggun."Dis, masakan kamu enak aku jadi kenyang, bikin aku ngantuk" ucap wawan"Alasan, bilang aja kamu itu kebluk" ucap Adisti menggoda Wawan"Iya betul Dis, wawan dimanapun pasti tidur" timpal MarioDan Wawan memang akhirnya masuk ke dalam tenda dan siap-siap tidur, hanya tinggal Adisti dan Mira diluar"Mir, pantainya sangat indah, tapi ada yang aneh gak menurut kamu?" tanya Adisti"Aneh gimana?" tanya Mario"Tadi sebelum kita berangkat mbak warung tadi sudah ingatkan jangan berhenti kalau ada pantai, aku jadi merasa aneh saja kenapa dia bilang seperti itu" ucap Adisti"Mungkin pantai yang lain bukan yang ini" ucap Mira"Entahlah, mungkin saja aku salah dengar" ucap Adisti berusaha untuk berfikir positifTiba-tiba pantai yang tadinya tenang ombaknya mulai menggulung perlahan-lahan, Adisti dan Mira awalnya tidak merasakan dan menganggap hal itu hal yang biasa karena angin malam ini, tiba-tiba ombaknya semakin meninggi dan lebih tinggi lagi"Mir, ombaknya lihat" ujar Adisti"Iya Dis, kita harus ke tenda bilang ke teman-teman yang lain" ucap Mira sambil berlari ke tenda"Wawan ayo bangun, ombaknya semakin besar" teriak MiraWawan bangun dengan mata sedikit mengantuk"Ada apa sih" tanya Wawan masih bingungTapi terlambat, ombak sudah sangat tinggi dan menggulung merekaAdisti perlahan-lahan membuka mata, dia melihat semuanya seperti mimpi, dia berada di air dan melihat sahabat-sahabatnya sudah tidak bernyawa, Adisti berusaha untuk bertahan tetapi dia melihat ada pusaran hitam yang besar dan mulai menariknya tiba-tiba semuanya gelap.Keesokan hari terlihat kerumunan orang di sungai telaga hitam, ternyata mobil Adisti telah ditemukan terpelest dalam ke jurang dan tenggelam di sungai ini.

Surat Di Laci Meja
Teen
24 Dec 2025

Surat Di Laci Meja

Nama gue Cinta. Sekarang gue duduk di kelas X SMA. Gue lagi naksir sama seseorang, dia senior gue. Namanya Ciko. Gue gak tau kenapa gue bisa suka sama dia.Dia orangnya pendiam banget dan jarang bersosialisasi tapi kekalemannya itulah yang buat gue penasaran sama dia. Banyak juga yang bilang kalau dia itu cupu, ya memang penampilannya kurang menarik tapi sebenarnya dia adalah pemuda yang tampan kalau saja dia mau memperhatikan penampilannya itu. Namun banyak juga yang mengagumi dirinya salah satunya ya gue.'Selamat pagi Cinta, semoga hari ini kamu selalu tersenyum'Ini adalah surat ke-5 yang gue terima. Sejak beberapa minggu belakangan memang setiap pagi gue selalu dapat surat misterius ini. Namun hari ini berbeda dari 4 surat sebelumnya, surat ini tergeletak di laci meja gue ditemani setangkai bunga anggrek putih kesukaan gue. Gue benar-benar penasaran dengan si pengirim surat ini."Dapat surat lagi dari fans Lo Cin?" Santi mengagetkan gue."Aduh, gue kaget tauk. Iya nih San." Kata gue sambil memamerkan kertas kecil yang hanya terdapat beberapa kata itu pada Santi."Lo belum tau juga siapa pengirimnya?"Gue hanya bisa ngangkat bahu menanggapi pertanyaan sahabat gue itu. Padahal gue pengen banget mergokin orang yang naruh surat ini dalam laci gue, tapi gue gak pernah berhasil. Gue selalu kalah cepat sama dia."Udahlah Cin. Siapa tau Cuma orang iseng yang mau ngerjain Lo." Kata Santi."Tapi ini udah hari kelima San. Masak orang ngerjain sampai segitunya?""Ya udah liat aja besok, kalau masih ada surat di laci Lo berarti memang ada yang lagi suka sama Lo." Jelas Santi.Gue masih gak habis sama orang yang naruh surat di laci gue, kenapa dia ngelakuin itu? Gue yakin itu Cuma orang yang pengen ngisengin gue doang. Karena gue Cuma seorang cewek biasa yang gak ada istimewanya untuk di kagumi. Mungkin nama gue memang bagus tapi wajah gue gak sebagus nama gue. Gue juga gak terkenal di sekolah ini, gue hanya siswa biasa yang gak memiliki keistimewaan. Berbeda dengan Ciko, meskipun dia kalem dan jarang bersosialisasi dia adalah siswa yang pintar dan sering dikirim untuk mengikuti berbagai cerdas cermat atau sejenisnya.Gue lagi mengistirahatkan otak gue yang lagi mumet mikirin si pengirim surat misterius sambil terus memandangi pangeran gue. Raja di hati gue, siapa lagi kalau bukan kak Ciko. Dia tengah asyik dangan buku dan beberapa soal di hadapannya. Gue gak habis pikir sama dia, gimana caranya otak dia bisa encer kayak gitu. Gue baru liat soal kayak gitu aja mungkin gue udah pingsan duluan sebelum mulai mengerjakannya. Ah entahlah, gue segera beranjak meninggalkan tempat itu, tempat yang selalu bikin hati gue labih baik saat gue lagi banyak pikiran kayak sekarang ini.Keesokan harinya...Seperti biasa gue datang ke sekolah lebih awal, untuk mencari tau apa ada surat baru di dalam laci meja gue. Setiba di kelas, kelas itu masih kosong. Gue segera mendekati meja gue dan melihat laci meja gue. Ternyata ada surat lagi.'selamat pagi cinta, semoga hari ini kamu selalu tersenyum.'Maaf membuatmu penasaran, tapi tolong bersabar sedikit lagi ya cinta.Begitu isi surat singkat itu. Apa maksudnya bersabar sedikit lagi. Gue benar-benar bingung sekarang. Entah bagaimana surat ini bisa sampai ke dalam laci gue, gue ngerasa ada yang lagi mainin gue sekarang."Selamat pagi." Sebuah suara membuat gue kaget.Dan ternyata pemilik suara itu adalah Ciko, pangeran gue. Gue terpaku sesaat memandangi lelaki tampan ini. Apa mungkin gue lagi mimpi ya?"Dek!! Kenapa?" panggilnya. Lagi-lagi gue kaget."Oh eh, ada apa kak?" tanya gue gugup banget. Tau gak kalian gimana perasaan gue sekarang saat seorang yang kalian sangat kagumi lagi berdiri dihadapan kalian. Duh rasanya gue mau pingsan."Kamu Cinta kan?" duh darimana dia tau nama gue? Jangan-jangan pengirim surat itu dia lagi. Omg gue gak kuat. Apa yang harus gue lakuin sekarang."Dek. Kamu Cinta bukan?" ulangnya."Oh eh i iya kak." Gue benar-benar gugup sekarang."Ini."katanya menyerahkan sebuah amplop.OMG Cinta. Jangan-jangan pengirim surat itu beneran dia lagi?"I ini apa kak?" tanya gue gelagapan karena saking gugupnya."Itu surat, Cerry gak bisa masuk hari ini karena dia lagi sakit. Tolong kasihin ya sama guru yang ngajar nanti." Katanya. Wajah gue langsung berubah, ternyata gue gr."Oh ya kakak tau nama saya dari mana?" tanya gue penasaran." Tuh" Tunjuknya pada nama yang tertera di kemeja sekolah gue.Dengan rasa kecewa gue segera ninggalin tempat itu. Kenapa gue berharap pengirim surat itu kak Ciko, padahal itu gak mungkin terjadi. Gue segera pergi ke taman yang terletak di samping kelas. Gue terus melihat surat yang tengah gue pegang. Sebenarnya ini dari siapa tanya gue dalam hati. Rasa penasaran gue sudah memuncak sekarang, gue benar-benar ingin tau siapa pengirim surat ini.Dari kejauhan gue melihat kak Ciko yang tengah berjalan menuju kelasnya. gue berharap surat ini dari Lo kak. Kata gue dalam hati. Tapi hal yang gue harapkan itu mustahil terjadi meski dalam mimpi sekalipun."Lo kenapa Cin? Pagi-pagi udah ngelamun." Ujar Santi."Gue masih penasaran San sama pengirim surat itu." Jawab gue terus memandang kertas yang tengah gue pegang."Udahlah Cin, pada saatnya nanti dia pasti nemuin Lo." Kata Santi. Santi mungkin benar gue Cuma perlu bersabar.Hari ini sangat menyebalkan buat gue. Motor gue tiba-tiba mogok di tengah jalan yang sepi ditambah lagi hujan turun dengan derasnya. Gue bingung harus gimana hp gue juga low bat.Lengkap sudah penderitaan gue, ditengah guyuran hujan sebuah mobil berhenti tepat di depan gue. Gue jadi ketakutan karena disini sangat sepi. Orang tersebut membuka kaca depan mobilnya dan tampaklah kak Ciko di dalam mobil itu."Motornya kenapa dek?" tanya kak Ciko di tengah guyuran hujan yang makin deras."Gak tau kak, kayaknya mogok." Jawabku ."Ya udah lebih baik kita cari tempat berteduh dulu, nanti kamu bisa sakit kalau terus berdiri di tengah hujan kayak gini." Kata kak Ciko, gue ngerasa senang kak Ciko perhatian sama gue hehe. Hmm dingiinnn!!Dia minta gue masuk ke mobilnya dan membawa gue berteduh ke sebuah halte yang tak terlalu jauh dari tempat mogoknya motor gue. Baju gue udah basah semuanya. Gue kedinginan. Kak Ciko melepas jaket yang membalut badannya dan melingkarkan ke tubuh gue."Biar kamu gak kedinginan." Katanya sambil tersenyum. Maniss banget."Makasih kak." Aku membalas senyuman itu."Mending kamu saya antar pulang kayaknya hujan bakal lama deh." Ujarnya."Tapi kak apa gak ngerepotin kakak?" tanya gue basa basi padahal mah gue gak mungkin nolak kesempatan emas kayak gini. Ternyata ada untungnya juga tuh motor mogok."Gak masalah kok."Sepanjang perjalanan gue terus memperhatikan wajah tampan milik pemuda ini. Merasa diperhatikan dia menatap gue, gue jadi salah tingkah karena ketahuan tengah memperhatikannya."Kenapa kok kamu liatin saya kayak gitu. Apa ada yang aneh sama wajah saya?" tanya kak Ciko."Iya, ganteng banget." Cepat-cepat gue nutup mulut gue. Duh nih mulut sembarangan aja deh kalau ngomong. Liat tempat dulu dong baru ngoceh. Kak Ciko tersenyum melihat tingkah gue."Makasih" ucapnya pelan. Gue terus menunduk gak berani lagi mandang kak Ciko. Gue rasa pipi gue udah memerah karena saking malu."Rumah kamu dimana?" tanya kak Ciko."Di depan sana ada belokan kak rumah aku dekat sana." Jawabku masih menunduk.Mobil kak Ciko berhenti di depan rumah gue. Gue langsung turun dan gak lupa ngupapin makasih sama dia. Kak Ciko langsung balik sesudah ngantar gue pulang. Gue senang banget hari ini.Hari ke-7 gue kembali mendapatkan surat dalam laci meja gue. Perlahan gue baca surat itu isinya masih terdiri dari beberapa kata.'kamu cantik cinta, aku mencintaimu'Semoga hari ini kau terus tersenyum agar duniaku juga tersenyumgue melihat sekeliling berharap gue akan melihat pengirim surat ini namun tak ada siapapun. Gue berbicara cukup lantang " Siapa sih orang pengecut yang hanya berani naruh surat di laci meja gue? Kalau emang suka jangan bikin penasaran orang dong. Temuin langsung dan nyatain kalau suka." gue sengaja bicara cukup keras berharap pengirim surat ini mendengar gue dan keluar dari persembunyiannya. Namun tak terjadi apa-apa. Gue mulai putus asa untuk mencari tau pengirim surat ini. Mungkin ini hanya keisengan seseorang saja.Keesokan harinya.Gue kembali mendapatkan surat misterius. Tapi gue gak berniat untuk membacanya karena gue beranggapan itu hanya orang iseng yang mengirimnya. Gue masukin surat itu ke dalam tas. Awalnya gue ingin membuangnya tapi entah kenapa gue merasa enggan.Gue duduk di kursi taman untuk mengusir kejenuhan ini. Gue tetap penasaran dengan isi surat yang gue terima tadi pagi. Akhirnya gue mengambil surat itu dan membukanya.Maafkan aku cinta, yang hanya berani memandangmu dari kejauhanMaafkan diriku yang terlalu pengecut untuk sekedar menyapamuMaaf aku hanya berani menaruh surat di laci mejamuTapi satu hal yang harus kamu tau, aku telah jatuh cinta padamu.Aku selalu memandangmu ketika kau duduk di tamanAku selalu memandangmu saat kau datang di pagi hari dari tempat persembunyiankuAku menyukai dirimu sejak pertama kali melihatmuAku telah menguatkan dan memantapkan hatikuUntuk menemui dirimu...Datanglah ke mejamu besok aku akan menunggumu.Gue masih menebak-nebak orang yang mungkin menulis surat ini, tapi gue gak tau juga. Gue udah mutusin besok gue akan nemuin orang sok misterius ini, semoga aja orangnya gak lagi ngerjain gue saat ini.Gue sangat penasaran sama pengirim surat cinta ini. Gue gak sabar menanti esok untuk mengetahui pengirim surat ini. Malam terasa panjang buat gue, mata gue sulit untuk terpejam.Pagi sekali gue udah bersiap untuk datang ke sekolah. Mama heran melihat tingkah gue pagi ini karena biasanya di hari minggu seperti ini gue akan bangun terlambat. Tapi pagi ini gue udah stand by untuk berangkat ke sekolah. Setelah pamit sama mama gue segera melaju motor gue ke arah sekolah.Sampai di sekolah gue langsung menuju kelas gue dimana biasanya surat itu gue temuin di meja gue. Tapi gue gak ngeliat ada siapapun disana. Apa gue datang kepagian ya batin gue. Gue ngelirik laci gue, ada sebuah surat lagi disana bersama dengan bunga anggrek kesukaan gue. Gue buka surat itu.Selamat pagi cinta.Terima kasih sudah datang.Aku minta maaf membuatmu penasaran lagi.Sekarang aku sedang menunggumu di tempat aku biasa memperhatikanmu.Gue berpikir sejenak. Tempat aku biasa memperhatikanmu. Gue segera berlari menuju taman yang tak jauh dari kelas gue.Disana seorang pria sedang duduk sambil menulis sesuatu. Tapi gue hanya melihat punggung pria itu. Gue mendekat perlahan pada pria tersebut. Setelah dekat gue terkejut saat tau pria itu adalah kak Ciko. Si pangeran gue."Kak Ciko? Kakak ngapain disini?" tanya gue padanya."Saya sedang nunggu kamu Cinta." Jawaban kak Ciko sungguh membuat gue sangat terkejut."Nunggu aku? memang ada apa Kak?" gue bertanya serius sambil menatap lekat mata kak Ciko.Dia hanya menganguk sambil tersenyum manis sekali."Maaf ya Cin saya begitu pengecut hingga saya hanya berani naruh surat cinta di laci mejamu dan bikin kamu risih akhir-akhir ini." Gue terpaku beberapa saat mencoba mencerna ucapan kak Ciko barusan."Saya takut kamu tidak menyukai saya Cinta. Jadi setiap hari saya duduk di taman ini hanya untuk memperhatikan kamu. Saya hanya sok sibuk mengerjakan sesuatu padahal saya hanya ingin memperhatikannu di taman ini, saya gak tau harus mulai dari mana makanya saya naruh surat itu di laci kamu beberapa hari terakhir." gue sungguh tak percaya apa yang baru saja di ucapkan kak Ciko. Gue memandangnya lekat mencari serat candaan dari kedua mata kak Ciko namun gue tak menemukannya. Hanya ada ketulusan di kedua mata indah itu."Setiap sore saya datang ke sekolah untuk menaruh surat dalam laci mejamu." Gue masih tak percaya dan diam bagai patung."Waktu saya ngantar kamu pulang saya hanya diam itu karena saya terlalu gugup di dekat kamu Cinta. Sekarang saya beranikan diri saya buat cerita ke kamu karena saya takut kehilangan kamu jadi saya mantapkan hati saya buat nemuin kamu dan ceritain semuanya hari ini sama kamu."Dada gue terasa sesak. Gue mencoba menenangkan diri gue, jantung gue udah mau jatoh dari tadi. Untung gak jadi kalau sampai jantung gue jatuh gimana?"Saya cinta sama kamu cinta. Kamu mau jadi pacar saya?" Kata kata itu membuat gue menangis karena terharu, dari dulu gue udah mimpiin saat-saat kayak gini dan akhirnya momen ini terjadi juga.Eh tunggu! Sekarang gue gak lagi mimpi kan? Kalau semua ini hanya mimpi entahlah lebih baik gue mau bunuh diri aja deh.Tangan kak Ciko mengusap air mata gue. Gue bingung kenapa gue malah nangis dapatin kata-kata seindah itu dari seseorang yang gue kagumin sejak lama."Kamu kenapa nangis? Kalau kamu gak suka sama saya gak apa-apa kok. Saya gak marah. Tapi saya gak suka liat orang yang saya sayang nangis karena saya." Kak Ciko menghapus air mata gue yang kembali menetes mendengar ucapanya.Gue memeluk pemuda ini dan kembali menangis dalam pelukannya. Gue gak nyangka aja kalau kak Ciko ternyata juga sering merhatiin gue diam-diam sama kayak yang gue lakuin ke dia. Semuanya terasa seperti mimpi buat gue."Kalau kamu gak suka sama saya gak apa-apa kok cin. Tapi kamu jangan nangis terus, nanti saya juga nangis." Gue tersenyum mendengar kata-katanya barusan."Aku emang gak suka sama kakak. Tapi aku udah jatuh cinta sama kakak." Ucap gue.Dia terpaku tak percaya dengan apa yang gue katakan."Aku juga sering merhatiian kakak di taman ini, aku duduk di taman ini Cuma buat merhatiin kakak. Tapi kakak selalu sibuk dengan kegiatan kakak jadi aku berasumsi kalau kakak gak suka sama aku." Jelas gue padanya.Kak Ciko tersenyum mendengar apa yang gue ucapkan barusan. Dia tampak sangat bahagia. Wajahnya memancarkan aura kebahagiaan yang sangat jelas terlihat."Tapi kenapa kamu nangis barusan?" tanyanya heran."Aku hanya terharu mendengar kakak juga menyukaiku dan memperhatikan ku dari jauh sama seperti apa yang aku lakuin sama kakak selama ini." Jawab gue.Kak Ciko kembali tersenyum sangat indah. Gue membalas senyuman itu."Itu artinya kamu sekarang adalah pacar saya?" tanya kak Ciko.Gue hanya mengangguk menandakan 'iya'. Ternyata pengirim surat cinta di laci meja gue adalah seseorang yang gue harapkan. Gue memeluk kak Ciko dan ada kenyamanan disana. Bersama seseorang yang gue cintai dan mencintai gue dengan tulus.THE END

Untuk seorang Sahabat
Teen
24 Dec 2025

Untuk seorang Sahabat

Hari ini adalah hari pertama kuliah. Rendi berangkat dengan terburu-buru karena takut terlambat. Setiba di kampus Rendi bertemu dengan seorang gadis cantik yang membuatnya penasaran, Rendi terus memerhatikan gadis itu dari kejauhan. Hingga hari menjelang malam Rendi tak bisa menghilangkan bayangan gadis itu dari benaknya.Keesokan harinya Rendi menanyakan perihal gadis itu pada temannya yang kebetulan sekelas dengan gadis itu. Rendi meminta temannya mengenalkannya pada wanita cantik yang membuatnya penasaran itu. Akhirnya setelah berpikir sekian kali Rendi memberanikan diri untuk menghampiri gadis itu."Hai" sapa Rendi masih ragu.Gadis itu menoleh dan tersenyum pada Rendi yang membuat Rendi ingin pingsan saat itu juga."Ya?" sahut gadis itu keheranan."Boleh kenalan gak? Nama gua Rendi." Ujar Rendi mengulurkan tangannya dan tersenyum manis."Oh, aku Kania. Kamu bisa manggil aku Nia." Jawab gadis bernama Nia itu dan menyambut uluran tangan Rendi."Aku dari fakultas teknik, kamu sebdiri?" Tanya Rendi sambil menyembunyikan kegugupan nya."Aku fakultas pendidikan." Jawab Nia tak lupa dengan senyuman manisnya.Kebetulan fakultas teknik dan pendidikan bersebelahan hanya di batasi sebuah jalan yang mengarah ke gerbang kampus.Sejak perkenalan itu Rendi dan Nia pun sering bertemu. Mereka juga sering jalan bareng untuk mengisi waktu luang atau sekedar jalan-jalan menghirup udara segar.Suatu hari Rendi memberanikan diri menyatakan perasaanya pada Kania."Nia." suara Rendi terdengar lembut bahkan sayup-sayup di pendengaran Nia.Nia menoleh ke arah Rendi yang memandang lekat pada kedua bola mata bening milik Kania. Tiba-tiba jantung Rendi berdegup kencang, ia segera menundukkan pandangan dari tatapan mata Kania."Nia, sebenarnya aku..." kalimat itu terhenti begitu saja."Kamu kenapa Ren?" Kania mencoba menyelami pikiran pemuda tampan di depannya.Rendi memberanikan dirinya untuk menatap mata indah Kania. Tatapan Rendi yang tajam membuat Kania menundukkan kepala tak sanggup beradu pandang dengan mata milik Rendi."Sebenarnya aku suka sama kamu Nia. Aku udah suka sama kamu sejak pertama kali aku melihat kamu." Akhirnya Rendi berhasil mengatakan kalimat itu dengan jelas.Kania terdiam untuk beberapa saat mendengar penuturan Rendi barusan. Sejujurnya Kania senang mendengar kata-kata itu dari Rendi, apalagi Kania juga memiliki perasaan yang sama tapi Kania bingung harus menjawab apa. Dia tau bahwa sahabatnya juga mencintai Rendi.Di satu sisi Kania ingin menerima cinta Rendi karena dia juga memiliki rasa yang sama tapi di sisi lain Kania tak mau melukai hati sahabatnya. Kania bingung harus bagaimana, haruskah dia mengikuti kata hatinya dan melukai hati sahabatnya atau haruskah dia menyakiti hatinya demi sahabatnya sendiri?"Nia. Kamu kenapa?" Rendi menyadarkan Kania dari kutertegunnya."Aku,...." Kania bingung harus menjawab apa."Kalau kamu gak bisa jawab sekarang gak apa-apa kok Nia." Kata Rendi memendam kekecewaannya."Aku juga Ren. Aku juga suka sama kamu sejak lama." Kania tak mampu membohongi dirinya sendiri.Dia hanya mengikuti apa yang hatinya katakan dan hati Kania mengatakan bahwa dia harus menerima Rendi. Bahkan Kania sudah menyukai Rendi sejak perkenalan itu.Mendengar kabar bahwa Rendi dan Kania sudah jadian Caca, sahabat Kania yang juga menyukai Rendi jatuh sakit. Caca memang sudah mengidap penyakit kanker hati.Akhirnya Kania tak tega melihat kondisi sahabatnya itu, meskipun Caca tak pernah marah pada Kania tapi Kania tau betapa terpukulnya Caca mendengar dia sudah jadian dengan Rendi. Kania semakin sedih setelah dokter memvonis bahwa umur Caca hanya satu bulan lagi.Setelah berpikir keras akhirnya Kania membuat sebuah keputusan. Sore ini dia sudah janjian dengan Rendi, kekasihnya."Ada apa yank?" tanya Rendi merangkul Kania dari belakang."Kamu udah kangen ya sama aku?" sambungnya.Kania melepaskan rangkulan Rendi, Rendi heran dengan tingkah kekasihnya itu."Rendi kamu sayangkan sama aku?" Kania bersuara tanpa berani menatap mata kekasihnya."Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku sayang sama kamu." Jawab Rendi dan menggenggam tangan Kania erat."Kalau gitu kamu maukan melakukan sesuatu untukku?" Tanya Kania serius."Apapun akan aku lakukan untukmu sayang. Sebenarnya ada apa? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu." Tanya Rendi sungguh-sungguh sambil menatap mata indah milik kekasihnya itu."Kalau gitu kamu maukan ninggalin aku dan mendampingi Caca?" tanya Kania."Sayang ada apa ini? Apa yang membuat kamu bicara demikian?" tanya Rendi.Dia merasa terluka melihat duka di mata wanita yang ia cintai. Rendi tak tega melihat wajah orang yang dicintainya begitu sedih, tak ada senyuman manis yang selama ini selalu terpatri di sana."Ren apa kamu tau kalau Caca sayang sama kamu? Dia cinta sama kamu Ren. Dan sekarang dia sedang sakit dan membutuhkan kehadiran kamu, Caca sangat membutuhkan dorongan dari orang yang dia sayangi Ren dan orang itu adalah kamu." Jelas Kania dalam derai air matanya."Tapi aku tidak mencintai Caca. Aku hanya mencintai kamu Nia." Rendi ikut kalut, dia tau betapa Nia sangat menyayangi Caca tapi Rendi tak ingin mengorbankan perasaannya yang tulus untuk Nia."Kalau memang kamu cinta sama aku tolong lakukan itu demi aku Ren, lakukan itu demi cinta kamu ke aku. Tolong dampingi Caca di masa sulitnya ini." Kania tak kuat lagi membendung air matanya.Kania terus memohon pada Rendi sambil menangis. Sebenarnya dia merasa bingung apa yang membuatnya menangis entah kasihan melihat kondisi sahabatnya atau rasa takut kehilangan dan melepaskan Rendi.Rendi tak tega melihat Kania terus memohon, akhirnya dia pun menuruti kemauan kekasihnya itu untuk mendampingi dan merawat Caca di rumah sakit.Meski sebenarnya Rendi tak mau melakukan itu tapi demi membuktikan cintanya pada Kania dia lakukan juga.Hari-hari Kania menjadi suram semenjak Rendi merawat Caca. Tak ada lagi kebahagiaan di wajah cantik milik Kania. Apalagi setiap dia mengunjungi rumah sakit dan melihat perhatian yang diberikan Rendi pada Caca yang membuat Kania terluka dan akhirnya menangis lagi."Kenapa harus menangis? Bukankah ini yang Gue inginkan?" tanya Kania pada dirinya sendiri.Meskipun tak tega pada Kania, Rendi tetap menjaga dan merawat Caca dengan penuh perhatian dan kesabaran. Bukankah ini permintaan Kania? Jadi aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar mencintainya.SATU BULAN KEMUDIAN....Kania tak kuasa menahan tetesan air mata yang membasahi kedua pipinya. Akhirnya Caca menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelum meninggalkan dunia ini Caca menuliskan sepucuk surat untuk sahabatnya, Kania."Ca kenapa Lo ninggalin Gue secepat ini Ca? Padahal Gue baru lihat Lo bahagia?" Kania terisak.Kania sungguh tak menyangka kebahagiaan sahabatnya begitu cepat berlalu. Kania sangat terluka atas kepergian Caca."Nia, sebelum meninggal Caca menitipkan surat ini buat kamu." Kata Rendi memberikan sepucuk surat pada Kania.Dalam hati Rendi masih sangat mencintai Kania, Rendi pun tak pernah marah pada wanita itu karena dia tau kalau Kania pun terluka dengan semua kejadian ini.Kania menerima surat itu dengan hati remuk. Rendi benar-benar tak tega melihat keadaan Kania. Ingin rasanya Rendi mendekap wanita yang dicintainya itu erat-erat. Hati Rendi sungguh sedih melihat wanita yang ia sangat cintai dalam kondisi yang kacau.Perlahan Kania membuka surat itu. Hanya ada beberapa baris kalimat yang ditulis tangan dan Kania sangat mengenal tulisan tangan itu.Dear Kania ,,S ahabatku yang baik hati ...Nia pas Lo baca surat ini mungkin Gue lagi tersenyum memandang Lo dari atas sana.Nia Gue sangat berterima kasih sama Lo karena telah sempat membagi kebahagiaan Lo sama Gue sebelum Gue tiada.Gue juga minta maaf ya Nia, Gue tau hati Lo pasti hancur banget pas ngeliat orang yang Lo sayang merhatiin Gue. Tapi Rendi melakukan itu semua karena dia sayang sama Lo Nia. Jadi Gue mohon kembalilah pada Rendi.Jangan sia-sia kan dia Nia. Hiduplah bahagia sama Rendi. Dialah cinta sejati Lo Nia.Dari yang mencintaimu...Caca,,Kania kembali terisak setelah membaca surat itu. Dia merasa bersalah pada Rendi sekaligus berterima kasih karena telah membuat sahabatnya bahagia sebelum tiada. Akhirnya Kania memutuskan untuk kembali pada Rendi yang mencintainya dengan tulus dari hati seperti dia mencintai pria itu.=TAMAT=

Pengirim Surat Misterius
Teen
23 Dec 2025

Pengirim Surat Misterius

Mencintaimu bagaikan berpegang pada akar yang berduri tajam,Memilih untuk jatuh ke jurang yang dalam,,Atau tetap bertahan dengan perih yang teramat sangat...Kata-kata Itulah yang aku rasakan setiap saat aku mengingatmu. Aku sadar aku takkan pernah bisa menggapaimu karna memang aku tak pantas berada di sebelahmu. Kau begitu sempurna untukku, tapi hatiku tak mampu memahami semua itu. Hatiku tak mampu untuk menyingkirkanmu dari sana, kau memiliki tempat yang sangat luas di dalamnya dan jika kau keluar dari hati ini maka hatiku pasti akan kosong.Namaku Wulandari, aku biasa dipanggil Wulan. Kini aku duduk di kelas 2 SMA favorit di kotaku. Sudah dua tahun belakangan ini aku jatuh cinta pada idola sekolah. namanya Ravid. Dia tampan, Ketua basket, peringkat dua di sekolah, serta status sosial tinggi, membuatnya terkenal di sekolah.Banyak wanita yang menyukainya, tentu saja termasuk aku. Tak sedikit pula yang memberikannya surat cinta atau hadiah karena Kak Ravid yang keren dan hebat. Aku tak tau sejak kapan tepatnya aku mulai menyukai Kak Ravid.Meskipun banyak wanita yang menyukainya tapi kak Ravid tak pernah menjadikan salah satu dari mereka sebagai pelabuhan hatinya. Padahal banyak wanita yang mengejar cintanya bahkan tak jarang mereka secara terang-terangan mengungkapkannya. Namun kak Ravid belum juga melabuhkan hatinya pada salah satu dari mereka.Aku merasa senang dengan semua itu meskipun aku sadar aku takkan pernah menjadi pelabuhan hatinya. Banyak cewek yang lebih cantik dan lebih pintar saja di tolak oleh Kak Ravid apalagi gadis biasa seperti diriku. Tak mungkin dia akan melirikku. Duh jangan mimpi ketinggian kali Lan.“Lan buruan ke lapangan.” Panggil Pak Doni.“Baik Pak.” Jawabku sambil berjalan menuju lapangan basket.Aku memang salah satu pengurus organisasi basket. Aku baru bergabung seminggu yang lalu. Alasanku bergabung dengan club basket sudah jelas karena Kak Ravid. Berada di club basket memang melelahkan apalagi aku adalah satu-satunya anggota perempuan di club ini. Apalagi pekerjaannya cukup berat, membawa bola-bola basket untuk anak-anak latihan dan setelah latihan harus menbereskan bola-bola itu untuk disimpan kembali serta mengurus konsumsi untuk seluruh anggota selama latihan berlangsung, aku juga bertanggung jawab jika ada bola basket yang hilang.“Sini Gue bantu.” Seseorang mengagetkanku. Aku terkejut mengetahui bahwa orang tersebut adalah Kak Ravid.Aku hanya diam karena tak percaya bahwa Kak Ravid mau membantuku. Aku jadi salah tingkah di hadapannya.“Gak usah Kak, ini udah tugas saya.” Kataku dan mengambil kembali keranjang berisi bola yang direbutnya dari tanganku barusan.“Udah biar Gue bantuin aja, lagian itu berat loh.” Lagi-lagi dia merebut keranjang itu.“Ya udah.” Aku berjalan menuju lapangan tanpa menghiraukan Kak Ravid lagi. Aku merasa sangat gugup di depannya barusan. Ku harap dia tak tau kalau aku tadi salting.Setelah club basket selesai latihan aku kembali memunguti bola-bola basket yang tadi mereka pakai untuk latihan dan memasukkan bola-bola itu kembali untuk di simpan di ruang penyimpanan.“Biar Gue aja yang nyimpam bola-bola itu.” Kata seseorang dan orang itu adalah Kak Ravid. Lagi? Ya Tuhan kuatkan lah jantung ini agar tak melompat ke luar.“Gak usah Kak, biar saya saja. Nanti malah ngerepotin Kakak.” Jawabku berusaha mati-matian meredam rasa gugupku.“Gak kok. Sama sekali gak repot. Kunci ruangannya sama kamu kan?” Tanya Kak Ravid.“Iya Kak!” Aku mengangguk, masih merasa gugup berhadapan dengan pemuda tampan yang setiap saat mengisi ruang hatiku.“Ya udah yuk.” Kak Ravid berjalan mendahuluiku. Aku hanya melangkah canggung di belakangnya, mengikutinya seperti anak ayam yang mengikuti induknya.“Nama Lo siapa?”Ya ampun Lan. Dia nanyain nama Lo? Mampus deh Lo sekarang. Apa mungkin Gue lagi mimpi ya sekarang? Makanya Kak Ravid lagi bareng Lo dan ngajak Lo kenalan. Aku mencubit tanganku sendiri sekuat mungkin, untuk memastikan ini mimpi atau bukan.“Aduhhh...” keluhku. Berarti Lo gak lagi mimpi Lan.“Lo kenapa?” Tanya Kak Ravid menyejajari langkahku, aku hanya menggeleng kikuk tak tau bagaimana harus menjelaskan padanya situasiku saat ini.“Oh, gak apa-apa kok Kak.” Jawabku makin gugup, menundukkan kepala dan aku langsung melangkah mendahului Kak Ravid.“Gue tadi tanya nama Lo. Kok gak dijawab sih?” Kak Ravid ikut mempercepat langkahnya mengimbangi langkahku, sehingga lagi-lagi langkah kakiku kalah oleh langkah lebarnya.“Wulan Kak, nama saya Wulandari.”“Oh Wulan, Gue Ravid” jawabnya singkat. Kembali aku mengangguk kikuk, tak menyangka akan mengalami momen seperti saat ini. Berasa lagi syuting sinetron tau gak.“Saya udah tau kok Kak.” Jawabku pelan, sebisa mungkin agar tak terdengar olehnya.“Lo tau dari mana nama gue?” Duh kok dia dengar sih? Padahal tadi aku sudah bicara sepelan mungkin ternyata kak Ravid malah mendengarnya.“Siapa sih Kak yang gak kenal sama kakak, kapten tim basket sekolah ini yang sudah menyumbangkan banyak penghargaan untuk sekolah. Semua orang juga kenal kali sama kakak.” Balasku mencoba tersenyum untuk sedikit menenangkan perasaanku yang gak karuan sejak tadi.“Gak juga lah. Banyak juga kok yang gak kenal sama gue. Lo gak usah muji ketinggian kayak gitu.” Ujarnya tersenyum manis, membuat debar di dadaku meningkat.Kalau tiap hari ngeliat senyum semanis itu bisa-bisa gue diabetes nanti. Terus gue jantungan karena jantung gue gak bisa berdetak normal. Duh mikir apaan sih gue sekarang. Nikmatin aja momen indah lo Lan, gak usah kebanyakan mikir. Nikmati aja.Aku benar-benar gak percaya dengan apa yang aku alami hari ini. Kalau tau akan seperti ini pasti aku akan bergabung dengan club basket sejak lama. Benar-benar berbeda dengan Ravid yang aku lihat selama ini dari kejauhan.Selama ini aku hanya tau bahwa kak Ravid itu orangnya dingin dan terkesan cuek. Bahkan Dara temanku, yang dulu anggota club basket sebelum aku menggantikannya seminggu yang lalu mengatakan bahwa dia sudah tak tahan lagi dengan sikap cuek kak Ravid. Tapi entah kenapa dia membantuku hari ini bahkan menanyakan namaku segala. Iih pokoknya aku merasa senang bangettt hari ini, ingin rasanya aku meneriakkan pada dunia bahwa aku bahagia.Waktu pun berlalu dengan cepat. Kak Ravid pun selalu membantuku setiap saat. Aku merasa senang karena hal itu. Dia selalu membantuku membawakan bola-bola basket. Hari ini dia bilang dia ingin curhat padaku. Dia ingin mengajakku ke kantin istirahat nanti. Aku tanpa pikir panjang langsung menyambut ajakan itu dengan senang hati.DI KANTIN...“Kak Ravid mau ngomong apa?” tanyaku langsung saking penasaran.“Gue mau curhat sama Lo Lan” Katanya.“Mau curhat? Tentang apa kak?” tanyaku penasaran.“Lan sebenarnya gue lagi naksir sama seseorang, tapi gue takut dia gak balas perasaan gue.”Deg!! Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Apa maksudnya bilang gini sama aku? Kenapa aku jadi salting gini?“Sama siapa Kak? Siapa orang yang beruntung itu?” tanyaku pelan. Aku berharap jawabanya adalah aku. Hehe“Gue rasa Lo kenal kok sama dia. Gue udah suka sama dia sejak lama Lan, dan gue mau dia tau apa yang gue rasain” Jawabnya pelan sambil menyesap es teh manis yang tadi di pesannya.Pupus sudah harapanku untuk bersama kak Ravid. Sekarang dia sedang jatuh cinta pada seseorang, siapakah dia? apa mungkin kak Lysa teman sekelas kak Ravid yang mendapat peringkat pertama atau Dara yang sering ngejar-ngejar Kak Ravid. Tapi kenapa hatiku terasa sangat perih, seperti ada yang menusuk hatiku dengan jarum yang sangat banyak dan itu rasanya sangat menyakitkan.Aku mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis di depan kak Ravid, aku tak ingin air mataku jatuh di hadapannya. Setidaknya aku harus terlihat baik-baik saja di depan Kak Ravid, aku tak ingin perasaanku malah akan merusak kebahagiaan yang tengah di rasakan Kak Ravid saat ini.Aku tak ingin Kak Ravid merasa bersalah jika ia tahu bahwa aku menyukainya, bukan! Aku mencintainya. Apalagi jika sampai ia menjauhiku, oh Tuhan jangan sampai hal itu terjadi. Aku sudah cukup bahagia berkesempatan dekat dengan Kak Ravid meski pun aku tak bisa memilikinya. Tak apa.“Kalau gitu selamat ya kak.” Aku berusaha tersenyum dan menahan air mata ini untuk tidak terjatuh di depan kak Ravid.“Apa nya yang selamat Lan? Gue juga belum jadian kok sama dia.” Jawabnya sambil tersenyum. Namun senyumnya itu hanya menambah perih di hatiku.Selera makanku langsung hilang seketika itu. Entah kenapa rasanya aku ingin segera meninggalkan tempat itu secepatnya. Aku tak kuat berlama-lama berada di situ karena mungkin saja air mata yang sejak tadi berusaha aku tahan akan jatuh bercucuran.“Good Luck ya kak. Aku selalu doain yang terbaik buat kakak.” Aku menguatkan diriku dan mencerna kata-kata yang kuucapkan barusan.“ Kalau gitu aku mau ke kelas dulu ya kak. Aku lupa tugasku belum siap.” Ujarku dan tanpa menunggu jawaban darinya aku segera berlari meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang sangat hancur.Lalu untuk apa semua kebaikan yang kamu berikan selama ini kalau hanya untuk mempermainkan perasaanku. Untuk apa kak? Aku menangis sejadi-jadinya, aku tak peduli semua mata telah tertuju kepadaku. Aku sedang merasa terluka dan aku tak peduli dengan orang di sekelilingku aku hanya ingin melepaskan kepedihan ini.Satu minggu kemudian‘ Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya’ Temui aku di cafe ceria jam 4 sore ini.-G-Aku bingung saat menemukan surat itu di dalam tasku, terselip dalam buku catatanku. Bagaimana mungkin surat itu bisa sampai ke dalam tasku. Apa mungkin seseorang salah meletakkan surat ke dalam tasku? Lalu dari siapa surat itu.Siapa itu G? Apa mungkin Galih si cowok nakal adik kelasku itu atau Gilang anak kepala sekolah atau siapa? Aku sungguh dibuat bingung atau jangan-jangan ada yang pengen ngerjain aku. Kupandangi surat yang ditempel dengan huruf-huruf yang diketik sehingga menjadi beberapa kata dan bagaimana bisa masuk ke dalam tasku.Apa aku mendatangi cafe yang tertulis di dalam surat itu saja? tapi bagaimana kalau itu hanya orang iseng yang pengen ngerjain aku atau suratnya salah alamat.Akhirnya karena terlalu penasaran aku tak mempedulikannya dan mendatangi juga cafe itu. Tepat jam 4 sore aku sampai di cafe itu. Aku ngelirak-lirik kesana kemari tapi aku mata ku tak menemukan si pengirim surat misterius itu. Aku hanya mendapati Kak Ravid tengah duduk di kursi dekat pojokan. Dengan spontan aku memanggil namanya.“Kak Ravid?” Orang yang dipanggil menoleh.“Wulan? Kamu kok bisa ada di sini?” Tanya Kak Ravid.“Oh itu,.. aku lagi nunggu seseorang. Kalau Kak Ravid?”“Gue juga lagi nungguin seseorang.” Kak Ravid tersenyum sangat manis. Aku gak kuat, Oh aku gak boleh terperangkap oleh senyuman itu lagi.“Kalau gitu aku kesana ya kak.” Kataku menunjuk kursi yang masih kosong yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya sekarang.“Lan gimana kalau sambil nunggu mereka datang Lo temanin Gue duduk disini dulu.” Ujar Kak Ravid.Sebenarnya aku ingin menolak tapi gak enak harus ngomong gimana. Padahal kak Ravid gak pernah salah sama aku. Meskipun aku merasa kecewa padanya tapi itu semua bukanlah salah kak Ravid melainkan salahku sendiri yang mengira bahwa dia menyukaiku. Akunya saja yang begitu mengikuti perasaan hingga baper. Padahal kan kak Ravid biasa saja sama aku.Cukup lama kami menunggu tapi tak seorangpun yang aku kenal masuk ke dalam cafe baik seorang lelaki ataupun seorang wanita. Kalau dia seorang lelaki mungkin dialah sang pengirim surat misterius itu dan kalau dia seorang perempuan mungkin dialah yang sedang ditunggu kak Ravid yang katanya aku mengenal orang itu.“Sepertinya dia gak akan datang.” Kata kak Ravid perlahan lebih kepada dirinya sendiri.“Kayaknya yang aku tunggu juga gak akan datang.” Kataku.“Mungkin dia gak suka sama Gue Lan.” Dia senyum tipis lebih seperti dipaksakan.Aku sedikit tertawa mendengar kata-katanya. Hanya orang bodoh saja yang tidak menyukai seorang Ravid. Bahkan orang bodoh pun akan jatuh cinta padanya. Dan hanya orang gila yang akan menolak cintanya.“Kenapa ketawa?” Tanya kak Ravid.“Hanya orang yang tidak waras saja yang akan menolakmu kak.” Kataku masih tertawa kecil.“Memang apa alasan seseorang tidak akan menolakku Lan?” dia bertanya sungguh-sugguh sambil menatapku datar.“Kak Ravid ganteng, kapten basket, kak Ravid juga baik pintar lagi. Pokoknya gak akan ada alasan seorang wanita untuk menolak cinta kakak. Ya kecuali cewek itu gak waras.” Jawabku.Dia menatapku tajam. Aku jadi salah tingkah dibuat olehnya. Tiba-tiba dia menggenggam tanganku lembut. Dia menatap kedua mataku yang membuat aku tertunduk tak sanggup beradu pandang dengannya.Secepat kilat aku menarik tanganku dari genggamannya. Aku takut terjebak lagi oleh perasaanku yang saat ini pun aku sendiri belum bisa keluar dari perasaan itu.Kak Ravid terkekeh. Sungguh pemandangan yang langka dari seorang Ravid. Aku menatapnya tajam mendengar dia tertawa. Apanya yang lucu? Batinku.“Sekarang aku sudah tau siapa orang yang tidak waras itu.” Katanya sambil tertawa kecil.Aku bingung mendengar ucapannya, apa maksudnya? Tunggu barusan dia bilang aku bukan Gue? Masih dalam kebingunganku dia mengatakan sesuatu yang benar-benar membungkam mulutku tak mampu berkata-kata lagi.“Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamulah dunianya.” Aku tersedak mendengar kata-kata itu. Jangan-jangan surat itu...?“Surat itu dari aku. Wulandari aku suka sama kamu. Aku harap kamu adalah orang waras.” Katanya lagi. Kurang ajar berarti selama ini Gue gak baper.Aku tak tau harus bicara apa. Mulutku benar-benar terkunci rapat. Apa mungkin aku masih mimpi? Aku menatap pemuda tampan di hadapanku, apa mungkin dia sedang bercanda. Tapi aku tak berhasil menemukan candaan dari dua mata indah itu.“Apa sekarang kita sudah bisa pacaran?” tanya kak Ravid.Aku lagi lagi tak menjawab pertanyaan itu. Aku masih belum mempercayai semua ini.“Aku tau kamu bingung dengan semua ini, tapi jujur sebenarnya aku sudah memperhatikanmu sejak lama. Aku juga tau kalau kamu sering memperhatikan aku kalau aku sedang main basket dari kejauhan.” Sekarang kedua pipiku sudah memerah mungkin lebih merah dari kepiting yang sedang ada di depanku mendengar ucapanya barusan.“Gimana apa kamu mau menerima aku jadi pacarmu?” kak Ravid tersenyum sangat manis semanis madu.Sekarang kedua mataku sudah berkaca-kaca dan siap menjatuhkan dua butir bening yang sejak tadi tertahan disana. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaan barusan.Dia kembali tersenyum manis sekali dan mengacak rambut hitam milikku, dan aku membiarkan kejadian itu berlangsung. Hari ini adalah hari yang paling indah di dalam hidupku dan sampai mati aku takkan pernah melupakan hari ini.Aku merasa sangat senang hari ini. Tak kusangka kini mimpiku jadi kenyataan. Yah, awalnya aku hanya memiliki kak Ravid dalam mimpi-mimpi malamku tapi sekarang Ravid adalah pacarku. Dia adalah milikku. Dan aku takkan pernah melepaskannya. Ternyata -G- adalah Gusti Ravid, orang yang aku cintai sejak lama. Si pengirim surat misterius.Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang, tapi bagi seseorang kamu adalah dunianya. Dan sekarang duniaku adalah Gusti Ravidku.=TAMAT=

Ketika Senja Bertemu Fajar
Teen
23 Dec 2025

Ketika Senja Bertemu Fajar

Hari senin yang ceria yang mungkin saja menjadi bahagia, dimana tepat hari ini adalah hari pertamaku mengenakan seragam berwarna putih abu-abu, ya di SMA."Ibu, Senja berangkat dulu. Assalamu'alaikum." ucapku sambil mencium tangan ibu."Iya, Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan." Jawab ibu sambil mengantarku sampai depan pintu.Setelah sampai di sekolah,kulangkahkan kakiku sembari melihat papan kelas, setelah cukup lama berjalan akhirnya aku melihat papan kelas bertuliskan "X.c". Ya itu kelasku.Aku memilih duduk paling depan nomor tiga dari barat tepat di depan papan tulis. Aku duduk bersama Pelangi, gadis cantik berambut lurus sebahu dan baik hati pula.Karena hari ini merupakan hari pertama jadi tidak ada pelajaran dan sebagai gantinya adalah perkenalan dan membentuk perangkat kelas.Aku dipercayakan sebagai sekretaris di kelas sedangkan sebagai ketua kelas adalah seorang laki-laki bernama Fajar, Fajar Mahendra.Sebenarnya aku kurang setuju Fajar jadi ketua kelas aku lebih suka pria pendiam yang duduk si belakangku namanya Andre. Tapi saat voting di laksanakan yang terpilih malah Fajar bukan Andre jadi apa boleh buat aku harus menerima keputusan musyawarah.Lagi pula banyak yang memilih Fajar karena wajahnya yang tampan, itu sih gak ngejamin sama sekali buat di jadiin kriteria ketua kelas bathinku.Satu bulan sudah aku sekolah di sekolah ini. Tak ada yang begitu istimewa dalam satu bulan itu. Aku menjalani hari-hari seperti remaja SMA kebanyakan, hanya saja aku lebih sibuk karena tugasku sebagai sekretaris kelas."Senja hari ini pak Lukman gak bisa datang karena beliau ada urusan, dia cuma nyuruh kita mengerjakan tugas. Jadi tolong kamu absen teman-teman kita ya." Perintah Fajar memberikan absen kelas padaku."Kamu aja yang ngabsen, kamu kan ketua kelas." Bantahku mengembalikan absen itu ke tangannya."Iya aku ketua. Kamu itu kan sekretaris jadi kamu harus dengarin kata ketua." Jelasnya membuatku menatap tajam ke arahnya.Enak saja dia main perintah seenaknya, memangnya dia pikir aku ini babunya apa? Trus aku bakal nurut aja gitu sama semua perintahnya? Gak akan."Aku itu sekretaris kelas bukan sekretaris pribadi kamu yang bisa kamu perintah seenaknya." Aku sangat kesal dengan dia yang sok ngebos itu. Padahal di sekolah ini kita sama, sama-sama siswa dan sama-sama nuntut ilmu bukan buat dia perintah seenak jidatnya aja."Ya udah." Dia merebut kembali absen tersebut dari tanganku dengan kasar dan berlalu ke meja guru untuk mengabsen kami satu persatu.Sejak saat itu Fajar tak pernah lagi menghargai aku sebagai sekretaris kelas. Dia mengerjakan semua tugas yang seharusnya aku lakukan tanpa bertanya terlebih dahulu padaku.Sikapnya itu tambah membuatku kesal dengan cowok sok satu itu. Dia menjalani peran ganda sebagai ketua sekaligus sekretaris, trus aku ini di anggap apa Makluk ghoib? Aku merasa sangat kesal terhadapnya. Hari ini aku akan melabrak anak itu, lihat saja nanti."Fajar!" dia menghentikan langkah mendengar panggilanku bahkan dia gak menoleh sedikitpun. Bikin gondok aja nih orang."Ada apa?" tanya Fajar datar seperti tak terjadi apa-apa."Kamu nganggap aku apa selama ini? Hah?" tanya ku dengan nada yang meninggi. Beberapa anak menoleh karena mendengar ucapanku."Maksud kamu?" dia tampak heran mendengar ucapanku. Tampang polosnya malah membuatku semakin dibakar emosi."Kamu ngerjain semua tugas aku sebagai sekretaris kelas maksud kamu apa? Kamu mau buktiin bahwa kamu hebat dan aku ini gak berguna gitu?" tantangku, aku tak menghiraukan lagi anak-anak tengah berbisik di sekeliling kami."Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu gak mau disuruh-suruh, ya jadi aku pikir aku akan ngerjain sendiri. Lagi pula aku hanya ingin membantu kamu.""Membantu?" aku tersenyum sinis. Aku tau ya nih anak cuma ingin cari perhatian aja, malah sok-sok an polos gak berdosa lagi."Bilang aja kamu mau dibilang hebat dan aku adalah orang yang gak bertanggung jawab. Iyakan?" aku benar-benar emosi berhadapan dengan pria ini. Dia merasa tak melakukan kesalahan apa-apa lagi. Sungguh menyebalkan."Oke oke. Aku minta maaf." Katanya dan berlalu "Dasar cewek pikirannya gak bisa ditebak." Bisik Fajar tapi aku mendengarnya dengan jelas, tentu saja emosiku yang baru mereda kini naik lagi sampai ubun-ubun."APA??"Tanyaku. Fajar terkejut dan membalikkan badannya."aku gak ngomong apa-apa kok." Jawabnya dengan wajah polos sambil tersenyum manis. Aku langsung beranjak meninggalkan tempat itu tanpa membalas senyuman ketua kelasku itu."Dia sangat menyebalkan." Gumamku menghenyakkan tubuhku di kursi."Senja kamu kenapa?" Pelangi menatap heran ke arahku.Beberapa bulan sekolah disini aku dan Pelangi sekarang sudah menjadi sahabat. Aku senang karena Pelangi adalah anak yang sangat baik dan juga perhatian padaku."Tuh ketua kelas nyebelin. Bikin gue kesal aja kerjaannya." Jawabku."Fajar? Kenapa lagi sama dia?""Iya, dia songong banget deh. Masa tugas gue sebagai sekretaris kelas diembat juga. Maunya apa coba? Mau nunjukin kalau dia itu hebat.""Itu tandanya dia perhatian sama kamu, dia gak mau kamu repot Senja sayang." Pelangi menatapku tajam."kenapa?" aku heran dengan tatapan Pelangi"Jangan-jangan Fajar suka sama kamu." Pelangi menyikutku pelan sambil tersenyum menggodaku.Aku menggeleng kuat, tak mungkin hal seperti itu terjadi. Memangnya ini ftv apa dimana dua orang yang saling membenci dan selalu bertengkar selalu berakhir dengan saling jatuh cinta satu sama lain? Ya gak lah. Ini adalah dunia nyata jadi mana ada hal seperti itu."Gak mungkin lah. Aku sama dia itu kayak kucing dan anjing, kayak siang dan malam. Gak mungkin ketemu. Sifat aku dan dia bertolak belakang." Jelasku menyakinkan Pelangi sekaligus diriku sendiri untuk tak terpengaruh oleh ucapan Pelangi barusan."Mungkin itu hanya pendapat kamu saja. Iya sih, dari nama kalian aja udah bertolak belakang. Mana mungkin senja bertemu fajar. Tapi kedua hal itu sama, Sama sama indah.""Sok puitis kamu." Cibirku. Pelangi hanya membalas dengan senyuman yang aku tak mengerti artinya apa.Hari-hari berikutnya aku tak bisa melupakan ucapan Pelangi beberapa waktu lalu, apa mungkin benar Fajar itu menyukaiku? Ah kenapa aku jadi begini sih? Ah Senja kamu gak mungkin suka sama dia kan. Sadar dong, ini bukan ftv.Sejak saat itu pula Fajar bersikap manis padaku seolah aku adalah seseorang yang spesial di kelas dari siswa lain. Hal itu pula lah yang mengawali rasa frustasiku akan hal aneh yang selalu aku rasakan saat sedang bersamanya.Aku sendiri bingung dengan sikap ketua kelasku itu tapi entah kenapa aku malah merasa senang. Malah sekarang aku bersahabat baik dengannya, dia yang awalnya tak aku sukai sekarang jadi temanku sendiri. Dia sangat pengertian melebihi teman perempuan, dia selalu tau apa yang aku suka dan tidak hal itu membuatku merasa nyaman."Senja!" panggil seseorang. aku menghentikan langkahku."Apa itu benar?" tanya Fajar setelah berada beberapa senti dariku."Apa?" tanyaku heran."Kamu jadian sama Tomi?" tanya Fajar serius dan menatap kedua bola mataku, entah kenapa aku jadi gugup dengan tatapan itu."Siapa yang bilang sama kamu?""Jadi benar?""Memang ada apa?" aku menatapnya heran."Tomi itu gak pantas buat kamu." Ujarnya sungguh- sungguh membuatku menundukkan wajah dalam-dalam."Lalu yang pantas siapa?" bisikku masih dengan kepala tertunduk namun tak ada jawaban dari lawan bicaraku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menatapnya, dia hanya diam sambil terus menatapku."Kamu?" lanjutku kini disertai dengan senyuman tipis seperti mengejek.Aku juga bingung dengan apa yang baru saja aku ucapkan dan entah keberanian dari mana aku menatap kedua bola matanya dengan tatapan tak percaya dan menuntut penjelasan."Bukan itu maksudku, Tomi itu playboy dia hanya ingin maiinin kamu.""Lalu kenapa kalau dia memang playboy?" tanyaku masih setia menatap ke arahnya.Fajar menatapku tajam dan aku membalas tatapan itu, namun sesaat kemudian aku menurunkan pandanganku karena tak sanggup menatap tatapan Fajar yang tajam bagai elang. Jantungku tak bisa di ajak bekerja sama di saat seperti ini."Dia hanya ingin menjadikanmu barang taruhan dengan teman-temannya. Dia gak serius sayang sama kamu.""Kenapa kamu peduli Jar?" tanyaku memandangi wajah tampan milik Fajar."Aku gak mau liat kamu sedih Senja.""Kenapa?" aku masih tak mengalihkan pandanganku dari wajah tampannya."Itu karena..." ucapan Fajar terputus.Wajahnya tampak menegang namun aku tau dia mencoba merilekskannya kembali agar tak ketahuan bahwa dia sedang gugup. Aku masih menunggu lanjutan dari kalimat itu."karena, karena aku sayang sama kamu Senja." Fajar menghembuskan nafas lega, wajahnya yang tadi menegang kini kembali rileks."Itu sebabnya aku gak mau kalau kamu jadian sama Tomi, bukan karena aku cemburu tapi karena Tomi bukan lelaki yang tepat buat kamu." Lanjut Fajar.Aku tetap diam menatap pemuda di depanku tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya. Aku bingung harus bagaimana saat ini. Apa yang harus aku ucapkan sekarang."Sebenarnya aku udah suka sama kamu sejak lama Senja, tapi aku gak tau harus bagaimana di depan kamu, aku selalu saja menjadi gugup setiap kali dekat kamu." Aku masih belum bereaksi sama sekali aku sungguh tak percaya dengan yang diucapkan Fajar tentangku."Semuanya terserah kamu aja, aku gak bisa maksa kamu buat mutusin Tomi. Aku hanya ingin kamu mengetahui siapa Tomi sebenarnya. Dan aku minta maaf dengan ucapanku barusan anggap saja aku gak pernah bilang itu semua ke kamu. Dan ya kita akan tetap berteman seperti biasa kok jadi kamu gak perlu kawatir." Jelas Fajar dan beranjak pergi meninggalkanku.Aku masih berdiri di tempatku, aku belum beranjak sejak tadi. Bahkan aku tak sadar kalau Fajar sudah pergi dari tadi. Aku tak menyangka kalau Fajar menyukaiku, kenapa aku tak sadar selama ini? Kenapa aku tak menyadarinya dari awal? Dan Tomi?Oh astaga ternyata ide gila Tomi berhasil membuat Fajar mengungkapkan perasaannya. Tomi adalah sepupuku dan dia memang playboy kelas teri.Dan benar aku pura-pura jadi pacarnya, itu juga terpaksa karena orang tuanya ingin dia fokus pada pelajaran jadi dia mengumumkan bahwa aku adalah kekasihnya supaya tak ada cewek-cewek yang mengganggunya. Sekalian supaya aku bisa mengawasinya dan melaporkan pada ortunya.Aku sungguh tak menyangka rencana gila Tomi yang menjadikan aku pacar statusnya berujung dengan pengakuan cinta Fajar yang sangat tak terduga.Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku mengejar Fajar dan menjelaskan semuanya padanya atau tetap membantu Tomi dengan mengorbankan perasaanku sendiri dan perasaan lelaki yang ku sayang?"Sayankkkk." Teriak Tomi dari kejauhan memecah keramaian."Jangan panggil aku sayang." Omelku setelah dia mendekat."kenapa Lo kan pacar gue." Aku melihat Fajar sekilas, dia hanya melewatiku dan Tomi."Apaan sih Tom." Ujarku menatap punggung Fajar yang berjalan menjauhi kami."Kamu lagi lihat siapa sih Say?""Tom aku mau ngomong sesuatu. Sini deh." Aku menarik tangan Tomi menjauh dari keramaian. Aku masih sempat melihat Fajar menatap aku dan Tomi dari kejauhan._"Beneran? Akhirnya tuh anak punya nyali juga." Kata Tomi setelah mendengar ceritaku."Kamu kenal ya sama Fajar Tom?""Gue pernah sekelas sama dia waktu SMP." Jawab Tomi.Aku hanya mengangguk kecil mendengar jawaban Tomi."Trus Lo jawab apa?" Tanya Tomi penasaran."Aku gak bilang apa apa Tom. Aku bingung mau bilang apa. Hehe." Aku cengengesan mengingat hal itu.Tomi memukul jidatnya sendiri, dia menatapku dengan raut kesal. Aku tau dia sangat kesal dengan sikapku yang lamban tapi aku hanya menampilkan senyuman polosku."Aduh pusing deh gue sama kalian berdua. Fajar udah punya nyali malah Lo nya yang bloon." Omel Tomi padaku."Itu semua juga karena lo Tom." Ujarku tak mau disalahkan begitu saja."Lah kok malah jadi salah gue?" tanya Tomi heran."Sekarangkan gue pacaran sama lo. Kalau gue jujur pada Fajar ketahuan dong kalau selama ini kita Cuma pacaran bohongan." Jawabku membela diri."Lo gak usah sok-sok an mikirin gue. Yang terpenting sekarang Lo bilang sama Fajar gimana perasaan Lo sama dia yang sebenarnya." Ujar Tomi. Aku terdiam mendengar saran Tomi barusan."Udah buruan sana cari Fajar sebelum dia makin salah paham sama Lo." Perintah Tomi.Dia memang kadang nyebelin tapi kadang bisa juga diharapkan. Makasih Tom kamu udah memberi aku saran yang berharga, aku janji gak akan melupakan kebaikan kamu hari ini."OKE." Kataku dan berlalu meninggalkan Tomi untuk mencari Fajar.Aku sudah keliling mencari Fajar tapi yang dicari tak kunjung ku temukan. Akhirnya aku berniat ke taman sekolah untuk melepas lelah setelah mengelilingi sekolah yang cukup luas.Namun langkahku terhenti saat aku melihat Fajar, dia tengah duduk di salah satu kursi di taman. Perlahan aku menghampiri pemuda itu, dia tampak sangat tidak bersemangat tidak seperti tadi pagi saat menghentikan aku."Fajar." Panggilku.Fajar menoleh ku lihat dia terkejut melihat kehadiranku di situ."Boleh aku duduk?" Tanyaku sekedar untuk basa basi sebelum memulai pembicaraan yang serius.Fajar mengangguk dan sedikit menggeser posisi duduknya untuk mempersilakan aku duduk di sampingnya."Ada apa Senja?" tanya Fajar tanpa melihat ke arahku."Ternyata kamu disini. Aku udah nyari kamu keliling sekolah." Ujarku.' bodoh kenapa aku malah mengatakan hal tidak penting itu .' Batinku."Kenapa kamu mencariku?" Fajar tetap tidak menoleh sedikitpun."Ada yang mau aku bicarain sama kamu.""Mengenai apa?""Ini tentang aku dan Tomi." Aku menjadi sangat gugup karena Fajar menatapku setelah aku menyebut nama Tomi."Tidak apa-apa Senja. Aku mengerti dan bisa memahami hubunganmu dan Tomi. Mungkin saja aku yang salah paham pada Tomi. Sebagai teman kamu aku dukung hubungan kamu kok asalkan itu bikin kamu bahagia" Ujarnya kembali mengalihkan pandangan."Iya kamu sudah salah paham Jar. Tapi bukan pada Tomi namun pada hubunganku dengan Tomi." Dia kembali menatapku sekilas namun kemudian mengalihkan pandangannya ke langit entah apa yang istimewa di atas sana."Maksud kamu?""Sebenarnya aku memang pacaran dengan Tomi..." Aku sengaja menggantung kalimatku karena melihat Fajar kini menatapku lekat."Tapi aku dan Tomi hanya pacaran pura-pura." Lanjutku.Wajah Fajar tampak heran dengan kalimatku barusan. Entah apa yang bergelut di pikirannya sekarang."Pura-pura?" tanya Fajar mengulang kata itu. Aku hanya mengangguk pasti."Aku benar-benar tak mengerti Senja. Apa kamu sedang bercanda?""Aku serius jar. Sebenarnya Tomi adalah sepupuku, kamu tau sendiri nilainya kayak gimana makanya orang tua Tomi minta aku buat pura-pura jadi pacar Tomi di sekolah supaya tak ada lagi cewek-cewek yang bakal ganggu dia dan Tomi bisa fokus sama sekolah." Jelasku.Wajah Fajar yang tadi murung kini berubah. Sebuah senyum menghiasi wajah tampan itu sehingga membuatku jadi gugup."Lalu kenapa kamu menceritakan semua ini padaku Senja?" tanya Fajar. Aku jadi bingung mau menjawab apa."Aku gak mau kamu salah paham Jar.""Kenapa?" Fajar menatap lekat kedua mataku membuatku jadi gemetar dan detak jantungku sudah tak karuan lagi."Itu karena... karena aku sayang sama kamu Jar. Aku gak mau liat kamu sedih kayak hari ini." Aku merasa lega menyalesaikan kalimat itu dengan sempurna.Fajar tersenyum sangat manis dan langsung memelukku erat. Aku bahagia berada di sini bersama seseorang yang aku sayangi. Memang benar senja dan fajar tak mungkin bertemu dan datang bersama-sama namun senja dan fajar itu sama, sama sama indah.Kini aku akan menyaksikan senja bersama Fajar dan menyaksikan fajar bersama Fajar. Seseorang yang lebih indah dari senja maupun fajar itu sendiri.THE END

Buah Cinta
Fantasy
23 Dec 2025

Buah Cinta

“Untuk kau yang lahir dari sehelai bulu.”Hidup dalam hutan terselubung dari dunia, pohon itu tumbuh penuh dengan beragam bulu dari sayap entah siapa pemiliknya. Layaknya buah-buahan, tumbuh subur di bawah sinar yang terbenam dari ufuk barat, cahaya jingga lembut, hangatkan helaian bulu yang menghiasi pohon. Mereka tidak biasa warnanya, jingga, merah, hijau, dan beragam warna bersinar dengan cahaya dari dalam, sekadar pemanis pandangan dan barangkali... kelezatan. Setiap helai menyimpan bisikan dari jiwa terkubur dalam tanah hutan. Beristirahat dalam damai, menjelma menjadi helaian bulu pada pohon itu, katanya sebagai bagian siklus kehidupan di hutan ini.Helaian bulu penghias pohon hanya satu dari bagian hutan. Ada pula bunga-bunga berwarna terang bersinar dalam kegelapan malam dan seperti helaian bulu pada pohon, tumbuhannya juga tampak lezat. Seekor elang menukik, warna tubuhnya keperakan memantul pada sinar jingga sore itu. Dia hinggap pada sebuah batang pohon, ingat betul bagaimana rasa buah itu. Saat induknya menyuapi sekali, wajahnya berkerut. Rasanya aneh, manis dan pahit sekaligus. Meski saat itu dia mencuit kencang, berharap makanan aneh itu segera disingkirkan, sang elang betina tetap saja menyuapinya.“Ini sehat.” Dia berdalih. Waktu telah berlalu, dan elang itu masih ingat suara ibunya. Elang yang merawatnya saat dia bahkan belum bisa mengoyak daging sendiri.Dia mengingat kisah yang telah lampau, waktu dia bahkan belum bisa melihat dunia. Menetas dalam pohon kosong lagi dingin, dunia masih begitu gelap. Tidak tahu apa yang terjadi di sekitar. Tubuh begitu lemah sementara paruhnya berjuang mengeluarkan cuitan menyeru induk yang tidak juga menghampiri. Kakinya perlahan berdiri, mencari sumber makanan sekiranya dapat menganjal perut. Akan tetapi, dalam sarang yang tidak jelas rupanya ini, dia hanya bisa mencuit tanpa menyadari kenyataan. Tanpa bulu dan penglihatan, dia tidak akan bertahan hingga beberapa saat lagi. Harus pergi. Harus mencari.Ciutan menggema, berharap cemas ada induknya. Tubuhnya belum berbulu, gemetar merangkak sekeliling sarang. Tanpa sengaja kakinya melangkah keluar dari lubang pada sarang dalam pohon, tubuh oleng dan jatuh. Dia menjerit, jantung berdebar menakuti hal yang tidak dia tahu. Tepat tubuhnya nyaris terempas tanah, sesuatu mencengkeram. Tumpukkan bulu yang agak keras, mengingatkan dia akan sarang kosong itu. Ciutan terhenti, tubuh menggigil dalam balutan sayap kelabu yang mendekapnya, tubuhnya yang lemah kini berada pada sayap seekor elang. Aroma dedaunan tercium di antara sayapnya. Hanya sekali entak, mereka melesat kembali ke udara. Tidak sempat bergerak apalagi bersuara, burung kecil itu menggigil dalam punggung elang yang membawanya. Perlahan embusan udara makin lembut, dia diturunkan hingga menggelinding.Burung kecil langsung menciut meminta makan. Rasa takut dan bingung kini dikuasai lapar. Kebingungan dia rasakan. Tekstur keras pada sarang asing dan bau bulu yang tidak dikenal membuatnya gemetar. Tidak tahu harus berharap diberi makan atau meratapi diri.Tidak lama setelahnya, dia dengar suara-suara dari elang lain. “Ayo, siapa di sini yang bisa menyuapinya?” Suara berat dari seekor elang terdengar sangat dekat dengannya, sayapnya yang kelabu bergerak pelan mendorong tubuh burung itu. Burung kecil itu mengenali bau pepohonan padanya, yakin dia yang membawanya tadi.Keheningan tidak berlangsung lama karena seekor elang betina menyahut. “Sini, biar aku suapi dia.” Dia dengar langkah itu semakin dekat. Sayap yang kelabu itu mengelus pelan tubuh burung kecil itu.Pada saat yang sama, burung kecil merasakan sesuatu masuk ke dalam mulut. Makanan pertama. Begitu lahap. Keheningan kembali menyambut, hanya suara tegukan dari burung kelaparan yang samar terdengar. Ketika usai makan, dia langsung tidur, kepala terbaring pada sarang yang keras. Begitu burung kecil hendak menyambut mimpi, sayap besar mendekapnya, membuat dia hangat sepanjang malam.Beberapa hari berlalu dalam keheningan, hanya elusan sayap hangat dan makanan masuk sebelum kembali tidur. Perlahan, dia dapat melihat dunia. Mata menyambut sinar matahari dari sarang yang membesarkannya. Begitu sadar telah melihat dunia, dia bergegas mengeluarkan kepala dari sarang untuk sekadar melihat matahari lebih dekat.“Horia, hati-hati!” seru elang betina yang kini ibu baginya. “Jangan sampai satu helai bulu milikmu terlepas!”Ah, masa lalu itu. Kini dia paham, dia diasuh sepasang elang yang kebetulan menginginkan seekor anak. Dia tidak tahu apa pun waktu itu, hanya mengira jika dia selama ini anak mereka.Kini, sebelum kegelapan menguasai pandangannya, dia tahu di balik kisah sederhana lagi hangat itu ada segelintir kejadian pula. Dia tahu itu sejak dia kepakkan sayap pertamanya.+++Pada tengah hutan, bulu berkilauan terbaring di antara tanah saat musim gugur, para burung kecil penuh warna terang juga terbang, sesekali membaringkan diri di tengah helaian bulu yang terlepas dari dahan. Ciutan dan tawa menggema darinya. Antara pohon-pohon yang menjulang tinggi dan dedaunan yang melambai lembut, dia sebut dirinya seekor elang juga. Perak itu warna sayapnya, seperti elang lain. Dia makan dan bertingkah seperti elang di sekitarnya pula. Horia, elang yang kini hidup dalam keluarga itu, memandangi mereka dalam diam. Dia tidak pernah menanyakan pada induknya apa gerangan. Sesuatu yang menempel pada setiap raga elang, tumbuh pada pohon, helai yang lepas juga dimainkan. Dari mana asalnya? Kini dia mulai resah. Horia menoleh, memandang pada dekat bawah pohon, pada gerbang tua dari kayu hitam, dihiasi ukiran-ukiran memanjang, mulai terbuka.“Jangan ke sana, belum waktunya.” Begitulah yang pernah ibunya katakan. Lagi-lagi... “Jangan sampai helai bulu milikmu terlepas.”Horia tahu, sebagai pemilik raga maka mesti dia jaga. Tidak pernah keluar dari sarang hingga sayapnya mulai tumbuh, hanya berani mengepakkan sayap bila ibunya melemparnya dari pohon. Perlahan belajar, perlahan tahu. Dunia belum sepenuhnya dia jelajahi, dia pula tidak tahu pasti mana saja yang aman selain dari ibunya.Horia kembali merenung di sudut hutan di antara helai bulu pohon. Dia tahu dirinya tidak beda jauh, termasuk ibunya, dari helai sayap di pohon tadi. Mereka barangkali seperti mereka, hidup dan terbang bebas. Hingga tiba saatnya hanya menyisakan sehelai bulu. Horia angkat sayapnya, mengelus bulu kemerahan yang halus. Sama lembutnya. Aromanya juga. “Ibu tidak pernah cerita.” Dia hanya tahu, ibunya meminta untuk menjaga setiap helai bulu dalam raganya. Apa bakal jadi bulu-bulu itu, beristirahat sebagai bagian dari tanah ini?Kepakan sayap terdengar. Seekor elang betina keperakan bertengger di sisi Horia. Dia sedikit lebih besar, sayapnya terlipat saat dia mendekat. Mui, sang induk. Dia dengar suara anaknya. Ah, tentang menjaga setiap helai hingga tiba saatnya. Belum pernah dia bercerita panjang, tentang bulu, pohon, apalagi masa lalu elang yang tumbuh di bawah asuhannya.“Horia.” Suaranya halus di antara angin, membiarkan Horia tetap pada pikirannya selagi dia lanjut bicara. “Kita sama-sama elang. Terbang, makan, dan asal kita sama. Begitu juga dengan akhir.” Dia menunggu, berharap anaknya bakal bertanya lebih.Horia menoleh sesaat. Mereka sama, akhir bisa sama. Namun, dia tidak tahu apa selain tanda pada helai demi helai yang berkilau di antara dahan pohon. Matanya yang perak bergerak tertuju pada sinar jingga matahari yang terpantul dari bulu itu. “Bulu-bulu ini membingungkan. Aku tidak yakin itu berasal dari elang.”Mui mengepakkan sayapnya dengan pelan, helai demi helai bulu pada pohon perlahan bergoyang. “Kamu ingat ini siapa saja?” Perak dan kelabu. Dua warna yang pasti mereka ingat.Horia menatap, kakinya bergerak mundur. Dia kenal bau dedaunan dari sisa helai itu. Aroma yang membawanya ke sarang. Dia tidak pernah bicara langsung pada elang itu. Namun, sedikit sisa dari hatinya berbisik gemetar.Mui tersenyum tipis, dia gerakkan sedikit paruhnya pada sehelai bulu keperakan yang menggantung. “Kita berasal dari hutan ini, dari jiwa-jiwa yang beristirahat. Kamu ... juga dari cintaku sebagai ibu. Suatu saat, kamu akan kembali padanya.”Horia terdiam, mencerna kata-kata ibunya. Dia menatap lagi beberapa helai bulu beragam warna di sekelilingnya. Berayun pelan diterpa angin. Dia masih mengenali beberapa aroma khas. Para elang yang pernah hinggap pada pohon yang sama tempat dia tumbuh besar. “Kenapa... Harus di pohon ini?”“Karena dari situ juga, kamu sebenarnya lahir. Ibu kandungmu hadir sebagai wadah untukmu menetas, sebelum dia kembali ke pohon ini.” Mui mengangkat sayap, mengarahkan pada sehelai bulu keperakan itu. Tanpa perlu dia sebutkan, dia yakin Horia tahu betul siapa itu.Horia menggeleng. “Aku tidak siap. Terlalu cepat. Aku masih ingin terbang bebas.”Mui menatapnya. “Kau bisa, tapi jika meninggalkan hutan ini, kau kehilangan apa yang membuatmu istimewa. Luar sana, kau akan jadi elang biasa, tanpa ikatan antara kita. Hati-hati dengan pilihanmu, Horia.” Dia menatap ke bawah, memandang pada helai bulu yang telah dijatuhkan angin. “Setiap elang akan memberi sehelai jiwanya, untuk kehidupan hutan. Dia yang membawamu ke dunia, juga dia yang layak menjemputmu.”Sudah lama Horia tidak menanggapi ucapan Mui sejak saat itu. Sang induk elang hanya membiarkan, tahu jika dia butuh beberapa saat mencerna. Angin terus berembus pelan, membiarkan beberapa helai bulu yang sebelumnya menempel pada dahan, perlahan jatuh dan kembali ke tanah. Mui mengamati, jantungnya berdegup kencang menunggu saatnya. Saat helai itu menyentuh dirinya, Mui merasakan dirinya lebih berat. Sesuatu menunggu, seperti saat elang kecil itu tiba. Dia menarik napas, mempersiapkan diri. Jika induk dari Horia sempat melihat anaknya sebelum waktunya, dia akan jadikan ini sekaligus perpisahan.Sehelai bulu kelabu. Melayang perlahan mendekati mereka. Mui menatap ke arah Horia, paruhnya bergerak mendekati kepala elang yang dulu dia suapi dalam pelukannya. Mengelus, merasakan Horia sedikit gemetar. “Selama ini, aku yang menyuapi, merindukan cuitan lamu yang rewel menghiasi sunyinya sarang.” Matanya terbuka lebih lebar, bersama paruhnya. “Horia, Ibu minta temani sebentar.”Dia sudah merasakannya. Dia terduduk pada tengah pohon, satu-satunya tempat paling bisa mereka jadikan untuk beristirahat sejenak saat tiba saatnya. Menyisakan sehelai bulu perak di bawah kakinya. Sebelumnya utuh. Sebelumnya bernyawa.“Jaga dirimu.”Angin bertiup lebih menusuk, awan-awan perlahan menutupi langit yang kian gelap. Horia merasa jantungnya berdetak lebih kencang, meskipun tidak sepenuhnya yakin jika itu jantung miliknya atau sekadar gema kehidupan yang diberikan ibunya. Kejadian dalam sekejap. Hanya sempat melihat senyum ibunya. Mui hanya menyisakan sehelai bulu.Dalam dirimu dia tetap ada. Helai itu terbang menjauh diterpa angin, menyapu sejenak wajsh Horia. Belum sempat paruhnya mencoba mengambil sisa dari raga induk yang membesarkannya, kini tersisa sehelai bulu perak pada pohon.Setetes. Horia segera menggelengkan kepala, menyapu sisa cairan yang menetes dari paruhnya. Merah. Lidahnya masih merasa aneh. Sisa dari ibunya masih melekat di paruh. Dia yang dulunya menyuapi.“Apa yang harus kulakukan?” Horia bertanya, hampir bergetar. Lebih pada ibunya yang sebelumnya ada. “Bagaimana aku bisa... Pergi.” Dia meragukan ucapannya. Horia tahu Mui ingin dia terus terbang, melanjutkan kisahnya.Horia menoleh pada dedaunan... Lebih tepatnya helai demi helai bulu menghias pohon itu, bergoyang diterpa angin. Bersamaan dengan jiwa-jiwa penghuni hutan. Hanya keheningan. Entah mengapa Horia merasa seakan ada yang bersuara untuknya.“Suatu saat, kamu akan tumbuh dan terbang bebas.”Sekilas senyum muncul pada Horia. Sapuan angin yang halus membuatnya membentangkan sayap. Setetes. Masih merah. Masih basah. Suatu saat dia akan menyusulnya.Suara halus, persis suara Mui kembali terdengar. “Ikuti jejak kami, Horia. Itulah satu-satunya arah yang kau andalkan. Ingat, suatu saat kau akan kembali pada pohon itu.”Horia mengepakkan sayapnya. Dia memberiku makan. Dia arahkan pandangan pada sinar bulan. Satu-satunya arah...Sehelai bulu perak jatuh pada kepalanya. Horia tahu tandanya. Jantungnya berdegup kencang. Belum. Belum. Dia berharap cemas. Sapuan angin semakin menusuk di antara helai bulu keperakan pada tubuhnya. Harus pergi. Harus mencari. Dia dengar seekor burung kecil yang mencuit kelaparan, melengking suaranya dalam kesunyian malam. Horia mendengarnya. Semua terasa kembali.Sayapnya berkepak. Tubuhnya perlahan terangkat. Tidak seperti biasanya, detak jantungnya bergema. Horia merasakan begitu tubuhnya melayang di antara awan, tubuhnya yang terbuat dari bagian hutan terasa amat ringan. Horia merasa kosong, napasnya perlahan terisap. Dia kepakkan sayap sekali lagi, melanjutkan kisahnya, tapi tubuh Horia semakin ringan. Tidak bisa lagi mengangkatnya. Horia jatuh menghantam tanah, merasakan jiwanya terkikis.Saat pandangannya menyatu dalam kegelapan, Horia sadar tubuhnya menyusut. Dia tidak bisa hidup tanpa hutan itu. Dia bagian darinya dan akan kembali padanya. Begitu kesadaran menyelimuti dirinya, Horia tersenyum saat helai demi helai bulu pada pohon perlahan berguguran menjemputnya.“Waktunya kembali.”“Aku ... pulang,” bisiknya dalam napas terakhir.Seekor elang betina mengepakkan sayap, merasakan kematian di dekatnya. Dia menukik, melihat sehelai bulu keperakan tergeletak di tanah. Bersiap untuk menyatu kembali dengan dahan. Elang betina itu tersenyum. Dengan paruhnya, dia ambil sehelai bulu itu. Berbisik sembari berharap empunya sisa raga itu mendengar. “Kamu kembali.”Dengan sehelai bulu keperakan di paruhnya, dia bawa ke sarangnya. Bulu yang menyimpan jiwa Horia, kini berada dalam pohon itu. Elang betina itu kembali mengingat kejadian sebelumnya. Peristiwa yang terulang dalam ribuan malam. Suatu saat dia akan kembali. Suatu saat, aku akan merasakannya lagi.Sayapnya berkepak menepuk bulu keperakan di sentuhannya. Sinar perak berpendar. Elang betina itu tersenyum. Menyaksikan cahaya itu perlahan jadi kemerahan. Helai demi helai bulu kecil beterbangan keluar darinya.Cuitan terdengar.Elang betina itu mendekatkan paruhnya. “Selamat datang kembali, Horia.”Dia akan kembali dengan nama indah itu. Mui. Dia perkenalkan nama itu padanya. Akan dia kenalkan dunia singkat itu pada burung kecil di sayapnya. Untuk dia beri makan. Untuk dimakan kembali. Untuk dia kembali.“Untuk dia yang lahir dari sehelai bulu.”Tamat

Catatan Harian sang Kucing dari Kampung Asri
Fantasy
23 Dec 2025

Catatan Harian sang Kucing dari Kampung Asri

Sekian purnama berlalu, akhirnya aku menyelesaikan misi yang diberikan sang Penyihir kepadaku. Di tengah perjalanan, harusnya aku menemukan sesuatu yang menarik untuk dimakan. Akhirnya, aku menemukan sekelompok peri hutan yang sedang mengelilingi api unggun, membisikan kisah demi kisah yang diturunkan leluhur mereka.Salah satu dari mereka melihatku. "Ah, Kucing dari Negeri Jingga, bukan?"Aku mengiakan. Memang benar aku meninggali negeri itu walau kini lebih sering berkelana."Duduk sini, mari kita berbincang!" ajaknya.Rupanya, peri hutan yang mengajakku tadi merupakan Kapten Peri yang kebetulan sedang beristirahat bersama anak buahnya. Mereka semua menyambutku dan kami pun saling memamerkan kekuatan sihir masing-masing. Aku berikan tanggapan, juga sebaliknya. Kami pun menikmati waktu kebersamaan ini hingga aku mulai betah dan memutuskan mengikat tali pertemanan bersama mereka.Namun, yang kutemukan justru sosok aneh yang mengaku sebagai Penyihir Agung. Penampilannya aneh, tingkahnya pun tidak menunjukkan wibawa layaknya Penyihir Agung lainnya. Dia tiba-tiba masuk dan merusak acara pertemanan kami.Sosok itu menyeringai dan meminta Kapten Peri untuk menampilkan kekuatan sihirnya. Sang Kapten membiarkan.Sosok itu mulai mengeluarkan mantra-mantra mengerikan yang entah dari iblis mana dia dapatnya. Aku yang ketakutan pun tidak berani berkata sepatah kata pun."Lihatlah, Kaum Dungu!" seru sosok itu. "Jangan gunakan sihir bilamana terasa perlu, karena sihir tiada pantas digunakan dalam kehidupan sama sekali. Hanya Penyihir yang pantas menggunakannya."Aku tersinggung. Lantaran aku pun terlahir karena sihir dan itu sudah menjadi bagian dari hidupku. Meski aku memang pada dasarnya hanya seekor kucing ajaib. Kutunggu sampai ada yang protes padanya.Namun, tidak ada yang membalasnya. Sang Kapten hanya menatap sosok itu tanpa reaksi, seakan menunggu aksi lain darinya.Sosok itu kian keras melafalkan mantranya, dia bahkan menari di atas api unggun dan menghasilkan api raksasa yang nyaris membakar kami."Cukup! Pergi dari sini!" seru Kapten Peri sambil mengeluarkan bola api dari tangannya. Sukses membuat makhluk meresahkan itu memental hingga tak terlihat lagi.Begitu dia pergi, kami berusaha menenangkan diri dengan membahas kata-katanya."Ah, masa hanya Penyihir yang pantas memakai sihir? Bukankah dunia ini terbuat dari sihir dan untuknya pula kita gunakan untuk melengkapi hidup," ujar salah satu peri.Aku melirik sang Kapten, dia lalu tersenyum menahan tawa. "Sudah, biarkan saja. Dia pasti hanya Penyihir gila yang tersesat di hutan."Kami pun melupakan kedatangan makhluk itu dengan melanjutkan obrolan kami hingga bulan berganti menjadi matahari.Melihat hari sudah berganti, aku pamit dan meninggalkan mereka sekaligus berjanji untuk tetap saling sapa bila bertemu kembali.***Aku akhirnya bisa kembali ke kampung halamanku, Kampung Asri. Namun, ada kejanggalan yang kutemukan.Kulihat sosok misterius sedang bicara di tengah kampung, tampak serius seperti biasa. Ah, dia si Penyihir Hitam dari Negeri Kegelapan. Sudah sejak lama dia tidak muncul dan menciptakan percikan api di antara keharmonisan kampung ini. Mantra apa lagi yang akan dia lafalkan?"Kepada seluruh penghuni Kampung Asri, aku ingin telah menemukan sosok yang ingin menyesatkan kalian!" serunya di antara kerumunan yang penasaran.Aku pun mendekat untuk mendengarkan.Penyihir Hitam melanjutkan. "Dia mengaku sebagai Penyihir Agung. Dia pernah menyampaikan bahwa tidak pantas bagi kita-makhluk sihir biasa-menggunakan sihir dalam dunia yang penuh dengan sihir ini, kecuali jika dia Penyihir Agung seperti dirinya. Itu tidak pantas! Menentang arti sihir yang bumi berikan kepada kita, penghuninya!"Sorak-sorai mulai menyambut. Baru kali ini warga Asri termasuk aku, tidak merasa terancam akan keberadaannya. Dia memang sering berbuat onar, tapi dia tidak pernah memberatkan warga lain.Tawa menggelegar membuat suasana seketika hening. Jauh di ujung sana, terlihat bayangan putih, sangat kontras dengan penampilan Penyihir Hitam. Kami semua mengenalnya dan kami segan padanya. Dialah Raja Penyihir, penguasa absolut Kampung Asri. Dia terkenal akan kekuatan sihirnya yang di luar nalar dan tentunya, satu dari sedikit warga yang berhasil membuat Penyihir Hitam tunduk padanya."Baru kali ini kulihat kau di jalan yang benar," ujar Raja Penyihir sambil tersenyum mengejek.Sesuai dugaan, Penyihir Hitam menyambut ucapan itu dengan wajah masam. "Kali ini, aku akan memihakmu bila makhluk itu datang ke kampung kita.""Oh, luar biasa!" seru salah satu warga. "Penyihir Hitam dan Raja Penyihir bersatu? Kisah ini layak diabadikan dalam tinta emas!"Warga pun bersorak.Namun, keceriaan kami terhenti ketika sosok yang kulihat di hutan kemarin kembali. Itulah sosok yang mengaku sebagai Penyihir Agung.Penyihir Hitam menyiapkan senjatanya berupa bayangan hitam yang mampu menarik lawannya ke neraka.Sementara Raja Penyihir hanya tinggal menarik Pedang Surgawi andalannya yang mampu menghilangkan jejak lawannya bahkan sampai ke dimensi lain sekali pun. Raja Penyihir jelas juga waspada, tapi dia tetap memasang wajah ramah pada sosok itu.Penyihir Agung menyadari bahwa kedatangannya tidak disambut dengan baik. "Kalian kaum sesat! Jangan pakai sihir jika kalian bukan Penyihir Agung sepertiku!""Bumi ini ada bersama dengan sihir, dengan sihir juga kami gunakan untuk melengkapi hidup," sahut Penyihir Hitam."Kau dari Negeri Kegelapan dan kau bawa serta pula kegelapan itu ke negeri orang," sinis Penyihir Agung."Setidaknya aku tidak membuat aturan seenaknya sepertimu," ujar Penyihir Hitam."Kaum sesat akan selamanya sesat!" Penyihir Agung mengeluarkan aura putih dari tubuhnya, membuatnya hampir tak terlihat akibat tertelan cahaya itu."Jangan kau sebarkan kesesatanmu pada penghuni bumi!" tegur Raja Penyihir. "Jika semesta memberi kita sihir, berarti kita pantas memakainya asalkan atas dasar kebaikan.""Oh, kau kira mereka akan melakukannya sesuai kehendakmu yang mustahil itu?" sahut Penyihir Agung."Memang apa dasar dari hukum sesat yang kausampaikan tadi? Kata siapa sihir dilarang jika kita saja hidup dipenuhi dengannya pula?" balas Penyihir Hitam."Tidak ada yang lebih pantas menggunakan sihir kecuali Penyihir Agung, karena hanya dia yang cukup bijak menggunakannya," kata Penyihir Agung."Apa tingkahmu sudah mencerminkan kebijakan itu sendiri?" sahut Raja Penyihir.Blash!Kilat nyaris saja menyambar Raja Penyihir. Dia berhasil menahannya dengan Perisai Sihir, nyaris saja lenyap kalau saja terlambat.Warga terkesiap, mereka mulai bergerak mendekati Penyihir Agung untuk menyerang. Aku tidak tinggal diam, aku ambil sebuah buku mantra yang setebal satu pulau untuk meratakan kepalanya. Namun, belum sempat kuangkat buku itu, terdengar seruan dari Raja Penyihir."Orang sepertimu akan selamanya merasa bijak kalau tidak melihat sisi lain dari dunia ini," katanya dengan tenang.Penyihir Agung tidak terima. Dia melesat ke arah Raja Penyihir.Tubuhnya terpental akibat tendangan sepatu besi milik Penyihir Hitam. Dia nyaris mengirim sosok aneh itu ke neraka, tapi serangannya berhasil ditangkis oleh Penyihir Agung.Penyihir Agung berlari menjauh hingga tercipta jarak antara mereka. Dia menatap kami semua dengan tajam, seakan siap menghabisi kami. Namun, kami tidak akan takut dengan sosok seperti dia. Lihatlah, bisanya hanya berkoar-koar tapi sihirnya saja bahkan tidak sanggup melawan satu orang saja."Pengecut sepertimu tidak pantas menjadi Penyihir Agung!" seru Penyihir Hitam. "Melihatmu seenaknya memberi perintah sudah memberiku gambaran akan negeri yang kau pimpin kelak, kehancuran.""Kau yang sesat akan selamanya menganggap kebenaran itu batil," ujar Penyihir Agung. Dia bergerak mundur, tampak hendak pergi."Mau ke mana kau?!" Penyihir Hitam bergerak mengejarnya.Keduanya pun menghilang dari pandangan kami, sepertinya, ini akhir dari pertempuran aneh kali ini. Raja Penyihir tampak berdiri sambil mengamati kepergian kedua sosok itu. Dia hanya tersenyum lalu berjalan meninggalkan kami.Raja Penyihir tahu, kami semua tahu. Apa pun yang terjadi, Penyihir Hitam pasti akan kembali ke Kampung Asri dan tentunya akan membawakan mantra baru untuk kami kelak.Entah apa yang akan terjadi setelahnya, aku hanya bisa menunggu dan mempersiapkan diri.TAMAT

Between History and Mythic
Folklore
23 Dec 2025

Between History and Mythic

Apa itu legenda urban?Soal definisi legenda urban, banyak versinya. Menurut Wikipedia, legenda urban adalah sebuah mitos atau legenda kontemporer yang kerap dipercaya sebagai sebuah kebenaran. Legenda ini kebanyakan terkait dengan kisah misteri, horor, mengerikan, humor hingga kisah moral. Dan legenda urban tidak selalu kisah bohong, tetapi seperti kisah yang disebarkan dari mulut ke mulut dan kadang disampaikan secara hiperbola sehingga menjadi sensasional.Berdasarkan sebuah penelitian antropologi, legenda urban adalah kisah-kisah fantastis yang menyebar luas di seluruh dunia dan diulang-ulang. Kisah ini diceritakan oleh saksi atau berdasarkan fakta di masa lalu.Kendati legenda urban dipandang sebagai manifestasi modern, dalam hal struktur dan peran, mereka tidak selalu berupa legenda perkotaan. Mereka adalah cerita rakyat yang populer dan menyebar dari individu ke individu lainnya. Hal ini membuat dunia pendidikan tertarik dengan legenda urban mulai paruh pertama abad ke-20, di mana muncul studi perbandingan antara pengetahuan dan budaya rakyat atau disebut folklorists.Diduga ada dua orang yang menyebarkan istilah legenda urban. Pertama adalah Richard Mercer Dorson, yang menyebutkan istilah tersebut dalam bukunya American Folklore yang diterbitkan tahun 1959. Dia menulis tentang legenda di kota besar dan legenda mahasiswa.Sementara satu orang lainnya adalah murid Dorson, Jan Harold Brunvand, yang mempopulerkan penelitian kontemporer tentang legenda urban dengan serangkaian publikasi dari legenda urban Amerika, dimulai pada tahun 1981 dengan The Vanishing Hitchhiker: American Urban Legends and their Meanings.Tidak seperti legenda tradisional, legenda urban dilaporkan sebagai peristiwa kontemporer, di mana saksi menceritakan sebuah cerita yang benar-benar terjadi. Meskipun legenda urban menyebar ke seluruh wilayah, namun cerita yang mendasarinya tetap tidak berubah. Dan kendati legenda urban mungkin memiliki sedikit kebenaran, namun ada juga yang jauh dari kisah lokal dan ditambah-tambahkan karena untuk melokalisasi legenda itu.Salah satu ciri sebuah legenda urban terletak pada akhir cerita yang aneh tapi tampak masuk akal, sehingga diambil sebagai kebenaran. Legenda ini sering mencampur humor dan horor, membangkitkan rasa moralitas atau kecemasan tersembunyi untuk menyentuh empati.Antropolog Yopie Septiadi mengatakan, bahwa legenda urban adalah cerita mistis yang dipercaya ada (termasuk dengan risikonya jika melanggar pantangan), yang ada di masyarakat kota. Menurutnya, legenda urban terdiri atas cerita yang dipengaruhi oleh budaya asal (asli) masyarakatnya meski mereka tinggal di lokasi berbeda. Jadi, cerita tersebut dibawa dalam pikiran atau pengetahuan mereka.Kedua, cerita yang muncul dari kehidupan di kota itu sendiri. Biasanya dikaitkan dengan peristiwa tragis atau diketahui banyak orang. Misalnya, ada peristiwa ditemukannya mayat perempuan korban pemerkosaan yang dibuang di suatu jalan raya dan hal ini menjadi potensi munculnya legenda urban. Arwah mayat tersebut tidak tenang, sehingga mengganggu pengendara motor atau mobil yang melintas pada waktu tertentu dan supaya tidak diganggu, mereka membunyikan klakson."Dengan demikian, ada kalanya urban legend mengikuti konsep takhayul dalam ilmu folklore, yaitu pantangan (jika) dilanggar akan berakibat dan convertion, yakni cara atau siasat supaya terhindar dari akibat,"legenda urban juga bisa muncul dari biografi kehidupan di suatu tempat di kota pada masa lalu yang dikaitkan dengan masyarakat kota pada masa kini. Untuk mengaitkan hal itu, biasanya didukung oleh konteks atau tempat yang dianggap sakral atau angker, seperti makam dan sebagainya. Contoh, pastur tanpa kepala di TPU Jeruk Purut.Sementara sosiolog Sigit Rochadi menuturkan, bahwa legenda urban atau mitos itu sama, yakni cerita yang dipercaya masyarakat dan menjadi bagian dari identitias masyarakat itu. Mitos itu sebagian adalah cerita mistis."Jadi mistis itu memposisikan masyarakat masih di alam metafisika. Kalau masyarakat modern sepenuhnya rasional, tapi masyarakat modern tidak sepenuhnya bersandar pada positivisme. Sebagian masyarakat di dunia masih percaya pada metafisika, cerita heroik, epos kepahlawanan yang masih mengandung mitos, baik di Prancis, Amerika, khususnya di Asia,"legenda urban memang sulit dijelaskan secara rasional tapi cerita itu bagian dari identitas masyarakat setempat. Dan biasanya, cerita legenda urban dari generasi ke generasi mengalami penambahan hingga menjadi banyak versi. Dan seiring berkembangnya masyarakat, menurutnya legenda urban bukannya hilang, namun makin berkembang.

Hantu Boneka Uci
Folklore
23 Dec 2025

Hantu Boneka Uci

Bagi kalian warga Bandung pasti sudah tidak asing lagi mendengar kisah hantu boneka Uci, yap.. tepatnya di jalan Siliwangi terdapat pohon yang terkenal akan kisah hantu boneka tersebut. Dan juga tidak di pungkiri lagi bahwa di jalan Siliwangi sendiri memang sering terjadi kecelakaan.Di balik ramainya jalan Siliwangi yang sering dilewati oleh kendaraan, siapa sangka terdapat kisah mistis yang menyelimutinya. Konon, menurut masyarakat sekitar bermula dari tragedi kecelakaan seorang gadis kecil bernama Uci, yang hingga kini arwahnya masih sering muncul dan bergentayangan sambil membawa boneka di sekitaran jalan Siliwangi.Uci meninggal karena kecelakaan lalulintas, pada tahun 1980 oleh seorang pengendara yang sembrono. Pada saat itu keluarga Uci hendak makan malah, selepas memarkirkan mobil dan hendak menyebrak sebuh mobil melaju kencang dari arah Cimbuluit hingga terjadi sebuah kecelakaan yang menyebabkan seorang gadis bernama Uci terpental cukup jauh hingga ke pohon pinggir jalan SiliwangiGadis kecil itu mengucapkan kalimat terakhir, “Boneka Uci mana?”Menurut kabar, gadis kecil tersebut memang tak lantas meninggal di tempat kejadian. Uci kecil sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Namun naas, gadis kecil tersebut tidak dapat tertolong, namun sebelum gadis kecil itu meninggal ia sempat mengucapkan sebuah kata. “Boneka Uci mana?”Seketika pertanyaan tersebut, banyak warga yang ikut mencari boneka Uci, menurut cerita boneka tersebut menyerupai boneka panda, namun hingga ajal menjemputnya boneka tersebut tidak juga ditemukan seolah hilang di telan kabut. Jalan siliwangi dan lokasi kejadian kecelakaan tersebut sudah di sisir dengan teliti, tetapi tetap saja keberadaan boneka tersebut tidak ditemukan, Hingga hembusan nafas terakhirnya keberadaan boneka tersebut tidak ditemukan hingga kini menjadi sebuah misteri.Sejak saat kejadian itulah hantu si kecil Uci sering muncul. Tak lama selang meninggalnya gadi kecil itu, tidak sedikit para pengendara yang melaporkan telah melihat hantu si kecil Uci bergentayangan di sekitar jalan Siliwangi sambil membawa boneka panda kesayangannya, ia juga kerap terlihat sedang duduk di atas pohon di sekitaran jalan Siliwangi dengan gerak – gerik layaknya gadis kecil biasa yang sedang bermain dengan bonea pandanya. Yang konon katanya hantu gadis kecil itu suka meyapan para pengendara yang melintas di jalan Siliwangi pada waktu malam hari. Dan menurut orang – orang sekitar keberadaan hantu Uci ini memang tidak mengganggu namun tetap saja menyeramkan bukan? Walaupun hanya gadis kecil namun tetap saja dia hantu.

HOROR PULAU RINDU
Horror
23 Dec 2025

HOROR PULAU RINDU

Hari ini Ghea dan teman-temannya Lea dan Abigail berencana untuk liburan setelah ujian semester ini, mereka mau liburan kali ini mereka pergi ke tempat yang baru, belum pernah mereka kunjungi sebelumnya."Menurut kamu kita harus ke pantai atau ke gunung ya temen-temen?" tanya Ghea bingung"Kalau pantai kita sudah sering" jawab Lea"Tapi gunung juga udah sering" jawab Abigail"Terus rencananya mau kemana dong?" tanya Ghea bingung"Bagaimana kalau kita ke pulau kecil, disana cari yang deket pantai sama yang banyak aktivitas outdoornya" ucap Lea bersemangat"Good idea Lea" ucap Ghea"Iya aku setuju" jawab Abigail menimpali"Coba kamu googling dulu pulau-pulau wisata yang sesuai budget sama kita" ucap Ghea kepada Abigail"Guys, ada beberapa pilihan nih, masuk kok ke budget kita"Setelah melihat beberapa saat beberapa tempat yang bisa mereka kunjungi"Kok aktivitasnya rata-rata cuma aktivitas pantai aja ya Ghea" ucap Abigail"Iya ya, maksud kita kan yang beda dari yang biasa kita liburan kan Ghe?" tanya Abigail lagi"Ya sudah gapapa Abi, coba kamu cari lagi alternatif yang lain" jawab GheaSeharian itu mereka tetap tidak menemukan tempat yang sesuai dengan keinginan merekaHari ini sudah hari terakhir ujian semester, tetapi rencana mereka masih belum terlaksana karena mereka masih mencari tempat yang cocok untuk liburan mereka, tiba-tiba saat Ghe masuk ke gang kecil dekat kampusnya, ada brosur yang terbawa angin mengenai dirinya.Saat Ghea melihatnya"Pulau Rindu Buat Yang Mau Liburan Seru" dengan view bukit kecil dan pantai yang jernih di sekeliling pulau tersebut.Ghea melihat dengan seksama brosur tersebutPaket Wisata yang ditawarkan :Paket Pantai dan Paket Outbound selama 3 hari 2 malam dan harga yang ada di paket tersebut juga cocok dengan budget Ghea dan teman-teman.Lea dan Abigail mampir ke rumah Ghea hari ini, karena Ghea menelepon mereka dan bilang ini sangat penting."Kenapa sih Ghea gak besok aja kumpulnya, aku masih capek banget nih abis ujian" ucap Lea mengeluh"Iya Ghea kaya gak ada hari lain aja" ucap Abigail menambahkan"Aduh kalian ini penting banget, lihat deh brosur ini" ucap GheaLea dan Abigail pun melihat ke brosur tersebut"Wih keren banget Ghea tempatnya" ucap Lea"Iya semua kativitas yang kita mau ada di sana" ucap Abigail"Okeh, besok aku akan telepon nomor kontaknya kita booking buat hari senin besok ya" ucap Ghea bersemangatDan hari yang ditunggu pun tiba, mereka sudah tiba dipelabuhan untuk pergi naik kapal fery ke pulau tersebut.Hampir 5 jam mereka menunggu dari jadwal yang sudah ditetapkan, tetapi kapalnya belum juga datang, kata petugas pelabuhan sedang ada masalah pada kapal sehingga ada keterlambatan,Dan jam 6 petang ini akhirnya mereka melihat kapal yang mereka tunggu sudah tiba, menyebabkan mereka akan malam sampai ke tempat pulau tersebut.Suasana laut itu sangat buruk dan ombak pasang beberapa kali, Ghea dan teman-teman sangat tegang akan kondisi tersebut, beberapa kali nahkoda juga berusaha mengupayakan agar kapan seimbang dengan baik.Tiba-tiba didepan terlihat pelabuhan dan pulau Rindu yang mereka tuju, Ghea disambut dengan Pak Dipo penjaga villa tempat mereka menginap"Mbak Ghea, mbak Lea dan mbak Abigail ya?" tanya Pak Dipo"Betul pak" jawab mereka serempak saat mereka sudah tiba di pelabuhanTidak berapa lama akhirnya mereka tiba di Vila yang mereka tuju, dan ternyata itu adalah vila satu-satunya di pulau tersebut, suasana sangat gelap dan sepi"Aduh pak, tadi perjalanan kesininya seram ya pak ombaknya" ucap Lea membuka pembicaraan"Iya mbak, betul sekarang sedang pasang air laut" jawab Pak Dipo"Pak Dipo, ada tamu selain kita ga ya?" tanya Abigail penasaran"Maaf mbak, minggu ini kososng cuma mbak-mbak saja" ucap Pak DipoAkhirnya mereka sampai ke kamar, ada 3 tempat tidur yang berdekatan"Terimakasih ya pak Dipo" ucap Ghea sopan"Sama-sama mbak, semoga liburannya menyenangkan" ucap Pak Dipo"Ghea kok beda banget sama gambar brosurnya" keluh Lea kesal"Iya Ghea tempatnya seram begini" ucap Abigail tidak kalah sewot"Aduh kalian ini bagaimana sih, katanya mau liburan yang suasananya berbeda, coba lihat hari pertama saja kita sudah dibuat deg-degan kan" timpal Ghea mengelak ucapan teman-temannyaAkhirnya mereka mandi dan berganti pakaian lalu pergi tidurKeesokan paginya mereka mandi, dan siap-siap sarapan di vila tersebut, mereka disambut dengan Mbok Pina yang menjadi asisten rumah tangga di Vila tersebut, Mbok Pina masak bebrapa menu maskaan dan semuanya terlihat lezat, tanpa sadar Ghea, Lea dan Abigail makan banyak dan menghabiskan masakan tersebut.Aktivitas hari pertama mereka akan naik banana boat, diving dan aktivitas di pinggir pantaiBevan menjemput mereka saat berada dipelabuhan saat mereka sudah siap menuju aktivitas laut, mereka sangat menikmati kegiatan yang dilakukanterutama tour guide mereka Bevan sangat keren, memiliki wajah indo yang tampan."Wah kalau model tour guide kaya begini satu bulan lagi gue juga mau" ucap Lea menggoda"Dasar ganjen Lea, tapi gue setuju sih" ucap Ghea dan Abigail bersamaanTubuh Bevan sangat atletis, dengan bertelanjang dada menambah kesan maskulin dalam dirinya.Tidak terasa sudah hampir petang mereka pun bersiap-siap untuk kembali ke vila"Terimakasih ya Devan" ucap gheaBevan hanya memberi senyuman manis kepadanya"Iya Bevan aku juga ya" timpal Lea dan Abigail genitHari kedua ini juga sama saat mereka menuju ke bukit kecil saat keluar Vila, tiba-tiba Bevan sudah ada disana untuk menemani mereka naik bukit dan permainan outdoor lainnya.Tidak disangka dengan hadirnya Bevan membuat kegiatan liburan mereka sangat menyenangkan, Ghea, Lea dan Abigail bahkan tidak ingin liburan ini cepat berlalu, aktivitas hari ini naik flying fox, naik motor cross ke arah bukit, dan flying fox.Sama seperti kemarin petang hari ini mereka baru sampai ke Vila."Bevan ikut saja yuk makan malam dengan kami" ajak Gheaseperti biasa Bevan hanya tersenyum manis kepada Ghea"Ayu dong Bevan" Ajak Lea sambil menggandeng tangan BevanTapi Bevan melepaskan tangan tersebut, dan menolak ajakan merekaSaat masuk kedalam Vila"Gila ya si Bevan itu cool banget jadi cowok, udah ganteng, cool lagi ga kecentilan" ucap Abigail kepad kedua temannya"Iya, tapi kalian berdua sadar gak sih, dia itu diam banget ya selama kita jalan-jalan dari kemarin" ucap Ghea"O iya aku juga baru sadar, tadi pas aku pegang tangannya, tangannya Bevan dingin banget tahu, apa itu karena kita abis main ke bukit ya" timpal LeaAkhirnya mereka mandi dan makan malam, ini malam terakhir mereka karena besok pagi mereka harus pulang."Mpok Pina, kenal sama Bevan gak Tour leader kita, tahu rumahnya gak?" tanya Ghea saat makan malamTiba-tiba piring yang dibawa Mpok Pina jatuh"Maksudnya neng?" tanya Mpok Pina"Aduk mpok baik-0baik saja" ucap ketiga cewek tadi sambil memabntu Mpok Pina membereskan piringnya.Mpok Pina langsung kembali ke dapurSetelah kenyang Ghea dan teman-temannya segera ke kamar karena mereka merasa sangat lelah hari ini."Selamat pagi" ucap Pak Dipo setelah melihat ketiga cewek tadi turun dari tangga"Lho Pak Dipo sudah datang, kok cepet banget pak?" tanya Lea"Cuaca cerah neng, jadi kalau naik kapal fery bisa cepat sampai ditujuan" ucap Pak Dipo"Tapi sebentar ya pak, kita mau ketemu sama Bevan, dia suah bantuin kita dari kemarin karena jadi tour guide kita" ucap Ghea"Apa? maksudnya gimana neng?" tanya Pak Dipo"Iya kita mau ketemu Bevan dulu, mau ucapin perpisahan dan terimakasih sama dia udah mau bantuin kita" ucap Abigail"Bevan? siapa dia neng?" tanya Pak Dipo"Lho masa Pak Dipo gak kenal, dia tour guide kita" jawab Ghea"Neng ini kan pulau kecil, kita belum ada tour guide, rata-rata semua wisatawan pergi ke tempat wisata sendiri" jawab Pak Dipo"Tapi kemarin Bevan yang bantuin kita pak" ucap Lea masih keras kepala"Maaf neng-neng mpok mau bicara" ucap Mpok Pina"Kenapa mpok?" tanya Ghea bingung"Maaf neng, sebenernya mpok mau nanya ke neng tapi takut neng takut, dari pertama neng kesini, mpok suka lihat kalian bicara sama orang, tapi orangnya ga ada" ucap Mpok Pina"Maksudnya mpok?" tanya Abigail bingung"Pas kemarin neng bilang Bevan, Mpok baru ngerti, ternyata kalian ketemu sama hantunya Bevan pemilik vila ini yang dulu hidup zaman belanda dulu, dia meninggal karena dibunuh orang dirumah ini, vila ini sebelum jadi vila istirahat wisatawan adalah rumah dia neng" ucap Mpok Pina"Mpok Pina serius?" tanya Ghea"Iya Mpok juga tahu dari orangtua mpok, dulu ibu saya kerja di rumah in" ucap Mpok PinaMpok Pina pun ke gudang belakang dan keluar membawa pigura"Ini bukan yang neng pada liat" ucap Mpok Pina polosDan ternyata yang diucapkan Mpok Pina benar, wajah Bevan yang tampan berada di pigura tersebut denga kedua orang tuanya, Bapaknya Belanda dan ibunya sepertinya orang pribumi, dan itu lukisan dibuat sudah hampir 60 tahun yang lalu.Tiba-tiba mereka semua merinding memikirkan bahwa selama liburan ini mereka ditemani oleh hantu Bevan.Bahkan Pak Dipo bilang belum pernah ada kejadian seperti ini.Saat mereka sampai dipelabuhan, mereka masih mengingat cerita Mpok Pina, saat Kapal Fery mulai berjalan, di dekat pelabuhan mereka melihat Bevan sedang tersenyum manis seperti biasa menatap mereka."BE,,,,, BE.... BEVANNNNNN" ucap mereka bersamaan

HOROR CHANEL DEVAN
Horror
23 Dec 2025

HOROR CHANEL DEVAN

Pada hari ini Devan bersama teman-temannya sedang memulai Vloging untuk chanel nya di sosial media, seperti biasa temanya adalah tentang hobi mereka yaitu olahraga."Dev viewer kita makin lama makin sedikit nih" ucap Angga sahabat Devan salah satu tim di chanelnya"Masa sih? terus gimana dong? perasaan kita sudah sering bikin konten" ucap Devan"Eh guys, kalian tahu gak, ada dua yang bisa bikin chanel kita naik" ujar Devi cewek satu-satunya di tim"Apaan Dev?" tanya Devan"Pertama kita bikin chanel gosip yang satu lagi kita bikin chanel Horor" ujar Devi"Lho kok ga nyambung, kita kan temanya sports" ujar Angga"Katanya mau naikin viewer, ya itu dua bahan yang bisa bikin viewer nya naik" ucap Devi"Tapi kayanya ide bagus juga Ga" jawab Deva"Lho kok lo malah dukung Devi" ucap Angga kesal"Maksud gue kita tetap bikin tema sports tapi kita masukin unsur horor didalam kontennya" ucap Devan"Maksudnya" tanya Devi dan Angga bersamaan"Misalkan khusus hari kamis, kita main skateboard di rumah hantu pondok indah" ucap Devan menjelaskan"Wiw keren tuh original, kayanya belum ada deh yang bikin konten itu" ucap Angga"Iya keren, terus bisa ambil viewer yang suka olahraga dan juga horor" timpal Devi"Oke gimana setuju ya guys, nanti gue coba bikin konsepnya"Minggu itu Devann dan teman-temannya mulai membuat konsep yang serius untuk chanel mereka tersebutDan diputuskanlah bahwa tempat pertama yang akan mereka buat adalah di sebuah rumah tua angker di sekitar rumah mereka, karena melihat ini pertama kali mereka akan melakukannya, jadi mereka memutuskan tempatnya tidak terlalu jauh, dan olahraga yang mereka pilih adalah bermain sepeda mengitari rumah angker dan kosong tersebut."Kamu berani Devi?" tanya Angga"Gak tau Ga, gue deg-degan juga sih" jawab Devi"Tenang aja Dev, masih deket kok sama rumah kita, kalau ada yang aneh kita langsung selesai kok" ucap Devan menenangkan"Iya, setuju" ucap DeviDan akhirnya mereka memulai vloging hari itu, dan berjalan sampai tengah malamSemua berjalan dengan baik dan lancar, sedetlah editing mereka publish di Chanel Devanbaru hitungan menit viewer mereka meningkat pesan, dua kali lipat dari konten sebelumnya."Wow keren, chanel kita jadi trending" ucap Devi"Coba sini gue lihat" ucap Angga"Waw kalau begini terus kita bisa dapat income yang lumayan guys" ucap DevanAkhirnya mereka terus melakukan konten Sport Horor tersebut, dan hari ini mereka akan melakukan syuting di TPU Jeruk Purut dengan melakukan olahraga skateboard."Devan, kok feeling gue ga enak ya hari ini" ucap Devi"Kenapa lo lagi sakit?" tanya Devan"Apa kita batalin aja ya" ucap Devi"Gak bisa Dev, kita belum buat konten minggu ini, kita harus lakukan ini" ucap AnggaDan akhirnya syutingpun berjalanSaat Devan bermain skateboard tiba-tiba Devan melihat sekeliling mereka, banyak yang menonton acara mereka padahal ini sudah jam 12 malam."Dev lo liat gak, penonton kita banyak yang datang hari ini?" ucap Devan"Penonton? dimana Van?" tanya Devi"Masa lo gak liat, itu disekeliling tempat gue main skateboard" ucap Devan senang"Van, lo sakit juga?" tanya Angga"Apaan sih lo, gue baik-baik aja kok" ucap Devan kesal kepada Angga"Cuma kita bertiga saja disini Van" ucap Devi mulai ketakutan"Ya udah yuk, syutingnya sudah selesai kan?" ucap Devi"Lo yakin, coba kita balik ke tempat tadi, gue buktiin deh sama lo semua" ucap Angga kesal"Udah ga usah, aku ga enak badan" ucap Devi mulai ketakutanDan akhirnya mereka pulang, keesokan harinya Devi tidak datang ke rumah Devan, Angga pun sibuk mengedit.Tiba-tiba muncul di chat room mereka,"Hai guys, kami dari fans Devan Sports Misteri mau undang kakak untuk jumpa fans kak"Pesan di wall tersebut"Wow kita udah punya fans Van" ucap Angga girang"Serius lo, ya udah kita buat konsep aja, kapan diadainnya, sekalian buat konten kita, berarti betul dong yang kemarin gue lihat pasti fans kita" ucap Devan legaDan akhirnya Angga pun membalas chat fansnya, dan mengundang mereka untuk datang ke acara minggu ini, tempatnya di Rumah Tomat di daerah Jakarta yang terkenal angker dengan bau tomatnya walaupun rumah itu kosong.Dan hari yang ditentukan pun tiba, DEvan, Devi dan ANgga sudah bersiap-siap di tempatMereka sudah mempersiapkan acara untuk hari itu kepada fansnya, tetapi anehnya sampai jam 12 malam masih belum ada yang datang, ANgga pun berusaha menghubungi orang tersebut.Dan jam 12 tepat saat Devan melihat ke jam di tangannya.Tiba-tiba sudah berkumpul banyak orang disekitar mereka, padahal sebelumnya sepi banget, Tiba-tiba Bulu Kudu Devan merinding, mereka seperti bayangan hitam wajahnya tidak jelas, dan sangat banyak."Halo, kita Chanel Devan, bisa tahu kalian siapa saja" ucap Angga berusaha ramah di tengah kegelapan saat ituDan beberapa orang maju mendekati merekaDan DEvi, Devan dan Angga pun sangat kaget melihat wajah orang-orang tersebut tidak memiliki wajah, dan mereka memiliki tubuh yang aneh ada juga yang bertanduk"Kami lah fans kalian, tayangan kalian sangat menghibur kami dan menjadi acara favorit kami" ucap suara dari sosok yang mengerikan tinggi besar dan hitamDEvan, Angga dan Devi tidak dapat bersuara mereka sangat ketakutan"Apakah kalian akan terus mengerjakan syuting ini?" ucap suara bayangan berambut panjang menjuntai sampai ke bawah dengan satu mata"Kalian tahu, apa yang kalian lakukan itu sangat bagus, membuat kami sangat senang" ucap suara mahluk jelek berwarna hijau tertutup lendir yang sangat banyak"kamilah fans kalian" ucap Mahluk dengan kain kafan terikat di kepalanya"Kamilah yang menonton kalian" ucap sosok menyeramkan berbadan bulat kecil dan mata menjuntai sampai ke bawah."Maksud kalian?" tanya Angga kaget"Kamilah fans kalian" ucap mereka bersamaan dan mulai mendekati ke arah Devan dan teman-temannya bersamaan"Apa.. apa yang harus kita lakukan Van" ucap Devi gemetaran"Gue.. gue ga ngerti" ucap Devan"Guys kita lari sekarang" ucap Angga melihat situasi seperti iniDan akhirnya mereka berlari sekencang-kencangnya dan mereka meninggalkan bayangan hitam itu disanaSetelah kejadian mengerikan kemarin, tiba-tiba Angga melihat Chanel Devan saat ini"Guys sini deh kalian gak akan percaya" ucap Angga"Kenapa" ucap Devan dan Devi bersamaan dan mendekat kepada AnggaDan mereka melihat subscriber mereka ternyata semua yang komen di chanel mereka idnya adalah Pocong, Tuyul, Kuntilanak, Genderuwo, zombie, drakula, dan mereka semua adalah dari dunia lain, dan setelah mereka melihat periksa rekening mereka di bank sama sekali nol mereka tidak mendapatkan apa-apa dan tidak memiliki hasil dari Chanel Devan tersebut.

SANTET
Romance
23 Dec 2025

SANTET

"Nia, akhirnya aku menemukanmu," cewek bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, kini duduk dengan napas yang ngos ngosan, akibat berkeliling wilayah kampusnya untuk mencari satu orang saja, yaitu Nia, teman dekatnya.Dia adalah Linda, cewek yang mempunyai seribu masalah tentang masalah percintaannya. Linda tidak begitu cantik, dan juga tidak jelek jelek amat. Linda hanya gadis biasa yang selalu di sakiti oleh kaum adam."Kenapa?" tanya Nia si cewek gendut yang asyik makan mi rebus buatan bude kantin di kampusnya."Gue memimpikan itu lagi," ucap Linda memajukan wajahnya agar orang di sekitar tidak mendengar percakapan mereka berdua. Nia tetap asyik memakan mi rebus itu, sambil menunggu kelanjutan cerita tentang apa yang dialami Linda semalam."Gue bermimpi pocong serem itu lagi, berwarna hitam, yang selalu menatapku," Nia yang mendengar itu tersedak kaget, bagaimana bisa temannya ini selalu bermimpi hal begituan sudah seminggu ini.Ini pasti ada yang tidak beres, batin Nia, mengeluarkan benda pipih yang berada di dalam tasnya, ia memberi pesan kepada seseorang yang Linda tidak ketahui."Besok ikut gue, jumpa sama papa gue, gue tunggu jam 8 malam," ucap Nia yang langsung pergi dari sana setelah ia membayar mi yang ia makan tadi.***Linda sudah sampai di sebuah rumah yang cukup mewah, ia termenung melihat betapa besarnya rumah itu daripada rumahnya."Oik, mau sampai kapan berdiri di situ?" Linda tersadar dari lamunannya, akibat teriakan Nia dari ambang pintu.Linda hati-hati masuk ke dalam,takut menyengol sesuatu dirumah itu, selain barang barang di sana termasuk barang yang mahal, di rumah itu juga banyak penjaga yang kasat mata."Ini pa, teman Nia, yang kemaren Nia ceritakan," Linda duduk di hadapan laki laki baru baya yang sedang bermain handphone sambil merokok, lelaki paruh baya itu adalah ayah Nia yang bernama Putra. Putra melihat kedatangan Linda dengan tatapan tajam.Dengan diberi waktu untuk bercerita apa yang sedang Linda alami selama ini, ia gunakan itu dengan maksimal mungkin, walaupun ia begitu gugup dan takut."Besok kamu bawa buah kelapa muda kecil, ingat!, belinya jangan di tawar!" hanya itu perkataan Putra selama Linda menunggu. Linda pun pulang dari rumah itu dengan suasana aneh di dalam tubuhnya.***Keesokan harinya, Linda di suruh menginap di rumah Nia, di karenakan ritual nya di mulai tengah malam, itu juga membantu untuk papa nya Nia mengawasi ku untuk sementara agar Linda tidak kenapa napa setelah selesai menjalani ritual itu.Sebelum mulai, papa nya Nia menghidupkan lidi china, dan menghidupkan lagu lagu khas jawa, Linda berusaha untuk tidak takut, lama kelamaan bahu Linda sebelah kanan berat sebelah, disana tidak hanya ada Linda dan juga papa nya Nia, Nia pun ikut Menemani Linda, agar Linda tidak perlu takut."Jangan takut, semuanya akan baik baik saja," ucap Nia memeluk bahu Linda dan mengelus elus, agar Linda tenang.Linda melihat Pak Putra alias papa nya Nia memotong buah kelapa yang Linda bawa tadi, membuat sedikit lubang agar Linda meminum air itu sampai habis."Ini, kamu minum di depan pintu itu," Putra menunjuk pintu belakang rumahnya yang mengarah keluar bagian belakang, Linda berjalan kearah pintu itu, Putra sudah berada di belakang Linda, untuk mengeluar apa yang ada di tubuh Linda.Linda membaca doa dan berharap semuanya baik baik saja, dan mimpi aneh itu tidak datang kembali, Linda menyatukan buah kelapa itu ke mulut nya. Linda merasa kesusahan untuk meminum air kelapa itu, ia merasa ada yang mendorong buah kelapa itu agar buah kelapa itu terjatuh dan Linda tidak bisa meminumnya.Sebagian air buah kelapa itu bertumpah tumpah sampai baju nya basah.Linda memberhentikan meminim air itu, dia melihat kebelakang, mukanya sudah sangat sedih dan memohon, dia sudah tidak sanggup meminumair kelapa itu lagi. Tapi Putra tetap menyuruh Linda meminum air itu sampai habis, mau tidak mau Linda melakukannya.Seteguk demi seteguk Linda memasuk air buah kelapa itu ke tenggorokannya, ia merasa air itu tidak habis juga, padahal ia merasa sudah meminum air itu sudah banyak dan baju yang ia pakai sudah basah juga."Huft," akhirnya selesai sudah, Linda memberi buah kelapa itu yang sudah kosong kepada putra. Linda terduduk lemas, sebenarnya dari semalam ia mau bertanya kenapa dirinya sampai ia harus melakukan itu, tapi karna hari sudah malam dan sudah jam 03.00 pagi, Nia mengajak Linda untuk kekamar membersihkan diri setelah itu tidur.***Selama tidur, Linda gelisah, ia takut sekali, tetapi matanya tidak bisa di buka. Sampai akhirnya Linda terhanyut dalam mimpi itu."Linda, lin, bangun," Nia menggoyang goyangkan tubuh Linda. Linda langsung terbangun dengan terduduk, membuat Nia yang di sampingnya terkejut."Lin, ada apa?" Tanya Nia memastikan, bahwa temannya ini baik baik saja. Linda menggeleng dan langsung pergi ke kamar mandi.Akhirnya aku bisa terbangun juga, pikir Linda di kamar mandi."Lin, makan dulu," panggil Nia melihat Linda keluar kamar yang sudah berpakaian rapi.Selama di meja makan, Linda makan dengan tenang, walaupun pikirannya lagi berpikir apa maksud mimpi terakhirnya itu."Lin, lo kenapa sih? Dari tadi diam aja, ada yang ganjal di kepala mu, di ceritain atuh,"ucap Nia yang sudah tidak tahan dengan sikap temannya itu."Kemaren," gantung Linda."Kemaren, gue mimpi itu lagi,"Linda menundukkan kepalanya."Tapi ini beda dari yang dulu dulu,"Linda menggangkat kepalanya, melihat Nia dengan lekat."Gue mimpinya, pocong itu kemaren ada di delan gue pada saat gue minum air kelapa itu," Nia masih diam mendengarkan."Terus, setelah gue selesai minum air kelapa itu, pocong itu kayak marah gitu, dan muka seramnya tu terzoom zoom gitu di kepala gue," Nia langsung menarik Linda untuk bertemu dengan sang papa.Linda menceritakan ulang kejadian tadi. "Alhamdulilah, itu tidak apa apa, berarti kamu sudah terbebas," ucap Putra sambil memain handphone nya dan mendengarkan cerita dari Linda."Terbebas dari apa om? Emangnya aku kenapa?" Tanya Linda yang sudah penasaran."Kamu di guna guna oleh seseorang," Linda tidak percaya dengan itu, ia menutup mulutnya dengan tangannya, kenapa tega sekali orang itu guna gunakan Linda, apa salah Linda? Sampai orang itu berani bermain hal begituan.Selama Linda hidup, setahu Linda dirinya lah yang paling menyedihkan, terlebih lagi dalam hal percintaan, dia selalu di sakitioleh orang orang yang ia sayangi. Dan sekarang, ditambah lagi dengan orang yang berani menyantet Linda selama 8 bulan ini."Kenapa tega banget ya Jovan melakukan itu kepada gue Ni?" Tanya Linda yang sudah tersedu sedu akibat menangis orang itu lagi. Lebih tepatnya ia masih belum percaya, bahwa pelaku di balik ini semua adalah Jovan mantan pacarnya selama 8 bulan mereka menjalin hubungan pacaran."Sebenarnya dari dulu gue udah mau bilang, kalaulo harus jauh jauh dari Jovan, tapi gue terlambat lo sudah terlalu jatuh di pelukan Jovan," Nia memeluk Linda yang masih tersedu."Dari dulu gue sudah sadar dengan sikap aneh lo, yang nangis karna Jovan kecelakaan dan lo gebet banget ingin menjeguk dia yang jauh itu,""Terus di tambah lagi, lo sudah di putuskan dengan cara tidak baik, dia mengeluarkan kata mutiaranya kepada lo, tapi lo tetap ingin dia kembali lagi di pelukan lo,""Dan sampai akhirnya lo bercerita semua yang lo alami, dari lo yang drop lah, sampai ke mimpi itu, dan akhirnya gue bisa menolong lo terbebas, dari santet nya yang Jovan gunakan untuk lo, walau itu sangat terlambat,""Tidak nya, tidak ada kata terlambat, ini semua hanya butuh proses, sampai akhir waktu yang menentukannya," Linda mempererat pelukan Nia.Ini adalah pelajaran untuk Linda, maupun untuk semuanya. Jangan mudah percaya seseorang, dan jangan mudah terbuai dengan kata kata manis seseorang. Kita memang tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan kepada kita. Tapi setidaknya kita bisa berjaga jarak untuk me n yelamatkan kita dari hal hal yang tidak kita inginkan.

PENGORBANAN YANG ABADI VIAN & VIA
Romance
23 Dec 2025

PENGORBANAN YANG ABADI VIAN & VIA

"Gue kan udah bilang sama loe kalau gue tu jahat. Kenapa masih dekatin gue sih?" Teriak cewek berseragam SMA di gerbang sekolah.Orlinda Via Besta, adalah cewek tinggi 160, cuek, dingin, dan pencinta game. Dia tidak terlalu cantik dan terkenal di sekolahnya. Karena dia adalah orang yang susah sekali bergaul di dunia nyata, beda hal nya dengan dunia mobile nya.Di dunia mobile, Via selalu memakai nama samaran, dan selalu menghidupkan mikrofon nya memberitahu strategi atau pun menyapa kepada teman online nya. Hal itu yang membuat Via mempunyai banyak teman online. Karena ia begitu ramah dan lembut memberitahu kepada teman temannya.Tetapi ada suatu hal yang paling Via benci sekali yaitu orang yang mengganggu ketenangannya di dunia nyata. Sebisa mungkin Via menutup dirinya dengan orang orang terdekat. Di sekolah ia tidak mempunyai teman. Setiap jam istirahat ia lebih memilih pergi ke perpus ketimbang ke kantin, bukan halnya Via anak yang rajin membaca, ia memilih ke perpus karena perpus adalah tempat yang sepi dan enak untuk tidur dan bersantai.Gedebuk!Suara benda jatuh begitu keras di ruangan perpustakaan, membuat Via yang sedang tertidur, terkejut terbangun.Bangsat , umpat Via mengucek matanya.Via berdiri memastikan apa yang terjatuh itu. Ia berjalan dari rak ke rak, sampai menemukan seorang cowok sedang membereskan buku buku yang berantakan di lantai begitu banyak.Cowok itu melihat Via sambil tersenyum bersalah. "Sorry, loe pasti terganggu ya bacanya." Ucap cowok itu merasa bersalah kepada Via. Via yang masih dengan muka datarnya, tidak merespon omongan cowok itu, ia pergi keluar dari perpus, dan memilih tempat untuk ia beristirahat.*****"Vian." Dengar namanya di panggil dari belakang, cowok tinggi 170 dan tidak terlalu putih itu berbalik badan."Iyaa buk, kenapa?" Tanya Vian kepada bu guru yang ada di depannya sekarang."Bisa bantu ibu gak?" Vian mengangguk."Itu, ibu minta tolong sama kamu, bantuin ibu ambilkan buku cetak sejarah 20 buah, bisa gak Vian?" Tanya bu guru dengan nada lembut."Bisa buk." Jawab Vian mau tidak mau harus membantu."Ya sudah nanti bawa ke ruangan guru ya." Bu guru dan Vian pergi berlawanan arah. Sampainya di perpustakaan. Vian langsung masuk menjelajah satu per satu rak rak buku yang ada di sana, matanya fokus mencari buku sejarah kelas XI .Ya yang meminta tolong itu adalah guru sejarah yang mengajar di kelas XI. Dulu waktu Vian kelas XI pernah diajarkan oleh guru tersebut. Di sekolahnya guru sejarah ada 6 orang, kebetulan Vian mengenali dan mengingat guru yang meminta bantuannya, karena Vian adalah orang yang susah mengingat dan mengenal seseorang. Vian adalah anak kesayangan dari bu guru itu. Pembelajaran sejarah Vian selalu mendapat A+."Aduh mana ni buku nya." Vian kebingungan mencari buku yang ia cari, 6 rak sudah ia lewati dan tidak mendapatkan buku itu.Vian menyandarkan badannya di rak yang berada di belakangnya. Begitu lelah menyelusuri perpustakaan sekolahnya yang begitu besar.Gedebuk!Buku buku yang ada di belakangnya jatuh berserakan, karena Vian begitu kuat bersandar membuat rak di belakangnya jatuh ke lantai serta dirinya."Aduh punggung gue retak." Teriak Vian terlentang diatas rak jatuh itu.Vian tidak akan berteriak jika perpus itu berisi, walaupun pada saat ia terluka. Ia ingat sekali ngomong pelan saja di kenakan denda, walaupun dendanya tidak seberapa ia tidak akan mau mengeluarkan uangnya dengan sia sia.Tidak ada yang membantu Vian berdiri. Vian berdiri sendiri dan membereskan semuanya dengan sendiri, sebelum penjaga perpus itu datang. Vian mendengar langkah kaki dari arah belakangnya, Vian takut takut mandang kebelakang, jika itu penjaga perpusnya otomatis Vian akan kena omelan dengan penjaga perpus tersebut."Eh..." Vian terkejut ternyata yang datang cewek cantik siswi dari kelasnya."Sorry, loe pasti terganggu ya bacanya." Ucap Vian bersalah, tanpa melihat ke arah cewek itu, Vian tetap lanjut membereskan buku buku itu.Tidak ada respon dari cewek itu, Vian lihat ke belakang, ternyata cewek itu sudah pergi dari sana.Tak pernah berubah dia dari dulu , ucap Vian pelan.Vian Orlando Bramista , adalah cowok yang terkenal dengan wajah manisnya, Vian memang bukan cowok yang berkulit putih, tetapi cewek cewek di sekolahannya tanpa bosan melihat muka Vian yang begitu tampan di manapun Vian berada.Vian juga di kenal orang yang ramah, dan suka menolong jika teman maupun guru nya meminta pertolongannya, dengan sungkan ia membantu mereka.Vian juga di kenal sebagai cowok yang humoris, tetapi ia akan bersikap itu dengan cewek idamannya. Kelakuan konyol apa aja ia keluarkan ketika dengan cewek idamannya itu.Dan Vian juga merupakan orang yang berjuang keras, apapun yang ia inginkan ia akan berjuang sendiri, walaupun itu berat baginya. Termasuk meluluhkan hati cewek idamannya. Tanpa kenal lelah ia tetap berjuang untuk mendapatkan belahan jiwanya.*****"Kopi sudah, laptop sudah, hp sudah, charger sudah, AC hidup, pintu terkunci, dan tempat duduk ternyaman." Ucap Vian sambil menunjuk nunjuk benda yang di sebutinnya."Oke saatnya bermain." Vian menekan tombol on pada laptopnya.Selama loading berlangsung, ia menyempatkan menghirup aroma kopi buatannya.Minuman paling menyegarkan untuk malam hari , ucap Vian senang. Vian fokus tatap pada layar laptopnya sambil Menyeruput kopinya.Srup.....srup.....srup.....Clin...Notif pada laptop nya berbunyi, Vian cepat cepat meletakan kopi itu di mejanya. Tangannya dengan cepat mengklik notif itu."Akhirnya Besta on." Ucap Vian senang, sambil mengetik sesuatu.Bramista : Mabar kuy?Besta : Okey.Vian langsung mengklik kata mulai di dekstop. Memasang handset di telinga nya, meletakan jari jari tangannya pada keyboard.Siap , teriak Vian mengisi ruang kamarnya. Vian bersemangat sekali memainkan game dengan teman online favorit nya selama 3 jam."Dasar keras kepala." Ucap Via tersenyum sinis pada layar komputernya.Ia tau orang yang bertanding dengannya di dunia game, adalah Vian teman sekelasnya.Dari dulu Vian tanpa kenal lelah selalu mengejar Via. Tetapi Via tidak pernah merespon perasaan atau pun perkataan Vian pada dirinya. Hanya lewat dunia game lah, kesempatan Vian untuk bisa berteman dengan Via.Via tau Vian adalah orang tidak suka bermain game online. Karena tujuannya hanya satu, Vian rela belajar mati matian tentang dunia gamers seperti apa, yang dulunya dia nob dan sekarang dia menjadi pro.Kerja kerasnya pada dunia game berhasil, tapi kerja kerasnya pada Via belum berhasil juga.*****"Hai Vian." Sapa Vian kepada Via segaja di buat salah."Eh Vian, salah loe tu manggil nya, masa nama dirinya di panggil." Kata seorang cewek yang duduk di belakang Via. Vian yang mendengar perkataan cewek itu hanya tercengir bahagia.Garing , gumam Via tapi bisa di dengar oleh Vian."Apa sayang aku lucu." Ucap Vian antusias."Alhamdulillah akhirnya sayang ku sudah membuka hatinya." Kata Vian bersorak di tempat duduknya. Via yang melihat tingkah Vian gak berubah dari dulu, muak sudah. Ia pergi meninggalkan kelas, masih ada 15 menit sebelum pelajaran pertama di mulai.*****"Lo kok gak kapok kapok sih memperjuangkan tu cewek." Ucap dirga sambil memakan gorengan."Penasaran gue sama tu cewek." Jawab asal vian. Sebenarnya vian tidak tau alasan dia berkorban, memperjuangan seorang orlinda via besta yang terkenal cuek abis itu.Vian termenung, tak segaja ia melihat via berjalan ke arah kantin, ini perdana seorang via mau ke kantin. Tapi pandangan dia berubah terarah ke orang yang bermain basket di dekat via berjalan.Filling gue berkata lain ni , gumam vian. Ia berdiri dan berjalan dengan cepat kearah via."Via awas!." Teriak Vian memperingati Via harus mengelak cepat dari lemparan bola basket itu."Aww, sakit...." Lambat sudah, bola basket itu berhasil mengenai kepala Via. Via mengadu kesakitan."Via apa yang terluka? Kasi tau gue. Kita ke UKS ya." Vian langsung mengendong Via untuk bawa ke UKS.Via yang terkejut tubuhnya di gendong, ia berontak minta turun. Segala cara ia keluarkan dari pukulan cubitan sampai makian. Tetapi Vian tetap membawanya ke UKS."Loe budek atau apa sih. Kan gue udah bilang turunin." Ucap Via marah yang sudah terduduk di tempat tidur."Kan udah gue turunin Via sayang." Jawab enteng Vian sambil mencari kotak P3K."Ya maksud gue, turunin nya tu dari tadi. Loe gak nampak apa anak anak mandang kita tu aneh kali." Ucap Via kesel. Via membaringkan tubuh nya di tempat tidur dan menghadap ke lain arah dari Vian berdiri.Bugh...Pukulan keras dari Via mengenai dada Vian."Sakit bego.""Ya gue tau itu sakit, tapi loe kan bisa nahan sebentar." Vian mengoleskan obat merah ke luka yang ada di tangan via. Selesai sudah Vian mengobati luka Via, Vian menyuruh Via untuk istirahat. Ia menutup gorden dan meletakan kotak P3K itu di tempat semula. Sedari tadi Vian menahan sakit di dadanya, yang akibat pukulan keras dari Via."Cantik cantik tapi galak."*****Vian tau, Via selama 2 tahun ini merasa risih ia dekati.Apa sampai sini perjuangan Vian untuk mendapati hati Via?Oh tentu tidak, mungkin cara dekati secara langsung Via memang risih, tapi dengan suatu perhatian pasti Via akan luluh kepadanya.Setiap pagi Vian meletakkan kotak bekal makanan di bawah meja Via. Tidak lupa pula surat yang ia selipkan."Ini kotak bekal siapa di dalam meja gue." Teriak Via kesel. Tidak ada yang merespon omongannya. Via melihat ke arah Vian yang asik membaca komik."Punya loe kan?" Via melempar kotak bekal itu ke meja Vian. Vian pura pura terkejut, ia melihat ke arah Via, dan ke kotak bekal itu secara bergantian."Bukan." Ucap Vian dan melanjutkan baca komik. Via yang merasa ada yang berbeda dengan Vian, ia menyipitkan matanya menatap fokus ke arah Vian."Mandang nya jangan gitu kali, jatuh cinta baru tau." Ucap Vian, yang langsung Via duduk di tempatnya dan mengambil kotak bekal itu di meja Vian.Bel istirahat berbunyi, Vian dan teman sekelasnya keluar serentak. Tinggal seorang Via di dalam kelas.Via lapar sekali, ia malas sekali pergi ke kantin, takut musibah itu terulang kembali. Ia teringat kalau di bawah mejanya ada kotak bekal. Ia mengambil kotak bekal itu dari bawah mejanya.Ia membuka kotak bekal itu, sungguh Via terkejut dengan isi nya. Lauk kesukaan Via. Yang sudah lama Via memakan itu, karena ibunda nya sibuk dengan dunia kerja. Via melihat surat yang ada di penutup kotak bekal itu, dia membuka surat itu.Selamat makan tuan putri, jangan lupa di habiskan ya. Mungkin rasanya memang tidak terlalu enak, tapi lihatlah dari proses masaknya.-O"Inisial O? Perasaan di kelas gak ada yang namanya O."Sambil memikirkan nama dari surat itu, Via baca doa dan makan makanan dari seseorang misterius itu.Tanpa Via sadari, sedari tadi ada seseorang yang merhatikan Via dari luar.Sudah seminggu Via mendapatkan kotak bekal di dalam mejanya. Ia kira orang yang ngasih itu ingin mencelakai nya, tetapi ia salah selama ini ia baik baik saja memakan makanan itu. Penasaran Via semakin meraja rela, ia sangat kepo, siapa kah orang yang baik hati memasak makanan kesukaannya untuk dirinya makan.Via segaja datang pagi pagi untuk memastikan orang di balik kotak bekal makanannya."Kayaknya ni tempat cocok untuk gue bersembunyi." Via mengintip di balik jendela. Via terkejut, ternyata yang ia pikir selama ini salah. Bukan Vian yang memberi kotak bekal itu. Via menajamkan penglihatannya. Ia tidak mengenali lelaki itu. Setelah lelaki itu keluar dari kelasnya, Via keluar dari tempat persembunyiannya.Ternyata selain Vian ada seseorang yang suka kepada dirinya. Via terduduk lesu, entah mengapa hatinya mendadak sesak, karena mengetahui seorang misterius itu bukan Vian.Via melihat Vian masuk ke dalam kelas dengan muka lesu juga. Via yang gak mood ia langsung menenggelamkan kepalanya di dalam tangannya.*****Vian lesu saat di parkiran ia tak bersemangat untuk ke sekolah. Ia juga lupa membawa kotak bekal untuk Via."Aduh gimana ya, Via bisa kelaparan nih." Ucap Vian, kakinya yang berjalan terus sampai ke kelas. Vian melihat muka Via yang lesu juga."Tukan pasti dia belum makan." Batin Vian, ia duduk di bangku nya, ia melihat Via yang sudah tertidur dengan kepala di tutup dengan tangannya.Selama pelajaran Vian curi curi pandang ke arah Via. Tetap sama ekspresi Via saat pertama ia masuk kelas.Bel istirahat berbunyi, Vian cepat cepat ke kantin untuk membeli roti untuk Via. Sampai di kelas, ia melihat Via memakan makanan yang ada di kotak bekal."Tumben dia bawa bekal?" Tanya Vian memasuki kelas dengan 2 roti di tangannya.Seperti biasa di jam istirahat Via memakan makanan dari kotak bekal yang selalu di beri lelaki yang belum ia ketahui namanya."Agak berbeda rasanya dari kemaren." ucap Via sambil mengunyah.Walaupun rasanya berbeda, dengan lahap dia menghabiskan makanan yang ada di kotak bekal itu. Sampai sampai ia tidak mengetahui kalau Vian sudah tertidur di bangkunya.Selama pelajaran Via gelisah. Perutnya sakit, ia keringat dingin. Sesekali ia melihat jam di tangannya."Oke bentar lagi, tahan Via tahan." Ucap via menenangkan dirinya.Vian yang melihat Via gelisah, menjadi tidak fokus dengan guru yang sedang menerangkan materi di depan.Bel pulang pun berbunyi. murid di kelasnya dan juga guru sudah keluar. Tinggal Vian yang segaja melambatkan membereskan buku di meja nya, dan via yang sibuk mencoba telpon seseorang."Mau gue antar?" Tawar Vian pada Via. Via hanya melihat sebentar ke arah Vian, dan mencoba telpon supirnya yang gak di angkat angkat sedari tadi. Vian tetap diam, sambil menunggu Via berkata iya atau tidak.Sudah tidak tahan lagi, via menangis sejadi jadi nya. Membuat Vian yang masih berada di sana terkejut."Loe kenapa?" Tanya via sambil menahan Via agak tidak terjatuh di tempat duduknya."Perut gue sakit Vian, hiks...hiks...""Ya udah, kita ke dokter ya. Biar gue antar." Vian membantu via untuk berdiri dan berjalan ke arah parkiran."Pegangan." Perintah Vian kepada Via, yang langsung Via peluk Vian dengan erat.Anjir kenceng banget pelukannya , batin Vian sambil menahan sakit akibat pelukan dari Via.*****"Kok bisa seperti ini nak Vian?" Tanya mama nya Via. Keluar dari kamar Via"Kata dokter Via keracunan makanan tan." Jawab Vian yang sedari tadi berdiri di luar kamar Via."Kok bisa sih?" Mamanya via dan Vian menuruni tangga menuju ke ruang tamu."Setau saya tadi Via makan makanan dari bekal dia tan.""Bekal? Setau tante Via gak pernah ke sekolah bawa bekal." Vian yang mendengar penurutan mamanya Via terkejut.Kalau bukan via yang bawa bekal sendiri, berarti ada seseorang yang ingin mencelakakan Via , gumam Vian yang masih bisa di dengar oleh mamanya Via."Siapa?" Vian terkejut."Eh, Saya juga gak tau tante, tapi nanti saya usahakan cari tau siapa pelakunya.""Saya pamit pulang ya tan, semoga Via cepat sembuh, kirim salam juga untuk papanya Via." Pamit Vian menyalim tangan mamanya Via.3 hari Via tidak masuk sekolah. Vian suntuk sekali, tidak ada yang mau dia lihat sebagai penyemangatnya.*****Ting tong ting tong"Is siapa sih yang datang sore sore ini." Repet Via membuka pintu."Hai cantik." Via terkejut langsung menutup pintu.Tok...tok...tok"Gak ada orang." Teriak Via."Gak ada orang, kok nyaut sih.""Ngapain sih loe datang ke rumah gue." Via membuka pintu rumah nya langsung menyomprot kata pedas ke Vian.Vian tersenyum melihat muka kesel Via, ia mengangkat sesuatu di tangannya."Ma, mama kok izinkan budak tu masuk sih, dia tu modus ma." Ucap Via sambil mengambil mangkok."Dia tu orang jahat ma." Bisik Via kepada mamanya yang langsung di tepuk"Eh kamu ni, orang baik kayak gitu di bilang jahat.""Iya ma, dia tu hanya modus dan jahat, berbuat baik terus ninggalin Via kalau lagi sayang sayangnya.""Gak kok tante." Ucap Vian keras, Via dan mamanya terkejut."Lo ngu..." Ucap Via terpotong oleh Vian yang buru buru ke kamar mandi."Tante numpang kamar mandi dong, udah gak tahan ni." Mamanya Via menunjukkan kamar mandi yang ada di belakang Vian.*****"Nanti pulang sekolah jumpai gue di belakang sekolah." Via terkejut mendengar ucapan Vian yang begitu serius.Selama pelajaran Via melihat Vian begitu berbeda dari biasanya, pakaiannya begitu rapi, Vian potong rambut, muka tampannya jelas terlihat."Astaga gue ngayal apaan sih." Via kembali fokus ke depan.Bel pulang sekolah sudah berbunyi Vian memang benar benar berbeda hari ini, tumben dia gak ganggu Via, jailin Via, dan ngajak Via bicara.Via melihat Vian keluar dari kelas, Via ragu apa dia ikuti kata kata Vian tadi pagi atau dia langsung pulang."Bodo amat..... Bodo amat, palingan dia mau bicara tentang perasaan nya." Via keluar dari kelas, dan berbelok ke kanan mengarah ke gerbang sekolah.Vian melirik jam tangan nya, cukup lama ia menunggu Via. Padahal ada sesuatu hal yang sangat penting ia beri tau ke Via."Vi gue mohon datang." Harapan Vian menanti ke hadiran Via yang berjalan ke arah nya."1...2...3..." Sudah cukup Vian membuang buang waktunya yang gak pernah di hargai oleh Via.Vian pergi ke parkiran sekolahnya, dan pergi dari sana dengan ngebut.Sungguh Vian sangat kecewa untuk saat ini. Tapi ia masih bingung ia kecewa dengan hal apa. Jika marah dengan Via tidak datang ke belakang sekolah, itu sangat tidak pantas karna itu ada juga hak Via untuk datang atau tidak, mungkin dia saja yang terlalu berlebihan dengan keadaan sekarang ini.Apa Vian sampai disini perjuangannya kepada Via?Hanya karena sepele Vian berhenti, di detik ini juga? I dont know.

Halusinasi Arini Wijaya
Teen
22 Dec 2025

Halusinasi Arini Wijaya

Halu Arini WijayaMasalah? Dia selalu hadir di hidup kita. gak pernah lelah, capek, atau apa pun. Ia selalu nongol saat kita tidak menginginkan nya, mengalahkan doi yang hadir hanya sesaat. kapan coba kita terbebas dari dia."Sp lagi sp lagi." ucap Arin keluar dari ruangan BK."Sp lagi Rin?" tanya Hasty sahabat Arin dari SMP, ia sedari tadi menunggu Arin keluar dari ruang BK.Arin membalas pertanyaan hasty dengan senyuman.Ini adalah SP kedua Arin, Arin mendapat surat peringatan yang kedua ini karena ia berkelahi di lapangan dengan Maura, Maura yang cari keributan, Arin yang dapat imbasnya.Arin di fitnah, tidak ada satu pun yang membela dia. Termasuk Hasty sahabat Arin sejak SMP itu hanya bisa tutup mulut saat guru bertanya datang ke TKP.Dengan nama lengkap Arini Wijaya, salah satu siswi di SMA Gemerlang. Dia juga sudah 1 bulan menjabat sebagai Ketua Osis di SMA Gemerlang, itu perdana buat Arin di kehidupannya naik kelas 11 ini. Arin tidak di perlakukan seperti kebanyakan ketos lainnya, yang banyak teman, di segan dan terkenal.Arin sering di bully, dan dijadikan budak atau babu oleh orang orang yang berkuasa disana, dan kadang ia jadi bahan fitnah oleh mereka. Ia di suruh untuk mengerjakan pr dan tugas tugas mereka, mengantarkan makanan dan minuman ke meja mereka, dan kadang Arin di jadikan bahan tawa oleh mereka jika mereka lagi bosan.SMA Gemerlang adalah sekolah yang terfavorit di Jakarta, banyak anak penjabat yang bersekolah disana, dan hanya beberapa anak yang berlatar belakangnya kurang mampu bersekolah disana, termasuk Arini.Walaupun sekolah itu adalah sekolah yang terfavorit, tetapi murid murid disana pada tidak ada yang mau menjabat sebagai ketua osis, termasuk Arin.Karna mereka lebih suka dengan yang namanya kebebasan, tidak ada aturan, makanya mereka memutuskan untuk tidak ada satu pun yang jadi ketua osis. Jika ada, maka orang itu siap siap di hancurkan oleh semuanya, itulah motto Siswa Siswi SMA Gemerlang.Arin menjabat sebagai ketua osis karna paksaan dari kepala sekolah dan guru guru, Arin merupakan anak yang pintar, pandai berdebat, tapi yang guru tidak tau tentang Arin adalah ia tidak pandai membela dirinya jika ia dalam keadaan susah.Dengan ada lagi ketua osis di sekolah itu, hal yang namanya bullying selalu diadakan di sekolah itu. guru dan kepala sekolah tidak tau dengan hal itu. mereka mengandalkan kemampuan Arin untuk memberantas bullying di sekolah itu.Tapi gimana caranya ia memberantas bullying di sekolah itu? Satu satu korban bullying adalah dirinya. Karena ia di pandang sebagai ancaman bagi semua murid di SMA Gemerlang.Setiap hari Senin Arini sibuk dengan kesibukan tugas osis nya, sebelum upacara di mulai, ia harus memastikan semua kelas sudah harus kosong. Berjalan dari ujung ke ujung, berdiri 1 jam untuk upacara, rapat osis 2 jam, mengurus siswa yang bermasalah.Sungguh hari yang melelahkan. Saat pelajaran berlangsung, Arin samar samar mendengar sedikit penjelasan bu guru di depan. Matanya berat, badannya lelah, dari pagi sampai pelajaran ke 3 berlangsung ia bolak balik kesana kesini mengurus urusan yang sudah menjadi kewajibannya."Diketahui Un1 = 8, n1= 3, Un2= 12, n2=5, maka 29 merupakan suku ke...." Guru sedang mengasih contoh soal untuk murid kelas 11mipa3, terpaksa berhenti karena nampak pemandangan yang tidak enak di matanya."ARINI WIJAYA!" Teriak bu guru."Ha Arin bu?" Serentak semuanya madang ke Arin."Rin...Rin...Rin..." Panggil Hasty yang duduk di sebelah Arin. Hasty berusaha membangunkan Arin yang tidur di kelas."Rin bangun dong, bu Ara kesini ntar." Hasty menggoyang - goyangkan bahu Arin, yang sang empu nya tidak terbangun juga.B rak ... .."Eh mamak kau meletup." Latah Arin yang terbangun dari tidurnya karena ngebrakan meja oleh bu Ara."Mamak siapa yang meletup?" Tanya Bu Ara dengan emosi. Arin hanya bisa menundukkan kepalanya."Keluar kamu sekarang Arin." Arin mau tidak mau harus keluar dari kelas. Dengan muka khas baru bangun tidur nya, ia harus berkeliling lagi dari ujung ke ujung menjelajahi sekolah itu.Bosan , satu kata untuk Arin sekarang ini. ya tidak ada yang bisa Arin buat sekarang, tidak ada satupun murid yang sedang berada di luar, kecuali dia."Sepi amat dah." Arin melihat ke kiri ke kanan ke depan dan ke belakang."Aduh mati gue, Pak Mamad lagi di belakang. tau tau aja tu bapak kalau gue lagi di luar, bisa dapat hukuman double ni." Arin mempercepat langkahnya, tanpa ia pikir panjang, ia belok ke arah kiri."Aduh mati gue banyak cowok pulak disana, tapi kalau gue gak kesana bisa kenak hamuk sama pak Mamad." Arin berhenti sekejap untuk berpikir ia harus kemana." Hanya ada satu jalan supaya gue selamat dari hukuman." Arin berlari kearah kumpulan cowok."Woi, gue numpang bersembunyi ya, please." Tanpa ada perkataan dari para cowok cowok itu, Arin langsung berjongkok di belakang pria berbadan gemuk.Arin hanya dengar candaan dari para cowok cowok itu, dengan kehadiran Arin disana tidak mengusik keseruan para cowok cowok itu.Kumpulan cowok cowok di tempat Arin bersembunyi adalah kumpulan cowok berandalan. Yang Arin sendiri tidak tau apakah mereka baik atau jahat, yang terpenting di pikiran Arin sekarang hanyalah selamat dari Pak Mamad.Lama sudah Arin berjongkok disana, ia berdoa semoga Pak Mamad tidak kesini dan menanyakan dirinya dengan para cowok cowok itu. Iya, kalau para cowok itu bisa menyelamatkan dirinya, jika mereka kasih tau kalau Arin disana, kan percuma ia bersembunyi lama lama dari Pak Mamad.Arini mendengar salah satu dari mereka, menyambut kedatangan seseorang, tapi Arin tidak tau siapa, karena pandangannya tertutup oleh pria gemuk."Kok loe baru datang?" Tanya salah satu dari mereka. Yang Arin lihat dari sela sela kecil cowok berambut keriting yang bertanya."Gue tadi lihat Pak Mamad ngarah kesini." Bukan menjawab pertanyaan kawannya, cowok itu malah menjawab lain."Pak Mamad?" Tanya serentak mereka dan saling pandang. Arin yang mendengar penuturan cowok itu langsung tegang di tempat."Dari kalian ada yang buat ulah?" Tanya cowok yang baru datang itu. Semuanya bergeleng serentak dan memandang kearah si gendut."Bukan gue, bukan gue, tapi ni cewek." Si gendut bergeser, menampakan Arin yang nyegir kuda ke cowok yang baru datang itu.Arin berdiri dan merapikan roknya. Arin di tarik oleh cowok yang baru datang itu menjauh dari sana."Aduh...aduh... sakit woi." Arin berusaha melepas genggamannya.Tidak ada tanda tanda kedamaian di mata cowok itu. Arin di dorong ke sudut dinding, ia meringis sikunya tergores dengan dinding yang kasar itu. Kaki Arin sudah bergetar hebat. Ia takut di apa apakan oleh cowok itu. Ia tarik napas, dan keluarkan, mencoba berfikir sehat dengan cowok di depannya."Kenapa sih? Ada apa loe bawa gue kesini?" Tanya Arin bersikap berpikir positif. Tidak ada jawaban dari cowok itu, hanya tatapan datar yang Arin lihat.Datar amat tu muka , batin Arin yang masih megang siku yang terluka itu.Cowok itu tiba tiba menumbuk dinding yang ada di samping Arin. "Loe tau gak, dengan kehadiran loe datang ke markas gue, gue dan teman teman gue merasa gak tenang, karna markas gue sudah di curigai dengan Pak Mamad. Tau gak loe?" Arin yang mendengar bentakan itu langsung terdiam, ia menundukkan kepalanya, yang ia lihat saat ini hanya kakinya yang gak berhenti bergetar.Kumpulan cowok cowok berandalan itu yang melihat Arin di tarik paksa oleh sang ketua mereka, merasakan was was. Sudah terlihat dari tatapan tidak suka sang ketua kepada cewek itu."Gimana ni Far, takut gue Iqbal ngapa ngapain tu cewek." ucap si gendut."Udah tenang semoga ketua tidak berbuat macam macam sama tu cewek, ya walaupun tu orang kalau sudah marah semuanya bisa di hancurkannya sih, ya manataukan si ketua kasih toleransi dengan tu cewek, ya gak gess?" Kata Zafar berusaha membuat teman temannya tenang."Betul tu apa kata Zafar, kita berdoa aja, kalau lama kita samperin mereka." Ucap Bayu.Walaupun mereka berandalan tetapi mereka tidak pernah lepas dari tanggung jawab mereka sebagai orang islam. Sihi calon imam banget dah ni hehe.Perlahan cowok itu maju, semakin lama semakin menipis jarak di antara mereka. Arin bisa merasakan napas bau mint dari cowok di depannya itu. Lama sudah mereka terkunci kontak mata. Arin yang sudah tidak kuat menahan ini, ia memutuskan kontak mata dengan cowok itu."Loe harus tanggung jawab ini semua." Ucap penuh penekanam cowok itu pas di telinga Arin."Maksudnya?" Arin mengarahkan wajahnya ke depan.Cup... ..Arin syock, tak segaja ia mencium pipi cowok itu. Ia kira cowok itu sudah jauh dari nya. Arin mendorong kuat cowok itu sampai terjatuh. Arin membalikan badannya menghadap ke dinding."Iya, loe harus tanggung jawab sebagai babu gue, tidak ada P-E-N-O-L-A-K-A-N." Ucap cowok itu dengan keras. Cowok itu berdiri dan tersenyum miring kepada Arin yang masih di posisi yang sama.Dia adalah Iqbal Prasetyo, si cowok misterius di SMA Gemerlang, ia sebisa mungkin menutup dirinya dengan warga sekolah itu. Dia di sekolah itu menjabat sebagai ketua geng yang bernama The Wolf . Serigala abu abu, yang kapan saja bisa membuat orang di sekitarnya hancur. Apalagi seseorang yang berani menyentuh apa yang sudah menjadi miliki."Loe yakin bal jadikan Arin itu babu loe?" Ucap Zafar, berdecak pinggang."Hmm." Ucap iqbal sesekali melirik jam di tangannya.Sudah 5 menit lewat iqbal menunggu Arin untuk membawakan makanannya, tapi tidak kunjung datang. Teman temannya yang berada disana hanya melihat gerak gerik iqbal yang sudah gelisah."Gelisah amat loe bal, macam nunggu gebetan yang gak kunjung hadir aja." Gurau si rambut keriting, agar mengubah keadaan menjadi normal dan tidak setegang sekarang.Iqbal yang sudah marah besar, ia pergi begitu saja dari markasnya. "Lihat aja loe cupu, habis loe di tangan gue." Gumam iqbal.Saat Arin turun dari tangga ingin menuju ke kantin, tangan nya di tarik oleh seseorang dengan kasar. Ia sudah memberontak, tetapi genggaman itu terlalu kuat untuk di tepisnya."Lepasin." Teriak Arin sambil mengikuti langkah kaki orang itu dan berusaha melepaskan genggaman dari tangan kecil nya.Arin di dorong, dan terjatuh di lantai yang kotor penuh dengar pasir dan kotoran lainnya. Membuat lutut nya berdarah akibat goresan pasir yang kasar, dan hentakan yang kuat membuat kaki nya kaku untuk berdiri."Eh cupu." Jujur Arin tidaklah seperti yang kalian kira, seorang siswi cupu yang memakai kacamata bulat, rambut di kepang 2, dan kutu buku. Julukan itu hanya untuk dirinya yang tidak berani melawan kepada mereka.Arin adalah cewek yang memiliki kulit putih, rambut sepinggang, dan kadang dia memakai make up sedikit.Salah satu dari mereka memegang dagu Arin dan mengangkat nya tinggi tinggi."Kenapa tugas tugas gue salah semua, ha." Teriak cewek berambut panjang yang sering menyampingkan rambutnya.Arin melihat buku yang di lempar ke arah nya dan mengambil buku itu, Arin memandang mereka dengan tatapan sinis, sumpah Arin sudah muak dengan mereka."Licik." batin Arin.Arin mencoba berdiri dan ingin pergi dari sana, tapi pada saat dia sudah setengah berdiri, dia di dorong dengan kuat sampai badan nya terbentur dengan meja di belakang, debu debu mengelilingi nya, membuat dada nya sesak dan sulit menghirup oksigen yang ada."Mau kita apakan ni anak.""Buat dia malu, semalu malunya dari semalam.""Benar tu. Ni udah gue sediain kamera." Mengangkat tinggi tinggi kamera di tangannya. Ucap mereka bergantian, ( Cara, Ratu, Melia. The CaRaMel ).The CaRaMel adalah salah satu musuh terbesar Arin, yang kedua. Yang pertama adalah Maura si tukang fitnah.Arin memang tidak pernah menganggap mereka musuh, tetapi mereka lah yang menganggap Arin musuh terbesarnya. Arin sudah tidak bisa mendengar apa yang mereka omongkan, sesak nafas ini membuat konsetrasi Arin terganggu. Arin menangis sejadi jadi nya di gudang tua itu. Sambil memeluk lutut."Hallo ada orang di dalam." Arin mendengar langkah kaki masuk ke dalam gudang itu dan suara laki laki yang tidak asing baginya. Arin hapus sisa sisa air mata nya dan merangkak kesudut ruangan supaya orang itu tidak mendapatkannya dalam keadaan seperti ini.

Serpihan Memori Singkat
Teen
22 Dec 2025

Serpihan Memori Singkat

Hujan mengguyur Kota Bandung. Aku berteduh di depan sebuah toko kue yang letaknya tidak jauh dari rumahku berada. Di tengah hujan yang kian menderas, tatapanku tertuju pada seorang lelaki yang ada disebrang jalan. Aku pun mencermati gerak-geriknya. Telah sadar, aku memergoki dirinya sedang memotret diriku dengan kamera yang berada digenggamannya. Lantas, aku segera mengalihkan pandanganku darinya.Tak lama kemudian, aku mendengar suara parau yang berdeham tepat di samping kiriku."Hmm..."suara dehaman itu membuatku menoleh dan menaikkan satu halisku seakan berkata 'Apa?'. Lelaki itu tersenyum kepadaku sambil menyapa "Hai." Lalu ia menutup kembali payung berwarna biru yang ia pakai. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ia pun kembali bertanya "Mau kemana?" "Mau pulang,"jawabku tanpa ingin balik bertanya.Perlahan, hujan mulai mereda namun menyisakan gerimis yang berirama menari-nari di atas permukaan tanah. Lelaki itu kembali menatapku lekat dengan senyuman yang mengembang. Kuakui, lelaki itu memang tampan, manik mata berwarna cokelatnya sangat indah, padahal aku bertemu dengannya baru beberapa menit saja. Aku heran mengapa lelaki yang ku kira lima tahun lebih tua dariku itu menghampiri anak SMA seperti diriku ditengah hujan yang deras.Aku menghembuskan napas pelan. Lamunanku tersadarkan ketika ia bertanya "Nama kamu siapa?" Aku menundukan kepalaku dengan sedikit gugup. Entah mengapa ada perasaan aneh menjalar menuju titik perasaanku. "Namaku Sandrina,"ucapku. Tak sadar aku tersenyum disela-sela ucapanku. Lalu aku mengangguk kepadanya, seakan pertanda bahwa aku akan pamit pulang. Namun, langkahku terhenti saat ia menarik tanganku "Pakai payung aku aja?" "Ah, enggak...rumahku dekat dari sini, terimakasih." Lagi-lagi aku menatap kedua bola mata lelaki itu. Manik mata hitam pekat dengan sorot mata teduh membuatku terpikat. "Yakin?"ia kembali bertanya. Aku hanya mengangguk mengiyakan, setelah itu beranjak pergi dari hadapannya. Satu penyesalanku ketika beranjak pergi, aku lupa menanyakan siapa namanya, mungkin karena aku terlalu gugup.Tiba dirumah, aku termangu sambil menatap ke arah luar jendela. Menikmati angin berhembus mengibarkan rambut panjangku. Melihat pohon rindang seakan melambai-lambaikan tangannya, lalu beberapa helai daunnya jatuh berguguran.Suasana hening membuat pikiranku terbang melayang membayangkan sosok paras. Lelaki dengan tatapan teduh yang kutemui siang tadi membuatku terpikat dan tak mau luput dari benakku. "Nak,"suara seseorang yang tak lagi asing dipendengaranku kini membuka pintu kamarku. Seketika lamunanku buyar. "Ada apa, Ma?" Mamaku mendekat ke arahku "Besok ada acara pernikahan saudara kamu, tidurnya jangan terlalu malam ya!jangan lupa makan juga, mama udah masak." Ucap Mamaku, beliau sangat perhatian padaku. "Iya Ma, sebentar lagi." Aku hanya mengiyakan. Lalu Mamaku kembali beranjak pergi dari kamarku.Keesokkan harinya, aku bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan saudaraku yang bernama Arka. Setiba disana, aku duduk pada bangku yang terletak paling depan. Akad nikah pun dimulai. Pandanganku fokus menuju seorang lelaki yang sedang memotret pernikahan Kak Arka. Aku tertegun, senyumanku kembali mengembang. Ternyata Tuhan kembali mempertemukan aku dengan lelaki yang kutemui kemarin siang.Saat aku sedang menatapnya, ia berbalik menatapku dan mengabadikan potret diriku yang sedang girang karena bertemu dengannya lagi.Setelah acaranya selesai, aku melihat Kak Arka sedang berbincang dengan lelaki itu, hal ini membuat rasa penasaranku semakin menggebu. Ku langkahkan kakiku, mendekat ke arahnya. Namun, tetap saja aku tak dapat mendengar dengan jelas perbincangan mereka yang terlihat begitu bisik-bisik seperti membahas hal yang sangat rahasia."Nak,ayo pulang." Ajak Mamaku ketika aku sedang memperhatikan mereka. Akhirnya aku pun mengiyakan karena aku tak mau Mamaku curiga pada diriku yang sedang mengagumi seorang lelaki.Sampai dirumah, aku merebahkan diriku diatas kasur sambil melihat ponselku. Nampaknya seseorang tanpa nama mengirimku sebuah pesan lewat whatsapp. "Hai, Tiara ya?" Aku pun membalasnya "Jangan panggil Tiara, Sandrina aja." Aku baru sadar, mengapa dia memanggilku Tiara? Sedangkan yang memanggilku Tiara hanya keluargaku saja. Pikirku, seseorang itu memang sudah mencari tahu tentang diriku lewat keluargaku."Kamu siapa?"tanyaku. Seseorang tanpa nama itu kembali menjawab "Aku Gatma, seseorang yang bertemu pertama kalinya denganmu saat hujan."Mataku terbelalak membaca kata demi kata yang tertera. Sungguh, aku sangat senang bisa berbicang kembali dengannya.Sejak saat itu hubungan kami semakin dekat, Kak Gatma jadi sering mengunjungi rumahku. Dia sangat ramah, dia mampu menghargaiku walaupun usiaku lebih muda darinya. Hingga akhirnya, ia menyatakan cintanya kepadaku. Satu kalimat yang selalu teringat dalam benakku, bahwa dia tidak akan pernah pergi meninggalkanku. Dia benar-benar berniat serius dan akan menyayangiku serta menerima segala kekuranganku. Aku mempercayai perkataannya.Suatu hari, aku bertemu dengan Kak Gatma, ia mengajakku untuk jalan-jalan di sekitar Bandung, lalu ia mengantarku pulang ke rumah saat senja muncul dari tempat persembunyiannya. Ada yang berbeda dari perlakuan Kak Gatma, ia sempat memeluk erat diriku sembari berkata "Dah, Sandrina."sambil melambaikan tangannya. Seakan-akan kami tidak akan bertemu lagi. Aku pun membalas lambaian tangannya "Dah, Kak Gatma." sambil memperhatikan Kak Gatma yang sedang mengendarai motor sampai ia benar-benar hilang dari penglihatanku.Hari setelah Kak Gatma mengajakku jalan-jalan di Kota Bandung, sikapnya mulai berubah, perhatian dan pedulinya mulai berkurang bahkan ia tidak pernah menghubungiku lagi.Aku hanya bisa menghela napas dan membatin"Ya Tuhan, aku benar-bernar merasa kehilangannya,"sambil menatap ke arah luar jendela.Mamaku yang melihat diriku seperti dalam gelisah pun akhirnya menghampiri diriku yang sedang menatap ke arah luar jendela "Ada masalah ya?" aku menggeleng pelan "Nggak,"jawabku singkat. "Mama lihat Gatma jarang ke rumah lagi, kenapa?" Pertanyaan itu menggores setitik luka dihatiku, membuat bibirku kelu tak sanggup ucap sepatah kata.Aku menghembuskan napas kasar "Dia lagi sibuk kerja," jawabku agar Mamaku tidak curiga padaku yang memikirkan perubahan sikap Gatma. "Ini hari libur, masa iya hari libur masih sibuk kerja?" tanya Mamaku. Perkataan itu membuatku bepikir, aku semakin curiga ada sesuatu yang menyebabkan Kak Gatma berubah. "Oh iya, aku baru ingat sekarang kan hari minggu." Aku menatap Mamaku sambil berpikir apa yang harus aku lakukan.Tak terasa waktu bergulir cepat, bulan dan bintang nampak menghiasi langit malam. Aku merebahkan diriku diatas kasur sambil memegang ponselku, lalu mencoba menghubungi Kak Gatma. Tak lama menunggu, suara seseorang yang asing dipendengaranku menjawab teleponku, suaranya terdengar seperti seorang perempuan."Halo?""Halo, siapa ya?"tanyaku dalam kebingungan."Kamu yang siapa?"ia malah balik bertanya. Aku terdiam sejenak.Detik berikutnya."Aku pacarnya Kak Gatma,"ucapku dengan sangat yakin.Seseorang itu kembali menjawab"Aku Zephyra, calon istrinya Gatma, kamu ga usah ngaku-ngaku jadi pacarnya Gatma!" pekiknya hingga membuat hatiku teriris.Aku tercengang, mencerna kata demi kata yang terlontar darinya. Air mata yang sudah ku bendung kini membuncah membasahi pipiku. Hujan yang mulai berjatuhan seakan menertawakan nasib malang diriku. Aku masih terdiam, sekujur tubuhku kaku seperti patung, bibirku tak sanggup mengucap sepatah kata, aku tidak percaya Kak Gatma telah mengkhianatiku."Halo?" ucap Zephyra lagi.Dengan sekuat hati aku mulai berbicara dengan kalimat terbata-bata karena isak tangisanku "Ng-gak mungkin...Kak Gatma berjanji, dia mau menikahiku, dia gak akan pernah meninggalkanku."Deru napas kian memburu, seseorang bernama Zephyra itu sepertinya marah padaku"Jangan mengada-ngada dan jangan ganggu hubungan aku lagi karena sebentar lagi kita akan menikah!" ucap Zephyra, lagi-lagi menggoreskan luka dihatiku.Aku menghembuskan napas pasrah,dengan sesak didada"Demi apapun gak bermaksud mengganggu hubungan kalian,"lirihku."Maaf, aku gak tau kalau Kak Gatma sudah jadi milik orang." Ucapku lagi.Lalu aku meminta pada Zephyra untuk memberikan ponselnya pada Kak Gatma, dengan tulus aku berkata "Kak Gatma, terimakasih pernah menjadi bagian cerita dalam hidup Sandrina, sampai kapanpun Sandrina gak akan pernah lupa kebaikan Kak Gatma.Walaupun Kak Gatma pergi. Apapun sebab Kak Gatma seperti itu, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk Kakak. Semoga Kak Gatma memilih jalan terbaik dan gak akan pernah melupakan aku, walau hadirku hanya untuk sebatas dikenang. Aku senang pernah mengenal Kakak,walau kenyataanya Allah tidak mengizinkan aku untuk mencintai Kak Gatma selamanya. Maaf Sandrina belum bisa menjadi apa yang Kakak mau, mungkin Zephyra jauh lebih sempurna dari pada aku. Aku ikut senang mendengarnya, selamat berbahagia Kak!""Iya, maaf aku gak bermaksud menyakiti perasaanmu."Detik berikutnya ia kembali berucap "Lupakan saja aku."Perlahan waktu membawanya pergi jauh dari sisiku. Meninggalkan serpihan memori yang membekas dalam ingatan. Kini, aku hanya bisa meratap. Saat langit malam tidak lagi menjadi saksi bisu perbincangan kami, hanya ada kabut menyelimuti kalbu. Jatuh meluruh bersama air mata, serta jerit tangisanku yang membisu.Kenangan itu sering kali melintas dalam benak, aku masih ingat hari saat ia memeluk tubuhku adalah terakhir kalinya, untuk ku dengar suaranya, untuk ku lihat paras wajahnya, untuk ku genggam jemari tangannya seakan ia tak ingin pergi jauh dari sisiku, dan juga untuk menyambut hari-hari penuh rindu. Rindu yang menelusup menuju titik perasaanku kemudian menjalar ke seluruh tubuhku yang kaku, serta mulut yang membisu tak mampu berucap rindu. Sebab, aku tidak punya hak untuk merindu.Mungkin, aku yang keliru akan hadirnya cinta, aku terlalu hanyut terbawa arus dan tatapannya yang memikat. Seharusnya aku sadar, bahwa siapapun mampu mengkianatiku, dan seharusnya tidak ada harapan selain harapan kepada Allah Swt Sang Maha Pencipta."Selamat tinggal kenangan,"batinku sembari memasang senyum keikhlasan. Sebab, bagiku cinta bukan hanya sekedar rasa ingin saling memiliki. Merelakan seseorang memilih kebahagian baru dan jalannya sendiri juga merupakan bagian dari cinta.Tamat

Menampilkan 24 dari 830 cerita Halaman 13 dari 35
Menampilkan 24 cerita