Temukan Cerita Inspiratif

Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.

Total Cerita

830

Genre Romance

166

Genre Folklore

166

Genre Horror

166

Genre Fantasy

166

Genre Teen

166

Reset
Wanita Bercadar Milik Seorang CEO
Romance
12 Jan 2026

Wanita Bercadar Milik Seorang CEO

'Azura Arsyila' nama seorang gadis yang akan Abyan halalkan hari iniSesungguhnya perjalanan Abyan tidak lah mudah ia akan menikah dengan seorang gadis bercadar yang bahkan tidak pernah ia kenal sama sekaliAbyan menikahi gadis itu bukan karena rasa cinta melainkan karena tali perjodohan, beberapa menit lagi ijab kabul akan di laksanakanTetapi Abyan belum melihat calon istrinya sama sekaliTapi beberapa menit kemudian Abyan melihat ada seorang perempuan bercadar turun dari tangga dan di dampingi oleh dua seorang perempuan"Apa itu calon istri ku??" Tanya Abyan dalam hati"Baik sudah bisa kita mulai acara ijab Kabul nya" ucap penghulu tersebutTangan Malik (Abi Azura) sudah berjabatan dengan tangan AbyanKeringat Abyan mulai bercucuran kemana-mana rasanya sangat gugup sekali"Saudara Abyan Athala bin bapak Iqbal Ady Pratama. Saya nikahkan dan saya kawin kan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Azura Arsyila, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat serta uang sebesar 1 Miliyar di bayar tunai!" Ucap MalikAbyan mengambil nafas panjang terlebih dahulu setelah itu ia mengucapkan nya"Saya terima nikah dan kawinnya Azura Arsyila, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" Ucap Abyan dengan suara yang lantang dan tegasSetelah semua para tamu mengucapkan kata 'SAH' tanggung jawab Abyan sudah bertambah sekarang ia tidak hanya mengurus perusahaan besar tapi ia akan mengurus gadis bercadar yang sekarang sudah 'SAH' menjadi istri nyaDari kejauhan Azura melihat sambil Menangis terharuAzura mendekat di sebelah Abyan"Zura cium tangan Abyan" bisik fayda (Umma Azura) di telinga azuraTangan Azura ingin meraih tangan Abyan tetapi Azura menarik nya lagi rasa nya gugup untuk berpegangan tangan dengan lawan jenisTapi pada akhirnya Azura meraih tangan Abyan Azura mencium punggung tangan AbyanDan Abyan yang mencium kening Azura jantung Abyan dan Azura kini berdegup sangat cepatSetelah menandatangani surat-surat dan melayani para tamu yang datang akhirnya Azura dan Abyan beristirahat"Abyan kamu yakin nggak tidur di sini dulu?" Tanya Sonia (bunda Abyan)"Ya sudah Bun Abyan tidur sini" jawab Abyan"Nah gitu dong kamu dari tadi bimbang banget jawab nya" balas Sonia senang melihat menantu nya akan tidur sini"Azura sini sayang" ucap Sonia kepada Azura"Iya ada apa Bun?" Tanya Azura"Gak papa bunda cuma pengen meluk kamu aja kok, sebenarnya bunda pas hamil Abyan pengen punya anak perempuan eh pas sudah lahir malah laki-laki jadi bunda senang banget punya mantu kaya kamu" cerita Sonia"Oh ya kalian harus progam hamil ya bunda pengen cepet-cepet punya cucu" ucap Sonia tanpa beban Abyan yang sedang minum kaget mendengar ucapan bunda nya"Nggak bisa Bun, kan zura masih muda bisa di tunda dulu hamil nya" jawab Abyan"Kok di tunda sih byan? Azura kan sudah umur 23 tahun jadi gak papa hamil lagian kalian juga sudah nikah" balas Sonia marah, ia pengen segera punya cucu eh Abyan malah mau nundaCukup lama Sonia bertengkar dengan Abyan mungkin sekitar 20 menit"Udah Bun sabar, Abyan bawa zura ke kamar pasti dia capek" Iqbal berusaha untuk menenangkan SoniaAbyan melirik ke sebelah nya ternyata Azura tertidur Dengan sangat pulasSecara perlahan Abyan menggendong Azura ala bridal style, Abyan membawa Azura ke kamar"Maaf aku belum bisa jadi suami yang baik buat kamu Ra" ucap Abyan saat sudah menaruh Azura di ranjangEntah dapat dorongan dari mana Abyan mencium kening AzuraCup" Selamat tidur" kata Abyan dan sehabis itu meninggalkan Azura untuk mengerjakan dokumen-dokumen yang belum ia periksaSekitar 2 jam lebih Abyan memeriksa dokumen tersebut tapi rasa kantuk belum menyerang"Uhuk" Azura terbatuk-batuk sehingga membuat diri nya terbangunSetelah mengambil minum di nakas Azura melihat Abyan sedang duduk sambil memangku laptop dan banyak kertas-kertas berhamburan kemana-mana"Loh mas kok belum tidur?" Tanya Azura"Sedang memeriksa dokumen" jawab Abyan dingin"Aku buatin kopi mau?" Tawar Azura terhadap Abyan"Nggak usah, kamu tidur aja lagi" Abyan tidak menyukai kopi makanya ia tak ingin Azura membuatkan nya kopi"Tapi aku sudah nggak bisa tidur lagi" jawab Azura, sebenarnya Azura masih bisa tidur lagi tapi ia tidak enak kepada Abyan yang masih mengecek dokumen"Ini masih jam 11 malam tidur aja lagi" ucap Abyan lagi"Aku belum ngantuk" lagi dan lagi jawaban Azura samaAbyan menghela nafas, ia tau Azura ini tidak enak jika meninggalkan nya tidur karena waktu itu Umma Azura memberi tahu kepada Abyan kalo Azura orangnya nggak enakanSekarang Abyan sudah berada di ranjang entah kenapa jantung Abyan dan Azura berdegup sangat kencang sekali"Kamu mau ngapain? Sendiri malam-malam kaya gini? Saya mau tidur cepat sini tidur" ucap Abyan sedikit canggungAzura langsung menurut ia tidur di sebelah Abyan tapi dengan jarak sedikit jauh"Ya Allah jantung Azura kenapa sih, jadi gini rasanya tidur satu ranjang bareng suami" ucap Azura dalam hatiJika begini Azura tidak akan bisa tidur beneran, Azura sudah berusaha memejamkan mata nya agar tertidur tapi tidak bisa"Mas Azura mau ke kamar mandi dulu ya" sangking gugup nya Azura sampai ingin kencing bah kan ia tak menyadari jika diri nya mau kencing izin dulu dengan AbyanTetapi Abyan tidak menjawab ntah Abyan yang sudah tertidur atau memang Abyan tidak ingin menjawabSetelah Azura selesai kencing ia melihat Abyan sudah tertidur dengan sangat pulas"Pasti capek yah" ucap Azura saat melihat suaminya tertidur dengan sangat pulasAzura ikut berbaring di ranjang dan perlahan tertidur jugaSekarang sudah menunjukkan pukul jam 3 malam Azura terbangun untuk melakukan sholat tahajudSaat Azura terbangun cukup kaget melihat ada seorang lelaki di samping nya, 'astagfirullah Azura lupa kalo Azura sudah nikah' ucap nya dalam hati saat sadar lelaki itu adalah suami nyaSetelah melakukan sholat tahajud Azura tak lupa untuk membaca Al-Qur'anBeberapa jam kemudian adzan subuh berkumandang, Azura menaruh Al-Qur'an di dalam lemari dan berjalan ke arah ranjang untuk membangun kan Abyan"Mas bangun sholat subuh" ucap Azura dengan sangat lembut"Iya" jawab Abyan dengan nada yang serakAbyan sebenarnya sudah bangun dari tadi tapi ia pura-pura tidur lagiAzura sudah mengambil wudhu terlebih dahulu setelah itu Abyan juga menyusul mengambil wudhuAzura sedang mempersiapkan alat sholat dan Abyan sudah keluar dari kamar mandi"Mau aku imamin?" Tanya Abyan dengan gugup karena saat ini Azura tidak memakai cadar nya" Istri siapa sih ini cantik bener" kata Abyan dalam hati"Mau" balas Azura senang, jantung Azura selalu berdegup sangat kencang jika berdekatan dengan AbyanSetelah selesai sholat Azura mencium tangan Abyan dan Abyan mencium kening Azura" Yaallah kenapa jantung Azura berdegup nya kencang banget" ucap Azura dalam hatiYang merasakan hal itu tidak Azura saja Abyan juga merasakan itu jantung mereka sekarang sedang tidak baik-baik saja"Em zura mau kebawah dulu mas bantu bunda masak" ucap Azura canggung"O-oh ya sudah kalo begitu" balas Abyan dengan nada yang patah-patahAzura langsung turun kebawah dan menetralkan jantung nya terlebih dahulu"Loh bi bunda mana?" Tanya Azura kepada bi inem"Ibu belum kedapur non masih di kamar" balas bi inem dengan senyum ramah"Oooo, bi jangan panggil Azura non ya panggil aja zura atau apa senyaman bibi aja tapi jangan panggil non" ucap Azura merasa tidak nyaman jika di panggil seperti itu"Ehh iya non eh maksudnya neng" balas bi inemBi inem juga tidak enak jika memanggil Azura dengan sebutan zura jadi ia memanggil Azura dengan sebutan nengAzura hanya menanggapi dengan anggukan saja sekarang Azura sedang membuka kulkas untuk mencari bahan apa yang akan ia masak hari ini"Biar saya aja bi yang masak, bibi duduk aja dulu" Ucap Azura saat sudah mendapatkan bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk memasak"Eh nggak usah neng biar bibi bantu" kata bi inem"Ya sudah deh, bi inem bantu kupasin bawang aja" Azura hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat bi inem tidak ingin duduk saja"Loh zura kok kamu yang masak sayang?" Tanya Sonia heran melihat menantu nya sudah stand Stan by di dapurAzura menoleh kebelakang ternyata itu suara mertua nya"Eh bunda, gak papa bun biar zura aja yang masak kalo zura bisa kenapa harus orang lain yang masak bunda duduk aja ya" balas Azura"Ya sudah deh, bunda penasaran sama masakan menantu kesayangan bunda" Ucap Sonia tidak sabar merasakan masakan menantu nyaSetelah 1 jam akhirnya semua masakan yang Azura masak sudah selesai"Azura panggil Abyan untuk sarapan ya" kata Sonia Azura mengangguk dan beranjak untuk memanggil AbyanSedangkan Sonia ia juga memanggil suaminya yang masih berada dalam kamar"Mas sarapan dulu" ucap Azura kepada AbyanRespon Abyan hanya menoleh dan menganggukkan kepala nya sebagai jawabanAzura turun ke bawah dan Abyan yang mengekor di belakang"Abyan cepat sini!! Coba kamu lihat enak-enak semua nih makanan nya bunda sudah nggak sabar deh buat makan" ucap Sonia saat melihat anak nya baru menuruni tangga"Eh bi inem mau kemana? Sini makan bareng nggak usah malu biasanya juga bareng" kata Sonia saat melihat bi inem menjauh"Eh iya Bu" balas bi inem sedikit canggung"Mau yang mana mas? Biar Azura Ambil kan" tawar Azura kepada abyan"Ayam rica-rica aja" balas Abyan•~~~~•"Hati-hati ya di jalan, sering kesini ya Ra" ucap Sonia dengan sedih melihat anak dan menantunya akan pergi"Insyaallah Bun kalo Azura waktu nya luang main ke sini" balas Azura dengan senyuman di balik cadar nya"Ya sudah kalo gitu Abyan sama Azura mau berangkat, assalamualaikum"Azura dan abyan Salim kepada Iqbal dan Sonia"Iya hati-hati di jalan, jaga istri kamu baik-baik" ucap Iqbal kepada anak nya"Iya yah" balas AbyanAbyan dan Azura hanya diam saat diperjalanan tak ada satupun yang mengeluarkan perkataanJarak dari rumah Iqbal ke rumah Abyan cukup jauh memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke rumah AbyanSaat sudah sampai di rumah Abyan Azura cukup kagum melihat rumah Abyan ini sangat besar"Kenapa beli rumah nya besar betul mas?" Tanya Azura kepada Abyan"Biar nanti kalo sudah punya anak nggak beli rumah lagi" ucap abyan setelah itu ia langsung pergi membawa koper milik AzuraAzura yang mendengar perkataan abyan cukup salah tingkah, anak?? Apa kah abyan ingin memiliki anak dari rahim AzuraTak terasa waktu terlalu cepat berlalu Azura sedang di rumah sendiri dan hanya bermain bersama kucing liar yang datang ke rumah nya eh rumah nya tapi kan rumah suami rumah istri jugadi mana Abyan mengapa Azura sendiri di rumah? Abyan sedang mengadakan meeting di perusahaan nya jadi harus meninggalkan Azura sendiri"Ya Allah kok zura sudah lapar lagi ya?" Tanya Azura"Hem kira-kira masak apa untuk makan malam nanti" ucap Azura sedang berpikir masak apa ia untuk makan malam nantiAzura melihat kucing liar yang tadi ia ambil tertidur di pangkuan nya dengan perlahan Azura memindahkan kucing tersebut ke sofaAzura berjalan kedapur untuk melihat bahan-bahan apa saja yang ada di kulkas agar bisa di olah menjadi makanan'cuma kangkung sama tempe' ucap Azura dalam hatiBagi yang bertanya di mana pembantu nya?? Azura tidak ingin ada pembantu jika diri nya sendiri bisa melakukan pekerjaan tersebutSelama beberapa menit Azura memasak kangkung dan tempe akhirnya selesai makanan nya tidak istimewa tapi Azura yakin abyan akan menyukai masakan nya"Kok lama banget mas abyan pulang"gumam nya melihat jam yang berada di dapur sudah menunjukkan pukul setengah delapanKucing liar yang tadi menghampiri nya entah kemana saat dia balik ke ruang tamu kucing tersebut sudah hilangSampai adzan isya berkumandang Abyan belum juga pulang, Azura segera ke kamar untuk melaksanakan sholat isya setelah itu ia turun lagi ke bawah menunggu Abyan"Huaaaaah" Azura sudah merasa mata nya mulai berat rasa lapar yang tadi menyerang nya sekarang sudah hilang dan tergantikan dengan rasa kantukTak sadar Azura tertidur di ruang tamu abyan pulang pada jam sepuluh malam"Assalamualaikum" ucap abyan saat memasuki rumah nyaSunyi tidak ada yang membalas salam nya saat dia melewati ruang tamu abyan melihat ada seseorang yang sedang tidurPerlahan abyan menggendong Azura tanpa sadar Azura memeluk abyan dengan kuat, Abyan hanya melotot kaget melihat Azura memeluk nyaAbyan hanya berharap Azura tidak terbangun karena suara jantung nya yang sedang berdegup sangat kencang•~~~~•"Mas" ucap Azura terhadap abyan"Iya kenapa?"balas Abyan"Coba kamu liat deh masa ada yang baca tapi nggak vote, jahat banget mereka" ujar Azura"Kok bisa sih mereka nggak vote" ucap abyan heran"Nggak tau tuh, coba marahin mereka biar vote cerita nya" kata Azura sambil tertawa kecil"Heh cepat pencet vote nya, kalo nggak aku bunuh kamu" ancam abyan terhadap Readers"Ihhh jangan galak-galak" ucap Azura"Maaf" cicit abyanSetelah memindahkan Azura ke kamar abyan merasa badan nya lengket dan bau tak ambil pusing abyan segera mandiAbyan menghela nafas panjang saat melihat tumpukan kertas"Perasaan ni pekerjaan kantor nggak ada selesai nya selalu aja numpuk" ujar Abyan pusing melihat pekerjaan kantor yang tak ada habis nya perasaan kemarin ia sudah menyelesaikan tapi kenapa sekarang numpuk lagi??Dari pada pekerjaan nya numpuk lagi abyan segera mengecek dokumen tersebut•~~~~•Malam menjelang pagi Azura bangun untuk melaksanakan sholat tahajud tapi ia merasakan kalau badan nya panasTak menghiraukan badannya yang sedang panas Azura buru-buru mengambil wudhu dan melaksanakan kewajiban nyaTak lama Azura selesai sholat Azura mendengar suara alarm dan tak lama juga abyan terbangun"Loh mas kenapa bangun nya cepat banget?" Tanya Azura heran melihat abyan memasang alarm jam seginiWalaupun Abyan baru bangun tidur dan hanya bisa melihat istrinya secara remang-remang karena keadaan lampu di matikanTetapi abyan melihat Azura sangat cantik ia bersyukur Azura memakai cadar dan hanya diri nya yang bisa melihat kecantikan istri nya lelaki lain tidak bisa kecuali Abi nya azura"Mas?" Tanya Azura karena Abyan tidak merespon pertanyaan nya dan malah bengong"Eh iya kenapa?" Ucap abyan yang mulai sadar"Kenapa bangun cepat banget? Nggak kaya biasanya" ucap Azura"Hari ini ada meeting lagi tapi di luar kota jadi saya harus berangkat pagi biar tidak terlambat" jelas abyan"Oo terus pulang jam berapa nanti?" Tanya Azura lagi, baru saja menikah ia sudah di tinggal pergi terus tapi nggak apa-apa Abyan juga pergi bukan untuk berfoya-foyaAbyan pergi kerja hanya untuk mencari uang dan uang itu untuk menafkahi nya serta untuk masa depan rumah tangga mereka berdua"Belum tau, tapi insyaallah pulang jam tigaan" jawab abyan"Ya sudah biar Azura siapkan air dan baju nya, em kalo dokumen dan file-file nya Azura nggak tau harus bawa yang mana jadi Azura cuma bisa siapkan air dan baju" ujar Azura ia tidak mengerti soal dokumen-dokumen atau file-file dari pada nanti ia salah membawa kan dokumen dan file bisa bahaya nanti"Iya, gak apa-apa" ucap abyan dan mulai berjalan untuk menyiapkan dokumen dan file yang harus ia bawa nanti"Oh ya, mau Azura bawakan makanan nggak??" Tanya Azura kepada Abyan"Nggak usah, kamu istirahat aja pasti kemarin capek habis nungguin saya dan beberes rumah" balas abyan"Cieee khawatir ya nanti kalo Azura sakit?" Goda Azura abyan langsung gelagapan karena ucapan nya tadi"Gak" ucap abyan dengan dingin"Gak salah lagi kan maksudnya mas?" Ucap Azura sambil tertawa karena wajah abyan memerah seperti kepiting rebus"Apa sih Ra gak jelas" ucap abyan sambil menetralkan jantung nya"Ahahaha lucu banget muka mas merah kaya kepiting rebus" kata Azura tak tahan lagi melihat muka abyan yang sudah memerahAbyan yang mendengar perkataan Azura tambah gelagapan apa muka nya merah? Yang benar saja sungguh rasa nya abyan ingin menghilang dari bumi"Ya sudah lah zura capek ketawa terus" ucap Azura dan melanjutkan memilih baju yang abyan pakai untuk meeting nantiAzura merasa perut nya sakit karena terlalu banyak tertawaSetelah bersiap abyan sudah mau berangkat dan di antara oleh supir pribadi Abyan"Hati-hati di jalan ya mas, jangan lupa makan dan jangan lupa sholat lima waktu nya di jaga satu lagi pulang nya jangan lama-lama" ucap Azura merasa tidak rela di tinggal suami nya pergiPadahal baru menikah tiga hari mengapa azura sudah merasa nyaman berada di dekat Abyan dan sebaliknya abyan merasa nyaman saat di dekat Azura"Belum aja saya berangkat sudah mulai kangen" kali ini abyan balas dendam dan menggoda Azura"Apaan sih mana ada Azura kangen, Azura tuh cuma bosen aja di rumah ini sendiri nggak ada teman kan kalo di rumah Umma waktu itu banyak anak-anak tetangga Azura main jadi rumah nya rame kalo di sini sepi nggak rame, kemarin aja Azura cuma di temenin kucing liar itu aja nggak lama Azura tinggal masak malah kucing nya pergi ninggalin zura" oceh Azura panjang lebar Abyan terkekeh kecil melihat Azura mengoceh tentang keseharian nya kemarin"Makanya cepat punya anak" balas Abyan"Gimana bisa punya anak, orang belum di buat" ucap Azura tanpa sadar tentang ucapan nya yang cukup vulgar"Mau buat sekarang?" Tanya abyan sambil tersenyum miring"Apa nya?" Azura malah bertanya balik"Buat anak, kan kamu pengen punya anak" ucap abyan Azura langsung sadar tentang ucapan nya tadi pipinya langsung merah meronaMengapa ia bisa mengatakan itu malu Azura sungguh malu, bisa kah kalian membawa Azura pergi dari bumi ini? Rasa nya Azura ingin menghilang"Ih bukan itu maksud ku, tau ah sana sudah berangkat nanti terlambat" ucap Azura mengalihkan pembicaraan"Ya sudah Salim dulu" kata abyan dan mengangkat tangan nya untuk di Salim AzuraAbyan hanya mengecup kening azura sekilas"Assalamualaikum" ucap abyan"Wallaikumsallam wrb" balas Azura"Sejak kapan aku bisa nyaman sama perempuan" ucap abyan dalam hatiAbyan sedari dulu tidak menyukai perempuan kecuali bundanya bukan berarti ia homo karena tidak menyukai perempuanSedari dulu banyak sekali perempuan yang menggangu abyan mereka selalu saja mengejar-ngejar Abyan bahkan ada yang melakukan secara nekat dengan cara kotorTapi untungnya usaha perempuan itu gagal makanya Abyan memandang perempuan itu secara jijik tapi tidak semua perempuan ia pandang jijikSetelah abyan berangkat Azura segera masuk ke rumah dan ia duduk di pinggir ranjang sambil memegang kepala nya yang pusing"Apa gara-gara zura tadi malam nggak makan ya?" Tanya Azura dengan diri nya sendiriAzura turun kebawah dan melihat makanan yang kemarin ia buat sudah basi dan berlendir (nama nya juga basi ya berlendir lah)Azura membuka kulkas ia melihat kulkas tersebut kosong tidak ada isi nyaAzura lupa untuk memberi tahu Abyan bahwa kebutuhan dapur sudah habisKarena tak ada makanan yang bisa ia makan Azura hanya duduk di ruang tamu sambil menonton tvTingTongSuara bel rumah berbunyi Azura mengerutkan keningnya siapa yang datang? Tak mungkin AbyanTanpa berpikir panjang Azura langsung membukakan pintu tersebut ia melihat seorang perempuan dengan hijab syar'i ada di depan nya sambil memegang rentang bekal"Maaf mba ada apa ya?" Tanya Azura"Eh iya lupa memperkenalkan diri, nama saya Mila Oktavia panggil aja Mila saya istri dari teman sekantor nya kak Abyan" Ucap Mila memperkenalkan diri nya"Oh ayo masuk dulu mba" kata Azura tidak enak melihat Mila hanya berdiri"Eh iya makasih" ucap Mila dan masuk ke dalam rumah tersebutSetelah itu Mila bercerita kalo diri nya itu siapa, ia di suruh suami nya menemani Azura dan Alan (suami Mila) di suruh oleh AbyanSetelah Mila bercerita ia baru sadar bahwa muka Azura terlihat pucat, walaupun Azura menggunakan cadar Mila bisa melihat dari mata azuraDengan pelan Mila meletakkan punggung tangan nya di dahi azura"Astagfirullah panas banget, sudah makan belum?" Tanya Mila dengan sangat khawatirAzura hanya geleng-geleng sebagai jawaban dirinya benar-benar lemas"Ya Allah kenapa nggak bilang dari tadi, sini makan dulu aku suapin kalo nggak kuat" ucap Mila dengan mimik wajah Yang sangat khawatir ia langsung mengeluarkan makanan yang ia bawa tadiAzura tersenyum melihat seberapa panik nya Mila padahal mereka baru bertemu"Makasih" ucap Azura dengan lirihSetelah Mila menyuapi Azura Mila langsung jalan keluar untuk membeli obatAzura langsung meminum obat yang tadi Mila belikan"Makasih mba" balas Azura ia merasa berhutang budi kepada Mila"Nggak usah berterimakasih sebagai manusia harus saling menolong" ucap Mila sambil tersenyum, Mila merasa sedikit tenang karena suhu badan Azura yang sedikit menurun"Kalo engap buka aja cadar nya Ra, lagian cuma ada aku di sini" ucap Mila merasa Azura tidak nyamanAzura langsung melepaskan cadar nya nafas nya panas tidak enak rasa nya jika memakai cadar"Aku kompres ya biar turun lagi panas nya" ucap Mila, tanpa persetujuan dari Azura Mila langsung bertanya di mana dapur dan mulai berjalan ke arah dapur"Aku kasih tau ke mas Alan ya Ra biar nanti mas Alan kasih tau kak Abyan" ucap Mila sambil memegang kompres tersebut"Nggak usah mba, biar aja bentar lagi juga bakal turun panas nya maaf ya kalo zura ngerepotin" ucap Azura"Nggak ngerepotin sama sekali kok Ra santai aja" ujar Mila ia tidak merasa di repotkan oleh Azura"Oh iya Ra jangan panggil aku mba dong kesan nya aku tua banget panggil aja Mila lagian kita seumuran" ucap Mila lagi ia paling tidak suka di panggil mba padahal seumuran"Hah seumuran? Kukira kamu lebih tua" ucap Azura bingung karena tadi ia pikir Mila lebih tua dari nya eh ternyata seumuran"Iyaa Azura" balas Mila"Tapi kok kamu nikah nya muda banget Mila?" Tanya Azura heran karena Mila juga sudah menikah"Aku juga sama kaya kamu, aku di jodohin sama mas Alan" ucap Mila dengan jujur"Kok kamu tau kalo aku nikah sama mas abyan karena perjodohan?" Tanya Azura lagi"Di kasih tau sama mas Alan" balas MilaKarena Mila sudah mengurus Azura rasa pusing dan demam yang tadi menyerang nya perlahan mulai menghilangTanpa di sadari mereka berdua mulai akrab layaknya seorang sahabat padahal baru bertemu hari iniDan saat Azura tertidur Mila mengabarkan kepada Alan kalo Azura sedang sakit dengan cepat Alan langsung memberi tahu AbyanAbyan awalnya panik tapi karna Mila bilang panas nya sudah mulai turun Abyan tidak terlalu panikWalaupun diri nya masih panik sekali melihat sang istri sakit tapi ia tidak bisa mengurus

Mafia Obsession
Romance
12 Jan 2026

Mafia Obsession

Gadis bermanik amber mendengus kesal. Pasalnya dia sedang terburu buru pulang, tapi taksi yang di tumpanginya justru mogok. Gadis itu takut di marahi oleh sang paman karna pulang terlalu malam.Grazella Elnara Wesley itu namanya, gadis dengan wajah penuh jerawat dan berkacamata bundar ini, baru saja pulang dari rumah sakit. Karena menjaga adik tunggalnya, Giorgino Austin Wesley. Sang adik masih berusia 7 tahun.Gio mengalami kelainan jantung dan harus senang tiasa di rawat di rumah sakit. Kedua orang tua mereka sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan.Grazella nekat mengambil jalur cepat, dan melewati gang sempit yang gelap. Gadis itu sudah tidak tahan menahan nyeri di bagian payudaranya, karna seharian ini dia lupa memompa asi. Alhasil dadanya sangat besar, dan kram.Yah... Gadis berusia 18 tahun tersebut mengidap 'Galaktorea' kondisi dimana tubuhnya kelebihan hormon, yang membuatnya bisa menghasilkan ASI. Masa bodoh dengan desas desus ada penunggu di sana. Gadis itu terus melangkah masuk.Baru juga beberapa langkah, sayup sayup Grazella mendengar ada suara erangan, kakinya sudah bergetar tak menentu. Gadis itu ingin berbalik, dan berlari. Namun kakinya justru lancang melangkah maju, mengikuti suara tersebut.Grazella berusaha mengambil ponselnya, karena gang itu sangat gelap. Di tambah suara rintik hujan menambah kesan horor."Aakkhhh!" Gadis itu tersandung sesuatu, dan terjatuh cantik di aspal."Sial. Apa'an sih tadi!?" Grazella mencari ponselnya yang terjatuh.DEG!"Aarrgggh!!!" Mata Grazella membola sempurna, saat menyinari benda yang membuatnya terjatuh. Di sana seorang pria tergeletak, dengan badan penuh darah. Wajah yang sudah babak belur, tangan gadis itu terlihat bergetarGrazella mendekati pria itu, dan menjadikan pahanya sebagai bantalan. Dia berucap dengan nada bergetar. "A–aku harus bagaimana?"Beberapa detik kemudian, mata pria itu perlahan terbuka. Grazella langsung  menyambutnya dengan berbagai pertanyaan."Kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini?" Gadis itu memegang wajah sang pria, dan meneliti setiap lukanya.Sementara pria itu hanya diam memperhatikan manik gadis di depannya ini."Bellissimo," ucapnya lemah,(cantik)Setelah mengatakan itu, sang pria menutup matanya kembali."Aku tidak bisa mendengarmu, bisa lebih keras lagi." Grazella menggoyangkan badan sang pria.Gadis itu terlihat khawatir. "Aduh ... berpikirlah El, kenapa otakmu jadi bodoh begini sih!""Aduh om, paman atau siapa pun dirimu, ayo bangun donk! Jangan mati dulu! Nanti aku yang kena imbasnya! Lagian kenapa kamu malah meninggalkan jejak di tubuhnya El!?"Grazella menoleh kekanan dan kiri. "Tidak ada orang lagi, aduh bagaimana ini? Ah ya nomor darurat!" Gadis itu segera mendial nomor 112 di ponselnya.• • •Mobil ambulance melaju dengan cepat, pria itu terlihat membuka matanya kembali. Dia melihat lekat wajah Grazella yang sedang fokus menghadap ke depan.Drt...Grazella segera menggeser tanda hijau, "Iya kak Dicky, Kenap– Apa!? Bagaimana bisa kak!? Bukankah tadi Gio baik baik saja? I–iya aku segera ke sana sekarang." Grazella segera mematikan ponsel itu."Pak, kit-a mau ke rumah sakit mana ya?" tanyanya dengan suara bergetar."Mutiara kasih, dek, " jawab supir ambulan dengan cepat"Pak, lebih cepat lagi ya pak" Gadis itu sangat khawatir dengan sang adik.Beberapa saat kemudian, ambulance telah sampai di depan loby rumah sakit. Grazella segera turun, saat akan pergi tangannya di cengkal oleh pria yang ia tolong. Grazella langsung menghempaskan tangan itu, dan segera pergi ke ruang inap adiknya. Pria itu mengeram kesal."Kamu tidak bisa lari dariku baby girl! Mulai sekarang, kamu milikku!" batinnya dengan senyum menyeringai.• • •Grazella memegang tangan Gio dengan erat, dia merasa bersalah telah meninggalkan adiknya sendirian,Drt...Grazella menghela nafas kasar, pasti sang aunty akan marah besar karna dia tidak pulang. Grazella memilih mengabaikan panggilan itu.Sudah 3 hari Grazella tidak berangkat ke sekolah, dia fokus untuk mengurus Gio, dia juga bolak balik ke rumah dan rumah sakit. Seperti sekarang ini, Grazella sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga pamannya."Aunty, setelah ini aku akan ke rumah sakit, besok pagi aku datang lagi," ucap Grazella dengan lembah lembut."H'm!" jawab sang paruh baya dengan ketus. Grazella melangkah pergi dan akan memakan makanannya di dapur.Nyatanya selama hampir 5 tahun lalu, pasca kematian kedua orang tuanya, hidup Grazella bagaikan pembantu di rumahnya sendiri. Beruntung pamannya sedikit mempunyai belas kasih. Saat Grazella menerima hukuman karena tidak becus bekerja, pamannya diam diam memberi Grazella makanan.Perusahaan keluarganya juga di ambil alih oleh pamannya. Gadis itu tidak keberatan, karena dia juga tidak tau menahu masalah perusahaan. Grazella hanya fokus untuk menyembuhkan sang adik.Saat akan makan suara mutiara kembali menyambut telinganya. "Grazella! Sini kamu! Dasar anak sialan!"Gadis itu dengan langkah cepat melangkah menuju sang aunty. "Iya aunty. Kenapa?"PLAK!"KAMU MAU MERACUNI KAMI HAH?!""Maksud aunty, apa?""Cicipi udang itu cepat!" bentak sang paruh baya,"Ma-af aunty, tapi aku ale-rgi udang, makanya aku tidak mencicipinya tadi,"PLAK!"Saya tidak perduli kamu mau alergi atau tidak! Bella mau makan udang, dan kamu masaknya asin begini! Kamu mau meracuni anakku, hah! Dasar pembawa sial!!"Gadis itu menunduk meremas bajunya, dia sangat capek hari ini. Kenapa hidupnya sangat melelahkan, di saat semua gadis menikmati hidup, dan berkutik dengan make up, kenapa dirinya justru hidup melelahkan seperti ini.Itulah satu alasan wajahnya jelek, Grazella tidak punya waktu untuk mengurus diri.Jangankan untuk membeli skincare, untuk membeli baju saja dia harus berhemat, mungkin jika Bella sedang baik dia bisa minta baju lengseran.Dulu hidupnya bak putri ratu, tapi setelah orang tuanya meninggal, Grazella langsung berubah menjadi babu di rumahnya sendiri sungguh tragis.RUMAH SAKIT MUTIARA KASIHPria dengan setelan serba hitam terlihat menghampiri seseorang dan membungkukkan badannya memberi hormat. "Tuan, anda sudah di perbolehkan pulang. Apa kita terbang hari ini saja?"Pria yang sedang berbaring di brangkar tersebut mendelik tajam. "Dimana gadisku! Jangan pernah berfikir kembali sebelum menemukannya!" Anak buahnya langsung memberikan sebuah map coklat.Pria itu segera membukanya dan terlihat sebuah lengkungan di bibir manisnya. "Grazella Elnara Wesley... Nama yang cantik. Apa ada lagi yang mau kau sampaikan Wil?" ucapnya dengan membuka berkas itu."Nona mempunyai seorang adik, yang juga di rawat di rumah sakit ini Tuan," jawab sang anak buah yang membuat pria itu semakin bersemangat.Bibirnya langsung tersenyum menyeringai. "Kerja bagus, Wiliam!"Anak buahnya langsung menanggapi pujian sang tuan. "Nona, juga bekerja di salah satu cafe dekat sini Tuan. Apa anda ingin menemuinya?" Pria dengan pakaian pasien itu langsung tersenyum lebar."Tentu! Dan lakukan sesuai arahanku!" Dia tersenyum miring membayangkan rencananya."Baik, Tuan Gabriel. Saya akan persiapkan semuanya," jawab sekertaris sekaligus sahabat, pria bernama Gabriel Leonard Mattew tersebut."Kamu akan segera menjadi milikku sayang." Dengan bibir terangkat Gabriel berucap.Grazella segera menuju Cafe untuk mencari pundi pundi rupiah. Baru juga sampai, gadis itu sudah di sibukkan dengan banyaknya pesanan pelanggan. Dengan semangat Grazella menyiapkan dan membawa pesanan itu ke pelanggan.Sebenarnya gadis itu sangat risih bekerja menjadi Waiters. Grazella lebih memilih menjadi tukang cuci piring atau OG, tapi karena Cafe ini milik keluarga Veronica sahabatnya, dia di taruh di bagian Waiters.Bukan tanpa alasan Grazella membencinya. Gadis itu sangat risih dengan seragam kerjanya. Karna dia harus memakai baju ketat dengan rok di atas lutut, tentu saja akan memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan dia sangat membenci itu.Grazella juga harus melepas kacamata bundar atas tuntutan dari sang manager. Karena Gadis itu sudah di ijinkan memakai masker untuk menutupi wajah penuh jerawatnya. Kadang ada pria hidung belang yang sengaja menepuk pantat atau sekedar memegang tangannya.Seperti saat ini, dengan lancangnya seorang pria menarik tangan Grazella yang mengakibatkan sang gadis harus duduk dipangkuan pria itu, di meja lain seorang pria yang melihat semua itu mengeraskan rahangnya. Dengan tatapan iblis yang ingin memangsa."Fuck! Beraninya tangan kotormu menyentuh milikku! Lihat saja, setelah ini hanya aku yang boleh menyentuhmu baby girl."Pria Itu tersenyum senang saat melihat Grazella menampar dan menendang area junior sang pelanggan dengan kerasnya."Good girl," ucapnya dengan banggaDengan lancang pelanggan itu justru memeluk erat Grazella, sudah pasti sang gadis memberikan hadiah kepada pelanggan tersebut.Grazella terlihat mengikuti langkah sang manajer. "Sudah berapa kali aku bilang, tahan saja! Jangan buat keributan! Apa kamu tidak mengerti ucapanku Grazella!" bentak sang manager, yang di hadiahi senyum getir sang gadis. Grazella menatap tajam ke arah manajer tersebut."Bapak liat sendiri tadi!? Bagaimana bisa saya menahannya!" jawab gadis itu tak mau kalah."Aku tau ... tapi kamu bisa bicara baik baik, Grazella!" Sang manajer memijit pelipisnya, dia tau sangat susah berdebat dengan karyawan yang satu ini.Dia berusaha kembali memberi saran. "Kamu bukan preman, dan bagaimana pun mereka pelanggan yang menggajimu," ucap sang manajer.Grazella hanya mengangguk, tanpa memperdulikan wajah sang atasan yang sudah kusut. Grazella kembali melakukan pekerjaannya. Sedangkan di lain meja Gabriel enggan berpaling dari Grazella, pria itu terus menatap lekat sang gadis. Sampai manager pun tidak berani mengganggunya karena sudah pasti uang-lah yang membuatnya diam.Barulah saat Cafe itu tutup, Gabriel langsung pergi dan masuk ke mobilnya. Beberapa menit kemudian Grazella ikut keluar dari Cafe dan segera pulang. Dia sudah rindu dengan ranjang empuknya.Baru juga melangkah, matanya menyipit heran, melihat jalanan yang biasa dia gunakan ternyata di tutup, dengan terpaksa dia memilih pulang dengan rute lain.Gadis itu terpaksa melewati gang sempit waktu itu. Sementara di lain tempat, pria di dalam mobil tersenyum puas mendapatkan kabar dari orang orangnya, "Tuan, nona sudah masuk perangkap anda!" Dengan kecepatan seribu pria itu melajukan mobil menuju tempat eksekusi.• • •Baru masuk setengah jalan, Grazella merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Dia pun menoleh dan benar saja, seseorang dengan Hoodie hitam dan celana sobek, sedang terlihat berpura pura olahraga.Bukankah orang itu sangat bodoh? Bagaimana mungkin ada orang yang berolahraga jam 11 malam. Grazella berlari bak kesetanan."Arrgh! Aku takut." Gadis itu mencoba mencari persembunyian, dia menemukan sebuah tong.Dengan langkah cepat Grazella berlari ke sana. Sialnya orang itu menemukannya lebih dulu. "Aargggh! Ka-mu siapa?!" Grazella tidak mengenal pria tersebut.Gabriel mengambil tangan Grazella, dan menariknya."Andiamo a casa," ucapnya santai.[ Ayo kita pulang, ]Gadis itu hanya diam, karena bingung."Can you speak English, please?""You are mine, let's go home." Mata gadis itu membola sempurna."What?! are you crazy!" Grazella menghempaskan tangan Gabriel dengan kasar.Pria itu menatap tajam ke arah Grazella yang membuat gadis itu sedikit bergidik. Pria itu kembali mengeluarkan suara baratnya. "Aku tidak perlu persetujuanmu, baby girl." Pria itu tersenyum miring.[Mereka menggunakan bahasa inggris]"Ti-dak! Enak saja. Aku tidak mengenalmu paman! Lagi pula, apa salahku!?" ucapan gadis itu membuat sang pria kesal.Bagaimana mungkin, dia di panggil dengan sebutan paman?"Kesalahanmu cuma satu, karna kamu membuatku jatuh cinta sayang,""Bwuuhaha!"Grazella tertawa dengan sangat brutalnya. pria itu terlihat kebingungan, apa ada yang salah?Grazella menatap lekat sang pria dengan masih sedikit tersenyum geli, "Matamu buta ya? Liat wajahku! Apa yang kamu sukai dari wajah buruk ini pama_ aarrghh!" Dengan sigap pria itu menggendong sang gadis bak karung beras.Grazella langsung mengeluarkan suara emasnya. "Lepasin aku brengsek! Tolong! Tolong!" Gadis itu memukul punggung kekar sang pria, kacamata bundar yang ia pakai pun terlepas jatuh di bawah dengan cantiknya."Aku banyak uang sayang, aku akan membuat wajahmu cantik.""DASAR PSIKOPAT. LEPAS!""Apa kamu tidak mau, bertemu dengan adikmu baby?" Gadis itu langsung menghentikan pukulannya.Dengan cekatan Grazella mengambil benda pipih, dan mendial seseorang. "Halo kak Dicky, Gio ada di rumah sakitkan? Dia la-gi di sana kan kak?!" Suara Grazella sudah sedikit bergetar."Tadi ada beberapa orang pake setelan jas hitam, terus bawa Gio pergi, bukannya kamu yang menyuruh mereka Grace?"PLETAK!Ponsel gadis itu terjatuh dengan cantiknya di aspal."Dimana adikku bangsat!" Gadis itu menegakan tubuhnya dan menatap tajam ke arah sang pria.Sementara sang empu hanya tersenyum manis dan mengusap lembut wajah sang gadis. "Jangan mengumpat sayang, adik ipar berada di mansionku, kita akan menyusulnya sekarang."Tanpa menunggu jawaban Grazella pria itu segera menghubungi anak buahnya. "Segera bawa helikopter ke tempatku berada! Dan persiapkan penerbangan ke Italia, sekarang juga!" Gadis itu hanya terdiam dengan banyak pikiran di kepalanya.Gabriel mencengkram dagu Grazella dengan kuat, sehingga mulut mungil itu sedikit terbuka. Di rasa mendapatkan kesempatan pria itu melancarkan aksinya."Damn it! Sentuhannya sangat berpengaruh di tubuhku!"  batinnya mengeram kesal.Setelah melihat Grazella kehabisan nafas, dengan tidak rela Gabriel menghentikan aksinya. Gadis itu langsung menatap tajam dan penuh kebencian pada Gabriel."APA KAMU INGIN MEMBUNUHKU HAH!?" Mata Grazella sudah basah penuh air mata, pandangannya nyalang menatap pria di depannya ini, tenggorokannya terasa mati rasa, dadanya pun sangat sesak.Grazella benar benar merasakan siksaan yang teramat. Dia memilih di siksa bibinya dari pada mendapatkan siksaan seperti ini. Gabriel mengusap sudut bibir Grazella yang terlihat sedikit basah karena ulahnya."Kamu hanya milikku sayang, aku ingin sekali memasukimu," ucapnya dengan tersenyum.Grazella langsung mendongak dan menatap bengis ke arah Gabriel. "Tidak sudi tubuhku menyatu denganmu, brengsek! Lebih baik milikku, di masuki banyak pria di luar sana! Dari pada, di masuki iblis sepertimu!""Sialan!" Gabriel langsung berdiri, dan menarik Grazella menuju ranjang."Akh!!" Gabriel mendorong gadis itu ke ranjang dan mengungkungnya.Grazella berusaha beranjak, dan menendang tubuh Gabriel agar menjauh, namun pria itu lebih cepat, ia mendorong tubuh Grazella untuk kembali berbaring.PLAK!"Arrghh! Dasar iblis!""Diam El!""Sakit brengsek!"PLAK!Dengan tanpa ampun Gabriel menampar pipi sang gadis, Grazella hanya bisa menangis histeris. "Shit! Milikmu sempit sekali baby,""Berhenti brengsek!""DIAM! Aku tidak akan berhenti El! Jangan pernah bermimpi untuk melakukan hal ini dengan orang lain! Atau saat itu juga, akan kubunuh adikmu! Hanya milikku, yang boleh berada di dalam sini!""Da-sar iblis! hiks ...""Fuck!!" Mereka melakukan kegiatan itu dengan nikmatnya.Grazella benar benar merasa sangat kotor. Mati matian selama ini menjaga tubuhnya agar tidak bertemu dengan pria brengsek, tapi takdir justru lebih kejam terhadapnya."Kevin tolong aku! Kamu kemana? Hiks ... tolong kembalilah, bawa aku pergi dari iblis ini," batinnya, teringat dengan orang yang sangat ia sayangi.VENESIA | ITALIA 01.20 PM (siang)Setelah hampir 17 jam di pesawat, akhirnya mereka sampai di Italia. Terlihat gadis itu sedang berbaring, Grazella terlihat sudah memakai dress, dan wajahnya sudah sedikit di poles. Gabriel memanggil pramugari, dan menyuruhnya membersihkan tubuh sang gadis.Gabriel berusaha membangunkan Grazella, dengan mengusap lembut wajah sang gadis. "Baby, bangunlah kita sudah sampai."Gadis itu perlahan membuka matanya, dia mencoba bangun, dan berdiri untuk melangkah."Arrghh!""Perhatikan langkahmu, El!" Gabriel mengeram kesal, melihat Grazella hampir saja terjatuh, jika tangannya tidak cekatan menarik tubuh mungil itu.Bagaimana tidak lemas? Dengan santainya gabriel terus menggempur Grazella di sana. Bahkan baru 1 jam istirahat tubuh Grazella sudah di gempur lagi dan lagi."Badanku sakit semua." Pria itu terkekeh mendengar ucapan gadisnya ini."Aku gendong mau?" Grazella mengangguk pasrah, karna memang badannya sangat lemas."Terima kasih baby, karna kamu memberikan itu untukku, tapi aku tidak menyesal karna mengambilnya darimu!"Grazella terlihat kesal dengan ucapan pria yang sedang memeluknya ini. "Dari yang ada di film film, aku harus pura pura patuh sama penculiknya, setelah itu kabur! Kamu memang cerdas El!" batin gadis itu tersenyum lebar."Ekm. Namamu siapa?" Gabriel terkejut dengan pertanyaan gadis itu. Pria itu tersenyum, dan mengusap kepala Grazella yang membuat gadis itu mendongak.Grazella sedikit terkesima melihat wajah datar, yang sudah tersenyum lebar ke arahnya."Gabriel Leonard Mattew." Grazella mengangguk. Badan pria itu terdiam, saat mendengar apa yang di ucapkan Grazella. Gabriel sangat suka, saat namanya di panggil dengan nada lembut dan halus."Baiklah Leon, aku akan menurut padamu. Tapi tolong pertemukan aku dengan Gio." Gabriel tersenyum simpul."Aku suka saat kamu memanggilku Leon, terus panggil aku dengan itu."Mereka segera turun dari pesawat. Mata Grazella melotot, melihat banyaknya mobil van hitam yang berbaris di sana. Grazella juga mobil Mercedes yang terparkir cantik di parkiran pesawat itu. Gabriel membantu gadisnya untuk turun melewati tangga pesawat."Bentornato, signore."(Selamat datang kembali, Tuan)Mereka mengunakan bahasa italia."Bagaimana keadaan markas!""Baik Tuan!""Mereka siapa?" Dengan berbisik Grazella bertanya."Mereka anak buahku." Gadis itu terkejut mendengar ucapan Gabriel.Grazella kembali bersuara. "Sebanyak itu?" Gabriel menahan senyum, karena masih banyak anak buahnya di sana.Mereka segara memasuki mobil Mercedes yang sudah di siapkan anak buahnya. "Apa kau membawa yang kumau, Wil?" tanya Gabriel pada anak buahnya."Ini, Tuan." Wiliam memberikan sebuah paper bag ke tuannya, dia duduk di kursi depan.Gabriel memberikan itu pada Grazella, yang membuat gadis itu kebingungan. Dia pun mengeluarkan suaranya. "Buat apa? Aku bukan musli__""Pakai saja El," jawab Gabriel datar. Grazella mendengus kesal, dia pun memakai cadar yang di berikan padanya.Gabriel kembali bersuara yang membuat gadis itu semakin badmood."Ingat! Jangan pernah kamu perlihatkan wajahmu pada siapa pun, saat berada di luar mansion! Mengerti?" Grazella meremas dengan kuat dress yang ia gunakan."Kalau malu karena wajahku, kenapa dia membawaku? Dasar menyebalkan!" batinnya, dengan mata sudah berkaca kaca.• • •Setelah hampir satu jam mereka sudah sampai di sebuah mansion mewah nan megah, Grazella sedikit takut karena mansion itu berada di tengah hutan. Gabriel dan grazella segera turun dari mobil dan melangkah menuju mansion. Baru juga sampai di ruang tamu, seorang wanita paruh baya menyapa mereka."Benveito, signore."(Selamat datang, Tuan)Bibi Margaret. Paruh baya itu menjabat menjadi kepala maid di mansion. Di belakangnya terdapat 6 seorang gadis, yang berpakaian ala maid.Mereka berbaris menjadi dua bagian, dan membungkuk menyapa Gabriel."Di antara kalian, siapa yang bisa bahasa Indonesia!?" Gabriel segera mengutarakan keinginannya."Saya Tuan." Seorang gadis dengan wajah oriental mengangkat tangannya. Gabriel segera menghampirinya."Mulai sekarang, kau jadi maid pribadi untuk gadisku." Gadis itu mengangguk.Gabriel kembali menggandeng Grazella, untuk naik ke lantai atas. Mereka berhenti di depan lift."Baby, aku akan ke perusahaan, kamu istirahat setela__""Tidak Leon! Aku mau ketemu Gio! Dimana dia!?" Gabriel mencoba menenangkan gadisnya, ia mengusap lembut wajah Grazella"Kita bertemu adik ipar besok saja, ya?""Dasar pembohong!" Grazella mendorong tubuh Gabriel, terlihat pria itu berusaha sabar."Baby, kamu tau aku bukan orang yang penyabar, jangan selalu memancing iblisku keluar!""Persetan dengan itu Leon! Kamu pembohong! Dasar bajingan! Dimana adikku, brengsek!" Grazella langsung berlari."BERHENTI EL!!" Gabriel mengeluarkan suara emasnya.Grazella tidak menghiraukan dan terus berlari, para maid pun terlihat tegang, mereka sudah hafal betul tabiat Tuannya, lebih baik mereka diam bagai patung sebelum mendapat perintah.DOR! DOR!Tubuh Grazella berhenti di tengah ruang tamu, Gabriel segera menghampiri gadis itu. "Sekali lagi kakimu melangkah, maka salah satu maid di sini akan menjadi mayat El!!"Gadis itu berbalik dan menatap nyalang ke arah Gabriel. "Hahaha kamu pikir aku percaya!""Baiklah. Kamu! Tembak kepalamu jika gadis keras kepala ini tidak mengikuti perintahku!" Gabriel menunjuk salah satu maid, dengan menggunakan bahasa Inggris. Itu adalah bahasa wajib yang harus di kuasai seluruh anak buahnya yang bekerja di mansion.Grazella membalikan badannya dan melihat bahwa maid itu berjalan dan mengambil salah satu pistol yang ada pada bodyguard di sana, yang membuat mata Grazella membulat sempurna."Kamu gila hah!? Untuk apa kamu menuruti ucapan iblis ini!""Ke sini El." Grazella masih tidak perduli dan tetap melangkah."Tembak kepalamu sialan!" Grazella langsung berbalik dan menatap bengis ke arah Gabriel."Atas hak apa kam__"DOR!DEG!Tubuh maid yang berada di belakangnya, sudah terbaring dengan kepala berlumuran darah.Grazella segera berbalik, dia menutup mulutnya dengan tangan bergetar, kakinya sudah lemas tak bertenaga."Da-dasar gila!"Gadis itu berbalik dan menatap penuh kebencian ke arah Gabriel."Masuk ke kamarmu sekarang!" Grazella masih mematung di sana, dia sangat takut pada pria di depannya ini.Saat melihat Gabriel melangkah, dengan cepat Grazella berlari menuju Wiliam, dia berdiri di belakang pria itu."Tolong aku! Tuanmu itu iblis! Aku takut! Kumohon. Tolong aku hiks ...."Badan gadis dengan mata amber sudah bergetar hebat, dia berusaha meminta bantuan pada pria di sampingnya ini. Grazella meminta pria itu membawanya pergi dari mansion terkutuk ini. Bukannya menurut Wiliam justru menarik Grazella dan memberikan pada Gabriel.Grazella menangis histeris, bahkan cadarnya sudah terlihat sedikit basah. Gadis itu menahan tarikan Gabriel dan memohon kepada Wiliam, serta para maid di sana untuk menolongnya.Namun memang dasarnya semua penghuni mansion itu adalah iblis! Mereka hanya melihat, dan tidak perduli dengan Grazella.Sang gadis terlihat menggigit tangan gabriel yang berusaha menariknya. semua orang yang melihat itu hanya melongo, bagaimana bisa gadis bercadar itu sangat berani menggigit Tuannya.Gabriel mengeraskan rahang, dan menutup matanya sekilas untuk menahan rasa sakit di tangannya. Para maid melihat dengan tatapan ngeri, karna tangan pria itu terlihat mengeluarkan cairan merah. Grazella menggigitnya dengan penuh tenaga.Gabriel menarik tangan Grazella dengan kasar menuju lift.Grazella berjalan terseok seok, karena tidak bisa mengimbangi langkah panjang pria bermanik biru gelap tersebut. Mereka segera masuk dan menuju lantai atas, hingga saat lift terbuka, Grazella yang tidak seimbang pun terjatuh di marmer dingin, hingga lututnya terluka yang membuat Gabriel menghela nafas kasar."Kenapa kau sangat lamban!?" ucapnya penuh penekanan."Tolong lepasin a-ku Leon, aku takut hiks ...."Gadis itu memohon dengan memegangi kaki sang pria. Gabriel tersenyum miring melihat hal itu."Kamu pikir dengan menangis, bisa membuatku luluh? Jangan harap! Sampai menangis darah sekalipun, kamu akan tetap berada di sini El!" Lagi lagi pria itu mengeluarkan uratnya saat bicara.Gabriel menarik tangan Grazella dan masuk ke kamar. Sampainya di kamar, pria itu langsung mendorong tubuh Grazella dengan kasar, sehingga tubuh ringkih itu tersungkur di ranjang big size di sana.Gadis itu menangis dan berusaha menuju pintu untuk kabur, namun dengan mudah Gabriel menangkap tubuh gadisnya kembali. Grazella menyingkirkan dengan kasar lengan kekar itu dari perutnya. "Lepas brengsek! Lepas!! Dasar iblis!"PLAK!"Diam! Kamu tau? Usahamu itu sia sia!" Dengan langkah gontai Grazella menjauhi pria itu, dia sangat jijik dan benci pada Gabriel.Pria itu menatap tajam ke arah sang gadis. "Jadilah gadis yang penurut, maka aku akan menjadi pria yang lembut juga, renungkan kesalahanmu!" Dengan langkah seribu Gabriel menguncinya di kamar itu.Grazella hanya bisa menggedor dengan putus asa di dalam sana. "Dasar bajingan! Aku membencimu Leon!"Gadis tersebut terlihat sangat kacau.Lututnya terasa sakit, bahkan payudaranya sangat nyeri, karena hampir satu hari dia tidak mengeluarkan ASI, alhasil dadanya sangat kram."Kevin kamu kemana? Tolong aku hiks ...." Dia teringat dengan seseorang, yang sangat berarti di hidupnya.Grazella melangkah ke arah balkon, netranya menyipit melihat pemandangan di bawah sana, saat ini dia berada di lantai empat. Terlihat di bawah terdapat kolam ikan, taman mawar, bahkan sungai, serta pohon pohon besar berada mengelilingi mansion yang sangat luas dan besar itu.Tapi sayang kemewahan mansion ini, tertutupi oleh aura yang menakutkan. Bagaimana tidak? Seluruh penjuru sudut di isi oleh penjaga berseragam serba hitam, terlihat setiap penjaga itu memiliki pistol di setiap saku pinggangnya.Grazella sedikit berfikir siapa pria itu sebenarnya? Kenapa dia bisa menggunakan senjata dengan sesuka hati. Sementara Gabriel menuju bawah dan memanggil anak buahnya, "Kalian jaga di depan pintu kamar! Jangan sampai gadisku keluar dari sana!""Baik, Tuan!" jawab kedua bodyguard tersebut.Wiliam terlihat menghampiri Gabriel, dan mengatakan laporannya. "Tuan, tim alpa sudah menemukan tikus penghianat itu, dan sekarang dia di markas." Gabriel mengangkat salah satu sudut bibirnya. Akhirnya dia bisa melampiaskan kemarahan dalam dirinya."Kita ke markas sekarang!""Baik tuan."• • •Waktu menunjukan pukul tujuh malam, terlihat pintu kamar terbuka dengan seorang maid masuk kesana.Ceklek"Nona apa anda, aakkhh!!" Maid itu melotot sempurna, dia memandang wajah Grazella dengan lekat, yang membuat gadis itu tersenyum getir."Apa, sejelek itu?""Maaf Nona! Maaf saya lancang memandang Nona maaf Nona!" Gadis itu di buat melongo melihat respon maidnya, dia segera turun dari ranjang dan membantunya berdiri. pasalnya maid tersebut bersujud di lantai."Dimana iblis itu?""Maksud Nona?" Maid itu terlihat kebingungan."Tuanmu itu, dimana dia?""Maaf Nona, saya kurang tahu. Karna Tuan tidak memberi tahu kami.""Nama kamu siapa?" Grazella duduk di pinggiran ranjang."Sheryl Nona." Dengan masih menunduk maid itu menjawab."Kamu sudah lama bekerja dengan iblis itu,""Saya dulu bekerja di salah satu club milik Tuan, lalu beliau menyuruh saya untuk bekerja di mansion Nona." Grazella mengangguk mendengar jawaban itu. Dia kembali melemparkan pertanyaan."Umurmu berapa?""19 tahun Nona." Maid bernama Sheryl mendongakkan Kepalanya, kala melihat tangan itu terulur."Namaku Grazella kamu bisa panggil aku Grace umurku 18 tahun, seharusnya aku memanggilmu kakak bukan?" Grazella tersenyum manis, sedangkan manis itu langsung menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat pucat."Tidak Nona, saya bisa di pecat atau bahkan di hukum Tuan, kalau sampai berani memanggil Nona hanya dengan nama." Grazella makin di buat malas."Jangan takut, kamu bisa melakukan itu jika hanya ada kita berdua, kamu maukan jadi temanku?" Maid itu mengangguk."Em ... Sheryl apa aku bisa meminta tolong?" Maid tersebut mengangguk yakin."Apa kamu bisa membelikanku em ... sesuatu, tapi aku tidak punya uang. Bisa aku pinjam dulu, dan tolong belikan itu untukku?" Grazella sedikit canggung."Hahaha Nona lucu. Nona tidak perlu meminjam uang saya, Tuan pasti dengan senang hati menuruti perintah Nona. KM" Maid itu tersenyum manis."Apa Nona menginginkan sesuatu?""Apa kau bisa membelikanku pom-pa asi?" Maid itu terdiam mendengar ucapan Grazella."Mak-sud Nona? Apa Nona sedang menyus__""Tidak aku masih vir__ em ... maksudku aku kelebihan hormon, dan secara alamiah aku menghasilkan asi. Sudah hampir 1 hari aku tidak mengeluarkannya, p4yudaraku rasanya sangat sakit, bisakah kau membantuku?" Setelah mengerti maid itu tersenyum dan mengangguk."Saya akan membelinya besok Nona, kebetulan besok jadwal belanja mingguan." Gadis itu terlihat berbinar."Terima kasih Sheryl." Grazella memeluk Sheryl dengan erat yang membuat maid itu terkejut bukan main.• • •Jam sudah menunjukan jam 1 dini hari, terlihat seorang pria dengan langkah pelan masuk ke sebuah kamar, dia menyipitkan matanya kala mendengar suara isakan, dengan cepat pria itu menyalakan lampu di kamar itu.DEG"Fuck!"

Selir CEO
Romance
10 Jan 2026

Selir CEO

"Mama dan papamu meninggal di tempat."Dunia Zahra hancur sejak masih berusia 5 tahun. Dua orang tercinta pergi untuk selamanya. Membuat gadis kecil itu harus hidup sebatang kara.Zahra adalah putri tunggal, seorang pengusaha bernama Wirahadi Gunawan. Dan belum lama ini, bisnisnya mengalami peningkatan pesat.Semua orang merasa janggal atas kejadian yang mer3nggut nyawa Wirahadi dan istrinya.Akhirnya kakak kandung Wirahadi menawarkan diri untuk mengasuh sang keponakan. Serta mengelola seluruh asset dan harta yang dimiliki oleh Wirahadi.Sebelum Zahra tumbuh dewasa dan mampu mengelola sendiri harta yang sudah mutlak menjadi hak miliknya.Sang paman yang baru saja mengalami kebangkrutan, kemudian ikut tinggal di rumah Zahra.Zahra kecil merasa tidak nyaman, melihat keluarga sang paman menguasai rumah megahnya. Namun, dia hanya bisa pasrah, karena hanya mereka lah yang mau mengurusi Zahra.Awalnya kehadiran keluarga sang paman, sedikit mengobati rasa rindu Zahra kepada mama dan papanya. Meskipun kakak sepupunya terlihat tidak suka kepada Zahra.Mulanya Zahra diperlakukan dengan baik seperti anak kandung sendiri. Hingga satu tahun lamanya.Ketika Zahra memasuki masa sekolah, mereka mulai memperlakukannya dengan tidak adil.Zahra disuruh pindah dari kamar kesayangannya. Tidak pernah dibelikan mainan seperti kakak sepupunya. Dipaksa hidup mandiri, dan harus menerima jika makanan paling enak di meja makan sudah dihabiskan oleh kakak sepupunya.Zahra dituntut harus selalu mengalah dengan kakak sepupunya.Mereka seakan tak peduli bahwa Zahra lah sang pemilik h*rta, yang mereka nikmati sekarang."Kamu sekarang tidur di sini, ya!" ucap paman Aji kepada Zahra.Zahra mengamati kamar berukuran kecil itu, yang biasanya digunakan sebagai kamar para pembantu."Kamarku kenapa?" tanyanya polos, dengan mata berkaca-kaca."Kamarmu sekarang ditempati kak Sari. Kak Sari pengen tidur di sana," ucap paman Aji.Padahal sejak kecil Zahra sudah sangat nyaman dengan kamar itu. Ada banyak boneka di atas ranjang, ukiran lemari pakaian yang indah, serta tembok yang dihiasi oleh gambar-gambar kartoon kesayangannya.Almarhum ayahnya juga memasang lampu kelap-kelip ketika malam, agar Zahra merasa senang.Terdapat banyak buku anak-anak, yang akan dibacakan sang ayah sebelum tidur dengan nyenyak.Begitu banyak kenangan indah yang pernah terjadi di kamar itu. Namun sekarang Zahra dipaksa pergi, karena harus mengalah dengan orang baru.Zahra kecil tidak bisa tidur di kamar barunya yang kotor dan bau. Dia hanya bisa menangis, karena menahan rindu.Rumah yang dulu terasa nyaman dan menyenangkan kini menjadi asing setelah ditinggali oleh para benalu.Gadis kecil itu terisak sambil memeluk baju almarhumah ibunya."Mama, besok Zahra minta digorengin ayam goreng boleh!" tanya Zahra di tengah keheningan. Berbicara kepada sepotong baju yang sedang dia peluk. Seolah itu adalah sosok sang ibu."Kok mama diam aja sih?" Zahra mencium kain lembut itu. Sekaligus mengelap wajahnya yang basah oleh air mata."Mama marah ya?" ceracau-nya lagi, dengan suara serak."Yaudah Zahra nggak minta aneh-aneh lagi deh. Zahra nggak bakalan nakal lagi, tapi ibu jangan pergi!"Gadis kecil itu malah semakin terisak karena begitu rindu dengan almarhumah ibunya."Zahra boleh nggak sih kangen sama ibu?"***Ketika makan bersama, Zahra hanya pasrah melihat ker4kusan mereka."Aku mau paha ayamnya, Ma!" seru kak Sari setelah duduk di kursi.Sang ibu langsung mengambilkan."Sama sayap!"Dengan tak tahu diri, gadis kecil itu minta dua potong. Sang ibu langsung menuruti.Sisa dua daging di atas piring, tentu saja untuk paman Aji dan istrinya.Sementara Zahra hanya terdiam manyun di tempatnya. Kehilangan selera makan."Daging ayamnya habis, kamu makan pakai sayur aja, ya!" ucap Tante Susi, menuangkan sup bayam ke piring Zahra.Mereka semua makan dengan lahap, kecuali Zahra yang mencebikkan bibir, menahan tangis.Padahal dia sangat ingin sekali makan ayam goreng.***Puncak k3k3jaman mereka terjadi ketika Zahra diajak ke suatu tempat yang sangat asing bagi anak itu."Mulai sekarang kamu tinggal di sini, ya?" ucap paman Aji sambil mendorong tubuh mungil Zahra ke depan. Ke arah anak-anak yang sedang bermain di sebuah gedung sederhana.Zahra tampak ketakutan."Nggak pa-pa sayang, di sini kamu banyak temennya," bisik tantenya.Zahra menggeleng takut."Tante sama paman nggak bisa jagain kamu tiap hari. Jadi lebih baik kamu dititipkan di sini aja, ya," ucap sang Tante."Nanti paman bakalan sering-sering ke sini, kok," sahut paman Aji.Zahra masih tetep menggeleng.Paman Aji menghela napas kasar, memberi kode kepada penjaga pantai asuhan untuk membawa Zahra.Zahra berontak, tapi tenaganya kalah kuat dengan ibu panti itu. Dia meronta sambil menangis terisak-isak.Namun, tangisan menyedihkan itu tak didengarkan oleh sang paman.Sang paman dan istrinya justru tersenyum puas, karena berhasil bebas menikmati h4rta adiknya tanpa perlu mengurusi keponakannya.Sementara itu, tak jauh dari mobil mereka. Seorang pria berjas rapi sedang mengamati di balik kaca mobilnya.Pria tampan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berjanji akan merebut kembali h4rta Zahra yang sudah dirampas oleh pamannya sendiri.Komentar kalian tentang bos Erwin wkwk...Malang sekali hidup Zahra. Setelah orang tuanya meninggal, sang paman tega membuangnya ke panti asuhan.Sejak kecil dia dipaksa asing dengan segala kemewahan yang ia miliki.Sang paman tega melakukan itu untuk menguasai seluruh h4rta yang dimiliki keluarga Zahra.Bocah malang itu harus disingkirkan dari kemewahan yang ia miliki. Meskipun sejatinya ia tidak butuh kemewahan, karena yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang.Diusianya yang belum genap 6 tahun, Zahra harus beradaptasi tinggal di lingkungan baru, bersama anak-anak yang senasib dengan dirinya. Tidak punya ayah dan ibu.Satu minggu berada di sana, Zahra menghabiskan hari-harinya dengan tangisan. Minggu berikutnya dia mulai terbiasa. Mendengarkan celotehan bocah yang lebih kecil darinya, mengantri ketika mengambil makanan, berbagi mainan dengan teman-teman sebaya, dan tertawa senang jika ada donatur yang datang membawa banyak makanan dan mainan.Zahra mulai berpikir bahwa hidup di panti jauh lebih menyenangkan daripada harus hidup dengan keluarga sang paman yang sering bertindak kasar kepadanya.Gadis kecil itu sampai hafal dengan salah satu donatur yang sering datang berkunjung. Namanya Erwin Zamzami, biasa dipanggil Om Erwin oleh anak-anak.Pria tampan itu memperlakukan Zahra lebih spesial dari anak-anak yang lain. Erwin suka dengan iris mata Zahra yang berkilau seperti berlian. Dengan rambut halus yang sering dikuncir ekor kuda. Bibir mungilnya sering mengerucut ketika Erwin mulai menggodanya."Om gemes banget sama kamu. Rasanya pengen Om jadiin gantungan kunci deh," ledeknya sambil tertawa.Zahra mengerucutkan bibir, membuat Erwin mengacak-ngacak rambutnya gemas."Om Erwin nyebelin, deh!" sungutnya dengan suara cadel."Tapi om ganteng kan?" Erwin menaik-turunkan alisnya."Lebih gantengan Yongki," jawab Zahra polos."Siapa Yongki?""Kucingnya si Mira."Erwin menepuk jidat. Kemudian tertawa gemas."Kapan-kapan kalau Om datang ke sini lagi kamu mau dibawain apa?" tanya Erwin.Zahra menatap wajahnya dengan sorot sendu. Membuat Erwin menaikkan sebelah alis.Gadis itu malah menunduk, dengan wajah sedih."Hey Zahra, kamu mau minta apa?" tanya Erwin lembut, sambil memegang bahu rapuh itu."Zahra cuma minta dipeluk," lirih gadis itu dengan suarat berat."Yaudah sini Om, peluk."Zahra langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan dipeluk sama Om.""Lalu?""Pengen dipeluk sama bapak sama ibu," ucap Zahra penuh harap, dengan bulir-bulir bening yang mulai menetes di pipinya.Erwin menelan ludahnya dengan susah payah. Karena keinginan itu tidak akan pernah bisa dikabulkan oleh siapapun, selain Tuhan.Pria itu memalingkan wajah, dengan rahang yang mengeras, menahan emosi. Karena mengingat dua sosok yang membuat Zahra menjadi yatim-piatu seperti ini.Siapa lagi kalau bukan Pak Aji, paman Zahra sendiri, yang tega merancang rencana untuk menyingkirkan ayah Zahra, yang merupakan senior Erwin di dunia bisnis.***Suatu ketika Zahra kembali dijemput oleh pamannya. Sang paman ingin mengajak dia datang ke sebuah pesta, karena yang hadir ke pesta itu kebanyakan adalah sahabat dekat almarhum ayah Zahra.Jadi pak Aji mau tak mau harus membawa Zahra ikut datang ke acara. Sebelum berangkat pak Aji sempat mencubit lengan Zahra sembari memberi ancaman."Awas nanti kalau kamu sampe bilang aneh-aneh kalau ditanya!"Istri pak Aji mengimbuhi. "Nanti bilang aja kalau kamu sangat bahagia tinggal dengan kami."Sesampainya di pesta yang meriah itu, semua atensi langsung beralih ke arah Zahra yang berada di gendongan paman Aji. Semuanya merasa iba dengan nasib bocah kecil itu yang ditinggal oleh kedua orang tuanya."Zahra cantik, gimana kabarnya?"Banyak yang berbondong-bondong menghampiri Zahra, ingin menghibur atau sekedar bertanya hal-hal kecil."Zahra udah waktunya sekolah ya, kamu sekolah di mana?""Kalau libur sekolah main ke rumah tante, dong!""Zahra sehat kan?""Kamu suka makanan apa Zahra, biar Om ambilin!"Zahra hanya tersenyum menanggapi rentetan pertanyaan mereka. Sementara sang paman langsung memberi jawaban yang membangun citra sebagai paman yang sangat menyayangi keponakannya."Zahra sangat bahagia tinggal bersama kami. Dia sekolah di tempat bagus, ingin apapun selalu kami belikan, dan yang paling terpenting dia tidak kehilangan kasih sayang," jelas Pak Aji.Orang-orang sebenarnya tidak seb*doh itu untuk langsung percaya kepada ucapannya. Wajah Zahra tidak terlihat cerah seperti anak orang kaya. Kulitnya dekil dan gelap, karena sering tersengat cahaya matahari saat bermain di panti.Sebagian menyarankan agar Zahra ikut dengan nenek atau kakeknya saja.Namun sayangnya Zahra sudah tidak punya nenek dan kakek. Saudara dari jalur bapak, hanya ada pak Aji, sementara saudara dari jalur ibu, tempat tinggalnya jauh di seberang pulau, dengan kondisi perekonomian yang terbilang m!skin.Diam-diam istri pak Aji mencubit lengan Zahra. Zahra hampir memekik, untung masih bisa ditahan karena tidak ingin dimarahi.Iris mata gadis kecil itu menyorot seorang pria berjas rapi yang mengawasi dari kejauhan. Seakan sedang meminta perlindungan.Sosok itu adalah Erwin Zamzami, dia sangat geram. Ingin membongkar kebvsukan paman Zahra.***Keesokan harinya ketika dipulangkan ke panti, tubuh mungil Zahra sudah dipenuhi dengan luka l3bam dan memar. Pengurus panti merasa prihatin dengan keadaan Zahra. Gadis kecil itu juga tidak mau berbicara apapun ketika ditanya. Membuat pengurus panti meminta untuk menghiburnya.Akhirnya berkat Erwin, senyuman yang sering terlukis indah di bibir Zahra kembali terbit. Ibu panti pun merasa lega."Terimakasih pak Erwin, sudah menganggap Zahra seperti anak sendiri."Erwin tersenyum tipis. "Saya tidak menganggap Zahra sebagai anak sendiri."Dahi Ibu panti mengerut bingung."Karena saya belum menikah." Erwin tertawa."Yaudah kalau begitu terimakasih karena sudah menganggap Zahra sebagai adik.""Saya lebih suka menganggap Zahra sebagai calon istri," jawab Erwin.Ibu panti hampir tersedak dengan ludahnya sendiri. "Edan!"Erwin terbahak. "Iya, sepertinya saya sudah mencintai Zahra sejak dia masih kecil.""Terlalu kecil.""Berarti tinggal menunggu dia tumbuh dewasa." Erwin pamit pergi sambil tertawa terbahak-bahak di depan ibu panti.***Sementara itu, paman Aji dan istrinya sedang merancang skenario p3mbvnuhan. Segalanya sudah di setting sedemikian rupa, agar mereka bisa melenyapkan satu-satunya orang yang memiliki hak atas harta yang mereka nikmati sekarang. Tanpa ada satu pun orang yang curiga.Pak Aji kemudian ke panti untuk menjemput Zahra, lalu berpamitan kepada pemilik panti. Memberikan ucapan terimakasih karena mau menjaga Zahra.Ibu panti melepas kepergian Zahra dengan perasaan khawatir.Karena memang Zahra tidak dibawa pulang, melainkan dipasrahkan oleh beberapa orang berwajah sangar."Selesaikan tugas kalian!" ucap paman Aji sebelum pergi meninggalkan Zahra yang menangis ketakutan di cengkraman para segerombolan preman.Zahra kalau pakai kerudung wkwk...***Zahra, pewaris tunggal almarhum Wirahadi harus menjadi korb4n keg4nasan sang paman yang ingin merebut harta warisannya.Gadis kecil tak berdosa itu dibawa ke suatu tempat misterius oleh segrombolan preman. Dan sang paman tertawa puas melihatnya."Siapa yang berani melakukan?" tanya salah satu preman, merasa tidak tega melihat bocah kecil yang terisak di depan mereka."Dia tampak cantik sekali." Nuraninya memberontak, ingin melepaskan anak malang itu."Miris sekali dunia ini. Rela menyingkirkan apapun hanya demi du1t!""Termasuk dirimu!" sahut temannya.Pria berambut gondrong itu tersenyum tipis. "Kita semua sama, hanya cara berdosa-nya saja yang berbeda."Semua orang terdiam."Kita cari cara lain untuk melenyapkannya," ucap salah seorang dari mereka melangkah meninggalkan Zahra yang terikat di atas meja.Sementara itu di tempat lain. Pak Aji sedang duduk di sebuah ruang rapat bersama beberapa pemimpin dari perusahaan ternama di Indonesia.Setiap pemimpin dikawal oleh satu orang pria kepercayaan mereka. Salah satunya adalah Erwin Zamzami yang terus melirik pak Aji dengan tatapan tajam di belakang bosnya.Pak Aji merasa terintimidasi dengan tatapan itu."Kenapa pengawal anda melirik saya seperti itu," protes pak Aji kepada Dendy Wijaya."Dia tidak yakin dengan kinerja anda!" ucap pak Dendy dengan wajah tenang."Apa haknya?" Pak Aji menaikkan sebelah alis."Sebelumnya dia adalah suksesor Wirahadi Gunawan dalam bidang marketing. Setelah itu saya merekrutnya. Bisa dibilang, dia adalah orang yang paling tahu luar dan dalam perusahaan yang anda kelola sekarang," jelas Pak Dendy lalu menyesap secangkir kopi di atas meja."Tidak usah khawatir, saya akan mengelolanya dengan baik," jawab Pak Aji."Seharusnya Zahra yang duduk di situ," seru Erwin dengan wajah dingin dan datar.Pak Aji tertawa. "Tentu saja, suatu saat nanti Zahra akan duduk di sini. Sekarang dia baru masuk sekolah dasar. Saya akan akan menjaga seluruh aset yang dimiliki adik saya untuk masa depan keponakan saya."Erwin menyeringai lebar, aura wajahnya menyorotkan kebencian. "Lalu kenapa anda berusaha menyingkirkan Zahra?"Semua orang di meja itu terbelalak lebar mendengar ucapan Erwin. Mereka yang merupakan sahabat dekat Wirahadi sekaligus klien dalam dunia bisnis mendadak merasa curiga dengan pak Aji."Apa maksudmu, Zahra sedang sekolah sekarang. Dia sangat bahagia, dan tidak kekurangan kasih sayang," jelas pak Aji gugup."Banyak orang yang bilang bahwa keluarga dari pihak ayah itu selalu ruwet. Saya lebih setuju jika Zahra ikut keluarga dari pihak ibunya saja," celetuk salah seorang yang sejak kemarin mengampanyekan hal itu."Keluarga dari pihak ibu Zahra sangat tidak memungkinkan untuk merawat Zahra, mereka tinggal jauh dari ibu kota."Suasana di tempat itu mendadak tegang."Sudah-sudah lebih baik kita segera memulai rapat. Saya tidak punya banyak waktu untuk berdebat," ucap pak Dendy yang memiliki mega bisnis paling besar di antara mereka. Dan tentu saja paling ditakuti.Erwin tersenyum tipis melihat tekanan yang dia berikan kepada pak Aji.***"Apa kita berikan r4cun saja?" saran salah satu preman."Kasihan ah, gue nggak tega.""Bakalan repot nanti kalau diberitakan dia t3w4s karena dir4cun, cepat atau lambat kita bakalan ikut ketangkap juga."Pria bertatto elang di lengan menyahut. "Pak Aji kabarnya sudah bekerja sama dengan polis1 yang akan jadi penyidik pada kasus ini, kita akan terselamatkan. Tak hanya itu, Pak Aji juga memb4yar beberapa wartawan untu membuat berita yang bisa menyelamatkan pelaku utama.""Lalu bagimana?""Ah sudah lah, lebih baik kita segera selesaikan sesuai arahan Pak Aji saja.""Serius?"Kemudian mereka dengan paksa, mengganti pakaian Zahra dengan baju sekolah, seolah-olah Zahra mengalami kecel4kaan setelah pulang sekolah. Jurnalis yang disuruh pak Aji pasti sudah bersiap mengembangkan berita.***"Kita harus berhati-hati, sepertinya Pak Aji bukan orang sembarangan," ucap seseorang di seberang sana."Ya," jawab Erwin datar sebelum memutus panggilan. Kemudian fokus mengemudikan mobil mengikuti pak Aji yang entah pergi kemana. Bersama keluarganya.Erwin menggertakkan gigi dengan tangan terkepal, setelah mobilnya berhenti di sebuah mall. Mengamati keluarga pak Aji yang turun dari sana.Tidak ada sosok Zahra di sana. Padahal kemarin bocah mungil itu sudah dijemput pulang. Lalu kemana dia sekarang?Firasat Erwin mendadak tidak enak.Pria itu mengempeskan mobil pak Aji dengan kesal. Lalu ikut membuntuti masuk ke dalam mall.Mereka beberbelanja banyak barang, tapi tidak memikirkan Zahra sama sekali. Erwin menyangkan seniornya yang meninggal di usia terbilang muda, sebelum membuat surat ahli waris. Ya, memamngnya maut bisa dipersiapkan?Erwin berusaha memanfaatkan momen dimana putrinya pamit buang air kecil. Diam-diam pria tampan itu melangkah mengikuti, kemudian ikut masuk ke dalam kamar mandi.Sari menjerit kaget, untung saja Erwin langsung membekap mulutnya. "Katakan padaku dimana Zahra sekarang?" bisiknya penuh penekanan.Sari menangis sambil menggeleng pelan. "Cepat katakan! Kalau kamu ingin sdelamat."Sari memundurkan langkah dengan tersengal-sengal. Setelah Erwin melepaskan cengkraman."Cepat katakan!" bentaknya pelan."A-aku tidak tahu!" jawab Sari ketakutan.Erwin melotot sambil mengeraskan rahang. "Apa dia ada di rumah!""I-iya!" jawab Sari."Jangan berbohong!""Tidak, Zahra memang baru pulang sekolah. Kami tidak sempat mengajaknya!"Erwin mendengkus kesal, kemudian mendorong tubuh Sari dengan kasar. Lalu pergi dari kamar mandi itu sebelum dia berteriak minta tolong.***Erwin langsung bergegas menuju ke rumah Zahra. Kemudian bertanya kepada satpam yang berjaga di rumah itu. Jawaban yang diberikan berbeda dengan keterangan Sari.Setelah Erwin mendesak, akhirnya satpam itu mengaku bahwa Zahra diserahkan kepada segerombolan preman oleh pak Aji.Erwin yang tersulut emosi, langsung menjadikan satpam itu sebagai pelampiasan.Arrghhh... Dia benar-benar tidak tahu harus kemana mencari preman-preman yang membawa Zahra.Ponselnya berdering, Erwin langsung buru-buru mengangkatnya. Ternyata dari pak Dendy."Erwin, saya menemukan berita seorang anak sekolah tak sengaja tertabr4k mobil. Anak itu mirip Zahra."Kedua tangan Erwin langsung melemas, hingga ponsel itu terjatuh dari genggaman.Pemakaman boc4h kec1l itu diiringi oleh isak tangis banyak orang. Erwin menjadi orang yang paling terpukul karena gagal menjaganya. Apalagi mereka tidak mengizinkan ia melihat wajah Zahra untuk yang terakhir kalinya.Dibalik kaca mata hitam, air matanya terus bercucuran membasahi wajah. Kedua tangan terkepal, ingin mengh4jar keluarga benalu yang pura-pura bersedih di depan pusara. Semua orang berbela sungkawa, dan pak Aji meminta maaf karena tidak bisa menjaga Zahra dengan baik.Gembar-gembor di media memberitakan bahwa Zahra sengaja bvnvh diri agar bisa menyusul kedua orang tuanya. Tentu saja Erwin tidak percaya, mana mungkin bocah sekecil Zahra berani melakukan itu. Dia yakin, pasti pak Aji adalah dalang dibalik musibah ini."Banyak kejanggalan yang terjadi. Seperti sebuah pembvnvhan yang terencana," bisik pak Dendy di sebelahnya.Erwin menghela napas kasar. Mendongak ke atas, menikmati semilir angin yang menyibak rambutnya. Dia sebenarnya hanya berusaha tegar.Teringat dengan celotehan renyah Zahra ketika berada di panti tempo lalu. "Om, gimana ya caranya biar Zahra bisa bermimpi ketemu sama mama dan papa?"Erwin hanya bisa terdiam."Andaikan dengan tidur bisa selalu bermimpi bertemu mereka, pasti Zahra pengen tidur terus, nggak usah bangun lagi," ucap Zahra sambil tersenyum getir.Dada Erwin terasa sesak saat membayangkannya. Pandangannya beralih ke arah pak Aji yang berusaha ditenangkan banyak orang. Seolah dia adalah orang yang paling terpukul atas kepergian Zahra, padahal sebaliknya.Karena merasa j1j1k melihatnya, akhirnya Erwin memutuskan pergi terlebih dahulu dari pemakaman.Selama 3 hari Erwin hanya melamun di depan jendela kamarnya. Tidak n4fsu makan, juga tidak berminat melakukan apa-apa. D3ndam dan rasa penyesalan masih menggrogoti hatinya.Seenaknya media menyebarkan berita yang tidak akurat tentang Zahra, dan pol1si pun sudah menetapkan seorang sopir sebagai pelaku. Sayangnya Erwin tidak punya wewenang untuk ikut campur dalam urusan itu. Mereka seperti sudah merekayasa semuanya.Refan sahabatnya datang untuk melihat keadaannya. "Sudahlah Win, ikhlaskan saja. Zahra sudah bahagia menyusul papa dan mamanya.""Ya," jawab Erwin dengan suara serak."Lalu, kenapa masih sedih?""Aku tidak bisa membiarkan kedzoliman menang begitu saja. Pak Aji harus diberi pelajaran," jawabnya dengan tangan terkepal."Ya, kita akan pikirkan itu. Sekarang kau harus makan!" ucap Refan. "Karena balas d3ndam juga butuh energi!"***Pak Aji tahu, satu-satunya orang yang paling berbahaya adalah Erwin. Dia sering ikut campur segala urusannya, karena sudah tahu bagaimana tabiat aslinya.Untuk itu pak Aji mulai berencana untuk melenyapkan Erwin, agar hidupnya menjadi tenang. Tidak ada lagi orang yang bisa mengganggunya."Bvnvh pria ini!" ucapnya kepada seseorang berhoodie hitam, sambil menyodorkan foto Erwin.Pria itu memegang amplop coklat yang diberikan pak Aji kemudian pamit pergi.Beberapa rencana dilakukan untuk menc3lakakan Erwin. Termasuk menyuruh seorang office boy untuk menuangkan r4cun ke dalam sacangkir kopi susu yang akan diberikan Erwin."Ini kopinya, Pak!" ucap office boy itu."Taruh situ saja," jawab Erwin masih fokus membaca berkas di atas meja.Pria yang mengantarkan kopi masih belum beranjak, menatap Erwin dengan sorot tajam."Kenapa?" tanya Erwin."Segera diminum, Pak. Keburu dingin.""Ya!"Pria itu pamit keluar.Erwin yang hendak mengambil secangkir kopi itu dengan pandangan yang masih fokus membaca tumpukan berkas, tanpa sadar menyenggolnya jatuh dari meja, hingga cangkir itu pecah berserakan.Prakk!!!Erwin memijat-mijat kening, kemudian memanggil office boy tadi lewat telepon untuk membersihkan lantainya yang kotor.Office boy itu terlihat kesal karena usahanya gagal.***"Kamu kenal orang ini?" tanya pak Dendy menunjukkan foto seorang pria di layar ponselnya.Erwin mengamatinya dengan seksama, dengan dahi yang mengerut. "Tidak, Pak."Dibalik meja kerjanya, Pak Dendy tersenyum tipis. "Namanya Rustam, anak pertama dari pak Aji, dia kuliah di luar kota.""Apakah dia baik? Atau malah lebih berbahaya?" tanya Erwin."Sepertinya jauh lebih berbahaya, karena dia menjalin hubungan dengan putriku, Viola.""Maksud bapak?""Mereka pacaran," jawab pak Dendy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. Kemudian teremenung dengan napas kasar."Saya sudah melarang Viola berhubungan dengan pria itu tapi Viola malah semakin nekad.""Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya Erwin bingung.***Mobil hitam melaju membelah jalan raya, tanpa sadar banyak bahaya yang sedang mengintainya dari kejauhan. Pak Aji sudah mengincarnya, dan tentu saja membuat status pria itu menjadi tidak aman.Tiba-tiba dari perempatan jalan mobil truck melaju kencang, hendak menyambar mobil Erwin dari arah kanan. Untung saja pria itu membanting setir ke arah kiri, sehingga mobilnya menabrak pohon di pinggir trotoar dan lolos dari pecahan kaca.Meskipun pelipisnya berd4rahmembentur sesuatu. Pria itu masih bisa keluar dari mobilnya yang berasap dengan napas tersengal-sengal. Namun, tepat di belakang, sebuah mobil Jeep melaju kencang, dengan sengaja ingin menyambar tvbuh lemah itu.Untung saja Tuhan masih berbaik hati melindunginya. Seorang bapak-bapak yang berada di trotoar berlari menarik tubuh Erwin agar terhindar dari sambaran mobil hitam itu.Erwin terhempas ke trotoar ketika ditarik oleh bapak itu. Tubuhnya sampai membeku beberapa detik karena selamat dari maut untuk kesekian kali. Andai saja bapak itu terlambat untuk menyelamatkannya pasti Erwin sudah pindah alam sekarang.Warga mulai berbondong-bondong datang, mengerumuni Erwin yang meringis kesakitan. Kemudian bergegas membawa Erwin ke rumah terdekat. Untuk memberi pertolongan pertama.Salah satu warga yang datang adalah preman yang membvunuh Zahra. Preman itu berbalik badan kemudian melangkah pergi sambil menelpon seseorang.Luka di sekujur tubuh Erwin sudah diobati. Tinggal menunggu Refan datang menjemputnya. Dua kali hampir tertabrak, dan untung saja masih selamat, tidak ada luka serius yang diderita.Warga yang datang memberondongi Erwin dengan banyak pertanyaan. Meskipun Erwin sedikit susah untuk memberi jawaban, karena kepalanya masih terasa pusing luar biasa.Erwin terkejut melihat segerombolan preman yang datang, kemudian meminta Erwin untuk ikut bersama mereka. Para warga tidak bisa membantu karena mereka membawa senj4ta t4j4m.Erwin ditarik dengan paksa masuk ke dalam mobil. Lalu, bergegas pergi sebelum para pol1si datang."Kalian mau membawa saya kemana?" ucap Ewrin yang duduk di tengah-tengah mereka dengan tvbuh lemah."Sudah diamlah!" bentak preman bertubuh besar di sebelahnya.Erwin dibawa ke suatu tempat yang asing di pinggiran kota. Mereka mendorong tvbuh lemah Erwin masuk ke dalam rumah usang yang terbengkalai. Halaman rumah itu dipenuhi dengan rumput liar dan pepohan yang rimbun.Erwin tidak menyangka jika rumah itu dijadikan markas oleh mereka,Pria itu terkejut bukan kepalang, setelah sampai ke dalam. Melihat Zahra duduk dengan santai di atas meja, sambil melahap lolipop di tangannya."Om Erwin!" ucap Zahra tak kalah kaget, melihat pria itu datang dibawa oleh para preman.Ewrin menelan ludah dengan susah payah. "Zahra, ternyata kamu masih hidup?"

Dicintai OM CEO
Romance
10 Jan 2026

Dicintai OM CEO

Di Asrama Aja - Kamar nomor 24PIYORIN's"Aku tahu asal muasal dari semua ini, dan bukankah itu artinya kita harus menjauhi Vampix?"Perkataan Kayaka membuatku mengerjapkan mata."Tunggu, itu ada hubungannya dengan manusia congkak, angkuh dan sok penguasa?" tanyaku, yang membuat Ryuko kini mengerutkan keningnya, bingung."Bukankah itu karena Vampix berteman dengan spesies kelelawar?" Ryuko mengoreksi jawabanku."Oh, seperti itu."Akan kuceritakan kejadian yang kami alami secara singkat. Mendekati akhir bulan Januari, tiba-tiba dunia gempar dengan keberadaan sebuah virus. Gemparnya ... hm, kira-kira sama seperti dulu ketika Jepang gempar dengan fenomena hilangnya manusia (ya, walau sekarang tidak ada yang mengingatnya sama sekali).Gempar, gempar sekali sampai akhirnya semua fasilitas umum ditutup. Kuakui, aku cukup kaget dengan ini. Sebab ketika fenomena menghilangnya manusia dulu, sekolah dan kantor bahkan tetap beroperasi. Setelah kupikir-pikir, situasi ini lebih dapat dikendalikan daripada fenomena aneh yang bisa saja melahap siapapun tanpa kenal bulu.Nah, haruskah kukatakan bahwa aku senang karena sekolahku libur? Ya, tentu saja aku senang, tapi masalahnya ..." Iya, tapi jangan bermimpi misi kita libur. Dunia sedang bersibuk dengan dunia mereka, kita harus sibuk dengan misi kita. Virus mungkin berbahaya, tapi perlu diingat kalau peri-peri mungil itu bisa lebih mengacaukan dunia."Kata-kata Vampix di pengumuman terakhir di siaran sekolah minggu lalu masih terngiang-ngiang di pikiranku. Dan sebenarnya sudah seminggu pula aku menghabiskan waktu di asrama, di dalam kamarku dan bertemu dengan beberapa orang sesekali, ketika pergi ke cafeteria.Semua jadwal dibuat ulang dan karena itu, tidak ada lagi orang yang boleh berlama-lama di sana. Begitu selesai makan, harus langsung naik karena orang-orang sudah menunggu jadwal mereka. Saat cafeteria kosong, mereka akan menyemprotkan antiseptik ke seluruh ruangan, seolah kami semua adalah virusnya.Malam hari, kami semua menyelinap keluar untuk menangkap para peri yang masih berkeliaran. DAN itupun kami diwajibkan memakai masker. Sebenarnya bisa saja aku mencari mantra pelindung yang membebaskanku dari segala jenis kuman, tapi katanya itu berisiko karena tidak semua kuman bersifat jahat--ini kata Kayaka.Belakangan, isu tentang kami yang akan dipulangkan ke rumah masing-masing, mulai menghilang. Sepertinya isu itu tidak benar, karena sampai detik ini belum ada pengumuman resmi dari pengurus sekolah. Ya, siapa lagi kalau bukan dua kakak beradik itu. Jangan-jangan mereka berdua tidak diperbolehkan keluar dari rumah mereka sendiri. Membayangkan kalau kami akan menjadi tumpukan manusia di asrama membuatku agak merinding."Aku bosan, mau ke kamar kakakku. Mau ikut?" tawar Kayaka padaku."Bukankah kita diminta untuk saling berjauhan dulu? Seperti yang kita lakukan sekarang?" tanya Ryuko.Oh ya, coba tebak apa yang sedang kami lakukan!Ya, benar, tiduran di kasur masing-masing."Rin bisa menggunakan kekuatannya untuk membuat kita memakai pakaian astronot, iya kan, Rin?"Ryuko menolehkan kepalanya ke arahku yang kebetulan tidur di tengah. Rasanya malu sekali setiap Kayaka membahas soal kostum astronot. Aku yang mengusulkannya awal-awal, tapi aku hanya bercanda. Aku tidak tahu bahwa Kayaka akan mengganggapnya seserius ini."Kalau Piyorin menggunakan kekuatannya dan membuat semua orang di sini memakai pakaian astronot, apa kita bisa beraktivitas seperti biasa, ya?" Ryuko bertanya sambil menatap langit-langit kamar.Kami bertiga menghela napas kami bersamaan."Pasti berat," keluhku sambil membayangkan."Hmm ..., membosankan, ya."Dan itulah yang kami lakukan, terus menerus. Sama saja. Tujuh hari berturut tanpa bisa berjalan sesuka hati. Entah mengapa aku jadi merindukan rasa lelah ketika berjalan jauh dari gedung cadangan ke asrama."Ayo, kita berkeliling!" Kayaka tiba-tiba mengusulkan sebuah ide."Dalam keadaan seperti ini sangat tidak memungkinkan," balasku malas."Tinggal pakai pakaian astronot--""Itu berat. Beraaat," balasku sambil merenggangkan tubuh."Kan tinggal teleport ," ucap Kayaka, berusaha meyakinkan."Memangnya kau ingin kemana, sih?" tanyaku.Ryuko tiba-tiba bersuara di sela perdebatan absrud kami. "Ah, kau rindu dengan kakakmu, ya?"Wajah Kayaka sontak berubah masam, "Ih! Tidak!""Oh~ Jadi begitu ya? Kulaporin ke Kayato ah, nanti," ucapku, ikut menggoda Kayaka. Ya, daripada bosan."Rin! Tidak seperti itu, kok!" balas Kayaka makin keras kepala."Masak sih? Memangnya kau tidak rindu main game lagi dengannya?" tanyaku."Daripada dengan Kak Kayato, lebih baik dengan Light," ucap Kayaka.Sontak, perkataannya membuat seisi kamar kami menjadi hening."Hah? Dengan Light? Kenapa?" Ryuko bertanya dengan agak antusias.Sedangkan aku, alih-alih mengganggu Kayaka lagi, aku malah merinding ngeri karena secara otomatis membayangkan petir yang menyambar keras dan halilintar di atas awan."Soalnya sudah bosan main game dengan Kak Kayato. Strateginya sama saja dari zaman dahulu kala. Sudah bisa ditebak, sangat membosankan," jelas Kayaka."Oh, kau membicarakan soal bermain game, rupanya." Mendadak antusiasme Ryuko memadam tanpa sebab."Kau bicara begitu, padahal walaupun sudah tahu taktik Kayato, kau tetap kalah setiap bermain dengannya," sahutku."Rin kan tidak pernah main game dengan Kak Kayato, mana ngertii." Kayaka berpendapat."Aku memang hanya suka melihat orang main game," timpalku pendek."Oh ya? Aku juga begitu." Ternyata Ryuko seperjuangan denganku."Hm, kalau aku, daripada menonton orang, lebih suka mengerjakannya langsung," sahut Kayaka."Ya, karena itulah dia tidak pernah betah di bioskop," sambungku."Hmm...."Kamar kembali hening. Ryuko akhirnya memutuskan untuk memainkan gadgetnya--pilihan paling baik yang sebenarnya hampir kami lupakan keberadaannya.Jangan lupakan bahwa kami sebagai manusia semi-penyihir mengemban tugas berat di pagi sampai sore hari untuk bersekolah dan malam hari sebagai pemburu peri. Tentu saja aku jadi jarang memainkan ponselku. Hanya saja, belakangan ini semenjak maraknya virus itu, aku dan ponselku seperti tak terpisahkan. Tampaknya yang lain juga signifikan terkena dampak yang serupa."Wah. Mai dan Nai sedang memasak bersama." Ryuko memperlihatkan hasil masakan mereka dari salah satu sosial media."Eh? Kalian berteman di sosial media?" tanyaku."Mai mencari akun Reina, lalu mengikuti yang diikuti Reina satu persatu," jelas Ryuko."Rin, kau juga di follow , tuh." Kayaka memperlihatkanku ponselnya. Entah kapan dia mulai membuka ponselnya."Hah? Aku tidak menyadarinya." Aku malah ikut-ikutan membuka sosial media untuk mengonfirmasi perkataan Kayaka.Sugihara Mayaka."Ohh! Dia pakai nama aslinya! Pantas saja aku tidak mengenalinya!""Memangnya kau berharap dia memakai nama penyihirnya untuk sosial media?" tanya Kayaka dengan tatapan datar."Rainna memakai nama penyihirnya, tuh," kataku."Itu karena Rainna tidak ingin kita semua kena masalah, kalau dia menggunakan akun selebritinya untuk mengikuti kita semua. Bisa-bisa, semua geger setiap hal yang berhubungan dengan sekolah Rainna," ucap Kayaka."Iya, Reina hanya tidak ingin kita kena masalah. Kalian masih ingat dengan nasib papparazi malang yang menyelinap masuk ke dalam Gakuen Sora?" Ryuko bertanya.Tentu saja aku masih ingat bagaimana nasibnya. Beragam, mulai dari ilusi memutar yang sama dengan kejadian yang kualami ketika menolak mendatangi Gakuen Sora, sampai akhirnya pingsan karena melihat pohon-pohon berlari mengejarnya dengan akar panjang mereka.Dia datang diwaktu yang sangat tidak tepat, pagi buta ketika Ryuko membangunkan bunga. Dan karena itu, Ryuko harus membangunkan Kayaka untuk membantunya menghilangkan ingatan papparazi itu. Waktu kejadian itu, aku masih tertidur pulas, tak tahu menahu apa yang terjadi di bawah sana."Hmm, kurasa keputusan Rainna membuat akun kedua sangat bijaksana," komentar Kayaka.Aku tidak pernah benar-benar melihat Kayaka berbicara dengan Rainna. Kayaka sebenarnya tidak akan masalah berteman dengan Rainna, begitupun sebaliknya. Tetapi dari yang kulihat selama ini, mereka hanya jarang mengobrol karena minimnya kesamaan mereka. Namun, tanpa kuketahui, rupanya Kayaka dan Rainna sudah saling mengenal."Ngomong-ngomong, Mai dan Nai sudah SMP 3. Itu artinya mereka akan ke sini tahun depan," ucap Ryuko."Hah? Mereka berdua masih SMP?!" tanyaku tidak percaya."Rin, ingat. Kau sendiri juga baru lulus SMP tahun lalu," peringat Kayaka."Bukan begitu! Maksudku, Nai sangat dewasa, tahu! Kukira dia lebih tua dariku atau paling tidak seumuranku," jelasku."Hm, aku pernah berbicara dengan Nai waktu di Blackmix, tapi tidak terlalu dekat dengannya. Ya, dia cukup dewasa, sih." Kayaka sependapat denganku."Wah! Mereka memakai seragam SMP favorit di Tokyo! Mereka pasti sangat pintar," kagum Ryuko."Ya, pernah favorit, sampai akhirnya Gakuen Sora muncul dari tanah dan merebut titel itu," balasku. Sampai hari ini, aku tidak pernah setuju dengan hal itu."Hmm ...."Hening kembali."Orang-orang jadi pemalas ya, karena kondisi ini," ucapku."Tidak juga, banyak kok, yang mencoba produktif dari rumah." Kayaka tiba-tiba menoleh tajam ke arahku, sekolah baru saja mengingat sesuatu. "Eh, Rin, ngomong-ngomong, kita jadi tidak berkeliling dengan pakaian astronot?""Hah? Kau masih ingin melakukannya?!" tanyaku tidak percaya.Ryuko hanya tertawa pelan mendengar percakapan kami.***#DiAsramaAja , karena Piya dkk tidak bisa pulang ke rumah masing-masing.Ini kira-kira 1300-an kata, untuk menutup kerinduan kalian terhadap Piya dkk.Semoga segera mereda dan membaik. Stay safe and please stay at home!

Wanita Simpanan CEO
Romance
09 Jan 2026

Wanita Simpanan CEO

Semua karyawan kantor berbaris dan menunduk kala sang CEO yang baru saja menggantikan sang Ayah yang pensiun dan mengemban tandu kepemimpinan, dia adalah Reymond Admaja seorang lelaki tampan dan angkuh yang baru saja lulus S2 dan langsung menggantikan ayahnya tuan Riyan Admaja.Sang CEO baru lewat namun semua karyawan tak ada yang bisa memperhatikan ketampanannya karena semua diharuskan menunduk dan sang pimpinan hanya lewat begitu saja tanpa membalas ataupun tersenyum sedikitpun dan hanya memberikan tatapan datar.Setelah sang CEO lewat semua karyawan kembali ketempat kerja dan melanjutkan aktifitas masing-masing termasuk Dina yang telah bekerja sebagai resepsionis selama 2 tahun.Hari-hari ia lalui seperti biasa namun yang membedakan hari ini dengan hari biasanya adalah ia memiliki pemimpin perusahaan baru namun itu tak membuat perbedaan baginya selama ia bisa bekerja dan menerima gajinya seperti biasa.Terlihat seorang pengantar makanan menitipkan pesanan untuk sang CEO di meja resepsionisnya, ia menerimanya dan sedari tadi menunggu OB yang lewat untuk memberikan makanan bagi CEO baru namun sekalinya lewat malah bilang jika tidak berani karena sedari pagi sang CEO marah-marah karena kondisi kantor yang katanya masih sangat kotor."Ini anterin dong pak masak saya sendiri yang anterin kan saya harus jaga". Dina menyodorkan makanan tersebut agar segera diantar namun sang OB malah terlihat ragu." Maaf ya mbak bukannya nggak mau tapi saya takut beneran soalnya itu bos killernya minta ampun, tadi pagi aja udah 3 temen saya yang di pecat gara-gara nggak bisa bersihin ruangannya padahal itu ruangan udah bersih banget". tuturnya dan melangkah mundur."sekali lagi maaf mbak".Dina menghembuskan nafas kasar seraya melihati makanan tersebut yang pastinya sudah dingin, " Udah Dina kamu aja yang anterin biar aku yang jaga".Dina melihat Ikha yang malah cengengesan, ini sama saja menyuruh Dina masuk ke dalam kandang macan."Yaudah deh aku anterin dulu ya". Karena tidak ada OB yang mau akhirnya ia memutuskan untuk mengantarkan makanan itu sendiri sebelumnya ia menitipkan pekerjaan ke temannya.Tentu saja ia memiliki ketakutan tapi CEO juga seorang manusia kan, jadi harusnya tak ada yang perlu di takuti paling nanti hukuman paling berat yang ia dapat adalah di pecat.Ia menaiki lift ke lantai tertinggi di perusahaan dan terlihat meja sekertaris yang kosong padahal ia ingin menitipkan saja ke sekertarisnya, dengan dengusan ia mengetok pintu sang CEO."Masuk" terdengar seseorang mempersilakan masuk dan saat memasuki ruangan itu untuk pertama kali dilihatnya ruangan yang amat luas dengan hanya 1 meja kerja dan sofa yang mungkin untuk menerima tamu."ada apa ?" tanyanya membuat kekaguman Dina terhadap ruangan terganggu. "ini makanan yang anda pesan pak" sambil meletakkan makanan dan hendak pergi namun suara dari belakang menghentikan langkahnya."Dari tadi saya menunggu makanan itu dan baru sekarang sampai apa kamu tidak tau jika saya sangat menghargai waktu ?!". sambil mengetik di komputer. " maaf pak tapi dari tadi tidak ada OB yang bisa dititipi dan lift penuh"."Berani kamu menjawab dan membuat alasan saya". sambil melihat Dina."maaf pak tapi saya hanya mengatakan yang sebenarnya". mendengar hal itu membuat pak Raymond menjadi naik pitam dan melihat tulisan di name tag yang tertera di blayzer bertuliskan "Resepsionis Dina Puspita" dengan segera Pak Reymond membentak Dina dan menyuruhnya keluar.Pak Reymond mengambil HP dari mejanya dan menghubungi sekertarisnya untuk meminta CV dari pihak HRD atas nama Dina Puspita bagian Resepsionis. Pak Reymond ingin menyelidiki Dina mengapa dia sangat berani menjawab semua perkataannya.Sang sekertaris memberikan informasi ke CEO dan langsung keluar ruangan karena ia tidak ingin menjadi pelampiasan bosnya yang sangat ketara sekali sedang marah. Dilihat dan diteliti setiap informasi dari Dina namun tanpa ia sangka ada satu hal yang membuatnya terkejut yaitu nama SMP dan tahun lulusnya yang ternyata sama persis dengan Dina.Ia mengingat ingat lagi dan terus menyebut nama Dina Puspita di dalam fikirannya dan teringat bahwa Dina Puspita adalah temannya 1 SMP di kelas 3.Saat Jam kantor sudah selesai Pak Raymond memerintahkan sekertarisnya agar Dina datang keruangannya. Dina yang mendengar itu mendengus kesal namun dalam hati ia berharap agar hanya dimarahi saja dan tidak dipecat. Dina tau jika pimpinannya tadi siang sangat marah juga kesal dengannya tapi tak menyangka jika ia akan dipanggil pada jam pulang.Dina sudah ada di depan pintu dan setelah masuk ruangan pak Reymond mempersilakan duduk di sofa ruangan begitu juga dengan pak Reymond yang duduk diseberang meja. Mereka berdua masih saling diam dan terlihat pak Reymond sedang menahan tawanya, namun akhirnya ia bersuara juga."apa kau tidak ingat aku ?" ucap pak Reymond sambil menahan tawa membuat Dina menyernyit bingung." siapa ?". Dina melihati pak Reymond dan mencoba berfikir memangnya ia pernah punya kenalan seorang bos sepertinya tidak." aku Rey yang satu sekolah denganmu saat SMP dan sekelas saat kelas 3". ucapnya dengan antusias."Oh aku ingat sekarang kau Rey yang waktu itu selalu saja membully dan merebut buku pr-ku lalu menconteknya kan ". Dina dengan lantang mengatakan itu padahal yang saat ini ada di hadapannya adalah bosnya sendiri yang bisa kapan saja memecatnya." ternyata kau masih ingat yang itu, apakah sekarang kau akan balas dendam melihat kau yang sekarang sangat berubah dan kau lebih percaya diri, ngomong-ngomong apa yang membuatmu berubah sampai seperti ini ?". Tak menyangka Dina yang terkenal kampungan dan pendiam saat sekolah kini malah berubah drastis."yah kau tau sendiri jika aku dulu pendiam dan sering ditindas maka dari itu aku berubah agar tidak ditindas lagi, apakah sangat terlihat perubahanku ?". Dina memang berusaha berubah lebih percaya diri karena ia sudah lelah di tindas dan di bully apalagi hidup mengajarkannya untuk lebih berani." yah kau lebih percaya diri dan juga lebih cantik ". ucapnya dengan nada lembut.Reymond dan Dina terus membicarakan mengenai masa lalu membuat mereka asyik dengan dunianya dan melupakan jika hari sudah gelap. Mereka menghentikan obrolannya dan pulang, Rey menawarkan untuk mengantarkan Dina, ia sempat ragu dengan tawaran itu tapi akhirnya ia terima juga karena hari yang sudah gelap dan tentu transportasi umum susah ia dapat.Hari ini Rey sangat jenuh lantaran di kantor ada saja perkejaan untuknya yang seakan menumpuk minta di kerjakan, bahkan sudah jam 8 malam baru ia selesai. Membuatnya kelaparan namun ia tak ingin makan di rumah yang ada nanti papanya menanyakan tentang pekerjaan lagi dan lagi makanya ia ingin makan di luar namun tak ingin pergi sendiri.namun mengajak siapa ?, ia bahkan tak punya teman yang benar-benar tulus kepadanya dan yang ada nanti saat makan malah membicarakan tentang pekerjaan lagi, ia jadi teringat akan seseorang.Rey mengambil hp dan menghubungi nomor orang tersebut dan tak lama tersambung.Rey. : Hallo apa kau sudah pulang ?Dina :Belum kenapa ?Rey : Mau makan bersama, aku yang traktirDina. : BaiklahRey.  :Tunggu ku di depan aku akan ambil mobil duluRey mematikan telfonnya dan segera ke parkiran untuk mengambil mobil. Dan di depan lobi terlihat Dina sudah menunggunya, ia menurunkan kaca mobil dan menghidupkan klakson untuk memanggil Dina.Dina melihat sekitar terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam milik bosnya itu, tak menyangka jika sang atasan akan mengajaknya makan, atau lebih tepatnya teman yang dulu suka membullynya."Apa kau yakin mengajakku makan ? jika karyawan yang lain tau memangnya kau tidak malu ?". Tanyanya ketika sudah di dalam mobil namun terlihat Rey malah tersenyum miring." Tidak apa-apa lagi pula yang lain sudah pulang, aku malah yang penasaran kenapa kau mau makan denganku ? kau tidak takut jadi bahan pembicaraan orang ?". Dina tersenyum tipis, tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu."Kita tidak bisa membungkam mulut orang kan, padahal kita tidak melakukan suatu kesalahan tapi orang tetap suka membicarakan urusan orang lain". di sela menyetirnya Rey melirik Dina yang tengah melihat jendela.Ia cukup kagum sekarang cara pemikiran Dina berbeda dengan terakhir mereka bertemu, Dina yang sekarang berani menjawab pertanyaannya bahkan tak takut padanya padahal ia sekarang adalah CEO.Setelah selesai makan Rey mengantarkan Dina pulang, karena hari juga sudah terlalu larut. Tak lupa ucapan terima kasih Dina berikan karena sudah mentraktir dan mengantarkannya pulang.*******Rey sesekali mengajak Dina untuk sekedar jalan berdua karena keduanya merasa nyaman hingga tak sadar ada sekedar perasaan yang lebih dari sekedar teman. Perasaan saling ingin melindungi, menyayangi dan sampai pada mencintai." Dina maukah kau jadi pacarku ?". Dina langsung menatap Rey dengan tatapan tak percaya jika ia baru saja di tembak."Apa kau tadi menyatakan perasaanmu ?". Terlihat Rey tersenyum dan tak hanya itu Rey bahkan menggenggam tangan Dina dan menciumnya." Kau mau apa tidak, kalau tidak kau ku pecat ". Dina menaikkan satu alisnya, tak menyangka jika pernyataan cinta Rey di selingi ancaman tapi itu tak membuatnya terkejut mengingat bagaimana dulu perlakuan Rey padanya." Kau sebenarnya suka padaku atau cuma mau aku jadi pacarmu ? yang benar saja jika aku menolak maka kau memecatku kalau begitu pecat saja aku".Terlihat raut wajah tak senang ketika Dina malah lebih memilih di pecat ketimbang menerima perasaanya, memangnya Rey kurang apa hingga Dina menolaknya."Kau wanita pertama yag menolakku apa kau tau itu ?". Dina mengangguk dan itu malah semakin membuat Rey tak faham juga kesal.Dina sudah mengira Rey tidak pernah di tolak wanita sebelumnya karena caranya menyatakan cinta saja ada ancamannya kalau di tolak, maka ia ingin sedikit bermain-main dengan Rey." Jika kau hanya ingin memilikiku dan ingin mendapatkanku karena ancaman maka aku tidak mau tapi jika kau benar-benar mencintaiku maka aku mau jadi pacarmu". Rey tertawa tak mengerti dengan jalan fikiran perempuan."Aku ingin memilikimu karena aku mencintaimu jadi aku anggap kita sekarang pacaran". Tak sempat Dina mengatakan apapun untuk membalas perkataan Rey tapi Rey malah terlebih dulu menciumnya hingga membuatnya terdiam sejenak dan menyentuh bibirnya yang di cium Rey." Kenapa diam begitu jangan bilang jika kau tidak pernah ciuman sebelumnya ?". Rey melihat bagaimana ekspresi Dina yang nampak menahan malu dan itu membuatnya tau jika memang Dina tak ada pengalaman dalam ciuman.Dalam hati ia jadi senang karena tak hanya mendapatkan Dina tapi juga kepolosannya, atau lebih tepatnya kepolosan Dina sedikit ternodai olehnya.*********Sesekali Rey menyuruh sekertarisnya untuk membelikannya sesuatu atau sengaja menyuruhnya keluar kantor hanya agar Dina bisa leluasa masuk ruangannya untuk ia melepas rindu begitu juga Dina yang kadang alasan ke teman kerjanya ingin ke toilet padahal ingin menemui Rey.Rey berfikir bagaimana ia agar lebih leluasa bertemu dengan Dina dan agar orang lain tak bisa mengganggu mereka. Terlintas difikiran Rey untuk membelikan sebuah apartemen untuk Dina agar Rey bisa bebas berkunjung dan melepas rindu padahal setiap hari dikantor mereka bertemu walau saat mereka berpapasan mereka akan pura-pura saling tidak kenal.Saat pulang Rey mengajak Dina kesuatu tempat yang sebelumnya Dina tidak tau dan tidak dikasih tau, hingga tibalah mereka disalah satu apartemen yang cukup mewah."Rey ini apartemen siapa ?". tanyanya saat sudah masuk ke apartemen yang mewah."bagaimana baguskan sayang, ini adalah tempat tinggalmu sekarang". Dina yang tengah mengagumi keindahan dan kemewahan apartemen itu jadi berbalik ke arah Rey dan melihat Rey dengan rasa tidak percaya."apa Rey ini terlalu berlebihan". Dina merasa apa yang di lakukan oleh Rey terlalu berlebihan mengingat mereka hanya pacaran dan belum menikah."tidak ada yang berlebihan untuk kekasihku, ini adalah untukmu sayang, dan agar aku bisa leluasa berkunjung". Tuturnya walau begitu Dina masih merasa tidak enak menerima pemberian Rey."tapi ini__""sudahlah terima ya, kalau kau tidak mau berarti kau tidak menghargaiku". Dina menyerah karena tak bisa lagi menolak apalagi Rey bukan lelaki yang akan menerima penolakan."baiklah terima kasih aku mencintaimu"."aku lebih mencintaimu sayang".Setiap hari Rey sudah tidak pernah lagi bertemu Dina diruangannya karena Dina takut akan ketahuan karyawan kantor yang lain dan sebagai gantinya mereka bertemu di apartemen yang dibelikan Rey dan Rey seringkali menginap disana pada akhir pekan, Dina menyetujui Rey menginap namun dia tidak membiarkan Rey satu ranjang dengannya.Rey setuju dan tidur dikamar yang lain karena apartemen itu mempunyai dua kamar. Sebenarnya Rey merutuki dirinya sendiri dengan membeli apartemen yang mempunyai dua kamar seharusnya ia membeli apartemen yang hanya mempunyai satu kamar saja, agar ia dan Dina bisa tidur satu ranjang.Rey membuka pintu kamarnya dan tetlihat Dina yang sedang memasak dengan dres rumahan yang panjanganya sedikit diatas lutut juga celemek yang terpasang ditubuhnya membuat Rey menelan ludah, padahal pakaian yang di kenakan Dina adalah pakaian santai namun terlihat amat seksi dan menggoda di mata Rey.Dina berbalik melihat Rey dan menyuruhnya agar sarapan bersama. Bukannya ikut sarapan Rey malah berbalik masuk kekamar dan menutup pintu karena merasa sesuatu di bawah sana sudah tegak. sementara Dina yang melihat reaksi Rey saat diajak sarapan bersama malah bingung dan memikirkan ucapannya yang dirasa tidak ada salah.Rey mengguyur seluruh tubuhnya dibawah shower yang mengalir deras, bersarap adik kecilnya segera tidur kembali karena jika tidak mungkin sekarang Rey akan menerkam Dina dan membuat Dina begitu benci kepadanya juga meminta putus.Setelah adik kecil Rey tidur kembali, ia langsung bergabung dengan Dina yang sudah ada di meja makan, juga mengatakan kepada Dina agar tidak memakai pakaian yang kekurangan bahan dirumah apalagi diluar.Dina merasa aneh dengan kata-kata Rey padahal ia tidak merasa menggunakan pakaian yang kekurangan bahan, namun ia menurut ucapan Rey karena tak mau membuat Rey marah padanya apalagi bertengkar.Hubungan mereka sudah berlangsung selama 5 bulan dan aktifitas mereka masih sama yaitu bekerja dikantor pura-pura tidak saling kenal, berjalan-jalan di akhir pekan ke tempat yang sekiranya jauh dan tak ada orang yang mengenali mereka, tapi bertemu dengan leluasa saat ada di apartemen dan mencurahkan segala rindu yang ada. Walaupun Dina juga iri kepada orang lain yang saling mencinntai dan mempublikasikan kepada orang-orang.Namun dengan segera ia buang jauh-jauh pemikiran itu karena ia tau kastanya dan kasta Rey yang teramat berbeda jauh bagaikan bumi dan langit, walau begitu pasti suatu hari ia dan Rey bisa bersama, sekarang saja ia sangat bersyukur dengan rasa cinta dan kasih sayang yang Rey berikan.Tak jarang Rey membelikan barang-barang mewah dan branded dengan stok terbatas. Sebenarnya Dina selalu berusaha menolak tapi Rey selalu bilang jika ia tak menghargai perasaan Rey kalau menolak pemberian Rey jadi mau tak mau Dina terima walau ia sering berbohong teman kerjannya.Seperti tadi pagi saat Dina memakai sepatu pemberian Rey dan berbohong kepada temannya saat bertanya dan menjawab jika sepatu yang ia pakai adalah sepatu kw super namun bergarga murah, dan temannya yang mendengarnya percaya begitu saja tapi ada juga yang menanyakan tempat Dina membeli sepatu itu sementara Dina tetap berbohong karena tempat Rey membelikannya sepatu saja ia tidak tau.Dina yang lebih dulu pulang karena jam kerjanya telah usai meninggalkan Rey dengan segudang pekerjaan yang membuat lelaki itu lembur, tak lupa Dina mengirim pesan pemberitahuan untuk pulang lebih dulu padahal Rey bilang kalau ia akan menginap di apartemen dan pulang bersama namun apa mau dikata kalau pekerjaannya harus lebih dahulu Rey selesaikan.Dina sudah berada di apartemen dan langsung memasak karena Rey yang sudah janji untuk menginap dan pastinya akan makan di apartemen, setelah lama didapur membuat badan Dina lengket bahkan aroma masakannya kini beralih ke tubuhnya.Aliran air shower mengguyur seluruh tubuhnya tak lupa ia menggunakan sabun aroma lavender dan jasmin yang membuat tubuhnya harum dan wangi. Dilain sisi Rey sudah masuk ke apartemen karena ia memegang kunci sendiri jadi tak butuh Dina untuk membukakan pintu.Rey masuk dan tak melihat Dina dimanapun membuat Rey mencari dan menghubungi nomor Dina. Suara nada dering HP Dina terdengar dan membuat Rey mengikuti sumber suara itu. Ternyata HP Dina terletak di atas meja kamar Dina namun yang punya masih belum ketemu.CeklekPintu kamar mandi terbuka membuat Rey melihat Dina yang baru saja selesai mandi dengan rambut basah tergerai kebawah juga handuk yang melilit tubuhnya dan mengekspos paha mulus Dina membuat Rey menelan ludahnya dan gairahnya bergejolak tak tertahan lagi bahkan adik kecilnya sudah berdiri tegap.Sementara Dina yang melihat Rey ada di kamarnya kaget juga merasa gugup dengan tatapan Rey yang melihat Dina dari ujung kaki ke ujung kepala seperti ingin menerkamnya membuat mereka berdua diam dan terasa sekali kecanggungan diantaranya. Dina memutuskan untuk berbalik dan masuk kedalam kamar mandi namun gerakannya terhenti kala kaki Rey lebih cepat menghampiri Dina dan mencegahnya masuk, mereka berdua bertatapan dan terlihat sekali gairah yang berkobar di mata Rey dan langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Dina, "aku sudah tak tahan".Dina terkejut mendengar Rey namun sebelum ia bersuara Rey sudah terlebih dahulu mengecup dan melumat bibir Dina lama kelamaan ciuman Rey menjadi ciuman panas yang menuntut bahkan sekarang Rey memasukkan lidahnya dan menakan tengkuk Dina agar lebih dalam berciuman membuat Dina membetontak namun tenaga yang tak sebanding membuat gadis itu menyerah dan mengikuti ciuman Rey bahkan sekarang ia membalas ciumannya.Dirasa Dina sudah tak lagi melawan dan tangan Rey mengarahkan kedua tangan Dina agar melingkar di lehernya. Dina merasakan sesuatu seperti perasaan terhanyut bahkan ia tak sadar jika Rey sudah melepaskan handuk yang melilit ditubuhnya. Rey melepaskan ciuman mereka dan tersenyum lalu ia menggendong dan merebahkan tubuh Dina diatas kasur.Rey melepaskan jasnya juga dasi untuk mengikat tangan Dina. Rey mendekat dan menghirup aroma Dina yang sangat wangi sehabis mandi." emh kau sangat wangi". ucap Rey dikala mencicipi setiap jengkal tubul Dina."Rey aku mohon jangan". Dina merasa jika apa yang mereka berdua lakukan sudah melampaui batas, dan jika ia tak menghentikan Rey sekarang yang ada nanti ia yang menyesal." Rey aku mohon tidak Rey jangan". pinta Dina namun tak juga digubris, tapi Rey sudah terlanjur bergejolak hingga kini harus ia tuntaskan dari pada harus mencari wanita lain untuk menuntaskannya atau malah bermain solo di kamar mandi." Rey hentikan". Pinta Dina"hentikan ? tapi kau begitu menggemaskan sayang". Rey membuat Dina seolah semakin kehilangan kesadarannya dan memaksanya menerima apa yang Rey lakukan."tidak Rey"." jadi tetap tidak ?". Rey tak habis akal ia inhin Dina menjadi miliknya malam ini dan itu harus terjadi, ia tak ingin hanya mendapatkan cinta dari Dina tapi juga semuanya." baiklah". Dina sudah terlihat seperti cacing kepanasan yang menggeliat tak tertahan, semua yang Rey lakukan membuatnya menyerah dengan pertahanan yang selama ini ia lakukan untuk mempertahankan kesuciannya." as you wish honey"."Aaaaargh", tanpa sadar airmata Dina mengalir begitu saja kala pusaka Rey yang besar menembus memasuki tubuhnya membuat rasa sakit juga peris seperti luka yang disiram air jeruk nipis.Tak ada rasa bersalah di dalam diri Rey kala sudah berhasil menembus pertahanan Dina dan yang ada hanyalah rasa puas. Ia mencintai Dina dan ia rasa ia pantas mendapatkan semua yang Dina miliki termasuk mahkotanya Dina.Terlihat Dina sudah lebih dulu tertidur sebelum ia juga akhirnya tumbang di sebelah Dina, rasa puas membuatnya tersenyum senang dan memberikan ciuman di kening sebelum ikut terlelap.Matahari sudah terbit menyaksikan dua insan yang masih terpejam karena kelelahan setelah sama-sama menuntaskan gairah. Dina mengerjapkan mata beberapa kali dan melihat seorang lelaki tidur disampingnya.Lelaki itu begitu tampan bahkan Dina tak bisa menahan untuk tidak menyentuh wajah pria disampingnya. Terlihat pria itu memiliki alis yang tebal juga hidung mancung, setiap bagian dari wajah pria itu sudah Dina sentuh secara lembut agar tak membangunkannya.Dina berusaha untuk bangun namun sekujur tubuhnya terasa sangat sakit apalagi bagian bawahnya. Selimut yang melorot memperlihatkan tubuh polosnya mengingatkan tentang kejadian tadi malam dimana Rey sudah__."Aaaaaaaaaaaargh dasar kau kurang ajar dasar mesum kau teterlaluan Rey". teriak Dina seraya memukulkan bantal ke tubuh juga wajah Rey membuat Rey bangun kesakitan."Aduh aduh hey sayang kenapa kau memukulku". ucapnya Rey sambil berusaha duduk dan menangkis pukulan bantal Dina." kenapa ? harusnya aku yang tanya kenapa kau melakukannya padaku ?". ucapnya dengan marah sambil memukul Rey dengan tangannya."kau lupa kan kau yang memintanya sayang ". ucapnya seraya tersenyum menggoda Dina." itu karena karena argh pokonya kau menyebalkan aku membencimu ". ucap Dina malu saat mengingat kejadian semalam sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sedangkan Rey hanya tersenyum melihat Dina yang marah dan malu, iapun melanjutkan tidurnya karena masih lelah dan mengantuk.Dina memasak sarapan untuk mereka berdua dan sesekali gerakannya terhenti bahkan jalannya terlihat kesulitan. Rey duduk di meja makan setelah sebelumnya mandi dan melihat Dina yang jalannya kesusahan membuatnya penasaran." kakimu kenapa ?", tanya Rey saat Dina sudah ikut duduk di meja makan, pertanyaan Rey membuat Dina sebal dibuatnya."ini semua kan karena kau, karena it itu itu itumu ". Dina tergagap dan tak mampu melanjutkan kata-kata karena malu untuk menyebutkannya." karena ituku apa kamu sedang terkena penyakit gagap ya ?". ucap Rey bingung dengan perkataan Dina yang gagap dan tak jelas membuatnya menaikkan sebelah alisnya."karena itumu terlalu besar dan ganas, kau puas sekarang ?" jawab Dina dengan teriak dan marah karena Rey menyebutnya gagap.Rey yang sedang meminum air terkejut dan menyemburkan air di mulutnya seketika Rey tertawa keras tak tertahankan mendengar ucapan Dina yang amat lucu ditelinganya. Sementara Dina yang melihat Rey tertawa terlihat wajah kekesalannya bahkan kini tangannya bersidekap didada juga memalingkan wajahnya."kau tidak bisa jalan karena punyaku yang terlalu besar dan ganas kau bilang ?". Rey sambil berusaha menghentikan tawanya namun bukannya berhenti malah semakin keras membuat Dina beranjak dari duduknya dan meninggalkan Rey yang masih tertawa." Hei tunggu sayang". Rey berhenti tertawa dan dan beranjak mengikuti Dina yang merajuk meninggalkanya dimeja makan."Hei kau jangan marah oke, aku minta maaf lain kali aku akan melakukannya dengan lembut oke". bujuk Rey lembut setelah berhasil menyusul Dina." Tidak ada lain kali, Rey apa kau sadar kalau kita ini belum menikah, tidak sepantasnya kita melakukannya Rey". Jawab Dina yang khawatir."Kau tenang saja kita akan menikah aku berjanji sekarang kau jangan marah lagi oke". pinta Rey lembut dan Dina sudah tak marah lagi, mereka kembali ke meja makan dan melanjutkan aktifitas hari libur mereka.******Rey dan Dina kembali menjalani pekerjaannya dimana mereka akan berpura-pura tidak saling kenal dan tidak saling sapa. Dina sebagai Resepsionis dilantai paling bawah tidak pernah lagi naik kelantai tertinggi digedung untuk menemui Rey, tetapi jika Rey ada di lantai bawah mereka akan saling tersenyum memandang satu sama lain namun berusaha agar tak membuat curiga yang lain.Dengan keadaan yang saling mencintai secara sembunyi membuat Dina khawatir jika Rey tidak akan menikahinya dan mereka tidak akan bisa bersatu apalagi setelah Dina dan Rey melakukan hubungan suami istri yang harusnya dijalani ketika sudah ada ikatan resmi.Dina pulang dan terlebih dahulu mampir ke apotik untuk membeli pil kontrasepsi agar ia tidak mengandung anak Rey. Mempunyai anak dalam sebuah hubungan tanpa ikatan merupakan suatu kesalahan yang akan ditanggung oleh si anak.Dina sudah sampai di apartemen dan langsung meminum pil kontrasepsi setelah itu segera ia kedapur untuk memasak makanan karena lagi-lagi Rey aka menginap.Rey sudah pulang kerja dan terlihat wajah kusut juga lelah ia tampilkan. Rey mengecup kening Dina dan langsung kekamar Dina untuk mandi karena setelah kejadian mereka melakukan hubungan suami istri membuat Rey seolah melupakan batasan yang harus dijaga. Rey tidak lagi tidur diruangan terpisah dan akan tidur bersama Dina walaupun hanya sekedar berpelukan sambil tidur.Rey meletakkan tasnya di meja kamar Dina dan ia terkejut dengan apa yang ia temukan yaitu sebuah tablet obat yang ia fikir adalah tablet kontrasepsi. Segera Rey menuju dapur menghampiri Dina yang sedang memasak sambil memegang tablet tersebut."Dina apa ini ?". tanya Rey ketika sudah sampai di depan Dina seraya menunjukkan tablet obat di tangannya." oh Itu pil kontrasepsi", jawab Dina dengan polosnya."Pil kontrasepsi, apa kau tidak mau punya anak dariku ? apa kau sudah tidak mencintaiku Din ?". ucap Rey seraya menekankan kata kontrasepsi dengan marahnya." Rey apa kau sadar kita belum menikah bagaimana bisa seorang anak hadir diantara kita, itu hanya akan menjadi beban untuknya". jawab Dina tak kalah emosi dengan airmata sudah ada diujung mata."bukankah aku sudah bilang jika aku akan menikahimu Din, atau apa kau tidak mau mengandung anakku agar suatu saat nanti kau bisa mudah berpaling dariku dan pergi meninggalkanku ?". ucap Rey masih marah." ya tapi kapan Rey bahkan tiada satu orangpun yang tau jika kita sekarang pacaran, sadarkah kau Rey kau membuatku sakit dengan ucapanmu". Dina sudah berlinangan airmata, bagaimana bisa Rey berfikir jika ia akan meninggalkan Rey padahal Rey tau Dina sangat mencintainya.Rey pergi meninggalkan Dina yang berlinangan airmata dengan keadaan marah, bahkan ia membanting pintu apartemen sengan keras. ia marah sepanjang menyetir juga memukul kemudi sesekali saat membayangkan pertengkarannya dengan Dina.Rey pergi ke club malam dengan tujuan untuk menghilangkan semua beban fikirannya. Rey memesan minuman dan entah sudah berapa banyak gelas yang ia teguk membuatnya setengah sadar.Wanita yang bekerja di club mendekati Rey satu persatu namun di mata Rey ia melihat pada diri wanita yang menghampiri dan langsung memarahi mereka seperti memarahi Dina, ia melampiaskan kekesalannya ke wanita itu membuat yang ada disekitar tak berani mendekati Rey yang sedang mabuk.Sementara Dina menangis dan kakinya seperti tak sanggup lagi menumpu badannya hingga ia jatuh terduduk di apartemen, mungkin ini adalah pertengkaran terbesar selama menjalani hubungan dengan Rey, tapi yang tak habis fikir bagaimana Rey menuduhnya akan berpaling dan pergi meninggalkannya.Dina menangis sesenggukan sepanjang malam dan membuat matanya menjadi sembab. Dilihatnya hp tiada satupun panggilan atau pesan dari Rey membuat Dina khawatir dengan Rey juga hubungan mereka.Rey berangkat kekantor dengan marah apalagi tadi saat ia lewat meja Resepsionis tak terlihat Dina disana, ini sudah dua hari Dina tak berangkat kerja dan dilihat HP-nya tiada satupun panggilan dan juga pesan dari gadis itu. Rey mengangkat telepon menghubungi sekertarisnya."Bawakan aku laporan keuangan bulan ini, juga suruh tim marketing untuk merevisi ulang yang kemarin". Dia marah-marah kepada semua karyawan membuat semua yang ada menjadi takut akan kemarahan sang atasan, tak terkecuali para Resepsionis yang diminta lebih disiplin dengan kerjaannya.Para Resepsionis sangat ketakutan apalagi salah satu dari Resepsionis yaitu Dina teman mereka tidak berangkat, dalam hati semua karyawan kantor berdoa agar kemarahan sang CEO semoga cepat reda.Rey bekerja dengan marah dan sama sekali tak konsen, dilihatnya HP dan masih sama tak ada kabar dari Dina dan bahkan ia sudah menghubungi Dina sejak pagi namun tak dijawab, akhirnya Rey menghubungi orang IT kepercayaannya." Aku punya tugas untukmu, segera cari tau sekarang dimana lokasi seseorang lewat HP, akan kukirimkan nomornya ", Ucap Rey tanpa menunggu balasan dari orang yang ditelepon dan langsung menutup teleponnya juga mengirimkan nomor HP Dina." Hallo tuan sudah ketemu dia sekarang ada di panti asuhan kasih sayang ". Rey menerima kabar keberadaan Dina dan langsung menuju parkiran tanpa menghiraukan panggilan dari asistennya, dilajukannya mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalanan sambil berfikir untuk apa Dina pergi ketempat itu.Sampailah Rey di panti asuhan itu, ia disambut pemandangan anak-anak yang berlarian, dan bermain kesana kemari. Diperhatikannya semua tempat namun yang dicari tak ada, tiba-tiba ia ditabrak oleh seorang anak laki-laki yang berlari, tubuh Rey yang tinggi dan besar sama sekali tak bergeser dari tempatnya sementara anak lelaki itu jatuh." maafkan aku tuan aku sama sekali tak sengaja, sekali lagi maaf". kata anak itu yang masih terduduk di tanah."jangan khawatir aku baik-baik saja, siapa namamu ?". Rey mengulurkan tangan hendak membantu anak itu untuk berdiri." namaku Deni" ucapnya saat sudah berdiri tegak."mengapa kau bisa ada ditempat ini Deni, apa kau tidak punya orang tua ?" tanya Rey melihat Deni yang terlihat seperti anak berumur 8 tahun tapi sangat kurus."kata tante aku sebenarnya masih punya ayah tapi ia tak mau menikahi ibuku juga tak mengakuiku, akhirnya ibukku bunuh diri karena melihat ayahku menikah dengan wanita lain, lalu aku diasuh tante tapi ia sekarang tante sudah meninggal karena sakit, jadi sekarang aku tinggal disini". ucap Deni dengan sedih." apa kau sudah pernah bertemu ayahmu ?". tanya Rey"sudah waktu itu ibu membawaku menemuinya saat aku berumur 6 tahun, ibu bilang jika aku anaknya tapi ayah tetap tidak menikahi ibuku dan bilang jika aku bukan anaknya". ucapnya sambil berusaha menahan air matanya." maaf aku tak bermangsud membuatmu sedih". Ucap Rey sambil mengelus kepala Deni."tidak apa-apa paman, aku permisi dulu". ucap Deni sambil sedikit membukukkan badannya." Hm". Jawab Rey sambil melihat Deni yang sudah pergi menjauh, tak disadari oleh Rey jika percakapannya dilihat oleh seorang wanita paruh baya dan wanita itu mendekat kearah Rey."halo tuan saya Yuli panggil saja bu Yuli saya adalah pengurus panti ini, dari tadi saya melihat anda sepertinya akrab dengan Deni, apakah anda ingin mengangkat Deni sebagai anak ?" tanyanya kepada Rey."aku tidak sedang ingin mengangkat anak, aku tadi berbicara dengan Deni karena penasaran bagaimana ia bisa disini". ucap Rey sambil melihat Deni yang bermain dengan temannya." Yah Deni dan lainnya kurang lebih sama, mereka disini karena terlahir diluar pernikahan sehingga para orang tua memberikan anaknya ke sini karena tidak bisa merawat anaknya dengan segala cacian dan makian orang". ucap bu Yuli."kalau tidak mau punya anak seharusnya jangan membuat anak, banyak dari para orang tua yang tak tau jika apa yang mereka lakukan akan berdampak pada anak yang tak tau apapun tapi menanggung kesalahan mereka". lanjutnya dengan menatap Rey.Rey seolah tercubit hatinya mendengar Deni juga bu Yuli yang seakan menyindirnya dan sekarang ia tau apa yang dimangsud Dina dan ia ingin sekali menemui Dina untuk meminta maaf." sebenarnya aku kesini sedang mencari kekasihku namanya Dina, aku mendengar kabar jika ia disini". ucap Rey pada bu Yuli."oh Dina adalah kekasihmu, ia adalah gadis baik yang kadang menyumbang dana juga tenaga ke panti ini, kami semua sangat senang dengan keberadaan Dina apalagi anak-anak, mari saya antar ke nak Dina". ucap bu Yuli sambil menunjukkan arah jalan.Rey melihat sepanjang jalan terdapat banyak sekali anak dan juga bayi yang masih belum bisa berjalan terlihat menggemaskan, langkah bu Yuli terhenti dan Rey melihat kearah depan ternyata ia sudah sampai di tempat Dina yang sedang mengajak bermain seorang bayi dan pemandangan itu terlihat begitu teduh di mata Rey sampai tak sadar jika bu Yuli sudah pergi." Anak kita pasti akan selucu itu nantinya". suara Rey yang keras menyadarkan Dina dan sepontan mencari keberadaan sumber suara."Rey kau disini ?" tanya Dina dengan sedikit takut, sungguh dalam hati Dina belum siap bertemu Rey mengingat kejadian kemarin."Aku minta maaf, aku mengerti sekarang apa yang kau mangsud dan tentu saja aku akan menikahimu baru kita punya anak". ucap Rey seraya berjalan mendekat kearah Dina.Dina meletakkan bayi yang ada digendonganya kedalam box bayi, lalu melihat Rey yang sudah ada di sebelahnya menatapnya dengan tatapan sendu." Apakah kau mau memafkanku ?". tanya Rey kala Dina menatapnya."tentu saja aku memafkanmu, berarti kita tidak akan melakukannya sebelum menikahkan ?" tanya Dina sambil terus menatap Rey."em kalau itu aku tidak bisa menjamin ataupun berjanji, apalagi jika adik kecilku ingin mengunjungi gua kesukaannya". ucap Rey sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal." hih kau dasar mesum". ucap Dina sambil memukuli dada Rey dan dengan cepat Rey menarik tangan Dina hingga kini Dina ada dipelukan Rey, kemudian Rey mencium bibir Dina dan disambut baik oleh gadis itu.Kala itu Dina dan Rey sudah berbaikan, mereka berdua bahkan menghabiskan sepanjang hari di panti asuhan dengan Rey bermain bola bersama para anak lelaki sedangkan Dina dengan beberapa bayi yang menggemaskan. Rey dan Dina pamit tapi sebelumnya Rey sudah mendonasikan dana yang cukup banyak untuk panti asuhan itu bahkan ia sudah menjadi donatur tetap..Hubungan Dina dan Rey sudah seperti biasa dan mereka juga menjalani rutinitas biasa dimana mereka bekerja di kantor tanpa memperlihatkan hubungan mereka dan bahkan tak saling sapa ataupun tersenyum.Dina dan temannya ikha sedang duduk di meja Resepsionis, dan seorang lelaki bernama Fajar sedang menuju ke arah mereka."Din ada fajar tuh". tunjuk ika dengan dagu membuat Dina menoleh kearah fajar." Hai Din sudah hampir jam istirahat nih kekantin yuk ?" tanya fajar kala sudah ada di depan Dina.Fajar adalah salah satu karyawan di bagian IT dan telah lama menyukai Dina, namun ia tak langsung mengungkapkan perasaannya, karena takut akan penolakan tapi ia selalu memperlihatkan jika memiliki ketertarikan khusus untuk Dina."Jar aku diajak nggak ?" tanya Ikha yang ikut nimbrung dengan omongan Fajar."kan Resepsionis kalau istirahat gantian jadi kamu ikut kapan-kapan aja ya ", ucap Fajar kepada ika." yah gitu si fajar mah". jawab ika dengan wajah sedih yang dibuat-buat."gimana Din mau kan ?" tanya fajar lagi."udah din mau aja pasti ntar dibayarin apalagi lo jomblo kan kali aja bentar lagi gak jadi jones" ucap Ika seraya menyenggol tangan Dina.Beberapa rombongan datang dari luar mereka adalah Reymond dan sekertarisnya juga beberapa orang yang tidak dikenal mungkin adalah clientnya. Reymond melihat Dina dan Fajar yang saling berhadapan dan cepat menunduk kala Reymond dan beberapa orang tersebut lewat. Tatapan mata Rey kepada Dina sangat amat mengerikan dan itu disadari oleh Dina."Gila tuh bos matanya kayak laser siap ditembakkan tau nggak" ucap ika kala Reymond sudah pergi menjauh."Gimana tadi Din mau kan makan sama aku jangan khawatir ntar aku yang bayar deh". ucap fajar yang ketiga kalinya menawari Dina." eh em iya boleh". ucap Dina yang membuat Fajar langsung tersenyum dan mereka ke kantin."jangan lupa bawain makanan buat gue". teriak Ika kala keduanya sudah agak jauh.Dina sebenarnya kurang nyaman jika makan dengan fajar apalagi berdua namun bagaimana lagi karena Dina tak punya alasan untuk menolak apalagi jika dia bilang kalau dia punya pacar dan itu adalah Rey si CEO tempat ia bekerja pasti tidak akan ada yang percaya.Fajar dan Dina sudah selesai makan dan mereka berdua kembali ke tempat kerja masing-masing, dan tak lupa Dina membungkuskan makanan untuk ikha dan membawanya ke meja Resepsionis." nih buat kamu" ucap Dina kala memberikan makanan ke ika."thank you, eh ini dibayarin fajar ?". tanya ika sambil menyomot ayam goreng yang dibawa Dina." nggak tadi aku bayar sendiri" ucap Dina sambil melihat temannya yang makan dengan belepotan."ih sayang banget kan lumayan di bayarin bisa hemat uang kan Din" ucapnya kala membersihkan makanannya yang tersisa di mulutnya dengan tisu."udah kamu makan aja, aku ke toilet dulu ya ". sambil melenggang pergiDina keluar dari toilet tapi tanpa ia tau seseorang telah menunggunya dan langsung menarik tangannya ke sebuah ruangan, itu adalah tempat meeting yang jarang terpakai di lantai satu, memang banyak tempat meeting di kantor tapi tempat meeting di lantai satu adalah yang paling jarang digunakan tapi selalu bersih karena sering dibersihkan oleh OB.Lelaki itu menarik tangan Dina dengan kasar dan langsung menutup juga mengunci tempat itu. Lelaki itu adalah Rey dengan wajah marahnya ia menatap Dina.Seketika Rey memojokkan Dina ke dinding dan mendaratkan ciuman kasar pada bibir Dina hingga membuat Dina terkejut. " emh" lenguhan Dina kala Rey menekan tengkuknya dan mencium dengan kasar. Dina mendorong Rey karena nafasnya yang hampir habis juga ciuman Rey yang membuat bibir dina memerah dan sedikit bengkak."Tuan Rey anda apa-apaan" ucap Dina yang malah membuat Rey semakin marah."Kita cuma berdua disini gak jadi gak usah main drama bos dan Karyawan". ucap Rey dengan tangan yang dilipat di dada." nanti kalau ada yang lihat gimana ?" tanyanya sambil melihat keatas."gak ada cctv jadi kamu tenang aja, aku cuma mau menghukum kamu karena udah berani bermesraan saat aku gak ada" ucapnya dingin dan datar."Aku cuma makan siang aja sama Fajar". ucap Dina." oh jadi namanya Fajar dari bagian mana dia biar aku pecat sekarang apa kamu gak peduli perasaan aku melihat pacar sendiri dekat dengan lelaki lain kamu harusnya bilang kalau kamu punya pacar". jawabnya tetap dingin."Rey kita pacaran tanpa ada satu orang yang tau dan sekarang kamu suruh aku bilang jika aku punya pacar dan itu kamu, tidak ada yang akan percaya". ucap Dina berusaha menjelaskan." aku gak peduli aku akan pecat si fajar itu karena udah berani godain pacar orang".ucap Rey ketus."kumohon Rey jangan pecat dia, dia gak tau apapun, kamu marah aja sama aku". ucap Dina memohon." jadi kamu memohon untuk dia, baik kalau gitu kamu gantikan dia menerima hukuman". ucap Rey yang melonggarkan dasinya dan membuat Dina bingung juga khawatir."Rey kamu mau ngapain". ucap Dina yang takut dengan Rey yang sekarang membuka ikat pinggangnya." tentu aja menghukum pacar aku yang bandel". ucap Rey yang mendekat ke arah Dina dan Dina memundurkan langkahnya kala Rey semakin dekat."nggak Rey, inget ini di kantor, rey kamu udah janji Rey". ucap Dina takut." Aku memang udah janji gak akan pacaran apalagi mencumbu kamu di kantor tapi ini sebagai hukuman karena kamu udah berani makan sama lelaki lain" ucapnya yang kemudian mengangkat tubuh Dina ke atas meja.Rey menciumi bibir Dina membuat gadis itu melenguh kala ciuman Rey turun ke leher Dina dan meninggalkan bekas disana, Dina berkali-kali menolak dan melawan tapi Rey lebih kuat"Aaaarhg" teriakan Dina kala merasakan sesuatu yang asing di bawah sana, beruntungnya ruang meeting itu kedap suara jadi tak terdengar sampai keluar. Desahan deni desahan keduanya keluar dengan Rey yang terus menjamah tubuh Dina.Dina yang sekarang sama sekali tak memperlihatkan senyum bahkan merutuki Rey dalam hati. Dina segera memakai bajunya juga merapikan rambutnya dan keluar dengan tergesa-gesa meninggalkan Rey dibelakang.Rey yang melihat tingkah Dina hanya tersenyum dan melangkah dengan santainya karena berhasil mendapat kepuasan, dan saat keluar dari ruang meeting dilihatnya OB dan memanggilnya."bersihkan ruangan ini" tunjuk Rey dengan dagunya seraya menampilkan kembali wajah datar juga juteknya yang berhasil membuat OB tersebut ketakutan dan cepat membersihkan ruangan itu karena terdapat sisa cinta mereka yang berceceran membuat OB tersebut bingung...Dina kembali ke meja Resepsionis dengan sedikit ngos-ngosan karena bergegas dan takut apa yang dilakukannya tadi diketahui orang lain, apalagi jika sampai ada yang tau kalau ia baru saja memuaskan nafsu sang pimpinan perusahaan, bisa-bisa ia menjadi gosip hangat di kantor.Dina melihat Ikha memperhatikannya dengan tatapan yang tidak bisa di tebak bahkan Dina sangat gugup di dekat Ikha."Ada apa kok lihat aku sampai segitunya ?" tanya Dina saat ia kembali duduk dikursinya."Kamu itu abis ngapain aja sih di toilet sampai sejam, goreng bakwan ?" tanyanya dengan muka datar."a aku aku tadi habis BAB". jawab Dina dengan gugup yang ketara."Kamu diare ?" tanya ikha."Iya bener diare, tadi soalnya aku makan sambel banyak banget". Jawab Dina yang beruntung karena ikha memberinya ide untuk menjawab." Oalah jawab diare aja sampai gugup gitu makanya jangan makan sambel banyak - banyak" ucap ika.Untung saja Ikha percaya dengan omongan Dina hingga gadis itu bisa menghembuskan nafas lega. Dan ia kembali kerja walaupun masih nyeri di bagian bawahnya juga agak lengket karena perbuatan Rey tadi, sungguh Dina amat kesal karena Rey melakukannya apalagi di kantor.*****Jam pulang telah tiba termasuk Rey yang tidak lembur dan meminta Dina untuk pulang bersamanya, Rey mengirim pesan ke Dina untuk masuk ke mobilnya di parkiran karena suasana parkiran sudah sepi hingga mereka bisa bebas berada di mobil yang sama.BRAAKDina membanting pintu ketika ia masuk kedalam mobil juga menampilkan wajah yang terlihat akan kemarannya dan itu tak terlepas dari penglihatan Rey namun, Rey hanya diam walau hatinya ingin tertawa karena tau sebab dari kemarahan Dina. Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang dan mereka hanya diam sepanjang jalan.Sebenarnya Dina amat kesal kepada Rey namun lebih kesal lagi saat dia marah malah tidak ditanya apa sebabnya ataupun meminta maaf dan malah mendiamkannnya seperti ini, padahal kan ia sedang ngambek dan butuh dibujuk bukannya di diamkan. "Dasar tidak peka". Gumam Dina dalam hati.Rey sesekali mencuri pandang Dina yang tak berbicara dan memperlihatkan wajah ngambeknya, dalam hati Rey ingin tertawa terbahak-bahak karena wajah Dina saat ini amat menggemaskan bagi Rey, sebenarnya Rey ingin bicara kepada Dina namun karena biasanya kalau wanita sedang ngambek itu pasti inginnya dibujuk dan dituruti keinginanya.Namun Rey bukanlah tipe pria yang akan menuruti wanita hingga ia merendahkan dirinya, Rey adalah tipe yang akan mendiamkan wanita jika wanita itu mendiamkannya dan semakin lama wanita itu pasti akan kalah juga."Rey". Ucap Dina yang tak tahan dengan sikap Rey yang diam sedari tadi."Hem apa ?". Ucap Rey datar dan masih fokus menyetir."Kok dari tadi kamu diam saja gak minta maaf sama aku ?!". Dina kesal."Kenapa aku harus minta maaf sama kamu ?". Tanyanya masih dengan wajah datar, jika masih ada satu piala oskar maka Rey pantas mendapatkannya karena masih bisa menampilkan wajah datarnya padahal hatinya tertawa keras."Karena kamu memaksaku melakukan itu dikantor bahkan saat jam kerja, apa kamu gak ngerasa bersalah sama aku ?!". Ucapnya marah karena Rey masih menampilkan muka datarnya bahkan tak melihatnya kala ia bicara. Rey menghentikan mobilnya dan kini ia melihat Dina disampingnya."Dengar ya aku gak suka jika ada yang mendekati wanitaku dan aku lebih tidak suka lagi kalau kamu meminta maaf atas namanya, kalau sampai itu terjadi lagi maka fajar atau siapapun lelaki yang mendekati kamu akan menyaksikan siaran langsung betapa panasnya kita tadi di ruang meeting faham kamu !!". Ancam Rey sambil memegang kedua bahu Dina dan menampilkan wajahnya yang sangat serius dan juga mengerikan.Dina yang mendengar ancaman Rey seketika ngeri dan takut, sungguh sosok Rey kini membuat Dina seperti sedang bersama dengan orang lain karena bukan seperti Rey yang ia cintai. Rey melihat Dina yang takut dengan dirinya dan langsung memeluk tubuh Dina juga menghadiahkan kecupan di puncak kepala Dina."Jangat takut kepadaku, aku hanya tidak ingin kau di dambakan oleh lelaki lain, kau mengerti kan mangsudku ?". Tanya Rey yang memeluk dan juga mengelus punggung Dina dan dibalas anggukan oleh Dina."Sudahlah jangan takut, aku ingin kita makan diluar kau pasti sudah lelah jadi tidak perlu memasak hari ini". Rey mencium dahi Dina dan dibalas senyuman tipis oleh gadis itu.Rey mengarahkan mobilnya ke salah satu restoran yang ramai dan terkenal enak, mereka makan berdua dengan suasana hati Dina yang sudah membaik, bahkan mereka makan sambil berbincang hingga membuat keduanya terbawa suasana.Dari kejauhan Dina melihat Ikha dan temannya sedang menuju ke meja yang Dina duduki, segera Dina bersembunyi dibawah kolong meja dan itu membuat Rey bingung."Kenapa kau sembunyi ?". Tanya Rey saat Dina sudah berada dibawah meja."Sssstt diam temanku sedang menuju kesini, aku tau dia tadi melihatku". Ucap Dina dengan pelan.Tak lama Ikha juga temannya ada di hadapan Rey dengan bingungnya karena yang tadi ia lihat adalah Dina sementara yang duduk dimeja adalah bosnya."Loh pak Reymond, saya kira teman saya yang tadi duduk disini". Ucap Ika bingung.Dina dibawah meja meringis sakit pasalnya Ikha tak sengaja menginjak tangannya, bahkan Dina hanya bisa menutup mulutnya agar tak bersuara karena tangannya yang terinjak kini bahkan sudah memerah."Tidak dari tadi aku yang duduk disini". Ucap Rey dengan wajah datarnya." Bapak sendiri aja makan disini ?". Tanya Ikha lagi."Iya memangnya kenapa?". ucap Rey kini menampilkan wajah galak." Gak apa-apa pak cuma kok piringnya ada dua". ucap Ikha menunjuk piring yang tadinya milik Dina sehingga Dina yang mendengarnya dibawah meja hanya bisa tepuk jidat."Kalau piringnya ada dua kenapa lagipula saya sangat lapar ? masalah buat kamu ?". Tanyanya ketus."Gak pak gak apa-apa, kalau gitu saya permisi dulu". Ikha lekas pergi karena wajah Rey yang sangat tak bersahabat juga karena teman Ikha yang sedari tadi melihat keketusan Rey mengajak Ikha cepat pergi, bahkan saking kesalnya teman Ikha mendengar perkataan Rey kala gadis itu pergi."Gateng tapi kok galak". Kata teman ikha yang masih bisa didengar oleh Rey padahal jaraknya sudah agak jauh. Dina akhirnya bisa menarik tangannya ketika kaki Ikha sudah bergerak pergi dan mengelus tanganya yang memerah."Mereka sudah pergi, kau bisa keluar". Ucap Rey kepada Dina yang ada dibawah. Saat Dina sudah setengah berdiri Rey mengarahkan kepala Dina agar kembali masuk ke dalam meja."Eh kenapa ?". Tanya Dina kala Rey memegang kepalanya dan membuatnya kembali sembunyi."Ssst diam dulu". Rey cemas karena ada seorang laki-laki paruh baya yang mendekat ke arahnya dan itu tak baik apabila lelaki itu melihatnya bersama Dina."Rey dengan siapa kamu disini ?". Tanya tuan Riyan yang tak lain adalah papanya Rey. Dina yang mendengar suara tidak asing itu lalu tau apa maksud Rey menyuruhnya kembali sembunyi karena yang sedang berbicara dengan Rey adalah bosnya dulu sebelum Rey dan sekarang tuan Riyan malah duduk di kursi Dina."Aku.......sedang bersama client pa kita sedang membicarakan tender". Rey mencari alasan." Lalu dimana clientnya ?". Tanya tuan Riyan."Dia sedang ada di toilet pa, papa sendiri sama siapa disini ?". Tanya Rey mencoba mengalihkan perhatian."Papa sendiri, tadi mama kamu minta dibelikan makanan, karena papa sedang berada dekat sini jadi mampir untuk membelikan pesanan mama"." Oh gitu ". jawab Rey seolah mengerti padahal saat ini hatinya tak tenang memikirkan Dina yang berada di bawah meja." Oh ya kamu akhir-akhir ini jarang pulang sampai mama kamu pusing mikirin kamu, dan papa dengar kamu beli apartemen baru, benar ?". Tanya tuan Riyan."Iya pa......aku kepengin mandiri". Jawab Rey." clientnya dari tadi gak balik-balik coba kamu telepon ". Ucap tuan Riyan.Rey menuruti papanya dan pura-pura menelepon agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi papanya. Setelah selesai pura-pura menelfon Rey mengembalikan hpnya ke saku." Dia bilang kalau ada urusan mendesak jadi pulang lebih dulu dan lupa pamitan pa". Ucap Rey bohong."Oh gitu". Tak lama pelayan memberikan bungkusan kepada tuan Riyan."Pesanan papa sudah dapat, papa pulang dulu, oh ya walaupun kamu mau hidup mandiri setidaknya sesekali pulang kerumah biar mama nggak khawatir". Ucap tuan Riyan seraya berdiri dari tempat duduknya." Iya hati-hati pa". Ucap Rey.Rey menghembuskan nafas lega begitupun Dina, setelah tuan Riyan sudah pergi Rey menyuruh Dina untuk keluar dari persembunyian, dengan kaki yang sudah kesemutan dan juga tangannya yang merah ia keluar dari kolong meja, sementara Rey yang melihat Dina hanya bisa menyuruhnya untuk sabar.

Cinta Abadi CEO & MAFIA
Romance
09 Jan 2026

Cinta Abadi CEO & MAFIA

Di rumah mewah yang besar, terdapat 4 anggota keluarga bermarga 'Pratama'. Yah, rumah itu adalah rumah CEO terkenal, siapa lagi kalau bukan Adara, Rasya, dan Mami Papinya."ADARAA RASYAA, SINI SAYANG KITA MAKAN SIANGG, SEKALIAN ADA YANG MAU PAPI BICARAIN SAMA KALIAN" Teriak wanita itu, dia adalah Nadia, sang Mami Rasya dan Adara."IYA MAA, BENTAR LAGI RASYA TURUN, LAGI BANGUNIN SI ADARA NIHH" Balas Rasya sambil teriak juga di atas sana.(DIKAMAR ADARA)"Woi kebo, bangun egekk" Ucap Rasya pada Adara."Ishh bisa diem gak?!" Omel Adara dengan mata yang masih tertutup."Suruh mami makan siang adarott" Ejek Rasya."Duluan aja sih kakk ya Allah masi ngantuk ihhh!" Ucap Adara sedikit kesal."Heh kata Papi dia mau ngomong sesuatu ADARAA" Ujar Rasya sedikit menekan nama Adara."Aaaa yauda deh tar ade kesana" Ucap adara."Yaudah gue kedapur duluan ya dek" Balas Rasya dan Adara hanya mengangguki nya.(DIDAPUR)"Mana Adara nya sya?" Tanya Ryan, papi Adara dan Rasya."Bentar lagi katanya pi" Jawab Rasya.Dan terdengar dari atas ada suara seseorang yang menuruni anak tangga, siapa lagi kalau bukan Adara."Adara sini, papi mau bilang sesuatu sama kalian berdua" Ujar Ryan."Ada apa sih pi? Kayaknya serius bingitt" Tanya Adara sembari mengangkat satu alisnya."Udah nyimak aja sih dek" Sahut Rasya dan Adara malah memandang sinis kepada Rasya."Jadi gini, kita mau pindah sekarang, karena papi juga kerja nya pindah, yang itu mau di renovasi, dan papi udah beli kok rumah yang gak kalah besar dari ini, bahkan lebih nyaman" Jelas Ryan kepada mereka berdua."Jadi, kapan kita pindah?" Tanya Rasya."Sekarang, sore ini" Jawab Ryan Adara dan Rasya pun terkejut mendengar jawaban papi nya itu."What pi? Masa mendadak sihh, kan barang adara banyak pi" Ucap Adara dengan raut wajah kesal."Iya pi kenapa gak dari kemaren² aja, terus kalau kita pindah Rasya sama Adara juga pindah sekolah pi?" Tanya Rasya."Iyalah dar, sya, Maaf papi gak tau kalau kita mau pindah, jadi gimana kalau kalian pindah ke Mega Genius High School itu?" Jelas Ryan."Hmm oke deh pi" Jawab adara sambil ragu² tetapi rasya hanya berdehem."Yaudah makan dlu habisin, tar langsung beresin barang² kalian oke?" Sahut Nadia yang sedaritadi hanya menyimak perbincangan mereka.Adara dan Rasya pun mengangguk.Kini mereka telah menghabiskan makanan nya, lalu spt yang di katakan mami nya, mereka langsung pergi kekamar packing barang² mereka.(Skip aja yahh, author males ngetik wkwk😭🤣)Hari sudah sore, mereka pun menaiki mobil untuk pindah ke rumah baru mereka yang ada di Depok. Butuh 3 jam untuk sampai ke rumah baru itu.Para bodyguard dan pembantu² Family Pratama akan menyusul nanti malam, sebagian menyusul dari belakang mobil yang dinaiki Rasya Adara dan orang tua mereka.(SKIP RUMAH BARU)"Adeee bangun woii uda nyampe kebo" Ajak Rasya pada Adara yang daritadi ternyata tertidur karena kelelahan menyiapkan barang² nya."Eughh hoaam cepat banget dehh" Ucap Adara sambil menggesek² mata nya."Lu aja yang tidur, org 3 jam lebih, dasar kebo tadi siang aja udah tidur skrg tidur lagi" Ejek Rasya dan membuat Adara kesal."Ihhh kak Rasya, adek kan capek daritadi beresin barangg, huhh!!" Adara mendengus kesal."Lah gue aja yang beresin barang barang juga gak tidur tuh, wleee" Rasya mengejek Adara lagi sambil menjulurkan lidahnya, tetapi adara menghiraukannya sembari bertatap sinis.Sementara itu Ryan dan Nadia hanya terkekeh dan menggelengkan kepala mereka saat melihat sifat kedua anak nya itu."Udah, ayo turun" Ajak Ryan.Mereka semua terkejut melihat rumah baru mereka, bahkan lebih besar dari yang sebelumnya, rumah yang sebelumnya memang 3 tingkat, tetapi rumah barunya sekarang 4 tingkat, lega dan lebar! Wahh bagus sekali yah?!."WAHH OH MAY MAY INI LEBIH DARI RUMAH KITA YANG SEBELUMNYA PI!!" teriak adara takjub.Mereka semua terkekeh melihat tingkahgadis lucu itu."Haha iya dong, pasti kalian juga betah" Ujar Ryan."Pasti dong pii!" Jawab Adara dan Rasya bersamaan."Ihh kakak kenapa ikutin adekk!!" Ucap Adara sembari menirukan gaya anak kecil."Dihh adek kali yang ikutin kakak" Balas Rasya tak mau kalah.Nadia dan Ryan hanya tertawa melihat mereka."Udah udah ayo masuk, pasti gak sabar kan?" Tanya Nadia dan diangguki oleh mereka.Mereka pun masuk kedalam rumah yang super mewah itu.."Wahhh dari luar aja udah mewah banget, dalemnya lebih mewah!!, oh ya btw kamar adek yang mana?" Tanya Adara sembari tersenyum bahagia."Diatas sayang, sini Papi anter kalian ke kamar masing²" Ajak Ryan kepada mereka semua.Mereka semua naik ke lantai atas yang ke 3, mereka masuk ke kamar Adara terlebih dahulu yang bernuansa pink ungu dan biru pastel, karena adara menyukai warna pastel."Aaaa kamar adek aesthetic bingitzz" Ucap Adara dengan mata yang berbinar²."Iya dongg kan papi tau kesukaan kamu apa" Ujar Papi Adara yang bahagia karena melihat tingkah Adara yang lucu."Timaaci Papiii" Ucap Adara sembari menirukan gaya omongan anak kecil."Sama sama sayang" Jawab Ryan."Ayo pi rasya mau liat kamar Rasya, pasti lebih bagus kan daripada kamar adek" Ucap Rasya memancing emosi Adara."Ishhh kakak! Apa sih pasti bagusan kamar adek" Adara mendengus kesal dan Rasya dia hanya tertawa geli melihat Adara."Yaudah ayo kita ke kamar kakak" Ajak Nadia.Lalu mereka pun memasuki kamar Rasya yang aesthetic juga, bernuansa biru tua dan ada gambar Astronot beserta planet yang indah. Sungguh menakjubkan."Ihh kamarnya bocil hahaa" Ledek Adara kepada Rasya."Apaan sih bagusan kamar Kakak wlee'' balas Rasya sambil menjulurkan lidahnya seolah olah meledek adiknya.Adara yang melihat itu mendengus kesal karena kakaknya, mereka kadang akur kadang bertengkar, sungguh tidak bisa ditebak."Yasudah ayo kita makan malam terlebih dahulu, sudah disiapkan oleh bibi. Kalau soal barang² nanti sama Bi Siti dan Bi Inah yang bereskan" Ucap Ryan dan diangguki oleh mereka semua.(Oh yahh, bi Siti dan bi Inah itu adalah ART dirumah ini yahh hehe..)Back to story.(DI DAPUR RUMAH BARU MEREKA)"Kalian mau makan apa?" Tanya Nadia kepada Rasya dan Adara."Mamii aku mau ayam tapi gak mau makan sayur" Jawab Adara sembari memasang baby face (wajah bayi)."Adara gak boleh gitu sayang.. Kamu harus makan sayur, biar daya tahan tubuh kamu kuat sayang.." Bujuk Nadia agar Adara memakan sayur."Tau tuh letoy juga hahaa" Yah, dan lagi lagi Rasya mengejek Adara, sungguh tidak kelar² yahh..(Pasti kalian juga selalu bertengkar kan sama adik/kakak kalian? Hehe candaaa😁.)"Adara ayo dong, sudah berapa hari kamu tidak makan sayur, tar kamu kecapean, ayo makan sayur nya, nanti besok Papi beliin boneka Unicorn dehh..." Ryan membujuk lagi.."Hmmm kalau bukan demi boneka Adek gak bakal makan sayur" Adara dengan pasrah menjawabnya."Tapi adek mau nya boneka lotso aja pii, boneka Unicorn udah adaa" Lanjut Adara."Iya deh asal janji makan sayur sama buah nya" Ucap Ryan."Pi masa Adek doang Rasya juga mau lah pi" Ujar Rasya sambil pura pura merajuk."Iya dong, Papi juga bakal beliin kakak sepatu baru untuk sekolah baru besok" Sahut Ryan."Kakak ikut ikut adek mulu huhh" Ucap Adara dengan kesal."Serah kakak dong" Balas rasya sementara Adara hanya mendengus kesal."Udah dong habisin dulu makanannya, bilang apa dulu sama Papi???" Ucap Nadia."Makasih papi" Jawab Adara dan Rasya bersama.*skipp selesai makan*"Papii mami adek bobo dulu yahhh, good night semuaa" Ucap Adara sambil menggesek matanya karena mengantuk."Rasya juga yah mi, pi, good night" Ucap Rasya."Iya sayang, good night juga" Jawab Nadia dan Ryan bersamaan." Papii mami adek bobo dulu yahhh , good night semuaa " ucap Adara sambil menggesek kedua matanya karena mengantuk."Rasya juga yah mi, Pi, good night" ucap Rasya."Iya sayang, good night juga" ucap Nadya dan Ryan bersamaan.****Keesokan harinya...(DIKAMAR RASYA)"Syaa, ayo kita bangun, ini hari pertama kamu sekolah disini.. Yuk bangun kak.. " Ajak Nadia kepada Rasya yang masih tidur." Iya mami, rasya bangun " Ucap Rasya sambil menggesekkan mata nya." Nanti sehabis mandi kamu bangunin adek kamu dulu yahh.. Setelah itu makan, sarapan " Ucap Nadia." Oke mii rasya mandi dulub" Jawab Rasya sambil bangun dan mengambil handuknya.(DIKAMAR ADARA)"ADEKKKK BANGUN UDAH SIANGGG!!!.." Teriak Rasya yang mendekatkan mulutnya ke telinga Adara, tentu saja itu membuat dia kaget dan terbangun dari tidurnya. Sungguh menyebalkan sekali!!."KAKAKK ADE KAGETT TAU GAK SIHH?! KAKAK RESE!!!" Balas Adara sambil teriak juga kepada Rasya."Makanya lu jadi orang jangan kebo kebo amat" Ejek Rasya dengan wajah yang membuat Adara semakin kesal."Ihhh kakakk udah sana pergi!! Adek mau mandii" Ucap Adara "bagus deh yaudah kakak ke dapur duluan awas lo tidur lagi" Ujar Rasya dan diangguki oleh Adara yang semakin bete karena perkataannya.Rasya pun keluar pergi meninggalkan adara ke dapur."Huhh punya kakak rese nyebelin!!" Batin Adara.*****Skipp di dapur*"Adara ayo sini makan" Ajak Ryan."Iyah pii" Jawab Adara dengan wajah malas."Kamu kenapa? Kok kayak bete gitu?" Tanya Nadya karena dia memerhatikan wajah malas Adara."Itu mi kak rasya tadi pagi aku lagi mimpi indah eh pas indah indahnya kak rasya malah teriakin aku buat bangun, kan nyebelin mi, pi, aku ga suka kakak rasya!!" Jelas Adara sambil memasang muka kesalnya."Ya iyalah lu kan keboo" Ejek Rasya lagi dan lagi. Entah kapan mereka bisa akur, selalu saja bertengkar."Sudah² ayo kita makan dahulu, setelah itu Pak Riza akan antarkan kalian ke sekolah baru kalian" Ucap Ryan agar Rasya dan Adara berhenti bertengkar."Baik pii'' jawab adara dan rasya bersamaan.(Skipp selesai makan)" Ayo adara rasya kalian naik ke mobil " Ajak Ryan."Oke pi ,mi assalamu'alaikum" Ucap Adara dan Rasya kompak tersenyum ria sambil menyalami tangan kedua orang tuanya."Waalaikumsalam, hati hati dan semoga dapat banyak teman baru" Jawab Nadya dan Ryan sambil mengecup kening adara dan rasya setelah mereka bersalaman.****(SEKOLAH BARU 'MEGA GENIUS HS')Terimakasih pak riza" Ucap adara. "Makasih ya pak kita ke kelas dulu" Susul Rasya."Sama sama non, den, yasudah bapak pulang dulu ya, nanti bapak jemput lagi" Jawab pak Riza dan diangguki oleh Adara Rasya."Eh eh i-itu kan.. Emmhh.. I-itu Putra dan Putri CEO terkenal.. " Ucap salah satu murid seolah olah dia merasa kaget dan tidak percaya."Eh i-iya, a-apa mereka murid baru nya yah.." Ujar salah satu murid yang disebelahnya tadi.Adara dan Rasya itu tidak sombong walaupun mereka dinobatkan sebagai Putra Putri CEO terkaya, tercantik dan tertampan menurut fans fanatik mereka."Haloo" Sapa Adara dan Rasya tersenyum manis."Aaaa gila gue, disapa aja dag dig dug jantung" Ucap salah satu siswa yang ada disana."Anjirr ini sekolah nya para CEO dan Mafia ya?? Banyak banget anak CEO dan Mafia terkenal huaaa insecure sumpahh" Murid mengoceh tak percaya melihat ini semua.Adara dan Rasya sudah sampai diluar ruangan , dan mereka memperkenalkan diri dahulu.Rasya di kelas 12Dan Adara dikelas 11.(DIKELAS RASYA)" Anak anak , kelas ini kedatangan murid baru lohh.. Gak sabar kan???.. " Ucap guru yang bernama Pak Dion , yang mengajar dikelas Rasya." Siapa tuh?? "" Kayaknya gue ketinggalan berita deh mau ada murid baru "" Dia anak biasa atau anak dari kalangan orang kaya? Kan sekolah ini udah terkenal karena banyak org kaya , jadi kalau dia misk1n gak level sekolah disini "Yahh itulah rata rata ocehan para siswa." Ayo masuk dulu perkenalkan diri kamu " Ucap Pak Dion dan diangguki ramah oleh Rasya.Rasya pun masuk ke ruangan itu dan.. "WHATT?!" semua murid melongo melihat kedatangan murid baru itu." E-eh i-ini ga mimpi kan... " Tanya salah satu murid menepuk pelan pipinya."Halo semuanya, nama saya Rasya Galaxy Putra Pratama, pasti kalian sudah kenal kan, jadi salam kenal yahh.." Rasya memperkenalkan diri dengan senyum manis nya yang membuat semua siswa meleyott apa lagi yang perempuan." Aaaaa tolong guee selamatkan dari ombak manisnya...." Ucap seorang murid disana ."Haha pasti kalian kaget banget kan melihat kedatangan murid baru ini, ya pasti kaget lah kan dia Putra CEO terkenal didunia terlebihnya" Ucap pak Dion terkekeh karena melihat ekspresi kaget semua murid yang ada di ruangan itu." OMG helloo, ya pasti lah pak, banyak banget anak² CEO yang sekolah disinii mana di kenal internasional lagi " Oceh murid." Bisa dikatakan begitu , karena sekolah ini ke banyakan dari kalangan CEO dan Mafia " Jelas Pak Dion kepada Rasya dan dia hanya mengangguk mengerti." Mafia?? Ihh serem gitu yah.. " Batin Rasya dengan ekspresi bergidik ngeri."Oh iya, Rasya kamu duduk di sebelah murid perempuan itu yahh" Tunjuk Pak Dion mengarah ke bangku perempuan itu." Oke Pak " Ucap RasyaRasya kaget dengan murid perempuan yang ditunjuk oleh Pak Dion tadi, ternyata murid itu adalah Naura, yah Naura anak CEO terkenal juga.. Banyak berita tersebar di sosmed tentang Naura, dan Rasya ternyata menyukai Naura karena dia sering melihat fotonya yang tersebar di TV ataupun di sosmed." Watdepuk?? Naura? Crush guee? " Batin Rasya terkejut.Naura yang menyadari murid baru itu dia pun terkejut karena itu adalah Rasya.Sebenarnya Naura juga menyukai Rasya karena ketampanannya menyebar di berita² TV maupun sosmed, terlebihnya ia anak CEO terkenal, sama seperti Naura." Ra-rasya?? Jadi murid baru itu.. " Batin Naura dan menggantungkan kata katanya.(Waduhh mereka saling suka nihh, ayo jadian aja cepett wkwk🤣)" Ayo Rasya kesana, kamu kenapa bengong heii?? " Tanya Pak Dion." O-oke Pak, maaf Pak " Jawab rasya terbata-bata.Rasya akhirnya mendatangi Naura dan duduk disebelahnya walaupun jantungnya tidak bisa dikondisikan begitu juga Naura." Duhh Naura , pliss jangan sekarang saltingnya " Batin Naura." Syaa, lo bisa. Harus bisa kondisikan " Batin Rasya ." Halo rasya " Sapa murid yang ada disebelah Rasya dengan centilnya." Emhh Halo " Jawab rasya singkat." Ihhh kok rasya cuek bgt sihh!!.. Gue harus dapetin dia walaupun gue cuma orang biasa!! Dan Naura, keknya dia ke ganjenan deh ama si Rasya, jijik banget sihh " Batin murid yang di sebelah rasya yang tadi menyapa nya." Oke anak anak, ayo kita mulai pelajaran nya " Ucap Pak Dion."Baik Pak" Jawab semua murid diruang kelas rasya.(DIKELAS ADARA)"Anak anak, kita kedatangan murid baru nihh, ayo silahkan masuk " Ucap guru perempuan bernama Salma." Siapa dia? "" Cowok atau cewek orangnya? ""Kelas ini datang murid baru?? "Itulah rata rata ocehan murid yang ada dikelas Adara.Adara pun masuk seperti apa yang disuruh oleh miss Salma Tadi." HAAA??!!! " teriak para siswa di ruangan itu terkejut melihat kedatangan Adara." INI MIMPII KANN??!! " Teriak murid tak percaya.Sementara Adara dan Miss Salma hanya terkekeh melihat ekspresi mereka." Yasudah Adara, ayo perkenalkan dirimu " Ajak Miss Salma."Hai semuanya, nama aku Adara Angeline Aurelia Putri Pratama, pasti udah tau kan hhee, salken semuanya" Adara memperkenalkan dirinya dengan anggun." A-adaraa??!! " Batin seseorang tidak percaya.Dia adalah Gibran, anak dari seorang Mafia, dia hanya jahat kepada orang yang jahat ke orang yang dia sayang duluan. Dan ternyata Gibran menyukai Adara karena beritanya tersebar luas ke penjuru dunia." Yasudah adara, kamu boleh duduk di sebelah anak murid itu, dia Gibran " Ucap miss Salma." Baik miss " . Jawab Adara.Lalu Adara juga kaget melihat orang yang ditunjuk miss salma, ternyata dia adalah Gibran, seorang Mafia terkenal didunia, adara ternyata menyukai Gibran juga?? Dia selalu menyimpan foto²nya di galeri, begitu juga dengan Gibran." Gi-gibran?? " Batin adara terkejut.Adara pun duduk di bangku sebelah Gibran dan Gibran pun sontak kaget melihat Adara duduk disamping nya." Adara? Dia duduk di sebelah guaa?? Sungguh tidak bisa diprcaya. " Batin Gibran." Halo " Sapa Adara dengan suara lembutnya."E-eh h-halo.." Jawab Gibran dengan senyumnya." Eh eh eh si Gibran, dia deket sama si Adara, ihh gak bisa dibiarin " Gumam murid yang tak suka pemandangan itu." Nama lo Gibran kan? " Tanya Adara sembari tersenyum maniss." MasyaAllah, ciptaan mu Tuhan" Batin Gibran."Iya gue Gibran, dan.. Elo adara kan?? " Jawab Gibran sambil bertanya balik."Iya gue adara, kok tau? " tanyanya."Siapa sih yang gak tau adara, kan nyebar banget diberita" jawab Gibran."Hehe iya makasih, gue juga tau lo karena nyebar juga diberita " Adara.Gibran tersenyum manis dan mengangguk.Ini pertama kalinya Gibran dekat dengan seorang perempuan dan mengobrol setiap pelajaran. Murid murid pun merasa aneh pada Gibran." Ini pertama kali gue jatuh cinta, trnyata seindah ini ya jatuh cinta di pandangan langsung " Batin Gibran."Akhirnya ada crush gue di depan mata gue sendiri" Batin Adara(Waduh waduhh, Adara sma Gibran saling suka lagi nihh wkwkw🤣 ayo pepet aja sihh)****(Skipp istirahat)*KRINGGGG*Bel istirahat telah berbunyi dan semua murid pun keluar kelas.*sementara dikelas Adara"Dar, lo mau ke kantin gak?" Tanya Gibran" Mau kok, sebentar lagi" Jawab Adara"Oke" Ucap GibranKemudian..."Ayo gib, katanya mau ke kantin.." Ajak Adara"Eh ayok" Gibran menggandeng tangan Adara."Eh eh, gi-gibran?? " Adara terkejut"Shuttt, diem aja gpp sih""Oke oke"Dilorong sekolah banyak yang melihat Gibran dan Adara pegangan tangan, dan itu membuat semua murid kebingungan dengan Gibran. Lalu ada salah satu murid yang menyusul Gibran dan Adara."WOYY!!" teriak murid yang tidak suka melihat itu.Adara dan Gibran menoleh kebelakang karena terkejut mendengar itu." WOYY!!!" teriak murid yang tidak suka pemandangan itu.Adara dan Gibran pun menoleh ke belakang karena terkejut mendengar itu.****"HEH JULEHA APASIH MAU LO?!" Balas Gibran dengan teriakan juga.Ya, dia adalah Lea Keyla Askara, dia biasa dipanggil Lea. Dia Adik dari KimberlyAdara pun kaget melihat Gibran marah seperti itu."Gib, udah gib.." Lerai Adara."Orang kayak gini gabisa dibiarin ra, dia ganggu hidup gue terus""Apaan sih, kok kamu belain dia gitu sih sayang" Ucap Lea membuat Gibran semakin marah."Sayang sayang pala lo peyang!!" Ujar Gibran dengan nada yang agak dinaikkan.Adara pun terkekeh mendengar omongan Gibran tadi."Heh murid baru sok kaya, lo tuh gausah deketin Gibran deh dia itu udah berpemilik dan gue miliknya" Ucap Lea dengan tatapan sinis."DIA BUKAN SOK KAYA LEA, DIA EMG KAYA, HARUSNYA LO YANG JANGAN SOK KAYA!! DAN SATU LAGI, LO ITU BUKAN PACAR GUE DAN JANGAN NGAKU NGAKU PACAR GUE!!" teriak Gibran dan membuat Lea semakin marah kepada Adara."Ihhh Gibran!! Cuma gara² adara lo belain dia gitu?!" Ucap Lea."Emgnya kenapa? Masalah? Dia ini pacar gue dan lo gak berhak ngatur hubungan kita!" Gibran beralasan seperti itu membuat semua orang yang ada di dekatnya terkejut terlebihnya Adara dan Lea."Gib, tapi kan- " Belum selesai Adara bicara, tetapi Gibran langsung memotong perkataan dia."Shutt, ikutin gue aja" Bisik Gibran pada Adara dan diangguki oleh Adara."G-gibran.. Kamu pacaran sama Adara? Sejak kapan?? Ishh ini gak bisa dibiarin!!" Geram Lea."Apa lo cemburu?" Ucap Gibran."IHH DASAR CEWEK PEREBUT!!" Ujar Lea sembari ingin memukul Adara tapi dihentikan oleh Gibran."Gue pawangnya, dan kalau lo mau macam² sama Adara, gue pastiin hidup lo ga bakal tenang" Ucap Gibran dengan santainya.Semua Murid terkejut dengan Pandangan yang mereka lihat sekarang, Gibran mengaku bahwa dia pacar Adara, walaupun ada rasa tidak suka dan cemburu, tetapi mereka memilih diam karena takut jika Gibran marah."HEY, ADA APA INI?!" Teriak Rasya menghampiri Gibran Adara dan Lea."Kakakk" Ucap Adara sambil pergi menghampiri Rasya dan memeluknya."Kamu kenapa Ra?" Ucap Rasya dengan raut wajah khawatir."Apa lo itu Rasya, kakak nya Adara?" Tanya Gibran."Iya gue Rasya, kakak Adara" Jawab Rasya. "Apa lo Gibran?" Tanya rasya pada Gibran."Yes, gue Gibran dan ada yang mau gue omongin sama lo" Ucap Gibran dan Rasya dia hanya mengangkat satu alisnya yang artinya dia bertanya."Tadi tuh si Lea mau celakain Adara, langsung gue hindari deh, emang dasar tuh juleha kalsium" Gerutu Gibran menunjuk dan menatap sinis pada Lea."HEHH, LO APAIN ADEK GUE HAH??!!" geram Rasya kepada Lea."Udah kak udah" Lerai Adara memisahkan Kakaknya."Tapi ra, kamu itu adek nya kakak, jadi ini udah tanggung jawab kakak buat lindungin kamu" Jelas Rasya."Tapi kak-" Belum selesai Adara bicara, ada seseorang yang menghampiri keributan itu."HEHH, JANGAN MACAM² YA LO KE ADEK GUE" Ternyata orang yang menghampiri mereka adalah Lisa, kakak Lea."Kakakk, lihat deh mereka mau mukul aku" Ucap Lea berbohong.Yahh, siapa yang tidak greget dengan perilaku Lea? Sungguh menyebalkan!!."Maksud kalian semua apa hahh??!! " Geram Lisa."Itu tuh kak, yang namanya Adara sama Rasya, dia mau celakain aku terus si Adara mau ngambil Gibran dari akuu" Sekali lagi Lea berbohong."LEA, JAGA OMONGAN LO BANGSATT!! ADARA GAK SALAH APA APA!!" Gibran marah.Sementara Lea, dia hanya terkekeh jahat melihat Adara."GUE GAK PERCAYA, DAN LO ADARA HABIS LO DITANGAN GUE, DASAR ANAK CEO GATAU DIRI!" Balas Lisa sambil teriak juga."Kebalik, yang harusnya habis itu lo sama adek lo, bener gak sih guys?" Tanya Rasya santai kepada semua murid yang melihatnya."BENER BANGET TUHH" Ucap semua murid yang ada disitu, namun sebagian murid tidak menjawabnya."Ishh, gak bisa dibiarin!!""KEVIN, NOAHHH!!" Panggil Lisa, yah kevin dan noah adalah saudara mereka sama sama bersekongkol melakukan kejahatan."Kenapa lis?" Tanya mereka berdua menghampiri nya."Hajar mereka, karena mereka bertiga mau celakain kita berdua" Lisa beralasan."Kurang ajar lo ya!" Gerutu Kevin kesal."Apa lo mau berantem? Gass!" Ucap Gibran menerima tantangan mereka."Dek tunggu sini" Ucap Rasya pada Adara dan adara pun mengangguk.Perkelahian itu pun terjadiGibran melawan KevinDan Rasya melawan Noah.Melihat mereka babak belur, Adara langsung menghampiri mereka."KAK ASYA, GIBRAN, UDAH STOPP!!!" Lerai adara untuk menghentikan perkelahian mereka.Dan..BUGHHH!!!satu pukulan mengenai Adara karena Kevin tidak melihat Adara di depannya."Arrgghhh" Adara meringis kesakitan."ADARAAA!!!" Teriak Rasya dan Gibran dengan raut wajah khawatir.Tak lama itu, adara langsung pingsan dan jatuh ke pelukan Gibran."Ra, adara, adaraaa!!" Panggil Gibran sambil menepuk pelan pipinya."Adekk, kamu kenapa dekk" Ucap rasya dengan nafas terengah karena perkelahian tadi."Gib, ayo bawa Adara ke UKS" Ajak rasya.Dan Kevin Noah Lisa dan Lea hanya tertawa jahat melihat semua ini.Gibran pun menggendong Adara ke UKS dan Rasya masih didekat Kevin dan Noah."Urusan kita belum selesai, gue pastiin kalian semua gak akan selamat" Geram Rasya lalu menyusul Gibran dan Adara ke UKS."Serah deh" Noah."Haha palingan modus" Kevin terkekeh"Pokoknya aku harus dapatin Gibran!" Ucap Lea."Iya dek, gue tau gue bakal bantu lo deket sama gibran dan musnahin si Adara, tapi ada syaratnya.. Kalian juga harus bantu gue deket sama si rasya, dan musnahin si Naura centil itu" Lisa."Sipp, apasih yang nggak buat saudara kita" Ucap Kevin.Lisa Noah dan Lea terkekeh geli dan mereka semua kembali ke ruang kelas.(DI UKS)"Bu tolong Buu" Ucap Gibran."Iya ada apa?" Jawab Guru UKS."Ini ada yang pingsan" Rasya."Eh ayo ayo bawa ke brankar sini" Ajak guru UKS itu.Gibran pun menidurkan adara ke brankar."Apa kalian boleh keluar dulu?" Guru UKS."Oke bu, tapi pastiin Adara baik baik aja ya bu" Ucap Rasya dan diangguki oleh Guru UKS.Gibran dan Rasya menunggu diluar lalu mengobrol satu sama lain."Eh, apa lo mafia itu ya? " Tanya Rasya."Iya, dan lo anak CEO itu kan?" Gibran tanya balik ke rasya dan diangguki olehnya."Apa lo suka sama Adara? Gue liat, tadi pandangan lo ke Adara itu gak biasa, apa bener gib? " Tanya Rasya."Apa Lo gak akan marah?" Bukannya menjawab Gibran malah bertanya balik.Rasya terkekeh mendengar ucapan Gibran."Untuk apa gue marah? Yang ada gue itu dukung, Kalau itu kebahagiaan Adara ya gue setuju aja" jelas Rasya sambil menepuk pelan bahu Gibran."Thanks kak,sebenarnya gue ini fans fanatik Adara,karena beritanya tersebar luas" Gibran."Heh, lu tau gak sih kalau Adara juga fans fanatik lu , foto galeri dia hampir penuh karena foto lu" ucap Rasya sambil tertawa kecil."Bener kak?" Ucap Gibran sambil tersenyum bahagia."Iya lah,ngapain gue bohong , jadi Pepet aja Adara nya" usul Rasya."Secepetnya deh kak" Gibran"Oke gue tunggu yahh" Rasya."Tapi, apa Kaka tau kesukaan Adara apa saja?" Tanya Gibran."Hmm Adara tuh Suka es krim, cokelat, buah buahan yang manis apalagi durian dia suka, dan dia itu orangnya manja,sensitif , ngeselin tapi ngangenin , ramah dan penyayang orang nya" Jelas Rasya ."Oke kak thanks" ucap Gibran dan Rasya tersenyumKemudian tak lama seorang guru UKS tadi yang memeriksa Adara menemui Gibran dan Rasya."Bu, gimana Bu keadaan adik saya??" Tanya Rasya."Iyh Bu gimana keadaan Adara?" Tanya Gibran."Alhamdulillah dia baik baik saja, tetapi mohon dijaga dan suruh dia beristirahat sampai sembuh total" Usul guru UKS tsb."Baik dok kami akan jaga" ucap Rasya dan Gibran bersamaan.*KRINGGGG*Bel masuk telah berbunyi"Kak, ke kelas aja duluan, gue mau jaga Adara aja.. dan tolong bilang ke guru kelas kita apa yang terjadi sama Adara" Gibran."Oke gib tenang" RasyaRasya pun pergi ke kelas Adara dan Gibran terlebih dahulu dan menceritakan apa yang terjadi pada Adara , lalu pergi ke kelas nya.*Sementara di UKS*"Ra, bangun dong.."CUPPSatu kecup ciuman melayang di pipi kanan Adara, dan tak lama sehabis itu Adara pun langsung sadar."Eughh""Ra, akhirnya Lo sadar juga""G-gibran? Lo ngapain disini, dan.. gue juga kenapa bisa ada disini?""Tadi kan Lo dipukul sama Kevin""Oh iya,gue lupa serius""Yaudah, Lo istirahat dulu aja gih, kata guru UKS nya harus istirahat total""Ciee perhatian""Kan gue kasian sama Lo""Hmm iya dehh.. eh btw Lo kenapa jaga gue? Kan bisa kak asya , kenapa Lo gak masuk aja ke kelas?""Gue lebih milih jagain Lo Ra""Hmm terserah Lo aja sih ""Yaudah , Lo mau makan gak?""Boleh tuh , gue laper nih""Kebetulan tadi dikasih bubur sama gurunya , gue suapin yah""Jantung gue harus dikondisikan oke" Batin Adara"Yaudah terserah Lo aja gib"Gibran pun mengambil bubur nya dan menyuapi Adara dengan penuh kasih sayang."Nih aaa""Makaciii""Dar, gausah semanis itu bisa?" Batin Gibran.(Skipp udah pulang)*KRINGGGG*Bel pulang telah berbunyiRasya dan temannya Gibran Adara ikut menemui mereka di UKS. temannya adalah Naura, Violetta, Irsyad."Assalamualaikum" ucap Rasya dan segerombolan temannya mengucapkan salam."Waalaikumsalam" ucap Adara dan Gibran."Haii" Naura"Eh haii,ini temennya kakak yahh?" Adara"Iya dek, dia Naura" Rasya."Eh eh kak,ini Naura yang kakak crushin itu yahh di sosmed" Adara.Semua yang ada di UKS kaget mendengar omongan Adara"Adara" pekik Rasya"Hehe maaf kak keceplosan" Adara"Kebiasaan tau kamu tuh" Rasya"Yee sorry" Adara"Apa benar yang dikatakan Adara? Oh my my, gak nyangka Rasya crush gue suka sama gue juga" batin Naura.* Dertt .. dertt .. dertt ..*Suara Telpon ponsel berbunyi di iPhone Adara.Dan ternyata itu adalah papi nya, Ryan."Eh kakak papi nelpon" Adara"Duh gimana cerita ke papinya " Rasya"Tenang aja kak , aku bakal sembunyiin semuanya""Gak yakin sih Kalau kamu bakal jaga itu" Rasya"Ihhh kakak!!!" Adara"Iya ih maaf bercanda" RasyaSemua seisi ruangan tertawa melihat sikap Adara dan Rasya."Yaudah angkat Ra" Gibran"Oke" Adara"Eh dek di lord speaker yah kakak juga mau dengar" Rasya"Iya iya"Adara pun mengangkat telpon tersebut(PERBINCANGAN TELPON ADARA DAN PAPINYA)Assalamualaikum Pi, ada apa?Waalaikumsalam, kamu dimana sih sayang? Kata pak Riza dia daritadi nunggu kamu SM kakak di gerbang dan gak muncul², emangnya kemana?Eehh anu Pi, Adara main dulu sama kak asya ke rumah teman baru, boleh nggak Pi?Hmm iya deh boleh, tapi jangan lama-lama yah.. jangan sampai malamSiap pii, eh tolong telponin pak Riza dong Pi, pulang duluan aja gitu yah..Iya adee, papi juga mau telfon nihhEh eh papi dikantor kan? Adek nitip sesuatu dongg, pizza sama es cappucino mathca nya ya piiIya adee insyaAllah, yaudah yaa..Eh eh papi curang, masa kakak gak dibeliin(Ucap Rasya tiba tiba menimbrung)Haha iya kakak, pasti nya papi juga inget ke kakak dongg..Apaan sih kakak ikut aja gak modal(Adara)Dihh biarin Ade juga ngacaa!(Rasya)Hey hey kenapa pada ribut? Sudah, nanti papi belikan satu satu, yaudah papi matiin dulu ya bye Ade, kakak..Okee piii, babayyy(Adara)Bye pii(Rasya)*Tut Tut Tut..*Saluran telpon terputus.Semua di UKS ricuh mendengar perkataan Adara dan Rasya tadi , sungguh menggemaskan!!"Eh kita belum kenalan lohh" vio"Kita juga" Irsyad"Gausah kenalan kali , aku udah tau kalian siapa kan berita nya tersebar luas" Adara"Itu vio, dan itu Irsyad" lanjut Adara menunjuk vio dan Irsyad."Haha, iya dong kami juga selaku mendengar berita kalian berdua, Adara dan Rasya , kalian begitu terkenal" Violetta"Iya haha" Irsyad"Eh diliat liat kalian cocok banget sih" Adara"Pasti dong , mereka kan duo bucin" Naura"Hah? Jadi mereka berpacaran? Wahh, kenapa tidak beritahu publik?" Adara"Yahh begitulh, jika diberi tahu publik makin ricuh ocehan dari warganet" Violetta"Yah benar, kau benar sekali" Adara"Eh yasudah kita pergi dari UKS , ayo pulang" ajak Gibran"Eh iya lupa" ucap Adara."Eh nongkrong ke Caffe Yo, mau ga?" Tanya Mala."GASSS!!!" Teriak mereka semua kompak.Mereka pun pergi meninggalkan UKS dan memutuskan untuk bermain sebentar agar lebih mengenal , mereka memilih Caffe Star untuk bermain sebentar."Eh nongkrong ke Caffe Yo, mau ga?" Tanya Mala."GASSS!!!" Teriak mereka semua kompak.Mereka pun pergi meninggalkan UKS dan memutuskan untuk bermain sebentar agar lebih mengenal , mereka memilih Caffe Star untuk bermain sebentar.****(DI CAFFE STAR)"kalian mau mesen apa?" Rasya"Aku sih spaghetti carbonara aja, sama minumannya jus alpukat" Adara"Kita mah samain aja" ucap semua nya"Yaudah kalau gitu , mbak sini" panggi Rasya kepada pelayan Caffe"Ya , ada yang bisa saya bantu?" Pelayan"Emm ini mbak kita mau mesen spaghetti carbonara nya 6 dan jus alpukat nya juga 6" Rasya"Oke akan Kami siapkan segera" pelayan"Oke mbak" RasyaMereka semua mengobrol satu sama lain sambil menunggu pelayan membawakan pesanan mereka.Disitu Rasya hanya melamun dan memandang Naura dengan wajah polosnya.Mereka yang menyadari itu langsung berniat ingin mengejutkan Rasya"KAK ASYAA!" teriak Adara yang membuat Rasya kaget"Naura Naura" reflek Rasya berkata seperti itu karena dikagetkan oleh Adara, huhh sungguh jahil!Semua yang mendengar itu juga terkejut terlebih nya Naura sendiri.."Eh ra-rasya??" Naura"Ha e-enggak , cuma kaget doang keceplosan" Rasya"Keceplosan atau keceplosaaann" ejek Adara"Adek!!" Geram Rasya"Sorry kakak" Adara hanya memasang wajah polosnya"Gue salting parah cuyy" batin Naura"Aduduhh gimana nih , si Adara make kagetin segala , makin malu gue" batin Rasya" Kak ayoo" bisik Adara"Ha apaan sih dekk" jawab rasya sambil berbisik juga"Ungkapin aja kak" Adara"What? Kakak malu lah Ra mana banyakan gini" Rasya"CK, Cemen!" Adara"Berani ya sama kakak?" Rasya"Ngapain takut" Adara"Dih punya adek ngelunjak banget sih" Rasya"Biarin , adek gabakal ngelawan Kaka lagi kalau kakak udah tembak kak Naura"Adara"Huh reseee! , Iya nanti kakak ungkapin" Rasya"Wahh Beneran kan??" Adara"CK iya"Rasya"Okeyy dehhh" AdaraTak lama sehabis itu pelayan pun datang membawa 6 spaghetti carbonara dan 6 jus alpukat untuk mereka."Makasih yah mbak" ucap mereka semua serentak"Sama sama" jawab pelayan tersenyumMereka semua memakan makanan dan minuman yang mereka pesan.."Udah gede masih cemong aja makannya , kayak bayi aja" ucap Gibran sambil mengelap makanan yang berantakan dimulutnya.Blushhh..!!!Pipi Adara memerah karena perilaku Gibran tadi!Semua yang melihat kejadian itu pun baper! Sungguh lucuu!!!"AAA CIEE CIE GIBRAN OMG TUMBENAN SIKAP NYA GITU KE CEWEKK KIWW" heboh Violetta"Ekhemm adeekkk.." ledek Rasya"Ehh pipinya kayak kepiting rebus!!" Ejek Naura"Gausah salting kalii" Irsyad"Kalian apaan sih" Adara"Tau , gue cuma bersihin makanan yang ada di mulut Adara" Gibran"Gib , jangan gitu yah lain kali.. jantung gue mau copott!!.." batin Adara"Apa gue langsung tembak Adara aja yahh" batin Gibran sambil tersenyum"Gibb , udah kakak setuju kamu jadi adek ipar kakak" RasyaDan blushh..!!!Pipi Adara kembali memerah karena omongan Rasya tadi..Semua juga kaget dan baper mendengar perkataan Rasya"Kakak..!!" Omel Adara"Apasih dekk?" Rasya"Ishhh nyebelin tau gaa??!!" Adara"Nyebelin tapi bikin salting kaaann??" Ejek Rasya"Tau ahhh" AdaraNaura Violetta Irsyad mereka tertawa geli melihat tingkah adik kakak yang begitu menggemaskan"Yaudah abisin dulu aja makanan nya" ujar Rasya dan mereka semua mengangguk.*Skipp selesai makan*"Yaudah ayoo bayarr" Irsyad"Let's go!" Violetta"Kakak.." bujuk Adara dengan puppy eyes nya"Hmm.. gausah ngomong , kakak udah tau , kebiasaan tau ga" Rasya"Gapapa dong , kan aku adek nya kakak" Adara"Hmm iyaa" RasyaMereka semua pun sudah membayar makanan nya masing² lalu memutuskan untuk pulang kerumah nya...(DIRUMAH RASYA DAN ADARA)"Assalamualaikum mamiii papiiii" heboh Adara bersemangat sambil menyalami tangan orang tuanya"Assalamualaikum" singkat Rasya sambil menyalami tangan orang tuanya juga"Waalaikumsalam , eh anak anak papi sama mami udah pulang.." ucap Nadya dan Ryan bersamaan sambil mengecup kening mereka satu satu"Mana pii itunyaa??" Tanya Adara"Itunya apa adek?" Tanya balik Nadya"Itu lohh tadi adek nitip ayam geprek sama minumannya , masa gak dibeliin sihh?!!" Ucap Adara sambil mengerucutkan bibirnya"Iya dongg papi gak lupa , yakali papi lupa sama anak anak papii" ucap Ryan membujuk Adara karena mengambek"Wahhh mana mana??" Ujar Adara tak sabaran"Kakak bagii, kakak juga nitip kan" sahut Rasya"Iya bentar Napa sih" gerutu Adara"Tapi yang kakak simpen dulu aja kan kita baru makan tadi di Caffe" ucap Rasya"Ooh jadi kalian tadi pulangnya mampir ke Caffe dulu.." ujar Ryan"Gimana disekolah baru nya , banyak temen nggak?" Tanya NadyaRasya yang khawatir jika Adara bercerita jika tadi dia dicelakai oleh Kevin menatap Adara agar tidak memberi tau kejadian tadi pagi."Oke adek gabakal cerita" bisik Adara dan diangguki oleh Rasya"Emhh anu Pi, mi, yaa gitulah.. banyak kok yang temenan sama kita , baik baik lagi" ucap Adara"I-iya pii, banyak banget yah kan dek" sahut Rasya dan Adara pun mengangguk"Ya pasti banyak dongg, apalagi non Adara dan Aden Rasya ini kan putra putri CEO terkenal didunia , pasti banyak lah yang mau" sahut bi Ika yang tiba tiba datang memuji mereka"Hehe bibi bisa aja" ucap Adara"Alhamdulillah kalau banyak yang baik sama kalian.." ucap Nadya"Iya Alhamdulillah" ujar Ryan"Eh mami papi tau ga , si adek disekolah itu ada crush nya loh pii,mii" ejek Rasya"Waaahh.. siapa tuuhh?" Tanya Ryan"Cieee gadis mami udah gede" ucap Nadya"Dihh siapa bilang , asal mami papi tau aja yahh di sekolah itu juga ada crush nya Kakak loh" balas Adara"Hmm.. apa itu kalangan CEO juga?" Tanya Nadya"Iya dong mi , kan Adara pernah cerita kalau kak Rasya suka sama Naura putri om aldiano itu lohhh" ejek Adara"Apa sih dek , kamu juga suka Gibran kan?!" Balas Rasya sambil tersenyum sinis" Gibran mana? Atau dia anak mafia terkenal itu yah?" Tanya Ryan"Iya lah Pi , tapi papi mau tau gak kalau sikap Gibran ke Adara itu baik banget ga bohong , terus murid yang lain juga pada aneh liat sikap Gibran ke Adara kek cinta gituu.." ejek Rasya dengan tatapan mata sinis nya.Adara mendengus kesal mendengar kata Rasya tadi lalu dia menaiki anak tangga dan pergi ke kamar nya karena kesal."Lah lah, tu anak malah ngambek" ucap Rasya."Hahah udah biarin aja deh kak, kakak juga mandi dulu sana gih nanti malem turun makan" titah mami Nadya."Siap boss!!" Jawab Rasya berlagak seperti hormat pada mami nya.Nadya dan Ryan pun tertawa kecil melihat tingkah anak nya itu, gemas!!.Adara mendengus kesal mendengar kata Rasya tadi lalu dia menaiki anak tangga dan pergi ke kamar nya karena kesal."Lah lah, tu anak malah ngambek" ucap Rasya." Hahah udah biarin aja deh kak, kakak juga mandi dulu sana gih nanti malem turun makan" titah mami Nadya."Siap boss !!" Jawab Rasya berlagak seperti hormat pada mami nya.N adya dan Ryan pun tertawa kecil melihat tingkah anak nya itu, gemas!!.****Sementara di kamar Adara..Adara kelelahan dan berbaring di kasur luasnya itu, dia merasa tubuhnya lengket dan sedikit bau lalu memutuskan untuk membersihkan diri, mandi."Hufftt capek bangett" keluh Adara."Hmm mandi dulu deh bau gini" ucap Adara pada dirinya sendiri.Adara pun pergi ke kamar mandi membersihkan badannya yang sedikit bau dan lengket. Dan setelah 20 menit Adara telah selesai menjalankan ritual mandinya."Akhirnya wangi juga nih badan hihiii" ucap Adara memuji dirinya sendiri."Hmm kedapur ah laperrr, tapi males juga sihh ketemu kak Rasya" ucapnya lesu didalam hati."Udah deh gpp udah laper banget nihhh" lesu Adara.Adara pun menghampiri Rasya dan kedua orangtuanya di dapur, terlihat mereka sedang menyiapkan makan malam bersama 2 asisten rumah tangga nya itu.(DIDAPUR)"Haii mami, papi" sapa Adara pada kedua orangtuanya."Halo sayang" jawab Ryan."Eh inces nya mami udah Dateng, ayo kita makan yuk" ajak Nadya."Dih mami papi doang disapa, kakak enggak" ucap Rasya pura pura merajuk."Ngapain coba" jawab Adara malas."Nih Pi, mi, liat nih Adara udah mulai ngelunjak" adu Rasya sebal.Nadya dan Ryan hanya menggelengkan kepalanya terkekeh geli melihat tingkah laku itu."Makan dulu yuk, berantem nya belakangan" ujar Ryan."Gak deh, kakak males berdebat sama tuh bocill" ledek Rasya sambil menunjuk Adara."Aku emang bocil, bocilnya ayang ibannn wleee" balas Adara meledek Rasya sambil menjulurkan lidahnya."Dihh berobat lu, Gibran aja belum tentu suka sama lu udah manggil ayang aja" balas Rasya."Kata siapa huu" dan Adara tak mau kalah."CK CK CK, gadis kecil papi sudah dewasa, tetapi masih manja" decak Ryan sambil menggelengkan kepalanya tertawa kecil."Apaan udah dewasa tapi masih kecil gitu" ejek Rasya."Biarin aja sih" balas Adara."Heii sudah sudah, ini lho bi Siti dan bi Inah sudah siapkan makanan nya, ayo dimakan jangan bertengkar terus" titah Nadya."Iya mi" jawab Adara dan Rasya.Setelah beberapa menit mereka sudah menyelesaikan acara makan malam nya, kini sudah jam 8 malam, Adara pun meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya."SEMUANYAA, ADEK KE KAMAR DULU YAHHHH" teriak Adara dari atas."APAAN SIH GAK ADA YANG NANYA JUGA" Balas Rasya sambil teriak di bawah sembari memainkan iPad nya."BIARIN AJAAA" Jawab Adara di atas masih dengan nada teriaknya.Adara pun masuk ke kamar nya yang luas dan aesthetic itu, adem sekali."Hmm bosen dehh, ngapain yah" tanya Adara pada dirinya sendiri."Main handphone aja deh" ucapnya lagi.Adara pun mengambil iPhone nya di meja belajar nya itu, dia mengotak Atik ponselnya karena bosan ingin memainkan apa.(SEMENTARA DIRUMAH GIBRAN)"Huhh bosen bett, ngapain yah" ucap Gibran."Pengen chat Adara tapi gak tau nomornya, apa gue minta ke Rasya aja ya?" Tanya nya di dalam hati."Yaudah deh gue minta ke Rasya aja kan tadi udah tuker nomor sama dia" batinnya lagi.[ Chat on]Kakak IparAssalamualaikum kakWaalaikumsalam, kenapa gib ?Kak minta nomor Adara boleh gak?Ohh boleh dong, tapi buat apa?Ya gak apa apa, butkon aja boleh kan?Hmm butkon atau mau chatan sama diaa ?? Jujur aja Gibb wkwkHehe iya kak, gitu dehh .. yaudah mana nomornya?SEND CONTACT👤: Bocill Kesayangan🤓🤍Thanks banget kakSama sama Gibb..Yaudah assalamu'alaikum kakWaalaikumsalam//Read[ Chat off]" Akhirnya bisa chatan sama Adara" batin Gibran senang."Chat sekarang dehh" batin nya lagi.[CHAT ON]Daraa 💛💫PSalam dulu, aku bilang mami nihhHehee maaff , lucu banget sihhApaan sihAssalamualaikumNahh gitu dong, waalaikumsalamSiapa?SV Gibran yahOoh , okeyyyUdah disave belum?Iya udahDi save nya kek mana??Ya kek gitu..Aku mau tauu kamu SV aku apaApaan sih aku kamu aku kamuHmm yaudah maaf,boleh tau gak disave nya apaa'GIBRAN' gitu doangMmm bohonggIhh bener lohhYaudah dehh, bentar yahmau ke luar dulu sebentar ajaIya santai aja//Read[CHAT OFF](SEMENTARA DI KAMAR ADARA)Adara ternyata hanya diam saja karena menahan malu chatan dengan Gibran tadi.Sebenarnya dia menamakan kontak gibran ' Ibann🤍' , namun karena malu dia berbohong padanya."Aaaa salbrut guee" ucap Adara yang sedaritadi hanya diam saja kini melompat lompat diatas kasurnya karena salah tingkah.(DIRUANG TAMU ADARA)*Tok tok tok..."Hah? Siapa itu Pi jam 8 gini??" Tanya Rasya pada papinya.Yapp Rasya papi dan mami nya berkumpul diruang tamu, Rasya memainkan iPad nya, dan mami papinya menonton TV diruang tamu."Mana papi tau kak, yaudah bukain gih" titah Ryan."Oke Pi" jawab Rasya.Rasya pun menghampiri pintu depan dan membukanya, ternyata setelah dibuka pintunya ternyata..."GIBRAN?!" Teriak Rasya kaget.Yapp itu adalah Gibran, tadi dia meminta izin pada Adara untuk keluar sebentar bukan?? Ternyata dia malah pergi ke rumah Adara."Aduuuh kak jangan teriak teriak Napa" ucap Gibran."Abis nya Lo kenapa bisa disini? Dan mau ngapain??" Tanya Rasya pada Gibran."Hehee, gue mau minjem adek Lo, boleh gak kak?" Tanya balik Gibran sambil cengengesan."Malem² gini? Lo mau bawa Adara kemana? Mau ngapain Lo sama Adara?" Rasya bertanya lagi."Yahh kak gausah pikir negatif kali, gue juga mau ngajak ke taman doang main, pliss boleh yakk??" Tanya Gibran."Ya gue sih boleh² aja, tapi noh si mami Sama papi, dibolehin kagak" ucap Rasya."CK yaudah dehh" pasrah Gibran."Eh kak siapa??" Tanya Ryan penasaran."Ooh ini Pi Gibran, calon mantu papi haha" canda Rasya."Apaan sih" jawab Gibran malu."Waahh apa ini nak Gibran?? MaasyaAllah, ganteng sekali dia gak seperti kamu kak" puji Nadya pada Gibran dan mengejek Rasya di akhir katanya."Ishh mami apaan coba" geram Rasya tak terima."Bercanda kakak" bujuk Nadya."Ini nak Gibran? Sini masuk dulu" titah Ryan."Oke Tan, om" jawab Gibran dengan sopan.Gibran pun masuk rumah mewah itu dengan sopan nya dan menyalimi tangan kedua orang tua Adara."Kamu mau apa kesini malam²? Tanya Ryan dengan lembut."Paling mau ngajak Adara ngedate lah pii" bukan Gibran yang menjawab melainkan Rasya."Ssstt kak.. diam dulu" tegas Nadya dan Rasya hanya bisa menurutinya."Eeh begini om, Tan, gibran kesini mau ajak Adara keluar di taman, boleh gak om??" Tanya Gibran dengan wajah penasaran."Mmm gimana yahh.." ucap Ryan bingung.

Mabuk CEO
Romance
08 Jan 2026

Mabuk CEO

Hidup adalah tentang menyenangkan semua orang. – Hani***Bekerja di Jakarta itu berat. Selain jam kerja yang panjang, karyawan harus berhadapan dengan kemacetan Jakarta yang disebut sebagai salah satu yang terburuk di dunia.Pulang melewati jam kantor demi menghindari macet dan tiba di rumah larut malam. Keesokan paginya, harus bangun lebih cepat dari seekor ayam jago agar tiba di kantor tepat waktu.Tergopoh-gopoh memakai sepatu, menyambar tas dan merapikan pakaian yang kusut setelah berdesakan di dalam bis, dilakukan hampir semua karyawan di kota metropolitan itu. Termasuk Hani.Permisi—permisi, maaf .... Hani memiringkan tubuhnya melewati celah himpitan tubuh-tubuh manusia yang belum tiba di tujuan. Dengan satu lompatan, ia sudah menjejak tepi jalan raya.Sedikit melompat-lompat menghindari trotoar yang tak rata, Hani merogoh kantong jasnya. Ponselnya bergetar sejak tadi. Pasti urusan yang sama, umpatnya dalam hati.Han! Kopi ya. Semua varian kayak biasa. Dan kayak biasa juga, pake duit lo dulu, entar diganti. Thank you in advance.Doni yang hobi menyuruh-nyuruh junior tak pernah lupa menyampaikan titipannya pagi itu. Dulu Hani merasa luar biasa keren setelah diterima di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Di antara penghuni jajaran lantai satu kos-nya, Hani dianggap paling sukses. Wanita karir sejati. Padahal ....Hani mengetikkan balasan untuk pesan Doni, Siap, Mas. Ia langsung mempercepat langkah kakinya menuju kedai kopi mahal yang seolah sudah menjadi kewajiban untuk menampilkan urban lifestyle.Dua orang karyawati yang menggandeng anak kecil masuk tergopoh menuju lobi. Hani meringis menoleh sekilas. Ibu-ibu itu pasti menuju tempat penitipan anak yang berada di lantai dasar.Untuk kesekian kalinya, Hani mensyukuri bahwa ia belum menikah. Perkantoran Jakarta, ia nilai terlalu berat untuk ibu bekerja. Mereka pasti bangun jauh sebelum matahari terbit menyiapkan sarapan bagi keluarga. Atau setidaknya, persiapan untuk dirinya sendiri menuju kantor. Lantas mereka harus menitipkan anak kepada pengasuh atau orang tua mereka kalau di kantornya tak ada fasilitas penitipan. Ditambah lagi dengan menjejalkan diri ke dalam transportasi umum. Hani bergidik.Betapa pun kerasnya usaha para perempuan itu, pada akhirnya, mereka terpaksa harus berhenti bekerja karena tingginya biaya yang harus ditanggung, sebuah fakta yang ditemukan dalam riset-riset.Dengan kacamata yang melorot sampai ke ujung hidungnya, Hani menenteng empat paper cup berbagai ukuran di tangan kirinya.Lagi-lagi ia harus menyebut mantra yang sama. "Permisi—permisi, maaf ...."Sepuluh menit lagi menjelang waktu yang ditolerir mesin finger print . Hani mendatangi tiap kubikel dan meletakkan pesanan masing-masing rekan di timnya. Beres dengan semua pesanan itu, Hani meletakkan ibu jarinya pada mesin finger print hingga bunyi bip terdengar."Han! Tolong ke ruangan saya!" seru Bu Curry saat melintas di depan kubikelnya.Ya, Tuhan . Apa berkas yang kemarin salah lagi?Hani langsung gelisah dan mual seperti biasa."Eh, lo dipanggil, tuh! Minum kopi dulu biar tenang. Sampe keringetan gitu." Dini satu-satunya karyawan lama yang sering mengajak Hani berbicara menghampiri kubikel."Gue nggak beli kopi," jawab Hani."Kebiasaan lo emang. Jangan terlalu pelit untuk diri sendiri, Beb!" Dini berlalu menuju ruang fotokopi di sebelah pantry.Ya, memang sudah menjadi kebiasaan Hani. Terlalu pelit dengan diri sendiri. Mati-matian mengencangkan ikat pinggang demi menumpuk pundi rupiah di tabungan demi mencapai kebebasan finansial di usia muda seperti impian banyak orang.Semua buku tentang kepribadian dan cara menghadapi atasan, seketika tak berguna saat berhadapan dengan Bu Curry. Wanita karir berparas tegas dan menikah dengan seorang pria asing itu adalah legal manager. Dan Hani adalah seorang legal staff. Ya. Lulus dengan nilai IPK bergelar summa cumlaude tak membuat Hani cepat diangkat menjadi legal coordinator. Bekerja selama empat tahun, Hani masih menjadi pesuruh di timnya.Dan sekarang, Bu Curry memanggilnya ke ruangan yang sudah bisa dipastikannya untuk urusan apa. Pekerjaan Doni si legal coordinator yang dilimpahkan padanya pasti ada kekeliruan.Hani meneguk air putih hangat dari tumbler-nya. Setelah merapikan rambut dan letak kacamatanya, ia menyeret langkahnya menuju ruangan Bu Curry."Pasti kamu yang mengerjakan update regulasi nasional ini, kan?" Bu Curry setengah mencampakkan beberapa lembar kertas yang disisipi paper clip ke meja."Iya, Bu. Benar. Saya yang mengerjakannya karena—""Sudah berapa tahun kerja, sih? Masa yang begini aja kamu nggak becus. Di bawah itu memang tanda tangan Doni, tapi kalau kamu yang diminta bantu mengeceknya, harusnya bisa lebih bener. Sudah dua orang yang ngerjain, masih bisa salah!""Maaf, Bu," sahut Hani dengan gugup memasukkan lembaran rambutnya ke belakang telinga. Perutnya semakin mual dan rasa-rasanya ia bisa muntah di tempat itu.Please, jangan ngomel panjang lebar. Jangan sampe abis diomelin aku harus bersihin muntahku di ruangan ini."Memangnya kamu nggak pernah belajar dari senior-senior? Dalam beberapa tahun ini, apa yang kamu pelajari?" sergah Bu Curry.Hani menunduk memandangi tanda pengenal yang menampilkan foto cantiknya tengah tersenyum. Dalam pasfoto itu ia terlihat bahagia sekali. Foto awal diterima bekerja di sebuah perusahaan besar farmasi yang bergerak di bidang manufaktur.Apa yang udah aku pelajari? Memerintah junior seenak jidat? Enggak pernah melibatkan junior dalam setiap project yang melibatkan kompetensi saat rekan sejawat lain diikutsertakan? Khawatir akan kemampuan junior yang lebih unggul? Menegur di depan orang ramai? Mencemooh? Kritikan terus-menerus? Menekan dan mengintimidasi? Atau yang paling parah, mengambinghitamkan junior yang belum memiliki wewenang apa pun? Gimana kerjaan si Doni tolol itu? Banyak keliru, kan? Ternyata masuk ke sebuah kantor besar karena relasi erat dengan direksi nggak bikin tambah pinter. Yang ada malah makin goblok!Hani memaki-maki di dalam pikirannya. Mengatakan semua hal yang tak bisa ia katakan langsung pada orang lain. Di dalam pikirannya ia bebas mengatakan apapun tanpa khawatir siapa pun tersinggung."Hani ... kamu denger?" tegur Bu Curry.Hani mendongak dan mengerjapkan mata. Ia sedang berusaha keluar dari kubangan pikiran yang sedang berusaha menghiburnya. "Maaf, Bu. Saya akan perbaiki secepatnya. Besok pagi saya serahkan lagi ke Mas Doni untuk ditandatangani lebih dulu. Sekali lagi maaf, Bu" Hani sedikit menunduk, kemudian maju selangkah untuk mengambil berkas dari atas meja.Meski selalu mual karena hardikan Bu Curry, Hani selalu puas jika mendapati pekerjaan seniornya tak diterima. Bu Curry seperti biasa. Tak menjawab sepatah pun. Perempuan itu hanya mengibaskan tangan mengusirnya dari sana.Sebentar lagi masuk waktu makan siang. Dan Hani masih mengerjakan perbaikan soal regulasi nasional yang diminta atasannya. Ternyata Doni tak memperbarui tentang dimensi penataan regulasi nasional yang baru ditetapkan pemerintah."Han, gimana? Revisinya kalo bisa jangan sampe sore, ya. Gue mau pulang lebih awal. Besok gue nggak masuk. Udah ngambil cuti sehari doang. Jadi, kalo bisa lo kerjain secepatnya," ujar Doni menumpukan sikunya di atas kubikel.Jangan sampai sore nenek moyangmu, Don! Aku udah ngelewatin makan siang demi mengerjakan sesuatu yang harusnya jadi urusanmu. Harusnya kertas-kertas ini aku jejalkan ke mulutmu biar kamu ngerti cara kerja yang benar!Hani ingin mengatakan hal itu. Tapi sayangnya yang keluar dari mulutnya hanya, "Baik Mas, paling lama gue siapin sejam lagi.""Sip! Hani memang selalu keren," ucap Doni kemudian pergi sambil bersiul-siul.Kalau saja dulu Hani tahu bahwa Doni yang dinilainya paling berengsek di antara para senior berengsek di kantor itu seumuran dengannya, ia tak akan sudi memanggil laki-laki itu dengan sebutan Mas. Sayangnya semua sudah terlambat. Doni sudah telanjur besar kepala dengan senioritasnya.Sejam kemudian, Hani yang selalu berhasil menepati janjinya sudah memegang sebuntalan kertas menuju meja Doni. Seperti biasa Doni menandatangani semua kolom bagiannya dengan wajah puas dan senyum menjengkelkan.Pukul delapan malam, Hani membereskan mejanya. Semua pekerjaannya hari itu berhasil ia selesaikan tepat waktu. Besok pagi ia tinggal menyerahkan pada Bu Curry. Dini satu-satunya manusia di kantor yang mau berbicara selain hal pekerjaan padanya, sudah pulang sejak tadi.Ponsel yang terletak di atas meja bergetar pendek-pendek. Kantor yang lengang dan kubikel kosong membuat suara getaran ponsel itu sedikit mengejutkan Hani. Ia cepat-cepat membuka aplikasi pesan. Benar dugaannya, pesan dari Indra.Lo masih di kantor? Gue baru selesai meeting di pusat. Makan dulu, yuk.Tak perlu berpikir dua kali, Hani langsung menyambar ponsel dan tasnya, lalu tergesa menuju lift. Sebagian lampu ruangan telah dipadamkan menuruti kampanye hemat energi demi menutupi efisiensi perusahaan. Sama sekali tak memikirkan nasib karyawan over time yang merinding tiap harus menyusuri ruangan gelap menuju lift."Gue di mini market biasa! Makan onigiri. Buruan!" Hani kembali memasukkan ponselnya ke saku jas.Dengan kresek putih di tangannya berisi empat onigiri dan dua botol air mineral, ia menarik kursi besi berat di salah satu pojok teras mini market.Mini market itu menempati dua buah bangunan lantai dasar gedung perkantoran. Tempatnya di sisi luar mengarah jalan yang masih berada dalam lingkungan tiga tower gedung yang berdampingan. Bagi Hani, mini market itu aman sebagai tempat mengumpat dan melepaskan penat."Onigiri lagi? Gak ada bosennya. Ckckck." Indra baru tiba dan langsung berdecak seraya menarik kursi besi."Lo mau nambahin omelan ke gue lagi?" Hani langsung melahap setengah onigiri dengan satu gigitan. Pandangannya lurus ke depan. Tak menoleh pada Indra yang sudah duduk di sisi kanannya.Indra menunduk sekilas untuk menggeser kursinya sedikit maju. "Sepatu lo ganti, udah butut banget. Kasi kado buat diri sendiri," ujar Indra yang ternyata benar-benar menambahkan omelannya."Tabungan gue masih jauh dari kata cukup untuk pelesir ke Machu Picchu," sahut Hani menyodorkan botol air mineral pada Indra. Sahabat pertama dan satu-satunya sejak ia menangis pertama kali di salah satu kursi teras mini market itu.Indra memutar tutup botol lalu menyodorkannya kembali pada Hani. "Gimana kantor?""Si Curry sehat walafiat. Masih buta ama bawahan langsungnya. Dan tim gue, tetap cuma judulnya aja yang tim. Yang kerja sebagian besar masih gue sendiri.""Gue udah capek nyuruh lo resign , tukas Indra mengambil sebuah onigiri dari dalam kresek mini market dan membuka botol air mineral untuknya sendiri."Gue takut bakal susah cari kerja. Bisa pingsan emak gue di kampung kalo tiba-tiba gue pulang jadi pengangguran.""Gue juga udah capek bilang ke lo jangan resign dulu sebelum keterima di perusahaan lain Hani . Jakarta ini luas. Enggak ada tempat untuk manusia-manusia lembek. Lo khawatir nggak dapet kerja yang berurusan dengan bidang hukum? Sampe kapan mau kerja yang posisinya sesuai ama gelar lo?" Indra kembali mendaratkan omelan yang sama untuk ratusan kalinya.Dan jawaban Hani selalu sama. "Gue nggak pede, Ndra. Gue rikuh kalo harus mulai semuanya dari awal lagi. Enggak bakal sanggup gue," ucap Hani.Indra menoleh iba pada perempuan di sebelahnya. Stephanie, nama yang terkesan kota namun tak menyiratkan hal itu di kelakuannya. Alih-alih dipanggil dengan sebutan Stefie bak bintang film. Di kampungnya, ia dipanggil dengan sebutan Hani yang melekat sampai di ibukota.DRRRTT DRRRTTPonsel Hani bergetar panjang di atas meja. Hanya sederetan angka. Tak merasa punya hutang dan keharusan menghindar dari debt collector, Hani menjawab telepon itu."Ya?" jawabnya malas-malasan."Han, ini Ayu! Kamu, kok, keluar dari grup besar SMA sih? Inget ini tahun berapa? Reuni akbaaar," teriak Ayu dari seberang telepon."Hah? Ayu? Reuni ak—bar?" Dua kata yang menyadarkan Hani malam itu. Dagunya yang tadi bertumpu di atas meja, kini tegak. Suara Ayu yang ceria di telepon, belum apa-apa sudah membuatnya insecure. Ia keluar dari grup SMA dan menghilang dari dua sahabatnya yang sama-sama merantau ke ibukota, bukan tanpa alasan.Hani minder. Grup SMA terasa mencekiknya. Yang dibicarakan semua orang hanya pencapaian dan pencapaian. Suami, istri, anak, harta, karir, dan kalimat-kalimat menyombongkan diri yang dibalut keluhan. Merendah untuk melambung tinggi."Han! Kita harus ketemu. Inget, reuninya tiga bulan lagi. Inget juga janji kita dulu. Kamu, aku, Tika. Kita harus ketemu. Bawa suami atau pacar kamu. Aku pengen liat pasangannya primadona SMA Membalong kayak apa. Info reuni aku kirim lewat chat. Aku panitianya. Semua orang pada nyariin kamu. Dasar!" pekik Ayu dengan girangnya.Seperti apa? Primadona SMA? Primadona itu sudah lama mati. Kalau saja ia mendapat suami seorang politisi muda seperti Ayu, atau Tika yang bersuamikan dokter sukses, ia mungkin tak akan capek-capek menghilang.Dua wanita dari desa dengan pendidikan sarjana sepertinya tapi memiliki pencapaian luar biasa. Tak perlu kerja keras membanting tulang, tapi bisa kaya dan cantik mentereng. Dua wanita itu hanya perlu menjadi seorang istri laki-laki hebat.Pembicaraan sudah berakhir. Hani diam menunduk memandang heels kusamnya. Heels yang sudah dijahit dan dilem empat kali."Kenapa?" tanya Indra."Reuni akbar SMA Membalong.""Terus?"" Fixed gue enggak dateng. Gue enggak mau cari penyakit," lirih Hani."Hei, stupid ... lo harus dateng," ucap Indra."Kalo di kota, gue wanita karier. Kalo di kampung, gue perawan tua." – Hani***"Gue mo balik," kata Hani seraya bangkit menggeser kursi."Sendirian di kos-kosan? Mending ke apartemen gue. Kita main kartu kayak kemarin. Yuk, ah," ajak Indra ikut berdiri dan menyeret lengan Hani.Indra merangkul pundak Hani menuju taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Malam itu, kemungkinan besar mereka akan kembali menikmati waktu semalam suntuk untuk mengeluh dan mencerca atasan di kantor."Kerja di sektor swasta yang dinamis, sebenarnya bisa jadi media yang bagus untuk mengembangkan diri dan kompetensi," gumam Hani dari jok belakang taksi."Hmmm ...," lirih Indra tanpa menoleh. Pandangan mereka sama-sama lurus ke depan. Indra kembali mendengar cerita yang sudah diulang puluhan kali oleh sahabatnya."Harusnya bisa saling tukar pikiran, brain storming sehat dan persaingan sportif. Demi memajukan perusahaan dan memajukan karier tentunya.""Nyatanya?""Nyatanya komunitas nggak sehat itu dianggap normal. Gue yang dasarnya susah deket dengan orang baru, sekarang malah makin parah. Cuma Machu Picchu yang bikin gue tahan, nggak turn over .""Dan itu nggak cuma lo aja. Di awal jabatan gue jadi marcom manager , gue kelimpungan Han .... Mana yang biasa nempatin posisi itu tiba-tiba ngundurin diri. Gue belajar semuanya dari nol lagi. Promotion , awareness , branding , semua. Apalagi lo tau brand perhiasan perusahaan gue udah tinggi banget. Hampir semua orang kaya di Indonesia punya berlian dari perusahaan gue kerja. Lain lagi kalo gue harus ke kota lain untuk ngurus pembukaan boutique store baru. Ribet, sampe kadang gue lupa istirahat. Tapi gue happy , gue menikmati. Menurut gue, level kebahagiaan tiap orang itu, nggak cuma mentok cuma soal nikah. Untuk sekarang, gue lagi happy sendirian. Menikmati perkembangan karier gue.""Lo sih enak ...," ucap Hani."Gue ngomong gitu bukan mau manas-manasin lo. Gue cuma mau lo bisa milih sesuatu yang bisa lo jalani dengan happy, tanpa ngeluh. Kerja kalo nggak ikhlas capeknya double.""Lo langsung berhadapan dengan klien lo yang kaya-kaya. Enggak kayak gue yang cuma jadi kacung.""Kan, lo idealis. Cuma mau kerja yang sesuai latar pendidikan lo aja. Padahal sayang banget ngabisin empat tahun dengan mengeluh," tukas Indra setengah bangkit melihat taksi yang sudah masuk lingkungan apartemen."Oke, Pak. Berenti di sini aja." Indra mengambil tas laptopnya dari jok dan membuka pintu mobil bersamaan dengan Hani."Apa gue harus jadi kacung lo aja?" tanya Hani tertawa melangkahkan kaki masuk ke lobi apartemen."Kenal banyak klien kaya itu enak lho ...." Indra mendahului Hani untuk men-tap kartu akses di sensor lift."Enak? Jangan-jangan lo ...." Hani menoleh pada sahabatnya yang tengah tersenyum mengangkat alis."Gue dikasi wine lagi. Ayo kita buka," ajak Indra mengalungkan tangannya di bahu mungil Hani dan berjalan keluar lift."Besok masih ngantor. Sinting ...," gerutu Hani."Enggak apa-apa sinting, ketimbang pusing. Baju lo masih ada di tempat gue."Indra merasa malam itu mereka harus melakukan ritual mengeluh semalam suntuk. Menurutnya, Hani sudah terlampau rajin untuk ukuran seorang staf. Tak pernah terlambat ke kantor dan selalu berhasil mengerjakan tugasnya dengan memuaskan.Namun sampai detik itu, Hani belum mendapat reward apapun dari kantornya. Bukan berupa benda atau uang, setidaknya Hani pasti membutuhkan pujian yang bisa memotivasinya. Sayang Indra belum bisa membujuk sahabatnya itu untuk lebih 'membebaskan' dirinya sendiri.Indra mengerti apa yang dirasakan sahabatnya. Beberapa tahun yang lalu, ia sempat mengalami fase yang sedang dijalani Hani sekarang. Bedanya, ia lebih berani mengambil keputusan. Hani pintar. Tapi sayangnya, di dunia pekerjaan pintar saja tidak cukup.Dua jam tiba di kamar Indra dan duduk beralaskan permadani tebal di depan televisi sudah membuat Hani cekikikan. Wajahnya memerah karena dua gelas wine. Di hadapan mereka terbentang mainan ular tangga. Mereka selalu menganggap itu sebagai hal lucu karena sesuai dengan hidup mereka. Naik tangga yang tinggi, dan sekejab bisa meluncur turun karena salah melangkah. Atau biasa mereka sebutkan sebagai permainan takdir."Lo tau nggak?" Hani mengangkat gelas wine-nya ke arah Indra.Indra yang sudah setengah mabuk menggeleng-geleng karena tak mengerti maksud Hani."Oke, lo nggak tau. Jadi gue kasi tau." Hani menarik napas dan mengembuskannya perlahan."Dulu, Ayu geblek banget di kelas. Semua-semuanya nyontek dari cowo-cowo yang bisa dia manfaatin. Makanya gue nggak heran kalo dia bisa dapet suami kaya." Hani terbahak-bahak sambil melayangkan pukulan ke bahu Indra."Artinya dia yang dulu lebih pinter dari lo. Terbukti, kompetensinya teruji sejak di bangku sekolah." Indra ikut terbahak-bahak. Tawa Indra mampu membuat Hani bungkam."Gue ... nggak suka dibanding-bandingkan, Ndra! Gue nggak suka!" pekik Hani yang sudah benar-benar mabuk."Ba-gus!" Indra mencondongkan gelas wine-nya dan mengadunya dengan gelas di tangan Hani."Apalagi si Tika! Beuuuhh ... lemot banget! Tapi dia pinter memelas. Dulu cowo-cowo kasian ama dia. Bener-bener dia cuma modal tampang doang." Hani menghabiskan sedikit wine yang tersisa dari gelasnya."Tambah lageee ...," ujar Indra kembali membuka sumbatan botol wine dan membagi semua sisanya ke gelas mereka berdua. Bukan gelas wine. Mereka meminum wine itu menggunakan mug yang biasa dipakai untuk minum kopi."Gue cantik nggak?" Hani berdiri dan memutar tubuhnya di depan Indra."Cantik—cantik. Lo cantik, tapi geblek. Pelit, nggak modis, old fashioned ." Indra terkekeh-kekeh."Sialan! Temen sialan." Hani mengulangi ucapannya kemudian mengembuskan napas. Sering mual tiap berhadapan dengan Bu Curry, tapi entah kenapa lambungnya baik-baik saja tiap dimasuki alkohol. Indra bilang, mualnya berkaitan dengan kondisi psikis. Bukan kesehatan tubuhnya saja."Makanya gue saranin, lo harus dateng ke reuni itu. Bawa laki-laki ganteng, kaya, dan ter-ke-nal. Temen-temen lo bakal ternganga.""Siapa? Laki-laki kaya mana yang mau ama gembel kayak gue," ratap Hani kembali meneguk wine-nya."Kan, Ayu sendiri yang bilang lo dulu primadona. Berubah lagi Han ... lo juga bisa cantik. Duit lo udah banyak. Dipake dong ....""Emang! Gue dulu pernah jadi primadona. Jaman SMA, tuh, gue cakep, pinter, bokap gue berduit. Nah, sekarang?" Hani kembali meneguk wine-nya. "Sekarang gue diwanti-wanti berhemat karena seluruh harta bokap gue, udah habis untuk menjadikan adik-adik gue PNS." Hani kembali tertawa. Kali ini tawanya terdengar sumbang."Laki-laki idaman lo yang kayak apa?" tanya Indra dengan raut serius namun terlihat tolol karena sebotol red wine yang sudah kandas mereka bagi rata."Untuk dibawa ke reuni?" tanya Hani. Indra mengangguk-angguk sambil menutup mulutnya seakan menahan muntah."CEO!" pekik Hani dengan mata setengah terpejam."Kenapa harus CEO?" tanya Indra."Ha-rus! Seandainya gue jadi pergi, laki-laki yang gue bawa ke reuni harus CEO yang terkenal! Harus ganteng! Harus ... single tentunya. Temen-temen gue pasti pada browsing nyari nama CEO itu. Grup alumni SMA yang gue tinggalkan bakal geger. Gue bakal dikenal sebagai Hani si wanita karir yang kekasihnya CEO." Hani tertawa terbahak-bahak sambil memegang gelas wine-nya."Sebentar ...," kata Indra meletakkan gelas wine-nya dan merangkak menuju laci meja televisi."Oke, gue ambil ini." Indra mengangkat sebuah kotak berisi segepok kartu nama klien Infinity Jewelry yang bertahun-tahun menjadi langganan jaringan butik perhiasan itu."Terserah lo—terserah lo," sela Hani terkikik-kikik."Trus ... gue sortir. Trus gue acak dulu ... terus ... lo pilih satu. Buat nama yang terpilih, lo harus deketin dia dengan berbagai cara. Abisin tabungan lo untuk ubah penampilan. Soal hasil belakangan. Yang penting lo udah nyoba. Biar hidup lo nggak cuma tentang ngumpulin duit," kata Indra dengan wajah merah."Oke-oke, mana ... mana? Gue mau ambil kartunya." Hani mengusap dahinya dan membenarkan letak kacamata."Janji?" tanya Indra memastikan."Janji ...," ulang Hani."Deketin siapapun CEO yang kepilih?""Deketin CEO yang kepilih ... siapapun ...," ulang Hani lagi dengan mata mengantuk karena gelas wine ketiga yang diminumnya."Oke, ambil!" Indra menyodorkan sepuluh kartu nama CEO yang dibalik.Hani tergelak sesaat namun kemudian wajahnya berubah serius seakan berpikir keras. Telunjuknya di depan mulut dengan dahi mengernyit.Kemudian ...."Yang ma-na-yang-ku-pi-lih!" ucap Hani dengan mata setengah memejam. Jari telunjuknya berpindah-pindah di atas deretan kartu nama yang tengah direntangkan Indra. Ia lalu menarik sebuah kartu nama dan langsung membalikkan kartu untuk melihat hasil pilihannya.Hani mencoba melebarkan mata. Pandangannya tak fokus karena pengaruh alkohol. Ia lalu mengangkat kacamata hingga ke dahi.Tak sabar melihat hal itu, Indra merampas kartu itu dari tangan sahabatnya. "Nicholas Cipta Dalmiro. Presiden Direktur Grup Dalmiro.""Ok-ke!" Hani mengacungkan jempolnya ke arah Indra lalu terkekeh."Nicholas ini single tapi ....""Kenapa lagi? Cepet! Ak-ku ngantuk ...." Hani merebahkan tubuhnya di sofa."Tapi udah tunangan." Indra meringis meletakkan kartu nama itu di depan mulutnya."Bodo amat." Hani kembali menegakkan tubuhnya. "Gue nggak akan mundur. Mana kartunya? Gue bakal telfon sekarang." Hani mengulurkan tangan meminta kartu nama." No—no ... jangan telfon. Udah malem. Gimana kalo kita chat aja? Pake nomor lo. Lebih mesra ...." Indra meraih ponsel Hani yang terletak di dekat ular tangga."Ngomong apa—ngomong apa?" tanya Hani antusias."Kita cari dulu tipe perempuan dia tuh kayak apa—" Indra meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu di kolom pencarian."Yang gimana?" tanya Hani sambil mengetikkan sederet nomor ponsel dan menyimpannya. "Gue bikin siapa namanya? Hmm ... Mas Nicho?""Iya—iya, itu aja. Lebih mesra. Mas Nicho," sambut Indra terkikik-kikik."Oke, udah gue save. Jadi, gue ngomong apa nih?" Hani menyeka dahinya yang sudah mulai berkeringat. Banyaknya alkohol yang masuk ke tubuh membuatnya kepanasan."Artikel di sini, katanya ... dia nggak punya tipe wanita tertentu. Yang penting nyambung. Apa, ya, maksudnya ...," gumam Indra yang mendadak bodoh karena alkohol."Nyambung ... trus apalagi?" tanya Hani tak sabar."Menurut artikelnya, 'Manja dan menggemaskan pasti akan disukai setiap pria. Mengingat karakter pria yang ingin selalu dibutuhkan.' Gitu Han ...," sambung Indra lagi."Hueeek ... kok, gue jadi jijik? Man-ja dan menggemaskan. Ge-mas." Hani berpikir-pikir kemudian menunduk mengetikkan pesan. Bibirnya menyunggingkan senyum."Lo bilang apa? Jangan bilang lo cuma kacung di perusahaan lo!" Indra berseru mengingatkan."Tenang—tenang. Gue bakal ngegantiin posisi Bu Curry sementara. Hahaha." Hani kembali tertawa."Iya ... iya ... bagus. Gue udah ngantuk banget by ... the ... way ...." Indra menjatuhkan dirinya di permadani dan berguling membelakangi Hani memeluk bantal sofa.Hani masih mengetikkan pesan panjang di ponselnya dengan raut bahagia luar biasa. Setelah puas dengan hal yang diketiknya, Hani mencampakkan ponsel dan ikut merebahkan tubuhnya di atas permadani.Sebelum menutup mata, ia melirik jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Tak akan ada pria baik-baik yang membalas pesan di jam itu. Alam mimpi perlahan merangkak memasuki tidurnya.Wine selalu bisa membuat Hani tertidur pulas tanpa mimpi buruk sampai pagi. Dan seperti acara mabuk-mabukan sebelumnya, pagi berikutnya selalu diwarnai dengan kegaduhan."Mampus! Gue harus ngasi kerjaan yang kemarin ke Bu Curry. Gue udah bilang, jangan ajak gue mabok. Lo udah manager, gaji lo nggak akan dipotong dan lo nggak bakal dapet SP kalo telat." Hani terburu-buru menyisir rambutnya di depan sebuah kaca tinggi di dekat pintu."Ndra! Bikinin gue teh, please ... perut gue agak mual karena inget si Curry ayam. Buruan!" pinta Hani.Indra yang sudah selesai berpakaian langsung menuju mini bar dan membuatkan segelas teh untuk sahabatnya."Ini! Cepet minum." Indra menyodorkan secangkir teh hangat langsung ke mulut Hani.Hani mencampakkan sisirnya dan meraih cangkir teh untuk segera menuntaskan isinya."Gue berangkat!" pekik Hani dari depan pintu seraya buru-buru memasukkan kakinya ke sepatu."Eh, hape lo—hape!" Indra menyambar ponsel Hani yang masih berada di atas permadani."Hampir aja! Untung si Curry ayam nggak nelfon gue. Atau jangan-jangan gue udah dititipin kopi pagi ini?" Hani mengusap layar ponselnya.Sedetik, dua detik, mata Hani kian terbelalak."Ya, Tuhan ... Ndra! Mati gue, mati! Kali ini gue pasti mati. Ya, Tuhan ... wine terkutuk." Hani membekap mulutnya."Bilang apa lagi si Curry ayam? Liat sini!" Indra menyambar ponsel dari tangan Hani yang masih membekap mulutnya.Ternyata pesan itu bukan dari Bu Curry. Tapi dari seseorang yang dini hari tadi dinamai Hani dengan sebutan 'Mas Nicho'.Isi pesannya, 'Siang ini saya ada urusan di Escape Tower. Jadi penasaran dengan legal manager yang katanya bisa manja dan menggemaskan. Oke. See you Stefie ...'Indra membelalakkan matanya. "Anjiir ... Stefie. Emangnya lo ngirim pesan apa Stef?"Ternyata selain kecantikan dan otak encer, perempuan itu juga perlu nyali. – Hani***'Siang ini saya ada urusan di Escape Tower. Jadi penasaran dengan legal manager yang katanya bisa manja dan menggemaskan. Oke. See you Stefie.'Hani mencampakkan tasnya ke lantai dan menyeret Indra ke sofa. Saat ini ia tak terlalu mengkhawatirkan Bu Curry. Ia lebih mengkhawatirkan apa saja yang sudah dikatakannya pada Presdir Grup Dalmiro dini hari tadi. Setelah beberapa saat mencengkeram erat tangan Indra, Hani menghirup napas dalam-dalam dan menyodorkan ponselnya."Ndra, gue nggak berani scroll pesan itu. Lo aja! Liat apa yang udah gue ketik ke Mas Nicho itu. Gue nggak berani—gue nggak berani. Ya, Tuhan legal manager di perkantoran Escape Tower. Stefie. Oh, shit!" Hani membungkam mulutnya."Oke, kita liat sama-sama." Indra menyambar ponsel dan langsung membuka aplikasi pesan.Hani menggigit bibirnya."Kita mulai dari paling bawah." Indra melirik Hani yang sudah menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata dan mengangguk-angguk lemah. "Oh God" – Indra menegakkan duduknya – "gue bacain sekarang.""Nicholas Cipta Dalmiro, gimana rasanya jadi orang kaya? Pasti asik. Setidaknya harta bisa menyelamatkan tampang kamu yang biasa-biasa aja." Indra menatap Hani yang sekarang membekap mulutnya dengan mata memejam. Indra kembali melanjutkan."Kaya berkat orang tua, ya? Aku curiga kamu sebenarnya nggak bisa apa-apa. Dan sekarang, udah tunangan. Tunangan kamu pasti cantik, dengan warisan berlimpah dan isi kepala pas-pasan. Kamu tersinggung? Wajar. Karena yang aku katakan, semuanya pasti bener." Indra melirik reaksi Hani."Wine terkutuk," desis Hani."Kalo cuma cari wanita yang bisa manja dan menggemaskan, seorang legal manager di Escape Tower juga bisa. Bisa jadi aku jauh lebih cantik dan jenius dibanding tunangan kamu. Lingkaran pernikahan orang kaya omong kosong. Yang kaya kawin ama yang kaya biar hartanya nggak ke mana-mana. Mengabaikan perasaan dan milih dijodohin cuma karena duit. Sound disgusting!" Suara Indra ikut meninggi seiring dengan pesan teks Hani yang dibacanya."Ibu," ratap Hani."Takut miskin? Hidup di kota besar pemikiran, kok, kampungan!""Oh, no ...." Hani memutar tubuhnya dan membungkuk di pegangan tangan sofa."Pemilik perusahaan seperti kalian sebenarnya nggak kerja. Yang banting tulang itu para bawahan. Kalian juga nggak pernah ngecek keadaan karyawan kalian gimana. Betah atau tidak? Sejahtera atau tidak? Lingkungan kerjanya baik atau tidak. Yang kalian pikirkan cuma profit , profit , profiiit terus." Indra membacakan pesan itu dengan berapi-api yang membuat Hani semakin tersiksa.Hani tersengal-sengal meremas bagian dada kemeja satinnya. "Cukup—cukup. Gue nggak sanggup lagi."Ada dikit lagi, "Wanita manja dan menggemaskan? Mesum banget." Indra menutup aplikasi pesan. "Gimana?" Indra memandang sahabatnya.Selama hidup di dunia ini, Hani merasa tak pernah membuat satu pun kekacauan. Hidupnya selalu lurus-lurus saja. Jadi anak manis dan pintar, jadi siswi baik, mahasiswi baik, bahkan karyawati yang saking baiknya malah selalu dimanfaatkan. Hani bangkit dari sofa dan memungut tas tangan yang tadi dicampakkannya begitu saja.Dan kemarin malam, Hani menumpahkan segala unek-uneknya pada seorang presdir. Ia tak mengenal siapa Nicholas. Melihatnya saja tak pernah. Hidupnya sudah terlalu sibuk pergi subuh dan pulang larut malam. Bukannya mencaci maki Bu Curry, Doni atau rekan-rekan kerja yang selalu merendahkannya, Hani malah mengumpat hidup orang lain."Gue mau pulang aja. Enggak masuk kerja hari ini. Gue mo nyiapin surat resign ," ucap Hani merampas ponselnya dari tangan Indra. Gue pasti dituntut. Hate speech , penghinaan, perbuatan tidak menyenangkan, dan gue pasti disomasi untuk minta maaf di depan khalayak ramai. Gue pasti harus memposting video permintaan maaf di semua sosial media yang gue miliki. Gue nggak pernah posting apa-apa. Sekalinya posting, malah video nangis-nangis minta maaf. Sebelum itu terjadi, gue kayaknya harus nyari orang itu buat minta maaf." Bahunya terkulai dan Hani menyeret kakinya yang lemas ke arah pintu."Eh, tunggu dulu—tunggu dulu. Kita harus ngomongin ini dengan kepala dingin. Kita analisa isi pesan si Mas Nicho. Gue rasa, kalo dia mau nuntut lo secara hukum, dia nggak perlu capek-capek bales pesan lo itu. Sekretaris pribadinya langsung laporin lo, dan tiba-tiba lo dapet surat panggilan kepolisian.""Masa, sih?" tanya Hani tak yakin. Tapi rautnya sedikit mengendur."Nyari lo itu mudah. Dia malah repot-repot bales pesan. Menurut gue, dia kesel. Marah. Tapi pengen meluapkannya langsung ke lo." Wajah Indra kembali serius.Hani kembali mencampakkan tasnya dan duduk di sofa. "Jadi, nasib gue gimana?""Sebentar—sebentar, jangan buru-buru. Gue malah nggak bisa mikir kalo diburu-buru. Gue baca lagi pesannya." Indra kembali merampas ponsel sahabatnya dan kembali menekuni pesan pendek Nicholas."Its like confessions." Indra bergumam mengatakan bahwa Hani seperti sedang membuat pengakuan."Enggak tau, gue nggak tau." Hani merebahkan tubuhnya di permadani. "Gue nggak tau harus gimana ini. Sinting banget gue, sinting!" Hani berguling memeluk bantal sofa dan memukul permadani berkali-kali."Tapi ...," gumam Indra."Apa?" Hani mengangkat wajahnya memandang Indra."Kalo cuma ngirim itu aja, nggak apa-apa. Masih aman, kecuali kalo lo ada ngetik nama perusahaan. Gue baca lagi, lo nggak ada ngomong apa-apa selain nama Escape Tower. Cuekin aja mungkin laki-laki itu cuma kesal sesaat waktu bales pesan lo. Dia orang terkenal, pasti sering nerima pesan teror." Indra duduk di sofa masih menggenggam ponsel"Sering nerima pesan teror, tapi mungkin nggak ada nerima pesan mencela kayak gue. Haduuh ...," ratap Hani kembali berguling."Tapi dia nggak ada bales lagi, kok. See ?" Indra mengangkat ponsel Hani dengan senyum percaya diri."Jadi, diabaikan aja?" tanya Hani meyakinkan diri."Abaikan aja. Lagian dia itu presdir, pasti sibuk. Enggak ada waktu untuk ngurusin hal receh kayak gini." Indra mencampakkan ponsel ke permadani tebal.Namun, seperti mendengar akan hal yang sedang mereka bicarakan, ponsel Hani bergetar dan menyala sebegitunya menyentuh permadani. Sebuah notifikasi pesan menyembul keluar.Hani dan Indra saling berpandangan. Indra turun dari sofa dan kembali memungut ponsel. Hani duduk menegakkan diri sedang bersiap dengan kabar terburuk."Siapa?" Suara Hani sedikit bergetar. Kabar dari siapapun tak ingin didengarnya. Bu Curry, Doni, atau ayahnya di kampung halaman. Hani tak mau. Untuk saat ini Hani tak ingin menerima kabar dari siapapun."Han ...," bisik Indra dengan suara yang membuat kuduk merinding. Hani mengangguk pelan mempersilakan sahabatnya merilis berita. "Liat ini," ucap Indra menyodorkan pesan terbaru dari Nicholas.'Hai Stefie, status pesan saya sudah terbaca, tapi sepertinya Anda abaikan. Saya tunggu klarifikasi Anda di kedai kopi lantai dasar Escape Tower pukul satu siang ini. Kalau Anda tidak datang, tiga jam berikutnya akan ada orang yang datang mencari Anda.'"Dia kayak denger lagi diomongin," ucap Hani. "Gue dateng Ndra, gue datengin aja. Gue minta maaf, jujur kalo gue lagi mabuk dan terlibat permainan konyol. Thats it. Gimana?"Indra yang tadinya telah rapi dengan seluruh rambutnya tersisir rapi ke belakang dengan aroma minyak rambut segar, kini sedikit berantakan. Beberapa rambutnya turun dan ia terlihat gelisah memikirkan nasib sahabatnya."Ini karena gue. Gue yang mulai nantangin lo. Lo udah pasti kena damprat ama Curry ayam, pasti dihina-hina si Doni karena hari ini nggak masuk. Lo pasti ditinggal makan siang dengan setumpuk kerjaan yang dititipin mereka. Dan sekarang, lo dateng cuma minta maaf kayak pecundang. Gue nggak rela, Han .... Nicholas manusia sibuk. Gue sering ketemu dengan manusia kayak dia. Mereka akan menghargai orang yang sama levelnya dengan mereka. Atau setidaknya yang dia nilai intelektualitasnya lebih tinggi. Kalo lo datengin Presdir itu dengan dandanan segembel ini, lo juga bisa jadi korban amarah dia di depan umum." Indra menggeleng tak setuju."Dan itu kedai kopi Escape Tower, Ndra .... Tempat gue hilir mudik tiap hari buat beli titipan temen-temen gue." Hani melemparkan tatapan resah. "Jadi gue harus gimana?" tanya Hani putus asa."Gue juga mau nambahin ...," kata Indra."Ya, Tuhan .... Apalagi?" Hani berdecak frustasi."Kalimat lo yang bilang ke dia setidaknya harta bisa nyelamatin wajah kamu yang pas-pasan. Gue nggak nyangka lo bisa sebego itu. Lo nggak pernah liat berita atau majalah-majalah pria?" tanya Indra.Hani menggeleng. "Gue terlalu sibuk hidup di kantor," lirih Hani. "Memangnya tampangnya si Nicholas ini gimana, sih?" Hani mengambil ponselnya bermaksud untuk browsing."Enggak usah. Udah telanjur." Indra menghela napas panjang."Jadi gue harus gimana?" Hani kembali mencampakkan ponselnya dengan kesal. "Tadi gue mo minta maaf, lo bilang nggak usah. Orang semarah apapun kalo ada yang minta maaf dengan tulus, mustahil nggak dimaafin. Setidaknya gue terlihat tulus," sergah Hani."Lo pilih yang mana? Laki-laki ganteng minta maaf ke lo, atau laki-laki yang biasa banget minta maaf ke lo?" tanya Indra dengan satu alisnya dinaikkan. "Mana yang bikin lo ngerasa lebih keren?""Ada orang ganteng minta maaf ama gue. Jelas gitu.""Nah, kita kembali ke rencana semula. Lo harus buat presdir itu nggak jadi marah." Indra duduk di permadani menyilangkan dadanya."Caranya?" Hani menaikkan kacamata dan menghembus helaian rambut yang menghalangi pandangannya."Sebentar," ucap Indra merogoh ponsel di kantongnya dan mengetikkan sesuatu dengan cepat di sana. "Kita langsung berangkat. Ini udah mau jam sepuluh pagi. Gue bolos juga hari ini. Ayo berangkat! Gue jelasin di jalan rencananya."Indra menyeret Hani yang masih terlihat bimbang mengikuti ajakannya. Langkah Hani tersandung-sandung mengikuti langkah kaki sahabat dekatnya itu."Oke, ucap Indra. Lo jangan potong ucapan gue, cukup dengerin dan jawab ya atau tidak. Kita nggak banyak waktu.""Ya," sahut Hani langsung."Belum dimulai, Nyong." Indra melengos menoleh Hani yang kadang bisa begitu naif."Kita beli pakaian. Setidaknya, satu set jas terbaik yang biasa dipakai eksekutif muda pasti dipakai oleh seorang legal manager ." Indra menoleh pada Hani meminta persetujuan."Ya," jawab Hani."Dan lo tau jas itu pasti mahal. Lo yang bayar," sambung Indra melambaikan tangan memanggil taksi yang melintas baru saja menurunkan penumpang di depan lobi apartemen."Tidak," sahut Hani. Indra menoleh dan menyipitkan matanya."Ya," ralat Hani kemudian mengikuti Indra masuk ke taksi."Sepatu lo itu, buang." Indra memandang tajam Hani di sebelahnya."Ya." Hani mengangguk. Mungkin sudah saatnya ia berpisah dengan sepatu butut yang sudah membersamai langkahnya selama empat tahun terakhir."Trus kita ke salon," ucap Indra. Tampilan lo nggak banget. Dan gue nyesel baru bilang itu sekarang," sambungnya lagi."Sialan ...," desis Hani.Perlu waktu dua jam buat Hani memutuskan setelan jas yang akan dibelinya. Bukan perkara model, tapi masalah harganya. Setelah diskusi yang panjang dan alot, akhirnya Hani melepas kartu debitnya untuk digesek mesin EDC sebuah outlet brand high end . Indra tersenyum puas keluar dari outlet itu. Dan Hani tentu saja berjalan bak raga tak bernyawa. Jas, sepatu dan sebuah tas baru menghabiskan dua bulan gajinya. Buat Hani, itu jumlah yang sangat besar.Sejam berikutnya mereka habiskan di sebuah salon mal itu. Hani lagi-lagi kembali ragu saat memutuskan rambutnya harus diapakan. Dan Indra harus berdebat beberapa saat soal mode terbaru yang belakangan dianut oleh para wanita."Buruan ganti pakaian di belakang aja," pinta Indra menyodorkan sebuah paper bag pada sahabatnya."Oke,"jawab Hani segera bangkit dan mematut wajahnya sekilas di cermin salon. Kacamatanya telah tanggal dan berganti dengan sepasang soft lense berwarna hazelnut. Sesaat tadi ia tak menyangka bahwa dengan sentuhan sederhana pada mata dan rambutnya bisa membuat tampilannya begitu berbeda.Selama Hani berganti pakaian, Indra menyibukkan dirinya dengan membaca-baca berita soal Nicholas. Ia tak ingin Hani diam tanpa bahan pembicaraan dengan pria itu. Permintaan maaf ini harus elegan, pikirnya. Kesan pertama harus benar-benar baik. Hani harus angkuh, sombong, berkelas, dan mahal. Nicholas tak boleh meremehkannya.Dan saat Hani melangkah keluar dari bagian belakang salon, Indra mendongak terperangah."Gimana?" tanya Hani memutar tubuhnya. Sepasang sepatu bertumit sepuluh senti dan rok span di atas lutut, membuat kaki jenjangnya terlihat."Lo cantik banget ...," ucap Indra."Makasi ...," sambut Hani."Sama-sama. Selama lo diem aja, lo cantik banget," tegas Indra."Tetep sialan seperti biasa," umpat Hani.Sudah lewat dari waktu yang dijanjikan Nicholas. Mereka terjebak macet dalam perjalanan kembali ke Escape Tower. Indra menyeret-nyeret Hani agar bisa berjalan lebih cepat dengan heels barunya. Pukul 13.15 mereka baru tiba di depan kedai kopi."Sabar, kaki gue udah lecet ini kayanya," keluh Hani."Han ... si Nicholas beneran dateng," bisik Indra menunjuk sosok pria berjas yang duduk membelakangi dinding kaca. "Cepet masuk, inget yang udah gue ajarin selama di jalan tadi." Indra mendorong pintu kaca dengan satu tangannya menggenggam tangan Hani.Sesaat mereka berdua berpandangan, lalu Indra mengangguk. Hani menarik napas dalam-dalam."Doain," bisik Hani, melepaskan genggaman tangan sahabatnya."Pasti," bisik Indra. "Pasti gue doain.""Satu kebohongan akan mengikuti kebohongan lainnya." -Hani***Langit masih tersungkup awan gelap saat Nicholas bangun tidur setiap hari. Tak ada kata begadang. Kecuali untuk urusan-urusan penting yang melibatkan bisnisnya. Lebih tepatnya, bisnis keluarga yang ia kelola.Ayahnya adalah pemilik gurita bisnis properti asal Indonesia, Grup Dalmiro. Diambil dari nama keluarga yang turun temurun menekuni bisnis itu dimulai dari sederet bangunan pertokoan puluhan tahun yang lalu.Bulan sebelumnya, Nicholas baru meneken sale and purchase agreement , sebagai pengembang utama Signature Tower senilai 2,43 triliun yang akan menjadi landmark baru di Kuala Lumpur. Sebuah proyek prestisius dan investasi besar Grup Dalmiro di negara tetangga. Yang lumayan mengejutkan lantaran, bukan sikap seorang Nicholas Cipta Dalmiro mau muncul di depan publik.Grup Dalmiro memiliki properti yang terdiri dari sekitar 21 perusahaan sebagai bisnis utama, bidang jasa sebanyak lima perusahaan, perusahaan investasi dan keuangan sebanyak dua perusahaan di luar negeri, serta enam perusahaan di sektor manufaktur seperti kaca dan keramik yang bertempat di dalam negeri dan Singapura.Terdengar sangat 'wah' di telinga siapa saja. Kakek buyutnya sangat berhasil membuat keturunannya bisa hidup lapang dan berbalut kemewahan.Namun, hal yang terlihat sempurna itu tak membuat hidup Nicholas mulus. Ayahnya telah menikah lagi dan tinggal bersama istri sirinya di Singapura. Sedangkan ibunya, tinggal di sebuah rumah mewah dan bertahan untuk tak menggugat cerai karena khawatir akan masa depan putra satu-satunya.Ayahnya pergi meninggalkan mereka dan sekarang memiliki putra-putri lain. Meski dari istri kedua, ayah Nicholas mengusahakan harta peninggalan untuk anak-anak hasil perkawinan keduanya.Setiap hari, urusan Nicholas tak hanya mengurusi perusahaan kakeknya yang bisa diambil kapan saja untuk dibagi. Meski secara hukum yang tertulis sekarang, ia merupakan CEO dari semua itu, ia masih merasa bahwa kedudukannya lemah.Ibu tirinya, sebut saja begitu. Setiap saat mengirimkan bujukan-bujukan, ancaman atau peringatan bahwa semua harta itu tak sepenuhnya milik ia dan ibunya.Dan Nicholas, tak rela kalau ibunya harus menyerah dan kembali berbagi sesuatu yang memang menjadi hak mereka. Bukan soal harta, tapi itu semua soal harga dirinya.Nicholas bangkit keluar kamar dan pergi menuju dinding kaca. Ia menyibak tirai apartemen yang berada di lantai 40. Langit mulai menyemburat merah pertanda matahari sesaat lagi akan keluar.Terbayang lagi percakapan bersama ibunya kemarin malam."Kamu nggak harus nikah sama Tari cuma demi menguatkan posisi kamu di perusahaan. Mama nggak apa-apa," ucap ibunya."Mama lebih sayang kalo kamu harus ngabisin hidup dengan perempuan yang nggak kamu cinta. Harusnya kamu bisa jadiin hidup Mama sebagai contoh. "Kemarin malam ia dan ibunya berdiri bersisian menghadap hamparan gedung pencakar langit dan bergumul dengan pikiran mereka masing-masing sambil sesekali berdebat."Nich, Mama nggak apa-apa." Ibunya menoleh, mencengkeram erat lengannya demi meyakinkan isi perkataan barusan."Kamu nggak harus kasian dengan Mama yang bertahan dalam rumah tangga di atas kertas ini. Papa dan Mama pernah saling cinta. Mama yang mau bertahan demi kamu. Bagaimana pun, kamu putra sulung."Kemarin malam, Nicholas hanya diam. Ia hanya ingin membebaskan ibunya dari rumah tangga toxic . Ia menyanggupi untuk menikahi Tari karena orangtua wanita itu bersedia memberikan dukungan penuh untuknya di jajaran direksi. Jika suatu saat adik tirinya masuk ke perusahaan, posisinya sudah kuat. Ibunya bisa melenggang mengurus perceraian dan menikah dengan pria yang mungkin bisa mendampingi masa tuanya. Ia hanya tak mau ibunya merasa kesepian."Jangan Nich ... Mama nggak niat menikah lagi. Mama nggak apa-apa. Mama masih cinta Papa kamu. Anak Mama terlalu keren untuk perempuan seperti Tari. Mama kurang suka," tambah ibunya.Nicholas mengembuskan napas kasar. Baginya menikah dengan siapa saja tak ada bedanya. Tari cukup cantik dan sangat berpendidikan. Jabatannya di perusahaan keluarga mereka sangat bagus. Setidaknya, anak-anak mereka nanti memiliki masa depan cemerlang.Meski pembicaraan mereka terkesan sangat serius, tapi ibunya turun dari lantai 40 itu dengan wajah riang. Ibunya hanya berpesan untuk mengabaikan pesan teror dari wanita yang mengambil suaminya.Matahari memancarkan cahaya dari sela-sela gedung pencakar langit. Pagi yang baru, pikirnya. Pikirannya berat, egonya sedang bertempur untuk tak menyerah begitu saja. Tapi pembicaraan bersama sang ibu selalu menjadi siraman semangat untuk menyusun keputusannya.Sudah dua hari Nicholas tak mendapat pesan teror dari perempuan yang mengiba pembagian harta padanya. Untuk itu, dia berterima kasih pada sang kakek yang begitu cerdas membuat wasiat. Walau setiap saat ayahnya bisa memberikan jabatan dan mengalihkan sebagian saham pada anak laki-lakinya yang lain.Seiring matahari menerpa wajahnya, Nicholas tersenyum. Sedikit lagi, pikirnya. Ia berjalan menjauhi jendela menuju ponsel yang terletak di atas lempengan charger wireless .Nicholas menyalakan ponsel dengan harapan harinya bakal lebih menenangkan tanpa pesan-pesan itu lagi. Semoga ... pikirnya.Ponselnya berkedip sekali kemudian menyala seluruhnya. Tanpa suara, ponsel itu bergetar tak henti-henti menandakan banyaknya berbagai notifikasi yang masuk.Aplikasi pesan selalu menjadi tujuan pertama jarinya. Mulai dari atas, pesan dari sekretaris, dari ibunya, dari seorang sahabatnya dan berbagai grup yang kadang tak sempat ia toleh. Jemarinya terus menggeser mencari pesan aneh dari nomor telepon negara tetangga.Bibirnya baru saja mengukir senyum karena tak melihat pesan yang membuatnya naik darah. Tapi ternyata, paginya belum bisa menenangkan. Sebuah pesan dari nomor telepon yang tak dikenalnya mengirimkan pesan panjang lebar yang berisi hinaan bertubi-tubi. Dadanya sampai sesak karena isi tulisan itu benar-benar menggambarkan keadaannya."Stefi? Legal manager ?" desisnya. Rahangnya kembali mengeras. Bahkan ia belum meneguk teh pagi itu."Dikirim dini hari. Perempuan gila mana ini?" gumam Nicholas, lalu mengetikkan balasan.***Nicholas melirik jam di pergelangan tangannya, lalu memandang ke luar jendela, sudah terlambat 15 menit dari waktu yang disepakati. Di luar kedai kopi itu orang lalu lalang namun tak terlihat satu pun yang memiliki gelagat akan datang menemuinya ke dalam.Nicholas sengaja memilih sebuah sofa yang membelakangi pintu masuk. Ia tak ingin terlihat begitu menunggu. Pesan-pesan itu belum dihapusnya. Seperti ingin kembali membakar emosinya, Nicholas kembali menunduk memandang ponsel membaca deret hinaan yang ditujukan padanya.Bodoh sekali pikirnya. Nomor telepon yang sangat mudah dilacak sekejab saja. Ia memang tak berniat memanjang-manjangkan masalah ini. Andai publik tahu isi pesan yang dikirimkan padanya, hal itu malah bisa membuatnya malu. Dia hanya ingin memastikan alasan perempuan tak beretika itu menghinanya. Apa ia pernah berbuat kesalahan di masa lalu yang bahkan tak diingatnya?Saat Nicholas tengah menunduk, suara langkah sepatu terdengar semakin jelas mendekat. Suara yang ia sering dengar saat sekretaris datang membawa berkas ke mejanya. Entah kenapa ia sedikit menahan napas. Kepalanya masih menunduk saat sudut matanya menangkap sepasang kaki berbalut sepatu tinggi tengah berdiri di hadapannya.Betisnya bagus ....Nicholas perlahan mengangkat kepala. Sedikit kesal dengan isi pikirannya barusan. Ia menatap wanita dengan dandanan kelas atas yang melemparkan tatapan angkuh padanya.Sudah berbuat salah, bukannya memasang wajah memelas tapi malah sesombong itu. Percuma cantik kalau tak beretika."Excuse me," sapa Hani. "Mr. Dalmiro?" tanyanya lagi. Hani menelengkan kepalanya ke kiri untuk memindahkan rambutnya ke sisi itu.Pandangan Nicholas langsung tertuju pada leher jenjang yang seperti sengaja dipertontonkan padanya. Stefi. Inilah wanita yang bekerja sebagai legal manager dan memaki-makinya dini hari tadi."Hmmm-" sahut Nicholas kemudian. "Stefi?" tanyanya meyakinkan diri." Yes , saya Stefi. Boleh saya duduk? Atau saya cukup meminta maaf sambil berdiri?" Hani berharap makhluk di depannya tak mendengar nada suaranya yang sedikit bergetar.Benar-benar sombong. Legal manager katanya ....Hani merasa harus segera duduk. Kakinya lecet dan sepatu mahal yang dirasanya sangat tinggi itu sudah membuat betisnya menegang."Duduk," pinta Nicholas melirik sofa kosong di hadapannya.Tak sadar Hani langsung menghempaskan dirinya dan berseru, "Ahh ...." Kemudian ia langsung diam mencoba menguasai dirinya lagi. Ia sadar Nicholas sedang meneliti penampilannya.Hani menegakkan bahu dan menyilangkan kaki seperti yang diajarkan Indra tadi. Dengan mulut sedikit mengerucut, ia membelai permukaan buku menu dengan jemarinya.Harus konsep manja dan menggemaskan. Konsep wanita tolol yang disukai pria-pria munafik. Tak perlu otak. Cukup bergelayut manja. Menjijikkan!"Langsung saja, kamu sadar nggak kalo kamu bisa dituntut atas isi pesan kamu itu?" Nicholas duduk bersandar menyilangkan satu kakinya dengan elegan dan kedua tangannya berada di pegangan sofa tunggal.Hani tak berani memandang Nicholas, sedikit panik ia membalik-balikkan buku menu yang kini sudah berada di pangkuannya."Boleh saya pesan minum lebih dulu?" tanya Hani dengan mata masih tertuju pada buku menu."Bisa jawab saya?" Nada suara Nicholas sedikit meninggi."Oh, ya-ya. Tentu saja," potong Hani cepat. Ia gugup sekali. Kepalanya langsung terangkat dan tangannya refleks memeluk buku menu. Pandangan mereka kini beradu.Ya, Tuhan. Harusnya kemarin aku browsing dulu soal si Dalmiro ini .... Terlalu ganteng untuk dimaki-maki. Bodohnya aku ....Pandangan Hani benar-benar terpaku. Hani membelai wajah Nicholas dengan tatapannya. Wajah dan penampilan Nicholas benar-benar jauh dari bayangannya."Beri saya alasan untuk nggak ngelaporin kamu," kata Nicholas."Silakan aja laporin," sahut Hani langsung. Dagunya sedikit terangkat saat mengatakan hal itu.Semoga ilmu sesat ini berhasil. Semoga .... Ya, Tuhan .... Aku bersumpah nggak akan minum alkohol lagi.Nicholas menaikkan alis dan melemparkan tatapan tajam ke arah Hani."Kamu nantangin saya?" tanya Nicholas dengan nada rendah nyaris berbisik."Nggak mungkin saya nantangin anggota keluarga Dalmiro yang kaya dan berjasa untuk kemajuan negara ini." Hani menarik senyum sinis dan mengerjapkan matanya sekali.Entah penelitian mana yang udah ngebuktiin kalo mengerjap bisa meluluhkan hati orang lain. Indra sinting ... Indra sinting .... Dan aku lebih sinting lagi karena nuruti semuanya.Nicholas mengubah duduknya. Kedua tangan yang tadinya berada di pegangan sofa, kini menyatu di atas pahanya."Isi pesan kamu itu nggak mencerminkan kalo kamu legal manager . Kamu tau konsekuensinya apa. Kamu ada dendam apa dengan saya?""Ok, wait ...." Hani menatap berkeliling. "Saya perlu minum. Tenggorokan saya rasanya kering banget." Hani meletakkan menu dan berjalan melewati Nicholas seanggun mungkin.Belai pegangan sofa si Dalmiro dengan ujung jari kalo berjalan melintasinya. Ilmu sesat yang baru. Kenapa harus pegangan sofanya, Ndra?Kasir kedai kopi hampir saja meneriaki Hani saat melihatnya berdiri dengan tampilan yang sepenuhnya berubah."Kak Hani ... ternyata Kak Hani yang duduk di depan Mas Ganteng itu. Cantik banget. Kenapa nggak gini setiap hari? Barusan Mas Doni dari sini beli kopi. Pake acara ngomel karena Kak Hani nggak masuk. Kayak nggak punya kaki untuk jalan aja." Kasir muda yang mengomel itu bernama Tati. Hani kenal baik karena hampir setiap hari Tati menghiburnya dengan ikut mengata-ngatai Doni."Psst ... buruan. Aku nggak bisa lama." Hani melirik gelisah pada punggung lebar Nicholas di kejauhan."Ya, udah, nanti dianter. Sana!" usir Tati."Kamu yang anter, ya. Jangan berisik." Hani meletakkan telunjuk di bibirnya. Tati masih oke dalam hal menahan omongan. Asal jangan pegawai lain yang sering mengatakan, 'Ganbatte!' Untuk menyemangati kerja rodinya. Bisa porak poranda skrip yang sudah disusun tadi.Hani berjalan kembali ke sofanya.Doni berengsek. Apa aku pantesnya cuma jadi jongosnya aja? Dasar mulut ember. Bangga banget punya anak buah yang bisa disuruh kayak kacung.Hani mengepalkan tangannya dan kembali duduk di hadapan Nicholas. Laki-laki itu langsung mendongak dan menarik napas untuk berbicara."Jadi- ""Maaf. I'm so sorry . Aku nggak sengaja. Aku dan temenku minum wine dan buat permainan konyol. Menghubungi orang dengan kartu nama orang lain secara acak. Yang kepilih, nama kamu. Aku minta maaf ...." Hani mengubah tatapan matanya seolah sedang memohon perpanjangan deadline pada Bu Curry. Ia menyebutnya sebagai tatapan tanggal tua.Nicholas terpaku sesaat. Tak menyangka wanita yang awalnya tadi begitu angkuh sekarang terlihat memelas.Enak aja. Terlalu mudah Kalau dimaafin sekarang. Permainan konyol dan nggak bertanggung jawab sampai melibatkan orang asing. Oh no ... kamu kira kamu berurusan dengan siapa?"Udah berapa tahun kamu jadi legal manager ?" tanya Nicholas memastikan."Empat. Kurang lebih," jawab Hani mengedikkan bahunya dengan anggun. "Kenapa?""Pasti kamu sering main golf dengan perkumpulan advokat. Ya, kan?""Of course , golf ... terlalu sering malah.""Cocok kalo gitu." Nicholas tersenyum puas."Maksudnya?" Hani mulai cemas dengan kata cocok yang baru saja ia dengar.Cocok apa? Cocok apa miskaaahh? Cocok jadi Caddy? Atau jadi stick-nya?Buktikan di lapangan golf Sabtu nanti. Tempat dan waktunya akan diinfo. Nicholas berdiri kemudian mengancingkan jasnya. Saya permisi dulu. Kamu juga pasti sibuk karena ini masih jam kerja. Jangan biarkan bawahan kamu yang ngerjain semua.Nicholas mengibas bagian depan jasnya kemudian berbalik dan menuju pintu. Hani mengikutinya dengan pandangan.Di luar pintu kaca, Indra sedang berusaha tak menarik perhatian Nicholas dengan menempelkan tubuhnya pada dinding kaca."Orang berlomba memakai barang branded hanya demi terlihat hebat di mata orang lain. Bukan untuk dirinya sendiri." - Hani***Indra masih berdiri merapatkan tubuhnya di dinding luar kedai kopi dengan mata tak lepas memandang Nicholas yang menghilang ke dalam sedan mewah berwarna hitam.Hani tertatih-tatih berjalan keluar setelah mengambil kopinya yang baru saja selesai dibuatkan."Nih, buat lo. Kalo tau ketemunya cuma sebentar, gue nggak akan pake acara akting beli kopi. Rugi," ketus Hani menyerahkan caramel macchiato berukuran sedang.Indra masih terperangah dengan mulut setengah ternganga."Heh!" teriak Hani."Iya gue denger, ck." Indra menyambar gelas kopi dengan wajah sebal."Ngeliatin apa, sih?" tanya Hani melihat ke arah tempat di mana mobil Nicholas baru saja pergi."Gue nggak nyangka. Aslinya seganteng itu. Kakeknya berdarah Jerman. Pantes idungnya tinggi kayak Monas." Indra masih berdecak."Ndra, kayaknya gue nggak bakal sanggup deh ... barusan gue salah ngomong lagi kayaknya." Hani menghentakkan kakinya yang semakin terasa pegal saat ia berdiri."Apa lagi? Lo bilang apa lagi?" Indra menyeret Hani yang menghalangi pintu masuk kedai kopi."Gue laper, kita ke mini market." Hani gantian menyeret lengan Indra untuk menuruni undakan anak tangga dan pergi menyeberang ke tower lain.Setelah membayar tak lebih dari lima puluh ribu, Hani keluar mini market menenteng belanjaannya. Indra sudah duduk di kursi teras tempat mereka biasa duduk. Siang itu tak ada orang di sana selain mereka berdua."Jadi?" tanya Indra tak sabar. "Ganteng, kan?" Indra menaikkan alisnya menunggu Hani memuji Nicholas."Awalnya, gue speechless . Lo harusnya menyiapkan batin gue untuk hal itu. Mana gue sempet bilang mukanya pas-pasan ck. Enggak akan sanggup kalo lama-lama ngobrol ama dia. Gue nggak tahan ama cara dia natap gue. Hii-" Hani bergidik."Tapi lo udah minta maaf, kan?" Indra memastikan."Udah-udah. Malah karena gue minta maaf itu jadi timbul masalah baru." Hani menarik napas berat."Apa?""Gue minum dulu." Hani memutar tutup botol dan meneguk setengah botol air putih dengan satu napas."Sabar-gue sabar," jawab Indra ikut menusukkan sedotan pada caramel macchiato yang sejak tadi dipegangnya."Sebelumnya gue mau ngomong. Gue emang belum pernah ngeliat wujud asli si Nicholas ini secara langsung. Liat berita aja gue hampir nggak pernah. Tapi menurut gue dia terlalu artifisial. Dari ujung kaki sampe ujung rambut, semuanya branded . Penampilannya itu kayak hasil cuci otak kaum kapitalis yang berhasil menjual produknya ke dia. Si Nicho ini, make sesuatu yang mahal untuk ngebentuk pribadi buatannya itu. Biar keren diliat orang lain. Bukan demi dirinya sendiri." Hani meletakkan botol air mineral dan meraih onigiri yang ia letakkan di atas ponselnya."Lo yang milih bawa tumbler berisi air anget tiap hari ketimbang beli kopi, gak akan pernah ngerti soal itu. Semua bukan soal branded dan kaum kapitalis yang lo sebut tadi. Merek-merek itu, mahal karena menghargai perancangnya. Masa lo udah kuliah designer mahal-mahal, tapi lo nggak pengen balik modal. Buat lo yang beli tas 300 ribuan mata tau rasanya pake tas mahal. Mungkin ini kali pertama lo beli tas harga empat juta. Itu juga pasti udah mahal banget buat lo ," sinis Indra menatap hani yang langsung mengambil tisu dan mengelap tas barunya."Eh, ini masukin ke paper bag -nya lagi dong ... gue nggak mau naik bis pake ini." Hani mengeluarkan semua isi tas yang baru sejam dipakainya.Indra melengos lalu mengambil paper bag yang ia letakkan di atas kursi sebelah kirinya. "Lo nggak usah ngomongin soal kapitalis selain ama gue. Entar kalo banyak duit, lo nggak akan ngomong kayak gitu lagi. Jangan sampe lo menjilat ludah lo sendiri." Indra mengeluarkan tas butut dan mencampakkannya ke pangkuan hani.Hani terkekeh-kekeh saat memasukkan kembali isi tasnya yang berserakan di atas meja. "Setidaknya gue nggak ngikut arus. Enggak mati-matian nyicil kartu kredit setiap bulannya cuma demi beli barang branded . Gue lebih milih pake barang lokal yang asli. Gue nggak mau jadi budak gaya hidup. Setidaknya, meski saat ini gue masih jadi pecundang di kantor, gue masih punya jati diri." Hani tersenyum jumawa dengan sudut bibirnya berselemak saus mayo."Doyan banget nyimpen struk mini market." Indra meraup struk dari dua mini market langganan Hani. Satu dari mini market di tempat mereka duduk, satunya lagi struk dari mini market yang terletak di simpang jalan kos-kosan sahabatnya itu."Jangan dibuang ... ini belum sempet gue itung jumlahnya berapa. Gue harus tau udah ngabisin berapa tiap bulan hanya untuk jajan aja. Lo jangan malu punya temen kayak gue. Yang penting, gue jadi diri sendiri." Hani merampas struk yang akan dibuang Indra. Setelah mengancing tas bututnya, Hani kembali mengambil onigiri dan menyobek sebungkus saus mayo sachet dengan giginya."Jangan lupa jati diri lo sebagai legal manager ," tukas Indra santai mengingatkan.Hani mendelik saat mendengar ucapan Indra barusan. Ia langsung meletakkan onigiri dan menyeka mulutnya dengan asal.'Ndra ... golf-golf." Hani mengguncang lengan kanan Indra yang bertumpu di atas meja."Apa sih?" Indra menoleh lengan kemejanya. Ia tahu tangan Hani baru saja menyeka mulutnya yang belepotan saus mayo. Indra mengambil tisu dan mengelap ujung lengan kemejanya.Sementara Hani mengibaskan mulutnya seperti orang kepedasan. Ia berusaha menyusun kata-kata yang sulit keluar karena rasa panik yang menyerangnya barusan."Gue- legal manager . Kata si Nicholas, para legal manager yang tergabung di persatuan atau perkumpulan advokat sering main golf. Gue bilang gue sering main golf ...." Hani terdengar mencicit di akhir kalimatnya. Ia meraup rambut panjangnya yang tadi dibentuk ikal cantik, untuk menutupi seluruh wajahnya."Ha? Trus?" Indra meletakkan gelas kopinya."Dia nantangin gue main golf hari Sabtu nanti ... gue salah jawab-gue salah jawab. Harusnya gue emang jujur aja dari awal. Gue nggak mungkin dateng hari Sabtu buat main golf. Gue nggak ngerti orang ngapain mukul bola jauh-jauh terus sibuk dicari-cari di lapangan seluas itu. Gue nggak ngerti .... Liat stik golf langsung aja gue nggak pernah. Kali ini gue nggak mungkin dateng ...." Hani membenamkan wajahnya di lipatan tangan.Indra masih terdiam mencermati ratapan Hani yang membabi buta. Sesaat terdiam, Ia membelalak dan memancarkan cahaya cemerlang di matanya."Eh, perempuan! Lo diem dulu. Dengerin gue." Indra mengambil bekas sedotan kopinya dan menusuk kepala Hani berkali-kali."Apa?!" Hani bangkit mengusap-usap kepalanya yang terasa sedikit basah terkena tetesan sisa kopi dari ujung sedotan."Lo masih belum lupa tujuan kita ngacak kartu nama malem itu, kan? Nyari CEO Han! Gue udah bilang ke lo bolak-balik, Nicholas itu orang sibuk. Dia nggak akan buang waktu cuma untuk nemuin orang yang ngirim pesan nggak jelas ke dia. Bisa jadi dia dapet bisikan gaib kalo dia harus nemuin lo .... Nah sekarang, lo liat sendiri. Dia malah nantangin lo main golf, hari Sabtu pula. Kalo nggak karena ada feeling ke lo, gak mungkin dia mau buang-buang waktu. Mending dia ngapel tunangannya." Indra kembali menyilangkan tangan di depan dada.Hani mulai merasa gelisah tiap Indra melakukan gesture yang satu itu. Hani selalu merasa terintimidasi."Masa, sih ," gumam Hani tak yakin. "Tapi gue nggak punya peralatan golf ... mahal. Gue juga nggak punya seragam golf, gue harus beli lagi-duit lagi ... aaargghh," pekik Hani kembali meraup rambutnya untuk menutupi wajah."Gue cariin peralatan golfnya. Kalo kita sewa, kesannya nggak eksklusif. Gue pinjem ke Bu Erni atasan gue, doi pasti ngasi. Lo tinggal beli baju, sepatu, sarung tangan ama topi biar keliatan keren dan profesional. Gimana?" Indra mencengkeram lengan Hani deng

My Posesif CEO
Romance
08 Jan 2026

My Posesif CEO

Seorang wanita paruh baya berjalan menaiki tangga menuju lantai dua untuk menuju ke kamar anak semata wayangnya itu. Dan tibalah dia di depan pintu kamar anaknya."Diatttttt bangun udah pagiiiiii" ucap Mommy diat, yaa wanita paruh baya itu adalah Mommy diat (Tiara Wijaya).Karna merasa tidak ada jawaban dari dalam Mommy diat pun masuk ke dalam yang ternyata pintunya tidak di kunci. Mommy diat pun berjalan kearah tempat tidur dimana sang anak tertidur, dengan sangat kesal karna sang anak tidak bangun juga akhir mommy diat menarik selimut yang menutupi tubuh anaknya itu."Bangun diat udah pagiii....katanya kamu ada pembukaan pasar yang baru jadi" ucap Mommy diat"Hm. 5 minutes mom" ucap diat antara sadar dan setengah sadar."Udah cepetan bangun gak ada 5 menit 5 menitan" ucap mommy diat dengan kesal."Oke mom" ucap diat dan langsung bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi yang ada di kamarnya."Yaudh cepetan mommy tunggu di bawah yaa" teriak mommy diat kepada diat takut tidak kedengeran."Iya mom" balas diat dengan teriak juga.-----Dengan langkah cepatnya diat menuruni tangga dengan terburu-buru karna takut telat."Kamu kenapa kok buru-buru gitu sih diat" ucap mommy diat yang melihat anak terburu-buru itu."Aku udah telat mom, yaudah kalo gitu aku berangkat yaa" ucap diat.Dan diat pun sedikit berlari menuju pintu utama rumah dan setibanya di luar mobilnya sudah siap karna sudah di siapkan oleh supir di rumahnya.Selama perjalan diat hanya fokus pada jalan saja. Tetapi disaat diat sedang fokus handphone diat berbunyi tanda panggilan masuk.Alex call......"Halo""Lu dimana gua sama yang lain udah sampe nih""Gua masih dijalan bentar lagi juga sampe. Kenapa emang?""Udah gece lu ini pasar udah mau di buka tapi karna lu belum dateng yaa jadi belum lah, gimana sih?""Iya, 5 menit lagi gua sampe""Oke"Diat pun memutuskan sambungan telponnya dan fokus kembali pada jalan. Dan pada akhirnya diat sampai 5 menit di pasar pun diat langsung memakirkan mobilnya itu. Tidak jauh dari mobil juga terdapat 4 mobil berbeda dari mobilnya yang sudah pasti dia tau siapa pemilik dari mobil tersebut."Akhirnya sampe juga lu gua kira lu bakal kesasar" ucap Loen dengan nada bercanda."Iya" ucap Diat singkat."Yaelah yat masih dingin ae lagi nih orang" ucap Leon kesal."Udah jangan ngomong lagi deh lu Loen, mending sekarang kita ke tempat pembukaannya aja udah di tungguin nih" ucap Gerlad karna sudah tidak tahan dengan temannya satu itu."Yaudah ayo" ucap kenan berjalan mendahului yang lain.Dan di susul yang lain juga, dan tepat di tengah jalan mereka melihat cewe-cewe atau pacar Mereka lebih tepatnya pacar alex, leon, gerlad, dan kenan. Yapp pacar mereka ikut karna mereka ingin mencicipi makanan yang ada di pasar tersebut."Kalian mau kemana???" tanya Kalila pada cowo-cowo."Kita mau ketempat pembukaan, kenapa?" balas alex."Kita boleh ikut gak?" ucap clara"Yaudah" ucap kenan.Dan akhirnya mereka bersembilan jalan dengan beriringan dengan diat di paling depan karna dia sendiri alias tidak memiliki pacar, dan disusul oleh alex-kalila, kenan-putri, leon-natasya, dan gerlad-clara.Mereka pun berjalan menuju tempat pembukaan yang sudah di siapkan oleh karyawan kantor pasar."Dengan ini saya nyatakan pasar Vanda di buka" ucap diat singkat.Dan salah satu pegawai kantor pasar memberikannya gunting untuk mengunting pita nya itu."Udah di bukakan mending sekarang kita jalan-jalan aja sambil liat-liat pasarnya gimana guy s?" ucap kenan pada teman-temannya dan pacarnya itu."Ide bagus sekalian kita cari makan yaa kan, mumpung lagi di pasar kan pasti banyak makanan tuh udah gitu murah meriah lagi" ucap leon.Dan mereka pun berkeliling pasar sambil membeli beberapa makanan yang menurut mereka enak.mereka pun memutuskan untuk pulang karna matahari sudah mulai terik. Mereka pun sampai di parkiran tapi tidak dengan diat karna dia memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu, tapi saat dia berjalan dia tidak terlalu memperhatikan jalan jadi lah dia menabrak seseorang.BrukkSuara orang terjatuh tapi orang itu bukan diat tetapi orang itu seorang yang memakai hijab baru saja keluar dari toilet."Heh kalo jalan itu liat-liat. Gimana sih?" bentak diat saat melihat siapa yang dia tabrak."Maaf, tapi kan kamu yang tabrak aku kenapa kamu malah salahin aku" ucap gadis tersebut."Ah banyak omong lo udah minggir" bentak diat pada gadis itu.Akhirnya gadis itu pun pergi menjauh dengan mata yang sudah berkaca-kaca karna gadis itu baru pertama kali di bentak oleh orang bahkan orang tuanya sekalipun tidak pernah membentaknya.Disaat gadis tersebut pergi diat dibuat keheranan kenapa gadis itu tidak seperti gadis lain yang biasanya jika bertemu dengannya akan mulai menggodanya atau merayunya.Diat pun memutuskan tidak mau ambil pusing dan pergi menuju toilet.Dan saat diat tiba di parkiran dia melihat gadis itu ternyata gadis itu adalah seorang penjaga toko pakaian anak-anak.Diat terus memperhatikan gadis tersebut tanpa sadar dia tersenyum saat melihat gadis itu sedang berbicara pada orang lain.Didalam benaknya dia sudah mengklaim gadis tersebut sebagai miliknya dan tidak ada yang boleh menyentuhnya selain dirinya.Diat mengambil handphone miliknya di saku celananya dan dia membuka aplikasi kamera dia pun mengarahkan handphonenya kearah gadis tersebut untuk di foto.Setelah dia mengambil gambar gadis itu ia pun langsung menelpon anak buahnya untuk membawa gadis itu ke mansionnya."Halo""............""Aku ingin kau membawa gadis yang ada digambar yang sudah aku kirimkan""..........................""Dan cari tau tentangnya""......................"Diat pun memutuskan sambungan telpon secara sepihak kepada orang kepercayaannya."Kau akan menjadi milikku dan aku tidak akan orang mana pun menyentuh mu selain aku" batin diat sambil menatap kearah gadis itu.Karna hari ini ada acara pembukaan pasar jadi aku harus lebih pagi membuka tokonya. Huh semoga banyak yang beli aminn."Dek makan dulu nih sama nasi goreng" ucap mama ku sembari memberikan sepiring nasi goreng."Iya mah" balas ku sembari menerima nasi goreng tersebut."Dek kamu mau berangkat jam berapa kepasarnya?" tanya mamaku."Abis makan mah langsung berangkat" balas ku."Kok pagi banget biasanya kamu jalan jam 7.20 kan sekarang baru jam 6.40 loh" ucap mamaku."Iya kan mama tau sendiri kalo sekarang ada acara pembukaan pasar nah pasti banyak dong yang bakal liat yaudah aku berangkat pagi aja siapa tau banyak yang beli kan" ucap ku."Oh yaudah kamu makan buruan nanti mama anterin ke pasarnya biar cepet" ucap mamaku."Iya mah" ucap ku.Setelah aku mengngobrol dengan mama aku langsung memakan nasi goreng ku.Setelah selesai makan aku langsung membawa piringnya kebelakang dan langsung mencucinya, setelah selesai mencuci piring aku langsung menghampiri mama ku yang berada di depan rumah."Mah ayo berangkat" ucap ku."Iya, yaudah kamu tunggu depan sana" ucap mamaku.Dan aku pun langsung memakai sandal dan berjalan kedepan gang rumahku."Ayo naik" ucap mama ketika sudah di samping ku dan menyuruh ku untuk naik ke motor.Aku pun langsung naik dan setelah aku naik mama mulai menjalankan motornya.Selama perjalan aku maupun mama sama-sama diam."Udah mah (namakamu) turun disini aja" ucap ku pada mama saat sudah sampai pasar tersebut."Yaudah yang bener jual bajunya yaa" ucap mama menasehatiku."Iya mah" ucap ku.Setelah aku pamit ke mama aku langsung masuk kedalam pasar dan setelah tiba di depan toko aku langsung mengambil kunci di dalam tas lalu aku buka pintu tersebut dengan menariknya keatas.Sehabis membuka pintu toko aku langsung menarik brangkar baju keluar dan patungnya. Setelah itu aku langsung mulai menyapu dan mengepel lantai yang kotor.----Di siang hari yang lumayan panas aku ingin ketoilet lalu aku keluar toko dan berjalan kearah toko sebelah untuk menitipkan toko ku."Teh (namakamu) nitip toko yaa mau ke toilet dulu udh kebelet nih" ucap ku."iya (nama kamu)" ucap teh Wanni.Setelah itu aku langsung lari kearah toilet tapi saat di pertengahan jalan tidak sengaja orang menabrak ku karna dia yang fokus ke handphonenya itu."Heh kalo jalan itu liat-liat. Gimana sih?" bentak orang itu saat melihat siapa yang dia tabrak."Maaf, tapi kan kamu yang tabrak aku kenapa kamu malah salahin aku" ucap ku tersebut."Ah banyak omong lo udah minggir" bentak orang itu pada aku.Dan setelah itu aku langsung ke toilet karna udh ke belet. Setelah selesai aku keluar dari bilik kamar mandi lalu berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan, setelah selesai aku melihat Kearah cermin yang ada di kamar mandi."Padahalkan tadi dia yang nabrak aku kenapa malah dia yang marah, yaudah lah ya (nama kamu) ngalah aja sama orang kaya gitu mah" guman ku.Setelah dari toilet aku langsung kembali ke toko takut ada yang beli pakaian. Selama aku menjaga toko aku merasa ada yang memperhatikan ku tapi aku hiraukan saja mungkin hanya orang iseng saja.Tepat jam 2 siang aku langsung membereskan barang-barang masuk kedalam toko untuk aku tutup tokonya.Author povSetelah selesai ia pun langsung mengunci toko tersebut dan berjalan pulang kerumah. Tapi, di pertengahan jalan ada mobil yang berhenti mungkin ingin menanyakan arah jalan.Lalu keluar 3 orang yang tidak (nama kamu) kenal salah satu dari mereka langsung mendekap mulut serta hidung (namakamu) dengan sapu tangan yang sudah di berikan obat tidur.Tidak lama kemudian (nama kamu) jatuh tak sadar kan diri karna pengaruh obat tersebut.Setelah itu mereka membawa (namakamu) ke mansion tuan mereka.Selama menempuh perjalanan yang lumayan jauh akhirnya orang yang membawa seorang gadis yang tak sadar kan diri akhirnya sampai di sebuah mansion yang cukup mewah dengan berbagai fasilitas yang modern dan canggih.Sekarang aku sedang berada di ruang kerja mansion ku sambil membaca berkas tentang gadisku itu, ah memikirnya saja sudah membuat ku rindu akan wajah gadis itu walau aku sempat membentaknya tadi dan sekarang aku merasa bersalah karna sudah membentaknya mungkin aku harus minta maaf saat gadisku sudah sampai nanti.Tidak lama setelah itu aku mendengar suara mobil yang memasuki teras mansion dan aku pun bangkit dari kursi meja kerja ku untuk melihat keluar siapa yang datang.Dan ternyata yang datang adalah anak buah ku yang aku tugaskan untuk membawa gadisku kemari. Dan aku langsung menyuruh mereka membawa gadisku ke kamar yang sudah aku siapkan untuknya.Setelah itu aku menyuruh mereka semua keluar dari kamar gadisku. Dan hanya menyiksakan aku dan gadisku saja melihatnya tidur saja sudah membuat aku ingin memeluknya.Author POVSetelah itu diat keluar dari kamar gadis itu karna dia tidak ingin mengganggu gadis itu yang sedang tidur walau karna pengaruh obat tidur yang di berikan oleh orang suruhannya.Setelah keluar dari kamar gadis itu diat mulai menghubungi anak buahnya untuk menjaga rumahnya lebih ketat lagi agar gadis itu tidak bisa kabur.

Terpaksa menikah dengan seorang CEO Kaya Raya
Romance
08 Jan 2026

Terpaksa menikah dengan seorang CEO Kaya Raya

Suatu hari, Seorang pria cantik harus menikah dengan seorang CEO yang kaya raya, Karna CEO itu menginginkan dirinya.Ya namanya adalah NAKAHARA CHUUYA.Data diri:- NAKAHARA CHUUYA:* Umur = 20 tahun* Status = omega* Seorang pelayan di sebuah cafe.* Memiliki seorang kakak yang bernama = yosano akiko.Data diri:- YOSANO AKIKO:* Umur = 23 tahun* Status = alpha* Seorang pengusaha* Memiliki seorang adik yang bernama = nakahara chuuya.🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋Jadi suatu hari, kantor yosano mengalami kebangkrutan dan di saat saat kritis ini , yosano di bantu oleh seorang CEO kaya yang terkenal. Dia memberikan uang kepada yosano sebesar 100 triliun.Baginya itu sedikit, dia memberikan uang sebesar itu pada yosano agar dia bisa mengembangkan perusahaan nya lagi .Akan tetapi dia juga meminta sebuah keinginan.Yosano tidak bisa menolak keinginan itu Karna ia juga berhutang Budi padanya Karna telah di bantu.Lalu yosano menyetujui nya tanpa meminta keputusan kepada chuuya terlebih dahulu, dan dia menunjukkan foto sekaligus semua data tentang adiknya itu padanya." Pft.... walaupun dia laki laki, tapi dia cantik juga ya....... Aku jadi ingin memiliki nya secepatnya " - kata dazai.Ya, CEO kaya itu adalah dazai, DAZAI OSAMU. Tuan DAZAI OSAMU.Data diri:- DAZAI OSAMU:*Umur = 22 tahun* Status = Alpha* Tinggal sendirian, orang tuanya telah pergi meninggalkan nya saat kecil dan dia di besarkan oleh pamannya , tetapi pamannya telah tiada dua tahun yang lalu.* Seorang CEO terkaya di dunia.5 hari sebelum pernikahan:" Chuuya adikku..... "-yosanoChuuya yang di panggil pun menoleh menatap kakaknya." Ada apa kak? "-tanya chuuya" Adikku, sebenarnya.........."-yosano" Sebenarnya kenapa kak? Apa kakak ada masalah lagi? "- tanya chuuya lagi." Kakak telah menjodohkan mu dengan seseorang. "-yosanoChuuya seketika terkaget dan dia mulai bertanya lagi kepada kakaknya itu." Apa maksudnya kak? Ini bercanda Kan, kak, kakak tau kan kalau aku sudah memiliki kekasih, dan kami saling mencintai, lalu kenapa kakak tiba tiba menjodohkan ku begitu saja tanpa memberitahu ku " - omel chuuya." Kakak tau chuuya, maafkan kakak jika kakak tidak memberitahu mu terlebih dahulu, tetapi kakak mempunyai hutang Budi kepada seseorang. Dia ingin menikah denganmu, jika kau menolaknya maka perusahaan akan bangkrut dan kita akan jatuh miskin chuuya.Kakak mohon padamu............... terimalah pernikahan ini " - yosano.Chuuya terdiam sejenak, dan memikirkan permintaan kakaknya itu.Chuuya juga memikirkan apa arti balas Budi, dan kali ini dengan berat hati........CHUUYA MENERIMA NYA." Kakak, dengan berat hati, aku menerima pernikahan ini "-chuuya" Baiklah adikku, kakak menghargai perasaan mu "-yosanoChuuya mengangguk, ia sebenarnya tak siap untuk menikah akan tetapi ini demi balas Budi kakaknya dan perusahaan nya.Setelah kejadian itu, chuuya memutuskan untuk menemui Fyodor.Data diri- FYODOR DOSTOEVSKY* Umur = 22 tahun* Status = Alpha* Seorang karyawan kantor di perusahaan kakanya chuuya.Chuuya dan Fyodor sudah berpacaran selama 3 tahun, ya........ perjuangan mereka selama 3 tahun itu akan sia sia.Chuuya mendatangi Fyodor di kantor nya, dan langsung berhadapan dengan nya." Eh , sayang kenapa kau tiba tiba kesini? Aku kan masih bekerja "-fyodor" Fyodor..............aku ingin berbicara padamu " -chuuya" Ingin bicara apa? " -tanya Fyodor" Jangan disini, lebih baik di taman belakang kantor " -ajak chuuya" Baiklah sayang, kau ke sanalah dulu aku akan membereskan berkas" ini ya "-fyodor" Baiklah "-chuuya.Chuuya segera menuruti perintah dari kekasih nya itu dan dia menunggu kekasihnya di taman belakang kantor kakaknya.Dan selang beberapa menit Fyodor datang dan mulai menanyakan apa yang ingin chuuya bicarakan." Ada perlu apa sayang, sampai sampai kau ingin berbicara berdua dengan ku "-tanya Fyodor.Chuuya gugup untuk memberitahu kepada Fyodor, bahwa dia sudah di jodohkan bahkan akan menikah. Dan dia memberanikan diri untuk berbicara pada kekasihnya itu." Hubungan k-kita cukup sampai sini saja "-jawab chuuyaFyodor seketika kaget, dia tak menyangka bahwa kekasihnya akan mengakhiri hubungan mereka yang sudah berjalan 3 tahun ini." K- kenapa sayang? Apa aku punya salah? Jika iya maafkan aku jangan putus ya, aku gak mau, aku masih mencintaimu, aku gak mau kita putus sayang...... "-fyodor" Maaf, semua ini terjadi karena aku sudah di jodohkan dengan orang lain oleh kakakku "-jawab chuuya nunduk." Kenapa? Bukankah kakakmu sudah tau bahwa aku adalah pacar mu dan sebentar lagi kita akaj menikah,aku akan melamarmu " -jelas Fyodor." Ini semua karna hutang Budi kakakku pada seseorang, dan orang itu menginginkan diriku sebagai ganti balas budinya, jadi.............aku harus menikah dengannya "-jelas chuuya.Setelah kejadian itu, chuuya mulai bersiap untuk bertemu dengan calon suaminya.Sekarang ia sedang berdandan dan memakai baju yang sangat cantik.Hari ini dia akan menemani calon suaminya itu untuk memailih baju pernikahan dan cincin pernikahan.Ya walaupun chuuya belum mengenalnya tapi ia tetap di paksa ikut oleh kakaknya, ya mau gimana lagi , chuuya tidak bisa melawan keinginan kakaknya itu.Ia pun sekarang sedang di depan rumah untuk menunggu calon suaminya datang. Dan selang beberapa menit......Tin.....Tin....Tin.......Mobil yang di tunggu chuuya pun akhirnya datang dan akhirnya dazai keluar dari mobilnya." Hallo sayangku~ "-dazai" Ih, gak usah sok akrab ,kita baru kenal "-ketus chuuya.Dazai pun tersenyum." Kau memang cantik ya, tak salah aku memilih mu sebagai calon istriku "-dazai" Bisakah kita berangkat sekarang,gak usah basa basi deh "-ketus chuuya lagi .Dazai membukakan pintu mobil untuk chuuya dan Chuuya masuk ke dalam mobil.Akan tetapi saat Dazai masuk ke mobil dan duduk di samping chuuya, chuuya menggeser tempat duduknya itu dan agak jauh dari dazai.Tapi dazai tak tinggal diam, dia menggeser dirinya sampai dekat dengan chuuya.Chuuya pun menggeser tempat duduknya lagi dan lagi, lagi dazai menggeser tempat duduknya hingga dekat dengan chuuya lagi.Sampai sampai chuuya terpojok dan dazai akhirnya senyum kemenangan.Lalu iya memegang pipi Chuuya yang lembut itu." Pipimu halus juga, aku jadi tak sabar untuk memakan mu, atau mungkin tubuhmu lebih mulus dari pipimu ini "-goda dazai.Chuuya menepis tangan dazai." Jangan sentuh diriku "-jawab chuuya." Kenapa sayang? Kau akan menjadi milikku sebentar lagi~ , jadi menurutlah padaku atau aku akan membuatmu mengeluarkan suara" indahmu itu di malam hari "-dazai.Chuuya malu akan jawaban dazai, akan tetapi dia menahan rasa malunya itu dengan memalingkan mukanya ke arah luar jendela mobil.Dazai tau kalau chuuya malu, jadi dia memegang dagu chuuya dan mengarahkan wajah chuuya padanya, Karna ia tak mau melewatkan kesempatan untuk melihat wajah cantik calon istrinya itu." ada apa sayangku, apa kau malu Hem? '-goda dazai." Lepaskan! Jangan sentuh diriku "-chuuya.Chuuya menepis tangan dazai yang tengah memegang dagunya itu." Astaga, kau ini memang cantik tapi suaramu sangat lantang sekali ya "-goda dazai." Cih, membosankan "-keluh chuuya.Dazai yang mendengar keluh chuuya pun mendapat kan suatu ide yang bisa di bilang sangat buruk, yaitu ia ingin menyetubuhi chuuya.Orang yang belum sah menjadi istrinya itu." Sopir, kita ke hotel pribadi saya "-perintah dazai." Baik tuan "-pak sopirChuuya kaget, kenapa tujuan mereka tiba tiba ke hotel padahal tujuan awal mereka kan ke cafe untuk makan malam, lalu knp ini di hotel." T-tunggu, kenapa kita ke hotel, bukankah tujuan kita ke cafe, kenapa sekarang ke hotel? "-tanya chuuya heran." Kita akan makan malam di sana sayang~"-jawab dazai.Ya......Bukan mereka yang makan, hanya dazai. Iya. Hanya DAZAI.Sesampainya di hotel...." Chuuya ayo turun "-perintah dazai.Ia sedang membuka kan pintu mobil untuk Chuuya keluar.Chuuya menurut saja Karna ia penasaran, kenapa mereka kencan di hotel, apa sebenarnya tujuan dazai.Saat chuuya baru turun dari mobil, ia kaget karna dazai langsung menggendong nya ala bride style dan membawanya masuk ke hotel pribadinya." Kenapa harus di hotel kencan nya? Dan makan malamnya bagaimana? "-tanya chuuya." Kau akan tau sayang, jadi diamlah, dan kau pasti akan menikmati nya nanti "-jawab dazai dengan senyuman seakan serigala telah menemukan dombanya.Chuuya menurut dan diam saja sampai ia dan dazai tiba di kamar 102 di hotel pribadi milik dazai.Dazai membuka pintu kamar hotel dan masuk dengan masih menggendong chuuya ala bride style.Saat sudah di dalam kamar, dazai langsung mengunci pintu kamar hotel dan membanting chuuya ke kasur yang besar itu.Chuuya pun kaget." Ah....a-ada apa?! Dan Kenapa kau membanting ku?! "-tanya chuuya tegas." Sudah ku bilang,kita akan makan malam bersama sayang ~"-dazai.Dazai mulai mendekati chuuya dan melepas dasi yang ia kenakan, untuk mengikat kedua tangan chuuya menggunakan dasinya tersebut.Chuuya kaget Karna tangannya juga di ikat oleh dazai, dia ingin memberontak tapi tubuhnya telah di tindihi oleh tubuh besar dazai, ya kan dazai seorang Alpha dan chuuya seorang omega." A-apa yang ingin kau lakukan?! Lepaskan aku!? "-berontak chuuya." Tidak, sebelum kau hamil anakku "-jawab dazai." lepaskan aku! "-tegas chuuya." Enggak akan sayang, aku akan mencicipi tubuh mu terlebih dahulu dan bermain dengan hole mu itu "-goda dazai.Lalu dazai membuka semua baju chuuya bahkan bajunya sendiri, sehingga sekarang mereka berdua telanjang.Chuuya yang melihat milik dazai itu pun membulatkan matanya, ia tak menyangka bahwa ia akan di nodai oleh dazai sebelum mereka menikah." Apa kau suka milikku yang besar ini sayang?"-dazai.Chuuya menelan ludahnya sendiri, ia tak bisa membayangkan betapa sakitnya, lubangnya saat di masuki milik dazai nanti." Aku akan pemanasan dulu sayang~"-dazai.Dazai mulai mencium chuuya, dan memasukkan obat perangsang ke dalam mulut chuuya melalui mulutnya itu.Sebenarnya, tadi saat di mobil, dazai sudah memakan obat perangsang itu dan menyembunyikan nya ke dalam bawah lidahnya.Dan kini ,obat itu telah masuk ke dalam mulut chuuya, akan tetapi dazai masih tetap mencium chuuya.Merasakan bibir chuuya yang lembut dan manis itu.Bagi dazai.Chuuya yang bingung, dengan apa tadi yang masuk ke dalam mulutnya,ia tak sengaja menelannya dan tiba tiba tubuhnya memanas." D-dazai......hng.......panas...."-keluh chuuya.Saat mendengar perkataan chuuya ini, dazai menyeringai lebar, ia tak menyangka, obat perangsang nya akan bekerja secepat ini.Dan dia pun langsung memulai nafsunya itu." Ada apa sayang?"-tanya dazai.Walaupun dazau bertanya, ia sudah tau Karna ini ulahnya.Jari tengah dazai mulai masuk ke dalam hole hangat chuuya tersebut.Kegiatan dazai itu membuat chuuya menggerang kesakitan, Karna ia baru pertama kali hole nya di masuki oleh jari dazai, apalagi milik dazai nanti." Ah.....hngg........da- ah...."-chuuya." Hem.......kau ingin lagi ya sayang?"-goda dazai."Hngg...ah......sak-.......ah.....kit...hng..."-chuuya.Setelah itu dazai langsung menambahkan dua jari lagi, di dalam hole chuuya, sekarang ada 3 jari dazai yang ada di dalam hole chuuya yang bergerak naik turun dan itu membuat chuuya menggerang kesakitan lagi walaupun di campur oleh rasa kenikmatan juga."Akh......ah!.....lepas-.......hng.....ah...."-chuuya." Nikmati saja sayang~"-dazai." L-lepaskan tangan- akh! Ah! .....hnggg.....lepas- ah! "-chuuya.Dazai pun melepaskan jarinya dari hole chuuya.Itu membuat chuuya merasa sedikit lega, akan tetapi......JLEB!!!!!" Akh! Ah! "-teriak chuuya." lepaskan! Akh! Ah!! Ah........ah...akh....."-chuuya." Keluar kan suara indahmu itu sayang "-dazai.Dazai terus menggenjot lubang chuuya dengan tempo yang cepat.Chuuya ingin memberontak, tapi apa dayanya , tubuhnya lemas dan rasa sakit yang ada di lubangnya saat di masuki oleh milik dazai yang besar itu.Dan akhirnya....." Akh!!!!! Ah!!!! "-chuuya.Chuuya berteriak saat milik dazai mengenai titik prostat nya dan di saat itulah dazai keluar hingga memenuhi rahim chuuya.Bahkan chuuya juga sempat keluar hingga cum nya mengotori perut dazai dan seprai kasur.Tubuh chuuya melemas, dia lelah dan juga mengantuk.Dazai tau akan keadaan chuuya yang sekarang mengantuk, tapi dia tetap tak berhenti.Dia tetap terus menggenjot lubang chuuya hingga si empu nya berteriak lagi dan tak jadi tidur." Ah! Sakit...hiks....akh!! Ahn! Lepas- akh! Hiks, ah...ah...ah.....akh....ah..."-chuuya.Mereka melakukan kegiatan itu sampai jam 3 pagi, dan di jam 2 pagi chuuya sudah pingsan,tetapi dazai terus menggenjot nya sampai jam 3 pagi baru dia tertidur.Ntah apa yang akan terjadi pada chuuya.Tubuhnya sekarang mati rasa Karna dazai.Dia telah mengambil keperawanan chuuya dalam semalam.Posisi dazai tidur , dia tidur di belakangi oleh chuuya dan tangannya memeluk chuuya. Tetapi dia belum melepas milik nya yang ada di dalam hole chuuya.Keesokan harinya...." Hngg...... "-chuuya.Chuuya terbangun dari tidur nyenyak nya itu Karna di ganggu oleh sinar mentari pagi.Dan chuuya menyadari bahwa dazai sudah tidak ada di samping nya dan dia juga mengamati hole nya yang masih mengalir sperma milik dazai yang tadi malam sempat memenuhi rahimnya." Hiks......apa yang aku lakukan semalam, hiks ....... Aku tak mau menikah dengan nya! Kenapa harus seperti ini!!! "-chuuya.Chuuya menangis dan berteriak, tetapi teriakan dan tangisan itu tidak berarti.Semua sudah terjadi.Dia hanya bisa menangis dan mengingat apa yang telah dia lakukan semalam dengan dazai.Dan seketika itu ,dazai kembali ke kamar chuuya." Eh chuuya kenapa kau menangis?"-dazai." Ini semua salah mu, kau menghilang keperawanan ku tadi malam, sehingga aku tak suci lagi sekarang, huaaa...."-chuuya." Hei, untuk apa kau menangis? Ya kau memang sudah tak perawan,tapi keperawanan itu aku yang mengambilnya kan, dan kita sudah di jodohkan kan "-jawab dazai." Tapi aku tak menerima perjodohan ini?!!"-chuuya." Kau akan menerimanya, dengan adanya benih ku di dalam rahim mu itu sayang "-dazai.Dazai duduk di samping chuuya dan memeluk chuuya.Dia mengelus-elus rambut chuuya berusaha untuk menenangkannya.Ntah itu sihir atau apa , chuuya nyaman dengan pelukan dan elusan itu, dia mulai ngantuk lagi dan akhirnya dia tertidur di pelukan seorang dazai Osamu." Kau sangat cantik, aku tak salah memilih mu chuuya. Liatlah sebentar lagi kita akan punya bayi dan besok adalah hari pernikahan kita "-dazai.Dazai memeluk chuuya erat, dan dia menggendong chuuya untuk ia mandikan Karna tubuh chuuya lengket Karna sperma nya dan chuuya.Dazai membawa chuuya ke kamar mandi dan mulai memandikan nya, saat di mandikan chuuya tak bangun, dia malah tetap tidur pulas, sesekali ia bergerak saat dazai membersihkan area kemaluan nya dan lubangnya itu.Setelah selesai mandi, datai memakaikan pakaian ke chuuya dan menaruhnya di sofa untuk sementara waktu, lalu dia mengganti seprie kasur nya dengan yang baru dan membuang seprei yang lama itu ke tong sampah.Ya, sampai jam dinding menunjukkan pukul 11 barulah chuuya terbangun dari tidurnya.Saat dia bangun, dia sudah tak melihat dazai lagi, dia kira dazai sudah di kantor, tetapi dia masih memastikan nya dengan melihat meja kerja pribadi dazai, dan jika ada berkas di sana berarti dazai belum ke kantor,tapi kali ini gak ada berkas ,jadi dazai sudah pasti ke kantor.Chuuya senang, Karna....Dia bisa melakukan pekerjaan nya." Heii cantik kemarilah "-panggil seorang" Haik "-chuuya" Tuang kan aku segelas bir , ya cantik, oh ya, apakah aku boleh meniduri mu malam ini ? "-kata orang itu" Maaf tuan, saya hanya bisa melayani minuman anda, bukan nafsu anda "-kata chuuya, sambil menuangkan bir ke gelas pelanggan tersebu" Oh, apa kau takut dengan Tunangan mu itu ya? "-jawab orang itu." Bagaimana kau tau kalau aku akan bertunangan? "-tanya chuuy" Aku adalah teman nya dazai "-jawab Fyodor" Oh.... "-jawab chuuya" Apa kau tak takut jika kau kepergok dazai bekerja di sebuah bar? "-tanya Fyodor" Aku tak peduli padanya,untuk apa takut padanya? "-jawab chuuy" Oh....jadi kau tak puas dengan apa yang aku lakukan kemarin malam , sayang? "Chuuya kaget" Ohh dazai..........liatlah aku sedang di layani oleh Tunangan mu ini "-sombong Fyodor." Kau mulai nakal sayang, kau bekerja di bar tanpa meminta izin dariku, Hem? "-dazai." Terserah ku lah, apa urusannya dengan mu? "-jawab ketus chuuy" Kau memang belum puas ya , yang kemarin malam "-dazai" Eh... "-chuuya" Kalau begitu, kita pulang ya sayang "-dazai.

TRANSMIGRASI ISTRI CEO DINGIN
Romance
08 Jan 2026

TRANSMIGRASI ISTRI CEO DINGIN

Saat ini Aera berada di salah satu clubs yang terkenal untuk merayakan hari kelulusan sendiri, bayangkan seorang gadis berada di club tanpa pendamping apa lagi ia baru legal.Aera menari sambil membawa gelas berisi alkohol di antara pemuda pemudi yang sedang berjoget ria itu, ia bahkan melenggak-lenggokan tubuhnya tanpa rasa canggungSetelah merasa lelah Aera berhenti menari dan mencari tempat nyaman untuk duduk dan pilihan jatuh pada meja yang berada di pojok karena hanya meja itu yang terlihat sepi dan tidak terlalu bising, ia meminum alkohol yang sedari tadi ia pegang dan meminumnya berkali-kali hingga habis 4 botol, gadis ini sangat gila!!..Jam menunjukkan 01:21 Setelah di rasa kesadarannya tinggal sedikit ia pun memilih untuk pulang ke rumahnya mengendarai mobil sendiri dengan keadaan setengah sadar, kalau tanya di mana orang tuanya??, kenapa gadis sepertinya di biarkan keluar malam???....Jawabannya orang tua Aera sudah berpisah satu tahun yang lalu itu sebabnya ia berkepribadian yang keras dan berandal karena tidak ada perhatian dari orang tua, keluarga nya pecah sebab adanya pelakor olehKerena itu ia sangat membenci yang namanya pelakor Hingga ia sedikit trauma dengan asmara.Karena memikirkan keadaan keluarganya yang terpecah belah juga pengaruh alkohol Aera tidak fokus dalam menyetir ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh untung Saja hari sudah larut hingga jarang ada pengendara lain.Namun saat di tikungan ada mobil yang sedang berhenti di pinggir jalan karena Aera masih dalam pengaruh alkohol ia pun menabrak mobil itu dan kejadiannya sangat cepat hingga Aera tidak ada waktu untuk menghindari dan terjadi lah tabrakan, Aera dinyatakan tewas di tempat karena mobil bagian depannya hancur.Inilah akhir kehidupan Aera namun sebenarnya inilah awal dari kisah sebenarnya seorang Aera Sanjaya namun dalam tubuh yang berbeda.Di dalam kamar yang mewah terdapat gadis berusia 21 yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba sang empu terbangun dan langsung duduk memasang muka bingung menoleh ke sana-sini." Ini dimana " tanyanya lirih kepada diri sendiri karena keadaan kamar dengan nuansa dark itu kosong tanpa ada seseorang pun kecuali dirinya." Auww Sthh...." ringisnya ketika ingatan asing tiba-tiba muncul di pikiran nya berputar-putar seperti kaset rusak." Ja..jadi gue bertransmigrasi ke tubuh istri CEO dingin yang gak dianggap bernama BRIANA WIJAYA DREKSMIAN atau Riana... " MonologAera" Dan parahnya lagi suami Riana ini gak pernah peduli bahkan selalu mengabaikan keberadaan pemilik tubuh, ya meskipun Riana bersikap seperti jalang karena selalu berpenampilan menor dan selalu menempelinya tapi kan itu semua ia lakukan agar mendapatkan perhatian dari nya, dia itu suami atau apa sih kesel gue " lanjut Aera kesal" Riana juga udah tau sifat suaminya kaya gimana masih aja di deketin, dengan cara murahan lagi, harusnya Lo jadi cewek itu berkelas dan jual mahal dikit lah aduh capek gue, apa lagi sekarang jiwa gue berada di tubuh ni cewek "" Mulai sekarang karena gue ada di tubuh Lo, gue akan merubah pandangan orang lain terhadap Lo, gue akan bersikap cuek dan menghindar dari suami cuek Lo itu, siapa ya namanya.. " kata Aera sambil mengingat-ingat nama suami Riana" Nah iya, namanya DOLARREN DREKSMIAN keren juga sih, pantesan orang kaya namanya aja ada unsur uang nya " ucap Aera setelah mengingat nama suami pemilik tubuh( kita panggil Aera jadi Riana ya )Riana bangun dari ranjang berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya alangkah terkejutnya nya dia saat melihat desain interior kamar mandi yang mewah, bahkan sangat mewah meskipun saat ia masih ada di tubuh aslinya dulu orang kaya, tapi rumahnya tidak semewah ini.Setelah selesai mandi ia keluar dengan memakai handuk yang melilit tubuhnya dan berjalan ke arah bathroom untuk ganti baju dan lagi lagi ia di buat terkejut melihat kemewahan walk in kloset yang lengkap dengan baju, tas, sepatu dan aksesoris yang mahal tengah tertata rapi.Setelah berganti pakaian dengan piama merah muda ia melangkah ke meja rias yang ada di dekat ranjang,mengeringkan rambut dan memakai skincare untuk menjaga agar kulit tetap cerah, Riana hanya bisa berdecak kagum melihat banyaknya alat kosmetik milik Riana yang lengkap dan pastinya mahal tidak Abal-Abal seperti milik kalian...ya pantas sih karena Riana ini tipe kal wanita modis sama seperti dirinya dulu meskipun ia tidak terlalu berlebih seperti Riana karena selalu memakai baju kurung bahan hanya untuk mencari perhatian suaminya bukanya tertarik tapi yang ada sang suami semakin ilfil padanya ( ingatkan Riana untuk membeli baju baru nantinya), kalau Aera ia lebih suka memakai gaun sebatas lutut atau atasnya yang sederhana namun terkesan elegan dan menawan.Setelah di rasa penampilan nya rapi tanpa make up yang tebal seperti biasanya namun ia jauh terlihat cantik dan imut tanpa menggunakan makeup, Riana turun ke bawah untuk makan malam mengingat sudah waktunya untuk makan malam, kamar Riana itu berada di lantai 2 sedangkan kamar sang suami berada di lantai 3, ya Riana dan Dollareen pisah kamar atas perintah sang suami.Kini Riana telah duduk di meja makan menunggu maid menyiapkan makanan, selama ia berada di tubuh Riana, ia belum melihat ke keberadaan suami Riana atau sekarang sudah menjadi suaminya juga, ia belum melihat wajah rupawan Dollareen seperti apa.Cukup lama ia menunggu kedatangan Dollareen bahkan sekarang Riana merasa dirinya akan mati kelaparan jika harus menunggu Dollareen lebih lama lagi.Makanan sudah di hidangkan di hadapan nya, tertata rapi dengan menu yang menggugah seleranya yang menahan lapar Sedari tadi."Ehh iya ya ngapain gue nungguin titisan tembok itu sampai kelaparan!!, gue kan bukan Riana yang harus nunggu titisan tembok Dateng baru makan, jadi sikat aja laaah~"karena terlalu lapar tanpa menunggu lagi Riana mulai mengambil makanan dengan porsi banyak Tidak peduli dengan sekitar Riana langsung melahapnya tanpa memperhatikan etika, ingat!! dia itu Aera gadis brandal tanpa memperdulikan apapun jika sudah kelaparan tidak seperti Riana yang selalu menjaga etikanya meskipun dengan terpaksa" Persetan dengan etika"Batin Rianakarena porsi makan Riana yang terlalu banyak dan cara makannya yang cukup buruk mengundang tatapan aneh dari para maid karena biasanya Riana ini akan menunggu Dollareen terlebih dahulu agar dapat makan bersamaDan Riana selalu menjaga etika dan pola makannya jadi jangan heran jika banyak maid yang terkejut melihat istri dari tuannya itu makan dengan porsi melebihi orang yang berpuasa.Riana melahap dengan penuh kenikmatan makanan nya yang sudah nambah 2 kali sangking asyiknya ia tidak menyadari bahwa Dollareen sudah duduk di kursi paling ujung yang memandang dingin dirinya." Cih, seperti babi !!" Batin Dollareen melihat cara makan Riana yang tidak seperti biasanya.Dollareen sedikit bingung melihat penampilan Riana yang tidak menggunakan make up berlebihan meskipun masih menggunakan baju kurang bahan namun sedikit tertutup dari biasanya dan juga cara makan nya seperti orang kelaparan,Sebelumnya Riana selalu menjaga etika nya ketika berhadapan dengan Dollareen, selalu berperilaku sok anggun dan berpakaian secara berlebihan hingga membuat pria dingin itu risih dan tak nyaman."Eeeek" Riana sendawa setelah menyelesaikan acara makan nya dan sedetik kemudian matanya membola melihat keberadaan Dollareen di kursi paling ujung dengan menatap nya jijik"Apa Lo liat-liat?, mau gue colok tuh mata" ucap Riana dengan berdiri mengacungkan garpu di tangan nya dan menatap nyalang pada Dollareen yang tersentak beberapa saat karena mendengar ucapan Riana kemudian mengatur ekspresi wajahnya seperti semula.Dollareen sedikit terkejut dengan perubahan kelakuan dan penampilan gadis didepannya yang menyandang status sebagai istri nya tapi ia lebih terkejut lagi melihat sikap Riana yang berbeda bahkan berani berkata kasar kepadanya."mencari perhatian hehh!!" Perkataan dingin Dollareen mengundang emosi Riana"Siapa juga yang mau cari perhatian sama Lo!!, Kurang kerjaan aja." Ucap Riana tenang meletakkan kembali garpu ke meja makan dengan kuat hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring" Riana!! " Sentak Dollareen dingin, ia sangat membenci sikap Riana yang seakan-akan tidak menghormati nya sebagai seorang suamiYa meskipun selama ini ia risih dan selalu bersikap dingin nan cuek ke pada Riana tapi dia'kan tetap seorang suami yang semestinya di hormati dan juga sudah menjadi tugas istri untuk berperilaku sopan kepada suaminya."Apa hah? mending Lo diem deh jadi orang enek gue denger suara Lo yang kaya orang nahan boker"Setelah itu Riana meninggal kan marvel sendirian di meja makan dengan keadaan bingung melihat sikap nya yang berbeda~ ya iya lah beda orang jiwanya aja Aera bukan Riana asli yang Spek lon* te 

Model Cantik Dan CEO Manja
Romance
06 Jan 2026

Model Cantik Dan CEO Manja

Seorang gadis cantik yang selalu bersikap ramah, baik, manja dan tidak sombong. Karena daddy and mommy nya tidak mengajarkan anaknya untuk menyombongkan apa yang ada di dirinya. P rilly Queen brocklyn , ia itulah nama gadis yang masih terlelap dari tidur cantik nya.( Kamar prilly)Di america" Prilly Queen brocklyn bangunn"ucap Dua wanita cantik, siapa lagi kalau bukan jessica mila sellon dan Dahlia cris poland yang sedang berusaha membangunkan sahabat manja nya itu."Hmmm" guman prilly yang terusik oleh suara mereka."Ohmygood, prilly cepetan bangun. Bukannya kita mau ke indonesia" geram jessica terhadap sahabat cantik nya itu."Iya pril cepetan bangun. Kita cuman punya waktu 3 jam seperempat nihh, kalau kita telat gimana coba" lanjut sahabat satu lagi nya dengan nada kesal, siapa lagi kalau bukan dahlia cris poland.Prilly yang merasa terusik oleh suara mereka pun, akhirnya terbangun dari tidur cantiknya."Hoaammm.. Berisik banget sih kalian, iyaiya nih gue bangun" kata prilly yang masih mengumpulkan nyawa nya."Cepetannn!! dan lo sekarang buruan mandi. Lo gak mau kan nanti kita telat"ucap jessica"Iyaiya bawel" kata prilly sambil menuju ke kamar mandi nya.#skipMereka pun sudah sampai di bandara indonesia. Dan banyak sekali wartawan yang menunggu kehadiran mereka serta ada juga fans yang melihat kedatangan mereka ke negara kelahirannya tersebut.Prilly..Jessica..Dahlia..Teriak para fans yang melihat kedatangan mereka.Dan hanya dibalas senyuman manis oleh sang idolanya."Haiii prilly, jessica, dahlia. How are you? boleh minta waktu nya sebentar?" ucap salah satu wartawan kepada mereka."Haii, we are fine. Boleh ko"kata prilly mewakili sahabatnya."Apa tujuan kalian datang ke indonesia?Apa ada project di indonesia?Liburan kah?" ucap para awak media kepada mereka."Kita datang ke indonesia karena ada project baru. Liburan? bisa juga sih dibilang liburan karena kita juga udah kangen banget sama suasana di indonesia. Jadi bisa dibilang juga kerja sambil disisipi liburan.." Kata prilly dengan ramah."Dan apakah benar ada seseorang spesial yang ingin kalian temui?" lanjut salah satu wartawan."Eummm, kalau itu kita no coment yah" ucap prillly dan dibalas senyuman oleh jessica and dahlia."Ohh okey, no problem" kata awak media."Dan makasih juga kepada kalian karena sudah menyempatkan waktunya untuk di wawancara" lanjut para awak media kepada sang model cantik tersebut."Iya sama-sama" ucap mereka kepada awak media.....Selesai diwawancara,mereka berselfi ria sambil menunggu jemputan yang akan membawa mereka kerumah masing-masing yang ada di indonesia."Jemputan gue belum datang nih" ucap prilly kepada temannya."Iya sama, jemputan kita juga belum datang"kata teman prilly"Nahh. Itu dia dateng, baru juga kita omongin. Itu yang di belakang mobil gue, mobil kalian bukan sih?" tanya prilly sambil menunjuk kearah mobilnya dan mobil yang ada dibelakangnya.(Mobil prilly)Mobil ini cuma di produksi 3 unit didunia dengan mesin V12 berkapasitas 6, 5 liter.dapat melesat dari 0-100 km/jam kurang waktu dibawah tiga detik.Untuk kecepatan optimal, supercar ini dapat melesat sampai 355 km/jam.di bandrol dengan harga US$5, 6 juta atau setara Rp72, 5miliar."Eumm, iya itu mobil gue" kata jessica(Mobil jessica)Sportcar ini mempunyai mesinV12 berkapasitas 6, 5 liter yang dapat menyemburkan tenaga sampai 740 HP.dapat melesat dari posisi diam sampai kecepatan 100 km/jam cuma dalam tempo 2, 8 detik.Dengan transmisi 7-percepatan semi-otomatis, mobil seharga US$5, 3juta atau seputar Rp68 miliar ini dapat dibawa lari sampai kecepatan puncak 354 km/jam."Iya itu juga mobil gue, ko bisa barengan gitu yahh" timbal dahlia(Mobil dahlia)Sportcar ini diciptakan dengan membawa mesin tipeV10 yang berkapasitas 5,2 liter. Mobil model ini di jual dengan harga kira-kira US$ 3 juta atau sebanding dengan Rp. 39 miliar."Mungkin mobil gue sama mobil kalian jodoh kali" canda prilly yang mengumbar gelak tawa mereka."Haha,bisa aja lo pril" kata mereka sambil ketawa."Yaudah, gue balik dulu ya. Nanti kalian main aja kerumah gue" kata prilly kepada mereka."Iya pril" jawab mereka.Ada satu orang pemuda yang baru saja sampai disuatu tempat kantor lebih tepat nya di perusahaan Rawles Company , yaitu salah satu perusahaan terbesar didunia. yaa siapa lagi kalo bukan Aliando King Rawles , CEO sekaligus pemilik perusahaan Rawles Company.Rawles companyTerkenal dengan Sifat nya yang dingin, tegas dan angkuh terhadap orang lain, tidak akan pernah mengurangi ketampanannya yang seperti bak pangeran tampan. Banyak sekali yang kagum bahkan tertarik kepadanya, tapi tidak ada satupun orang yang dia pilih untuk menjadi tambatan hati nya, entah apa alasannya. Yang ada dipikirannya hanya kerja, kerja dan kerja.Yaa dibalik sifat nya yang dingin itu dia adalah lelaki yang sangat manja, yang hanya akan ditunjukan kepada orang yang dia cintai ingat hanya orang yang dia cintai ....."Selamat pagi pak..?" Ucap salah satu karyawan yang melihat kehadiran Boss nya itu."Hmm.." Balas sang CEO dengan datarAli memasuki kantor dengan wajah datar nya, banyak sekali karyawan yang menyapanya tapi hanya dibalas dengan deheman dan anggukan saja.lalu dia berjalan menaiki lift dan sampailah dia diruangannya, terlihat banyak sekali berkas yang menumpuk dimeja kerjanya.Ruangan Ali"Hufffhh.." Helaan nafas sang CEO tampan ini dan tanpa basa basi dia langsung mengerjakannya.sudah 1 jam dia berkutat dengan berkasnya terdengar ada suara ketukan diluar ruangannya.Tok..tok..tokk.."Masuk.." Ucapnya"Permisi pak.. ini laporan hari ini. ini data produk yang belum kita keluarkan pak, semuanya sudah lengkap dan tinggal hanya mempromosikannya saja pak." Ucap sang sekretaris dengan jelas."Iya bagus." Balasnya sambil melihat laporan yang dikasih sekretaris nya itu."Tolong kamu carikan orang atau model yang ingin bekerja sama dengan perusahaan saya, carikan model yang bagus dan profesional. Saya tidak mau brand saya jelek atau hancur, dan jangan sampai hal buruk terjadi diperusahaan saya. Paham?!" ucap lagi sang ceo dengan tegas"Paham pak.." balasnya sekretaris sambil mengangguk"Jangan kecewakan saya!""Baik pak.. Terimakasih, Saya permisi dulu" ucap sekretaris itu sambil meninggalkan ruangan boss nya...Setelah pertemuan nya dengan sang CEO, Reno yang menjabat sebagai sekretaris CEO tampan itu sedang menunjukkan raut wajah kebingungan."Cari model yang bener dimana yaa" gumam reno sang sekretarisKetika reno sedang kebingungan, ada salah satu karyawan datang menghampirinya."Kenapa lo?" Ucap karyawan itu"Bingung gue jen." Balas reno dengan wajah melasYaa orang yang dipanggil jen itu adalah jeni temennya reno salah satu karyawan didevisi keuangan."Lah bingung kenapa, bukan nya tadi lo abis dari ruangan boss ya? Lo dimarahin?" tanya jeni"Bukan dimarahin, boss nyuruh gue cari model buat produk baru diperusahaan kita." Ujar reno"Yaampun ren dikira gue apaan, cuma cari model doang apa susahnya sih. Model banyak kali.." Ucap jeni"Bukan gitu, gue tau banyak banget model.. tapi permasalahannya lo tau sendirikan boss orang nya kek gimana? Kalo gue ngelakuin kesalahan sedikit aja boss bakal marah besar banget ke gue." balas reno dengan raut cemasReno tau banyak model didunia ini, cuma dia ingin mencari model yang benar-benar bisa diajak bekerja sama dengan perusahaannya. Karena reno tau sang CEO tampan itu tipe orang yang tidak ingin ada kesalahan sedikitpun dalam pekerjaannya."Iya juga sih.." Ujar jeni"Ahhh gue tau nih, model yang cocok buat perusahaan kita.." ujar jeni lagi dengan wajah sumringah"Serius? siapa?" tanya reno"Itu model yang baru pulang dari luar negeri, idola gue banget. Udah cantik, baik, ramah yaampun paket komplit banget deh itu model. Hmm..pengen banget jadi temennya dia deh gapapa gajadi temen nya juga jadi pembantunya aja gue mauuu.." ucap jeni dengan sumringah sambil membayangkan model yang menjadi idolanya itu."Apaan sih lo jen, kalo ngomong yang jelas dong. Model siapa? Yang mana? Jangan bikin gue nambah bingung deh" kata reno dengan raut kesal"Itu model yang baru balik kesini, masa lo ga tau sih ren yaampun kudet banget sih lo!!" Ujar jeni"Siapa sih, lo tinggal nyebut namanya apa susahnya sih..""Oke oke tenang dulu. Jadi model yang gue maksud adalah....."Siapaaaa??? Ucap reno tidak sabar.........."Prilly Queen Brocklyn"Yaa jeni mengajukan idolanya yaitu prilly sebagai model diperusahaannya. Bukan karena dia mengidolakan sang model cantik itu bukan..Yaa ngefans juga sih hehe, tapi jeni tau prilly adalah orang yang cocok untuk bekerjasama dengan perusahaan ini. Tidak ada sama sekali pemberitaan buruk terhadap model cantik itu, dan jeni sangat mengidolakannya."Hahh diaa, bukannya ada di amerika ya?" Kata reno"Kan tadi gue udah bilang dia baru balik ke indo renoooo gimana sih lo.." Balas jeni"Oke-oke trus lu tau kontaknya ga?" Tanya reno"Engga.." Jawab jeni sambil cengengesan"Trus gimana jeniii, sama aja dong kalo gada kontaknya mah..""Hmm bentar.. perasaan ada deh dibio instagramnya prilly kontak manager nya, lo hubungin aja lewat situ." kata jeni"oh okey, thanks ya jen. Sumpah kalo gada lo gue gatau harus gimana." jawab reno dengan muka yng sangat senang dan lega"yuu santai, gue cabut dulu ya. Masih ada yang gue kerjain." Kata jeni"Iya jen, sekali lagi thanks yaa.." Balas reno lagi...Setelah kepergian jeni, reno lansung membuka handphone nya lalu mencari instagramnya prilly and finallyyy dia menemukan kontak managernya. Langsung saja reno menghubunginya.#skipReno sudah menghubunginya, dia hanya tinggal menunggu jawaban sang manager itu. Karena manager nya ingin berbicara dulu sama model cantik nya."Semoga setuju deh, gue gatau harus cari model kemana lagi kalo yang ini gamau." Guman renoAuthor povOkey kita alihkan dulu CEO tampannya dan kita beralih ke model yang sangat cantik ini, tidak lupakan dia siapa yaa dia adalah Prilly Queen Brocklyn.gadis cantik yang baru saja pulang dari luar negeri ini sedang beristirahat dikamarnya Sambil bermain ponsel.kemudian dia menggunggah salah satu fotonya yang sedang dibandara yang tadi difotokan oleh temannya.PrillyQBrocklyn598.465 likesPrillyQBrocklyn : Hi indonesia❤View all 68.752 comments ..Banyak sekali komenan yang menyapa atas kedatangan nya ke tanah kelahiran nya ini, prilly sangat senang kedatangan nya disambut dengan baik oleh mereka.Ketika sedang asik dengan gadget nya terdengar suara ketuka pintu diluar kamarnya.Tok..tok..tok..Prill.."masuk aja kak" ucap prilly dari dalam kamar"Hei lagi ngapain? Maaf ya kakak ganggu istirahatnya" ucap orang itu dengan sedikit bersalah"Iya kak gapapa ko, kek ama siapa aja deh.. Emang ada apa kak?" Tanya prilly"Ini kamu ada tawaran kontrak sama perusahaan besar, katanya mereka lagi butuh model buat promosiin brand nya gitu. Kamu mau ambil apa engga? Kakak ga maksa sih itu terserah kamu.." Ucap nyaYaa yang dipanggil kakak itu adalah manager prilly, namanya caca. Caca yang menghandle semua pekerjaan gadis cantik itu, dan prilly sudah menganggap caca sebagi kakak nya sendiri jadi tidak ada kecanggungan diantara mereka."Hmm ambil aja kak" ucap prilly"Kamu yakin? Kamu kan baru pulang dari luar negri, takut nya kamu capek pril.." Kata caca dengan raut cemas"Yaampun kak gapapa kali, aku malah seneng kalo ada kerjaan. jadi gak bosen dirumah terus tau" balas gadis cantik itu sedikit merengek"Okey okey nanti kakak kabarin lagi ya sama orang nya, soalnya kakak tadi minta waktu dulu buat bilang ini ke kamu takut nya kamu masih cape kan. Jadi kamu setuju yaa?" Ucap caca"Iyaa kakak sayanggg.." kata gadis yang cantik ituSetelah dapet persetujuan dari prilly, caca langsung menghubungi lagi orang yang menawarkan kontrak itu."Halo pak, pihak saya sudah setuju." Jawab caca..............."Baik pak terimakasih.."..............."Senang juga bisa bekerja sama dengan anda" Ucap cacaSudah 1 jam reno menunggu kabar dari orang tersebut tapi sama sekali belum ada tanda-tanda orang itu menghubunginya."Haduh gimana nih udah sejam gue nunggu tapi belum ada kabar juga, si boss udah nanyain lagi." Gumam reno dengan cemasKetika dia sedang cemas, tiba-tiba handphone nya berbunyi dan ternyata orang yang dia tunggu-tunggu menghubunginya. Tanpa basa basi reno langsung mengangkat dan menanyakannya."Halo Bagaimana..?" Ucap reno langsung......................"Oke baik, nanti akan saya atur jadwal pertemuannya ya? Sampai ketemu nanti." Balas reno lagi........................"Senang bisa bekerja sama dengan anda." Ujar reno....Setelah berbincang-bincang reno dengan pihak model tersebut, tanpa menunggu lama reno langsung menghubungi boss nya itu, ia sangat senang tugas 1 nya selesai. Semoga semuanya berjalan dengan lancar, harap reno.(jadi guyss reno ga ngasih tau ali ya model nya siapa, reno cuma bilang dia udah dapetin model aja)......(Dipercepat).....Author PovSudah waktu nya pulang jam kerja, CEO tampan itu langsung siap-siap bergegas untuk pulang kerumah nya. Tapi sebelum itu terjadi ada suara panggilan dari handphone nya."Kenapa?" Tanya ali"Wih santai dong boss, lo udah selesai tugas kantor kan?""Iya.""Sebelum balik kita kumpul dulu yaa dicafe biasa.""Sekarang?""Engga taun depan, ya sekarang lahh. Pokonya lo harus dateng, kita udah lama ga kumpul karena kesibukan masing-masing.""Iya.""Pokonya lo harus dateng, awas aja kalo engga. Gue tunggu.""Iya kevin!"Yaa orang yang menelpon ali adalah kevin julio alexander pemilik perusahaan alexander company .Dan tanpa menunggu lama ali langsung pergi menuju parkiran dan memasuki mobil mewahnya. Kemudian bergegas pergi menuju cafe yang biasa ali dan teman-temannya menongkrong itu.Mobil AliSampailah ali ditempat itu, dia langsung memasuki cafe dan menuju ruang VVIP yang biasa ditempatin mereka.Ruang VVIPTenyata disana sudah ada teman-teman bobroknya siapa lagi kalo bukan kevin dan Ricky . Oh iya ali juga punya teman bernama Ricky gio harun pemilik perusahaan harun company, dia juga punya panggilan khusus yaitu kirun .Tibalah ali ditempat temannya kumpul dan dia langsung menduduki bangku tersebut."wih boss tampan udah dateng, pakabar bro?" Tanya kevin"Baik.""Gimana li?" Tanya kirun"Apa?""Masih jomblo aja haha." becanda kirun"Dihh kek lu ga jomblo aja run." Timpal kevinBerbincang-bincang lah mereka author juga gatau mereka bincangin apa hahaha.....Satu sisi ada 3 perempuan cantik yang memasuki cafe mewah tersebut dan menuju ruangan VVIP juga. Siapakah mereka????.......Yaa orang itu adalah 3 model cantik go internasioanal siapa lagi kalo bukan...Prilly, jessica dan Dahlia.kemudian mereka masuk, dan tanpa disadari salah satu dari mereka sedang bersitatap dengan salah satu 3 CEO tampan itu."Kita mau duduk dimana? Balkon apa didalem?" tanya jessica"Balkon aja deh." Jawab dahlia"Pril dibalkon mau?""Prilll..""Prillyyy..""Hah apa, t-tadi lo ngomong apa?" Tanya prilly"Lo liatin apasi, dari tadi kita ngomong ga didenger yaa.." Ucap jessica sedikit cemberut"Ehh e-engga ko ga liatin apa-apa, sorry yaa ga fokus tadi gue hehe, oh iya tadi kalian ngomong apa?""Kita duduknya dibalkon mau ga?""Mau ko ayo disana aja." jawab prillyTanpa disadari prilly sedang bergelut dengan hatinya. " Siapa cowo itu, kenapa jangtung gue berdetak kencang ketika melihat dia." (ujar prilly dalam hati)...Back to CEO tampan"Iya ga li.""Lii..""Aliii..""Aliando king rawles!""Hah apa?""Lo kenapa sih? Dari tadi kita panggil ga nyaut nyaut, liatin siapa sih lo?"Ga, ga liatin siapa-siapa."Ali sekali-kali masih liatin cewe yang sedang berbincang dan tertawa dibalkon itu."Siapa dia. Kenapa hati gue ga karuan hanya liat mata indah nya, gue ga pernah ngerasain kek gini sama orang. Tapi sama dia aaghhh fuckk." (Ucap ali dalam hati)"Tuhkan lo bengong lagi lii, apasih lo lagi liatin apaa?" Tanya kevin"Lo liatin cewe-cewe itu ya?" timpal kirun. karena kirun sadari tadi melihat ali yang sedang menatap salah satu cewe itu, dan bener dugaannya kirun liat ali sedang ngeliatin cewe cantik itu Lagi."Apaansi.""Siapa? yang mana? Yang pake dress biru? Merah? Ato yang bunga-bunga?" ledek kirun kepada aliDeggg..Pas kirun bilang pakai dress bunga-bungga hati nya kembali bergetar. Iya sebenernya ali lagi ngeliatin cewe yang memakai dress bunga-bunga sedari tadi."Hah a-apaan sih lo, sotau" jawab ali ngelak dan gugup"Tuhkan lo gugup, benar kan dugaan gue lo lagi liatin cewe-cewe itu. Tapi gue perhatiin lo kek nya lagi liatin cewe yang pake dress bunga-bunga deh." Ujar kirun lagi"engga apaan sih lo run.""Alahh ngelak aja lu bisanya li.""Ehh b-bentar kek nya gue tau deh mereka siapa." Ucap kevin yang sedari tadi hanya mendengar celotehan teman-temannya."Siapa emang?" Kata kirun"Bentar gue inget-inget dulu, hmm.. Kek nya itu model yang internasional itu deh, yang kemarin baru balik ke indo. I-iya gue yakin itu mereka." Jawab kevin"Hah serius?" Tanya kirun"Iyaa, yakali gue becanda.""Itu yang pake dress biru namanya jessica, yang merah dahlia dan yang bunga-bunga itu prilly." Jawab kevin lagi.kevin ga sekudet dua temen nya ini dia tau kalo 3 cewe itu adalah model yang banyak disukai oleh orang-orang termasuk mamah nya, mamahnya kevin suka sekali sama 3 model cantik itu."Tuh li yang dress bunga namanya prilly cantik yaa. Pengen deh gue jadi pacarnya." Ucap kirun kepada aliDress prillyKirun sebenarnya hanya menggoda ali, kirun rasa ali tertarik dengan cewe itu. Karena kirun belum pernah ngeliat ali segini nya sama orang, dan kirun hanya mengetes bener apa tidak nya temennya ini ada rasa sama model itu.Dan terbukti ketika kirun bilang seperti itu Ali langsung menatap tajam kirun karena milik-Nya disebut dan disukain oleh temennya. (Milik-Nya) ya ali sudah mengklaim bahwa prilly adalah milik-Nya."Yaelah li s-santai aja kali, jangan natap gue kek gitu. Gue cuma becanda doang tadi." kata kirun aga sedikit takut"Hmm, udah-udah mending kita makan lagi masih banyak tu makanan. Abisin biar cepet balik." Kata kevinSemuanya balik normal lagi tapi ali masih bergelut dengan pemikirannya."Oh jadi namanya prilly. Nama yang cantik seperti orangnya, mata yang indah, pinggang yang sangat ramping yang ingin sekali ku dekap dalam pelukanku dan bibir yang sangat menggoda untuk dikecup. Aku harap kita bertemu lagi baby ..........." Because... you're mine!" (ucap ali dalam hati sambil melihat prilly dengan tajam)Dan tanpa mereka sadari, ternyata takdir sudah mempersiapkan sesuatu hal yang besar yang akan menjadikan mereka semakin terikat.Hari yang dinanti nantikan telah tiba yaitu setelah pertemuan kemarin dengan pihak masing-masing tibalah sekarang dimana antar kerja sama akan dimulai.Tok tok tok.."Prill..?""Masuk aja kak""Udah siap?""Udah kak, tinggal pakai lipstik bentar. Oh iya barang- barang nya udah siap semua kan?" Tanya prilly"Udah siap semua ko, tinggal cuss berangkat.""Okey, selesai.. Yuu kak berangkat." Ucap prillyMereka berangkat diantar oleh pak danang-- supir pribadi prilly yang sudah lama sekali bekerja menjadi supir gadis cantik itu."Oh iya kak, kita kerjasama diperusahaan mana?" Tanya prilly"Di Rawles Company prill.." Jawab caca"Ohh.. Kek ga asing namanya""Ya masa kamu gatau itukan perusahaan terbesar didunia""Oh pantes." Gumam prilly"Dan kamu tau prill, CEO Rawles Company katanya ganteng banget bak pangeran tampan yang jatuh dari langit" ucap caca penuh histeris"Haha.. Apasih kak lebaiii deh." balasnya"Iya beneran tau, dan-- Kek nya cocok deh kalo disandingin sama kamu." Goda caca"Ihh apaansi kak ca, aku kenal aja engga.""Nanti juga kenal hahaha."Setelah berbincang- bincang didalam mobil yang penuh candaan tibalah mereka diperusaan Rawles Company.Rawles companyMereka turun dan banyak sekali karyawan yang takjub atas kedatangan model cantik tersebut, mereka tidak menyangka akan melihat gadis cantik itu secara langsung. Sungguh keajaiban buat mereka."Wahh.. Cantik banget.""Itu p-prilly Queen Brocklyn kan, gilaaa cantik bangett.""Bidadari..""Mimpi apa gue ketemu dia agghh.""Sumpah itu p-prilly kan gilaa gilaa cantik banget aslinya."Outfit PrillyBanyak sekali karyawan yang tercengang, berbisik-bisik, bahkan ada juga yang sedang berjalan lalu tertabrak tembok karena tidak kuat melihat kecantikan model itu. Kemudian sampailah mereka ditempat receptionist."Permisi.." Ucap caca"Y-ya ada yang b-bisa saya b-bantu?" Ucap receptionist dengan gugup karena melihat prilly sedekat ini."Saya ingin bertemu pak reno, kami sudah membuat janji. Dimana ya ruangannya?'"aahh pak reno, dia ada dilantai 30 bu. N-nanti teman saya yang mengantarkannya.""Oh okey makasih yaa." Ucap caca dan prilly sambil tersenyum."I-iya sama-sama." ucap receptionist itu"G-gillaaa p-rilly senyum ke gue sumpah cantik bangett woii mimpi apa gue semalem." ucap receptionits lagi dengan histeris sambil memukul temannya yang disebelah.#SkipSampailah mereka diruangan yang telah ditunjukkan dan terlihat ruangan yang sudah didesain untuk pemotretan brand keluaran terbaru diperusahaan mereka itu."Hai sudah sampai? Ayo silahkan duduk dulu. Maaf yaa tadi saya tidak mengantar kalian kesini, banyak yang saya urus soalnya." Ucap reno dengan sesal"Hai.. It's okey. Tadi kita sudah diantar oleh pihak pak reno ko, jadi ga masalah" Jawab caca"Oh iya dengan nona prilly?" Tanya reno dengan mata yang tertuju kepada gadis cantik itu"Ahh iya saya prilly." Jawabnya"Hai Nice to meet you.""Nice to meet you too.""Your soo beautiful.""Haha Thank you."Reno tercengang melihat model cantik itu, dia tidak salah pilih. Pasti Tuan nya langsung suka melihat kecantikan sang model tersebut."Cantik banget, gue yakin Tuan ali bakal suka sama dia." Ucap reno dalam hati"Oh iya pak kapan ini akan segara dimulai?" Tanya caca"Oh iya-- sebentar lagi ya, CEO kami sedang menuju kesini. Tapi kalian bisa bersiap-siap diruang ganti yaa pakaiannya sudah disiapkan disana" Ucap renoKetika sang model sedang bersiap-siap, datanglah sang CEO tampan itu dan langsung menghampiri assistentnya yaitu Reno.Dia datang karena ingin melihat kinerja karyawannya, apakah sesuai yang telah ia inginkan atau sebaliknya, Karena kalian harus tau bahwa dia adalah orang yang sangat perfectionist, ia tidak ingin ada kesalahan satupun apa yang sudah ia perintahkan."Bagaimana?" Tanya ali"Semuanya sudah siap Tuan""Tidak ada kendalakan?""Tidak ada Tuan, semuanya terselesaikan dengan baik.""Bagus.""Model untuk produk saya sudah ada kan? Ingat yaa, saya tidak mau ada satu kesalahanpun yang membuat brand saya hancur.""Sudah ada Tuan, ia sedang mengganti pakaian terlebih dahulu.""--- dan anda tenang saja, saya tidak akan pernah mengecewakan anda Tuan"Setelah penbincangannya dengan Reno, Ali selaku CEO tampan itu sedang duduk dan fokus terhadap handphone nya. Tidak tau apa yang sedang ia lihat.Tidak lama kemudian datanglah sang model cantik itu ,prilly. Dia sangatlah cantik, sangat sangat cantik dengan dress yang sedang ia kenakan saat ini. Apakah ia masih pantas disebut manusia-- ah tidak dia seperti bidadari yang sedang jatuh dari langit. Berlebihan memang-- tetapi itu adalah fakta. Dia memang sangat cantik."Tuan model nya sudah siap" ucap reno kepada Tuannya yang sedang fokus terhadap handphone nya."Iya baik" ucapnya sambil bergegas berdiri dan memasuki benda yang sedang ia pakai sejak tadi kepada sakunya.Ketika sang Ceo tampan itu menoleh matanya langsung bersitubruk dengan model cantik itu. Kaget-- yaa ekspresi itulah yang sedang ditunjukkan oleh mereka berdua."Ini model nya yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita tuan, Prilly-- Namanya Prilly Queen Brockly n" Ucap reno"Dia.."Mereka tidak menyangka bahwa mereka akan dipertemukan lagi dalam kondisi seperti ini.Raut bahagia terpancar dari salah satu manusia yang sebentar lagi akan terikat oleh ikatan cinta. Siapa lagi kalau bukan Ceo tampan itu-- Aliando king Rawles. yaa laki-laki itu sangat bahagia sekarang, ternyata apa yang ia tunggu- tunggu datang dengan sendirinya."Akhirnya kita bertemu lagi, Baby. Sesuai dengan ucapanku dulu, aku tidak akan melepaskanmu prilly Queen brocklyn ""-- karena sebentar lagi kamu akan menjadi milikku sayang ." Ucapnya dalam hati dengan penuh obsesi terhadap wanita cantik itu."H-hai Tuan, saya prilly. Nice to meet you" ucap prilly sedikit gugup sambil mengulurkan tangannya kepada aliprilly merasa aneh dengan dirinya semenjak dia bersitatap dengan CEO tampan ini ia terlihat gugup bahkan hatinya tidak bisa berhenti berdegup kencang-- tidak biasanya dia seperti ini."Hai saya ali--CEO disini. Nice to meet you too""--- baby " Jawab ali yaa ali membalas ucapan model cantik itu tapi tidak dengan sebutan sayang yang diutarakan di dalam hatinya, ali tidak ingin gegabah dan membuat takut gadis-Nya."Apa bisa dimulai sekarang tuan?" ucap reno kepada ali, tapi ucapannya tidak digubris olehnya-- dia terlalu fokus terhadap gadis yang masih digenggam tangannya itu."Tuan?""Tuan ali?""Ahh iyaa, sorry" ucapnya tersadar"Bisa kita mulai tuan?""Ya bisa, silahkan"...CekrekCekrekkCekrekkk"Angkat dagunya sedikit keatas nona, yaa oke good" ucap sang kameramen kepada model cantik itu."-- good job nona prilly, your soo beautiful" ucapnya kepada prilly"Hahaha Thaks you, Jangan panggil aku nona. Panggil aja prilly kak" balas prilly dengan senyuman manisnya"Ahh okey, kita break dulu bentar yaa untuk pakaian kedua" lanjut si kameramen itu.Outfit 1 pemotretan prillyDilain tempat yaitu disebuah sofa tempat pemontretan, ada satu sosok yang menatap ke arah mereka. Matanya tidak bisa lepas untuk tidak menatap 2 orang yang sedang melakukan pemotretan itu, terlebih matanya hanya fokus terhadap gadis cantik itu-- prilly. Yaa laki laki itu menatap prilly dengan tajam, seakan- akan tidak ingin melepas tatapannya seincipun.Ada balutan amarah ketika dia menatap gadis-Nya itu, dia tidak suka miliknya tersenyum kepada orang lain apalagi sekarang dia memakai dress yang sedikit terbuka.Dia ingin sekali merengkuh gadis-Nya kepelukan dan Ingin mengurungnya kemudian menguncinya didalam kamar. Agar tidak ada satupun orang yang melihat gadis-Nya itu dalam balutan baju yang sedikit terbuka apalagi mengambil miliknya, sebagaimana kalian tau-- Ali adalah orang yang tidak akan pernah melepas apa yang sudah menjadi miliknya."Aaghh shitt, gue ga tahan pengen peluk dia dan jadiin dia milik gue" gumam aliKetika sedang asik melamun, reno datang dan menghampiri Ceo tampan itu."Permisi Tuan..""Kami butuh Tuan ali untuk melakukan pemotretan bersama dengan nona prilly. karena kita akan melakukan percoveran dimedia agar terlihat menarik dan banyak diminati untuk brand kita Tuan, apa Tuan bersedia?" Ucap reno" Wah bagus kesempatan buat gue " ucap ali dalam hati, dia senang ketika reno mengatan itu. Karena ini kesempatan yang bagus agar ia lebih dekat dengan gadis-Nya"Ya saya mau" ucapnyaCekrek..Cekrek...Cekrekk...Kamera itu menyoroti dua insan yang sedang melakukan pemotretan, terlihat sangat romantis memang. Mungkin sebagian orang mengira bahwa mereka seperti akan melakukan photo preweding, padahal ternyata hanya dua insan yang sedang melakukan perjalanan bisnis saja."Lebih mendekat tuan dan rengkuh pinggang nona prilly--- yaa seperti itu"Tanpa sadar rengkuhan itu sangat erat sampai tidak ada jarak seincipun, siapa lagi kalo bukan tuan muda ali yang mencari kesempatan untuk memeluk pujaannya.Visualisasi Ali PrillyBeberapa foto dan gaya sudah mereka lakukan, sudah saatnya mengakhiri pekerjaan yang melelahkan tapi juga menyenangkan ini."So perpect!!!! Kalian sangat serasi tuan, ini akan menjadi kerjasama yang akan sukses."Tetapi dua insan ini yang sedari tadi masih bersitatap masih dengan posisi yang sama, dan tangan yang masih merengkuh model cantik itu. mereka tidak bergeming sama sekali, dengan perasaan yang berkecamuk dan nyaman berada didekat nya masing-masing. sampai tidak menyadari jika acaranya sudah berakhir.semua staff yang melihat mereka sangat heran dan juga kagum. Dua kombinasi yang sangat perpect terlihat didepan matanya. Tampan dan juga cantik. Mereka sangat serasi, CEO dan Model itu sangat serasi dimata semua yang ada diruangan ini.Ali masih menatap prilly dengan dalam dan juga lembut. "Cantik!! kamu sangat cantik.. baby."Yaa terlontar sudah ucapan yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia tidak bisa menahannya lagi, tidak bisa. Dia tidak ingin berlama lama untuk mengklaim gadis ini menjadi miliknya-- hanya miliknya."T-tuan .. Hmm m-mak.." belum selesai prilly berbicara, ali sudah menyelanya."Ikut aku!!" Ali langsung mencekal lengan prilly dan membawanya pergi dari ruangan itu.Para staff dan juga assisten yang melihat mereka terlihat bingung dan juga bertanya tanya. Mau kemana perginya pasangan itu.Assisten prilly yang melihat modelnya dibawa oleh Ceo tampan itu sedikit khawatir dan akan menyusul prilly. Tapi belum sempat menyusul tangan nya sudah dicekal oleh sekretaris ceo tampan itu--reno."I'ts oke, dia akan baik baik saja.""T-tapi pak..""Tidak perlu khawatir, dia akan aman bersama Tuan saya."Reno tau apa maksud dari tuannya membawa gadis cantik itu. Tuan-nya sedang jatuh cinta....Banyak pasang mata yang melihat mereka tapi tidak dihiraukan olehnya, ali langsung membawa prilly memasuki lift pribadinya."T-tuan kita mau kemana?!" ucap prilly sedikit takut kepada ali yang sedari tadi masih mencekal lengannya dengan erat."Ikut saja baby!!"Sampailah mereka didalam ruangan itu, ruangan yang sangat megah dan juga terlihat nyaman--yaa ali membawa prilly keruangannya. Dia tidak ingin diganggu saat ini, tidak ingin banyak pasang mata yang melihat mereka. Ali hanya ingin berdua dengan gadisnya--prilly. Hanya berdua.Ali langsung menubrukan tubuhnya kepada gadis cantik itu, memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya diceruk leher prilly."You're mine baby!!" Ucap ali dengan tegas kepada gadis itu dan masih memeluknya dengan erat."T-tuan...""kamu milikku, sampai kapanpun. Ga ada yang boleh miliki kamu kecuali aku."Prilly bingung dengan keadaannya sekarang, ada apa dengan lelaki yang memeluknya dengan erat ini, kenapa dia mengklaim bahwa dirinya milik laki-laki itu.Dan tapi kenapa.. dirinya menyukai apa yang CEO tampan itu lakukan sekarang."T-tuan maaf.. Bisa lepas dulu pelukannya?" Ucap prilly kepada ali sambil berusaha melepaskan pelukan pria itu.Bukannya dilepas tetapi pelukan itu malah semakin erat, ali tidak mau melepaskannya. "Tuan bagaimana saya mau berbicara jika tuan m-memeluk sa.." omongan itu terpotong"No baby!!! Aku gamau!!" ucap ali seakan tidak ingin dibantah"Okey terserah tuan. Hmm saya sebenarnya gatau mau berbicara apa, saya bingung. Saya bingung Kenapa tuan membawa saya kesini, kenapa tuan memeluk saya, dan tuan mengklaim bahwa saya milik anda. Apa bisa dijelaskan? saya benar-benar bingung." ucapnya bertubi tubi kepada CEO tampan ituAli sedikit merenggangkan pelukannya dan tangan kirinya menangkup pipi prilly dengan lembut, sedangkan tangan satunya masih memeluk pinggang ramping prilly dengan erat. Tidak ada jarak, bahkan hanya 5cm saja jarak itu untuk berbicara."I love you. I really love you!!"" ---Saat pertama kali aku ngeliat kamu gatau kenapa aku langsung jatuh cinta sama kamu, aku gamau kehilangan kamu. Aku mau kamu jadi milik aku, satu-satunya milik aku dihidupku." ucapnya dengan lantang dan menatap gadisnya sangat dalam sambil tangannya masih mengelus pipi mulus itu."T-tuan k-kenapa bisa.." kaget prilly sangat kaget dengan ucapan pria ini"Aku gatau, mungkin ini takdir. Jadi milikku mau? Jawabannya hanya yes or yes --- dan tidak ada penolakan baby"Bohong jika prilly tidak tertarik kepada CEO tampan itu, dia juga menyukainya. Tapi apakah secepat ini."T-tuan tapi kita baru kenal, bahkan tuan baru bertemu saya. Ga mungkin tuan menyukai saya kan?"Yaa rasanya tak mungkin jika CEO tampan ini menyukai dirinya. prilly meragukan hal itu, bahkan dia meragukan dirinya sendiri kenapa CEO itu menyukai dirinya.Apakah dia tidak sadar bahwa dirinya sangat cantik seperti dewi aphrodite, pria mana yang tidak langsung menyukai dirinya. Jelas jika semua pria pasti menginginkan dirinya untuk dijadikan kekasih.Tapi sayang model cantik itu hanya milik CEO tampan manja ini hihihi"Heii listen baby, ga ada yang ga mungkin. Mau kita belum kenal dekat atau udah kenal dekat sekalipun aku ga peduli. Aku cinta sama kamu, aku gamau kehilangan kamu --I want you to be my home, aku mau kamu jadi rumahku dikala aku capek. Jadi milikku yaa.." Ucap ali dengan penuh keyakinanMasih dengan posisi yang sama, tangan nya masih memeluk gadisnya dan masih mengelus pipi itu dengan lembut. Menatapnya dalam tersirat beribu arti dan keyakinan kepada gadisnya.Ali telak jatuh kepada model cantik itu."---oke kalo kamu masih ragu, atau kamu belum cinta sama aku. Tapi kamu maukan belajar ---belajar mencintai aku dan menjadi milik aku sepenuhnya." Lanjut ali dengan lirihPrilly menatap ali penuh isyarat, menatapnya dalam apakah pria ini serius atau membohonginya. Tapi sayang tidak ada kebohongan dimata Pria itu.Dan tanpa ragu prilly menjawab."Iya... Aku mau.""---aku mau jadi milik kamu." Ucap prilly kepada ali yang masih tidak percaya bahwa gadisnya menerima dia"Kamu serius??!!! Aggghhh thank you baby. I love you so muchh." Ucap ali dengan girang dan langsung memeluk prilly dengan erat dan dibalas pelukannya oleh gadisnya itu."Tapi ingat jangan kecewain aku ya.""Siapp My Queen, aku janji ga akan pernah ngecewain kamu. Pegang kata-kata aku."And then.. prilly telak jatuh kepada CEO tampan itu.Pelukan itu melonggar tapi dengan posisi yang masih berpelukan, Ali memindahkan tangan prilly ke lehernya, menatapnya dalam penuh makna.Semakin mendekatkan kepalanya, bahkan hembusan nafasnya sudah tercium oleh keduanya, semakin dekat tidak ada jarak sama sekali.Cuppdan yaa bibir itu menempel dengan manis dibibir gadisnya.Masih menempel dengan mata terpejamMembawa gadisnya lebih masuk kepelukannya dan menekan tengkuknya agar lebih dalam mencium gadisnya itu.Melumatnya dengan penuh cinta dan nafsu, memainkan rongga rongga mulut gadisnya dengan lidahnya itu. Mereka Berperang lidah dan melumatnya lagi dengan penuh kelembutan."Agghh.." Desahan keluar dari mulut gadis cantiknyadan mereka masih tetap melanjutkan ciuman yang penuh akan gairah itu.

MY BEAUTIFUL CEO
Romance
06 Jan 2026

MY BEAUTIFUL CEO

Thailand"Tungguuuuuuuu~"Lisa berteriak saat pintu boarding akan ditutup oleh petugas bandara, dengan ransel besar yang ia gendong di punggungnya, ia lari terbirit-birit seperti baru saja di kejar hantu."Hah..ini."Setelah selesai dengan berbagai macam urusan ia kembali berlari untuk masuk kedalam pesawat. Di dalam pesawat Lisa berjalan cepat tanpa peduli ranselnya menyenggol orang lain, ia terus berjalan menuju kelas bisnis untuk mencari tempat duduknya.Bugh~"Aww!"Lisa tercengang saat mendengar jeritan seorang wanita saat dia berbalik untuk mencari nomor tempat duduknya, ia kembali berbalik dan seorang gadis sedang menatapnya tajam seraya mengelus kepalanya."Nona, apa kau baik-baik saja?" Lisa bertanya dengan polosnya.Gadis itu menggeram dan mengangkat tangan seperti kucing hendak mencakar, "rawrr… Ransel sialanmu mengenai kepala ku!" Omelnya.Lisa tercengang dan reflek mengangkat kedua tangan seolah dia di todong sebuah pistol, "Maaf, maafkan saya. Saya tidak sengaja."Gadis itu hanya memutar bola matanya, ia menggeser tubuh Lisa secara kasar lalu duduk di tempat duduknya yang ternyata bersebelahan dengan Lisa. Setelah Lisa menaruh ranselnya kedalam bagasi yang ada di atas kepalanya, ia duduk di tempat duduknya."Nona, siapa namamu?"Gadis yang di tanya hanya diam termangu, Lisa menggunakan bahasa Thailand yang tidak di mengerti oleh si gadis. Sadar dirinya salah, Lisa menyengir kuda seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Ah, maksudku siapa namamu Nona?" Tanya Lisa menggunakan bahasa inggris.Lisa adalah seorang mantan atlet, ia sudah berkeliling ke beberapa negara jadi dia tidak kesulitan dalam berbicara bahasa asing karena dia pintar berbahasa Inggris, Korea, China, Prancis dan Thailand tentunya karna dia berasal dari Thailand."Tidak.perlu.tau!" Jawab sinis si gadis tersebut lalu ia memakai kacamata hitamnya.Lisa mengerucutkan bibirnya kedepan namun ia memilih diam dan tidak lagi bertanya, ia memasang sabuk pengaman setelah mendengar pengumuman jika pesawat akan segera take off. 15 menit kemudian, pesawat berhasil mengudara. Lisa melepas sabuk pengamannya lalu memasang headphone nya, mendengarkan lagu K-Pop seraya menggerak-gerakkan tangannya seolah ia sedang menari.Plak~Lisa terbelalak karena tanpa sengaja tangannya mengenai bahkan menampar gadis yang duduk disebelah nya tadi, dia menelan ludah secara kasar saat gadis itu membuka kacamatanya dan kembali menatap tajam padanya. Ia tercekikik canggung dan mengangkat kedua jari tangannya ✌️."Hihi.. Nona cantik, matamu indah seperti mata kucing, pipimu lucu seperti mandu, hidungmu mancung dan kau sangaaaaaaaaaaat cantik tapi…. Kau akan jauh lebih cantik jika kau tidak marah hihi~“ Rayu Lisa, “Maaf, aku tidak sengaja." Lanjutnya."Akkkhhh~"Lisa berteriak saat poni kesayangannya di tarik oleh gadis di hadapannya karena dia duduk menyamping menghadap pada di gadis, karena kesal jadi tanpa segan dia menggeram lalu mencubit gemas kedua pipi si gadis."Don't touch my Bangs!" Geram Lisa."Aw.. Aw.. Aw."Lisa melepas cubitannya secara kasar setelah gadis itu memekik kesakitan, ia mendengus sebal lalu kembali memasang kembali headphone nya.“Maaf nona.. nona.. Jangan membuat keributan, kalian mengganggu kenyamanan penumpang yang lainnya.“ Tegur pramugari.Lisa mengangguk dan segera menyalakan kembali musik yang ia dengar sebelumnya, sementara si gadis Kembali memasang kacamata hitamnya dan memilih memejamkan mata."Bisnis trip yang memuakkan!" Gumam kesal si gadis.Incheon Internasional Airport, Korea Selatan.Lisa tersenyum lebar saat ia keluar dari gerbang kedatangan di bandara Incheon, ia senang karena akhirnya bisa merantau ke negeri orang untuk mecoba peruntungan di hobinya yang lain. Orang tua yang selalu mendukung apapun yang ia inginkan, itu yang membuat Lisa berani untuk mencoba mencari peruntungan di negeri orang.Lisa tersenyum pada orang-orang yang menyapanya, ada beberapa orang yang mengenalinya karena memang dulu dia atlet terkenal top 1 di Thailand. Setelah merasa cukup menikmati udara Korea Selatan, dia bergegas melanjutkan langkahnya untuk memberhentikan taksi yang akan membawanya kesebuah unit apartment yang sudah ia beli sebelumnya.Saat tiba di tepi jalan Lisa mengerutkan kening, dua mobil mewah berhenti di hadapannya dan tiba-tiba turun dua pria berbadan besar, lengkap dengan setelan seorang bodyguard elit dan beberapa detik kemudian mata Lisa berbinar saat melihat seorang gadis turun dari salah satu mobil mewah tersebut."Woahhh.. Bidadari." Seru Lisa tanpa berkedip."Permisi, jangan menghalangi jalan nona." Usir seorang pria berbadan besar seraya menyingkirkan tubuh Lisa .Kekuatan yang Lisa punya membuat tubuh Lisa tidak bergeser sedikit pun, ia tetap diam di tempat dan terus memandang gadis yang diam berdiri di dekat pintu mobil, sedikit berjinjit dan menoleh ke sana kemari seperti mencari kehadiran seseorang."Tolong minggir nona." Usir tegas seorang pria berbadan besar.Lisa tersadar, ia menoleh menatap pria itu lalu mendengus kesal, "Jangan suka mengganggu kebahagiaan orang ahjussi.""Awas!"Lisa terhuyung dan hampir jatuh saat ada seorang gadis menggeser tubuhnya dari sisi kiri karena Lisa memang menghalangi jalannya, ia menganga saat tahu gadis yang ada didalam pesawat tadi lah yang menggeser tubuhnya, si gadis bermata kucing yang duduk berdampingan dengannya."Nona, kau kasar." Sebal Lisa.Gadis itu menoleh, "Maaf.. apa kita saling kenal?"Lisa mencebikkan bibirnya tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum lebar, menyodorkan tangan untuk berjabat tangan."Hi.. Lisa, Lalisa Manoban." Ucapnya riang.Gadis yang diajak berkenalan oleh Lisa sedikit menurunkan kacamata hitamnya, ia menatap Lisa dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas lalu ia bersmirk dan menggelengkan kepala."Presiden Kim, selamat datang kembali di Korea. Ayo masuk, Tuan sudah menunggu."Gadis yang di panggil presiden Kim itu mengangguk lalu masuk kedalam mobil, mengabaikan tangan Lisa yang masih terulur untuk berjabat tangan. Gadis yang tadi Lisa tatap tersenyum, ia menjabat tangan Lisa."Hi.. Bae Joohyun tapi kau bisa memanggilku Irene, sekertaris presiden Kim."Lisa tersenyum bodoh, ia mejulurkan sedikit lidahnya. Rasa kesalnya pada presiden Kim hilang karna gadis cantik lainnya menjabat tangannya."Lisa, Lalisa Manoban. Senang berkenalan denganmu, jika kau membutuhkan fotografer kau bisa menghubungiku." Ucap Lisa lalu ia memberi wink pada Irene tanpa melepaskan jabat tangan mereka.Irene tersenyum dan mengangguk, namun saat ia akan membuka mulut untuk meminta kartu nama Lisa, ia memekik kesakitan karena sang presiden tiba-tiba mengeluarkan kepalanya saja dari dalam mobil, tangannya terulur ke arah Irene dan ia menjewer telinga Irene begitu saja."Sekertaris genit, ayo!" Tegas presiden Kim."Aw.. Aw.. Yak, Jennie Kim... Sakit bodoh!!" Geram Irene seraya mengusap telinganya dan melepas jabat tangannya dengan Lisa."Oh namanya Jennie Kim." Gumam Lisa seraya mengangguk-anggukan kepala dan tersenyum.Tanpa pamit Irene masuk kedalam mobil, tidak berselang lama dua unit mobil mewah itu melaku meninggalkan area bandara. Lisa pun bergegas memberhentikan taksi untuk segera pergi ke unit nya dan beristirahat.Di dalam mobil Jennie...Jennie terus diam dan menatap keluar jendela sementara Irene terus tersenyum seperti orang idiot, ia terus terngiang senyum Lisa, beberapa kali ia mencium aroma parfum Lisa yang menepel di tangannya kemudian ia terkikik sendirian."Aku hanya meninggalkanmu tiga hari ke Thailand, kenapa saat aku pulang kau jadi gila?"Ledek Jennie.Irene memutar bola matanya malas, "Lisa.. Lisa.. Lisa.., Jennie, apa kau satu pesawat dengan gadis tadi?" Tanya Irene antusias."Bahkan duduk berdampingan." Jawab Jennie seraya memeriksa kuku-kuku tangannya."Woah.. Jinjja? Apa kau tidak sadar dia sangat cantik tapi dia tampan juga, dia juga wangi Jennie... astaga~" Seru Irene lalu ia kembali mencium tangannnya.Jennie menoleh pada Irene seraya mengerutkan kening, "sewangi apapun dia, setampan apapun dia, bukankah tetap saja dia seorang wanita? Hell.. Irene apakah kau tidak normal sekarang?" Tanyanya menatap tidak percaya pada Irene."Omo.. Omo.. Mulutmu ini jahat sekali, tentu saja aku masih normal tapi jika Lisa mau padaku, aku rela menjadi tidak normal untuknya." Irene memekik kegirangan.Tuinggg~Jennie mendorong kepala bagian kanan Irene menggunakan jari telunjuknya hingga kepala bagian kiri Irene terbentur kaca jendela mobil."Kau benar-benar tidak waras, Bae Joohyun." Jennie menggelengkan kepala seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.Irene terkekeh sambil mengusap kepalanya, "Aku rela di ledek tidak waras asal Lisa milikku, ya Tuhan.. pertemukan kami kembali." Ucapnya seraya menatap langit-langit mobil dan kedua tangan ia satukan 🙏.Jennie Kembali menoleh pada sekertarisnya, dia menggerakan jari telunjuk di kening seolah mencoret keningnya setelah melihat tingkah sekertarisnya, tapi setelah itu dia kembali menggeleng dan menoleh keluar jendela tanpa mengatakan apapun lagi.••Karena rasa lapar yang luar biasa , sebelum masuk ke kawasan unit apartment nya Lisa memutuskan untuk makan terlebih dahulu, dia memilih makan di resto bintang 3 yang tidak jauh dari unitnya . Soal keadaan ekonomi Lisa , bisa di bilang dia orang kaya. Selain hasil dia menjadi atlet selama ini yang selalu ia tabung, orang tuanya adalah seorang Chef internasional yang memiliki beberapa cabang resto bintang 5 di Asia dan Eropa, tapi dia lebih senang menggunakan hasil kerja sendiri untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari kecuali jika ada keperluan mendadak barulah dia akan lari pada orang tuanya. Seperti unit nya di Seoul, orang tuanya lah yang membelikan unit itu untuk Lisa."Lumayan." gumam Lisa seraya mengangguk-anggukan kepala setelah satu suap makanan khas Korea itu masuk ke dalam mulutnya.Lisa melanjutkan makannya seraya menatap jalanan yang cukup padat malam ini, dia pintar beradaptasi jadi menyesuaikan perbedaan waktu antara Seoul dan Thailand tentu itu bukanlah hal yang sulit untuknya. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, bola matanya tidak berhenti bergulir dan sesekali ia tersenyum melihat pemandangan lucu yang ia lihat di luar resto.15 menit kemudian acara makan malamnya selesai, Lisa memanggil pelayan untuk membayar bill dan setelah semua selesai dia mengeluarkan kameranya lalu ia gantung di lehernya , ia menggendong kembali ranselnya di punggung lalu keluar dari resto tersebut. Selalin menjadi atlet tapi dunia fotografer adalah hobinya."Spring day."Lisa tersenyum saat sadar ini adalah awal musim semi, awal maret memang hawa masih terasa dingin karena musim dingin baru saja berlalu dan musim panas baru akan tiba. Lisa berjalan pelan di trotoar jalan, beberapa kali ia memotret hal yang menurutnya unik dan layak untuk di foto. Ia tersenyum setiap kali melihat hasil fotonya cukup memuaskan, tapi setelah itu ia kembali membidik ke arah seorang pria paruh baya yang hendak menyebrang namun matanya terbelalak karena di belakang pria itu ada seseorang yang memakai pakaian serba hitam, memakai masker juga topi hitam, memegang sebuah pisau yang siap di arahkan ke kepala pria paruh baya yang hendak menyebrang itu.Tanpa menunda Lisa berlari sekncang yang ia bisa, tepat saat pisau itu akan di tancapkan ke kepala pria paruh baya tersebut Lisa melompat , ia memutar tubuhnya dengan kaki kanan yang ia angkat lalu ia ayunkan ke arah pria berpakaian hitam tadi dan..Bugh! Prak!!Side kick berhasil Lisa lakukan, tendangan mendarat sempurna di dada lawan hingga lawan terpental dan pisau yang di genggam pun jatuh di atas trotoar."Tuan, anda baik-baik saja? Maaf .. Dia akan menusuk kepala anda dengan pisau." Ucap Lisa pada pria paruh baya yang hendak menyebrang itu, dia menggunakan bahasa korea fasih seolah sudah sangat lama dia di Korea."Ah.. Saya baik-baik saja, nak. Terima kasih banyak." Balas si pria paruh baya.Tepat setelah pria paru baya itu seslai berbicara, sudut mata Lisa kembali menangkap pergerakan, ia menarik kasar tubuh pria paruh baya itu lalu ia sembunyikan di balik tubuhnya dan benar saja, pria berpakaian serba hitam itu kembali memegang pisau dan hendak menusuk si pria paruh baya kembali.Lisa kembali menendang tangan pria itu hingga pisau kembali terlempar , saat si pria lengah Lisa memberi pukulan mentah di wajah si pria hingga perkelahian terjadi, Lisa terus menepis dan saat lawan lengah ia sedikit melompat lalu memberikan axe kick , kaki Lisa yang berbalut sepatu booth mendarat sempurna di kepala si pria hingga akhirnya pria itu jatuh tidak sadarkan diri.Pria paruh baya di belakang Lisa tercengang melihat perkelahian yang terjadi sementara Lisa diam berdiri seraya mengatur nafasnya yang terengah-engah, ia menghapus keringat menggunakan punggung tangannya lalu meludah tepat mengenai wajah si pria yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri."Hah .. Beraninya main belakang." Gerutu Lisa."Tuan, anda baik - baik saja?"Lisa menoleh ke belakang saat mendengar suara pria asing lainnya, dia mengangkat sebelah alis saat melihat ada seorang pria berbadan besar dengan setelan rapih menghampiri pria yang dia tolong, tanpa menunda dia berbalik lalu berjalan menghampiri pria paruh baya itu dan menepuk bahunya karena pria itu hanya diam dan terlihat shock."Tuan, anda baik - baik saja kan?"Pria paruh baya tersadar, ia mengangguk lalu menatap Lisa, " Nak, kau asli korea?"Lisa menggelengkan kepala dan tersenyum, " tidak, ah bukan maksud saya. Saya dari Thailand dan baru sampai di Korea beberapa jam yang lalu.""Apa kau kuliah, bekerja atau?"Lisa kembali tersenyum, "Saya sedang mencari pekerjaan, Tuan.""Bisakah kau ikut denganku? Sebagai tanda terima kasih, aku akan memberimu pekerjaan." Balas si pria"Tuan Kim, anda yakin? Kita saja baru bertemu dengannya." Ucap si pria berbadan besar."Aku percaya padanya," Jawab si pria paruh baya seraya menoleh pada pria berbadan besar lalu ia kembali menoleh pada Lisa, "kau mau, kan?"Mata Lisa berbinar , ia mengangguk antusias dan rasa lelahnya hilang begitu saja. Siapa sangka niat menolong tanpa sengaja malah membantu dia untuk mendapat pekerjaan di hari pertama ia tiba di korea? Karena sudah setuju untuk bekerja pada pria yang ia tolong, ia ikut masuk ke dalam sebuah mobil mercedez maybach hitam yang menjemput pria paruh baya itu tanpa pulang ke unit nya terlebih dahulu, tasnya ia peluk di pangkuannya dan sepanjang perjalanan keduanya berbincang. Dari perbincangan itulah si pria paruh baya tau jika Lisa adalah mantan atlet bela diri, tidak heran Lisa bisa bahkan pandai berkelahi.___Keesokan harinya...Karena malam semakin larut dan tidak membawa kendaraan, terpaksa Lisa menginap di sebuah mansion mewah milik pria paruh baya yang ia tolong tadi malam. Saat ini dia baru saja terbangun dari tidurnya, ia menggeliat lalu duduk di atas tempat tidur, tanpa membuka mata dia bergerak merapihkan poni kesayangannya. Di rasa poni nya cukup rapih dan sudah menutupi jidatnya Lisa membuka mata dan tersenyum seraya melihat sekeliling kamar luas itu, furniture mahal jelas mengisi hampir setiap sudut kamar tersebut membuatnya terkagum-kagum.Puas melihat sekeliling kamar itu dia segera turun dari atas tempat tidur lalu dia berjalan ke arah balkon. View kolam renang juga taman belakang mansion itulah yang menjadi pemandangan yang menyegarkan mata Lisa pagi ini tapi beberapa saat kemudian senyum Lisa luntur saat ia melihat seorang gadis di tepi kolam.Lisa membeku tanpa berkedip karena melihat gadis itu membuka bathrobenya, apa yang si gadis lakukan sukses membuat mulut Lisa menganga dan matanya terbuka lebar."Oh my gosh!" Gumam Lisa, dia menjilat bibirnya seraya berpegangan pada pagar balkon tanpa mengalihkan perhatiannya.Lisa yakin gadis itu akan berenang karena si gadis hanya memakai bikini saja setelah bathrobe terlepas. Bokong dan payudara sintal si gadis membuat Lisa meneteskan air liur tanpa ia sadari, dia terus memperhatikan si gadis dan matanya masih saja tidak berkedip saat melihat gadis itu sedang melakukan stretching di pinggir kolam.Di bawah Lisa tepatnya di area kolam renang, gadis itu mengibas-ngibaskan rambutnya yang dia urai begitu saja, tapi saat dia akan menceburkan diri ke kolam dia mengerutkan kening seraya menaruh kedua tangannya di pinggang."Kenapa rasanya seperti ada yang memperhatikanku?" Gumam si gadis seraya menoleh ke sembarang arah, tepat saat ia mengangkat kepala dan melihat ke arah balkon yang ada di lantai 2, matanya terbelalak karena melihat kehadiran Lisa disana, "YAK!!" Teriaknya.Lisa masih diam dan semakin menganga karena gadis itu menghadap padanya, perut rata dan tubuh ideal gadis cantik menjadi pemandangan paginya hari ini. Gadis itu geram melihat wajah mesum Lisa, ia menunduk dan mencari sesuatu hingga akhirnya ia menemukan batu kerikil. Dia menyeringai lalu ia membungkuk dan mengambil kerikil tersebut, setelah berdiari kembali dia melempar kerikil itu sekuat tenaga ke arah Lisa.Wushh~ Tuk!!Lisa memekik kesakitan seraya menutup area selangkangan nya, batu itu masuk ke celah pagar balkon dan mendarat sempurna di atas selangkangan Lisa. Lisa menangis karena miliknya sedang ereksi sempurna lalu terkena lemparan batu, rasa sakitnya membuat kaki Lisa lemas bukan main ."Oh Kintamaku." Lirih Lisa seraya terus mengelus miliknya.Si gadis menggeram di bawah, ia meraih dan memakai bathrobenya seraya melangkah ke arah pintu untuk masuk ke dalam rumah karena dia berniat menemui Lisa di atas sana.Dengan langkah tergesa gadis itu masuk ke dalam mansion seraya mengikat kembali tali bathrobenya, ia terus menggeram dan mengumpat karena merasa sangat kesal, dia merasa di intip secara diam-diam oleh orang asing yang entahlah kenapa ada di mansionnya.“Hey, young princess .. Kenapa?”“Jennie .. Apa yang terjadi?”Dua pertanyaan itu keluar dari mulut seorang pria paruh baya dan seorang gadis yang sedang bersantai di living room. Jennie tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang ada dia terus langkah tergesa hingga akhirnya ia menaiki tangga membuat dua orang yang bertanya padanya terheran-heran karena Jennie tidak pernah sekali pun menggunakan tangga, meski hanya naik ke lantai 2 biasanya dia selalu memakai lift di mansion tersebut.Tidak berselang lama Jennie tiba di depan pintu kamar tamu dimana kamar itu memang di isi oleh Lisa, dengan bantuan seorang maid Jennie berhasil membuka pintu tersebut. Ia masuk dan menatap tajam pada Lisa yang sedang menangis, berlutut sedikit membungkuk dan menutup selangkangan nya, bahkan Lisa masih berada di balkon kamar tamu mansion megah keluarga Kim.“Siapa yang mengizinkan mu tidur di kamar ini?” Tanya Jennie marah seraya melangkah mendekati Lisa, kedua tangannya kembali ia taruh di pinggang.Lisa mengangkat kepala menatap Jennie, “tuan Kim.” Jawabnya apa adanya.“Kenapa kau mengintip, hah? Tidak sopan sekali!” Ketus Jennie.“Hiks .. Aku tidak mengintip nona. jangan salahkan aku, salahkan mataku yang tidak bisa menyianyiakan kesempatan untuk melihat pemandangan indah.” jawab Lisa di sela tangisnya.Jennie menganga mendengar jawaban Lisa, ia menggeram lalu menjambak rambut Lisa, memukuli bahu Lisa sekencang yang ia bisa, tampang gemas dan kesal terlihat menghiasi raut wajah cantik Jennie.“Aw .. Aw! Yak! Aduhh~”Lisa merangkak untuk menghindari Jennie hingga akhirnya dia berhasil masuk ke dalam kamar. Setelah berhasil menghindar Lisa berdiri lalu dia berlari, keduanya berlarian di dalam kamar tamu itu. Jennie terus berlari dan berusaha memukul Lisa, sedangkan Lisa berlari untuk menghindar dari amukan Jennie.“Tidak kena .. Wlee~”Lisa sedikit menungging lalu menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan seraya menaruh jempol tangan kanan di telinga kanan dan jempol tangan kiri di telinga kiri, dia menoleh menatap Jennie sambil menjulurkan lidah meledek. Apa yang Lisa lakukan jelas membuat Jennie semakin kesal, ia mengepalkan kedua tangannya sekilas lalu ia meraih guci kecil yang menjadi pajangan di kamar itu. Lisa terbelalak, ia berlari menghindar namun tepat saat Jennie akan melempar guci tersebut pintu kamar terbuka dari luar hingga membuat Jennie menghentikan aksinya.“Ada apa ini?” Tanya seorang pria paruh baya.Jennie mendengus kesal lalu memeluk guci yang tadi sudah siap untuk ia lempar, “siapa dia dad? Kenapa makhluk menyebalkan itu ada disini, dia mengintip ku di kolam renang.” Adunya.“Aku tidak sengaja tuan, aku baru saja bangun tidur lalu melihat pemandangan dari balkon. Balkon mengarah ke kolam renang, tidak salah kan?” Elak Lisa.“Tapi kenapa kau terus menatapku dengan tampang menjijikanmu itu?” Kesal Jennie.“Mwo? Menjijikan katamu? Ck .. I'm so hot." Balas Lisa percaya diri.“Hot? Hot lubang hidungmu." Geram Jennie lalu ia kembali mengangkat guci yang ia peluk untuk ia lempar ke arah Lisa.Guci terlempar namun karena Lisa memiliki refleks yang bagus, dengan mudah dia menangkap lalu memeluk guci tersebut.Lisa menyeringai, "mweheheh .. Apa? Mau melempar apalagi? Ayo." TantangnyaDemi segala dewa di dunia, Jennie merasa sangat kesal pada Lisa. Ia menghentak-hentak kaki kelantai seraya mengepalkan kedua tangannya.“Sudah, Jennie kau mandi dan daddy tunggu di ruang makan," Ucap si pria paruh baya lalu ia menoleh pada Lisa, "dan kau, mandi .. Saya tunggu di ruang makan.”Jennie mendengus kesal dan pergi begitu saja dari kamar tamu tersebut di ikuti oleh sang daddy, Lisa pun segera menaruh guci di tempat asalnya, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk segera mandi dan memeriksa miliknya.20 menit kemudian....“Jadi.. namanya Lisa, Lalisa Manoban. Dia berasal Thailand, semalam dia menolong daddy dari orang suruhan pesaing kita yang berniat menyingkirkan daddy, ia datang ke Korea untuk mencoba peruntungan di negara kita dan dia adalah mantan atlet bela diri yang ingin mencari pekerjaan baru di Seoul, dia sudah bercerita pekerjaan apa yang dia cari tapi karena dia memiliki keahlian lain daddy menyarankan untuk menjadi bodyguard dan asisten pribadi mu saja.”Uhuk ~ uhuk ~Jennie tersedak makanan yang sedang ia kunyah setelah mendengar ucapan sang ayah, mereka memang sedang sarapan bersama setelah Lisa dan Jennie turun dari kamar masing-masing. Lisa sigap memberikan air minum pada Jennie, setelah batuk nya mereda, Jennie menatap tidak percaya pada sang ayah.“Are u sure, dad? Oh C'mon, masih ada Jackson yang menjagaku.” Keluh Jennie.“Jackson akan menjaga kakakmu Jisoo, karena sebentar lagi dia akan menjadi CEO di perusahaan kita yang bergerak di bidang lain.” Ucap sang daddy.Jennie dan Jisoo adalah kakak beradik, mereka anak korban brokenhome. Kedua orang tuanya bercerai karena sebuah masalah besar yang keduanya pun tidak tahu apa masalahnya, Jisoo ikut sang ibu di Auckland dan Jennie ikut dengan sang ayah di Korea. Kedua orang tuanya akur meski bercerai jadi hubungan mereka baik-baik saja, namun karena sang ibu menikah lagi dan Jisoo tidak nyaman harus tinggal dengan ayah sambungnya, Jisoo memilih kembali ke Korea dan tinggal bersama adik dan ayah kandungnya.Jennie hanya bisa mendengus kesal karena ia tau jika sang ayah sudah membuat peraturan dia tidak bisa menolak aturan itu. Meski dia kesal pada Lisa, mau tidak mau dia harus pasrah dengan keputusan sang ayah. Semalam Lisa sudah menyetujui tawaran pekerjaan dari ayah Jennie jadi mulai hari ini dia akan bekerja menjadi bodyguard dan asisten pribadi Jennie, jauh melenceng dari niat awalnya datang ke Seoul, ia ingin menjadi fotografer tapi ujungnya dia malah menjadi bodyguard. Tidak masalah bagi Lisa apapun pekerjaannya, apalagi gaji yang di tawarkan oleh tuan Kim sangat menggiurkan dan terpenting, pekerjaannya Halal.“Dan Lisa .. Namaku Kim Woo Bin, semalam kau hanya tahu dan memanggilku Tuan Kim saja.”Lisa tersenyum dan mengangguk, “Nde tuan.”“Kau asli Thailand?” Tanya Jisoo.Lisa kembali mengangguk, “Nde presiden, saya asli Thailand. Mau berlibur ke sana?” Ajaknya.Jisoo terkekeh, “kita atur jadwalnya nanti.”Lisa hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun, mereka kembali melanjutkan sarapan dalam kondisi hening. Sesekali Jennie melirik Lisa dan ia sadar apa yang Irene katakan benar. Lisa cantik dan tampan tapi tingkah Lisa sangat menyebalkan.___Kim CompanyMobil mercedez Maybach itu melaju perlahan di pelataran sebuah gedung perusahaan, tidak berselang lama mobil berhenti tepat di depan pintu utama gedung perusahaan itu. Beberapa detik kemudian Lisa turun dari pintu pengemudi, dia berbalik lalu membukakan pintu penumpang dan detik berikutnya Jennie turun dari dalam mobil.Pekerjaan Lisa benar-benar berbeda dari pekerjaan yang dia harapkan sebelumnya, selain menjadi bodyguard peribadi tapi dia merangkap menjadi sopir dan asisten pribadi Jennie juga, tapi karena itu pilihannya jadi dia menerima semua pekerjaan yang Woo Bin percayakan padanya.Di dalam lobby ada seseorang yang terlihat berbinar melihat kehadiran Lisa, orang itu tidak lain adalah Irene. Irene sedang menanti kedatangan Jennie di lobby perusahaan karena memang seperti itu biasanya. Setelah turun dari mobil Jennie berjalan anggun namun berwibawa dengan setelan CEO-nya dan masuk ke gedung perusahaan tersebut.Irene menyambut hangat namun ia terus curi pandang pada Lisa yang berjalan mengikuti Jennie, melihat gelagat Irene membuat Jennie menggelengkan kepala. Lisa membuat Irene tidak fokus bahkan dia lupa menyapa Jennie karena sibuk curi pandang pada Lisa, sementara Lisa hanya tersenyum manis seraya terus berjalan mengikuti Jennie.Melihat Lisa semakin menjauh membuat Irene tersadar, ia terbelalak dan berlari mengikuti Jennie. Larinya semakin kencang saat melihat Jennie sudah masuk ke dalam lift, Jennie sudah berdiri di dalam lift menunggu Lisa dan Irene masuk, tapi tepat saat Lisa akan masuk Irene yang berlari kesulitan menghentikan larinya, ia menabrak punggung Lisa hingga akhirnya Lisa terhuyung ke depan dan menabrak Jennie yang berdiri di hadapannya.Dorongan yang Irene lakukan membuat Jennie mundur, punggungnya membentur dinding lift dan tubuh nya terhimpit oleh Lisa yang juga terdorong oleh Irene. Entah itu sebuah kesialan atau justru keberuntungan, bibir Lisa mendarat sempurna di bibir Jennie . Pintu lift tertutup dan kondisi di dalam lift hening, tangan Jennie berada di dada Lisa sedangkan kedua tangan Lisa ada di dinding lift tepat di kedua sisi bahu Jennie dan tangan Irene memeluk pinggang Lisa.Mata Jennie dan Lisa terus bertemu, keduanya diam dan lift terus hening. Lisa terbawa suasana, kedua payudara Irene menempel di punggungnya dan bibir nya menempel di bibir Jennie, tanpa merasa bersalah ia malah mencoba melumat bibir Jennie, jantung keduanya berdetak kencang seolah tidak ada siapapun lagi di sana. Lisa memejamkan mata menikmati kenyal dan lembutnya bibir Jennie, melihat Lisa memejamkan mata membuat Jennie tersadar, dia mendorong kasar tubuh Lisa hingga Lisa terhuyung ke belakang dan mendorong tubuh Irene.Plak!“KURANG AJAR!” Teriak Jennie marah setelah memberi tamparan di pipi Lisa Lisa.Karena kehilangan keseimbangan Lisa terhuyung ke belakang hingga akhirnya punggung Lisa menghimpit tubuh Irene di pintu lift. Irene memekik kesakitan karena kepala nya terbentur pintu lift, mendengar pekikan Irene akhirnya Lisa tersadar dia segera berdiri tegak, dengan segala kerepotan yang ada di tangannya, ia membantu Irene berdiri.“Maaf presiden Kim, selamat pagi.” Sapa Irene kikuk.Jennie mendengus kesal, ia mendelik pada Lisa lalu dia mengangkat tangan dan menunjukan jari tengahnya pada Lisa membuat Lisa tercengang lalu membungkuk berkali-kali.“Maaf presiden Kim, maaf. Saya terbawa suasana.” Cicit Lisa.Jennie mendengus sebal, ”Maaf, maaf. Belum ada 24 jam aku bersamamu tapi sudah dua kali kau memancing emosiku, Lalisa!!” Omelnya.“Ya karena aku tidak boleh memancing nafsu birahi mu, kan?” Celetuk Lisa.Mendengar jawaban Lisa membuat Jennie menganga, tanpa mengatakan apapun ia kembali memukuli Lisa. Irene hanya menatap bingung kedua orang di hadapan nya, dalam benaknya ia bertanya-tanya; ‘kenapa Jennie bisa bersama Lisa? Dua kali memancing emosi, itu artinya Lisa bersama Jennie sudah dari waktu yang lama. Kapan Jennie bertemu dengan Lisa lagi?’Ting!Pintu lift terbuka tepat di lantai 40 gedung perusahaan tersebut tapi karena Irene sedang bersandar di lift hampir saja dia terjengkang ke belakang tapi karena Lisa melihat itu jadi dia refleks memeluk pinggang Irene. Keduanya diam saling bertatapan tanpa peduli ada Jennie di sana.Apa yang terjadi di hadapannya membuat Jennie semakin kesal, ia menendang kaki Lisa membuat Lisa dan Irene tersadar dan gelagapan. Irene merasa debaran jantungnya berbeda saat dia menatap mata Lisa, sementara Lisa? Entah kenapa dia merasa terpergok berselingkuh oleh Jennie.“Maaf presiden.” Cicit Lisa dan Irene bersamaan.Jennie memutar bola matanya jengah, “Maaf .. maaf saja yang bisa kalian ucapkan dari tadi, aku bosan mendengarnya." Ketusnya, selesai berbicara ia segera keluar dari dalam lift seraya menyenggol bahu Lisa.Melihat kepergian Jennie membuat Irene dan Lisa merasa takut, tanpa menunda mereka bergegas mengikuti Jennie. Tanpa peduli Jennie akan mengamuk lagi Lisa berlari lebih kencang lalu sepatunya berseluncur di lantai hingga tiba di depan sebuah pintu yang memiliki tulisan;Chief Executive Officer Room“Silahkan, presiden Kim.” Ucap Lisa sesaat setelah dia membukakn pintu untuk Jennie.Jennie hanya mengangguk lalu masuk ke dalam, ia memberi kode oleh jari telunjuknya agar Lisa mengikutinya. Lisa mengangguk patuh dan mengikuti Jennie ke dalam, setelah menutup pintu ruangan atasannya dia berjalan ke arah meja kerja Jennie, tiba di samping meja dia menaruh tas dan botol minum Jennie di meja lalu mengaitkan coat di sandaran kursi kebanggaan Jennie. Melihat Jennie hanya berdiri dan diam di sebelahnya dengan tergesa Lisa menarikan kursi untuk Jennie.“Silahkan duduk, tuan putri.”Jennie menoleh secara kasar pada Lisa, “what?”Lisa menyengir kuda, “ah maksud saya .. silahkan duduk, presiden.”Tanpa berkata apapun Jennie duduk di kursi kerjannya, jari lentiknya menekan tombol on pada iMac yang ada di hadapannya lalu ia memutar kursi kerjanya menghadap pada Lisa yang masih setia berdiri di dekat kursi kerjanya.“Bisakah kau merubah penampilan? Aku tidak suka kau memakai Jeans seperti ini, tidak rapih sekali.” Ucap Jennie.Lisa mengangguk, “Tentu saja bisa, bagaimana peraturannya dan penampilan seperti apa yang anda suka, presiden?" Jawabnya.Jennie mengangkat sebelah alis lalu memutar kursi kerjanya, ia mengetik kata kunci di situs web-nya lalu muncul beberapa foto penampilan bodyguard elit, ia mengangguk-anggukan kepala lalu menoleh pada Lisa.“Jika kau mengantarku ke acara resmi seperti pergelaran busana, meeting penting atau acara resmi lainnya kau harus memakai pakaian rapih, pakailah kemeja, dasi, jas atau blazer mungkin, yaaa seperti penampilan bodyguard Elite pada umumnya dan pakai selalu interkom yang terhubung denganku." Jawab Jennie.Lisa mengangguk, “Roger presiden, lalu?”“Jika sedang mengantarku bekerja di perusahaan seperti sekarang, semi formal pun tidak apa, boleh memakai Jeans tapi jangan berwarna terang seperti ini, tetap pakai kemeja dan intinya harus terlihat rapih, bersih dan wangi." Lanjut Jennie.Lisa kembali mengangguk, “hanya itu?”Jennie menggelengkan kepala, “tidak, jika kau sedang mengantarku liburan, shopping atau hang out. Pakailah setelan cassual sesukamu, sesuai usiamu tapi ya harus rapih dan wangi juga, yaa.. Anggap saja sedang mengantar teman, jangan menunjukan kau bodyguardku. Mau memakai dress pun tidak apa.”Lisa tercengang, “aku tidak mau memakai dress karena tidak leluasa berjalan, nanti dressnya terbang-terbang presiden Kim lalu si Panbes Kintama terlihat orang.”“Kau wanita Lisa, kenapa tidak mau memakai dress? Dan siapa itu, siapa? Panbes apa?” Tanya Jennie bingung.“Saya wanita super karena saya punya ini presiden,” Lisa terkikik seraya menunjuk selangkangannya, “saya seorang Intersex.”Jennie terbelalak dan langsung berdiri, “are u sure?”“Iya, saya serius. Apa tuan Kim tidak memberitahu?” Tanya Lisa.“Tidak, aihh daddy~” Gerutu Jennie seraya menepuk keningnya.“Anda menyakitinya tadi pagi presiden Kim.” Cicit Lisa, ia menunduk seraya memaninkan jari tangannya.“Menyakiti siapa?” Tanya Jennie bingung.“Panbes Kintama.” Tunjuk Lisa pada selangkangannya.Jennie tertawa seraya menampar pelan pipi Lisa, “apa kau tidak memiliki nama lain? Astaga .. Nama apa itu?“Itu ada artinya, presiden.” Sombong Lisa seraya melipat kedua tangannya di bawah dada.Jennie mengangguk-anggukan kepala seraya ikut melipat kedua tangannya di bawah dada, “oh benarkah? Apa arti singkatan apa itu?” Jawabnya di sela kekehannya.“Panbes Kintama = PANjang BESar Kuat Imut daN TAhan laMA.”Jennie tercengang setelah mendengar jawaban Lisa tapi beberapa saat kemudian ia tertawa terbahak–bahak, ia membungkuk lalu duduk secara kasar di kursi kerjanya seraya memegang perutnya. Lisa ikut terkekeh karena melihat tawa lepas Jennie, ia tidak menyangka di balik sinis, galak dan juteknya Jennie ternyata Jennie wanita baik dan tidak segalak yang dia pikirkan.Jarum jam sudah menunjuk angka 12 yang itu artinya waktu istirahat dan makan siang akhirnya tiba. Di saat orang lain sudah bersiap untuk pergi ke kafetaria atau resto untuk menyantap makan siang mereka tapi Jennie masih sibuk meeting. Meskipun sudah merasa lapar Lisa setia menunggu Jennie di depan pintu ruang meeting, dia duduk bersandar dan bertumpang kaki di sofa yang tidak jauh dengan pintu seraya memainkan ponselnya untuk bertukar kabar dengan sang ibu di Thailand.Lisa menceritakan pekerjaan apa yang dia dapat, sang ibu merasa tidak enak karena anak tunggalnya harus menjadi seorang asisten tapi Lisa menjelaskan jika menjadi asisten pun bukan asisten rumah tangga, melainkan asisten CEO dari perusahaan terbesar se-Asia, Eropa dan Amerika. Dia juga menjelaskan jika dia merangkap menjadi seorang bodyguard dan gajinya menjanjikan, rencananya nanti Lisa akan membuka studio foto di Thailand dan Korea dari hasil tabungan dia bekerja menjadi asisten saat ini.25 menit menunggu akhirnya Jennie keluar dari ruangan meeting , Lisa langsung berdiri dan membungkuk hormat pada Jennie. Jennie hanya mengangguk dan memberi kode dengan lambaian tangan agar Lisa mengikutinya karena dia sendiri masih berbincang dengan clientnya . Lisa mengikuti langkah Jennie, ia berjalan tepat di belakang Jennie dan berdampingan dengan Irene, irene terus mencuri pandang pada Lisa sementara Lisa sendiri sedang asyik memperhatikan Jennie dari belakang, wajah Jennie terlihat luar biasa cantik jika ia sedang berbincang serius, sesekali gummy smilenya muncul membuat Lisa memekik gemas dalam hati.“Oke Mr.Alex, senang bisa bekerja sama dengan anda. Mungkin nanti saya akan turun langsung ke Daegu untuk melihat pabrik di sana.” Ucap Jennie.Pria bernama Alex yang tidak lain adalah client dari Paris mengangguk, “Oke. Thanks presiden, saya senang bisa bekerja sama dengan anda dan perusahaan sebesar Kim Company. Nice to meet you, presiden.” Ucapnya seraya memeluk pinggang Jennie dan bercipika cipiki membuat Lisa menganga apalagi melihat Jennie memegang bahu pria tersebut dan membalas dengan senang hati.“Kau terkejut?” Bisik Irene.Lisa menoleh dan mengangguk, “Yeah, lumayan.” Jawabnya jujur.“Itu sudah biasa jika bersama client dari luar Lisa, apalagi tuan Alex memang client lama.” Ungkap Irene.Lisa mengangguk-anggukan kepala tapi dia tidak mengatakan apapun. Setelah mr Alex masuk ke dalam lift umum, Lisa segera menekan tombol up di lift pribadi Jennie. Melihat Jennie seperti sedang membersihkan tangannya, dengan sigap Lisa mengeluarkan kemasan tissue basah kecil dari saku celananya, pintu lift terbuka Lisa , Jennie dan Irene masuk terlebih dahulu ke dalam lift.“Biar saya bersihkan tangannya, presiden.” Ucap Lisa.Jennie tersenyum tipis seraya menyodorkan telapak tangannya pada Lisa, dengan senang hati Lisa memegang tangan Jennie lalu membersihkan telapak tangan Jennie menggunakan tissue basah, setelah kedua tangan Jennie dia lap menggunakan tissue basah Lisa memberikan setitik cairan gel antiseptik di tangan Jennie yang langsung Jennie ratakan. Irene mengerucutkan bibirnya melihat pemandangan itu, ia cemburu tapi mau bagaimana lagi?“Mau makan di luar, di cafetaria perusahaan atau di ruangan anda, presiden?” Tanya Lisa.Ting!Jennie keluar dari lift seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, “uhm miss Bae, apa masih ada pekerjaan atau meeting lagi?” Tanyanya.Sambil melangkah Irene memeriksa jadwal Jennie di iPad-nya, “masih ada meeting tapi nanti sore, client masih dalam penerbangan.”Jennie mengangguk-anggukan kepala, “baiklah, saya akan pergi makan siang di luar dulu. Anda mau ikut?" Tanyanya di akhir kalimat.“Tentu, jika gratis mana mungkin menolak?” Jawab Irene.Jennie memutar bola matanya malas tanpa mengatakan apa pun, karena pintu ruangan sudah di buka oleh Lisa jadi ia segera masuk ke dalam . Irene adalah sahabat Jennie jadi interaksi mereka kadang profesional sebagaimana Bos dan anak buah, kadang seperti sahabat pada umumnya.Saat masuk ke dalam ruangan, Jennie terbelalak karena melihat kehadiran seseorang. Diaa berseru dan langsung menghampiri orang tersebut di mana memang orang itu sudah berdiri menyambut Jennie, keduanya berpelukan sekilas sebelum akhirnya mereka berdiri berhadapan. Lisa tersenyum kecut dan memilih diam di luar lalu menutup pintu ruangan Jennie.“Kapan kau pulang, oppa?” Tanya Jennie.Seseorang yang Jennie panggil oppa itu tersenyum, “aku baru mendarat dan aku merindukanmu, jadi aku langsung kesini saja.”“Uuu~ i miss you too, lama sekali di Aussie.” Rengek Jennie sebal.“Maaf sayang, sekarang aku sudah pulang kan? kita akan sering bertemu . Ayo makan siang Bersama” Ajaknya.Jennie mengangguk lalu berjalan ke arah kursi meja kerjanya, dia mengambil tas dan coat nya lalu dia kembali menghampiri seseorang itu, Jennie menggandeng lengan pria tersebut lalu keduanya keluar dari ruangan. Di luar ruangan, Irene dan Lisa sudah siap untuk pergi. Jennie menyerahkan tas dan coatnya pada Lisa yang langsung Lisa terima.“Oh iya, oppa .. Ini Lisa, asisten dan bodyguard pribadiku,” Jennie memperkenalkan Lisa pada pria tersebut lalu ia menoleh pada Lisa, “dan Lisa, ini Kim Taehyung ... Kekasihku.”Lisa menghela nafas dan memaksakan senyumnya, ia mengulurkan tangan yang langsung Tae terima“Lisa, Lalisa Manoban.” Ucap Lisa.Tae tersenyum, “Kim Taehyung, Tae atau V.”Lisa mengangguk dan tersenyum , keduanya melepas jabat tangan lalu Lisa segera berjalan menuju lift pribadi Jennie untuk menekankan tombol pintu lift untuk Jennie. Setelah pintu lift terbuka keempatnya masuk ke dalam lift, Lisa menjadi murung apalagi melihat Jennie dan Tae terus bergandengan tangan, berbincang dan terkikik bersama.___“Dia itu first love Jennie, mereka sudah menjalin hubungan semenjak masa kuliah dulu. Tapi aku tidak suka pada pria itu.” Ungkap Irene.Lisa mengangguk-anggukan kepala, “kenapa tidak suka?”“Sudah berkali-kali aku dan sahabatku yang lain memergoki di sedang bersama wanita lain tapi Jennie di buta kan oleh cinta jadi dia tidak percaya pada kami jika kami memberitahunya dengan alasan karena Jennie tidak pernah memergoki sendiri.” Jawab Irene.“Cinta memang bisa membuat orang buta, saking butanya tidak bisa melihat mana toyota camry dan mana lamborghini.” Ucap Lisa seraya menggeleng-gelengkan kepala tapi detik berikutnya dia menyuapkan makanan ke mulutnya.Lisa dan Irene satu meja sedikit berjauhan dengan meja Jennie dan Tae. Lisa terus mencuri pandang pada Jennie, berusaha sigap memperhatikan Jennie .“Lisa, kau memiliki kekasih?” Tanya Irene.Lisa tersenyum, “Tidak, aku trauma pacaran.” ia terkekeh begitupun Irene.“Kenapa trauma? Apa kau di perkosa?”Lisa tertawa hingga hampir tersedak , ia melambai - lambaikan tangan cepat lalu minum terlebih dahulu, selesai minum Lisa kembali berbicara.“Tentu saja tidak, aku atlet dulu jadi aku sering pergi keliling beberapa negara. Saat aku pulang pertandingan, aku memergoki dia sedang bercumbu dengan orang lain padahal dia my First Love, sakitnya sampai ke tulang.” Ungkap Lisa dan ia semakin murung.Irene tersenyum lalu meraih dan menggenggam tangan Lisa yang ada di atas meja, “nanti kau akan menemukan penggantinya, first love memang tidak selalu indah.”Lisa tersenyum lalu melirik pada Jennie, “aku sudah menemukan penggantinya.” Jawabnya.“Yaaa semoga kau bahagia setelah itu, jangan terpuruk karena masa lalu.”Lisa mengangguk, “tentu saja, untuk apa aku terpuruk karena cinta yang menyakitkan? Ck .. Dunia masih berputar, masih banyak cinta yang lebih indah.”Lisa menarik tangannya dari genggaman tangan Irene, irene hanya bisa menghela nafas dan mengikuti Lisa untuk melanjutkan makan siang mereka.___Kim Company - 18.15 pm KSTJennie baru keluar dari ruang meeting saat matahari sudah tenggelam, karena seperti yang Irene bilang jika sore tadi Jennie ada meeting kembali dan meeting baru selesai saat matahari sudah terbenam. Lisa kembali menyambut Jennie, keduanya berjalan bersama untuk menuju lift yang akan membawa ke lantai 40 dimana ruangan Jennie berada.“Aku dengar kau hobi fotografi?” Tanya Jennie saat mereka sudah berada di dalam lift.Lisa mengangguk, “Yeah .. Saya senang mengabadikan momen-momen tertentu lewat hasil jepretan kamera.”Jennie mengangguk-anggukan kepala, “jika begitu bolehkah saya meminta tolong untuk memotret sebuah produk yang akan launching dari Kim Company? saya akan membayarmu nanti di luar gaji yang daddy berikan untukmu.”“Dengan senang hati, presiden.”“Baik, jika begitu besok bawa kameramu ke perusahaan. Akan ada dua sesi, yang pertama parfum dan yang kedua pakaian. Perusahaan kita bergerak di bidang Fashion , kosmetik dan perhiasan jadi ya jika suatu saat nanti ada Job memotret lagi, saya tidak akan sulit mencari fotografer, itu pun jika hasil memotretmu besok memuaskanku.” Ucap Jennie.“Saya yakin bisa memuaskan anda, presiden. Mau berapa sesi pun saya kuat, Kintama.”Jennie menoleh, “itu beda konteks Lalisa!” Dia tertawa seraya memukul kepala Lisa, Lisa pun ikut tertawa sedangkan Irene hanya diam dan terlihat bingung karena tidak mengerti dengan pembahasan Jennie dan Lisa.“Apa itu Kintama?” Tanya Irene tapi Lisa dan Jennie malah saling memandang , bukan menjawab pertanyaan irene keduanya malah tertawa terbahak-bahak terlebih Jennie, “Kalian Gila!” Gerutunya.Irene sudah tahu kenapa Lisa bisa bekerja dengan Jennie, apa posisi Lisa selain asisten dan sejak kapan Lisa bekerja dengan Jennie. Dia senang karena itu artinya dia akan sering bertemu dengan Lisa.Tiba di ruangan Jennie , Lisa langsung menyambar Tas , botol minum dan coat milik Jennie sedangkan Jennie sendiri membereskan meja kerja nya. Setelah semua siap, mereka bergegas keluar lagi dari ruangan Jennie untuk pulang karena malam sudah tiba dan pekerjaan sudah selesai.Tidak berselang lama Lisa dan Jennie sudah tiba di lobby, merasa udara sedikit dingin Lisa segera memasangkan Coat yang ia bawa di bahu Jennie sebelum akhirnya ia membukakan pintu mobil untuk Jennie, setelah Jennie masuk dan duduk nyaman Lisa segera menutup pintu penumpang belakang lalu dia segera menyusul masuk ke dalam mobil. Tidak berselang lama , mercedez maybach yang Lisa kemudikan melaju membelah jalanan kota Seoul.Sepanjang perjalanan keduanya diam , hanya suara alunan lagu yang Lisa putar yang terdengar di dalam mobil. Tiba di persimpangan Lisa menghentikan mobilnya karena traffic light berubah merah, dia melirik Jennie dari spion yang ada di dalam mobil, tanpa sadar dia tersenyum saat melihat Jennie sedang asyik melihat keluar jendela.Sedang asyik menunggu lampu berubah hijau tiba-tiba saja ada sebuah bmw berwarna putih berhenti di sebelah mobil mereka, Jennie menegakkan duduknya karena dia mengenali mobil tersebut, beberapa saat kemudian ia menegang karena benar saja , di dalam mobil itu ada Tae dengan seorang wanita , tampak mesra bahkan dengan mata kepalanya sendiri Jennie melihat Tae mencium pipi si wanita yang duduk di sebelah Tae.“Fuck!” Umpat Jennie.Lisa mengerutkan kening setselah mendengar umpatan atasannya, dia kembali mengintip Jennie dari spion tapi karena dia melihat Jennie menangis sambil menatap keluar jendela Lisa segera mengikuti arah pandang Jennie, melihat Tae sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil Lisa meremas kencang stir mobil dan merasa marah meski ia tidak tahu apa sebabnya.“Lisa.” Rengek Jennie.Lisa tersenyum, “kemarilah, pindah duduk di sampingku.”Jennie mengangguk lalu ia membuka stilettonya dan pindah ke kursi penumpang depan, masih ada waktu 90 detik sebelum traffic light berubah hijau jadi tidak sulit bagi Jennie untu pindah tempat duduk.“Gunakan bahuku , kemarilah. Aku siap menjadi teman mu.”Tanpa menunda atau mengatakan apapun Jennie langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Lisa, memeluk pinggang Lisa lalu menangis terisak di bahu Lisa. Lisa diam saat Jennie meremas kemeja bagian depannya, tanpa canggung dia mengelus kepala Jennie dan membiarkan Jennie menangis di bahu nya. Entah kenapa keduanya sama-sama tidak merasa canggung meski pertemuan pertama di dalam pesawat dan pertemuan kedua di mansion mereka memiliki kesan menyebalkan tapi Jennie sama sekali tidak canggung pada Lisa padahal tau jika Lisa bukan wanita seutuhnya, mungkin karena tengil dan easy going nya Lisa atau cara Lisa bekerja membuat Jennie nyaman? Entahlah.“Sssttt .. Buatlah janji untuk bertemu, aku sudah memotretnya dan minta penjelasan padanya. Jangan asal menuduh, arraseo?”Jennie mengangguk seperti anak kecil, “malam ini kau akan pulang?”“Iya, aku harus ke unit ku menyimpan tas dulu.”“Aku ikut, jika kau tidak lelah.. Ayo pergi ke Bar, aku butuh alkohol.”“Baiklah presiden Kim yang cantik jelita, kesayangannya Kintama.”Jennie memukul kencang perut Lisa, dia menegakan duduknya lalu dia tertawa seraya menghapus air matanya seperti anak kecil. Lisa ikut terkekeh dan membantu Jennie menghapus air matanya.__Octagon BarLisa , Jennie , Irene dan Jisoo sedang berada di sebuah Bar. Bar itu adalah Bar Elite yang tidak bisa sembarangan kalangan masuk ke sana. Biasanya Bar tersebut di penuhi oleh para pengusaha meski sering kali beberapa idol, aktris atau aktor korea juga datang ke Bar tersebut. Jennie terus minum, dia melampiaskan emosinya pada minuman dan mereka membiarkan itu karena Lisa sudah menceritakan apa yang terjadi , mereka mengerti meski masih tetap saja Jennie menyebut-nyebut nama Tae.“Babe.”Semua menoleh ke arah suara, muncul seseorang yang langsung menghampiri meja mereka dan mengecup bibir Jisoo. Dia tidak sendiri karena dia membawa seseorang yang tidak lain adalah sahabatnya.“Lisa, ini kekasihku .. Park Chaeyoung atau kau bisa Rosé.”“Hi .. Lisa, Lalisa Manoban.”Lisa dan Rosé berjabat tangan seraya berbincang kecil sebelum akhirnya dia mengenalkan seseorang yang dia bawa.“Guys .. Ini sahabatku, Kang Seulgi.”“Hi .. Ugi, Kang Seulgi.”Setelah berkenalan mereka bergabung dan berbincang bersama dalam satu meja, meski Lisa terus memperhatikan dan mengontrol alkohol yang Jennie minum. Dari perbincangan itu Lisa tahu jika Rosé adalah pengacara yang bekerja sebagai kuasa hukum di Kim Ent. Kim Ent adalah bisnis agensi yang di kelola oleh Jisoo. Sementara Seulgi adalah sahabat sekaligus sekertaris Rosé dan dari situ Lisa juga tahu jika Rosé dan Seulgi sama dengannya, sama-sama memiliki makhluk imut.Suara hentakan musik masih menggema membuat jantung terasa berdebar, kerlap-kerlip lampu membuat kepala yang sudah pusing terasa semakin pusing. Suara tawa lepas dan suara musik terdengar menyatu dan berbaur, kepulan asap rokok dan aroma alkohol membuat hidung terasa pengap namun itu tidak membuat orang-orang tidak betah di sana.Malam semakin larut, jalanan pun sudah terlihat lengang namun di dance floor sebuah bar, orang-orang masih terlihat penuh dan asyik menggoyangkan tubuh mengikuti hentakan irama musik yang seorang dj mainkan. Jennie dan Lisa ada dalamnya, Jennie ingin menari dan karena Lisa khawatir terpaksa dia menemani atasannya.Milik Lisa terasa sudah sangat sesak karena Jennie terus meliuk-liukan tubuhnya secara sensual di hadapan Lisa, pakaian yang extra sexy bahkan perut rata Jennie pun di biarkan terbuka membuat pikiran Lisa jauh melayang, dia berkhayal hal yang tidak-tidak tentang dirinya dan Jennie. Beberapa kali pria-pria asing mencoba menyentuh Jennie dan berkali-kali juga Lisa setia melindungi Jennie.“Ayo pulang, sudah malam.” Ucap Lisa.Jennie mengerucutkan bibirnya, di tengah kesadaran nya yang sudah menipis karena pengaruh alkohol ia menggelengkan kepala, “Masih ramai Lisa, kenapa buru - buru sekali?”“Besok kau ada meeting presiden, jangan sampai kau terlambat.” Ucap Lisa.“Jangan memanggilku presiden jika sedang di luar, panggil Jennie saja,” ucapnya membuat Lisa tersenyum dan mengangguk, “soal besok, tenang saja. Aku tidak akan terlambat.”Lisa hanya bisa menghela nafas dan mengangguk, dia hanya minum sedikit karena dia harus tetap sadar untuk melindungi Jennie. Keduanya kembali menari, Jennie membelakangi Lisa dan menggerak-gerakkan pinggulnya hingga bokong sintalnya mengenai selangkangan Lisa, Lisa mendesis seraya memeluk perut Jennie.“Dia bangun?” Goda Jennie.Lisa tersenyum, “ Kau sexy dan kau terus menggodanya.”Jennie terkekeh dan semakin menekan bokongnya di milik Lisa yang sudah sangat mengeras, terbawa suasana Lisa memeluk erat perut Jennie lalu ikut menekan pinggul nya ke arah bokong Jennie. Jennie kembali terkekeh, tangannya terulur ke belakang lalu memeluk kepala Lisa, meremas dan menjambak pelan tanpa menghentikang tariannya.“Kau membuat ku gila, Jennie Kim.” Bisik Lisa di telinga Jennie.Jennie tidak menjawab ucapan Lisa, dia benar-benar sudah tidak sadar karena pengaruh alkohol. Karena semakin terbawa suasana dia menoleh dan mengklaim bibir Lisa begitu saja, keduanya berciuman panas tanpa peduli dengan orang-orang di sana yang menganggap Jennie berciuman dengan sesama wanita.Lisa mendorong Jennie, keduanya berjalan ke arah lorong gelap menuju VIP room. Tanpa peduli apa yang akan terjadi besok Lisa membalik posisi Jennie agar menghadap padanya, dia menghimpit Jennie di dinding lalu dia kembali mengklaim bibir Jennie. Kepala mereka terus miring ke kiri dan ke kanan, ciuman semakin dalam bahkan air liur mereka menetes ke dagu tapi mereka tidak peduli.“Enghhhh~”Jennie melenguh di balik ciuman panasnya dengan Lisa saat Lisa kembali menekan pinggulnya ke arah selangkangannya, tidak jauh dari sana ada Irene yang memperhatikan keduanya bercumbu panas, ia tersenyum lalu menggelengkan kepala dan memilih untuk berlalu tapi tepat saat ia berbalik ada seulgi di sana membuatnya tersentak. Tanpa memberi waktu untuk berontak Seulgi langsung menghimpit Irene di dinding, keduanya bertatapan tanpa canggung Seulgi mengelus pipi Irene membuat Irene menelan ludah secara kasar.“Miss Bae, kau cantik.”Belum sempat Irene menjawab, Seulgi langsung mengklaim bibir Irene begitu saja membuat Irene terbelalak, dia tahu Seulgi mabuk begitupu dengannya tapi jelas saja dia masih sadar. Dia bingung harus bagaimana, mau melepas tapi ciuman yang Seulgi berikan terasa lembut dan nikmat alhasil dia membalas ciuman yang Seulgi lakukan.Di sisi mereka Jennie dan Lisa terus saling mendominasi ciuman mereka, tangan Lisa tidak diam, dia terus mengelus dan meremas bokong sintal Jennie, terus menekan agar selangkangan Jennie menekan dan menggesek miliknya. Tangan Jennie pun tidak diam, tangan kirinya terus meremas rambut Lisa dan tangan kanan mengelus dan kadang meremas punggung Lisa.“I want you.” Bisik Jennie di depan bibir Lisa.Meski nafsu sudah di ubun-ubun, tetap saja Lisa tercengang mendengar permintaan Jennie, “are u sure?”“Yeah .. Ayo ke mobil.” Jawab Jennie.Dengan langkah sempoyongan Jennie menarik tangan Lisa, dia berjalan tergesa ke arah mobil. Saat melewati table mereka Lisa bisa melihat jika Jisoo sudah ada di pangkuan Rosé, dia tersenyum karena melihat keduasejoli itu pun sedang bercumbu panas tapi dia membiarkan dan tidak berniat untu mengganggu.Beberapa saat kemudian, Jennie dan Lisa sudah tiba di mobil, saat kunci mobil terbuka Jennie segera membuka pintu penumpang belakang, ia menarik Lisa untuk masuk ke dalam mobil. Lisa duduk di jok dan Jennie duduk di pangkuan Lisa.“Oh my Gosh.” Erang Jennie seraya menggerakkan pinggulnya membuat milik mereka bergesekan dari luar celana yang mereka pakai, Jennie menelan ludah saat melihat bibir Lisa sedikit terbuka, ia memajukan kepala mengikis jarak wajah mereka, tapi tepat saat Lisa membuka mulutnya untuk menerima lidah Jennie tiba-tiba…Huekss!Jennie muntah kedalam mulut Lisa. Cukup banyak dan sangat bau membuat Lisa sangat mual, dengan tergesa dia membuka pintu mobil, keduanya muntah Bersama di samping mobil.“Sialan!” Umpat Lisa kesal.Huekss!!Jennie terus muntah begitupun Lisa, jika Jennie muntah karena alkohol yang dia minum berbeda dengan Lisa, dia muntah karena melihat dan mencium aroma muntahan Jennie.___Keesokan paginya …Jennie meringis saat terbangun dari tidurnya, dia duduk di atas tempat tidur seraya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit. Dia duduk bersila lalu dia membungkuk seraya menaruh kedua sikutnya di area lutut, dia menunduk dan menyanggah kepalanya dengan kedua tangan.“Gila, berapa botol minuman yang aku minum semalam?”Jennie terus diam namun beberapa menit kemudian ia mengerutkan kening, dia menunduk melihat bajunya. Dia tertegun karena dia sudah memakai piyama, dia mengangkat kepala melihat sekeliling ruangan dan raut wajahnya terlihat sangat kebingungan karena dia sudah berada di kamarnya.“Shit! Apa asisten mesum itu menelanjangiku?” Gumam Jennie lalu ia menegakan duduknya dan meremas kerah piyamanya menggunakan kedua tangan, lalu dia menekan-nekan selangkangannya menggunakan tumit kaki, “Tapi tidak sakit, orang-orang bilang jika pertama akan sakit. Aman, aku masih perawan tapi .... Jika Lisa yang menelanjangiku? OMG ... Awas saja, Lisa!” Erangnya kesal.Setelah mengerang kesal Jennie menoleh ke arah meja samping tempat tidurnya, dia menghela nafas lega saat melihat jam masih menunjuk ke angka 6. Tapi dia mengangkat alisnya saat melihat ada 1 gelas air minum dan dua butir obat di atas kertas, ia menggeser duduknya lalu membaca tulisan tangan di atas kertas itu.Eat me, presiden :)Jennie mengigit bibir bawahnya lalu tersenyum, tanpa basi-basi dia meraih dan segera meminum dua butir obat yang dia yakini itu obat penghilang pengar dan sakit kepala, dengan bantuan segelas air putih Jennie berhasil menelan dua butir obat tersebut.Ceklek ~Tepat setelah obat tertelan pintu kamar terbuka dari luar, Jennie menoleh ke arah pintu, dia mengangkat sebelah alis saat melihat Lisa masuk ke dalam kamarnya dan sudah berpakaian rapih, tapi dia merasa heran karena dia melihat wajah Lisa di tekuk dan ia membawa piring berisi roti panggang di tangannya.“Isi dulu perut anda baru mandi. Saya tunggu di bawah.” Ucap Lisa ketus seraya menaruh piring itu di atas kasur tepat di hadapan Jennie.Selesai berbicara Lisa berbalik dan melahkah ke arah pintu, detik berikutnya dia keluar dari kamar atasannya begitu saja membuat Jennie tertegun dan merasa heran dengan gelagat Lisa pagi ini.“Ada apa dengan manusia mesum itu? Apa aku punya salah?”Setelah pintu kamar Kembali tertutup dari luar Jennie mengangkat kedua bahunya acuh, dia segera meraih dan memakan roti panggang yang tadi Lisa bawakan seraya memainkan ponsel karena ia sedang bertukar pesan dengan Tae. Tapi setelah selesai mengisi perutnya, dia bergegas pergi ke kamar mandi.Setelah kurang lebih 1 jam Lisa menunggu akhirnya suara pintu lift terbuka terdengar. Lisa yang sedang duduk santai di ruang tamu segera berdiri dan merapihkan pakaiannya, dia memakai celana jeans biru tua dan kemeja oversize berwarna putih, bagian depan di masukan tapi bagian belakang di biarkan begitu saja, kedua lengan kemeja dia lipat hingga ke lengan dan di bawah ia memakai sepatu boots berwarna coklat tua.Jennie mengangguk-anggukan kepala saat melihat penampilan Lisa, dia menyerahkan tas dan blazernya pada Lisa lalu dia berlalu menuju ruang makan.“Morning dad , morning Jisoonie.” Sapa Jennie seraya menyambar segelas susu yang sudah siap di atas meja makan.“Tidak sarapan dulu?” Tanya Jisoo.“Sudah, jadi .. Aku berangkat dulu. Bye.” Pamit Jennie sesaat ia setelah menghabiskan segelas susu yang sengaja di siapkan untuknya.Jennie pergi begitu saja dari ruang makan tanpa mengatakan apapun lagi, melihat itu Lisa segera membungkuk pada Jisoo dan tuan Kim lalu berlalu mengikuti Jennie. Di depan mansion, Lisa bergegas membuka kan pintu mobil untuk Jennie seperti biasanya, merasa Jennie sudah duduk nyaman dia segera menutup pintu mobil lalu dia pun masuk ke dalam mobil.Beberapa saat kemudian mobil berwarna hitam itu sudah melaju, Lisa masih terus diam membuat Jennie heran, Ia menggeser duduknya ke depan lalu mencondongkan kepalanya ke depan dan menoleh mengintip Lisa.“Kau yang menggantikan aku baju?”Lisa menggelengkan kepala, “kepala maid.”Jennie mengangguk-anggukan kepala, “kau kenapa?”“Kenapa apanya?” Balas Lisa tanpa menoleh dan terus fokus pada kemudinya.“Tumben kau berkamuflase menjadi pendiam.” Ledek Jennie.“Sedang sebal.” Jawab Lisa jujur.“Apa aku punya salah?” Tanya Jennie ingin tahu.“Salah besar!” Kesal Lisa penuh penekanan.Jennie menganga, “mwo? Ada dua pasal yang harus kau tau, pasal pertama : Presiden Kim tidak pernah salah . Pasal kedua : Jika Presiden Kim salah balik ke pasal pertama.”“Kau muntah di mulutku presiden Kim yang terhormat!” Kesal Lisa seraya menoleh ke belakang secara kasar karena traffic light berubah merah.“Jinjja?” Tanya Jennie tidak percaya.“Kau tidak ingat apa yang kita lakukan semalam?” Tanya Lisa tapi Jennie hanya menggeleng sebagai jawban, “sedikitpun?” Lanjutnya dan Jennie mengangguk.“Kau, kita aaaarrhhh! sudah lah. Intinya kau muntah di mulutku.” Kesal Lisa seraya kembali membetulkan posisi duduknya dan menghadap ke depan.Jennie mengerucutkan bibirnya ke depan lalu menusuk-nusuk pipi Lisa, “Maaf .. Aku tidak sadar jadi yaa.. itu tidak sengaja, kan?”“Hmm.”“Apa yang kita lakukan semalam?” Tanya Jennie.Lisa menggelengkan kepala dan memilih tidak menjawab pertanyaan Jennie. saat traffic light berubah hijau, Lisa menginjak pedal gas cukup dalam hingga mobil melesat begitu saja dan Jennie terjengkang ke belakang.“Asisten kurang ajar!" Pekik Jennie seraya mengelus kepala bagian belakangnya namun Lisa tidak peduli dan terus fokus pada kemudinya.Semalam Lisa sadar meski dia pun meminum alkohol, cumbuan panas mereka membuat Lisa yakin jika dia menyukai Jennie tapi Jennie tidak ingat? Hah .. Dia hanya bisa diam.___Jennie dan Tae duduk berhadapan sedangkan Lisa duduk di tempat duduk yang ada di belakang Jennie, dia membelakangi Jennie dan terhalang oleh dua meja. Ini jam makan siang dan Jennie sengaja menggunakan jam makan siang untuk membuat janji bertemu dengan Tae, ia sedang mengintrogasi Tae soal kejadian kemarin bahkan Jennie sudah menunjukan foto saat Tae mengecup pipi wanita di sebelahnya.“Kau cemburu? Dia sepupuku sayang, astaga.” Ucap Tae seraya menggenggam tangan Jennie yang ada di atas meja.“Sepupu yang mana? Aku baru melihatnya.” Ketus Jennie tanpa menatap Tae.Tae tersenyum seraya menghela nafas, “dia sepupuku dari Swiss, kami baru bertemu lagi karena dia baru saja kembali ke Korea, kami dekat jadi ya memang aku dan dia begitu. Mencium pipi sepupu, bukan kah itu hal wajar?”“Aku cemburu!” Bentak Jennie kesal.“Apa-apaan itu? Sejak kapan kau berani membentakku?” Kesal Tae.Jennie menggenggam erat tangan Tae, “maaf .. Aku cemburu, oppa. Mengertilah.” Rengek Jennie.Tae Kembali menghela nafas, “sayang, kita menjalin hubungan sudah lama. Sudah hampir 5 tahun kita bersama dan kau masih tidak percaya padaku? Kau boleh dan berhak cemburu tapi jangan sampai membentak seperti itu, aku tidak suka. Percayalah Jennie, kau satu - satunya sayang, aku sangat mencintaimu.”“Sungguh?” Tanya Jennie menatap Tae dan matanya berkaca-kaca.“Aku serius Jennie, hanya kau kekasihku. Percaya hum?” Rayu Tae lembut.“Aku percaya oppa, jangan berpaling dariku. I love you.” Balas Jennie.Tae mengangguk dan tersenyum, ia terus menggenggam tangan Jennie tapi genggaman tangan itu terlepas karena pesanan mereka tiba, jadi keduanya memilih untuk menyantap makan siang bersama. Di belakang Jennie, Lisa tersenyum dan ia menyesap santai kopi nya.“Sayang, boleh kah aku meminjam uang? Aku berencana memperluas bisnisku, aku ingin menambah cabang studio musicku tapi aku kekurangan modal, kau tahu kan aku juga harus membiayai adikku kuliah dan ibuku yang terkena struk.” Ucap Tae seraya menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Jennie.“Berapa?” Tanya Jennie sebelum ia membuka mulut untuk menerima suapan dari Tae.“Tidak banyak, hanya 30 juta won. Biaya pembangunan dan membeli tanah cukup mahal, kau tau aku tidak mau menyewa tempat, aku lebih suka jika membangun lebih awal.”Jennie terbelalak, “30 juta won?”Tae tersenyum dan menunduk, “iya, tidak apa jika kau tidak mau meminjamkan, aku akan menjual mobil saja.”“Tidak .. Tidak .. Mobil itu hadiah ulang tahun dariku, enak saja kau mau menjualnya. Nanti aku transfer hum?” Ucap Jennie seraya mengelus tangan Tae yang ada di atas meja.Tae tersenyum lebar, “Terima kasih sayang, kau selalu menjadi pendukung segala hal yang aku lakukan.”“Selama itu positif, aku akan selalu mendukung mu.” Jawab Jennie.keduanya saling melempar senyum, tapi setelah itu mereka menghentikan perbincangan dan memilih menikmati santapan siang mereka .‘Bodoh!‘ - Batin Tae.__Lisa menghela nafas lemah karena di dalam mobil terasa sepi meski ia mendengarkan musik. Setelah makan siang, Jennie pergi Bersama Tae dan menyuruhnya pulang sendiri, itulah yang membuatnya merasa kesepian.Drrrt~Getaran ponsel membuat Lisa memilih m

CEO WITH BENEFIT
Romance
06 Jan 2026

CEO WITH BENEFIT

Raline segera menaiki trans jakarta, suasana yang sangat berdesakan membuat siapapun yang menaiki ingin berteriak.Bayangkan saja bus ini hanya sepi di hari minggu dan hari lebaran, selain hari itu? Benar - benar berlebih muatan nya.Raline turun dari bus setelah dia sampai di halte taman anggrek, dengan langkah cepat ia menekan kartu multitrip nya ke pintu keluar dan segera menyebrang ke kantor di tempat nya bekerja."Aduhh semoga ga telat deh."Memang, Raline belum pernah terlambat, hanya saja Raline ingin menghindar dari bos nya yang sangat menyebalkan.Apakah bos itu tua?Tidak.Lalu?Masih sangat muda, umurnya saja baru 26 tahun.Entahlah apa yang membuat Raline tidak suka, yang ia pikirkan jangan sampai bertemu dengan bos nya."Aline kenapa loe? Kayak orang kesetanan?""Gapapa kok gue.""Yang bener? Kok lari - larian gini?""Iya bri gue males nanti ketemu temen loe tuh""Yaelah, udah sana absen cepetan."Abrio sedikit terkejut dengan tingkah laku Raline yang seperti dikejar setan, tetapi karena sudah menhetahui alasan nya, Abrio tidak asing.*"Aline loe mau makan siang gaaaa?""Mau sih tapi gue masih ada kerjaan""Yaudah loe mau gue beliin apaa?""Gausah raa gue bawa bekel kokkk""Yaudah gue makan sama brio yah , jangan lupa makan.""Iyea Araaa "Ara teman kantor Raline sekaligus penghuni kubikel sebrang Raline meninggalkan nya dan mengajak Abrio ke kantin yang berada di paling bawah gedung kantornya."Aish gila ya emang CEO macam apa coba yang ngasih gue kerjaan beda dari karyawan yg lain."Raline mengecek segala data yang ada di atas kertas - kertas tebal dan Raline sebari membuka kotak bekal nya. Hari ini Raline hanya membawa sayur kangkung dan telur cabai. Sederhana karna Raline hanya mementingkan gizi dan kenyang nya saja."Ehm, Raline data - data yang saya berikan apa sudah semua kamu cek?"Raline yang sedang mengunyah makananya terpaksa menelan nya walau belum saatnya. Raline bangun dari kursinya dan menatap bos nya."Maaf pak, sedikit lagi tinggal data pemasukan saja.""Bagus.""Boleh saya duduk disini melihat dokumen yang sudah kamu cek?""Silahkan pak."Bos Raline mengambil kursi tempat duduk Ara dan menyeretnya ke meja Raline, duduk tepat di sisi samping meja Raline."Lanjutkan saja makan siangnya""Baik pak."Raline melanjutkan makan siangnya dan mengecek segala data - data yang tersisa, pemasukan perusahaan yang terbilang wow.Arbiaz POVGue melihat - lihat dokumen yang telah di periksa oleh Raline , hmm lumayan juga kerja seorang Raline, gue kira manusia yang sederhana ini kerja nya gak bener.Dan dari muka nya ternyata cantik gini gak males kerja nya, biasanya muka cantik tapi penipu."Woy ngapain loe di meja Raline?" Abrio mengagetkan Biaz."Menurut loe gw ngapain hah?""Loe liat dong Raline ketakutan lu duduk disini""Yaelah emang gue setan?""Nah bagus sadar.""Aish.. jangan sampe gue potong gaji loe ""Ya jangan dong, gue kan mau kawin.""Kawin kawin, gak ... Gue dulu lah yang kawin.""Apaan sih loe berdua ngomongin kawin jam istirahat udah beres." Pecah Ara"Iyee iyee." Arbiaz pun mengalah"Jangan sampe gue bilangin nyokap lo.""IYA ARA GUE PERGI, Raline kalau sudah selesai tolong bawa ke ruangan saya ya.""Baik pak."***"Akhirnya selesai jugaa."Raline meregangkan tangannya keatas dan kepalanya, Raline segera mengecek jam di tangannya.Jam 3.30"Wah gila satu jam lagi pulang yassh.""Line, jangan lupa ke ruangannya pa Biaz.""Oh iyaa, sippp makasiii Ara ku."****Raline pergi ke toilet didekat kubikel kubikel kantor, ia merapikan baju dan rambut nya, ya Raline memang sedikit acak - acak an bila sedang bekerja, bahkan Abrio terkadang mengatain nya Gembel rajin, dikarenakan rambutnya yang acak - acakan ketika bekerja.Raline mengambil setumpuk dokumen nya dan berjalan ke arah ruangan Arbiaz, Raline menemui sekretaris pribadi Arbiaz, Olivie untuk mengecek apakah ada tamu di dalam ruangan Arbiaz."Ol, ada agenda ga pa biaz? Mau anter dokumen nih.""Bentar diliat dulu yah.""Hmmm ga ada kok, udah semua agenda penting nya dia kosong sampe pulang.""Okee gue masuk yaaa.""Iyah kerja lembur bagai kuda."Raline masuk ke dalam ruangan Arbiaz, Olivie menutup pintu ruangan nya kembali."Permisi, Pak Arbiaz, saya mau mengantarkan dokumen yang sudah saya cek.""Oh,masuk sini.""Hmm ini sudah, ini sudah, ini juga, okay.""Oh iya sebentar ada satu lagi"Arbiaz mengambil sebuah map dari rak, dan menyerahkan map itu kepada Raline diatas meja nya."Saya mau ini kamu selesaikan ini di rumah karena besok mau saya pakai presentasi di jam 2 siang, saya harap kamu besok lagi sudah menaruh nya di meja saya.""Ohh okay baik pak."Arbiaz bangun dari tempat duduknya berjalan ke tempat duduk Raline, mendekati Raline."Malam ini saya mau konfirmasi nya melalui chat."Dan Arbiaz mengizinkan Raline pergi.Pintu kamar apartemen kecil Raline terbuka, Raline memasuki kamar nya dan merebahkan badan nya diatas ranjang membentuk bintang laut."Kenapa yah sampe harus bawa kerjaan ke rumah."Tinngg tong tingSuara ponsel Raline berbunyi,segera Raline membuka aplikasi chat dan menemukan pesan masuk baru.Yang terlihat hanya nomor saja tidak ada namanya.Raline segera membuka foto profil, dan dia menemukan wajah Arbiaz, bos nya."Malam, mbak Raline, apakah sudah selesai file presentasi saya?"Raline langsung terbangun dari ranjang nya dia segera membuka laptop dan folder presentasi itu dan langsung bekerja serta mendiamkan pesan bos nya.*****Raline to Pak Arbiaz"Mohon maaf saya baru melihat pesan bapak, saya sudah selesai pak, besok pagi saya taruh di meja pak Biaz.""Terima kasih."Raline segera mengambil piring untuk nya makan malam, sambil menonton acara televisi kesukaannya untuk menghilangkan penat pekerjaan yang menekan nya.***Raline bergegas ke kantor Arbiaz, ditemui nya Arbiaz yang sedang mengecek presentasi menggunakan proyektor nya."Permisi pak, ini file yang bapak minta.""Silahkan duduk""Oke saya cek sebentar.""Oke sudah lengkap semua, terima kasih."Baru saja Raline ingin meninggalkan ruangan Arbiaz, Raline terpanggil."Raline.""Iya pak.""Bisa nanti jam 4.15 ke ruangan saya? Mungkin saja ada yang harus saya evaluasi.""Oke pak."Raline meninggalkan ruangan Arbiaz, dan menutup pintu ruangan tersebut. Raline menyenderkan tubuhnya ke tembok dengan kaki gemetar."Gila sih ya udah ngasih kerjaan banyak, terus tar sore evaluasi, jadi qudha beneran gue lama lama."***"Aline mau bareng ga nih pulang? Loe udah selsai kan? Hari ini jumat nih besok weekend gak ada kerjaan lagi kan?" ajak Brio."Duluan aja briii gue masih ada urusan sama Pak Arbiaz.""Ohhh gituu okay."Abrio mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu keluar, sebelum keluar Brio mendekati Raline dan membisikan sesuatu."Hati-hati yah sama Arbiaz."Kemudian Brio meninggalkan Raline.*****Raline membawa tas nya dan berjalan ke ruangan Arbiaz, Olivie saja sudah tidak ada di meja nya, Raline memberanikan mengetuk pintu dan membuka pintu secara perlahan memasuki ruangan Arbiaz."Silahkan masuk Raline, have a seat."Raline duduk di kursi yang berhadapan dengan Arbiaz."Hmm mengenai hasil kerja kamu saya cukup terkesan, kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan baik."Arbiaz bangun dari kursinya dan membereskan telepon genggam dan laptop nya ke dalam tas dan mendorong kursi nya."Saya juga suka dengan presentasinya, terimakasih ya.""Hmm saya mau keluar karna besok weekend, kamu mau nemenin saya makan ga?""Maksud nya pak?"Arbiaz memutar kursi Raline ke samping dan menarik tangan Raline membawa Raline keluar dari ruangan nya, menuju parkiran mobil dan membawa Raline pergi.****"Kamu mau pesan apa?""Hmm duluan aja pak.""Pelayan!""Iya, bisa dibantu mau pesan apa?""Steak sapi, kematanganya sempurna ya""Mbak nya mau pesen apa?""Steak ayam.""Minuman nya?""Saya Don't forget me aja.""Mbak nya?""Di sama in aja.""Oke sebentar , pesanan akan diantarkan 20 menit."Pelayan pun meninggalkan mereka berdua, Raline menatap keluar jendela, orang - orang berlalu lalang, banyak juga pasangan yang berjalan di derasnya hujan.Raline kapan?Uhhh tak usah ditanya.***Pesanan pun datang, asap steak yang baru keluar dari pemanggangan tercium baunya membuat siapapun tergoda dengan aroma nya, ditambah dengan perut Raline yang keroncongan."Selamat menikmati." sahut si pelayan"Silakan dimakan Raline."Raline mecoba memotong steak nya dengan perlahan, dengan hati - hati agar steak nya tidak terpental."Kamu asli mana?""Saya asli Bandung.""Bapak asli mana?""Saya asli Magelang.""Ohh magelang yang banyak candi nya itu yah?""Iyah Raline, kamu sering ke sana?""Hmm nggak, saya udah pernah kesana aja 3 kali waktu saya sekolah dulu.""Haha study tour ya." Balas Raline sambil tersenyum.***"Raline, saya antar pulang ya.""Tidak terimakasih pak ,saya bisa pulang sendiri.""Udah gapapa, saya cuman anter kamu sampe depan kokk."Arbiaz membuka pintu untuk Raline dan menutup nya. Arbiaz mengendarain mobil nya."Terim kasih pak, maaf merepotkan.""Selaw aja, umur saya ga beda jauh sama kamu.""Iya pak, saya duluan yah."Baru saja Raline ingin membuka pintu mobil, Biaz menarik tangan Raline dan memanggil nya."Aline, kamu mau gak jadi lebih dari temen kantor?"Seminggu berlalu Raline bekerja, dan belum menjawab tawaran Arbiaz, tetapi seminggu ini juga Biaz mengantar Raline pulang, hanya mengantar dikarenakan sebentar lagi libur panjang dan banyak pekerjaan yang ingin dikejar."Ara loe kan sepupu Pak Biaz, Pak Biaz itu orang nya gimana?""Napa loe nanya - nanya? Biasanya benci bangedds.""Nanya doang elahhh.""Hehehe candaa, biaz tu orang nya dingin, tapi kalo orang nya udah deket dia ga kokk.""Ohh gitu.""Kenapa lu di ajak pacaran ya sama dia?""Nggakk, gue gak mau sama dia, dingin gitu kaku, banyak perintah tepat waktu.""Alaahh wkwkw masih gue liatin line.""Ckkk kalo CEO kan cwek nya banyak males gue.""Whahaha Biaz mah engga kok dia ga se haus itu.""Gue duluan ya Linee, ati ati ya.""Hati - hati raaa."Raline mengecek halaman terakhir di map terakhir pekerjaannya, akhirnya."Raline, gimana sudah selesai?"Raline terkejut dengan hadirnya Arbiaz secara tiba - tiba dan langsung mengambil kursi Ara dan duduk di samping Raline."Eehmm tinggal ini pa terakhir.""Oke karena Olivie sudah pulang dan Abrio juga sudah tidak ada, ruangan saya terasa sepi, jadi saya boleh disini?""Silahkan pak.""Lanjutkan."Arbiaz membuka ponsel nya mengecek beberapa email masuk, sambil memandangi Raline, dengan rambut berantakan, sekeras ini kah Raline? Pikir Biaz dalam hati. maaf ya bila saya membuatmu agak tersiksa."Ini pak sudah selsai.""Oke saya cek disini saja ya.""Ini sudah,hmm oke, oke, oke.""Oke selesai semua, terima kasih Raline.""Iya sama - sama pak.""Hmm ini saya taruh di meja kamu dulu yah, besok pagi saya minta olivie membawa ke ruangan saya.""Iya pak tidak apa - apa."Arbiaz berdiri dari kursi nya dan mengembalikan kursi Ara ke tempatnya, Raline membereskan laptop dan iphone nya ke dalam tas ,dan merapihkan kursinya."Raline ikut saya yah..."Raline mengikuti langkah Arbiaz, entah dibawa kemana dirinya, Raline terus mengikuti arah Arbiaz berjalan.Raline menaiki elevator bersama Biaz, ditekan nya tombol angka pada lift tersebut, lantai 35. Lantai teratas gedung ini." Astaga ngapain ke lantai paling atas, semoga aja dia ga ngebunuh gue."Raline tetap diam sambil memainkan jari tanganya, gugup takut semuanya mencapur aduk jadi satu, entah apa yang Biaz pikirkan dan apa yang akan Biaz lakukan kepadanya."Oke kita sudah sampai."Arbiaz keluar dari lift diikuti Raline, lorong yang sangat remang-remang, tempat yang jarang sekali dilewati orang, sedikit cctv yang dipasang di sini, mungkin bila ada perayaan-perayaan tertentu saja yang membuat lantai teratas ini dipakai. Kalau hari biasa? hanya petugas kebersihan dan satpam mungkin.Arbiaz membuka pintu berwarna hijau besar, menggengam tangan Raline dan mengajak nya keluar dari gedung itu, dengan langkah hati - hati Biaz menggiring Raline agar tidak mengenai genangan - genangan air."Duduk sini gapapa kan?""Iya gapapa." Angguk Raline ragu.Arbiaz membuka jas nya dan memakai kan pada Raline, diingatnya hari ini adalah hari Jumat semua karyawan boleh mengenakan kemeja bebas, dan Raline mengenakan kemeja berlengan pendek."Emm, maaf ya gue harus bawa loe ke tempat ber angin kenceng kayak gini.""Iya gapapa pak.""Gak usah formal, jam kantor sudah abis jadi selow aja."Angin berhembus semakin kencang, Raline semakin memeluk dirinya agar tubuhnya tetap hangat, tidak dengan Arbiaz yang sedari tadi biasa saja, rasanya angin hanya bergerak melewati dirinya saja tanpa mengubah sesuatu."Dingin ya?""Iya.""Sini biar gak dingin."Arbiaz memeluk Raline dengan erat, Raline tidak bisa bergerak dan dia pun tidak bisa menolak. Oke Arbiaz menang banyak. Mereka kini menatap langit yang penuh dengan bintang dan lampu - lampu gedung pencakar langit yang menyala ditengah sore menjelang malam."Kayaknya gue gak mau biarin karyawan gue sakit, jadi mending kita turun aja."Arbiaz merangkul Raline bangun dari tempat duduk besi itu, tanpa melepaskan jas yang diberikan Arbiaz. Berjalan masuk ke lorong remang - remang, menuju elevator untuk segera sampai ke parkiran.Lift pun berbunyi Arbiaz dan Raline masuk ke dalam lift. Arbiaz memandang Raline dengan dalam, Biaz mendorong lembut tubuh Raline ke sisi lift, memegang wajah Raline dan meraup bibir Raline dengan lembut.Rasanya Raline ingin melepaskan diri dari Biaz tapi genggaman erat Biaz tidak bisa di lumpuhkan."Ehmm pak."Arbiaz menghentikan aksi nya karena lift telah sampai ke lantai terbawah, tempat parkir. Tangan Raline di genggam kembali oleh Biaz menuntun Raline masuk ke dalam mobilnya."Karena besok weekend, jadi gue pinjem loe untuk nemenin gue."Arbiaz memasangkan sabuk pengaman pada kursi Raline,dan memasangkan kursi nya, Arbiaz menyalakan mobil dan membawa mobilnya keluar dari gedung.*Sampai lah mereka di Apartemen yang Arbiaz tempati, Apartemen yang terbilang desain nya dari luar gedung saja sudah sangat mewah. Raline tidak bisa berkata- kata dan hanya memasang wajah melongo sedari tadi memasuki lobi, dan anehnya Raline tidak berupaya kabur.Arbiaz menekan tombol elevator , lantai 18, didalam lift hanya terdapat mereka berdua, Arbiaz terus menggengam tangan Raline layaknya Raline akan terjatuh bila dilepaskan."Oke kita udah sampai."Arbiaz menekan kartu masuk ke pintu apartemen nya, membukakan pintu untuk Raline mempersilahkan Raline masuk terlebih dahulu.Dan kembali Raline melongo melihat isi apartemen Biaz, pantas saja Arbiaz memilih tinggal di lantai yang bisa dibilang ketinggian nya cukup tinggi, terpampang gelapnya kota dihiasi lampu - lampu gedung pencakar langit."Have a seat Aline."Raline mendaratkan bokong nya di salah satu sofa panjang dan Arbiaz membuat segelas minuman untuk tamunya itu. Rasanya Raline ingin mengeluarkan ponsel nya dan mengambil gambar pemandangan yang oh Tuhan bagus sekali."Bagus banget.""Bagus ya? yaa ini baru lantai 18 , mungkin kalau diatasnya lebih bagus lagi""Apartemen gue sangat jauh berbeda pemandangannya." Ucap Raline tragis."Gw tahu, di dekat tanah yang sedang ada pembangunan kan?""Ah benar." Jawab Raline tersipu malu."Silahkan diminum minumannya, gue mau ke kamar dulu."Raline menerawang minuman yang dibuat Arbiaz kali saja ada obat yang tidak ia inginkan. Setelah menerawang, sepertinya tidak ada bau apapun. Arbiaz keluar dari kamar nya memakai kaos oblong berwarna putih dan celana pendek, tidak terlalu pendek sedang saja."Tenang aja gue gak masukin apapun ke dalam situ, cuman sirup dan air, sirupnya merk *** kalau loe mau tau."Akhirnya Raline meminum minuman tersebut dan Arbiaz pun duduk di samping Raline, Raline meneguk minuman nya, dan Arbiaz? memandangi Raline yang sedang menjaga image dengan minum peralahan - lahan layaknya model iklan."Btw loe udah makan belom?""Belum""Oke gue bakal masak buat kita berdua"Arbiaz melangkahkan kakinya ke dapur. Raline mengikutinya, mungkin ingin membantu. Raline duduk di sebuah kursi tinggi dan memandangi Arbiaz mengeluarkan bahan - bahan dapur dari kulkas, lengan nya yang kokoh membuat hanya memegang sayur saja terliha seksi, cahaya yang berasal dari atas meja tempat Raline duduk membuat hanya dada Arbiaz yang terkena cahaya, dan itu membuat kaos yang tipis semakin memperlihatkan isinya, tidak terlalu jelas tetapi tampak jelas bayangan kotak - kotak berasal dari dada dan perutnya. Oh tidak Raline siapa yang mengajarkan mu berpikir seperti itu.***Selama 15 menit Arbiaz memasak dan voilaa akhirnya makanan itu selesai dimasak. Raline membantu Biaz membawa makanan ke meja yang tadi Raline tempati, mereka mendaratkan bokong nya masing-masing, berdoa terlebih dahulu dan menyantap makanan mereka."Besok loe ada acara kemana?""Umm, gak ada, gak kemana - mana""Ohh okay."Yang mereka lakukan hanya menyantap makanan mereka dalam diam."Umm biar saya saja yang cuci, pak Biaz sudah masak.""Serius?""Iya.""Oke terimakasi ya, maaf merepotkan mu."TING TONG"Sepertinya ada orang diluar, cepat buka pintunya pak.""Hih jangan memanggil gue pak.""Sudah bukakan dulu saja pintu nya."Arbiaz meninggalkan Raline, dan Raline memasukan piring - piring ke dalam tempat pencucian piring , kecuali wajan, mungkin Raline lebih yakin bila menggunakan tangan nya sendiri. Oke selesai, Raline tinggal menaruhnya diatas rak piring.Raline kembali ke ruang tamu duduk di sofa dan memandangi isi ruang tamu tersebut, terdapat beberapa foto ia dan keluarganya, terdapat juga Ara sepupunya."Sudah selesai cuci piring nya?""Udah."Arbiaz menghampiri Raline dan duduk di sebelah nya, tiba - tiba saja Raline dipeluk oleh Biaz, Raline yang terkejut hanya bisa diam dan menerima pelukan tersebut tanpa membalasnya, rambut Arbiaz yang basah dan harum sabun membuat nafas Raline lebih santai."Bersih - bersih, lo harus nemenin gue malam ini.""Maaf tapi gue harus pulang.""Nih."Arbiaz menyodorkan sebuah kantong kertaa berwarna cokelat dan Raline hanya bisa mengeluarkan ekspresi tanya."Pilih yang cocok dan nyaman."Raline hanya mengiya kan perintah Arbiaz, pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri.Selesai Raline membersihkan diri ia keluar dari kamar mandi dan pakaian yang ia kenakan terbilang biasa saja tetapi atasan piyama yanng berbentuk V itu terlalu turun dan sedikit memperlihatkan belahan dada nya.Raline duduk kembali di sofa, secara gesit ia mengambil bantal dan menutupi dadanya, rambut Raline yang basah membuat Arbiaz gatal ingin mengeringkan nya."Udah malem dan loe keramas?""Iyah emang kenapa?""Basah tau ga ga bisa tidur kalo gini nanti pusing."Arbiaz mengambil hairdry dari laci dan mengeringkan rambut Raline, tanpa ada penolakan. Biaz bekerja dengan baik sampai-sampai Raline terbengong.Di tengah lamunan Raline, Arbiaz tidak sengaja melihat belahan dada yang dipampangkan oleh baju piama itu, ugh memang bawahan Arbiaz iseng nya tidak tanggung -tanggung.Arbiaz segera menyelesaikan mengeringkan rambut Raline, dan Raline belum terbangun dari lamunannya, Arbiaz menyisir rambut Raline dengan perlahan."Sudah selesai.Dan Raline belum terbangun dari lamunanya.Arbiaz dengan hati - hati mengangkat tubuh Raline dan akhirnya Raline terkejut."Astaga nanti gue jatuh.""Lagian keenakan banget, gue sampe dicuek in."Arbiaz membawa Raline ke sofa mendudukan nya dan Biaz juga ikut duduk. Namun yang mereka lakukan sekarang hanya diam satu sama lain memandangi kota."Karna udah malem gue tutup ya tirai nya."Arbiaz menutup tirai jendela dan kembali ke tempat semula. Raline memandang Arbiaz di tempat duduk nya begitu pun sebaliknya.Arbiaz memegang kedua tangan Raline mengusap - usap keduanya dan mencium keduanya."Dingin banget tangannya.""Gue angetin yah.""Hmm gausah nanti juga hangat sendiri.""Gapapa, ini jg gara- gara gue."Arbiaz langsung menarik tangan Raline dan Raline terjatuh di dada bidang milik Arbiaz, Arbiaz memeluk Raline dengan erat sehingga Raline tidak bisa kabur dari hadapan nya."Tapi hangetinya gak cuman peluk doang."Raline terbangun dari tidurnya dan segera mematikan alarm yang sangat berisik. Segera ia menyiapkan pakaian kerja dan peralatan kerja nya, membersihkan diri , memasak sarapan dan bekal, dan beranjak keluar.ARA ☆"Wher ar u line, wut time is it huh, i dun wanna make your enemy angry to me"Pesan muncul di layar hape Raline , dari Ara tentu saja dikarenakan hari ini ada jadwal pertemuan , dan Raline harus ikut dengan Arbiaz untuk membawa beberapa perlengkapan materi presentasi Arbiaz.Dan tentunya semua itu rencana Biaz.Raline segera menekan tempat sidik jari untuk absen dan berlari secepat yang ia bisa tanpa membuat kebisingan. Tentunya untuk menghindari amarah Biaz."Sorry for late, saya sudah siap dengan semua yang anda butuhkan."Arbiaz memasang wajah datar sambil memegang segelas kopi nya melihat Raline yang sangat terburu - buru."Okay, i forgive u, btw pertemuan nya diundur satu jam lagi, saya harap kamu bisa memperbaiki diri kamu.""Baik pa""Satu lagi."Raline memasang wajah was - was akan kata - kata Arbiaz."Saya harap kamu sudah sarapan, saya tidak mau kamu salah fokus.""Baik pa."Arbiaz meninggalkan Raline dan masuk kembali ke dalam ruangan nya , Raline menyandarkan tubuhnya di dinding dan menghela nafas lega.****"Silahkan masuk ke dalam mobil saya.""Iya terimakasih pa."Arbiaz membukakan pintu untuk karyawan nya, hal baru yang Biaz lakukan, membukakan pintu untuk karyawan nya. Siapa lagi kalau bukan Raline.Arbiaz menyalakan mesin nya dan menjalankan mobil sport hitam keluaran tahun lalu, ugh sepertinya Raline merasa seperti orang ber uang seketika."Okay, jadi semua perlengkapan nya sudah siap?""Iya pa sudah siap.""Okay kerja bagus."Arbiaz menyalakan radio untuk memcah kecanggungan diantara mereka. Tetapi hasilnya sama saja , Raline tetap diam dan meratapi jalan."Raline?""Ya pa?""Hmm, i just wanna ask something, but there is no relation with our work, may I?""Sure.""Hmm aku harap kamu ga lupa sama yang udah kita lewatin."Namun Raline hanya diam."And, do u wanna be my FWB?"Raline mencengkram tas hitam dipangkuan nya, ah tidak yang benar saja , Raline harus merelakan semuanya untuk CEO yang dia tidak suka, termasuk yang ia jaga hingga kini.Raline hanya diam , hingga sampailah mereka ke gedung tempat pertemuan para CEO dan pengusaha - pengusaha. Kalau dilihat -lihat memang populasi CEO atau pengusaha muda yang tampan sangat sedikit."Okay Raline, jangan ada yang terlewat ya.""Baik pa."Raline mengecek semua bahan , dan ya tidak ada yang terlewat sedikitpun. Arbiaz memulai presentasi nya dan tanya jawab antar CEO, ah mengapa Arbiaz begitu terlihat berkarisma, mungkin saja bila Raline tidak berada di dalam rapat, dia akan berkata "Sisain satu ya Tuhan"Jadwal pertemuan pun selesai, Raline dan Arbiaz harus kembali ke kantor mereka. Arbiaz kembali membukakan pintu untuk Raline dan sekarang ditambah lagi memasangkan sabuk pengaman untuk Raline."Oke kita pergi."Arbiaz kembali menjalankan mobil nya, dengan sedikit melirik dari ekor matanya , ia dapat melihat Raline dengan pesona nya, wajahnya yang tidak terbalut make up tebal, blazer yang membuat d**a nya semakin maju, oh tidak Arbiaz kau sedang menyetir. Entah lah apakah Raline tidak mempunyai kemeja yang lebih longgar, jujur saja ini mengganggu penglihatan Arvbiaz."Raline""Iya mas? Eh maksudnya...""Saya merasa baju yang kamu kenakan agak..."Arbiaz ingin mengatakan nya tapi tidak sanggup, takut membuat rendah perasaan Raline."Ada yang salah Pa?""Hmm gimana ya saya ucapin nya.'Raline segera merapatkan blazer nya , mengetahui apa yang Arbiaz maksud.Oh tidak, rasanya Raline ingin mengutuki dirinya sendiri.***Ting tongBel pintu apartemen Raline berbunyi, seorang pengantar paket memberikan sebuah paket kepada Raline, tidak besar.SAYA HARAP INI BISA BERGUNA, DAN SAYA HARAP KAMU MEMAKAINYARaline membuka paketnya, dan mengeluarkan isinya, oke, kemeja , blouse dan pakaian kerja lainnya yang berukuran satu tingkat lebih besar dari yang ia punya.Tidak terlalu besar tidak terlalu kecil, dan ini bisa menyamarkan apa yang Arbiaz maksud kemarin.TING TONG TING Satu pesan masuk berbunyi dan berasal dari Arbiaz."Saya tidak akan mengambil apa yang kamu jaga."Dia seperti peramal saja, tahu saja apa yang Raline pikirkan.Entah apa yang Raline akan lakukan, kini ia berpikir sedikit keras untuk lebih menghindari bos nya itu.

My Childish Ceo
Romance
05 Jan 2026

My Childish Ceo

Flashback on6 tahun yang lalu......."Gwen..." ucap seorang pria remaja kepada seorang wanita di hadapannya"Iyaa,ada apa vier kenapa kamu menjadi tegang seperti ini?"ucap seorang wanita yang duduk di depan Xavier,ya benar dia adalah Gwen crystallyn Alexis"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu Gwen""Ada apa ? Katakan lah Xavier"ucap Gwen sambil tersenyum manis.Xavier yang melihat senyum Gwen pun sempat terhipnotis tapi dia cepat kembali sadar karena ingat tujuannya untik mengungkapkan isi hatinyaXavier pun menarik nafas sebelum mengucapkan kata yang akan dia sampaikan" huuhh ,,,Gwen sebenarnya aku mencintaimu sudah lama dan aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku padamu.aku mencinta mu Gwen ,maukah kamu menjadi pacarku"ucap Xavier dengan mantap sambil menatap Gwen dengan seriusGwen menutup mulutnya tak percaya tapi walau bagaimana pun Gwen juga mencintai Xavier walaupun dia memiliki sifat yang Childish tapi Gwen tetap menyukainya menurutnya Xavier jika seperti itu maka berkesan imut"Iyaa aku mau menjadi pacarmu vier "ucap Gwen sambil tersenyum:)Flashback off__________________________________ ____Xavier tersenyum melihat jarinya yang terpasang cincin tunangannya sambil mengingat bagaimana dulu dia meminta Gwen menjadi pacarnya"Kamu milikku Gwen ,you're mine always mine"batin Xavier sambil tersenyum miring.Ceklek ....Pintu terbuka menampilkan seorang wanita cantik dengan setelan kerjanya sambil membawa map."Gwennn..."ucap Xavier dengan mata berbinarnya."Iyaa, ada apa baby"ucap Gwen lembut sambil mengelus kepala Xavier dengan lembut setelah menaruh map yang di bawanya di atas meja kerja Xavier"Kenapa kamu lama sekali datangnya Gwen,padahal aku sudah memanggilmu sejak tadi"ucap Xavier dengan matanya yang berkaca-kaca."Hei baby liat Gwen"Xavier pun melihat Gwen sambil menahan air matanya agar tidak jatuh "aku tadi sedang menyelesaikan pekerjaan ku yang belum selesai,jadi tolong jangan menangis ya baby"Gwen pun menghapus air mata Xavier dengan tangannya lalu membawa nya kedalam dekapa nya "Baby kok masih menangis kan Gwen sudah ada di sini ""Baby pusing Gwen " lirih Xavier sambil menatap kearah Gwen dengan sendu"Mau aku pijit hmm?""Mau tapi nanti di rumah sekarang aku mau pulang Gwen" rengek Xavier sambil mempout bibirnya dan itu sangat menggemaskan bagi Gwen ."Tapi sekarang belum waktunya pulang"ucap Gwen menasehati Xavier."Lalu apa masalahnya Gwen ini kan kantorku jadi bebas aku mau pulang kapan pun sesukaku,lagipula tidak akan ada yang berani menegurku. Ayolah Gwen,,,pliss"Gwen Pun menghela nafas. Sungguh berdebat dengan Xavier tidak ada gunanya dia sangat keras kepala mau bagaimana pun keinginannya harus fi turuti kalau tidak ia akan menangis dan itu akan membuat kepala Gwen pusing."Baiklah ayo kita pulang baby"ucap Gwen sambil tersenyum manis kepada Xavier.Xavier yang mendengar nya pun menjadi sangat senang "uya ayo kita pulang Gwen "Skipp (Dalam mobil)...Saat ini mereka berdua sedang duduk di kursi belakang karna memang saat ini Xavier enggan membawa mobil dia lebih suka bermanja manja dengan Gwen di kursi penumpang."Gwen"panggil Xavier"Ada apa baby"tanya Gwen sambil menundukan kepalanya sebab saat ini Xavier sedang bersandar dibahunya."Baby mengantuk Gwen ingin tidur nanti kalau sampai rumah Gwen bangunin baby yaa"ucap Gwen dengan matanya yang sayu."Baiklah,sekarang tidurlah baby"ucap Gwen sambil mengelus kepala dan juga punggung Xavier agar ia cepat tidur.Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang berasal dari Xavier dan Gwen pun hanya tersenyum gemas melihat wajah Xavier ketika tidur."I love you baby"ucap Gwen sambil mengecup dahi pria itu.Kringg,,,,kringg,,,,kringgDering ponselpun terdengar membuat sang pemilik nya terpaksa bangun dari tidur lelapnya,sebelum dia mengangkat telpon nya ia melihat jam yang berada di atas nakasnya 'jam 05.30' gumam nya.Dering ponselpun tak henti hentinya berdering membuat ia melihat siapa yang menelponRupanya yang menelponnya saat ini adalah Angeline Pratama yaa dia adalah mommy tunangannya .Tumben sekali mommy menelponnya sepagi ini tanpa berlama lama pun ia kembali mengangkat telpon nya itu"Assalamualaikum ,mom. Ada apa ? Tumben sekali mommy menelponnya sepagi ini?"tanya Gwen dengan suara lembut khasnya.ia memang memanggil mommy nya Xavier mommy begitu pun dengan deddy nya karena itu adalah permintaan dari orang tau Xavier sendiri,Xavier pun memanggil orang tau juga sama Seperi ia memanggilnya juga yaitu ayah dan bunda."Waalaikumussalam sayang,maaf mommy menelponmu sepagi ini karena Xavier sedang sakit sejak semalam dan terus memanggil nama kamu nak" jawab mommy dengan nada yang terdengar khawatirGwen pun yang mendengarnya membulatkan matanya terkejut"Apa mom Xavier sakit?baiklah aku akan segera kesana mom""Iya tolong cepat ya sayang karna mommy tidak tega melihatnya,sekali lagi mom minta maaf ya karna mengganggu mu sayang " ucap mommy merasa bersalah"Tidak apa apa mom aku mengerti,yasudah aku siap-siap mom""Iya terima kasih ya sayang ""Sama sama mom,wasalamualaikum""Waalaikumussalam"Dan setelah telon terputus ia segera bersiap siap untuk pergi ke rumah kediaman Pratama itu .Skipp (rumah Xavier)" Assalamualaikum " ucap Gwen sambil menekan bell"Waalaikumussalam,,,eh Gwen kamu sudah sampai sayang?""Sudah mom"Gwen berkata sambil menyalami tangan angeline a.k.a mommy Xavier"Yasudah sayang ayo kita masuk ke dalam ,Xavier sudah menunggumu "Gwen pun hanya menganggukkan kepalanya dan berkata "baik mom"Setelah mereka masuk Gwen pun bertanya kepada mommy Xavier "mom apakah vier sudah makan?""Belum sayang dia belum mau makan padahal sudah mommy paksa tetap saja tidak mau sungguh keras kepala sama seperti ayahnya"dan mereka berdua pun sama sama tertawa"Mom bolehkah aku membuat bubur untuk vier?" Gwen bertanya karna dirasa tidak sopan jika langsung memasak di rumah itu"Tentu saja boleh sayang ,nanti kalau kamu mau memberi makan anak itu langsung saja masuk ke kamarnya,kamarnya tidak di kunci kok" ucap mommy memberi tahu"Iyaa mom""Gwen sepertinya mommy harus pergi karna ada arisan mungkin nanti setelah mommy selesai arisan mommy akan langsung pergi ke kantor Deddy""Apakah kamu tidak keberatan menjaga Xavier sendirian ?" lanjut mommy"Tidak apa apa kok mom aku justru senang bisa merawat bayi besar ku "ucap Gwen di sertai dengan kekehan"Baiklah kalau seperti mommy pergi dulu ya ,assalamualaikum"Mommy berujar sambil mencium pipi gwen"Waalaikumussalam"Setelah mommy pergi Gwen pun melanjutkan langkahnya untuk ke dapur membuatkan Xavier bubur."Eh ada non Gwen " ucap bi siti "ada apa non ke dapur""Ini aku mau membuat bubur untuk Xavier bii""apakah ingin bibi bantu non?"bi siti pun menawarkan bantuan"Tidak apa apa bii,aku bisa melakukannya sendiri kok"ucap Gwen sambil tersenyum manis kepada bi siti"Yasudah kalau begitu bibi izin kebelakang ya non mau melanjutkan menyiram tanaman yang belum selesai""Iya silahkan bii"Setelah bi siti pergi Gwen pun segera berkutat dengan alat memasaknya untuk membuat bubur.30 menit kemudian..."Yey selesai juga membuat bubur nya"ujar Gwen dengan senyum yang mengembang di wajahnya .CeklekGwen pun langsung membuka pintu kamar Xavier dan ia melihat Xavier sedang berbaring membelakanginya dengan selimut sebatas lehernya"Mom aku sudah bilang aku tidak mau makan atau pun meminum obat kalau Gwen tidak ada disini hiks"ucap Xavier dengan punggung yang bergetar sudah di pastikan oleh Gwen bahwa laki laki itu sedang menahan tangisnyaGwen pun meletakan nampan yang berisi bubur di atas nakas dan ia mulai Duduk di kasur Xavier dengan laki laki itu yang masih membelakangi Gwen.Gwen pun mengelus punggung Xavier"Baby hei ini aku sayang" ucap Gwen dengan lembutnya.Xavier yang mendengar suara Gwen pun langsung membalikkan badannya"Gwen" Lirih Xavier dengan mata yang sudah berkaca kaca."Hei kenapa tidak mau makan dan minum obat hmm"Gwen bertanya kepada Xavier"Karna aku ingin kamu yang kesini Gwen " ujar Xavier sambil memeluk Gwen dengan erat dan menenggelamkan wajahnya ke perut rata Gwen"Yasudah sekarang aku kan sudah di sini jadi kamu sekarang makan dulu setelah itu minum obatnya yaa""Gamau Gwen mau peluk Gwen aja hiks""Baby kalau ga makan nanti lama sembuhnya emang kamu ga mau cepet sembuh hm?atau gamau makan makanan yang aku buat ya padahal aku buatnya dengan susah payah loh buat kamu"ucap Gwen yang di akhir katanya di sedih sedih kan agar Xavier mau makan .dan yap berhasil!"Gwen jangan sedih baby mau kok makan buatan Gwen .Maaf ya baby nyusahin Gwen"ucap Xavier yang sudah duduk dengan menundukan kepalanya"Iya gapapa ,sekarang kamu makan ya.mau makan sendiri atau aku suapi?""Suapin "rengek XavierGwen pun menyuapi Xavier dengan telaten walaupun sesekali Xavier menolak dengan alasan mulutnya pahit walaupun begitu Gwen tetap memaksa Xavier menghabiskan makanannya"Ayoo cepat baby 1 suap lagi"Xavier pun dengan terpaksa membuka mulutnya"Yey sudah habis sekarang kamu minum obat nya yaa"Xavier yang mendengarkan ucapan Gwen pun sontak menggeleng karena Xavier tidak suka obat,menurutnya Obat itu pahit sekali dan Xavier tidak menyukai yang pahit sebab Gwen itu manis"Baby kok gitu sih kan nanti kalau baby udah sembuh bisa jalan jalan sama Gwen,baby ga mau jalan jalan nih sama Gwen " ujar Gwen dengan nada yang menyedihkan"Baby mau kok jalan jalan sama Gwen kemana pun Gwen mau "ucap Xavier dengan cepat karena tidak mau melihat Gwen nya itu bersedih"Kalau begitu baby mau kan minum obatnya"ucap Gwen dengan puppy eyes nyaXavier yang melihat Gwen seperti itu pun tidak tega dengan terpaksa ia menganggukkan kepalanya.setelah minum obat Gwen pun menyuruh Xavier untuk tidur"Tapi nanti kalau baby tidur Gwen akan pergi hiks" ucap Xavier dengan isakannya"Aku ga akan pergi baby ,sudah sekarang kamu tidur yaa"ucap Gwen dengan senyum yang menenangkan"Janji"ucap Xavier dengan menjulurkan jari kelingking nya"Janji"ucap Gwen sambil mengusap punggung Xavier agar lelaki itu cepat tidurSetelah lelaki itu tidur tak lama kemudian Gwen pun ikut menyusulnya ke alam mimpi.Seorang gadis mengerejapkan matanya sambil mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.setelah semua nyawanya kumpul ia menolehkan kepalanya ke samping dan melihat seorang pria yang sangat dia cintai .iya dia adalah XavierPuas sudah memandangi wajah kekasihnya itu ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajah nya .setelah selesai ia keluar dan masih melihat Xavier tidur dengan sangat nyenyak .Gwen tidak tega membangunkan Xavier ia pun hendak pergi,namun sebelum itu Gwen mengecek suhu tubuh Xavier yang ternyata sudah normal"Morning mom"sapa Gwen ketika sudah berada di dapur dan melihat mommy sedang memasak untuk sarapan"Morning too sayang""Mom,mommy sedang memasak apa?""Ini mom sedang memasak ayam goreng setelah itu baru memasak nasi goreng untuk kita sarapan nanti ""Mom aku juga ingin membantu"ucap Gwen yang tampak sangat antusias"Boleh kamu potong potong sayuran sama sosis dan baso nya aja yaa ""Okee baik mom"Gwen pun langsung mencuci sayuran nya setelah bersih ia memotong sayuran itu dengan sosis juga baso seperti yang di perintahkan oleh mommy"Sayang apakah Xavier sudah lebih baik kondisinya?"tanya mommy setelah sadar kalau putra satu satunya itu sakit"Tadi pagi aku sudah mengecek suhu tubuhnya mom dan ternyata sudah turun ". ucap Gwen menenangkan mommy"Oh syukurlah kalau seperti itu,terima kasih ya Gwen kamu sudah mau mengurusi Xavier yang sangat manja itu""Sama sama mom.lagi pula aku juga menyayangi Xavier jadi aku tidak masalah jika harus merawatnya" ucap Gwen dengan senyum tulus di wajahnyaGwen dan juga mommy hampir selesai menyiapkan makanan untuk sarapan tetapi tak lam terdengar teriakan juga barang pecah dari lantai atas"HUAAAA GWENNN KAMU DI MANA HIKS HIKS"terdengar suara teriakan Xavier dari lantai atasPrang... .."Gwen sebaiknya kamu ke lantai atas Xavier sepertinya sedang marah besar " ucap mommy memberitahu""Baiklah mom aku ke atas dulu ya"pamit Gwen dan di balas anggukkan Oleh mommyGwenpun berlari cepat ke lantai atas agar Xavier tidak semakin marah ,setibanya Gwen di depan kamar Xavier ia langsung masuk dan melihat bagitu banyak pecahan kaca pada lantaiGwen berjalan hati hati agar pecahan tersebut tidak melukai kakinya dan saat sudah sampai ia di belakang Xavier dengan Xavier yang sedang duduk dan menghadap tembok Gwen pun segera jongkok dan memeluk Xavier dari belakang"Gwen hiks hiks"ucap Xavier karna tau yang memeluknya adalah Gwen"Iyaa baby ini aku kenapa bisa Seperti ini sayang "ucap Gwen sambil kembalikan badan Xavier agar menghadapnya"Aku hiks pikir Gwen pergi hiks hiks " ucapnya di sertai dengan air mata yang masih mengalir"Hei lain kali jangan seperti ini ya ,kamu kan bisa mencari ku dulu atau bertanya jangan langsung membuat kekacauan seperti ini"Ucap Gwen menasehati"Iyaa Gwen maafin baby ya "ucap Xavier"Iya gapapa sekarang ayo kita turun dulu kamu harus sarapan sayang" dan di balas anggukkan imut oleh Xavier"Hati hati banyak pecahan kaca "Gwen memperingati Xavier agar pria itu tidak terluka oleh serpihan kacaSetibanya mereka di ruang makan Gwen tak melihat kehadiran daddy .setelah Gwen dan Xavier duduk pun Gwen baru bertanya kepada mommy"Mom daddy kemana ?""oh kemarin daddy mengatakan jika ia harus segera pergi ke Canada karena di sana ia akan membangun sebuah proyek" jelas mommy kepada Gwen'Oh begitu' ucap Gwen dalam hati"Ayo sekarang kita sarapan " ucap mommyDan segelas itu pun tidak ada yang membuka suaranya karena memang jika di keluarga Xavier ataupun gwen tidak di perbolehkan makan sambil mengobrol ataupun bersuara hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piringMereka telah menyelesaikan sarapannya dan sekarang Gwen dan Xavier sedang menonton kartun di ruang keluargaSebenarnya bukan mereka tapi hanya Gwen saja sedangkan Xavier sedang menikmati usapan lembut di kepalanya yang terbaring di atas paha Gwen .mommy juga tadi keluar untuk pergi ke butiknya"Gwen "panggil Xavier yang hanya fi balas deheman oleh Gwen karna asyik menonton kartun 2 bocah botak itu"Gwen nanti kalau kita nikah Gwen mau punya anak berapa? Mau tinggal di mana? Konsep pernikahannya kayak gimana?" sederet pertanyaan pun keluar dengan mulus dari bibir Xavier dan di balas dengan dengusan oleh Gwen"Baby aku sudah mengatakannya berkali kali kepadamu jika aku belum sanggup untuk menikah saat ini jadi aku minta sama kamu untuk mengerti situasi aku saat ini ya"Gwen berucap karna ia memang benar benar belum siap untuk menikah menurutnya masih banyak yang harus di perbaiki oleh dirinyaXavier yang mendengar jawaban Gwen pun hanya bisa mengumpat dalam hati karna sebal dengan Gwen"Gwen kenapa ga mau menikah dengan baby ?apakah baby terlalu manja? " ucap Xavier dengan suara lirihnya"Hei kok baby ngomongnya gitu sih ,Gwen ga mau nikah bukan karna itu kok tapi karna Gwen benar benar belum siap. jadi baby tolong yah ngertiin Gwen ,baby juga mau kan menunggu Gwen?" ucap Gwen sambil mengelus rahang Xavier dengan lembut"Iya baby mau kok Gwen asalkan Gwen mau nikah sama baby ya""Iya Gwen mau kok .makasih ya baby sudah mau menunggu Gwen untuk siap. Gwen sayang baby""Baby juga sayang Gwen" ucap Xavier dengan memeluk Gwen dengan erat seakan akan kalau ia melonggarkan pelukannya sedikit saja Gwen nya akan pergiTing..Suara pesan masuk pun terdengar dari posel milik Gwen. Gwen pun segera melihat siapa kah yang mengiriminya pesan itu'Andra?' batin GwenAndraHai Gwen,gw mau balik nih ke Indonesia buat pesta yang meriah ye buat gw😂GwenSerius loe ndra?"Itu siapa Gwen?" tanya Xavier sambil melirik ponsel milik Gwen itu"Oh ini Andra sahabatku sewaktu smp aku tapi dia harus pindah ke london karena pekerjaan ayahnya" jelas Gwen kepada Xavier agar pria itu mengerti."Terus kenapa dia menghubungimu lagi Gwen? Apakah kamu ada main sama dia" ucap Xavier sambil memincingkan matanya curiga"Hei baby tenanglah ia hanya sahabatku, kamu ga usah cemas seperti itu""Tapi kan tetap saja ia bisa mengambil mu dari ku Gwen " ucap Xavier dengan tegas"Aku akan slalu ada di samping mu jadi kamu, kamu harus percaya sama aku kalau aku ga akan pernah ninggalin kamu baby karna aku sangat menyayangi mu" ucap Gwen meyakinkan Xavier yang saat ini tengah cemburu"Baiklah aku percaya padamu tapi kamu harus menepati janjimu untuk slalu bersamaku dan tidak akan pernah pergi dariku Gwen" ucap Xavier dengan ekspresi wajah yang sangat lucu di mata Gwen"Tentu saja baby" ucap Gwen dengan kembali mendekap tubuh kekasih cengengnya itu'Aku tidak akan pernah melepaskan mu ataupun membiarkanmu pergi dari ku Gwen karna kamu adalah milikku sekarang ataupun selamanya, jika ada yang berani mengambil mu dariku maka ia siap untuk mati' batin Xavier sambil tersenyum devilTak terasa hari pun semakin sore bahkan hampir menjelang malam dan mommy masih belum juga pulang dari butiknya sekarang ia dan juga Xavier sedang berada di taman belakang"Xavier aku pulang sekarang ya kan besok kita harus ke kantor aku j7ga belum melihat jadwal kamu" ucap Gwen"Hiks kok kamu gitu sih hiks Gwen aku kan ga mau di tinggal hiks mommy juga belum pulang""Yaudah aku ngga pulang sekarang tapi nanti saat mommy datang dan kamu ga boleh ngelarang aku lagi" ucap Gwen memperingati XavierXavier yang mendengarkan ucapan Gwen pun hanya mengerucutkan bibirnya dengan terpaksa menganggukan kepalanya.Dari pada Gwen pergi sekarang? Begitu fikir nya"Xavier kita ke ruang tengah aja yu aku ingin menonton film""Yaudah ayo Gwen" ucap Xavier yang langsung menarik tangan Gwen. Gwen yang melihatnya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kekasihnya ituSesampainya di ruang tengah Gwen langsung menyalakan televisinya dan menonton film yang dia inginkan dengan khusu sedangkan Xavier saat ini sedang memakan kripik di sampingnyaSaat sedang asik asiknya nonton tiba tiba terdengar suara bel dan tak lama. kemudian mommy pun datang dengan membawa beberapa bahan makanan"Eh, mommy sudah pulang?" tanya Gwen sambil menyalami tangan mommy atau ibunya Xavier itu, berbeda dengan Gwen yang menyambut kepulangan mommy dengan ramah Xavier justru acuh tak acuh karena jika mommy sudah pulang maka Gwen akan segera pergi meninggalkannya'Sungguh menyebalkan' batin Xavier dengan terus mendumal"Iya sayang ga tau kenapa hari ini butik lumayan ramai jadinya mommy pulang sampai malam seperti ini. Apakah kamu tidak pulang nak? Atau mau menginap lagi biar mommy yang meminta izin kepada bunda kamu itu" ucap mommy karna ia sangat senang jika Gwen ada di rumahnya"Gausah kok mom lagi pula aku juga akan segera pulang banyak pekerjaan aku yang terbengkalai. Aku juga sengaja belum pulang karna menunggu mommy, Xavier ga mau di tinggal kalau mommy belum datang""Halah itu palingan juga cuman modusnya anak itu aja sayang jangan di percaya"Mereka berdua pun tertawa bersama samaXavier yang mendengar tawa mereka pun geram akhirnya ia mengeluarkan suaranya"Jika mom sudah tau kenapa mom harus segala pulang sih kan kalau mommy tidak pulang aku bisa terus sama Gwen" Xavier berucap sambil berdecak" Heh kamu ngomong sama orang tua ga ada sopan sopan nya ya, mommy kutuk baru tau rasa kamu"Xavier yang malas berdebat dengan mommy nya pun langsing pergi ke kamarnya namun harus melewati kekasihnya dan juga bundanyaSetelah sampai di tengah tengah Gwen dan juga mommy nya Xavier langsung dengan secepat kilat mengecup pipi Gwen dan berlari ke kamarnya"EH KAMU XAVIER DASAR ANAK KURANG NGAJAR YA KAMU" ucap mommy sambil teriak"Hahaha, udahlah mom gapapa aku pamit pulang ya mom"pamit Gwen"Iya sayang hati hati ya""Siap mom"Skippp (sampai rumah)..."ASSALAMUALAIKUM GWEN CANTIK PULANG TANPA ADA LUKA SEDIKITPUN" teriak Gwen ketika memasuki mansion nya itu"Waalaikumussalam sayang kamu kalau dateng jangan teriak teriak nanti tenggorokan kamu bisa sakit loh" ucap Sella Putri Alexis Atau bunda Gwen"Hehehe maaf ya bun janji ga lagi" ucap Gwen dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya tanda damaiBunda Gwen yang melihat itu pun hanya tersenyum melihat tingkah laku putrinya itu"Eh iya bun ayah kemana ya kok ga keliatan?" tanya Gwen karna menyadari tidak melihat sosok pahlawan dalam hidupnya"Ayah ada kok lagi di ruang kerjanya paling nanti makan malam ia akan turun""Ohhh yaudah deh Gwen langsing ke kamar aja ya bun""Ia sayang jangan lupa mandi nanti jika waktunya makan malam mommy akan segera panggilkan kamu dan juga ayah" ucap bunda"Siapp bun" ucap Gwen yang saat ini sudah berada di pertengahan tanggaSetibanya di kamar nya Gwen segera memasuki kamar mandi dan melaksanakan ritual nyaCeklek ....Terlihat di depan pintu kamar mandi Gwen sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk karna menurut Gwen jika memakai hairdair hanya aka merusak rambutnyaGwen berjalan melangkah ke depan meja rias nya lalu mulai menyisir rambutnya sendiri setelah selesai ia pun membaringkan badannya di kasur"Gwen sayang ayo kita makan malam bersama ayah sudah menunggu di sana" ucap bunda yang sudah berdiri di depan pintu kamar Gwen"Iya baik bun" jawab Gwen.............."Ayahh" Gwen berujar sambil memeluk Atmaja Alexis yaitu ayah Gwen dari belakang"hei hallo sayang kenapa kamu dan bunda lama sekali ayah sudah kelaparan nih""Hehehe maaf ya yah yaudah ayo kita makan""Sudah lengkap semua"ucap bunda memerhatikan apa saja yang ada di atas meja makanSkipp (ruang keluarga)" Gwen gimana hubungan kamu dengan Xavier apakah baik baik saja?" tanya ayah kepada Gwen"Iya hubunganku dengan Xavier baim baik saja cuma Xavier sempat salah paham yah""Salah paham apa sayang" ucap bunda"Kemarin Andra mengabariku kalau dia akan kembali pulang kesini dan Xavier melihat pesan yang andra kirimkan untukku bun, jadi ia sempat salah paham padahal andra itu sudah seperti abang bagiku" ucap Gwen desertai kekehan juga"Yah kamu maklumi aja kan memang ia sifatnya seperti itu" ucap ayah"Ia seperti itu Karena ia tak mau kehilangan kamu sayang ia sangat menyayangimu""Iya bunda aku mengerti"Karena Gwen sudah mengantuk lantas ia pun pamit kepada ayah dan bundanya untuk memasuki kamarnya. Saat telah sampai di kamar ia melihat ponselnya yang tak berhenti bergetar di atas kasurGwen pun mengambil ponselnya itu dan melihat ada notifikasi apa. Dan setelah tau kenapa ponselnya bisa terus bergetar pun Gwen hanya mengukir senyum tipisBaby vier 🐼❤GwenGwen kenapa kamu tidak mengangkat telpon kuIsh balas dong Gwen hiksAtau kamu sedang sama lelaki yang menarin menghubungi mu itu?Aku akan sangat marah jika kamu benar benar sedang sibuk dengan dia dan melupakan aku!Gwen yang membaca pesan pesan dari Xavier hanya terkekeh sebab membayangkan bagaimana lucunya ekspresi mukanya ketika mengirimi pesan ituGwenHei baby aku tadi sedang makan malam dengan ayah dan juga bundaBaby vier 🐼❤Oh baiklah Gwen.Gwen aku kangenn :(GwenAstaga sayang kita baru aja ketemu dan kamu bilang kangen?Baby vier 🐼❤Ish tapikan aku kangen kamu Gwen😭GwenHahaha baiklah besokan kita ketemuBaby vier 🐼❤Mmm tapi besok aku yang menjemputmu tidak ada penolakan!GwenIya baby sekarang kamu tidur yaHave a nice dream :*Baby vier 🐼❤Have a nice dream tooGwennya Xavier :")Gwen tidak membalas pesan dari Xavier ia segera meletakan handphone nya di balas dan memejamkan matanya menyambut hari esok yang cerahMalam pun telah berlalu kini terganti oleh pagi yang cerah. Terlihat di dalam sebuah kamar yang bernuansa biru laut itu masih terbaring sosok gadis yang masih berada di alam mimpinya tanpa terusik dengan sinar matahari yang masih malu malu menampakkan dirinyaTapi ternyata dewi Fortuna tidak berpihak kepada"Gwen astaga kamu masih tidur hah?! Itu Xavier sudah menunggumu Gwen!! Aneh sekali bos menunggu karyawan" ucap bunda dengan suaranya yang menggelegarMendengar ucapan sang ratu pun mau tak mau ia terpaksa bangun dari mimpi indahnya"Apaan sih bun, aku masih ngantuk tau" ucap Gwen sambil menarik selimutnya menutupi sebagian wajahnya"Astaga ni anak, Gwen itu Xavier sudah menunggumu sejak 1 jam yang lalu dan kamu masih tidur? Memangnya kamu mau di pecat oleh Xavier"Mendengar kata pecat Gwen pun segera bangkit dari kasur nya dan menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke kantor bersama XavierCeklek ...Gwen sudah keluar dari kamar mandi dengan setelan kantornya namun masih ada handuk yang melilit di kepalanya.iapun segera menuju meja riasnya dan mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basahSetelah rambutnya di tata dengan rapi ia memoleskan make up tipis di wajahnya karna jika terlalu mencolok maka ia tidak akan di izinkan pergi bekerja oleh XavierSetelah Gwen selesai dengan make up nya ia pun menatap pantulan dirinya sendiri di kaca full body' Perfect ' ucapnya dalam hatiIa pun segera turun untuk menemui Xavier"Morning all" ucap Gwen saat sampai di meja makan yang hanya terisi dengan bundanya dan juga Xavier"Morning too sayang" ucap bunda dan juga Xavier"Kalau kamu pertanyaan di mana ayah dia sudah pergi karna ada meeting pagi ini" ucap bunda seolah tau apa yang akan putrinya tanyakanGwen yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya singkat sambil mulutnya membentuk huruf 'O'Sarapan pagi pun berjalan dengan mulus tanpa ada lagi yang bersuara. Gwen dan juga Xavier yang melihat jam tangannya pun berpamitan agar tidak terlambat pergi ke kantor"Bun aku dan Gwen pergi dulu ya" pamit Xavier mewakili Gwen lalu mereka pun menyalami tangan bunda dan langsung pergi menuju kantorSetibanya mereka di kantor Gwen dan juga Xavier menuju ruangannya masing masing yang hanya terpisah oleh satu tembok"Sayang aku masuk dulu ya" ucap Gwen kepada Xavier yang menganggukkan kepalanyanamun sebelum Gwen benar benar pergi Xavier membalikkan tubuh Gwen dan mengecup singkat dahi Gwen yang membuat pipi Gwen langsung merona"Semangat kerjanya nyonya pratama" Xavier berucap dengan di sertai kekehan"Ih apaan sih udah sana kamu pergi ke ruanganmu" perintah GwenXavier pun pergi menuju ke ruangannya dengan masih tawa kacil menyertainya11.00CeklekGwen yang mendengar suara itu pun menoleh ke arah pintu dan di lihatnya Xavier berjalan dari arah sana menuju meja kerja Gwen"Ada apa tumben sekali kau yang kesini biasanya kan kamu yang memintaku untuk ke ruangan mu""Tak apa namun kayaknya aku ada meeting mendadak kali ini dan mungkin kita tidak akan bisa lunch bersama, apakah kau tak apa?" tanya Xavier sebab takut Gwen merasa kesepian"Aku tak apa vier kamu pergilah meeting kalau begitu" ucap Gwen meyakinkan Xavier"Baiklah kalu begitu aku pergi dulu ya sayang" ucap Xavier dengan mengecup puncak kepala Gwen sebelum ia pergiGwen yang melihat Xavier keluar dari ruangannya pun hanya bisa menghela nafas dan kembali melanjutkan pekerjaannya yanv tertunda ituGwen masih fokus mengerjakan pekerjaannya yang belum juga selesai namun sebelum Gwen benar benar menyelesaikan pekerjaannya harus terganggu karna ponselnya berderingDan saat melihat siapa penelfon nya pun Gwen segera mengangkatnya" Hallo Gwen,kamu apa kabar? Aku sudah kembali" ucap seorang penelfon di sebrang sana" Hallo juga ndra,aku baik baik saja kok.hah? Seriusan kamu udh pulang?" tanya Gwen tidak yakinJadi kalian sudah tau kan siapa yang menelpon Gwen yang tak lain dan tak bukan adalah Andra" Aku serius Gwen dan rencananya aku ingin mengajakmu makan siang hari ini apakah kamu sedang tidak sibuk?" tanya AndraGwen pun sedang berfikir sejenak sebelum ia menjawab pertanyaan dari Andra"Ia aku sedang tidak sibuk kok"" Baguslah, aku akan mengirimkan alamat kafenya kepadamu dan jangan telat""Ya ya ya okee" jawab Gwen malasSetelah itu ia pun melihat alamat yang di kirimkan oleh Andra dan langsung pergi menuju kafe tersebutTingg ...Bunyi bell terdengar artinya ada orang yang memasuki kafe dan orang itu adalah Gwen yang melangkahkan kakinya menuju ke tempat Andra yang sudah melambaikan tangannya ketika ia masuk tadi"Kau mau pesen apa pesan lah aku yang akan mentraktir mu" ucap Andra ketika Gwen sudah duduk di hadapannyaSetelah memesan makanan dan makanannya pun sudah hadir di meja itu Andra segera membuka suaranya"Gwen kamu apa kabar""Ya yang seperti kamu lihatlah aku baik baik saja, dan bagaimana dirimu sendiri disana?" tanya Gwen"Aku juga baik kok Gwen""Bagaiman dengan kekasihmu"Gwen juga menanyakan utu karena ia juga tau kalau Andra itu sudah memiliki kekasih yang ternyata adik tingkat Andra sendiri sewaktu kuliah di saba"Hahaha dia baik baik saja tapi mungkin sekarang dia masih sedang sibuk sibuk nya menyiapkan skripsi untuk kuliahnya" ucap Andra sambil tersenyum karna ia juga merindukan gadis kecilnya itu"Lalu kenapa kau kembali bukannya membantunya untuk menyelesaikan tugasnya""Aku juga maunya seperti itu Gwen namun ia menolak justru ia menyuruhku pulang karna ia tau kalau aku belum pulang ke indonesia selama ini""Waw ternya gadisku itu sangat baik ya" ucap Gwen merasa kagum kepada kekasih nya Andra itu"Ya bagitulah ia sebelas dua belas lah denganmu Gwen yang berhati malaikat" ucap Andra yang langsung mengundang tawa mereka berduaSaat sedang fokus mengobrol sambil sesekali tertawa mereka tidak tau kalau di pojok kafe tersebut ada seseorang yang melihat mereka dengan tatapan tajam miliknya'Sial berani beraninya kau tertawa bersama gwenku, milikku, kesasihku' ucap Xavier dalam hati"Oke mungkin segitunsaja tuan pratama mungkin untuk lebih jelas lagi ya bisa kita bicarakan pada meeting selanjutnya" ucap klien nya Xavier ituDan setelah itu mereka bersalaman dan klien nya pun meninggalkan kafe tersebut sedangkan Xavier pergi menuju ke meja yang terdapat kekasih-nya itu"ahmmm" Xavier berdehem seraya mengeraskan suaranya agar Gwen mau membalikkan tubuhnyaDan benar saja Gwen membalikkan tubuhnya dengan mata yang melotot karna melihat Xavier di siniSedangkan Xavier yang melihat itu hanya tersenyum miring'Ya tuhan apalagi ini? kenapa Xavier bisa ada di sini? Habislah aku' batin Gwen berujar'Kau berani sekali pergi bersama pria lain tanpa bertanya kepadaku dulu Gwen' batin Xavier'Siapa orang ini? Dan kenapa Gwen menatapnya Seperi itu? Dan dari mana aura menyeramkan ini datang' batin Andra terus bertanya.Saat ini aku sedang meeting bersama dengan klien ku di sebuah kafe yang letaknya tidk terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh dari kantorkuSaat sedang meeting aku tak sengaja melihat kekasihku duduk bersama seorang pria, wait PRIA?!Aku terus saja memperhatikan kekasihku dari tempatku berada sampai sebuah suara dari klien ku menyadarkan ku dan mengatakan bahwa meeting telah selesaiSetelah itu aku berjabat tangan dengannya dan ia pun keluar dari kafe tempat meeting kita ini sedangkan aku pergi menuju meja kekasihku berada yang terlihat ia masih saja tertawa dengan pria ituAku sengaja berdeham dengan suara yang di besarkan agar ia berbalik dan benar saja ia berbalik dengan wajah terkejut nyaBugh ,,, bughh" Kenapa loe deketin cewek gua anjing?!!! Loe mau ngambil Gwen dari gua hah?! Dan gua peringatin loe jangan deket deket sama cewek gua lagi!!!!BughAku sungguh tak tahan dan segera menghajar pria yabg bersama dengan kekasihku membabi buta sampai pada saat aku merasakan tubuhku di peluk oleh seseorang dari arah belakang dan aku pun mematung di tempat"Baby sudah jangan Seperi ini, ia bukan siapa siapa aku ia hanya temanku Andra. Tolong jangan memukulinya lagi" ucap Gwen menghentikan aksikuTapi tunggu dulu ada yang janggal Andra? Ohh rupanya ia yang mengirimi kekasihku itu pesanAku yang mendengar pembelaan dari kekasihku untuk pria yang katanya HANYA temannya itu pun langsung menarik tangan Gwen tanpa memperdulikan lelaki yang saat ini sedang mengusap sudut bibirnya yang terdapat bercak darah sampai aku merasa Gwen menghentikan langkahnya dan aku pun berbalik"mmm vier apa Leih baik kita menghantar Andra ke rumah sakit terlebih dahulu kasihan pasti dia sangat lah kesakitan" ucap GwenAku tak memperdulikan ucapan Gwen aku langsung saja menariknya namun sebelum ia itu aku melihat Gwen menatap lelaki itu dengan tatapan bersalahnya dan ddi balas senyuman kecil lelaki ituAuthor POV"Gila pacarnya si Gwen posessive amat dah ampe bonyok ni muka ganteng gua buset dah"Lalu ia beranjak untuk pergi dari kafe tersebutDi lain sisi ada seorang pria yang tengah menarik tangan kekasihnya menuju ke parkiranSaat sampai di depan mobil ku. Aku segera mendorong Gwen masuk je dalam dan menutup pintu mobil dengan kerasBrak'Ya tuhan tamatlah aku kali ini' batin Gwen berujarAku segera masuk dan mengemudikan mobilku dengan kecepatan di atas rata rataAuthor POVSetibanya mereka di apartemen milik Xavier, Xavier segera menarik tangan Gwen menuju apartemen miliknya lalu menghempaskan tubuh Gwen ke atas kasur agar perempuan itu tidak terlukaAku yang terlanjur panas pun melepaskan jas, dasi dan kemejaku menyisakan kaos berwana putih yang sangat ketat di tubuh perposional ku"Kenapa Gwen?! Kenapa?! Jawab Gwen!!" ucap Xavier murka"A-akku..."Baru saja Gwen ingin berbicara namun Xavier langsung membanting vas bunga juga barang barang yang terbuat dari kaca di dalam kamar ituPrank .... prank ....Hal itu membuat Gwen tidak berani membuka mulutnya lagi"Kenapa kau pergi bersama pria lain ke kafe itu Gwen?! Apakah kau ingin berselingkuh dengannya saat status kita ini sudah bertunangan?! apa benar??!!"Gwen tidak berani menjawab pertanyaan Xavier ia hanya menutup mulutnya sambil menggeleng kuat menandakan semua yang di ucapkan Xavier itu tidak benar"A-aakku tidd-dak ber sel-lingkuh vi vier" Gwen mencoba membuka suaranya walaupun sangat sulit karena ia benar benar sudah sangat ketakutan melihat Xavier jika sudah seperti ini"Lantas jika tidak KENAPA KAU PERGI KE KAFE BERSAMANYA DAN TIDAK MAMBERI TAHUKU? kau tau kan AKU SANGAT TIDAK SUKA!!!!" ungkap Xavier sambil menatap Gwen dengan pandangan yang tersirat marah, sedih, dan juga yang paling besar adalah kecewaGwen hanya menunjukan kepalanya semakin dalanXavier yang melihat potongan potongan kaca itu langsung berjongkok dan mengukir nama 'Gwen' di tangannyaGwen yang tidak mendengar suara Xavier lagi sontak mendongakkan kepalanya melihat apa yang di lakukan pria ituSaat melihatnya Gwen langsung memeluk Xavier sambil menangis kencang"Hiks hiks vier jangan hiks sepeti ini,,Jangan lukain hiks dirimu sendiri hik hiks maaf kan aku hiks yang membuatmu marah hiks" ucap gwenXavier yang mendengar Gwen menangis membalikkan badannya dan memeluk Gwen erat dan juga tak lama air mata pun mengalir dari mata indahnya itu"Hiks Gwen kenapa bersama pria itu hiks hiks Gwen? Apa karena baby terlalu manja jadi Gwen ga suka dan sayang lagi hiks sama baby dan lebih memilih pria itu hiks""Engga baby dengerin Gwen yah Gwen itu sayang banget sama baby dan ga mungkin Gwen memilih pria lain selain baby" sambil menghapus air mata di matanya juga di mata Xavier"Maafin Gwen yah,,, baby mau kan maafin Gwen?" lanjut Gwen"Iyah baby maafin Gwen tapi Gwen ga boleh pergi bersama pria lain selain baby juga keluarga Gwen""Iya kamu tenang aja aku ga lagi kayak gitu""Yaudah aku bersihin luka kamu dulu " ucap Gwen langsung pergi mengambil kotak p3k untuk mengobati Xavier yang saat ini sedang duduk di atas kasurTak lama Gwen pun kembali lagi dengan membawa kotak p3k juga baskom beserta air dan juga handuk kecil untuk Xavier sebelum memberikannya obatSelesai dengan membersihkan luka Xavier dengan air hangat Gwen langsing mengambil kapas dan juga obat merah untuk mengobati Xavier"Aww shhh" ucap Xavier sesekali merintis merasakan tangannya linu"Tahan baby sebentar lagi selesai kok" ucap Gwen sambil tersenyum manis kepada XavierXavier menganggukkan kepalanya sambil menatap lukanya yang sedang di perbam oleh GwenSehabis itu mereka berbaring dengan posisi berpelukkan(Abaikan saja wajahnya ya😂)" Baby lebih baik kita tidur saja sekarang aku tau kamu pasti sangat lelah" ucap Gwen kepada Xavier"Mm baiklah aku juga sudah mengantuk, dan aku juga sudah izin kepada ayah kalau kamu tidak pulang dan menginap di apartemen ku"Gwen yang mendengarnya mengangguk di dalam dekapan Xavier ituMemang keluarga dari Gwen sudah sangat percaya bahwa Gwen dan Xavier tidak akan macam macam karena Xavier juga ingin menjaga Gwen dan bukan merusak nya"Gwen aku mencintaimu jadi tolong jangan pernah pergi dari bidpku karna aku tau kalau aku ga akan sanggup untuk itu" ucap Xavier sebelum memejamkan matanya ituGwen yang mendengar ucapan Xavier hanya tersenyum tipis sebelum berkata"Aku juga sangat menyayangi mu vier, i love you baby" ucap Gwen sebelum menyusul Xavier ke alam mimpi.Malam sudah berlalu dan pagi ini pun terlihat sepasang kekasih yang masih terlihat nyenyak tanpa peduli kalau sinar matahari telah semakin bersinarSampai ada salah satu dari mereka yang membuka matanya dan kemudian bangkit perlahan bersandar di kepala king bad ituDia adalah Gwen, Gwen yang sudah sadar pun menengok ke arah sebelahnya yang terdapat kekasihnya itu masih tertidur dengan nyenyak nyaSebelum ia membangunkan Xavier ia pergi ke kamar mandi terlebih dahulu agar setelah ia selesai Xavier bisa langsung bersiap siapCeklek....Gwen membuka pintu kamar mandi yang langsung terhubung dengan walk in closed itu, fan Gwen tampak cantik dengan make up naturalnya ituGwen yang melihat Xavier masih tertidur lantas membangunkan Xavier"Hei baby bangun lah kalau tidak kita akan terlambat pergi ke kantor hari ini" ucap Gwen sambil menepuk pipi Xavier pelanXavier yang pipinya di tepuk pelan pun merasa terganggu dan membuka matanya dengan perlahan"Gwen aku masih sangat mengantuk, kita bolos kerja saja hari ini" ucap Xavier dengan suara serak khas bangun tidurnya itu"Ih kok gitu sih, masa kamu malas malasan aku ga suka ya punya tunangan yang malas" ucap Gwen pura pura agar Xavier mau bangunDan benar saja tak lama Xavier bangun dan langsung duduk melihat ke arah Gwen"Ngga kok Gwen aku mau kok pergi ke kantor tadi aku hanya bercanda saja tolong jangan katakan seperti itu. Aku masih tunangan mu kan?" ucap Xavier dengan nada takut juga khawatir"Yaudah kalau begitu sekarang pergi ke kamar mandi dan segera bersiap a ku akan menyiapkan sarapan untuk kita dulu nanti kamu langsung ke bawah aja yaa"Mendengar ucapan Gwen Xavier hanya menganggukkan kepalanya saja dan segera pergi ke kamar mandi untuk segera bersih bersihGwen yang tengah menyiapkan makanan untuk sarapan mereka nanti pun harus terhenti karena ada sepasang tangan yang melingkar di perutnyaTanpa harus melihat pun ia sudah tau kalau itu adalah Xavier"Hai aku sedang menyiapkan makanan untuk kita jadi kamu lebih baik tunggu saja di meja sana"Xavier yang mendengarkan Gwen berujar seperti itu hanya berjalan ke arah yang di tunjuk oleh Gwen dengan menghentak hentakan kakinyaGwen hanya acuh dengan dengan tingkah Xavier lalu menaruh nasi goreng buatannya ke piring Xavier juga piring nya dan membawa piring itu kemeja lalu kembali lagi ke dapur untuk mengambil air minum"Sudah mukanya jangan di tekuk seperti itu baby""Hmmmm" hanya itu saja jawaban dari XavierXavier hanya mengaduk ngaduk makanannya tanpa minat untuk memakannya walaupun sebenarnya ia juga lapar karena kemarin tidak sempat makanGwen sudah menyelesaikan sarapannya dan kini menatap Xavier heran tumben sekali ia tidak memakan masakannya biasanya jika ia yang masak Xavier akan langsung melahapnyaJadi Gwen memutuskan untuk bertanya saja ada apa dengan Xavier ini"Hei baby kok ga di makan sih makanannya? Apa kurang enak? Atau kau ingin makan makanan yang lain? kayaknya kalau pun aku memasak lagi tidak akan membuat kita terlambat"Xavier yang mendengarkan sederet pertanyaan Gwen pun masih enggan untuk membuka mulutnya itu hadi ia hanya menggelengkan kepalanya saja'Ish Gwen ini kenapa ia tidak peka peka kan aku ingin ia yang menyuapiku' batin Xavier mencebik kesal"Lalu kenapa makanannya hanya di aduk aduk saja baby?" tanya Gwen masih heran dengan sikap Xavier itu"Ih Gwen mh ga peka kan aku ingin kamu yang menyuapiku Gwennn" ucap Xavier sambil merengek kepada GwenGwen yang mendengar itu hanya mampu menahan tawanya yang akan meledak"Hei kenapa kamu tidak mengatakannya saja jika kamu ingin aku menyuapimu, aku kan tidak bisa membaca fikiranmu" ucap Gwen"Emang pada dasarnya saja Gwen memang tidak peka" ucap Xavier kesal"Yasudah aku yang salah dan aku minta maaf, sini aku suapi kamu" ucap GwenGwen menyuapi Xavier dengan sabar sampai sarapannya benar benar habis lalu Gwen memberikan minum kepada XavierGwen beranjak dari meja makan menuju wastafel untuk membersihkan piring bekas mereka makan agar cucian piring kotor tidak menumpukSehabis mencuci piring Gwen segera beranjak dan ia menghentikan langkahnya di saat ia melihat Xavier masih berada di meja makan sambil melihat grafik saham dari ipad nya ituGwen menepuk bahu Xavier pelan agar menyadarkan lelaku itu akan kehadirannya" hey ayo kita berangkat kau bisa melanjutkannya nanti saat kita sudah sampai perusahaan" ucap Gwen"Baiklah" Xavier menurut apa yang di katakan GwenGwen dan Xavier pun memasuki mobil milik Xavier dan mereka berdua duduk di kursi penumpangKarena Xavier sedang malas untuk menyetir jadi ia memutuskan untuk memanggil sopir yang ada di mansion nya untuk datang ke apartemennya dan mengantarkan mereka ke kantorDi sepanjang jalan menuju kantor keadaan di dalam mobil itu hening karena sopir sedang menatap fokus ke arah jalan, Xavier sedang asik memeluk Gwen, Dan Gwen sendiri sedang asik menatap pemandangan dari kaca mobil ituSetibanya mereka di loby kantor mereka (Xavier dan Gwen) segera menuju ke ruangan mereka. Di sepanjang jalan menuju ruangan banyak sekali para karyawan yang meyapa atau pun melirik Xavier tapi di acuhkan olehnyaSaat mereka memasuki lift keadaan lift itu hening sampai ada yang memecahkan keadaan lift itu yaitu suara notifikasi pesan dari handphone milik Gwen dan itu juga mengalihkan atensi XavierAndraGwen bisakah kita bertemu saat kau pulang bekerja? Aku mohon:(Gwen sempat berfikir tidak ada salahnya juga kan toh ia juga ingin meminta maaf secara langsung kepada Andra tentang kejadian yang kemarin saat Xavier memukulnya. Dan Gwen pun membalas pesan dari AndraGwenBaiklah. Di mana kita akan bertemu?AndraBagaimana jika di taman komplek mu saja aku rumah baruku juga hanya berbeda blok denganmuGwenBaiklahSetelah itu tak ada lagi balasan dari Andra dan Gwen segera memasukan handphone nya je saku bajunya"Siapa?" tanya Xavier dengan nada dinginnyaGwen yang mendengar ucapan dari Xavier hanya membungkam mulutnya"Aku bilang siapa Gwen Crystallyn Alexis" ucap Xavier menyebutkan nama lengkap Gwen'matilah aku ia menyebutkan nama panjang ku artinya ia benar benar marah. Apakah aku harus memberi tahu ia apa yang terjadi sebenarnya? Ah tidak tidak aku tak ingin Andra mendapatkan pukulan lagi darinya" batin GwenTinggSuara itu lift pun menyadarkan keduanya dan Gwen langsung beranjak dari sanaNamun baru beberapa langkah Xavier langsung menarik Gwen dam menyandarkannya di dinding samping liftGwen mencoba mengangkat wajahnya untuk menatap mata tajam bak elang milik Xavier itu'kau harus tenang Gwen agar ia tak curiga' ucap batin GwenLalu Gwen melihat ke arah mata Xavier sambil mengelus rahang pemuda itu yang mengeras dengan lembut"Benar benar Tidak ada apa baby, percaya denganku. Sudah ya aku masih harus mengerjakan tugas tugasku yang sudah menumpuk"Ucap Gwen melenggang pergi saat tubuh Xavier sedikit menjauh"Huhh selamat aku" ucap Gwen pelan sambil mengelus dadanya'Sebenarnya apa yang kau sembunyikan Gwen?' batin Xavier bertanyaLalu Xavier merogoh saku celananya dan segera menelpon seseorang"Tolong kau awasi kekasihku apapun yang di lakukan nya kau harus melapor kepadaku" Xavier segera mematikan sambungan telponnya saat ada balasan dari orang suruhannya ituGwen POVHari ini jam kantor telah selesai dan pekerjaanku pun hampir selesai semua. Namun saat aku membereskan barang barang ku Xavier telah sampai ke ruangan ku dan mengajak aku pulang bersama"Gwen ayo kita pulang" ucap Xavier dengan senyuman manisnyaAwalnya aku ingin mengiyakan ajakannya tetapi aku ingat saat ini aku harus bertemu dengan Andra jikalau nanti aku melewati taman komplek dan Andra ada di sana pasti Xavier berpikiran yang tidak tidak"Mmm vier mungkin hari ini aku akan pulang sendiri" ucap Gwen"Tapi kenapa bukan kah biasanya kau slalu pulang bersamaku?" tanya Xavier heran dengan tingkah Gwen"Aku aku ingin menemui teman la aku dulu vier""Siapakah temanmu? Apakah ia seorang pria?" tanya Xavier memastikan kalau kekasihnya tidak akan pergi dengan pria lain"Tidak ia seorang wanita namanya bella teman kita dulu""Oh bela baiklah, apakah kamu ingin aku mengantarmu menemuinya? Sepertinya aku juga ingin menemuinya karena suaminya kan rekan Bisnisku juga""Oh tidak usah kar-karna hari ini itu khusus wanita saja, jadi kau tidak boleh ikut""Lalu kau akan pergi dengan siapa aku khawatir kalau kau kenapa napa di jalan Gwen" ucap Xavier mengelus pipi Gwen dengan lembut juga sorot matanya berubah sendu"Aku akan pergi naik taksi, kau tidak usah khawatir lagi pula aku sudah besar baby" ucap Gwen dengan menyentuh telapak tangan Xavier yang berada di pipinyaXavier menghembuskan nafasnya kasar "baiklah jika itu mau mu, hati hati ya sayang" ucap Xavier dan meninggalkan Gwen karena ia harus segera menemui kliennya yang baru datang dari amerika'Syukurlah jika ia percaya' ucap batin Gwen menghela napas legaAndraGwen kamu di mana kenapa lama sekali,,,cepatlah darurat ini🙀GwenBersabarlah aku segera membereskan barang barang kuAndraBaiklah.Gwen langsung mengemas barang barangnya dengan cepat karna takut andra memarahinya tanpa henti.sungguh menyebalkanGwen keluar dari perusahaan beruntung saat keluar ia langsung menemukan taksi jadi tidak perlu menunggu terlalu lama lagi......."Hei kenapa kau sangat lama sekali Gwen aku menunggu mu bahkan seperti hampir lumutan" Ucap Andra ketika melihat Gwen turun dari taksi dan menghampiri nyaGwen yang mendengar ocehan Andra hanya memutar bola matanya malas. Andra memang terkadang ia akan menjadi sangat cerewet di keadaan keadaan tertentu"Yang penting saat ini kan aku sudah ada di sini. Cepat katakan apa sebenarnya tujuanmu mengajakku untuk bertemu" ucap Gwen to the poin karna ia merasa akan terjadi sesuatuBahkan Gwen lupa untuk meminta maaf karna perlakuan Xavier kemarin

My Disaster CEO
Romance
04 Jan 2026

My Disaster CEO

Lantunan lagu Without Me dari Halsey mengalun merdu melalui earphone yang tersemat di telinga Alicia. Ia ikut bersenandung kecil, sementara netranya sibuk membaca novel romansa karya John Green. Gadis bermata bulat itu datang lebih awal dari pada mahasiswa lainnya.Salahkan kebodohannya yang lupa mengganti baterai pada jam weker. Alicia mengira ia sudah terlambat datang, padahal jamnya sudah mati sejak kemarin pukul sepuluh malam.Alhasil beginilah nasib Alicia sekarang, sendirian di kelas.Alicia melepas earphone di telinga kirinya, merasa sedikit lelah mendengarkan lagu selama kurang lebih 45 menit. Ia merenggangkan kedua tangannya guna melepas penat. Netranya menjatuhkan perhatian ke luar jendela. Tidak seperti ketika Alicia tiba lebih awal, kampus sudah mulai ramai dipadati mahasiswa.Seharusnya Kina udah dateng, batin Alicia, atau jangan-jangan dia ngebo lagi gara-gara marathon drama Korea?Kina adalah sahabat Alicia sejak SMA. Meskipun bertolak cukup jauh, mereka sangat akrab. Alicia tidak pernah terlihat jauh dari Kina dalam waktu lama. Bahkan setelah lulus SMA, keduanya memutuskan mendaftar di Universitas yang sama.Sepuluh menit sebelum kelas dimulai, Kina datang dengan wajah mengantuk. Cewek berambut panjang itu menyapa Alicia sebelum duduk di sebelahnya.“Pasti nonton drama Korea, ‘kan?” tanya Alicia dengan senyuman kecil. Perutnya tergelitik melihat muka bantal Kina.Kina menyandarkan kepalanya di meja dengan malas. “Jangan bawel, deh.”“Nggak, tuh. Gue cuma tanya.”“Mending lo urusin beragam laporan keuangan yang numpuk di tas lo,” dumel Kina sebelum menguap lebar. “sumpek tahu. Lo kayak mau pindah rumah aja dengan tas segede gaban itu."“Ih, bawel lo.”***Kelas Alicia berakhir pada pukul sebelas siang. Ia punya janji untuk makan siang bersama Kina. Oleh karena itu, Alicia menunggu di kantin. Ditemani jus jeruk beserta novel, Alicia tenggelam ke dalam dunianya. Tidak peduli betapa ramainya mahasiswa yang berlalu lalang. Entah itu sedang makan siang, membolos mata kuliah, atau sekedar nongkrong bersama teman. Ada pula yang hanya duduk sendirian, seperti Alicia.Alicia hanyalah salah satu dari mahasiswa yang tidak ikut kegiatan apa pun. Alias, mahasiswa kupu-kupu. Tidak heran bila ia tidak memiliki banyak teman. Bedanya, hampir seluruh mahasiswa tahu siapa dirinya. Dari pada mengucilkan, mereka cenderung segan untuk mendekat.Ketika jam menunjuk pukul setengah dua belas, suasana kantin tiba-tiba berubah ricuh. Seolah ada bom waktu yang terpasang dan kini meledak. Seluruh perhatian mahasiswa berpusat pada satu objek yang sama, perempuan keturunan asing yang baru memasuki area kantin.Biasanya, Alicia tidak suka suasana semacam itu. Namun, ia tidak mau repot-repot pindah lokasi.“Itu yang namanya Lily?”“Wah, keren banget ya kalau dilihat langsung.”“Serius dia, nih? Cantik banget, dong.”Nama Lily yang dibisikkan seolah mempunyai magnet tersendiri. Alicia menoleh, segera mencari sosok Lily yang sukses menggemparkan kantin. Perempuan itu duduk tidak jauh darinya, sedang menyantap roti bakar sendirian. Tidak ada gen Indonesia pada dirinya.Pantas saja seisi kantin heboh, bule yang datang.“Eh, sorry kelamaan.” kata Kina yang baru selesai dari jadwal kelasnya.Alicia mengangguk. “Ayo. Kasihan Dava sama kak Fian nunggu lama.”“Ah, mereka mah nggak usah dipikirin. Pasti lagi asyik mabar.”“Tadi, sih, di-chat kak Fian. Katanya, mereka udah pesenin makanan,” Alicia merapikan poninya. “double cheese burger.”Setelah Alicia merapikan barang-barangnya, mereka bergegas ke parkiran. Kina tidak pernah bisa tahan terhadap terik matahari di siang hari. Oleh karena itu, ia segera menggeret Alicia menuju parkiran demi merasakan dinginnya AC mobil.Alicia yang merasa penasaran dengan Lily, ragu-ragu mencoba bertanya kepada Kina. Namun, belum sempat ia bersuara, tiba-tiba Kina bercetus. “Tadi ada Lily di kantin, ya? Heboh banget.”“Iya. Kenapa?”“Nggak heran kalau lihat orang Indonesia agak norak pas ketemu bule. Setahu gue, Lily itu anak DKV. Orangnya nggak neko-neko. Termasuk supel. Pengikutnya banyak di Instagram. Terus, keturunan Eropa. Kalau nggak salah, London.”Alicia semakin penasaran. “Dia emang sendirian, ya? Tadi dia makan sendirian di kantin.”“Kayaknya iya. Gosipnya, sih, dia belum lancar bahasa Indonesianya. Makanya, banyak yang belum berani ngomong sama dia. Entah benar atau nggak.”“Masa, sih?”“Gue nggak kenal dia secara personal. Tumben lo tanya-tanya beginian?”Alicia mendengus. “Gue cuma tanya.”“Lo merasa ada teman senasib, ya? ‘Kan lo termasuk blasteran juga. Eh, Lily bukan blasteran, ding.”“Orang cuma tanya, kok. Penasaran aja, kok orang terkenal seperti dia malah sendirian.”Sesampainya di mobil, tiba-tiba tercetus ide di kepala Kina. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan area kampus, Kina bersuara. “Lo tertarik buat berteman sama Lily?”Awalnya, Alicia tidak menjawab. Ia fokus menyetir. Akan tetapi, ketika berhenti di lampu merah Alicia bergumam. “Mungkin.”***Dari sekian orang yang mendekati Alicia, hanya beberapa yang dianggap teman. Cewek berambut panjang itu cukup selektif dalam kehidupan sosial karena tak ingin dimanfaatkan oleh orang lain. Menjadi salah satu anggota keluarga Collins membuatnya terkenal di kalangan darah biru Eropa. Sudah pasti banyak yang ingin mendekatinya. Alicia tidak suka itu dan lebih memilih berteman dengan Kina. Satu-satunya perempuan yang menjadi sahabatnya.Alicia tidak menyesal. Justru ia senang karena bersama Kina sudah merasa cukup. Kina tidak pernah mengecewakannya dan selalu mengatakan hal yang seharusnya ia katakan.“Cia!”Selain Kina, Fian juga selalu menemani Alicia. Kakak sepupu tertua yang selalu menemani Alicia sejak kecil.Alicia menoleh. “Kenapa, kak?”“Lo yang kenapa, malah ngelamun,” Fian melirik arlojinya sekilas. “Tadi jalanan macet, ya?”Alicia mengangguk. “Iya. Ada perbaikan jalan berlubang di dekat kampus.”“NOT AGAIN!” seru Dava heboh sambil membanting ponselnya di meja. Sukses mengagetkan semua orang.Sontak, Fian melotot. “Apaan sih, bego?”“Kalah lagi,” Dava merengek. “Tim gue yang bego, bukan gue.”Kina menggelengkan kepala. Lelah. “Pantes nggak punya pacar.”Topik tentang asmara adalah topik sensitif bagi Dava. Entahlah, sejak melewati umur dua puluh, Dava sangat sensitif terkait percintaan.“Punya kaca tuh jangan buat dandan, doang.”Kina melirik kakaknya sinis. “Kata seseorang yang super menye sama masalah percintaan.”“Eh, lo juga jomblo. Dilarang menghina saudara umat lo sendiri.”“Mohon maaf, nih. Gue single. Lebih terhormat dari pada lo.”Dava segera mencubit pipi adik kembarnya dengan ganas. “Awas aja kalau gue punya cewek secakep Lisa Blackpink, gue katain status terhormat lo itu.”Selanjutnya diisi oleh keributan dan aksi saling mencubit di antara mereka. Bukan hal aneh lagi melihat Dava dan Kina ribut. Biasanya, Fian menjadi penengah dan Alicia sebagai penonton. Mungkin Fian sudah capek melerai keributan sepasang saudara kembar itu dan memilih cuek. Kalau sudah begitu, tidak ada yang bisa meredakan keributan mereka.“Rese banget, sih, lo!” Kina berseru kesal setelah Dava mencubit lengannya. Tapi Dava justru tidak menunjukkan rasa bersalah. Barulah setelah Kina menekuk bibirnya, Dava mulai melunak.“Bisa ngambek lo?” Dava menjawil pipi Kina, tapi cewek itu malah menyentakkan tangannya.“Ih, adek gue yang dikata kembaran Dara 2NE1 jangan ngambek mulu. Senyum dong.”“Gue nggak mempan sama traktiran.”“Masa, sih? Lagi ada varian es krim baru, lho.”“Bodo amat.”Secara tidak terduga, tiba-tiba Dava menggenggam segelas es krim bertopping saus strawberry dan dua biskuit oreo. Entah sejak kapan es krim itu hadir di meja, yang jelas Kina sangat terkejut melihatnya. Pasalnya, ia adalah pecinta strawberry dan tidak pernah bisa menolak apa pun yang berbahan strawberry.Bukan cuma Kina yang terkejut, Fian dan Alicia pun heran. Seingat Fian, Dava tidak memesan es krim strawberry. Kenyataan bahwa Dava terkadang bertindak ajaib itu sudah bukan hal baru lagi. Hanya saja mereka tidak pernah terbiasa ketika itu terjadi.“Masih mau nolak, nih, neng?” kata Dava menaik-turunkan alisnya usil.Cowok bermata hazelnut itu tahu persis adiknya tidak pernah bisa menolak strawberry.Meskipun tampak malu setengah mati, tangan Kina tetap menyambar es krim itu dari tangan Dava. Sambil menahan malu, cewek itu menyantap es krimnya tanpa mengucapkan apa pun. Sontak saja membuat Dava terkekeh kemudian melanjutkan game-nya di ponsel. Harus Kina akui terkadang Dava bisa sangat manis sebagai kakak.Terkadang, Alicia iri dengan Kina. Berbeda dari sahabatnya, ia merupakan anak tunggal.“Omong-omong, lo udah nyelesaiin revisian kemarin, Dav?” tanya Fian sembari menyeruput coke-nya. “Nggak bisa santai, sih, kalau dapat Pak Subagia. Suka bener bikin orang dikejar waktu.”Dava menghela napas. Tidak mengalihkan perhatian dari layar ponsel. “Kurang dikit, sih. Lampiran hasil penelitiannya belum gue cantumin. Terus belum gue translate ke bahasa Inggris. Mana grammar gue nggak sejago anak Sastra Inggris, eh, tuh orang nyuruh pake versi bahasa Inggris.”“Kenapa nggak minta bantu sama anak Sastra aja? Dari pada translate sendiri, malah salah semua.”“Maunya begitu. Tapi mereka juga pada sibuk ngerjain skripsi. Gue, ‘kan, jadi sungkan.”Alicia tidak bisa ikut campur jika Fian dan Dava sudah membahas soal skripsi. Saat ini, keduanya sedang dalam tahap pengerjaan skripsi. Rencananya mereka ingin sidang di tahun ini kemudian segera mencari pekerjaan. Dengan kemampuan otak mereka, sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun sayangnya, itu berarti perpisahan bagi Alicia. Sebab ia tidak bisa satu kampus lagi dengan mereka.“Kenapa nggak coba minta bantu sama Lily? Anak DKV itu?” cetus Kina setelah selesai melahap habis es krimnya.“Lily si bule itu?” tanya Dava dengan mata bulat. Anggukan dari Kina membuatnya berseru heboh. “Ya kali, woy. Dia aja nggak fasih bahasa Indonesia. Terus, gue yang ecek-ecek dalam persoalan grammar disuruh ngomong sama dia? Bunuh aja gue, Na!”Kina merengut kesal. “Yeee, lo kok percayaan banget sama gosip itu, sih? Belum juga dicoba udah fitnah duluan.”“Gini, ya, adekku tercinta. Dari pada tiba-tiba minta tolong ke dia padahal nggak kenal satu sama lain, mending gue minta tolong Cia,” kata Dava, kemudian melayangkan senyuman maut ke Alicia. “Ya, ‘kan, Ci?”Alicia mau muntah.“Dilarang ganjen ke adek sepupu gue,” sela Fian sedikit sewot. “Yang ada lo bukannya ngerjain translate malah ngegombalin Cia sampai bego.”“Deeek, Fiannya jahaaat. Masa Dava dimarahin.” Dava memasang tampang terluka, yang membuat Kina memutar bola matanya, sementara Fian dan Alicia mengerutkan kening jijik.“Na, tolong, dong, abang lo dikondisikan.” Alicia mendengus kesal seraya menggigit suapan terakhir burgernya.“Jadi, gimana urusan translate skripsi lo? Gue ada temen yang jago bahasa Inggrisnya. Mungkin lo mau.” Fian mengecek ponselnya sekilas. “Nanti sore kayaknya dia ada jadwal kelas. Mau, nggak?”Dava menoleh. Menatap Fian lekat-lekat. “Nggak usah, deh. Kan, ada ini.”“Kina?” tanya Alicia bingung.“Lo nggak tahu? Kina tuh adik paket lengkap. Selain cantik, rajin, nggak sombong, dia juga selalu mengabdikan diri buat membantu gue. Gue sayang adek gue.” Dava tersenyum lebar, tidak lain tidak bukan seluruh perkataan manisnya hanyalah karangan semata demi meluluhkan adiknya.Sementara Fian dan Alicia berharap mereka ditelan bumi saat itu juga.***Seperti biasa, Alicia akan segera berganti pakaian selepas pulang kuliah. Selesai membersihkan diri, ia mengenakan rok span selutut dan kemeja putih beserta jas hitam. Memulas make up tipis agar tampak segar kemudian memakai heels. Selepas menyemprotkan parfum, cewek itu langsung mengemasi barang-barang, lantas menuruni anak tangga.“Nggak makan siang dulu, Non?” tanya Mbok Ayu, pembantu yang sudah mengabdi sejak Alicia lahir.“Tadi sudah makan sama kak Fian, Mbok. Aku langsung berangkat aja,” jawab Alicia sembari merapikan penampilannya kembali di depan cermin lemari gelas di ruang tamu. Alicia selalu berusaha menjaga penampilannya di kantor, setidaknya ia harus memberi contoh yang baik terhadap karyawan lain. “Mobilnya sudah disiapkan Pak Budi?”“Sudah, Non.” Mbok Ayu segera berlari kecil kemudian membukakan pintu untuk Nona mudanya.Alicia masuk ke mobil. Ditemani oleh supir pribadi sejak kecil, Alicia duduk dengan tenang di jok belakang. Ia membuka map kertas berisi beberapa lembar perjanjian yang perlu ditandatangani. Sebelum akhirnya ia juga disibukkan oleh ponselnya yang mulai berdering.“Soal lembar perjanjian, saya masih mempelajari tiap butir kesepakatan yang tercantum.”“….”“Iya, Bapak. Bila perlu saya ingin kita bertemu secara personal untuk membahas kesepakatan ini lebih lanjut. Karena ini menyangkut perusahaan masing-masing, tentu kita ingin yang terbaik, bukan?”Perusahaan. Ya, seperti itu lah hidup Alicia. Bukan hanya sekadar mahasiswa biasa. Ia juga memiliki perusahaan yang harus diurus di usia terlalu muda. Bagi Alicia, menjadi salah satu anggota keluarga Collins dan seorang Direktur Utama di perusahaan Collins Group merupakan beban terberat. Terlebih ia menghadapinya seorang diri. Tanpa didampingi sosok orang tua."Ah, iya. Soal data pendaftar kepala HRD kemarin sudah direkap?""Sudah, Nona. Rencananya hari ini akan diadakan rapat lebih lanjut mengenai perekrutan HRD pada jam tiga sore."Alicia mengangguk. "Bagus. Lebih cepat lebih baik. Tahun ini sepertinya akan lebih banyak lagi yang melamar kerja. Kita harus cepat-cepat merekrut kepala HRD."Ody, sekretaris Alicia, merapikan berkas-berkas yang sudah ditandatangani oleh Alicia kemudian pamit. Kepergian Ody kembali membawa kesunyian di ruang kerja Alicia. Ruangan yang terlalu besar untuk ditempati satu orang. Di belakang kursi kerja Alicia, ia dapat melihat pemandangan kota Jakarta. Ia juga dapat melihat matahari terbenam setiap harinya. Jika sudah terbenam, Ody akan membawakan sepiring pudding dan teh. Namun sepertinya hari ini Alicia tidak berminat pada camilan favoritnya.Jujur saja, Alicia selalu lelah. Ia tidak bisa bersenang-senang seperti anak lain. Ia tidak bisa mengikuti UKM kampus. Padahal ada satu UKM yang menarik perhatiannya. Namun, Alicia terpaksa menjadi mahasiswa kupu-kupu karena memiliki tanggung jawab di kehidupan lain, Direktur Utama. Seringkali ia melupakan tugas-tugas kuliahnya karena terdesak oleh tugas kantor. Sering juga Alicia ketiduran di kelas karena lembur kerja.Ah, betapa susahnya.Alicia tidak boleh mengeluh. Ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya."Tumben banget lo tidur. Jangan-jangan kemarin lo marathon drama Korea juga, ya?"Alicia membuka matanya yang terpejam. Ada Kina yang duduk di sofa dengan membawa seplastik McDonalds. "Kok lo di sini? Kapan datangnya?""Baru aja. Lo aja yang nggak kedengeran.""Terus, kenapa tiba-tiba dateng?""Lo lupa, ya? Ada tugas dari Pak Rendra tahu.""Eh, sialan. Iya, ya. Lo mau ngerjain di sini?"Kina mengangguk. Alicia mendumal kesal.Gue bantu kerjain, deh. Udah gue duga lo bakal lupa sama tugas itu."Alicia nyengir. "Gue, kan, punya tugas double-double.""Banyak alasan lo, ah. Bilang aja lo juga bakal males ngerjain."Spontan, Alicia melempar penghapus yang kemudian telak ditangkap oleh Kina. "Jangan ngajak ribut, deh. Bentar lagi gue ada rapat. Panjang urusannya kalau urusan pribadi dibawa ke kantor."Kina menjulurkan lidahnya. "Sok perfeksionis. Udah ah, lo urus aja urusan kantor lo. Gue mau ngerjain, kurang dikit lagi."Alicia bangkit dari kursi kerja kemudian berlari kecil menghampiri Kina. Ia ingin membongkar isi plastik McDonalds milik Kina. Biasanya cewek galak itu membeli es krim atau beberapa burger dan kentang goreng. Ia selalu berbagi dengan Alicia. Akan tetapi sepertinya hari ini Kina tidak mau berbagi karena cewek itu mencekal tangan Alicia. Tangannya melindungi McDonalds-nya dengan posesif. Hal ini membuat Alicia cemberut setengah mati."Kok nggak boleh, sih?" tanya Alicia kesal."Gue tahu lo terakhir makan burger doang di Wendy's. Ini paket panas, gawat kalau lo habisin." kata Kina sambil mendelik."Gue juga laper tahu.""Oke, fine. Gue nggak laper, tuh," kilah Alicia cepat. Secepat ia berbohong, secepat itu pula perutnya berbunyi. Menimbulkan tawa kencang keluar dari bibir Kina."Oke, lo nggak laper. Cacing lo yang laper." ledek Kina di sela tawanya, tidak memedulikan teriakan kesal Alicia.***Selesai dengan urusan kantor, Alicia pergi ke rumah Fian untuk makan malam. Riska, Bunda Fian, mengundangnya kemarin. Katanya, sekalian kumpul bersama keluarga lain. Berhubung sebentar lagi hari Minggu, Bunda juga ingin seluruh keluarga berkumpul bersama. Oleh karena itu, Alicia juga diminta untuk menginap. Tetapi, ia menolak dan memilih ikut makan malam saja.Rumah Fian tidak begitu jauh dari kantor Alicia. Letaknya di area terdepan perumahan sehingga tidak perlu masuk lebih jauh. Di depan rumah, terlihat beberapa sepupu Alicia sedang bercengkrama. Kedatangan Alicia membuat mereka berhenti bernyanyi demi menyapa cewek itu."Incess Korea dateng! Bawa oleh-oleh, nggak?" tanya Aldi rusuh sambil merentangkan kedua tangan ke Alicia.Alicia menepis tubuh Aldi jauh-jauh. Bukan tanpa alasan, cowok itu penuh keringat hasil dari main basket dengan Fian. Alicia paling benci bau keringat cowok!"Eh, jauh-jauh lo, ya. Bau asem dilarang deket-deket gue!" seru Alicia dengan mata mendelik. Sayangnya, tidak digubris oleh Aldi. Cowok itu malah menyengir dan berderap mendekat. Spontan saja Alicia berteriak heboh. "ALDI! IH, RESE LO, YA!"Teriakan Alicia membuat Bunda dan Oma berlari keluar dari rumah. Raut panik Bunda segera sirna ketika melihat Aldi dan Alicia kejar-kejaran di halaman. Sedangkan, Oma menghela napas panjang. Seharusnya ia tidak perlu panik. Lama tidak berjumpa membuatnya lupa dengan kebiasaan para cucunya."Eh, ini anak dua masih aja kayak anak kecil," keluh Bunda. "Ayo masuk. Mumpung Cia udah datang. Keburu dingin ayam betutunya.""Iya, tuh, Bunda. Aldi makin gede makin rese!" Alicia mengadu seraya berhambur ke pelukan Bunda. Melindungi diri dari bau keringat Aldi yang memang super asem."Dasar tukang ngadu!" olok Aldi tidak terima."Bodo amat!"Bunda segera menggeret Alicia masuk ke dalam rumah sebelum terjadi keributan kembali. Kalau sudah kumpul keluarga begini Alicia dan Aldi memang selalu ribut. Ada saja yang diributkan. Namun, lebih seringnya adalah perkara bau keringat Aldi. Aldi yang suka bermain basket bersama Fian itu selalu menjahili Alicia. Dan selalu saja Bunda yang meleraikan.Kali ini Alicia akan menjaga jarak sejauh-jauhnya dari Aldi. Sehingga ia duduk di sebelah Bunda, demi perlindungan diri. Selain Bunda, ia juga didampingi oleh Fian, tentunya cowok itu selalu mandi setelah bermain basket. Bentuk meja makan yang bundar membuat Alicia tidak duduk berhadapan dengan cowok berambut acak-acakan itu.Makan malam dimulai setelah semua anggota keluarga hadir di meja makan.Mereka berdoa bersama sebelum kemudian mulai menyantap makanannya masing-masing. Terkadang diselingi oleh obrolan ringan dari Opa. Kali ini Opa mengajak Alicia berbicara. Ya, meskipun tiap bertemu Opa selalu menyempatkan. Namun rasanya kali ini berbeda."Bagaimana dengan perusahaan? Berjalan baik?" tanya Opa sembari mengaduk tehnya.Alicia mengangguk. "Iya, Opa. Baru-baru ini cuma ada agenda perekrutan kepala HRD sama perjanjian kerja sama dengan Peterson Corp.""Peterson Corp? Bukannya sejak dulu kita sudah bekerja sama dengan mereka?""Iya, Opa. Kali ini mereka memperbarui butir perjanjiannya saja."Opa mengangguk paham. "Kamu sudah bekerja keras."Sebelum Alicia menyahut, tiba-tiba Keyla bersuara. "Iya, Opa. Sampai-sampai kak Cia punya mata panda yang hitam banget."Keyla adalah adik Fian. Berbeda dari kakaknya, Keyla cenderung usil."Jangan kumat, deh, Key." Alicia meringis berusaha membujuk Keyla, tapi tentu saja Keyla tidak menggubrisnya."Ya, kan, kak Al? Katanya, sih, incess Korea. Kok, punya mata panda? Jangan-jangan incess Cina, tuh." Alih-alih menuruti permintaan Alicia, Keyla justru berceloteh lebar serta mengajak Aldi untuk ikut usil. "Eh, jangan, deng. Incess Cina juga kebagusan. Yang bener, sih, ngencess.""Lo mau mati, ya?" Alicia justru memukul Fian karena cowok itu yang paling dekat dengannya. Sedangkan Keyla duduk jauh darinya."Kok malah gue yang dipukul?" tanya Fian tak terima."Lo di sebelah gue. Lo juga kakaknya."Tidak hanya Fian yang protes, sikutan dari Bunda membuat Alicia diam. "Habisin dulu makannya. Kamu juga, Key.""Ih, Bunda. Padahal kak Fian yang mulai duluan," Alicia merengut. "jangan belain Keyla terus, dong, Bun.""Nggak ada yang belain Keyla, tuh." kilah Bunda seraya melirik galak pada Keyla."Ih, kok gitu, Ma!" Keyla sontak berseru. Namun, langsung merapatkan bibirnya kembali, tersadar di depannya acara makan malam belum usai. Oma hanya tertawa melihat kelakuan cucunya yang selalu manja."Jarang-jarang, lho, kita bisa kumpul begini. Harusnya kamu kurang-kurangi usilnya," Bunda mengelus kepala Alicia, lantas beralih pada Fian. "Kamu gimana proses skripsinya?""Zonk, Tante! Zonk sekali!" alih-alih Fian, justru Aldi yang menjawab. Cowok itu kembali menyeringai usil. "Fian aja main basket mulu. Gimana mau ngerjain skripsi? Udah dijamin mahasiswa aba-aw, sakit David!"Aldi mengerutkan keningnya, kesal. Namun tak dihiraukan oleh David karena ia tak mau ditegur oleh Opa maupun Bunda.Opa mengibaskan tangannya cuek. "Alicia, habis makan malam, ikut Opa sebentar, ya. Ada yang mau Opa bicarakan."Sepuluh menit kemudian, makan malam selesai. Bunda dan Oma sedang mencuci piring di dapur dibantu oleh Keyla. Fian beserta cowok lainnya memilih naik ke lantai untuk bermain PlayStation. Sementara Alicia duduk di ruang keluarga bersama Opa. Ia bermain bersama Nina sebelum kemudian Opa datang dengan membawa segelas teh tawar."Terkait Peterson Corp, kamu harus lebih berhati-hati dengan mereka," kata Opa tanpa menunggu Alicia bersuara.Alih-alih bertanya, Alicia mengangguk setuju. "Aku tahu, Opa. Karena mereka pemegang saham terbesar setelah aku, 'kan?"Opa menggeleng. "Bukan itu. Opa ingat, sebelum Andre dan Amanda meninggal, mereka sempat membuat semacam perjanjian dengan keluarga Peterson."Mendengar kedua orang tuanya disebut membuat Alicia terkejut. Ia tidak ingat, bahkan mungkin tidak tahu bila orang tuanya punya hal semacam itu. Bukannya jarang berkomunikasi, mereka pasti tidak sempat memberitahu.Atau mungkin saja, mereka sengaja tidak memberitahu.“Dia udah di kantin. Sendirian, sesuai dugaan gue,” Kina memberitahu di video call bersama Alicia dan Dava. Kemudian, Kina melirik ke arah Lily yang sedang berkutat pada laptop dan sandwich.Sejujurnya, Kina tidak yakin dengan rencana ini. Kina tidak mengenal Lily sama sekali. Begitu pula sebaliknya. Lalu, tanpa adanya hubungan saling kenal, Kina terpaksa berlagak sok kenal kepada Lily? Benar! Hanya untuk kepentingan skripsi kakaknya yang tidak tuntas!Semalam, Dava sudah berada di ujung usahanya. Perasaan putus asa sudah menggoyahkan semangatnya. Sehingga, Dava menyetujui saran Kina untuk meminta bantuan Lily. Meskipun saat itu ia berdalih bantuan Kina lebih baik, nyatanya Kina tidak mau membantunya. Cewek itu lebih memilih membantu Dava minta tolong kepada Lily, alih-alih dirinya sendiri yang membantu skripsi Dava.“Dav, lo di mana, sih? Buru cepetan ke kantin!” seru Kina setelah sepuluh menit Dava tidak kunjung datang. Ia takut Lily tiba-tiba pergi.“Sabar, elah. Gue udah jalan dari tadi.”“Jalan apa jalan lo? Lelet amat! Keburu pergi, ntar.”“Gimana kalau lo recokin sekarang aja, Na?” usul Alicia tiba-tiba. “Daripada tiba-tiba pergi, kan.”Tentu saja Kina melotot sempurna. Dari rencana keseluruhan, Kina mendapat posisi paling beresiko. “Ya, bener, sih. Tapi, hati gue masih belum siap.”“Lo tinggal duduk di sebelah atau di depan dia. Terus, lo recokin dan sok bersalah, ‘kan?”Kina mengangguk, wajah galaknya seketika berubah menjadi sedih. “Kedengarannya aja gampang, Cia. Lo coba di posisi gue, malunya itu lho setengah mampus.”“Demi gue, dek. Demi gue,” Dava menyahut, alih-alih Alicia. Cowok itu terlihat mengibaskan poninya dengan raut memelas. “Lo tega ngebiarin gue mundur sidang? Lo mau jadi adek dari mahasiswa abadi?”Kina tersenyum sinis. “Jadi, lo nggak mempermasalahkan harga diri gue di depan Lily?”“Ini serius pertama dan terakhir kalinya. Please.”Oke, Kina tidak harus memperpanjang perdebatan yang sia-sia ini. Mau tidak mau ia harus ke Lily. Mengganggu perempuan asing itu dan mengajaknya berteman untuk kemudian diminta membantu Dava.Oleh karena itu, Kina beranjak dari kursi. Tanpa mematikan video call, ia mendekati Lily. Perempuan itu sedang membaca buku. Sesekali matanya beralih pada layar laptop. Sesekali juga tangannya bergerak menyuapkan sandwich. Lily sangat tenggelam ke dalam dunianya sendiri. Hingga ia tidak menyadari kehadiran Kina di depannya. Bersiap menyenggol gelas air mineral yang berdiri tidak jauh dari kertas-kertas Lily.“Ups, I’m sorry,” kata Kina mendramatisir suasana tepat setelah tangannya menyenggol gelas tersebut. Dari raut terkejut Lily, perempuan itu pasti tidak mengendus unsur kesengajaan pada diri Kina. “I’m so sorry. I didn’t mean it.”Tangan Lily dengan sigap menyingkirkan kertas-kertas catatannya dari genangan air. Perempuan bermata biru itu mengelap cipratan air dengan tisu. Kemudian memeriksa kertasnya yang sedikit basah.“Kamu nggak perlu ngomong pakai bahasa inggris,” kata Lily tiba-tiba dengan fasihnya. Sukses mengejutkan Kina setengah mati. “Oh, ini nggak apa-apa, kok. Kertasnya nggak terlalu basah.”Kina dengan mulut melongonya duduk tegap di hadapan Lily. “Lo… lo bisa bahasa Indonesia?”Anggukan dari Lily membuat Kina semakin melongo. Tidak hanya Kina, baik Alicia dan Dava yang menyimak dari video call pun tidak jauh berbeda. Bagi Dava, ini sebuah keberuntungan. Ia tidak perlu susah-susah berbicara dengan Lily. Skripsi Dava sudah dipastikan aman!Kakak kembar Kina datang dengan senyum cerah. Cowok tinggi itu duduk di sebelah Kina setelah menyapa Lily. Bahkan ia tidak peduli betapa sok kenalnya dia di depan Lily. Pokoknya, skripsinya aman.“Gue Dava, hasil dari gen amoeba-nya Kina,” kata Dava berkelakar yang kemudian mendapat cubitan keras. “Maksudnya, gue kembarannya.”Lily mengangguk, cewek berambut cokelat itu terkekeh. “Pantes mirip.”“Gue minta maaf banget soal tadi. Itu pasti catatan, ya? Gue tulisin ulang, ya?” kata Kina bersalah. Ah, dirinya juga masih malu dengan insiden sok membully Lily. Kalau bukan karena Dava, Kina tak akan melakukannya.“Itu cuma coret-coretan saja, kok. Kalau lagi bosan, tanganku selalu mencoret apa pun di sekitarku.”“Berarti bisa gambar juga, dong?” celetuk Dava yang disambut gelengan kepala. “Kok gitu?”“Gambar absurd aja, kok. Bukan yang bagus banget.”“Benang wol gitu? Sama, dong. Jangan-jangan….”“Kenapa?”“Kita jo—aduh, sakit, bego!” Dava berseru sambil memegangi pinggangnya yang berkedut panas. Dava tidak akan pernah terbiasa dengan cubitan adiknya sendiri. Sakit! Tapi salahnya sendiri usil.Kina memasang senyum lebar terbaiknya. “Omong-omong, ini Dava pengen minta bantuan buat skripsinya. Tapi kalau lo nggak mau juga nggak apa-apa.”“Bantuan apa?” tanya Lily, menjatuhkan seluruh perhatiannya pada kakak beradik di depannya.“Translate-kan skripsinya ke versi bahasa inggris. Dava itu masih kacau di grammar-nya. Jadi, dia takut salah ejaan.”Dava mengangguk. “Gawat kalau gue bikin ulang lagi. Udah rugi di tenaga, di dompet juga.”Alicia yang mendengarkan percakapan mereka melalui video call itu tersenyum. Cewek berkulit putih itu memutuskan tidak datang ke kantin. Sebab, tiba-tiba ada meeting mendadak di kantor. Tentu saja Alicia tidak bisa meninggalkannya. Ia akan pamit pada Kina setelah obrolan mereka dengan Lily selesai.Firasat Alicia, sih, Lily akan setuju membantu Dava.***Alicia menyesap teh herbal sembari menyimak Ody membaca jadwal kerjanya hari ini. Tidak begitu banyak. Hanya sekadar rapat pembagian divisi beserta susunan divisi yang baru. Alicia bisa saja tidak usah mengurusnya, biar wakil direktur yang mengurus. Sayangnya, meeting dadakan dengan klien dari Peterson Corp membuatnya harus datang ke kantor. Otomatis, seluruh jadwal kerja sepele itu juga harus ia kerjakan.Tenangkan dirimu, Alicia Collins. Kau tidak boleh marah pada klien-mu sendiri.“Jadi, kapan meeting-nya bisa dimulai?” tanya Alicia setelah teh herbalnya habis.“Klien sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu, Nona. Jadi, meeting sudah bisa dilakukan sekarang.”Secara spontan, mata Alicia melotot. “Sekarang?”Ody mengangguk. “Iya, Nona. Sepertinya beliau bawahan dari Tuan Randy yang ingin membahas butir kesepakatan kerja yang baru.”Alicia hampir tidak bisa percaya. Perusahaan besar itu mengirim pegawainya, alih-alih pemimpinnya. Seharusnya direktur utama yang turun tangan, bukan malah pegawainya!“Ya sudah, suruh masuk. Meeting aku adakan sekarang.” kata Alicia sembari menghela napas.Sesuai dengan permintaannya, klien tersebut masuk. Laki-laki muda, sepertinya di usia kepala dua. Perawakannya tinggi dan tampak berwibawa. Sangat berbanding terbalik dengan image karyawan biasa.“Nama saya Rian, hari ini saya yang bertugas mewakili bos saya dari Peterson Corp,” kata Rian membuka pembicaraan. “saya membawakan titipan dari bos saya. Saya titipkan kepada sekretaris anda. Semoga anda berkenan menerimanya.”Alicia tersenyum. “Tentu saja. Sebuah kehormatan bagi saya. Sampaikan rasa terima kasih saya kepada beliau.”“Tentu saja, Nona.”“Baiklah, mari kita mulai saja. Menurut Bapak Randy, bos anda, beliau ingin mengubah peraturan pada nomor satu sampai lima, benar?”Sore itu, dengan sedikit pusing, Alicia menyelesaikan meeting dengan lancar. Meskipun ada sedikit kendala, akhirnya ia mampu menyelesaikannya. Ketika Alicia mengantarkan kepergian Rian, jam sudah menunjuk pukul enam sore. Masih ada tugas lain yang perlu ia selesaikan. Alih-alih membawa tugasnya pulang, Alicia memilih untuk menyelesaikannya di kantor.Keadaan gedung kantor sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa tugas kebersihan dan satpam yang berkeliling. Ruang kerja Alicia terletak di lantai tujuh, lantai tertinggi. Meskipun lampu sudah dinyalakan, tentu saja Alicia merasa was-was. Tanpa adanya Ody, Alicia benar-benar sendirian di lantai tujuh.Kina: Cia! Lo masih di kantor, ya? Cepet pulang, dong. Gue, Dava sama Fian ada di rumah lo.Alicia: Tumben. Ngapain?Kina: Makan malam bareng sama sekalian gue kerjain tugas lo yang kemarin.Alicia: Aduh, sorry. Gue pulang sekarang. Tunggu aja, gue bawa mobil sendiri kok.Kina: Sip, hati-hati!Alicia segera membereskan barang-barangnya setelah membaca chat terakhir Kina. Setelah memastikan semuanya tertata rapi, Alicia keluar dari ruangannya. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Alicia lembur. Tapi, bagaimana pun juga, ia tidak pernah bisa berdamai dengan kantor di malam hari. Benar-benar menakutkan.Begitu sampai di parkiran, Alicia kembali kalut. Jam sudah menunjuk pukul setengah sembilan. Untuk beberapa alasan, Alicia memiliki trauma tersendiri dengan menyetir di malam hari. Tapi, mau tidak mau ia harus melakukannya atau ia tidak akan sampai di rumah.Jadi, dengan perasaan kalut, Alicia memaksakan diri. “Okay, Alicia. Ini untuk pertama dan terakhir kalinya lo nyetir mobil larut malam. Tuhan bakal melindungi, jadi nggak perlu takut.”Jalanan ibu kota cenderung ramai tanpa timbul kemacetan. Hal ini membuat Alicia bernapas sedikit lega. Setelah melewati dua perlintasan lampu lalu lintas, ia akan sampai di rumahnya.Ketika Alicia bergerak setelah lampu menyala hijau, tiba-tiba sebuah mobil menghantam sisi kiri mobilnya begitu keras. Sontak, mobil Alicia terseret ke kanan hingga menabrak mobil lain. Kecelakaan beruntun itu terjadi dalam sekejap menimbulkan kehebohan.Alicia tidak percaya. Ketakutannya menjadi kenyataan.“Cia, lo bisa dengar suara gue?” tanya Fian ketika melihat kelopak mata Alicia bergerak terbuka perlahan. Meskipun samar dan sangat pelan, Fian sangat senang. Buru-buru ia memencet bel untuk memanggil dokter.Ketika dokter datang, kedua mata Alicia terbuka sempurna. Perempuan itu mengerjapkannya sejenak, beradaptasi dengan cahaya. Wajahnya tampak bingung selama diperiksa oleh suster. Meskipun masih terasa sulit untuk bersuara, Alicia berusaha menanggapi pertanyaan dokter.“Keadaannya sudah membaik dibandingkan semalam. Nona Collins hanya perlu beristirahat dan perawatan intensif untuk luka-lukanya. Bila ada yang kalian butuhkan, silahkan panggil saya.” kata dokter menyelesaikan pemeriksaannya.Fian mengangguk sebelum kemudian kembali duduk di sisi ranjang Alicia. Setelah tim medis keluar, keluarga Alicia kembali duduk di dekatnya. Wajah khawatir mereka telah berganti dengan wajah bahagia. Alicia akan sembuh.“Lo tahu kesalahan lo, ‘kan?” tanya Fian tanpa memandang wajah Alicia. Sibuk mengupas apel.“Iya, kak. Maaf.”Fian mengembuskan napas panjang. Alicia tahu betul gestur itu. Fian sedang berusaha meredam emosinya.“Dengar, gue berusaha nggak memperpanjang masalah ini. Selama mobil lo diperbaiki, lo harus diantar Pak Budi kemana pun. Paham?”Dari pada gue bantah, nanti makin runyam.Alicia mengangguk pelan. “Iya. Maaf, ya.”Tidak tega melihat Alicia dimarahi, Bunda menjewer telinga putranya. “Kamu, tuh, ya. Baru aja Cia sadar, kamu malah marah-marahin dia.”“Aduh, Bun. Mana ada, sih? Fian tuh kasih nasihat ke Cia biar nggak lembur-lembur lagi. Seenggaknya, kalau mau lembur tuh dianter pulangnya sama Pak Budi.” Fian meringis sambil mengelus telinganya yang perih bekas jeweran.“Bagus, Ma! Sekali-sekali kak Fian tuh dimarahi. Jangan Key mulu!” seru Keyla semangat.“Eh, berani-beraninya lo, ya. Awas aja, gue jejelin nih apel!”Keyla, haters apel, menjerit heboh. “Nggak mau! Oma, kak Fian jahat!”Dari sini, Alicia menyadari kesalahannya. Ia membuat keluarganya khawatir. Sama seperti dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya mengalami kecelakaan mobil. Alicia kembali mendatangkan trauma itu kepada mereka. Untung saja ia selamat. Tidak seperti kedua orang tuanya yang pergi dalam waktu satu malam.Alicia merasa bodoh atas perilakunya.“Gimana, nak? Sudah enakan?” tanya Opa yang baru datang. Lelaki renta itu segera duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Fian.“Sudah, Opa. Tinggal lukanya saja yang masih agak perih.”“Lain kali berhati-hatilah. Opa takut sekali semalam.”“Maaf, Opa,” kata Alicia sendu. “Aku janji nggak akan ulangi lagi.”“Kamu punya sopir pribadi, ‘kan? Kalau terpaksa pulang malam, minta dijemput saja.”“Pak Budi kemarin sedang sakit. Aku suruh beliau istirahat saja.”“Sudahlah, yang lalu biarlah lalu. Sekarang kamu istirahat saja, ya.” cetus Bunda memutus obrolan. “Oh ya, katanya nanti Kina jenguk kamu.”Alicia hanya bisa mengangguk. Akibat kecelakaan semalam, seluruh badannya terasa remuk gara-gara benturan. Ditambah pula dengan luka-luka goresan di beberapa bagian membuat Alicia semakin lelah.Untuk sementara, Alicia akan beristirahat dari segala bebannya.***Malam harinya, Kina datang bersama Dava. Dengan membawa sekeranjang buah dan beberapa yoghurt kesukaan Alicia, mereka berjalan memasuki rumah sakit. Di tempat duduk dekat resepsionis, ada Fian sedang menunggu mereka. Berhubung ruang inap Alicia terjaga ketat, resepsionis tidak akan memberitahukan nomor ruangannya. Sehingga, Kina menyuruh Fian untuk mengantarkan.“Gimana keadaannya?” tanya Kina. “dia nggak kenapa-napa, ‘kan?”Fian mendesah pelan. “Ya, dia baik-baik aja. Tadi siang dia udah sadar.”Kina mengembuskan napas lega. “Syukurlah. Tuh anak emang, ya. Suka banget bikin orang khawatir.”Fian hanya tertawa seadanya.“Eh, ngomong-ngomong,” celetuk Dava ketika mereka sampai di depan lift. Usai Fian memencet tombol, ia melanjutkan. “Gimana pelakunya?”Seolah kesadaran bersama, Fian berdiri tegak. Selama ini ia hanya fokus pada Alicia. Ia tidak memikirkan pelakunya sama sekali. “Nggak tahu. Gue serahkan aja ke polisi. Gue lebih fokus ke Cia.”Dava berdecak kagum, mengiringi langkah mereka bertiga memasuki lift. “Wow, murah hati banget lo. Kalau gue, udah pasti potong anunya dulu sebelum diserahin ke polisi.”“Ih!” seru Kina kesal sambil memukul punggung Dava. Di dalam lift hanya ada mereka bertiga, tapi tetap saja ucapan Dava itu menjijikkan.“Apaan sih, dek?”“Lo tuh yang apa-apaan. Disaring dulu, kek!”“Padahal udah pake disamarkan, coba kalau gue frontal. Makin menjadi-jadi lo.”Kina melotot kesal. “Gue tonjok lo, ya.”Spontan, Dava bersembunyi di belakang Fian. Meskipun adiknya tidak mungkin bisa menonjoknya karena sedang membawa keranjang buah, tetap saja ia takut.“Ini di rumah sakit. Jangan ribut-ribut, ah.” Kata Fian melerai keributan. Bertepatan dengan pintu lift terbuka, mereka langsung berjalan keluar. Menyusuri lorong yang sepi.Kamar yang ditempati Alicia merupakan kamar kelas atas yang dikhususkan untuk kalangan penting. Wajar saja jika lorongnya tampak sepi pengunjung. Jika ada yang menempati salah satu kamar, maka akan terlihat bodyguard yang berjaga di depan pintunya. Selain itu, hanya ada suster dan dokter yang berlalu lalang.Sesampainya di kamar inap Alicia, Kina dan Dava disambut oleh Bunda. Kina cukup terkejut melihat hanya ada Bunda yang menemani Alicia. Ia pikir, ia akan bertemu dengan keluarga besarnya juga.Dari pintu masuk, tampak Alicia sedang duduk menikmati buah potong sambil menonton televisi. Perempuan itu mengalihkan perhatiannya pada Kina kemudian tersenyum lebar.Kina segera menghampiri Alicia lalu memeluknya cukup erat. “Lo bikin orang jantungan aja!”“Maaf, dong,” balas Alicia sambil terkekeh. “Gue nggak kenapa-napa, tuh. Jangan sedih.”Kina melepas pelukannya. “Tentu saja gue sedih, bego. Dava juga.”“Lo nggak tahu seberapa takutnya gue. Gue pikir lo bakal pergi secepat itu, tahu nggak!” isak Kina dengan sesenggukkan. Wajar saja jika Kina menangis. Perempuan itu hanya punya satu teman perempuan selama ini, Alicia.Alicia segera mengelus kepala Kina dan memasang senyum terbaiknya. “Gue nggak akan pergi, kok. Nih, gue baik-baik saja, ‘kan?”Kina mengangguk. Setelah merasa lega, Kina menghapus jejak air matanya dan duduk di samping Alicia.“Kina sama Dava sudah makan malam? Tante belikan makan, ya?” tawar Bunda tiba-tiba.Dava menoleh kaget. “Eh, nggak usah, Tante. Saya nggak lapar, serius.”Saat itu juga, perut Dava berbunyi nyaring. Wajah Dava memerah seketika. Ditambah pula ditertawakan oleh Alicia dan Kina, duh, double malu!Bunda terkekeh pelan. “Perut emang nggak bisa bohong, kok. Tante belikan saja, ya. Titip Alicia dulu.”“Hati-hati, Tante.” kata Kina mengantar kepergian Bunda. Setelah Bunda pergi, Kina menoleh pada Alicia. “Ceritanya gimana, sih? Kok bisa ketabrak? Termasuk parah, lho.”Alicia mendongak. Mencoba mengingat rentetan tragedi semalam. “Gue jalan seperti biasa. Waktu itu jalanan lancar-lancar aja, kok. Nggak macet juga. Di lampu merah itu, deh, tiba-tiba aja ketabrak. Kayaknya si pelaku melanggar lampu merah. Makanya, nabrak gue.”“Pelakunya juga masih belum jelas,” sahut Dava. “Serem emang. Dan kagetnya, kakak lo malah lebih memilih diserahkan sepenuhnya ke kepolisian. Murah hati sekali.”“Dari pada gue repot-repot ngurusin pelaku mending gue urusin adek gue kali,” balas Fian yang duduk di sofa. “Gue nggak secuek itu juga. Selalu gue pantau dari berita di TV.”Fian mengganti channel televisi ke tayangan berita. Seperti sebuah konspirasi, berita Alicia sedang ditayangkan. Menampilkan rekaman kondisi TKP saat ini yang masih ditelusuri oleh polisi. Kondisi lalu lintas pun tampak mengalami kemacetan karena polisi masih mengolah TKP.“Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di perempatan lampu lalu lintas ini melibatkan Alicia Fransisca Collins sebagai korban. Diduga pelaku mengendarai mobil BMW hitam melaju kencang saat lampu merah menyala. Akibatnya, pelaku menabrak mobil Jazz yang dikendarai oleh CEO Collins Group, Alicia Fransisca Collins. Kecelakaan ini mengakibatkan kemacetan di TKP sejak kecelakaan terjadi. Tak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Meski polisi tampak masih mengolah TKP, diduga polisi akan menutup rapat identitas pelaku.”“Wah gila, gila. Kayaknya yang nabrak lo bukan orang sembarangan, deh,” celetuk Dava kesal. “Lo harus bertindak, Yan.”Fian menoleh, lantas mengedikkan bahu. “Nggak, ah. Males tahu.”“Demi adek sendiri pun lo nggak ada niatan gitu?”“Doain aja pelakunya kena karma setimpal atau lebih.”“Fian mah baik, nggak kayak lo, jahannam.” sahut Kina sadis. “Mending lo urus skripsi lo, gih. Minta bantuannya susah payah, jangan sampe lo sia-siain.”Dava cemberut. “Bawel. Weekend waktu gue bersama Lily. Jangan ada yang ganggu gue.”“Sok banget lo,” ledek Alicia dengan tawa. “Awas nanti malu-maluin di depan Lily. Nggak jago bahasa inggris.”“Yeee, enak aja. Gue cuma nggak ahli di grammar,” sahut Dava santai. “Lily nggak bakal kerepotan sama gue. Syukur-syukur kalau gue bisa jadian sama dia. Aw aw!”“Lily siapa, sih?” tanya Fian bingung. Satu-satunya yang belum pernah mendengar nama Lily.Kina melengos pelan. “Masa nggak tahu? Bule di fakultas desainer kampus.”Fian terdiam sejenak. Mengingat-ingat Lily yang dimaksud Kina. Seolah teringat sesuatu, Fian menyeletuk. “Oh, Lily yang itu. Itu, sih, temen gue yang gue bilang jago bahasa inggris. Lilyana Peterson.”Alicia spontan terkejut. Peterson? Peterson yang itu?“Ya iyalah jago, namanya juga bule,” kata Kina sinis. “tahu gitu mah harusnya lo bilang-bilang, kek. Biar gue nggak mempermalukan diri sendiri di depan dia.”“Yakin banget gue bakal bantuin?” tanya Fian iseng.Alih-alih Kina, Dava yang menjawab dengan aksen berlebihan. “Lo setega itu sama gue?”Sebelum keributan terjadi, pintu ruangan terbuka. Menampilkan bodyguard Alicia sedang membawa bucket bunga mawar merah. “Permisi, saya mengantarkan kiriman dari resepsionis untuk Nona Alicia.”“Dari siapa katanya?” tanya Alicia takjub. Sedikit grogi menerima kiriman bunga pertama dalam hidupnya.“Tanpa nama, Nona. Tapi resepsionis menjamin tidak ada bahaya di dalamnya.”“Cieee, dapat kiriman mawar!” seru Dava heboh. “Lo seterkenal itu, ya. Nggak kayak adek galak gue.”“Apa lo bilang?!”Alicia menjatuhkan perhatiannya pada bucket tersebut. Mawarnya sangat cantik dan segar. Pasti baru saja dipesan oleh pengirim. Dari ukurannya yang besar, pasti mahal. Selain bunga mawar, ada kartu ucapan yang terikat di tangkai bucket.Get well soon, my dear.

My Wife is a CEO
Romance
04 Jan 2026

My Wife is a CEO

orm berlari terburu-buru menuju kantornya sebelum, bos galaknya datang. waktu sudah menunjukan pukul 7:30 pagi dan beberapa menit lagi ia harus sudah sampai di kantor karana kalau tidak ia akan mendapati ceramah yang panjang kali lebar dari bosnya.'' huhhh... huhh...'' orm menghembuskan nafasnya dengan kasar.'' ehh orm lo kok baru datang?" tanya soya temannya.'' seperti bisa kayanya dia maraton nonton Drakor tadi malam" sahut becca temannya.'' heheh.. lo tau aja deh bec. eh si bos belum datang kan? tanya orm.'' kayanya belum deh, soalnya gue belum liat'' jawab soya.'' sukur deh, aman gue, kalo enggak bisa-bisa kena semprot.. hahah'' jawab orm.'' haha itu kan udah jadi kebiasaan lo orm.'' ucap becca.'' gue doain deh lo sama si bos jodoh soalnya kalian itu cocok tau'' ucap soya.''ehhhh jangan ya. amit-amit de gue berjodoh sama si muka tembok'' jawab orm kesal.'' tapi kan dia itu keren orm'' ucap soya sambil tersenyum halu.''ihh...apaan nora gitu di bilang keren, kerenan juga aries'' ucap orm membayangkan wajah aries orang yang di sukaianya.'' ni orang matanya burem kali ya, udah jelas kerenan mis lingling'' protes soya.'' ehh kalian ini bukanya kerja malah ngerumpi gue bilangin ya lo semua sama mis lingling, biar tau rasa lo semua'' ucap mei sekertaris lingling yang tiba-tiba datang.ya lingling. nama lengkapnya lingling kwong nama dari CEO sekaligus bos tempat mereka berkerja yang tentunya usianya masih muda. usinya 29 tahun, ya lingling menjabat sebagai CEO di perusahaan keluarganya yang bernama KWONG KOMPENY. ya perusahaan yang di pimpin lingling sangat terkenal apalagi dalam dunia ekonomi, kecantikan, passion, perhotelan dan masih banyak lagi.'' dasar nenek sihir, so cantik benget baru juga jadi sekertaris tapi gayanya udah songong banget'' ucap soya kesal pada sikap mei." udah deh mending kita kerja aja sekarang'' ajak ormmereka semua pun mengerjakan pekerjaan Mereka masing-masing dengan serius dan teliti seperti biasanya, tapi biasanya nya mereka jarang serius dalam berkerja karana kebanyakan menghabiskan waktu dengan mengobrol atau menikmati wifi kantor untuk main media sosial, dan bergosip tentang opa opa korea.****pukul menunjukkan jam 12 siang. jadwal istirahat kantor.'' duh,, capek banget gue, akhirnya selesai juga'' keluh soya dengan perasaan lega.'' iya nih kita makan siang yuu, laper banget nih gue'' ajak becca.'' yeyy yuuu... gue juga laper'' sahut orm dengan semangat.mereka bertiga beranjak dari kusi kerjanya masing-masing dan bersiap untuk makan siang bersama. dan saat mereka berbalik ada aries yang berdiri sambil tersenyum ke arah mereka, mungkin lebih tepatnya pada orm.'' hei aku boleh ikut makan siang bareng kalian gak?" anya aries.'' eh aries, boleh dong masa makan siang bareng gak boleh'' jawab orm dengan malu-malu.'' ehemm...ehemm.. keselek batu'' ucap soya sambil cengengesan.'' ihh... soya apaan sih'' tegur orm.tiba tiba sekertaris lingling datang menemui orm untuk menyampaikan sesuatu.'' orm lo di panggil sama mis lingling ke ruangannya'' ucap mei to the point.'' kok sekarang sih inikan waktu nya istirahat dan waktu makan siang gue'' jawab orm kesal.'' nama gue tau, udah deh mending lo keruangnya aja sekarang'' ucap mei sambi berjalan pergi.'' ihhh nyebelin to orang. ini juga ngapain sih si muka tembok manggil gue segala'' ucap orm jengkel karana ia malas kalau sudah berurusan dengan bosnya itu.'' udah mending kamu ke ruangannya sekarang, nanti aku beliin makan siang buat kamu'' ujar aries dengan lembut.'' cie cie... perhatian banget sih, jadi iri deh'' ucap becca.'' dasar jomblo'' ejek soya'' ehhhh llo juga jomblo ya.. masa jomblo teriak jomblo'' sindir becca.''hehe,, iya iya maaf'' jawab soya cengengesan.'' orm lo cepet pergi sana lo gak mau kan kalo nanti gaji lo dipotong sama mis lingling'' ucap becca.mendengar itu orm menghela nafasnya dengan kasar.'' iya gue pergi dulu ya'' jawab orm dengan malas.orm akhirnya pergi ke ruangan bosnya yang tukang menyuruhnya dengan seenak jidatnya, sebenarnya orm sangat malas menemui bosnya itu tapi ia juga tak mau sampai gajinya di potong karana itu kalimat yang paling orm takuti dan sangat di keramat,kan di kantor kwong Kompany. sesampai di depan pintu ruangan yang bertuliskan ceo orm tak lupa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.tok!.. tok!.. tok!..ceklek!'' permisi mis . mis manggil saya?'' tanya orm basa basi.mendengar sura orm lingling berbalik dari kursi kebesaran nya yang tadinya membelakangi pintu dan sekarang berbalik dan menghadap orm.'' kamu ini kebiasaan. saya itu udah 15 menit tau nungguin kamu, dan waktu saya terbuang dengan sia sia'' ucap lingling datar.'' tuh kan si muka tembok mulai marah, pasti sekarang sudah mulai muncul tuh dua tanduk di kepalanya,,hihihi'' ucap orm dalam hati sambil terkikik.ya muka tembok adalah panggilan husus yang di buat orm untuk bosnya itu. kenapa orm menamainya muka tembok ya pasti kalian tau, muka bosnya itu selalu datar seperti tembok dan jarang tersenyum pada siapapun, saking jarangnya mungkin makluk yang bernama lingling kwong ini tersenyum hanya setahun sekali.'' kamu itu kalau saya tanya itu jawab.'' ucap lingling kesal karana melihat orm yang melamun.'' maaf mis'' ucap orm sambil menundukkan kepalanya.'' kamu masih mau bekerja gak di perusahan saya?'' tanya lingling.'' maksud mis?'' tanya orm bingung.'' kamu itu emang gak becus ya buat laporan. malah banyak typo nya lagi, pusing saya liatnya orm!'' keluh lingling.'' maaf mis'' ucap orm sambil menunduk lagi.'' maaf maaf saja terus, sekarang saya mau kamu perbaiki laporan ini dan harus detail, kalau tidak gaji kamu akan saya potong. mengerti'' ucap lingling datar dan tegas.orm mengambil laparnya di atas meja lingling untuk di perbaiki.'' ia mis, kalau begitu saya permisi'' pamit orm.orm keluar dari ruangan neraka. ya menurutnya ruangan lingling adalah neraka. dan tak henti-hentinya orm mengucapakan sumpah serapah untuk bosnya itu yang super-duper nyebelin dan membuatnya selalu naik darah.'' dasar muka tembok sialan, mentang mentang dia CEO, seenaknya aja nyuruh gue. gue doain lo makin tua dan gak laku seumur hidup'' gumam orm dengan kesal.orm menuju meja kerjanya untuk memperbaiki laporannya, jujur saja orm sangat kesal kalau bosnya sudah marah-marah dengan ceramahnya yang panjang kali lebar itu apalagi dengan ucapan potong gaji.orm... kita kembali'' ucap soya yang baru datang bersama becca dan aries.'' eh gimana?, lo tadi di apain sama mis lingling? " tanga soya kepo.'' gue di suruh memperbaiki hasil laporan. kata dia laporan gue salah lah, banyak typo lah, terus dia ngancem gaji gue bakal di potong. duhhh... pusing kepala gue'' jawab orm perustasi.''ya udah sini biara aku bantuin, kamu juga harus makan, nih aku udah beliin makan buat kamu'' ucap aries sambil memberikan pelastik berisi makan.melihat itu orm segera menerimanya dengan senyuman khasnya.'' makasih banyak ya aries'' ucapnya sambil tersenyum manis.'' iya sama-sama. ayo cepat kamu makan, aku gak mau loh liat kamu sakit nantinya'' ucap aries perhatian.''owww... sweet banget sih,'' ucap becca baper melihat adegan gratis di depan nya.orm yang mendengar itu hanya tersenyum malu. ya menurutnya aries adalah alasan ia bertahan di perusahan ini. Karana kalau tidak orm sudah jauh-jauh mengundurkan diri.orm kini tengah memperhatikan aries yang sedang memperbaiki laporan tadi. orm menganggap aries adalah penyelamatnya.'' ini orm aku udah selesaikan semuanya. dan aku yakin kamu pasti gak akan di marahin lagi sama mis lingling dan aku juga gak mau kamu selalu di marahin sama dia" ucap aries.'' makasih ya aries. kamu baik banget sama aku'' ucap orm senang.'' iya sama-sama. aku akan selau ada untuk kamu sampai kapanpun'' balas aries. adan orm yang mendengarnya hanya tersenyum malu.****setelah orm memperbaiki laporan yang lebih tepatnya di perbaiki oleh aries ia segera membawa laporan itu pada bos nya.sebelum orm mengetuk pintu ia menarik napas dalam-dalam dan berdoa supaya ia di beri kesabaran untuk menghadapi lingling. setelah siap lahir dan batin barulah ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan CEO itu.tok! tok! tok!'' permisi mis ini laporan yang sudah saya perbaiki'' ucap orm sopan walau terpaksa.'' Hmm... taruh saja di meja'' balas lingling datar.mendengar itu orm meletakan laporannya di meja sesuai perintah dari lingling. sesekali juga ia melirik muka lingling yang datar persisi kaya tembok, ya orm menjuluki bosnya itu si muka tembok.'' apa ada lagi yang bisa saya kerjakan mis?'' tanya orm.'' gak'' jawab lingling singkat padat dan jelas.'' ya sudah kalau begitu saya permisi mis'' pamit orm.'' ya'' ucap lingling tanpa melirik orm sama sekali dan lebih fokus ke laptopnya." dasar si muka tembok, bukannya bilang terimakasih ini malah cuma di balas hmm. dasar so cool .'' ucap orm dalam hati.orm pun keluar dengan kakinya yang di hentak-hentakan karana saking kesalnya. ya memang beginilah yang harus orm terima dan di tanggung kalau ia berkerja di perusahaan milik lingling. harus banyak-banyak bersabar.'' kenapa lo jalanya gitu orm? kayanya lo lagi bahagia'' ejek soya dengan usil.'' bahagia pala lo, gue lagi kesal tau'' ucap orm ketus sambil memanyunkan bibirnya itu.'' ketus amat biasa aja dong'' ucap soya.'' gimana gue bisa biasa aja. masa nih ya, gue udah ngomong baik-baik dan menyelesaikan laporan tepat waktu, dia hanya bilang hmm doang. kan sialan'' jelas orm dengan ekspresi di tekuk.'' lo kaya gak tau aja CEO kita itu orangnya kaya gimana" balas soya.'' ya tapikan gue udah cape ngerjainnya'' keluh orm.'' helloo... apa lo bilang? lo yang ngerjain? heh lo kira kita gak tau kalau yang ngerjain laporan lo itu si aries. hah?'' ujar soya ketus.''hehehe.... iya iya maaf.'' ucap orm sambil cengengesan.setelah itu mereka kembali melakukan tugasnya masing-masing. di kantor mereka lebih sering bergosip daripada kerja. tapi kalau di depan bosnya, mereka pura-pura sibuk dan rajin.waktu semakin berjalan dan sekarang waktu menunjukkan pukul tujuh malam yang berarti jam kantor telah selesai, ya hari ini semua karyawan sedang lembur makanya pulang nya malam. semua karyawan pun bersiap-siap untuk pulang.'' akhirnya selesai juga kerjaan hari ini, sekarang waktunya kita pulang'' ucap becca senang.'' ya ini gue juga udh cape banget, seharian kerja'' sahut soya.'' yaudah deh... kalau gitu see you tomorrow guys'' ucap orm pada kedua sahabatnya.'' see you beb'' balas soya dan becca.****orm berjalan keluar kantor menuju parkiran. dan saat ia sampai di parkiran ia tak sengaja bertemu lingling. yang mau tak mau ia harus menyapanya. yaa, itung-itung carper sama bosnya itu...'' malam mis'' sapa orm dengan senyum manis.lingling yang mendengar itu hanya melirik dengan datar tanpa membalas sapan dari orm. lingling malah langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan orm di parkiran.'' kayanya si lingling itu lagi diet ngomong kali ya? dasar muka tembok sialan. nyesel gue nyapa dia tadi .'' gumam orm dengan kesal sambil menaiki mobilnya dan bergegas pulang.'' HELLO.... PENGHUNI RUMAH... ORM YANG CANTIK DAN IMUT UDAH PULANG NIH...'' teriak orm menggelegar.'' berisik orm'' ucap Alex sang kakak.'' hehe... kirain gak ada orang, ternyata ada makluk misterius yang tengah duduk di sofa'' ucap orm dengan nada yang mengejek.'' orm! gue balikin ya lo ke perut mama'' ucap alex kesal.'' coba aja kalau bisa... wlee...'' ejek orm sambil menjulurkan lidahnya..'' kurang ajar ya lo orm. sini lo orm dasar adik durhaka'' ujar alex sambil berusaha mengejar orm, yang berlari seperti kucing dan tikus.'' duh.... ini kalian pada kenapa sih. berisik banget, kalian ini kerjaannya tiap hari berantem terus'' ucap mama koy yang tiba-tiba datang karna mendengar keributan.ya memang begitulah kehidupan alex dan orm yang setiap harinya selalu bertengkar dan saling mengejek satu sama lain. tapi kalau udah pisah, pasti orm akan menangis karana orm merindukan alex.orm dan Alex berhenti saling kejar ketika mendengar suara mama koy dan mereka tersenyum manis ketika melihat mama tercintanya seakan tidak ada kejadian apapun.''siapa yang berantem sih ma, kita itu cuma lagi belajar akting kok'' ujar alex beralasan demi menghindari amukan mama koy.'' akting-akting. emangnya kamu itu pemain film apa?'' tanya mama koy ketus.'' heheh.... calon ma. masa muka alex yang ganteng sedunia ini gak bisa jadi pemain film'' balas Alex dengan pedenya yang tingkat dewa.'' udah deh,, kamu itu halu aja'' ucap mama koy pusing melihat kelakuan putranya itu.'' oh ya papa mana?'' tanya orm sambil celingak-celinguk.'' belum pulang, paing sebentar lagi'' jawab mama koy.dan tak lama kemudian terdengar sura mobil dan klakson yang menandakan sang papa sudah pulang.''papa pulang...'' ucap sang papa saat masuk kedalam rumah.'' wahh,, papa pajang umur. baru aja kita ngomongin papa tau'' ujar mama koy.'' ouhh yaa... jadi kalian digosipin papa gitu?" tanya papa dengan nada bercanda.'' bukan digosipin pa, tadi orm cuma nanyain aja, papa udah pulang apa belum'' jelas orm.''ohh.. kirain apa. ya sudah yuk kita makan malam. papa udah lapar banget, dan rindu sama makan mamam tercinta.'' ujar papa sambil menggoda mama koy.'' papa ini gombal aja. ya sudah yuk kita makan malam'' ajak mama koy.papa, orm dan kakaknya mengangguk dan berjalan mengikuti mama koy ke arah meja makan untuk makan malam bersama.sebenarnya mereka jarang makan bersama seperti saat ini, karana mereka memiliki kesibukan masing masing.kelurga orm adalah keluarga yang harmonis dan bahagia. kelurga mereka juga merupakan keluarga sederhana dan tidak mau terlihat mewah. dalam kelurga mereka yang terpenting adalah saling menyayangi.'' ouh iya orm ada sesuatu yang ingin papa bicarakan sama kamu'' ujar sang papa.mendengar itu orm mengerutkan dahinya.'' bicara apa pa?'' tanya orm,''besok saja, dan kamu juga akan tau'' balas papa sambil tersenyum.mendengar itu perasaan orm jadi tidak enak, dan bergumam.'' kok perasaan gue tiba-tiba gak enak? kenapa ya? apa ada yang papa sembunyikan ya?''setelah selesai makan malam , mereka masuk kamar masing-masing utuk membersihkan diri dan beristirahat. dan orm masih kepikiran sama apa yang ingin papanya bicarakan besok karana yang ia lihat ada yang mencurigakan dan hal itu membuatnya tak bisa tidur, dan ia memutuskan untuk maraton drakor kesayangannya sampai puas.****di pagi hari yang cerah ini orm dan keluarganya berkumpul di ruang tamu untuk membahas tetang pembicaraan semalam.'' orm kamu punya pacar gak?'' tanya papa.orm menggeleng.'' gak ada pa, memangnya kenapa?''mendengar itu papa tersenyum senang.'' baguslah. kalau gitu nanti malam kamu ikut ya, untuk makan malam sama keluarga teman papa dan jangan lupa dandan yang cantik'' ujar sang papa.'' iya ikut ya, dan tenang aja mama udah siapin pakaian yang cantik buat kamu'' sahut mama koy.mendengar apa yang papa dan mamanya bicarakan membuat orm bingung, sebenarnya apa yang sedang di rencanakan orang tuanya.****malam pun tiba orm sedang bersiap-siap dan berdandan cantik dengan gaun berwarna merah muda, dan setelah selesai orm bergegas untuk turun kebawah, dan langsung berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobil karna orang tuanya sudah menunggu di dalam mobil agar tidak telat.setelah orm masuk mobil hitam yang mereka tumpangi. Mobil itu berjalan menuju restoran mewah. dan setelah sampai mereka langsung masuk.'' hai kalian akhirnya datang juga'' ucap peria paruh baya.'' maaf ya juka kalian sudah menunggu lama.. bisa... namanya juga perempuan dandannya lama. ouh iya orm kenalin ini sahabat papa namanya om arthur'' ujar papa.Orm menyalami sahabat papanya itu , dan akhirnya matanya tertuju pada wanita yang seumuran dengan mama nya.'' ohh... jadi ini yang namanya orm. cantik sekali, kayanya kita emang gak salah pilih deh, kenalin nama tante ananya'' ucapnya tersenyum.'' ayo silahkan duduk semua'' ucap om arthur.'' oh iya anak kamu mana? kok dari tadi gak keliatan'' tanya papa orm.'' dia keluar sebentar karana ada telpon dari kliennya'' jawab om arthur.'' wahh... kayanya anak kamu orang sibuk ya..'' ucap papa orm dengan nada bercanda.'' iya dong kaya papinya.... hahah'' balas om arthur.mereka semua tertawa bahagia saling melempar canda atara papa dan om arthur, beda dengan orm ia tak tertawa sama sekali karana ia kini tengah bingung, dan merasa bosan dan ia ingin pulang.'' huh... tau gini... mending gue gak usah ikut tadi. lebih baik gue nonton drakor atau main game .'' gumam orm dalam hati.'' maaf semuanya saya terlambat'' ucap seseorang dengan sura berat di belakang orm.'' kaya gak asing deng sama nada sura ini '' gumam orm dalam hati.karena merasa panasaran dengan sura tersebut orm langsung membalikan badanya, dan saat ia berbalik bertapa terkejutnya ia melihat siapa yang ada di hadapannya sekarang, orm benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, apa ini hanya mimpi? apa yang di depannya adalah mahluk jelmaan?.'' mis lingling'' ucap orm sambil melotot.sedangkan lingling sendiri hanya memasang muka datarnya saat ia menatap orm. lingling sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun, seperti memang gak salah orm Melaninya dengan si muka tembok.'' papa ko mis lingling ada di sini? '' tanya orm dengan nada sedikit kesal.'' jadi kamu kenal sama lingling?'' tanya papa terkejut.'' iya kenal lah pa, dia kan bos orm di kantor'' jawab orm.'' wah.... bagus dong. kalau gitu papa gak perlu repot-repot mengenalkan kamu sama calon istri kamu'' ucap sang papa santai, sementara Orm yang mendengar itu terkejut bukan main.'' apaa? calon istri? maksud papa gimana sih?'' taya orm bingung.'' jadi gini papa sama om arthur sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan lingling'' jelas papanya.mendengar itu orm lebih terkejut dan tidak menyangka papanya akan menjerumuskan anaknya ini kedalam neraka bersama lingling.'' apa orm boleh bicara sebentar sama mis lingling?'' tanya orm meminta izin pada papanya.'' ya boleh, tapi jangan lama-lama ya...'' jawab papa.orm beranjak dari duduknya dan mengajak lingling pergi ketaman yang ada di restoran yang jaraknya aga jauh dari meja mereka tadi.apa yang harus orm lakukan sekarang?kenapa takdirnya sangat-sangat buruk, apalagi ia di jodohkan dengan makluk menyebalkan di dunia.?'' kenapa mis tadi bisa aja dan ga ada raut wajah terkejut? dengan apa yang papa saya bicarakan'' tanya ormlingling mengerutkan dahinya.'' maksud kamu?''''kenapa mis lingling biasa aja? mukanya gak ada ekspresinya sedikitpun saat mis mendengar kalau kita akan di jodohkan? tunggu apa jangan-jangan mis tau kalau kita bakal di jodohin?'' tanya orm dengan curiga.'' ya gitu deh.'' jawab lingling santai.'' ini orang enteng banget jawabannya , gue buang juga ini orang sialan kelaut sekarang juga '' gumam orm kesal dalam hati.'' terus mis nerima perjodohan ini?'' tanya orm lagi.'' hmm'' jawab lingling berdehem.'' lama-lama gue cakar muka ni orang dari tadi ngomongnya irit banget'' gumam orm lagi dengan kesal'' kenapa mis menerima perjodohan ini?'' tanya orm yang benar benar tak terima kalau dia akan di jodohkan dengan bos galaknya.'' sebenarnya saya gak mau di jodohin sama cewek bar-bar kaya kamu'' jawab lingling santai dan membuat orm melebarkan matanya.'' wahhh..... songong banget... enak aja bilang gue cewek bar-bar. gue cantik kaya gini kaya orang barat dari pada dia muka datar kaya tembok '' gumam orm dalam hati lagi.'' maksud mis apa ya bilang saya cewek bar-bar'' protes orm tak terima.'' ya iya, di kantor kerjaan kamu itu ngerumpi mulu sama teman-teman kamu itu. di tambah kelakuan kamu kayak bocil. tapi kalau di depan saya kalian pura-pura sibuk berkerja. kamu pikir saya gak tau apa-apa'' jelas lingling.'' kok dia bisa tau sih? jangan-jangan dia sering memata-matai gue lagi'' gumam orm dalam hati.'' saya menerima perjodohan ini karana saya peduli dan sayang sama orang tua saya dan sebagai tanda bakti saya kepada mereka, jadi kamu jangan geer'' ucap lingling.'' ih siapa yang geer saya juga gak berharap sama mis'' jawab orm tak mau kalah.'' bagus deh'' balas lingling santai'' INI ORANG NYEBELIN BANGET SIH, LAMA-LAMA GUE SANTET JUGA LO'' gumam lagi orm dalam hati dengan kesal sekali.'' tapi kan saya gak mau di jodohin mis..... saya itu udah punya pacar'' ucap orm sedikit merengek.'' itu kan urusan kamu bukan urusan saya, lagi pula kalau kamu membatalkan perjodohan ini ya silahkan. paling nanti kamu di tendang dari kartu kelurga'' jawab lingling santai . malah kelewatan santai.'' ihh.... nyebelin banget sih... udah ah saya cape ngomong sama mis'' ucap orm jengkel dengan lingling.'' saya enggak tuh'' balas lingling.karna sakin kesalnya orm pada lingling ia langsung pergi meninggalkan lingling . bukanya ia menemukan solusi agar tidak jadi di jodohkan, ini malam semakin rumit, sekarang keputusan satu-satunya ada pada papa orm sendiri.'' akhirnya kalian datang juga. lama banget sih ngobrolnya. jadi gimana orm? kamu mau kan nerima perjodohan ini'' tanya sang papa.awalnya orm mau menolak tapi ketika ia melihat raut wajah papanya yang memelas yang berharap ia menerima perjodohan dan mengingat kata-kata lingling tadi orm sempat terdiam beberapa saat sambil memikirkan keputusannya matang-matang.'' mm iya pa, orm mau menerima perjodohan ini'' jawab orm terpaksa.semua keluarga pun tersenyum bahagia kecuali orm dan lingling.lingling sendiri hanya tersenyum remeh mendengar jawaban orm, dan sudah lingling duga kalau perkataannya tadi akan membuat orm takut.'' kalau bukan karana papa, gue gak bakal mau nerima perjodohan ini. ya tuhan berikan lah hambamu ini kekuatan utuk menghadapi nasib hamba bersama iblis di depan hamba '' gumamnya berdoa dan pasrah.hari senin adalah hari yang paling di benci semua orang, tak kecuali bagi orm sendiri. ia harus menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk dan harus selesai tepat waktu. kalau tidak bersiaplah untuk mendapat door prize dari lingling kwong yang terhormat.sementara itu di ruangan CEO lingling '' berpacaran'' dengan semua berkas-berkasnya. walaupun pekerjaannya menumpuk, lingling sudah terbiasa dengan semuanya sejak ia kecil. lingling mengenal dan belajar tentang dunia perusahaan dari kelurganya sendiri.'' hallo mis....? ada yang bisa saya bantu?'' tanya mei sekertaris lingling.'' tolong kamu panggilkan orm untuk keruangan saya sekarang'' perintah lingling.'' baik mis '' balas mei menutup telpon.'' kok tumben banget mis lingling manggil orm ke ruangannya di jam segini? '' gumam mei heran.Dan tanpa menunggu lama mei langsung pergi kemeja orm untuk menyampaikan perintah bosnya. ternyata mei melihat orm tengah sibuk dengan banyak sekali kertas numpuk di mejanya.'' orm lo di panggil sama mis lingling untuk kurangnya sekarang'' ujar meimendengar itu orm sedikit terkejut.''gue? kok tumben banget. ada apa emangnya?'' tanya orm''mana gue tau. udah deh cepetan lo keruangan mis lingling sekarang, nanti kena marah tau rasa lo'' jawab mei ngegas.'' ck, iya iya'' ucap orm dengan terpaksa.setelah menyampaikan pesan dari bosnya mei langsung pergi meninggalkan orm dan kembali ke meja kerjanya.orm dan keuda sahabatnya memang tidak pernah dekat atau pun akur dengan mei, karna menurut mereka mei adalah sekertaris ganjen, so cantik dan selalu cari perhatian lingling, di tambah lagi mei orangnya cerewet, makanya mereka memanggil mei dengan sebutan nenek sihir atau mak lampir.'' eh orm ada apa mak lapir datangin meja lo?'' tanya becca kepo.'' gue di panggil si muka tembok untuk ke ruangannya'' jawab orm.'' wahh,,, buat apa mis lingling manggil lo? di jam segini gak bisanya. apa jangan jangan kalian mau pacaran yaa? ''ejek soya.'' sembarangan lo. udah deh gue keruangan bos dulu, entar gue kena marah lagi kalau gue kelamaan datang ke ruangannya."orm berjalan menuju rungan lingling yang tukang nyuruh orang seenak jidatnya. dan sampai orm di depan pintu yang bertuliskan CEO ia mengetok pintu itu.tok! tok! tok!'' permisi mis. apa mis memanggil saya?'' tanya orm.''hm.'' jawab lingling singkat dan matanya tetap menatap leptop.'' emang sialan ya ini orang '' batin orm kesal.''ada apa ya mis? ''tanya orm dengan sabar.'' tolong kamu belikan saya jus yang ada di sebarang kantor'' perintah lingling.''hah?.. gak salah mis? mis kan bisa minta bantuan sama OB kantor kita'' balas orm protes.'' saya maunya kamu yang belikan'' jawab lingling.'' kenapa saya, mis kan bisa nyuruh sekertaris mis'' ujar orm'' saya tidak mau sekertaris saya yang beli. saya maunya kamu yang beliin'' ujar lingling dengan muka datarnya.'' ihhhhh... nyebelin banget si ni orang kaya bumil lagi ngidam aja '' batin orm semakin kesal.'' udah deh dari pada kamu bicara terus dan banyak bertanya mendingan kamu beliin saya jus sekarang juga'' perintah lingling.niatnya orm mau mengelak tapi lingling malah semakin ngegas agar permintaanya di turuti, mau tak mau orm harus menurutinya karana kalau tidak lingling pasti akan mengeluarkan kalimat keramatnya yaitu potong gaji.'' iya iya. mana duitnya mis?'' jawab Orm sambil menyodorkan kedua tangannya untuk meminta uang.lingling mengambil dompetnya di laci meja kerjanya. awalnya orm berpikir lingling akan memberikan uang yang berwarna merah karana mengingat bosnya itu kaya apalagi jabatannya CEO.''nih'' lingling memberikan nial uang yang tidak terduga apa lagi dengan warnanya yang tidak sesuai dengan yang orm pikirkan.''cuma sepuluh rubu mis?'' tanya orm terkejut.'' iya. emang berapa haraga jus di depan?'' tanya lingling.''enam ribu mis'' jawab orm.'' ya udah itukan cukup uangnya. emang kamu mau juga jusnya?'' tanya lingling.''enggak mis, ya sudah saya permisi mis" balas orm yang hanya bisa pasrah.orm ingin keluar ruangan lingling untuk membeli jus yang lingling inginkan tapi tiba-tiba lingling memanggilnya.'' eh sebentar. ingat ya saya ingin jus alpukat, gulanya jangan banyak-banyak alias jangan terlalu manis, dan airnya sedikit aja, jangan pake susu. emm satu lagi gak pake lama'' ujar lingling pajang kali lebar.''emang ni orang. udah nyuruh, peke minta yang ribet segala lagi. kalau bikan bos gue udah gue cekik dari tadi'' batin orm geram dan semakin kesal.'' iya mis, saya permisi mis'' ucap orm dengan senyum paksa.setelah orm keluar dari ruangan lingling yang seperti neraka itu, orm yang awalnya pura-pura tersenyum manis langsung merubah raut wajahnya jadi kecut.orm keluar dengan perasaan marah. kesal dan jengkel yang sudah bercampur menjadi satu karana bosnya yang super menyebalkan. setelah sampai di tempat jus sebarang kantor, orm langsung memesan jus yang di inginkan bosnya itu.'' mas jus alpukat satu ya.'' pesan orm.'' ok kak'' balas si penjual jus.'' oh ya mas jusnya jangan terlalu manis, airnya sedikit saja dan jangan pake susu ya'' pesan orm yang harus mengingat amanat dari bosnya tadi.'' yaa ampun kak ribet amat sih'' ujar penjual jus.'' hehehe.. maaf ya mas. soalnya yang mesan ini bukan saya, tapi bos saya'' jelas orm.''ohh,, gitu ya kak, kalau gitu saya buatin dulu ya'' balas penjual jus.''oh ya satu lagi mas jangan pake lama ya soalnya kalau lama nanti bos saya bis marah-marah'' tambah orm.'' siap kak'' balas penjual. orm pun menunggu pesanan nya sambil memain kan handphone dan setelah beberapa menit jus yang ia pesan sudah jadi.''ini uangnya mas'' ujar orm sambil memberikan uang itu.''iya kak,. dan ini kembaliannya'' balas si penjual.''makasih ya mas'' ujar orm'' iya sama-sama'' balas si penjual jus.setelah membeli pesanan lingling yang seperti bumil ngidam Orm segera kembali kekantor untuk mengantarkan pesanan bosnya itu.setelah sampai depan pintu ruangan bosnya, tak lupa ia mengetuk pintutok! tok! tok!orm membuka pintu itu dan masuk.'''ini mis jus pesanannya'' ujar orm sambil meletakan jus itu di meja kerja lingling.''hm'' balas lingling hanya berdehem.'' si tembok sialan bukannya bilang terimakasih, ini malah bilang hm aja, Syakur gak gue kasih racun tuh jus '' gumam orm pelan.orm masih berdiri di depan lingling sambil menatap lingling tajam sedangkan lingling sendiri hanya menatap orm dengan bingung.'' kenapa kamu masih disini?. sana cepat keluar dan selesaikan pekerjaan kamu'' perintah lingling.mendengar itu orm menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil bergumam "sabar" .''iya mis'' ucap orm sabil tersenyum kecut.saat orm hendak berbalik untuk pergi tiba -tiba lingling memanggil orm lagi.''eh sebentar mana uang kembalian beli jusnya'' tanya lingling.''what? uang kembalian empat ribu aja di tagih? dasar lingling kwong pelit'' batin orm''ini mis kembaliannya'' ucap orm sambil memberikan uang kembalian yang gak seberapa itu. tapi bagi lingling seberapapun itu uang tetap lah uang."ya sudah sana kamu pergi lanjutin kerjaan kamu lagi'' perintah lingling.'' iya mis permisi'' balas orm yang kali ini ia tak tersenyum sedikitpun ia hanya memasang muka datar karana sebenarnya orm sudah habis kesabaran menghadapi bosnya itu.'' dasar muka tembok gak atau diri, pelit, dan hobinya nyuruh orang'' batin orm kesal se kesal kesalnya.setelah keluar dari ruangan neraka, orm masih tetap kesal dengan sikap lingling yang gak tau diri itu. ia terus melangkah kan kakinya yang ia hentak hentakan menuju meja kerjanya.' woy..... kusut amat tuh muka'' tegur soya.'' iya kenapa lo orm? masa abis pacaran sama si bos tuh muka jadi kusut. ouh atau jangan-jangan lo gak dapat jatah ya. hahahah....'' ejek becca dengan tawa puas.ya kedua sahabatnya itu sangat senang menjahili orm. apalagi tentang menjodohkan orm sama lingling. ya mereka akan terus menerus mengejek orm dan mentertawakan orm dengan puas.'' berisik ya kalian, gue itu lagi kesal sama si muka tembok'' ujar orm mengeram kesal.'' lah emang kenapa?'' tanya becca.orm menghembuskan nafasnya kasar dan menjawab.'' masa tadi gue di suruh ke ruangannya hanya untuk membelikan dia jus alpukat yang ada di sebrang kantor. udah gitu dia gak bilang terimakasih sma gue.kan jadi kesal gue'''' gila ya si bos. ada ada aja permintaanya'' ujar soya.'' itu belum seberapa. Ada yang lebih parah lagi dia minta jusnya yang gak terlalu manis, air jangan banyak, jangan pake susu dan gak pake lama'' jelas orm.'wahhh..... kayanya si bos emang sengaja deh ngerjain lo, iyaa gak'' ucap becca.'' tau ah, pusing gue'' keluh orm.orm memijat jidat nya yang terasa pusing karana memikirkan lingling yang selalu aneh dan menyebalkan.dan tiba-tiba mei datang ke meja orm.'' eh orm, lo di panggil lagi sama mis lingling ke ruangannya sekarang'' ucap mei.'' aduh ada apa lagi sih'' ucap orm frustasi.baru saja orm bernapas lega tapi tiba-tiba lingling memanggilnya lagi untuk ke ruangannya. sebenarnya apa sih yang di inginkan lingling si mahluk menyebalkan itu? apa dia belum puas melihat orm sudah pusing tujuh keliling.'' kayanya si bos masih kangen deh sama lo'' goda soya.'' ciee.... ciee.. calon masa depan mis lingling'' tambah becca.''BERISIK'' ucap orm dengan nada sangat kesal.'' hahaha,,'''tawa kedua sahabatnya.orm pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang gak punya akhlak itu karana sakin kesalnya, ia langsung berjalan dan masuk keruangan lingling tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.'' orm kamu ini gak punya sopan santun sama sekali ya, main masuk aja tanpa ketuk pintu, sana keluar ulangi lagi'' ucap lingling dengan nada kesal.'' ihh ribet banget sih ini orang'' batin orm kesal.orm terpaksa keluar lagi untuk mengulang. perintah dari bosnya.orang seperti lingling memang susah untuk di ajak kerja sama apalagi kompromi.lihat aja sekarang. ya sebenarnya lingling tau orm sedang kesal padanya tapi hal itu yang di sukai lingling.tok! tok! tok!'' permisi mis, mis panggil saya?'' tanya orm dengan terpaksa.''sini kamu'' perintah lingling.''orm berjalan kearah meja lingling tapi ia tak duduk karna tidak di perintahkan. bagi siapa yang berani melanggar perintah lingling maka bersiaplah untuk mendapatkan ceramah dan siraman qalbu yang panjang kalai lebar dan tinggi.'' tolong kamu tulis nomer handphone kamu, di handphone saya sekarang'' perintah lingling.'' kenapa gak tadi aja sekalian sih mis'' ucap orm kesal.'' suka-suka saya lah. saya kan bosnya. apa kamu lupa sama peraturan perusahaan ini?'' tanya lingling'' gak mis'' jawab orm'' coba kamu sebutkan pasal satu'' perintah lingling.'' isi dari pasal adalah bos selalu benar sedangkan karyawan selalu salah, jadi karyawan harus menerimanya'' ucap orm dengan terpaksa.'' itu kamu tau, dadi kamu gak usah banyak komentar'' ketus lingling.'' nih orang lama-lama cerewet banget ya ? dulu irit banget kalau ngomong. sekarang cerewetnya luar biasa, kaya emak emak '' gumam orm pelan.orm menulis nomer handphone di handphone lingling dan sesekali ia mengumpat kata- kata yang manis untuk bosnya itu ia tak perduli dengan semua sumpah serapah untuk lingling walaupun itu calon istrinya. toh orm berpikir mereka hanya di jodohkan dan tidak saling mencintai.''udah saya simpan nomer saya di handphone mis'' ucap orm sambil menyerahkan handphone bos nya itu .''ya udah sana kamu kerja lagi'' ujar lingling dengan nada mengusir.'' apa agak ada yang lain mis?'' tanya orm untuk memastikan.'' gak'' jawab lingling'' benar nih?'' tanya orm''hm'''' kayin'' tanya orm lagi''hm'''' bagus deh. kalau gitu saya permisi mis'' pamit orm.setelah itu orm keluar dari ruangan lingling dengan mood yang lumayan baik karana lingling tidak menyuruhnya lagi untuk melakukan sesuatu.****kini waktu menunjukan jam 12 siang orm dan kedua sahabatnya bersiap utuk pergi makan siang bersama, tapi tiba-tiba ada pesan masuk di handphone orm.+ 62822++++++kamu makan siang bareng saya'' nomer siapa ini ?'' batin orm+ 62822++++++ini nomer saya, bos kamu orm'' mis lingling? dia tau aja apa yang baru gue bilang barusan, jangan-jangan dia cenayang?''maaf mis saya gak tau kalau ini nomer mis. kenapa mis tumben ngajakin saya makan siang?+ 62822++++++gak usah banyak tanya saya tunggu kamu di parkiran sekarangorm tak membalas lagi pesan nya'' emm.... lo semua duluan aja.. gue masih ada urusan '' ujar orm beralasan.'' gitu ya.. ya udah kita duluan ya'' balas becca.orm hanya mengangguk, dan setelah kedua sahabatnya pergi jauh dan mersa sedikit aman orm berjalan ke parkiran untuk menyusul lingling.''lama banget sih kamu'' protes lingling''maaf mis'' balas orm'' ya udah cepet masuk ke mobil'' perintah lingling.orm pun masuk ke mobil lingling dengan lingling yang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, tidak ada percakapan diantara keduanya hingga akhirnya orm mem beranikan diri untuk bertanya pada lingling.'' mis sebenarnya kita mau kemana sih?'' tanya orm pada lingling yang hanya diam dan tetap fokus menyetir."Ni orang budeg kali ya? di tanya malah diam aja. dasar muka tembok '' batin orm.karana tidak mendapatkan respon orm langsung diam dan tidak lagi mau bertanya. lebih tepatnya ia sangat menyesal karana bertanya pada lingling si muka tembok.setelah beberapa menit lingling menghentikan mobilnya di sebuah toko perhiasan. sedangkan orm yang melihat itu bingung dan bertanya-tanya dalam hati. sebenarnya utuk apa lingling membawa dia ke sini.setelah memarkirkan mobilnya lingling dan orm turun dan berjalan menuju pintu masuk toko dengan orm mengekorinya.'' kamu jangan berjalan di belakang saya. kamu itu bukan pengawal saya'' ujar lingling.'' gapapa kok mis'' jawab orm.''terserah'' ucap lingling dan kembali berjalan hingga dia mendapati sebuah ide.lingling sengaja berhenti berjalan sehingga orm menabrak punggungnya.'' aduhh.... sakit banget'' ujar orm sambil memegang keningnya.'' makannya. udah saya bilang jangan berjalan di belakang saya, sini jalan di samping saya'' perintah linglingsementara orm hanya melotot. dan karna tidak ada respon dari orm. lingling menarik orm dan merangkulnya di depan umum.'' duhhh.... malu banget gue. si muka tembong pasti seneng ngerjain gue dan bikin gue malu'' batin orm.'' selamat datang apa ada yang bisa saya bantu?'' tanya salah satu karyawan yang ada di toko.''' saya mau cari cincin buat nikah '' balas lingling.''kamu milih orm'''' kok saya mis'' tanya orm bingung'' udah deh kamu pilih aja gak usah banyak tanya'' ujar lingling tegas.''huh.. iya iya,'' ucap orm pasrah.silakan di pilih kak cincinnya'' ujar sang karyawan.''mis suka yang mana?'' tanya orm.'' terserah'' jawab lingling'' kalau yang ini gimana?'' tanya orm sambil menunjuk cincin.''terserah''"dari tadi jawabannya terserah, terserah, gue kerjain lo '' batin orm.'' saya mau cincin yang paling bagus dan paling mahal ya'' ujar orm dengan santai.'' baik kak kebetulan kamui punya yang paling bagus dan paling mahal'' balas karyawan tersebut.'' ok saya mau ambil yang itu aja '' ucap orm'' siap kak, ini kak. Untuk harganya 100 juta ya''mendengar itu lingling terkejut dan melotot karana mendengar harga cincin yang di pilih orm, sedangkan orm sendiri hanya biasa-biasa aja dengan muka polosnya yang tak berdosa, ya iyalah kan yang bayar lingling.mau tak mau lingling harus membayar cin-cin itu dan langsung mengeluarkan black card. setelah selesai membayar orm dan lingling berjalan utuk kembali ke mobil dan pergi.'' bagus ya... gara gara kamu saya harus mengeluarkan uang sebanyak itu, hanya untuk dua cincin'' ujar lingling kesal.'' lah kan tadi mis sendiri yang bilang terserah. jadi ya terserah saya kan'' jawab orm santai.'' kamu ini ya.. kamu sengaja ya mau ngerjain saya?'' tanya lingling frustasi''enggak, buat apa saya ngerjain mis'' jawab orm dengan polos.''pokonya saya gak mau tau, mulai sekarang gaji kamu akan saya potong karana kau udah berani ngerjain saya'' ujar lingling.'' mis gak bisa gitu dong, mau sampai berapa bulan itu akan lunas kalau pake gaji saya, lagi pula kan itu cin-cin buat pernikahan kita'' jawab orm protes tak terima.'' bodo amat, saya gak peduli'' ucap lingling dan menjalankan mobilnya.''loh kok gitu mis, jangan gitu dong.. mis... mis...........? '' protes orm dan tak di indahkan oleh lingling .'' sial banget sih gue '' gumam orm kesal.

CEO TAMPAN TERNYATA SUAMIKU
Romance
03 Jan 2026

CEO TAMPAN TERNYATA SUAMIKU

Pagi itu, Parulian Group membuka lowongan sebagai sekretaris pribadi CEO. Banyak pelamar datang silih berganti, namun tak satu pun benar-benar sesuai dengan kriteria sang CEO. Hingga di hari yang sama, seorang gadis bernama Salbil Arunia Salsabila tanpa sengaja melewati gedung Parulian Group. Ia berhenti sejenak ketika melihat sebuah banner besar bertuliskan “Membuka Lowongan Sekretaris Pribadi”.Dengan langkah ragu, Salbil masuk ke dalam gedung dan menghampiri resepsionis.“Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa kami bantu?” sapa Nita ramah.“Selamat pagi. Maaf, saya mau bertanya, apakah benar perusahaan ini sedang membutuhkan sekretaris?” tanya Salbil.“Iya, benar. Apakah Kakak berminat melamar?” jawab Nita.Salbil mengangguk. Ia menerima daftar persyaratan dan berjanji akan kembali setelah semuanya lengkap.Tak butuh waktu lama, Salbil melengkapi seluruh berkas yang diminta. Dengan map rapi di tangannya, ia kembali ke Parulian Group. Nita pun langsung mengantarnya ke ruangan CEO.Di dalam ruangan itu duduk seorang pria berwibawa bernama Roly Adi Lian, CEO Parulian Group yang membangun perusahaannya dari nol. Wawancara berlangsung singkat namun mendalam. Roly membaca setiap berkas dengan teliti sebelum akhirnya menatap Salbil.“Mulai hari ini kamu bekerja. Ruanganmu di sebelah ruangan saya,” ucapnya tegas.Salbil terkejut, namun rasa syukur lebih besar daripada keterkejutannya.Hari-hari kerja berjalan padat. Salbil membuktikan dirinya sebagai sekretaris yang cekatan, teliti, dan bertanggung jawab. Jadwal rapat, perjalanan bisnis, hingga pertemuan klien besar ia tangani dengan sangat baik. Roly mulai melihat Salbil bukan hanya sebagai karyawan, melainkan sebagai seseorang yang membawa ketenangan dalam kesibukannya.Namun di kantor, mereka tetap profesional. Tidak ada yang tahu perasaan apa yang perlahan tumbuh.Suatu hari, setelah rapat panjang, Roly mengetahui Salbil belum memiliki tempat tinggal tetap di Jakarta.“Kalau mau, ada apartemen kosong dekat tempatku. Fasilitas kantor juga,” tawar Roly dengan nada hati-hati.Salbil ragu, tetapi akhirnya menerima. Keputusan itu membuat mereka semakin dekat. Makan bersama, berdiskusi ringan, dan saling mengenal lebih dalam. Rasa nyaman berubah menjadi perhatian, lalu perlahan menjadi cinta.Beberapa bulan kemudian, setelah hari kerja yang melelahkan, Roly mengajak Salbil ke sebuah tempat. Dengan mata tertutup, Salbil berdiri gugup. Saat penutup matanya dilepas, ia terdiam melihat tulisan besar di depannya.Will You Marry Me, Salbil Arunia Salsabila?Air mata bahagia jatuh tanpa bisa ditahan.“Iya… aku mau,” jawab Salbil lirih.Roly tersenyum lega dan memakaikan cincin di jari manis Salbil.Tak lama kemudian, Roly datang bersama keluarganya menemui orang tua Salbil. Dengan penuh hormat, ia menyampaikan niat baiknya. Keputusan diserahkan kepada Salbil.“Iya, Pah, Mah. Salbil siap,” jawabnya mantap.Restu diberikan dengan doa dan haru.Hari pernikahan pun tiba. Dengan suara lantang dan satu tarikan napas, Roly mengucapkan ijab kabul.“Sah.”Satu kata itu mengubah segalanya. Salbil kini bukan lagi sekretaris CEO, melainkan istri Roly Adi Lian.Malam pertama mereka lalui dengan penuh kehangatan, saling menjaga, dan rasa syukur. Bukan tentang nafsu, melainkan tentang cinta, komitmen, dan awal perjalanan baru sebagai suami istri. Subuh pertama mereka jalani bersama, berdiri sejajar dalam doa, memohon rumah tangga yang sakinah.Hari-hari berikutnya diisi tawa, kerja keras, dan kebersamaan. Di kantor, mereka tetap profesional. Di luar kantor, mereka adalah pasangan yang saling menguatkan.Salbil menemukan rumah dalam diri Roly. Roly menemukan ketenangan dalam diri Salbil. Bukan karena hidup tanpa masalah, tetapi karena mereka selalu memilih untuk pulang satu sama lain.Tamat.

My Digisexual CEO
Romance
03 Jan 2026

My Digisexual CEO

"Blackpink!!Ah yeah...Ay yeah...Blackpink!!chakan eolgure geureochi mothan taedo..."nada dering favoritnya lagu Kpop girl membuat Jolie terperanjat.Tangannya berusaha menggapai telepon genggam OPPO F9 di meja dekat tempat tidurnya.Dia mendekatkan telepon genggam ke telinganya dalam keadaan setengah sadar.Kepalanya berat dan pusing karena baru malam ini dia bisa tidur agak nyenyak setelah beberapa hari kumat penyakit insomnianya."Halo..."suara Jolie pelan sekali"Lie...Lie..tolong..tolong..Akhh...Hentikan !!!"terdengar suara parau si penelepon"Halo..Halo.."(hening..tidak ada jawaban..namun terdengar barang pecah dibanting dan samar-samar terdengar tangisan bocah lelaki).Lalu tutt...tuttt...telepon terputus.Jolie memicingkan matanya untuk memeriksa nomor dan waktu si penelepon."Haissshh...nomor tak dikenal..jam 1 dini hari" gerutunyaDia meletakkan kembali telepon genggamnya,menarik selimutnya karena kedinginan dan kembali tidur.Sudah sepekan ini hujan terus mengguyur kota Bandung saat menjelang magrib hingga pagi hari,membuat udara jadi adem dan banjir di beberapa daerah.Orang-orang jadi ogah untuk keluar rumah jika tak ada urusan penting ataupun mendadak.Nada dering berjudul Ddu..Ddu..Ddu..Du milik grupband Blackpink kembali melantun memecah keheningan malam.Terus berulang dan cukup lama hingga Jolie tidak tahan lagi,dia bangun dan segera meraih telepon genggamnya."Sapa ni..saya akan lapor polisi."Jolie menjawab ketus."Kak Jolie...tolong ibu,kak..."suara parau bocah lelaki si penelepon."Plakkkk......!!!"terdengar suara tamparan keras"Bruk...."terdengar suara ponsel jatuh"Brakkkk....mati kau...perempuan tua tak tau diri"terdengar samar-samar bunyi seperti sesuatu dibenturkan ke bidang yang keras."Tidak...tidak.....hentikan...jangan pukul ibuku....." terdengar suara tangis bocah lelaki yang meraung-raung."Halo...halo...Rudy.....kamu kah itu,dek?" sahut Jolie yang semakin penasaran.Dia mengernyitkan dahi lalu matanya membelalak,dadanya sesak,berkeringat dingin,tangan dan tubuhnya gemetar,otaknya kacau seketika karena teringat kelakuan bejat ayah tirinya kalau sedang mabuk ataupun kalah judi."Ha..ha..ha..."tawa keras lelaki bersuara bas."Kirimkan 20 juta besok kalau kamu masih ingin melihat ibu dan adikmu"ancam lelaki ituTut..tut...jaringan terputusJolie menggertakkan gerahamnya,menggepalkan tangan kanannya.Kini mata dipenuhi api kemarahan."Saya akan membunuhmu hari ini juga..dasar pria jahanam."umpat Jolie dalam hati.Dia sudah geram dan tidak tahan lagi melihat ibu dan adiknya berulang kali disiksa lelaki itu.Jolie bergegas meraih kunci motor,jaket dan jas hujan turun ke lantai pertama kosan nya.Diselipkannya sebilah pisau kecil dibalut koran ke dalam jaketnya,pisau yang biasa dipakainya untuk memotong buah-buahan.Saat itu,hujan masih cukup deras dan petir bersahutan,namun tak dihiraukannya.Diterjangnya hujan itu,dipacu sekencang-kencangnya sepeda motor matic Vario merah menuju ke rumah ayah tirinya.Jalanan sepi,gelap,sedikit banjir dan licin namun dia tak peduli karena saat itu yang terbesit benaknya hanyalah keinginan untuk segera menyelamatkan nyawa ibu dan adiknya.Jarak tempat kos Jolie lumayan jauh dari rumah ayah tirinya.Biasanya perlu sekitar 1 jam bagi Jolie untuk sampai kalau jalanan tidak begitu macet,terkadang hampir 2 jam kalau jalanan macet sekali.Dan itu juga yang menjadi alasan utama dirinya sering berdebat dengan ibunya dan memilih untuk tinggal di kos dekat kantornya.Awalnya ibunya menolak mentah-mentah,tapi seiring dengan seringnya terjadi perdebatan dan bujuk rayu Jolie akhirnya dirinya diizinkan pindah.Alasan paling mendasar ibunya mengizinkan karena tidak tega melihat putri semata wayangnya yang selalu terburu-buru berangkat kerja dan pulang kerja larut malam.Namun malam ini,dalam waktu 30 menit saja Jolie sudah tiba di tujuan.Bergegas dia turun dari motornya,dibuang jas hujannya,membuka pagar rumah ayah tirinya yang selalu tak pernah dikunci dan berlari ke teras.Digedornya sekuat tenaga pintu rumah ayah tirinya sambil berteriak histeris,"Ibu....Rudy....cepat buka pintu...Ibu..."Tidak ada jawaban.Sayup-sayup Jolie mendengar suara barang-barang pecah dari balik pintu dan tangis pilu wanita tua.Itu semakin membuat darahnya mendidih,dia berusaha mendobrak pintu tapi malahan tubuhnya yang mungil itu terpelanting ke belakang.Jolie tak habis akal,dia berjalan menjauhi pintu dan berlari kencang menabrak pintu dengan bahu kanannya.Dia terus mengulanginya sampai....Brakkkk....Brakkkk....Akhirnyapintu ruang tamu terbuka,Jolie tersungkur jatuh meluncur masuk kedalamnya.Jolie semakin panik melihat adiknya yang terkulai lemas pingsan didekat lemari kaca di sudut ruangan.Pipinya semakin basah akibat air mata yangtak berhenti turun dan semakin deras saat melihat dahi ibunya yang bercucurandarah,leher dicekik,wajah bengkak,memar dan pucat,mulutnya menganga,nafas tersenggal-senggal berusaha bersuara untuk meminta tolong.Jolie segera bangun dan sekuat tenaga menarik tangan ayah tirinya agar ibunya bisa terlepas dari cekikannya.Emosi ayah tirinya semakin tinggi,dikibaskan tangan kanannya dan tubuh mungil Jolie terhempas jatuh terpelanting membentur meja.Ayah tirinya dulunya seorang tentara pasukan khusus,berbadan tinggi,besar,kekar dan kuat.Setelah pensiun,dengan dana pensiunan,ayah tirinya membuka toko menjual seragam dan berbagai aksesoris tentara bersama beberapa teman sejawatnya.Tapi usaha itu tidak berjalan mulus dan tutup.Sejak saat itu lah ayah tirinya sering bermabuk-mabukkan dan menganiaya mereka bila kehabisan uang.Ibunya membuka warung kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Jolie selalu membantu ibunya sepulang sekolah.Belum lagi sempat Jolie bangkit.Lelaki itu menghampirinya.Mata Jolie membulat,jantungnya berdegup kencang tak karuan.Perasaan takut kini membalut hatinya.Seseorang yang sangat ditakuti dan dibencinya berdiri di hadapannya.Jolie mundur saat pria paruh baya itu mendekatinya.Wajah Jolie tampak pucatAyah tirinya menatap Jolie dengan tatapan beringas.Tiba-tiba.....Plakkk!!!Plakkk!!!Tamparan keras beruntun itu mendarat di pipi kanan dan kiri Jolie hingga menimbulkan bekas merah dan membuat tepi bibir Jolie berdarah.Jolie memegang pipinya yang terasa panas."Mana uangnya??.."tanya lelaki itu dengan nada suara tinggi."Kamu pikir bisa menyelamatkan ibu dan adikmu??jangan mimpi !!!"lanjutnyaJolie hanya diam membisu menahan rasa sakit dengan kepala tertunduk dalam.Dan pastinya hal itu membuat Jolie semakin kesal dan marahTanpa terduga pria itu menjambak rambut Jolie dan membuat dirinya memandang ke wajahnya secara paksa."ARRGGGG!!!"Jolie mengerang kesakitan akibat jambakan ayah tirinya yang begitu kuat menarik rambutnya"Ampun yah,sa—kittt."Ucap Jolie lirihJolie berusaha melepaskan tangan ayah tirinya yang menjambak rambutnya begitu kuat,namun sia-sia.Dia tidak bisa menandingi kekuatan fisik ayah tirinya"Mana uangnya???"lelaki itu mengulangi kalimat itu dengan bentakan keras.Jolie menggeleng pelan.Karena tidak puas dengan jawaban Jolie,emosi ayah tirinya semakin melonjak.Pria itu menggepalkan tangannya dengan kuat.Lalu tanpa berfikir,dia menghempaskan tubuh Jolie terbentur sudut lemari TV dengan keras"Arrggghh !!!"Jolie kembali mengerang kesakitan.Rasa nyeri merambat cepat ke seluruh tulang punggung dan membuat nafasnya menjadi sesakBelum lagi rasa nyeri di punggung Jolie.Pria itu kembali menendang tubuh Jolie hingga posisi tubuh Jolie yang duduk menjadi tersungkur di lantai.Tapi ayah tirinya belum puas.Pria paruh baya itu mengambil pemukul bola kasti yang tergeletak di samping lemari TV yang berada di belakang Jolie,lalu memukuli tubuh Jolie dengan membabi buta."Ampun,Yah..."pekik Jolie sembari meringis menahan sakit"Sakitttt,Yah...jangan pukul lagi."mohon Jolie tak berdaya,tapi ayah tirinya seperti tuli dan tak mendengar ucapan Jolie.Dia masih memukuli Jolie tanpa ampun.Tubuh Jolie meringkuk sempurna.Dapat ditebak bahwa kini tubuh yang ada di balik jaket itu sudah sudah tercetak banyak memar biru akibat pukulan ayah tirinya.Jolie tak mampu melawan.Dia sudah tak berdaya.Rasa sakit yang menyerang kepalanya dan sekujur tubuhnya sudah cukup untuk melumpuhkan gerakan Jolie.Tapi Jolie masih tak menyerah,dia kembali melancarkan serangan.Bug!Pria itu mengayunkan lagi pemukul bola kasti ke tubuh JoliePukulan pertamaPukulan keduaBercak darah bercucuran mengalir tercetak di jaket Jolie.Jolie memejamkan mata dengan kerutan di kening.Menahan rasa sakit luar biasa yang terus menyerang.Air mata mengalir deras di pipinya.Tak ada yang bisa dia lakukan saat seperti ini,hanya pasrah dan menerima semua hingga ayah tirinya puas memukulnya.Ini bukan pertama kalinya dia dipukuli oleh ayah tirinya,dulu sewaktu Jolie masih SMA sangat sering disiksa oleh ayah tirinya.Jadi Jolie tahu benar,bahwa melawan bukanlah hal yang terbaik.Karena itu hanya akan membuat ayah tirinya semakin kalap dan menyiksanya semakin brutal......Sementara di samping rumah,Pak Darwin yang sedang terlelap di kamar terbangun akibat suara gaduh di dini hari.Dahinyaberkerut dan berusaha menajamkan pendengarannya untuk mencari asal usul suara gaduh.Namun tiga detik kemudian matanya membelalak saat tiba-tiba terlintas di kepalanya "Pak Jacky"Firasat buruk muncul di hatinya.Spontan,pria itu berlari ke luar rumah.Meyakinkan hatinya hal buruk di benaknya tidak benar-benar terjadi.Tapi kenyataan memang tragis.Di depannya,Pak Darwin melihat Jolie disiksa ayahnya menggunakan pemukul bola kasti.Ibu Jolie yang tergeletak bersimbah darah di lantai,adik Jolie yang pingsan di dekat lemari kaca di sudut ruangan.Melihat pemandangan itu,Pak Darwin dengan tangan gemetaran merogoh ponsel saku piyama dan menekan tombol ponsel untuk menghubungi polisi setempat."CUKUP,PAK JACKY!!!"teriak Pak Darwin dengan suara lantang"Kamu bisa membunuhnya."pinta Pak Darwin dengan suara bergetarNamun,ntah setan apa yang merasuki Jolie saat itu.Jolie mencabut pisau kecil dari jaketnya dan menyerang ayah tirinya yang sedang lengah.Serangan itu mengenai tangan ayah tirinya"AUCHHH"ayah tirinya merintih kesakitan"Plang..."pemukul bola kasti terjatuhJolie melanjutkan serangan tapi berhasil di tahan oleh ayah tirinya.Kedua tangan Jolie ditangkap,ditahan dan digenggam erat oleh ayahnya.Mereka saling mengadu kekuatan.Tangan mereka mengayun ke kanan ke kiri terus bergantian berulang kali.Jolie berusaha menarik tangan ayah tirinya sekuat tenaga dan mengarahkan pisau itu ke dada ayah tirinya.Tapi usahanya sia-siaTiba-tiba..pisau itu berbalik arah"Jleb....."pisau itu tertancap tepat di perut kiri Jolie.Darah mengucur deras dari perut kirinyaAyah tirinya melepas genggaman tangannya.Mundur beberapa langkah.Matanya membelalak.Mulutnya ternganga.Kedua tangannya berlumuran darah.Muka terkejut serasa tak percaya kalau Jolie secara sengaja menarik dan menancapkan pisau itu ke arah perutnya sendiri.Jolie terhuyung-huyung jatuh ke belakang sambil memegang pisau yang masih tertancap di perut kirinya.Kedua tangannya berlumuran darah menetes ke lantai.Pandanganya kabur,tubuhnya terkulai lemas di lantaiSeulas senyum di sudut bibir Jolie.Senyum puas.Jauh di relung hati Jolie bersyukur kepada Tuhan,karena rencananya berhasil.Tuhan telah memberinya jalan dan penyelamat terbaik walaupun rencana itu hampir merenggut nyawanya.Mungkin terkesan gila karena Jolie sengaja menancapkan pisau ke perutnya,tapi Jolie berpikiran lain.Dia sengaja membuat dirinya terkesan sebagai korban pembunuhan ayah tirinya.Dengan demikian ayah tirinya akan ditangkap dan dipenjara.Jolie,ibu dan adiknya dapat bebas dari siksaan dan amukan ayah tirinya.Perlahan pandangan Jolie mulai gelap,menutup mata,samar-samar dia masih mendengar bunyi sirine mobil polisi sebelum dirinya sepenuhnya kehilangan kesadaran.Pak Darwin memegang tubuhnya,mengguncangnya dan berteriak histeris,"Nak Jolie...bangun,Nak.....panggilkan ambulans...cepatttt."Malam itu menjadi malam panjang tak terlupakan bagi Jolie.Betapa tidak,Jolie gadis bertubuh mungil langsing dan lemah lembut nekat bertarung dengan ayah tirinya yang bertubuh kekar,kuat,mantan tentara itu dan yang paling penting dan membuatnya tersenyum puas dan lega adalah jebakannya berhasil.Kini mereka bertiga dapat hidup dengan aman dan damai"Ughhh...."suara pelan Jolie kesakitan pun terdengar.Gadis itu telah sadar.Namun tubuhnya masih sangat lemah dan tak berdaya.Membuatnya tak bisa menggerakkan tubuhnya.Bahkan untuk membuka kelopak mata saja terasa begitu berat.Orang yang tengah mengendap melangkah perlahan ke arah pintu keluar ruangan berhenti dan mematung.Dia mendengar suara Jolie mengerang kesakitan.Lalu dia berbalik dan berjalan cepat menghampirinya.Aroma obat-obatan yang menyengat dan mengusik indra penciuman Jolie.Membuat tidurnya terganggu dan dengan sangat perlahan sekali kelopak matanya bergerak terbuka.Biasan cahaya matahari yang menembus tirai tipis jendela yang bermotif bunga-bunga terasa begitu menyilaukan,membuat Jolie mengerjapkan matanya perlahan,menyesuaikan dengan pencahayaan di dalam ruangan ber AC dan tertata apik itu."Jol,kau sudah sadar?"Amanda bertanya,menatap Jolie penuh semangat.Jolie hanya menatap Amanda dengan tatapan datar."Apa ada yang terasa sakit" tanya Amanda penuh kekhawatiranJolie menggeleng pelan membuat Amanda lega."Apa kau tau betapa kaget dan paniknya diriku ketika mendengar kabar kau masuk rumah sakit?Astaga,Jolie!!"kata Amanda sambil memegang lembut bahu sahabatnya itu."Siapa?"ucap Jolie pelan.Gadis itu baru berhasil menyadari kalau bukanlah sahabatnya itu yang membawanya ke rumah sakit."Hah..."Amanda melongo sambil mengerlingkan mata nya."Ah...maksudmu,siapa yang membawamu ke rumah sakit?"lanjutnyaJolie mengangguk pelan.Dia masih lemah dan sepertinya gadis itu harus beristirahat total di rumah sakit selama beberapa hari lagiPerlahan pintu ruang VIP terbuka,menampilkan sosok pria paruh baya seusia ayah tirinya yang berjalan cepat menghampiri saat menyadari Jolie sudah sadar dari pingsannya"Bagaimana keadaanmu,Nak Jolie?"Masih merasakan sakit?Di mana?"todong pak Darwin dengan berbagai pertanyaan yang menunjukkan keprihatinannya sembari memeriksa tubuh Jolie perlahan.Pria itu adalah Pak Darwin,pria paruh baya yang tinggal di sebelah rumah ayah tirinya.Pak Darwin sangat menyayanginya dan menganggapnya sebagai putri kandungnya.Dia sering bercerita kalau saja putri semata wayangnya tidak meninggal saat itu karena penyakit leukimia yang merenggut nyawanya,maka sekarang putrinya sudah sebaya dengan Jolie.Pak Darwin tinggal sendirian.Istrinya sudah lama meninggal saat putrinya masih balita karena penyakit TBC yang diidapnya,sedangkan putranya bekerja sebagai TKI di Malaysia.Dua tahun sekali,putranya pulang mengunjungi ayahnya.Itupun hanya selama seminggu saja,setelah itu dia harus kembali bekerja.Putranya sebulan sekali videocall dengan ayahnya untuk melepas rindu dan mengabari keadaan terbarunyaSaat masih sekolah dulu,Jolie dan Amanda sering bermain ke rumah pak Darwin.Pak Darwin jago main catur.Jolie dan Amanda belajar banyak trik main catur darinya.Terbukti dari koleksi piala dan medali di lemari kaca rumah ayah tirinya.Jolie berhasil menyabet medali emas dalam pertandingan catur se-Indonesia.Dan pria ini jugalah yang melapor polisi dan membawa Jolie,ibunya,dan adiknya ke rumah sakit."Dia penyelamat hidup mereka yang diutus Tuhan."pikirnyaSedangkan Amanda adalah sahabat karibnya sejak SMP hingga sekarang.Gadis berparas blasteran Indo-Belanda,cantik beralis tebal dan berbulu mata lentik,hidung mancung,bertubuh tinggi langsing padat pujaan para pria.Jolie masih ingat kalau dulunya sering menjadi dokter cintanya saat mereka masih di bangku sekolah.Banyak pria yang berusaha berkencan dengan sahabatnya,namun tak satupun yang berhasil menaklukkan hatinya. Amanda dari keluarga berada.Ayahnya seorang pengusaha salah satu travel yang lumayan terkenal di kota Bandung.Walaupun begitu,sahabatnya ini sama sekali tidak pernah menyombongkan diri.Saat ini,dia bekerja membantu usaha ayahnya itu baik menjadi penjual tiket online ataupun menjadi tur leader sekalipun memang diperlukan.Memang sudah sejak di bangku sekolah,Amanda hobi berpetualang baik itu menjelejah wisata lokal ataupun mancanegara.Mereka berdua sering bertukar cerita,saling berbagi suka dan duka.Keduanya sudah seperti saudara kandung.Jolie merasa sangat bersyukur,bahagia dan beruntung disayangi dan dicintai sahabatnya dan Pak Darwin"Apa Nak Jolie masih merasa pusing?"suara Pak Darwin membuyarkan lamunan Jolie."Sedikit,Pak...,"balas Jolie pelan.Dia seakan tersadar,spontan langsung menyentuh perut bagian kirinya pelan.Meraba perutnya dan memeriksa luka tusukannya."Sudah dioperasi dan dijahit lukamu sama dokter,Nak."kata Pak DarwinJolie hanya diam,tak menanggapi perkataan Pak DarwinJolie berusaha bangkit,tapi usahanya sia-sia.Tubuhnya masih terlalu lemah,nyeri di punggungnya masih terasa,sakit di jahitan akibat luka tusukkan juga masih sangat terasa."Dengar,Nak...Bapak tak ingin luka jahitanmu terbuka kembali.Jadi kau harus beristirahat penuh selama tiga hari ke depan.""Tidak.Aku tidak mau"bantah Jolie"Astaga,Jol.Berhentilah bersikap keras kepala.Itu bukan keinginan Pak Darwin semata.Itu memang perintah dari dokter yang merawatmu.Jika kau terus memaksakan dirimu,kau hanya akan memperlambat proses penyembuhan lukamu itu.Apa kau ingin ibumu bersedih lagi melihatmu?"Amanda membantu Pak Darwin meyakinkan Jolie"Tidak..Tidak.."balas Jolie"Aku tak ingin dirawat di rumah sakit.Aku benci rumah sakit.Aku ingin pulang.Aku ingin bertemu ibu dan Rudy."Jolie mulai terisak"Di mana ibuku?Di mana Rudy?Apakah mereka baik-baik saja?"tanya Jolie kebingungan"Mereka sudah pulang dua hari yang lalu.Sementara ini mereka tinggal bersamaku.Rumah ayahmu masih dibatasi garis pita kuning polisi."jawab Pak Darwin"Sudah berapa lama saya dirawat?"Jolie kembali bertanya"Sekitar empat hari,Jol."balas Amanda"Uda...uda...yang paling penting sekarang kamu fokus pulihkan dirimu,jangan buat ibumu semakin khawatir.Kasihan ibumu,Nak."Pak Darwin berusaha menenangkan Jolie"Kamu tenang saja,Nak....hal-hal lain biar bapak dan Nak manda yang mengurusnya."imbuhnyaJolie menghela nafas lega saat mengetahui kalau ibu dan adiknya dalam keadaan aman.Penuturan Pak Darwin benar-benar menenangkan hati,jiwa dan pikirannya."Sekarang misinya utamanya adalah harus bisa cepat pulih,keluar dari rumah sakit,dan kembali bekerja"pikir Jolie dalam hati"Mulai saat ini,saya akan melindungi,berusaha membahagiakan dan tidak pernah akan membiarkan siapapun mencelakai ibu dan adikku lagi."sumpah Jolie dalam hati"Maaf Pak...Jol...saya pamit pulang dulu."Amanda kembali membuka pembicaraan"Koq cepat..."Jolie menoleh ke arah Amanda yang sedang duduk di sofa"Iya,nih..kerjaanku masih banyak dan numpuk.Besok saat rehat makan siang saya akan mampir lagi,Jol."tambahnya"Hati-hati yah,Nak Manda...semoga harimu lancar dan diberikan rejeki melimpah."kata Pak DarwinAmanda memeluk,mencium pelan pipi kanan dan kiri Jolie.Berjalan ke arah Pak Darwin dan minta pamit,sungkem,kemudian berlalu dan keluar ruanganPak Darwin kembali menoleh ke arahku dan dengan mata yang teduh dia berkata,"Mungkin dalam 2 hari ini polisi akan datang mengunjungimu.Mereka akan mengintrogasimu bila keadaanmu sudah membaik.""Bapak akan pulang dulu dan membiarkanmu beristirahat....Ada urusan yang masih harus bapak selesaikan.Nanti malam bapak akan mampir lagi bersama ibu dan adikmu setelah selesai makan malam."sambungnyaPak Darwin meninggalkan Jolie sendirian.Jolie menatapi langit-langit ruangan.Pikirannya melayang.Hatinya kembali berkecamuk mengingat biaya rumah sakit dan pengobatan yang harus dibayarnya dengan tabungannya yang sudah pasti jauh dari kata cukup,bagaimana rencana hidup selanjutnya,mampukah dia membiayai sekolah adiknya,sanggupkah dia menjadi tulang punggung bagi keluarganya dengan gajinya yang masih tak begitu tinggi,akankah ayah tirinya kembali membalas dendam,beragam pertanyaan muncul di benaknya membuat pikirannya kembali kacau."Ahhh..persetan dengan semua itu."umpat Jolie dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya"Yang pasti saya harus cepat keluar dari rumah sakit ini sebelum tagihan rumah sakitnya semakin bengkak."tekad JolieJolie menarik selimut hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya,menggerutu tak jelas dibalik selimut dan kembali tidur.........Srek....srek...kening Jolie berkerut,mata masih terpejam erat saat mendengar suara jelas krasak krusuk di dekatnya."Eisshhh....apaan sih???mengganggu jah..." gerutu JolieKarena masih pusing sehabis bangun tidur,Jolie melirik malas jam dinding di ruangan dan baru menyadari kalau sudah waktunya makan malam dan ternyata adiknya Rudy yang tiba-tiba duduk di atas ranjang tempatnya berbaring penyebab suara krasak krusuk itu."Dasar bocah pengganggu...awas lu..." bereng si JolieRudy tertunduk memainkan jari-jarinya dan meminta maaf"Buuuu....Kak Jolie sudah bangun." lapornya.Rudy turun dari ranjang dan berhambur ke arah ibunyaTampak Ibunya yang tengah berbincang serius dengan Pak Darwin.Laporan Rudy tak ditanggapi keduanya.Rudy yang merasa dicuekin,mengulangi laporannya sambil memeluk ibunya."Nak,gimana perasaanmu?sudah baikkan?" ibu menghampiri Jolie"Ibu ada bawain bubur,telur dan ikan.Ayuk..dimakan...perutmu perlu diisi biar cepat sehat,Nak." bujuk ibuJolie menatap lekat-lekat wajah ibunya.Di sekitar matanya yang masih lebam,keningnya yang masih dioles obat,pipinya yang masih sedikit bengkak dan bekas luka di sudut bibir kanannya yang masih jelas.Jolie iba melihat ibunya yang malang.Paras ibunya yang molek menurun ke Jolie,begitu juga dengan sifat ayunya.Tapi sepertinya ibu selalu kurang beruntung dalam pernikahan.Dengan ayah tirinya,ini sudah merupakan pernikahannya yang ketiga.Pernikahan pertama terjadi karena desakan perjodohan yang diatur nenek pupus di tengah jalan,suami pertama menceraikannya karena ketahuan selingkuh dengan rekan kerjanya.Pernikahan pertamanya tidak bertahan sampai 1 tahun,hanya 8 bulan saja.Dari pernikahan pertama,ibu belum sempat dikarunia anak.Pernikahan kedua adalah pernikahan dengan ayah Jolie.Dari pernikahan ini,ibu melahirkan Jolie dan Rudy.Namun nasib berkata lain,ayah Jolie menghadap yang Kuasa karena kecelakaan saat bekerja.Sejak saat itu,ibunya bekerja keras membesarkan mereka hingga bertemu dengan ayah tirinya.Awalnya pernikahan dengan ayah tirinya baik-baik saja hingga saat dana pensiun ludes dan ayah tirinya mulai pulang larut dalam keadaan mabuk dan berkelakuan kasar.Sungguh tragis kisah cinta ibunya itu.Itulah yang dirasakan Jolie saat ini"Betul kata ibumu,Nak Jolie,makan sesuap dua suap juga tak apa,jangan biarkan perutmu kosong."sahut Pak Darwin dari seberang ranjang JolieTiba-tiba Jolie teringat dengan kata-kata Pak Darwin tadi siang"Apakah benar lusa polisi akan datang mengintrogasiku?" ada nada khawatir di pertanyaan itu"Ya..polisi butuh keteranganmu selaku korban." jelas Pak Darwin"Dia masih syok dan lemah,pak..mungkin beberapa hari nanti dia baru bisa dimintai keterangan." ibu membela Jolie"Sudah tenanglah...,bapak akan mendampingimu melewati proses yang mungkin akan melelahkan sampai putusan untuk ayahmu ditetapkan sepadan dengan apa yang telah diperbuatnya terhadap kalian." ucap Pak Darwin"Bapak akan datang lagi kapan pun bila tiba-tiba polisi datang ke sini meminta keteranganku sebagai korban." Jolie berusaha memastikan"Ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi,Nak." jawab Pak Darwin santai"Aku tulus meminta maaf dan berterima kasih karena sudah merepotkan Bapak.Bapak jadi ikut terseret ke dalam masalah keluarga kami." ucap Jolie tertunduk,matanya berkaca-kaca"Makanlah..."ucap Pak Darwin.Jolie mendongakkan kepala menatap Pak Darwin.Pak Darwin menghapus air mata Jolie"Tolong beritahu polisi besok jam makan siang,saya siap diintrogasi." ucap Jolie dengan senyum..........Tok..tok..tok...suara pintu ruangan VIP tempat Jolie dirawat diketukSerentak seluruh penghuni ruangan itu menoleh ke arah datangnya bunyi ketukanTok..tok...tok..."Assalamualaikum.."terdengar suara ketukan lagi namun kali ini disertai salam"Kami polisi dari divisi tindak kriminal ingin mengintrogasi Nona Jolie Marthawati."terdengar suara lantang tegas dari balik pintuJolie dan Pak Darwin saling menatap dalam kebingungan"Koq jadi sekarang,Pak?" Jolie berbisik panik"Benahi dan tenangkan dirimu,Nak."perintah Pak Darwin sambil menggenggam kedua tangan Jolie"Wa'alaikumsalam..." sahut Pak Darwin sambil bergegas berjalan ke arah pintu"Silahkan masuk,bapak-bapak." Pak Darwin mempersilahkan mereka masuk"Selamat malam,ibu dan Nona Jolie.Perkenalkan kami dari divisi tindak kriminal ditugaskan untuk mewawancarai Nona Jolie Marthawati selaku korban penikaman dan kekerasan rumah tangga." kata salah satu polisi tinggi besar berkumis lebat dengan seragam dinas yang lengkap"iy..iya,Pak...saya Jolie Marthawati." ucap Jolie terbata-bata.Jolie merasa sangat gugup sekali sebab baru ini pertama kalinya dalam sejarah hidupnya didatangi dan diintrogasai polisi.Tapi untung ada ibu dan Pak Darwin yang menemaninya.Terutama Pak Darwin yang terlihat selalu siaga membantu dan mengarahkannya.Introgasi berlangsung cukup lama.Hampir dua jam."Baiklah...hanya ini saja keterangan yang kami perlukan.Segala ucapan dan pengakuanmu dalam rekaman ini akan dijadikan bukti dalam pengadilan nantinya." kata polisi berkumis lebat sambil menunjuk alat perekam yang dipegang rekannya itu."Terima kasih atas kerjasamanya.Selamat malam dan selamat beristirahat." sambungnyaPak Darwin dan ibu mengantar kedua polisi itu.Jolie hanya menyaksikan mereka berlalu dari ruangan dari tempat tidurnya.Lega rasanya"Kak Jolie keren," puji Rudy"Keren apaan...diem lu.." celetuk JoliePadahal dalam hatinya senang tak kepalang dipuji keren oleh adiknya.Pura-pura jutek biar disegani disegani adiknya dan terkesan berwibawa.Hari sudah semakin sore.Matahari sudah mulai beranjak dari peraduan hingga langit di sebelah Barat terlihat mulai gelap.Ratusan lampu mulai dinyalakan.Jolie mempercepat langkah di antara keramaian orang lalu lalang.Hari ini akhir pekan di awal bulan,jalanan ramai kenderaan lalu lalang,kemacetan parah,kafe,restoran,toko ramai dikunjungi orang untuk melepas kepenatan setelah seminggu penuh beraktivitas rutin.Swalayan ramai dikerumunin orang.Para pengunjung sudah tidak sabar lagi memborong barang berdiskon besar.Wajah-wajah asing yang berseri membuat Jolie ikut merasakan kebahagiaan mereka.Maklum pada baru gajian.Jolie tiba-tiba teringat ibu,adiknya dan Pak Darwin.Sudah dua minggu sejak kejadian itu,Jolie belum sempat mengunjungi ibu,adik dan Pak Darwin.Kerjaan di kantornya tertunda dan menumpuk,juga banyak hal yang harus diurus dan diselesaikannya.Salah satunya adalah asuransi kesehatannya.Jolie merasa sangat terselamatkan finansialnya saat dirinya dirawat di rumah sakit saat itu.Proteksi dan jaminan yang diberikan asuransi Manulifenya itu benar-benar perlu diacungkan dua jempol dan tidak perlu diragukan lagi manfaat yang diterimanya.Hal itu terbukti dari seluruh tagihan rumah sakitnya dibayar penuh oleh asuransi ini.Jolie merasa bangga telah membuat keputusan yang tepat dua tahun yang lalu untuk menitipkan 20% dari gajinya di lembaga keuangan yang bukan bank ini.Kini dia tinggal memetik hasil dan merasakan faedahnya.Jolie tak berani membayangkan apa jadinya jika saat itu tidak ada asuransi yang mencover dirinya itu.Jolie berencana mengunjungi ibu,adik dan Pak Darwin malam ini.Jolie menyebrang dan berjalan cepat menuju ke swalayan yang tak begitu jauh dari kantornya.Dia akan mampir ke swalayan tersebut terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah pak Darwin"Astagaaa !!!" Jolie memekik kaget.Jolie memegang dadanya yang berdegup kencang.Sedari tadi dia sibuk memilih dan memilah sayuran dan buah-buahan yang akan dibawanya untuk ibu,adiknya dan Pak Darwin,hingga seseorang menepuk bahunya cukup kerasJolie menoleh ke belakang dan dilihatnya sosok pria kurus jangkung berkacamata berseragam kantor sedang tersenyum manis padanya."Eh...hai,Ted.." sapa Jolie singkat"Aku sedang ada urusan di sekitar sini.Aku melihatmu masuk ke sini.Jadi aku ikut masuk." terang TeddyTeddy adalah mantan Jolie saat SMA dulu.Mereka pernah dekat dan menjalin hubungan cinta yang singkat.Hanya sekitar 1 bulan.Saat itu Jolie yang memutuskan hubungan sepihak karena dirinya benar-benar sedang ingin fokus dengan sekolahnya.Mereka kehilangan kontek saat lulus SMA dan Teddy diharuskan melanjutkan studinya di Singapura.Langkah Teddy tak henti mengikuti Jolie yang sekarang menuju ke kasir."Sini...aku yang bawain.." ucap Teddy"Gak usah...kecil-kecil gini aku dulu sabuk hitam di taekwando loh." pamer Jolie"ihhh...si mungil sombong." balas Teddy tak mau kalah dan ikut antri dibelakang JolieSetelah menyelesaikan semua transaksi di kasir.Mereka berjalan keluar swalayan"Parkir di mana motormu,Jol ?" tanya Teddy"Tadi pagi saya naek gojek pergi kerja,terus dari kantorku jalan kaki ke sini." bala Jolie sambil menunjuk ke gedung kantornya yang ada di seberang swalayan."Yuk...saya anterin...Sini belanjaanmu." Teddy meraih kantung belanjaan dan berjalan ke arah parkiran.Jolie mengikuti langkah Teddy dari belakang.Dia sama sekali tidak menolak tawaran Teddy kali ini karena dia juga ingin cepat-cepat bertemuSetelah menggantung barang belanjaan Jolie,Teddy memastikan Jolie sudah memakai helm dan posisi duduk gadis di belakangnya sudah aman.Teddy melajukan motor Honda CBR250RR hitamnya cepat membelah jalan raya.Pohon-pohon seperti berlarian lalu tertinggal.Teddy melihat ke arah spion dan melihat Jolie berpegangan pada jok besi belakang."Pegangan yang bener.Nanti kalo jatuh,saya juga yang repot." terdengar samar-samar suara teddy yang bersaing dengan hiruk pikuk lalu lintas jalan raya dan deru angin"Uda pegangan koq" Jolie berteriak dari belakang"Pegangan saya aja,biar lebih aman." balas Teddy"Okei..." kedua lengan Jolie mencengkram kuat pundak TeddyTeddy tergelak ,"Hello....saya berasa jadi tukang ojek."Jolie hanya diam,tidak bereaksi sama sekali.Lalu Teddy menarik tangan kiri Jolie dan ditaruh di perutnya"Saya akan ngebut biar cepat sampai.Pegangan kuat di sini." teriak Teddy dari balik helm hitamnya ituSeolah terhipnotis,Jolie lalu memeluk Teddy erat .Pipi kanannya disandarkan di punggung Teddy.Terhirup aroma parfum Teddy yang maskulin.Punggungnya hangat.Tanpa sadar Jolie tersenyum.Teddy mencuri pandang dari spion dan dilihatnya Jolie tersenyum manis.Dia pun menambah laju motor dan kembali memfokuskan pandangan ke jalan raya dan tersenyum.Begitu motor mereka hampir tiba di tujuan.Jolie menarik tubuhnya dan mengarahkan Teddy agar tidak salah arah ataupun kelewatan.Teddy pun mengurangi kecepatan motornya."Kamu kenapa? Malu kepergok tetangga kalo lagi peluk saya?" tanya Teddy sambil memarkirkan motornya.Jolie melepaskan helm yang ia kenakan dan mengembalikannya ke Teddy. Teddy menyerahkan semua barang belajaan Jolie."Ya...iyalah...lu aja yang gak tau kalo warga sini tukang gosip semua." balas Jolie"Emang kenapa kalo kita keliatan mesra? Apa urusannya sama mereka?...Toh dulunya kita pernah dekat dan berpacaran walaupun tak bertahan lama.Wajar-wajar saja,bukan ???" goda TeddyPertanyaan polos Teddy membuat Jolie terperanjat."Ya..ngakk gitu juga.Kita kan juga uda lama putus dan tidak ada apa-apa lagi.Ngakk enak dong kalo orang mikir kita balekkan.Padahal kan kenyataannya enggakk !!!" Jolie berusaha memberi penjelasan"Lho?Jadi kamu maksudmu maunya kita balekkan gitu?" Teddy kembali menggodaWajah Jolie berubah frustasi."Ya..bukan itu...aduh kamu tuh...eh..maksudku..lo itu....!Lo jangan mikir yang aneh-aneh yaaa.." terang Jolie sambil mengusap malu wajahnya yang mulai terasa panas"Hahaha...kamu gemesin deh kalo lagi salah tingkah." Teddy tertawa cekikikkanJolie berbalik dan berlari masuk ke rumah Pak Darwin.Dia meninggalkan Teddy yang masih tertawa terkekeh-kekeh melihat kelakuannya tanpa mengucapkan terima kasih.Teddy menggeleng-gelengkan kepala dan bergumam," dia tidak berubah sama sekali....tetap imut dan lucu"Lalu dia pun menstarter motornya dan pulang dengan perasaan yang sangat bahagia.............Kunjungan Jolie disambut hangat.Begitu dirinya menggeser pagar rumah Pak Darwin,terdengar suara teriakan"Ibu...kak Jolie datang." teriak Rudy dari dalam dan berlari berhamburan ke arah Jolie,memeluknya erat-erat"Rindu kakak yah..." Jolie mengelus pelan kepala adiknya dan mengacak-acak rambutnya"Iya,kak.." Rudy mengangguk-anggukkan kepalanyaIbu muncul dari balik dapur dan memeluk Jolie."Bagaimana kabarmu,Nak?" tanya ibu sembari mencium pipi kiri dan kanan Jolie"Baik,Bu." Jawab Jolie sambil membalas pelukan dan ciuman ibunya"Pak....Jolie datang." ibu menarik diri dari pelukan Jolie dan mengalihkan pandangan ke arah Pak DarwinPak Darwin mengangkat kepalanya dan meletakkan koran.Tersenyum tanpa berkata apa-apa lalu kembali menundukkan kepala ke atas koranIbu kembali ke dapur.Rudy mengikutinya dari belakang.Jolie menghampiri Pak Darwin dan sungkemPak Darwin mengelus lembut kepala Jolie"Bagaimana kabarmu,Nak Jolie?""Pekerjaanmu lancar?""Gimana motormu?masih di bengkel?""Naek apa ke sini?" Pak Darwin angkat bicaraBelum juga Jolie sempat menjawab"Ayahmu akan dipenjara selama dua tahun." lanjutnya"Oh....." Jolie manggut- manggut"Hakim sudah memutuskan hukumannya.Kasus ini sudah selesai." Pak Darwin melepaskan kacamata rabun tua nya dan meletakkan di pangkuannya"Kapan,Pak...maksudku kasusnya selesai?" tanya Jolie penasaran"Minggu lalu.Berita juga sudah diturunkan sesaat setelah putusan ditetapkan.""Semoga di penjara ayahmu dapat merenungkan,menyadari dan memperbaiki perbuatannya.""Semoga Allah menunjukkan jalan terbaik buat ayahmu." kata Pak Darwin"Iya..bener,Pak...Semoga ayah bisa insaf." Jolie mengiyakan perkataan Pak Darwin"Pak....Kak Jolie..." teriak Rudy membuat pembicaraan mereka terhenti dan menoreh ke arah pemilik suara nyaring itu"Ada apa,dek...?" tanya Jolie"Disuruh ibu tuh makan malam." jawab Rudy dan kembali berjalan masuk ke ruang dapurPak Darwin dan Jolie mengikutinya.Jolie menenteng barang belanjaan dan menatanya di kulkasDi meja makan tersaji tiga macam lauk,4 piring nasi dan sepiring besar kuah bakso ikanPak Darwin meminpin doa sabelum makan.Jolie duduk disampingnya.Ibu dan Rudy duduk di seberang mereka"Mari makan." Pak Darwin menyilahkan"Ini rendang jengkol kesukaanmu,Nak." Ibu meletakkan beberapa biji jengkol di atas nasi Jolie dan berkata lagi," Makanlah yang banyak."Ibu paling tahu makanan favorit mutlak Jolie.Jolie bisa menghabiskan tiga piring nasi hanya dengan hidangan jengkol saja.Jolie juga heran dengan tubuhnya yang tetap mungil langsing walaupun nafsu makannya besar.Di sisi lain dia juga bersyukur tidak usah repot dan menderita ikut program diet yang seperti digandrungi para gadis seusianya."Tapi..kemana yah lari gizinya pergi? ke otak? atau apa mungkin dirinya cacingan?" Jolie tersenyum sendiri,geli dengan pikirannya sendiriMereka berbicara panjang lebar,dari timur ke barat sesekali diselingi seloroh-seloroh intim.Memang demikian lah setiap kali acara makan malam di rumah Pak Darwin.Pak Darwin gemar makan sambil bercakap-cakap.Mereka bisa duduk sampai dua atau tiga jam di meja makan.Setelah selesai makan utama,tibalah giliran menikmati buah-buahan segar,ataupun penutup apa saja yang kebetulan dibuat ibu.Ini pun biasa diselingi dengan percakapan-percakapan,candaan.gelak tawa yang memenuhi seluruh ruangan makanHari semakin larut.Semua penghuni rumah itu sudah masuk ke kamar tidur masing-masing.Hanya Jolie yang terlihat masih sibuk mencuci piring,gelas,menyusunnya di rak.Lalu mengelap dan merapikan meja makan"Akhirnya selesai juga.." Jolie memandangi bak cucian,meja dan berdecak kagum.Puas dengan hasil kerjaannya.Bahagia dengan hari-harinyaDiliriknya arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.Hampir pukul sepuluh malam.Jolie menutup lampu ruang dapur,berjalan melewati ruang tamu dan masuk ke kamar tidurnya.Jolie merebahkan tubuh di atas kasur empuknya.Melupakan kewajiban untuk membersihkan diri,matanya mulai terpejam.Bunyi dan getaran ponsel di saku celanya memaksa Jolie membuka mata kembali,merutuk kesal si penelepon yang berani-beraninya mengganggu waktu istirahatnya."Teddy...!!!Apa mulai sekarang kau punya aktivitas rutin menghubungiku larut malam?" sembur Jolie yang sudah melihat nama dan foto penelepon terlebih dahulu.Orang yang diseberang whatsapp tertawa terkekeh-kekeh"Mandi dulu,baru tidur." kata TeddyJolie menghela nafas panjang.Dia juga sudah menduga apa yang akan dikatakan mantan pacarnya ini."Kau paling kenal aku yah !!! ""Ya sudah,bentar lagi deh...""Aku tutup yah."Tanpa mendengar balasan Teddy lagi,Jolie langsung mengakhiri hubungan telepon dan membawa tubuh mungilnya menuju ke kamar mandiTubuh Jolie jadi segar sehabis mandi dan dia kembali masuk ke kamar tidurnya.Kamar tidurnya ini dulunya merupakan kamar tidur anak perempuan Pak Darwin.Kamarnya tidak begitu luas,namun nyaman untuk ditempati.Tata ruangan dan perabotannya tertata apik dan masih sama persis seperti saat putrinya masih hidup.Pak Darwin sengaja tidak merenovasi ataupun merubah tata letak perabotannya.Wallpaper bermotif mini teddy bear berwarna lembut menambah kenyamanan kamar tidurnya.Meja belajar di samping tempat tidur,AC Panasonic putih yang masih terpasang di atas pintu kamar.Tirai jendela biru polos menutupi jendela.Jam dinding petak yang bergantung tepat di atas meja belajar.Foto wisuda Tk putrinya dalam bingkai emas,foto keluarga Pak Darwin yang dimuat dalam bingkai kecil unik,foto Pak Darwin yang memeluk putrinya saat mereka berwisata ditempel di bagian atas lemari meja belajarnya,foto putrinya bersama teman-temannya ditempel di bagian bawah lemari meja belajarnya.Koleksi boneka kecil teddy bearnya yang berjejer tersusun rapi dan bersih di lemari kaca meja belajarnya.Sedangkan kamar tidur yang ditempati Ibu dan Rudy dulunya merupakan kamar tidur putranya.Lebih luas sedikit daripada kamar tidur putranya itu.kamar itu juga sudah lama tak ditempati karena jika putranya berkunjung,dia menemani ayahnya tidur di kamar tidur utama.Kamar yang paling luas di antara ketiganya.Desain nya juga bedaSudah hampir satu jam Jolie berbaring di atas kasur.Golek kanan.Golek kiri.Matanya terpejam,namun dia benar-benar tidak bisa tidur.Bahkan suara detik-detik jarum jam yang berdetak terdengar sangat jelas.Jolie bangun.Dia menghidupkan lampu kamar.Mengambil remote AC dan menurunkan suhu ruangannya.Dia berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar.Gadis itu kelihatan gelisah.Otaknya mencari-cari ide agar dirinya bisa lebih cepat terlelap.Berulang kali dia melirik ponsel yang ada di atas kasur,tapi tak ada satupun chattingan masuk yang tampak di ponsel ituJolie kembali ke atas kasur.Mengambil ponsel dan menarik selimut menyelimuti separuh tubuhnya.Jolie mulai melihat aplikasi game yang sudah pernah di download nya.Matanya tertuju pada "Candy Crush".Game yang paling digandrunginya.Tak heran jika level game Candy Crushnya sudah mencapai level 500.Saat insomnia nya kumat dan melanda dirinya,game inilah penghibur dan teman bermainnya"Beep....." ponsel Jolie berbunyi dan bergetar.Tanda ada chattingan Whatsapp yang masuk.Jolie membiarkannya,dia terus bermain"Paling-paling si Teddy lagi kurang kerjaan..." umpat Jolie dalam hati"Beep...Beepppp...Beepp..." ponsel Jolie berbunyi dan bergetar lebih lama.Apalikasi game Candy Crush terhenti.Terpaksa dia keluar dari aplikasi itu"Ihh....sapa sih???" geramnyaJolie memeriksa chattingan Whatsapp yang masuk.Rupanya broadcast dari salah satu temannya di grup Whatsapp.Mereka menamai grup itu "Avengers".Isinya personil personil alumni teman sekolah Jolie pecinta film dan karakter tokoh Avengers saat masih SMABroadcast Whatsapp grup Avengers dari Sabrina tentang lowongan pekerjaan sebagai sekretaris direksi di Jakarta Pusat.Berikut isi broadcastnyaLowongan Kerja Sekretaris DireksiKualifikasi :-Wanita single,berpenampilan menarik,usia max 30 tahun-Bersedia ditempatkan di Jakarta,bekerja lembur dan dinas luar kota/luar negeri-Pendidikan minimal D3 jurusan Sekretaris-Jujur,disiplin dan teliti-Mampu berkomunikasi dan bekerja sama dalam tim-Dapat mengoperasikan Microsoft Office (Word,Excel dan Power Point)-Dapat membuat materi presentasi-Berpengalaman di bidangnya min 1 tahunKirim lamaran kerja dan CV ke gmail hrd_SBRteamJolie menelusuri satu persatu kualifikasinya.Dia merasa dirinya memenuhi semua kriteria yang diminta dan tertarik untuk mencoba mengirim lamaran.Tapi,dia ragu untuk langsung japri ke Sabrina karena sudah larut malam"Tidak ada salahnya saya coba,Toh..kalaupun uda tidur...dia bisa balas keesokkan harinya chattinganku." pikirnyaTelepon saya.Chattingan Jolie dibalas singkat dalam sekejap.Jolie menyentuh logo bergambar telepon di sudut kanan aplikasi Whatsapp dan..."Halo,Jol...apa kabar? lama tak jumpa?" suara Sabrina diseberang telepon"Halo,Rin...baik dan sehat...Maaf yah,telepon larut malam.Ganguin jam istirahatmu." balas Jolie"oh...gak pa pa.Saya masih belum tidur koq.." jawab Sabrina"Saya mau tanya.......""Kamu langsung kirim lamaran dan CV mu via email saja.Nanti saya akan bantu proses." potong Sabrina"Tapi bagaimana dengan tempat tinggal? Apakah perusahaan menyediakannya." Jolie kembali bertanya"Mengenai gaji,bonus,transpor,jamsostek dan fasilitas lain dapat kamu tanyakan saat interview online nantinya setelah ada panggilan resmi melalui email perusahaan." terang Sabrina"Setauku perusahaan tidak menyediakan tempat tinggal bagi karyawan baru.Tapi kamu bisa tinggal di apartemen lamaku untuk sementara." lanjutnya"Oh gitu...,bagusan saya sewa saja apartemenmu itu." tukas Jolie"tenang...itu bisa diatur." jawab Sabrina dengan nada santai"Baik,Rin...terima kasih.Selamat malam dan selamat tidur." balas Jolie"OK..." lalu telepon pun ditutup"ceklek..." lampu kamar Jolie di padamkannya.......Jam menunjukkan pukul setengah lima sore,namun pekerjaan Jolie di kantor sudah rampung semua.Masih ada setengah jam lagi waktu pulang kerja.Beberapa rekan kerja Jolie berkumpul di satu meja,saling bercerita,bergosip dan tertawa sambil makan rujak.Jolie tidak ikut nimbrung.Dia menyalakan kembali laptop di meja kerjanya.Setengah jam itu digunakannya untuk membuat surat lamaran dan CV untuk perusahaan barunya dan juga membuat surat pengunduran diri untuk perusahaan tempatnya bekerja sekarang iniJolie memutuskan untuk mencoba mengirim lamaran dengan harapan dapat diterima sehingga dia dapat mengembangkan karier dan menjadi sukses seperti Sabrina.Dia ingin ibunya bangga dan hidup mereka lebih sejahtera.Namun di sisi lain ternyata banyak hal yang harus dipertimbangkannya mulai dari tempat tinggalnya di Jakarta nantinya,transpor,mencemaskan ibu dan adiknya yang bakalan jauh darinya hingga hal-hal sekecil apapun dipikirkannnya matang-matang."Semoga diterima." gumam Sabrina setelah selesai membuat surat lamaran dan surat pengunduran diri.Dia menutup laptop nya,menyimpannya,meraih tas kerjanya dan beranjak dari tempat duduknya"Fighting,Jolie.." dia mengepalkan semua jemarinya,menariknya kedua tangannya ke arah rusuk dan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat,berjalan keluar dari kantornya, terus mngulangi kalimat itu berkali-kali dan pulang.Dalam perjalanan pulang,otaknya terus berputar,mencari dan memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan keinginannya pindah kerja ke kota Jakarta kepada ibunya,Pak Darwin dan direktur tempatnya bekerja bila nantinya dia telah diterima bekerja di perusahaan baru itu.Jolie memutuskan untuk mengunjungi dan memberitahukan keinginannya saat makan malam nantinya kepada ibunya dan Pak Darwin terlebih dahulu dan berdiskusi dengan mereka.Dia ingin tahu pendapat ibu dan Pak Darwin.Jolie tahu pasti kalau pak Darwin orang yang bijaksana dan selalu memberikan pendapat dan solusi terbaik baginya.Jolie berubah pikiran,lalu dipacu motornya pulang ke kosan nya."Saya akan memberitahukan kabar gembira setelah positif diterima di perusahaan itu." pikirnya dalam hati......."Wooohoooo......." Jolie berteriak keras,mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil berlari kecil mengelilingi kamar kosan nya.Jolie kegirangan tak karuanDia senang sekali akhirnya ada balasan email perusahan itu setelah dirinya menunggu tiga hari.Isi emailnya tentang waktu dan sesi wawancara online yang harus dijalani pelamar.Ada tiga sesi yaitu sesi pertama berupa ujian online,sesi kedua berupa tes psikologi online dan sesi ketiga berupa interview online dengan kepala Hrd perusahaan itu.Jolie mengikuti ketiga sesi tersebut dan melalui nya dengan sempurna,tinggal menunggu email selanjutnya tentang informasi diterima tidaknya menjadi karyawan perusahaan tersebut,informasi peraturan perusahaan dan lampiran surat kontrak yang akan ditandatangani nantinya.Kepastian diterima tidaknya menjadi karyawan akan dikirim sore nanti.Dia sangat yakin dan percaya diri kalau dirinya pasti diterima.Jolie tidak sabar lagi menunggu email tersebut.Dia terus berdoa dalam hati agar keinginannya dapat terkabul.Gadis ini kelihatan gelisah.Sepanjang hari sibuk memeriksa ponselnya kalau-kalau ada email baru yang masuk.Pikiran tidak fokus pada kerjaan dan hatinya tidak tenang."Beep.." ponsel Jolie berdering diikuti getaran halus dirasakan di saku jas hitamnya saat dia baru akan keluar kantor dan pulang.Jolie merogoh saku dan memeriksa ponselnya"Yassss.....yasss....saya diterima." jerit Jolie.Dia berlari kecil ke parkiran motor dan bergegas ke rumah pak Darwin untuk memberitahukan kabar baik ini saat makan malam nantiSaat sampai di rumah pak Darwin,terlihat ibu yang sedang berdiri mengawasi Rudy bermain bersama anak-anak tetangga lain.Jolie memarkirkan motornya,berlari ke arah ibu dan memeluknya erat-erat"Ada apa ini?" kata ibu berusaha melepaskan pelukan JolieRudy dan anak lain tertawa melihat kelakuan Jolie dan mengejeknya.Jolie tidak menghiraukannya"Saya diterima,bu.." kata Jolie"Apaan...apa maksudmu,Nak??" tanya ibu kebingungan"Kerjaan baru...mana..mana Pak Darwin?" tanyanya tanpa menunggu jawaban ibu,Jolie langsung berlari masuk ke ruang tamu.Di ruang tamu tampak pak Darwin yang sedang fokus menonton dan mendengarkan berita TransTV.Perhatian Pak Darwin teralih dengan suara gaduh lari nya Jolie.Dia berpaling dan berkata," Ada apa,Nak Jolie?""Saya...saya diterima,Pak." jawabnya dengan nafas terengah-engah"Diterima apa maksudmu,Nak?" balasnya sambil mengernyitkan keningnya"Saya diterima di perusahaan manufaktur ternama di Jakarta Pusat,Pak." jelas Jolie"Wahhh...bagus sekali,Nak""Tapi bagaimana dengan kerjaanmu yang sekarang? Atasanmu uda tau?Sudah mengundurkan diri?uda bicarakan dengan ibumu?Kapan mulai kerja?Apa saja fasilitas yang ditawarkan perusahaan" todong Pak Darwin dengan segudang pertanyaan"Iya,Pak...Saya akan segera mengurus semua itu segera." jawab Jolie"Selamat,Nak Jolie.Doa bapak menyertaimu.Semoga kerjaan barumu dapat mengantarmu ke gerbang kesuksesan." kata Pak Darwin"Selamat,Nak." kata ibu sambil menggandeng Rudy berjalan menghampiri Jolie dan Pak Darwin"Apapun keputusanmu ibu akan dukung.Tapi ingat jaga diri.Kesehatanmu yang paling utama." imbuh ibu"Makan yuk,bu....Rudy lapar" Rudy menarik tangan ibu dan merengek"Yuk...sekalian makan,Pak,Jolie." ajak ibu........."Tok...Tok....Tok...." Jolie mengetuk pelan pintu ruangan Direktur"Masuk." terdengar suara dari dalam ruanganJolie membuka pintu dan masuk ke ruangan dengan membawa surat pengunduran diri yang telah dipersiapkannya dan jadwal rapat direktur"Silakan letakkan di atas meja jadwal rapatnya." kata direkturDirektur terlihat sibuk menandatangani dokumen-dokumen di meja kerjanya,sama sekali tidak mengangkat kepalanya"Ini..Pak...Ada yang perlu saya sampaikan." Kata Jolie sambil meletakkan surat pengunduran dirinya di hadapan dokumen yang sedang ditandatangani direkturnya ituDirekturnya menghentikan gerakan tangannya dan mengangkat kepala,mengambil surat tersebut dan membacanya.Lalu berkata," apa alasanmu? kenapa tiba-tiba?""Saya mendapat pekerjaan yang lebih berprospek.Saya ingin mencoba mengembangkan karier." jawab Jolie"Sudah kamu pertimbangkan baik-baik." tanya direktur"Kapan kerjaan barumu dimulai?" imbuhnya"Iya,Pak.Saya sudah yakin.Sekitar dua minggu lagi." balas Jolie"Baiklah,Saya tidak akan menentang keputusanmu.""Segera cari penggantimu""Buat serah terima jabatan dan pekerjaanmu secara jelas dan rinci." perintah direktur"Beres,Pak...Saya akan segera urus semuanya." jawab Jolie

Istri Kesayangan CEO Dingin
Romance
02 Jan 2026

Istri Kesayangan CEO Dingin

"Aku kembali," sapa gadis cantik, berjalan masuk ke dalam restoran sederhana."Hmm. Alamat dan pesanannya ada di sana," ucap wanita paruh baya yang sedang duduk di meja kasir, menunjuk kantong plastik putih yang berada di atas meja."Aku pergi dulu ya, Bik," pamit gadis cantik, kembali berjalan keluar dari dalam restoran sambil membawa kantong plastik tadi."Iya. Hati-hati," jawab wanita paruh baya itu, dia terlihat sedang mencatat sesuatu di buku.Gadis cantik itu bernama Alya Febrianti Angraini, dia bekerja di sebuah restoran sederhana, bertugas mengatar pesanan.Alya memasukkan kantong plastik tadi, ke dalam keranjang yang berada di belakang motor. Ia menaiki motornya, menyalakan motornya, lalu menjalankan motornya pergi meninggalkan kawasan restoran sederhana itu.Dia mulai mulai membelah jalan raya, yang cukup ramai di malam hari. Tidak membutuhkan waktu yang lama, dia kembali menghentikan motornya di depan gedung yang cukup tinggi.Alya turun dari atas motornya, mengambil kantong plastik tadi, ia melihat kertas yang berisi alamat."Teryata orang kaya mau juga pesan makanan beginian," guman Alya sambil berjalan masuk ke dalam gedung, menaiki lift, tak lupa menekan nomor lantai gedungnya. Mata Alya tidak lepas dari layar yang menunjukkan dia berada di lantai berapa.Kring!Alya berjalan keluar dari dalam lift, mulai menelusuri koridor sambil matanya menatap ke arah pintu."239, 240, 241, 242," ucap Alya sambil menghentikan langkahnya, di depan pintu 242. Dia kembali melihat kertas alamat tadi, memastikan dia tidak salah alamat."Tidak salah lagi, ini alamatnya," ucap Alya sambil menekan tombol bel di dekat pintu. Tanpa sadar ia menghela nafas panjangnya."Apa aku salah alamat, ya? Tapi ... di kertas ini, memang benar ini alamatnya," guman Alya yang kembali melihat kertas alamat tadi."Permisi! Pesanan Anda datang!" ucap Alya, kembali menekan tombol bel, saat pintu masih belum dibuka dari dalam. Saat gadis itu berniat ingin menekan bel untuk ketiga kalinya, pintu tiba-tiba dibuka dari dalam.Ceklek!Menampakkan seorang pria tampan, wajahnya dipenuhi dengan keringat dingin, nafasnya terlihat tidak beraturan."Tuan baik-baik saja?" tanya Alya khawatir, saat melihat keadaan pria yang terlihat sedang tidak sehat.Tanpa diduga oleh Alya, tangannya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam apartemen. Pria itu menyadarkan tubuh Alya ke pintu."Tu ... tuan, apa yang kau lakukan?" tanya Alya yang terlihat begitu ketakutan.Pria tampan tidak menjawabnya, melainkan ia malah mencium bibir Alya dengan penuh na**u.Alya refleks menjatuhkan kantong plastik yang berada di genggamannya, ia mencoba mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaganya, tapi nihil. Kekuatan pria itu jauh lebih kuat darinya. Pria itu bagaikan sudah dikuasai oleh naf**nya.Pria itu melepaskan ciumannya, mengedong tubuh Alya bagaikan karung beras, lalu berjalan membawa Alya ke dalam kamar."Hei! Apa yang kau lakukan?!" bentak Alya sambil memukul-mukul punggung pria tampan itu, dengan tangannya."Tolong ...!" teriak Alya dengan nafas turun-naik.Alya semakin ketakutan, saat pria tampan itu mengunci pintu kamarnya, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk."Tolong ...!" teriak Alya lagi.Dia semakin dibuat ketakutan, saat pria tampan itu membuka pakaian atasnya. Tanpa sadar Alya menelan slivannya dengan susah payah, perlahan ia berinsut mundur. Bukan dia tergoda dengan bentuk tubuh pria tampan itu, melainkan dia sangat ketakutan."Tolong ...!" teriak Alya lagi, berharap ada yang mau menolongnya.Namun, usahanya untuk meminta tolong sia-sia, tubuhnya sudah lebih dahulu dikuasai oleh pria yang sudah dilanda naf*u. Malam itu adalah malam terburuk bagi Alya, di mana kesuciannya direbut oleh pria yang sama sekali tidak dia kenal.Jika dia tau kejadian akan seperti itu, dia tidak akan pernah mau mengantarkan pesanan itu. Namun, semua itu sudah menjadi bubur, dia bukan lagi wanita yang suci."Eughk ... Ahh ...," lenguh pria tampan itu, ia baru saja terbangun dari tidurnya.Dia? Brian Ardiansyah, pria yang sudah merenggut kehormatan Alya Febrianti Angraini.Brian memegang kepalanya yang terasa sakit, matanya menatap langit-langit kamarnya, pandangannya terlihat sedikit buram sebelum menjadi jelas."Eughk ...," lenguhan Alya membuat Brian terkejut.Brian ragu-ragu menoleh ke sampingnya, matanya membulat dengan sempurna saat melihat gadis yang sama sekali tidak ia kenal. Ia sedikit mengakat selimutnya, dan baru menyadari dirinya tanpa busana."Apa yang terjadi?" Brian mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.Sebelum kejadian ....Brian ingat, kalau semalam Kakak tirinya datang ke apartemennya, mereka mengobrol santai. Tiba-tiba Brian ingin pergi ke toilet, saat kembali dia tidak lagi menemukan Kakak-nya di ruang utama.Brian sama sekali tidak merasa curiga, dia kembali duduk di sofa, melanjutkan menonton film-nya. Lalu dia tiba-tiba mendapatkan pesan dari Kakak-nya, mengatakan bahwa Kakak-nya ada urusan mendesak. Jadi, harus pergi begitu saja.Brian meminum minuman anggurnya, belum beberapa menit setelah meminumnya, dia tiba-tiba merasakan panas, gerah dan sesuatu yang aneh, dirinya bagaikan sedang ter**ang.Pada saat itu Alya datang mengantarkan pesanan. Brian yang sudah tidak mampu mengendalikan dirinya, akhirnya melampiaskan hasratnya terhadap gadis yang sama sekali tidak ia kenal, Alya."Si*l! Apa semua ini karena, Kak Rai?" guman Brian dengan tertawa miris.Brian bangun dari tidurnya, matanya beralih menatap Alya yang masih tertidur pulas di sampingnya.'Apa yang harus aku lakukan terhadap gadis ini? Bertanggung jawab? Apa ... jangan-jangan ini jebakan? Jika, Kakek mengetahui ini, otomatis Kakek akan mencoretku menjadi pewarisnya? Lalu Kak Rai yang akan menjadi pewarisnya,' batin Brian, ia memiliki begitu banyak pertanyaan di dalam otaknya.Brian lebih memilih untuk tidak memikirkannya, saat ini dia harus menenangkan dirinya. Ia menepiskan selimut dari tubuhnya, memunggut pakaiannya, lalu memakai kembali, dan berjalan menuju kamar mandi.Brian membiarkan air mengalir mengguyur seluruh tubuhnya. Dia yakin kalau semua ini adalah bagian rencana dari Kakak tirinya, dari awal mereka memang tidak suka Brian menjadi pewarisnya. Namun, mereka masih berpura-pura baik-baik saja di depannya, ternyata dibalik sikap mereka yang tenang, dirinya malah dijebak.Alya membuka matanya dengan perlahan, menatap langit-langit kamar dengan samar-samar, berharap semua itu adalah mimpi buruk."Apakah aku masih bermimpi buruk?" guman Alya dengan suara khas orang baru bangun tidur.Ceklek!Alya menoleh ke arah suara, melihat Brian baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai baju handuk, tangan yang mengacak-acak rambutnya dengan handuk kecil."Tidak. Ini pasti mimpi. Aku pasti sedang bermimpi ...," lirih Alya disertai buliran bening mengalir di sudut matanya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya bukan lagi gadis yang suci."Hentikan dramamu itu. Aku tau kalau kamu bekerja sama dengan Kakak-ku, Raihan," ucap Brian dengan dinginnya.Alya menoleh ke arah Brian, lalu berkata, "Apa katamu? Drama?!""Hmm. Kamu pasti sengaja, 'kan? Dibayar berapa kamu sama Raihan, hah?!" tanya Brian dengan nada membentak.Alya bangun dari tidurnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu. Berjalan mendekati Brian dengan nafas turun-naik, matanya mengisyaratkan kemarahan teramat dalam."Setelah apa yang kau lakukan terhadapku? Lalu sekarang kau bilang aku me-drama? Bekerja sama dengan Kakak-mu? Apa maksudmu, hah?! Siapa, Raihan?! Jelas-jelas di sini aku korbannya!" jawab Alya yang balik membentak."Korban? Ha-ha-ha, jelas-jelas aku korbannya! Aku tau kamu pasti orang suruhan Raihan, 'kan? Kamu pasti disuruh untuk menghacurkan aku, bukan?!" tanya Brian."Hei! Aku ke sini cuma mengantarkan pesananmu! Dan sekarang lihatlah!" Alya menunjuk noda darah yang berada di atas seprai."Kau sudah menghacurkan masa depanku. Jelas-jelas di sini aku korbannya, tapi kenapa kau yang malah bersikap seperti korbannya? Apa salahku? Kenapa kau lakukan ini padaku?" lanjut Alya, tubuhnya mendadak lemas, ia menangis tersedu-sedu di atas lantai, buliran bening tidak henti-hentinya mengalir di pipinya.Brian mulai berfikir jika Alya juga korbannya, tapi ia juga harus memastikannya terlebih dahulu. Dia tidak boleh percaya begitu saja, dia akan menyelidiki siapa gadis itu sebenarnya."Baiklah. Aku akan bertanggung jawab. Jadi, sebaiknya kau hentikan tangisan itu, tidak ada guna juga kau menangis, semuanya sudah terjadi," ucap Brian tanpa menatap ke Alya."Apa aku bisa mempercayai kata-katamu?" tanya Alya dengan mendongakkan kepalanya, menatap pria yang sedang berdiri di depannya."Kalau kau tidak percaya, kau bisa tinggal di sini mulai sekarang," jawab Brian menatap sekilas ke arah Alya.Alya tiba-tiba tertawa mendengar perkataan Brian, benar-benar tidak terpikirkan olehnya. Bertemu dengan pria seperti Brian."Kau pikir semua ini lucu? Karenamu, mungkin aku akan kehilangan sesuatu yang berharga. Lagian, aku sebenarnya tidak ingin berhubungan denganmu, jika bukan karena seseorang sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumanku," ucap Brian tidak terima, padahal dia sudah mau bertanggung jawab."Terserahmu!" Alya bangun dari duduknya, berjalan pergi meninggalkan Brian dengan perasaan marah bercampur kecewa.Alya tidak punya pilihan selain mengikuti perkataan Brian, ada bagusnya kalau Brian mau bertanggung jawab, dia tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya.Alya menutup pintu kamar mandi, menyadarkan punggungnya ke pintu, tanpa sadar tubuhnya merosot ke lantai. Dia masih kecewa terhadap dirinya, kehormatan yang selama ini selalu ia jaga, direnggut begitu saja oleh pria yang sekali tidak ia kenal.Brian masih bisa mendengarkan suara tangisan Alya dari luar. Tanpa sadar ia menghela nafas kasarnya. Dia melihat jaket Alya berada di lantai, ia melihat sesuatu di bahu tersebut.Brian memunggut jaket tersebut, membuka lebar dan melihat nama restoran, nomor telpon di tempat Alya bekerja.[Restoran Bibi Caca. +6282386217111.]Brian berjalan keluar dari dalam kamarnya, TV-nya saja masih menyala, gelas minumannya masih tergeletak di atas meja. Dia menemukan ponselnya di atas meja, mengambil ponselnya, lalu menekan nomor seseorang di layarnya."Bagas, bantu aku selidiki seseorang. Aku baru saja dijebak oleh Raihan. Aku mau kamu menyelidiki gadis yang bekerja di Restoran Bibi Caca. Dia bernama, Alya Febrianti Angraini."Brian mengetahui nama Alya, dari jaket yang digunakan Alya, memiliki tanda pengenal agar memudahkan konsumen mengetahui siapa Alya.Alya baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Kamar yang semulanya berantakan mendadak menjadi rapi dan bersih, ia juga melihat pakaian di atas kasur. Dia tidak punya pilihan selain memakai pakaian yang sudah disiapkan Brian.Tidak membutuhkan waktu yang lama, Alya selesai mengenakan pakaian Brian. Ya, Brian tidak memiliki pakaian wanita di rumahnya, jadi, dia menyiapkan pakaiannya untuk Alya.Dreet ... dreet ... dreet!Alya mendengar deringan ponsel di atas nakas, ia berjalan menghampiri nakas, melihat nama 'Bibi Restoran' di layar ponselnya.Alya mengambil ponselnya, menggeser tombol hijau di layarnya, mendekatkan ke dekat telinganya."Assalamualaikum, Alya!" sapa Bik Mina---pemilik restoran tempat Alya bekerja, sekaligus Ibu angkat bagi Alya."Wa'alaikumsalam, Bik," jawab Alya, berusaha menormalkan suaranya."Semalam Bibi coba telpon kamu, tapi kok gak diangkat-angkat? Bibi khawatir sekali denganmu. Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Bik Mina yang terdengar sangat khawatir."Aku baik-baik saja, Bik," jawab Alya berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah."Eum ... karena semalam kamu belum juga pulang. Bibi minta Noval menyusul kamu ke sana, tapi cuma motor aja yang ada di sana. Sebenarnya, semalam kamu pergi ke mana, Alya?""Aku ... aku ....""Aku apa, Alya? Kamu baik-baik saja, 'kan?" potong Bik Mina."Aku baik-baik saja kok, Bik. Semalam temanku telpon, dia lagi dapat masalah, jadi, aku pergi ke sana menggunakan taksi. Maafkan Alya ya, Bik. Udah buat Bibi khawatir," jelas Alya dengan suara serak."Suara kamu kenapa, Alya? Kamu habis nangis?" tanya Bik Mina mulai curiga."Enggak kok, Bik. Aku lagi terserang flu," jawab Alya berbohong."Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja. Kamu jangan lupa minum obatnya, biar cepat sembuh. Motornya jangan khawatir. Noval sudah membawanya pulang. Sebaiknya kamu istirahat.""Baik, Bik. Beberapa hari ini aku mau nginap di rumah teman dulu ya, Bik. Dia masih butuh aku.""Baiklah. Kamu baik-baik di sana, ya. Jangan lupa minum obatnya.""Baik, Bik. Aku tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."Alya menutup telponnya buru-buru, tangisnya kembali pecah. Dia tidak dapat menahan tangisnya, sungguh sulit berbohong kepada orang yang disayangi."Raihan!"Tangisan Alya seketika berhenti saat mendengar suara bentakan dari luar kamarnya, ia bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu kamar, dan melihat Brian sedang menelpon di ruang utama."Aku tau semua ini perbuatan kamu, 'kan? Dari awal kamu memang tidak suka, aku menjadi pemimpin di perusahaan Kakek, 'kan? Jadi, kamu sengaja menjebakku dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku, lalu memesan makanan atas namaku," ucap Brian terlihat begitu marah.[Apa maksudmu, Brian? Memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu? Jangan konyol deh. Aku juga tidak pernah menentang kamu menjadi pemimpin di perusahaan Kakek.]"Jangan pura-pura deh, aku tau semua ini perbuatanmu. Karena ulahmu, aku menghacurkan masa depan gadis yang sama sekali tidak bersalah," ucap Brian dengan menekan setiap perkataannya.Sedangkan Alya hanya mendengarkan obrolan Brian dari pintu, mencoba menebak-nebak dari ekspresi Brian, menebak apa yang sedang dikatakan lawan bicara Brian.[Brian, dari tadi aku mencoba untuk bersabar, karena kamu Adikku. Jika kamu melakukan kesalahan, kamu harus bertanggung jawab. Jangan melampiaskannya kepadaku. Kamu memiliki bukti, bahwa aku yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu?Iya. Aku semalam memang berada di apartemenmu, lalu tiba-tiba pergi begitu saja. Bukan berarti aku pelakunya, atau ... jangan-jangan, kamu cuma mengarang cerita, karena terlalu takut untuk bertanggung jawab. Kamu pasti takut Kakek mengetahuinya, ya? Lalu mencoret namamu dari pewaris tunggal. Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakannya kepada Kakek. Kamu bisa menjadikan gadis itu sebagai kambing hitam, atau memberi dia uang untuk menutup mulut. Bukankah gadis-gadis suka dengan uang?]"Kau bisa mengatakannya kepada Kakek, aku tidak takut namaku dicoret dari pewaris tunggal. Lagipula, dari awal aku juga tidak menginginkan itu semua. Apa yang kulakukan terhadap gadis itu, aku akan bertanggung jawab. Aku bukan pria bereng**k sepertimu."Brian mematikan teleponnya secara sepihak, meleparkan ponsel tersebut ke atas sofa dengan kasar. Nafasnya terlihat tidak beraturan, menahan kemarahan yang teramat dalam.Alya mulai berfikir jika Brian memang tidak sengaja melakukannya, mungkin karena obat perangsang, membuat Brian tidak dapat mengendalikan dirinya semalam. Dia juga berfikir kalau Brian seorang pria baik, buktinya dia mau bertanggung jawab atas kesalahannya."Huft ...."Entah berapa kali Brian menghela nafasnya semenjak bangun tidur, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu matanya berhenti tempat di mana Alya berdiri tanpa ekspresi."Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kamu pasti lapar," ucap Brian dengan nada dingin, yang memang sudah menjadi ciri khas dirinya.Brian berjalan pergi meninggalkan ruang utama. Alya mengikuti Brian dari belakang, lalu mereka berdua berakhir di meja makan. Ternyata Brian sudah menyiapkan sarapan, selama Alya masih berada di dalam kamar tadi.Alya duduk dengan ragu-ragu di atas kursi, mereka duduk saling berhadapan. Jujur, dia memang merasa sedikit lapar, tapi dia juga dilema dengan rasa takut.Alya merasa ragu memakan masakkan yang ada di atas meja, khawatir Brian memasukkan racun ke dalam makanannya. Dia kan masih ingin hidup lebih lama."Jangan khawatir, makanan itu tidak ada racunnya," ucap Brian seakan tau apa yang dipikirkan Alya."Aku tidak mengatakan makanan ini ada racunnya," ujar Alya dengan nada ketus.Alya menyuap nasi putih hingga membuatnya mulutnya terisi penuh, dia butuh energi untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak boleh merasa lemah, semua itu hanya akan membuatnya semakin terlihat menyedihkan.Segala sesuatu kesalahan pasti dimaafkan Tuhan, selama dia bersungguh-sungguh ingin memperbaikinya. Apa yang harus dia takutkan? Pria yang sudah merenggut kehormatan, sudah berjanji akan bertanggung jawab. Meskipun ia masih ragu dengan perkataan Brian."Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Brian, memecah kesunyian."Apa aku terlihat baik-baik saja?" Bukan menjawab, Alya malah balik bertanya."Sepertinya kamu tidak baik-baik saja," jawab Brian, kembali menundukkan kepalanya."Aku berencana ingin mengajakmu ke rumah keluargaku, aku ingin menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin," lanjut Brian tanpa menatap Alya."Benarkah kau ingin bertanggung jawab?" tanya Alya yang masih tidak percaya.Brian menghela nafas kasarnya, menaruh sendoknya, menyadarkan punggungnya ke kursi, lalu berkata, "Berapa kali harus aku katakan? Aku bukan seorang pria pengecut, yang lari dari kesalahan. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku. Kamu paham?"Alya hanya membalas dengan anggukan."Bagaimana keadaanmu? Apa baik-baik saja? Kalau kamu merasa tidak baik, kita bisa menunda pertemuan keluarga ini," ucap Brian dengan santai menatap Alya.Alasannya bertanya seperti itu, karena ini pertama kalinya bagi Alya, mungkin akan terasa sakit di bagian tertentu."Aku merasa tidak baik-baik saja," jawab Alya dengan ragu-ragu."Baiklah. Aku paham, kalau begitu besok saja kita lakukan pertemuan itu, hari ini kamu istirahat saja," ucap Brian, bangun dari duduknya."Baiklah," jawab Alya singkat."Benar juga, sebaiknya kamu memberitahu keluargamu, jangan sampai mereka khawatir. Aku mau ke kamar dulu, selesai makan kamu bisa menaruh piring kotornya di atas wastafel," lanjut Brian."Iya," jawab Alya mengaguk.Brian berjalan pergi meninggalkan meja makan, menyudahi makannya tanpa menghabiskan makanan yang ada di dalam piring.Alya menatap punggung Brian, tanpa sadar dia menghela nafas kasarnya. Duduk bersama dengan Brian, membuatnya merasa canggung.Alya yang merasa lapar, melahap makanan yang berada di atas meja. Meskipun dirinya sedang berada dalam masalah, bukan berarti dia harus mogok makan. Mungkin akan ada kejadian yang tidak terduga, jadi, dia harus mempersiapkan dirinya.Benar saja dugaan Alya, setelah selesai mencuci piring kotor. Alya menyusul Brian ke ruang utama, berniat ingin menonton film bersama dengan Brian. Akan tetapi, bel tiba-tiba dipencet dari luar.Brian bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu, membuka pintu untuk tamu atau apalah.Plak!Alya kaget saat mendengar suara tamparan, ia bangun dari duduknya, berjalan menyusul Brian.Deg!Jantung Alya berdetak cukup cepat, saat matanya saling beradu dengan pria tua, wanita paruh baya, dan seorang pria tampan."Jadi kamu?! Gadis jal*ng yang sudah membuat cucu saya, Brian, melakukan perbuatan hina itu?!" bentak Gufron---Kakek-nya Brian, terkenal dengan sifat tegas, pemarah dan kepintarannya dalam berbisnis.Hati Alya bagaikan teriris pisau, sungguh sakit, dirina dituduh tanpa tau keadaan sebenarnya. Dia sama sekali tidak berniat ingin menggoda Brian, padahal dirinyalah korban dari semua ini.Apa yang terjadi? Bagaimana Kakek Brian tau, kalau Brian melakukan kesalahan yang sulit dimaafkan?Sebelumnya, dikediaman rumah Gufron Mukti Wibowo.Raihan, Ibunya, lalu kedua Kakak perempuannya, mereka tinggal di rumah megah milik Kakek-nya. Hanya Brian yang memilih untuk tinggal sendirian di apartemen, dibandingkan hidup bersama dengan Ibu tirinya, para Kakak-nya, dan Kakek-nya. Ayah-nya sudah lama meninggal.Raihan yang baru saja selesai menelpon dengan Brian, berniat akan pergi, tapi dirinya malah kepergok oleh Kakek-nya.Gufron mendesak Raihan untuk berbicara jujur, walau awalnya Raihan berbohong. Namun, karena desakkan dari Gufron, akhirnya Raihan mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang dialami Brian semalam.Raihan mengatakan kalau Brian dijebak oleh seorang gadis, membuat Brian tidak mampu mengendalikan dirinya, dan akhirnya semua itu terjadi.Padahal semua itu adalah bagian dari rencana Raihan, dia tau Brian tidak akan membiarkan orang yang tidak bersalah, dituduh tanpa sebab. Raihan memang ingin menghacurkan Brian. Jujur, dia merasa iri terhadap Brian, padahal Brian hanya anak dari selingkuhan Ayah-nya, tapi kenapa Brian yang mendapatkan warisan cukup banyak dari Kakek-nya?Kini dia bisa tersenyum puas, menatap Brian yang berada di ambang kehacuran, menurutnya.______"Jadi kamu?! Gadis jal*ng yang membuat cucu saya, Brian, melakukan perbuatan hina itu?!" bentak Gufron yang terlihat begitu marah.Alya hanya terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak berani menjawabnya, bahkan menatap ke arah Gufron, tangannya tidak henti-hentinya memainkan jari-jemarinya, karena rasa takut. Meskipun dia korbannya, tapi dia juga tidak berani membela dirinya."Kamu pasti mau uang, 'kan? Sebutkan saja berapa yang kamu mau. Saya pasti akan kasih berapa yang kamu mau, dengan syarat kamu harus menghilang dari kehidupan cucu saya, Brian," ucap Gufron dengan penuh penekanan.Alya memberanikan dirinya, menatap ke arah Gufron, sudah cukup dirinya direndahkan, dia bukanlah wanita yang bisa dibeli dengan uang, bahkan bukan wanita yang gila harta."Maafkan saya, Tuan. Tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Saya memang miskin, tapi bukan berarti saya tidak punya harga diri. Saya juga tidak tau semua ini akan terjadi, tapi yang jelas di sini saya korbannya," ucap Alya dengan berani, meskipun jantungnya terasa ingin copot, tapi ia tidak boleh terlihat lemah di depan musuhnya."Ayah, lihatlah gadis jal*ng itu. Dia sama sekali tidak memiliki sopan santun," ucap Sinta---Ibunya tirinya Brian, memiliki sifat yang sulit dijelaskan.Gufron yang tersulut emosi, berjalan menghampiri Alya. "Bukankah kau melakukan semua ini demi uang, hah?! Lalu berkata, kau masih memiliki harga diri. Dasar wanita jal*ng!"Plak!Tamparan mendarat mulus di pipi kiri Alya, membuat tubuhnya terduduk di atas lantai, sudut bibirnya mengeluarkan darah."Kakek! Hentikan!" bentak Brian yang sedari tadi hanya diam."Kau baru saja membentakku?" tanya Gufron dengan gelagapan."Iya. Gadis itu sama sekali tidak bersalah. Semua ini salahku, jadi, aku akan menikahinya," jawab Brian dengan tatapan tajamnya."Apa kau bilang? Kau akan menikahinya? Pikirkan, Brian! Kau ini seorang pewaris, jika orang-orang perusahaan tau kau menikahi gadis seperti dia. Apa yang akan mereka katakan? Mau ditaruh di mana wajah Kakek-mu ini?" tanya Gufron dengan nafas turun-naik."Kakek bisa mencoretku dari pewaris. Aku sama sekali tidak membutuhkan itu semua. Bukankah Kakek masih memiliki tiga cucu lainnya, mungkin Kakek bisa menjadikan salah satu dari mereka, menjadi pewaris perusahaan," ujar Brian dengan tersenyum, jelas dia sedang menyindir Raihan."Beraninya kau, Brian!" ucap Gufron sambil memegang tengkuk lehernya yang mendadak berat."Ayah! Kakek!" ucap Sinta dan Raihan secara bersamaan."Mulai hari ini, kamu bukan lagi pewaris dari perusahaan GMW, dan kamu bukan lagi cucu dari Gufron Mukti Wibowo," ucap Gufron dengan penuh penekanan."Baik," jawab Brian dengan tenang."Percayalah, tanpa diriku kau bukan apa-apa. Aku yakin tidak lama lagi, kau akan mengemis-ngemis meminta bantuanku," ucap Gufron dengan tatapan tajamnya.Brian hanya diam, bukan dia takut akan ancaman Kakek-nya, melainkan dia malas berdebat."Dasar anak tidak tau diri. Kau sama saja dengan Ibumu," ujar Sinta dengan tatapan sinisnya."Ayo, Ayah!" ajak Sinta, memapah Gufron berjalan pergi meninggalkan tempat itu."Sudah kuduga, kau tidak akan mengecewakan aku," ucap Raihan dengan menunjukkan sisi dirinya sebenarnya, tersenyum penuh kemenangan. Ternyata perjuangannya untuk menjadi pewaris, tidak sia-sia.Brian memilih untuk diam, membiarkan apa kata Ibu dan Kakak-nya. Selama ini dia juga sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu. Mereka hanya terlihat baik di depannya, karena dia seorang cucu kesayangan, tapi kini tidak lagi.Namun, Brian sama sekali tidak merasa sedih. Meskipun dia bukan lagi seorang pewaris, tapi dia akan memulai dari awal, membuktikan dirinya bisa tanpa mereka.Brian menghampiri Alya yang masih terduduk lemas di atas lantai. Brian memapah Alya berjalan menuju sofa, dia tau Alya cukup syok setelah kejadian baru saja.Brian berjalan pergi meninggalkan Alya di sofa, kembali menghampiri Alya dengan kotak P3K. Brian mengeluarkan kapas, menyirami dengan sedikit air alkohol, lalu dengan perlahan membersihkan luka yang berada di sudut bibir Alya.Alya sama sekali tidak meringis kesakitan. Jujur, kejadian tadi membuat dia cukup syok."Maafkan aku. Aku tau kamu cukup syok dengan kejadian tadi, tapi percayalah, aku akan tetap bertanggung jawab apapun yang terjadi," ucap Brian, memecah kesunyian antara mereka berdua."Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Alya, menatap bola coklat milik Brian."Melakukan apa?" jawab Brian balik bertanya."Karena diriku, kamu harus kehilangan sesuatu yang berharga. Kamu tidak lagi seorang pewaris, kamu juga dibuang oleh keluargamu. Kenapa kamu mempertahankan aku? Gadis miskin, yang tidak tau diri," jelas Alya berterus terang, dia sama sekali tidak suka berbasa-basi dalam berkata."Mereka bukan keluargaku. Aku sama sekali tidak merasa sedih, melainkan aku merasa sangat bahagia. Kakek menyayangiku, karena aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh cucu-cucunya yang lain," ucap Brian dengan tersenyum."Apa itu?" tanya Alya, penasaran."Kecerdasan," jawab Brian sambil mengetuk kepalanya, dengan jari telunjuknya."Alasan Kakek-ku bersikeras ingin menjadikan aku pewarisnya, karena ia yakin aku mampu membuat perusahaannya maju," lanjut Brian dengan percaya diri."Oh," balas Alya mengaguk-angguk."Kamu tidak percaya? Mungkin saat ini kamu fikir aku seorang pria miskin, tapi kamu jangan khawatir. Aku masih memiliki sedikit saham di suatu tempat," ucap Brian dengan sombongnya."Aku sama sekali tidak menginginkan hartamu. Kamu sudah mau bertanggung jawab, itu sudah cukup bagiku," ujar Alya disertai senyuman.Alya sebenarnya gadis ceria, hanya saja dia akan terlihat pendiam jika di dekat orang baru. Akan tetapi kalau sudah akrab, maka akan muncul sikap yang tidak terduga.

MY BABY CEO
Romance
02 Jan 2026

MY BABY CEO

Hari ini Millie secara khusus memasak berbagai macam hidangan yang akan ia bawa ke kantor Rey sang pacar pertama sekaligus pria yang merenggut keperawanannya.Millie Ayuniar, seorang gadis berusia 18 tahun yang saat ini tengah duduk dibangku SMA, gadis polos bertubuh mungil dan manis itu adalah pacar Tuan Muda Rey, Reyhan Alvarez yang saat ini menjabat sebagai CEO di Perusahaan Alverez Corporation.Keduanya bertemu tanpa sengaja disebuah Cafe, saat itu Millie tengah mengerjakan tugasnya di Cafe karena ia harus menghemat kuota dan uang yang tersisa dari mendiang orangtua Millie.Ya, Millie seorang yatim piatu tanpa sanak saudara yang mendapatkan beasiswa disekolah ternama, saat ini Millie tinggal menyewa disebuah Apartement sederhana.Saat itu ketika Millie menunduk membenarkan tali sepatunya, Rey yang sedang bercanda dengan temannya tanpa sengaja menabrak Millie dan menjatuhkan gadis itu ke lantai, awal mula pertemuan mereka yang sebentar lalu hubungan keduanya terjalin begitu saja sampai di titik Millie merelakan keperawanannya untuk Rey yang telah berjanji tanggungjawab untuknya.Sayangnya, sore ini Millie mendapati kenyataan yang begitu menyakitkan.Saat itu Millie yang akan memasuki ruangan Rey terhenti karena mendengar percakapan Rey dan para sahabatnya."Shit, lo menang taruhan lagi Rey!" ucap sebuah suara yang dikenali Millie, salah satu sahabat Rey bernama Arthur."Nih 10 juta, btw kapan lo putusin Millie?" ucap pria lainnya bernama Bayu yang juga sahabat Rey."Tapi serius lo nggak punya perasaan sedikitpun buat Millie?" tanya Jerry."Yah, gue nggak punya perasaan buat Millie lagian gue udah punya Lussie tipe gue!"jawab sebuah suara yang sangat Millie kenali, suara yang tak lain adalah pacarnya Rey.Diluar pintu Dimas menatap Millie prihatin, gadis polos yang dijadikan taruhan oleh bos sekaligus sahabatnya itu sangat menyedihkan saat ini meskipun ia tersenyum tapi Dimas melihat jejak air mata yang dengan cepat dihapus Millie."Jadi kapan lo putusin?" tanya Bayu."Secepatnya, Millie terlalu polos buat gue meskipun udah beberapa kali gue tidurin, cuman Lussie yang bisa muasin gue!" jawab Rey mantap."Brengsek lo, anak orang udah diperawanin malah ditinggal kasian kali, gue nggak ikutan taruhan tuh duit 10 juta gue kasih doang tapi kalo ada apa-apa sama Millie gue nggak nggak tanggung resikonya, sialan gue nggak tega sama Millie!" ucap Jerry bersalah."Pengecut lo, lagian Rey sendiri yang bilang dia nggak ada perasaan sama Mil--" ucapan Arthur terpotong karena suara ribut didepan pintu Rey.Perasaan Jerry semakin gelisah entah karena apa namun tak lama pintu terbuka memperlihatkan seorang gadis mungil yang menenteng jaket hitam yang sudah pasti jaket milik Rey.Mata Rey dan Jerry melotot gusar menatap Millie dan Dimas yang berada tepat dibelakang gadis mungil itu, hanya Arthur dan Bayu yang terlihat santai."Yo Millie, lo ngapain kesini?" tanya Bayu tanpa bersalah."I-itu Millie mau ngembaliin jaketnya Kak Rey," ucap suara Millie bergetar menahan tangis yang setiap saat bisa tumpah kapan saja."O-oh jaket ya? k-kamu bawa aja aku nggak perly jaketnya," ucap Rey mendatangi Millie yang terpaku didepan pintunya, bermaksud meraih tangan mungil gadis itu namun Millie justru melangkah mundur."Kak Rey jaketnya Millie letakin disini, oh iya makasih ya kak jaketnya," ucap Millie berbalik.Hanya beberapa langkah, Millie kembali membalikkan tubuh mungilnya mengucapkan kata-kata yang menusuk perasaan Rey dan sahabat-sahabatnya."Oh iya Kak Rey, Millie terima kok Kak Rey putusin Millie lagipula hubungan kita cuman sekedar taruhan hehe dan semoga Kak Rey langgeng ya sama Lussie!" ucap Millie lirih namun terdengar ditelinga kelima pria itu.'Deg' Hati Rey berdebar mendengar ucapan Millie, perasaan Rey sangat bersalah ternyata gadis mungil itu sudah mendengar percakapan mereka sedari awal!Dimas tertegun, Jerry mengumpat bahkan Arthur dan Bayu sedikit merasa bersalah karena menjadikan gadis polos sebagai bahan taruhan mereka!Kelimanya terdiam sampai punggung bergetar gadis itu menghilang dari pandangan mereka."Se-sejak kapan Millie disini?" tanya Rey gusar menghadap ke arah Dimas."Sejak awal lo pada bicara dia udah disini bego!" ucap Dimas mengangkat bahunya acuh."Shit, gue ngerasa brengsek banget, lo pada liat nggak Millie tadi gimana?!!" kesal Jerry."Woy Rey, lo nggak susulin Millie nggak takut terjadi apa-apa sama Millie?" tanya Dimas prihatin.Reyhan menggeleng sebagai respon."Nggak, gue udah punya Lussie. Lebih baik kan dia tau? jadi gue nggak susah mikirin alasan buat mutusin dia haha,""Yah terserah lo, gue udah ingetin!" ucap Dimas kecewa pada sahabatnya yang dengan mudah mempermainkan seorang perempuan meski merekapun sama tapi Millie hanya gadis polos yang kesepian!"Oh iya tuh paper bag dari Millie, dia jatuhin tadi kali aja lo mau ngeliat isinya!" ucap Dimas kembali ke mejanya.Reyhan menatap paper bag berukuran sedang yang tergeletak dilantai tanpa memperdulikan paper bag itu justru Rey kembali masuk ke kantornya dengan perasaan campur aduk.Jerry mengambil paper bag Millie menyerahkan pada Dimas untuk disimpan.Bayu, Arthur dan Jerry saling berpandangan pasrah, Rey terlalu kejam untuk seorang gadis polos seperti Millie miski mereka juga brengsek karena merekalah taruhan sialan itu terjadi.Di sebuah Apartement sederhana, Millie menangis sesenggukan mengetahui kebenaran yang terjadi, dirinya hanya bahan taruhan yang dipermainkan oleh Rey dan sahabat-sahabatnya.Seharusnya Millie sadar, Rey adalah pria tampan, Pewaris Alvarez Corp perusahaan raksasa kelas atas dan juga idola banyak wanita sedangkan dirinya hanyalah seorang gadis kampung yang tidak memiliki orang tua dan miskin, sudah beruntung bagi Millie bisa menikmati hubungan mereka meski hanya 1 bulan!Di tangannya sebuah pena dan selembar kertas diletakkan dimeja, Millie mengemas beberapa pakaiannya kedalam sebuah tas berukuran sedang, telepon Millie dimatikan tepatnya kartunya dipatahkan.Millie tersenyum sedih menatap kearah benda berukuran kecil ditangannya, benda yang sama yang seharusnya ia hadiahkan untuk Rey namun ternyata pria itu hanya bermain dengan hidupnya!Miris, Millie merasa hidupnya tidak adil namun demi dia Millie harus bertahan.Tangan mungilnya menyeret koper membawa keluar apartemen, sebuah taksi menunggu didepan gedung yang mengantarkan Millie kembali ke desanya.Tanpa memperdulikan seluruh orang di ruangan, Reyhan menarik Millie kedalam pelukannya dan mengecup bibir yang sudah menjadi candu itu berkali-kali didepan Tuan Tua, Nyonya Tua, Ririn dan Reza yang mendengus menatap perilaku tak tau malu Reyhan, namun mereka memahami kebahagiaan Reyhan dan memberikan ruang untuk keduanya bersama."Kak Rey!! apa-apaan sih!! Masa cium-cium Millie terus, mana dihadapan Mami, Papi, Oma dan Opa, Millie kan jadi malu!!!" kesal Millie berusaha lepas dari pelukan hangat suaminya itu, didepan para tetua beraninya Reyhan berperilaku terbuka keluh batin Millie.Memasuki kandungan di 7 bulan terlihat jelas berat badan Millie mulai bertambah, pipinya yang tirus, sekarang terlihat menggembung seperti kelinci kecil yang imut, bibir merahnya mencebik kesal tapi justru semakin lucu, kulitnya seputih salju dan lembut, apalagi aura ibu hamilnya memang tak diragukan membuat seluruh pribadi Millie menjadi begitu lembut, ramah dan hangat, siapapun yang berada didekatnya bisa merasakan aura positif."Maaf, maaf, Kakak terlalu bahagia sayang, yah, ternyata Kakak sangat hebat sekali mencetak goal 3 langsung keluarnya, hahaha..." ucap Reyhan sombong sambil tertawa puas.Millie merasa wajah Reyhan sepertinya lebih baik dikarungi, lihat alisnya yang terangkat, bibir melengkung keatas, tatapan matanya sangat sok, benar-benar minta ditabok keluh Millie dalam hati."Huh, tau ah, Kak Rey emang nyebelin!" ucap Millie merajuk yang justru sangat sangat menggemaskan dimata Reyhan.Reyhan menatap Millie lekat, kedua matanya memancar penuh cinta menarik Millie kepangkuannya dan mencium wanita itu dengan lembut namun menuntut.Millie juga merindukan Reyhan, keduanya sama-sama saling merindukan sehingga Millie tak segan membalas cium*n sang suami itu.Setelah belasan menit, cium*n keduanya terlepas. Reyhan menatap bibir wanitanya yang memerah, basah dan sedikit bengkak akibat ulahnya namun dimatanya justru semakin menggoda dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Millie lagi dan lagi.Keduanya terbakar gairah, entah sejak kapan tangan Reyhan sudah menelusup kedalam kemeja yang di kenakan Millie menangkup, membelai dan merem*s gunduk*k yang saat ini menjadi semakin berisi dari terakhir kali dia rasakan, yah terasa lembut dan kenyal batin Reyhan puas."Enghhh.. Kakhhh aaahhh stopphh inih dirumah sakithhh uhhh..." desah Millie yang membuat Reyhan semakin terbakar gairah.Reyhan menekan remote, mengunci pintu kamar secepat kilat, karena ruang mereka VIP jadi jarak antara ruang satu dan lainnya cukup jauh.Reyhan terus mencium istri mungilnya yang sekarang semakin seksi, membuka kancing kemeja Millie satu persatu hingga saat ini keduanya tanpa memakai apapun."Kakhhh ahhh.." desah Millie sampai puncak karena permainan tangan Reyhan pada inti miliknya, tubuh mungil itu terangkat dan bergetar dan pada bagian tertentu terasa sangat berair.Reyhan tersenyum mengangkat Millie lebih dekat untuk menyatukan keduanya, beberapa saat suara desahan sahut menyahut di ruangan Reyhan untungnya Keluarga Alvarez pulang setelah memesankan Millie seblak keinginanya.Reyhan juga tahu batasannya, dia tidak bermain terlalu lama karena istrinya sedang hamil besar cukup beberapa kali Reyhan sudah merasa puas meski dia masih merasa kurang tapi demi kesehatan istri dan calon babynya dia tidak boleh egois.Sedangkan Millie, tentu saja terlalu lelah untuk memperdulikan keadaannya, dia tertidur setelah Reyhan membersihkan tubuh keduanya dan ikut tertidur juga selama 1 jam.Pesanan Millie pun baru saja datang karena mengantri namun Millie masih tertidur pulas akibat permainan panas mereka tadi.Sebenarnya Reyhan merasa bersalah karena melakukan hal itu di siang bolong namun nafsunya tidak bisa ditekan dan harus segera dilampiaskan.Pintu dibuka, kurir yang mengantar meletakkan seblak di atas meja dengan malu karena menatap Reyhan yang saat ini memeluk Millie dipelukannya, Kurir malu karena dia masih jomblo di umurnya yang menginjak 40 tahun sedangkan pasangan muda mudi didepannya sangat romantis, si kurir sangat iri tapi apalah daya untuk makan saja dia hanya bisa mencukupi dirinya sendiri batin si kurir.Tentunya karna Reyhan sangat bahagia dan memang orangnya dermawan, pesanan sang istri sudah dibayar tapi dia tetap memberikan tip 1 juta untuk si kurir yang menerima sangat senang, sungguh dia tidak jadi iri justru bersyukur menjadi kurir yang mengantarkan pesanan ibu hamil yang kaya raya, yang dimaksud adalah Millie.Hidung Millie sangat sensitif mencium aroma seblak yang sangat dia rindukan selama di Jepang, Millie sangat menyukai seblak dan makanan pedas lainnya."Ennnggghh.." Millie menggerakan tubuhnya dengan susah payah, pinggangnya terasa encok sambim menatap ruangan dan menemukan paket seblak pesanannya."Kakak, Millie pengen makan, ambilin seblaknya!" ucap Millie memerintah Reyhan, dia sangat malas untuk bergerak terlebih masih sedikit lelah karena permainan suami kurang ajarnya itu.Reyhan tersenyum bergegas mengambil mangkuk dan menuang seblak pesanan istri tercintanya itu.Reyhan mencicipi seblaknya sebelum memberikan pada Millie, takut jika ada racun atau terlalu pedas untungnya seblak yang dipesan sang istri tidak terlalu pedas jadi tidak apa-apa untuk di makan."Kak Rey, ambilin minum juga!" perintah Millie cerewet yang diangguki Reyhan senang hati."Suapin." ucap Millie manja."Iya sayang, aaaa.." ucap Reyhan mengarahkan sendoknya ke mulut Millie.Millie makan dengan sangat lahap, sesekali Reyhan juga menyuap seblak kemulutnya sendiri hingga seblak yang mereka makan tandas tak bersisa namun istrinya masih lapar dan menginginkan martabak telor yang langsung dituruti oleh Reyhan.Lagi-lagi Reyhan memberikan 1 juta untuk tip kurir yang mengantar pesanan, Millie senang karena Reyhan tidak pelit dan mau berbagi.Keduanya tertawa bahagia sambil sesekali menikmati martabak telor, hanya Millie yang menikmati sedangkan Reyhan dipaksa karena sebenarnya Reyhan sudah kenyang dan tidak terlalu suka Martabak Telor yang berminyak.Namun apalah daya Reyhan dihadapan perintah Millie, sang istri, dia hanya bisa pasrah memakan martabak telor dan berjanji akan berolahraga nanti untuk menjaga perut kotak-kotaknya.

My sweet, CEO
Romance
01 Jan 2026

My sweet, CEO

Derap langkah kaki-ku, mengisi keheningan. Dengan menggunakan high heels warna merah, aku melangkah menuju sebuah pintu yang menjulang cukup tinggi dan tampak kokoh.Sudah jelas pintu itu mahal, kaki jenjangku berhenti melangkah. Menghela nafas pelan, untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan gugup.Bagaimana pun, ini hari pertama aku berkerja dengan profesi sekretaris dan bukannya model.Menjadi model sangat mudah, kau hanya perlu berpose dan memberikan senyum memikat lalu fotografer akan membidik."Kau bisa melakukannya Sakura, don't be afraid ," ucapku menyemangati diri sendiri.Ayolah, aku hanya perlu mengetuk pintu ini. Dan menghadap Mr. Uchiha yang merupakan Chief Executive Officer.Bersikap profesional, dan semua selesai. Andai tadi aku tidak mendengar rumor buruk tentang boss-ku.Mungkin, aku sudah dapat duduk dan mengerjakan tugas dengan santai. Memang salah-ku karena tidak hadir saat pengenalan CEO baru.Harusnya, aku berkerja sebagai sekretaris Uchiha Itachi. Namun, mendadak pemimpin lama itu pindah. Dan memimpin, perusahaan Uchiha corp di luar negeri.Damn it.Dihari pertama berkerja aku sudah telat, dan sekarang malah mengundur waktu.Memantapkan hati, aku memberanikan diri mengetuk pintu itu beberapa kali.Yang pasti, aku sudah tidak dapat mundur lagi dan harus melangkah maju. Sudah terlanjur diketuk, tidak mungkin kabur bukan."Selamat pagi Mr. Uchiha, saya sekertaris baru anda. Haruno Sakura," tuturku dengan sopan, dan memperkenalkan diri."Masuk."Suara yang menyahut dari dalam, terdengar familiar ditelinga ku. Memilih untuk mengabaikan, aku memegang dokumen data dan hendak melangkah masuk.Secara otomatis pintu kokoh terbuat dari kayu itu terbuka dari dalam, ruangan itu tampak fantastis dengan nuansa hitam dan putih.Langkah kaki-ku kali ini lebih percaya diri, masih ada keahlian seorang model mengalir di dalam darahku.Sebuah jendela berukuran sangat besar itu memperlihatkan betapa sibuknya negara ini, dan hal itu wajar.Mr. Uchiha, duduk sembari membelakangi-ku dengan kursi ergonomisnya yang memang dapat diputar."Ini data yang anda pinta." Aku meletakkan beberapa tumpuk dokumen itu keatas meja-nya.Pria itu sama sekali tidak bergeming, membuat aku merasa sedikit cemas. Shit, ini pasti karena keterlambatanku dihari pertama bekerja.Aura dari boss baru-ku, terasa begitu kuat. Refleks, aku menatap kebawah tidak berani untuk mendongak.Dia memutar kursinya menjadi menghadap padaku, aku masih tetap sama. Tidak, punya niat untuk menatap wajahnya.Tap... Tap... Tap...Suara langkah kakinya, mengisi keheningan ruangan ini. Aku hanya diam, ok sepertinya aku terkena masalah.Tertegun, aku diam membatu. Saat merasakan sebuah tangan kekar kini melingkar di pinggang ramping-ku."Merindukan-ku baby ," bisiknya membuat bergidik.Holyshit, suara bariton itu sungguh sudah sangat akrab di indra pendengaran ku. Seorang pria, yang melewatkan malam penuh gairah denganku dulu.Memejamkan mata sejenak, aku berusaha untuk tetap bersikap santai. Bagaimana pun, tidak semua orang berharap bertemu dengan mantan."Jadi kau boss, disini Sasuke?" Aku, mengajukan pertanyaan secara spontan.Jelas itu pertanyaan bodoh, tapi ini lebih baik daripada harus membalas perkataan rindunya.Sasuke mengecup sekilas pipiku, lalu melepaskan dekapannya. Memutar tubuh-ku, kini aku dapat melihat wajahnya yang masih saja sangat tampan, oh shit.Mengangguk, Sasuke lalu menatap ku dengan onyxnya yang tajam namun memikat hati. Tulang rahangnya yang tegas dan hidung mancung tidak perlu diragukan.Menyeringai, Sasuke menatap intens padaku. "Kau kecewa karena kini aku menjadi boss-mu. Cherry?"Cherry, nama itu adalah panggilan khusus yang dia berikan padaku saat kami masih bersama. Siapa sangka, dia masih mengingatnya."Well, sebenarnya aku kecewa," ujar-ku sembari bersedekap dada, sudah tidak ada lagi ke formalitasan diantara kami.Menaikkan sebelah alisnya keatas, reaksi Sasuke membuatku ingin menjahilinya."Benarkah?" tanyanya, yang ku respon dengan anggukan."Yah, aku sungguh kecewa. Padahal aku sudah memilih resign dari pekerjaan ku menjadi model agar dapat berkencan dengan seorang CEO. Tapi ternyata kaulah boss-ku, haruskah aku resign lagi?" tanyaku membuat tawa renyah mengalun keluar dari bibirnya.Sasuke mendengus geli, lalu dia menyentil dahi-ku tidak terlalu kuat. Tapi tetap saja itu sakit."Kau semakin membuatku, tidak ingin melepaskanmu. Cherry," ujarnya, saat aku tengah mengusap dahi indahku yang menjadi korban.Mencebik kesal, aku sudah tidak menganggapnya sebagai boss sekarang. Namun, sebagai mantan yang mengesalkan."Teruslah membual Sasuke," balasku, tanganku terulur memperbaiki tata letak dasinya yang sedikit miring.Tersenyum geli, Sasuke hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia membiarkanku memperbaiki dasinya, memang sendari awal, aku sudah sangat ingin memperbaiki dasinya.Posisi kami begitu dekat, aku mencoba fokus merapikan dasinya. Sungguh konyol, kini aku terlihat seperti seorang istri yang membantu suami."Membual? Aku sedang tidak membual babe."Suara Sasuke terdengar serak, dan seksi. Arghhh sial, kemana pikiranku melintas barusan."Kau sudah punya istri Sasuke, jangan berpikir aku tidak mengetahuinya," ucapku malas sembari meliriknya sekilas.Diam, Sasuke sama sekali tidak membalas perkataanku. Mungkin, dia berpikir aku tidak tau. Bahwa Sasuke sudah menikah satu tahun lalu."Selesai," seruku dengan tersenyum, setelah merapikan dasinya.Tersenyum tipis, Sasuke lalu memegang daguku. Membuat emeraldku kini beradu dengan onyx yang dulu begitu ku rindukan."Punya dua istri, sepertinya bagus."Aku mendelik saat dia berkata demikian, lalu menginjak kakinya cukup kuat. Rasakan itu."In your dreams, Mr." Tanpa rasa bersalah, aku berucap demikian dan melangkah pergi.Berbeda dengan laki laki biasanya, Sasuke hanya meringis padahal high heels ku cukup tinggi dan menginjaknya kuat.Terkekeh, Sasuke lalu membalik badannya. Aku tau dia tengah memperhatikanku sekarang, tapi aku tidak peduli."Sexy," komentar Sasuke yang masih dapat ku dengar.Dengan cepat, aku menghentikan langkahku dan menatapnya kesal. "Obscene," makiku penuh keberanian lalu dengan cepat melangkah keluar.Flashback.Paris-prancis.Dengan menggunakan mini dress warna merah, yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.Sama sekali tidak terlihat sorot mata risih, di emerald Sakura. Perempuan yang baru saja masuk ke jenjang perkuliahan itu melangkah santai masuk kedalam club.Beberapa pasang mata menatap kearahnya, tidak mengidahkan sama sekali. Sakura duduk dikursi meja pantry."Tolong satu cocktail," tuturnya, dengan nada suara cukup kuat.Dentuman musik yang keras, ditemani dengan suara desahan yang samar-samar bukanlah hal yang aneh.Sakura bertopang dagu, dan menatap sekitar dengan acuh. Untaian rambutnya yang berwarna softpink dengan kulit putih porselin membuat Sakura tampak begitu luar biasa.Ia menaruh sebelah paha kanannya diatas paha kiri, sembari menunggu minuman yang ia pesan.Tangan lentiknya bergerak dengan cepat mengetik diatas keyboard ponsel, mengirim sebuah pesan pada seseorang yang tengah mengkhawatirkannya."Bullshit," desisnya, mengumpat lalu menaruh alat komunikasi itu tanpa minat diatas meja.Diwaktu yang bersamaan, bertender pria itu memberikannya cocktail yang diinginkan."Thanks." Menerima, Sakura lalu meneguk minuman beralkohol itu dalam tiga tegukan.Malam ini, dia habiskan dengan minum-minuman beralkohol. Ia hanya duduk dikursi pantry tanpa ada niatan untuk turun ke lantai dansa.Sudah beberapa saat berlalu, Sakura merasa sedikit mabuk. Pandangan matanya juga mulai kabur, mungkin karena ia meminta cocktail yang difermentasi kan dengan devil spring vodka.Itulah kenapa kadar minuman alkohol yang Sakura pinta, sangat tinggi dan gampang membuat seseorang mabuk hanya dalam beberapa tegukan.Seorang pria, duduk disampingnya. Sakura dapat mencium harum maskulin dari pria itu."Satu vodka."Shit, suara bariton pria itu bahkan terdengar sungguh luar biasa. Sakura menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk terlihat biasa saja.Uchiha Sasuke, pria dengan gaya pakaian casual itu menatap kearah Sakura yang memejamkan mata sejenak.Pusing, itulah yang Sakura rasakan, tapi. Ia tahu bahwa pria disampingnya ini terus saja menatap kearahnya.Membuka kelopak matanya, Sakura kini melihat kearah Sasuke. " Excuse me, apa ada yang salah denganku?" tanya Sakura.Mendengus pelan, sebuah seringai menghiasi wajah tampannya. "Kau terlihat menarik dimataku."Senyum simpul menghiasi wajah Sakura. "Benarkah? Lalu, apa kau ingin menghabiskan one night stand denganku?" tawar Sakura.Terkekeh pelan, Sasuke tidak pernah menyangka akan ada seorang yang bertanya seperti itu padanya."Tidak," balasnya membuat kening Sakura mengerut."Sialan," maki Sakura, pelan namun masih dapat didengar oleh Sasuke.Sakura kembali meminum cocktail miliknya, mengacuhkan Sasuke. Mencari partner untuk menghabiskan malam sepertinya sedikit sulit.Pria bermarga Uchiha itu tersenyum geli, saat mendengar umpatan meluncur keluar dari bibir ranum itu.Bangkit berdiri dari kursi, Sasuke dengan tiba tiba mengangkat tubuh seksi Sakura keatas meja pantry bertender tanpa beban.Tersentak kaget, Sakura mendelik kesal pada pelaku yang baru menolak ajakannya beberapa saat lalu."Oh fuck, apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya.Cahaya remang remang, membuat Sakura tidak dapat melihat bahwa Sasuke kini menatapnya penuh ketertarikan."Bukan hanya satu malam yang akan ku lewatkan denganmu, namun setiap malam," bisik Sasuke dengan suara serak tepat ditelinga Sakura dengan seringai tipis.Sakura balik menyeringai. "Bagaimana jika aku tidak ingin menghabiskan setiap malam denganmu?" tanyanya main-main.Tersenyum tipis, telapak tangan kanan Sasuke bergerak mengelus paha Sakura dengan lembut. "Aku jamin kau tidak akan menolak, babe," ucapnya lalu mencium bibir Sakura._______________Seakan tersadar dari kenangan lama, aku meringis pelan mengingat pertemuan pertamaku dan Sasuke dulu.Siapa yang menyangka bahwa aku akan memberikan mahkota-ku pada Sasuke, dan kami kembali bertemu dikampus serta menjalin kasih dalam kurung waktu cukup lama.Sasuke adalah cassanova, dan putra bungsu keluarga Uchiha. Pria itu sangat famous, tentunya.Aku mengaduk cappucino yang ku pesan beberapa saat lalu menggunakan pipet.Untuk hubungan sebagai mantan kekasih, ku rasa hubungan kami terbilang cukup baik.Cafetarian Uchiha corp bergaya Spanyol, lebih mirip seperti kafe bagiku.Mengingat seberapa kayanya keluarga konglomerat itu, jadi ini adalah hal yang wajar.Duduk sendirian dimeja pojok tidak membuatku merasa dikucilkan, yah ini hari pertamaku bekerja dan belum memiliki teman.Merasa bosan, aku memilih untuk memainkan ponsel. Sebuah chat dari seseorang yang amat ku rindukan membuat bibirku naik keatas dan membentuk seulas senyum.Aku yang sibuk mengetik diatas keyboard ponsel mendadak tidak fokus saat cafetarian tiba tiba menjadi heboh.Layar ponselku kini menandakan panggilan masuk, memilih untuk beranjak pergi.Aku berdiri dari kursi, dan mengangkat panggilan itu. "Hello dear ," sapaku lembut.Kasak-kusuk terdengar dari seberang sana, membuatku merasa khawatir. "Sayang, kau baik-baik saja?" tanyaku.Suara disambungkan telepon tidak terlalu jelas, mungkin karena cafetarian kini sangat berisik atau masalah jaringan.Aku menekan tombol speaker pada ponsel, masa bodoh jika ada yang mendengar percakapanku. Karena aku hanya ingin memastikan, permata hidupku baik-baik saja saat ini.Bruk!Sebuah kesialan terjadi, karena terlalu fokus pada ponsel aku menabrak tubuh seseorang.Memejamkan kelopak mata, aku sudah siap siaga merasakan kerasnya lantai marmer dan menjadi objek tertawaan semua orang.Terpaku, aku dengan cepat membuka kelopak mata. Saat merasakan tangan kekar kini menahan pinggangku agar tidak jatuh, menghantam lantai.Onyx tajam itu membuatku tertegun, ditambah dengan senyum tipis diwajahnya.Buru-buru, aku berdiri tegak dan beruntung Sasuke melepaskan tangannya dari pinggangku.Aku melakukan kesalahan fatal, dihari pertama bekerja. Damn it, hanya ada kata pemecatan dalam kepalaku saat ini."Maafkan saya Mr. Uchiha," ucapku formal sambil membungkuk sekilas.Pantas saja, cafetarian menjadi heboh. Pasti karena kedatangan Sasuke kesini, harusnya aku berpikir tentang hal ini tadi.Semua orang memandang kearah kami sekarang, bahkan dibelakang mantan-ku terdapat para jajaran tinggi perusahaan.Diamnya Sasuke membuatku mengumpatinya didalam hati, sialan. Padahal jelas-jelas pria ini tau aku tengah berdiri kikuk dihadapannya.Aku memberanikan diri, menatap wajahnya yang tampak datar. Kini, onyx Sasuke beralih menatap benda berbentuk persegi panjang, berwarna putih tergeletak di atas lantai marmer.Oh my godness, mataku membelalak saat sadar ponselku terlempar jatuh dan masih menyala dalam keadaan tersambung panggilan telepon.Sasuke, pria dengan jas mahal itu berjongkok dan mengambil ponselku. Membuatku meremas kuat rok span warna biru tua yang aku kenakan.Alis Sasuke tertaut, membuatku berharap-harap cemas. Oh Tuhan ku mohon jangan buat Sasuke mengetahui segalanya sekarang, aku belum siap." M y dear ," ucap Sasuke dingin, menyebutkan nama kontak yang tertera disana.Kembali, kasak-kusuk terdengar. Ditambah dengan speaker yang ku aktifkan tadi, membuat semua orang disekitar dapat mendengarkannya.Mengigit bibir bawahku, aku sangat berharap sambungan telepon itu mati saja untuk saat ini."Mama! Salad, baru turun dari pesawat!"Seruan anak kecil, penuh semangat membuat tubuhku membeku diam. Membayangkan bagaimana reaksi semua orang terutama Sasuke, seakan batu menimpa kepalaku."Shit." Spontan, umpatan dengan nada kecil terlontarkan dari mulutku.Aku mengalihkan pandangan kearah lain asalkan tidak menatap manik onyx dengan sorot tajam Sasuke seolah-olah menusuk-ku."Ma, apa mama mendengar salad?"Suara putri kecilku, yang memanggil namaku dan bertanya untuk memastikan karena tidak kunjung menjawab. Sedikit membuatku merasa tidak bersalah padanya.Pikiranku sekarang mirip benang kusut. Tapi, entah keberanian darimana. Aku secara berani serta tiba tiba langsung melangkah maju, dan merebut kembali ponsel yang memang menjadi hak-ku.Masa bodoh jika aku dipecat, karena ketahuan mempunyai seorang putri. Suara imut Sarada yang membuatku bersikap demikian, tanpa basa basi aku langsung mematikan sistem speaker diponsel dan mendekatkan benda komunikasi ini pada telinga kananku."Salad, mama akan menjemputmu dibandara. Kau tunggu disana ya my dear."Sarada menyahut ucapanku dengan patuh, disituasi seperti ini. Aku merasa senang akan sikapnya yang sungguh, dapat dibanggakan." Good job, see you later honey ."Sambungan telepon terputus, setelah pembicaraan berakhir. Helaan nafas pelan tanpa sadarku lakukan, dan dalam sekejap aku tersadar kembali akan situasi sekitar yang sulit dijelaskan.Semuanya menatapku dengan sorot mata berbeda beda dan pendapat mereka masing-masing, oh God. Aku benar benar jadi terkenal di lingkungan kerja dalam kurung waktu kurang dari dua belas jam, sungguh prestasi yang memalukan.Baiklah karena sudah begini, aku tidak punya jalan lain. Untuk saat ini anggap saja. Aku sedang memasang tampang muka tebal, dan tidak tau diri. Karena dengan seenak jidat, aku melangkah hendak pergi dari kantin atau lebih tepatnya kantor raksasa ini.Tatapan Sasuke, terasa menembus diriku. Ini gila, dan aku tidak bisa disini lebih lama lagi.Grep!Aku membatu diam, saat sebuah tangan mencengkram pergelangan tanganku walau tidak terlalu kuat."Kau berhutang penjelasan padaku."Lidahku terasa keluh, saat Sasuke membisikkan hal itu dengan nada dingin sarat akan intimidasi.Refleks, bibirku menipis. Sialan aku merasa sangat gugup, bagaimana pun aura dari seorang Uchiha sungguh tidak main main.Setelah berucap demikian, Sasuke melepaskan cengkraman tangannya. Pria yang menjabat sebagai CEO itu, kini memandang pada para karyawan yang masih asik menjadi penonton dan bergosip ria."Apa sedang ada tontonan menarik bagi kalian sekarang?!" tanyanya sekaligus membentak yang sarat akan sindiran.Menunduk, aku berdiri diam. Suasana kantin mendadak sepi, tidak ada lagi suara apapun. Setelah Sasuke berucap seperti tadi dengan begitu tegas, aura boss sungguh cocok untuknya.Sasuke melangkah pergi, bersama dengan para jajaran tinggi perusahaan yang masih setia mengikuti langkahnya.Mencoba menenangkan diri, aku menghela nafas panjang. Dan menekankan didalam hati, bahwa kejadian ini tidak akan berdampak besar apalagi negatif.Jelas aku sedang membohongi diriku sendiri, tapi itu membuatku lebih baik. Sikap percaya diriku sebagai mantan model nyatanya kembali runtuh jika berhadapan dengan dia, entah itu dulu mau pun sekarang.__________________Diruangan dengan nuansa maskulin itu, onyx tajam pemilik ruangan ini membaca setiap rentetan kata diatas kertas putih penuh dengan seksama.Raut wajahnya terlihat amat datar, Sasuke lalu menutup dokumen tentang data seseorang secara detail yang ia pinta beberapa saat lalu.Hembusan nafas kasar terdengar, Sasuke kemudian beralih menatap kearah tangan kanan kepercayaannya dengan sorot mata serius."Tutup bandaranya sekarang."_________________Aku duduk dengan gelisah dikursi penumpang taxi, karena kejadian tadi sedikit membuatku merasa takut.Hal tadi tidak seharusnya terjadi, aku beranggapan demikian bukan karena egois. Karena, dari awal aku tidak pernah berniat untuk menyembunyikan fakta tentang keberadaan Sarada dari Sasuke. Tapi, ini terlalu cepat.Setidaknya, aku butuh waktu beberapa saat untuk menyiapkan diri dan mempersiapkan segalanya.Aku mencoba untuk tetap tenang, manik emerald ku kini beralih menatap keluar jendela taxi.Mungkin butuh sekitar setengah jam untuk tiba dibandara dan bertemu permata hidupku, sedikit sulit untukku tadi menemukan taxi.Berharap saja jalan tidak begitu ramai, apalagi sampai tercipta kemacetan. Membayangkannya jika benar terjadi, sungguh terasa mengesalkan.___________________"Ada apa ini?"Aku menatap dengan penuh keheranan, saat mobil taxi yang ku tumpangi dipaksa berhenti saat sampai diportal depan bandara oleh sekelompok orang dengan tubuh tegap dan menggunakan jas seragam."Saya tidak tau nona."Supir taxi menjawab pertanyaanku dengan nada suaranya yang amat kentara, sudah jelas dia juga sama denganku yang tidak tau situasi apa yang sedang terjadi saat ini.Salah seorang pria, mengetuk kaca jendela dibagian belakang alias penumpang tempatku duduk saat ini."Nona Sakura, kami ada perlu dengan anda. Mohon keluar, dan bekerja samalah."Gelisah, aku merasa bingung harus berbuat apa. Bahkan supir yang tampak tidak muda lagi itu menggelengkan kepalanya, seolah memberi kode bahwa jika aku membuka pintu mobil bisa saja berbahaya.Pemikiranmu bergemelut, namun aku memilih untuk membuka pintu mobil dan menapakkan kaki-ku yang dibalut high heels keluar dari dalam taxi.Pria tadi menyebut namaku, itu berarti ada seseorang yang memerintahkannya. Ditambah, akses masuk kedalam bandara ternyata telah diblokir, oleh orang yang berkuasa tentunya."Mohon ikut dengan kami nona Sakura, karena kami akan mengantar anda, untuk menemui putri anda didalam bandara," jelasnya, dengan nada serius.Diam, aku memperhatikan sekitar. Ada beberapa mobil dibelakang, yang ternyata disuruh putar balik karena akses ke bandara telah ditutup.Meski kini, ada satu orang didalam kepalaku yang mungkin saja menjadi pelaku. Tapi, aku mencoba menepis pemikiran itu jauh-jauh.Pria didepanku berkata hal yang jujur, bahwa Sarada berada didalam bandara. Karena aku memasang GPS diponselnya, untuk jaga jaga disaat seperti ini.Aku mengangguk kepala, tanda mengiyakan. "Baiklah, aku ikut kalian kalau begitu."_________________Aku berlari, masuk kedalam gedung bandara. Dengan cukup cepat meski menggunakan high heels, itu bukan sebuah halangan.Beberapa pria yang mengawali tadi, hanya mengantarkan ku hingga bagian parkir bandara.Bandara ini sangat luas, dan tidak ada seorangpun didalamnya sejauh aku masuk dan menjejakkan kaki.Kakiku berhenti berlari, nafasku memburu. Karena kecepatan kakiku melangkah tidaklah main main, sedikit rasa sakit ku rasakan akibat berlari dengan sepatu hak tinggi."Mama!"Suara akan kecil, yang sangat akrab dipendengaranku membuat manik emerald ku berbinar.Aku menoleh kearah kiri dengan tersenyum, namun kemudian aku terpaku diam mendapati bahwa putriku. Sarada, yang beberapa bulan lalu berulang tahun. kini, tengah berada dalam gendongan Uchiha Sasuke.Sudah sendari tadi, aku mengelus pelan pucuk kepala Sarada yang tengah tertidur lelap dalam pangkuanku sembari menyender.Melihat raut wajah Sarada yang sangat imut dengan pipinya yang chubby membuatku merasa gemas dan menarik hidung mungil itu pelan.Gelisah, Sarada sepertinya merasa risih dengan apa yang aku lakukan. Tapi aku justru malah terkikik geli, karena merasa terhibur.Sebuah tangan kekar yang terulur mengelus pucuk kepala Sarada membuatku seketika tersadar, akan situasi saat ini.Aku menatap kearah sang empu yang tidak lain adalah Sasuke, pria dengan setelan jas mahal itu menyetir mobil Nissan GT-R50 miliknya yang berwarna hitam elegan. Sebuah mobil limited edition dan berharga mahal.Dia melirik sekilas pada Sarada, yang tengah tertidur dalam pangkuanku dengan sebuah senyum tipis."Kau selalu membuatku terkejut."Suara Sasuke terdengar begitu dalam, membuat bibirku terasa keluh. Mencoba untuk tetap tenang, aku lalu menatapnya dengan sorot mata tidak yakin."Benarkah? Dalam artian baik atau sebaliknya?" tanyaku penuh rasa penasaran.Sasuke terlihat berpikir sejenak, pria itu lalu memarkirkan mobilnya dengan aman."Kau tau jawabannya babe," balas Sasuke dengan seringai diwajahnya lalu mematikan mesin mobil.Entah, aku yang tidak terlalu memperhatikan atau waktu yang berjalan cepat. Karena kini nyata kami sudah berada dilantai basementDia melepaskan seltbeat, lalu membuka pintu mobil dan berjalan memutar.Membuka pintu mobil disebelahku, dan mengulurkan kedua tangannya. "Kemari, biar aku yang menggendongnya."Haruskah aku terpana untuk kesekian kalinya, karena sikap Sasuke yang selalu gentleman baik dulu mau pun sekarang.Dengan senang hati, aku menerima tawarannya. Membiarkan dia mengambil Sarada dari pangkuanku."Hati-hati, jangan sampai dia terbangun," ucapku sedikit khawatir.Tapi itu sia-sia, karena Sasuke dengan sigap menggendong Sarada dengan penuh kelembutan bahkan putriku tampak tidak terganggu dan justru terlihat sangat nyaman dalam dekapan CEO Uchiha corp.Mengambil tas milikku, kaki jenjangku yang berbalut high heels kini menapak pada lantai basement.Pintu mobil tertutup, aku menatap Sasuke yang kini sibuk mengelus punggung Sarada."Ikut aku," ucapnya yang terdengar seperti perintah ditelinga ku.Dan sialnya, aku menurut. Yah walau kami sepasang kekasih dimasa lalu, tapi sekarang dia boss-ku.My sweet, CEO.______________________Ting!Pintu lift terbuka, melangkah keluar. Kami berjalan beriringan. Menuju apartement yang tidak lain adalah milik Sasuke.Aku memang menyetujui, untuk pergi ke apartementnya yang berada dekat dari bandara. Untuk meluruskan semua masalah yang terjadi dimasa lalu, dan memperjelas semuanya."Sepertinya kau harus menerima tawaranku."Celetuk Sasuke membuatku kini menatapnya penuh tanya. "Tawaran? Tawaran yang mana?"Aku mengerutkan kening tanda heran, sebuah seringai tipis menghiasi bibirnya membuatku merasakan firasat aneh.Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku. "Menjadi istri keduaku," bisiknya dengan suara seksi.Mencoba untuk tidak tergoda. Aku menatap malas Sasuke, lalu menyikut pinggangnya pelan. "Jangan bercanda terus denganku, Sasuke."Sengajaku ucapkan namanya, sebagai tanda bahwa aku memang tidak punya niat. Bagaimana pun dia sudah menikah, hell mana mungkin aku merusak pernikahannya.Dia terkekeh, Sasuke tampak begitu tampan dan aku harus mengakui itu sebagai tanda kejujuran."Sakura,"Fokusku kini beralih, pada seorang perempuan dengan paras cantik serta bersurai merah terang."Karin...?" gumamku tidak percaya.Pasalnya, sudah hampir delapan tahun kami tidak pernah bertemu. Karin adalah sahabatku sejak dibangku sekolah dasar.Karin tersenyum dan berjalan mendekat kearah ku dengan membawa paper bag dikedua tangannya."Kau tinggal disini?" tanyaku bersemangat.Mengangguk, Karin juga tampak begitu senang bertemu denganku. "Ya, aku baru tinggal disini sekitar sebulan. Bagaimana denganmu?" Karin menjeda pertanyaannya dan melirik sekilas pada Sasuke dan Sarada.Lalu sebuah senyum penuh makna menghiasi wajahnya. Ia menatapku dengan kerlingan mata yang sudah sangat aku pahami."Kita tidak pernah bertemu dalam kurung waktu lama, dan sekarang kau sudah menikah? Damn it. Keluargamu tampak sungguh sempurna dan serasi," lanjutnya panjang lebar.Oh my godness, aku sudah menebak bahwa dia akan berucap seperti itu. Menghela nafas pelan, menggeleng pelan."No, ini tidak seperti yang kau pikirkan Karin," ucapku menyanggah agar kedepannya Karin tidak salah paham.Mengibaskan tangannya, Karin lalu menganggukkan kepalanya paham. "Baiklah aku tau, dia kekasihmu serta boss-mu bukan? Dan ternyata kalian sudah memiliki anak. Aku paham itu."Sudah jelas dipandangan Karin kami terlihat sangat cocok, seorang pria tampan dengan jas mahal dan aku dengan setelan khas sekertaris kantor ditambah dengan Sarada diantara kami.Karin sudah pasti berpikir seperti itu, sekertaris yang memiliki anak dengan bossnya sendiri. Menghembuskan nafas pelan, aku melirik sekilas ke pada Sasuke yang justru hanya mengamati dan tersenyum tipis.Sialan, dia memang tidak memiliki niat untuk membantuku menjelaskan situasi. Meski, memang benar bahwa Sarada adalah anak Sasuke.________________Tanganku dengan telaten mencuci piring diatas wastafel, sesekali aku bersenandung kecil.Apartement ini, masih sama seperti beberapa tahun lalu. Dulu, aku pernah dibawa Sasuke untuk kesini saat kami berlibur ke negara asal.Tidak ada yang berubah, apartement ini masih sama mewahnya dan terkesan maskulin. Sungguh ciri khas Sasuke, begitu kentara terasa.Beruntung, Sarada sama sekali tidak terbangun dan saat ini tengah bermimpi indah didalam kamar Sasuke.Helai-an anak poni yang tidak terikat menutupi mataku, rambutku kini sudah diikat ponytail agar tidak menghalangi aktivitas cuci piring.Beberapa saat lalu, Sasuke memesan junk food karenanya kulkasnya sebagian besar berisi soda dan minuman beralkohol.Itulah mengapa kini, aku mencuci piring diapartementnya. Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih untuk makanannya.Selang beberapa saat, aktivitas yang ku lakoni akan selesai. Namun, aku dibuat kaget karena ulah seseorang.Sebuah tangan kekar memeluk pinggangku posesif, Sasuke lalu membenamkan wajahnya diceruk leherku."Kau sudah semakin mirip istriku, Cherry," ujarnya dengan suara serak.Tertawa pelan, aku masih senantiasa membilas piring lalu meliriknya sekilas. "Yes of course, aku istrimu didunia mimpi," balasku dengan candaan.Sasuke mendecak, dia lalu menaruh dagunya dibahuku dan mengamati aktivitas yang sedang aku lakukan."Sudah pergi sana," usirku terang terangan.Bukannya menurut, Sasuke semakin memelukku. "Kau berani mengusirku hm?"Menganggukkan kepala, aku mengiyakan. "Tentu saja aku berani."Membilas kedua tangan, aku mengambil serbet dan mengelap kedua tangan agar kering."Nah, sekarang lepaskan pelukkanmu Sasuke.""Hn."Sasuke dan gumam-annya, adalah hal yang tidak asing lagi bagiku. Jelas sekali pria tampan ini tidak akan menurut padaku dengan mudah.Jika sudah begini, hanya ada satu cara. Dan mau tidak mau aku harus melakukannya.Cup!Aku mencium sekilas pipi Sasuke, dengan penuh kenekatan.Menopang dagu, aku menatap pada Sasuke yang sibuk bertelepon dengan seseorang diseberang sana.Sebuah ide konyol tapi menyenangkan kini melintas dikepala-ku, dengan cepat. Aku bangun berdiri dari sisi pinggir ranjang, dan tersenyum jahil.Baiklah, let's do it."Oh baby... Sttt.. fuck! Damn, ahh shit."Aku mendesah, dengan penuh penghayatan. Dengan suara cukup kuat hingga dapat didengar oleh orang yang kini menjadi teman ngobrol Sasuke ditelepon."Oh shit," umpat Sasuke, saat menyadari tingkah laku-ku.Dia menjauhkan telepon yang masih tersambung, masa bodoh jika itu istrinya.Siapa suruh tidak membiarkanku pulang ke apartement milikku sendiri, dan memaksa aku serta Sarada berada disini."Sakura...." Sasuke menegur-ku dengan suaranya yang dalam dan serak.Aku terkikik geli, melihat bagaimana onyx Sasuke menatapku datar. Dia sedang kesal pastinya, tapi aku tidak peduli saat ini.Terlalu sibuk tertawa, membuatku tiba tiba merasa terkejut. Saat tubuhku kini jatuh tepat diatas ranjang yang empuk karena ulah seseorang.Entah sejak kapan, Sasuke sudah mematikan sambungan teleponnya dan kini menindihku."Kau goda aku lagi, ku buat ranjang ini roboh Cherry," ucap Sasuke dengan suara baritonnya yang terdengar seksi.Ok, aku tahu dia sungguh sungguh mengucapkan itu.Tanganku bergerak mengelus lembut rahangnya yang tampak tegas, posisi kami begitu intim.Sasuke memejamkan matanya, menikmati elusanku. Dia selalu tampan, dan aku akui itu."Baiklah, I'm sorry ." Aku memilih untuk mengalah, yah ini pilihan terbaik.Namun, Sasuke langsung membuka kelopak matanya dan seulas seringai menghiasi bibir seksinya.Tiba-tiba alarm tanda bahaya berbunyi dikepalaku, oh damn it. Pikiranku mendadak kotor, hanya Sasuke yang mampu membuatku berpikir begini.Sasuke mendekatkan wajahnya ke samping kanan wajahku, deruh nafasnya yang menepah membuatku refleks memejamkan mata."Sepertinya, akan lebih baik jika Sarada memiliki adik."Nafasku tercekat, saat dia berbisik dengan nada begitu menggoda. Membuat detak jantungku terpacu lebih cepat, cassanova ini sungguh berbahaya.Aku memberanikan membuka kelopak mata, kini Sasuke tengah menatapku dengan intens dan menyeringai puas."Kau takut, heh?"Sadar aku telah dipermainkan olehnya, dengan cepat aku mendorong tubuh Sasuke yang menindihku.Sedikit terhuyung, tapi Sasuke berhasil mengendalikan dirinya. Aku mendelik pada dia yang sekarang tengah terkekeh geli.Dia menyebalkan, dan sialnya aku pernah mencintainya dulu.Memalingkan wajah kearah lain, aku mengerucutkan bibirku dan mengembungkan pipi.Sesekali aku melirik Sasuke, dan kembali membuang muka.Meski sudah berumur 20-an tahun, dan sering bersikap dewasa. Tapi sikap manja dan mengambek akan aku keluarkan pada orang orang terdekat.Dia mendengus geli, lalu melangkah mendekat padaku. Tangan kekarnya kini mencubit pipiku, tidak terlalu kuat tapi tetap saja sakit."Sasuke! Sakit tau," protesku, semakin menatapnya sangar.Tapi pria ini justru tertawa, mungkinkah aku terlihat lucu dan menggemaskan saat kesal? Oh God._________________Aku menatapnya dari bibir pintu, bagaimana Sasuke tengah mengusili Sarada yang tengah tertidur.Sudah terlihat jelas bahwa Sasuke menyayangi Sarada, putri kami. Karena bagaimana pun, kenyataannya mereka memiliki hubungan darah dan ikatan sebagai ayah dan anak.Sayangnya, kami tidak bisa menjadi keluarga meski saling menyayangi.Aku menghela nafas panjang, lalu berjalan mendekat dan duduk disamping Sasuke.Pria tampan bak dewa Yunani dengan pakaian casual itu kini beralih menatapku dengan menaikkan sebelah alisnya."Ponselmu berdering," ucapku memberitahu dan menyerahkan benda persegi panjang canggih berwarna hitam padanya.Mengangguk, Sasuke bangkit dari ranjang dan menerima ponsel miliknya. Lalu melangkah pergi, keluar dari dalam kamar.Memijit pangkal kening, aku merasa gusar sekarang. Karena Sasuke terus menelepon dan mendapatkan telepon dari orang lain.Meski kami sudah sepakat, untuk tidak memberitahu keberadaan Sarada pada semua orang terlebih keluarga konglomerat Uchiha.Setidaknya sampai aku benar-benar siap dengan segala kemungkinan, bukan karena membayangkan kemarahan istri Sasuke, serta cemooh dan cibiran orang lain.Namun, kemungkinan bahwa Sarada akan mendapatkan dampak negatif dari semua ini membuatku cemas dan gelisah.Tanganku bergerak mengelus punggung putriku dengan lembut, Sarada tidur dengan lelap diatas kasur berukuran king size.Beruntung, dia tidak terbangun karena perbincangan aku dan Sasuke yang sedikit absurd beberapa saat lalu." Love you dear ." Mengecup kening Sarada, aku lalu bangun dan beranjak pergi dari dalam kamar._______________Aku menyeruput pelan orange jus lalu meletakkannya saat hanya tersisa setengah."Bye." Sambungan langsung terputus.Tenten, perempuan itu baru saja menghubungiku dan meminta maaf karena tidak dapat menemui ku.Seharusnya Tenten yang mengantar Sarada hingga apartement-ku dan menjaganya, tapi sesuatu tidak selamanya berjalan sesuai rencana.Ternyata Tenten, mendapatkan kabar bahwa orangtuanya mengalami kecelakaan di kota Suna.Dan bertepatan dengan itu, Sasuke datang lalu berkata bahwa dia adalah ayah kandung Sarada.Aku tidak akan bertanya darimana Sasuke tau fakta itu, karena dia adalah Uchiha jadi jangan pernah dipertanyakan.Melihat bukti yang diberikan Sasuke dan kemiripan diantara keduanya, Tenten langsung menyerahkan Sarada dan kembali melakukan penerbangan ke kota asalnya.Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, tentang semua ini. Dan lagi, aku tidak memiliki niat untuk menyembunyikan Sarada dari ayahnya.Karena bagaimanapun, Sasuke berhak untuk tau tentang Sarada. Begitu pula sebaliknya, Sarada berhak tau tentang ayahnya.__________________Uchiha corp.Aku melangkah dengan pelan, tidak tau untuk apa. Sasuke memanggilku untuk ke-ruangannya.Dengan sepihak, CEO tampan itu memutuskan untuk agar aku dan Sarada tinggal diapartementnya.Dan entah sebuah kesialan atau keberuntungan, aku mengaku kalah dan menyetujui hal itu.Jangan berpikir kami akan tidur satu atap apalagi kamar, karena Sasuke tentu saja tidur dimansionnya bersama nyonya Uchiha yang tidak lain istrinya.Dan kini, sudah hari kedua kami tinggal diapartementnya. Sasuke menghabiskan waktu dengan Sarada dari sore hingga menjelang tengah malam lalu pulang.Setelah mendapatkan izin masuk, aku melangkah dengan tenang. Sasuke yang tadinya sedang sibuk dengan berkas kini menatap ke arahku."Kemari."Intrupsi darinya sedikit ambigu bagiku, dua langkah aku melangkah kedepan."Mendekat Sakura," ucapnya lagi.Untungnya, aku segera paham apa yang dia maksud. Aku berjalan mendekat padanya hanya ada sebuah meja yang menjadi pemisah.Ini sudah sudah dekat bagiku.Sasuke berdiri, dia dengan setelan jas mahal tampak sangat sempurna ditambah sikap seorang Uchiha yang menjadi nilai plus."Kau pasti pernah membaca novel yang dimana tokohnya melakukan sex dikantor, bukan?" tanya Sasuke.Aku mengerutkan dahi dan diam sesaat, sex dikantor tidak pernah aku alami tapi aku memang pernah membacanya dibuku.Sedikit bocoran, aku suka membaca novel dewasa dan Sasuke tentu juga mengetahui hal ini.Aku mengangguk, "Sure, memang kenapa?" tanyaku. Lalu aku tersenyum jahil, tangan lentik-ku menjawel hidung mancungnya. "Kau mau ya?"Tawa renyah terdengar, Sasuke menggelengkan kepalanya. "Otak-mu benar-benar mesum," komentar Sasuke, lalu menyentil dahi-ku.Oh brengsek, pipiku tanpa sadar bersemu merah. Kenapa jadi dia yang selalu balas menjahiliku, mantan mengesalkan.Tanganku bergerak mengaduk cappucino yang baru dipesan beberapa saat lalu, dengan menggunakan sedotan.Rona merah tanpa sadar kini menghiasi pipiku, percakapan absurd antara aku dan Sasuke kembali melintas.Sialan.Uchiha Sasuke, dan pesona miliknya memang sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku."Sakura!"Menoleh, kini atensiku beralih pada seorang perempuan yang tidak lain adalah Tayuya.Dia menjabat sebagai sekertaris kedua Sasuke, yah kami bisa dibilang cukup dekat dalam waktu singkat."Tayuya, ada apa?" Aku menatapnya penuh tanya.Tayuya mengatur nafasnya yang tidak teratur, lalu menatapku dengan sorot mata serius. "Kau dalam masalah.""Apa maksudmu?" tanyaku balik, tidak kalah serius."Istri boss datang kesini dan memanggilmu."Deg! Aku terpaku diam, istri Sasuke memanggilku? Bagaimana mungkin.~~~~~~~~~~~~~~Ruangan ini bernuansa putih gading, aku melihat seorang perempuan duduk di sofa dengan pakaiannya yang fashionable.Dilihat dari belakang saja aku sudah dapat menebak siapa wanita itu, dia adalah istri Sasuke."Kau sudah datang ternyata, Sakura."Wanita itu berdiri dari sofa, suaranya sangat familiar bagiku walau sudah beberapa tahun tidak bertemu.Dia memutar tubuhnya, kini kami berdiri berhadapan. Membuatku mengulas senyum simpul, yah bersikap sopan pada istri boss."Nyonya memanggil saya?" tanyaku sopan.Suara kekehan pelan terdengar, istri Sasuke itu bersedekap dada. Lalu melangkah menghampiriku."Kau tidak perlu se-kaku itu Sakura, bagaimanapun kita pernah akrab."Mendengar ucapannya, aku menghela nafas pelan. Menatap pada manik aquamarine nya yang kini tampak tajam.Dia adalah Yamanaka Ino, sahabat dekatku saat masa kuliah dulu. Dan kini, menjadi istri mantan pacarku. Yang tidak lain adalah, Uchiha Sasuke.~~~~~~~~~~~~~~~Penampilanku sekarang tampak sangat berantakan, tapi bukan itu yang aku pikirkan sekarang.Aku melangkah masuk kedalam apartemen Sasuke, yang mendadak menjadi tempat tinggalku dan Sarada.Setelah melepas high heels, aku berjalan kearah dapur membuka kulkas dua pintu dan mengambil es batu.Pipi kananku terasa sakit, tampak memerah dan sudut bibirku sedikit terluka.Siapa sangka nyonya Uchiha itu akan menamparku didetik berikutnya dan melenggang pergi begitu saja.Aku mulai mengompres pipiku dengan sedikit meringis, aku akan menjemput Sarada ditempat penitipan anak.Dalam waktu setengah jam, mungkin bekas tamparan ini akan memudar meski sedikit.~~~~~~~~~~~~~Selingkuhan.Dikalangan kantor, sering terjadi perselingkuhan antara atasan dan bawahan.Bahkan kini, kata selingkuh mulai dikaitkan dengan diriku. Rumor dengan cepat tersebar kemana-mana, menjadi perbincangan.Ok aku tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain padaku, tapi rumor ini bisa saja membuat mereka jadi tahu identitas-ku yang sebenarnya.Seorang single parents, yang memiliki anak perempuan dengan ciri khas Uchiha.Orang manapun akan langsung mengetahui bahwa Sarada adalah keturunan Uchiha, dalam sekali lihat.Gen Uchiha memang menakjubkan."Mama."Suara lucu itu membuatku menatap pada Sarada yang kini memegang boneka beruang berwarna biru yang diberikan Sasuke."Honey ada apa?" tanyaku, lalu mengangkat dan membaringkan tubuh Sarada diatas kasur.Dia tampak ragu, namun aku mengelus pucuk kepalanya. "Apa yang ingin Sarada katakan?" tanyaku lagi."Apa papa tidak akan datang?" tanya Sarada dengan manik polosnya.Aku berpikir sejenak lalu mengangguk. "Papa sedang sibuk, apa Salad merindukannya?"Dengan cepat, Dia mengangguk. Aku tahu ini hal yang wajar mengingat Sarada sudah tidak bertemu Sasuke beberapa hari.Setelah adegan aku ditampar istrinya, risegn adalah pilihan terbaik. Aku tidak ingin mencari keributan.Lagi pula, aku berniat membawa Sarada pergi ke kota lain. Untuk bertemu seseorang, sejak awal pertemuan dengan Sasuke memang tidak pernah ada direncanaku.~~~~~~~~~~~~~~~Merasa sedikit haus, aku melangkah menuju area dapur. Guna menghilangkan dahaga yang tiba tiba muncul ditengah malam.Namun, sebuah derap langkah kaki terdengar. Membuat diriku merasa waspada dan meraih spatula yang ada didekatku.Suara itu berasal dari ruang tengah, lampu ruangan itu masih mati. Nekat, kakiku melangkah kesana.Hendak menghidupkan saklar lampu, namun sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku.Tersentak kaget, aku dengan cepat menoleh kesamping. Mendapati Sasuke sebagai pelaku.Menghela nafas lega, aku merasa bersyukur karena orang itu adalah Sasuke dan bukannya penjahat.Bau alkohol begitu menyengat tercium, dia mabuk. Menghembuskan nafas panjang, aku mencoba melepaskan tangan Sasuke yang memeluk pinggangku.Tapi semua itu sia-sia, justru dia malah mengeratkan pelukannya. Dan menenggelamkan wajahnya diceruk leherku."Sasuke," panggilku.Sasuke sama sekali tidak meracau, ataupun mengumpat layaknya orang mabuk, dia hanya diam.Ini sedikit aneh.Kami hanya diam dengan posisi yang agak ekstrim, Sasuke adalah tipe orang yang jarang mabuk. Dan sekali dia mabuk, itu berarti ada sesuatu yang mengganggunya."Kenapa?"Hanya satu kata, Sasuke berucap dengan pelan. Namun nada suaranya terasa begitu datar.Aku mengerutkan kening, bingung, tentu saja. Siapa orang yang akan mengerti dengan satu kata seperti itu."Kenapa kau meninggalkanku Sakura?" tanya Sasuke lagi.Tubuhku membatu diam, kali ini suara Sasuke terdengar bergemetar. Membuatku memejamkan kelopak mata sejenak.Sakit, tentu saja. Aku merasa seperti ditusuk ribuan pisau saat Sasuke menanyakan alasan, tentang aku yang pergi meninggalkannya secara tiba tiba.Ini memang salahku."Maafkan aku Sasuke."Kali ini aku memilih egois, entah dia mabuk atau tidak. Aku tetap tidak dapat mengatakan alasannya, karena aku tidak akan pernah siap.~~~~~~~~~~~~~~~Mentari pagi menyambut, aku bersyukur Sasuke tidak membahas hal kemarin. Entah dia lupa atau tidak, aku juga tidak tahu.Pintu kamar mandi terbuka, Sasuke. Pria yang menjabat sebagai CEO itu keluar dari sana hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.Ototnya terlihat begitu kekar, siapa sangka aku pernah menciptakan kissmark ditubuh itu dulu.Shit, apa yang ku pikirkan. Aku menggeleng kepala pelan, mengenyahkan pikiran itu sejauh mungkin dan menatap Sasuke yang ternyata juga tengah menatapku."Sasuke, aku dan Sarada ingin Mcdonald's," ucapku mengutarakan keinginan.Junk food bukan pilihan terbaik, tapi isi kulkas sudah cukup memperihatinkan. Jadi, tidak ada pilihan lain."Benarkah?" tanyanya, memastikan.Tanpa ragu aku mengangguk. "Tentu saja" ucapku.Pria itu berjalan mengambil ponsel mahalnya yang berada diatas nakas, mengetik sesuatu dikeyboard. Mungkin memesan makanan, entahlah."Hn sudah," ujar Sasuke, pria itu lalu melempar sebuah handuk kecil padaku.Dengan sigap aku menangkapnya, tanpa diberi tahu. Aku tahu bahwa Sasuke ingin agar diriku mengeringkan surainya.Tipe pria yang agak manja.Aku melangkah mendekat ke belakangnya, dan mulai mengeringkan rambut berwarna raven itu."Kapan makanannya tiba?"Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Makanan?""Iya makanan," balasku sedikit bingung."Shit." Sasuke mengumpat pelan lalu mendengus geli membuatku kini bertanya tanya.Tidak ingin mati penasaran, aku lalu menarik pipinya pelan. "Tunggu, jadi apa yang kau beli?"Oh God, dia kini malah melirikku dengan onyx tajamnya sembari menyeringai. "Perusahaannya."Singkat, padat, jelas. Membuatku menatapnya tidak percaya."Apa?"

My Husband CEO
Romance
01 Jan 2026

My Husband CEO

" Fanny bangun sayang udah pagi bukannya kamu ada kuliah pagi hari ini"ujar Rani mama Fanny"Iya ma ini udh bangun kok""Cepat mandi lalu turun ke bawah untuk sarapan udah di tunggu papa sama Abang kamu itu"ujar Rani lalu pergi dari kamar Fanny menuju meja makan"Fanny udah bangun ma"kata Ardi abang Fanny"Udah, Fanny masik mandi"kata mama Fanny"Good Morning,papa,mama,abang"sapa Fanny"Morning sayang"kata papa Fanny lalu mereka memulai sarapanKini mereka telah selesai sarapan,papa dan Abang Fanny yang akan pergi ke kantor dan Fanny yang akan pergi kuliah"Papa sama Ardi berangkat ke kantor ya ma"pamit Dito pada sang istri"Iya mas hati-hati di jalan ya""Iya, assalamualaikum"kata Dito lalu pergi"Waalaikumsalam""Ma Fanny berangkat kuliah dulu ya ma""Iya sayang,belajar yang rajin ya kamu kan udah semester akhir,sebentar lagi lulus biar bisa dapet nilai yang bagus""Iya ma,yaudah aku berangkat dulu , assalamualaikum""Waalaikumsalam"............Sesampai nya di kampus Fanny memarkirkan mobilnya dan menuju kelas"FANNY,"panggil Ghea dan Kila pada Fanny saat sedang berjalan menuju kelas"Hi besti"ujar Ghea"Tumben kalian berangkat bareng?"tanya Fanny"Iya tadi Ghea minta jemput gue katanya mobilnya lagi di bengkel"jawab Kila"Hehehe iya mobil gue lagi di bengkel,lagi di servis,terus bokap gue gak bisa nganterin soalnya buru-buru"jawab Ghea juga"Ya udah yuk masuk ke kelas sebelum dosen masuk,kita kn ada kelas pagi hari ini"ajak FannyFanny,Ghea dan Kila kuliah di kampus yang sama dan fakultas yang sama ,mereka kuliah di jurusan sastra dan bahasa,kini mereka sudah semester akhir sibuk menyelesaikan skripsiFanny kini berusia 21 tahunGhea kini berusia 22 tahun danKila kini berusia 21 tahun.............Sesampainya di kelas tidak lama dosen memasuki kelas dan memulai pembelajaranKini kelas susah selesai Fanny pun berencana untuk pulang karena memang dia hari ini cuma ada satu kelas,berbeda dengan Ghea dan Kila yg mengambil kelas tambahanSaat jalan pulang Fanny melihat ada ibu-ibu hamil yang ingin menyebrang tapi kesusahan karena membawa banyak barang lalu Fanny menghampiri ibu-ibu itu"Ibu,ibu mau nyebrang ya biar saya bantu"tanya Fanny"Iya nak ,tapi ibu membawa banyak barang,mobil ibu ada di sebrang sana"jawab ibu itu.............Kini Riko lagi mengendarai mobil menuju kantornya dengan santai,lalu dia melihat ada ibu-ibuk dan seorang perempuan yang ingin menyebrang kelihatan kesusahan karena membawa banyak barang kemudian ia turun untuk membantu ibu dan perempuan itu"Ada yang bisa saya bantu"tanya Riko"Eh iya pak,ibu ini mau nyebrang saya mau bantu tapi saya gak bisa bawain barang nya"jawab Fanny" Iya nak"jawab ibu itu juga"Ya udah saya bantu,kamu yang bantu menyeberangkan biar saya yang membawa barang -barang nya "suruh Riko pada Fanny"Iya pak"jawab FannyLalu mereka menyebrang dengan Fanny yg membantu ibu itu dan Riko membantu membawakan barang-barang nya"Udh buk lain kali kalau mau pergi atau membeli sesuatu jangan sendiri ya bahaya soalnya kan ibu lagi hamil"situ Fanny pad ibu ituTanpa di sadari Riko memperhatikan Fanny yang sedang berbicara dengan ibu itu dan Riko tersenyum walaupun tidak terlihat" Yaudh kalau gitu saya pamit buk "ujar Riko"Iya,terima kasih ya nak"jawab ibu itu"Sama-sama buk, assalamualaikum" pamit Riko lalu pergi"Saya juga pamit ya buk, assalamualaikum"pamit Fanny"Waalaikumsalam"jawab ibu itu..........Sesampainya di kantor Riko langsung manuju ruangannya"Kenapa saya jadi memikirkan wanita itu"ujarnya"Saya suka melihat cara dia menasehati orang lain terkesan sopan,arrrg kenapa saya terus memikirkan wanita itu ,saya harus fokus memahami file yang akaan di buat miting nanti"ujarnya lagiTak berselang lama sekretaris Riko yang bernama Mia memasuki ruangannya"Pak Riko Miting akan segera di mulai ,bapak di tunggu di ruang miting"beritahu Mia pada Riko"Baik saya akan segera kesana"jawab Riko lalu menuju ruang Miting..........."Assalamualaikum,MAMA Fanny yang cantik dan imut pulang"teriak Fanny"Waalaikumsalam,ya Allah Fanny kamu ini jangan teriak-teriak bisa gak sih?"tegur Rani"Hehehe maaf ma"jawab Fanny sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,Rani hanya menjawab dengan menggeleng kan kepala"Yaudh Fanny ke kamar dulu ya ma"ujar Fanny dan di angguki RaniSesampainya di kamar Fanny langsung melepas sepatunya dan merebahkan badan nya di kasur"Cowok tadi kalo di perhatiin ganteng juga tapi mukanya datar banget"ujar Fanny mengingat Riko"Au ah mending gue nonton Drakor dari pada mikirin tu cowok"ujarnya lagi dan mulai menonton............Waktu telah menjelang sore kini Riko sedang dalam perjalanan pulang,sesampainya si rumah dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah nya"Assalamualaikum,mami"salam Riko"Waalaikumsalam,"jawab Rere mami Riko"Waalaicumcalam"jawab Vano adik RikoRiko berjalan menuju mami dan Vano di ruang keluarga"Adek Abang lagi main apa?"tanya Riko pada Vano"Agi ain obil-obilan"jawab Vano dengan suara cadelnya"Yaudh kalo gitu Riko ke kamar dulu ya mi,mau bersih-bersih"ujar Riko"Iya sayang"jawab RereRiko menuju kamar dan segera mandi lalu melaksanakan kewajiban umat muslim yaitu shalatSetelah itu Riko turun untuk makan mlm bersama keluarganya"Loh papi udah pulang?"tanya Riko pada putra papi Riko"Udh tadi sebelum magrib"jawab putra"Udah ngobrolnya nanti lagi makan dulu"suruh Rere pada suami dan anak nyaHening selama makan hanya ada suara dentingan sendok,selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga dan Riko sedang bermain dengan Vano"Riko papi mau ngomong sesuatu sama kamu"ujar putra memulai pembicaraan"Mau ngomong apa pi?"tanya Riko"Papi sama mami berencana menjodohkan kamu sama anak sahabat papi"ujar putradeg"Kamu terima ya permintaan mami sama papi,kamu gak mau kan buat mami sama papi kecewa"ujar Rere meyakinkan anaknya"Tapi kenapa tiba-tiba mi"tanya Riko"Sebenarnya perjodohan ini sudah lama kami rencanakan,papi sama mami ngelakuin ini pengen buat kamu bahagia"jawab putra"Kami gk mau kan buat mami sama papi kecewa ,jadi kamu terima ya perjodohan ini?tanya Rere"Kalo itu yang bisa buat papi sama mami bahagia Riko bakal lakuin"jawab Riko"Makasih sayang ,kamu pasti gak akan kecewa sama pilihan papi sama mami"ujar putraSaat ini keluarga Fanny sedang makan malam bersama,suasana hening hingga Dito membuka suara"Kuliah kamu gimana sayang"tanya Dito pada Fanny"Baik kok pa, sekarang Fanny juga udah mulai menyusun skripsi"jawab Fanny"Bagus kalo gitu semangat menyusun skripsi nya sayang"ucap Dito menyemangati FannySuasana hening kembali dan mereka melanjutkan makan malam kembali,setelah makan malam selesai mereka berkumpul di ruang keluarga"Bang Ardi kapan sih Abang libur kerja? aku pengen jalan-jalan sama bang Ardi"ucap Fanny pada Ardi"Siapa yang mau jalan-jalan sama kamu, Abang mah gak mau"jawab Ardi bercanda"Jadi bang Ardi gak mau jalan-jalan sama aku?"tanya Fanny lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca"Gak"jawab Ardi bercanda lagi"Mama bang Ardi udah gak sayang lagi sama Fanny hiks....hiks " adu Fanny dengan sang mama"Enggak sayang Abang kamu tadi cuma bercanda"ucap Rani dan memeluk FannyArdi yang melihat Fanny menangis karena kejahilannya pun jadi tidak tega dan menghampiri Fanny lalu memeluk nya"Sayang nya Abang kok nangis sih,Abang tadi cuma bercanda"ucap Ardi dalam pelukannya"Jadi Abang hiks.. masik sayang kan hiks.. sama Fanny?"tanya nya pada Ardi"Masik dong dek kamu itu adek Abang yang paling Abang sayang,udah dong jangan nangis lagi Abang tadi cuma bercanda"jawab Ardi dan mengusap punggung Fanny yang masih bergetar"Udah jangan nangis lagi ya"ucapnya lagi dan melepaskan pelukannya dan Fanny hanya mengangguk"Yaudh sana tidur gihh udah malam"suruh Ardi pada sang adek"Oke"jawab Fanny dan Langsung pergi menuju kamar nya membuat Ardi dan kedua orang tuanya terkekeh"Kapan papa mau bilang sama Fanny soal perjodohan dia dengan anak nya putra"tanya Rani"Besok papa akan bilang sama Fanny"jawab Dito pada sang istri"Papa sama Mama yakin mau jodohin Fanny"tanya Ardi pada orang tua nya"Yakin sayang ini demi kebaikan adek kamu"jawab Rani pada sang anak"Yaudh kalo itu juga demi kebaikan Fanny tapi Ardi gak akan biarin kalo suaminya nanti nyakitin Fanny dan bikin Fanny nangis"ucap Ardi pada orang tuanya"Iya sayang mama sama papa tau kalo kamu sayang sama Fanny dan akan ngelindungi dia"jawab Rani.......Pagi pun tiba dan kini Fanny masih bergelud dengan selimut tebalnya"Pagi"sapa Ardi pada Rani dan Dito"Pagi juga sayang "jawab Rani"Fanny mana ma,belum bangun?tanya Ardi pada sang mama"Belum ,sana kamu bangunin adek kamu,kamu kan tau adek kamu itu susah banget di bangunin"jawab Rani pada Ardi"Yaudh Ardi bangunin Fanny dulu ya"ucap Ardi lalu pergi menuju kamar FannySetelah sampai di depan kamar fanni Ardi pun mengetuk pintu kamar Fanny namun tidak ada tanda-tanda Fanny untuk membuka pintu dan itu membuat Ardi Langsung masuk ke kamar sang adek dan melihat Fanny masih tidur dengan posisi tengkurap"Ya Allah dek ,kamu kok belum bangun sih ini udah siang loh memang kamu gak kuliah"ucap Ardi membangunkan Fanny"eaugh, apaan sih bang Fanny masih ngantuk tau"jawab Fanny dengan mata yang masih tertutup"Tapi ini udah siang dek nanti kamu telat kuliah nya"ucap Ardi yang masih berusaha membangunkan sang adek"ck.iya iya ini udah bangun kok ,bawel banget sih"jawab Fanny dan merubah posisi menjadi duduk"Sana mandi udah di tunggu sama papa sama Mama di meja makan"suruh nya pada Fanny"Iya"jawab fanny lalu pergi ke kamar mandiSetelah membangunkan Fanny kini Ardi turun ke bawah dan menuju meja makan"Gimana udah bangun belum adek kamu"tanya Dito"Udah pa ,Fanny nya masih mandi sekarang"jawab Ardi pada sang papaSetelah selesai mandi kini Fanny turun untuk sarapan dengan keluarganya"Pagi semua"sapa Fanny"Pagi"jawab mereka"Kamu gak ada kuliah pagi hari ini sayang"tanya Dito pada sang anak"Enggak pa ,Fanny hari ini jadwal kuliah nya nanti jam 10"jawab Fanny"Ya udh sekarang sarapan dulu ceritanya nanti lagi"suruh Rani pada suami dan anak nyaSetelah selesai sarapan mereka masih duduk di meja makan"Fanny papa mau bicara serius sama kamu"ucap Dito dengan wajah serius"Mau bicara apa pa"tanya Fanny dengan bingungDito melirik Rani dan Ardi untuk memulai bicara dan mereka mengangguk dan itu membuat Fanny semakin bingung"Fanny papa akan menjodohkan kamu dengan anak temen papa"ucap Dito dengan sang anak seriusdeg"Maksud papa apa, Fanny masih kuliah pa ngapain papa jodohin Fanny"jawab Fanny yang terkejut dengan ucapan sang papa"Papa udah lama ngerencanain perjodohan ini,dan kamu harus terima itu sayang"ucap Dito dengan meyakinkan sang anak"Tapi kenapa harus Fanny pa"tanya Fanny"Karna cuma kamu anak perempuan papa"jawab Dito"Tapi Fanny masih kuliah pa ,gimana sama kuliah Fanny"ucap Fanny pada sang papa"Kamu masih bisa ngelanjutin kuliah kamu sayang,kamu mau ya Nerima perjodohan ini ini permintaan papa sama Mama" Gimana ini aku gak mau di jodohin tapi aku juga gak mau buat papa sama Mama kecewa "batin Fanny"Sayang ,kamu mau kan nerima perjodohan ini"tanya Rani pada sang anak"Kalo itu bisa buat papa sama Mama seneng Fanny mau kok nerima nya"jawab Fanny dengan pasrahKini Fanny sudah berada di kampus dan dia akan masuk ke kelas nya"Eh fan tumben tuh muka kusut amat,kenapa?tanya Ghea"Gue mau di jodohin "jawab Fanny"WHAT sumpah demi apa,kok tiba-tiba lo di jodohin sih "tanya Ghea lagi"Gue juga gak tau tapi kata papa gue dia udh lama ngerencanain perjodohan ini"jawab Fanny"Mungkin ini demi kebaikan Lo"ucap Kila yang dari tadi diam"Tapi gue takut kalo yang di jodohin sama gue itu orangnya jelek,tua,terus perutnya buncit"ucap Fanny"Gak mungkin lah orang tua lo jodohin lo sama orang kayak gitu,udh positif thingking aja siapa tau orang yang mau di jodohin sama lo itu orangnya ganteng"jawab Kila"Bener tuh yang di bilang Kila Lo harus positif thingking"ucap Ghea meyakinkan........Kini Riko sedang berada di ruangannya,dia sedang memikirkan ucapan orang tuanya tadi malam"Apa ini keputusan yg tepat ya dengan aku menerima perjodohan ini"ucap Riko"Tapi aku juga kepikiran gadis itu,sepertinya aku cinta sama dia,tapi aku harus lupain gadis itu untuk menghargai perasaan calon istri aku nanti"ucapnya lagiTok tok tok"Masuk"ucap Riko"Permisi pak ini ada berkas yang harus di tandatangani pak"ucap sekretaris nya"Iya taro aja di meja saya nanti saya tandatangani dan kamu boleh keluar sekarang"jawab Riko"Baik pak"jawab Mia dan keluar dari ruangan Riko"Ish susah banget sih deketin pak Riko ,baru masuk aja udh di suruh keluar"gumam Mia setelah keluar dari ruangan RikoSaat ini Riko sedang berada di sebuah cafe bersama temannya untuk ngopi dan sekedar bersantai"Woy ko kok perasaan dari tadi gue perhatiin Lo ngelamun aja,lagi mikirin apaan sih"tanya Tito"Gue lagi mikirin soal perjodohan gue"jawab Riko"Apa, Lo di jodohin?"tanya Tito lagi"Iya "jawab Riko lagi"Terus apa yg Lo pikirin ,kan gak mungkin orang tua lo jodohin lo sama orang yang jelek"ucap Tito"Bukan itu yang lagi gue pikirin"jawab Riko"Terus"tanya Tito"Gue lagi mikirin cewe yang buat gue jatuh cinta sama dia"jawab Riko pada Tito"Serius Lo lagi jatuh cinta,wah hebat tu cewe bisa bikin seorang Riko jatuh cinta,secara gitu kan Lo gak pernah deket sama cewe, jangankan deket ngomong aja males"ujar Tito"Gue suka sama dia waktu gue pertama kali liat dia"ucap Riko"Cinta pandangan pertama dong"ucap Tito dan Riko hanya mengangguk........"Fanny,Kila ke cafe yuk nongkrong sama nenangin pikiran,pusing gue mikirin skripsi"ajak Ghea"Yuk gue juga pusing banget mikirin skripsi"jawab Fanny"Lo gimana ikut gak kil"tanya Ghea pada Kila"Gue ngikut aja"jawab Kila"Yaudh gass"ajak GheaKini mereka sudah ada di cafe dan memesan makanan dan minuman masing-masing"Guys,gue ke toilet dulu ya"ucap Fanny pada Ghea dan Kila"Iya hati-hati"jawab Ghea"Iya"jawab Fanny dan pergi menuju toiletSaat sudah keluar dari toilet Fanny berjalan untuk kembali ke mejanya dan teman-teman nya dia tiba-tiba bertabrakan dengan seseorangBruk"Aduh....keluh Fanny saat merasakan bokong nya yg ngilu akibat terjatuh"Maaf saya tidak sengaja"ujar Riko dan langsung membantu FannyIya yang bertabrakan dengan Fanny tadi adalah Riko yang juga sedang berada di toilet""Gak papa, saya juga minta maaf karna saya tadi juga gak liat jalan"jawab Fanny"Kamu "ucap Riko setelah melihat wajah fanny"Maaf bapak siapa ya"tanya Fanny"Saya yang waktu itu membantu ibu-ibu hamil menyebrang sama kamu"jawab Riko"Ohh iya saya ingat"ucap Fanny"Oh iya nama kamu siapa"tanya Riko lalu mengulurkan tangannya"TIFANNY"jawab Fanny lalu menyambut uluran tangan Riko"Kalau bapak"tanya Fanny"Saya Riko"jawab Riko"Kalo gitu saya duluan ya pak permisi assalamualaikum"ucap Fanny lalu pergi meninggalkan Riko"Waalaikumsalam"jawab Riko lalu tersenyumSetelah pergi lalu Fanny menghampiri ghea dan Kila"Lama banget sih ke toilet nya"tanya ghea"Iya tadi waktu gua mau keluar dari toilet gue gak sengaja nabrak orang"jawab Fanny"Cowo atau cewe,kalo cowo ganteng gak?"tanya Ghea lagi yang penasaran"Cowo, ganteng sih tapi mukanya datar banget"jawab Fanny pada GheaSementara di lain meja Riko yang baru dari toilet menghampiri temannya"Lo kok lama banget sih cuma ke toilet doang"tanya Tito pada Riko yang memang lama dari toilet"Gue tadi gak sengaja nabrak cewe waktu di toilet"ujar Riko"Dan Lo tau ,itu cewe yang bikin gue jatuh cinta sama dia"ucap Riko lagi"Serius,Lo ketemu dia?tanya Tito yang terkejut"Iya,awalnya gue gak percaya kalo itu dia,tapi waktu gue liat mukanya ternyata bener itu dia orang yang gue cinta"jawab Riko"Lo sempet kenalan gak sama dia"tanya Tito lagi"Iya gue udh kenalan sama dia ,nama di Tifanny,cantik kayak orang nya"jawab Riko dan tersenyum.........Saat ini Fanny sudah berada di rumah setelah pulang dari cafe Fanny langsung pulang ke rumah dan menuju kamarnyaTok tok tok"Masuk"jawab Fanny setelah mendengar pintu kamarnya di ketuk"Sayang "sapa Rani pada Fanny saat sudah masuk ke dalam kamar"Mama, ada apa ma?"tanya Fanny"Enggak ,mama cuman mau bilang kalo nanti malam pertemuan kamu sama calon suami kamu"ucap Rani pada sang anak"Kok cepet banget sih ma"tanya Fanny yang terkejut"Gak papa sayang,yaudh kamu istirahat nanti malam kamu dandan yang cantik ya ,mama udah siapa baju kamu,ada di lemari"ucap Rani sambil mengusap rambut sang anak dan meninggalkan Fanny untuk istirahatMalam pun tiba ,dan kini Fanny sudah siap dengan pakaian yang telah di siapkan sang mama,dan menuju ruang tamu karna orang tua dan Abang nya sudah menunggu nya di sana"Ma,gimana penampilan Fanny?tanya Fanny pada sang mama"Masya Allah sayang cantik banget anak mama ,iya gak pa, bang?"tanya pada suami dan putranya"Iya sayang kamu cantik banget"jawab sang papa dan di angguki oleh abangnya"Yaudh kalo gitu ayo kita berangkat sekarang nanti takut kelamaan"ajak papa nya"Iya ayo"jawab RaniMereka pun menuju restoran yang telah di tentukanDi lain tempat kini keluarga Wijaya sedang bingung karena Vano dari tadi rewel karena tidak mau jauh dari Riko"Vano,sama mami aja ya nak,kan nanti kasihan Abang Riko susah nyetir mobil nya kalo kamu sama dia"ucap Rere mencoba membujuk Vano"Ndak au Ano au cama bang liko"jawab Vano yang masih memeluk Riko semakin erat"Yaudh gak papa mi Vano sama Riko aja"ucap Riko pada Rere"Tapi nanti kamu susah bawa mobilnya sayang,kamu kan tahu Riko itu rewel"ucap Rere pada Riko karna dia tau Vano kalo anak nya rewel"Gak papa mi"jawab Riko meyakinkan Rere"Yaudh deh,Vano sayang kamu jangan rewel ya nanti jalan"ucap nya pada Vano dan Vano pun mengangguk"Yaudh ayo kita berangkat ,kita udh telat ini"ajak papi Riko"Ayo pi,mami udh kirim alamat restoran sama kamu ya"ucap nya pada Riko dan di angguki oleh Riko.........Kini keluarga Fanny sudah sampai di restoranSepuluh menit yang lalu,dan keluarga Riko juga baru sampai"Assalamualaikum,maaf ya kami telat"ucap Rere"Waalaikumsalam,gak papa jeng kami juga belum lama kok,ayo silahkan duduk"jawab Rani"Ini pasti Fanny ya, Masya Allah cantik banget kamu sayang"ucap Rere dengan Fanny"Makasih Tante"jawab Fanny dan tersenyum"Oh iya anak kamu mana re"tanya Rani pada Rere karena tidak melihat anaknya"Oh , dia lagi keluar bentar karna tadi Vano rewel minta di beliin es krim"jawab Rere"Maaf saya terlambat"ucap Riko yang baru datang dan menggendong Vano"Iya gak papa kok"jawab DitoFanny yang tidak tau kedatangan Riko hanya diam karena dia hanya fokus dengan hp nya"Fanny sayang,sapa dong calon suaminya"ucap Rani pada Fanny agar menyapa Riko dan Fanny menoleh pada riko"Loh pak Riko"ucap Fanny yang terkejut"Kamu"ucap Riko yang juga terkejut"Loh kalian udh saling kenal"tanya Rere yang bingung"Udah mi Riko udh kenal sama Fanny"jawab Riko"Bagus dong jadi kalian gak perlu perkenalan lagi"ucap putra"Jadi kapan acara pernikahannya"tanya Dito"Gimana kalo Minggu depan aja"jawab Rere"Setuju"jawab Rani"Kok cepet banget si ma"tanya Fanny"Gak papa sayang lebih cepat lebih baik"jawab Rani pada sang anakTbcKini pernikahan yang di nantikan telah tiba,hari ini adalah hari pernikahan Riko dan Fanny yang diadakan di sebuah hotel dan Fanny sedang di rias di salah satu kamar hotel"Udh selesai mbak,kalo gitu saya keluar dulu ya"ucap sang MUA"Iya mbak,makasih ya mbak"jawab FannyTok tok tokMasuk lah mama Fanny , calon mertua Fanny dan sahabat Fanny ke dalam kamar"Udah selesai sayang"tanya mama Fanny"Udah ma"jawab Fanny"Cantik banget Lo fan gue Sampek pangling loh liat nya"puji Ghea dan Fanny tersenyum"Masya Allah cantik banget calon mantu mami"puji Rere"Makasih tante"jawab Fanny dengan tersenyum malu"Loh, kok masih panggil Tante sih sayang,panggil mami dong kamu kan sebentar lagi jadi mantu mami"ucap Rere pada Fanny"I...ya tante eh maksudnya mami"jawab Fanny dengan gugup dan Rere pun hanya tersenyum"Yaudh kamu di sini dulu ya,nanti kalo ijab Kabul nya udh selesai baru kamu keluar ,nanti kamu keluar sama Ghea sama Kila ya" ucap Rani dan mereka menganggukDi lain tempat kini Riko sudah siap melakukan ijab Kabul"Sudah siap?"tanya Dito dan Riko mengangguk lalu menjabat tangan DitoWahai Riko putra Wijaya bin putra Wijaya aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan putri kandungku yang bernama Tifanny Putri binti Dito Bianggara dengan mahar uang 147 milyar dan seperangkat alat sholat di bayar tunaiSaya terima nikahnya Tifanny Putri binti Dito Bianggara dengan mahar uang 147 milyar dan seperangkat alat sholat di bayar tunai"Bagaiman a saksi sah?"SAH"Alhamdulillah" ucap mereka bersama lalu berdoaFanny menitikkan air mata saat mendengar Riko mengucapkan ijab Kabul dari kamarnya dengan lantang,dia sekarang telah menjadi Istri seorang Riko"Fan jangan nangis dong ,nanti make up nya luntur,mending kita keluar sekarang ya pasti yang lain udah nungguin"ucap GheaKini Fanny dan kedua sahabatnya yang berada di samping kanan dan kiri Fanny sedang berjalan menuju tempat ijab kabul Riko yang melihat nya tidak berkedip karna begitu cantiknya Fanny yang kini telah menjadi istrinya dan Fanny sudah duduk di samping Riko"Cantik"bisik Riko pada Fanny dan membuat Fanny menunduk malu"Silahkan pasangkan cincin nya"ucap penghulu dan mereka memasang cincinnya dengan Riko yang memasangkan di jari manis Fanny dan Fanny pun juga memasangkan di jari manis Riko"Lalu suami mencium kening istri dan istri mencium tangan suami"ucap penghulu lagi dan mereka melakukannya,Riko mencium kening Fanny cukup lama dan Fanny mencium tangan Riko,saat Fanny mencium tangan sang suami,Riko meletakkan tangannya di atas kepala Fanny dan berdoaKini pasangan suami istri itu telah berdiri di pelaminan untuk menyambut para tamu yang mengucapkan selamat"Fanny selamat ya "ucap Ghea dan Kila lalu memeluknya dan Fanny membalas pelukan mereka"Makasih"jawab Fanny setelah melepaskan pelukan"Selamat pak"ucap mereka lagi pada Riko"Terima kasih"jawab Riko"Awas ya pak kalo bapak berani nyakitin sahabat saya,saya habisin bapak"ancam Ghea pada Riko"Saya gak akan nyakitin Fanny"jawab Riko"Saya pegang omongan bapak"ucap Ghea dan Riko mengangguk"Ya udh kalo gitu kita turun dulu ya,sekali lagi selamat ya besti"ucap Kila"Iya,makasih ya"jawab Fanny dan mereka turunKini giliran teman Riko yang memberi selamat pada mereka"Woy selamat ya bro"ucap Tito"Makasih"jawab Riko"Selamat ya fan"ucap Tito pada Fanny dan bersalaman,Riko yang melihat Tito bersalaman lama dengan sang istri memutuskan jabatan tangan mereka"Udah jangan lama-lama"ucap Riko yang tidak suka"Posesif amat loh"ucap Tito"Gue suaminya,udah sana mending Lo turun deh"usir Riko"Iya-iya gue turun"ucap Tito lalu turun dan membuat Fanny tersenyum melihat perdebatan merekaSaat sedang menyambut tamu undangan yang memberikan selamat ,Riko melihat Fanny gelisah"Sayang, kenapa?"tanya Riko pada sang istri"Masih lama gak kaki aku sakit"jawab Fanny"Yaudh kamu duduk dulu biar aku liat kaki nya"ucap Riko lalu mendudukkan Fanny lalu melihat kaki sang istri,benar kaki Fanny lecet karena kelamaan memakai hiks"Kamu duduk aja ya acaranya sebentar lagi selesai kok"ucap Riko"Tapi gimana sama tamunya"tanya Fanny yang merasa tidak pada tamunya"Gak papa sayang,kamu duduk aja biar aku yang nyambut tamunya"jawab Riko meyakinkan Fanny dan Fanny pun menganggukAcara sudah selesai dan kini pasangan suami istri itu sedang berada di kamar hotel yang sudah di pesan"Kamu dulu apa aku dulu yang mandi"tanya Riko"Kamu aja "jawab FannySaat Riko sudah masuk ke kamar mandi Fanny gelisah dia takut kalo Riko akan meminta hak nya malam ini karna dia belum siapSaat Riko keluar kamar mandi dia melihat sang istri sedang melamun di sofa dan Riko menghampirinya"Sayang,hei,kamu kenapa hmm?"tanya Riko"Eh kamu udah selesai mandi?"ucapnya Fanny yang tersadar dari lamunannya dan Riko mengangguk"Ya udh aku mau mandi dulu"ucap Fanny lalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Riko yang bingung karena pertanyaannya tidak di jawab..........Saat ini pasangan suami istri itu sedang duduk di ranjang karna belum ada yang bisa tidur"Ayo tidur sayang,ini udah malam"ajak RikoFanny hanya diam tidak menjawab Riko ,Riko yang tau kalau istrinya itu takut dia mengusap kepala sang istri"Aku gak memintanya malam ini sayang,aku tau kalau kamu belum siap jadi gak usah di pikirin ya,kita akan melakukannya kalau kamu udah siap oke,sekarang tidurya"ucap Riko"Sini sayang"ucap Riko lagi dan menarik Fanny kedalam dekapannyaFanny hanya pasrah dan mendusel ke dada bidang sang suami karena merasa nyaman.Riko yang mengerti langsung mengusap-usap kepala belakang sang istriPagi pun tiba,dan tidur Fanny pun terusik karena usapan lembut di pipi nya dari sang suami"Eaugh"lenguh Fanny yang merasa tidurnya terusik dan membuka matanya"Pagi sayang"sapa Riko saat melihat istrinya yang baru bangun"Pagi pak ,jangan ganggu dulu pak aku masih ngantuk"ucap Fanny dan membalikkan badannya membelakangi RikoRiko yang melihat istri nya tidak bangun dan malah merubah posisi untuk melanjutkan tidurnya langsung membalikkan tubuh sang istri untuk menghadap pada nya"Hei ,kok kamu masih panggil aku bapak sih aku kan udah jadi suami kamu ,jadi kamu jangan panggil aku bapak lagi okeh ,panggil aku mas,iya sayang?"ucap Riko karna tidak ingin istrinya memanggil nya dengan sebutan bapak"Iya-iya mas ,sana aku masih ngantuk"jawab Fanny dan mengusir Riko karna iya masih ngantuk"Sayang bangun ih,ini udah pagi loh kita kan mau pindah ke rumah kita"ucap Riko lagi agar istrinya itu bangunFanny yang mendengar kata pindah langsung bangun dan duduk menghadap sang suami"Maksud kamu pindah itu kita tinggal sendiri"tanya Fanny dengan mata berkaca-kaca dan Riko menganggukRiko yang melihat istri nya mau menangis langsung mendekap sang istri"Hei Kenapa nangis sayang"tanya Riko yang masih mendekap sang istri"Hiks.....a..ku gak mau jauh sama mama papa sama bang Ardi juga hiks..... hiks"jawab Fanny dengan sesegukan"Gak papa sayang kan ada aku,aku akan bertanggung jawab sebagai seorang suami kamu,kalau kita gak tinggil sendiri nanti aku dikira gak tanggung jawab sama istri"ucap Riko yang meyakinkan sang istri"Mau ya"tanya Riko dan Fanny hanya diam lalu menganggukTbcHappy reading"Kalian beneran mau pindah sekarang?"tanya mama Fanny"Iya ma, soalnya biar kami bisa mandiri"jawab Riko"Yaudh kalo itu keputusan kalian"ujar mama Fanny"Yaudh kalo gitu kami berangkat dulu ya mama,papa,mami,papi"pamit Riko.........Kini mereka telah sampai di rumah baru mereka tidak begitu mewah namun terlihat elegan"Ini rumah nya mas "tanya Fanny"Iya sayang ini rumah baru kita,gimana kamu suka enggak sama rumahnya"ujar Riko"Suka mas rumahnya bagus""Yaudh kalo gitu kita masuk yuk"ajak Riko"Yuk".........Malam pun tiba kini pasangan pasutri itu sedang menonton tv di ruang tamu"Sayang""Iya""I love you""Maaf ya mas aku belum bisa balas cinta kamu ,tapi aku akan mencoba mencintai kamu , jujur aku udh mulai nyaman di Deket kamu"jawab Fanny dengan wajah bersalah"Gak papa sayang aku akan nunggu kamu cinta sama aku"ujar Riko"Sayang aku boleh peluk kamu"pinta Fiki pada Fanny dan Fanny pun mengangguk"Aku akan berusaha buat kamu cinta sama aku"ujar Riko saat sudah melepaskan pelukankini Riko sedang menatap wajah fanny dan perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri saat Riko memiringkan kepala dan ingin mencium bibir nya Fanny memundurkan kepalanya"Boleh ya "pinta Riko dengan mata puppy easy"Bo....Leh"jawab Fanny dengan gugupSaat sudah mendapat persetujuan dari Fanny Riko pun menyatukan bibir mereka,mencium dan melumatnya dengan lembut,saat Fanny tidak membalas ciuman Riko menggigit bibir bawahnya dan refleks Fanny membuka mulutnya,saat Fanny membuka mulutnya Riko langsung memasukkan lidahnya kedalam mulut Fanny dan menekan tengkuk fanny agar memperdalam ciumannya"First kiss aku"ujar Fanny saat sudah melepaskan ciuman"Itu juga first kiss aku sayang,makasih ya"ujar Riko sambil memeluk Fanny"Tidur yuk aku udah ngantuk"ujar Fanny pada Riko dengan mata yang sudah menahan kantuk"Yaudh Ayuk"jawab Riko dan menggendong Fanny ala Kuala untuk memasuki kamarSaat sudah sampai di kamar Riko menurunkan Fanny di atas kasur dan ikut merebahkan diri di samping sang istri"Sayang, aku boleh minta sesuatu gak tapi kamu jangan marah"tanya Riko"Hemm,mau minta apa?"jawab Fanny"Aku mau nenen"pinta Riko dengan wajah memelas"Ne....nen"jawab fannya dengan gugup"Iya sayang boleh ya?,mau ya? please"jawab Riko dan Fanny pun menganggukSaat sudah mendapat persetujuan dari Fanny Riko pun langsung masuk kedalam baju Fanny dan Langsung melaksanakan keinginannya"Pukpuk sayang"pinta Riko dan membawa tangan sang istri ke punggungnya"Iya"jawab FannySaat sudah sepuluh menit Fanny tidak merasakan Riko mengenyut dia melihat Riko yang ternyata sudah tidur dan melepaskan pautannya lalu Fanny juga ikut tidur dengan membalas pelukan dari Riko untuk memasuki alam mimpiHari menjelang pagi.fanny bangun dari tidurnya.fanny tersenyum kala melihat Riko masih tertidur pulas di sampingnyaPerempuan itu menghadap ke suaminya ia memperhatikan wajah Riko yang masih tertidur"Ganteng"ucap Fanny sambil .mengelus pipi sang suami"Eaugh"lenguh Riko yang terusik dengan perlakuan FannyRiko tersenyum hal pertama yang di lihat saat membuka mata adalah wajah cantik sang istri"morning sayang"ucap Riko sambil tersenyum"Morning"jawab Fanny sambil mengusap pipi sang suami"Sana gih mandi aku mau turun buat sarapan"ujar Fanny sambil mencepol asal rambutnya"Iya sayang "jawab Riko dan menuju kamar mandiKini Fanny sedang di dapur dan mencari bahan-bahan masakan untuk di masak.saat membuka kulkas ia hanya melihat sosis dan telur saja"Oh iya lupa aku kan belum belanja bahan bulanan"ujar Fanny"Yaudh deh aku buat nasi goreng aja"ucapnya dan mulai memasak nasi gorengSaat sedang memasak fanny di kejutkan dengan tangan yang melingkar di perutnya"Eh,mas kamu ngagetin aja tau,lepas ih aku lagi masak kamu tunggu di meja makan aja sana"ucap Fanny dan berusaha melepaskan tangan Riko dari perutnya"Yaudh aku tunggu di meja makan ya"ujar Riko setelah melepaskan tangannyaCup"Eh"ucap Fanny yang terkejut dengan perlakuan Riko barusan"Morning kiss sayang"ucap Riko setelah mencium pipi sang istriKini mereka sedang sarapan di meja makan setelah Fanny selesai memasak nasi goreng"Gimana enak enggak nasi gorengnya mas,maaf ya aku cuman buatin ini soalnya belum ada bahan makanan di kulkas" ucap Fanny"Enak banget saya masakan kamu,yaudh nanti setelah aku pulang dari kantor kita belanja bahan makanan ya"jawab Riko Fanny pun menganggukSetelah selesai sarapan Riko pun pamit pergi ke kantor"Aku berangkat dulu ya sayang"pamit Riko"Iya mas hati"ya "jawab Fanny sambil mencium punggung tangan sang suami dan di balas kecupan di keningnya"Assalamualaikum""Waalaikumsalam"...........Kini Riko telah sampai di depan kantornya dia memasuki kantor dan menuju ruangannya"Pagi pak"sapa para karyawan dan Riko hanya mengangguk dengan wajah datar nyaSaat sudah memasuki ruangannya Riko langsung duduk di meja kerjanya dan mulai memeriksa dokumen"Tok tok tok"Masuk ""Selamat pagi pak,ini berkas yang harus bapak tanda tangani "ucap Mia sekretaris Riko"Taruh di meja aja nanti saya tanda tangani"jawab Riko"Oh iya hari ini ada berapa jadwal saya meating"tanya Riko pada sang sekretaris"Hari ini jadwal meatiing pertama bapak pukul 09:00 ,jadwal meating kedua pukul"13:00 ,jadwal meating ketiga pukul 16:00 dan jadwal meating terakhir pukul 19:00 pak"jawab Mia"Jadwal meating ketiga dan keempat di undur karena saya ada urusan. Jadi saya hanya bisa meating pertama dan kedua hari ini,kalau sudah tidak ada urusan silahkan kamu keluar dari ruangan saya"ujar Riko"Kalau begitu saya permisi pak"ucap Mia dan keluar dari ruangan Riko...........Sementara di rumah Fanny sedang menonton tv setelah selesai melakukan pekerjaan rumahDrrrrrt DrrrrtDering ponsel Fanny dan ternyata Riko video call"Hallo, assalamualaikum mas,kenapa kok video call emang gak sibuk"ucap Fanny setelah menjawab"Waalaikumsalam sayang,enggak kok aku lagi istirahat makan siang"jawab Riko"Kamu lagi ngapain sayang"tanya Riko"Aku lagi nonton,oh iya maaf ya aku gak bawain makan siang buat kamu"ucap Fanny"Gak papa sayang"jawab Riko"Sayangg aku kangen tau sama kamu" rengek Riko"Masak baru pisah sebentar aja udh kangen lagian kan nanti ketemu lagi di rumah mas"jawab Fanny"Tapi aku kangen"ucap Riko"Udah dulu ya mas,kamu lanjut makan siangnya"ucap Fanny"Iya sayang kamu juga jangan lupa makan siang ya,byy assalamualaikum"ujar Riko"Waalaikumsalam"jawab Fanny............Kini Riko dalam perjalanan pulang setelah selesai meating"Assalamualaikum sayang"ucap Riko sambil memasuki rumah"Waalaikumsalam,loh mas kok kamu udah pulang"ucap Fanny dan Salim dengan sang suami"Aku kan udh janji mau ajak kamu belanja bahan makanan,yaudh sekarang kamu siap"sana"ucap Riko dan Fanny pun menganggukKini mereka sudah berada di sebuah mall dan Riko sedang mengikuti fanny memilih bahan makanan sambil mendorong troly"Ih sayang jangan beli ikan itu aku gak suka"ucap Riko pada Fanny yang akan mengambil ikan tongkol"Oh yaudh aku gak jadi beli ikan tongkol nya"jawab FannyKini mereka sudah selesai berbelanja bahan makanan dan akan membayar di kasir"Total semuanya Rp.1.350.000,00 pak"ucap mbak kasir sambil tersenyum kepada Riko"Matanya ya mbak saya istrinya"ucap Fanny marah dengan mbak kasir"Ma..af buk saya kira ibuk adeknya "ujar mbak kasir"Enak aja "jawab Fanny sewot Riko pun tersenyum melihat Fanny yang sedang cemburuSetelah selesai membayar Riko dan Fanny pun pergi"Kamu mau kemana lagi sayang? Mau langsung pulang apa gimana?tanya Riko yang melihat wajah cemberut sang istri"Terserah"jawab Fanny yang masih cemberut"Yaudh kita makan aja ya,jangan cemberut gitu dong muka nya"ucap Riko sambil mengelus rambut sang istri"Lagian kamu kok diem aja sih tadi waktu di senyumin sama mbak kasir?kenapa gak marah kamu kan udah punya istri?tanya Fanny pada Riko"Ya Allah kamu cemburu sayang,lagian aku juga gak akan kepincut sama mbak kasir tadi aku cintanya cuma sama kamu"jawab Riko"Tau ah males"ucap Fanny meninggalkan Riko"Loh sayang mau kemana" tanya Riko sambil tersenyum dan mengejar sang istriKini mereka sedang berada di restoran untuk makan setelah perdebatan tadi"Kamu mau pesen apa sayang"tanya Riko"Terserah"jawab Fanny sewot"Udah dong marahnya ,aku minta maaf janji deh aku gak gitu lagi,nanti kalo ada mbak kasir senyumin aku ,aku bilang kalo aku udh punya istri yang cantik banget gitu"ucap Riko"Janji ya"tanya Fanny"Iya janji,yaudh sekarang kamu mau pesen apa"ucap Riko"Aku mau pesen spageti sama minumnya jus jeruk"ujar Fanny"Udh itu aja "tanya Riko dan Fanny mengangguk"Mbak"panggil Riko kepada pelayan"Iya mas mau pesen apa?"tanya pelayan"Saya pesen spageti satu,mi goreng satu sama minumnya jus jeruk dua"jawab Riko"Udh itu saja"Riko mengangguk"baik silahkan di tunggu ya mas mbak""Nanti setelah makan kamu mau kemana lagi"tanya Riko"Mau pulang aja deh kasihan kamu pasti capek habis pulang dari kantor langsung nemenin aku"jawab Fanny"Kalo untuk kamu aku gak pernah capek sayang"ucap Riko tersenyum...........Kini mereka sudah di rumah dan sedang menonton tv setelah makan malam"Sayang kamu udh selesai skripsi nya"tanya Riko yang tiduran dengan paha Fanny sebagai bantal"Belum sedikit lagi selesai"jawab Fanny sambil mengelus rambut sang suami"Udh malam tidur yuk aku udh ngantuk"ucap Riko"Yaudh ayo ke kamar"jawab Fanny dan mereka menuju kamar"Sayang mau nenen "pinta Riko"Enggak udh malam tidur"jawab Fanny"Ihh mau nenen"rengek Riko"Yaudh iya sini"jawab Fanny sambil membuka kancing piama nya"Puk puk sayang"ucap Riko yang sudah mengenyut benda kenyal itu"Iya,udh cepet tidur"ujar FannySaat sudah tidak merasakan Riko mengenyut lagi Fanny mencoba melepaskan pautannyaDan tiba-tiba Riko mengenyut lagi"Huss tidur lagi mas"ucap Fanny sambil mempuk puk punggung RikoKarna sudah mengantuk Fanny pun ikut tertidur dam membiarkan Riko yang masih mengenyutTbcKini Fanny sedang berada di dapur untuk membuat sarapan sedangkan Riko sedang bersiap di kamar untuk berangkat ke kantor"Pagi sayang"sapa Riko sambil memeluk Fanny dari belakang"Pagi juga mas, sarapan dulu yuk"ucap Fanny"Iya sayang"jawab Riko dan mereka mulai sarapan"Oh iya sayang hari ini aku lembur banyak berkas2 yang harus aku kerjain,jadi kamu tidur duluan aja jangan nungguin aku ya"ucap Riko saat sudah selesai sarapan"Iya mas,kamu yang semangat ya kerja nya"jawab Fanny"Kamu gak ada kelas hari ini"tanya Riko"Ada cuma 1 kelas nanti jam 10:00,terus lanjut ngerjain skripsi sama Kila sama Ghea""Semangat ya istri aku ngerjain skripsi nya biar cepet lulus"ucap Riko sambil mengacak rambut Fanny"Yaudh aku berangkat dulu ya sayang, assalamualaikum"pamit Riko"Iya mas waalaikumsalam hati2 ya mas"jawab Fanny sambil mencium tangan sang suami dan di balas kecupan di kening oleh Riko"Iya sayang",,...............Saat ini Fanny sudah berada di kampusnya dan sedang menunggu kedua temannya"FANNY"panggil Ghea dengan teriak"Gue gak budek kali jadi gak usah teriak2"ucap Fanny"Hehe maaf"jawab Ghea"Oh iya kita cuman ada 1 kelas kan hari ini?lanjut ngerjain skripsi yuk biar cepet lulus"ucap Ghea"Emang Lo mau ngapain setelah lulus,pengen banget cepet2 lulus"tanya Kila"Ya enggak ngapa-ngapain sih paling bantuin Deddy gue ngurus perusahaan"jawab Ghea"Jadi mau gak ini"lanjutnya"Yaudh lh gass"jawab Kila"Yaudh ke kelas yuk bentar lagi kelas mau mulai"ajak Fanny dan mereka menuju kelas...............…Kini mereka sedang berada di rumah Ghea untuk mengerjakan skripsi"Ghea mommy sama Deddy kemana kok gak ada di rumah"tanya Fanny"Deddy di kantor, mommy juga di kantor ngantar makan siang buaat Deddy"jawab Ghea(Fanny dan Kila memanggil orang tua Ghea dengan sebutan Deddy dan mommy juga,karena tidak boleh memanggil Tante atau om oleh orang tua Ghea begitu juga sebaliknya Ghea pada orang tua Fanny dan Kila)"Yaudh yuk kita mulai ngerjain biar cepet selesai"ajak Kila dan Fanny dan Ghea pun mengangguk"Assalamualaikum"ucap mommy Ghea saat memasuki rumah"Waalaikumsalam"jawab mereka bersamaan"Loh Fanny sama Kila di sini"fannya mommy Ghea"Iya mom soal nya lagi ngerjain skripsi"jawab Fanny"Yaudh kalo gitu mommy buatin cemilan ya biar kalian semangat ngerjain skripsi nya"ucap mommy Ghea"Jadi ngerepotin mom"ucap Kila tak enak hati"Gak papa sayang,yaudh kalo gitu mommy buatin dulu cemilannya"ucap mommy Ghea"Iya mom"jawab mereka dan mulai mengerjakan skripsi nya"Ini sayang cemilannya udh jadi di makan ya"ucap mommy Ghea saat sudah selesai membuat cemilan"Makasih mommy"ucap mereka"Iya sama-sama,yaudh kalo gitu mommy mau ke kamar ya,kalian semangat ngerjain nya"ucap mommy Ghea mereka pun mengangguk dan melanjutkan mengerjakanTak terasa sudah pukul 17:00,Fanny dan Kila pun pamit pulang dari rumah Ghea"Mommy Fanny sama Kila pulang dulu ya soalnya udh sore"pamit fannya dan Kila"Iya sayang sering2 ya main kesini, hati-hati"jawab mommy Ghea mereka pun mengangguk"Kita pulang dulu ya gw"pamit Kila"Iya kalian hati-hati ya"jawab Ghea"Assalamualaikum""Waalaikumsalam".................Kini Fanny sudah berada di rumah dan melanjutkan mengerjakan skripsi nya sambil menunggu Riko,walaupun Riko menyuruh untuk tidak menunggu tapi Fanny tetap menunggu"Alhamdulillah akhirnya siap juga skripsi nya Minggu depan tinggal sidang"ucap Fanny"Mas Riko kok belum pulang sih udh jam segini juga lama banget"ucap Fanny saat melihat jam sudah pukul 11 malamFanny pun ketiduran saat sedang menunggu Riko pulang"Assalamualaikum"ucap Riko memasuki rumah"Ya Allah sayang kok tidur di sini sih,kan aku sudah bilang jangan nungguin aku pulang"ucap Riko yang terkejut saat melihat Fanny yang ternyata menunggu nya sampai ketiduran"Eaugh"lenguh Fanny yang terusik karna Riko mengusap kepalanya"Loh mas udah pulang "tanya Fanny saat sudah membuka mata"Udah,kamu kok nungguin aku pulang sih Sampek ketiduran gini,aku kan udh bilang aku lembur jadi jangan di tungguin sayang"omel Riko pada Fanny"Maaf mas,aku tadi juga sambil ngerjain skripsi kok eh mala ketiduran"jawab Fanny"Lain kali jangan gini lagi ya,kalo aku lembur jangan di tungguin,yaudh ayo sekarang pindah ke kamar tidurnya"ucap Riko"Gendong"ucap Fanny sambil merentangka tangan"Yaudh sini2 tuan putri"jawab Riko lalu menggendong Fanny ala Koala"Tidur lagi gih"suruh Riko pada Fanny saat sudah sampai di dalam kamar"Gak mau,mau nunggu kamu aja"jawab Fanny"Ini udah malam sayang kalo nunggu aku nanti lama kasian kamu"ucap riko sambil mengusap kepala Fanny"Gak mau,udah sana kamu bersih2 aku tungguin"suruh Fanny"Yaudh iya tapi kalo kamu udh ngantuk tidur dulu aja ya"jawab Riko dan Fanny mengangguk lalu Riko berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diriRiko pun sudah selesai bersih2 dan menjumpai Fanny"Udh"tanya Fanny"Udah sayang,ayok tidur udh malam"jawab Riko"Sayangg"ucap Riko sambil menatap Fanny dan Fanny pun peka"Sini2"ucap Fanny sambil membuka kancing atas piama nya dan Riko langsung menubruk benda kenyal kesayangannya"Kasian suami aku pasti capek banget ya kerja seharian Sampek lembur"ucap Fanny sambil mengusap belakang kepala Riko dan Riko pun mengangguk sambil terus mengenyut lalu keduanya pun tertidur................"Mas bangun udh pagi"ucap Fanny sambil mengusap pipi sang suami"Hmmm nanti sayang aku masih ngantuk"jawab Riko"Tapi ini udh pagi mas,emang kamu gak ke kantor"tanya Fanny dan Riko menggeleng"Sayang,kepala aku pusing"adu Riko sambil merengek"Yaudh sini aku pijitin biar gak pusing"jawab Fanny dan mulai mamijat kepala Riko"Sayangg......mau nenen"rengek Riko"Yaudh sini2,kamu pasti capek banget ya mas gak biasannya kamu minta nenen pagi2 gini kalo gak karna kecapean"ucap Fanny lalu Riko pun mengangguk"Mas kalo kamu udah capek istirahat aja dulu jangan di paksain kerja nya,kasian kamunya"lanjut Fanny"Kepala aku pusing banget sayang"rengek Riko sambil mengenyut"Yaudh kamu disini dulu aku mau ngambil sarapan sama obat dulu buat kami"ucap Fanny"Gak mau"ucap Riko sambil memeluk Fanny dan tetap mengenyut"Bentar aja mas,udahan dulu nenennya di lanjutin nanti ya"bujuk Fanny pada Riko"Gak mau sayangg.."rengek Riko dengan mata yang sudah berair pertanda akan menangis"Iya2 gak jadi udh jangan nangis nanti tambah pusing kepala nya"ucap Fanny"Hallo bik,bik Wati udh di sini?"...........""Saya mau minta tolong anterin sarapan sama obat pusing ke kamar saya bisa?".............""Iya makasih ya buk""Kamu nelpon bik Wati sayang "tanya Riko"Iya, kamu kan gak mau di tinggal jadi aku suruh bik Wati buat anterin sarapan sama obat"jawab Riko"Jadi nanti bik Wati masuk dong sayang ke kamar kita"tanya Riko"Enggak,nanti nganterin nya Sampek depan kamar aja"jawab Fanny"Nanti kalo bik Wati udh dateng berhenti dulu ya nenennya soalnya kan mau ngambil sarapan sama obatnya"suruh Fanny"Iya"jawab Riko sambil terus mengenyutTok tok tok"Non,ini sarapan sama obatnya" panggil bik Wati"Iya bik, makasih ya bik"ucap Fanny"Sama2 non emang siapa yang sakit non"tanya bik Wati"Suami saya bik katanya kepala nya pusing"jawab Fanny"Owalah semogah cepet sembuh ya non den Riko nya,yaudh bibik mau balik ke dapur dulu ya non"ucap bik Wati"Amiin,iya bik makasih ya"jawab Fanny

Telat Sadar
Romance
01 Jan 2026

Telat Sadar

"K-kak Leo, sebenarnya aku—"ucapan gadis itu terputus."Suka sama gue kan? Maaf kayaknya gue nggak bisa," sela laki-laki itu, Leo."Ke-kenapa kak? Aku kira kakak suka sama aku karena selama ini kita dekat," ucap Nara sambil menatap Leo intens.Leo menyibakkan rambutnya kebelakang dan tertawa sinis. "Jangan mimpi deh, lo! Dekat bukan berarti gue suka sama Lo! Lagian, nggak mungkin lah, gue suka sama orang kaya lo!" Leo lalu melangkah pergi begitu saja.Nara menunduk sambil meremas tangannya sendiri. Kenapa sih, pernyataan cintanya selalu ditolak? Apa karena ia jauh dari kata cantik? Apa ia jauh dari kata feminim? Ya, kadang tingkah Nara ini bar-bar.Daripada galau dan memikirkan yang tidak-tidak di tempat itu, lapangan basket, Nara pun memutuskan untuk pergi ke kelas dan menemui teman laki-laki satu-satunya yang biasa ia ajak curhat jika sedang galau."Rel." Nara langsung duduk disebelah temannya yang sedang asik mengobrol dengan teman perempuannya yang Lain. Yah, Varel memang satu-satunya laki-laki yang enak buat diajak ngobrol maupun curhat."Eh, Nara. Kenapa muka lu cemberut gitu? Ditolak cowok lagi?" tanya Dinar dengan nada mengejek.Nara yang sudah kesal, menggebrak meja cukup kencang, membuat Dinar sedikit terkejut. "Bacot! Nggak usah ikut campur lo!""Ya santuy, dong. Yaudah lah, Rel. Kita lanjut ngobrol lagi nanti. Bye! " Dinar pun bergegas pergi. Takut nanti Nara mengomeli dirinya."Ada apa, Nara?" tanya Varel, matanya malah terfokus pada ponselnya."Gue ditolak lagi." Nara menidurkan kepalanya dimeja."Udah tau. Elo sih, udah gue bilangin kan, jangan langsung nembak orang yang lo suka.""Ya tapi, perasaan ini tuh—ah, udahlah. Pokoknya gue suka sama kak Leo, tapi ditolak dengan kata-kata yang kasar." Nara mengacak rambutnya frustasi."Udah, tutup mata aja. Palingan besok lo udah dapet penggantinya. Hati lo kan cepet reinkarnasinya." Kali ini Varel menatap Nara."Ya elah lo kira gue cacing pipih?! Eh, Rel. Lo lagi suka sama siapa sih? Kok gue nggak pernah denger lo lagi suka sama siapa.""I-itu—gue masih suka sama si Nancy." Varel membuang mukanya kearah lain. Nancy itu gadis yang Varel sukai waktu kelas 8 SMP.Nara hanya manggut-manggut, "Oh," ucapnya."Eh, Rel. Pulang sekolah wi-fi an di lorong kantor kepala sekolah yuk! Kaya biasanya," lanjut Nara."Hem. Pasti mau nonton drakor?""Iyalah, pliisss!!" Nara menyatukan kedua tangannya, memohon pada laki-laki didepannya ini.Varel memutar bola matanya malas, yah, terpaksa deh. "Iyaya,"***2 hari kemudian ."Varel!!" teriak seorang gadis di koridor. Membuat beberapa pasang mata tidak bisa tidak menoleh ke Nara.Si pemilik nama pun mengehentikan langkahnya lalu berbalik, "Kenapa sih, Nar? Teriak-teriak Mulu, bikin malu."Nara pun segara berlari mendekati si Varel. "Gue mau ngomong. Sebenernya, si Galang dilihat-lihat ganteng juga ya." Tanpa sadar, senyum Nara mengembang."Tuh kan. Yaudah, yang penting lo jangan ngelakuin hal-hal kayak sebelumnya! Yang ada nanti Galang malah ilfeel sama lo!""Emang gue ngelakuin apa aja emang?" Nara mencoba mengingat-ingat lagi apa saja kelakuannya.Varel mengehentikan langkahnya, lalu menatap Nara, begitu juga dengan Nara. "Yang suka manjat pagar samping sekolah buat ambil markisa siapa? Suka nyapa semua orang dikoridor, lempar bola ampe kena kepala botak Pak Danu siapa? Pokoknya plis, jadi lebih feminim.""Iya-iya." Nara memanyunkan bibirnya. Tak lama kemudian senyum Nara kembali mengembang. Tangannya melambai-lambai pada seseorang."Galang!" Nara menyapa laki-laki yang berpapasan dengannya, Galang.Dengan ramah, Galang tersenyum dan membalas Nara. "Eh, Halo Nara."Tepat di depan pintu kelas, Nara memegang tangan Galang, membuat laki-laki itu gugup setengah mati."Rel, tolong bantuin gue deket sama Galang, dong!" pinta Nara. Varel tak langsung menjawab."Pliis bantuin gue, Rel," rengek Nara lagi.Akhirnya, Varel menatap Nara intens. Dan seperti biasa, ia tersenyum. "Iyaya. Gue pasti bantu kok,""Yeaayy! Makasih Varel! Lo emang temen terbaik gue, dah!" Nara berjalan masuk ke kelasnya dengan perasaan girang.Ia tidak pernah tau apa yang sedang dirasakan Varel.Hari-hari terus berlalu. Varel dengan segala upayanya membantu PDKT Nara dengan Galang akhirnya membuahkan hasil. Mereka berdua semakin dekat. Tetapi, belum sampai tahap pacaran.Nara berjalan mendekati Varel sambil membawakan susu coklat kesukaannya. Ya, hitung-hitung sebagai balas budi karena sudah membantu PDKT-nya."Varel!" Nara duduk dihadapan Varel sambil menyodorkan susu kotak rasa coklat itu."Rel, ini gue beliin susu. Itung-itung buat balas budi, lah. Makasih ya udah bantuin gue PDKT sama Galang," ucap Nara. Namun, tidak biasanya Varel menunjukkan ekspresi badmood ."Rel, Lo kenapa sih? Diem mulu, sariawan ya?" celetuk Nara."Bisa diem nggak?! Lo nggak akan tau apa yang gue rasain!" ucap Varel dengan suara cukup kencang."Y-ya nggak usah marah-marah, dong," ucap Nara."Lo ditolak ama Nancy?""Pikir sendiri." Varel pun pergi meninggalkan Nara sendiri.Gue salah apa sih? Batin Nara.***Sejak hari itu, Nara dan Varel tidak pernah bertemu lagi. Mendadak Varel pindah sekolah karena pekerjaan Ayahnya yang harus pindah kota.Tentang Galang, mereka memang dekat. Tapi hanya sebatas teman. Lagipula, perasaannya pada Galang sudah berubah dan Galang pun sudah punya pacar. Sejak Varel pindah, Nara merasa ada yang kosong di hatinya.Hari ini, jadwal Nara piket kelas. Seperti biasa, kalau ia piket hanya membersihkan sampah-sampah di laci meja, lalu pulang. Sedangkan teman-temannya sibuk menyapu, mengepel dan merapikan buku-buku. Enak ya, jadi Nara.Saat merogoh laci meja milik Varel, ia menemukan sebuah amplop kecil yang ada tulisan Katakana- nya diujung depan amplop.Penasaran, Nara langsung membukanya dan membaca surat yang ditulis di kertas binder berwarna merah muda.I love you , Nara Adhitama 💕@VarelGaming07Singkat, namun mampu membuat dada Nara terasa sesak dan sakit. Tubuhnya langsung merosot ke lantai, air matanya mengalir deras. Ia sudah tidak peduli dengan orang-orang sekitar."Ra, Lo nggak papa?""Eh, Ra. Lo napa nangis?""Ra, oy!"Mengapa? Kenapa ia baru sadar bahwa Varel menyukainya? Kenapa harus terlambat seperti ini, sih?! kenapa telat sadarnya, sih?!Gue juga suka sama lo , Rel .[ E N D ]

Beri Aku Waktu
Romance
01 Jan 2026

Beri Aku Waktu

Sudah sebulan lebih Gisel putus dengan Gavin. Akan tetapi, kenangannya tetap menemani hari-harinya yang kelam. Tempat yang dulu sering mereka datangi bersama berdua, kini hanya didatangi oleh Gisel saja. Seperti sekarang. Gisel mendatangi taman ini lagi. Taman yang masih terlihat sama, namun terasa berbeda.Ia menduduki kursi taman. Bibirnya tersenyum tipis melihat bunga mawar yang dihinggapi kupu-kupu dengan berbagai warna yang terlihat cantik. Mereka terbang kesana-kemari seolah tengah menari bersama, dengan pancaran kebahagiaan. Namun, tak sebahagia dirinya saat ini.Gavin Anggara. Lelaki yang berhasil meluluhkan hatinya sekaligus meruntuhkan harapannya, pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat singkat, namun terkesan menyayat hatinya." Kita berhenti sampai sini ya , Gis . Makasih dua tahunnya ." ucapan Gavin dulu, yang masih terngiang di benaknya hingga saat ini."Siapa coba?"Gisel terkejut ketika matanya ditutup oleh seseorang dari belakang."Galih ...." Gisel memegang kedua tangan kekar itu, lalu menjauhkannya dari matanya.Galih tertawa. Ia melompat dari belakang kursi yang Gisel duduki, lalu langsung mendudukinya. Memang tidak sulit melakukan hal itu bagi laki-laki."Semenarik itukah kupu-kupu itu?" tanya Galih yang mengikuti arah pandang Gisel."Lucu," jawab Gisel singkat. Tatapannya masih fokus pada kupu-kupu dan bunga mawar itu. Ia bahkan tidak melirik Galih sama sekali."Lo gak bisa gini terus Sel, semakin lo kayak gini, semakin lo ngebunuh diri lo sendiri." Galih berkata dengan mata yang menatap Gisel lekat.Gisel terdiam. Ia menghembuskan nafas pelan, lalu menatap Galih balik. "Gue masih gak bisa terima semua kenyataan ini, Gal. Gavin pergi gitu aja tanpa alasan yang jelas." Mata Gisel mulai berkaca-kaca."Kita gak bakal tau isi hati seseorang Sel. Cinta bisa datang kapan aja, dan pergi gitu aja. Mungkin dengan kepergian Gavin, tuhan memberi pelajaran buat lo untuk bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia," ujar Galih dengan tenangnya."Emang bener ya, cinta bisa menjebak seseorang dalam zona nyaman. Kaya gue contohnya," ujar Galih kembali, yang membuat Gisel menoleh ke arahnya."Maksud lo?" tanya Gisel tidak mengerti.Galih merubah posisinya menjadi menghadap Gisel. Tangannya mengambil kedua tangan Gisel, lalu digenggamnya erat. "Gue sayang sama lo Sel, gue cinta sama lo, bahkan gue gak mau kehilangan lo. Dengan liat keadaan lo yang kaya gini, buat gue ikutan sakit, Sel." Galih berkata dengan begitu lantangnya.Gisel terkejut mendengarnya. Ia menarik tangannya yang digenggam oleh Galih. "Tapi, Gal ... kita kan udah janji buat gak jatuh cinta satu sama lain," ujarnya."Gue tau kita udah sahabatan dari kecil. Bahagia lo, bahagia gue. Kesedihan lo, kesedihan gue. Begitupun sebaliknya. Tapi perasaan gak bisa dibohongi, Sel. Gue sayang dan cinta sama lo, udah dari empat tahun yang lalu. Dari waktu kita duduk di bangku SMA." Galih menjelaskan sedetail-detailnya. Ia mengungkapkan semua perasaan yang sedari dulu dirasakannya pada Gisel."Kenapa gak bilang dari dulu?" tanya Gisel dengan tatapan yang sulit diartikan."Gue takut Sel. Gue takut lo bakal jauhin gue kalau gue ungkapin perasaan ini. Perasaan yang gak seharusnya terjadi sama gue, dan perasaan yang bisa ngehancurin persahabatan kita," kata Galih. Matanya masih menatap Gisel, yang juga tengah menatapnya."Saat gue tau lo jadian sama Gavin, hati gue sakit Sel. Hidup gue kayak berubah. Walaupun ini mungkin terkesan lebay, tapi kenyataannya emang gitu. Bahkan, saat gue liat lo jalan berdua sama Gavin, gue lah orang pertama yang berharap kalau Gavin adalah gue."Ucapan Galih membuat Gisel terdiam membisu. Ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Mulutnya seolah terkunci rapat, namun ia merasa ada gejolak aneh di hatinya setelah mendengar pengutaraan Galih."Maaf Sel, maaf gue udah jatuh cinta sama lo, dan mengingkari janji kita dulu. Gue gak maksa buat lo terima cinta gue. Tapi gue mohon, tetap jadi sahabat terbaik gue. Dan biarkan cinta gue ke lo, tetep tersimpan di hati gue," mohonnya dengan bibir yang berusaha untuk tersenyum.Bukannya marah atau kesal, Gisel justru ikut tersenyum seperti Galih. "Lo gak salah Gal. Lo berhak jatuh cinta sama siapa aja, lo juga berhak buat ngungkapin nya. Makasih udah mau jujur." Terdengar nada tulus dari ucapan yang Gisel ucapkan."Tapi, maaf gue belum bisa nerima lo, Gal.""Kenapa?" tanya Galih memelankan suaranya."Gue gak mau jatuh cinta sama orang cuma buat lupain Gavin. Gue gak mau dengan gue lakuin ini ke lo, yang ada gue malah nyakitin lo dengan cinta palsu." Gisel tersenyum kepada Galih."Kasih gue waktu buat bisa jatuh cinta sama lo, kalaupun gue gak bisa jatuh cinta sama lo, lo berhak cari yang lebih baik dari gue," lanjutnya, yang mencoba meyakinkan Galih."Gue akan tunggu lo, Sel," ucap Galih yakin. Terlihat senyuman itu semakin melebar, dan wajah Galih terlihat lebih bahagia sekarang."Makasih udah selalu ada buat gue." Gisel menyandarkan kepalanya pada pundak Galih."Gue terpaksa," canda Galih yang mendapat cubitan Gisel di perutnya."Aww! Sakit Sel!" ringis Galih."Rasain tuh!" Gisel menjulurkan lidahnya."Berani ya ...." Galih menggelitik Gisel sebagai balasannya.Gisel tertawa kencang, karena perutnya yang merasa geli. "Galih! Berhenti!" teriaknya yang dibarengi tertawa.Galih berhenti menggelitik Gisel yang masih tertawa kencang. Ia tersenyum senang melihat Gisel yang tertawa seperti sekarang. Sedetik kemudian, ia langsung memeluk Gisel erat."Selalu bahagia, Sel." bisik Galih.Gisel membalas pelukannya. "Pasti," ujarnya yang tersenyum senang.Mereka larut dalam kenyamanan, dan melupakan semua kesedihan yang mengelilinginya.[ E N D ]

Menampilkan 24 dari 166 cerita Halaman 2 dari 7
Menampilkan 24 cerita