Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Titik Temu
Pernahkah kamu mencintai tapi merasa tak dicintai?Sekian lama berhasil menyita perhatian tapi terkalahkan oleh kebersamaan. Bukan, melainkan kebersamaan dengan dia.Mungkin inilah yang sedang ku alami.Temaram yang sedang terjadi menyita perhatian. Di pantai, kami bediri tegak saling menatap ke dalam dasar bola mata. Perlahan kami tersenyum bersama.Semakin lama, cahaya semakin menusuk ke dalam dasar ingatan kami."Hai" ucapku yang malu-malu saat kini ia melihatku dengan baju basketnya juga beberapa titik keringat di dahi juga tubuhnya.Ia tersenyum dengan menghampiriku, ku berikan ia sebotol mineral yang langsung di teguknya hingga tak bersisa."Gimana? Aku hebatkan di pertandingan kali ini"Aku mengangguk "Kamu selalu hebat. Selamat untuk kemenanganmu" jawabku tulusIa mengusap rambutku, "Tunggu ya, Pita. Aku ganti dulu" ucapnyaSena, lelaki yang kini menyandang status pacaran denganku. Kisah kami seperti remaja lainnya, ia salah satu lelaki tertampan dan populer di sekolah menengah atas yang kedudukannya sebagai ketua tim basket.Sedangkan aku? Tentu saja aku hanya siswi biasa yang tidak terlalu populer atau bahkan bisa dikatakan sedikit populer berkat pacaran dengan Sena.Jangan salah paham, aku murni mencintainya juga dia begitu.Ah aku ingat awal pertemuan hingga kedekatan kami. Itu semua bermula saat hujan turun begitu derasnya ketika pulang sekolah, terpaksa aku menepi di dekat halte bus, aku tidak membawa kendaraan karena kendaraanku masuk bengkel.Ia yang baik hati, menawarkan tumpangannya padaku yang mulanya ku tolak. Tidak enak, kami tidak terlalu dekat, bukan? Namun berkat gadis di samping kemudi yang memaksaku naik, maka mau tidak mau aku naik bersama. Gadis itu bernama Luvi, sahabat dari Sena.Ia sungguh gadis yang cerdas juga menawan. Ia adalah ketua tim chereleader juga bagian dari anggota osis. Menarik bukan?Entah bagaimana, kami menjadi sangat dekat sejak saat itu."Ayo, sayang" ucap Sena, yang menarikku dari awal cerita kami.Aku mengangguk, namun Sena tampak merhatikan sekelilingnya."Luvi?" Tanyaku, ia mengangguk"Ah itu si Luvi duluan, di jemput sama Brian"Ia tampak senang "Woah.. gencar sekali Brian. Semoga mereka cocok ya" balas Sena dengan tawa dan wajah yang semangat dan aku juga tersenyum sambil mengangguk.Sebenarnya, jika jujur aku sedikit meragukan pertemanan antara Sena dan Luvi. Seperti yang kita tahu, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan tanpa perasaan salah satunya. Namun biarpun begitu, mereka sudah bertemu dahulu dibandingkan denganku."Mm.. Sena, kamu tidak cemburu?" Tanyaku ragu. Kini kami sudah mulai berjalan ke area parkir.Dia menyemburkan tawanya "Aku dengan Luvi maksudnya?"Aku hanya mengangguk"Yang benar saja, Pita sayang. Jika memang aku menyukainya tentu sudah dari dulu bukan bersama dia?""Iya sih, tapikan bagaimanapun itu....""Sst.. ah bercandaan kamu gak lucu, sayang. Intinya, aku sudah sama kamu sekarang. Dan cuma kamu." PotongnyaIa membukakan pintu mobil untukku, akupun memasuki mobilnya sementara ia mengitari mobilnya untuk duduk di bangku kemudi."Jadi mau kemana kita, yang?""Aku lapar""Mau makan apa?""Terserah" jawabkuDia tampak berpikir mengetukkan jarinya di kemudi."Mie ayam?" Tanyanya"Enak sih, tapi belum makan nasi.""Nasi padang?""Sedang tidak ingin""Fast food?""Tidak sehat, sayang" balasku lagi"Batagor?""Kan belum makan nasi, yang""Oh aku tahu, nasi goreng mang oleh" dengan semangat"Tenggorokan lagi gak enak, ntar batuk""Jadi apa dong?""Sudah deh, fast food di depan jalan itu saja, biar cepat" balasku dengan senyum lebarIa tampak mengusap wajah sambil bergumam "Untung cinta" lalu tak lupa mengecup pipiku.Akhirnya kami memilih makanan fast food di depan sana, renyahnya ayam goreng dengan tepung memanjakan lidahku. Aku memang penyuka makanan jenis fast food. Sedangkan Sena, penyuka segala jika bersama denganku pastinya.Memulai hubungan dari kelas 2 yang kini kami telah menduduki kelas 3 semester akhir membuat kami saling memahami satu dengan lain. Mengenai Luvi aku terkadang sedikit cemburu tapi selalu berusaha untuk tampak biasa saja. Lagi pula mereka memang sudah dekat yang ku ketahui sedari awal masuk sekolah dulu.Bahkan yang ku ketahui, ibu mereka saling berteman dekat juga rumah yang searah. Syukurlah antara ibu itu tidak menampilkan drama perjodohan karena persahabatan sebab itu akan merepotkan urusan percintaanku dengan Sena. Kesimpulannya, selama itu tidak terjadi maka hatiku aman, bukan?Usai makan Sena langsung mengantarkanku pulang kerumah. Begitu tiba akupun langsung bergegas memasuki kamar untuk berganti pakaian dan terlelap sejenak hingga panggilan ibu membangunkanku dari mimpiku yang indah.Sialan! Bisa-bisanya aku bermimpi menikah dengan Sena di sore hari begini.Wah... Sepertinya aku memang sudah terserang virus bucin."Ada apa, Ma?" Tanyaku"Itu hp kamu bunyi terus menerus siapa tau yang menelpon penting." Ibu menggelengkan kepalanya "Tidur sudah seperti orang pingsan"Aku tergelak mendengar omelan di akhir kalimat ibuku. Ku akui memang itu kebiasan burukku."Yasudah, angkat telpon lalu mandi setelah itu kita makan malam bersama""Ay... Ay. Kapten!" Balasku.Segera aku mengecek ponselku yang tergeletak di nakas.Ada 10 panggilan tak terjawab dari Sena. Juga beberapa pesannya.Komandanku♥️Sayang.. KangenEh.. kita baru ketemu. Tapi gimana dong?Gak diangkat pasti tidurOhh.. Aku tau, kamukan tidur seperti orang mati.Aku tertawa geli melihat pesannya yang tak kunjung ku balas. Satu pesan terakhir yang membuat aku sedikit was-was tapi mencoba biasa saja.Aku mengantar Luvi sebentar ya, sayang. Belanja disuruh bundanya. Tidak lama.Laluku balas dengan kata " O ke, hati-hati, sayang. Tipsam sama Luvi ya"Setelah balasan iya darinya aku mandi dan makan bersama orang tuaku. Sedikit membahas beberapa hal untuk melanjutkan pendidikan apa setelah masa abu-abu usai. Orang tuaku, selalu berkata bahwa jangan pikirkan biaya, tugas anak adalah belajar saja. Biaya urusan kami dan yang terpenting jangan permalukan orang tua.Aku memilih untuk mengambil hukum saja. Aku memang berasal dari kelas jurusan IPA tapi aku ingin menjadi Jaksa. Itupun kuliah di sini saja tanpa keluar negara. Mungkin aku akan memilih universitas terbaik di negeri saja.Usai membahas ku lihat ponselku berbunyi menampilkan nama Luvi, sepertinya mereka sudah selesai belanja.Kami memang menjadi dekat bahkan kami selalu curhat bersama, aku yakin ia ingin bercerita tentang Brian.Segera ku angat panggilannya"Hallo" ucapku" Pitaaacuuuu " teriaknya gembira, membuatku sedikit menjauhkan ponselku"Ia, Vi. Budek ni teriak-teriak" balasku" Seriusan demi apa, Brian nembak aku tadi. Gilee banget, gak sih?" Nahkan dia memang akan curhat tentang semua gebetannya padaku tapi tampaknya Brian yang memenangkan hatinya"Wah.. Terus gimana?"" Ya terima dong. Gilee aja aku nolak. Uhh.. mana dia sweet banget bikin meleleh ketika nembaknya" ucapnya dengan lebayAku tertawa singkat "Selamat my luv luv nya aku. Jangan lupa PJ ya" balasku dengan semangat" Eh tapikan, Pit. Masa Sena bilang Brian tidak sebaik pikiran kita"Tunggu, bukankah Sena mendoakan semoga mereka cocok ya"Masa sih? Bukannya Sena biasa suka ya menjodoh-jodohkan kalian malahan"" Nah iya, bener, Pit. Tapi ketika saat Sena mengantarkanku tadi dia bilang melihat Brian bersama perempuan." Jelasnya di seberang sana"Mungkin adik atau kakak atau sodara kali, Luv"" Sepakat. Aku juga bilang gitu sama Sena.""Lalu apa katanya?"" Dia cuma menghendikan bahunya aja tanda tidak peduli""Yasudahlah, intinya kembali sama luvi aja gimananya. Nanti tanya aja sama Brian biar enak jugakan daripada prasangka buruk" jelasku" Iya bener, Pit. Ohiya..."Selanjutnya dilanjutkan dengan percakapan kami yang lainnya hingga tak terasa sudah malam dan kami mengakhirinya karena mengantuk.Keesokan harinya libur, Sena mengajakku untuk berjalan-jalan ala remaja biasa. Menghabiskan waktu bersamanya minus Luvi karena ia juga berjalan bersama Brian yang ia tidak mau main bersama. Katanya nanti saja baru juga jadian pengen berduaan dulu."Wah.. warna lipstiknya bagus ya" ucapku seraya melihat lipstik baru kubeli yang di balas tawa kecil oleh Sena."Sena, bagaimana? Sudah menentukan pilihan lanjut kemana" tanyaku kemudianSaat ini kami sedang di pusat perbelanjaan yang kini sedang makan di restoran setelah lelah berputar-putar juga menonton film."Sepertinya aku lanjut ke Harvard deh, yang. Kembali di pilihan utama. Mama Papa juga ingin begitu"Ya Sena memang pernah mengatakan ini, Sena anak tunggal yang tentunya kedua orang tuanya ingin Sena menjadi penerusnya. Salah satunya melalui pendidikan diluar negeri. Saat itu ia bercerita masih bingung namun kini kutahu ia telah mantap dengan pilihannya berbeda denganku yang hanya ingin kuliah di dalam negeri saja."Artinya kita bakalan LDR" jawabkuSena tertawa singkat lalu mengacak rambutku, menyuapkan potongan steak padaku yang langsung kuterima "Hanya sementara. Libur nanti kitakan bisa bertemu, sayang"Aku menghela nafas, "Bagaimana jika kamu selingkuh dengan bule disana?"Sena semakin tertawa "Seleraku masih lokal, sayang."Tak urung aku tersenyum, "Yasudah deh""Kamu sudah bulat memilih hukum? Jadi jaksa" tanyanyaAku mengangguk antusias. "Tentu saja, sudah ada beberapa referensi sih. Tapi sepertinya aku lebih tertarik ke Sumatera, kampus USU. Sepertinya menarik kalau aku bisa kuliah disana. Lagipula aku juga bisa hidup mandiri tanpa terlalu jauh kan? Ya setidaknya bukan diluar negeri" jelasku"Serius? Banyak kampus bagus di pulau jawa padahal seperti kampus...""Iya, iya, sayang. Aku tau, tapi aku tertarik dengan kota Medan. Kampus USU. Aku lebih tertarik disana." PotongkuIa menganggukkan kepalanya, "Oke. Yang terpenting selalu jaga hati kita ya" putusnya lalu aku mengangguk dan kami bercerita ringan tentang hal lainnya, layaknya pasangan mabuk asmara lainnya.Selang beberapa bulan akhirnya, hari dimana kami tunggu telah tiba. Kami semua telah dinyatakan lulus. Masa putih abu-abu telah usai, digantian dengan kami yang memilih langkah mana yang kami ambil.Malam ini adalah malam prom nigth , malam pesta kelulusan kami. Tentu saja malam ini aku berpasangan dengan Sena, Luvi dengan Brian, pacarnya.Kami sedang menikmati alunan syahdu dengan gerakan ikut alunan juga tangan saling menggenggam pasangan. Mungkin esok aku dan Sena akan terpisah dengan jarak, perbedaan waktu dan tempat karena menuntut ilmu pendidikan untuk menjadi layak bersama.Dan betapa senangnya, aku dan Sena terpilih menjadi raja dan ratu malam ini.Lepas dari berdansa, aku kembali duduk di meja awal kedatanganku disini. Menikmati sedikit makanan ringan, seraya menyesap jus aku mengedarkan pandangan ke sekitar lalu tersenyum. Masa putih abu-abu yang menyenangkan.Terlihat Luvi yang tertawa gembira bersama Brian, aku berharap ia bahagia selalu. Ku tatap Sena diujung sana, ia berbincang seru bersama temannya. Aku sudah cukup lelah karena sedari awal hadir aku sudah berbincang seru bersama yang lainnya.Tak lama ponselku berdenting, nama Luvi tertera mengatakan bahwa Ia akan pulang duluan.Ku lihat ia berjalan keluar bersama Brian dengan tangan tertaut dengan senyum mengukir.Aku melirik arloji ternyata sudah cukup malam, usapan di rambut membuatku menoleh ternyata Sena sudah kembali ke meja kami."Sudah malam, bagaimana kita kembali saja"Aku mengangguk "Luvi dimana?" Tanyanya karena memang kami datang bersama"Ah iya, tadi Luvi bilang pulang duluan sama Brian. Barusan saja."Ia mengangguk "Yasudah, ayo"Kami berjalan menuju parkiran lalu masuk ke dalam mobil, mulai menjalankan mobilnya perlahan.Percakapan sederhana mulai tercipta, mungkin usai ini kami akan menjalani LDR, tak masalah bagiku asal kami saling menjaga hati.Hingga dering ponsel Sena berbunyi, ia langsung mengangkatnya"Ya, Vi" ucapnya, aku menoleh ternyata Luvi yang menghubungi."Apa!" Ucapnya sambil melirik ke arahku, "Katakan kamu dimana?" Tambahnya, lalu membelokkan setir mobil ke arah balik"Luvi kenapa?" Tanyaku penuh kekhawatiran"Sayang, aku turunin disini. Tidak apa?"Aku juga menatapnya penuh khawatir, ini sudah malam aku juga sedikit takut."Ada apa, Sena?""Luvi dilecehkan sama Brian. Aku ingin menjemputnya. Aku pesankan taksi online saja ya, aku juga gak tega ninggalin kamu""Aku ikut" balasku"Pita, tapi...""Sudahlah Sena, ayo cepat. Luvi butuh bantuan kita" tukaskuIa menghela nafas, "Baiklah" balasnya sambil menambah kecepatanDalam hati aku merapalkan doa semoga Luvi baik-baik saja disana. Aku tidak habis pikir, bagaimana Brian lelaki baik itu melecehkan Luvi. Sungguh ini diluar dugaanku. Brian adalah lelaki baik juga dari keluarga baik, tapi apa yang terjadi padanya sehingga ia seperti itu.Hubungan pertemanan kami juga cukup baik, sedikit banyaknya aku mengerti dia tidak akan pernah berbuat buruk pada wanita.Bahkan terkadang ia membantu Sesil, wanita seangkatan kami yang sering dibully. Sungguh apa yang terjadi?Hingga kami tiba di sekolah, langkahku berlari terseok-seok mengikuti langkah Sena ke arah belakang sekolah.Terlihat dari sana, adegan tarik menarik antara Brian dan Luvi, kancing teratas gaun Luvi juga sedikit terlepas.Sena langsung menarik Brian dan melayangkan pukulan bertubi-tubi.Aku mendekat pada Luvi langsung memeluknya, Luvi terisak-isak di pelukanku.Aku menenangkannya, mengusap punggungnya berharap bisa meredakan sesak di jiwanya. "Aku takut, Sen" gumamnya yang cukup ku dengar jelas meski pelan, padahal aku yang sedang memeluknya. Mungkin dia syok.Aku terus mengusap "Tidak apa, kamu sudah aman sama kami" ucapkuLalu dengan tarikan sedikit tersentak, tanpa aba-aba Sena langsung menarik Luvi kedalam pelukannya dengan erat."Kamu tidak apa-apakan? Kamu sudah aman sekarang sama aku"Tangis Luvi semakin nyaring, ia menganggukkan kepalanya "Sena, aku takut" paraunyaIa masih menangis sesenggukan dalam dekapan sena, ku lihat Sena mencium puncak kepalanya, melihatnya hatiku seperti diremas.Suara batuk dari Brian mengalihkan pandanganku terhadapnya, tampak ia terkapar dengan beberapa luka dan darah. Itu pasti sakit sekali.Ia bangkit duduk, memegangi perutnya dan terbatuk kembali."Kau lihatkan mereka. Itu yang ku rasakan" aku menatap Brian mengangkat alis tidak mengerti maksud perkataannya, tapi aku menatap Sena dan Luvi lalu kembali memandang Brian."Aku tidak akan melakukan hal serendah ini, hanya aku harus berpura melakukannya agar semuanya jelas"Aku sungguh tidak mengerti maksud perkataannya."Tidak ada kalimat pembenaran untukmu" balasku sambil menatap Sena dan Luvi yang kini sedang terduduk saling mengusap menenangkan."Mereka saling mencintai. Kita hanyalah penghalang mereka" ucapnya lagi dengan tertatih "Tapi terserah kau saja"Aku menatap kembali ke arah Sena dan Luvi. Mereka bahkan tidak menghiraukan aku disini, perlakuan Sena saat menarik Luvi tadi juga tidak mempedulikan keberadaanku.Menatap mereka begini, membuatku tertampar kenyataan bahwa tak ada pertemanan antara lelaki dan perempuan tanpa cinta di dalamnya.Mungkin mereka bisa saja mengelak, tidak ada perjodohan ataupun semacamnya, tapi lelaki dan perempuan bersama selama bertahun-tahun menumbuhkan rasa tanpa disadari.Tak sadar, air mataku menetes, kenapa sesakit ini rasanya.Aku berjalan ke arah Sena dan Luvi. "Luvi, kamu baik-baik sajakan?" Tanyaku sambil duduk disebelahnya dan ia hanya mengangguk.Lalu Sena mengajak kami pulang dengan merangkul Luvi dan aku mengekori di belakang mereka. Betapa bodohnya aku, kenapa baru benar-benar sadar."Pita, duduk di belakang tidak apakan? Luvi di depan" ucap SenaAku mendongak menatapnya sambil menggigit bibirku berusaha menahan sesak, tapi juga mengangguk "Ah, baiklah" jawabku, kenapa jadi mellow beginiUsai beberapa malam itu aku terus berpikir mengenai hubungan kami, bahkan Sena selalu menghibur dan bersama Luvi. Mereka bahkan lupa jika hari ini adalah jadwal keberangkatanku untuk ke Medan karena cita-citaku. Tak apa setidaknya, aku sudah mengingatkan melalui pesan singkat.Saat aku sudah di bandara menunggu jadwal keberangkatan, Sena memanggilku juga disana bersama Luvi."Sayang, maaf aku lupa sampai tidak mengantarmu" ucapnya, orang tuaku sudah kembali karena ada urusan mendadak"Tidak apa, tadi aku diantar sama orang tuaku kok""Pita, maaf aku juga lupa" ungkapnya ia memelukku "Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu"Aku menganggukkan kepalaku. Lalu aku menghampiri Sena, "Maaf ya, selama ini aku kurang peka dengan hubungan kalian""Kamu ngomong apa sih?" Tanya Sena"Kamu dengan Luvi. Hubungan kita sampai sini saja ya. Kalian harus mulai peka terhadap satu sama lain""Pita, aku dan Sena hanya..."Aku menggeleng, "Aku tahu kamu, Vi. Kamu harus percaya sama aku." Potongku cepat, sialnya air mataku menetesSena memelukku, "Maafin aku.""Suatu hari nanti kita bertemu, kita akan jadi orang asing. Jangan tegur aku jika kamu bisa" tukasku menatapnya namun dia menggeleng.Suara keberangkatanku diumumkan, aku mulai berjalan masuk tanpa menoleh ke belakang lagi, tak ingin mendengarkan ucapan Sena maupun Luvi. Aku sudah berusaha merelakan.Bahkan saat aku kuliah di Medan, tepatnya di semester akhir, aku bertemu dengan Brian. Ia hanya sedang berlibur beberapa hari ke rumah saudaranya, bertemu denganku yang sedang jalan ke mall di Medan. Percakapan singkat kami terjadi, mengapa dia berbuat seperti itu pada Luvi.Bahkan aku juga mempertanyakan perempuan yang pernah dibicarakan Luvi kala itu, tapi Brian hanya menjawab ia adalah sepupunya yang di Medan ini.faktanya saat itu, ia berusaha meyakinkan Luvi bahwa Sena dan Luvi saling mencintai namun Luvi selalu menyangkal. Hingga ia berpura mengajak Luvi untuk melakukannya, Luvi berlari menolak dan ia menelpon Sena. Brian memberikan sedikit waktu pada Luvi hingga kami datang ia segera menarik Luvi berpura akan melakukannya.Dan ku dengar darinya, jika Luvi berangkat ke Amerika lalu menikah dengan teman di kampusnya itu sesama pelajar indonesia. Sejak saat itu aku memang memutuskan hubungan dengan mereka.Kini, saat ini, aku tertarik dari khayalanku di masa lalu.Kini di hadapanku tampak Sena, kami saling menatap di tepi pantai ini, sudah bertahun-tahun berlalu tapi wajahnya masih juga rupawan, sinar senja yang memantul menjadi saksi bisu kami bertemu.Mungkin sudah 6 tahun sejak pertemuan terakhir di bandara itu, namun dilihat ia semakin tampan saja, tubuhnya juga masih tegap sama seperti dulu. Tatanan rambutnya sedikit berubah tapi tak jauh."Mama..." Panggil anakku, Devan berusia 2 tahun.Aku menoleh langsung mengangkatnya ke gendonganku, "Papa beliin kita es krim" adunya padakuTak lama suamiku, Arta. Datang menghampiriku "Ayo kita kembali ke hotel, anginnya mulai dingin" Aku mengangguk mengiyakan, Devan di ambil alih oleh Arta. Kami memang sedang berlibur di Bali.Aku kembali sejenak menatap Sena yang sepertinya ingin menyapaku tapi ia ragu. Saat aku berbalik berjalan, ada suara lembut menyapa di telingaku"Ih.. Sena aku cari kemana-mana ternyata disini. Ayo kitakan baru saja menikah. Jadi harus bersama terus"Aku menolehkan kembali kepalaku sejenak menatap mereka, menyunggingkan senyuman padanya dan di balas anggukan senyuman pula untukku.Pada akhirnya, kami hanyalah seorang figuran dalam kisah kehidupan kami.Sena yang ku kira adalah tokoh utama dalam ceritaku, juga Luvi sahabat tokoh utama, ternyata mereka hanya figuran. Pemanis cerita cinta singkat kami.Di masa putih abu-abu.End
Menyekap Rasa 2
Aku berjalan mengikuti langkahnya, ia cepat sekali berjalan. Ini sudah malam dan aku sama sekali tidak mengetahui tempat ini, lebih tepatnya pertama kali datang kesini.Suara burung gagak menambah bulu kudukku semakin naik, belum lagi angin berhembus menggerakkan dedahanan di sekeliling yang menciptakan sensasi aneh di malam hari. Oh ayolah, ini sudah pukul 10 malam."Renal, kamu gak lagi berusaha buat ninggalin aku, kan?"Tadi kami ada urusan meninjau lapangan bersama, lokasi ini cukup seram karena banyak pepohonan. Kabarnya, ini akan dijadikan tempat wisata asri. Harusnya memang tadi siang kami sudah sampai tapi akibat beberapa kendala jadi sampai malam kami baru selesai. Belum lagi menunggu para petinggi lainnya, sungguh melelahkan."Oh ayolah Tasya, lihat mobilnya terparkir di sana. Udaranya dingin"Aku menepuk keningku, benar. Kenapa aku saat ini jadi penakut sih.Langsung ku bergegas berlari menuju mobil Renal "Cepat buka, Renal!" TeriakkuAkhirnya lega sekali sudah di dalam mobil.Renal segera menghidupkan mesinnya, dan mulai merangkak perlahan meninggalkan proyek."Huh.. Lega banget" desahku"Tumben, biasanya kamu pemberani"Aku terkikik geli, mungkin ini akibat aku sering menonton maupun membaca kisah horor "Penakutkan manusiawi" tampikkuIa hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap fokus menyetir."Sya, makan dulu ya sebelum cari hotel. Laper juga ni""Oke. Aku juga laper banget sebenernya cuma malu aja mau bilang" ucapku sambil tertawaDiapun ikut tertawa "Gayaaa syekali anda""Itu aja nasi goreng, enak deh kayaknya malam-malam gini" sarankuDi depan sana terdapat beberapa gerobak penjual makanan, Renal memberhentikan mobilnya kamipun segera turun.Memesan nasi goreng dengan pelengkap minum teh manis hangat."Sudah seperti orang tua, minum kita teh manis" candakuRenal tertawa "Ngejek akukan? Kamu kan tau aku suka ngeteh"Ya aku tahu, karena sedari dulu aku sudah berteman dengan Renal.Tak lama pesananpun datang dan kami langsung melahapnya, kelaparan tentu saja melanda kami jika dari tadi kami belum sempat makan."Loh, Tasya Renal" ucap seorang perempuan menghampiri kami"Eh. Ya ampun. Windy, kan?" TanyakuIa mengangguk antusias "kalian kok bisa sampai sini? Jauh banget mainnya sampe Bandung. Padahal di Jakarta juga banyak yang jual nasi goreng" ucapnya sambil tertawaWindy tetaplah Windy, dia adalah teman SMA kami. Orangnya seperti ini, suka sekali berbicara tanpa jeda. Tapi tak urung ia baik hati. Saat di Jakarta dulu ia menemani neneknya, namun setelah neneknya tiada, ia kembali ke Bandung."Oh aku tahu, kalian lagi Honeymoon ya? Parah sih, nikah gak ngundang aku"Wah... Ternyata dia tidak berubah. Masih saja suka menyimpulkan tanpa sebab dan masih belum memberi cela untuk kami menjawab"Kamu apa kabar, Wind?" Tanya Renal"Sehat dong" jawabnya "Kalian juga sehatkan?" Tambahnya"Sehat juga ni. Seneng deh bisa ketemu kamu disini" ucapku"Eh kalian honeymoon kenapa bajunya formal banget. Pake kemeja, celana bahan, blazer, apa-apan itu?"Aku tertawa geli "Kami tadi ada kerjaan, Wind" balasku, Renal juga tertawa geli tapi tidak menjelaskan"Oh sweet banget kalian. SD, SMP, SMA, kuliah sampe kerjaanpun barengan""Kita belum nikah, Wind" jelasku padanya" What ! Ih Renal kok gitu" cecar Windy"Aduh.. Wind. Pusing aku. Tanya aja sendiri sama Tasya." Balas Renal"Ah gak seru Tasya, aku aja bisa liat loh Renal terbaik." Ucapnya "Tapi tenang Renal, aku jomblo ini. Baru putus. Kalau Tasya gak peka. Bisa banget sama aku. Apalagi kamu juga jomblokan? Makin seneng akutuh" tambahnya sambil tertawa"Boleh. Sini deh no wa kamu"Hah! Jawaban apa itu Renal. Katanya kamu mau berjuang buat aku, kok begitu.Seperti dikatakan Windy, aku dan Renal bersahabat sedari dulu. SD, SMP, SMA, Kuliah hingga bekerja aku selalu terlibat bersamanya, selain itu rumah kami berdekatan. Berbicara tentang Renal, saat itu Renal menyatakan perasaannya padaku ketika tak lama aku bermasalah dengan pacarku, tepatnya mantan pacarku.Bisa dibilang waktu yang tidak tepat, tapi begitulah faktanya. Mengingat hal itu, Roki aka mantanku pasti sudah bertunangan dengan Caca, anak teman ibunya.Menyebalkan bukan? Dan Renal katanya akan berusaha membuatku menerimanya tapi kenapa malah begini.Renal itu memang cuek, terkesan tidak peduli tapi sejujurnya dia orang yang humble juga hangat. Kesan yang sulit ditemukan pada orang lain dan itu yang membuatku bertahan untuk selalu berteman padanya." Tenkyu , Ren." Balas Windy ku lihat ia mengambil ponselnya dari Renal."Eh aku juga mau no kamu" sahutku sambil menyerahkan ponselku "No kamu gantikan" tambahkuWindy tertawa "Iya, ponsel aku hancur setelah di banting mantanku dulu, bukan mantan yang ini ya. Trus hilang kontak sama kalian" ia dengan cepat mengetikkan no nya padakuSegera ku hubungi no itu lalu berkata "Itu no aku""Yauda aku duluan ya." pamitnya berjalan, tapi tak lama memalingkan wajahnya pada kami "Renal, nanti aku hubungi kamu ya." TambahnyaRenal tertawa lalu mengangguk sambil mengacungkan ibu jarinya.Aku menggelengkan wajahku "Dari dulu Windy gak berubah ya. Tetap aja lucu""Tapi Windy banyak berubah ya" Ucap RenalAku melihat ke arahnya, ku lihat Renal masih melihat Windy yang masuk ke dalam mobilnya "Makin cantik ya" lalu kembali melahap nasi gorengnyaAku mengangguk, benar Windy memang makin cantik. Aku kembali melahap nasi gorengku juga.Tak lama, acar berpindah ke piringku. Tentu saja Renal pelakunya. Aku tersenyum sejenak, "Terima kasih"Aku memang sangat menyukai acar jika makan nasi goreng."Dihabiskan. Setelah ini ga ada drama lapar tengah malam ya, Sya"Aku terbahak lalu menggoyangkan bahuku mengenai tubuhnya "Ah Renal.. Suka gitu" ia juga ikut tertawa sambil mengambilkan tisu mengelap sudut bibirku.Akhirnya kamipun selesai, segera mencari hotel terdekat karena tubuh kami memang sangat letih. Ini adalah malam sabtu, besok libur tentu saja. Tapi pulang ke rumah juga bukan pilihan yang tepat karena seharian ini kami sudah sangat bekerja keras ditambah hujan lebat mengguyur jalanan.Akhirnya kami menemukan sebuah hotel tidak besar lebih tepatnya seperti motel. Aku dan Renal segera masuk, tak sabar ingin merebahkan tubuh. Menunggu Renal memesan kamar."Ayo, Sya." Ucap Renal, ku lihat resepsionis tersenyum meledekku. Entahlah mungkin hanya firasatku"Kamar berapa? Letih banget aku"Renal menggaruk tengkuknya "Sya, jangan marah. Kamar sisa 1 jadi""Ha? Terus gimana?""Ya gimana? Sudah letih banget kalau kita keluar lagikan"Aku menganggukkan kepala, ya sudahlah. Lagipula tidak akan terjadi apa-apa juga antara aku dengan Renal. Aku tahu banget siapa dia. Dulu juga kami pernah berbagi kamar saat SMA, aku yang takut menginap dirumahnya lalu malah menonton horror. Dia bisa menjaga batasan, malah aku yang tidur tanpa sengaja memeluknya, memalukan.Begitu tiba di kamar, aku melepaskan sepatuku melompat ke kasur. "Ya ampun lega banget" desahku"Bersih-bersih dulu kali, Sya."Aku menepuk sisi ranjangku, "Sini deh, Ren. Nyaman banget dijamin malas bersih-bersih"Renal tertawa geli "Aku bisa khilaf, Sya. Kamu tidak lupakan mengenai perasaanku?" BalasnyaAku terdiam mengatupkan bibirku rapat, aku sedikit melupakan itu karena kami biasa bercanda ria. Ku tatap wajahnya yang sepertinya memang tidak bercanda hanya saja terselip nada canda saat ia mengatakannya."Ren... Mm.. Aku"Cup.Ia mengecup keningku membuatku terdiam sejenak lalu menatapnya. Ia hanya tersenyum lalu berlalu memasuki kamar mandi.Aku menutup wajahku dengan tangan, lalu menelungkupkan wajahku pada bantal menggoyang-goyangkan kedua kakiku.Oh kenapa aku salting?Dulu gak begini deh perasaan.Sudah deh mending tidur aja, rilex Tasya.---Dering ponsel mengusik tidur lelapku, posisi ini beneran nyaman. Aku terbangun dengan posisi memeluk Renal, tanganku mencari-cari ponsel lalu melihat siapa yang menghubungi sepagi weekend ku ini.Aku bangkit duduk di ranjang menghela nafas karena terpampang nama Roki di layar ponselku.Huh! Ada apa sihKu akui beberapa waktu belakangan ini dia selalu menghubungiku tapi selalu ku abaikan.Ayolah.. Dia sudah bertunangan. Untuk apa lagi?"Kenapa gak di angkat sih, Sya? Berisik banget" suara serak Renal mengintrupsi, aku menoleh ke arahnya"Roki" jawabkuDiapun bangkit duduk, "Mau apa lagi sih dia? Gak bosen apa" tersirat nada cemburu di wajahnya sedikit menggelitik hatiku membuatku senangEh tadi aku bilang apa? Senang?Tapi kenapa?Gak, gak, gak. Aku gak boleh begitukan"Angkat ajalah, siapa tau penting" sarannyaAku menekannya, memutuskan untuk menjawabnya"Ya?" Tanyaku" Hallo, Sya. Syukurlah kamu angkat ""Ada apa, Ki?"" Bisa kita bertemu sebentar?"Aku mengerutkan glabelaku, "Untuk?"" Ada hal penting, boleh?"Aku menghela nafas, "Roki, aku rasa kita sudah berakhir, aku tidak enak pada Caca. Jadi tolong kita akhiri saja" putusku" Sya, Aku masih mencin " ku akhiri sepihak, aku sudah tahu apa yang ingin dia sampaikan.Jika dia memang benar-benar tidak bisa bersama Caca, lalu kenapa melanjutkan? Itukan sudah keputusannya dari awal."Sya.. Aku rasa kamu perlu berdamai dengan keadaan." Ucap Renal"Aku sudah berdamai, Ren. Aku juga sudah mulai mengikhlaskannya kalau kamu lupa, tapi lihatlah"Ia memegang bahuku, mengarahkannya ke hadapannya "Bilang sama aku, kalau kamu sudah gak cinta sama dia?"Aku terdiam, tidak mengerti harus berkata apa.Tapi jika ditanya perasaanku, bohong sekali jika aku berkata tidak mencintainya. Sudah 3 bulan lamanya, tapi aku rasa perasaan ini masih ada.Tapi aku rasa juga tidak. Sungguh aku tidak mengerti.Dia melepaskan tangannya, "Gak bisa jawab? Bimbang?" Lalu ia tertawa kecil tapi terlihat terluka dan sungguh aku tak menginginkan itu"Kamu masih cinta sama dia, Sya. Jadi untuk apa membohongi diri? Temuilah Roki" tambahnya lalu bangkit menuju kamar mandi meninggalkanku yang termangu akan jawabannya.--Sudah dua minggu ini Renal seperti menghindariku. Apakah aku ada salah dengannya?Sepulang dari kegiatan proyek lalu sepertinya kami masih baik-baik saja.Tadi ketika aku mengetuk ruangannya, berniat untuk mengajaknya makan siang tapi ia menolak mengatakan sudah ada janji dengan seseorang.Satu hal baru yang kini ku ketahui, sekarang ia adalah direktur di perusahaan ini. Lebih tepatnya ternyata ini salah satu anak perusahaan milik kakeknya. Ia tidak pernah menceritakan ini, mungkin karena aku bukan siapa-siapanya kan?Lupakan soal ini, yang paling menyebalkan adalah ia janji makan siang dengan Windy. Ah sedekat apa mereka sekarang ini? Bukankah baru bertemu dua minggu yang lalu.Tentu saja, mereka sudah bertukar nomor ponsel.Dan kini aku sedang di cafe yang sama dengan mereka, cafe yang tidak jauh dari kantor. Memandang mereka yang tengah asik berbincang.Jangan katakan aku mengikutinya, sudah ku katakan bahwa ini letaknya tak jauh dari kantor.Tapi Windy kan temanku juga, kenapa mereka tidak mengajakku?Kenapa juga Renal merahasiakannya? Biasa juga kami selalu berbagi cerita.Dari mulai zaman sekolah hingga kini, kami selalu bersama. Berbagi keseharian.Aku menghela nafas, untuk apa juga aku bertanya-tanya. Biasa juga tidak begini. Saat bersama mantan-mantanku juga aku tidak peduli dengannya, karena dia juga akan selalu disampingku.Ah sial. Ternyata aku baru sadar temanku hanya Renal.Aku menunduk memegang bibir cangkir tehku, mengusapnya perlahan. Menstruasi membuatku mellow."Kebiasaan kamu gak berubah ya, Sya?"Aku kembali mendongak, "Roki?"Ia duduk di hadapanku, "Senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu. Akhir-akhir ini aku selalu menunggu kamu. Tapi aku lupa kamukan lebih sering makan di kantin kantor"Aku hanya diam, ada benarnya. Aku biasa malas untuk keluar tapi kini entahlah.Roki memegang tanganku yang langsung ku tarik. Aku menggeleng tanpa kata."Sya, please..." MohonnyaAku menggeleng "Maaf, Ki. Aku gak bisa'"Aku menyesal, Sya. Aku uda batalin sama Caca."Aku menatapnya tidak percaya, sependek itu pemikirannya. Aku mendengus tak percaya, mengalihkan ke arah lain yang sialnya malah terlihat kemesraan antara Renal dan Windy.Hey apa-apaan itu Renal kenapa mengusap sudut bibir Windy? Ada tisu kali bisa sendiri. Biasa juga Renal begitu padaku. Sedikit aneh melihat Renal begitu, biasa juga sama aku."Sya, Aku ingin kita seperti dahulu" ucap Roki lagi."Ki, harusnya itu yang kamu katakan dahulu. Kemudian, ibumu juga tidak merestui kita. Kamu paham gak sih? Ibumu maunya Caca yang menjadi menantunya." Ucapku menggebu-gebu, lumayan untuk pelampiasan amarahku.Eh tapi kenapa juga?"Tapi aku sadar, aku bener-bener maunya kamu, Sya. Tolong pertimbangkan lagi"Kini aku sadar, perasaanku pada Roki sudah hilang tak tersisa entah pergi kemana. Melihatnya sungguh membuatku muak."Maaf, Ki. Aku gak bisa. Jam makan siangku sudah habis."Aku bangkit dari kursiku, tangan Roki menahanku, "Sya" ucapnya dengan tatapan memohon yang membuatku sekali lagi untuk mengatakan muak dalam hati karena Caca juga mengekori Roki sampai disini.Aku melepaskan cekalan tangannya dari tanganku "Itu Caca sudah datang ke sini, Ki" lalu aku pergi meninggalkannya. Berpapasan dengan Caca dengan pandangannya yang penuh permusuhan.Aku berjalan keluar cafe, tanganku kembali di tahan seseorang yang ku yakini pasti Roki. "Akukan... Renal?" Ucapku"Ayo kembali ke kantor bareng. Daripada jalan kaki" ucapnya, padahal cafe ini kurang lebih berjarak 200 meter saja."Wind, aku duluan ya? Maaf ya gak bisa antar" ucapnya pada Windy"Ah iya tidak apa, santai aja" balasnya"Kalau tau kamu disinikan bisa bareng, Sya. Gak bilang sih" kata Windy padaku"Ah aku juga tidak tau kalian disini" kilahkuWindy mengangguk "Yasudah lain kali aja kita makan bareng ya. Byee.." ucapnya padakukemudian ia menatap Renal sebelum berlalu " See you "Ku alihkan pandanganku pada Renal, "Apa sih? Kenapa tidak mengantar Windy saja"Renal hanya tertawa kecil tanpa menjawab membuatku semakin kesal. Ia membukakan pintu mobilnya padaku lalu aku masuk. Kembali ke kantor, sampai di parkiran, ia ingin turun aku mencegahnya dengan memegang tangannya."Ren, kamu kenapa sih dua minggu ini menghindariku? Oh aku tahu, karena posisi kamu uda Direktur ya jadi gak mau temenan sama aku lagi yang staff biasa""Apaan sih, Sya" balasnya dengan nada protes"Aku yakin kamu tau maksudku, kenapa menghindariku? Aku ada salah ya""Sya, kita sudah dewasa. Aku rasa tidak sepantasnya kita seperti ini, kan?" Katanya dengan suara yang dalam sambil menatapku, lalu mengalihkan tatapannya pada tanganku yang masih menggenggam lengannyaAku menggigit bibirku lalu melepaskannya, "Renal, bukankah kita biasa saja selama ini?" TanyakuIa mengangguk, "Kamu mungkin begitu, Sya. Tidak denganku. Aku rasa aku juga butuh pelabuhan terakhir untuk melanjutkan hidup"Aku menatapnya bingung. Kenapa Renal sikapnya aneh sekali."Aku yakin kamu mengerti. Aku juga gak bisa terus di samping kamukan Sya? Suatu hari nanti mungkin kita akan punya pasangan masing-masing." Jelasnya"Ren, dari dulukan meskipun kita punya pasangan kita tetap temenan" kilahku"Kamu harus tahu ini, Sya. Bu Karmila yang terhormat itu akan mencarikan istri buat aku kalau-kalau sampai akhir ini aku belum bisa bawakan calon menantu untuknya" jelas Renal padaku, aku tahu nada ucapannya terlihat kesal terbukti dia kesal pada ibunya sehingga menyebutnya bu Karmila"Terus apa kita harus mengakhiri pertemanan, Ren?""Bu Karmila bilang, dia gak akan dapatkan calon menantu kalau aku terus sama kamu.""Kenapa mama kamu gak jodohin kita aja?" Tanyaku dengan spontanTapi benarkan? Aku mengenal bu Karmila sudah pasti. Kami juga sudah berteman lama. Juga sering pergi bersama.Renal tersenyum geli "Emang kamu mau sama aku? Kemarin kan kamu nolak aku"Aku salah tingkah di buatnya, selama ini aku dengan Renal dekat, sangat tapi sepertinya tidak pernah begini. Renal selalu perhatian dari dulu tapi kami selalu layaknya teman.Tapi satu hal yang sangat ingin aku tahu."Aa.. ee.. iya. Tadi bertemu Windy ngapain?""Kamu cemburu?""Enggak" sanggahku dengan cepatIa mengangguk-anggukkan kepalanya, "Dia salah satu kandidat calon menantu Bu Karmila""Ha? Apa!" Pekikanku tak sadar begitu saja. Oh Tuhan sempit sekali dunia itu"Terus kamu mau?" Tanyaku tak sabarDia mengangkat bahu acuh "Ya mau gimana, cuma dia satu-satunya orang yang masuk di akal jika aku menerimanya. Ya setidaknya aku sudah kenal. Mmm.. kecuali...."Ia menggantung ucapannya, "Kecuali?" TanyakuDia hanya diam, tapi tatapannya begitu dalam padaku. Aku bahkan tidak dapat menafsirkan tatapannya, tatapan Renal yang sama saat ia menyatakan perasaannya.Kemuadian tatapannya naik turun dari mata ke bibirku, oh aku tidak tau harus bagaimanaSelama beberapa detik begitu, tapi aku mulai sadar saat bibir kami bertemu.Awalnya sebuah kecupan ringan tanpa protes dariku, dia mulai melumatnya perlahan tapi pasti. Yang mulanya aku diam, kini aku membalas ciumannya. Tanganku ku kalungkan ke lehernya, tangannya menarik tengkukku guna memperdalam ciuman kami. Lama kelamaan ciumannya seakan menuntut."Ahh.." lenguhan tak sadar keluarIa semakin bersemangat mencecapnya, hingga ia mengangkatku ke pangkuannya, entahlah kemahirannya datang dari mana yang jelas saat ini setan apa yang merasukiku. Tapi aku sungguh menikmatinya.Renal melepas tautan bibir kami, nafas kami terengah-engah akibat ciuman itu. Ku lihat tatapannya menggelap menatapku. Matanya memandang lekat mataku."Ren..." Kataku terhenti kala bibir itu kembali memagut bibirku, menyalurkan hasrat yang menggelap di matanya. Ciuman kami kembali panas, dari ciuman ini aku dapat merasakan cinta yang diberikan Renal.Perlahan kecupannya turun ke leherku, aku mendongakkan kepalaku agar ia dapat menjangkau sisi lainnya sedangkan jemariku meremas rambutnya. Saat tangannya ku rasakan membuka kancing kemejaku, atensi kepalaku lansung tersadar bahwa saat ini kami sedang di parkiran.Aku mendorongnya pelan, "Ren... Cukup. Kita di parkiran"Umpatan lirih ku dengar dari mulutnya, sungguh sisi liar Renal yang baru kali ini ku ketahui. Dan ini cukup menggangguku.Ia mengusap pelan bibirku dengan ibu jarinya yang kuyakini bibirku terasa bengkak olehnya.Menyadari posisiku yang tengah duduk di atasnya, akupun melepaskan diri kembali pada posisiku yang semula.Aku memijat pangkal hidungku menelungkupkan kepalaku, menutup wajahku dengan tangan.Sungguh aku malu bukan kepalang.Ku dengar tawa kecil dari Renal tapi sepertinya aku ragu jika ia menyesalinya.Aku menatapnya sejenak lalu menghela nafas, rasanya sesak mengingat ia akan di jodohkan oleh orang lain."Mm.. Jadi kamu terima jika dijodohkan oleh orang lain?"Ia hanya mengangkat bahu tanpa mengatakan apapun.Aku menghela nafas perlahan lalu turun dari mobilnya, ku lihat ia tidak turun melainkan menjalankan kembali mobilnya entah kemana, kemudian berjalan memasuki kantor duduk di kubikelku mengerjakan pekerjaan yang tertunda.Tapi nihil, pikiranku tidak bisa fokus. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku benar-benar tidak akan berteman lagi dengan Renal.Atau mungkin, hidup tanpa Renal.Ponselku berbunyi menampilkan nama Windy sebagai penelponnya. Dan segera ku angkat."Ya?"" Maaf menghubungimu di jam kerja. Aku hanya ingin bertanya, Renal sukanya apa ya? Maksudku ia suka penampilan perempuan yang bagaimana?" Tanyanya di seberang sana. Aku menunggu kelanjutan ucapannya" Mmm.. ini sedikit mengejutkan sih, tapi kami ya bisa dikatakan di jodohkan begitu. Nanti malam kami rencana ingin makan malam bersama. Jadi aku ingin terlihat cantik " ucapnya sambil sedikit tertawa disana." Sebenarnya ya, Sya. Aku dari dulu suka sama Renal. Tapi kalian selalu bersama buat aku patah hati. Tapi sekarang malah begini ceritanya " tambahnyaUhh aku yakin disana dia pasti kesemsem gitu. Aku tahu sih dia memang suka Renal dulu, terlihat dari gestur tubuhnya. Belum lagi terkadang dia suka salah tingkah. Aku sih bodo amat tapi kenapa sekarang aku yang ketar ketir yaIh.... Apaan sih." Sya " panggilnya di seberang sana"Eh.. Iya, Wind" sahutku" Jadi Renal suka perempuan yang bagaimana?"Tentu saja sepertiku, iyakan?"Mm.. Aku juga tidak tahu pasti, Wind. Tapi dandan semaksimal mungkin saja" ucapku pada akhirnyaDia tertawa diujung sana sebelum menjawab " Iya sih, setidaknya aku juga harus berusaha menarik hati diakan" tukasnyaPanggilan telah berkahir beberapa menit yang lalu, aku sungguh tidak fokus lagi disini. Aku harus bertemu dengan Renal.Dan Sebelum kanjeng ratu Renal itu menjodohkan Renal aku harus bicara padanya, melabrak jika perlu. Enak saja dia mau jodoh-jodohkan Renal.Ku lirik jam, 15 menit lagi jam kerja usai. Ah bodo amat aku kabur saja, keburu Renal bertemu dengan si Windy itu.Aku melirik ke kanan dan ke kiri, lalu berlari keluar cepat-cepat pergi menuju kediaman kanjeng ratu Renal.Begitu tiba dirumahnya, aku mendengar ucapan ibunya Renal "Kamu mau cari yang gimana lagi? Windy kan sudah masuk kriteria yang kamu sebutkan itu. Lagipula, Tasya itukan gak mau sama kamu" cerca Karmila itu yang di balas dengkusan oleh RenalCepat-cepat aku masuk menyela pembicaraan mereka "Tante, aku mau kok sama Renal" ucapku sambil menggandeng lengan Renal.Tante Karmila berdecak "Jangan bercanda kamu, Sya. Nanti malam kami akan makan malam membicarakan hubungan mereka."Aku menatap Renal mencari pembelaan. Ini aku sungguh-sungguh loh."Aku gak bercanda, Tante. Asal tante restuin sih hehe" ucapnya sambil tertawa di akhirnya karena malu"Lihatkan, ma? Tasya itu suka sama aku. Cuma kemarin lagi bodoh aja" ucapnya lalu ku balas dengan tatapan tajam."Haduh... Pusing mama kalau begini""Tenang, ma. Nanti aku bicara sama Windy" lerai Renal"Yasudahlah. Tasya awas kamu ya jadi menantu tante, nanti tante repotin Shooping bareng" tukasnya lalu berlalu, aku tertawa kecil, gak jadi menantu juga aku sering shopping bareng dia. Renal mana mau shopping bareng ibunya."Jadi, Sya. Lanjutin yang tadi di mobil yuk!" Bisik Renal di telingaku dengan muka tengilnyaAku menatapnya dengan pongah lalu mengangkat tanganku, menggoyangkan jemariku lalu berkata" Buy me ring."ENDDDDDDD
Eidelweiss
Aku duduk sambil menatap monitor, mataku dengan sigap menelisik deretan nama disana mencari hal yang ditanyakan wanita paruh baya di depanku."Maaf, bu. Sudah saya periksa namun memang tidak ada." ucapku menjelaskan karena wanita di depan ini menanyakan seseorang yang informasinya ada di rumah sakit ini."Coba tolong periksa lagi," ia menjedanya sebentar "Ana.. Tolong saya. Informasi yang saya terima begitu"Aku tersenyum tipis karena wanita paruh baya ini memanggil namaku, tidak heran karena seluruh petugas disini menggunakan nametag "Mohon maaf, bu. Namun nama yang ibu sebutkan tidak terdaftar" Jelasku kembali untuk kesekian kalinya. Begini memang jika bekerja dibagian admin yang ada di rumah sakit.Sudah terhitung 3 tahun lamanya aku bekerja disini, rumah sakit yang ada di kotaku yang dapat dikatakan kota kecil, dan tidak heran jika ada pertanyaan yang ditemui beragam seperti pertanyaan wanita paruh baya itu yang menanyakan keberadaan anaknya namun tak satupun ku temui nama itu di catatan kami.Ku lihat wanita itu menghela nafasnya "Baiklah.. Terima kasih" sebelum ia melangkahkan kakinya.Aku kembali mendudukkan diri pada bangku, sebenarnya aku rindu pada seseorang.Seseorang yang telah berjanji untuk menunaikan niat baik kami. Aku percaya, kepergiannya untuk kebaikan kami.Dia yang selalu berkata "Sabar ya"Aku melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku sudah pukul setengah 4 sore itu artinya setengah jam lagi jam kerjaku akan segera berakhir dan aku bisa istirahat di rumah. Dan ini adalah hari sabtu, malam minggu.Ponselku berdering tanda sebuah pesan masuk, menghela nafas ternyata pesan dari provider bukan seseorang yang ku rindukan.Andrew, seorang pria yang berhasil mencuri hatiku. Menjalani kisah empat tahun lamanya lalu berjanji untuk menikahiku. Lebih tepatnya, kepergiannya untuk mencari pundi rupiah agar kami dapat bersatu.Sudah ku katakan kepergiannya untuk kebaikan kami bukan?Telah terhitung pula dua tahun kami menjalani komunikasi jarak jauh. Bahkan aku bekerja disinipun, untuk membantunya mencari uang agar kami dapat bersatu.Awalnya aku tidak ingin menjalani hubungan jarak jauh, seperti kata kebanyakan orang. Long distance relationship hanyalah omong kosong belaka. Namun Ia selalu meyakinkanku dengan ucapannya "Kamu harus percaya"Atau ucapannya "Aku pergi untuk menunaikan janji kita bersama"Atau bahkan yang paling membekas diingatan "Aku pergi tidak dengan sebenar-benarnya. Aku akan kembali kepadamu"Namun sudah sepekan ini ia belum memberiku kabar. Sebenarnya, ia memang jarang memberiku kabar dalam waktu dekat ini tapi aku memakluminya, bagaimanapun ia pergi untuk bekerja. Aku memilih mempercayainya.Terlebih omongan tetangga yang selalu mengatakan tidak ada hubungan komunikasi jarak jauh yang berhasil, bahkan para tetangga sering membandingkan dengan kata-kata "Lihat tu si A, ternyata pacarnya selingkuh. Bilangnya pergi cari kerja tapi malah selingkuh"Yang paling sadisnya "Pacaran tidak pernah bertemu, barangkali hanya mainan"Juga jajaran para temanku selalu mengatakan "Tidak ada hubungan yang baik jika dia jarang memberimu kabar""Dia tidak memberimu kabar itu karena dia juga lagi sibuk sama perempuan lain" merupakan kata yang juga membuatku sedikit gelisah disini. Bagaimanapun kami sudah merencanakan pernikahan.Bukan aku tidak pernah mengutarakan itu pada kekasihku hanya saja ia selalu memiliki kalimat penenang untukku yang berakhir aku memilih kembali mempercayainya.Apakah aku sudah mengatakan bahwa aku begitu mencintai kekasihku itu? Yang anehnya belum memberiku kabar selama sepekan ini dan membuatku gelisah.Jam kerja telah usai, saatnya aku bergegas kembali kerumah. Aku langsung merebahkan tubuhku lalu melihat notifikasi pada ponsel yang sialnya untuk kesekian kalinya tidak ku dapati kabar darinya.Kalau dipikir-pikir hubungan ini melelahkan, juga rutinitas keseharianku yang melelahkan.Tak lama ponselku berdering menampilkan nama yang kutunggu sejak sepekan ini, senyumku terulas dengan mengatakan "Halo"" Halo.. Sudah pulang kerja, sayang?" tanya suara di seberang yang kudengar masih sama.Aku mengangguk seolah lupa yang tengah berbicara tak bisa melihat itu dengan cepat aku mengatakan "Sudah, sayang. Kamu sedang apa?"" Aku.." ia menjeda suaranya, sayup-sayup terdengar suara seperti seorang perempuan. Tapi siapa? Andrew tengah berbicara dengan siapa"Sayang" panggilku namun belum kudapati jawaban dari seberang, seketika hening. Ku tarik ponsel dari telinga untuk memeriksa ternyata panggilannya masih terhubung." Sayang, nanti aku hubungi lagi ya" ucapnya kemudian setelah hening dan memutus panggilan tanpa respon dariku.Aku menghembuskan nafas lelah.Begini, sudah dua bulan belakangan ini dia begitu. Meskipun sedari dulu ia memang tidak pernah romantis terhadapku.Jika pacar kalian datang dengan membawa bunga atau coklat, jangan ditanya, Andrew tidak akan pernah membawakan itu padaku.Jika pacar kalian mengajak kalian diner romantis, dengan berat hati aku tertawa miris. Andrew sama sekali tidak pernah membawaku terbang seperti kalian.Tapi itu sisi romantisnya. Aku menyukai sikapnya yang begitu.Menggelengkan kepala menepiskan segala pemikiran buruk yang terlintas di kepala, dengan merapalkan kalimat "Aku cinta Andrew, ia bekerja"Dahulu aku juga pernah malam minggu bersama Andrew, malam minggu yang berjalan biasa saja. Hanya sekedar berbincang bersama.------Hari ini kembali seperti rutinitas biasa, bekerja. Aku berangkat menggunakan sepeda motor yang telah ku parkirkan. Hari ini aku sengaja datang lebih awal, karena ingin sarapan dulu di dekat rumah sakit karena tidak ingin sarapan di rumah.Aku memilih memakan sarapan di pedagang kaki lima di sekitar rumah sakit, duduk sembari menunggu pesananku datang. Seorang pria, bernama Jason duduk di seberangku. Pria ini memerhatikanku yang ku balas dengan senyuman."Belum sarapan juga, Ana?""Belum, pak" jawabku"Panggil Jason saja kita tidak sedang bekerja" balasnya dengan cepat yang hanya ku angguki. Jason adalah seorang dokter bedah yang belakangan ini mendekatiku, bukan aku baper. Dan aku bukan tidak tahu bahwa Jason sebenarnya menyukaiku namun aku memilih untuk menutup mata karena sudah bersama Andrew."Sepulang kerja ingin berkeliling kota?" tanya lagi dan seperti biasa maka aku menjawab"Maaf, mungkin lain kali ya" tolakku halus dan untuk kesekian kalinya ia hanya mengangguk dan tersenyum lalu kami hanya diam.Tak sengaja aku menatap sepasang remaja yang begitu romantis. Melihatnya aku jadi ingin, Andrew cepat pulang aku ingin seperti mereka.Ah aku jadi ingat, dulu aku pernah makan bersama Andrew berharap kami melakukan hal romantis seperti pasangan lainnya namun untuk kesekian kalinya aku hanya tertawa miris. Mustahil.Kata orang, perut kenyang hatipun senang tapi tidak denganku karena setelah sambungan telepon terputus kemarin hingga kini Andrew belum juga menghubungiku.Ditambah dengan adanya suara perempuan disana, apa yang sedang terjadi?Aku berjalan ke tempat dimana aku bekerja, melakukan hal yang seharusnya ku lakukan."Kusut banget tuh muka" ucap Tiara rekan kerjaku seraya menekuni ponselnyaAku tertawa rasanya ingin menjemput Andrew pulang. Rinduku belum tertuntaskan. Bahkan aku sudah berusaha menghubunginya namun belum ada jawaban."An.. Kamu sudah putus ya?"Aku menoleh "Maksudnya?""Andrew. Ini... Andrewkan, pacar kamu?" ucap Tiara sembari memperlihatkan ponselnya padakuAku mengernyitkan dahi melihat itu, mengerjabkan mata. Tak sadar mataku sudah berkaca-kaca. Apa maksudnya?Foto yang memperlihatkan Andrew berkumpul dengan teman-temannya, iya tidak ada yang salah. Lalu apa maksudnya Andrew duduk bersama seorang perempuan dengan saling merangkul.Memilih tak menjawab Tiara, aku menoleh pada ponselku yang terlihat sepi dan aman tak ada ku dapati satupun pesan dari Andrew.Pantas saja.Beberapa waktu ini ia tidak memerhatikanku, tidak memberiku kabar atau sekedar berbincang.Faktanya ia sedang asik dengan dunianya.Lagi, aku tertawa miris menertawakan suatu kebodohan yang sepertinya harus segera ku akhiri.Aku berjuang melawan segala perkataan orang lain, tanggapan miring tentangnya. Namun disana? Ia bermesraan bersama wanita lain.Inikah balasan yang setimpal akan kesetiaanku padanya?"Kamu tidak apa-apa?" tanya Tiara lagi yang ku balas dengan gelengan kepala dan senyum tulusku.I'm not okay but i'm to be okay.Segera ku ambil ponselku, membuka media sosial mencari fotonya dengan wanita yang tidak ku ketahui siapa namanya. Menutup segala akses agar ia tak bisa menghubungiku.Yang sebelumnya ku kirim pesan dengan kalimat perpisahan dan juga alasan berakhirnya hubungan kami.Dan satu fakta yang seolah menamparku, aku sama sekali tidak mengetahui apa pekerjaannya disana. Jangan salahkan aku karena tidak bertanya itu karena keengganan ia menceritakan pekerjaannya disana.Ia hanya selalu mengatakan "Jangan khawatir pekerjaanku baik-baik saja". Ternyata jarak kami sejauh itu.Aku menyerah."Ana.. Apa kabar?" ucap suara lembut yang mengalun merdu di telingaku menarikku dari daya ingatan."Eh, ibu. Sedang apa?" tanyaku terkejut melihat sosok ibu dari seorang yang kucintai, Ibu Andrew.Ia tersenyum "Baru kembali jenguk teman, Ana bagaimana kabarnya?"Aku kembali melukiskan senyum "Sehat, bu. Ibu juga sehatkan?" tanyaku yang dibalas anggukan dan senyuman tulusnya."Sudah lama tidak main kerumah ya. Nanti kerumah ya? Ibu masakin makanan kesukaan kamu. Kemungkinan Andrew lusa pulangkan"Aku tersenyum "Ana tidak janji ya, bu. Ana usahakan karena sedang banyak pekerjaan" Dan bahkan aku sendiri tidak yakin akan sudi datang kerumah itu terlebih bertemu dengan Andrew. Ia menghianatiku bu. Tentu saja itu hanya mampu ku sebutkan dalam hatiku.Setelah itu ibu Andrew pamit kembali dan aku dengan senang hati mempersilahkannya, karena jika tidak aku takut lepas kendali dan mengatakan sesuatu yang buruk padanya akibat prilaku anaknya yang berkilah bekerja sembari menghianatiku.-----Selepas keputusanku untuk menyerah pada hubungan kami aku tidak baik-baik saja. Tentu saja aku bersedih, hubungan yang telah kami jalani harus berakhir dengan adanya pihak ketiga.Kabar yang disampaikan ibu Andrew benar adanya, ia kembali.Bahkan saat itu ia tidak memberikanku kabar akan kembali. Ia memang mengunjungiku tapi aku melakukan segala penolakan untuk bertemu dengannya.Aku belum siap. Nyatanya hatiku masih selalu memihaknya.Pintu kamarku diketuk menampilkan sosok yang teramat ku cintai masuk"Bagaimana pekerjaan kamu?" tanya ibuku"Baik, bu"Ku lihat ibuku tampak mengatakan sesuatu namun ragu "Katakan saja, bu""Andrew sudah pulang" ucap ibu membuka percakapan kami dan langsung ku angguki"Tadi dia kesini, ingin bertemu dengan kamu. Katanya ada yang ingin di jelaskan padamu"Aku tahu apa yang ingin di jelaskan olehnya tapi rasanya hatiku sakit, aku sudah terlalu dalam mencintainya tapi ia..."Dia menghianati Ana, bu" cicitku pada ibuku lalu memeluknya bahkan tak sadar aku menangis di pelukan ibuku.Ini sangat menyesakkan dan aku tidak menyukai perasaan ini."Sudah meminta penjelasan padanya?" tanya ibuku sambil merenggangkan pelukan kami. Aku menggelengkan kepalaku dan ibu membantuku mengusap lelehan air mataku."Cobalah temui Andrew besok dan meminta penjelasan padanya" saran ibuku.Haruskah?"Tiana anak ibu yang bijak, kan?" tanya ibuku tampak tersenyum "Ibu ingat dulu semasa kecil teman kamu pernah berebut mainan lalu kamu menengahi mereka agar tidak bertengkar dengan memberikan solusi menggabungkan mainan bersama dan main bersama" ibu menjedanya dan menatap ke arahku "Ibu yakin kamu bisa mengambil keputusan yang lebih bijak." tambahnya lalu meninggalkanku sendirian di kamar.Benar-benar sendirian, hanya berteman dengan luka yang menganga ini. Aku mencintai pria itu namun kenapa seperti ini?Tapi apa itu artinya ibuku menyuruhku menemuinya dan menyadari keputusanku itu juga salah. Aku memang belum mendengar penjelasannya, aku akui itu.Tak sengaja mataku menangkap bunga pemberiannya padaku semasa dulu awal ia mendaki gunung bersama teman-temannya, mungkin di awal masa pacaran kami.Bunga Eidelweiss.Pria itu selepas pulang langsung menemuiku hanya untuk memberikan bunga itu, ia berucap "Kamu tahukan bunga ini?""Eidelweiss, orang juga menyebutnya bunga Abadi, kan?" balaskuIa mengangguk dan tersenyum "Aku hanya berharap semoga cinta kita tetap abadi. Aku pamit pulang ya"Sialan kamu Andrew! Bisa-bisanya aku tetap memikirkanmu disaat luka yang kamu torehkan ini belum terselesaikan.----Tidak dapat dipungkiri percakapanku dengan ibuku sangat mempengaruhi pikiranku.Aku memang harus mendengarkan penjelasan Andrew terlebih dahulu sebelum memutuskan segala sesuatunya agar tidak menimbulkan penyesalan di akhir nanti, juga sepertinya aku juga masih terlalu dalam mencintainyanya.Atas dasar itu, kini aku telah duduk di teras rumahku bersamanya, Andrew yang baru saja kusuguhkan teh bahkan cangkir itu masih mengeluarkan kepulan asap. Udara malam ini cukup dingin, sepertinya akan segera hujan padahal waktu masih menunjukkan pukul 7 malam."Sayang" panggilnya membuka percakapan yang memang sudah 30 menit terdiam. Pangilannya masih sama, masih juga membuat hatiku bergetar."Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" aku menjedanya "Aku tidak punya banyak wak..""Kamu salah paham." potongnya dengan cepatAku langsung menoleh ke arahnya, salah paham kalau dia tidak hanya merangkul wanita lain, begitukah maksudnya."Yang pertama, aku ingin memberimu kejutan makanya tidak menghubungi kepulanganku. Dan aku tidak memiliki hubungan apapun dan dengan siapapun. Hanya kamu" jelasnyaAku berdecih "Lalu? Kamu mau mengatakan kalau kamu tidak sengaja bertemu perempuan itu begitu"Tatapannya melembut ke arahku "Dengarkan dahulu, setelah itu kamu boleh memutuskannya""Jadi maksud kamu memang ingin mengakhiri ini semuakan?"Ia menggeleng dengan cepat "Tidak begitu, aku hanya ingin menjelaskannya dulu. Kamu salah paham.""Aku minta maaf, mungkin belakangan ini kita kurang berkomunikasi" tambahnya"Sudahlah, Ndrew. Aku bahkan tidak mengetahui calon suamiku disana bekerja apa"Ia memegang tanganku yang segera ku tepis, ia menghela nafasnya sebelum bercerita "Jadi sebenarnya disana aku bekerja sebagai supervisor di sebuah gudang pemasaran produk kosmetik yang cukup ternama. Aku tidak mengatakannya padamu karena aku takut kamu semakin salah paham, aku tahu kamu adalah wanita pencemburu." ia menatap ke arahku yang ku balas menatap ke arahnya.Iya tepat sekali itu, aku cemburu. Tapi tetap saja siapa perempuan yang dirangkul itu?"Aku tahu, sekarang bukan itu pertanyaanmu. Mengenai perempuan itu, ia salah satu karyawan disana juga yang tidak sengaja baru putus dari pacarnya dan berencana akan bunuh diri. Jadi kami menolongnya. Bahkan kamu mungkin pernah mendengar suaranya saat aku menghubungimu, itu karena ada kendala di pekerjaan."Aku tertawa remeh, itu jelas sekali berbohong "Andrew, kalian sedang berkumpul disalah satu tempat makan. Lalu kamu merangkul wanita itu, apa aku harus percaya?" balasku tak mau kalahIa menggeleng "Benar kami berkumpul. Tepat saat itu ia ingin bunuh diri. Sebagai rekan kerja, apakah aku akan membiarkannya mati begitu saja?""Tetap saja. Aku..." aku kehabisa kata-kata, karena jauh dalam lubuk hatiku berteriak ingin kembali kepelukannya tapi aku cemburu."Komunikasi kita memang buruk belakangan ini tapi itu murni karena pekerjaan dan kendala disana. Bukan karena wanita lain." ia menggamit tanganku namun kali ini tidakku tolak dengan tatapan memohon ia melanjutkan ucapannya"Beri aku kesempatan ya"Tentu saja. Tapi, mungkin sedikit memberinya pelajaran boleh juga."Aku akan memberimu kesempatan dengan satu syarat" ucapku dengan menyeringaiIa mengerutkan glabelnya "Apa?" tanyanyaAku menahan tawa melihat ekspresinya "Buatkan 1000 candi dalam satu malam" pintaku"Hah?" ia melongo di tempat sebelum berucap " Imposible . Kamu pikir aku Bandung Bondowoso?"Lagi, aku menahan tawa saat ia menyebutkan karakter laki-laki di dalam dongeng roro jonggrang.Aku mengangkat bahu acuh "Ya sudah, kalau kamu tidak ingin kuberi kesempatan"Ia tampak gelagapan "1000 candi?" tanyanya dan aku mengangguk."Dalam semalam?" tanyanya lagi dan aku menganggukBahunya yang tegap menjadi lemas, ya ampun lucu sekali dia. Kira-kira apa yang akan dia lakukan ya? Ah aku tidak sabar."Besok pagi sebelum aku berangkat bekerja kamu sudah harus sampai disini. Siap?"Ia menghela nafas "Kalau tidak bisa bagaimana?" ah ternyara Andrew belum patah semangat, ia ingin bernegosiasi ternyata. Tidak akan kubiarkan. Biarkan saja ia kelimpungan memikirkan itu, lagipula itu hukuman untuknya."Aku akan memikirkannya besok" tutupku pada akhirnya dan ku lihat ia mengangguk lalu mengusap puncak kepalaku"Baiklah. Aku pamit pulang" ucapnya melangkahkan kaki lalu kembali berjalan ke arahku lalu berkata "Tapi buka dulu blokirnya ya, Sayang" dan ku balas dengan dengkusan.Apa yang akan dilakukannya besok ya? Membayangkannya saja sudah membuatku tertawaSeperti ucapanku tadi malam, Andrew benar-benar datang di pagi hari sebelum aku berangkat bekerja.Tapi ada yang aneh, wajahnya kenapa cerah sekali?Tersenyum dengan sumringah menghampiriku dan berkata " I'm coming kesempatan!" sapanya kelewat bahagiaMau tidak mau senyum itu menular padaku "Pede sekali" cibirku"Tentu saja. Ini yang kamu mintakan, Sayang" ucapnya dengan menekankan kata sayang dan menunjukkan maha karyanya yang membuatku seketika terbahak.Kalian tahu apa? Ia menggambarkanku gambar seribu candi di dalam sebuah kertas berukuran jumbo."Coba kamu hitung, pasti ada seribu." ucapnya dengan menaik turunkan alisnya "Beruntungnya aku memahami kalimat perintahmu 'buatkan', makanya aku membuat gambar coba kalau kamu bilang bangunkan bakalan ribet dong" tambahnyaDan membuatku tidak habis pikir dan terus tertawa, aku bahkan tidak seserius itu menyuruhnya. Hanya ingin mengerjainya. Andrew diluar ekspektasiku!"Lalu kita jadi menikahkan, sayang?"Aku tertawa lalu mengangguk "Tapi antarkan aku kerja dulu ya" pintaku lagi dan ia langsung berlari ke arah motornya dan memakaikan kepalaku dengan helm.Ah.. Aku sungguh begitu teramat mencintainya pria ini.End
Complicated Love
Ibukota masih saja setia dengan padatnya kendaraan. Sahutan klakson kendaraan turut menemani sinar mentari pagi menjelang siang ini.Sesekali suara pengendara umum terdengar berteriak untuk memanggil penumpang. Sesekali juga terdengar tawa pejalan kaki.Hari yang indah. Tapi tidak denganku, kakiku bergerak gelisah dibawah sana sesekali mataku melirik arloji."Pak, bisa cepat sedikit tidak?" ucapku pada supir taksi yang ku tumpangi."Maaf mbak, ini sudah cepat tapi jalanan macet"Aku terus saja menggerutu dalam hati, apakah ini adalah akhir dari kisahku dengannya?Mataku menelisik sekali lagi pada surat dan arloji di tangan. Tidak akan ku biarkan dia meninggalkan ku begitu saja. Tidakkah dia tahu aku begitu teramat mencintainya?Menghembuskan nafas dengan segala pertimbangan, aku mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar tagihan argo pada taksi dan segera meninggalkan taksi itu.Aku mempercepat langkahku agar segera sampai pada tempat yang ku tuju.Hingga aku tiba di depan gerbang rumah bernuansa klasik itu"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya..."Kakiku melemas, telingaku berdenging tak kuasa mendengar suara itu. Lekaki yang begitu teramat ku cintai meninggalkanku?Aku terduduk di halaman itu, tak sadar air mataku menetes tanpa bisa di cegah. Meremas surat yang ia berikan berisi surat perpisahan"Kamu penipu, Arlan" lirihku.Ini adalah akhir dari kisah yang sudah kita bangun Arlan, kamu menghancurkan itu.Ya, hari ini adalah hari pernikahan Arlan dengan wanita yang ku tahu adalah pacarnya itu. Jangan salah sangka, aku adalah pacarnya juga. Maksudku, pacar dalam arti sebenar-benarnya.Ia dengan wanita itu yang ku ketahui bernama Mela, dengan nama panjang Melati merupakan wanita yang sengaja di kenalkan oleh orang tuanya.Dan aku? Tentu saja aku adalah wanita yang dicintainya. Ah.. Masih bolehkah aku berkata sombong setelah ditinggalkan olehnya?Rasanya aku ingin tertawa sekaligus menangis."Mbak, jangan duduk disitu. Ayo masuk saja"Intrupsi suara asing yang mengganggu drama sedihku ini. Aku mendongak, sejenak mata kami bertemu.Gilaa... Tampan sekali.Aku segera menggelengkan kepalaku, tetap saja aku cintanya dengan Arlan.Ia mengulurkan tangannya padaku "Ayo, mbak. Saya bantu. Mau masuk tidak? Ada beberapa makanan."Tunggu, dia kira aku ini pengemis apa?"Hari ini keluarga kami sedang berbahagia. Adik saya menikah dengan..."Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya aku segera bangkit, menatapnya dengan nyalang tak lupa menyeka air mata dan hidungku sebab menangisi pria tak tahu malu itu.Aku membalikkan badan tanpa menghiraukan panggilan pria itu dan meninggalkan rumah itu dengan menaiki taksi yang kebetulan berhenti menurunkan seorang wanita.4 tahun kemudian"Dil, dipanggil pak bos tu" seru teman satu divisiku, dengan wajahnya yang cantik tapi mulut lambe turahnya."Ngapain?""Tau dah. Naksir mungkin"Nahkan.. Begitu, selalu begitu. Rautnya tampak tidak suka padaku.Aku segera berlalu menuju ke ruang pak bos, dia ini sungguh tampan. Ah.. Lucu sekali pertemuanku dengannya.Saat itu, aku melamar kerja di salah satu perusahaan. Dan aku nyaris terkena serangan jantung karena yang menginterview ku adalah pria yang saat itu pernah menghentikan drama tangisku ditinggal Arlan. Nuga.Mimpi terburukku.Aku segera mengetuk pintu ruangan itu sebanyak 3 kali, tidak jangan berpikir anjuran agama. Tapi ini perintahnya, jika tidak ada intrupsi maka harus balik kanan. Sama seperti ini tidak ada sahutan, aku memutar tumit kakiku tapi pintu itu terbuka menampilkan pak bosku yang super tampan."Masuklah..." aku bergidik. Pasalnya jika suara ia lembut begini aku takut. Takut diberi proyek yang letaknya jauh dan mengharuskanku ke luar kota hingga berhari-hari.Tapi biarlah.. Aku akan mengerjakan 1 proyek lagi sebelum pengunduran diriku.Ya sudah 3 tahun aku bekerja di perusahaan ini, bagiku bekerja disini adalah pelarianku untuk melupakan rasa sakit hatiku.Nyatanya, hatiku terlalu ringkih untuk dipulihkan. Setelah ditinggalkan olehnya bukan membencinya melainkan semakin mencintainya. Aku berani bertaruh mereka pasti sudah bahagia dengan buah hatinya.Ibuku selalu bersikeukeh untuk aku segera menikah, tentu saja usia 27 tahunku sudah cukup matang untuk menikah. Ia juga menyuruhku untuk berhenti bekerja dan mengikuti aturannya dengan pergi kencan buta dengan salah satu anak dari sahabatnya.Kalau sudah begitu, aku bisa apa? Lagipula aku tidak punya kandidat yang tepat untuk di bawa pulang. Jadi ku pikir tidak ada salahnya mengikuti perintah kanjeng ratu.Sebelum ia mengatakan apapun, dengan sigap aku mengeluarkan amplop putih surat pengunduran diriku padanya.Kulihat ia menaikkan alisnya, "Saya ingin mengundurkan diri, pak" ujarku"Saya memanggil kamu bukan untuk itu. Saya in...""Iya saya akan mengerjakan proyek itu sebelum mengundurkan diri, tentu saja, pak""Bisa jangan di potong?"Aku mengangguk cepat, dia menghela nafas dengan berat. Lalu menumpukan tangannya di atas meja kerjanya."Begini, adik saya baru saja kembali dari Jepang tetapi tidak ada yang menjemputnya. Karena Suaminya tidak bisa ikut pulang dengannya dan saya juga sedang ada rapat penting besok. Bisa kamu menjemputnya?" jelasnya padakuApa maksud dari perkataannya, tidakkah dia tahu bahwa adiknya adalah penyebab perpisahanku dengan Arlan juga drama tangisku di halaman rumahnya saat itu?Ah sekelibat ide muncul, bagaimana jika aku rusak saja wajah cantik adiknya itu dengan kuku indahku ini?Tidak, aku tidak sejahat itu.Tapi tetap saja, aku tidak sudi menjemputnya."Maaf, pak Nuga yang terhormat. Bukankah bapak orang kaya yang bisa saja menyuruh supir untuk menjemputnya." ucapku dengan nada kesal."Saya permisi. Dan ini surat pengunduran diri saya" lanjutku seraya mendorong amplop putih itu.------Sudah seminggu ini kerjaanku hanya rebahan dan maraton drama korea ataupun drama thailand.Sudah seminggu pula, aku berhenti bekerja. Ibuku masih tetap sama, mengingatkan kandidat untuk dinikahin.Akukan wanita? Kenapa harus sibuk mencari.Pintu kamarku diketuk lalu ibuku masuk duduk di pinggir ranjangku"Ingatkan nanti siang ke Rumah Sakit untuk menemui Bian, kan?"Aku menghela nafas sejenak sebelum mengangguk "Bian pria tampan juga baik.. Kamu pasti menyukainya. Ibu juga sudah menyiapkan makanan untuknya, nanti sekalian kamu bawa ya. Malam itu melihat kalian berdua ibu rasa kalian cocok"Aku mengangguk merasa pasrah tak memiliki kalimat pembelaan yang tepat untuk diriku sendiri.Aku memang sudah pernah bertemu dengannya, lebih tepatnya tiga hari yang lalu ia datang menyambangi rumah kami mengantarkan makanan yang katanya masakan ibunya dan berbincang sedikit.Namanya Arbian, pria itu berprofesi sebagai dokter. Yang ku ketahui ia seorang dokter bedah. Orangnya cukup tampan, sopan dan juga supel. Tapi entahlah, ia belum mampu menggetarkan hatiku. Masih tetap Arlan di hati.Dengan begitu aku segera bangkit bersiap untuk menuju rumah sakit menemui Bian.Aku berjalan menelusuri koridor rumah sakit sambil menenteng paper bag berisikan makanan. Aku sudah memberitahu Bian bahwa aku akan mengunjunginya, ya sedikit seperti pacar yang membawakan makan siang. Ia mengatakan bahwa ia sedang ada pasien untuk dibedah, uhh mendengarnya saja aku bergidik. Dan ia menyuruhku menunggu di dalam ruang kerjanya.Tapi kurasa aku perlu ke kantin untuk membeli minuman untuk melegakan kerongkonganku yang terasa gatal.Tapi saat aku tiba disana, langkahku terhenti sistem saraf kerjaku melambat melihat sosok yang sedang duduk disana yang kini juga menatapku.Tuhan... Ada apa lagi ini? Setelah sekian lama aku menghindarinya haruskah aku bertemu kembali.Bagaimana hati ini bisa move on. Pria itu, Arlan. Sosok pria yang sampai saat ini masih kucintai, kini ia semakin tampan mengenakan jas snelinya.Ah.. Apakah itu artinya cita-citanya tercapai? Aku turut senang.Tampaknya ia bersungguh-sungguh saat mengucapkan ingin menjadi dokter. Akan tetapi dokter apa?Melihatnya bangkit dari kursi dan berjalan ke arahku semakin membuat degub jantungku semakin kencang. Ia masih sama, bahkan lebih tampan.Tunggu.. Jika ia berjalan ke arahku harusnya aku menghindarkan? Tapi terlambat ia sudah terlebih dahulu mencekal pergelangan tanganku seraya berkata "Kita perlu bicara" dan menarikku pergi meninggalkan kantin rumah sakit.Kini disini, aku duduk di dalam ruang kerjanya. Sudah 20 menit kami diam tanpa suara, hanya dentingan jam yang terdengar ataupun orang yang berlalu lalang di luar sana."Dila, aku merindukanmu"Aku tertawa singkat "Omong kosong apalagi ini, Arlan?"Raut wajah Arlan sulit dijabarkan, ia menatapku dengan tatapan yang akupun tak mengerti. Seolah-olah akulah yang salah disini."Harusnya itu yang aku tanyakan padamu 4 tahun yang lalu, Dila."Aku tertawa singkat seraya menggelengkan kepala, "Sudahlah, Arlan. Aku ada janji""Tunggu.. Aku belum selesai""Tapi aku sudah selesai" Arlan melihatku menenteng paper bag dan mulai menggapainya dari tanganku."Untuk siapa?" tanyanya namun aku diam tak menjawab"Erdila Novia, untuk siapa?" tanyanya lagi. Kini aku takut dengannya, syarat akan kekesalannya jika memanggil nama lengkapku."Bian" lirihku"Apa kamu mencintainya?"Kenapa ia harus bertanya seperti itu. Apa kalimat yang tepat untuk jawaban pertanyaannya. Sadarlah Dilla, ia sudah menikah."Ya, aku mencintainya" jawaban itu meluncur begitu saja.Ku lihat ia mengumpat tertahan, entahlah.. Bukankah ia sudah memiliki istri mengapa begitu."Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" tanyanyaAku diam. Aku bahkan masih begitu teramat mencintainya, tapi mana mungkin aku tega menghancurkan istana orang lain demi kebahagaiaan ku."Sudahlah, Arlan" putusku pada akhirnya.Diluar dugaan, ia bangkit menepiskan berkas pada meja kerjanya kemudian ia mengangkatku lalu mendudukkanku di atas meja kerjanya.Tangannya menahan tanganku dengan tubuhnya berada di antara kakiku. Ia menciumku, melumatnya hingga menggigit bibirku terasa kasar dan tergesa-gesa isyarat penuh kerinduan.Sebisa mungkin aku menghindar yang pada akhirnya itu terasa sia-sia. Faktanya, hatiku kembali luluh pada euforia kebahagian kami dahulu. Kilasan-kilasan balik momen kami terasa berputar memenuhi isi kepalaku.Betapa bahagianya aku saat itu, sebelum surat itu sampai mengatakan bahwa ia pergi meninggalkanku dengan wanita lain.Ia melepaskan pagutannya, menyatukan keningku dengan keningnya seraya berbisik yang membuat kulitku meremang"Kamu masih mencintaiku, begitu sangat mencintaiku, Dilla. Kamu tidak bisa menipuku."Aku hanya diam menikmati hal yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya. Setelah ini aku akan pergi dan melupakannya."Lihatlah, aku kini sudah menjadi dokter spesialis jantung seperti keingininanmu, bukan?" ia menghela nafasnyaAku tertegun, ia masih mengingat itu. Ya saat ayahku sakit aku memang mengutarakan nya untuk mengambil spesialis jantung agar ia bisa menangani ayahku nantinya."Aku tidak mengerti mengapa kamu menghindariku, aku sudah kembali dan tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku hanya pergi untuk pendidikan ini, Dilla. Aku sungguh mencintaimu."Tunggu apa katanya? Ia masih tidak ingin mengakui kesalahannya.Aku mendorong tubuhnya, menegakkan badanku dan tak lupa dengan tatapan nyalang. Tanganku meraih paper bag kemudian meninggalkan ruangan itu sebelum berkata "Sudah cukup, Arlan. Aku tidak ingin mendengar kebohonganmu lagi"Aku menutup pintu ruangan Arlan dan membalikkan badan berniat pergi sebelum sebuah suara masuk ke indra pendengaranku"Dila.. Sudah lama? Tapi Itu bukan ruanganku""Eh.. Aku"Ya, Bian ada di belakangku memandangku dengan raut bingung"Salah ruangan ya.. Yasudah ayo" ajaknya seraya meraih tanganku untuk digenggam. Terlihat dari sudut mataku, Arlan melihat kami.Biarlah mungkin ini lebih baik."Bian, aku membawa makanan untukmu. Sudah laparkan?" tanyaku-------Saat ini aku sedang menunggu Bian di taman, memandang sepasang cincin yang melingkari jariku.Aku menghela nafas, semoga memang ini yang terbaik. Sudah terhitung sebulan berlalu sejak kejadian aku bertemu Arlan kembali, malamnya Bian melamarku yang lebih tepatnya masih hanya kami berdua yang tahu. Setidaknya ia berniat serius padaku.Awalnya aku ingin menjawab tidak namun terlintas wajah Arlan disertai ucapan janji suci pernikahannya beberapa tahun yang lalu, aku membencinya sekaligus mencintainya.Jujur saja, saat ini aku bimbang harus melakukan apa dan bagaimana."Cincin yang bagus" celetuk suara disampingku yang membuatku menoleh."Arlan.." lirihkuIa mengangguk lalu duduk disampingku tanpa dipinta, ia menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya dengan kasar.Apakah ia sedang banyak pekerjaan? Atau ia bertengkar dengan istrinya.Kalau bukan, lalu apa yang menganggu pikirannya sehingga wajahnya tampak kalut."Aku pikir kamu bohong saat itu" aku kembali menatapnya tak mengerti"Saat mengatakan sudah tidak mencintaku lagi, maaf aku menciummu tanpa izin tapi melihatmu menggunakan cincin itu, aku sadar. Kamu sudah tidak mencintaiku lagi" jelasnyaKamu salah Arlan, aku bahkan ingin sekali rasanya berteriak mengatakan pada dunia kalau aku masih terlalu mencintaimu. Tapi kita tidak bisa begini, Aku tidak sejahat itu hingga merusak rumah tanggamu bersama Mela."Tidak apa-apa" hanya itu yang mampu ku katakan."Tapi sebelum itu, boleh aku bertanya?"Aku mengerutkan glabelaku, tapi juga mengangguk. Aku rasa ini adalah akhir sebelum aku benar-benar melepaskannya."4 tahun yang lalu. Kamu kemana? Kenapa menghindariku"Aku tertawa sumbang mendengar itu "Arlan, tidakkah kamu ingat kamu mengirim surat perpisahan untukku? Kamu meninggalkan aku demi perempuan lain" ucapku dengan kesal kulihat ia mengerutkan dahinya, ah sekalian saja ku tumpahkan ini yang sudah sesak di dada"Kamu penipu, Arlan. Kamu bilang kamu tidak akan pernah meninggalkanku tapi faktanya apa? Kamu menikah dengan Mela. Sadarlah, Arlan kamu sudah menikah untuk apa menemuiku lagi" semburku tanpa celaTapi Arlan tertawa bahkan sangat kencang, apa itu terlihat lucu untuknya?"Astaga, Dilla." ucapnya setelah tawanya mereda."Otak cantikmu itu selalu saja menyimpulkan sesuatu dengan sesukamu"Aku menyipitkan mata, jangan-jangan dia mau menipuku dengan berkata batal menikah atau apa. Jelas-jelas tempo hari yang lalu mantan bosku sekaligus kakak dari Mela menyuruhku menjemput adiknya karena suaminya tak bisa mengantarnya."Okay, yang pertama aku minta maaf baru kembali setelah 4 tahun" ujarnyaIa menghela nafas, " Dila, aku sungguh mencintaimu. Mana mungkin aku meninggalkanmu demi wanita lain. Perihal Mela, ia memang menikah tapi bukan denganku melainkan dengan kakakku, Erlangga."Eh tunggu apa maksudnya sih ini? Kenapa begitu"Tapi isi surat itu jelas mengatakan kamu menikah dengan Mela. Bahkan aku sempat pergi ke acara itu tapi terlambat" sahutkuIa tersenyum geli "Dilla sayang, suratnya tertukar. Pantas saja aku menunggumu di bandara tapi kamu tidak datang"Penjelasan apa itu? Dia kira aku mudah tertipu."Jangan menipuku, Arlan" ketuskuIa mengeluarkan ponselnya menampilkan foto kakaknya bersanding dengan Mela juga seorang balita sekitar umur 2 tahunan."Masih tidak percaya, hm? Mereka saling mencintai, karena Mela sering curhat padaku orang tua kami menjodohkan kami. Tapi itu keliru, dan pada akhirnya mereka menikah.""Tapi...""Andra kan yang mengantar surat itu. Dia keliru mengirimnya, bahkan jika kamu lebih lama sedikit akan bertemu dengan Linda yang mengamuk di resepsi itu. Erlan mencintai Mela. Ia tidak pernah mencintai Linda, itu hanya pelariannya saja. Sedikit kejam, tapi begitu"Aku memegang kepalaku yang terasa berdenyut setelah mendengar rentetan penjelasannya. Jadi ini hanya salah paham? Bagaimana bisa.. Ah rasanya aku frustasi lalu bagaimana ini.Dan sialnya aku mengingat wanita yang saat itu turun dari taksi yang aku tumpangi kejalan pulang dari acara itu.Tapii..."Kenapa kamu tidak menjelaskan itu padaku, Arlan?" tanyaku seakan tak puas akan penjelasannya itu"Apakah kamu memberiku kesempatan, Dil? Bahkan saat aku libur mengetuk rumahmu terasa sia-sia karena untuk kesekian kalinya aku takkan bisa bertemu denganmu. Aku hanya pergi untuk menempuh gelar doker seperti impian kita saat itu dan sebulan yang lalu aku baru saja kembali, melihatmu membuatku semakin frustasi"Aku menutup wajahku tidak tahu harus bagaimana, kurasakan Arlan memelukku."Jika aku masih memiliki tempat di hatimu, aku mohon. Kembalilah padaku, Dil" bisiknya di telingaku.Aku menegakkan kembali punggungku menatapnya penuh keraguan, sebelum bibirku berucap. Suara orang lain terdengar lebih dahulu"Kembalilah padanya, Dil" aku kembali menoleh kebelakang, ada Bian yang menatapku dengan sendu.Ah bagaimana ini?"Tidak apa-apa. Kamu harus bahagia, Dila." ucapnya padaku, lalu ia menatap Arlan "Jaga dia baik-baik, jika tidak aku akan mengambilnya kembali""Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa mengambilnya dariku" tukas Arlan cepat.Aku tersenyum haru kemudian menghampirinya seraya memberikan cincin itu padanya yang langsung diterima "Terima kasih, Bian. Semoga kamu mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku" ucapku tulus dibalas dengan usapan lembut dipuncak kepalaku dan senyumannya.Lalu Bian pergi dari tempat itu menyisakan aku, Arlan dan kenangan bodoh kami tapi mataku masih menatap punggungnya.Bian lelaki baik. Pantas saja ibuku menjodohkanku dengannya."Besok kita nikah saja ya?" ucap Arlan di sampingku yang langsung ku hadiahi dengan tatapan kekesalan tapi juga rindu yang teramat.Ia meringis merasakan pukulanku di bahunya tapi detik itu ia langsung merengkuh tubuhku.Akhirnya aku bisa merasakan nyamannya pelukannya.Sejauh apapun kita pergi, tetap saja akan kembali kerumah.Ya, Arlan adalah rumahku untuk pulang.The end
She's Helena
Happy ReadingAku terbangun dari tidur yang ku rasakan bermimpi sangat lama, aku mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya mentari yang mengusik mata kemudian mengedarkan pandangan menatap langit-langit ruangan berwarna putih, ah tidak semuanya berwarna putih di ruangan ini.Aroma khas obat menyeruak di penciumanku, aku mencoba mengenali siapa perempuan yang sedang tertidur dengan kepala bertumpu di ranjangku ini.Menatap kemudian aku mencoba menggerakkan tubuhnya tapi rasa sakit menghantam kepalaku menciptakan lenguhan"Engghh.."Seorang wanita yang tertidur tadi segera terbangun karena merasa terusik. "Kamu sudah sadar?" tanyanya lalu wanita itu segera memanggil dokter.Dokter disertai perawat itu masuk memeriksa keadaanku yang baru saja bangun, dokter mengatakan bahwa keadaan aku itu stabil dan akan segera membaik. Entahlah aku masih bingung dengan ini semua.Wanita itu menghembuskan nafas seolah kabar itu menciptakan kelegaan di hati wanita itu. Namun dokter itu sedikit menjauh dan berbincang sedikit dengan wanita itu, lalu keluar. Entahlah aku tidak mengerti.Selepas kepergian dokter tersebut, wanita itu duduk dan kembali bertanya padaku "Bagaimana? Sudah baikan?"Aku menatap wanita itu sejenak sebelum menjawab "Kamu siapa?"Aku benar-benar tidak mengenali siapa wanita itu dan bahkan aku tidak tahu siapa aku sebenarnya.Aku menangkap raut wanita itu terkejut namun berusaha mengontrol emosinya "Aku Helena"Aku berusaha mengingat tapi nihil tak kutemukan jawaban itu, bahkan siapa aku?"Aku siapa?" tanyaku pada wanita yang baru ku ketahui bernama Helena, kurasa dia orang baik. Ia orang pertama yang aku lihat bahkan ia sampai tertidur hanya kepala saja yang bertumpu di ranjang. Pasti itu tidak menyenangkan."David. Ya namamu David" jawabnya"Lalu kamu siapaku?" tanyaku yang bingung tidak mengerti kenapa dia bisa disini, semuanya terasa membingungkan."Aku... Aku tunangan kamu"Aku tidak mengerti ada apa ini, aku butuh penjelasan "Aku tidak mengerti. Bisa tolong jelaskan semuanya padaku, Lena""Sudahlah, simpan pertanyaanmu nanti aku akan menjawabnya" lalu ku lihat Helena yang berkata bahwa ia tunanganku itu bangkit dari duduknya.Dengan cepat aku menggapai tangannya "Mau kemana?" tanyaku, ia tersenyum kemudian mengusap kepalaku dan berkata "Aku akan membelikan makanan untukmu"Dengan enggan aku melepaskannya dan ia pergi berlalu, sungguh ada banyak sekali rentetan pertanyaan bersarang dikepalaku. Aku ingin segera mengetahuinya.Seminggu berlalu dengan cepat dan aku sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Sehingga disinilah aku dengan tunanganku, Helena. Ia berkata ini adalah apartemenku dan benar terdapat bingkai fotoku disebuah ruangan yang Helena katakan tempatku menghabiskan waktu untuk bekerja.Satu hal yang membuatku bingung, Helena masih bungkam tidak menyuarakan penjelasan padaku, ia berkilah akan menjelaskannya nanti menungguku sudah membaik.Kami sedang duduk di depan tv, dengan Helena bersandar di bahuku dan sesekali menyuapkan buah padaku."Lena, aku ingin mendengar penjelasanmu. Ini sudah seminggu, dan kamu lihatkan bahwa keadaanku baik-baik saja" ucapkuHelena hendak bangkit menjauhkan kepalanya dari bahuku dengan cepat aku menahannya, "Tetap seperti ini" pintaku sambil menahan kepalanya, mengusap puncak kepalanya seolah tak ingin mengganggu hal yang disenanginya. Ia tunanganku bukan?Kudengar ia berdehem singkat "Kamu tahu Dave, saat itu kamu bertengkar dengan seorang wanita di jalan. Saat menemaniku ke mini market di ujung jalan sana."Ia menghela nafas "Saat aku melihatmu, aku ingin menghampirimu namun ada mobil yang melaju kencang. Aku pikir kamu tidak melihatku tapi ternyata kamu menyelamatkanku. Dan..." ia menghela nafas sebelum melanjutkan "Maafkan aku, karena aku kamu begini""Sstt... Sudahlah. Terpenting aku masih berada disini" jawabku "Tapi siapa perempuan itu?" tanyaku lagi"Aku.. Aku tidak tahu siapa perempuan itu. Ia langsung pergi meninggalkanmu saat itu"Aku mengangguk singkat tapi sejak kapan dan bagaimana aku kisahku dengan Helena sehingga kami bisa bertunangan"Boleh ceritakan kisah kita, sayang?" tanyaku memunculkan rona merah di pipinya, apa ada yang salah. Aku melihat beberapa pasangan menyebutkan kata 'sayang' pada kekasihnya"Kisah kita?"Aku mengangguk "Seperti awal pertemuan kita" balaskuSaat ini kami sudah duduk saling berhadapan, ia tersenyum dan pandangannya seakan menerawang "Pertemuan kita di Bandara, Bandara ngurah rai. Saat itu aku sedang menunggu taksi dan kamu dengan baik hati menawarkan tumpanganmu, padahal kamu tahu Dave? Di pesawat kita bertengkar, ada saja hal yang kita perdebatkan. Kita duduk bersebelahan saat itu." Helena tertawa kecil seoalah memori itu begitu indah untuknya"Lalu lama kelamaan kita dekat dan yaa menjalin hubungan dan akhirnya kamu..."Baiklah aku mengerti, aku tahu bahwa ia akan mengungkapkan aku kecelekaan hingga amnesia. Segera ku rengkuh tubuhnya mengusap surai hitamnya.Aku merasa bersalah tidak mengingat moment indah kami "Maafkan aku tidak mengingatnya. Andai aku mengingatnya pasti akan menyenangkan" ucapku.Helena menggeleng " Tidak apa, ayo kita buat kenangan baru dan lebih banyak lagi" ucapnya dengan tersenyum sambil menyeka air matanyaAku mengangguk membantunya mengusap ait matanya " As your wish , Honey "----Pagi ini aku terbangun karena mendengar suara di dapur, membuka pintu aku langsung menghirup aroma masakan.Aku berjalan ke arah dapur, tersenyum singkat ternyata tunanganku sedang menyiapkan sesuatu untukku.Aku berjalan mendekatinya, memeluk tubuhnya dari belakang serta menumpukan kepalaku di bahunya."Sudah bangun?" tanyanya yang hanya ku angguki."Tumben pagi sekali sudah datang. Masak apa?""Hari ini kamu check up, ingat?" tanyanya padaku menghiraukan pertanyaanku sebelumnya"Iya aku ingat" jawabku, ia mematikan kompor dan berbalik ke arahku.Tangannya ia kalungkan di leherku, ekspresinya sungguh menggemaskan. Aku mendekatkan wajahku berniat mengecupnya sedikit tapi ia sudah berkata "Tidak boleh" seraya jarinya menutup mulutku dan ku balas dengan gigitan di jarinya"Ewuh.. Dave" protesnyaAku menggenggam jarinya menatap kejanggalan yang ada disana "Sayang, dimana cincin pertunangan kita?"Helena tampak terkejut, apakah pertanyaanku aneh? Wajarkan jika aku bertanya padanya"Aku.. Aku lupa meletakkannya dimana" balasnya,"Nanti aku akan mencarinya" tambahnya.aku memandang raut wajahnya. Enggan bertanya lebih, takut menyakiti hatinya."Mmm.. Dave, aku.."Aku menatapnya sepertinya ada yang ingin dikatakannya namun ia ragu, "Ada apa? Katakan saja"ku lihat ia menggeleng lalu berkata "Yasudah.. Ayo kita sarapan. Setelah itu mandi lalu kita berangkat" ucapnya yang langsung ku turuti sepertinya ia mengalihkan topik, sudahlah biarkan saja.Seperti rencana, kami sudah melakukan chek up. Dokter mengatakan bahwa keadaanku semakin membaik. Aku bersyukur memiliki tunangan seperti Helena.Dia cantik, mandiri juga tegas. Dan sikapnya bisa berubah manja sekaligus padaku."Dengan dibantu mengingatkannya pada hal-hal kecil itu akan membantu saudara Dave" itulah yang dikatakan oleh dokter, aku tidak khawatir karena aku memiliki Helena.Kami berjalan sambil bergandengan tangan keluar menuju parkiran, setiba di parkiran yang tak jauh dari letak mobil kami berada langkah Helena terhenti dan ia juga melepaskan tautan tangan kami, yang otomatis langkahku juga terhenti dan menatapnya.Baru saja aku ingin bertanya pada Helena namun suara lirihan orang lain terdengar"Sam.." lirih seorang wanita disana, aku mengernyitkan dahi. Kenapa dia memanggilku Sam.Lalu ia mendekat mencoba meraih tanganku yang langsung ku hindari "Maaf, kamu siapa?" tanyaku, ku dengar ia menangis sesenggukan, apa ada yang salah"Sam, ini aku.. Arlita""Aku David, bukan Sam" ucapku"Ya, David Samudra. Kamu lebih suka di panggil Sam" jelas wanita itu yang semakin membuatku bingung."Sam, aku tunangan kamu, Arlita. Bagaimana mungkin kamu menghilang begitu saja dan apa ini"Tunangan katanya?Aku menggeleng "Saya tidak mengerti" hanya itu yang mampu ku ucapkan.Aku menoleh menatap Helena yang hanya diam. Apa dia marah? Tidak ingin menyakiti hati Helena akupun merangkulnya mengajaknya pergi dari sana."Ayo Sayang" ucapku yang diikuti Helena"Tunggu" ucap wanita itu. Kami berhenti dan wanita itu mendekatikami dan menampar pipi Helena membuat kami terkesiap. Aku membantu Helena dengan tetap merangkulnya"Dasar tidak tahu malu!" teriaknya"Sam, kamu harus tahu. Dia perempuan yang membuat kita bertengkar. Aku tunangan kamu, kita bahkan sudah bersama sejak SMA" Jelasnya lagi yang membuatku bingung"Ayo Sam, ingatlah kenangan kita"Aku berusaha mengingatnya, tapi yang ku dapat hanyalah sakit yang begitu mendera. Aku memegang kepalaku kuat-kuat rasanya sungguh sakit sekali.Ku lihat Arlita mendekat tapi aku semakin mundur. Aku tidak mengerti penjelasan itu, Helena selalu menceritakan bagaimana aku yang ketus dan lebih suka dipanggil David olehnya dan lain-lain. Itu membuatku pusing.Aku memegang pergelangan tangan Helena, dengan sigap ia memapahku memasuki mobil dan meninggalkan pelataran rumah sakit.Entah bagaimana kesadaranku raib seketika dan menggelab setelah sebelumnya aku mendengar gumaman Helena mengatakan "Maafkan aku, Dave"Kilasan aneh saat aku terpejam begitu tercetak di mimpiku, kilasan pertemuanku dengan Helena di pesawat meski aku tidak terlalu jelas tapi itu memanglah wajah Helena.Perlahan aku membuka mata meringis merasakan sakit di kepalaku."Dave.. Sudah sadar" ucap pertama kali aku membuka mata, selalu Helena. Aku semakin yakin bahwa ia tunanganku, dan bahkan yang kurasakan aku mencintainya. Entahlah tapi rasa tak ingin kehilangan begitu kental di hatiku."Helena, aku mencintaimu."Helena hanya diam namun ia tersenyum dan mengangguk sambil terus menggenggam jemariku."Kamu mencintaikukan?" tanyaku padanya"Tentu saja""Terlepas dari masa lalu sebelum aku amnesia, tetaplah bersamaku. Aku memanglah tidak tahu apa yang terjadi di masa itu tapi saat ini aku yakin bahwa aku begitu sangat mencintaimu" ucapku tulus dengan bersungguh-sungguh padanya.Aku tidak perduli ada apa dan mengapa tapi hanya Helena, aku ingin selalu dia berada di sisiku.Setetes air mata menetes di wajahnya, aku mengusapnya. Menggeleng seraya mengatakan "Jangan menangis, sayang. Stay with me , okay " ia mengangguk meskipun masih menangis.Ya biarlah begitu.-----Sudah 2 bulan selepas kejadian itu. Hubunganku dengan Helena juga semakin membaik seiring berjalannya waktu.Aku bahkan sudah dapat mengingat sedikit demi sedikit.Kini aku duduk di cafe tempat janji temu dengan Helena, aku tidak sabar bertemu dengannya.Tiba-tiba di sisi kiri mejaku ada anak kecil mungkin usianya sekitar setahun hendak terpleset aku berusaha menolongnya namun entah bagaimana kepalaku malah terbentur nampan pelayan yang sedang lewat.Ah ini seperti pernah terjadi, "Hei, hati-hati boy." ucapku pada anak itu yang tak lama ibunya datang dan megucapkan terima kasih telah menolong anaknya.Aku duduk termenung, ingin sekali rasanya aku mengingat semuanya. Akupun berusaha mengingat, sakit sungguh sakit sekali rasanya. Namun aneh, kilasan balik semua tercetak jelas. Bahkan kejadian terbentur nampan pernah ku rasakan, dan wajah Helena yang muncul disana bukan Arlita yang mengaku tunanganku tempo hari lalu.Tapi kilasan itu juga jelas bahwa ada Arlita disana. Menghembuskan nafas aku mengontrol diriku.Lama aku menanti, seorang wanita yang pernah aku temui di pelataran rumah sakit datang dan duduk di hadapanku, ya dia Arlita."Hallo, Sam" sapanya"David. Bukan Sam" balasku, wanita bernama Arlita itu terseyum mengangguk"Baiklah, David. Aku ingin berbicara padamu sebentar saja"Aku melihat ke arloji, aku takut jika Helena tiba dan salah paham atas pertemuanku dengan Arlita ini. Bagaimanapun hati perempuan itu begitukan? Mengaku tidak apa-apa padahal jelas terjadi apa-apa."Baiklah, cepat katakan" putusku yang memang ku akui penasaran."Dave, aku ini tuna..""Tunanganku, benar?" potongkuIa diam mengangguk "Dave, maafkan aku. Awalnya aku tidak tahu jika kamu kecelakaan selepas kita bertengkar"Tunggu jadi ia yang dikatakan Helena saat itu "Sebenarnya siapa kamu ini Arlita?" tanyakuIa menghembuskan nafas lelah "Aku tunangan kamu, lihat ini cincin yang pernah kamu berikan padaku" sambil memperlihatkan cincinnya sebelum melanjutkan penjelasannya."Saat kamu koma di hari ketiga, kamu sadar dan selalu menyebutkan nama Helena namun kamu kembali koma hingga dokter menyarankan Helena disisimu. Entahlah aku juga tidak mengerti. Tapi aku mohon ingatlah kenangan kita, Dave"Aku memejamkan mataku, kembali.. Kilasan itu bergerak sangat cepat kepalaku semakin berdengung sakit. Kurasakan tangan Arlita menyentuh bahuku wajahnya tampak khawatir. Aku ingat, aku ingat...Aku memerintahkan ia duduk kembali kala sakit dikepalaku sedikit mereda "Lanjutkan ceritamu" pintakuIa diam sejenak menatapku "Ini kesalahanku, aku memberikannya password apartemenmu bermaksud ia akan menebus kesalahannya itu yang dikatakan padanya. Aku pikir ia akan membantu kita ternyata ia egois. Ia lebih mementingkan cintanya terhadapmu."Fakta baru yang membuat aku tidak mampu mengatakan apapun "Lihat Dave, ini foto moment kita saat bersama" ia memberikan ponselnya padaku memperlihatkan segala foto dengan kami berdua.Lalu bagaimana ini? Arlita yang memang tunanganku tapi aku mencintai Helena.Yaa aku sudah mengingatnya sekarang disertai bukti yang diberikan Arlita.Tetap saja, aku tidak menerima kebohongan atas Helena lakukan. Aku mengedarkan pandangan dan menangkap sosok Helena berdiri di depan pintu cafe, pandangannya sendu menatapku.Aku bangkit ke arahnya "Kenapa Helena?" tanyaku."Dave.. Aku" aku menggeleng enggan mendengar penjelasannya. Andai saja, ia tidak berbohong sedari awal.Aku mengambil kotak beludru berisi cincin dari sakuku dan menyerahkan itu ketangannya "Aku sudah melupakan semuanya berniat hanya ingin denganmu tapi kebohonganmu.." aku menghembuskan nafas dan berlalu pergi dari hadapannya.Aku berjalan keluar cafe, jika tidak salah diseberang jalan sana ada taman aku akan kesana untuk menenangkan hatiku serta mencari jawaban atas hatiku.Namun baru saja aku sampai di trotoar seberang jalan, bunyi benturan kuat memekakan telingaku. Tunggu.. Apa itu? Aku segera membalik tubuhku mendapati Helena bersimbah darah, rasanya lututku lemas.Berjalan perlahan menghampirinya "Helena.." lirihku, aku menumpukan kepalanya di pangkuanku, tidak ku hiraukan darah yang mengenai kemejaku. "Tolong..." teriakku frustasi"Sayang, bertahanlah" ucapku lagi padanya. Ia terbatuk, aku menggelengkan kepalaku berharap ini hanya mimpi"Dave, maafkan aku." ucapnya dengan parau tapi aku menggeleng "Kamu bilang tidak ingin berpisah denganku" ucapnya lagi sebelum terbatuk"Iya sayang itu benar. Bertahanlah.." balaskuIa menggeleng pelan "Aku tidak bisa, aku salah. Kembalilah bersama Arlita. Maafkan aku" gumamnya lagi sebelum matanya tertutup meninggalkanku dengan segala rasa frustasiku."PAPAAAAA!!" Teriakan pagi hari Aksa menyentakku dari lamunan itu, setiap pagi ia selalu memanggilku hanya untuk sarapan saja. Anakku sungguh pintar meski usianya sudah menginjak 5 tahun.Aku segera bangkit dari ranjang menghampiri Aksa yang sedang duduk bercerita dengan ibunya."Ma, Aksa ingin bisa mengendarai pesawat. Aksa ingin jadi supir pesawat""Pilot. Supir pesawat disebut Pilot." selaku sambil mencium pipi jagoanku."Hari ini kamu tidak kerjakan" tanya istriku, aku tersenyum mengangguk."Mas, aku ingin memberikan surat ini" lalu ia mengulurkan surat itu padaku "Beberapa tahun lalu aku menemukannya di laci nakas. Maaf baru memberikannya sekarang"Aku menghela nafas, sudah 7 tahun berlalu juga. "Tadinya aku sangat marah pada Helena tapi setelah membaca surat itu, aku mengerti""Arlita, sudahlah..""Kamu harus baca surat itu, mas. Setelah mengantar Aksa ke sekolah kita akan ke makam nya." balas Arlita.Ya, kecelakaan itu merenggut nyawa Helena. Sudah 7 tahun berlalu, setiap tahunnya aku dan Arlita ke makamnya untuk berziarah di hari tepat kematiannya seperti hari ini.Aku segera membuka surat ituHallo, David.Yang pertama maaf aku berbohong. Niat awalku hanya ingin membantu kalian yang bertengkar karena aku.Tapi aku juga berusaha ingin mempertemukan kalian suatu hari meski aku akan kehilanganmu.Tapi kau tahu? Egoku menghancurkan itu. Alih-alih mengatakan aku temanmu tapi aku malah berkata tunanganmu.Lucu sekali ya. Aku merasa bersalah tapi tidak memiliki kekuatan untuk menyampaikan itu semua makanya aku menulis surat.Tolong.. Jangan marah padaku. Aku hanya orang dari salah satu korban cinta.Dan mengenai pertemuan kita, benar saat kau memberikan tumpangan itu, aku mencintaimu. Dan kau tahu David? Perdebatan kecil kita di pesawat jugaku sengaja, karena saat melihatmu pertama kali aku sudah merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Dan kau juga harus tahu Dave, aku baru saja patah hati saat itu. Tapi melihatmu seketika aku lupa.Hingga kau mengantarkan aku di minimarket, aku melihat kau bertengkar dengan seorang perempuan yang ternyata, Arlita tunanganmu. Niatku ingin meluruskan kesalahpahaman.Tapi ternyata semakin memperburuk keadaan. Sekali lagi, maafkan aku.The And
Unexpected Love
I'm Come back, guys. Adakah yang rindu. Semoga bisa menemani Saturday Night kalian yaaaSemoga terhibur .Happy Reading , guysRinai sudah reda berjatuhan membasuh bumi pertiwi walaupun tidak terlalu deras. Aku yang masih berdiri di pelataran kantor melipat tanganku berusaha menghalau hawa dingin yang menembus tulang.Aku melihat jam yang bertengger di pergelangan tanganku menunggu seseorang yang berjanji akan menjemputku. Sudah pukul 8 malam, waktu yang cukup terlambat untuk kepulangan dari kantor. Hari ini lembur, ini semua ulah kepala divisiku yang seenak jidatnya mengatur karyawannya.Mobil hitam terhenti tak jauh dari tempatku berdiri, seorang pria yang ku cintai turun menghampiriku. Aku melambaikan tanganku, ia tersenyum menghangatkan sudut hatiku.Ku lihat ia membuka jas kerjanya, memakaikan pada tubuh kurusku namun cukup berisi untuk seorang perempuan yang berusia 23 tahun dengan tinggi 157 cm.Ini adalah hari pertamaku bekerja, dan benar sekali, di hari pertama bekerja aku sudah kena lembur oleh kepala divisiku. Uh rasanya aku ingin bercerita banyak bersama pria yang ku cintai ini, sudah seminggu kami tidak bertemu.Pria itu berucap "Dingin ya, Lisa. Ayo pulang" ajaknya padaku sambil melingkarkan lengannya di bahuku, ah rasanya sungguh nyaman."Bagaimana hari pertama kerjanya?" tanyanya, namun belum sempat bibirku berucap ponsel di sakunya berdering.Ia menghentikan langkahnya, tangannya masih merangkulku dengan sigap tangan satunya menjawab panggilan di ponselnya. Aku mengalihkan wajahku berpura tidak melihatnya."Baiklah, Amel" hanya itu suara yang sangat jelas ku tangkap di indera pendengaranku.Ia melepaskan rangkulannya dan menatapku dengan tatapan memohon maaf, ya aku tahu jelas artinya apa.Aku mengangguk "Pergilah.." ucapku"Maafkan aku, Amel memintaku menjemputnya." balasnya, aku sudah paham itu dan ini bukanlah pertama kalinya untukku. Ku lihat ia mengetikkan sesuatu di ponselnya lalu kembali berucap "Dengar, tunggu disini jangan kemanapun. Aku sudah memesankan taksi online untukmu. Mengerti?"Aku mengangguk seraya tersenyum "Baiklah. Hati-hati" jawabku, ia mengacak singkat rambutku sebelum pergi meninggalkanku bersama sendu gelapnya malam.Aku merapatkan jas yang tersampir di tubuhku dengan harum parfumnya terasa nyaman di penciumanku seraya menatap nanar punggungnya yang meninggalkanku dan hilang ketika ia memasuki mobilnya.Ah bukan hanya rambutku yang di acak tapi hatiku juga terasa diacak-acak olehnya.Bian Alprasesa. Seorang pria berusia 24 tahun, anak teman dekat ayahku. Pria yang sudah mengisi hatiku delapan tahun lamanya.Sedari kecil kami memang selalu bersama, rumah yang berdekatan serta sekolah yang selalu bersama. Entahlah saat itu ia bagaikan sosok kakak lelaki bagiku hingga saat usiaku 15 tahun aku menyadari bahwa aku mencintainya, aku tidak memandangnya sebagai sosok kakak.Dan tentu saja ia menganggapku hanya sosok adik kecilnya yang harus dijaga. Ia juga sudah terlalu sering bergonta-ganti pacar yang berujung aku ditinggalkan olehnya jika pacarnya memintanya bertemu.Dan yang paling menyebalkan adalah pacarnya akan selalu mengadu padaku jika kak Bian menyakiti mereka. Hanya reaksi kata "Baiklah, nanti aku bicarakan pada Kak Bian" yang aku berikan pada mereka, karena hatiku sendiripun rasanya sakit.Orang tua kami adalah orang yang terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan kabar pada anaknya, jika salah satu orang tua kami pulang maka mereka akan mengundang kami makan malam. Seperti malam itu tepatnya beberapa hari yang lalu saat aku makan malam di rumahnya bersama ayah dan juga ibunya, ia mengatakan hal yang membuat hatiku berkedut nyeri.Saat makan malam sedang berlangsung kak Bian mengatakan bahwa ia akan melamar gadis bernama Amel, aku yang mendengarnya tersedak yang langsung diberikan segelas air oleh kak Bian.Ayah dan ibunya juga terkejut bahkan beliau sempat mengatakan "Kenapa mendadak, Bi? Apa kau menghamilinya?" tapi kak Bian hanya menjawab "Tidak pa, aku tidak seberengsek itu. Amel menanyakan keseriusanku padanya" ucapnya padahal yang ku ketahui mereka baru berpacaran 3 bulan lamanya.Namun tanpa berniat mendengar kelanjutannya, aku pergi meninggalkan makan malam itu memasuki kamar tamu yang biasa ku gunakan jika aku menginap di rumahnya kala orang tuaku tak di rumah. Aku hanya berkilah bahwa aku sedang tidak enak badan."Nona, benar atas nama Bian?" teriakan suara pria dari dalam mobil menarik lamunanku, sepertinya ini taksi online yang sudah dipesan kak Bian. Aku segera mengangguk dan melesak masuk ke dalam taksi.Dan sepertinya aku harus secara benar-benar melupakan kak Bian.Bukankah aku juga berhak untuk bahagia? Seperti yang dilakukan kak Bian pada Amel.Lagipula seperti apa rasanya berpacaran? Hidup selama 23 tahun aku tidak pernah merasakan berpacaran.Bukan karena aku jelek, mereka bilang aku cantik dan menarik hanya saja kak Bian selalu menghalangiku.----Sudah dua bulan lamanya aku aku berhasil menghindari kak Bian, aku selalu berusaha mencari alasan-alasan kecil untuk tidak terlalu dekat padanya. Seperti tadi pagi saat ia menjemputku berniat mengantarkanku ke kantor untuk bekerja belum sempat aku mengucapkan sepatah katapun, klakson mobil berbunyi.Kepala divisi bidang akunting, Jatmiko, ya kepala divisi yang di awal pertemuan kami ia sudah membuatku lembur entah bagaimana seiring berjalannya waktu kami menjadi dekat. Dan pagi ini ia datang menjemputku.Ia memang kerap beberapa kali menjemput dan mengantarku bekerja, dimana ia selalu mengatakan bahwa "Kan searah".Aku menghela nafas karena untuk kesekian kalinya aku bisa menghindari kak Bian, setidaknya aku ingin melupakannya juga dan menikah dengan orang yang mencintaiku."Kak, aku berangkat dengan pak Miko saja" ucapku pagi tadi dan ku lihat ia hanya mengangguk pasrah lalu mengusap lembut rambutku.Saat ini aku sedang duduk di cafe yang tak jauh dari kantorku, duduk sambil menikmati dalgona coffe yang akhir-akhir ini sedang viral. Rasanya segar sekali cocok dengan cuaca yang panas ditambah aku yang sedang menahan rasa kantuk.Aku tahu cara membuat dalgona coffe ini, membuatnya sangatlah mudah. Aku jadi ingin membuatkannya untuk kak Bian. Karena dari dulu semua percobaanku dia yang selalu mencobanya.Ah shut up, Lisa! Harus Move on.Tak lama seorang pria duduk di depanku sambil menyesap coffenya dengan berbalut kemeja biru muda, yang lengan kemejanya digulung hingga ke siku." Long time no see.. Remember, me?" ucapnya padaku, aku mengernyitkan seakan teringat siapa pria ini."Ra.. Radit, Right? " balasnya dengan antusias dan pria itu juga tersenyum.Dia tertawa singkat lalu berujar "Apa kabar, Lis?""Ya beginilah, sehat. Kamu bagaimana?" tanyaku" You look me, I'm fine. Btw , bodyguard kamu kemana?"Aku mengernyit tak mengerti maksudnya, seakan mengerti Radit berucap "Bian, bagaimana sudah jadian?" tanyanyaAku tertawa sebelum menjawab "Kak Bian menganggapku adiknya, begitu pula aku jadi mana mungkin kami memiliki hubungan lebih" walaupun sebenarnya aku ingin kak Bian memelukku lalu mengatakan bahwa ia mencintaiku."Tidak mungkin. Ia jelas mencintaimu, bahkan dulu aku pernah dilempar petasan olehnya" balasnya lagi sambil tertawa di ujung kalimatnya.Aku sudah bilang bukan bahwa kak Bian selalu menghalangi pria yang dekat denganku.Aku juga tertawa mengingat moment itu, saat itu aku dan Radit masih duduk di bangku kelas dua hanya beda kelas, aku di IPA dan Radit IPS. Ia selalu memiliki cara untuk mendekatiku dan kak Bian selalu memiliki cara untuk menyingkirkan pria yang selalu berusaha mendekatiku seperti melempar petasan ke Radit saat kami duduk berdua di taman, ia mengatakan bahwa ia takut aku disakiti tanpa pernah ia sadari aku sakit karenanya.Aku menatap jam yang bertengger di pergelanganku, seperti jam makan siang akan berakhir dan dengan segera aku bangkit untuk pamit dari hadapannya karena akan melanjutkan pekerjaanku dengan sebelumnya ia meminta no ponselku.---Hari ini aku kembali lembur, aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul sembilan malam.Akupun bergegas segera membereskan berkas tiba-tiba ponselku berdering menampilkan nama kak Bian. Ada apa sih ia menghubungiku, tidakkah dia tahu aku sedang menjaga hatiku agar tidak terbawa perasaan padanya.Ponsel berhenti berdering, beberapa menit kemudian kembali berdering dengan malas aku mengangkatnya namun bukan suara kak Bian melainkan suara pria lain.Seorang bartender menelponku untuk menjemput kak Bian, ah kalau begini aku jadi khawatir padanya. Semabuk apa dia sekarang ini.Dengan cepat aku memesan ojek online agar lebih cepat sampai. Sampai disana aku mulai masuk perlahan, yang mana aroma alkohol begitu menyengat sampai ke paru-paru. Sungguh baru kali ini aku masuk ke tempat seperti ini.Membayangkan sajapun aku tidak pernah.Aku menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari kak Bian, ah dia di depan meja Bartender. Aku melesat segera menghampirinya."Kak" ucapku padanya sambil menepuk bahunya"Ah.. Sayangku" racaunya sambil berusaha memelukku."Ayo kita pulang" ucapku sambil berusaha memapahnya.Uh sungguh dia itu berat, "Kak mana kunci mobilnya?" tanyaku lagi tapi dia hanya diam, apa segitu mabuknya.Aku merogoh ke saku celananya, diluar dugaan ia malah berkata "Geli, honey. Sabar" lalu ia membantuku mengambilkan kunci mobilnya padaku.Setelah memastikan ia duduk di kursi penumpang samping kemudi akupun memposisikan duduk di balik kemudi dan mulai mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.Sampai di rumahnya aku kembali memapahnya menaiki kamarnya yang ada di lantai dua, oh sungguh perjalanan yang panjang dan menyusahkanku.Begitu sampai di kamarnya, aku membaringkannya, membantunya membukakan sepatu juga kaos kakinya dan aku juga membantunya membukakan jas serta dasinya.Aku berjongkok seraya menghela nafas lelah, sejenak memandang wajahnya yang sungguh tampan dan ku idamkan menjadi suamiku kelak meski aku sadar siapa aku.Kembali menghela nafas, aku mulai bangkit dan pergi namun tangan kak Bian menarikku sehingga aku terjatuh di sampingnya, ia memelukku dengan erat."Sayang, aku rindu" gumamnya membuatku memutar bola mata, ia pikir aku Amel kali ya"Kak, ini aku Lisa" balasku menyadarkannya, sesak juga dipeluk erat begini lalu ia membalikan tubuhnya menjadi di atasku sedangkan aku di bawahnya." I know ." balasnya yang membuatku bingung, apa efek alkohol begitu dahsyat yaa sampai ia jadi begitu."Kak.. Ay.." ucapanku terhenti kala bibirnya membungkamku, hanya sebatas kecupan. Ia melepaskannya lalu menatapku yang ku balas dengan tatapan tak percaya.Bukan sadar, ia malah kembali mendekati wajahnya dan kembali menciumku kali ini ia melumatnya, entah setan dari mana ataupun apa aku tidak mengerti tapi aku juga membalas ciumannya.Rasa yang tak pernah ku rasakan selama hidupku ini, dan akupun tak mengerti mengapa malam ini aku melakukan hubungan itu dengannya.Aku tahu kak Bian mabuk sedangkan aku dalam keadaan sadar, logikaku menolak tapi reaksi tubuhku menginginkannya, hal yang seharusnya ku berikan pada suamiku. Rasanya aku menikmatinya meski aku tahu kak Bian dalam keadaan mabuk.Dan aku menyukainya, ya ketika dia menyebutkan namaku di sela aktivitas kami yang terasa salah.Aku mengerjabkan mataku, tangan kiriku berusaha menghalau cahaya mentari yang mengusik tidurku, entahlah mimpi tadi malam begitu terasa indah.Mimpi yang begitu penuh hasrat menggebu dan menyenangkan, mimpi yang akan menjadi malam yang panjang untukku.Perutku terasa berat seperti tertindih sesuatu, ku lihat ada tangan di bawah selimut memelukku dengan erat.Oh Tuhan.. Apa yang terjadi? Bahkan aku tak mengenakan sehelai benangpun.Ini bukanlah mimpi.Aku menolehkan wajahku pada seoarang pria yang tak lain kak Bian, aku memiringkan tubuhku ke arahnya menatap wajahnya yang masih setia memejamkan matanya dengan ekspresi tak percayaku.Apa yang sudah ku lakukan? Aku berusaha mengingat apa yang terjadi dan sialnya semua terasa detail di ingatanku, bahkan kini air mataku mulai berkaca-kaca.Biar bagaimanapun aku yang salah, aku dalam keadaan sadar.Terasa ia memelukku semakin erat, merapatkan tubuhku ke dada bidangnya. Aku menangis sesengukan disana, aku bingung harus bagaimana. Bukankah ia akan segera melamar Amel? Demi Tuhan aku tak ingin menyakiti mereka meskipun aku mencintai pria ini.Kak Bian mengelus suraiku sesekali mengecup puncak kepalaku lalu berkata " It's okay, dear" bukan menjawab aku semakin menangis."Kak bagaimana ini?" parauku"Tenanglah, aku akan bertanggung jawab, okay ?"Sungguh aku menginginkan ia tapi bukan berarti aku harus menghancurkan istana Amel, kan?Aku juga sangat menginginkan pria ini tapi juga dengan cintanya. Aku tak ingin memaksanya hanya karena rasa bersalahnya, karena di sini aku yang salah.Perlahan aku menggeleng, kurasakan ia terkejut, aku melonggarkan pelukan kami lalu menatap manik matanya, yang mana menatap manik matanya saat ini entah kenapa ada ketulusan disana "Aku tidak ingin jika kakak menikahiku hanya karena rasa bersalah" ucapku perlahanIa menggeleng dengan tegas kemudian ia berkata "Tidak, apapun itu aku akan tetap menikahimu"Andaikan ia mencintaiku, tapi bolehkah aku egois?"Bagaimana dengan Amel?" balasku lagi yang sudah meninggikan satu oktaf suaraku padanyaIa menghembuskan nafasnya, "Tenanglah.. Aku akan mengurusnya" jawabnya sambil mengusap pipiku "Tapi... boleh aku memintanya lagi?" tambahnya dengan ekspresi menjengkelkan.Aku membelalakkan mata tak percaya pada kata yang di ucapkannya, aku masih mode marah ini.."Kak!" pekikku kala ia menggigit leherku dan ia tertawa, namun selanjutnya aku bangkit ke kamar mandi dengan membelitkan selimut di tubuhku dan membuatnya kelimpungan untuk menutupi tubuhnya.Rasakan itu.Sejak kejadian beberapa minggu yang lalu aku memang sudah menyandang status resmi menjadi istri sahnya. Tapi tidak dengan cintanya, ya bahkan di malam pernikahan itu ia menemui Amel hingga waktu tengah malam ia baru kembali ke kamar kami. Bahkan aku sudah berhenti bekerja karena permintaannya.Meskipun saat ini hubungan kami seperti suami istri pada umumnya, seperti pagi ini aku memasangkan dasi untuknya."Baiklah aku pergi ke kantor dulu ya. Ada apapun kabarin aku, okay" ucapnya padaku lalu mengecup keningku, dan aku mengantarkannya sampai di pintu lalu menyalim tangannya. Sebelum masuk ke dalam mobilpun ia kembali mengecup kening dan mengelus perutku, entahlah.. Aku membiarkannya saja.Aku berlari ke kamar mandi, sejak beberapa hari ini memang tubuhku terasa tidak enak bahkan perutku mual sekali. Aku memijat pelipisku, dan segera mencuci mukaku.Kalian benar jika berfikir aku hamil, aku memang hamil itulah yang ku lihat di tespeck yang menunjukkan garis dua saat itu.Namun kak Bian belum mengetahuinya, aku sempat ingin memberitahukannya sore itu namun melihatnya duduk berdua bersama Amel di teras itu, teras rumah kami seraya tertawa dengan menyesap teh ditemani brownis yang dibawa oleh Amel membuat hatiku sakit.Apakah aku terlalu egois untuk memiliki kak Bian yang hatinya jelas untuk Amel?Menunduk aku mengelus perutku yang belum terlihat "Sabar ya sayang, mama akan bertahan meskipun papamu mungkin tidak sayang padamu" ucapku berinteraksi padanya."Atau apa kita pergi saja dari papamu?" monologku lagi tapi aku menggeleng.Tidak akan, tidak akan ku biarkan kamu hidup tanpa kasih sayang papamu nak.Aku merebahkan kembali tubuhku namun aku bangkit kembali ketika muncul suatu keinginan di kepalaku. Nanti siang aku ingin mengantarkan makanan pada kak Bian di kantornya."Kamu sudah rindu dengan papamu ya, sayang. Padahal baru sebentar." ucapku sambil mengelus kembali perut rataku "Okay sayang. Kita beres-beres rumah lalu memasak untuk papa kamu ya" ucapku lagi.Akupun mulai membereskan rumah, hingga aku memasuki ruang kerja kak Bian. Semenjak menikah aku tidak pernah masuk ke ruang ini memang, tapi rasanya tingkat keingintahuan ku sangat besar hari ini.Aku sedikit membersihkan debu di raknya, merasa lelah aku duduk di kursi kebesarannya melihat bingkai kecil berisi pernikahan kami yang terpajang di meja sisi kanan. Garis bibirku melengkung menatap bingkai itu."Setidaknya ia ingat memiliki kita sayang" monologku lagi dengan mengusap perutku.Iseng aku membuka laci mejanya, aku menemukan fotoku selfie dengan kak Bian memakai seragam SMA, foto kami duduk dengan pose kak Bian yang merangkulku dan kepala kami saling bertumpu.Lagi, aku tersenyum mengingatnya. Dimana moment ini adalah saat kami bolos sekolah dan pergi ke kedai es krim karena hari itu aku marah padanya telah menjatuhkan bekal yang buat untuknya. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua sedangkan dia kelas tiga SMA.Menghela nafas, aku memasukkan kembali foto itu namun belum dengan benar memasukkan foto itu, fotonya jatuh ke lantai.Aku mengerjap, ternyata di balik foto itu terdapat tulisan tangan kak Bian. Aku segara mengambil dan membacanya namun aku kembali tersenyum, apa-apaan ini? Aku membacanya berulang kali seakan meyakinkan bahwa ini benar.Apa maksudnya, aku tidak percaya namun aku sangat bahagia.Melihatmu menatapku dengan sendu aku sadar bahwa aku begitu mencintaimu, Lisa. A l ways, forever and till the end.Iseng, aku membuka bingkai foto pernikahan kami. Entahlah aku hanya penasaran, apakah isi bingkai dengan ukuran sekitar lima inci memiliki kata-kata.Tertawa kecil, aku menemukan kata-kata itu lagi. Sekaligus tidak menyangka kalau kak Bian sedikit berlebihan.I wish I was your mirror; I could look at you every morning.Kemudian aku memperbaiki bingkai itu dan menatanya kembali."Papamu mencintai mama" aku kembali bermonolog. Aku melihat jam yang bertengger di dinding. Aku bangkit untuk segera bersiap.Ah aku semakin semangat, masih dengan semangat aku memasukkan makanan yang telah ku masak ke dalam paper bag dan tak lupa memasukkan foto selfie kami ke dalam tasku.Aku pergi ke kantornya dengan menggunakan taksi, sesampai di kantor beberapa karyawan menyapaku.Saat aku tiba di depan ruangan kak Bian, Aryo selaku sekretaris kak Bian terlihat khawatir."Kenapa? Kak Bian di dalam kan" tanya padanya yang langsung di angguki dan di jawab "Benar, nona"Aku langsung membuka pintu namun pemandangan di depanku saat membuka pintu membuatku ingin marah.Terlihat tangan Amel di bahu kak Bian, ia yang melihatku karena ia menghadap pintu langsung menyentak tangan Amel."Sayang.." ucapnya dengan wajah panik aku masih diam menatap mereka, bahkan kak Bian mulai melangkah tapi aku menahannya dengan gerakan tangan untuk berhenti.Ku lihat Amel mulai merangkulkan tangannya ke lengan kak Bian namun dengan cepat ditepis oleh pria itu. Aku masih diam menatap mereka, rasanya aku ingin lari dan menangis. Tapi itu tidak akan ku lakukan. Ya tentu saja, aku menjadi kuat setelah melihat foto kami dengan tulisannya."Lepas Amel, kau membuat istriku salah paham" bentak pria di depanku. Entahlah aku masih ingin menikmati wajah panik kak Bian, apakah ia masih mencintaiku seperti ucapannya di foto itu."Sayang.. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan okay " ucapnya lagi, namun Amel masih terus menempel padanya. Aku sudah tidak tahan.Dengan menghela nafas, aku melangkahkan kaki menuju ke suamiku menatapnya tajam lalu mengayunkan tanganku menamparnya. Bukan, aku tidak menampar kak Bian tetapi menampar Amel tentu saja. Enak saja ia mengganggu suamiku.Amel tampah syok berbeda dengan ekspresi kak Bian yang terlihat... senang?"Dengar. Dia itu sudah menjadi suamiku harusnya kamu sadar posisi kamu sekarang" ucapku pada Amel lalu aku bergelanyut manja di lengan suamiku dengan berkata "Sayang aku bawa makan siang"Diluar dugaan kak Bian malah merangkulku dan mengecup pipiku dengan tersenyum senang "See.. Sekarang keluarlah. Aku ingin makan bersama istriku" ucap kak Bian pada Amel, dan Amel mendengkus lalu pergi.Sepeninggalan Amel aku langsung menghempaskan tangannya dan duduk di sofa."Jelaskan!" ucapku dengan tegas padanya, ia menggaruk belakang kepalanya lalu mengikutiku.Ia menunduk mengecup perutku "Mama kamu galak banget hari ini" gumamnya yang masih dapat ku dengar. Loh kok?"Kak?""Kenapa? Kamu pikir aku tidak tahu.""Tapi..""Aku melihat tespeckmu di laci namun aku menunggu kamu memberitahuku langsung" potongnyaLalu aku mengeluarkan foto yang ku bawa ia terlihat salah tingkah melihat foto itu "Kenapa tidak beritahu kalau dari dulu mencintaiku" ucapku padanya"Apa kamu mencintaiku?" tanyanya dan ku balas dengan senyuman dan anggukan"God.. Tahu begitu aku tidak menggunakan Amel untuk memancingmu" ucapnya lagi dengan menjambak rambutnya yang membuat aku mengernyit.Ia memelukku dengan erat "Aku sungguh mencintaimu.." ucapnya lagi"Halah.. Cinta tapi pacaran sama yang lain juga" balasku lagi padanyaIa tidak menjawab namun mengurai pelukannya dan menunduk di depan perutku "Sayang, kamu harus jadi tim papa nanti ya" yang membuat hatiku merasa hangat.Ah selama ini kami hanya gengsi. Tapi perkataan kak Bian selanjutnya membuatku terdiam, bahagia dan seketika menyerangnya."Okay, sekarang aku ingin jujur padamu. Aku sangat mencintaimu dan tak pernah menyesalinya. Dan.....""Dan?" tanyaku"Malam itu aku tidak benar-benar mabuk. Aku frustasi ingin memilikimu"The End
Sagara ❤ Baby
"Baby, gak apa-apa nih gue pulang duluan?""Iya gak apa-apa, gue mau nunggu bis di halte.""Oke deh kalo udah nyampe rumah lo telepon gue, dan kalo sampe malem lo belum dapat bis juga lo pesen taksi aja, oke?""Sip.""Dah Baby..."Rena pulang duluan karena di jemput Iras pacarnya, biasanya kita berdua akan menunggu bisnya barengan karena memang kita jalannya searah.Sayangnya juga sore ini turun hujan yang cukup lebat membuat halte ini terlihat sepi, kelas sore, hujan lebat aku yakin akan cukup sulit untuk mendapatkan kendaraan pulang."Huft... Semoga saja masih ada bis lewat." Gumamku sangat pelan.Dan sekarang aku benar-benar sendiri di halte ini, orang terakhir yang menunggu bersamaku memlilih menyebrang membelah hujan, dan sekarang sudah pukul 17.20, langit lebih gelap dari waktu biasanya, dan hujan semakin deras."Kamu sendirian?"Aku sungguh kaget mendengar suara bariton itu mengudara dari belakangku."Maaf, saya mengagetkanmu yah?""I..iya Pak, maaf saya gak lihat Bapak."Aku ingat dia adalah salah satu dosen di fakultasku, tapi kelasku tidak ada yang kebagian diajar olehnya."Teman kamu mana?""Dia sudah pulang duluan."Meskipun aku heran kenapa Pak Sagara bisa tau kabiasaanku yang suka kemana-kemana berdua bareng Rena dan dia hanya membalasnya dengan anggukan."Keberatan kalau saya merokok?" Tanyanya seraya memperlihatkan bungkus rokok yang dia kleuarkan dari balik jaket."Tidak Pak, silahkan.""Sagara saja.""Ap...apa?""Panggil saya Sagara saja Baby, kita tidak sedang berada di kampus lagi pula saya bukan dosen kamu, secara teknis saya tidak mengajar kamu."'Gusti, mana mungkin aku hanya memanggilnya Sagara saja, bisa di penggal ini leher kalau ada yang denger' Aku hanya diam saja tidak mengiyakan.Dia mulai menghisap rokoknya, jujur aku kaget banget kalau dosen kesayangan mahasiswi ini ternyata merokok, dari selentingan yang ku dengar dia termasuk dosen yang ramah tapi juga misterius."Kamu mau menunggu disini sampai kapan, Baby? Biasanya kalau hujan begini agak susah dapat kendaraan, sebaiknya kamu pesan taksi atau mau saya antar?""Hah?""Mobil saya ada disana." Dia menunjuk bengkel dekat kampus, "Bannya bocor sedang di perbaiki, kalau sudah selesai saya bisa antar kamu."Akhirnya karena sudah satu jam aku menunggu dan tak ada bis yang lewat aku mengikuti ajakan Pak Sagara hanya sampai bis yang biasa ku tumpangi terlihat, nantinya aku akan naik bis. Lagipula aku tak tau rumah Pak Sagara dimana, bisa saja berlawanan arah dengan rumahku.Tapi baru sepuluh menit perjalanan mobil Pak Sagara menepi di sebuah restoran, restoran yang tentu saja harganya sangat jauh untuk kantong mahasiswi sepertiku."Saya lapar, kita makan dulu." Ucapnya ketika mesin mobil mati dan dia bergegas keluar."Tapi...pak..." Ucapku tertelan kembali.'Ya ampun ini gue harus turun apa nunggu aja sih, atau gue keluar aja nyari taksi, kenapa gak dari tadi coba.'Tapi Pak Sagara sudah membuka pintu mobil sebelahku dan menyuruhku keluar."Ayo, temani saya makan dulu."Dengan terpaksa aku mengikutinya, aku tau ini restoran mahal, penampilanku yang sudah berantakan sangat kontradiksi sekali dengan tampilan restoran ini, penampilan Pak Sagara meskipun sudah seharian mengajar di kampus masih terlihat mempesona, tampan luar biasa. Kalau sudah seperti ini ingin rasanya aku menghilang atau mengecil jadi gantungan kunci mobil Pak Sagara, menyesal sudah menerima ajakannya harusnya ia pesan taksi saja walaupun harus memakai jatah jajan tiga hari."Kamu mau pesana apa Baby? Steak di restoran ini sangat enak, kamu mau mencobanya?""Tapi... tapi saya..."'Duh ini di bayarin apa bayar sendiri'"Tenang saja karena saya yang mengajak kamu jadi kamu saya traktir jika itu yang kamu khawatirkan."Aku hanya tersenyum kaku. "Terimakasih pak."Walaupun steak di restoran ini memang sangat enak tapi jujur aku tidak bisa menikmatinya, gugup di depan Pak Sagara, juga takut ada orang yang melihat kami, kenal Pak Sagara tentunya, bisa repot jadinya. Baru saja minggu kemarin ada mahasiswi yang nekat mendekati Pak Sagara dan akhirnya mendapatkan banyak cemoohan di kampusku, membuatnya langsung cuti kuliah.Setalah selesai membayar aku yang mengatakan akan naik taksi saja sampai rumah malah tak digubris sama dosen di depanku ini."Udah malam, biar saya antar sampai rumah.""Tapi pak... Saya semakin merepotkan bapak.""Kamu bisa menggantinya lain waktu."Dengan canggung dan kurang mengerti aku hanya mengatakan ia saja, agar percakapan kami cepat selesai, aku sangat gugup karena setiap kali berbicara dengan Pak Sagara, beliau selalu menatap mata lawan bicaranya, dan kali ini adalah aku.Sebulan lebih berlalu sejak kejadian itu, aku tak pernah menceritakannya pada siapapun termasuk Rena, aku hanya tak ingin membuat kehebohan, dan sikap Pak Sagara pun biasa saja bahkan cenderung tak mengenaliku, jadi aku menganggap kejadian waktu itu hanya sekedar lewat saja walaupun aku masih bertanya-tanya kenapa Pak Sagara bisa tau namaku."Beb, nanti temenin gue ya mau ketemu sama Iras.""Ko gue harus ikut, biasanyakan juga berdua?" Tanyaku pada Rena."Iras ulang tahun, nah dia mau rayain sama temen-temennya juga, makan-makan, gue kan belum kenal-kenal banget sama temen-temenya dia, jadi lo ikut ya temenin gue, mau ya... Pliss.""Oke, tapi nanti anterin gue pulang.""Beres!"Acara surprise ulang tahunnya Iras lumayan rame dan seru, dan aku menyesal kenapa gak membeli kado terlebih dahulu, aku jadi gak enak hati."Santai aja Beb, gue bukan anak kecil yang akan nangis kalo gak di kasih kado." Kelakarnya saat aku minta maaf."Ren gue ke toilet dulu, kalo mau pulang tungguin gue, perut gue mules." Bisiku pada Rena."Ya kali gue tinggalin lo, sana gih buruan."Aku cukup lama di toilet karena perutku benar-benar gak enak, dan betapa kagetnya aku saat keluar dan berpapasan dengan Pak Sagara. Apalagi penampilan beliau sangat berbeda dengan saat di kampus, saat ini beliau hanya mengenakan kaos santai dan celana selutut dipadukan dengan sneaker hitam dan tatanan rambut messy yang membuatnya terlihat bak anak kuliahan."Pak Sagara...""Baby, sedang apa kamu disini?""Makan-makan pak, ada temen yang ulang tahun.""Oh.. Sama siapa kesini?""Sama Rena pak, saya duluan ya Pak.""Baby...."Aku yang sudah berjalan beberapa langkah berbalik menatap pada Pak Sagara yang memandang lurus kearahku tanpa mengatakan apa-apa."Enggak apa-apa..." lalu dia tersenyum, dan sumpah senyumannya membuat dadaku berdebar kencang, dengan buru-buru aku pamit segera menuju Rena."Beb... Gue lihat Pak Sagara lo tadi, ke arah toilet hampir bareng sama lo, lo papasan gak sama dia?"Aku hanya menggeleng sebagai jawaban berbohong pada Rena."Itu Pak Sagara, " tunjuk Rena padanya yang baru saja muncul dari lorong, "Gila ganteng banget," aku yang ikut melihat arah pandang Rena tak melihat jiga ada waitress yang berjalan di depanku sehingga minuman yang di bawanya tumpah diatas bajuku."Aduh mbak maaf, saya kurang hati-hati." Ucapnya.Terlihat Rena mau memarahi waitress itu aku langsung menghalaunya karena ini memang salahku yang gak lihat jalan."Baju lo basah Beb, gimana dong nih."Saat kami masih berdiskusi perihal bajuku yang basah dari arah belakang seseorang menyodorkan kemeja flanel berbau cologne yang sangat wangi, dan itu adalah Pak Sagara. Aku dan Rena terbengong sesaat."Beby lebih baik kamu ganti baju kamh dengan kemeja ini, kamu bisa masuk angin nanti." Ia menawarkan."Gak usah pak, saya mau pulang kok." Namun pak Sagara diam saja tanpa menurunkan kemeja yang ia tawarkan padaku."Iya Beb, kamu ganti aja gih di kamar mandi." Rena memberi dukungan.Akhirnya aku mengambil baju itu dan pergi ke kamar mandi, pak Sagara bahkan sampai memberikanku paperbag untuk bajuku yang basah. Kemeja pak Sagara begitu besar di tubuhku yang ramping dan aroma parfumnya serasa membuatku dipeluk Pak Gara, wanginya membuat nyaman.Saat aku kembali Rena ternyata sudah pergi, membuatku kebingungan mencarinya."Ayo...""Kemana Pak?""Saya antar kamu pulang.""Tapi pak..."Tanpa mengatakan apa-apa, Pak Gara menarik tanganku menuju mobilnya, seperti ada sengatan listrik saat kulit kami bersentuhan, dan membuat jantungku berdebar.Hujan yang mengguyur Jakarta sejak siang membuat banjir di beberapa titik, sehingga kami terjebak macet parah. Membuatku mengantuk dan menguap beberapa kali dan tertangkap mata Pak Gara."Kalau kamu mengantuk tidur saja, turunkan kursinya, tuasnya ada di sebelah kirimu.""Gak apa-apa Pak kalau saya tidur?" Aku merasa gak enak, tapi aku ngantuk banget."Tidur aja, macet juga."Akupun mencari tuas namun sangat sulit menurunkan sandaran kursi, sehingga aku sangat terkejut saat pak Gara yang mengambil alih membuat posisi kami begitu dekat. Bahkan jika pak Gara berbalik sedikit saja maka bibir kami akan bersentuhan. Tepat setelah aku memikirkan itu pak Gara berbalik dan jarak kami hanya terpaut satu cm, tatapan matanya yang tajam perlahan turun pada bibirku membuat jantungku berdetak tak karuan.Lalu dia bergerak semakin dekat. "Can i?"Aku hanya diam, otakku blank, hingga aku merasakan benda kenyal itu menyentuh bibirky dengan lembut, pelan, intens lalu saat bibir itu menjauh aku merasa kehilangan."Baby, saya minta maaf tapi saya tidak akan menyesal telah melakukan ini."Lalu dia menciumku lagi lebih dalam, lebih intense dan lebih menggairahkan, sehingga tanpa sadar akupun membalas ciumannya, membuat ciuman kami semakin panas, Pak Gara segera menurunkan sandaran kursi dengan mudahnya dan tangnnya yang lain sudah masuk kedalam kemejaku membuat kuliat tangnnya berada dipingganku, mengelus perut rataku, hingga saat nafas kami habis baru kami berhenti, kami mulai mengatur nafas, namun wajah pak Gara masih sedekat tadi dengan wajahku, membuat pipiku memanas, dan ingat bahwa aku baru saja ciuman dengan dosenku."Saya menyukaimu sejak pertama kali melihatmu bersandar di mobil saya, tapi kamu begitu sulit untuk saya dekati Beby..."
Menjadikan Namamu Abadi
Kenapa kamu selalu hadir Ar?Sudah dua belas tahun berlalu, tapi kenapa kamu masih gak bisa lepas dari ingatanku.Berbagai cara sudah kulakukan agar bisa melupakanmu, tapi tiap aku sudah lupa, kamu selalu datang melalui mimpi hingga akhirnya aku memikirkanmu lagi.Sudah lama, bahkan aku gak tau bagaimana kehidupanmu, bagaimana hidupmu, dimana kamupun aku tak tau, dan sudah lama tak mencari tau.Tapi, kenapa aku gak pernah bisa benar-benar lepas dari kamu.Saat awal-awal aku bermimpi, dimimpi itu selalu aku yang mengejar kamu, memuja kamu, tapi kamu selalu saja tak terjangkau. Lalu semakin lama mimpi itu berubah, seperti mimpi yang membuat harapan, kadang dimimpi itu kamu tiba-tiba datang, tiba-tiba nyapa, tiba-tiba baik.Lalu akhir-akhir ini, mimpi itu seolah kamu cinta, seolah kamu punya rasa yang sama.Tapi aku sudah tak tergoda, sudah ku bilang aku tak bisa melupakanmu, tapi memujapun aku sudah tidak, kamu hanya akan jadi kenangan yang ku simpan saja.Tolong saja, semoga kita tidak pernah berjumpa, karena aku takut, takut... takut aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, jangan sampai itu terjadi.Aku sudah bahagia dengan hidupku yang tanpa kamu, meski kadang kalau malam menjelang, kenangan tentang dirimu selalu datang, seperti saat ini.Tapi aku sudah berjanji, tak akan buka social mediamu, dan aku bersyukur disaat tak tahan postingan terakhirmu masih yang tiga tahun lalu, artinya akunmu sudah ganti, dan seperti kataku tadi, aku tak akan mencari.Pernah ku berjanji sepuluh atau sebelas tahun lalu, saat jarak ku dan jarakmu hanya terhalang dinding sekolah, aku berbicara begini pada tuhan."Ya tuhan jika engkau memang mengijinkan kami bertemu maka pertemukanlah kami, tanpa aku yang harus mencarinya atau menemuinya."Dan kamu tau apa hasilnya, kita tidak bertemu, saat itu aku sudah lelah aku terus yang mencarimu, sebenarnya dalam permintaanku pada tuhan itu ada doa terselubung "aku ingin kamu yang mencariku."Tapi walaupun saat itu kita tidak bertemu, beberapa jam setelah itu kita bertemu, kamu menelponku dan aku pura-pura gak tau itu kamu. Padahal lihat nomormu atau hanya suara deheman kamupun aku sudah sangat bisa mengenalimu.Dan saat itu adalah petemuan terakhir kita, benar-benar terakhir, kita tidak pernah bertemu lagi sampai saat ini.Dan aku selalu bilang pada diriku sendiri "sangat mustahil kita bertemu secara kebetulan, kecuali itu benar-benar takdir tuhan."Ya.. Benar-benar mustahil, karena garis kita gak ada yang bersinggungan. Beda kota, beda angkatan, beda sekolah, beda circle pertemanan.Tapi ada satu kejadian yang buatku benar-benar lucu, seperti sebuah kebetulan kita pernah ada di tempat yang sama hanya berbeda sepuluh menit saja. Lucu bukan? Setelah bertahun-tahun, hanya berbeda sepuluh menit saja. Tapi kembali lagi aku gak ingin mencari, kita akan bertemu kalau itu benar-benar takdir tuhan, atau kalau kamu yang mencariku.Tapi kalau kita bertemupun mau apa?Pernah di suatu malam gila, aku dan sahabatku bernostalgia untuk kembali ke masalalu hanya satu malam itu saja. Saat itu kami benar-benar membicarakan masa lalu, sesuatu yang sudah ku anggap tabu, dia membicarakan crushnya dulu dan aku membicarakan kamu.Bahkan dia membuka sosmedmu dan melike satu foto terbawahmu, apa kamu melihatnya?Haha, itu ulah sahabatku ya bukan aku.Tapi aku berfikir kalau kamu lihat notifikasi like itu, apa yang ada di pikiranmu? Apa terlintas itu aku?Kamu tau cara mudahku melupakanmu? Yaitu dengan tidak menyebut namamu baik oleh lidahku ataupun otakku, jadi dalam pikiranku pun namamu gak boleh disebut. Dan itu cukup ampuh. Benar itu cukup ampuh.Tapi malam ini aku menyebut bahkan menulis setengah namamu. Membuatmu abadi dalam tulisanku.Kenapa? Beranikah kamu datang lagi dalam mimpiku?
Fara dan Algra
Putus....Kami putus tanpa kata putus, dia pindah tanpa pamit, bahkan aku tau dia pindah dari teman-teman tongkrongannya.Sakit? Tentu saja, aku dianggap apa selama ini. Apa cuma aku saja yang merasa kami punya hubungan, apa cuma aku aja yang menganggap dia pacar? Mungkin saja, karena dia memang secuek itu selama ini sama aku dan sehumble itu jika pada orang lain.Sebulan berlalu aku masih malu jika mengingat kelakuanku yang selalu menghampirinya di kelas, mengajaknya makan, mengajaknya jalan, atau bela-belain ikut ekskul olahraga padahal gak suka.Kukira dia punya rasa yang sama ternyata kita beda.Yah... Finally akhirnya aku sadar dan mulai memperbaiki diri, kalau bahagiaku gak boleh tergantung padanya, aku harus membahagiakan diri sendiri dulu."Fafa... Nonton basket yu...""Males ah, panas.""Duillle... Yang ayangnya udah gak ada, alesan aja panas, gak inget dulu lo yang paling semangat kalau nonton basket.""Itukan dulu, sekarang gue males, super males apalagi harus ketemu temen-temen nongkrongnya dia. Dan satu lagi Ren, jangan panggil gue Fafa, nama gue Fara."Dan temanku Rena hanya nyengir."Yaudah kalau males yu kantin aja makan, biar semangat bestie.""Yu... Makan lebih berfaedah dari pada panas-panasan.""Kata seseorang yang baru saja ditinggalin ayang". Ledek Rena, lagi.Tapi tak berselang lama setelah Fara dan Rena duduk di kantin, datanglah gerombolan anak basket plus dayang-dayangnya alias tim hore mereka, mengambil tempat duduk tepat di meja sebelah Fara."Dih ngapain sih mereka duduk disana, meja jauhan dikit masih ada kali." Gerutu Fara yang di balas Rena, "Biarin aja, cuekin."Masalahnya kalau dekat-dekat mereka Fara suka gerah sendiri, mereka seolah menyindir Fara dengan menceritakan updatean terbaru dari mantannya itu. Seperti saat ini."Eh gila si Algra makin keren aja tuh anak, pake update nonton balapan di Mandalika lagi."'Satu' batin Fara."Kenapa sih doi kalau bikin snap gak pernah senyum, padahalkan gue kangen sama senyumnya dia."'Dua'"Semalam gue chatan sama dia katanya kakaknya yang cewe ulang tahun, hadiahnya minta jalan-jalan ke Lombok, si Al ngikut deh."'Tiga' Kuping Fara udah mulai pengang dengar nama Algra terus di sebut-sebut."Eh gue chat dia juga deh siapa tau di bawain oleh-oleh."Cukup sudah, panas deh kuping Fara, bahkan soto di mangkoknya masih banyak dia sudah berdiri hendak pergi."Ck... Gak tepat banget sih gue milih waktu makan."Ia cepat-cepat pergi darisana meninggalkan Rena, yang masih menghabiskan kuah baksonya."Fara!" Fara berhenti melangkah tanpa menoleh. "Salam dari Algra." Dan selanjutnya langkah Fara diiringi suara tertawa mereka.Fara tau mereka tak serius tentang salam dari Algra, dan Fara juga gak mau tau tentang Algra lagi, nomor dan sosial media Algra sudah dia blok sebelum dia di blok terlebih dahulu, ya siapa tau Algra semalas itu untuk tau tentang dia, pergi aja tanpa pamit, jadi ya Fara blok duluan aja Algra.***"Fara... Ada abang gojektuh di depan, kamu pesen makanan?" Tanya Kinan ibunya Fara."Enggak... Aku gak pesen mah, salah alamat kali." Jawab Fara yang sedang leha-leha di depan TV."Coba kamu cek ke depan, mamah gak ngerti sama yang begituan.""Dengan Neng Fara?" Fara mengangguk, "Martabak kacang keju sesuai pesenan ya Neng." Abang Gojek menyerahkan kotak yang terbungkus kresek dari tangannya."Tapi saya gak pesen Bang, abang salah amat kali." Keukeuh Fara."Ini dengan Neng Fara Audya kan?" Fara mengangguk. "Berarti saya gak salah alamat."Meskipun masih heran akhirnya Fara menerimanya. "Eh Bang ini udah di bayar belum?""Udah Neng pake Gopay, saya di kasih tipsnya gede lagi, makasih ya Neng.""Sama-sama Bang."Fara meneteng keresek berisi martabak itu ke ruang TV dimana sekarang ada Ibunya yang menggantikan tempatnya tadi."Dari siapa Ra?"Fara mengendikan bahu, "Gak tau.""Isinya apa?"Fara menyerahkan bungkusan itu ke sang ibu lalu di bukanya. "Ini kan martabak kesukaan kamu, kamu gak tanya ke abang Gojeknya ini dari siapa."Fara hanya nyengir, "lupa Ma.""Ih ari kamu, nanti kalau sudah tau siapa pengirimnya bilang makasih sama dia, tau aja dia kalau lagi dingin-dingin gini enaknya makan yang anget-anget, sini cobain biasanya kalau Papamu beli martabak kamu yang paling semangat ngabisin.""Takut ada apa-apanya kalau di makan." Jawab Fara."Hush kamu kalau ngomong jangan sembarangan, ini mamah udah cobain gak ada apa-apa malah enak banget, makanya kalau mau makan baca Bismillah dulu, ayo sini."***"Eh... Gue kemarin gak sengaja lho liat Kak Algra di Mall, serius gue beberapa bulan gak ketemu makin ganteng aja Kak Algra."Bisikan itu Fara dengar saat lewat depan koridor kelas sepuluh. 'Heran pagi-pagi udah denger nama Algra aja, bikin gak mood' Dengan langkah cepat Fara segera menaiki tangga menuju kelasnya."Far sini deh... cepetan." Teriak Rena begitu melihat Fara diambang pintu kelas."Apa sih, pagi-pagi udah ribut aja.""Sstt diem terus lo duduk sini." Paksa Rena untuk duduk di bangkunya. "Gue tadi pagi denger dari anak-anak kalau si Algra lagi ada di Kota ini, lo denger gak?""Bodo amatlah, yang penting dia gak masuk sekolah ini lagi." Jawabnya kesal."Justru itu gue denger sesuatu yang lain tentang Algra."Fara melirik Rena penasaran. "Apa?""Katanya dia gak pernah pindah ataupun keluar dari sekolah ini.""Maksudnya?""Artinya dia masih murid di sekolah ini Fafa.""Jangan panggil gue Fafa.""Gak penting nama panggilan lo apa, yang pasti lo harus siapin mental seandainya dia emang masuk lagi ke sekolah, ngerti?""Tapi... Mana bisa, diakan udah hampir dua bulan gak masuk." Heran Fara."Bisa-bisa aja sih Fa, diakan anaknya Pak Kusuma salah satu donatur terbesar sekolah kita, bahkan kalau dia mau sekolah kita bisa di beli kali sama keluarganya.""Tapikan... Tetep aja...." Desah Fara frustasi, dia tidak bisa membayangkan satu sekolah dengan mantan sepopuler Algra."Tenang dulu, inikan juga belum valid baru gosip aja, siapa tau Algra emang bener-bener pindah, ya kan."Tapi sayangnya gosip itu tervalidasi di siang hari, dimana Algra dan teman-temannya terlihat bermain basket di lapangan, bahkan lapanganapun kembali ramai dan ricuh karena yel-yel dan teriakan nama Algra.Sementara Fara berusaha untuk tak melihat dan bertemu Algra, seperti bermain kucing-kucingan, mungkin Fara selamat untuk hari itu tapi tidak di hari berikutnya. Diaman saat dia sedang makan datang di kantin Algra datang dengan rombongannya.Fara yang saat itu pura-pura tidak melihat berusaha berkonsentrasi dengan kuah sotonya, lantas tersedak saat Algra benar-banar duduk dihadapannya.Fara melotot kaget, sementara Algra menatap Fara tajam."Hp kamu!" Ucap Algra."Ap...apa?" Gugup Fara."Hp kamu mana?" Pinta Algra."Buat apa sih?""Hp kamu siniin!"Dengan raut bingung Fara menyerahkan Hpnya pada Algra. Dengan mudah Algra membuka kunci HP Fara."Eh ko kamu tau sandinya.""Tanggal jadian kita kan?"Sial Fara lupa mengganti sandi Hpnya. Tak lama Algra membuka dan menutup akun Fara juga mengotak-atiknya sebentar dan di serahkan lagi pada Fara."Jangan suka blokir nomer orang tanpa sebab, masa mau bilang kangen sama pacar aja harus titip ke si Galen sih."Fara tambah kaget dong, 'pacar? Kangen'"Pacar? kita inikan udah putus." Ucap Fara bingung."Kapan aku mutusin kamu Audya, kamu aja yang mikirnya kejauhan."Algra lalu berdiri mengacak rambut Fara pelan. "Lanjutin makannya, ilernya jangan lupa di lap."Reflek Fara mengelap sudut bibirnya dna tidak ada apa-apa diasana. "Ishh.... Algraaa!"Algra berbalik dan tersenyum manis. "Apa? Sama aku juga kangen sama kamu." Balasnya disertai iringan tawa dari teman-temannya.Ingin rasanya Fara berkata kasar, tapi ia tak mau berakhir di ruang BK. Akhirnya dia kembali duduk dna memeriksa HPnya, ternyata Algra membuka blokiran nomernya dan juga menambahkn sesuati di profilnya. "Pacar Algra"***"Pulang yuu..." Ajak Rena."Lo duluan deh...""Kenapa sih... Takut ketemu Algra? Bukannya lo kangen ama dia, tadi aja di godain dikantin muka lo ampe blushing-blushing gitu." Goda Rena."Itu gue malu begoooo""Ah... Salting juga gak apa-apa, kan di godain ayang.""Diem lo... Hush pulang sana, kalau ada yang nanyain gue bilang gue udah pulang duluan.""Cieee ada yang ngarep ditungguin." Rena masih asik menggoda Fara yang wajahnya sudah merah bak kepiting rebus."Renaaa... Gue timpuk lo pake penghapus kalo gak pergi juga.""Iye... Iye... Gue pergi, hati-hati lho sekolah sepi ada yang nyulik tau rasa lo gue gak bakal nolongin."Akhirnya setelah puas menggoda Fara Rena pun pergi, tersisa Fara satu-satunya di kelas, ia sengaja menunggu sekolah sepi takut untuk bertemu Algra, berharap Algra sudah pulang atau paling tidak dia sudah sibuk di lapangan basket.Setelah berapa lama berdiam diri di kelas dan terdengar di lapangan basket sudah riuh tepuk tangan Farapun dengan hati tenang beranjak pulang, sayangnya saat membuka pintu kelas bersamaan pula dengan seseorang mendorongnya."A... Algra." Tanya Fara terbata. "Ka...kamu ngapain disini?"Algra hanya diam menatap tepat di bola mata Fara, sementara Fara melangkah mundur saat Algra semakin maju."Aal... Kamu mau ngapain." Fara mulai takut, ia mulai menyesali kenapa dia menunggu semua orang pulang.Secepat kilat Algra menarik tangan Fara lalu membawa tubuh Fara dalam pelukannya, erat. Fara yang kaget hanya menganga dengan perlakuan Algra tanpa merespon apapun."I miss U" Bisik Algra di telinga Fara. "Kamu gak kangen sama aku?" Lama tak ada jawaban dari Fara, Algra melepas pelukannya berganti dengan mengelus kedua pipi Fara."Hey... Aku kangen banget sama kamu, apa kamu gak kangen aku?"Perlahan mata Fara mulai berkaca-kaca pertahannya mulai luruh, dengan terisak dia bertanya. "Kamu kemana aja?""Maaf... Maaf banget aku gak pamit, karena kalau aku bilang ke kamu dulu berat aku untuk pergi."Fara masuk ke dalam pelukan Algra kembali, "Tapi kenapa kamu gak hubungin aku." Suaranya sedikit teredam di dada Algra."Kamu blokir nomer dan sosial media aku kalau kamu lupa." Balas Algra."Maaf..." bisik Fara dan tangisnya makin kencang."Hey.... Sstttt.... Aku nyakitin kamu banget ya?" Fara mengangguk lalu menggeleng membuat Algra tersenyum gemas. "Udah dong nangisnya, sini aku lihat dulu wajah pacar aku yang cantik ini.""Ish apaan sih, gombal.""Kok gombal sih, beneran lho aku susah tidur kalo lagi kangen sama si cantik ini.""Aaaallll...""Apa, sini cium dulu, pipi aja sini." Goda Algra.Tapi pada prakteknya bukan pipi yang di cium Algra tapi bibir manis yang selama ini dia rindukan, kelas kosong dan lorong yang sepi menjadi saksi dua anak remaja itu menjalin kasih kembali.End
Jam Dua Pagi, Aku Pulang ke Kamu
Jam sebelas malam Kara tiba-tiba terbangun dari tidurnya, melirik ke kiri ia melihat foto mesranya dengan Christian, pacarnya selama dua tahun ini yang sayangnya saat ini hubungan mereka sedang break entah sampai kapan.Jujur Kara kangen Ian, biasanya di jam-jam seperti ini Ian akan datang setelah selesai melakukan syuting, Ian akan membangunkan Kara dengan sebuah ciuman atau hanya sekedar kecupan lalu Ian akan tidur memeluk Kara."Argghh... Gue kangen banget sama dia."Kara mulai frustasi, hampir dua bulan mereka saling berjauhan tepatnya Kara yang menghindari Ian untuk mendinginkan kepala sebagai alasannya, nyatanya bukannya dingin pikiran dia malah semakin gak karuan berjauhan dari Ian, ingin minta segera diakhiri ia terlalu gengsi.Kara hanya melenguh dan menjatuhkan diri kembali ke atas bantal. Dengan susah payah dia hampir terlelap tapi seketika terbangun ketika terdengar ketukan di pintu, ia melirik jam di nakas yang menunjukan pukul 00.17 dini hari."Siapa malem-malem ketok pintu."Ian gak mungkin pikirnya, ia jadi takut sendiri, tapi ketukan di pintu tak mau berhenti, memberanikan diri ia membawa payung panjang untuk berjaga-jaga kalau ada pencuri ia akan langsung memukulnya."Siapa?"Tak ada jawaban, Kara mendekati pintu, mengintip dari lubang kecil dan dia kaget saat membuka pintu bahwa itu adalah Ian, dengan senyum mengembang ia langsung memeluk Kara sampai terhunyung kebelakang sehingga payung yang di pegang Kara jatuh ke lantai." I Miss You Ra, I really do."Kara membiarkan Ian masuk, lega dan juga bahagia ia bisa melihat Ian malam ini."Kamu bau alkohol?" Protes Kara sesaat setelah Ian melepaskan pelukannya."Ada pesta perayaan tadi, aku minum dikit.""Kamu mau minum apa? No kopi ya, aku gak mau kamu gadang sampai subuh.""Sini dulu jangan kemana-kemana, aku gak mau apa-apa, aku cuma mau kamu". Ian menarik tangan Kara yang akan melangkah kedapur hingga terjatuh di pangkuannya."Baikan ya, aku gak tahan jauh-jauh dari kamu". Ian membelai pipi dan rambut Kara hal yang ia sangat rindukan bahkan ia rasa akan gila jika sehari saja ia tak dapat kabar tentang Karanya."Aku gak mau cuma liat foto-foto kamu atau hanya dengar kabar kamu dari orang lain.""Kamu nguntit aku Yan?""Ya kadang aku nyuruh Bobby buat ngikuti kamu, atau kalau aku udah gak kuat banget kangen sama kamu aku sendiri yang akan ngikutin kamu.""Kamu segaada kerjaannya sampai ngikutin aku kemana-mana bapat Direksi yang terhormat""Buat kamu gak ada kata sibuk.""Gombal.""Berani ya bilang aku gombal." Jawab Ian sambil menggigit hidung mancung Kara gemas.Suara perut Ian menghentikan acara romantis-romantisan mereka, dan akhirnya mereka tertawa bersama."Yah aku gak masak gimana dong?""Beli sate depan komplek yu" Ajak Ian."Jam segini? Ini udah hampir jam dua pagi Yan.""Ada kok beneran, yu?!""Aku gak perlu ganti bajukan ya, cuma kedepan ini.""Gak usah, nih pakai jaket aku." Ian menyerahkan jaket hitam kesayangannya yang hanya pada Kara ia relakan untuk memakainya."Kamu bawa motor? Kirain bawa mobil.""Males Ra, malam minggu gini jalanan macet.""Gak malam minggu juga Jakarta mah tetep macet.""Udah ayo." Ian menarik tangan Kara menuju motor Harley yang terparkir di depan rumah Kara, merapatkan Jaket Kara dan membantunya naik, lucu sekali jika Ian melihat Jaket atau bajunya di pakai oleh Kara, sangat oversize tapi selalu cantik kalau di pakai KaraSesampainya di tempat jualan sate, Ian mengajak Kara duduk di kursi paling jauh dari tukang sate."Jauh banget duduknya.""Biar bisa lakuin ini." Jawab Ian sambil mencium tangan Kara lama yang sejak tadi tak lepas dari genggamannnya.Tak berselang lama pesanan mereka datang lalu mereka makan dalam diam sambil sesekali Ian melihat Kara yang sedang makan, saat ia melihat ada saus kacang yang menempel di ujung bibir Kara tanpa ia bisa cegah ia langsung mencium dan melumatnya hingga membuat Kara sewot."Iaaan... Kamu,! kalau ada yang lihat gimana?""Itu satu lagi alasanku kenapa ngambil meja ini"."Kamu kaya ABG aja sih ngumpet-ngumpetan."Ian menvubit pipi Kara gemas.Setelah selesai mereka ngisi perut mereka kembali lagi ke rumah Kara."Yang peluk dong, kangen aku dipeluk sama kamu pas naik motor gini.""Palingan pas aku gak sama kamu kemarin kamu ganti-gantikan bonceng cewek di motor ini.""Enggak yang, sumpah ya, kamu jelek banget sih pikirannya, aku gak pernah bawa siapapun selain kamu, cuma tas isi kamera yang gantiin posisi kamu sengaja biar gak ada yang minta nebeng.""Kalau kamu bawa mobil gimana?""Aku bawa baju ganti dari rumah dan aku taruh di kursi belakang, kursi samping aku taruh kamera biar gak ada yang minta nebeng juga."Kara tersenyun senang di belakang, padahal ia hanya bercanda, tapi siapa yang tau kalau cowok ganteng, dengan tato yang memenuhi tangan, sebelah dada dan punggungnya juga penuh talenta ini bisa begitu setia itu padanya.Kara meminta break karena merasa terlalu berat berada di sisi Ian apalagi setelah studionya makin rame dan Ian sendiri akhirnya merilis album.Tapi ternyata jauh dari Ian ia merasa lebih berat dibanding menghalau wanita-wanita yang menginginkan Ian.Kara mencubit pipi Ian dari belakang. "Ulu.. Ulu... bucin banget sih Christian super ganteng ini, pacarnya siapa sih?""Pacarnya Kara dong." Jawab Ian mantap.***"Mandi dulu gih kalo mau tidur, aku udah siapin." Kara menghampiri Ian yang sedang membalas pesan entah pada siapa di jam tiga dini hari seperti ini.Ian menurut dan segera masuk ke kamar mandi, sementara Kara langsung menuju tempat tidur dan langsung merebahakn dirinya disana. Sepertinya malam in ia akan tidur nyenyak karena ada Ian disampingnya. Itu yang ada di pikiran Kara sampai Ian keluar kamar mandi hanya dengan boxernya dang langsung bergabung dengan Kara di tempat tidur.Awalnya Ian hanya memeluk Kara dari belakang, lalu mulai menciumi tengkuk Kara, tangannya mulai masuk ke dalam kaos Kara melepas kaitan bra Kara dan meremas kesukaannya disana."I miss you so bad". Ucapnya di sela-sela cumbuannya di leher Kara hingga suara desahan Kara keluar dan tak mampu lagi membendung hasrat Ian yang sangat mendamba akan tubuh Kara.Ian langsung mencumbu Kara penuh gairah, dari mulai bibirnya, turun ke leher, lalu lebih bawah lagi, Ia bermain main disana, menghisap menggigit dan memberi tanda sebanyak-banyaknya di dada Kara, membuat Kara menggelinjang mengharap lebih."Iaaann... ah...""Apa sayang..."Ciuman Ian turun ke perut Kara, kembali memberi tanda disana, Ia ingin memiliki Kara untuk dirinya sendiri. Turun lagi ke bawah, ia membelai milik Kara juga menciuminya, hingga Kara sudah meracau tak karuan."Iaann pliiiissssh"...Ian kembali memagut bibir Kara panas, lalu menempatkan Juniornya yang sudah menegang di depan milik Kara."Im home." Desah Ian saat miliknya sudah menyatu dengan milik Kara.Desahan saling bershutan diantara mereka, melepaskan kerinduan dan cinta, penuh keringat dan basah, mereka saling memuaskan, saling mendamba, hingga desahan panjang mengakhiri kegiatan keduanya saat mereka medapatkan pelepasan. Lalu mereka jatuh tertidur.Matahari sudah tinggi saat Kara bangun, ia menutupi matanya karena merasa silau, namun karena ada suara kekehan dari sebelahnya ia membuka matanya lagi.Ian sedang menatap dalam Kara membuat wajah Kara memerah malu."Jangan diliatin, malu ih." Ucap Kara membenamkan wajahnya di bantal namun tak diabiarkan oleh Ian."Lihat sini, aku udah lama gak liat bidadari bangun tidur, cantik banget sih bidadarinya Ian."Ucap Ian sambil menhadiahi wajah Kara dengan kecupan-kecupan kecil, Kara pun memberiakn ciuman singkat di bibir Ian. Akhirnya mereka hanya diam saling menatap."Kita udah baikan kan yang?" Kara mengangguk sebagai jawaban."Aku gak sanggup jauh lagi dari kamu, aku gak mau kehilangan kamu, so....." Ian mengelurkan cincin tanpa kotak dari saku boxernya, "Will you marry me?"Kali ini wajahnya serius dan penuh harap, dan Kara tentu saja terdiam kaget.Ian laki-laki korban broken home, takut untuk menikah karena takut menyakiti seperti papanya, hidup bebas, lepas tapi kini memnintanya untuk menikah, hidup bersama dengan Kara, tentu saja Kara sangat menginginkan itu."Are u sure?""Aku gak pernah seyakin ini, kehilangan kamu membuatku merasa lebih takut dari pada dengan bayangan kelam perlakuan papa ke mama, jauh darimu membuatku tak berdaya Kara."Pliss jangan tolak aku, Will you marry me?" Pintanya sekali lagi.Tanpa berpikir lagi Kara langsung menjawab."Yes yes yes... Love you Ian.""I love you more than anything."Akhirnya pagi-pagi itu kembali disiisi dengan adegan ranjang panas antara Ian dan Kara."Btw, kamu gak romantis banget sih ngelamarnya cuma boxeran doang. bahkan aku masih naked Ian."Nanti aku ulangin lagi dengan cara romantis, sekarang ayo lanjutkan adegan panas kita, goda Ian sambil menekan Kara."Iaaaannnnnn" 😘😘😘END
Arasa
Aku sungguh mencintai pria itu, Yovan. Mati-matian aku menahan hatiku setelah mempertemukan mereka.Aku ingat sekali saat dimana aku dan sahabat terbaikku, Kalila janji bertemu di cafe melakukan rutinitas yang kami lakukan sebulan sekali sekaligus memperkenalkan calon suamiku kepadanya, benar kami memang dijodohkan tapi aku jatuh cinta sejak pertemuan pertama kami.Aku mengamati ekspresi Kalila dengan Yovan ada kilatan terkejut di dalam manik mata mereka, aku pikir itu hanya perasaanku saja. Hingga kejadian puncaknya adalah fakta bahwa mereka memang berkencan di belakangku.Aku membenci mereka tapi malam itu aku mendengar percakapan antara Yovan dan ibuku, satu sisi aku tidak terima namun sisi lain hatiku berkata cinta tidak bisa dipaksa bukan?Aku sangat menyayangi Kalila tapi aku juga begitu sangat mencintai Yovan. Tapi ternyata aku lebih menyayangi Kalila daripada Yovan sehingga memilih untuk membatalkan perjodohan dan merelakannya untuk Kalila.Aku juga tahu, Kalila sangat menyayangiku terlihat ketika dia frustasi saat aku tak berniat untuk menemuinya. Jujur aku memang tidak sanggup untuk bertemu dengannya dalam waktu dekat, jadi setelah aku mengatakan pada ibuku, aku menulis surat untuknya.Tadinya aku ingin sekali menghukum Kalila dengan perasaan bersalahnya hingga rasanya ia akan mati dengan rasa bersalah itu. Aku takkan membunuhnya karena aku masih memiliki rasa kasih kepadanya.Melihatnya menangis dan tampak kacau dibandara dengan pelukan hangat dari Yovan adalah pilihan yang tepat saat itu, aku senang melihatnya lega ketika ia membaca surat dariku, aku tak bebohong aku sungguh menyayanginya.Benar, aku melihatnya di bandara. Kata pamit ke London tak benar-benar ku lakukan, aku hanya berangkat pergi ke negara tetangga yang dekat yaitu Malaysia. Tidak buruk, karena memang aku butuh menenangkan hatiku yang tak baik-baik saja saat itu. Aku terlalu takut untuk pergi terlalu jauh.Jika ditanya bagaimana perasaanku saat ini maka jawabannya adalah aku baik-baik saja, sangat.Kata orang, obat terampuh dalam menyembuhkan luka hati adalah jatuh hati. Sebenarnya bahkan perasaanku sudah tak ada pada Yovan.Tapi kepada siapa hatiku harus berlabuh?Aku menghela nafas, memandangi pemandangan malam kota malaysia dari atap cafe. Tak ada yang istimewa, kecuali coklat panas ini.Mengingat beberapa kenangan masa lalu sembari memainkan jari diujung cangkir."Boleh bergabung?" tanya suara berat disampingku, aku menoleh pada pria itu lalu mengedarkan pandangan sekelilingku"Masih banyak tempat yang kosong" jawabku acuh.Pria itu tersenyum, mendudukkan tubuhnya di sampingku. Kenapa dia bertanya jika begitu.Aku hanya diam, kemudian menyesap coklat panasku perlahan. Ini sudah bulan ke 11 aku di negara ini, kira-kira Kalila apa kabar ya? Aku sungguh rindu padanya.Sekarang aku benar-benar menyadari hanya dia teman yang ku punya. Bahkan dengan keluargaku, aku lebih dekat dengannya."Apa kabar Cindy?" ucap suara pria itu, aku menoleh menaikkan alisku, bukan masalah tahu dari mana ia namaku, bukan.. Bukan karena aku tidak tahu siapa pria ini tapi kami sudah beberapa kali bertemu bahkan jalan bersama akhir-akhir ini tapi ada apa ia malam ini. Kemana sikap manisnya padaku beberapa minggu ini.Seakan mengerti pria itu tersenyum kepadaku lalu berucap "Teo. Aku pernah menghadiri acaramu bersama Kalila" jelasnya, aku memutar bola mataku dengan jengah.Ya, akhir-akhir ini aku memang dekat dengan pria ini, tapi beberapa hari tak bertemu dengannya membuat ia berubah malam ini.Aku berfikir sejenak berupaya mengimbanginya, dengan ekspresi, ya ampun dunia sesempit ini ya "Ah kau ternyata" balasku seadanya karena sikapnya seperti baru bertemu."Sebulan yang lalu mereka menikah, kau tahu?" tanyanya yang ku balas anggukan, nah apa karena hal ini dia begituAku tahu mereka menikah dan Kalila berharap aku datang namun aku masih enggan. Bukan karena aku belum memaafkan hanya saja aku masih belum ingin menemui mereka."Kau tidak hadir?""Kau sedang apa disini?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya aku malas membahas itu.Untuk kesekian kalinya, Teo tersenyum. Sungguh ia pria yang tampan aku akui itu."Tidak ada, hanya ada sedikit urusan"Setelah itupun hening, tak ada percakapan antara kami hingga suara Teo kembali terdengar "Besok malam ada acara?""Tidak ada""Kalau boleh, bisa temanin aku ke suatu acara?" ajaknya, nah kan ia selalu menemuiku kalau ada maunya setidaknya hanya itu kami bertemu. Aku tampak berpikir tapi kurasa boleh juga lagipula aku bosan sendiri melulu, dan aku juga mengenalnya. Setidaknya Teo pria yang baik, itu yang dikatakan Kalila saat itu.Aku mengangguk "Boleh. Pukul berapa?" jawabkuIa mengambil ponselku yang tergeletak di samping cangkir lalu mengambil jariku untuk membukanya, mengetikkan sesuatu dan tak lama ponsel di sakunya berdering kemudian dia berucap "Nanti aku hubungi, tapi besok harus berpenampilan cantik" ucapnya lalu tertawa, seakan tertular akupun tertawa mendengarnya.Ya aku baru ingat meskipun kami pernah beberapa jalan bersama di negara ini tapi faktanya kami saling tak menyimpan nomor ponsel. Lucu sekali.Kami juga bertemu tak sengaja lalu inisiatif pergi bersama seperti yang di lakukan Teo malam ini, bedanya ia ingat meminta nomor ponsel.Seperti ucapannya kemarin malam, malam ini aku sudah berada di suatu acara yang ternyata adalah suatu perayaan rekan kerjanya. Mungkin karena ini ia berada di sini.Sebenarnya aku tidak betah disini, bagaimana tidak pria diseberang sana terus saja memerhatikanku dengan tatapannya yang tak senonoh, aku tidak suka dilihat dengan pandangan demikian.Teo memegang tanganku sedikit merapatkan tubuhku padanya, aku melirik sedikit ke wajahnya yang sepertinya Teo mengerti keadaanku yang dipandang oleh orang itu." Are you okay? " tanyanya yang ku angguki.Tak lama ada seorang perempuan cantik, sungguh cantik sekali. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa minder, wajahnya bukan asli indonesia."Hai, Teo" sapanya sambil mencium pipi kanan kiri Teo yang ku lihat Teo sedikit risih."Hai, Jessi" balas Teo singkatNamun entah bagimana, tatapan wanita bernama Jessi itu padaku tidak terlihat menyenangkan. Ah mungkin hanya perasaanku. Lalu Teo mengenalkanku padanya."Mm.. Teo aku ke toilet sebentar ya""Mau aku antar?" tawarnya dan aku menggeleng setelah mengucapkapkan itu aku berjalan ke toilet.Ini sebenarnya hanya pelarian saja, aku membenahi riasan sedikit."Kamu pacarnya?" ucap wanita bernama Jessi yang datang langsung menanyaiku disini."Tidak" balasku singkat"Kalau begitu pulanglah. Teo akan pulang bersamaku" ucapnya sambil menajamkan tatapannya.Huh! Dikira aku takut. Aku ingat moment seperti ini, jika Kalila pasti sudah takut tapi aku tidak. Tidak sampai dia mengucapkan kata-kata sadisnya."Dibayar berapa dengan Teo?""Kau perempuan Psiko" balaskuDia mengangkat bahunya tanpa ingin mendengar kelanjutan ucapannya aku pergi meninggalkannya, malas meladeninya.Aku berhenti mengambil minuman yang di bawa pelayan itu dan menyesapnya perlahan, aku mengalihkan pandanganku menatap Teo di sana tangannya dilingkari mesra oleh Jessi. Ah kenapa mendadak rasanya di sini gerah sekali.Ini bagaimana ya? Aku pulang langsung begitu. Ah bodolah. Aku pergi saja.Aku mulai melangkahkan kakiku menuju keluar gedung ini, ini bukan negaraku mana aku tahu jalanan ini karena aku memang belum pernah menjajaki tempat ini.Mengikuti naluri aku berjalan perlahan baruku sadari ternyata tempat ini jauh dari keramaian.Tak lama aku berjalan ada dua orang lelaki yang sedang bercakap-cakap namun tak jelas, ragu aku melangkah.Namun ternyata pria ini mabuk, aku takut. Tidak hanya di Indonesia disini juga ada yang suka mabuk aku bergidik ngeri.Semakin mendekat, tatapan pria itu seperti menelanjangi tubuhku. Mama aku takut.Seketika aku tersentak kala sebuah tangan merangkulku "Diamlah.. Ini bukan negara kita" bisiknya aku menatap wajah itu.Ah Teo ternyata.Eh? Kok dia bisa tahu ya"Bagai..""Diamlah" ucapnya lalu ia mengajakku berlangkah cepat menuju ke mobil yang terparkir di gedung itu."Kenapa pergi tidak bilang?" ucapnya, aku hanya diam, rasanya lidahku kelu untuk berucap."Cindy, harusnya kamu bilang. Tidak meninggalkanku begitu saja. Coba saja aku tidak datang tadi."Baiklah.. Kenapa sekarang aku merasa seperti dimarahin pacarku ya. Tapi mendengar ia memarahiku sedikit dari sudut hatiku menghangat. Sedikit ini loh yaa.. Aku tidak berani mendeskripsikan lebih."Aku hanya..""Jessi?" potongnya dengan cepat, tanpa kata aku mengangguk.Menghela nafas, Ia mendekatkan tubuhnya padaku, sejenak tatapan mata kami bertemu. Mendadak jantungku berdetak lebih cepat dan hatiku berdesir kala melihat tatapan matanya.KlikBunyi selt belt terdengar membuatku menghela nafas yang tanpa sadar tadi aku sedang menahan nafas.Terdengar kekehan kecil dari bibir Teo, ia mengusap lembut puncak kepalaku yang menambah hatiku semakin berdesir. Lalu tangannya menyalakan mobil dan mulai melajukannya.Ah lama sekali aku tidak diperlakukan begini dengan pria. Apa karena alasan ini hatiku seketika berdesir?Kulay begitu ya, alias kurang belay.Rasa-rasanya terakhir kali aku diperlakukan begini sekitar empat atau lima tahun yang lalu bersama mantanku, itu juga aku tidak terlalu mencintainya.Yovan? Bahkan ia tidak pernah begitu, hubungan kami layak disebut teman mengingat hanya aku yang jatuh cinta saat itu.Beberapa minggu menghabiskan waktu bersama Teo tanpa diduga tidak terlalu buruk untukku. Aku bahkan sudah melupakan Yovan. Seperti imitasi ternyata perasaanku terhadap Yovan. Dan mungkin saja itu hanya obsesi semataku.Entahlah.."Besok aku kembali ke Indonesia. Ingin ikut?" tanya Teo sambil memegang kemudinya.Aku menimbang "Mungkin... Ah aku belum tau""Apakah kau akan menghubungiku nantinya?" tambahku dengan pertanyaan aneh iniTeo mengangguk sebelum menjawab "Tentu. Dan aku akan menunggumu di Indonesia" balas Teo sambil menghentikan mobilnya yang ternyata sudah sampai di hotelku."Terima kasih" ucapku mulai melepaskan selt belt dan keluar tapi tangan Teo menghentikan pergerakanku.Ia menarikku ke dalam pelukannya tanpa sepatah katapun ia mengusap rambutku dengan lembut.Hatiku semakin berdesir, tidak aku tidak boleh membawa perasaan begitu saja."Terima kasih sudah menemaniku disini" suaranya sedikit serak dipendengaranku, aku hanya mengangguk dengan irama jantung yang terus berdetak."Aku sungguh bahagia menghabiskan waktu denganmu" lalu melepaskan pelukannya padaku setelah mengecup puncak kepalaku.Aku terdiam dan ia tersenyum "Masuklah. Selamat malam, Cindy."Aku yang masih bingung hanya mengangguk dan bergegas turun melangkah menuju kamarku.Sudah seminggu semenjak kembalinya Teo ke Indonesia, ah kenapa aku menjadi tidak betah disini.Teo mengatakan akan menghubungiku tapi sudah seminggu kepulangannya kenapa ia tak juga kunjung menghubungiku?Rasanya aku merindukannya.. Atau karena aku terbiasa bersamanya.Aku kembali membaringkan tubuhku, biasanya aku juga sendiri tapi biasa saja kenapa sejak malam ini aku jadi terus ingin bertemu dengan Teo.Ku lihat jam yang terletak di atas nakas, sudah pukul 7 malam waktu setempat.Kacau.. Ini sungguh kacau.Aku mengambil ponsel, memesan tiket pada suatu aplikasi online untuk keberangkatan pulang ke Indonesia besok. Aku bangkit membereskan pakaian serta perlengkapanku.----Akhirnya aku sudah sampai di bandara Soekarno Hatta. Dari sini, aku tidak ingin langsung pulang ke rumah melainkan aku akan ke cafe sebentar.Hingga sampai di cafe, aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang amat kurindukan.Tangan seseorang di ujung sana melambai membuat aku tersenyum lebar. Benar, waktu dapat memperbaiki segalanya. Itulah yang terjadi padaku."Kalila..." ucapku sambil memeluknya erat. Ya tadi pagi aku menghubunginya dan meminta pertemuan ini."Maafin aku, Cindy""Kau bicara apa sih? Aku tidak ingat" melepaskan pelukan, dan balasanku pura-pura lupa apa yang terjadi. Well aku memang sudah melupakan kejadian yang lalu."Hai.." sapaan kaku pria itu, mantan calon suamiku, Yovan.Aku tersenyum lalu memeluknya singkat terdengar pria itu protes tapi ku abaikan, biarin saja Kalila marah.Kamipun akhirnya duduk, memesan makanan dan berbincang sesekali tertawa. Aku memandang mereka, keputusan yang ku ambil sangatlah tepat.Ah aku jadi ingin segera menemui Teo nantinya, tadi malam setelah merenung aku menemukan satu jawaban, bahwa aku mencintainya."Apa kau sedang dekat dengan seseorang?" tanya selidik Kalila padaku."Benarkah? Apa terlalu terlihat ya" balasku malu"Anak kecil juga tahu jika kau sedang jatuh cinta" balas Yovan ketus padaku yang langsung lengannya di senggol Kalila. Ah sepertinya dia agak kesal karena aku memeluknya tadi. Tapi memang begitu sih dia dari dulu padaku.Aku meletakkan pisau dan garpuku lalu menangkupkan kedua tangan di pipiku dan berucap "Sepertinya aku jatuh cinta sama Teo"Pisau dan garpu Kalila dan Yovan sama terhenti memotong steak. Bahkan terdengar Yovan mengumpat tertahan sedangkan Kalila terdiam dengan ekspresinya.Ada apa ini?"Kenapa?" tanyaku tapi mereka hanya diam, oh ayolah jangan begini."Ada apa? Ayo ceritakan" tuntutku pada Kalila "Kitakan sahabatan ayo ceritakan padaku" tambahku lagiKalilah menghela nafas, tampak ragu "Saat di Malaysia.. Kau bertemu dengannya, benar?" tanya Kalila ragu dan aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.Perasaanku mendadak melilit tidak enak "Aku tidak berhak menceritakannya tapi yang pasti, Teo akan menikah dua minggu lagi" jelas Kalila.Tanganku terkulai lemas mendengar penjelasan itu, bahkan lidahku rasanya kelu ingin menjawab apa. Aku baru saja jatuh cinta tetapi kenapa sudah begini lagi.Apa aku tidak pantas bahagia?Apa arti kata ia menungguku kembali dan apa juga artinya ia begitu manis padaku. Ahh aku ingat saat malam sebelum ke pesta, sikapnya memang berubah saat itu."Cindy.." panggil Kalila menyadarkanku, aku menyeka air mataku yang tak terasa turun."Kalila, bisa beritahuku alamat Teo" Kalila awalnya ragu tapi mengangguk dan memberikan alamat itu padaku, yang ternyata kami tinggal di apartemen yang sama dengan lantai yang berbeda.----Keesokan malam tiba, dengan ragu aku berdiri di depan apartemennya. Setelah ku pikir memang ada baiknya kami berbicara. Aku akan mengungkapkan bahwa aku mencintainya setidaknya aku berusaha, apapun keputusannya.Menekan bel beberapa saat, dan pintu terbuka menampilkan Teo dengan eskpresi sebal dan kalimat "Ada apa lagi sih Cla.." kalimatnya terhenti, ia menatapku dengan lekat-lekat lalu berkata "Eh.. Maaf Cindy""Hai.. Teo" balasku tersenyum dan ia juga tersenyum, mempersilahkanku masuk ke dalam apartemennya.Aku memperhatikan sekelilingku, apartemen dengan interior modern dilengkapi furniture yang membuat apartemen ini terlihat menawan dan nyaman, aku suka itu.Teo kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh "Kapan sampai?" tanyanya"Kemarin" balasku seadanya sambil menyesap teh itu mendadak tenggorokanku kering, aku ingin sekali mengungkapkannya tapi kenapa tiba-tiba perasaan aneh ini menyergapku, aku menautkan jari-jariku. Menimbang apa yang ingin ku katakan padanya."Aku baru tahu ternyata kita tinggal di apartemen yang sama"Aku mengangguk "hanya beda satu lantai" akuku padanya "Tapi saat ini aku tinggal di rumah mama" tambahku dan mulai memikirkan apa yang hendak ku katakan padanya. Aku bingung mengungkapkannya."Katakan saja, Cindy" ungkapnya seakan mengerti keinginanku.Aku sudah mulai mengatakannya tapi seketika aku menatap miniatur kincir angin di atas tv.Ya aku ingat kincir angin itu yang kami beli di Malaysia, saat itu ia membelikan aku yang kicirnya berwarna putih dan ia berwarna hitam. Menghiburku seraya berkata "Hidup itu seperti kincir angin ini, meskipun banyak terpaan angin tapi ia tetap berputar. Karena memang beginilah kehidupan kita, akan terus berputar" saat itu ekspresiku hanya memutar bola mata jengah karena kata picisannya.Tapi saat ini aku tersenyum menatap miniatur itu. Kurasakan tangan Teo menyentuh bahuku "Cindy, ada apa?"Mungkin ini saatnya, apapun yang terjadi seperti kincir itu kehidupanku akan terus melaju."Teo, aku mencintaimu" ucapku sambil menatap matanya, tapi pria itu hanya diam menatapku.Beberapa saat hening ia tersenyum dan mengusap puncak kepalaku tanpa jawaban, apa ini artinya dia tidak mencintaiku juga. Aku menggigit bibirku dengan gugup, mataku mulai memanas."Hei.. Jangan menangis" tuturnya dengan lembut."Maaf.. Seharusnya aku tak mengatakan ini padamu, aku tahu kau akan menikah bukan?" air mataku turun tanpa dicegah, "Aku pamit" baiklah aku mulai bangkit dan keluar dari apartemennya. Meninggalkannya tanpa kata, menghiraukan panggilan darinya.Saat ini memang tinggal di rumah mamaku lebih menyenangkan, setidaknya aku bisa memeluk mama nanti.Aku terus merutuki kebodohanku kenapa bisa aku mengatakan itu padanya, aku takut. Bagaimana ini.Sudah seminggu ini juga aku di rumah mamaku, sedikit menyesal mengatakan itu pada Teo. Satu minggu lagi pria itu akan menjadi milik orang lain. Aku menghela nafas.Pintuku diketuk, mamaku masuk ke dalam kamarku. Sambil membawa gaun berwarna biru donker."Nanti malam pakai ini ya. Dandan yang cantik. Ingat! Awas kalau tidak cantik" ucap ibukuAku merasa dejavu, ini seperti saat aku dijodohkan pada Yovan dulu. Aduh.. Bagaimana ini? Aku tuh maunya Teo."Maa... Jangan bilang ini perjodohan sialan lagi" rengekkuMamaku tersenyum "Ini hanya makan malam bersama keluarga rekan kerja papamu. Sekalian sih, jika kau tak suka pria itu jadi suamimu ya tidak masalah, mungkin tidak jodoh" jelas mamaku dan keluar dari kamarku.Oh baiklah ini terjadi lagi, masalah hati dengan Teo saja tak urung selesai dari hatiku, aku tidur beberapa saat sebelum bertemu dengan siapapun nantinya.Malampun tiba, akupun siap dan segera turun menemui mereka yang katanya sudah tiba.Terdengar suara mereka berbincang "Nah.. Ini anak saya, Cindy" kenal Papaku terhadap mereka"Wah.. Cantik sekali" jawab ibu itu dan aku tersenyum sambil menyaliminya tapi sungguh aku tak melihat pria muda atau anak mereka."Anak tante sebentar lagi sampai katanya" jelas tante Ningsih menjelaskanku"Assalamualaikum" suara bariton memasuki indera pendengaranku dan aku membelalak kaget melihatnya, ia tersenyum jenaka padaku"Teo" lirihku, aku bingung ada apa ini sebenarnya.Tanpa menghiraukan sekelilingku, aku menarik Teo menuju ke taman belakang."Coba bisa jelaskan padaku maksud semuanya" ucapku dengan tegas saat tiba di taman sambil menghentak tangannya dan aku duduk di bangku taman.Ia mengikutiku "Yang pertama, benar aku akan menikah...." ucapnya melihatku, ah ini aku sudah tahu "Tapi denganmu" aku menoleh dengan cepat"Maksudmu apa Teo? Kalila mengatakan kau akan menikah...""Dengarkan dulu.. Benar saat itu orang tuaku memang menyuruhku menikah dengan Clara, dan aku ke Malaysia juga sebenarnya mencari Clara yang kabur karena ia tak mau di jodohkan denganku. Lalu bertemu denganmu tanpa sengaja, menghabiskan waktu bersamamu sungguh membuatku bahagia. Aku akui, Awalnya aku menerima saja menikah dengannya sebelum aku tahu fakta kamu juga mencintaiku""Aku tidak mengerti" balaskuIa menghela nafas sebal "Intinya malam ini aku ingin melamarmu"Aku terkikik geli "Jadi Clara itu?" tanyaku"Aku sudah mengatakan padanya bahkan ia sangat senang untuk keputusanku" jelasnya lagi"Aku mencintaimu, Cindy. Minggu depan kita menikah""Huh? Kau baru saja melamarku atau membeli kerupuk enak banget ngomongnya" sungutkuIa tertawa lalu memelukku "Aku heran kenapa Yovan menyia-nyiakanmu tapi Kalila juga perempuan yang luar biasa sih"Aku mendengkus melepaskan pelukannya dan memukul lengannya "Kau baru saja memujiku atau menghinaku?" ucapku dengan sebal yang dibalas tawanya"Maaf.. Maaf.. Kamu perempuan yang hebat. Sampai aku kalah start mengungkapkan cinta" ucapnya sambil tertawa lagi yang membuatku malu dan ia menarikku ke dalam pelukannya"Teoo" rengekku"Iya.. Iya minggu depan kita menikah" godanya lagi padaku.Sesaat kemudian, ia melepaskan pelukannya padaku. Menatapku lamat-lamat, wajahnya perlahan mendekat ke arahku bahkan aroma mint sudah menguar yang membuatku refleks memejamkan mataku, nyaris saja bersentuhan sampai terdengar deheman dan ucapan ayah Teo berkata "Iya.. Iya minggu depan menikah" lalu mereka tertawa dan menghilang di balik pintu meninggalkanku dengan rasa malu dan Teo yang menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.End
Rana & Ray
"Pergi jauh kamu dari anakku""Kamu menghancurkan masa depannya""Kamu menghancurkan harapan kami""Saya mohon, saya akan berlutut di kaki kamu agar kamu meninggalkan Raydan, Kirana"Mimpi buruk itu masih terus datang, meskipun sudah tujuh tahun berselang, dan rasa sesak juga sakitnya tak pernah berkurang apalagi menghilang.Mereka tidak sadar bukan hanya anaknya yang kehilangan masa depan, bukan hanya anaknya saja yang hancur, dirinya kehilangan lebih daripada siapapun.Di tampar sang ibu dan di usir sang ayah, malam itu ia hendak mengadu pada Raydan, tentang bayinya tentang pengusirannya, namun yang ia dapat ternyata lebih pedih daripada keluarganya, bukan Raydan yang ia temukan namun pengusiran dan penghinaan kembali yang ia peroleh.Gadis 18 tahun yang kehilangan segalanya karena mengandung bayi berusia 5 minggu, kesalahan karena terlalu bebas berpacaran, terlena karena rayuan hingga akhirnya dia ditinggalkan."Mami... Bangun mami."Sebuah gedoran terdengar di pintu kamarnya, melihat jam di nakas baru pukul 05.30 pagi tapi pasti si kecil Kimi tengah menagih susu hangatnya di pagi ini.Kimora, gadis kecil berusia 6 tahun yang baru memasuki sekolah dasar, gadis kecil yang tujuh tahun lalu orang-orang meminta untuk melenyapkannya, malu katanya, mencoreng nama baik keluarga, dan menghancurkan masa depan."Anak mami masih pagi udah berisik aja.""Ayam udah berkokok mami, matahari juga sudah mau keluar." Rengeknya dengan wajah cemberut lucu membuat Kirana tak tahan untuk menghujami wajah kecilnya dengan ciuman. "Mami berhenti, kalau enggak aku ngambek."Kirana tertawa mendengar ancamannya, entah bagaimana jika ia tujuh tahun lalu menuruti orang-orang untuk menggugurkannya, karena Kimi saat ini adalah dunianya, sumber kebahagiaannya, segalanya."Kimi mandi dulu ya, mami siapin susu cokelat sama sarapan pagi buat Kimi, oke!""Siap mami, Kimi sayaaaaang mami."Begitulah ia mengawali harinya, teriakan Kimi adalah penyemangatnya untuk berkutat dengan bakery yang telah dikelolanya selama tiga tahun, toko kue yang mengedepankan pesanan khusus kue-kue untuk pesta."Mbak Kiran, Bu Andini mengundang anda langsung untuk hadir dalam acara ulang tahun keponakanya.""Oke, berarti yang nganterin langsung saya aja ya Li, biar kamu gak bolak-balik.""Apa Kimi akan ikut?""Enggak, Kimi gak saya bawa, di rumah ada Omnya saya titip ke dia, lagi pula saya gak akan lama, saya datang hanya untuk menghormati undangan Bu Andini saja, diakan pelanggan tetap Bakery kita, setelah saya berangkat kamu langsung pulang aja Li."Hello Bakery, adalah toko kue yang dikelola Kirana, milik seorang nenek baik hati yang hidup sebatang kara, toko kue yang sepi pembeli sebelum Kirana bekerja disana, hingga sang nenek mewariskan toko padanya sebelum dia meninggal.Kirana sampai di tempat acara pukul tiga sore, sengaja dia datang lebih awal untuk memastikan kuenya terpajang sempurna, perayaan ulang tahun ke 3 seorang anak perempuan yang bernama Sheika Ramia Alezander, dia tahu karena Kirana sendiri yang menulis nama itu dalam kue ulang tahunnya, satu nama terakhir membuatnya berdesir merasakan sakit yang masih sama sesaknya. Hanya sebuah nama yang sama pikirnya. Namun semua tidak hanya sebuah nama saat Andini mengenalkannya pada Tuan yang punya acara."Kiran, makasih ya udah mau datang, sini aku kenalin sama yang punya acara, mana ya..." Andini mengedarkan pandangannya menyapu ruangan mencari keberadaan seseorang. "Ray... Ray... sini!"Sebuah nama yang membuat Kirana membeku, ngilu, dan rasa yang sudah lama ia berusaha kubur selama tujuh tahun kini seolah percuma, memohon pada tuhan supaya dia bukanlah orang yang sama, berdoa sekuat hati agar hanya namanya saja yang sama, ia tak ingin bertemu lagi dengan sumber kedukaan dan kehancurannya, ia sekuat tenaga memohon namun ia tau tuhan tak mengabulkannya kali ini saat yang datang menghampirinya benar adalah dia, Raydan Bright Alezander. Pangerannya, hidupnya, planetnya, kebahagiaanya, dulu.Dia masih sama, tinggi, tampan dan sorot matanya yang selalu bisa meluluhkan siapapun, dia baik-baik saja, tentu saja dia baik-baik saja, hidupnya sempurna, tak seperti dirinya yang harus terlunta-lunta di jalan mencari perlindungan, tak seperti dirinya yang harus memulai hidup dari titik minus bahkan hingga dia bisa berdiri lagi saat ini."Ray ini Kiran, dan Kiran ini Raydan adik ipar aku."Suara Andini seolah mengilang, beku semuanya beku. Raydan terpaku memandang seseorang didepannya, seseorang yang tak pernah dilihatnya selama tujuh tahun, meskipun ia telah berusaha setengah mati untuk menemukannya, seratus kali ia menyerah dan seratus satu kali lagi ia terus kembali mencobanya. Kini ia di hadapannya, Kirananya baik-baik saja, dia cantik dan semakin dewasa, sungguh ia setengah mati merindukan wanita ini, wanita yang terpaku dengan mata berkaca-kaca, tapi bukan sorot mata bahagia melainkan terluka."Ray, Shei mau potong kue sama kamu katanya." Seorang wanita paruh baya menghentikan apapun yang sedang merajai pikiran mereka, Ibunya Raydan dengan Sheika, gadis kecil di gendongannya.Wanita itu, yang memohon agar ia pergi meninggalkan Raydan, ia yang juga terlihat pias melihat wanita dihadapannya, wajah tuanya terlihat sedih, terpaku melihat Kirana. Rengekan Sheika, teguran Andini tak ada yang bisa menyadarkan mereka, mereka menatap wanita yang sama, Kirana.Satu tetes air mata jatuh dipipi Kirana, membuatnya tersadar bahwa ia harus segera pergi dari sana, melihat kebahagian mereka, kesempurnaan hidup Rayden membuat semuanya terasa semakin sakit, hanya ia yang berjuang sendirian, hanya ia yang terluka sendirian. Ia berlari sekuat tenaga, keluar dari venue acara tanpa menghiraukan seruan Andini yang kebingaungan, ia hanya ingin pergi, harus pergi jauh lagi.Raydan tersadar, saat Kirana yang dipandanginya pergi dari hadapannya, namun ia seperti tersihir dengan airmata mengalir dipipinya."Ma... Dia Kirana kan, dia Ranakan? Dia Rananya Ray kan Ma."Ibunya Tiara memeluknya, sama-sama menangis. "Ia Ray, dia Rana, Rana nya kamu, maafin mama sayang, maafin mama." Ia tersedu sedan penuh penyesalan, kesalahan yang ia lakukan telah merenggut kebahagiaan Raydan, ia telah kehilangan putranya meskipun Raydan ada dihadapannya. "Kejar dia sayang, kejar dia, jangan sampai dia pergi lagi."Seolah tersadar, ia berlari mengejar Kirana, memanggil namanya, berteriak seperti kesetanan, namun apakah ia terlambat lagi seperti waktu itu, tidak ia tidak akan terlambat untuk kedua kalinya, ia akan menemukannya, ia harus menemukannya."Kirana! Diamana kamu Kirana, Rana."Raydan terduduk, menangis, begitupun Kirana, ia tersedu di balik pilar, mereka sama-sama menangis membiarkan kesakitan menguasai mereka, mencoba melepaskan semua duka, tangis yang sama-sama mereka pendam selama tujuh tahun, kini jebol seolah mewakilkan semua rasa mereka, sakit, luka, cinta, rindu semua menyatu.***Kirana tau cepat atau lambat Raydan akan menemukannya, hanya tentang waktu. Ia memeluk Kimi erat, seakan tak ada hari esok."Mami kenapa, kenapa mami terlihat sedih?"Mata hitamnya adalah mata Rayden, rambut cokelatnya adalah rambut Rayden, hidung bangirnya adalah hidung Rayden, dia memang anak Rayden terlihat dari sekali pandang. Namun, bagaimana kalau Rayden juga sudah memiliki keluarga, bahkan seorang putri juga."Gak apa-apa sayang, mami hanya sedang ingat papa kamu.""Papa? Bukannya papa sedang pergi jauh? Kata mami kalau Kimi rindu papa, Kimi hanya harus berdoa pada tuhan agar papa datang dalam mimpi Kimi.""Ia sayang, apa papa suka datang dalam mimpi Kimi?"Kimi tersenyum sumringah. "Ia mami, kalau Kimi merindukan papa, terus Kimi berdoa sama tuhan, maka papa akan datang dalam mimpi Kimi dan memeluk Kimi tidur, tapi..." wajahnya berubah sedih. "Tapi begitu Kimi bangun papa sudah gak ada."Kirana memeluk erat Kimi, menciumnya bertubi. "Mami minta maaf, maafin mami.""Kenapa mami minta maaf, mami gak ada salah sama Kimi."Demi Kimi setidaknya Raydan harus tau kalau Kimi ada, meski nanti seperti apa status mereka setidaknya ia harus mempertemukan mereka. Namun apa ia akan kuat bertemu lagi dengan Raydan, memperkenalkan Kimi sebagai anaknya, bagaimana jika ia mengabaikan Kimi, bagaimana jika Kiminya tak diinginkan, bagaimana... Ia pasti akan merasakan sakit yang lebih parah, dan Kimi ia tak ingin membuat Kimi kecewa, hal terakhir yang ia inginkan adalah melihat kesedihan Kimi, ia tak ingin membuat Kiminya kecewa.***Hello Bekery milik Kirana, begitu yang ia tau dari Andini, ternyata begitu dekatnya ia dengan Kirana tapi ia tak dapat menemukannya, padahal setiap perayaan di keluarganya, Andini selalu memesannya kue dari sana. Kini ia berdiri di depan Hello Bakery, hanya tinggal selangkah lagi ia bisa menemui Rananya, namun kini ia merasa takut, ia gemetar, ia gentar setelah tujuh tahun penantiannya ia merasa sangat takut, takut Kirana lari, takut Kirananya pergi lagi."Om mau beli kue?"Seorang gadis kecil berseragam putih merah dengan kuncir kuda membuyarkan lamunannya, ia terpaku, ia kembali membeku melihat anak kecil dihadapannya."Masuk Om, Om mau beli kue maminya Kimi?"Mata bulatnya, bibir tipisnya mengingatkannya pada seseorang di dalam sana, tapi bukan hanya itu melainkan kenapa anak kecil ini sangat mirip dirinya."Lho kenapa Om nangis? Kemarin mami Kimi yang nangis, sekarang Om juga nangis, ayo Om masuk, Kimi kasih gratis deh kue maminya Kimi biar Om gak nangis lagi, biasanya mami kalau Kimi nangis selalu bikinin kue kesukaan Kimi."Kimi menarik jemari Raydan, membuatnya tersentak, seperti ada aliran listrik, mengejutkan jantungnya, menghangatkan hatinya. Kimi menariknya masuk mempersilahkannya duduk di kursi dekat jendela."Ini meja favorit Kimi, Kimi biasanya bermain dan belajar disini." Kimi tersenyum pada Raydan memperlihatkan senyum yang mirip Kirana dan lesung pipit seperti miliknya."Nama Om siapa? Nama aku Kimi eh Kimberly tapi mami memanggilku Kimi yang artinya kuat, kalau sudah besar nanti Kimi akan kuat jagain mami."Raydan mengusap airmatanya, menerima uluran tangan gadis kecil di hadapannya, tangannya mungil sehingga tenggelam dalam genggaman tangan kekarnya."Nama Om Ray, Kimi."Raydan sangat enggan melepaskan genggaman tangannya pada Kimi, 'Kimi' menyebutkan namanya membuat hatinya menghangat, ia merasa bahagia, sesuatu yang terasa jauh darinya selama ini."Om Ray kenapa nangis, apa Om lapar, Kimi kalau lapar suka nangis.""I..iya...""Tunggu sebentar ya Kimi minta kue ke mami, Kimi traktir."Genggaman itu terlepas, membuat Raydan merasa kehilangan, gadis kecil itu berlari menuju pintu bertuliskan "Kitchen Area", dan tubuh kecilnya menghilang disana."Mami, Kimi boleh minta kuenya? Buat temen baru Kimi dia lagi nangis di depan."Kirana yang sedang menghias kue mengalihakn pandangannya pada Kimi."Anak mami sudah pulang? Cium dulu dong maminya."Kecupan mendarat di pipi Kirana. "Ia, dijemput Om Reyhan, tapi Om Reyhannya pulang, mana mami kuenya?""Minta sama tante Oli sayang kuenya, temen barunya Kimi gak di kenalin ke mami?""Ayo ikut Kimi kedepan kalau mami mau kenalan." Kimi berlalu dengan empat potong kue yang ia dapatkan dari Oli, karyawan Hello Bakery.Kirana kembali tenggelam dalam pekerjaannya, setelah urusannya selesai ia segera mencari Kimi untuk mengganti seragamnya, namun apa yang dia lihat membuatnya terdiam, terenyuh, terharu.Bagaimana bisa ia melihat pemandangan seindah ini, Raydan sedang menyuapi Kimi, mengelap cream yang menempel di bibir Kimi.Kirana kembali menangis, setelah semalaman ia hampir tak tidur karena menangis."Mamiiii...."Kimi turun dari kursinya berlari menghampiri Kirana, Kirana berjongkok menyambut Kimi dan memeluknya, menangis lagi. Raydan begitu iri melihat pemandangan didepannya, ia ingin bergabung disana, ia ingin memeluk mereka, ingin memeluk Rana dan Kimi.Raydan turun dari kursinya, mengahampiri mereka dengan perasaan berkecamuk, ia ragu, ia takut."Ran...."Kirana hanya mengangguk sebagai jawaban.
Aluna dan Wasiat
Seorang gadis cantik berambut gelombang, berkemeja putih dengan bawahan jins berwarna donker melekat di tubuhnya, bunyi suara ketukan stileto berbentur terdengar. Sesekali bibirnya bersenandung kecil menghasilkan nada Bang-Bang dengan penyanyi Ariana Grande beserta teman-temannya sedangkan tangan kanannya memutar-mutar kunci mobilnya.Gadis cantik ini seperti biasa, baru saja pulang dari berkumpul bersama teman-temannya.Aluna, gadis yang akrab di sapa Luna ini merupakan gadis yang gemar berfoya-foya.Langkahnya terhenti kala menatap dokter pribadi keluarga mereka keluar dari kamar papanya."Loh? Kok dokter. Papa saya kenapa dok?"Dokter itu menghela nafas "Sebaiknya kamu menemui Pak Satria, beliau sedari tadi menunggu kamu"Melihat dari raut wajah dokter itu perasaan Luna itu mulai tidak enak menyergap di dadanya. Ada apa ini?Segera ia melangkahkan kakinya menuju kamar papanya."Pa?" sapanya sambil menggenggam tangan papanya, papanya tersenyum lemah."Ada yang ingin papa sampaikan. Papa selalu lupa menyampaikannya"Alis Luna bertaut menunggu kelanjutan cerita papanya itu."Kamu ingatkan Kevin anak om Surya, sahabat papa. Menikahlah dengannya"Mata Aluna mengerjab seakan memastikan bukan mimpi."Tapi Aluna masih..""Kecil? Kamu sudah 24 tahun" suara papanya makin melemah, ia terbatuk.Belum sempat Aluna mengajukan protesnya tiba-tiba tubuh papanya mengejang. Luna panik segera memanggil dokter Gunawan, dokter itu memeriksa papanya lalu menolehkan wajahnya ke Luna dan menggeleng.Nafas Luna seakan tercekat, ia tertawa pilu. Tidak mungkin racaunya."Pa.. Papa..." ia menangis sejadinya. "Pa, Luna bagaimana?" ia terduduk lemas di lantai.Bahkan saat papanya dikebumikan pun ia masih terisak, seingatnya papanya itu sehat namun ternyata papanya memiliki penyakit yang disembunyikan dari Luna.Ia sempat menyesal tidak memerhatikan papanya dengan baik.Setibanya di rumah pengacara dan tantenya, adik papa Luna, Mira menunggunya di ruang tamu."Duduk, sayang" ucap tantenya lalu mengusap bahu Luna"Baiklah, langsung saja karena semua sudah hadir. Jadi, pak Satria membuat wasiat bahwa seluruh kekayaan asetnya ini akan jatuh di tangan anak semata wayangnya yaitu Aluna.""Alhamdulillah.." ucap tantenya."Yang kuat ya sayang. Tante pasti bantu kamu" ucap Tantenya menguatkan."Tapi Aluna akan mendapatkan seluruh aset ini hanya jika ia telah menikah, dan ia harus menikah dengan anak sahabat papanya itu, Kevin." ucap Pak Anto selaku pengacara pribadi mereka"Dalam waktu satu bulan. Jika tidak, seluruh aset ini akan di sumbangkan ke panti asuhan" tambahnya"Apa tidak salah, pak? Bagaimanapun Aluna masih kemalangan begini, pak?" Mira menanggapi, lalu menggenggan tangan keponakannya itu.Aluna menggeram "Demi Tuhan, bahkan pemakaman papaku belum mengering""Saya paham, nona. Dan wasiat ini sudah diperbaharui sejak seminggu yang lalu"Aluna menangis, bagaimana ia akan menghadapi ini semua? Papanya sudah merencanakan ini semua. Ia menyesal tak meluangkan waktunya sejenak untuk papanya."Baiklah, dimana alamat Kevin itu?" tanya MiraAluna langsung menoleh "Tantee" protesnyaAluna menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan alasannya hingga ia bisa berada di apartemen ini. Kedua tangannya mengepal disisi tubuh, ragu menyelimutinya.Ia menaikkan tangannya berusaha mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali lalu ia tertawa "Kenapa aku mengetuk? Kan ada bel." gumamnyaLalu ia segera menekan bel tersebut juga sebanyak tiga kali, itu anjuran agama kan? Mengetuk atau memanggil sebanyak tiga kali jika tidak ada yang menjawab maka kita harus pulang.Meskipun Luna gemar berfoya-foya setidaknya ia paham sedikit mengenai agama, huh ia bersyukur tidak pernah bolos di jam pelajaran agamanya.Tangannya semakin terkepal disisi tubuhnya, ia takut. Bagaimana jika calon suaminya itu hitam, jelek dan dekil? Uh.. Belum lagi bagaimana jika calon suaminya itu perutnya buncit. Yang ia dengar dari pak Anto bahwa calon suaminya ini sangat baik. Haha baik saja tidak cukup, harus juga tampan.Setidaknya jika tampan, akan memiliki gen yang baik untuk keturunannya.Diam beberapa saat tak ada yang membuka pintu, Luna membalik badan mungkin besok saja akan ia temui. Badannya sedikit lemas.Bunyi pintu terbuka, "Hei" suara itu menyapa telinga Luna,Dari suara sih oke. Batin Luna, ia membalik badan ke arah pintu lagi. Lalu tangan kanan yang masih terkepal ia naikkan dan ia buka sambil tersenyum sangat manis dan berkata "Hallo"Pria di hadapannya memerhatikan penampilan Luna, kemeja berwarna merah muda yang setengah dimasukkan kedalam celana hitam, sepatu heels berwarna coklat dengan mementeng tas jinjing kecilnya.Ia mengingat seingatku aku tak kenal dengannya batinnya.Tak jauh berbeda dengan pria di depan, Luna juga memerhatikannya pria ini tampan, dengan wajah aristokrat, mata indah, alis tebal hidung mancung dibingkai rahang tegas. Uh jangan lupakan badannya yang atletis.Luna tersenyum dalam hati, pilihan papanya tidak buruk namun ia belum boleh senang dulu.Tiba-tiba ia merasa sangat pusing menghantam di kepalanya, ia kehilangan pijakan sehingga tubuhnya limbung.Mungkin ini efek selama dua minggu ini ia mengurung dirinya di kamar, memastikan ini bukan mimpi. Dan tantenya menyuruh menemui Kevin, ia tak ingin usaha kakaknya diserahkan ke orang lain.Dengan sigap pria di hadapannya, Kevin menangkapnya "Eh, nona kenapa?"Kevin membantunya masuk ke dalam apartemennya, mendudukkan Luna di sofanya lalu ke dapur membuatkan teh dan menyerahkannya.Luna meminumnya perlahan, "Terima kasih, apa kau memiliki makanan?" ucap Luna, ia sungguh lapar.Pria di hadapannya tertawa "Aku tidak mengenalmu. Tapi sebagai bentuk rasa sosial. Aku akan memberikannya. Ayo aku juga belum makan""Kau sungguh baik. Dan apartemenmu bagus, terlihat nyaman" jawab Luna sambil memerhatikan sekitar.Kevin hanya menggelengkan kepalanya, mengajak gadis itu ke meja pantry dan mengambilkan nasi goreng yang tadi sempat ia buat sebelum bel berbunyi. Mereka memakannya bersama, ini sudah pukul 10 pagi sarapan yang cukup terlambat.Luna langsung saja memakannya lahap "Enak sekali. Kau yang memasak?""Tentu""Pak Surya kemana?"Kunyahan Kevin terhenti, ia merenung sebentar. Merasa tak ada jawaban Luna menatapnya"Pak surya papa kamukan?" tambahnya"Papaku sudah meninggal beberapa tahun lalu. Tapi kamu mengenal papaku?"Luna diam sejenak, ia tak perlu menjelaskan sekarang bukan? Bahkan mereka belum berkenalan "Maaf aku tidak tahu. Btw aku Aluna, kamu?" ucapnya sambil mengulurkan tangannyaKevin menerima uluran itu "Kevin" jawabnya, Lalu mereka kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut mereka."Jadi ada apa kamu kesini?" tanya KevinLuna menutup sendoknya mengakhiri makannya, ia sudah kenyang. Calon suaminya ternyata pintar masak. Lalu bagaimana dengannya? Sedikit."Kevin, ayo kita menikah." ucap Luna"Hah?""Aku serius. Ayo kita menikah. Aku mencintai kamu" Dari ucapan pak Anto, Kevin tidak akan menikah dengan orang hanya karena harta. Maka dengan ini Luna yakin pasti Kevin mau.Lalu pria itu terbahak "Kamu perempuan gila ya. Kita bahkan tidak saling mengenal. Sudahlah sekarang kamu pulang" ucap pria itu sambil menggeret Luna keluar."Calon suami kok kasar sih, pake seret aku begini" protesnya"Sudahlah. Kita baru kenal tak lebih dari 24 jam. Dan kamu ingin aku menikahimu?"Luna berpegangan sofa karena Kevin terus menariknya, ia yakin tangannya pasti akan memerah.Bagaimana ini? Dua minggu lagi."Kau harus menikahiku""Tidak akan" jawabnya lagi masih sambil aksi tarik menarik.Hingga Kevin menyentak tangan Luna menyebabkan sofanya berjungkit dan tubuh Luna limbung, keningnya berbentur meja kecil di pinggiran sudut sofa."Aaaa" ringisnya lalu terduduk "Sakit""Maaf. Tapi itu takkan terjadi jika kau tak begitu"Luna mendengkus "Ingat Kevin, aku akan pergi tapi nanti aku akan kembali. Dan kita akan menikah" ucap Luna pada Kevin dan beranjak memegangi keningnya yang membiru.Selepas kepergian perempuan itu, Kevin duduk memijat pangkal hidungnya. Weekend yang menyebalkan, bagaimana tidak ia baru saja bertemu dengan perempuan gila itu.Kevin membuka kaosnya, ia merasa gerah. Bahkan ruangan berserakan itu belum ia bereskan. Nanti saja, ia akan merebahkan tubuhnya beberapa jam saja hingga makan siang.Kevin Artasesurya, seorang pria berusia 27 tahun bekerja sebagai Dosen agrobisnis. Kehilangan ibu di waktu kecil dan ayah meninggal sekitar 2 tahun yang lalu. Sungguh malang hari liburnya diganggu dengan kehadiran gadis gila itu.Selang beberapa saat bel berbunyi membangunkan Kevin, ia mendengus lalu bangkit. Ayolah siapa lagi yang mengganggu. Ia berjalan membuka pintu apartemennya, dan betapa terkejutnya ia melihat gadis bernama Aluna tadi menggunakan kemeja sobek-sobek, rambutnya acak-acakan menampilkan dahinya sedikit membiru, juga ada satpam dan beberapa orang lainnya."Benar dia nona?" tanya satpam, yang ku ketahui bernama Andi."Iya pak" isaknyaTunggu ada apa ini? Tanyamya dalam hati."Hei. Kau harus bertanggung jawab. Kenapa kau melakukan gadis semanis ini" ucap salah satu ibu-ibu."Bertanggung jawab apa?" tanya Kevin"Hei! Lihatlah kau sudah melecehkannya""Lihat bu. Dia bahkan belum menggunakan bajunya dan ruangannya masih tampak berserakan" ucap Luna yang membuat Kevin kebelakang dan cepat menoleh ke arahnya. Ah sial.Luna mengerling nakal pada Kevin "Ini salah paham, pak, bu" ucap Kevin."Sudah ayo kalian segera menikah. Coba kau pikirkan masa depan gadis ini""Lalu apa kalian tidak memikirkan masa depanku?" ucapnya yang sama sekali tak dihiraukan orang-orang itu dan malah semakin menggiring ke salah satu rumah warga terdekat dan merekapun menikah.Maafkan aku, papa. Ini demi papa juga batinnya.Mimpi apa aku tadi malam batin Kevin.-----Kini mereka sudah sah menjadi suami dan istri, mereka sudah berada di apartemen Kevin. Dan ini sudah pukul 7 malam."Seingatku ada dua kamar disini. Ah yang itu kamarmu, bukan?" ucap Luna sambil menunjuk salah satu bilik yang ia yakini bukan kamar yang dihuni Kevin. "Nah pasti yang ini kamarku" tambahnyaIa segera membuka pintu kamar itu tanpa memedulikan Kevin yang mulai berapi-api. Ah ia lega saat melihat kamarnya tertata rapi, ia membersihkan tubuhnya setelah sebelumnya membuka sebuah aplikasi.Kevin di buat melongo dan terheran, perempuan itu sangat ingin dinikahi tapi setelah menikah bahkan perempuan itu minta tidur sendirian.Sepertinya ia harus berbicara nanti dengan wanita ini. Entah kerasukan apa.Dunia Kevin kehilangan keseimbangan dalam waktu kuran dari 24 jam. Ia masuk ke dalam kamarnya membersihkan tubuh dan pikirannya.Setelah ia selesai dengan urusannya ternyata sudah ada gadis bernama Aluna yang menunggunya dengan makanan yang tertata di atas meja.Baru saja Kevin hendak membuka mulut, Luna sudah mendahuluinya "Makan dulu"Dan merekapun makan dalam diam, sesekali mereka saling menatap. Dengan tatapan berbeda-beda.Ada sedikit kekaguman dalam hati Luna saat menatap pria itu, ia sangat yakin pria di hadapannya ini pasti akan mengamuk layaknya singa, oleh sebab itu ia menyuruhnya makan dahulu. Setidaknya perutnya akan kenyang jika pria itu marah.Apa hubungannya? Entahlah.Setelah mereka menghabiskan makanannya, Luna membuka suara "Kamu kerja apa?" tanyanya"Apa itu penting buatmu? Bukankah tujuanmu sudah tercapai" balasnyaLuna berdecih "Memangnya ada yang salah jika istri menanyakan hal itu pada suaminya?""Tidak, aktingmu bagus tadi"Luna tertawa, dan menampilkan ekspresi bangganya "Tentu saja, aku hanya perlu merobek beberapa bagian saja tadi."Kevin berdecih, ia tidak boleh kalah. Terlintas ide konyol untuk mengerjai gadis di hadapannya ini. Selagi ini masih berlibur ia akan mengajak gadis ini ke suatu desa masa kecilnya di vilanya, dan ia hafal dari apa yang dilihatnya bahwa Luna adalah anak yang manja."Jadi kita sudah menjadi suami istri, bukan?" tanya Kevin dengan senyum culas, Luna bergidik melihatnya."Lalu?""Bukankah kita harus melakukan honeymoon, mungkin?" tanyanya"Ah apakah itu perlu?" tanya Luna was was dan di balas anggukan dan senyumam penuh misteri dari Kevin."Kau pasti sangat menyukainya nanti" balas Kevin dengan seringaiannya-----"Aaa.. Mama, Papa" rengeknya untuk kesekian kalinya saat heelsnya masuk ke dalam kubangan lumpur."Kevin, tolong" ucapnya sambil menyerahkan tas ranselnya, berniat akan menggulung celananya yang sudah kena beberapa percikan lumpur"Ayo cepat jalan. Jangan manja!" teriak Kevin beberapa meter di depan Luna.Luna terus saja menggerutu, bagaimana tidak. Janjinya itu Kevin akan membahagiakannya untuk 3 hari ke depan mulai dari keluar pintu apartemennya tadi pagi.Namun Kevin malah mengajaknya naik angkutan umum, Luna sudah menawarkan mobilnya namun Kevin menolak.Dan mereka sudah menaiki angkutan umum sekali, mobil pick up mengangkut sayur sekali, kemudian melewati beberapa pepohonan rimbun dan kini melewati jalanan sawah.Rasanya Luna ingin menangis, ia tidak pernah melakukan hal seperti ini. Kakinya seperti akan patah, jauh sekali perjalanannya ini. Sebenarnya kebahagiaan apa yang akan ditawarkan oleh Kevin padanya?Sementara itu, Kevin terus tertawa kecil dan senang di depan sana.Nikmati saja waktumu selama menjadi istriku batin Kevin sambil tertawa senang."Kevin..." rengeknya lagi.Kevin menghela nafas "Baiklah. Sini" ucapnya sambil membawakan ransel Luna. Mereka kembali berjalan lagi. Kini langkah Luna sudah sejajar dengan Kevin."Hah? Buntu?" teriak Luna "Kita sudah jalan jauh dan malah buntu" tambahnya saat melihat tebing tinggi di hadapannya.Kevin menoleh pada Luna "Lihat disana ada tali. Kita akan memanjatnya" ya Kevin sudah menyiapkan ini semua, ia menyuruh temannya memasangkan tali itu tadi pagi.Dan perkataan itu sukses membuat Luna berteriak "Demi Tuhan, Kevin. Aku memakai heels dan kalau aku mati bagaimana? Kau akan menjadi duda." gerutunya lagiKevin melihat ke arah Luna, mengamati penampilannya. Syukurlah Luna menggunakan Kemeja donker dan jins putih meski berubah menjadi sedikit kecoklatan akibat perjalanan mereka.Tapi ia tidak tega juga, baiklah ia akan memilih jalur alternatif "Kamu lihat tangga disana?" tanya Kevin sambil menunjuk sisi kanan tebingTerlihat disana tapakan anak tangga dari tebing terdapat pijakan kayu disana agar memudahkan menaiki tebing itu sehingga takkan terpeleset.Luna mengangguk "Kita naik dari sana" jawabnya dan berlalu dari hadapan Luna yang membuat Luna nyaris memotong leher pria itu.Kalau ada jalan yang mudah kenapa harus memanjat dengan tali?Dengan perlahan Luna menaikinya, sambil mencopot heelsnya tentu saja. Bajunya sudah kotor, apalagi jinsnya yang berwarna putih.Kevin sudah sampai di atas menunggu Luna sambil berdiri dengan senyum sumringah, ketika Luna sampai di atas dengan senyuman khasnya pria itu berucap bahagia "Selamat datang di Villa kita, Aluna artasesurya.." sambil merentangkan tangan seolah mempersembahkan sesuatu.Aluna melongo, ia terpanah akan keadaan yang ada. Tempat ini indah, ia akui itu. Sangat indah malahan. Terlalu indah sampai Ia terduduk di tanah.Pemandangannya sungguh indah, dan disana ada jalanan raya. Lalu mengapa pria dihadapannya mengajaknya naik turun melewati gunung dan lewati lembah seperti ninja hatori?Lemas melanda seluruh tubuhnya, melihat keadaan ia tak mampu berkata-kata dan berjanji akan membalas pria yang sedang tertawa senang itu nanti.Pria itu mengerjainya, Luna tak bisa berkata apa-apa. Ia menangis menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya.Kevin yang melihat itu kelimpungan, bagaimana ini? Ia tidak pernah membujuk wanita menangis. Ia bahkan belum pernah berpacaran.Ia memberikan tas pada penjaga villanya dan kembali mendekati Luna."Sudah ya jangan menangis" ucapnya"Kau jahat sekali" lirihnya "Kakiku sakit" tambahnya lagi dengan menangis"Itu salahmu kenapa pakai heels""Disana ada jalan raya kenapa harus naik turun begitu!" omelnya menatap Kevin dengan mata sembab.Kevin tertegun, ia melihat tumit Luna sedikit terluka. Ia bangkit ke dalam villa mengambil P3K. Dan menarik kaki Luna ke pangkuannya membersihkan lukanya dan menempelkan plaster disana."Sudah, ayo" ajaknya, namun Luna hanya diam menatapnya"Apa lagi?" tanyanya jengah"Gendong aku!""Kau merepotkan.""Tapi aku istrimu" dengan menghela nafas Lalu ia menggendong Luna, dan Luna tersenyum digendongannya. Luna juga mengusap cairan hidungnya di kemeja yang digunakan Kevin yang membuat Kevin berteriak heboh dan Luna tertawa.-----Setelah makan malam berlangsung, tanpa mengucap sepatah katapun Luna memasuki kamarnya. Kakinya juga terasa sakit mungkin ini efek perjalanan tadi.Ia menarik selimut hingga sebatas lehernya, disini cukup dingin.Kevin yang memasuki kamar tersebut menatap Luna, ia berpikir apakah ia sudah keterlaluan.Sebenarnya ia tidak tega, tapi ini juga salahnya karena perempuan itu yang menjebaknya sehingga mereka menjadi sepasang suami istri.Kevin heran, kenapa bisa perempuan ini ingin menikah dengannya bahkan sampai menghalalkan segala cara.Ia bahkan hanya tinggal di apartemen sederhana dan bekerja menjadi dosen itu yang selalu ia tampilkan di depan semua orang. Rasanya Kevin sudah ingin sekali bertanya alasan perempuan itu namun harus ia urungkan menjadi besok melihat Luna terlelap akibat ulahnya.Keesokan paginya, ia menarik paksa selimut yang dipakai Luna sehingga mengusik tidur Luna.Luna melenguh karena tidurnya terganggu sedangkan Kevin berdecak sebal ini sudah pukul 8 dan dia belum bagun."Ayo bangun. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat"Luna mengucek matanya "Kemana?""Rahasia. Aku menunggumu di depan" ucap Kevin dengan seringaiannya meninggalkan Luna yang masih membersihkan kotoran matanya.Setelah 45 menit lamanya Luna belum ke depan, ia masuk ke dalam melihat Luna yang sudah rapi namun duduk di hadapan rak sepatu miliknya."Kau sudah sarapan?" tanya Kevin yang langsung di angguki oleh Luna"Ya sudah. Ayo" ajaknya namun Luna masih diam "Ada apa?" tanya Kevin lagi karena bingung apa yang dilakukan Luna, kenapa ia tidak beranjak juga"Aku bingung mau pakai sepatu yang mana" jawab Luna yang membuat Kevin menepuk jidatnya."Kau tidak memberitahuku akan kemana. Kakiku akan sakit jika kau mengajakku seperti semalam" tambahnya menatap Kevin dengan sendu membuat Kevin tidak tega."Aku heran, kenapa perempuan senang menyiksa dirinya sendiri" ia beranjak mengambil sepatu kets berwarna abu-abu memberinya di hadapan Luna.Mereka mulai berjalan menelusuri pepohonan, refleks Luna melingkari lengan Kevin ia takut akan ditinggalkan oleh lelaki itu, ia juga tahu lelaki ini masih sebal akan tingkahnya tempo hari yang lalu.Tapi biarkan saja, yang penting semua berjalan aman, ia juga sudah menghubungi Pak Anto.Luna mengingat ucapan Kevin membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk sampai di tempat tujuan "Btw, kamu kerja apa sih?" tanya Luna memecah kediaman mereka untuk membunuh waktu"Dosen. Aku hanya dosen di sebuah universitas""Aku tidak yakin mampu membiayai gaya hidupmu yang seperti ini" Kevin sengaja mengatakan itu namun diluar ekspektasinya, Luna malah tertawa"Aku senang punya suami dosen""Kau tahu, sebenarnya aku sudah punya calon istri dan berniat melamarnya bulan depan" aku Kevin.Luna memberhentikan langkahnya, benarkah ? Apa aku terlalu egoi s . Batinnya. Ia menimbang dan memikirkan kedepannya."Ayo jalan lagi""Kev...." panggilnya sambil menatap Kevin menanyakan sesuatu"Hmm"Luna menghela nafasnya, menguhah topik yang ingin ditanyakan "Masih jauh?""Sedikit lagi,," jawab Kevin lalu berjalan kembali kali ini ia yang menarik dan menggenggam tangan Luna.Hingga mereka sampai di sungai kecil yang cukup dangkal, terdapat beberapa pijakan batu disana. Mereka menyebrangi sungai itu, Kevin berjalan lebih dulu dan diikuti Luna yang sesekali dibantu Kevin. Mereka sedikit melupakan masalahnya.Setelah itu barulah mereka sampai di sebuah air terjun. Mata Luna berbinar "Indah sekali" ucapnya dengan takjub "Kalau beginikan tidak sia-sia aku berjalan jauh" ia menjedanya dan melihat arlojinya "Bahkan kita berjalan selama satu jam" tambahnya.Ia melihat Kevin duduk beralaskan batu di dekat sana lalu diikuti dengan Luna "mmm terima kasih mengajakku kesini""Kau lapar?" tanyanya saat mendengar bunyi perut Luna, ia meringis dan tertawa lalu sedetiknya mengangguk. Tadi pagi Luna memang tidak sarapan hanya meneguk segelas susu hangat.Kevin mendengkus membuka isi tasnya mengeluarkan bekal mereka "Wah.. Kau tanggap sekali"Kevin membuka bekal tersebut yang hanya terdiri dua kotak bekal, satu kotak bekak diberikan kepada Luna."Nasi goreng hongkong?" tanyanya "Tidak ada yang lain?""Sudahlah makan saja, aku tidak enak menyuruh bi Tuti tadi pagi"Menghembuskan nafas Luna menerimanya, dengan perlahan ia memisahkan nasi dengan wortelnya."Kau tidak menyukai wortel?" tanya Kevin"Tidak, seperti kelinci saja memakan wortel" balasnya acuh.Kevin tertawa, meliha Luna mengingatkan seseorang."Kenapa tertawa?""Kau mengingatkanku pada seseorang, yang akan ku nikahi nanti" ucapnya sambil menatap ke arah bekalnya "Tapi tidak jadi" tambahnya sambil menatap Luna.Luna menghentikan gerakan memisahkan nasi pada wortelnya. Ia terdiam beberapa saat. Menimbang ucapan yang mungkin akan menjadi solusi."Maaf. Baiklah mungkin kita bisa bercerai beberapa bulan atau minggu mungkin. Tapi kau sudah memberitahukan wanitamukan?""Kau tahu, Luna? Bahkan aku tidak tahu dimana wanita itu"Alis Luna mengernyit, "Aku tidak mengerti""Sebenarnya, wanita itu teman masa kecilku. Aku tahu sejak kecil aku akan menikah dengannya, setidaknya itu kata ayahku. Tapi seiring berjalannya waktu kami tak pernah bertemu" Kevin tak mengerti mengapa ia menjelaskannya tapi ia hanya merasa ingin menjelaskan itu pada, mm istrinya. Ya istrinya."Lalu bagaimana?""Sejak dulu papaku mengingatkanku untuk segera bertemu dan menikah dengannya tapi aku tidak siap, aku berkilah untuk bekerja, menjadi orang yang lebih baik dan papaku mengizinkannya. Puncaknya 2 tahun yang lalu saat papaku meninggal, tapi aku merasa belum siap. Harusnya saat itu aku langsung menemuinya tapi aku tidak bisa. Hingga bulan depan harusnya aku datang melamarnya tapi kau datang terlebih dahulu" jelasnya panjang lebar."Perceraian bukan list dalam keinginanku" tambahnya lalu menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.Aluna menautkan jarinya, memegang sendok sedikit kuat. Ia takut, tapi harus bagaimana. Mengontrol emosi, ia akan mencari tahu terlebih dahulu."Siapa nama wanita itu?"Kevin menggeleng, "Aku hanya mengingat nama ayahnya, bernama Satria""Na...na. Nana. Iya mungkin namanya Nana" tambahnyaLuna menatapnya lamat-lamat "Apakah nama lengkapnya Satria Pramuaji?" tanyanya memastikanKevin mendongak membalas tatapan Luna dengan kening bertaut "Bagaimana kau tahu?"Luna menghela nafas, ia tertawa lalu memeluk Kevin "Syukurlah, aku tidak akan menjadi janda" ucapnya saat melepaskan pelukan itu."Huh?""Aku anaknya pak Satria. Nama ayahmu Pak Surya, kan? Aku lega"Kevin masih bingung akan pernyataan Luna."Tapi namanya Nana, bukan Aluna""Saat kecil aku memang dipanggil Nana, Aluna, akhiran NA, nana." TegasnyaLalu tak lupa Aluna menceritakannya segalanya sampai akhirnya ia menikahi Kevin."Sepertinya papa kita sudah merencanakan ini semua" ucapnya setelah beberapa saat.Ia menghela nafas, bangkit dari duduknya dan Luna memandangnya "Maaf mungkin caraku salah""Harusnya aku yang melamarmu" jawabnya lagi.Luna bangkit "Sudahlah semuanya sudah berlalu. Setidaknya sudah terungkap" balasnyaKevin mengulurkan tangannya layaknya mengajak dansa lalu berucap "Mau memulainya dari awal?"Luna tersenyum dan mengangguk menerima uluran tangannya "Tentu""Okay. Ayo kita pulang. Kita makan di villa, meminta bi Tuti memasak enak""Tunggu, kita makan bekal dulu yaa. Aku lapar sekali. Akan membutuhkan waktu sejam sampai di Villa""Hanya sepuluh menit""Huh?"Kevin menggaruk tengkuknya "Sebenarnya ini dibelakang Villa. Kita memutar rute sehingga menempuh satu jam""Huh?" mata Luna membulat lalu ia memukul Kevin,"Kau jahat sekali!" makinya yang di balas Kevin dengan tertawa.END
Wanita Kedua
Aku kembali menghela nafas, menatap rinai yang masih turun membasuh permukaan bumi.Saat ini aku duduk di dalam mobil bersama seseorang yang saat inipun ia masih enggan membuka suara, karena terhitung satu jam lamanya kami berdiam.Menghadap arah jendela, ku mainkan jari-jariku di kaca membentuk kata akibat embun dari hujan.Setelah tadi ia menarikku ke dalam mobil ini dan jawabanku yang masih sama seperti sebelumnya, sehingga ia menepikan mobilnya di tepi jalanan dengan hujan dan kilatan petir sebagai bentuk protes dari pernyataanku.Pria yang membuatku jatuh cinta sejak awal pertemuan kami, setahun yang lalu. Pertemuan untuk pertama kalinya, Bali. Aku ingat saat moment itu, kami menaiki pesawat dan duduk bersebelahan.Saat itu aku ke bali untuk menenangkan pikiran akibat aku baru saja putus dari kekasihku, lalu bertemu dengan pria ini. Pria yang awalnya menyebalkan namun kami menghabiskan waktu bersama di Bali selama satu minggu.Dan sejak itu kami berhubungan, dan untuk pertama kalinya duniaku kembali hancur saat Cindy mengenalkan kekasihnya di cafe, yang ternyata adalah Yovan."Sayang.." panggil pria di balik kemudi itu, namun aku masih diam.Ia memegang tanganku "Jangan tinggalkan aku""Yovan, sadarlah kita tidak mungkin bersama.""Apa yang tidak mungkin?" Balasnya menatap tajam mataku, tatapan yang sangat mengintimidasi.Ku tarik tangannya lalu berkata "Lihat di jarimu. Kamu sudah bertunangan."Ia ingin menjawabnya, jawaban yang lagi-lagi sama dan dengan cepat aku menyelanya "Demi Tuhan Yovan, Tunanganmu adalah temanku. Aku tidak bisa melakukan ini lagi" teriakku dengan frustasi.Aku kembali menghela nafas "Sekarang ayo kita kembali kesana." ucapku, ia hanya diam tampak berpikir.Tadi kami masih berkumpul di acara Cindy, tunangannya dan temanku. Saat aku hadir bersama Teo, yang tak lain adalah anak teman ayahku, ia langsung menarikku.Ku lirik Yovan menghela nafasnya dan melajukan mobilnya, tapi bukan ke arah tujuan yang ku perintahkan."Kita mau kemana?" tanyaku yang tak dijawab olehnya. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Dengan segera aku mengirim pesan pada Teo bahwa aku pulang duluan karena ada meeting mendadak, syukurlah Teo mengerti dan tak banyak bertanya.Setelah menempuh kurang lebih satu jam kami sampai di sebuah pantai, aku tahu pantai ini.Tak ingin berdebat aku langsung turun dari mobilnya, malam ini hujan turun namun sudah reda, ia malah mengajakku ke pantai disaat malam begini.Aku melangkahkan kakiku sedikit mendekat menuju bibir pantai. Menggosok-gosokkan tanganku mencari kehangatan.Kurasakan seseorang memeluk tubuhku dari belakang, nafasnya menghembus tengkukku menciptakan sensasi aneh di tubuhku. Aku memejamkan mataku menikmati pelukan dari orang yang ku cintai serta menerima hembusan angin yang turut membelai wajahku, biarlah untuk malam ini."Ku mohon, jangan menikah dengannya" ucapnya serak di telingaku.Ya, aku akan segera menikah dengan Teo. Tapi belum di tentukan kapan tepatnya karena saat ini kami masih tahap pendekatan, syukurnya orang tua kami tak mempermasalahkan itu, mereka membebaskan pilihan kami.Teo, Lelaki pilihan orang tuaku karena sampai saat ini aku belum membawa kekasihku sejak putusnya aku dengan mantanku setahun yang lalu.Aku juga terpaksa menerimanya karena ingin mengakhiri kisah cinta yang tidak baik ini. Cindy adalah temanku sejak di bangku perkuliahan, dia sangat baik padaku rasanya sungguh tidak adil jika aku terus menerus bermain dengan kekasihnya yang sudah dua bulan ini menjadi tunangannya.Cindy selalu menceritakan kekasihnya yang diluar negeri, bodohnya aku yang ternyata Yovan adalah lelaki yang diceritakannya sejak 2 tahun yang lalu. Dan dihari wisuda aku mendapati kekasihku tidak setia dan bertemu dengan Yovan saat pergi ke Bali.Aku juga ingat momen yang membuat Cindy curiga pada kami, dan itu pula yang membuat aku menerima Teo dan mengatakan akan menikah dengannya agar Cindy tak berprasangka buruk padaku.Oh pantaskah aku berbicara begini?Saat itu, tepatnya tiga bulan yang lalu aku meminta Cindy menemaniku mencari beberapa novel, minimal sebulan sekali kami selalu rutin hangout bersama.Aku menunggunya di cafe yang ada di mall tersebut, tak lama Yovan datang dan langsung mengecup dahiku. Tentu aku terkejut dan menegurnya namun dengan santainya ia berkata "Cindy akan menyusul karena menemani ibunya sebentar dan aku disuruh menemanimu"Aku tidak mengerti kenapa ada wanita sebaik Cindy. Tanganku di genggamnya yang masih aku diamkan saja namun saat Cindy datang aku dengan cepat menarik tanganku dari genggamannya.Cindy tersenyum dan memeluk singkat padaku yang membuat hatiku diremas perasaan bersalah."Makan dulu ya. Aku lapar ni tadi sama mama belum makan karena sudah janji mau ketemu Kalila." ucapnya"Sayang, tidak buru-burukan? Temani aku dan Kalila dulu ya" tambahnya pada Yovan yang di balas anggukan.Kami segera memesan dan tak lama pesanan kami datang, aku memesan beef steak namun entah itu salah di pisau atau bagaimana rasanya sulit untuk di potong. Dengan cekatan Yovan mengambilnya dan membantunya memotong kemudian menyerahkannya kembali padaku."Sayang, punyaku tidak? Aku juga mau" ucap Cindy pada Yovan, ku lihat ia sedikit mengerutkan dahinya menatap kami dan menatapku dengan tatapan berbeda.Aku merutuki Yovan kali itu, bagaimana ia bisa lepas kontrol begitu di hadapan Cindy. Dan saat itu ia juga mengambil alih milik Cindy dan memotongkannya dengan cepat ia berkata "Aku serasa memiliki dua bayi"Aku tahu, ungkapannya hanya untuk memoles kecurigaan kekasihnya dan aku bersyukur untuk itu."Sayang, sepertinya aku sudah siap untuk melepaskan Cindy" ucap Yovan menarikku dari lamunanku beberapa waktu lalu.Aku memutar tubuhku ke arahnya "Tapi aku tidak bisa melanjutkan ini lagi" lirihku"Cindy gadis yang baik, aku tidak mungkin mengkhianatinya." tambahku dengan memelas padanya"Lalu bagaimana perasaanku, Kalila?""Kamu sudah bersamanya selama dua tahun lebih tidak mungkin tak ada cinta, Yovan" balaskuIa menggeleng dengan tegas "Hubunganku sedari awal dengannya hanya karena semata aku menyayangi orang tuaku dan terpaksa menerima permintaan mereka. Aku sungguh mencintaimu""Pikirkan aku, kita. Perasaan aku dan kamu, Kalila." tambahnya lagiAku mengangguk "Baik. Anggaplah begitu. Lalu bagaimana dengan orang tuamu. Apakah mereka menerimaku nantinya?""Dan apakah kau pernah berpikir bagaimana hubunganku dengan Cindy nanti? Aku tak ingin kehilangannya" tambahku lagi.Yovan terdiam, matanya menatapku lekat dan ku balas tatapannya"Apapun itu Kalila. Asal aku bersamamu" ucapnya setelah beberapa menit terdiam, tangannya menarik tubuhku."Apa kita harus kawin lari?" bisiknya padaku"Aku tidak ingin seperti itu, tolong pikirkan keluargaku juga" suaraku teredam pelukanyaAku menangis, membenamkan wajahku lebih dalam di dekapannya. Sungguh aku mencintai pria ini, sangat."Aku tidak bisa menjadi perempuan seperti itu, Yovan" isakku dan ia semakin mengeratkan pelukannya dan ku balas tak kalah erat.Tuhan, bisakah aku memiliki pria ini? Dan mengapa aku bertemu dengannya jika pada akhirnya hubungan ini akan menyakiti banyak pihak nantinya.---Sinar mentari pagi menerpa wajahku, mengusik ketenangan tidurku. Aku bangkit bersandar pada kepala ranjang. Ku lihat pria yang kucintai masih tertidur dengan meringkuk di sofa itu.Tadi malam kami memutuskan tidur di penginapan yang tak jauh dari pantai ini dan hanya tersisa satu kamar sehingga ia tidur di sofa.Sebenarnya aku tidak tega karena itu pasti tidak nyaman dan akan membuat tubuhnya terasa sakit, aku juga sempat menyarankan untuk tidur bersama dengan arti tidur sebenar-benarnya tapi ia menolak takut khilat katanya. Dan sisi itu yang membuat aku jatuh cinta lagi terhadapnya.Ia menggeliat "Morning, sayang" suara paraunya bangun tidur yang terdengar seksi di indera pendengaranku.Aku tersenyum membalasnya "Morning""Kiss nya mana?" godanya padaku"Pukul mau?" balasku cepat dan membuatnya terbahak.Ku lihat ia bangkit memberikanku paper bag "Ganti pakai kaus ini ya. Cuma ini yang ada di toko bawah tadi malam"Aku bahkan tidak tahu kapan ia keluar, karena tadi malam aku sangat lelah sekali jadi begitu sampai penginapan langsung tertidur.Aku mengangguk "Terima kasih"Lalu akupun bangkit untuk membersihkan diri.Saat ini kami sedang berkeliling di tepi pantai baik aku maupun Yovan, kami enggan untuk pulang. Setelah sarapan tadi kami berkeliling disini bahkan Yovan mengajakku untuk ke puncak namun aku tolak.Bagiku di pantai ini saja sudah lebih dari cukup."Yovan, ayo foto" ajakku yang langsung ia iyakan, dan memposisikan tubuhnya di sampingku untuk memudahkan potret selfie.Beberapa pose kami lakukan, setelah lelah ia meminum sebotol air mineral yang sempat kami beli tadi. Dengan iseng aku mendorong botol itu saat ia menenggaknya menyebabkan bajunya basah dan ia memekik membuatku tertawa kencang dan segera berlari."Kalila!!" Teriaknya dan aku tertawa sambil berlari, ia yang tak mau kalah mengejarku dan menangkapku lalu menggelitiku perutku, ini kelemahanku."Aa... Sudah. Yovan.. Geli" rengekkuDia masih terus menggelitikku "Rasakan.. Ampun tidak?" ucapnyaAku masih terus tertawa dan mengucapkan kata ampun tapi dia berbohong karena masih terus menggelitikku hingga aksi kami terhenti kala mendengar suara yang kami kenali.."Kalila..." ucapnya, kami sama-sama menoleh dan terdiam.Aku menggigit bibirku, bingung harus menjawab apa. Kurasakan Yovan menggenggan tanganku menyalurkan rasa bahwa semua akan baik-baik saja."Bisa kita bicara?" ucap Yovan dan diangguki Teo, ya orang itu adalah Teo. Bagaimana bisa ia berada disini."Maafkan aku Teo." Ucapku padanya sambil menunduk saat kami sudah duduk di tempat makan dipinggir pantai ini dan setelah aku juga Yovan memberikan penjelasan.Dia mengangguk "Aku sudah tahu semuanya, Kalila" jawaban yang membuatku terkejut dan langsung mendongakkan wajahku."Tapi sungguh Teo, aku sama sekali tak ada niatan untuk mempermainkanmu.""Tidak apa, Kalila. Aku mengerti. Cinta tak bisa dipaksakan, bukan?"Aku tersenyum lalu mengangguk, pria ini sungguh bijak tak heran jika ayahku membanggakannya untuk menjadi calon suamiku."Sejak kapan kau tahu?" tanya Yovan"Dua minggu yang lalu aku melihat kalian bersama. Perasaan kalian itu terlihat jelas, bahkan tadi malam semakin membuatku yakin." jelasnya"Lalu bagaimana keputusan perjodohan kita?" tanyaku hati-hati tak ingin menyakiti banyak pihak.Ia tersenyum "Jangan pikirkan, nanti kita bicarakan""Kamu pria yang baik, Teo""Boleh aku memelukmu? Bisa dikatakan untuk salam perpisahan, mungkin" usulnyaKu lihat Yovan melebarkan matanya menatapku tapi aku mengangguk padanya dan mengatakan "Boleh" pada Teo.Ia bangkit dan memelukku dan membisikkan kata "Jika kau tak bahagia dengannya, datanglah padaku" lalu melepaskan pelukannya.Aku tersenyum padanya lalu ia memegang pipiku dan beranjak dari hadapan kami."Terima kasih, Kalila" ucap suara di sebelahku. "Aku juga akan segera mengatakan pada Cindy nantinya"Aku hanya menatapnya, karena jujur aku belum siap jika harus mengatakan apapun pada Cindy nantinya.---Seminggu telah berlalu setelah kejadian itu, dan kami belum bertemu sama sekali. Yovan disibukkan pekerjaannya dan waktu luang dihabiskan bersama Cindy, aku tak keberatan karena itu haknya bahkan aku menyuruh Yovan untuk menuruti kemauan Cindy daripada bertemu denganku. Meskipun aku tahu Yovan kesal denganku.Hari ini adalah weekend, hari minggu lebih tepatnya. Aku diliburkan aktivitas menatap monitor di kantorku. Dan hari ini aku ada janji bertemu dengan Cindy, ya aktivitas bulanan yang harus kami laksanakanSore ini kami akan bertemu di taman kota, sepertinya aku akan mengajaknya nonton saja karena ada film seru yang tayang.Setelah bersiap aku segera memesan taksi online untuk bertemu dengannya, aku sedang malas mengemudi.Setelah sampai di taman kota aku langsung berjalan ke arah tujuan titik temu kami. Aku melihat Cindy, tapi ia bersama seorang lelaki dan mereka berdiri saling menghadap dengan pria itu membelakangiku.Dari punggung itu, sangat familiar. Yovan? Ah itu Yovan. Kenapa bersama Cindy, atau Cindy mengajaknya atau malah Yovan yang ingin ikut dengan kami seperti biasanya terkadang memang begitu.Masih berjalan perlahan aku menghampiri Cindy, tapi tatapan Cindy berbeda kali ini. Ada kilatan sesuatu di matanya tapi aku tepis.Berusaha tersenyum meskipun penasaran hingga beberapa langkah aku mendekatinya dan kulihat ia juga melangkah ke arahkuTersenyum dan berucap "Hai Cind..."Plakk"Kamu pantas mendapatkan itu, Kalila!" teriaknya disertai geraman. Yovan melangkah mendekatiku.Aku terdiam, memegang pipiku yang berdenyut nyeri. Ah apakah ini sudah saatnya? Aku tahu cepat atau lambat ini akan terjadi tapi haruskah secepat ini?Aku mendongak menatap Yovan sejenak dan pria itu menggeleng, apa itu artinya Yovan belum mengatakannya.Aku menatap Cindy "Cindy, aku..""Apa? Terkejut huh? Aku tidak menyangka ini. Aku pikir kita adalah teman Kalila" potongnya dengan cepatSetetes air mataku sudah berjatuhan, aku tahu dan aku sadar tidak akan ada kalimat pembelaan yang tepat untukku, aku sadar bahwa aku salah."Cindy, tenangkan dirimu dulu. Kita bicara" ucap YovanCindy menatap dengan sorotan tajam ke arah kami."Kau tahu, Kalila? Kemarin Yovan berkunjung kerumahku, aku penasaran kenapa Yovan memainkan ponselnya terus. Dan terdapat notifikasi chat terakhir bernama 'Kalila' aku penasaran, saat Yovan izin ke toilet aku dengan cepat membukanya, kau tau apa yang ku temukan? Passcode ponselnya tanggal lahirmu" ia menangis dan menjeda ucapannya "Awalnya aku sudah curiga tapi aku menepisnya karena aku berpikir kau teman baikku tidak ada salahnya kau juga dekat dengan calon suamiku." ia menyeka air matanya "Selama ini aku juga percaya padamu, tak mungkin kamu begitu"Ia masih terisak menahannya aku sudah tak sanggup berkata-kata "Aku yang tak berani membuka room chat beralih ke galeri menemukan foto kalian bermesraan. Aku bingung harus bagaimana, aku menahannya hingga hari ini" tambahnyaAku menangis, aku menyesal dan tak ingin kehilangan Cindy tapi juga tak ingin kehilangan Yovan. Katakan aku egois memang."Cindy, kumohon maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya""Kenapa Kalila? Kenapa? Aku salah apa padamu sehingga kau tega melakukan ini padaku""Cindy, aku bisa jelaskan. Kau ingatkan pria yang ku ceritakan sewaktu di Bali it..""Stop it, Kalila. Aku pikir kau teman baikku, merangkul dan memelukku untuk menenangkan namun aku salah. Kau memeluk hanya untuk memastikan pisau yang kau tancapkan semakin dalam.""Dan Aku membencimu!" teriaknya frustasi"Dan kau Yovan, aku tidak akan membatalkan perjodohan kita" tambahnya lagi, mengusap air matanya dan ia pergi begitu saja meninggalkan aku dan rasa sakit yang kian bercokol di hatiku.Tubuhku luruh ke bawah, Yovan berusaha membantuku namun ku tepis "Sudah cukup, Yovan." isakkuDia memelukku yang masih terduduk di bawah, ia meletakkan dagunya di puncak kepalaku. "Bagaimana ini Yovan? Cindy membenciku" isakku berulang-ulang kali.Setelah kejadian itu aku langsung beranjak menyusul Cindy ke apartemennya untuk memohon permintaan maaf darinya namun tidak ada.Sudah seminggu ia sulit dihubungi bahkan nomorku di blokir olehnya. Ia benar-benar membenciku yang membuat seminggu ini aku gelisah.Aku mengingat, hanya rumah orang tuanya yang belum aku kunjungi. Aku begegas kesana dengan cepat.Dengan memesan ojek online agar lebih cepat sampai dan lebih baik untuk bertemu dengannya.Tak membutuhkan waktu lama, aku sampai di rumahnya yang ternyata disana aku melihat Yovan yang baru saja turun dari mobilnya."Kalila.." ucapnya menghampiriku langsung memelukku dan ku dorong perlahan.Semenjak kejadian di taman itu aku memang menghindarinya, aku cukup takut dan perasaan bersalah menggerogotiku yang kian hari semakin membesar.Aku beranjak mendekati pintu yang diikuti oleh Yovan kemudian memencet bel, yang dibukakan oleh ibunda Cindy, tante Novi."Assalamualaikum, Tante" sapaku dan menyalim tangannya"Eh Kalilah, loh ada Yovan juga" lalu diikuti Yovan menyalim tangan tante Novi."Masuk dulu ayo" ajaknya yang ku tolak halus"Mm tante, Cindy nya ada?" tanyaku to the point. Tante Novi mengajakku duduk di teras."Ada apa Tante?" tanyaku lagi setelah duduk melihat rautnya yang muram."Cindy tak mengatakan apapun pada kalian?" aku menggelengkan kepalaTante Novi menghela nafas "Sebelumnya tante minta maaf pada kalian yaa. Kalau saja tante tidak menjodohkan Cindy pasti tidak akan begini kejadiannya"Aku yang mulai mengerti apa yang disampaikan tante Novi kini memegang tangannya. Mungkin Cindy sudah bercerita pada ibunya."Tante.. Aku minta maaf" Ujarku karena kekacauan iniTante Novi menggeleng "Yovan sudah menjelaskannya kemarin pada tante. Kalian tidak sepenuhnya salah""Tante pikir saat beberapa hari yang lalu Cindy ke rumah ini ia rindu atau apapun namun ia mengurung diri di kamarnya, beberapa hari kemudian ia keluar kamar tapi ternyata ia hanya berkata bahwa perjodohannya di batalkan dan tidak bisa dilanjutkan, tante ingin bertanya meskipun tante sudah mendengar dari Yovan, setelah malamnya mengatakan itu ia pamit pergi"Aku yang panik sontak berdiri "Pergi.. Pergi kemana tante?""London. Ia berangkat sebentar lagi. Mungkin sudah sampai di bandara""Baiklah tante.. Kalila pamit mau menyusulnya" ucapku yang bergegas namun ditahan tante Novi"Tunggu, nak. Cindy menitipkan surat untukmumu" lalu ia masuk ke dalam dan keluar menyodorkannya padaku.Aku pamit pada tante Novi mulai berjalan keluar dan ditarik masuk ke dalam mobil oleh Yovan "Aku antar""Bagaimana ini Yovan. Cindy membenciku""Ayo cepat nanti ia sudah berangkat" tuturku lagiTak membutuhkan waktu lama kami telah tiba di bandara dan penerbangan ke London pun sudah berangkat beberapa waktu yang lalu."Yovan.. Cindy membenciku" racauku padanya, ia memelukkuSeakan teringat sesuatu aku mengambil titipan Cindy, membuka surat itu yang bertuliskan tinta berwarna hitam. Lelehan air mata menghiasi wajahkuHallo, Kalila.Maaf tidak pamit secara langsung. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kau tidak sepenuhnya bersalah.Sebenarnya aku tahu kau menjalin hubungan dengan Yovan, namun egoku menentang itu. Cintaku membutakan untuk tidak memperdulikan itu, hingga acara tempo hari lalu Yovan menarikmu pergi. Puncaknya aku melihat foto mesra kalian di ponsel.Awalnya aku tetap ingin melangsungkan pernikahan itu tapi setelah mendengar percakapan Yovan dengan ibuku, aku sadar bahwa aku terlalu egois.Jangan khawatirkan aku, waktu akan memperbaikinya.Tetaplah bersamanya, aku menyayangimu, Kalila. Sampaikan salamku padanya.Sampai bertemu lagi nanti.Dari sahabat cantikmu, Cindy Antika.Aku menangis tersedu-sedu, rasanya kakiku tidak bisa menapak dan tubuhku luruh ke lantai. Tak perduli orang berlalu lalang memandang aneh, rasanya aku ingin memeluk Cindy saat ini.Kurasakan Yovan memelukku"Cindy tidak membenciku""Cindy menyayangiku, Van" racauku lagi.Kurasakan sebelah tangannya menarik surat dari genggamam tanganku. Beberapa saat kemudian kurasakan ia kembali memelukku dan mengecup puncak kepalaku.."Iyaa.. Cindy amat menyayangimu" ucap Yovan lagi masih dengan memelukku.THE END
7 Days
"What! Kok aku sih?" pekikku histeris kala mendengar ocehan salah seorang gadis yang duduk di seberang kursiku, Lala.Dua orang gadis dan satu pria duduk menghadap dihadapanku dengan kalimat yang membuatku rasanya ingin terbakar."Ayolah, Dita. Cuma rencana untuk party" balasnya dengan raut memohon padaku.Saat ini aku sedang duduk di kantin kampus sambil menunggu jam kuliah berikutnya yang akan dimulai satu jam lagi dan mereka datang di depanku.Aku yang mendengkus tidak suka mendengar usulan itu, lalu menyeruput ice coffe hingga berbunyi menandakan habis dari cupnya."Kalian gila?" tanyaku lagi masih tidak percaya.Mereka menggeleng dengan tegas, kecuali pria itu, bagaimana tidak? Salah satu teman dari teman mereka akan berulang tahun sebulan lagi. Dan mereka mengajakku turut membantu rencana yang telah mereka susun.Tidak ada yang aneh sampai disana. Yang aneh adalah aku disuruh menjadi perempuan penggoda untuk menggoda pacar dari lelaki gadis yang akan berulang tahun itu.Lebih tepatnya, pacar pura-para pria dihadapanku ini, Maxim. Ide gila.Setidaknya aku punya harga diri, tahu! Bagaimana pemikiran orang lain. Aku akan disebut pelakor, begitukah?"Bantulah kami. Hanya kau perempuan yang tepat" bujuk mereka"Aku punya pacar, bagaimana ka..""Halah.. Pacarmu tidak disini" potong gadis rambut pendek bernama Aira itu, dia memang gadis yang galak."Kalian juga gak bisa maksa dong, hanya karena aku tidak mudah untuk di tindas bukan berarti aku akan melakukannya"Lala memegang tanganku "Kami juga ingin tahu, Maxim setia atau tidak." bisiknya yang membuatku sepontan menatap pria itu yang kini juga menatapku dengan alis terangkat.Aku akui, dia sungguh tampan."Lalu bagaimana jika Maxim baper sama aku, aku tidak bisa mempertanggung jawabkan perasaannya. Aku sudah punya pacar" jelaskuMereka kompak mengangguk kecuali Maxim yang ku dengar berdecih "Hanya seminggu, Dita. Ayolah" timpal Aira."Okay. Seminggu. See you" ucap Maxim datarMemang aku mengatakan setuju? Tidak adakan.Maxim adalah senior kami, dia seorang presma. Sosok wajahnya yang rupawan dan juga berkantung tebal membuat perempuan mana saja akan suka rela mencintainya, setidaknya itu yang aku tahu.Aku tidak pernah berharap akan mendapatkan hatinya, huh kalau bukan karena ucapan yang cukup menggoyahkanku.Aku ingin tahu , apakah Angel mencintaiku . Bisik Maxim saat itu yang membuatku berteriak bodo amat, tentu hanya dalam hati. Mana berani aku, tatapannya saja tajam mengintimidasi.Ia menjauhkan wajahnya sambil menyeringai, yang mana kata-kata selanjutnya yang membuatku pasrah dan terjebak di tempat ini bersamanya.Satu minggu 50 juta , semudah itu hanya dengan dekat denganku .Saat ini aku duduk diluar ruangan saat presma beserta teamnya sedang rapat. Lagipula apa hubungannya sih. Seharian aku disuruh menunggunya, tidak ada kegiatan apapun.Ia keluar ruangan "Beliin air mineral gih" titahnya sambil menyerahkan uang seratus ribu."Kok aku merasa jadi kacung ya?" protesku dihiraukan saat ia tanpa perasaan meninggalkanku masuk ke dalam ruangan itu lagi.Seharian ini harusnya aku rebahan, karena tidak ada jadwal kuliah. Mulutku ini sih berkhianat harus setuju saat itu.Bahkan hari ini aku sudah 5 kali bersamaan ia menyuruhku membeli minum ini. Dari mulai fotocopy, membeli spidol, membeli kopi, mencari kuota dan terakhir membeli air mineral. Aku yakin dia pasti sedang mengerjaiku.Iyalah, mana mungkin ia dengan cuma-cuma memberiku 50 juta begitu saja, iyakan?Ini masih hari pertama, segera aku membeli air mineral di kantin kampus dan kembali ke ruangan ituAku masuk memberikan sebotol air mineral tanpa memberikan kembalian itu."Ini sudah sore banget sebentar lagi malam, Max. Sorry. Aku balik duluan" ucapku menahan amarah.Ia menahan lenganku, "Besok aku jemput jam 10 pagi" ucapnya.Sialan! Kirain nahan lengan bakalan mau nganterin pulang. Ternyata besok ada lanjutannya. Mendengkus aku meninggalkannya.---Tidak sesuai dugaan, aku masih baru selesai mandi dan dia sudah mengetuk pintu kamarku, ku lihat jam yang menggantung di dinding. Ini masih pukul 9, kenapa dia tidak sabaran sekali sih.Aku tidak heran kenapa dia bisa mengetuk pintu kamarku dan menyerukan namaku, karena aku hanya tinggal dengan ART di rumah ini, papa dan mama sedang perjalanan bisnis atau malah honey moon untuk yang kesekian kali.Tapi Aku jadi memikirkan Angel, kasihan gadis itu. Biarpun dia sungguh menyebalkan tapi tetap saja aku merasa kasihan padanya.Mungkin karena kami mantan teman. Oh adakah sebutan lain untuk itu? Ini juga yang membuatku ada ketertarikan untuk membantu misi mereka. Sesekali jahat bolehkah?Menghela nafas, hanya seminggu, semangat Dita. 50 juta dalam seminggu. Kapan lagi?Dan kini aku sedang di toko perhiasan membantunya mencari hadiah, ia menggenggam tanganku. Aku berusaha menariknya tapi ia malah mempererat genggamannya.Bukan apa-apa aku hanya takut aku goyah."Yang mana?" tanyanya padaku, kali ini ia melepaskan genggamannya dan menunjuk 2 kalung yang bagus untuk Angel, satu bermainan mawar dan infinity.Mataku berbinar saat melihat kalung berbandul infinity tapi posisinya ini saran untuk Angel, bukan aku."Mm.. Ini, Angelkan suka sekali dengan mawar jadi lebih baik yang ini" saranku sambil menunjuk berbandul mawar, aku tahu Angel itu perempuan cantik yang glamor, gaya hidup setara dengan kekayaan orang tuanya."Sepertinya kau sangat mengenal Angel" balasnya dengan fokus menatap kalung ituAku menghendikan bahu "Kebetulan saja"Maxim mengangguk singkat. "Kau boleh menunggu di restoran seberang sana. Kita makan dulu" perintahnya yang membuat aku mendengkus.Sabar Anandita yang cantik, demi 50 juta.Aku menghela nafas lalu keluar menuju restoran yang di depan sana. Aku masuk langsung memanggil waitres s memesan pesananku tanpa menunggu pria menyebalkan itu.Sekarang aku mengerti, Maxim dan Angel mereka memiliki karakter yang sama. Sama-sama menyebalkan.Tak lama pesananku datang, aku langsung memotong steak tersebut. Baru saja aku menyuapkan potongan pertama, Maxim datang"Kenapa tidak menungguku?"Aku hanya diam saja, malas ah jawabnya. Masih dengan santai aku mengunyah dan memotong steak tersebut"Akukan menyuruhmu menungguku disini, maksudnya kita makan bersama"Aku menyodorkan potongan steakku padanya, sungguh dia cerewet sekali, diluar dugaan ia malah menerima suapan dariku."Enak" jawabnya ringan, kulihat ia mengangkat tangan memesan menu yang ku pilih ini. Aku tahu restoran ini, sering kukunjungi bersama Angel.Uhuk..uhuk..Aku tersedak. Aku baru saja memikirkan Angel tapi gadis itu panjang umur sudah muncul begitu saja.Maxim mengangsurkan minuman padaku dan langsung ku terima.Bagaimana ini jika aku disebut perusak hubungannya?Tidak.. Bukankah aku dibayar untuk itu? Baiklah sepertinya aku harus memulai adegan itu sekarang.Maxim memegang tanganku mungkin aku terlihat pucat kali ya. Ku lihat Angel tidak menatap ke arahku, tapi tidak apa-apa mana tau ia melihat.Kamu pasti bisa Dita."Hei. Are you okay?" aku membalas genggaman tangannya sepertinya dia terkejut akan perlakuanku iniAku tersenyum dan mengangguk, tapi senyumanku luntur kala Angel keluar dari restoran ini. Itu artinya gagalkan?Aku menarik tanganku, mengubah ekspresiku menjadi datar kembali. Aku sudah selesai makan, sepertinya jalan-jalan ke wahana bermain akan seru.Ia melemparkan paper bag ke arahku, aku mengenyit menatapnya yang melahap makanannya dengan tenang.Aku membuka paper bag itu dan aku melihatnya dengan binar kebahagiaan."Max.. Kok tahu?""Aku sedang tidak menggombal" sahutnyaAku terkikik atas jawabannya, benar juga. Kata-kata itu sering digunakan sebagai balasan ketika pria menanyakan pertanyaan bermaksud menggombalin wanita.Aku tersenyum manis ke arahnya, "Terima kasih, Max" ucapku tulus yang di balas deheman olehnya.Tidak dapat ku pungkiri, aku senang menerima kalung ini."Kamu tahu, Max? Kalung infinity ini memiliki makna" tuturku seraya memerhatikan kalung ini dengan lekat.Ia menyudahi makanannya dan beralih menatapku, aku membalas tatapannya sebelum berucap"Kalung ini bermakna Abadi" kami masih saling menatap menyelami manik masing-masing.Aku takut, karena biar bagaimanapun aku... Aku pernah menyukainya.Aku yang saat itu maba, pada masa perpeloncoan, aku nyaris terlambat akibat kemacetan.Saat aku dengan tergesa memasuki kampus, topi terbuat dari kertas kartoon yang dirancang khusus masa maba terbang. Aku kelimpungan, masih menunduk malah tas terbuat dari karungku juga turut jatuh.Saat aku mulai mengutip peralatanku perlahan, ada seseorang yang membantuku.Awalnya ia tanpa ekspresi memberikan topi itu padaku, hingga detik berikutnya ia tersenyum. Manis sekali, bukan hanya itu namun sangat meneduhkan jiwa.Aku menerima topi itu lalu ia berkata "Remember me?" tukasnya saat itu, aku yang masih terpana belum mengucap apapun, ia tertawa dan berlalu begitu saja.Sejak saat itu, aku menyukainya."Apa pacarmu tidak pernah membelikan apapun?" tanyanya yang menarikku dari kisah itu.Aku menghendikan bahuku tanda acuh, "Lagipula ia sedang sibuk studi di luar nege..." ucapanku tertahan karena sosok yang amat ku kenali masuk ke dalam resto tempatku makan ini.Maxim menaikkan alisnya tanda bertanya kenapa aku berhenti.Aku masih menatap ke arah sepasang kekasih duduk di sudut sana. Bahkan ku lihat perempuan itu mengecup singkat pipi lelaki di sampingnya.Aku bangkit, menghiraukan perkataan Maxim. Melangkah mendekati meja sudut tersebut.Aku duduk di hadapan mereka, tampak wajah pria itu amat terkejut."Bisa jelaskan padaku, Tuan Leano?"Ia terdiam, gadis itu menatap heran ke arahku. Aku tersenyum sambil berucap "Terima kasih atas waktunya, aku.. Ah sudahlah. Sampai jumpa" ucapku lagi, aku berusaha kuat.Aku mulai bangkit, ia menarikku ke arah tempat yang sedikit tidak ramai "Maafkan aku. Aku.. Khilaf. Aku tidak bermaksud begi..."Plak!!Satu tamparan yang mungkin belum memuaskan hatiku yang bercokol karena perlakuannya tapi sudahlah."Kita sampai disini saja" namun ia menggeleng dengan tegas.Aku tertawa hambar sebelum berucap "Kamu tidak akan bisa berdiri di atas dua perahu sekaligus""Aku akan memutuskan Laila"Aku mengangguk singkat "Namanya Laila. Tapi aku tidak bisa melanjutkan ini"Lalu beranjak keluar restoran, hingga sampai di luar restoran tanganku ditarik, "Ayo aku antar pulang" ucap MaximAku yang sudah tidak memiliki tenaga karena takut tumpah ruah air mataku langsung ikut masuk kedalam mobilnyaSampai dalam mobil tangisku pecah tak lagi mampu membendung air mataku biar bagaimanapun kami sudah menjalin hubungan hampir dua tahun lamanyaKurasakan ada sebuah pelukan yang memeluk tubuhku sambil mengucapkan "it's okay"Apa yang membuat dia selingkuh di belakangku, aku sungguh memepercayainya. Ia berkata melanjutkan pendidikan di luar beberapa bulan yang lalu tapi aku salah.Maxim mengusap bahuku "Percayalah, dia akan menyesalinya nanti"Aku semakin menenggelamkan wajahku di dadanya, seolah mencari ketenangan dan perlindungan.Maafkan aku Angel, hari ini saja aku memeluknya.Aku bahkan merasakan ia mengecup puncak kepalaku. Lalu ia mengurai pelukannya, "Maaf" lirihkuIa mengambil sesuatu dari sakunya, ku sadari itu adalah kalung pemberiannya yang mungkin aku lupa membawanya tadi.Lalu ia memakaikannya padaku seraya tersenyum, aku masih menatapnya dalam diam."Makna kalung ini, abadi bukan?" tanyanya yang ku balas anggukan"Kalau begitu jadilah pribadi yang ceria dan kuat yang akan tetap abadi" tambahnya---Selanghari itu, kini sudah hari keempat, semalam seharian penuh aku di rumah tak ingin keluar.Bukan karena meratapi kesedihan melainkan ingin menenangkan hati saja. Karena sebenarnya aku tidak terlalu mencintainya hanya nyaman, pacaran kami hanyalah jalur atau langkah awal perjodohan yang akan berlangsung.Sebenarnya tidak sepenuhnya juga salahnya, aku mengerti. Kalimat apapun yang diungkapkan khilaf baginya menurutku tidak salah, aku hanya sedikit kecewa karena memercayai ucapan bahwa ia mencintaiku namun berjalan dengan wanita lain.Aku juga sudah menceritakan ayahku lewat telepon tentunya, beliau mengehela nafas dan menyerahkan keputusan penuh pada diriku kerena kekhilafan itu.Aku cukup senang akan kebijakan ayahku kali ini.Kali ini aku sudah berjalan memasuki pelataran kampusku, seingatku jam kelas berlangsung 45 menit lagi. Aku akan menghabiskannya di kantin.Tak lama ada yang merangkul bahuku yang membuatku monolehkan, sedang ia masih berjalan tenang sambil tersenyum hangat padaku" Better ?""Tentu" jawabku singkat "Bisa tidak jangan merangkul begini?" tambahku acuh"Kamu kan pacarku""Pura-pura" balasku cepat.Hingga sampai di kantin ia baru melepaskan rangkulannya dan pergi memesankan minuman atas perintahku.Tunggu.. Kok dia jadi senrimo begitu?Aku tahu bagaimana keseharian Maxim, sedikit tak percaya ia mau saja ku suruh padahal aku mengusirnya secara halus karena tatapan para pengunjung kantin ini.Beberapa saat ku lihat Maxim berjalan ke arahku sambil membawa nampan. Untuk kesekian kalinya ia tersenyum, seakan tertular akupun tersenyum sesaatPlakk!"Bitch" umpatnyaIni seperti de javu bagikuAku mendengkus kesal, ku lihat ternyata itu Angel. Aku tertawa miris sedikit melupakan peranku dan terhanyut oleh Maxim."Kau tahukan Maxim berpacaran denganku? Oh ayolah Dita, tidak cukupkah Fero bersamamu saat itu"Aku menggelengkan kepala, ku lihat Lala dan Aira menatapku khawatir juga beberapa sorot pasang mata menatapku seperti menghina?Dan aku tahu siapa itu Fero, pria yang dicintainya semasa SMA dahulu dan itu membuat hubungan persahabatan kami retak. Ia salah paham terhadapku, itu lebih tepatnya.Oh Tuhan.. Aku sudah membayangkan hal seperti ini akan terjadi tapi kenapa secepat ini dan terasa sakit yaa.Aku diam sesaat, sepertinya rencana mereka sukses! Ya, mempermalukan aku.Aku bangkit dari kursiku tak memerdulikan ucapan Maxim. Berjalan secepat mungkin, ini tak seperti ekpetasiku.Aku mulai melangkahkan kaki keluar karena tatapan mereka yang tampak menghina, tidak seperti ini perjanjiannya yang aku ingat.Bahkan sampai diluar gedung kampus, hal yang tak terduga adalah aku diguyur air oleh beberapa orang yang sepertinya fans Angel.Mantan sahabatku itu memang terkenal, ia adalah model.Aku tertawa miris memerhatikan diriku ini, Maxim datang menarik tanganku melindungiku di belakang tubuhnya"I hate you, Max!" umpatkuMax menoleh ke arah belakang ingin menjawabku tapi keduluan dengan suara lain"Hei, Maxim. Kau berselingkuh dengannya?" ucap Angel tertawa menyebalkan "Kau sungguh jahat. Beberapa hari lagi aku berulang tahun dan kau memberi kejutan ini?" sarkasnya lagi"Dan kau! Mantan sahabat tidak cukupkah kau mengambil pria itu dahulu padaku?" tanyanya dengan pandangan meremehkan.Aku melongokkan kepalaku ke depan, menatapnya lalu berujar "Fero tak pernah mencintaimu! Dia takkan mencintai gadis bar-bar" ucapku dengan lantang.Sudah terlanjur jadi pusat perhatian maka aku melangkah maju, akan mulai melanjutkan penjelasan yang sempat tertunda "Kau salah paham padaku, dan aku... Aaaa" teriakku kala ia menjambak rambut saat aku belum selesai memberinya penjelasan yang belum usai.Terserahlah! Aku sudah tidak peduli akan ia salah paham atau tidaknya. Angel memang keras kepala.Dan langsung ku balas dengan jambakan kembali di rambutnya, kami saling menjambak dan melempar caci.Maxim berusaha memisahkan kami yang saling memaki dan hingga akhirnya ia berhasil menyentak tangan kami, tubuhku yang limbung langsung terjatuh dengan tubuh yang setengah basah akibat diguyur air dan rambut yang acak-acakan.Mataku berkaca-kaca, kenapa Max sampai mendorongku? Aku malu.Tentu saja, ia mana mungkin sampai mendorong Angel. Aku sadar aku salah mengambil pilihan ini.Maxim berucap "Maaf" dan berusaha membantuku tapi langsung ku tepis.Dengan sisa keberanianku ku tatap tajam matanya, "Jangan pernah temuiku lagi""Tapi Dit..""Lupakan perjanjian itu" aku bangkit dan mulai pergi dari sana sambil memeluk tubuhku sendiri.Yaa aku sudah tidak peduli uang itu. Harga diriku lebih penting.Kamu jahat Maxim, kenapa aku dahulu menyukaimu. Sangat. Bahkan tak menampik aku juga masih menyukaimu saat ini.Sejak hari itu mereka tidak pernah lagi menemuiku, lebih tepatnya aku menghindari mereka. Maxim berulang kali datang kerumahku tapi selalu ku katakan aku tidak ada di rumah.Ini sudah malam dan hari ke 10, itu artinya hari ulang tahun Angel sudah lewat. Aku tersenyum mengingat kenangan dahulu namun hanya karena Fero, kami jadi saling memusuhi. Padahal aku sama sekali tak menyukainya hanya sebatas teman.Dan malam ini aku sedang berdiri di jembatan taman yang berhias kemerlap lampu, tempat favoritku dan Angel jika sedang dalam masalah, sebenarnya ini adalah hari anniversary pertemananku dengan Angel. Meskipun terlihat saling membenci aku sayang padanya dan ini juga menjadi alasanku untuk menyetujui rencana itu, terlepas dari Maxim. Aku menginginkan Angel bersama dengan orang yang tepat.Aku tersenyum miris, lagi-lagi ia berlaku demikian padaku. Angel tidakkah kamu tahu itu adalah hal kedua yang pernah kau lakukan padaku?Dahulu, tepatnya tiga tahun yang lalu saat di kantin sekolah semasa SMA dan kini di kantin kampus."Kau tahu tidak ada hal yang paling menyebalkan dari orang yangku cintai ternyata tak mencintaiku?" ucap seorang gadis di sebelahku.Aku menolehkan kepalaku menghadap ke arahnya, bahkan aku sudah ingin menangis saat ini.Ia menghela nafas menatap ke arahku "Seorang sahabat yang tak pernah memahami perasaan sahabat lainnya" Jawabnya, matanya juga sudah berkaca-kaca"Maafin aku, Dita" paraunya lalu meneteskan air matanya, aku menggeleng. Segera ku peluk tubuhnya."Harusnya aku tidak menamparmu, baik saat kemarin maupun saat 3 tahun yang lalu. Aku kelepasan. Maafin aku sudah membuatmu memilih perjodohan itu dan meninggalkan Fero hanya demi keegoisanku waktu itu. Karena aku kau harus bertemu dengan pria brengsek yang menyelingkuhimu"Aku mengurai pelukan "Kau tahu dari mana?" tanyaku yang bingung kenapa dia begini"Kemarin aku bertemu dengan Fero, dia menjelaskan semuanya ditambah penjelasan Maxim. Aku wanita jahat" ucapnya"Ayo pukul aku" perintahnya sambil menarik tanganku"No, Angel. Berhenti kekanakan. Yang sudah berlalu biarlah berlalu""Maafin aku ya?" pintanya yang ku balas anggukan. Begini akan lebih baik. Melupakan yang telah terjadi.Ia memberikan aku secup es krim yang entah dari mana lalu berkata "Suapin aku es krim biar aku percaya" aku tertawa ini adalah kebiasaan kami sejak dahulu, jika ada yang salah dan cara memperbaikinya adalah menyuapkan es krim. Itu artinya sudah memaafkan.Aku langsung membuka cup dan menyuapinya ia tersenyum, kamipun duduk di bangku yang tak jauh dari jembatan."Sebenarnya..." lirih Angel"Ada apa?""Sebenarnya itu skenario kami" aku menautkan glabelaku arti tak mengerti arah pembicaraan kami"Kau tahu? Aku sama Maxim dijodohkan hanya saja hati kami sudah menetapkan pilihan masing-masing. Maxim hanya tidak tahu cara mengungkapkannya padamu. Makanya ulang tahunku jadi alasan untuk mendekatimu." ia menghela nafas sejenakTunggu apa itu artinya Maxim? Ah tidak..tidak."Dan aku minta maaf, untuk tamparan dan hujatan itu diluar rencana. Aku hanya teringat saat SMA dan..""Itu salah paham" potongku"I know, Dita. Dan Maxim akan melamarmu saat ulang tahunku. Itu seharusnya" balasnya lagi"Kau mencintainyakan?" tanyanyaAku terdiam sebentar lalu berjalan ke arah jembatan itu lagi "Iya, aku mencintainya" sambil menatap lurus menghadap hamparan pemandangan di jembatan ini.Tak lama sebuah lengan melingkari perutku, memelukku dari belakang"Aku juga mencintaimu, sangat. My Anand" ucap pria itu.Anand? Ah aku ingat. Jadi Maxim itu adalah tetangga gendutku itu? Pantas saat bertemu saat itu ia bertanya 'Remember Me?' kok dia bisa jadi tampan begini"Kamu bocah gendut tetanggaku dulu?" tanyaku tak percayaAku menoleh pada mereka, Maxim membalasku dengan mengecup pipiku dan Angel meringis meminta maaf sambil mengangkat tangan.Kurangajar aku kena dua kali!.POV MaximSejak ikut pindah orang tuaku ke kota Medan kelas 6 SD lalu. Dan saat ini aku Kembali dan kuliah di Jakarta kembali. Berharap menemukan sosok teman kecil yang selalu menemaniku, saat aku pindah kembali ke rumah lamaku itu, tetanggaku sudah ganti bukan ia lagi, Anandita.Setahun belakangan ini aku mencarinya, meskipun aku mengikuti Instagramnya tetap saja aku bukan lelaki pengumbar rayuan yang mudah dekat dengan wanita.Tapi di gerbang itu saat aku membantu gadis yang barangnya berjatuhan aku melihatnya.Hatiku bersorak " Remember me ?" ucapku namun dia hanya diam saja, sedikit menyebalkan namun dari matanya, aku menyadari bahwa aku jatuh cinta.Dan ternyata ia juga dijodohkan, pada lelaki bernama Leano. Aku sempat frustasi.Sambil memikirkan strategi untuk mendekatinya, orang tuaku mengadakan perjodohan dengan Angel, tentu aku marah. Dan kami sepakat untuk melakukan rencana pada Dita dengan kilah ulang tahun Angel. Karena Angle memiliki kekasih. Dan rencana ini semakin mudah saat aku menerima fakta Leano berselingkuh.Ku akui aku sempat mengerjainya karena ia tak kunjung mengingatku.Namun saat Angel menamparnya dan bertengkar pada Dita itu membuatku bingung sekaligus marah karena itu tak sesuai dengan skenario yang kami buat. Namun Angel bilang dia khilaf.Hingga pada hari ulang tahun Angel aku sudah menyiapkan segalanya, termasuk cincin lamaran itu. Orang tua kami juga sepakat membebaskan kami untuk memilih, mereka hanya ingin yang terbaik untuk kami.Lagi, aku marah pada Angel namun ia berjanji akan membantuku. Dan 3 hari kemudian Angel mengajakku untuk ikut ke tempat favoritnya dengan Dita. Aku tahu hubungan mereka karena Angel sempat menceritkannya.Aku melihat Dita disana, rasanya aku ingin segera memeluknya. Namun Angel menahanku, "Bersabarlah, aku perlu meminta maaf padanya. Aku juga perlu memperbaiki hubungan kami" ucap Angel yang ku angguki.Ku lihar mereka berbicara, lalu saling memeluk bahkan kantungan yang sempat ku lihat di bawa Angel tadi di sodorkan dan mereka saling menyuap.Tak tahan, rasanya aku ingin memeluknya, aku mulai berjalan perlahan sampai ucapan Angel membuatku menahan nafas"Kau mencintainyakan?" tanya Angel yang kudengar. Dan kulihat Dita bangkit dan melangkah.Dengan lamban akupun ikut melangkah ingin mendengar jawabannya. Jawaban yang membuat akhir dari skenario yang kami buat"Iya, aku mencintainya" jawabnya aku tersenyum atas jawabannya.Merasa tak tahan lagi, aku langsung menyerbunya dengan memeluknya dari belakang dan berucap "Aku juga mencintaimu, sangat. My Anand"Kurasakan ia terkejut akankah ia mengingatnya."Kamu bocah gendut tetanggaku?" tanyanya dengan kaget sambil menatapku dan Angel disana. Lagi aku bersorak senang, ia mengingatku. Eksperesi terkejutnya sangat menggemaskan di mataku.Ku lihat Angel meringis sambil mengangkat tangan dan aku membalasnya dengan mengecup pipinya, kurasa itu cukup.Saat Angel meninggalkan kamipun aku masih tetap memeluknya, nanti akan ku ceritakan semuanya.Kecuali, rencana saat Dita memergoki Leano berkencan dengan selingkuhannya itu. Itu adalah rencanaku mengajak Dita datang ke restoran itu. Dan perihal Angel yang masuk ke dalam restoran itupun memang ku sengaja.Biarlah itu tetap ku simpan.End
Nikah yuk, Om!
Selain voment, boleh banget kalau mau follow akun ini. Anggap aja rasa menghargai, gratis pastinya.Dan boleh banget kalau mau recomended cerita ini sama teman yang lain yaa . Hihi TerimakasihMaaf jika cerita tidak menarikHappy ReadingAku duduk melamun di depan toko yang menyediakan bangku, bukan melamunkan apa-apa melainkan aku teringat kekasihku.Huh! Sudah setahun lamanya ia meninggalkanku bukan karena berselingkuh namun meninggalkanku ke alam yang berbeda.Dan aku juga tahu, obat terampuh dalam menyembuhkan ini adalah pasangan baru. Tapi aku belum sanggup, aku sungguh mencintainya.Ipta Antasena, senior di kampus yang begitu mempesona. Lelaki pekerja keras yang cerdas dan mampu membolak balik hatiku. Banyak kisah yang kami lalui, dia banyak mengajarkanku untuk menjadi wanita yang kuat namun feminim juga manja.Ya sedikit rahasia, aku ini dulu tomboy. Itu dulu sebelum masuk kuliah sekarang sudah feminim dan manja, sedikit.Ipta Antasena, lelaki pertama yang mengajarkanku arti cinta. Namun dia lebih memilih meninggalkanku dengan cinta yang kian hari membesar.Ia yang selalu mengingatkanku kalau harus selalu memberi kabar walau sesibuk apapun, ia juga yang selalu memberiku semangat ditengah-tengah dosen killer dengan setumpuk tugas.Ah Ipta....Aku menatap orang berlalu lalang tampak begitu bahagia tapi aku tidak bisa begini terus.Temanku, Ariska selalu mengingatkanku untuk mencari pasangan baru dan meyakinkanku bahwa Ipta akan bangga jika aku mampu melalui ini semua.Aku mohon Ipta, jika kamu merestuiku berikan aku satu lelaki yang memang pantas untuk ku temui.Hari ini juga Ipta...Aku memejamkan mataku, merapalkan kalimat Ipta, jika kamu mengizinkan dan atas restu Tuhan juga ketika aku membuka mata nanti hadirkan satu lelaki yang harus ku miliki ya, Ipta.Aku menghela nafas, perlahan membuka mata. Lalu menahan nafas.Ipta, apakah itu dia?Di penglihatanku, terdapat pria tinggi berparas tampan. Tangan kiri memegang gelas kopi khas merk tertentu dan tangan kanannya membaca tab nya, fokus matanya di tab tersebut.Tapi jika dilihat dia lebih dewasa daripada aku.Oh.. Ipta, itukah yang kamu pilih menggantikanmu?Baiklah, aku akan menghampirinya lalu mulai bangkit perlahan menghampirinya.BRUKKBukan, ini bukan adegan dimana kalian jatuh saling tatap layaknya film, bukan pula adegan romansa yang jatuh saling sentuhan tangan hingga bertatapan.Tapi ini ini benar-benar bertabrakan akibat aku berhenti di depannya sedangkan ia tetap lanjut berjalan dengan mata fokus pada layar tabnya, akibatnya aku sedikit terhuyung sedangkan ia, kopinya jatuh tumpah dan tab nya ikut jatuh."Ma.. Maaf, pak" cicitku karena ia masih memungut tab dan mulai mengeceknya kembali, gerakannya terhenti lalu mendongak menatapku."Pak?" tanyanya dengan ekspresi tak percaya"Eh, om" ralatku cepat"Om?" tanyanya lagi dengan alis terangkat membuatku tergagap seketika."Saya tidak sengaja, om. Om sih jalan tidak lihat-lihat ke depan" kilahku mulai membela diriIa tampak menghembuskan nafasnya perlahan "Okay, lupakan saya buru-buru" lanjutnya sambil berlalu meninggalkanku.Namun bukan berhenti aku mulai mengikutinya berjalan, "Saya Karina, Om siapa?" tanyaku sambil menyejajarkan langkah kakiku padanyaIa menghentikan langkahnya yang otomatis langkahku juga terhenti."Ngapain?" tanyanya"Apa?" jawabku polosDia mendecakkan lidahnya "Ngapain kamu ngikutin saya?"Aku meringis "Nama om siapa?""Zein, sekarang silahkan pergi jangan ikutin saya" ketusnya lalu pergi begitu saja.Aku tertawa pelan dengan berujar, Oh Ipta.. Dia lucu deh. Aku suka.Aku menghendikan bahu berjalan pulang ke rumah. Sepertinya besok aku akan kembali ke tempat ini dan semoga menemukan dia, siapa tadi namanya?Ah iya, Zein.Keesokan harinya aku kembali ke tempat semalam, menunggu selama beberapa jam sepulang dari kampus setelah menemui dosen untuk bimbingan skripsi namun tak menemukannya kembali.Ah andai Ipta masih ada, pasti dia akan membantuku membuat skripsi ini.Aku berulang kali ke tempat saat bertemu dengan Om Zein itu, namun sudah sebulan ini tapi tetap tak membuahkan hasil.Lihat saja, jika aku bertemu kembali aku akan mengajaknya menikah. Aku tertawa kecil lalu bergumam, bolehkan, Ipta?Menghela nafas aku berbalik menuju cafe yang memiliki wifi untuk membantuku mengerjakan revisi skripsi mencari beberapa jurnal untuk referensi, rasanya bosan jika harus selalu mengerjakannya di rumah.Aku duduk di salah satu kursi yang ternyata sudah ada Ariska disana, ya ini cafe tempat favorit kami."Hey, zeyengku." sapaku kelewat ceria saat sudah duduk di hadapannya.Iapun tak kalah kelewatan dalam membalas sapaanku "Uy, zeyengcu" lalu kami tertawa sebentar"Bentar, tumben bahagia sekali? Ada apa gerangan" tanyanya sambil mengetikAku membuka laptopku dan menjawab "Sepertinya aku jatuh cinta""Uh.. Akhirnya. Siapa pria tidak beruntung itu?""Sialan." makiku"Okay. Maaf. Siapa pria itu yang berhasil meruntuhkan Ipta di dalam hati?" tanyanya kembali kali ini dengan serius karena ia menghentikan ketikannya dan juga menatapku."Tidak meruntuhkan Ipta juga, malahan sepertinya Ipta yang sedang menuntunku ke arahnya atas seizin Tuhan juga pastinya" balasku menggebu-gebu"Yeee" ucapnya sambil mendorong kepalaku dengan jari telunjuknya.Kami melanjutkan aktivitas kembali, mengetik naskah skripsi.Dentingan lonceng yang ada di pintu menandakan adanya pelanggan masuk, membuatku otomatis menolehkan kepalaku karena bosan menatap monitor yang tak terasa sudah 2 jam lamanya."Om Zein" lirihkuKurasakan tanganku di senggol oleh Ariska, "Please, jangan om-om" bisiknya"Om yang ini beda" Jawabku sambil tertawa lalu segera bergegas membereskan barang-barangku dan mulai menghampiri Zein menghiraukan panggiln Ariska."Hallo, om" sapaku setelah duduk di depannya, ia mengernyitkan alisnya sepertinya dia lupa, tak apa aku akan bersabar."Karina, kalau om lupa""Bisa tidak, jangan manggil om. Saya tidak nikah sama tante kamu" balasnya cuek. Aku terkikik geli atas jawabannya.Baru saja aku akan membuka suara tapi ternyata suara lain menghentikanku dan membuat aku terbatuk seketika,"Ayah..." teriak gadis kecil yang menggemaskan tapi membuatku membulatkan mata."Sayangnya ayah, gimana jalan-jalannya sama mama Rara?" ucapnya sambil mengangkat gadis itu ke pangkuannya."Huh? Mama?" lirihku terkikuk, jadi dia punya istri, aku terdiam disitu menatap interaksi ayah dan anak itu."Seruu banget, yah." ucap gadis itu sambil berekspresi terlihat senang.Lalu ku lihat ia mendekati telinga ayahnya bermaksud berbisik tapi bisikannya kuat sehingga aku mendengarnya "Yah, kakak itu siapa?"Ah aku punya ide dengan senyuman manis, aku berucap "Hallo, sayang. Kakak calon mama kamu" ucapku yang membuat Zein itu terkejut. Uh lucu sekali, boleh juga mengerjainya.Tapi gadis itu malah menggeleng yang membuat Zein tertawa dan aku mendengkus sebal."Mama aku ya mama Rara" jawabnya"Zein" sapa wanita cantik sekali dan suaranya itu merdu dan manja natural, aku yakin wanita itu tidak tahu kalau ia mempesona."Hai, Ra." Zein bangkit lalu sekilas memeluknya"Lama banget, Ra. Dari mana aja?" tanya Zein ketika wanita itu duduk di sampingku, aku yakin pasti wanita ini bernama Rara mengingat Zein memanggil penggalan namanya dan gadis kecil itu langsung berhambur pada wanita itu.Duh. Kok aku jadi terjebak di kisah asmara mereka sih?Ipta... Gimana ni? Aku uda mulai tertarik sama pria itu."Teman kamu ya, Zein atau siapa?" tanyanya aku memutar bola mata, kemana aja baru tahu."Kamu gak ke kantor?" tanya Zein Mengalihkannya. Aku sih diam aja mau merhatikan dulu, dan aku juga gak berniat beranjak dari sini. Aku melirik Ariska dan ternyata ia sudah tidak duduk di sana mungkin sudah pulang."Enggak, aku malas." ucap wanita itu sambil tertawa, ah manis sekali beda sekali denganku. Bahkan untuk tertawa saja ia terlihat anggun."Ah iya, kenalin. Aku Lyra, tapi mereka panggil aku Rara jadi jangan bingung" ucapnya padaku sambil mengulurkan tangan, akhirnya aku di anggap juga.Ku balas uluran tangannya dan menjawab "Aku Karina, mm...""Kakak, sepertinya aku lebih tua" balasnya sambil tersenyum membuatku tertular akan senyumannya."Ma, nanti kita main sama papa Rey, ya?" yang du balas anggukan dan kecupan di pipi gadis kecil itu oleh Lyra.Eh tunggu kok dia sebut papa Rey, aku tidak salah dengarkan? Apa jangan-jangan mereka bercerai atau gimana sih. Tidak asing namanya yaTapi bodo amatlah, siapa peduli. Lagipula anaknya juga gemesin dan Zein ini mukanya ganteng pake banget. Aku terkekeh geli akan ingatanku ini."Pacar kamu lucu deh, Zein. Aku setuju""Jangan mulai, Ra" balas ZeinPerkataan itu artinya Zein jomblo dong yaa. Yes!"Mm.. Kakak bukan istrinya Om Zein?" tanyaku polos, aku sungguh gatal ingin menanyakan hal ini sedari tadi.Tapi wanita bernama Lyra itu malah terbahak "Rencananya sih dulu begitu"Jawaban apa itu, ambigu sekali. Tapi lagi-lagi suaraku tertahan karena ada suara lain yang menambah pusing akan ada apa ini."Lama ya, sayang?" ucapnya sambil mengecup kening Lyra dan menyapa Zein dan mengusap kepala gadis kecil itu dan berucap "Hallo, Feya" dan dibalas pelukan oleh gadis kecil yang baru ku ketahui namanya Feya."Loh, Ina bukan?" tanyanya setelah duduk di hadapan Lyra.Ya ampun sempit sekali dunia ini "Kak Reyhan" ucapku antusias."Kamu kenal, kak?" tanya Lyra"Ini Ina loh sayang, masak kamu lupa sih. Ini dulu waktu kamu SMP kita pernah main ke rumahnya bentar sih cuma antar titipan mamaku aja" jawabnyaYa ampun sungguh dunia ini sempit sekali dan aku juga lupa maklumlah ya kan sudah lama."Wah.. Kamu makin cantik. Maaf ya aku gak tahu cuma sekali atau dua kali gitu sih jumpa kamu" balas Lyra"Iyaa aku juga lupa, kak." ringisku lalu menatap ke Reyhan "Jadi dia kakak ipar aku, kak?" tanyaku dengan binar bahagia, ada peluang dong ya. Di balas anggukan oleh kak Reyhan, jawaban yang memuaskan untuk saat ini.Aku kembali menghadap Lyra "Maaf, setahun yang lalu saat pernikahan kalian aku tidak hadir, karena ada duka" ucapku dengan tatapan meminta maaf, setahun lalu Ipta, ah sudahlah.."Jadi kamu kemarin nelpon aku ngomongin laki-laki ini?" goda kak Reyhan yang memang benar. Seminggu yang lalu aku menelponnya menanyakan pria ini tapi aku tidak sebutkan namanya.Aku ini sepupu kak Reyhan, anak dari adik ibunya hanya jarang bertemu mungkin karena usia terpaut lumayan jauh dan aku akan menghubunginya jika ada keperluan selebihnya aku banyak melupakannya. HeheLalu kak Reyhan juga istrinya itu yang baru aku ketahui hari ini beranjak dari cafe, bisa-bisanya aku tidak ingat. Andai saja kak Reyhan tidak datang mungkin aku akan selalu bertanya-tanya.Tapi sepulang ini aku akan mencecar kak Reyhan untuk menanyakan pria ini.Kini tinggallah kami bertiga, Zein tampak sibuk menyuapi puding pada Feya."Om" panggilku"Ck. Aku bukan om kamu" balasnya"Jadi panggil apa dong? Sayang boleh?" godaku lagi"Kakak" singkatnya"Okay. Kak, nikah yuk?" ajakku yang sudah malas berpacaran aku tidak peduli dia punya buntut, toh Ipta yang mengenalkannya."Sudah gila emang" sahutnya menggeleng"Mm.. Tapi Feya mau kok punya bunda kayak kakak itu, yah"Wah lampu hijau dari anaknya yang membuatku tersenyum penuh kemenangan----Hari ini aku sudah berada di depan kantornya, Kak Zein. Tentu saja, setelah aku membombardir Kak Reyhan itu sampai istrinya gemas sendiri denganku.Biarlah! Aku akan memintanya untuk menikahiku, bodo amat dia bilang aku gila.Lagipula ayah dan ibuku sudah membolehkan aku menikah jugakan.Sambil menenteng paper bag yang berisikan makanan yang tentunya favorit kak Zein, aku melangkah.Oh jangan tanyakan aku tahu dari mana, sudah jelas dari kak Lyra. Sebenarnya aku penasaran bagaimana hubungan Kak Lyra dengan Kak Zein itu tapi seolah mereka menutup rapat dariku baik kak Reyhan maunpun Kak LyraSudahlah, bukan itu fokusku. Persetan dengan hubungan mereka yang penting aku padamu, kak Zein.Aku melangkahkan kaki ke dalam kantor Kak Zein dengan kartu akses milik Kak Lyra tentu saja, dengan begitu aku tidak perlu banyak dipertanyakan di resepsionis.Setelah aku menunjukkan akses dan beberapa kata aku langsung di antarkan ke ruangan Kak Zein, tanpa mengetuk aku langsung masuk saja.Ketika ku buka pintu tersebut terlihat Kak Zein sedang berkutat di depan mejanya dengan setumpuk berkas dan secangkir kopi disana.Aku meletakkan paper bag dan juga tasku ke sofa yang ada di ruangan itu. Dan mulai melangkahkan kaki mulai menyapanya."Hallo calon suami" sapaku, ku lihat ia menghentikan gerakannya lalu menatapku, menopangkan dagu lalu berkata "Lain kali ketuk pintu""Akukan calon istrimu" jawabku cepat dia mendengkus"Apa aku ada menyetujuinya?" tanyanya menghunus ke mataku sambil berjalan ke arahku, aku gelagapan ditatap begini."Mm.. Aku.. Iyaa" sial aku terbata,"Yasudah, Nikah yuk, Om?" godaku lagi berusaha menahan gugupku. Namun ia tetap melangkah ke arahku semakin mendekat.Ia mengangguk singkat saat sudah beberapa langkah di hadapanku, "Oke, jadi calon istriku..." ucapnya menggantungkan kata, berjalan ke arahku hingga tak terasa punggungku sudah menempel di pintu.Aduh Ya Allah, Ipta.. Bagaimana ini?Biar bagaimanapun aku masih perawan tahu, jadi aku sedikit takut.Ia semakin merapatkan tubuhnya ke arahku, nafasnya bahkan sudah berhembus ke wajahku aroma mint begitu kentara.Ia meniup telingaku membuatku bergidik. Seketika itu tanpa sadar aku menahan nafasku."Relax, Karina. Bukankah aku sudah menyatakan iya" ucapnya dengan seringaian.Aku memilin ujung bajuku, tangannya terangkat mengurung diriku, memenjarakan tubuhku.Tanpa aba-aba ia mendekatkan wajahnya ke wajahku membuatku menundukkan wajah.Namun kejadian selanjutnya membuatku membulatkan mataku seketika, ia mengecup bibirku. Hanya sebuah kecupan, kecupan yang berujung aku menamparnya.Ya aku menamparnya, mungkin itu cukup kencang.Rasanya aku seperti dilecehkan! Aku tahu mungkin aku sedikit agresif tapi bukan berarti aku, ah sudahlah..Segera ku dorong tubuhnya, mengambil tas yang sempat aku letakkan di sofa itu, bergegas keluar sebelum aku mengucapkan"Saya kesini hanya mengantarkan makan siang untuk, Om. Bukan untuk diperlakukan seperti ini" lalu aku pergi begitu saja tanpa ingin melihatnya maupun mendengar responnya.---Sejak kejadian itu, tepatnya sudah 6 bulan berlalu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Anehnya aku selalu merindukannya hingga rasanya sesak. Apakah ini namanya cinta?Bahkan jujur, aku tidak tahu jelas apa perasaanku saat ini.Aku bimbang.Bukan, lebih tepatnya aku tidak mengerti perasaan apa ini yang jelas saat itu aku meminta izin pada Ipta dan Tuhan untuk mendapati penggantinya ketika buka mata dan dia pria yang ku lihat.Dan lebih tepatnya lagi, tidak ada yang bisa menggantikan Ipta karena dia sudah memiliki posisinya sendiri.Banyak melamun, pintu kamarku diketuk seperti bunda akan mengomeliku karena belum berpakaian rapi mengingat enam puluh menit yang lalu beliau memintaku sedikit berdandan.Huh! Lucu sekali.Nenekku sedang di bawah, sudah sebulan ini dia menerorku untuk membawa pacar dengan ancaman apabila tidak ada maka ia akan mengenalkan seseorang menjadi pendampingku.Demi Tuhan, aku baru wisuda sebulan yang lalu!"Inaa.. Cepat keluar. Tamunya sudah hadir"Tamu? Siapa? Aku tidak salah dengar kan ya."Iyaa, Bunda. Sebentar" teriakku lalu bergegas berpakaian rapi dan momoles sedikit make up di wajahku, daripada kena sembur sama bunda dan nenek nantinya.Akupun keluar dan mulai melangkahkan kaki menuju bawah, kulihat ada pria di bawah sana berkumpul bersama keluargaku.Wajahnya tak terlihat karena ia membelakangiku, baiklah mungkin ini adalah pria yang dipilihkan nenekku untukku karena aku tak kunjung membawa pria lain kehadapan mereka.Itu sih pemikiranku, faktanya kala ia membalikkan tubuhnya aku mematung bahkan kaki ini rasanya sulit digerakkan, nafasku seakan tercekat dan mataku turut terbelalak tanpa kusadari.Pria itu tersenyum teduh yang menghangatkan hatiku.Tapi untuk apa dia kesini? Aku menetralisirkan perasaan ini dan mulai melangkahkan kaki kembali.Ayahku tersenyum lalu mengusap puncak kepalaku seraya berkata "Kamu sudah besar, sayang""Ayo lebih baik kita makan malam dahulu" instruksi ayahku lagi. Dan kami menurutinya."Jadi Bagaimana, pak?" ucap pria itu pada ayahku yang kini kami sudah selesai makan dan duduk di ruang keluarga."Kalau saya bagaimana Karinanya saja, nak Zein""Bagaimana, Ina?" tanya Ayahku mengalihkan fokus mataku pada tautan tanganIyaa, pria itu adalah Zein, huh aku gugup, dilema bagaimana ini?Apakah aku bisa menerimanya? Bukan, lebih tepatnya apa aku sudah mulai mencintainya? Banyak sekali uraian pertanyaan yang harus ku temukan jawabannya.Ku lihat kak Zein menatapku dalam sebelum berucap"Saya tahu, umur saya 29 tahun kita memang terpaut 6 tahun, saya juga seorang duda beranak satu yang umurnya sudah 4 tahun. Dan mungkin akan ada lelaki yang lebih baik dari saya tentunya namun saya tidak dapat membohongi perasaan saya lebih jauh, jadi maukah kamu...""Bisa kita berbicara berdua terlebih dahulu, sudah lama tidak bertemu" potongku dengan cepat, ia menatap ayahku dan ayahku tersenyum lalu mengangguk.Akupun langsung berdiri dan menuju taman belakang rumahku."Sebenarnya apa maksud kedatangan, Om?" tanyaku saat ia sudah duduk di sampingku"Ah tidak maksudku, apa yang mengubah pikiran kakak untuk kerumahku dan melamarku bukankah saat itu kakak menolak?" ralatku dengan cepat karena panggilan om terhadapnya dan rasa ingin tahu yang menghantarkan ia kesini setelah 6 bulan yang lamanya tak bertemuIa mengangguk singkat "Sebenarnya aku sudah lama ingin melamarmu tapi sepupumu yang bernama Reyhan itu menyebalkan ia menyuruhku menunggumu wisuda. Dan saat itu aku tidak menolakmu, awalnya aku menolak. Terlebih setelah kamu menamparku, aku sadar aku sudah tertarik padamu" jelasnya"Benar? Bukan rasa bersalah" tanyaku, bisa sajakan setelah insiden itu ia jadi begini karena rasa bersalah. Aku tidak menginginkan rasa kasihan itu.Ia menggeleng dengan tegas " Tidak. Aku mencintaimu" tegasnyaAku menautkan tanganku, menggigit bibir bawahku. Bagaimana ini? Aku harus jawab apa yaaaAlih-alih ingin menyanggah tapi bibirku seakan berkhianat malah mengucapkan kalimat "Nikah yuk, om?"Ia tertawa "Meskipun kamu pernah berkata begitu namun harusnya malam ini itu kalimatku" ucapnyaBaiklah, aku kalah."Jadi?" tanyaku lagi dengan polosIa mengacak singkat rambutku "Iyaa tentu saja kita akan menikah. Itu tujuanku ke sini. Artinya kamu setujukan?"Aku mendengkus akan perbincangan ini, tentu saja akukan sudah berucap begitu sedangkan ia memelukku dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.Nafasnya mulai menerpa kulit wajahku, aroma mint. Refleks aku menutup mata kala hidungnya nyaris menyentuh hidungku"Wah, sepertinya harus segera dilangsungkan pernikahannya"Itu suara Ayahku, mati!Dengan cepat aku menjauhkan tubuhku darinya dan menatap ayah dengan malu.Ku lihat Zein menggaruk tengkuknya dan tersenyum cangguh ke ayahku, ia mengalihkan pandangannya padaku dan mengedipkan matanya.Dasar mesum!End
Black Shadow
"Fely....." teriak salah satu pria dijalan sana."Fely.. Aku cinta kamu"Aku menoleh ke sumber suara namun masih sama, aku masih tidak menemukan satu orangpun disana yang berulang kali meneriaki namaku.Aku merapatkan jaketku, seraya mempercepat laju jalanku menelusuri malam yang kian larut. Semilir angin turun membelai helaian rambutku yang terurai, ditambah malam ini usia hujan.Dibelakang sana, ku rasakan ada yang mengikutiku berjalan, aku menoleh ke belakang tetap sama tak ada satupun orang ku dapati disana.Suara teriakan semakin terasa kuat di indra pendengaranku, peluh berjatuhan karena rasa debaran semakin kencang.Sekali lagi aku menoleh ke belakang memastikan tak ada yang mengikutiku. Namun ketika aku menghadap depan, terlihat seorang pria bertubuh tegap menghadangku pria itu berhalut kaus hitam dan celana hitam, disertai kaca mata hitamnya.Kalau diperhatikan, ia tampan. Tapi aku merutuki pikiranku kali ini disaat genting malah imanku melemah kala melihat pria tampan ini.Aku memekik tertahan kala di belakang tubuhnya ada orang berjubah hitam sambil menggeret samurainya, wajahnya tak nampak karena jubah yang ia kenakan cukup menenggelamkan tubuhnya.Pria itu berjalan semakn dekat, kearah ku yang mana di depanku masih berdiri pria itu. Suara decitan samurai dengan aspal yang dibawa pria berjubah hitam itu terdengar namun suaraku tertahan, tenggorokanku tercekat tak bisa menggumamkan kata apapun.Hingga pada jarak beberapa meter pria berjubah itu berlari seraya mengangkat samurainya ke arah pria di hadapanku. Dari samping kami tak lama ada sebuah truk yang berkecepatan penuh menabrak tubuhku dan pria di hadapanku."Aaaaaaa.." teriakku sambil terduduk. Nafasku tersenggal-senggal, peluh membanjiri tubuhku.Sial! Mimpi ini lagi. Dalam dua bulan terakhir ini sudah terhitung 9 kali lebih memimpikan pria itu selalu hadir dalam mimpiku. Kenapa harus tampan sih? Dan malam ini adalah yang kedua mimpi buruk itu menyapa.Lagi, imanku goyah kalau sudah menyangkut pria tampan meski ia hanya hadir di mimpiku.Dan aku menyebutnya dengan Black Shadow, klise memang hanya karena ia menggunakan busana serba hitam aku malah menyebutnya begitu.Anehnya, pria itu selalu ada di dalam mimpiku, memimpikan pria yang sama dengan berbagai potongan adegan dalam mimpi. Apakah itu normal?Namun bolehkah aku berharap ia membuka kaca matanya barang sebentar saja untuk memastikan bahwa ia memang tampan sungguhan. Aku terkikik geli kala mengingat imanku yang lemah ini.Ku tatap jam yang bertengger manis di dinding, jarumnya masih mengarah di angka dua. Baiklah aku akan tidur lagi beberapa jam sebelum berangkat bekerja.Pagi ini aku berangkat bekerja di perusahaan yang selama 2 tahun ini gajinya dapat memenuhi kebutuhan biaya hidupku seperti skincare.Aku di Jakarta hidup sendirian sedangkan orang tuaku di Bandung. Masih satu pulau hanya saja, selama dua tahun ini aku lebih nyaman berada di kota ini dan memutuskan untuk bekerja di perusahaan ini, entah apa yang menuntunku nyaman berada di sini. Yang aku tahu, Ayahku juga memiliki perusahaan cukup besar.Sesampai aku di kantor seluruh karyawan telah berkumpul, aku mengerutkan dahi. Apakah aku ketinggalan gosip?Aku ini memang payah dalam urusan gosip, bersyukur di divisi keuangan ada mbak Sella yang selalu melancarkan berita terbarunya.Aku menghampiri mbak Sella yang sudah memasang telinga disertai wajah yang cukup serius."Mbak, ada apa sih?""Fely.. CEO kita pensiun dan akan di gantikan sama anaknya yang super uhuy" ucapnya dengan antusias.Tuhkan dia biang gosip."Mbak tahu dari mana kalau anaknya uhuy?" tanyaku lagi, dikehidupan realistis jangan terlalu bermimpi nanti jatuh sakit.Lalu kami di hela oleh orang asisten CEO yang ada disini, untuk menuju aula.Sesampainya kami di aula, masuklah 3 orang. Antaranya 2 orang lelaki dan 1 orang wanita yang tak lain adalah istri tercinta sang CEO yang kabarnya akan pensiun.Aku masih tak melihat wajah dari pengganti itu, setelah sampai di atas podium ia berbalik.Pria itu sungguh tidaklah asing, setelan jasnya hitam dan kaca matanya hitam. Ia tampan, dan dimana aku pernah melihatnya.Ah aku menutup mulutku karena pria itu ternyata orang yang mirip di mimpiku, lagi-lagi aku kebanyakan mimpi.Pria itu membuka kaca matanya dengan gerakan seksi lalu mengenalkan dirinya pada kami semua sebagai CEO yang baru.Sungguh rasanya de javu"Hallo.. Saya Dewangga Pradipta, CEO baru kalian yang menggantikan papa saya. Dan semoga kita bisa bekerja sama dengan baik"Namun entah mengapa netra hitamnya selalu memperhatikanku lekat-lekat.Ia kembali berkata "Dan hari ini aku akan mencari sekretaris pribadi untukku""Saat ini juga" tambahnyaSeluruh suara mendadak ricuh mempercantik diri agar terpilih. Tentu ini karena paras yang tampan dan kekayaan Dewa.Dewa berjalan ke arahku, namun wanita disebelahku berkata "Jangan bilang ia mau pilih aku."Namun ia malah berhenti tepat di bangkuku, aku yang masih syok begitu pasrah di tariknya menuju podium."Dia, Felycia Ningtias. Yang akan menjadi sekretaris saya" ucapnya tegas tak terbantahkan.Aku masih ingin membuka suara menanyakan dari mana ia tahu namaku? Namun ku urungkan kala ingat bagaimana tugasku di divisi keuangan.Ia berjalan dengan menarik tanganku seolah aku akan kabur, aku sempat melirik ke arah orang tua Dewa. Dan mereka hanya tersenyum? EntahlahSesampainya di ruangannya aku langsung mengeluarkan protesku."Maaf sebelumnya, pak. Bagaimana tugas saya di divisi keuangan?"Ia menatap netraku dengan lekat, entah mengapa saat aku menatap bola matanya seakan aku tenggelam dalam pusaran itu. Seperti mengingatkanku akan sesuatu hal."Buatkan aku kopi, gulanya satu sendok" pria itu mengabaikan pertanyaanku. Sial sekali"Tapi...""10 menit dari sekarang"Aku mendengkus sebal dan berbalik menuju meja pantry untuk membuatkannya kopi.Lalu aku menyerahkannya kopi tersebut, matanya masih fokus pada layar seraya menyesap kopi itu lalu ia berkata "Terlalu manis, sendok apa?"Lah pertanyaan ambigu sekali ya"Sendok makan" jawabku dengan bingung."Seharusnya sendok teh saja."Tunggu sepertinya aku pernah mengalami hal ini. Tapi apa?"Aku heran kenapa kamu harus lupa" gumamnya yang masih ku dengar."Maaf, bagaimana, pak?" tanyaku"Tidak. Kamu boleh keluar. Tapi tidak di divisi keuangan. Dan diluar ruangan ini ada meja kamu" ucapnya sambil tetap fokus ke arah monitornya.Aku lantas mengangguk patuh meskipun dalam hati keadaan berkecamuk. Bagaimana tidak, dalam sehari pekerjaanku berubah begitu saja.Hari ini aku lalui dengan baik karena Pak Arkan, asisten CEO yang lama banyak mengajariku mengenai urusan yang tentunya bukan urusanku.Aku berjalan menapaki tangga apartemen tempatku bernaung selama dua tahun ini, ketika aku membuka pintunya aku sudah dihadapkan dengan seorang lelaki berbaju hitam dan berkaca mata hitam sambil menggenggam sebuket bunga.Pria itu, membuka kaca matanya, sungguh pria yang tampan dan ia tersenyum lalu berkata "Happy Anniversarry, sayang"Ia merentangkan tangannya lalu aku berlari memeluknya, menghirup aroma tubuhnya yang beraroma mint seakan mencari kenyamanan yang sangat ku sukai.Pria itu lantas mencecap bibirku, dan semuanya seakan gelap.Aku terperanjat, nafasku memburu disertai degup jantung yang tak beraturan.Mimpi aneh ini lagi, dan mimpi kali ini pria itu membuka kaca matanya.Aku mengingat wajah pria tampan di mimpi itu sungguh tidak asing, yaa wajahnya mengingatkanku pada CEO baru di kantorku, Dewangga Pradipta.Ku lihat jam di nakas, ternyata sudah pukul 5 pagi. Aku bergegas bersiap untuk ke kantor, yang aku ketahui tidak ada tolerir untuk keterlambatan.Sesampainya aku di kantor aku langsung membuatkan kopi untuk Pak Dewa, dengan takaran gula satu sendok teh.Pria itu lantas tersenyum manis sekali setelah menyesap kopinya. Aku tidak tahu, mengapa pertemuanku dengan Dewa ini membuat sudut hatiku berbeda apalagi setelah melihat senyumannya. Seperti Warm and joy, maybe?Aku ikut tersenyum melihatnya tersenyum, dia menatapku dengan intens."Apa kamu mengingat sesuatu?" tanyanyaBelum sempat aku menjawabnya seorang gadis yang sangat menawan masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintu, mungkin ia pacarnya.Aku segera undur diri tidak ingin mengganggu aktivitas sepasang kekasih ini.Namun ketika aku ingin membuka pintu, wanita itu berkata dengan lantangnya."Hei. Kenapa keluar begitu saja? Kau tidak merindukan aku"Aw! Pekik gadis itu sepertinya ia dipukul pak Dewa.Aku berbalik, menautkan alisku sarat akan kebingungan. Tak mengerti maksud dari gadis itu.Ia mendekat mengulurkan tangannya "Aku Dwina" sambil tersenyum manis padaku.Aku balas uluran tangannya "Felycia""Oke, Felycia. Kita akan sering bertemu dan nanti siang kau harus menemaniku berjalan-jalan" ucapnya lagi, aku menatap Pak Dewa seakan menanyakan bagaimana ini dan di balas anggukan dan senyuman khas pak Dewa."Baiklah, nona" ucapku sopan pada Dwina."Hei, biasa kau memanggilku in..""Ekhem. Ada apa kau kemari sepagi ini?" ucap Pak Dewa memotong perkataan Dwina."Panggil aku Dwina saja" ucapnya sambil berlalu menghampiri pak Dewa dan aku segera pamit keluar.Seperti ucapannya gadis bernama Dwina itu, kini aku duduk berhadapan dengannya di cafe yang tak jauh dari kantor. Ia berkata bahwa harus mengisi tangki terlebih dahulu baru bisa berjalan.Entahlah, perkataannya seperti de javu.Tiba-tiba ia menggebrak meja yang membuat aku terkejut Bahkan pelayan yang sedang mencatat menu kamipun terkejut dan bingungDwina tersenyum lebar menampilkam deretan giginya yang rapi, "Tidak ada, aku minta teh madu namun dicampur dengan lemon" ucapnya.Teh madu dengan lemon, aku suka!Sebuah suara dikepalaku muncul. Suara apa itu? Ya Tuhan, ada apa dengan diriku."Maaf, apa sebelumnya kita pernah bertemu?" tanyaku.Dwina memegang tanganku dengan wajah berbinar "Apa kau mengingat aku atau sesuatu?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaankuAku menggeleng "Aku seperti pernah mengalami ini tapi mungkin perasaanku saja" jawabku."Coba ingat sekali lagi" desaknya. Apa sih maksud dia. Aku benar-benar tidak mengerti.Dari arah belakangku Dewa datang mengecup puncak kepala Dwina dan duduk di sampingnya. Mengabaikan Dewa, ia kembali mendesakku dengan pertanyaan konyolnya "Coba kau pandang wajahku juga wajah Mas Dewa, barangkali itu membantumu" ucapnya misterius.Aku mengikuti sarannya, memandang wajah mereka bergantian. Ya aku ingat wajah Dewa ada di mimpiku bahkan tadi malam ia menciumku.Aku mengingat dengan keras namun yang ku dapatkan tak ada, semakin lama kepalaku sakit dan pusing."Aw!" ringisku kala sakit itu menyerang di kepalaku"Cukup" ucap Dewa padaku"Jangan terlalu memaksanya" ucapnya lagi pada Dwina"Tapi mas..." Dewa menggeleng.Kepalaku cukup pusing memikirkan ini, mengapa Dwina berbicara begitu. Ada apa sebenarnya padaku?Demi Tuhan, aku baru beberapa hari pindah posisi menjadi sekretaris tapi kejadian aneh selalu hadir, entah itu melalui mimpi atau seperti kali ini, Dwina. Jika dia memanglah kekasih Dewa, mengapa dia bertanya begitu.Aku meminta izin untuk pamit duluan, sepertinya aku butuh istirahat dan mereka mengizinkanku.Aku merebahkan tubuhku di kamarku, mungkin tidur adalah pilihan yang baik.Namun baru saja aku memejamkan mata, kilasan seperti potongan adegan terangkum di kepalaku.Oh Tuhan... Ada apa ini? Siapa yang bisa memberi penjelasan ini padaku.Satu nama muncul di kepalaku, Dwina. Iya, mungkin dia akan memberitahukan kejadian itu. Lalu kemana aku harus menemuinya.Aku segera bersiap, lalu memesan ojol agar lebih efisien sampai di kantor.Begitu sampai di kantor, aku berlari bahkan masuk ke dalam ruangan CEO menghilangkan rasa sopan santunku. Membuka pintu tanpa mengetuk memperlihatkan dua manusia berbeda jenis menghentikan aksi pelukannya.Aku menghela nafas lega, melihat Dwina masih disana. Dewa menaikkan alisnya tanda bertanya namun tak satupun ucapan yang keluar dari mulut mereka atas kelancanganku ini.Aku tidak memedulikan itu, karena langkahku kali ini mendekat pada Dwina lalu memeluknya dengan erat."Inaa..." isakkuAku tahu Dwina pasti bingung namun ia tetap menepuk punggunggu, satu isakan lolos dari bibirku.Karena potongan adegan tadi mengingatkan masa-masa indahku bersama Ina, dan satu hal yang paling ku ingat bahwa Ina adalah Adikku juga Adik Dewa."Tak apa, menangislah" ucapnya lirih.Setelah cukup tenang, mereka menuntunku duduk di sofa yang ada di ruang itu."Apa kau mengingat sesuatu?" ucap Dwina padaku"Siapa kalian sebenarnya?" hanya itu yang mampu ku katakan setelah potongan kilas balik di kepalaku muncul.Dewa membuang nafas dalam-dalam dan beralih duduk di kursi kebesarannya lalu memijat pelipisnya."Kau siap mendengarkan semuanya?""Apapun itu." ucapku dengan mantap"Dewa adalah suamimu" satu kalimat keluar dari mulut Dwina yang semakin membuat aku pusing."Bagaimana bisa?"Dwina menghela nafas "Sebenarnya aku tu gemes, mau bilang itu tapi Mas Dewa selalu melarangku. Ia mengatakan tidak baik untuk kesehatanmu, kakak ipar.""Ina.." suara Dewa mengintrupsi."Cukup, mas! Aku tahu seberapa besar cinta mas ke mbak Fely" jawabnya"Kalian menikah sekitar 4 tahun yang lalu. Dan 3 tahun lalu mbak salah paham terhadap Dewa, malam itu mbak mengira mas Dewa sama Sulis berselingkuh padahal sama sekali tidak. Terus mbak melarikan diri dan mas Dewa berusaha mengejar mbak. Saat mas Dewa berhasil menghadang mbak kalian malah tertabrak truk." jelas Dwina dengan menggebu-gebu.Aku menutup mulutku tak percaya akan fakta ini. Akhir cerita Dwina mengingatkanku pada mimpi, dimana aku tertabrak."Sebaiknya mas Dewa yang menjelaskan ini. Aku akan keluar" ucap Dwina sambil bangkit dan menatap tajam Dewa.Dewa mendekat ke arahku, ia duduk di sampingku dan merangkum tanganku."Benar kamu suamiku?" tanyaku, ia mengangguk"Saat itu kita tertabrak?" ia kembali mengangguk"Benar saat itu aku salah paham?" tanyaku lagi dan aku benci saat dia menganggukAku menangis tersedu-sedu kala fakta ini terungkap. Ia bangkit membuka laci dan mengeluarkan album foto."Ini foto pernikahan kita" ucapnya.Aku membukanya dan aku kembali menangis, ia memelukku erat."Bagaimana bisa?" suaraku teredam akan tangisku"Saat itu, kita sama-sama terancam karena musuh ayahku. Ditambah perusahaan yang terpuruk. Kamu salah paham dengan Sulis, dan lari begitu saja tanpa penjelasan hingga berhari-hari. Dan akhirnya pada malam itu kita tertabrak truk"Ia menghela nafasnya "Karena kita kurang biaya aku menyetujui ucapan Ibumu yang memisahkan kita, ibumu marah padaku karena ia juga salah paham atas tindakanku pada Sulis. Dan rencana itu sempurna ketika kamu juga amnesia.""Lalu pria itu?" kulihat Dewa menautkan alisnya"Pria apa?" tanyanya"Aku mimpi buruk mengenai kita tertabrak yang dibelakangmu ada pria berjubah hitam membawa pedang" jelaskuDia membisu "Kamu melihatnya?" tanyanya dan aku sontak mengangguk"Dia Will, Wilangga saudara kembarku yang juga mencintaimu"Aku menutup mulutku "Maafkan aku, aku tidak tahu jika jadinya begini""Aku yang meminta maaf karena baru belakangan ini berani menemuimu. Aku sangat senang saat 2 tahun lalu itu kau melamar kerja di perusahaan ini."Tapi aku tidak bisa mengingat banyak" ucapkuDia menggeleng "Aku akan berusaha untuk membantumu mengingatku lagi. Asal kamu juga berjanji akan selalu berada di sisiku" ucapnya dengan mantap."Lalu ibuku?" tanyaku yang pasti aku akan meyakininya nanti. Karena dia adalah Dewa, suamiku. Pantas saja aku merasa nyaman disini."Ayo kita berjuang untuk kedua kalinya, sayang"Aku tersenyum "Memang ada yang pertama?" tanyaku lagiDia menganggukkan kepalanya "Tentu. Kamu dulu susah sekali dihadapi. Sekalinya kita menikah kamu malah salah paham"Aku tertawa melihat sikapnya "Maafkan aku" ucapku tulus dan ia memelukku lagi dengan erat dan mencium keningku.End
CEO dan Secret
Aleta adalah seorang karyawan biasa di perusahaan penerbitan majalah ini. Lebih tepatnya mungkin ia seorang editor, genap setahun ia bekerja di kantor ini.Ia duduk di kubikelnya dengan tangan menggenggam pena yang menari-nari di atas kertas."Ta, ayo kita rapat. Uda di tungguin pak bos" ucap Rani"Oke" Aleta langsung berjalan menuju ruang rapat.Dalam ruang rapat ini tak menyediakan meja besar nanpanjang seperti rapat biasanya melainkan sebuah kursi seperti di kampus dengan susunan melingkar.Di depan sana, sang direktur mengoreksi ide-ide yang akan dicantumkan di majalah mereka.Sedangkan CEO hanya memerhatikan aktivitas bawahannya karena ia belum ingin menanggapi apa yang dikemukakan mereka."Bagaimana kalau kita membuat konsep beauty and The beast?" kali ini Rani yang mengangkat tangan dan menyalurkan idenyaSang direktur tampak berpikir atas ide barusan."Kamu yang diujung" ucap sang CEO yang sambil menunjuk ke arah Aleta, "Saya lihat kamu diam saja, coba sampaikan ide apa yang kamu punya?" tambahnyaAleta terkesiap, ia tak memiliki ide apapun kali ini. Karena beberapa hari ini banyak mengoreksi artikel yang akan terbit dan itu menghabiskan waktunya."Iya, pak?" ucapnya"Apa ide kamu?"Aleta mengumpat dalam hati karena sikap semena-mena CEO yang sialnya tampan ini, namun kabarnya sudah memiliki istri.Ia juga bingung harus menyumbangsih ide apa karena sedari minggu lalu pekerjaannya menumpuk, ia mulai memutar otaknya."Bagaimana kalau kita membuat konsep Bintang di kegelapan" tuturnyaCEO dan juga direktur mendengarkan ide Aleta dengan seksama."Coba jelaskan konsep kamu" ucap direktur, Pak Anta seperti tertarik"Konsep saya itu menyorot orang-orang yang telah bekerja keras dibalik layar. Bukankah selama ini kita hanya mengulik kisah bintang besar serta kehidupannya? Yang padahal mereka bisa mendapatkan nama besar itu dari kerja keras kita juga" jelas Aleta"Jadi maksud kamu, dengan kata lain kita akan membawa konsep bahwa tanpa kita mereka takkan menjadi apa-apa begitu?" tanya CEO itu."Iya, tepat sekali, Pak Arsen" jawab Aleta, ia bersyukur idenya muncul di saat yang tepat. Tadinya ia hanya asal ucap karena takut kena sembur Pak Arsen, CEO yang sialnya tampan.Pak Arsen ini jarang sekali ke kantor penerbitan ini. Dia lebih sering ke kantor yang bergerak di Properti. Namun dalam waktu dekat ini ia selalu rajin menyempatkan diri ke kantor ini.Holang kaya mah Bebas!"Iya benar, selama ini bahkan kita tidak tidur demi menyelesaikan artikel" ucap KarinDirektur mengangguk-anggukkan kepalanya "Saya setuju akan ide Aleta"Semua menghela nafas lega disana, lega karena direktur yang super ribet ini menjengkelkan jika tidak sesuai dengan keinginannya."Oke. Itu artinya tabloid kita akan menggunakan konsep milik Aleta.""Rapat ini selesai, 2 hari kita akan rapat kembali membahas apa yang sesuai" tambah Pak Anta mengakhiri sesi Rapat itu.Semua karyawan keluar bahkan ini sudah jam makan siang beberapa dari mereka keluar mengisi perutnya, namun Aleta kembali ke kubikelnya pekerjaannya benar-benar menumpuk.Saat Aleta masih terus fokus di cerita yang dikoreksinya, pak Anta datang memberikan sekotak nasi padanya."Makanlah" ucapnya"Terima Kasih, pak. Dalam rangka apa?" ucap Aleta yang bingung karena Anta ini jarang sekali mau berbincang pada bawahannya.Terlebih lagi, akhir-akhir ini Anta selalu mengajaknya berbincang bahkan beberapa kali mengajaknya makan siang. Namun Aleta tampaknya tak ingin mengerti atau bahkan memberinya kesempatan."Tidak ada. Kamu sudah bekerja keras. Jadi makanlah" lalu di angguki oleh AletaSetelah itu Anta pergi dari kubikel Aleta kembali menekuri pekerjaannya.Lalu CEOnya datang mengambil kotak nasi yang diberikan oleh Anta, menggantinya dengan kotak nasi yang dibawanya."Huh?" Aleta menampilkan ekspresi bingung"Kita bertukar makanan ya. Saya rasa makanan kamu lebih enak" ucapnya dengan tanpa dosa lalu pergi ke ruangannya.Ia heran tahu dari mana Arsen kalau isinya lebih enak. Bahkan Aleta saja belum sempat melihat isinya.Aleta manatap terdapat sticky note di atas kotak tersebutMakan yang banyak, honey.Aleta meremas sticky notenya, ia takut orang lain melihatnya."Dapat makanan dari pak bos lagi? Serius?" ucap Karin sang kepo di kantor ini, Aleta tahu benar bahwa Karin ini berbahaya seperti muka dua.Karin selalu saja memperhatikan gerak-gerik Aleta, karena akhir-akhir ini memanglah Arsen sang CEO itu sedang gencar sekali mendekati Aleta. Dan ini bukan yang pertama kalinya, Karin melihat Arsen memberikan makan siang pada Aleta.Aleta mengangkat bahunya tanda tidak tahu atas tanggapan Karin."Aku cuma mau memberi tahu saja, pak bos kita sudah beristri" ucapnya dengan ketus dan berlalu begitu saja.Aleta hanya mengangguk dia juga bukan wanita murahan yang mau mengganggu rumah tangga orang lain.Tak ingin ambil pusing, ia membuka kotak nasi itu dan mulai memakannya, lauknya sangat lezat. Ia tahu dimana lelaki itu membelinya karena ia sangat hafal dan menggemari makanan ini. Tak urung senyumannya terbit."Ck. Dasar pelakor" dengusan kecil terdengar dari mulut Karin.Tak terasa siang berganti dengan malam, Aleta ingin segera pulang. Tubuhnya seperti remuk, ia sangat lelah hari ini.Ia berjalan keluar dari perusahaan, memesan taksi online sepertinya pilihan yang baik, namun baru saja ia mengeluarkan ponselnya seseorang merebut ponselnya dengan paksa lalu merengkuhnya.Aleta ingin marah juga berteriak pada lelaki ini namun rasanya sangat sia-sia."Ada apa, Pak Arsen? Bukankah jam kantor telah usai" hanya itu yang mampu ia ucapkanArsen mengangguk "Iya, karena itu kamu juga harus bersikap biasa saja""Ayo pulang bersamaku" tambahnya sambil menggiring Aleta ke dalam mobilnya."Saya gak enak sama karyawan lain""Oh ayolah, sayang" bujuknya"Tapi?""Tidak akan ada yang tahu" tegasnyaAleta mengalah dan mengikuti kemauan Arsen.Namun mereka tidak tahu bahwa ada seorang yang melihat mereka dari balik pilar diujung sana. Dengan ekspresi menghina.Pagi telah tiba, keadaan di kantor masih sama saja. Bahkan lebih sibuk dari biasanya. Hal ini bersebab deadline menumpuk, belum lagi koreksian Aleta juga bertambah.Ia berjalan menuju meja pantry sepertinya membuat kopi merupakan pilihan yang baik, karena hari ini dia sangat mengantuk. Dan ia harus menyalahkan Arsen karena pria itu terus saja mengganggunya."Semalam pulang dengan nyaman, huh?" celetukan dari Karin saat gadis itu juga membuat kopi di pantry.Aleta melihatnya hanya tersenyum tipis, ia tahu takkan ada pembelaan untuknya. Seperti sudah tertangkap basah."Wajar kok, aku juga menyukai Pak Arsen dulu. Namun ketika mendengar kabar sudah memiliki istri aku cukup tahu diri meskipun masih tersisa niat untuk merebutnya" ucap Karin pada Aleta"Hei, Ta. Dicariin Pak Arsen suruh buat kopi katanya" Rani muncul di pantry menghampiri Aleta"Sepertinya pak bos naksir, hati-hati ya dia dia sudah memiliki istri" bisik Rani dan berlalu ke kubikelnyaAleta mendengus, apa maksud Arsen ini? Apakah agar terlihat jelas Aleta seperti pelakor begitu. Sepertinya Aleta harus memberi sedikit hukuman pada pria hidung belang itu.Iya, harus!Aleta berjalan pelan memasuki ruangan pak bosnya itu sambil membawa secangkir kopi, mendapati seorang pria muda disana yang diyakininya sebagai sekretaris Arsen, ia mengetuk pintu dan mendengar suara "Masuk" barulah ia melangkahkan kakinya ke dalam.Sampai di dalam ruangan itu ia melihat Arsen yang sedang fokus pada komputernya, tampaknya ada berkas penting disana."Ini kopinya, pak" ucap Aleta sambil meletakkan kopinya di mejaPria itu mendongak lalu tersenyum hangat pada Aleta "Hanya kita berdua disini, sayang"Arsen menyesap kopinya "Aku selalu menyukai kopi buatanmu" tambahnya"Tapi aku bekerja sebagai editor disini" rajuknyaArsen tertawa "Iya, di kantor bukan di luar kantor"Aleta duduk di salah satu sofa yang ada disana yang disusul oleh Arsen disebelahnya.Arsen merangkulnya, kemudian mengecup pipinya "Jangan cemberut, okay? Katakan ingin membeli apa?"Aleta menggeleng "Aku ingin berjalan-jalan" ucap AletaArsen mengangkat Aleta mendudukkannya di atas pangkuannya, tangannya melingkari tubuh Aleta."Ini di kantor, pak Arsen" ucap AletaArsen mengangkat bahunya acuh "Siapa yang peduli?""Lagi pula tak mungkin ada yang berani masuk ke dalam ruang ini bukan?"Aleta menghembuskan nafasnya tangannya terulur melingkar di leher pria itu. Baru saja mereka saling mendekatkan wajah mereka, pintu di buka paksaBRAKK"Eh? Maaf, pak" ujar seorang gadis itu dengan seringaian yang menjengkelkan melihat posisi Aleta dan Arsen yang begitu intimAleta kelabakan segera turun dari pangkuan Arsen sedangkan Arsen tidak peduli."Apa kau tak bisa mengetuk pintu?" ucap Arsen dengan dingin"Maaf, pak. Saya pikir terjadi sesuatu sehingga Aleta lama sekali keluarnya dan...""Benar terjadi sesuatu" lanjutnya menatap AletaAleta tahu pasti ini akan terjadi, sejak awal Karin memang tidak menyukainya. Ia sadar itu."Tapi bukankah bapak tidak takut pada istri, bapak?"Arsen mengangkat alisnya "Tahu apa kamu tentang istri saya?"Aleta menyikut sikunya, bentuk tanda protes jika diberitakan akan berbahaya bukan?"Baiklah, kamu butuh berapa? Asal tidak ada yang tahu maka kamu ingin berapa?" ucap Arsen lagiKarin tertawa "Gaji tiga kali lipat boleh juga, pak".Arsen menatap Aleta dengan tatapan meminta persetujuan, Aleta mengangguk tanda setuju saja."Baiklah. Keluar!" usirnyaLalu Karin memandang remeh pada Aleta, dan iapun keluar dari ruangan itu."Bagaimana ini?" tanyanya pada Arsen dengan raut khawatir"Tenanglah. Biarkan saja, aku tidak peduli lagi"Selepas kejadian Karin memergoki Aleta di ruangan itu dengan Arsen dan sudah dua bulan lamanya berlalu. Karin selalu saja memandangnya dengan tatapan hina bahkan ia tak sungkan mengatakan bitch pada Aleta.Aleta mendiamkannya saja selama semua orang tak ada yang tahu rahasia itu. Namun pagi ini Aleta terus saja menggerutu karena keras kepalanya Arsen. Bahkan ia memaksanya untuk pergi saja ke kantornya yang lain namun Arsen juga bersikeras tidak mau.Sedari turun dari mobil berangkat bersama ke kantornya ia menggenggam erat tangan Aleta seakan-akan tak ingin hilang.Seluruh karyawan melihatnya dengan tatapan aneh. Mereka tahu, Arsen sudah memiliki istri namun mengapa selingkuh dengan Aleta?Apakah istrinya tak cantik sehingga membuat Arsen berselingkuh?Anta menatap mereka dengan tatapan tak terbaca namun tetap menegur atasannya"Selamat pagi, pak" ucapnya dan dibalas anggukan"Selamat pagi, Leta" ucapnya lagi dengan tersenyum hangat dan di balas senyuman oleh Aleta"Mm... Boleh bicara sebentar, Leta?" tambahnyaBelum Aleta membuka mulut namun Arsen sudah membuka suaranya"Tidak bisa. Aleta sibuk" dan menariknya pergi ke ruangan Arsen meninggalkan segala bisik-bisik disana."Bukankah kita sudah sepakat?" tanyanya saat mereka sudah sampai di ruang Arsen"Dan membiarkan Anta mendekatimu? Aku tidak bisa"Aleta mendesah pasrah, "Lalu kamu mau bagaimana?""Segera akhiri semuanya" ucapnya tegas"Tapi..""Tidak ada tapi-tapian, sekarang keluarlah!" usirnya"Kamu mengusirku?" Aleta menatap Arsen dengan tatapan tak percayaArsen langsung memeluk Aleta "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu, sayang"Aleta mengangguk dalam dekapan pria ini, pria yang mengisi hatinya selama beberapa tahun.Karin masuk ke dalam ruangan itu dengan sesukanya, mengangganggu aktivitas mereka. Ya semenjak ia tahu Arsen bermain dengan Aleta ia bersikap sesuka dan Arsen membiarkannya karena Aleta. Demi keinginan Aleta."Wah.. Lihatlah siapa ini?""Apa kau tidak pernah di ajari sopan santun?" sarkas Arsen pada KarinKarin tertawa "Sopan pada lelaki sepertimu. Bagaimana nasib istrimu ya? Ah apa aku adukan saja"Arsen tertawa "Dengan senang hati" tantangnya "Dan jangan lupa aku bisa memecatmu kapan saja"Karin mendengus "Aku hanya ingin menyerahkan dokumen ini" lalu ia keluar dari sana.Arsen dan Aleta saling bertatapan, mereka tertawa bersama "Apa kau tidak takut istrimu, Pak?"Arsen mendengus "Tentu, takut tidak diberi olahraga malam" candanya"Wah.. Kau sungguh serakah. Ingin padaku juga istrimu"Arsen tak menjawab ia hanya mengecup kening Aleta dan berujar "Apapun yang terjadi, berjanjilah takkan meninggalkanku"Aleta tersenyum lalu mengangguk, dan ia pamit keluar dari ruang itu menuju kubikelnya. Mulai mengerjakan pekerjaannya.Namun ia tak bisa berkonsentrasi akibat tatapan seluruh karyawan kantor ini. Ia menghela nafasnya dalam-dalam ketika untuk kesekian kalinya Karin berujar"Dasar perempuan tidak tahu malu""Pantas saja pak Arsen tidak pernah membawa istrinya keluar karena ia memiliki wanita lain" nah kalau ini bisik-bisik karyawan lain karena ulah Karin.Jam kantor telah usai ia bersiap membereskan perlengkapannya untuk pulang, namun lagi dan lagi Karin terus saja menghujatnya dengan kata sarkasnya.Hingga puncaknya sore ini Karin mengerjainya dengan tepung dan telur "Pelakor harus malu" itulah ucapannyaAleta menangis tergugu dengan ini semua, Anta datang membantunya berdiri berniat memapahnya namun Arsen langsung datang dan menepis tangan Anta yang bertengger di bahu Aleta."Siapa yang melakukan ini?" rahangnya sudah mengeras"Mencoba bermain-main dengan saya, huh?"Seluruh karyawan menatap Karin, Karin menunduk takut"Kamu. Saya pecat!" ucap Arsen"Dan kalian..." nafas Arsen memburu ia benar-benar marah dan tak terimaAleta menatap Arsen dan mengusap lengannya "Mass" ucapnya lalu menggelengArsen memijat pelipisnya, "Ayo pulang" ajaknya dengan merangkul Aleta meninggalkan Karin yang terdiam dan para karyawan yang berbisik.-Sudah Satu bulan setelah aksi Aleta dipermalukan di lobi saat itu. Dan semenjak saat itu, baik Aleta maupun Arsen tak ada yang menampakkan diri lagi di kantor penerbitan itu.Arsen larut dalam kantornya yang lain dan Aleta juga larut dalam mengikuti Arsen, itu karena Arsen yang memaksanya.Pagi ini mobil hitam Arsen tidak berhenti di kantornya yang bergerak properti melainkan di kantor penerbitan itu.Aleta menaikkan alisnya tanda tak mengerti, bukankan pria ini yang tidak mengizinkannya untuk kembali ke Kantor ini? Apakah dia berubah pikiran dan membiarkannya kembali dihujat."Apa kamu lupa hari ini adalah hari ulang tahun perusahaan serta syukuran karena mendapat penghargaan?" tanya Arsen mengerti kebingungan AletaAleta menepuk jidatnya "Bagaimana bisa aku melupakannya?" Arsen tertawa"Ayo" ajaknyaMereka turun dalam diam, menaiki lift menuju lantai teratas tempat diadakannya acara itu.Ketika mereka memasuki aula banyak yang berbisik namun mereka abaikan.Hingga Arsen menaiki podium untuk menyampaikan prakatanya"Saya Arsen Axcelio berdiri disini ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan karena telah bekerja keras. Seorang pemimpin takkan bisa menjadi pemimpin tanpa ada orang yang dipimpin. Dan saya bukanlah apa-apa tanpa kalian.Juga istri saya yang hadir, terima kasih sudah menemani dan mendukung saya beberapa tahun ini meskipun keberadaannya tidak pernah diketahui orang" tuturnya, ia mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruang menemukan perempuan yang tersenyum teduh menatapnya.Arsen turun lalu menarik Aleta ke atas panggung tersebut.Seraya merangkulnya ia berucap "Aleta Faylin Axcelio, adalah istri saya. Sedikit klarifikasi, keberadaannya sebagai istri saya jarang diketahui orang lain dan bahkan ia menolak keras untuk dipublikasi. Kami menikah sudah 2 tahun dan memiliki putra kecil berusia setahun. Namun ia sedang di rumah." Arsen menjeda ucapannya menarik nafasnya "Namun kejadian beberapa waktu lalu membuat saya marah dan harus segera mengakhiri drama yang diciptakan sendiri oleh istri saya"Banyak tatapan aneh disana, tatapan lebih terkejut bahwa Aleta Faylin adalah istri dari Arsen.Arsen melihat tatapan Anta pada mereka dengan kecewa?Arsen tertawa sinis, lalu mendekap Aleta dan mencium kening Aleta disana lalu turun meninggalkan kerumunan itu."Sudah puas dengan rahasiamu yang terbongkar, tuan?" tanya Aleta"Ya, rahasia terbesar istriku sendiri yang menjadi selingkuhanku" jawabnya"Ayo pulang temui Axel. Aku merindukannya""Me too" balas ArsenMerekapun tertawa bersamaEnd
Si Ketus Tampan
Aku baru saja berjalan memasuki kelasku menuju bangku yang akan hari ini aku tempati sebagai siswa kelas 3 SMA.Bangkuku berada di pojok kanan paling belakang, bahkan lebih tepatnya bangku terakhir yang akan aku tempati setelah semua bangku sudah terisi penuh.Aku menghela nafas, mengatur emosi kala si ketus yang sialnya tampan itu duduk di bangku itu. Tak ada pilihan lain selain duduk bersamanya, karena hanya itu bangku yang tersisa.Tapi mau bagaimana lagi? Aku ini seorang gadis biasa, tak ada yang namanya teman dekat. Aku bukan antisosial hanya saja sulit untuk mendekatkan diri pada teman. Akan lebih baik mendekatkan diri pada sang pencipta, bukan?Raihan Prambudi, pria ketus yang tampan. Ia most wanted, ketua tim basket disekolah dan pernah menjabat sebagai ketua osis. Aku heran, kenapa dia bisa terpilih jadi ketua osis ya?"Lambat banget sih lo datang" ucap pria itu lalu bangkit"Lo yang diujung" tambahnyaAku hanya diam malas untuk menanggapinya, karena kata-katanya selalu sukses membuat hatiku tertusuk."Ck. Jadi perempuan yang rapi dikit dong, dasipun gak dipakai" ocehnya dengan sarkas.Demi Tuhan, ini baru hari pertama aku duduk di bangku kelas 3 namun dia sudah memulai ucapan ketusnya itu.Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya, mengambil dari tas dan membuka buku novel yang masih sebagianku baca, novel yang berjudulkan Surat Kecil Untuk Tuhan.Menit awal ia masih diam, hinggal menit ke lima ia membuka suara"Itu seru novelnya" aku hanya diam tak merespon."Nayla, Ada gak temen nyata yang begitu?" lanjutnya yang tak urungku balas"Endingnya meninggal dia kena penyakit Ka...""Bisa diam gak?" jawabku yang kesal.Jika dia memberi tahukan endingnya, untuk apa lagi aku membacanya? Dan ini bukan yang pertama kalinya. Sudah lebih dari 7 novel yang dia lakukan dengan memberitahukan endingnya ini."Niat gue baik kali" gerutunya lalu menelungkupkan wajahnya di meja.Aku kembali diam tak ingin merusak hari pertama aku memasuki kelas 3 ini. Tak lama gurupun masuk menjelaskan materi yang singkat. Mungkin karena ini hari pertama jadi kami masih diberi kebebasan.Keesokan harinya tak ada yang berubah, aku hanya gadis biasa yang bisa dikatakan rajin. Berangkat sekolah, hari ini aku berpenampilan rapi seperti memakai dasi. Kemarin dasiku memanglah tertinggal itu disebabkan aku kesiangan.Aku turun dari sepeda motorku, membuka bagasi untuk mengambil beberapa buku paket pelajaran yang berat jika aku masukkan dalam tas.Aku berjalan perlahan memasuki kelas tak lama langkahku hampir terhenti kala mendengar ocehan dibelakangku."Ck. Lambat bener sih jadi perempuan" decaknya yang sungguh menyebalkan.Ia berjalan melewatiku sambil mengambil buku yang ku bawa"Sudah kurus bawaannya berat" decaknya lagi sambil berlalu mendahuluiku, ingin ku tarik buku itu ditangannya tapi itu akan percuma. Jadiku biarkan saja ia membawakan bukuku ke kelas.Tapi kali ini aku tersenyum entah karena apa, bilang saja ia ingin membantuku kenapa harus menggerutu begitu. Raihan selalu begitu, dari dulu ia selalu membantu tentu dengan kata ketus sebagai khasnya.Itulah Raihan, aku tahu sebenarnya dia itu baik. Tapi ucapannya itu yang membuatku nyaris menangis sakit hati ketika berbicara.Pelajaran hari ini selesai, aku ingin makan es krim di toko dekat komplek rumahku ini. Tentu saja masih seorang diri, aku tidak punya teman ingat?Aku memesan satu cup ukuran besar untukku dengan rasa coklat dan strawberry. Lalu duduk di dekat pinggir agar mendapat pemandangan karena cafe ini di sebagian dindingnya adalah kaca.Aku masih menyuapkan dua sendok es krim ke mulutku namun lelaki ini datang dan duduk di depanku.Aku mendengkus "Ngapain? Pindah gih" ucapku"Penuh" jawabnyaAku mengedarkan pandanganku, itu tidaklah benar. Masih ada beberapa bangku yang kosong.Masih aku ingin membuka mulut ingin protes, ia mengulurkan novel di depanku, meletakkan di hadapanku sambil berkata "Gue beli novel ini ternyata tidak menarik"Aku mengernyitkan alis tanda tidak mengerti, lalu aku harus bilang wow gitu?"Untuk lo aja""Ha?""Ternyata selain kurus dan jelek, lo juga budek ya" sarkasnyaTukan aku bilang juga apa dia kalau ngomong itu nyelekit. Aku mengangkat bahuku tanda tak acuh."Lo harus membacanya, dan..."Ia menggantungkan ucapannya yang membuatku bingung menunggu kelanjutannya"Dan?" tanyaku"Gue minta maaf" ucapnyaWhat? Dia bilang apa tadi. Dia ini kenapa?"Eh, kenapa?""Ah es krimnya di sini enak""Lo kenapa sih?" tanyaku setelah diam beberapa menit"Gak kenapa-napa""Mm.. Gue boleh nanya?""Lo uda nanya, Nay" jawabnyaAku meringis menampilkan deretan gigiku "Lo sama Nia pacaran ya?" tanyaku yang kepo. Karena gosip ini selalu beredar namun anehnya Raihan tak pernah menanggapi hal ini.Di sekolah aku jarang berbicara sama dia, kalaupun berbicara hanya seperlunya. Bisa habis dibully kalau aku lama-lama bersama Raihan. Dan ini pertama kalinya aku berbicara santai dengannya, meskipun masih ada kata-kata pedasnya. Setidaknya aku merasa nyaman. Eh? Tidak maksudku setidaknya aku memiliki teman.Raihan menggeleng "Sebenernya gue bukan suka sama dia. Itu salah paham"Iya bener juga sih. Bisa jadi Raihan sukanya sama adiknya Nia ya, adiknya itu lebih kalem dibanding Nia yang terkenal suka ngebully gitu."Bukannya dia selalu bilang bahwa kalian pacaran ya? Kalau lo gak suka, kenapa diam dan gak menyangkalnya" desakku.Dia mencondongkan wajahnya ke arahku, semakin dekat aku yang penasaran hanya diam pasti dia akan membisikkan rahasia.Hingga wajahnya berada di depanku"Kepo!" ucapnya lalu ia tertawa lebar.Aku menghela nafasku, dia makan apa sih tadi dan yang benar saja, itu sama sekali tidak lucu.Tapi untuk pertama kalinya melihat dia tertawa dengan lepas begitu, ada sesuatu yang menghangat di dalam diriku. Tak sadar aku tersenyum.Dia berdehem menetralkan tawanya, lalu mengusap sudut bibirku"Ck. Nay, umur lo berapa sih?" tanyanyaAku mengernyitkan keningku karena tak mengerti maksud perkataannya.Dan ia mengusap keningku "Ni kening jangan kebanyakan mikir deh. Lo itu uda besarkan? Kenapa makan kayak anak kecil, belepotan" ucapnya sambil mengelap sudut bibirku terkena es krim.Aku menampilkan deretan gigiku dan mengambil tissu untuk membersihkan sisa es krim. Dia paling bisa menjatuhkanku ya.Tapi Raihan kenapa aneh sekali. Selama awal masuk sekolah aku selalu duduk di bangku yang sama dengannya namun baru kali ini dia sedikit berbaik hati. Hari ini dia aneh.Sudah 2 bulan semenjak kejadian itu, entah bagaimana Raihan sedikit berbaik hati meskipun ia takkan bisa menghilangkan perkataan ketusnya. Sepertinya itu sudah mendarah daging.Seperti saat ini, aku dihukum membersihkan perpustakaan karena datang terlambat. Bahkan kini sudah jam istirahat aku lapar karena belum sarapan tapi hukuman ini tak urung selesai.Aku duduk di bangku perpustakaan untuk istirahat sejenak dan mengusap peluhku.Raihan masuk membawa bekal nasi, lalu melemparkan pelan kehadapanku."Gue tadi dibawakin bekal sama nyokap gue. Buat lo aja, gue gak suka lauknya"Aku menatapnya dengan kesal, kenapa sih selalu jutek sama aku. Tentu hanya di hati saja."Nih. Gue tadi juga beli es tapi ternyata juga gak enak. Buat lo aja semua" sambil menyerahkan jus jeruk itu.Aku yang biasanya akan balas memarahinya jika dia selalu seperti ini tapi tidak untuk kali ini. Aku membalasnya dengan senyuman manis."Rai, makasih ya. Lo baik deh" ucapku dengan tulus"Apaan? Gue bilang gasuka makanya kasih ke lo""Gue tau kok. Lo itu emang baik banget""CK. Gausah GR!"Aku memegang ujung lengan bajunya lalu menggoyang-goyangkannya "Makasih uda mau jadi temen gue" ucapku lagiDia mendengkus "Kita bukan teman!" ucapnya dengan sarkas tapi sesaat kemudian dia tersenyum, senyum yang meneduhkan."Guee...." ucapnya tertahan."Ck. Lo ngerepotin ya, Nay." lalu membuka bekal itu dan menyuapkannya padaku.Aku membuka mulut menerima suapannya lalu ia berkata "Lo itu punya sakit maag jadi jangan telat makan" ucapnya dengan lembut.Demi apa Raihan Prambudi bertutur lemah lembut begini?Aku lagi-lagi tersenyum, kupu-kupu beterbangan memenuhi diperutku.Ia mengusap kepalaku "Dihabiskan" lalu ia berlalu begitu saja.Semenjak saat itu ia tak pernah dekat denganku lagi. Kami memanglah duduk berdampingan namun pembicaraan hanya seadanya.Aku yang terbiasa dekat dengannya selama beberapa bulan ini sedikit merasa kehilangan.Karena biar bagaimanapun, sepanjang sisa kehidupan ini aku tak banyak mendapatkan perhatian.Oke, ini berlebihan.Sudah berbulan-bulan lamanya, hari ini adalah hari kelulusanku. Seluruh siswa melihat nama-nama yang ada di papan bukti dari kelulusan.Nayla Lesyata tercetak jelas namaku disana menandakan bahwa aku lulus.Seluruh siswa kelas XII berkumpul dilapangan sekolah bukan untuk berbaris seperti kegiatan upacara atau lainnya melainkan untuk bercorat-coret, berfoto ria dan lain sebagainya menandakan kami resmi meninggalkan sekolah ini.Raihan datang padaku, membalikkan badanku tanpa berkata ia membuat tanda tangannya di balik punggungku. Lalu ia menyerahkan spidol itu padaku, aku tersenyum tanda mengerti maksudnya langsung ku ambil dan ku tanda tangan di balik punggungnya.Lalu ia mengarahkan ponselnya ke arahku bermaksud selfie, aku yang kaget tentu tak menampilkan senyum disana."Tidak buruk. Lo cantik" ucapnya lalu beralih ke kumpulan yang lain.Aku hanya menggelengkan kepalaku dan memilih untuk pulang karena aku diterima di salah satu universitas terbaik yang ada di Yogyakarta.Aku segera pulang dan mengemasi barang-barangku untuk dibawa kesana, disanapun aku akan tinggal dengan budeku, kakak dari ayahku.Selama 4 tahunku habiskan waktuku di Yogyakarta, rasanya malas untuk ke Jakarta hanya sesekali ayah dan ibuku berkunjung kesini.Lagipula disana tak ada kenangan menarik. Namun di Yogyakarta, aku lebih banyak kenangan seperti pertemanan. Hal yang aku tak pernah merasakannya.Saat aku masih duduk bersantai dengan budeku saat ini, ponselku berdering dengan tak sabaran menanti sang empunya menggeser tombol hijau."Hallo, bu." ucapku kala mengangkat."Segeralah pulang, bukankah hanya menunggu wisuda saja?""Tapi...""Ibu 1tidak mau tahu, pokoknya besok siang kau harus sudah berada dirumah. Itu jika kau masih menganggap aku ibumu"Tut tut tutAku melongo seketika, apa-apan ini. Mengapa ibu tiba-tiba menelepon dengan seperti itu.Its oke! Aku memanglah tidak pernah kembali ke Jakarta. Tapi aku juga tidak melupakan ibu dan juga ayahku.Alya, sepupuku berjalan ke arah kami dengan sebuket bunga yang sesekali ia hirup aromanya. Wah dia sangat terkenal, ia juga berparas cantik namun pada saat di depanku ia malah memberiku bunga itu.Aku mengernyit tak mengerti "Ini untukmu. Tadi kata mas-mas di depan untuk Nayla" ucapnya"Siapa?"Alya mengendikan bahunya "Dia cuma bilang untuk Nayla"Lalu ia melenggang pergi begitu saja dengan wajah murung. Ada apa sih? Aku melihat note yang tertulis di buket itu.Bunga ini indah, seperti kamu. Semoga kita segera bertemu besok.Aku tersenyum kecil, siapa yang iseng begini. Apa jangan-jangan Aksa ya diakan lagi dekat denganku, tapi tidak mungkin karena kemarin sudah ku tolak.Aku teringat akan Alya yang mukanya murung setelah memberi buket padaku, karena sore tadi ia masih bersemangat. Merasa tak enak hati akupun berjalan ke kamarnya.Tanpa mengetuk aku masuk langsung merebahkan diri di sampingnya."Al," panggilku yang hanya dibalas deheman olehnya. Usia kami ini sama hanya terpaut beberapa bulan saja."Kenapa? Ingin cerita?" tawarkuIa bangkit terduduk dari kasurnya yang langsungku ikuti."Nay, lo taukan?""Enggak""Ck. Listen to me" dengan gayanya yang berlebihan itu, aku hanya memutar bola mata dengan jengah"Yang ngirimin lo bunga orangnya ganteng pake banget. Nah gue uda berseri-seri tapi ternyata dia bilang buat lo"Aku hanya diam tak ingin menimpali takut salah bicara yang ada dia makin marah."Terus gue bilang 'Buat saya aja ya mas, saya jomblo ni'. Dan lo tau dia bilang apa, Nay?" teriak dia dengan heboh di akhir kalimatnya. Aku menunggu jawaban Alya."Only, Nayla. Terima kasih" dengan menirukan gaya bicara orang tadi dan gaya angkuhnya"Angkuh bangetkan dia? Gagal suka gue untung ganteng tu orang" lanjutnyaAku hanya tertawa kecil menanggapinya karena ekspresi yang diperagakan Alya mengingatkanku pada sosok pria lain."Al, gue besok mau ke Jakarta. Ibu gue, tante lo itu ngancem gue harus uda ada dirumah besok. Lo mau ikut gak?" ajakkuIa tampak berfikir "Boleh deh. Sekalian liburan"Keesokan harinya, pukul tiga sore kami sudah sampai dirumah. Ibuku dan beberapa asisten rumah tangga ku lihat sibuk menyiapkan masakan."Ada acara apa, bu?" tanyaku.Ibu memelukku lalu bergantian memeluk Alya "Sudah kalian tidur dulu sana. Nanti malam Nayla pakai baju yang bagus ya, kamu juga Alya dandan."Aku dan Alya saling melempar pandang dan kami hanya mengangguk lalu naik ke atas.Seperti ucapan ibuku kamipun berdandan entah untuk apa tujuannya.Alya sudah turun duluan katanya ia ingin mencari cemilan namun ia masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa cup cake."OMG, Nayla. Demi apa gue uda jauh-jauh kesini. Tapi cowo itu ada disini" ucapnya dengan tersenggal-senggal"Cowo siapa?" tanyaku sambil memoles sedikit pelembab bibir."Cowo yang ngasih lo bungalah""Ha?""Kumat deh lo kan. Ayo deh turun, mama gue juga ada di bawah. Heran gue ada apaan."Kamipun turun bersama, karena aku juga bingung ada apa."Nah itu Nayla" ucap ayahku. Ku lihat wajah mereka berseri-seri. Aku juga melihat pria yang membelakangiku dengan tubuh tegap, sandarable banget. Aduh pikiran!Pria itu menghadapku "Long time no see, Nayla" ucapnya tersenyum dengan lebarDeg."Sebentar ini ada apa sih?" tanyaku yang bingung."Jadi nak Raihan katanya sudah lama mengenal kamu dan ia berniat melamar kamu malam ini" jelas ibuku"Ha?" ucapku yang memang bingungRasanya aku tidak tahu ingin berbicara apa lagi"Wahh.. Selamat, Nay" ucap Alya memelukku"Tapi bagaimana bisa kalian tidak memberitahukan aku""Maaf, Nay. Mungkin ini mendadak tapi aku akan menjelaskan semuanya setelah kamu menjawabnya" ucap RaihanBaiklah! Dia tidak berubah tetap saja semaunya"Bahkan jika jawabanku tidak, kamu akan tetap menjelaskannya?" tanyaku dengan menyeringai"Tentu. Tapi aku berharap kamu menerimanya. So?"Aku mengulum senyum, tak bisa kupungkiri. Aku masih menyukainya. Pria ketus yang sialnya tampan ini, dan lihatlah setelah empat tahunpun tak bertemu ia semakin terlihat tampan."Nay" tegur ayahku aku terbangun dari khayalankuAku menghembuskan nafasku "Nayla terima lamaran Raihan"Semua orang tampak tersenyum senang disana, dan Raihan langsung berdiri menarikku ke taman belakang. Masih terdengar suara Alya di belakangku"Uww.. Agresif yaa. Awas jangan kesemak-semak" ucap Alya sambil tertawa lalu mengaduh akibat mamanya menjawilnyaDisinilah aku duduk bersama Raihan di taman belakang rumahku.Dia tersenyum melihatku yang dahulu ia jarang tersenyum seperti ini."Terima kasih, Nay.""Kamu hutang pejelasan" ucapkuIa tertawa "Cie yang panggilannya berubah" ejeknya. Aku ingat dulu kami saling lo-gue dalam memanggil.Aku mengulum senyum lalu ia merangkum tanganku"Dari dulu aku suka sama kamu, Nay. Kamu gak sadar ya? Sedari dulu kita duduk bareng itu sengaja. Aku sudah mengaturnya. Lalu..""Wait. Tapi kamu dulu waktu kelulusan jauhin aku" sela aku tak terima"Ah iya, lalu Nia?" tanyaku lagi yang ingat akan penasarankuIa kembali tersenyum "Mau dilanjutkan, tidak?""Oke" jawabku"Jadi dulu waktu aku mau memantapkan hati mengutarakan padamu tentang perasaan ini, Ayahku melarangku untuk berpacaran. Beliau bilang aku harus langsung melamarmu namun aku belum memiliki keberanian itu. Dan maaf baru sekarang berani menemuimu"Ia menghela nafas "Sebenarnya aku selalu memantaumu. Kamu tentu kenal dengan Aksa, ia aku suruh memantaumu namun sialnya ia malah menyukaimu. Aku beryukur kamu menolaknya""Dan mengenai Nia, dia aja yang terlalu baper waktu aku nolongin dia dari preman di jalan." jelasnya lagi.Aku terkejut dengan fakta ini, aku teringat akan sesuatu "Lalu bunga itu?"Untuk kesekian kalinya ia tersenyum "Dari aku""Eh tapi kalau misalnya aku dulu terima Aksa, gimana?" tanyaku dengan pongahRaihan tertawa "Apa lagi selain memaksamu untuk menerimaku. Tidak ada penolakan" tegasnyaAku tidak tahu lagi harus berkata apa lalu ia memelukku sambil berkata "I Love You, Nayla Lesyata""Love you too, Raihan Prambudi"End
Negosiasi
"Kak, kau dimana? Kenta, Aku takut" gumamku yang lirih namun ternyata cukup didengar oleh pria berbadan kekar itu.Aku takut, takut sekali. Jika saja tadi aku tidak menolak ketika Kenta ingin mengantarku pulang pasti aku tidak akan berada di sini. Dan aku juga tidak akan berada disini jika saja aku mengiyakan ucapan kakakku saat ia ingin menjemputku.Aku tidak akan disekap di gedung tua kumuh serta jelek ini. Tadi aku marah pada Kenta, ya dia adalah pacarku. Tidak sengaja aku melihatnya berpelukan dengan sahabatku, ia berkata salah paham tapi aku cukup keras untuk tak mudah mempercayainya.Pria berbadan kekar tadi ini berjalan mendekat ke arahku, melemparkan sebungkus nasi untukku.Cih mereka menyekapku tapi memberiku makan, untuk apa?"Ingin aku hidup, huh?" sarkasku.Tangan dan kakiku memanglah terikat tapi tidak dengan mulutku."Diam! Dan makanlah. Jangan buat aku marah" ucap pria itu yang ku kedengar dari percakapan dengan temannya namanya Jeck."Cih! Bagaimana aku bisa makan jika tanganku terikat, bodoh!" pekikku.Sebenarnya aku takut, tapi ini adalah cara dari ayahku untuk melawan mereka dan jangan memperlihatkan ketakutan kita, jika kita ingin menang. Dan kali ini akan aku lakukan. Terima kasih, Ayah! Kau memang cinta pertama tiada tara.Author POVDi sisi lain, seorang pria menghubungi bawahannya untuk mencari adik tercintanya."Aku tidak ingin mendengar apapun! Sudah 2 hari adikku hilang. Cepat lacak keberadaannya" lalu mematikan sambungan teleponnya.Andai adiknya itu sedikit menurut, tidak terlalu keras kepala maka tidak akan begini kejadiannya."Kenta" geramnyaApa ini karena pria itu? Pikir Calvin karena Kenta karena terakhir kali ia bertemu dengan Kenta di cafe dekat kantornya.Masih saja Calvin ingin menghubungi Kenta, namun tampaknya mereka memiliki insting yang sama. Sehingga Calvin tak perlu repot untuk menghubungi Kenta karena Kenta sudah datang menemuinya."Bagaimana? Kau sudah menemukan Aleta." ucap Kenta dengan raut wajah yang panik.Tanpa diduga Calvin menonjok muka tampan Kenta hingga Kenta terjatuh karena tak siap menerima pukulan itu "Dengar, Kenta! Kau memang temanku tapi aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu yang buruk pada adikku."Kenta meringis menahan sakit lalu berujar "Mana mungkin aku membiarkan Aleta menghadapi sesuatu yang buruk. Kau tahu bahwa aku sangat mencintai Aleta!" teriak frustasi Kenta.Kenta hanya tak ingin sang pujaan hatinya dalam situasi buruk terlepas dari kesalahpahamannya. Sudah 2 hari gadis itu hilang dan belum ditemukan.Kemarin sebelum Aleta diculik mereka berjanji bertemu di cafe dekat kantor Calvin. Namun ketika Kenta masih membaca menu sambil menunggu Aleta datang, seorang wanita bernama Mika memeluknya dari belakang dengan erat sehingga lengan Mika melingkar erat di leher Kenta. Kenta tahu bahwa Mika ini adalah sahabat Aleta dan juga menyimpan perasaan padanya. Sedangkan Aleta tak tahu bahwa Mika menyukai Kenta itulah yang ada dipikiran Kenta karena selama ini Aleta bersikap baik pada Mika.Saat Mika memeluknya, Aleta masuk ke dalam cafe itu. Ia terkejut saat melihat posisi tersebut ditambah Kenta memegang lengan Mika, ia berfikir itu adalah Aleta.Namun ketika mata Kenta menatap pintu ia melihat Aleta yang berdiri mematung dan menyadari bahwa yang memeluknya adalah Mika bukan Aleta ia langsung menyentakkan lengan itu dari lehernya.Namun yang Aleta lakukan bukan kabur melainkan duduk di depan Kenta dengan tatapan sinis dan Kenta berusaha menjelaskan.Bukan Aleta namanya jika langsung percaya, ia gadis yang keras kepala. Usai menampar Mika, Aleta bangkit dan pergi ingin pulang. Namun Kenta menahan ingin mengantarkannya.Ia juga menelepon kakaknya mengatakan tidak akan kembali ke kantor hari ini bahkan kakaknya ingin mengantar tapi juga ia tolak."Apa yang kalian lakukan?" tanya pria parubaya yang melihat dua pemuda itu."Apa dengan kau menonjoknya adikmu akan pulang?" tambah pria parubaya itu bernama Niko"Dan kau! Kau bilang cinta pada Aleta maka kau harus menemukannya" ucap pria itu pada Kenta"Aku sudah menyuruh mereka mencarinya tapi tetap tidak ketemu, pa!" jawab Calvin pada ayahnya"Aku juga, om" balas Kenta"Ck. Apa perlu pria tua ini yang harus turun tangan" ucap Niko dengan sarkas."Ayo kita berangkat. Aku sudah tahu dimana Aleta" ucap pria Niko pada Calvin dan Kenta"Apa? Papa sudah tahu kenapa tidak mengatakannya" Dengus Calvin"Tunggu!" ucap Kenta"Kita harus membuat rencana agar Aleta juga aman" lanjutnya"Kalian hanya perlu mengikuti skenario yang telahku susun" ucap Niko dengan seringaiannya.Kepala Aleta ditutup kain hitam, ia di dudukkan disebuah kursi yang dihadapannya terdapat meja. Dengan di atasnya tersedia lampu kecil menggantung sehingga menciptakan cahaya remang.Tadi Aleta digiring ke sudut ruangan lain yang masih ada di dalam gedung itu hanya beda lantai saja.Aleta masih meronta, namun pria bernama Jeck itu menarik kepala Aleta hingga rasanya rambutnya ingin lepas.Pria itu membuka kain penutup kepala Aleta. Sinar lampu dari depan tubuhnya sudah menyala, ia mengerjabkan mata karena silau saat sorot lampu menyorot tepat di wajahnya.Bau anyir menusuk hidungnya. Sebenarnya tempat apa ini?Suara tepukan dibelakang lampu menyadarkan Aleta, ia mengernyit."Kau ingat suaraku?" tanya pria itu.Sial! Aleta tak dapat melihat wajahnya akibat sorotan lampu.Aleta memasang wajah angkuhnya, jangan tanyakan ia dapat ini dari mana. Sekali lagi! Ini dari ayahnya"Apa maumu?" desisnya"Aw.. Aku? Tentu dirimu, nona."Aleta tertawa mengejek "Sebegitu terpesonanya padaku, tuan?" masih dengan tatapan angkuh dan tenang namun tetap saja hatinya takut."Tidak takut padaku, nona?"Namun Jeck menjambak rambut Aleta hingga Aleta nyaris membungkuk ke belakang, ia meringis merasakan sakitnya."Tunggu sampai papa dan kakakku datang! Kalian akan menyesal" teriaknya lagiPria di depan sana tertawa mengejek "Uh.. Aku menantinya, Nona." ucap pria di depan tadi sambil mengarahkan pistol pada kepala Aleta.Bahaya, Aleta memutar otaknya agar mengulur waktu. Ia yakin kakak dan ayahnya pasti menolongnya, juga pacarnya mungkin."Ada kata-kata terakhir, Nona?""Tunggu! Setidaknya kau harus memberikanku alasan kenapa kau membunuhku?" ucapnyaPria itu menyeringai, memasang ekspresi yang sangat menyebalkan bagi Aleta. Tak sampai disitu, pria itu juga menurunkan pistolnya. Aleta tersenyum dalam hatinya."Apa keuntungan untukku jika memberitahukannya padamu?" tanyanya sambil menautkan alisnya"Setidaknya aku tidak menjadi arwah penasaran, mungkin"Pria itu mematikan lampunya sehingga nampak jelas raut wajahnya. Ia tertawa atas jawaban Aleta. Lalu ia duduk di atas meja yang ada di hadapan Aleta."Remember me?" Tanya pria itu"Ronal" ucap Aleta"Ya, kau terbaik dalam mengingat.""Jadi apa maumu? Maksudku, beri tahu aku kenapa kau ingin membunuhku""Cinta mungkin" jawabnya"Kau harus membebaskanku jika kau ingin aku cintai" jawab angkuh AletaSeperti biasa, Wanita ini cerdas pikir pria itu."Kau mencoba bernegosiasi terhadapku untuk mengulur waktu sehingga ayahmu akan menemukan aku. Bukankah begitu, Nona?"Sial! Pria ini tahu.Mata Aleta menangkap sesuatu dilaci bawah meja itu, terdapat pistol disana. Yaa Aleta akan mengambilnya, lalu bagaimana caranya sedangkan Ronal masih duduk di atas meja hadapannya.Aleta mengangkat dagunya, masih menunjukkan keangkuhannya tak peduli akan ketakutan yang ia alami."Ayolah, Ronal. Kau ini sungguh tampan. Aku bisa jatuh cinta padamu""Harusnya itu yang kau katakan padaku 3 bulan lalu""Hei, bukankah kau tahu aku memiliki kekasih?""Dan kekasihmu kemarin bermesraan dengan sahabatmu di cafe, kalau kau lupa" balas Ronal"Shiitt" Aleta mengumpat kala ingat momen ituRonal mendekat tangannya mencengkram pipi Aleta "Bibir ini tidak boleh mengumpat, sayang"Kesempatan baik, Aleta mengambil pistol yang ada di laci bawah meja lalu mengarahkan pistol itu tepat pada kepala Ronal.Ronal tertawa "You are smart, honey"Aleta menekankan pistol itu "Bersabarlah, kau akan mencintaiku bukan jika aku membebaskanmu" ucap Ronal dengan santai"In your dream!"Aleta menarik kuat platuknya danDor...Dor...DorSuara tembakanpun terjadi namun bukan dari pistol Aleta melainkan dari luar.Ronal lagi-lagi tertawa pada Aleta dan berkata "Kau memanglah pintar tapi aku lebih pintar. Kau pikir, siapa yang meletakkan pistol itu di bawah sana?" sarkasnyaSuara tembakan dan hantaman yang berasal dari luar semakin memekakan gendang telinga."Oh Shitt.. Jeck periksa luar"Jeckpun segera keluar memeriksa kekacauan yang ada sedangkan Ronal melihat situasi dari jendela samping yang ada di ruangan itu."Menarik" gumamnyaAleta tersenyum sinis "Lihat! Papaku pasti datang.""Lalu?"Aleta berdecihSuara berdentum semakin besar diluar sana. Jeck kembali dengan peluh diwajahnya"Tuan, ada kekacauan di luar sana"Ronal mendengus dan meminta Jeck menjaga Aleta di ruangan itu.Dengan langkah lebarnya ia keluar dari ruangan itu, ia melihat dua lelaki dengan cekatan menghajar anak buahnya.Ronal menepuk tangannya melihat kejadian itu "Wow.. Siapakah pahlawan yang datang ini?" ucap RonalSeketika gerakan Calvin dan Kenta terhenti, mata tajam mereka menghunus manik Ronal. Namun tampaknya pria itu cukup tenang disana.Calvin dan Kenta saling tatap seakan memberi kode lalu keduanya serempak ingin menghajar Ronal. Namun masih 2 langkah mereka berjalan Ronal kembali berujar"Santai, man " ia memutar matanya jengah "Jeck, bawa kekasih cantikku itu!" tambahnya sedikit berteriak.Tak lama Aleta sudah ada dihadapan mereka dengan kungkungan Ronal. Satu tangan Ronal memegang tangan Aleta sedang tangan kanannya memegang pistol yang mengarahkan pada kepala Aleta."Brengsek!" pekik Calvin"Apa maumu?" Desis Kenta"Wah.. Lihatlah tuan selingkuh ini menanyakan padaku"Aleta terlihat mendengkus sebenarnya ia tidak marah pada Kenta, ia hanya sedikit sebal karena tingkah Mika pada Kenta itu meskipun ia tahu bahwa Kenta sangatlah mencintai Aleta. Ia tahu akan hal itu."Dia setia" ujar Aleta protesAleta melihat binar bahagia di mata Kenta."Diamlah!" sentak Ronal."Your mine, Aleta. Jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak akan ada yang bisa memilikimu" desis RonalCalvin berjalan perlahan untuk menjangkau Aleta dan pergerakan itu terbaca oleh Ronal.Pria itu menekankan pistol itu pada Aleta lalu berkata "Maju selangkah maka aku akan menembaknya"Mereka mematung disana, Kenta dan Calvin saling melempar tatapan seakan membuat strategi.Namun dimenit berikutnya seorang pria berjaket hitam dengan segala keahliannya yang melompat dari luar ke gedung itu dan dengan sigap menarik Aleta dari kungkungan Ronal.Calvin dan Kenta menghela nafas dalam-dalam. Mereka tahu pria yang sialnya adalah Ayah Calvin juga Aleta yang pasti melakukannya."Target sudah saya amankan" ujar pria itu melalui telepon yang tersambung pada telinganya.Aleta sudah berpindah alih, Calvin dan Kenta dapat menyerang Ronal kalau begitu. Takkan perlu khawatir mereka akan menyakiti Aleta. Namun pikiran itu terhenti akibat melihat tangan Ronal yang mengambil sebuah tombol dari saku celananya.Shitt!Umpatan serta merta keluar mulus dari bibir mereka berdua, mereka sangatlah tahu benda apa yang kini sedang berada di tangan Ronal. menyaksikan itu Ronal tertawa mengejek."Kalian pikir aku bodoh?" ucapnya dengan seringaian "Aku hanya perlu menekannya sedikit, dan kita akan blusshhh" ucapnya"Kau gila? Kita akan mati bersama, bodoh" rutuk Aleta"Oh sayang. Aku gila karenamu""Psiko!" maki Calvin"Kau pasti hanya mengancam bukan?" dengus Kenta"Barangkali dia akting" gerutu pria yang menyelamatkan Aleta"Jadi kalian tidak percaya" Wajahnya menyeringaiDan detik selanjutnya, semua orang disana memekik kala Ronal benar-benar menekan tombol itu.Semuanya kelimpungan, suara berdebum begitu nyaring hingga meruntuhkan apa saja yang ada disana.Suara dentuam disertai suara jeritan para makhluk yang berada disana memenuhi bangunan tua. Bangunan itu bergetar nyaris runtuh, puing-puing bangunan sempat berserak memenuhi sekitar. Seluruh manusia terangkat dari pijakan bangunan dan terjatuh dalam posisi telentang hingga telungkup. Aroma darahpun turut bercampur. Seketika hening melanda.Semua para manusia itupun bangkit, berdiri dengan posisi beriring. Lalu tangan mereka saling menggenggam, menaikkan tangannya dan membungkukkan tubuh sebagai tanda penghormatan.Tirai merahpun tertutup tanda berakhirnya cerita tersebut. Riuh tepukan terdengar menghiasi seluruh ruangan itu."What!! Apa-apaan ini?" suara pekikan seorang gadis tak terimaNamun seorang lelaki disebelahnya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya"Ayo kita pulang, sayang""Rasanya aku ingin menuntut pemilik teater ini" ucapnya dengan menggebu-gebu"Ini namanya seni, sayang. Dan aku pemiliknya kalau kamu lupa""Harusnya kamu gak menayangkan cerita seperti itu dong. Kita selama 3 jam menyaksikan adegan yang menggantung gitu saja?""Kan endingnya jelas, semuanya mati""Tapi tetap saja aku tuh, uh sakit hati"Laki-laki itu tertawa terbahak menyaksikan ekspresi kekasihnya ini."Ih.. Adrian. Tahu gini aku gak mau kamu ajak nonton ini, akan lebih baik jika kita ke pantai tadi" gerutu gadis itu."Suruh siapa tadi gak mau bernegosiasi. Langsung mengangguk dengar ideku"Gadis itu memasang ekspresi cemberut tanda ketidakpuasan akan drama teater tersebut.Lalu lelaki bernama Adrian itu, mengacak rambut gadis itu lalu merangkulnya "Ayo, Amel sayang, aku antar pulang. Nanti kita makan es krim"Kemudian terlihat binar bahagia dimata gadis itu setelah Adrian mengucapkan kata es krim."Ayo deh, kalau maksa"Tamat
Danke, Barista!
Aku duduk di sudut cafe bergaya klasik ditemani secangkir coklat hangat, ku lihat diluar sana sedang rintik padahal waktu masih menunjukkan pukul 1 siang. Di cafe ini, menu andalannya adalah kopi. Ya begitulah, ku alihkan pandangku pada sang barista yang dengan gerakan seksi meracik kopinya.Lamat-lamat ku pandangi wajahnya,Matanya yang tajam bak elang, hidung yang mancung dibingkai dengan rahang yang tegas. Ditambah kulit yang putih, tinggi dan tubuh yang atletis. Aku yakin Tuhan sedang bahagia saat menciptakannya.Ini merupakan kegiatan rutin yang kulakukan setiap 2 kali dalam seminggu, pada hari kamis dan hari minggu. Dan tebak ini hari apa? Ini adalah hari minggu karena itulah aku berada di cafe ini.Lama aku memandangnya, ia menyerahkan kopi hasil racikannya pada pelayannya lalu tatapannya teralih padaku manik mata kami bertemu, ia tersenyum menenangkan.Oh senyumannya sungguh memabukkan. Sudah lama aku menyukai barista ini, namun tampaknya ia tak pernah peduli padaku. Pernah sekali aku agresif padanya mengatakan bahwa aku adalah pacarnya kepada teman dekat wanitanya namun ia menepisnya dengan kata bahwa aku adalah adik sepupunya.Oh! Sungguh beruntung sekali yang mendapatkannya. Tidak hanya tampan, ia berkarisma dan juga mandiri. Sebenarnya usaha ini yang membiayai ayahnya.Ku alihkan tatapanku pada band lokal di depan sana, setiap hari minggu akan ada band lokal yang manggung di cafe ini. Tiba-tiba seorang lelaki datang langsung duduk di hadapanku"Hai, Keyra!" Ucapnya dengan senyumanAku mendengus kenapa harus lelaki ini yang duduk dihadapanku, kenapa tidak dia saja? Ah itu tidak mungkin."Kembalilah pada teman-temanmu, Sen" acuhkuAku tahu pria ini memiliki perasaan padaku, ia juga tahu bahwa aku akan ke cafe ini setiap minggunya."Aku tidak bersama temanku" jawabnya sambil mengedarkan pandangan "Aku kesini hanya untuk menemuimu""Baiklah, lakukan semaumu tapi jangan berisik" ketuskuKu alihkan tatapanku pada barista tadi tapi ku lihat ia sudah tidak ada. Ah kemana dia?"Apa kau tidak lelah, Key" ucap Arsen"Maksudmu?""Aku tahu kau menyukai barista itukan? Tapi bahkan ia tidak pernah peduli padamu"Benar, ucapan Arsen menohok sekali. Aku sudah menyukainya sejak lama dan sudah 3 bulan lamanya aku mencoba mengejarnya, jangankan untuk diacuhkan, ia bahkan saat itu pernah menyuruhku pulang. Atas dasar itu, aku hanya berani memandanginya dibalik meja sudut ini.Semua rasa itu berawal dari aku pertama kali masuk universitas, dia adalah Mahasiswa tingkat akhir yang sedang bimbingan kala itu. Aku yang dulu adalah gadis cupu, dia membantuku membebaskanku dari bahan bully. Dan lagi ia yang membantuku berubah menjadi gadis seperti ini, gadis yang bergaya modern juga percaya diri. Hanya sebulan memang, waktu yang cukup singkat namun mau bagaimana jika perasaan itu tumbuh.Awalnya aku memang tidak berani, jangankan untuk berbicara banyak,memandang wajahnya saja aku tidak berani karena jantung ini seperti mau terbang. Dan Lambat laun aku mulai berani untuk mengejar cintanya karena saat itu, tepatnya 3 bulan yang lalu ia putus dengan pacarnya. Aku terus mengejarnya karena seperti ucapan pepatah jawa yang mengatakan bahwa Witing Tresno Jalaran Suko Kulino."Key, aku bisa membantumu" lanjut Arsen menarikku dari pusaran khayalan.Aku manaikkan alisku tanda bertanya "Apa maksudnya?""Ayo kita pacaran!" ucap Arsen dengan lantangAku tertawa "Jangan bercanda, Arsen. Kau ini mengajak aku pacaran atau mengajak aku membeli kerupuk"Arsen menjambak rambutnya tampak frustasi "Ayolah, Keyra. Bukankah kau tahu aku sudah berulang kali menyatakan cinta padamu"Aku menghela nafas dalam-dalam, beginilah semenjak pria barista itu mengubah penampilanku banyak pria yang mengejarku namun mau bagaimana jika hatiku hanya terpaku padanya.Kalau dilihat Arsen ini juga tampan, dan mau sampai kapan aku mengejar pria yang bahkan menoleh saja tidak. Ia hanya menganggapku seorang adik perempuan, ia memang sering tersenyum padaku. Aku akui hal itu namun untuk lebih sama sekali tidak.Aku rasa tak ada perkembangan di hubungan kami ini. Dan apakah ini pantas disebut dengan hubungan?"Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku" Ucap Arsen sambil memegang tangankuSeorang pria berjalan lalu berdehem di sampingku lalu melepaskan tautan tanganku pada Arsen."Keyra sudah punya janji dengan saya" ucap pria iniAku mendongak melihat suara yang familiar ditelingaku. Sungguh keajaiban, aku mengingat apakah aku memang ada janji dengan pria ini. Rasa-rasanya aku tidak memiliki janji apapun padanya atau pada siapapun. Tapi siapa yang peduli, seketika aku tertawa jahat dalam hati."Ayo" ajak pria ini"Eh, tunggu tapi, kak?" gantian dong ya. Biasanya dia yang selalu begitu"Ayo, Keyra!" tekannya lalu menarik tanganku mengikuti langkah lebarnya aku yakin pasti ini akan memerahnya."Arsen aku duluan ya" ucapku sambil berlalu. Aku sempat melihat Arsen akan protes namun ia urungkan kala melihat pria yang menarikku ini.Pria ini membukakan pintu mobilnya dan menyuruhkan masuk ke mobilnya. Aku heran, tentu saja. Ia makan apa sih tadi? Kok mendadak seperti ini. Ini kali pertamanya ia begini padaku. Aku mengusap pergelangan tanganku yang memerah akibat tarikannya tadi.Ia masuk ke dalam mobil lalu berkata "Kemana kita, Key?' tanyanya datarAku tak menjawab masih mengusap pergelangan tanganku yang memerah.Pria ini menghela nafas, menarik pergelangan tanganku lalu dikecupnya "Maaf" ucapnyaAku membeku seketika, tapi aku mendadak jadi takut. Ada 3 pilihan atas perubahan sikapnya yang pertama, dia mulai sadar bahwa ia mencintaiku tapi sepertinya ini cukup mustahil mengingat ia yang ketus sekaligus manis bersamaa. Yang kedua,dia punya sakit parah jadi dia berbuat kebaikan tapi jika dilihat ia sehat dan terakhir dia iseng karena banyak waktu luang dan merasa bosan."Melamun huh?" tanyanya dengan ketusAku tersenyum kikuk, nah ini baru dia yang ku kenal ketus dan galak "Mau jalan atau aku balik masuk ni?" lanjutnya"Eh iya, kak Arga. Sabar dong kan aku lagi berpikir mau kemana. Coba kasih pilihan" ini momen langka tidak boleh di sia-siakan dong"Nonton atau makan?""Nonton, selesai itu kita makan." jawabku cepat.Ia mendengus "Ck. Kebiasaan!"Bodo amat kak, bodo amat yang penting aku happy.Ia mendekat kearahku, bahkan wajahnya hanya beberapa inci dengan wajahku. Aku menahan nafas kala nafasnya juga turut menerpa wajahkuKlik"Kamu mikir jorok, ya?" ucap Arga memicingkan matanya dan ia juga mulai menjalankan mobilnya.Aku tersadar ternyata arti dari kata kebiasaan yang ia ucapkan itu karena aku lupa memakai sabuk pengaman."Enggak, kak" jawabku sekenanya sambil menahan malu"Laki-laki tadi?" tanyanya dengan tatapan fokus ke jalan"Dia Arsen dan teman sefakultas kalau kakak lupa""Jauhin, aku tidak suka.""Kenapa?""Pokoknya tidak suka!"Aku lebih baik diam tak ingin menjawabnya, takut ia memutar setir mobik ke arah cafenya lagi. Biar bagaimanapun selama 3 bulan ini baru kali ini dia mengajakku jalan.Terakhir kali ya dulu ketika aku masih cupu dan tidak percaya diri, itu juga dia mengajakku untuk membenahi diri seperti pergi ke salon salah satunya.Ia yang dulu selalu berkata "Kamu itu cantik, jangan hanya karena ucapan orang kamu langsung minder," "Kecantikan akan hadir ketika kamu punya rasa percaya diri" Dan kata terakhirnya adalah "Dan jika kamu sudah percaya diri, maka kamu juga harus cerdas"Makanya sekarang aku berubah percaya diri begini, kelewatan malah sampai berani mengejar lelaki ini."Kamu mau di mobil aja?" tanyanya dengan sarkas. Aku bakan tidak sadar bahwa telah sampai.Aku menggeleng dan langsung keluar dari mobilnya, ku dengar ia tertawa kecil melihat tingkahku. Beginilah kak Arga, dia itu ketus tapi hatinya hangat. Ah aku jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada pria ini.Selepas turun ia mengaitkan tanganku dengan tangannya sambil berjalan menuju ke bioskop.Aku menatap tangannya yang menggandeng tanganku. Mimpi apa tadi malam aku Tuhan? Oh atau jangan-jangan ini mimpi ya."Ini tidak mimpi, Keyra." ucapnya lembut selembut sutra sambil tersenyum.Oh Tuhan! Apakah pria ini cenayan yang bisa membaca pikiranku? Aku jadi bergidik ngeri."Mau nonton apa?" ucapnya ketika tiba di bioskop."Apa saja. Tapi Jeritan malam, boleh?" ucapkuDia tertawa "Baiklah" lalu kamipun menonton film jeritan malam ini. Aku suka filmnya, film yang diadaptasi dari kisah nyata.Selepas menonton film, kamipun makan. Dan suprisenya lagi ia memesankan makanan kesukaanku tanpa bertanya padaku.Boleh tidak aku baper?Makananpun datang dan Kak arga berkata "Makan yang banyak, kamu kurusan"Ah aku jadi curiga kalau begini, barangkali ia mendadak begini karena kasihan melihatku yang kurusan begini.Tak sadar aku memasang duck face ulah ucapannya "Aku tidak ingin kamu kurus""Dan kamu jelek pasang ekspresi begitu" lanjutnya sambil menumpukan tangan di meja."Arsen pasti tidak akan keberatan menerimaku jika aku kurus" ucapku dengan sebal."Jangan bicarakan pria brengsek itu lagi" ucap kak Arga penuh dengan tekananAku masih ingin membantah ucapannya, setidaknya Arsen yang paling keras memperjuangkan aku. Tidak seperti pria ini, yang diperjuangkan tapi tidak mengerti.Aku yang sudah merangkai kata-kata ingin menyangkal tiba-tiba ada suara lain yang menyapa telingaku"Arga..""Tania" ucap Arga"Pacar kamu?" tanya wanita bernama Tania ituKu lihat kak Arga menatapku, aku juga penasaran apa yang akan dikatakan kak Arga pada wanita ini "Dia.. Adik.." jawab Kak Arga"Ingin bergabung" tambah kak Arga dan langsung disepakati oleh TaniaAku tertawa mengejek, hilang sudah nafsu makanku serta menguap sudah bahagiaku sesaat kencan hari ini. Aku bahkan tidak yakin apakah ini kencan?Baiklah aku sudah muak, aku memilih mundur. Aku tidak tahu siapa Tania ini tapi seketika aku menbencinya dan aku juga marah pada Kak Arga ternyata ia hanya menganggapku Adiknya.Aku beranjak dari tempat itu meninggalkan mereka, ku dengar kak Arga memanggilku tapi tak ku hiraukan. Hati ini terlanjur patah terlalu dalam, harusnya aku sadar dari dulu kalau inilah yang terjadi.Harusnya aku sadar kalau kak Arga hanya kasihan pada gadis sepertiku. Aku terus merutuki kebodohanku hingga sampai pada apartemenku.Aku memang tinggal sendiri di kota ini, ayahku membelikan apartemen ini untukku karena aku kuliah di kota ini tentunya dan agar aku nyaman dan aman.Aku masuk kamar dan aku menangis, tapi aku tidak boleh jatuh karena pria itu. Aku harus bangkit dan buktikan padanya bahwa aku bisa move on.Walaupun aku tidak yakin!Keesokan harinya aku duduk termenung di kantin kampus menghabiskan sarapanku sembari menunggu jam masuk kelas.Setangkai mawar merah mengacung di wajahku. Ah pria ini lagi, maunya apa sih? Kenapa dia harus repot-repot mengunjungiku di sini.Aku beranjak dari tempat itu, sudah lelah. Hey aku juga wanita yang ingin dimengerti.Namun sepertinya pria ini tidak puas akan penolakan, ia menarik tanganku."Ada apa lagi, kak Arga?" tanyaku menatap tajam sorot matanya"Aku mau masuk kelas" lanjutku ketus"Sebentar""5 detik" ucapku namun dia menatap mataku dengan lekat tanpa sepatah katapun.Aku mulai menghitung"1""2""3""4" ku lihat ia masih menatapku dengan tenang"5""Okay. Waktu habis!" ucapku lalu mulai melangkahkan kaki."Aku mencintaimu!" ucapnya dengan lantangEh bagaimana? Apa katanyaAku segera berbalik menatapnya seakan tak percaya akan ucapannyaDia menarikku ke dalam pelukannya lalu mengatakan "Aku mencintaimu, Keyra. Gadis cupu yang berubah jadi liar" ucapnya yang diakhiri dengan tawa renyahnya."Tapi kakak bilang aku cuma adik, itu kalau lupa" cibirkuDia melepaskan pelukan kami lalu berkata "Makanya jangan salah sangka duluan, maksudku adik. Kamu adik ipar untuk Tania" kak Arga tersenyum manis sekaliAku masih memikirkan maksud dari ucapannya. Tania itu wanita kemarin yang aku temui itukan?Dia mendorong kepalaku dengan telunjuknya "Wanita kemarin yang bernama Tania itu kakakku, Keyra."
Cyro
Sera mengernyit dalam tidurnya. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu merasakan beban berat disekitar pinggangnya. Ada apa ini? Apa ada barang-barang di kamarnya yang tiba-tiba jatuh dan menimpanya? Makin lama, Sera merasakan benda itu makin membelit tubuhnya. Sudah pasti ini bukan barang-barang di kamarnya. Sera lantas segera membuka matanya. Takut jika yang membelit tubuhnya saat ini ada ular.Namun ketika gadis itu membuka mata, hal pertama yang dia dapati adalah wajah seorang laki-laki. Otomatis Sera berteriak dan menendang laki-laki itu hingga jatuh dari kasurnya."Aw!" Ringis laki-laki itu seraya mengusap kepalanya. Sera menarik cepat selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, hanya kepalanya saja yang terlihat."Si... siapa kamu?" Tanya Sera bergetar dan takut. Siapa yang tidak takut jika tengah malam begini mendapati orang asing sedang tidur di kasur yang sama kita? Mana orang asing itu terlihat aneh!"Kamu yang siapa? Kenapa kamu berada di..." Ucapan laki-laki itu terhenti. Matanya menjelajahi kamar Sera dengan liar. Lalu tiba-tiba wajah laki-laki itu terlihat pucat dan kaget."Astaga! Aku lupa," kata laki-laki itu seraya menepuk dahinya. Sera yang sedari tadi diam, mulai keluar dari selimut dan menuju saklar lampu. Gadis itu menekan saklar lampu dan membuat kamar seluas 9 meter kuadrat itu terang seketika. Sera dapat melihat jelas laki-laki yang terduduk di lantai kamarnya. Matanya menatap setiap jengkal orang asing yang menyusup ke kamarnya itu.Mata Sera melebar ketika menyadari keanehan pada penyusup itu. Laki- laki itu berpakaian aneh. Pakaiannya seperti jumpsuit yang pas badan berwarna hitam. Ada sebuah benda kecil seperti lampu berwarna kuning di bagian dadanya. Bagian kepala laki-laki itu juga aneh. Laki-laki itu memiliki telinga yang panjang, gigi-gigi yang runcing, rambut berwarna kuning serta ada dua tanduk kecil di kepalanya. Sebenarnya makhluk apa yang menyusup ke kamar Sera? Silumankah?"Makh... makhluk apa kamu? Kenapa bisa ada di kamarku?" Sera menjangkau sapu yang ada didekatnya, bersiap hendak menyerang makhluk aneh itu."Jangan pukul aku! Aku nggak ada maksud berbuat jahat sama kamu," cegah laki-laki itu panik. Laki-laki itu membuat gerakan menahan dengan tangannya. Perlahan Sera menurunkan sapunya, tapi tidak dengan tingkat kewaspadaannya."Kamu siapa? Kenapa kamu bisa ada di kamarku?""Aku Cyro. Aku berasal dari planet Hiuna, planet yang letaknya sangat jauh dari planetmu karena planet kita berada di galaksi yang berbeda. Aku dan kakakku sedang melarikan diri dari penjahat yang berniat membunuh kami dengan lubang hitam. Sebenarnya planet yang kami tuju bukan ini. Tapi dalam perjalanan, terjadi sesuatu di lubang hitam. Aku dan kakakku terpisah dan aku malah terdampar disini. Aku minta maaf karena sudah masuk sembarangan dan tidur di kasurmu," jelas laki-laki bernama Cyro itu. Sera terkejut mendengar penjelasannya. Jadi Cyro itu alien?"Kamu alien?""Ck bukan! Kami menyebut diri kami sebagai gerda. Seperti manusia bagi kalian," kata Cyro."Hah?""Jangan memasang wajah bodoh seperti itu. Di planetku, kami mempelajari tentang makhluk-makhluk dari planet lain. Salah satunya kalian. Aku sedikit banyak tahu tentang kalian."Sera ber-oh ria. Lalu gadis itu duduk di atas kasurnya. Perlahan ketakutannya pada Cyro menghilang setelah sedikit berbincang dengan laki-laki itu. Meskipun Sera masih belum bisa ada alien... maksudnya gerda di kamarnya, tapi kemunculan Cyro dengan tampilan anehnya membuat Sera mau tidak mau percaya jika saat ini ada makhluk asing di hadapannya."Ah ya, namaku Sera.""Senang berkenalan denganmu, Sera," kata Cyro manis. Sera mengulum senyumnya."Lalu bagaimana caranya agar kamu bisa bertemu dengan kakakmu kembali?""Aku nggak tahu. Hanya kakakku yang bisa membuat portal untuk membuka lubang hitam. Aku tidak bisa. Sepertinya aku harus menunggu sampai kakakku menjemputku. Tapi aku sudah mengirim pesan telepati padanya. Semoga pesannya sampai," kata Cyro."Pesan telepati? Lewat ponsel?""Bukan. Kami bisa saling mengirimkan telepati untuk saling menghubungi. Tidak perlu menggunakan benda seperti kalian. Kami menggunakan ini untuk menangkap dan mengirimnya." Cyro menyentuh tanduk kecil yang ada di kepalanya. Sera makin kagum melihat makhluk asing yang ada dihadapannya saat ini."Berarti saat lubang hitam rusak, kamu langsung terlempar di kamarku?""Tidak. Di halaman lebih tepatnya. Aku takut ketahuan makanya aku memutuskan untuk masuk. Maaf sudah membuatmu ketakutan.""Hah? Kamu masuk lewat mana? Jendela?"Cyro menggeleng. Lalu laki-laki itu menunjuk dinding. "Lewat sana.""Dinding?""Iya," angguk Cyro. "Aku menembusnya."" WHAT?! Kamu bisa menembus dinding?" Tanya Sera heboh. Cyro segera membekap mulut gadis itu karena takut memancing kehebohan."Kecilkan suaramu," desis Cyro. Sera menganguk-anggukkan kepalanya. Cyro lalu melepaskan bekapan tangannya di mulut Sera."Jadi kamu menembus dinding?""Iya. Gerda bisa menembus benda padat dan membuat benda melayang. Mau lihat?"Sera mengangguk mau. Dia penasaran seperti apa makhluk yang disebut gerda ini. Mereka mempunyai kemampuan yang berada diluar akal manusia.Cyro lalu memusatkan perhatiannya pada sebuah buku yang tergeletak di lantai. Matanya menatap buku itu dengan serius. Lalu tak lama kemudian, perlahan, buku itu terangkat dan melayang di udara. Hal itu mengundang decakan dari Sera."Woah, hebat sekali," decak Sera kagum. Cyro tersenyum tipis lalu kembali meletakkan buku itu ke atas lantai."Bagaimana dengan menembus dinding? Aku juga mau lihat," pinta Sera. Cyro menggeleng, lalu ikut duduk di samping Sera di atas kasur."Akan ku perlihatkan besok pagi." Setelah itu Cyro merebahkan tubuhnya di kasur Sera dan segera terlelap. Sera menatap terkejut pada laki-laki itu. Cyro tidur dikasurnya? Mereka akan tidur di kasur yang sama? WHAT?!***Sera terbangun begitu mendengar suara gaduh dari luar kamarnya. Sera mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya. Dua menit kemudian, begitu kesadarannya terkumpul penuh, Sera menuju dapur rumah kontrakannya. Tempat dimana suara gaduh itu berasal. Betapa kagetnya Sera begitu mendapati dapurnya dipenuhi dengan benda-benda melayang dan seorang laki-laki yang berdiri di tengahnya."Pagi Sera," sapa Cyro. Sera masih melongo sehingga tidak membalas sapaan Cyro."Kenapa semua benda-benda ini melayang?""Aku mau merapikannya tadi. Semua sudah ku cuci bersih tapi aku nggak tahu dimana harus meletakkannya. Jadi benda-benda ini masih melayang seraya aku berpikir dimana tempat untuk meletakkannya," kata Cyro polos. Sera berdecak lalu segera menunjukkan dimana saja alat-alat dapurnya. Cyro segera meletakkan alar-alat dapur itu sesuai instruksi Sera, dengan keadaan melayang pastinya."Terima kasih sudah membantuku, Cyro. Aku akhir-akhir ini sibuk sampai nggak ada waktu buat beres-beres," kata Sera tulus dan malu. Tentu saja dia malu. Peralatan di rumahnya dibersihkan oleh orang lain."Sama-sama. Aku senang bisa membantu. Anggap saja sebagai permintaan maafku.""Eh..."Tiba-tiba saja tanduk kecil di kepala Cyro mengeluarkan cahaya dan berkedip beberapa kali. Senyum Cyro mengembang seketika. Pesannya dibalas oleh sang kakak! Segera Cyro memegang tanduknya dan menutup mata.Cyro, aku terlempar ke planet Dura. Bumi dan Dura lumayan jauh karena berbeda galaksi. Tapi aku akan segera menyusulmu. Aku akan mencoba membuka lubang hitam dan menuju bumi. Kamu jaga diri. Tutup kepalamu, jangan sampai memancing perhatian. Aku takut para penjahat itu bisa mendeteksimu disana.Setelah itu Cyro membuka matanya dan melepaskan tangannya dari tanduknya. Hal pertama yang Cyro lihat yaitu wajah kebingungan Sera."Kakakku sudah memberi pesan. Dia akan menyusulku kesini," jelas Cyro tanpa ditanya."Syukurlah. Semoga kakakmu segera datang.""Um Sera.""Ya?""Bolehkah aku tinggal disini sampai kakakku datang?" Tanya Cyro penuh harap. Sera langsung mengangguk setuju. Gadis itu hanya tinggal sendiri di rumah kontrakan kecil ini. Jika ada tetangga yang bertanya, dia akan mengakui Cyro sebagai sepupunya.Sera tidak tahu kenapa dia bisa secepat ini percaya pada makhluk asing yang tiba-tiba muncul di kamarnya. Padahal bisa saja sebenarnya Cyro berniat. Tapi ntah kenapa, Sera yakin jika Cyro ada orang baik. Maka dari itu dia membolehlan Cyro tinggal untuk sementara waktu di rumahnya."Terima kasih, Sera." Cyro tiba-tiba saja memeluk Sera, membuat gadis itu tersentak kaget. Selama ini belum ada laki-laki yang pernah memeluknya selain anggota keluarganya. Mantannya terdahulu hanya pernah menggenggam tangannya saja. Sera termasuk orang yang kolot jika berpacaran."Sa...sama-sama." Perlahan Sera berusaha melepaskan Cyro dari tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang sekali. "Aku mau mandi dulu. Aku harus segera bekerja."***Semua pegawai yang mempunyai shift pagi ini di toko kopi terkejut melihat Sera datang bersama laki-laki yang menutupi kepalanya dengan hoodie . Ya, Cyro ikut Sera bekerja karena laki-laki itu tidak mau ditinggal sendiri. Dia bilang lebih baik dia ikut Sera bekerja daripada bosan hanya menunggu di rumah. Akhirnya Sera mengalah dan membolehkan Cyro untuk ikut dengannya, dengan catatan laki-laki itu tidak boleh membuat keributan."Bareng siapa, Ser? Pegawai baru?" Tanya salah satu teman Sera. Sera menggeleng."Sepupuku. Dia ikut karena nggak mau sendirian di rumah. Nggak papakan? Aku janji dia nggak akan macam-macam.""Aku rasa sih nggak papa. Lagian bos hari ini nggak masuk. Aman aja sih keliatannya."Sera mendesah lega mendengarnya. Gadis itu segera menarik Cyro untuk duduk di kursi paling pojok."Kamu tunggu aku disini. Kalau bosan, kamu boleh keluar. Tapi jangan sampai nyasar. Nih aku kasih kamu uang kalau butuh sesuatu." Sera meletakkan uang seratus ribu ke tangan Cyro."Kalau aku mau bantu, boleh nggak?""Jangan, Ro. Bisa heboh nanti. Kamu duduk disini aja atau keluar juga boleh. Aku mau kerja dulu."Sera segera pergi meninggalkan Cyro untuk segera memulai pekerjaannya. Cyro yang ditinggal mendesah kecewa. Jika seperti ini, lebih baik dia menunggu di rumah saja.***Mata Cyro menatap Sera yang terlihat sangat sibuk. Gadis itu mondar-mandir mengantarkan pesanan, membersihkan meja, dan mencatat pesanan para pelanggan. Cyro kasihan melihat Sera yang sepertinya mulai lelah tapi pelanggan masih saja ramai. Cyro rasanya ingin menolong, tapi dia sudah diwanti-wanti oleh Sera untuk tidak melakukan apapun. Ah andaikan ini di Hiuna, semua pesanan itu pasti sudah melayang ke meja masing-masing pemesannya tapi perlu capek-capek untuk diantarkan."Kamu nggak kerja, Ta? Bantuin Sera." Sayup-sayup Cyro mendengar percakapan dua orang pegawai perempuan yang berdiri tidak jauh darinya."Nggak ah. Capek. Biarin aja Sera yang ngerjain. Tadi aku bilang ke dia kalau aku nggak enak badan. Padahal lagi males aja," kata salah satu dari mereka lalu tertawa. Cyro menggeram kesal. Bisa-bisanya mereka memanfaatkan Sera demi kepentingan mereka sendiri. Lihat saja, akan Cyro beri pelajaran."Mbak!" Cyro mengangkat tangannya, memanggil dua pegawai yang sedang mengobrol tadi. Salah satu dari mereka menoleh lalu menuju meja Cyro malas-malasan. Untungnya yang mendatangi Cyro adalah orang yang jahat pada Sera."Kenapa, Mas?" Tanya pelayan perempuan itu jutek."Saya mau mesan minuman yang baru. Es kopi susu. Ah ya, tolong minuman saya ini dibuang aja. Saya nggak minat lagi." Cyro mengangsurkan gelas berisi coklat dingin pada gadis itu. Mau tidak mau pelayan perempuan itu menerimanya dan mengatakan akan segera mengantarkan pesanan Cyro.Senyum Cyro mengembang ketika pelayan perempuan itu menjauhinya. Cyro segera memfokuskan matanya pada gelas berisi coklat dingin itu dan tidak lama kemudian... byur!!! Gelas berisi coklat dingin itu sedikit terangkat dan isinya membasahi pakaian pelayanan perempuan itu dan sedikit wajahnya. Semua orang di toko kopi itu terkejut melihatnya, berbeda dengan Cyro. Laki-laki itu malah terkekeh kecil dan berseru senang dalam hati.Rasakan itu!!!***Jam kerja Sera berakhir pada pukul lima sore. Gadis itu segera mengganti pakaiannya dan mengajak Cyro yang setia duduk di kursi pojok untuk pulang. Sera yakin, Cyro pasti bosan meskipun tadi dia sempat meminjamkan ponselnya pada Cyro."Kamu bosan ya? Besok mendingan tunggu di rumah aja," kata Sera di tengah perjalanan pulang."Nggak kok. Kalau bosan, aku udah keluar dari tadi. Aku besok ikut kamu lagi. Seru liat kamu kerja.""Seru liat aku atau seru isengin temanku?" Sera tahu jika insiden salah satu temannya mandi coklat dingin tadi siang itu adalah kerjaan Cyro. Sera sempat melihat Cyro menatap ke arah temannya itu sebelum temannya tersiram coklat dingin."Aku cuma ngasih pelajaran ke dia. Dia licik. Dia biarin kamu kerja sendirian sedangkan dia pura-pura sakit.""Tapi kamu harusnya ingat perkataan kakak kamu. Jangan bikin keributan. Kamu mau ketahuan?""Tapi aku nggak ketahuankan? Orang-orang mikirnya dia nggak sengaja nyiramin coklat dingin itu ke badannya. Aku lakuin itu semua demi kamu, Sera."Sera mendesah pelan. Tidak bisa melawan Cyro karena laki-laki itu selalu saja bisa menjawabnya."Terserah kamulah."***Sudah dua minggu lebih Cyro tinggal bersama Sera. Sera mulai terbiasa dengan kehadiran laki-laki bertanduk itu. Sejak kehadiran Cyro, hidup Sera yang datar terasa lebih berwarna. Semua yang dilakukan Cyro memberi perubahan dihidupnya."Ser."Sera tersentak ketika Cyro tiba-tiba muncul dari balik dinding. Laki-laki itu memang hobi sekali menembus dinding daripada membuka pintu dan melewatinya seperti manusia normal. Ah Sera lupa. Cyro bukan manusia. Dia gerda."Jangan suka ngagetin gitu, Ro," tegur Sera kesal. Cyro menampilkan cengirannya lalu tiba-tiba memeluk Sera."Tadi aku dapat pesan dari kakakku. Dia udah bisa buka lubang hitam yang menuju bumi. Dia bakal jemput aku," kata Cyro bahagia.Deg! Sera merasakan hal yang berbeda di hatinya. Ntah kenapa dia merasa tidak rela mendengar bahwa Cyro akan segera pergi."Be... benarkah? Kapan kakakmu akan sampai?""Nggak tahu. Tapi katanya nggak akan lama. Ah, akhirnya aku bisa ketemu kakakku lagi. Aku senang banget," kata Cyro berseri-seri. Cyro melepaskan pelukannya. Tapi laki-laki itu mengernyit bingung melihat wajah Sera yang murung."Kenapa? Kok kamu murung?""Nggak. Aku cuma sedih bakal nggak bisa ketemu kamu lagi," jawab Sera jujur. Tidak ada gunanya berbohong. Toh, sebentar lagi Cyro akan meninggalkannya."Aku juga sedih nggak bisa ketemu kamu lagi." Cyro merangkum wajah Sera dengan tangannya. "Aku janji bakal belajar supaya bisa buka lubang hitam dan mengunjungi kamu. Tunggu aku ya."Sera tersenyum mendengar janji Cyro. Meskipun dia tidak tahu apakah Cyro akan menepati janjinya atau tidak, tapi setidaknya laki-laki itu berniat menemuinya kembali suatu saat."Sebelum aku pergi, ayo kita habiskan waktu bersama."Cyro menggandeng tangan Sera lalu berjalan lurus ke arah dinding. Langkah Cyro terhenti karena teriakan Sera saat setengah tubuhnya sudah menembus dinding."Aku nggak bisa nembus dinding, Cyro!"
Kehilanganmu
Oh, begini rasanya kehilangan dirimu, kekasihTak pernah 'ku bayangkan sakitnya akan seperti iniKau telah pergi dari hidupkuOh, mengapakah kau tinggalkan aku seperti ini?Saat aku masih berharapCinta ini masih bertahan untuk kitaOh, mengapakah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu?Kini berakhir untuk selamanya🎵 Judika - Tak Mungkin Bersama 🎵💔💔💔Aku meraih pigura foto yang terletak di atas nakas. Pigura berukuran sedang itu menampilkan sosok rupawan dengan senyum manis terukir di wajahnya. Perlahan, jariku menyusuri wajah di pigura foto itu. Bergerak lambat, seakan wajahmu yang aku elus saat ini.Mataku terpaku melihat senyummu yang begitu lebar. Senyum yang sampai hingga ke mata, membuktikan betapa tulus dan bahagianya senyuman ini. Senyuman yang selalu aku rindukan." I miss you so much. Kenapa kamu tega ngelakuin ini semua ke aku, Ben?""Sayang, air rebusan kamu udah mendidih nih," teriak Beni, suamiku. Aku yang sedang mencari buku anakku yang ntah terletak dimana berdecak kesal."Masukin mienya, Ben. Aku lagi bantu Rudi nyari bukunya," balasku juga berteriak. Tidak ku dengar lagi balasannya darinya. Mungkin dia sudah melakukannya. Aku kembali fokus mencari buku anakku yang ntah nyempil dimana."Bukunya kamu taruh dimana sih?" Tanyaku pada Rudi. Rudi menggeleng polos."Rudi lupa, Bu." Aku menghela napas pelan. Anakku ini sangat pelupa, persis seperti ayahnya. Dia bisa lupa dimana meletakkan buku yang tadi dia pakai, sama seperti Beni yang suka lupa dimana letak pensilnya setelah menggambar desain bangunan padahal pensil itu terselip antara kepala dan telinganya."Coba liat di bawah meja belajarnya. Siapa tahu jatuh." Rudi mengangguk lalu menundukkan tubuh kecilnya agar bisa masuk ke kolong meja. Saat aku hendak menyusul Rudi, Beni muncul dengan cengiran khasnya."Sayang.""Kenapa, Ben? Mienya udah masak?" Beni memasuki kamar Rudi lalu menatapku polos. Aku heran melihat tingkah anehnya ini. "Kenapa?""Masakin mie dong.""Lah kan udah. Mienya udah kamu rebuskan?" Beni menggeleng. Aku membelalak melihat gelengannya itu. Bukankah tadi aku menyuruhnya memasukan mie ke air yang sudah mendidih?"Kompornya aku matiin. Mienya belum aku masukin.""Loh loh. Katanya kamu mau makan mie," kataku heran."Iya. Tapi buatan kamu," renggutnya. Astaga suamiku ini."Kan udah aku buatin, Ben. Kamu cuma masukin mienya ke air karena aku lagi bantu Rudi," kataku gemas. Beni tetap menggeleng. Lalu dia memelukku manja, menempatkan dagunya di bahuku."Maunya kamu yang masakin dari awal sampai akhir. Harus kamu doang. Nggak boleh orang lain apalagi aku," katanya manja. Aku mendesah pelan. Suamiku ini kadang memang kelewatan manjanya. Semua harus aku, tidak boleh orang lain."Tapikan aku lagi bantu Rudi, Ben," kataku pelan. Aku mengelus lengannya yang melingkar di tubuhku. Aku bisa merasakan Beni menggeleng."Ibu, bukunya ketemu!" Seruan Rudi membuyarkan fokusku pada Beni. Aku sampai lupa harus membantu putraku. "Ih Ayah kok peluk-peluk Ibu?""Ayahkan sayang sama Ibu makanya Ayah peluk Ibu. Emangnya Rudi yang nggak sayang sama Ibu," cibir Beni bercanda yang mendapat teriakan dari Rudi."Rudi sayang sama Ibu." Rudi menyerbu memelukku. Lengan kecilnya memeluk pahaku."Iya iya. Ibu juga sayang sama Rudi sama Ayah."Air mataku yang sudah bersusah payahku tahan sejak tadi akhirnya merembes keluar saat mengingat kenangan yang kami miliki. Setitik demi setitik, kelamaan makin deras hingga membasahi kaca pelindung pigura ini. Aku bergegas menyeka pipiku yang makin basah karena aku tahu dia tidak suka melihatku menangis. Tapi apa daya, air mata ini terlalu deras hingga aku sendiri tidak sanggup lagi untuk menyekanya."Sayang, maaf. Aku nggak bisa nepatin janjiku. Aku nggak bisa nggak nangis ketika kamu pergi," lirihku pilu. Pigura itu ku peluk erat di dadaku. Tangisku kian mengencang seiring dengan sesak yang makin menyiksa di dadaku ini.Aku selalu begini. Selalu menangis pilu jika mengingat sosoknya. Apalagi ketika kejadian malam terakhir itu terlintas di otakku. Aku tidak bisa menahan tangisku.Hujan deras mengguyur kota kelahiranku sejak tadi sore. Hingga malam menjemput, hujan ini tidak kunjung reda. Petir masih setia menyambar membuatku takut menghidupkan barang elektronik.Rudi baru saja tertidur karena anakku itu memang gampang mengantuk jika cuaca dingin seperti ini. Sedangkan Beni sedang asik selonjoran di kasur dengan buku di tangannya."Baca apa sih?" Tanyaku penasaran. Aku mendekatinya. Beni yang selalu memprioritaskanku diatas apapun segera meletakan bukunya di nakas lalu meraupku dalam pelukannya."Aku jawabpun kamu nggak akan paham," ledeknya. Dia mengusel-usel hidungnya di puncak kepalaku, kebiasannya dari dulu."Ih jahat banget ngatain istrinya bodoh." Aku memukul pelan dadanya yang disambut kekehan oleh Beni."Rudi udah tidur?""Udah. Anak kamu itukan gampang banget tidur kalau hujan gini. Dikira suara hujan itu lullaby tidurnya kali.""Bagus dong. Dari pada dia ketakutan.""Hm." Aku berdehem membenarkan. Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. Meresapi kenyamanan yang selalu dia suguhkan."Yang, aku mau nanya.""Biasanya juga langsung nanya tanpa minta izin," cibirku. Beni terkekeh. "Mau nanya apa? Serius banget kayaknya sampai minta izin gitu?"Aku mendongak menatap wajah tampannya. Tapi Beni segera menarik kepalaku agar menempel kembali dengan dadanya. "Senderan aja. Jangan jauh-jauh.""Suka banget sih aku templokin." Lagi-lagi Beni terkekeh. Tangannya bergerak lembut membelai punggungku, membuatku semakin nyaman."Kamu jangan nangis ya kalau aku pergi suatu saat nanti." Aku terkejut mendengar perkataannya. Beni tidak pernah mengatakan hal mengerikan seperti ini sebelumnya. Aku hendak melepaskan pelukanku padanya dan protes pada kalimatnya itu. Tapi Beni segera mengunciku dalam pelukannya."Dibilang senderan aja.""Kamu ngomong apa sih? Aku nggak suka.""Aku cuma bilang aja, Sayang. Kamu tahu sendiri kalau aku paling nggak suka lihat kamu nangis, apalagi karena aku. Jadi kamu harus janji nggak akan nangis jika suatu saat aku pergi." Beni mencium puncak kepalaku. Tiba-tiba aku diserang ketakutan. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana hidupku tanpa Beni dan tidak pernah mau merasakannya."Kamu nggak boleh kemana-mana. Kamu harus selalu disini. Nemenin aku sama Rudi," kataku. Aku mengeratkan pelukanku pada tubuhnya. Berusaha mencari ketenangan karena rasa takut menyelimuti hatiku. Beni tidak mengatakan apapun. Dia hanya terus-terusan mencium puncak kepalaku dan mengelus punggungku. Tanpa sadar aku jatuh tertidur dalam pelukannya karena usapan lembutnya di punggungku ditambah cuaca dingin seperti ini.Aku tidak tahu pukul berapa ketika Beni membangunkanku pelan. Dia izin ingin menuju kantornya yang katanya kemalingan malam itu."Besok aja, Ben. Udah malam banget. Di luar masih hujan pula. Aku yakin udah banyak yang kesana," larangku. Aku terlalu khawatir membiarkannya pergi malam ini. Entah karena faktor perkataan Beni sebelum aku tidur tadi atau ada yang lain. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tidak ingin melepasnya malam ini."Nggak enak, Sayang. Aku harus tetap cek. Sandi sama Wildan udah disana." Beni mendirikan perusahaan arsitektur bersama dua sahabatnya di bangku perkuliahan. Mereka merintis perusahaan itu dari nol hingga sukses seperti sekarang. Aku maklum jika Beni sekhawatir ini ketika kantornya kemalingan. Tapi ini sudah terlalu larut malam dan hujan deras masih mengguyur di luar sana. Aku yakin d ua sahabat Beni sudah bisa menyelesaikan urusan ini tanpa Beni."Jangan pergi, Ben. Besok aja. Aku mohon." Mataku berkaca-kaca, berharap ini bisa menahannya. Tapi nyatanya Beni tidak bisa dibantah. Dia tetap ngotot pergi dengan segala bujuk rayunya. Akhirnya aku mengiyakan karena tidak bisa lagi melarangnya. Dadaku terasa begitu sesak melihatnya menukar pakaian.Sebelum pergi, Beni menyempatkan menuju kamar Rudi. Dia mencium lama dahi anak kami lalu mengelus rambutnya lembut. Tidak biasanya Beni seperti ini. Aku semakin khawatir."Aku pergi dulu, ya. Pintu jangan lupa di kunci. Aku bawa kunci duplikat," pesannya."Jangan lama-lama. Cepat pulang ya," kataku. Aku memegang erat lengannya. Tidak rela melepasnya pergi."Iya. Kamu sama Rudi baik-baik disini ya. Jaga diri. Aku sayang sama kalian." Beni mencium dahiku lama. Aku meremas kuat jaket yang dia pakai, berusaha menahan air mata yang ntah kenapa ingin meluncur. "Bye Sayang."Aku tidak pernah tahu jika Bye Sayang yang diucapkan Beni merupakan kalimat sekaligus perpisahan terakhir yang dia ucapkan padaku. Aku tidak pernah tahu jika malam itu saat terakhir dia mencium dahiku dan Rudi. Aku tidak pernah tahu jika malam itu saat terakhir aku merasakan pelukannya. Aku tidak pernah tahu...Jika aku tahu malam itu dia akan meninggalkanku dan Rudi selamanya, aku tidak akan pernah mengizinkannya keluar dari apartemen kami. Aku akan menahannya di kamar, kalau perlu mengikatnya agar dia tidak bisa pergi kemana-mana. Sayangnya itu hanya pengandaian. Nyatanya malam itu Beni tetap pergi dan meninggalkan aku dan Rudi.Beni mengalami kecelakaan pada malam ditemani hujan lebat itu. Kata polisi yang menghubungiku, mobil Beni tergelincir jalanan yang licin saat dia menghindari lobang besar yang sedang diperbaiki dan malah menabrak truk yang melaju dari arah berlawanan. Mobilnya hancur mengakibatkan Beni harus meregang nyawa pada saat itu juga. Hanya itu yang aku tahu karena aku tidak sanggup mendengar penjelasan lainnya. Hidupku rasanya hancur saat melihat tubuh kaku Beni yang diselimuti kain putih di bankar rumah sakit.Kepergian Beni merupakan luka besar di hidupku. Berhari-hari aku menangisi kepergiannya hingga jatuh pingsan. Saat pemakamannya aku bahkan hampir saja meloncat ingin ikut masuk jika saja tidak ditahan oleh abangku. Kewarasanku memang sudah hilang seiring dengan menghilangnya sosok Beni di hidupku."Aku mau ikut Beni. Aku mau sama Beni," rontaku dipelukan bang Yuda. Aku ingin lepas dari pelukannya dan masuk ke dalam pelukan Beni. Aku ingin menamani Beni didalam sana. Dia pasti akan kesepian jika tidak aku temani. Aku tidak mau membiarkan Beni sendirian. Beni tidak pernah suka tanpa aku."Istighfar, Dek. Kamu nggak boleh gini. Beni nggak akan suka lihat kamu yang kayak gini," lirih bang Yuda dengan suara tercekat. Aku memukul dadanya, tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Aku hanya ingin bersama Beni. Aku tidak ingin dipisahkan dengan suamiku."Lepasin aku, Bang. Aku mau suamiku. Aku mau Beni. Lepas!" Bentakku. Aku berusaha mendorong badannya namun tidak berhasil karena aku tidak ada tenaga sama sekali. Akhirnya yang aku bisa hanya menangis pilu di dada abangku itu."Mending kita pulang kalau kamu kayak gini terus," kata bang Yuda. Aku menggeleng tidak mau. Aku mau bersama Beni."Nggak mau. Aku mau sama Beni. Aku mau liat Beni," rintihku pilu."Kalau kamu masih mau disini, jangan lakuin tindakan bodoh. Beni nggak suka kamu yang kayak gini, Dek." Akhirnya aku tidak meronta lagi tapi bang Yuda tetap memelukku. Aku terus menangis seiring tubuh suamiku dikebumikan."Ben, jangan tinggalin aku.""Ibu." Aku tersentak begitu merasakan elusan lembut di bahuku. Aku menoleh ke belakang, mendapati Rudi yang menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Ibu kangen sama Ayah ya?""Harusnya ayahmu ada disini. Dia nemenin kamu pengajian malam ini sebelum besok melihatmu menikah dengan Diana," kataku tercekat. Malam ini adalah malam pengajian sebelum akad nikah anak semata wayang kami besok. Momen sakral seperti ini yang selalu membuatku mengingat Beni terlalu dalam walaupun sudah belasan tahun berlalu."Rudi juga kangen Ayah. Rudi juga pengen Ayah ada disini sekarang. Ngeliat Rudi nikah dengan Diana besok." Rudi ikut mengelus pigura foto yang menampilkan wajah tampan Beni disana. "Tapi Rudi tahu, Rudi harus ikhlas ngejalanin semua ini tanpa Ayah. Rudi tahu Ayah akan sangat sedih di atas sana jika melihat kita bersedih seperti ini."Rudi membawaku masuk ke dalam pelukannya. Tangisku kembali pecah dalam pelukan anakku. Pelukan Rudi mengingatkanku pada pelukan Beni. Hangat dan membuat nyaman."Ibu jangan sedih lagi. Kita udah janji bakal bahagia sama Ayah, walaupun nggak bakal sebahagia kalau ada Ayah disini. Rudi akan merasa sangat bersalah sama Ayah kalau biarin Ibu nangis terus. Rudi udah janji di makam Ayah akan selalu bahagiain Ibu."Ben, anak kita sekarang udah besar. Dia udah mau nikah. Dia juga udah tahu cara bagaimana cara menghiburku setiap kali aku sedih pas ingat kamu. Dia udah jadi sosok yang dewasa, Ben. Dia udah jadi sosok yang persis seperti kamu.Ben, aku kangen banget sama kamu. Belasan tahun tidak akan pernah bisa nyembuhin luka yang aku rasain karena kehilangan kamu. Belasan tahun tidak juga membuatku tidak menangis ketika mengingat kamu. Air mata ini selalu bebas meluncur ketika aku mengingat kamu.Ben, maafin aku yang nggak bisa nepatin banyak janjiku sama kamu. Maafin aku yang selalu nangis ketika ingat kamu. Maafin aku yang nggak bisa jadi orang yang kuat setelah kamu tinggalkan. Maafin aku yang sampai saat ini masih butuh kamu. Maafin aku, Ben.Ben, tunggu aku disana ya. Aku bakal nyusulin kamu disana. Meskipun tidak tahu kapan, aku bakal menemani kamu. Aku tahu kamu pasti kesepian tanpa aku. Aku tahu kamu juga rindu aku, persis seperti aku yang selalu rindu sama kamu.Beni, I love you so much .
Menyekap Rasa
Aku duduk pada sebuah sofa single pada ruang tamu yang cukup luas ini, dengan suguhan secangkir teh yang asapnya masih mengepul juga setoples kue kering yang sengaja di buat oleh ibunda dari orang yang ku cintai, Roki.Aku sudah disini terhitung sejak dua puluh menit yang lalu, tapi rasanya sudah seperti berabad-abad, pacarku tercinta itu sedang keluar sebentar mengantar berkas untuk ayahnya yang katanya tertinggal. Niat pacarku itu baik, ingin mengenalkan aku pada keluarganya dengan niat ingin serius padaku tentu saja aku senang tapi aku rasa aku yang terlalu memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.Oh ayolah, hubungan kami memang masih 9 bulan lamanya namun aku merasa sudah seperti bertahun-tahun dengannya. Sebenarnya aku juga sudah beberapa kali berkunjung kerumahnya. Namun suasana ini selalu saja ku benci.Bagaimana tidak benci jika ketika kamu berkunjung ke rumah calon mertua tapi ada perempuan beratas namakan mantan pacar kekasihmu ada disana?Bahkan ia sok asik sekali dengan calon mertuaku. Bolehkah aku marah? Ketika aku masih bertamu disini tapi mereka mengobrol dengan penuh keseruan canda tawa"Di minum tehnya, Tasya" ucap ibunda Roki dengan lembut.Bibirku yang telah ku poles dengan lipstik berwarna rose tersenyum sambil menjawab "Iya tante""Kuenya juga di makan, kemarin tante buat sama Caca itu" tambahnya lagi yang rasanya hatiku seperti di remas."Iya, Sya. Cobain deh enak." Caca selaku mantannya ikut menimpali dengan sok akrab.Aku hanya mampu tersenyum seraya mengangguk canggung berada disini. Padahal kesini juga aku membawa oleh-oleh buatanku bernama puding tapi langsung dimasukkan kulkas.Apakah kalian bisa membayangkannya?Aku selalu merasa sakit hati jika berada di posisi ini. Aku juga sudah mulai berlapang dada saat ini. Karena mungkin memang mereka sedekat itu, Caca adalah anak dari teman bundanya Roki.Bukan aku tidak pernah mengungkapkan isi hatiku mengenai mantan dan bundanya, tapi Roki selalu saja berhasil menenangkan hatiku dari kekalutan ini. Bahkan aku tidak tahu alasan mereka berpisah karena apa. Aku hanya meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.Sambil memandang mereka, aku mulai menyesap tehku yang mungkin sudah hampir dingin."Seru banget ceritanya" ucap Roki saat telah tiba di rumah langsung mengecup keningku, yang ku yakini terlihat Caca sedikit memalingkan wajahnya tak ingin menatap kami.Biarkan saja. Agar ia tahu, Roki mencintaiku. Boleh aku tertawa untuk sedikit menekan ketakutanku."Ini si Caca cerita kemarin dia ikut lomba masak lawannya ada yang salah gitu, mau masukin gula malah garam banyak pula." Jawab bundanyaRoki menatapku sekilas, kurasa ia mengerti perasaanku."Sudah mulai sore, Kita pulang saja ya. Biar bisa jalan-jalan bentar nanti." Ucap Roki padaku.Belum sempat ku buka mulut menjawab bundanya langsung berkata "Antar Caca sekalian ya, Ki.""Eh tidak usah. Aku pulang sendiri saja" jawab Caca"Sudahlah Caca ikut Roki saja, sekalian" sahut bundanya lagi"Tapi.." ucapan Roki terpotong"Bolehkan, Sya? Jika sekalian bareng sama Caca." Ucap bunda Roki padakuMemangnya aku memiliki jawaban apa lagi selain iya? Ku lihat juga Roki diam saja sambil menatapku. Dengan terpaksa aku menjawab "Iya boleh, tante"Lalu segera aku berpamit pada orang tuanya dan mulai berlalu.Roki membukakan pintu mobil untukku duduk di depan tapi dengan cepat Caca mendahuluiku dengan cepat di depan mengundang protes dari Roki."Kamu tahukan aku tidak suka duduk di belakang?" Ucap Caca"Baiklah, kamu menyetir biar aku di belakang sama Tasya" balas Roki tak mau kalah. Aku terlalu lelah jika menghadapi mereka yang selalu seperti ini jika sudah bersama."Tapikan aku..""Sudahlah, tidak apa-apa. Aku di belakang saja" ucapku mengalah, tidak ingin memperpanjang situasi. Lagipula kami hanya perlu mengantarkannya saja pulang setelah itu selesai.Saat di jalan, Caca selalu mengajak Roki berbincang yang di balas Roki hanya deheman atau bahkan diam saja. Ku lihat Roki melirikku dari kaca depan, tanpa kata aku hanya memalingkan wajahku ke arah samping jendela mobil."Sayang.." ucap Roki padaku dengan tatapan masih pada kacaDiluar dugaanku, Caca maupun aku, kami sama-sama menjawab "Iya" secara bersamaan. Aku berdecih, Caca langsung salah tingkah lalu berkata "Sorry.. aku lupa."Apakah itu jawaban?Ku lihat Roki memandangku dengan tatapan meminta maaf. Aku sudah tidak peduli.Usai dengan mengantar Caca kerumahnya, ia sempat menawarkan kami untuk singgah yang langsung di tolak oleh Roki. Syukurlah, karena jika ia mau, aku akan langsung pulang naik apk online warna hijau itu.Jangan berharap ada drama, begitu Caca turun akupun langsung pindah ke depan disamping pengemudi."Maaf yaa" ucap Roki padaku yang hanya ku balas deheman, memangnya aku harus jawab apa lagi"Kamu tahukan..""Iya aku tahu, Caca sudah seperti anak bundamu, bukan? Atau juga seperti saudari untukmu" ku potong ucapannya dengan kalimat yang selalu ia katakan padaku."Sayang, kita makan di tempat lamongan yang pernah kamu tunjukin itu ya. Aku suka, sambalnya mantap sekali"Ya aku tahu ia tidak ingin memperpanjangnya sehingga ia mengalihkan pembicaraan. Ku tarik nafas untuk menetralisir emosiku.Kami memesan makanan, sesekali ia menyuapiku. Aku mengunyah makanan sambil memperhatikan wajahnya, sungguh aku mencintainya. Tak ada sedikitpun meragukan cintanya tapi kedatangan masa lalunya yang berturut-turut dalam hidupku yang menekanku untuk meragukan dia.Aku ingat kala pertemuan awal dengannya, saat itu kami bertemu di toserba mengantri untuk membayar belanjaan tapi aku lupa membawa dompet, lebih tepatnya tertinggal di mobil mungkin karena usai membayar bensin sehingga lupa memasukkan kembali di tas. Sungguh memalukan, jumlah yang ku beli juga sekitar dua ratusan ribu.Aku membalikkan badan, Roki yang di belakangku tersenyum lalu langsung membayarkan tagihanku."Sekalian sama yang ini, mbak" ucapnyaSuaranya yang maskulin juga aroma parfum menyeruak di hatiku membuatku terpesona. Usai membayar aku menunggunya dan berjalan keluar bersama."Terima kasih. Sebentar aku ambil uang dulu" ucapkuTapi ia langsung dengan cepat menggeleng dan mengatakan "Kamu boleh membayarnya lain kali ketika kita bertemu lagi"Aku mengerutkan keningku, kenapa harus bertemu lagi bukan? Ayolah kami tidak saling mengenal.Ia menaikkan tangannya "Aku Roki"Aku tersenyum membalasnya "Tasya"Ia memberikan ponselnya, "Tuliskan nomor ponselmu aku akan menghubungimu untuk tagihan itu"Aku tertawa sebelum menjawab "Kamu perayu ulung ternyata" tapi juga ku tuliskan nomorku disana.Ia balas tertawa dan mengatakan "Aku akan menghubungimu nanti" ucapnya yang ku angguki dan aku masuk ke dalam mobilku.Selang beberapa waktu tepatnya dua bulan kemudian dia menelponku untuk bertemu di suatu kafe, waktu yang cukup lama membuatku hampir lupa.Bahkan ku tebak pertemuan kami saat itu, ketika ia sedang patah hati. Ia tidak mengatakan dengan jelas alasannya dan akupun juga tak ingin tahu. Namun dari sinilah kami mulai dekat hingga akhirnya menjalin hubungan.Tunggu, apakah aku hanya pelarian?Uhukk.. uhukk..Aku tersedak akibat pikiranku, dengan cekatan dia mengambilkan minum untukku juga menepuk pelan punggungku sambil mengatakan "Sudah enakan?" Yang ku balas anggukan juga senyuman kecil.Seusai makan kami berkeliling kota sebentar, tangannya tak lepas dari menggenggam tanganku.Setelah itu ia mengantarkanku pulang, sebelum turun dari mobil ia menahanku dan berkata "Ku mohon bersabarlah.. Aku akan selalu menjaga jarak padanya. Kamu harus percaya bahwa aku mencintaimu, sangat." Ucapnya padaku.Aku tersenyum, dia menarikku ke dalam pelukannya juga mengusap pelan punggungku. Menenangkanku.Setelah itu aku turun, ia juga turun untuk pamit pada bundaku di dalam sebelum pulang."Roki" panggilku sebelum ia beranjak masuk mobilIa membalikkan badannya menatapku penuh tanya "Boleh aku tahu kenapa kalian berpisah?"Ia mengerutkan keningnya penuh tanya. "Aku sudah pernah mengatakan alasannya, bukan?""Tidak cocok?" Aku menghela nafas "Bagaimana jika suatu saat kita tidak cocok? Kamu akan melepaskanku juga bukan"Ia menggeleng cepat "Sayang, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku pamit pulang dulu" balasnya lalu mengecup keningku pergi dengan rasa bingungku.Selalu begini. Tidak tahu bagaimana ujungnya, rasanya hubunganku dengan Roki masih berjalan di tempat.---Jam telah menunjukkan angka 4 artinya aku bisa pulang setelah hampir seharian bekerja apalagi tidak ada kerjaan tambahan. Renal selaku teman kantor sekaligus teman yang baik untukku sedari aku kecil mengajakku pulang bersama.Tentu saja aku tidak menolak, aku tidak menolak karena tadi pagi aku ke kantor di antar Roki sehingga tidak membawa kendaraan juga rumah kami yang searah.Begitu aku masuk ke dalam mobilnya, Renal mulai menjalankannya perlahan."Makan dulu ya, Sya. Laper juga ni biar sampai rumah bisa langsung tidur""Boleh deh. Kamu gak bareng Ani btw"Dia tertawa singkat "Kamu ngejek aku kan. Si Ani aja yang GR cuma di tolongin bayar tagihan di toserba karena dia lupa bawa dompet"Aku tertawa singkat karena mengingatkanku kisahku dengan Roki."Halah.. kemarin juga pulang bareng" balaskuDia makin tertawa keras "Dia ngekorin mulu, Sya. Kasian"Dan ku balas tawa, Renal sudah sangat dekat dengannku. Jangan salah paham, kami hanya berteman yang kebetulan kami satu kantor juga."Nah kita makan disitu ya. Lagi Hits ini tempat. Biar cuma kaki lima tapi kualitas bintang lima" ucapnya yang membuatku tertawa"Sudah kayak sales kamu, Ren"Kamipun turun, ia memesankan makanan disini. Aku bahkan tidak boleh mengucapkan pesananku karena dia berkata aku tidak akan menyesal menikmati menu dia. Aku hanya mengucapkan minuman es teh manis sebagai pelengkap.Tempat makan disini memang menarik, stand kaki lima berjejeran namun pemandangannya begitu asri karena terdapat taman-taman.Pesananpun datang kami mulai menikmatinya perlahan. Mataku berbinar kala makanan yang berbahan dasar udang ini masuk ke dalam mulutku."Makasih Renal. Seriusan ini enak" ucapku tulus"Benarkan?" Ucapnya yang langsung ku angguki semangat."Hubungan kamu sama Roki gimana?" Tanya RenalAku menghendikan bahu tidak tahu, kami memang masih tetap berkomunikasi tapi aku tidak tahu jika kedepannya bagaimana."Ayo.. kamu harus coba ini tau."Tiba-tiba suara yang tak asing membuatku menoleh, terlihat disana ada Caca. Aku tidak peduli jika itu hanya Caca, tapi ia juga bersama dengan Roki.Kami saling menatap, Roki langsung menghampiriku dengan sekilas mengecup keningku. Tentu saja Roki sudah mengenal Renal sehingga tak perlu ada drama berlebihan."Kenapa disini?" Tanyanya padaku setelah mendudukkan diri disampingku juga diikuti Caca di depanku bersebelahan dengan Renal"Harusnya aku yang bertanya" tukasku karena tadi ia mengatakan tidak bisa menjemputku karena ada urusan."Bunda menyuruh Roki mengantarkanku, Sya. Lalu aku mengajak Roki singgah sebentar kesini" bukan Roki, tapi Caca yang menjawab.Aku cukup menganggukkan kepalaku tanda aku sudah paham. Artinya, urusannya adalah mengantar Caca.Ku suapkan Roki dengan potongan udang, aku tahu Roki belum pernah kesini, pesanan pilihan Renal memang terbaik. Namun saat Roki membuka mulutnya untuk menerima suapanku, tanganku langsung dipukul menjauh oleh Caca sehingga suapan tersebut terlempar jatuh ke bawah."Kamu gila ya, Sya! Roki alergi udang. Dia bisa mati karena sulit bernafas. Kamukan pacarnya, itu saja tidak tahu. Harusnya aku tidak pernah melepaskan Roki untukmu!" Teriak Caca padakuDia bilang apa? Tidak akan melepaskan Roki untukku.Aku tidak salah dengarkan? Oh aku syok sekali.Ku lihat, Caca meneliti kondisi Roki kemudian kembali menatapku dengan sorot mata yang benar-benar tidak bersahabat."Ca..""Diam kamu!" Potong Caca pada ucapan Roki"Kamu tahu tidak? Roki itu pernah hampir mati karena udang. Sepertinya kamu bukan perempuan baik ya betapa tidak pedulinya kamu terhadap Roki. Itu yang kamu sebut dengan cinta?" Ucapnya padakuHah.. Dia sungguh keterlaluan.Dengan segera aku meminum es teh manisku berharap dapat mendinginkan pikiran juga hatiku.Aku berdecih sebelum menjawab "Sungguh mantan yang menyedihkan! Dulu Roki memang alergi tapi berkatku ia jadi tidak alergi lagi terhadap udang.""Sayang, maaf ya""Dan lagi, jangan melepaskan Roki jika kamu masih mencintainya" ucapku pada Caca tanpa menghiraukan Roki.Lalu aku menatap Roki dengan serius "Roki, sepertinya aku gak bisa lanjutin hubungan kita kalau kamu masih terjebak masa lalu kamu" Sudah cukup sudah, aku lelah."Ha? Yang, kamu becandakan? Gak. Aku gak mau""Renal, kamu uda selesaikan? Ayo. Aku tunggu di mobil"Renal dengan cepat bangkit sebelum meminum es teh manisnya juga dengan cepat "Yauda aku bayar dulu" ucap pria itu kemudian.Aku berjalan dengan cepat, kenapa rasanya sakit sekali Tuhan?Apa begini rasanya jika berhubungan dengan orang yang belum move on dari masa lalunya."Sayang, ku mohon.. Jangan tinggalkan aku" tiba-tiba Roki sudah di sampingku sambil menarik tanganku"Aku lelah, Roki. Aku sudah gak bisa sama kamu lagi, kamu bahkan belum move on dari masa lalu kamu""Kamu salah, Sayang. Aku cintanya sama kamu. Aku sudah move on dari masa lalu"Aku menatapnya lamat "Roki, apakah aku cuma pelarianmu?" Tanyaku yang kini sudah penasaran akan hubungannya dengan mantannya."Demi Tuhan, sayang. Aku tidak pernah melakukan itu padamu. Tolong jangan tinggalkan aku""Jika begitu, nikahi aku" balasku dengan ide gila. Lagipula apa yang harus ditunggu bukan? Usia kami sudah dewasa juga kami yang saling mencintai.Ia terdiam sejenak, "Sayang, aku sudah pernah mengatakannya, aku belum siap untuk ini. Masih ada beberapa yang harus ku selesaikan. Kamu tahukan?"Ya aku tahu jelas, ia ingin aku menunggunya tapi ini semua mengusikku. Katakan saja, ia mencintaiku? Namun bagaimana jika waktulah yang menghianatiku.Aku menggeleng "Lebih baik kamu selesaikan dulu dengannya. Aku juga harus berpikir untuk ini. Untuk kebaikan kita bersama" ucapku lalu memasuki mobil Renal.Renal segera menyusul masuk ke kursi kemudi. Ia diam tak mengatakan apapun.Dari kaca spion mobil Renal aku melihat Caca menghampiri Roki memegang lengannya yang disentak keras oleh Roki.Tapi aku jadi tidak enak dengan Renal, pasti Renal masih lapar."Maaf ya karena aku jadi udahan makannya. Pasti gak kenyang"Renal mengusap kepalaku lembut "Tidak apa, aku ngerti kok.""Lain kali kita kesana lagi ya"Renal hanya mengangguk sambil tersenyum, jeda beberapa saat ia mengatakan "Sya, apa kamu bahagia dengan Roki?"Aku menatapnya, pandangannya hanya lurus pada jalanan."Sebenarnya aku bahagia tapi masa lalunya yang membuatku bimbang" jawabku jujurRenal memegang sebelah tanganku "Kalau kamu tidak bahagia, bilang aku ya" jawab Roki yang ku dengan ambigu di telingaAku tak menjawab hanya sekedar membalas genggaman tangannya, ia cukup menguatkanku.Begitu sampai di rumah, Renal menarikku ke pelukannya aku bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba. Apa dia sedang patah hati?"Kamu kenapa, Ren?" Tanyaku"Biarin gini dulu. Sebentar saja"Kemudian ia melepaskan pelukannya, dan menatap lekat mataku "Sya, kamu sayang tidak denganku?"Aku tertawa "Kamu ngaco banget deh. Ya sayanglah. Kamu sudah ada dari dulu nemenin aku sampe sekarang cuma kamu yang tinggal disisiku"Ia mengangguk "Aku tahu mungkin ini waktu yang tidak tepat. Tapi aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya, aku suka sama kamu, Sya. Bukan sekedar suka karena sahabat atau apapun tapi cinta."Aku terdiam, kejutan apalagi ini Tuhan?"Sejak kapan?" Hanya itu kalimat yang muncul di kepalaku"Sejak dulu. Tapi lebih tepatnya aku yakin sejak SMA"Aku memijit keningku, tidak percaya atas pernyataannya padaku "Kenapa kamu tidak pernah mengatakan itu, Ren?"Aku menghela nafas "Kamu bahkan dengan sabar selalu dengerin curhatanku tentang mantanku" tambahku"Aku terlalu takut kamu menolak dan menjauhiku, Sya.""Ren, aku.."Ia mengangguk "Aku ngerti, Sya. Ini bukan waktu yang tepat tapi ku mohon coba pikirkan. Kita sudah lama mengenal. Aku juga ingin langsung melamarmu nanti, jika kamu ingin"Aku menggigit bibirku, dia dengan cepat mengecup sudut bibirku membuatku terkejut."Baiklah, Ren. Beri aku waktu. Apapun keputusanku nanti semoga kamu bisa menghargainya ya" tutupku lalu keluar dari mobilnyaSebenarnya aku bingung, masalahku dengan Rokipun belum usai tapi Renal sudah mendesakku untuk urusan perasaannya padaku. Jujur, dulu aku menyukainya hanya ku kira ia menyukai wanita lain saat itu.---Beberapa hari ini Roki tak hentinya menghubungiku, aku berusaha menghindarinya bahkan saat ia mencoba untuk menemuiku di kantor.Ku suapkan sesendok es krim ke mulutku, sensasi dingin dengan rasa coklat mengisi mulut juga tenggorokan.Kira-kira Roki sedang apa ya? Apakah ia bersama Caca"Sya.. Oh Tasya" ucap seorang disebelahku sambil mengibaskan tangannya "Ngelamun" tambahnya"Eh, maaf, Ren. Aku tidak dengar. Apa tadi?" TanyakuAku bahkan melupakan keberadaanku saat ini, tadi sepulang kantor Renal memang mengajakku untuk berjalan-jalan. Setidaknya aku bisa berpikir jernih katanya.Aku menatap Renal, aku memang menyayanginya tapi untuk mencintainya, aku juga tidak tahu.Aku berdiri ketika melihat Roki dengan Caca berjalan di mall yang sama denganku. Ku lihat langkah Roki malas-malasan dengan Caca yang semangat bercerita.Aku tertawa miris dalam hati."Sya.." tegur Renal di sampingku sambil memegang tanganku" Sorry , Ren. Bisa kita pulang?" Meski ia terdiam sejenak, ia tetap menganggukiKami berjalan ke area parkir, saat memasuki mobil tanganku di cekal "Kita perlu bicara, Sya."Aku menatap terlihat Roki yang menatapku penuh harap, di belakangnya ada Caca yang berdiri mematung menatap kami.Ku alihkan tatapanku ke arah Renal, tampak ia memandangku lalu menganggukkan kepalanya "Aku tunggu di mobil ya"Saat aku ingin menjawab namun suara Caca lebih dahulu terdengar "Roki, ayo cepat kita harus mencari cincin pertunangan kita."Aku menatapnya tidak percaya, inikah akhirnya?Ia menggeleng padaku "Sya, Kamu tahukan kalau aku menya..""Jadi kamu ingin bertunangan dengan Caca?" Potongku"Sya, maaf. Semua keinginan orang tuaku. Tapi sungguh aku benar-benar mencintaimu.""Selama ini aku juga bingung, semua terasa salah dan sesak. Aku gak mungkin melawan bundaku. Tapi aku juga gak bisa tegas, itu sebabnya aku memintamu menungguku, Sya. Tapi tetap saja." tambahnya"Ki, aku juga gak mungkin bilang batalin kalau itu permintaan bunda kamu. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita berdua""Aku sudah dewasa, aku juga ingin menentukan pilihanku. Dan itu kamu."Aku menganggukkan kepalaku, benar memang "Roki, kamu sudah dewasa harusnya bisa menentukan pilihan untuk masa depanmu. Aku tahu, kamu harus patuh sama orang tuamu. Aku mengerti" Tak terasa air mataku menetes yang kuusap secara kasar "Harusnya dari dulu aku sadar jika hubungan ini gak akan berhasil."Roki memeluk tubuhku sambil mengusap kepalaku "Maafin aku, Sya. Aku salah. Maafin aku yang gak bisa tegas. Aku sayang kamu tapi aku juga gak bisa bilang tidak sama bunda"Aku menarik diri tertawa miris meski air mata masih perlahan mengalir "Pantas saja jika selalu menyinggung pernikahan kamu selalu mengalihkannya. Tidak sia-sia kita tidak berkomunikasi ya."Ia memegang tanganku, kemudian aku mengangguk, "Tidak apa. Jangan merasa bersalah. Aku melepaskanmu Roki."Lalu aku mendekat pada Caca yang masih melihat kami, "Maaf selama ini menjadi penghalang untuk kalian. Aku tahu, kamu sangat menyayanginya. Kapan pertunangannya?" Tanyaku"Minggu depan"Ku ulurkan tanganku padanya "Selamat atas pertunangan kalian."Ia menatap sejenak tapi juga menyambutnya, "Terima kasih, Tasya."Aku memasuki mobil Renal masih menahan tangis dan Renalpun langsung menjalankan mobilnya. Mendengarku yang mulai sesenggukan ia menghentikan mobilnya, menarikku ke dalam dekapannya.Aku menangis sejadi-jadinya, aku pikir aku bisa dan aku kuat tapi kenapa ini terlalu menyakitkan?Kurasakan tepukan pelan di bahuku "Tidak apa, menangislah. Besok semua akan berlalu"Usai drama tangisku, kami langsung kembali. Aku masih diam saja begitupun Renal hingga tiba di rumah.Renal ikut turun dari mobil mengantarkanku sampai depan pintu, aku menahan tangannya saat ia hendak kembali memasuki mobilnya"Renal, aku sudah memikirkannya. Maaf aku tidak bisa menerimamu, mungkin saat ini atau entah sampai kapan. Maafkan aku, aku tidak ingin kamu merasa menjadi pelarianku atau apapun itu, aku hanya ingin menenangkan diriku setidaknya untuk saat ini""Sya.."Aku menggeleng memotong ucapannya "Ku harap sampai kapanpun kita masih bisa berteman sama seperti ini. Tolong maafin aku" ucapku dengan memohon"Sya, aku ngerti kok. Aku juga berpikir untuk tidak tiba-tiba menjalani hubungan kita. Kamu bisa memulihkan hatimu dulu, melihat kalian tadi, aku merasa kalian teramat saling mencintai"Aku tidak tahu ingin berkata apa lagi, tapi terima kasih Tuhan telah mempertemukan aku dengan Renal."Terima kasih, Renal" ia mengangguk dan mengelus kepalaku dan pergi meninggalkanku dengan kesunyian ini.Ya beginilah akhirnya mungkin, tidak tahu kedepannya apa. Dan mungkin begini lebih baik. Aku memang sangat mencintai Roki tapi juga menyayangi Renal.Atau bisa saja Roki meninggalkan Caca dan kembali padaku atau bisa saja Renal memang jodohku. Biarlah, untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan apapun.Yang aku tahu kita semua berhak bahagia, meski itu akan tiba waktunya.Terima kasih, Roki sudah hadir dihidupku semoga kita bisa bersama dikehidupan selanjutnya.Terima kasih, Renal. Semoga kamu mendapat wanita yang lebih baik dariku.End