Temukan Cerita Inspiratif
Jelajahi kumpulan cerita menarik dari berbagai genre. Dari romance hingga horror, temukan cerita yang sesuai dengan selera Anda.
Total Cerita
830
Genre Romance
166
Genre Folklore
166
Genre Horror
166
Genre Fantasy
166
Genre Teen
166
Istri Kesayangan CEO Dingin
"Aku kembali," sapa gadis cantik, berjalan masuk ke dalam restoran sederhana."Hmm. Alamat dan pesanannya ada di sana," ucap wanita paruh baya yang sedang duduk di meja kasir, menunjuk kantong plastik putih yang berada di atas meja."Aku pergi dulu ya, Bik," pamit gadis cantik, kembali berjalan keluar dari dalam restoran sambil membawa kantong plastik tadi."Iya. Hati-hati," jawab wanita paruh baya itu, dia terlihat sedang mencatat sesuatu di buku.Gadis cantik itu bernama Alya Febrianti Angraini, dia bekerja di sebuah restoran sederhana, bertugas mengatar pesanan.Alya memasukkan kantong plastik tadi, ke dalam keranjang yang berada di belakang motor. Ia menaiki motornya, menyalakan motornya, lalu menjalankan motornya pergi meninggalkan kawasan restoran sederhana itu.Dia mulai mulai membelah jalan raya, yang cukup ramai di malam hari. Tidak membutuhkan waktu yang lama, dia kembali menghentikan motornya di depan gedung yang cukup tinggi.Alya turun dari atas motornya, mengambil kantong plastik tadi, ia melihat kertas yang berisi alamat."Teryata orang kaya mau juga pesan makanan beginian," guman Alya sambil berjalan masuk ke dalam gedung, menaiki lift, tak lupa menekan nomor lantai gedungnya. Mata Alya tidak lepas dari layar yang menunjukkan dia berada di lantai berapa.Kring!Alya berjalan keluar dari dalam lift, mulai menelusuri koridor sambil matanya menatap ke arah pintu."239, 240, 241, 242," ucap Alya sambil menghentikan langkahnya, di depan pintu 242. Dia kembali melihat kertas alamat tadi, memastikan dia tidak salah alamat."Tidak salah lagi, ini alamatnya," ucap Alya sambil menekan tombol bel di dekat pintu. Tanpa sadar ia menghela nafas panjangnya."Apa aku salah alamat, ya? Tapi ... di kertas ini, memang benar ini alamatnya," guman Alya yang kembali melihat kertas alamat tadi."Permisi! Pesanan Anda datang!" ucap Alya, kembali menekan tombol bel, saat pintu masih belum dibuka dari dalam. Saat gadis itu berniat ingin menekan bel untuk ketiga kalinya, pintu tiba-tiba dibuka dari dalam.Ceklek!Menampakkan seorang pria tampan, wajahnya dipenuhi dengan keringat dingin, nafasnya terlihat tidak beraturan."Tuan baik-baik saja?" tanya Alya khawatir, saat melihat keadaan pria yang terlihat sedang tidak sehat.Tanpa diduga oleh Alya, tangannya tiba-tiba ditarik masuk ke dalam apartemen. Pria itu menyadarkan tubuh Alya ke pintu."Tu ... tuan, apa yang kau lakukan?" tanya Alya yang terlihat begitu ketakutan.Pria tampan tidak menjawabnya, melainkan ia malah mencium bibir Alya dengan penuh na**u.Alya refleks menjatuhkan kantong plastik yang berada di genggamannya, ia mencoba mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaganya, tapi nihil. Kekuatan pria itu jauh lebih kuat darinya. Pria itu bagaikan sudah dikuasai oleh naf**nya.Pria itu melepaskan ciumannya, mengedong tubuh Alya bagaikan karung beras, lalu berjalan membawa Alya ke dalam kamar."Hei! Apa yang kau lakukan?!" bentak Alya sambil memukul-mukul punggung pria tampan itu, dengan tangannya."Tolong ...!" teriak Alya dengan nafas turun-naik.Alya semakin ketakutan, saat pria tampan itu mengunci pintu kamarnya, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk."Tolong ...!" teriak Alya lagi.Dia semakin dibuat ketakutan, saat pria tampan itu membuka pakaian atasnya. Tanpa sadar Alya menelan slivannya dengan susah payah, perlahan ia berinsut mundur. Bukan dia tergoda dengan bentuk tubuh pria tampan itu, melainkan dia sangat ketakutan."Tolong ...!" teriak Alya lagi, berharap ada yang mau menolongnya.Namun, usahanya untuk meminta tolong sia-sia, tubuhnya sudah lebih dahulu dikuasai oleh pria yang sudah dilanda naf*u. Malam itu adalah malam terburuk bagi Alya, di mana kesuciannya direbut oleh pria yang sama sekali tidak dia kenal.Jika dia tau kejadian akan seperti itu, dia tidak akan pernah mau mengantarkan pesanan itu. Namun, semua itu sudah menjadi bubur, dia bukan lagi wanita yang suci."Eughk ... Ahh ...," lenguh pria tampan itu, ia baru saja terbangun dari tidurnya.Dia? Brian Ardiansyah, pria yang sudah merenggut kehormatan Alya Febrianti Angraini.Brian memegang kepalanya yang terasa sakit, matanya menatap langit-langit kamarnya, pandangannya terlihat sedikit buram sebelum menjadi jelas."Eughk ...," lenguhan Alya membuat Brian terkejut.Brian ragu-ragu menoleh ke sampingnya, matanya membulat dengan sempurna saat melihat gadis yang sama sekali tidak ia kenal. Ia sedikit mengakat selimutnya, dan baru menyadari dirinya tanpa busana."Apa yang terjadi?" Brian mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.Sebelum kejadian ....Brian ingat, kalau semalam Kakak tirinya datang ke apartemennya, mereka mengobrol santai. Tiba-tiba Brian ingin pergi ke toilet, saat kembali dia tidak lagi menemukan Kakak-nya di ruang utama.Brian sama sekali tidak merasa curiga, dia kembali duduk di sofa, melanjutkan menonton film-nya. Lalu dia tiba-tiba mendapatkan pesan dari Kakak-nya, mengatakan bahwa Kakak-nya ada urusan mendesak. Jadi, harus pergi begitu saja.Brian meminum minuman anggurnya, belum beberapa menit setelah meminumnya, dia tiba-tiba merasakan panas, gerah dan sesuatu yang aneh, dirinya bagaikan sedang ter**ang.Pada saat itu Alya datang mengantarkan pesanan. Brian yang sudah tidak mampu mengendalikan dirinya, akhirnya melampiaskan hasratnya terhadap gadis yang sama sekali tidak ia kenal, Alya."Si*l! Apa semua ini karena, Kak Rai?" guman Brian dengan tertawa miris.Brian bangun dari tidurnya, matanya beralih menatap Alya yang masih tertidur pulas di sampingnya.'Apa yang harus aku lakukan terhadap gadis ini? Bertanggung jawab? Apa ... jangan-jangan ini jebakan? Jika, Kakek mengetahui ini, otomatis Kakek akan mencoretku menjadi pewarisnya? Lalu Kak Rai yang akan menjadi pewarisnya,' batin Brian, ia memiliki begitu banyak pertanyaan di dalam otaknya.Brian lebih memilih untuk tidak memikirkannya, saat ini dia harus menenangkan dirinya. Ia menepiskan selimut dari tubuhnya, memunggut pakaiannya, lalu memakai kembali, dan berjalan menuju kamar mandi.Brian membiarkan air mengalir mengguyur seluruh tubuhnya. Dia yakin kalau semua ini adalah bagian rencana dari Kakak tirinya, dari awal mereka memang tidak suka Brian menjadi pewarisnya. Namun, mereka masih berpura-pura baik-baik saja di depannya, ternyata dibalik sikap mereka yang tenang, dirinya malah dijebak.Alya membuka matanya dengan perlahan, menatap langit-langit kamar dengan samar-samar, berharap semua itu adalah mimpi buruk."Apakah aku masih bermimpi buruk?" guman Alya dengan suara khas orang baru bangun tidur.Ceklek!Alya menoleh ke arah suara, melihat Brian baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai baju handuk, tangan yang mengacak-acak rambutnya dengan handuk kecil."Tidak. Ini pasti mimpi. Aku pasti sedang bermimpi ...," lirih Alya disertai buliran bening mengalir di sudut matanya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan, bahwa dirinya bukan lagi gadis yang suci."Hentikan dramamu itu. Aku tau kalau kamu bekerja sama dengan Kakak-ku, Raihan," ucap Brian dengan dinginnya.Alya menoleh ke arah Brian, lalu berkata, "Apa katamu? Drama?!""Hmm. Kamu pasti sengaja, 'kan? Dibayar berapa kamu sama Raihan, hah?!" tanya Brian dengan nada membentak.Alya bangun dari tidurnya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal itu. Berjalan mendekati Brian dengan nafas turun-naik, matanya mengisyaratkan kemarahan teramat dalam."Setelah apa yang kau lakukan terhadapku? Lalu sekarang kau bilang aku me-drama? Bekerja sama dengan Kakak-mu? Apa maksudmu, hah?! Siapa, Raihan?! Jelas-jelas di sini aku korbannya!" jawab Alya yang balik membentak."Korban? Ha-ha-ha, jelas-jelas aku korbannya! Aku tau kamu pasti orang suruhan Raihan, 'kan? Kamu pasti disuruh untuk menghacurkan aku, bukan?!" tanya Brian."Hei! Aku ke sini cuma mengantarkan pesananmu! Dan sekarang lihatlah!" Alya menunjuk noda darah yang berada di atas seprai."Kau sudah menghacurkan masa depanku. Jelas-jelas di sini aku korbannya, tapi kenapa kau yang malah bersikap seperti korbannya? Apa salahku? Kenapa kau lakukan ini padaku?" lanjut Alya, tubuhnya mendadak lemas, ia menangis tersedu-sedu di atas lantai, buliran bening tidak henti-hentinya mengalir di pipinya.Brian mulai berfikir jika Alya juga korbannya, tapi ia juga harus memastikannya terlebih dahulu. Dia tidak boleh percaya begitu saja, dia akan menyelidiki siapa gadis itu sebenarnya."Baiklah. Aku akan bertanggung jawab. Jadi, sebaiknya kau hentikan tangisan itu, tidak ada guna juga kau menangis, semuanya sudah terjadi," ucap Brian tanpa menatap ke Alya."Apa aku bisa mempercayai kata-katamu?" tanya Alya dengan mendongakkan kepalanya, menatap pria yang sedang berdiri di depannya."Kalau kau tidak percaya, kau bisa tinggal di sini mulai sekarang," jawab Brian menatap sekilas ke arah Alya.Alya tiba-tiba tertawa mendengar perkataan Brian, benar-benar tidak terpikirkan olehnya. Bertemu dengan pria seperti Brian."Kau pikir semua ini lucu? Karenamu, mungkin aku akan kehilangan sesuatu yang berharga. Lagian, aku sebenarnya tidak ingin berhubungan denganmu, jika bukan karena seseorang sudah memasukkan sesuatu ke dalam minumanku," ucap Brian tidak terima, padahal dia sudah mau bertanggung jawab."Terserahmu!" Alya bangun dari duduknya, berjalan pergi meninggalkan Brian dengan perasaan marah bercampur kecewa.Alya tidak punya pilihan selain mengikuti perkataan Brian, ada bagusnya kalau Brian mau bertanggung jawab, dia tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya.Alya menutup pintu kamar mandi, menyadarkan punggungnya ke pintu, tanpa sadar tubuhnya merosot ke lantai. Dia masih kecewa terhadap dirinya, kehormatan yang selama ini selalu ia jaga, direnggut begitu saja oleh pria yang sekali tidak ia kenal.Brian masih bisa mendengarkan suara tangisan Alya dari luar. Tanpa sadar ia menghela nafas kasarnya. Dia melihat jaket Alya berada di lantai, ia melihat sesuatu di bahu tersebut.Brian memunggut jaket tersebut, membuka lebar dan melihat nama restoran, nomor telpon di tempat Alya bekerja.[Restoran Bibi Caca. +6282386217111.]Brian berjalan keluar dari dalam kamarnya, TV-nya saja masih menyala, gelas minumannya masih tergeletak di atas meja. Dia menemukan ponselnya di atas meja, mengambil ponselnya, lalu menekan nomor seseorang di layarnya."Bagas, bantu aku selidiki seseorang. Aku baru saja dijebak oleh Raihan. Aku mau kamu menyelidiki gadis yang bekerja di Restoran Bibi Caca. Dia bernama, Alya Febrianti Angraini."Brian mengetahui nama Alya, dari jaket yang digunakan Alya, memiliki tanda pengenal agar memudahkan konsumen mengetahui siapa Alya.Alya baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Kamar yang semulanya berantakan mendadak menjadi rapi dan bersih, ia juga melihat pakaian di atas kasur. Dia tidak punya pilihan selain memakai pakaian yang sudah disiapkan Brian.Tidak membutuhkan waktu yang lama, Alya selesai mengenakan pakaian Brian. Ya, Brian tidak memiliki pakaian wanita di rumahnya, jadi, dia menyiapkan pakaiannya untuk Alya.Dreet ... dreet ... dreet!Alya mendengar deringan ponsel di atas nakas, ia berjalan menghampiri nakas, melihat nama 'Bibi Restoran' di layar ponselnya.Alya mengambil ponselnya, menggeser tombol hijau di layarnya, mendekatkan ke dekat telinganya."Assalamualaikum, Alya!" sapa Bik Mina---pemilik restoran tempat Alya bekerja, sekaligus Ibu angkat bagi Alya."Wa'alaikumsalam, Bik," jawab Alya, berusaha menormalkan suaranya."Semalam Bibi coba telpon kamu, tapi kok gak diangkat-angkat? Bibi khawatir sekali denganmu. Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Bik Mina yang terdengar sangat khawatir."Aku baik-baik saja, Bik," jawab Alya berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah."Eum ... karena semalam kamu belum juga pulang. Bibi minta Noval menyusul kamu ke sana, tapi cuma motor aja yang ada di sana. Sebenarnya, semalam kamu pergi ke mana, Alya?""Aku ... aku ....""Aku apa, Alya? Kamu baik-baik saja, 'kan?" potong Bik Mina."Aku baik-baik saja kok, Bik. Semalam temanku telpon, dia lagi dapat masalah, jadi, aku pergi ke sana menggunakan taksi. Maafkan Alya ya, Bik. Udah buat Bibi khawatir," jelas Alya dengan suara serak."Suara kamu kenapa, Alya? Kamu habis nangis?" tanya Bik Mina mulai curiga."Enggak kok, Bik. Aku lagi terserang flu," jawab Alya berbohong."Syukurlah, kalau kamu baik-baik saja. Kamu jangan lupa minum obatnya, biar cepat sembuh. Motornya jangan khawatir. Noval sudah membawanya pulang. Sebaiknya kamu istirahat.""Baik, Bik. Beberapa hari ini aku mau nginap di rumah teman dulu ya, Bik. Dia masih butuh aku.""Baiklah. Kamu baik-baik di sana, ya. Jangan lupa minum obatnya.""Baik, Bik. Aku tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."Alya menutup telponnya buru-buru, tangisnya kembali pecah. Dia tidak dapat menahan tangisnya, sungguh sulit berbohong kepada orang yang disayangi."Raihan!"Tangisan Alya seketika berhenti saat mendengar suara bentakan dari luar kamarnya, ia bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu kamar, dan melihat Brian sedang menelpon di ruang utama."Aku tau semua ini perbuatan kamu, 'kan? Dari awal kamu memang tidak suka, aku menjadi pemimpin di perusahaan Kakek, 'kan? Jadi, kamu sengaja menjebakku dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku, lalu memesan makanan atas namaku," ucap Brian terlihat begitu marah.[Apa maksudmu, Brian? Memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu? Jangan konyol deh. Aku juga tidak pernah menentang kamu menjadi pemimpin di perusahaan Kakek.]"Jangan pura-pura deh, aku tau semua ini perbuatanmu. Karena ulahmu, aku menghacurkan masa depan gadis yang sama sekali tidak bersalah," ucap Brian dengan menekan setiap perkataannya.Sedangkan Alya hanya mendengarkan obrolan Brian dari pintu, mencoba menebak-nebak dari ekspresi Brian, menebak apa yang sedang dikatakan lawan bicara Brian.[Brian, dari tadi aku mencoba untuk bersabar, karena kamu Adikku. Jika kamu melakukan kesalahan, kamu harus bertanggung jawab. Jangan melampiaskannya kepadaku. Kamu memiliki bukti, bahwa aku yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu?Iya. Aku semalam memang berada di apartemenmu, lalu tiba-tiba pergi begitu saja. Bukan berarti aku pelakunya, atau ... jangan-jangan, kamu cuma mengarang cerita, karena terlalu takut untuk bertanggung jawab. Kamu pasti takut Kakek mengetahuinya, ya? Lalu mencoret namamu dari pewaris tunggal. Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakannya kepada Kakek. Kamu bisa menjadikan gadis itu sebagai kambing hitam, atau memberi dia uang untuk menutup mulut. Bukankah gadis-gadis suka dengan uang?]"Kau bisa mengatakannya kepada Kakek, aku tidak takut namaku dicoret dari pewaris tunggal. Lagipula, dari awal aku juga tidak menginginkan itu semua. Apa yang kulakukan terhadap gadis itu, aku akan bertanggung jawab. Aku bukan pria bereng**k sepertimu."Brian mematikan teleponnya secara sepihak, meleparkan ponsel tersebut ke atas sofa dengan kasar. Nafasnya terlihat tidak beraturan, menahan kemarahan yang teramat dalam.Alya mulai berfikir jika Brian memang tidak sengaja melakukannya, mungkin karena obat perangsang, membuat Brian tidak dapat mengendalikan dirinya semalam. Dia juga berfikir kalau Brian seorang pria baik, buktinya dia mau bertanggung jawab atas kesalahannya."Huft ...."Entah berapa kali Brian menghela nafasnya semenjak bangun tidur, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu matanya berhenti tempat di mana Alya berdiri tanpa ekspresi."Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kamu pasti lapar," ucap Brian dengan nada dingin, yang memang sudah menjadi ciri khas dirinya.Brian berjalan pergi meninggalkan ruang utama. Alya mengikuti Brian dari belakang, lalu mereka berdua berakhir di meja makan. Ternyata Brian sudah menyiapkan sarapan, selama Alya masih berada di dalam kamar tadi.Alya duduk dengan ragu-ragu di atas kursi, mereka duduk saling berhadapan. Jujur, dia memang merasa sedikit lapar, tapi dia juga dilema dengan rasa takut.Alya merasa ragu memakan masakkan yang ada di atas meja, khawatir Brian memasukkan racun ke dalam makanannya. Dia kan masih ingin hidup lebih lama."Jangan khawatir, makanan itu tidak ada racunnya," ucap Brian seakan tau apa yang dipikirkan Alya."Aku tidak mengatakan makanan ini ada racunnya," ujar Alya dengan nada ketus.Alya menyuap nasi putih hingga membuatnya mulutnya terisi penuh, dia butuh energi untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak boleh merasa lemah, semua itu hanya akan membuatnya semakin terlihat menyedihkan.Segala sesuatu kesalahan pasti dimaafkan Tuhan, selama dia bersungguh-sungguh ingin memperbaikinya. Apa yang harus dia takutkan? Pria yang sudah merenggut kehormatan, sudah berjanji akan bertanggung jawab. Meskipun ia masih ragu dengan perkataan Brian."Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Brian, memecah kesunyian."Apa aku terlihat baik-baik saja?" Bukan menjawab, Alya malah balik bertanya."Sepertinya kamu tidak baik-baik saja," jawab Brian, kembali menundukkan kepalanya."Aku berencana ingin mengajakmu ke rumah keluargaku, aku ingin menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin," lanjut Brian tanpa menatap Alya."Benarkah kau ingin bertanggung jawab?" tanya Alya yang masih tidak percaya.Brian menghela nafas kasarnya, menaruh sendoknya, menyadarkan punggungnya ke kursi, lalu berkata, "Berapa kali harus aku katakan? Aku bukan seorang pria pengecut, yang lari dari kesalahan. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku. Kamu paham?"Alya hanya membalas dengan anggukan."Bagaimana keadaanmu? Apa baik-baik saja? Kalau kamu merasa tidak baik, kita bisa menunda pertemuan keluarga ini," ucap Brian dengan santai menatap Alya.Alasannya bertanya seperti itu, karena ini pertama kalinya bagi Alya, mungkin akan terasa sakit di bagian tertentu."Aku merasa tidak baik-baik saja," jawab Alya dengan ragu-ragu."Baiklah. Aku paham, kalau begitu besok saja kita lakukan pertemuan itu, hari ini kamu istirahat saja," ucap Brian, bangun dari duduknya."Baiklah," jawab Alya singkat."Benar juga, sebaiknya kamu memberitahu keluargamu, jangan sampai mereka khawatir. Aku mau ke kamar dulu, selesai makan kamu bisa menaruh piring kotornya di atas wastafel," lanjut Brian."Iya," jawab Alya mengaguk.Brian berjalan pergi meninggalkan meja makan, menyudahi makannya tanpa menghabiskan makanan yang ada di dalam piring.Alya menatap punggung Brian, tanpa sadar dia menghela nafas kasarnya. Duduk bersama dengan Brian, membuatnya merasa canggung.Alya yang merasa lapar, melahap makanan yang berada di atas meja. Meskipun dirinya sedang berada dalam masalah, bukan berarti dia harus mogok makan. Mungkin akan ada kejadian yang tidak terduga, jadi, dia harus mempersiapkan dirinya.Benar saja dugaan Alya, setelah selesai mencuci piring kotor. Alya menyusul Brian ke ruang utama, berniat ingin menonton film bersama dengan Brian. Akan tetapi, bel tiba-tiba dipencet dari luar.Brian bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu, membuka pintu untuk tamu atau apalah.Plak!Alya kaget saat mendengar suara tamparan, ia bangun dari duduknya, berjalan menyusul Brian.Deg!Jantung Alya berdetak cukup cepat, saat matanya saling beradu dengan pria tua, wanita paruh baya, dan seorang pria tampan."Jadi kamu?! Gadis jal*ng yang sudah membuat cucu saya, Brian, melakukan perbuatan hina itu?!" bentak Gufron---Kakek-nya Brian, terkenal dengan sifat tegas, pemarah dan kepintarannya dalam berbisnis.Hati Alya bagaikan teriris pisau, sungguh sakit, dirina dituduh tanpa tau keadaan sebenarnya. Dia sama sekali tidak berniat ingin menggoda Brian, padahal dirinyalah korban dari semua ini.Apa yang terjadi? Bagaimana Kakek Brian tau, kalau Brian melakukan kesalahan yang sulit dimaafkan?Sebelumnya, dikediaman rumah Gufron Mukti Wibowo.Raihan, Ibunya, lalu kedua Kakak perempuannya, mereka tinggal di rumah megah milik Kakek-nya. Hanya Brian yang memilih untuk tinggal sendirian di apartemen, dibandingkan hidup bersama dengan Ibu tirinya, para Kakak-nya, dan Kakek-nya. Ayah-nya sudah lama meninggal.Raihan yang baru saja selesai menelpon dengan Brian, berniat akan pergi, tapi dirinya malah kepergok oleh Kakek-nya.Gufron mendesak Raihan untuk berbicara jujur, walau awalnya Raihan berbohong. Namun, karena desakkan dari Gufron, akhirnya Raihan mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang dialami Brian semalam.Raihan mengatakan kalau Brian dijebak oleh seorang gadis, membuat Brian tidak mampu mengendalikan dirinya, dan akhirnya semua itu terjadi.Padahal semua itu adalah bagian dari rencana Raihan, dia tau Brian tidak akan membiarkan orang yang tidak bersalah, dituduh tanpa sebab. Raihan memang ingin menghacurkan Brian. Jujur, dia merasa iri terhadap Brian, padahal Brian hanya anak dari selingkuhan Ayah-nya, tapi kenapa Brian yang mendapatkan warisan cukup banyak dari Kakek-nya?Kini dia bisa tersenyum puas, menatap Brian yang berada di ambang kehacuran, menurutnya.______"Jadi kamu?! Gadis jal*ng yang membuat cucu saya, Brian, melakukan perbuatan hina itu?!" bentak Gufron yang terlihat begitu marah.Alya hanya terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak berani menjawabnya, bahkan menatap ke arah Gufron, tangannya tidak henti-hentinya memainkan jari-jemarinya, karena rasa takut. Meskipun dia korbannya, tapi dia juga tidak berani membela dirinya."Kamu pasti mau uang, 'kan? Sebutkan saja berapa yang kamu mau. Saya pasti akan kasih berapa yang kamu mau, dengan syarat kamu harus menghilang dari kehidupan cucu saya, Brian," ucap Gufron dengan penuh penekanan.Alya memberanikan dirinya, menatap ke arah Gufron, sudah cukup dirinya direndahkan, dia bukanlah wanita yang bisa dibeli dengan uang, bahkan bukan wanita yang gila harta."Maafkan saya, Tuan. Tidak semuanya bisa dibeli dengan uang. Saya memang miskin, tapi bukan berarti saya tidak punya harga diri. Saya juga tidak tau semua ini akan terjadi, tapi yang jelas di sini saya korbannya," ucap Alya dengan berani, meskipun jantungnya terasa ingin copot, tapi ia tidak boleh terlihat lemah di depan musuhnya."Ayah, lihatlah gadis jal*ng itu. Dia sama sekali tidak memiliki sopan santun," ucap Sinta---Ibunya tirinya Brian, memiliki sifat yang sulit dijelaskan.Gufron yang tersulut emosi, berjalan menghampiri Alya. "Bukankah kau melakukan semua ini demi uang, hah?! Lalu berkata, kau masih memiliki harga diri. Dasar wanita jal*ng!"Plak!Tamparan mendarat mulus di pipi kiri Alya, membuat tubuhnya terduduk di atas lantai, sudut bibirnya mengeluarkan darah."Kakek! Hentikan!" bentak Brian yang sedari tadi hanya diam."Kau baru saja membentakku?" tanya Gufron dengan gelagapan."Iya. Gadis itu sama sekali tidak bersalah. Semua ini salahku, jadi, aku akan menikahinya," jawab Brian dengan tatapan tajamnya."Apa kau bilang? Kau akan menikahinya? Pikirkan, Brian! Kau ini seorang pewaris, jika orang-orang perusahaan tau kau menikahi gadis seperti dia. Apa yang akan mereka katakan? Mau ditaruh di mana wajah Kakek-mu ini?" tanya Gufron dengan nafas turun-naik."Kakek bisa mencoretku dari pewaris. Aku sama sekali tidak membutuhkan itu semua. Bukankah Kakek masih memiliki tiga cucu lainnya, mungkin Kakek bisa menjadikan salah satu dari mereka, menjadi pewaris perusahaan," ujar Brian dengan tersenyum, jelas dia sedang menyindir Raihan."Beraninya kau, Brian!" ucap Gufron sambil memegang tengkuk lehernya yang mendadak berat."Ayah! Kakek!" ucap Sinta dan Raihan secara bersamaan."Mulai hari ini, kamu bukan lagi pewaris dari perusahaan GMW, dan kamu bukan lagi cucu dari Gufron Mukti Wibowo," ucap Gufron dengan penuh penekanan."Baik," jawab Brian dengan tenang."Percayalah, tanpa diriku kau bukan apa-apa. Aku yakin tidak lama lagi, kau akan mengemis-ngemis meminta bantuanku," ucap Gufron dengan tatapan tajamnya.Brian hanya diam, bukan dia takut akan ancaman Kakek-nya, melainkan dia malas berdebat."Dasar anak tidak tau diri. Kau sama saja dengan Ibumu," ujar Sinta dengan tatapan sinisnya."Ayo, Ayah!" ajak Sinta, memapah Gufron berjalan pergi meninggalkan tempat itu."Sudah kuduga, kau tidak akan mengecewakan aku," ucap Raihan dengan menunjukkan sisi dirinya sebenarnya, tersenyum penuh kemenangan. Ternyata perjuangannya untuk menjadi pewaris, tidak sia-sia.Brian memilih untuk diam, membiarkan apa kata Ibu dan Kakak-nya. Selama ini dia juga sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu. Mereka hanya terlihat baik di depannya, karena dia seorang cucu kesayangan, tapi kini tidak lagi.Namun, Brian sama sekali tidak merasa sedih. Meskipun dia bukan lagi seorang pewaris, tapi dia akan memulai dari awal, membuktikan dirinya bisa tanpa mereka.Brian menghampiri Alya yang masih terduduk lemas di atas lantai. Brian memapah Alya berjalan menuju sofa, dia tau Alya cukup syok setelah kejadian baru saja.Brian berjalan pergi meninggalkan Alya di sofa, kembali menghampiri Alya dengan kotak P3K. Brian mengeluarkan kapas, menyirami dengan sedikit air alkohol, lalu dengan perlahan membersihkan luka yang berada di sudut bibir Alya.Alya sama sekali tidak meringis kesakitan. Jujur, kejadian tadi membuat dia cukup syok."Maafkan aku. Aku tau kamu cukup syok dengan kejadian tadi, tapi percayalah, aku akan tetap bertanggung jawab apapun yang terjadi," ucap Brian, memecah kesunyian antara mereka berdua."Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Alya, menatap bola coklat milik Brian."Melakukan apa?" jawab Brian balik bertanya."Karena diriku, kamu harus kehilangan sesuatu yang berharga. Kamu tidak lagi seorang pewaris, kamu juga dibuang oleh keluargamu. Kenapa kamu mempertahankan aku? Gadis miskin, yang tidak tau diri," jelas Alya berterus terang, dia sama sekali tidak suka berbasa-basi dalam berkata."Mereka bukan keluargaku. Aku sama sekali tidak merasa sedih, melainkan aku merasa sangat bahagia. Kakek menyayangiku, karena aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh cucu-cucunya yang lain," ucap Brian dengan tersenyum."Apa itu?" tanya Alya, penasaran."Kecerdasan," jawab Brian sambil mengetuk kepalanya, dengan jari telunjuknya."Alasan Kakek-ku bersikeras ingin menjadikan aku pewarisnya, karena ia yakin aku mampu membuat perusahaannya maju," lanjut Brian dengan percaya diri."Oh," balas Alya mengaguk-angguk."Kamu tidak percaya? Mungkin saat ini kamu fikir aku seorang pria miskin, tapi kamu jangan khawatir. Aku masih memiliki sedikit saham di suatu tempat," ucap Brian dengan sombongnya."Aku sama sekali tidak menginginkan hartamu. Kamu sudah mau bertanggung jawab, itu sudah cukup bagiku," ujar Alya disertai senyuman.Alya sebenarnya gadis ceria, hanya saja dia akan terlihat pendiam jika di dekat orang baru. Akan tetapi kalau sudah akrab, maka akan muncul sikap yang tidak terduga.
MY BABY CEO
Hari ini Millie secara khusus memasak berbagai macam hidangan yang akan ia bawa ke kantor Rey sang pacar pertama sekaligus pria yang merenggut keperawanannya.Millie Ayuniar, seorang gadis berusia 18 tahun yang saat ini tengah duduk dibangku SMA, gadis polos bertubuh mungil dan manis itu adalah pacar Tuan Muda Rey, Reyhan Alvarez yang saat ini menjabat sebagai CEO di Perusahaan Alverez Corporation.Keduanya bertemu tanpa sengaja disebuah Cafe, saat itu Millie tengah mengerjakan tugasnya di Cafe karena ia harus menghemat kuota dan uang yang tersisa dari mendiang orangtua Millie.Ya, Millie seorang yatim piatu tanpa sanak saudara yang mendapatkan beasiswa disekolah ternama, saat ini Millie tinggal menyewa disebuah Apartement sederhana.Saat itu ketika Millie menunduk membenarkan tali sepatunya, Rey yang sedang bercanda dengan temannya tanpa sengaja menabrak Millie dan menjatuhkan gadis itu ke lantai, awal mula pertemuan mereka yang sebentar lalu hubungan keduanya terjalin begitu saja sampai di titik Millie merelakan keperawanannya untuk Rey yang telah berjanji tanggungjawab untuknya.Sayangnya, sore ini Millie mendapati kenyataan yang begitu menyakitkan.Saat itu Millie yang akan memasuki ruangan Rey terhenti karena mendengar percakapan Rey dan para sahabatnya."Shit, lo menang taruhan lagi Rey!" ucap sebuah suara yang dikenali Millie, salah satu sahabat Rey bernama Arthur."Nih 10 juta, btw kapan lo putusin Millie?" ucap pria lainnya bernama Bayu yang juga sahabat Rey."Tapi serius lo nggak punya perasaan sedikitpun buat Millie?" tanya Jerry."Yah, gue nggak punya perasaan buat Millie lagian gue udah punya Lussie tipe gue!"jawab sebuah suara yang sangat Millie kenali, suara yang tak lain adalah pacarnya Rey.Diluar pintu Dimas menatap Millie prihatin, gadis polos yang dijadikan taruhan oleh bos sekaligus sahabatnya itu sangat menyedihkan saat ini meskipun ia tersenyum tapi Dimas melihat jejak air mata yang dengan cepat dihapus Millie."Jadi kapan lo putusin?" tanya Bayu."Secepatnya, Millie terlalu polos buat gue meskipun udah beberapa kali gue tidurin, cuman Lussie yang bisa muasin gue!" jawab Rey mantap."Brengsek lo, anak orang udah diperawanin malah ditinggal kasian kali, gue nggak ikutan taruhan tuh duit 10 juta gue kasih doang tapi kalo ada apa-apa sama Millie gue nggak nggak tanggung resikonya, sialan gue nggak tega sama Millie!" ucap Jerry bersalah."Pengecut lo, lagian Rey sendiri yang bilang dia nggak ada perasaan sama Mil--" ucapan Arthur terpotong karena suara ribut didepan pintu Rey.Perasaan Jerry semakin gelisah entah karena apa namun tak lama pintu terbuka memperlihatkan seorang gadis mungil yang menenteng jaket hitam yang sudah pasti jaket milik Rey.Mata Rey dan Jerry melotot gusar menatap Millie dan Dimas yang berada tepat dibelakang gadis mungil itu, hanya Arthur dan Bayu yang terlihat santai."Yo Millie, lo ngapain kesini?" tanya Bayu tanpa bersalah."I-itu Millie mau ngembaliin jaketnya Kak Rey," ucap suara Millie bergetar menahan tangis yang setiap saat bisa tumpah kapan saja."O-oh jaket ya? k-kamu bawa aja aku nggak perly jaketnya," ucap Rey mendatangi Millie yang terpaku didepan pintunya, bermaksud meraih tangan mungil gadis itu namun Millie justru melangkah mundur."Kak Rey jaketnya Millie letakin disini, oh iya makasih ya kak jaketnya," ucap Millie berbalik.Hanya beberapa langkah, Millie kembali membalikkan tubuh mungilnya mengucapkan kata-kata yang menusuk perasaan Rey dan sahabat-sahabatnya."Oh iya Kak Rey, Millie terima kok Kak Rey putusin Millie lagipula hubungan kita cuman sekedar taruhan hehe dan semoga Kak Rey langgeng ya sama Lussie!" ucap Millie lirih namun terdengar ditelinga kelima pria itu.'Deg' Hati Rey berdebar mendengar ucapan Millie, perasaan Rey sangat bersalah ternyata gadis mungil itu sudah mendengar percakapan mereka sedari awal!Dimas tertegun, Jerry mengumpat bahkan Arthur dan Bayu sedikit merasa bersalah karena menjadikan gadis polos sebagai bahan taruhan mereka!Kelimanya terdiam sampai punggung bergetar gadis itu menghilang dari pandangan mereka."Se-sejak kapan Millie disini?" tanya Rey gusar menghadap ke arah Dimas."Sejak awal lo pada bicara dia udah disini bego!" ucap Dimas mengangkat bahunya acuh."Shit, gue ngerasa brengsek banget, lo pada liat nggak Millie tadi gimana?!!" kesal Jerry."Woy Rey, lo nggak susulin Millie nggak takut terjadi apa-apa sama Millie?" tanya Dimas prihatin.Reyhan menggeleng sebagai respon."Nggak, gue udah punya Lussie. Lebih baik kan dia tau? jadi gue nggak susah mikirin alasan buat mutusin dia haha,""Yah terserah lo, gue udah ingetin!" ucap Dimas kecewa pada sahabatnya yang dengan mudah mempermainkan seorang perempuan meski merekapun sama tapi Millie hanya gadis polos yang kesepian!"Oh iya tuh paper bag dari Millie, dia jatuhin tadi kali aja lo mau ngeliat isinya!" ucap Dimas kembali ke mejanya.Reyhan menatap paper bag berukuran sedang yang tergeletak dilantai tanpa memperdulikan paper bag itu justru Rey kembali masuk ke kantornya dengan perasaan campur aduk.Jerry mengambil paper bag Millie menyerahkan pada Dimas untuk disimpan.Bayu, Arthur dan Jerry saling berpandangan pasrah, Rey terlalu kejam untuk seorang gadis polos seperti Millie miski mereka juga brengsek karena merekalah taruhan sialan itu terjadi.Di sebuah Apartement sederhana, Millie menangis sesenggukan mengetahui kebenaran yang terjadi, dirinya hanya bahan taruhan yang dipermainkan oleh Rey dan sahabat-sahabatnya.Seharusnya Millie sadar, Rey adalah pria tampan, Pewaris Alvarez Corp perusahaan raksasa kelas atas dan juga idola banyak wanita sedangkan dirinya hanyalah seorang gadis kampung yang tidak memiliki orang tua dan miskin, sudah beruntung bagi Millie bisa menikmati hubungan mereka meski hanya 1 bulan!Di tangannya sebuah pena dan selembar kertas diletakkan dimeja, Millie mengemas beberapa pakaiannya kedalam sebuah tas berukuran sedang, telepon Millie dimatikan tepatnya kartunya dipatahkan.Millie tersenyum sedih menatap kearah benda berukuran kecil ditangannya, benda yang sama yang seharusnya ia hadiahkan untuk Rey namun ternyata pria itu hanya bermain dengan hidupnya!Miris, Millie merasa hidupnya tidak adil namun demi dia Millie harus bertahan.Tangan mungilnya menyeret koper membawa keluar apartemen, sebuah taksi menunggu didepan gedung yang mengantarkan Millie kembali ke desanya.Tanpa memperdulikan seluruh orang di ruangan, Reyhan menarik Millie kedalam pelukannya dan mengecup bibir yang sudah menjadi candu itu berkali-kali didepan Tuan Tua, Nyonya Tua, Ririn dan Reza yang mendengus menatap perilaku tak tau malu Reyhan, namun mereka memahami kebahagiaan Reyhan dan memberikan ruang untuk keduanya bersama."Kak Rey!! apa-apaan sih!! Masa cium-cium Millie terus, mana dihadapan Mami, Papi, Oma dan Opa, Millie kan jadi malu!!!" kesal Millie berusaha lepas dari pelukan hangat suaminya itu, didepan para tetua beraninya Reyhan berperilaku terbuka keluh batin Millie.Memasuki kandungan di 7 bulan terlihat jelas berat badan Millie mulai bertambah, pipinya yang tirus, sekarang terlihat menggembung seperti kelinci kecil yang imut, bibir merahnya mencebik kesal tapi justru semakin lucu, kulitnya seputih salju dan lembut, apalagi aura ibu hamilnya memang tak diragukan membuat seluruh pribadi Millie menjadi begitu lembut, ramah dan hangat, siapapun yang berada didekatnya bisa merasakan aura positif."Maaf, maaf, Kakak terlalu bahagia sayang, yah, ternyata Kakak sangat hebat sekali mencetak goal 3 langsung keluarnya, hahaha..." ucap Reyhan sombong sambil tertawa puas.Millie merasa wajah Reyhan sepertinya lebih baik dikarungi, lihat alisnya yang terangkat, bibir melengkung keatas, tatapan matanya sangat sok, benar-benar minta ditabok keluh Millie dalam hati."Huh, tau ah, Kak Rey emang nyebelin!" ucap Millie merajuk yang justru sangat sangat menggemaskan dimata Reyhan.Reyhan menatap Millie lekat, kedua matanya memancar penuh cinta menarik Millie kepangkuannya dan mencium wanita itu dengan lembut namun menuntut.Millie juga merindukan Reyhan, keduanya sama-sama saling merindukan sehingga Millie tak segan membalas cium*n sang suami itu.Setelah belasan menit, cium*n keduanya terlepas. Reyhan menatap bibir wanitanya yang memerah, basah dan sedikit bengkak akibat ulahnya namun dimatanya justru semakin menggoda dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Millie lagi dan lagi.Keduanya terbakar gairah, entah sejak kapan tangan Reyhan sudah menelusup kedalam kemeja yang di kenakan Millie menangkup, membelai dan merem*s gunduk*k yang saat ini menjadi semakin berisi dari terakhir kali dia rasakan, yah terasa lembut dan kenyal batin Reyhan puas."Enghhh.. Kakhhh aaahhh stopphh inih dirumah sakithhh uhhh..." desah Millie yang membuat Reyhan semakin terbakar gairah.Reyhan menekan remote, mengunci pintu kamar secepat kilat, karena ruang mereka VIP jadi jarak antara ruang satu dan lainnya cukup jauh.Reyhan terus mencium istri mungilnya yang sekarang semakin seksi, membuka kancing kemeja Millie satu persatu hingga saat ini keduanya tanpa memakai apapun."Kakhhh ahhh.." desah Millie sampai puncak karena permainan tangan Reyhan pada inti miliknya, tubuh mungil itu terangkat dan bergetar dan pada bagian tertentu terasa sangat berair.Reyhan tersenyum mengangkat Millie lebih dekat untuk menyatukan keduanya, beberapa saat suara desahan sahut menyahut di ruangan Reyhan untungnya Keluarga Alvarez pulang setelah memesankan Millie seblak keinginanya.Reyhan juga tahu batasannya, dia tidak bermain terlalu lama karena istrinya sedang hamil besar cukup beberapa kali Reyhan sudah merasa puas meski dia masih merasa kurang tapi demi kesehatan istri dan calon babynya dia tidak boleh egois.Sedangkan Millie, tentu saja terlalu lelah untuk memperdulikan keadaannya, dia tertidur setelah Reyhan membersihkan tubuh keduanya dan ikut tertidur juga selama 1 jam.Pesanan Millie pun baru saja datang karena mengantri namun Millie masih tertidur pulas akibat permainan panas mereka tadi.Sebenarnya Reyhan merasa bersalah karena melakukan hal itu di siang bolong namun nafsunya tidak bisa ditekan dan harus segera dilampiaskan.Pintu dibuka, kurir yang mengantar meletakkan seblak di atas meja dengan malu karena menatap Reyhan yang saat ini memeluk Millie dipelukannya, Kurir malu karena dia masih jomblo di umurnya yang menginjak 40 tahun sedangkan pasangan muda mudi didepannya sangat romantis, si kurir sangat iri tapi apalah daya untuk makan saja dia hanya bisa mencukupi dirinya sendiri batin si kurir.Tentunya karna Reyhan sangat bahagia dan memang orangnya dermawan, pesanan sang istri sudah dibayar tapi dia tetap memberikan tip 1 juta untuk si kurir yang menerima sangat senang, sungguh dia tidak jadi iri justru bersyukur menjadi kurir yang mengantarkan pesanan ibu hamil yang kaya raya, yang dimaksud adalah Millie.Hidung Millie sangat sensitif mencium aroma seblak yang sangat dia rindukan selama di Jepang, Millie sangat menyukai seblak dan makanan pedas lainnya."Ennnggghh.." Millie menggerakan tubuhnya dengan susah payah, pinggangnya terasa encok sambim menatap ruangan dan menemukan paket seblak pesanannya."Kakak, Millie pengen makan, ambilin seblaknya!" ucap Millie memerintah Reyhan, dia sangat malas untuk bergerak terlebih masih sedikit lelah karena permainan suami kurang ajarnya itu.Reyhan tersenyum bergegas mengambil mangkuk dan menuang seblak pesanan istri tercintanya itu.Reyhan mencicipi seblaknya sebelum memberikan pada Millie, takut jika ada racun atau terlalu pedas untungnya seblak yang dipesan sang istri tidak terlalu pedas jadi tidak apa-apa untuk di makan."Kak Rey, ambilin minum juga!" perintah Millie cerewet yang diangguki Reyhan senang hati."Suapin." ucap Millie manja."Iya sayang, aaaa.." ucap Reyhan mengarahkan sendoknya ke mulut Millie.Millie makan dengan sangat lahap, sesekali Reyhan juga menyuap seblak kemulutnya sendiri hingga seblak yang mereka makan tandas tak bersisa namun istrinya masih lapar dan menginginkan martabak telor yang langsung dituruti oleh Reyhan.Lagi-lagi Reyhan memberikan 1 juta untuk tip kurir yang mengantar pesanan, Millie senang karena Reyhan tidak pelit dan mau berbagi.Keduanya tertawa bahagia sambil sesekali menikmati martabak telor, hanya Millie yang menikmati sedangkan Reyhan dipaksa karena sebenarnya Reyhan sudah kenyang dan tidak terlalu suka Martabak Telor yang berminyak.Namun apalah daya Reyhan dihadapan perintah Millie, sang istri, dia hanya bisa pasrah memakan martabak telor dan berjanji akan berolahraga nanti untuk menjaga perut kotak-kotaknya.
Dark Souls
Malam ini cuaca tidak begitu bersahabat. Suara guntur yang terus-menerus bergemuruh diiringi tiupan angin kencang membuat siapapun akan merasa tidak nyaman, terlebih aku. Jadi, kuputuskan untuk memesan segelas kopi hangat untuk menghangatkan diriku dari dinginnya cuaca malam ini."Ini nona... ada yang bisa kami bantu lagi?" kata pelayan kafe."Oh... tidak... terima kasih... " ujar ku sambil memberikan sejumlah uang ke pelayan kafe tersebut. Lalu pelayan kafe itu berlalu...Aku memeriksa isi tas ku dan mengambil sebuah boneka usang dari dalamnya. Ku ingat kejadian tadi sore ketika aku pulang dan menemukan boneka usang ini di bawah pohon, aku memilih untuk membawanya pulang karena kurasa boneka ini tidak terlalu buruk, hanya terdapat beberapa noda merah yang tidak ku ketahui asalnya. Aku menyeruput kopi hangat itu dan menatap boneka itu lagi."Pemilik mu pasti sangat ceroboh dengan meninggalkan mu di bawah pohon itu," kataku sambil membersihkan noda di boneka itu.Aku rasa tidak ada salahnya membawa boneka itu pulang dan membersihkannya... namun aku salah.~~~"Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jiwamu... " Teriak seorang gadis yang tidak kuketahui dari mana asalnya.Aku langsung terbangun dari tidur ku dan memeriksa ke sekeliling kamar untuk mencari asal suara itu. Keringat membasuhi tubuhku, detak jantung ku semakin tidak beraturan."Kurasa hanya mimpi... " kataku mencoba menenangkan diri.Aku pun mencoba untuk kembali tidur tanpa menghiraukan mimpi yang mengganggu ku tadi, sembari memeluk boneka tadi yang sebelumnya sudah ku cuci."Good night Teddy," kataku sebelum akhirnya tenggelam dalam tidur ku.~~~"Creekk...Crreeekkk"Aku terbangun di pagi hari dan mendengar suara seperti suara cakaran di dinding kamar ku. Aku lalu bangkit dari tempat tidur dan memeriksa setiap dinding, lalu kutemukan bekas cakaran dalam jumlah banyak di diniding kamar ku."Siapa yang melakukannya?" tanyaku dalam hati sambil meraba permukaan dinding yang terdapat bekas cakaran itu."Kurasa ada seseorang yang menyelinap masuk ke kamar ku tadi... ini tak bisa dibiarkan, aku harus lapor polisi." kataku dalam hati.~~~"Kami sudah memeriksa seluruh rumah Anda, dan tidak ada seorang pun di rumah anda nyonya... mungkin saja kau yang melakukan nya tanpa kau sadari," kata pak polisi kepadaku."Tidak mungkin, saya tidak pernah melakukannya. Saya ingat sekali tadi pagi saya mendengar suara itu dan saya langsung bangun untuk memeriksanya. Jadi tidak mungkin saya yang melakukannya." bantah ku."Tapi, kami sudah mencari disetiap sudut rumah Anda, tetap tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan,""Kalau begitu apa yang harus saya lakukan?""Pergi ke psikiater,""Tapi, saya tidak gila!""Saya rasa anda harus memeriksanya terlebih dahulu dan jika ada masalah hubungi kami lagi... ,"Polisi itu pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi. Aku hanya bisa duduk termenung menatap Teddy yang duduk manis di atas lemari, aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan. Kurasa polisi itu benar, tidak ada salahnya aku mencoba.~~~"Dari hasil test, kau dinyatakan tidak mengalami gangguan apa pun. Hanya saja kau mungkin terlalu lelah, cobalah untuk meluangkan waktumu untuk beristirahat dengan begitu tubuhmu akan merasa lebih baik... ""Ya... baik... aku akan melakukannya... terima kasih...""Tak masalah... " ujarnya sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya.Aku pun melangkah keluar dan langsung memanggil taksi yang lewat. Aku segera membuka pintu dan langsung duduk didalamnya sambil menyebutkan tujuan. Taksi pun melaju.~~~Kini... hanya ada kesunyian di rumahku. Hanya aku yang sedang duduk di kursi sambil termenung dan Teddy yang berada di lantai."oh... Teddy, sejak kapan kau terjatuh...??" ujar ku seraya mengangkat Teddy dari lantai Kurasa aku tidak sengaja menjatuhkannya tadi.Aku tidak peduli lagi dengan gadis kecil yang ada dalam mimpiku tadi malam dan juga bekas cakaran yang ada di dinding itu... aku sudah tidak peduli lagi... mungkin benar kata psikiater, aku kurang istirahat. Sebaiknya aku membuat teh dahulu untuk menenangkan pikiran ku.~~~"Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jiwamu, ""AAAAA....!!!!..." Aku tersontak kaget dari tidur ku. Kurasakan tubuh yang gemetar dan sudah di penuhi keringat. Kulihat jam menunjukan jam 2 malam. Aku rasa aku bermimpi itu lagi, memang sepertinya ada yang tidak beres."Tik, tik, tik,"Suara tetes air terdengar menggema, tak salah lagi suara itu berasal dari kamar mandi. Kuputuskan untuk memeriksanya.Mataku terbelalak kaget ketika melihat Teddy di lantai kamar mandi dengan sebuah pisau di dekatnya. Dengan perlahan ku dekati Teddy dan langsung mengambilnya... kurasa, ada yang tidak beres dengan boneka ini, aku harus membuangnya!."Nyyiiiittttreteteteetet.."Bunyi decit pintu menambah suasana tegang di rumahku. Tanpa pikir panjang kubuang Teddy, tidak, maksudku boneka terkutuk itu di tempat sampah dan segera ku tutup pintu. Lalu, segera ku pergi ke ruang tamu untuk menenangkan diri."Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jiwamu, " Suara seorang gadis kecil mengagetkan ku."Siapa itu..!!! Keluar kau..!!! Apa yang kau inginkan dariku...!!" Teriakku sekeras-kerasnya."Jiwamu... Jiwamu... Jiwamu... Jiwamu... ""Tidakk...!!! hentikan..!!! jangan ganggu aku..!!!" Teriakku diiringi isakan tangis."tokk... tok... tok...". Suara ketukan pintu terdengar lantang... semakin lama semakin keras diiringi suara cakaran,dengan gemetar dan ragu ku langkahkan kaki perlahan menuju pintu. Pintupun terbuka. Dan betapa kagetnya aku ketika melihat sesosok anak kecil yang berlumuran darah sedang menggendong boneka terkutuk itu. Jantungku berdetak sangat cepat, gemetar yang hebat kurasakan disekujur tubuhku, kakiku terlalu lemas untuk melangkah."AAAAAa...!!!!" Aku berlari secepat mungkin menuju kamar walaupun berulang kali terjatuh tapi aku tetap berlari menjauhi gadis itu, karena kupikir itu jalan satu-satunya.Sesampainya di kamar aku terkejut melihat kondisi kamar yang sudah berantakan, banyak noda darah dimana-mana, terdapat banyak coretan yang bertuliskan "I WANT YOUR SOUL" dengan noda darah. Tiba-tiba saja kurasakan nyeri yang sangat hebat di perutku, yang ternyata sudah tertancap pisau, aku langsung berbalik dan terjatuh melihat betapa banyaknya arwah-arwah yang mengelilingi ku dengan kondisi mengenaskan."Jiwamu... jiwamu... jiwamu... ""Tidakkk... Tidakkk...!!!" Teriakku sambil merangkak menjauh, tapi tetap saja itu tidak berhasil. Sambil memegang perut ku yang sudah tertusuk aku pun bangkit dan berusaha kabur. Namun itu hanya sia-sia, mereka terus menghantui ku sampai aku sudah berbaring tak berdaya di toilet dengan tubuh berlumuran darah. Aku menyesal telah mengambil dan merawat boneka itu..."Kumohon jangan dekati aku... " ujarku pelan sebelum akhirnya seorang gadis kecil keluar dari kerumunan arwah-arwah mengerikan itu dan berkata..."Kami hanya mau jiwa... Jiwa yang kelam... Penuh penderitaan. Dan, berikan itu untuk kami!!" Ujarnya sebelum akhirnya menusuk ku sampai mati, dan mengambil jiwaku yang kelam.~~~~~~"Boneka ini bagus... Aku akan bawa pulang ini! " kata seorang gadis kecil sambil mengangkat boneka Teddy Bear yang Ia temui di taman dan berjalan pergi dengan hati gembira.
Keresahan Marji dan Ramih
Andi dan mobil sportnya segera berlalu. Pak Ji atau Marji memandanginya hingga hilang di tikungan jalan yang menukik ke bawah. Sebenarnya tadi Andi sempat juga menawarinya tumpangan pulang, tapi ia menolak, karena berniat untuk menengok Mak Ramih sebentar.Saat Andi benar-benar telah pergi, Marji menoleh ke belakang. Rupanya Mak Ramih sudah beringsut masuk. Rahang wajah Marji mengeras, napasnya tersengal sesaat dan matanya berubah menyala seperti marah. Sambil mengepal tangan, Ia pun melangkah menghampiri rumah Mak Ramih.Langsung saja Ia masuk ke dalam, tampak Mak Ramih duduk di dekat jendela sambil memeluk tongkatnya ke dada. Seketika rasa marah di hati Marji sirna melihat wanita tua itu seolah menyiratkan tatapan sedih. Sepertinya Ia paham sekali Marji, ponakannya yang baik itu akan memarahinya.'Siapa orang itu, Ji?' tanya Mak Ramih.'Cucu Pak Darman ... ' jawab Marji. Seketika Mak Ramih tercekat mendengar jawaban itu, 'Hah...!? Cucu Pak Darman? Anak lelaki yang dulu sering diajaknya ke sini ya?' ulangnya.'Iya! Rupanya Mamak masih ingat dia...'Ramih terdiam sebentar, bayangan masa lalu terpampang jelas di ingatannya ...Tampak seorang bocah lelaki bergayut manja pada sosok Pak Darman, lelaki paruh baya bertubuh gempal, dengan rambut sedikit botak.Kakek dan cucu itu bermain dengan gembira di teras pondok, sementara Ramih muda sepintas melihatnya dari halaman. Ia sibuk menjemur pakaian.Tak lama terdengar suara wanita memanggilnya dari dalam pondok, 'Ramiiiiiih...! Apa cucianmu sudah selesai!? Tolong kau angkat sampah ini keluar!'Ramih muda tersentak, Pak Darman terlihat resah memperhatikannya, 'Dipanggil Ibuk, Ramih!' katanya. Pak Darman memandangnya penuh arti di sela-sela bersantai dengan cucunya.Ramih mengangguk, dan bergegas berjalan ke tangga belakang. Ia agak kagok, malu pada Pak Darman, karena pakaian yang melekat di tubuhnya cukup basah, sehabis mencuci di kali.'Banyak lalat! Tolong bawa keluar sampah ini Ramih, nanti biar Marji yang membuangnya!' seorang wanita paruh baya menghadangnya begitu langka Ramih muda mencapai dapur.Tak lama terlihat Marji muda datang ke sana. Keduanya lalu sibuk mengurus sampah itu.Sampai di situ. Sampai di situ saja pikiran Ramih melanglang buana ke masa lalu, sebab suara Marji tetiba mengagetkannya. 'Kenapa, Mak?''Anak itu. Mau apa dia ke sini?" tanya Ramih kemudian. Penuh selidik.'Mau nginap beberapa hari di pondok sebelah. Dia setres di kota dan ingin menenangkan diri. Makanya Mamak jangan bertingkah. Tidak perlu seperti tadi, memandangnya lama seperti itu tanpa menyapa ... dia bisa ketakutan' tukas Marji. Mak Ramih terdiam mendengar itu. Matanya kembali memandang keluar.'Dia tak akan lama di sini kan?' tanya Ramih seolah mencemaskan sesuatu. Sampai di titik ini, Marji pun tampak ikut cemas.'Berapa lama?' kembali terdengar suara parau Ramih memecah kesunyian. Marji tetap enggan menjawab, namun kemudian lirih berkata, 'Itu juga yang aku cemaskan, Mak! Tapi katanya tak akan lama, sampai Ia merasa lebih baik saja.'Ramih menarik napas berat. Tatapannya kembali beralih ke luar jendela. Karena paham dengan apa yang dipikirkan bibiknya itu, maka Marji pun berkata pelan, 'Apakah iblis itu akan segera datang, Mak...?' nada suara Marji terasa sekali mengandung ketakutan.Ramih tak menjawab. Tetiba angin berhembus kuat dari jendela, ujung rambut putih Ramih bergerak ritmis sejenak mengikuti liukan angin itu. Dan di halaman, dedaunan kering jatuh menggelepar ke tanah.Fragmen singkat itu seolah menghadirkan suasana mencekam. Tampak kedua tangan keriput Ramih mengcengkeram tongkat kayu di dadanya. Sorot matanya kosong, ada kehampaan di sana.'Mak...!?' tegur Marji penasaran.'Aku tak tahu, Marji...' akhirnya kembali dengan kesadaran penuh, Ramih menjawabnya. 'Aku semakin tua dan tak mampu mengingat lagi semua hal, termasuk 'berhitung'' ...' lanjutnya.'Tapi Mamak harus tetap berusaha mengingat dan menghitung hal itu dengan baik! Jika tidak, ...' suara Pak Ji lantas hilang. Lidahnya kelu. Kedua matanya terlihat nanar.'Rasanya belum, Ji.' sahut Ramih kemudian. 'Asalkan anak muda itu tak tinggal lama, aku pikir aman saja! Atau kau punya ide lain, untuk membawa kami menyingkir sebentar, selama anak muda itu di sini?''Kalian mau kubawa ke mana, Mak? Ke tengah hutan untuk diterkam singa!?' keluh Marji. Mak Ramih terkejut mendengar itu.Marji menghempaskan pantatnyadi sudut ruangan, lalu merebahkan tubuhnya di atas tikar pandan. Matanya dipejamkan, rasanya Ia ingin tidur sejenak. Pikirannya kalut sekali.'Bagaimana baiknya ya, Mak!? Jika kalian kubawa ke rumahku, istri dan anak-anakku ketakutan pada kalian. Lagi pula, jika ada warga yang melihat kalian kusembunyikan di rumahku, kami bisa diusir! Sedang jika kalian kutaruh di atas bukit ini, masih ada juga warga yang tak setuju...' kata Marji kemudian. 'Aku bingung, Mak! Pusing!'Maafkan kami, Marji. Kami telah membuat hidupmu susah. Terutama aku ...,' air mata Ramih merembes sedikit dari mata tuanya. Terutama aku ...! Akulah penyebab semua ini.''Aku si pendosa! aku mencelakai semua anak cucuku! Hiks, ya Tuhan, mengapa tidak Kau ambil saja nyawaku ini...!?' sesal Ramih sambil menangis. Sangat emosional, hingga dada Marji terasa ikut sesak juga.'Sudahlah, Mak! Yang penting Mamak hitung lagi dengan baik penanggalan itu. Jangan sampai gegabah!''Ya, aku akan mengerahkan ingatanku dengan baik. Aku akan mengingat dan menghitungnya lagi, ' tekad Ramih setelah menyeka air matanya.Marji menarik napas lega. 'Baiklah, Mak! Ini sudah sore, istriku pasti mencariku. Aku pulang dulu ya...,' katanya. Ia lalu bangkit dan bergegas.'Oh, iya...! Rampe di mana, Mak?' tanyanya sebelum pergi.'Di kamar ...' jawab Ramih. 'Tolong kau lepas rantainya, mungkin setannya sudah pergi. Tentu raganya sangat lemah. Aku enggan melepasnya tadi karena Ia masih terus berteriak. Tolong, periksalah Marji!' tambah wanita tua itu.Seketika Marji teringat sesuatu, oh iya tadi malam bulan bersinar penuh. Ia lupa menengok mereka. Setiap sehari sebelum purnama, Rampe harus diikat dengan rantai besi.Marji lalu melangkah ke sebuah bilik kecil. Di dalamnya tampak seorang gadis muda, dengan kaki dan tangan terikat rantai besi. Rambut panjangnya kotor dan berantakan, matanya menatap marah pada Marji, pamannya. Terdengar suaranya menggeram seperti suara harimau. Marji balas memandangnya.Lelaki tua itu lalu mendekat dan menjambak rambut sang gadis, 'Pergi kau, Iblis! Tubuh ini sudah terlalu lemah kau tumpangi sejak semalam!' ' hardiknya. Bibirnya lalu komat-kamit merapal sesuatu. Mungkin doa atau mantra.Yang terjadi kemudian, gadis itu meronta, seperti binatang liar yang terjebak perangkap, lalu jatuh terkulai. Marji menarik napas lega. Sekarang gadis itu sudah tenang. Langsung saja Marji menggugahnya, 'Rampe ... bangun, sayang! Ini ada paman. Bangun, nak! Bangun ....!' pintanya.Surampe membuka matanya. Sesaat Ia terkesiap, menyadari dirinya kembali ke keadaan normal. Wajah gadis itu sangat bening, matanya indah membulat seperti purnama.'Iblisnya sudah pergi..., pulanglah Marji! Biarlah aku yang memberinya makan!' Mendadak Ramih sudah berdiri di pintu kamar sambil memegang sepiring makanan. Marji membalikkan badannya lalu pergi.
Pondok Yang Tak Terawat
Perjalanan tertatih-tatih ditempuh mobil sport Andi dengan kokohnya. Kini keempat bannya telah berwarna coklat keseluruhan. Andi dan danPak Ji sedikit terguncang-guncang di dalamnya. Ya, jalan non aspal berlumpur sehabis hujan. becek parah! Sejurus kemudian terlihat ada perkampungan di sisi jalan.'Nah! Itu rumah saya, terlihat atapnya dari sini!' seru Pak Ji. 'Jika sudi, anak boleh mampir atau menginap,' lanjutnya.'Ya, nanti saya coba ke sana, sekaligus mengantar bapak pulang!' Kata Andi.Diam-diam Andi merasa menyukai keadaan desa tersebut. Rapi, asri dan bersih. 'Damai sekali ya rasanya?' Komentar Andi. Tapi Ia merasa heran, mengapa tak banyak warga sekitar yang tampak lalu lalang di sana.'Ini siang hari, nak! Banyak warga yang kelelahan dari kebun. Mereka sedang istirahat. Sore, baru agak ramai. Tapi jumlah warga di sini memang semakin sedikit, banyak yang pindah ke kota sekarang. Mungkin hanya ada tiga puluh keluarga saja yang menetap di sini, itu pun sudah pada tua seperti saya' jelas Pak Ji.'Jadi tak ada gadis cantik yang bisa dirayu di sini, Pak?' Canda Andi.Pak Ji tak membalas candaan Andi dan malah tertawa terbahak-bahak. Sekarang dia paham bahwa Andi adalah seorang anak muda yang ramah dan cukup humoris. Dia menyukainya.'Belok kiri...! Nah ... itu pondoknya!' Tunjuk Pak Ji. Ya salaaam, akhirnya mereka sampai juga.Andi memarkir mobilnya di dekat rimbunan pohon bambu. Sambil memutar kemudi mobil, matanya lekat mengamati pondok kecil diarea itu. Ingatannya mendadak kembali ke masa lalu.Dulu Ia dan kakeknya pernahduduk bersama di terasnya. Adajuga neneknya yang wara-wiri mengantar camilan.PRAK! Ditutupnya pintu mobil, lalu berjalan ke arah pondok. Pak Ji sudah lebih dulu di sana, menyingkirkan dedaunan kering di tangga.Amazing! Andi takjub memandang pondok mungil itu. Ini pertama kalinya Ia ke sini lagi setelah umurnya dewasa.'Benar kata Mama, kayunya kuat sekali!' puji Andi. Pak Ji tersenyum kecil menanggapinya.Semakin dekat, Andi menginjak tanjakan tangga lalu menjejak kakidi teras. Pak Ji masih saja sibuk menyingkirkan daun-daun kering yang diterbangkan angin ke teras.Andi mengeluarkan kunci darisaku celananya, lalu membukapintu rumah. Ketika melangkah masuk, seketika serangkaian jaring laba-laba mencaplok wajahnya.'ADUH...! Kaget saya!' Keluhnyasambil menyingkirkan jejaring itu. Pemandangan debu bagaikan di area padang pasir pun tergelar di depannya. Spontan Ia mencari masker di saku kemeja dan lalu memasangnya.' Hasyi! Rumah ini sungguh kotor!' Andi sampai bersin dibuatnya. Ia bersungut-sungut karena sebenarnya Ia punya alergi berat terhadap debu.Anak muda itu lalu kembali ke teras.'Tolong bapak bersihkan, ya nanti!' katanya pada Pak Ji.'Saya mau kembali ke kota sebentar, mengambil beberapa perlengkapan yang tak ada di sini. Saya tertarik menginap di sini beberapa hari.'ujar Andi.Pak Ji terbelalak memandangnya. Andi bisa menangkap keresahannya, 'Loh..., kenapa!? Kenapa Pak Ji seperti tak suka, saya nginap...!?' sergapnya.'Ah, tidak apa-apa, nak!' Saya hanya kaget, karena saya pikir tadi anak sekedar datang saja' jelas Pak Ji.'Awalnya memang begitu, tapi saya melihat tempat ini cocok buat saya untuk menyepi sementara waktu. Hhhh , saya sedang punya masalahdi kota, Pak. Ada seseorang yang harus saya hindari' keluh Andi.'Sampai kapan?' tanya Pak Ji.'Ya, secukupnya!' jawab Andi.Lagi-lagi Ia merasakan gelagat anehdari Pak Ji. Walau tak kentara, namun sangat terasa lelaki tua itu keberatan jika Ia tinggal lama di pondok itu.'Tapi di sini tak ada listrik, nak! Di bawah ada..., maksud saya, di desa. Tapi kita harus merentangkan kabel yang panjang untuk menyambung aliran listrik ke sini.' lapornya.'Tapi air ada kan, untuk mandi?'Andi dan Pak Ji lalu berjalan ke halaman belakang. Di sana tampak toilet dan sebuah sumur.'Nah, ini ada airnya. Selama saya pergi, tolong bapak beresin semuaini. Bersihkan!' Perintahnya sambil mengeluarkan uang di dompetnya.'Ini ada uang, silakan bapak ambil semua, saya mau pondok ini sudah bersih saat saya ke sini lagi, minggu depan!' kata Andi. 'Mengenai kabel tadi, nanti kita bicarakan lagi.'Pak Ji tampak menyimak denganbaik semua yang dikatakan Andi. Mereka berbincang serius selama beberapa menit, sebelum bergegas meninggalkan pondok itu.'Bapak punya nomor telepon yang bisa saya hubungi?' tanya Andi.Pak Ji menggeleng, 'Saya tak paham pakai begituan, nak!' jawabnya. Andi pun mengerti. Memang biasanya orang-orang tua di kampung tidak paham dengan teknologi.'Ini kunci pintu saya tinggal, jangan lupa toilet dan semua ruangan di sini dibersihkan ya, Pak! Sumur tadi juga tolong dikuras!' pesan Andi. Ia masih ingin melanjutkan ucapannya, tapi tercekat saat melihat ternyata ada sebuah pondok lain yang berdiri tak jauh dari pondok warisan kakeknya.Ya, terlihat di sana berdiri sebuah rumah panggung kecil, mirip punya kakeknya, sekitar beberapa metersaja di depannya. Letaknya agak serong ke kiri. Seingatnya dulutak ada rumah lain di situ.Yang lebih mengagetkan lagi, ada seorang wanita tua, bungkuk dan bertopang tongkat, sedang beku memandangnya dari tadi, di depan rumah sederhana tersebut.Andi bergidik menyadarinya. Bulu kuduknya berdiri. Sementara Pak Ji agak gelagapan di sampingnya. Sebenarnya itu yang memberatkan pikirannya dari tadi.'Siapa orang itu, Pak Ji?' tanya Andi pelan. Sementara wanita itu masih beku memandangnya.'Masuk, Mak! Di dalam saja!' teriakPak Ji tiba-tiba. Ia mengabaikan pertanyaan Andi, dan malah berteriak pada wanita itu.Wanita tua itu bereaksi dingin saja,Ia tetap memandang ke arah mereka dengan beku. Wush! Angin tiba-tiba berhembus di tempat itu dan rambut putih si wanita tua pun bergoyang.Andi takjub memandangnya, walau kali ini Ia tak begitu merasakan keanehan lagi, terlebih setelah mendengar penjelasan Pak Ji.'Maaf, nak! Jangan kaget! Itu saudara Ibu saya. Dia menumpang tinggal di tanah ini. Maaf sebelumnya jika saya lancang membuatkan mereka rumah di lokasi ini, tanpa minta ijin dulu... Saya bingung, harus mencari alamat Pak Darman di mana.' terang Pak Ji.'Mereka tak punya siapa-siapa lagi selain saya. Dan rasanya saya taktega menelantarkannya' lanjutnya.'Sebentar!' tahan Andy. 'Pak Ji tadi bilang 'mereka', ada berapa orang yang tinggal di situ memangnya?''Cuma dua, nak. Ada seorang gadismuda juga di dalam rumah ... ''Gadis?' desis Andi. Hatinya sedikit berbunga mendengarnya. Wauw , di daerah sepi, di atas bukit yang tidak berpenghuni seperti ini ada seorang gadis...? Seperti apakah sosoknya? Ia merasa penasaran ingin melihatnya.'Iya, cucu bibi saya itu. Tapi kalau anak keberatan, saya segera akan memindahkan mereka berdua ke tempat lain. Minggu depan, kalauanak ke sini lagi, rumah merekapasti sudah saya pindahkan lebih jauh ke dalam hutan.''Tidak perlu!' tahan Andi. 'Asalkan mereka tak berisik, tak mengapa. Hanya ada dua orang kan?'Pak Ji mengangguk.'Saya malah senang, jika punyateman di sini.' kata Andi.Meski begitu, Pak Ji tampak tetap resah memandangnya. 'Maaf ya, nak! Saya sengaja menaruh mereka di sini agar saya mudah mengunjunginya setiap waktu. Membawakan mereka bahan makanan atau apapun dari bawah!' paparnya.'Iya tak apa-apa! Saya juga kan tak tinggal selamanya di sini. Bapak jangan repot-repot membongkar rumah mereka. Biarkan saja! Kasihan ... ' putus Andi.'Baiklah, sudah sore. Saya pamitdulu, Pak! Sampai bertemu lagi!''Iya, sama-sama! Hati-hati di jalanya, nak!' Balas Pak Ji.'Terima kasih, mari!' pungkas Andi.Ia beserta mobilnya segera berlalu dari tempat itu. Tersisa Pak Ji yang tampak shock dan kebingungan.Apa gerangan yang dipikirkannya?
Perjalanan Menuju Ke Bukit
'Sialan!' maki Andi.Wajahnya tampak berkeringat.Cuaca begitu panas, dan ia masih sibuk memperbaiki ban mobilnya yang tiba-tiba meletus di jalan. Beruntung mobilnya itu rusak di jalan perkampungan, jadi tak ada kendaraan yang harus lewat.Sesaat kemudian, ban mobil itu telah berhasil digantinya. Ia menarik napas lega, meski kemeja kotak-kotak birunya tampak basah oleh keringat. Gluk ... gluk ... gluk...! Ia lalu kalap meneguk sebotol air mineral, yang diambil dari dalam mobilnya. Seketika hausnya hilang.Andi lalu menatap liku jalan kecil menuju ke atas bukit kecil di depannya. Tak terlihat jauh lagi. Alisnya berkerut dan terlihat raut optimis di wajahnya. Bukit kecil itu memang menjadi sasarannya, spot yang akan Ia tuju.Andi memutuskan untuk duduk, berteduh sebentar di bawah pohon rindang di tepi jalan. Dibakarnya sebatang rokok sambil melihat oret-oretan di kertas kecil. Coretan tangan pak Samaun, mantan supir keluarganya.'Ya, sudah benar ... sepertinya! Jalur yang ku tuju sudah tepat' gumam Andi sendiri. Oret-oretan itu kemudian diremas lalu dihempasnya. Glek! Sekali lagi Ia meneguk air mineral favoritnya.Tak lama Ia mulai beranjak ke dalam mobilnya kembali. Ia sedikit bergidik melihat lumpur menempel di keempat ban mobilnya. Biasalah! Jalanan becek di perkampungan.Dari jalan besar tadi, Andi telah menempuh kira-kira sepuluh kilometer masuk melewati jalan yang tak beraspal ini.Baru saja Andi ingin masuk ke mobil, tiba-tiba Ia kaget melihat ada seorang petani lewat di dekatnya. Lelaki kurus menenteng cangkul.'Pak ..., bapak ...! Maaf, saya mengganggu sebentar,' teriak Andi spontan. Ia bergegas menghampiri lelaki itu. Hatinya sangat senang, memang sedari tadi Ia berharap bisa bertemu seseorang di sekitar tempat itu, untuk memastikan apakah Ia sudah berada di tempat yang benar.'Mohon maaf, saya ingin tahu ... apakah benar desa ini, desa Raga?' tanya Andi.Lelaki tua itu menyimak dengan tenang lalu menjawab, 'Iya, benar! Anak mau ke mana?' Ia balik bertanya.Andi tersenyum, bahagia sekali. 'Memang saya mau ke sini, Pak!' jawabnya pendek.Lelaki tua itu terkejut. Matanya lalu memandangi sosok Andi, dari kepala sampai kaki. Ah, tidak! Pikirnya, anak muda di depannya tampak sangat perlente untuk mencari sesuatu di desanya. Terlebih saat Ia melihat mobil sport hitam Andi yang terparkir gagah di tengah jalan.'Anak mau cari apa di sini?' tanya si lelaki, lugu. Raut wajah Andi betul-betul bersemangat, 'Saya mau ke bukit kecil itu, Pak! Menurut orang yang memberi saya informasi, bukit kecil yang saya tuju, berada persis di dekat desa Raga ini. Nah, kurasa itu bukitnya!' jawab Andi percaya diri.Lelaki itu lekat memandangnya, seperti keheranan. Sekali lagi matanya menyelidiki sosok Andi dari atas sampai ke bawah.'Tapi kok, saya melihat dari tadi tak ada orang ramai di sini ya, Pak? Mengapa tak ada rumah warga di sini?' tanya Andi sejurus kemudian.'Rumah warga ada di sana, tepat di bawah kaki bukit itu. Sekitar sini, memang area ladang dan jalan masuk saja dari kota.' jelas si lelaki tua.'Oh...begitu!' balas Andi. 'Jadi, Bapak mau pulang sekarang? Bagaimana jika Bapak ikut di mobil saya?' tawar Andi. Si lelaki terkejut.'Ah, tidak! Jangan, jangan! Saya tak biasa naik mobil seperti itu. Lagi pula, saya masih harus menengok kolam ikan saya di sana.' tolaknya halus.'Baiklah! Tapi bolehkah kita kenalan dulu. Nama Saya Andi, Pak! Dan saya adalah cucu Pak Darman, mungkin Bapak tahu?' Andi mengulurkan tangan. Wajah lelaki tua itu mendadak cerah.'Oh...!' responnya singkat.'Bapak kenal sama kakek saya? Dia sudah meninggal, Pak! Dan sekarang saya kemari, hendak melihat rumah bekas peristirahatan beliau, jaman dulu ... kala sedang jemu di kota!'Lelaki tua itu menyambut tangan Andi. Dan Karena cuaca begitu panas, si petani mengajak Andi beringsut ke bawah pohon.Wajahnya tampak terkesan sekali, dan untuk ketiga kalinya, Ia mengamati lagi sosok Andi, dari kepala sampai kaki. Namun kali ini, Ia lebih fokus mengamati wajahnya.'Serius, anak ini cucunya Pak Darman? Iya, saya tahu, saya dulu sering diajak kerja sama beliau. Seluruh warga kampung ini dulu tahu siapa dia, kecuali yang baru lahir belakangan, karena itu sudah lama sekali' ingatan si lelaki menerawang jauh ke masa lalu.'Benar, Pak! Kalau bapak ingat lagi, kadang kakek membawa saya ke sini juga, menginap seminggu jika libur sekolah!' Jelas Andi lagi.'Oh, Iya betul! Jadi kamu anak lelaki itu!? Ada perempuan juga ya?''Nah itu Siwi, kakak perempuan saya!' seru Andi.'Ah, ya...ya...ya! Sudah lama sekali. Waktu itu saya masih bujangan. Pak Darman sering meminta saya membantunya, apa saja!' Kenang si lelaki. Wajahnya tampak tenang sekarang.'Saya ingin menengok pondok kakek saya itu, Pak! Kata ibu Saya, kayunya kayu ulin, jadi pasti belum hancur. Mungkin hanya perlu diperbaiki sedikit bagian-bagian tertentunya. Apa bapak bisa membantu saya?' tanya Andi sambil mulai membakar sebatang rokok lagi.Yang ditanya malah tertegun. Seolah ada sesuatu yang meresahkannya.'Pak...!?' tegur Andi.'Ya, ya, maaf! Saya sedikit melamun tadi!' balas si lelaki tua.'Apa yang dilamunkan? Hehe... ' seloroh Andi. 'Ngomong-ngomong, Saya belum tahu nama bapak dari tadi?''Marji...! Nama saya Marji, biasa dipanggil Pak Ji saja' balas si lelaki.'Bapak mau rokok? Ambil saja semuanya, satu kotak ini! Di mobil masih banyak, kalau mau' kata Andi.'Ah, tidak ... tidak! Saya sudah berhenti merokok.' balas Pak Ji.Andi lekat memandangnya, lalu berkata, 'Karena kita sudah kenalan, berarti saya boleh dong berharap Pak Ji mau menemani Saya ke rumah itu. Sebentar saja, kita naik mobil. Mana tahu, ada yang harus diperbaiki. Mau ya, Pak? Tenang saja! Upahnya sudah saya siapkan kok!'Pak Ji tampak senang, meski wajahnya terlihat tegang.'Tentunya mau! Tapi saya mau tanya dulu, apakah Tuan akan tinggal di sini, atau hanya berkunjung?''Mentang-mentang saya ini cucu Pak Darman, jangan dipanggil 'Tuan' juga, Pak! Panggil Andi saja! Bersikaplah yang sama seperti tadi. Hahaha...' protes Andi seraya tertawa.'Aktivitas saya semuanya ada di kota, jadi tentu saya hanya berkunjung di sini! Bukan mau tinggal. Refreshing saja!' lanjut Andi.Seketika wajah Pak Ji berkerjap-kerjap bagai cahaya bintang. 'Tentu, saya mau membantu. Kita bisa berangkat sekarang!?' ajaknya.Andi mematikan puntung rokoknya. Puntung yang masih menyala itu ia lempar ke tanah, lalu diinjaknya dengan sepatu hingga apinya benar-benar mati.'Nah, gitu dong!' sambutnya.Keduanya lalu menuju mobil.Mesin pun dinyalakan, Andi mengemudikan mobilnya dengan tenang. Dia merasa lega Pak Ji mau membantunya, walau diam-diam dia merasa ada sesuatu yang janggal. Mengapa lelaki tua ini seolah enggan jika Ia tinggal lama di pondok itu?'Hm, ada apa ya? Something strange....' pikirnya.
Gloomy Sunday - Lagu Bunuh Diri Hungaria
Pernah dengar lagu Gloomy Sunday yang dinyanyikan oleh penyanyi jazz wanita legendaris Billie Holiday? Lagu sedih dengan komposisi unik yang populer di era 1940-an tersebut ternyata menyimpan kisah seram yang sering dikaitkan dengannya.Namun sebelum kita masuk lebih dalam, sebaiknya kita simak kembali sejarah terciptanya lagu tersebut.Lagu yang dalam bahasa Inggrisnya ini berjudul Gloomy Sunday (Minggu Suram) punya misteri tersendiri sebagai lagu yang dapat menghipnotis seseorang untuk bunuh diri. Lagu Gloomy Sunday ini adalah lagu yang diciptakan seorang pianist dan komposer otodidak Hungaria dari Budhapest yang bernama Rezső Seress tahun 1933. Awalnya berjudul V ége a világnak (End of the world) yang berarti 'Akhir Dunia'. Lagu tersebut berkisah tentang kesedihan dan kehancuran akibat perang.Rezső Seress awalnya ingin sekali menjadi seorang musisi yang terkenal namun keinginannya ini tidak disetujui oleh tunangannya karena tunangannya menginginkan agar Rezső bekerja full time. Pertengkaran hebat pun terjadi dan mengakibatkan putusnya pertunangan mereka.Rezső Seress mulai memainkan jari-jarinya di atas piano dan dalam 30 menit terciptalah sebuah alunan melodi yang begitu indah dan mendayu-dayu. Tak lama kemudian, temannya yang seorang pujangga dan penulis puisi bernama László Jávor menulis lirik versinya sendiri untuk lagu tersebut berjudul Szomorú vasárnap , atau yang berarti 'Minggu Suram'.Selama perkembangan, lirik Jávor menjadi lebih populer. Namun, dalam versi lagu ini menceritakan tentang keinginan bunuh diri seseorang setelah kepergian kekasihnya. Rezső Seress segera mengirimkan karyanya ke beberapa perusahaan rekaman, walaupun sempat beberapa kali ditolak akhirnya lagu tersebut menjadi Hits.Lagu ini pertama kali menggunakan judul Gloomy Sunday saat pertama kali dinyanyikan dalam bahasa Inggris pada 1936 silam oleh Hal Kemp , dengan lirik yang ditulis Sam M. Lewis . Di tahun yang sama, lagu tersebut kembali dinyanyikan oleh Paul Robeson dengan menggunakan lirik karangan Desmon Carter .Setelah lagu itu menjadi terkenal, Rezső Seress meminta kepada mantan tunangannya untuk kembali dan mengajak rujuk dengan menuliskan sebuah surat. Setelah beberapa hari surat itu sampai, tungangannya justru meninggal bunuh diri dengan meminum racun sambil menggenggam secarik kertas partitur yang bertuliskan Gloomy Sunday .Sebentar saja setelah Gloomy Sunday dirilis, mulailah terjadi kejadian-kejadian di luar dugaan. Pada era 30-40an, sejumlah media massa melaporkan setidaknya ada 19 belas kasus bunuh diri terjadi di Hungaria dan Amerika Serikat terkait lagu Gloomy Sunday tersebut.Di Berlin, ada seorang pemuda yang me-request lagu Gloomy Sunday kepada sebuah band. Setelah lagu tersebut selesai dimainkan, lalu pemuda ini keluar ruangan dan langsung melakukan bunuh diri. Seminggu kemudian, ada seorang pegawai toko ditemukan gantung diri di kamarnya. Ditemukan juga lembar partitur musik Gloomy Sunday di kamarnya.Dua hari kemudian, seorang sekretaris muda juga melakukan bunuh diri dengan meracuni diri dengan gas. Dan dalam surat wasiatnya, ia meminta agar lagu Gloomy Sunday dimainkan pada acara pemakamannya. Beberapa minggu kemudian, seorang kakek berumur 82 tahun dari New York, melompat dari jendela lantai tujuh setelah memutar lagu Gloomy Sunday .Banyak pihak berpendapat kalau sejumlah bunuh diri tersebut terjadi karena saat lagu tersebut menjadi hits, perang sedang berkecamuk, sehingga faktor sebenarnya yang menyebabkan banyaknya kasus bunuh diri adalah frustasi terhadap resesi ekonomi, kemiskinan dan kelaparan.Namun baru pada 1941 Gloomy Sunday menjadi populer di negara-negara berbahasa Inggris setelah Billie Holliday menyanyikannya. Menggunakan lirik milik Lewis yang bersuasana frustasi dan 'bunuh diri', pihak label rekaman kemudian menyebut lagu tersebut sebagai 'lagu bunuh diri Hungaria'.Namun, entah berhubungan atau tidak pada Januari 1968 sekitar 30 tahun setelah menulis lagu Vége a világnak ini, Rezső Seress melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat keluar jendela sebuah apartemen di Budapest. Tetapi sayang aksi bunuh dirinya gagal.Lalu dia dilarikan ke rumah sakit dan di tempat itulah ia akhirnya berhasil melakukan bunuh diri dengan mencekik lehernya sendiri dengan seutas kawat (mungkin semacam kabel). Tepat pada tanggal 11 Januari 1968, tidak terlalu lama setelah ulang tahunnya yang ke-69.Dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena setelah lagu itu menjadi terkenal ia selalu gagal untuk menciptakan lagu-lagu berikutnya sehingga ia berpikir bahwa ia tidak akan bisa menciptakan lagu seindah itu lagi untuk kedua kalinya.Pada tahun 1997 Billy MacKenzy vokalis band The Associates asal Skotlandia (yang meg-cover Billie holiday pada tahun 1982) memutuskan untuk bunuh diri di rumah ayahnya di kota Dundee.Ada beberapa versi dari lirik lagu ini.1. Vége a világnak :Ôsz van és peregnek a sárgult levelekMeghalt a földön az emberi szeretetBánatos könnyekkel zokog az öszi szélSzívem már új tavaszt nem vár és nem remélHiába sírok és hiába szenvedekSzívtelen rosszak és kapzsik az emberek...Meghalt a szeretet!Vége a világnak, vége a reménynekVárosok pusztulnak, srapnelek zenélnekEmberek vérétôl piros a tarka rétHalottak fekszenek az úton szerteszétMég egyszer elmondom csendben az imámat:Uram, az emberek gyarlók és hibáznak...Vége a világnak!Dalam terjemahan bahasa InggrisIt is autumn and the leaves are fallingAll love has died on earthThe wind is weeping with sorrowful tearsMy heart will never hope for a new spring againMy tears and my sorrows are all in vainPeople are heartless, greedy and wickedLove has diedThe world has come to its end, hope has ceased to have a meaningCities are being wiped out, shrapnel is making musicMeadows are colored red with human bloodThere are dead people on the streets everywhereI will say another quiet prayer:People are sinners, Lord, they make mistakesThe world has ended2. Szomorú vasárnap :Szomorú vasárnap száz fehér virággalVártalak kedvesem templomi imávalÁlmokat kergető vasárnap délelőttBánatom hintaja nélküled visszajöttAzóta szomorú mindig a vasárnapKönny csak az italom kenyerem a bánat...Szomorú vasárnapUtolsó vasárnap kedvesem gyere elPap is lesz, koporsó, ravatal, gyászlepelAkkor is virág vár, virág és - koporsóVirágos fák alatt utam az utolsóNyitva lesz szemem hogy még egyszer lássalakNe félj a szememtől holtan is áldalak...Utolsó vasárnapTerjemahan dalam bahasa InggrisGloomy Sunday with a hundred white flowersI was waiting for you my dearest with a prayerA Sunday morning, chasing after my dreamsThe carriage of my sorrow returned to me without youIt is since then that my Sundays have been forever sadTears my only drink, the sorrow my bread...Gloomy SundayThis last Sunday, my darling please come to meThere'll be a priest, a coffin, a catafalque and a winding-sheetThere'll be flowers for you, flowers and a coffinUnder the blossoming trees it will be my last journeyMy eyes will be open, so that I could see you for a last timeDon't be afraid of my eyes, I'm blessing you even in my death...The last Sunday3. Lirik Lagu Gloomy Sunday Versi Billie Holiday :Gloomy SundaySunday is gloomy, my hours are slumberlessDearest the shadows I live with are numberlessLittle white flowers will never awaken youNot where the black coach of sorrow has taken youAngels have no thought of ever returning youWould they be angry if I thought of joining you?Gloomy SundaySunday is Gloomy, with shadows I spend it allMy heart and I have decided to end it allSoon there'll be candles and prayers that are sad I knowLet them not weep let them know that I'm glad to goDeath is no dream for in death I'm caressing youWith the last breath of my soul I'll be blessing youGloomy SundayDreaming, I was only dreamingI wake and I find you asleep in the deep of my heart, dearDarling, I hope that my dream never haunted youMy heart is telling you how much I wanted youGloomy Sunday
Gateway of the Mind (Pintu Gerbang Pikiran)
Cerita ini dimulai pada tahun 1983, di mana sekelompok ilmuwan mencoba melakukan eksperimen radikal di laboratorium yang dirahasiakan. Para ilmuwan telah berteori bahwa manusia tanpa akses ke indra atau cara untuk merasakan rangsangan akan bisa merasakan kehadiran Tuhan.Mereka percaya bahwa panca indera menutupi kesadaran kita akan keabadian, dan tanpa mereka, manusia benar-benar bisa menjalin kontak dengan Tuhan dengan menggunakan pikiran. Seorang pria tua yang mengaku tidak memiliki "apa-apa lagi untuk hidup" adalah satu-satunya subjek tes yang bersedia menjadi sukarelawan.Untuk menghilangkan sensor perangsang dirinya, para ilmuwan melakukan operasi yang kompleks di mana setiap koneksi saraf sensorik ke otak itu diputus. Meskipun subjek tes mempertahankan fungsi otot penuh, dia tidak bisa melihat, mendengar, mengecap, mencium, atau merasa.Dengan tidak ada cara untuk berkomunikasi dengan siapapun atau bahkan merasakan dunia luar, dia sendirian dengan pikirannya sendiri.Para ilmuwan memantaunya saat dia berbicara lantang tentang kondisi pikirannya tercampur aduk, kalimat-kalimatnya tidak jelas karena ia tidak bisa mendengar.Setelah empat hari, pria itu mengaku mendengar bisik-bisik, suara-suara yang tidak dimengerti dalam kepalanya. Dengan asumsi itu adalah timbulnya psikosis, para ilmuwan tidak begitu memperhatikan kepanikan pria itu.Dua hari kemudian, pria itu berteriak bahwa ia bisa mendengar istrinya yang sudah mati berbicara dengan dia, bahkan ia bisa berkomunikasi kembali. Para ilmuwan mulai tertarik tetapi masih tidak yakin, sampai subjek mulai menyebutkan nama saudara saudara para ilmuwan yang telah meninggal.Dia menyebut informasi pribadi kepada para ilmuwan yang hanya pasangan mereka yang sudah mati lah dan orang tua mereka yang tahu. Pada titik ini, dalam jumlah yang cukup besar dari para ilmuwan, meninggalkan penelitian ini.Setelah seminggu bercakap-cakap dengan para "orang-orang yang sudah meninggal" melalui pikirannya, subjek menjadi tertekan, mengatakan suara-suara yang tidak aneh. Dalam setiap momen, kesadarannya dibombardir oleh ratusan suara-suara yang menolak untuk meninggalkan dia sendiri. Dia sering membenturkan dirinya ke dinding, mencoba untuk mendapatkan rasa sakit.Dia memohon kepada para ilmuwan untuk memberinya obat penenang, sehingga ia bisa melarikan diri dari suara-suara itu dengan tidur. Taktik ini bekerja selama tiga hari, sampai ia mulai mengalami "teror malam" yang parah. Subjek berulang kali mengatakan bahwa dia bisa melihat dan mendengar para "orang meninggal" dalam mimpinya.Hanya sehari kemudian, subjek mulai menjerit dan mencakar matanya yang sudah tidak berfungsi itu, berharap untuk merasakan sesuatu di dunia fisik. Subjek histeris mengatakan suara yang tewas terus menerus meneriakkan hal yang menyeramkan, berbicara tentang neraka dan akhir dunia.Pada satu titik, ia berteriak "Tidak ada surga, tidak ada pengampunan" selama lima jam nonstop. Dia terus memohon untuk dibunuh, namun para ilmuwan yakin bahwa ia sedikit lagi untuk membangun hubungan dengan Tuhan.Beberapa hari kemudian, subjek tidak bisa lagi membentuk kalimat yang koheren. Ia perlahan menjadi gila, ia mulai menggigit potongan daging dari lengannya. Para ilmuwan bergegas ke kamar uji dan menahannya ke meja sehingga ia tidak bisa membunuh dirinya sendiri.Setelah beberapa jam terikat, subjek menghentikan usahanya memberontak dan berteriak. Dia menatap kosong ke langit-langit dan air mata menetes di wajahnya. Selama dua minggu, subjek harus secara manual diberi minum karena dehidrasi yang disebabkan oleh kontannya sang subjek menangis.Sampai pada akhirnya, ia menoleh kepada para ilmuwan, dan meskipun dengan kebutaannya, ia membuat kontak mata yang terfokus dengan salah satu ilmuwan untuk pertama kalinya dalam penelitian ini.Dia mengatakan dengan suara kecil, "Saya telah berbicara dengan Tuhan, dan Dia telah meninggalkan kita." Setelah itu tanda-tanda vitalnya berhenti .Tidak ada sebab yang jelas atas kematiannya.
Sahabat Kecil
Silvia Farannisa Yasmin adalah sahabat kecil dari seorang Alaska Bumi Ranendra, mereka bersahabat sudah dari umur kelas 1 sekolah dasar sampai kelas XI SMA, sudah lumayan lama juga."Aska balikin gak pulpen gue!" teriak Silvia atau biasa dipanggil Silvi."Wleek! Ambil kalo bisa," ejek Alaska. Silvi dari kecil selalu memanggil namanya dengan sebutan Aska."Awas lo ya, kalau ke tangkap gue sleding dari Indonesia sampe Amerika," ujar Silvi masih terus berlari mengejar Aska."Sini ambil nih ambil ayo," ejek lagi Aska.Alaska atau Aska ini adalah seorang lelaki tampan di sekolahnya yang membuat kaum hawa menjerit ketika melihat. Tapi bagi Silvi Aska itu biasa aja."Hosh, hosh, hosh. Aska udah ah gue capek mau ke kantin beli minum," ucap Silvi langsung berbalik arah ke kantin."Ikut Sil," teriak Aska."Ayo," balas Silvi.Sepanjang jalan mereka menuju kantin banyak para murid menatap dua sejoli sahabat itu dengan iri. Bagaimana tidak? Dengan paras Silvia yang cantik dan paras seorang Alaska juga sangat menawan.Hey! Banyak di SMA Wijaya ini yang menatapnya kagum. Selain cantik dan tampan dua sejoli Sahabat itu juga sering mengikuti olimpiade di berbagai sekolah maupun kota.Katakanlah mereka itu sempurna. Tapi yang membuat silvia kesal karena dari dulu sampai sekarang sifat seorang Alaska itu tak pernah berubah dengan yang namanya 'menjalihi' sahabatnya itu Silvia.Kata Alaska ' Gak ada kata gak jahilin l o setiap hari atau setiap detik pun '."Aska bisa diem gak sih lo, gue lagi makan tau!" geram Silvia ketika acara makannya diganggu oleh Aska."Gak bisa, gimana dong?" tanya Aksa dengan tampang bodohnya."Tau ah, percuma juga." Kesal Silvia langsung melahap makanannya sedangkan Aska menarik-narik ujung rambut Silvia sehingga kadang Silvia meringis kesakitan.Bagi Aska rambut Silvia itu candu baginya. Katakanlah Alaska itu lebay.Tapi Silvia beruntung mendapatkan sahabat seorang Alaska Bumi Ranendra. Ya walaupun kadang ngesilin sih.Tapi tanpa sepengetahuan mereka berdua ada satu siswi yang membenci mereka berdua, yaitu Naomi Shinta Areska siswi baru yang berlaga sok manis padahal di balik sikapnya ia memendam rasa benci pada Silvia. Sejak pandangan pertama Naomi sudah suka dengan Aska.Tapi Naomi ingin bermain secara lembut dengan Silvia. Hey licik sekali Naomi."Ska sini bola nya," panggil Silvi, saat ini mereka berdua sedang bermain basket di lapangan sekolah."Tangkap ya."Hap!Bola itu langsung di tangkap mulus sama Silvia."Aww sshh," ringis Silvia ketika ada batu yang entah dari mana menghantam kepalanya yang membuat kepalanya mengeluarkan sedikit darah."Lo kenapa Sil?" tanya Aska cemas"Gak apa-apa.""Gak apa-apa gimana? Liat kening lo berdarah tuh!" ujar Aska."Udah cuma luka kecil, anterin gue ke UKS aja yuk," ajak Silvia. Dari pada ia dan Aska akan bertengkar nanti.Di rooftop seorang gadis licik yang menyamar sebagai gadis polos tersenyum menyeringai. Kalian pasti tau siapa dia. Ya dia adalah Naomi si gadis lugu berubah jadi licik yang tadi melempar batu ke arah silvia."Ini baru awal permainan," gumam Naomi tersenyum miring.[ E N D ]
Patah Hati Cinta Online
Hari itu ... tepatnya pada malam Sabtu, dia yang memulai chat duluan dengan gombalan kata manis. Dengan menggunakan nomor adik sepupunya, ia mulai mengetikkan pesan."Malam.""Lagi apa?" ucapnya pada pesan tersebut. Seketika keningku mengkerut, apakah Araa yang mengirimiku pesan seperti ini? Ah ... tapi rasanya sangat mustahil.Akhirnya, kuputuskan untuk membalas pesan tadi. "Malam juga, maaf ini siapa?" Lalu langsung ku kirim. Awalnya aku biasa saja, dan tidak terlalu memperdulikannya. Namun lama kelamaan dia semakin menjadi! Gombalan manis serta bualan ia lontarkan padaku. Aku, yang hanya wanita biasa yang dapat merasakan ‘bawa perasaan’ semakin menjerit girang. Apa-apaan sih, dia ini. Bagaimana jika anak orang naksir padanya? Apakah ia mau bertanggung jawab?!Yang awalnya hanya chat biasa, saling curhat, namun sekarang sangat akrab. Dan bahasa yang kami gunakan -dalam chat pun sudah mulai ngelantur. Dia yang terus memanggilku dengan sebutan “Sayang.”Dan aku yang terus baper, salting, bahkan sampai menggigit bantal gulingku! Oh ayolah ... pasti kalian tahu 'kan seberapa besar efek ‘gombalan manis buaya’?Dan sekarang aku benar-benar sudah tidak waras!Keakraban kami di chat WhatsApp , tentunya membuat kami berdua juga semakin dekat. Hal itu membuat rasa penasaranku tentang dirinya semakin memuncak. Ah apakah kalian belum tahu? Memang dari awal kami berdua chattingan , aku sama sekali tidak mengetahui identitasnya, Yah ... kecuali namanya saja! Rupa wajah, umur, sekolah, dan sebagainya aku sama sekali belum tahu!Perlahan mulai ku caritahu lebih dalam tentang identitasnya. Bersyukurlah karena ia mau memberitahukan identitasnya padaku. Yah ... setidaknya aku tidak berharap dengan sesama jenis, haha.Setiap hari libur ia selalu mengirimiku pesan, kebanyakan dia lebih sering menjadikanku sebagai pendengar ‘dari semua isi curhatannya’. Yaa ... aku terima-terima saja, toh, aku juga gabut tidak ada yang chat.Seiring berjalannya waktu, tanpa kusadari ternyata ia menaruh perasaan padaku. Dia ... menyukaiku! Bahkan dengan terang-terangan ia menyatakan rasa sayang dan suka secara langsung lewat chat. Aduh ... bagaimana ini? Aku baper ish! Dia meminta jawaban tentang pernyataannya, namun aku memintanya untuk menunggu sebentar karena aku harus berpikir.Setiap malam selalu senyum-senyum sendiri, susah tidur akibat pernyataannya, dan sampai di bilang tidak waras oleh orang tuaku. Tepat pada malam Minggu, salah satu teman hangout- nya mengirimiku sebuah pesan.“Eh, lo doinya si **** ya?”Aku kaget! Bagaimana bisa dia tahu tentang itu?! Tidak mau membuatnya salah paham, akhirnya aku membalas pesan, “Bukan kok. Baru deket aja.” “Anjir! Tapi ... si **** bilang lo pacarnya.” Tepat saat itu juga pipiku merona dan jantungku berdebar, memacu lebih cepat.Karena sudah tidak tahan, aku menyuruh temannya yang mengambil alih handphone- nya untuk dikembalikan kepada si pemilik. Lalu langsung kutanyakan apa maksud dari ucapan temannya barusan?! Dan dia bilang bahwa dia sudah sayang dan cinta mati padaku, ditambah lagi status dia yang sekarang jomblo. Membuat dirinya secara berlebihan menghalu memiliki pacar sepertiku.Aku sangat senang, namun risau. Disatu sisi, aku mulai menaruh hati padanya, namun di sisi lain, orang tuaku mengajarkanku untuk tidak memikirkan lelaki terlalu dalam. Apalagi berpacaran!Saat ini kami berdua tengah dilanda oleh kesibukan. Aku yang baru kelas 9 dan harus mempersiapkan bekal untuk ujian, begitupun dengannya yang kelas 12 dan sibuk dengan segala kegiatan organisasi yang diikutinya. Sekarang tidak sedekat dulu, ditambah dengan perbedaan jarak. Aku di Jakarta, sedangkan dia di Bandung.Yah ... aku paham, dan aku juga mengerti. Kedekatan ini hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Dan jika suatu saat nanti dia memiliki kekasih 'nyata' di sana, aku juga akan senang. Toh, itu hak dia. Atau mungkin dia sudah melupakanku? Tidak apa-apa, aku ikhlas. Ini semua telah ditentukan oleh takdir. Yang awalnya sangat dekat atau akrab, tidak selamanya begitu. Begitupun dengan yang saling sayang, bisa saja takdir memutar keadaan membuat kalian saling membenci pada akhirnya.Ini, skenario tuhan. Semua sudah ada jalannya masing-masing. Tinggal kita saja yang memainkan peran sebagai tokoh utama.Dari kejadian ini aku belajar bahwa, mengharapkan sesuatu yang berlebihan itu sangatlah tidak baik. ‘Apalagi yang bukan pada tempatnya’. Dan juga semua yang berbau online tidak semuanya 'nyata', atau bahkan ada juga yang bersifat 'rekayasa'.“Hidup itu yang pasti-pasti aja. Selama kita melangkah ke jalan yang benar, dan berbuat baik kepada semua orang. Percayalah, maka Allah SWT juga akan membimbingmu kepada kehidupan yang lebih layak dan penuh kenikmatan.”– Liyara ✨[ E N D ]
Orang-orang Dalam Lubang
Orang-orang di lubang ini punya nama, begitu juga aku. Pria di depanku bisa saja bernama Muttaqin; lansia di seberang sana mungkin bernama Matius; sedangkan yang baru saja meregang nyawa itu bisa kausebut Toiran. Namun, tampaknya dunia sepakat bahwa menyebut kami sebagai pendosa lebih efisien ketimbang mendaftar identitas kami dalam sejarah bangsa.Bukan tanpa alasan. Sejak setahun silam, atmosfer negara kami dipenuhi oleh bau darah dan kemarahan massa. Jumlahnya melebihi kadar oksigen di udara. Amat pekat, tentu. Saking pekatnya, masyarakat seolah dibutakan oleh dendam dan memilih memangkas semua golongan yang disinyalir sebagai pendosa, entah itu kabar burung atau fakta.Manusia punya trauma hebat akan tragedi masa lalu dan aku bisa mengerti alasan mereka sudi mengenyahkan kemanusiaan adalah agar kejadian itu tidak terulang lagi ... bahkan jika itu berarti menjadi anjing-anjing dari sebagian orang."Berlutut! Angkat kedua tangan kalian!" Pria bersenapan itu berteriak. "Pendosa seperti kalian pantas untuk mati! Kafir seperti kalian harus hilang dari tanah ini!"Aku tersenyum sarkas. Masyarakat selalu terpaku akan cap yang diberikan oleh pihak berkuasa ; sama seperti yang mereka lihat dari orang-orang di lubang ini. Muttaqin mungkin seorang guru teladan di sekolahnya; Matius bisa saja seorang tokoh yang dihormati masyarakat; sedangkan Toiran adalah penggerak massa yang cukup kritis—tetapi sekali didakwa menjadi pendosa, publik serta merta menuntut buat dihukum seberat-beratnya ... tidak peduli riwayat asli serta kebaikan yang kami lakukan. Tidak akan ada yang meneliti berkas-berkas yang menegaskan kami tidak bersalah. Tidak akan ada yang menyadari bahwa kami hanyalah korban—kambing hitam atas propaganda raksasa di balik Istana.Aku memandang salah seorang dari mereka yang memaksa Muttaqin untuk berlutut. Marah sekaligus lelah.Kami adalah umpan ... tidakkah kalian menyadari hal tersebut?"Tuhan tidak akan mengampuni kalian! Kalian akan dikutuk di neraka terdalam! Kalian akan merasakan kesengsaraan kami akibat perbuatan kalian!"Telingaku memanas. Aku ingin berteriak bahwa di mereka telah diperalat kekuasaan, bahwa sang Dalang Utama tengah tertawa menyadari rencananya terlaksana. Namun, buat apa membela diri ketika sang petinggi menitah untuk membasmi orang-orang berdosa tanpa terkecuali? Buat apa menjelaskan sekian hipotesis tentang kudeta besar-besaran jika publik telah didoktrin untuk membenci sebagian orang? Suaraku bakal habis dan aku kelak jadi bangkai juga. Iya, kan?"Bersiap!"Aku memejamkan mata sampai air mataku menetes. Tawa sarkasku bergema dalam kepala."Tembak!"Sedetik kemudian, rentetan tembakan meniadakan kami sebagaimana angin menghapus jejak musafir di atas padang pasir.*Tidak perlu bertanya siapa namaku, apa jenis kelaminku, apa pekerjaanku, apakah aku betulan penjahat atau justru yang dijahati, serta apakah aku cukup waras untuk kalian percayai. Identitas dan fakta tak lagi berguna jika masyarakat telah mencap kita dengan sesuatu (itulah yang kuyakini sampai akhir hayatku). Namun, jika kalian betul-betul ingin tahu siapa aku (atau mungkin cap yang telah mereka berikan padaku), buka saja buku sejarahmu dan temukan aku dalam salah satu arsip kelam nasional.Ya, itu dia! Kalian sudah menemukannya, kan? (*)
Felony
Kita hidup dalam lingkaran kejahatan. Kita menelurkan dosa seumpama menyemai ilalang. Kita bergumul dengan kemaksiatan seperti seorang bocah yang tergila-gila dengan manisan. Kehidupan selalu berjalan menuju kematian dan, pelan tapi pasti, umat manusia telah sampai di titik nadir kekuasaan mereka—Geddon mengamini pernyataan tersebut sembari memandang ranah berpolusi pun terpapar radiasi yang kini menjadi tempat tinggalnya. Tidak ada berhala, tidak ada agama; bagaimana kehidupan bisa tetap berjalan tanpa semua pondasi tersebut?Ah, tapi juga tidak ada kepastian ia adalah "makhluk beragama", 'kan?Arma menghela napas. "Kau yakin akan melakukannya? Energi sebesar itu hanya akan cukup untuk satu perjalanan, yaitu ketika kau kembali ke masa itu. Tapi, aku juga tidak menjamin kau dapat mencapainya," Ia memandang mesin impian yang selama ini ia ciptakan bersama kembarannya—Geddon—lantas memegang kuat-kuat tuas berwarna merah tersebut, "kau bisa saja kembali ke masa Perang Salib; saat bom atom meledak di Hiroshima; bahkan saat tragedi Chernobyl. Kau bisa saja mati sia-sia.""Lalu apa, Arma? Manusia pasti mati suatu hari nanti, 'kan?" Geddon membalas cepat, memandang miris pada mayat orangtuanya yang diawetkan sebagai kelinci percobaan. "Lagipula, jika aku berhasil melakukannya, tidak ada lagi masa depan ... kau paham, 'kan?"Arma memandang sendu pada Geddon yang mendekati mesin impian mereka. "Sial, kau benar-benar tidak punya harapan, ya?"Geddon tertawa sarkas. "Sejak kapan umat manusia punya harapan, Arma?"*Sejak orangtuanya "dimatikan" dunia ini, Geddon telah memutuskan untuk menjadi sosok egois. Ia akan menghentikan semua kekacauan ini bahkan jika harus mengorbankan hidup banyak orang, termasuk kakak kembarnya. Manusia diwajibkan untuk memilih ... dan ia telah membuat keputusan absolut.Langit berkilau. Pohon-pohon sutra. Sungai susu. Daun emas. Alunan harpa malaikat yang mampu meninabobokan banyak makhluk. Tawa di antara ranting-ranting gulali; sepasang kekasih yang menjadi pusat semua kebahagiaan tersebut.Pusat pohon kehidupan. Adam dan Hawa.Dan, di kejauhan, sang iblis telah bersiap untuk membuat pelanggaran pertama.Geddon memejamkan mata. "Menyucikan" dunia memang harus dilakukan sejak awal kesalahan itu dibuat—kendati itu berarti menghapus semua sejarah yang telah dibuat hingga masanya kelak. (*)
My sweet, CEO
Derap langkah kaki-ku, mengisi keheningan. Dengan menggunakan high heels warna merah, aku melangkah menuju sebuah pintu yang menjulang cukup tinggi dan tampak kokoh.Sudah jelas pintu itu mahal, kaki jenjangku berhenti melangkah. Menghela nafas pelan, untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan gugup.Bagaimana pun, ini hari pertama aku berkerja dengan profesi sekretaris dan bukannya model.Menjadi model sangat mudah, kau hanya perlu berpose dan memberikan senyum memikat lalu fotografer akan membidik."Kau bisa melakukannya Sakura, don't be afraid ," ucapku menyemangati diri sendiri.Ayolah, aku hanya perlu mengetuk pintu ini. Dan menghadap Mr. Uchiha yang merupakan Chief Executive Officer.Bersikap profesional, dan semua selesai. Andai tadi aku tidak mendengar rumor buruk tentang boss-ku.Mungkin, aku sudah dapat duduk dan mengerjakan tugas dengan santai. Memang salah-ku karena tidak hadir saat pengenalan CEO baru.Harusnya, aku berkerja sebagai sekretaris Uchiha Itachi. Namun, mendadak pemimpin lama itu pindah. Dan memimpin, perusahaan Uchiha corp di luar negeri.Damn it.Dihari pertama berkerja aku sudah telat, dan sekarang malah mengundur waktu.Memantapkan hati, aku memberanikan diri mengetuk pintu itu beberapa kali.Yang pasti, aku sudah tidak dapat mundur lagi dan harus melangkah maju. Sudah terlanjur diketuk, tidak mungkin kabur bukan."Selamat pagi Mr. Uchiha, saya sekertaris baru anda. Haruno Sakura," tuturku dengan sopan, dan memperkenalkan diri."Masuk."Suara yang menyahut dari dalam, terdengar familiar ditelinga ku. Memilih untuk mengabaikan, aku memegang dokumen data dan hendak melangkah masuk.Secara otomatis pintu kokoh terbuat dari kayu itu terbuka dari dalam, ruangan itu tampak fantastis dengan nuansa hitam dan putih.Langkah kaki-ku kali ini lebih percaya diri, masih ada keahlian seorang model mengalir di dalam darahku.Sebuah jendela berukuran sangat besar itu memperlihatkan betapa sibuknya negara ini, dan hal itu wajar.Mr. Uchiha, duduk sembari membelakangi-ku dengan kursi ergonomisnya yang memang dapat diputar."Ini data yang anda pinta." Aku meletakkan beberapa tumpuk dokumen itu keatas meja-nya.Pria itu sama sekali tidak bergeming, membuat aku merasa sedikit cemas. Shit, ini pasti karena keterlambatanku dihari pertama bekerja.Aura dari boss baru-ku, terasa begitu kuat. Refleks, aku menatap kebawah tidak berani untuk mendongak.Dia memutar kursinya menjadi menghadap padaku, aku masih tetap sama. Tidak, punya niat untuk menatap wajahnya.Tap... Tap... Tap...Suara langkah kakinya, mengisi keheningan ruangan ini. Aku hanya diam, ok sepertinya aku terkena masalah.Tertegun, aku diam membatu. Saat merasakan sebuah tangan kekar kini melingkar di pinggang ramping-ku."Merindukan-ku baby ," bisiknya membuat bergidik.Holyshit, suara bariton itu sungguh sudah sangat akrab di indra pendengaran ku. Seorang pria, yang melewatkan malam penuh gairah denganku dulu.Memejamkan mata sejenak, aku berusaha untuk tetap bersikap santai. Bagaimana pun, tidak semua orang berharap bertemu dengan mantan."Jadi kau boss, disini Sasuke?" Aku, mengajukan pertanyaan secara spontan.Jelas itu pertanyaan bodoh, tapi ini lebih baik daripada harus membalas perkataan rindunya.Sasuke mengecup sekilas pipiku, lalu melepaskan dekapannya. Memutar tubuh-ku, kini aku dapat melihat wajahnya yang masih saja sangat tampan, oh shit.Mengangguk, Sasuke lalu menatap ku dengan onyxnya yang tajam namun memikat hati. Tulang rahangnya yang tegas dan hidung mancung tidak perlu diragukan.Menyeringai, Sasuke menatap intens padaku. "Kau kecewa karena kini aku menjadi boss-mu. Cherry?"Cherry, nama itu adalah panggilan khusus yang dia berikan padaku saat kami masih bersama. Siapa sangka, dia masih mengingatnya."Well, sebenarnya aku kecewa," ujar-ku sembari bersedekap dada, sudah tidak ada lagi ke formalitasan diantara kami.Menaikkan sebelah alisnya keatas, reaksi Sasuke membuatku ingin menjahilinya."Benarkah?" tanyanya, yang ku respon dengan anggukan."Yah, aku sungguh kecewa. Padahal aku sudah memilih resign dari pekerjaan ku menjadi model agar dapat berkencan dengan seorang CEO. Tapi ternyata kaulah boss-ku, haruskah aku resign lagi?" tanyaku membuat tawa renyah mengalun keluar dari bibirnya.Sasuke mendengus geli, lalu dia menyentil dahi-ku tidak terlalu kuat. Tapi tetap saja itu sakit."Kau semakin membuatku, tidak ingin melepaskanmu. Cherry," ujarnya, saat aku tengah mengusap dahi indahku yang menjadi korban.Mencebik kesal, aku sudah tidak menganggapnya sebagai boss sekarang. Namun, sebagai mantan yang mengesalkan."Teruslah membual Sasuke," balasku, tanganku terulur memperbaiki tata letak dasinya yang sedikit miring.Tersenyum geli, Sasuke hanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia membiarkanku memperbaiki dasinya, memang sendari awal, aku sudah sangat ingin memperbaiki dasinya.Posisi kami begitu dekat, aku mencoba fokus merapikan dasinya. Sungguh konyol, kini aku terlihat seperti seorang istri yang membantu suami."Membual? Aku sedang tidak membual babe."Suara Sasuke terdengar serak, dan seksi. Arghhh sial, kemana pikiranku melintas barusan."Kau sudah punya istri Sasuke, jangan berpikir aku tidak mengetahuinya," ucapku malas sembari meliriknya sekilas.Diam, Sasuke sama sekali tidak membalas perkataanku. Mungkin, dia berpikir aku tidak tau. Bahwa Sasuke sudah menikah satu tahun lalu."Selesai," seruku dengan tersenyum, setelah merapikan dasinya.Tersenyum tipis, Sasuke lalu memegang daguku. Membuat emeraldku kini beradu dengan onyx yang dulu begitu ku rindukan."Punya dua istri, sepertinya bagus."Aku mendelik saat dia berkata demikian, lalu menginjak kakinya cukup kuat. Rasakan itu."In your dreams, Mr." Tanpa rasa bersalah, aku berucap demikian dan melangkah pergi.Berbeda dengan laki laki biasanya, Sasuke hanya meringis padahal high heels ku cukup tinggi dan menginjaknya kuat.Terkekeh, Sasuke lalu membalik badannya. Aku tau dia tengah memperhatikanku sekarang, tapi aku tidak peduli."Sexy," komentar Sasuke yang masih dapat ku dengar.Dengan cepat, aku menghentikan langkahku dan menatapnya kesal. "Obscene," makiku penuh keberanian lalu dengan cepat melangkah keluar.Flashback.Paris-prancis.Dengan menggunakan mini dress warna merah, yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.Sama sekali tidak terlihat sorot mata risih, di emerald Sakura. Perempuan yang baru saja masuk ke jenjang perkuliahan itu melangkah santai masuk kedalam club.Beberapa pasang mata menatap kearahnya, tidak mengidahkan sama sekali. Sakura duduk dikursi meja pantry."Tolong satu cocktail," tuturnya, dengan nada suara cukup kuat.Dentuman musik yang keras, ditemani dengan suara desahan yang samar-samar bukanlah hal yang aneh.Sakura bertopang dagu, dan menatap sekitar dengan acuh. Untaian rambutnya yang berwarna softpink dengan kulit putih porselin membuat Sakura tampak begitu luar biasa.Ia menaruh sebelah paha kanannya diatas paha kiri, sembari menunggu minuman yang ia pesan.Tangan lentiknya bergerak dengan cepat mengetik diatas keyboard ponsel, mengirim sebuah pesan pada seseorang yang tengah mengkhawatirkannya."Bullshit," desisnya, mengumpat lalu menaruh alat komunikasi itu tanpa minat diatas meja.Diwaktu yang bersamaan, bertender pria itu memberikannya cocktail yang diinginkan."Thanks." Menerima, Sakura lalu meneguk minuman beralkohol itu dalam tiga tegukan.Malam ini, dia habiskan dengan minum-minuman beralkohol. Ia hanya duduk dikursi pantry tanpa ada niatan untuk turun ke lantai dansa.Sudah beberapa saat berlalu, Sakura merasa sedikit mabuk. Pandangan matanya juga mulai kabur, mungkin karena ia meminta cocktail yang difermentasi kan dengan devil spring vodka.Itulah kenapa kadar minuman alkohol yang Sakura pinta, sangat tinggi dan gampang membuat seseorang mabuk hanya dalam beberapa tegukan.Seorang pria, duduk disampingnya. Sakura dapat mencium harum maskulin dari pria itu."Satu vodka."Shit, suara bariton pria itu bahkan terdengar sungguh luar biasa. Sakura menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk terlihat biasa saja.Uchiha Sasuke, pria dengan gaya pakaian casual itu menatap kearah Sakura yang memejamkan mata sejenak.Pusing, itulah yang Sakura rasakan, tapi. Ia tahu bahwa pria disampingnya ini terus saja menatap kearahnya.Membuka kelopak matanya, Sakura kini melihat kearah Sasuke. " Excuse me, apa ada yang salah denganku?" tanya Sakura.Mendengus pelan, sebuah seringai menghiasi wajah tampannya. "Kau terlihat menarik dimataku."Senyum simpul menghiasi wajah Sakura. "Benarkah? Lalu, apa kau ingin menghabiskan one night stand denganku?" tawar Sakura.Terkekeh pelan, Sasuke tidak pernah menyangka akan ada seorang yang bertanya seperti itu padanya."Tidak," balasnya membuat kening Sakura mengerut."Sialan," maki Sakura, pelan namun masih dapat didengar oleh Sasuke.Sakura kembali meminum cocktail miliknya, mengacuhkan Sasuke. Mencari partner untuk menghabiskan malam sepertinya sedikit sulit.Pria bermarga Uchiha itu tersenyum geli, saat mendengar umpatan meluncur keluar dari bibir ranum itu.Bangkit berdiri dari kursi, Sasuke dengan tiba tiba mengangkat tubuh seksi Sakura keatas meja pantry bertender tanpa beban.Tersentak kaget, Sakura mendelik kesal pada pelaku yang baru menolak ajakannya beberapa saat lalu."Oh fuck, apa yang ingin kau lakukan?" tanyanya.Cahaya remang remang, membuat Sakura tidak dapat melihat bahwa Sasuke kini menatapnya penuh ketertarikan."Bukan hanya satu malam yang akan ku lewatkan denganmu, namun setiap malam," bisik Sasuke dengan suara serak tepat ditelinga Sakura dengan seringai tipis.Sakura balik menyeringai. "Bagaimana jika aku tidak ingin menghabiskan setiap malam denganmu?" tanyanya main-main.Tersenyum tipis, telapak tangan kanan Sasuke bergerak mengelus paha Sakura dengan lembut. "Aku jamin kau tidak akan menolak, babe," ucapnya lalu mencium bibir Sakura._______________Seakan tersadar dari kenangan lama, aku meringis pelan mengingat pertemuan pertamaku dan Sasuke dulu.Siapa yang menyangka bahwa aku akan memberikan mahkota-ku pada Sasuke, dan kami kembali bertemu dikampus serta menjalin kasih dalam kurung waktu cukup lama.Sasuke adalah cassanova, dan putra bungsu keluarga Uchiha. Pria itu sangat famous, tentunya.Aku mengaduk cappucino yang ku pesan beberapa saat lalu menggunakan pipet.Untuk hubungan sebagai mantan kekasih, ku rasa hubungan kami terbilang cukup baik.Cafetarian Uchiha corp bergaya Spanyol, lebih mirip seperti kafe bagiku.Mengingat seberapa kayanya keluarga konglomerat itu, jadi ini adalah hal yang wajar.Duduk sendirian dimeja pojok tidak membuatku merasa dikucilkan, yah ini hari pertamaku bekerja dan belum memiliki teman.Merasa bosan, aku memilih untuk memainkan ponsel. Sebuah chat dari seseorang yang amat ku rindukan membuat bibirku naik keatas dan membentuk seulas senyum.Aku yang sibuk mengetik diatas keyboard ponsel mendadak tidak fokus saat cafetarian tiba tiba menjadi heboh.Layar ponselku kini menandakan panggilan masuk, memilih untuk beranjak pergi.Aku berdiri dari kursi, dan mengangkat panggilan itu. "Hello dear ," sapaku lembut.Kasak-kusuk terdengar dari seberang sana, membuatku merasa khawatir. "Sayang, kau baik-baik saja?" tanyaku.Suara disambungkan telepon tidak terlalu jelas, mungkin karena cafetarian kini sangat berisik atau masalah jaringan.Aku menekan tombol speaker pada ponsel, masa bodoh jika ada yang mendengar percakapanku. Karena aku hanya ingin memastikan, permata hidupku baik-baik saja saat ini.Bruk!Sebuah kesialan terjadi, karena terlalu fokus pada ponsel aku menabrak tubuh seseorang.Memejamkan kelopak mata, aku sudah siap siaga merasakan kerasnya lantai marmer dan menjadi objek tertawaan semua orang.Terpaku, aku dengan cepat membuka kelopak mata. Saat merasakan tangan kekar kini menahan pinggangku agar tidak jatuh, menghantam lantai.Onyx tajam itu membuatku tertegun, ditambah dengan senyum tipis diwajahnya.Buru-buru, aku berdiri tegak dan beruntung Sasuke melepaskan tangannya dari pinggangku.Aku melakukan kesalahan fatal, dihari pertama bekerja. Damn it, hanya ada kata pemecatan dalam kepalaku saat ini."Maafkan saya Mr. Uchiha," ucapku formal sambil membungkuk sekilas.Pantas saja, cafetarian menjadi heboh. Pasti karena kedatangan Sasuke kesini, harusnya aku berpikir tentang hal ini tadi.Semua orang memandang kearah kami sekarang, bahkan dibelakang mantan-ku terdapat para jajaran tinggi perusahaan.Diamnya Sasuke membuatku mengumpatinya didalam hati, sialan. Padahal jelas-jelas pria ini tau aku tengah berdiri kikuk dihadapannya.Aku memberanikan diri, menatap wajahnya yang tampak datar. Kini, onyx Sasuke beralih menatap benda berbentuk persegi panjang, berwarna putih tergeletak di atas lantai marmer.Oh my godness, mataku membelalak saat sadar ponselku terlempar jatuh dan masih menyala dalam keadaan tersambung panggilan telepon.Sasuke, pria dengan jas mahal itu berjongkok dan mengambil ponselku. Membuatku meremas kuat rok span warna biru tua yang aku kenakan.Alis Sasuke tertaut, membuatku berharap-harap cemas. Oh Tuhan ku mohon jangan buat Sasuke mengetahui segalanya sekarang, aku belum siap." M y dear ," ucap Sasuke dingin, menyebutkan nama kontak yang tertera disana.Kembali, kasak-kusuk terdengar. Ditambah dengan speaker yang ku aktifkan tadi, membuat semua orang disekitar dapat mendengarkannya.Mengigit bibir bawahku, aku sangat berharap sambungan telepon itu mati saja untuk saat ini."Mama! Salad, baru turun dari pesawat!"Seruan anak kecil, penuh semangat membuat tubuhku membeku diam. Membayangkan bagaimana reaksi semua orang terutama Sasuke, seakan batu menimpa kepalaku."Shit." Spontan, umpatan dengan nada kecil terlontarkan dari mulutku.Aku mengalihkan pandangan kearah lain asalkan tidak menatap manik onyx dengan sorot tajam Sasuke seolah-olah menusuk-ku."Ma, apa mama mendengar salad?"Suara putri kecilku, yang memanggil namaku dan bertanya untuk memastikan karena tidak kunjung menjawab. Sedikit membuatku merasa tidak bersalah padanya.Pikiranku sekarang mirip benang kusut. Tapi, entah keberanian darimana. Aku secara berani serta tiba tiba langsung melangkah maju, dan merebut kembali ponsel yang memang menjadi hak-ku.Masa bodoh jika aku dipecat, karena ketahuan mempunyai seorang putri. Suara imut Sarada yang membuatku bersikap demikian, tanpa basa basi aku langsung mematikan sistem speaker diponsel dan mendekatkan benda komunikasi ini pada telinga kananku."Salad, mama akan menjemputmu dibandara. Kau tunggu disana ya my dear."Sarada menyahut ucapanku dengan patuh, disituasi seperti ini. Aku merasa senang akan sikapnya yang sungguh, dapat dibanggakan." Good job, see you later honey ."Sambungan telepon terputus, setelah pembicaraan berakhir. Helaan nafas pelan tanpa sadarku lakukan, dan dalam sekejap aku tersadar kembali akan situasi sekitar yang sulit dijelaskan.Semuanya menatapku dengan sorot mata berbeda beda dan pendapat mereka masing-masing, oh God. Aku benar benar jadi terkenal di lingkungan kerja dalam kurung waktu kurang dari dua belas jam, sungguh prestasi yang memalukan.Baiklah karena sudah begini, aku tidak punya jalan lain. Untuk saat ini anggap saja. Aku sedang memasang tampang muka tebal, dan tidak tau diri. Karena dengan seenak jidat, aku melangkah hendak pergi dari kantin atau lebih tepatnya kantor raksasa ini.Tatapan Sasuke, terasa menembus diriku. Ini gila, dan aku tidak bisa disini lebih lama lagi.Grep!Aku membatu diam, saat sebuah tangan mencengkram pergelangan tanganku walau tidak terlalu kuat."Kau berhutang penjelasan padaku."Lidahku terasa keluh, saat Sasuke membisikkan hal itu dengan nada dingin sarat akan intimidasi.Refleks, bibirku menipis. Sialan aku merasa sangat gugup, bagaimana pun aura dari seorang Uchiha sungguh tidak main main.Setelah berucap demikian, Sasuke melepaskan cengkraman tangannya. Pria yang menjabat sebagai CEO itu, kini memandang pada para karyawan yang masih asik menjadi penonton dan bergosip ria."Apa sedang ada tontonan menarik bagi kalian sekarang?!" tanyanya sekaligus membentak yang sarat akan sindiran.Menunduk, aku berdiri diam. Suasana kantin mendadak sepi, tidak ada lagi suara apapun. Setelah Sasuke berucap seperti tadi dengan begitu tegas, aura boss sungguh cocok untuknya.Sasuke melangkah pergi, bersama dengan para jajaran tinggi perusahaan yang masih setia mengikuti langkahnya.Mencoba menenangkan diri, aku menghela nafas panjang. Dan menekankan didalam hati, bahwa kejadian ini tidak akan berdampak besar apalagi negatif.Jelas aku sedang membohongi diriku sendiri, tapi itu membuatku lebih baik. Sikap percaya diriku sebagai mantan model nyatanya kembali runtuh jika berhadapan dengan dia, entah itu dulu mau pun sekarang.__________________Diruangan dengan nuansa maskulin itu, onyx tajam pemilik ruangan ini membaca setiap rentetan kata diatas kertas putih penuh dengan seksama.Raut wajahnya terlihat amat datar, Sasuke lalu menutup dokumen tentang data seseorang secara detail yang ia pinta beberapa saat lalu.Hembusan nafas kasar terdengar, Sasuke kemudian beralih menatap kearah tangan kanan kepercayaannya dengan sorot mata serius."Tutup bandaranya sekarang."_________________Aku duduk dengan gelisah dikursi penumpang taxi, karena kejadian tadi sedikit membuatku merasa takut.Hal tadi tidak seharusnya terjadi, aku beranggapan demikian bukan karena egois. Karena, dari awal aku tidak pernah berniat untuk menyembunyikan fakta tentang keberadaan Sarada dari Sasuke. Tapi, ini terlalu cepat.Setidaknya, aku butuh waktu beberapa saat untuk menyiapkan diri dan mempersiapkan segalanya.Aku mencoba untuk tetap tenang, manik emerald ku kini beralih menatap keluar jendela taxi.Mungkin butuh sekitar setengah jam untuk tiba dibandara dan bertemu permata hidupku, sedikit sulit untukku tadi menemukan taxi.Berharap saja jalan tidak begitu ramai, apalagi sampai tercipta kemacetan. Membayangkannya jika benar terjadi, sungguh terasa mengesalkan.___________________"Ada apa ini?"Aku menatap dengan penuh keheranan, saat mobil taxi yang ku tumpangi dipaksa berhenti saat sampai diportal depan bandara oleh sekelompok orang dengan tubuh tegap dan menggunakan jas seragam."Saya tidak tau nona."Supir taxi menjawab pertanyaanku dengan nada suaranya yang amat kentara, sudah jelas dia juga sama denganku yang tidak tau situasi apa yang sedang terjadi saat ini.Salah seorang pria, mengetuk kaca jendela dibagian belakang alias penumpang tempatku duduk saat ini."Nona Sakura, kami ada perlu dengan anda. Mohon keluar, dan bekerja samalah."Gelisah, aku merasa bingung harus berbuat apa. Bahkan supir yang tampak tidak muda lagi itu menggelengkan kepalanya, seolah memberi kode bahwa jika aku membuka pintu mobil bisa saja berbahaya.Pemikiranmu bergemelut, namun aku memilih untuk membuka pintu mobil dan menapakkan kaki-ku yang dibalut high heels keluar dari dalam taxi.Pria tadi menyebut namaku, itu berarti ada seseorang yang memerintahkannya. Ditambah, akses masuk kedalam bandara ternyata telah diblokir, oleh orang yang berkuasa tentunya."Mohon ikut dengan kami nona Sakura, karena kami akan mengantar anda, untuk menemui putri anda didalam bandara," jelasnya, dengan nada serius.Diam, aku memperhatikan sekitar. Ada beberapa mobil dibelakang, yang ternyata disuruh putar balik karena akses ke bandara telah ditutup.Meski kini, ada satu orang didalam kepalaku yang mungkin saja menjadi pelaku. Tapi, aku mencoba menepis pemikiran itu jauh-jauh.Pria didepanku berkata hal yang jujur, bahwa Sarada berada didalam bandara. Karena aku memasang GPS diponselnya, untuk jaga jaga disaat seperti ini.Aku mengangguk kepala, tanda mengiyakan. "Baiklah, aku ikut kalian kalau begitu."_________________Aku berlari, masuk kedalam gedung bandara. Dengan cukup cepat meski menggunakan high heels, itu bukan sebuah halangan.Beberapa pria yang mengawali tadi, hanya mengantarkan ku hingga bagian parkir bandara.Bandara ini sangat luas, dan tidak ada seorangpun didalamnya sejauh aku masuk dan menjejakkan kaki.Kakiku berhenti berlari, nafasku memburu. Karena kecepatan kakiku melangkah tidaklah main main, sedikit rasa sakit ku rasakan akibat berlari dengan sepatu hak tinggi."Mama!"Suara akan kecil, yang sangat akrab dipendengaranku membuat manik emerald ku berbinar.Aku menoleh kearah kiri dengan tersenyum, namun kemudian aku terpaku diam mendapati bahwa putriku. Sarada, yang beberapa bulan lalu berulang tahun. kini, tengah berada dalam gendongan Uchiha Sasuke.Sudah sendari tadi, aku mengelus pelan pucuk kepala Sarada yang tengah tertidur lelap dalam pangkuanku sembari menyender.Melihat raut wajah Sarada yang sangat imut dengan pipinya yang chubby membuatku merasa gemas dan menarik hidung mungil itu pelan.Gelisah, Sarada sepertinya merasa risih dengan apa yang aku lakukan. Tapi aku justru malah terkikik geli, karena merasa terhibur.Sebuah tangan kekar yang terulur mengelus pucuk kepala Sarada membuatku seketika tersadar, akan situasi saat ini.Aku menatap kearah sang empu yang tidak lain adalah Sasuke, pria dengan setelan jas mahal itu menyetir mobil Nissan GT-R50 miliknya yang berwarna hitam elegan. Sebuah mobil limited edition dan berharga mahal.Dia melirik sekilas pada Sarada, yang tengah tertidur dalam pangkuanku dengan sebuah senyum tipis."Kau selalu membuatku terkejut."Suara Sasuke terdengar begitu dalam, membuat bibirku terasa keluh. Mencoba untuk tetap tenang, aku lalu menatapnya dengan sorot mata tidak yakin."Benarkah? Dalam artian baik atau sebaliknya?" tanyaku penuh rasa penasaran.Sasuke terlihat berpikir sejenak, pria itu lalu memarkirkan mobilnya dengan aman."Kau tau jawabannya babe," balas Sasuke dengan seringai diwajahnya lalu mematikan mesin mobil.Entah, aku yang tidak terlalu memperhatikan atau waktu yang berjalan cepat. Karena kini nyata kami sudah berada dilantai basementDia melepaskan seltbeat, lalu membuka pintu mobil dan berjalan memutar.Membuka pintu mobil disebelahku, dan mengulurkan kedua tangannya. "Kemari, biar aku yang menggendongnya."Haruskah aku terpana untuk kesekian kalinya, karena sikap Sasuke yang selalu gentleman baik dulu mau pun sekarang.Dengan senang hati, aku menerima tawarannya. Membiarkan dia mengambil Sarada dari pangkuanku."Hati-hati, jangan sampai dia terbangun," ucapku sedikit khawatir.Tapi itu sia-sia, karena Sasuke dengan sigap menggendong Sarada dengan penuh kelembutan bahkan putriku tampak tidak terganggu dan justru terlihat sangat nyaman dalam dekapan CEO Uchiha corp.Mengambil tas milikku, kaki jenjangku yang berbalut high heels kini menapak pada lantai basement.Pintu mobil tertutup, aku menatap Sasuke yang kini sibuk mengelus punggung Sarada."Ikut aku," ucapnya yang terdengar seperti perintah ditelinga ku.Dan sialnya, aku menurut. Yah walau kami sepasang kekasih dimasa lalu, tapi sekarang dia boss-ku.My sweet, CEO.______________________Ting!Pintu lift terbuka, melangkah keluar. Kami berjalan beriringan. Menuju apartement yang tidak lain adalah milik Sasuke.Aku memang menyetujui, untuk pergi ke apartementnya yang berada dekat dari bandara. Untuk meluruskan semua masalah yang terjadi dimasa lalu, dan memperjelas semuanya."Sepertinya kau harus menerima tawaranku."Celetuk Sasuke membuatku kini menatapnya penuh tanya. "Tawaran? Tawaran yang mana?"Aku mengerutkan kening tanda heran, sebuah seringai tipis menghiasi bibirnya membuatku merasakan firasat aneh.Sasuke mendekatkan bibirnya ke telinga kiriku. "Menjadi istri keduaku," bisiknya dengan suara seksi.Mencoba untuk tidak tergoda. Aku menatap malas Sasuke, lalu menyikut pinggangnya pelan. "Jangan bercanda terus denganku, Sasuke."Sengajaku ucapkan namanya, sebagai tanda bahwa aku memang tidak punya niat. Bagaimana pun dia sudah menikah, hell mana mungkin aku merusak pernikahannya.Dia terkekeh, Sasuke tampak begitu tampan dan aku harus mengakui itu sebagai tanda kejujuran."Sakura,"Fokusku kini beralih, pada seorang perempuan dengan paras cantik serta bersurai merah terang."Karin...?" gumamku tidak percaya.Pasalnya, sudah hampir delapan tahun kami tidak pernah bertemu. Karin adalah sahabatku sejak dibangku sekolah dasar.Karin tersenyum dan berjalan mendekat kearah ku dengan membawa paper bag dikedua tangannya."Kau tinggal disini?" tanyaku bersemangat.Mengangguk, Karin juga tampak begitu senang bertemu denganku. "Ya, aku baru tinggal disini sekitar sebulan. Bagaimana denganmu?" Karin menjeda pertanyaannya dan melirik sekilas pada Sasuke dan Sarada.Lalu sebuah senyum penuh makna menghiasi wajahnya. Ia menatapku dengan kerlingan mata yang sudah sangat aku pahami."Kita tidak pernah bertemu dalam kurung waktu lama, dan sekarang kau sudah menikah? Damn it. Keluargamu tampak sungguh sempurna dan serasi," lanjutnya panjang lebar.Oh my godness, aku sudah menebak bahwa dia akan berucap seperti itu. Menghela nafas pelan, menggeleng pelan."No, ini tidak seperti yang kau pikirkan Karin," ucapku menyanggah agar kedepannya Karin tidak salah paham.Mengibaskan tangannya, Karin lalu menganggukkan kepalanya paham. "Baiklah aku tau, dia kekasihmu serta boss-mu bukan? Dan ternyata kalian sudah memiliki anak. Aku paham itu."Sudah jelas dipandangan Karin kami terlihat sangat cocok, seorang pria tampan dengan jas mahal dan aku dengan setelan khas sekertaris kantor ditambah dengan Sarada diantara kami.Karin sudah pasti berpikir seperti itu, sekertaris yang memiliki anak dengan bossnya sendiri. Menghembuskan nafas pelan, aku melirik sekilas ke pada Sasuke yang justru hanya mengamati dan tersenyum tipis.Sialan, dia memang tidak memiliki niat untuk membantuku menjelaskan situasi. Meski, memang benar bahwa Sarada adalah anak Sasuke.________________Tanganku dengan telaten mencuci piring diatas wastafel, sesekali aku bersenandung kecil.Apartement ini, masih sama seperti beberapa tahun lalu. Dulu, aku pernah dibawa Sasuke untuk kesini saat kami berlibur ke negara asal.Tidak ada yang berubah, apartement ini masih sama mewahnya dan terkesan maskulin. Sungguh ciri khas Sasuke, begitu kentara terasa.Beruntung, Sarada sama sekali tidak terbangun dan saat ini tengah bermimpi indah didalam kamar Sasuke.Helai-an anak poni yang tidak terikat menutupi mataku, rambutku kini sudah diikat ponytail agar tidak menghalangi aktivitas cuci piring.Beberapa saat lalu, Sasuke memesan junk food karenanya kulkasnya sebagian besar berisi soda dan minuman beralkohol.Itulah mengapa kini, aku mencuci piring diapartementnya. Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih untuk makanannya.Selang beberapa saat, aktivitas yang ku lakoni akan selesai. Namun, aku dibuat kaget karena ulah seseorang.Sebuah tangan kekar memeluk pinggangku posesif, Sasuke lalu membenamkan wajahnya diceruk leherku."Kau sudah semakin mirip istriku, Cherry," ujarnya dengan suara serak.Tertawa pelan, aku masih senantiasa membilas piring lalu meliriknya sekilas. "Yes of course, aku istrimu didunia mimpi," balasku dengan candaan.Sasuke mendecak, dia lalu menaruh dagunya dibahuku dan mengamati aktivitas yang sedang aku lakukan."Sudah pergi sana," usirku terang terangan.Bukannya menurut, Sasuke semakin memelukku. "Kau berani mengusirku hm?"Menganggukkan kepala, aku mengiyakan. "Tentu saja aku berani."Membilas kedua tangan, aku mengambil serbet dan mengelap kedua tangan agar kering."Nah, sekarang lepaskan pelukkanmu Sasuke.""Hn."Sasuke dan gumam-annya, adalah hal yang tidak asing lagi bagiku. Jelas sekali pria tampan ini tidak akan menurut padaku dengan mudah.Jika sudah begini, hanya ada satu cara. Dan mau tidak mau aku harus melakukannya.Cup!Aku mencium sekilas pipi Sasuke, dengan penuh kenekatan.Menopang dagu, aku menatap pada Sasuke yang sibuk bertelepon dengan seseorang diseberang sana.Sebuah ide konyol tapi menyenangkan kini melintas dikepala-ku, dengan cepat. Aku bangun berdiri dari sisi pinggir ranjang, dan tersenyum jahil.Baiklah, let's do it."Oh baby... Sttt.. fuck! Damn, ahh shit."Aku mendesah, dengan penuh penghayatan. Dengan suara cukup kuat hingga dapat didengar oleh orang yang kini menjadi teman ngobrol Sasuke ditelepon."Oh shit," umpat Sasuke, saat menyadari tingkah laku-ku.Dia menjauhkan telepon yang masih tersambung, masa bodoh jika itu istrinya.Siapa suruh tidak membiarkanku pulang ke apartement milikku sendiri, dan memaksa aku serta Sarada berada disini."Sakura...." Sasuke menegur-ku dengan suaranya yang dalam dan serak.Aku terkikik geli, melihat bagaimana onyx Sasuke menatapku datar. Dia sedang kesal pastinya, tapi aku tidak peduli saat ini.Terlalu sibuk tertawa, membuatku tiba tiba merasa terkejut. Saat tubuhku kini jatuh tepat diatas ranjang yang empuk karena ulah seseorang.Entah sejak kapan, Sasuke sudah mematikan sambungan teleponnya dan kini menindihku."Kau goda aku lagi, ku buat ranjang ini roboh Cherry," ucap Sasuke dengan suara baritonnya yang terdengar seksi.Ok, aku tahu dia sungguh sungguh mengucapkan itu.Tanganku bergerak mengelus lembut rahangnya yang tampak tegas, posisi kami begitu intim.Sasuke memejamkan matanya, menikmati elusanku. Dia selalu tampan, dan aku akui itu."Baiklah, I'm sorry ." Aku memilih untuk mengalah, yah ini pilihan terbaik.Namun, Sasuke langsung membuka kelopak matanya dan seulas seringai menghiasi bibir seksinya.Tiba-tiba alarm tanda bahaya berbunyi dikepalaku, oh damn it. Pikiranku mendadak kotor, hanya Sasuke yang mampu membuatku berpikir begini.Sasuke mendekatkan wajahnya ke samping kanan wajahku, deruh nafasnya yang menepah membuatku refleks memejamkan mata."Sepertinya, akan lebih baik jika Sarada memiliki adik."Nafasku tercekat, saat dia berbisik dengan nada begitu menggoda. Membuat detak jantungku terpacu lebih cepat, cassanova ini sungguh berbahaya.Aku memberanikan membuka kelopak mata, kini Sasuke tengah menatapku dengan intens dan menyeringai puas."Kau takut, heh?"Sadar aku telah dipermainkan olehnya, dengan cepat aku mendorong tubuh Sasuke yang menindihku.Sedikit terhuyung, tapi Sasuke berhasil mengendalikan dirinya. Aku mendelik pada dia yang sekarang tengah terkekeh geli.Dia menyebalkan, dan sialnya aku pernah mencintainya dulu.Memalingkan wajah kearah lain, aku mengerucutkan bibirku dan mengembungkan pipi.Sesekali aku melirik Sasuke, dan kembali membuang muka.Meski sudah berumur 20-an tahun, dan sering bersikap dewasa. Tapi sikap manja dan mengambek akan aku keluarkan pada orang orang terdekat.Dia mendengus geli, lalu melangkah mendekat padaku. Tangan kekarnya kini mencubit pipiku, tidak terlalu kuat tapi tetap saja sakit."Sasuke! Sakit tau," protesku, semakin menatapnya sangar.Tapi pria ini justru tertawa, mungkinkah aku terlihat lucu dan menggemaskan saat kesal? Oh God._________________Aku menatapnya dari bibir pintu, bagaimana Sasuke tengah mengusili Sarada yang tengah tertidur.Sudah terlihat jelas bahwa Sasuke menyayangi Sarada, putri kami. Karena bagaimana pun, kenyataannya mereka memiliki hubungan darah dan ikatan sebagai ayah dan anak.Sayangnya, kami tidak bisa menjadi keluarga meski saling menyayangi.Aku menghela nafas panjang, lalu berjalan mendekat dan duduk disamping Sasuke.Pria tampan bak dewa Yunani dengan pakaian casual itu kini beralih menatapku dengan menaikkan sebelah alisnya."Ponselmu berdering," ucapku memberitahu dan menyerahkan benda persegi panjang canggih berwarna hitam padanya.Mengangguk, Sasuke bangkit dari ranjang dan menerima ponsel miliknya. Lalu melangkah pergi, keluar dari dalam kamar.Memijit pangkal kening, aku merasa gusar sekarang. Karena Sasuke terus menelepon dan mendapatkan telepon dari orang lain.Meski kami sudah sepakat, untuk tidak memberitahu keberadaan Sarada pada semua orang terlebih keluarga konglomerat Uchiha.Setidaknya sampai aku benar-benar siap dengan segala kemungkinan, bukan karena membayangkan kemarahan istri Sasuke, serta cemooh dan cibiran orang lain.Namun, kemungkinan bahwa Sarada akan mendapatkan dampak negatif dari semua ini membuatku cemas dan gelisah.Tanganku bergerak mengelus punggung putriku dengan lembut, Sarada tidur dengan lelap diatas kasur berukuran king size.Beruntung, dia tidak terbangun karena perbincangan aku dan Sasuke yang sedikit absurd beberapa saat lalu." Love you dear ." Mengecup kening Sarada, aku lalu bangun dan beranjak pergi dari dalam kamar._______________Aku menyeruput pelan orange jus lalu meletakkannya saat hanya tersisa setengah."Bye." Sambungan langsung terputus.Tenten, perempuan itu baru saja menghubungiku dan meminta maaf karena tidak dapat menemui ku.Seharusnya Tenten yang mengantar Sarada hingga apartement-ku dan menjaganya, tapi sesuatu tidak selamanya berjalan sesuai rencana.Ternyata Tenten, mendapatkan kabar bahwa orangtuanya mengalami kecelakaan di kota Suna.Dan bertepatan dengan itu, Sasuke datang lalu berkata bahwa dia adalah ayah kandung Sarada.Aku tidak akan bertanya darimana Sasuke tau fakta itu, karena dia adalah Uchiha jadi jangan pernah dipertanyakan.Melihat bukti yang diberikan Sasuke dan kemiripan diantara keduanya, Tenten langsung menyerahkan Sarada dan kembali melakukan penerbangan ke kota asalnya.Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, tentang semua ini. Dan lagi, aku tidak memiliki niat untuk menyembunyikan Sarada dari ayahnya.Karena bagaimanapun, Sasuke berhak untuk tau tentang Sarada. Begitu pula sebaliknya, Sarada berhak tau tentang ayahnya.__________________Uchiha corp.Aku melangkah dengan pelan, tidak tau untuk apa. Sasuke memanggilku untuk ke-ruangannya.Dengan sepihak, CEO tampan itu memutuskan untuk agar aku dan Sarada tinggal diapartementnya.Dan entah sebuah kesialan atau keberuntungan, aku mengaku kalah dan menyetujui hal itu.Jangan berpikir kami akan tidur satu atap apalagi kamar, karena Sasuke tentu saja tidur dimansionnya bersama nyonya Uchiha yang tidak lain istrinya.Dan kini, sudah hari kedua kami tinggal diapartementnya. Sasuke menghabiskan waktu dengan Sarada dari sore hingga menjelang tengah malam lalu pulang.Setelah mendapatkan izin masuk, aku melangkah dengan tenang. Sasuke yang tadinya sedang sibuk dengan berkas kini menatap ke arahku."Kemari."Intrupsi darinya sedikit ambigu bagiku, dua langkah aku melangkah kedepan."Mendekat Sakura," ucapnya lagi.Untungnya, aku segera paham apa yang dia maksud. Aku berjalan mendekat padanya hanya ada sebuah meja yang menjadi pemisah.Ini sudah sudah dekat bagiku.Sasuke berdiri, dia dengan setelan jas mahal tampak sangat sempurna ditambah sikap seorang Uchiha yang menjadi nilai plus."Kau pasti pernah membaca novel yang dimana tokohnya melakukan sex dikantor, bukan?" tanya Sasuke.Aku mengerutkan dahi dan diam sesaat, sex dikantor tidak pernah aku alami tapi aku memang pernah membacanya dibuku.Sedikit bocoran, aku suka membaca novel dewasa dan Sasuke tentu juga mengetahui hal ini.Aku mengangguk, "Sure, memang kenapa?" tanyaku. Lalu aku tersenyum jahil, tangan lentik-ku menjawel hidung mancungnya. "Kau mau ya?"Tawa renyah terdengar, Sasuke menggelengkan kepalanya. "Otak-mu benar-benar mesum," komentar Sasuke, lalu menyentil dahi-ku.Oh brengsek, pipiku tanpa sadar bersemu merah. Kenapa jadi dia yang selalu balas menjahiliku, mantan mengesalkan.Tanganku bergerak mengaduk cappucino yang baru dipesan beberapa saat lalu, dengan menggunakan sedotan.Rona merah tanpa sadar kini menghiasi pipiku, percakapan absurd antara aku dan Sasuke kembali melintas.Sialan.Uchiha Sasuke, dan pesona miliknya memang sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku."Sakura!"Menoleh, kini atensiku beralih pada seorang perempuan yang tidak lain adalah Tayuya.Dia menjabat sebagai sekertaris kedua Sasuke, yah kami bisa dibilang cukup dekat dalam waktu singkat."Tayuya, ada apa?" Aku menatapnya penuh tanya.Tayuya mengatur nafasnya yang tidak teratur, lalu menatapku dengan sorot mata serius. "Kau dalam masalah.""Apa maksudmu?" tanyaku balik, tidak kalah serius."Istri boss datang kesini dan memanggilmu."Deg! Aku terpaku diam, istri Sasuke memanggilku? Bagaimana mungkin.~~~~~~~~~~~~~~Ruangan ini bernuansa putih gading, aku melihat seorang perempuan duduk di sofa dengan pakaiannya yang fashionable.Dilihat dari belakang saja aku sudah dapat menebak siapa wanita itu, dia adalah istri Sasuke."Kau sudah datang ternyata, Sakura."Wanita itu berdiri dari sofa, suaranya sangat familiar bagiku walau sudah beberapa tahun tidak bertemu.Dia memutar tubuhnya, kini kami berdiri berhadapan. Membuatku mengulas senyum simpul, yah bersikap sopan pada istri boss."Nyonya memanggil saya?" tanyaku sopan.Suara kekehan pelan terdengar, istri Sasuke itu bersedekap dada. Lalu melangkah menghampiriku."Kau tidak perlu se-kaku itu Sakura, bagaimanapun kita pernah akrab."Mendengar ucapannya, aku menghela nafas pelan. Menatap pada manik aquamarine nya yang kini tampak tajam.Dia adalah Yamanaka Ino, sahabat dekatku saat masa kuliah dulu. Dan kini, menjadi istri mantan pacarku. Yang tidak lain adalah, Uchiha Sasuke.~~~~~~~~~~~~~~~Penampilanku sekarang tampak sangat berantakan, tapi bukan itu yang aku pikirkan sekarang.Aku melangkah masuk kedalam apartemen Sasuke, yang mendadak menjadi tempat tinggalku dan Sarada.Setelah melepas high heels, aku berjalan kearah dapur membuka kulkas dua pintu dan mengambil es batu.Pipi kananku terasa sakit, tampak memerah dan sudut bibirku sedikit terluka.Siapa sangka nyonya Uchiha itu akan menamparku didetik berikutnya dan melenggang pergi begitu saja.Aku mulai mengompres pipiku dengan sedikit meringis, aku akan menjemput Sarada ditempat penitipan anak.Dalam waktu setengah jam, mungkin bekas tamparan ini akan memudar meski sedikit.~~~~~~~~~~~~~Selingkuhan.Dikalangan kantor, sering terjadi perselingkuhan antara atasan dan bawahan.Bahkan kini, kata selingkuh mulai dikaitkan dengan diriku. Rumor dengan cepat tersebar kemana-mana, menjadi perbincangan.Ok aku tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain padaku, tapi rumor ini bisa saja membuat mereka jadi tahu identitas-ku yang sebenarnya.Seorang single parents, yang memiliki anak perempuan dengan ciri khas Uchiha.Orang manapun akan langsung mengetahui bahwa Sarada adalah keturunan Uchiha, dalam sekali lihat.Gen Uchiha memang menakjubkan."Mama."Suara lucu itu membuatku menatap pada Sarada yang kini memegang boneka beruang berwarna biru yang diberikan Sasuke."Honey ada apa?" tanyaku, lalu mengangkat dan membaringkan tubuh Sarada diatas kasur.Dia tampak ragu, namun aku mengelus pucuk kepalanya. "Apa yang ingin Sarada katakan?" tanyaku lagi."Apa papa tidak akan datang?" tanya Sarada dengan manik polosnya.Aku berpikir sejenak lalu mengangguk. "Papa sedang sibuk, apa Salad merindukannya?"Dengan cepat, Dia mengangguk. Aku tahu ini hal yang wajar mengingat Sarada sudah tidak bertemu Sasuke beberapa hari.Setelah adegan aku ditampar istrinya, risegn adalah pilihan terbaik. Aku tidak ingin mencari keributan.Lagi pula, aku berniat membawa Sarada pergi ke kota lain. Untuk bertemu seseorang, sejak awal pertemuan dengan Sasuke memang tidak pernah ada direncanaku.~~~~~~~~~~~~~~~Merasa sedikit haus, aku melangkah menuju area dapur. Guna menghilangkan dahaga yang tiba tiba muncul ditengah malam.Namun, sebuah derap langkah kaki terdengar. Membuat diriku merasa waspada dan meraih spatula yang ada didekatku.Suara itu berasal dari ruang tengah, lampu ruangan itu masih mati. Nekat, kakiku melangkah kesana.Hendak menghidupkan saklar lampu, namun sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku.Tersentak kaget, aku dengan cepat menoleh kesamping. Mendapati Sasuke sebagai pelaku.Menghela nafas lega, aku merasa bersyukur karena orang itu adalah Sasuke dan bukannya penjahat.Bau alkohol begitu menyengat tercium, dia mabuk. Menghembuskan nafas panjang, aku mencoba melepaskan tangan Sasuke yang memeluk pinggangku.Tapi semua itu sia-sia, justru dia malah mengeratkan pelukannya. Dan menenggelamkan wajahnya diceruk leherku."Sasuke," panggilku.Sasuke sama sekali tidak meracau, ataupun mengumpat layaknya orang mabuk, dia hanya diam.Ini sedikit aneh.Kami hanya diam dengan posisi yang agak ekstrim, Sasuke adalah tipe orang yang jarang mabuk. Dan sekali dia mabuk, itu berarti ada sesuatu yang mengganggunya."Kenapa?"Hanya satu kata, Sasuke berucap dengan pelan. Namun nada suaranya terasa begitu datar.Aku mengerutkan kening, bingung, tentu saja. Siapa orang yang akan mengerti dengan satu kata seperti itu."Kenapa kau meninggalkanku Sakura?" tanya Sasuke lagi.Tubuhku membatu diam, kali ini suara Sasuke terdengar bergemetar. Membuatku memejamkan kelopak mata sejenak.Sakit, tentu saja. Aku merasa seperti ditusuk ribuan pisau saat Sasuke menanyakan alasan, tentang aku yang pergi meninggalkannya secara tiba tiba.Ini memang salahku."Maafkan aku Sasuke."Kali ini aku memilih egois, entah dia mabuk atau tidak. Aku tetap tidak dapat mengatakan alasannya, karena aku tidak akan pernah siap.~~~~~~~~~~~~~~~Mentari pagi menyambut, aku bersyukur Sasuke tidak membahas hal kemarin. Entah dia lupa atau tidak, aku juga tidak tahu.Pintu kamar mandi terbuka, Sasuke. Pria yang menjabat sebagai CEO itu keluar dari sana hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.Ototnya terlihat begitu kekar, siapa sangka aku pernah menciptakan kissmark ditubuh itu dulu.Shit, apa yang ku pikirkan. Aku menggeleng kepala pelan, mengenyahkan pikiran itu sejauh mungkin dan menatap Sasuke yang ternyata juga tengah menatapku."Sasuke, aku dan Sarada ingin Mcdonald's," ucapku mengutarakan keinginan.Junk food bukan pilihan terbaik, tapi isi kulkas sudah cukup memperihatinkan. Jadi, tidak ada pilihan lain."Benarkah?" tanyanya, memastikan.Tanpa ragu aku mengangguk. "Tentu saja" ucapku.Pria itu berjalan mengambil ponsel mahalnya yang berada diatas nakas, mengetik sesuatu dikeyboard. Mungkin memesan makanan, entahlah."Hn sudah," ujar Sasuke, pria itu lalu melempar sebuah handuk kecil padaku.Dengan sigap aku menangkapnya, tanpa diberi tahu. Aku tahu bahwa Sasuke ingin agar diriku mengeringkan surainya.Tipe pria yang agak manja.Aku melangkah mendekat ke belakangnya, dan mulai mengeringkan rambut berwarna raven itu."Kapan makanannya tiba?"Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Makanan?""Iya makanan," balasku sedikit bingung."Shit." Sasuke mengumpat pelan lalu mendengus geli membuatku kini bertanya tanya.Tidak ingin mati penasaran, aku lalu menarik pipinya pelan. "Tunggu, jadi apa yang kau beli?"Oh God, dia kini malah melirikku dengan onyx tajamnya sembari menyeringai. "Perusahaannya."Singkat, padat, jelas. Membuatku menatapnya tidak percaya."Apa?"
My Husband CEO
" Fanny bangun sayang udah pagi bukannya kamu ada kuliah pagi hari ini"ujar Rani mama Fanny"Iya ma ini udh bangun kok""Cepat mandi lalu turun ke bawah untuk sarapan udah di tunggu papa sama Abang kamu itu"ujar Rani lalu pergi dari kamar Fanny menuju meja makan"Fanny udah bangun ma"kata Ardi abang Fanny"Udah, Fanny masik mandi"kata mama Fanny"Good Morning,papa,mama,abang"sapa Fanny"Morning sayang"kata papa Fanny lalu mereka memulai sarapanKini mereka telah selesai sarapan,papa dan Abang Fanny yang akan pergi ke kantor dan Fanny yang akan pergi kuliah"Papa sama Ardi berangkat ke kantor ya ma"pamit Dito pada sang istri"Iya mas hati-hati di jalan ya""Iya, assalamualaikum"kata Dito lalu pergi"Waalaikumsalam""Ma Fanny berangkat kuliah dulu ya ma""Iya sayang,belajar yang rajin ya kamu kan udah semester akhir,sebentar lagi lulus biar bisa dapet nilai yang bagus""Iya ma,yaudah aku berangkat dulu , assalamualaikum""Waalaikumsalam"............Sesampai nya di kampus Fanny memarkirkan mobilnya dan menuju kelas"FANNY,"panggil Ghea dan Kila pada Fanny saat sedang berjalan menuju kelas"Hi besti"ujar Ghea"Tumben kalian berangkat bareng?"tanya Fanny"Iya tadi Ghea minta jemput gue katanya mobilnya lagi di bengkel"jawab Kila"Hehehe iya mobil gue lagi di bengkel,lagi di servis,terus bokap gue gak bisa nganterin soalnya buru-buru"jawab Ghea juga"Ya udah yuk masuk ke kelas sebelum dosen masuk,kita kn ada kelas pagi hari ini"ajak FannyFanny,Ghea dan Kila kuliah di kampus yang sama dan fakultas yang sama ,mereka kuliah di jurusan sastra dan bahasa,kini mereka sudah semester akhir sibuk menyelesaikan skripsiFanny kini berusia 21 tahunGhea kini berusia 22 tahun danKila kini berusia 21 tahun.............Sesampainya di kelas tidak lama dosen memasuki kelas dan memulai pembelajaranKini kelas susah selesai Fanny pun berencana untuk pulang karena memang dia hari ini cuma ada satu kelas,berbeda dengan Ghea dan Kila yg mengambil kelas tambahanSaat jalan pulang Fanny melihat ada ibu-ibu hamil yang ingin menyebrang tapi kesusahan karena membawa banyak barang lalu Fanny menghampiri ibu-ibu itu"Ibu,ibu mau nyebrang ya biar saya bantu"tanya Fanny"Iya nak ,tapi ibu membawa banyak barang,mobil ibu ada di sebrang sana"jawab ibu itu.............Kini Riko lagi mengendarai mobil menuju kantornya dengan santai,lalu dia melihat ada ibu-ibuk dan seorang perempuan yang ingin menyebrang kelihatan kesusahan karena membawa banyak barang kemudian ia turun untuk membantu ibu dan perempuan itu"Ada yang bisa saya bantu"tanya Riko"Eh iya pak,ibu ini mau nyebrang saya mau bantu tapi saya gak bisa bawain barang nya"jawab Fanny" Iya nak"jawab ibu itu juga"Ya udah saya bantu,kamu yang bantu menyeberangkan biar saya yang membawa barang -barang nya "suruh Riko pada Fanny"Iya pak"jawab FannyLalu mereka menyebrang dengan Fanny yg membantu ibu itu dan Riko membantu membawakan barang-barang nya"Udh buk lain kali kalau mau pergi atau membeli sesuatu jangan sendiri ya bahaya soalnya kan ibu lagi hamil"situ Fanny pad ibu ituTanpa di sadari Riko memperhatikan Fanny yang sedang berbicara dengan ibu itu dan Riko tersenyum walaupun tidak terlihat" Yaudh kalau gitu saya pamit buk "ujar Riko"Iya,terima kasih ya nak"jawab ibu itu"Sama-sama buk, assalamualaikum" pamit Riko lalu pergi"Saya juga pamit ya buk, assalamualaikum"pamit Fanny"Waalaikumsalam"jawab ibu itu..........Sesampainya di kantor Riko langsung manuju ruangannya"Kenapa saya jadi memikirkan wanita itu"ujarnya"Saya suka melihat cara dia menasehati orang lain terkesan sopan,arrrg kenapa saya terus memikirkan wanita itu ,saya harus fokus memahami file yang akaan di buat miting nanti"ujarnya lagiTak berselang lama sekretaris Riko yang bernama Mia memasuki ruangannya"Pak Riko Miting akan segera di mulai ,bapak di tunggu di ruang miting"beritahu Mia pada Riko"Baik saya akan segera kesana"jawab Riko lalu menuju ruang Miting..........."Assalamualaikum,MAMA Fanny yang cantik dan imut pulang"teriak Fanny"Waalaikumsalam,ya Allah Fanny kamu ini jangan teriak-teriak bisa gak sih?"tegur Rani"Hehehe maaf ma"jawab Fanny sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,Rani hanya menjawab dengan menggeleng kan kepala"Yaudh Fanny ke kamar dulu ya ma"ujar Fanny dan di angguki RaniSesampainya di kamar Fanny langsung melepas sepatunya dan merebahkan badan nya di kasur"Cowok tadi kalo di perhatiin ganteng juga tapi mukanya datar banget"ujar Fanny mengingat Riko"Au ah mending gue nonton Drakor dari pada mikirin tu cowok"ujarnya lagi dan mulai menonton............Waktu telah menjelang sore kini Riko sedang dalam perjalanan pulang,sesampainya si rumah dia memarkirkan mobilnya di halaman rumah nya"Assalamualaikum,mami"salam Riko"Waalaikumsalam,"jawab Rere mami Riko"Waalaicumcalam"jawab Vano adik RikoRiko berjalan menuju mami dan Vano di ruang keluarga"Adek Abang lagi main apa?"tanya Riko pada Vano"Agi ain obil-obilan"jawab Vano dengan suara cadelnya"Yaudh kalo gitu Riko ke kamar dulu ya mi,mau bersih-bersih"ujar Riko"Iya sayang"jawab RereRiko menuju kamar dan segera mandi lalu melaksanakan kewajiban umat muslim yaitu shalatSetelah itu Riko turun untuk makan mlm bersama keluarganya"Loh papi udah pulang?"tanya Riko pada putra papi Riko"Udh tadi sebelum magrib"jawab putra"Udah ngobrolnya nanti lagi makan dulu"suruh Rere pada suami dan anak nyaHening selama makan hanya ada suara dentingan sendok,selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga dan Riko sedang bermain dengan Vano"Riko papi mau ngomong sesuatu sama kamu"ujar putra memulai pembicaraan"Mau ngomong apa pi?"tanya Riko"Papi sama mami berencana menjodohkan kamu sama anak sahabat papi"ujar putradeg"Kamu terima ya permintaan mami sama papi,kamu gak mau kan buat mami sama papi kecewa"ujar Rere meyakinkan anaknya"Tapi kenapa tiba-tiba mi"tanya Riko"Sebenarnya perjodohan ini sudah lama kami rencanakan,papi sama mami ngelakuin ini pengen buat kamu bahagia"jawab putra"Kami gk mau kan buat mami sama papi kecewa ,jadi kamu terima ya perjodohan ini?tanya Rere"Kalo itu yang bisa buat papi sama mami bahagia Riko bakal lakuin"jawab Riko"Makasih sayang ,kamu pasti gak akan kecewa sama pilihan papi sama mami"ujar putraSaat ini keluarga Fanny sedang makan malam bersama,suasana hening hingga Dito membuka suara"Kuliah kamu gimana sayang"tanya Dito pada Fanny"Baik kok pa, sekarang Fanny juga udah mulai menyusun skripsi"jawab Fanny"Bagus kalo gitu semangat menyusun skripsi nya sayang"ucap Dito menyemangati FannySuasana hening kembali dan mereka melanjutkan makan malam kembali,setelah makan malam selesai mereka berkumpul di ruang keluarga"Bang Ardi kapan sih Abang libur kerja? aku pengen jalan-jalan sama bang Ardi"ucap Fanny pada Ardi"Siapa yang mau jalan-jalan sama kamu, Abang mah gak mau"jawab Ardi bercanda"Jadi bang Ardi gak mau jalan-jalan sama aku?"tanya Fanny lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca"Gak"jawab Ardi bercanda lagi"Mama bang Ardi udah gak sayang lagi sama Fanny hiks....hiks " adu Fanny dengan sang mama"Enggak sayang Abang kamu tadi cuma bercanda"ucap Rani dan memeluk FannyArdi yang melihat Fanny menangis karena kejahilannya pun jadi tidak tega dan menghampiri Fanny lalu memeluk nya"Sayang nya Abang kok nangis sih,Abang tadi cuma bercanda"ucap Ardi dalam pelukannya"Jadi Abang hiks.. masik sayang kan hiks.. sama Fanny?"tanya nya pada Ardi"Masik dong dek kamu itu adek Abang yang paling Abang sayang,udah dong jangan nangis lagi Abang tadi cuma bercanda"jawab Ardi dan mengusap punggung Fanny yang masih bergetar"Udah jangan nangis lagi ya"ucapnya lagi dan melepaskan pelukannya dan Fanny hanya mengangguk"Yaudh sana tidur gihh udah malam"suruh Ardi pada sang adek"Oke"jawab Fanny dan Langsung pergi menuju kamar nya membuat Ardi dan kedua orang tuanya terkekeh"Kapan papa mau bilang sama Fanny soal perjodohan dia dengan anak nya putra"tanya Rani"Besok papa akan bilang sama Fanny"jawab Dito pada sang istri"Papa sama Mama yakin mau jodohin Fanny"tanya Ardi pada orang tua nya"Yakin sayang ini demi kebaikan adek kamu"jawab Rani pada sang anak"Yaudh kalo itu juga demi kebaikan Fanny tapi Ardi gak akan biarin kalo suaminya nanti nyakitin Fanny dan bikin Fanny nangis"ucap Ardi pada orang tuanya"Iya sayang mama sama papa tau kalo kamu sayang sama Fanny dan akan ngelindungi dia"jawab Rani.......Pagi pun tiba dan kini Fanny masih bergelud dengan selimut tebalnya"Pagi"sapa Ardi pada Rani dan Dito"Pagi juga sayang "jawab Rani"Fanny mana ma,belum bangun?tanya Ardi pada sang mama"Belum ,sana kamu bangunin adek kamu,kamu kan tau adek kamu itu susah banget di bangunin"jawab Rani pada Ardi"Yaudh Ardi bangunin Fanny dulu ya"ucap Ardi lalu pergi menuju kamar FannySetelah sampai di depan kamar fanni Ardi pun mengetuk pintu kamar Fanny namun tidak ada tanda-tanda Fanny untuk membuka pintu dan itu membuat Ardi Langsung masuk ke kamar sang adek dan melihat Fanny masih tidur dengan posisi tengkurap"Ya Allah dek ,kamu kok belum bangun sih ini udah siang loh memang kamu gak kuliah"ucap Ardi membangunkan Fanny"eaugh, apaan sih bang Fanny masih ngantuk tau"jawab Fanny dengan mata yang masih tertutup"Tapi ini udah siang dek nanti kamu telat kuliah nya"ucap Ardi yang masih berusaha membangunkan sang adek"ck.iya iya ini udah bangun kok ,bawel banget sih"jawab Fanny dan merubah posisi menjadi duduk"Sana mandi udah di tunggu sama papa sama Mama di meja makan"suruh nya pada Fanny"Iya"jawab fanny lalu pergi ke kamar mandiSetelah membangunkan Fanny kini Ardi turun ke bawah dan menuju meja makan"Gimana udah bangun belum adek kamu"tanya Dito"Udah pa ,Fanny nya masih mandi sekarang"jawab Ardi pada sang papaSetelah selesai mandi kini Fanny turun untuk sarapan dengan keluarganya"Pagi semua"sapa Fanny"Pagi"jawab mereka"Kamu gak ada kuliah pagi hari ini sayang"tanya Dito pada sang anak"Enggak pa ,Fanny hari ini jadwal kuliah nya nanti jam 10"jawab Fanny"Ya udh sekarang sarapan dulu ceritanya nanti lagi"suruh Rani pada suami dan anak nyaSetelah selesai sarapan mereka masih duduk di meja makan"Fanny papa mau bicara serius sama kamu"ucap Dito dengan wajah serius"Mau bicara apa pa"tanya Fanny dengan bingungDito melirik Rani dan Ardi untuk memulai bicara dan mereka mengangguk dan itu membuat Fanny semakin bingung"Fanny papa akan menjodohkan kamu dengan anak temen papa"ucap Dito dengan sang anak seriusdeg"Maksud papa apa, Fanny masih kuliah pa ngapain papa jodohin Fanny"jawab Fanny yang terkejut dengan ucapan sang papa"Papa udah lama ngerencanain perjodohan ini,dan kamu harus terima itu sayang"ucap Dito dengan meyakinkan sang anak"Tapi kenapa harus Fanny pa"tanya Fanny"Karna cuma kamu anak perempuan papa"jawab Dito"Tapi Fanny masih kuliah pa ,gimana sama kuliah Fanny"ucap Fanny pada sang papa"Kamu masih bisa ngelanjutin kuliah kamu sayang,kamu mau ya Nerima perjodohan ini ini permintaan papa sama Mama" Gimana ini aku gak mau di jodohin tapi aku juga gak mau buat papa sama Mama kecewa "batin Fanny"Sayang ,kamu mau kan nerima perjodohan ini"tanya Rani pada sang anak"Kalo itu bisa buat papa sama Mama seneng Fanny mau kok nerima nya"jawab Fanny dengan pasrahKini Fanny sudah berada di kampus dan dia akan masuk ke kelas nya"Eh fan tumben tuh muka kusut amat,kenapa?tanya Ghea"Gue mau di jodohin "jawab Fanny"WHAT sumpah demi apa,kok tiba-tiba lo di jodohin sih "tanya Ghea lagi"Gue juga gak tau tapi kata papa gue dia udh lama ngerencanain perjodohan ini"jawab Fanny"Mungkin ini demi kebaikan Lo"ucap Kila yang dari tadi diam"Tapi gue takut kalo yang di jodohin sama gue itu orangnya jelek,tua,terus perutnya buncit"ucap Fanny"Gak mungkin lah orang tua lo jodohin lo sama orang kayak gitu,udh positif thingking aja siapa tau orang yang mau di jodohin sama lo itu orangnya ganteng"jawab Kila"Bener tuh yang di bilang Kila Lo harus positif thingking"ucap Ghea meyakinkan........Kini Riko sedang berada di ruangannya,dia sedang memikirkan ucapan orang tuanya tadi malam"Apa ini keputusan yg tepat ya dengan aku menerima perjodohan ini"ucap Riko"Tapi aku juga kepikiran gadis itu,sepertinya aku cinta sama dia,tapi aku harus lupain gadis itu untuk menghargai perasaan calon istri aku nanti"ucapnya lagiTok tok tok"Masuk"ucap Riko"Permisi pak ini ada berkas yang harus di tandatangani pak"ucap sekretaris nya"Iya taro aja di meja saya nanti saya tandatangani dan kamu boleh keluar sekarang"jawab Riko"Baik pak"jawab Mia dan keluar dari ruangan Riko"Ish susah banget sih deketin pak Riko ,baru masuk aja udh di suruh keluar"gumam Mia setelah keluar dari ruangan RikoSaat ini Riko sedang berada di sebuah cafe bersama temannya untuk ngopi dan sekedar bersantai"Woy ko kok perasaan dari tadi gue perhatiin Lo ngelamun aja,lagi mikirin apaan sih"tanya Tito"Gue lagi mikirin soal perjodohan gue"jawab Riko"Apa, Lo di jodohin?"tanya Tito lagi"Iya "jawab Riko lagi"Terus apa yg Lo pikirin ,kan gak mungkin orang tua lo jodohin lo sama orang yang jelek"ucap Tito"Bukan itu yang lagi gue pikirin"jawab Riko"Terus"tanya Tito"Gue lagi mikirin cewe yang buat gue jatuh cinta sama dia"jawab Riko pada Tito"Serius Lo lagi jatuh cinta,wah hebat tu cewe bisa bikin seorang Riko jatuh cinta,secara gitu kan Lo gak pernah deket sama cewe, jangankan deket ngomong aja males"ujar Tito"Gue suka sama dia waktu gue pertama kali liat dia"ucap Riko"Cinta pandangan pertama dong"ucap Tito dan Riko hanya mengangguk........"Fanny,Kila ke cafe yuk nongkrong sama nenangin pikiran,pusing gue mikirin skripsi"ajak Ghea"Yuk gue juga pusing banget mikirin skripsi"jawab Fanny"Lo gimana ikut gak kil"tanya Ghea pada Kila"Gue ngikut aja"jawab Kila"Yaudh gass"ajak GheaKini mereka sudah ada di cafe dan memesan makanan dan minuman masing-masing"Guys,gue ke toilet dulu ya"ucap Fanny pada Ghea dan Kila"Iya hati-hati"jawab Ghea"Iya"jawab Fanny dan pergi menuju toiletSaat sudah keluar dari toilet Fanny berjalan untuk kembali ke mejanya dan teman-teman nya dia tiba-tiba bertabrakan dengan seseorangBruk"Aduh....keluh Fanny saat merasakan bokong nya yg ngilu akibat terjatuh"Maaf saya tidak sengaja"ujar Riko dan langsung membantu FannyIya yang bertabrakan dengan Fanny tadi adalah Riko yang juga sedang berada di toilet""Gak papa, saya juga minta maaf karna saya tadi juga gak liat jalan"jawab Fanny"Kamu "ucap Riko setelah melihat wajah fanny"Maaf bapak siapa ya"tanya Fanny"Saya yang waktu itu membantu ibu-ibu hamil menyebrang sama kamu"jawab Riko"Ohh iya saya ingat"ucap Fanny"Oh iya nama kamu siapa"tanya Riko lalu mengulurkan tangannya"TIFANNY"jawab Fanny lalu menyambut uluran tangan Riko"Kalau bapak"tanya Fanny"Saya Riko"jawab Riko"Kalo gitu saya duluan ya pak permisi assalamualaikum"ucap Fanny lalu pergi meninggalkan Riko"Waalaikumsalam"jawab Riko lalu tersenyumSetelah pergi lalu Fanny menghampiri ghea dan Kila"Lama banget sih ke toilet nya"tanya ghea"Iya tadi waktu gua mau keluar dari toilet gue gak sengaja nabrak orang"jawab Fanny"Cowo atau cewe,kalo cowo ganteng gak?"tanya Ghea lagi yang penasaran"Cowo, ganteng sih tapi mukanya datar banget"jawab Fanny pada GheaSementara di lain meja Riko yang baru dari toilet menghampiri temannya"Lo kok lama banget sih cuma ke toilet doang"tanya Tito pada Riko yang memang lama dari toilet"Gue tadi gak sengaja nabrak cewe waktu di toilet"ujar Riko"Dan Lo tau ,itu cewe yang bikin gue jatuh cinta sama dia"ucap Riko lagi"Serius,Lo ketemu dia?tanya Tito yang terkejut"Iya,awalnya gue gak percaya kalo itu dia,tapi waktu gue liat mukanya ternyata bener itu dia orang yang gue cinta"jawab Riko"Lo sempet kenalan gak sama dia"tanya Tito lagi"Iya gue udh kenalan sama dia ,nama di Tifanny,cantik kayak orang nya"jawab Riko dan tersenyum.........Saat ini Fanny sudah berada di rumah setelah pulang dari cafe Fanny langsung pulang ke rumah dan menuju kamarnyaTok tok tok"Masuk"jawab Fanny setelah mendengar pintu kamarnya di ketuk"Sayang "sapa Rani pada Fanny saat sudah masuk ke dalam kamar"Mama, ada apa ma?"tanya Fanny"Enggak ,mama cuman mau bilang kalo nanti malam pertemuan kamu sama calon suami kamu"ucap Rani pada sang anak"Kok cepet banget sih ma"tanya Fanny yang terkejut"Gak papa sayang,yaudh kamu istirahat nanti malam kamu dandan yang cantik ya ,mama udah siapa baju kamu,ada di lemari"ucap Rani sambil mengusap rambut sang anak dan meninggalkan Fanny untuk istirahatMalam pun tiba ,dan kini Fanny sudah siap dengan pakaian yang telah di siapkan sang mama,dan menuju ruang tamu karna orang tua dan Abang nya sudah menunggu nya di sana"Ma,gimana penampilan Fanny?tanya Fanny pada sang mama"Masya Allah sayang cantik banget anak mama ,iya gak pa, bang?"tanya pada suami dan putranya"Iya sayang kamu cantik banget"jawab sang papa dan di angguki oleh abangnya"Yaudh kalo gitu ayo kita berangkat sekarang nanti takut kelamaan"ajak papa nya"Iya ayo"jawab RaniMereka pun menuju restoran yang telah di tentukanDi lain tempat kini keluarga Wijaya sedang bingung karena Vano dari tadi rewel karena tidak mau jauh dari Riko"Vano,sama mami aja ya nak,kan nanti kasihan Abang Riko susah nyetir mobil nya kalo kamu sama dia"ucap Rere mencoba membujuk Vano"Ndak au Ano au cama bang liko"jawab Vano yang masih memeluk Riko semakin erat"Yaudh gak papa mi Vano sama Riko aja"ucap Riko pada Rere"Tapi nanti kamu susah bawa mobilnya sayang,kamu kan tahu Riko itu rewel"ucap Rere pada Riko karna dia tau Vano kalo anak nya rewel"Gak papa mi"jawab Riko meyakinkan Rere"Yaudh deh,Vano sayang kamu jangan rewel ya nanti jalan"ucap nya pada Vano dan Vano pun mengangguk"Yaudh ayo kita berangkat ,kita udh telat ini"ajak papi Riko"Ayo pi,mami udh kirim alamat restoran sama kamu ya"ucap nya pada Riko dan di angguki oleh Riko.........Kini keluarga Fanny sudah sampai di restoranSepuluh menit yang lalu,dan keluarga Riko juga baru sampai"Assalamualaikum,maaf ya kami telat"ucap Rere"Waalaikumsalam,gak papa jeng kami juga belum lama kok,ayo silahkan duduk"jawab Rani"Ini pasti Fanny ya, Masya Allah cantik banget kamu sayang"ucap Rere dengan Fanny"Makasih Tante"jawab Fanny dan tersenyum"Oh iya anak kamu mana re"tanya Rani pada Rere karena tidak melihat anaknya"Oh , dia lagi keluar bentar karna tadi Vano rewel minta di beliin es krim"jawab Rere"Maaf saya terlambat"ucap Riko yang baru datang dan menggendong Vano"Iya gak papa kok"jawab DitoFanny yang tidak tau kedatangan Riko hanya diam karena dia hanya fokus dengan hp nya"Fanny sayang,sapa dong calon suaminya"ucap Rani pada Fanny agar menyapa Riko dan Fanny menoleh pada riko"Loh pak Riko"ucap Fanny yang terkejut"Kamu"ucap Riko yang juga terkejut"Loh kalian udh saling kenal"tanya Rere yang bingung"Udah mi Riko udh kenal sama Fanny"jawab Riko"Bagus dong jadi kalian gak perlu perkenalan lagi"ucap putra"Jadi kapan acara pernikahannya"tanya Dito"Gimana kalo Minggu depan aja"jawab Rere"Setuju"jawab Rani"Kok cepet banget si ma"tanya Fanny"Gak papa sayang lebih cepat lebih baik"jawab Rani pada sang anakTbcKini pernikahan yang di nantikan telah tiba,hari ini adalah hari pernikahan Riko dan Fanny yang diadakan di sebuah hotel dan Fanny sedang di rias di salah satu kamar hotel"Udh selesai mbak,kalo gitu saya keluar dulu ya"ucap sang MUA"Iya mbak,makasih ya mbak"jawab FannyTok tok tokMasuk lah mama Fanny , calon mertua Fanny dan sahabat Fanny ke dalam kamar"Udah selesai sayang"tanya mama Fanny"Udah ma"jawab Fanny"Cantik banget Lo fan gue Sampek pangling loh liat nya"puji Ghea dan Fanny tersenyum"Masya Allah cantik banget calon mantu mami"puji Rere"Makasih tante"jawab Fanny dengan tersenyum malu"Loh, kok masih panggil Tante sih sayang,panggil mami dong kamu kan sebentar lagi jadi mantu mami"ucap Rere pada Fanny"I...ya tante eh maksudnya mami"jawab Fanny dengan gugup dan Rere pun hanya tersenyum"Yaudh kamu di sini dulu ya,nanti kalo ijab Kabul nya udh selesai baru kamu keluar ,nanti kamu keluar sama Ghea sama Kila ya" ucap Rani dan mereka menganggukDi lain tempat kini Riko sudah siap melakukan ijab Kabul"Sudah siap?"tanya Dito dan Riko mengangguk lalu menjabat tangan DitoWahai Riko putra Wijaya bin putra Wijaya aku nikahkan dan aku kawinkan engkau dengan putri kandungku yang bernama Tifanny Putri binti Dito Bianggara dengan mahar uang 147 milyar dan seperangkat alat sholat di bayar tunaiSaya terima nikahnya Tifanny Putri binti Dito Bianggara dengan mahar uang 147 milyar dan seperangkat alat sholat di bayar tunai"Bagaiman a saksi sah?"SAH"Alhamdulillah" ucap mereka bersama lalu berdoaFanny menitikkan air mata saat mendengar Riko mengucapkan ijab Kabul dari kamarnya dengan lantang,dia sekarang telah menjadi Istri seorang Riko"Fan jangan nangis dong ,nanti make up nya luntur,mending kita keluar sekarang ya pasti yang lain udah nungguin"ucap GheaKini Fanny dan kedua sahabatnya yang berada di samping kanan dan kiri Fanny sedang berjalan menuju tempat ijab kabul Riko yang melihat nya tidak berkedip karna begitu cantiknya Fanny yang kini telah menjadi istrinya dan Fanny sudah duduk di samping Riko"Cantik"bisik Riko pada Fanny dan membuat Fanny menunduk malu"Silahkan pasangkan cincin nya"ucap penghulu dan mereka memasang cincinnya dengan Riko yang memasangkan di jari manis Fanny dan Fanny pun juga memasangkan di jari manis Riko"Lalu suami mencium kening istri dan istri mencium tangan suami"ucap penghulu lagi dan mereka melakukannya,Riko mencium kening Fanny cukup lama dan Fanny mencium tangan Riko,saat Fanny mencium tangan sang suami,Riko meletakkan tangannya di atas kepala Fanny dan berdoaKini pasangan suami istri itu telah berdiri di pelaminan untuk menyambut para tamu yang mengucapkan selamat"Fanny selamat ya "ucap Ghea dan Kila lalu memeluknya dan Fanny membalas pelukan mereka"Makasih"jawab Fanny setelah melepaskan pelukan"Selamat pak"ucap mereka lagi pada Riko"Terima kasih"jawab Riko"Awas ya pak kalo bapak berani nyakitin sahabat saya,saya habisin bapak"ancam Ghea pada Riko"Saya gak akan nyakitin Fanny"jawab Riko"Saya pegang omongan bapak"ucap Ghea dan Riko mengangguk"Ya udh kalo gitu kita turun dulu ya,sekali lagi selamat ya besti"ucap Kila"Iya,makasih ya"jawab Fanny dan mereka turunKini giliran teman Riko yang memberi selamat pada mereka"Woy selamat ya bro"ucap Tito"Makasih"jawab Riko"Selamat ya fan"ucap Tito pada Fanny dan bersalaman,Riko yang melihat Tito bersalaman lama dengan sang istri memutuskan jabatan tangan mereka"Udah jangan lama-lama"ucap Riko yang tidak suka"Posesif amat loh"ucap Tito"Gue suaminya,udah sana mending Lo turun deh"usir Riko"Iya-iya gue turun"ucap Tito lalu turun dan membuat Fanny tersenyum melihat perdebatan merekaSaat sedang menyambut tamu undangan yang memberikan selamat ,Riko melihat Fanny gelisah"Sayang, kenapa?"tanya Riko pada sang istri"Masih lama gak kaki aku sakit"jawab Fanny"Yaudh kamu duduk dulu biar aku liat kaki nya"ucap Riko lalu mendudukkan Fanny lalu melihat kaki sang istri,benar kaki Fanny lecet karena kelamaan memakai hiks"Kamu duduk aja ya acaranya sebentar lagi selesai kok"ucap Riko"Tapi gimana sama tamunya"tanya Fanny yang merasa tidak pada tamunya"Gak papa sayang,kamu duduk aja biar aku yang nyambut tamunya"jawab Riko meyakinkan Fanny dan Fanny pun menganggukAcara sudah selesai dan kini pasangan suami istri itu sedang berada di kamar hotel yang sudah di pesan"Kamu dulu apa aku dulu yang mandi"tanya Riko"Kamu aja "jawab FannySaat Riko sudah masuk ke kamar mandi Fanny gelisah dia takut kalo Riko akan meminta hak nya malam ini karna dia belum siapSaat Riko keluar kamar mandi dia melihat sang istri sedang melamun di sofa dan Riko menghampirinya"Sayang,hei,kamu kenapa hmm?"tanya Riko"Eh kamu udah selesai mandi?"ucapnya Fanny yang tersadar dari lamunannya dan Riko mengangguk"Ya udh aku mau mandi dulu"ucap Fanny lalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Riko yang bingung karena pertanyaannya tidak di jawab..........Saat ini pasangan suami istri itu sedang duduk di ranjang karna belum ada yang bisa tidur"Ayo tidur sayang,ini udah malam"ajak RikoFanny hanya diam tidak menjawab Riko ,Riko yang tau kalau istrinya itu takut dia mengusap kepala sang istri"Aku gak memintanya malam ini sayang,aku tau kalau kamu belum siap jadi gak usah di pikirin ya,kita akan melakukannya kalau kamu udah siap oke,sekarang tidurya"ucap Riko"Sini sayang"ucap Riko lagi dan menarik Fanny kedalam dekapannyaFanny hanya pasrah dan mendusel ke dada bidang sang suami karena merasa nyaman.Riko yang mengerti langsung mengusap-usap kepala belakang sang istriPagi pun tiba,dan tidur Fanny pun terusik karena usapan lembut di pipi nya dari sang suami"Eaugh"lenguh Fanny yang merasa tidurnya terusik dan membuka matanya"Pagi sayang"sapa Riko saat melihat istrinya yang baru bangun"Pagi pak ,jangan ganggu dulu pak aku masih ngantuk"ucap Fanny dan membalikkan badannya membelakangi RikoRiko yang melihat istri nya tidak bangun dan malah merubah posisi untuk melanjutkan tidurnya langsung membalikkan tubuh sang istri untuk menghadap pada nya"Hei ,kok kamu masih panggil aku bapak sih aku kan udah jadi suami kamu ,jadi kamu jangan panggil aku bapak lagi okeh ,panggil aku mas,iya sayang?"ucap Riko karna tidak ingin istrinya memanggil nya dengan sebutan bapak"Iya-iya mas ,sana aku masih ngantuk"jawab Fanny dan mengusir Riko karna iya masih ngantuk"Sayang bangun ih,ini udah pagi loh kita kan mau pindah ke rumah kita"ucap Riko lagi agar istrinya itu bangunFanny yang mendengar kata pindah langsung bangun dan duduk menghadap sang suami"Maksud kamu pindah itu kita tinggal sendiri"tanya Fanny dengan mata berkaca-kaca dan Riko menganggukRiko yang melihat istri nya mau menangis langsung mendekap sang istri"Hei Kenapa nangis sayang"tanya Riko yang masih mendekap sang istri"Hiks.....a..ku gak mau jauh sama mama papa sama bang Ardi juga hiks..... hiks"jawab Fanny dengan sesegukan"Gak papa sayang kan ada aku,aku akan bertanggung jawab sebagai seorang suami kamu,kalau kita gak tinggil sendiri nanti aku dikira gak tanggung jawab sama istri"ucap Riko yang meyakinkan sang istri"Mau ya"tanya Riko dan Fanny hanya diam lalu menganggukTbcHappy reading"Kalian beneran mau pindah sekarang?"tanya mama Fanny"Iya ma, soalnya biar kami bisa mandiri"jawab Riko"Yaudh kalo itu keputusan kalian"ujar mama Fanny"Yaudh kalo gitu kami berangkat dulu ya mama,papa,mami,papi"pamit Riko.........Kini mereka telah sampai di rumah baru mereka tidak begitu mewah namun terlihat elegan"Ini rumah nya mas "tanya Fanny"Iya sayang ini rumah baru kita,gimana kamu suka enggak sama rumahnya"ujar Riko"Suka mas rumahnya bagus""Yaudh kalo gitu kita masuk yuk"ajak Riko"Yuk".........Malam pun tiba kini pasangan pasutri itu sedang menonton tv di ruang tamu"Sayang""Iya""I love you""Maaf ya mas aku belum bisa balas cinta kamu ,tapi aku akan mencoba mencintai kamu , jujur aku udh mulai nyaman di Deket kamu"jawab Fanny dengan wajah bersalah"Gak papa sayang aku akan nunggu kamu cinta sama aku"ujar Riko"Sayang aku boleh peluk kamu"pinta Fiki pada Fanny dan Fanny pun mengangguk"Aku akan berusaha buat kamu cinta sama aku"ujar Riko saat sudah melepaskan pelukankini Riko sedang menatap wajah fanny dan perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri saat Riko memiringkan kepala dan ingin mencium bibir nya Fanny memundurkan kepalanya"Boleh ya "pinta Riko dengan mata puppy easy"Bo....Leh"jawab Fanny dengan gugupSaat sudah mendapat persetujuan dari Fanny Riko pun menyatukan bibir mereka,mencium dan melumatnya dengan lembut,saat Fanny tidak membalas ciuman Riko menggigit bibir bawahnya dan refleks Fanny membuka mulutnya,saat Fanny membuka mulutnya Riko langsung memasukkan lidahnya kedalam mulut Fanny dan menekan tengkuk fanny agar memperdalam ciumannya"First kiss aku"ujar Fanny saat sudah melepaskan ciuman"Itu juga first kiss aku sayang,makasih ya"ujar Riko sambil memeluk Fanny"Tidur yuk aku udah ngantuk"ujar Fanny pada Riko dengan mata yang sudah menahan kantuk"Yaudh Ayuk"jawab Riko dan menggendong Fanny ala Kuala untuk memasuki kamarSaat sudah sampai di kamar Riko menurunkan Fanny di atas kasur dan ikut merebahkan diri di samping sang istri"Sayang, aku boleh minta sesuatu gak tapi kamu jangan marah"tanya Riko"Hemm,mau minta apa?"jawab Fanny"Aku mau nenen"pinta Riko dengan wajah memelas"Ne....nen"jawab fannya dengan gugup"Iya sayang boleh ya?,mau ya? please"jawab Riko dan Fanny pun menganggukSaat sudah mendapat persetujuan dari Fanny Riko pun langsung masuk kedalam baju Fanny dan Langsung melaksanakan keinginannya"Pukpuk sayang"pinta Riko dan membawa tangan sang istri ke punggungnya"Iya"jawab FannySaat sudah sepuluh menit Fanny tidak merasakan Riko mengenyut dia melihat Riko yang ternyata sudah tidur dan melepaskan pautannya lalu Fanny juga ikut tidur dengan membalas pelukan dari Riko untuk memasuki alam mimpiHari menjelang pagi.fanny bangun dari tidurnya.fanny tersenyum kala melihat Riko masih tertidur pulas di sampingnyaPerempuan itu menghadap ke suaminya ia memperhatikan wajah Riko yang masih tertidur"Ganteng"ucap Fanny sambil .mengelus pipi sang suami"Eaugh"lenguh Riko yang terusik dengan perlakuan FannyRiko tersenyum hal pertama yang di lihat saat membuka mata adalah wajah cantik sang istri"morning sayang"ucap Riko sambil tersenyum"Morning"jawab Fanny sambil mengusap pipi sang suami"Sana gih mandi aku mau turun buat sarapan"ujar Fanny sambil mencepol asal rambutnya"Iya sayang "jawab Riko dan menuju kamar mandiKini Fanny sedang di dapur dan mencari bahan-bahan masakan untuk di masak.saat membuka kulkas ia hanya melihat sosis dan telur saja"Oh iya lupa aku kan belum belanja bahan bulanan"ujar Fanny"Yaudh deh aku buat nasi goreng aja"ucapnya dan mulai memasak nasi gorengSaat sedang memasak fanny di kejutkan dengan tangan yang melingkar di perutnya"Eh,mas kamu ngagetin aja tau,lepas ih aku lagi masak kamu tunggu di meja makan aja sana"ucap Fanny dan berusaha melepaskan tangan Riko dari perutnya"Yaudh aku tunggu di meja makan ya"ujar Riko setelah melepaskan tangannyaCup"Eh"ucap Fanny yang terkejut dengan perlakuan Riko barusan"Morning kiss sayang"ucap Riko setelah mencium pipi sang istriKini mereka sedang sarapan di meja makan setelah Fanny selesai memasak nasi goreng"Gimana enak enggak nasi gorengnya mas,maaf ya aku cuman buatin ini soalnya belum ada bahan makanan di kulkas" ucap Fanny"Enak banget saya masakan kamu,yaudh nanti setelah aku pulang dari kantor kita belanja bahan makanan ya"jawab Riko Fanny pun menganggukSetelah selesai sarapan Riko pun pamit pergi ke kantor"Aku berangkat dulu ya sayang"pamit Riko"Iya mas hati"ya "jawab Fanny sambil mencium punggung tangan sang suami dan di balas kecupan di keningnya"Assalamualaikum""Waalaikumsalam"...........Kini Riko telah sampai di depan kantornya dia memasuki kantor dan menuju ruangannya"Pagi pak"sapa para karyawan dan Riko hanya mengangguk dengan wajah datar nyaSaat sudah memasuki ruangannya Riko langsung duduk di meja kerjanya dan mulai memeriksa dokumen"Tok tok tok"Masuk ""Selamat pagi pak,ini berkas yang harus bapak tanda tangani "ucap Mia sekretaris Riko"Taruh di meja aja nanti saya tanda tangani"jawab Riko"Oh iya hari ini ada berapa jadwal saya meating"tanya Riko pada sang sekretaris"Hari ini jadwal meatiing pertama bapak pukul 09:00 ,jadwal meating kedua pukul"13:00 ,jadwal meating ketiga pukul 16:00 dan jadwal meating terakhir pukul 19:00 pak"jawab Mia"Jadwal meating ketiga dan keempat di undur karena saya ada urusan. Jadi saya hanya bisa meating pertama dan kedua hari ini,kalau sudah tidak ada urusan silahkan kamu keluar dari ruangan saya"ujar Riko"Kalau begitu saya permisi pak"ucap Mia dan keluar dari ruangan Riko...........Sementara di rumah Fanny sedang menonton tv setelah selesai melakukan pekerjaan rumahDrrrrrt DrrrrtDering ponsel Fanny dan ternyata Riko video call"Hallo, assalamualaikum mas,kenapa kok video call emang gak sibuk"ucap Fanny setelah menjawab"Waalaikumsalam sayang,enggak kok aku lagi istirahat makan siang"jawab Riko"Kamu lagi ngapain sayang"tanya Riko"Aku lagi nonton,oh iya maaf ya aku gak bawain makan siang buat kamu"ucap Fanny"Gak papa sayang"jawab Riko"Sayangg aku kangen tau sama kamu" rengek Riko"Masak baru pisah sebentar aja udh kangen lagian kan nanti ketemu lagi di rumah mas"jawab Fanny"Tapi aku kangen"ucap Riko"Udah dulu ya mas,kamu lanjut makan siangnya"ucap Fanny"Iya sayang kamu juga jangan lupa makan siang ya,byy assalamualaikum"ujar Riko"Waalaikumsalam"jawab Fanny............Kini Riko dalam perjalanan pulang setelah selesai meating"Assalamualaikum sayang"ucap Riko sambil memasuki rumah"Waalaikumsalam,loh mas kok kamu udah pulang"ucap Fanny dan Salim dengan sang suami"Aku kan udh janji mau ajak kamu belanja bahan makanan,yaudh sekarang kamu siap"sana"ucap Riko dan Fanny pun menganggukKini mereka sudah berada di sebuah mall dan Riko sedang mengikuti fanny memilih bahan makanan sambil mendorong troly"Ih sayang jangan beli ikan itu aku gak suka"ucap Riko pada Fanny yang akan mengambil ikan tongkol"Oh yaudh aku gak jadi beli ikan tongkol nya"jawab FannyKini mereka sudah selesai berbelanja bahan makanan dan akan membayar di kasir"Total semuanya Rp.1.350.000,00 pak"ucap mbak kasir sambil tersenyum kepada Riko"Matanya ya mbak saya istrinya"ucap Fanny marah dengan mbak kasir"Ma..af buk saya kira ibuk adeknya "ujar mbak kasir"Enak aja "jawab Fanny sewot Riko pun tersenyum melihat Fanny yang sedang cemburuSetelah selesai membayar Riko dan Fanny pun pergi"Kamu mau kemana lagi sayang? Mau langsung pulang apa gimana?tanya Riko yang melihat wajah cemberut sang istri"Terserah"jawab Fanny yang masih cemberut"Yaudh kita makan aja ya,jangan cemberut gitu dong muka nya"ucap Riko sambil mengelus rambut sang istri"Lagian kamu kok diem aja sih tadi waktu di senyumin sama mbak kasir?kenapa gak marah kamu kan udah punya istri?tanya Fanny pada Riko"Ya Allah kamu cemburu sayang,lagian aku juga gak akan kepincut sama mbak kasir tadi aku cintanya cuma sama kamu"jawab Riko"Tau ah males"ucap Fanny meninggalkan Riko"Loh sayang mau kemana" tanya Riko sambil tersenyum dan mengejar sang istriKini mereka sedang berada di restoran untuk makan setelah perdebatan tadi"Kamu mau pesen apa sayang"tanya Riko"Terserah"jawab Fanny sewot"Udah dong marahnya ,aku minta maaf janji deh aku gak gitu lagi,nanti kalo ada mbak kasir senyumin aku ,aku bilang kalo aku udh punya istri yang cantik banget gitu"ucap Riko"Janji ya"tanya Fanny"Iya janji,yaudh sekarang kamu mau pesen apa"ucap Riko"Aku mau pesen spageti sama minumnya jus jeruk"ujar Fanny"Udh itu aja "tanya Riko dan Fanny mengangguk"Mbak"panggil Riko kepada pelayan"Iya mas mau pesen apa?"tanya pelayan"Saya pesen spageti satu,mi goreng satu sama minumnya jus jeruk dua"jawab Riko"Udh itu saja"Riko mengangguk"baik silahkan di tunggu ya mas mbak""Nanti setelah makan kamu mau kemana lagi"tanya Riko"Mau pulang aja deh kasihan kamu pasti capek habis pulang dari kantor langsung nemenin aku"jawab Fanny"Kalo untuk kamu aku gak pernah capek sayang"ucap Riko tersenyum...........Kini mereka sudah di rumah dan sedang menonton tv setelah makan malam"Sayang kamu udh selesai skripsi nya"tanya Riko yang tiduran dengan paha Fanny sebagai bantal"Belum sedikit lagi selesai"jawab Fanny sambil mengelus rambut sang suami"Udh malam tidur yuk aku udh ngantuk"ucap Riko"Yaudh ayo ke kamar"jawab Fanny dan mereka menuju kamar"Sayang mau nenen "pinta Riko"Enggak udh malam tidur"jawab Fanny"Ihh mau nenen"rengek Riko"Yaudh iya sini"jawab Fanny sambil membuka kancing piama nya"Puk puk sayang"ucap Riko yang sudah mengenyut benda kenyal itu"Iya,udh cepet tidur"ujar FannySaat sudah tidak merasakan Riko mengenyut lagi Fanny mencoba melepaskan pautannyaDan tiba-tiba Riko mengenyut lagi"Huss tidur lagi mas"ucap Fanny sambil mempuk puk punggung RikoKarna sudah mengantuk Fanny pun ikut tertidur dam membiarkan Riko yang masih mengenyutTbcKini Fanny sedang berada di dapur untuk membuat sarapan sedangkan Riko sedang bersiap di kamar untuk berangkat ke kantor"Pagi sayang"sapa Riko sambil memeluk Fanny dari belakang"Pagi juga mas, sarapan dulu yuk"ucap Fanny"Iya sayang"jawab Riko dan mereka mulai sarapan"Oh iya sayang hari ini aku lembur banyak berkas2 yang harus aku kerjain,jadi kamu tidur duluan aja jangan nungguin aku ya"ucap Riko saat sudah selesai sarapan"Iya mas,kamu yang semangat ya kerja nya"jawab Fanny"Kamu gak ada kelas hari ini"tanya Riko"Ada cuma 1 kelas nanti jam 10:00,terus lanjut ngerjain skripsi sama Kila sama Ghea""Semangat ya istri aku ngerjain skripsi nya biar cepet lulus"ucap Riko sambil mengacak rambut Fanny"Yaudh aku berangkat dulu ya sayang, assalamualaikum"pamit Riko"Iya mas waalaikumsalam hati2 ya mas"jawab Fanny sambil mencium tangan sang suami dan di balas kecupan di kening oleh Riko"Iya sayang",,...............Saat ini Fanny sudah berada di kampusnya dan sedang menunggu kedua temannya"FANNY"panggil Ghea dengan teriak"Gue gak budek kali jadi gak usah teriak2"ucap Fanny"Hehe maaf"jawab Ghea"Oh iya kita cuman ada 1 kelas kan hari ini?lanjut ngerjain skripsi yuk biar cepet lulus"ucap Ghea"Emang Lo mau ngapain setelah lulus,pengen banget cepet2 lulus"tanya Kila"Ya enggak ngapa-ngapain sih paling bantuin Deddy gue ngurus perusahaan"jawab Ghea"Jadi mau gak ini"lanjutnya"Yaudh lh gass"jawab Kila"Yaudh ke kelas yuk bentar lagi kelas mau mulai"ajak Fanny dan mereka menuju kelas...............…Kini mereka sedang berada di rumah Ghea untuk mengerjakan skripsi"Ghea mommy sama Deddy kemana kok gak ada di rumah"tanya Fanny"Deddy di kantor, mommy juga di kantor ngantar makan siang buaat Deddy"jawab Ghea(Fanny dan Kila memanggil orang tua Ghea dengan sebutan Deddy dan mommy juga,karena tidak boleh memanggil Tante atau om oleh orang tua Ghea begitu juga sebaliknya Ghea pada orang tua Fanny dan Kila)"Yaudh yuk kita mulai ngerjain biar cepet selesai"ajak Kila dan Fanny dan Ghea pun mengangguk"Assalamualaikum"ucap mommy Ghea saat memasuki rumah"Waalaikumsalam"jawab mereka bersamaan"Loh Fanny sama Kila di sini"fannya mommy Ghea"Iya mom soal nya lagi ngerjain skripsi"jawab Fanny"Yaudh kalo gitu mommy buatin cemilan ya biar kalian semangat ngerjain skripsi nya"ucap mommy Ghea"Jadi ngerepotin mom"ucap Kila tak enak hati"Gak papa sayang,yaudh kalo gitu mommy buatin dulu cemilannya"ucap mommy Ghea"Iya mom"jawab mereka dan mulai mengerjakan skripsi nya"Ini sayang cemilannya udh jadi di makan ya"ucap mommy Ghea saat sudah selesai membuat cemilan"Makasih mommy"ucap mereka"Iya sama-sama,yaudh kalo gitu mommy mau ke kamar ya,kalian semangat ngerjain nya"ucap mommy Ghea mereka pun mengangguk dan melanjutkan mengerjakanTak terasa sudah pukul 17:00,Fanny dan Kila pun pamit pulang dari rumah Ghea"Mommy Fanny sama Kila pulang dulu ya soalnya udh sore"pamit fannya dan Kila"Iya sayang sering2 ya main kesini, hati-hati"jawab mommy Ghea mereka pun mengangguk"Kita pulang dulu ya gw"pamit Kila"Iya kalian hati-hati ya"jawab Ghea"Assalamualaikum""Waalaikumsalam".................Kini Fanny sudah berada di rumah dan melanjutkan mengerjakan skripsi nya sambil menunggu Riko,walaupun Riko menyuruh untuk tidak menunggu tapi Fanny tetap menunggu"Alhamdulillah akhirnya siap juga skripsi nya Minggu depan tinggal sidang"ucap Fanny"Mas Riko kok belum pulang sih udh jam segini juga lama banget"ucap Fanny saat melihat jam sudah pukul 11 malamFanny pun ketiduran saat sedang menunggu Riko pulang"Assalamualaikum"ucap Riko memasuki rumah"Ya Allah sayang kok tidur di sini sih,kan aku sudah bilang jangan nungguin aku pulang"ucap Riko yang terkejut saat melihat Fanny yang ternyata menunggu nya sampai ketiduran"Eaugh"lenguh Fanny yang terusik karna Riko mengusap kepalanya"Loh mas udah pulang "tanya Fanny saat sudah membuka mata"Udah,kamu kok nungguin aku pulang sih Sampek ketiduran gini,aku kan udh bilang aku lembur jadi jangan di tungguin sayang"omel Riko pada Fanny"Maaf mas,aku tadi juga sambil ngerjain skripsi kok eh mala ketiduran"jawab Fanny"Lain kali jangan gini lagi ya,kalo aku lembur jangan di tungguin,yaudh ayo sekarang pindah ke kamar tidurnya"ucap Riko"Gendong"ucap Fanny sambil merentangka tangan"Yaudh sini2 tuan putri"jawab Riko lalu menggendong Fanny ala Koala"Tidur lagi gih"suruh Riko pada Fanny saat sudah sampai di dalam kamar"Gak mau,mau nunggu kamu aja"jawab Fanny"Ini udah malam sayang kalo nunggu aku nanti lama kasian kamu"ucap riko sambil mengusap kepala Fanny"Gak mau,udah sana kamu bersih2 aku tungguin"suruh Fanny"Yaudh iya tapi kalo kamu udh ngantuk tidur dulu aja ya"jawab Riko dan Fanny mengangguk lalu Riko berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diriRiko pun sudah selesai bersih2 dan menjumpai Fanny"Udh"tanya Fanny"Udah sayang,ayok tidur udh malam"jawab Riko"Sayangg"ucap Riko sambil menatap Fanny dan Fanny pun peka"Sini2"ucap Fanny sambil membuka kancing atas piama nya dan Riko langsung menubruk benda kenyal kesayangannya"Kasian suami aku pasti capek banget ya kerja seharian Sampek lembur"ucap Fanny sambil mengusap belakang kepala Riko dan Riko pun mengangguk sambil terus mengenyut lalu keduanya pun tertidur................"Mas bangun udh pagi"ucap Fanny sambil mengusap pipi sang suami"Hmmm nanti sayang aku masih ngantuk"jawab Riko"Tapi ini udh pagi mas,emang kamu gak ke kantor"tanya Fanny dan Riko menggeleng"Sayang,kepala aku pusing"adu Riko sambil merengek"Yaudh sini aku pijitin biar gak pusing"jawab Fanny dan mulai mamijat kepala Riko"Sayangg......mau nenen"rengek Riko"Yaudh sini2,kamu pasti capek banget ya mas gak biasannya kamu minta nenen pagi2 gini kalo gak karna kecapean"ucap Fanny lalu Riko pun mengangguk"Mas kalo kamu udah capek istirahat aja dulu jangan di paksain kerja nya,kasian kamunya"lanjut Fanny"Kepala aku pusing banget sayang"rengek Riko sambil mengenyut"Yaudh kamu disini dulu aku mau ngambil sarapan sama obat dulu buat kami"ucap Fanny"Gak mau"ucap Riko sambil memeluk Fanny dan tetap mengenyut"Bentar aja mas,udahan dulu nenennya di lanjutin nanti ya"bujuk Fanny pada Riko"Gak mau sayangg.."rengek Riko dengan mata yang sudah berair pertanda akan menangis"Iya2 gak jadi udh jangan nangis nanti tambah pusing kepala nya"ucap Fanny"Hallo bik,bik Wati udh di sini?"...........""Saya mau minta tolong anterin sarapan sama obat pusing ke kamar saya bisa?".............""Iya makasih ya buk""Kamu nelpon bik Wati sayang "tanya Riko"Iya, kamu kan gak mau di tinggal jadi aku suruh bik Wati buat anterin sarapan sama obat"jawab Riko"Jadi nanti bik Wati masuk dong sayang ke kamar kita"tanya Riko"Enggak,nanti nganterin nya Sampek depan kamar aja"jawab Fanny"Nanti kalo bik Wati udh dateng berhenti dulu ya nenennya soalnya kan mau ngambil sarapan sama obatnya"suruh Fanny"Iya"jawab Riko sambil terus mengenyutTok tok tok"Non,ini sarapan sama obatnya" panggil bik Wati"Iya bik, makasih ya bik"ucap Fanny"Sama2 non emang siapa yang sakit non"tanya bik Wati"Suami saya bik katanya kepala nya pusing"jawab Fanny"Owalah semogah cepet sembuh ya non den Riko nya,yaudh bibik mau balik ke dapur dulu ya non"ucap bik Wati"Amiin,iya bik makasih ya"jawab Fanny
Telat Sadar
"K-kak Leo, sebenarnya aku—"ucapan gadis itu terputus."Suka sama gue kan? Maaf kayaknya gue nggak bisa," sela laki-laki itu, Leo."Ke-kenapa kak? Aku kira kakak suka sama aku karena selama ini kita dekat," ucap Nara sambil menatap Leo intens.Leo menyibakkan rambutnya kebelakang dan tertawa sinis. "Jangan mimpi deh, lo! Dekat bukan berarti gue suka sama Lo! Lagian, nggak mungkin lah, gue suka sama orang kaya lo!" Leo lalu melangkah pergi begitu saja.Nara menunduk sambil meremas tangannya sendiri. Kenapa sih, pernyataan cintanya selalu ditolak? Apa karena ia jauh dari kata cantik? Apa ia jauh dari kata feminim? Ya, kadang tingkah Nara ini bar-bar.Daripada galau dan memikirkan yang tidak-tidak di tempat itu, lapangan basket, Nara pun memutuskan untuk pergi ke kelas dan menemui teman laki-laki satu-satunya yang biasa ia ajak curhat jika sedang galau."Rel." Nara langsung duduk disebelah temannya yang sedang asik mengobrol dengan teman perempuannya yang Lain. Yah, Varel memang satu-satunya laki-laki yang enak buat diajak ngobrol maupun curhat."Eh, Nara. Kenapa muka lu cemberut gitu? Ditolak cowok lagi?" tanya Dinar dengan nada mengejek.Nara yang sudah kesal, menggebrak meja cukup kencang, membuat Dinar sedikit terkejut. "Bacot! Nggak usah ikut campur lo!""Ya santuy, dong. Yaudah lah, Rel. Kita lanjut ngobrol lagi nanti. Bye! " Dinar pun bergegas pergi. Takut nanti Nara mengomeli dirinya."Ada apa, Nara?" tanya Varel, matanya malah terfokus pada ponselnya."Gue ditolak lagi." Nara menidurkan kepalanya dimeja."Udah tau. Elo sih, udah gue bilangin kan, jangan langsung nembak orang yang lo suka.""Ya tapi, perasaan ini tuh—ah, udahlah. Pokoknya gue suka sama kak Leo, tapi ditolak dengan kata-kata yang kasar." Nara mengacak rambutnya frustasi."Udah, tutup mata aja. Palingan besok lo udah dapet penggantinya. Hati lo kan cepet reinkarnasinya." Kali ini Varel menatap Nara."Ya elah lo kira gue cacing pipih?! Eh, Rel. Lo lagi suka sama siapa sih? Kok gue nggak pernah denger lo lagi suka sama siapa.""I-itu—gue masih suka sama si Nancy." Varel membuang mukanya kearah lain. Nancy itu gadis yang Varel sukai waktu kelas 8 SMP.Nara hanya manggut-manggut, "Oh," ucapnya."Eh, Rel. Pulang sekolah wi-fi an di lorong kantor kepala sekolah yuk! Kaya biasanya," lanjut Nara."Hem. Pasti mau nonton drakor?""Iyalah, pliisss!!" Nara menyatukan kedua tangannya, memohon pada laki-laki didepannya ini.Varel memutar bola matanya malas, yah, terpaksa deh. "Iyaya,"***2 hari kemudian ."Varel!!" teriak seorang gadis di koridor. Membuat beberapa pasang mata tidak bisa tidak menoleh ke Nara.Si pemilik nama pun mengehentikan langkahnya lalu berbalik, "Kenapa sih, Nar? Teriak-teriak Mulu, bikin malu."Nara pun segara berlari mendekati si Varel. "Gue mau ngomong. Sebenernya, si Galang dilihat-lihat ganteng juga ya." Tanpa sadar, senyum Nara mengembang."Tuh kan. Yaudah, yang penting lo jangan ngelakuin hal-hal kayak sebelumnya! Yang ada nanti Galang malah ilfeel sama lo!""Emang gue ngelakuin apa aja emang?" Nara mencoba mengingat-ingat lagi apa saja kelakuannya.Varel mengehentikan langkahnya, lalu menatap Nara, begitu juga dengan Nara. "Yang suka manjat pagar samping sekolah buat ambil markisa siapa? Suka nyapa semua orang dikoridor, lempar bola ampe kena kepala botak Pak Danu siapa? Pokoknya plis, jadi lebih feminim.""Iya-iya." Nara memanyunkan bibirnya. Tak lama kemudian senyum Nara kembali mengembang. Tangannya melambai-lambai pada seseorang."Galang!" Nara menyapa laki-laki yang berpapasan dengannya, Galang.Dengan ramah, Galang tersenyum dan membalas Nara. "Eh, Halo Nara."Tepat di depan pintu kelas, Nara memegang tangan Galang, membuat laki-laki itu gugup setengah mati."Rel, tolong bantuin gue deket sama Galang, dong!" pinta Nara. Varel tak langsung menjawab."Pliis bantuin gue, Rel," rengek Nara lagi.Akhirnya, Varel menatap Nara intens. Dan seperti biasa, ia tersenyum. "Iyaya. Gue pasti bantu kok,""Yeaayy! Makasih Varel! Lo emang temen terbaik gue, dah!" Nara berjalan masuk ke kelasnya dengan perasaan girang.Ia tidak pernah tau apa yang sedang dirasakan Varel.Hari-hari terus berlalu. Varel dengan segala upayanya membantu PDKT Nara dengan Galang akhirnya membuahkan hasil. Mereka berdua semakin dekat. Tetapi, belum sampai tahap pacaran.Nara berjalan mendekati Varel sambil membawakan susu coklat kesukaannya. Ya, hitung-hitung sebagai balas budi karena sudah membantu PDKT-nya."Varel!" Nara duduk dihadapan Varel sambil menyodorkan susu kotak rasa coklat itu."Rel, ini gue beliin susu. Itung-itung buat balas budi, lah. Makasih ya udah bantuin gue PDKT sama Galang," ucap Nara. Namun, tidak biasanya Varel menunjukkan ekspresi badmood ."Rel, Lo kenapa sih? Diem mulu, sariawan ya?" celetuk Nara."Bisa diem nggak?! Lo nggak akan tau apa yang gue rasain!" ucap Varel dengan suara cukup kencang."Y-ya nggak usah marah-marah, dong," ucap Nara."Lo ditolak ama Nancy?""Pikir sendiri." Varel pun pergi meninggalkan Nara sendiri.Gue salah apa sih? Batin Nara.***Sejak hari itu, Nara dan Varel tidak pernah bertemu lagi. Mendadak Varel pindah sekolah karena pekerjaan Ayahnya yang harus pindah kota.Tentang Galang, mereka memang dekat. Tapi hanya sebatas teman. Lagipula, perasaannya pada Galang sudah berubah dan Galang pun sudah punya pacar. Sejak Varel pindah, Nara merasa ada yang kosong di hatinya.Hari ini, jadwal Nara piket kelas. Seperti biasa, kalau ia piket hanya membersihkan sampah-sampah di laci meja, lalu pulang. Sedangkan teman-temannya sibuk menyapu, mengepel dan merapikan buku-buku. Enak ya, jadi Nara.Saat merogoh laci meja milik Varel, ia menemukan sebuah amplop kecil yang ada tulisan Katakana- nya diujung depan amplop.Penasaran, Nara langsung membukanya dan membaca surat yang ditulis di kertas binder berwarna merah muda.I love you , Nara Adhitama 💕@VarelGaming07Singkat, namun mampu membuat dada Nara terasa sesak dan sakit. Tubuhnya langsung merosot ke lantai, air matanya mengalir deras. Ia sudah tidak peduli dengan orang-orang sekitar."Ra, Lo nggak papa?""Eh, Ra. Lo napa nangis?""Ra, oy!"Mengapa? Kenapa ia baru sadar bahwa Varel menyukainya? Kenapa harus terlambat seperti ini, sih?! kenapa telat sadarnya, sih?!Gue juga suka sama lo , Rel .[ E N D ]
Prasasti
"Aku mau jadi prasasti. Biar abadi di hatimu." Al tertawa jenaka-matanya ikut-ikutan tersenyum-sedangkan aku bergeming, melanjutkan memilah tumpukan kertas usang di gudang panti, mengabaikannya yang terus saja berputar sembari membeo.Al memang begitu. Kendati sepantaran, ia kentara amat kekanakan. Ketika masih di panti, ia selalu memaksaku membacakan buku-buku fairy tale koleksinya, bahkan bersekongkol dengan penghuni lain yang masih muda untuk membuat berantakan ruang bermain di bagian tengah. Orang-orang telah membiarkan lakon gilanya, tetapi aku dengan tolol tetap mengingatkannya-dan ia selalu punya alasan untuk menyanggah perkataan sarkasku.Pernah, saat menonton film Twilight di televisi, ia menceletuk ingin hidup abadi serta menyebut Edward bodoh karena tidak mengabulkan keinginan Bella untuk menjadi vampir. Jam menunjuk pukul satu dini hari dan penghuni panti lain telah terlelap. Aku, yang memang menemaninya dengan ogah-ogahan, nyaris menanggapi hingga ia menghabiskan camilan seraya berkata, "Mereka hanya tidak melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Kalau aku, sih, pasti langsung memilih buat hidup selamanya."Film telah menginjak scene prom night ketika aku bersyukur menjadi pendengar tunggal atas pernyataan Al.Setelah itu, suasana panti menjadi lebih tenang dan Al berubah sedikit normal. Ia masih tersenyum lebar sembari sesekali menceritakan hal-hal tidak masuk akal. Kertas gambar, buku dongeng, serta foto-foto konyol berserakan di ranjangnya. Candaannya masih segaring dulu ketika aku mengkritik sikap random -nya. Al masih kekanakan, seperti dulu, dan kupikir ia akan terus seperti itu-tetapi, ketika pernyataan ironis itu keluar, ia lekas melihat potret kami ketika SD. "Dulu, aku sempat ingin menjadi penjahat, tetapi aku sadar bahwa aku terlalu kecil untuk melakukan hal itu."Al menghela napas dan, seketika, aku benci melihatnya menjadi orang normal. "Aku ingin dikenang, tetapi aku takut tidak pantas mendapatkannya. Aku takut hilang dalam sejarah. Aku takut bila batu nisanku kelak digusur karena pembangunan. Aku ingin menjadi seseorang yang berguna, tetapi aku sadar tidak bisa melakukannya ." Tangannya tremor kecil.Aku mendengus. "Fokus saja pada apa yang kauinginkan di dunia ini. Tidak usah melihat ke belakang," Ucapanku terhenti sejenak, "aku selalu ada di belakangmu. Kau harus ingat itu."Ia mengerjap. "Selamanya?" tanyanya, yang kujawab dengan berdeham. Tidak puas, ia kembali mengajukan pertanyaan serupa, "Selama-lama-lama-lamanya?"" Just shut up and do your treatment, Kid ."Saat itu, Al tertawa lepas, sedangkan aku memandang datar playgroup yang memang terletak di samping tempat ini, tidak menyadari apa yang kelak terjadi. Waktu berlalu dan dunia berubah teramat cepat seperti kelereng yang berbenturan dengan gugusan kelereng lain. Aku tidak suka hal picisan, tetapi baru sekarang memahami bahwa membuat janji dengan orang seperti Al hanya mencipta luka permanen. Sesuatu yang muskil dihapuskan.*Al masih mengoceh, menceritakan seberapa banyak ia menggambar ulang pemandangan di panti asuhan-serta seberapa sering aku menyingkirkannya ke dalam kotak karena mengotori dinding rumah sakit-ketika air mataku menetes tidak diundang, menetes di atas gambar bodoh yang sedari tadi kupegang. Aku mengeratkan genggaman, kemudian dengan cepat berbalik. Dapat kupastikan ia menahan napas lantaran kami nyaris berciuman ... tetapi apa makna interaksi tersebut bila akhirnya aku hanya mencium udara hampa?Aku menarik napas, berusaha mengontrol emosi berlebih yang akhirnya tumpah. " You've seen it, Al. So, can you let me go and enjoying my life ... once again ?"(*)
Avaritia
Grith ingin abadi.Ia telah mengubah sebuah tempat gersang penuh penderita busung lapar menjadi destinasi serta sentral pendidikan dan perdagangan dunia. Ia telah memberikan banyak mimpi ketika orang-orang telah menyerah dan memilih hidup dalam penjajahan nonfisik. Kata anak-anak, Grith adalah malaikat tanpa sayap ... dan malaikat ini telah menorehkan tinta emas di kertas papirus lapuk yang menjadi sejarah negaranya.Grith ingin abadi. Ia ingin terus menjadi pemimpin. Ia ingin melihat tanah kelahirannya berkembang, berevolusi, berjaya ... ia tidak dapat menerima jikalau negerinya hancur di tangan orang-orang tak berpengalaman. Ia tidak ingin anak cucunya kembali merasakan atmosfer kemiskinan pun kemelaratan yang sedari kecil generasinya kecap. Grith tidak ingin jatuh. Grith ingin bersinar.Grith ingin abadi."Rumput di rumah tetangga memang terlihat lebih hijau, Grith. Ini pilihan krusial. Sekarang, kau mungkin tidak dapat memahami apa itu kehampaan, rasa jenuh, dan keputusasaan. Namun, kau akan benar-benar tahu itu saat kau tidak punya jalan untuk kembali." Dia diam. "Apa kau masih mau menjadi abadi?"Grith menjawab mantap, "Pengabdian terhadap negara merupakan kehormatan yang tidak ada duanya ... dan saya rela mengorbankan apa pun untuk itu semua."Dia memandang Grith lekat-lekat. "Seberapa cintakah kamu pada negaramu?""Seberharga hidup saya sendiri.""Seberapa tidak inginkah kamu mengalami stagnasi?""Sama seperti Muhammad yang tidak rela pamannya dilalap api neraka."Mereka saling berpandangan. Dia bertanya pelan, menusuk, "Seberapa besar ... ketidakpercayaanmu terhadap generasimu sendiri, Lux?"Kalimat Dia menggantung di udara. Amat lama.*Grith ingin abadi ... dan ia telah mendapatkannya: di tengah roda pemerintahan yang selalu berputar; di antara sekian sanjungan masyarakat padanya yang seorang malaikat; dalam sebuah keabadian yang ia inginkan. Menjadi dirinya sendiri: sebuah patung perunggu yang dibangun tepat di Gedung Ibukota ... benda tanpa nyawa, tak bisa mati, dan hanya menunggu waktu untuk rusak atau hancur—entah kapan itu terjadi.Grith ingin marah. Ia ingin berteriak, menyumpah, menangis hingga tenggorokannya kering dan tidak lagi mengeluarkan suara ... tetapi apa yang dapat dilakukan batu sepertinya selain pasif pada keadaan sekitar?Langit terbelah dan mega berarak menutup cakrawala pagi. Badai datang tiba-tiba dan suara tanpa muara menggema di antara guntur pun guruh, "Kau tidak percaya pada bangsamu. Kau tidak percaya pada bara api dalam hati generasi mudamu. Kau terlalu meremehkan mereka. Kau ingin abadi di atas remah kesombongan dan keegoisanmu sendiri," Grith benar-benar membatu, tak dapat berkata apa-apa. Ia ingin tidur dan bangun di Nirwana, tetapi ia bahkan tidak bisa memejamkan mata untuk menyalahi realita.Grith telah membuat keputusan krusial ... dan Dia dengan terang menunjukkan bahwa Grith punya sebuah sisi kelam dalam hati terdalamnya."Kini, nikmatilah keabadianmu, Grith! Di antara laju pemerintahan negaramu, di antara sanjungan orang-orang ... hanya diam, tidak dapat berbuat apa-apa, sambil menunggu kehancuran yang tidak kauketahui kapan kedatangannya!" (*)[1] (bhs. Latin) ketamakan; salah satu dari Tujuh Dosa Besar
Kinanthi
Nak, Ibu mesti berbagi sesuatu padamu: betapa Tuhan telah mengirimkan rahmat mahabesar di Desember yang menggigil. Seorang perempuan tidak akan tahu apa itu kasih sayang hingga malaikat kecil hinggap di rahim realis yang lebih kompleks. Kamu salah satunya; dan lewat Lir Ilir yang acap ditembangkan di lapangan ujung desa, Ibu akhirnya menerima dan bertekad menuntunmu sebagai anak ."Ibu, bolehkah aku bersandar di pundakmu?"Ibu menyayangimu melebihi gugus bintang dan kedatangan kemukus; karenanya Ibu akan mendidikmu, membantumu menjadi seorang Kartini masa kini, mandiri yang dapat menentukan keputusan sendiri. Bukan agama yang wajib Ibu tanamkan padamu, tetapi bagaimana menjadi makhluk ber agama sehingga kamu bisa lebih bijaksana, terbuka menghadapi semua.Ibu tidak cerdas, tetapi berpengalaman... dan sepotong harta itulah yang akan Ibu kidungkan selama duapuluh tahun masa hidupmu; untuk melindungimu."Ibu, mengapa Ibu bungkam? Apa aku mengganggu Ibu?"Nak, ada banyak hal yang mesti diceritakan: tentang kamu yang dianggap sebagai noktah hitam oleh masyarakat; tentang Ibu yang mesti menutup telingamu rapat-rapat dan menjauhkanmu dari ingat-bingar kehidupan kelam. Ibu tidak sanggup berterus terang, tidak bisa melihat wajah kecewamu tatkala tahu cahaya terkadang berasal dari lembah kegelapan. Namun, meski sendiri, Ibu berjanji untuk memberikanmu lanskap infinitas kirana di mana setelah kamu menempatinya, kamu boleh tahu dan membuang semua: Ibu serta masa lalu itu."Ibu... mengapa Ibu tidak bangun? Apa Ibu marah padaku yang selalu manja? Apa Ibu marah karena aku rela membuang apa saja demi berada dalam pelukanmu?"Tuhan akan memberikan kebebasan saat hamba-Nya melakukan penebusan—dan Dia selalu menepati janji, Nak. Azan subuh terdengar amat merdu ketika Izrail menjalankan tugas dengan lembut, tanpa aba-aba, tanpa peringatan sebagaimana dilakukan pada mereka yang ingkar. Ibu tidak kuasa menolak, Nak, pembebasan itu adalah jalan spiritual yang dirindukan semua manusia."Bangunlah, Bu... Aku berjanji akan mandiri mulai saat ini."Pergi bukan berarti benci. Mendiamkan bukan berarti melupakan. Jika dirunut, barangkali dibutuhkan berlembar kertas untuk menuliskan ketakutan ini... tetapi, doa Ibu tampaknya didengar oleh kawanan tonggeret dan perdu di sekitar rumah: kamu tidak akan menjadi seperti Ibu."Ibu, aku ketakutan...."Nak, kendati kamu telah beranjak dewasa, kamu tetaplah bayi mungil Ibu yang selalu merengek ketika malam hair, yang senantiasa Ibu cium tatkala dunia terlampau keras memperlakukanmu. Akan tetapi, ada saatnya kamu mesti menginjak kedewasaan... dan inilah momen yang tepat—ada banyak kata belum terucap, tetapi Ibu yakin kamu baik-baik saja.Amarga urip terus mlaku, cah ayu/ Nadyan nggegirisi ati/ Lila kareben pinuju/ Tumimbal bali nyang Gusti/ Tan isa diselak wong-wong[2]Malaikat berbisik pelan... tanpa kamu tahu. (*)[1] tembang Jawa yang punya karakteristik tresna asih; cocok digunakan sebagai pituduh (nasihat)[2] Karena hidup terus berjalan, Anak Cantik/ Meskipun membuat hati teriris/ Ikhlas untuk menuju/ Kembali ke Tuhan/ Yang tidak bisa ditolak orang-orang
Dialog dari Daun yang Gugur
Raka pikir, ayahnya serupa dedaunan: terus bekerja demi kelangsungan hidup sebuah pohon tanpa berpikir ia bakal menua dan gugur juga.Ayah adalah pemikir revolusioner. Ia memiliki kegelisahan agung akan hidup dan memutuskan untuk mengabdi pada dunia ilmu pengetahuan guna mengatasi hal itu. Ia berani dan kontroversial, karenanya banyak orang menganggap Ayah sebagai robot hidup. Namun, ketika melihat mata tulus yang siang-malam bekerja merealisasikan segudang ide, Raka tahu Ayah melakukannya karena fanatisme terhadap hidup—“pohon" mereka—secara universal.Meski seorang diri, Raka percaya ayahnya adalah seorang yang baik hati.Ketika Ayah memulai penelitian gila tentang solusi overpopulasi, publik kian geram dan akhirnya melontarkan cacian. Pemerintah lamat-lamat turun tangan. Instansi serta donatur kabur untuk menyelamatkan saham serta reputasi mereka. Walau Ayah kukuh melanjutkan penelitian, desakan berlanjut menuju diskriminasi, sampai-sampai Ibu memilih untuk pergi."Raka, Ibu akan pergi... tidak tahan dengan semua ini."Raka tersenyum kecut. "Bukankah Ibu pergi karena tidak tahan dengan cacian orang-orang?"Kendati masyarakat selalu mengkritik dan kepolisian kerap keluar-masuk rumah mereka, Raka tetap percaya ayahnya adalah seorang yang baik hati. Ia tidak pernah goyah akan hal tersebut; yang ia ragukan justru dunia ini, masyarakat ini, bahkan dirinya sendiri.Raka selalu bertanya dalam diam, mengapa masyarakat selalu menghakimi tanpa mengulik lebih dalam? Apakah mereka tidak bisa menerima rasionalitas yang dipadu kemanusiaan? Tidakkah mereka mengerti, daun itu hanya ingin berbuat sesuatu untuk pohon kita?Apakah... ia harus menjadi seperti mereka agar mereka mau mendengarkan?"Ayah, bolehkah kita menjadi orang jahat?""Memang orang jahat itu seperti apa, sih? Apakah Robin Hood termasuk orang jahat?" Ayah masih bisa tertawa meskipun sirene polisi mendenging di depan rumah. "Semesta lebih luas dari kaca mata kita. Tuhan tidak melarangmu menjadi orang jahat, tetapi ia menginginkanmu menjadi seorang manusia ."Terkadang, Raka berpikir ayahnya adalah seorang altruis naif. Ia berharap Ayah melepaskan semua penelitian itu dan menjadi manusia normal yang melakukan kebaikan standar (yang pastinya dibantah oleh sang tokoh utama).Lucunya, kenaifan itu justru membuat Raka tidak bisa berkutik dan menuruti semua perkataan Ayah. Meskipun, itu berarti ia menulikan diri atas batinnya sendiri yang ibarat tidak lagi memijak kenyataan.*Di satu waktu, ketika Raka benar-benar pasrah dan hilang tempat berpijak, ia genggam kedua tangan keriput itu, lantas mengucapkan pertanyaan agung yang bercokol sedari kanak—dengan suara parau yang berusaha ia sembunyikan, "Aku tahu Ayah tidak akan pergi pun kembali, tetapi haruskah begini caranya? Dengan dianggap sebagai penjahat?""Jostein Gaarder menulis, butuh miliaran tahun untuk menciptakan manusia dan hanya butuh sedetik untuk mati. Lalu, apa arti hidup kita selama ini? Apakah perbuatan kita salah atau benar bagi kehidupan? Kadang kala kita tidak menemukan jawaban itu saat mati, Nak, melainkan beratus-ratus tahun kemudian," Mata Ayah meneduh laksana embun di dedaunan pinus, "sama halnya dengan daun: ia tidak akan tahu sumbangsihnya pada sebuah pohon besar hingga pohon itu tumbuh lebat dan membawa kebahagiaan bagi makhluk hidup lain."Raka bergetar. "Ayah, aku pasti merindukanmu.""Teruslah merindu, Nak, karena ciri penghuni surga adalah mereka yang selalu merindukan kebajikan... dan terus mencari apa itu kebajikan."Rembulan tepat di tengah angkasa ketika pertanyaan, kehidupan, serta daun itu luruh-membusuk di tanah.
Beri Aku Waktu
Sudah sebulan lebih Gisel putus dengan Gavin. Akan tetapi, kenangannya tetap menemani hari-harinya yang kelam. Tempat yang dulu sering mereka datangi bersama berdua, kini hanya didatangi oleh Gisel saja. Seperti sekarang. Gisel mendatangi taman ini lagi. Taman yang masih terlihat sama, namun terasa berbeda.Ia menduduki kursi taman. Bibirnya tersenyum tipis melihat bunga mawar yang dihinggapi kupu-kupu dengan berbagai warna yang terlihat cantik. Mereka terbang kesana-kemari seolah tengah menari bersama, dengan pancaran kebahagiaan. Namun, tak sebahagia dirinya saat ini.Gavin Anggara. Lelaki yang berhasil meluluhkan hatinya sekaligus meruntuhkan harapannya, pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat singkat, namun terkesan menyayat hatinya." Kita berhenti sampai sini ya , Gis . Makasih dua tahunnya ." ucapan Gavin dulu, yang masih terngiang di benaknya hingga saat ini."Siapa coba?"Gisel terkejut ketika matanya ditutup oleh seseorang dari belakang."Galih ...." Gisel memegang kedua tangan kekar itu, lalu menjauhkannya dari matanya.Galih tertawa. Ia melompat dari belakang kursi yang Gisel duduki, lalu langsung mendudukinya. Memang tidak sulit melakukan hal itu bagi laki-laki."Semenarik itukah kupu-kupu itu?" tanya Galih yang mengikuti arah pandang Gisel."Lucu," jawab Gisel singkat. Tatapannya masih fokus pada kupu-kupu dan bunga mawar itu. Ia bahkan tidak melirik Galih sama sekali."Lo gak bisa gini terus Sel, semakin lo kayak gini, semakin lo ngebunuh diri lo sendiri." Galih berkata dengan mata yang menatap Gisel lekat.Gisel terdiam. Ia menghembuskan nafas pelan, lalu menatap Galih balik. "Gue masih gak bisa terima semua kenyataan ini, Gal. Gavin pergi gitu aja tanpa alasan yang jelas." Mata Gisel mulai berkaca-kaca."Kita gak bakal tau isi hati seseorang Sel. Cinta bisa datang kapan aja, dan pergi gitu aja. Mungkin dengan kepergian Gavin, tuhan memberi pelajaran buat lo untuk bisa mendapatkan yang lebih baik dari dia," ujar Galih dengan tenangnya."Emang bener ya, cinta bisa menjebak seseorang dalam zona nyaman. Kaya gue contohnya," ujar Galih kembali, yang membuat Gisel menoleh ke arahnya."Maksud lo?" tanya Gisel tidak mengerti.Galih merubah posisinya menjadi menghadap Gisel. Tangannya mengambil kedua tangan Gisel, lalu digenggamnya erat. "Gue sayang sama lo Sel, gue cinta sama lo, bahkan gue gak mau kehilangan lo. Dengan liat keadaan lo yang kaya gini, buat gue ikutan sakit, Sel." Galih berkata dengan begitu lantangnya.Gisel terkejut mendengarnya. Ia menarik tangannya yang digenggam oleh Galih. "Tapi, Gal ... kita kan udah janji buat gak jatuh cinta satu sama lain," ujarnya."Gue tau kita udah sahabatan dari kecil. Bahagia lo, bahagia gue. Kesedihan lo, kesedihan gue. Begitupun sebaliknya. Tapi perasaan gak bisa dibohongi, Sel. Gue sayang dan cinta sama lo, udah dari empat tahun yang lalu. Dari waktu kita duduk di bangku SMA." Galih menjelaskan sedetail-detailnya. Ia mengungkapkan semua perasaan yang sedari dulu dirasakannya pada Gisel."Kenapa gak bilang dari dulu?" tanya Gisel dengan tatapan yang sulit diartikan."Gue takut Sel. Gue takut lo bakal jauhin gue kalau gue ungkapin perasaan ini. Perasaan yang gak seharusnya terjadi sama gue, dan perasaan yang bisa ngehancurin persahabatan kita," kata Galih. Matanya masih menatap Gisel, yang juga tengah menatapnya."Saat gue tau lo jadian sama Gavin, hati gue sakit Sel. Hidup gue kayak berubah. Walaupun ini mungkin terkesan lebay, tapi kenyataannya emang gitu. Bahkan, saat gue liat lo jalan berdua sama Gavin, gue lah orang pertama yang berharap kalau Gavin adalah gue."Ucapan Galih membuat Gisel terdiam membisu. Ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Mulutnya seolah terkunci rapat, namun ia merasa ada gejolak aneh di hatinya setelah mendengar pengutaraan Galih."Maaf Sel, maaf gue udah jatuh cinta sama lo, dan mengingkari janji kita dulu. Gue gak maksa buat lo terima cinta gue. Tapi gue mohon, tetap jadi sahabat terbaik gue. Dan biarkan cinta gue ke lo, tetep tersimpan di hati gue," mohonnya dengan bibir yang berusaha untuk tersenyum.Bukannya marah atau kesal, Gisel justru ikut tersenyum seperti Galih. "Lo gak salah Gal. Lo berhak jatuh cinta sama siapa aja, lo juga berhak buat ngungkapin nya. Makasih udah mau jujur." Terdengar nada tulus dari ucapan yang Gisel ucapkan."Tapi, maaf gue belum bisa nerima lo, Gal.""Kenapa?" tanya Galih memelankan suaranya."Gue gak mau jatuh cinta sama orang cuma buat lupain Gavin. Gue gak mau dengan gue lakuin ini ke lo, yang ada gue malah nyakitin lo dengan cinta palsu." Gisel tersenyum kepada Galih."Kasih gue waktu buat bisa jatuh cinta sama lo, kalaupun gue gak bisa jatuh cinta sama lo, lo berhak cari yang lebih baik dari gue," lanjutnya, yang mencoba meyakinkan Galih."Gue akan tunggu lo, Sel," ucap Galih yakin. Terlihat senyuman itu semakin melebar, dan wajah Galih terlihat lebih bahagia sekarang."Makasih udah selalu ada buat gue." Gisel menyandarkan kepalanya pada pundak Galih."Gue terpaksa," canda Galih yang mendapat cubitan Gisel di perutnya."Aww! Sakit Sel!" ringis Galih."Rasain tuh!" Gisel menjulurkan lidahnya."Berani ya ...." Galih menggelitik Gisel sebagai balasannya.Gisel tertawa kencang, karena perutnya yang merasa geli. "Galih! Berhenti!" teriaknya yang dibarengi tertawa.Galih berhenti menggelitik Gisel yang masih tertawa kencang. Ia tersenyum senang melihat Gisel yang tertawa seperti sekarang. Sedetik kemudian, ia langsung memeluk Gisel erat."Selalu bahagia, Sel." bisik Galih.Gisel membalas pelukannya. "Pasti," ujarnya yang tersenyum senang.Mereka larut dalam kenyamanan, dan melupakan semua kesedihan yang mengelilinginya.[ E N D ]
Terakhirnya di Kehidupanku
Rinai menari-nari di nabastala. Memancarkan mega rucita. Dayita gata meninggalkan bekas di indurasmi. Headphone telah terpasang di kedua telinganya, tiada terpengaruh kampa di sekitarnya.Memandangi halaman depannya membuatnya bernapas lelah. Dia sadar, hidupnya tidak lama lagi. Tetapi, dia berusaha terlihat baik dan kuat walau sebenarnya dia sangat rapuh. Bahkan, tidak ada kata kokoh lagi di hatinya.Lampu merah berubah ke warna kuning, menandakan khalayak umum boleh melewatinya tanpa merasakan takut akan kecelakaan nantinya. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan kekuatan setengahnya.Dia tidak bisa memaksakan hasratnya. Dia harus bisa membagi waktu antara atma dan kampusnya. Terlihat sepele, tetapi baginya itu butuh kekuatan dan kesabaran untuk menahan sakitnya yang dia derita tersebut.Kini, kampus terlihat seperti pasar. Iya, pasar, di sana tempatnya sangat ramai. Ada yang berbahagia, tertawa, tersenyum, bahkan gila di tempatnya. Namun, untuknya? Ha-ha, terasa konyol."Selamat pagi, bro," sapanya.Aku menoleh ke belakang. Anggukan kecilku, dia memahaminya. Bisa dikatakan, dialah yang dekat denganku. Namun, dekat-dekatnya denganku. Dia juga tidak tahu kalau aku memiliki penyakit."Ngomong-ngomong, kamu sudah selesai tugas yang diberikan Pak Ardan?" tanyanya."Pasti. Belum?" tanyaku.Terlihat giginya putih bersih membuatku mengangkat kedua bahu acuh. Dia itu pintar sebenarnya cuman ... entahlah. Aku akan menunggunya untuk merubah pola pikirnya itu.Bel kampus terdengar di telinga kami. Kami mempercepat langkah kami agar tidak terlambat di ruangan nantinya. Tepat bel ketiga, kami tiba di sana. Jangan lupakan seseorang yang akan mengisi hari ini.Bapak Pandiwijaya, dipanggil Pak Jaya. Siapa yang tidak mengenalinya? Jangan harap kampus sini tidak mengenalinya. Pasti kenal dengan beliau. Beliau termasuk jajaran dosen killer di kampus Gandaria.Bagi mereka, bagiku dan Charlie, temanku. Pak Jaya adalah dosen yang paling kami sayangi dan banggakan. Ditanyakan, alasannya? Apakah harus ada alasan untuk menaruh perhatian dan kasih di sana? Tidak, bukan?Tidak hanya Pak Jaya saja. Ada dosen yang membuatku kagum dengan beliau. Namanya adalah Bapak Zein Ahmad, dipanggil Sen Mad. Lucu, bukan? Bagi kalian, bagiku, tidak. Mengapa beliau dipanggil begitu? Kata beliau, teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan Mad. Sedangkan, Sen diambil nama ujung gelar dari 'Dosen', yaitu 'Sen'. Jadi, kalian pikirkan saja.Bianglala memenuhi atma. Chandra menampakkan visus nya. Harsa sahaja sudah aku miliki tanpa dari orang lain melainkan dari diriku sendiri. Usai kampus, aku jalan-jalan sebentar. Ingin memberikan ruang untuk jiwaku.Mataku menangkap seorang anak kecil. Ditangannya ada setangkai bunga anggrek. Teringat temanku, Rena. Dia sangat mencintai bunga anggrek. Eh, sebentar. Aku melupakannya. Di manakah dia sekarang? Dia juga teman terdekatku.Saking nyamannya di bawah akara. Ujung kaos oblongku ditarik-tarik oleh seseorang. Aku menyadarkan kepalaku dengan gelengan kecil dan menoleh ke bawah. Anak kecil ini? Barusan aku bicarakan tadi. Mengapa dia mendekatiku?Aku berjongkok guna mensejajarkan diriku dengannya. Lalu, aku berkata, "Halo, manis. Ada yang bisa Kakak bantu?" tanyaku sambil tersenyum tipis.Dia juga membalas senyumanku. Tiba-tiba, dia menyerahkan sebuah kotak kecil yang biasanya terisi oleh cincin. Mengernyit heran, jelas. Aku tidak mengerti apa-apa dengan kotak kecil ini. Lagian, buat apa aku menyimpannya?"Simpan ini baik-baik, Kak. Ini akan berguna nantinya, Kak. Kalau boleh tahu, nama Kakak siapa, ya?" tanyanya.Wajahnya bulat, putih dan bersih. Aku melihatnya jadi lucu sendiri. Sebentar, wajahnya mirip seseorang. Tetapi, siapa? Oh ya, apakah dia sendirian di sini? Mana orang tuanya?"Panggil kakak, Rel, okay? Ngomong-ngomong, kotak kecil ini kok buat Kakak, sih? Lalu, kamu sama siapa di sini?" tanyaku sedikit penasaran.Dia tersenyum dan berkata, "Kakak lupa denganku, ya? Aku adiknya Anty Rena, Kak. Kalau masalah kotak kecil ini. Aku tidak tahu, Kak. Ini itu pesan dari Anty Rena, Kak," jawabnya.Sebentar, Rena? Rena memiliki adik perempuan. Sejak kapan? Kok aku baru tahu? Terus, pesan dari Rena. Di mana dia sekarang? Jantungku sedikit berdebar mendengar penjelasannya."Hm, begitu. Anty Rena-nya, di mana, Dek?" tanyaku pelan seolah-olah ada sesuatu yang hinggap di benakku. Namun, aku tangkis dan yakin sepenuhnya."Anty Rena sudah tiada, Kak Rel," ucapnya.Wajahku tegang. Duniaku seolah-olah terhenti dan meninggalkan retisalya. Ba-bagaimana bisa? Bukankah dia sehat-sehat saja, apakah dia menyembunyikan sesuatu dariku? Mengapa dia menutupinya? Ataukah, dia tidak ingin aku kesepian walau sebenarnya aku kesepian. Bahkan, sangat kehilangan saat dirinya tidak bersamaku lagi."Maksudmu, Anty Rena telah meninggal, Dek?" tanyaku pelan. Bahkan, tidak kedengaran lagi."Benar, Kak Rel. Oleh karena itu, aku sebagai adiknya harus melaksanakan amanahnya. Sudah dulu ya, Kak Rel. Aku mau pulang. Takut Bunda mencariku. Ingat, simpan baik-baik, jumpa lagi, Kak Rel," pamitnya.~~~Apa kabar, hawk!Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, hawk.Aku tahu, kamu memiliki penyakit.Parahnya, penyakit kita sama, hawk.Huh', udaranya sangat dingin di sini, hawk.Oh ya, berapa tahun kita tidak bertemu, hawk?4-5 tahun, 'kan?Aku kangen kamu, hawk.Kamu tetap semangat, hawk.Hatiku selalu ada nama mu, hawk.Um ....Sebelumnya, aku minta maaf sama kamu, hawk.Kali saja, aku pernah menyakitimu melalui perbuatan dan perkataanku ini padamu, hawk.Huffttt ....Dekorasinya sangatlah jelek.Sampai-sampai, aku bosan melihatnya.Eh, hawk?Kamu jangan sampai sepertiku ini, ya.Aku jahil sekali dengan diriku ini.Jadi, kamu tidak boleh jahil, hawk.Huh' ....Sudah dulu, ya, hawk.Napasku sudah sampai ubun-ubun, nih.Kalau kamu mendapatkannya ....Tandanya, aku sudah berada di langit.Kalau kangen, lihat ke langit, okay.Love u, Hawk.Rumah Sakit, Rena Jayanda.~~~Satu minggu, waktuku yang dihabiskan hanya membaca berulang-ulang surat mini dari Rena. Aku tak menyangka kalau di kotak kecil itu terdapat kertas gulungan. Tak lupa, cincin perak bertuliskan namaku dan namanya di sana.Sebegitu dalamnya dia mencintaiku? Padahal, aku tidak menaruh harapan padanya. Akan tetapi, dirinya? Sungguh, ini membuatku bingung dengan keadaannya yang sudah diambil oleh-Nya.Sang adiknya juga tidak memberitahu apa-apa selain kotak kecil ini. Apakah adiknya tidak berniat untuk menjelaskan tentangnya padaku? Ataukah, dia ingin merahasiakannya padaku juga, begitu?Argh! Mengapa alur hidupku seperti ini. Aku masih merindukan sosoknya. Hanya dia ... dia yang memahami ku setelah Ibuku wafat. Lalu, sekarang? Aku melupakan kampusku hanya memikirkannya.Bukannya aku menyalahkan diriku ataupun adiknya. Tetapi, hatiku merasa bersalah karena tidak mengetahui hal ini.Aku akan mencintaimu sampai hayatku datang, Rena.Rumah kayu, Arel Pramana Aksa.[ E N D ]
Maaf Gue Gak Jujur Jiana
Zildi sedang berjalan mengikuti Jiana dari belakang, bahkan ia tidak mempedulikan Jiana mengoceh dan meminta Zildi untuk berhenti mengikutinya.Ish , nih anak ngikutin mulu dah kaya anak gajah ketinggalan rombongan . Batin Jiana sebal.Akhirnya Jiana dan Zildi pun sedikit dekat. Hingga suatu hari, Zildi meminta berteman dengan Jiana, "Ana, jadi temen gue ya. Gue udah gak tau lagi harus temenan sama siapa," ucap Zildi dengan raut wajah memelas."Umm, boleh banget jadi gue punya temen cowo gitu yang bisa di ajak ngobrol, hehe," ucap Jiana senang sambil tersenyum menunjukkan kedua lesung pipinya.Akhirnya Jiana mau menerima Zildi sebagai temannya. Sehingga saat di sekolah, pulang sekolah, pergi ke minimarket, bermain pun mereka selalu bersama. Zildi selalu menemani Jiana kapan pun dia membutuhkannya, dengan hati tulusnya Zildi.Jiana ingin seterusnya hubungan pertemanan ini menjadi sahabat, begitu pun Zildi, ia ingin seterusnya bersahabat dengannya. Walau mereka satu tahun lagi akan lulus dari SMA dan juga mereka tak mau bergaduh jika ada suatu masalah kecil, akan mereka bereskan dengan bersama. Jiana pun, meminta satu hal lagi."Didi, gue gak mau hubungan persahabatan kita di kacau kan karena sebuah cinta, jika memang ingin bersahabat ya sudah bersahabat saja," ujar Jiana sambil menggenggam satu tangan Zildi."Eh-emm, i-iya iya bener banget tuh Ana mending bersahabat seperti ini saja sampai kapan pun," kata Zildi dengan lagak yang ragu, sambil mengerat kan genggaman Jiana.Jiana pun tersenyum manis ke arah Zildi sambil melihat kan kedua lesung pipinya dan mata sipitnya. Zildi pun tertegun melihat wajah cantik milik Jiana.Hal itu terus berlanjut hingga pada suatu hari Jiana merasa curiga dengan Zildi yang mulai berperilaku aneh kepada Jiana, apa lagi saat mereka berada di sebuah cafe dekat sekolahnya. Zildi sangat salah tingkah, padahal sebelu nya ia tak pernah seperti itu.Saat itu Jiana sedang memainkan ponsel milik Zildi di balkon milik Zildi. Ya karena mereka sudah terbiasa seperti itu, hingga akhirnya Jiana memperhatikan galeri Zildi yang tersembunyi dan benar saja semua keanehan sikap Zildi terjawab sudah. Zildi menyimpan banyak foto Jiana di galerinya itu, dan menandai bahwa dia milik Zildi seutuhnya, bukannya Jiana tak ingin memiliki hubungan cinta dengan Zildi, tapi ia telah mengkhianati ucapan Jiana.Jiana memang sudah curiga sejak pertama kali melihat Zildi yang seperti menyukai Jiana, kenapa ia harus berlagak ingin bersahabat dengannya. Tentu saja Jiana marah dengan Zildi yang membohonginya sekaligus mengkhianati ucapan Jiana dan mereka saling adu mulut."Di, kenapa sih lo harus bohongin gue dengan cara ini," ucap Jiana dengan mata yang sudah berkaca-kaca."Gue gak bohongin lo Ana," cakap Zildi dengan pelan sambil memegang pergelangan tangan Jiana."Lepas! Lo udah berkhianat sama gue Di! Lo udah berkhianat!" ujar Jiana sambil terisak dan melepaskan genggaman Zildi."Ana, dengerin gue dulu Na," ucap Zildi dengan nada masih sama seperti tadi."Gak, gak, gak gue gak mau dengar ucapan yang keluar dari mulut lo yang berdosa itu," ucap Jiana yang masih terisak sambil menunjuk ke arah Zildi.Tenaga Jiana terkuras hebat dan air matanya yang masih mengalir deras. Ia pun lemas dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai hingga tersungkur. Zildi yang melihatnya langsung berlari ke arah Jiana sambil menahan tubuhnya yang sudah lemas bak tanaman layu."Na, dengerin ucapan gue dulu Na," ucap Zildi lembut ke arah telinga Jiana."Nggak, gue nggk mau," kata Jiana lemas dengan mata yang tertutup.Karena tidak kuat Jiana pun pingsan.Zildi pun menghela nafasnya panjang.Mungkin belum saat nya. Batin Zildi.Ia pun menggendong Jiana ala bridal style , ke kamar Zildi lalu merebahkan tubuh Jiana yang lemas.Setelah kejadian itu Jiana masih marah terhadap Zildi, sampai ia meminta maaf lebih dari seratus kali kepada Jiana namun tak ada balasan apa pun, persahabatan nya kini renggang. Mereka tak seperti biasanya yang kemana-mana selalu bersama dan jika jalan-jalan mereka selalu memakai baju Couple , tapi kini tidak, mereka memisahkan diri masing-masing.Hingga akhirnya Zildi mengajak Jiana pergi ke sebuah tempat yang dimana mereka selalu datang kan ketika ada masalah. Dan di selesai kan bersama. Tapi kini mereka masih saling diam sambil merasakan terpaan angin sepoi-sepoi.Setelah suasana hati Jiana sudah sedikit tenang, Zildi ingin mulai bicara dengan Jiana. Walaupun Jiana tak menggubris ocehan Zildi namun saat itu ucapan Zildi membuat pupil Jiana memebesar dan menyadarkan Jiana."Gue bukan mau nipu atau khianatin ucapan lo jiana, tapi gue benaran mau bersahabat sama lo dan niat gue juga baik, karena emang gak ada cewe sebaik lo," ucap Zildi dengan suara khasnya yang lembut sambil memegang tangan Jiana."Lepas, Kenapa lo gak bilang dari awal kalau lo suka sama gue," ucap Jiana dengan pandangan yang masih melihat ke arah langit-langit biruZildi pun menarik pergelangan tangan Jiana hingga ia masuk kedalam pelukan Zildi. "Maaf. Ini emang salah gue kan? Maaf gue gak jujur dari awal karena gue gak mau ngecewain lo Jiana gue gak mau kehilangan lo. Kalau dari awal kita udah ada hubungan cinta pasti bakal kacau dan gak akan kaya gini. Saat itu gue emang-emang gak rasain yang namanya cinta. Tapi karena hubungan persahabatan kita semakin dekat, hati gue ngerasa nyaman sama diri lo. Gue tulus mau sahabatan sama lo Jiana, dan lo juga tulus udah nerima gue padahal gue anaknya bobrok, dan lo nerima gue apa adanya dan gue merasakan rasa nyaman sama lo, " tutur Zildi dengan nada lembutnya di dekat telinga Jiana.Jiana pun menangis dan terisak mendengar Zildi yang selama ini rela berbohong demi persahabatannya dan sudah berjalan jauh demi bersamanya.Akhirnya Jiana pun sadar dan ia juga merasa bersalah, "Gue yang harusnya minta maaf, hiks," ucap Jiana yang masih terisak di pelukan Zildi."Suutt, kita salah bukan lo aja. Udah nangisnya mata lo sembab gitu," ucap Zildi lembut sambil mengelus punggung Jiana perlahan.Jiana pun melepas pelukan Zildi dan tersenyum di hadapan Zildi dengan mata yang sembab, begitupun Zildi membalas senyuman Jiana.[ E N D ]
Possesive Andra
Suara langkah kaki dari ujung koridor membuat seorang gadis mempercepat langkahnya, bahkan kini ia mulai berlari untuk menghindari orang yang baru saja membuat keributan itu."Gisel!"Gisel seolah menulikan telinganya, ia lelah, lelah dengan Andra yang masih berstatus sebagai pacarnya itu.Grep!Andra berhasil memegang lengan Gisel dan menghentikan cewek itu, mereka terengah-engah.Saat di rasa sudah cukup untuk terdiam, Gisel membalikkan badan, menatap Andra dengan wajah galaknya."Kamu marah sama aku cuma karena cowok itu?" tanya Andra, rahangnya mengeras, pertanda ia marah besar, tetapi bukan Gisel namanya kalau menurut dengan Andra."Andra, aku sama dia cuma temen. Dia baik sama aku karena dia udah bantuin aku nyelesain proposal buat event sekolah.""Kan masih ada anak OSIS yang lain, kenapa harus cowok? Ini nih yang aku nggak suka kalo kamu ikut organisasi kaya gitu.""Anak OSIS lain juga pada sibuk ngurus seksi yang dia urus, masih untung aku di kasih bantuan, lagian mau aku ikut organisasi atau nggak ya itu urusanku!"Andra menggeram, ia marah dan kesal karena semakin hari Gisel semakin berani melawannya dan membantah setiap ucapannya."Aku nggak suka ya kamu ngelawan aku kayak gini," ucap Andra. Menekankan setiap kalimat yang terucap dari bibirnya."Aku juga nggak suka kamu buat keributan kayak tadi sampe mukul Rian!" sentak Gisel, menyebut nama cowok yang menjadi inti dari permasalahan mereka."Sebut namanya sekali lagi!""Rian! Rian! Rian!" Gisel mengangkat wajahnya dengan angkuh, seolah berkata, 'mau apa lo?' dengan sangar.Andra menarik Gisel menuju parkiran sekolah, membuat cewek itu kelabakan sendiri."Andra! Ngapain ke parkiran? Bentar lagi aku ada kuis dari Bu Lidia!" Di antara semua hal, Gisel paling tidak suka melewatkan nilai tambahan atau apapun yang dapat mengurangi nilainya, itu sebabnya Gisel selalu menjadi murid teladan, kesayangan para guru.Gisel terus meronta tetapi tenaga Andra lebih besar dari dirinya, hingga mereka sampai di depan mobil mewah milik Andra.Tanpa banyak bicara, Andra memaksa Gisel untuk masuk ke dalam mobilnya, diikuti dengan Andra."Aku mau turun! Aku nggak mau jadi urakan dan sering bolos kayak kamu ya Andra!" jerit Gisel."Orang yang kamu sebut urakan dan sering bolos itu pacar kamu," desis Andra. Ia melajukan mobilnya, menyogok Pak satpam dengan beberapa lembaran merah di dalam dompetnya.Gisel mendengus kesal saat mereka sudah berhasil keluar dari kawasan sekolah mereka, rasanya ia ingin mengumpat keras-keras.Bukan salahnya memilih Andra, salah kan Andra yang dulu sangat manis hingga ia menerimanya menjadi pacar. Tetapi entah kenapa, semakin ke sini, Andra malah semakin possessive dan pencemburu.Gisel benci di kekang seperti ini, jika saja ia tau akhirnya akan seperti ini, mungkin ia akan memilih tidak mengenal Andra.Mobil Andra berhenti di jalan yang sepi, membuat Gisel sedikit ketakutan, ia kemudian menatap Andra dengan horor."Kita ngapain berhenti disini?! Kalau kamu nggak mau nganter aku balik ke sekolah, yaudah. Aku bisa sendiri kok." Gisel hendak membuka pintu mobil itu tetapi dengan cepat Andra menahan pergerakannya.Napas Andra terasa di leher Gisel karena saking dekatnya wajah mereka, Gisel tau seperti apa Andra jika sedang marah, cowok itu seperti orang yang kesetanan, melampiaskannya pada siapa saja termasuk Rian, salah satu anggota OSIS yang paling dekat dengan Gisel."Udah berapa kali aku bilang, turutin aku, kamu aman," ucap Andra tepat di telinga Gisel, membuat gadis itu sedikit meremang.Gisel mendorong Andra dengan kasar."Cukup ya, selama ini aku udah ngalah buat keegoisan kamu, aku juga udah sabar sama sikap posesif kamu, tapi sekarang aku muak, aku benci di kekang!"Gisel pikir Andra akan melakukan sesuatu yang lebih jauh mengingat sikap cowok itu, tetapi ia salah."Oke, kalau kamu ngerasa aku ngekang kamu lebih baik kita ... putus."Andra memejamkan matanya, menahan hujaman rasa sakit yang ada di hatinya, sedangkan Gisel terbelalak, tak menyangka jika Andra semudah ini memutuskan hubungan mereka."Ndra, ka-kamu serius?"Memang ini yang Gisel inginkan, putus dari Andra dan mendapatkan kebebasannya kembali, tapi ia tak menyangka keinginannya akan terkabul semudah ini.Kenapa sakit ya?Gisel dan Andra sama-sama terdiam setelahnya, tak ada yang berbicara, bahkan Gisel pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil itu.Andra menghela napas, ia menyenderkan kepalanya, enggan menatap Gisel yang kini sedang kebingungan."Ndra, kamu ... serius?""Kamu mau turun kan? Yaudah turun," ucap Andra, tanpa melihat ke arah Gisel, takut jika pertahanannya runtuh seketika.Gisel menggeleng tak percaya, kemudian ia keluar dari mobil Andra dengan perasaan campur aduk, kenapa? Kenapa ia tak rela?***Satu minggu kemudian .Gisel termenung di kamarnya, sejak ia putus dengan Andra entah kenapa ia merasakan kehilangan yang amat sangat besar.Dulu, Gisel tak pernah suka di kekang oleh Andra. Andra yang possessive , cemburuan, dan egois membuat Gisel ingin putus darinya, lalu kenapa sekarang ....Pandangan Gisel beralih pada sebuah surat berwarna biru yang berada di atas nakasnya.Surat itu adalah pemberian dari Andra tiga hari sebelum mereka putus, Andra bilang bahwa ia tak boleh membuka surat itu sebelum mereka putus, aneh memang, tetapi itulah Andra, penuh dengan teka-teki.Setelah mengumpulkan keberaniannya, Gisel mengambil surat itu dan membukanya hingga nampak kalimat yang tersusun rapih dengan tinta hitam.Hai, Giselove.Aku Andra, pacarmu atau mungkin udah mantan (?) Aku nggak tau apa yang akan terjadi kedepannya.Aku ingin kamu tau Gisel, Aku sayang kamu.Saat kamu nerima aku buat jadi pacar kamu hari itu, aku senang, sangat malah. Sampe rasanya aku pengen bilang kalau kamu itu pacarku.Tapi, takdir berkata lain, dua bulan setelah kita pacaran, aku punya kelainan jantung. Dokter memvonis aku kalau umurku udah nggak lama lagi.Kamu tau? Bolosnya aku selama ini karena aku lagi berobat buat menyembuhkan penyakitku. Aku nggak ingin kamu tau, karena aku nggak mau kamu khawatir.Sayangnya, dokter bilang kalau usiaku tinggal menghitung hari, aku takut, takut kehilanganmu.Karena itu aku possessive sama kamu, karena aku ingin menggenggam kamu, sampai aku nggak mampu lagi untuk menjaga kamu.Maaf ya kalo kamu ngga nyaman.Sekarang, aku udah nggak mampu lagi buat ngejaga dan mempertahanin kamu, kamu berhak lepas dari aku.Kamu boleh cari pangganti aku, tapi aku mohon.Jangan lupain aku, karena aku pernah mengisi kebahagian kamu.Dari : Andranya Giselove[ E N D ]
Tunangan
Aku telah berada di sini. Berdiri diantara 2 tiang penyangga sebuah café yang cukup besar. Padahal seingatku kemarin, aku mati matian menolak untuk datang. Tapi aku telah berada di sini sekarang. Apa temanku memasukkan sesuatu ke kepalaku hingga tanpa sadar aku pergi kemari? Sepertinya tidak, aku datang untuk melihat orang ku sukai sekali lagi. Dengan sangat berat hati sekali kulangkahkan kakiku memasuki ruang tempat acara di gelar. Ruang yang dipenuhi bunga kebahagiaan di mana mana. Seharusnya aku membawa bunga duka cita sebagai hiasan kecil. Namun hatiku yang berduka tak akan sebanding dengan kebahagiaan setiap orang yang menginginkan pasangan itu. Atau lebih tepatnya, menginginkan makanan dari pasangan itu. Mataku berkeliling mencari tempat duduk. Sepertinya semua telah dipenuhi oleh orang-orang yang kelaparan. Aku pun memutuskan untuk berdiri di sudut. Berharap air mata di sudut mataku tak akan tergelincir saat melihat mereka nanti.Suara riuh mulai terdengar saat 2 pasang kaki keluar dari sebuah ruangan. Mereka terlihat sangat menawan dengan setelan jas dan gaun berwarna putih. Salah satu dari mereka melihat ke arahku. Tersenyum penuh arti. Maksudnya, itu berarti senyum yang terakhir untukku. Kuyakinkan hatiku untuk membalas senyum itu. Tapi ia menolehkan wajahnya ke arah yang lain. Jika ini hari biasanya, sepatu yang kupakai pasti telah lepas dengan sendirinya dan terbang ke wajah pria itu. Tapi yang luar biasanya, ia bahkan tak mengucap sepatah katapun untuk mengucapkan selamat tinggal padaku.Acara bodoh ini membuang 2 jam waktuku. Kaki kaki jenjangku terus meronta untuk keluar. Namun perutku yang keriput terus berteriak memintaku untuk mengisinya. Makanan dari pasangan menyebalkan itu? Tidak, aku tak akan tega memakannya. Lagipula, gadis itu lebih kurus dariku, ia pasti membutuhkan lebih banyak makanan agar tetap terlihat cantik di depan pasangannya. Aku tak pernah meminta tanganku untuk mengambil makanan, tapi piring kosong di depanku tadi telah terisi penuh dengan makanan. Sepertinya tanganku lebih pandai dari hatiku sekarang. Kuselesaikan makanku secepatnya dan bergegas pulang. Namun baru beberapa langkah mendekati pintu, suara lembut itu memanggil namaku. Sahabat lamaku, Jelita. Sepertinya ia baru menyadari kehadiranku beberapa detik yang lalu."Viola, kau mau kemana? Acara baru saja dimulai." Jelita tersenyum manis, seperti tak ada sesuatu yang terjadi."Baru saja dimulai, pantatku. 2 jam dan kau bilang baru saja dimulai? Kau mau mengakhirinya sampai kapan? 2 hari 2 malam?" Jawabku dengan nada kesal, seperti biasanya."Mengakhiri apa?" Tanya Jelita sedikit terkejut."Oh, apa aku terlalu banyak bicara?" Tanyaku dalam hati. "Mengakhiri acaranya, tentu saja. Kau pikir?""Aku tau kau tak sejahat itu dan mendoakan hubunganku dan Zelo segera berakhir." Jelita tersenyum. Menampakkan kebahagiaan di setiap sudut wajahnya. "Oh iya, aku pikir yang kau katakan tentang ramuan, itu semua benar." Ia kembali tersenyum."Ramuan?" Aku bertanya dalam hati.*Flashback*"Jelita! Apa yang aku katakan tentang jangan terlalu dekat dengan Zelo? Bagaimana kalau ia memakai ramuan yang membuatmu jatuh cinta di setiap sentuhan tangannya?" Bentakku."kau yang seharusnya menjauhi Jelita! Kenapa kau membuatnya begitu buruk sampai ia tak memiliki kekasih sampai sekarang?!" Zelo balik membentakku."Bagaimana bisa aku melepaskannya yang begitu lemah? Bagaimana kalau sesuatu terjadi saat aku membiarkannya bersama orang lain?""Memang kau ini siapanya? Ibu? Saudara? Atau jangan jangan, kau benar benar meyukai Jelita dan berencana untuk menjadikannya..." Zelo belum selesai bicara."Plak.."Sepatuku mendarat tepat di pipi kanannya. Dia, pria di depanku yang menyebarkan rumor tentangku yang menyukai sesama perempuan. Aku memang tak punya perasaan dan aku tak pernah peduli dengan gossip. Tapi bukan berarti seluruh keluargaku sama sepertiku. Bagaimana kalau mereka tau? Bagaimanapun, hidupku bukan sebuah sinetron dimana aku bisa bunuh diri seenaknya karna hal semacam itu.*Flashback end*"Oh, kau begitu lucu setiap kali bersama Zelo. Tak pernah terpikirkan olehku kalian akan berpisah secepat ini. aku tau hidup Zelo tak akan berwarna tanpamu." Oceh Jelita."Kalau kau tau hidupnya tak akan berwarna tanpaku, kenapa kau tak menyerahkannya saja untuk menjadi kekasihku?" Tanyaku dalam hati. "Cih, kau terlalu berlebihan, Jelita. Kau yang membuatnya tersenyum. Sedangkan aku hanya membuatnya marah setiap hari.""Sebenarnya, kau lebih sering membuatnya tertawa daripada marah. Bahkan ia tak pernah benar benar marah terhadapmu."*Flashback*"Kau harus mengerjakannya. Aku terlalu sibuk untuk menghafalkan tugas sebanyak itu." Zelo membanting buku tugas di depanku."Apa kau bilang? Kau pikir aku ini siapamu? Ibumu? Kakakmu? Kekasihmu?" Bentakku menatap matanya yang indah, mungkin."Kenapa kau tiba-tiba mengatakan tentang kekasih? Apa kau menyukaiku? Jadi jika kau mengerjakannya untukku, aku harus menjadi kekasihmu?" Tanya Zelo semakin berani."Kekasih, pantatku. Mata ku tak seburuk mantan mantanmu. Mataku masih bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk.""Dan aku termasuk?""Kau termasuk setan dengan wajah terburuk." Jawabku dengan wajah tanpa dosa."Untung saja kau masih meiliki wajah seperti manusia. Coba kalau wajahmu sudah menjadi bentuk aslinya, aku tak akan segan melemparkan hatiku dari kejauhan.""Apa kau bilang?!"Tanpa aba aba lagi kulemparkan injakan mautku ke kakinya yang sebesar monster.Sedetik, 2 detik, 3 detik, ia terlihat biasa saja. Detik berikutnya, ia meronta meronta agar kulepaskan. Tentu saja tak semudah itu. Saat ia bersiap memukulku, aku telah berlari sejauh mungkin. Dengan tawa yang meledak. Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada menyiksa Zelo memang. Setiap ekspresi kesakitannya adalah sebuah kebahagiaan bagiku. Aku tak akan pernah bertemu orang dengan otak keledai sepertinya. Selalu masuk keperangkapku meski telah ribuan kali ku pancing.*Flashback end*"Sesaat setelah kau keluar dari kelas, ia berkata "Kau selalu lucu setiap kali marah. Aku tak akan pernah bisa marah pada tingkahmu. Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada mengganggumu memang. Setiap ekspresi kekesalanmu adalah sebuah kebahagiaan bagiku. Aku tak akan pernah bertemu orang dengan otak keledai sepertimu. Selalu masuk keperangkapku meski telah ribuan kali ku pancing." Bukankah itu lucu?" Kata Jelita."Apakah semenyangkan itu melihatku dan Zelo ribut? Sepertinya semua orang melihatku seperti hiburan gratis tiap harinya." Kataku dengan wajah kesal."Kenapa kalian bicara sangat lama? Aku menahan diriku untuk menghampiri kalian, tapi perasaanku terus memaksaku untuk menemui musuh bebuyutanku ini." Zelo mengacak rambutku lembut. Aku tak ingin menyukainya lebih lama. Aku tak ingin air di sudut mataku keluar sekarang."Aku harus pergi." Kataku melepaskan tangan Zelo."Eeei, kau mau kemana? Apa kau tak mau melihat kami bertukar cincin?" Zelo menahan lenganku. Perasaanku hampir meledak karenanya."Lakukanlah sendiri. Kalau mau menukarkan cincin, tukarkan sendiri ke tokonya.""Apa kau benar benar wanita? Kau bahkan tak tau arti bertunangan sesungguhnya. Aku bahkan ragu kalau kau pernah menyukai seorang pria." Zelo menatapku."Pria yang kusukai itu kau! Bodoh!" Aku berteriak dalam hati. "Katakan sekali lagi, dan kau tak akan bisa melihat mentari esok." Kataku dengan tatapan menyeramkan, seperti biasanya."Zelo, sekali saja jangan membuat keributan saat bertemu Viola." Kata Jelita lembut.Mungkin kelembutan itu yang membuat Zelo jatuh cinta padanya. Kelembutan yang tak kumiliki. Tak akan pernah bisa kumiliki. Mungkin kekasaranku yang membuat Zelo tak pernah bisa berbalik ke arahku."Tentu saja aku tak akan merusak hari kebahagiaan kita. Oh iya, Viola, apa kau ingat doamu? Aku berterima kasih, sebab doamu benar benar terkabul sekarang." Kata Zelo tersenyum mengejek.*Flashback*Tanganku belum juga selesai menari sejak tadi. Aku tak akan lelah menulis sajak indah di dalam buku kesayanganku. Keramaian di sekitarku sedikit mengganggu memang. Namun tak ada yang lebih mengganggu dibanding suara Zelo. Aku serasa ingin mencincangnya sekarang juga tanpa ampun."Zelo! Kau ini manusia atau hanya jelmaannya? Saat aku bilang jangan ganggu Jelita, itu berarti kau sama sekali tak boleh menyentuhnya!" Teriakku."Sebenarnya aku tak menyentuhnya. Aku hanya meminta selembar bukunya tetapi ia malah mengejarku sejak tadi." Zelo terus berlari dengan Jelita di belakangnya."Kalau kalian terus ribut, kalian bisa benar-benar jadian nantinya." Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibirku."Baguslah, aku akan terus mengajak ribut Jelita agar ia bisa jadian denganku."Seperti kilat yang menyambar langsung ke hatiku tanpa ampun. Bukan hancur, hangus tak bersisa rasanya perasaanku. Aku tak pernah mengerti, tak pernah bisa mengerti. Kenapa ia memberi harapan besar padaku, dan menghancurkannya begitu saja setelah terbangun megah di hatiku. Sekian lama aku membuat perasaanku padanya terlihat indah, dan ia meremukkannya dalam sedetik. Semua perasaanku berbaring di sini menantinya. Tapi ia tak pernah kembali ke tempatku. I can't stop loving you. I can't stop loving you tonight.Aku terlalu bodoh menyukai orang sepertimu. Sikapmu tak berbeda pada orang lain. Aku terlalu bodoh jika berpikir kau juga mencintaiku. Cintamu mencekikku semakin dalam dan dalam. Membuatku menderita agar aku pergi dan meninggalkan semua yang tlah kuperjuangkan. Tapi aku tak akan pergi. Meski api telah membakar seluruh tubuhkku. Aku tak akan pergi selama kau tak memintaku. Cintamu menjeratku. Membuatku tak bisa bergerak dari keadaan yang menyiksa. Tak ada tempat untukku kembali. Aku tak akan pernah bisa kembali dari keadaan yang menyiksa ini. Tak sadarkah kau bibirku bergetar saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir indahmu? Itu menyakitkan. Hatiku ikut bergetar hebat karenanya. Kau menyesatkanku dengan cintamu. Tak pernah membiarkanku melihat cinta yang lain.*Flashback end*"Lanjutkan acaranya. Aku harus pergi sekarang." Aku merasa sesuatu menyesakkan mataku. Bulir bulir bening mengaburkan pandanganku."Semoga kau bertemu seorang yang mencintaimu dengan tulus." Bisik Zelo sebelum kakiku melangkah.Aku membawamu terlalu jauh kedalam hatiku. Hingga ku tak mampu lagi menggapaimu untuk keluar. Aku begitu tersiksa menatapmu seperti ini. Seseorang yang tak pernah membalas tatapan mataku. Mata indahmu terlalu berharga untuk melihatku. Terlalu berharga untuk menatap jauh ke dalam hatiku. Dapatkah hatiku benar benar tenang saat kau tak berada di depan mataku?. Berikan aku waktu sedikit saja untuk menyukaimu. Izinkan aku menyukaimu sebentar saja. Izinkan aku berharap kau dapat membalas perasaanku. Bukankah kita menatap langit yang sama. Meski bukan ditempat yang sama. Mata kita masih bisa saling bertautan dan memandang. Kebahagiaan yang sesungguhnya hanya datang pada pemeran utama jika itu dalam drama. Untuk sebuah kehidupan, aku tak akan mampu menjadi pemeran utama. Pemeran utama yang lemah dan disukai banyak pria. Aku, hanya aku yang kasar dan menyebabkan masalah.